Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 01 Maret 2026

Kejarlah Daku Kau Ku Jitak

 


Kejarlah Daku Kau Ku Jitak

PROLOG

Senja di Desa Awan Biru selalu turun pelan. Seolah tahu bahwa desa itu sudah terlalu sering terburu-buru oleh rapat, laporan, dan notifikasi sistem.

Periode ketiga kepemimpinan Pak Kades Iwan hampir memasuki tahun terakhir. Kantor desa tidak lagi seperti dulu yang atapnya bocor dan arsipnya dimakan rayap. Kini layar monitor menyala di hampir setiap meja. Printer tidak pernah benar-benar istirahat. Website desa diperbarui rutin. Laporan keuangan terpampang transparan.

Desa itu terlihat mapan.

Tapi seperti biasa, yang tidak tercatat justru yang paling ramai.

Di teras kantor desa, Pak Iwan duduk memandang halaman yang kini lebih hidup. Dulu hanya tanah merah dan parkir motor. Sekarang ada taman kecil dan papan informasi digital.

“Mat,” panggilnya pelan.

Amat keluar dari dalam ruangan sambil membawa laptop.

“Iya, Pak. Server aman. Jangan khawatir.”

“Saya bukan tanya server.”

Amat duduk di sampingnya.

“Saya lagi mikir,” lanjut Pak Iwan, “kalau nanti saya tidak di sini, desa ini sudah siap belum?”

Amat tersenyum tipis. Rambutnya memang mulai beruban, tapi gaya bicaranya masih sama.

“Desa siap, Pak. Yang belum siap itu mungkin yang ditinggal.”

Pak Iwan terkekeh pelan.

“Kamu ini makin tua makin puitis.”

“Bukan puitis, Pak. Cuma realistis.”

Di dalam kantor, suasana tidak kalah hidup.

Pak Eko menunduk di atas tumpukan berkas perencanaan.

“Anggaran harus sinkron,” gumamnya.

Yuni, Sekdes yang selalu rapi, menyahut tanpa mengangkat kepala dari laptopnya.

“Pak Eko, jangan cuma sinkron. Harus presisi.”

Lulu dari meja keuangan menimpali,

“Dan jangan lupa bukti transaksinya lengkap. Saya tidak mau ada yang bilang uangnya ‘menghilang secara spiritual’.”

Endang berdiri sambil menyilangkan tangan.

“Yang penting kalau ada kendala, tulis juga di website. Jangan cuma yang manis-manis.”

Didit yang sejak tadi diam akhirnya bicara pelan,

“Transparansi itu bukan soal bagus atau jelek. Tapi soal jujur.”

Semua mengangguk.

Desa Awan Biru memang sudah berubah.

Tapi perubahan paling ramai bukan di kantor.

Melainkan di SMA Awan Biru.

Suatu sore sepulang sekolah, Arjuna berdiri di dekat gerbang. Tasnya digendong satu sisi. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin.

Ia pura-pura melihat ponsel.

Padahal menunggu.

Kirana keluar bersama teman-temannya. Seragamnya masih rapi. Rambutnya diikat sederhana.

Melihat Arjuna, ia pura-pura tidak melihat.

Arjuna mendekat.

“Pulang?”

Kirana mengangkat alis.

“Tidak. Saya mau menginap di kelas.”

“Serius amat jawabnya.”

“Kamu nunggu siapa?”

“Kebetulan satu arah.”

“Rumahku beda gang.”

“Ya memutar sedikit tidak apa-apa.”

Teman-teman Kirana mulai cekikikan.

Salah satu dari mereka berbisik,
“Itu kakak kelas yang sering bantu acara OSIS kan?”

Kirana menoleh cepat.

“Bukan kakak kelas. Cuma… ya.”

Arjuna menyeringai.

“Cuma ya apa?”

“Cuma orang yang sering lupa taruh helm.”

“Loh, itu rahasia!”

Masalahnya bukan pada obrolan remaja itu.

Masalahnya adalah… desa kecil tidak pernah benar-benar punya rahasia.

Di warung dekat kantor desa, Sugeng dan Santoso sudah mulai berteori.

Santoso menyeruput kopi.

“Saya netral, tapi kayaknya anaknya dokter Erlangga lagi dekat sama anaknya Bambang.”

Sugeng mengangguk.

“Saya tidak ikut campur. Tapi mereka sering pulang bareng.”

Anto, yang baru parkir truk sawitnya, duduk ikut nimbrung.

“Cinta anak muda itu seperti truk saya.”

“Maksudnya?” tanya Sugeng.

“Kalau sudah jalan, susah direm. Tapi kalau kebanyakan muatan, bisa oleng.”

Santoso terdiam.

“Dalam juga, To.”

“Saya sopir, bukan sembarang sopir.”

Kabar itu akhirnya sampai ke telinga orang tua.

Di ruang makan rumah Amat, Anita meletakkan sendoknya pelan.

“Ayah… Arjuna akhir-akhir ini sering pulang sore.”

Amat tidak langsung menjawab. Ia menatap cucunya yang sedang sibuk dengan ponsel.

