Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 13 April 2026

Perempuan Tangguh Awan Biru

 


 PROLOG: Kilas Balik

Tahun 1985. Lereng Gunung Sumbing masih hijau dengan hutan jati dan mahoni yang menjulang. Embun tebal setiap pagi membasahi rumput-rumput liar di pinggir jalan setapak yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya. Di sinilah, di sebuah dusun kecil bernama Krajan Wetan, Yuniarti, yang kelak akan dikenal sebagai Bu Yuni, menghabiskan sepuluh tahun pertama kehidupannya.

Desa itu bernama Desa Sumberejo. Letaknya sekitar 800 meter di atas permukaan laut, di lereng barat Gunung Sumbing, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo. Udara dingin menusuk tulang, terutama pada bulan Juli hingga Agustus, ketika kabut tebal bisa bertahan hingga pukul sepuluh pagi. Jalanan masih tanah berbatu, belum beraspal. Rumah-rumah penduduk berdiri dengan dinding anyaman bambu yang disebut gedhek, beralaskan tanah yang dipadatkan, beratapkan rumbia atau seng bekas yang sudah berkarat.

Yuniarti lahir pada tanggal 17 Agustus 1975, tepat tiga puluh tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ayahnya, Mardikun, seorang guru SD yang ditempatkan di SD Negeri 2 Sumberejo, sering bercanda bahwa putrinya "lahir bertepatan dengan pesta rakyat." Ibunya, Sumirah, adalah seorang ibu rumah tangga yang juga membantu suaminya mengajar anak-anak desa membaca Al-Qur'an di surau kecil dekat rumah mereka.

Rumah keluarga Mardikun bukan rumah mewah. Dindingnya dari anyaman bambu yang jika disentuh terasa kasar dan berduri kecil. Lantainya tanah yang dipadatkan, tetapi setiap pagi disapu bersih oleh Sumirah hingga mengkilap. Ukurannya hanya sekitar 6x8 meter, terbagi menjadi tiga ruangan: ruang tamu yang juga menjadi ruang keluarga, satu kamar tidur untuk orang tua dan Yuniarti, serta dapur kecil yang menyatu dengan ruang belakang. Di belakang rumah, ada kandang ayam sederhana berisi enam ekor ayam kampung dan satu ekor kambing yang mengembik setiap kali mendengar langkah kaki Mardikun pulang.

"Dinik, tolong ambilkan air dari sumur," panggil Sumirah setiap pagi. Itulah rutinitas Yuniarti sejak usia lima tahun.

Sumur itu terletak sekitar seratus meter di bawah rumah, melewati jalan setapak yang terjal dan licin jika hujan. Yuniarti harus menuruni sekitar lima puluh anak tangga dari batu yang tidak rata, membawa dua ember kecil yang terbuat dari kaleng bekas cat yang diberi pegangan kawat. Perjalanan pulang naik selalu lebih berat, terutama di musim kemarau ketika air sumur mulai surut dan ia harus menunggu lebih lama untuk mengisi embernya.

"Pelan-pelan, Nak. Jangan terburu-buru," pesan Mardikun setiap melihat putrinya berjuang dengan ember-ember itu.

Yuniarti jarang mengeluh. Ia hanya mengangguk, mengatur napas, lalu melanjutkan perjalanan dengan langkah pendek dan pasti. Otot-otot tangannya yang mungil terbentuk karena kebiasaan ini. Dan tanpa disadarinya, kegiatan sederhana itu mulai membentuk karakternya: sabar, tekun, dan tidak mudah menyerah.

 

Mardikun bukan sekadar ayah bagi Yuniarti. Ia adalah guru pertama, kedua, dan terakhir yang paling berpengaruh dalam hidupnya.

Setiap malam, setelah makan malam yang sederhana, biasanya nasi dengan sayur lodeh atau tumis kangkung dari kebun belakang, Mardikun akan membuka buku-buku tebal di meja kayu kecil yang juga menjadi meja belajar Yuni. Lampu minyak tanah menyala redup, kadang berkedip-kedip jika angin masuk melalui celah-celah dinding bambu. Listrik belum masuk ke desa mereka hingga Yuniarti berusia dua belas tahun.

"Nak, tahukah kamu mengapa bendera kita merah putih?" tanya Mardikun suatu malam. Yuniarti yang saat itu duduk di kelas 3 SD menggeleng.

Mardikun tersenyum. Matanya yang mulai berkerut karena usia bersinar lembut. "Merah melambangkan keberanian. Putih melambangkan kesucian. Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan, tapi hatinya harus suci dari kepentingan pribadi."

Yuniarti mengangguk meskipun belum sepenuhnya mengerti. Namun kata-kata itu tersimpan di relung memorinya, seperti biji yang tertanam di tanah subur, menunggu waktu untuk tumbuh.

Pelajaran lain datang dari cara Mardikun mengajar di sekolah. SD Negeri 2 Sumberejo hanya memiliki tiga ruang kelas untuk enam tingkatan. Mardikun mengajar kelas 4, 5, dan 6 secara bergantian dalam satu ruangan. Murid-muridnya berasal dari desa-desa sekitar, ada yang berjalan kaki hingga dua kilometer melewati kebun dan sawah.

"Nak, mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan. Tangan yang bekerja, itulah yang mengubah segalanya," kata Mardikun ketika suatu hari Yuniarti mengeluh tentang PR yang menurutnya terlalu banyak.

Mardikun juga mengajarkan Yuniarti tentang ketertiban. Di lemari kecil rumah mereka, semua buku tersusun rapi berdasarkan ukuran dan subjek. Surat-surat penting disimpan dalam plastik dan dikelompokkan dalam map-map bekas yang diberi label tulisan tangan. Buku catatan pengeluaran rumah tangga ditulis dengan rapi setiap hari, dengan kolom pemasukan dan pengeluaran yang jelas.

"Ini bukan sekadar catatan, Din. Ini adalah sejarah keluarga kita. Jika kita tidak mencatat, kita akan lupa dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi," jelas Mardikun ketika Yuniarti yang berusia sembilan tahun bertanya tentang buku tebal berisi angka-angka itu.

Yuniarti belum mengerti arti penting pencatatan saat itu. Namun kebiasaan melihat ayahnya merapikan berkas-berkas itu menanamkan sesuatu dalam dirinya: bahwa dokumen bukanlah sekadar kertas, tetapi bukti keberadaan, jejak perjalanan, dan dasar pengambilan keputusan.

 

Sumirah tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Ia hanya lulusan SD, itupun tamat pada usia lima belas tahun karena harus membantu orang tuanya berdagang di pasar. Namun Sumirah memiliki kecerdasan yang tidak diajarkan di sekolah: kecerdasan bertahan hidup.

Pasar Kaliwiro, sekitar satu jam perjalanan dari desa mereka, adalah tempat Sumirah berjualan setiap Kamis legi. Ia membawa dagangan berupa sayuran dari kebunnya: kangkung, bayam, terong, dan kadang-kadang cabai jika musim panen. Berangkat pukul tiga pagi, berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang gelap, ditemani hanya oleh senter minyak yang redup dan sesekali suara burung kokokan dari kejauhan.

Yuniarti sering ikut ibunya ke pasar sejak usia enam tahun. Ia duduk di samping ibunya, melihat interaksi antara penjual dan pembeli, mendengar tawar-menawar yang kadang alot namun selalu berakhir dengan senyum.

"Nak, lihat itu," Sumirah pernah berkata sambil menunjuk ke arah seorang pedagang yang sedang bersitegang dengan pembeli. "Mereka berbeda pendapat, tapi mereka tetap menghormati satu sama lain. Itulah yang namanya manusia. Kamu tidak harus setuju dengan semua orang, tapi kamu harus menghormati mereka."

Pelajaran lain datang dari cara Sumirah menghadapi kesulitan. Ketika musim kemarau panjang melanda pada tahun 1982, sumur-sumur desa mengering. Tanaman gagal panen. Pasar sepi. Namun Sumirah tidak panik. Ia mengajak Yuniarti ke hutan di belakang desa, mengajarinya daun-daun apa yang bisa dimakan, umbi-umbian mana yang aman untuk dikonsumsi.

"Allah tidak pernah memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya, Din. Kita hanya perlu mencari jalan-Nya," kata Sumirah sambil mengumpulkan daun kelor dan singkong liar.

Yuniarti belajar bahwa ketangguhan bukanlah tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang kemampuan untuk bangkit setiap kali jatuh. Ia belajar bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan panggilan untuk lebih kreatif.

 

Malam-malam di Sumberejo adalah malam-malam yang sunyi. Tidak ada televisi. Tidak ada radio. Hanya suara jangkrik, katak, dan sesekali lolongan anjing dari kejauhan. Lampu minyak tanah yang redup membuat bayangan-bayangan menari di dinding anyaman bambu.

Di malam-malam seperti ini, Yuniarti sering berbaring di atas tikar anyaman sambil menatap langit-langit yang terbuat dari bilik bambu. Ibunya duduk di sampingnya, mengipasi dengan kipas dari daun kelapa sambil sesekali membisikkan doa-doa.

"Bu, apakah kita akan selalu seperti ini?" tanya Yuniarti suatu malam. Matanya menatap Sumirah yang sedang menjahit baju robek milik suaminya.

"Seperti apa, Nak?"

"Miskin, Bu."

Sumirah berhenti menjahit. Diam beberapa saat. Kemudian ia berkata dengan suara lembut namun tegas, "Din, kita tidak miskin. Kita hanya belum kaya. Miskin itu keadaan hati, bukan keadaan dompet. Selama kita masih bisa tersenyum, masih bisa berbagi dengan tetangga, kita tidak pernah miskin."

Yuniarti terdiam. Kata-kata ibunya meresap perlahan, seperti air yang menyerap ke dalam tanah kering.

Mardikun yang mendengar percakapan itu dari balik dinding kamar keluar. "Nak, jika kamu ingin mengubah sesuatu, jangan pernah memulainya dengan teriakan. Mulailah dengan ketekunan."

"Dan jangan pernah takut mengerjakan apa yang orang lain anggap remeh," sambut Sumirah, melanjutkan kalimat suaminya dengan senyum. "Karena dari sanalah perubahan besar sering lahir."

Yuniarti tersenyum. Ia belum tahu persis apa makna kalimat-kalimat itu. Namun ia merasakan kehangatan dari kata-kata orang tuanya, kehangatan yang membuatnya yakin bahwa apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah sendirian.

 

Yuniarti bersekolah di SD Negeri 2 Sumberejo, tempat ayahnya mengajar. Setiap pagi, ia berjalan kaki sekitar lima belas menit melewati persawahan dan kebun singkong. Seragamnya sederhana: baju putih yang sudah mulai kekuningan karena sering dicuci dengan sabun colek, rok merah yang sudah terlalu pendek karena tubuhnya terus bertambah tinggi, dan sepatu hitam yang solnya sudah tipis.

Duduk di kelas 4, Yuniarti menunjukkan bakatnya di bidang administrasi, meskipun ia sendiri belum menyadarinya. Ia ditunjuk oleh gurunya, Bu Purwati, sebagai petugas piket yang bertanggung jawab mencatat kehadiran teman-temannya.

"Yuni, catat siapa saja yang tidak masuk hari ini," perintah Bu Purwati.

Yuniarti membuka buku kecil yang selalu ia bawa. Buku itu adalah buku bekas catatan ayahnya yang masih tersisa halaman kosong. Ia menulis nama-nama temannya dengan rapi, membuat kolom tanggal, nama, dan alasan ketidakhadiran, meskipun tidak diminta.

"Wah, rapi sekali catatanmu, Yuni," puji Bu Purwati setelah memeriksa. "Kamu buat kolom-kolom gini sendiri?"

Yuniarti tersenyum malu. "Iya, Bu. Saya lihat ayah kalau catat pengeluaran pakai kolom-kolom begitu."

Bu Purwati mengelus kepala Yuniarti. "Kamu anak yang teliti. Pertahankan itu, Nak."

Pujian itu membuat Yuniarti merasa bangga. Namun kebanggaan itu seringkali harus berhadapan dengan kenyataan pahit: keterbatasan ekonomi keluarganya.

Ketika teman-temannya membawa bekal nasi dengan lauk pauk yang bervariasi, Yuniarti hanya membawa nasi putih dengan garam dan sedikit minyak. Kadang-kadang, jika ibunya sedang punya uang lebih, ada tempe goreng atau tahu yang sudah dingin sejak pagi.

"Yuni, makan apa kamu?" tanya Siti, teman sebangkunya, suatu hari.

Yuniarti menutup kotak makannya yang terbuat dari besek bambu. "Biasa saja, Sit. Kamu?"

Siti tidak memaksa. Namun keesokan harinya, Siti membawa dua porsi bekal. "Ini untukmu, Yu. Ibuku masak banyak."

Yuniarti menatap bekal itu dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Sit. Tapi aku tidak bisa, "

"Bisa. Ambil saja. Nanti kalau kamu sudah sukses, traktir aku."

Yuniarti tersenyum. "Iya. Aku janji."

Janji itu sederhana. Namun seperti semua janji yang diucapkan dengan tulus, janji itu akan diingat seumur hidup.

 

Ketika Yuniarti duduk di kelas 5 SD, sebuah perubahan besar terjadi dalam keluarganya. Mardikun mendapatkan promosi menjadi kepala sekolah di SD Negeri 1 Kaliwiro. Promosi itu berarti gaji yang lebih baik, tetapi juga berarti harus pindah ke kecamatan yang letaknya sekitar dua jam perjalanan dari desa mereka.

"Kita pindah, Din," kata Mardikun suatu malam. Wajahnya serius namun matanya berbinar. "Kamu akan sekolah di kota. Ada lebih banyak kesempatan di sana."

Yuniarti merasa campur aduk. Ia akan meninggalkan desanya, rumah bambunya, sumur di bawah bukit, dan Siti, sahabatnya yang selalu membawakannya bekal. Namun ia juga penasaran dengan kehidupan di kota yang selama ini hanya ia dengar cerita.

Perjalanan pindahan mereka dilakukan dengan truk terbuka milik Bapak Karto, tetangga yang memiliki truk tua. Seluruh harta keluarga, lemari pakaian, meja belajar, beberapa kursi kayu, dan kambing mereka yang terikat di belakang—dimasukkan ke bak truk. Yuniarti duduk di samping ibunya, menatap desanya yang semakin mengecil di kejauhan.

Selamat tinggal, Sumberejo, bisiknya dalam hati. Terima kasih untuk segalanya.

Kaliwiro ternyata tidak sebesar yang Yuniarti bayangkan. Kota kecamatan ini masih sederhana: satu pasar, satu puskesmas, satu kantor kecamatan, dan deretan toko kecil di sepanjang jalan utama. Namun ada hal yang tidak dimiliki desanya: listrik.

"Waah... lampu bisa menyala tanpa minyak tanah?" Yuniarti terkesima ketika Mardikun menekan sakelar dan lampu di rumah baru mereka langsung menyala terang.

"Listrik, Din. Inilah yang disebut kemajuan," kata Mardikun tersenyum.

Rumah baru mereka lebih baik dari rumah di Sumberejo. Dindingnya sudah dari batu bata yang diplester, lantainya dari semen, atapnya dari genteng. Halaman depannya cukup luas untuk ditanami sayuran dan bunga-bungaan.

Namun yang paling menarik bagi Yuniarti adalah keberadaan kantor kecamatan tepat di seberang rumah mereka. Setiap hari, ia melihat orang-orang datang dan pergi dengan membawa map-map dan berkas-berkas. Ia melihat para pegawai yang duduk di balik meja, menulis, membaca, dan melayani warga.

"Din, jangan terus melamun di jendela. Bantu Ibu di dapur!" teriak Sumirah dari dalam.

"Iya, Bu!" jawab Yuniarti sambil berlari ke dapur. Namun sebelum pergi, ia melirik sekali lagi ke arah kantor kecamatan. Suatu hari nanti, aku akan bekerja di sana, pikirnya. Aku akan membantu orang-orang seperti ayah membantu murid-muridnya.

 

SMP Negeri 1 Kaliwiro adalah sekolah impian bagi banyak anak di kecamatan itu. Lokasinya strategis, guru-gurunya kompeten, dan fasilitasnya cukup lengkap untuk ukuran tahun 1980-an. Yuniarti bersyukur karena rumah mereka hanya berjarak lima belas menit jalan kaki dari sekolah.

Masa remaja Yuniarti tidak berbeda jauh dengan masa kecilnya. Ia masih pendiam, lebih suka mengamati daripada berbicara. Ia masih teliti, bahkan dalam hal-hal kecil seperti merapikan meja belajar atau menyusun buku-buku sesuai abjad.

Namun ada satu hal yang berubah: ia mulai aktif dalam organisasi sekolah. Yuniarti bergabung dengan OSIS sebagai sekretaris. Posisi itu sebenarnya tidak banyak dicari teman-temannya karena dianggap membosankan: hanya mencatat, mengetik, dan mengarsip.

"Yu, kenapa kamu mau jadi sekretaris? Capek lho, catat-catat terus," kata Wulan, teman sekelasnya.

Yuniarti tersenyum. "Aku suka mencatat, Lan. Ada kepuasan tersendiri ketika semua beres dan rapi."

Wulan menggeleng tak mengerti. Namun ia tidak mempermasalahkan. Setiap orang punya kesukaannya masing-masing.

Pengalaman di OSIS mengajarkan Yuniarti tentang dinamika organisasi. Ia belajar bagaimana rapat yang tidak terstruktur dapat membuang waktu. Ia belajar bagaimana notulen yang tidak rapi dapat menyebabkan miskomunikasi. Ia belajar bagaimana satu surat yang salah alamat dapat menghambat seluruh kegiatan.

"Apa ini?" tanya Ketua OSIS, Dimas, suatu hari sambil memegang setumpuk kertas yang baru saja Yuniarti serahkan.

"Notulen rapat minggu lalu, Mas. Saya buat rangkap tiga. Satu untuk arsip, satu untuk Bapak Pembina, satu untuk papan pengumuman."

Dimas membuka lembaran demi lembaran. Matanya membulat. "Wah... rapi sekali. Kamu memang telaten, Yu."

Yuniarti tersenyum bangga. Namun ia tidak membiarkan kebanggaan itu membuatnya sombong. Ia tetap rendah hati, tetap mau membantu teman-temannya yang kesulitan dengan administrasi.

"Yu, tolong bantu saya buat surat izin tidak masuk. Tulisan tangan saya jelek," pinta Andi, teman sekelas yang sering bolos.

"Lain kali usahakan sendiri, Andi. Tapi kali ini saya bantu," jawab Yuniarti sambil mengambil kertas dan pulpen.

Dari interaksi-interaksi kecil seperti inilah Yuniarti belajar bahwa pelayanan adalah tentang membantu orang lain tanpa pamrih. Ia belajar bahwa jabatan bukanlah untuk dipamerkan, tetapi untuk diemban.

 

SMA Negeri 1 Kaliwiro adalah satu-satunya SMA negeri di kecamatan itu. Yuniarti diterima dengan nilai ujian masuk yang memuaskan. Namun kegembiraannya terbayangi oleh kenyataan: biaya sekolah yang lebih mahal.

"Pak, apakah Yuni bisa tetap bersekolah?" tanya Yuniarti suatu malam ketika Mardikun sedang menghitung pengeluaran bulanan di meja belajarnya.

Mardikun mengangkat wajah. Kerutan di dahinya semakin dalam. "Kenapa kamu bertanya begitu, Din?"

"Biaya SMA mahal, Pak. Saya lihat di dompet Bapak... tidak cukup."

Mardikun terdiam. Matanya berkaca-kaca. Kemudian ia berkata dengan suara yang bergetar namun tegas, "Din, Bapak mungkin tidak bisa memberikanmu kemewahan. Tapi Bapak tidak akan menghalangimu untuk bersekolah. Bapak akan bekerja lebih keras. Ibu juga."

Sumirah yang mendengar dari dapur langsung masuk. "Jangan khawatir, Din. Allah selalu memberi jalan."

Yuniarti menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena haru. Ia bersyukur memiliki orang tua seperti mereka.

Selama SMA, Yuniarti bekerja paruh waktu membantu menjaga toko kelontong milik tetangganya sepulang sekolah. Gajinya kecil, hanya cukup untuk membeli buku dan alat tulis. Namun ia tidak pernah mengeluh.

"Kamu tidak capek, Yu? Sekolah, organisasi, terus kerja lagi?" tanya Lilis, sahabatnya di SMA.

"Capek, Lil. Tapi lebih capek melihat orang tuaku bekerja keras untukku."

Lilis menghela napas. "Kamu ini luar biasa, Yu. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan sukses."

Yuniarti tersenyum. "Doakan saja, Lil. Aku hanya ingin berguna bagi orang banyak."

Pertanyaan yang sering Yuniarti renungkan di malam hari adalah: apa yang sebenarnya ingin ia lakukan dalam hidup? Ia suka administrasi, suka mencatat, suka mengatur. Namun apakah itu cukup untuk disebut sebagai "berguna bagi orang banyak"?

Ia tidak menemukan jawabannya saat SMA. Namun ia yakin bahwa jawaban itu akan datang pada waktu yang tepat.

 

Tahun 1994. Yuniarti lulus SMA dengan nilai yang membanggakan. Ia berhasil masuk sepuluh besar di kecamatannya. Banyak teman yang melanjutkan kuliah ke kota-kota besar: Semarang, Yogyakarta, bahkan Jakarta.

"Kamu tidak kuliah, Yu?" tanya Lilis suatu hari ketika mereka berpapasan di jalan.

Yuniarti menggeleng. "Biaya kuliah mahal, Lil. Aku tidak mau membebani orang tuaku."

"Tapi kamu pintar, Yu. Sayang kalau tidak kuliah."

Yuniarti tersenyum. "Pintar tidak harus kuliah, Lil. Ada banyak jalan untuk belajar."

Keputusan untuk tidak kuliah bukan keputusan mudah. Yuniarti menangis semalaman di kamarnya setelah mengumumkan niatnya pada orang tuanya. Ia ingin sekali melanjutkan pendidikan. Namun ia juga melihat bagaimana Mardikun mulai sering sakit-sakitan, bagaimana rambut Sumirah mulai memutih, bagaimana pengeluaran untuk berobat semakin besar.

"Aku tidak akan menjadi beban mereka," bisiknya pada diri sendiri sambil menghapus air mata.

Namun Allah memiliki rencana lain. Sebulan setelah kelulusan, pamannya yang bekerja di kantor kecamatan memberitahu adanya lowongan staf administrasi di Kantor Kecamatan Kaliwiro.

"Kerja dulu, Din. Sambil menabung, nanti bisa kuliah lagi," kata pamannya.

Yuniarti tidak berpikir dua kali. Ia segera mendaftar. Tesnya cukup berat: ada tes menulis, tes hitung-hitungan, dan tes wawancara. Namun Yuniarti lulus dengan baik.

"Selamat, Yuniarti. Kamu diterima sebagai staf administrasi," kata Bapak Camat Kaliwiro saat itu.

Yuniarti tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Ini adalah awal dari perjalanan panjangnya di dunia administrasi.

 

Tahun 1994 hingga 2001 adalah periode penting dalam kehidupan Yuniarti. Tujuh tahun bekerja di Kantor Kecamatan Kaliwiro mengajarkannya banyak hal tentang birokrasi, tentang sistem, dan tentang bagaimana dokumen yang tidak tertata dapat menghambat nasib banyak orang.

Kantor Kecamatan Kaliwiro saat itu masih sederhana. Bangunannya berdiri megah di tepi jalan raya, dengan halaman depan yang luas dan pohon beringin rindang. Interiornya terdiri dari ruang depan untuk pelayanan publik, beberapa ruang staf, ruang camat, dan ruang arsip di belakang.

Di ruang arsip itulah Yuniarti paling sering menghabiskan waktunya. Ruangan itu berukuran sekitar 6x8 meter, dindingnya lembab karena kelembaban udara yang tinggi, catnya mengelupas di sana-sini. Lemari-lemari kayu berjajar rapi namun isinya berantakan. Map-map kusam menumpuk tanpa urutan yang jelas. Sebagian berkas disimpan di kardus bekas, sebagian lagi diikat dengan tali rafia yang sudah rapuh.

"Ini ruang arsip kita, Yuni. Selamat bekerja," kata Pak Rahmat, kepala bagian administrasi, ketika pertama kali memperkenalkan ruangan itu.

Yuniarti melihat sekeliling. Matanya menyapu setiap sudut. "Ini semua... belum tertata, Pak?"

Pak Rahmat tertawa kecil. "Belum? Ini sudah bertahun-tahun tidak pernah tertata, Nak. Sebelum kamu datang, sudah beberapa orang yang mencoba merapikan. Semua menyerah."

Yuniarti tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Namun dalam hatinya, ia berkata, "Mungkin mereka menyerah karena tidak cukup sabar. Aku tidak akan menyerah."

Dan ia tidak menyerah.

Selama tujuh tahun, Yuniarti secara bertahap merapikan ruang arsip itu. Ia mulai dari hal yang paling sederhana: memisahkan berkas berdasarkan tahun. Kemudian berdasarkan jenis. Kemudian berdasarkan abjad. Ia membuat label-label dari kertas bekas, menulisnya dengan rapi menggunakan spidol hitam.

"Apa kamu tidak bosan, Yu? Setiap hari cuma berurusan dengan kertas-kertas tua?" tanya Sari, teman kerjanya, suatu hari.

Yuniarti yang sedang menyortir berkas tahun 1985 tidak mengangkat wajah. "Kertas-kertas ini bukan sekadar kertas, Sar. Ini adalah sejarah. Ini adalah bukti bahwa seseorang pernah mengurus sesuatu di sini. Ini adalah hak-hak warga yang tersimpan."

Sari menggeleng. "Kamu aneh, Yu."

Yuniarti tersenyum. "Mungkin. Tapi aku bahagia."

Perlahan, perubahan mulai terlihat. Berkas-berkas yang dulu sulit ditemukan kini dapat diakses dalam hitungan menit. Warga yang datang mengurus administrasi tidak perlu lagi menunggu berjam-jam. Pelayanan menjadi lebih cepat.

"Wah, sekarang enak ya. Nggak perlu nunggu lama," kata seorang warga suatu hari.

Pak Camat sendiri yang mendengar komentar itu tersenyum bangga. "Itu kerja keras Yuniarti, Pak. Beliau yang merapikan arsip kita."

Yuniarti yang berdiri di samping hanya tersenyum malu. Namun hatinya berbunga-bunga. Ia merasa usahanya tidak sia-sia.

 

Tujuh tahun di Kecamatan Kaliwiro bukan hanya tentang merapikan arsip. Yuniarti juga belajar tentang politik birokrasi, tentang ego sektoral, tentang bagaimana kadang-kadang prosedur yang kaku justru menghambat pelayanan.

Suatu hari, seorang warga tua datang dengan keringat bercucuran. Wajahnya lelah, matanya sembab. Ia ingin mengurus pensiun janda untuk istrinya yang baru saja meninggal. Namun berkas-berkas yang ia bawa tidak lengkap.

"Pak, ini belum lengkap. Bapak harus melengkapi dulu," kata staf pelayanan dengan nada datar.

Warga itu hampir menangis. "Tapi Mas, saya sudah tiga kali ke sini. Selalu kurang. Saya tidak tahu harus cari di mana lagi."

Yuniarti yang kebetulan lewat menghampiri. "Pak, berkas apa yang kurang? Coba saya lihat."

Warga itu menyerahkan map kumalnya. Yuniarti memeriksa satu per satu. "Pak, Bapak tidak perlu surat keterangan kematian dari kecamatan. Itu sudah diurus oleh pihak kelurahan. Cukup surat dari lurah saja."

Staf pelayanan terkejut. "Eh, bukannya harus dari, "

"Tidak, Mas. Aturannya sudah berubah tahun lalu," potong Yuniarti dengan tegas namun sopan.

Warga itu menghela napas lega. "Alhamdulillah... terima kasih, Bu."

Setelah warga itu pergi, staf pelayanan mendekati Yuniarti. "Maaf, Bu. Saya tidak tahu aturannya sudah berubah."

Yuniarti tersenyum. "Tidak apa-apa, Mas. Lain kali lebih sering cek peraturan baru, ya."

Dari pengalaman itu, Yuniarti belajar bahwa administrasi bukanlah tentang kaku mengikuti aturan, tetapi tentang melayani manusia. Aturan dibuat untuk mempermudah, bukan mempersulit. Dan tugas seorang administrator adalah memahami aturan dengan baik sehingga ia dapat membantu warga memenuhinya tanpa beban berlebihan.

 

Memasuki tahun 2001, Yuniarti mulai merasa gelisah. Bukan karena pekerjaannya yang monoton, ia justru menikmatinya. Namun ada perasaan bahwa ia belum mencapai potensi maksimalnya.

"Kamu kenapa, Din? Kok sering melamun?" tanya Sumirah suatu hari ketika Yuniarti pulang kampung ke Sumberejo.

Yuniarti duduk di samping ibunya di beranda rumah yang sudah direnovasi menjadi semi permanen. "Bu, aku merasa... ada yang kurang."

"Kurang apa?"

"Aku tidak tahu, Bu. Mungkin... aku ingin tantangan baru. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukan lebih."

Sumirah menggenggam tangan putrinya. Tangannya sudah keriput, urat-uratnya menonjol. "Din, kalau kamu merasa perlu perubahan, jangan takut untuk melangkah. Ibu dan Bapak akan selalu mendukungmu."

Mardikun yang duduk di dalam menimpali, "Tapi jangan terburu-buru, Din. Doa istikharah dulu. Minta petunjuk sama Allah."

Yuniarti mengangguk. Malam itu, ia shalat istikharah untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Air matanya mengalir. Ia tidak tahu persis apa yang ia minta. Namun ia yakin bahwa Allah akan menunjukkan jalannya.

Seminggu kemudian, seorang rekannya dari kecamatan memberitahu tentang lowongan Sekretaris Desa di Desa Awan Biru.

"Desa kecil, Yu. Jauh dari kota. Gajinya juga tidak seberapa. Tapi katanya sistem administrasinya berantakan parah. Mereka butuh orang yang bisa membereskannya," kata rekannya.

Yuniarti membaca surat lamaran itu. Matanya berhenti pada kalimat di bagian akhir: "Kami mencari sekretaris desa yang tidak takut dengan tantangan dan memiliki integritas tinggi."

Integritas. Kata yang sama yang pernah ia dengar dari ayahnya. Kata yang sama yang ia pegang selama bertahun-tahun.

"Aku akan melamar," kata Yuniarti.

Rekannya terkejut. "Serius, Yu? Desanya kecil lho. Jauh pula."

"Aku tidak mencari kemewahan, Sar. Aku mencari makna."

Dan di situlah keputusan itu diambil. Keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Keputusan yang akan membawanya ke Desa Awan Biru, tempat ia akan menjadi Bu Yuni, sosok perempuan tangguh yang namanya dikenang sepanjang masa.


Desa Awan Biru terletak di lereng timur Gunung Sumbing, sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Nama desa ini bukanlah nama resmi dalam administrasi pemerintahan, nama resminya adalah Desa Sumbermulyo. Namun masyarakat setempat lebih akrab menyebutnya Awan Biru karena pemandangan khas di pagi hari ketika kabut tebal menyelimuti desa dan langit di atasnya tampak biru cerah, menciptakan kontras yang indah antara putihnya kabut dan birunya langit.

Desa ini berjarak sekitar 15 kilometer dari ibu kota kecamatan, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit menggunakan kendaraan roda dua jika jalanan baik. Namun "jika jalanan baik" adalah frasa yang jarang terpenuhi, karena jalan menuju desa ini hanya beraspal sepanjang 5 kilometer pertama. Sisanya adalah jalan berbatu dan tanah yang berlubang-lubang, terutama di musim hujan ketika genangan air bisa mencapai lutut orang dewasa.

Secara administratif, Desa Awan Biru terdiri dari empat dusun: Dusun Krajan (pusat desa), Dusun Ngemplak (di barat), Dusun Kaliwungu (di timur), dan Dusun Gondang (di selatan). Total luas wilayah sekitar 1.200 hektar, dengan rincian 800 hektar hutan rakyat, 300 hektar lahan pertanian, dan 100 hektar pemukiman.

Penduduk Desa Awan Biru berjumlah sekitar 3.500 jiwa yang tersebar di 900 kepala keluarga. Sebagian besar bekerja sebagai petani, buruh tani, atau perantau di kota-kota besar. Tingkat pendidikan rata-rata adalah lulusan SD, dengan hanya sekitar 10 persen yang melanjutkan ke SMP, 5 persen ke SMA, dan kurang dari 1 persen yang mengenyam pendidikan tinggi.

Kondisi ekonomi desa ini bisa dibilang pas-pasan. Pendapatan per kapita rata-rata kurang dari 500 ribu rupiah per bulan. Banyak rumah yang masih berdinding anyaman bambu atau papan kayu yang sudah lapuk. Atapnya dari seng yang berkarat atau genteng yang sudah retak. Lantainya dari tanah yang dipadatkan, beralaskan tikar pandan yang sudah usang.

Namun seperti pepatah lama, "di balik kekurangan selalu ada kelebihan." Warga Desa Awan Biru terkenal ramah dan gotong royong. Jika ada tetangga yang sedang sakit, seluruh warga akan bergantian menjenguk dan membawa makanan. Jika ada yang sedang hajatan, semua orang akan datang membantu tanpa diminta imbalan. Inilah yang disebut "paguyuban", ikatan batin yang mengikat mereka sebagai satu komunitas.

 

Kantor Desa Awan Biru berdiri di tanah seluas sekitar 500 meter persegi di pusat Dusun Krajan. Bangunannya berbentuk limasan khas Jawa, dengan atap genteng yang sudah ditumbuhi lumut karena kelembaban udara yang tinggi. Dindingnya dari batu bata yang diplester, namun catnya sudah mengelupas di sana-sini, meninggalkan bercak-bercak putih yang tidak merata.

Di depan kantor, ada lapangan kecil yang digunakan untuk berbagai kegiatan desa: upacara hari kemerdekaan, pertemuan warga, atau sekadar tempat anak-anak bermain bola sore hari. Di pinggir lapangan, tumbuh pohon beringin besar yang akarnya menjalar ke mana-mana, seperti ingin menunjukkan bahwa usia desa ini sudah tua.

Tiang bendera setinggi sekitar 10 meter berdiri di tengah lapangan. Setiap hari Senin, upacara bendera dilaksanakan dengan khidmat meskipun jumlah pesertanya tidak seberapa, hanya perangkat desa, beberapa guru SD, dan siswa-siswi yang diwajibkan hadir.

Di dalam kantor, keadaannya tidak lebih baik. Bangunan ini memiliki tiga ruangan utama: ruang pelayanan depan, ruang perangkat desa (yang juga menjadi ruang rapat), dan ruang kepala desa. Masing-masing ruangan dipisahkan oleh dinding setinggi sekitar 2,5 meter dengan pintu dari kayu jati yang sudah lapuk karena rayap.

Lantai ruangan dari ubin hitam putih yang sudah retak di beberapa bagian. Jika hujan deras, air akan merembes dari lantai dan dinding, membuat suasana lembab dan bau apek. Lampu neon 20 watt menyala redup, kadang berkedip-kedip jika listrik sedang tidak stabil, yang sering terjadi di desa ini karena jaringan listrik yang sudah tua.

 

Namun bagian paling memprihatinkan dari Kantor Desa Awan Biru adalah ruang arsipnya.

Ruang ini terletak di bagian belakang bangunan, berukuran sekitar 4x6 meter. Dindingnya lembab dengan bercak-bercak jamur berwarna hitam kehijauan. Catnya sudah terkelupas habis di beberapa bagian, memperlihatkan batu bata di baliknya. Lantainya dari semen yang tidak pernah dipoles, sehingga berdebu dan kasar. Tidak ada jendela kecuali satu lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit yang ukurannya tidak lebih dari 30x30 sentimeter.

Di ruangan inilah seluruh arsip desa disimpan. Dan kata "disimpan" adalah istilah yang terlalu baik untuk menggambarkan keadaan di sana.

Lemari-lemari kayu berjajar di sepanjang dinding. Jumlahnya ada empat buah, masing-masing setinggi sekitar 2 meter dengan dua pintu. Semuanya terbuat dari kayu jati, namun usianya sudah puluhan tahun. Engsel pintu berkarat dan berderit setiap kali dibuka. Kunci-kunci lemari kebanyakan sudah hilang, sehingga pintu hanya diikat dengan kawat atau tali rafia.

Isi lemari-lemari itu... adalah kekacauan yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.

Map-map kusam menumpuk tanpa urutan yang jelas. Sebagian map terbuat dari karton bekas yang sudah lembek karena dimakan rayap. Sebagian lagi hanya berupa kertas-kertas yang diikat dengan tali rafia. Ada juga berkas-berkas yang hanya diletakkan begitu saja di rak, tanpa map, tanpa label, tanpa sistem apapun.

Sebagian map bertuliskan label dengan tinta yang sudah luntur, sehingga tidak terbaca. Sebagian lagi tidak memiliki label sama sekali. Ada berkas-berkas dari tahun 1980-an yang bercampur aduk dengan berkas tahun 2000-an. Ada surat-surat penting yang terselip di antara buku register yang sudah lapuk. Bahkan ada dokumen yang sudah basah bekas tumpahan air, entah dari mana asalnya, dengan tinta yang luntur dan kertas yang mulai rapuh.

"Kami tidak pernah berani masuk ke ruangan itu sendirian," kata Pak Santoso, Kaur Pemerintahan yang sudah bekerja di kantor ini selama 20 tahun. "Bukan karena angker, tapi karena... kami takut tidak akan pernah keluar jika masuk ke dalam kekacauan itu."

 

Kantor Desa Awan Biru memiliki 12 orang perangkat desa, terdiri dari:

1.     Kepala Desa (saat itu dijabat oleh Bapak Iwan Setiawan, periode pertama)

2.     Sekretaris Desa (lowong, baru akan diisi oleh Bu Yuni)

3.     Kaur Pemerintahan (Bapak Santoso Wibowo)

4.     Kaur Kesra (Bapak Edi Prayitno)

5.     Kaur Perencanaan (Bapak Eko Prasetyo)

6.     Kaur Keuangan (Ibu Lulu Kurniawati)

7.     Kaur Pelayanan (Bapak Joko Suryanto)

8.     Kaur Umum (Bapak Ahmad Nurrohman alias Si Amat)

9.     Staf Administrasi (Ibu Endang Sri Rahayu)

10.  Staf Pelayanan (Ibu Siti Nurjanah)

11.  Staf Keuangan (Bapak Rudi Hartono)

12.  Staf Teknis (Bapak Supriyadi)

Masing-masing memiliki karakter dan kebiasaan yang berbeda. Namun satu hal yang menyatukan mereka: kebiasaan santai yang sudah mengakar bertahun-tahun.

Pak Santoso adalah yang tertua di antara mereka. Usianya sudah 58 tahun, dengan rambut yang mulai memutih di pelipis dan kacamata tebal yang sering turun ke ujung hidung. Ia sudah bekerja di kantor desa sejak tahun 1981, melewati tiga periode kepala desa yang berbeda. Pengalamannya sangat luas, namun sayangnya ia juga paling enggan berubah. "Sudah begini caranya dari dulu, dan tidak pernah ada masalah," adalah kalimat favoritnya.

Pak Edi adalah tipe pekerja yang... bagaimana mengatakannya... cukup baik jika sedang mood. Jika ada kopi di meja dan suasana hatinya sedang bagus, ia bisa bekerja dengan cepat. Namun jika kopinya tidak enak atau hatinya sedang tidak baik, ia bisa duduk berjam-jam hanya menatap langit-langit. "Kerja itu harus santai, Pak. Nggak usah dibawa tegang," katanya suatu hari.

Pak Eko adalah yang paling "modern" di antara mereka. Ia memiliki laptop, walaupun usianya sudah 10 tahun dan sering mati sendiri. Ia juga memiliki ponsel pintar yang selalu ia gulir setiap waktu. Sayangnya, kecanggihan teknologi tidak selalu dimanfaatkan untuk bekerja. "Bentar ya, Pak, saya cek WA dulu. Takutnya ada info penting dari kecamatan," katanya sambil membuka aplikasi media sosial.

Bu Lulu adalah satu-satunya perempuan di antara perangkat desa (sebelum Bu Yuni datang). Ia bertanggung jawab atas keuangan desa, namun seringkali kewalahan karena sistem pencatatannya yang masih manual dan berantakan. "Saya sudah menyerah, Pak. Kalau dicari satu, bisa hilang dua," keluhnya suatu hari.

Si Amat, panggilan akrab untuk Ahmad Nurrohman, adalah yang termuda. Usianya baru 28 tahun ketika Bu Yuni datang. Ia lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah karena harus membantu orang tuanya yang sakit. Ia sebenarnya cerdas, namun terlalu terbawa arus kebiasaan santai di kantor. "Nanti juga ketemu sendiri" adalah mantra yang selalu ia ucapkan ketika ada warga yang mencari berkas.

 

Di tengah semua kekacauan ini, ada Bapak Iwan Setiawan, Kepala Desa Awan Biru yang baru menjabat di periode pertamanya.

Pak Iwan, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang petani yang kemudian menjadi pengusaha kecil di bidang perdagangan hasil bumi. Ia memutuskan mencalonkan diri sebagai kepala desa karena frustrasi melihat kondisi desanya yang tidak pernah maju. "Desa ini butuh perubahan," katanya dalam kampanye. "Kita tidak bisa terus-terusan menjadi penonton di era yang sudah berubah."

Ia terpilih dengan selisih suara yang tipis, mengalahkan petahana yang sudah menjabat dua periode. Kemenangan itu membuatnya optimis bahwa ia bisa membawa perubahan. Namun setelah menjabat selama enam bulan, optimisme itu mulai pudar.

"Pak Kades, ini laporan keuangan bulan lalu masih belum selesai," kata Bu Lulu suatu hari.

"Pak, surat dari kecamatan harus segera ditanggapi," kata Pak Santoso di hari yang sama.

"Pak, warga komplain pelayanan lambat," kata Si Amat di kesempatan lain.

Pak Iwan merasa seperti sedang memadamkan api di sekelilingnya, namun setiap kali satu api padam, sepuluh api baru muncul. Ia duduk di ruang kerjanya yang sederhana, meja kayu dengan laci macet, kursi putar yang rodanya sudah rusak, dan lemari arsip yang hanya berisi beberapa map, lalu menghela napas panjang.

"Kalau begini terus... kita bisa ketinggalan jauh," gumamnya suatu pagi setelah membaca surat teguran dari kecamatan tentang keterlambatan laporan.

Ia memandang foto istrinya yang sudah meninggal dua tahun lalu. Foto itu masih tersimpan rapi di atas meja, dalam bingkai kayu sederhana. "Sri, aku berjanji padamu akan membuat desa ini lebih baik. Tapi sepertinya... aku tidak bisa melakukannya sendiri."

Air mata mengalir di pipinya yang mulai berkerut. Namun ia cepat-cepat menghapusnya ketika mendengar ketukan di pintu.

"Pak, ada surat lamaran untuk Sekdes," kata Pak Santoso dari luar.

"Masuk," jawab Pak Iwan, mengatur napasnya.

Pak Santoso masuk membawa setumpuk amplop. "Ini ada tiga lamaran, Pak. Dua dari orang dalam, satu dari luar."

Pak Iwan membaca lamaran itu satu per satu. Dua lamaran pertama adalah orang-orang yang sudah ia kenal: mantan staf kecamatan yang pensiun dan kerabat salah satu tokoh masyarakat. CV mereka standar, tidak ada yang istimewa.

Lamaran ketiga adalah dari seorang wanita bernama Yuniarti. Ia membaca dengan teliti. Pengalamannya: tujuh tahun di Kantor Kecamatan Kaliwiro, dengan spesialisasi administrasi dan kearsipan.

"Bagus juga ini," gumam Pak Iwan.

Kemudian ia membaca bagian akhir surat lamaran itu. Dan di sanalah ia menemukan kalimat yang membuatnya terkesan:

"Saya tidak menjanjikan perubahan instan. Namun saya berkomitmen untuk bekerja dengan integritas. Saya datang bukan untuk mencari kekuasaan atau keuntungan pribadi, tetapi untuk mengabdi. Karena saya percaya, sebuah desa kecil pun berhak memiliki administrasi yang bermartabat."

Pak Iwan menatap kalimat itu berulang-ulang. Matanya berkaca-kaca.

"Integritas," bisiknya. "Kata itu sudah lama tidak saya dengar."

Ia menoleh ke Pak Santoso. "Panggil yang ini untuk wawancara."

"Yang mana, Pak?"

"Yuniarti."

 

Tiga hari setelah wawancara, Yuniarti menerima telepon bahwa ia diterima sebagai Sekretaris Desa Awan Biru.

"Selamat, Bu Yuni," kata Pak Iwan di ujung telepon. "Kami menanti kehadiran Ibu."

Yuniarti tidak bisa tidur malam itu. Ia duduk di kamar kontrakannya yang sederhana di Kaliwiro, memandangi langit-langit yang retak. Perasaannya campur aduk: senang, gugup, takut, dan bersemangat sekaligus.

"Ya Allah, aku tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat," bisiknya. "Tapi aku percaya ini adalah jalan yang Engkau tunjukkan. Beri aku kekuatan."

Ia membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana. Buku itu sudah lusuh, sampulnya terlipat di sudut-sudutnya, kertasnya mulai menguning. Di halaman pertama, ia menulis:

"Desa Awan Biru. Mulai 1 Maret 2001. Aku akan memberikan yang terbaik."

Ia kemudian menulis daftar hal-hal yang perlu ia siapkan: pakaian, peralatan mandi, buku-buku referensi tentang administrasi desa, dan... kesabaran. Banyak kesabaran.

Tiga hari kemudian, ia berangkat. Perjalanan dari Kaliwiro ke Awan Biru memakan waktu sekitar dua jam dengan bus antar kecamatan, dilanjutkan dengan ojek sejauh 10 kilometer karena bus tidak masuk sampai ke desa.

Ketika bus mulai meninggalkan kota, pemandangan berubah. Rumah-rumah beton berganti dengan rumah kayu dan bambu. Jalan aspal berganti dengan jalan berbatu. Udara yang panas berganti dengan udara sejuk yang menusuk pori-pori.

"Ini dia... Awan Biru," gumumnya ketika bus mulai menanjak.

Dari kejauhan, ia bisa melihat kabut putih yang menggantung di antara pepohonan. Di atas kabut itu, langit tampak biru cerah, seperti namanya. Kontras antara putih dan biru itu menciptakan pemandangan yang indah, hampir magis.

"Kamu akan menjadi tempat aku mengabdi, ya?" bisik Yuniarti sambil menatap desa yang semakin mendekat. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku berjanji... aku tidak akan mengecewakanmu."

 

Hari pertama Yuniarti sebagai Sekretaris Desa Awan Biru dimulai dengan kabut tebal yang menyelimuti seluruh desa.

Ia tiba di kantor pukul 07.30, lebih awal dari jadwal seharusnya. Udara dingin menusuk pori-pori, membuatnya menggigil meskipun sudah mengenakan jaket tebal. Embun menempel di rumput-rumput liar di halaman kantor, membuat sepatunya basah saat ia berjalan menuju pintu.

Pintu kayu itu berderit saat didorong.

"Assalamualaikum..." suaranya lembut, namun jelas.

Di dalam, suasana masih santai. Pak Edi sedang duduk menyandarkan kursinya ke belakang sambil menyeruput kopi dari gelas plastik. Wajahnya bulat, berkumis tipis, dengan ekspresi setengah sadar. Di depannya, ada sebuah teko kopi hitam yang masih mengepul.

"Waalaikumsalam... eh, ini Bu Sekdes ya?" katanya sambil buru-buru meluruskan duduknya, hampir membuat kopi tumpah.

Di sudut lain, Pak Eko masih sibuk, bukan dengan berkas, tapi dengan ponselnya. Layar ponsel menyala terang di tangannya, jempolnya sibuk menggulir tanpa henti. "Selamat datang, Bu... hati-hati ya," katanya sambil tersenyum tipis, tanpa mengangkat wajah.

"Hati-hati kenapa, Pak?" tanya Bu Yuni.

Pak Eko tertawa kecil. "Hati-hati... nanti kaget."

Belum sempat Bu Yuni bertanya lebih jauh, Si Amat, yang duduk di pojok ruangan, langsung menunjuk ke arah sebuah meja di pojok ruangan. Meja kayu tua dengan laci macet dan permukaan penuh debu.

"Nah itu, Bu... meja Sekdes. Lengkap sudah isinya," katanya sambil menahan tawa.

Bu Yuni melangkah mendekat. Dan di situlah ia berhenti.

Tumpukan berkas memenuhi meja. Tidak hanya satu atau dua, tetapi seperti gunung kecil yang siap runtuh kapan saja. Map-map terbuka, kertas-kertas berserakan, beberapa bahkan sudah menguning di ujung-ujungnya. Ada yang sobek, ada yang basah bekas tumpahan kopi. Sebuah map plastik biru menyembul dari bawah tumpukan, setengah tertindih buku tebal berdebu.

"Ini... semua?" tanyanya pelan.

"Iya, Bu. Itu masih yang kelihatan. Yang nggak kelihatan lebih banyak lagi," sahut Pak Santoso dari belakang sambil tertawa.

Pak Edi ikut menimpali, "Itu sudah dari zaman sebelum Pak Kades sekarang, Bu. Bertahun-tahun tidak pernah dirapikan."

Bu Lulu yang baru masuk menambahkan, "Saya saja sudah menyerah, Bu. Kalau dicari satu, bisa hilang dua."

Tawa pecah. Tawa yang sudah menjadi kebiasaan, tawa untuk menutupi rasa malu yang tak pernah diakui.

Namun Bu Yuni tidak ikut tertawa. Ia hanya tersenyum tipis. "Baik... kita mulai dari sini," katanya tenang.

Pak Edi mengernyit. "Mulai dari mana, Bu? Itu gunung, bukan tumpukan."

"Dari bawah," jawab Bu Yuni sederhana.

Ia duduk di kursi yang ternyata juga berdebu. Tangannya mulai membuka satu map. Membaca. Memisahkan. Mengelompokkan. Tanpa banyak bicara.

Beberapa menit berlalu. Pak Eko mulai memperhatikan dari balik ponselnya. Alisnya naik.

"Lho... Bu, itu mau dirapikan sekarang?" tanyanya.

"Iya, Pak. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?" jawab Bu Yuni tanpa mengangkat wajah.

"Pelan-pelan saja, Bu. Jangan terlalu serius. Di sini santai saja," kata Si Amat sambil tersenyum, kedua tangannya bersantai di belakang kepala.

Bu Yuni berhenti sejenak. Ia menoleh. Matanya menatap Si Amat tidak dengan kemarahan, tetapi dengan ketegasan yang tenang.

"Mas Amat, saya menghargai bahwa Bapak sudah terbiasa dengan cara santai. Tapi izinkan saya menjelaskan sesuatu."

Si Amat sedikit terkejut. Biasanya orang baru tidak berani berkata seperti itu. "Iya, Bu?"

"Di setiap berkas yang Bapak anggap remeh, ada nama, ada alamat, ada harapan. Ketika berkas itu tidak tertata, yang dirugikan bukan hanya kantor ini. Tapi warga yang membutuhkan pelayanan cepat."

Ruangan langsung hening. Tidak ada yang bergerak. Bahkan detak jarum jam terdengar jelas.

"Santai boleh, Mas Amat. Tapi kalau warga butuh berkas cepat, kita juga harus siap cepat."

Kalimat itu sederhana. Namun terasa seperti paku yang menancap di papan kayu. Tidak bisa dicabut begitu saja.

Pak Edi menggaruk kepalanya yang mulai beruban. "Ya... ada benarnya juga sih..."

Pak Santoso menyesuaikan kacamatanya yang turun ke ujung hidung. "Iya... kita memang harus lebih rapi."

Bu Yuni kembali ke mejanya. Namun kali ini, bukan hanya berkas yang ia hadapi. Ia juga menghadapi kebiasaan lama yang sudah mengakar. Dan ia tahu, itu akan menjadi pertempuran yang jauh lebih sulit daripada sekadar merapikan tumpukan kertas.

 

Siang harinya, setelah beberapa jam merapikan berkas, Bu Yuni memutuskan untuk berkeliling desa. Ia ingin mengenal warganya secara langsung.

"Bu Yuni, belum waktunya turun ke lapangan," kata Pak Edi. "Biasanya kami di kantor saja."

"Tapi warga ada di rumah mereka, Pak. Bukan di kantor," jawab Bu Yuni sambil mengambil tas kecilnya.

Ia berjalan menyusuri jalan desa yang masih berbatu. Rumah-rumah warga berdiri sederhana di kiri-kanan jalan. Ada yang terbuat dari kayu, ada yang dari bambu. Beberapa rumah terlihat baru dicat, namun sebagian besar sudah kusam karena usia.

"Selamat siang," sapa Bu Yuni kepada seorang ibu yang sedang duduk di teras rumahnya.

"Siang, Mbak. Siapa ya?" tanya ibu itu dengan nada sedikit curiga.

"Saya Yuni, Bu. Sekretaris desa yang baru."

Ibu itu terkejut. Matanya membulat. "Lho, Sekdes? Perempuan?"

"Iya, Bu. Perempuan."

Ibu itu tertawa kecil. "Wah, baru kali ini desa kami punya Sekdes Perempuan. Biasanya laki-laki semua."

"Semoga bisa membantu, Bu."

Ibu itu mengangguk. "Semoga, Mbak. Semoga."

Pertemuan demi pertemuan, Bu Yuni mulai mengenal warganya. Ada Pak Karto, petani yang tanahnya selalu kebanjiran setiap hujan. Ada Bu Tini, janda dengan tiga anak yang bekerja sebagai buruh cuci. Ada Pak Darmo, yang sedang pusing mengurus tanah warisan. Ada Anto, sopir truk yang terkenal dengan ramalannya. Ada Guntur, remaja energik yang bercita-cita menjadi polisi.

Setiap orang memiliki cerita. Setiap orang memiliki masalah. Dan Bu Yuni mendengarkan semuanya dengan sabar.

"Saya akan berusaha membantu," katanya kepada setiap orang yang ia temui.

Namun di dalam hatinya, ia bertanya-tanya: bisakah ia benar-benar membantu? Dengan sistem administrasi yang berantakan, dengan perangkat desa yang santai, dengan keterbatasan yang ada di mana-mana?

Malam harinya, ia menulis di buku catatannya:

"Hari pertama. Meja penuh berkas. Warga punya banyak harapan. Aku tidak tahu apakah aku bisa memenuhi semuanya. Tapi aku akan mencoba. Dengan sekuat tenaga."


BAB 1

HARI PERTAMA YANG TIDAK BIASA

Pukul 05.30. Desa Awan Biru masih diselimuti kabut tebal. Ayam-ayam mulai berkokok bersahutan, memecah kesunyian malam yang perlahan berganti dengan fajar. Suara adzan subuh dari masjid desa menggema di antara bukit-bukit, mengingatkan warga bahwa hari baru telah dimulai.

Bu Yuni sudah bangun sejak pukul 04.30. Ini adalah kebiasaan yang ia bawa sejak kecil: bangun sebelum subuh, membantu ibunya menyiapkan sarapan, lalu bersiap untuk aktivitas hari itu. Di rumah kontrakannya yang sederhana, berukuran 4x6 meter dengan satu kamar tidur, ruang tamu kecil, dan dapur sempit, ia memanaskan air di kompor minyak tanah untuk membuat kopi.

Rumah kontrakan itu terletak sekitar sepuluh menit jalan kaki dari kantor desa. Bangunannya dari kayu dengan dinding anyaman bambu yang sudah mulai rapuh. Atapnya dari seng yang berbunyi setiap kali angin bertiup kencang. Lantainya dari papan kayu yang tidak rata, berderit setiap kali dilangkahi. Namun bagi Bu Yuni, rumah ini sudah cukup. Ia tidak butuh kemewahan. Ia butuh tempat untuk beristirahat setelah seharian bekerja.

Setelah shalat subuh, ia duduk di beranda sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula. Udara dingin menusuk pipinya. Kabut masih tebal, membuat jarak pandang hanya sekitar 20 meter. Dari kejauhan, terdengar suara orang-orang yang mulai beraktivitas: ada yang menyapu halaman, ada yang memanggil-manggil ayamnya yang lepas, ada juga suara anak-anak yang berangkat ke sekolah.

"Hari ini akan berat," gumamnya sambil memandangi langit yang mulai berwarna jingga di ufuk timur. "Tapi aku harus kuat."

Ia mengenakan seragam kerjanya: kemeja putih lengan panjang, rok hitam selutut, dan sepatu pantofel hitam yang sudah mulai usang. Rambutnya ia sisir rapi ke belakang, diikat dengan jepit sederhana. Tidak ada riasan berlebihan di wajahnya,hanya bedak tipis dan lipstik warna pink pucat.

"Ya Allah, berkati hari ini," bisiknya sambil menutup pintu rumah.

 

Jalan dari rumah kontrakan Bu Yuni ke kantor desa melewati pemukiman warga. Rumah-rumah berdiri berderet di kiri-kanan jalan setapak yang terbuat dari batu dan tanah. Beberapa rumah sudah mulai beraktivitas: ada asap dapur yang mengepul dari cerobong, ada suara ibu-ibu yang menyiapkan sarapan, ada juga bau gorengan yang mulai semerbak.

"Selamat pagi, Bu," sapa Bu Yuni kepada setiap orang yang ia temui.

"Pagi, Mbak. Mau ke kantor?" tanya seorang ibu setengah baya yang sedang menyapu halaman.

"Iya, Bu."

"Semangat ya, Mbak. Baru mulai kan?"

"Iya, Bu. Terima kasih."

Warga Desa Awan Biru ternyata sudah tahu bahwa ada sekretaris desa baru. Kabar berjalan cepat di desa, lebih cepat dari internet. Dalam dua hari, hampir semua orang sudah tahu bahwa sekdes baru adalah seorang wanita dari luar desa.

"Katanya orangnya baik," kata warga di warung kopi.

"Katanya tegas," kata yang lain.

"Katanya... belum tahu," kata Anto sambil tersenyum misterius.

Bu Yuni tidak tahu apa yang dibicarakan warga tentang dirinya. Namun ia tidak terlalu memusingkan. Yang penting, ia bekerja dengan baik. Nanti hasilnya akan berbicara sendiri.

 

Pukul 06.30, Bu Yuni tiba di kantor desa. Masih terlalu awal, kantor biasanya mulai ramai pukul 08.00. Namun ia sengaja datang lebih awal untuk mempersiapkan diri.

Pintu kantor masih terkunci. Bu Yuni mengeluarkan kunci yang diberikan Pak Santoso kemarin. Kunci itu besar dan berkarat, susah diputar. Butuh beberapa kali percobaan sampai akhirnya pintu terbuka dengan suara berderit.

Di dalam, suasana masih gelap. Lampu neon belum dinyalakan. Hanya cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah-celah jendela, menerangi debu-debu yang beterbangan di udara.

Bu Yuni menyalakan lampu. Neon 20 watt itu berkedip-kedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala redup. Cahayanya hanya cukup untuk menerangi ruangan, tidak lebih.

Ia berjalan menuju mejanya. Tumpukan berkas kemarin masih ada, namun kali ini ia sudah memisahkan beberapa kelompok. Ada tiga tumpukan: merah untuk arsip kependudukan, hijau untuk pertanahan, biru untuk surat menyurat.

"Kita lanjutkan dari sini," gumamnya sambil duduk.

Tangannya mulai bekerja. Ia membuka satu per satu berkas, membaca isinya, lalu mengelompokkan berdasarkan jenis. Ia juga membuat catatan kecil di buku registrasinya: nomor berkas, tanggal masuk, jenis berkas, dan keterangan.

Proses ini memakan waktu. Namun Bu Yuni tidak terburu-buru. Ia tahu bahwa kerapian tidak bisa dipaksakan dalam satu hari. Yang penting, ia konsisten.

 

Pukul 07.30, Pak Edi datang. Seperti biasa, ia membawa kopi dalam termos besar. Wajahnya masih setengah mengantuk, rambutnya agak acak-acakan.

"Pagi, Bu," sapanya sambil menguap.

"Pagi, Pak Edi."

"Lho, sudah dari jam berapa ini?"

"Jam setengah tujuh, Pak."

"Wah, rajin amat. Biasanya kami datang jam setengah delapan."

Bu Yuni tersenyum. "Saya suka datang lebih awal, Pak. Biar bisa siap-siap dulu."

Pak Edi mengangguk-angguk sambil duduk di mejanya. Ia menuang kopi ke gelas plastik, lalu menyeruputnya dengan nikmat. "Enak juga kalau pagi-pagi begini. Sepi. Bisa konsentrasi."

Pukul 07.45, Pak Eko datang. Seperti biasa, ponselnya sudah menyala di tangan. Jempolnya bergerak cepat di layar.

"Pagi, Bu. Pagi, Pak," sapanya sambil duduk.

"Pagi, Pak Eko," jawab Bu Yuni.

"Wah, meja Bu Yuni sudah mulai rapi ya," komentar Pak Eko sambil melihat tumpukan berkas yang mulai tersusun.

"Masih jauh dari rapi, Pak. Tapi sudah mulai ada sistem."

"Sistem apa, Bu?"

"Klasifikasi warna. Merah untuk kependudukan, hijau untuk pertanahan, biru untuk surat menyurat."

Pak Eko terkesima. "Wah, baru kali ini saya lihat ada sistem begitu. Biasanya cuma ditumpuk saja."

Bu Yuni tersenyum. "Semoga membantu, Pak."

Pukul 08.00, Pak Santoso, Bu Lulu, dan Si Amat datang hampir bersamaan. Mereka terkejut melihat Bu Yuni sudah duduk di mejanya dengan tumpukan berkas yang mulai rapi.

"Wah, Bu, sudah dari tadi ya?" tanya Pak Santoso.

"Iya, Pak. Saya suka datang lebih awal."

Si Amat menggaruk kepalanya. "Saya rasa kita harus mulai datang lebih awal juga, ya."

Pak Edi tertawa. "Jangan, Mat. Nanti saya jadi nggak sempat minum kopi di rumah."

Semua tertawa. Suasana hangat meskipun pagi itu dingin.

