PROLOG
Jejak dari Puncak yang Sunyi
Tidak semua perjalanan berakhir ketika kaki mencapai
puncak. Ada perjalanan yang justru dimulai setelah seseorang
kembali pulang. Ada perjalanan yang tidak terukur oleh jarak, tidak tertulis
dalam peta, tidak terhitung oleh langkah kaki. Perjalanan batin yang kadang
tidak disadari oleh si pelaku, tetapi kelak akan mengubah seluruh arah
hidupnya.
Joko Supratikno mengetahui hal itu dengan pasti. Bukan
karena ia seorang filsuf atau guru besar. Ia hanyalah ketua Kelompok Pecinta
Alam Awan Biru (KPAAB), sekelompok anak muda desa yang gemar mendaki gunung,
yang lebih akrab dengan tenda dan kompor lapangan daripada dengan meja dan
kursi kantor. Namun pengalaman bertahun-tahun di lereng-lereng gunung telah mengajarkannya
sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah: bahwa hidup ini seperti
mendaki. Awalnya penuh semangat, tengahnya penuh perjuangan, dan puncaknya...
bukanlah akhir.
Pagi itu, ketika kabut masih bergelayut manja di antara
pepohonan pinus di lereng selatan Gunung Merbabu, Joko terbangun lebih awal
dari yang lain. Ia sudah terbiasa. Sebagai ketua, ia selalu bangun paling
pertama untuk memeriksa keadaan: apakah ada tenda yang roboh, apakah persediaan
air masih cukup, apakah ada anggota yang sakit atau cedera. Tanggung jawab
adalah beban yang ia pikul dengan senang hati, meskipun kadang berat.
Ia duduk di atas sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut,
menghadap ke timur. Dari tempat ini, dengan ketinggian sekitar 2.500 meter di
atas permukaan laut, ia bisa melihat hamparan awan putih di bawahnya, seperti
lautan kapas yang tenang, bergelombang pelan ditiup angin. Di kejauhan, Gunung
Merapi menjulang gagah, sesekali mengepulkan asap tipis yang segera terbang
ditiup angin. Gunung itu seperti kakek tua yang sedang merokok sambil bercerita
tentang masa lalu.
“Indah, ya?”
Suara di belakangnya membuat Joko menoleh. Hermansyah, wakil
ketua KPAAB yang tubuhnya kurus tetapi energinya melimpah, berjalan mendekat
sambil mengucek mata yang masih mengantuk. Rambutnya awut-awutan, jaketnya
tidak terurus, dan sandal jepitnya terbalik di kaki kiri. Pemandangan yang
membuat Joko tersenyum kecil.
“Kau bangun juga,” kata Joko.
“Kencing. Eh, maksudnya, mau lihat pemandangan.” Hermansyah
merevisi ucapannya sambil terkikik malu. “Jangan bilang yang lain aku kencing
di semak-semak nanti diketawain.”
“Sudah saya foto.”
“APA?!” Hermansyah hampir melompat. “Joko, jangan
main-main! Nanti foto itu jangan disebar, ya. Aku kan punya harga diri.
Walaupun pacar belum ada, tapi masa depan masih panjang.”
Joko tertawa kecil. “Bercanda, Man. Santai.”
Hermansyah menghela napas lega lalu duduk di samping Joko.
Keduanya terdiam sejenak, menikmati keheningan pagi di ketinggian. Hanya suara
angin dan kicau burung yang sesekali terdengar. Dari kejauhan, suara azan subuh
mulai menggema dari masjid-masjid di lereng gunung—bergema tipis, seperti
bisikan dari dunia lain.
“Joko,” kata Hermansyah tiba-tiba.
“Hm?”
“Kita sudah bertahun-tahun mendaki. Sudah puluhan gunung
kita taklukkan. Tapi kenapa ya... setiap kali kita sampai di puncak, rasanya
bukan senang, tapi justru... hampa? Seperti ada yang kurang?”
Joko tidak menjawab segera. Ia memandangi awan di bawahnya.
“Karena puncak bukan tujuan, Man. Puncak adalah tempat kita beristirahat
sejenak sebelum turun. Dan turun... itu lebih sulit daripada naik.”
“Maksudmu?”
“Naik itu butuh tenaga. Turun itu butuh kesadaran. Sadar
bahwa setelah puncak, kita harus kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Banyak
pendaki yang lupa itu. Mereka terlalu sibuk mengejar puncak, lalu ketika
sampai, mereka bingung harus berbuat apa. Akhirnya foto-foto, teriak-teriak,
lalu turun dengan perasaan kosong.”
Hermansyah mengangguk-angguk, meskipun sebenarnya hanya
setengah paham. Ia bukan tipe orang yang suka merenung terlalu dalam. Tapi ia
percaya pada Joko. Sejak kecil mereka berteman, sejak Joko masih menjadi anak
pemalu yang suka menyendiri, sejak Hermansyah masih menjadi anak hiperaktif
yang tidak bisa diam. Persahabatan mereka telah melewati banyak hal:
perkelahian antar kampung, kegagalan di sekolah, patah hati pertama, dan
kematian hewan peliharaan. Persahabatan yang tidak perlu diucapkan karena sudah
terasa.
“Ayo kita siapkan sarapan,” kata Joko akhirnya sambil
berdiri. “Jojon pasti sudah marah-marah kalau kita tidak membantu.”
“Jojon? Marah? Tidak mungkin. Orang itu paling sabar
sedunia. Kecuali kalur persediaan bawang putih habis. Baru deh jadi setan
gunung.”
Mereka berjalan kembali ke area perkemahan. Di balik
tenda-tenda warna-warni yang mulai diterobos sinar matahari pagi, terdengar
suara Jojon, koki lapangan KPAAB yang terkenal dengan masakannya yang lezat dan
ledekannya yang pedas, sedang menggoreng sesuatu di atas kompor portable.
“Nah, nih orang-orang! Bangun siang terus! Masa saya yang
masak sendiri?” Jojon berteriak dengan logat Jawanya yang kental. Badannya
bulat, tidak seperti pendaki pada umumnya. Tapi jangan salah, ia bisa mendaki
lebih cepat daripada kebanyakan orang, dan ia tidak pernah kehabisan stok
makanan. “Kopi sudah saya buat. Telur dadar sudah jadi. Nasi udah anget.
Silakan makan, yo! Tapi kalau habis tanpa saya, jangan harap besok
saya masak lagi!”
“Jojon, kau itu galak tapi baik,” canda Guntur yang sedang
merapikan peta dan kompas. Wajahnya serius, matanya teliti. Ia sedang
menghitung jarak tempuh hari itu. “Kalau tidak karena masakanmu, mungkin sudah
kami tendang dari KPAAB.”
“Tendang? Kalian yang akan saya tendang!” balas Jojon
sambil membolak-balik telur dadar dengan wajan.
Bayu, dokter muda desa yang selalu siap dengan kotak
P3K-nya, duduk bersila sambil memeriksa persediaan obat. “Jojon, jangan terlalu
banyak minyak nanti kami sakit perut.”
“Sakit perut? Saya jamin enak-enak saja. Resep
turun-temurun dari nenek saya, sudah terbukti ribuan tahun.” Jojon mengangkat
wajan dengan bangga.
“Ribuan tahun? Nenekmu vampir?” celetuk Amat Junior,
anggota termuda yang duduk di pojok sambil mengikat tali sepatu.
Semua tertawa. Pagi itu, di ketinggian 2.500 meter, di atas
awan dan kabut, tawa mereka terdengar merdu. Itulah KPAAB. Bukan sekadar
kelompok pendaki. Mereka adalah keluarga yang tidak terikat darah, tetapi
terikat oleh perjalanan dan rasa saling percaya.
Setelah sarapan, mereka bersiap melanjutkan pendakian. Joko
memimpin doa bersama, bukan doa formal, tetapi sekadar ucapan syukur dan
permohonan keselamatan. Itu sudah menjadi tradisi sejak pertama kali mereka
mendaki bersama.
“Ya Allah,” kata Joko dengan suara lantang namun khusyuk,
“lindungilah kami dalam perjalanan ini. Beri kami kekuatan untuk melangkah,
kesabaran untuk menghadapi rintangan, dan kerendahan hati untuk tidak merusak
apa pun yang Engkau ciptakan. Amin.”
“Amin,” jawab yang lain serempak.
Lalu mereka berangkat. Jalur pendakian selatan Merbabu
memang terkenal menantang. Tidak banyak pendaki yang memilih jalur ini karena
medannya yang terjal, minim pos pendakian, dan pemandangan yang masih perawan.
Tapi justru itulah yang dicari oleh KPAAB. Mereka tidak suka keramaian. Mereka
suka kesunyian. Mereka suka tantangan.
Guntur berjalan di depan dengan peta dan kompas, sesekali
berhenti untuk memeriksa azimuth. “Kita akan melewati hutan pinus dulu sekitar
dua jam, lalu memasuki savana. Setelah itu, medan berbatu sampai camp terakhir.
Besok pagi kita summit.”
“Summit jam berapa?” tanya Yulia, bendahara yang hemat
tetapi tidak pelit. Ia selalu khawatir dengan logistik. “Jangan terlalu malam
nanti dingin.”
“Jam tiga pagi. Sampai puncak sekitar jam lima, pas
matahari terbit. Pemandangan terbaik.”
Anita yang berjalan sambil mencatat di buku catatannya
mengangkat kepala. “Jangan lupa dokumentasi. Nadya, kau siap?”
Nadya, dokumentator KPAAB yang jeli menangkap momen, mengacungkan
jempol. “Siap. Baterai penuh. Memory card kosong. Lensa sudah bersih. Tinggal
tunggu momen.”
“Jangan lupa foto saya paling ganteng,” kata Hermansyah
sambil menyisir rambutnya dengan jari.
“Kalau mau foto paling ganteng, saya lebih ganteng,”
celetuk Arga, ahli peralatan yang bisa memperbaiki hampir semua barang.
“Kalian ini laki-laki semua ngaku ganteng,” sela Camelia,
pemain teater desa yang selalu bisa mencairkan suasana. Suaranya nyaring,
ekspresif, seperti sedang berakting di atas panggung. “Coba lihat saya. Inilah
cakep sejati.”
“Camelia, kau itu cakepnya pas lagi di panggung. Di gunung,
kau cakepnya pas lagi tidur. Karena kalau bangun, rambutmu kayak sarang
burung.” Jojon tertawa terbahak-bahak.
Camelia melemparkan ranting ke arah Jojon, tetapi meleset.
Semua tertawa lagi.
Mereka berjalan selama berjam-jam. Keringat membasahi
tubuh. Napas mulai tersengal. Namun tidak ada yang mengeluh. Mereka sudah
terbiasa. Yang lebih muda membantu yang lebih tua. Yang lebih kuat membantu
yang lebih lemah. Kerja sama tim yang sudah terlatih selama bertahun-tahun.
Saat memasuki kawasan savana, Anita yang berjalan di
belakang tiba-tiba berteriak, “Awas! Ular!”
Semua berhenti. Di tengah jalan setapak, seekor ular hijau
sepanjang hampir satu meter melingkar, lidahnya bercabang menjulur-julur.
Matanya waspada.
“Tenang,” kata Bayu pelan. “Ular pohon. Tidak berbisa. Dia
lebih takut sama kita daripada kita takut sama dia.”
“Tapi saya takut, Yu!” pekik Anita sambil mundur perlahan.
Wajahnya pucat.
“Diam saja. Jangan bergerak tiba-tiba. Dia akan pergi
sendiri.”
Benar saja. Beberapa saat kemudian, ular itu perlahan
merayap ke semak-semak dan menghilang. Anita menghela napas lega sampai hampir
pingsan. Yulia dan Nadya menahan tubuhnya.
“Saya tidak akan pernah bisa terbiasa dengan ular,” kata
Anita sambil memegang dadanya. “Dari dulu begitu.”
“Sudah, jangan dipikirin,” hibur Yulia. “Yang penting
selamat.”
“Untung bukan ular weling atau ular kobra,” kata Amat
Junior polos. “Kalau itu, bisa repot.”
“JANGAN BICARA GITU, NAT!” bentak Anita Rohan hampir
menangis.
Amat Junior menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Ekspresinya bersalah. Camelia memeluk Anita Rohan dari samping. “Sudah, Nita.
Nggak apa-apa. Kita lanjut, ya. Jangan sampai ketinggalan.”
Perjalanan dilanjutkan. Namun suasana menjadi sedikit
tegang. Anita yang biasanya ceria menjadi pendiam. Joko yang berjalan di depan
menoleh ke belakang sesekali, memastikan tidak ada yang tertinggal.
Matahari mulai condong ke barat ketika mereka tiba di
sebuah lembah yang dikelilingi bukit-bukit hijau. Di kejauhan, tampak sebuah
desa kecil tersembunyi di antara pepohonan. Asap mengepul tipis dari beberapa
rumah, tanda bahwa penduduk sedang memasak.
“Itu Desa Suralaya,” kata Guntur sambil menunjuk peta.
“Kita bisa singgah di sana untuk mengisi air dan beristirahat. Kata Hermasyah,
penduduknya ramah.”
“Desa kecil, ya?” komentar Yulia. “Mungkin tidak banyak
penduduk.”
“Sekitar tiga puluh kepala keluarga,” jawab Guntur.
“Terisolasi. Jalan tidak bagus. Akses terbatas. Tapi konon mereka punya kopi
yang enak.”
“Kopi?” Jojon matanya berbinar. “Ayo, kita mampir! Siapa
tahu bisa beli kopi buat oleh-oleh.”
“Jojon, kita lagi mendaki, bukan belanja,” tegur Joko
setengah bercanda.
“Mendaki sambil belanja namanya wisata petualang,
Komandan. Beda konsep.”
Mereka berjalan memasuki desa. Suasana sunyi, tetapi tidak
menakutkan. Seperti desa yang sedang beristirahat. Beberapa anak kecil
berlarian, berhenti sejenak untuk mengamati para pendaki dengan mata penuh rasa
ingin tahu, lalu kembali berlarian sambil tertawa. Seorang ibu-ibu yang sedang
menjemur kopi di halaman tersenyum ramah.
“Selamat sore, Bu,” sapa Joko.
“Selamat sore, Nak. Dari mana?” tanya ibu itu dengan logat
Jawa yang kental.
“Dari Desa Awan Biru, Bu. Kami pendaki. Mohon izin singgah
dan mengisi air.”
“Silakan, silakan. Airnya ambil di belakang. Ada sumur.”
“Terima kasih, Bu.”
Mereka berjalan menuju kantor desa, sebuah bangunan kayu
tua yang tampak sudah lama tidak direnovasi. Atapnya dari seng berkarat,
dindingnya dari papan yang mulai lapuk, lantainya dari tanah yang dipadatkan.
Namun di halaman depannya, ada sebuah pohon beringin besar yang rindang, dan di
bawah pohon itu, seorang lelaki paruh baya sedang duduk membaca koran.
Lelaki itu memakai kemeja lengan panjang warna krem yang
sudah agak kusam, celana bahan hitam, dan sandal jepit. Kacamatanya bertengger
di ujung hidung, sesekali didorong naik dengan jari telunjuk. Wajahnya tegas
namun teduh, seperti orang yang telah melihat banyak hal tetapi memilih untuk
tetap tenang.
Begitu melihat rombongan pendaki, ia berdiri dan menyambut
dengan senyum yang hangat. “Selamat sore. Saya Raditya, kepala desa di sini.
Silakan beristirahat.”
Joko maju selangkah, melepas carrier, lalu sedikit
membungkuk. “Kami dari Desa Awan Biru, Pak. Kelompok Pecinta Alam. Kami mohon
izin singgah dan mengisi air minum. Jika berkenan, kami juga ingin bermalam di
sini sebelum melanjutkan pendakian.”
“Silakan. Silakan. Istirahatlah seperlunya.” Pak Raditya
mempersilakan mereka duduk di bangku-bangku kayu yang ada di teras balai desa.
“Gunung tidak suka orang terburu-buru. Gunung suka orang yang sabar.”
Joko tersenyum. “Kami akan menjaga sikap, Pak.”
Mereka duduk. Beberapa pemuda desa membantu membawakan air
dari sumur. Salah seorang di antara mereka, tubuhnya kurus, kulitnya gelap,
matanya teduh, menyerahkan gayung berisi air kepada Joko. “Minum dulu, Mas.
Khasiatnya bagus untuk menghilangkan lelah.”
Joko menerima gayung itu. Airnya dingin, begitu dingin
hingga terasa seperti menyentuh es batu. Ia meneguknya sedikit demi sedikit.
Kesegaran menyebar dari tenggorokan ke seluruh tubuh.
“Terima kasih. Siapa namamu?”
“Ilham,” jawab pemuda itu singkat. Lalu ia berbalik dan
kembali ke pekerjaannya.
Namun sebelum Ilham pergi, Joko sempat menatap matanya. Ada
sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti ada api yang
disembunyikan di balik ketenangan. Seperti ada badai yang tertahan di balik
keteduhan.
Ini pemuda yang berbeda,
pikir Joko. Pemuda yang sedang mencari sesuatu.
Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi awal
dari perjalanan yang lebih besar dari sekadar mendaki gunung. Perjalanan yang
tidak memerlukan peta atau kompas. Perjalanan yang akan mengubah hidup Ilham,
desa Suralaya, dan bahkan dirinya sendiri.
Tapi itu cerita nanti. Untuk saat ini, mereka hanya
bertemu. Dua orang asing di lereng gunung. Satu dari desa yang sudah berubah.
Satu dari desa yang masih menunggu.
Dan takdir, seperti biasa, tidak pernah terburu-buru.
BAB 1
Pertemuan di Lereng Merbabu
Malam turun dengan cepat di lereng selatan Gunung Merbabu.
Tidak seperti di kota yang lampu-lampu mulai menyala satu per satu, atau di
dataran rendah yang senja bergulir perlahan seperti film lambat. Di ketinggian
hampir 2.000 meter, peralihan dari siang ke malam terjadi seperti seseorang
yang menutup mata, sebentar masih terang, lalu ketika dibuka kembali, dunia
telah berganti kelambu hitam yang dingin dan lembap.
Kabut turun dari puncak seperti selimut basah yang digelar
oleh tangan-tangan tak terlihat. Ia menyelinap di sela-sela rumah kayu, masuk
melalui celah-celah dinding yang tidak sepenuhnya rapat, menyentuh kulit dengan
lembut namun menusuk hingga ke tulang. Udara terasa seperti es yang baru saja
dicairkan, masih dingin, tetapi mulai mencair di kulit. Burung-burung malam
mulai bersuara dari kejauhan, suara-suara aneh yang tidak bisa diidentifikasi
oleh orang yang tidak terbiasa dengan hutan gunung.
Di halaman kantor desa Suralaya, api unggun menyala terang.
Kayu-kayu kering yang dikumpulkan oleh pemuda desa disusun dalam bentuk kerucut
sempurna, ilmu yang diturunkan dari generasi ke generasi, dari kakek ke ayah,
dari ayah ke anak. Susunan kerucut itu bukan tanpa alasan. Ia memungkinkan
udara mengalir dari bawah, memberi oksigen yang cukup untuk api agar terus
menyala tanpa perlu diaduk terus-menerus. Sebuah kearifan lokal yang sederhana
namun brilian, seperti banyak hal lain di desa ini yang sering diabaikan oleh
orang luar.
Api itu menjilat kayu-kayu dengan lidah-lidah jingga yang
menari-nari. Kadang ia melompat tinggi ketika angin bertiup, kadang ia merunduk
seperti malu ketika angin reda. Suaranya—kreek... kreek... kreek—adalah
musik yang paling tua di dunia, musik yang telah menemani manusia sejak pertama
kali ia belajar menciptakan api. Percikan bara sesekali melompat ke udara,
sebentar menyala terang seperti bintang jatuh, lalu mati di tanah yang lembap.
Para anggota KPAAB duduk melingkar di atas tikar anyaman
bambu yang disediakan oleh warga. Tikar itu sederhana, terbuat dari bambu yang
dibelah tipis dan dianyam dengan pola silang. Tidak empuk, bahkan terasa kasar
di pantat. Tapi cukup untuk melindungi mereka dari tanah yang dingin dan
lembap. Di atas tikar itu, mereka duduk dengan posisi yang berbeda-beda, mencerminkan
karakter masing-masing.
Joko duduk bersila dengan punggung tegak lurus seperti
seorang pemimpin yang selalu waspada. Ia tidak pernah benar-benar santai.
Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, mengamati sekeliling, memastikan semua
anggotanya aman. Di pinggangnya tergantung pisau lipat kecil, hadiah dari
ayahnya saat ia pertama kali naik gunung. Pisau itu belum pernah digunakan
untuk hal yang serius, tetapi keberadaannya memberinya rasa aman.
Hermansyah duduk dengan kaki diluruskan ke depan, sesekali
menggerak-gerakkan jari-jari kakinya yang kedinginan. Ia mengenakan kaos oblong
lengan pendek, keputusan yang buruk untuk malam di gunung, tetapi ia terlalu
malas mengganti jaket. "Nanti juga anget sendiri," katanya ketika
Anita menegurnya. "Keringat saya panasnya kayak bara." Sekarang ia
menggigil tapi tidak mau mengaku.
Guntur duduk miring, bersandar pada carrier-nya yang ia
letakkan di samping. Peta dan kompas sudah ia lipat rapi dan masukkan ke
kantong khusus. Tugasnya hari ini sudah selesai. Sekarang ia bisa bersantai
sambil sesekali melirik ke langit, mengamati rasi bintang yang tampak begitu
jelas, seperti peta lain yang tidak perlu digambar.
Bayu duduk paling dekat dengan api, memanfaatkan panasnya
untuk menghangatkan tangannya yang dingin. Kotak P3K-nya terbuka di sampingnya,
bukan karena ada yang sakit, tetapi karena ia sedang memeriksa ulang
persediaan. Kebiasaan seorang dokter yang selalu khawatir. "Lebih baik
sedia payung sebelum hujan," katanya sering mengulang. "Di gunung,
hujan datang tanpa permisi."
Jojon duduk paling dekat dengan dapur darurat yang ia
dirikan, sebuah tungku sederhana dari batu-batu yang disusun melingkar, di
atasnya diletakkan panci aluminium yang sudah hitam karena jelaga. Ia sedang
memasak air untuk kopi malam. Tangan kirinya memegang sendok kayu, tangan
kanannya memegang kantong plastik berisi bubuk kopi. Matanya sesekali melirik
ke arah Ilham, pemuda desa yang tadi siang memperkenalkan diri, dengan rasa
penasaran.
Anita Rohan duduk di samping Yulia, sesekali menulis di
buku catatannya yang tebal. Buku itu sudah setengah penuh, catatan perjalanan,
data penduduk, ide-ide, dan kadang puisi-puisi pendek yang tidak pernah ia
tunjukkan ke siapa pun. Pena-nya adalah pulpen murah yang tintanya sering
macet, tetapi ia setia karena pulpen itu pemberian almarhum ayahnya.
Yulia duduk di samping Anita Rohan, sesekali menghitung
uang kas di dalam amplop cokelat. Matanya teliti, jari-jarinya lincah. Sebagai
bendahara, ia bertanggung jawab atas setiap rupiah yang keluar masuk.
"Jangan sampai kurang," katanya selalu. "Uang desa bukan untuk
dibuang-buang." Meskipun kadang Hermansyah menggodanya pelit, ia tidak
peduli. Hemat bukan pelit. Ada batasnya.
Nadya duduk dengan kamera di pangkuan, matanya mengamati
setiap sudut, mencari momen yang layak diabadikan. Ia sudah mengambil beberapa
foto sore tadi, pemandangan gunung, anak-anak yang berlarian, ibu-ibu yang
menjemur kopi. Sekarang ia sedang menunggu momen yang tepat: mungkin saat api
unggun menyala paling terang, atau saat salah seorang anggota tertawa lepas,
atau saat Ilham berbicara dengan mata berbinar.
Camelia duduk di pinggir lingkaran, matanya yang tajam
memperhatikan setiap gerak-gerik warga desa yang ikut bergabung. Sebagai pemain
teater, ia terbiasa mengamati orang. Ekspresi, gestur, intonasi suara, semua
adalah bahan untuk karakternya nanti. Ia sudah mencatat dalam hati bahwa Pak
Raditya memiliki kebiasaan mendorong kacamata dengan jari telunjuk kanan setiap
kali akan mengatakan sesuatu yang penting. Dan Ilham memiliki kebiasaan
menggenggam erat ujung bajunya sendiri ketika ia sedang gugup.
Arga duduk di dekat tumpukan peralatan, carrier-carrier
yang berisi tenda, kompor, perlengkapan masak, dan peralatan teknis lainnya. Ia
siap sedia jika ada barang yang perlu diperbaiki. Di sampingnya ada kotak
peralatan kecil berisi obeng, tang, lakban, dan berbagai benda kecil lainnya
yang bisa menyelamatkan situasi darurat.
Amat Junior duduk di samping Joko, matanya yang masih polos
mengamati wajah-wajah baru di sekitarnya. Usianya baru tujuh belas tahun, yang
termuda di KPAAB. Tapi semangatnya tidak kalah dengan yang lain. "Saya
ingin belajar banyak," katanya saat pertama kali bergabung. "Saya
ingin menjadi seperti kakak-kakak." Sekarang ia duduk diam, mendengarkan,
sesekali mengangguk meskipun tidak ada yang bicara.
Di hadapan mereka, beberapa pemuda desa ikut bergabung.
Wajah-wajah mereka masih muda, rata-rata berusia antara tujuh belas hingga dua
puluh lima tahun, tetapi mata mereka menyimpan kelelahan yang tidak biasa pada
usia semuda itu. Kelelahan karena hidup di desa yang tertinggal. Kelelahan
karena melihat teman-teman sebaya satu per satu pergi merantau dan tidak pernah
kembali. Kelelahan karena merasa bahwa tidak ada masa depan di sini.
Ilham duduk agak jauh dari yang lain, di pinggiran
lingkaran, di bawah pohon kopi yang rimbun. Daun-daun kopi di atasnya
bergoyang-goyang ditiup angin malam, menciptakan bayangan-bayangan yang
bergerak di wajahnya. Ia tidak banyak bicara. Matanya tenang, tetapi menyimpan
sesuatu yang sulit dijelaskan, seperti lautan yang tenang di permukaan namun
menyimpan arus kuat di kedalamannya.
Di samping Ilham, duduk dua orang pemuda lain: Angga dan
Rendi. Angga bertubuh kekar, tangannya penuh kapalan karena sering memperbaiki
mesin-mesin pertanian. Ia pendiam, hampir tidak pernah bicara kecuali ditanya.
Tapi ketika berbicara, selalu tepat sasaran. Tidak ada basa-basi. Tidak ada
kalimat yang tidak perlu. Rendi sebaliknya: kurus, berkacamata, dan tidak
pernah berhenti bicara. Ia suka membaca, buku apa saja yang bisa ia dapatkan dan
ia suka menulis. Katanya, "Setiap orang punya cerita. Tugas kita adalah
menceritakannya."
Di barisan belakang, dua orang perempuan desa ikut duduk:
Nisa dan Aulia. Nisa berani, lidahnya tajam, tidak takut pada sia pun. Di desa
yang masih kental dengan budaya patriarki, ia sering menjadi suara bagi
perempuan-perempuan yang tidak berani bicara. Aulia sebaliknya: pendiam,
pemalu, tetapi sangat pintar dalam hal-hal teknis. Ia bisa mengoperasikan
computer, sesuatu yang langka di desa ini, meskipun aksesnya sangat terbatas.
Pak Raditya duduk di kursi bambu tua di teras kantor desa.
Di tangannya ada cangkir kopi hitam tanpa gula. Ia sesekali menyesap, lalu
mendorong kacamatanya yang mulai turun. Matanya mengamati semua orang dengan
tenang, seperti seorang gembala yang mengawasi kawanan dombanya. Ia tidak
banyak bicara, tetapi kehadirannya terasa. Ada wibawa yang tidak perlu
diucapkan.
Udara dingin. Api unggun terus menyala. Kayu-kayu baru
ditambahkan oleh salah seorang pemuda desa, lelaki bertubuh tambun dengan kumis
tebal bernama Kuat, sesuai dengan namanya. Kuat adalah pemuda yang paling
jarang bicara, bahkan lebih pendiam dari Angga. Tapi ia paling kuat mengangkat
kayu dan paling rajin membantu. Ketika ia menambahkan kayu, ia melakukannya
dengan hati-hati, tidak seperti kebanyakan orang yang melempar kayu sembarangan
dan membuat percikan bara ke mana-mana.
Hermansyah yang sedari tiam menggigil, akhirnya tidak
tahan. "Dingin banget, ya," katanya sambil menggosok-gosok tangannya.
"Kayak di kulkas. Tulang-tulang saya mulai protes. Saya rasa sendi lutut
kiri mau mogok."
"Makanya pakai jaket," kata Anita tanpa menoleh.
Ia masih sibuk menulis. "Sudah saya bilang dari tadi."
"Jaket saya ketinggalan di tenda. Males ambil."
"Ya sudah, menggigillah."
Camelia tertawa. "Hermansyah, kau itu kalau sudah
malas, luar biasa. Malasnya sampai ke level dewa."
"Bukan malas. Ini strategi." Hermansyah
mengangkat dagu dengan gaya sok keren. "Tubuh saya sedang melakukan
adaptasi suhu ekstrem secara alami. Nanti kalau sudah terbiasa, saya tidak akan
kedinginan lagi. Ilmu kedokteran belum tentu bisa menjelaskan."
"Kedokteran jelasinnya hipotermia, Man," kata
Bayu sambil tersenyum. "Kalau sudah menggigil hebat, biru, dan mulai
halusinasi, itu tandanya hipotermia tingkat lanjut. Jangan sampai ya."
"Ih, Bayu, jangan nakut-nakutin."
Ilham yang duduk di pinggiran lingkaran tersenyum tipis
mendengar percakapan itu. Ia belum terbiasa dengan candaan anak-anak muda dari
luar desa. Di Suralaya, orang-orang lebih kalem, lebih jarang tertawa, lebih
sering diam. Bukan karena mereka tidak punya selera humor, tetapi karena beban
hidup terasa lebih berat di sini. Tapi candaan Hermansyah, meskipun sederhana, berhasil
membuatnya tersenyum.
"Kalian pasti sering begini ya? Saling ledek?"
tanya Ilham.
Joko yang duduk di seberang api mengangguk. "Setiap
hari. Kadang sampai berantem. Tapi besoknya sudah baikan lagi."
"Kayak kakak adik," kata Nisa. Matanya menatap
Joko dengan rasa ingin tahu. "Di desa kami, kalau berantem, kadang butuh
waktu lama untuk baikan. Ada yang sampai bertahun-tahun tidak bicara."
"Karena di desa kami," sambut Hermansyah,
"kami sadar bahwa gunung tidak peduli dengan sakit hati. Gunung akan tetap
dingin, tetap terjal, tetap berbahaya, tidak peduli siapa yang marah kepada
siapa. Jadi kalau mau selamat, ya harus rukun. Terpaksa rukun. Lama-lama jadi kebiasaan."
"Terpaksa rukun," ulang Rendi sambil tertawa
kecil. "Kedengarannya tidak romantis."
"Tapi efektif," kata Guntur.
Pak Raditya yang mendengar percakapan itu ikut tersenyum.
Ia menyesap kopinya, lalu berkata pelan, "Itulah gunung. Guru yang tidak pernah
bicara, tetapi ajarannya selalu benar."
Malam semakin larut. Suara jangkrik semakin keras, seperti
orkestra yang tidak pernah lelah. Suara kayu terbakar—krek... krek... krek—masih
setia mengiringi. Angin gunung berhembus lebih kencang dari sebelumnya, membuat
api unggun kadang menyala lebih terang, kadang hampir padam.
Jojon yang sejak tadi sibuk dengan kopinya, akhirnya
menyelesaikan tugasnya. "Ini kopi," katanya sambil menuangkan air
panas ke dalam cangkir-cangkir kecil yang terbuat dari tanah liat, pinjaman
dari warga desa. "Kopi Suralaya asli. Saya beli dari Ibu-ibu tadi sore.
Harganya murah, tapi rasanya? Dijamin mantap."
Dia membagikan cangkir satu per satu. Ilham menerima
cangkirnya, menyesap perlahan, lalu matanya membesar. "Ini kopi dari desa
kami?" tanyanya tidak percaya.
"Iya," kata Jojon. "Kenapa? Ada yang
salah?"
"Tidak. Tapi saya tidak pernah merasakan kopi seenak
ini. Padahal setiap hari minum kopi dari kebun sendiri."
Jojon mengangkat alis. "Kopi ini enak, tapi teknik
menyeduhnya juga berpengaruh. Saya pakai air mendidih, tapi tidak terlalu
mendidih. Suhu sekitar 90 derajat. Saya biarkan kopi 'bernapas' dulu sebelum
dituang. Saya tambahkan sedikit garam, bukan gula, untuk mengurangi rasa pahit
yang berlebihan. Itu rahasia keluarga."
"Wah, koki profesional," kata Angga setengah
bercanda.
"Bukan profesional. Tapi saya suka makan. Dan kalau
suka makan, belajar masak itu kewajiban. Kalau tidak, kita akan tergantung pada
orang lain seumur hidup."
Di sudut lain lingkaran, Yulia yang sedari tiam diam,
tiba-tiba berkata, "Ilham, boleh saya tanya sesuatu?"
Ilham menoleh. "Tentu, Mbak."
"Kamu sudah punya pacar?"
Semua orang terdiam. Beberapa menahan tawa. Yulia terkenal
blak-blakan, kadang terlalu blak-blakan. Ia tidak pernah sungkan bertanya hal-hal
pribadi, karena ia tidak menganggapnya pribadi. Baginya, pacar, mantan, atau
tidak punya pacar adalah hal biasa yang bisa dibicarakan seperti cuaca atau
harga bawang merah.
Ilham tersenyum kecut. "Belum, Mbak. Di desa kecil
begini, mencari pacar susah. Yang ada cuma itu-itu saja. Kalau tidak sepupu ya
tetangga. Kalau bukan tetangga ya orang yang sudah seperti saudara."
"Jadi tidak ada yang menarik?" tanya Camelia ikut
nimbrung. Matanya berbinar, ini bahan yang bagus untuk drama desa nanti.
"Ada sih... tapi saya belum berani."
Nisa yang duduk di samping Aulia, tiba-tiba menegakkan
tubuh. "Siapa?" tanyanya cepat. Terlalu cepat. Nada suaranya sedikit
tajam, seperti cemburu. Atau mungkin hanya rasa ingin tahu yang berlebihan.
Atau mungkin... sesuatu yang lain.
Ilham tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memandangi api
unggun. Wajahnya kemerahan entah karena api atau karena sesuatu yang lain.
Joko yang mengamati dengan seksama, tersenyum kecil. Ia
bisa membaca situasi. Nisa dan Ilham. Ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu
yang belum diucapkan. Sesuatu yang masih tersembunyi di balik tatapan-tatapan
singkat dan kebersamaan yang tidak disengaja.
Nisa adalah perempuan yang tidak mudah menunjukkan
perasaan. Ia keras di luar, tetapi lembut di dalam. Ia bisa memarahi seseorang
dengan keras, lalu diam-diam menangis di kamar karena takut menyakiti
perasaannya. Ia bisa menolak bantuan dengan tegas, lalu menerima dengan
hati-hati ketika tidak ada yang melihat. Ilham adalah kebalikannya: pendiam,
penuh pertimbangan, tetapi hatinya mudah tersentuh. Mereka seperti dua sisi
mata uang yang berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan.
"Sudah, jangan tanyakan hal-hal seperti itu,"
kata Aulia tiba-tiba. Suaranya pelan, tetapi tegas. "Kalau Ilham belum
siap cerita, ya jangan dipaksa."
Yulia mengangkat bahu. "Aku hanya bertanya. Tidak ada
yang dipaksa."
Tapi Nisa masih menatap Ilham. Matanya tajam. Ilham
merasakan tatapan itu, tetapi ia tidak berani membalas. Ia hanya menggenggam
erat ujung bajunya, kebiasaan buruknya ketika gugup.
Camelia yang melihat semua ini, dalam hati tersenyum. Wah,
ini bahan drama yang bagus. Romeo dan Juliet versi desa. Tapi semoga tidak
berakhir tragis.
Untuk mengalihkan suasana, Hermansyah berkata, "Joko,
ceritakan dong tentang pendakian ke Rinjani dulu. Yang nyaris hilang itu."
"Jangan," kata Joko cepat. "Malu."
"Tidak malu. Inspiratif," desak Hermansyah.
"Kalian tahu, Joko dulu hampir tersesat di Rinjani karena terlalu asyik
motret pemandangan. Dia terpisah dari rombongan selama enam jam. Bayangkan,
enam jam sendirian di gunung! Dan ketika ditemukan, dia sedang duduk di atas
batu sambil makan roti tawar, tenang-tenang saja."
Joko menghela napas. "Karena kalau panik, situasi
tidak akan membaik. Yang penting tetap tenang, berpikir jernih, dan mencari
solusi."
"Tenang? Joko, kau itu tenangnya kebangetan,"
kata Arga sambil tertawa. "Dulu waktu tenda kami roboh kena angin, kau
cuma bilang 'Santai, tenda bisa diperbaiki. Yang penting tidak ada yang
cedera.' Padahal tenda itu satu-satunya tenda besar yang kami punya."
"Karena panik tidak akan membuat tenda berdiri
kembali," kata Joko dengan nada datar.
Anita yang menulis di buku catatannya, berhenti sejenak. Ia
menatap Joko dari balik bukunya. Ada sesuatu di matanya, kekaguman, mungkin.
Atau sesuatu yang lebih dalam. Selama bertahun-tahun menjadi sekretaris KPAAB,
Anita Rohan sering berinteraksi dengan Joko. Ia tahu Joko bukan tipe pemimpin
yang banyak bicara atau karismatik. Tapi ia adalah pemimpin yang hadir.
Selalu ada ketika dibutuhkan. Selalu tenang ketika orang lain panik. Selalu
mengambil keputusan dengan kepala dingin meskipun hati sedang panas.
Joko... pikir Anita Rohan. Kadang
aku ingin kau sedikit lebih ekspresif. Supaya aku tahu apa yang kau rasakan.
Tapi ia tidak pernah mengucapkannya. Ia hanya menulis.
Karena menulis lebih aman daripada bicara. Menulis tidak bisa ditolak, tidak
bisa disalahartikan, tidak bisa meninggalkan bekas yang menyakitkan.
Sementara para pendaki asyik bercerita, di balik dinding
rumah-rumah kayu, beberapa warga desa berkumpul dalam kegelapan. Mereka tidak
ikut bergabung di sekitar api unggun. Mereka memilih diam dari kejauhan,
mengamati, mendengar, dan berbisik-bisik.
Di rumah Mbah Naryo, warung kopi yang tutup malam ini
karena pemiliknya sedang sibuk mengamati, berkumpul beberapa tetua desa. Mbah
Jaya Suprapta duduk di kursi bambu kesayangannya, punggungnya membungkuk tetapi
matanya masih tajam seperti elang. Pak Sastro duduk di sampingnya, memegang
tongkat kayu yang tidak pernah lepas dari tangannya. Pak Kirno duduk di
seberang, menyilangkan tangan di dada, wajahnya tidak bisa dibaca.
Mbah Naryo sendiri duduk di sudut, menghisap rokok
kreteknya yang mengepulkan asap tipis. Ia tidak ikut bicara. Ia hanya
mendengar. Seperti biasanya.
"Mereka dari mana, Mbah?" tanya Pak Sastro.
"Yang jelas bukan dari kecamatan. Bahasa dan pakaiannya beda."
"Desa Awan Biru," jawab Mbah Naryo pelan.
"Konon desa itu sekarang maju. Jalan mulus, anak-anak muda pintar-pintar,
hasil kebun laku keras."
"Desa Awan Biru?" Mbah Jaya mengernyit.
"Saya dengar desa itu dulu sama seperti kita. Terisolasi. Miskin. Banyak
anak muda pergi. Tapi sekarang berubah."
"Berubah karena apa?" tanya Pak Kirno skeptis.
"Bantuan pemerintah?"
"Tidak. Kata orang, karena mereka belajar internet.
Jualan online. Promosi lewat HP."
Pak Kirno mendengus. "Internet? Online? Omong kosong.
Desa tidak akan berubah hanya karena HP. Yang membuat desa maju adalah kerja
keras, bukan mainan."
