DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari
Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari
EPISODE 1: KEMBALI UNTUK SELAMANYA
1. Kereta Senja dari
Stasiun Gambir
Kereta Argo Parahyangan melaju kencang meninggalkan Jakarta
yang mulai gelap. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di kejauhan, lalu
perlahan-lahan menghilang digantikan oleh hamparan gelap sawah dan bukit yang
hanya diterangi oleh bulan sabit tipis. Di dalam gerbong eksekutif nomor 7,
tiga orang dewasa muda duduk berdampingan di kursi menghadap ke depan.
Masing-masing dari mereka membawa ransel besar dan koper yang nyaris meledak
oleh buku, pakaian, dan oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman.
Raka duduk di dekat jendela. Ia mengenakan kemeja flanel
merah marun yang sedikit kusut karena perjalanan panjang dari kampusnya di
Dramaga, Bogor, ke Stasiun Gambir, lalu naik kereta ini. Di pangkuannya, sebuah
ransel hitam penuh dengan jurnal penelitian dan buku-buku tentang konservasi
hutan tropis. Tangannya yang kekar—hasil dari bertahun-tahun menjelajah hutan
untuk penelitian—sesekali menyentuh ransel itu, memastikan semuanya masih ada.
Di jari manisnya, tidak ada cincin. Belum. Ada terlalu banyak yang harus
dikerjakan sebelum memikirkan itu.
Wajahnya yang sekarang lebih matang dari sepuluh tahun lalu
masih menyisakan sedikit kekanak-kanakan di senyumnya. Kumis tipis mulai tumbuh
di bibir atas, dan ia sengaja membiarkannya tumbuh—mengingatkan pada ayahnya
yang selalu berkumis tipis setiap pagi sebelum pergi ke sawah. Matanya yang
cokelat terang, satu-satunya yang tidak berubah, menatap ke luar jendela dengan
penuh kerinduan.
Di kejauhan, langit mulai berubah warna. Dari biru tua
menjadi kehitaman, lalu tiba-tiba, di antara kabut tipis yang menyelimuti
lereng, sebuah puncak gunung muncul. Puncak Manoreh. Bentuknya masih sama
seperti sepuluh tahun lalu: menjulang dengan tebing-tebing curam di sisi timur,
hutan lebat di sisi barat, dan di puncaknya, pohon-pohon besar yang selalu
diselimuti kabut. Raka teringat pertama kali ia melihat puncak itu dari kereta,
sepuluh tahun lalu, saat ia masih remaja dengan ransel kecil berisi buku
catatan dan mimpi besar.
"Masih sama," gumamnya pelan, hampir tidak
terdengar.
Wati yang duduk di sebelahnya menoleh. Ia baru saja selesai
membaca buku tentang penyakit kulit pada satwa liar, dan kacamatanya masih
bertengger di ujung hidung. Rambutnya yang panjang sebahu dibiarkan terurai,
hanya sedikit dijepit di belakang telinga. Di telinga kiri, sebuah
anting-anting kecil berbentuk kancil bergantung—hadiah dari Bejo saat mereka
lulus SMA dulu.
"Apa yang masih sama, Ra?" tanyanya, meletakkan
buku di pangkuan.
"Manoreh." Raka menunjuk ke luar jendela.
"Lihat, di antara kabut itu. Masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Tidak
berubah."
Wati mengikuti telunjuk Raka. Matanya yang cokelat
kehijauan—warna langka yang diwarisi dari ibunya—menyipit mencari. Lalu ia
tersenyum. Puncak Manoreh memang masih sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
"Bukan Manoreh yang sama, Ra," katanya pelan.
"Kita yang berubah."
Kata-kata itu menggantung di udara. Raka menoleh, menatap
Wati. Di bawah lampu remang kereta, wajah Wati tampak lebih dewasa dari yang ia
ingat. Dulu, Wati selalu menjadi yang paling berani di antara mereka bertiga.
Saat Raka ragu, Wati yang mendorong. Saat Bejo takut, Wati yang menenangkan.
Dan saat Raka diam-diam menyukainya—masa-masa canggung remaja yang sudah lama
berlalu—Wati adalah orang pertama yang bisa membaca pikirannya.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun mereka berpisah mengejar mimpi
masing-masing. Raka ke Bogor, mempelajari hutan. Wati ke Bandung, mempelajari
hewan. Bejo ke Jogja, mempelajari rasa. Dan di sini, di kereta yang membawa
mereka pulang, semuanya terasa seperti baru kemarin.
"Lo benar," kata Raka akhirnya. "Kita yang
berubah."
Di seberang mereka, Bejo yang sejak tadi asyik mengunyah
permen jahe buatan sendiri, menyela. "Gue setuju sama Wati." Ia
mengunyah permen dengan suara keras. Badannya yang dulu gembul sudah lenyap,
digantikan oleh postur tinggi tegap dengan otot-otot yang terbentuk dari
bertahun-tahun mengangkat panci dan wajan di dapur restoran. Tapi matanya masih
sama: bulat, polos, dan selalu lapar. "Dulu kita cuma tiga bocah nakal
yang suka main ke hutan. Sekarang..." Ia menghitung dengan jari.
"Raka ahli konservasi hutan lulusan IPB, Wati dokter hewan lulusan Unpad,
gue koki selebritis lulusan ISI Jogja." Ia tertawa kecil, suaranya masih
sama seperti dulu—nyaring dan menular. "Tapi gue masih inget, dulu gue
paling takut sama hantu di Lembah Terlarang."
Raka ikut tertawa. "Itu mah ajag, Jo. Bukan
hantu."
"Ya tahu sekarang. Dulu mana tahu. Lo inget gak, waktu
kita pertama kali denger suara tangisan dari dalam gua, gue langsung lari
tunggang-langgang sampai jatuh ke sungai?"
"Lo yang jatuh ke sungai, gue yang nolong lo."
Raka menggeleng-geleng. "Baju gue basah semua. Pulang-pulang dimarahin
ibu."
"Tapi kan Kiano selamat," Wati menyela, ikut
tersenyum. "Anak ajag itu selamat. Jaya dan Kecil. Mereka sekarang udah
besar."
Bejo mengangguk. "Gue masih inget, Jaya yang jantan
punya belang di dahi. Kecil yang betina lebih kecil dari Jaya, tapi lebih
galak."