 

Pukul 08.30, warga pertama datang. Seorang pria paruh baya dengan kemeja kotak-kotak lusuh dan sandal jepit. Wajahnya tampak lelah, matanya sayu.

"Permisi, Pak... Bu... saya mau mengurus surat keterangan tidak mampu," katanya.

Itu Pak Surip, warga Dusun Ngemplak. Ia adalah buruh tani yang penghasilannya tidak menentu. Ia membutuhkan surat keterangan tidak mampu untuk mengajukan beasiswa anaknya yang akan masuk SMP.

Si Amat yang bertugas di bagian pelayanan langsung berdiri. "Silakan, Pak. Tunggu sebentar ya."

Ia membuka lemari arsip. Mulai mencari berkas Pak Surip. Satu lemari dibuka, lalu ditutup. Lemari lain dibuka, lalu ditutup lagi. Wajahnya mulai berkeringat.

"Sebentar, Pak... ini di mana ya..."

Pak Surip mulai gelisah. Kakinya yang bersandal jepit itu bergerak-gerak di tempat. "Lho, Mas... bukannya sudah pernah ngurus ya?"

"Pernah, Pak. Tapi... sepertinya pindah tempat."

Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit. Pak Surip sudah hampir menyerah.

"Mas, saya sudah sering ke sini. Selalu begitu. Lama."

Si Amat semakin panik. "Iya, Pak... ini lagi dicari..."

Bu Yuni yang memperhatikan dari mejanya akhirnya berdiri. "Mas Amat, izinkan saya mencoba."

Si Amat lega. "Silakan, Bu."

Bu Yuni mendekati lemari arsip. Matanya menyapu setiap map. Ia membaca label satu per satu. Tangannya bergerak cepat namun pasti.

"Pak Surip, Dusun Ngemplak, ya?"

"Iya, Bu."

Bu Yuni mengambil map warna merah dari rak paling bawah. Ia membukanya, mencari beberapa saat, lalu mengeluarkan selembar kertas.

"Ini, Pak. Surat keterangan tidak mampu yang sudah pernah Bapak urus dulu. Tinggal diperbarui."

Pak Surip terkejut. Matanya membulat. "Wah... kok bisa ketemu, Bu?"

"Karena sudah dikelompokkan berdasarkan dusun, Pak. Jadi lebih mudah dicari."

Si Amat menepuk dahinya. "Wah, saya tidak kepikiran begitu, Bu."

Bu Yuni tersenyum. "Tidak apa-apa, Mas. Kita belajar bersama."

Pak Surip menerima surat itu dengan tangan gemetar. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak. Anak saya bisa sekolah."

"Sama-sama, Pak. Semoga anaknya sukses."

Pak Surip keluar dengan langkah lebih ringan dari saat datang. Di belakangnya, suasana kantor berubah. Tidak ada lagi tawa santai. Yang ada adalah rasa hormat yang baru lahir.

 

Pukul 10.00, Pak Kades Iwan memanggil Bu Yuni ke ruangannya. "Bu, tolong masuk sebentar."

Ruang Pak Kades tidak lebih mewah dari ruang lainnya. Meja kayu sederhana, kursi putar yang rodanya sudah rusak, lemari arsip kecil, dan foto istrinya di atas meja. Udara di ruangan ini agak pengap karena ventilasi hanya satu di dinding belakang.

"Silakan duduk, Bu," kata Pak Iwan sambil menunjuk kursi di depannya.

Bu Yuni duduk dengan tenang. "Ada yang bisa dibantu, Pak?"

"Tidak ada yang khusus. Saya hanya ingin tahu... bagaimana kesan Ibu setelah beberapa hari di sini?"

Bu Yuni berpikir sejenak. "Jujur, Pak, banyak yang harus dibenahi."

Pak Iwan mengangguk. "Saya tahu. Itu sebabnya saya merekrut Ibu."

"Tapi saya tidak bisa melakukannya sendiri, Pak. Saya butuh dukungan semua pihak."

"Ibu akan mendapatkannya. Saya akan memastikan itu."

Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Pak."

Pak Iwan menghela napas. "Bu, jujur... saya sudah frustrasi. Sudah enam bulan saya menjabat, tapi belum ada perubahan berarti. Warga mulai kecewa."

"Sabar, Pak. Perubahan tidak terjadi dalam semalam."

"Saya tahu. Tapi... kadang sabar itu berat."

Bu Yuni menatap Pak Iwan dengan mata teduh. "Pak, saya belajar dari ayah saya. Beliau seorang guru. Beliau bilang, mengubah kebiasaan itu seperti mengukir batu. Pelan-pelan, tapi hasilnya akan permanen."

Pak Iwan tersenyum. "Ayah Ibu bijak."

"Iya, Pak. Beliau guru yang hebat."

"Baik, Bu. Saya serahkan semuanya kepada Ibu. Saya percaya."

Bu Yuni berdiri. "Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan."

 

Sore harinya, setelah seharian bekerja, Bu Yuni merasa sangat lelah. Bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Ia harus berhadapan dengan tumpukan berkas yang tidak pernah habis, dengan rekan kerja yang masih setengah hati, dengan warga yang datang silih berganti.

Pukul 16.00, kantor mulai sepi. Satu per satu perangkat desa pulang. Pak Edi pulang lebih awal karena ada acara keluarga. Pak Eko pamit karena ada arisan. Si Amat pulang karena ibunya sakit.

"Bu, tidak pulang?" tanya Pak Santoso yang terakhir keluar.

"Sebentar lagi, Pak. Saya selesaikan ini dulu."

Pak Santoso mengangguk. "Jangan terlalu malam, Bu. Desa ini gelap kalau malam."

"Iya, Pak. Terima kasih."

Bu Yuni duduk sendirian di kantor. Lampu neon berkedip-kedip. Suara jangkrik mulai terdengar dari luar. Angin malam berhembus masuk melalui celah-celah dinding, membawa hawa dingin yang menusuk.

Ia memandangi mejanya. Tumpukan berkas yang pagi masih menggunung, kini sudah berkurang setengahnya. Masih banyak yang harus dikerjakan, tapi setidaknya ada kemajuan.

"Besok akan lebih baik," gumamnya sambil merapikan map-map.

Ia menulis di buku catatannya:

"Hari pertama sebagai Sekdes. Banyak yang harus dibenahi. Sistem belum ada. Kebiasaan lama masih kuat. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan menyerah."

Ia menutup buku itu, mengambil tasnya, dan berjalan keluar. Udara malam menusuk pipinya. Bintang-bintang bertaburan di langit, jauh lebih indah daripada langit kota yang selalu tertutup polusi.

"Ya Allah, beri aku kekuatan," bisiknya sambil berjalan pulang.

Di kejauhan, terdengar suara adzan magrib menggema di antara bukit-bukit.

 

Setelah magrib, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Seperti biasa, ia memegang buku catatan kecilnya. Ia membaca kembali apa yang ia tulis hari ini.

"Pak Surip, warga Dusun Ngemplak, datang untuk mengurus surat keterangan tidak mampu. Berkasnya hampir hilang. Untung ketemu."

Ia menghela napas. "Berapa banyak lagi berkas yang hampir hilang?" gumamnya.

Seekor kucing kampung berwarna oranye tiba-tiba melompat ke pangkuannya. Bu Yuni tersenyum kecil dan mengelus kepala kucing itu.

"Kamu dari mana, ya?" tanyanya. Kucing itu hanya mengeong pelan.

"Kita sama-sama pendatang baru, ya," lanjut Bu Yuni. "Aku juga belum tahu banyak tentang desa ini."

Kucing itu diam, sesekali mengedipkan matanya.

Bu Yuni melanjutkan berbicara, entah kepada kucing itu, atau kepada dirinya sendiri. "Aku tahu ini tidak akan mudah. Hari pertama saja aku sudah melihat banyak yang perlu dibenahi. Tapi kalau aku mundur sekarang, aku akan menyesal selamanya."

Ia menghela napas lagi, mengingat masa lalu. "Dulu, waktu kecil, aku lihat ayahku mengajar di sekolah yang atapnya bocor. Murid-muridnya banyak yang tidak punya buku. Tapi ayahku tidak pernah mengeluh. Beliau hanya bilang, 'Nak, mengeluh tidak memperbaiki apa pun. Tangan yang bekerja, itulah yang mengubah segalanya.'"

Mata Bu Yuni berkaca-kaca sebentar. "Aku kangen ayah," bisiknya.

Kucing itu mengeong lagi, seolah ingin menghiburnya. Bu Yuni tersenyum dan mengusap kepala kucing itu sekali lagi.

"Baiklah, mulai besok aku harus lebih siap. Bukan hanya fisik, tapi juga mental. Karena ini bukan hanya soal merapikan berkas. Ini soal mengubah kebiasaan manusia. Dan itu... jauh lebih sulit."

Ia menatap bintang-bintang di atasnya. "Ya Allah, beri aku kekuatan. Aku tidak meminta kemudahan. Aku hanya meminta keteguhan untuk tidak menyerah."

Malam itu, Bu Yuni tidur lebih larut dari biasanya. Namun tidurnya nyenyak. Karena ia tahu, esok, perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai.


BAB 2

BERKAS YANG HILANG, KEPERCAYAAN YANG GOYAH

Hari ketiga Bu Yuni bertugas di Desa Awan Biru dimulai dengan cara yang tidak biasa.

Biasanya, kabut pagi di desa itu turun dengan lembut, seperti selendang putih yang perlahan membungkus lembah. Burung-burung berkicau riang, ayam berkokok dengan bangga, dan asap dapur mulai mengepul dari cerobong-cerobong rumah warga. Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda.

Bu Yuni terbangun pukul 03.30, lebih awal dari biasanya, dengan perasaan tidak tenang. Ia bermimpi aneh: berkas-berkas beterbangan di udara seperti daun kering, dan ia berusaha menangkapnya satu per satu, namun selalu gagal. Di dalam mimpi itu, ia mendengar suara orang menangis, suara orang marah, dan suara orang yang kecewa.

"Ya Allah, mimpi apa ini?" gumamnya sambil duduk di tempat tidur.

Keringat dingin membasahi keningnya. Udara pagi yang dingin menusuk pori-pori, namun ia merasa panas. Ia beranjak dari tempat tidur, mengambil air wudhu, dan shalat tahajud. Setelah itu, ia duduk di beranda, menunggu fajar menyingsing.

Kucing oranye kemarin tidak datang. Mungkin ia sedang tidur di rumah orang lain, pikir Bu Yuni sambil tersenyum.

Pukul 05.00, adzan subuh berkumandang dari masjid desa. Suaranya menggema di antara bukit-bukit, memecah kesunyian malam yang mulai berganti dengan cahaya pagi. Bu Yuni bergegas ke masjid, masjid desa yang sederhana dengan dinding bata putih dan kubah hijau, untuk shalat berjamaah.

Di masjid, ia bertemu beberapa warga yang sudah lebih dulu datang. Ada Pak Karyo, pemilik warung kopi, yang duduk di baris paling depan dengan khusyuk. Ada Pak Darmo, yang nanti siang akan menjadi sumber masalah besar, yang duduk di pojok dengan wajah tegang. Ada juga Anto, sopir truk dengan jaket kulitnya yang khas, yang justru duduk di baris paling belakang sambil sesekali menguap.

Setelah shalat, Bu Yuni menyapa mereka satu per satu.

"Selamat pagi, Pak Karyo."

"Pagi, Bu Yuni. Baru bangun? Wajahnya segar sekali," jawab Pak Karyo dengan senyum ramah. Gigi depannya sudah ompong, namun matanya masih jernih.

"Alhamdulillah, Pak. Semoga sehat selalu."

Ia kemudian menghampiri Pak Darmo. "Selamat pagi, Pak Darmo."

Pak Darmo hanya mengangguk singkat. Wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya. Matanya sedikit sembab, sepertinya kurang tidur. Kerutan di dahinya semakin dalam, dan rahangnya mengatup rapat.

"Ada yang mengganggu pikiran, Pak?" tanya Bu Yuni hati-hati.

"Tidak, Bu. Cuma banyak kerjaan," jawab Pak Darmo ketus, lalu berjalan cepat meninggalkan masjid.

Bu Yuni memandang punggung Pak Darmo yang menjauh. Ada sesuatu yang tidak beres, pikirnya. Tapi ia tidak ingin memaksa. Nanti juga akan tahu.

Anto menghampirinya dengan langkah santai. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia di badan. "Bu Yuni, saya mimpi aneh tadi malam."

"Kenapa, To?" Bu Yuni sudah mulai terbiasa dengan "ramalan" Anto.

"Saya mimpi ada orang marah-marah di kantor desa. Teriak-teriak. Sampai kertas beterbangan."

Bu Yuni tersenyum tipis. "Semoga hanya mimpi, To."

"Semoga," kata Anto sambil berjalan keluar. Tapi sebelum meninggalkan masjid, ia berbalik dan berkata, "Tapi Bu... kadang mimpi itu pertanda."

Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya menghela napas dan berdoa dalam hati: "Ya Allah, lindungi kami semua."

 

Bu Yuni sampai di kantor pukul 07.00, lebih awal dari biasanya. Ia ingin memanfaatkan waktu sepi untuk merapikan lebih banyak berkas sebelum rekan-rekannya datang.

Namun pagi itu, ia tidak sendirian.

Si Amat sudah ada di kantor sejak pukul 06.30. Ia sedang duduk di mejanya, membaca buku catatan yang diberikan Bu Yuni kemarin, buku tentang klasifikasi arsip yang ditulis tangan oleh Bu Yuni sendiri.

"Mas Amat, sudah dari tadi?" tanya Bu Yuni terkejut.

Si Amat tersenyum malu. "Iya, Bu. Saya... saya ingin belajar. Kemarin Ibu bilang, kalau bukan sekarang kapan lagi?"

Bu Yuni tersenyum hangat. "Bagus, Mas Amat. Semangat seperti ini yang kita butuhkan."

"Bu, saya baca catatan Ibu tentang klasifikasi arsip. Tapi ada yang tidak saya mengerti."

"Apa yang tidak dimengerti?"

"Klasifikasi berdasarkan jenis itu saya paham. Tapi yang berdasarkan dusun... bagaimana caranya?"

Bu Yuni duduk di samping Si Amat. Ia membuka map contoh. "Lihat, Mas. Setiap berkas warga, kita catat dusun asalnya. Lalu kita buat map terpisah per dusun. Jadi kalau ada warga dari Dusun Krajan, kita cari di map Krajan. Tidak perlu buka semua map."

Si Amat mengangguk-angguk. "Oh... jadi lebih spesifik."

"Betul. Semakin spesifik klasifikasi, semakin cepat pencarian."

"Tapi Bu, itu berarti kita harus memisahkan ribuan berkas berdasarkan dusun. Banyak kerja."

Bu Yuni menatap Si Amat dengan mata teduh. "Mas Amat, lebih baik capek memisahkan sekali, daripada capek mencari setiap hari."

Si Amat terdiam. Lalu tersenyum. "Iya, Bu. Saya mengerti."

Mereka berdua kemudian bekerja bersama. Si Amat membuka lemari arsip, mengeluarkan berkas-berkas lama, lalu memisahkannya berdasarkan dusun. Bu Yuni membuat label-label baru dari kertas bekas, menulisnya dengan rapi menggunakan spidol hitam.

Pukul 07.30, Pak Edi datang. Ia terkejut melihat Si Amat sudah bekerja.

"Wah, Mat, lo sudah dari tadi?" tanyanya sambil menuang kopi ke gelas.

"Iya, Pak. Belajar sama Bu Yuni."

Pak Edi menggeleng-gelengkan kepala. "Dunia kiamat, Mat. Lo yang biasanya paling santai, sekarang paling rajin."

Si Amat tertawa. "Saya sadar, Pak. Kita tidak bisa santai terus."

Pak Edi hanya tersenyum dan duduk di mejanya. Namun matanya sesekali melirik ke arah Bu Yuni dan Si Amat yang sedang asyik memisahkan berkas. Ada rasa kagum yang tidak ia akui.

Pukul 08.00, rekan-rekan lain datang. Pak Eko dengan ponselnya, Pak Santoso dengan kacamatanya, Bu Lulu dengan map keuangannya. Suasana kantor pagi itu lebih hidup dari biasanya. Ada semangat baru yang mulai tumbuh, meskipun masih samar-samar.

 

Pukul 09.30. Matahari mulai meninggi, menembus kabut yang perlahan menghilang. Udara di kantor desa mulai hangat, namun tidak sehangat suasana hati beberapa orang yang sedang bekerja.

Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar dari luar. Sepatu boot menginjak kerikil halaman dengan suara gemeretak yang keras. Bebatuan kecil terpental ke kiri dan kanan. Suasana yang tadinya tenang berubah tegang dalam sekejap.

"PERMISI!!!"

Suara itu keras, memecah konsentrasi semua orang di dalam. Pak Edi hampir menumpahkan kopinya. Pak Eko menjatuhkan ponselnya ke lantai, untung tidak pecah. Si Amat berdiri tegak, jantungnya berdebar kencang.

Seorang pria setengah baya masuk dengan langkah lebar dan wajah merah padam. Ia memakai kemeja lengan pendek warna biru tua yang basah oleh keringat di bagian ketiak dan punggung. Celana kain hitamnya kusut, terutama di bagian lutut. Sandal jepitnya sudah usang, solnya hampir putus. Wajahnya merah padam, urat leher menonjol seperti tali yang ditarik kencang. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena amarah yang membara.

Itu Pak Darmo. Tokoh masyarakat yang dikenal tegas dan cukup vokal. Ia adalah ketua RT 03 Dusun Krajan, juga seorang petani yang memiliki tanah warisan seluas satu hektar di lereng bukit. Tanah itu telah menjadi sumber kehidupan keluarganya selama tiga generasi. Namun setahun terakhir, tanah itu menjadi sumber masalah besar.

"Mana Sekdesnya?!" suaranya langsung meninggi hingga membuat burung pipit yang bertengger di atap terbang berhamburan.

Si Amat yang paling dekat dengan pintu langsung berdiri, tangannya gemetar. "Itu, Pak... Bu Yuni di sana."

Pak Darmo langsung melangkah cepat ke meja Bu Yuni. Langkahnya berat, menghentak, seperti palu godam yang menghantam lantai ubin. Setiap hentakan terdengar jelas di ruangan yang sunyi. "Bu, saya mau tanya! Berkas tanah saya yang saya urus dua bulan lalu itu mana?!"

Suasana langsung hening. Sunyi. Sampai-sampai dengungan lampu neon terdengar jelas. Pak Edi menahan napas. Pak Eko memejamkan mata. Bu Lulu memegang dadanya yang berdebar kencang. Si Amat menelan ludah hingga jakunnya naik turun.

Bu Yuni mengangkat wajahnya. Ia tetap tenang. Tidak ada sedikit pun kepanikan di matanya. Tidak ada gugup di bibirnya. "Silakan duduk dulu, Pak. Kita cek bersama ya."

Suaranya lembut, tetapi tegas. Seperti orang tua yang menenangkan anaknya yang sedang mengamuk.

"Saya nggak mau duduk, Bu! Saya sudah capek bolak-balik ke sini!" suara Pak Darmo mulai bergetar antara marah dan kecewa. Tangannya mengepal, kuku-kukunya hampir menembus telapak tangan. "Kemarin katanya sudah hampir selesai, sekarang malah nggak jelas! Katanya tinggal tanda tangan camat! Kok sampai sekarang belum ada kabar?!"

Pak Edi berbisik pelan ke Pak Eko, "Wah... ini sudah mulai panas."

Pak Eko membalas bisikan dengan suara yang hampir tidak terdengar, "Ini bukan panas lagi, ini sudah mendidih. Saya tidak pernah lihat Pak Darmo segini marahnya."

Bu Lulu menimpali dengan bisikan yang lebih pelan, "Dia biasanya orangnya sabar. Pasti ada masalah besar di rumah."

Bu Yuni tetap berdiri. Ia tidak terpancing emosi. Ia mengambil buku catatan kecil dari sakunya, buku yang selalu ia bawa ke mana-mana, yang sampulnya sudah lusuh karena sering dibuka-tutup. "Baik, Pak. Boleh saya tahu nama lengkap dan tanggal pengurusannya?"

Pak Darmo mendengus keras. Uap dari mulutnya terlihat di udara pagi yang masih dingin. "Darmo bin Kertowijoyo! Tanah di RT 03, Dusun Krajan! Bulan lalu saya urus ulang karena katanya ada kekurangan! Sekarang, mana berkasnya?!"

Bu Yuni membuka buku catatannya. Tangannya bergerak cepat, menelusuri halaman demi halaman. Matanya menyipit, membaca setiap baris dengan teliti. Ia sudah mencatat semua berkas yang masuk sejak hari pertamanya bertugas.

"Mas Amat, berkas RT 03 bagian pertanahan, bisa dibantu?" perintah Bu Yuni dengan suara tenang.

Si Amat agak gugup. Wajahnya pucat. "Oh... iya, Bu... sebentar..."

Ia berjalan menuju lemari arsip, lemari kayu tua yang pintunya berderit setiap kali dibuka. Tangannya gemetar saat membuka pintu lemari. Ia mulai mencari. Satu map dikeluarkan, diperiksa, lalu dimasukkan lagi. Map lain dikeluarkan, dibuka, lalu ditutup lagi. Keringat mulai membasahi keningnya, menetes ke pipi, jatuh ke lantai.

"Di mana sih..." gumamnya sambil mengutak-atik map demi map.

Pak Darmo mulai kehilangan kesabaran. Keringatnya bercucuran di dahi, meskipun udara pagi masih dingin. Dadanya naik turun dengan cepat. "Gimana ini?! Jangan bilang hilang lagi!"

Ruangan mulai terasa panas meskipun udara di luar dingin. Suhu emosi semua orang naik. Bu Lulu berbisik ke Pak Santoso, "Ya Allah... jangan sampai hilang. Kalau sampai hilang, bisa panjang urusannya. Tanah warisan itu sudah tiga generasi."

Pak Santoso membalas dengan suara pelan, kacamatanya turun ke ujung hidung. "Saya tahu. Saya dengar dari Pak RT, tanah itu sedang dipermasalahkan di pengadilan. Ada orang dari kota yang mengklaim punya sertifikat."

Bu Yuni menatap Si Amat. "Mas Amat, terakhir berkas itu disimpan di mana?"

Si Amat menelan ludah. Matanya berkeliaran, seperti mencari jawaban di udara. "Kayaknya... di sini, Bu... atau... di map kuning... atau di map biru... Saya lupa, Bu. Maaf, saya lupa."

Pak Darmo langsung menyela dengan suara tinggi, hampir berteriak. "Lupa?! Masa berkas penting lupa?! Ini tanah saya, Pak! Bukan kertas mainan! Saya sudah bertahun-tahun bekerja di tanah itu! Orang tua saya, kakek saya, buyut saya, semua dari tanah itu! Sekarang ada orang dari kota yang mengaku punya sertifikat, dan saya tidak punya bukti apa-apa karena berkas saya hilang!"

Suasana memuncak. Pak Edi mencoba menenangkan, tangannya terangkat setengah memohon. "Sabar, Pak Darmo... kita cari dulu..."

"Sabar, sabar! Dari kemarin saya disuruh sabar! Kata orang, 'Sabar, Pak, berkasnya sedang diproses.' 'Sabar, Pak, minggu depan jadi.' 'Sabar, Pak, camat sedang sibuk.' SABAR TERUS! Sekarang tanah saya mau diambil orang, dan saya harus SABAR?!"

Tinju Pak Darmo menghantam meja kayu di depannya dengan keras. Bunyi DUAR membuat semua orang terkejut. Gelas plastik di atas meja itu jatuh dan berguling ke lantai. Sebuah map terbuka dan kertas-kertasnya berhamburan.

Suasana berubah semakin tegang. Pak Eko sudah berdiri, siap-siaga jika terjadi sesuatu. Pak Santoso menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Bu Lulu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, matanya berkaca-kaca.

Bu Yuni berdiri perlahan. Ia tidak terburu-buru. Tidak panik. Ia mengambil map yang jatuh, merapikan kertas-kertas yang berhamburan, lalu meletakkannya kembali di meja dengan tenang. Kemudian ia menatap Pak Darmo.

Matanya tidak marah. Tidak takut. Tidak menghakimi. Matanya justru... teduh.

"Pak Darmo," katanya pelan tapi tegas, suaranya tidak lebih dari bisikan namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi. "Saya mengerti kekecewaan Bapak. Saya mengerti ketakutan Bapak. Tanah warisan bukan main-main. Tapi marah tidak akan menemukan berkas. Saya mohon, beri saya waktu sebentar. Kita cari bersama. Dan saya pastikan, saya janji, kita cari sampai ketemu."

Ruangan hening. Detak jarum jam terdengar seperti palu godam. Semua mata tertuju pada Pak Darmo.

Pak Darmo terdiam. Dadanya masih naik turun. Namun amarahnya perlahan mulai reda. Ia menghela napas panjang, mengatur napas yang tersengal-sengal. "Berapa lama, Bu?"

"Lima belas menit, Pak."

"Baik. Saya tunggu. Tepat lima belas menit."

Bu Yuni mengangguk. Ia segera berjalan ke lemari arsip. Matanya menyapu setiap map, setiap label, setiap sudut lemari. Ia seperti pemburu yang sedang membidik jejak.

Si Amat menghampiri. "Bu, saya bantu."

"Ambil semua map pertanahan dari tiga tahun terakhir. Keluarkan semua."

Si Amat mengangguk dan segera bekerja. Mereka berdua mengeluarkan map demi map, meletakkannya di meja besar di tengah ruangan.

Pak Darmo berdiri di samping, menonton dengan saksama. Wajahnya masih tegang, namun tidak lagi marah. Ada harapan di matanya, harapan yang hampir padam, namun masih menyala kecil.

 

Waktu berjalan. Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Bu Yuni dan Si Amat membuka map satu per satu. Mereka memeriksa setiap berkas, membaca setiap lembar, mencari nama "Darmo bin Kertowijoyo".

"Tidak ada di sini, Bu," kata Si Amat setelah memeriksa map pertama.

"Coba map tahun lalu," perintah Bu Yuni.

Map kedua dibuka. Tidak ada.

Map ketiga. Keempat. Kelima.

Suasana semakin tegang. Pak Darmo mulai gelisah lagi. Kakinya yang bersandal jepit itu bergerak-gerak di tempat. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan diri untuk tidak berteriak lagi.

"Nihil, Bu," kata Si Amat dengan suara putus asa.

Bu Yuni tidak menyerah. Ia menatap lemari arsip sekali lagi. Matanya berhenti di sebuah map tua di rak paling atas, map yang hampir tidak terlihat karena tertutup debu tebal.

"Itu map apa, Mas Amat?"

Si Amat mengikuti arah pandang Bu Yuni. "Oh, itu map arsip lama. Tahun 1990-an ke bawah."

"Ambilkan."

Si Amat mengambil map itu dengan susah payah, letaknya terlalu tinggi. Ia harus berdiri di atas kursi untuk meraihnya. Debu beterbangan saat map itu diambil, membuat Si Amat bersin tiga kali berturut-turut.

Bu Yuni membuka map itu dengan hati-hati. Kertas-kertas di dalamnya sudah menguning, rapuh, dan berbau apek. Beberapa lembar bahkan sudah sobek di pinggirnya. Ia memeriksa satu per satu.

Lalu... matanya berhenti.

"Ini, Mas Amat."

Si Amat mendekat. Matanya membulat. "Apa itu, Bu?"

"Berkas tanah Pak Darmo. Tahun 1995."

Si Amat terperangah. "Lho... kok bisa di sana? Itu arsip lama. Seharusnya sudah dipindahkan ke map baru."

Bu Yuni menghela napas. "Itulah masalahnya, Mas. Tidak ada sistem pemindahan arsip. Berkas lama dan baru bercampur."

Ia kemudian mengambil map itu dan menghampiri Pak Darmo. "Pak Darmo, ini yang Bapak cari?"

Pak Darmo maju cepat. Tangannya gemetar saat menerima map itu. Ia membukanya. Memeriksa. Lalu... wajahnya berubah. Dari merah padam menjadi pucat, lalu menjadi lega. Matanya berkaca-kaca. Napasnya yang tadinya tersengal mulai teratur.

"Iya... ini... ini berkas tanah saya."

Air mata mengalir di pipinya yang kasar dan berkerut. Pak Darmo, pria tangguh yang jarang menunjukkan kelemahan, menangis di depan semua orang.

"Saya kira sudah hilang, Bu," katanya dengan suara parau. "Saya kira tanah saya sudah tidak ada harapan."

Bu Yuni menatapnya dengan mata teduh. Namun hatinya teriris melihat seorang pria sekaliber Pak Darmo menangis. "Belum hilang, Pak. Hanya tersimpan di tempat yang salah."

Pak Darmo mengangguk. Ia menghapus air matanya dengan lengan bajunya yang basah oleh keringat. "Bu, saya minta maaf. Saya marah-marah tadi."

"Tidak perlu minta maaf, Pak. Bapak punya hak untuk marah."

"Tapi Ibu baru saja mulai bekerja. Saya seharusnya tidak, "

"Pak Darmo," potong Bu Yuni lembut, "Bapak datang dengan masalah yang sudah berlangsung bertahun-tahun, bukan masalah yang muncul kemarin. Saya tidak akan marah karena Bapak marah. Itu wajar."

Pak Darmo terdiam. Ia menatap Bu Yuni dengan ekspresi sulit dijelaskan, campuran antara rasa hormat, malu, dan haru.

"Bu Yuni... Ibu ini aneh."

Bu Yuni tersenyum. "Kenapa aneh, Pak?"

"Biasanya kalau ada pejabat baru, mereka sibuk membela diri. 'Itu bukan salah saya', 'Itu kesalahan sebelumnya', 'Saya baru datang, jadi jangan salahkan saya'. Tapi Ibu... Ibu malah menerima tanggung jawab."

Bu Yuni menatap Pak Darmo dengan mata yang teduh namun dalam. "Pak, kalau saya sibuk menyalahkan masa lalu, maka masa depan tidak akan pernah berubah. Saya di sini bukan untuk menyalahkan. Saya di sini untuk memperbaiki."

Pak Darmo mengangguk pelan. "Ibu, tanah ini penting bagi saya. Bukan karena harganya, saya tidak peduli berapa pun harganya. Tapi ini tanah orang tua saya. Kakek saya. Buyut saya. Di tanah ini mereka bekerja, berdoa, dan meninggal. Saya tidak mau kehilangan itu."

Bu Yuni mengangguk. "Saya mengerti, Pak. Dan saya akan pastikan berkas Bapak selesai dengan benar. Mulai hari ini, kami akan buat sistem baru sehingga berkas seperti ini tidak akan pernah hilang lagi."

"Terima kasih, Bu."

Pak Darmo berbalik hendak pergi. Namun sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak. "Bu Yuni, saya akan menyebarkan kabar baik ini ke warga lain. Mudah-mudahan mereka juga sabar."

"Terima kasih, Pak. Tapi tolong sampaikan juga bahwa kami sedang berusaha. Perubahan tidak terjadi dalam semalam."

"Iya, Bu. Saya sampaikan."

Pak Darmo keluar dari kantor desa. Langkahnya tidak lagi sekeras saat datang. Bahunya yang tadinya tegang kini mengendur. Ia berjalan perlahan, menikmati matahari pagi yang mulai hangat.

Di dalam kantor, suasana berangsur normal. Namun ada yang berubah. Semua orang memandang Bu Yuni dengan cara yang berbeda.

 

Siang itu, setelah makan siang, para perangkat desa berkumpul di belakang kantor, tempat biasa mereka merokok dan bercerita. Di sana ada pohon mangga tua yang rindang, dengan akar-akar yang menjalar ke permukaan tanah. Beberapa kursi kayu diletakkan tidak beraturan di bawah pohon. Udara di sini lebih sejuk karena terlindung dari sinar matahari langsung.

Pak Edi membuka bungkus rokok kreteknya, menawarkan ke yang lain. Pak Eko mengambil satu, Pak Santoso menolak dengan halus, Si Amat juga mengambil satu meskipun sebenarnya ia tidak terlalu suka merokok.

"Gila," kata Pak Edi sambil menyalakan rokoknya. Asap mengepul dari hidung dan mulutnya. "Tadi itu tegang banget. Saya kira Pak Darmo mau mukul."

Pak Eko mengangguk, menghembuskan asap ke udara. "Saya lihat matanya. Kayak banteng mau tanduk."

"Tapi Bu Yuni tenang saja," kata Si Amat. "Saya kira dia bakal panik. Tapi tidak. Malah tenang. Kayak tidak ada yang terjadi."

Pak Santoso yang tidak merokok hanya duduk sambil memegang kacamatanya. "Itu namanya pengalaman. Katanya dia tujuh tahun di kecamatan. Pasti sudah biasa menghadapi orang marah."

Pak Edi menghela napas. "Tapi yang membuat saya kagum, dia tidak mencari kambing hitam. Padahal kalau dia bilang 'itu kesalahan sebelum saya datang', ya wajar. Tapi dia malah bertanggung jawab."

"Itu yang disebut integritas, Pak," kata Si Amat.

Semua menoleh ke arah Si Amat. Pak Eko mengangkat alis. "Wah, Mat, lo sekarang pakai istilah-istilah berat."

Si Amat tersenyum malu. "Saya belajar dari Bu Yuni. Dia sering bilang, 'Integritas itu bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang konsisten antara ucapan dan tindakan.'"

Pak Edi bersiul kecil. "Wah, Mat, lo sudah kena 'doktrin' Bu Yuni."

"Bukan doktrin, Pak. Tapi... inspirasi."

Mereka tertawa bersama. Namun di balik tawa itu, ada kesadaran baru yang mulai tumbuh. Bu Yuni tidak hanya merapikan berkas. Ia juga mulai merapikan cara berpikir mereka.

 

Malam setelah insiden di kantor desa, Pak Darmo duduk di ruang tamunya. Rumahnya sederhana—dinding papan kayu yang sudah berusia puluhan tahun, atap seng yang berbunyi setiap kali angin bertiup kencang, lantai semen yang dingin. Lampu ruangan hanya satu, dan itu pun redup, lampu neon 15 watt yang berkedip-kedip.

Ia memegang secangkir teh hangat, namun teh itu sudah dingin karena tidak pernah diminum. Pandangannya kosong, menembus dinding seolah melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

Istrinya, Bu Parmi, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih di pelipis dan wajah yang mulai berkerut karena usia, duduk di sampingnya dengan wajah khawatir. Ia memegang tangan suaminya yang kasar dan kapalan karena bekerja di sawah.

"Masih kepikiran, Pak?" tanya Bu Parmi lembut, suaranya hampir berbisik.

Pak Darmo menghela napas panjang. Napas itu terasa berat, seperti membawa beban yang tidak terlihat. "Iya, Mi. Aku tadi terlalu keras di kantor desa."

Bu Parmi mengangguk pelan. "Aku tahu. Tapi aku juga tahu kenapa Bapak marah."

Pak Darmo terdiam. Tanah yang ia urus bukan sembarang tanah. Itu warisan orang tuanya, Kertowijoyo, yang meninggal sepuluh tahun lalu. Lahan seluas satu hektar di lereng bukit itu telah menjadi sumber penghidupan keluarganya selama tiga generasi. Di atas tanah itulah kakeknya dulu membuka hutan, menanam singkong dan jagung, membangun rumah sederhana dari kayu, dan membesarkan anak-anaknya.

Namun setahun yang lalu, seorang pengusaha dari kota, bernama Sugiharto datang dengan membawa secarik kertas dan mobil mewah berwarna hitam. Katanya, tanah itu miliknya. Katanya, ada sertifikat yang membuktikan bahwa tanah itu sudah dijual oleh kakek Pak Darmo, Mertowijoyo puluhan tahun lalu. Kepada siapa? Kepada ayah Sugiharto, seorang pengusaha kaya yang sudah meninggal lima tahun lalu.

Pak Darmo kaget. Ia tidak pernah tahu tentang penjualan itu. Orang tuanya tidak pernah bercerita. Kakeknya sudah meninggal sejak ia masih kecil, tepatnya ketika Pak Darmo berusia tujuh tahun. Siapa yang bisa membuktikan kebenaran cerita itu?

"Kami akan buktikan di pengadilan," kata Sugiharto waktu itu, sambil memainkan cincin emas di jari manisnya. Wajahnya bulat, berkumis tipis, dan matanya menyipit seperti sedang meremehkan.

Sejak saat itu, Pak Darmo hidup dalam ketakutan. Setiap malam ia sulit tidur, membayangkan tanah satu-satunya itu diambil darinya. Setiap pagi ia bangun dengan perasaan cemas, jantungnya berdebar tidak karuan. Setiap kali mendengar suara motor di depan rumah, ia berharap itu bukan orang suruhan Sugiharto.

Proses pengurusan berkas tanah di kantor desa adalah bagian dari usahanya untuk mengamankan klaimnya. Ia membutuhkan surat keterangan riwayat tanah dari desa, bukti bahwa tanah itu adalah warisan turun-temurun. Namun setiap kali ia datang, pelayanannya lambat. Berkasnya tidak pernah selesai. Dan hari ini, ia hampir kehilangan harapan.

"Maafkan Bapak ya, Mi," kata Pak Darmo pelan, suararnya parau seperti orang yang kehabisan suara. "Bapak cuma... takut."

Bu Parmi meraih tangan suaminya lebih erat. Tangannya yang keriput menggenggam tangan Pak Darmo yang kasar. "Saya tahu, Pak. Tapi lihatlah, Ibu Sekdes yang baru itu... dia berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Dia tidak panik ketika Bapak marah. Dia tidak membela diri. Dia tidak bilang 'itu bukan salah saya'. Dia hanya diam, lalu mencari, lalu menemukan. Dan ketika ketemu, dia tidak sombong. Dia malah minta maaf karena berkasnya tersimpan di tempat yang salah."

Pak Darmo mengingat kembali kejadian siang itu. Bu Yuni tidak membalas amarahnya. Ia tidak berkata, "Bukan salah saya," atau "Itu bukan wewenang saya." Ia hanya diam, lalu mencari, lalu menemukan. Dan setelah menemukan, ia tidak menyalahkan siapapun.

"Kamu benar," kata Pak Darmo akhirnya, menghela napas yang terasa lebih ringan dari sebelumnya. "Dia beda."

Bu Parmi tersenyum. Gigi depannya sudah ompong, tapi senyumnya tetap hangat. "Kalau begitu, beri dia kesempatan, Pak. Jangan langsung memvonis. Dia baru datang. Dia belum tahu semua masalah di desa ini."

Pak Darmo mengangguk pelan. "Iya, kamu benar. Besok aku akan ke kantor desa lagi. Bukan untuk marah-marah, tapi untuk... minta maaf."

Bu Parmi tersenyum lebih lebar. Kerutan di wajahnya tampak lebih dalam saat tersenyum. "Itu suami saya."

Pak Darmo akhirnya meminum tehnya, meskipun sudah dingin. Teh pahit tanpa gula itu terasa melegakan tenggorokannya yang kering. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, ia tidur dengan perasaan sedikit lebih tenang. Mimpinya malam itu bukan tentang tanah yang diambil orang, tapi tentang sawah yang menghijau dan panen yang melimpah.

 

Pukul 08.00 keesokan harinya, Pak Darmo datang lagi ke kantor desa. Namun kali ini wajahnya tidak tegang. Tidak merah padam. Tidak ada urat leher menonjol. Wajahnya justru teduh, seperti langit setelah hujan reda.

Ia membawa sebuah bingkisan kecil, kue klepon buatan istrinya, dibungkus daun pisang yang masih hijau segar. Daun pisang itu diikat dengan lidi, rapi dan bersih. Dari dalam bungkusan itu tercium aroma harum gula merah dan kelapa parut.

"Bu Yuni," katanya sambil mendekati meja.

Bu Yuni yang sedang sibuk dengan berkas langsung mendongak. Matanya sedikit terkejut melihat Pak Darmo datang lagi, apalagi dengan senyum di wajahnya. "Ada yang bisa dibantu, Pak Darmo?"

Pak Darmo menggeleng. "Saya bukan datang untuk urus berkas, Bu."

Bu Yuni sedikit mengernyit. "Lalu?"

Pak Darmo menarik napas dalam. Dadanya naik turun. Ia meletakkan bungkusan klepon di atas meja Bu Yuni dengan hati-hati. "Saya mau minta maaf."

Bu Yuni terlihat terkejut. Matanya membulat sebentar. Alisnya naik. "Minta maaf? Untuk apa, Pak?"

Pak Darmo menunduk sebentar, tidak berani menatap mata Bu Yuni. Ia memandangi ujung sandal jepitnya yang sudah usang. "Kemarin saya terlalu emosi. Saya marah-marah padahal Ibu baru saja mulai bekerja. Itu tidak adil. Ibu tidak pantas diperlakukan seperti itu."

Bu Yuni tersenyum pelan. Senyum yang tulus, tidak dibuat-buat. "Pak Darmo, Bapak tidak perlu minta maaf. Bapak punya hak untuk marah. Pelayanan memang lama. Berkas Bapak memang sempat hilang. Itu fakta."

"Tapi bukan Ibu yang salah," potong Pak Darmo, mengangkat kepalanya. Matanya menatap Bu Yuni dengan ekspresi memohon pengertian. "Itu sudah terjadi sebelum Ibu datang. Saya seharusnya tidak melampiaskan pada Ibu."

Bu Yuni menggeleng lembut. "Pak, sekarang saya yang bertanggung jawab. Jadi jika ada warga yang marah, itu wajar. Tanggung jawab ada di pundak saya."

Pak Darmo mengangkat kepalanya. Matanya menatap Bu Yuni dengan ekspresi heran, campuran antara kagum dan tidak percaya. "Ibu ini... aneh."

Bu Yuni tertawa kecil. Tawanya ringan, seperti angin sepoi-sepoi. "Kenapa aneh, Pak?"

"Biasanya kalau ada pejabat baru, mereka sibuk membela diri. 'Ini bukan salah saya', 'Itu kesalahan sebelumnya', 'Saya baru datang, jadi jangan salahkan saya'. Saya sudah sering dengar kalimat-kalimat seperti itu dari pejabat-pejabat sebelumnya. Tapi Ibu... Ibu malah menerima tanggung jawab. Itu aneh. Tapi... aneh yang baik."

Bu Yuni menatap Pak Darmo dengan mata yang teduh. Matanya tidak berkedip, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Pak, kalau saya sibuk menyalahkan masa lalu, maka masa depan tidak akan pernah berubah. Saya di sini bukan untuk menyalahkan. Saya di sini untuk memperbaiki."

Pak Darmo terdiam beberapa saat. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia berkata dengan suara yang sedikit bergetar, "Bu... saya tidak tahu harus berkata apa. Saya hanya ingin Ibu tahu... tanah saya itu penting bagi saya. Bukan karena harganya. Saya tidak peduli berapa pun harganya. Tapi itu satu-satunya warisan orang tua saya. Kakek saya. Buyut saya. Di tanah itu mereka bekerja, berdoa, dan meninggal. Saya tidak mau kehilangan itu. Saya rela mati daripada kehilangan tanah itu."

Bu Yuni mengangguk serius. Tidak ada senyum di wajahnya sekarang. Yang ada adalah ketegasan dan empati. "Saya mengerti, Pak. Saya akan pastikan semua berkas Bapak selesai dengan benar. Saya akan urus sendiri. Mulai dari desa, ke kecamatan, sampai ke kabupaten. Saya tidak akan berhenti sampai Bapak mendapatkan hak Bapak."

Pak Darmo mengangguk. Ia mengulurkan bingkisan klepon. "Ini dari istri saya. Sedikit oleh-oleh. Bu Parmi bilah, 'Sampaikan ke Bu Yuni, terima kasih sudah membantu suami saya.'"

Bu Yuni menerimanya dengan senyum hangat. Tangannya menerima bungkusan daun pisang itu dengan hormat. "Terima kasih, Pak. Sampaikan salam saya untuk Bu Parmi. Sampaikan juga bahwa saya akan sering-sering mampir ke rumah Bapak kalau ada waktu."

Pak Darmo mengangguk. Sebelum berbalik, ia berkata sekali lagi, "Bu Yuni... jangan berubah, ya. Desa ini butuh orang seperti Ibu. Kami butuh Ibu."

Bu Yuni tidak menjawab. Hanya tersenyum. Namun dalam hatinya, ia berkata, "Terima kasih, Pak Darmo. Kepercayaan Bapak adalah hadiah terbesar bagiku."

Pak Darmo berjalan keluar. Di ambang pintu, ia berpapasan dengan Anto yang baru datang.

"Pagi, Pak Darmo," sapa Anto sambil tersenyum.

"Pagi, To."

"Wajah Bapak cerah hari ini. Pasti ada kabar baik."

Pak Darmo tersenyum, sesuatu yang jarang dilakukan. "Iya, To. Ada harapan baru."

Anto mengangguk-angguk. "Saya sudah bilang, Pak. Bu Yuni itu orangnya beda."

"Kamu benar, To. Kamu benar."

 

Kejadian dengan Pak Darmo meninggalkan bekas yang dalam di hati para perangkat desa. Bukan hanya karena amarah Pak Darmo yang meledak-ledak, tapi karena cara Bu Yuni menghadapinya.

Sore itu, setelah Pak Darmo pulang, mereka berkumpul lagi di bawah pohon mangga. Namun kali ini, bukan untuk merokok dan bercerita santai. Kali ini, ada agenda yang lebih serius.

"Bu Yuni," kata Pak Santoso membuka percakapan, "saya sudah 20 tahun di sini. Saya sudah melihat tiga sekdes sebelum Ibu. Tapi saya belum pernah melihat sekdes yang... seperti Ibu."

Bu Yuni yang ikut duduk di bawah pohon itu tersenyum. "Seperti apa, Pak?"

"Tegas tapi lembut. Serius tapi tidak kaku. Dan yang paling penting... Ibu tidak takut."

"Takut pada apa, Pak?"

"Takut pada warga yang marah. Takut pada konflik. Takut pada perubahan."

Bu Yuni menghela napas. "Pak Santoso, saya juga takut. Saya manusia biasa. Tapi ketakutan tidak boleh melumpuhkan kita. Ketakutan harus menjadi bahan bakar untuk berbenah."

Pak Eko yang biasanya paling kritis ikut angkat bicara. "Bu, saya harus akui... cara Ibu menghadapi Pak Darmo kemarin, itu... luar biasa. Saya tidak akan bisa setenang itu."

Bu Yuni menatap Pak Eko. "Pak Eko, Bapak juga bisa. Hanya butuh latihan."

Pak Eko tersenyum kecut. "Latihan menghadapi orang marah?"

"Latihan mengendalikan diri. Latihan tidak bereaksi berlebihan. Latihan mendengarkan sebelum berbicara."

Pak Edi yang sejak tadi diam ikut nimbrung. "Bu, saya mau tanya jujur."

"Silakan, Pak Edi."

"Waktu Pak Darmo marah-marah, apa Ibu tidak ingin balas marah?"

Bu Yuni tersenyum. "Ingin, Pak. Saya juga manusia. Ada bagian dari diri saya yang ingin berteriak, 'Ini bukan salah saya, Pak! Saya baru datang!' Tapi saya tahan."

"Kenapa ditahan?"

"Karena jika saya balas marah, maka yang terjadi adalah pertengkaran, bukan penyelesaian masalah. Pak Darmo butuh didengar, bukan dilawan. Dia butuh solusi, bukan konfrontasi."

Pak Edi mengangguk-angguk. "Saya belajar banyak hari ini."

Bu Yuni berdiri. "Teman-teman, saya tidak sempurna. Saya juga akan membuat kesalahan. Tapi saya berjanji, saya akan selalu berusaha menjadi lebih baik. Dan saya berharap, kita semua melakukan hal yang sama."

Mereka mengangguk. Satu per satu. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang beralasan.

Matahari sore mulai tenggelam di balik bukit, memancarkan cahaya jingga yang indah. Di bawah pohon mangga itu, sekelompok orang yang dulu terbiasa dengan cara lama, mulai membuka hati untuk perubahan.

 

Malam itu, setelah kembali ke rumah kontrakannya, Bu Yuni tidak langsung tidur. Ia duduk di beranda seperti biasa. Kucing oranye datang lagi, melompat ke pangkuannya, dan meringkuk di sana.

Bu Yuni mengelus kepala kucing itu dengan lembut. "Kamu setia ya, datang terus."

Kucing itu mengeong pelan, seolah menjawab.

"Kamu tahu, Din?" panggil Bu Yuni pada dirinya sendiri, kebiasaan yang ia lakukan sejak kecil. "Hari ini aku belajar sesuatu."

Ia menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit. Malam di Awan Biru selalu cerah, tidak terhalang polusi seperti di kota. Bintang-bintang terlihat sangat jelas, seolah bisa dijangkau dengan tangan.

"Aku belajar bahwa di balik setiap kemarahan, selalu ada ketakutan. Pak Darmo marah karena dia takut kehilangan tanahnya. Dia takut kehilangan satu-satunya warisan yang dimilikinya. Dia takut gagal melindungi keluarganya."

Kucing itu bergerak sedikit, menyesuaikan posisi.

"Dan aku juga belajar bahwa kesabaran itu bukan tentang tidak merasakan apa-apa. Kesabaran adalah tentang memilih untuk tidak bereaksi meskipun hati bergolak."

Ia menghela napas. Udara malam dingin menusuk paru-parunya.

"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih karena Engkau berikan aku kekuatan untuk tidak marah. Terima kasih karena Engkau pertemukan aku dengan Pak Darmo. Dan terima kasih karena Engkau tunjukkan bahwa perubahan itu mungkin, meskipun perlahan."

Bu Yuni menutup matanya. Ia berdoa dalam hati untuk waktu yang lama. Ia berdoa untuk Pak Darmo dan keluarganya. Ia berdoa untuk perangkat desa yang masih belajar. Ia berdoa untuk desa ini yang perlahan mulai berubah.

Ketika ia membuka mata, bintang-bintang terlihat lebih terang dari sebelumnya.

"Besok akan ada tantangan baru," bisiknya. "Tapi aku siap."

Ia masuk ke dalam rumah, membaringkan tubuhnya yang lelah di atas kasur tipis. Kucing oranye itu mengikutinya masuk dan tidur di ujung kasur, meringkuk seperti bola bulu oranye.

Bu Yuni tersenyum. "Selamat malam, kucing. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita lanjutkan perjuangan."

Lampu padam. Rumah kontrakan itu gelap gulita. Hanya suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing dari kejauhan yang menemani tidurnya.


Pukul 06.00 keesokan paginya, warung kopi milik Pak Karyo sudah ramai. Warung itu terletak di pinggir jalan utama desa, tepat di pertigaan menuju ke kantor desa. Bangunannya sederhana—dinding anyaman bambu, atap rumbia yang sudah mulai rapuh, lantai tanah yang dipadatkan. Beberapa bangku kayu panjang disusun tidak beraturan di depan warung. Di dalam, ada etalase kaca kecil berisi rokok, permen, dan beberapa kebutuhan pokok.

Pak Karyo, pemilik warung yang sudah berusia 60 tahun, dengan badan tambun dan kumis tebal, sedang sibuk menyeduh kopi untuk para pelanggannya. Tangan kirinya memegang teko alumunium, tangan kanannya menuang air panas ke dalam gelas-gelas plastik yang sudah berisi bubuk kopi dan gula.

Hari itu, topik pembicaraan hangat adalah insiden di kantor desa kemarin.

"Katanya Pak Darmo marah-marah sampai meja digedor," kata Pak Sugeng, warga Dusun Ngemplak yang terkenal suka bergosip. Wajahnya tipis, matanya sipit, dan bibirnya tipis seperti pisau.

"Saya dengar dari Pak RT, Pak Darmo sampai menangis," sahut yang lain, seorang wanita paruh baya bernama Bu Tini. Rambutnya disanggul rapi, tapi beberapa helai rambut putih sudah terlihat.

"Wajar saja," kata Pak Karyo sambil menyodorkan kopi ke pelanggannya. Tangannya yang gemetar karena usia menuang kopi dengan hati-hati. "Tanah warisan mau diambil orang. Siapa yang tidak marah?"

Anto yang duduk di pojok, dengan jaket kulitnya yang khas, ikut nimbrung. "Saya sudah bilang dari kemarin. Saya mimpi ada orang marah-marah di kantor desa. Ternyata mimpi saya benar."

"Kebetulan, To. Itu namanya kebetulan," sahut Pak Sugeng.

Anto tersenyum misterius. "Tidak ada yang kebetulan, Pak. Semua sudah diatur."

Mereka tertawa. Namun tawa itu berhenti ketika Pak Darmo sendiri masuk ke warung.

"Mari, Pak Darmo. Silakan duduk," sapa Pak Karyo ramah.

Pak Darmo duduk di kursi kayu yang terletak di sudut warung. Wajahnya tidak setegang kemarin. Bahkan ia tersenyum tipis.

"Kopi satu, Pak Karyo," katanya.

"Jadi bagaimana, Pak? Kabarnya kemarin Ibu Sekdes yang baru itu...?" tanya Pak Sugeng dengan nada ingin tahu.

Pak Darmo menghela napas. "Jujur, saya kagum."

Semua yang hadir menoleh. Pak Karyo berhenti menuang kopi. Anto mengangkat alis. Bu Tini membuka mulutnya sedikit.

"Kagum? Kenapa?" tanya Pak Sugeng.

"Dia tidak panik. Tidak marah. Tidak membela diri. Dia hanya diam, lalu mencari berkas saya, lalu menemukannya. Setelah itu, dia minta maaf karena berkasnya tersimpan di tempat yang salah. Padahal dia baru bekerja tiga hari."

Suasana warung hening sejenak.

"Saya belum pernah melihat pejabat seperti itu," lanjut Pak Darmo. "Biasanya mereka sibuk menyalahkan orang lain. Tapi Bu Yuni... dia berbeda."

Anto tersenyum puas. "Saya sudah bilang dari awal. Bu Yuni itu orang pilihan."

Pak Karyo mengangguk-angguk. "Semoga desa kita berubah menjadi lebih baik."

"Aamiin," jawab mereka serempak.


Sementara itu, di kantor desa, Si Amat sedang bekerja dengan semangat yang tidak biasa. Sejak kejadian dengan Pak Darmo, ia merasa malu. Ia merasa gagal sebagai admin desa karena tidak bisa menemukan berkas yang dicari.

"Aku harus lebih baik," gumamnya sambil membuka map demi map.

Bu Yuni yang duduk di sampingnya memperhatikan. "Mas Amat, jangan terlalu keras pada diri sendiri."

"Tapi Bu, saya gagal kemarin. Saya hampir membuat warga kecewa."

"Mas Amat, kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Yang penting, kita belajar dari kesalahan."

Si Amat menghela napas. "Bu, boleh saya cerita?"

"Silakan."

Si Amat berhenti bekerja. Ia menatap map di tangannya, lalu berkata, "Dulu, saya punya mimpi. Saya ingin kuliah. Ingin jadi guru seperti ayah saya. Tapi ayah saya sakit, lalu meninggal. Saya tidak punya biaya. Akhirnya saya bekerja di sini. Dan karena saya kecewa, saya jadi... santai. Malas. Tidak peduli. Saya pikir, 'Ah, kerja di desa kecil begini, buat apa serius-serius?'"

Bu Yuni mendengarkan dengan saksama. Tidak menyela. Tidak memberi nasihat. Hanya mendengarkan.

"Tapi setelah melihat Bu Yuni, saya sadar. Bukan tempat yang menentukan kualitas kerja seseorang, tapi hati. Ibu datang dari luar, tidak punya siapa-siapa di sini, tapi Ibu bekerja dengan sungguh-sungguh. Saya yang dari sini, yang punya banyak kenalan, malah... malas."

Bu Yuni tersenyum. "Mas Amat, setiap orang punya waktunya masing-masing. Ada yang cepat sadar, ada yang lambat. Yang penting, ketika sadar, kita segera bergerak."

Si Amat mengangguk. "Iya, Bu. Saya akan bergerak. Mulai hari ini."

"Bukan mulai hari ini, Mas Amat. Mulai dari sekarang."

Si Amat tersenyum. "Baik, Bu. Mulai dari sekarang."

Mereka berdua kembali bekerja. Namun kali ini, Si Amat bekerja dengan hati yang berbeda. Bukan karena terpaksa. Bukan karena takut dimarahi. Tapi karena ia mulai menemukan makna dalam pekerjaannya.


Di ruang kerjanya, Pak Kades Iwan mendengar cerita tentang insiden kemarin dari Pak Santoso.

"Pak Darmo marah-marah, Pak. Sampai meja digedor," lapor Pak Santoso.

Pak Iwan menghela napas. "Lalu bagaimana Bu Yuni?"

"Dia tenang, Pak. Tidak panik. Dia mencari berkas Pak Darmo dan menemukannya di arsip lama."

Pak Iwan mengangkat alis. "Arsip lama? Berkas tahun berapa itu?"

"Tahun 1995, Pak."

"Wah, sudah 6 tahun lalu. Bagaimana bisa sampai di sana?"

"Itulah masalahnya, Pak. Tidak ada sistem pemindahan arsip. Berkas lama dan baru bercampur."

Pak Iwan menggeleng-gelengkan kepala. "Saya sudah bilang, sistem kita berantakan."

"Tapi Bu Yuni mulai membenahi, Pak. Dia membuat klasifikasi warna, buku register, dan label-label. Pelan-pelan, mulai rapi."

Pak Iwan tersenyum. "Syukurlah. Saya tidak salah pilih orang."

"Pak, satu lagi."

"Apa?"

"Pak Darmo datang lagi hari ini. Bukan untuk marah, tapi untuk minta maaf. Dia juga membawa kue untuk Bu Yuni."

Pak Iwan terkejut. "Minta maaf? Pak Darmo? Orang sekaku itu?"

"Iya, Pak. Dia minta maaf karena sudah marah-marah kemarin."

Pak Iwan terdiam. Ia menatap foto istrinya di atas meja. "Sri, kamu lihat? Perubahan mulai terjadi."

"Ada apa, Pak?" tanya Pak Santoso bingung.

"Tidak ada, Pak Santoso. Saya hanya... bersyukur."


Sore itu, Anto mampir ke kantor desa. Bukan untuk mengurus surat, truknya sedang tidak jalan karena mesinnya rusak, tapi untuk sekadar ngobrol.

"Bu Yuni, saya lihat Ibu mulai disukai warga," katanya sambil duduk di kursi yang tersedia.

Bu Yuni yang sedang merapikan berkas menoleh. "Kok tahu?"

"Warga bicara di warung. Mereka bilang Bu Yuni berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Beda dari sekdes-sekdes sebelumnya. Dulu, sekdes kalau ada masalah, sibuk cari kambing hitam. Ibu malah sibuk cari solusi."

Bu Yuni tersenyum. "Itu tugas saya, To."

"Tidak semua sekdes berpikir seperti itu, Bu. Banyak yang hanya ingin enaknya saja."

"Ya, itu pilihan mereka. Saya tidak bisa menghakimi."

Anto mengangguk-angguk. "Bu Yuni, saya punya ramalan."

"Silakan, To. Saya dengarkan."

"Suatu hari nanti, Ibu akan dikenang sebagai sekdes terbaik yang pernah dimiliki desa ini. Nama Ibu akan disebut-sebut oleh generasi mendatang. Mereka akan bercerita tentang seorang wanita tangguh yang datang dari awan biru."

Bu Yuni tertawa kecil. "Awan biru itu nama desa ini, To. Bukan saya."

"Bukan, Bu. Maksud saya... Ibu datang seperti malaikat dari langit. Membawa perubahan."

Bu Yuni tersenyum, tapi tidak menjawab. Ia kembali ke berkasnya. Namun dalam hatinya, ia berkata, "Aku tidak perlu dikenang. Aku hanya perlu desa ini menjadi lebih baik."


Malam itu, setelah semua orang pulang, Bu Yuni masih duduk di kantor. Ia ingin menyelesaikan satu map lagi sebelum pulang.

Lampu neon berkedip-kedip. Angin malam berhembus masuk melalui celah-celah dinding. Suara jangkrik terdengar dari luar, seperti orkestra kecil yang memainkan simfoni malam.

Ia membuka map terakhir. Di dalamnya, ada berkas-berkas lama dari tahun 1998. Ada surat pernyataan tanah, ada akta kelahiran, ada kartu keluarga yang sudah menguning.

Bu Yuni membaca satu per satu. Matanya bergerak perlahan, menelusuri setiap baris. Ia tidak hanya membaca, tapi juga memahami. Di balik setiap lembar kertas, ada cerita. Ada nama. Ada alamat. Ada harapan.

"Ini bukan sekadar kertas," gumamnya. "Ini adalah sejarah hidup orang-orang."

Ia menghela napas. Tangannya mulai menulis label untuk map itu. Setelah selesai, ia menyimpannya di rak yang sudah ia urutkan.

Pukul 21.00. Bu Yuni berdiri, merapikan meja, dan berjalan keluar. Udara malam dingin menusuk wajahnya. Bintang-bintang bertaburan di langit.

Ia berjalan pulang dengan langkah pelan. Tidak tergesa. Matanya menatap desa yang gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang redup dan sesekali lampu dari rumah-rumah warga.

"Perlahan, Desa Awan Biru," bisiknya. "Perlahan kita akan berubah."


BAB 3

SISTEM LAMA VS CARA BARU

Hari keempat sejak Bu Yuni mulai bertugas di Desa Awan Biru. Matahari belum sepenuhnya muncul dari balik Gunung Sumbing ketika ia sudah bangun dari tidurnya. Pukul 04.30, seperti biasa. Namun kali ini, ia tidak merasa lelah seperti hari-hari sebelumnya. Ada energi baru yang mengalir dalam tubuhnya, energi yang lahir dari harapan.

Setelah shalat subuh berjamaah di masjid desa, masjid yang sama dengan dinding bata putih dan kubah hijaunya yang mulai pudar, Bu Yuni berjalan pulang menyusuri jalan setapak yang masih basah oleh embun. Di pinggir jalan, seorang nenek tua sedang duduk di teras rumahnya sambil mengupas singkong. Nenek itu bernama Mbah Tuminah, usianya sudah 80 tahun lebih, rambutnya putih semua, wajahnya keriput seperti peta yang menceritakan perjalanan panjang hidupnya.

"Selamat pagi, Mbah," sapa Bu Yuni sambil membungkuk sedikit.

Mbah Tuminah menoleh. Matanya yang sudah mulai buram berusaha fokus. "Pagi, Nak. Kamu yang baru jadi sekdes itu ya?"

