CERPEN
TIGA DARA
LUPAKAN URUSAN PACAR UNTUK SEMENTARA
Oleh: Slamet Riyadi
Bel masuk SMA Awan Biru baru saja berbunyi. Namun, tiga
siswi kelas XI IPA ini justru berjalan santai menuju kantin. Mereka adalah Kirana,
Naila, dan Lidya, atau yang lebih dikenal sebagai "Tiga Dara".
"Ra, lo yakin guru nggak masuk?" tanya Lidya
sambil menggeser rambut panjangnya yang sebahu. Gaya jalannya agak amburadul,
tapi entah kenapa kelihatan keren. Seperti model catwalk yang salah panggung.
"Insya Allah, Ly. Pak Budi lagi pelatihan di
kecamatan," jawab Kirana yakin. Gadis berponi ini terkenal paling update
informasi. Cucu Kaur Perencanaan, ya gitu deh, suka ngatur. Bahkan jadwal guru
bolos aja dia catet di buku agenda.
Naila mencubit lengan Kirana. "Eh, lo liatin Arjuna,
ya? Jangan malu-maluin, Ra. Dari tadi lo udah lima kali nengok ke kanan. Lo
pikir lo wiper mobil?"
"Apaan, sih? Gue liatin pohon pisang di
belakangnya!" Kirana berusaha membela diri, padahal dadanya berdebar
kencang. Debarannya kayak lagu dangdut koplo.
"Pohon pisang? Lo suka sama pohon pisang? Berarti lo
jodohnya monyet, dong?" ledek Naila sambil nyengir kemenangan.
Kirana memutar mata. "Diem lo, Lidya. Lo juga dari
tadi ngelipetin uang seribu lima kali. Itu uang mau lo lamar?"
Arjuna, putra dr. Erlangga, memang lagi duduk di kantin
bersama Hermansyah dan Dadang. Cowok berkacamata itu tertawa bareng Hermansyah,
cucu Pak Kades. Suara tawanya... duh, bikin Kirana suka lupa nama rumus kimia.
Bahkan tadi di kelas, dia nulis NaCL jadi NaClara.
"Kirana, ngelus-ngelus meja kayak lagi baca Al-Qur'an
aja lu," ledek Ldya lagi. "Kalo lo baca Al-Qur'an, yang bener. Itu
meja, bukan sajadah."
Naila terkikik. "Dia lagi salat tahajud, kali. Minta
jodoh yang pinter kayak Arjuna. Atau salat hajat biar Arjuna liat ke
sini."
"Diem lo, bebek!" Kirana menepuk pundak Naila.
"Lo juga dari tadi ngelipetin ujung rok. Rok lo mau lo setrika pake
tangan?"
Di meja sebelah, Hermansyah mencolek Dadang. "Bang,
tuh Tiga Dara pada ngeliatin kita. Menurut lo, mereka ngeliatin siapa?"
Dadang, cowok enerjik yang rambutnya selalu acak-acakan
kayak baru bangun tidur, langsung berbisik, "Mana? Wah, gue liat Kirana
lagi senyum. Itu pertanda baik!"
"Pertanda baik apa, tolol? Itu pertanda lo bakal
dikasih PR tambahan sama Bu Guru. Lo liat senyumannya? Itu senyum sinis, Bang.
Bukan senyum cinta," sahut Hermansyah sambil ngelus dada.
"Lo pikir lo psikolog? Baca senyum aja lebay,"
balas Dadang.
Arjuna cuma geleng-geleng. "Udah, udah. Daripada
ribut, mending lo berdua liatin es teh masing-masing. Itu es teh lebih menarik
dari pada lo berdua."
Tiba-tiba, Mbah Karyo keluar dari dapur sambil bawa es teh
manis. Kakek berumur 70 tahun ini masih lincah dan suka nge-prank anak muda.
"Wis, wis, pada ngapaian? Mending pada belajar, jangan pada lirik-lirikan
kayak ayam liat musang."