Mereka bertiga terdiam sejenak, membiarkan kenangan
mengalir. Sepuluh tahun terasa panjang, tapi di saat-saat seperti ini, semuanya
terasa seperti baru kemarin. Pertemuan pertama dengan Kai di bawah pohon
beringin. Perjalanan ke Lembah Harapan bersama Kai Muda. Kebakaran hutan yang
hampir menghanguskan segalanya. Longsor yang mengubur setengah desa. Dan
perpisahan dengan Kai Muda di ujung senja, saat kancil tua itu pergi untuk
selama-lamanya, meninggalkan Kiano yang masih muda sebagai pemimpin baru.
Kereta terus melaju. Lampu-lampu stasiun kecil mulai
bermunculan di kejauhan. Stasiun Cipeundeuy. Stasiun Cibatu. Stasiun Leles.
Setiap stasiun membawa mereka lebih dekat ke rumah. Raka merasakan dadanya
berdegup lebih kencang. Di stasiun terakhir, Bojong Sari, semua yang ia
rindukan akan menanti. Orang tuanya yang sudah tua. Warga desa yang setia
menunggu. Hutan Manoreh yang hijau dan rimbun. Dan Kiano... Kiano yang pasti
sudah menunggu di bawah pohon beringin, seperti yang selalu ia lakukan setiap
kali Raka pulang.
"Kita hampir sampai," kata Wati, seolah membaca
pikirannya.
"Iya," jawab Raka. "Kita hampir
sampai."
2. Kedatangan yang
Dinanti
Stasiun Bojong Sari tidak lagi seperti yang mereka
tinggalkan sepuluh tahun lalu. Bangunan kecil sederhana dengan atap seng itu
kini telah berubah menjadi stasiun permanen dengan dinding bata bercat hijau
muda, lantai keramik putih bersih, dan papan nama besar yang terbuat dari kayu
jati, bertuliskan: "Stasiun Bojong Sari — Desa Konservasi" dalam
dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Di depan stasiun, sebuah taman kecil dengan
bangku-bangku kayu dan lampu taman yang menyala hangat. Tempat parkir yang rapi
dengan mobil-mobil wisatawan berpelat B, D, dan F terparkir di beberapa sudut.
Tapi hal yang tidak berubah—yang mungkin tidak akan pernah
berubah—adalah sambutan warganya.
Begitu pintu kereta terbuka, suara riuh rendah langsung
menyambut mereka. Bukan suara petugas stasiun yang mengumumkan kedatangan, tapi
suara warga Bojong Sari yang sudah menunggu sejak siang.
"RAKA! WATI! BEJO!"
Raka baru saja menginjakkan kaki di peron ketika sebuah
sosok tua berlari—sebisa mungkin berlari untuk usianya—menghampiri. Pak Kades.
Atau sekarang, lebih sering dipanggil Mbah Kades oleh warga. Usianya sudah 70
tahun lebih, rambutnya putih semua, kumisnya lebat dan panjang, jalannya agak
bungkuk, tapi matanya masih tajam dan penuh semangat.
Di belakang Mbah Kades, barisan warga berjejer rapi. Ada
Pak Tani dan Bu Tani yang sudah sangat tua—Bu Tani sekarang memakai tongkat,
rambutnya putih semua, tapi senyumnya masih sama seperti dulu. Ada Pak Joko
yang kini duduk di kursi roda, didorong oleh istrinya, Bu Joko. Usia dan
penyakit telah membuatnya lumpuh, tapi semangatnya untuk menyambut anak-anak
desa yang pulang tidak pernah pudar. Ada Pak Jarwo, yang usianya sudah 60 tahun
lebih, tubuhnya masih tegap, golok tua di pinggang masih setia menemani.
Rambutnya sudah memutih, tapi tangannya masih kuat, dan tatapannya masih tajam
seperti saat ia masih menjadi pemburu.
Dan di barisan paling depan, tepat di depan pintu keluar,
berdiri Pak Tani dan Bu Tani.
Bu Tani menangis begitu melihat Raka turun dari kereta.
Tangannya yang keriput gemetar, menutup mulut, berusaha menahan isak. Pak Tani
berdiri di sampingnya, diam, tapi matanya basah. Ia berusaha tegar, seperti
yang selalu ia lakukan sepanjang hidupnya. Sebagai petani, ia belajar bahwa
kadang yang terbaik adalah diam dan membiarkan alam bekerja.
Raka berlari. Koper dan ranselnya ditinggal begitu saja di
peron. Ia memeluk ibunya erat-erat, merasakan tubuh kecil dan rapuh yang dulu
begitu kuat membesarkannya.
"Bu... Ibu..." suaranya bergetar.
Bu Tani memeluknya balik, tangannya yang keriput mengelus
rambut Raka seperti dulu, saat Raka masih kecil dan menangis karena jatuh dari
pohon jambu.
"Nak... ibu kangen banget." Suaranya parau,
lirih, seperti angin sore yang berbisik di antara pepohonan. "Setiap hari
ibu liat foto kamu. Setiap malam ibu doain. Sekarang... sekarang kamu
pulang."
Raka memeluk ibunya lebih erat. Ia bisa merasakan
tulang-tulang kecil di punggung ibunya. Bu Tani sudah sangat kurus. Jauh lebih
kurus dari yang ia ingat.
"Aku pulang, Bu. Untuk selamanya."
Kata-kata itu keluar begitu saja. Untuk selamanya. Raka
sendiri tidak tahu apakah ia benar-benar bisa mewujudkannya. Tapi di pelukan
ibunya, di bawah langit Bojong Sari yang mulai gelap, rasanya mungkin. Rasanya
semua mungkin.
Pak Tani yang dari tadi berdiri di samping, akhirnya
bergerak. Ia meletakkan tangannya yang kasar dan penuh kapalan di pundak Raka.
"Nak, ayah bangga sama kamu." Suaranya dalam,
berat, seperti biasanya. Tapi ada getar di sana. "Ayah selalu
bangga."
Raka melepaskan pelukannya dari ibunya, lalu memeluk
ayahnya. Tubuh Pak Tani masih tegap, meski usianya sudah 60 tahun. Tapi Raka
bisa merasakan bahwa ayahnya sudah tidak sekuat dulu. Bahunya yang dulu bisa
memikul beratus-ratus kilo gabah, kini terasa sedikit merunduk.
"Yah, aku pulang. Aku nggak akan pergi lagi."
Pak Tani tidak menjawab. Ia hanya menepuk-nepuk punggung
Raka, berulang-ulang, seperti ia selalu lakukan saat Raka kecil dan terbangun
dari mimpi buruk.
Di samping mereka, Wati dan Bejo juga disambut pelukan.
