Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 10 Juli 2026

NOVEL ROMANSA DRAMA KELUARGA: RETAK SEBELUM PECAH

 

 


NOVEL ROMANSA DRAMA KELURAGA 

RETAK SEBELUM PECAH

Ketika Fondasi Cinta Dibangun di Atas Tanah yang Labil

Oleh: Slamet Riyadi


Disclaimer:
Novel ini adalah karya fiksi. Nama, karakter, bisnis, tempat, peristiwa, dan insiden adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiksi. Kemiripan apa pun dengan orang yang hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan. Mengandung konflik emosional yang intens dan drama keluarga.


PROLOG

Malam yang Menghancurkan

Malam itu, langit Jakarta seolah ikut menumpahkan kemarahan yang telah lama tertahan. Hujan badai menghantam dinding kaca jendela ruang makan privat berdesain klasik modern di restoran bintang lima tersebut. Gemuruh guntur yang sesekali menggelegar di kejauhan terdengar samar, teredam oleh lapisan kaca tebal kedap suara. Namun, di dalam ruangan, atmosfernya justru jauh lebih dingin, lebih mencekam, dan lebih mematikan daripada badai yang sedang mengamuk di luar sana.

Bau aroma hidangan mewah yang tersaji di atas meja mendadak menguap, tergantikan oleh ketegangan yang pekat dan menyesakkan dada. Sebuah denting tajam mendadak memecah keheningan yang kaku itu.

Prang!

Gelas kristal berisi wine merah di tangan Sania terlepas dari genggamannya yang mendadak mati rasa. Benda mewah itu menghantam lantai marmer dengan keras, pecah berkeping-keping menjadi serpihan kecil yang berhamburan. Cairan merah pekat di dalamnya meleleh cepat, merembes di antara puing kaca yang berkilauan diterpa cahaya lampu gantung, melebar dan menyerupai genangan darah segar yang mengerikan.

Sania tidak memedulikan cipratan cairan yang mengotori ujung gaun malamnya. Matanya menatap nanar, terpaku ke ujung meja panjang yang memisahkan mereka. Di sana, tempat suaminya, Andi, duduk mematung. Pria itu tidak bergerak sedikit pun. Kedua tangannya mengepal begitu erat di atas lutut hingga buku-buku jarinya memutih. Wajah Andi yang biasa tenang dan penuh kendali, kini sepucat mayat. Urat-urat di rahangnya menegang keras, menahan beban kebohongan besar yang malam ini runtuh tanpa sisa.

Di hadapan mereka, di atas taplak meja putih bersih yang kini ternoda oleh noda merah, tumpukan dokumen rahasia berserakan begitu saja. Lembaran-lembaran kertas itu bukan sekadar laporan keuangan fiktif biasa. Di dalamnya tertera dengan sangat jelas, urutan kronologis bagaimana perusahaan peninggalan almarhumah ibu Sania dilikuidasi secara paksa, dimanipulasi, dan disedot seluruh asetnya demi menyokong fondasi dinasti bisnis keluarga Baskoro.

Rahasia besar yang selama ini dikubur rapat-rapat oleh dua keluarga konglomerat itu akhirnya mencuat ke permukaan. Telanjang, tanpa sensor, dan begitu menghancurkan. Topeng pernikahan sempurna yang mereka kenakan selama tiga bulan ini di depan sorot kamera media, kolega bisnis, dan dunia luar, luruh seketika menjadi abu.

Sania mundur selangkah, tumit sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di atas marmer, memutus kesunyian yang mencekat. Napasnya memburu, terasa begitu pendek dan menyakitkan. Setiap pasokan udara yang ia tarik terasa seperti duri yang menusuk paru-parunya, meninggalkan rasa sesak yang amat sangat di dalam dada.

"Jadi... selama ini aku hanya bidak catur di tangan keluargamu, Andi?" Suara Sania bergetar hebat, pecah di tengah ruangan yang sunyi. Ia mencengkeram dadanya sendiri, mencoba menahan rasa sakit yang teramat perih. "Perusahaan Ibuku, harga diriku, bahkan... semua perhatianmu selama ini... semuanya hanya bagian dari skenario? Dan kamu... kamu tahu semuanya sejak awal? Kamu mendekatiku, menikahiku, hanya untuk memastikan aku tetap diam dan tidak pernah menuntut hak ibuku kembali?!"

Pertanyaan demi pertanyaan itu menggantung berat di udara, bergaung menuntut sebuah jawaban. Namun, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir pria yang berstatus sebagai suaminya itu.

Andi tetap bergeming dalam posisinya. Ia hanya mampu menatap serpihan kristal dan cairan merah yang terus mengalir di atas lantai marmer. Matanya yang biasa memancarkan ketegasan seorang pemimpin, sorot mata yang beberapa minggu terakhir ini sempat Sania kira sebagai pelindungnya, kini meredup sepenuhnya, dipenuhi oleh penyesalan yang terlanjur terlambat.

Andi ingin bangkit, ia ingin menyangkal semua tuduhan itu, ia ingin berteriak bahwa perasaannya telah berubah seiring berjalannya waktu dan bahwa ia benar-benar peduli. Namun, lembar pertama dokumen yang terbuka di depan matanya, sebuah draf kesepakatan rahasia yang dibubuhi tanda tangan basah ayahnya, adalah kebenaran mutlak yang mengunci mulutnya rapat-rapat. Logika dan kenyataan telah mengkhianati hatinya sendiri.

Di bawah temaram lampu restoran, Andi menyadari satu hal yang menghancurkannya. Fondasi yang mereka bangun dengan susah payah di atas panggung sandiwara ini tidak sekadar retak malam ini. Kebohongan raksasa ini telah meledak, menghancurkan sisa-sisa kepercayaan yang baru saja mulai tumbuh di antara mereka. Fondasi itu telah hancur total menjadi puing, bahkan sebelum mereka sempat benar-benar memiliki kesempatan untuk saling mencintai.


BAB I

Senyum di Balik Topeng

Tiga bulan sebelumnya...

Lampu kristal gantung di ballroom hotel bintang lima itu memancarkan kilau yang menyilaukan, memantul sempurna pada gaun malam satin warna marun yang dikenakan Sania. Setiap sudut ruangan didesain untuk memamerkan kemewahan mutlak; pilar-pilar marmer tinggi berlapis emas, denting harpa yang mengalun lembut di latar belakang, hingga aroma parfum mahal yang bercampur dengan uap sampanye.

Di sebelah Sania, Andi berdiri tegap dengan setelan tuksedo hitam potongan pas badan yang menjadikannya tampak begitu berwibawa di usianya yang masih kepala tiga. Tangan Andi melingkar protektif di pinggang Sania, sementara jemari Sania bertumpu lembut di dada suaminya, tepat di atas jantung pria itu yang berdetak dengan ritme yang terlalu datar. Terlalu tenang untuk seorang suami yang sedang memeluk istrinya di depan publik.

Bagi ratusan pasang mata yang hadir di malam galeri investasi itu, mereka adalah perwujudan nyata dari dongeng modern. Muda, rupawan, dan berasal dari dua dinasti bisnis terbesar di negeri ini. Mereka adalah simbol dari stabilitas finansial dan masa depan korporasi yang tak tergoyahkan.

"Kau luar biasa malam ini, Sania," bisik Andi tepat di dekat telinga istrinya. Embusan napasnya terasa hangat di kulit leher Sania, cukup dekat untuk membuat orang lain yang memperhatikan dari jauh mengira itu adalah kecupan mesra atau bisikan cinta yang intim. Namun, nada yang digunakan Andi cukup dingin untuk membuat Sania merinding. Ada jarak emosional yang sedalam samudra di balik kehangatan fisik yang sedang mereka pamerkan.

Sania mempertahankan senyum simetrisnya yang sempurna, tidak membiarkan otot-otot wajahnya mengendur satu milimeter pun di hadapan kamera jurnalis. "Terima kasih, Mas. Kau juga tidak buruk dalam memainkan peranmu," sahutnya dengan nada suara yang terlampau datar, berbisik melalui sela-sela bibirnya yang tetap melengkung manis. "Kupikir kau akan terlambat lagi seperti gala bulan lalu."

"Aku tahu taruhannya jika aku terlambat malam ini, Sania. Ayah tidak akan memaafkanku jika grafik saham besok pagi memerah hanya karena aku melewatkan sesi foto pembuka," balas Andi, nyaris tak kentara.

Begitu kilatan flash kamera dari barisan wartawan mereda dan para fotografer beralih ke arah jajaran direksi lain, keajaiban itu lenyap. Lingkar tangan Andi di pinggang Sania mengendur seketika. Jarak beberapa sentimeter langsung tercipta di antara mereka secara alami, seolah-olah ada dinding kaca tak kasat mata yang tiba-tiba turun dari langit-langit ruangan dan memisahkan keduanya.

Andi mengambil dua gelas sampanye dari nampan perak seorang pelayan yang kebetulan melintas di dekat mereka. Ia menyerahkan satu gelas kepada Sania tanpa sekali pun menatap matanya. Sorot matanya menyapu ke sekeliling ruangan, mencari wajah-wajah yang perlu ia sapa demi urusan jaringan.

"Ayah meminta kita tetap berada di sini dan terlihat bersama sampai jam sepuluh malam," ucap Andi, suaranya kembali ke mode formal yang biasa ia gunakan di ruang rapat. "Setelah itu, kau bebas pulang duluan jika merasa lelah. Supir pribadi sudah bersiap di lobi bawah."

Sania menerima gelas kristal itu, menyesap cairannya sedikit hanya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering dan perih. "Dan kau sendiri? Ke mana kau akan pergi setelah jam sepuluh, Mas? Ini malam akhir pekan."

Andi tidak langsung menjawab. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, menyapa seorang investor asing dengan anggukan kepala yang sopan sebelum kembali menatap Sania. Tatapan matanya setajam elang, namun terasa kosong, seolah ia sedang melihat menembus tubuh Sania daripada melihat wanita itu sebagai istrinya.

"Ada beberapa urusan kantor yang harus kuselesaikan, Sania. Rekonsiliasi data untuk proyek di koridor timur belum rampung. Kau tahu sendiri bagaimana ketatnya pengawasan Ayah belakangan ini. Satu kesalahan kecil, dan dia akan merombak seluruh jajaran direksi."

Sania tersenyum tipis, kali ini senyum sinis yang ia sembunyikan dengan cerdas di balik bibir gelas sampanyenya. Urusan kantor. Alasan klasik yang selalu digunakan Andi setiap kali pria itu ingin menghindarinya, atau mungkin, setiap kali pria itu merasa bersalah karena telah mengurung seorang wanita dalam sangkar emas ini. Tiga bulan pernikahan ini berjalan, dan Sania semakin sadar bahwa ia tidak sedang berbagi hidup dengan seorang suami. Ia hanya sedang terjebak dengan seorang rekan kerja asing yang terikat kontrak seumur hidup, di mana cinta adalah klausul yang sengaja dihapus sejak awal draf dibuat.

"Tentu saja," gumam Sania, nadanya getir namun halus. "Jangan sampai Papa menemukan celah untuk memotong bonus tahunanmu, Wakil Direktur Utama."