“Jun.”

“Iya, Kek?”

“Kamu kelas berapa?”

“XII.”

“Target lulus?”

“Lulus, Kek.”

“Selain lulus?”

Arjuna tersenyum kecil.

“Kek tahu dari mana?”

Amat menghela napas panjang.

“Desa ini kecil. Bahkan kalau kamu bersin di sekolah, warung sudah tahu sebelum kamu bilang ‘maaf’.”

Anita menahan senyum.

“Jun, kamu masih 18 tahun.”

Arjuna menjawab pelan,

“Saya tidak nikah besok, Bu. Cuma… suka.”

Amat menatapnya lama.

“Suka itu ringan. Tapi akibatnya bisa berat kalau tidak hati-hati.”

Di rumah Pak Eko, suasananya tak jauh beda.

Yuni duduk tegak.

“Kirana, kamu kelas berapa?”

“X, Bu.”

“Target?”

“Naik kelas.”

“Selain itu?”

Kirana menatap meja.

“Kenapa semua orang tanya hal yang sama?”

Pak Eko mengusap dagu.

“Kakek cuma tidak mau kamu patah hati.”

“Kakek pikir saya selemah itu?”

Pak Eko terdiam.

Kirana menambahkan pelan,

“Dia tidak jahat, Kek.”

Yuni bertanya hati-hati,

“Serius?”

Kirana menjawab tanpa ragu,

“Serius.”

Malam itu, dua keluarga memikirkan hal yang sama.

Bukan soal sistem desa.
Bukan soal audit kabupaten.
Bukan soal RDKK online.

Tapi dua anak remaja yang baru belajar menyebut kata “kita”.

Di teras kantor desa keesokan harinya, Amat duduk di samping Pak Iwan.

Pak Iwan meliriknya.

“Kamu kelihatan tidak fokus.”

“Server aman, Pak.”

“Saya tidak tanya server.”

Amat tersenyum tipis.

“Cucu saya jatuh cinta.”

Pak Iwan tertawa kecil.

“Itu bukan bug. Itu fitur.”

“Fitur yang tidak bisa dimatikan.”

Pak Iwan menatap langit senja yang mulai turun.

“Mat… desa ini sudah siap menghadapi perubahan teknologi. Tapi apakah kita siap menghadapi perubahan hati anak-anak?”

Amat terdiam.

Di kejauhan, Arjuna terlihat berdiri di bawah pohon depan kantor, menunggu Kirana yang baru datang bersama ibunya untuk urusan administrasi.

Mereka hanya saling pandang sebentar.

Tidak ada pegangan tangan.
Tidak ada drama besar.

Tapi cukup untuk membuat satu kantor desa penuh waspada.

Karena mereka sadar satu hal:

Cinta dua remaja ini bukan sekadar urusan hati.

Ini bisa menjadi topik rapat tidak resmi paling panjang dalam sejarah Desa Awan Biru.

Dan senja di periode ketiga itu…
baru saja memulai kisah yang tidak tercatat dalam sistem mana pun.

BAB I — Cinta yang Tidak Login ke Sistem

1. Awal yang Terlalu Terlihat

Desa Awan Biru mungkin sudah punya sistem digital.
Absensi online.
Pengaduan warga berbasis web.
Laporan keuangan transparan.

Tapi cinta remaja?
Belum ada kolom input-nya.

Arjuna mulai sering terlihat di gerbang SMA Awan Biru.

Awalnya orang mengira ia menunggu teman futsal.
Lalu orang mengira ia menunggu ojek.
Lalu orang sadar… ia menunggu Kirana.

Sore itu, matahari belum terlalu turun ketika Kirana keluar kelas. Ia tertawa bersama dua temannya. Begitu melihat Arjuna bersandar di motor, tawanya mendadak berubah jadi senyum yang ditahan.

Arjuna pura-pura sibuk membuka helm.

“Kamu lagi?” tanya Kirana.

“Lagi apa?”

“Nunggu.”

“Nunggu angin.”

“Angin bentuknya pakai tas abu-abu dan rambut diikat dua?”

Arjuna nyengir.

“Kebetulan satu arah.”

Kirana menyipitkan mata.

“Rumahmu gang Mawar.”

“Dan rumahmu gang Melati.”

“Itu beda.”

“Kalau diputar lewat lapangan, jadi satu.”

Kirana menahan tawa.

“Ngawur.”

Teman-temannya mulai menghilang satu per satu sambil memberi kode wajah penuh arti.

Arjuna mendekat sedikit.

“Serius. Aku antar.”

“Kalau nanti ditanya orang?”

“Kita bilang saja diskusi akademik.”

“Diskusi apa?”

“Diskusi… masa depan.”

Kirana memukul lengan Arjuna pelan.

“Lebay.”

Namun lima menit kemudian, ia tetap duduk di jok belakang.

Dan di desa kecil, satu motor berisi dua anak SMA lebih cepat menyebar kabarnya daripada surat edaran resmi.

Di ruang BK sekolah.