Wati memeluk ibunya yang sudah tua, tangis pecah di antara mereka. Wati adalah
anak tunggal, dan meninggalkan orang tuanya sendirian di desa selama sepuluh
tahun adalah beban berat yang selalu ia bawa di pundaknya.
"Bu... maafin Wati. Maaf lama pulang."
Ibunya hanya menggeleng, menangis, dan terus memeluk.
Bejo berdiri agak di pinggir. Ibunya sudah meninggal dua
tahun lalu, ketika ia sedang sibuk membangun restoran di Jogja. Ia pulang
terlambat. Hanya sempat melihat ibunya terbujur kaku di kamar depan, dengan
senyum di bibirnya yang sudah tidak bernyawa. Ia tidak menangis saat itu. Tidak
sampai sekarang.
Tapi melihat Raka dan Wati dipeluk orang tua mereka, ada
sesuatu di dadanya yang terasa sesak.
Seorang pria tua mendekatinya. Paman Bejo, adik ibunya,
yang selama ini merawat rumah mereka.
"Jo, kamu pulang." Suaranya lirih.
Bejo memeluk pamannya. "Gue pulang, Pah. Untuk selamanya."
Untuk selamanya. Kata yang sama. Mungkin mereka bertiga
sudah sepakat tanpa bicara. Sepuluh tahun cukup lama. Sudah waktunya pulang.
Mbah Kades yang dari tadi menunggu dengan sabar, akhirnya
maju. Ia memeluk mereka bertiga bergantian, lama dan erat.
"Anak-anakku... kalian pulang. Akhirnya."
Kata-kata Mbah Kades sederhana, tapi ada bobot di sana.
Bobot sepuluh tahun penantian. Bobot harapan yang selama ini ia gantungkan pada
tiga anak kecil yang dulu nekat masuk hutan sendirian.
"Kami pulang, Mbah. Untuk selamanya."
Mbah Kades tersenyum. Matanya basah, tapi ia tidak
menangis. Ia sudah terlalu tua untuk menangis. Yang ia lakukan hanyalah menatap
mereka satu per satu, seperti seorang kakek yang melihat cucu-cucunya tumbuh
dewasa.
"Kalian sekarang udah gede. Udah jadi orang
hebat." Ia menoleh ke Pak Jarwo yang berdiri di belakang. "Jarwo,
lihat anak-anak kita. Dulu kamu yang ajarin mereka soal hutan. Sekarang mereka
lebih hebat dari kamu."
Pak Jarwo maju. Wajahnya yang keras dan penuh bekas
luka—sisa-sisa masa lalunya sebagai pemburu—tersenyum. Senyum yang jarang ia
tunjukkan pada siapa pun.
"Gue dulu bilang, kalian akan jadi penerus gue. Dan
sekarang..." Ia menggeleng, tak percaya. "Kalian jadi lebih hebat
dari gue."
Bejo memeluk Pak Jarwo. "Pak, tanpa Bapak, kami nggak
akan sampai di sini."
Pak Jarwo hanya diam. Tapi tangannya yang kasar dan penuh
kapalan menepuk-nepuk punggung Bejo dengan lembut.
3. Kejutan di Balai Desa
Setelah melepas rindu yang cukup lama, Mbah Kades mengajak
mereka bertiga ke balai desa. "Ada kejutan," katanya dengan senyum
misterius.
Balai desa Bojong Sari kini sudah sangat berbeda. Bangunan
lama yang dulu beratap seng dan berdinding papan, kini sudah direnovasi menjadi
gedung pertemuan yang cukup megah. Dindingnya dari bata bercat putih, atapnya
dari genteng tanah liat, dan di depannya, sebuah taman kecil dengan air mancur
dari bambu. Tapi ada satu hal yang tidak berubah, dan itu membuat Raka berhenti
melangkah.
Di depan balai desa, tepat di taman itu, berdiri sebuah
patung perunggu. Patung tiga anak kecil dan seekor kancil. Tiga anak itu sedang
duduk, satu mengelus kepala kancil, dua lainnya memegang buku catatan. Di bawah
patung, tertulis dalam aksara Jawa dan Latin: "Tim Penyelidik
Cilik — Pahlawan Konservasi Bojong Sari".
Raka berdiri di depan patung itu, memandang wajah-wajah
perunggu yang sangat dikenalnya. Dirinya, Wati, Bejo. Dan kancil itu... Kai.
Pasti Kai.
"Kita dulu," katanya lirih.
Wati berdiri di sampingnya, ikut memandang patung itu.
"Lucu ya, lihat diri sendiri jadi patung."
Bejo terkekeh di belakang. "Gue dulu gendut. Sekarang
kurus. Orang yang bikin patung itu pasti kaget kalau lihat gue sekarang."
Mereka tertiga tertawa. Tapi tawa mereka lirih, penuh haru.
"Masuk, yuk. Ada yang mau lihat kalian," kata
Mbah Kades dari pintu balai desa.
Mereka masuk. Di dalam, balai desa sudah penuh sesak. Warga
Bojong Sari—tua, muda, anak-anak—duduk di kursi-kursi kayu yang disusun rapi.
Di depan, sebuah panggung kecil dengan mikrofon dan beberapa kursi untuk tamu
kehormatan.
Guntur, yang kini menjadi kepala desa baru, berdiri di
panggung. Rambutnya mulai beruban, perutnya sedikit buncit, tapi semangatnya
masih sama seperti dulu saat ia masih menjadi pemuda desa yang suka main ke
hutan.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, warga Bojong Sari yang saya
hormati. Hari ini kita kedatangan tamu istimewa." Ia tersenyum, menatap
Raka, Wati, dan Bejo yang baru masuk. "Tapi bukan tamu. Mereka adalah anak
desa kita. Mereka adalah pahlawan kita. Raka, Wati, Bejo."
Tepuk tangan bergemuruh. Puluhan pasang tangan bertepuk,
anak-anak kecil berteriak kegirangan, ibu-ibu menyeka air mata.
"Mereka pergi sepuluh tahun lalu sebagai remaja penuh
mimpi. Kini mereka kembali sebagai orang dewasa dengan ilmu dan pengalaman.
Raka, ahli konservasi hutan lulusan Institut Pertanian Bogor." Tepuk
tangan. "Wati, dokter hewan lulusan Universitas Padjadjaran." Tepuk
tangan. "Bejo, koki terkenal lulusan Institut Seni Indonesia Jogja."
Tepuk tangan paling keras, diselingi siulan dan teriakan.
"Dan mereka memilih pulang. Untuk membangun desa
kita."