Sebelum Andi sempat menanggapi sindiran tersebut, seorang wanita paruh baya dengan gaun brokat berlian berkilau mendekati mereka sambil mengayunkan kipas sutranya. Itu adalah Nyonya Siska, istri dari salah satu pemegang saham minoritas di perusahaan keluarga Sania.

"Oh, Sania! Andi! Kalian benar-benar pasangan yang serasi," seru Nyonya Siska dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh lingkaran sosial di sekitarnya. "Aku melihat foto pernikahan kalian di majalah bisnis bulan lalu. Sungguh, Sania, kau tampak sangat bahagia. Kapan kami bisa mendengar kabar tentang pewaris ketiga dari konsorsium kalian?"

Pertanyaan itu laksana hantaman palu tak kasat mata di ulu hati Sania. Ia merasakan tubuh Andi di sampingnya mendadak menegang.

Sania memaksakan tawanya keluar dengan renyah, seolah pertanyaan sensitif itu hanyalah gurauan hangat. "Ah, Nyonya Siska. Kami baru tiga bulan menikah. Saat ini kami masih fokus mendukung ekspansi bisnis Papa Baskoro. Urusan... momongan, kami serahkan pada waktu yang tepat."

"Benar sekali, Nyonya Siska," Andi menimpali, suaranya mendadak berubah hangat secara ajaib, kembali memasang topeng menantu dan suami idaman. "Sania sedang membantu saya menyusun strategi untuk yayasan kemanusiaan baru kami. Kami ingin memastikan semuanya stabil terlebih dahulu."

Nyonya Siska mengangguk-angguk puas, memuji kedewasaan mereka sebelum akhirnya berpamitan untuk bergabung dengan kelompok arisan sosialitanya di sudut lain ballroom. Begitu wanita itu menjauh, senyum di wajah Andi runtuh dalam sekejap, menyisakan rahang yang mengeras.

Saat keheningan kembali merayap di antara mereka, sesosok pria paruh baya dengan wibawa yang mengintimidasi berjalan mendekati mereka dari arah panggung utama. Langkah kakinya mantap, membelah kerumunan orang yang memberi jalan dengan penuh hormat. Itu adalah Baskoro, ayah Andi, pria yang menjadi arsitek sekaligus dalang utama di balik pernikahan kontrak ini.

"Andi, Sania," sapa Baskoro. Senyumnya lebar, memperlihatkan deretan gigi yang rapi, namun sorot matanya tetap dingin dan penuh selidik. Ia menepuk bahu Andi dengan kekuatan yang lebih mirip sebuah peringatan daripada ungkapan rasa bangga. "Kalian berdua benar-benar menjadi pusat perhatian malam ini. Humas baru saja melaporkan bahwa saham gabungan perusahaan kita langsung melonjak naik dua persen begitu foto kedatangan kalian di karpet merah tersebar di media digital."

Sania memaksakan senyum terbaiknya meluncur kembali, mengabaikan rasa lelah yang mulai menjalar di otot pipinya. "Ini semua berkat bimbingan dan arahan Papa. Kami hanya menjalankan apa yang terbaik untuk keluarga."

"Tentu saja, Sayang. Pernikahan kalian adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada korporasi kita dalam dekade ini," ujar Baskoro dengan nada penuh kepuasan yang luar biasa. Baginya, Sania dan Andi bukanlah manusia; mereka adalah dua lembar sertifikat saham yang digabungkan untuk menciptakan monopoli pasar.

Mendengar kata 'hal terbaik', ulu hati Sania mendadak didera rasa nyeri yang hebat. Pernikahan mereka bukanlah tentang penyatuan dua hati yang saling mencintai, melainkan tentang angka-angka di atas kertas, valuasi saham, dan bagaimana cara menjaga stabilitas pasar agar para investor asing tidak menarik modal mereka.

Sania melirik ke arah Andi melalui sudut matanya. Pria itu hanya diam membisu, mendengarkan ucapan ayahnya dengan pandangan lurus ke depan. Namun, Sania bisa menangkap ada sesuatu yang tertahan di sana. Ada riak kegelisahan yang sangat halus di mata Andi, sebuah rahasia atau barangkali tekanan batin yang entah apa maknanya.

Sania tahu, senyum yang mereka pamerkan malam ini di bawah siraman cahaya lampu kristal hanyalah lapisan bedak tebal yang menutupi retakan besar di bawah fondasi hidup mereka. Dan di dalam hatinya yang paling dalam, Sania mulai dicekam ketakutan. Ia takut bahwa retakan itu akan melebar, runtuh, dan menelan mereka berdua ke dalam kegelapan sebelum mereka sempat menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi di balik panggung sandiwara ini.

Di tengah keramaian ballroom yang mewah itu, Sania tiba-tiba teringat pada ibunya. Wanita itu, Widya, pernah duduk di kursi yang sama, tersenyum di hadapan para investor dengan penuh percaya diri. Ibunya adalah seorang pebisnis ulung yang membangun PT Karya Mulia Utama dari nol, dari sebuah kantor kecil di pinggiran Jakarta hingga menjadi salah satu perusahaan properti terbesar di negeri ini. Sania masih ingat aroma parfum ibunya yang khas, campuran melati dan kayu cendana, yang selalu membawa ketenangan setiap kali ia merasa cemas.

"Jangan pernah menyerah pada mereka yang hanya melihat angka di matamu, Nak," kata ibunya suatu malam, saat Sania masih remaja dan baru pertama kali diajak ke pertemuan bisnis. "Kau lebih berharga dari sekadar lembar saham. Ingat itu."

Air mata mendadak menggenang di pelupuk mata Sania. Ia menahan napas, memaksa diri untuk tidak menangis di tempat umum. Ibunya telah tiada lima tahun lalu, dalam sebuah kecelakaan mobil yang sampai sekarang masih menyisakan banyak pertanyaan. Dan kini, perusahaan yang dibangun dengan jerih payah ibunya perlahan-lahan dirampok oleh orang-orang yang berpura-pura menjadi keluarga.

Andi, yang berdiri di sampingnya, tampaknya merasakan perubahan suasana hati Sania. Dengan gerakan yang tampak alami bagi pengamat luar, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Sania. "Kau baik-baik saja?" bisiknya, nadanya datar namun ada getaran perhatian di dalamnya.

Sania mengangguk cepat, menelan ludah untuk menekan isaknya. "Aku hanya... sedikit lelah."

"Kau bisa pulang lebih awal jika mau," tawarnya. "Supir sudah di bawah. Aku akan menyelesaikan urusan di sini."

Sania menatap suaminya. Dalam tatapan itu, ia mencari sesuatu, kehangatan, ketulusan, atau setidaknya tanda bahwa Andi peduli padanya sebagai manusia, bukan sebagai rekan kerja. Namun yang ia temukan hanyalah kekosongan yang terlatih, wajah yang terlalu terlatih untuk menjadi sempurna di depan publik.

"Tidak," jawab Sania akhirnya. "Aku akan bertahan sampai akhir."

Karena jika aku pulang sekarang, pikirnya getir, aku akan menangis sepanjang malam, dan aku tidak bisa membiarkan mereka melihatku lemah.


BAB II

Perjanjian yang Membisu

Deru mesin mobil mewah asal Eropa itu mengalun rendah, meredam keheningan yang menyesakkan di antara Andi dan Sania. Sepanjang perjalanan pulang dari hotel bintang lima tempat gala investasi berlangsung, tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibir mereka. Keheningan itu terasa tebal, hampir bisa disentuh, dipenuhi oleh sisa-sisa kemarahan dan kelelahan yang sengaja mereka simpan di balik topeng senyuman beberapa jam lalu.

Sania menatap lurus ke luar jendela samping, memandangi rintik hujan yang mulai membasahi kaca mobil, menciptakan aliran air yang mengaburkan lampu-lampu jalanan ibu kota. Di sampingnya, Andi fokus pada kemudi. Sepasang matanya menatap tajam jalanan Jakarta yang mulai lengang menjelang tengah malam, namun pikirannya tampak berada di tempat lain. Jari-jarinya sesekali mengetuk setir dengan ritme yang tidak beraturan, sebuah tanda kegelisahan yang jarang ia tunjukkan.

Sania membiarkan pikirannya melayang kembali ke masa lalu, ke malam di mana semuanya dimulai.


Tiga bulan sebelumnya, Sania sedang duduk di sebuah kafe sepi di kawasan Menteng. Wajahnya pucat, matanya sembap karena menangis sepanjang malam sebelumnya. Di atas meja di hadapannya, tumpukan surat utang dan panggilan pengadilan berserakan. PT Karya Mulia Utama, perusahaan kebanggaan ibunya, berada di ambang kebangkrutan total. Pamannya sendiri, Hendra, telah menguras kas perusahaan melalui proyek-proyek fiktif dan pinjaman bermasalah yang tidak pernah ia bayar.

Ayah Sania, yang dulunya adalah seorang pebisnis handal, kini hanya terbaring lemah di rumah sakit, pasca stroke yang melumpuhkan separuh tubuhnya. Dokter mengatakan kondisinya tidak akan pulih sempurna. Dan Sania, putri tunggal yang baru berusia 26 tahun, harus menghadapi kenyataan bahwa warisan ibunya akan lenyap dalam hitungan minggu.

"Kami bisa mengajukan pailit, Nona Sania," kata seorang pengacara yang ia sewa dengan sisa uang tabungannya. "Setidaknya itu akan menghentikan tuntutan hukum sementara."

"Dan kemudian?" tanya Sania putus asa. "Apa yang tersisa untuk ayahku? Untuk para karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja untuk ibuku?"

Pengacara itu menggeleng. "Saya tidak punya jawaban yang bagus. Satu-satunya pihak yang bisa menyelamatkan perusahaan Anda adalah Konsorsium Baskoro. Mereka sudah menyampaikan tawaran, penggabungan usaha dengan syarat-syarat tertentu. Tapi..." ia ragu-ragu, "syaratnya cukup tidak biasa."

Sania menatap tawaran itu dengan perasaan campur aduk. Konsorsium Baskoro menawarkan untuk melunasi seluruh utang PT Karya Mulia Utama, mengganti semua kerugian yang disebabkan oleh Hendra, dan bahkan memberikan modal segar untuk operasional. Syaratnya? Sania harus menikahi putra tunggal Baskoro, Andi, sebagai simbol penyatuan dua keluarga dan sebagai jaminan bahwa PT Karya Mulia Utama akan menjadi bagian dari konsorsium selamanya.

"Pernikahan politik," gumam Sania getir. "Ibuku pasti akan membenciku jika tahu aku menerima ini."

Tapi pilihan lain tidak ada.

Malam itu juga, Andi mendatanginya di kafe tersebut. Pria itu datang tanpa senyum, mengenakan kemeja kerja yang rapi, membawa sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang berisi draf perjanjian pranikah yang dibuat dingin oleh tim hukum keluarga Baskoro.

"Aku tidak bisa menjanjikanmu cinta atau komitmen emosional apa pun, Sania," kata Andi dengan tatapan sedingin es, menggeser dokumen tebal tersebut ke hadapan Sania. "Pernikahan ini adalah transaksi korporasi. Tugasmu sederhana: menjadi istri yang sempurna di hadapan publik, jurnalis, dan seluruh relasi keluargaku. Imbalannya, seluruh utang perusahaan ayahmu akan dilunasi malam ini juga, dan pamanmu akan didepak tanpa skandal."