Bu Ratna, guru BK, memperhatikan grafik kehadiran dan catatan perilaku.

“Kirana akhir-akhir ini sering senyum sendiri,” gumamnya.

Guru piket menyahut, “Arjuna juga sering nongkrong dekat kelas X.”

Bu Ratna mengangguk pelan.

“Ini bukan pelanggaran berat… tapi perlu dipantau.”

Sementara itu, di warung kopi dekat kantor desa, teori berkembang pesat.

Santoso meniup kopi panasnya.

“Saya netral, tapi kayaknya anaknya Amat jatuh cinta.”

Sugeng langsung menoleh.

“Yang mana? Yang anaknya dokter itu?”

“Iya. Yang kelas XII.”

Anto baru saja turun dari truk sawitnya. Ia duduk, memesan teh manis, lalu ikut bicara.

“Cinta itu seperti truk sawit.”

Semua otomatis menoleh. Mereka sudah hafal kalimat pembuka itu.

“Kalau sudah jalan, susah direm. Apalagi kalau jalannya menurun.”

Santoso mengangguk bijak.

“Ini menurun tidak?”

Anto menyeruput teh.

“Masih datar. Tapi sopirnya harus hati-hati.”

Di kantor desa, Amat mengetik laporan dengan fokus. Tapi notifikasi WhatsApp keluarga muncul.

Foto aejuna dan kirana

Arjuna dan Kirana duduk berdampingan di acara pentas seni sekolah. Tidak bersentuhan. Tidak berpose aneh. Hanya duduk. Terlihat nyaman.

Amat memperbesar foto itu.

Diam.

Tidak tersenyum. Tidak marah.

Hanya mengamati.

2. Bocor di Grup WhatsApp

Grup “Warga Awan Biru Aktif” biasanya berisi info gotong royong, jadwal posyandu, dan pengumuman rapat.

Hari itu, seseorang mengirim foto yang sama.

Captionnya:
“Generasi penerus desa
️”

Reaksi langsung berderet.

“Anak siapa itu?”

“Kayaknya cucunya Pak Eko.”

“Yang cowok anaknya dokter, kan?”

“Masih sekolah ya?”

Erlangga, ayah Arjuna, membaca dalam diam.

Anita mencoba santai.

“Mas, biasa saja. Duduk bareng.”

Erlangga menghela napas.

“Aku tahu. Tapi desa ini tidak biasa.”

Anita menatap suaminya.

“Kita dulu juga pernah muda.”

“Dulu tidak ada grup WhatsApp.”

Di sudut meja makan, Arjuna pura-pura fokus pada nasi gorengnya.

“Jun,” panggil Erlangga.

“Iya, Yah.”

“Kamu tahu foto kamu beredar?”

“Tahu.”

“Kenapa?”

“Kebetulan duduknya di situ.”

Anita menahan senyum.

Erlangga menatap anaknya lama.

“Kamu masih sekolah.”

“Masih.”

“Targetmu?”

“Lulus. Masuk kuliah.”

“Lalu?”

Arjuna diam sejenak.

“Lalu… lihat nanti.”

Erlangga mengangguk pelan.

“Jangan sampai lihat nanti itu merusak lihat sekarang.”

Arjuna mengangguk.

Di rumah Kirana, suasananya tak jauh berbeda.

Yuni duduk tegak seperti sedang memimpin rapat kecil.

“Kirana.”

“Iya, Bu.”

“Foto itu?”

“Cuma duduk.”

Pak Eko ikut bicara.

“Kamu nyaman?”

Kirana terdiam.

“Iya.”

“Dia sopan?”

“Iya.”

“Tidak ganggu sekolah?”

Kirana menggeleng cepat.

“Tidak.”

Yuni menarik napas.

“Fokusmu tetap belajar?”

“Iya.”

Pak Eko tersenyum kecil.

“Kalau begitu, jangan berlebihan.”

Kirana mengangguk, tapi setelah masuk kamar, ia menutup pintu dan menghela napas panjang.

Ia membuka chat Arjuna.

Kirana:
“Kita jadi trending.”

Arjuna:
“Minimal bukan karena tawuran.”

Kirana tertawa sendiri.

3. Kejadian ‘Kau Ku Jitak’

Sore itu, halaman sekolah lebih ramai dari biasanya. Arjuna datang dengan wajah santai.

Kirana berdiri menunggu, tangan bersedekap.

“Kamu tahu hari ini tanggal berapa?”

Arjuna berpikir cepat.

“Rabu?”

Kirana menatap tajam.

“Selain itu.”

“Lima belas?”

“Selain itu.”

Arjuna mulai gelisah.

“Hari pramuka?”

Kirana menarik napas panjang.

“Setahun lalu hari ini kamu pertama kali ngajak aku pulang bareng.”

Arjuna membeku.

“Oh.”

“Oh?”

“Maaf… aku kira itu cuma… ya… hari biasa.”

Kirana memukul bahunya pelan.

“Dasar pelupa!”

Arjuna tertawa gugup.

“Aku bukan lupa. Aku cuma… tidak menandai kalender.”