"Kami nggak lirik-lirikan, Mbah," sahut Lidya
cepat.
"Oh ya? Terus mata lo kenapa? Kayak kena kedip-kedip
lampu disco?" ledek Mbah Karyo.
Semua ketawa. Tapi mata mereka tetap saling mencari. Kirana
diam-diam ngelirik Arjuna yang lagi ngelap kacamatanya. Kenapa sih
cowok itu kalo ngelap kacamata kelihatan pinter banget? batin Kirana.
Naila sibuk ngatur napas. Soalnya tadi Hermansyah ngeliat
ke arahnya dan... senyum. Duh, Tuhan, kenapa senyumannya manis kayak gula jawa
asli?
Lidya? Dia malah sibuk ngeliatin Dadang yang lagi ngelus
dagu. Duh, cowok itu kalo ngelus dagu kayak lagi mikirin rumus
relativitas. Padahal mah mungkin mikirin gorengan.
"Ly, lo ngiler," bisik Naila.
"Apa? Ah, enggak! Gue lagi mikir... uh... tugas!"
"Tugas apaan? Libur, Bolot!"
Lidya garuk-garuk kepala yang nggak gatal.***
Sore harinya, di warung kopi RT 02 milik Mbah Karyo, tiga
dara nongkrong sambil nugas. Eh, tiba-tiba datang rombongan anak-anak kecil:
Joko (8 tahun), Titik (6 tahun), dan Juana (9 tahun). Mereka kayak detektif
cilik yang selalu tau rahasia orang.
"Mba Kirana, titip salam! Kata Kang Arjuna, mba Kirana
cantik hari ini," teriak Joko.
Kirana hampir tersedak es jeruk. "Apa? Siapa yang
suruh bilang?"
"Enggak, itu kata Juana!" Joko cekikikan sambil
loncat-loncat.
Juana mengangguk polos. Mata bulatnya berbinar. "Iya,
tadi Kang Arjuna nanyain Mba Kirana. Katanya, 'Ju, Kirana lagi di mana? Kok
nggak kelihatan seharian?' Terus aku bilang, 'Kang Arjuna naksir Mba Kirana,
ya?'"
Kirana langsung menutup muka dengan kedua tangan. Wajahnya
merah kayak tomat kepanasan. "Ya Allah, Juana, nanti Mba kasih permen,
diem ya."
"Tapi Kang Arjuna nggak jawab. Dia malah ngasih aku
seribu! Berarti iya, dong!" Juana makin semangat.
Lidya melotot. "Terus, yang nanyain gue siapa?
Jangan-jangan nggak ada?"
Titik, adiknya Joko yang masih pakai kuncir dua, angkat
tangan mungilnya. "Kang Dadang! Tapi dia bilang, 'Titik, mba Lidya lagi di
mana?' Terus aku jawab, 'Lagi di rumah Mbah Karyo. Mau digrebek?'"
Ledakan tawa pecah. Lidya memegang kepala. "Anak kecil
jaman now lebay-lebay. Grebek-grebek apaan, sih? Gue bukan maling!"
"Terus Kang Dadang ngapain?" tanya Kirana penasaran.
Titik mikir bentar. "Dia garuk-garuk kepala, trus
bilang, 'Udah, nggak jadi.' Terus pergi. Aneh, ya? Orang garuk-garuk kepala
sampe rambutnya kayak sarang burung."
Dadang yang baru datang dari arah belakang langsung kaget.
"Heh, lo pada ngomongin gue, ya?"
Semua pada diam. Lalu Joko teriak, "Iya, Bang! Katanya
lo garuk-garuk kepala sampe rambut kayak sarang burung!"
Dadang garuk-garuk kepala lagi. "Ah, bocah nggak
sopan."
Belum selesai drama, Anto si sopir truk yang sok tahu
datang. Om-om 45 tahun ini suka bawel dan ngaku punya indera keenam. "Woy,
anak-anak. Lo pada tau nggak? Semalam gue mimpi."
"Ah, Pak Anto lagi. Mimpinya apaan? Jodoh lagi?"
celetuk Kirana malas.