Dan Sania, dengan air mata yang ia tahan sekuat tenaga di balik pelupuk matanya yang panas, meraih pena dan menandatanganinya. Pada malam itu, ia tahu ia telah menjual kebebasan dan masa depannya demi menyelamatkan sisa-sisa kehormatan dan kesehatan ayahnya yang tersisa.


Kembali ke masa kini...

Mobil berhenti di area parkir privat kompleks apartemen premium di kawasan eksklusif Jakarta Selatan. Lift khusus membawa mereka langsung menuju penthouse mewah yang terletak di lantai teratas.

Begitu pintu lift terbuka menampilkan ruang tamu yang luas dengan pemandangan lanskap kota dari dinding kaca, atmosfer dingin langsung menyambut. Andi melangkah masuk terlebih dahulu. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja konsol marmer hitam dengan ketukan pelan yang anehnya terdengar sangat nyaring di ruangan yang sepi itu. Ia melonggarkan simpul dasi tuksedonya dengan satu tangan, lalu berbalik, menatap Sania yang baru saja masuk dan mulai melepas sepatu hak tinggi marunnya dengan gerakan lelah.

"Sania, kita perlu bicara sebentar," ujar Andi. Suaranya terdengar berat, serak, dan sarat akan keletihan batin yang mendalam.

Sania tidak langsung menjawab. Ia mengabaikan tatapan suaminya, berjalan melewatinya menuju dapur bersih yang dibatasi oleh pulau marmer putih. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menuangkan air dingin dari dispenser ke dalam gelas kristal, menyesapnya perlahan hingga separuh, sebelum akhirnya berbalik untuk menghadap pria yang telah berbagi atap dengannya selama tiga bulan ini.

"Bicara tentang apa, Mas? Tentang betapa suksesnya sandiwara kita di depan Nyonya Siska malam ini? Atau tentang bonus saham dua persen yang dideklarasikan Papamu?" tanya Sania, nadanya landai namun tajam seperti sembilu.

Andi menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Ia berjalan beberapa langkah mendekat, namun ingatan akan batasan di antara mereka membuatnya berhenti di jarak aman, tiga langkah dari pulau marmer dapur.

"Tentang proyek rekonstruksi lahan di Jakarta Utara," kata Andi, mencoba mengembalikan otoritas suaranya ke mode profesional. "Ayah meneleponku sore tadi sebelum acara. Beliau meminta perusahaan keluargamu segera merampungkan pengalihan sisa saham utamanya minggu depan. Itu bagian dari klausul utama kesepakatan kita sebelum pernikahan ini dilangsungkan."

Mendengar kata 'kesepakatan', dada Sania kembali didera denyut nyeri yang akrab. "Aset di Jakarta Utara itu adalah peninggalan terakhir dari Ibu, Mas. Lahan itu dibeli dengan jerih payahnya sebelum beliau tiada. Apakah Papa Baskoro benar-benar tidak bisa menunggu sampai audit internal tim kami selesai? Kami hanya butuh waktu dua minggu lagi untuk memastikan valuasi yang adil."

"Ini bukan cuma soal keinginan Papa, Sania. Ini soal sentimen pasar dan pergerakan investor luar negeri," jawab Andi tegas. Namun, jika Sania jeli, ada sekilas keraguan dan rasa tidak nyaman yang melintas cepat di kornea mata suaminya sebelum menghilang di balik ketegaran palsunya. "Jika pengalihan saham ini tertunda bahkan hanya beberapa hari, para pengamat saham akan mengendus ada masalah internal di antara keluarga kita. Itu bisa menurunkan nilai saham gabungan yang baru saja kita dongkrak naik malam ini."

Sania tersenyum getir, meletakkan gelas kristalnya ke atas meja marmer dengan hentakan yang agak keras hingga menimbulkan bunyi klang yang memantul di dinding ruangan. "Benar. Aku hampir lupa. Segala hal di dalam hidupmu, dalam silsilah darah Baskoro, memang selalu diukur dengan angka, valuasi, dan grafik saham, kan? Manusia di sekitarmu hanyalah angka yang bisa dijumlahkan atau dikurangi."

Andi terdiam seketika. Rahangnya mengeras, menahan letupan emosi yang mendadak bangkit di dalam dadanya. Ia menatap Sania yang berdiri dengan tubuh yang gemetar halus di balik gaun satin marunnya.

Sebenarnya, ada bagian dari diri Andi yang ingin mengatakan sesuatu yang lain malam ini. Ia ingin mengatakan bahwa ia juga tidak memiliki pilihan di bawah kendali ayahnya yang tiran. Ia ingin menjelaskan bahwa tekanan yang ia terima dari dewan komisaris dan ancaman dari ayahnya jauh lebih mengerikan dari yang bisa dibayangkan oleh Sania. Ayahnya adalah pria yang mampu menghancurkan karier dan hidup siapa saja yang membangkang, termasuk putranya sendiri. Namun, ego yang terluka, harga diri seorang pria, dan tembok tinggi yang telah ia bangun selama bertahun-tahun untuk melindungi dirinya dari rasa sakit membuat kata-kata jujur itu tertahan di tenggorokan, membusuk menjadi keheningan baru.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pelan di pintu area dapur memecah ketegangan di antara mereka. Bi Sumi, asisten rumah tangga senior yang telah bekerja di penthouse itu sejak Andi pertama kali menempatinya, melangkah masuk dengan kepala tertunduk, membawa nampan berisi secangkir teh kamomil hangat.

"Maaf, Tuan, Nyonya... ini teh hangat untuk Nyonya Sania sebelum istirahat," ucap Bi Sumi dengan suara gemetar, menyadari atmosfer ruangan yang terasa seperti medan perang yang siap meledak.

Sania menarik napas dalam, mencoba menenangkan ekspresi wajahnya di depan sang asisten. "Taruh di sana saja, Bi. Terima kasih. Bibi bisa langsung istirahat ke belakang."

"Baik, Nyonya. Permisi," Bi Sumi buru-buru meletakkan cangkir itu dan melangkah pergi dengan cepat, tidak ingin terjebak lebih lama di antara pusaran konflik dua majikannya.

Setelah pintu belakang dapur tertutup kembali, Andi memperbaiki posisi berdirinya. Ia menarik napas pendek, mengunci kembali emosinya ke dalam kotak besi yang rapat.

"Aku hanya mengingatkanmu pada kewajiban legalmu yang tertera dalam perjanjian kita, Sania," kata Andi akhirnya. Suaranya telah kembali datar, dingin, dan asing, suara yang biasa ia gunakan saat menolak proposal bisnis yang tidak menguntungkan. "Jangan biarkan emosi pribadi atau sentimentalitas masa lalu merusak apa yang sudah kita sepakati di atas kertas. Kita berdua tahu apa akibatnya jika kesepakatan ini batal secara sepihak."

Tanpa menunggu balasan atau pembelaan apa pun dari Sania, Andi berbalik dengan gerakan tegas. Ia melangkah pergi menyusuri koridor panjang menuju ruang kerja pribadinya yang terletak di sudut paling ujung penthouse, tempat di mana terdapat sebuah sofa bed kulit yang selama tiga bulan ini menjadi saksi bisu malam-malam sepinya. Ia pergi, meninggalkan Sania sendirian di tengah ruang tengah yang megah, luas, namun terasa laksana sangkar besi yang sangat hampa.

Sania mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi gaun marunnya, hingga kuku-kukunya memutih dan menusuk telapak tangannya sendiri. Perjanjian pranikah itu memang membisu, tersimpan rapi di dalam brankas besi terkunci dan tidak pernah dibahas di depan orang lain. Namun malam ini, Sania bisa merasakan kekuatannya yang tak kasat mata perlahan-lahan mulai melilit, mengencang, dan siap mencekik lehernya hingga ia tidak bisa bernapas lagi dari dalam.

Ia berjalan ke jendela besar ruang tengah. Di bawah sana, lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip, begitu dekat namun terasa begitu jauh. Sania menekan telapak tangannya ke kaca yang dingin, membiarkan kesejukan itu merambat ke seluruh tubuhnya.

Aku harus melakukan sesuatu, pikirnya. Aku tidak bisa terus menjadi boneka yang diam.

Ibunya, Widya, tidak akan pernah membiarkan ini terjadi. Ibunya adalah wanita pejuang, wanita yang membangun perusahaan dari nol dengan tangan sendiri, yang menolak setiap tawaran merger yang tidak adil, dan yang selalu mengajarkan Sania untuk tidak pernah menyerah pada intimidasi.

"Apa yang akan Ibu lakukan sekarang?" bisik Sania ke kaca, menatap bayangannya sendiri yang samar.

Di kejauhan, lampu-lampu gedung pencakar langit berkedip-kedip, seolah memberi jawaban yang belum bisa ia pahami. Sania memejamkan mata. Ia tidak tahu bahwa di dalam hatinya, sebuah perlawanan sedang tumbuh, pelan tapi pasti, seperti retakan kecil yang mulai merambat di dinding benteng yang selama ini mengurungnya.


BAB III

Bayang-Bayang Masa Lalu

Pukul sepuluh pagi di salah satu kafe berkonsep kaca minimalis di sudut Jakarta Selatan. Sinar matahari yang menembus atap kaca menerangi interior ruangan yang didominasi kayu ek muda dan tanaman hijau, menciptakan ilusi ketenangan yang kontras dengan gejolak di dada Andi.

Andi duduk di meja paling pojok, sengaja memilih posisi yang membelakangi pintu masuk utama demi menghindari tatapan mata publik atau kemungkinan jepretan kamera jurnalis amatir. Di depannya, secangkir double espresso yang dipesannya setengah jam lalu kini sudah mendingin sempurna, sama sekali tidak disentuh. Permukaan cairan hitam pekat itu tenang, setenang tatapan mata Andi yang terpaku pada satu titik di luar jendela besar. Namun, di balik ketenangan fasadnya, pikiran pria itu sedang mengembara jauh, terseret arus memori ke masa lima tahun yang lalu.

Masa di mana ia belum mengenakan setelan tuksedo mahal berharga ratusan juta. Masa di mana namanya belum diagung-agungkan sebagai pewaris tunggal dinasti Baskoro. Masa di mana ia masih menjadi seorang pria biasa yang percaya bahwa hidup bisa dijalani dengan memilih jalannya sendiri.

Andi teringat pada ibunya, wanita yang mati ketika ia masih kuliah di luar negeri. Ibunya adalah satu-satunya orang yang pernah membuat Ayahnya setengah lunak. Ketika ibu masih hidup, rumah Baskoro terasa seperti rumah sungguhan, bukan benteng bisnis yang dingin. Tapi setelah ibunya tiada, ayahnya berubah menjadi lebih keras, lebih dingin, dan lebih mengontrol setiap aspek kehidupan Andi.

"Kau harus menjadi pemimpin, Andi," ayahnya sering berkata. "Bukan sekadar pemimpin, tapi penguasa. Karena di dunia ini, kau hanya bisa menjadi predator atau mangsa."