“Kamu menandai jadwal futsal!”

“Itu beda.”

Kirana mulai berjalan cepat meninggalkannya.

Arjuna mengejar.

“Rana, tunggu!”

“Tidak mau!”

“Serius aku minta maaf!”

Kirana berbalik sambil setengah tertawa, setengah kesal.

“Kejarlah daku kau ku jitak!”

Arjuna berhenti.

“Apa?”

“Kejarlah daku, kau ku jitak!”

Anak-anak yang lewat langsung tertawa.

“Eh, dengar tidak?”

“Kejarlah daku kau ku jitak!”

Dalam hitungan menit, kalimat itu menyebar.

Arjuna akhirnya berhasil menyusul.

“Baik. Jitak saja sekarang biar lunas.”

Kirana mengangkat tangan dan menjitak pelan kepala Arjuna.

“Supaya ingat.”

Arjuna mengusap kepala.

“Ini sakitnya kecil.”

“Bagus.”

“Tapi malunya besar.”

Kirana tersenyum.

“Biar kamu belajar.”

Kalimat itu jadi legenda kecil di sekolah.
Ditulis di papan tulis.
Dijadikan caption status.
Bahkan ada yang membuat stiker.

“Kejarlah Daku Kau Ku Jitak.”

Lucu. Polos. Tidak berbahaya.

Tapi cukup untuk membuat orang tua makin waspada.

Malamnya, Arjuna pulang dengan wajah sedikit merah.

Amat duduk di ruang tamu.

“Jun.”

“Iya, Kek.”

“Kepalamu kenapa?”

“Terkena… edukasi ringan.”

Amat menahan tawa.

“Dari siapa?”

“Dari sejarah.”

Amat menatap cucunya lama.

“Kamu suka dia?”

Arjuna tidak menjawab bercanda kali ini.

“Iya.”

Amat mengangguk pelan.

“Cinta pertama itu bukan bahaya.”

Arjuna menatap kakeknya.

“Yang bahaya kalau kamu tidak belajar dari situ.”

“Belajar apa?”

“Belajar tanggung jawab. Belajar menahan diri. Belajar hormat.”

Arjuna duduk di sampingnya.

“Aku tidak mau bikin masalah, Kek.”

“Masalah itu tidak selalu datang karena niat jahat.”

“Lalu?”

“Kadang karena kita belum cukup dewasa.”

Arjuna terdiam.

Di luar, suara motor lewat. Desa tetap tenang.

Di dalam rumah itu, seorang remaja mulai memahami bahwa cinta ternyata bukan cuma soal mengejar dan dijitak.

Tapi soal siap tidaknya menanggung akibatnya.

Dan di Desa Awan Biru,
cinta mereka memang belum login ke sistem mana pun.

Tapi notifikasinya sudah berbunyi di mana-mana.

BAB II — Orang Tua, Ego, dan Sistem Desa

1. Sidang Tidak Resmi di Ruang Tamu

Desa Awan Biru mungkin tidak pernah mengadakan rapat resmi soal cinta.

Tapi sore itu, dua keluarga duduk dalam satu ruang tamu dengan suasana yang rasanya seperti sidang anggaran perubahan.

Ruang tamu rumah Pak Eko disulap jadi arena diplomasi. Teh hangat, kue lapis, dan keripik singkong tersaji rapi. Semua tersenyum. Semua sopan.

Dan semua tegang.

Erlangga duduk tegak. Anita di sampingnya berusaha terlihat santai. Amat bersandar dengan wajah datar tapi mata tajam mengamati.

Di seberang mereka, Pak Eko menautkan jari-jarinya. Yuni duduk lurus seperti sedang memimpin rapat pleno.

Kirana dan Arjuna?
Duduk paling ujung. Seperti terdakwa yang belum tahu pasal apa yang dituduhkan.

Pak Eko membuka pembicaraan.

“Kita ini bukan mau melarang.”

Semua mengangguk.

“Tapi kita perlu bicara.”

Erlangga menyambung dengan suara tenang.

“Arjuna sebentar lagi lulus. Fokusnya harus jelas.”

Anita menoleh pada putranya.

“Kamu tahu kan, Nak, kuliah itu tidak ringan?”

Arjuna mengangguk.

“Tau, Bu.”

Yuni memandang Kirana lembut.

“Kirana masih kelas X. Jalannya masih panjang.”

Kirana menggigit bibir bawahnya sedikit.

Amat akhirnya berbicara.

“Cinta boleh.”

Semua menoleh.

“Tapi jangan seperti server jatuh.”

Pak Eko mengernyit.

“Maksudnya?”

Amat menghela napas ringan.

“Jangan down di saat penting.”

Ruangan hening dua detik.

Lalu… tawa kecil pecah.

Ketegangan mencair sedikit.

Erlangga tersenyum tipis.

“Kita ini bukan melarang kalian suka. Tapi jangan sampai sekolah terganggu.”

Arjuna memberanikan diri bicara.

“Kami tidak pernah bolos.”

“Belum,” sahut Yuni cepat, lalu tersenyum agar tidak terdengar galak.