"Iya, Mbah. Yuni namanya."

"Yuni... bagus namanya." Mbah Tuminah tersenyum, memperlihatkan gusinya yang ompong. "Mbah dengar kabar, kamu baik. Kamu bantu Darmo kemarin."

Bu Yuni tersenyum malu. "Itu sudah tugas saya, Mbah."

"Tidak semua orang melakukan tugasnya dengan baik, Nak. Mbah sudah hidup 80 tahun, sudah melihat banyak pejabat. Yang baik hanya sedikit."

Bu Yuni tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum.

"Semoga Allah memberkati langkahmu, Nak," kata Mbah Tuminah sambil kembali mengupas singkongnya.

"Terima kasih, Mbah. Semoga Mbah sehat selalu."

Bu Yuni melanjutkan perjalanan pulang. Hatinya hangat. Kata-kata Mbah Tuminah terasa seperti berkah yang menguatkan langkahnya.

 

Pukul 07.00, Bu Yuni tiba di kantor desa. Hari itu, ia tidak sendirian. Si Amat sudah ada di sana sejak pukul 06.30, seperti janjinya kemarin. Ia sedang duduk di mejanya sambil membaca buku catatan yang diberikan Bu Yuni, buku tentang klasifikasi arsip yang tebalnya sekitar 50 halaman, ditulis tangan dengan rapi oleh Bu Yuni selama bertahun-tahun.

"Mas Amat, sudah dari tadi?" tanya Bu Yuni sambil meletakkan tasnya.

"Setengah enam, Bu. Saya sudah selesai baca catatan Ibu sampai halaman 30."

"Wah, cepat sekali."

"Saya baca sambil buka map-map lama, Bu. Saya coba praktikkan langsung."

Bu Yuni tersenyum bangga. "Bagus, Mas Amat. Itu namanya belajar sambil bekerja."

Mereka berdua kemudian bekerja bersama. Bu Yuni mengajarkan Si Amat cara membuat buku register yang benar—buku besar berwarna biru dengan kolom-kolom yang sudah ia desain sendiri: kolom nomor urut, tanggal masuk, jenis berkas, nama pengirim, alamat, nomor berkas, dan keterangan.

"Ini yang paling penting, Mas Amat. Setiap berkas yang masuk harus dicatat di sini. Jangan sampai ada yang terlewat."

"Tapi Bu, itu berarti setiap ada yang datang, kita harus catat dulu. Kan lama?"

"Memang lama di awal, Mas. Tapi percayalah, suatu saat nanti kita akan berterima kasih pada diri sendiri karena sudah mencatat semuanya."

Si Amat mengangguk, meskipun masih setengah ragu. Namun ia percaya pada Bu Yuni. Setelah kejadian dengan Pak Darmo, ia belajar bahwa kata-kata Bu Yuni tidak pernah salah.

Pukul 07.30, Pak Edi datang dengan termos kopi di tangan kirinya dan senyum di wajahnya yang bulat dan berkumis tipis. "Pagi, Bu. Pagi, Mat."

"Pagi, Pak Edi," jawab mereka serempak.

"Wah, Mat, lo sekarang rajin amat. Dari jam segini sudah di kantor."

"Saya belajar, Pak. Biar nggak ketinggalan."

"Belajar apa?"

"Belajar sistem baru dari Bu Yuni."

Pak Edi mengangguk-angguk sambil menuang kopi ke gelas plastik favoritnya, gelas bekas selai yang sudah pudar gambarnya. "Ya, kita semua harus belajar. Zaman sudah berubah."

Pukul 08.00, rekan-rekan lain datang. Pak Eko dengan ponselnya, seperti biasa, layar menyala, jempol sibuk menggulir. Pak Santoso dengan kacamatanya yang tebal dan buku-buku tebal di tangannya. Bu Lulu dengan map keuangannya yang selalu ia peluk di dada seperti melindungi bayi. Pak Joko, Kaur Pelayanan, yang jarang bicara namun bekerja dengan teliti. Bu Endang, staf administrasi, yang pemalu dan jarang bersuara. Bu Siti, staf pelayanan, yang ramah kepada semua orang. Pak Rudi, staf keuangan, yang selalu membawa kalkulator ke mana-mana. Dan Pak Supriyadi, staf teknis, yang lebih sering di lapangan daripada di kantor.

Suasana pagi itu ramai namun tidak kacau. Ada semangat baru yang mulai terasa, meskipun masih samar-samar, seperti kabut pagi yang perlahan menyingkap.

 

Pukul 09.00, Pak Kades Iwan keluar dari ruangannya. Wajahnya serius, namun matanya berbinar. Ia memanggil semua perangkat desa untuk berkumpul di ruang tengah.

"Teman-teman, saya ingin menyampaikan sesuatu," katanya sambil berdiri di depan papan tulis putih yang sudah kotor dan berdebu.

Semua perangkat desa duduk di kursi-kursi plastik warna hijau dan biru yang berjajar tidak rapi. Beberapa kursi kosong karena pemiliknya sedang cuti atau tugas di luar.

"Mulai hari ini, kita akan menerapkan sistem baru dalam administrasi desa. Bu Yuni akan memimpin perubahan ini. Saya minta dukungan dari semuanya."

Ruangan hening sejenak. Lalu Pak Eko mengangkat tangan.

"Pak Kades, maksudnya sistem baru seperti apa?"

Bu Yuni yang berdiri di samping Pak Kades menjawab, "Sistem klasifikasi arsip, pencatatan keluar-masuk berkas, dan standar pelayanan waktu."

Pak Eko mengernyit. "Berarti kita harus mencatat semuanya?"

"Betul, Pak. Setiap berkas yang masuk, kita catat. Setiap berkas yang keluar, kita catat. Setiap kali melayani warga, kita catat waktunya."

Pak Eko terdiam. Ia tidak suka dengan ide "mencatat segalanya" karena itu berarti ia tidak bisa lagi santai-santai. Namun ia tidak berani protes di depan Pak Kades.

Pak Santoso, yang lebih bijaksana, bertanya dengan nada hati-hati, "Bu Yuni, apakah sistem ini tidak akan memperlambat pelayanan? Karena warga harus menunggu kita mencatat dulu?"

Bu Yuni tersenyum. "Pak Santoso, pertanyaan yang bagus. Memang di awal akan terasa lebih lambat karena kita belum terbiasa. Tapi setelah sistem berjalan, justru akan lebih cepat karena kita tidak perlu lagi mencari-cari berkas yang hilang."

Pak Santoso mengangguk. "Baiklah, saya ikut."

Bu Lulu angkat bicara, suaranya sedikit gemetar. "Bu, kalau untuk keuangan, apakah sistemnya juga berubah?"

"Untuk keuangan, kita akan gunakan sistem yang sudah ada, tapi dengan pencatatan yang lebih detail. Bu Lulu, saya mohon bantuannya untuk membuat buku kas yang lebih rapi."

Bu Lulu mengangguk, meskipun matanya menunjukkan kegugupan. Tangannya yang memegang map keuangan sedikit gemetar.

Si Amat, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berkata, "Saya setuju, Bu. Kita harus berubah."

Semua menoleh ke arah Si Amat. Pak Edi bersiul kecil. "Wah, Mat, lo sekarang jadi 'duta perubahan' ya?"

Si Amat tersenyum malu. "Saya hanya sadar, Pak. Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini."

Pak Kades Iwan mengangguk puas. "Baik, kalau tidak ada keberatan, kita mulai hari ini juga."

Tidak ada yang protes. Namun di dalam hati beberapa orang, ada keraguan yang menggelayut. Apakah mereka mampu berubah? Apakah sistem baru ini tidak akan merepotkan? Apakah Bu Yuni tidak terlalu memaksakan kehendak?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak diucapkan, tetapi mengendap di relung hati masing-masing.

 

Setelah rapat, Bu Yuni langsung bergerak. Ia tidak ingin teori-teori bagus hanya berakhir sebagai omongan kosong. Ia ingin aksi nyata.

"Mas Amat, tolong bantu saya memisahkan berkas-berkas di lemari."

"Siap, Bu!"

Mereka berdua membuka lemari arsip, lemari kayu jati tua yang pintunya berderit setiap kali dibuka. Debu beterbangan saat lemari dibuka, membuat Si Amat bersin tiga kali berturut-turut. "Maaf, Bu. Alergi debu."

Bu Yuni tersenyum. "Tidak apa-apa. Pakai sapu tangan, Mas."

Si Amat mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, sapu tangan kotak-kotak merah putih yang sudah lusuh dan menutup hidungnya dengan itu.

Mereka mulai mengeluarkan map-map satu per satu. Setiap map diperiksa isinya, lalu dikelompokkan berdasarkan jenis: kependudukan (warna merah), pertanahan (warna hijau), surat menyurat (warna biru), arsip lama (warna kuning), dan lain-lain (warna putih).

"Ini Bu, map kependudukan tahun 1999," kata Si Amat sambil menyerahkan map tebal berwarna coklat yang sudah kusam.

Bu Yuni menerimanya, memeriksa isinya, lalu memberinya label baru: "KEPENDUDUKAN - DUSUN KRAJAN - 1999".

"Wah, Bu, labelnya sampai detail dusun? Saya pikir cuma sampai jenisnya saja."

"Semakin detail, semakin mudah mencari, Mas. Bayangkan kalau kita hanya mengelompokkan berdasarkan jenis. Satu map kependudukan bisa berisi ratusan berkas dari berbagai dusun. Kalau ada warga dari Dusun Gondang yang mencari berkas, kita harus buka semua berkas satu per satu. Tapi kalau sudah dipisah per dusun, kita tinggal ambil map Gondang."

Si Amat mengangguk-angguk. "Saya baru paham sekarang. Bu Yuni memang jenius."

Bu Yuni tertawa kecil. "Bukan jenius, Mas. Hanya berpikir praktis."

 

Di sudut ruangan, Pak Eko memperhatikan Bu Yuni dan Si Amat yang sedang asyik memisahkan berkas. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan, antara kagum, cemas, dan sedikit kesal.

Ia mendekati Pak Edi yang sedang duduk sambil menyeruput kopinya. "Pak, lihat tuh. Bu Yuni sudah mulai 'menguasai' kantor."

Pak Edi mengangkat alis. "Maksudmu?"

"Semua harus pakai sistemnya. Semua harus ikut caranya. Kita seperti tidak punya pendapat."

Pak Edi tersenyum. "Ko, jangan negative thinking dulu. Bu Yuni kan sedang membenahi. Kita lihat dulu hasilnya."

"Tapi kita sudah bertahun-tahun bekerja dengan cara kita. Kenapa harus berubah sekarang?"

"Karena cara kita tidak berhasil, Ko. Lihat saja, berkas hilang, warga marah, laporan terlambat. Kalau cara kita sudah benar, seharusnya masalah-masalah itu tidak terjadi."

Pak Eko terdiam. Ia tahu Pak Edi benar. Namun egonya sulit menerima kenyataan bahwa cara kerjanya selama ini salah.

"Baiklah, saya lihat dulu," kata Pak Eko akhirnya. "Tapi jangan harap saya langsung bisa mengikuti semua perubahannya."

Pak Edi hanya tersenyum. Ia tahu Pak Eko adalah orang yang paling sulit berubah di kantor ini. Tapi ia juga tahu bahwa Pak Eko sebenarnya baik hati. Hanya butuh waktu.

 

Siang itu, setelah shalat dhuhur, beberapa remaja desa berkumpul di kantor desa. Mereka adalah Guntur (19 tahun), Yulia (18 tahun), Naila (17 tahun), dan Dimas (18 tahun). Mereka adalah generasi muda Desa Awan Biru yang mulai peduli dengan perkembangan desanya.

Guntur, yang bercita-cita menjadi polisi, memiliki tubuh tinggi dan tegap. Rambutnya selalu rapi meskipun hanya pakai gel rambut murahan. Jaket jeans lusuh adalah pakaian favoritnya, dipadukan dengan celana kargo dan sepatu boots yang sudah usang.

Yulia, gadis dengan rambut panjang yang selalu diikat kuncir kuda, adalah anak paling cerdas di antara mereka. Ia bercita-cita menjadi dokter, meskipun orang tuanya hanya buruh tani. Wajahnya bulat dengan pipi tembem dan senyum yang manis.

Naila, sepupu Yulia, lebih pendiam dan suka mengamati. Matanya tajam, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Ia bercita-cita menjadi guru, seperti gurunya yang dulu mengajar di SD.

Dimas, anak Pak Kades Iwan, adalah yang paling kritis. Ia kuliah di Semarang, jurusan administrasi negara, dan sedang libur semester. Wajahnya mirip ayahnya, dengan hidung mancung dan kulit sawo matang. Ia sering membantu ayahnya mengurus administrasi desa ketika libur.

"Paman, saya dengar desa kita akan menerapkan sistem administrasi baru?" tanya Dimas pada ayahnya.

Pak Iwan mengangguk. "Iya, Mas. Bu Yuni yang memimpin."

"Boleh saya lihat?"

"Silakan. Kamu kan mahasiswa administrasi negara, pasti bisa memberi masukan."

Dimas menghampiri Bu Yuni yang sedang sibuk dengan berkas-berkas. "Selamat siang, Bu. Saya Dimas, anak Pak Kades."

Bu Yuni menoleh dan tersenyum. "Selamat siang, Mas. Ada yang bisa dibantu?"

"Saya dengar Ibu menerapkan sistem administrasi baru. Saya ingin belajar."

Bu Yuni terkejut. "Wah, Mas Dimas mahasiswa administrasi negara? Saya yang harus belajar sama Mas Dimas."

Dimas tersenyum. "Teori di kampus berbeda dengan praktik di lapangan, Bu. Saya justru ingin belajar dari Ibu."

Mereka berdua kemudian berbincang tentang sistem administrasi. Bu Yuni menjelaskan konsep klasifikasi arsip, buku register, dan standar pelayanan. Dimas mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya, sesekali mengangguk.

"Bu, ini sebenarnya konsep yang sederhana tapi brilliant," kata Dimas setelah Bu Yuni selesai menjelaskan. "Mengapa tidak ada yang memikirkannya sebelumnya?"

"Karena perubahan itu tidak mudah, Mas. Orang lebih nyaman dengan kebiasaan lama, meskipun kebiasaan itu tidak efektif."

Dimas mengangguk. "Saya setuju, Bu. Semoga Ibu sukses."

Guntur, Yulia, dan Naila yang sejak tadi hanya mendengarkan, ikut mendekat.

"Bu, kami juga ingin membantu," kata Guntur. "Mau bantu apa?"

Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Nak. Sekarang belum perlu. Tapi kalau nanti ada pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga, saya akan panggil."

"Baik, Bu. Kami siap membantu kapan saja," kata Yulia.

Para remaja itu kemudian pamit. Namun sebelum pergi, Dimas berkata pada Bu Yuni, "Bu, saya akan membantu mengawasi teman-teman saya. Jangan ragu untuk memanggil kami."

Bu Yuni mengangguk. Hatinya hangat melihat semangat generasi muda desa.

 

Sore harinya, sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan kantor desa. Dari dalam mobil itu turun tiga orang: dua laki-laki dan satu perempuan, semuanya berpakaian rapi dengan kemeja putih dan celana hitam. Mereka adalah perwakilan dari LSM Pundi Desa, sebuah organisasi non-pemerintah yang fokus pada pengembangan kapasitas pemerintahan desa.

"Selamat sore, kami dari Pundi Desa," kata ketua rombongan, seorang pria bernama Pak Bambang, berusia sekitar 40 tahun, dengan kumis tebal dan kacamata bundar. "Kami ingin bertemu dengan kepala desa."

Pak Kades Iwan menyambut mereka dengan ramah. "Silakan masuk, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"

Pak Bambang duduk di kursi tamu yang terbuat dari kayu jati dengan bantal tipis berwarna merah marun. "Kami dari Pundi Desa, LSM yang fokus pada pengembangan kapasitas pemerintahan desa. Kami mendengar bahwa Desa Awan Biru sedang melakukan pembenahan administrasi. Kami ingin menawarkan bantuan."

Pak Iwan terkejut. "Bantuan apa, Pak?"

"Kami bisa memberikan pelatihan kepada perangkat desa tentang administrasi, kearsipan, dan pelayanan publik. Semua gratis. Kami didanai oleh lembaga donor."

Pak Iwan menoleh ke Bu Yuni yang berdiri di sampingnya. "Bu Yuni, bagaimana pendapat Ibu?"

Bu Yuni berpikir sejenak. "Pelatihan itu bagus, Pak. Tapi kita harus selektif. Jangan sampai malah membingungkan."

Pak Bambang tersenyum. "Ibu Sekdes, tenang saja. Kami sudah berpengalaman membantu puluhan desa di Jawa Tengah. Kami tahu pendekatan yang tepat."

Bu Yuni mengangguk. "Baik, Pak. Kami setuju. Tapi dengan satu syarat."

"Syarat apa, Bu?"

"Pelatihannya harus praktis, bukan hanya teori. Kami sudah terlalu banyak teori. Yang kami butuhkan adalah panduan yang bisa langsung kami terapkan."

Pak Bambang tersenyum lebar. "Setuju, Bu. Kami akan kirimkan tim pelatih dalam dua minggu."

Setelah rombongan Pundi Desa pergi, Pak Iwan berkata pada Bu Yuni, "Bu, ini kesempatan baik. Kita bisa belajar dari mereka."

"Iya, Pak. Tapi kita juga harus tetap kritis. Jangan sampai kita hanya menjadi 'proyek' mereka."

Pak Iwan mengangguk. "Ibu benar. Saya serahkan pada Ibu."

 

Keesokan harinya, Si Amat mendapat ujian pertamanya setelah belajar sistem baru.

Seorang warga bernama Bu Tuminah, yang tidak lain adalah nenek tua yang ditemui Bu Yuni kemarin, datang ke kantor desa untuk mengurus surat keterangan domisili. Bu Tuminah ingin pindah ke rumah anaknya di kecamatan, dan membutuhkan surat keterangan dari desa asal.

"Mas, saya mau bikin surat domisili," kata Bu Tuminah dengan suara parau karena usia. Tangannya yang keriput memegang map kecil berisi berkas-berkas.

Si Amat yang bertugas di bagian pelayanan langsung berdiri. "Silakan, Mbah. Berkasnya sudah lengkap?"

Bu Tuminah mengeluarkan isi mapnya satu per satu: KTP, KK, dan surat pengantar dari RT.

Si Amat memeriksa berkas-berkas itu. Semua lengkap. "Baik, Mbah. Tunggu sebentar ya."

Ia berjalan menuju lemari arsip. Namun kali ini, ia tidak panik seperti dulu. Ia ingat pelajaran Bu Yuni: cari berdasarkan dusun, lalu berdasarkan tahun.

"Mbah Tuminah, Dusun Krajan, ya?" tanyanya.

"Iya, Mas."

Si Amat membuka map warna merah, kependudukan, lalu mencari map Dusun Krajan. Ia menemukannya dengan cepat. Map itu sudah diberi label rapi oleh Bu Yuni.

Ia membuka map tersebut, mencari nama "Tuminah". Tidak perlu waktu lama, ia menemukan data Bu Tuminah dalam waktu kurang dari dua menit.

"Ini, Mbah. Data Mbah sudah ada. Sekarang saya akan buatkan suratnya."

Bu Tuminah tersenyum. "Wah, cepat sekali, Mas. Dulu kalau ngurus surat, bisa berjam-jam."

Si Amat tersenyum bangga. "Sekarang sudah ada sistem baru, Mbah. Jadi lebih cepat."

Dalam waktu sepuluh menit, surat keterangan domisili sudah selesai. Bu Tuminah menerimanya dengan tangan gemetar karena kegirangan.

"Terima kasih, Mas. Semoga Mas sukses."

"Sama-sama, Mbah. Hati-hati di jalan."

Setelah Bu Tuminah pergi, Si Amat menghampiri Bu Yuni. "Bu, saya berhasil!"

Bu Yuni tersenyum. "Bagus, Mas Amat. Saya bangga."

"Tadi saya hanya butuh waktu sepuluh menit, Bu. Dulu bisa satu jam."

"Itu namanya efisiensi, Mas Amat. Dan efisiensi lahir dari sistem yang baik."

Si Amat mengangguk. "Saya sekarang percaya, Bu. Sistem Ibu memang jitu."

 

Melihat keberhasilan Si Amat, Pak Eko mulai berpikir ulang tentang penolakannya terhadap sistem baru.

Ia mendekati Bu Yuni setelah jam makan siang. "Bu, saya mau bicara."

"Silakan, Pak Eko."

"Saya... saya ingin belajar sistem Ibu."

Bu Yuni terkejut. Matanya membulat sebentar. Alisnya naik. "Serius, Pak?"

"Serius, Bu. Saya lihat Mat sekarang lebih cepat kerjanya. Saya jadi iri."

Bu Yuni tersenyum. "Tidak perlu iri, Pak Eko. Bapak juga pasti bisa. Malah Bapak mungkin lebih cepat dari Mas Amat karena Bapak sudah lebih berpengalaman."

Pak Eko tersenyum malu. "Saya tidak tahu, Bu. Saya orangnya susah beradaptasi."

"Adaptasi itu butuh waktu, Pak. Yang penting kemauan untuk mencoba."

Bu Yuni kemudian mengajarkan Pak Eko tentang sistem klasifikasi arsip. Pak Eko mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya, sesekali mengangguk.

"Jadi, setiap berkas harus dicatat di buku register?" tanya Pak Eko.

"Betul, Pak. Setiap berkas yang masuk, catat. Setiap berkas yang keluar, catat. Nanti kita bisa lacak pergerakan berkas."

"Tapi Bu, itu berarti kerja ekstra."

"Memang, Pak. Tapi kerja ekstra di awal akan menghemat waktu di kemudian hari."

Pak Eko menghela napas. "Baik, Bu. Saya coba."

 

Sementara itu, di ruang arsip, Bu Lulu sedang berjuang dengan map-map keuangan yang berantakan.

"Ya Allah, ini semua campur aduk," keluhnya sambil membuka satu map demi satu map. Keringat membasahi keningnya meskipun ruangan itu dingin dan lembab.

Bu Endang, staf administrasi yang pemalu, menghampiri. "Bu, saya bantu."

"Terima kasih, Endang. Kamu tahu cara memisahkan berkas keuangan?"

"Saya belajar dari Bu Yuni kemarin, Bu. Katanya, keuangan dipisah per tahun, lalu per jenis."

Bu Lulu mengangguk. "Baiklah, kita lakukan."

Mereka berdua mulai memisahkan map-map keuangan. Ada yang dari tahun 1995, 1996, 1997, dan seterusnya. Ada yang laporan pertanggungjawaban, ada yang bukti transaksi, ada yang surat perintah membayar.

"Ini Bu, bukti transaksi tahun 1998," kata Bu Endang sambil menyerahkan setumpuk kertas yang sudah menguning.

Bu Lulu menerimanya, lalu memasukkannya ke dalam map yang sudah diberi label "BUKTI TRANSAKSI - 1998".

"Wah, ini pekerjaan besar," keluh Bu Lulu. "Butuh berminggu-minggu untuk merapikan semua ini."

"Tapi Bu, lebih baik daripada dibiarkan berantakan terus," kata Bu Endang.

Bu Lulu menghela napas. "Iya, kamu benar. Mari kita mulai."

 

Sore itu, ketika Bu Yuni sedang sibuk dengan berkas-berkas, Pak Eko dan Pak Santoso terlibat perdebatan kecil.

"Pak Santoso, saya rasa sistem baru ini terlalu rumit," kata Pak Eko sambil memegang buku register yang baru ia buat.

Pak Santoso mengangkat kacamatanya yang turun ke ujung hidung. "Rumit bagaimana, Pak Eko?"

"Lihat, setiap berkas harus dicatat, diberi nomor, diberi label, disimpan di map sesuai warna. Itu banyak sekali langkah."

"Itu untuk memudahkan pencarian, Pak. Buktinya, Si Amat sekarang bisa menemukan berkas dalam hitungan menit."

"Tapi untuk apa kita repot-repot? Dulu juga tidak ada masalah."

"Tidak ada masalah? Pak Darmo hampir kehilangan tanah karena berkasnya hilang. Itu namanya masalah besar."

Pak Eko terdiam. Ia tahu Pak Santoso benar. Namun egonya masih sulit menerima.

Pak Edi yang mendengar perdebatan dari kejauhan mendekat. "Waduh, ada apa ini? Kok rame?"

"Pak Eko bilang sistem Bu Yuni terlalu rumit," kata Pak Santoso.

Pak Edi menatap Pak Eko. "Ko, jujur saja, apa yang membuatmu keberatan?"

Pak Eko menghela napas. "Saya tidak tahu, Pak. Mungkin saya merasa... kemampuan saya diragukan."

"Tidak ada yang meragukan kemampuanmu, Ko," kata Pak Edi. "Bu Yuni justru memberi kita alat untuk bekerja lebih baik."

Pak Eko terdiam. Lalu ia berkata, "Maafkan saya. Saya hanya butuh waktu untuk beradaptasi."

Pak Santoso menepuk bahu Pak Eko. "Tidak apa-apa, Ko. Kita semua butuh waktu."

 

Malam itu, setelah semua orang pulang, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing oranye datang seperti biasa, melompat ke pangkuannya, dan meringkuk di sana.

"Kamu tahu, Din?" panggil Bu Yuni pada dirinya sendiri. "Hari ini ada yang berhasil dan ada yang belum."

Kucing itu mengeong pelan.

"Si Amat berhasil melayani warga dengan cepat. Tapi Pak Eko masih ragu. Sepertinya dia merasa terancam dengan sistem baru."

Kucing itu menggeliat, lalu tidur lagi.

"Aku harus meyakinkan Pak Eko bahwa sistem ini bukan untuk menggantikan dia, tapi untuk membantu dia. Tapi bagaimana caranya?"

Bu Yuni menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit. Malam itu, bulan bersinar terang, hampir purnama. Cahayanya menyinari desa dengan lembut.

"Ya Allah, beri aku hikmah. Beri aku cara untuk menyentuh hati Pak Eko. Aku tidak ingin ada yang merasa tersisih. Kita semua satu tim."

Ia menghela napas. Udara malam dingin menusuk paru-parunya.

"Besok aku akan coba pendekatan yang berbeda. Aku tidak akan memaksakan. Aku akan mengajak dia berdialog, bukan menggurui."

Kucing itu bangun, menggeliat, lalu melompat turun dari pangkuan Bu Yuni. Ia berjalan ke arah pintu, seolah ingin masuk ke dalam.

"Kamu mau tidur di dalam?" tanya Bu Yuni.

Kucing itu mengeong.

"Baiklah, silakan."

Bu Yuni membuka pintu, dan kucing itu masuk dengan santai. Ia langsung melompat ke ujung kasur dan meringkuk di sana.

Bu Yuni tersenyum. "Kamu sudah merasa betah ya? Seperti pemilik rumah saja."

Ia menutup pintu, mematikan lampu, dan merebahkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya lelah, namun pikirannya masih sibuk memikirkan rencana untuk besok.

"Besok akan lebih baik," bisiknya. "Besok akan lebih baik."

 

Keesokan paginya, Bu Yuni datang ke kantor dengan membawa sebuah papan tulis kecil yang ia buat dari triplek bekas. Papan itu berukuran 60x80 sentimeter, dengan permukaan yang sudah dilapisi kertas putih. Ia menempelkan papan itu di dinding samping ruangan.

"Apa itu, Bu?" tanya Si Amat.

"Papan prosedur," jawab Bu Yuni. "Ini akan membantu kita mengingat langkah-langkah pelayanan."

Bu Yuni kemudian menulis dengan spidol hitam di papan itu:

PROSEDUR PELAYANAN ADMINISTRASI DESA AWAN BIRU

1.     Terima berkas dari warga

2.     Cek kelengkapan berkas

3.     Catat di buku register (nomor, tanggal, nama, jenis berkas)

4.     Proses berkas sesuai jenisnya

5.     Catat di buku register saat berkas selesai

6.     Serahkan ke warga

Standar Waktu Pelayanan:

·       Surat keterangan domisili: maksimal 30 menit

·       Surat pengantar KTP/KK: maksimal 1 jam

·       Surat tanah: maksimal 3 hari

·       Surat lainnya: disesuaikan

PROSEDUR PENCARIAN ARSIP:

1.     Cek buku register untuk mengetahui nomor dan lokasi berkas

2.     Cari berdasarkan warna map:

o   Merah: Kependudukan

o   Hijau: Pertanahan

o   Biru: Surat Menyurat

o   Kuning: Arsip Lama

o   Putih: Lain-lain

3.     Cari berdasarkan dusun (untuk kependudukan)

4.     Cari berdasarkan tahun

5.     Catat di buku register jika berkas dipindahkan

Si Amat membaca papan itu dengan saksama. "Wah, Bu, ini seperti rambu-rambu di jalan. Kita jadi tidak bingung."

"Betul, Mas Amat. Dengan prosedur yang jelas, kita tidak perlu berpikir keras setiap kali melayani warga."

Pak Edi yang datang menghampiri. "Bu, ini ide bagus. Tapi apakah semua perangkat desa bisa mengikutinya?"

"Kita akan belajar bersama, Pak. Pelan-pelan."

Pak Eko yang ikut membaca papan itu hanya diam. Namun matanya berbinar—sesuatu yang jarang terjadi.

"Pak Eko, ada yang ingin ditanyakan?" tanya Bu Yuni.

"Tidak, Bu. Saya hanya... terkesan."

Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Pak Eko."

 

Untuk menguji prosedur baru, Bu Yuni meminta Si Amat untuk melayani warga yang datang dengan mengikuti langkah-langkah di papan.

Tidak lama kemudian, seorang warga datang. Namanya Pak Bejo, warga Dusun Kaliwungu, yang ingin mengurus surat pengantar untuk membuat KTP baru karena KTP-nya hilang.

"Selamat pagi, Pak," sapa Si Amat.

"Pagi, Mas. Saya mau bikin surat pengantar KTP. KTP saya hilang."

"Baik, Pak. Bisa tunjukkan berkas-berkasnya?"

Pak Bejo mengeluarkan surat keterangan kehilangan dari kepolisian, KK, dan fotokopi akta kelahiran.

Si Amat memeriksa berkas-berkas itu. Semua lengkap. Lalu ia membuka buku register dan menulis:

*Nomor: 001/SK/III/2001*
Tanggal: 5 Maret 2001
Nama: Bejo Suprapto
Alamat: Dusun Kaliwungu
Jenis Berkas: Surat pengantar KTP
Status: Diproses

"Pak, data Bapak sudah saya catat. Sekarang saya akan proses. Mohon tunggu sekitar 30 menit."

"Wah, cepet amat, Mas. Dulu bisa sejam lebih."

"Itu dulu, Pak. Sekarang sudah ada sistem baru."

Pak Bejo duduk di kursi yang tersedia. Ia mengamati kantor desa yang mulai rapi. Ada map-map berwarna di lemari. Ada papan prosedur di dinding. Ada buku register di meja.

"Kayaknya desa kita mulai maju ya," gumumnya.

Dalam waktu 25 menit, surat pengantar KTP sudah selesai. Si Amat menyerahkannya pada Pak Bejo.

"Ini, Pak. Suratnya. Silakan dilanjutkan ke kecamatan."

Pak Bejo menerima surat itu dengan senyum lebar. "Terima kasih, Mas. Terima kasih."

"Sama-sama, Pak."

Setelah Pak Bejo pergi, Bu Yuni menghampiri Si Amat. "Bagus, Mas Amat. Tepat waktu, bahkan lebih cepat."

"Saya ikuti prosedur Ibu, Bu. Ternyata memang lebih mudah."

"Itu baru permulaan, Mas. Masih banyak yang harus kita pelajari."

 

Melihat keberhasilan Si Amat, Pak Eko akhirnya memberanikan diri untuk mencoba sistem baru.

Seorang warga dating, seorang ibu muda bernama Bu Wati yang ingin mengurus surat keterangan usaha untuk berjualan gorengan di pasar.

"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?" tanya Pak Eko dengan nada ramah, sesuatu yang jarang ia lakukan.

Bu Wati terkejut. Biasanya Pak Eko cuek dan sibuk dengan ponselnya. "Siang, Pak. Saya mau bikin surat keterangan usaha."

"Baik, Bu. Bisa tunjukkan berkas-berkasnya?"

Bu Wati mengeluarkan KTP, KK, dan surat pengantar dari RT.

Pak Eko memeriksa berkas-berkas itu. Lalu ia membuka buku register, buku yang baru ia buat pagi ini, dan menulis dengan rapi.

*Nomor: 002/SKU/III/2001*
Tanggal: 5 Maret 2001
Nama: Wati Susilowati
Alamat: Dusun Gondang
Jenis Berkas: Surat keterangan usaha
Status: Diproses

"Bu, mohon tunggu sekitar 30 menit."

"Baik, Pak."

Pak Eko kemudian memproses surat itu. Tangannya bergerak cepat, lebih cepat dari biasanya. Ia tidak ingin kalah dengan Si Amat.

Dalam waktu 20 menit, surat itu selesai.

"Ini, Bu. Suratnya."

Bu Wati menerimanya dengan mata berbinar. "Wah, cepat sekali, Pak. Terima kasih."

"Sama-sama, Bu."

Setelah Bu Wati pergi, Pak Eko menghela napas lega. Ia menatap Bu Yuni yang sedang tersenyum dari kejauhan.

"Bagus, Pak Eko," kata Bu Yuni.

Pak Eko tersenyum malu. "Ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan, Bu."

"Itu karena Bapak mau mencoba. Selamat, Pak Eko. Bapak telah melewati rintangan pertama."

 

Sabtu sore, setelah seharian bekerja, Bu Yuni mengadakan evaluasi kecil bersama perangkat desa. Mereka berkumpul di ruang tengah, duduk di kursi-kursi plastik yang berjajar melingkar.

"Teman-teman, kita sudah satu minggu menerapkan sistem baru. Saya ingin mendengar pendapat kalian," kata Bu Yuni membuka diskusi.

Si Amat angkat tangan pertama. "Saya merasa lebih mudah bekerja, Bu. Dulu saya sering panik kalau ada warga datang. Sekarang saya tahu persis harus melakukan apa."

Pak Edi mengangguk. "Saya juga merasakan hal yang sama. Prosedur yang jelas membantu kita tidak bingung."

Pak Eko yang duduk di pojok akhirnya angkat bicara. "Jujur, awalnya saya ragu. Tapi setelah mencoba, saya akui sistem ini lebih efektif."

Pak Santoso tersenyum. "Ini baru permulaan, Pak Eko. Masih banyak yang harus kita benahi."

Bu Lulu menambahkan, "Untuk keuangan, saya masih berjuang merapikan arsip lama. Tapi untuk arsip baru, saya sudah pakai sistem Bu Yuni."

Bu Yuni mengangguk. "Bagus. Yang terpenting, kita konsisten. Jangan sampai besok lupa, lalu kembali ke cara lama."

"Tidak akan, Bu," kata Si Amat mantap. "Saya sudah ketagihan rapi."

Semua tertawa. Suasana hangat dan penuh kebersamaan.

Pak Kades Iwan yang ikut dalam evaluasi itu berkata, "Bu Yuni, saya bangga dengan kerja keras Ibu dan teman-teman. Perubahan ini luar biasa."

"Ini berkat kerja sama semua, Pak. Saya hanya memulai."

"Tetap saja, tanpa Ibu, ini tidak akan terjadi."

Bu Yuni tersenyum. Hatinya hangat, namun ia tidak ingin terbuai pujian. Ia tahu perjalanan masih panjang.

 

Malam Minggu itu, Desa Awan Biru terasa lebih sunyi dari biasanya. Mungkin karena banyak warga yang pergi ke kota atau sekadar berkumpul di rumah masing-masing.

Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing oranye, yang sudah ia beri nama "Kuning", tidur di pangkuannya. Udara malam dingin, namun tidak sedingin biasanya. Mungkin karena musim mulai berganti.

"Kuning, kamu tahu? Hari ini aku bahagia," katanya sambil mengelus kepala kucing itu.

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku lihat Pak Eko akhirnya mau berubah. Aku lihat Si Amat semakin percaya diri. Aku lihat Pak Edi lebih serius bekerja. Semuanya mulai bergerak ke arah yang benar."

Kucing itu bergerak sedikit, menyesuaikan posisi.

"Tapi aku juga tahu, ini baru awal. Masih banyak yang harus dibenahi. Masih banyak warga yang belum terlayani dengan baik. Masih banyak berkas lama yang berserakan."

Bu Yuni menatap langit malam. Bintang-bintang bertaburan, bulan bersinar terang.

"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk teman-teman yang mulai percaya. Terima kasih untuk kekuatan yang Engkau berikan."

Ia menutup matanya. Berdoa dalam hati untuk waktu yang lama.

"Besok adalah hari Minggu. Aku akan istirahat. Tapi hari Senin, kita lanjutkan lagi. Perubahan tidak boleh berhenti."

Kucing itu bangun, menggeliat, lalu melompat turun. Ia berjalan ke pintu, menandakan ingin masuk.

"Baik, Kuning. Kita tidur."

Bu Yuni membuka pintu, membiarkan kucing itu masuk. Ia kemudian menutup pintu, mematikan lampu, dan merebahkan tubuhnya di kasur.

Dalam gelap, ia tersenyum. "Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita lanjutkan perjuangan."


Minggu pagi, warung kopi milik Pak Karyo lebih ramai dari biasanya. Banyak warga yang datang untuk sekadar ngobrol sambil menikmati kopi dan gorengan.

Topik pembicaraan hangat adalah perubahan di kantor desa.

"Saya dengar sekarang pelayanan di kantor desa lebih cepat," kata Pak Sugeng sambil meniup kopinya yang masih panas.

"Iya, kata Bu Wati, dia cuma butuh 20 menit untuk bikin surat keterangan usaha," sahut Bu Tini.

"Itu karena ada Sekdes baru," kata Pak Karyo sambil menyodorkan gorengan ke pelanggannya. "Katanya orangnya teliti dan tegas."

Anto yang duduk di pojok ikut nimbrung. "Saya sudah bilang dari awal. Bu Yuni itu orang pilihan."

"Kamu selalu bilang begitu, To. Setiap ada orang baru, kamu bilang 'orang pilihan'," ledek Pak Sugeng.

Anto tersenyum misterius. "Kali ini berbeda, Pak. Saya bisa merasakannya."

Mereka tertawa. Namun di balik tawa itu, ada harapan yang mulai tumbuh. Desa Awan Biru, yang selama ini terkesan jalan di tempat, mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan.


Minggu adalah hari istirahat bagi Bu Yuni. Ia tidak pergi ke kantor. Ia memilih tinggal di rumah, membersihkan rumah kontrakannya, mencuci pakaian, dan memasak untuk seminggu ke depan.

Namun pikirannya tidak bisa lepas dari pekerjaan. Ia membuka buku catatannya, membaca apa yang sudah ia tulis selama seminggu terakhir.

"Hari pertama: meja penuh berkas, sistem belum ada."

"Hari kedua: Pak Darmo marah, berkasnya hampir hilang."

"Hari ketiga: mulai klasifikasi arsip, Si Amat mulai serius."

"Hari keempat: papan prosedur, Pak Eko mulai berubah."

"Hari kelima: pelayanan lebih cepat, warga mulai puas."

"Hari keenam: evaluasi, semuanya optimis."

Ia tersenyum membaca catatannya. "Perubahan memang tidak instan. Tapi kalau kita konsisten, hasilnya akan terlihat."

Ia kemudian menulis catatan baru:

"Minggu pertama: fondasi sudah mulai dibangun. Sistem sudah mulai berjalan. Tantangan ke depan: konsistensi dan perluasan sistem ke semua aspek."

Ia menutup buku itu dan merebahkan diri di kasur. Kucing Kuning tidur di sampingnya, mendengkur pelan.

"Besuk, Kuning. Besuk kita mulai lagi."


Senin pagi, Bu Yuni datang ke kantor dengan semangat baru. Ia sudah menyusun rencana untuk minggu kedua: fokus pada penataan arsip lama.

"Mas Amat, minggu ini kita akan fokus pada arsip lama," katanya.

"Arsip lama, Bu? Yang di map kuning?"

"Betul. Arsip dari tahun 1990 ke bawah. Sebagian sudah rapuh, ada yang sudah dimakan rayap. Kita harus segera menyelamatkannya."

"Caranya bagaimana, Bu?"

"Kita pindahkan ke map baru. Kita beri label yang jelas. Lalu kita simpan di tempat yang lebih aman."

Si Amat mengangguk. "Siap, Bu. Saya bantu."

Mereka berdua kemudian membuka lemari arsip dan mengeluarkan map-map kuning yang penuh debu. Debu beterbangan, membuat mereka bersin-bersin.

"Wah, Bu, ini debu sudah bertahun-tahun tidak tersentuh," kata Si Amat sambil mengucek mata.

"Itulah masalahnya, Mas. Arsip tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus dirawat."

Mereka mulai membuka map satu per satu. Setiap map berisi puluhan berkas dari tahun 1990-an. Ada surat tanah, akta kelahiran, kartu keluarga, dan berbagai dokumen penting lainnya.

"Ini Bu, akta kelahiran tahun 1991," kata Si Amat sambil menunjukkan selembar kertas yang sudah menguning.

Bu Yuni menerimanya, memeriksa dengan teliti. "Masih bisa diselamatkan. Kita pindahkan ke map baru, lalu kita lapisi dengan plastik."

"Plastik, Bu?"

"Iya, plastik transparan. Supaya tidak cepat rusak."

Si Amat mengangguk. "Saya cari plastiknya di warung, Bu."

"Baik, beli yang tebal."

Si Amat bergegas pergi ke warung Pak Karyo untuk membeli plastik. Bu Yuni melanjutkan memisahkan berkas-berkas.

Pak Edi yang melihat dari kejauhan mendekat. "Bu, perlu bantuan?"

"Kalau Bapak tidak sibuk, bisa bantu saya memisahkan berkas-berkas ini."

Pak Edi duduk di samping Bu Yuni. "Saya kagum, Bu. Ibu bekerja tanpa kenal lelah."

"Ini panggilan hati, Pak. Saya merasa terpanggil untuk membereskan ini."

"Panggilan hati?" Pak Edi mengernyit.

"Iya, Pak. Saya percaya setiap orang punya panggilan masing-masing. Ada yang jadi guru, ada yang jadi dokter, ada yang jadi petani. Saya... saya merasa dipanggil untuk mengurus administrasi."

Pak Edi terdiam. Lalu ia berkata, "Saya tidak pernah berpikir seperti itu, Bu. Bagi saya, kerja ya kerja. Tapi setelah melihat Ibu, saya mulai berpikir ulang."

"Bagus, Pak Edi. Mulailah mencari panggilan Bapak."

Pak Edi tersenyum. "Saya akan coba, Bu."


Sore itu, ketika Bu Yuni dan timnya sedang asyik merapikan arsip lama, mereka menemukan kendala. Beberapa berkas sudah tidak terbaca karena tinta yang luntur dan kertas yang rapuh.

"Ini Bu, akta kelahiran tahun 1985. Tulisannya sudah hampir hilang," kata Pak Santoso sambil menunjukkan selembar kertas yang nyaris hancur.

Bu Yuni memeriksa dengan teliti. "Masih ada sisa tinta. Kita bisa coba baca dengan kaca pembesar."

"Kaca pembesar, Bu? Kita tidak punya."

Bu Yuni berpikir sejenak. "Pak Santoso, tolong pinjam ke SD terdekat. Biasanya guru-guru punya kaca pembesar untuk pelajaran IPA."

Pak Santoso mengangguk dan bergegas pergi. Setengah jam kemudian, ia kembali dengan membawa kaca pembesar pinjaman dari SD Negeri 1 Awan Biru.

Bu Yuni menggunakan kaca pembesar itu untuk membaca berkas-berkas yang tulisannya sudah luntur. Matanya menyipit, berkonsentrasi penuh.

"Alhamdulillah, masih terbaca," katanya setelah berhasil membaca satu berkas.

Ia kemudian menulis ulang data dari berkas itu ke kertas baru, lalu menyimpannya di map baru.

"Ini harus kita lakukan untuk semua berkas yang rusak," katanya.

"Tapi Bu, itu butuh waktu berbulan-bulan," kata Pak Santoso.

"Tidak apa-apa, Pak. Lebih baik lambat tapi selamat, daripada cepat tapi asal-asalan."

Pak Santoso mengangguk. "Baik, Bu. Kita lakukan."

 

Malam itu, setelah bekerja seharian merapikan arsip lama, Bu Yuni merasa sangat lelah. Matanya perih karena membaca tulisan-tulisan yang luntur. Punggungnya pegal karena duduk membungkuk berjam-jam.

Ia pulang ke rumah kontrakannya dengan langkah gontai. Kucing Kuning menyambutnya di depan pintu, mengeong-ngeong meminta makan.

"Sabarlah, Kuning. Aku juga belum makan," katanya sambil membuka pintu.

Ia masuk ke dapur, memanaskan nasi sisa kemarin, lalu makan dengan lauk seadanya—tempe goreng dan sambal terasi. Sederhana, tapi mengenyangkan.

Setelah makan, ia duduk di beranda. Kuning melompat ke pangkuannya.

"Hari ini berat, Kuning. Tapi aku senang. Banyak berkas yang berhasil diselamatkan."

Kucing itu mengeong pelan.

"Besok kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak akan menyerah."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah tanpa awan. Bintang-bintang terlihat sangat jelas, seperti berlian yang bertaburan di atas kain beludru hitam.

"Ya Allah, terima kasih untuk kekuatan hari ini. Besok, beri aku kekuatan lagi."

Ia memejamkan mata. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dari kejauhan. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru."


Selasa pagi, Pak Kades Iwan menerima telepon dari kecamatan. Kabar baik: Desa Awan Biru terpilih sebagai salah satu desa yang akan menerima bantuan buku register dan map arsip dari Pemerintah Kabupaten.

"Bu Yuni, kabar baik!" seru Pak Iwan sambil keluar dari ruangannya.

"Apa itu, Pak?"

"Kita dapat bantuan buku register dan map arsip dari kabupaten. Lima puluh buku register dan dua ratus map."

Bu Yuni terkejut. "Wah, luar biasa, Pak. Itu sangat membantu."

"Kata camat, ini karena desa kita mulai menunjukkan kemajuan dalam administrasi."

Bu Yuni tersenyum. "Ini berkat kerja sama kita semua, Pak."

Pak Iwan menggeleng. "Tidak, Bu. Ini berkat Ibu. Tanpa Ibu, tidak akan ada kemajuan."

Bu Yuni tidak ingin berdebat. Ia hanya tersenyum dan kembali bekerja.

Si Amat yang mendengar kabar itu bersorak kecil. "Yes! Kita dapat bantuan!"

Pak Edi ikut bergembira. "Ini baru namanya perubahan. Dulu kita tidak pernah dapat bantuan apa-apa."

Pak Eko mengangguk. "Saya mulai percaya, Bu Yuni memang membawa berkah."

Bu Yuni tersenyum. "Bukan saya, Pak. Ini kerja keras kita semua."

 

Karena bantuan dari kabupaten akan datang dalam waktu dekat, Bu Yuni mempersiapkan tempat penyimpanan yang layak.

"Mas Amat, tolong bersihkan lemari arsip nomor 3 dan 4. Nanti kita gunakan untuk menyimpan map-map baru."

"Siap, Bu!"

Si Amat dan Pak Edi membersihkan lemari-lemari itu. Mereka mengelap debu, membersihkan rayap, dan memperbaiki engsel yang rusak.

Bu Lulu dan Bu Endang menyiapkan buku register baru. Mereka memberi nomor pada setiap buku, lalu menuliskan jenis arsip yang akan dicatat.

Pak Santoso dan Pak Eko menyusun rencana penempatan map-map baru berdasarkan klasifikasi yang sudah dibuat Bu Yuni.

Semua bekerja dengan semangat. Ada kebanggaan yang tidak diucapkan, tetapi terasa di udara.

"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu Yuni sambil memandang mereka semua. "Kita mulai dari nol, dan sekarang kita sudah punya sistem yang rapi."

"Semua karena Ibu, Bu," kata Si Amat.

"Bukan, Mas Amat. Ini karena kita mau berubah. Tanpa kemauan itu, saya tidak akan bisa berbuat apa-apa."

Pak Kades Iwan yang mendengar itu tersenyum. "Bu Yuni, Ibu adalah pemimpin sejati."

Bu Yuni tersenyum malu. "Saya hanya hamba Allah yang ingin mengabdi, Pak."


Malam itu, Pak Kades Iwan duduk di ruang kerjanya. Ia membuka jendela, membiarkan angin malam masuk. Udara dingin menusuk wajahnya, namun ia tidak merasa dingin. Pikirannya sedang hangat.

Ia mengingat kembali perjalanannya sebagai kepala desa. Enam bulan pertama penuh frustrasi. Tidak ada perubahan yang berarti. Warga kecewa. Perangkat desa malas. Sistem berantakan.

Kemudian Bu Yuni datang. Dan semuanya mulai berubah.

"Ibu Yuni," bisiknya. "Terima kasih."

Ia menatap foto istrinya di atas meja. "Sri, kamu lihat? Desa kita mulai berubah. Mungkin tidak secepat yang kita harapkan, tapi setidaknya ada arah."

Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak menyeka.

"Ya Allah, terima kasih untuk Bu Yuni. Terima kasih untuk perubahan yang mulai terjadi. Terima kasih untuk harapan yang kembali tumbuh."

Ia memejamkan mata. Berdoa untuk waktu yang lama.

Ketika membuka mata, bulan sudah bergeser ke barat. Malam semakin larut.

"Besok adalah hari baru," bisiknya. "Besok kita lanjutkan."


 

Rabu pagi, kabut tebal masih menyelimuti Desa Awan Biru. Namun di kantor desa, lampu sudah menyala sejak pukul 06.00.

Bu Yuni sudah ada di sana, bersama Si Amat dan Pak Edi. Mereka sedang menyiapkan lemari-lemari untuk menyimpan bantuan yang akan datang.

"Bu, kabarnya bantuan akan datang siang ini," kata Si Amat.

"Iya, Mas. Kita harus siap."

Pukul 10.00, sebuah truk kecil berwarna hijau berhenti di depan kantor desa. Dari dalam truk itu, dua orang menurunkan beberapa dus besar berisi buku register dan map arsip.

"Selamat pagi, kami dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa," kata sopir truk itu. "Ini bantuan untuk Desa Awan Biru."

"Terima kasih, Pak," kata Bu Yuni sambil menandatangani surat penerimaan.

Mereka kemudian membongkar dus-dus itu. Lima puluh buku register dengan sampul biru tebal. Dua ratus map arsip dengan berbagai warna: merah, hijau, biru, kuning, dan putih.

"Wah, lengkap, Bu!" seru Si Amat.

"Ini berkah, Mas Amat. Mari kita susun."

Mereka beramai-ramai menyusun map-map itu di lemari. Setiap map diberi label sesuai klasifikasi. Buku register disimpan di rak khusus.

Pukul 12.00, semua sudah rapi. Bu Yuni memandang lemari-lemari yang sekarang penuh dengan map berwarna-warni. Ada rasa bangga yang tidak bisa ia ungkapkan.

"Ini baru permulaan," katanya. "Masih banyak yang harus kita lakukan."

"Tapi setidaknya kita sudah mulai, Bu," kata Pak Edi.

Bu Yuni mengangguk. "Iya, Pak. Kita sudah mulai."

 

Sore itu, setelah semua bantuan tersusun rapi, Bu Yuni duduk di mejanya. Ia merasa sangat lelah, namun hatinya penuh.

Ia membuka buku catatannya dan menulis:

"Hari kesepuluh: Bantuan dari kabupaten datang. Lima puluh buku register, dua ratus map arsip. Semua sudah tersusun rapi. Perangkat desa bekerja dengan semangat. Warga mulai merasakan perubahan. Alhamdulillah."

Ia menutup buku itu dan tersenyum.

Si Amat mendekat. "Bu, Ibu sudah makan siang?"

"Belum, Mas. Lupa."

"Wah, jangan lupa makan, Bu. Nanti sakit."

Bu Yuni tersenyum. "Iya, Mas. Nanti saya makan."

Si Amat mengeluarkan bungkusan dari sakunya. "Ini, Bu. Saya belikan gorengan di warung Pak Karyo. Makan dulu."

Bu Yuni terharu. "Terima kasih, Mas Amat."

"Jangan sampai Ibu sakit, Bu. Desa ini butuh Ibu."

Bu Yuni menerima bungkusan itu. Di dalamnya ada pisang goreng dan tempe goreng yang masih hangat.

Ia makan dengan lahap. Rasa lelah perlahan berganti dengan rasa syukur.

"Mas Amat," katanya setelah selesai makan.

"Iya, Bu?"

"Kamu sudah banyak berubah. Saya bangga."

Si Amat tersenyum malu. "Karena Ibu, Bu. Ibu yang mengubah saya."

"Bukan, Mas. Kamu yang mengubah dirimu sendiri. Saya hanya menunjukkan jalannya."

Si Amat mengangguk. "Terima kasih, Bu. Saya tidak akan mengecewakan."

 

Sore itu, Anto mampir ke kantor desa. Truknya sedang tidak jalan karena ban bocor, jadi ia punya waktu luang untuk ngobrol.

"Bu Yuni, saya lihat kantor sekarang rapi," katanya sambil duduk di kursi yang tersedia.

"Terima kasih, To. Ini kerja keras semua."

"Saya jadi ingat truk saya, Bu."

"Maksudmu?"

"Truk itu kalau rapi dan terawat, jalannya enak. Tidak mudah mogok. Tapi kalau kotor dan tidak dirawat, sering mogok di jalan. Sama seperti administrasi desa. Kalau rapi, semuanya lancar. Kalau berantakan, ya sering 'mogok'."

Bu Yuni tertawa. "Filosofi yang bagus, To. Kamu seharusnya jadi filsuf, bukan sopir truk."

Anto tersenyum misterius. "Sopir truk juga bisa jadi filsuf, Bu. Filsuf jalanan."

Mereka tertawa bersama. Suasana sore itu hangat dan penuh tawa.

 

Kamis pagi, Bu Yuni dihadapkan pada tantangan baru. Beberapa warga datang mengeluh karena surat keterangan yang mereka terima dari kantor desa ditolak oleh kecamatan.

"Bu, kata kecamatan, surat dari desa harus pakai materai," kata seorang warga bernama Pak Kusnadi.

"Tapi, Pak, aturan baru mengatakan surat desa tidak perlu materai," jawab Bu Yuni.

"Tapi kata kecamatan harus, Bu. Saya bingung."

Bu Yuni menghela napas. Ini masalah koordinasi antara desa dan kecamatan. Aturan di tingkat kabupaten sering tidak sinkron dengan pelaksanaan di lapangan.

"Baik, Pak. Saya akan koordinasikan dengan kecamatan. Sementara, Bapak bisa membeli materai dulu. Nanti kalau aturannya berubah, Bapak bisa minta ganti."

Pak Kusnadi mengangguk. "Baik, Bu. Saya cari materai dulu."

Setelah warga itu pergi, Bu Yuni langsung menghubungi kecamatan. Ternyata benar, ada aturan baru yang belum disosialisasikan dengan baik.

"Bu Yuni, maaf. Itu kesalahan kami. Surat desa memang tidak perlu materai," kata staf kecamatan.

"Baik, Pak. Tolong segera sosialisasikan ke desa-desa lain, supaya warga tidak bingung."

"Iya, Bu. Kami akan lakukan."

Bu Yuni menutup telepon. Ia menghela napas. Ini adalah tantangan lain dalam pekerjaannya: tidak hanya mengurus administrasi internal, tapi juga berkoordinasi dengan pihak luar.

 

Sore itu, Bu Yuni mengumpulkan semua perangkat desa. Ia ingin membahas masalah surat materai.

"Teman-teman, hari ini kita belajar sesuatu. Aturan bisa berubah kapan saja. Tugas kita adalah selalu update."

Pak Eko mengangguk. "Tapi Bu, bagaimana caranya update kalau sosialisasi dari kecamatan lambat?"

"Kita harus proaktif, Pak. Jangan menunggu kabar dari kecamatan. Kita sendiri yang mencari tahu."

"Caranya?"

"Bisa dengan sering menghubungi kecamatan, membaca peraturan yang baru keluar, atau mengikuti pelatihan-pelatihan."

Pak Santoso menambahkan, "Atau bisa juga dengan bertanya pada LSM seperti Pundi Desa."

Bu Yuni mengangguk. "Betul, Pak. Ada banyak cara. Yang penting, kita tidak boleh cepat puas."

Si Amat yang sejak tadi diam angkat bicara. "Bu, saya jadi ingat kata Ibu dulu: 'Perubahan itu tidak instan.' Ternyata benar."

Bu Yuni tersenyum. "Iya, Mas Amat. Perubahan itu proses. Dan dalam proses itu, kita akan terus belajar."

 

Malam itu, setelah seharian bekerja, Bu Yuni duduk di beranda rumahnya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur pelan.

"Kuning, hari ini aku belajar sesuatu yang baru."

Kucing itu tidak bergerak.

"Ternyata, menjadi sekdes itu tidak hanya soal merapikan berkas. Tapi juga soal berkoordinasi dengan pihak luar, soal mengikuti perkembangan aturan, soal menjadi jembatan antara desa dan kecamatan."

Ia menghela napas. Udara malam dingin, namun tidak sedingin biasanya. Mungkin karena musim semi sudah mulai datang.

"Tapi aku tidak menyesal. Setiap hari ada tantangan baru. Setiap hari ada pelajaran baru. Dan setiap hari, aku merasa lebih berguna."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah tanpa awan. Bintang-bintang terlihat sangat jelas.

"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Besok, beri aku kekuatan untuk menghadapi tantangan baru."

Ia memejamkan mata. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga melati dari kebun tetangga.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita lanjutkan lagi."


Jumat pagi, sebelum berangkat ke kantor, Bu Yuni mampir ke masjid untuk shalat Jumat. Masjid desa penuh dengan jamaah. Warga berbondong-bondong datang, memenuhi ruangan utama hingga halaman.

Setelah shalat, ia bertemu dengan Pak Darmo. Wajah Pak Darmo sekarang lebih cerah dari sebelumnya. Kerutan di dahinya sudah tidak sedalam dulu.

"Bu Yuni, saya mau lapor," kata Pak Darmo sambil tersenyum.

"Lapor apa, Pak?"

"Berkas tanah saya sudah jadi. Kemarin saya terima dari kecamatan. Terima kasih, Bu."

Bu Yuni tersenyum lega. "Alhamdulillah, Pak. Saya turut bahagia."

"Ini semua karena Ibu, Bu. Tanpa Ibu, berkas saya mungkin masih hilang."

"Bukan saya, Pak. Ini kerja sama tim."

Pak Darmo menggeleng. "Ibu terlalu rendah hati. Tapi saya tahu, Ibu yang memulai semuanya."

Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

"Bu Yuni, saya titip pesan," kata Pak Darmo.

"Pesan apa, Pak?"

"Jangan pernah berubah. Desa ini butuh Ibu."

Bu Yuni mengangguk. "Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha."

 

Sabtu sore, setelah seharian bekerja, Bu Yuni mengadakan evaluasi lagi. Kali ini, semua perangkat desa hadir.

"Teman-teman, kita sudah melewati minggu kedua. Ada kemajuan, tapi juga ada kendala. Saya ingin mendengar pendapat kalian."

Pak Edi angkat bicara. "Saya rasa kita sudah lebih rapi dari sebelumnya. Tapi masih banyak arsip lama yang belum tertata."

Pak Santoso menambahkan, "Saya setuju. Arsip lama masih jadi PR besar."

Bu Lulu berkata, "Untuk keuangan, saya sudah mulai merapikan. Tapi butuh waktu."

Pak Eko, yang sekarang sudah lebih terbuka, angkat bicara. "Saya rasa kita perlu prioritas. Mana yang paling mendesak, kita kerjakan dulu."

Bu Yuni mengangguk. "Setuju. Prioritas utama adalah arsip-arsip yang sering dipakai warga: kependudukan dan pertanahan."

Si Amat mengangkat tangan. "Bu, saya usul kita buat jadwal. Senin-Rabu: fokus pada kependudukan. Kamis-Sabtu: fokus pada pertanahan."

"Usul yang bagus, Mas Amat. Kita coba minggu depan."

Pak Kades Iwan yang ikut dalam evaluasi itu berkata, "Saya bangga dengan semangat kalian. Teruskan."

Bu Yuni menatap semua perangkat desa. Matanya berbinar.

"Teman-teman, kita sudah melewati rintangan pertama. Tapi perjalanan masih panjang. Mari kita terus bergerak. Jangan berhenti."

Mereka mengangguk serempak.

"Karena perubahan," lanjut Bu Yuni, "tidak akan pernah terjadi jika kita hanya diam."

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumahnya untuk yang terakhir kalinya di minggu ini. Besok adalah Minggu, hari istirahat. Tapi pikirannya sudah melayang ke Senin.

Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur dengan tenang.

"Dua minggu sudah, Kuning. Dua minggu yang melelahkan, tapi juga membahagiakan."

Kucing itu tidak bergerak.

"Aku belajar banyak. Tentang kesabaran, tentang ketekunan, tentang bagaimana mengubah kebiasaan lama."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan sabit tipis menggantung di ufuk barat.

"Ya Allah, terima kasih untuk dua minggu ini. Terima kasih untuk teman-teman yang mulai percaya. Terima kasih untuk warga yang mulai merasakan perubahan."

Ia menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya. Bukan karena sedih, tapi karena haru.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan. Tapi aku percaya, Engkau selalu menyertaiku."

Ia membuka matanya. Bintang-bintang terlihat lebih terang dari sebelumnya.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."

Ia masuk ke dalam rumah, membaringkan tubuhnya di kasur. Kucing Kuning tidur di sampingnya.

Dalam gelap, ia tersenyum. "Perubahan itu nyata, Kuning. Dan aku adalah bagian darinya."


BAB 4

RAPAT YANG PENUH DRAMA DAN CANDA

Hari itu, langit Desa Awan Biru terlihat lebih cerah dari biasanya. Matahari bersinar terang sejak pukul 07.00, kabut sudah hilang sama sekali, sebuah keanehan untuk desa yang berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Biasanya, kabut baru benar-benar hilang menjelang pukul 09.00. Namun hari itu berbeda. Seolah-olah alam ikut bersiap untuk sesuatu yang penting.