Andi membenci filosofi itu, tapi ia tidak punya kekuatan untuk melawannya. Terutama setelah Kayla...

Kling.

Denting lonceng kuningan di atas pintu masuk kafe membuyarkan lamunan panjang Andi. Suara itu disusul oleh suara gesekan sepatu di atas lantai semen ekspos, langkah kaki yang ringan, berirama lambat, dan sangat familier di rungu Andi. Andi secara refleks menegakkan punggungnya yang semula bersandar kaku. Jantungnya melewatkan satu detakan ketika sesosok wanita dengan rambut cokelat gelap selembut sutra yang dibiarkan tergerai, mengenakan gaun rajut sederhana berwarna krem, menarik kursi tepat di hadapannya.

"Sudah lama menunggu, Ndi?"

Suara itu terdengar lembut, dengan intonasi rendah yang khas. Tipe suara yang lima tahun lalu selalu berhasil menenangkan malam-malam penuh tekanan Andi setiap kali ia bertengkar hebat dengan ayahnya.

Andi menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering dan tersumbat. "Tidak terlalu lama, Kayla," jawab Andi. Suaranya terdengar sedikit parau, tercekat oleh beban rindu dan keterkejutan yang berbaur menjadi satu.

Kayla. Wanita yang pernah mengisi seluruh ruang di hati Andi sebelum ambisi politik, keserakahan finansial, dan tangan besi Tuan Besar Baskoro memporak-porandakan segalanya. Lima tahun lalu, Kayla mendadak menghilang dari radar tanpa meninggalkan jejak atau sepatah kata perpisahan pun. Kepergian sepihak itu meninggalkan Andi yang hancur, patah, dan akhirnya kehilangan kompas hidup hingga memilih menyerah sepenuhnya pada garis takdir yang diatur oleh Baskoro.

Dan sekarang, wanita yang sama kembali duduk di depannya. Wajahnya tampak sedikit lebih dewasa, gurat-gurat kekhawatiran menghiasi sudut matanya yang indah, namun sepasang manik matanya masih menyimpan jenis kesedihan mendalam yang persis sama seperti lima tahun lalu.

Seorang pelayan kafe muda dengan celemek denim mendekati meja mereka, memecah kecanggungan sesaat. "Selamat pagi, ingin memesan apa, Ibu?"

Kayla mendongak tipis, memberikan senyum sopan yang terlihat lelah. "Cukup hot chamomile tea saja, Mas. Terima kasih."

Setelah pelayan itu mencatat dan melangkah pergi, Kayla kembali menatap Andi. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka suara.

"Aku dengar dari berita... kamu sudah menikah," Kayla tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu getir dan dipaksakan hingga membuat ulu hati Andi berdenyut nyeri. "Sania... dia wanita yang sangat cantik. Di foto-foto media, kalian berdua tampak sangat serasi."

Andi mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di bawah meja, hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak rasa bersalah yang tiba-tiba menghantamnya. "Pernikahan itu... hanya bagian dari rencana besar Ayah, Kay. Kamu tahu bagaimana beliau. Pernikahan itu tidak lebih dari sekadar transaksi korporasi di atas kertas materi. Tidak ada yang berubah dari diriku."

"Aku tahu," lirih Kayla, suaranya nyaris berbisik. Ia menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan dengan gelisah di atas meja. "Aku tidak pernah meragukanmu, Ndi. Dan aku bersumpah, aku tidak bermaksud untuk kembali dan mengusik kehidupan barumu yang sudah tenang sekarang. Tapi... Ayahmu kembali menghubungiku lewat orang kepercayaannya minggu lalu."

Andi memicingkan mata, rahangnya mengeras. "Apa yang dilakukan Ayah padamu?"

"Beliau mengancam akan memutus kerja sama dengan jaringan medis dan mempersulit visa pengobatan ibuku di Singapura jika aku berani menginjakkan kaki atau mencari pekerjaan di Jakarta lagi," air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kayla, namun wanita itu buru-buru menyekanya dengan ujung lengan gaun rajutnya. "Aku... aku terpaksa kembali ke sini diam-diam, Ndi. Masa sewa rumah sakit Ibu di sana sudah habis, dan tabunganku tidak lagi mencukupi untuk memperpanjangnya tanpa jaminan korporasi."

Darah Andi mendadak berdesir panas seperti disiram minyak mendidih. Amarah yang luar biasa menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya, mengusir rasa canggung yang sempat menguasainya sejak awal pertemuan.

Sekarang, teka-teki yang menghantuinya selama lima tahun ini terjawab sudah dengan cara yang paling kejam. Jadi, hilangnya Kayla secara misterius di masa lalu, surat pemutusan hubungan sepihak yang ia terima dulu, dan intimidasi yang diterima wanita ini sekarang, semuanya adalah hasil orkestrasi licik dari ayahnya sendiri. Tuan Besar Baskoro benar-benar telah memperlakukan hidup Andi seperti pion catur murahan yang tidak diizinkan memiliki keinginan, perasaan, atau cinta sendiri.

"Jangan takut lagi, Kay. Aku bersumpah tidak akan membiarkan Ayah menyentuhmu, mengancammu, atau mempersulit ibumu lagi," ucap Andi dengan nada suara yang bergetar namun terdengar sangat tegas. Tatapan matanya yang elang kini memancarkan kilat protektif yang intens, sorot mata penuh tekad yang sudah lama padam sejak ia menerima pernikahan kontraknya.

Secara impulsif, Andi mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam sekilas jemari Kayla yang dingin, mencoba menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki. "Aku yang akan mengurus seluruh biaya rumah sakit ibumu mulai hari ini, secara privat, di luar pengawasan sistem keuangan konsorsium Ayah. Kau aman bersamaku."

Kayla menatap Andi dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi, Ndi... istri kamu? Bagaimana dengan Sania?"

Andi terdiam sejenak. Nama Sania muncul di benaknya, dan untuk beberapa detik, ia merasakan sesuatu yang aneh, seperti rasa bersalah yang tidak seharusnya ia rasakan, karena pernikahan mereka memang kontrak, bukan? Sania hanyalah rekan bisnis, bukan pasangan hidup.

"Aku akan menjelaskan semuanya padanya," kata Andi akhirnya, meskipun dalam hatinya ia tahu itu adalah kebohongan. "Sania mengerti tentang perjanjian kita. Ini bukan pernikahan yang nyata."

Tapi saat kata-kata itu keluar, Andi merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia membayangkan wajah Sania di malam pernikahan mereka, ekspresi campuran antara ketakutan dan kepasrahan. Ia membayangkan bagaimana Sania tersenyum di depan kamera, bagaimana ia memainkan perannya dengan sempurna, dan bagaimana di balik semua itu, ada luka yang tidak terlihat.

Andi menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. Ini hanya transaksi, pikirnya. Tidak lebih.


Sementara itu, di belahan kota yang lain...

Sania berjalan menyusuri koridor marmer mal mewah tersebut dengan langkah kaki yang konstan. Ia baru saja menyelesaikan pertemuan makan siang yang cukup melelahkan dengan dua orang vendor interior senior, Nyonya Amara dan Tuan Kevin, guna membahas pembaruan estetika lobi utama gedung PT Karya Mulia Utama. Di tangannya, ia mendekap sebuah tablet digital dan beberapa sampel kain premium.

"Pastikan semua materialnya selesai diaudit sebelum akhir bulan, Nyonya Sania," suara Nyonya Amara yang bernada tinggi masih terngiang di telinga Sania saat wanita paruh baya itu berpamitan di lobi lift beberapa menit lalu.

Sania mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa penat yang menggelayuti pundaknya. Namun, langkah kakinya mendadak terkunci di atas lantai marmer. Tubuhnya membeku seketika ketika sepasang matanya menangkap sebuah siluet yang sangat, sangat ia kenali melalui dinding kaca transparan sebuah kafe yang terletak di sudut koridor sepi yang agak menjorok ke dalam.

Itu Andi. Suaminya.

Sania secara refleks mundur selangkah, menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik pilar beton besar berlapis cermin yang berada tak jauh dari sana. Jantungnya mendadak berdegup kencang, berpacu dalam ritme yang tidak beraturan hingga menimbulkan rasa sakit yang samar di dadanya.

Andi, pria yang semalam dengan wajah lelah mengatakan harus menginap di kantor karena ada rekonsiliasi data darurat yang sangat mendesak hingga tidak bisa pulang ke penthouse, kini sedang duduk berdua dengan seorang wanita asing di dalam kafe tersebut.

Dari jarak sejauh ini, melalui celah kaca dan dedaunan tanaman hias, Sania bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana ekspresi wajah Andi. Tidak ada kekakuan. Tidak ada rahang yang menegang dingin. Tidak ada tatapan kosong penuh selidik yang biasa Andi tunjukkan saat berada di rumah atau di depan meja makan mereka.

Tatapan mata suaminya begitu intens, dipenuhi oleh kekhawatiran yang tulus, dan... sebuah kelembutan yang teramat dalam. Jenis tatapan hangat yang belum pernah sekalipun Andi berikan kepadanya selama tiga bulan usia pernikahan mereka. Dan yang paling menghancurkan pertahanan batin Sania adalah ketika ia melihat tangan Andi bergerak di atas meja, menggenggam jemari wanita itu dengan gerakan protektif yang begitu intim, seolah wanita itu adalah dunianya yang rapuh yang harus ia lindungi dari badai.

Tangan Sania yang sedang mencengkeram tas desainer mewahnya bergetar hebat hingga buku-buku jarinya memutih. Sampel kain di pelukannya merosot jatuh ke atas lantai marmer tanpa ia pedulikan.

Ego, harga diri, dan martabatnya sebagai seorang istri sah mendadak runtuh, hancur berkeping-keping menjadi abu yang tak berharga. Sania tahu betul pernikahan mereka didasari oleh kontrak bisnis. Ia tahu betul sejak awal tidak ada klausul tentang cinta di antara mereka. Ia bahkan selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak peduli pada apa pun yang dilakukan Andi di luar sana.

Namun, kenyataan visual yang tersaji di depan matanya saat ini membuktikan sebaliknya. Melihat suaminya memberikan seluruh afeksi, kelembutan, dan hatinya pada wanita lain di depan matanya sendiri membuat dada Sania terasa dihantam oleh godam besar yang sangat mematikan. Rasa cemburu dan terhina bercampur menjadi satu, menciptakan rasa sesak yang luar biasa.

Siapa dia? pikir Sania, air mata mulai menggenang di matanya. Kenapa dia bisa mendapat sisi Andi yang tidak pernah kulihat? Kenapa dia layak mendapatkan kelembutan itu, sementara aku... aku hanya wajah yang harus tersenyum di depan kamera?

Sania membalikkan badannya dengan cepat, mengabaikan sampel barangnya yang tertinggal di lantai. Ia berjalan menjauh dengan langkah yang setengah berlari, menembus kerumunan pengunjung mal. Air mata hangat mulai merembes keluar dari pelupuk matanya, meluncur turun melewati pipinya, mati-matian ia seka agar tidak merusak riasan wajah sempurna yang selama ini menjadi tamengnya dari dunia luar.