Mbah Jaya tidak menjawab. Ia menatap ke arah balai desa, di
mana api unggun masih menyala dan suara tawa kadang terdengar. "Anak-anak
muda kita ikut bergabung," katanya. "Ilham, Nisa, Angga, Rendi,
Aulia. Mereka duduk di sana. Mendengarkan cerita orang luar."
"Itu bahaya," kata Pak Sastro cepat. "Mereka
akan terpengaruh. Lupa dengan adat. Lupa dengan desa. Nanti pergi semua, tidak
ada yang tinggal."
"Atau sebaliknya," kata Mbah Naryo pelan.
"Mereka belajar sesuatu, lalu membawanya pulang. Tidak harus pergi untuk
sukses."
Pak Kirno mendengus lagi. "Mbah Naryo terlalu optimis.
Saya sudah hidup puluhan tahun di desa ini. Tidak ada yang berubah. Tidak akan
pernah berubah. Desa seperti kita sudah ditakdirkan jadi desa kecil yang tidak
dikenal."
Mbah Jaya mengangkat tangan pelan. "Jangan bicara
takdir dulu. Takdir tidak tahu-menahu dengan HP atau internet. Takdir adalah
apa yang terjadi setelah kita berusaha. Belum ada yang berusaha di desa ini.
Jadi jangan bicara takdir."
Ruangan hening. Hanya suara jangkrik dari luar yang
terdengar.
Mbah Naryo mematikan rokoknya, lalu berkata, "Kita
lihat saja. Tidak perlu memutuskan sekarang. Biarkan anak-anak muda itu
belajar. Biarkan mereka mencoba. Tidak ada salahnya mencoba. Yang salah adalah
menolak sebelum tahu."
Kembali di lingkaran api unggun, percakapan mulai berubah
arah. Dari candaan dan cerita ringan, perlahan bergeser ke topik yang lebih
serius. Ilham yang sedari tiam mendengarkan, akhirnya memberanikan diri
bertanya.
"Mas Joko," panggilnya.
Joko menoleh. "Ya?"
"Desa Awan Biru itu... dulu seperti apa?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun Joko bisa merasakan ada
beban di baliknya. Bukan sekadar rasa ingin tahu. Ada kerinduan. Ada harapan.
Ada pertanyaan yang tidak diucapkan: Mungkinkah desaku juga bisa
berubah?
Joko menarik napas panjang. Udara dingin masuk ke
paru-parunya, menyegarkan tetapi juga mengingatkannya pada perjuangan yang
tidak mudah. Ia memandang api unggun sejenak, mengumpulkan kata-kata.
"Dulu desa kami hampir sama seperti di sini,"
katanya pelan. Matanya menerawang ke masa lalu, ke tahun-tahun ketika ia masih
remaja dan menyaksikan desanya perlahan-lahan kehilangan anak-anak mudanya.
"Jalan rusak. Anak muda banyak pergi. Hasil panen murah. Orang tua
menganggap semuanya akan tetap seperti itu, tidak ada yang bisa diubah."
"Bahkan ada yang bilang," sambung Hermansyah,
"'Desa kecil tidak akan pernah bisa maju. Biarlah. Ini sudah takdir.'
Kata-kata itu sering kami dengar. Dari tetua, dari orang tua, bahkan dari teman
sebaya."
Ilham menatap api. Karena kalimat itu terdengar sangat
dekat. Sangat mirip dengan desanya sendiri. Sangat mirip dengan apa yang sering
ia dengar dari bibir Pak Kirno, dari para tetua, dari orang-orang yang lebih
tua.
"Lalu?" tanyanya. Suaranya sedikit bergetar.
Joko melanjutkan. "Lalu kami sadar. Kadang yang
membuat desa tertinggal bukan karena letaknya. Bukan karena fasilitasnya. Bukan
karena uangnya. Tapi karena orang-orangnya berhenti percaya. Mereka berhenti
percaya bahwa desa mereka bisa berubah. Dan ketika kepercayaan itu mati, maka
matilah segala kemungkinan."
Nisa yang mendengar itu, ikut bertanya, "Percaya pada
apa?"
"Bahwa desa kecil juga bisa punya masa depan besar.
Bahwa teknologi bukan musuh, tapi teman. Bahwa anak muda tidak harus pergi
untuk sukses. Bahwa pulang bukan berarti kalah."
Malam mendadak terasa lebih hening. Suara kayu terbakar
terdengar jelas. Bahkan desir angin di atap bambu terdengar seperti bisikan.
Ilham tidak menyadari dirinya sedang menahan napas. Dadanya terasa sesak.
Joko melanjutkan ceritanya. Suaranya mengalir seperti air
sungai, tenang namun membawa kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
"Kami mulai dari hal kecil. Komunitas digital desa
didirikan. Ketuanya Herman dia tidak ikut mendaki kali ini, tapi dia adalah
otak di balik semua itu. Anggota-anggotanya dari kami, anak-anak KPAAB yang
belajar teknologi. Kami belajar dari nol. Tidak ada yang pintar. Tidak ada yang
ahli. Kami hanya punya kemauan dan rasa ingin tahu."
"Kami membaca buku, menonton tutorial di YouTube
dengan kuota internet yang pas-pasan, dan sering bolak-balik ke kota untuk
belajar. Kadang kami nebeng truk pasir milik Pak Anto, dia orang baik, meskipun
sering marah-marah kalau truknya kotor kena debu jalanan."
"Siapa yang mengajari?" tanya Rendi.
"Herman. Dia lulusan S 1 jurusan komputer. Ilmunya
tidak terlalu dalam, tapi cukup untuk memulai. Dia mengajari kami dasar-dasar:
mengetik, menggunakan Excel, membuat presentasi, mengedit foto sederhana.
Pelan-pelan, kami mulai mengerti."
"Lalu?"
"Kami membuat data penduduk lebih rapi. Sebelumnya,
data warga hanya berupa catatan tangan di buku tulis yang mudah robek dan
hilang. Sekarang, semua tersimpan di komputer, bisa diakses dengan mudah, bisa
dicetak ulang jika diperlukan. Kami belajar memakai internet untuk mencari
informasi. Kami memotret hasil kebun warga, kopi, sayuran, buah-buahan dan
mengunggahnya ke media sosial. Kami mulai menjual kopi lewat media sosial,
membuat orang tahu desa kami ada."
Ilham diam. Ia membayangkan desanya sendiri. Kopi Suralaya
juga terkenal di kalangan warga sekitar. Tapi selama ini, kopi itu hanya dijual
ke tengkulak dengan harga murah. Petani tidak pernah mendapatkan harga yang
layak.
"Dan berhasil?" tanya Nisa. Matanya menatap Joko
dengan intens.
Joko mengangguk. "Pelan-pelan. Tidak langsung. Ada
yang gagal. Ada yang mengejek. Ada yang bilang ini buang-buang waktu, lebih
baik kerja di ladang daripada duduk di depan layar. Tapi berubah. Kopi kami
mulai dikenal. Kerajinan anyaman dipesan dari luar kota. Wisatawan mulai
datang. Bahkan anak-anak muda yang dulu pergi, mulai kembali."
"Orang-orang langsung setuju?" tanya Ilham.
Joko tersenyum pahit. "Tidak. Banyak yang menolak.
Mereka bilang internet bisa merusak anak muda. Budaya akan hilang. Desa akan
berubah menjadi asing. Kami tidak melawan dengan kata-kata. Kami membuktikan
dengan hasil. Biarlah hasil yang berbicara."
Ilham menelan ludah pelan. "Kalian tidak takut
gagal?"
"Takut. Setiap hari. Setiap kali memposting sesuatu,
ada rasa takut tidak ada yang melihat. Setiap kali mengajak warga, ada rasa
takut mereka menolak. Setiap kali memulai sesuatu, ada rasa takut itu akan
berakhir sia-sia. Tapi ketakutan itu tidak boleh lebih besar dari
keyakinan."
"Lalu kenapa tetap lanjut?"
Karena pertanyaan itu, Joko terdiam cukup lama. Ia menatap
langit gelap di atas mereka, di mana bintang-bintang berkelap-kelip seperti
berlian yang tersebar tanpa pola. Kemudian ia berkata pelan, dengan suara yang
nyaris seperti bisikan tetapi terdengar jelas di malam yang sunyi:
"Karena lebih menakutkan melihat desa sendiri diam di
tempat. Lebih menakutkan menyaksikan pemuda-pemuda desa pergi satu per satu dan
tidak pernah kembali. Lebih menakutkan mengetahui bahwa anak-anak kita kelak
akan mewarisi desa yang sama, dengan masalah yang sama, tanpa pernah melihat
perubahan."
Kalimat itu menancap dalam hati Ilham seperti bara kecil.
Kecil. Namun panas. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menunduk,
memandangi tanah di bawah kakinya, dan membiarkan kata-kata itu meresap ke
dalam relung hatinya yang paling dalam.
Nisa, yang duduk tidak jauh dari Ilham, merasakan getaran
yang sama. Ia melihat Ilham, pemuda yang selama ini ia kenal sebagai anak
pendiam, tidak banyak bicara, tetapi selalu ada ketika dibutuhkan. Sekarang,
untuk pertama kalinya, ia melihat Ilham dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai
teman lama. Bukan sebagai tetangga. Tapi sebagai seseorang yang sedang bergulat
dengan mimpinya sendiri. Dan itu... membuat Nisa merasa sesuatu yang tidak bisa
ia jelaskan.
Ilham, pikir Nisa. Kau
tidak sendirian. Aku juga ingin desa ini berubah.
Tapi ia tidak mengucapkannya. Ia hanya diam, memandangi api
unggun, dan membiarkan hatinya berbicara dalam keheningan.
BAB 2
Cerita di Sekitar Api
Api unggun mulai mengecil. Kayu-kayu yang tadinya menyala
terang dengan lidah api yang menjulang tinggi, kini hanya menyisakan bara
kemerahan yang berdenyut-denyut seperti jantung yang berdetak pelan. Bara itu
masih panas, masih cukup untuk menghangatkan tubuh yang mulai menggigil, tetapi
tidak cukup untuk menerangi seluruh halaman balai desa. Gelap perlahan merayap
masuk dari pinggiran lingkaran, seperti air yang naik perlahan di pantai saat
air laut mulai pasang.
Para anggota KPAAB dan pemuda desa masih duduk melingkar,
tetapi posisi mereka semakin rapat, bukan karena keintiman, tetapi karena
dingin yang semakin menusuk. Bahu bersentuhan bahu. Lutut bersentuhan lutut.
Napas yang keluar dari mulut berubah menjadi uap putih tipis yang segera lenyap
di udara malam.
“Jam berapa, ya?” tanya Amat Junior sambil menggosok-gosok
tangannya. Suaranya sedikit gemetar, meskipun ia berusaha menyembunyikannya.
“Sekitar jam sembilan,” jawab Guntur sambil melirik jam
tangan digitalnya yang sudah agak buram layarnya. “Masih awal. Biasanya kalau
di gunung, kami tidur jam delapan. Tapi karena hari ini istirahat di desa,
mungkin bisa lebih malam.”
“Bisa lebih malam, tapi dinginnya minta ampun,” keluh
Hermansyah. Jaket yang tadinya tidak mau dipakai, akhirnya terpaksa ia kenakan
setelah gigi-giginya mulai bergemerutuk. “Bayu, apa tidak ada pil pereda dingin
di kotak P3K-mu?”
“Pil pereda dingin tidak ada, Man. Yang ada hanya sarung
tangan dan kaos kaki tebal,” jawab Bayu sambil tersenyum. “Tapi itu sudah saya
bagikan sebelum magrib. Kalau kau tidak mengambil, ya sudah.”
“Saya kira tidak perlu.”
“Kata siapa?”
“Kata perasaan saya. Ternyata perasaan saya salah.”
Camelia tertawa. “Perasaanmu itu yang paling sering salah,
Man. Dulu waktu kau bilang suka sama si Eni dari desa sebelah, kau bilang
perasaanmu mengatakan dia juga suka sama kau. Ternyata dia sudah punya pacar,
dan pacarnya adalah sepupumu sendiri.”
Semua tertawa. Hermansyah merah padam, bukan karena dingin,
tetapi karena malu. “Itu masa lalu. Jangan diungkit lagi. Lagipula, mana aku
tahu kalau sepupuku sendiri yang jadi saingan?”
“Bukan saingan, Man. Kau yang mengira-ngira sendiri,” ledek
Yulia.
“Sudah, sudah. Jangan bullying Hermansyah terus,” kata Joko
sambil mengangkat tangan. Meskipun nada bicaranya serius, matanya menyipit
menahan tawa. “Kasihan. Nanti dia nangis.”
“Saya tidak nangis,” protes Hermansyah. “Saya hanya...
sedikit tersentuh secara emosional.”
“Sama saja,” kata Anita tanpa menoleh dari buku catatannya.
Ilham yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, akhirnya
ikut tersenyum. Tawa anak-anak muda dari Awan Biru itu menular. Ada kehangatan
di antara mereka yang tidak hanya berasal dari api unggun. Ada kehangatan yang
lahir dari persahabatan yang sudah teruji oleh waktu dan perjalanan.
“Mas Joko,” panggil Ilham tiba-tiba.
“Ya?”
“Boleh saya cerita sedikit tentang desa ini?”
Joko mengangguk. “Silakan. Kami semua mendengarkan.”
Ilham menarik napas panjang. Ia tidak terbiasa bicara di
depan banyak orang. Apalagi di depan orang-orang yang baru dikenal. Tapi ada
sesuatu di malam itu, sesuatu di udara, sesuatu di api unggun, sesuatu di
tatapan mata Nisa yang duduk di seberang, yang membuatnya merasa bahwa ini
adalah saat yang tepat.
“Desa Suralaya sudah ada sejak zaman Belanda,” mulainya
pelan. Matanya menatap api, seolah-olah ia sedang membaca cerita dari bara yang
berdenyut. “Konon, dulu ada seorang pertapa yang bernama Ki Suralaya. Beliau
adalah prajurit Mataram yang melarikan diri dari kejaran Belanda. Beliau
bersembunyi di lereng gunung ini, lalu menetap, membuka hutan, dan mendirikan
pemukiman kecil. Itu sebabnya desa ini dinamai Suralaya.”
“Ki Suralaya,” ulang Rendi sambil menulis cepat di buku
catatannya. Matanya berbinar, ini adalah bahan yang ia cari-cari. “Apakah ada
makamnya?”
“Ada. Di belakang desa, dekat mata air. Setiap bulan Sura,
warga mengadakan selamatan di sana. Doa bersama, makan bersama, kadang ada
tarian tradisional.”
“Tarian apa?” tanya Camelia yang matanya langsung berbinar.
Sebagai pemain teater, ia sangat tertarik dengan seni pertunjukan.
“Tarian Panen. Namanya Tari Gantar. Biasanya
ditarikan oleh enam orang laki-laki dan enam orang perempuan. Mereka membawa
properti berupa ranting pohon kopi yang dihias dengan pita warna-warni.
Gerakannya sederhana, tapi penuh makna. Setiap gerakan menggambarkan proses
menanam, merawat, hingga memanen kopi.”
“Wah, saya ingin lihat!” seru Camelia. “Kapan ada tarian
lagi?”
Ilham tersenyum tipis. “Dulu setiap tahun ada. Tapi
sekarang... sudah jarang. Karena anak-anak muda banyak yang pergi, tidak ada
yang bisa menari lagi. Yang tersisa hanya para tetua yang sudah tua dan tidak
sekuat dulu.”
Suasana berubah. Dari ceria menjadi sedikit sendu. Camelia
yang tadinya bersemangat, kini terdiam. Anita berhenti menulis. Nadya
menurunkan kameranya.
“Maaf,” kata Ilham cepat. “Saya tidak bermaksud membuat
suasana menjadi sedih.”
“Tidak apa-apa,” kata Joko. “Kadang kesedihan perlu
diungkapkan. Kalau dipendam terus, akan menjadi beban.”
Pak Raditya yang dari teras Kantor Desa ikut mendengar,
mengangguk pelan. Ia tidak ikut bergabung ke lingkaran api, tetapi telinganya
selalu terbuka. Sebagai kepala desa, ia harus tahu apa yang terjadi di desanya.
Tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.
“Ilham,” panggil Pak Raditya.
Ilham menoleh. “Ya, Pak?”
“Ceritakan juga tentang kopi. Biar mereka tahu.”
Ilham mengangguk. “Kopi Suralaya sudah ada sejak zaman Ki
Suralaya. Konon, beliau yang pertama kali menanam kopi di lereng ini. Bibitnya
dibawa dari Mataram, hadiah dari seorang saudagar. Sejak saat itu, kopi menjadi
komoditas utama desa kami. Hampir setiap keluarga punya kebun kopi. Termasuk
keluarga saya.”
“Berapa luas kebun kopi di desa ini?” tanya Yulia, bendahara
yang selalu haus data.
“Kalau ditotal, mungkin sekitar dua puluh hektar. Tersebar
di lereng timur dan selatan. Kebanyakan masih tradisional. Tanpa pupuk kimia.
Tanpa pestisida. Hanya mengandalkan kesuburan tanah vulkanik dari Merbabu.”
“Organik dong?” tanya Jojon yang matanya berbinar. Sebagai
koki, ia sangat peduli dengan kualitas bahan makanan.
“Organik alami, Mas. Karena tidak ada uang untuk beli pupuk
kimia, jadi ya terpaksa alami. Tapi hasilnya? Menurut para pengepul,
kualitasnya bagus. Hanya saja harganya murah karena kami tidak punya akses ke
pembeli langsung.”
“Itu yang harus diubah,” kata Joko tegas. “Petani harus
mendapat harga yang layak. Tidak boleh terus-menerus dieksploitasi oleh
tengkulak.”
Percakapan serius itu tiba-tiba terputus oleh suara perut
keroncongan yang sangat keras. Kruyukukuk... Suaranya seperti
suara katak yang keceburan ke sungai. Semua kepala menoleh ke arah sumber
suara: Jojon.
Jojon tersenyum malu. “Maaf. Perut saya protes. Belum makan
malam.”
“Belum makan malam? Tadi kan sudah makan?” tanya
Hermansyah.
“Sudah. Tapi porsinya sedikit. Karena saya bagi dengan Amat
Junior yang makannya banyak.”
Amat Junior tertawa canggung. “Maaf, Mas Jojon. Saya memang
lagi lapar.”
“Lapar? Yang benar saja, jun. Kamu itu makannya kayak orang
puasa sebulan penuh terus buka puasa di hari pertama,” ledek Jojon. “Lain kali
bawa bekal sendiri, ya.”
“Sudah, sudah,” kata Bayu sambil berdiri. “Saya ambilkan
makanan dari tenda. Masih ada nasi bungkus sisa tadi siang.”
“Nasi bungkus sisa tadi siang? Tidak basi?” tanya Yulia
khawatir.
“Masih aman. Udara di sini dingin, jadi makanan tidak cepat
basi. Ilmu kedokteran dasar.”
Bayu berjalan ke arah tenda. Beberapa menit kemudian ia
kembali dengan membawa tiga bungkus nasi yang masih terbungkus daun pisang.
Daunnya sudah agak layu, tetapi nasinya masih terlihat putih dan bersih.
Jojon mengambil satu bungkus, membukanya dengan hati-hati,
lalu menghirup aromanya. “Masih enak,” katanya. “Baunya masih wangi. Ini nasi
kemarin siang yang dimasak dengan daun pandan, ya?”
“Iya,” kata Bayu. “Kamu yang masak, masa lupa?”
“Oh iya. Saya lupa. Hehe.”
Jojon makan dengan lahap. Suasana kembali cair. Hermansyah
yang melihat Jojon makan, ikut lapar. “Saya juga mau,” katanya.
“Ambil saja,” kata Bayu sambil mendorong dua bungkus
lainnya. “Ini untuk siapa saja yang lapar.”
Ternyata tidak hanya Hermansyah dan Jojon yang lapar. Satu
per satu anggota KPAAB dan pemuda desa mulai mengambil nasi bungkus itu. Dalam
hitungan menit, tiga bungkus nasi habis. Yulia menghela napas. “Besok kita
harus beli bahan makanan di desa ini. Persediaan kita mulai menipis.”
“Saya bisa bantu belanjakan,” kata Kuat, pemuda desa yang
bertubuh tambun, tiba-tiba. Suaranya berat dan dalam. “Saya tahu mana warung
yang murah.”
“Terima kasih, Mas Kuat,” kata Yulia.
“Panggil saja Kuat. Biasa.”
“Baik, Mas Kuat.”
“Panggil Kuat.”
“Baik, Kuat.”
Hermansyah yang mendengar percakapan itu tertawa. “Yulia,
kau itu kalau disuruh panggil nama tanpa ‘Mas’, kayak susah banget.”
“Karena saya terbiasa sopan,” jawab Yulia ketus. “Lain
dengan kau yang sopannya hanya kalau ada yang ngasih uang.”
“Waduh, kena deh,” celetuk Camelia sambil menepuk paha
Hermansyah.
Tawa kembali pecah. Bahkan Pak Raditya yang dari kejauhan
ikut tersenyum. Sudah lama ia tidak mendengar tawa seperti ini di desanya. Tawa
yang bebas, tanpa beban, tanpa kepedihan yang tersembunyi di baliknya.
Sementara itu, di rumah Ilham yang terletak sekitar dua
ratus meter dari kantor desa, suasana berbeda. Bu Laila duduk di dapur,
ditemani lampu minyak yang menyala redup. Di tangannya ada cangkir kopi yang
sudah dingin, tidak diminum sejak tadi. Matanya kosong menatap dinding anyaman
bambu.
Pak Hasan, suaminya, baru saja pulang dari kebun. Ia
meletakkan cangkul di pojok, lalu mencuci kaki di bak air yang terbuat dari
drum bekas. Wajahnya lelah, keringat masih membasahi keningnya meskipun malam
sudah dingin.
“Ilham belum pulang?” tanya Pak Hasan tanpa menoleh.
“Belum,” jawab Bu Laila pelan. “Masih di kantor desa.
Katanya mau belajar dari pendaki.”
Pak Hasan mendengus. “Belajar apa? Pendaki itu hanya
singgah sebentar, besok pagi sudah pergi. Apa yang bisa diajarkan?”
“Jangan begitu, Pak. Ilham bilang mereka dari desa yang
sudah maju. Mungkin Ilham bisa belajar sesuatu untuk desa kita.”
“Desa kita tidak butuh sesuatu. Desa kita sudah baik-baik
saja.” Pak Hasan mengambil cangkir, menuang kopi dari ceret tanah liat, lalu
duduk di kursi bambu. “Yang kita butuhkan adalah kerja keras. Bukan duduk-duduk
di kantor desa sambil ngobrol.”
Bu Laila tidak menjawab. Ia sudah terlalu sering berdebat
dengan suaminya tentang hal ini. Pak Hasan adalah tipe orang yang percaya bahwa
hidup itu sederhana: bekerja, makan, tidur, ulangi. Tidak perlu macam-macam.
Tidak perlu belajar hal baru. Tidak perlu berubah.
Tapi Bu Laila berbeda. Ia diam-diam mendukung putranya. Ia
diam-diam berharap bahwa Ilham akan menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar
petani kopi seperti ayahnya. Bukan karena ia tidak bangga dengan suaminya, ia
sangat bangga. Tapi karena ia ingin Ilham memiliki pilihan. Pilihan untuk
tinggal atau pergi. Pilihan untuk menjadi petani atau menjadi yang lain.
Pilihan yang tidak pernah ia miliki ketika muda.
“Pak,” kata Bu Laila akhirnya.
“Hm?”
“Kalau Ilham nanti ingin pergi belajar ke luar desa, Bapak
izinkan?”
Pak Hasan berhenti menyesap kopinya. Ia menatap istrinya
dengan mata yang sulit dibaca. “Ke mana?”
“Ke desa Awan Biru. Kata dia, di sana ada komunitas
digital. Bisa belajar komputer, internet, jualan online.”
Pak Hasan meletakkan cangkirnya. “Online? Apa itu?”
“Jualan lewat HP, Pak. Kata Ilham, harganya bisa lebih
mahal daripada jual ke tengkulak.”
Pak Hasan terdiam cukup lama. Matanya menerawang ke
kejauhan, mungkin mengingat-ingat bertahun-tahun ia menjual kopi dengan harga
murah, pasrah, tidak pernah berani bermimpi bahwa harganya bisa lebih baik.
“Terserah dia,” kata Pak Hasan akhirnya. “Tapi jangan lupa
kebun. Kebun harus tetap dijaga.”
Bu Laila tersenyum. Itu bukan izin penuh, tapi setidaknya
bukan larangan. Dan bagi Bu Laila, itu sudah cukup.
Kembali di lingkaran api unggun, percakapan mulai mereda.
Beberapa orang mulai menguap. Amat Junior sudah hampir tertidur, kepalanya
tersandar di pundak Arga. Arga sendiri juga mulai mengantuk, tetapi berusaha
tetap terjaga.
Nisa yang duduk di samping Aulia, sejak tadi tidak banyak
bicara. Matanya sesekali melirik ke arah Ilham, lalu cepat-cepat berpaling
ketika Ilham hampir menoleh. Perasaan yang aneh. Tidak biasa. Seperti ada
kupu-kupu di perutnya.
Kenapa sih? pikir
Nisa kesal pada dirinya sendiri. Dia cuma Ilham. Teman sejak kecil.
Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang berubah. Kenapa tiba-tiba aku merasa...
gugup?
Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan mengamati para
pendaki. Joko yang tenang. Hermansyah yang lucu. Guntur yang serius. Bayu yang
perhatian. Jojon yang gemuk tapi gesit. Anita yang sibuk menulis. Yulia yang
cerewet. Nadya yang matanya seperti kamera. Camelia yang ekspresif. Arga yang
pendiam. Amat Junior yang polos.
Mereka semua tampak seperti keluarga. Keluarga yang tidak
terikat darah, tetapi terikat oleh perjalanan dan rasa saling percaya. Nisa
iri. Ia ingin memiliki keluarga seperti itu. Di desanya, ia sering merasa
sendirian. Teman-temannya pergi merantau. Yang tinggal hanya yang tidak punya
keberanian untuk pergi, atau yang tidak punya tujuan untuk dituju.
“Nisa,” panggil Aulia pelan.
“Hm?”
“Kamu kenapa? Melamun terus.”
“Tidak kenapa-kenapa. Hanya lelah.”
Aulia menatap sahabatnya itu dengan seksama. Ia tahu Nisa
sedang berbohong. Tapi ia tidak akan memaksa. Aulia adalah tipe teman yang tahu
kapan harus bertanya dan kapan harus diam.
“Kalau lelah, istirahatlah,” kata Aulia. “Besok masih
banyak kegiatan.”
“Iya. Nanti.”
Tapi Nisa tidak bergerak. Ia tetap duduk, matanya tetap
sesekali melirik ke arah Ilham. Dan di dalam hatinya, sebuah pertanyaan
tumbuh: Kapan aku mulai melihat Ilham bukan sebagai teman? Kapan?
Ia tidak tahu jawabannya. Mungkin sejak Ilham mulai serius
memikirkan desa. Mungkin sejak Ilham tidak hanya diam, tetapi mulai berbicara
tentang mimpi-mimpi besar. Mungkin sejak malam ini, ketika Ilham bercerita
tentang Ki Suralaya dan Tari Gantar dengan mata berbinar.
Ah, sudahlah,
pikir Nisa akhirnya. Pikiran ini hanya karena suasana malam yang
romantis. Besok pagi semuanya akan kembali normal.
Tapi ia tahu itu tidak benar. Tidak ada yang kembali normal
setelah sesuatu berubah. Dan malam itu, sesuatu telah berubah di dalam dirinya.
Malam semakin larut. Api unggun hampir padam. Bara terakhir
berdenyut lemah, seperti mata yang mulai terpejam karena kantuk. Beberapa orang
sudah pamit pulang. Pak Raditya masuk ke dalam rumah. Kuat dan pemuda desa
lainnya kembali ke rumah masing-masing. Hanya tersisa Ilham, Nisa, Aulia,
Angga, Rendi, dan para anggota KPAAB.
“Kita juga harus istirahat,” kata Joko sambil berdiri.
“Besok pagi kita lanjut pendakian. Terima kasih atas keramahannya, ya.”
“Sama-sama, Mas Joko,” kata Ilham. “Kami yang berterima
kasih sudah mau berbagi cerita.”
Joko mengulurkan tangan. Ilham menjabatnya. Jabatan tangan
yang sederhana, tetapi terasa berat. Seperti ada pesan yang tidak diucapkan.
“Jaga desamu, Ilham,” kata Joko pelan. “Jangan biarkan ia mati.”
“Saya akan coba, Mas.”
“Bukan coba. Lakukan.”
Ilham mengangguk. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak
membiarkan air mata jatuh. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri: tidak akan
menangis sampai desanya berubah.
Satu per satu anggota KPAAB masuk ke tenda. Hermansyah yang
paling akhir, karena ia sibuk membantu Jojon membereskan peralatan masak.
“Ilham,” panggil Hermansyah tiba-tiba.
“Ya, Mas?”
“Kau punya semangat. Jangan padamkan. Dunia butuh
orang-orang seperti kau.”
Ilham tersenyum. “Terima kasih, Mas.”
“Dan satu lagi.” Hermansyah mendekat, menurunkan suaranya.
“Nisa itu... perhatiin, ya. Jangan sampai kehilangan.”
Ilham terkejut. Wajahnya memerah. “Maksud Mas?”
Hermansyah hanya tersenyum, menepuk pundak Ilham, lalu
berjalan ke tenda. “Selamat malam, Ilham. Sampai jumpa besok.”
Ilham berdiri sendiri di halaman balai desa. Di
sekelilingnya hanya kegelapan dan dingin. Tapi di atasnya, bintang-bintang
berkelap-kelip seperti berlian yang tersebar di langit hitam.
“Ilham,” suara Nisa dari belakang.
Ilham menoleh. Nisa berdiri tidak jauh darinya, tangan
memeluk tubuh sendiri karena dingin. Wajahnya tidak jelas dalam gelap, tetapi
suaranya jelas.
“Kamu belum tidur?” tanya Ilham.
“Belum. Masih banyak pikiran.”
Mereka berdua berdiri diam beberapa saat. Hanya suara angin
dan jangkrik yang terdengar.
“Nisa,” panggil Ilham.
“Hm?”
“Kita bisa mengubah desa ini, ya?”
Nisa tersenyum. Ilham tidak melihatnya, tapi ia
merasakannya. “Bisa, Ham. Asal kita tidak sendiri.”
“Kamu mau membantu?”
“Sudah jelas. Aku ikut dari awal.”
Ilham menghela napas lega. “Terima kasih, Nisa.”
“Jangan berterima kasih. Aku juga ingin desa ini berubah.”
Mereka berdiri bersama di bawah bintang. Dua anak muda desa
dengan mimpi besar. Dua hati yang mulai saling mendekat tanpa mereka sadari. Dan
di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri tenang, menyaksikan, seolah-olah
berkata: Perjalanan kalian baru saja dimulai.
BAB 3
Benih yang Tumbuh Diam-diam
Pagi datang dengan cara yang sama seperti biasa di Desa
Suralaya. Ayam jantan mulai berkokok bersahutan dari berbagai penjuru, ada yang
paling awal, suaranya parau seperti orang tua yang baru bangun tidur; ada yang
menyusul beberapa menit kemudian, suaranya lebih jernih; ada yang paling akhir,
seolah-olah ia sedang menikmati hangatnya tidur dan tidak ingin tergesa-gesa.
Kokok ayam-ayam itu seperti orkestra alam yang tidak pernah lelah, yang
ritmenya telah mengatur kehidupan warga desa selama puluhan, bahkan ratusan
tahun.
Kabut masih menggantung rendah di atas pepohonan pinus. Ia
turun dari lereng Merbabu seperti selimut putih yang ditarik perlahan oleh
tangan-tangan tak terlihat. Kabut itu bergerak dengan lambat, kadang menebal,
kadang menipis, kadang menyembunyikan sebagian pemandangan, kadang
memperlihatkannya dengan jelas. Melalui celah-celah kabut, sesekali terlihat
puncak Merbabu yang menjulang—masih diselimuti awan putih, seperti raksasa yang
sedang tidur dengan selimut tebal.
Embun menempel di setiap helai rumput, di setiap daun kopi,
di setiap anyaman bambu yang dijemur di halaman. Titik-titik air itu berkilauan
saat sinar pertama matahari menyentuhnya, kilauan yang tidak bisa ditiru oleh
berlian atau kristal buatan manusia. Alam memiliki caranya sendiri untuk
menciptakan keindahan, tanpa biaya, tanpa perencanaan, tanpa pamrih.
Bu Laila sudah bangun sejak pukul empat pagi. Seperti
biasa, ia memulai hari dengan menyalakan api di dapur. Kayu-kayu kering yang
dikumpulkan semalam ia susun dengan hati-hati di dalam tungku dari batu bata
merah yang sudah hitam oleh jelaga. Ia meniup perlahan, dan api mulai menjilat
kayu-kayu itu, pelan pada awalnya, lalu semakin membesar. Ia meletakkan ceret
berisi air di atas tungku, untuk membuat kopi dan teh pagi.
Bu Laila adalah perempuan yang tidak banyak bicara, tetapi
gerakannya selalu penuh makna. Setiap kali ia mengaduk nasi di kuali, setiap
kali ia memotong sayuran dengan pisau tua yang sudah tumpul, setiap kali ia
menyapu halaman dengan sapu lidi yang sudah aus, semuanya dilakukan dengan
kesadaran penuh, seolah-olah setiap tindakan adalah doa.
Pagi itu, ada sedikit kegelisahan di hatinya. Ilham, putra
semata wayangnya, semalam pulang larut. Ia tidak marah, Ilham sudah dewasa,
tidak perlu diatur setiap langkahnya. Tapi sebagai seorang ibu, kegelisahan
adalah hak yang tidak bisa dicabut. Ia melihat Ilham duduk di beranda rumah
tadi malam, tidak langsung masuk ke kamar. Ia duduk sendirian, memandangi
langit bertabur bintang, dengan wajah yang berbeda dari biasanya.
Ada sesuatu yang berubah pada anak itu, pikir Bu Laila. Semoga itu perubahan yang baik.
Ia tidak bertanya. Ia hanya menyiapkan sarapan: nasi
hangat, sayur bening dari daun singkong dan jagung, tempe goreng yang renyah di
luar dan lembut di dalam, serta sambal terasi yang pedasnya bukan main. Semua
disajikan di atas meja kayu kecil di dapur, dengan piring-piring pecah belah
yang sudah retak di pinggirannya tetapi masih bersih mengkilap.
Pak Hasan turun dari kamar sekitar pukul setengah enam.
Wajahnya masih mengantuk, rambutnya awut-awutan, dan langkah kakinya berat
seperti orang yang tidak benar-benar ingin memulai hari. Ia duduk di kursi
bambu kesayangannya, kursi yang sudah miring ke kanan karena kakinya tidak
rata—dan mengambil nasi tanpa bicara.
“Pak,” sapa Bu Laila pelan.
“Hm.”
“Ilham semalam pulang larut. Saya lihat wajahnya berbeda.”
Pak Hasan tidak menjawab. Ia terus makan, matanya menatap
piring di depannya.
“Pak, dengar, enggak.”
“Aku dengar.”
“Kalau Ilham nanti mau pergi belajar ke desa Awan Biru,
Bapak izinkan?”
Pak Hasan berhenti mengunyah. Ia menatap istrinya dengan
mata yang sulit dibaca, campuran antara kekesalan, kelelahan, dan mungkin
sedikit ketakutan. “Kau sudah bicara dengan Ilham tentang itu?”
“Belum. Tapi saya bisa merasakan. Anak kita itu sedang
memikirkan sesuatu yang besar.”
“Besar?” Pak Hasan mendengus pelan. “Desa kita ini kecil. Tidak
ada yang besar di sini. Semua yang besar ada di kota. Kalau Ilham mau pergi ke
kota untuk bekerja, saya izinkan. Tapi belajar? Belajar apa? Belajar main HP?
Itu tidak akan mengisi perut.”
Bu Laila menarik napas panjang. Ia sudah menduga jawaban
ini. Pak Hasan adalah lelaki keras kepala yang tidak mudah berubah. Tapi ia
juga bukan lelaki jahat. Ia hanya lelaki yang terlalu lama hidup dalam
keterbatasan, sehingga ia lupa bahwa ada cara lain selain yang ia ketahui.
“Pak, dulu waktu Bapak masih muda, Bapak juga pernah
bermimpi, kan?” kata Bu Laila pelan.
Pak Hasan terdiam. Matanya menerawang ke kejauhan, mungkin
mengingat-ingat masa lalunya. Masa ketika ia masih memiliki mimpi-mimpi besar.
Masa ketika ia ingin menjadi sesuatu, pergi ke suatu tempat, mencapai suatu
hal. Tapi kemudian kehidupan berbicara lebih keras daripada mimpi. Ia menikah,
memiliki anak, harus menghidupi keluarga, dan mimpi-mimpi itu perlahan mati
tanpa pemakaman.
“Itu dulu,” kata Pak Hasan akhirnya. Suaranya lirih, nyaris
tenggelam oleh suara ayam yang masih berkokok. “Sekarang sudah tidak relevan.”
“Tapi Ilham masih muda, Pak. Masih relevan untuknya.”
Pak Hasan tidak menjawab. Ia menghabiskan makanannya, lalu
berdiri, mengambil cangkul di pojok, dan berjalan keluar tanpa pamit. Itu sudah
biasa. Pak Hasan tidak pernah pamit. Ia hanya pergi, dan kembali ketika
matahari mulai condong ke barat.
Bu Laila menghela napas. Ia membersihkan meja, mencuci
piring di sungai kecil di belakang rumah, lalu berjalan ke dapur untuk
menyiapkan bekal untuk Ilham, meskipun Ilham belum tentu minta bekal.
Anak itu,
pikir Bu Laila, harus saya biarkan terbang. Tali yang terlalu kencang
akan putus. Tali yang terlalu longgar akan lepas. Saya harus memberi kencang
dan longgar yang pas.
Ilham bangun lebih lambat dari biasanya. Ketika ia membuka
mata, sinar matahari sudah menembus celah-celah dinding anyaman bambu,
menciptakan pola-pola cahaya di lantai tanah yang dipadatkan. Untuk beberapa
saat, ia hanya berbaring, memandangi langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman
bambu dan kayu gelondongan. Di sela-sela anyaman itu, sesekali terlihat
laba-laba kecil yang sibuk memperbaiki jaringnya yang rusak karena angin malam.
Pikirannya masih penuh dengan percakapan semalam. Tentang
Desa Awan Biru. Tentang Joko dan Hermansyah dan anggota KPAAB lainnya. Tentang
api unggun dan bintang-bintang. Tentang kata-kata Joko yang masih terngiang di
telinganya: Karena lebih menakutkan melihat desa sendiri diam di
tempat.
Ilham duduk di tempat tidurnya, tempat tidur sederhana dari
bambu yang dialasi kasur tipis berisi kapuk. Kapuk itu sudah kempes di beberapa
bagian, tetapi masih cukup nyaman untuk tidur. Ia memandangi kedua telapak
tangannya. Tangannya kasar, penuh kapalan, bekas memegang cangkul, memetik
kopi, dan membawa karung. Tangan petani. Tangan yang telah bekerja keras sejak
ia masih kecil.
Apakah tangan ini cukup untuk mengubah desa? pikirnya. Apakah aku cukup?
Ia teringat pada Nisa. Wajah Nisa muncul di pikirannya
tanpa diundang, wajah yang tegas, mata yang tajam, tetapi kadang menyimpan
kelembutan yang tidak ingin ditunjukkannya. Nisa selalu ada. Sejak kecil,
mereka bermain bersama, belajar bersama, bertengkar bersama, dan berbaikan
bersama. Nisa adalah teman yang paling ia percaya.
Tapi belakangan ini, ada yang berbeda. Ilham tidak tahu
persis apa, tetapi setiap kali Nisa menatapnya, ada sesuatu di matanya yang
membuat jantung Ilham berdetak lebih cepat. Apakah itu cinta? Ilham tidak tahu.
Ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya, atau mungkin ia jatuh cinta tetapi
tidak menyadarinya.
Ah, sudahlah,
pikir Ilham sambil menggelengkan kepala. Jangan pikirkan hal-hal
seperti itu sekarang. Ada yang lebih penting.