Kirana ikut bicara, pelan tapi jelas.

“Kami cuma ingin… ya biasa saja.”

“Biasa itu definisinya apa?” tanya Pak Eko.

“Jalan pulang bareng. Ngobrol. Jajan cilok,” jawab Kirana.

Amat menyipitkan mata.

“Ciloknya pedas?”

Arjuna hampir tertawa.

“Sedang, Kek.”

“Baik. Pedas boleh. Tapi jangan bikin sakit perut.”

Anita menghela napas lega melihat suasana mencair.

Pertemuan itu tidak menghasilkan aturan tertulis.
Tidak ada perjanjian bermaterai.

Hanya satu kesepakatan tak terucap:
Awasi, tapi jangan mencekik.

2. Cemburu dan Kesalahpahaman

Masalahnya, orang tua boleh berdamai.
Tapi remaja tetap remaja.

Suatu siang, Kirana melihat Arjuna tertawa terlalu lepas dengan teman sekelasnya — seorang siswi kelas XII yang memang terkenal supel.

Mereka berdiri dekat. Terlihat akrab.

Kirana berhenti melangkah.

Perutnya mengencang.

Sore itu chat Arjuna dibalas singkat-singkat.

Arjuna:
“Rana, kenapa?”

Kirana:
“Tidak apa.”

Itu kalimat paling berbahaya di dunia remaja.

Arjuna datang ke depan kelas X.

“Kamu marah?”

“Enggak.”

“Kamu pasti marah.”

Kirana menatapnya.

“Kamu dekat ya sama dia?”

“Siapa?”

“Yang ketawa keras tadi.”

“Oh itu? Dia tanya soal lomba debat.”

“Ketawanya perlu sedekat itu?”

Arjuna mulai kesal.

“Kamu cemburu?”

Kirana terdiam. Itu sudah jawaban.

Arjuna menghela napas.

“Kita tidak bisa cemburu setiap aku ngobrol sama orang.”

Kirana membalas cepat.

“Aku cuma tanya.”

“Tapi nadanya seperti interogasi.”

Kirana tersinggung.

“Kalau kamu merasa diinterogasi, mungkin ada yang salah.”

Arjuna terdiam. Kalimat itu menusuk.

Malamnya, Herman — sahabat Arjuna — mendengarkan curhatan panjang.

“Dia cemburu terus, Man.”

Herman mengangguk.

“Karena dia peduli.”

“Tapi aku jadi merasa dikekang.”

Herman menepuk bahunya.

“Kamu juga jangan terlalu dekat sama yang lain kalau tahu dia sensitif.”

Arjuna menggerutu.

“Jadi harus gimana? Jadi patung?”

Di sisi lain, Kirana duduk di kamar bersama Enjelina.

“Dia bilang aku interogasi.”

Enjelina memiringkan kepala.

“Kamu memang nadanya seperti polisi.”

Kirana melotot.

“Aku cuma takut.”

“Takut apa?”

“Takut dia berubah.”

Enjelina tersenyum lembut.

“Kalau kamu takut kehilangan, jangan sampai ketakutanmu bikin dia pergi.”

Kirana terdiam lama.

Bambang — ayah Kirana — tanpa sengaja mendengar potongan percakapan. Bukannya menegur, ia malah menganalisis seperti debugging sistem.

“Hubungan itu seperti program,” katanya saat makan malam.

Yuni menoleh.

“Mulai lagi.”

“Kalau ada bug kecil, jangan langsung uninstall. Cari tahu error-nya.”

Kirana menatap ayahnya.

“Kalau bug-nya berulang?”

“Update komunikasi.”

Yuni menggeleng pelan tapi tersenyum.

Di warung, Sugeng kembali berkomentar.

“Cinta anak muda itu seperti pupuk online. Banyak yang tidak paham tapi tetap dipakai.”

Santoso tertawa.

“Maksudnya?”

“Kadang takarannya salah. Tanamannya bisa tumbuh, bisa juga layu.”

Anto menyeruput kopi.

“Yang penting jangan over dosis.”

Konflik memuncak sore itu di lapangan sekolah.

Kirana akhirnya berkata dengan suara bergetar,

“Kamu serius nggak sih?”

Arjuna langsung menjawab, hampir tanpa pikir.

“Serius! Tapi jangan suruh saya dewasa mendadak!”

Kirana terdiam.

“Jadi kamu belum dewasa?”

“Aku lagi belajar!”

“Belajar atau main-main?”

“Aku tidak main-main!”

“Tapi kamu juga tidak meyakinkan!”

Sunyi.

Angin lewat membawa debu tipis.

Arjuna menunduk sebentar.

“Kalau kamu mau aku sempurna sekarang, aku tidak bisa.”

Kirana membalikkan badan.

“Aku cuma mau kamu jelas.”

Hari itu mereka pulang sendiri-sendiri.

3. Amat dan Nasihat Senja

Senja selalu punya cara membuat orang lebih jujur.

Arjuna duduk di teras rumah. Amat datang membawa dua gelas teh hangat.