Tepuk tangan semakin keras. Raka, Wati, dan Bejo naik ke
panggung. Raka berdiri di depan, tidak menggunakan mikrofon. Suaranya lantang,
seperti biasa.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudaraku..." Ia
berhenti, menatap satu per satu wajah yang hadir. Wajah-wajah yang dikenalnya
sejak kecil. "Sepuluh tahun lalu, kami pergi dengan satu janji: akan
kembali dan membangun Bojong Sari. Hari ini, kami tepati janji itu."
Ia mengambil napas panjang. Tangannya sedikit gemetar, tapi
ia tetap tegap.
"Kami tidak datang dengan tangan kosong. Rencana sudah
kami susun. Raka akan membangun pusat penelitian konservasi hutan. Tempat
belajar bagi generasi muda, tempat penelitian bagi ilmuwan, tempat wisata
edukasi bagi siapa pun yang ingin belajar tentang hutan dan satwa liar."
Ia menunjuk Wati. "Wati akan membuka klinik hewan
gratis. Untuk hewan-hewan liar yang sakit, untuk hewan peliharaan warga yang
membutuhkan, untuk semua makhluk hidup yang membutuhkan pertolongan."
Wati mengangguk, tersenyum.
Raka menunjuk Bejo. "Bejo akan membuka restoran
organik. Dengan bahan-bahan dari desa sendiri, dikelola oleh warga sendiri, dan
keuntungannya untuk konservasi hutan."
Bejo mengangkat kedua tangan, seperti pesilat yang menang.
"Dan gratis untuk yang ulang tahun!" teriaknya.
Semua tertawa. Suasana yang tadinya haru, menjadi hangat.
"Bukan untuk kami," lanjut Raka. "Untuk desa
kita. Untuk generasi mendatang. Untuk hutan yang sudah menjaga kita selama
ini."
Tepuk tangan bergemuruh lagi. Guntur maju dan memeluk
mereka bertiga. Mbah Kades dari kursi kehormatan hanya mengangguk, bangga. Pak
Tani dan Bu Tani menangis di kursi mereka. Pak Jarwo tersenyum, matanya
berkaca-kaca.
4. Pertemuan dengan
Kiano
Acara di balai desa selesai menjelang maghrib. Raka, Wati,
dan Bejo tidak bisa menunggu lebih lama. Mereka harus ke hutan. Harus bertemu
dengan Kiano.
Sepanjang jalan menuju hutan, mereka melihat banyak
perubahan. Jalur setapak yang dulu hanya tanah becek kini sudah diperkeras
dengan batu dan kayu. Papan-papan petunjuk terpasang rapi di setiap
persimpangan, dengan tulisan yang jelas: "Jalur Wisata - Titik
Beringin 500 m", "Kawasan Konservasi - Dilarang Masuk Tanpa
Pemandu", "Hormati Satwa Liar - Jangan Memberi Makan".
Di beberapa titik, bangku-bangku kayu didirikan untuk
wisatawan yang lelah. Tempat sampah dari bambu tersedia di setiap sudut.
Semuanya rapi, terawat, dan yang terpenting: tidak merusak keindahan alami
hutan.
"Ini luar biasa," kata Wati sambil mengamati
sekeliling. "Dulu kita nggak punya ini."
"Guntur yang ngurus," kata Bejo. "Dia kerja
keras banget. Program ekowisata mulai jalan lima tahun lalu. Sekarang sudah
lumayan maju."
Raka mengangguk bangga. "Desa kita benar-benar
berubah."
Tapi ketika mereka masuk lebih dalam, meninggalkan jalur
wisata dan memasuki kawasan konservasi, hutan masih sama seperti dulu.
Pepohonan besar, rimbun, dengan kanopi yang menutupi langit. Udara sejuk dan
lembab. Suara burung berkicau di kejauhan. Bau tanah basah dan daun-daun
kering.
"Mari kita ke titik Beringin," kata Raka.
Mereka berjalan cepat. Kaki mereka masih ingat setiap
tikungan, setiap akar pohon yang menjulang, setiap batu yang licin. Ini hutan
mereka. Rumah mereka.
Sesampainya di titik Beringin, mereka berhenti.
Pohon beringin itu masih berdiri kokoh. Lebih besar dari
sepuluh tahun lalu. Akar-akarnya yang menjulur ke tanah seperti ular raksasa.
Dahan-dahannya yang lebar membentuk kanopi yang teduh. Di bawahnya, bak air
dari bambu masih terisi penuh. Beberapa ekor kancil sedang minum dengan tenang.
Mereka tidak takut pada manusia.
Tapi Kiano tidak ada.
Raka bersiul pelan. Siulan khas yang dulu sering mereka
gunakan untuk memanggil Kiano. Suara siulan itu bergema di antara pepohonan.
Beberapa detik berlalu. Sunyi. Hanya suara angin dan
kicauan burung.
Lalu, dari balik semak-semak di sebelah timur, terdengar
gemerisik. Ranting-ranting patah. Daun-daun bergeser. Dan kemudian, seekor
kancil tua keluar dari kegelapan.
Kiano. Sekarang ia sudah sangat tua. Bulunya putih hampir
seluruhnya, hanya tersisa sedikit cokelat kemerahan di punggungnya. Matanya sayu,
tapi masih tajam. Tubuhnya kurus, tulang-tulangnya mulai terlihat. Jalannya
lambat, sedikit pincang di kaki kanan—bekas luka dari jerat pemburu dulu, yang
tidak pernah benar-benar sembuh sempurna.
Tapi begitu melihat mereka, matanya berbinar. Binar yang
sama seperti sepuluh tahun lalu saat ia masih muda dan lincah.
Kiano berjalan mendekat, perlahan. Ia mengendus kaki Raka,
lalu Wati, lalu Bejo. Lama. Seperti memastikan bahwa mereka sungguh-sungguh
ada. Bukan mimpi. Bukan bayangan.
Matanya berkaca-kaca. Lalu, dengan sisa tenaganya, ia
menyandarkan kepala di pangkuan Raka.
Raka berlutut, memeluk Kiano. Tubuh kancil tua itu terasa
ringan. Tulang-tulangnya nyaris teraba di bawah bulu yang kusam.
"Kiano... aku pulang. Kami pulang. Janji."
Kiano menjilati tangannya. Lidahnya kasar dan kering,
seperti amplas. Tapi hangat.
"Aku menunggumu," kata bahasa tubuhnya. "Sepuluh tahun aku
menunggu."
Wati ikut berlutut, memeluk Kiano dari samping. "Maaf,
Kiano. Maaf lama."