Retakan di dinding pernikahan mereka kini tidak lagi berupa garis halus yang bisa ditutupi dengan bedak tipis panggung sandiwara. Bayang-bayang masa lalu Andi baru saja datang menghantam dengan kekuatan penuh, membuat fondasi pernikahan mereka yang labil berguncang hebat untuk pertama kalinya.

Sania berlari keluar dari mal, menghirup udara segar di luar dengan napas tersengal-sengal. Ia bersandar pada dinding, menutup matanya rapat-rapat, mencoba menenangkan diri. Tapi di balik kelopak matanya, ia masih melihat gambar itu: Andi menggenggam tangan wanita itu, Andi menatapnya dengan penuh kasih, Andi memberikan semua yang tidak pernah ia berikan pada Sania.

Berhenti! bentaknya pada dirinya sendiri. Kau tidak berhak cemburu. Ini pernikahan kontrak. Kau tidak boleh peduli.

Tapi perasaan itu tetap ada, menggerogoti hatinya seperti racun. Sania mencengkeram dadanya, merasakan denyut jantung yang tidak beraturan. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa lagi membedakan antara peran dan kenyataan. Dan ketidakmampuan itu terasa lebih menyakitkan daripada semua kontrak dan perjanjian yang pernah ia tandatangani.


BAB IV

Makan Malam Penuh Duri

Meja makan panjang dari kayu jati berukir mewah peninggalan abad pertengahan di kediaman utama keluarga Baskoro malam itu dipenuhi oleh hidangan standar bintang lima. Lilin-lilin perak yang tinggi menyala di beberapa titik, memantulkan bayangan temaram pada dinding ruang makan yang dilapisi wallpaper beludru berwajah klasik. Namun bagi Sania, aroma sup jamur truffle dan potongan daging premium yang menggugah selera itu mendadak berubah hambar, menjelma menjadi bau zat kimia yang memuakkan. Suasana ruang makan ber-AC tersebut terasa begitu mencekik, seolah-olah pasokan oksigen sengaja dikurangi di dalam sana.

Di ujung meja, Tuan Besar Baskoro duduk dengan wibawa tiraninya yang mutlak. Pria paruh baya itu memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang lambat, tenang, namun penuh penekanan pada setiap tekanan pisaunya, sebuah gestur khas seorang pria yang terbiasa menguliti lawan-lawan bisnisnya tanpa ampun. Di sebelah kanan Baskoro, Andi duduk dengan posisi tegap, nyaris tanpa cela, sementara Sania berada tepat di hadapan suaminya, dipisahkan oleh hamparan taplak meja damask putih dan rangkaian bunga lili yang sewaktu-waktu terasa seperti pembatas makam.

Sejak dua hari lalu, setelah kejadian di mal, Sania tidak bisa menghentikan pikirannya untuk terus berputar pada wajah wanita asing yang ditemui Andi di kafe. Setiap kali ia menatap suaminya, yang terbayang adalah tatapan lembut Andi pada wanita itu, tatapan yang tidak pernah ia terima.

"Bagaimana perkembangan pengalihan saham dari perusahaan ibumu, Sania?"

Suara berat dan bariton milik Baskoro mendadak memecah keheningan yang kaku. Intonasi suaranya yang rendah terdengar laksana sebuah tuntutan hukum alih-alih pertanyaan ramah seorang mertua di sela makan malam keluarga.

Sania meletakkan garpu kristalnya perlahan ke atas tatakan piring, menimbulkan suara denting halus yang memantul di ruangan sepi itu. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menjaga agar otot-otot wajah dan suaranya tidak bergetar sama sekali. Di dalam dadanya, amarah dan kepedihan bercampur menjadi satu, namun ia tahu ia tidak boleh menunjukkan kelemahan di hadapan predator seperti Baskoro.

"Proses audit internal masih berjalan dengan semestinya, Papa," jawab Sania, menatap lurus pada pria tua di ujung meja. "Ada beberapa berkas administratif dari masa kepemimpinan paman saya yang perlu disinkronkan terlebih dahulu oleh tim legal kami. Kami menemukan beberapa ketidaksesuaian angka yang cukup krusial."

Baskoro menghentikan gerakan pisaunya seketika. Bilah besi itu tertahan di atas daging yang setengah terpotong. Ia mendongak, mengunci pandangan Sania dengan sepasang mata elangnya yang dingin dan tak memiliki belas kasihan.

"Administrasi? Berkas?" Baskoro terkekeh rendah, sebuah suara parau yang sama sekali tidak terdengar jenaka. "Sesuatu yang lambat dan berbelit-belit bisa menjadi parasit mematikan bagi iklim bisnis, Sania. Papa tidak suka menunda sesuatu yang sudah kita sepakati bersama sebelum hari pernikahan kalian. Kecepatan adalah segalanya di pasar modal saat ini. Bukankah begitu, Andi?"

Andi, yang sejak awal sesi makan malam lebih banyak diam dan menatap lurus ke arah piringnya sendiri, mendongak. Ia mengalihkan pandangannya, melirik Sania sekilas. Tatapan mata elang milik Andi, yang biasanya menyimpan sedikit kehangatan tersembunyi selama tiga bulan terakhir ini, kini terasa sangat asing, berjarak, dan membeku pasca pertemuan rahasianya dengan Kayla di kafe Jakarta Selatan dua hari lalu.

"Betul, Pa," sahut Andi dengan suara datar tanpa intonasi. "Namun, dari sudut pandang korporasi, proses hukum dan audit forensik memang mutlak membutuhkan ketelitian tingkat tinggi agar tidak menjadi celah gugatan balik dari pemegang saham minoritas di kemudian hari."

Kalimat yang diucapkan Andi terdengar sangat objektif dan rasional secara hukum bisnis, memberikan pembelaan terselubung atas keterlambatan Sania. Namun, Sania yang duduk tepat di hadapannya dapat merasakan dengan jelas bahwa ada jarak emosional raksasa yang sengaja dibentangkan Andi di sana. Pria itu berbicara seolah-olah sedang mengomentari kasus hukum perusahaan asing, bukan sedang membela urusan istrinya sendiri.

"Kita tidak punya banyak waktu untuk 'ketelitian' yang hanya membuang-buang momentum pasar, Andi," potong Baskoro tajam, nadanya meninggi satu oktav, membuat atmosfer di sekitar meja makan turun drastis hingga ke titik beku. "Minggu depan, dokumen pengalihan hak milik atas lahan Jakarta Utara harus sudah ditandatangani di depan notaris. Papa sudah mengatur agar proyek reklamasi dan pembangunan pelabuhan logistik di sana segera dimulai. Perusahaan keluarga Sania hanya perlu menyerahkan sisa asetnya secara sukarela, dan biarkan manajemen Konsorsium Baskoro yang mengendalikannya secara penuh."

Kata 'mengendalikannya' memicu gemuruh amarah sekaligus kepedihan yang luar biasa di dalam dada Sania. Kalimat itu menegaskan bahwa posisinya di rumah ini tidak lebih dari sekadar jembatan penyerahan harta haram. Ia melirik suaminya, menatap lekat-lekat pada sepasang mata Andi, berharap ada sedikit pembelaan yang lebih berani atau setidaknya satu tatapan mata yang menenangkan jiwanya yang sedang terkoyak.

Namun, Andi justru kembali mengalihkan pandangannya ke samping. Pria itu meraih gelas berkaki tinggi miliknya, menyesap air putih di dalamnya dengan perlahan seolah-olah ia mendadak enggan terlibat atau berdebat lebih jauh dengan ayahnya yang dominan.

Dia tidak akan pernah membelaku secara nyata, batin Sania dengan rasa perih yang teramat sangat, laksana diiris oleh silet yang berkarat. Di mata Andi dan ayahnya, aku, harga diriku, dan seluruh peninggalan air mata Ibuku hanyalah komoditas yang nilainya terus menyusut setelah transaksi disepakati.

"Dan satu hal lagi," Baskoro kembali berbicara setelah meneguk wine-nya dengan puas. Kali ini nadanya berubah sedikit kasual, namun tetap menyimpan selubung intrik politik keluarga yang pekat. "Papa mendengar laporan menarik dari orang kepercayaan Papa yang berada di lapangan... kamu terlihat berada di daerah Jakarta Selatan sekitar pukul sepuluh siang dua hari lalu. Di sebuah kafe minimalis yang cukup sepi di pojok koridor. Bukankah jadwal resmimu siang itu seharusnya memimpin pertemuan tingkat tinggi dengan dinas tata kota terkait izin amdal?"

Pertanyaan yang meluncur santai dari bibir Baskoro itu seketika membuat gerakan tangan Andi yang hendak meletakkan gelasnya membeku di udara selama beberapa detik. Rahangnya mengeras seketika, menciptakan garis tegas yang kaku di wajah tampannya.

Sania menahan napasnya di balik tenggorokan. Di bawah meja yang tertutup taplak mewah, jemari tangan Sania mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri, meninggalkan bekas memutih yang perih. Ia menatap Andi lekat-lekat tanpa berkedip, menunggu dengan debar jantung yang menggila tentang bagaimana reaksi suaminya saat perselingkuhan emosionalnya diendus oleh sang ayah.

Jadi Papanya juga tahu? pikir Sania dengan dada yang semakin sesak. Apa ini semua hanya permainan yang aku tidak tahu aturannya?

"Ada urusan mendesak dan sangat penting yang harus kuselesaikan secara pribadi di sana, Pa," jawab Andi. Suaranya terdengar sangat tenang, terlalu tenang dan terkendali untuk seseorang yang sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar di balik punggungnya. "Pertemuan dengan pihak dinas tata kota sudah didelegasikan dan diwakili dengan baik oleh sekretaris direksi kita. Hasil rapatnya positif dan seluruh draf izin sudah berjalan lancar."

Baskoro tersenyum tipis, sebuah senyuman culas yang hanya menggerakkan sudut bibirnya namun sama sekali tidak pernah mencapai sepasang matanya yang dingin. "Pastikan urusan 'pribadi' yang kamu maksud itu tidak mengaburkan atau mengganggu fokus utamamu pada ekspansi korporasi keluarga kita, Andi. Papa tidak suka melihat ada duri dalam daging atau kerikil kecil yang berpotensi merusak rencana besar yang sudah Papa susun selama bertahun-tahun."

Sania bisa merasakan ketegangan yang luar biasa besar dan tak kasat mata yang sedang bergolak di antara ayah dan anak itu. Dua pria dari silsilah Baskoro itu saling menatap dalam diam, seolah sedang melakukan adu perang urat syaraf yang mematikan. Namun, fokus Sania kini telah pecah sepenuhnya oleh rasa sakitnya sendiri yang membakar dada.

Andi tidak hanya berbohong kepadaku tentang alasan menginap di kantor. Lebih dari itu, pria itu ternyata rela mempertaruhkan posisinya, reputasinya, dan otoritasnya di hadapan sang ayah yang tiran demi menemui wanita dari masa lalunya. Sementara untuk dirinya, sang istri sah, Andi hanya menyisakan draf kontrak, tuntutan aset, dan keheningan yang membunuh karakter.