"Iya, gue mimpi lo, Kirana, nikah sama Arjuna. Trus
lo, Naila, sama Hermansyah. Lo, Lidya, sama Dadang. Tapi... acaranya di atas
gerbong kereta wisata! Dan yang ngebacain ijab kabulnya Mbah Karyo!"
Mbah Karyo yang lagi ngeloyor bawa gelas langsung berhenti.
"Wah, Anto, mimpimu tingkat tinggi. Gerbong kereta, bukan gerbong sapi.
Tapi kok gue yang jadi penghulu? Udah tua begini malah jadi penghulu. Kapan
lulus ujiannya?"
"Udah, Pak Anto, jangan meramal sembarangan,"
potong Naila malu-malu.
"Bukan meramal, Nduk. Ini firasat. Gue kan punya
indera keenam. Kemarin gue juga ngeramal sapi pak RT bakal melahirkan, eh iya.
Kemarin lagi, gue ngeramal hujan, eh iya."
"Pak Anto, itu mah namanya perkiraan cuaca, bukan
indera keenam," ledek Hermansyah yang baru datang.
Arjuna muncul dari belakang Hermansyah. "Udah, Pak.
Nanti kalo beneran nikah, yang pertama undang Pak Anto."
Kirana langsung nunduk. Hatinya dag-dig-dug. Dia
bilang "kalo beneran nikah"? Maksudnya?
Naila sibuk ngipas-ngipas muka. Lidya malah sibuk
garuk-garuk kepala kayak Dadang. Joko, Titik, dan Juana pada cekikikan sambil
bisik-bisik.
"Udah, udah. Mending lo pada ngopi dulu," ajak
Mbah Karyo. "Ini gorengan baru. Mumpung anget."
Mereka pun duduk melingkar. Tapi posisi duduknya nggak
biasa. Arjuna duduk di depan Kirana. Hermansyah di depan Naila. Dadang di depan
Lidya. Kayak lagi setting-an buat kencan buta.
"Kok lo pada diem?" tanya Arjuna.
"Lo duluan yang diem," balas Kirana.
"Gue kan nunggu lo ngomong."
"Gue nunggu lo ngomong."
Dadang garuk-garuk kepala lagi. "Lha, ini mah malah
pada saling nunggu. Kaya lomba diam. Mending gue ngomong aja. Ly, lo udah
makan?"
Lidya bengong. "Udah... tadi... eh, belum... eh
udah... lupa."
"Lupa? Lo lupa makan?" Dadang ketawa.
"Untung nggak lupa nama sendiri."
"Gue nggak lupa nama. Lo aja yang aneh. Kok nanya udah
makan atau belum?"
"Soalnya tadi lo liatin gorengan kayak lagi
ngelamar."
Mbah Karyo ngacungin jempol. "Nah, itu baru dialog
romantis. Nanya udah makan, tandanya perhatian. Jaman gue dulu, kalo naksir
cewek, gue kasih singkong rebus."
Semua ketawa. Suasana mulai cair.***
Pagi-pagi, di kelas XI IPA, Bu Guru Rini masuk dengan muka
tegang. Wajahnya kayak habis lihat utang jatuh tempo. "Anak-anak, hari ini
ada rapat orang tua. Yang nilai rapor tengah semester turun, orang tuanya
dipanggil."
Dunia serasa runtuh buat Naila. "Ya Tuhan, gue turun
tiga peringkat. Nyokap gue bakal ngamuk. Dulu waktu turun satu peringkat aja,
gue disuruh ngaji sampe khatam."
"Turun tiga peringkat dari mana?" tanya Lidya.
"Dari peringkat 15 ke 18," bisik Naila.
"Dih, turun dikit doang, lo kayak kiamat aja. Gue dari
peringkat 7 ke 25 nggak bunuh diri," balas Lidya cuek sambil ngelem
catatan.
"Lo mah beda. Lo udah kerasan di jurang."
"Iya, jurang kebebasan."