Burung-burung berkicau lebih riuh dari biasanya. Ayam-ayam berkokok bersahutan dengan nada yang terdengar lebih bersemangat. Bahkan angin yang berhembus pun terasa lebih segar, membawa aroma tanah basah dan dedaunan dari kebun-kebun warga.

Di kantor desa, suasana justru sebaliknya, tegang, padat, dan penuh ekspektasi. Sejak pukul 06.00, perangkat desa sudah mulai berdatangan. Mereka tahu bahwa hari ini adalah hari yang penting: rapat evaluasi kinerja pemerintahan desa yang dihadiri oleh warga, tokoh masyarakat, dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Si Amat datang paling awal, pukul 06.15. Ia langsung membersihkan ruangan, menyapu lantai yang masih berdebu, mengelap meja-meja, dan menata kursi-kursi plastik warna hijau dan biru yang akan digunakan untuk rapat. Biasanya ia malas melakukan pekerjaan seperti ini, tapi hari ini ia bersemangat.

"Wah, Mat, lo datang pagi banget," sapa Pak Edi yang datang pukul 06.30 sambil membawa termos kopi kesayangannya, termos aluminium berwarna merah marun yang sudah penyok di sana-sini karena sering jatuh.

"Iya, Pak. Hari ini kan rapat besar. Harus siap."

Pak Edi tersenyum sambil menuang kopi ke gelas plastik. "Lo sekarang jadi rajin, Mat. Dulu mana pernah lo peduli sama kebersihan ruangan."

"Saya malu sama Bu Yuni, Pak. Ibu itu rajin banget. Saya jadi ikut-ikutan rajin."

"Wah, efek Bu Yuni. Hebat."

Pukul 06.45, Bu Yuni tiba. Ia terkejut melihat ruangan sudah rapi dan kursi-kursi sudah tertata. "Mas Amat, Bapak sudah bersih-bersih?"

"Iya, Bu. Saya datang pagi."

"Terima kasih, Mas Amat. Bapak hebat."

Si Amat tersenyum bangga. Dadanya membusung seperti merak yang sedang memamerkan bulunya. "Senang bisa membantu, Bu."

Pak Eko datang pukul 07.00, diikuti Pak Santoso, Bu Lulu, dan lainnya. Semua sudah bersiap. Mereka mengenakan seragam batik yang jarang dipakai, batik coklat dengan motif parang yang sudah agak luntur karena jarang dicuci. Wajah mereka serius, namun ada kegugupan yang tidak bisa disembunyikan.

"Pak Eko, Bapak siap?" tanya Bu Yuni.

"Insya Allah, Bu. Saya sudah siapkan data perencanaan."

"Pak Santoso?"

"Siap, Bu. Data pemerintahan sudah saya rapiin."

"Bu Lulu?"

"Keuangan sudah, Bu. Walaupun masih ada yang kurang."

Bu Yuni mengangguk. "Yang penting kita sudah berusaha maksimal. Sisanya, kita serahkan pada Allah."

 

Pukul 08.00, warga mulai berdatangan. Mereka datang dari berbagai dusun: Krajan, Ngemplak, Kaliwungu, dan Gondang. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik sepeda motor tua yang bunyinya seperti hendak copot, ada juga yang naik andong, kereta kuda yang masih bertahan di desa itu meskipun zaman sudah modern.

Balai desa yang berukuran 12x8 meter mulai terisi. Lantainya ubin hitam putih yang sudah retak di beberapa bagian, retakan yang sudah bertahun-tahun tidak diperbaiki, hanya ditutupi karpet plastik tipis. Kursi-kursi plastik warna hijau dan biru berjajar dalam lima baris, masing-masing baris berisi sepuluh kursi. Di depan, ada meja panjang untuk para pembicara: Pak Kades Iwan, Bu Yuni, dan perwakilan BPD. Papan tulis putih di depan sudah dibersihkan oleh Si Amat, meskipun masih ada bekas-bekas spidol yang tidak bisa dihapus. Spidol yang tersedia hanya dua: satu hitam yang tintanya sudah mulai pudar, satu biru yang masih lumayan bagus.

Udara di dalam balai desa terasa pengap karena ventilasi hanya dua di dinding belakang, masing-masing berukuran 50x50 sentimeter dengan kawat nyamuk yang sudah bolong-bolong. Beberapa warga mulai mengipas-ngipas dengan koran bekas atau kardus bekas mi instan. Bau kopi dan gorengan dari warung Pak Karyo ikut masuk lewat celah pintu dan jendela, bercampur dengan bau keringat dan parfum murah yang disemprotkan secara berlebihan oleh beberapa warga yang ingin tampil harum.

"Rame juga ya," kata Pak Karyo yang ikut hadir, meskipun warungnya sedang buka, ia titipkan pada istrinya yang setia menemani di warung. Badannya yang tambun membuat kursi plastik tempatnya duduk terlihat meringis menahan beban.

"Iya, Pak. Ini rapat penting. Soalnya evaluasi kinerja," sahut Pak Sugeng yang duduk di sampingnya. Wajahnya yang tipis dengan kumis yang tidak pernah dicukur rapi itu tampak serius.

"Semoga ada hasilnya," kata Bu Tini yang duduk di baris belakang sambil menggendong cucunya yang masih balita. Cucu itu sesekali merengek, tapi Bu Tini dengan sabar membujuknya dengan permen yang ia bawa dari rumah.

Di barisan tengah, Pak Darmo duduk dengan tenang. Wajahnya tidak lagi tegang seperti beberapa minggu lalu. Ia bahkan tersenyum ketika melihat Bu Yuni sibuk mempersiapkan berkas-berkas di meja depan.

"Pak Darmo, kelihatan senang hari ini," sapa Pak Bejo, tetangganya, yang duduk di sampingnya.

"Iya, Jo. Berkas tanah saya sudah jadi. Semua berkat Bu Yuni."

"Wah, bagus itu. Berarti Ibu Sekdes baru memang beda."

"Beda, Jo. Beda banget."

Di pojok ruangan, Anto si sopir truk duduk santai sambil menyilangkan kaki. Jaket kulitnya yang lusuh, dengan robekan di siku kanan dan noda oli di beberapa tempat dikenakan meskipun udara sudah mulai hangat. Matanya menyipit, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Sesekali ia mengangguk-angguk sendiri, lalu tersenyum misterius.

"Anto, lo kok senyum-senyum sendiri? Lagi lihat setan?" ledek Pak Edi yang kebetulan lewat.

Anto tidak tersinggung. Ia hanya menjawab dengan tenang, "Saya sudah firasat dari semalam... hari ini bakal ada yang 'panas'."

"Wah, mulai lagi itu ramalan," sahut Pak Edi sambil tertawa. "Lo mau jadi dukun, To? Buka praktik ramalan aja."

"Saya bukan dukun, Pak. Saya hanya... peka."

"Peka sama apa?"

"Peka sama energi."

Pak Edi menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan menjauh. "Energi-energian lagi. Nggak ketulungan."

Namun beberapa warga yang mendengar perkataan Anto mulai merasa was-was. "Panas" dalam bahasa Anto bisa berarti apa saja: pertengkaran, perdebatan, atau bahkan skandal. Apalagi Anto terkenal dengan ramalannya yang kadang-kadang tepat, meskipun banyak yang menganggapnya kebetulan belaka.

"Mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa," gumam Bu Tini sambil menggendong cucunya lebih erat.

 

Pukul 08.30, semua kursi sudah terisi. Bahkan beberapa warga terpaksa berdiri di belakang karena kursi tidak mencukupi. Pak Santoso dengan sigap mengambil kursi cadangan dari ruang arsip, kursi-kursi kayu tua yang kakinya sudah tidak rata, sehingga jika diduduki akan bergoyang-goyang.

Pak Kades Iwan berdiri di depan meja. Wajahnya serius, namun matanya berbinar. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna hijau tua dengan motif lereng yang rapi. Rambutnya yang mulai beruban disisir rapi ke belakang dengan minyak rambut wangi. Di dadanya, tersemat pin kecil bergambar Garuda Pancasila, simbol bahwa ia adalah kepala desa.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," suaranya menggema di ruangan yang mulai sunyi.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab hadirin, sebagian serempak, sebagian terlambat setengah detik karena tidak konsentrasi.

"Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, kita dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat wal afiat."

"Aamiin," jawab mereka.

"Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman."

"Aamiin ya rabbal 'alamin."

Pak Kades mengambil napas sejenak. Ia memandang seluruh ruangan, matanya menyapu dari baris depan hingga baris belakang. "Terima kasih atas kehadiran Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Hari ini kita akan membahas evaluasi pelayanan desa, khususnya administrasi yang selama ini menjadi perhatian kita bersama."

Beberapa warga mengangguk-angguk. Ada yang berbisik-bisik, "Nah, ini dia. Yang kita tunggu-tunggu."

"Seperti kita ketahui," lanjut Pak Kades, "beberapa minggu terakhir ini, kita telah melakukan pembenahan di bidang administrasi. Kita memiliki Sekretaris Desa baru, Ibu Yuniarti, yang biasa kita panggil Bu Yuni. Beliau telah bekerja keras bersama perangkat desa untuk merapikan sistem administrasi kita."

Pak Kades menunjuk ke arah Bu Yuni yang duduk di sampingnya. "Untuk itu, saya persilakan Bu Yuni untuk menyampaikan paparannya."

 

Bu Yuni berdiri dengan tenang. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, kemeja yang sama sejak hari pertamanya bekerja, karena ia hanya memiliki tiga stel baju kerja, rok hitam selutut, dan sepatu pantofel hitam yang sudah mulai usang. Rambutnya disanggul rapi dengan jepit sederhana. Tidak ada riasan berlebihan di wajahnya. Sederhana, namun bersinar.

Ia membawa map tebal berisi catatan-catatan yang ia tulis selama tiga minggu terakhir. Map itu berwarna biru, dengan label "EVALUASI ADMINISTRASI - AWAN BIRU" yang ditulis tangan dengan rapi menggunakan spidol hitam.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapanya.

"Waalaikumsalam," jawab hadirin.

"Terima kasih, Pak Kades, atas sambutannya. Terima kasih juga kepada Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian yang telah meluangkan waktu untuk hadir di sini."

Ia menatap seluruh ruangan. Matanya menyapu dari baris depan hingga baris belakang, seolah ingin memastikan setiap orang mendengarnya.

"Saya akan langsung pada inti. Selama tiga minggu terakhir, kami telah melakukan beberapa pembenahan di bidang administrasi. Di antaranya: klasifikasi arsip berdasarkan jenis dan dusun, pencatatan keluar-masuk berkas dengan buku register, serta penyusunan prosedur pelayanan."

Ia membuka map-nya, mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah ia siapkan. "Hasilnya, waktu pelayanan untuk surat keterangan domisili berhasil kita turunkan dari rata-rata 1-2 jam menjadi maksimal 30 menit. Bahkan beberapa kali hanya 15-20 menit."

Warga mulai berbisik-bisik. "Wah, cepet banget," kata seorang ibu di baris belakang.

"Surat pengantar KTP dari yang biasanya 2-3 jam, menjadi maksimal 1 jam. Surat tanah dari yang biasanya berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, menjadi maksimal 3 hari."

Suasana mulai hangat. Beberapa warga bertepuk tangan kecil.

"Namun," lanjut Bu Yuni, "kami juga menemukan beberapa kendala. Pertama, arsip lama yang belum tertata dengan baik. Kedua, kurangnya koordinasi dengan kecamatan. Ketiga, masih adanya warga yang tidak membawa kelengkapan berkas."

Pak Didit, Ketua BPD, yang duduk di baris depan mengangkat tangan. Tangannya terangkat tegas, seperti palu hakim yang siap memvonis. Wajahnya tegas, bibir tipis, dan matanya menyipit seperti sedang mencari-cari kesalahan.

"Maaf, Bu Sekdes. Saya ingin bertanya."

"Silakan, Pak Didit."

"Ibu bilang waktu pelayanan surat tanah menjadi maksimal 3 hari. Tapi saya dengar dari warga, Pak Darmo misalnya, mengurus tanahnya sampai berminggu-minggu."

Suasana langsung berubah. Beberapa warga menoleh ke arah Pak Darmo. Pak Darmo sendiri hanya tersenyum tipis, tidak terprovokasi.

Bu Yuni menjawab dengan tenang. "Betul, Pak Didit. Kasus Pak Darmo memang memakan waktu berminggu-minggu. Namun itu karena kami harus mencari berkasnya yang hilang di arsip lama. Setelah berkas ditemukan, proses selanjutnya hanya butuh 3 hari."

"Jadi, sistem baru Ibu belum sempurna?"

"Sistem apa pun tidak akan sempurna dalam waktu singkat, Pak. Tapi kami terus berbenah. Dan target kami, ke depan, semua surat tanah bisa diproses maksimal 3 hari."

Pak Didit tidak puas. "Lalu bagaimana dengan arsip lama yang masih berantakan? Kapan akan selesai?"

Bu Yuni menarik napas. "Kami menargetkan dalam 6 bulan ke depan, semua arsip lama sudah tertata dengan baik. Tapi itu tergantung pada sumber daya yang kami miliki. Saat ini kami hanya punya 12 perangkat desa, dan sebagian besar masih harus melayani warga setiap hari."

Pak Didit bersandar di kursinya. "6 bulan? Terlalu lama."

Pak Kades Iwan yang mendengar itu langsung angkat bicara. "Pak Didit, 6 bulan itu target realistis. Kami tidak bisa bekerja seperti superhero. Kami butuh waktu."

"Warga sudah menunggu terlalu lama, Pak Kades. Desa ini sudah bertahun-tahun terbelakang. Kami tidak bisa menunggu 6 bulan lagi."

Suasana mulai memanas. Beberapa warga mulai berbisik-bisik dengan nada tegang.

 

Pak Karyo, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri. Badannya yang tambun sedikit terhuyung karena kursi plastik tempatnya duduk tidak stabil. Ia mengatur napas sejenak, lalu berkata dengan suara berat yang khas, suara seorang perokok berat yang sudah puluhan tahun menghisap kretek.

"Pak Kades, saya mau bicara."

"Silakan, Pak Karyo."

Pak Karyo menarik napas panjang. Dadanya yang bidang naik turun. "Saya ini cuma pedagang kecil. Warung saya hanya jual kopi dan gorengan. Tapi saya sudah puluhan tahun tinggal di desa ini. Saya melihat pergantian kepala desa dari masa ke masa."

Semua warga diam. Mereka tahu Pak Karyo jarang bicara di forum resmi. Jika ia bicara, pasti ada yang ingin ia sampaikan.

"Saya lihat Bu Yuni baru bekerja tiga minggu. Tiga minggu, Pak Didit. Bukan tiga tahun. Dalam tiga minggu, beliau sudah berhasil merapikan pelayanan. Dulu, kalau saya mau ngurus surat, bisa berjam-jam. Sekarang, setengah jam jadi. Itu sudah kemajuan luar biasa."

Pak Didit mencoba memotong, "Tapi, "

"Tunggu dulu, Pak Didit. Saya belum selesai." Pak Karyo mengangkat tangannya. "Saya tidak bilang sistem Bu Yuni sudah sempurna. Tapi setidaknya ada kemajuan. Dan kemajuan itu butuh waktu. Kalau kita terus-terusan menuntut instan, kita akan kecewa. Perubahan itu proses, Pak Didit. Proses."

Beberapa warga bertepuk tangan. Pak Karyo duduk kembali, dadanya masih naik turun karena emosi.

Pak Didit terdiam. Wajahnya merah padam, tapi ia tidak membantah.

Bu Yuni yang mendengar itu tersenyum pada Pak Karyo. "Terima kasih, Pak Karyo, atas dukungannya."

Pak Karyo mengangguk. "Saya hanya bicara fakta, Bu."

 

Setelah ketegangan mereda, rapat berlanjut. Namun Pak Didit belum selesai. Ia mengangkat tangan lagi.

"Bu Sekdes, saya punya pertanyaan lain."

"Silakan, Pak Didit."

"Menurut Ibu, apa prioritas utama pembenahan administrasi desa?"

Bu Yuni menjawab tanpa ragu, "Prioritas utama adalah data kependudukan. Karena hampir semua surat membutuhkan data kependudukan yang akurat. Tanpa data kependudukan yang baik, surat-surat lain akan bermasalah."

"Lalu mengapa Ibu juga sibuk dengan arsip pertanahan? Bukankah itu tidak prioritas?"

Bu Yuni tersenyum. "Pak Didit, pertanyaan yang bagus. Memang prioritas utama adalah kependudukan. Tapi ketika ada warga yang datang mengurus tanah, kami tidak bisa mengatakan, 'Maaf, ini bukan prioritas, jadi kami tidak akan layani.' Kami harus melayani semua, sambil tetap berfokus pada prioritas."

"Bukankah itu membagi-bagi fokus?"

"Justru sebaliknya, Pak. Dengan sistem yang rapi, kami bisa melayani berbagai jenis surat tanpa kehilangan fokus. Sistem klasifikasi memungkinkan kami untuk beralih dari satu jenis surat ke jenis surat lain dengan cepat."

Pak Didit mengangguk-angguk, meskipun wajahnya masih menunjukkan keraguan. "Baiklah, saya akan lihat hasilnya dalam 3 bulan ke depan."

Bu Yuni mengangguk. "Terima kasih, Pak Didit. Kami akan buktikan."

 

Tiba-tiba, dari baris belakang, seorang wanita paruh baya berdiri. Ia bernama Bu Ratih, tokoh adat desa yang sangat dihormati. Usianya sudah lebih dari 60 tahun, rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde dari perak, kain batiknya yang berwarna coklat tua masih terawat meskipun sudah bertahun-tahun. Wajahnya keriput, namun matanya masih tajam.

"Bu Sekdes, saya ingin bicara," suaranya terdengar jelas meskipun tidak keras.

"Silakan, Bu Ratih."

Bu Ratih berjalan pelan ke depan, karena suaranya kurang terdengar jika dari belakang. Langkahnya kecil-kecil, namun tegap. Ia berdiri di samping meja pembicara, menghadap seluruh warga.

"Saya sudah tua. Saya lahir di desa ini, besar di desa ini, dan insya Allah akan mati di desa ini. Saya sudah melihat banyak perubahan. Ada yang baik, ada yang buruk."

Semua warga diam. Mereka menghormati Bu Ratih sebagai sesepuh desa.

"Perubahan yang Ibu lakukan, Bu Sekdes, menurut saya baik. Pelayanan lebih cepat, warga lebih puas. Tapi saya ingin mengingatkan satu hal."

"Apa itu, Bu Ratih?" tanya Bu Yuni dengan hormat.

"Jangan sampai perubahan ini membuat kita lupa pada nilai-nilai kebersamaan. Di desa ini, kami biasa bergotong royong. Kalau ada tetangga sakit, semua jenguk. Kalau ada yang punya hajat, semua bantu. Sistem yang Ibu buat jangan sampai membuat kita jadi kaku, jadi formal, jadi tidak peduli satu sama lain."

Bu Yuni mengangguk serius. "Bu Ratih, saya sangat setuju. Sistem yang kami buat justru untuk mempermudah, bukan untuk mempersulit. Gotong royong tetap jalan. Pelayanan tetap humanis. Sistem hanya alat, bukan tujuan."

Bu Ratih tersenyum. Gigi depannya sudah ompong, namun senyumnya tetap hangat. "Bagus. Saya dukung Ibu."

Ia kembali ke tempat duduknya. Beberapa warga bertepuk tangan.

 

Di tengah suasana yang mulai hangat, Anto tiba-tiba berdiri. Jaket kulitnya yang lusuh berderit saat ia bergerak. Rambutnya yang panjang dan tidak pernah disisir rapi itu terurai sedikit.

"Pak Kades, boleh saya bicara?"

Semua menoleh. Pak Kades tersenyum. "Silakan, Anto."

Anto berjalan ke depan dengan langkah santai, seperti sedang berjalan di pasar. Ia berdiri di samping Bu Yuni, lalu berkata dengan suara yang sengaja ia besarkan.

"Saya ini cuma sopir truk. Nggak sekolah tinggi-tinggi. Tapi saya sering keluar masuk desa lain. Di sana, urus surat cepat. Di sini... dulu, ya, lama banget."

Beberapa warga tertawa. Pak Edi sampai menepuk meja. "Anto ini gaya bicaranya kayak orator, ya."

Anto melanjutkan, "Tapi sekarang, saya lihat mulai berubah. Kemarin saya urus surat untuk truk, cuma 20 menit. Biasanya bisa setengah hari. Jadi ya... jangan berhenti di tengah jalan, Pak Kades, Bu Sekdes. Teruskan."

Pak Kades tersenyum lebar. "Terima kasih, Anto. Masukan yang... unik tapi kena."

"Anto, lo kayak lagi kampanye aja," ledek Pak Sugeng dari baris belakang.

Anto tidak peduli. Ia kembali ke tempat duduknya dengan santai, sesekali membetulkan jaket kulitnya yang terlipat.

 

Setelah Anto duduk, giliran Ibu-ibu PKK yang angkat bicara. Perwakilan mereka adalah Bu Sri, ketua PKK Desa Awan Biru, seorang wanita berusia 45 tahun dengan rambut pendek dan wajah bulat yang selalu tersenyum. Ia dikenal sebagai sosok yang energik dan vokal.

"Bu Sekdes, saya mau menyampaikan keluhan dari ibu-ibu," kata Bu Sri sambil berdiri.

"Silakan, Bu Sri."

"Kami sering mengurus surat keterangan untuk berbagai keperluan: bantuan sosial, beasiswa anak, atau sekadar surat pengantar ke puskesmas. Tapi kadang-kadang, petugas di sini minta berkas yang menurut kami tidak perlu. Contoh, untuk surat keterangan tidak mampu, kami diminta bawa fotokopi KK, fotokopi KTP, fotokopi tagihan listrik, fotokopi... banyak lah."

Bu Yuni mengangguk. "Bu Sri, terima kasih masukannya. Saya akan evaluasi. Memang ada beberapa persyaratan yang berlebihan. Nanti akan kami sederhanakan."

"Tapi jangan sampai terlalu disederhanakan, Bu, sampai berkasnya kurang," tambah Bu Sri.

"Tentu, Bu. Kami akan cari titik tengah."

Bu Sri duduk kembali, puas dengan jawaban Bu Yuni.

 

Seorang pria tua dari Dusun Gondang berdiri. Namanya Pak Jayeng, seorang pensiunan guru SD yang kini menghabiskan waktunya dengan berkebun dan membaca. Wajahnya kurus dengan kumis putih yang panjang, matanya cekung namun berbinar cerdas. Ia dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan sering memberikan nasihat kepada warga.

"Bu Sekdes, saya mau bertanya," katanya dengan suara parau karena usia.

"Silakan, Pak Jayeng."

"Menurut Ibu, apa tujuan akhir dari administrasi desa?"

Pertanyaan itu membuat ruangan hening. Bukan pertanyaan biasa. Ini pertanyaan filosofis yang tidak sering muncul dalam rapat desa.

Bu Yuni terdiam sejenak. Ia berpikir. Kemudian ia menjawab dengan hati-hati, "Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan warga, Pak. Administrasi hanyalah alat. Kalau administrasi rapi, pelayanan cepat, warga tidak perlu bolak-balik, warga bisa fokus pada pekerjaan dan keluarganya. Itu kesejahteraan."

Pak Jayeng mengangguk. "Jawaban yang bagus. Tapi izinkan saya menambahkan."

"Silakan, Pak."

"Tujuan akhir administrasi desa bukan hanya kesejahteraan materi, tapi juga ketenangan batin. Warga yang tahu bahwa hak-haknya terjamin, bahwa data-datanya aman, bahwa surat-suratnya tidak akan hilang... mereka akan tenang. Dan ketenangan itu, Bu Sekdes, adalah bagian dari kesejahteraan yang sering dilupakan."

Bu Yuni terkesima. "Terima kasih, Pak Jayeng. Saya akan ingat nasihat Bapak."

Pak Jayeng tersenyum. "Terima kasih, Bu Sekdes. Saya hanya orang tua yang sudah banyak melihat."

 

Setelah beberapa jam berdiskusi, suasana mulai sedikit memanas lagi. Beberapa warga mulai saling berdebat tentang prioritas pembangunan. Ada yang ingin fokus pada infrastruktur, ada yang ingin fokus pada pendidikan, ada yang ingin fokus pada pertanian.

Pak Kades Iwan berdiri dan mengangkat tangannya. "Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Mohon tenang."

Suasana perlahan mereda.

"Saya mendengar semua masukan. Semuanya penting. Tapi kita tidak bisa mengerjakan semuanya sekaligus. Kita perlu prioritas. Dan prioritas utama kita saat ini adalah membenahi administrasi, karena administrasi adalah dasar dari segalanya."

Pak Didit menyela, "Tapi Pak Kades, warga butuh jalan yang bagus, butuh irigasi yang lancar. Itu lebih nyata daripada administrasi."

Pak Kades menjawab dengan sabar, "Pak Didit, untuk membangun jalan dan irigasi, kita butuh data. Data tanah, data warga yang terkena dampak, data anggaran. Semua itu adalah administrasi. Kalau administrasi berantakan, proyek pembangunan juga akan berantakan."

Pak Didit terdiam. Ia tidak bisa membantah.

Bu Ratih yang duduk di baris depan berkata, "Pak Kades benar. Saya lihat sendiri dulu, proyek irigasi mangkrak karena data tanah tidak jelas. Warga berselisih karena batas tanah tidak jelas. Semua itu karena administrasi berantakan."

Pak Kades mengangguk. "Itu sebabnya saya memprioritaskan pembenahan administrasi. Bukan berarti yang lain tidak penting. Tapi ini fondasi."

 

Untuk memperkuat argumen Pak Kades, Bu Yuni membuka map-nya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas berisi data.

"Bapak, Ibu, Saudara-saudara, izinkan saya menyampaikan data."

Ia menunjukkan kertas itu kepada warga di baris depan. "Dalam tiga minggu terakhir, kami menerima 75 pengaduan dari warga. Sebanyak 40 persen adalah pengaduan tentang lambatnya pelayanan administrasi. 25 persen tentang hilangnya berkas. 20 persen tentang prosedur yang berbelit-belit. Hanya 15 persen tentang infrastruktur."

Warga mulai berbisik-bisik.

"Ini menunjukkan bahwa masalah terbesar warga saat ini adalah administrasi, bukan infrastruktur. Bukan berarti infrastruktur tidak penting, tapi prioritas kita harus sesuai dengan kebutuhan warga."

Pak Jayeng mengangguk-angguk. "Data tidak bisa dibantah."

Pak Didit masih mencoba mencari celah. "Tapi Bu, data itu dari mana? Apakah akurat?"

Bu Yuni menjawab dengan tegas, "Data dari buku pengaduan warga yang kami buat sejak hari pertama saya bekerja. Setiap warga yang datang, kami catat keluhannya. Jadi data ini akurat, Pak Didit."

Pak Didit akhirnya diam. Ia tidak bisa membantah data yang disusun dengan sistematis.

 

Pak Santoso, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri. Kacamatanya yang tebal naik turun di hidungnya. Wajahnya yang kurus dan berkerut karena usia tampak serius.

"Saya sudah 20 tahun bekerja di kantor desa ini. Saya sudah melihat banyak kepala desa dan sekdes berganti. Tapi saya belum pernah melihat perubahan secepat ini."

Semua warga diam. Mereka tahu Pak Santoso adalah orang yang jujur dan tidak mudah terkesan.

"Dulu, kalau ada warga datang, saya sering malu. Malu karena tidak bisa melayani dengan cepat. Malu karena berkas sering hilang. Malu karena warga harus bolak-balik. Tapi sekarang, saya mulai bisa tersenyum. Bukan karena saya hebat, tapi karena sistemnya sudah lebih rapi."

Pak Santoso menatap Bu Yuni. "Terima kasih, Bu Yuni. Ibu telah mengubah cara kami bekerja."

Bu Yuni tersenyum haru. "Pak Santoso, ini kerja sama tim."

"Tetap saja, Ibu yang memulai. Tanpa Ibu, kami masih santai-santai."

Beberapa warga bertepuk tangan. Pak Santoso duduk kembali, kacamatanya naik ke dahi karena ia lupa menyesuaikan.

 

Momen yang paling tidak terduga datang ketika Pak Eko berdiri. Pak Eko, yang selama ini dikenal sebagai orang yang paling keras kepala dan paling sulit berubah, berdiri di depan semua orang.

"Pak Kades, Bu Yuni, warga sekalian, saya mau mengakui sesuatu."

Ruangan hening. Semua mata tertuju pada Pak Eko. Wajahnya merah padam, tangannya gemetar.

"Saya dulu adalah orang yang paling menolak perubahan. Saya bilang sistem Bu Yuni terlalu rumit. Saya bilang kita tidak perlu repot-repot. Tapi setelah tiga minggu, saya sadar... saya salah."

Pak Eko menunduk sebentar. Matanya berkaca-kaca.

"Sekarang, saya justru menikmati sistem baru. Pekerjaan lebih teratur, lebih mudah, lebih cepat. Saya minta maaf pada Bu Yuni, dan saya minta maaf pada teman-teman karena dulu saya sering menghambat."

Bu Yuni berdiri dan berjalan mendekati Pak Eko. "Pak Eko, Bapak tidak perlu minta maaf. Bapak berhak punya pendapat. Yang penting, sekarang kita satu visi."

Pak Eko mengangguk. Air matanya jatuh. "Terima kasih, Bu."

Beberapa warga terharu melihat perubahan Pak Eko. Bu Tini sampai mengusap matanya dengan ujung kerudung.

 

Si Amat, yang ditunjuk sebagai notulen rapat, berdiri untuk menyampaikan rangkuman sementara. Ia memegang buku catatan yang sudah ia tulis dengan rapi, buku yang sama yang ia gunakan sejak belajar dari Bu Yuni.

"Pak Kades, Bu Yuni, warga sekalian, izinkan saya menyampaikan rangkuman sementara."

"Silakan, Mas Amat," kata Pak Kades.

Si Amat membaca catatannya dengan suara agak bergetar karena gugup. Ini pertama kalinya ia berbicara di depan banyak orang.

"Pertama, tentang administrasi. Bu Yuni sudah melaporkan kemajuan: waktu pelayanan menurun drastis, sistem klasifikasi sudah berjalan, buku register sudah digunakan."

"Kedua, kendala: arsip lama masih berantakan, koordinasi dengan kecamatan masih kurang, dan warga sering tidak membawa kelengkapan berkas."

"Ketiga, masukan dari warga: Bu Sri minta persyaratan disederhanakan, Bu Ratih minta nilai-nilai kebersamaan tetap dijaga, Pak Jayeng minta administrasi bertujuan pada ketenangan batin warga."

"Keempat, komitmen: Pak Kades dan Bu Yuni berkomitmen untuk terus membenahi administrasi dengan target 6 bulan untuk arsip lama."

Si Amat menutup catatannya. "Sekian, Pak."

Pak Kades mengangguk. "Bagus, Mas Amat. Rangkumannya jelas."

Si Amat tersenyum bangga. Ia kembali ke tempat duduknya dengan dada membusung.

 

Setelah semua pendapat disampaikan, Pak Didit yang sebelumnya keras akhirnya melunak. Ia berdiri dan berjalan ke depan.

"Pak Kades, Bu Yuni, warga sekalian. Saya mungkin terlalu keras tadi. Maafkan saya."

Beberapa warga terkejut. Pak Didit jarang minta maaf.

"Saya hanya khawatah. Desa ini sudah lama terbelakang. Saya takut perubahan yang terjadi hanya kosmetik belaka. Tapi setelah mendengar penjelasan Bu Yuni dan melihat data yang disajikan, saya mulai yakin."

Ia menatap Bu Yuni. "Bu, saya dukung Ibu. Tapi tolong buktikan bahwa target 6 bulan itu tercapai."

Bu Yuni mengangguk. "Terima kasih, Pak Didit. Saya akan buktikan."

Pak Didit mengulurkan tangannya. Bu Yuni menjabatnya. Keduanya tersenyum.

Warga bertepuk tangan. Ketegangan yang sempat memuncak kini mereda.

 

Pukul 12.00, rapat mulai ditutup. Pak Kades Iwan berdiri untuk memberikan sambutan penutup.

"Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Rapat hari ini sangat berharga. Kita mendapatkan banyak masukan. Kita juga melihat bahwa perubahan mulai terjadi, meskipun masih banyak yang harus dibenahi."

Ia menatap seluruh ruangan. "Saya berharap dukungan dari semuanya. Perubahan tidak bisa dilakukan oleh perangkat desa saja. Butuh partisipasi aktif dari warga."

Bu Ratih mengangguk. "Betul, Pak Kades. Warga harus ikut mendukung."

"Kami akan terus bekerja keras," lanjut Pak Kades. "Dan kami mohon doa dan dukungan dari semuanya."

Ia kemudian memimpin doa. "Marilah kita tutup rapat ini dengan doa bersama."

Semua warga menunduk. Pak Kades berdoa dengan suara lantang, memohon kepada Allah agar desa Awan Biru menjadi lebih baik, agar perubahan yang dimulai dapat berkelanjutan, dan agar semua warga diberikan kesehatan dan kesabaran.

"Aamiin ya rabbal 'alamin," jawab mereka serempak.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."

 

Setelah rapat, warga mulai keluar satu per satu. Ada yang langsung pulang, ada yang mampir ke warung Pak Karyo untuk makan siang, ada juga yang mengerumuni Bu Yuni untuk memberikan masukan tambahan.

"Bu, saya titip ya, tolong urus surat tanah saya," kata Pak Bejo.

"Bu, besok saya mau bikin surat domisili, apa perlu bawa fotokopi KK?" tanya Bu Tini.

"Bu, kalau bisa, persyaratannya ditempel di papan pengumuman, biar warga tahu," usul Bu Sri.

Bu Yuni melayani semua dengan sabar. Ia mencatat setiap masukan di buku catatannya.

"Baik, Bu Tini, bawa fotokopi KK saja. Asli juga dibawa untuk dicocokkan."

"Iya, Pak Bejo, minggu depan surat Bapak akan kami proses."

"Bu Sri, usul bagus. Nanti saya buat papan pengumuman persyaratan."

Di sisi lain, Pak Kades Iwan berbincang dengan Pak Didit dan Pak Jayeng. Mereka membahas rencana tindak lanjut.

"Pak Didit, saya minta BPD mengawasi jalannya pembenahan ini," kata Pak Kades.

"Siap, Pak Kades. Saya akan bentuk tim pengawas."

"Pak Jayeng, saya minta nasihat Bapak untuk terus mengingatkan kami jika ada yang melenceng."

Pak Jayeng tersenyum. "Saya akan dengan senang hati, Pak Kades. Tugas orang tua memang mengingatkan."

 

Warung Pak Karyo sore itu ramai oleh warga yang baru selesai rapat. Kursi-kursi kayu yang tersedia tidak cukup, sehingga beberapa warga terpaksa berdiri sambil memegang piring berisi nasi dan lauk.

"Pak Karyo, kopi satu!" teriak Pak Sugeng.

"Gorengan masih ada, Pak?" tanya Bu Tini.

"Masih, Bu. Pisang goreng, tempe gorend, tahu isi. Semua masih hangat," jawab Pak Karyo sibuk melayani.

Anto duduk di pojok, seperti biasa. Jaket kulitnya masih setia di badan meskipun udara sudah hangat. Ia menyeruput kopi hitam tanpa gula, minuman favoritnya, sambil sesekali mengamati warga yang lalu lalang.

"To, ramalan lo hari ini meleset," ledek Pak Edi sambil duduk di sampingnya.

"Lho, kok meleset?"

"Lo bilang bakal ada yang 'panas'. Tadi rapat berjalan lancar. Nggak ada yang panas."

Anto tersenyum misterius. "Panas itu tidak harus marah-marah, Pak. Panas itu bisa juga artinya semangat. Tadi semangat warga panas. Mereka antusias."

Pak Edi menggeleng-gelengkan kepala. "Lo mah bisa muter-muter kata."

"Bukan muter-muter, Pak. Itu seni membaca situasi."

Mereka tertawa bersama.

 

Sementara warga lain ramai di warung, Bu Yuni memilih makan siang di kantor saja. Ia membuka bekal yang ia bawa dari rumah: nasi putih, sayur lodeh, dan tempe goreng. Sederhana, tapi cukup.

Ia makan dengan perlahan sambil membaca catatan-catatan dari rapat tadi. Ada banyak masukan yang harus ia tindak lanjuti.

"Persyaratan disederhanakan... papan pengumuman... tim pengawas dari BPD... target 6 bulan..."

Ia menulis poin-poin itu di buku catatannya, lalu membuat rencana aksi untuk minggu depan.

"Senin: rapat internal perangkat desa untuk menindaklanjuti masukan warga. Selasa: mulai membuat papan pengumuman. Rabu: koordinasi dengan kecamatan tentang persyaratan. Kamis: mulai evaluasi berkas-berkas yang persyaratannya berlebihan. Jumat: laporan mingguan."

Ia menghela napas. Pekerjaan masih banyak. Tapi ia tidak merasa terbebani. Justru ia merasa bersemangat.

"Bu, tidak ikut makan di warung?" tanya Si Amat yang masuk ke kantor sambil membawa bungkusan gorengan.

"Tidak, Mas. Saya sudah bawa bekal."

"Ini gorengan untuk Ibu. Saya belikan."

Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Mas Amat. Tapi saya sudah kenyang."

"Simpan dulu, Bu. Nanti sore."

Bu Yuni menerima bungkusan itu. "Baik, terima kasih."

Si Amat duduk di mejanya, membuka bungkusan gorengannya sendiri. "Bu, tadi saya deg-degan banget pas baca rangkuman."

"Tapi Bapak melakukannya dengan baik."

"Deg-degan, Bu. Suara saya gemetar."

"Itu wajar, Mas. Nanti lama-lama biasa."

Si Amat mengangguk. "Iya, Bu. Saya akan latihan."

 

Sore harinya, setelah kantor mulai sepi, Pak Eko mendekati Bu Yuni. Wajahnya masih sedikit merah karena malu.

"Bu, saya mau bicara."

"Silakan, Pak Eko."

Pak Eko duduk di kursi di depan meja Bu Yuni. "Saya malu, Bu."

"Kenapa malu, Pak?"

"Saya dulu selalu menolak ide Ibu. Saya bilang sistem Ibu ribet. Tapi ternyata saya yang salah."

Bu Yuni tersenyum. "Pak Eko, Bapak tidak perlu malu. Setiap orang punya proses yang berbeda. Ada yang cepat sadar, ada yang lambat. Yang penting, pada akhirnya sadar."

"Tapi saya sudah membuang waktu berminggu-minggu, Bu. Saya bisa lebih produktif jika sejak awal mau menerima."

"Bapak tidak membuang waktu, Pak Eko. Bapak sedang belajar. Dan proses belajar itu sendiri berharga."

Pak Eko terdiam. Lalu ia berkata, "Bu, saya janji akan mendukung Ibu sepenuhnya."

"Terima kasih, Pak Eko. Dukungan Bapak sangat berarti."

Pak Eko berdiri, mengulurkan tangannya. Bu Yuni menjabatnya. Keduanya tersenyum.

"Mulai besok, saya akan bekerja lebih keras, Bu."

"Saya percaya, Pak Eko."

 

Menjelang magrib, Pak Kades Iwan memanggil Bu Yuni ke ruangannya.

"Bu, saya ingin mengucapkan terima kasih."

"Untuk apa, Pak?"

"Untuk rapat tadi. Ibu luar biasa. Ibu bisa menjawab semua pertanyaan dengan tenang dan data yang akurat."

Bu Yuni tersenyum. "Itu karena persiapan, Pak. Saya sudah siapkan semuanya sejak seminggu lalu."

"Ibu memang teliti. Saya tidak salah pilih orang."

"Pak Kades yang baik. Saya hanya menjalankan amanah."

Pak Iwan menghela napas. "Bu, jujur, saya dulu hampir menyerah. Enam bulan pertama sebagai kepala desa, saya merasa gagal. Tapi setelah Ibu datang, saya mulai melihat harapan."

"Jangan menyerah, Pak. Perubahan butuh waktu."

"Iya, Bu. Saya tidak akan menyerah. Selama ada Ibu di sisi saya, saya yakin kita bisa membawa desa ini ke arah yang lebih baik."

Bu Yuni mengangguk. "Kita bisa, Pak. Asal kita bersama-sama."

 

Malam itu, Bu Yuni pulang lebih lambat dari biasanya. Ia sengaja berjalan kaki menyusuri jalan desa yang gelap, hanya diterangi cahaya bulan dan sesekali lampu dari rumah-rumah warga.

Udara malam dingin menusuk wajahnya. Suara jangkrik dan katak bersahutan dari sawah-sawah di pinggir jalan. Sesekali terdengar gonggongan anjing dari kejauhan.

Bu Yuni menikmati kesunyian itu. Setelah seharian penuh dengan suara dan debat, ia butuh ketenangan.

Sesampainya di rumah kontrakan, ia disambut oleh kucing Kuning yang setia menunggu di depan pintu.

"Kuning, aku pulang," katanya sambil mengelus kepala kucing itu.

Kucing itu mengeong pelan, lalu menggesek-gesekkan tubuhnya ke kaki Bu Yuni.

Bu Yuni masuk ke dalam, menyalakan lampu minyak tanah—karena listrik di desa itu sering mati di malam hari—dan duduk di beranda. Kuning melompat ke pangkuannya.

"Kuning, hari ini melelahkan. Tapi aku bahagia."

Kucing itu diam, sesekali mengedipkan matanya.

"Ada banyak yang marah, banyak yang protes, banyak yang meragukan. Tapi pada akhirnya, semua bisa diselesaikan dengan dialog."

Ia mengelus punggung Kuning yang hangat.

"Aku belajar bahwa rapat itu penting. Bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk mencari solusi bersama. Dan hari ini, kita menemukan banyak solusi."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan hampir purnama.

"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih karena Engkau berikan aku ketenangan di tengah badai. Terima kasih karena Engkau bimbing lidahku untuk berkata benar."

Ia memejamkan mata. Angin malam berhembus, membawa aroma tanah basah.

"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita mulai lagi."

 

Pukul 07.00 keesokan paginya, kantor desa sudah ramai. Perangkat desa datang lebih awal dari biasanya, semangat oleh hasil rapat kemarin.

"Pagi, Bu," sapa Si Amat yang sudah ada di kantor sejak pukul 06.30.

"Pagi, Mas Amat. Semangat sekali."

"Iya, Bu. Saya tidak sabar mulai bekerja."

Pak Edi datang dengan termos kopinya yang setia. "Pagi semua. Wah, semangat pagi ini beda ya."

"Iya, Pak. Hasil rapat kemarin," kata Pak Eko yang datang dengan wajah cerah.

Bu Lulu, Pak Santoso, dan lainnya datang bergantian. Semua tersenyum, semua bersemangat.

Bu Yuni mengumpulkan mereka di ruang tengah. "Teman-teman, kita akan tindak lanjuti hasil rapat kemarin. Pertama, kita akan sederhanakan persyaratan surat-surat tertentu. Kedua, kita akan buat papan pengumuman. Ketiga, kita akan tingkatkan koordinasi dengan kecamatan."

"Kita bagi tugas," lanjut Bu Yuni. "Pak Eko, tolong urus koordinasi dengan kecamatan. Pak Santoso, tolong buat draf persyaratan yang disederhanakan. Pak Edi, tolong siapkan papan pengumuman. Bu Lulu, tolong siapkan anggaran untuk papan pengumuman. Mas Amat, tolong bantu saya menyusun laporan mingguan."

Semua mengangguk.

"Kita mulai hari ini. Jangan ditunda-tunda."

"Setuju, Bu," kata mereka serempak.

 

Pak Santoso langsung bekerja. Ia mengambil semua berkas persyaratan yang selama ini digunakan, lalu membacanya satu per satu.

"Bu, ini persyaratan surat keterangan tidak mampu. Warga harus bawa fotokopi KK, fotokopi KTP, fotokopi tagihan listrik, surat pengantar dari RT, dan surat keterangan dari tetangga."

Bu Yuni mengernyit. "Surat keterangan dari tetangga? Itu berlebihan. Cukup surat pengantar dari RT sudah mewakili."

"Setuju, Bu. Saya coret."

"Fotokopi tagihan listrik juga tidak perlu. Tidak semua warga punya listrik."

"Baik, Bu."

Mereka berdua mencoret-coret persyaratan yang dianggap berlebihan. Dalam waktu dua jam, mereka berhasil menyederhanakan persyaratan untuk 10 jenis surat.

"Bu, ini sudah. Sekarang tinggal disosialisasikan ke warga," kata Pak Santoso.

"Bagus, Pak. Tolong buat dalam bentuk poster, lalu tempel di papan pengumuman."

"Poster? Kita tidak punya komputer untuk desain, Bu."

"Tulis tangan saja, Pak. Yang penting jelas."

Pak Santoso mengangguk. "Baik, Bu. Saya tulis tangan."

 

Pak Edi pergi ke pasar kecamatan untuk membeli papan pengumuman. Ia memilih papan triplek ukuran 1x1,5 meter dengan bingkai kayu. Harganya 75 ribu rupiah, cukup mahal untuk ukuran desa, tapi Bu Lulu sudah menyetujui anggarannya.

"Pak, ini papannya," kata Pak Edi sambil meletakkan papan itu di kantor.

"Bagus, Pak. Sekarang kita pasang di dinding depan, dekat pintu masuk."

Mereka beramai-ramai memasang papan itu. Pak Eko memegang papan, Pak Santoso mengukur, Pak Edi memaku, Bu Yuni mengawasi.

"Naik sedikit, Pak Eko. Ke kanan sedikit."

"Gini, Bu?"

"Iya, pas. Pak Edi, paku sekarang."

Paku-paku ditancapkan dengan palu yang sedikit berkarat. Suara puk puk puk terdengar di seluruh ruangan.

Setelah papan terpasang, Pak Santoso mulai menulis poster-poster persyaratan dengan spidol hitam. Tulisannya rapi, meskipun tidak seindah kalau dicetak komputer.

"Bu, ini sudah. Saya tempel ya."

"Tempel, Pak."

Poster-poster itu ditempel di papan pengumuman. Warga yang lewat bisa membaca persyaratan sebelum masuk ke kantor.

"Bu, ini ide bagus," kata Si Amat. "Warga jadi tidak bingung."

"Semoga, Mas. Dan semoga mereka membawa kelengkapan berkas."

 

Pak Eko pergi ke kecamatan untuk berkoordinasi. Ia membawa draf persyaratan yang sudah disederhanakan.

"Pak Camat, kami ingin menyederhanakan persyaratan surat-surat desa," kata Pak Eko pada Bapak Camat Kaliwiro, Bapak Subroto, seorang pria berusia 50 tahun dengan perut buncit dan kumis tebal yang selalu tersenyum.

Bapak Subroto membaca draf itu dengan saksama. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. "Wah, ini bagus. Selama ini memang banyak persyaratan yang berlebihan."

"Kami butuh persetujuan Bapak, Pak. Karena beberapa surat desa harus diketahui oleh kecamatan."

"Setuju. Saya setuju. Ini akan mempermudah warga. Tapi tolong koordinasikan juga dengan dinas kependudukan dan catatan sipil."

"Baik, Pak. Terima kasih."

Pak Eko pulang dengan perasaan lega. Urusan koordinasi berjalan lancar.

 

Sore itu, Anto mampir ke kantor desa dengan kabar baik.

"Bu Yuni, saya baru dari kecamatan. Kata Pak Camat, desa kita dipuji."

"Dipuji? Kenapa?" tanya Bu Yuni.

"Katanya, Desa Awan Biru adalah satu-satunya desa di kecamatan ini yang sudah mulai menerapkan sistem administrasi modern. Yang lain masih berantakan."

Bu Yuni tersenyum. "Alhamdulillah. Tapi kita tidak boleh sombong."

"Bukan sombong, Bu. Tapi bangga. Wajar bangga."

Pak Edi yang mendengar ikut bergembira. "Wah, ini kabar bagus. Kita harus rayakan."

"Rayakan bagaimana, Pak?" tanya Si Amat.

"Ya, kita makan-makan saja. Saya belikan gorengan."

"Setuju!" seru Si Amat.

Bu Yuni tertawa. "Baiklah, tapi jangan berlebihan. Kita masih punya banyak pekerjaan."

 

Sore itu, mereka makan gorengan bersama di kantor. Pak Edi membeli dua bungkus besar dari warung Pak Karyo: pisang goreng, tempe goreng, tahu isi, dan ubi goreng. Mereka duduk melingkar di ruang tengah, menikmati makanan sederhana itu dengan teh hangat.

"Ini rasanya lebih enak dari biasanya," kata Si Amat sambil mengunyah pisang goreng.

"Karena dimakan bersama, Mat. Makanan apapun kalau dimakan bersama rasanya enak," kata Pak Edi.

Bu Yuni mengangguk. "Betul, Pak Edi. Kebersamaan itu penting."

Pak Eko yang biasanya diam ikut bicara. "Saya malu, Bu. Dulu saya sering makan sendirian. Sekarang saya sadar, kerja tim itu lebih menyenangkan."

"Pak Eko, yang penting sekarang kita sudah satu tim," kata Bu Yuni.

"Setuju, Bu."

Mereka makan dengan riang, diselingi tawa dan canda. Suasana sore itu hangat, penuh kebersamaan.

 

Malam itu, setelah semua pulang, Bu Yuni duduk di beranda rumahnya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.

"Kuning, hari ini menyenangkan," katanya sambil mengelus kepala kucing itu.

Kucing itu mengeong pelan.

"Kita berhasil menyederhanakan persyaratan, memasang papan pengumuman, dan berkoordinasi dengan kecamatan. Semua berjalan lancar."

Ia menatap bintang-bintang.

"Aku belajar bahwa perubahan tidak harus selalu melalui konflik. Bisa juga melalui dialog dan kerja sama. Hari ini, semua orang mau bekerja sama. Itu yang membuatku bahagia."

Ia menghela napas. Udara malam dingin, namun hatinya hangat.

"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk tim yang solid. Terima kasih untuk kemudahan yang Engkau berikan."

Ia memejamkan mata.

"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita mulai lagi."


BAB 5

TEKANAN DARI ATAS, HARAPAN DARI BAWAH

Langit Desa Awan Biru pagi itu tidak seperti biasanya. Bukan karena kabut, kabut masih setia menyelimuti lembah seperti biasa. Namun warna langit di atas kabut itu berbeda. Tidak biru cerah seperti namanya. Abu-abu gelap, dengan gumpalan awan hitam di ufuk timur yang bergerak perlahan mendekat. Seolah-olah alam sedang memberi tanda bahwa sesuatu akan terjadi.

Bu Yuni bangun pukul 04.00, lebih awal dari biasanya. Ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Ada firasat yang tidak bisa ia jelaskan. Jantungnya berdebar-debar tanpa sebab yang jelas. Ia sudah shalat tahajud, sudah berdoa, sudah membaca Al-Qur'an, namun kegelisahan itu tidak kunjung reda.

"Ya Allah, jika ini ujian, beri aku kekuatan," bisiknya sambil duduk di beranda.

Kucing Kuning, yang setia menemani setiap pagi, tampak lebih gelisah dari biasanya. Ia tidak tidur di pangkuan Bu Yuni seperti biasa. Ia mondar-mandir di halaman, sesekali mengeong keras, lalu menatap ke arah jalan menuju desa.

"Kamu juga merasakan sesuatu, Kuning?" tanya Bu Yuni.

Kucing itu hanya mengeong, lalu berlari ke arah jalan.

Pukul 05.00, adzan subuh berkumandang. Bu Yuni bergegas ke masjid. Di perjalanan, ia melihat beberapa warga sudah berdiri di depan rumah mereka, menatap langit yang mendung.

"Pagi, Bu Yuni. Langit kok gelap ya? Biasanya cerah," sapa Pak Karyo yang sedang membuka warungnya lebih awal.

"Pagi, Pak Karyo. Mungkin mau hujan."

"Hujan? Musim kemarau begini? Aneh."

Bu Yuni tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju masjid.

Di masjid, jamaah lebih sedikit dari biasanya. Mungkin karena langit gelap, banyak yang mengira sudah siang atau takut kehujanan. Pak Darmo ada di baris depan, khusyuk berdoa. Pak Jayeng di sampingnya, dengan tasbih di tangannya. Anto, seperti biasa, di baris belakang, jaket kulitnya masih setia meskipu udara sudah dingin.

Setelah shalat, Bu Yuni berbincang sebentar dengan Pak Jayeng.

"Pak Jayeng, bagaimana kabar?"

"Alhamdulillah, Bu. Tapi pagi ini rasanya beda."

"Beda bagaimana, Pak?"

Pak Jayeng menatap langit yang semakin gelap. "Seperti ada yang mau terjadi. Tapi saya tidak tahu apa."

Bu Yuni mengangguk. "Saya juga merasakan hal yang sama, Pak."

"Kita berdoa saja, Bu. Semua sudah ada yang mengatur."

"Iya, Pak. Terima kasih."

 

Pukul 08.00, Bu Yuni sudah di kantor. Ia sengaja datang lebih awal untuk mempersiapkan diri. Namun kegelisahannya semakin menjadi ketika melihat sebuah amplop coklat di atas mejanya. Amplop itu belum ada kemarin sore. Berarti dikirim pagi ini.

Amplop itu berukuran besar, sekitar 25x35 sentimeter, dengan stempel merah di pojok kanan atas berbentuk lingkaran bergambar Garuda Pancasila. Di samping stempel, ada tulisan "SEGERA" dengan huruf kapital tebal, dicetak dengan tinta merah menyala. Kertasnya tebal, sedikit kusut karena perjalanan dari kecamatan ke desa yang memakan waktu sekitar satu jam dengan sepeda motor melewati jalan berbatu.

Bu Yuni membuka amplop itu dengan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar. Isinya sebuah surat resmi dari Kecamatan Kaliwiro, ditandatangani oleh Camat Subroto sendiri.

*Nomor: 470/125/Kec.KW/III/2001*
Perihal: Permintaan Laporan Administrasi Desa
Lampiran: 1 (satu) berkas

Kepada Yth.
Kepala Desa Awan Biru
di tempat

Dengan hormat,

Sehubungan dengan akan dilaksanakannya verifikasi administrasi desa oleh Tim Inspektorat Kabupaten dalam rangka penilaian kinerja pemerintahan desa tahun anggaran 2001, bersama ini kami mohon kesediaan Saudara untuk menyampaikan laporan administrasi desa lengkap yang terdiri dari:

*1. Laporan Keuangan Desa (Anggaran dan Realisasi) tahun 2000*
*2. Laporan Pelaksanaan Pembangunan Desa tahun 2000*
*3. Laporan Kependudukan per Desember 2000*
4. Laporan Pertanahan Desa
5. Laporan Surat Menyurat
6. Arsip Dokumen Desa yang dianggap penting

Laporan harus sudah diterima di Kantor Kecamatan paling lambat tanggal 20 Maret 2001 (tiga hari dari sekarang).

Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,
Camat Kaliwiro,

(Subroto)

Tembusan:
1. Bupati Wonosobo (sebagai laporan)
2. Inspektorat Kabupaten Wonosobo
3. Arsip

Bu Yuni membaca surat itu berulang-ulang. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. Tangannya mulai gemetar. Ini bukan tekanan biasa. Ini tekanan besar. Laporan administrasi lengkap dalam tiga hari? Sementara data mereka masih berantakan? Arsip lama belum tertata? Laporan keuangan tahun 2000? Itu artinya laporan setahun yang lalu, yang belum pernah dibuat dengan rapi.

"Ya Allah," bisiknya. "Ini ujian."

Ia berusaha menenangkan diri. Menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Lalu membacakan surat itu sekali lagi. Mungkin ada yang terlewat. Mungkin ada kelonggaran waktu. Tapi tidak. Tiga hari. Tanggal 20 Maret 2001. Hari ini tanggal 17 Maret. Artinya, mereka punya waktu sampai Selasa depan.

Tiga hari. Tiga hari untuk menyusun laporan yang seharusnya disusun dalam tiga bulan.

 

Pukul 08.30, perangkat desa mulai berdatangan. Pak Edi datang dengan termos kopinya yang setia, tersenyum seperti biasa. Pak Eko dengan ponselnya, jempol sibuk menggulir. Pak Santoso dengan kacamatanya yang tebal. Bu Lulu dengan map keuangannya. Si Amat dengan semangatnya yang baru.

Namun senyum mereka langsung berubah ketika melihat wajah Bu Yuni yang pucat.

"Bu, ada apa? Kok pucat?" tanya Si Amat.

Bu Yuni menghela napas. "Teman-teman, kumpul. Ada surat dari kecamatan."

Mereka berkumpul di ruang tengah. Bu Yuni membacakan surat itu dengan suara yang berusaha ia tenangkan, meskipun hatinya bergolak.

"Laporan administrasi lengkap dalam tiga hari?" Pak Edi hampir menjatuhkan termos kopinya. Kopi tumpah sedikit di meja, meninggalkan noda coklat di atas kertas bekas.

"APA?!" spontan Si Amat berteriak hingga suaranya memantul di dinding dan membuat burung pipit di atap terbang berhamburan.

"Tiga hari? Ini bukan main-main," kata Pak Santoso sambil menyesuaikan kacamatanya yang hampir jatuh. Tangannya gemetar.

Pak Eko yang biasanya tenang mulai gelisah. Tangannya meremas-remas ujung baju batiknya hingga kusut. "Bu, data kita saja belum sepenuhnya rapi. Laporan keuangan tahun 2000? Itu belum pernah kita buat dengan rapi. Masih acak-acakan."

Bu Lulu menambahkan dengan suara khawatir, hampir berbisik, "Kalau salah sedikit saja, bisa jadi masalah besar. Inspektorat itu tidak main-main. Mereka bisa memberi sanksi, bahkan teguran tertulis yang bisa mempengaruhi kinerja desa."

Pak Santoso menyandarkan tubuhnya ke kursi hingga kursi itu berderit protes. "Ini bukan tekanan lagi... ini sudah ujian berat. Ujian yang menentukan nasib kita."

Suasana mulai kacau. Semua berbicara bersamaan, suara bertumpuk-tumpuk seperti pasar tradisional pada jam sibuk.

"Data kependudukan belum lengkap! Masih banyak warga yang belum terdata dengan baik karena kartu keluarga mereka berantakan."

"Arsip lama masih belum tersusun! Map-map tahun 1990-an masih berserakan di gudang belakang."

"Surat keluar-masuk belum semua dicatat! Buku register baru kita mulai dua minggu lalu. Data sebelum itu tidak tercatat."

"Laporan keuangan tahun 2000? Itu setahun yang lalu! Bukti-bukti transaksi banyak yang hilang, bukti-bukti pembayaran ada yang sobek, ada yang dimakan rayap!"

Si Amat hampir panik. Wajahnya pucat seperti kertas. Keringat dingin membasahi keningnya, menetes ke pipi, jatuh ke lantai. "Bu... kita bisa gagal ini. Gagal total. Inspektorat akan datang, mereka akan melihat kekacauan kita, dan kita akan mendapat teguran. Bahkan mungkin sanksi."

Pak Edi menepuk meja, membuat gelas plastik di atasnya bergetar. "Bukan hanya teguran, Mat. Bisa jadi dana desa kita dipotong. Itu berarti proyek-proyek pembangunan akan terhambat."

Pak Eko menunduk, tangannya menutup wajah. "Ini semua karena kita dulu tidak serius. Kita terlalu santai. Sekarang kita menuai akibatnya."

Bu Lulu mulai menangis. Air matanya jatuh ke map keuangan yang ia pegang. "Saya tidak bisa, Bu. Saya tidak bisa menyelesaikan laporan keuangan dalam tiga hari. Data tahun 2000 saja saya tidak tahu di mana."

Bu Yuni mendengarkan semuanya dengan sabar. Ia tidak menyela. Ia membiarkan mereka meluapkan kekhawatirannya. Karena ia tahu, kadang-kadang orang perlu melepaskan beban dengan berbicara.

Namun setelah beberapa menit, ketika suasana mulai mereda karena kelelahan, Bu Yuni berdiri. Ia berjalan ke tengah ruangan, berdiri tepat di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, lampu yang sama sejak hari pertamanya bekerja.

"Teman-teman, boleh saya bicara?"

Semua terdiam. Mata mereka tertuju pada Bu Yuni.

"Kalau kita panik, kita sudah kalah sebelum mulai. Kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah. Kepanikan hanya akan membuat kita kacau dan membuat kesalahan."

Pak Eko mengangkat kepalanya. "Tapi Bu, tiga hari sangat singkat."

"Iya, Pak. Tiga hari sangat singkat. Tapi lebih baik kita bekerja dengan tenang selama tiga hari, daripada panik selama tiga hari dan tidak menghasilkan apa-apa."

Pak Santoso mengangguk pelan. "Bu Yuni benar. Kita harus tenang."

Bu Yuni mengambil buku catatannya, buku yang selalu ia bawa ke mana-mana, yang sampulnya sudah lusuh dan halamannya mulai menguning. "Kita bagi tugas."

 

Bu Yuni membuka buku catatannya. Ia sudah menyiapkan daftar tugas berdasarkan kemampuan masing-masing perangkat desa. Tangannya yang tadi gemetar kini sudah stabil. Matanya yang tadinya cemas kini sudah fokus.

"Pak Eko, Bapak fokus pada laporan perencanaan dan kegiatan tahun 2000. Bapak kan yang paling paham program-program desa tahun lalu. Saya tahu Bapak punya catatan-catatan pribadi, meskipun tidak rapi. Keluarkan semua. Kita akan rapiin bersama."

Pak Eko mengangguk. Dadanya naik turun, namun ia berusaha tenang. "Baik, Bu. Saya punya beberapa buku catatan tahun lalu. Mudah-mudahan masih lengkap."

"Bu Lulu, Bapak fokus pada keuangan dan bukti pendukung. Saya tahu ini berat, Bu. Tapi Bapak tidak sendirian. Pak Rudi akan membantu Bapak. Kita hanya perlu data yang cukup untuk laporan, tidak perlu sempurna. Inspektorat lebih melihat apakah ada bukti transaksi, bukan apakah catatannya rapi."

Bu Lulu mengusap air matanya. "Tapi Bu, bukti transaksi banyak yang hilang."