“Kamu ribut?”

Arjuna tidak kaget.

“Kok tahu?”

“Wajahmu seperti laporan keuangan minus.”

Arjuna tersenyum kecil.

“Aku capek, Kek.”

“Capek apa?”

“Dia cemburu. Aku merasa dikekang.”

Amat duduk di sampingnya.

“Cinta itu bukan soal mengejar.”

Arjuna menoleh.

“Tapi soal bertahan.”

“Kalau dikejar terus?”

“Ya kamu capek sendiri.”

Arjuna menghela napas.

“Aku takut salah.”

“Kamu pasti salah. Namanya juga belajar.”

“Kalau dia pergi?”

Amat menatap langit senja.

“Kalau dia pergi karena kamu belum sempurna, berarti dia juga belum siap.”

Arjuna diam.

“Kamu mau jadi laki-laki seperti apa?” tanya Amat pelan.

Arjuna berpikir lama.

“Yang tidak bikin orang tuanya malu.”

“Bagus.”

“Yang tidak bikin dia menangis.”

“Lebih bagus.”

“Yang tidak lari kalau ada masalah.”

Amat tersenyum.

“Nah. Itu baru belajar.”

Malam itu, Arjuna mengirim pesan sederhana.

Arjuna:
“Aku tidak sempurna. Tapi aku tidak main-main.”

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Kirana:
“Aku juga tidak mau mengekang. Aku cuma takut.”

Arjuna:
“Aku juga takut.”

Beberapa ketakutan ternyata saling mengerti ketika diucapkan pelan.

Mereka bertemu lagi di depan sekolah dua hari kemudian.

Tidak ada drama.

Tidak ada pidato panjang.

Hanya Kirana berkata pelan,

“Jangan bikin aku cemburu sengaja.”

Arjuna tersenyum.

“Jangan interogasi aku seperti tersangka.”

Kirana tertawa kecil.

“Baik.”

Arjuna mengulurkan tangan.

“Damai?”

Kirana menepuk tangannya pelan.

“Damai.”

Hubungan itu tidak tiba-tiba jadi dewasa.

Tidak langsung sempurna.

Tapi ada satu hal yang berubah:

Arjuna tidak lagi hanya mengejar.
Ia mulai belajar bertahan.

Dan Kirana tidak lagi hanya takut kehilangan.
Ia mulai belajar percaya.

Di Desa Awan Biru,
server mungkin sesekali lambat.

Tapi cinta mereka?
Mulai menemukan kestabilannya — pelan, tidak dramatis, tapi lebih matang dari kemarin.

BAB III — Dari “Kejarlah Daku” ke Akad Nikah

1. Waktu Melompat

Waktu tidak pernah benar-benar terasa berjalan… sampai suatu hari kita menyadari tinggi badan sudah bertambah, suara sudah lebih berat, dan cara memandang dunia tidak lagi sama.

Arjuna kini berdiri di depan gedung fakultas kedokteran. Jas almamaternya kebesaran di awal semester, tapi kini pas di badan. Rambutnya lebih rapi. Tatapannya lebih tenang.

Di kota yang lebih ramai dari Desa Awan Biru, ia belajar tentang anatomi, diagnosis, dan tanggung jawab hidup manusia.

Suatu malam di kamar kosnya, ia menerima video call.

Kirana muncul di layar dengan latar perpustakaan kampus manajemen.

“Kamu kelihatan capek,” kata Kirana.

“Kuliah kedokteran itu bukan cuma belajar. Itu begadang berjamaah.”

Kirana tersenyum.

“Aku juga lagi pusing laporan keuangan. Ternyata manajemen itu tidak semudah teori.”

Arjuna tertawa kecil.

“Dulu kita ribut soal siapa duduk sebelahan. Sekarang ribut sama deadline.”

“Dan dosen,” tambah Kirana.

Hubungan mereka tidak selalu halus.

Ada masa jarak terasa berat.
Ada malam ketika pesan dibalas lama.
Ada hari ketika cemburu muncul lagi, lebih dewasa tapi tetap ada.

Suatu kali, Arjuna berkata jujur,

“Kadang aku takut kita berubah.”

Kirana menjawab pelan,

“Kita pasti berubah. Tapi bukan berarti menjauh.”

“Kalau berubahnya terlalu jauh?”

“Berarti kita harus berjalan mendekat lagi.”

Cinta yang dulu receh… kini tidak lagi soal dijemput atau tidak.

Ia menjadi soal komitmen menunggu.
Menahan ego.
Mengerti jadwal masing-masing.

Dan setiap kali Arjuna pulang ke desa, langkahnya otomatis menuju rumah Kirana dulu sebelum ke mana pun.

2. Restu yang Tidak Lagi Rumit

Pertemuan keluarga kembali terjadi.
Ruang tamu yang sama. Teh hangat yang sama. Tapi suasananya berbeda.

Kali ini tidak ada nada interogasi.

Hanya senyum-senyum yang sulit disembunyikan.

Pak Eko membuka percakapan dengan nada ringan,

“Jadi… ini bukan rapat evaluasi lagi ya?”