Ia bangun, mengambil air dari bak di belakang rumah, lalu
membasuh muka. Airnya dingin, begitu dingin hingga membuat kulitnya merinding.
Tapi kesegaran itu menyebar ke seluruh tubuh, membangunkannya dari lamunan.
“Ilham!” suara Nisa dari luar.
Ilham keluar. Nisa berdiri di depan pagar rumahnya, tangan
di pinggang, dengan ekspresi yang tidak sabar. “Kau bangun siang sekali. Para
pendaki sudah siap-siap mau berangkat. Joko tadi mencari-cari kau.”
“Mencari aku? Kenapa?”
“Entahlah. Katanya mau bicara sesuatu.”
Ilham cepat-cepat mengenakan baju. Ia tidak sempat sarapan.
Ia hanya mengambil segelas air putih, meneguknya sekaligus, lalu berlari
keluar.
Nisa mengikutinya dari belakang. “Jangan lari-lari, nanti
jatuh.”
“Santai. Aku kuat.”
“Bukan kuat. Kau itu ceroboh.”
Ilham tidak menjawab. Ia terus berlari menuju balai desa.
Nisa menggelengkan kepala, lalu berlari mengejarnya, meskipun ia tidak mau
mengaku bahwa ia khawatir.
Di halaman kantor desa, para anggota KPAAB sudah berkemas.
Carrier-carrier mereka berdiri tegak seperti pasukan yang siap berbaris. Tendah
sudah dilipat rapi, peralatan masak sudah dibersihkan, dan sampah-sampah sudah
dikumpulkan dalam kantong plastik besar untuk dibawa turun, kebiasaan baik yang
sudah diajarkan sejak pertama kali mereka mendaki.
Joko berdiri di samping carrier-nya, memandangi Gunung
Merbabu di kejauhan. Puncaknya masih diselimuti kabut, seolah-olah gunung itu
sedang menyembunyikan wajahnya dari para pendaki yang akan menapaki lerengnya.
“Joko!” panggil Ilham sambil terengah-engah.
Joko menoleh. “Ilham. Ada yang mau saya sampaikan sebelum
berangkat.”
“Apa, Mas?”
Joko menarik napas panjang. “Saya sudah bicara dengan Pak
Raditya tadi pagi. Beliau bercerita tentang keinginanmu untuk belajar
digitalisasi desa seperti di Awan Biru.”
Ilham terkejut. “Pak Raditya sudah tahu?”
“Dia kepala desa. Dia tahu segalanya.” Joko tersenyum. “Dia
bilang dia mendukung. Tapi dia tidak bisa memaksa warga. Yang bisa memaksa
adalah kau sendiri, dengan tindakan, bukan kata-kata.”
Ilham mengangguk. Dadanya terasa hangat. “Saya akan coba,
Mas.”
“Bukan coba. Lakukan.” Joko menepuk pundak Ilham. “Kalau
kau serius, datanglah ke Awan Biru. Hubungi Herman, saya akan kasih nomornya.
Dia akan mengajari kau dan teman-temanmu. Gratis. Tidak dipungut biaya.”
“Mas... saya tidak punya uang untuk ongkos.”
Joko tersenyum. “Itu urusan nanti. Yang penting kemauan
dulu. Uang bisa dicari. Kemauan tidak.”
Hermansyah yang mendekat ikut nimbrung. “Ilham, kau tahu,
dulu Joko juga miskin. Lebih miskin dari kau, mungkin. Tapi lihat sekarang. Dia
ketua KPAAB. Bukan karena kaya, tapi karena punya kemauan dan tidak malu belajar.”
“Hermansyah, jangan banding-bandingkan,” kata Joko.
“Bukan banding-bandingkan. Ini motivasi.” Hermansyah
mengedipkan mata.
Jojon yang sedang memuat carrier-nya ke punggung, berteriak
dari kejauhan. “Cepetan, Komandan! Kita harus segera berangkat sebelum kabut
terlalu tebal!”
“Iya, iya,” jawab Joko. Ia berbalik ke arah Ilham. “Kami
pamit dulu. Terima kasih atas keramahannya. Jaga desamu.”
“Selamat jalan, Mas Joko. Hati-hati di pendakian.”
Mereka berjabat tangan. Satu per satu anggota KPAAB
berpamitan. Hermansyah memeluk Ilham erat, agak terlalu erat untuk ukuran orang
baru kenal, lalu tertawa. Guntur hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Bayu
memberikan pesan, “Jaga kesehatan. Kalau ada yang sakit, jangan diabaikan.”
Jojon memberikan bungkusan kecil berisi bumbu dapur. “Ini sisa dari persediaan.
Buat kau, untuk masak-masak. Jangan lupa belajar masak dari ibu kau.” Anita
menuliskan sesuatu di secarik kertas, lalu memberikannya kepada Ilham. “Ini
nomor telepon komunitas digital kami. Hubungi jika perlu.” Yulia mengingatkan,
“Jangan boros.” Nadya mengambil foto Ilham dan Nisa bersama, tanpa izin.
Camelia berbisik, “Jaga Nisa baik-baik, ya.” Arga memberikan lakban kecil.
“Untuk darurat.” Amat Junior hanya tersenyum canggung sambil melambai.
Ilham berdiri di pinggir jalan desa, memandangi rombongan
KPAAB yang perlahan menjauh. Langkah-langkah mereka mantap, tidak tergesa-gesa,
seperti orang yang tahu persis ke mana mereka akan pergi. Di belakang mereka,
Gunung Merbabu menjulang gagah, diselimuti kabut tipis yang mulai terurai
terkena sinar matahari.
“Mereka baik, ya,” kata Nisa di samping Ilham.
“Iya,” jawab Ilham pelan. “Mereka seperti keluarga.”
“Kita juga bisa seperti itu, Ham. Asal kita mau berusaha.”
Ilham menoleh ke arah Nisa. Wajah Nisa berseri-seri terkena
sinar matahari pagi. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang membuat jantung Ilham
berdetak lebih cepat.
“Nisa,” panggil Ilham.
“Hm?”
“Kau serius mau membantu?”
“Sudah kubilang, aku ikut dari awal.”
“Sampai kapan?”
Nisa tersenyum. “Sampai desa ini berubah. Atau sampai aku
mati. Mana yang lebih dulu.”
Ilham tertawa. “Jangan bicara mati-matian.”
“Ya sudah, sampai desa ini berubah.”
Mereka berdiri bersama di pinggir jalan, dua anak muda desa
dengan mimpi besar, menyaksikan rombongan pendaki yang perlahan menghilang di
balik tikungan.
Sore harinya, tanpa sepengetahuan para tetua, terutama
tanpa sepengetahuan Mbah Jaya Suprapta dan Pak Kirno, Ilham mengumpulkan
teman-temannya di balai bambu. Balai itu masih kotor, berdebu, dan penuh sarang
laba-laba. Tapi bagi mereka, tempat ini adalah markas. Tempat di mana
mimpi-mimpi mulai dibicarakan dengan serius.
Yang hadir: Ilham, Nisa, Angga, Rendi, dan Aulia. Lima
orang. Tidak lebih. Tidak kurang.
“Kita harus serius,” kata Ilham membuka pertemuan. “Joko
sudah menawarkan kita untuk belajar ke Desa Awan Biru. Herman dan timnya siap
mengajari. Tapi kita harus memutuskan: siapa yang pergi, kapan pergi, dan
bagaimana ongkosnya.”
Angga yang paling jarang bicara, tiba-tiba angkat suara.
“Aku ikut.”
Semua menoleh. Angga biasanya hanya diam dan mengangguk.
Jarang sekali ia berbicara di depan umum.
“Kau serius, Ga?” tanya Rendi.
“Serius. Aku ingin belajar memperbaiki komputer. Selama ini
aku cuma bisa mesin pertanian. Kalau bisa belajar yang lain, kenapa tidak?”
“Bagus,” kata Ilham. “Rendi, kau?”
“Ikut. Aku ingin menulis tentang perjalanan ini. Buku. Atau
artikel. Atau apa pun. Yang penting didokumentasikan.”
“Nisa?”
“Sudah jelas. Aku ikut. Tapi jangan lama-lama. Aku tidak
tega meninggalkan ibu sendirian di rumah.”
“Aulia?”
Aulia yang pendiam itu mengangguk pelan. “Aku ikut. Tapi...
aku takut.”
“Takut apa?” tanya Nisa.
“Takut orang-orang desa marah. Takut dibilang anak durhaka.
Takut Mbah Jaya melarang.”
Ilham menghela napas. “Aku juga takut, Lia. Tapi ketakutan
tidak boleh menghentikan kita. Kalau kita terus takut, tidak akan ada yang
berubah.”
“Ilham benar,” kata Rendi. “Lihat para pendaki tadi. Mereka
juga pasti pernah takut. Tapi mereka tetap melangkah. Dan lihat hasilnya. Desa
mereka maju.”
Angga mengangguk-angguk. “Aku setuju. Tapi kita harus punya
rencana. Jangan asal pergi.”
Mereka berdiskusi hingga matahari mulai condong ke barat.
Warna jingga keemasan mulai menyapu langit, menembus celah-celah dinding balai
bambu, menciptakan pola-pola cahaya yang indah di lantai tanah.
Kesimpulan dari rapat diam-diam itu: mereka akan pergi
dalam dua minggu. Sebelum pergi, mereka harus mengumpulkan uang, dari hasil
jualan kopi, dari tabungan pribadi, atau dari pinjaman. Mereka juga harus
meminta izin kepada orang tua masing-masing. Terutama Ilham, yang ayahnya
paling keras kepala.
“Aku yang paling berat,” kata Ilham sambil tersenyum pahit.
“Ayahku belum tahu rencana ini. Dan aku tidak tahu bagaimana cara bilang.”
“Bilang saja langsung,” kata Nisa. “Jangan bertele-tele.
Ayahmu itu keras, tapi tidak bodoh. Kalau kau jelaskan dengan baik, pasti dia
mengerti.”
“Kau yakin?”
“Tidak. Tapi tidak ada salahnya mencoba.”
Sementara Ilham dan kawan-kawan berdiskusi di balai bambu,
di warung Mbah Naryo suasana berbeda. Mbah Naryo sedang sibuk menyeduh kopi
untuk para pelanggan malam, para bapak-bapak yang tidak punya kegiatan lain
selain ngopi dan bergosip.
Pak Santo duduk di kursi bambu kesayangannya, sambil
memegang cangkir kopi yang sudah setengah habis. Wajahnya yang kecokelatan oleh
terik matahari kini disinari lampu minyak yang redup. “Mbah, kopinya enak malam
ini. Lebih kental dari biasanya.”
“Ya, karena saya tambahin ampasnya,” jawab Mbah Naryo tanpa
ekspresi.
“Ampas? Mbah, jangan main-main.”
“Bercanda. Ampasnya saya buang. Ini kopi baru.”
Pak Sugi yang duduk di samping Pak Santo tertawa. “Mbah Naryo
ini kalau bercanda kadang-kadang suka serem. Tidak ada senyum, tidak ada gelak
tawa, tapi kata-katanya lucu.”
“Lucu atau tidak, yang penting kopinya enak,” kata Pak
Kirno yang baru datang. Ia duduk di kursi paling ujung, menyilangkan tangan di
dada, seperti biasa.
“Pak Kirno, dengar kabar? Anak-anak muda mau pergi ke desa
Awan Biru,” bisik Pak Santo.
Pak Kirno mengangkat alis. “Siapa bilang?”
“Ilham, Nisa, Angga, Rendi, Aulia. Kata orang, mereka sudah
rapat diam-diam di balai bambu tadi sore.”
Pak Kirno mendengus. “Buang-buang waktu. Desa Awan Biru itu
desa kecil sama seperti kita. Apa yang bisa diajarkan?”
“Konon mereka sudah maju, Pak Kirno,” kata Pak Sugi. “Jalan
mulus, anak-anak muda pintar, hasil kebun laku keras. Kata pendaki tadi.”
“Pendaki? Mereka hanya singgah sebentar. Mana tahu mereka
tentang desa itu?”
Mbah Naryo yang mendengar percakapan itu, ikut bersuara.
“Pak Kirno, Bapak tidak percaya pada pendaki tadi?”
“Percaya atau tidak, itu bukan urusan saya. Yang jelas,
anak-anak muda desa kita jangan sampai terpengaruh oleh hal-hal yang tidak
jelas.”
“Tidak jelas bagaimana?” tanya Pak SugIi. “Mereka mau
belajar. Itu jelas.”
Pak Kirno terdiam. Ia tidak suka jika argumennya dibantah,
apalagi oleh Pak Sugi yang dianggapnya kurang berpendidikan.
“Sudah, sudah, jangan berdebat,” kata Mbah Naryo sambil
menuang kopi ke cangkir Pak Kirno. “Minum dulu. Nanti dingin.”
Pak Kirno mengambil cangkir itu, menyesap kopinya, lalu
berkata, “Pokoknya saya tidak setuju. Desa kita sudah baik-baik saja. Tidak
perlu belajar dari luar.”
Pak Santo dan Pak Sugi saling pandang. Mereka tidak berani
membantah Pak Kirno secara terang-terangan. Tapi di dalam hati, mereka
bertanya-tanya: Apakah desa kita memang baik-baik saja? Atau kita hanya
tidak mau melihat kenyataan?
Mbah Naryo yang melihat raut wajah mereka, hanya tersenyum
kecil. Biarlah, pikirnya. Waktu yang akan menjawab siapa
yang benar.
Malam itu, setelah rapat diam-diam selesai, Ilham dan Nisa
berjalan bersama menyusuri jalan desa yang gelap. Hanya diterangi cahaya bulan
yang tersembunyi di balik awan tipis, tidak cukup terang, tetapi cukup untuk
melihat garis-garis jalan setapak.
Mereka berdua diam. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara
anjing menggonggong dari kejauhan yang terdengar.
“Ham,” panggil Nisa akhirnya.
“Hm?”
“Kamu takut?”
Ilham tidak menjawab segera. Ia berhenti berjalan, menatap
langit malam yang bertabur bintang. Bintang-bintang itu berkelap-kelip seperti
mata-mata kecil yang mengawasi mereka dari atas.
“Takut,” jawabnya akhirnya. “Takut gagal. Takut
mengecewakan orang tua. Takut diejek teman-teman. Takut tidak bisa membawa
perubahan.”
Nisa berhenti di sampingnya. “Aku juga takut. Tapi kalau
kita tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu.”
“Kita bisa gagal, Nisa.”
“Iya. Kita bisa gagal. Tapi kita juga bisa berhasil. Lebih
baik gagal setelah mencoba, daripada gagal karena tidak pernah mencoba.”
Ilham menoleh ke arah Nisa. Wajah Nisa yang tegas itu kini
terlihat lembut di bawah cahaya bulan. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang
membuat Ilham lupa akan ketakutannya sejenak.
“Nisa,” panggil Ilham pelan.
“Hm?”
“Kenapa kau mau membantu? Aku tidak punya apa-apa. Tidak
bisa menjanjikan apa-apa. Bisa jadi ini semua sia-sia.”
Nisa tersenyum. “Karena aku percaya padamu, Ham. Sejak
kecil, kau selalu berbeda. Kau tidak hanya diam seperti yang orang kira. Kau
memikirkan banyak hal. Dan ketika kau memutuskan sesuatu, kau melakukannya
dengan sepenuh hati. Itu sebabnya aku percaya.”
Ilham terdiam. Dadanya terasa hangat. Ada rasa yang tidak
bisa ia jelaskan, campuran antara haru, bahagia, dan sesuatu yang lain.
“Terima kasih, Nisa.”
“Jangan berterima kasih. Buktikan bahwa kepercayaanku tidak
salah tempat.”
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Namun diam kali
ini berbeda. Diam yang penuh makna. Diam yang mengikat.
Setelah mengantar Nisa sampai ke depan rumahnya, Ilham
berjalan kembali ke rumahnya sendiri. Langit semakin gelap. Awan hitam mulai
berkumpul di atas Merbabu, tanda bahwa hujan akan turun dalam beberapa jam.
Ilham tidak langsung masuk ke rumah. Ia duduk di beranda,
bersandar pada tiang kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Matanya menatap kosong
ke arah kebun kopi di belakang rumah—kebun yang setiap hari ia rawat bersama
ayahnya.
“Belum tidur?” suara Bu Laila dari dalam rumah.
“Belum, Bu.”
Bu Laila keluar, membawa selimut tipis. Ia menyelimuti
Ilham tanpa diminta. “Dingin di luar. Masuklah.”
“Sebentar lagi, Bu.”
Bu Laila duduk di samping Ilham. Mereka berdua terdiam
beberapa saat.
“Bu,” panggil Ilham.
“Ya, Nak.”
“Kalau aku ingin pergi belajar ke desa lain, Ibu izinkan?”
Bu Laila tidak terkejut. Ia sudah menduga. “Ke mana?”
“Ke Desa Awan Biru. Belajar digitalisasi desa. Supaya desa
kita bisa maju. Supaya kopi kita tidak dijual murah.”
Bu Laila menghela napas. “Ayahmu belum tentu setuju.”
“Aku tahu. Tapi aku akan coba meyakinkan.”
“Bagaimana caranya?”
Ilham tidak menjawab. Ia tidak tahu caranya. Tapi ia yakin,
suatu saat nanti, ia akan menemukan kata-kata yang tepat.
Bu Laila menatap putranya dengan mata yang penuh kasih.
“Ibu tidak bisa memutuskan untuk ayahmu. Tapi Ibu akan mendukung apa pun
keputusanmu. Asal kau yakin itu benar.”
Ilham menoleh, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu.”
“Jangan berterima kasih. Ibu hanya ingin kau bahagia.”
Malam semakin larut. Hujan mulai turun perlahan,
menciptakan suara gemericik di atap seng. Ilham masih duduk di beranda,
ditemani ibunya, ditemani selimut tipis, ditemani doa-doa yang tidak diucapkan
tetapi mengalir dalam hati.
Di kejauhan, Gunung Merbabu mulai gelap tertutup awan
hujan. Namun di dalam dada Ilham, sesuatu telah menyala. Sesuatu yang tidak
akan padam meskipun hujan badai sekalipun.
Benih yang ditanam malam itu, benih keberanian, benih
harapan, benih perubahan, mulai tumbuh. Diam-diam. Perlahan. Tapi pasti.
BAB 4
Restu Pak Raditya
Tiga hari setelah rombongan KPAAB meninggalkan Desa
Suralaya, Ilham masih belum bisa tidur nyenyak. Setiap malam, ia
berguling-guling di tempat tidur bambunya, matanya melek menatap langit-langit
yang gelap, pikirannya berputar-putar seperti roda gerobak yang tidak pernah
berhenti. Ia membayangkan Desa Awan Biru, desa yang belum pernah ia kunjungi,
tetapi telah ia dengar begitu banyak cerita. Ia membayangkan ruang RKDD dengan
komputer-komputer bekas yang berfungsi baik, anak-anak muda yang sibuk belajar,
ibu-ibu yang memotret anyaman, kopi yang dijual hingga ke luar kota.
Apakah Suralaya bisa seperti itu? pikirnya. Mungkinkah?
Ia teringat pada kata-kata Joko: Perubahan tidak
perlu dramatis. Cukup nyata. Cukup dirasakan oleh mereka yang selama ini tidak
percaya.
Tapi untuk membuat perubahan nyata, ia butuh izin. Bukan
hanya izin dari orang tua, itu sudah setengah ia dapatkan dari ibunya, meskipun
ayahnya masih belum sepenuhnya setuju. Ia juga butuh izin dari kepala desa.
Bukan karena Pak Raditya adalah otoritas tertinggi yang harus dipatuhi, tetapi
karena dukungan seorang kepala desa akan membuka banyak pintu. Tanpa dukungan
Pak Raditya, usahanya akan berjalan di tempat, seperti kerbau yang
berputar-putar di sekitar tiang.
Malam itu, setelah makan malam, Ilham memberanikan diri
pergi ke rumah Pak Raditya. Langit sudah gelap, bulan bersinar terang, dan
bintang-bintang berkelap-kelip seperti ribuan mata yang mengawasi setiap
langkahnya. Udara dingin menusuk, tetapi Ilham tidak menggigil. Atau mungkin ia
menggigil bukan karena dingin, tetapi karena gugup.
Rumah Pak Raditya tidak jauh dari Kantor Desa, sekitar
seratus meter ke arah timur, di pinggir kebun kopi milik desa. Rumah itu
sederhana, sangat sederhana, bahkan lebih sederhana dari rumah kebanyakan
warga. Beranda kayu dengan dua kursi bambu yang sudah agak longgar di beberapa
bagian. Dinding papan yang dicat putih tetapi mulai mengelupas di sana-sini,
seperti kulit yang terkena penyakit kusta. Atapnya dari seng yang sudah
berkarat di beberapa tempat, tetapi masih kokoh menahan hujan. Lampu minyak
menyala redup di ruang tamu, menciptakan bayangan yang bergerak pelan di
dinding ketika angin bertiup melalui celah-celah dinding yang tidak rapat.
Ilham berdiri di depan pagar kayu yang sudah lapuk. Ia
menarik napas panjang beberapa kali, mencoba menenangkan jantungnya yang
berdebar seperti genderang perang. Tangannya dingin, bukan karena suhu, tetapi
karena rasa takut yang tidak bisa ia sembunyikan.
Kenapa sih gugup begini? pikirnya
kesal. Pak Raditya orang baik. Tidak akan menggigit.
Tapi pikirannya tidak bisa dibohongi. Ia tahu bahwa apa
yang akan ia sampaikan malam ini bukanlah permintaan biasa. Ini adalah
permintaan yang bisa mengubah arah hidupnya. Ini adalah permintaan yang bisa
membuat Pak Raditya tersenyum bangga atau menggelengkan kepala kecewa.
“Ilham? Masuklah, jangan sungkan-sungkan di luar sana!”
Suara Pak Raditya dari dalam rumah membuat Ilham tersentak.
Pak Raditya memang selalu tahu. Matanya yang tajam, telinganya yang peka, tidak
ada yang luput dari perhatiannya. Mungkin itu sebabnya ia pantas menjadi kepala
desa. Bukan karena ia paling kaya atau paling pintar, tetapi karena ia
paling sadar. Sadar akan apa yang terjadi di sekelilingnya, sadar
akan kebutuhan warganya, sadar akan suara-suara yang tidak diucapkan.
Ilham membuka pagar kayu yang berderit pelan, lalu berjalan
menuju teras. Pak Raditya sudah duduk di kursi bambu kesayangannya, ditemani
secangkir teh panas yang mengepulkan uap tipis. Uap itu naik perlahan,
berputar-putar di udara dingin, lalu menghilang seperti mimpi yang terlupa.
Kacamata tuanya bertengger di ujung hidung, dan di tangannya ia memegang sebuah
buku catatan tua, mungkin catatan desa yang harus ia baca, atau mungkin buku
harian pribadinya. Sampulnya sudah lusuh, pinggirannya robek di beberapa
tempat, dan kertas-kertas di dalamnya sudah menguning karena usia.
“Silakan duduk,” kata Pak Raditya sambil menunjuk kursi di
hadapannya.
Ilham duduk dengan hati-hati, seolah-olah kursi itu terbuat
dari kaca dan bisa pecah kapan saja. Ia meletakkan kedua tangannya di pangkuan,
menggenggam erat ujung sarungnya yang sudah agak lusuh. Matanya menunduk, tidak
berani menatap langsung ke arah Pak Raditya.
“Ada apa, Nak?” tanya Pak Raditya dengan suara lembut.
“Kelihatannya ada yang berat di pikiranmu.”
Ilham mengangkat kepalanya. Ia menatap Pak Raditya, wajah
yang tegas namun teduh, mata yang sudah tidak muda lagi tetapi masih tajam,
senyum yang kecil namun hangat. Untuk beberapa saat, ia hanya diam,
mengumpulkan keberanian yang semalam ia kumpulkan tetapi sekarang terasa buyar
seperti pasir yang tertiup angin.
“Pak,” mulainya pelan. Suarara sedikit bergetar, seperti
dawai gitar yang baru dipetik. “Saya... saya ingin bicara tentang sesuatu.”
“Tentu. Saya mendengarkan.”
Ilham menarik napas panjang. Dadanya mengembang, lalu mengempis
perlahan. Udara dingin masuk ke paru-parunya, menyegarkan tetapi juga
membuatnya sadar bahwa ini nyata. Ia tidak sedang bermimpi. Ia benar-benar di
sini, di rumah kepala desa, hendak menyampaikan sesuatu yang bisa mengubah
hidupnya, dan mungkin hidup banyak orang.
“Pak, tiga hari yang lalu, ketika para pendaki dari Awan
Biru singgah di desa kita, saya banyak belajar dari mereka. Saya belajar
tentang desa mereka yang dulu miskin dan terisolasi seperti kita, tetapi
sekarang sudah maju. Mereka menggunakan teknologi, Pak. Internet, komputer,
media sosial. Mereka menjual kopi dan anyaman secara online. Mereka membuat
desa mereka dikenal.”
Pak Raditya mengangguk pelan. Matanya tidak beranjak dari
Ilham. “Saya tahu. Joko sudah bercerita kepada saya sebelum mereka berangkat.”
Ilham terkejut. “Joko sudah bicara dengan Bapak?”
“Iya. Dia bilang dia melihat potensi di matamu. Dia bilang
kau berbeda dari pemuda lain di desa ini. Kau tidak hanya bermimpi, tetapi juga
berpikir tentang cara mewujudkannya.”
Ilham tidak tahu harus berkata apa. Dadanya terasa hangat.
Joko, orang yang baru dikenal beberapa hari, percaya padanya. Lebih percaya
daripada orang-orang yang sudah mengenalnya sejak kecil.
“Pak,” lanjut Ilham setelah hening sejenak, “saya ingin
belajar ke Desa Awan Biru. Saya ingin belajar tentang digitalisasi desa. Saya
ingin membawa ilmu itu pulang, lalu mengajarkannya kepada warga. Saya ingin
desa kita berubah. Tidak menjadi kota, saya tidak ingin itu. Saya hanya ingin
desa kita tidak terus-menerus tertinggal. Saya ingin anak-anak muda tidak perlu
pergi merantau untuk hidup layak. Saya ingin kopi kita dihargai. Saya ingin
anyaman ibu-ibu dikenal.”
Pak Raditya tidak menjawab segera. Ia menatap Ilham
dalam-dalam, seperti seorang dokter yang sedang mendiagnosis penyakit yang
tidak terlihat, seperti seorang guru yang sedang menguji muridnya. Matanya yang
tua itu bergerak perlahan dari wajah ke wajah, membaca ketulusan, membaca
ketakutan, membaca harapan, membaca keraguan, membaca semuanya sekaligus.
“Ilham,” kata Pak Raditya akhirnya, “apakah kau tahu apa
yang paling sulit dari perubahan?”
Ilham menggeleng.
“Bukan teknologinya. Bukan uangnya. Bukan sarana dan
prasarana. Tapi manusianya. Mengubah cara berpikir manusia itu
seperti memindahkan gunung. Bisa dilakukan, tapi butuh waktu, tenaga, dan
kesabaran yang luar biasa. Apakah kau siap untuk itu?”
“Saya siap, Pak.”
“Kau yakin? Karena nanti banyak yang akan menolakmu. Banyak
yang akan mencemoohmu. Banyak yang akan bilang kau buang-buang waktu. Bahkan
orang-orang terdekatmu mungkin akan meragukanmu.”
Ilham mengangguk mantap. “Saya tahu, Pak. Tapi saya lebih
takut jika tidak mencoba. Saya lebih takut jika dua puluh tahun lagi, desa kita
masih sama seperti sekarang, dan saya duduk di kebun kopi sambil
bertanya-tanya, 'Bagaimana jika dulu saya berani melangkah?'”
Pak Raditya tersenyum. Senyum yang tulus, yang hangat, yang
jarang ia tunjukkan kepada banyak orang. “Kau masih muda, Ilham. Tapi kau sudah
berpikir seperti orang tua. Itu langka.”
“Saya hanya belajar dari Bapak dan para tetua.”
“Jangan sok merendah.” Pak Raditya melepas kacamatanya,
menyapunya dengan ujung baju, gerakan yang lambat, penuh perhatian, seperti
orang yang sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang penting.
Lalu ia menatap Ilham dengan mata yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
“Saya izinkan. Saya dukung. Bahkan saya akan bantu ongkos
sebisanya. Tapi ingat, Ilham. Jangan pergi sendirian. Ajak teman-temanmu yang
punya semangat sama. Perubahan tidak pernah dilakukan oleh satu orang.
Perubahan selalu dilakukan oleh sekelompok orang yang percaya pada hal yang
sama.”
Ilham hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak membiarkan air mata jatuh. Bukan karena
gengsi, tetapi karena ia ingin membuktikan bahwa ia layak mendapat kepercayaan
ini.
“Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan.”
“Jangan janji dulu. Buktikan nanti.”
Kabar tentang izin Pak Raditya menyebar cepat. Di desa
kecil seperti Suralaya, berita berjalan lebih cepat daripada angin gunung yang turun
dari lereng Merbabu. Tidak perlu pengeras suara, tidak perlu selebaran, tidak
perlu papan pengumuman. Cukup satu orang bicara, maka dalam hitungan jam,
seluruh desa sudah tahu.
Kecepatan penyebaran informasi di desa adalah fenomena yang
tidak bisa dijelaskan oleh ilmu komunikasi modern. Ia seperti sihir. Seperti
air yang meresap ke dalam tanah dan tiba-tiba muncul di mata air yang jauh.
Seperti api yang menjalar di semak-semak kering, tidak terkendali, tidak bisa
diprediksi, tetapi pasti.
Pagi harinya, ketika Ilham baru saja selesai membantu
ibunya membersihkan beras di dapur, seorang tetangga, Bu Tuti, perempuan paruh
baya yang mulutnya terkenal tidak bisa diam, sudah datang bertamu.
“Ilham, saya dengar kau mau pergi ke desa sebelah belajar
internet?” tanya Bu Tuti dengan mata berbinar. Bukan karena ia tertarik, tetapi
karena ia ingin menjadi orang pertama yang tahu dan orang pertama yang
menyebarkan.
Ilham tersenyum kecut. “Ibu dengar dari mana?”
“Dari mana saja. Yang penting benar tidak?”
“Benar, Bu. Tapi belum tahu kapan berangkatnya.”
Bu Tuti mengangguk-angguk puas. “Wah, bagus, bagus. Anak
muda harus berani keluar desa. Jangan kayak bapak-bapak yang di rumah terus.”
Lalu ia berbalik dan pergi, tentu saja untuk menyebarkan kabar itu ke
tetangga-tetangganya yang lain.
Dalam hitungan dua jam, kabar itu sudah sampai ke warung
Mbah Naryo, ke rumah Pak Sastro, ke kebun Pak Kirno, dan bahkan ke kelompok
arisan ibu-ibu yang sedang berkumpul di rumah Bu Lastri.
“Ilham mau pergi ke Awan Biru belajar internet,” bisik
seorang ibu kepada yang lain.
“Benarkah? Sendirian?”
“Tidak. Katanya sama Nisa, Angga, Rendi, Aulia.”
“Wah, berani sekali mereka. Apa tidak takut?”
“Takut apa? Kata Pak Raditya sudah diizinkan.”
“Kalau Pak Raditya yang mengizinkan, ya sudah. Beliau tahu
yang terbaik.”
Tidak semua reaksi positif. Di warung Mbah Naryo, Pak Kirno
mendengar kabar itu dengan wajah masam. Cangkir kopi di tangannya hampir ia
remas.
“Anak-anak muda sekarang,” gerutunya. “Mudah sekali
terpengaruh oleh hal-hal dari luar. Desa kita sudah baik-baik saja. Tidak perlu
belajar dari mana-mana.”
Pak Santo yang duduk di sampingnya berusaha menenangkan.
“Pak Kirno, tidak ada salahnya mereka belajar. Ilmu tidak pernah merugikan.”
“Ilmu? Belajar internet, jualan online, itu ilmu? Itu hanya
main-main. Bekerja di ladang, itu ilmu sejati.”
Mbah Naryo yang menyeduh kopi di belakang meja, ikut
bersuara. “Pak Kirno, Bapak tidak pernah mencoba internet, bagaimana tahu itu
hanya main-main?”
Pak Kirno terdiam. Ia tidak suka jika argumennya dibantah,
apalagi oleh Mbah Naryo yang dianggapnya hanya penjaga warung.
“Pokoknya saya tidak setuju,” katanya akhirnya. “Tapi saya
tidak akan melarang. Biar waktu yang membuktikan siapa yang benar.”
Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke barat dan
langit berwarna jingga keemasan seperti madu yang meleleh di atas roti hangat,
Ilham menerima panggilan dari Mbah Jaya Suprapta. Panggilan itu disampaikan
oleh Pak Sastro, yang datang ke rumah Ilham dengan wajah serius.
“Ilham, Mbah Jaya ingin bertemu denganmu. Sekarang.”
Ilham merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Mbah Jaya
adalah sesepuh desa yang paling disegani. Suaranya masih didengar banyak orang,
bahkan oleh mereka yang tidak setuju dengannya. Jika Mbah Jaya menolak
rencananya, maka seluruh desa akan menolak. Jika Mbah Jaya mendukung, maka
pintu-pintu akan terbuka.
Ia berjalan menuju rumah Mbah Jaya yang terletak di ujung
desa, dekat dengan mata air suci. Rumah itu tidak besar, tetapi terawat dengan
baik. Di halamannya, ada pohon beringin tua yang rindang, pohon yang konon
ditanam oleh Ki Suralaya sendiri, ratusan tahun yang lalu. Akar-akarnya yang
besar menjulur ke tanah seperti ular-ular purba yang sedang tidur.
Mbah Jaya sedang duduk di beranda, ditemani segelas kopi
hitam pekat tanpa gula. Wajahnya keriput seperti peta yang menggambarkan
perjalanan panjang kehidupannya. Matanya masih tajam seperti elang, tidak
terkaburi oleh usia. Rambutnya sudah putih semua, tetapi ia menyisirnya rapi ke
belakang. Ia mengenakan pakaian adat Jawa, beskap hitam dan blangkon, meskipun
hanya di rumah.
“Ilham, kemarilah,” panggil Mbah Jaya. Suaranya berat,
keluar dari dadanya yang sudah renta, tetapi masih jelas dan tegas.
Ilham mendekat, lalu duduk di kursi yang ditunjuk. Ia
membungkuk hormat, menyentuh dadanya dengan telapak tangan kanan. “Mbah Jaya
memanggil saya?”
“Iya. Saya dengar kau mau pergi ke Awan Biru belajar
sesuatu.”
“Benar, Mbah.”
Mbah Jaya menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkir di atas
meja kayu di sampingnya. “Apa yang ingin kau pelajari di sana?”
Ilham menjelaskan dengan sabar, tentang digitalisasi desa,
tentang komputer dan internet, tentang pemasaran online, tentang Desa Awan Biru
yang dulu miskin tetapi kini maju tanpa kehilangan budayanya. Ia berbicara
dengan hati-hati, memilih kata-kata yang tidak menyinggung, tetapi juga tidak
mengurangi kebenaran.
Mbah Jaya mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia
mengangguk. Sesekali ia mengernyit. Tidak ada yang ia potong. Tidak ada yang ia
tanyakan. Ia hanya mendengarkan, seperti seorang hakim yang mendengarkan
kesaksian sebelum memutuskan vonis.
Ketika Ilham selesai, Mbah Jaya terdiam cukup lama. Angin
sore berhembus, membuat daun-daun pohon beringin bergoyang-goyang. Daun-daun
tua yang kering jatuh berhamburan ke tanah, menari-nari sebentar sebelum diam.
“Ilham,” kata Mbah Jaya akhirnya, “apakah kau tahu mengapa
desa ini disebut Suralaya?”
“Karena Ki Suralaya, Mbah. Leluhur yang membuka desa ini.”
“Benar. Tapi tahukah kau arti nama Suralaya?”
Ilham menggeleng. Ia tidak pernah bertanya tentang itu.
“Suralaya berasal dari dua kata: Sura yang
berarti berani, dan Laya yang berarti mati atau hancur. Jadi
Suralaya berarti keberanian yang tidak pernah mati. Itu adalah
pesan dari Ki Suralaya kepada kita semua. Bahwa kita harus berani. Bahwa kita
tidak boleh takut pada perubahan. Bahwa kita harus terus bergerak maju,
meskipun banyak rintangan.”
Ilham tertegun. Ia tidak pernah tahu itu. Selama ini ia
mengira Suralaya hanya nama, tanpa makna. Ternyata di balik nama itu tersimpan
pesan yang begitu dalam.
“Mbah Jaya... jadi Mbah mendukung?”
Mbah Jaya tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan.
“Saya tidak mendukung atau menolak. Saya hanya mengingatkan. Jangan pernah lupa
dari mana kau berasal. Jangan pernah malu dengan desamu. Jangan pernah
meninggalkan adat dan budaya. Jika kau bisa menjaga itu, maka pergilah. Jika
tidak, lebih baik kau tinggal.”
“Saya akan menjaga, Mbah. Saya janji.”
“Jangan janji dulu. Buktikan.”
Ilham mengangguk mantap. Ia tidak tahu apakah Mbah Jaya
benar-benar mendukung, tetapi setidaknya ia tidak dihalangi. Dan itu sudah
cukup untuk saat ini.
Sementara Ilham menghadap Mbah Jaya, di balai bambu yang
mulai dibersihkan, Nisa sedang sibuk menata kursi-kursi plastik. Aulia membantu
di sampingnya. Rendi sedang menulis sesuatu di buku catatannya. Angga sedang
memeriksa komputer tua pemberian dari Awan Biru.
Tiba-tiba, seorang pemuda desa masuk. Namanya Dimas, pemuda
yang tidak ikut dalam rencana perjalanan ke Awan Biru karena ia lebih memilih
bekerja di ladang orang tuanya. Dimas adalah pemuda yang tampan, menurut
standar desa: kulit putih bersih, rambut hitam teratur, dan senyum yang manis.
Ia juga dikenal suka mendekati Nisa, meskipun Nisa tidak pernah menanggapi serius.
“Nis, aku dengar kau mau pergi ke Awan Biru?” tanya Dimas
sambil bersandar di pintu. Senyumnya manis, tetapi matanya licik.
Nisa tidak menoleh. “Iya. Ada apa?”
“Jangan pergi, Nis. Di sini saja. Aku bisa buat kau
bahagia.”
Angga yang sedang memeriksa komputer, berhenti sejenak. Ia
menatap Dimas dengan mata tajam. Rendi mengangkat alis. Aulia tersenyum kecil, bukan
karena senang, tetapi karena geli.
Nisa akhirnya menoleh. Wajahnya dingin. “Dimas, aku tidak
butuh kau membuatku bahagia. Aku sudah bahagia dengan caraku sendiri.”
“Tapi Nis...”
“Sudah. Aku sibuk. Kalau tidak ada perlu, lebih baik kau
pulang.”
Dimas tersinggung. Wajahnya memerah. “Karena Ilham, ya?
Karena kau suka sama Ilham?”
Nisa terdiam. Wajahnya tidak berubah, tetapi di dalam
hatinya ada sesuatu yang bergejolak. Apakah ia suka Ilham? Mungkin. Tapi itu
bukan urusan Dimas.
“Itu tidak penting,” kata Nisa akhirnya. “Yang penting aku
ingin desa ini berubah. Kalau kau tidak mau membantu, setidaknya jangan
menghalangi.”
Dimas mendengus, lalu berbalik dan pergi. Langkahnya berat,
seperti orang yang kalah perang.
Angga yang melihat semua itu, berkata pelan, “Nisa,
hati-hati sama Dimas. Orang itu pendendam.”
“Aku tahu,” jawab Nisa. “Tapi aku tidak takut.”
Aulia mendekati Nisa, memegang tangannya. “Kamu baik-baik
saja?”
“Baik. Biarkan saja.”
Namun di dalam hatinya, Nisa bertanya-tanya. Apakah
perasaannya kepada Ilham sudah sejelas itu? Apakah orang lain bisa melihatnya?
Dan yang lebih penting, apakah Ilham juga merasakan hal yang sama?
Ia tidak tahu jawabannya. Tapi ia yakin, waktu akan
menjawab.
Dua minggu berlalu lebih cepat dari yang mereka duga.