Kirana megang jidat. "Lo berdua ini... gue turun dari
peringkat 3 ke 4 aja udah stres. Lo pada santai banget."
"Ya namanya juga hidup, Ra. Kadang di atas, kadang di
bawah. Lo kira peringkat itu kayak eskalator? Naik terus?" filosofi Lidya.
Bu Guru Rini nepuk meja. "Udah, udah. Jangan pada
ngelamun. Yang nilainya bagus, pertahankan. Yang turun, perbaiki. Jangan
kebanyakan nongkrong di warung Mbah Karyo."
Semua pada diem. Tapi dalam hati mereka protes. Mbah
Karyo mah tempat nongkrong paling adem, Bu.
Di luar kelas, para cowok lagi ngumpul di bawah pohon
mangga. Hermansyah ngomong, "Bang, gue curhat dikit. Lo jangan
ketawa."
"Curhat aja, Bang. Gue siap nampung curhatan lo, kayak
bak penampungan air hujan," kata Dadang.
"Gue suka sama Naila. Tapi tiap liat dia, gue malah
lupa nama gue sendiri. Kemarin gue mau minta pulpen, eh yang keluar, 'Naila,
pinjam... hati lo.'"
Dadang ngakak sampai tersedak ludah sendiri. "Pinjam
hati? Lu mau lamaran, bang? Kalo pinjam hati, kapan balikinnya?"
"Makanya gue bingung. Trus dia jawab, 'Hati lo mana?'
Gue bengong. Lupa kalo hati gue masih di tempat."
Arjuna ngetuk kepala mereka berdua. "Udah, udah. Fokus
dulu. Kalo nilai turun, nggak bakal direstuin orang tua. Lo tau sendiri bokap
gue, dokter. Kalo nilai turun, dia bakal nyuntik pake jarum sunat."
"Waduh, serem amat," Hermansyah merinding.
"Bukan serem. Itu pilihan. Antara belajar atau
disuntik."
Di warung Mbah Karyo, Si Amat, admin desa yang humoris, lagi
ngopi sambil ngasih wejangan. Pak Amat ini kalau ngomong suka muter-muter dulu,
kayak lagu lawas.
"Kalian ini, anak-anak SMA, pusingnya jangan cuma
pacar. Nilai matematika aja setengah mati. Nanti kalo udah lulus, baru deh
pacaran. Tapi inget, jangan sampe kebablasan."
"Emang kebablasan gimana, Pak?" tanya Dadang
polos.
"Kebablasan itu... lo pacaran tapi lupa sholat. Lo
pacaran tapi lupa makan. Lo pacaran sampe lupa kalo lo masih punya utang PR.
Itu namanya kebablasan."
Mendadak Endang, neneknya Naila yang juga Kasi Pelayanan,
muncul dari balik warung. Wajahnya galak, tapi sebenernya baik hati.
"Naila! Loe belajar atau ngelamunin cowok? Awas, ya, kalo nilai turun
lagi! Nek Endang bakal kasih lo tugas tambahan: nulis 100 kali 'Aku janji nggak
pacaran sampe lulus'!"
Naila meringkuk. "Iya, Nek. Tapi aku nggak pacaran,
Nek. Cuma suka."
"Suka aja udah dosa. Apalagi sampe cinta. Nanti lo
lupa sama Allah."
Amelia, Bidan Desa sekaligus neneknya Lidya, ikut nimbrung.
Beliau baru pulang dari posyandu. "Iya, Lidya juga. Jangan sok sibuk nulis
puisi buat cowok. Nulis rumus dulu, baru nulis puisi. Puisi mah kapan aja bisa.
Kalo rumus, kalo lupa ya lupa."
Lidya cuma bisa garuk-garuk kepala. "Iya, Nek. Aku
nggak nulis puisi kok."
"Oh ya? Trus tadi aku liat buku catetan lo, banyak
coretan 'Dadang, Dadang, Dadang'. Itu apa, kalo bukan puisi?"