"Coba cari di arsip lama, Bu. Mungkin terselip di map-map lain. Saya yakin tidak semuanya hilang."

"Baik, Bu. Saya coba."

"Pak Santoso, Bapak fokus pada data pemerintahan dan pelayanan. Bapak yang paling paham administrasi pemerintahan desa. Bapak juga yang paling tahu di mana menyimpan berkas-berkas penting."

Pak Santoso mengangguk. Kacamatanya naik turun di hidungnya. "Saya akan coba, Bu. Tapi butuh bantuan."

"Mas Amat akan membantu Bapak."

"Pak Edi, Bapak fokus pada data sosial dan masyarakat. Data bantuan sosial, data warga miskin, data penerima beasiswa. Itu semua penting untuk laporan."

Pak Edi yang biasanya santai kini terlihat serius. "Baik, Bu. Saya akan cari data-data itu."

"Bu Endang, Bu Siti, Bapak dan Ibu fokus pada surat menyurat. Kumpulkan semua arsip surat keluar-masuk tahun 2000. Jangan khawatir apakah rapi atau tidak. Yang penting terkumpul."

"Mas Amat, Bapak akan membantu saya di administrasi umum dan arsip. Kita akan menyusun laporan secara keseluruhan. Ini tugas paling berat, tapi kita akan lakukan bersama."

Si Amat yang tadinya pucat kini sedikit bersemangat. Dadanya membusung meskipun masih grogi. "Siap, Bu... walaupun deg-degan."

Tawa kecil muncul. Tawa yang gugup, tapi tetap tawa. Pak Edi menyahut, "Wajar deg-degan, Mat. Saya juga deg-degan."

"Tapi ingat," lanjut Bu Yuni, "kita tidak sendirian. Pak Kades akan membantu koordinasi ke kecamatan kalau ada yang kurang jelas. Beliau juga akan membantu mencari data-data yang mungkin tersimpan di rumahnya."

Pak Kades Iwan yang sejak tadi diam mendengarkan dari pintu ruangannya berjalan mendekat. "Betul. Saya akan bantu semampu saya. Jangan ragu untuk minta bantuan saya."

"Terima kasih, Pak Kades," kata mereka serempak.

 

Pukul 09.30, mereka mulai bekerja. Suasana kantor berubah total. Tidak ada lagi tawa santai. Tidak ada lagi obrolan ringan. Yang ada hanya suara kertas dibalik, pena menulis, dan sesekali keluhan kecil yang segera dijawab dengan semangat.

Bu Lulu membuka lemari arsip di ruang keuangan. Map-map berdebu dikeluarkan satu per satu. Pak Rudi, staf keuangan yang jarang bicara, membantu dengan teliti.

"Bu, ini bukti transaksi bulan Januari 2000," kata Pak Rudi sambil menyerahkan setumpuk kertas yang sudah menguning.

Bu Lulu menerimanya, memeriksa satu per satu. "Ini masih lengkap, Rud. Syukurlah. Sekarang cari bulan Februari."

Di ruang lain, Pak Eko membuka laptop tuanya, laptop yang sering mati sendiri, untuk mencari data program desa tahun 2000. Ia membuka file demi file, membaca catatan-catatan yang ia buat dulu.

"Wah, ini file program pengadaan jalan desa tahun 2000. Saya kira sudah hilang," gumamnya.

Pak Santoso dan Si Amat bekerja di ruang arsip. Mereka mengeluarkan semua map tahun 2000, lalu memisahkannya berdasarkan jenis.

"Ini kependudukan, ini pertanahan, ini surat menyurat," kata Pak Santoso sambil memilah-milah.

Si Amat mencatat setiap map yang mereka temukan di buku register. Tangannya bergerak cepat, meskipun sesekali berhenti untuk mengusap keringat di keningnya.

"Pak Santoso, ini map pertanahan tahun 2000 isinya apa saja?" tanya Si Amat.

"Tanah kas desa, tanah warga yang bersertifikat, tanah warga yang belum bersertifikat. Semua ada di situ."

"Lengkap, Pak?"

"Insya Allah lengkap. Saya yang dulu mengurus."

"Syukurlah."

Pak Edi dan Bu Endang bekerja di ruang pelayanan. Mereka mengumpulkan semua data bantuan sosial tahun 2000. Ada data beras miskin, data BLT, data beasiswa, data bantuan kesehatan.

"Bu Endang, ini data BLT tahun 2000. Tolong dicek apakah sudah sesuai dengan daftar penerima," kata Pak Edi.

Bu Endang yang pemalu itu mengangguk. "Baik, Pak. Saya cek."

Di tengah semua kesibukan, tiba-tiba pintu kantor terbuka. Seorang warga masuk, Pak Surip, warga Dusun Ngemplak yang dulu pernah mengurus surat keterangan tidak mampu.

"Permisi, Bu... saya mau urus surat..."

Bu Yuni yang sedang sibuk dengan laporan mendongak. "Maaf, Pak. Saat ini kami sedang menyusun laporan penting dari kecamatan. Tapi pelayanan tetap berjalan. Silakan ke Pak Joko."

Pak Joko, Kaur Pelayanan yang biasanya jarang terlihat karena sering di luar, kebetulan sedang ada di kantor. Ia langsung menyambut Pak Surip.

"Silakan, Pak. Ada yang bisa dibantu?"

" Saya mau urus surat keterangan usaha, Pak. Untuk jualan di pasar."

"Baik, Pak. Berkasnya sudah lengkap?"

Pak Surip mengeluarkan berkas-berkasnya: KTP, KK, dan surat pengantar dari RT. Pak Joko memeriksa dengan teliti.

"Lengkap, Pak. Mohon tunggu sekitar 30 menit."

"Wah, cepat sekali, Pak. Dulu bisa berjam-jam."

"Itu dulu, Pak. Sekarang sudah ada sistem baru."

Pak Surip duduk di kursi yang tersedia. Ia mengamati kantor desa yang mulai rapi. Ada map-map berwarna di lemari. Ada buku register di meja. Ada papan prosedur di dinding.

"Desa kita mulai maju ya," gumumnya.

Dalam waktu 20 menit, surat itu selesai. Pak Joko menyerahkannya pada Pak Surip.

"Ini, Pak. Suratnya."

"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak."

" Sama-sama, Pak."

Setelah Pak Surip pergi, Bu Yuni tersenyum pada Pak Joko. "Bagus, Pak Joko. Pelayanan tetap berjalan meskipun kita sibuk."

"Tugas kita melayani, Bu. Kapan pun, di mana pun."

"Betul, Pak."

 

Pukul 11.00, Anto datang ke kantor desa. Ia membawa termos besar berisi kopi dan bungkusan plastik berisi gorengan. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia di badan, meskipun udara mulai panas.

"Bu Yuni, saya dengar kalian lagi sibuk. Saya bawain kopi sama gorengan."

Bu Yuni terkejut. "Wah, Anto, terima kasih. Tapi Bapak tidak usah repot-repot."

"Nggak repot, Bu. Saya kebetulan lewat. Ini buat semua."

Anto meletakkan termos dan bungkusan itu di meja. Pak Edi yang melihat langsung mendekat. "Wah, Anto, lo memang sahabat sejati."

"Sudah saya bilang, Pak. Saya peka sama energi."

Mereka tertawa. Suasana yang tadinya tegang sedikit mencair.

"Anto, Bapak tahu dari mana kami lagi sibuk?" tanya Bu Yuni.

"Dari Pak Karyo. Katanya ada surat dari kecamatan. Wajah Bu Yuni pucat pas baca surat itu. Jadi saya tahu ada masalah."

"Bapak ini... luar biasa."

"Bukan luar biasa, Bu. Hanya peka."

Si Amat yang sedang sibuk dengan map-map mendekat. "To, lo memang suka membantu. Makasih ya."

"Sama-sama, Mat. Semangat kerjanya. Jangan lupa istirahat."

Mereka beristirahat sejenak, menikmati kopi dan gorengan. Kopinya hangat, gorengannya renyah. Untuk beberapa menit, tekanan itu terasa sedikit berkurang.

 

Pukul 13.00, mereka belum makan siang. Semua masih asyik dengan pekerjaan masing-masing. Perut mulai keroncongan, tapi tidak ada yang mau berhenti.

"Teman-teman, makan siang dulu," kata Bu Yuni. "Jangan sampai sakit."

"Tapi Bu, waktu mepet," kata Pak Eko.

"Kalau sakit, waktu semakin mepet. Makan dulu. 30 menit saja."

Mereka makan siang bersama di kantor. Ada yang membawa bekal dari rumah, ada yang membeli di warung Pak Karyo. Suasana makan siang itu tidak seperti biasanya. Tidak ada tawa lepas. Yang ada hanya kegelisahan yang tertahan.

"Bu, kita bisa selesai tidak?" tanya Si Amat sambil mengunyah nasi dengan lauk seadanya.

"Kita harus bisa."

"Tapi kalau tidak?"

"Berarti kita belum berusaha cukup."

Si Amat terdiam. Ia melanjutkan makannya dengan porsi lebih banyak dari biasanya, mungkin karena stres, mungkin karena butuh energi.

Pak Edi yang biasanya banyak bicara kali ini diam. Ia makan dengan perlahan, matanya sesekali menatap tumpukan berkas di mejanya.

"Pak Edi, kenapa diam?" tanya Bu Yuni.

"Sedang berpikir, Bu. Bagaimana cara menyelesaikan semua ini dalam tiga hari."

"Jangan dipikirkan beratnya, Pak. Pikirkan langkah per langkah."

Pak Edi mengangguk. "Iya, Bu. Saya coba."

 

Pukul 16.00, setelah seharian bekerja, mulai terlihat hasil. Pak Eko berhasil mengumpulkan data program desa tahun 2000. Bu Lulu dan Pak Rudi berhasil menyusun laporan keuangan meskipun masih banyak yang kurang. Pak Santoso dan Si Amat berhasil memisahkan arsip-arsip tahun 2000 berdasarkan jenis. Pak Edi dan Bu Endang berhasil mengumpulkan data bantuan sosial. Bu Yuni sendiri sibuk menyusun semuanya menjadi satu laporan utuh.

"Bu, ini data program desa. Masih ada yang kurang, tapi setidaknya sudah 70 persen," kata Pak Eko sambil menyerahkan setumpuk kertas.

"Bagus, Pak Eko. Terima kasih."

"Bu, ini laporan keuangan. Masih banyak bolongnya," kata Bu Lulu dengan wajah cemas.

"Tidak apa-apa, Bu. Nanti kita isi dengan data sementara. Yang penting ada bukti transaksi."

"Bu, ini arsip tahun 2000. Sudah kami pisahkan," kata Si Amat dengan bangga meskipun lelah.

"Bagus, Mas Amat. Sekarang bantu saya memasukkan data ke laporan."

Mereka bekerja hingga pukul 18.00. Matahari mulai tenggelam, cahaya jingga masuk melalui jendela. Namun tidak ada yang pulang. Semua masih bertahan.

"Teman-teman, kita lanjutkan besok," kata Bu Yuni. "Istirahat dulu. Jangan sampai kelelahan."

"Tapi Bu, waktu tinggal dua hari lagi," kata Pak Eko.

"Besok kita mulai lebih pagi. Jam 06.00. Sekarang pulang, istirahat, makan, tidur. Besok kita butuh tenaga penuh."

Mereka mengangguk, meskipun berat hati. Satu per satu mulai merapikan meja dan pulang.

Bu Yuni masih tinggal di kantor. Ia ingin menyelesaikan beberapa halaman laporan sebelum pulang.

"Bu, tidak pulang?" tanya Si Amat yang terakhir keluar.

"Sebentar lagi, Mas. Saya selesaikan ini dulu."

"Jangan terlalu malam, Bu."

"Iya, Mas. Terima kasih."

 

Pukul 19.00, Bu Yuni masih di kantor. Lampu neon berkedip-kedip, kadang mati sebentar lalu menyala lagi. Ia tidak peduli. Matanya tetap fokus pada kertas-kertas di depannya.

Ia menulis laporan dengan tangan, karena komputer di kantor hanya satu dan sering error. Tulisannya rapi, meskipun tangannya mulai lelah.

Laporan Administrasi Desa Awan Biru
Tahun Anggaran 2000

Pendahuluan:
Desa Awan Biru adalah salah satu desa di Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo. Dengan luas wilayah 1.200 hektar dan jumlah penduduk 3.500 jiwa, desa ini memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang cukup besar. Namun, selama beberapa tahun terakhir, administrasi desa belum tertata dengan baik. Baru pada awal tahun 2001, dilakukan pembenahan sistem administrasi secara bertahap.

Ia berhenti sejenak. Tangannya terasa kaku. Ia menggoyangkan pergelangan tangannya, lalu melanjutkan menulis.

Pukul 20.00, ia mendengar suara langkah kaki di luar. Seseorang masuk ke kantor. Anto.

"Bu Yuni, masih di sini?"

"Iya, To. Masih ngerjain laporan."

"Belum makan malam?"

"Belum."

"Ya Allah, Bu. Makan dulu. Nanti sakit."

"Sebentar lagi, To. Saya selesaikan paragraf ini."

Anto duduk di kursi yang tersedia. Ia tidak memaksa. Ia hanya menemani.

"To, Bapak tidak pulang?"

"Nanti. Istri saya sedang ke rumah orang tua. Jadi saya sendirian."

"Bapak tidak punya anak?"

"Punya. Satu. Kuliah di Semarang."

"Oh, berarti Bapak tinggal berdua dengan istri?"

"Iya, Bu. Sepi juga kadang. Makanya saya sering keluar."

Bu Yuni tersenyum. "Bapak baik, To. Sering membantu."

"Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, Bu. Desa ini butuh orang-orang yang peduli."

Bu Yuni mengangguk. Ia melanjutkan menulis. Anto diam, sesekali melihat ke luar jendela.

Pukul 21.00, Bu Yuni selesai dengan pendahuluan laporan. Ia meregangkan tubuhnya, menghela napas lega.

"To, Bapak masih di sini?"

"Masih, Bu. Saya tunggu Ibu selesai."

"Bapak baik sekali. Terima kasih."

"Sama-sama, Bu. Sekarang pulang. Besok masih banyak kerja."

Bu Yuni merapikan meja, memasukkan kertas-kertas ke dalam map, lalu berdiri. "Iya, To. Kita pulang."

Mereka berjalan bersama menyusuri jalan desa yang gelap. Hanya cahaya bulan dan senter Anto yang menerangi jalan.

"To, langit malam ini cerah," kata Bu Yuni sambil menatap bintang-bintang.

"Iya, Bu. Tanda besok cerah. Semangat baru."

"Semoga, To. Semoga."

 

Hari kedua, Selasa, 18 Maret 2001. Bu Yuni datang ke kantor pukul 05.30. Ia sudah sarapan, sudah shalat subuh, sudah berdoa. Ia siap bekerja.

Namun saat membuka pintu kantor, ia terkejut. Si Amat sudah ada di sana sejak pukul 05.00. Ia sedang duduk di mejanya, memegang buku register, matanya sembab.

"Mas Amat, Bapak sudah dari tadi?"

"Iya, Bu. Saya tidak bisa tidur. Pikiran saya terus ke laporan."

"Bapak harus istirahat. Nanti sakit."

"Tidak apa-apa, Bu. Saya kuat."

Bu Yuni menghela napas. Ia tahu tidak bisa melarang. Yang terbaik adalah bekerja bersama.

Pukul 06.00, yang lain mulai berdatangan. Pak Edi dengan kopi, lebih kental dari biasanya. Pak Eko dengan laptop, yang pagi ini tidak ia buka untuk media sosial. Pak Santoso dengan kacamatanya, yang ia lap berulang-ulang. Bu Lulu dengan map keuangan, yang ia peluk erat di dada.

"Teman-teman, kita lanjutkan," kata Bu Yuni. "Hari ini kita fokus pada kelengkapan data. Jangan khawatir dengan kerapian. Yang penting data terkumpul. Nanti kita rapiin di hari terakhir."

Mereka bekerja dengan intensitas tinggi. Tidak ada yang bicara. Yang ada hanya suara kertas dan kadang-kadang pertanyaan singkat.

"Bu, data BLT bulan Desember 2000 di mana ya?" tanya Pak Edi.

"Coba cek di map sosial, Pak. Warna kuning."

"Ketemu, Bu. Terima kasih."

"Bu, laporan keuangan triwulan keempat 2000 tidak ada bukti transaksinya," kata Bu Lulu dengan suara cemas.

"Coba cek di map lama, Bu. Mungkin terselip."

Bu Lulu membuka map lama. Debu beterbangan, membuatnya bersin. Ia terus mencari. Setelah beberapa menit, "Ketemu, Bu! Di map tahun 1999."

"Syukurlah."

 

Pukul 12.00, mereka belum makan siang. Perut keroncongan, tapi semangat tidak kendur.

Namun tiba-tiba, Pak Kades Iwan keluar dari ruangannya dengan wajah pucat. "Bu Yuni, saya dapat telepon dari kecamatan."

"Apa kata mereka, Pak?"

"Tim Inspektorat akan datang besok. Bukan lusa."

"BESOK?!" seru Si Amat hampir pingsan. Wajahnya pucat seperti mayat.

"Iya, besok. Mereka maju jadwal."

Suasana berubah kacau. Semua berbicara bersamaan.

"Besok? Belum siap!"

"Data masih banyak yang kurang!"

"Laporan belum selesai!"

Bu Yuni berdiri. Ia menatap semua orang. Matanya tegas. "Teman-teman, tenang."

"Tapi Bu—"

"TENANG."

Suasana hening. Bu Yuni jarang bicara keras. Jadi ketika ia melakukannya, semua terkejut.

"Besok mereka datang. Itu sudah keputusan. Kita tidak bisa mengubahnya. Yang bisa kita ubah adalah persiapan kita. Kita punya waktu 24 jam. Manfaatkan sebaik-baiknya."

Pak Eko mengangguk. "Bu Yuni benar. Menangis tidak akan membantu."

"Kita lanjutkan kerja. Fokus. Jangan panik," kata Bu Yuni.

Mereka kembali bekerja. Namun kali ini dengan kecepatan yang lebih tinggi. Seperti pelari yang melihat garis finish di depan mata.

 

Pukul 18.00. Matahari sudah tenggelam. Namun lampu kantor masih menyala. Mereka belum pulang.

"Teman-teman, kita akan lembur malam ini," kata Bu Yuni. "Siapa yang tidak kuat, silakan istirahat. Tapi yang bisa, tolong bantu."

Tidak ada yang pulang. Semua memilih bertahan.

Pak Edi memesan makanan dari warung Pak Karyo: nasi bungkus dan gorengan. Mereka makan sambil bekerja. Tidak ada waktu untuk duduk santai.

"Bu, laporan kependudukan sudah 80 persen," kata Pak Santoso.

"Bagus, Pak. Lanjutkan."

"Bu, laporan keuangan sudah 75 persen," kata Bu Lulu.

"Terima kasih, Bu. Semangat."

"Bu, laporan program desa sudah 90 persen," kata Pak Eko.

"Luar biasa, Pak Eko. Bapak hebat."

Pukul 21.00. Si Amat mulai menguap. Matanya sayu. Tangannya mulai gemetar.

"Mas Amat, istirahat sebentar," kata Bu Yuni.

"Tidak, Bu. Saya kuat."

"Kalau Bapak sakit, kita akan kehilangan satu orang. Istirahat 15 menit."

Si Amat menurut. Ia merebahkan kepalanya di meja. Dalam hitungan detik, ia tertidur dan mendengkur pelan.

Pak Edi tertawa kecil. "Dia mah kalau disuruh istirahat, langsung 'mati gaya', Bu."

"Biarkan, Pak. Dia butuh itu."

Pukul 23.00. Si Amat bangun. Ia merasa segar. Langsung kembali bekerja.

"Bu, saya lanjut ya."

"Silakan, Mas Amat. Bapak hebat."

 

Pukul 00.00. Tengah malam. Lampu kantor masih menyala. Suasana sunyi, hanya suara kertas dan sesekali keluhan kecil.

Bu Lulu mulai menangis. "Bu, ini data keuangannya beda semua dengan laporan lama. Saya sudah cek ulang tiga kali, tetap saja tidak cocok."

Bu Yuni mendekat. "Coba saya lihat, Bu."

Ia memeriksa angka-angka itu. Matanya bergerak cepat, seperti komputer yang memindai data. Jarinya menunjuk ke baris demi baris. "Ini, Bu Lulu. Bapak salah baca. Kolom ini bukan untuk pengeluaran, tapi untuk sisa anggaran."

Bu Lulu menghela napas lega hingga bahunya turun. "Ya Allah... ternyata saya yang salah."

"Tidak apa-apa, Bu. Kita perbaiki bersama."

Namun setelah Bu Lulu pergi ke toilet, Pak Santoso berbisik pada Bu Yuni, "Bu, Bu Lulu itu sebenarnya sudah tiga hari tidak pulang. Suaminya sudah nelpon saya dua kali."

Bu Yuni terkejut. Matanya membulat. "Apa? Kenapa tidak bilang dari tadi?"

"Bu Lulu yang minta saya diam. Katanya dia malu."

Bu Yuni menghela napas panjang. "Ya Allah... saya tidak tahu itu."

Ketika Bu Lulu kembali, Bu Yuni mendekatinya. "Bu Lulu, saya dengar Ibu sudah tiga hari tidak pulang?"

Bu Lulu menunduk. "Maaf, Bu. Saya malu."

"Kenapa malu, Bu?"

"Karena saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Saya pikir dengan lembur, saya bisa selesai. Tapi ternyata tidak."

Bu Yuni menggenggam tangan Bu Lulu. "Bu, Ibu tidak perlu malu. Ibu sudah berusaha maksimal. Tapi Ibu juga perlu istirahat. Kalau Ibu sakit, kita semua rugi."

Bu Lulu menangis. "Maaf, Bu. Saya hanya ingin membantu."

"Ibu sudah membantu. Lebih dari cukup. Sekarang pulang. Istirahat. Besok pagi Ibu bisa lanjutkan."

"Tapi Bu—"

"PULANG, Bu Lulu. Itu perintah."

Bu Lulu menurut. Ia merapikan meja, mengambil tasnya, dan berjalan keluar. Namun sebelum pergi, ia berbalik. "Bu Yuni, terima kasih."

"Sama-sama, Bu. Hati-hati di jalan."

 

Setelah Bu Lulu pulang, suasana menjadi lebih sunyi. Hanya Bu Yuni, Pak Eko, Pak Santoso, Pak Edi, dan Si Amat yang tersisa. Pak Joko dan yang lain sudah pulang lebih awal karena kelelahan.

"Teman-teman, kita lanjutkan," kata Bu Yuni. "Kita targetkan pukul 05.00 semua data terkumpul. Jam 06.00 kita mulai menyusun laporan akhir."

Mereka bekerja dengan kecepatan penuh. Tidak ada lagi pembicaraan. Hanya fokus.

Pukul 03.00. Pak Eko mulai berbicara sendiri. "Anggaran desa... laporan kegiatan... bukti transaksi... semuanya harus sinkron..."

"Pak Eko, Bapak bicara dengan siapa?" tanya Si Amat.

Pak Eko menoleh dengan mata setengah sadar. "Sama laporan."

"Laporannya nggak bisa jawab, Pak."

"Iya, aku tahu. Tapi setidaknya dia tidak membantah."

Semua tertawa lelah. Tawa yang keluar bukan karena lucu, tapi karena kelelahan yang sudah di ambang batas.

Pukul 04.00. Pak Santoso mulai mengantuk berat. Kacamatanya turun ke ujung hidung, tapi ia tidak menyadarinya.

"Pak Santoso, istirahat sebentar," kata Bu Yuni.

"Tidak, Bu. Saya kuat."

"Bapak bicara sambil mata pejam, Pak."

Pak Santoso membuka matanya lebar-lebar. "Oh, iya? Maaf. Saya lanjutkan."

Pukul 05.00. Target tercapai. Semua data terkumpul. Meskipun masih ada yang kurang, setidaknya sudah 90 persen.

"Teman-teman, kita berhasil mengumpulkan data. Sekarang istirahat satu jam. Jam 06.00 kita mulai menyusun laporan."

Mereka merebahkan diri di kursi-kursi plastik. Ada yang tidur, ada yang hanya memejamkan mata. Si Amat tidur dengan mulut terbuka, mendengkur keras. Pak Edi tidur sambil memegang termos kopinya. Pak Eko tidur dengan laptop di pangkuannya. Pak Santoso tidur dengan kacamata masih menempel di hidung.

Bu Yuni tidak tidur. Ia memeriksa semua data yang terkumpul. Ia ingin memastikan tidak ada yang terlewat.

"Bu, Ibu tidak tidur?" tanya Pak Edi yang terbangun karena haus.

"Tidak, Pak. Saya cek data dulu."

"Bu, Ibu manusia, bukan robot. Istirahat."

"Sebentar lagi, Pak."

Pak Edi menghela napas. Ia tahu tidak bisa memaksa. Ia hanya bisa berdoa agar Bu Yuni tidak jatuh sakit.

 

Pukul 06.00. Matahari mulai terbit. Sinar jingganya masuk melalui jendela, membangunkan satu per satu perangkat desa yang tidur di kursi.

"Selamat pagi, teman-teman," sapa Bu Yuni. "Kita mulai."

Mereka bangun dengan tubuh pegal-pegal. Namun semangat mereka tidak pudar.

"Mari kita susun laporan. Bu Lulu sudah datang? Belum? Baik, kita mulai dulu. Nanti beliau akan menyusul."

Mereka bekerja menyusun laporan. Bu Yuni memimpin. Ia membagi tugas: Pak Eko menulis laporan program desa, Pak Santoso menulis laporan kependudukan, Pak Edi menulis laporan sosial, Si Amat membantu Bu Yuni menulis laporan keseluruhan.

Pukul 08.00. Bu Lulu datang dengan wajah segar. "Maaf, Bu. Saya terlambat."

"Tidak apa-apa, Bu. Silakan lanjutkan laporan keuangan."

Pukul 10.00. Tim Inspektorat belum datang. Mereka lega, tetapi tetap waspada.

"Kita selesaikan laporan sebelum mereka datang," kata Bu Yuni.

Pukul 11.00. Laporan hampir selesai. Tinggal beberapa halaman lagi.

Tiba-tiba, suara mobil terdengar dari luar. Sebuah mobil dinas berwarna abu-abu berhenti di depan kantor desa. Debu jalanan masih beterbangan saat pintu mobil terbuka. Tiga orang turun. Dua laki-laki berkemeja putih lengan panjang, satu perempuan dengan blazer hitam. Mereka membawa map tebal dan tas laptop hitam. Langkah mereka pasti, tidak tergesa. Wajah mereka serius, tidak tersenyum.

"Inspectorat," bisik Pak Edi.

 

Tim Inspektorat masuk ke kantor desa dengan langkah tegas. Ketua tim, seorang pria bernama Pak Heru, berusia sekitar 45 tahun, berkumis tebal, berkacamata bundar, dan berwajah tegas. Di sampingnya, Bu Dewi, auditor wanita dengan rambut pendek dan tatapan tajam. Dan Pak Budi, auditor muda yang terlihat lebih ramah.

"Selamat pagi," sapa Pak Heru.

"Pagi, Pak," jawab Pak Kades Iwan yang menyambut di pintu.

"Kami dari Inspektorat Kabupaten. Kami akan melakukan verifikasi administrasi desa. Mohon kerja samanya."

"Silakan, Pak. Kami sudah siap."

Pak Heru memandang sekeliling. Matanya menyapu ruangan, meja, lemari, dan perangkat desa yang terlihat lelah. "Sepertinya malam-malam terakhir sibuk ya?"

Pak Kades tersenyum tipis. "Iya, Pak. Kami mempersiapkan laporan."

"Bagus. Kami akan lihat."

 

Tim Inspektorat duduk di kursi yang disediakan. Mereka membuka map dan laptop. Pak Heru memimpin.

"Kami ingin melihat laporan keuangan desa tahun 2000."

Bu Lulu yang ditunjuk maju dengan gemetar. Ia menyerahkan map tebal berisi laporan keuangan yang baru saja ia selesaikan pagi ini.

"Ini, Pak."

Pak Heru membuka laporan itu. Matanya bergerak cepat. Ia memeriksa angka-angka, membandingkan dengan bukti transaksi.

"Bu, bukti transaksi untuk pengadaan jalan desa di mana?"

Bu Lulu mengambil map lain. "Ini, Pak."

Pak Heru memeriksa. "Ini lengkap. Bagus."

Bu Lulu lega. Dadanya yang tadinya berdebar mulai tenang.

"Selanjutnya, laporan kependudukan."

Pak Santoso maju. Tangannya gemetar saat menyerahkan map.

"Ini, Pak."

Pak Heru memeriksa. "Data penduduk per Desember 2000 ada di sini?"

"Ada, Pak."

"Sudah diverifikasi dengan data kecamatan?"

"Belum, Pak. Tapi data ini diambil dari data kecamatan tahun 2000."

Pak Heru mengangguk. "Baik. Kami akan cek sendiri."

 

Pemeriksaan berlangsung selama dua jam. Tim Inspektorat memeriksa semua laporan: keuangan, kependudukan, pertanahan, program desa, bantuan sosial, dan surat menyurat.

Pak Heru sesekali mengernyit, sesekali mengangguk. Bu Dewi mencatat dengan teliti di buku catatannya. Pak Budi memeriksa arsip-arsip di lemari.

Pada akhir pemeriksaan, Pak Heru memanggil Pak Kades dan Bu Yuni.

"Pak Kades, Bu Sekdes, kami sudah selesai."

"Bagaimana, Pak?" tanya Pak Kades dengan nada khawatir.

Pak Heru menghela napas. "Secara umum, administrasi desa ini masih perlu banyak perbaikan. Namun, kami melihat adanya upaya serius untuk membenahi."

Pak Kades dan Bu Yuni mendengarkan dengan saksama.

"Laporan keuangan masih ada beberapa yang kurang bukti transaksinya. Data kependudukan masih perlu diverifikasi. Arsip-arsip lama masih belum tertata. Tapi... kami melihat kemajuan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir."

Bu Yuni mengangguk. "Terima kasih, Pak. Kami akan terus memperbaiki."

Pak Heru menatap Bu Yuni. "Ibu yang memimpin pembenahan ini?"

"Iya, Pak."

"Ibu baru bertugas?"

"Baru sebulan, Pak."

Pak Heru terkejut. "Se bulan? Dalam sebulan Ibu sudah bisa mengubah sistem administrasi yang berantakan menjadi seperti ini?"

Bu Yuni tersenyum. "Ini kerja tim, Pak. Bukan saya sendiri."

Pak Heru mengangguk kagum. "Luar biasa. Biasanya pembenahan administrasi desa butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Ibu melakukannya dalam sebulan."

"Kami belum sempurna, Pak. Masih banyak yang harus dibenahi."

"Tentu. Tapi arah perbaikannya sudah jelas. Itu yang penting."

 

Pak Heru berdiri. Ia menghadap semua perangkat desa yang hadir.

"Bapak, Ibu, kami akan menyampaikan kesimpulan sementara."

Semua diam.

"Pertama, administrasi keuangan desa masih perlu pembenahan, terutama dalam hal bukti transaksi. Namun, secara umum laporan keuangan dapat dipertanggungjawabkan."

"Kedua, administrasi kependudukan sudah cukup baik, meskipun perlu diverifikasi dengan data kecamatan."

"Ketiga, administrasi pertanahan masih perlu penataan, terutama arsip-arsip lama."

"Keempat, administrasi program desa dan bantuan sosial sudah cukup baik."

"Kelima, secara keseluruhan, Desa Awan Biru menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam bidang administrasi. Kami akan merekomendasikan agar desa ini diberikan bimbingan teknis lebih lanjut."

Pak Kades menghela napas lega. "Terima kasih, Pak."

"Kami juga akan merekomendasikan agar Desa Awan Biru dijadikan salah satu desa percontohan untuk pembenahan administrasi di kecamatan ini."

Semua terkejut. Mata membulat. Mulut ternganga.

"Desa percontohan?" tanya Pak Edi tidak percaya.

"Iya. Kami lihat potensi besar di sini. Dengan bimbingan yang tepat, desa ini bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain."

Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."

 

Tim Inspektorat pamit. Mobil abu-abu itu melaju perlahan meninggalkan halaman kantor desa. Debu beterbangan di belakangnya.

Suasana di kantor desa hening beberapa detik. Lalu...

"WOOOOOOO!!!"

Si Amat berteriak keras hingga suaranya memantul di dinding. Ia melompat-lompat seperti anak kecil yang baru diberi hadiah. "KITA BERHASIL! KITA BERHASIL!"

Pak Edi langsung duduk di kursi, kakinya lemas. "Ya Allah... ini lebih tegang dari nonton final bola..."

Pak Eko tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. "Kita berhasil... kita benar-benar berhasil..."

Pak Santoso menepuk bahu Bu Yuni. "Ini semua karena Bu Yuni..."

Bu Yuni menggeleng pelan. "Karena kita semua."

Bu Lulu menangis. Tangis haru. "Saya pikir kita akan gagal. Tapi ternyata tidak."

Pak Kades Iwan memeluk Bu Yuni. "Bu, saya tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih."

Bu Yuni tersenyum. "Pak Kades, ini baru awal. Masih banyak yang harus kita kerjakan."

"Iya, Bu. Tapi setidaknya kita sudah melewati ujian ini."

 

Sore itu, mereka mengadakan syukuran sederhana. Pak Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak dan gorengan. Anto membawa kopi dan teh. Warga yang mendengar kabar baik itu datang bergantian memberi selamat.

"Bu Yuni, selamat ya," kata Pak Darmo sambil menjabat tangan Bu Yuni.

"Terima kasih, Pak."

"Ini berkat Ibu. Desa kita mulai dikenal."

"Bukan saya, Pak. Ini kerja sama semua."

"Tetap saja, Ibu yang memulai."

Bu Ratih datang dengan membawa kue tradisional. "Bu Yuni, ini kue buatan saya. Untuk merayakan keberhasilan."

"Terima kasih, Bu Ratih."

Pak Jayeng datang dengan senyum bijaksana. "Bu Yuni, saya bangga. Desa ini akhirnya punya harapan."

"Terima kasih, Pak Jayeng. Doakan kami terus."

"Tentu, Bu. Saya akan selalu mendoakan."

 

Malam itu, setelah semua pulang, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, yang sudah dua hari tidak ia elus karena kesibukan, langsung melompat ke pangkuannya.

"Kuning, maaf ya, dua hari ini aku sibuk," katanya sambil mengelus kepala kucing itu.

Kucing itu mengeong pelan, seolah memaafkan.

"Aku lelah, Kuning. Sangat lelah. Tapi aku bahagia."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan bersinar terang.

"Ya Allah, terima kasih. Terima kasih karena Engkau berikan kami kekuatan. Terima kasih karena Engkau bimbing kami melewati ujian ini. Terima kasih karena Engkau tunjukkan bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia."

Ia memejamkan mata. Air mata mengalir di pipinya.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi aku percaya, Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita lanjutkan perjuangan."


Pagi itu, Desa Awan Biru terasa berbeda. Kabut masih turun, burung masih berkicau, namun ada sesuatu yang berubah di udara. Mungkin kebanggaan. Mungkin harapan.

Bu Yuni berjalan ke kantor dengan langkah ringan. Ia sudah tidur cukup semalam, delapan jam penuh, pertama kalinya dalam tiga hari. Tubuhnya masih pegal, tapi semangatnya baru.

Sesampainya di kantor, ia terkejut. Semua perangkat desa sudah ada di sana. Bahkan yang biasanya datang telat, hari ini datang lebih awal.

"Pagi, Bu," sapa mereka serempak.

"Pagi... kok pada pagi sekali?"

"Semangat, Bu," kata Si Amat. "Setelah kemarin, saya jadi ketagihan."

Mereka tertawa. Suasana hangat dan penuh kebersamaan.

"Teman-teman, kemarin kita berhasil. Tapi jangan terlena. Masih banyak yang harus kita benahi."

"Setuju, Bu," kata Pak Eko.

"Mulai hari ini, kita akan fokus pada arsip lama. Target kita, dalam tiga bulan, semua arsip harus tertata."

"Tiga bulan, Bu?" tanya Pak Edi.

"Iya, tiga bulan. Kita buktikan bahwa target 6 bulan yang kita janjikan di rapat bisa kita perpendek."

"Semangat!" seru Si Amat.

Mereka mulai bekerja. Namun kali ini, tidak ada tekanan. Tidak ada panik. Yang ada hanya semangat dan kebersamaan.


Siang itu, di sela-sela istirahat, Pak Kades Iwan mengajak Bu Yuni berbicara di ruang kerjanya.

"Bu, saya ingin bercerita."

"Silakan, Pak."

Pak Iwan menghela napas. "Saya dulu hampir menyerah, Bu. Enam bulan pertama menjabat, saya merasa gagal. Warga kecewa. Perangkat desa malas. Sistem berantakan. Saya sering menangis di kamar, bertanya-tanya apa saya pantas jadi kepala desa."

Bu Yuni mendengarkan dengan saksama.

"Tapi setelah Ibu datang, semuanya berubah. Ibu seperti cahaya di tengah kegelapan. Ibu membawa harapan."

Bu Yuni tersenyum. "Pak, saya hanya manusia biasa."

"Tapi Ibu melakukan hal yang luar biasa. Ibu merapikan yang berantakan. Ibu menertibkan yang kacau. Ibu menyatukan yang terpecah."

"Pak, saya hanya menjalankan amanah."

"Ibu rendah hati. Itu yang membuat Ibu hebat."

Pak Iwan menatap foto istrinya di atas meja. "Sri, kamu lihat? Desa kita mulai berubah. Istri saya, Bu Yuni. Itu bukan namanya, tapi saya anggap seperti itu. Ibu adalah anugerah."

Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca.

"Terima kasih, Bu Yuni. Dari lubuk hati saya yang paling dalam."

 

Sore itu, Anto mampir ke kantor desa. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia. Rambutnya yang panjang terurai sedikit.

"Bu Yuni, saya punya ramalan."

"Ramalan apa lagi, To?"

"Suatu hari nanti, desa ini akan maju. Bukan hanya administrasinya, tapi juga ekonominya, pendidikannya, kesehatannya. Semua akan maju. Karena perubahan dimulai dari hal kecil, dan Ibu sudah memulainya."

Bu Yuni tersenyum. "Aamiin, To. Semoga."

"Dan Ibu akan dikenang sebagai pahlawan desa ini."

"To, saya tidak perlu dikenang. Saya hanya ingin desa ini menjadi lebih baik."

"Tapi Ibu akan dikenang. Itu sudah takdir."

Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan kembali bekerja.

Anto berjalan keluar dengan langkah santai. Di pintu, ia berbalik. "Bu Yuni, jangan pernah berubah. Desa ini butuh Ibu."


Sabtu sore, seperti biasa, Bu Yuni mengadakan evaluasi mingguan. Kali ini, semua perangkat desa hadir dengan semangat baru.

"Teman-teman, kita sudah melewati minggu yang berat. Tapi kita berhasil."

Mereka mengangguk.

"Mulai minggu depan, kita akan fokus pada arsip lama. Target kita, dalam tiga bulan, semua arsip harus tertata."

"Tiga bulan, Bu?" tanya Pak Edi lagi, seolah ingin memastikan.

"Iya, tiga bulan. Kita buktikan bahwa kita bisa lebih cepat dari target."

"Setuju!" seru mereka.

"Pembagian tugas: Pak Eko, Bapak fokus pada arsip perencanaan. Pak Santoso, Bapak fokus pada arsip pemerintahan. Pak Edi, Bapak fokus pada arsip sosial. Bu Lulu, Bapak fokus pada arsip keuangan. Mas Amat, Bapak bantu saya di arsip umum."

"Siap, Bu!" kata mereka serempak.

"Kita mulai hari Senin. Akhir pekan ini, istirahat yang cukup. Jangan sampai sakit."

"Iya, Bu."

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur pelan.

"Kuning, minggu ini berat. Tapi kita berhasil."

Kucing itu tidak bergerak.

"Aku belajar bahwa tekanan bisa datang kapan saja. Tapi jika kita bersiap, kita bisa menghadapinya."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bintang-bintang terlihat sangat jelas.

"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih untuk kekuatan yang Engkau berikan. Terima kasih untuk tim yang solid."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."


BAB 6

FITNAH DI BALIK DEDIKASI

Pagi di Desa Awan Biru tidak lagi terasa setenang biasanya. Kabut masih turun seperti selimut putih yang membungkus lembah, burung-burung masih berkicau riang di pepohonan, dan asap dapur masih mengepul dari cerobong-cerobong rumah warga. Namun di balik semua ketenangan alam itu, ada sesuatu yang berubah di udara. Bukan suhu, bukan kelembaban, bukan arah angin. Tapi sesuatu yang lebih halus, lebih sulit dideteksi, namun terasa oleh mereka yang peka: getaran kegelisahan.

Bu Yuni merasakannya sejak ia membuka mata pukul 04.30. Ada yang berbeda pagi itu. Kucing Kuning yang biasanya setia tidur di sampingnya, kali ini tidak ada di kasur. Ia mencari ke seluruh rumah, tapi kucing itu tidak ditemukan. Mungkin sedang berburu tikus, pikirnya. Tapi hatinya tidak tenang.

Setelah shalat subuh di masjid, masjid yang sama dengan dinding bata putih dan kubah hijaunya yang mulai pudar, Bu Yuni berjalan pulang menyusuri jalan setapak yang masih basah oleh embun. Biasanya, di sepanjang jalan ini, ia akan disapa oleh warga yang sedang bersiap beraktivitas. "Pagi, Bu Yuni," kata mereka dengan senyum ramah. Tapi pagi itu, sapaan itu tidak ada. Yang ada hanyalah tatapan-tatapan aneh, bisik-bisik yang berhenti ketika ia lewat, dan senyum-senyum yang dipaksakan.

"Selamat pagi, Bu Tini," sapa Bu Yuni kepada seorang ibu yang sedang menyapu halaman.

Bu Tini tersentak, seolah tidak menyangka disapa. "Eh... pagi, Bu... pagi," jawabnya tergagap, lalu buru-buru masuk ke dalam rumah, meninggalkan sapu yang masih berdiri tegak di halaman.

Bu Yuni mengernyit. Ada yang tidak beres. Ia melanjutkan perjalanan. Di tikungan depan warung Pak Karyo, ia berpapasan dengan Pak Sugeng yang biasanya ramai. "Pagi, Pak Sugeng," sapanya.

Pak Sugeng hanya mengangguk kaku, lalu mempercepat langkahnya. Tidak seperti biasanya yang suka ngobrol panjang lebar.

Bu Yuni berhenti sejenak. Ditatapnya warung Pak Karyo yang mulai ramai. Dari balik dinding anyaman bambu, ia bisa mendengar suara-suara bisik yang samar. Tidak jelas kata-katanya, tapi nadanya tidak baik.

"Ada apa ya?" gumamnya.

Ia memutuskan untuk tidak mampir ke warung. Lebih baik langsung ke kantor.

 

Di warung Pak Karyo, suasana pagi itu tidak seperti biasanya. Biasanya, warung ini dipenuhi tawa dan obrolan ringan tentang panen, harga cabai, atau gosip tetangga. Tapi pagi itu, suasananya tegang. Beberapa warga duduk di kursi-kursi kayu yang berjajar tidak rapi, menyeruput kopi hitam pekat dari gelas-gelas plastik yang sudah penyok, sambil sesekali melirik ke arah jalan tempat Bu Yuni lewat.

"Dengar-dengar, sekarang di kantor desa sudah berubah ya?" kata Pak Sugeng sambil meniup kopinya yang masih panas. Uap putih mengepul dari gelasnya, membentuk pola-pola abstrak di udara pagi yang dingin.

"Iya... tapi katanya juga banyak aturan baru," sahut Pak Karyo dari balik etalase kaca yang berisi rokok, permen, dan beberapa kebutuhan pokok. Tangannya yang gemetar karena usia sedang merapikan dagangan yang berantakan semalam.

"Perubahan sih bagus... tapi saya dengar juga ada yang nggak beres..." kata Bu Tini yang duduk di pojok, suaranya sengaja direndahkan meskipun hanya ada mereka berempat.

"Apaan tuh?" tanya Pak Sugeng, badannya mendekat, matanya menyipit penasaran.

Bu Tini menurunkan suaranya hampir berbisik. "Katanya... Bu Yuni itu terlalu ngatur. Bahkan katanya semua harus lewat dia... surat ini, surat itu, semua harus minta persetujuan dia. Katanya sih biar rapi, tapi kesannya seperti... dia yang paling berkuasa."

Seorang warga lain, Pak Karto, yang baru datang ikut nimbrung. Badannya tambun, wajahnya bulat dengan kumis tebal yang tidak pernah dicukur rapi. "Saya dengar juga begitu. Bahkan ada yang bilang, Pak Kades itu hanya boneka. Bu Yuni lah yang sesungguhnya memimpin."

"Wah, jangan asal bicara, Pak Karto. Belum tentu benar," kata Pak Karyo yang berusaha menengahi. Tangannya berhenti merapikan dagangan, matanya menatap tajam ke arah Pak Karto.

"Bukan asal bicara, Pak Karyo. Ini sudah banyak yang bilang. Saya dengar dari Pak RT sendiri."

"Pak RT yang mana?"

"Pak RT 02. Katanya, dia dengar dari perangkat desa sendiri."

Suasana hening sejenak. Pak Karyo menggeleng-gelengkan kepala. "Saya sih belum lihat buktinya. Yang saya lihat, pelayanan jadi lebih cepat. Itu fakta."

"Tapi tidak semua yang cepat itu baik, Pak Karyo. Kadang yang cepat itu asal-asalan. Atau ada maksud tersembunyi," kata Bu Tini dengan nada penuh makna.

Pak Karyo tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang. Dadanya yang bidang naik turun. "Saya hanya pedagang kecil. Tidak tahu politik. Tapi saya tahu, Bu Yuni orangnya baik. Saya lihat sendiri dia kerja sampai malam, tidak pulang-pulang, demi membereskan berkas."

"Ya, itu kan hanya agar terlihat baik, Pak Karyo. Itu strategi," kata Pak Sugeng.

"Strategi untuk apa?"

"Biar disukai warga. Biar cepat naik pangkat. Biar dapat proyek. Macam-macam."

Pak Karyo terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, ia ingin membela Bu Yuni. Di sisi lain, ia takut dibilang ikut-ikutan atau dituduh menerima sogokan.

Di pojok warung, Anto yang sejak tadi diam mendengarkan akhirnya angkat bicara. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia, meskipun udaranya tidak sedingin biasanya. Rambutnya yang panjang terurai sedikit, beberapa helai menutupi matanya.

"Saya semalam mimpi aneh," katanya dengan suara tenang.

Semua langsung menoleh. "Waduh... mulai lagi," kata Pak Sugeng dengan nada setengah mengejek.

Anto tidak terpengaruh. "Saya mimpi ada kertas beterbangan... terus ada orang yang disalahkan padahal dia yang beresin..."

Suasana hening sesaat. Lalu Pak Sugeng berkata pelan, "Maksudmu?"

Anto mengangkat bahu. "Ya... tafsirkan sendiri saja. Saya hanya cerita mimpi."

"Kamu dan mimpimu, To. Selalu saja," kata Pak Karto sambil tertawa kecil, tapi tawanya tidak tulus.

Anto hanya tersenyum misterius, lalu menyeruput kopinya yang sudah dingin.

 

Bu Yuni tiba di kantor pukul 07.00. Biasanya, ia disambut dengan senyum dan sapaan hangat dari Si Amat atau Pak Edi yang sudah datang lebih awal. Tapi pagi itu, suasana kantor terasa dingin. Bukan karena suhu—suhu di dalam memang dingin—tapi karena sikap.

Si Amat yang biasanya menyambutnya dengan semangat, pagi itu hanya menunduk dan berkata "Pagi, Bu" dengan suara yang hampir tidak terdengar. Pak Edi yang biasanya sibuk menuang kopi, pagi itu duduk diam di mejanya, memandangi gelas kosong tanpa melakukan apa-apa. Pak Eko, yang biasanya sibuk dengan ponselnya, pagi itu justru tidak membawa ponselnya ke meja. Ia hanya duduk dengan tangan terlipat di dada, wajahnya tegang.

"Pagi, teman-teman," sapa Bu Yuni berusaha ceria.

"Pagi, Bu," jawab mereka, tapi tidak serempak. Ada yang terlambat setengah detik, ada yang hampir tidak terdengar.

Bu Yuni berhenti sejenak. Ia merasakan sesuatu, sebuah keanehan yang tidak bisa dijelaskan. Seperti ada dinding tak terlihat yang memisahkannya dari rekan-rekannya. Namun ia tidak mau terpancing. Ia berjalan ke mejanya dan duduk seperti biasa.

Ia membuka map, mengambil buku catatan, dan mulai bekerja. Namun konsentrasinya terganggu. Pikirannya terus melayang ke pertanyaan yang tidak bisa ia jawab: apa yang terjadi pagi ini?

Pukul 08.00, Pak Santoso datang. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. Kacamatanya yang tebal turun ke ujung hidung, tapi ia tidak menyesuaikannya. Ia berjalan langsung ke mejanya tanpa menyapa siapa pun.

Bu Yuni menatapnya. "Pak Santoso, ada apa? Kok wajah Bapak pucat?"

Pak Santoso tersentak. "Eh... tidak, Bu. Mungkin kurang tidur."

"Bapak sakit?"

"Tidak, Bu. Saya sehat."

Tapi nada suaranya tidak meyakinkan. Matanya menghindari tatapan Bu Yuni.

Bu Lulu datang pukul 08.15. Biasanya ia ceria, pagi itu ia berjalan dengan langkah gontai, map keuangannya tidak ia peluk di dada seperti biasa, tapi ia seret di lantai. Wajahnya tampak lelah, matanya sembab, sepertinya semalaman menangis.

"Bu Lulu, Ibu baik-baik saja?" tanya Bu Yuni.

Bu Lulu hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia duduk di mejanya, membuka map, lalu menutupnya lagi. Tidak melakukan apa-apa.

Suasana kantor pagi itu seperti ruang jenazah. Sunyi, dingin, dan penuh kesedihan yang tidak bersuara.

 

Pukul 09.00, Bu Endang, staf administrasi yang pemalu dan jarang bicara, mendekati meja Bu Yuni dengan langkah ragu-ragu. Wajahnya pucat, tangannya gemetar. Ia membawa map yang tidak jelas isinya, mungkin hanya alat untuk menyembunyikan kegugupannya.

"Bu... saya mau bicara sebentar..." suaranya hampir berbisik.

Bu Yuni mengangkat wajah. Matanya menatap Bu Endang dengan lembut. "Ada apa, Bu? Silakan duduk."

Bu Endang duduk di kursi di depan meja Bu Yuni. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Bu Yuni. Jari-jarinya memainkan ujung map yang ia bawa, menggulung dan membuka, menggulung dan membuka.

"Bu... di luar mulai ada omongan..."

"Omongan apa, Bu?"

Bu Endang mengangkat kepalanya sekilas, lalu menunduk lagi. "Omongan yang tidak baik tentang Ibu."

Bu Yuni tidak terkejut. Ia sudah menduga. "Omongan apa, Bu? Tolong sampaikan terus terang."

Bu Endang menarik napas panjang. Dadanya yang kecil naik turun. "Katanya... Ibu terlalu mendominasi. Semua harus lewat Ibu. Katanya... Ibu cari nama sendiri. Katanya... Ibu mau jadi kepala desa, makanya Ibu sibuk membenahi administrasi."

Bu Yuni terdiam. Wajahnya tetap tenang, namun matanya sedikit berubah, ada kerutan halus di keningnya yang biasanya mulus.

"Katanya lagi... Ibu menerima uang dari LSM Pundi Desa untuk proyek administrasi. Katanya... Ibu korupsi anggaran desa."

Bu Yuni tersentak. Ini tuduhan berat. Matanya membulat. "Korupsi? Dari mana mereka tahu?"

"Tidak jelas, Bu. Tapi sudah mulai menyebar. Dari mulut ke mulut. Saya dengar dari Bu Tini, Bu Tini dengar dari Pak Sugeng, Pak Sugeng dengar dari Pak RT, Pak RT dengar dari... ya, tidak jelas asalnya."

Bu Yuni menghela napas panjang. Dadanya naik turun. "Bu Endang, terima kasih sudah memberitahu saya."

"Saya hanya kasihan, Bu. Ibu sudah bekerja keras, tapi malah difitnah."

"Tidak apa-apa, Bu. Ini sudah saya duga. Perubahan selalu menimbulkan perlawanan."

Bu Endang mengangguk. "Saya dukung Ibu, Bu. Saya tahu Ibu orang baik."

"Terima kasih, Bu Endang. Ibu baik."

Bu Endang berdiri, pamit, lalu kembali ke mejanya. Namun sebelum pergi, ia berbisik, "Bu, hati-hati dengan Pak Eko."

Bu Yuni mengernyit. "Maksudnya?"

Bu Endang tidak menjawab. Ia berjalan cepat meninggalkan Bu Yuni.

 

Sepanjang pagi itu, Bu Yuni mengamati Pak Eko. Ia memang berbeda. Biasanya, Pak Eko adalah orang yang paling banyak bicara di kantor. Ia suka berkomentar tentang segala hal, dari politik nasional hingga harga cabai di pasar. Ia juga suka bercanda, meskipun kadang candaannya menyakitkan.

Tapi pagi itu, Pak Eko diam. Ia duduk di mejanya dengan tangan terlipat di dada, memandangi laptop yang tidak ia nyalakan. Wajahnya tegang, bibirnya mengatup rapat. Sesekali ia melirik ke arah Bu Yuni, lalu cepat-cepat memalingkan muka.

Bu Yuni ingin mendekatinya. Ia ingin bertanya, "Pak Eko, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" Tapi ia urungkan niatnya. Mungkin belum waktunya. Mungkin Pak Eko butuh ruang.

Pukul 10.00, Pak Eko berdiri. Ia berjalan ke luar kantor, menuju halaman belakang. Bu Yuni melihat dari balik jendela. Pak Edi menyusulnya.

"Pak Eko, ada apa?" tanya Pak Edi sambil mendekat.

Pak Eko tidak menjawab. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku bajunya, menyalakannya dengan korek api yang tangannya gemetar. Asap mengepul dari hidung dan mulutnya, membentuk lingkaran-lingkaran yang segera hilang ditiup angin.

"Lo kenapa, Ko? Kayak orang lagi punya beban berat," kata Pak Edi sambil berdiri di sampingnya.

Pak Eko menghela napas. Asap rokok mengepul lagi. "Pak, saya lagi bingung."

"Bingung kenapa?"

"Saya dengar ada isu tentang Bu Yuni. Isu yang tidak baik."

"Emang isu apa?"

"Katanya Bu Yuni cari nama. Katanya dia menerima uang dari LSM. Katanya dia korupsi."

Pak Edi terkejut. Matanya membulat. "Apa? Dari mana lo dengar?"

"Dari Pak Santoso. Pak Santoso dengar dari Pak Didit. Pak Didit dengar dari... saya tidak tahu."

Pak Edi terdiam. Ia menatap Pak Eko dengan tajam. "Lo percaya?"

Pak Eko mengangkat bahu. "Saya tidak tahu, Pak. Saya bingung."

"Ko, jangan gampang percaya isu. Buktikan dulu."

"Tapi kalau isu itu benar? Kita selama ini mendukung orang yang salah?"

Pak Edi menghela napas. "Ko, kita lihat bukti. Selama ini, apa yang Bu Yuni lakukan? Apakah ada bukti dia korupsi? Apakah ada bukti dia cari nama?"

Pak Eko terdiam. Ia tidak bisa menjawab.

"Dia kerja sampai malam, sampai pagi. Dia tidak minta imbalan. Dia bahkan sering membayar keperluan kantor dari uang sendiri. Lo lihat sendiri, dia pakai baju itu-itu saja, tidak pernah ganti. Itu tanda orang korupsi? Korupsi biasanya hidup mewah, bukan sederhana."

Pak Eko mengangguk pelan. "Iya, sih..."

"Jadi, jangan gampang terpengaruh isu. Cari tahu dulu kebenarannya."

Pak Eko membuang puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya dengan sepatu. "Baik, Pak. Saya akan cari tahu."

 

Pak Edi kembali ke kantor. Ia mendekati meja Bu Yuni dengan langkah tegas.

"Bu, saya mau bicara."

"Silakan, Pak Edi."

Pak Edi duduk di kursi depan meja Bu Yuni. Ia menatap Bu Yuni dengan mata jujur. "Bu, saya dengar ada isu tidak baik tentang Ibu."

Bu Yuni tersenyum tipis. "Saya sudah dengar, Pak."

"Ibu tahu dari siapa?"

"Dari Bu Endang."

"Pak Eko juga dengar. Katanya isu itu sudah menyebar ke warga."

"Iya, Pak. Saya juga merasakan suasana yang berbeda pagi ini."

Pak Edi menghela napas. "Bu, saya percaya Ibu. Saya tahu Ibu orang baik."

"Terima kasih, Pak Edi."

"Tapi Pak Eko masih ragu. Saya sudah coba yakinkan."

"Tidak apa-apa, Pak. Setiap orang berhak ragu. Yang penting, kita buktikan dengan kerja."

Pak Edi mengangguk. "Saya akan bantu Ibu membuktikan bahwa isu itu tidak benar."

"Terima kasih, Pak Edi. Ibu baik."

Pak Edi berdiri, pamit, lalu kembali ke mejanya. Namun sebelum pergi, ia berkata, "Bu, hati-hati. Isu ini bisa menghancurkan."

Bu Yuni mengangguk. "Saya tahu, Pak. Saya tahu."

 

Si Amat yang sejak tadi diam, akhirnya mendekati Bu Yuni. Wajahnya pucat, matanya sayu, tangannya gemetar memegang buku catatan.

"Bu... saya mau bicara."

"Silakan, Mas Amat."

Si Amat duduk di kursi. Ia menunduk, tidak berani menatap Bu Yuni. "Bu, saya dengar isu tentang Ibu."

"Iya, Mas. Saya sudah dengar."

"Bu... saya... saya sempat percaya."

Bu Yuni terkejut. Matanya membulat. "Bapak percaya?"

Si Amat mengangguk pelan. "Maaf, Bu. Saya bodoh. Saya terlalu gampang percaya omongan orang."

"Kenapa Bapak percaya, Mas?"

Si Amat mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca. "Karena yang menyebarkan adalah orang yang saya hormati, Bu. Pak Didit. Beliau tokoh masyarakat. Saya pikir, masak tokoh masyarakat berbohong?"

Bu Yuni menghela napas. "Mas Amat, tokoh masyarakat juga manusia. Bisa salah."

"Saya tahu, Bu. Sekarang saya sadar. Maafkan saya."

Bu Yuni tersenyum. "Mas Amat, Bapak tidak perlu minta maaf. Bapak jujur. Itu yang penting."

Si Amat menangis. Air matanya jatuh ke meja. "Bu, saya malu. Saya sudah dibantu Ibu, tapi saya malah memfitnah Ibu di dalam hati."

"Mas Amat, fitnah itu ketika Bapak menyebarkan isu. Bapak hanya percaya, tidak menyebarkan. Itu belum fitnah. Itu hanya... kurang teliti."

Si Amat mengusap air matanya dengan lengan baju. "Saya janji, Bu. Saya tidak akan percaya isu lagi sebelum saya cek kebenarannya."

"Bagus, Mas Amat. Itu yang namanya dewasa."

Si Amat berdiri, membungkuk hormat, lalu kembali ke mejanya. Namun kali ini, semangatnya kembali. Ia membuka buku catatan, mengambil pulpen, dan mulai bekerja.

 

Pak Santoso, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. Ia berjalan ke tengah ruangan, berdiri di samping papan prosedur yang dulu ia buat bersama Bu Yuni.

"Teman-teman, saya mau bicara."

Semua menoleh. Pak Santoso jarang memulai pembicaraan. Biasanya ia hanya mengikuti.

"Saya dengar isu tentang Bu Yuni. Saya juga dengar bahwa isu itu berasal dari Pak Didit."

Suasana hening. Semua mendengarkan.

"Saya sudah bekerja di kantor ini selama 20 tahun. Saya sudah melihat banyak sekdes. Ada yang baik, ada yang biasa, ada yang buruk. Tapi saya belum pernah melihat sekdes sebaik Bu Yuni."

Pak Eko mengangkat alis. "Buktinya, Pak?"

"Buktinya? Lihat sendiri. Dalam satu bulan, pelayanan berubah drastis. Arsip mulai rapi. Warga mulai puas. Itu bukti nyata. Bukan isu."

Pak Eko terdiam.

"Jadi, saya minta kepada teman-teman, jangan mudah terpengaruh isu. Cari tahu dulu kebenarannya. Dan jika tidak ada bukti, jangan percaya."

Pak Edi bertepuk tangan pelan. "Setuju, Pak Santoso."

Si Amat ikut bertepuk tangan. "Setuju."

Bu Lulu mengangguk. "Setuju."

Pak Eko hanya diam. Ia belum bisa berkata setuju, tapi juga tidak bisa menolak.

Bu Yuni berdiri. Ia berjalan ke tengah ruangan, berdiri di samping Pak Santoso.

"Teman-teman, terima kasih. Terima kasih untuk dukungannya. Tapi saya tidak ingin ada perpecahan. Saya tidak ingin ada yang merasa terpaksa mendukung saya. Jika ada yang masih ragu, silakan. Itu hak Bapak dan Ibu."

Ia menatap satu per satu. "Yang saya minta, jangan menyebarkan isu yang belum terbukti kebenarannya. Karena isu bisa menghancurkan seseorang, meskipun orang itu tidak bersalah."

Pak Eko menunduk. Ia merasa terkena.

"Baiklah, kita kembali bekerja. Masih banyak yang harus kita kerjakan."

 

Sementara itu, di luar kantor, isu tentang Bu Yuni sudah menyebar luas. Dari warung ke warung, dari rumah ke rumah, dari mulut ke mulut.

Di Pasar Awan Biru, pasar kecil yang hanya buka setiap hari legi, para ibu-ibu sedang berbelanja sambil bergosip.

"Bu, dengar isu tentang Sekdes kita?" kata Bu Sri, ketua PKK, kepada Bu Tini.

"Iya, saya dengar. Katanya dia cari nama."

"Bukan hanya itu. Katanya dia korupsi anggaran desa."