Bejo berdiri di belakang, mengelus kepala Kiano.
Jari-jarinya yang dulu gemuk, kini panjang dan lincah—jari seorang koki yang
terbiasa memotong sayuran dan meracik bumbu. Tapi sentuhannya masih sama
lembutnya.
"Kiano udah tua banget," katanya pelan.
"Kayak kakeknya dulu."
Mereka duduk di bawah pohon beringin. Tidak banyak bicara.
Menikmati kebersamaan yang sudah lama dinanti. Kiano berbaring di pangkuan
Raka, matanya terpejam. Napasnya berat, tapi teratur. Sesekali ia membuka mata,
menatap mereka, lalu tersenyum—sebisanya kancil tersenyum.
5. Kiara, Generasi Baru
Mereka duduk cukup lama di bawah pohon beringin. Matahari
mulai condong ke barat, menyisakan cahaya jingga yang tembus di sela-sela
dedaunan. Udara mulai dingin. Kiano yang sejak tadi berbaring di pangkuan Raka,
tiba-tiba membuka mata lebar-lebar. Telinganya tegak, seperti mendengar
sesuatu.
Dari balik semak-semak di sebelah barat, muncul seekor
kancil muda. Bulunya cokelat kemerahan, mengilap seperti tembaga yang baru
digosok. Matanya hitam pekat, tajam, penuh kewaspadaan. Gerakannya lincah, tapi
tidak terburu-buru. Ia mendekat dengan langkah hati-hati, menunduk, mengendus
tanah, lalu mengangkat kepala, mengamati tiga manusia yang duduk di bawah
pohon.
"Ini..." Raka menoleh ke Kiano.
Kiano membuka mata, menatap kancil muda itu dengan penuh
kasih. Ia menggerakkan telinganya—perlahan, seperti sedang menjelaskan sesuatu.
"Ini Kiara. Anakku."
Kiara. Nama yang indah. Seperti cahaya.
Kiara mendekat, masih ragu. Ia mengendus-endus dari
kejauhan, matanya bergantian menatap Raka, Wati, dan Bejo. Ada sesuatu di
matanya yang tidak ada pada kancil lain: rasa ingin tahu. Ia tidak hanya
waspada, ia juga penasaran. Siapa mereka? Mengapa ayahnya begitu dekat dengan
mereka?
Raka tersenyum. Perlahan, tanpa gerakan tiba-tiba, ia
mengulurkan tangan.
"Hei, Kiara. Aku teman. Aku teman kakekmu. Teman
ayahmu."
Kiara mundur selangkah. Tapi tidak lari. Hanya mundur,
menatap, mengamati.
Wati menirukan. Ia merendahkan tubuhnya, membuat dirinya
sekecil mungkin. Dengan suara lembut, ia bersiul pelan—siulan yang dulu sering
ia gunakan untuk memanggil kancil-kancil saat mereka masih kecil.
"Kiara... sini. Kita teman."
Perlahan, Kiara maju. Satu langkah. Dua langkah. Ia
mengendus udara. Bau Raka, Wati, Bejo. Bau yang asing, tapi tidak mengancam.
Bau yang... familiar. Seperti aroma yang ia kenal dari ayahnya, dari kakeknya,
dari cerita-cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Kiara mendekat. Ia mengendus tangan Raka. Sekali. Dua kali.
Lalu, dengan hati-hati, ia menjilati ujung jari Raka.
Raka tersenyum. "Kiara... kamu akan jadi pemimpin
hebat. Seperti ayahmu. Seperti kakekmu. Seperti buyutmu."
Kiano yang terbaring di pangkuan Raka, menggerakkan
telinganya dengan bangga. "Dia masa depan kita. Aku sudah tua.
Sebentar lagi... aku akan menyusul ayah dan kakekku."
Raka memegang kepala Kiano. "Jangan bicara begitu,
Kiano. Masih panjang."
Kiano menggeleng pelan. "Aku tahu. Tapi aku
tenang. Karena kalian kembali. Karena Kiara punya kalian."
Kiara yang mendengar itu, mendekati ayahnya. Ia menjilati
wajah Kiano, berulang-ulang, seperti memberi semangat. Kiano menjawab dengan
jilatan yang lemah, penuh kasih.
Wati mengelus kepala Kiara. "Kami akan jaga dia,
Kiano. Janji."
Bejo duduk di samping Kiara. "Kiano, lo lihat nanti.
Kiara akan jadi pemimpin yang hebat. Kayak lo. Kayak kakek lo."
Kiano menatap mereka bergantian. Matanya berkata: "Terima
kasih, sahabatku. Untuk semuanya."
6. Malam Perenungan
Malam harinya, setelah makan malam bersama orang tua dan
warga yang masih bertamu ke rumah, Raka duduk di teras rumahnya. Rumah orang
tuanya sudah direnovasi, lebih besar, dengan halaman yang ditanami bunga-bunga
dan tanaman obat. Tapi pohon jambu di samping rumah masih ada. Masih sama.
Masih berbuah setiap musim hujan.
Pak Tani dan Bu Tani sudah tidur. Mereka sudah tua, lekas
lelah. Tapi kebahagiaan melihat anaknya pulang membuat mereka tersenyum dalam
tidur. Raka sempat mengintip ke kamar mereka sebelum duduk di teras. Ibunya
memeluk bantal, seperti memeluk anaknya dulu. Ayahnya tidur telentang, mendengkur
pelan, tangan kanannya menggenggam foto lama—foto keluarga saat Raka masih
kecil, dengan latar belakang sawah yang hijau.
Raka memandangi langit malam. Bintang-bintang terang, bulan
sabit tipis. Udara sejuk, suara jangkrik merdu. Ini Bojong Sari. Rumahnya.
Wati datang dari arah jalan, membawa dua gelas kopi. Ia
sudah berganti pakaian, memakai daster sederhana berwarna biru muda. Rambutnya
yang panjang diikat ke belakang, wajahnya segar setelah mandi.
"Nggak bisa tidur?" tanyanya sambil duduk di
samping Raka.
Raka tersenyum, menerima kopi. "Lo juga?"
Mereka duduk berdampingan. Kopi hitam tubruk, gula aren
sedikit, hangat di tangan. Wati membawanya dalam gelas keramik tua—gelas yang
dulu sering mereka gunakan saat rapat di markas.
"Ti, kita sudah dewasa. Kita punya mimpi besar. Tapi
gue... gue kadang takut."
Wati menyesap kopinya, tidak terburu-buru. "Takut
apa?"