Persiapan untuk perjalanan ke Desa Awan Biru berjalan dengan berbagai kendala.
Kendala pertama adalah uang. Meskipun Pak Raditya telah memberikan bantuan, amplop
cokelat yang ternyata berisi lima ratus ribu rupiah, uang itu tidak cukup untuk
ongkos lima orang pulang-pergi, apalagi untuk kebutuhan selama belajar.
Ilham dan teman-temannya bekerja ekstra. Mereka membantu
memetik kopi di kebun tetangga dengan upah harian. Mereka menjual ayam dan
kambing peliharaan. Mereka meminjam dari sanak saudara yang bersedia. Nisa
bahkan menjual kerudung kesayangannya, pemberian almarhumah neneknya, kepada
seorang tetangga yang kebetulan sedang membutuhkan.
“Nisa, jangan jual itu,” kata Ilham ketika mendengar kabar
tersebut. Matanya sedih. “Itu kenang-kenangan dari nenekmu.”
“Tidak apa-apa,” jawab Nisa tegar. “Nenekku pasti bangga
kalau tahu kerudungnya digunakan untuk membiayai perjalanan yang mulia.”
Ilham tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya terdiam,
menghormati keputusan Nisa. Tapi di dalam hatinya, ia berjanji: Suatu
hari nanti, aku akan membelikan kerudung baru untuk Nisa. Kerudung yang lebih
bagus. Sebagai ganti.
Kendala kedua adalah izin dari orang tua. Angga mendapat izin
dengan mudah, ayahnya yang sudah tua hanya berkata, “Pergilah, Nak. Jaga diri.”
Rendi juga mendapat izin, meskipun ibunya menangis. Aulia mendapat izin setelah
berdebat panjang dengan ayahnya yang khawatir.
Ilham sendiri masih belum mendapat izin penuh dari ayahnya.
Pak Hasan belum mengatakan “iya”, tetapi juga belum mengatakan “tidak”. Ia
hanya diam setiap kali Ilham membicarakan rencana itu. Diam yang berat. Diam
yang penuh makna.
Suatu malam, sebelum tidur, Ilham memberanikan diri
bertanya langsung.
“Yah, aku mau pergi lusa. Bapak izinkan?”
Pak Hasan yang sedang duduk di kursi bambu, memandang
putranya dengan mata yang sulit dibaca. “Kau yakin ini yang kau mau?”
“Yakin, Yah.”
“Tidak akan menyesal?”
“Tidak.”
Pak Hasan terdiam cukup lama. Lalu ia berdiri, berjalan ke
kamar, dan kembali dengan membawa sebuah amplop kecil. “Ini tabungan ayah.
Tidak banyak. Tapi semoga cukup.”
Ilham menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Ia tidak
membukanya. Ia tidak perlu melihat isinya untuk tahu bahwa amplop itu berisi
uang hasil keringat ayahnya selama bertahun-tahun.
“Terima kasih, Yah.”
“Jangan berterima kasih. Buktikan bahwa ayah tidak salah
memberi izin.”
Di sela-sela persiapan yang melelahkan, ada juga
momen-momen lucu yang membuat mereka tertawa. Salah satunya terjadi ketika
Aulia mencoba mengajari Angga cara menggunakan komputer.
Angga adalah pemuda yang tangannya terampil memperbaiki
mesin pertanian, traktor, pompa air, mesin penggiling padi, tetapi ketika
berhadapan dengan mouse komputer, tangannya menjadi kaku seperti kayu.
“Klik kiri, Ga,” kata Aulia sabar.
Angga menekan mouse dengan keras hingga hampir pecah.
“Sudah.”
“Bukan begitu. Pelan-pelan. Seperti memegang telur.”
“Telur? Aku tidak pernah memegang telur.”
“Ya sudah, seperti memegang... HP?”
“HP aku tombol. Bukan sentuh.”
Aulia menghela napas. Rendi yang melihat dari samping
tertawa terbahak-bahak. “Angga, kau itu kalau pegang mouse kayak lagi memegang
cangkul. Santai, Ga. Itu benda kecil. Tidak akan lari.”
“Siapa tahu dia lari,” jawab Angga serius.
Semua tertawa. Bahkan Ilham yang sedang sibuk menghitung
uang di sudut ruangan ikut tersenyum.
“Aulia, coba kau ajari dari dasar sekali,” kata Nisa.
“Angga belum pernah pegang komputer sama sekali.”
“Iya, aku tahu. Tapi dasar sekali pun, tetap harus pakai mouse.”
Akhirnya, setelah satu jam berjuang, Angga berhasil
menggerakkan kursor ke arah yang ia inginkan, meskipun masih tersendat-sendat.
Ia tersenyum bangga. “Nah, kan bisa.”
“Bisa, tapi masih jauh dari lancar,” kata Aulia. “Latihan
terus, ya.”
“Iya, Bu Guru.”
“Jangan panggil Bu Guru.”
“Iya, Bu Guru.”
Aulia menggelengkan kepala, tetapi ia tersenyum. Angga
memang kikuk, tetapi ia punya semangat belajar yang tinggi. Itu yang paling
penting.
Malam sebelum keberangkatan, Ilham tidak bisa tidur. Ia
duduk di beranda rumahnya, ditemani secangkir kopi hitam yang sudah dingin
karena tidak diminum. Matanya menatap langit yang gelap, di mana
bintang-bintang berkelap-kelip seperti berlian yang tersebar tanpa pola.
“Tidak tidur?” suara Nisa dari balik pagar.
Ilham menoleh. Nisa berdiri di depan pagar rumahnya, mengenakan
jaket tebal yang kebesaran, mungkin jaket ayahnya. Wajahnya tidak jelas dalam
gelap, tetapi suaranya jelas.
“Kau juga tidak tidur?” tanya Ilham.
“Tidak bisa. Banyak pikiran.”
“Masuklah.”
Nisa membuka pagar, berjalan mendekat, lalu duduk di
samping Ilham. Mereka berdua terdiam beberapa saat, menikmati keheningan malam.
“Ham,” panggil Nisa akhirnya.
“Hm?”
“Kamu takut?”
“Takut. Tapi juga tidak sabar.”
“Tidak sabar untuk apa?”
“Untuk memulai. Untuk belajar. Untuk membuktikan bahwa kita
bisa.”
Nisa tersenyum. “Aku juga. Aku tidak sabar untuk melihat
desa kita berubah.”
Mereka terdiam lagi. Angin malam berhembus, membawa aroma
kopi dan tanah basah. Di kejauhan, suara azan subuh belum terdengar, karena
subuh masih beberapa jam lagi.
“Nisa,” panggil Ilham tiba-tiba.
“Hm?”
“Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk percaya padaku. Untuk
mau ikut. Untuk tidak menyerah.”
Nisa menoleh. Wajahnya berseri-seri di bawah cahaya bulan.
“Aku tidak perlu diucapkan terima kasih. Aku melakukan ini untuk desa, bukan
untukmu.”
“Tapi tetap saja. Aku berhutang budi.”
“Bayar nanti. Kalau desa sudah berubah.”
Ilham tersenyum. “Setuju.”
Mereka berdua duduk di beranda hingga larut malam,
berbicara tentang banyak hal, tentang masa lalu, tentang masa depan, tentang
mimpi, tentang ketakutan, tentang harapan. Ketika Nisa akhirnya pamit pulang,
langit timur mulai memutih. Fajar akan segera tiba.
Pagi keberangkatan tiba. Langit cerah, biru bersih tanpa
awan, seolah-olah alam ikut merestui perjalanan mereka. Matahari belum terlalu
tinggi, sinarnya masih keemasan dan ramah di kulit. Burung-burung berkicau di
pepohonan, menyambut hari baru dengan suara-suara riang yang tidak pernah
lelah.
Ilham, Nisa, Angga, Rendi, dan Aulia berkumpul di halaman
balai desa. Tas-tas mereka tidak besar, hanya berisi pakaian seadanya, buku
catatan, dan bekal dari ibu-ibu desa. Di tangan Ilham, ada sebungkus kopi bubuk
khas Suralaya, pesan dari ayahnya yang tidak diucapkan tetapi tersirat.
Pak Raditya berdiri di depan mereka, ditemani beberapa
warga yang ikut mengantar. Mbah Jaya tidak datang, tetapi pesannya disampaikan
melalui Pak Sastro: “Jaga nama baik desa. Jangan lupa adat. Cepat pulang.”
Bu Laila menangis. Ia memeluk Ilham erat-erat, lalu
melepaskannya dengan berat hati. “Jaga makan. Jangan lupa salat. Jangan
dekat-dekat dengan hal-hal yang tidak baik.”
“Iya, Bu.”
“Dan... jangan lupa desa ini.”
“Tidak akan, Bu.”
Pak Hasan tidak ikut mengantar. Ia sudah pergi ke kebun
sejak subuh, seperti biasa. Tapi di sela-sela ransel Ilham, ada sebungkus kopi
bubuk yang dibungkus daun pisang. Tidak ada pesan tertulis. Tidak ada kata-kata
perpisahan. Tapi Ilham tahu itu adalah restu ayahnya.
“Kita berangkat,” kata Ilham.
Mereka berjalan meninggalkan Desa Suralaya. Langkah mereka
mantap, tidak tergesa-gesa, seperti orang yang tahu persis ke mana mereka akan
pergi. Di belakang mereka, Gunung Merbabu menjulang gagah, diselimuti kabut
tipis yang mulai terurai terkena sinar matahari.
Bu Laila masih berdiri di depan pagar rumahnya, mengusap
air mata dengan ujung sarungnya. Pak Raditya menghela napas, lalu tersenyum
kecil. “Semoga perjalanan ini membawa berkah,” bisiknya.
Di kejauhan, dari balik jendela rumahnya, Mbah Jaya
mengamati rombongan kecil itu. Ia tidak melambai. Ia hanya diam. Tapi di dalam
hatinya, ia berdoa. Jaga mereka, Ya Allah. Jaga anak-anak muda ini.
Mereka adalah harapan desa ini.
Dan di atas semuanya, di ketinggian 3.145 meter, Gunung
Merbabu berdiri tenang, menyaksikan, seolah-olah berkata: Perjalanan
sesungguhnya baru saja dimulai.
BAB 5
Menyusun Langkah
Perjalanan dari Desa Suralaya ke Desa Awan Biru tidaklah
dekat. Tidak ada bus langsung, tidak ada jalur yang mulus, tidak ada
rambu-rambu yang memberi petunjuk jalan. Yang ada hanyalah jalan tanah berbatu
yang berkelok-kelok mengikuti kontur bukit, kadang naik, kadang turun, kadang
lurus sebentar lalu berbelok tajam tanpa peringatan. Jalan ini adalah jalan
yang sama yang dilalui oleh rombongan KPAAB seminggu yang lalu, hanya saja
sekarang arahnya terbalik, dari Suralaya menuju Awan Biru, bukan sebaliknya.
Ilham dan rombongan berangkat pukul enam pagi, saat
matahari baru saja muncul dari balik Gunung Merapi. Sinar keemasannya menyapu
lembah-lembah, mengusir kabut yang masih bergelayut manja di antara pepohonan
pinus. Udara masih dingin, begitu dingin hingga napas yang keluar dari mulut
berubah menjadi uap putih tipis yang segera lenyap. Namun dingin itu tidak
terasa mengganggu, justru menyegarkan, seperti air dari mata air suci yang
membersihkan tubuh dan jiwa sebelum memulai perjalanan panjang.
Rombongan kecil itu terdiri dari lima orang: Ilham sebagai
pemimpin, Nisa sebagai wakil, Angga sebagai pengatur logistik, Rendi sebagai
dokumentator, dan Aulia sebagai ahli teknis. Masing-masing membawa ransel yang
tidak terlalu besar, cukup untuk pakaian ganti, bekal makanan, buku catatan,
dan beberapa peralatan sederhana. Di tangan Ilham, ada sebatang bambu yang
dijadikan tongkat, pemberian dari Pak Raditya. “Untuk membantu saat jalan
terjal,” kata kepala desa itu ketika memberikannya. “Bambu ini dari kebun desa.
Semoga memberkati.”
“Kita akan sampai jam berapa, Ham?” tanya Nisa setelah
berjalan sekitar satu jam. Wajahnya sudah mulai berkeringat, meskipun udara
masih dingin. Keringat itu membasahi dahi dan pelipisnya, menetes perlahan ke
pipi, lalu jatuh ke tanah yang masih basah oleh embun.
“Sekitar jam dua belas, kalau tidak ada kendala,” jawab
Ilham sambil memandangi jalan di depan. Matanya teliti, memperhatikan setiap
batu, setiap akar pohon yang menjulur, setiap tikungan yang tajam. “Tapi kita
harus istirahat di pos-pos tertentu. Jangan sampai kelelahan.”
“Aku kuat,” kata Angga dari belakang. Suararnya datar,
seperti biasa. Namun langkahnya mantap, tidak menunjukkan tanda-tanda
kelelahan. Angga memang terbiasa berjalan jauh. Setiap hari ia berjalan dari
rumahnya ke kebun orang tuanya yang terletak hampir dua kilometer dari desa,
melewati jalan berbatu dan tanjakan terjal.
“Angga, kau itu kayak robot,” celetuk Rendi sambil
terengah-engah. “Tidak pernah capek.”
“Capek. Tapi tidak perlu ditunjukkan.”
“Itulah gunanya robot. Tidak perlu menunjukkan perasaan.”
Aulia yang berjalan di belakang Rendi tersenyum kecil. Ia
tidak banyak bicara, tetapi matanya selalu mengamati sekeliling. Sesekali ia
membuka peta yang diberikan oleh Guntur, peta jalur pendakian yang sudah usang
tetapi masih bisa dibaca. Peta itu adalah salah satu oleh-oleh paling berharga
dari rombongan KPAAB.
Mereka berhenti sekitar pukul sembilan di sebuah pos
peristirahatan sederhana, sebuah gubuk bambu yang didirikan oleh warga setempat
untuk para pejalan kaki. Gubuk itu beratap rumbia, berdinding anyaman bambu
yang sudah berlubang di beberapa tempat, dan berlantaikan tanah yang
dipadatkan. Di dalamnya ada bangku panjang dari balok kayu yang sudah agak
lapuk, tetapi masih cukup kuat untuk diduduki.
“Istirahat sebentar,” kata Ilham sambil melepas ranselnya.
Ia duduk di bangku kayu, menghela napas lega. “Minum dulu. Makan seadanya.
Jangan sampai dehidrasi.”
Nisa membagikan air minum dari botol-botol plastik yang
mereka bawa. Airnya sudah agak hangat karena terpapar sinar matahari, tetapi
masih segar. Ia juga membagikan nasi bungkus, nasi putih dengan lauk telur
dadar dan tempe goreng, dibungkus daun pisang. Masih hangat karena baru dimasak
subuh tadi oleh Bu Laila dan ibu-ibu lainnya.
“Ini enak,” kata Angga sambil mengunyah. Matanya menyipit
menikmati. “Telurnya gurih.”
“Ibu yang masak,” kata Ilham. “Pesanan khusus untuk
perjalanan.”
“Ibu kamu baik,” kata Rendi. “Kalau ibuku, dia hanya
bilang, ‘Bawa bekal sendiri, aku sibuk.’”
“Karena kamu jarang bantu ibu,” ledek Nisa. “Makanya ibu
malas masakin.”
“Aku bantu kok. Setiap hari.”
“Bantu apa? Bantu makan?”
“Itu juga bantu. Namanya bantu menghabiskan.”
Semua tertawa. Tawa itu menggema di gubuk bambu yang
sederhana, memantul dari dinding ke dinding, lalu keluar melalui celah-celah
anyaman, terbang bersama angin pagi. Bagi mereka, tawa adalah bekal yang tidak
kalah penting dari nasi dan lauk. Tawa adalah bahan bakar bagi jiwa yang lelah.
Tawa adalah pengingat bahwa di tengah perjuangan, mereka masih bisa bahagia.
Perjalanan dilanjutkan setelah istirahat tiga puluh menit.
Matahari semakin meninggi, dan udara mulai terasa panas. Tidak panas seperti di
dataran rendah, ketinggian masih memberi kesejukan, tetapi cukup untuk membuat
keringat mengucur deras di tubuh mereka.
Jalan setapak mulai menanjak. Tanah berbatu dengan
kemiringan sekitar tiga puluh derajat, membuat setiap langkah terasa berat.
Otot-otot betis mereka berdenyut-denyut, dan napas mulai tersengal-sengal.
Aulia yang paling tidak terbiasa dengan perjalanan jauh, mulai tertinggal.
“Aulia, kamu baik-baik saja?” tanya Nisa sambil menoleh.
“Baik... kok,” jawab Aulia terengah-engah. Wajahnya merah,
keringat membasahi seluruh wajahnya. “Hanya... sedikit... lelah.”
“Istirahat dulu,” kata Ilham. “Kita tidak perlu
terburu-buru.”
“Tapi kita harus sampai sebelum sore,” protes Angga. “Kalau
terlalu malam, kita tidak akan punya waktu untuk istirahat sebelum besok.”
“Tidak apa-apa. Lebih baik lambat sampai daripada jatuh
sakit di jalan.”
Mereka berhenti di pinggir jalan. Ilham memberikan botol
air kepada Aulia. “Minum. Jangan langsung banyak-banyak. Sedikit demi sedikit.”
Aulia meminum air itu perlahan. Rasa segar menyebar dari
tenggorokan ke seluruh tubuh. Ia menghela napas lega.
“Maaf, aku jadi beban,” kata Aulia pelan. Matanya menunduk,
tidak berani menatap yang lain.
“Kamu bukan beban,” kata Nisa tegas. “Kita tim. Tim tidak
saling menyalahkan. Tim saling membantu.”
“Nisa benar,” sambung Rendi. “Kalau kamu lelah, kita
istirahat. Kalau kamu sakit, kita rawat. Itu artinya tim.”
Aulia tersenyum. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak
menangis. Ia hanya mengangguk, lalu berdiri dengan susah payah.
“Aku siap,” katanya.
“Yakin?” tanya Ilham.
“Yakin.”
Mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini, Angga berjalan di
belakang Aulia, siap sedia jika Aulia terjatuh. Rendi di sampingnya, sesekali
menyemangati. Ilham di depan, memandu jalan. Nisa di belakang semua, memastikan
tidak ada yang tertinggal.
Kerja sama tim yang sederhana, tetapi efektif. Mereka sadar
bahwa perjalanan ini bukan tentang siapa yang tercepat. Ini tentang sampai
bersama-sama.
Matahari mulai condong ke barat ketika mereka akhirnya
melihat papan kayu besar di pintu masuk Desa Awan Biru:
“Selamat Datang di Desa Awan Biru , Desa Digital yang
Berbudaya”
Ilham berhenti sejenak, memandangi papan itu dengan mata
berbinar. Rasanya seperti mimpi. Seminggu yang lalu, ia hanya mendengar cerita
tentang desa ini dari Joko dan rombongan KPAAB. Sekarang, ia berdiri di pintu
masuknya, siap untuk belajar, siap untuk berubah, siap untuk membawa pulang
ilmu yang akan mengubah desanya.
“Kita sampai,” bisiknya. Suaranya bergetar.
“Akhirnya,” kata Nisa sambil mengusap keringat di dahinya.
“Aku hampir tidak percaya.”
“Ini nyata,” kata Angga. “Kita ada di sini.”
Aulia menghela napas lega. Rendi sudah membuka buku
catatannya dan mulai menulis dengan cepat, mencatat kesan pertama, mencatat
suasana, mencatat apa pun yang menarik perhatiannya.
Desa Awan Biru tidak mewah. Tidak seperti kota. Tidak ada
gedung-gedung tinggi, tidak ada mal, tidak ada lampu-lampu neon yang menyala
terang di malam hari. Namun ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa
dijelaskan dengan kata-kata, tetapi bisa dirasakan dengan hati.
Jalan desa tertata rapi, tidak hanya di jalan utama, tetapi
juga di gang-gang kecil. Tidak berlubang seperti di desanya, meskipun juga
bukan aspal mulus. Ada perkerasan batu di beberapa ruas, ada coran semen di
beberapa ruas lainnya. Mural-mural sederhana namun indah menghiasi dinding
balai desa dan beberapa rumah warga. Mural itu tidak dibuat oleh seniman
profesional, tetapi oleh pemuda-pemuda desa sendiri. Ada gambar gunung, ada
gambar petani sedang menanam padi, ada gambar anak-anak bermain layang-layang,
ada gambar tarian adat. Semuanya berwarna-warni, semuanya hidup, semuanya
bercerita tentang desa ini.
Anak-anak kecil duduk di teras rumah sambil membaca buku
cerita bergambar, sesekali menatap tablet yang dipegang oleh seorang pemuda
yang duduk di samping mereka. Mereka tidak takut pada teknologi, tetapi juga
tidak lupa pada buku. Mereka belajar dengan cara yang seimbang, dengan cara
yang membuat mereka tetap menjadi anak-anak desa.
Beberapa ibu-ibu sibuk memotret anyaman bambu dengan latar
belakang pemandangan gunung. Mereka menggunakan ponsel-ponsel sederhana, tetapi
hasil foto mereka tidak sederhana. Mereka sudah belajar tentang pencahayaan,
tentang komposisi, tentang sudut pandang. Mereka tidak hanya menjual anyaman,
tetapi juga cerita di balik anyaman itu.
“Subhanallah,” bisik Nisa. Matanya membesar, mulutnya
setengah terbuka. “Ini masih desa?”
“Ini desa yang memilih untuk tidak diam,” kata Ilham.
Mereka tidak perlu menunggu lama. Dari kejauhan, seorang
lelaki muda berkacamata tebal berjalan cepat mendekati mereka. Di belakangnya,
beberapa orang lain, wajah-wajah yang sudah tidak asing bagi Ilham karena ia
melihat mereka dalam foto-foto yang dikirim oleh Joko.
“Ilham!” sapa lelaki itu dengan suara ceria. “Kau datang!
Joko sudah bilang dari kemarin. Ayo, ayo, masuk!”
Lelaki itu adalah Herman, ketua Komunitas Digital Desa Awan
Biru. Kacamatanya tebal seperti dasar botol, tetapi matanya di balik kaca itu
sangat tajam. Rambutnya agak panjang dan sedikit berantakan, seolah-olah ia
terlalu sibuk bekerja untuk memperhatikan penampilan. Ia mengenakan kaus oblong
polos warna hitam dan jaket jeans lusuh yang sudah banyak bolong di siku. Di
tangannya ada laptop yang tampak sudah lama, dengan stiker-stiker bertuliskan
kata-kata motivasi.
“Mas Herman?” tanya Ilham.
“Iya. Panggil Herman saja. Tidak usah ‘Mas’. Kita semua
teman di sini.”
Mereka berjabat tangan. Jabatan tangan Herman kuat dan
hangat, seperti jabatan tangan orang yang tulus.
“Ini teman-temanku,” kata Ilham sambil menunjuk satu per
satu. “Nisa, Angga, Rendi, Aulia.”
“Selamat datang, selamat datang,” sapa Herman kepada mereka
semua. “Kami sudah siapkan tempat untuk kalian. Tidak mewah, tapi nyaman. Rumah
warga yang bersedia menerima tamu. Kalian tidak keberatan, kan?”
“Tidak sama sekali,” kata Nisa cepat. “Kami tidak butuh
kemewahan. Kami butuh ilmu.”
Herman tersenyum. “Bagus. Itu semangat yang kami cari.”
Di belakang Herman, beberapa anggota komunitas digital ikut
menyambut. Ada Wati, perempuan muda dengan rambut pendek dan senyum lebar, yang
bertugas mengajar fotografi produk. Ada Budi, lelaki kurus dengan tangan penuh
kapalan, yang ahli dalam pemasaran online. Ada Lina, perempuan berjilbab dengan
mata cekung karena sering begadang, yang mengelola media sosial desa. Ada Dani,
remaja laki-laki dengan bopeng di wajah, yang bisa mengedit video dengan handal
meskipun hanya menggunakan HP.
“Kami tidak banyak,” kata Herman sambil memandang timnya.
“Tapi kami kompak. Dan kami tidak pernah berhenti belajar. Karena dunia digital
itu berubah setiap hari. Yang tidak berubah hanyalah semangat.”
Hari pertama belajar dimulai keesokan paginya. Mereka
berkumpul di ruang RKDD, Ruang Komunitas Digital Desa, sebuah ruangan sederhana
yang menyatu dengan Kantor Desa Awan Biru. Dindingnya tidak diplester, bata
merahnya dibiarkan terbuka, tetapi itu justru memberi kesan hangat dan alami.
Papan-papan pengumuman dipasang di dinding, berisi grafik perkembangan,
foto-foto kegiatan, jadwal pelatihan, dan daftar produk unggulan desa.
“Hari ini kita belajar dasar-dasar,” kata Herman di depan
papan tulis putih. “Apa itu internet, apa itu media sosial, apa itu pemasaran
digital. Tidak usah takut dengan istilah-istilah asing. Anggap saja seperti
belajar bahasa baru. Awalnya sulit, tapi lama-lama terbiasa.”
Ilham duduk di barisan depan, matanya fokus. Nisa di
sampingnya, sesekali mencatat. Rendi di belakang, menulis dengan cepat. Aulia
di pojok, sudah siap dengan laptop pinjaman. Angga... Angga sedang berjuang
dengan mouse.
“Klik ikon browser, Ga,” kata Aulia pelan.
“Ikon yang mana?” tanya Angga bingung.
“Yang bundar biru itu.”
“Ini?”
“Bukan. Itu ikon speaker. Nanti komputernya bunyi.”
“Oh.” Angga mencoba lagi, tetapi kali ini ia malah mengklik
kanan, sehingga muncul menu pop-up yang membuatnya panik. “Aulia, ini muncul
banyak tulisan! Komputernya rusak?”
“Tidak rusak. Itu menu. Klik kiri saja di luar menu.”
“Klik kiri di mana?”
“Di mana saja. Asal tidak di menu.”
Angga mengklik kiri di sembarang tempat. Menu pop-up itu
hilang. Ia menghela napas lega. “Aku tidak suka komputer.”
“Tapi kamu harus belajar,” kata Aulia sabar.
“Aku tahu. Tidak suka bukan berarti tidak mau belajar.”
Herman yang melihat dari depan tersenyum. “Angga, jangan
khawatir. Semua orang pernah seperti kamu. Dulu, waktu pertama kali belajar,
aku juga sering salah klik. Pernah satu kali, aku tanpa sengaja menghapus file penting
desa. Tiga hari kerja hilang. Aku hampir nangis.”
“Lalu bagaimana?” tanya Angga.
“Aku belajar dari kesalahan. Sekarang, sebelum menghapus
apa pun, aku selalu backup. Itu pelajaran paling berharga.”
Tawa kecil terdengar di ruangan. Tawa yang menghangatkan.
Tawa yang mengusir rasa takut akan kegagalan.
Di sela-sela istirahat, ketika yang lain sedang makan siang
di kantin sederhana di halaman balai desa, Ilham dan Nisa duduk berdua di bawah
pohon mangga yang rindang. Daun-daun mangga bergoyang-goyang ditiup angin,
menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak di tanah.
“Kamu paham materi tadi?” tanya Nisa sambil memegang buku
catatannya.
“Sebagian,” jawab Ilham. “Tapi masih banyak yang bikin
pusing. Istilah-istilah asing. SEO, engagement, algoritma. Aku tidak tahu
artinya.”
“Aku juga. Tapi Herman bilang, kita tidak perlu hafal
semua. Yang penting paham konsep dasarnya. Nanti juga terbiasa.”
Ilham mengangguk. Ia memandang Nisa, wajah Nisa yang tegas
itu kini terlihat lembut di bawah sinar matahari siang yang tersaring oleh
daun-daun mangga. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang membuat Ilham lupa akan
pusingnya materi pelajaran.
“Nisa,” panggil Ilham pelan.
“Hm?”
“Kenapa kau mau ikut? Jujur. Bukan karena desa atau
perubahan. Tapi kenapa?”
Nisa terdiam sejenak. Ia menunduk, memandangi rumput di
bawah kakinya. Jari-jarinya menggenggam erat ujung buku catatannya.
“Karena aku tidak ingin kehilanganmu,” jawabnya akhirnya.
Suarara pelan, nyaris tenggelam oleh suara angin.
Ilham terkejut. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Kehilangan aku? Maksudmu?”
“Maksudku... kalau kau pergi sendirian, aku takut kau tidak
akan kembali. Bukan secara fisik. Tapi secara... perasaan. Aku takut kau
berubah menjadi orang yang berbeda. Aku takut kau lupa dengan desa, lupa dengan
teman-teman, lupa dengan aku.”
Ilham tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya diam,
memandangi Nisa, merasakan hangatnya matahari yang menyentuh kulitnya,
merasakan dinginnya bayangan yang melindunginya.
“Nisa, aku tidak akan lupa. Aku tidak akan berubah.
Setidaknya, tidak menjadi orang yang melupakan asal-usulnya.”
“Janji?”
“Janji.”
Mereka berdua tersenyum. Tidak ada pelukan. Tidak ada
kata-kata manis. Hanya senyum. Tapi bagi mereka, itu sudah cukup.
Sementara Ilham dan Nisa berbicara di bawah pohon mangga,
Rendi sedang sibuk menulis di buku catatannya. Tidak ada yang istimewa, Rendi
selalu sibuk menulis. Tapi kali ini, ia menulis dengan sangat cepat,
seolah-olah ada deadline yang harus ia kejar.
“Rendi, kamu nulis apa terus?” tanya Angga yang duduk di
sampingnya.
“Cerita,” jawab Rendi tanpa menoleh.
“Cerita apa?”
“Cerita perjalanan kita. Dari awal sampai sekarang. Setiap
detail. Setiap percakapan. Setiap ekspresi wajah.”
“Buat apa?”
“Buat kenang-kenangan. Biar kelak kita ingat bahwa kita
pernah berjuang.”
Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu itu
terlalu romantis, Ren. Hidup ini bukan novel.”
“Hidup ini adalah novel. Setiap orang punya cerita. Hanya
saja, tidak semua orang menuliskannya.”
“Ya sudah, tulis saja. Tapi jangan lupa makan.”
“Makan nanti. Cerita tidak bisa ditunda.”
Angga menggelengkan kepala, lalu mengambil nasi bungkusnya
dan mulai makan dengan lahap. Rendi tetap menulis, tidak terganggu oleh aroma
nasi yang menggoda.
Malam harinya, setelah magrib, Herman mengadakan diskusi
santai di teras Kantor Desa. Lampu minyak dinyalakan, listrik sedang padam,
seperti biasa. Api unggun kecil dinyalakan di halaman, cukup untuk
menghangatkan dan menerangi.
“Kita tidak hanya belajar teknologi,” kata Herman sambil
menyeduh kopi. “Kita juga belajar tentang desa. Tentang budaya. Tentang jati
diri. Karena teknologi tanpa budaya akan kehilangan arah. Budaya tanpa
teknologi akan tertinggal.”
Ilham yang duduk di depan bertanya, “Bagaimana cara
menggabungkan teknologi dengan budaya, Mas Herman?”
“Contoh sederhana: tarian tradisional kita, Tari Gantar.
Dulu, hanya ditarikan setahun sekali pada acara panen. Sekarang, kami rekam,
kami unggah ke YouTube, kami bagikan ke media sosial. Hasilnya? Orang luar desa
jadi tahu. Ada yang tertarik belajar. Ada yang datang ke desa untuk melihat
langsung. Budaya tidak hanya lestari, tetapi juga dikenal.”
“Tapi tidak ada yang protes? Tidak ada yang bilang ini
tidak sopan?” tanya Nisa.
“Awalnya ada. Para tetua khawatir tarian sakral ini tidak
boleh dilihat sembarang orang. Tapi setelah kami jelaskan bahwa kami hanya
merekam tarian yang sudah biasa dipentaskan di acara-acara tertentu, bukan yang
sakral, mereka paham. Sekarang, para tetua malah bangga karena tarian mereka
dilihat orang banyak.”
“Kuncinya komunikasi,” kata Budi, ahli pemasaran online.
“Jangan asal rekam dan unggah. Harus ada izin, ada penjelasan, ada rasa hormat.
Kalau itu dilakukan, warga tidak akan keberatan.”
Wati, yang mengajar fotografi produk, ikut bersuara. “Sama
seperti memotret. Jangan asal motret orang tanpa izin. Jangan asal motret
barang tanpa konteks. Setiap foto harus punya cerita. Setiap cerita harus punya
penghormatan pada subjeknya.”
Diskusi berlangsung hingga larut malam. Tawa dan canda
sesekali pecah. Ada yang bercerita tentang pengalaman lucu saat belajar
komputer, ada yang bercerita tentang kegagalan yang hampir membuat mereka
menyerah, ada yang bercerita tentang keberhasilan kecil yang membuat mereka
tersenyum.
Ilham mendengarkan semuanya dengan saksama. Ia belajar
bahwa perubahan tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diusahakan. Ia harus
diperjuangkan. Dan perjuangan itu tidak selalu berat, kadang ia diselingi tawa,
kadang ia diwarnai canda, kadang ia dihangatkan oleh persahabatan.
Sementara Ilham dan kawan-kawan belajar di Awan Biru, di
Suralaya, kisah lain mulai berkembang. Joko, yang setelah pendakian kembali ke
desanya, tidak bisa melupakan Ilham. Ia sering bertanya-tanya, apakah pemuda
itu benar-benar akan datang? Apakah ia serius? Apakah ia akan berhasil?
Suatu sore, ketika ia sedang duduk di teras kantor desa
Awan Biru, Anita mendekatinya. Anita, sekretaris KPAAB yang rapi dan
perfeksionis, biasanya tidak banyak bicara di luar urusan administrasi. Tapi
sore itu, ia duduk di samping Joko tanpa diminta.
“Joko,” panggilnya.
“Ya?”
“Kamu sering melamun akhir-akhir ini. Ada apa?”
Joko tersenyum tipis. “Memikirkan Ilham. Apakah dia sudah
sampai di Awan Biru? Apakah dia belajar dengan sungguh-sungguh? Apakah dia akan
berhasil?”
“Kamu terlalu khawatir,” kata Anita. “Ilham sudah dewasa.
Dia bisa menjaga dirinya sendiri.”
“Aku tahu. Tapi aku merasa bertanggung jawab. Akulah yang
bercerita tentang Awan Biru. Akulah yang memberinya harapan. Kalau dia gagal,
aku merasa gagal juga.”
Anita menatap Joko. Matanya lembut, kelembutan yang jarang
ia tunjukkan. “Kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab atas hidup orang lain,
Joko. Setiap orang punya jalannya sendiri. Yang bisa kamu lakukan adalah
mendukung, bukan mengendalikan.”
Joko menoleh. “Kamu bijak, Anita.”
“Aku tidak bijak. Aku hanya perempuan yang suka mengamati.”
Mereka berdua terdiam. Sore itu, langit berwarna jingga
keemasan. Angin berhembus pelan, membawa aroma kopi dan tanah basah. Di
kejauhan, Gunung Merbabu mulai diselimuti kabut.
“Anita,” panggil Joko tiba-tiba.
“Hm?”
“Aku senang kamu ada di sini.”
Anita tersenyum. “Aku juga.”
Tidak ada yang lebih dari itu. Tapi bagi mereka, itu sudah
cukup. Persahabatan yang perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih. Sesuatu
yang tidak perlu diucapkan, tetapi bisa dirasakan.
Selama satu minggu penuh, Ilham dan kawan-kawan belajar
tanpa henti. Setiap pagi, mereka sudah berkumpul di ruang RKDD sebelum pukul
tujuh. Setiap malam, mereka baru pulang ke rumah masing-masing setelah pukul
sembilan. Tidak ada hari libur. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan.
Materi yang dipelajari sangat banyak: fotografi produk,
teknik menulis deskripsi yang menarik, cara menggunakan media sosial untuk
promosi, strategi pemasaran digital sederhana, pengemasan cerita desa,
pengelolaan data administrasi desa secara digital, dan masih banyak lagi.
Tantangan terbesar adalah Aulia dan Angga yang harus
belajar dari nol. Aulia memang sudah bisa mengoperasikan komputer, tetapi
pengetahuannya terbatas. Angga bahkan belum pernah menyentuh komputer
sebelumnya. Namun mereka tidak menyerah. Setiap malam, setelah diskusi selesai,
mereka berlatih bersama, Aulia mengajari Angga, Angga bertanya tanpa malu.
“Ga, kau itu sabar banget,” kata Rendi suatu malam ketika
melihat Angga berulang kali salah klik tetapi tidak pernah marah.
“Tidak ada gunanya marah,” jawab Angga. “Komputer tidak
akan takut kalau aku marah. Yang ada, komputernya rusak karena aku pukul.”
“Pernah memukul komputer?”
“Belum. Tapi hampir.”
Tawa kecil pecah. Walaupun lelah, mereka tetap bisa
tertawa. Itulah kekuatan persahabatan.
Malam terakhir di Awan Biru, Herman mengadakan acara
perpisahan sederhana. Api unggun dinyalakan di halaman balai desa. Kopi dan
makanan ringan disajikan. Semua anggota komunitas digital hadir, bersama dengan
warga desa yang selama ini membantu.
“Ilham,” kata Herman sambil berdiri. “Kami tidak bisa
mengajarkan semuanya dalam satu minggu. Tapi kami sudah memberikan dasar-dasar.
Sekarang, tugas kalian di rumah adalah mengembangkannya. Jangan takut salah.
Jangan takut gagal. Yang penting terus belajar.”
Ilham berdiri. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Mas
Herman. Terima kasih untuk semuanya. Kami tidak akan melupakan kebaikan
kalian.”
“Jangan berterima kasih. Buktikan bahwa apa yang kalian
pelajari di sini tidak sia-sia.”
Mereka berpelukan satu per satu. Herman memeluk Ilham erat.
Wati memeluk Nisa. Budi berjabat tangan dengan Angga. Lina memberikan buku
catatan kepada Rendi. Dani memberikan flashdisk berisi materi pelatihan kepada
Aulia.
“Jangan lupa,” kata Herman sebelum mereka berpisah. “Desa
kalian punya potensi. Kopi Suralaya enak. Anyaman Suralaya indah. Cerita
Suralaya unik. Tugas kalian adalah membantu warga menceritakannya kepada dunia.
Bukan mengubah desa menjadi kota, tapi membuat desa dikenal dengan keunikannya
sendiri.”
Ilham mengangguk mantap. “Saya tidak akan lupa.”
Malam itu, ketika mereka berjalan kembali ke rumah
masing-masing, Ilham memandangi langit yang bertabur bintang. Di kejauhan,
Gunung Merbabu berdiri tenang, menyaksikan.
Perjalanan pulang akan segera dimulai, pikirnya. Dan setelah itu, perjuangan
sesungguhnya.
BAB 6
Suara yang Menolak
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun ketika rombongan
kecil dari Suralaya akhirnya tiba di pintu masuk desa mereka. Perjalanan pulang
dari Awan Biru terasa lebih singkat daripada perjalanan pergi, bukan karena
jaraknya yang berkurang, tetapi karena hati mereka lebih ringan. Ransel mereka
tidak bertambah berat, tetapi isi kepala mereka berlipat ganda. Buku catatan
Rendi tebal dengan coretan-coretan baru. Memori kamera ponsel Nisa penuh dengan
foto-foto hasil latihan. Flashdisk kecil di saku Aulia berisi materi pelatihan
yang tak ternilai. Dan di dada Ilham, harapan yang semula hanya sebesar biji
kopi, kini telah tumbuh menjadi tunas yang mulai merambat ke seluruh relung
hatinya.
Papan nama Desa Suralaya yang sederhana, hanya sepotong
kayu jati tua dengan tulisan cat hitam yang mulai pudar, menyambut mereka
seperti biasa. Namun kali ini, Ilham melihatnya dengan cara yang berbeda. Ia
tidak lagi melihat papan tua yang lusuh. Ia melihat kanvas kosong yang menunggu
untuk dilukis. Ia tidak lagi melihat desa yang tertinggal. Ia melihat tanah
yang subur untuk menanam benih perubahan.
“Kita sampai,” kata Ilham pelan, nyaris seperti bisikan.
Matanya menjelajahi setiap sudut desa yang sudah ia kenal sejak lahir, rumah-rumah
kayu dengan dinding anyaman bambu, pepohonan kopi yang berjajar di lereng,
kabut tipis yang mulai turun dari puncak Merbabu. Semuanya sama, tetapi terasa
berbeda.