Erlangga tersenyum.

“Sepertinya bukan.”

Amat duduk bersandar, lebih banyak mengamati.

Arjuna duduk tegak.

“Saya sudah menyelesaikan koas tahun depan.”

Kirana menyambung,

“Dan saya sudah diterima kerja di perusahaan konsultan.”

Yuni menatap putrinya dengan bangga yang tak lagi ditutupi kekhawatiran.

Anita memandang Arjuna, kali ini bukan sebagai anak kecil yang harus dijaga, tapi sebagai laki-laki yang mulai berdiri sendiri.

Erlangga berdehem pelan.

“Saya dulu terlalu khawatir.”

Semua menoleh.

“Takut kuliah terganggu. Takut masa depan berantakan. Ternyata… saya yang terlalu takut.”

Pak Eko terkekeh.

“Anak-anak ini ternyata lebih kuat dari sistem kita.”

Amat menambahkan,

“Sistem saja bisa di-update. Apalagi hati.”

Tawa kecil memenuhi ruangan.

Tidak ada lagi kalimat “masih sekolah” atau “fokus dulu.”

Yang ada hanya satu pertanyaan sederhana.

“Jadi… kapan?”

Arjuna dan Kirana saling pandang.

Untuk pertama kalinya, mereka tidak malu.

“Kalau semua setuju… tahun depan,” jawab Arjuna mantap.

Kirana mengangguk.

Dan anehnya, tidak ada yang keberatan.

3. Akad di Bawah Senja Awan Biru

Desa Awan Biru tidak pernah punya pesta mewah.
Tapi selalu punya kehangatan.

Pernikahan digelar sederhana di halaman kantor desa — tempat yang dulu menjadi saksi banyak rapat, konflik, dan cerita.

Dekorasi putih sederhana. Kursi tersusun rapi. Tenda berdiri kokoh.

Anto berdiri sebagai saksi, mengenakan batik terbaiknya.

“Biasanya saya saksi muatan sawit,” gumamnya pelan, “ini saksi muatan hati.”

Didit memimpin doa dengan suara tenang dan dalam.

Lulu bolak-balik memastikan konsumsi cukup.

“Pastikan tamu barisan belakang dapat kue juga!” serunya.

Endang mengawasi jalannya acara.

“Jangan sampai mic mati waktu ijab!”

Bidan Amelia sibuk mengecek tamu lansia.

“Bapak jangan berdiri lama-lama. Duduk saja.”

Herman dan Enjelina membantu di sana-sini, tersenyum bangga.

Ketika Arjuna duduk berhadapan dengan penghulu, tangannya sedikit gemetar.

Amat yang duduk di barisan depan memperhatikan dengan mata berkaca-kaca.

Ijab kabul diucapkan. Suara Arjuna lantang, jelas, tidak terbata.

“Sah.”

Kata itu terdengar sederhana.

Tapi beratnya setara perjalanan bertahun-tahun.

Kirana menunduk haru. Air matanya jatuh pelan.

Anto berbisik pada Sugeng,

“Dulu lari-larian di sekolah. Sekarang duduk tenang begini.”

Sugeng mengangguk.

“Dulu kejar-kejaran. Sekarang sehidup-semati.”

Senja mulai turun ketika mereka berdiri berdampingan sebagai suami istri.

Langit Awan Biru berwarna jingga lembut.

Amat berdiri perlahan, menatap cucunya.

Dalam benaknya terputar adegan lama — halaman sekolah, suara tawa, kalimat yang viral itu.

“Kejarlah daku kau ku jitak.”

Ia tersenyum sendiri.

Kini tidak ada lagi yang berlari.
Tidak ada lagi yang dijitak.

Yang ada hanya dua orang berdiri sejajar.
Tidak saling mengejar.
Tidak saling menjauh.

Berdampingan.

Arjuna menoleh pada Kirana.

“Masih mau lari?”

Kirana tersenyum.

“Sekarang kalau aku lari, kamu ikut.”

“Kenapa?”

“Karena kita satu arah.”

Arjuna tertawa kecil.

“Gang Mawar dan Melati?”

“Kita buat gang baru saja.”

Di bawah langit senja Desa Awan Biru,
cinta yang dulu dianggap gangguan sistem
kini menjadi bagian dari fondasi keluarga.

Dan Amat berbisik pelan,

“Ternyata yang paling sulit bukan membangun desa…
tapi membiarkan anak-anak tumbuh dan memilih.”

Senja turun perlahan.

Bukan sebagai akhir.

Tapi sebagai warna yang menghangatkan perjalanan panjang
dari “Kejarlah Daku”
menuju “Aku Terima Nikahnya.”

EPILOG — Cinta yang Tidak Lagi Dikejar

Halaman kantor desa sore itu lebih lengang dari biasanya.

Kursi-kursi plastik bekas hajatan sudah disusun rapi. Tenda telah dibongkar. Hanya beberapa helai bunga yang tertinggal di sudut panggung kayu yang tadi siang menjadi saksi ijab kabul.