"Gagal. Kita sudah di titik ini. Pulang dengan
segudang rencana. Tapi kalau gagal?" Raka memutar gelas kopinya, memandang
ampas yang turun ke dasar. "Kita sudah janji sama warga. Janji sama Mbah
Kades. Janji sama orang tua. Kalau gagal..."
"Ra, lo ingat dulu?" Wati memotong. Suaranya
tenang, seperti air sungai yang mengalir. "Waktu kita kecil, kita juga
takut. Takut masuk hutan, takut ketemu kancil, takut gagal. Tapi kita
lakukan."
Raka mengangguk. "Iya."
"Dan kita berhasil."
Raka tersenyum. "Karena kita bersama."
Wati menatapnya. Di bawah sinar bulan, matanya berbinar.
"Karena kita bersama."
Mereka diam, menikmati kopi dan malam yang tenang. Kenangan-kenangan
lama mengalir di antara mereka. Pertama kali bertemu Kai. Pertama kali masuk
Lembah Harapan. Pertama kali Kai Muda lahir. Pertama kali mereka harus
berpisah.
"Gue kangen masa-masa itu," kata Raka lirih.
"Gue juga. Tapi masa depan juga menarik. Kita bisa
membangun banyak hal."
Raka menghela napas. "Iya. Gue cuma... gue nggut mau
mengecewakan mereka."
"Kita nggak akan mengecewakan mereka, Ra. Kita sudah
buktikan."
Tiba-tiba, dari balik pagar, Bejo muncul. Ia membawa
bungkusan plastik yang mengepul.
"Gue kira lo berdua lagi mesra-mesraan. Ternyata
ngopi." Wajahnya menyeringai.
Wati melempar sandal. "Jo! Ngapain lo ngintip!"
Bejo menghindar dengan lincah—sesuatu yang tidak mungkin ia
lakukan sepuluh tahun lalu. "Gue nggak ngintip! Gue juga nggak bisa tidur.
Lihat lampu rumah lo nyala, gue dateng." Ia membuka bungkusan plastik itu.
Di dalamnya, nasi goreng dengan telur mata sapi dan kerupuk udang. "Gue
masak buat kita bertiga. Makanan khas masa kecil."
Mereka bertiga duduk melingkar di teras, menikmati nasi
goreng Bejo yang—harus diakui—jauh lebih enak dari nasi goreng buatan mereka
dulu. Rasa bawang dan kecap meresap sempurna, telur mata sapi masih setengah
matang, kerupuk udang masih renyah.
"Jo, ini enak banget," puji Wati.
Bejo tersenyum bangga. "Gue kan koki. Ini mah makanan
sederhana."
Raka melahap habis piringnya. "Gue kangen makanan
kampung."
Mereka tertawa. Suasana hangat menyelimuti.
Bejo menatap langit. "Gue juga mikirin sesuatu."
"Apa?" tanya Wati.
"Restoran gue. Apa orang sini suka makanan organik?
Makanan organik itu mahal. Orang sini terbiasa dengan makanan sederhana.
Jangan-jangan restoran gue cuma buat turis."
Raka mengangguk. "Lo bener, Jo. Kita harus pikirkan
itu. Semua proyek kita harus memberdayakan warga, bukan hanya menarik turis."
Wati menambahkan, "Klinik hewan gue juga. Harus gratis
atau murah. Nggak semua warga mampu."
Mereka bertiga diam, merenung. Rencana besar, tantangan
besar.
Bejo memecah keheningan. "Tapi kita bisa, kan? Dulu
kita bisa selamatin hutan. Masa sekarang nggak bisa bikin restoran sama
klinik?"
Raka tersenyum. "Lo benar, Jo. Kita bisa."
Wati mengangkat gelas kopinya. "Untuk Bojong
Sari."
Raka dan Bejo ikut mengangkat gelas. "Untuk Bojong
Sari."
Mereka bersulang di bawah sinar bulan.
7. Kabar dari Luar
Keesokan paginya, Raka baru saja selesai sarapan ketika
Guntur datang dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya tegang, keringat di dahi.
Di tangannya, ia membawa map tebal berwarna cokelat.
"Ra, ada kabar nggak enak."
Raka yang sedang menikmati kopi, langsung berdiri.
"Ada apa, Guntur?"
Mereka duduk di teras. Guntur membuka map itu. Isinya:
dokumen perizinan, peta kawasan, proposal investasi, dan foto-foto aerial Hutan
Manoreh dari sisi timur.
"Ada pengusaha dari Jakarta. Namanya Sugiarto. Dia mau
bangun resor mewah di pinggir hutan. Katanya investasi besar, akan kasih kerja
banyak warga." Guntur menyerahkan dokumen itu pada Raka. "Dia sudah
mulai lobi beberapa warga. Bahkan sudah ada yang tanda tangan pernyataan
dukungan."
Raka membaca dokumen itu dengan saksama. Matanya menyipit.
Proposal itu tebal, penuh dengan angka-angka besar, gambar-gambar arsitektur
yang mewah, dan janji-janji manis. Kolam renang infinity dengan pemandangan
hutan. Villa-villa bergaya minimalis dengan teras kaca. Restoran mewah dengan chef
dari Jakarta. Lapangan kerja untuk 200 warga.
"Resor mewah? Di pinggir hutan?" Raka menggeleng.
"Itu berarti akan merusak ekosistem. Jalan baru, bangunan, limbah... semua
akan mengganggu kancil."
Wati yang baru datang, ikut membaca dokumen itu. "Ini
berbahaya. Buffer zone hutan konservasi tidak boleh dibangun bangunan permanen.
Apalagi resor mewah dengan limbah cair dan padat."
"Tapi warga banyak yang tergiur, Ra," kata
Guntur. "Mereka lihat angka besar. 50 miliar investasi. 200 lapangan
kerja. Itu angka yang sulit ditolak buat desa kecil seperti kita."
Bejo datang dengan nasi goreng di tangan—sarapan keduanya.
"Wah, dari tadi gue denger. Ini serius banget."
Raka meletakkan dokumen itu. "Kita harus hadapi ini.
Tapi kita nggak bisa asal tolak. Kita harus punya alternatif. Buktikan bahwa
konservasi bisa menghasilkan lebih banyak dan lebih berkelanjutan."
8. Pertemuan dengan
Sugiarto
Siang harinya, Sugiarto datang ke balai desa. Ia datang
dengan rombongan besar: dua asisten pribadi, seorang arsitek, seorang pengacara,
dan seorang manajer proyek. Mobil-mobil hitamnya berjejer di depan balai desa,
membuat warga yang lewat berhenti dan memandang.