“Akhirnya,” Nisa menghela napas panjang sambil menurunkan
ransel dari punggungnya. Bahunya terasa pegal, punggungnya terasa kaku, tetapi
matanya berbinar-binar. “Aku hampir tidak percaya kita sudah kembali. Rasanya
seperti mimpi.”
“Bukan mimpi,” Angga berkata dengan suara datarnya yang
khas. Ia menepuk-nepuk ranselnya yang berisi buku catatan tebal berisi
sketsa-sketsa peralatan komputer yang ingin ia kumpulkan. “Ini nyata. Kita
sudah belajar. Sekarang saatnya bekerja.”
Rendi sudah membuka buku catatannya dan mulai menulis
dengan cepat, mencatat detik kedatangan, mencatat ekspresi wajah teman-temannya,
mencatat suasana desa yang sunyi tetapi hangat. Tangannya bergerak seperti
tidak pernah lelah. “Bab baru dimulai,” katanya sambil tersenyum. “Bab tentang
implementasi.”
Aulia yang paling pendiam di antara mereka, hanya tersenyum
kecil. Ia memegang flashdisk di sakunya, flashdisk kecil berwarna merah yang
berisi semua materi pelatihan dari Awan Biru. Benda itu terasa berat di
tangannya, bukan karena fisiknya, tetapi karena bobot tanggung jawab yang ia
pikul. Ia adalah satu-satunya yang paling menguasai teknis komputer di kelompok
ini. Jika ada yang salah, ia yang akan disalahkan. Jika ada yang rusak, ia yang
akan diperbaiki. Tapi ia tidak takut. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri:
tidak akan mundur.
Dari kejauhan, seorang anak kecil berlari menghampiri
mereka. “Mas Ilham pulang! Mbak Nisa pulang!” teriaknya dengan suara riang.
Anak itu adalah Tono, anak laki-laki berusia sembilan tahun yang dulu hampir
menjatuhkan mouse karena terlalu bersemangat. Ia melompat-lompat di depan
mereka, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
“Iya, Ton. Kami pulang,” kata Ilham sambil mengelus rambut
Tono. “Kamu rindu?”
“Rindu, Mas! Aku mau lihat komputernya lagi!”
“Nanti, ya. Kita benahi dulu semuanya.”
Tono mengangguk cepat, lalu berlari kembali ke arah rumah-rumah,
menyebarkan kabar bahwa para perantau kecil telah pulang. Dalam hitungan menit,
pintu-pintu rumah mulai terbuka. Wajah-wajah mulai bermunculan dari balik
jendela. Ibu-ibu yang sedang menjemur kopi berhenti sejenak, menatap ke arah
rombongan dengan senyum tipis. Bapak-bapak yang sedang duduk di warung Mbah
Karyo mengangkat kepala, menatap dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara rasa
ingin tahu dan kecurigaan, antara harap dan ragu.
Desa kecil seperti Suralaya memang tidak pernah bisa menyembunyikan
rasa ingin tahunya. Setiap kedatangan, setiap kepergian, setiap perubahan
sekecil apa pun selalu menjadi perbincangan. Dan kedatangan Ilham dan
kawan-kawan kali ini bukanlah kedatangan biasa. Mereka pergi untuk belajar.
Mereka pulang dengan membawa sesuatu. Dan semua orang ingin tahu: apa yang
mereka bawa?
Pak Raditya adalah orang pertama yang menyambut mereka
secara resmi. Kepala desa itu berjalan dari rumahnya dengan langkah mantap,
meskipun lututnya sudah tidak sekokoh dulu. Wajahnya yang tegas namun teduh itu
kini dipenuhi senyum, senyum yang tulus, yang tidak ia tunjukkan kepada banyak
orang.
“Selamat datang, anak-anak muda,” sapa Pak Raditya sambil
membuka kedua tangannya seperti seorang ayah yang menyambut kepulangan
anak-anaknya. “Bagaimana perjalanannya? Lelah pasti. Tapi semoga hati senang.”
“Kami baik-baik saja, Pak,” jawab Ilham sambil membungkuk
hormat. “Perjalanan lancar. Belajar banyak. Herman dan teman-teman sangat baik
kepada kami.”
“Bagus. Bagus.” Pak Raditya menepuk pundak Ilham dengan
lembut. Tangannya yang keriput namun masih kuat itu terasa hangat di bahu
Ilham. “Istirahatlah dulu. Nanti malam kita bicara lebih lanjut. Saya ingin
dengar cerita kalian.”
Namun tidak semua sambutan hangat. Dari balik jendela
rumahnya yang terletak di ujung desa, Mbah Jaya Suprapta mengamati kepulangan
itu dengan mata yang tajam. Ia tidak keluar. Ia tidak menyapa. Ia hanya duduk
di kursi bambu kesayangannya, ditemani segelas kopi hitam pekat yang sudah
dingin, sambil memandangi rombongan kecil itu dari kejauhan.
Di sampingnya, Pak Sastro, penjaga rumah adat, berdiri
dengan tangan disilangkan di dada. Wajahnya tidak bisa dibaca. “Mereka pulang,
Mbah,” katanya pelan.
“Saya lihat,” jawab Mbah Jaya datar.
“Apakah Mbah tidak akan menyapa?”
“Nanti. Biarkan mereka istirahat dulu. Yang berat belum
dimulai.”
Pak Sastro mengangguk, meskipun ia tidak sepenuhnya
mengerti apa yang dimaksud Mbah Jaya. Tapi ia tidak bertanya. Ia hanya berdiri
diam, menunggu, seperti biasa.
Di warung Mbah Naryo, suasana berbeda. Pak Kirno yang
sedang duduk di kursi paling ujung, mendengus begitu mendengar kabar kepulangan
Ilham. Cangkir kopi di tangannya hampir ia banting ke meja, tetapi ia tahan. Ia
bukan tipe orang yang meledak-ledak. Ia lebih suka menyimpan kekesalannya, lalu
melepaskannya dengan cara yang lebih halus, tapi tidak kalah tajam.
“Anak-anak muda itu pulang,” katanya kepada Pak Santo yang
duduk di sampingnya. Suaranya datar, tetapi ada nada sarkastik yang tidak bisa
disembunyikan.
“Syukurlah,” jawab Pak Santo polos. “Semoga selamat.”
“Selamat atau tidak, yang penting mereka tidak membawa
masalah ke desa ini.”
Pak Santo mengernyit. “Masalah apa, Pak Kirno?”
“Teknologi. Internet. Hal-hal aneh dari luar. Itu bisa
merusak budaya kita.”
Mbah Naryo yang sedang menyeduh kopi di belakang meja,
menyelipkan komentar pelan. “Teknologi tidak merusak budaya, Pak Kirno. Yang
merusak adalah cara kita menggunakannya. Pisau tidak merusak. Tangan yang
memegang pisau bisa merusak.”
Pak Kirno menatap Mbah Naryo dengan mata tajam. “Mbah Naryo,
Bapak terlalu percaya pada hal-hal baru.”
“Saya tidak percaya pada hal-hal baru. Saya percaya pada
anak-anak muda. Mereka yang akan meneruskan desa ini. Bukan saya. Bukan Bapak.
Mereka.”
Pak Kirno tidak menjawab. Ia hanya mendengus lagi, lalu
menyesap kopinya dengan gerakan yang kasar. Di dalam hatinya, ia sudah
memutuskan: ia akan menjadi penentang paling vokal terhadap rencana Ilham. Bukan
karena ia benci pada Ilham, ia tidak benci. Ia hanya takut. Takut pada
perubahan. Takut pada hal-hal yang tidak ia pahami. Dan ketakutan itu, seperti
biasa, menjelma menjadi kemarahan.
Bu Laila sudah berdiri di depan pagar rumah sejak lama.
Matanya yang agak rabun itu terus memandangi ujung jalan desa, menunggu sosok
putranya muncul. Di tangannya ada segelas air putih, bukan untuk diminum,
tetapi untuk diberikan kepada Ilham begitu ia tiba. Itu kebiasaan lama yang
tidak pernah ia tinggalkan. Setiap kali Ilham pulang dari bepergian, ia selalu
menyediakan segelas air putih. Air yang dingin, segar, dan membersihkan.
“Bu!” teriak Ilham dari kejauhan. Ia melambaikan tangan,
lalu mempercepat langkahnya. Ransel di punggungnya bergoyang-goyang, tetapi ia
tidak peduli. Ia ingin segera memeluk ibunya.
Bu Laila tersenyum. Air mata menggenang di sudut matanya,
tetapi ia tidak membiarkannya jatuh. Ia bukan tipe ibu yang suka menangis di
depan anaknya. Ia lebih suka tersenyum, meskipun hatinya menangis.
“Kau kurusan,” kata Bu Laila sambil memeluk Ilham.
Tangannya yang kasar karena bertahun-tahun bekerja di dapur dan kebun itu mengelus
punggung Ilham dengan lembut. “Tidak makan, ya?”
“Makan, Bu. Banyak. Tapi mungkin terlalu banyak berpikir.”
“Jangan terlalu banyak berpikir. Nanti sakit kepala.”
Ilham tertawa kecil. “Tidak apa-apa, Bu. Pikiran itu
penting. Tanpa pikiran, tidak ada perubahan.”
Bu Laila melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah
putranya. Ia melihat sesuatu yang berbeda. Ada cahaya di mata Ilham, cahaya
yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Cahaya harapan. Cahaya keyakinan. Cahaya
yang membuat seorang ibu bangga meskipun sedikit khawatir.
“Ayahmu di kebun,” kata Bu Laila. “Tapi dia tahu kau
pulang. Tadi pagi dia sudah siapkan kopi untukmu.”
Ilham terkejut. “Ayah menyiapkan kopi?”
“Iya. Dia tidak bilang apa-apa, tapi dia sengaja memetik
kopi paling bagus. Lalu dia sangrai sendiri. Sampai hampir gosong karena kurang
sabar.”
Ilham tidak tahu harus berkata apa. Dadanya terasa hangat.
Ayahnya, lelaki keras kepala yang jarang bicara dan lebih jarang menunjukkan
perasaan, telah menyiapkan kopi untuknya. Itu adalah cara ayahnya mengatakan,
“Aku merindukanmu. Aku bangga padamu.”
“Aku akan ke kebun nanti, Bu. Sekarang aku mau istirahat
sebentar.”
“Ya, Nak. Mandi dulu. Nanti makan siang.”
Ilham masuk ke dalam rumah. Semuanya masih sama seperti
saat ia pergi. Dinding anyaman bambu yang berlubang di sana-sini. Lantai tanah
yang dipadatkan. Meja kayu kecil di dapur dengan piring-piring pecah belah yang
sudah retak di pinggirannya. Tempat tidur bambunya dengan kasur tipis berisi
kapuk yang sudah kempes. Rumah yang sederhana. Rumah yang hangat. Rumah yang
selalu menunggu.
Ia meletakkan ranselnya di sudut kamar, lalu duduk di tepi
tempat tidur. Matanya menerawang kosong. Ia membayangkan ayahnya di kebun, membungkuk
di antara pohon-pohon kopi, tangannya yang kasar memetik buah-buah merah dengan
sabar, keringat membasahi dahi dan punggungnya. Lelaki yang tidak pernah
mengeluh. Lelaki yang tidak pernah bermimpi. Lelaki yang hanya bekerja dan
bekerja, tanpa pernah bertanya apakah hidup ini adil.
Yah, pikir Ilham, aku
akan membuatmu bangga. Aku akan membuat desa ini berubah. Bukan untukku.
Untukmu. Untuk ibu. Untuk semua orang yang selama ini hanya bisa pasrah.
Sore harinya, setelah mandi, makan, dan istirahat sejenak,
Ilham dan kawan-kawan berkumpul kembali di balai bambu. Balai itu masih sama
seperti saat mereka tinggalkan, kotor, berdebu, penuh sarang laba-laba. Meja
kayu tua yang kakinya tidak rata masih berdiri di sudut. Kursi-kursi plastik
pinjaman masih tersusun rapi meskipun tertutup debu. Komputer tua pemberian
dari Awan Biru masih terbungkus plastik di atas meja, menunggu untuk dinyalakan
kembali.
“Kita harus bersihkan ini semua,” kata Nisa sambil melihat
sekeliling. Tangannya di pinggang, kepalanya menggeleng-geleng. “Ini kayak
kapal pecah. Debu di mana-mana.”
“Kerja bakti,” kata Angga singkat. Ia sudah melepas
bajunya, hanya mengenakan kaos dalam, dan mengambil sapu lidi di sudut ruangan.
“Aku sapu lantai. Kalian yang lain bersihkan dinding dan jendela.”
“Angga, pakai baju dulu,” kata Nisa setengah jijik. “Jangan
kelihatan kayak bapak-bapak yang baru bangun tidur.”
“Panas,” jawab Angga. “Lagian tidak ada yang lihat. Cuma
kita.”
“Aku lihat,” kata Nisa.
“Kamu bukan perempuan.”
“Aku perempuan!”
“Maksudku, kamu bukan perempuan asing. Kamu
teman. Beda.”
Nisa menghela napas panjang. “Angga, logikamu itu kadang
bikin pusing.”
Rendi yang sudah membuka buku catatannya, tersenyum.
“Biarkan saja, Nisa. Angga memang begitu. Tidak usah diperdebatkan. Nanti kita
yang pusing.”
Aulia diam-diam sudah mulai membersihkan komputer dengan
kain microfiber yang ia bawa dari Awan Biru. Ia membersihkan monitor, keyboard,
mouse, dan CPU dengan hati-hati, seperti seorang ahli bedah yang sedang
membersihkan instrumen sebelum operasi.
“Komputer ini masih bagus,” katanya pelan. “Hanya perlu
dibersihkan dan sedikit perawatan. Semoga tidak ada yang rusak selama kita
tinggal.”
“Kamu bisa perbaiki kalau rusak?” tanya Ilham.
“Bisa. Asal tidak terlalu parah. Kalau processor-nya yang
rusak, kita tidak punya alat untuk mengganti.”
“Doakan saja tidak rusak.”
Mereka bekerja sama membersihkan balai bambu hingga senja.
Debu-debu beterbangan di udara, membuat beberapa dari mereka bersin-bersin.
Tawa dan canda sesekali pecah ketika Angga secara tidak sengaja menyapu debu ke
arah Nisa, atau ketika Rendi kejatuhan sarang laba-laba dan berteriak histeris.
“Rendi, kamu itu laki-laki masa takut sama laba-laba?”
ledek Nisa.
“Bukan takut. Ini alergi,” jawab Rendi sambil
mengibas-ngibaskan bajunya.
“Alergi laba-laba? Tidak ada itu.”
“Sekarang ada. Alergi tipe baru. Belum terdaftar di dunia kedokteran.”
Semua tertawa. Tawa itu menggema di balai bambu yang mulai
bersih, memantul dari dinding anyaman ke dinding anyaman, lalu keluar melalui
celah-celah, terbang bersama angin sore.
Sementara mereka asyik membersihkan balai bambu, suara
langkah kaki berat terdengar dari luar. Tidak ada yang perlu dikonfirmasi, semua
sudah tahu siapa pemilik langkah kaki itu. Hanya satu orang di desa ini yang
berjalan dengan langkah sekokoh itu: Pak Kirno.
Pintu balai bambu terbuka. Pak Kirno masuk tanpa permisi, tanpa
salam, tanpa senyum. Ia berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada,
dan menatap mereka satu per satu dengan mata yang dingin. Matanya bergerak dari
Ilham ke Nisa, dari Nisa ke Angga, dari Angga ke Rendi, dari Rendi ke Aulia.
Lalu berhenti.
“Jadi, kalian benar-benar serius,” katanya. Bukan
pertanyaan. Pernyataan.
Ilham berdiri. Ia menatap Pak Kirno dengan hormat, tetapi
tidak takut. “Benar, Pak. Kami serius.”
“Serius untuk apa? Menghancurkan desa ini?”
Nisa yang mendengar itu, langsung berdiri. Wajahnya
memerah. “Pak Kirno, dengan hormat, kami tidak menghancurkan desa. Kami ingin
membangun.”
“Membangun dengan apa? Dengan komputer? Dengan internet?”
Pak Kirno mendengus. “Kalian tahu apa itu internet? Kalian tahu dampaknya?
Anak-anak muda akan lupa adat. Lupa budaya. Lupa dengan desanya sendiri. Mereka
akan lebih bangga menjadi orang luar daripada orang Suralaya.”
“Itu tidak benar, Pak,” kata Ilham tegas. “Kami belajar
dari Awan Biru. Desa mereka tetap mempertahankan budaya. Tarian tradisional masih
ada. Upacara adat masih dijalankan. Tapi mereka juga maju secara ekonomi. Kopi
mereka laku. Anyaman mereka dikenal. Anak-anak muda tidak perlu pergi
merantau.”
“Awan Biru? Desa kecil yang sama seperti kita? Apa
istimewanya?”
“Mereka berani berubah, Pak. Mereka tidak takut pada
hal-hal baru.”
Pak Kirno terdiam sejenak. Matanya menyipit. “Kau berani
bicara seperti itu padaku, Ilham?”
“Saya tidak bermaksud tidak hormat, Pak. Saya hanya
menjelaskan.”
“Jelasanmu tidak saya butuhkan.” Pak Kirno berbalik, berjalan
ke pintu, lalu berhenti. “Saya akan bicara dengan para tetua. Kita lihat nanti
apakah rencana kalian bisa berjalan atau tidak.”
Ia pergi meninggalkan balai bambu. Pintu kayu yang sudah
lapuk itu tertutup dengan keras, membuat debu beterbangan.
Nisa menghela napas. “Pak Kirno memang keras kepala.”
“Bukan keras kepala,” kata Ilham. “Dia takut. Orang yang
takut sering kali marah. Itu cara mereka melindungi diri.”
“Tapi dia bisa menghalangi kita,” kata Rendi khawatir. “Dia
punya pengaruh. Banyak warga yang mendengarkannya.”
“Kita hadapi nanti,” kata Ilham. “Yang penting kita terus
berjalan. Jangan berhenti karena satu orang.”
Aulia yang sejak tadi diam, berkata pelan, “Aku setuju
dengan Ilham. Tapi kita harus pintar-pintar. Jangan sampai konflik dengan Pak Kirno
merembet ke mana-mana.”
“Aulia benar,” kata Angga. “Kita butuh dukungan warga.
Kalau Pak Kirno berhasil mengadu domba, kita akan sulit bergerak.”
Ilham mengangguk. “Kita akan bicara dengan Pak Raditya.
Beliau bisa membantu. Selain itu, kita harus segera menunjukkan hasil. Bukti
lebih kuat daripada kata-kata.”
Setelah pembersihan selesai, yang lain pulang ke rumah
masing-masing. Nisa dan Ilham masih duduk di beranda balai bambu, memandangi
matahari terbenam di balik Gunung Merbabu. Langit berwarna jingga keemasan, warna
yang tidak bisa dilukis oleh kuas mana pun, karena hanya alam yang bisa
menciptakannya. Awan-awan tipis berwarna merah muda bergerak perlahan, seperti
perahu-perahu kecil yang berlayar di lautan langit.
“Kita bisa, kan, Ham?” tanya Nisa pelan. Matanya menatap
cakrawala, tidak menatap Ilham.
“Bisa,” jawab Ilham. “Asal kita tidak menyerah.”
“Aku tidak akan menyerah. Tapi kadang... aku takut.”
“Takut apa?”
Nisa terdiam sejenak. Jari-jarinya menggenggam erat ujung
bajunya sendiri, kebiasaan yang sama seperti Ilham ketika gugup. “Takut
kehilangan. Bukan hanya desa. Tapi... kalian. Teman-teman. Kamu. Aku takut
perubahan akan membuat kita berjauhan.”
Ilham menoleh. Wajah Nisa yang tegas itu kini terlihat
lembut di bawah sinar matahari senja. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang
membuat jantung Ilham berdetak lebih cepat.
“Nisa, perubahan tidak akan membuat kita berjauhan. Justru
sebaliknya. Kita berubah bersama. Kita berjuang bersama. Itu yang membuat kita
semakin dekat.”
Nisa tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan. Senyum
yang hanya untuk orang-orang tertentu. “Kamu yakin?”
“Yakin.”
Mereka berdua terdiam. Angin senja berhembus pelan, membawa
aroma kopi dan tanah basah. Di kejauhan, suara azan magrib mulai terdengar dari
surau kecil di tengah desa.
“Ayo pulang,” kata Ilham sambil berdiri. “Nanti gelap.”
“Iya,” kata Nisa. Ia berdiri, lalu tanpa diduga, ia meraih
tangan Ilham. Hanya sebentar. Lalu melepaskannya. “Hanya ingin memastikan kamu
nyata.”
Ilham tersenyum. “Aku nyata. Dan aku tidak akan pergi.”
Mereka berjalan pulang bersama, di bawah langit yang mulai
gelap. Dua anak muda desa dengan mimpi besar. Dua hati yang perlahan saling
mendekat. Tanpa drama. Tanpa kata-kata manis. Hanya kebersamaan. Hanya
keyakinan. Hanya harapan.
Setelah magrib, Ilham pergi ke rumah Pak Raditya. Ia ingin
melaporkan hasil perjalanannya, tetapi juga ingin meminta saran tentang cara
menghadapi penolakan Pak Kirno.
Pak Raditya sedang duduk di beranda, ditemani secangkir teh
jahe yang mengepulkan uap tipis. Udara malam dingin, tetapi jahe menghangatkan
tubuhnya yang mulai renta. Kacamatanya bertengger di ujung hidung, dan di
tangannya ada sebuah buku, buku tentang kepemimpinan desa yang sudah lama ia
baca tetapi tidak pernah selesai.
“Masuk, Ilham,” sapa Pak Raditya begitu melihat Ilham.
“Saya sudah dengar kalian bertemu Pak Kirno tadi sore.”
Ilham terkejut. “Bapak sudah tahu?”
“Di desa ini, tidak ada yang rahasia, Nak. Apalagi jika
menyangkut Pak Kirno. Beliau adalah orang yang paling keras suaranya di desa
ini. Kalau beliau marah, setengah desa akan tahu.”
Ilham duduk di kursi yang ditunjuk. Ia bercerita tentang
perjalanannya ke Awan Biru, tentang apa yang ia pelajari, tentang apa yang ia
lihat, tentang apa yang ia rasakan. Ia bercerita tentang Herman dan tim,
tentang ruang RKDD, tentang kopi dan anyaman yang laku keras, tentang anak-anak
yang belajar komputer tanpa melupakan adat.
Pak Raditya mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia
mengangguk. Sesekali ia tersenyum. Sesekali ia menghela napas. Tidak ada yang
ia potong. Tidak ada yang ia tanyakan. Ia hanya mendengarkan, seperti seorang
ayah yang mendengarkan cerita anaknya yang baru pulang dari rantau.
Ketika Ilham selesai, Pak Raditya berkata, “Jadi, apa
rencanamu sekarang?”
“Kami akan memulai dari hal kecil, Pak. Mengajak ibu-ibu
belajar memotret anyaman. Mengajak petani belajar memasarkan kopi secara
online. Tidak memaksa. Tidak terburu-buru. Tapi konsisten.”
“Bagus. Itu pendekatan yang bijak. Tapi kau harus siap
dengan penolakan. Pak Kirno bukan satu-satunya yang akan menolak. Banyak warga
yang masih ragu. Mereka butuh bukti, bukan janji.”
“Saya tahu, Pak. Tapi saya tidak bisa memberikan bukti jika
tidak mulai.”
Pak Raditya tersenyum. “Kau masih muda, Ilham. Tapi kau
sudah berpikir seperti orang tua. Itu baik. Tapi ingat, jangan sampai kau
terlalu dewasa sehingga lupa untuk menikmati masa mudamu.”
Ilham tersenyum. “Saya akan coba, Pak.”
“Bukan coba. Lakukan.” Pak Raditya berdiri, berjalan ke
dalam rumah, lalu kembali dengan membawa sebuah amplop cokelat. “Ini untuk balai
bambu. Tidak banyak. Tapi semoga cukup untuk membeli peralatan yang kalian
butuhkan.”
Ilham menerima amplop itu dengan tangan gemetar. “Terima
kasih, Pak. Saya tidak tahu harus membalas apa.”
“Balas dengan hasil. Buktikan bahwa desa ini bisa berubah.”
Sementara Ilham dan Pak Raditya berbicara, di warung Mbah Naryo
suasana berbeda. Para bapak-bapak berkumpul seperti biasa, tetapi topik
pembicaraan tidak seperti biasa. Mereka membicarakan Ilham dan rencana
digitalisasi desa.
“Anak muda sekarang memang suka hal-hal aneh,” kata Pak
Santo sambil menyesap kopinya. “Dulu kita tidak butuh internet, hidup kita
baik-baik saja.”
“Dulu kita juga tidak butuh HP, Pak Santo,” celetuk Pak
Sugi. “Tapi sekarang Bapak punya HP. Bahkan Bapak sering main game di HP.”
Pak Santo tersenyum malu. “Itu hanya iseng. Beda dengan
internet.”
“Internet juga hanya alat. Sama seperti HP. Tergantung yang
menggunakan.”
Pak Kirno yang duduk di ujung, mendengus. “Bapak-bapak ini
terlalu mudah terpengaruh. Internet itu berbahaya. Bisa merusak moral anak
muda.”
“Pak Kirno, Bapak belum pernah menggunakan internet,
bagaimana tahu kalau itu berbahaya?” tanya Mbah Naryo dari belakang meja.
Pak Kirno terdiam. Ia tidak suka jika argumennya dibantah,
apalagi oleh Mbah Naryo yang dianggapnya hanya penjaga warung.
“Saya dengar dari orang-orang,” jawabnya akhirnya.
“Dengar dari orang-orang belum tentu benar, Pak Kirno.
Lebih baik coba dulu. Kalau terbukti berbahaya, baru tolak. Jangan menolak
sebelum mencoba.”
Pak Kirno tidak menjawab. Ia hanya mendengus, lalu menyesap
kopinya dengan gerakan yang kasar.
Mbah Naryo tersenyum kecil. Ia tahu Pak Kirno tidak akan
pernah mencoba internet. Bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia takut.
Takut pada hal-hal baru. Takut pada perubahan. Takut pada dunia yang tidak ia
pahami. Dan ketakutan itu, seperti biasa, menjelma menjadi kemarahan.
Kilas balik, Sementara itu, di Desa Awan Biru, Joko sedang
duduk di teras kantor desa, memandangi langit malam yang bertabur bintang. Di
tangannya ada ponsel, ponsel jadul yang hanya bisa digunakan untuk menelepon
dan mengirim pesan singkat. Ia sedang menunggu kabar dari Ilham, tetapi yang
lebih ia nantikan adalah kabar dari Anita Rohan.
Anita tidak ikut dalam tim RKDD Awan Biru karena ia harus
menyelesaikan administrasi desa. Tapi ia sering mengirim pesan kepada Joko, pesan-pesan
pendek yang sederhana, tetapi hangat.
“Joko, apa kabar? Ilham sudah sampai di Suralaya? Aku
khawatir.”
Joko membalas cepat. “Sudah sampai. Mereka baik-baik saja.
Kamu sendiri? Jangan terlalu lelah bekerja.”
“Aku baik. Hanya kangen.”
Joko tersenyum membaca pesan itu. Anita Rohan memang jarang
mengungkapkan perasaan secara langsung. Jadi ketika ia menulis “kangen”, itu
berarti sesuatu yang besar.
“Kangen juga,” balas Joko. “Nanti kita bertemu lagi.”
“Kapan?”
“Entah. Tapi pasti.”
Percakapan singkat itu berakhir. Joko masih memandangi
ponselnya, tersenyum seperti orang bodoh. Hermansyah yang lewat, melihatnya dan
langsung berteriak.
“Joko! Jangan senyum-senyum sendiri! Nanti dikira gila!”
“Diam, Man,” jawab Joko tanpa menoleh.
“Ada Anita Rohan, ya? Sms-an, ya? Awas aja kalau ketahuan.”
“Diam, saya bilang.”
Hermansyah tertawa terbahak-bahak, lalu pergi meninggalkan
Joko yang masih tersenyum di teras kantor desa. Di kejauhan, bintang-bintang berkelap-kelip
seperti mata-mata kecil yang mengawasi.
Keesokan paginya, Ilham bangun lebih awal dari biasanya. Ia
tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya penuh dengan rencana. Hari ini adalah hari
pertama mereka akan memulai kegiatan di balai bambu. Tidak ada acara besar.
Tidak ada peresmian. Hanya belajar bersama. Tapi bagi Ilham, ini adalah awal
dari segalanya.
Ia mandi, berpakaian rapi, lalu sarapan dengan nasi dan
sayur bening buatan ibunya. Bu Laila duduk di sampingnya, tidak banyak bicara.
Tapi matanya mengamati putranya dengan penuh kasih.
“Hati-hati di jalan, Nak,” kata Bu Laila ketika Ilham
hendak berangkat.
“Iya, Bu. Doakan kami.”
“Ibu selalu mendoakan.”
Ilham berjalan menuju balai bambu. Di perjalanan, ia
bertemu dengan Nisa, Angga, Rendi, dan Aulia. Mereka berlima berjalan bersama,
seperti pasukan kecil yang siap berperang, bukan melawan musuh dengan senjata,
tetapi melawan ketidaktahuan dengan ilmu.
Ketika mereka tiba di balai bambu, balai itu sudah bersih.
Meja kayu sudah tertata. Kursi-kursi plastik sudah berjajar rapi. Komputer tua
sudah menyala, Aulia sudah datang lebih awal untuk mempersiapkan semuanya.
“Kita mulai,” kata Ilham.
Mereka duduk melingkar. Tidak banyak yang datang pada hari
pertama, hanya beberapa anak kecil yang penasaran dan dua orang ibu-ibu yang
diajak oleh Nisa. Tapi mereka tidak berkecil hati. Mereka mulai mengajar.
Perlahan. Sabar. Tanpa paksaan.
“Ini adalah awal,” kata Ilham di dalam hatinya. “Awal dari
perjalanan panjang. Awal dari perubahan. Awal dari mimpi yang mulai diwujudkan.”
Di luar balai bambu, matahari pagi bersinar cerah. Kabut
mulai terurai. Burung-burung berkicau. Dan di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri
tenang, menyaksikan, seolah-olah berkata: Perjalanan sesungguhnya telah
dimulai.
BAB 7
Bukti yang Tak Terbantahkan
Tiga minggu pertama setelah pembukaan balai bambu sebagai
pusat kegiatan digital desa terasa seperti berjalan di atas hamparan pasir
hisap, setiap langkah terasa berat, setiap gerakan membutuhkan tenaga ekstra,
dan setiap hari selalu ada saja yang menghambat. Bukan tembok batu yang
terlihat, tetapi dinding-dinding tak kasat mata yang terbuat dari keraguan,
ketakutan, dan kebiasaan lama yang sudah mengakar sejak puluhan tahun, bahkan
mungkin ratusan tahun.
Setiap pagi, sebelum matahari terlalu tinggi, Ilham dan
kawan-kawan sudah berkumpul di balai bambu. Mereka membersihkan ruangan,
menyalakan komputer tua yang kadang suka mati mendadak, menyiapkan kursi-kursi
plastik pinjaman, dan menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu siapa pun yang mau
datang. Tapi yang datang tidak pernah lebih dari lima orang, itu pun kebanyakan
anak-anak kecil yang penasaran dengan komputer, atau ibu-ibu yang diajak Nisa
dengan bujuk rayu yang tidak mudah.
“Hari ini hanya tiga orang,” kata Nisa suatu pagi dengan
nada kecewa. Ia baru saja selesai berkeliling desa untuk mengajak warga, tetapi
hanya dua orang yang bersedia datang. Seorang lagi adalah Tono, anak laki-laki
sembilan tahun yang sudah menjadi langganan tetap.
“Tiga orang sudah cukup,” kata Ilham sambil mengatur posisi
kursi. Wajahnya tidak menunjukkan kekecewaan, meskipun di dalam hatinya ia juga
merasa sedih. Tapi sebagai pemimpin, ia harus tetap tegar. “Yang penting kita
mulai. Tidak perlu banyak-banyak. Satu orang yang serius belajar lebih berharga
daripada sepuluh orang yang hanya ingin melihat-lihat.”
“Ilham benar,” sambung Rendi sambil membuka buku
catatannya. “Kita tidak sedang lomba. Kita sedang membangun fondasi. Fondasi
tidak perlu besar. Yang perlu kokoh.”
Angga yang sedang memeriksa kabel-kabel komputer, berkata
tanpa menoleh, “Daripada mengeluh, lebih baik bekerja. Aulia, komputer yang
satunya nyala tidak?”
“Nyala,” jawab Aulia dari sudut ruangan. “Tapi agak lemot.
Mungkin perlu dibersihkan filternya.”
“Nanti aku bantu.”
Anak-anak yang datang, Tono, Wati, dan seorang anak
laki-laki lain bernama Andre, duduk di kursi depan dengan mata berbinar. Mereka
tidak peduli dengan jumlah peserta yang sedikit. Mereka hanya ingin belajar.
Mereka hanya ingin menyentuh komputer, benda ajaib yang selama ini hanya mereka
lihat di film atau dengar dari cerita orang.
“Hari ini kita belajar mengetik,” kata Aulia di depan papan
tulis putih. “Mengetik adalah dasar dari semuanya. Kalau tidak bisa mengetik,
kita tidak bisa menulis di komputer. Kalau tidak bisa menulis, kita tidak bisa
berkomunikasi lewat internet.”
“Kak Aulia, aku sudah bisa mengetik,” kata Tono dengan
bangga. “Kemarin aku belajar sendiri. Aku bisa ngetik nama aku.”
“Bagus, Ton. Coba tunjukkan.”
Tono maju ke depan, duduk di depan komputer, lalu dengan
jari-jari mungilnya yang masih kaku, ia mengetik: T-O-N-O. Hurufnya besar
semua, dan posisinya agak berantakan, tetapi jelas terbaca.
“Wah, bagus!” seru Aulia tulus. “Kamu cepat belajar.”
Tono tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang ompong
karena baru saja tanggal dua buah.
Wati yang lebih pemalu, hanya tersenyum kecil. Andre yang
hiperaktif, sudah tidak sabar ingin mencoba. “Kak, aku juga mau! Aku juga mau!”
“Semua akan mendapat giliran,” kata Aulia sabar. “Kita
bergantian, ya.”
Sementara Aulia mengajar anak-anak mengetik, di sudut lain
ruangan, Angga sedang berjuang dengan mouse. Ia sudah berlatih selama seminggu
di Awan Biru, tetapi tangannya masih kaku seperti kayu. Kursor di layar
bergerak tidak menentu, kadang ke kiri, kadang ke kanan, kadang melompat-lompat
seperti katak kesurupan.
“Angga, coba pelan-pelan,” kata Rendi yang duduk di
sampingnya sambil menahan tawa.
“Ini sudah pelan,” jawab Angga kesal. “Tapi kok kursor nya
bandel. Mungkin ini mousenya yang rusak.”
“Mouse nya tidak rusak. Jari kamu yang rusak.”
“Jari saya sehat. Ini jari petani. Terlatih. Kuat.”
“Kuat tapi tidak luwes. Coba rileks. Anggap saja mouse
itu... perempuan.”
Angga menoleh dengan tatapan aneh. “Maksudmu?”
“Maksudku, jangan digenggam keras-keras. Pegang dengan
lembut. Seperti memegang tangan perempuan.”
“Aku belum pernah memegang tangan perempuan.”
“Ya sudah, anggap saja memegang... gelas. Gelas berisi air
panas. Tidak boleh terlalu keras, nanti pecah. Tidak boleh terlalu longgar,
nanti jatuh.”
Angga mencoba lagi. Kali ini, ia memegang mouse dengan
lebih lembut. Kursor bergerak lebih stabil. Ia berhasil mengklik ikon browser.
Matanya membesar.
“Aku bisa!” teriaknya.
“Ya, kamu bisa,” kata Rendi sambil tersenyum. “Sekarang
coba buka folder.”
“Folder yang mana?”
“Folder latihan. Yang di desktop.”
“Desktop itu meja?”
“Bukan. Itu layar komputer. Ikon-ikon kecil di layar itu
namanya desktop.”
Angga menggelengkan kepala. “Kenapa orang-orang membuat
istilah-istilah aneh? Meja ya meja. Layar ya layar. Kenapa disebut desktop?”
“Itu bahasa Inggris, Ga. Mau tidak mau kita harus belajar.”
“Bahasa Inggris saja susah, apalagi komputer.”
Tapi Angga tidak menyerah. Ia terus berlatih. Sekali lagi.
Dua kali lagi. Tiga kali lagi. Sampai akhirnya ia bisa membuka folder latihan
tanpa bantuan.
“Aku bisa,” katanya lagi, kali ini dengan nada lebih
tenang. “Aku benar-benar bisa.”
Rendi menepuk pundaknya. “Bagus, Ga. Besok kita belajar
excel.”
“Excel? Apa itu?”
“Nanti kamu tahu. Santai.”
Sementara Ilham dan kawan-kawan sibuk mengajar di balai
bambu, Pak Kirno tidak tinggal diam. Ia berkeliling desa dari rumah ke rumah,
dari warung ke warung, dari ladang ke ladang, menyebarkan keraguan dengan cara
yang halus tetapi efektif.
Di rumah Bu Lastri, ia berkata, “Bu Lastri, Ibu hati-hati
dengan ajakan anak-anak muda itu. Mereka mau mengubah desa kita menjadi tempat
yang asing. Budaya kita akan luntur.”
Bu Lastri yang sedang menenun, hanya diam. Ia tidak berani
membantah Pak Kirno secara langsung, tetapi di dalam hatinya ia
bertanya-tanya: Apakah benar budaya akan luntur? Atau Pak Kirno hanya
takut?
Di warung Mbah Naryo, Pak Kirno berkata kepada para
bapak-bapak yang sedang ngopi, “Kita ini orang desa. Hidup sederhana. Tidak
perlu hal-hal aneh seperti komputer dan internet. Cukup bekerja di ladang,
beribadah, dan menjaga keluarga. Itu sudah lebih dari cukup.”
Pak Santo yang mendengar itu, mengangguk-angguk. Pak Sugi
diam, tetapi matanya menyipit. Mbah Naryo yang menyeduh kopi di belakang meja,
menyelipkan komentar pelan.
“Pak Kirno, Bapak tidak salah. Tapi Bapak juga tidak sepenuhnya
benar. Hidup sederhana itu baik, tetapi tidak ada salahnya belajar hal baru.
Asal tidak meninggalkan yang lama.”
“Mbah Naryo selalu membela anak-anak muda itu,” kata Pak
Kirno dengan nada kesal.
“Saya tidak membela siapa pun. Saya hanya bicara fakta.”
Pak Kirno mendengus, lalu pergi meninggalkan warung dengan
langkah gusar. Di dalam hatinya, ia semakin bertekad untuk menggagalkan rencana
Ilham. Bukan karena ia jahat, tetapi karena ia takut. Takut pada perubahan.
Takut pada hal-hal yang tidak ia pahami. Takut pada dunia yang bergerak terlalu
cepat tanpa ia ikut di dalamnya.
Suatu sore, ketika Ilham sedang sibuk mengajar Rendi
tentang cara membuat akun media sosial, Nisa duduk di teras balai bambu
sendirian. Matanya menatap kosong ke arah Gunung Merbabu yang mulai diselimuti
kabut. Pikirannya tidak tenang. Bukan karena masalah desa, tetapi karena
sesuatu yang lain.
Dimas, pemuda desa yang pernah menyatakan ketertarikannya
kepada Nisa, datang lagi. Kali ini ia membawa sekarung kopi. “Nis, ini hasil panen
ayahku. Titip ya, untuk dijual lewat internet.”
Nisa terkejut. “Kamu mau menjual lewat internet? Bukannya
dulu kamu menentang?”
“Dulu. Sekarang aku lihat mungkin ada untungnya. Tapi
jangan bilang Pak Kirno, ya. Nanti aku dimusuhi.”
Nisa tersenyum tipis. “Aku tidak akan bilang. Tapi kamu
harus belajar sendiri. Aku tidak akan selalu membantu.”
“Aku mau belajar. Asal kamu yang mengajar.”
Nisa menghela napas. “Dimas, jangan main-main. Kalau serius
belajar, silakan datang ke balai bambu. Aulia yang akan mengajar. Aku sibuk
dengan yang lain.”