"Wah, parah. Padahal saya kira dia orang baik."

"Ya, itu namanya topeng, Bu. Pura-pura baik di depan, tapi di belakang lain."

Bu Parmi, istri Pak Darmo, yang kebetulan sedang berbelanja sayur di kios sebelah, mendengar percakapan itu. Ia mendekat.

"Bu, maaf, saya dengar Ibu bicara tentang Bu Yuni."

Bu Sri dan Bu Tini saling pandang. "Eh, iya, Bu. Kami hanya ngobrol."

"Apakah Ibu punya bukti bahwa Bu Yuni korupsi?" tanya Bu Parmi dengan nada tegas.

Bu Sri dan Bu Tini terdiam. "Ya... kata orang..."

"Kata orang? Itu bukan bukti, Bu. Itu gosip."

"Tapi kalau sudah banyak yang bilang, pasti ada benarnya," kata Bu Tini.

Bu Parmi menggeleng. "Tidak, Bu. Banyak yang bilang belum tentu benar. Dulu, banyak yang bilang suami saya jual tanah warisan. Padahal tidak. Itu hanya fitnah."

Bu Sri dan Bu Tini diam.

"Saya kenal Bu Yuni. Suami saya pernah dibantunya. Bu Yuni tidak minta imbalan apa pun. Dia bahkan menolak ketika suami saya mau memberikan uang terima kasih."

"Jadi, Ibu percaya Bu Yuni?" tanya Bu Sri.

"Saya percaya pada bukti. Dan bukti menunjukkan bahwa Bu Yuni orang baik."

Bu Sri mengangguk. "Baik, Bu. Saya tidak akan ikut-ikutan menyebarkan isu lagi."

"Terima kasih, Bu."

 

Pak Darmo mendengar isu itu dari istrinya. Wajahnya langsung merah padam.

"Apa? Fitnah! Itu fitnah!" bentaknya di dalam rumah.

"Iya, Pak. Saya sudah bilang sama Bu Sri dan Bu Tini," kata Bu Parmi.

"Besok saya akan ke kantor desa. Saya akan membela Bu Yuni."

"Jangan marah-marah dulu, Pak. Nanti malah jadi masalah."

"Saya tidak marah. Saya hanya... kesal. Orang baik difitnah."

Pak Darmo duduk di kursi ruang tamunya. Ia memegang kepalanya yang terasa pusing. "Mi, kamu tahu, Bu Yuni itu menyelamatkan tanah kita. Kalau bukan karena dia, mungkin tanah kita sudah diambil orang."

"Saya tahu, Pak."

"Sekarang dia difitnah. Kita harus membantunya."

"Tapi bagaimana, Pak?"

"Besok saya akan ke kantor desa. Saya akan bicara dengan Pak Kades. Saya akan minta agar isu ini diselidiki."

"Baik, Pak. Saya dukung."

 

Anto, yang penasaran dengan asal-usul isu itu, melakukan penyelidikan kecil-kecilan. Ia mengunjungi warung-warung, mendengarkan percakapan, lalu melacak dari siapa isu itu berasal.

Dari warung Pak Karyo, ia mendapat petunjuk: isu itu berasal dari Pak RT 02. Dari Pak RT 02, ia mendapat petunjuk: isu itu berasal dari Pak Didit. Dari Pak Didit, ia mendapat petunjuk: isu itu berasal dari... seseorang yang tidak mau disebutkan namanya.

Anto tidak puas. Ia mendatangi Pak Didit langsung di rumahnya.

"Selamat sore, Pak Didit," sapa Anto sambil berdiri di pintu.

Pak Didit terkejut. Ia tidak menyangka Anto datang. "Eh, Anto. Ada apa?"

"Ada yang ingin saya tanyakan, Pak."

"Silakan masuk."

Anto masuk ke ruang tamu rumah Pak Didit. Rumahnya cukup besar, berdinding bata putih, berlantai keramik, dengan sofa kulit di ruang tamu. Sebagai Ketua BPD, Pak Didit memang lebih sejahtera dari kebanyakan warga.

"Pak, saya dengar Bapak menyebarkan isu tentang Bu Yuni."

Pak Didit terkejut. Wajahnya berubah. "Siapa bilang?"

"Banyak yang bilang, Pak. Dan mereka bilang sumbernya dari Bapak."

Pak Didit terdiam. Ia memandang Anto dengan mata tajam. "Anto, kamu ini sopir truk. Urusanmu bawa barang, bukan urus politik desa."

"Saya warga desa ini, Pak. Saya punya hak untuk tahu kebenaran."

Pak Didit menghela napas. "Baik, saya akui. Saya yang menyebarkan isu itu."

"Kenapa, Pak? Apa buktinya?"

Pak Didit diam. Ia tidak menjawab.

"Pak, saya tahu Bapak punya kepentingan. Bapak ingin mencalonkan diri sebagai kepala desa pada pilkades berikutnya. Bu Yuni dianggap sebagai saingan, padahal dia hanya sekdes."

Pak Didit terkejut. "Kamu tahu?"

"Sopir truk juga bisa mendengar, Pak. Kami keluar masuk desa, dengar ini dengar itu."

Pak Didit menghela napas. "Anto, kamu jangan ikut campur. Ini urusan politik."

"Pak, fitnah itu dosa besar. Apalagi fitnah terhadap orang yang tidak bersalah."

"Kamu yakin dia tidak bersalah?"

"Saya yakin, Pak. Saya lihat sendiri dia bekerja. Tidak ada indikasi korupsi."

Pak Didit terdiam. Ia memandang lantai keramik yang mengkilap. "Anto, saya... saya minta maaf."

"Bukan saya yang Bapak sakiti, Pak. Tapi Bu Yuni."

"Saya akan minta maaf padanya."

"Kapan, Pak?"

"Besok."

Anto berdiri. "Baik, Pak. Saya tunggu."

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, yang pagi tadi tidak ada, kini sudah kembali. Ia tidur di pangkuan Bu Yuni, mendengkur pelan.

"Kuning, hari ini berat," katanya sambil mengelus kepala kucing itu.

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku difitnah, Kuning. Ada yang bilang aku korupsi, aku cari nama, aku ini, aku itu."

Kucing itu diam.

"Aku sedih, Kuning. Bukan karena fitnahnya. Tapi karena orang-orang yang percaya. Padahal aku sudah bekerja keras untuk mereka."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan sabit tipis menggantung di ufuk barat.

"Ya Allah, kenapa ya? Kenapa orang baik selalu diuji? Kenapa niat baik selalu disalahartikan? Kenapa kerja keras selalu dicurigai?"

Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak menyekanya.

"Tapi aku tidak akan menyerah, Ya Allah. Aku akan tetap bekerja. Aku akan tetap melayani. Karena Engkau tahu niatku. Hanya Engkau yang tahu."

Ia memejamkan mata. Berdoa untuk waktu yang lama.

"Ya Allah, lindungi aku dari fitnah. Lindungi namaku dari kebohongan. Dan tunjukkan kebenaran kepada mereka yang tertipu."

Ia membuka mata. Bintang-bintang terlihat lebih terang dari sebelumnya.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok aku akan tetap tersenyum. Aku tidak akan membiarkan fitnah mengalahkanku."

 

Keesokan paginya, Bu Yuni datang ke kantor dengan senyum di wajahnya. Ia sengaja memaksakan diri untuk tersenyum, meskipun hatinya luka. Ia ingin menunjukkan bahwa fitnah tidak akan mengalahkannya.

"Selamat pagi, teman-teman," sapanya ceria.

"Pagi, Bu," jawab mereka. Kali ini lebih serempak dari kemarin. Mungkin karena mereka malu telah terpengaruh isu.

Pak Eko, yang kemarin paling terlihat terpengaruh, hari ini tersenyum pada Bu Yuni. "Bu, saya minta maaf."

"Maaf untuk apa, Pak Eko?"

"Saya... saya sempat ragu. Saya sempat percaya isu."

"Tidak apa-apa, Pak. Ragu itu wajar. Yang penting, Bapak tidak menyebarkan isu."

"Saya tidak menyebarkan, Bu. Saya hanya... diam."

"Itu sudah baik, Pak."

Pak Eko menghela napas lega. "Terima kasih, Bu."

Pukul 09.00, Pak Didit datang ke kantor desa. Wajahnya tegang, langkahnya ragu-ragu. Ia tidak datang sendirian. Anto ikut di belakangnya, seperti pengawal pribadi.

"Bu Yuni, saya mau bicara," kata Pak Didit.

"Silakan, Pak Didit."

Pak Didit duduk di kursi depan meja Bu Yuni. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Bu Yuni.

"Bu, saya mau minta maaf."

Bu Yuni terkejut. "Minta maaf untuk apa, Pak?"

"Saya yang menyebarkan isu tentang Ibu."

Suasana kantor langsung hening. Semua mata tertuju pada Pak Didit.

"Saya bilang Ibu korupsi, Ibu cari nama, Ibu ini, Ibu itu. Padahal saya tidak punya bukti."

Bu Yuni terdiam. Wajahnya tenang, namun hatinya bergetar.

"Saya minta maaf, Bu. Saya bersalah. Saya telah memfitnah Ibu."

"Kenapa, Pak?" tanya Bu Yuni dengan suara lembut.

Pak Didit menghela napas. "Karena saya iri, Bu."

"Iri?"

"Iya, iri. Ibu datang, lalu dalam sebulan bisa mengubah desa ini. Saya yang sudah puluhan tahun di sini, tidak bisa berbuat apa-apa. Saya merasa... terancam."

Pak Eko yang mendengar itu terkejut. "Pak Didit, Bapak Ketua BPD. Seharusnya Bapak mendukung, bukan memfitnah."

"Saya tahu. Saya salah. Saya minta maaf."

Pak Kades Iwan yang mendengar keributan dari ruangannya keluar. "Ada apa ini?"

"Pak Didit mengaku menyebarkan fitnah tentang Bu Yuni, Pak," kata Pak Edi.

Pak Kades Iwan menatap Pak Didit dengan tajam. "Pak Didit, saya kecewa."

"Saya tahu, Pak. Saya minta maaf."

"Maaf saja tidak cukup. Bapak harus bertanggung jawab."

"Bagaimana tanggung jawabnya, Pak?"

"Bapak harus mengakui di depan umum bahwa Bapak memfitnah Bu Yuni. Bapak harus minta maaf di depan warga."

Pak Didit mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan lakukan."

 

Sore itu, Pak Kades Iwan mengumpulkan warga di balai desa. Tidak semua warga hadir, hanya sekitar 50 orang, termasuk para tokoh masyarakat, perangkat desa, dan beberapa warga yang kebetulan ada di sekitar kantor.

Pak Didit berdiri di depan. Wajahnya pucat, tangannya gemetar memegang mikrofon.

"Bapak, Ibu, warga sekalian, saya berkumpul di sini untuk mengakui kesalahan saya."

Suasana hening. Semua mendengarkan.

"Beberapa hari terakhir, ada isu tentang Bu Yuni. Isu bahwa beliau korupsi, cari nama, dan sebagainya. Saya yang menyebarkan isu itu."

Warga mulai berbisik-bisik.

"Saya tidak punya bukti. Saya hanya... iri. Saya iri karena Bu Yuni bisa mengubah desa ini dalam waktu singkat, sementara saya yang sudah puluhan tahun di sini tidak bisa berbuat apa-apa."

Pak Didit menunduk. "Saya minta maaf kepada Bu Yuni. Dan saya minta maaf kepada warga karena telah memfitnah."

Bu Yuni berdiri. Ia berjalan ke depan, berdiri di samping Pak Didit.

"Pak Didit, saya maafkan Bapak."

Pak Didit terkejut. Matanya berkaca-kaca. "Bu, Ibu memaafkan saya?"

"Iya, Pak. Saya maafkan. Manusia tempatnya salah. Yang penting Bapak mengakui dan minta maaf."

Pak Didit menangis. Air matanya jatuh ke lantai. "Terima kasih, Bu. Terima kasih."

Warga bertepuk tangan. Ada yang menangis haru, ada yang tersenyum lega.

Pak Kades Iwan mengambil mikrofon. "Warga sekalian, kita harus belajar dari kejadian ini. Jangan mudah percaya isu. Cari tahu kebenarannya. Dan jika tidak ada bukti, jangan disebarkan."

Warga mengangguk.

"Dan saya berharap, kejadian ini tidak mengganggu kerja kita semua. Bu Yuni tetap menjalankan tugasnya. Dan kita semua mendukungnya."

 

Setelah pertemuan selesai, Pak Eko mendekati Bu Yuni. Matanya merah, pipinya basah.

"Bu, saya minta maaf."

"Pak Eko, Bapak sudah minta maaf tadi pagi."

"Tapi saya merasa bersalah, Bu. Saya sempat percaya isu itu. Saya sempat ragu pada Ibu."

Bu Yuni tersenyum. "Pak Eko, ragu itu wajar. Yang tidak wajar adalah jika kita menyebarkan isu tanpa bukti."

"Iya, Bu. Saya janji, mulai sekarang saya akan lebih kritis."

"Bagus, Pak Eko. Itu yang saya harapkan."

Pak Eko mengusap air matanya. "Bu, saya boleh peluk Ibu?"

Bu Yuni terkejut, lalu tersenyum. "Silakan, Pak."

Pak Eko memeluk Bu Yuni. Tangisnya pecah. "Maaf, Bu. Maaf."

Bu Yuni menepuk punggung Pak Eko. "Sudah, Pak. Sudah. Saya maafkan."

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, yang setia, tidur di pangkuannya.

"Kuning, hari ini aku belajar sesuatu."

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku belajar bahwa fitnah bisa datang dari orang yang kita dukung. Pak Didit adalah Ketua BPD, seharusnya dia mendukung pembenahan desa. Tapi karena iri, dia malah memfitnah."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku juga belajar bahwa tidak semua orang yang ragu itu jahat. Pak Eko ragu, tapi dia jujur. Dia mengakuinya. Itu lebih baik daripada orang yang pura-pura mendukung tapi di belakang memfitnah."

Kucing itu bergerak sedikit, menyesuaikan posisi.

"Dan aku belajar bahwa memaafkan itu berat, tapi melegakan. Tadinya aku marah pada Pak Didit. Tapi setelah memaafkan, hatiku terasa ringan."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk pelajaran hari ini. Terima kasih karena Engkau berikan aku kekuatan untuk memaafkan. Terima kasih karena Engkau tunjukkan bahwa kebenaran selalu menang."

Ia memejamkan mata.

"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita mulai lagi."

 

Pagi itu, Desa Awan Biru kembali seperti sediakala. Kabut masih turun, burung masih berkicau, dan warung Pak Karyo kembali ramai dengan tawa dan obrolan.

Namun ada yang berbeda. Warga yang tadinya menghindari Bu Yuni, kini kembali menyapanya dengan hangat.

"Pagi, Bu Yuni!" sapa Pak Karyo dari warungnya.

"Pagi, Pak Karyo!"

"Ibu sudah sarapan? Mampir dulu!"

"Terima kasih, Pak. Nanti saja. Saya ke kantor dulu."

Bu Yuni melanjutkan perjalanan dengan langkah ringan. Hatinya lega. Fitnah sudah berlalu. Kini ia bisa kembali fokus bekerja.

Di kantor, semua perangkat desa sudah datang. Mereka tersenyum, menyapa, dan bekerja dengan semangat.

"Bu, ini laporan mingguan," kata Si Amat sambil menyerahkan setumpuk kertas.

"Terima kasih, Mas Amat."

"Bu, saya sudah rapikan arsip pertanahan," kata Pak Santoso.

"Bagus, Pak Santoso."

"Bu, laporan keuangan sudah saya perbaiki," kata Bu Lulu.

"Terima kasih, Bu Lulu."

Suasana kantor pagi itu hangat dan penuh kebersamaan. Fitnah yang sempat memecah mereka, kini menjadi pelajaran yang mengikat mereka lebih erat.

 

Pak Didit, yang tadinya menjadi sumber fitnah, kini berubah. Ia datang ke kantor desa dan menawarkan bantuan.

"Bu Yuni, saya mau bantu."

"Bantu apa, Pak?"

"Apa saja. Saya merasa bersalah. Saya ingin menebus kesalahan."

Bu Yuni tersenyum. "Pak Didit, Bapak tidak perlu menebus. Cukup Bapak tidak mengulangi kesalahan."

"Tidak, Bu. Saya ingin bantu aktif. Saya bisa bantu mengawasi pelayanan, atau bantu sosialisasi ke warga."

"Baik, Pak. Bapak bisa bantu sosialisasi persyaratan surat-menyurat ke warga. Agar mereka tidak bolak-balik."

"Siap, Bu!"

Pak Didit pun berkeliling desa, dari rumah ke rumah, dari dusun ke dusun, memberitahu warga tentang persyaratan surat-menyurat yang baru. Ia melakukannya dengan sungguh-sungguh, seolah ingin menebus dosanya.

Warga yang melihat perubahan Pak Didit ikut terkesan. "Pak Didit sekarang baik ya," kata mereka.

"Ya, dia sadar sudah salah."

"Semoga istiqomah."

 

Anto, yang berperan besar dalam mengungkap sumber fitnah, mendapat pujian dari warga.

"To, kamu hebat," kata Pak Edi suatu sore di warung Pak Karyo.

"Hebat kenapa, Pak?"

"Kamu bisa bongkar sumber fitnah. Tanpa kamu, mungkin isu itu masih menyebar."

Anto tersenyum misterius. "Saya hanya peka, Pak. Dan saya tidak suka ketidakadilan."

"Lo mau jadi detektif, To?" ledek Pak Sugeng.

"Detektif kampung, Pak. Kenapa tidak?"

Mereka tertawa bersama. Anto menyeruput kopinya dengan tenang.

"Tapi serius, To. Kami berterima kasih padamu," kata Pak Karyo.

"Tidak usah berterima kasih, Pak. Lakukan hal yang sama jika ada ketidakadilan di sekitar Bapak."

"Setuju, To. Setuju."

 

Sabtu sore, Bu Yuni mengadakan evaluasi mingguan seperti biasa. Kali ini, semua perangkat desa hadir dengan wajah yang lebih tenang.

"Teman-teman, minggu ini berat. Tapi kita melewatinya."

Mereka mengangguk.

"Kita belajar bahwa fitnah bisa datang kapan saja. Kita juga belajar bahwa persatuan adalah kunci menghadapi fitnah."

Pak Eko angkat bicara. "Bu, saya malu. Saya sempat terpecah."

"Tidak apa-apa, Pak Eko. Yang penting kita kembali bersatu."

Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, Ibu luar biasa. Ibu memaafkan Pak Didit. Saya tidak tahu apakah saya bisa sebesar itu."

Bu Yuni tersenyum. "Pak Santoso, memaafkan itu berat. Tapi jika kita tidak memaafkan, kebencian akan terus tumbuh. Dan kebencian hanya akan merusak kita."

Pak Edi mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus belajar memaafkan."

"Mulai minggu depan," lanjut Bu Yuni, "kita akan fokus pada arsip lama. Target kita, dalam tiga bulan, semua arsip tertata."

"Setuju, Bu!" seru mereka.

"Dan saya minta, jika ada isu lagi, jangan mudah percaya. Cek dulu kebenarannya. Diskusikan di sini. Jangan disebarkan ke luar."

"Setuju, Bu!"

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur pelan.

"Kuning, minggu ini berat. Tapi aku bersyukur."

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku bersyukur karena fitnah itu membuka mataku. Aku tahu siapa yang benar-benar mendukungku, dan siapa yang hanya pura-pura."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku juga bersyukur karena fitnah itu membuat kami lebih bersatu. Dulu, Pak Eko agak jauh. Sekarang dia lebih dekat."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih karena Engkau lindungi aku dari fitnah. Terima kasih karena Engkau tunjukkan kebenaran."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."


Minggu pagi, Bu Yuni mampir ke rumah Pak Jayeng. Ia ingin meminta nasihat tentang fitnah yang baru saja ia alami.

Pak Jayeng menerimanya dengan hangat. Rumahnya sederhana, dinding kayu, lantai papan, beranda yang teduh dengan kursi-kursi bambu. Di halaman, bunga-bunga mawar dan melati tumbuh subur.

"Selamat pagi, Bu Yuni," sapa Pak Jayeng sambil duduk di kursi bambu.

"Selamat pagi, Pak Jayeng. Maaf mengganggu."

"Tidak mengganggu. Saya senang ada tamu."

Bu Yuni duduk di kursi di depan Pak Jayeng. "Pak, saya ingin minta nasihat."

"Tentang apa, Nak?"

"Tentang fitnah. Saya baru saja difitnah. Saya sudah memaafkan, tapi rasanya... masih ada luka."

Pak Jayeng menghela napas. "Nak, fitnah itu luka. Luka butuh waktu untuk sembuh. Jangan dipaksakan."

"Tapi saya sudah memaafkan."

"Memaafkan itu keputusan. Menyembuhkan luka itu proses. Dua hal yang berbeda. Ibu bisa memutuskan untuk memaafkan hari ini, tapi luka mungkin masih terasa berbulan-bulan."

Bu Yuni mengangguk. "Saya mengerti."

"Yang penting, Ibu tidak membiarkan luka itu mengubah Ibu menjadi pahit. Ibu tetap baik. Ibu tetap melayani. Ibu tetap tersenyum."

"Tapi kadang berat, Pak."

"Iya, berat. Tapi Ibu tidak sendirian. Allah selalu bersama Ibu. Dan Ibu punya kami, warga yang mendukung Ibu."

Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Pak Jayeng."

"Sama-sama, Nak. Ibu hebat. Ibu sudah melewati ujian berat. Dan Ibu lulus."

"Lulus, Pak?"

"Iya, lulus. Ibu tidak membalas fitnah dengan fitnah. Ibu membalas dengan kebaikan. Itu tanda kelulusan."

Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Nasihat Bapak sangat berarti."

 

Senin pagi, Bu Yuni datang ke kantor dengan semangat baru. Fitnah sudah berlalu. Kini ia bisa fokus pada pekerjaan.

"Teman-teman, minggu ini kita akan fokus pada arsip lama. Target kita, dalam tiga bulan, semua arsip harus tertata."

"Setuju, Bu!" seru mereka.

"Pembagian tugas: Pak Eko, Bapak fokus pada arsip perencanaan. Pak Santoso, Bapak fokus pada arsip pemerintahan. Pak Edi, Bapak fokus pada arsip sosial. Bu Lulu, Bapak fokus pada arsip keuangan. Mas Amat, Bapak bantu saya di arsip umum."

"Siap, Bu!"

Mereka mulai bekerja dengan semangat. Arsip-arsip lama dikeluarkan dari lemari, dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.

"Bu, ini arsip tahun 1990. Isinya sudah rapuh," kata Si Amat sambil menunjukkan map yang kertasnya menguning.

"Hati-hati, Mas. Pindahkan ke map baru, lalu lapisi dengan plastik."

"Siap, Bu."

Pak Eko yang kini sudah berubah total bekerja dengan tekun. Ia tidak lagi sering membuka ponsel. Ia fokus pada tumpukan arsip di depannya.

"Bu, ini arsip program desa tahun 1998. Isinya lengkap," katanya.

"Bagus, Pak Eko. Simpan di map baru, beri label yang jelas."

"Baik, Bu."

 

Anto datang sore itu dengan membawa gorengan. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia.

"Bu Yuni, saya bawain gorengan."

"Terima kasih, To. Bapak baik sekali."

"Saya hanya ingin membantu."

"Bapak sudah banyak membantu. Kemarin Bapak yang mengungkap sumber fitnah."

"Itu kecil, Bu. Saya hanya melakukan yang benar."

Bu Yuni tersenyum. "To, Bapak itu pahlawan tanpa tanda jasa."

Anto tertawa. "Pahlawan kampung, Bu. Itu sudah cukup."

Mereka makan gorengan bersama. Suasana sore itu hangat.

"To, Bapak punya cita-cita?" tanya Bu Yuni tiba-tiba.

Anto berpikir sejenak. "Saya hanya ingin desa ini maju, Bu. Agar anak-anak tidak perlu merantau jauh."

"Itu cita-cita mulia, To."

"Ya, Bu. Itu sudah cukup bagi saya."

 

Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif. Arsip-arsip lama yang tadinya berserakan, kini mulai tertata. Map-map baru berjejer rapi di lemari. Buku register terisi dengan lengkap.

"Bu, arsip tahun 1990-1995 sudah selesai," lapor Si Amat pada hari Jumat.

"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1996-2000."

"Siap, Bu."

Pak Edi yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius. "Bu, arsip sosial tahun 1998-2000 sudah saya rapikan."

"Terima kasih, Pak Edi. Bapak hebat."

Pak Edi tersenyum bangga. "Ini berkat Ibu, Bu. Ibu yang mengubah saya."

"Bukan, Pak. Bapak yang mengubah diri Bapak sendiri."

 

Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan. Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip dari tahun 1990 hingga 1995. Target tiga bulan, kini hanya butuh dua bulan lagi.

"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu Yuni.

"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.

"Kita sama-sama belajar."

Bu Lulu angkat bicara. "Bu, dulu saya hampir menyerah. Tapi sekarang saya semangat lagi."

"Bagus, Bu Lulu. Jangan pernah menyerah."

Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya sudah 20 tahun di sini. Ini pertama kalinya saya melihat semangat seperti ini."

"Semoga berkelanjutan, Pak."

"Aamiin," jawab mereka serempak.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.

"Kuning, minggu ini produktif."

Kucing itu mengeong pelan.

"Kita berhasil merapikan banyak arsip. Target tiga bulan, mungkin bisa lebih cepat."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Fitnah sudah berlalu. Kini aku bisa fokus bekerja."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih untuk semangat yang Engkau berikan. Terima kasih untuk tim yang solid."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."


Sejak mengakui kesalahannya, Pak Didit berubah total. Ia tidak hanya berhenti menyebarkan fitnah, tetapi juga menjadi pembela Bu Yuni di mana pun ia berada.

Di setiap pertemuan, di setiap kesempatan, ia selalu mengatakan, "Bu Yuni itu orang baik. Saya dulu salah. Jangan percaya isu."

Warga mulai menghormatinya kembali. "Pak Didit sekarang baik," kata mereka.

"Ya, dia belajar dari kesalahan."

"Semoga istiqomah."

Pak Didit juga aktif membantu sosialisasi program-program desa. Ia keliling dari rumah ke rumah, memberitahu warga tentang persyaratan surat-menyurat, tentang jadwal pelayanan, tentang hak-hak warga.

"Pak Didit, Bapak repot amat," kata Bu Tini suatu hari.

"Tidak repot, Bu. Ini tanggung jawab saya."

"Bapak baik."

"Saya hanya menebus kesalahan, Bu."

 

Bu Parmi, istri Pak Darmo, dan Bu Sri, ketua PKK, juga aktif mendukung Bu Yuni. Mereka membentuk grup ibu-ibu yang bertugas menyebarkan informasi positif tentang kantor desa.

"Bu, kami akan bantu sosialisasi," kata Bu Sri.

"Terima kasih, Bu Sri."

"Kami juga akan bantu mengingatkan warga agar tidak mudah percaya isu."

"Bagus, Bu. Saya sangat terbantu."

Bu Parmi menambahkan, "Bu Yuni, suami saya selalu bilang, Ibu itu malaikat desa."

Bu Yuni tersenyum malu. "Bukan malaikat, Bu. Saya hanya manusia biasa."

"Tapi Ibu melakukan hal yang luar biasa."

"Terima kasih, Bu. Dukungan Ibu sangat berarti."

 

Hari terakhir bulan Maret 2001. Bu Yuni duduk di mejanya, memandang lemari-lemari arsip yang mulai rapi. Map-map berwarna berjejer dengan label yang jelas. Buku register terisi lengkap. Pelayanan berjalan lancar.

"Bu, laporan bulanan sudah selesai," kata Si Amat sambil menyerahkan setumpuk kertas.

Bu Yuni memeriksa laporan itu. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. "Bagus, Mas Amat. Lengkap."

"Terima kasih, Bu."

Pak Kades Iwan keluar dari ruangannya. "Bu Yuni, saya dapat kabar baik."

"Apa itu, Pak?"

"Desa kita mendapat penghargaan dari kecamatan sebagai desa dengan peningkatan administrasi terbaik."

Bu Yuni terkejut. "Serius, Pak?"

"Serius. Camat akan datang minggu depan untuk menyerahkan piagam penghargaan."

Semua perangkat desa bersorak. "Hore!"

"Ini berkat Ibu, Bu Yuni," kata Pak Kades.

"Bukan, Pak. Ini berkat kita semua."

Mereka berpelukan. Suasana haru dan bahagia bercampur menjadi satu.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya.

"Kuning, kita dapat penghargaan."

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku tidak menyangka. Aku hanya ingin bekerja dengan baik. Ternyata Allah memberi lebih."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Fitnah yang dulu kini menjadi batu loncatan. Desa ini semakin maju."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk bulan ini. Terima kasih untuk semua pelajaran. Terima kasih untuk penghargaan ini."

Ia memejamkan mata.

"Bulan depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita mulai lagi."


BAB 7

AIR MATA DI BALIK SENYUM

Pagi itu, Desa Awan Biru tampak lebih sunyi dari biasanya. Kabut turun lebih tebal dari hari-hari sebelumnya, seolah-olah alam ikut menyembunyikan sesuatu atau mungkin ikut merasakan. Suara ayam berkokok terdengar sayup, seperti dari kejauhan yang sangat jauh. Burung-burung yang biasanya riuh berkicau, pagi itu hanya sesekali bersuara, itupun pelan.

Bu Yuni terbangun pukul 03.00. Bukan karena suara azan—azan subuh masih dua jam lagi. Bukan karena mimpi buruk—ia tidak ingat bermimpi apa pun. Ia terbangun begitu saja, dengan perasaan kosong yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia duduk di tempat tidurnya, memandangi gelapnya kamar kontrakan yang hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah dinding kayu. Kucing Kuning tidak ada di sampingnya. Mungkin sedang berburu tikus, pikirnya. Tapi hatinya tidak tenang.

"Ya Allah, ada apa ini?" bisiknya.

Ia mencoba tidur lagi. Memejamkan mata, mengatur napas, membayangkan pemandangan yang menenangkan. Tapi matanya tetap terbuka. Pikirannya melayang ke mana-mana, tanpa arah.

Akhirnya, pukul 04.00, ia bangun. Mengambil air wudhu, meskipun udara dingin menusuk tulang. Ia shalat tahajud, berdoa dengan khusyuk, memohon petunjuk dan ketenangan.

"Ya Allah, jika ini ujian, beri aku kekuatan. Jika ini teguran, beri aku kesadaran. Jika ini pertanda, beri aku pengertian."

Setelah shalat, ia duduk di beranda. Udara dingin menusuk pipinya. Kabut masih tebal, jarak pandang hanya sekitar 10 meter. Dari kejauhan, terdengar suara adzan subuh dari masjid desa. Suaranya menggema di antara bukit-bukit, memecah kesunyian malam yang mulai berganti dengan fajar.

Bu Yuni bergegas ke masjid. Di perjalanan, ia berpapasan dengan Pak Karyo yang sedang membuka warungnya lebih awal.

"Pagi, Bu Yuni. Kok pagi sekali?" sapa Pak Karyo sambil menguap.

"Pagi, Pak Karyo. Tidak bisa tidur."

"Kenapa, Bu?"

"Entahlah, Pak. Mungkin terlalu banyak pikiran."

Pak Karyo mengangguk-angguk. "Istirahat yang cukup, Bu. Jangan sampai sakit."

"Terima kasih, Pak."

Di masjid, jamaah masih sedikit. Pak Darmo sudah ada di baris depan, khusyuk berdoa. Pak Jayeng di sampingnya, dengan tasbih di tangannya. Anto, seperti biasa, di baris belakang, jaket kulitnya masih setia.

Setelah shalat, Bu Yuni berbincang sebentar dengan Pak Jayeng.

"Pak Jayeng, saya tidak bisa tidur semalaman."

"Ada apa, Nak?"

"Saya tidak tahu, Pak. Perasaan saya tidak enak."

Pak Jayeng menatap Bu Yuni dengan mata bijaksana. "Mungkin Ibu terlalu lelah. Istirahatlah hari ini."

"Tapi saya harus bekerja, Pak. Banyak yang harus dikerjakan."

"Kesehatan lebih penting, Nak. Percayalah, pekerjaan tidak akan lari."

Bu Yuni menghela napas. "Baik, Pak. Saya coba istirahat."

 

Pukul 07.00, Bu Yuni tetap pergi ke kantor. Ia tidak bisa istirahat. Pikirannya terlalu sibuk.

Sesampainya di kantor, ia terkejut. Mejanya kosong. Tidak ada tumpukan berkas seperti biasanya. Tidak ada map, tidak ada buku register, tidak ada pulpen.

"Mas Amat, mana berkas-berkas saya?" tanyanya pada Si Amat yang sudah datang lebih awal.

Si Amat menggeleng. "Saya tidak tahu, Bu. Saya juga baru datang."

Bu Yuni mencari ke mana-mana. Di lemari, di laci, di bawah meja. Tidak ada.

"Kemana ini?" gumamnya panik.

Pak Edi yang datang menghampiri. "Bu, ada apa?"

"Berkas saya hilang, Pak. Semua berkas yang saya kerjakan kemarin."

Pak Edi mengernyit. "Masa? Saya lihat tadi malam masih ada."

"Tadi malam? Bapak ke kantor tadi malam?"

"Iya, Bu. Saya ambil jaket yang ketinggalan. Sekitar jam 8. Waktu itu berkas Ibu masih ada."

Bu Yuni terdiam. Pikirannya berputar cepat. Siapa yang mengambil? Untuk apa? Kenapa?

Pak Eko yang mendengar keributan mendekat. "Bu, mungkin berkasnya dipindahkan?"

"Tidak, Pak. Saya tidak pernah memindahkan."

Pak Santoso ikut mencari. Bu Lulu ikut. Semua membantu. Tapi tidak ada.

Bu Yuni duduk di kursinya. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.

"Bu, jangan panik," kata Pak Edi. "Kita cari lagi."

"Saya sudah cari, Pak. Tidak ada."

"Lapor Pak Kades."

Bu Yuni menggeleng. "Belum. Saya cari dulu."

Mereka mencari hingga dua jam. Seluruh kantor digeledah. Lemari dibuka, laci ditarik, bahkan tempat sampah diperiksa. Tidak ada.

Akhirnya, Pak Kades Iwan keluar dari ruangannya. "Ada apa ini? Ramai sekali."

"Pak, berkas Bu Yuni hilang," kata Si Amat.

Pak Kades terkejut. "Hilang? Bagaimana bisa?"

"Tidak tahu, Pak. Tiba-tiba tidak ada."

Pak Kades menatap Bu Yuni. "Bu, Ibu baik-baik saja?"

Bu Yuni mengangguk, tapi matanya berkaca-kaca. "Saya baik-baik saja, Pak."

"Jelas tidak baik-baik saja. Ibu pucat."

Bu Yuni tidak menjawab.

"Baik, kita laporkan ke polisi. Ini pencurian."

"Tidak usah, Pak," kata Bu Yuni cepat.

"Kenapa tidak?"

"Kita tidak tahu siapa pelakunya. Bisa jadi itu kesalahan. Mungkin berkasnya terselip di tempat lain."

"Bu Yuni, Ibu terlalu baik. Ini jelas pencurian."

"Tapi Pak, "

"Tidak ada tapi. Saya yang bertanggung jawab. Saya akan laporkan."

Pak Kades masuk ke ruangannya. Bu Yuni hanya bisa terdiam.

 

Siang itu, Anto datang ke kantor. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum misterius.

"Bu Yuni, saya dengar berkas Ibu hilang."

"Iya, To."

"Saya punya petunjuk."

Bu Yuni menatap Anto. "Petunjuk apa?"

"Semalam, sekitar jam 9, saya lewat depan kantor. Saya lihat ada orang di dalam. Padahal kantor sudah tutup."

"Siapa?"

"Saya tidak lihat jelas. Gelap. Tapi dari posturnya, seperti... perangkat desa."

Bu Yuni terkejut. "Perangkat desa? Siapa?"

"Saya tidak tahu, Bu. Saya tidak mau menuduh."

Bu Yuni terdiam. Pikirannya berputar. Siapa di antara perangkat desa yang mungkin mengambil berkasnya? Pak Eko? Tidak mungkin. Pak Edi? Tidak mungkin. Pak Santoso? Tidak mungkin. Bu Lulu? Tidak mungkin. Si Amat? Tidak mungkin.

"To, Bapak yakin?"

"Saya tidak yakin, Bu. Saya hanya lihat sekilas."

"Baik, To. Terima kasih informasinya."

"Bu Yuni, hati-hati. Tidak semua orang senang dengan Ibu."

Bu Yuni mengangguk. "Saya tahu, To. Saya tahu."

 

Pak Eko, yang mendengar percakapan Anto dengan Bu Yuni, mulai curiga. Ia mendekati Bu Yuni setelah Anto pergi.

"Bu, saya dengar Anto bilang pelakunya perangkat desa?"

"Iya, Pak. Tapi dia tidak yakin."

"Bu, saya curiga pada seseorang."

"Siapa, Pak?"

Pak Eko melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar. "Pak Santoso."

Bu Yuni terkejut. "Pak Santoso? Kenapa?"

"Karena beliau yang paling lama di sini. Mungkin dia merasa terancam dengan perubahan."

"Tapi Pak Santoso orangnya baik, Pak."

"Orang baik bisa berubah, Bu. Apalagi jika merasa terancam."

Bu Yuni menggeleng. "Saya tidak percaya. Pak Santoso tidak mungkin."

"Buktikan, Bu. Cari tahu."

Bu Yuni terdiam. Ia tidak ingin mencurigai siapa pun tanpa bukti.

 

Sementara itu, Pak Santoso mendengar bisik-bisik bahwa ia dicurigai. Wajahnya langsung merah padam.

"Ini fitnah!" bentaknya di tengah ruangan.

Semua perangkat desa terkejut. Pak Santoso jarang marah.

"Saya sudah 20 tahun di sini. Saya tidak pernah mencuri. Saya tidak pernah mengambil barang orang lain."

"Pak Santoso, tenang," kata Pak Edi.

"Tidak bisa tenang! Saya dituduh! Saya dicurigai! Padahal saya tidak bersalah!"

Bu Yuni mendekati Pak Santoso. "Pak Santoso, tidak ada yang menuduh Bapak."

"Tapi saya dengar dari Pak Eko. Beliau bilang saya dicurigai."

Bu Yuni menoleh ke Pak Eko. "Pak Eko, Bapak bilang begitu?"

Pak Eko menunduk. "Maaf, Bu. Saya hanya curiga."

"Curiga tidak boleh disebarkan, Pak. Apalagi tanpa bukti."

Pak Eko diam.

Pak Santoso masih marah. "Saya minta maaf, Bu. Saya kecewa."

"Pak Santoso, saya tidak mencurigai Bapak. Saya percaya Bapak."

"Terima kasih, Bu. Tapi saya tetap kecewa."

Pak Santoso berjalan keluar kantor. Ia duduk di bawah pohon mangga di belakang, merokok sendirian.

 

Bu Yuni menyusul Pak Santoso ke belakang. Ia duduk di sampingnya.

"Pak Santoso, saya minta maaf."

"Bukan Ibu yang salah, Bu. Ini Pak Eko."

"Pak Eko hanya curiga. Itu wajar."

"Tapi menuduh tanpa bukti itu tidak wajar, Bu."

"Iya, Pak. Saya sudah tegur."

Pak Santoso menghela napas. "Bu, saya sudah 20 tahun di sini. Saya tidak pernah melakukan hal curang. Saya hanya ingin desa ini maju."

"Saya tahu, Pak."

"Tapi kenapa saya dicurigai?"

"Karena orang mudah curiga pada yang lama, Pak. Itu sifat manusia."

Pak Santoso diam. Ia membuang puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya dengan sepatu.

"Bu, saya dukung Ibu. Saya tidak akan menghalangi perubahan."

"Saya tahu, Pak. Itu sebabnya saya percaya pada Bapak."

"Terima kasih, Bu."

Mereka berdua duduk diam, menikmati angin sore yang sepoi-sepoi.

 

Pukul 16.00, Si Amat berteriak dari dalam kantor. "Bu! Berkasnya ketemu!"

Bu Yuni dan Pak Santoso bergegas masuk. Si Amat berdiri di samping lemari arsip, memegang setumpuk kertas.

"Di mana, Mas?"

"Di lemari arsip lama, Bu. Terselip di map tahun 1995."

Bu Yuni memeriksa berkas itu. Ini memang berkasnya. Lengkap.

"Syukurlah," katanya lega.

"Tapi kenapa bisa di sana?" tanya Pak Edi.

"Tidak tahu, Pak. Mungkin kemarin Ibu terburu-buru, jadi salah letak," kata Si Amat.

Bu Yuni mengingat-ingat. Kemarin ia bekerja sampai malam. Mungkin ia terlalu lelah, sehingga tanpa sadar meletakkan berkas di tempat yang salah.

"Maaf, teman-teman. Ini salah saya. Saya yang ceroboh."

Pak Santoso menghela napas lega. "Alhamdulillah. Jadi tidak ada pencurian."

"Iya, Pak. Hanya kesalahan saya."

Pak Eko menunduk malu. "Maaf, Bu. Saya terlalu cepat curiga."

"Tidak apa-apa, Pak Eko. Yang penting berkasnya ketemu."

Namun di sudut ruangan, Anto mengamati dengan tatapan tajam. Ia tidak yakin bahwa berkas itu hanya salah letak. Tapi ia tidak mau bicara. Biarlah waktu yang membuktikan.

 

Malam itu, Bu Yuni pulang lebih lambat dari biasanya. Ia ingin menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena insiden berkas hilang.

Pukul 20.00, ia masih di kantor. Lampu neon berkedip-kedip, sesekali mati sebentar lalu menyala lagi. Ia tidak peduli.

Ia menulis laporan dengan tangan, karena komputernya sedang error. Tulisannya rapi, meskipun tangannya mulai lelah.

Laporan Bulanan Desa Awan Biru
Maret 2001

Pendahuluan:
Bulan Maret 2001 adalah bulan yang penuh dinamika. Banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari tekanan dari kecamatan, fitnah dari oknum, hingga insiden hilangnya berkas. Namun, dengan kerja sama tim dan dukungan warga, semua tantangan dapat diatasi.

Ia berhenti sejenak. Tangannya terasa kaku. Ia menggoyangkan pergelangan tangannya, lalu melanjutkan menulis.

Kami berhasil menyelesaikan laporan administrasi tepat waktu, meskipun dengan persiapan yang sangat singkat. Tim Inspektorat memberikan apresiasi atas kemajuan yang dicapai. Desa Awan Biru juga menerima penghargaan dari kecamatan sebagai desa dengan peningkatan administrasi terbaik.

Ia menghela napas. Pekerjaan masih banyak. Tapi ia tidak bisa terus-terusan begini. Tubuhnya mulai lelah.

Pukul 21.00, ia memutuskan pulang. Ia merapikan meja, memasukkan kertas-kertas ke dalam map, lalu berjalan keluar.

Udara malam dingin menusuk wajahnya. Bintang-bintang bertaburan di langit, bulan sabit tipis menggantung di ufuk barat.

"Ya Allah, hari ini berat," bisiknya. "Tapi aku masih kuat."

Ia berjalan pulang dengan langkah gontai. Sesampainya di rumah kontrakan, ia disambut oleh kucing Kuning yang setia menunggu di depan pintu.

"Kuning, aku pulang," katanya sambil mengelus kepala kucing itu.

Kucing itu mengeong pelan, lalu menggesek-gesekkan tubuhnya ke kaki Bu Yuni.

Bu Yuni masuk ke dalam, menyalakan lampu minyak tanah, karena listrik mati dan duduk di beranda. Kuning melompat ke pangkuannya.

"Kuning, hari ini aku hampir menangis," katanya sambil mengelus kepala kucing itu.

Kucing itu diam, sesekali mengedipkan matanya.

"Berkasku hilang. Aku panik. Aku curiga pada teman-temanku sendiri. Aku merasa bersalah."

Ia menghela napas.

"Tapi syukurlah berkasnya ketemu. Ternyata hanya kesalahanku sendiri."

Kucing itu mengeong pelan, seolah menghibur.

"Ya Allah, maafkan aku yang mudah panik. Maafkan aku yang mudah curiga. Ajari aku untuk selalu tenang dan percaya pada-Mu."

Ia memejamkan mata. Air mata mengalir di pipinya. Bukan karena sedih, tapi karena lega.

"Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih."

 

Pagi itu, Bu Yuni datang ke kantor dengan senyum di wajahnya. Ia sudah beristirahat cukup, meskipun masih sedikit lelah.

"Selamat pagi, teman-teman," sapanya ceria.

"Pagi, Bu," jawab mereka.

"Bu, berkas Ibu sudah saya rapikan," kata Si Amat.

"Terima kasih, Mas Amat."

"Bu, saya minta maaf soal kemarin," kata Pak Eko.

"Tidak apa-apa, Pak Eko. Saya juga minta maaf."

Pak Santoso tersenyum. "Kita semua belajar."

"Setuju, Pak," kata Bu Yuni.

Mereka mulai bekerja seperti biasa. Suasana kantor kembali hangat.

 

Pukul 10.00, mobil dinas Camat Kaliwiro, Bapak Subroto, berhenti di depan kantor desa. Pak Camat turun dengan langkah tegap, diikuti oleh beberapa staf. Wajahnya bulat dengan kumis tebal, perutnya buncit sedikit, tapi matanya bersinar ramah.

"Selamat pagi, Pak Kades, Bu Sekdes," sapa Pak Camat.

"Pagi, Pak Camat," jawab Pak Kades Iwan sambil menyambut.

"Kami datang untuk menyerahkan piagam penghargaan."

Warga yang mendengar kabar itu berdatangan. Mereka ingin menyaksikan langsung momen bersejarah ini.

Pak Camat berdiri di depan kantor, menghadap warga yang mulai berkumpul. Di tangannya, sebuah piagam berbingkai kayu dengan stempel emas.

"Bapak, Ibu, warga Desa Awan Biru yang saya hormati," mulai Pak Camat.

"Berdasarkan hasil verifikasi administrasi oleh Tim Inspektorat Kabupaten, Desa Awan Biru dinilai sebagai desa dengan peningkatan administrasi terbaik di Kecamatan Kaliwiro."

Warga bertepuk tangan.

"Penghargaan ini kami berikan kepada Kepala Desa Awan Biru, Bapak Iwan Setiawan, dan Sekretaris Desa, Ibu Yuniarti, beserta seluruh perangkat desa."

Pak Camat menyerahkan piagam itu kepada Pak Kades. Pak Kades menerimanya dengan tangan gemetar.

"Terima kasih, Pak Camat. Ini kehormatan bagi kami."

"Ini hasil kerja keras Bapak dan Ibu sekalian. Pertahankan."

Pak Camat kemudian berjabat tangan dengan Bu Yuni. "Bu Sekdes, saya dengar Ibu yang memimpin pembenahan ini."

"Iya, Pak. Tapi ini kerja tim."

"Saya kagum. Dalam waktu singkat, Ibu bisa mengubah desa ini. Teruskan."

"Terima kasih, Pak."

 

Setelah Pak Camat pergi, Bu Yuni masuk ke kantor. Ia duduk di mejanya, memandangi piagam penghargaan yang ditempel di dinding.

Air matanya jatuh.

"Bu, Ibu menangis?" tanya Si Amat panik.

Bu Yuni mengusap air matanya. "Tidak, Mas. Saya hanya... terharu."

"Terharu kenapa, Bu?"

"Karena perjuangan kita dihargai. Karena kerja keras kita tidak sia-sia."

Pak Edi mendekat. "Bu, ini karena Ibu. Tanpa Ibu, kita tidak akan dapat penghargaan."

"Bukan, Pak. Ini karena kita semua. Kita bekerja sama."

Pak Eko menambahkan, "Bu, saya minta maaf dulu sering menghambat."

"Sudah, Pak. Saya maafkan."

Bu Lulu ikut menangis. "Saya juga, Bu. Saya hampir menyerah."

"Tapi Ibu tidak menyerah, Bu Lulu. Itu yang penting."

Pak Santoso berdiri. "Teman-teman, mari kita berdoa. Syukuri penghargaan ini."

Mereka berdoa bersama. Suasana haru dan bahagia bercampur menjadi satu.

 

Siang itu, mereka makan siang bersama di kantor. Pak Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak dan gorengan. Anto membawa kopi dan teh. Warga yang datang bergantian memberi selamat.

"Bu Yuni, selamat ya," kata Pak Darmo sambil menjabat tangan Bu Yuni.

"Terima kasih, Pak."

"Ini berkat Ibu."

"Bukan, Pak. Ini kerja sama semua."

Bu Ratih datang dengan membawa kue tradisional. "Bu Yuni, ini kue buatan saya. Untuk merayakan penghargaan."

"Terima kasih, Bu Ratih."

Pak Jayeng datang dengan senyum bijaksana. "Bu Yuni, saya bangga. Desa ini akhirnya diakui."

"Terima kasih, Pak Jayeng. Doakan kami terus."

"Tentu, Bu. Saya akan selalu mendoakan."

 

Sore itu, Anto mampir ke kantor desa. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia. Rambutnya yang panjang terurai sedikit.

"Bu Yuni, saya punya ramalan."

"Ramalan apa lagi, To?"

"Suatu hari nanti, Ibu akan dikenang sebagai pahlawan desa ini. Nama Ibu akan disebut-sebut oleh generasi mendatang."

Bu Yuni tersenyum. "To, saya tidak perlu dikenang. Saya hanya ingin desa ini menjadi lebih baik."

"Tapi Ibu akan dikenang. Itu sudah takdir."

"Kalau itu takdir, saya terima. Tapi saya tidak akan berhenti bekerja."

Anto tersenyum. "Itulah mengapa Ibu hebat."

 

Sabtu sore, seperti biasa, Bu Yuni mengadakan evaluasi mingguan. Kali ini, semua perangkat desa hadir dengan wajah yang lebih tenang dan bahagia.

"Teman-teman, minggu ini penuh drama. Tapi kita melewatinya."

Mereka mengangguk.

"Kita belajar bahwa fitnah bisa datang kapan saja. Kita juga belajar bahwa persatuan adalah kunci menghadapi fitnah. Dan kita belajar bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia."

Pak Eko angkat bicara. "Bu, saya malu. Saya sempat terpecah. Saya sempat curiga pada Pak Santoso."

"Tidak apa-apa, Pak Eko. Yang penting Bapak mengakui dan minta maaf."

Pak Santoso tersenyum. "Saya maafkan, Pak Eko."

"Terima kasih, Pak."

Bu Lulu menambahkan, "Bu, saya hampir menyerah waktu berkas Ibu hilang. Tapi saya bersyukur ketemu."

"Bu Lulu, jangan pernah menyerah. Allah selalu bersama kita."

Pak Edi berkata, "Bu, saya bangga menjadi bagian dari tim ini."

"Saya juga bangga, Pak."

Pak Kades Iwan yang ikut dalam evaluasi itu berkata, "Bu Yuni, Ibu adalah anugerah bagi desa ini."

Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Pak Kades, saya hanya menjalankan amanah."

"Dan Ibu menjalankannya dengan baik. Sangat baik."

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur pelan.

"Kuning, hari ini aku bahagia."

Kucing itu mengeong pelan.

"Kita dapat penghargaan. Kerja keras kita dihargai. Perjuangan kita tidak sia-sia."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku juga belajar bahwa air mata itu tidak selalu sedih. Kadang air mata adalah ekspresi kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan hampir purnama.

"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih untuk semua pelajaran. Terima kasih untuk penghargaan ini. Terima kasih untuk air mata yang menyejukkan hati."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."

 

Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang Bu Yuni ke rumahnya. Rumahnya sederhana, berdinding bata putih, berlantai keramik, dengan halaman depan yang ditanami bunga-bunga.

"Silakan masuk, Bu," kata Pak Iwan sambil membukakan pintu.

Bu Yuni masuk ke ruang tamu. Di dinding, tergantung foto seorang wanita cantik dengan senyum lembut.

"Itu istri saya, Bu. Almirah," kata Pak Iwan sambil menunjuk foto itu.

"Almarhumah, Pak?"

"Iya, Bu. Meninggal dua tahun lalu karena sakit."

"Turut berduka, Pak."

Pak Iwan menghela napas. "Dia wanita hebat, Bu. Dia yang mendorong saya untuk maju di pilkades. Dia bilang, 'Pak, desa ini butuh pemimpin yang peduli.'"

Bu Yuni mendengarkan dengan saksama.

"Tapi dia tidak sempat melihat saya dilantik. Dia meninggal sebulan sebelum pemilihan."

"Maaf, Pak."

"Tidak apa-apa. Saya yakin dia melihat dari atas."

Pak Iwan menatap Bu Yuni. "Bu, Ibu mengingatkan saya pada Almirah."

"Kenapa, Pak?"

"Sama-sama tangguh. Sama-sama peduli. Sama-sama tidak kenal lelah."

Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Pak. Tapi saya hanya manusia biasa."

"Manusia biasa yang melakukan hal luar biasa."

 

Bu Yuni juga bercerita tentang dirinya. Tentang masa kecilnya di lereng Gunung Sumbing. Tentang ayahnya yang guru. Tentang ibunya yang tangguh.

"Pak, saya dulu tidak pernah membayangkan akan menjadi sekdes. Saya hanya ingin membantu orang."

"Dan Ibu berhasil, Bu."

"Belum, Pak. Masih banyak yang harus dilakukan."

"Tapi Ibu sudah memulai. Itu yang penting."

Bu Yuni mengangguk. "Iya, Pak. Saya sudah memulai."

Pak Iwan menuangkan teh untuk mereka berdua. "Bu, saya titip desa ini."

"Titip, Pak?"

"Iya, titip. Saya tidak tahu sampai kapan saya menjabat. Tapi selama saya menjabat, saya ingin desa ini maju. Dan Ibu adalah kuncinya."

"Pak, saya hanya sekdes. Bapak yang memimpin."

"Tanpa Ibu, saya tidak bisa memimpin dengan baik."

Bu Yuni tersenyum. "Kita pimpin bersama, Pak."

"Setuju, Bu."

 

Senin pagi, Bu Yuni kembali ke kantor dengan semangat baru. Penghargaan dari camat memberi energi tambahan bagi seluruh perangkat desa.

"Teman-teman, minggu ini kita akan fokus pada arsip tahun 1996-2000. Target kita, selesai dalam dua minggu."

"Setuju, Bu!" seru mereka.

Mereka bekerja dengan semangat. Arsip-arsip dikeluarkan dari lemari, dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.

"Bu, ini arsip tahun 1996. Isinya masih lengkap," kata Si Amat.

"Bagus, Mas. Simpan di map baru, beri label yang jelas."

"Siap, Bu."

Pak Eko yang kini sudah berubah total bekerja dengan tekun. Ia tidak lagi sering membuka ponsel. Ia fokus pada tumpukan arsip di depannya.

"Bu, ini arsip program desa tahun 1997. Sudah saya rapikan."

"Terima kasih, Pak Eko. Bapak hebat."

Pak Edi, yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius. "Bu, arsip sosial tahun 1998-1999 sudah saya rapikan."

"Bagus, Pak Edi."

Bu Lulu dan Pak Rudi bekerja di ruang keuangan. "Bu, arsip keuangan tahun 1996-2000 sudah hampir selesai."

"Terima kasih, Bu Lulu. Semangat."

 

Di tengah pekerjaan, mereka menemukan kendala. Beberapa arsip tahun 1996-2000 ternyata hilang atau rusak.

"Bu, arsip program desa tahun 1996 hilang," kata Pak Eko dengan wajah cemas.

"Yakin, Pak?"

"Saya sudah cari di semua map, Bu. Tidak ada."

Bu Yuni berpikir sejenak. "Mungkin tersimpan di tempat lain. Coba cek di lemari arsip lama."

Pak Eko mencari di lemari arsip lama. Setelah setengah jam, ia berteriak, "Ketemu, Bu! Terselip di map tahun 1995."

"Syukurlah."

Masalah lain muncul. Beberapa arsip rusak karena dimakan rayap atau terkena air.

"Bu, ini arsip keuangan tahun 1998. Sudah rusak," kata Bu Lulu sambil menunjukkan map yang kertasnya robek-robek.

Bu Yuni memeriksa dengan teliti. "Masih bisa diselamatkan. Kita fotokopi yang masih terbaca. Yang tidak terbaca, kita rekonstruksi dari arsip lain."

"Rekonstruksi, Bu? Caranya?"

"Kita cari data dari sumber lain. Misalnya dari laporan tahunan, dari arsip kecamatan, atau dari warga yang terlibat."

"Siap, Bu."

 

Melihat kesibukan perangkat desa, warga ikut membantu. Mereka datang bergantian, membawa makanan, atau sekadar menawarkan bantuan.

"Bu Yuni, saya bisa bantu apa?" tanya Pak Darmo.

"Pak, Bapak bisa bantu cari data warga untuk arsip kependudukan."

"Siap, Bu."

Pak Darmo keliling desa, mendata warga, mencocokkan dengan data yang ada.

Bu Sri dan ibu-ibu PKK membantu merapikan arsip-arsip yang kotor. Mereka membersihkan debu, menyeka map, dan melapisi kertas dengan plastik.

"Bu, ini bersih semua," kata Bu Sri.

"Terima kasih, Bu Sri. Ibu hebat."

Anto membantu mengantar arsip-arsip ke kecamatan untuk dicocokkan. Ia rela bolak-balik meskipun truknya sedang tidak jalan.

"To, Bapak repot," kata Bu Yuni.

"Tidak repot, Bu. Ini untuk desa kita."

"Terima kasih, To."

 

Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif. Arsip-arsip tahun 1996-2000 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata. Map-map baru berjejer rapi di lemari. Buku register terisi dengan lengkap.

"Bu, arsip tahun 1996-1998 sudah selesai," lapor Si Amat pada hari Kamis.

"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1999-2000."

"Siap, Bu."

Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun 1996-2000 sudah tertata rapi.

"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.

Mereka bersorak. "Hore!"

"Ini berkat kerja keras kita semua."

"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.

 

Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan. Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip tahun 1996-2000. Target dua minggu, tercapai dalam satu minggu.

"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu Yuni.

"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.

"Kita sama-sama belajar."

Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."

"Semoga berkelanjutan, Pak."

"Aamiin," jawab mereka.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.

"Kuning, minggu ini produktif."

Kucing itu mengeong pelan.

"Kita berhasil merapikan arsip tahun 1996-2000. Target dua minggu, tercapai dalam satu minggu."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Warga membantu. Semua bekerja sama."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan purnama bersinar terang.

"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih untuk semangat yang Engkau berikan. Terima kasih untuk tim yang solid. Terima kasih untuk warga yang mendukung."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih ada arsip tahun 1990-1995. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."

Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa ke rumahnya untuk makan siang bersama. Ini kejutan untuk merayakan keberhasilan mereka.

"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan sambil membukakan pintu.

Rumahnya sederhana, tapi hari itu dihiasi dengan balon dan pita warna-warni. Istrinya, meskipun sudah meninggal, seolah hadir dalam setiap sudut rumah.

"Wah, Pak Kades, ini kejutan," kata Si Amat.

"Iya, Mas. Untuk merayakan keberhasilan kita."

Mereka makan siang bersama. Lauknya sederhana: ayam goreng, tempe goreng, sambal terasi, dan lalapan. Tapi rasanya luar biasa karena dimakan bersama.

"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.

"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah seharusnya."

Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang kumpul seperti ini."

"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita solid."

"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.

"Aamiin," jawab mereka.

 

Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat.

"Teman-teman, keberhasilan kita hari ini bukan akhir. Ini awal. Masih banyak yang harus kita kerjakan."

Mereka mendengarkan dengan saksama.

"Arsip tahun 1990-1995 masih menanti. Setelah itu, arsip tahun 1980-an. Dan seterusnya. Pekerjaan tidak akan pernah habis."

"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.

"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita punya Allah."

Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus terus bekerja."

"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni. "Kesehatan lebih penting."

"Setuju, Bu."

 

Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia.

"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."

"Apa itu, To?"

"Kata Pak Camat, desa kita akan dijadikan percontohan untuk desa lain. Tim dari kabupaten akan datang minggu depan untuk studi banding."

Bu Yuni terkejut. "Studi banding? Jadi kita yang jadi contoh?"

"Iya, Bu. Desa lain akan belajar dari kita."

Pak Kades Iwan tersenyum lebar. "Ini luar biasa."

"Ini berkat Bu Yuni," kata Anto.

"Bukan, To. Ini berkat kita semua."

"Tetap saja, Bu Yuni yang memulai."

Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

 

Karena akan ada studi banding dari desa lain, Bu Yuni dan tim mempersiapkan diri.

"Teman-teman, kita akan jadi tuan rumah. Desa lain akan belajar dari kita. Kita harus menunjukkan yang terbaik."

"Siap, Bu!" seru mereka.

"Kita rapikan kantor. Bersihkan semua ruangan. Tata arsip dengan rapi. Siapkan materi presentasi."

"Bu, siapa yang presentasi?" tanya Si Amat.

"Saya yang akan presentasi. Tapi kalian harus siap menjawab pertanyaan."

"Siap, Bu."

Mereka bekerja ekstra keras. Kantor dibersihkan dari debu. Arsip ditata ulang. Materi presentasi disiapkan.

Bu Yuni membuat slide presentasi sederhana dengan tulisan tangan di karton. Ia tidak punya laptop untuk presentasi, tapi ia tidak malu. Yang penting materi jelas.

 

Hari yang ditunggu tiba. Tim studi banding dari Desa Sumberejo, kebetulan nama desa yang sama dengan desa asal Bu Yuni, datang dengan dua mobil. Mereka terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan beberapa perangkat desa.

"Selamat datang di Desa Awan Biru," sapa Pak Kades Iwan.

"Terima kasih, Pak. Kami ingin belajar tentang administrasi desa," kata Pak Kades Sumberejo, seorang pria berusia 50 tahun dengan wajah ramah.

"Silakan. Bu Yuni yang akan memandu."

Bu Yuni memandu tim studi banding berkeliling kantor. Ia menunjukkan lemari arsip yang rapi, buku register yang terisi lengkap, dan papan prosedur yang terpasang di dinding.

"Ini luar biasa," kata Pak Kades Sumberejo. "Dalam waktu singkat, Ibu bisa mengubah desa ini."