Sania tiba-tiba teringat pada wajah wanita di kafe itu. Rambut cokelat gelap yang tergerai lembut, gaun rajut sederhana, tatapan mata yang penuh kesedihan namun juga kehangatan. Siapa dia? Kenapa Andi rela mengambil risiko sebesar itu untuknya? Apakah dia kekasih lama? Atau... cinta sejati yang terhalang oleh pernikahan kontrak ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti pusaran air yang semakin dalam, menyeretnya ke dasar kesedihan yang tak bertepi. Sania menggigit bibirnya hingga hampir berdarah, berusaha menahan air mata yang mengancam akan tumpah.

Makan malam mewah itu kembali berlanjut dalam keheningan yang jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Setiap suapan makanan yang masuk ke dalam mulut Sania terasa laksana serpihan duri tajam yang lolos dan menggores tenggorokannya hingga berdarah. Di atas meja makan yang megah dan penuh kepalsuan itu, Sania tersadar sepenuhnya bahwa dia tidak hanya sedang dikelilingi oleh para pebisnis tiran yang kejam dan serakah, tetapi dia juga sedang duduk di sebelah seorang suami yang raganya ada di sana, namun separuh jiwa dan cintanya telah pergi secara utuh kepada wanita lain.

Dan aku tidak punya hak untuk marah, pikirnya getir. Karena pernikahan ini memang kontrak. Tidak ada cinta di dalamnya.

Tapi kalau begitu, kenapa dadanya terasa begitu sakit? Kenapa ia merasa seperti dikhianati oleh orang yang bahkan tidak pernah berjanji setia padanya? Sania tidak mengerti. Dan ketidakmengertian itu membuatnya semakin menderita.


Setelah makan malam usai...

Baskoro langsung bangkit dari kursi kebesarannya di ujung meja tanpa mengucapkan sepatah kata pun perpisahan, sebuah kebiasaan tiran yang sengaja dilakukan untuk meninggalkan aura dominasi mutlak yang masih membekas tebal di udara ruang makan. Kepergian pria tua itu tidak lantas membuat atmosfer mencair; sisa-sisa perang urat saraf antara ayah dan anak masih menggantung pekat di antara Andi dan Sania.

Sania beranjak dari duduknya, memaksakan diri tersenyum formal demi sopan santun yang tersisa. "Aku ke kamar mandi sebentar," katanya, meskipun sebenarnya ia hanya butuh ruang untuk bernapas.

Di dalam kamar mandi tamu yang bernuansa marmer hitam dengan keran berlapis emas, Sania menyalakan wastafel. Dinginnya air yang menerpa kulit wajahnya sedikit meredakan gemuruh amarah yang membakar dadanya sejak siang tadi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar berpendar temaram. Matanya tampak lelah, menyembunyikan luka yang kian menganga. Setiap embusan napas yang ditariknya terasa semakin berat, dihimpit oleh beban kepalsuan pernikahan yang baru seumur jagung ini.

"Kau bisa bertahan, Sania," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Ibumu tidak pernah menyerah. Kau juga tidak boleh."

Tapi bisikan itu terasa lemah, tenggelam oleh suara lain di kepalanya, suara Baskoro yang menuntut, suara Andi yang dingin, dan bisikan lembut wanita asing dari kafe itu.

Sania membasuh wajahnya sekali lagi, lalu menatap cermin dengan tekad yang baru. Aku harus mencari tahu siapa wanita itu. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ia keluar dari kamar mandi dengan langkah mantap, bertekad untuk menghadapi Andi malam ini juga. Namun, saat ia melangkah masuk ke lorong panjang menuju ruang tamu, langkahnya terhenti.

Dari arah balkon kecil di ujung lorong, ia mendengar suara Andi. Pria itu sedang berbicara dengan nada yang begitu lembut, nada yang sama seperti yang ia lihat di kafe dua hari lalu.

Sania menempelkan tubuhnya ke dinding, menyembunyikan diri di balik pilar marmer besar. Hatinya berdegup kencang, tapi ia tidak bisa berhenti mendengarkan.

"Aku sudah mentransfer biaya termin pertama untuk rumah sakit di Singapura melalui rekening privat luar negeri malam ini, Kay," bisik Andi.

Kay. Nama itu. Wanita dari kafe.

"Gunakan dana itu dulu untuk memastikan Ibu mendapatkan fasilitas terbaik," lanjut Andi. "Jangan pikirkan tentang bagaimana reaksi Ayah jika tahu hal ini. Aku yang akan menahan semua tekanannya di sini. Kamu hanya perlu fokus pada kesembuhan ibumu."

Sania membeku. Dadanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Andi memberikan uangnya, uang yang seharusnya untuk perusahaan mereka, untuk masa depan mereka, kepada wanita lain. Wanita yang ia temui secara diam-diam. Wanita yang ia lindungi dari ayahnya sendiri.

"Aku tahu, Kayla. Aku tahu kita tidak bisa memutar balik waktu atau kembali seperti dulu lagi," suara Andi kembali terdengar, kali ini melemah, sarat akan penyesalan masa lalu yang teramat mendalam dan menyakitkan.

Pria itu mengusap wajahnya dengan satu tangan yang bebas, lalu menarik napas berat sebelum melanjutkan kalimatnya yang laksana belati bagi Sania. "Tapi melihatmu menderita dan ketakutan karena intimidasi dari Ayah... aku tidak bisa diam saja, Kay. Pernikahanku dengan Sania sejak awal hanyalah urusan bisnis legal untuk mengamankan likuiditas dan aset perusahaan keluarganya. Itu tidak melibatkan perasaan apa pun. Jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah atau tidak enak pada Sania. Dia tahu persis batasan posisi kami."

Pernikahanku dengan Sania sejak awal hanyalah urusan bisnis...

Kalimat itu bergaung berulang-ulang di dalam labirin kepala Sania, laksana hantaman godam raksasa beruntung yang menghancurkan sisa-sisa harga diri dan martabat wanita yang selama ini mati-matian ia pertahankan di depan keluarga Baskoro.

Meskipun sejak awal Sania sadar akan kebenaran mutlak dari status pernikahan kontrak mereka, mendengarnya langsung diucapkan secara gamblang dari mulut suaminya sendiri kepada wanita lain, kepada cinta masa lalunya, memberikan sensasi rasa sakit yang jauh lebih menghancurkan daripada sekadar membaca draf perjanjian di atas kertas. Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup di dalam kegelapan.

Jadi benar, pikir Sania, air mata mulai menetes deras. Aku hanya kewajiban administratif. Sebuah stempel legalitas. Tidak lebih.

Sania mencengkeram erat gaun malam satin marun di bagian dadanya yang mendadak terasa luar biasa sesak, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di lantai dua itu menguap habis. Air mata yang sejak sore hari di mal ia tahan dengan segenap kekuatannya, kini merebak tak terbendung lagi di pelupuk matanya, meluncur turun membasahi pipi, merusak riasan yang baru saja ia perbaiki.

Ia mendengar Andi melanjutkan percakapannya, membicarakan strategi untuk melindungi Kayla dari ancaman ayahnya. Nada suaranya penuh kasih, penuh perhatian, penuh segala hal yang tidak pernah ia berikan pada Sania.

Cukup. Sania tidak bisa mendengar lagi. Ia melangkah mundur perlahan, setapak demi setapak dengan sangat hati-hati. Ia memastikan berat tubuhnya bertumpu sempurna agar sandal rumah yang dikenakannya tidak menimbulkan bunyi decit sedikit pun di atas lantai marmer kelabu yang dingin. Air matanya kini menetes bebas, jatuh satu per satu ke atas lantai, menjadi saksi bisu kejatuhan mental seorang Sania malam itu.

Di dalam lorong yang gelap, dingin, dan dipenuhi aroma kemunafikan itu, Sania akhirnya menyadari satu hal yang mutlak dan tak terbantahkan. Di dalam hidup Andi, dirinya bukan sekadar seorang istri tanpa cinta atau partner sandiwara publik; ia tidak lebih dari sebuah kewajiban administratif, sebuah stempel legalitas yang harus dipenuhi demi kelancaran sebuah 'transaksi korporasi'.

Sementara untuk Kayla, wanita dari masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi itu, Andi rela mempertaruhkan reputasinya, mengabaikan protokol keamanan kantor, bahkan bersiap untuk bermain api yang sangat berbahaya di belakang punggung ayahnya yang terkenal kejam dan tak kenal ampun.

Sania membalikkan badannya dengan cepat. Ia berjalan setengah berlari menyusuri sisa lorong, menundukkan kepala saat berpapasan dengan seorang pelayan senior yang hendak mengantarkan dokumen ke ruang kerja Baskoro.

"Nyonya Sania? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tersebut, sedikit terkejut melihat wajah Sania yang pucat.

"Tidak, saya harus segera ke mobil. Katakan pada Andi aku pulang duluan karena pusing," sahut Sania pendek dengan suara yang sengaja disamarkan, tanpa menghentikan langkah kakinya.

Ia terus melangkah turun menuju lobi utama, keluar menembus pintu gerbang besar kediaman Baskoro. Sania meninggalkan rumah megah yang tak ubahnya penjara emosional itu dengan hati yang telah patah total, meratap sendirian di dalam kegelapan jok belakang mobil mewah yang membawanya pulang.

Di dalam mobil, setelah pintu tertutup rapat, Sania akhirnya membiarkan tangisnya pecah. Ia menangis sekeras-kerasnya, menangis untuk ibunya yang tiada, untuk perusahaan yang dirampok, untuk pernikahan yang palsu, dan untuk dirinya sendiri yang terjebak di dalam semua ini.

"Aku benci ini semua," bisiknya di antara isak tangis. "Aku benci menjadi lemah. Aku benci menjadi korban. Aku benci..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena di dalam hatinya, satu pertanyaan besar muncul—pertanyaan yang selama ini ia hindari, namun kini tidak bisa ia pungkiri lagi.

Apakah aku benci Andi? Atau aku benci karena aku mulai peduli padanya?

Sania tidak tahu jawabannya. Dan ketidaktahuan itu terasa seperti luka baru yang menganga di dadanya. Retakan pernikahan mereka kini kian menganga lebar dan siap untuk runtuh menjadi tiada.


BAB V

Cemburu yang Tak Berhak

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden sutra kelabu di penthouse mewah itu tidak mampu menghangatkan dingin yang telanjur membeku di hati Sania. Kamar tidur utama yang luas dengan desain minimalis modern itu terasa laksana gurun es yang sunyi. Semalaman, Sania tidak bisa memejamkan mata bahkan untuk satu detik pun. Setiap kali ia mencoba merebahkan kepala di atas bantal, rekaman suara bariton Andi yang berbicara dengan nada penuh kelembutan pada Kayla di lorong gelap rumah Baskoro terus berputar di kepalanya, bergaung laksana kaset rusak yang menyiksa batin.

Sania berbaring di atas ranjang dengan mata terbuka lebar, menatap langit-langit yang tinggi. Pikirannya berkecamuk, mengulang-ulang setiap kata yang ia dengar semalam. "Pernikahanku dengan Sania sejak awal hanyalah urusan bisnis legal..." Kalimat itu berputar terus seperti mantra yang menyakitkan.