“Tapi aku ingin kamu yang mengajar.”
“Tidak bisa. Aku bukan guru.”
Dimas tersenyum manis, senyum yang dulu mungkin bisa
membuat Nisa luluh, tetapi sekarang tidak lagi. “Karena Ilham, ya? Karena kamu
sibuk dengan Ilham?”
Nisa tidak menjawab. Ia hanya berdiri, mengambil karung
kopi itu, lalu membawanya ke dalam balai bambu. “Terima kasih kopinya. Nanti
akan kami proses. Kalau laku, kami kabari.”
Dimas berdiri di teras, memandangi Nisa yang berjalan
menjauh. Ia menggelengkan kepala, lalu pergi dengan langkah gusar. Di dalam
hatinya, ia bertanya-tanya: Apa yang dimiliki Ilham sehingga Nisa lebih
memilihnya?
Dari dalam balai bambu, Ilham melihat kejadian itu dari
balik jendela. Ia tidak mendengar percakapan mereka, tetapi ia bisa membaca
situasi. Ia tahu Dimas suka pada Nisa. Ia tahu Nisa tidak menanggapi. Dan ia
tahu, suatu saat nanti, ia harus mengambil sikap. Tapi tidak sekarang.
Sekarang, yang penting adalah desa.
Hari ke-17 setelah pembukaan balai bambu, sebuah keajaiban
kecil terjadi. Seorang pembeli dari Semarang, yang menemukan akun media sosial
Suralaya secara tidak sengaja, mengirim pesan.
“Halo, saya tertarik dengan kopi dari desa Anda. Apakah
tersedia untuk dikirim ke Semarang?”
Aulia yang pertama melihat pesan itu, berteriak
sekencang-kencangnya. Teriakannya terdengar sampai ke warung Mbah Naryo yang
berjarak hampir seratus meter.
“ADA! ADA YANG NANYA!”
Nisa yang sedang menyapu teras, terkejut hingga sapunya
terlepas dari tangan. Rendi yang sedang menulis, tintanya belepotan karena
tangannya gemetar. Angga yang sedang memperbaiki kursi yang goyang, hampir
memukul jarinya sendiri dengan palu. Ilham yang sedang duduk di depan pintai,
berdiri dan berlari ke arah komputer.
“Siapa? Berapa banyak?” tanya Ilham dengan napas
terengah-engah.
“Satu orang. Minta dua kilogram,” kata Aulia, matanya masih
menatap layar seolah-olah takut pesan itu akan lenyap jika ia berkedip.
“Dua kilogram? Itu kecil,” kata Angga sambil menghela napas
kecewa.
“Tapi itu awal,” kata Ilham. “Setiap perjalanan besar
dimulai dari langkah kecil.”
Ia segera membalas pesan itu. “Tersedia. Kopi kami dipetik
langsung dari kebun di lereng Merbabu. Dijemur alami. Ditumbuk secara
tradisional. Kami jamin kualitasnya.”
Beberapa menit kemudian, balasan datang. “Saya pesan dua
kilogram. Tolong kirim ke alamat ini. Berapa ongkos kirimnya?”
Ilham menoleh ke arah Angga. “Berapa ongkos kirim ke
Semarang?”
Angga menggaruk kepala yang tidak gatal. “Aku tidak tahu.
Kita belum pernah kirim barang ke luar desa.”
“Cari tahu,” kata Ilham. “Sekarang.”
Angga berlari ke rumah Pak Raditya untuk meminjam ponsel
dan mencari informasi ongkos kirim. Nisa dan Rendi sibuk mencari cara mengemas
kopi. Aulia menghubungi ayahnya yang punya timbangan digital, satu-satunya
timbangan digital di desa, untuk meminjamnya.
Mereka bekerja seperti semut yang terganggu sarangnya.
Kacau, tetapi penuh semangat. Tidak ada yang mengeluh. Tidak ada yang protes.
Mereka hanya bergerak, seperti mesin yang dinyalakan setelah sekian lama mati.
Proses pengemasan kopi tidak semulus yang dibayangkan.
Mereka tidak punya plastik klip yang bagus, tidak punya sealer, tidak punya
label, tidak punya apa-apa. Yang mereka punya hanyalah semangat dan
kreativitas.
“Plastik klipnya pakai apa?” tanya Nisa panik.
“Beli di warung Mbah Naryo,” kata Rendi. “Tadi aku lihat
ada stok.”
Nisa berlari ke warung Mbah Naryo. “Mbah, ada plastik
klip?”
“Ada. Mau berapa?”
“Dua biji.”
“Dua biji? Untuk apa? Kopi kan dua kilogram.”
“Iya, Mbah. Dua biji cukup.”
Mbah Naryo menggelengkan kepala. “Anak muda zaman sekarang,
belanja sedikit sekali. Ini, ambil sepuluh. Bayar nanti.”
“Terima kasih, Mbah.”
Kembali ke balai bambu, Nisa membagikan plastik klip kepada
yang lain. Angga mengambil alih tugas memasukkan kopi ke dalam plastik.
Tangannya yang biasa memegang cangkul dan mesin pertanian itu kini memegang
sendok takir, menuangkan kopi bubuk ke dalam plastik dengan hati-hati.
“Jangan tumpah, Ga,” kata Rendi.
“Aku tahu,” jawab Angga kesal.
Tapi begitu kata-kata itu keluar, tangannya bergetar dan sedikit
kopi tumpah ke meja. Rendi tertawa. Nisa menghela napas. Aulia hanya tersenyum
kecil.
“Sudah, biar aku,” kata Aulia sambil mengambil alih tugas.
Tangannya yang lebih terampil dengan cepat menuang kopi, menutup plastik, lalu
menimbangnya dengan timbangan digital.
“Pas dua kilogram,” katanya.
“Bagus,” kata Ilham. “Sekarang labelnya.”
Rendi mengambil kertas bekas, memotongnya kecil-kecil, lalu
menulis dengan pulpen:
“Kopi Suralaya. Lereng Merbabu. 100% Asli.”
Tulisannya rapi, indah, seperti sebuah karya seni.
“Bagus, Ren,” kata Nisa. “Kamu memang jago nulis.”
“Terima kasih. Aku latihan setiap hari.”
Mereka menempelkan label itu pada plastik dengan lakban
bening, pinjaman dari Arga yang dulu diberikan sebelum rombongan KPAAB pergi.
Lakban itu sudah sebulan disimpan, dan baru sekarang digunakan.
“Selesai,” kata Ilham sambil memandangi dua bungkus kopi
yang sudah siap kirim. “Besok pagi kita antar ke kecamatan. Dari sana, kirim
lewat jasa ekspedisi.”
“Aku yang antar,” kata Angga. “Aku kuat jalan.”
“Kita antar bersama,” kata Ilham. “Ini keberhasilan pertama
kita. Harus dirayakan.”
“Dirayakan bagaimana?” tanya Rendi.
“Makan bersama. Nasi bungkus dari Bu Laila.”
Semua tersenyum. Keberhasilan kecil, tetapi terasa besar.
Seperti tetesan air di tengah padang pasir. Seperti secercah cahaya di tengah
kegelapan. Seperti bukti bahwa apa yang mereka lakukan tidak sia-sia.
Setelah kopi siap dikirim, Ilham dan Nisa duduk di bawah
pohon beringin besar di halaman kantor desa. Pohon beringin itu sudah berusia
ratusan tahun, konon ditanam oleh Ki Suralaya sendiri. Akar-akarnya yang besar
menjulur ke tanah seperti ular-ular purba yang sedang tidur. Daun-daunnya yang
rindang meneduhkan mereka dari terik matahari sore.
“Kita berhasil, Ham,” kata Nisa sambil tersenyum. Senyum
yang tulus, yang tidak perlu dipaksakan, yang lahir dari dalam hati.
“Kita baru mulai,” kata Ilham. “Tapi setidaknya, kita sudah
membuktikan bahwa ini mungkin.”
“Apa yang akan kau lakukan dengan uang hasil penjualan
nanti?”
“Sebagian untuk modal. Sebagian untuk balai bambu. Sebagian
untuk petani yang kopinya kita jual. Yang penting tidak ada yang dirugikan.”
Nisa mengangguk. “Kamu adil, Ham. Itu yang membuat aku...”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ilham menoleh. “Membuat
kamu apa?”
Nisa menunduk, memandangi rumput di bawah kakinya. “Membuat
aku... bangga. Menjadi bagian dari ini.”
Ilham tersenyum. “Aku juga bangga. Tidak hanya pada diri
sendiri. Tapi pada kita semua. Pada tim ini. Pada desa ini.”
Mereka berdua terdiam. Angin sore berhembus pelan, membawa
aroma kopi dan tanah basah. Daun-daun beringin bergoyang-goyang, menciptakan
suara desiran yang menenangkan.
“Nisa,” panggil Ilham tiba-tiba.
“Hm?”
“Suatu hari nanti, kalau desa ini sudah berubah, apa yang
akan kau lakukan?”
Nisa mengangkat kepalanya. Matanya menatap langit yang
mulai jingga. “Aku ingin membuka sekolah. Sekolah untuk anak-anak desa. Bukan
sekolah biasa. Tapi sekolah yang mengajarkan mereka tentang desa. Tentang
budaya. Tentang teknologi. Tentang bagaimana menjadi orang desa yang tidak malu
dengan desanya.”
“Itu mimpi yang besar.”
“Tapi mimpi yang bisa dicapai. Asal ada yang mau membantu.”
Ilham mengulurkan tangannya. “Aku akan membantu. Janji.”
Nisa memandangi tangan Ilham, lalu tersenyum. Ia tidak
menjabat tangan itu. Ia hanya memandanginya, lalu berkata pelan, “Janji.”
Mereka tidak perlu berjabat tangan. Cukup saling percaya.
Cukup saling mengerti. Cukup saling mendukung.
Keberhasilan kecil menjual kopi ke Semarang ternyata tidak
membuat Pak Kirno diam. Sebaliknya, ia semakin gencar menyebarkan hasutan. Ia
merasa terancam. Jika anak-anak muda ini berhasil, maka pengaruhnya di desa
akan berkurang. Dan Pak Kirno tidak bisa menerima itu.
Suatu malam, ia mengumpulkan para tetua di rumah Mbah Jaya.
Tanpa undangan resmi, tanpa pemberitahuan, ia datang bersama Pak Sastro dan
beberapa orang lain. Mbah Jaya yang sedang duduk di beranda, menatap mereka
dengan mata tajam.
“Ada apa, Pak Kirno, datang malam-malam begini?” tanya Mbah
Jaya.
“Kami ingin bicara tentang anak-anak muda itu, Mbah,” jawab
Pak Kirno. “Mereka terlalu jauh melangkah. Mereka menjual kopi tanpa izin.
Mereka menggunakan internet tanpa pengawasan. Mereka bisa membawa malapetaka ke
desa ini.”
Mbah Jaya menghela napas. “Malapetaka apa yang mereka bawa,
Pak Kirno? Sejauh ini, yang saya lihat hanya kopi yang terjual dengan harga
lebih baik. Apa itu malapetaka?”
“Mbah, jangan salah paham. Ini baru awal. Nanti akan
semakin parah. Anak-anak muda akan lupa adat. Perempuan-perempuan akan
berpakaian tidak senonoh. Budaya kita akan luntur.”
“Apakah itu sudah terjadi?”
“Belum. Tapi akan terjadi.”
“Jadi pak kirno menghukum mereka sebelum mereka bersalah?”
Pak Kirno terdiam. Ia tidak suka jika argumennya dibantah,
apalagi oleh Mbah Jaya yang dihormati.
“Mbah, saya hanya khawatir,” katanya akhirnya. “Saya tidak
ingin desa ini hancur.”
“Desa ini tidak akan hancur, Pak Kirno. Desa ini hanya
berubah. Dan perubahan adalah hal yang alami. Tidak ada yang abadi di dunia
ini. Bahkan gunung pun bisa berubah.”
Pak Kirno tidak menjawab. Ia hanya berdiri, pamit dengan
hormat, lalu pergi. Langkahnya berat, seperti orang yang kalah perang.
Pak Sastro yang ikut datang, masih duduk di samping Mbah
Jaya. “Mbah, apakah Mbah tidak khawatir?”
“Khawatir itu wajar, Sastro. Tapi jangan sampai
kekhawatiran membuat kita buta. Lihatlah anak-anak muda itu. Mereka tidak
merusak. Mereka membangun. Mereka hanya butuh dukungan, bukan rintangan.”
Pak Sastro mengangguk. “Apa yang harus saya lakukan, Mbah?”
“Dukung mereka. Diam-diam. Jangan terang-terangan. Nanti
Pak Kirno marah. Tunjukkan bahwa para tetua tidak semuanya menolak.”
“Baik, Mbah.”
Di Desa Awan Biru, Joko sedang duduk di kamarnya,
memandangi ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia sudah beberapa hari tidak
menerima kabar dari Anita Rohan. Bukan karena Anita Rohan sengaja menghindar,
tetapi karena sinyal di awan biru sedang buruk, musim hujan membuat jaringan
telekomunikasi sering terputus.
Kangen, pikir Joko. Aku
kangen Anita Rohan. Aku kangen senyumnya. Aku kangen cara dia menulis dengan
tekun di buku catatannya. Aku kangen cara dia menegurku ketika aku melakukan
kesalahan.
Ia mencoba menelepon. Tidak tersambung. Ia mencoba mengirim
pesan. Tidak terkirim. Ia menghela napas frustrasi.
“Joko, kenapa melamun?” suara Hermansyah dari pintu.
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Anita Rohan, ya? Sinyal di sini memang lagi jelek. Sabar.
Nanti juga baik.”
“Aku sabar.”
“Muka kamu tidak sabar. Muka kamu kayak orang puasa tapi
belum buka.”
Joko tersenyum tipis. “Dasar Hermansyah, kalau bicara
selalu bercanda.”
“Bercanda itu obat. Kalau tidak bercanda, hidup ini terlalu
berat.” Hermansyah duduk di samping Joko. “Serius, Jok. Kamu suka sama Anita
Rohan, kan?”
Joko tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.
“Ya sudah, jangan dipendam. Nanti sakit. Bilang saja.”
“Belum waktunya.”
“Kapan waktunya? Kalau nunggu waktu yang tepat, tidak akan
pernah ada. Kesempatan itu harus diciptakan, bukan ditunggu.”
Joko memandangi Hermansyah. “Kamu bijak, Man. Aku tidak
menyangka.”
“Aku memang bijak. Hanya saja sering tertutupi oleh
tingkahku yang lucu.”
Mereka berdua tertawa. Di kejauhan, Gunung Merbabu mulai
gelap tertutup awan hujan. Tapi di hati Joko, ada secercah cahaya. Cahaya yang
disebut harapan. Harapan untuk bersatu dengan Anita Rohan. Harapan untuk
mengungkapkan perasaan. Harapan untuk masa depan yang tidak ia ketahui, tetapi
ia yakini akan indah.
Di Desa Suralaya,
Rendi tidak pernah berhenti menulis. Setiap hari, setiap
jam, setiap menit, jika ada waktu luang, ia akan membuka buku catatannya dan
menulis. Buku itu sudah hampir penuh, tetapi ia tidak mau mengganti dengan yang
baru. Katanya, "Buku ini sudah seperti sahabat. Tidak bisa diganti."
Suatu sore, ketika yang lain sedang istirahat setelah
seharian mengajar, Rendi duduk di pojok balai bambu, menulis dengan tekun.
Angga mendekat.
“Ren, kamu nulis apa terus?”
“Cerita perjalanan kita.”
“Cerita apa? Kita belum berhasil.”
“Kita sudah berhasil. Berhasil memulai. Itu sudah layak
dicatat.”
Angga menggelengkan kepala. “Kamu itu terlalu romantis.
Hidup ini bukan novel.”
“Hidup ini novel. Setiap orang punya cerita. Hanya saja,
tidak semua orang menuliskannya.”
“Ya sudah, tulis saja. Tapi jangan lupa makan.”
“Makan nanti. Cerita tidak bisa ditunda.”
Angga menghela napas, lalu pergi meninggalkan Rendi yang
masih setia dengan buku catatannya. Di dalam hati, Angga bertanya-tanya: Apakah
Rendi akan menulis tentang aku? Tentang perjuanganku belajar mouse? Tentang
kegagalanku yang dulu? Ia tidak tahu. Tapi ia berharap, jika Rendi
menulis, ia akan ditulis sebagai pahlawan, bukan sebagai bahan tertawaan.
Tidak hanya kopi. Anyaman Bu Lastri juga mulai dilirik.
Nisa yang rajin memotret dan mengunggah foto anyaman ke media sosial, mendapat
pesanan dari seorang pembeli di Yogyakarta.
“Bu Lastri, ada pesanan! Lima anyaman!” teriak Nisa ketika
berlari ke rumah Bu Lastri.
Bu Lastri yang sedang menenun, terkejut. Tangannya
berhenti. Matanya membesar. “Lima? Benar, Mbak?”
“Benar, Bu. Pembelinya dari Yogya. Katanya, anyaman Ibu
bagus. Mau dipakai untuk dekorasi rumah.”
Bu Lastri hampir tidak percaya. Selama puluhan tahun ia
menenun, anyamannya hanya dijual ke tetangga atau digantung di dinding rumah.
Sekarang, untuk pertama kalinya, karyanya akan dikirim ke luar kota. Bahkan ke
luar provinsi.
“Berapa harganya, Mbak?” tanya Bu Lastri dengan suara
bergetar.
“Dua ratus ribu per buah, Bu. Jadi total satu juta.”
Bu Lastri hampir pingsan. Satu juta rupiah. Jumlah yang
tidak pernah ia bayangkan akan ia terima dari hasil menenun.
“Mbak Nisa, ini tidak bohong?”
“Tidak bohong, Bu. Pembelinya sudah transfer. Uangnya sudah
masuk.”
Bu Lastri menangis. Air mata haru mengalir di pipinya yang
keriput. Ia memeluk Nisa erat-erat. “Terima kasih, Mbak. Terima kasih. Ibu
tidak tahu harus membalas apa.”
“Tidak usah dibalas, Bu. Yang penting Ibu terus menenun.
Karya Ibu sangat berharga.”
Berita tentang anyaman Bu Lastri yang laku terjual menyebar
cepat. Ibu-ibu lain mulai berbondong-bondong datang ke balai bambu, ingin
belajar memotret anyaman mereka. Tiba-tiba, balai bambu yang dulu sepi, menjadi
ramai. Ibu-ibu datang dengan anyaman, dengan kerajinan tangan lainnya, dengan
harapan bahwa karya mereka juga akan dihargai.
“Mbak Nisa, ajar saya motret,” kata Bu Darmi.
“Mbak, anyaman saya juga bagus. Tolong difoto,” kata Bu
Tuti.
“Mbak, saya punya kerajinan dari bambu. Bisa dijual juga,
kan?” kata Bu Lastri (yang lain).
Nisa hampir kewalahan. Tapi ia tersenyum. Ini adalah
masalah yang menyenangkan. Ini adalah bukti bahwa apa yang mereka lakukan mulai
membuahkan hasil.
Untuk merayakan keberhasilan kecil ini, Ilham mengadakan
syukuran sederhana di balai bambu. Hanya dihadiri oleh tim kecilnya, Pak
Raditya, Bu Laila, dan beberapa warga yang mendukung. Tidak ada hidangan mewah.
Hanya nasi tumpeng kecil yang dibuat oleh Bu Laila, lauk sederhana, dan kopi
Suralaya yang diseduh dengan teknik ala jojon, meskipun Jojon tidak hadir
secara fisik, tetapi teknik menyeduhnya sudah diajarkan kepada Ilham.
“Terima kasih untuk semuanya,” kata Ilham sambil berdiri.
Di tangannya ada secangkir kopi, menggantikan gelas untuk bersulang. “Ini baru
awal. Masih banyak yang harus kita kerjakan. Tapi setidaknya, kita sudah
membuktikan bahwa desa kita bisa berubah. Bahwa kopi kita bisa laku. Bahwa
anyaman kita bisa dikenal.”
“Kita baru mulai,” sambung Nisa. “Tapi kita sudah
melangkah. Dan itu yang terpenting.”
Pak Raditya yang duduk di kursi kehormatan, tersenyum
bangga. “Saya tidak salah memilih kalian. Kalian adalah harapan desa ini.
Jangan padamkan api yang sudah menyala.”
Bu Laila yang duduk di samping Ilham, menangis haru. Ia
tidak menyangka putranya akan sejauh ini. Dulu, Ilham hanyalah anak pendiam
yang suka membantu di kebun. Sekarang, ia telah menjadi pemimpin bagi
teman-temannya. Pemimpin bagi desanya.
“Ibu bangga, Nak,” bisik Bu Laila.
Ilham memegang tangan ibunya. “Ini karena doa Ibu.”
Malam itu, di balai bambu yang dulu nyaris roboh, di bawah
lampu minyak yang menyala redup, di tengah tawa dan canda yang kadang pecah,
mereka bersyukur. Bukan karena mereka telah berhasil. Tapi karena mereka telah
memulai. Dan memulai, bagi mereka yang tidak punya apa-apa, adalah setengah dari
perjuangan.
Di luar, hujan mulai turun. Gemericik air di atap seng
menciptakan irama yang menenangkan. Di kejauhan, Gunung Merbabu gelap tertutup
awan. Tapi di dalam balai bambu, ada cahaya. Cahaya harapan. Cahaya perubahan.
Cahaya yang tidak akan padam meskipun badai sekalipun.
BAB 8
Meluaskan Dampak
Matahari baru saja muncul dari balik Gunung Merapi ketika
Ilham sudah bangun. Udara pagi masih dingin, embun masih menempel di setiap
helai rumput dan setiap daun kopi, tetapi semangatnya sudah membara seperti api
unggun di malam puncak pendakian. Ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Pikirannya
penuh dengan rencana, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk minggu-minggu ke
depan, untuk bulan-bulan ke depan, untuk masa depan desanya yang mulai terlihat
lebih cerah dari sebelumnya.
Kemarin, setelah syukuran kecil di balai bambu, Ilham duduk
bersama Pak Raditya hingga larut malam. Mereka berbincang tentang langkah
selanjutnya. Tentang bagaimana meluaskan dampak dari keberhasilan kecil yang
telah mereka raih. Tentang bagaimana melibatkan lebih banyak warga, tidak hanya
Ilham dan kawan-kawannya, tetapi juga petani-petani lain, pengrajin-pengrajin
lain, ibu-ibu rumah tangga yang selama ini hanya bisa menenun tanpa pernah
berpikir bahwa karyanya bisa dijual hingga ke luar kota.
“Ilham,” kata Pak Raditya malam itu, “keberhasilan kalian
menjual kopi dan anyaman adalah bukti bahwa konsep ini bekerja. Tapi jangan
berhenti di situ. Jangan hanya menjadi penjual. Jadilah penggerak. Ajak warga
lain. Latih mereka. Beri mereka kepercayaan bahwa mereka juga bisa.”
“Tapi bagaimana caranya, Pak? Banyak yang masih ragu. Pak
Kirno masih terus menyebarkan keraguan.”
“Keraguan tidak akan hilang dengan kata-kata. Keraguan
hanya akan hilang dengan bukti. Kalian sudah punya bukti kecil. Sekarang buat
bukti yang lebih besar. Ajak Pak Santo. Ajak Pak Sugi. Ajak petani-petani yang
kopinya bagus tetapi tidak punya akses pasar. Tunjukkan kepada mereka bahwa
dengan teknologi, kopi mereka bisa dihargai.”
Ilham mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan coba.”
“Bukan coba. Lakukan.”
Pagi itu, Ilham berjalan menuju balai bambu dengan langkah
mantap. Di belakangnya, Nisa, Angga, Rendi, dan Aulia menyusul satu per satu.
Wajah-wajah mereka masih segar, mata mereka masih berbinar, meskipun hari masih
sangat pagi. Mereka sudah terbiasa. Kebiasaan yang terbentuk dari disiplin dan
keyakinan.
“Hari ini kita akan keliling desa,” kata Ilham ketika
mereka berkumpul di depan balai bambu. “Kita akan menemui petani-petani yang
belum bergabung. Kita akan tawarkan bantuan untuk memotret hasil kebun mereka,
menulis deskripsi, dan memasarkan secara online. Gratis. Tidak dipungut biaya.”
“Apakah mereka mau?” tanya Rendi ragu.
“Kita tidak tahu sebelum mencoba,” jawab Ilham. “Yang
penting kita tawarkan. Biar mereka yang memutuskan.”
“Aku siap,” kata Nisa tegas. “Aku sudah siapkan contoh foto
anyaman Bu Lastri. Itu bisa jadi portofolio.”
“Aku siapkan materi penjelasan sederhana,” kata Rendi
sambil menepuk buku catatannya. “Tidak usah pake istilah-istilah rumit. Bahasa
sehari-hari saja.”
“Aku siapkan komputer untuk demo,” kata Aulia. “Kalau
perlu, kita bawa laptop pinjaman ke rumah-rumah.”
“Aku siapkan fisik,” kata Angga singkat. “Kalau ada yang
perlu diangkut, aku yang angkat.”
Mereka tertawa. Tawa pagi yang menyegarkan, seperti udara
dingin yang masuk ke paru-paru.
Sebelum berkeliling desa, Bu Laila meminta mereka semua
sarapan di rumahnya. “Kalian tidak boleh bekerja dengan perut kosong,” kata Bu
Laila ketika Nisa mampir ke rumah Ilham untuk menjemput. “Nanti sakit. Ibu
sudah masak banyak.”
Mereka berlima duduk di ruang tamu rumah Ilham yang
sederhana. Lantai tanah yang dipadatkan, dinding anyaman bambu, meja kayu kecil
dengan piring-piring pecah belah yang sudah retak di pinggirannya. Namun
hidangan yang disajikan Bu Laila tidak sederhana: nasi putih hangat, sayur
bening dari daun singkong dan jagung, tempe goreng yang renyah di luar dan
lembut di dalam, tahu isi yang masih mengepulkan uap, sambal terasi yang
pedasnya bukan main, dan kopi Suralaya yang diseduh dengan teknik ala Jojon.
“Ibu, ini terlalu banyak,” kata Ilham sambil memandangi
meja yang hampir tidak muat menampung semua hidangan.
“Tidak banyak. Kalian sedang berjuang untuk desa. Ibu hanya
bisa membantu dengan makanan.”
Nisa tersenyum. “Terima kasih, Bu. Ibu baik sekali.”
“Jangan berterima kasih. Makan yang banyak. Jangan
sisakan.”
Mereka makan dengan lahap. Angga mengambil porsi paling
besar, dua piring nasi, lima potong tempe, tiga tahu isi, dan sambal yang
hampir setengah piring. Rendi mengambil porsi sedang, tetapi ia makan dengan
cepat, seolah-olah ada deadline yang harus ia kejar. Aulia makan dengan
perlahan, menikmati setiap gigitan. Nisa dan Ilham duduk bersebelahan, sesekali
saling berpandangan, lalu cepat-cepat berpaling ketika mata mereka bertemu.
Bu Laila yang mengamati dari dapur, tersenyum kecil. Ia tahu.
Seorang ibu selalu tahu. Ada sesuatu antara anaknya dan Nisa. Sesuatu yang
belum diucapkan, tetapi sudah terasa. Biarlah, pikir Bu
Laila. Mereka masih muda. Masih banyak waktu. Yang penting mereka
saling menjaga.
“Nisa,” panggil Bu Laila dari dapur.
“Ya, Bu?”
“Jaga Ilham, ya. Dia kadang ceroboh. Lupa makan. Lupa
istirahat. Kalau sudah sibuk, dunia luar tidak diingat.”
Nisa tersenyum. “Saya akan jaga, Bu. Janji.”
Ilham yang mendengar itu, menunduk. Wajahnya memerah. Bukan
karena sambal, tetapi karena sesuatu yang lain.
Setelah sarapan, mereka berkeliling desa. Rumah pertama
yang mereka datangi adalah rumah Pak Santo, petani kopi yang dulu paling vokal
menolak di warung Mbah Naryo, tetapi belakangan mulai menunjukkan ketertarikan.
Pak Santo sedang duduk di teras rumahnya, ditemani segelas
kopi hitam pekat tanpa gula. Wajahnya kecokelatan oleh terik matahari, kumisnya
tebal dan sedikit memutih di ujung. Matanya menyipit ketika melihat rombongan
Ilham datang.
“Selamat pagi, Pak Santo,” sapa Ilham sambil membungkuk
hormat.
“Pagi,” jawab Pak Santo singkat. “Ada apa? Banyak-banyak
begini.”
“Kami ingin menawarkan bantuan, Pak. Bapak punya kebun
kopi, kan?”
“Punya. Sejak zaman kakek saya. Tapi kenapa?”
“Kami bisa membantu Bapak menjual kopi secara online. Seperti
yang sudah kami lakukan dengan kopi dari kebun Pak Hasan dan beberapa petani
lain.”
Pak Santo mengernyit. “Online? Itu yang pakai HP itu?”
“Iya, Pak. Dengan HP, Bapak bisa memotret hasil kebun, lalu
kami unggah ke internet. Pembeli dari luar kota bisa melihat, lalu memesan.”
“Berapa harganya?”
“Tergantung kualitas, Pak. Tapi rata-rata seratus dua puluh
ribu per kilogram. Setelah dikurangi ongkos kirim dan biaya operasional, Bapak
bisa mendapat sekitar sembilan puluh hingga seratus ribu.”
Mata Pak Santoso membesar. “Seratus ribu? Biasanya
tengkulak ambil tiga puluh ribu.”
“Iya, Pak. Karena dijual langsung ke pembeli, tanpa
perantara.”
Pak Santo terdiam. Matanya menerawang ke kejauhan, mungkin
mengingat-ingat bertahun-tahun ia menjual kopi dengan harga murah, pasrah,
tidak pernah berani bermimpi bahwa harganya bisa lebih baik.
“Kapan bisa mulai?” tanyanya akhirnya.
“Kapan saja, Pak. Asal Bapak siap.”
“Saya siap. Tapi saya tidak punya HP yang bagus. HP saya
hanya untuk telepon.”
“Tidak masalah, Pak. Nanti kami yang foto. Bapak hanya
perlu mengizinkan.”
Pak Santo mengangguk. “Baik. Saya coba.”
Ilham tersenyum. Satu lagi petani bergabung. Satu lagi
bukti bahwa keraguan bisa diubah menjadi kepercayaan.
Di perjalanan menuju rumah Pak Sugi, Angga mengeluarkan HP-nya,
HP jadul dengan layar kecil dan tombol-tombol keras yang bunyinya klik-klik-klik setiap
kali ditekan. Ia mencoba membuka kamera, tetapi HP-nya terlalu lambat.
“Angga, HP kamu itu masih bisa dipakai?” tanya Rendi sambil
tersenyum.
“Bisa. Masih nyala.”
“Nyala doang. Tapi kamera nya? Hasil fotonya kayak lukisan
abstrak.”
“Yang penting ada gambar. Orang lihat juga tahu itu kopi.”
“Tahu kopi, tapi tidak tahu kualitasnya. Hasil foto buram,
orang mengira kopinya juga buram.”
Angga menghela napas. “Kapan kita bisa beli HP baru?”
“Nanti kalau kopi laku,” kata Ilham. “Kita sisihkan
sebagian hasil penjualan untuk membeli peralatan. Termasuk HP untuk
dokumentasi.”
“Janji?”
“Janji.”
Angga memasukkan HP-nya ke saku, lalu berjalan lebih cepat.
Di dalam hatinya, ia sudah membayangkan HP baru dengan kamera jernih, layar
sentuh, dan baterai tahan lama. Suatu hari nanti, pikirnya. Suatu
hari.
Sore harinya, ketika Ilham dan kawan-kawan baru saja selesai
mengunjungi rumah Pak Sugi, sebuah kendaraan roda dua berhenti di depan balai
bambu. Dari kendaraan itu turun dua orang: Joko dan Herman.
Ilham terkejut. “Mas Joko? Mas Herman? Kalian datang?”
Joko tersenyum. “Kami dengar kabar baik dari Suralaya. Kopi
laku. Anyaman laku. Kami ingin lihat sendiri.”
“Tapi kalian tidak bilang mau datang!”
“Kejutan,” kata Herman sambil melepas helm. “Kami tidak
ingin kalian sibuk menyiapkan sambutan. Kami hanya ingin melihat perkembangan.”
Nisa yang mendengar suara dari kejauhan, berlari mendekat.
“Mas Joko! Mas Herman! Wah, senangnya!”
Mereka berpelukan, bukan pelukan yang erat, tetapi pelukan
persahabatan yang hangat. Aulia, Angga, dan Rendi menyusul. Wajah-wajah mereka
berseri-seri.
“Mas Joko, Mas Herman, masuk, masuk!” kata Ilham sambil
mempersilakan. “Kami baru saja selesai keliling desa. Banyak petani yang mulai
tertarik.”
“Bagus,” kata Joko. “Itu yang kami harapkan.”
Mereka masuk ke balai bambu. Joko dan Herman mengamati
sekeliling. Balai bambu itu masih sederhana, bahkan terlihat kumuh dibandingkan
dengan ruang RKDD di Awan Biru. Namun ada sesuatu yang berbeda. Ada kehidupan.
Ada semangat. Ada denyut yang tidak pernah ada sebelumnya.
“Kalian sudah melakukan banyak hal dalam waktu singkat,”
kata Herman sambil duduk di kursi plastik. “Joko bercerita tentang kopi dan
anyaman. Itu luar biasa.”
“Masih jauh dari yang kami targetkan,” kata Ilham merendah.
“Tapi setidaknya kami sudah memulai.”
“Memulai adalah bagian tersulit. Dan kalian sudah
melewatinya.”
Malam itu, setelah magrib, mereka mengadakan diskusi besar
di balai bambu. Hadir tidak hanya Ilham dan kawan-kawan, tetapi juga Joko, Herman,
Pak Raditya, Pak Santo, Pak Sugi, Bu Lastri, dan beberapa warga lain yang mulai
tertarik. Pak Kirno tidak hadir, tentu saja. Mbah Jaya juga tidak hadir, tetapi
pesannya disampaikan melalui Pak Sastro: “Jaga adat. Jangan lupa budaya. Tapi
teruslah bergerak.”
“Kita harus meluaskan dampak,” kata Herman di depan papan
tulis putih. “Jangan hanya berhenti pada kopi dan anyaman. Desa Suralaya punya
banyak potensi lain: wisata alam, budaya, kerajinan bambu, makanan tradisional.
Semua bisa dikembangkan dengan digital.”
“Tapi bagaimana caranya?” tanya Pak Santo. “Kami tidak
paham teknologi.”
“Kami yang akan membantu,” kata Ilham. “Tugas kami adalah
mengajarkan. Tugas Bapak adalah mau belajar.”
“Saya mau belajar. Tapi saya takut salah.”
“Tidak apa-apa salah. Yang penting tidak berhenti.”
Pak Sugi yang duduk di samping Pak Santo, ikut bersuara.
“Saya punya lahan di belakang rumah. Bisa untuk agrowisata. Orang kota suka
lihat kebun kopi. Mereka bisa datang, memetik sendiri, lalu menyeduh.”
“Ide bagus, Pak Sugi,” kata Herman. “Tapi perlu persiapan.
Tempat parkir, toilet, tempat istirahat. Juga promosi. Itu semua butuh waktu
dan tenaga.”
“Kami siap,” kata Pak Sugi mantap. “Asal ada yang
membantu.”
Diskusi berlangsung hingga larut malam. Banyak ide yang
muncul. Ada yang realistis, ada yang terlalu muluk. Tapi tidak ada yang
ditolak. Semua dicatat oleh Rendi di buku catatannya yang tebal. Semua
didokumentasikan oleh Nisa melalui foto-foto. Semua dianalisis oleh Ilham dan Herman.
“Satu hal yang penting,” kata Joko di akhir diskusi.
“Jangan tergesa-gesa. Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Yang penting
konsisten. Terus bergerak. Jangan berhenti.”
“Dan jangan lupa,” sambung Herman, “teknologi hanyalah
alat. Yang terpenting adalah manusia. Yang terpenting adalah cerita. Setiap
desa punya cerita unik. Tugas kalian adalah membantu warga menceritakannya
kepada dunia.”
Setelah diskusi selesai, Joko dan Ilham duduk di beranda
balai bambu. Di tangan mereka masing-masing ada secangkir kopi Suralaya yang
masih mengepulkan uap. Di kejauhan, bintang-bintang berkelap-kelip seperti
berlian yang tersebar di langit hitam. Gunung Merbabu tampak seperti raksasa
yang sedang tidur, tenang namun penuh kekuatan.
“Joko,” panggil Ilham.
“Hm?”
“Aku ingin bertanya sesuatu. Agak pribadi.”
Joko menoleh. “Tentang apa?”
“Tentang Anita Rohan.”
Joko tersenyum tipis. “Apa yang ingin kau tahu?”
“Kalian berdua... ada apa? Aku perhatikan, setiap kali
Anita Rohan di dekatmu, kau berbeda. Lebih tenang. Lebih... tersenyum.”
Joko terdiam sejenak. Ia menyesap kopinya, lalu berkata
pelan, “Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku suka padanya. Tapi aku tidak tahu
apakah dia merasakan hal yang sama.”
“Kenapa tidak kau tanyakan langsung?”
“Takut. Takut jika dia tidak merasakan hal yang sama,
persahabatan kami akan rusak.”
Ilham mengangguk. “Aku mengerti perasaanmu. Aku juga
seperti itu dengan Nisa.”
“Kau juga?” Joko terkejut.
“Iya. Sudah lama. Tapi belum berani mengungkapkan.”
Mereka berdua terdiam. Dua lelaki dengan perasaan yang
sama. Dua hati yang sedang bergulat antara keberanian dan ketakutan.
“Mungkin kita harus berani,” kata Joko akhirnya. “Kata
Hermansyah, kesempatan harus diciptakan, bukan ditunggu.”
“Kapan kau akan bilang?”
“Entah. Mungkin besok. Mungkin lusa. Mungkin tidak pernah.”
Ilham tersenyum. “Jangan tidak pernah. Nanti kau menyesal.”
Joko memandangi bintang-bintang. “Kau benar. Aku tidak
ingin menyesal.”
Keesokan paginya, kejutan lain datang. Sebuah truk tua
berhenti di depan balai desa. Dari truk itu turun Jojon, koki lapangan KPAAB
yang terkenal dengan masakannya yang lezat dan ledekannya yang pedas. Di
tangannya ada karung besar berisi berbagai macam bumbu dapur.
“Jojon? Kau juga datang?” seru Ilham tidak percaya.
“Iya. Herman yang mengajak. Katanya mau bikin acara
masak-masak di sini. Aku disuruh jadi koki.”
“Acara masak-masak? Acara apa?”
“Acara perkenalan produk kuliner Suralaya. Kata Herman,
desa kalian punya potensi kuliner yang belum tergali. Aku datang untuk membantu
menggali.”
Ilham terkejut. “Kami belum siap.”
“Tidak perlu siap. Yang perlu adalah kemauan. Dan
bahan-bahan. Saya sudah bawa bumbu. Tinggal cari bahan segar di sini.”
Nisa yang mendengar dari kejauhan, berlari mendekat.
“Jojon! Wah, senangnya! Aku suka masakanmu!”
“Mbak Nisa, jangan hanya suka. Bantu saya. Cari ibu-ibu
yang mau belajar masak. Aku akan ajari mereka cara membuat makanan khas
Suralaya yang bisa dijual online.”
“Ibu-ibu pasti antusias. Mereka suka masak.”
“Bagus. Cepat cari. Waktu tidak banyak.”
Dengan bantuan Nisa, Jojon mengumpulkan delapan orang
ibu-ibu desa untuk mengikuti lomba masak kecil-kecilan. Bukan lomba yang
serius, tidak ada juri profesional, tidak ada hadiah besar. Hanya sekadar ajang
unjuk kebolehan dan belajar bersama.
“Hari ini kita masak sayur asem,” kata Jojon di depan para
ibu. “Sayur asem adalah makanan tradisional yang hampir semua orang suka. Tapi
bagaimana cara membuatnya terlihat menarik di foto? Bagaimana cara mengemasnya
untuk dijual online? Itu yang akan kita pelajari.”
Para ibu-ibu yang tadinya canggung, mulai antusias. Mereka
memotong sayuran, merebus air, mencampur bumbu, dengan semangat yang membara.