"Kerja tim, Pak. Bukan saya sendiri."

"Tapi Ibu yang memimpin."

Bu Yuni tersenyum. "Saya hanya memulai. Mereka yang melanjutkan."

 

Di balai desa, Bu Yuni mempresentasikan sistem administrasi yang mereka terapkan. Ia menggunakan karton-karton berisi slide tulisan tangan. Meskipun sederhana, presentasinya jelas dan menarik.

"Langkah pertama, kita klasifikasi arsip berdasarkan jenis dan dusun. Kedua, kita buat buku register untuk mencatat keluar-masuk berkas. Ketiga, kita pasang papan prosedur untuk memudahkan warga. Keempat, kita latih perangkat desa untuk disiplin."

Tim studi banding mencatat dengan saksama.

"Berapa lama Ibu menerapkan sistem ini?" tanya Sekdes Sumberejo.

"Baru dua bulan, Pak."

"Luar biasa. Dua bulan sudah berubah drastis."

"Ini berkat kerja keras tim, Pak."

"Kami ingin belajar lebih detail. Boleh kami tinggal sehari?"

"Silakan, Pak. Kami akan layani sebaik mungkin."

 

Siang itu, mereka makan siang bersama di balai desa. Pak Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak. Anto membawa kopi dan teh.

"Bu Yuni, Ibu asli mana?" tanya Pak Kades Sumberejo.

"Saya asli Sumberejo, Pak. Tapi bukan Sumberejo yang Bapak pimpin. Sumberejo di lereng Sumbing."

"Wah, sama-sama Sumberejo. Berarti Ibu orang Wonosobo asli."

"Iya, Pak. Saya orang Wonosobo."

"Kebanggaan Wonosobo."

Bu Yuni tersenyum malu. "Terima kasih, Pak."

 

Setelah seharian belajar, tim studi banding pamit. Mereka membawa banyak catatan dan rencana untuk diterapkan di desa mereka.

"Bu Yuni, terima kasih," kata Pak Kades Sumberejo.

"Sama-sama, Pak. Semoga desa Bapak juga maju."

"Ibu adalah inspirasi. Saya akan cerita ke desa lain."

"Terima kasih, Pak."

Mobil tim studi banding melaju perlahan meninggalkan halaman kantor desa. Bu Yuni melambai-lambaikan tangan.

"Bu, Ibu sekarang terkenal," kata Si Amat.

"Bukan terkenal, Mas. Hanya berbagi."

"Tetap saja, Ibu hebat."

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya.

"Kuning, hari ini aku berbagi ilmu."

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku senang. Ilmu yang kita praktikkan ternyata bermanfaat bagi desa lain."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku belajar bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari apa yang kita capai, tapi juga dari apa yang kita bagikan."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih karena Engkau jadikan aku alat untuk berbagi. Terima kasih karena Engkau tunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan dan dibagikan."

Ia memejamkan mata.

"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita mulai lagi."


BAB 8

PERLAHAN DESA MULAI BERUBAH

Pagi di Desa Awan Biru kembali seperti semula, namun dengan rasa yang berbeda. Kabut masih turun perlahan dari lereng Gunung Sumbing, membungkus lembah dalam selimut putih yang tebal. Burung-burung masih berkicau riang di pepohonan, saling bersahutan seolah sedang bercerita tentang sesuatu. Ayam-ayam masih berkokok dengan bangga, menandakan bahwa hari baru telah dimulai. Jalanan desa yang berbatu masih basah oleh embun, dan di beberapa tempat, genangan air kecil terbentuk karena hujan semalam.

Namun di kantor desa, ada sesuatu yang kini terasa lebih hidup. Lebih teratur. Lebih terarah.

Pintu kantor desa terbuka pukul 06.45. Si Amat masuk lebih awal dari biasanya—ini sudah menjadi kebiasaan baru sejak ia belajar dari Bu Yuni. Ia membawa sapu dan kain pel, membersihkan lantai yang masih berdebu dari aktivitas kemarin. Ia menyapu dengan teliti, menyikat sudut-sudut ruangan yang jarang tersentuh. Ia mengelap meja-meja, membersihkan debu yang menumpuk di atas lemari.

"Wah, Mas Amat, sudah dari tadi?" sapa Pak Edi yang datang pukul 07.00, termos kopi kesayangannya di tangan kiri, segenggam pisang goreng di tangan kanan.

"Iya, Pak. Biar bersih."

Pak Edi tersenyum. "Lo sekarang rajin banget, Mat. Dulu mana pernah lo peduli sama kebersihan."

"Saya malu sama Bu Yuni, Pak. Ibu itu rajin banget. Saya jadi ikut-ikutan rajin."

"Wah, efek Bu Yuni. Hebat."

Si Amat tersenyum bangga. Ia melanjutkan membersihkan, sesekali bersiul kecil lagu kesukaannya—lagu campursari yang sering diputar di radio desa.

Pak Edi duduk di mejanya, menuang kopi ke gelas plastik favoritnya—gelas bekas selai yang sudah pudar gambarnya, namun masih ia simpan karena sudah seperti teman lama. Ia menyeruput kopi hitam pekat itu dengan nikmat, matanya menyapu ruangan yang mulai rapi.

"Mat, lihat tuh lemari arsip. Dulu penuh debu, sekarang kinclong."

"Iya, Pak. Saya yang bersihin kemarin."

"Bagus. Pertahankan."

Pukul 07.15, Bu Yuni datang. Ia tersenyum melihat kantor yang sudah bersih.

"Mas Amat, Bapak yang bersihin?"

"Iya, Bu. Biar nyaman."

"Terima kasih, Mas Amat. Bapak hebat."

Si Amat tersenyum malu. Dadanya membusung seperti merak. "Senang bisa membantu, Bu."

Pukul 07.30, yang lain datang. Pak Eko dengan laptopnya, yang kini tidak lagi ia gunakan untuk media sosial selama jam kerja. Pak Santoso dengan kacamatanya yang tebal, yang kini selalu ia bersihkan sebelum dipakai. Bu Lulu dengan map keuangannya, yang kini ia peluk di dada seperti biasa, tapi dengan senyum di wajahnya.

"Pagi, Bu," sapa mereka serempak.

"Pagi, teman-teman."

Suasana kantor pagi itu hangat. Tidak ada lagi ketegangan seperti beberapa minggu lalu. Tidak ada lagi bisik-bisik yang mencurigakan. Yang ada hanya semangat kebersamaan.

 

Bu Yuni berjalan ke lemari arsip. Ia membuka pintu lemari, pintu kayu jati yang dulu berderit keras, kini sudah diberi minyak sehingga lebih halus. Di dalam lemari, map-map berwarna berjejer rapi berdasarkan jenis dan tahun.

"Mas Amat, tolong catat di buku register: arsip tahun 1996-2000 sudah selesai."

"Siap, Bu!"

Si Amat membuka buku register, buku besar berwarna biru dengan kolom-kolom yang rapi. Ia menulis:

Tanggal: 15 April 2001
Jenis Arsip: Kependudukan, Pertanahan, Surat Menyurat, Keuangan, Program Desa
*Tahun: 1996-2000*
*Lokasi: Lemari 1-3*
Keterangan: Selesai

"Bu, arsip tahun 1990-1995 kapan kita mulai?" tanya Pak Eko.

"Minggu depan, Pak. Minggu ini kita fokus pada pelayanan. Ada beberapa warga yang mengeluh tentang lamanya pembuatan surat tanah."

"Baik, Bu."

Bu Yuni kemudian duduk di mejanya. Ia membuka buku catatan kecil—buku yang selalu ia bawa ke mana-mana, yang sampulnya sudah lusuh dan halamannya mulai menguning. Ia menulis rencana untuk minggu ini:

Senin: Evaluasi pelayanan surat tanah
Selasa: Rapat dengan perangkat desa
Rabu: Sosialisasi ke dusun-dusun
Kamis: Koordinasi dengan kecamatan
Jumat: Laporan mingguan
Sabtu: Evaluasi

Ia menutup buku itu dan tersenyum. "Perlahan, tapi pasti."

 

Pukul 08.30, warga pertama datang. Seorang ibu muda bernama Bu Anik, warga Dusun Kaliwungu, yang ingin mengurus surat keterangan usaha untuk berjualan nasi kuning di pasar.

"Selamat pagi, Bu," sapa Si Amat dengan ramah.

"Pagi, Mas. Saya mau bikin surat keterangan usaha."

"Baik, Bu. Bisa tunjukkan berkas-berkasnya?"

Bu Anik mengeluarkan KTP, KK, dan surat pengantar dari RT. Semua lengkap.

Si Amat memeriksa dengan teliti. "Lengkap, Bu. Mohon tunggu sekitar 20 menit."

"Wah, cepet amat, Mas. Dulu bisa sejam lebih."

"Itu dulu, Bu. Sekarang sudah ada sistem baru."

Bu Anik duduk di kursi yang tersedia. Ia mengamati kantor desa yang mulai rapi. Ada map-map berwarna di lemari. Ada buku register di meja. Ada papan prosedur di dinding. Ada juga papan pengumuman berisi persyaratan surat-menyurat.

"Desa kita mulai maju ya," gumumnya.

Dalam waktu 15 menit, surat itu selesai. Si Amat menyerahkannya pada Bu Anik.

"Ini, Bu. Suratnya."

Bu Anik menerima surat itu dengan mata berbinar. "Terima kasih, Mas. Terima kasih banyak."

"Sama-sama, Bu. Semoga usahanya lancar."

"Aamiin. Doain ya, Mas."

"Tentu, Bu."

Bu Anik keluar dengan senyum lebar. Di luar, ia bertemu dengan Bu Tini yang sedang menunggu giliran.

"Bu Tini, sekarang cepat lho. Nggak sampai 20 menit."

"Serius, Bu Anik?"

"Serius. Coba saja."

Bu Tini masuk ke kantor. Ia ingin mengurus surat domisili untuk anaknya yang akan kuliah di Semarang.

"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa dibantu?" sapa Si Amat.

"Pagi, Mas. Saya mau bikin surat domisili untuk anak saya."

"Baik, Bu. Bisa tunjukkan berkas-berkasnya?"

Bu Tini mengeluarkan KTP, KK, dan fotokopi akta kelahiran anaknya.

Si Amat memeriksa. "Lengkap, Bu. Mohon tunggu sekitar 15 menit."

Bu Tini duduk di kursi. Ia tidak percaya. Biasanya, surat domisili bisa memakan waktu satu jam. Tapi 15 menit? Luar biasa.

Dalam waktu 12 menit, surat itu selesai.

"Ini, Bu. Suratnya."

Bu Tini menerima surat itu dengan tangan gemetar. "Mas, ini benar? Cuma 12 menit?"

"Iya, Bu. Sistem baru."

"Wah, luar biasa. Saya akan bilang ke tetangga-tetangga."

"Terima kasih, Bu."

Bu Tini keluar dengan wajah berseri-seri. Ia langsung menghampiri Bu Anik yang masih di halaman.

"Bu Anik, benar! Cuma 12 menit!"

"Kan sudah saya bilang."

"Ini luar biasa. Desa kita benar-benar berubah."

 

Warung Pak Karyo, seperti biasa, menjadi pusat informasi desa. Setiap pagi, warga berkumpul di sini untuk minum kopi, makan gorengan, dan bertukar kabar.

Hari itu, topik pembicaraan adalah perubahan di kantor desa.

"Bu Anik tadi cuma 15 menit dapat surat," kata Pak Sugeng sambil meniup kopinya.

"Bu Tini cuma 12 menit," sahut Bu Tini yang ikut nimbrung.

"Ini luar biasa. Dulu bisa berjam-jam," kata Pak Karto.

Pak Karyo yang mendengar dari balik etalase tersenyum. "Itu karena Bu Yuni. Beliau yang mengubah sistem."

"Bu Yuni memang hebat," kata Pak Sugeng.

"Bukan hanya hebat, tapi juga tulus. Saya lihat sendiri beliau kerja sampai malam," kata Pak Karyo.

"Iya, saya juga sering lihat lampu kantor menyala sampai jam 9 malam," kata Bu Tini.

"Itu namanya dedikasi," kata Pak Karyo.

Anto yang duduk di pojok ikut nimbrung. "Saya sudah bilang dari awal. Bu Yuni itu orang pilihan."

"Kamu selalu bilang begitu, To," ledek Pak Sugeng.

"Kali ini benar, Pak. Buktinya, desa kita sekarang maju."

Mereka tertawa. Namun di balik tawa itu, ada rasa bangga yang tidak bisa disembunyikan.

 

Pak Didit, yang dulu menjadi sumber fitnah, kini menjadi pembela utama Bu Yuni. Di setiap kesempatan, ia selalu memuji perubahan yang terjadi.

"Warga sekalian, kita harus dukung Bu Yuni," katanya dalam pertemuan RT.

"Beliau sudah mengubah desa kita. Pelayanan lebih cepat. Arsip lebih rapi. Warga tidak perlu bolak-balik."

Warga mengangguk-angguk.

"Saya dulu salah. Saya memfitnah beliau. Tapi sekarang saya sadar. Bu Yuni adalah anugerah bagi desa kita."

"Setuju, Pak Didit," kata warga.

"Kita harus jaga agar perubahan ini berkelanjutan. Jangan sampai ada yang menghambat."

"Setuju!"

Pak Didit tersenyum. Ia merasa lega karena bisa menebus kesalahannya.

 

Sepanjang minggu itu, pelayanan di kantor desa semakin cepat. Warga yang datang tidak perlu menunggu lama. Surat-surat yang dulu memakan waktu berhari-hari, kini bisa selesai dalam hitungan jam.

"Bu, ini rekor baru. Surat tanah selesai dalam 2 hari," lapor Pak Santoso dengan bangga.

"Bagus, Pak. Tapi jangan terlalu cepat. Yang penting teliti."

"Baik, Bu. Saya selalu cek dua kali."

"Bu, surat domisili sekarang rata-rata 10 menit," kata Si Amat.

"Luar biasa, Mas Amat. Bapar hebat."

"Saya hanya mengikuti sistem Ibu, Bu."

"Tetap saja, Bapak yang menjalankan."

Pak Eko yang mendengar ikut melaporkan. "Bu, koordinasi dengan kecamatan sekarang lebih lancar. Mereka sudah tahu sistem kita."

"Bagus, Pak Eko. Itu hasil kerja Bapak."

"Terima kasih, Bu."

 

Hari Kamis, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Wonosobo datang berkunjung. Mereka ingin melihat langsung perubahan yang terjadi di Desa Awan Biru.

Tim DPMD dipimpin oleh Ibu Sulastri, Kepala Bidang Pemerintahan Desa, seorang wanita berusia 45 tahun dengan rambut pendek dan wajah tegas. Ia didampingi oleh dua stafnya, Pak Wahyu dan Bu Dewi.

"Selamat pagi, Pak Kades, Bu Sekdes," sapa Ibu Sulastri.

"Pagi, Bu. Selamat datang di Desa Awan Biru," jawab Pak Kades Iwan.

"Kami mendengar desa ini mengalami perubahan signifikan dalam administrasi. Kami ingin belajar."

"Silakan, Bu. Bu Yuni yang akan memandu."

Bu Yuni memandu tim DPMD berkeliling kantor. Ia menunjukkan lemari arsip yang rapi, buku register yang terisi lengkap, dan papan prosedur yang terpasang di dinding.

"Ini luar biasa," kata Ibu Sulastri. "Dalam waktu singkat, Ibu bisa mengubah sistem yang berantakan menjadi rapi."

"Kerja tim, Bu. Bukan saya sendiri."

"Tapi Ibu yang memimpin."

Bu Yuni tersenyum. "Saya hanya memulai. Mereka yang melanjutkan."

Ibu Sulastri mengangguk kagum. "Ibu adalah contoh bagi sekdes-sekdes lain."

"Terima kasih, Bu."

 

Setelah berkeliling, tim DPMD meminta Bu Yuni untuk presentasi di balai desa. Warga yang mendengar kabar itu berdatangan. Mereka ingin menyaksikan langsung.

Bu Yuni berdiri di depan papan tulis. Ia menggunakan karton-karton berisi slide tulisan tangan—sama seperti saat presentasi untuk tim studi banding.

"Bapak, Ibu, perkenankan saya mempresentasikan sistem administrasi yang kami terapkan."

Ia menjelaskan langkah demi langkah: klasifikasi arsip, buku register, papan prosedur, standar pelayanan, dan pelatihan perangkat desa.

Ibu Sulastri dan timnya mencatat dengan saksama.

"Berapa lama Ibu menerapkan sistem ini?" tanya Ibu Sulastri.

"Baru dua setengah bulan, Bu."

"Luar biasa. Biasanya pembenahan administrasi butuh waktu setidaknya setahun."

"Ini berkat kerja keras tim, Bu."

"Kami akan merekomendasikan Desa Awan Biru sebagai desa percontohan untuk administrasi desa di Kabupaten Wonosobo."

Bu Yuni terkejut. "Serius, Bu?"

"Serius. Ibu dan tim Ibu layak mendapat apresiasi."

Warga bertepuk tangan. Pak Kades Iwan menangis haru.

 

Setelah presentasi, mereka makan siang bersama di balai desa. Pak Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak. Anto membawa kopi dan teh. Ibu-ibu PKK membawa kue tradisional.

"Bu Yuni, Ibu asli mana?" tanya Ibu Sulastri.

"Saya asli Wonosobo, Bu. Dari lereng Sumbing."

"Wah, sama. Saya juga dari Wonosobo. Tapi dari sisi lain."

"Berarti kita satu kabupaten, Bu."

"Iya. Saya bangga ada orang Wonosobo yang berprestasi seperti Ibu."

Bu Yuni tersenyum malu. "Saya hanya melakukan tugas, Bu."

"Tapi Ibu melakukannya dengan luar biasa."

 

Setelah seharian berkunjung, tim DPMD pamit. Mereka membawa banyak catatan dan rencana untuk diterapkan di desa-desa lain.

"Bu Yuni, terima kasih," kata Ibu Sulastri.

"Sama-sama, Bu. Semoga bermanfaat."

"Ibu adalah inspirasi. Kami akan cerita ke desa-desa lain."

"Terima kasih, Bu."

Mobil tim DPMD melaju perlahan meninggalkan halaman kantor desa. Bu Yuni melambai-lambaikan tangan.

"Bu, Ibu sekarang terkenal sampai kabupaten," kata Si Amat.

"Bukan terkenal, Mas. Hanya berbagi."

"Tetap saja, Ibu hebat."

 

Sore itu, Pak Kades Iwan mengumpulkan warga di balai desa. Ia ingin menyampaikan pidato singkat.

"Warga sekalian, kita patut bersyukur. Desa kita mulai diakui."

Warga bertepuk tangan.

"Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Ini hasil kerja keras Bu Yuni dan seluruh perangkat desa. Juga dukungan dari kita semua."

"Setuju, Pak Kades!" teriak warga.

"Kita harus jaga agar perubahan ini berkelanjutan. Jangan sampai kita kembali ke cara lama."

"Tidak akan, Pak Kades!" teriak Pak Darmo.

"Kita dukung Bu Yuni!" teriak warga lain.

Bu Yuni yang berdiri di samping Pak Kades menunduk. Matanya berkaca-kaca.

"Terima kasih, warga sekalian. Tapi ini bukan tentang saya. Ini tentang kita semua. Tentang desa kita."

"Kita cinta Bu Yuni!" teriak Anto dari belakang.

Semua tertawa. Bu Yuni tersenyum malu.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur pelan.

"Kuning, hari ini menyenangkan."

Kucing itu mengeong pelan.

"Kita dikunjungi DPMD. Mereka memuji sistem kita. Kata mereka, desa kita akan dijadikan percontohan."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Perubahan yang kita mulai mulai diakui. Tapi ini baru awal. Masih banyak yang harus dikerjakan."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bintang-bintang bertaburan seperti berlian.

"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk pengakuan yang Engkau berikan. Tapi jangan biarkan aku sombong. Jaga hatiku agar tetap rendah hati."

Ia memejamkan mata.

"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita mulai lagi."

 

Keesokan paginya, Bu Yuni datang ke kantor dengan semangat baru. Senyumnya merekah, matanya berbinar.

"Selamat pagi, teman-teman!" sapanya ceria.

"Pagi, Bu!" jawab mereka serempak.

"Hari ini kita akan fokus pada arsip tahun 1990-1995. Target kita, selesai dalam dua minggu."

"Setuju, Bu!" seru mereka.

Mereka mulai bekerja. Arsip-arsip dikeluarkan dari lemari, dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.

"Bu, ini arsip tahun 1990. Isinya sudah rapuh," kata Si Amat.

"Hati-hati, Mas. Pindahkan ke map baru, lalu lapisi dengan plastik."

"Siap, Bu."

Pak Eko bekerja dengan tekun. "Bu, ini arsip program desa tahun 1991. Masih lengkap."

"Bagus, Pak Eko. Simpan di map baru."

Pak Edi, yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius. "Bu, arsip sosial tahun 1992 sudah saya rapikan."

"Terima kasih, Pak Edi."

 

Di tengah pekerjaan, mereka menemukan kendala. Beberapa arsip tahun 1990-1995 ternyata hilang atau rusak parah.

"Bu, arsip keuangan tahun 1993 hilang," kata Bu Lulu dengan wajah cemas.

"Yakin, Bu?"

"Saya sudah cari di semua map, Bu. Tidak ada."

Bu Yuni berpikir sejenak. "Mungkin tersimpan di kecamatan. Dulu, arsip keuangan desa disimpan di kecamatan untuk tahun-tahun tertentu."

"Benarkah, Bu?"

"Saya tidak yakin. Tapi tidak ada salahnya cek."

Pak Eko yang mendengar langsung menawarkan diri. "Bu, saya ke kecamatan. Saya cek."

"Baik, Pak Eko. Terima kasih."

Pak Eko bergegas ke kecamatan. Dua jam kemudian, ia kembali dengan membawa map tebal.

"Bu, ketemu! Tersimpan di arsip kecamatan."

"Syukurlah. Terima kasih, Pak Eko."

"Tadi saya sempat panik, Bu. Tapi Alhamdulillah ketemu."

 

Melihat kesibukan perangkat desa, warga kembali membantu. Mereka datang bergantian, membawa makanan, atau sekadar menawarkan bantuan.

"Bu Yuni, saya bisa bantu apa?" tanya Pak Darmo.

"Pak, Bapak bisa bantu cari data warga untuk arsip kependudukan tahun 1990-1995."

"Siap, Bu."

Pak Darmo keliling desa, mewawancarai warga tua yang masih ingat data-data lama.

Bu Sri dan ibu-ibu PKK membantu merapikan arsip-arsip yang kotor. Mereka membersihkan debu, menyeka map, dan melapisi kertas dengan plastik.

"Bu, ini bersih semua," kata Bu Sri.

"Terima kasih, Bu Sri. Ibu hebat."

Anto membantu mengantar arsip-arsip ke kecamatan untuk dicocokkan. Ia rela bolak-balik meskipun truknya sedang tidak jalan.

"To, Bapak repot," kata Bu Yuni.

"Tidak repot, Bu. Ini untuk desa kita."

"Terima kasih, To."

 

Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif. Arsip-arsip tahun 1990-1995 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata. Map-map baru berjejer rapi di lemari. Buku register terisi dengan lengkap.

"Bu, arsip tahun 1990-1992 sudah selesai," lapor Si Amat pada hari Kamis.

"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1993-1995."

"Siap, Bu."

Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun 1990-1995 sudah tertata rapi.

"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.

Mereka bersorak. "Hore!"

"Ini berkat kerja keras kita semua."

"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.

 

Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan. Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip tahun 1990-1992. Target dua minggu, tapi mereka optimis bisa selesai minggu depan.

"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu Yuni.

"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.

"Kita sama-sama belajar."

Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."

"Semoga berkelanjutan, Pak."

"Aamiin," jawab mereka.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.

"Kuning, minggu ini produktif."

Kucing itu mengeong pelan.

"Kita berhasil merapikan arsip tahun 1990-1992. Target dua minggu, kita kejar minggu depan selesai."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Warga membantu. Semua bekerja sama."

Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan sabit tipis menggantung di ufuk barat.

"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih untuk semangat yang Engkau berikan. Terima kasih untuk tim yang solid. Terima kasih untuk warga yang mendukung."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih ada arsip tahun 1993-1995. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."

 

Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa ke rumahnya untuk makan siang bersama lagi. Ini kejutan kedua untuk merayakan keberhasilan mereka.

"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan sambil membukakan pintu.

Rumahnya sederhana, tapi hari itu dihiasi dengan balon dan pita warna-warni—sama seperti sebelumnya, tapi kali lebih meriah.

"Wah, Pak Kades, Ibu tidak usah repot-repot," kata Bu Yuni.

"Ini sudah seharusnya, Bu. Untuk merayakan keberhasilan kita."

Mereka makan siang bersama. Lauknya lebih meriah dari sebelumnya: ayam goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu isi, sambal terasi, lalapan, dan buah-buahan.

"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.

"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah seharusnya."

Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang kumpul seperti ini."

"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita solid."

"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.

"Aamiin," jawab mereka.

 

Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat lagi.

"Teman-teman, keberhasilan kita hari ini bukan akhir. Ini awal. Masih banyak yang harus kita kerjakan."

Mereka mendengarkan dengan saksama.

"Arsip tahun 1993-1995 masih menanti. Setelah itu, arsip tahun 1980-an. Dan seterusnya. Pekerjaan tidak akan pernah habis."

"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.

"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita punya Allah."

Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus terus bekerja."

"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni. "Kesehatan lebih penting."

"Setuju, Bu."

 

Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia.

"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."

"Apa itu, To?"

"Kata Pak Camat, desa kita akan dikunjungi Bupati minggu depan."

Bu Yuni terkejut. "Bupati? Serius, To?"

"Serius, Bu. Bupati ingin melihat langsung perubahan di desa kita."

Pak Kades Iwan tersenyum lebar. "Ini luar biasa."

"Ini berkat Bu Yuni," kata Anto.

"Bukan, To. Ini berkat kita semua."

"Tetap saja, Bu Yuni yang memulai."

Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

 

Karena akan ada kunjungan Bupati, Bu Yuni dan tim mempersiapkan diri dengan ekstra keras.

"Teman-teman, Bupati akan datang. Kita harus menunjukkan yang terbaik."

"Siap, Bu!" seru mereka.

"Kita rapikan kantor. Bersihkan semua ruangan. Tata arsip dengan rapi. Siapkan materi presentasi."

"Bu, siapa yang presentasi?" tanya Si Amat.

"Saya yang akan presentasi. Tapi kalian harus siap menjawab pertanyaan."

"Siap, Bu."

Mereka bekerja ekstra keras. Kantor dibersihkan dari debu hingga berkilau. Arsip ditata ulang dengan sangat rapi. Materi presentasi disiapkan dengan lebih detail.

Bu Yuni membuat slide presentasi baru di karton, lebih rapi, lebih jelas, lebih menarik. Ia juga menyiapkan data-data pendukung.

 

Hari yang ditunggu tiba. Bupati Wonosobo, datang dengan iring-iringan mobil dinas. Beliau adalah seorang pria berusia 55 tahun, berwajah ramah dengan senyum khas yang selalu merekah. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat.

"Selamat pagi, Pak Kades, Bu Sekdes," sapa Bupati.

"Pagi, Pak Bupati. Selamat datang di Desa Awan Biru," jawab Pak Kades Iwan dengan suara sedikit gemetar karena gugup.

"Kami mendengar desa ini mengalami perubahan luar biasa dalam administrasi. Saya ingin melihat langsung."

"Silakan, Pak. Bu Yuni yang akan memandu."

Bu Yuni memandu Bupati berkeliling kantor. Ia menunjukkan lemari arsip yang rapi, buku register yang terisi lengkap, papan prosedur yang terpasang di dinding, dan papan pengumuman berisi persyaratan surat-menyurat.

"Ini luar biasa," kata Bupati. "Dalam waktu singkat, Ibu bisa mengubah sistem yang berantakan menjadi rapi."

"Kerja tim, Pak. Bukan saya sendiri."

"Tapi Ibu yang memimpin."

Bu Yuni tersenyum. "Saya hanya memulai. Mereka yang melanjutkan."

Bupati mengangguk kagum. "Ibu adalah contoh bagi sekdes-sekdes lain di Wonosobo."

"Terima kasih, Pak."

 

Setelah berkeliling, Bupati berpidato di balai desa. Warga yang mendengar kabar itu berdatangan berbondong-bondong. Balai desa yang berukuran 12x8 meter penuh sesak. Ada yang duduk di kursi, ada yang berdiri di belakang, ada yang sampai duduk di lantai.

"Warga Desa Awan Biru yang saya banggakan," mulai Bupati.

"Kalian beruntung memiliki pemimpin yang peduli. Pak Kades Iwan dan Bu Yuni adalah contoh pemimpin yang bekerja dengan hati."

Warga bertepuk tangan.

"Perubahan yang terjadi di desa ini tidak datang begitu saja. Ini hasil kerja keras, pengorbanan, dan dedikasi."

Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca.

"Saya akan menjadikan Desa Awan Biru sebagai percontohan bagi desa-desa lain di Wonosobo. Saya minta Pak Camat untuk memfasilitasi."

"Baik, Pak Bupati," jawab Pak Camat Subroto yang ikut hadir.

"Dan saya akan memberikan bantuan dana untuk pengembangan administrasi desa. Saya harap bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya."

"Terima kasih, Pak Bupati," kata Pak Kades Iwan.

 

Setelah pidato, mereka makan siang bersama di balai desa. Pak Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak untuk semua. Ibu-ibu PKK membawa kue tradisional.

"Bu Yuni, Ibu asli mana?" tanya Bupati.

"Saya asli Wonosobo, Pak. Dari lereng Sumbing."

"Wah, sama. Saya juga dari Wonosobo. Tapi dari kota."

"Berarti kita satu kabupaten, Pak."

"Iya. Saya bangga ada orang Wonosobo yang berprestasi seperti Ibu."

Bu Yuni tersenyum malu. "Saya hanya melakukan tugas, Pak."

"Tapi Ibu melakukannya dengan luar biasa."

 

Setelah seharian berkunjung, Bupati pamit. Beliau membawa kesan yang mendalam.

"Bu Yuni, terima kasih," kata Bupati.

"Sama-sama, Pak. Semoga bermanfaat."

"Ibu adalah inspirasi. Saya akan cerita ke desa-desa lain."

"Terima kasih, Pak."

Mobil Bupati melaju perlahan meninggalkan halaman kantor desa. Bu Yuni melambai-lambaikan tangan.

"Bu, Ibu sekarang terkenal sampai kabupaten," kata Si Amat.

"Bukan terkenal, Mas. Hanya berbagi."

"Tetap saja, Ibu hebat."

 

Warga Desa Awan Biru berbahagia. Mereka merasa bangga karena desanya dikunjungi Bupati. Mereka juga merasa bangga karena Bu Yuni dipuji.

"Bu Yuni, Ibu hebat," kata Pak Darmo.

"Terima kasih, Pak. Tapi ini kerja kita semua."

"Tetap saja, Ibu yang memulai."

"Kita sama-sama memulai, Pak."

Mereka tersenyum. Suasana desa sore itu penuh kebahagiaan.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya.

"Kuning, hari ini luar biasa."

Kucing itu mengeong pelan.

"Bupati datang. Beliau memuji kita. Beliau akan menjadikan desa kita percontohan."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Tapi aku juga sadar, ini baru awal. Masih banyak yang harus dikerjakan."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk pengakuan yang Engkau berikan. Tapi jangan biarkan aku sombong. Jaga hatiku agar tetap rendah hati."

Ia memejamkan mata.

"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita mulai lagi."

 

Keesokan paginya, Bu Yuni datang ke kantor dengan semangat baru. Senyumnya merekah, matanya berbinar.

"Selamat pagi, teman-teman!" sapanya ceria.

"Pagi, Bu!" jawab mereka serempak.

"Hari ini kita akan fokus pada arsip tahun 1993-1995. Target kita, selesai dalam satu minggu."

"Setuju, Bu!" seru mereka.

Mereka mulai bekerja. Arsip-arsip dikeluarkan dari lemari, dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.

"Bu, ini arsip tahun 1993. Isinya masih bagus," kata Si Amat.

"Bagus, Mas. Simpan di map baru."

Pak Eko bekerja dengan tekun. "Bu, ini arsip program desa tahun 1994. Lengkap."

"Terima kasih, Pak Eko."

Pak Edi, yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius. "Bu, arsip sosial tahun 1995 sudah saya rapikan."

"Terima kasih, Pak Edi."

 

Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif. Arsip-arsip tahun 1993-1995 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata. Map-map baru berjejer rapi di lemari. Buku register terisi dengan lengkap.

"Bu, arsip tahun 1993-1994 sudah selesai," lapor Si Amat pada hari Kamis.

"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1995."

"Siap, Bu."

Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun 1990-1995 sudah tertata rapi.

"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.

Mereka bersorak. "Hore!"

"Ini berkat kerja keras kita semua."

"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.

 

Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan. Dalam tiga minggu, mereka berhasil merapikan semua arsip dari tahun 1990 hingga 1995. Target tiga bulan, tercapai dalam tiga minggu.

"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu Yuni.

"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.

"Kita sama-sama belajar."

Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."

"Semoga berkelanjutan, Pak."

"Aamiin," jawab mereka.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.

"Kuning, kita berhasil."

Kucing itu mengeong pelan.

"Arsip tahun 1990-1995 selesai dalam tiga minggu. Padahal target tiga bulan."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Tim bekerja keras. Warga mendukung. Allah meridhoi."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk bulan ini. Terima kasih untuk semua pencapaian. Tapi jangan biarkan aku berhenti. Masih banyak yang harus dikerjakan."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Arsip tahun 1980-an menanti. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."

 

Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa ke rumahnya untuk makan siang bersama lagi. Ini kejutan ketiga.

"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan sambil membukakan pintu.

"Wah, Pak Kades, Ibu tidak usah repot-repot," kata Bu Yuni.

"Ini sudah seharusnya, Bu. Untuk merayakan keberhasilan kita."

Mereka makan siang bersama. Lauknya semakin meriah: ayam goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu isi, sambal terasi, lalapan, buah-buahan, dan es campur.

"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.

"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah seharusnya."

Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang kumpul seperti ini."

"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita solid."

"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.

"Aamiin," jawab mereka.

 

Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat lagi.

"Teman-teman, kita sudah merapikan arsip hingga tahun 1990. Tapi masih ada arsip tahun 1980-an, 1970-an, dan seterusnya. Pekerjaan belum selesai."

"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.

"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita punya Allah."

Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus terus bekerja."

"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni. "Kesehatan lebih penting."

"Setuju, Bu."

 

Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia.

"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."

"Apa itu, To?"

"Kata Pak Camat, desa kita akan menerima bantuan komputer dan printer dari kabupaten."

Bu Yuni terkejut. "Komputer dan printer? Serius, To?"

"Serius, Bu. Untuk mendukung administrasi desa."

Pak Kades Iwan tersenyum lebar. "Ini luar biasa."

"Ini berkat Bu Yuni," kata Anto.

"Bukan, To. Ini berkat kita semua."

"Tetap saja, Bu Yuni yang memulai."

Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

 

Karena akan ada bantuan komputer dan printer, Bu Yuni dan tim mempersiapkan tempat yang layak.

"Teman-teman, kita akan mendapat bantuan komputer dan printer. Kita harus siapkan ruangan khusus."

"Siap, Bu!" seru mereka.

"Kita bersihkan ruang tamu belakang. Letakkan meja untuk komputer. Siapkan stop kontak. Jangan sampai listrik mati."

"Bu, listrik di sini sering mati," kata Si Amat.

"Kita siapkan genset kecil. Pak Kades, bisa dianggarkan?"

"Bisa, Bu. Saya urus."

"Terima kasih, Pak."

Mereka bekerja membersihkan ruang tamu belakang. Ruangan itu sebelumnya jarang digunakan, penuh debu dan sarang laba-laba. Mereka membersihkan, mengepel, dan mengecat ulang dinding.

"Wah, sekarang jadi bagus," kata Si Amat.

"Iya, Mas. Ini akan jadi ruang komputer."

 

Dua minggu kemudian, bantuan dari kabupaten datang. Satu unit komputer, satu unit printer, dan satu unit meja komputer.

"Bu Yuni, ini untuk desa Ibu," kata petugas dari DPMD.

"Terima kasih, Pak. Ini sangat membantu."

Petugas itu memasang komputer dan printer. Ia juga mengajarkan cara mengoperasikannya kepada Si Amat dan Bu Yuni.

"Ini caranya, Bu. Tekan tombol ini untuk menyalakan. Buka program ini untuk mengetik surat. Klik ini untuk mencetak."

Bu Yuni belajar dengan tekun. Matanya berbinar melihat kemajuan teknologi.

"Mas Amat, Bapak juga harus belajar."

"Siap, Bu!"

 

Komputer pertama di Kantor Desa Awan Biru menjadi kebanggaan tersendiri. Warga berdatangan untuk melihat.

"Wah, ada komputer!" seru anak-anak.

"Iya, ini bantuan dari kabupaten," kata Si Amat dengan bangga.

"Bisa main game, Mas?"

"Bisa, tapi nggak boleh. Ini untuk kerja."

Anak-anak tertawa. Bu Yuni tersenyum melihat antusiasme mereka.

"Mas Amat, tolong buat surat pertama dengan komputer."

"Siap, Bu!"

Si Amat mengetik dengan kaku. Jari-jarinya masih terbata-bata, huruf demi huruf. Tapi setelah beberapa menit, surat itu selesai.

"Ini, Bu. Surat pertama dari komputer."

Bu Yuni membaca surat itu. Hasilnya rapi, jelas, dan profesional.

"Bagus, Mas Amat. Bapak hebat."

Si Amat tersenyum bangga. Dadanya membusung.

 

Dengan adanya komputer, pelayanan di kantor desa semakin modern. Surat-surat yang dulu ditulis tangan, kini bisa diketik dengan rapi. Arsip-arsip yang dulu disimpan di map, kini bisa disimpan di komputer.

"Bu, ini lebih cepat," kata Si Amat.

"Iya, Mas. Tapi jangan lupakan arsip fisik. Komputer bisa rusak, listrik bisa mati. Arsip fisik tetap penting."

"Baik, Bu. Saya ingat."

Bu Yuni juga mengajarkan perangkat desa lain untuk menggunakan komputer. Pak Eko, yang sudah terbiasa dengan laptop, paling cepat belajar. Pak Edi agak lambat, tapi semangat. Pak Santoso agak gugup, tapi tidak menyerah.

"Bu, jari saya gemetar," kata Pak Santoso.

"Tidak apa-apa, Pak. Pelan-pelan saja."

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya.

"Kuning, kita punya komputer sekarang."

Kucing itu mengeong pelan.

"Pelayanan akan semakin cepat. Arsip bisa disimpan di komputer. Tapi aku tidak akan melupakan arsip fisik."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Desa ini semakin maju. Perlahan tapi pasti."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk bantuan ini. Terima kasih untuk kemajuan yang Engkau berikan. Jangan biarkan aku lupa bahwa ini semua karena-Mu."

Ia memejamkan mata.

"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita mulai lagi."


BAB 9

UJIAN TERBESAR

Pagi itu, Desa Awan Biru tampak seperti biasa. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, burung-burung mulai berkicau, dan asap dapur mulai mengepul dari cerobong-cerobong rumah warga. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang bergerak di kejauhan, sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Pukul 08.30, sebuah mobil dinas berwarna abu-abu metalik berhenti di depan kantor desa. Bukan mobil biasa. Ini adalah mobil Toyota Kijang dengan pelat nomor merah, kaca film gelap, dan sirine kecil di atap, tanda bahwa ini adalah kendaraan resmi pejabat tinggi. Debu jalanan masih beterbangan saat pintu mobil terbuka. Tiga orang turun dengan langkah pasti.

Yang pertama adalah seorang pria berusia sekitar 50 tahun, berperawakan tegap, dengan kumis tebal dan kacamata berbingkai emas. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan saku di dada kiri, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Di tangannya, ia membawa map tebal berwarna coklat dengan stempel merah di pojok kanan atas. Ini adalah Pak Hermawan, Inspektur Pembantu dari Inspektorat Kabupaten Wonosobo, dikenal sebagai auditor paling tegas dan disegani. Wajahnya tidak pernah tersenyum dalam tugas, matanya seperti detektor yang bisa menangkap kebohongan dari jarak seratus meter.

Yang kedua adalah seorang wanita berusia sekitar 40 tahun, dengan rambut pendek bergaya bob, wajah tegas, dan tatapan tajam. Ia mengenakan blazer hitam di luar kemeja putih, rok pensil selutut, dan sepatu hak rendah. Ini adalah Bu Dewi, auditor senior yang terkenal dengan kecermatannya dalam memeriksa angka. Ia membawa tas laptop hitam dan sebuah map kecil berisi daftar periksa audit. Konon, ia bisa menemukan ketidakcocokan angka hanya dengan sekali pandang.

Yang ketiga adalah seorang pria muda berusia sekitar 30 tahun, dengan wajah ramah dan senyum tipis. Ia membawa kamera dan buku catatan. Ini adalah Pak Budi, auditor junior yang bertugas mendokumentasikan temuan. Meskipun terlihat ramah, ia juga dikenal teliti.

Si Amat yang sedang menyapu halaman langsung berhenti. Sapu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah dengan bunyi pletak. Mulutnya menganga, matanya membelalak. Ia belum pernah melihat mobil dengan pelat merah sedekat ini sebelumnya.

"Pak... Pak Edi! Pak Edi!" teriaknya sambil berlari ke dalam kantor, hampir tersandung pintu. "Kita kedatangan tamu... bukan tamu biasa... tamu 'menentukan nasib'!"

Pak Edi yang sedang duduk santai sambil menyeruput kopi langsung berdiri. Gelas plastiknya hampir terjatuh. "Siapa, Mat? Siapa yang datang?"

"Mobil pelat merah, Pak! Orang-orangnya kayak pejabat!"

Pak Edi bergegas ke pintu. Melihat mobil dan tiga orang yang sedang berjalan menuju kantor, wajahnya berubah pucat. "Waduh... ini Inspektorat. Tim audit dari kabupaten."

"Audit?" Si Amat hampir pingsan. "Apa maksudnya, Pak?"

"Mereka mau memeriksa administrasi desa. Semua laporan, semua arsip, semua keuangan."

"Ya Allah... kita siap tidak, Pak?"

Pak Edi menghela napas panjang. "Mudah-mudahan."

 

Tim Inspektorat masuk ke kantor desa dengan langkah pasti. Pak Hermawan di depan, diikuti Bu Dewi dan Pak Budi di belakang. Suasana langsung berubah. Udara yang tadinya hangat mendadak dingin. Semua perangkat desa yang sedang duduk berdiri dengan gugup.

"Selamat pagi," sapa Pak Hermawan dengan suara berat dan tegas.

"Pagi, Pak," jawab Pak Kades Iwan yang baru keluar dari ruangannya dengan wajah masih pucat karena kaget.

"Kami dari Inspektorat Kabupaten Wonosobo. Kami akan melakukan audit insidental terhadap administrasi Desa Awan Biru."

Pak Kades Iwan menelan ludah. "Insidental, Pak? Maksudnya tidak terjadwal?"

"Betul. Kami menerima laporan dari masyarakat tentang adanya indikasi ketidakberesan dalam administrasi desa. Kami wajib memeriksa."

Bu Yuni yang sedari tadi berdiri di samping Pak Kades langsung merasakan dadanya berdebar. Laporan dari masyarakat? Indikasi ketidakberesan? Ini bukan audit biasa. Ini audit karena adanya pengaduan.

"Silakan, Pak. Kami siap bekerja sama," kata Bu Yuni dengan suara yang ia usahakan tenang, meskipun hatinya bergolak.

Pak Hermawan menatap Bu Yuni. "Ibu Sekdes?"

"Iya, Pak. Saya Yuniarti, Sekretaris Desa."

"Kami dengar Ibu yang memimpin pembenahan administrasi di sini."

"Iya, Pak. Tapi ini kerja tim."

Pak Hermawan mengangguk tipis. "Baik. Kami akan memeriksa semuanya. Mulai dari laporan keuangan, arsip kependudukan, pertanahan, surat menyurat, hingga program desa."

"Silakan, Pak."

 

Tim audit langsung bekerja. Pak Hermawan duduk di kursi yang disediakan, membuka map tebalnya, dan mulai memeriksa dokumen demi dokumen. Bu Dewi membuka laptopnya, memasukkan data, dan mencocokkan angka. Pak Budi berkeliling mengambil foto-foto dokumentasi.

"Kami ingin melihat laporan keuangan tahun 2000 dan 2001," kata Pak Hermawan.

Bu Lulu yang ditunjuk maju dengan tangan gemetar. Ia membawa map tebal berisi laporan keuangan yang sudah ia rapikan berbulan-bulan.

"Ini, Pak."

Pak Hermawan membuka laporan itu. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. Jarinya menunjuk angka-angka, bibirnya bergerak-gerak seperti sedang menghitung dalam hati.

"Bu, bukti transaksi untuk pengadaan jalan desa tahun 2000 di mana?"

Bu Lulu mengambil map lain. "Ini, Pak."

Pak Hermawan memeriksa satu per satu. Ia mencocokkan jumlah di laporan dengan bukti transaksi. Sesekali ia mengernyit, sesekali mengangguk.

"Bu Dewi, tolong cek data ini," katanya sambil menyerahkan beberapa lembar kertas.

Bu Dewi menerima, memasukkan ke laptop, lalu membandingkan dengan data di kecamatan. "Pak, ini cocok."

"Baik."

Pemeriksaan berlangsung selama dua jam. Tim audit memeriksa semua laporan: keuangan, kependudukan, pertanahan, program desa, bantuan sosial, dan surat menyurat.

Pak Hermawan sesekali mengajukan pertanyaan tajam.

"Bu Sekdes, mengapa ada selisih angka di laporan keuangan triwulan ketiga tahun 2000?"

Bu Yuni mendekat, melihat angka yang dimaksud. "Itu karena ada realokasi anggaran, Pak. Kami sudah mencantumkan di catatan kaki."

Pak Hermawan memeriksa catatan kaki. "Benar. Baik."

"Bu Sekdes, mengapa arsip pertanahan tahun 1998 ada yang tidak lengkap?"

"Karena sebagian arsip lama rusak dimakan rayap, Pak. Kami sudah berusaha merekonstruksi dari sumber lain."

"Apakah ada bukti rekonstruksinya?"

"Ada, Pak. Kami lampirkan."

Pak Hermawan mengangguk. "Baik."

 

Pukul 11.00, Pak Hermawan memanggil Pak Kades dan Bu Yuni ke ruang terpisah. Wajahnya serius.

"Pak Kades, Bu Sekdes, kami menemukan beberapa kejanggalan."

Pak Kades Iwan dan Bu Yuni saling pandang. Jantung mereka berdebar kencang.

"Kejanggalan apa, Pak?" tanya Bu Yuni.

"Pertama, ada bukti transaksi fiktif pada tahun 1999. Sebelum Ibu menjabat."

Bu Yuni menghela napas lega. Itu bukan masa kerjanya.

"Kedua, ada indikasi penggelembungan anggaran pada program pengadaan jalan desa tahun 1999."

"Pak, itu sebelum saya menjabat," kata Bu Yuni.

"Saya tahu. Tapi sebagai Sekdes, Ibu bertanggung jawab atas arsip. Mengapa bukti transaksi fiktif itu masih ada?"

Bu Yuni terdiam. Ia tidak bisa menjawab.

"Ketiga, ada laporan dari warga bahwa Ibu menerima uang dari LSM Pundi Desa untuk proyek administrasi."

Bu Yuni terkejut. "Itu fitnah, Pak. Saya tidak pernah menerima uang dari siapa pun."

"Kami akan buktikan. Sementara, kami akan periksa semua bukti."

Bu Yuni menunduk. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan.

"Pak, saya siap diperiksa. Saya tidak bersalah."

 

Pak Kades Iwan yang mendengar tuduhan itu langsung angkat bicara.

"Pak Hermawan, saya kenal Bu Yuni. Beliau orang jujur. Tidak mungkin menerima uang."

"Kami tidak menuduh, Pak Kades. Kami hanya memeriksa."

"Tapi tuduhan itu tidak berdasar. Siapa yang melapor?"

"Kami tidak bisa menyebutkan identitas pelapor. Itu rahasia."

Pak Kades Iwan menghela napas. "Pak, saya siap menjadi saksi. Bu Yuni tidak bersalah."

"Kami akan buktikan. Biarkan proses berjalan."

Pak Kades Iwan terdiam. Ia hanya bisa berdoa.

 

Tim audit memeriksa lebih intensif. Mereka memeriksa semua bukti transaksi, semua arsip, semua laporan. Mereka juga mewawancarai perangkat desa satu per satu.

Pak Eko dipanggil lebih dulu.

"Pak Eko, apa Ibu tahu tentang proyek administrasi dengan LSM Pundi Desa?"

"Iya, Pak. Saya tahu. Bu Yuni yang menginisiasi kerja sama."

"Apakah Ibu melihat Bu Yuni menerima uang dari LSM?"

"Tidak, Pak. Saya tidak pernah melihat."

"Apakah Ibu sendiri menerima uang?"

"Saya? Tidak, Pak. Saya tidak pernah."

Pak Santoso dipanggil berikutnya.

"Pak Santoso, apa Ibu tahu tentang laporan masyarakat yang menuduh Bu Yuni menerima uang?"

"Saya dengar, Pak. Tapi saya yakin itu fitnah."

"Kenapa Ibu yakin?"

"Karena saya bekerja dengan Bu Yuni setiap hari. Saya lihat beliau tidak pernah meminta imbalan. Bahkan sering membayar keperluan kantor dari uang sendiri."

Pak Hermawan mencatat. "Baik."

Bu Lulu, Pak Edi, Si Amat, semua dipanggil. Semua memberikan kesaksian yang sama: Bu Yuni tidak pernah menerima uang.

 

Anto yang kebetulan ada di kantor juga dimintai keterangan. Ia dipanggil oleh tim audit.

"Saudara Anto, apa Ibu kenal Bu Yuni?"

"Iya, Pak. Saya kenal."

"Apa Ibu pernah melihat Bu Yuni menerima uang dari LSM?"

"Tidak, Pak. Saya tidak pernah."

"Tapi saya dengar bapak sering membantu Bu Yuni. Apa bapak tidak pernah diberi imbalan?"

"Saya membantu karena saya peduli, Pak. Bukan karena imbalan."

Pak Hermawan mengangguk. "Baik."

Anto keluar dari ruang pemeriksaan. Ia mendekati Bu Yuni yang sedang duduk di mejanya dengan wajah pucat.

"Bu Yuni, tenang. Ibu tidak bersalah."

"Terima kasih, To. Tapi saya takut."

"Takut apa, Bu?"

"Takut fitnah ini merusak semua yang sudah kita bangun."

Anto menggeleng. "Tidak akan, Bu. Kebenaran akan menang."

 

Tim audit menghubungi LSM Pundi Desa untuk mengkonfirmasi tuduhan. Ternyata, LSM itu tidak pernah memberikan uang kepada Bu Yuni atau perangkat desa lainnya. Yang mereka berikan hanyalah pelatihan dan pendampingan teknis, tanpa imbalan finansial.

"Bu Dewi, ini konfirmasi dari LSM Pundi Desa. Mereka tidak pernah memberikan uang," kata Pak Budi sambil menunjukkan surat konfirmasi.

Bu Dewi membaca surat itu. "Jadi, tuduhan itu tidak berdasar?"

"Tidak berdasar, Bu."

Pak Hermawan yang mendengar menghela napas. "Ada laporan palsu."

"Sepertinya begitu, Pak."

 

Tim audit kemudian mencari sumber laporan palsu. Setelah ditelusuri, laporan itu berasal dari seseorang yang tidak puas dengan perubahan di kantor desa, seseorang yang dulu mudah mengurus surat dengan cara tidak resmi, namun sekarang sulit karena sistem sudah rapi.

"Siapa orangnya?" tanya Pak Hermawan.

"Kami tidak bisa menyebutkan, Pak. Itu rahasia pelapor."

"Tapi ini laporan palsu. Ini bisa dipidana."

"Kami akan proses lebih lanjut, Pak. Tapi untuk sementara, fokus pada audit."

Pak Hermawan mengangguk. "Baik."

 

Setelah dua hari memeriksa, tim audit menyampaikan hasil sementara.

"Pak Kades, Bu Sekdes, kami sudah selesai memeriksa."

Bagaimana, Pak?" tanya Pak Kades Iwan dengan suara bergetar.

"Secara umum, administrasi Desa Awan Biru sudah cukup baik. Laporan keuangan dapat dipertanggungjawabkan. Arsip sudah tertata. Pelayanan berjalan sesuai prosedur."

Bu Yuni menghela napas lega.

"Namun, kami menemukan beberapa kelemahan. Pertama, bukti transaksi tahun 1999 masih ada yang fiktif. Itu sebelum Ibu menjabat, tapi sebagai Sekdes, Ibu bertanggung jawab atas arsip."

"Iya, Pak. Kami akan perbaiki."

"Kedua, kami menemukan indikasi penggelembungan anggaran pada program pengadaan jalan desa tahun 1999. Itu juga sebelum Ibu menjabat."

"Kami akan koordinasikan dengan aparat penegak hukum, Pak."

"Baik. Ketiga, tuduhan terhadap Ibu tidak terbukti. Ibu tidak menerima uang dari LSM."

Bu Yuni menangis. Air matanya jatuh. "Terima kasih, Pak."

"Tapi Ibu harus lebih hati-hati. Ada orang yang tidak suka dengan perubahan."

"Iya, Pak. Saya akan lebih hati-hati."

 

Sebelum pulang, Pak Hermawan memanggil Bu Yuni untuk bicara empat mata.

"Bu Yuni, saya dengar Ibu baru bekerja beberapa bulan."

"Iya, Pak. Baru empat bulan."

"Dalam empat bulan, Ibu sudah mengubah desa ini. Itu luar biasa."

Bu Yuni tersenyum malu. "Terima kasih, Pak."

"Tapi Ibu harus siap. Perubahan selalu menimbulkan musuh. Orang-orang yang diuntungkan dengan sistem lama akan melawan."

"Saya siap, Pak."

"Ibu kuat?"

"Insya Allah, Pak."

Pak Hermawan mengangguk. "Saya akan rekomendasikan agar Ibu diberi penghargaan. Tapi Ibu juga harus siap dengan konsekuensinya."

"Apa konsekuensinya, Pak?"

"Ada yang akan semakin benci. Ada yang akan semakin melawan. Tapi Ibu tidak sendirian. Allah selalu bersama orang-orang yang berbuat baik."

Bu Yuni menunduk. "Terima kasih, Pak. Nasihat Bapak sangat berarti."

 

Tim audit pamit setelah tiga hari berada di desa. Mereka membawa banyak catatan, tapi juga kesan yang mendalam.

"Bu Yuni, pertahankan," kata Pak Hermawan sambil berjabat tangan.

"Terima kasih, Pak. Kami akan terus memperbaiki."

"Desa ini beruntung memiliki Ibu."

Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Pak."

Mobil dinas abu-abu itu melaju perlahan meninggalkan halaman kantor desa. Bu Yuni melambai-lambaikan tangan hingga mobil itu hilang di tikungan.

 

Setelah mobil tim audit hilang dari pandangan, suasana di kantor desa berubah. Semua perangkat desa yang sejak tadi menahan napas, kini menghela napas lega. Ada yang duduk lemas di kursi, ada yang menangis haru.

"Bu, kita lulus," kata Si Amat sambil mengusap air matanya.

"Iya, Mas. Kita lulus."

"Ini semua karena Ibu."

"Bukan, Mas. Ini karena kita semua."

Pak Edi yang duduk di kursi dengan kaki lemas berkata, "Ya Allah... ini lebih tegang dari audit kemarin."

Pak Eko tersenyum lebar. "Kita berhasil membuktikan bahwa Bu Yuni tidak bersalah."

Pak Santoso menepuk bahu Bu Yuni. "Bu, saya bangga."

Bu Lulu menangis. "Saya takut tadi, Bu. Saya takut Bu Yuni dipenjara."

Bu Yuni tertawa kecil. "Bu Lulu, saya tidak melakukan kejahatan. Mana mungkin dipenjara."

"Tapi tuduhannya berat, Bu."

"Tuduhan tanpa bukti tidak akan berarti."

 

Pak Kades Iwan mengumpulkan semua perangkat desa di ruang tengah. Wajahnya serius, namun matanya berbinar.

"Teman-teman, kita sudah melewati ujian terbesar."

Mereka mengangguk.

"Kita dituduh, kita diperiksa, kita hampir putus asa. Tapi kita bertahan. Kita buktikan bahwa kita bersih."

"Setuju, Pak!" seru mereka.

"Dan ini semua berkat Bu Yuni. Tanpa beliau, kita mungkin tidak akan sekuat ini."

Bu Yuni menunduk. "Pak Kades, ini berkat kita semua."

"Tapi Ibu yang memulai."

"Kita sama-sama memulai."

Pak Kades Iwan tersenyum. "Baik. Sekarang, mari kita bersyukur. Kita akan mengadakan syukuran kecil-kecilan."

"Setuju, Pak!" seru mereka.

 

Sore itu, mereka mengadakan syukuran sederhana di kantor. Pak Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak dan gorengan. Anto membawa kopi dan teh. Ibu-ibu PKK membawa kue tradisional.

"Bu Yuni, selamat ya," kata Pak Darmo sambil menjabat tangan Bu Yuni.

"Terima kasih, Pak."

"Ibu hebat. Ibu tidak gentar meskipun dituduh."

"Saya hanya percaya pada kebenaran, Pak."

"Kebenaran selalu menang."

Bu Ratih datang dengan membawa kue lagi. "Bu Yuni, ini kue buatan saya. Untuk merayakan."

"Terima kasih, Bu Ratih."

Bu Sri dan ibu-ibu PKK lainnya juga datang. Mereka membawa makanan dan minuman.

"Bu Yuni, kami mendukung Ibu," kata Bu Sri.

"Terima kasih, Bu Sri. Dukungan Ibu sangat berarti."

 

Anto duduk di pojok, seperti biasa. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia. Ia tersenyum misterius.

"Bu Yuni, saya punya ramalan."

"Ramalan apa lagi, To?"

"Ibu akan selamat. Tuduhan akan terbukti palsu. Dan Ibu akan semakin kuat."

Bu Yuni tersenyum. "To, ramalan Bapak selalu benar."

"Kali ini saya yakin, Bu."

Mereka tertawa. Suasana sore itu hangat dan penuh kebahagiaan.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, yang setia, tidur di pangkuannya.

"Kuning, hari ini aku belajar sesuatu."

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku belajar bahwa ujian terbesar sering datang ketika kita merasa paling kuat. Allah ingin menguji apakah kita benar-benar ikhlas atau hanya mencari pujian."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku juga belajar bahwa kebenaran tidak perlu ditakuti. Kebenaran akan selalu menang, meskipun harus melalui proses yang panjang dan menyakitkan."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk ujian ini. Terima kasih karena Engkau tunjukkan bahwa aku tidak sendirian. Terima kasih karena Engkau berikan aku tim yang solid dan warga yang mendukung."

Ia memejamkan mata.

"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita mulai lagi."

 

Keesokan harinya, Pak Didit datang ke kantor desa. Wajahnya pucat, langkahnya ragu-ragu.

"Bu Yuni, saya mau bicara."

"Silakan, Pak Didit."

Pak Didit duduk di kursi depan meja Bu Yuni. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Bu Yuni.

"Bu, saya mau mengakui sesuatu."

"Apa itu, Pak?"

"Saya yang melaporkan Ibu ke Inspektorat."

Bu Yuni terkejut. Matanya membulat. "Bapak? Kenapa, Pak?"

Pak Didit menangis. "Saya iri, Bu. Saya iri karena Ibu lebih sukses dari saya. Saya iri karena warga lebih percaya pada Ibu."

Bu Yuni terdiam. Ia tidak menyangka.

"Saya minta maaf, Bu. Saya bersalah. Saya telah memfitnah Ibu lagi."

Bu Yuni menghela napas panjang. "Pak Didit, Bapak tahu bahwa laporan palsu itu bisa dipidana?"

"Saya tahu, Bu. Saya siap menerima konsekuensinya."

Bu Yuni diam sejenak. Ia berpikir. Lalu ia berkata, "Pak Didit, saya tidak akan melaporkan Bapak."

Pak Didit terkejut. "Kenapa, Bu?"

"Karena Bapak sudah mengakui. Karena Bapak minta maaf. Karena saya percaya Bapak bisa berubah."

Pak Didit menangis tersedu-sedu. "Bu Yuni, Ibu terlalu baik."

"Saya tidak baik, Pak. Saya hanya tahu bahwa dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Memaafkan lebih mulia."

Pak Didit berlutut. "Bu, saya berjanji tidak akan mengulangi. Saya akan mendukung Ibu sepenuh hati."

"Saya percaya, Pak."

 

Sejak itu, Pak Didit berubah total. Ia tidak hanya berhenti memfitnah, tetapi juga menjadi pembela utama Bu Yuni. Ia keliling desa, mengakui kesalahannya, dan meminta warga untuk mendukung Bu Yuni.

"Warga sekalian, saya yang melaporkan Bu Yuni ke Inspektorat. Saya memfitnah beliau. Saya minta maaf."

Warga terkejut. "Pak Didit, kenapa Bapak tega?"

"Saya iri, Bu. Saya iri. Tapi sekarang saya sadar. Bu Yuni adalah orang baik. Kita harus dukung beliau."

"Setuju, Pak Didit!" teriak warga.

"Mulai sekarang, saya akan bantu Bu Yuni. Saya akan jadi relawan."

"Kami juga, Pak!"

Pak Didit tersenyum. Ia merasa lega karena dosanya terangkat.

 

Senin pagi, Bu Yuni datang ke kantor dengan semangat baru. Senyumnya merekah, matanya berbinar.

"Selamat pagi, teman-teman!" sapanya ceria.

"Pagi, Bu!" jawab mereka serempak.

"Hari ini kita akan fokus pada arsip tahun 1980-1989. Target kita, selesai dalam satu bulan."

"Setuju, Bu!" seru mereka.

Mereka mulai bekerja. Arsip-arsip dikeluarkan dari lemari, dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.