Sugiarto sendiri adalah pria paruh baya, sekitar 50 tahun,
tubuh gemuk dengan perut buncit yang susah disembunyikan oleh kemeja batik
cokelatnya. Wajahnya bulat, kumis tipis, rambut disisir rapi ke belakang dengan
minyak. Di jari-jarinya yang gemuk, beberapa cincin emas melingkar. Ia
tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih untuk usianya.
"Selamat siang, warga Bojong Sari." Suaranya
berat, terbiasa memberi perintah. "Saya Sugiarto, pengusaha dari Jakarta.
Saya punya rencana besar untuk desa ini."
Ia membuka peta besar yang dibentangkan asistennya. Peta
itu menunjukkan Hutan Manoreh dan sekitarnya, dengan area berwarna merah di
pinggir hutan—lokasi yang akan dibangun resor.
"Saya akan membangun resor mewah di pinggir hutan
kalian. Kolam renang, restoran, villa-villa mewah. Investasi 50 miliar. Akan
membuka lapangan kerja untuk 200 warga."
Warga mulai berbisik-bisik. Mata mereka berbinar. 50
miliar. 200 lapangan kerja. Angka-angka yang tidak pernah mereka bayangkan.
"Tidak hanya itu," lanjut Sugiarto, semakin
percaya diri. "Saya juga akan membangun sekolah kejuruan perhotelan.
Anak-anak kalian bisa belajar jadi koki, jadi pramusaji, jadi manajer hotel.
Bisa kerja di Jakarta, Bali, bahkan luar negeri."
Bisik-bisik semakin keras. Wajah-wajah berseri-seri.
Raka yang duduk di barisan depan, berdiri.
"Pak Sugiarto, maaf saya potong."
Sugiarto menatapnya, alis terangkat. "Kamu
siapa?"
"Saya Raka. Anak desa ini. Ahli konservasi
hutan."
Senyum Sugiarto sedikit mengecil. "O, anak muda.
Silakan, silakan. Saya dengar pendapat."
Raka maju ke depan. Ia tidak membawa peta atau dokumen.
Hanya buku catatan kecil yang sudah lusuh—buku yang sama yang ia bawa sejak
masih kecil.
"Pak Sugiarto, rencana Bapak memang menarik. Tapi
apakah Bapak tahu, hutan ini adalah kawasan konservasi yang sudah ditetapkan
pemerintah? Di sini hidup puluhan kancil jawa yang dilindungi. Spesies yang
hampir punah."
Sugiarto tersenyum, masih percaya diri. "Kami sudah
hitung, Nak. Resor akan dibangun di pinggir, tidak masuk ke hutan."
"Pinggir hutan adalah buffer zone. Wilayah penyangga.
Menurut undang-undang konservasi, buffer zone boleh dimanfaatkan untuk kegiatan
ekonomi, tapi tidak boleh ada bangunan permanen yang mengganggu ekosistem.
Resor Bapak—dengan kolam renang, restoran, villa—itu bukan bangunan permanen
biasa. Itu akan menghasilkan limbah cair dan padat yang bisa mencemari sungai.
Jalan akses baru akan memecah habitat satwa. Kebisingan dan cahaya dari resor
akan mengganggu siklus hidup kancil yang aktif di malam hari."
Sugiarto masih tersenyum, tapi matanya mulai dingin.
"Nak, pembangunan dan konservasi bisa berjalan beriringan. Saya sudah berpengalaman.
Proyek saya di Puncak, di Lembang, semuanya sukses."
Raka tidak mundur. "Dengan hormat, Pak, pengalaman
Bapak di tempat lain belum tentu cocok di sini. Hutan Manoreh adalah rumah bagi
kancil jawa. Kalau terganggu, mereka bisa pindah atau mati. Itu tidak bisa
diganti dengan uang."
9. Perdebatan Memanas
Warga mulai terpecah. Di barisan belakang, seorang pemuda
berdiri. Namanya Dani, anak salah satu petani yang sawahnya sempat rusak akibat
banjir tahun lalu. Wajahnya masih muda, tapi matanya lelah.
"Saya setuju Pak Sugiarto!" teriaknya. "Kita
butuh kerjaan! Saya nganggur dua tahun! Anak saya butuh susu! Istri saya butuh
beras! Saya nggak peduli sama kancil!"
Beberapa warga lain mengangguk setuju. Mereka berdiri,
bergabung dengan Dani.
"Kita juga!" teriak seorang ibu-ibu. "Anak
saya lulus SMA, nggak bisa kuliah karena nggak ada biaya. Kalau ada kerjaan,
dia bisa sekolah!"
Pak Joko yang duduk di kursi roda, ikut angkat suara.
"Saya dulu juga mau bangun pabrik di sini. Tapi anak-anak ini yang
melarang. Lihat sekarang, desa kita maju tanpa pabrik. Saya percaya sama
Raka!"
"Pak Joko sudah kaya!" bantah Dani. "Bapak
nggak ngerti kami yang miskin!"
Suasana memanas. Dua kubu mulai terlihat jelas. Yang pro
pembangunan, dan yang pro konservasi.
Wati berdiri. Suaranya lantang, memotong keramaian.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, dengarkan saya!"
Semua menoleh.
"Saya Wati, dokter hewan. Saya tahu apa yang terjadi
jika habitat kancil terganggu. Mereka bisa stres, berhenti berkembang biak,
bahkan mati. Kancil jawa sudah hampir punah. Kita tidak boleh jadi penyebab
kepunahan mereka."
Bejo ikut berdiri. "Gue Bejo. Gue juga anak desa ini.
Gue setuju kita butuh lapangan kerja. Tapi jangan dengan mengorbankan hutan.
Masih banyak cara lain. Pariwisata berbasis konservasi, misalnya. Ekowisata.
Itu bisa kasih kerja tanpa merusak alam."
Sugiarto tertawa kecil. Tawanya dingin. "Anak-anak
muda, kalian mungkin punya idealisme tinggi. Tapi uang tidak datang dari
idealisme. Ekowisata? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan 50
miliar? Berapa banyak lapangan kerja yang bisa diciptakan? Saya punya uang
sekarang. Siap bangun sekarang. Kalian? Masih mimpi."
Raka menatap Sugiarto tajam. "Pak, kami datang bukan
dengan idealisme kosong. Kami datang dengan ilmu, pengalaman, dan rencana
nyata. Kami akan buktikan, konservasi bisa mendatangkan uang lebih banyak dan
lebih berkelanjutan daripada resor mewah Bapak."