Bu Laila paling bersemangat, ia merasa ini adalah kesempatan untuk menunjukkan
bahwa ibu-ibu desa juga bisa berkarya.
Jojon berkeliling dari satu ibu ke ibu lain, memberi tips,
bercanda, dan kadang mengkritik dengan cara yang lucu.
“Bu, ini sayurnya terlalu besar potongannya. Nanti susah
dimakan. Orang kota itu suka yang praktis.”
“Ibu, ini rasanya kurang asin. Tambah garam sedikit. Jangan
banyak-banyak. Nanti malah keasinan.”
“Bu, ini bagus. Warna kuahnya bening. Aroma sedapnya
tercium. Ini layak jual.”
Setelah semua selesai, mereka menyajikan sayur asem di atas
meja panjang. Nisa memotret dari berbagai sudut. Rendi menulis deskripsi yang
menggoda. Aulia mengunggah ke media sosial.
Dalam waktu kurang dari satu jam, sebuah pesanan masuk.
“Sayur asemnya kelihatan enak. Apakah bisa dikirim ke Semarang?”
Mata para ibu membulat. “Ada yang pesan? Benaran?” tanya Bu
Darmi.
“Benar, Bu,” kata Aulia sambil menunjuk layar. “Satu porsi.
Untuk makan siang.”
“Satu porsi? Itu kecil,” kata Bu Tuti.
“Tapi itu awal,” kata Ilham. “Nanti akan banyak.”
Para ibu tertawa. Tawa bahagia. Tawa yang lahir dari
perasaan bahwa apa yang mereka lakukan dihargai. Bahwa karya mereka, sekecil
apa pun, memiliki nilai.
Sore itu, ketika yang lain sibuk dengan persiapan acara
masak-masak, Joko dan Anita Rohan duduk berdua di bawah pohon beringin besar di
halaman balai desa. Aulia baru saja tiba dari Awan Biru, ia ikut dalam
rombongan kedua yang datang untuk membantu.
“Kok kau ikut?” tanya Joko.
“Herman yang minta. Katanya butuh tenaga administrasi. Aku
kan sekretaris.”
“Oh.”
Mereka berdua terdiam. Angin sore berhembus pelan, membawa
aroma kopi dan tanah basah. Daun-daun beringin bergoyang-goyang, menciptakan
bayangan-bayangan yang bergerak di tanah.
“Anita,” panggil Joko tiba-tiba.
“Hm?”
“Ada yang ingin aku sampaikan. Sudah lama. Tapi tidak
pernah berani.”
Anita menoleh. Matanya menatap Joko dengan lembut. “Apa
itu?”
Joko menarik napas panjang. Dadanya berdebar seperti
genderang perang. Tangannya dingin, bukan karena suhu, tetapi karena gugup.
“Aku... aku suka sama kamu, Anita Rohan. Bukan sebagai
teman. Bukan sebagai rekan di KPAAB. Tapi lebih dari itu. Aku suka sejak lama.
Mungkin sejak pendakian ke Merbabu dulu. Waktu kita duduk di sekitar api unggun
dan kau menulis di buku catatanmu. Wajahmu serius, matamu fokus, dan aku
berpikir, 'Perempuan ini beda.'”
Anita Rohan terdiam. Wajahnya tidak berubah, masih tenang,
masih rapi, masih seperti biasanya. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang
bergetar. Sesuatu yang selama ini ia pendam, kini mulai muncul ke permukaan.
“Joko,” katanya pelan.
“Iya.”
“Aku juga suka sama kamu. Sejak lama. Tapi aku tidak pernah
berani bilang karena takut persahabatan kita rusak.”
Joko menghela napas lega. Dadanya yang sesak kini terasa
lega. Seperti beban yang diangkat dari pundaknya.
“Jadi... kita?”
“Kita,” jawab Anita sambil tersenyum. Senyum yang tulus,
yang jarang ia tunjukkan. Senyum yang hanya untuk orang-orang tertentu.
Mereka berdua terdiam, menikmati kebersamaan di bawah pohon
beringin. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Hanya senyum. Tapi bagi mereka,
itu sudah cukup.
Dari kejauhan, Hermansyah yang melihat mereka, berteriak,
“JOKO! ANITA! AKU LIHAT! AKU KASIH TAHU SEMUA!”
“HERMANSYAH, DIAM!” teriak Joko balik.
Tawa pecah di halaman kantor desa. Tawa yang menghangatkan
sore yang dingin. Tawa yang mengusir rasa gugup yang tersisa.
Kunjungan Joko, Herman, dan rombongan dari Awan Biru tidak
hanya membawa semangat, tetapi juga membawa tawaran kerjasama konkret.
“Kami ingin membuka jalur pemasaran bersama,” kata Herman
dalam pertemuan di kantor desa. “Produk Suralaya akan kami promosikan melalui
jaringan Awan Biru. Sebaliknya, produk Awan Biru juga bisa dijual di Suralaya.
Saling menguntungkan.”
“Apakah warga setuju?” tanya Pak Raditya.
“Kami sudah bicara dengan warga. Sebagian besar setuju.
Yang belum setuju, kami yakinkan pelan-pelan.”
“Bagaimana dengan ongkos kirim?” tanya Yulia, bendahara
KPAAB yang ikut datang. “Itu kendala utama.”
“Kita bisa cari jasa ekspedisi yang bersedia menjangkau
daerah terpencil. Atau kita bentuk sistem pengiriman kolektif. Barang
dikumpulkan di satu titik, lalu dikirim bersama. Lebih hemat.”
Ilham yang mendengar itu, mengangguk. “Ide bagus. Kami
setuju.”
“Ada satu hal lagi,” kata Herman. “Kami ingin mengadakan
pelatihan lanjutan di Suralaya. Bukan kalian yang datang ke Awan Biru, tetapi
kami yang datang ke sini. Mengajar lebih banyak warga. Tidak hanya Ilham dan
kawan-kawan, tetapi juga petani, pengrajin, ibu-ibu rumah tangga.”
“Kapan?” tanya Nisa.
“Dua minggu lagi. Kami akan bawa peralatan. Komputer,
proyektor, kamera. Kalian siapkan tempat dan peserta.”
“Kami siap,” kata Ilham mantap.
Pak Raditya yang mendengar itu, tersenyum bangga. “Ini baru
namanya kerjasama antar desa. Saling menguatkan. Saling mengisi. Bukan saling
menjatuhkan.”
Malam itu, setelah semua tamu beristirahat di rumah-rumah
warga yang bersedia menerima, Ilham duduk di beranda rumahnya. Di sampingnya,
ayahnya, Pak Hasan, duduk dengan diam. Sudah lama mereka tidak duduk bersama
seperti ini. Biasanya, Pak Hasan lebih memilih tidur atau pergi ke kebun
daripada duduk-duduk di beranda.
“Yah,” panggil Ilham pelan.
“Hm.”
“Aku ingin berterima kasih.”
Pak Hasan menoleh. “Terima kasih untuk apa?”
“Untuk izinnya dulu. Untuk kopi yang Bapak berikan sebelum
aku berangkat. Untuk dukungan yang tidak Bapak ucapkan, tetapi Bapak
tunjukkan.”
Pak Hasan terdiam. Matanya menerawang ke kejauhan, ke arah
kebun kopi yang gelap.
“Ayah dulu juga punya mimpi, Ham,” katanya akhirnya.
Suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh suara jangkrik. “Ayah ingin pergi ke
kota, belajar, menjadi sesuatu. Tapi tidak ada yang mendukung. Kakekmu bilang,
'Kamu hanya anak petani. Jangan bermimpi terlalu tinggi.' Akhirnya ayah diam.
Tidak pernah bermimpi lagi.”
Ilham terkejut. Ia tidak pernah mendengar cerita ini.
Ayahnya tidak pernah bercerita tentang masa lalu.
“Sekarang ayah melihatmu,” lanjut Pak Hasan. “Kau bermimpi.
Kau berusaha. Kau tidak menyerah meskipun banyak yang menolak. Itu membuat
ayah... bangga.”
Air mata mengalir di pipi Pak Hasan yang keriput. Lelaki
keras kepala yang jarang menunjukkan perasaan itu menangis. Ilham tidak pernah
melihat ayahnya menangis sebelumnya.
“Yah...” Ilham memeluk ayahnya. Ia tidak tahu harus berkata
apa. Ia hanya memeluk, merasakan hangatnya tubuh ayahnya yang mulai renta.
“Teruslah berjuang, Ham,” bisik Pak Hasan. “Jangan
berhenti. Jangan seperti ayah.”
“Aku tidak akan berhenti, Yah. Janji.”
Malam itu, di rumah sederhana di lereng Merbabu, seorang
ayah dan anak laki-lakinya berpelukan. Air mata mengalir. Hati yang dingin
mulai mencair. Dan di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri tenang, menyaksikan,
seolah-olah berkata: Inilah cinta. Inilah pengorbanan. Inilah yang
membuat manusia terus melangkah meskipun lelah.
BAB 9
Menuju Puncak Perubahan
Dua minggu setelah kunjungan pertama Joko dan Herman, Desa
Suralaya kedatangan rombongan besar dari Desa Awan Biru. Bukan hanya Joko,
Herman, dan beberapa anggota KPAAB seperti sebelumnya, tetapi hampir seluruh
pengurus Komunitas Digital Desa Awan Biru ikut serta. Mereka datang dengan dua
mobil, satu mobil bak terbuka yang penuh dengan peralatan komputer, proyektor,
kamera, dan perlengkapan pelatihan lainnya, serta satu mobil penumpang yang
berisi para pelatih.
Hari itu langit cerah, biru bersih tanpa awan, seolah alam
ikut merestui acara besar yang akan digelar di Desa Suralaya. Matahari belum
terlalu tinggi, sinarnya masih keemasan dan ramah di kulit. Burung-burung
berkicau di pepohonan, menyambut kedatangan tamu-tamu istimewa dengan
suara-suara riang yang tidak pernah lelah. Warga desa sudah berkumpul di
halaman kantor desa sejak pagi, bukan karena mereka diwajibkan, tetapi karena
rasa penasaran yang menggelitik. Mereka ingin melihat dengan mata kepala
sendiri apa yang akan diajarkan oleh orang-orang dari desa tetangga yang
katanya sudah maju itu.
Pak Raditya berdiri di depan kantor desa, mengenakan
pakaian terbaiknya, kemeja batik lengan panjang yang biasa ia kenakan hanya
untuk acara-acara resmi. Wajahnya berseri-seri, senyumnya tidak pernah lepas.
Ini adalah hari bersejarah bagi desanya. Untuk pertama kalinya, Suralaya
menjadi tuan rumah bagi kegiatan sebesar ini. Untuk pertama kalinya, desa yang
selama ini terisolasi dan nyaris dilupakan mulai diperhatikan.
“Selamat datang di Desa Suralaya,” sapa Pak Raditya kepada
Herman dan rombongan. Suaranya lantang, penuh wibawa, tetapi juga hangat. “Kami
sangat berterima kasih atas kedatangan mas-mas dan mba-mba sekalian. Desa kami
kecil, sederhana, dan mungkin masih jauh dari kata maju. Tapi kami punya
semangat. Dan semangat itu tidak akan pernah padam.”
Herman maju selangkah, melepas kacamata tebalnya,
menyapunya dengan ujung baju, kebiasaan yang sudah melekat, lalu menjabat
tangan Pak Raditya dengan erat. “Terima kasih, Pak Raditya. Kami di sini bukan
untuk menggurui. Kami di sini untuk berbagi. Karena kami dulu juga seperti
Suralaya. Miskin. Terisolasi. Hampir dilupakan. Tapi kami memilih untuk tidak
diam. Dan hari ini, kami ingin membantu Suralaya melakukan hal yang sama.”
Tepuk tangan pecah dari warga yang berkumpul. Pak Santo
yang berdiri di barisan depan, ikut bertepuk tangan meskipun matanya masih
menyipit tanda tidak sepenuhnya percaya. Bu Lastri yang membawa anyaman terbaiknya,
tersenyum lebar. Bu Laila yang berdiri di samping Pak Hasan, mengusap air mata
haru.
Ilham yang berdiri tidak jauh dari Pak Raditya, merasa
dadanya sesak. Bukan sesak karena sakit, tetapi karena haru. Ini adalah momen
yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Dulu, ketika ia masih kecil, ia
sering bertanya-tanya apakah desanya akan selamanya seperti ini, sepi,
terisolasi, tanpa perubahan. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia melihat
secercah harapan yang nyata. Bukan sekadar mimpi di siang bolong, tetapi
sesuatu yang sedang terjadi di depan matanya.
Nisa yang berdiri di samping Ilham, tanpa sadar menggenggam
tangan Ilham. Tangannya dingin, tetapi genggamannya kuat. “Kita berhasil, Ham,”
bisiknya. “Setidaknya, kita sudah sampai di sini.”
Ilham membalas genggaman Nisa. “Ini baru awal, Nis. Tapi
setidaknya, kita tidak sendirian lagi.”
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Pak Raditya dan Herman.
Setelah sambutan singkat, mereka mempersilakan warga untuk memasuki area
pelatihan yang telah disiapkan di halaman kantor desa. Sebuah tenda besar
berwarna biru putih didirikan di halaman, pinjaman dari Awan Biru, dengan
kursi-kursi plastik yang disusun rapi berjajar. Di depan tenda, sebuah papan
tulis putih berdiri tegak, dan di sampingnya, sebuah proyektor dipasang
menghadap layar putih.
“Selama tiga hari ke depan,” kata Herman di depan papan
tulis, “kami akan mengajarkan dasar-dasar digitalisasi desa. Fotografi produk.
Penulisan deskripsi. Pemasaran media sosial. Pengemasan dan pengiriman.
Pengelolaan keuangan sederhana. Semua gratis. Tidak dipungut biaya.”
“Apakah kami bisa langsung praktek?” tanya Pak Santo dari
barisan belakang.
“Bisa. Kami bawa komputer dan kamera. Setiap peserta akan
mendapat giliran praktek.”
“Saya tidak bisa baca tulis,” kata Bu Darmi dengan suara
malu-malu.
“Tidak masalah, Bu. Kami akan ajarkan dengan cara yang
sederhana. Banyak ibu-ibu di Awan Biru yang juga tidak bisa baca tulis, tapi
mereka bisa memotret dan menjual anyaman. Karena yang paling penting bukanlah
membaca dan menulis, tetapi kemauan untuk belajar.”
Bu Darmi tersenyum lega. Ia sudah khawatir tidak akan bisa
mengikuti pelatihan. Ternyata, Herman dan timnya telah memikirkan semua
kalangan.
Pelatihan dimulai dengan materi fotografi produk. Wati, perempuan
muda dengan rambut pendek dan senyum lebar, berdiri di depan layar proyektor,
menunjukkan contoh-contoh foto produk yang bagus dan yang kurang bagus.
“Perhatikan perbedaannya,” kata Wati sambil mengklik remote
proyektor. “Foto yang bagus memiliki pencahayaan yang baik, sudut yang tepat,
dan latar belakang yang tidak mengganggu. Foto yang kurang bagus biasanya
gelap, buram, atau terlalu ramai.”
“Bagaimana cara membuat pencahayaan yang bagus?” tanya Nisa
yang duduk di barisan depan.
“Gunakan cahaya alami. Matahari pagi atau sore adalah yang
terbaik. Jangan menggunakan lampu kilat HP karena akan membuat foto terlihat
keras dan tidak alami. Letakkan objek di dekat jendela atau di luar ruangan,
tetapi tidak terkena sinar matahari langsung.”
Wati kemudian mempraktekkan langsung. Ia mengambil sebuah
anyaman milik Bu Lastri, meletakkannya di atas meja kayu di bawah sinar
matahari sore yang keemasan. Ia mengatur sudut kamera, memastikan tidak ada
bayangan yang mengganggu, lalu memotret.
“Nah, ini hasilnya,” kata Wati sambil menunjukkan layar
proyektor.
Para peserta terkesima. Anyaman yang tadinya terlihat biasa
saja, kini tampak seperti karya seni. Warna-warnanya lebih hidup, teksturnya
lebih jelas, dan secara keseluruhan terlihat lebih menarik.
“Wah, seperti sulap,” kata Bu Lastri dengan mata berbinar.
“Ini bukan sulap, Bu. Ini teknik. Dan Ibu bisa
mempelajarinya.”
Setelah demonstrasi, giliran peserta untuk mencoba. Nisa
membagikan ponsel-ponsel pinjaman dari Awan Biru kepada para ibu-ibu yang tidak
memiliki HP dengan kamera bagus. Mereka berpasangan, saling membantu, saling
mengajari.
Bu Lastri dan Bu Darmi duduk bersebelahan. Bu Lastri
memegang ponsel dengan hati-hati, seperti memegang benda yang sangat berharga.
Bu Darmi di sampingnya, memegang anyaman yang akan difoto.
“Pencet yang mana, Mbak Wati?” tanya Bu Lastri.
“Yang bundar di tengah bawah, Bu. Tapi jangan dulu. Atur
dulu sudutnya.”
“Sudutnya bagaimana?”
“Coba Ibu miringkan sedikit anyamannya. Biar cahayanya
jatuh di sini.”
Bu Lastri mengikuti instruksi. Tangannya yang kasar dan
penuh kapalan itu berusaha mengatur anyaman dengan lembut. Setelah beberapa
kali mencoba, akhirnya ia menemukan sudut yang pas.
“Klik, Bu. Sekarang.”
Bu Lastri menekan tombol. Klik. Foto anyaman
itu tersimpan di galeri.
“Coba lihat, Bu,” kata Wati sambil mendekat.
Bu Lastri melihat layar ponsel. Matanya membesar. “Ini
anyaman saya? Kok jadi bagus?”
“Iya, Bu. Ini anyaman Ibu. Cantik, kan?”
Bu Lastri tersenyum. Senyum yang tulus, yang tidak perlu
dipaksakan. “Saya tidak percaya. Saya tidak percaya anyaman saya bisa seindah
ini.”
“Percayalah, Bu. Karya Ibu memang indah. Selama ini hanya
tidak ada yang melihat.”
Bu Darmi yang melihat hasil foto Bu Lastri, ikut
bersemangat. “Aku juga mau! Ajar aku!”
“Sebentar, Bu. Giliran Ibu berikutnya.”
Di sudut lain tenda, Pak Santo dan Pak Sugi sedang berdebat
tentang sudut pandang fotografi. Pak Santo bersikeras bahwa kopi harus difoto
dari atas agar terlihat isinya. Pak Sugi bersikeras bahwa kopi harus difoto
dari samping agar terlihat teksturnya.
“Dari atas lebih bagus,” kata Pak Santo.
“Dari samping lebih bagus,” bantah Pak Sugi.
“Coba tanya Mas Herman,” kata Pak Santo.
Herman yang mendengar, berjalan mendekat. “Kenapa tidak
keduanya? Foto dari berbagai sudut, lalu pilih yang terbaik. Tidak ada aturan
baku dalam fotografi. Yang penting objeknya terlihat menarik.”
“Tapi mana yang lebih menarik?” desak Pak Santo.
“Tergantung selera pembeli. Makanya foto banyak-banyak.
Biar pembeli yang memilih.”
Pak Santo dan Pak Sugi saling pandang, lalu tertawa. Mereka
menyadari bahwa mereka telah berdebat tentang hal yang tidak perlu. Terkadang,
perubahan cara berpikir dimulai dari hal-hal sederhana seperti ini.
Sela istirahat siang, ketika yang lain sedang makan di
kantin darurat yang didirikan di samping kantor desa, Ilham dan Nisa duduk di
bawah pohon beringin besar. Mereka berdua membawa nasi bungkus dari Bu Laila, nasi
putih dengan lauk telur dadar dan tempe goreng, sederhana tetapi hangat.
“Kamu lihat wajah Bu Lastri tadi?” kata Nisa sambil
mengunyah. “Dia sangat bahagia. Sampai hampir menangis.”
“Aku lihat,” jawab Ilham. “Itu membuat semua perjuangan
kita terasa berharga.”
“Iya. Kadang kita sibuk memikirkan target, angka,
keberhasilan. Tapi lupa bahwa dampak terbesar dari apa yang kita lakukan adalah
pada perasaan orang-orang. Pada harga diri mereka. Pada keyakinan mereka bahwa
mereka berharga.”
Ilham menatap Nisa. Matanya lembut. “Kamu bijak, Nis. Aku
tidak menyangka.”
“Aku tidak bijak. Aku hanya perempuan yang suka mengamati.”
Mereka berdua terdiam. Angin siang berhembus pelan, membawa
aroma kopi dan tanah basah. Daun-daun beringin bergoyang-goyang, menciptakan
bayangan-bayangan yang bergerak di tanah.
“Nisa,” panggil Ilham tiba-tiba.
“Hm?”
“Aku ingin bilang sesuatu. Tapi aku takut.”
Nisa menoleh. Wajahnya tenang, tetapi matanya penuh rasa
ingin tahu. “Takut apa?”
“Takut... kau akan marah. Atau kau akan menjauh.”
Nisa tersenyum. “Coba saja bilang. Belum tahu reaksiku,
sudah takut.”
Ilham menarik napas panjang. Dadanya berdebar seperti
genderang perang. Tangannya dingin, bukan karena suhu, tetapi karena gugup.
“Aku... aku suka sama kamu, Nisa. Bukan sebagai teman.
Bukan sebagai rekan seperjuangan. Tapi lebih dari itu. Aku suka sejak lama.
Mungkin sejak kita masih kecil, bermain di kebun kopi. Atau mungkin sejak kita
mulai serius memikirkan desa ini. Aku tidak tahu persis kapan. Tapi yang aku
tahu, aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu.”
Nisa terdiam. Wajahnya tidak berubah, masih tenang, masih
seperti biasanya. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang bergetar. Sesuatu
yang selama ini ia pendam, kini mulai muncul ke permukaan.
“Ilham,” katanya pelan.
“Iya.”
“Aku juga suka sama kamu. Sejak lama. Tapi aku tidak pernah
berani bilang karena takut persahabatan kita rusak. Takut kamu tidak merasakan
hal yang sama. Takut... banyak hal.”
Ilham menghela napas lega. Dadanya yang sesak kini terasa
lega. Seperti beban yang diangkat dari pundaknya.
“Jadi... kita?”
“Kita,” jawab Nisa sambil tersenyum. Senyum yang tulus,
yang jarang ia tunjukkan. Senyum yang hanya untuk orang-orang tertentu.
Mereka berdua terdiam, menikmati kebersamaan di bawah pohon
beringin. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Hanya senyum. Tapi bagi mereka,
itu sudah cukup.
Dari kejauhan, Rendi yang sedang menulis, melihat mereka
dan tersenyum. Ini akan menjadi babak yang indah dalam catatanku,
pikirnya. Babak tentang cinta yang tumbuh di tengah perjuangan.
Sementara pelatihan berlangsung dengan lancar, di balik
layar, Pak Kirno tidak tinggal diam. Ia merasa terancam. Semakin banyak warga
yang berbondong-bondong mengikuti pelatihan, semakin berkurang pengaruhnya. Ia
tidak bisa menerima bahwa desa yang dulu ia kendalikan kini mulai berubah tanpa
persetujuannya.
Suatu sore, ketika pelatihan hari kedua baru saja usai, Pak
Kirno datang ke kantor desa dengan diikuti oleh beberapa orang yang setia
kepadanya. Wajahnya merah padam, matanya melotot, dan langkahnya berat seperti
orang yang hendak berperang.
“Pak Raditya!” teriak Pak Kirno dari pintu kantor desa.
“Saya ingin bicara!”
Pak Raditya yang sedang duduk di kursi kehormatan, berdiri
dengan tenang. Wajahnya tidak berubah, masih teduh, masih seperti biasanya.
“Silakan, Pak Kirno. Ada apa?”
“Saya tidak setuju dengan acara ini! Ini bukan acara desa!
Ini acara orang luar! Mereka tidak tahu apa-apa tentang desa kita! Mereka hanya
mau mengambil keuntungan!”
Herman yang mendengar itu, berdiri. “Pak Kirno, dengan
hormat, kami tidak mengambil keuntungan apa pun. Kami datang untuk berbagi.
Tanpa pamrih.”
“Tanpa pamrih? Omong kosong! Pasti ada maksud di balik
semua ini!”
Ilham yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Pak
Kirno, dengan hormat, apa yang kami lakukan adalah untuk desa. Untuk warga.
Untuk masa depan anak-anak kita. Tidak ada maksud tersembunyi.”
“Kau jangan ikut campur, Ilham! Kau masih anak-anak! Belum
tahu apa-apa!”
“Saya tahu, Pak. Saya tahu bahwa kopi kita selama ini
dijual murah. Saya tahu bahwa anyaman ibu-ibu tidak dihargai. Saya tahu bahwa
anak-anak muda pergi merantau karena tidak ada masa depan di sini. Dan saya
tahu bahwa semua itu bisa berubah jika kita mau belajar.”
Pak Kirno terdiam. Wajahnya semakin merah. “Kurang ajar!”
Ia melangkah maju, hendak memukul Ilham. Tapi Angga yang
sigap, menghadang. “Pak Kirno, jangan!”
“Kau juga ikut-ikutan!”
Pak Raditya yang melihat situasi semakin memanas, berdiri
di antara mereka. “Cukup, Pak Kirno! Tidak boleh ada kekerasan di desa ini!”
Pak Kirno berhenti. Ia menatap Pak Raditya dengan mata
penuh kebencian. “Bapak memihak mereka?”
“Saya tidak memihak siapa pun. Saya memihak kebenaran. Dan
kebenarannya adalah, desa ini butuh perubahan. Kalau Bapak tidak suka, Bapak
boleh tidak ikut. Tapi jangan menghalangi.”
Pak Kirno mendengus. “Kita lihat nanti, Pak Raditya. Saya
tidak akan diam.”
Ia berbalik dan pergi, diikuti oleh para pendukungnya.
Langkahnya berat, seperti orang yang kalah perang. Pintu kantor desa tertutup
dengan keras, membuat debu beterbangan.
Pak Raditya menghela napas. “Maaf, Mas Herman. Maaf, Ilham.
Itulah Pak Kirno. Keras kepala. Tapi sebenarnya dia tidak jahat. Dia hanya
takut.”
“Kami tahu, Pak,” kata Herman. “Kami juga mengalami hal
yang sama di Awan Biru dulu. Para tetua yang menolak. Warga yang meragukan.
Tapi perlahan, mereka berubah. Setelah melihat bukti.”
“Semoga di sini juga begitu.”
Untuk menghilangkan ketegangan setelah konflik dengan Pak
Kirno, Hermansyah dan Jojon yang ikut dalam rombongan Awan Biru, memutuskan
untuk mengadakan acara hiburan sederhana di halaman kantor desa. Mereka membawa
gitar dan alat musik seadanya, lalu mulai bernyanyi.
“Malam ini kita akan bernyanyi bersama!” teriak Hermansyah dengan
gaya MC dadakan. “Tidak usah malu-malu! Yang punya suara bagus, silakan maju!
Yang punya suara jelek, lebih baik diam!”
“Hermansyah, kamu itu kasar!” protes Camelia dari barisan
penonton.
“Ini bukan kasar. Ini jujur.”
Jojon yang memegang gitar, mulai memetik senar. “Kita
nyanyi lagu yang mudah. Lagu ‘Rasa Sayang’. Ayo, semua!”
Mereka bernyanyi bersama. Suara mereka tidak merdu, ada
yang fals, ada yang terlalu keras, ada yang terlalu pelan. Tapi tawa mereka
lebih keras daripada nyanyian. Tawa yang menghangatkan malam yang dingin. Tawa
yang mengusir rasa tegang yang tersisa.
Bu Laila yang duduk di samping Pak Hasan, tersenyum.
“Mereka lucu, ya, Pak.”
“Lucu,” jawab Pak Hasan singkat. Tapi matanya berbinar.
Pak Hasan yang biasanya keras dan pendiam, malam itu ikut
tersenyum. Ia tidak bernyanyi, itu terlalu berlebihan untuknya. Tapi ia
menikmati suasana. Ia melihat anak-anak muda dari Awan Biru dan Suralaya
bercampur menjadi satu, tertawa bersama, bernyanyi bersama, tanpa memandang
asal-usul.
Mungkin, pikir Pak Hasan, perubahan
tidak selalu buruk. Mungkin perubahan bisa menjadi sesuatu yang indah.
Setelah sesi bernyanyi, Herman meminta semua orang duduk
melingkar. Api unggun dinyalakan di tengah-tengah, seperti malam pertama Ilham
bertemu Joko dan rombongan KPAAB. Tapi kali ini, lingkarannya lebih besar.
Bukan hanya para pendaki, tetapi juga warga Suralaya, petani, pengrajin,
ibu-ibu rumah tangga, anak-anak kecil.
“Malam ini,” kata Herman, “aku ingin bercerita tentang Awan
Biru. Tentang bagaimana desa kami dulu, dan bagaimana desa kami sekarang.”
Ia bercerita dengan perlahan, penuh penghayatan. Tentang
masa lalu ketika Awan Biru adalah desa yang miskin, terisolasi, dan nyaris
dilupakan. Tentang anak-anak muda yang pergi merantau dan tidak pernah kembali.
Tentang para tetua yang pasrah, yang menganggap bahwa desa kecil tidak akan
pernah bisa maju.
“Tapi kemudian,” lanjut Herman, “kami sadar. Bahwa tidak
ada yang akan mengubah desa kami selain kami sendiri. Pemerintah tidak akan
datang dengan sendirinya. Investor tidak akan melirik desa terpencil. Kami
harus bergerak. Kami harus belajar. Kami harus berubah.”
Ia bercerita tentang perjuangan mereka, tentang belajar
komputer dari nol, tentang membeli komputer bekas dengan uang patungan, tentang
bolak-balik ke kota untuk mencari ilmu, tentang kegagalan demi kegagalan yang
mereka alami.
“Kami pernah hampir menyerah. Banyak kali. Ketika komputer
rusak dan tidak ada yang bisa memperbaiki. Ketika hasil jualan online tidak
laku-laku. Ketika warga mengejek dan mengatakan kami buang-buang waktu. Tapi
kami tidak menyerah. Karena kami tahu, menyerah bukanlah pilihan.”
Air mata mengalir di pipi beberapa warga yang mendengar. Bu
Lastri menangis. Pak Santo mengusap matanya dengan ujung baju. Bahkan Pak Hasan
yang keras kepala itu, tampak terharu.
“Dan hari ini,” kata Herman, “kami di sini bukan untuk
membanggakan diri. Kami di sini untuk berbagi. Karena kami percaya, Suralaya
juga bisa. Suralaya juga punya potensi. Suralaya juga bisa berubah. Asal ada
kemauan. Asal ada kerja sama. Asal ada keyakinan.”
Tepuk tangan pecah. Bukan tepuk tangan yang sopan dan
terukur, tetapi tepuk tangan yang keras, yang tulus, yang lahir dari hati yang
tersentuh.
Ilham yang duduk di samping Nisa, merasa dadanya sesak. Ia
menatap Herman, lalu menatap Joko, lalu menatap semua orang yang hadir malam
itu. Ia merasa tidak sendirian. Ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang
lebih besar dari dirinya.
Kita bisa,
pikirnya. Kita benar-benar bisa.
Hari terakhir pelatihan, Herman mengumumkan sebuah ide
besar: mengadakan Pameran Produk Desa Suralaya. Pameran ini akan diadakan
sebulan kemudian, dan akan dihadiri oleh perwakilan dari desa-desa tetangga,
kecamatan, bahkan mungkin kabupaten.
“Tujuannya,” kata Herman, “bukan hanya untuk menjual
produk. Tapi untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Suralaya ada. Bahwa Suralaya
punya potensi. Bahwa Suralaya tidak kalah dengan desa-desa lain.”
“Apakah kita mampu?” tanya Pak Santo ragu.
“Kita tidak akan tahu sebelum mencoba. Yang penting kita
persiapkan dengan matang. Produk yang akan dipamerkan: kopi, anyaman, kerajinan
bambu, makanan tradisional, dan potensi wisata.”
“Kami siap membantu,” kata Ilham. “Tapi kami butuh dukungan
semua pihak.”
“Kami dukung,” kata Pak Raditya tegas. “Ini adalah
kesempatan untuk desa kita.”
Pak Kirno tidak hadir dalam pertemuan itu. Tapi kabar
tentang pameran cepat menyebar. Beberapa warga yang tadinya ragu, mulai
menunjukkan ketertarikan. Bahkan Pak Kirno, meskipun tidak hadir, tidak
melarang istrinya untuk ikut serta.
Bu Kirno, istri Pak Kirno, datang ke balai bambu keesokan
harinya. Ia membawa kerajinan anyaman buatannya sendiri. “Saya ingin ikut
pameran,” katanya malu-malu. “Tapi jangan bilang suami saya, ya. Nanti marah.”
“Kami tidak akan bilang, Bu,” kata Nisa sambil tersenyum.
“Tapi suatu saat nanti, Pak Kirno akan tahu. Dan semoga beliau bangga.”
Bu Kirno tersenyum. “Semoga.”
Di sela-sela persiapan pameran, Joko dan Anita semakin
sering terlihat bersama. Mereka duduk berdua di bawah pohon beringin, berjalan
bersama menyusuri kebun kopi, atau sekadar diam berdua di teras kantor desa
sambil menikmati kopi.
Hermansyah yang melihat mereka, tidak bisa menahan diri
untuk tidak menggoda. “Joko, Anita, kalian itu sudah kayak pengantin baru. Apa
tidak malu?”
“Diam, Man,” jawab Joko sambil tersenyum.
“Kami hanya berteman,” kata Anita diplomatis.
“Berteman? Berteman yang saling pegang tangan?” Hermansyah
tertawa terbahak-bahak.
Anita Rohan tersipu. Joko tertawa kecil. Mereka memang
sudah semakin dekat, tetapi belum ada yang resmi. Mereka masih menikmati masa-masa
penuh kehati-hatian ini, masa ketika setiap tatapan terasa istimewa, setiap
senyum terasa berharga, setiap kebersamaan terasa seperti hadiah.
“Joko,” panggil Anita pelan ketika Hermansyah sudah pergi.
“Hm?”
“Aku senang kita bertemu. Aku senang kita bisa bersama.”
Joko menatap Anita. Matanya lembut. “Aku juga. Aku tidak
pernah menyangka akan bertemu seseorang sepertimu.”
Mereka berdua terdiam, menikmati kebersamaan di bawah pohon
beringin. Di kejauhan, Gunung Merbabu mulai diselimuti kabut sore. Burung-burung
pulang ke sarangnya. Dan di hati mereka, ada ketenangan yang tidak bisa
dijelaskan dengan kata-kata.
Angga yang selama ini dikenal sebagai pemuda paling kaku
dan tidak romantis, tiba-tiba membuat kejutan. Suatu pagi, ketika semua orang
sibuk mempersiapkan pameran, Angga datang dengan membawa setangkai bunga mawar
merah, bunga yang tidak tumbuh di desa Suralaya, pasti ia beli dari kecamatan.
Semua orang terkejut. Angga tidak pernah membawa bunga.
Angga tidak pernah melakukan hal-hal romantis. Angga adalah Angga, pemuda yang
lebih nyaman dengan mesin dan peralatan daripada dengan kata-kata manis.
“Angga, ini untuk siapa?” tanya Rendi dengan mata membulat.
“Untuk... seseorang,” jawab Angga malu-malu.
“Siapa?”
“Rahasia.”
Tapi semua orang sudah bisa menebak. Angga sering terlihat
duduk di dekat Aulia. Angga sering membantu Aulia membersihkan komputer. Angga
sering membawakan makanan untuk Aulia ketika ia sibuk. Angga... suka pada
Aulia.
Aulia yang duduk di sudut ruangan, pura-pura tidak
mendengar. Tapi wajahnya memerah. Jantungnya berdebar lebih cepat.
Angga berjalan mendekati Aulia. Ia mengulurkan bunga mawar
itu dengan tangan gemetar. “Aulia... ini untukmu.”
Aulia menerima bunga itu dengan tangan gemetar juga.
“Terima kasih, Ga.”
“Aku... aku suka sama kamu. Mungkin sudah lama. Tapi baru
berani bilang sekarang.”
Semua orang bertepuk tangan. Nisa menangis haru. Rendi
menulis cepat di buku catatannya. Ilham tersenyum bangga.
Aulia tersenyum. “Aku juga suka sama kamu, Ga. Tapi aku
pikir kamu tidak akan pernah berani bilang.”
“Aku juga tidak menyangka. Tapi kata Joko, kesempatan harus
diciptakan, bukan ditunggu.”
Joko yang mendengar namanya disebut, tersenyum malu. Ia
tidak menyangka kata-katanya akan diingat oleh Angga.
Malam itu, balai bambu dipenuhi tawa dan kebahagiaan. Dua
pasangan baru lahir di tengah perjuangan: Ilham-Nisa dan Angga-Aulia. Dan di
kejauhan, Joko-Anita yang sudah lebih dulu, tersenyum melihat mereka.
Cinta, pikir Rendi sambil
menulis, tumbuh di tempat yang tidak terduga. Di tengah debu balai
bambu, di antara komputer bekas, di bawah pohon beringin yang rindang. Cinta
tidak perlu kemewahan. Cinta hanya perlu keberanian.
Seminggu sebelum pameran, Pak Kirno datang ke rumah Ilham.
Ia datang sendirian, tanpa pengikut, tanpa amarah. Wajahnya lelah, matanya
sayu. Ia duduk di kursi bambu yang disediakan Bu Laila, lalu terdiam cukup
lama.
“Pak Kirno, ada apa?” tanya Ilham hati-hati.
Pak Kirno menghela napas. “Aku... ingin minta maaf.”
Ilham terkejut. Pak Kirno, lelaki paling keras di desa ini,
meminta maaf. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
“Selama ini aku menentang kalian. Aku menyebarkan keraguan.
Aku mencoba menghalangi. Karena aku takut. Takut pada perubahan. Takut pada
hal-hal yang tidak aku pahami. Takut bahwa desa ini akan berubah menjadi
sesuatu yang asing.”
“Pak Kirno...”
“Biarkan aku selesai.” Pak Kirno mengangkat tangan. “Tapi
kemarin, istriku pulang dengan wajah berseri-seri. Dia bercerita tentang
pameran. Tentang anyamannya yang akan dipamerkan. Tentang harapannya. Aku belum
pernah melihat istriku sebahagia itu sejak... entah kapan.”
Air mata mengalir di pipi Pak Kirno yang kasar. Lelaki yang
selama ini dikenal sebagai pribadi yang keras dan dingin itu menangis.
“Aku sadar, bahwa apa yang kalian lakukan tidak merusak
desa ini. Justru sebaliknya. Kalian membawa harapan. Kalian membuat istriku
bahagia. Kalian membuat warga lain tersenyum. Aku... aku malu pada diriku
sendiri.”
Ilham tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya duduk di
samping Pak Kirno, lalu meletakkan tangannya di pundak lelaki itu.
“Pak Kirno, Bapak tidak perlu minta maaf. Bapak hanya
khawatir. Itu wajar. Sekarang, Bapak mau bergabung dengan kami?”
Pak Kirno mengangguk. “Aku mau. Aku ingin membantu. Apapun
yang bisa aku lakukan.”
“Bapak bisa membantu menyiapkan tempat pameran. Bapak punya
lahan luas. Bisa untuk parkir.”
“Baik. Aku siapkan.”
Bu Laila yang melihat dari dapur, tersenyum. Ia menyiapkan
segelas kopi untuk Pak Kirno, kopi Suralaya, diseduh dengan hangat. Pak Kirno
menerimanya, menyesap pelan, lalu tersenyum.
“Kopi ini enak,” katanya.
“Kopi Suralaya, Pak. Yang selama ini Bapak jual murah ke
tengkulak.”
Pak Kirno menghela napas. “Mulai sekarang, tidak akan
lagi.”
Hari pameran tiba. Langit cerah, biru bersih tanpa awan,
seolah alam ikut merayakan. Halaman kantor desa yang biasanya sepi, kini
dipenuhi stan-stan sederhana dari anyaman bambu dan kayu. Setiap stan
menampilkan produk-produk unggulan desa: kopi, anyaman, kerajinan bambu,
makanan tradisional, dan berbagai hasil bumi lainnya.
Pak Kirno menepati janjinya. Lahan di belakang rumahnya
yang luas, ia gunakan sebagai tempat parkir. Bahkan ia membantu mengatur lalu
lintas, meskipun tidak ada yang memintanya. Wajahnya masih tegas, tetapi
matanya tidak lagi dingin.