"Bu, ini arsip tahun 1980. Isinya sudah sangat rapuh," kata Si Amat.

"Hati-hati, Mas. Pindahkan ke map baru, lalu lapisi dengan plastik. Jangan sampai hancur."

"Siap, Bu."

Pak Eko bekerja dengan tekun. "Bu, ini arsip program desa tahun 1981. Masih lengkap."

"Bagus, Pak Eko. Simpan di map baru."

Pak Edi, yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius. "Bu, arsip sosial tahun 1982 sudah saya rapikan."

"Terima kasih, Pak Edi."

 

Di tengah pekerjaan, mereka menemukan kendala. Beberapa arsip tahun 1980-1989 ternyata hilang atau rusak parah. Bahkan ada yang sudah tidak bisa dibaca sama sekali.

"Bu, arsip keuangan tahun 1985 hilang," kata Bu Lulu dengan wajah cemas.

"Yakin, Bu?"

"Saya sudah cari di semua map, Bu. Tidak ada."

Bu Yuni berpikir sejenak. "Mungkin tersimpan di kecamatan. Tapi kemungkinan kecil, karena arsip setua itu biasanya sudah dimusnahkan."

"Kalau hilang, bagaimana, Bu?"

"Kita buat berita acara kehilangan. Kita laporkan ke kecamatan dan kabupaten. Itu yang bisa kita lakukan."

"Baik, Bu."

Masalah lain muncul. Beberapa arsip rusak parah karena dimakan rayap dan air.

"Bu, ini arsip pertanahan tahun 1987. Sudah hancur," kata Pak Santoso sambil menunjukkan map yang kertasnya tinggal serpihan.

Bu Yuni memeriksa dengan teliti. "Sayang sekali. Tapi tidak apa-apa. Kita buat berita acara kerusakan."

"Bu, apakah tidak masalah?"

"Sepanjang kita sudah berusaha menyelamatkan, tidak masalah. Yang penting kita jujur."

 

Melihat kesibukan perangkat desa, warga kembali membantu. Mereka datang bergantian, membawa makanan, atau sekadar menawarkan bantuan.

"Bu Yuni, saya bisa bantu apa?" tanya Pak Darmo.

"Pak, Bapak bisa bantu cari data warga untuk arsip kependudukan tahun 1980-1989."

"Siap, Bu."

Pak Darmo keliling desa, mewawancarai warga tua yang masih ingat data-data lama.

Bu Sri dan ibu-ibu PKK membantu merapikan arsip-arsip yang kotor. Mereka membersihkan debu, menyeka map, dan melapisi kertas dengan plastik.

"Bu, ini bersih semua," kata Bu Sri.

"Terima kasih, Bu Sri. Ibu hebat."

Anto membantu mengantar arsip-arsip ke kecamatan untuk dicocokkan. Ia rela bolak-balik meskipun truknya sedang tidak jalan.

"To, Bapak repot," kata Bu Yuni.

"Tidak repot, Bu. Ini untuk desa kita."

"Terima kasih, To."

 

Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif. Arsip-arsip tahun 1980-1989 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata. Map-map baru berjejer rapi di lemari. Buku register terisi dengan lengkap.

"Bu, arsip tahun 1980-1984 sudah selesai," lapor Si Amat pada hari Kamis.

"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1985-1989."

"Siap, Bu."

Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun 1980-1989 sudah tertata rapi, meskipun beberapa hilang dan rusak.

"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.

Mereka bersorak. "Hore!"

"Ini berkat kerja keras kita semua."

"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.

 

Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan. Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip tahun 1980-1984. Target satu bulan, mereka optimis bisa selesai dalam tiga minggu.

"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu Yuni.

"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.

"Kita sama-sama belajar."

Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."

"Semoga berkelanjutan, Pak."

"Aamiin," jawab mereka.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.

"Kuning, kita berhasil melewati ujian terbesar."

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku difitnah, diperiksa, hampir putus asa. Tapi aku bertahan. Dan kebenaran menang."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Allah selalu bersamaku. Tim mendukungku. Warga mempercayaiku."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk ujian ini. Terima kasih karena Engkau buat aku lebih kuat. Terima kasih karena Engkau tunjukkan siapa yang benar-benar peduli."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."

 

Minggu pagi, Bu Yuni mampir ke rumah Pak Jayeng. Ia ingin meminta nasihat setelah ujian berat yang baru saja ia lalui.

Pak Jayeng menerimanya dengan hangat. Di beranda rumahnya yang teduh dengan kursi-kursi bambu, mereka duduk bercakap-cakap.

"Bu Yuni, Ibu selamat," kata Pak Jayeng sambil tersenyum.

"Iya, Pak. Alhamdulillah."

"Apa yang Ibu pelajari dari ujian ini?"

Bu Yuni berpikir sejenak. "Saya belajar bahwa kebenaran tidak perlu ditakuti. Juga bahwa tidak semua orang yang tersenyum adalah teman. Ada yang tersenyum tapi di belakang menusuk."

Pak Jayeng mengangguk. "Itu pelajaran berharga. Apa lagi?"

"Saya juga belajar bahwa memaafkan lebih mulia daripada membalas dendam. Pak Didit mengaku. Saya memaafkannya."

"Keputusan yang bijak, Nak. Dendam hanya akan melukai diri sendiri."

"Terima kasih, Pak."

Pak Jayeng menatap Bu Yuni dengan mata bijaksana. "Ibu hebat, Bu Yuni. Ibu sudah melewati ujian terbesar. Ke depan, mungkin masih ada ujian lain. Tapi Ibu sudah lebih siap."

"Insya Allah, Pak."

 

Senin pagi, Bu Yuni kembali ke kantor dengan semangat baru. Ujian telah berlalu. Kini ia bisa fokus pada pekerjaan.

"Selamat pagi, teman-teman!" sapanya ceria.

"Pagi, Bu!" jawab mereka serempak.

"Hari ini kita akan lanjutkan arsip tahun 1985-1989. Target kita, selesai dalam dua minggu."

"Setuju, Bu!" seru mereka.

Mereka mulai bekerja. Arsip-arsip dikeluarkan dari lemari, dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.

"Bu, ini arsip tahun 1985. Isinya masih lumayan," kata Si Amat.

"Bagus, Mas. Simpan di map baru."

Pak Eko bekerja dengan tekun. "Bu, ini arsip program desa tahun 1986. Lengkap."

"Terima kasih, Pak Eko."

Pak Edi, yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius. "Bu, arsip sosial tahun 1987 sudah saya rapikan."

"Terima kasih, Pak Edi."

 

Di tengah pekerjaan, mereka menemukan kendala baru. Beberapa arsip tahun 1985-1989 ternyata disimpan di gudang desa yang sudah lama tidak dibuka.

"Bu, saya dengar arsip tahun 1985-1989 disimpan di gudang," kata Pak Santoso.

"Gudang di mana, Pak?"

"Di belakang kantor. Rumah dinas kepala desa yang lama. Sekarang tidak dipakai."

"Baik, kita cek."

Mereka pergi ke gudang. Rumah dinas itu sudah tua, dindingnya retak-retak, atapnya bolong. Pintunya terkunci dengan gembok besar yang sudah berkarat.

"Kuncinya di mana, Pak?" tanya Bu Yuni.

"Pak Kades yang punya, Bu."

Bu Yuni menghubungi Pak Kades. Ia datang dengan kunci. Gembok itu susah dibuka karena karat, tapi setelah beberapa kali digoyang, akhirnya terbuka dengan bunyi krik.

Pintu kayu berderit keras saat didorong. Debu beterbangan. Udara di dalam pengap dan bau apek. Cahaya matahari masuk melalui lubang-lubang di atap, menerangi ruangan yang penuh dengan map-map dan kardus.

"Ini dia, Bu," kata Pak Santoso sambil menunjuk tumpukan map di sudut ruangan.

Mereka mengeluarkan map-map itu satu per satu. Debu beterbangan, membuat mereka bersin-bersin. Beberapa map sudah dimakan rayap, beberapa lagi basah karena atap bocor.

"Bu, ini parah," kata Si Amat.

"Iya, Mas. Tapi kita harus selamatkan yang masih bisa diselamatkan."

Mereka membawa map-map itu ke kantor. Kemudian membersihkan, memisahkan, dan menyelamatkan arsip-arsip yang masih layak.

 

Di antara tumpukan arsip yang rusak, mereka menemukan sesuatu yang berharga: dokumen-dokumen sejarah desa dari tahun 1970-an.

"Bu, ini sejarah desa kita!" seru Si Amat sambil menunjukkan map berisi dokumen tentang pendirian Desa Awan Biru.

Bu Yuni membacanya dengan saksama. "Ini luar biasa. Dokumen ini harus kita simpan dengan baik."

"Bu, ini foto-foto lama. Warga desa pada tahun 1970," kata Pak Edi sambil menunjukkan map berisi foto-foto hitam putih.

Bu Yuni melihat foto-foto itu. Ada foto para sesepuh desa, foto pembangunan masjid, foto gotong royong membersihkan desa.

"Ini harus kita pajang," kata Bu Yuni. "Agar generasi muda tahu sejarah desanya."

"Setuju, Bu!"

 

Bu Yuni mengusulkan untuk membuat museum mini di kantor desa. Tempat untuk menyimpan dan memajang dokumen-dokumen sejarah desa.

"Teman-teman, kita akan buat museum mini."

"Museum mini, Bu?" tanya Si Amat.

"Iya, Mas. Untuk menyimpan dokumen-dokumen sejarah desa. Agar tidak rusak dan bisa dilihat oleh generasi mendatang."

"Setuju, Bu!" seru mereka.

Mereka membersihkan ruang tamu belakang, ruang yang dulu digunakan untuk menyimpan komputer. Ruangan itu berukuran 4x5 meter, cukup untuk museum mini.

Mereka menata map-map dan foto-foto di rak-rak kayu yang mereka buat sendiri. Pak Eko yang pandai membuat rak, Pak Edi yang pandai mengecat, Si Amat yang pandai merapikan.

"Bu, ini sudah selesai," kata Si Amat setelah tiga hari bekerja.

Bu Yuni melihat hasilnya. Ruangan itu kini bersih dan rapi. Di rak-rak kayu, terpajang map-map berisi dokumen sejarah, foto-foto lama, dan benda-benda bersejarah lainnya.

"Ini bagus, Mas. Terima kasih."

"Bu, apa kita akan buka untuk umum?"

"Iya, Mas. Setiap hari Sabtu, kita buka untuk warga yang ingin melihat."

"Bagus, Bu!"

 

Sabtu pagi, museum mini Desa Awan Biru diresmikan oleh Pak Kades Iwan. Warga berdatangan untuk melihat.

"Ini sejarah desa kita," kata Pak Kades dalam sambutannya. "Kita harus menjaga dan melestarikannya."

Warga mengamati foto-foto lama. Ada yang menangis melihat foto orang tuanya yang sudah meninggal. Ada yang tersenyum mengenang masa kecil.

"Bu, ini foto Bapak saya," kata seorang warga tua sambil menunjuk foto hitam putih.

"Wah, Bapak Ibu tampan," kata Bu Yuni.

"Iya, Bu. Beliau sudah meninggal 20 tahun lalu."

"Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya."

"Aamiin."

 

Anto, yang tertarik dengan sejarah, menawarkan diri menjadi kurator museum mini.

"Bu Yuni, saya bisa jaga museum. Saya suka sejarah."

"Serius, To?"

"Serius, Bu. Saya sudah bosan jadi sopir truk. Ini tantangan baru."

Bu Yuni tersenyum. "Baik, To. Saya tunjuk Bapak sebagai kurator."

"Terima kasih, Bu."

Anto pun membersihkan museum setiap hari, menata ulang koleksi, dan memberi keterangan pada setiap foto. Ia juga membuat buku tamu untuk pengunjung.

"To, Bapak cocok jadi kurator," kata Pak Edi.

"Siapa tahu, Pak. Bakat terpendam."

Mereka tertawa.

 

Sepanjang minggu itu, mereka tetap fokus pada arsip tahun 1985-1989. Meskipun disibukkan dengan pembuatan museum, mereka tetap bekerja keras.

"Bu, arsip tahun 1985-1987 sudah selesai," lapor Si Amat pada hari Jumat.

"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1988-1989."

"Siap, Bu."

Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun 1985-1989 sudah tertata rapi.

"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.

Mereka bersorak. "Hore!"

"Ini berkat kerja keras kita semua."

"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.

 

Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan. Dalam dua minggu, mereka berhasil merapikan semua arsip tahun 1980-1989.

"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu Yuni.

"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.

"Kita sama-sama belajar."

Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."

"Semoga berkelanjutan, Pak."

"Aamiin," jawab mereka.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.

"Kuning, kita berhasil."

Kucing itu mengeong pelan.

"Arsip tahun 1980-1989 selesai dalam tiga minggu. Padahal target satu bulan."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Tim bekerja keras. Warga mendukung. Allah meridhoi."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk bulan ini. Terima kasih untuk semua pencapaian. Tapi jangan biarkan aku berhenti. Masih banyak yang harus dikerjakan."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Arsip tahun 1970-an menanti. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."

 

Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa ke rumahnya untuk makan siang bersama lagi. Ini kejutan keempat.

"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan sambil membukakan pintu.

"Wah, Pak Kades, Ibu tidak usah repot-repot," kata Bu Yuni.

"Ini sudah seharusnya, Bu. Untuk merayakan keberhasilan kita."

Mereka makan siang bersama. Lauknya semakin meriah: ayam goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu isi, sambal terasi, lalapan, buah-buahan, es campur, dan puding.

"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.

"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah seharusnya."

Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang kumpul seperti ini."

"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita solid."

"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.

"Aamiin," jawab mereka.

 

Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat lagi.

"Teman-teman, kita sudah merapikan arsip hingga tahun 1980. Tapi masih ada arsip tahun 1970-an, 1960-an, dan seterusnya. Pekerjaan belum selesai."

"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.

"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita punya Allah."

Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus terus bekerja."

"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni. "Kesehatan lebih penting."

"Setuju, Bu."

 

Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia.

"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."

"Apa itu, To?"

"Kata Pak Camat, desa kita akan menerima bantuan buku dan alat tulis kantor dari kabupaten."

Bu Yuni tersenyum. "Wah, bagus. Kita butuh banyak alat tulis."

"Juga, kata Pak Camat, Bu Yuni akan menerima penghargaan dari Bupati."

Bu Yuni terkejut. "Penghargaan? Untuk apa?"

"Atas dedikasi Ibu dalam membenahi administrasi desa."

Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak layak."

"Kamu layak, Bu," kata Pak Kades Iwan. "Kamu sudah bekerja keras."

"Setuju, Bu," kata yang lain.

Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

 

Karena akan menerima penghargaan dari Bupati, Bu Yuni dan tim mempersiapkan diri. Mereka membersihkan kantor, menata arsip, dan menyiapkan pakaian terbaik.

"Bu, Ibu harus pakai baju bagus," kata Si Amat.

"Saya hanya punya baju biasa, Mas."

"Pinjam saja, Bu. Saya punya baju batik.

"Terima kasih, Mas. Tapi saya tidak enak."

"Nggak apa-apa, Bu. Ini untuk desa kita."

Bu Yuni akhirnya meminjam baju batik milik Si Amat, batik coklat dengan motif parang yang lumayan bagus. Ia juga meminjam kerudung dari Bu Lulu.

"Bu, Ibu cantik," kata Bu Lulu.

"Terima kasih, Bu. Tapi saya tidak biasa."

"Biasakan, Bu. Ini momen spesial."

 

Hari yang ditunggu tiba. Bupati Wonosobo datang ke Desa Awan Biru untuk memberikan penghargaan. Acara berlangsung di balai desa yang penuh sesak dengan warga.

"Warga Desa Awan Biru yang saya hormati," kata Bupati dalam sambutannya.

"Hari ini, saya akan memberikan penghargaan kepada Ibu Yuniarti, Sekretaris Desa Awan Biru, atas dedikasi dan kerja kerasnya dalam membenahi administrasi desa."

Bu Yuni dipanggil ke depan. Ia berjalan dengan langkah gemetar. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca.

"Bu Yuni, Ibu adalah contoh bagi kami semua," kata Bupati sambil menyerahkan piagam penghargaan. "Ibu membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil, dilakukan dengan konsistensi, dan memberikan dampak besar."

Bu Yuni menerima piagam itu dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh.

"Terima kasih, Pak Bupati. Tapi ini bukan hanya saya. Ini kerja tim. Ini dukungan warga. Ini karena Allah."

Warga bertepuk tangan. Ada yang menangis haru, ada yang bersorak.

"Bu Yuni, Ibu hebat!" teriak Anto dari belakang.

Bu Yuni tersenyum. Ia menunduk, tidak berani menatap banyak orang.

 

Setelah menerima penghargaan, Bu Yuni diminta berpidato. Ia berdiri di depan mikrofon dengan suara bergetar.

"Bapak, Ibu, warga sekalian, saya tidak layak menerima penghargaan ini."

Warga terdiam.

"Saya hanya melakukan tugas saya. Saya hanya merapikan yang berantakan. Saya hanya menertibkan yang kacau. Itu sudah seharusnya."

"Tapi Ibu melakukannya dengan hati, Bu," teriak seorang warga.

Bu Yuni tersenyum. "Iya, saya melakukannya dengan hati. Karena saya percaya, desa ini punya potensi besar. Dan potensi itu hanya akan keluar jika administrasinya rapi."

"Penghargaan ini bukan untuk saya. Ini untuk kita semua. Untuk perangkat desa yang bekerja keras. Untuk warga yang mendukung. Untuk Allah yang meridhoi."

Warga bertepuk tangan lagi.

"Terima kasih. Saya akan terus bekerja. Saya akan terus mengabdi. Sampai desa ini benar-benar maju."

 

Setelah acara penghargaan, mereka makan siang bersama di balai desa. Bupati, Camat, perangkat desa, dan warga duduk bersama menikmati hidangan sederhana.

"Bu Yuni, Ibu luar biasa," kata Bupati.

"Terima kasih, Pak. Saya hanya menjalankan amanah."

"Ibu menginspirasi saya. Saya akan menjadikan Ibu sebagai contoh untuk desa-desa lain."

"Semoga bermanfaat, Pak."

Bu Yuni makan dengan tenang. Hatinya penuh syukur.

 

Setelah makan siang, Bupati pamit. Sebelum naik mobil, ia berjabat tangan dengan Bu Yuni.

"Bu Yuni, pertahankan semangat Ibu."

"Insya Allah, Pak."

"Desa ini beruntung memiliki Ibu."

"Terima kasih, Pak."

Mobil Bupati melaju perlahan. Bu Yuni melambai-lambaikan tangan.

"Bu, Ibu sekarang terkenal," kata Si Amat.

"Bukan terkenal, Mas. Hanya dihargai."

"Tetap saja, Ibu hebat."

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya.

"Kuning, hari ini aku menerima penghargaan."

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku tidak menyangka. Aku hanya ingin bekerja dengan baik. Ternyata Allah memberi lebih."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Tapi aku tidak boleh sombong. Penghargaan ini adalah amanah. Aku harus bekerja lebih keras."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk penghargaan ini. Tapi jangan biarkan aku lupa diri. Ingatkan aku bahwa ini semua karena-Mu."

Ia memejamkan mata.

"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok kita mulai lagi."


BAB 10

PENGAKUAN DAN HARAPAN BARU

Pagi itu, Desa Awan Biru terasa berbeda. Bukan karena kabutnya yang lebih tipis, atau matahari yang lebih terang. Tapi karena suasana yang sulit dijelaskan, ringan, hangat, dan penuh kebanggaan yang diam-diam tumbuh di hati banyak orang. Kabar tentang penghargaan dari Bupati telah menyebar. Bukan lewat pengumuman resmi, bukan melalui surat kabar atau radio. Tapi dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, dari teras ke teras, dari hati ke hati.

Bu Yuni bangun pukul 04.30 seperti biasa. Namun kali ini, ia tidak merasa lelah. Tubuhnya segar, pikirannya jernih. Ia memandang piagam penghargaan yang digantung di dinding kamar kontrakannya, bingkai kayu sederhana dengan kaca bening, di dalamnya tertulis nama dan prestasinya. Piagam itu hadiah dari Bupati kemarin, dan ia memutuskan untuk membawanya pulang karena tidak tega meninggalkannya di kantor.

"Kuning, lihat itu," katanya pada kucing oranye yang setia tidur di ujung kasur. "Itu penghargaan untuk kita."

Kucing itu menggeliat, lalu mengeong pelan seolah berkata, "Aku juga bagian dari perjuanganmu."

Bu Yuni tertawa kecil. Ia bangun, mengambil air wudhu, dan shalat subuh berjamaah di masjid desa. Di masjid, jamaah lebih banyak dari biasanya. Warga yang biasanya malas datang, hari ini hadir. Mungkin karena ingin melihat Bu Yuni, atau mungkin karena ingin merayakan kebanggaan bersama.

"Selamat, Bu Yuni," kata Pak Karyo setelah shalat, sambil menjabat tangan Bu Yuni dengan kedua tangannya yang kasar karena sering menggoreng.

"Terima kasih, Pak Karyo."

"Ibu hebat. Desa kita jadi terkenal."

"Bukan saya, Pak. Ini kerja sama."

"Tetap saja, Ibu yang memulai."

Pak Jayeng yang duduk di barisan depan menghampiri. "Bu Yuni, saya bangga. Desa ini akhirnya diakui."

"Terima kasih, Pak Jayeng. Doakan kami terus."

"Tentu. Saya akan selalu mendoakan."

 

Pukul 06.30, warung Pak Karyo sudah ramai. Warga berdatangan untuk minum kopi, makan gorengan, dan yang terpenting, membicarakan penghargaan yang diterima Bu Yuni. Bangku-bangku kayu yang tersedia tidak cukup, beberapa warga terpaksa berdiri sambil memegang gelas plastik berisi kopi hitam pekat.

"Kabar baik ya, desa kita dapat penghargaan," kata Pak Sugeng sambil meniup kopinya yang masih panas. Uap putih mengepul dari gelasnya, membentuk pola-pola abstrak di udara pagi.

"Iya, ini pertama kalinya dalam sejarah desa kita," sahut Bu Tini dengan bangga. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar.

"Ini semua berkat Bu Yuni," kata Pak Karyo dari balik etalase kaca miliknya. Tangannya yang gemetar karena usia sedang menyusun gorengan di atas piring plastik.

"Bu Yuni memang hebat. Dia mengubah desa kita dari nol," kata Pak Karto yang duduk di pojok.

Anto yang duduk di tempat favoritnya—pojok dekat pintu, dengan jaket kulitnya yang lusuh—ikut nimbrung. "Saya sudah bilang dari awal. Bu Yuni itu orang pilihan. Mimpi saya tidak pernah salah."

"Kali ini kamu benar, To," kata Pak Sugeng. "Mimpi kamu memang 'wahyu'."

Mereka tertawa. Anto tersenyum misterius, menyeruput kopinya dengan tenang. "Bukan wahyu, Pak. Hanya firasat. Tapi ya, kadang-kadang tepat."

 

Pukul 07.15, Bu Yuni tiba di kantor. Pintu kayu itu berderit pelan saat didorong, suara yang sudah akrab di telinganya. Di dalam, semua perangkat desa sudah datang. Bahkan yang biasanya datang terlambat, hari ini datang lebih awal. Mereka berdiri di depan meja masing-masing, tersenyum, wajah berseri.

"Selamat pagi, Bu!" sapa mereka serempak, suara mereka menggema di ruangan yang kini bersih dan rapi.

"Pagi, teman-teman. Semangat sekali."

"Kami bangga, Bu," kata Si Amat. Dadanya membusung, matanya berbinar. "Desa kita dapat penghargaan. Ibu dapat penghargaan."

"Ini penghargaan untuk kita semua, Mas Amat. Bukan hanya saya."

"Tetap saja, Ibu yang menerima."

Bu Yuni tersenyum. Ia berjalan ke mejanya, duduk, lalu membuka buku catatan kecil—buku yang selalu ia bawa ke mana-mana, yang sampulnya sudah lusuh dan halamannya mulai menguning. Di halaman terbaru, ia menulis:

"Hari ini, 15 Mei 2001. Desa Awan Biru menerima penghargaan dari Bupati atas prestasi dalam pembenahan administrasi. Ini adalah buah dari kerja keras kita selama dua setengah bulan. Syukur Alhamdulillah."

Ia menutup buku itu dan memandang sekeliling. Lemari arsip berjejer rapi dengan map-map berwarna. Buku register terisi lengkap di rak khusus. Papan prosedur dan papan pengumuman terpasang di dinding. Komputer dan printer siap digunakan di ruang komputer. Museum mini di belakang kantor sudah mulai dikunjungi warga.

"Teman-teman, kita sudah mencapai banyak hal. Tapi perjalanan kita belum selesai. Masih ada arsip tahun 1970-an, 1960-an, bahkan 1950-an yang harus kita selamatkan."

"Kita siap, Bu!" seru mereka.

"Mulai hari ini, kita akan fokus pada arsip tahun 1970-1979. Target kita, selesai dalam satu bulan."

"Setuju, Bu!"

 

Pukul 10.00, sebuah rombongan dari Desa Sumberejo, desa tetangga di lereng Sumbing yang berbeda dengan desa asal Bu Yuni, datang berkunjung. Mereka terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan beberapa perangkat desa. Mereka ingin belajar tentang sistem administrasi yang diterapkan di Awan Biru.

"Selamat pagi, Bu Yuni," sapa Pak Kades Sumberejo, seorang pria berusia 55 tahun dengan wajah ramah dan kumis putih. "Kami mendengar desa Ibu mendapatkan penghargaan. Kami ingin belajar."

"Selamat pagi, Pak. Silakan. Kami akan dengan senang hati berbagi."

Bu Yuni memandu rombongan itu berkeliling kantor. Ia menunjukkan lemari arsip yang rapi, buku register, papan prosedur, komputer, dan museum mini.

"Ini luar biasa," kata Sekdes Sumberejo, seorang wanita berusia 40 tahun dengan rambut panjang yang diikat kuncir. "Dalam waktu singkat, Ibu bisa mengubah desa ini."

"Ini kerja tim, Bu. Bukan saya sendiri."

"Tapi Ibu yang memimpin."

Bu Yuni tersenyum. "Saya hanya memulai. Mereka yang melanjutkan."

Rombongan itu kemudian mengadakan diskusi dengan perangkat desa Awan Biru. Pak Eko menjelaskan tentang sistem perencanaan, Pak Santoso tentang pemerintahan, Bu Lulu tentang keuangan, dan Si Amat tentang pelayanan.

"Kami ingin menerapkan sistem serupa di desa kami," kata Pak Kades Sumberejo.

"Kami siap membantu," kata Bu Yuni. "Kami akan berbagi pengalaman dan materi."

"Terima kasih, Bu Yuni. Ibu baik."

 

Siang itu, mereka makan siang bersama di balai desa. Pak Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak untuk semua. Ibu-ibu PKK membawa kue tradisional.

"Bu Yuni, Ibu asli mana?" tanya Sekdes Sumberejo.

"Saya asli Wonosobo, Bu. Dari lereng Sumbing. Desa Sumberejo juga, tapi Sumberejo yang berbeda."

"Wah, berarti kita satu kabupaten. Saya dari Kaliwiro kota."

"Berarti kita tetangga, Bu."

"Iya. Saya bangga ada orang Wonosobo yang berprestasi."

Bu Yuni tersenyum malu. "Terima kasih, Bu."

 

Sore itu, Pak Kades Iwan mengumpulkan warga di balai desa. Ia ingin menyampaikan pidato tentang penghargaan dan harapan ke depan. Warga berdatangan berbondong-bondong. Balai desa yang berukuran 12x8 meter penuh sesak. Ada yang duduk di kursi, ada yang berdiri di belakang, ada yang sampai duduk di lantai tanah yang dingin.

"Warga sekalian, kita patut bersyukur," kata Pak Kades. Keringat membasahi keningnya, suaranya sedikit bergetar karena emosi.

"Desa kita mendapat penghargaan dari Bupati. Ini adalah pengakuan bahwa kerja keras kita tidak sia-sia."

Warga bertepuk tangan. Suara tepuk tangan menggema di ruangan, hampir memekakkan telinga.

"Tapi jangan terlena. Masih banyak yang harus kita kerjakan. Administrasi sudah rapi. Sekarang kita harus fokus pada pembangunan. Jalan, irigasi, pendidikan, kesehatan."

"Setuju, Pak Kades!" teriak warga.

"Kita akan bekerja sama dengan Bu Yuni dan seluruh perangkat desa. Kita akan buat desa ini semakin maju."

"Setuju!"

 

Pak Kades mempersilakan Bu Yuni untuk memberi sambutan. Bu Yuni berdiri di depan mikrofon dengan suara tenang, matanya menatap seluruh warga.

"Warga sekalian, saya hanya manusia biasa. Saya tidak bisa melakukan apa-apa tanpa dukungan Bapak dan Ibu."

Warga terdiam. Suasana hening, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding dan sesekali suara bayi yang merengek.

"Penghargaan ini adalah penghargaan untuk kita semua. Untuk perangkat desa yang bekerja keras. Untuk warga yang mendukung. Untuk Allah yang meridhoi."

"Mari kita jaga kebersamaan ini. Mari kita lanjutkan perjuangan ini. Desa Awan Biru bisa maju. Asal kita bersama-sama."

Warga bertepuk tangan lagi. Ada yang menangis haru, ada yang tersenyum bangga.

"Bu Yuni, Ibu hebat!" teriak Anto dari belakang.

Bu Yuni tersenyum. "Sama-sama hebat, To. Kita semua hebat."

 

Setelah acara, Pak Darmo mendekati Bu Yuni. Wajahnya serius, matanya berbinar.

"Bu, saya mau usul."

"Usul apa, Pak?"

"Bagaimana kalau kita buat plakat di kantor desa. Tulisannya: 'Dedikasi Bu Yuni untuk Desa Awan Biru'."

Bu Yuni terkejut. "Pak, jangan. Saya tidak layak."

"Ibu layak, Bu. Ibu sudah mengubah desa kita."

"Tapi itu berlebihan, Pak."

"Tidak berlebihan. Ini sebagai kenang-kenangan. Agar generasi mendatang tahu bahwa ada seorang wanita tangguh yang pernah mengabdi di sini."

Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Pak, saya tidak butuh plakat. Saya hanya ingin desa ini maju."

"Tapi kami butuh mengingat jasa Ibu."

Bu Yuni menghela napas. "Baik, Pak. Tapi jangan besar-besar. Sederhana saja."

"Setuju, Bu."

 

Seminggu kemudian, warga Desa Awan Biru memasang sebuah plakat kecil di dinding kantor desa. Plakat itu terbuat dari kayu jati ukiran, berukuran 30x40 sentimeter, dengan tulisan berwarna emas:

"DEDIKASI BU YUNI
Sekretaris Desa Awan Biru
Telah mengabdi dengan tulus
Merapikan administrasi
Mencerdaskan pelayanan
Menginspirasi perubahan
Desa Awan Biru, 2001"

Bu Yuni berdiri di depan plakat itu. Air matanya jatuh. Ia tidak menyangka warga akan melakukan ini.

"Bu, ini tanda terima kasih kami," kata Pak Darmo.

"Terima kasih, Pak. Saya tidak layak."

"Ibu layak, Bu. Ibu lebih dari layak."

Bu Yuni memeluk Pak Darmo. Ia menangis. Pak Darmo ikut menangis. Semua yang hadir menangis haru.

 

Anto berdiri di pojok, jaket kulitnya yang lusuh masih setia. Ia tersenyum.

"Bu Yuni, saya punya ramalan."

"Ramalan apa lagi, To?"

"Suatu hari nanti, desa ini akan maju pesat. Jalan akan beraspal. Rumah-rumah akan bagus. Anak-anak akan sekolah tinggi. Dan semua itu karena Ibu memulai perubahan."

Bu Yuni tersenyum. "To, Bapak terlalu muluk."

"Bukan muluk, Bu. Saya yakin."

"Doakan saja, To."

"Tentu, Bu. Saya selalu mendoakan."

 

Setelah semua kegembiraan mereda, Bu Yuni dan tim kembali fokus pada pekerjaan. Arsip tahun 1970-1979 menjadi target berikutnya.

"Teman-teman, arsip tahun 1970-an kemungkinan besar sudah sangat rusak. Tapi kita harus coba selamatkan."

"Siap, Bu!" seru mereka.

Mereka membuka gudang lama, gudang yang sama dengan sebelumnya, namun kini sudah sedikit lebih bersih. Di sudut ruangan yang gelap dan lembab, mereka menemukan tumpukan map yang sudah berdebu tebal. Debu itu seperti lapisan waktu yang tidak tersentuh selama puluhan tahun.

"Bu, ini arsip tahun 1970," kata Si Amat sambil menunjukkan map yang kertasnya sudah coklat tua dan rapuh.

Bu Yuni menerimanya dengan hati-hati. Ia membuka map itu perlahan, takut kertasnya hancur. Di dalamnya, ada dokumen-dokumen tentang pendirian dusun-dusun di Awan Biru, tentang pembagian tanah, tentang musyawarah desa.

"Ini sejarah," katanya. "Kita harus selamatkan."

Mereka bekerja dengan ekstra hati-hati. Setiap lembar kertas diangkat dengan pelan, dibersihkan dari debu dengan kuas halus, lalu dilapisi plastik transparan sebelum dimasukkan ke map baru. Beberapa kertas sudah terlalu rapuh dan hancur saat disentuh. Bu Yuni menangis melihatnya.

"Bu, jangan sedih," kata Si Amat. "Kita sudah berusaha."

"Iya, Mas. Tapi sayang sekali. Ini sejarah yang hilang."

 

Di antara tumpukan arsip yang rusak, mereka menemukan sesuatu yang berharga: dokumen asli tentang berdirinya Desa Awan Biru pada tahun 1950.

"Bu, ini akta desa!" seru Pak Santoso. Tangannya gemetar memegang map yang sudah rapuh.

Bu Yuni membaca dokumen itu dengan saksama. Matanya bergerak perlahan dari baris ke baris. "Ini ditandatangani oleh Bupati Wonosobo pertama. Ini sangat berharga."

"Bu, kita harus simpan di museum mini."

"Setuju, Pak. Tapi kita harus fotokopi dulu. Aslinya kita simpan di brankas."

"Siap, Bu."

Mereka memfotokopi dokumen itu dengan hati-hati. Hasil fotokopinya kemudian dipajang di museum mini, sementara aslinya disimpan di brankas besi yang baru saja dibeli dengan dana desa.

 

Museum mini Desa Awan Biru semakin populer. Setiap hari Sabtu, warga berdatangan untuk melihat koleksi sejarah. Ada yang datang sendiri, ada yang bersama keluarga, ada yang bersama rombongan sekolah.

"Bu, ini foto kakek saya," kata seorang pemuda sambil menunjuk foto hitam putih yang dipajang di dinding.

"Wah, kakek Ibu tampan," kata Bu Yuni.

"Iya, Bu. Beliau adalah sesepuh desa. Saya bangga."

"Semoga kita bisa menjaga warisan beliau."

Anto sebagai kurator dengan bangga menjelaskan setiap koleksi. Ia sudah menghafal semua tanggal dan peristiwa.

"Ini foto gotong royong pertama di desa kita, tahun 1965," katanya kepada sekelompok anak sekolah.

"Wah, keren, Pak Anto!"

"Kalian harus tahu sejarah desa kalian. Agar kalian tidak lupa dari mana kalian berasal."

Anak-anak itu mengangguk.

 

Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif. Arsip-arsip tahun 1970-1979 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata. Meskipun banyak yang rusak, mereka berhasil menyelamatkan sebagian besar.

"Bu, arsip tahun 1970-1974 sudah selesai," lapor Si Amat pada hari Kamis.

"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1975-1979."

"Siap, Bu."

Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun 1970-1979 sudah tertata, meskipun banyak yang hilang dan rusak.

"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.

Mereka bersorak. "Hore!"

"Ini berkat kerja keras kita semua."

"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.

 

Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan. Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip tahun 1970-1974.

"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu Yuni.

"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.

"Kita sama-sama belajar."

Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."

"Semoga berkelanjutan, Pak."

"Aamiin," jawab mereka.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.

"Kuning, kita berhasil menyelamatkan sejarah desa."

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku bersyukur. Dokumen berdirinya desa ditemukan. Itu sangat berharga."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku juga bersyukur karena warga antusias dengan museum. Mereka mulai peduli dengan sejarah."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih untuk penemuan bersejarah. Terima kasih untuk semangat yang Engkau berikan."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Arsip tahun 1960-an menanti. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."

 

Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa ke rumahnya untuk makan siang bersama lagi. Ini kejutan kelima, dan mungkin yang terakhir karena ia mulai kehabisan ide.

"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan sambil membukakan pintu. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar.

"Wah, Pak Kades, Ibu tidak usah repot-repot," kata Bu Yuni.

"Ini sudah seharusnya, Bu. Untuk merayakan keberhasilan kita."

Mereka makan siang bersama. Lauknya semakin meriah: ayam goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu isi, sambal terasi, lalapan, buah-buahan, es campur, puding, dan kue bolu.

"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.

"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah seharusnya."

Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang kumpul seperti ini."

"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita solid."

"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.

"Aamiin," jawab mereka.

 

Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat lagi.

"Teman-teman, kita sudah merapikan arsip hingga tahun 1970. Tapi masih ada arsip tahun 1960-an, 1950-an, dan seterusnya. Pekerjaan belum selesai."

"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.

"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita punya Allah."

Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus terus bekerja."

"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni. "Kesehatan lebih penting."

"Setuju, Bu."

 

Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia. Rambutnya yang panjang mulai ia ikat karena mulai mengganggu.

"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."

"Apa itu, To?"

"Kata Pak Camat, desa kita akan menerima bantuan dana untuk pembangunan jalan desa."

Bu Yuni tersenyum. "Wah, bagus. Jalan desa selama ini rusak parah."

"Juga, kata Pak Camat, Bu Yuni akan diundang ke Jakarta untuk menjadi pembicara dalam seminar nasional tentang administrasi desa."

Bu Yuni terkejut. "Jakarta? Seminar nasional? Saya?"

"Iya, Bu. Ibu dianggap berhasil mengubah desa ini dalam waktu singkat."

Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak layak."

"Kamu layak, Bu," kata Pak Kades Iwan. "Kamu sudah membuktikan."

"Setuju, Bu," kata yang lain.

Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

 

Karena akan pergi ke Jakarta untuk menjadi pembicara, Bu Yuni dan tim mempersiapkan diri. Ia harus membuat materi presentasi, mempersiapkan pakaian, dan mengatur jadwal.

"Bu, Ibu harus pakai baju bagus," kata Si Amat.

"Saya hanya punya baju biasa, Mas."

"Pinjam saja, Bu. Saya punya baju batik baru."

"Terima kasih, Mas. Tapi saya tidak enak."

"Nggak apa-apa, Bu. Ini untuk desa kita."

Bu Yuni akhirnya meminjam baju batik milik Si Amat, batik coklat dengan motif parang yang baru, masih ada baunya karena baru dicuci. Ia juga meminjam kerudung dari Bu Lulu dan sepatu dari Bu Endang.

"Bu, Ibu cantik," kata Bu Lulu.

"Terima kasih, Bu. Tapi saya tidak biasa."

"Biasakan, Bu. Ini momen spesial."

 

Bu Yuni berangkat ke Jakarta ditemani Pak Kades Iwan. Mereka naik bus dari Wonosobo ke Semarang, lalu naik kereta api ke Jakarta. Perjalanan memakan waktu 12 jam.

Di Jakarta, mereka menginap di sebuah hotel sederhana dekat tempat seminar. Bu Yuni tidak bisa tidur semalaman. Ia gugup. Ini pertama kalinya ia ke Jakarta, pertama kalinya ia menjadi pembicara di seminar nasional.

"Bu, tenang," kata Pak Kades. "Ibu sudah terbiasa bicara di depan banyak orang."

"Tapi ini beda, Pak. Ini Jakarta. Pesertanya dari seluruh Indonesia."

"Ibu bisa. Saya yakin."

Pagi harinya, Bu Yuni berdiri di depan podium. Ruangan seminar itu besar, ber-AC, dengan kursi-kursi berlapis kain. Pesertanya ratusan orang dari berbagai daerah. Bu Yuni menggenggam mikrofon, tangannya gemetar.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapanya.

"Waalaikumsalam," jawab peserta.

Bu Yuni menarik napas. Ia memulai presentasinya dengan suara yang berusaha ia tenangkan.

"Saya dari Desa Awan Biru, Wonosobo, Jawa Tengah. Sebuah desa kecil di lereng Gunung Sumbing."

Ia bercerita tentang perjuangannya merapikan administrasi desa. Tentang tumpukan berkas yang menggunung. Tentang berkas yang hilang. Tentang fitnah yang menerpa. Tentang audit yang menegangkan. Tentang penghargaan yang diterima.

Peserta mendengarkan dengan saksama. Ada yang menangis, ada yang tersenyum, ada yang mengangguk-angguk.

"Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Tapi jika kita konsisten, perubahan akan terjadi. Perlahan, tapi pasti."

Peserta bertepuk tangan. Tepuk tangan itu panjang, menggema di ruangan.

"Bu Yuni, Ibu luar biasa," kata moderator.

"Terima kasih. Saya hanya berbagi pengalaman."

 

Setelah presentasi, banyak peserta yang mendekati Bu Yuni. Mereka ingin berfoto, bertanya, atau sekadar memberi selamat.

"Bu Yuni, Ibu menginspirasi saya," kata seorang sekdes dari Sumatera.

"Terima kasih, Bu. Saya hanya melakukan tugas."

"Ibu membuktikan bahwa wanita bisa memimpin."

"Bukan memimpin, Bu. Hanya mengabdi."

"Tetap saja, Ibu hebat."

Seorang sekdes dari Papua berkata, "Bu, saya akan terapkan sistem Ibu di desa saya."

"Silakan, Pak. Saya akan kirimkan materinya."

"Terima kasih, Bu. Ibu baik."

 

Setelah tiga hari di Jakarta, Bu Yuni kembali ke Desa Awan Biru. Ia disambut oleh warga di balai desa. Mereka membawa bunga dan spanduk.

"Selamat datang, Bu Yuni!" teriak warga.

Bu Yuni menangis. Ia tidak menyangka.

"Bu, Ibu hebat," kata Si Amat.

"Terima kasih, Mas. Tapi saya hanya pergi sebentar."

"Tetap saja, Ibu pahlawan kami."

Bu Yuni memeluk Si Amat. Ia menangis. Semua yang hadir menangis haru.

 

Setelah semua kegembiraan mereda, Bu Yuni dan tim kembali fokus pada pekerjaan. Arsip tahun 1960-1969 menjadi target berikutnya.

"Teman-teman, arsip tahun 1960-an kemungkinan besar sudah sangat rusak. Tapi kita harus coba selamatkan."

"Siap, Bu!" seru mereka.

Mereka membuka gudang lama lagi. Di sudut yang paling gelap dan lembab, mereka menemukan tumpukan map yang sudah hampir hancur. Beberapa map bahkan sudah menjadi sarang rayap dan tikus.

"Bu, ini arsip tahun 1960," kata Si Amat sambil menunjukkan map yang kertasnya tinggal serpihan.

Bu Yuni menerimanya dengan hati-hati. Ia membuka map itu perlahan. Beberapa kertas langsung hancur saat disentuh.

"Sayang sekali," katanya. "Tapi kita selamatkan yang masih bisa."

Mereka bekerja dengan ekstra hati-hati. Setiap lembar kertas yang masih utuh dibersihkan, dilapisi plastik, dan disimpan di map baru.

 

Di antara tumpukan arsip yang hancur, mereka menemukan dokumen langka: foto-foto perjuangan kemerdekaan di desa Awan Biru.

"Bu, ini foto para pejuang!" seru Pak Santoso.

Bu Yuni melihat foto itu. Foto hitam putih dengan pinggiran bergerigi, memperlihatkan sekelompok pria bersenjatakan bambu runcing dan beberapa wanita dengan kerudung putih.

"Ini sangat berharga," katanya. "Ini adalah saksi sejarah bahwa desa kita ikut berjuang merebut kemerdekaan."

"Bu, kita harus pajang di museum."

"Setuju, Pak. Tapi kita fotokopi dulu. Aslinya kita simpan di brankas."

"Siap, Bu."

Mereka memfotokopi foto-foto itu dengan hati-hati. Hasil fotokopinya kemudian dipajang di museum mini, sementara aslinya disimpan di brankas.

 

Anto, yang melihat foto-foto itu, menangis. "Ini foto kakek saya," katanya sambil menunjuk salah satu pria dalam foto.

"Kakek Bapak pejuang?" tanya Bu Yuni.

"Iya, Bu. Beliau gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Saya tidak pernah melihat fotonya. Ini pertama kali."

Anto memeluk foto itu. Air matanya jatuh. "Kakek, saya bangga."

Bu Yuni menepuk bahu Anto. "To, Bapak bisa mewarisi semangat kakek Bapak."

"Iya, Bu. Saya akan berusaha."

 

Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif. Arsip-arsip tahun 1960-1969 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata. Meskipun banyak yang rusak, mereka berhasil menyelamatkan sebagian.

"Bu, arsip tahun 1960-1964 sudah selesai," lapor Si Amat pada hari Kamis.

"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1965-1969."

"Siap, Bu."

Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun 1960-1969 sudah tertata, meskipun banyak yang hilang dan rusak.

"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.

Mereka bersorak. "Hore!"

"Ini berkat kerja keras kita semua."

"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.

 

Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan. Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip tahun 1960-1964.

"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu Yuni.

"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.

"Kita sama-sama belajar."

Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."

"Semoga berkelanjutan, Pak."

"Aamiin," jawab mereka.

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.

"Kuning, kita berhasil menyelamatkan foto-foto pejuang."

Kucing itu mengeong pelan.

"Aku bersyukur. Anto bisa melihat foto kakeknya. Itu sangat berarti."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku juga bersyukur karena warga semakin peduli dengan sejarah."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih untuk penemuan foto-foto bersejarah. Terima kasih untuk semangat yang Engkau berikan."

Ia memejamkan mata.

"Minggu depan, kita lanjutkan. Arsip tahun 1950-an menanti. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."

 

Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa ke rumahnya untuk makan siang bersama lagi. Ini kejutan keenam, dan ia berjanji ini yang terakhir karena persediaan lauk mulai menipis.

"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan sambil membukakan pintu.

"Wah, Pak Kades, Ibu tidak usah repot-repot," kata Bu Yuni.

"Ini sudah seharusnya, Bu. Untuk merayakan keberhasilan kita."

Mereka makan siang bersama. Lauknya tetap meriah: ayam goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu isi, sambal terasi, lalapan, buah-buahan, es campur, puding, kue bolu, dan tambahan bakso.

"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.

"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah seharusnya."

Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang kumpul seperti ini."

"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita solid."

"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.

"Aamiin," jawab mereka.

 

Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat lagi.

"Teman-teman, kita sudah merapikan arsip hingga tahun 1960. Tinggal arsip tahun 1950-an dan sebelumnya. Pekerjaan hampir selesai."

"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.

"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita punya Allah."

Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus terus bekerja."

"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni. "Kesehatan lebih penting."

"Setuju, Bu."

 

Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia, meskipun sudah bolong di beberapa tempat.

"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."

"Apa itu, To?"

"Kata Pak Camat, desa kita akan menerima bantuan untuk pembangunan pasar desa."

Bu Yuni tersenyum. "Wah, bagus. Pasar desa selama ini kumuh."

"Juga, kata Pak Camat, Bu Yuni akan diangkat menjadi pegawai teladan tingkat kabupaten."

Bu Yuni terkejut. "Pegawai teladan? Saya?"

"Iya, Bu. Ibu dianggap berdedikasi tinggi."

Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak layak."

"Kamu layak, Bu," kata Pak Kades Iwan. "Kamu sudah membuktikan."

"Setuju, Bu," kata yang lain.

Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

 

Setelah semua kegembiraan mereda, Bu Yuni dan tim kembali fokus pada pekerjaan. Arsip tahun 1950-1959 menjadi target terakhir.

"Teman-teman, ini arsip tertua yang kita miliki. Kemungkinan besar sudah sangat rusak. Tapi kita harus coba selamatkan."

"Siap, Bu!" seru mereka.

Mereka membuka gudang lama untuk terakhir kalinya. Di sudut yang paling dalam, mereka menemukan sebuah peti kayu tua yang sudah lapuk. Peti itu terkunci dengan gembok besar yang sudah berkarat.

"Kuncinya di mana, Pak?" tanya Bu Yuni.

"Tidak tahu, Bu. Mungkin hilang," kata Pak Santoso.

"Paksa saja, Pak."

Pak Edi mengambil palu dan memecahkan gembok itu. Suara bruk memecah kesunyian. Peti terbuka. Di dalamnya, ada tumpukan map yang sudah hampir hancur.

"Bu, ini arsip tahun 1950," kata Si Amat sambil mengeluarkan map yang paling atas.

Bu Yuni menerimanya dengan hati-hati. Ia membuka map itu perlahan. Kertasnya sudah coklat tua dan rapuh, tetapi masih utuh. Di dalamnya, ada dokumen tentang pendirian Desa Awan Biru pada tahun 1950, ditandatangani oleh Bupati pertama Wonosobo.

"Ini dia," kata Bu Yuni dengan suara bergetar. "Dokumen pendirian desa kita."

Semua perangkat desa mendekat. Mereka melihat dokumen bersejarah itu dengan mata berkaca-kaca.

"Bu, ini sangat berharga," kata Pak Santoso.

"Iya, Pak. Ini adalah akta kelahiran desa kita."

 

Di dalam peti yang sama, mereka menemukan dokumen-dokumen penting lainnya: peta desa pertama, daftar kepala desa dari masa ke masa, catatan musyawarah desa pertama, dan foto-foto peresmian desa.

"Bu, ini peta desa tahun 1950," kata Pak Edi sambil menunjukkan selembar kertas yang sudah menguning.

Bu Yuni membandingkan dengan peta saat ini. "Wah, berbeda sekali. Dulu desa kita hanya terdiri dari dua dusun. Sekarang empat dusun."

"Bu, ini daftar kepala desa," kata Pak Eko. "Ada tujuh nama sebelum Pak Kades Iwan."

Bu Yuni membaca daftar itu. "Kita harus menulis sejarah desa. Agar generasi mendatang tahu."

"Setuju, Bu!"

 

Bu Yuni mengusulkan untuk menulis buku sejarah Desa Awan Biru. Buku itu akan berisi sejarah berdirinya desa, daftar kepala desa, perkembangan desa dari masa ke masa, dan dokumen-dokumen penting.

"Teman-teman, kita akan tulis buku sejarah desa."

"Buku sejarah, Bu?" tanya Si Amat.

"Iya, Mas. Agar generasi mendatang tahu perjuangan para pendahulu kita."

"Setuju, Bu!" seru mereka.

Bu Yuni memimpin tim penulisan. Pak Santoso bertanggung jawab mengumpulkan data sejarah, Pak Eko menulis kronologi, Pak Edi mengumpulkan foto-foto, Bu Lulu mengatur anggaran, Si Amat mengetik naskah.

"Bu, ini naskahnya sudah setengah jadi," kata Si Amat setelah dua minggu.

"Bagus, Mas. Lanjutkan."

"Bu, kapan buku ini akan diterbitkan?"

"Target kita, akhir tahun. Agar bisa menjadi hadiah untuk warga."

"Bagus, Bu!"

 

Warga desa antusias dengan rencana penulisan buku sejarah. Mereka datang bergantian membawa foto-foto lama, cerita-cerita turun-temurun, dan dokumen-dokumen yang tersimpan di rumah.

"Bu Yuni, ini foto pernikahan orang tua saya tahun 1960," kata seorang warga tua.

"Terima kasih, Pak. Ini akan kami masukkan ke buku."

"Bu Yuni, ini cerita tentang Mbah Joyo, pendiri dusun Gondang," kata warga lain.

"Wah, bagus. Tolong ditulis, Bu. Nanti kami sunting."

Anto sebagai kurator museum membantu mengumpulkan dan memverifikasi data. Ia sangat antusias.

"Bu, saya senang. Sejarah desa kita terdokumentasi dengan baik."

"Iya, To. Ini berkat Bapak juga."

"Saya hanya melakukan yang bisa saya lakukan, Bu."

 

Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif. Arsip tahun 1950-1959 yang tadinya tersimpan di peti, kini sudah dipindahkan ke map baru dan disimpan di brankas.

"Bu, arsip tahun 1950-1959 sudah selesai," lapor Si Amat pada hari Sabtu.

"Bagus, Mas. Ini yang terakhir."

"Bu, apakah pekerjaan kita selesai?"

Bu Yuni tersenyum. "Belum, Mas. Masih ada arsip tahun 1940-an? Mungkin tidak. Tapi kita sudah menyelamatkan yang ada."

"Alhamdulillah, Bu."

 

Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi akhir bulan. Hasilnya memuaskan. Semua arsip dari tahun 1950 hingga 2001 sudah tertata rapi.

"Teman-teman, kita sudah menyelesaikan pekerjaan besar," kata Bu Yuni.

"Kita berhasil, Bu!" seru mereka.

"Ini berkat kerja keras kita semua."

"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.

Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya sudah 20 tahun di sini. Ini pertama kalinya saya melihat arsip serapi ini."

"Semoga bermanfaat, Pak."

"Tentu, Bu. Sangat bermanfaat."

 

Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.

"Kuning, pekerjaan besar kita selesai."

Kucing itu mengeong pelan.

"Arsip dari tahun 1950 hingga 2001 sudah tertata. Sejarah desa sudah terdokumentasi. Buku sejarah sedang ditulis."

Ia mengelus kepala Kuning.

"Aku bersyukur. Allah telah memberiku kekuatan. Tim telah bekerja keras. Warga telah mendukung."

Ia menatap bintang-bintang.

"Ya Allah, terima kasih untuk semua. Terima kasih untuk perjalanan ini. Terima kasih untuk pengabdian ini."

Ia memejamkan mata.

"Ke depan, masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."

Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.

"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru. Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."


EPILOG

DUA PULUH TAHUN KEMUDIAM

Bulan berjalan. Itulah satu-satunya ukuran waktu yang tersisa di Desa Awan Biru setelah Bu Yuni tiada. Bukan kalender, bukan tahun, bukan angka-angka di atas kertas. Hanya bulan. Yang datang dan pergi. Yang membesar dan mengecil. Yang terbit di timur dan tenggelam di barat, setia seperti degup jantung yang terus berdetak meski yang dicintai telah pergi.


Bulan purnama pertama setelah kepergiannya, warga Desa Awan Biru berkumpul di makam Bu Yuni. Letaknya di bawah pohon beringin tua, di lereng bukit yang menghadap ke desa. Tempat itu sengaja dipilih, karena Bu Yuni selalu ingin melihat desanya, bahkan setelah mati.

Mereka membawa bunga. Bukan bunga mahal dari toko, tapi bunga dari kebun mereka sendiri. Ada mawar merah dari kebun Bu Parmi, ada melati putih dari halaman Pak Karyo, ada kenanga dari taman Pak Jayeng. Bunga-bunga sederhana, seperti Bu Yuni sendiri.

Guntur, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Desa, memimpin doa. Suaranya parau, matanya sembab.

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Bu Yuni. Tempatkanlah beliau di sisi-Mu yang terbaik. Aamiin."

"Aamiin," jawab warga.

Mereka kemudian duduk melingkar di bawah pohon beringin. Si Amat, yang kini sudah beruban dan menjadi kepala desa, bercerita tentang hari pertama Bu Yuni datang.

"Waktu itu, meja Sekdes penuh tumpukan berkas. Gunung. Saya pikir dia akan menyerah. Tapi dia malah tersenyum dan berkata, 'Kita mulai dari sini.'"

Pak Edi, yang sudah pensiun dan keriput, menambahkan, "Saya ingat dia tidak pernah marah. Meskipun warga marah-marah, dia tetap tenang."

Bu Lulu yang sudah pikun tiba-tiba bersuara, "Bu Yuni mana? Kok belum datang?"

Mereka terdiam. Lalu tersenyum pilu.


Bulan sabit pertama setelah pemakaman, Anto duduk sendirian di museum desa. Jaket kulitnya yang dulu lusuh kini tersimpan rapi di lemari kaca, diganti dengan jaket baru yang lebih rapi. Tapi ia tetap merasa ada yang kurang.

Ia menatap foto Bu Yuni yang tergantung di dinding museum. Foto itu diambil saat Bu Yuni menerima penghargaan dari Bupati. Wajahnya tersenyum sederhana, tidak berlebihan.

"Bu, saya rindu," bisiknya.

Ia membuka buku catatan pengunjung museum. Di halaman terbaru, seorang anak menulis: "Bu Yuni pahlawan desa kami."

Anto tersenyum. "Dia bukan pahlawan, Nak. Dia hanya manusia biasa yang melakukan hal-hal luar biasa."


Bulan setengah penuh, Pak Darmo duduk di teras rumahnya bersama Bu Parmi. Mereka memandangi sawah di depan rumah—sawah yang dulu hampir diambil orang.

"Mi, ingat tidak waktu Bu Yuni mencari berkas tanah kita?" tanya Pak Darmo.

"Ingat, Pak. Waktu itu Bapak marah-marah sampai meja digedor."

"Dan Bu Yuni tetap tenang. Dia cuma bilang, 'Kita cari bersama.'"

Pak Darmo menghela napas. "Seandainya Bu Yuni masih ada, saya ingin berterima kasih sekali lagi."

Bu Parmi menggenggam tangan suaminya. "Dia sudah tahu, Pak. Orang baik seperti dia pasti sudah tahu."


Bulan tua, hampir mati, Guntur duduk di kantor desa larut malam. Lampu LED menyala terang, tidak berkedip-kedip seperti dulu. Namun ia merasa kehangatan yang dulu ada, kini mulai pudar.

Ia membuka laci mejanya. Di dalamnya, tersimpan buku catatan lama milik Bu Yuni. Sampulnya sudah lusuh, halamannya menguning. Ia membuka halaman pertama.

"Mulai dari hal kecil. Lakukan dengan konsisten."

Guntur tersenyum. Ia mengambil pulpen dan menulis di buku catatannya sendiri:

"Malam ini, bulan hampir mati. Tapi besok, bulan baru akan lahir. Seperti semangat Bu Yuni, tidak pernah benar-benar padam."


Bulan baru lahir. Tipis seperti sabit, menggantung rendah di ufuk barat. Guntur berdiri di depan kantor desa bersama Si Amat. Mereka memandangi desa yang gelap, hanya diterangi lampu-lampu rumah warga.

"Pak Amat, apa yang paling Ibu ingat dari Bu Yuni?" tanya Guntur.

Si Amat berpikir sejenak. "Ketekunannya. Dia tidak pernah menyerah. Meskipun difitnah, dia tetap bekerja. Meskipun lelah, dia tetap tersenyum."

"Saya ingat kata-katanya: 'Perubahan dimulai dari hal kecil.'"

"Kita harus melanjutkannya, Pak."

"Iya, Mas. Kita harus."

Mereka berdua terdiam. Angin malam berhembus, membawa aroma tanah basah dan bunga melati dari kejauhan.


Bulan purnama lagi. Warga kembali berkumpul di makam Bu Yuni. Seperti biasa, mereka membawa bunga. Seperti biasa, mereka berdoa. Seperti biasa, mereka bercerita.

Seorang anak kecil bertanya pada ibunya, "Bu, siapa Bu Yuni?"

Ibunya tersenyum. "Bu Yuni adalah wanita tangguh yang membuat desa kita menjadi lebih baik. Dia yang merapikan semua surat-surat di kantor desa. Dia yang mengajarkan kita untuk tidak malas."

"Kenapa dia tidak di sini?"

"Dia sudah di surga, Nak."

Anak itu mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya mengerti. Namun ia berjanji dalam hati, suatu hari nanti ia akan tahu siapa Bu Yuni.


Bulan berjalan. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Desa Awan Biru terus berubah. Jalan beraspal. Rumah-rumah bagus. Anak-anak sekolah tinggi. Kantor desa semakin modern. Pelayanan semakin cepat.

Namun satu hal tidak pernah berubah: kenangan tentang Bu Yuni.

Setiap bulan purnama, warga masih berkumpul di makamnya. Setiap ada masalah, mereka masih ingat kata-katanya: "Perubahan dimulai dari hal kecil." Setiap ada yang ragu, mereka masih ingat senyumnya: tenang, teduh, penuh keyakinan.

Bu Yuni mungkin sudah tiada. Tapi jejaknya tidak pernah hilang. Jejak itu ada di setiap berkas yang tertata rapi. Ada di setiap pelayanan yang cepat dan ramah. Ada di setiap senyum warga yang pulang dari kantor desa dengan lega.

Jejak itu ada di hati setiap orang yang pernah mengenalnya.


Bulan purnama terakhir sebelum Guntur pensiun, ia duduk sendirian di makam Bu Yuni. Kini ia sudah tua, rambutnya putih semua, jalannya lambat. Namun matanya masih berbinar.

"Bu Yuni, saya akan pensiun bulan depan. Saya sudah melakukan yang terbaik. Mudah-mudahan Ibu bangga."

Ia menghela napas. Angin malam berhembus, membawa aroma tanah dan dedaunan.

"Saya tidak akan pernah melupakan Ibu. Desa ini tidak akan pernah melupakan Ibu."

Ia berdiri, membungkuk hormat ke makam, lalu berjalan perlahan meninggalkan bukit. Di belakangnya, bulan purnama bersinar terang, menerangi desa yang tenang.


Bulan berjalan. Dan akan terus berjalan. Generasi berganti. Wajah-wajah lama menghilang, digantikan yang baru. Namun cerita tentang Bu Yuni tidak pernah mati. Cerita tentang seorang wanita tangguh yang datang dari awan biru, yang mengubah desa kecil di lereng gunung menjadi lebih baik, hanya dengan ketekunan, kesabaran, dan ketulusan.

Cerita itu akan terus diceritakan. Dari mulut ke mulut. Dari hati ke hati. Dari generasi ke generasi.

Karena seperti kata Bu Yuni, "Perubahan sejati bukan tentang seberapa cepat kita tiba di tujuan, tapi tentang seberapa banyak hati yang berubah di sepanjang perjalanan."

Dan di Desa Awan Biru, banyak hati yang telah berubah. Selamanya.

TAMAT