Lidya merah padam. "Itu... itu... catatan biologi,
Nek! Dadang itu nama latinnya... uh... daun!"
Semua ngakak. Naila sampe megang perut. "Daun? Daun
apa, Ly? Daun singkong?"
"Daun... uh... Daun Dang-dangan!"
Amelia cuma geleng-geleng sambil senyum. "Wis, wis.
Aku cuma ngomong, jangan sampe nyesel nanti."***
Mendekati Ujian Akhir Semester, sekolah berubah jadi ladang
stres. Suasana kelas kayak ruang perang. Semua sibuk baca buku, coret-coret
kertas, atau ngelamun sambil mikirin masa depan.
Kirana belajar mati-matian. Di kamarnya, dinding penuh
tempelan rumus. Ayahnya, Pak Bambang, sering ngasih soal tambahan sampe tengah
malam. "Ra, kalo lulus nanti, boleh minta apa aja."
"Apa aja, Pa?"
"Asalkan bukan minta pacar."
"Yah, rese. Pacar kan nggak jualan, Pa. Masa iya minta
di toko?"
"Lo tau maksud bapak."
"Tau, Pa. Bapak mah overprotektif."
"Iya, karena bapak sayang. Nanti kalo udah kuliah,
silahkan. Sekarang fokus dulu."
Kirana ngelus dada. Bapak kok kayak satpam, ya?
Jaga ketat banget.
Naila di rumah malah sibuk bantuin Ibunya, Juana. Tapi
pikirannya melayang ke Hermansyah yang tadi ngasih dia es krim di kantin. Dia
baik banget... apa dia suka? Atau cuma temenan?
"Naila, lo ngulek sambel apa ngulek lamunan?"
tegur Juana.
"Ah, nggak, Ma. Ini lagi ngulek..."
"Naila, cabenya udah ancur. Ini mau jadi bubur
cabe?"
Naila liat cobek. Cabe-cabe udah lumat kayak bubur bayi.
"Aduh, Ma. Maaf."
"Udah, udah. Lo istirahat aja. Mikirin cowok mulu.
Kalo lulus nanti, baru deh mikirin yang begituan. Sekarang fokus belajar."
"Iya, Ma."
Lidya? Dia malah lagi sibuk ngedekor mading sekolah bertema
"Cinta dan Prestasi". Ketika lagi asik ngelem kertas, Dadang datang.
Cowok itu kelihatan ragu-ragu.
"Ly, bantuin?"
"Bantuin apa?"
"Bantuin gue... ngerti rumus fisika."
Lidya ketawa. "Gue aja belum tentu ngerti, Bang. Lo
minta bantuan orang buta buat nebeng, ya?"
"Tapi lo kan pinter bahasa. Mungkin cara ngajarnya
beda. Gue kalo baca buku fisika, matanya kayak digedor-gedor."
"Bang, fisika itu bukan bahasa. Lo nggak bisa nulis
puisi buat rumus. Rumus nggak bakal bales."
"Ya udah, minimal temenin belajar. Biar nggak sendiri.
Sendiri itu galau."
Lidya mikir bentar. "Ya udah. Nanti sepulang sekolah,
di perpustakaan. Tapi janji, lo serius. Bukan malah ngelamun."
"Janji deh. Kalo gue ngelamun, gue traktir es krim
seminggu."
"Deal!"
Dr. Erlangga, ayah Arjuna, suatu sore mampir ke sekolah.
Beliau baru selesai praktek. "Arjuna, tolong inget, kamu itu contoh buat
teman-teman. Jangan sampai kegoda hal yang nggak jelas."
"Iya, Pa."
"Tapi kalo nanti waktunya tepat, silakan. Asal jangan
sekarang. Ayah dulu juga pacaran pas kuliah. SMP-SMA mah fokus belajar."
Arjuna manggut-manggut. Tapi hatinya berkata, Tapi,
Pa... aku suka sama Kirana. Aku cuma nunggu waktu yang tepat. Kayak lagu,
nunggu nada yang pas.