Pak Raditya berdiri di depan kantor desa, menyambut
tamu-tamu yang datang. Perwakilan dari kecamatan hadir. Perwakilan dari
desa-desa tetangga juga hadir. Bahkan seorang wartawan dari media lokal datang
untuk meliput.
“Selamat datang di Pameran Produk Desa Suralaya,” kata Pak
Raditya dalam sambutannya. “Desa kami kecil, sederhana, dan mungkin belum
banyak dikenal. Tapi hari ini, kami ingin menunjukkan bahwa desa kecil punya
mimpi besar. Bahwa keterbatasan bukanlah halangan. Bahwa perubahan itu mungkin,
asal ada kemauan, kerja sama, dan keyakinan.”
Tepuk tangan pecah. Ilham yang berdiri di antara kerumunan,
merasa dadanya sesak. Nisa di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Angga dan
Aulia berdiri tidak jauh dari mereka, tersenyum. Rendi sibuk menulis dan
memotret.
Herman dan rombongan dari Awan Biru datang dengan membawa
kado, sepuluh unit komputer bekas yang sudah direnovasi, untuk melengkapi balai
bambu Suralaya. “Ini adalah awal dari kerja sama kita,” kata Herman. “Bukan
hanya pameran. Tapi juga berbagi ilmu, berbagi pengalaman, berbagi masa depan.”
Bu Lastri menangis di stan anyamannya. Anyamannya laku
terjual puluhan buah dalam hitungan jam. Pembeli dari kota memuji keindahan
anyamannya, memuji ketelitiannya, memuji cerita di balik setiap helai bambu
yang ia anyam.
“Saya tidak pernah menyangka,” kata Bu Lastri kepada
seorang pembeli. “Saya hanya menenun untuk mengisi waktu. Tidak pernah terpikir
bahwa anyaman saya akan dilihat orang banyak.”
“Karya Ibu indah, Bu. Jangan pernah berhenti menenun.”
Pak Santo juga kebanjiran pesanan kopi. Ia hampir tidak
percaya ketika seorang pembeli dari Jakarta memesan lima puluh kilogram untuk
dijual kembali di kafe-kafe di ibu kota.
“Lima puluh kilo?” tanya Pak Santo dengan mata membulat.
“Iya, Pak. Kopi Bapak enak. Saya sudah coba sampelnya.
Cocok untuk kafe saya.”
Pak Santo hampir pingsan. Pak Sugi yang berdiri di
sampingnya, menepuk pundaknya. “Santai, Pak. Ini baru awal.”
“Awal? Ini sudah lebih dari awal. Ini keajaiban.”
Di tengah kesibukan pameran, Mbah Jaya Suprapta datang. Ia
berjalan perlahan dengan tongkat kayu, ditemani oleh Pak Sastro. Wajahnya yang
keriput itu tidak lagi cemberut seperti biasanya. Ada senyum tipis di bibirnya
yang mengering.
Semua orang terkejut. Mbah Jaya tidak pernah datang ke
acara-acara seperti ini. Ia lebih suka diam di rumah, atau duduk di beranda
sambil menyesap kopi.
“Mbah Jaya!” sapa Pak Raditya. “Mbah datang?”
“Iya. Saya ingin lihat sendiri apa yang dilakukan anak-anak
muda ini.”
Ia berjalan dari stan ke stan, mengamati setiap produk,
mendengarkan penjelasan dari para penjual. Ia berhenti di stan anyaman Bu
Lastri, memegang anyaman itu dengan tangan keriputnya, lalu berkata, “Bagus.
Lebih bagus dari anyaman zaman saya dulu.”
Bu Lastri tersenyum malu. “Terima kasih, Mbah.”
Mbah Jaya berjalan ke stan kopi Pak Santo, menyesap kopi
yang disajikan, lalu mengangguk. “Enak. Kopi Suralaya memang terbaik.”
Pak Santo hampir menangis mendengar pujian dari tetua yang
paling disegani di desa.
Mbah Jaya berjalan ke stan makanan tradisional, mencicipi
sayur asem buatan Bu Laila, lalu tersenyum. “Ini resep turun-temurun, ya?”
“Iya, Mbah. Resep dari nenek saya.”
“Jaga. Jangan diubah. Biar tetap asli.”
Di akhir kunjungannya, Mbah Jaya berdiri di depan kantor
desa. Ia meminta semua orang berkumpul. Dengan suaranya yang berat namun masih
jelas, ia berkata:
“Dulu, saya menolak perubahan. Saya pikir anak-anak muda
ini akan merusak desa kita. Saya pikir teknologi akan menghapus budaya kita.
Tapi hari ini, saya lihat sendiri. Budaya kita masih ada. Anyaman masih dianyam
dengan tangan. Kopi masih dipetik dengan sabar. Makanan tradisional masih
dimasak dengan resep leluhur. Tapi sekarang, semua itu dikenal orang lain.
Semua itu dihargai. Semua itu menjadi kebanggaan kita.”
Ia berhenti sejenak, menatap Ilham yang berdiri di antara
kerumunan.
“Ilham, Nisa, Angga, Rendi, Aulia. Dan semua anak muda yang
telah bekerja keras. Kalian adalah harapan desa ini. Jangan pernah berhenti.
Jangan pernah menyerah. Desa ini bangga pada kalian.”
Air mata mengalir di pipi Ilham. Ia tidak pernah menyangka
akan mendengar kata-kata itu dari Mbah Jaya. Ia memeluk Nisa, lalu menangis.
Nisa juga menangis. Angga, Aulia, Rendi, mereka semua menangis.
Pak Kirno yang berdiri di barisan belakang, ikut menangis.
Ia memeluk istrinya, Bu Kirno, yang sudah lama tidak ia peluk. “Maafkan aku,”
bisiknya.
Bu Kirno tersenyum. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Pak.
Yang penting sekarang kita bersama.”
Pameran berakhir dengan sukses. Produk-produk Suralaya laku
terjual ratusan buah. Pesanan datang dari berbagai kota. Warga desa pulang ke
rumah masing-masing dengan hati penuh kebahagiaan.
Malam itu, Ilham dan Nisa duduk di bukit kecil di pinggir
desa, tempat yang dulu sering didatangi Ilham saat hatinya penuh pertanyaan.
Dari sana, seluruh Desa Suralaya terlihat di bawah. Lampu-lampu minyak menyala
redup di rumah-rumah kayu. Kabut bergerak pelan. Dan di kejauhan, garis
cakrawala terbentang seperti batas yang lembut antara langit dan bumi.
“Kita berhasil, Ham,” kata Nisa sambil menatap desa di
bawah. Matanya berbinar.
“Kita baru mulai,” jawab Ilham. “Tapi setidaknya, kita
sudah membuktikan bahwa desa ini bisa berubah.”
“Apa yang akan kau lakukan ke depan?”
Ilham terdiam sejenak. “Aku ingin terus belajar. Terus
mengajar. Terus mengajak lebih banyak warga. Aku ingin Suralaya tidak hanya
dikenal karena kopi dan anyamannya. Tapi karena orang-orangnya. Karena
budayanya. Karena ceritanya.”
“Itu mimpi yang besar.”
“Tapi mimpi yang bisa dicapai. Perlahan. Satu langkah. Satu
langkah. Satu langkah.”
Mereka berdua terdiam. Angin malam berhembus pelan, membawa
aroma kopi dan tanah basah. Di kejauhan, suara azan isya mulai terdengar dari
surau kecil di tengah desa.
“Nisa,” panggil Ilham tiba-tiba.
“Hm?”
“Aku tidak akan pernah bisa melakukan ini tanpa kamu.
Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk percaya padaku. Untuk mau ikut. Untuk tidak
menyerah.”
Nisa tersenyum. “Aku juga tidak akan pernah bisa melakukan
ini tanpa kamu, Ham. Kita berdua sama-sama berjuang. Kita berdua sama-sama
percaya.”
Ilham memandang Nisa. Wajah Nisa yang tegas itu kini
terlihat lembut di bawah cahaya bintang. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang
membuat Ilham lupa akan lelahnya perjuangan.
“Nisa,” panggil Ilham lagi.
“Hm?”
“Aku cinta kamu.”
Nisa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggenggam
tangan Ilham lebih erat, lalu berkata pelan, “Aku juga cinta kamu, Ham. Sejak
dulu. Sejak kita masih kecil. Sejak kita bermain di kebun kopi. Sejak kita
mulai bermimpi tentang desa ini.”
Mereka berdua terdiam, menikmati kebersamaan di bawah
bintang. Dua anak muda desa dengan mimpi besar. Dua hati yang telah lama
mencari, kini telah menemukan.
Di bawah langit Merbabu yang tenang, Desa Suralaya berdiri
seperti kisah yang tak lagi sunyi. Sebuah desa kecil. Sebuah mimpi sederhana.
Dan sekelompok pemuda yang memilih pulang untuk membuat desanya ikut melangkah.
Petualangan terbesar bukanlah menaklukkan gunung. Melainkan
menemukan alasan untuk pulang, lalu mengubah tempat itu menjadi rumah bagi masa
depan.
Ilham tidak pernah menaklukkan Merbabu. Ia hanya belajar
menghormatinya. Dan dalam penghormatan itu, ia menemukan jati dirinya.
BAB 10
Puncak Perubahan
Satu tahun berlalu sejak pameran produk pertama Desa
Suralaya. Waktu berjalan seperti air sungai di musim hujan, deras, deras, tak
terasa, dan ketika kita menyadarinya, kita sudah berada di tempat yang jauh
berbeda dari sebelumnya. Tidak ada yang tetap sama di desa kecil di lereng
Merbabu itu. Setiap sudut, setiap wajah, setiap hati telah mengalami perubahan,
perubahan yang tidak datang secara instan, tetapi melalui proses panjang yang
penuh dengan suka, duka, tawa, dan air mata.
Jalan desa yang dulu hanya tanah berbatu dan becek saat
hujan, kini telah diperkeras secara bertahap. Bukan aspal, bukan beton mewah,
tetapi batu-batu sungai yang disusun rapi oleh tangan-tangan warga yang
bergotong-royong. Proyek ini tidak dibiayai oleh pemerintah, meskipun ada
sedikit bantuan dari kecamatan, tetapi oleh hasil penjualan kopi dan anyaman
yang dikelola oleh komunitas digital desa. Setiap warga yang tanahnya dilalui
jalan itu menyumbang batu atau tenaga. Mereka bekerja bersama, seperti dulu,
seperti yang diajarkan oleh para leluhur. Tidak ada yang dibayar, tetapi tidak
ada yang mengeluh. Karena mereka sadar, jalan ini adalah jalan mereka. Jalan
menuju masa depan.
Balai bambu yang dulu nyaris roboh, dinding anyamannya
berlubang dimakan usia, atap sengnya berkarat dan bocor di beberapa tempat, lantai
tanahnya becek ketika hujan, kini telah berubah menjadi pusat kegiatan desa
yang megah menurut standar Suralaya. Bukan megah dalam arti mewah, tetapi megah
dalam arti hidup. Dindingnya diperkuat dengan anyaman bambu baru
yang dibuat oleh Bu Lastri dan ibu-ibu lainnya. Atapnya diganti dengan seng
baru hasil iuran warga. Lantainya sekarang sudah disemen, semen yang diangkut
dari kecamatan dengan susah payah, tetapi hasilnya sepadan. Di depannya kini
ada papan nama yang ditulis oleh Rendi dengan huruf-huruf indah:
“Pusat Informasi dan Promosi Desa Suralaya”
Di bawahnya, ada tulisan yang lebih kecil: “Bersama
kita bangun desa, tanpa meninggalkan akar budaya.”
Di dalam balai bambu itu, komputer-komputer bekas pemberian
dari Desa Awan Biru masih setia melayani. Jumlahnya sekarang sudah bertambah
menjadi lima belas unit, beberapa dibeli dari hasil penjualan produk desa,
beberapa lagi disumbangkan oleh donatur yang simpati. Setiap sore, balai itu
dipenuhi oleh anak-anak desa yang belajar mengetik, menggambar, atau sekadar
menjelajahi internet untuk mencari tahu tentang dunia luar. Setiap pagi,
ibu-ibu datang untuk memotret anyaman mereka, belajar menulis deskripsi, atau
berdiskusi tentang strategi pemasaran. Setiap malam, para petani berkumpul
untuk mengecek harga pasar, berbagi informasi, atau sekadar ngopi bersama
sambil bercerita.
“Dulu,” kata Pak Raditya dalam suatu sambutan di peringatan
satu tahun pameran, “desa ini seperti orang yang sedang tidur panjang. Tidak
sadar bahwa dunia di luar terus bergerak. Sekarang, desa ini sudah bangun. Dan
bukan hanya bangun, ia berlari. Berlari menuju masa depan tanpa kehilangan jati
dirinya.”
Tepuk tangan pecah. Warga yang hadir, hampir seluruh warga
desa, bertepuk tangan dengan penuh haru. Ada yang menangis, ada yang tersenyum,
ada yang hanya diam sambil memeluk anak-anak mereka.
Pak Kirno, yang dulu menjadi penentang paling vokal, kini
duduk di barisan depan bersama istrinya. Wajahnya yang dulu selalu tegang dan
dingin, kini terlihat lebih lunak. Matanya tidak lagi menyipit penuh
kecurigaan, tetapi berbinar dengan kebanggaan. Ia tidak pernah secara terbuka
mengakui bahwa ia salah, itu terlalu berlebihan untuk lelaki sekelas dirinya, tetapi
tindakannya berbicara lebih keras daripada kata-kata. Ia menyumbangkan lahannya
untuk perluasan balai desa. Ia menjadi salah satu petani kopi yang paling aktif
menggunakan media sosial untuk promosi. Ia bahkan ikut mengajar para petani
muda tentang cara merawat kebun kopi yang baik.
“Pak Kirno,” sapa Ilham suatu hari, “Bapak berubah.”
“Saya tidak berubah,” jawab Pak Kirno singkat. “Saya
hanya... belajar.”
Ilham tersenyum. “Itu namanya berubah, Pak.”
Pak Kirno tidak menjawab, tetapi ia tersenyum. Senyum yang
jarang muncul di wajahnya yang keras itu.
Tepat setahun setelah pameran produk pertama, Ilham melamar
Nisa. Bukan dengan cara yang mewah, tidak ada rombongan besar, tidak ada
seserahan yang berlebihan, tidak ada orkestra yang memainkan lagu cinta. Hanya
Ilham yang datang ke rumah Nisa dengan membawa setangkai bunga mawar merah dari
kebun Pak Kirno, yang ditanam khusus untuk acara ini, dan seperangkat alat
salat.
“Nisa,” kata Ilham sambil berlutut di depan Nisa. Suaranya
bergetar, tangannya gemetar, tetapi matanya mantap. “Aku bukan lelaki kaya. Aku
bukan lelaki sempurna. Aku hanya anak petani kopi yang punya mimpi besar. Tapi
satu hal yang aku tahu: aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu. Maukah kau
menjadi istriku?”
Nisa menangis. Ia tidak menyangka Ilham akan melamarnya
dengan cara sesederhana itu. Ia mengira Ilham akan menunggu lebih lama, atau
melakukannya dengan cara yang lebih meriah. Tapi justru kesederhanaan itulah
yang membuat hatinya terharu.
“Iya, Ham,” jawab Nisa sambil tersenyum sambil menangis.
“Aku mau.”
Berita tentang lamaran itu menyebar cepat ke seluruh desa, tidak
perlu pengeras suara, tidak perlu selebaran, cukup satu orang bicara, maka
dalam hitungan menit semua orang sudah tahu. Bu Lastri menangis haru. Bu Laila
memeluk menantunya dengan erat. Pak Hasan yang biasanya pendiam, tersenyum
bangga.
“Akhirnya,” kata Hermansyah ketika mendengar kabar itu.
“Setelah sekian lama saling diam-diaman. Saya kira mereka tidak akan pernah
berani.”
“Kamu sendiri, Man?” tanya Joko. “Kapan menyusul?”
“Saya? Masih mencari. Santai. Jangan terburu-buru. Jodoh
tidak kemana-mana.”
“Kata siapa? Jodoh bisa diambil orang kalau kita tidak
bergerak.”
“Ya sudah, kalau diambil orang, berarti bukan jodoh saya.
Simpel.”
Tawa kecil pecah di antara mereka.
Pernikahan Ilham dan Nisa dijadwalkan dua bulan setelah
lamaran. Persiapan dimulai jauh-jauh hari. Bukan karena mereka menginginkan
pesta yang mewah, mereka tidak punya uang untuk itu, tetapi karena di desa
kecil seperti Suralaya, pernikahan adalah urusan semua orang. Setiap warga
merasa memiliki andil, setiap tetangga ingin membantu, setiap sanak saudara
ingin berkontribusi.
Bu Lastri dan ibu-ibu lainnya sibuk membuat anyaman khusus
untuk hiasan pelaminan. Anyaman itu berbentuk bunga-bunga dari bambu yang
diwarnai dengan pewarna alami, kuning dari kunyit, merah dari secang, hijau
dari daun suji. Warnanya tidak secerah pewarna kimia, tetapi lebih lembut dan
alami, seperti desa itu sendiri.
Pak Santo dan Pak Sugi sibuk menyiapkan kopi untuk para
tamu. Mereka menyangrai biji kopi pilihan dari kebun masing-masing, lalu menggilingnya
dengan lesung kayu, cara tradisional yang menghasilkan aroma yang tidak bisa
ditiru oleh mesin modern. Aroma kopi itu nantinya akan memenuhi seluruh halaman
balai desa, membuat setiap tamu yang datang langsung tercium keharumannya dari
kejauhan.
Pak Kirno, dengan segala kekayaannya, menyumbangkan seekor
kambing untuk dimasak menjadi gulai dan sate. “Ini untuk kebahagiaan anak-anak
muda itu,” katanya. “Mereka sudah banyak berjasa untuk desa. Sekarang giliran
kita yang membantu mereka.”
Mbah Jaya Suprapta, meskipun usianya sudah sangat tua dan
langkahnya sudah tidak stabil, meminta untuk dimintai doa restu. “Saya tidak
akan bisa hadir di acaranya nanti,” katanya kepada Ilham. “Tubuh saya sudah
tidak kuat. Tapi doa saya akan selalu menyertai kalian. Jaga desa ini. Jaga
budaya ini. Jaga cinta kalian.”
Ilham mencium tangan Mbah Jaya. Air matanya jatuh. “Terima
kasih, Mbah. Doa Mbah adalah yang paling berharga.”
Rendi ditunjuk sebagai protokol pernikahan, sebuah
keputusan yang kontroversial karena Rendi dikenal sebagai pemuda yang kaku dan
canggung di depan umum. Tapi ia memaksakan diri. “Ini adalah kesempatan untuk
menulis babak baru dalam hidupku,” katanya. “Babak tentang berbicara di depan
orang banyak.”
Hari pernikahan, Rendi berdiri di depan panggung dengan
microphone seadanya, microphone yang pinjam dari mushola desa, dengan kabel
yang panjangnya tidak cukup sehingga ia harus berdiri di satu tempat tanpa bisa
bergerak.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Rendi.
Suaranya bergetar, tangannya gemetar memegang microphone. “Selamat pagi,
selamat datang, selamat berbahagia.”
“Selamat berbahagia? Rendi, pakai bahasa yang bener!”
teriak Hermansyah dari barisan penonton.
Tawa pecah. Rendi tersenyum malu. “Maaf, maaf. Gugup. Saya
ulang.”
Ia mengatur napas, lalu mulai lagi dengan lebih tenang.
“Yang terhormat Bapak Raditya selaku kepala desa. Yang terhormat para tetua,
sesepuh, tokoh masyarakat. Yang berbahagia keluarga mempelai pria dan keluarga
mempelai wanita. Serta saudara-saudara sekalian yang kami hormati.”
“Nah, ini baru protokol,” bisik Hermansyah.
Acara berlangsung dengan lancar. Ilham dan Nisa duduk di
pelaminan sederhana, sebuah panggung kayu yang dihiasi anyaman bunga-bunga
bambu dan kain batik pinjaman dari tetangga. Wajah mereka berseri-seri, tidak
sabar untuk memulai hidup baru bersama.
Pak Hasan, ayah Ilham, menangis ketika menyerahkan putranya
kepada Nisa. Lelaki keras kepala yang jarang menunjukkan perasaan itu tidak
bisa menahan air matanya. Bu Laila memeluk suaminya dari samping, ikut
menangis.
“Ayah bangga, Nak,” bisik Pak Hasan. “Ayah bangga.”
Pernikahan Ilham dan Nisa juga menjadi ajang reuni bagi
anggota KPAAB dan Komunitas Digital Awan Biru. Hampir semua datang, Joko, Anita
Rohan, Hermansyah, Guntur, Bayu, Jojon, Yulia, Nadya, Camelia, Arga, Amat
Junior, serta Herman, Wati, Budi, Lina, Dani, dan semua yang pernah terlibat
dalam perjalanan perubahan desa.
Joko dan Anita datang bersama. Mereka tidak lagi merahasiakan
hubungan mereka. Bahkan mereka sudah berencana untuk menyusul Ilham dan Nisa
dalam waktu dekat.
“Joko, kapan?” tanya Ilham ketika mereka bertemu di
sela-sela acara.
“Entah. Mungkin tahun depan,” jawab Joko sambil tersenyum.
“Jangan ditunda-tunda. Nanti keburu tua.”
“Aku tidak tua. Aku masih muda. Baru dua puluh lima.”
“Dua puluh lima sudah waktunya. Jangan kayak Hermansyah
yang belum punya pacar sampai sekarang.”
“Eh, jangan seret-seret saya!” protes Hermansyah yang
kebetulan lewat. “Saya sengaja belum punya pacar. Saya ingin fokus pada
karier.”
“Karier apa? Karier jadi tukang ledek?” ledek Camelia.
Tawa pecah. Hermansyah menghela napas dramatis. “Dasar
kalian. Tidak bisa menghargai pilihan hidup orang.”
Angga dan Aulia juga hadir. Mereka sudah resmi menjadi
pasangan, setelah Angga memberanikan diri meminang Aulia dengan cara yang khas
Angga: tanpa kata-kata manis, tanpa romantisme berlebihan, hanya dengan
sebatang mawar merah dan satu kalimat: “Aulia, kamu mau jadi pendamping
hidupku? Aku tidak pintar bicara. Tapi aku janji akan selalu menjaga kamu.”
Aulia menerimanya, tentu saja. Bagaimana mungkin menolak
ketulusan yang sesederhana itu?
“Angga, kapan pernikahan kalian?” tanya Nisa.
“Menyusul. Setelah Ilham dan Nisa selesai.”
“Jangan terlalu lama. Nanti anak-anak kami sudah besar,
kalian belum menikah.”
“Tidak apa-apa. Nanti anak-anak kalian bisa jadi
bridesmaid.”
Nisa tertawa. “Bridesmaid? Bridesmaid usia balita?”
“Boleh saja. Tidak ada aturan.”
Resepsi pernikahan digelar di halaman kantor desa.
Lampu-lampu minyak dan lampu tempel dipasang di setiap sudut, menciptakan
suasana yang hangat dan romantis. Tidak ada lampu listrik yang
terang-benderang, tetapi justru itulah yang membuat malam itu terasa
istimewa—seperti kembali ke masa lalu, ketika cinta dirayakan dengan
kesederhanaan yang penuh makna.
Para tamu duduk di tikar anyaman yang disediakan oleh
warga. Makanan disajikan dalam wadah-wadah daun pisang, nasi tumpeng, gulai
kambing, sate, sayur asem, sambal terasi, dan berbagai hidangan tradisional
lainnya. Semua dimasak oleh ibu-ibu desa dengan penuh cinta.
“Selamat kepada kedua mempelai,” kata Pak Raditya dalam
sambutannya. “Semoga rumah tangga kalian menjadi rumah yang penuh berkah.
Semoga cinta kalian menjadi cerminan cinta desa ini kepada tanahnya, kepada
budayanya, kepada masa depannya.”
Ilham dan Nisa menangis mendengar sambutan itu. Mereka
saling berpandangan, lalu tersenyum. Di balik senyum mereka, tersimpan janji, bukan
hanya untuk saling mencintai, tetapi juga untuk terus berjuang membangun desa
yang telah mempertemukan mereka.
Mbah Jaya tidak bisa hadir, tetapi doanya disampaikan
melalui Pak Sastro. “Semoga kalian menjadi pemimpin bagi desa ini. Semoga
kalian menjadi teladan bagi generasi muda. Semoga kalian menjadi cahaya di
tengah kegelapan.”
Herman dan rombongan dari Awan Biru memberikan kado
spesial: satu set komputer baru lengkap dengan printer dan kamera DSLR bekas
namun masih bagus. “Untuk dokumentasi produk desa,” kata Herman. “Semakin
banyak produk yang difoto dengan baik, semakin banyak pembeli yang tertarik.”
“Terima kasih, Mas Herman,” kata Ilham sambil memeluknya.
“Kami tidak tahu harus membalas apa.”
“Balas dengan kesuksesan. Buktikan bahwa Suralaya bisa
menjadi desa yang mandiri dan berbudaya.”
Malam setelah resepsi, ketika semua tamu sudah pulang dan
hanya tersisa keluarga inti, Ilham mengajak Nisa berjalan-jalan ke kebun kopi
di belakang rumahnya. Bulan purnama bersinar terang, menerangi jalan setapak
yang berbatu. Kabut tipis mulai turun dari lereng Merbabu, tetapi tidak terlalu
tebal, masih cukup untuk melihat jejak-jejak langkah di tanah.
“Kenapa ajak aku ke sini, Ham?” tanya Nisa penasaran.
“Ada yang ingin aku tunjukkan.”
Mereka berjalan sampai ke sebuah pohon kopi tua yang tumbuh
di tepi kebun. Pohon itu sudah ada sejak zaman kakek Ilham, mungkin lebih tua.
Batangnya besar, daunnya rindang, dan buahnya masih lebat meskipun usianya
sudah tidak muda.
“Pohon ini pohon favoritku sejak kecil,” kata Ilham sambil
memegang batang pohon itu dengan lembut. “Setiap kali aku punya masalah, aku
duduk di bawah pohon ini. Aku bercerita pada pohon ini. Aku menangis di bawah
pohon ini. Aku bermimpi di bawah pohon ini.”
Nisa terdiam. Ia tidak tahu bahwa Ilham memiliki tempat
istimewa seperti ini.
“Suatu malam, beberapa tahun yang lalu, aku duduk di bawah
pohon ini dan berdoa. Aku berdoa, 'Ya Allah, jika Engkau berkenan, pertemukan
aku dengan seseorang yang mau menerima aku apa adanya. Seseorang yang mau
berjuang bersamaku. Seseorang yang mau mencintai desa ini seperti aku mencintainya.'”
Ilham menoleh ke arah Nisa. Matanya berkaca-kaca.
“Dan Allah mengabulkan doaku. Dia mengirimkan kamu, Nisa.
Kamu yang tidak hanya menerima aku apa adanya, tetapi juga mendorongku untuk
menjadi lebih baik. Kamu yang mau berjuang bersamaku, bahkan ketika semua orang
meragukan. Kamu yang mencintai desa ini seperti aku mencintainya. Mungkin
lebih.”
Nisa tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk Ilham
erat-erat, di bawah pohon kopi tua, di bawah cahaya bulan purnama, di bawah
langit Merbabu yang tenang.
“Aku juga berdoa, Ham,” bisik Nisa. “Di bawah pohon yang
sama. Di malam yang sama. Mungkin di waktu yang sama. Aku berdoa untuk
seseorang seperti kamu.”
Mereka berpelukan dalam diam. Angin malam berhembus pelan,
membawa aroma kopi dan tanah basah. Daun-daun pohon kopi bergoyang-goyang,
menciptakan suara desiran yang menenangkan.
“Aku bersyukur,” kata Ilham akhirnya. “Bersyukur untuk desa
ini. Untuk pohon ini. Untuk kamu.”
“Aku juga,” jawab Nisa.
Seminggu setelah pernikahan, Joko dan rombongan KPAAB datang
lagi ke Suralaya. Mereka datang bukan untuk mendaki, meskipun mereka sempat
singgah ke puncak Merbabu, tetapi untuk memberikan sebuah kejutan.
“Ilham,” kata Joko sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat
tebal, “ini untuk desa kalian.”
Ilham membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya
terdapat dokumen-dokumen resmi, surat-surat perjanjian, dan sebuah proposal.
“Apa ini, Mas?”
“Ini adalah proposal kerjasama resmi antara Desa Suralaya
dan Desa Awan Biru. Pemerintah kabupaten sudah menyetujuinya. Mulai bulan
depan, akan ada program pertukaran pemuda, pelatihan bersama, dan pemasaran
produk bersama. Desa kalian tidak akan sendirian lagi.”
Ilham terpaku. Ia tidak menyangka akan sejauh ini. Dulu, ia
hanya bermimpi untuk belajar sedikit tentang digitalisasi desa. Sekarang,
desanya akan menjadi mitra resmi desa tetangga yang sudah lebih maju.
“Mas Joko... saya tidak tahu harus berkata apa.”
“Jangan berkata apa-apa. Buktikan bahwa kalian layak
mendapat ini.”
Herman yang berdiri di samping Joko, menambahkan, “Ini
bukan hadiah, Ilham. Ini adalah hasil kerja keras kalian. Kami hanya menjadi
jembatan. Kalian sendiri yang membuka jalan.”
Nisa yang mendengar itu, menangis haru. Ia memeluk Ilham,
lalu memeluk Joko, lalu memeluk Herman. “Terima kasih. Terima kasih untuk
semuanya.”
“Jangan berterima kasih. Teruslah berjuang.”
Sebelum pulang, Joko mengajak Ilham mendaki ke puncak
Merbabu. Hanya mereka berdua, dua pemuda dari desa yang berbeda, tetapi dengan
mimpi yang sama.
Pendakian dimulai sebelum subuh. Mereka berjalan dalam
diam, hanya diterangi senter kepala dan cahaya bintang. Udara dingin menusuk,
tetapi kaki mereka tetap mantap. Tidak ada pembicaraan yang tidak perlu. Hanya
langkah. Hanya napas. Hanya keyakinan.
Matahari mulai terbit ketika mereka tiba di puncak. Langit
berwarna jingga keemasan, awan-awan di bawah mereka bergulung-gulung seperti
lautan kapas. Di kejauhan, Gunung Merapi menjulang gagah, sesekali mengepulkan
asap tipis. Pemandangan yang tidak pernah berubah, pemandangan yang sama ketika
pertama kali Joko datang ke Suralaya, ketika ia bertemu Ilham untuk pertama
kalinya.
“Kau ingat pertama kali kita bertemu?” tanya Joko.
Ilham tersenyum. “Di dekat mata air. Waktu itu kau banyak
diam.”
“Karena saya tidak tahu harus bertanya dari mana. Saya
melihat desamu, dan saya teringat desaku dulu. Sunyi. Sepi. Penuh kepasrahan.”
“Dan sekarang?”
Joko memandang ke arah Suralaya yang terlihat kecil dari
ketinggian, rumah-rumah kayu, kebun-kebun kopi, balai bambu yang menjadi pusat
kegiatan. Semua tampak damai, seperti lukisan yang hidup.
“Sekarang, desamu sudah bernapas. Bukan hanya bernapas, ia
bernyanyi. Bernyanyi tentang harapan, tentang perjuangan, tentang perubahan.”
Ilham menatap Joko. “Kita tidak akan pernah bisa melakukan
ini tanpa kalian, Mas. Tanpa Awan Biru, tanpa KPAAB, tanpa semua yang kalian
ajarkan.”
“Jangan merendah, Ham. Kami hanya memantik api. Kalian yang
menjaga apinya tetap menyala.”
Mereka berdiri di puncak Merbabu, di atas awan, di bawah
langit yang terbentang luas. Dua pemuda dari dua desa. Dua hati yang percaya
pada hal yang sama: bahwa desa kecil juga punya mimpi besar.
“Apa yang kau lihat ke depan, Ham?” tanya Joko, seperti
bertahun-tahun lalu.
Ilham memandang cakrawala. Garis tipis di ujung langit yang
dulu selalu terasa seperti batas, seperti tembok yang tidak bisa ditembus. Kini
ia mengerti. Cakrawala bukanlah akhir. Ia hanyalah garis yang menunggu untuk
dilampaui.
“Saya melihat desa ini terus berjalan. Mungkin tidak cepat.
Mungkin tidak dramatis. Tapi terus berjalan. Karena tidak ada yang lebih kuat
dari orang-orang yang memilih untuk tidak menyerah.”
Joko tersenyum. “Itulah jawaban yang saya nantikan.”
Mereka berdua terdiam, menikmati pemandangan. Di bawah mereka,
Desa Suralaya terbentang, kecil, sederhana, tetapi penuh kehidupan. Desa yang
dulu nyaris mati, kini hidup kembali. Desa yang dulu hanya menjadi tempat
lahir, kini menjadi tempat pulang.
Tiga tahun kemudian, Desa Suralaya telah berubah menjadi
desa percontohan digital bagi kecamatan. Bukan karena mereka paling maju, masih
banyak desa yang lebih maju, tetapi karena mereka berhasil membuktikan bahwa
perubahan bisa dilakukan dari bawah, oleh rakyat kecil, tanpa menunggu bantuan
dari atas.
Kopi Suralaya kini dikenal hingga ke luar pulau. Anyaman Bu
Lastri dipesan oleh perancang busana ternama di Jakarta. Makanan tradisional
desa ini menjadi oleh-oleh favorit wisatawan yang singgah. Bahkan Tari Gantar, tarian
panen yang dulu hampir punah, kini sering diundang untuk tampil di acara-acara
budaya tingkat kabupaten.
Anak-anak muda yang dulu pergi merantau, mulai kembali.
Mereka datang bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena mereka melihat
ada masa depan di desa ini. Mereka membuka usaha kecil-kecilan, bergabung
dengan komunitas digital, atau sekadar membantu orang tua mengelola kebun.
Pak Kirno, lelaki yang dulu paling keras menentang
perubahan, kini menjadi ketua kelompok tani kopi digital. Ia mengajar para
petani muda cara menggunakan media sosial untuk promosi. Wajahnya yang dulu
selalu tegang dan dingin, kini sering tersenyum.
Mbah Jaya Suprapta meninggal setahun setelah pernikahan
Ilham. Ia pergi dengan tenang, dikelilingi oleh keluarga dan tetangga. Sebelum
meninggal, ia berpesan: “Jaga desa ini. Jaga budayanya. Jangan pernah lupa dari
mana kalian berasal. Tapi jangan pernah takut untuk melangkah maju.”
Ilham dan Nisa dikaruniai seorang anak laki-laki yang
diberi nama Jaya Suralaya, nama yang diambil dari kakek buyut Ilham dan
semangat Mbah Jaya. Anak itu tumbuh sehat, cerdas, dan penuh rasa ingin tahu.
Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan komputer, tetapi juga tidak lupa dengan
budaya desa. Ia bisa menari Tari Gantar, bisa mengetik dengan sepuluh jari, dan
bisa membedakan mana kopi yang bagus dan mana yang tidak.
“Ayah,” kata Jaya kecil suatu hari, “kelak kalau aku besar,
aku ingin seperti Ayah.”
“Seperti Ayah bagaimana?” tanya Ilham.
“Seperti Ayah yang bisa mengubah desa. Seperti Ayah yang
tidak takut pada hal-hal baru. Seperti Ayah yang tetap mencintai desa ini
meskipun kadang sulit.”
Ilham menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu
bisa, Nak. Kamu pasti bisa. Asal kamu tidak pernah menyerah.”
EPILOG
Puncak yang Sesungguhnya
Tidak semua perjalanan berakhir ketika kaki mencapai
puncak. Ada perjalanan yang justru dimulai setelah seseorang kembali pulang.
Ada perjalanan yang tidak terukur oleh jarak, tidak tertulis dalam peta, tidak
terhitung oleh langkah kaki. Perjalanan batin yang kadang tidak disadari oleh
si pelaku, tetapi kelak akan mengubah seluruh arah hidupnya.
Muhammad Ilham begitu nama barunya setelah menikahi Nisa, tidak
pernah menyangka bahwa perjalanannya akan sejauh ini. Dulu, ia hanyalah seorang
pemuda desa yang diam-diam meragukan desanya, yang diam-diam bertanya-tanya
apakah ada masa depan di tempat ia dilahirkan. Sekarang, ia adalah kepala
komunitas digital Desa Suralaya, suami dari Nisa, ayah dari Jaya, dan pemimpin
yang dihormati oleh warganya.
Ia tidak pernah menaklukkan Merbabu, setidaknya tidak dalam
arti fisik. Ia tidak pernah berdiri di puncak tertinggi gunung itu untuk
merayakan kemenangan. Namun ia telah menaklukkan sesuatu yang lebih sulit:
ketakutannya sendiri. Ia telah menaklukkan keraguan yang selama ini
membelenggunya. Ia telah menaklukkan kepasrahan yang selama ini menjadi budaya
desanya.
Dan dalam penaklukan itu, ia menemukan bahwa puncak yang
sesungguhnya bukanlah tempat tertinggi di atas bumi. Puncak yang sesungguhnya
adalah ketika seseorang bisa pulang ke tempat ia dilahirkan, lalu mengubah
tempat itu menjadi rumah bagi masa depan.
Pagi itu, ketika kabut masih bergelayut manja di antara
pepohonan pinus, Muhammad Ilham berdiri di bukit kecil di pinggir desa. Dari
sana, seluruh Desa Suralaya terlihat di bawah. Atap-atap rumah kayu tampak
kecil. Kebun-kebun kopi terhampar hijau. Dan di kejauhan, Gunung Merbabu
menjulang gagah, diselimuti kabut tipis yang mulai terurai terkena sinar
matahari.
“Ayah, lihat!” teriak Jaya kecil yang berdiri di
sampingnya. “Puncaknya! Puncak Merbabu!”
Ilham tersenyum. Ia menggandeng tangan putranya yang masih
mungil.
“Iya, Nak. Itu puncak Merbabu. Tapi ingat, Nak. Puncak
gunung bukanlah tujuan. Tujuan sejati adalah perjalanannya. Dan perjalanan yang
paling indah adalah perjalanan pulang.”
Jaya kecil tidak sepenuhnya mengerti. Ia masih terlalu muda
untuk memahami kata-kata seberat itu. Tapi suatu hari nanti, ketika ia tumbuh
dewasa, ketika ia menghadapi pilihan antara pergi dan tinggal, antara bermimpi
dan berpasrah, ia akan mengingat kata-kata ayahnya. Dan ia akan tahu, bahwa
rumahnya bukanlah tempat ia dilahirkan. Rumahnya adalah tempat ia memilih untuk
pulang.
Di bawah langit Merbabu yang tenang, Desa Suralaya berdiri
seperti kisah yang tak lagi sunyi. Sebuah desa kecil. Sebuah mimpi sederhana.
Dan seorang pemuda yang memilih pulang untuk membuat desanya ikut melangkah.
Petualangan terbesar bukanlah menaklukkan gunung. Melainkan
menemukan alasan untuk pulang, lalu mengubah tempat itu menjadi rumah bagi masa
depan.
Muhammad Ilham tidak pernah menaklukkan Merbabu. Ia hanya
belajar menghormatinya. Dan dalam penghormatan itu, ia menemukan jati dirinya.
TAMAT
PENUTUP DARI PENULIS
Desa bukanlah tempat yang tertinggal. Desa adalah tempat
yang menunggu untuk ditemukan potensinya. Setiap desa punya cerita. Setiap desa
punya mimpi. Setiap desa punya orang-orang yang berani bermimpi, dan berani
mewujudkannya.
Kepada para pemuda desa di mana pun kalian berada: jangan
pernah berpikir bahwa kalian tidak cukup baik. Jangan pernah berpikir bahwa
desa kalian tidak cukup besar untuk mimpi kalian. Karena mimpi tidak mengenal
batas. Mimpi tidak mengenal peta. Mimpi hanya mengenal keberanian.
Pergilah. Belajarlah. Kembalilah. Dan ubahlah.
Sebab puncak yang sesungguhnya bukanlah tempat tertinggi di
bumi. Puncak yang sesungguhnya adalah ketika kalian bisa pulang, dan melihat
desa kalian tersenyum.
Salam petualang,
Slamet Riyadi
Lereng Merbabu, 2026