10. Dukungan dari Pak
Jarwo
Saat perdebatan mencapai puncak, Pak Jarwo berdiri dari
kursinya di barisan depan. Ia sudah tua, jalannya tertatih, tapi suaranya masih
lantang. Golok tua di pinggangnya berayun perlahan.
"Saudara-saudara!"
Semua diam. Pak Jarwo adalah sesepuh, mantan pemburu yang
tobat menjadi penjaga hutan paling disegani. Ucapannya punya bobot yang tidak
dimiliki siapa pun.
"Dulu, saya pemburu. Saya lihat hutan kita hampir
habis. Hewan-hewan hampir punah. Saya lihat kancil-kancil mati. Saya lihat
anak-anak mereka kelaparan." Ia berhenti, menatap satu per satu wajah
warga. "Tapi kemudian ada tiga anak kecil. Raka, Wati, Bejo. Mereka yang
menyelamatkan hutan ini. Mereka yang mengajarkan kita arti menjaga alam."
Ia menatap Sugiarto. "Pak Sugiarto, saya hormat niat
Bapak. Tapi hutan ini bukan hanya milik kita. Ini milik anak cucu kita. Kalau
rusak, tidak bisa diperbaiki. Saya lebih percaya pada anak-anak desa saya yang
sudah membuktikan diri."
Warga mulai berbisik-bisik. Banyak yang mengangguk setuju.
Kata-kata Pak Jarwo menyentuh hati mereka.
Sugiarto tersenyum tipis, tapi matanya dingin.
"Baiklah. Saya lihat perdebatan ini belum selesai. Saya akan memberi waktu
seminggu. Cari investor lain? Buktikan bahwa konservasi bisa mendatangkan uang.
Kalau tidak..." Ia merapikan kemejanya. "Saya yakin warga akan
memilih tawaran saya."
Ia pergi bersama rombongannya. Mobil-mobil hitamnya melaju
meninggalkan balai desa, meninggalkan warga yang terbelah antara harapan dan
kekhawatiran.
11. Rapat Tim
Malam harinya, markas Tim Detektif—yang kini sudah menjadi
kantor konservasi modern dengan dinding bambu dan peralatan canggih—penuh
sesak. Raka, Wati, Bejo, Guntur, Pak Jarwo, dan beberapa warga yang pro
konservasi duduk melingkar.
Raka membuka rapat. "Kita punya satu minggu. Satu
minggu untuk membuktikan bahwa konservasi lebih menguntungkan daripada
resor."
"Itu tidak mudah," kata Guntur. "Sugiarto
punya uang. Punya pengaruh. Dia sudah mulai bagi-bagi amplop ke warga."
"Amplop?" Wati terkejut.
"Iya. Ada yang dapat 500 ribu, ada yang dapat 1 juta.
Cuma untuk tanda tangan dukungan. Dani dan yang lain sudah tanda tangan."
Bejo mengepalkan tangan. "Buset! Itu namanya
sogok!"
"Kita nggak bisa buktikan, Jo. Mereka bilang itu
sumbangan."
Pak Jarwo menghela napas. "Ini berat. Tapi kita nggak
bisa nyerah."
Wati membuka laptopnya. "Aku punya data. Penelitian
dari kampus menunjukkan, ekowisata berbasis konservasi bisa menghasilkan
pendapatan 2-3 kali lipat dari wisata biasa dalam jangka panjang. Tapi butuh
waktu. 3-5 tahun untuk mulai stabil."
"Warga butuh uang sekarang," kata Guntur.
Raka berdiri, berjalan ke papan tulis. Ia menggambar sketsa
sederhana: hutan, sungai, desa, dan tanda panah yang menghubungkan semuanya.
"Kita buat proyek percontohan. Ekowisata skala kecil.
Libatkan warga. Tunjukkan hasilnya dalam waktu singkat."
"Tapi satu minggu terlalu pendek," kata Bejo.
"Kita kerjakan secepat mungkin. Guntur, kamu urus
perizinan dan koordinasi dengan warga yang mau ikut. Pak Jarwo, bantu pilih
jalur ekowisata yang aman dan menarik. Wati, siapkan program edukasi untuk
turis. Bejo, siapkan konsep kuliner lokal. Aku akan urus pemasaran dan jaringan
investor."
Mereka mengangguk. Ini berat, tapi harus dilakukan.
12. Pertemuan dengan
Kiara
Sebelum tidur, Raka pergi ke Lembah Harapan sendirian. Ia
ingin berbicara dengan Kiara. Entah kenapa, ia merasa Kiara bisa mengerti.
Lembah Harapan masih sama seperti dulu. Sungai jernih
mengalir, pepohonan rindang, bunga-bunga liar bermekaran. Di tepi sungai, Kiara
duduk sendirian. Kiano tidak ada. Mungkin sudah terlalu lelah untuk keluar
malam.
Raka duduk di samping Kiara.
"Kiara, kita dalam masalah. Ada orang yang mau bangun
resor di pinggir hutan. Kalau itu terjadi, rumah kalian akan terganggu."
Kiara menatapnya. Matanya tajam, seperti bertanya.
"Aku akan berjuang. Janji. Tapi aku butuh kalian.
Butuh Kiano, butuh kamu."
Kiara mendekat, menyandarkan kepalanya di pundak Raka.
Seperti Kiano dulu. Seperti Kai Muda dulu. Seperti Kai dulu.
Raka mengelus kepala Kiara. Bulunya halus, masih muda,
masih kuat.
"Kita akan menang, Kiara. Kita akan menang."
Dari balik semak, Kiano keluar perlahan. Ia berjalan
mendekat, lalu berbaring di samping Raka. Matanya menatap Kiara dengan penuh
kasih.
"Aku tenang," katanya
lewat bahasa tubuh. "Kiara akan baik-baik saja. Karena kalian di
sini."
Raka memegang kepala Kiano dan Kiara bergantian. "Kita
akan jaga hutan ini. Untuk kalian. Untuk generasi kalian. Untuk anak cucu
kita."
Kiano menggerakkan telinganya, setuju. Kiara menirukan.
Malam itu, di Lembah Harapan, di bawah sinar bulan purnama
yang mulai meninggi, generasi baru bersatu. Kiano yang tua, Kiara yang muda,
dan Raka yang kembali. Mereka akan berjuang. Untuk hutan, untuk kancil, untuk
Bojong Sari. Selamanya.
BERSAMBUNG KE EPISODE 2:
ANCAMAN INVESTOR