Di sisi lain, Kades Iwan malah ngasih wejangan ke semua
anak muda di balai desa. Bapak-bapak berusia 50 tahun ini karismatik banget
kalo ngomong.
"Pacaran itu boleh, tapi jangan digeber-geber. Kaya
motor, kalo digeber terus, ntar ngeden. Mending pelan-pelan, nikmati masa muda
dengan belajar."
Semua tertawa, termasuk Pak Eko, kakeknya Kirana.
"Iya, cucu saya aja saya ingetin terus. Disiplin dulu, baru cinta. Jangan
sampe kayak saya dulu, pacaran sampe lupa kalo besok ujian."
"Trus gimana, Pak Eko?" tanya Dadang.
"Ya nilainya jeblok. Untung mbah putrinya nggak marah.
Malah bilang, 'Udah, nggak papa. Yang penting jujur.'"
"Wah, romantis juga, Pak."
"Romantis apanya? Itu mah nasib. Sekarang saya jadi
Kaur Perencanaan gara-gara rajin, bukan gara-gara pacaran."***
Hari kelulusan tiba. Matahari bersinar cerah, langit biru
tanpa awan. SMA Awan Biru dihias bendera merah putih dan umbul-umbul
warna-warni. Suasana haru campur bahagia.
Arjuna, Hermansyah, dan Dadang resmi lulus SMA Awan Biru.
Tiga Dara masih kelas XI, jadi mereka cuma bisa nonton dari barisan penonton.
Duduk di kursi kayu lapangan, sambil megang kamera Hp masing-masing.
"Liat tuh Arjuna, pake toga, ganteng banget,"
bisik Kirana ke Naila.
"Lo liat Hermansyah, rambutnya disisir rapi. Biasanya
kayak sarang tawon," balas Naila.
"Dadang juga, dasinya lurus. Biasanya miring kayak
tanjakan," timpal Lidya.
Mereka bertiga ngikik.
Acara kelulusan berlangsung khidmat. Sambutan kepala
sekolah, pengumuman nilai terbaik, dan Arjuna masuk tiga besar. Hermansyah
dapat juara harapan. Dadang? Dia lulus dengan nilai pas-pasan, tapi tetap
senyum lebar.
Saat acara ramah tamah selesai, para siswa berpamitan. Ada
yang nangis, ada yang ketawa, ada yang foto-foto. Orang tua pada sibuk megang
kamera.
Arjuna nyamperin Kirana di pinggir lapangan. Udara sore
sejuk, angin berhembus pelan. Di belakang mereka, pohon mangga tua berdiri
kokoh.
"Kirana, makasih, ya. Lo udah jadi temen belajar yang
asik," ucap Arjuna pelan. Matanya agak berkaca-kaca, tapi ditahan.
"Iya, sama-sama. Lo juga. Jagoan fisika. Nanti kalo
jadi fisikawan, jangan lupa sama temen-temen," balas Kirana, gugup.
Jarinya mainin ujung jilbab.
Mereka saling diam. Suasana hening, cuma suara burung
gereja yang sesekali berkicau.
Lalu Arjuna bilang, "Ra, mungkin ini agak canggung.
Dan mungkin lo bakal ketawa. Tapi... gue tunggu lo setahun lagi. Lulus, kita
lanjut... mungkin?"
Kirana tersenyum. Senyum yang manis, beda dari biasanya.
"Janji?"
"Janji. Tapi janji ini pake materai. Nggak bisa
digugat."
"Materainya mana?"
"Di hati."
Kirana ketawa. "Gombal."
"Iya, namanya juga cowok. Kalo nggak gombal, bukan
cowok."
Mereka berdua ketawa. Lalu Kirana bilang, "Oke. Gue
tunggu lo setahun. Tapi lo harus janji, belajar yang bener di kuliah. Jangan
malah sibuk cari cewek lain."
"Gue? Cari cewek lain? Ra, lo aja udah bikin gue
bingung bedain mana rumus mana perasaan."