Langit Awan Biru kembali menampilkan warna kebanggaannya: jingga yang lembut, seperti lukisan yang tak pernah gagal.

Arjuna dan Kirana duduk berdampingan di bangku panjang dekat tiang bendera. Tidak ada lagi riasan tebal. Tidak ada lagi sorotan tamu. Hanya dua manusia yang akhirnya berhenti berlari.

Arjuna menyandarkan punggungnya.

“Capek juga ya jadi pengantin.”

Kirana menghela napas ringan.

“Capek karena kamu grogi tadi.”

“Aku grogi karena kamu lihat terus.”

“Aku lihat karena takut kamu salah sebut nama.”

Arjuna pura-pura tersinggung.

“Memangnya aku pernah salah?”

Kirana menyipitkan mata.

“Dulu pernah salah kirim chat.”

Arjuna tertawa keras.

“Itu zaman SMA. Sistem masih beta version.”

Kirana ikut tertawa.

Hening kecil menyelip di antara mereka. Bukan hening canggung. Tapi hening yang nyaman.

Arjuna menoleh, senyum jahilnya kembali muncul.

“Kalau kamu lari lagi?”

Kirana menatapnya, pura-pura berpikir serius.

“Sekarang kalau aku lari, kamu yang repot.”

“Kenapa?”

“Aku istrimu.”

Arjuna menepuk dahinya pelan.

“Oh iya juga. Berarti kalau kamu kabur, aku ikut dicari.”

“Bukan dicari,” Kirana mengoreksi lembut.
“Diajak pulang.”

Angin sore berembus pelan. Ujung kerudung Kirana bergerak pelan, menyentuh lengan Arjuna.

Dari kejauhan, suara Sugeng terdengar samar.

“Eh, pengantinnya belum pulang juga?”

Santoso menjawab,
“Biarkan. Lagi update status hidup.”

Di teras kantor desa, Amat berdiri sendirian. Tangannya di belakang punggung. Tatapannya lurus ke arah dua sosok muda di bangku panjang itu.

Wajahnya tidak lagi setegas dulu. Garis usia terlihat jelas. Tapi sorot matanya hangat.

Ia teringat masa ketika Arjuna masih kecil, berlari tanpa arah. Tertawa keras. Menangis karena hal-hal sepele.

Ia juga teringat hari ketika pertama kali mendengar kabar tentang “cinta remaja” yang katanya bisa mengganggu stabilitas.

Ia sempat khawatir.
Sempat ingin mengatur.
Sempat ingin memastikan semua berjalan sesuai sistem.

Kini ia sadar, tidak semua hal bisa dibuatkan regulasi.

Pak Eko mendekat pelan.

“Masih mikir, Mat?”

Amat tersenyum tipis.

“Tidak. Cuma mengakui kekalahan.”

“Kalah?”

“Iya. Saya bisa mengatur arsip desa. Bisa menata data. Tapi soal hati cucu… tidak ada SOP-nya.”

Pak Eko tertawa kecil.

“Syukurlah tidak ada. Kalau ada, mungkin kita ribut lagi.”

Keduanya memandang Arjuna dan Kirana yang masih tertawa kecil di bangku.

“Dulu kita anggap mereka gangguan,” gumam Pak Eko.

“Sekarang?” tanya Amat.

“Sekarang jadi kebanggaan.”

Amat menarik napas panjang. Dalam hati, ia berbisik pelan:

Ternyata yang paling sulit bukan membangun sistem desa.
Tapi merelakan cucu jatuh cinta.

Senja semakin turun. Warna jingga berubah menjadi ungu lembut.

Arjuna berdiri lebih dulu, mengulurkan tangan pada Kirana.

“Pulang, Bu?”

Kirana mengangkat alis.

“Baru beberapa jam jadi istri sudah panggil ‘Bu’?”

“Latihan. Biar cepat terbiasa.”

Kirana menerima tangan itu. Berdiri. Sejajar.

Tidak ada lagi adegan kejar-kejaran.
Tidak ada lagi ancaman jitakan.
Tidak ada lagi drama remaja yang meledak-ledak.

Yang ada hanya dua langkah yang disamakan.

Saat mereka berjalan melewati Amat, Arjuna berhenti sebentar.

“Datuk… terima kasih.”

Amat mengangguk, suaranya berat oleh sesuatu yang tak perlu dijelaskan.

“Jaga dia baik-baik.”

Arjuna menjawab mantap,
“Iya.”

Kirana menyelipkan tangannya ke lengan Arjuna.

“Kalau dia macam-macam?”

Amat tersenyum tipis.

“Saya masih bisa jitak.”

Semua tertawa.

Langkah mereka menjauh perlahan dari halaman kantor desa. Bayangan mereka memanjang di tanah yang mulai redup.

Dari cinta yang dulu dianggap gangguan sistem,
kini menjadi kisah yang dirayakan seluruh desa.

Dan di bawah langit Awan Biru yang semakin gelap,
tidak ada lagi yang mengejar.

Karena yang sejajar tidak perlu berlari.

Tamat.