Ia mencoba mengingat wajah Andi saat mereka pertama kali bertemu di kafe Menteng. Wajah dingin, tatapan kosong, suara datar. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Hanya transaksi. Dan Sania, dalam keputusasaannya, menerima semua itu.

Tapi kenapa sekarang terasa begitu menyakitkan? tanyanya pada diri sendiri. Kenapa aku tidak bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada seperti dulu?

Jawabannya sederhana, namun Sania tidak mau mengakuinya. Selama tiga bulan terakhir, tanpa disadari, ia mulai melihat Andi sebagai lebih dari sekadar rekan kontrak. Ada saat-saat di mana Andi menunjukkan perhatian kecil—ketika ia menahan pintu untuknya, ketika ia bertanya apakah ia sudah makan, ketika ia melingkarkan tangannya di pinggangnya dengan lembut di depan publik. Sania tahu semua itu bagian dari sandiwara, tapi hatinya yang mulai luluh tidak peduli.

Kau bodoh, Sania, ia memarahi dirinya sendiri. Kau jatuh cinta pada pria yang tidak pernah mencintaimu.

Ketika pintu kamar mandi utama yang bermaterial kaca buram itu bergeser terbuka, Andi keluar dengan penampilan yang nyaris tanpa cela. Ia sudah mengenakan kemeja kerja katun Mesir berwarna putih bersih, kontras dengan dasi sutra biru tua yang tersampir di lehernya. Tangan Andi bergerak konstan, mengancingkan manset di pergelangan tangannya dengan gerakan yang sangat tenang. Wajah pria itu datar, bersih, seolah-olah beban percakapan rahasia dan transfer dana ratusan juta semalam tidak meninggalkan bekas atau riak rasa bersalah sama sekali di paras tampannya.

Sania menatapnya dari balik bayang-bayang gorden. Di mata Andi, ia tidak melihat sedikit pun pertanyaan atau kekhawatiran. Pria itu sama sekali tidak peduli bahwa istrinya pulang lebih awal semalam dengan mata merah dan wajah pucat.

"Aku ada rapat sarapan dengan konsorsium investor dari Singapura pagi ini di SCBD. Kemungkinan setelah itu aku langsung ke kantor pusat untuk memimpin rapat divisi," ucap Andi tanpa menatap ke arah Sania. Ia berbicara pada pantulan dirinya di cermin meja rias besar, mengabaikan istrinya yang masih duduk diam di tepi ranjang berukuran king size dengan piyama sutra hitamnya yang longgar.

Sania menarik napas dalam-dalam, merasakan pasokan udara yang masuk terasa perih menggores paru-parunya. Ia mengepalkan jemarinya di atas seprai premium, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan harga diri yang telah hancur berserakan sejak semalam.

"Investor... atau ada agenda personal lain yang lebih mendesak, Mas?"

Gerakan tangan Andi yang sedang merapikan kerah kemejanya terhenti seketika. Kamar tidur itu mendadak sunyi, hanya menyisakan deru halus dari sistem pendingin ruangan sentral. Andi membalikkan tubuhnya perlahan, menoleh dan menatap Sania dengan dahi yang berkerut halus, menampilkan ekspresi ketidaknyamanan yang samar.

"Apa maksudmu, Sania? Aku sedang tidak punya waktu untuk tebak-tebakan di jam krusial seperti ini."

Sania bangkit berdiri dari tepi ranjang. Kakinya yang tanpa alas terasa dingin saat menyentuh lantai marmer kelabu. Ia melangkah perlahan, memangkas jarak di antara mereka hingga ia berdiri tepat tiga langkah di depan suaminya. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat setiap detail wajah Andi, rahang yang tegas, mata yang tajam, bibir yang selalu terbentuk untuk kata-kata formal dan dingin.

"Semalam aku berdiri di balik pilar koridor rumah Papa, Mas. Aku mendengar semuanya dengan sangat jelas," kata Sania, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi, namun sepasang maniknya menatap tajam lurus ke dalam manik mata Andi, menuntut sebuah kejujuran. "Kamu menelepon Kayla. Kamu bilang pada wanita itu bahwa pernikahan kita sejak awal hanyalah bisnis murahan untuk mengamankan aset perusahaan keluargaku, dan kamu bersiap menanggung semua tekanan Papa demi melindunginya. Kamu bahkan mengiriminya uang jaminan rumah sakit."

Atmosfer di dalam kamar tidur mewah itu mendadak berubah menjadi sangat tegang dan menyesakkan. Andi menurunkan kedua tangannya ke sisi tubuh. Sebuah kilat ekspresi terkejut dan tidak percaya sempat melintas selama sepersekian detik di mata elangnya, sebelum akhirnya ia dengan cepat menarik kembali emosinya dan memasang topeng sedingin es yang biasa ia kenakan di ruang rapat direksi.

"Kau memata-matai suamimu sendiri di rumah orang tuanya, Sania?" tanya Andi. Nada suaranya merendah satu oktav, sarat akan getaran ketidaksukaan dan otoritas yang mengintimidasi.

"Memata-matai?" Sania tertawa getir, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyedihkan di telinga mereka sendiri. Air mata yang sejak tadi ia bendung kini mulai merembes bebas, menciptakan jalur basah di pipinya yang pucat. "Aku tidak sengaja lewat karena ingin membasuh wajahku yang mati rasa setelah makan malam penuh kepalsuan itu! Tapi syukurlah aku lewat, Andi. Jadi aku tidak perlu terus-menerus terlihat seperti orang bodoh yang tersenyum di rumah ini. Biar bagaimanapun, di hadapan hukum dan agama, aku ini istrimu!"

"Istri karena kontrak legal, Sania! Jangan pernah melupakan esensi dasar itu," potong Andi dengan kalimat yang meluncur tajam, menghantam tepat di ulu hati Sania dengan kekuatan yang mematikan.

Andi melangkah satu tindakan lebih dekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Sania bisa mencium aroma parfum maskulin suaminya yang mendadak terasa mencekik. Ia menatap Sania lurus-lurus dengan pandangan mata yang menghunjam, dingin tanpa kehangatan seorang pasangan.

"Sejak malam di kafe Menteng itu, kita sudah sepakat dan menandatangi berkas hukum bersama. Pernikahan ini tidak lebih dari sekadar transaksi korporasi mutualisme untuk menyelamatkan sisa utang dan nama baik perusahaan ayahmu. Aku tidak pernah menjanjikan sepotong hatiku atau komitmen emosional apa pun padamu saat draf itu dibuat. Dan kau... kau sama sekali tidak punya hak hukum atau moral untuk mengatur dengan siapa aku berbicara, ke mana danaku mengalir, atau siapa wanita yang ingin kulindungi di luar dinding apartemen ini."

"Tapi kau menyembunyikannya dariku! Kau membawa bahaya dan masa lalumu ke dalam lingkaran pernikahan kita yang sedang diawasi oleh media!" pekik Sania, ego dan harga dirinya yang terluka hebat membuat seluruh pertahanan ketat yang ia bangun selama tiga bulan ini runtuh sepenuhnya. Ia mencengkeram lengan kemeja Andi dengan tangan gemetar. "Aku manusia, Andi, bukan robot administrasi! Aku punya hak untuk merasa cemburu dan terhina saat suamiku sendiri memberikan seluruh perhatian, kelembutan, dan hidupnya pada wanita lain tepat di belakang punggungku!"

Andi terdiam sejenak. Ia menatap lurus pada air mata yang terus mengalir deras membasahi pipi Sania, melihat bagaimana bahu wanita itu berguncang hebat akibat rasa sakit yang teramat perih. Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang menyengat dada Andi, sebuah rasa bersalah yang asing dan tidak nyaman. Namun, ego seorang Baskoro, serta fakta bahwa ia harus tetap menyembunyikan keberadaan Kayla di Jakarta dari jaringan mata-mata ayahnya yang kejam, memaksanya untuk tetap bersikap defensif dan kejam.

"Cemburu?" Andi tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang sangat tipis, memotong habis sisa-sisa harapan yang tersembunyi di dada Sania. "Kau tidak berhak untuk merasakan hal itu, Sania. Hubungan kita dibatasi secara ketat oleh lembaran kertas perjanjian hitam di atas putih. Di luar urusan representasi publik, makan malam formal keluarga, dan bisnis konsorsium, hidupku bukan urusanmu. Begitu juga sebaliknya, apa pun yang kau lakukan di luar sana bukan urusanku."

Kata-kata itu menghantam Sania seperti pukulan fisik. Ia melepaskan genggamannya pada lengan Andi, mundur selangkah, dan kemudian selangkah lagi. Matanya yang berkaca-kaca kini berubah, dari kesedihan menjadi kemarahan yang dingin.

"Kau benar," katanya, suaranya tiba-tiba menjadi tenang, terlalu tenang. "Aku tidak punya hak. Karena ini kontrak. Kau tidak pernah berjanji apa pun padaku. Dan aku... aku bodoh karena mulai peduli."

Andi terkejut dengan perubahan nada suara Sania. Ada sesuatu dalam ketenangan itu yang lebih mengancam daripada teriakan histeris.

"Sania, aku—"

"Tidak perlu menjelaskan," potong Sania, mengangkat tangannya. "Aku mengerti posisiku. Aku hanya kewajiban administratif di hidupmu. Kayla adalah... Kayla adalah cinta sejatimu. Aku tidak akan menghalangi."

Ucapan itu membuat Andi terdiam. Ia melihat Sania berbalik, berjalan menuju lemari pakaian. Wanita itu mulai mengeluarkan beberapa pakaian, melipatnya dengan tangan yang masih gemetar.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Andi.

"Aku butuh udara," jawab Sania tanpa menoleh. "Aku akan pergi ke rumah tua Ibu untuk beberapa hari. Aku perlu... menjernihkan pikiran."

"Sania, kau tidak bisa pergi begitu saja. Ada jadwal publik—"

"Persetan dengan jadwal publik!" Sania membalikkan tubuhnya, menatap Andi dengan mata yang masih basah namun membara. "Kau bisa membuat alasan. Kau pandai dalam hal itu, bukan? Katakan saja aku sedang sakit, atau ada urusan keluarga. Lagipula, bukankah itu yang kau inginkan? Aku pergi, jadi kau bisa dengan bebas bertemu Kayla tanpa harus khawatir ketahuan?"

"Bukan itu maksudku—"

"Lalu apa?" Sania melangkah mendekat, menatap Andi dengan intens. "Kau bilang aku tidak punya hak untuk cemburu. Kau bilang hidupmu bukan urusanku. Kalau begitu, mengapa kau peduli jika aku pergi? Bukankah itu yang kau inginkan? Aku di luar pandangan, jadi kau bisa melakukan apa pun yang kau mau?"

Andi tidak bisa menjawab. Karena Sania benar, secara logika, ia seharusnya tidak peduli jika Sania pergi. Tapi ada sesuatu dalam dadanya yang berontak, yang tidak ingin Sania pergi.

"Kau tidak mengerti," kata Andi akhirnya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. "Ini bukan tentang,"

"Tentang apa?" Sania memotong. "Tolong, Andi, jelaskan padaku. Karena aku benar-benar tidak mengerti. Aku tidak mengerti kenapa kau begitu dingin padaku, tapi begitu hangat pada Kayla. Aku tidak mengerti kenapa kau bersedia mempertaruhkan segalanya untuknya, tapi untukku... untukku kau bahkan tidak mau mengucapkan selamat pagi tanpa diminta. Jelaskan padaku, karena aku benar-benar ingin mengerti."