Di sisi lain, Hermansyah ketemu Naila di dekat pohon
mangga. Dia megang buku tahunan, keringatan.
"Naila, lo cantik. Eh maksudnya, lo baik. Maksud gue..."
Hermansyah gugup, keringatnya nambah.
Naila tertawa. "Iya, Bang. Gue tau maksud lo. Santai
aja. Kita tunggu waktu yang tepat."
"Lo serius? Gue kira lo bakal nolak."
"Nolak kenapa? Lo baik, pinter, lucu. Cuma agak...
aneh."
"Aneh gimana?"
"Ya aneh. Lo tanya pinjam hati."
Hermansyah garuk-garuk kepala. "Itu kan salah ucap.
Maaf."
"Nggak papa. Justru itu lucu."
"Berarti... kita punya janji?"
"Janji. Lo kuliah yang bener. Nanti kalo lulus, kita
liat."
"Deal. Tapi janji ini pake tanda tangan."
"Tanda tangan di mana?"
"Di sini." Hermansyah nunjuk hatinya.
Naila ketawa. "Gombal lo mirip Arjuna."
"Ya satu geng."
Dadang malah lebih nggak karuan. Dia ngasih Lidya sebuah
kertas lipat. Tangannya gemeteran. "Ini... puisi buat lo. Maaf jelek. Tapi
dari hati. Bukan dari buku."
Lidya baca perlahan:
"Lidya, kau bak bintang di langit biru.
Sayangnya aku harus pergi dulu.
Tapi janji, kita ketemu lagi...
Setelah aku jadi pilot."
Lidya ngakak. "Pilot? Lo mau jadi pilot? Lo aja naik
motor sering oleng."
"Itu kan dulu. Sekarang gue udah les."
"Les apa? Les terbang?"
"Les motor. Tapi ntar lanjut les pilot."
"Wah... keren juga. Ntar kalo lo jadi pilot, jangan
lupa ajak gue terbang."
Dadang sumringah. Wajahnya bersinar kayak lampu disco.
"Deal! Lo mau gue ajak terbang?"
"Iya. Asal jangan jatuh."
"Janji. Kalo jatuh, gue jadi parasut."
Lidya ketawa. "Gombal lo parah."
"Iya, demi lo."
Mbah Karyo, yang kebetulan lewat bawa nasi bungkus, cuma
geleng-geleng. "Lha, pacaran model sekarang, pake puisi segala. Jaman gue
dulu, cukup ngasih tebu. Diterima, ya syukur. Ditolak, tebu dimakan
sendiri."
Semua ketawa. Sementara itu, Pak Anto ngintip dari balik
pagar. Matanya sipit kayak detektif. "Itu dia! Cinta segitiga... eh,
segienam! Kayak ramalan gue, tapi beda episode!"
Bu Yuni, Sekdes, menimpali, "Wis, Pak Anto, mending
ramalin harga cabe. Ini cabe naik terus."
"Ih, Bu Yuni, romantis dikit dong. Ini anak muda lagi
pada pacaran."
"Ini mah bukan pacaran, Pak. Ini janji masa depan.
Beda."
Di balik canda tawa, ada satu pesan yang mereka semua
pegang: Cinta itu indah, tapi masa depan lebih penting. lupakan urusan
pacar Untuk sementara, kejar mimpi dulu.
Tiga Dara melambaikan tangan ke tiga cowok yang akan
merantau. Kirana, Naila, dan Lidya tahu: perjalanan mereka masih panjang. Dan
mungkin... di ujung jalan itu, cinta sejati sudah menanti.
Langit biru Awan Biru menjadi saksi bisu perjuangan,
persahabatan, dan janji yang belum terucap sempurna.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Warna jingga
menghiasi langit. Arjuna, Hermansyah, dan Dadang berjalan meninggalkan sekolah,
membawa mimpi dan janji.
Di balik gerbang, Tiga Dara masih berdiri. Melambai,
tersenyum, dan berbisik dalam hati:
"Sampai jumpa di masa depan."
TAMAT