Andi membuka mulutnya, namun kata-kata yang keluar bukanlah yang ia inginkan. "Ini rumit, Sania. Ada banyak hal yang tidak kau tahu."

"Maka beri tahu aku!" seru Sania, air matanya kembali mengalir. "Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil yang tidak bisa diajak bicara. Aku istrimu, Andi. Bahkan jika ini hanya kontrak, aku tetap istrimu. Kau tidak perlu mencintaiku, tapi setidaknya hargai aku sebagai manusia!"

Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu. Andi menatap Sania, melihat wanita yang selama tiga bulan ini selalu tersenyum di depannya, selalu memainkan perannya dengan sempurna. Tapi sekarang, di balik topeng itu, ia melihat seseorang yang terluka, seseorang yang haus akan kejujuran.

Dan untuk pertama kalinya, Andi merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, keinginan untuk mengatakan kebenaran, untuk membuka hati yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

Tapi kata-kata itu tidak keluar. Karena di luar sana, ayahnya masih mengawasi, Kayla masih membutuhkan perlindungan, dan Andi masih terjebak di antara semua itu.

"Baiklah," kata Andi akhirnya, suaranya datar kembali. "Pergilah ke rumah ibumu. Aku akan mengurus semua jadwal publik. Ambil waktu yang kau butuhkan."

Sania menatapnya dengan ekspresi tak percaya. "Itu saja? Tidak ada penjelasan? Tidak ada permintaan maaf?"

"Apa yang harus kuminta maaf?" tanya Andi, dan ia membenci dirinya sendiri karena mengucapkan kata-kata itu. "Kita berdua tahu ini kontrak. Kau yang memilih untuk mulai peduli. Itu bukan salahku."

Sania tersenyum getir, senyum terakhir yang akan ia berikan pada Andi untuk waktu yang lama. "Kau benar," katanya pelan. "Ini semua salahku. Aku yang bodoh karena berpikir mungkin ada sesuatu di antara kita. Tapi sekarang aku sadar, kau memang tidak lebih dari seorang Baskoro. Dingin, egois, dan tidak pernah bisa mencintai siapa pun selain dirimu sendiri."

Sania mengambil tasnya, meninggalkan kamar tidur dengan langkah mantap. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak.

"Semoga kau bahagia dengan Kayla, Andi. Benar-benar bahagia. Karena jika kau tidak bahagia, maka semua penderitaan ini akan sia-sia."

Pintu tertutup dengan suara pelan, meninggalkan Andi sendirian di kamar tidur yang luas. Pria itu berdiri mematung, menatap pintu yang baru saja tertutup.

Kau tidak lebih dari seorang Baskoro. Dingin, egois, dan tidak pernah bisa mencintai siapa pun.

Kata-kata Sania bergaung di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Andi meragukan dirinya sendiri.

Apakah benar aku seperti itu? Apakah aku benar-benar tidak bisa mencintai?

Ia teringat pada Kayla, pada perasaan hangat yang pernah ia miliki untuknya, pada kepedihan saat ia kehilangannya. Tapi kemudian ia teringat pada Sania, pada senyumnya yang pahit di tengah kesedihan, pada air matanya yang jatuh karena dirinya.

Kenapa aku merasa bersalah? pikirnya bingung. Ini kontrak. Tidak ada cinta di sini.

Tapi di dalam hatinya, suara kecil berkata lain, bahwa ia mungkin saja telah membuat kesalahan besar, bahwa ia mungkin telah kehilangan sesuatu yang berharga tanpa menyadarinya.

Andi menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan untuk Kayla, memastikan semua urusan rumah sakit berjalan lancar. Tapi jarinya berhenti di tengah jalan, dan matanya tanpa sadar menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Sania.

Kembalilah, pikirnya, meskipun ia tidak tahu mengapa. Kembalilah, agar aku bisa...

Bisa apa? Andi tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu terasa seperti luka yang perlahan menganga di dadanya, membuatnya bertanya-tanya apakah ia telah melakukan hal yang benar, atau justru telah membuat kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki.


BAB VI

Sekutu dalam Sunyi

Kantor hukum Baskara & Associates terletak di sebuah gedung tua berarsitektur kolonial akhir abad ke-19 di pinggiran Jakarta Pusat. Berbeda jauh dengan gedung-gedung pencakar langit korporat milik keluarga Baskoro di kawasan Sudirman yang berkilau mewah oleh kaca dan baja, tempat ini justru terasa sunyi, dingin, dan sarat akan atmosfer masa lalu. Dinding-dindingnya yang tebal bercat putih gading yang mulai mengelupas di beberapa sudut, memancarkan bau khas kertas-kertas tua dan tumpukan berkas perkara hukum yang berat. Sunyi di sini bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menyimpan rahasia dari ratusan sengketa yang pernah diselesaikan di bawah atapnya.

Sania melangkah masuk dengan langkah yang sengaja dibuat mantap, meskipun sepasang matanya yang sembap tersembunyi rapat di balik kacamata hitam berbingkai besar. Ia sengaja tidak menggunakan supir pribadi keluarga Baskoro hari ini; ia memilih taksi konvensional dan turun dua blok dari lokasi untuk memastikan tidak ada mata-mata yang mengendus pergerakannya.

Setelah kepergiannya dari penthouse, Sania menghabiskan dua hari di rumah tua ibunya di pinggiran kota. Di sana, di antara perabot usang dan kenangan masa kecil, ia menangis, marah, dan akhirnya merencanakan langkah selanjutnya. Air mata tidak akan mengembalikan perusahaan ibunya. Air mata tidak akan membuat Andi mencintainya. Yang bisa ia lakukan hanyalah bertahan dan untuk bertahan, ia membutuhkan sekutu.

Di dalam ruang kerja utama yang dikelilingi oleh rak-rak buku kayu jati setinggi langit-langit yang sarat akan kitab undang-undang, seorang pria muda berwibawa dengan kemeja putih yang digulung hingga ke siku sedang memeriksa sebuah dokumen tebal dengan kacamata baca bertengger di hidungnya.

Pria itu adalah Baskara. Nama yang direkomendasikan oleh seorang kerabat tepercaya almarhumah ibunya sebagai satu-satunya pengacara idealis di ibu kota yang tidak bisa dibeli oleh nominal uang sebesar apa pun. Yang paling krusial bagi Sania, Baskara memiliki rekam jejak perseteruan dingin, panjang, dan personal dengan Tuan Besar Baskoro di masa lalu, sebuah dendam profesional yang belum pernah benar-benar padam.

"Silakan duduk, Nyonya Sania," sapa Baskara tanpa mendongak terlebih dahulu, suaranya terdengar tenang namun memiliki ketajaman yang mengintimidasi. Ia menandatangani lembar terakhir dokumen di hadapannya sebelum melepas kacamata bacanya dan menatap lurus ke arah menantu dari musuh besarnya itu. "Saya harus mengakui, saya cukup terkejut ketika sekretaris saya menerima panggilan Anda tadi pagi. Istri dari Andi Baskoro ingin bertemu dengan saya di kantor usang ini secara privat? Itu adalah kombinasi yang tidak biasa."

Sania meletakkan tas jinjingnya di atas meja kayu ek besar yang memisahkan mereka. Dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan, ia melepas kacamata hitamnya, membiarkan Baskara melihat dengan jelas sepasang mata yang merah, lelah, namun memancarkan kilatan amarah yang pekat.

"Saya datang ke sini bukan sebagai istri dari Andi Baskoro, Pak Baskara," ujar Sania, suaranya terdengar jernih tanpa keraguan, meskipun ada getaran emosi yang tertahan di ujung kalimatnya. "Saya datang sebagai putri tunggal dari almarhumah Ibu Widya, pemilik sah yang sesungguhnya dari PT Karya Mulia Utama. Saya datang sebagai korban dari sebuah konspirasi."

Baskara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit besarnya. Jari-jemarinya bertautan di depan dada, dan sepasang matanya menyipit, memperlihatkan ketertarikan yang mendalam yang mulai terpancar dari wajah tegasnya.

"Ah," Baskara bergumam pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Proyek pengalihan aset strategis di Jakarta Utara yang belakangan ini sedang ramai dibicarakan secara bisik-bisik di bursa saham? Konsorsium Baskoro ingin menelan sisa lahan reklamasi di sana, bukan?"

"Papa mertua saya, Baskoro, memaksa saya untuk menandatangani dokumen pengalihan sisa saham utama dan seluruh hak atas tanah itu minggu depan," kata Sania, jemarinya mengepal begitu kuat di atas pangkuan hingga sendi-sendinya memutih. "Dan suami saya, Andi... dia mendukung penuh langkah ayahnya tanpa memedulikan posisi saya. Mereka memanfaatkan pernikahan kontrak ini sejak awal hanya untuk menelan utuh seluruh peninggalan sisa kejayaan keluarga saya saat kami sedang goyah. Saya tidak ingin menjadi boneka penurut yang tersenyum di depan kamera lagi, Pak Baskara. Saya butuh keahlian hukum Anda untuk menundanya, memblokirnya di otoritas jasa keuangan, atau jika mungkin... membatalkan seluruh komitmen itu secara hukum."

Baskara terdiam cukup lama. Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang mencekam, hanya diinterupsi oleh detak jam dinding kuno yang berdentang lambat. Ia memperhatikan dengan saksama gurat-gurat luka, pengkhianatan, dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu di wajah wanita muda di hadapannya.

Hubungan politik dan pernikahan bisnis antara keluarga Baskoro dan keluarga Sania memang sudah menjadi rahasia umum di kalangan kaum elit Jakarta, namun melihat sang bidak utama, seorang istri yang seharusnya tunduk datang ke sarang musuh untuk melakukan pemberontakan adalah sebuah plot yang tak terduga.

"Menolak menandatangani dokumen itu berarti Anda sedang menabuh genderang perang terbuka dengan mertua Anda sendiri, Sania. Dan mengingat posisi Andi di korporasi, Anda juga secara otomatis menantang suami Anda sendiri di medan laga," kata Baskara mengingatkan, nadanya berubah menjadi sangat serius dan penuh perhitungan. "Keluarga Baskoro bukan sekadar kaya; mereka memiliki jaringan gurita yang sangat luas di jajaran birokrasi dan aparat hukum. Mereka bisa menghancurkan sisa bisnis ayah Anda yang sedang sekarat itu dalam semalam, bahkan mengkriminalisasi Anda jika Anda salah melangkah."

Sania menatap Baskara dengan mata yang membara. "Bisnis dan hidup saya sudah dihancurkan oleh mereka sejak mereka menginjak-injak harga diri saya sebagai seorang wanita dan seorang istri. Saya lebih baik kehilangan seluruh aset itu lewat jalur hukum yang panjang, berdarah-darah, dan melelahkan di pengadilan, daripada harus menyerahkannya begitu saja di atas nampan emas kepada orang-orang yang telah mengkhianati komitmen saya di dalam sunyi."

Baskara menatap Sania selama beberapa saat, seolah sedang mengukur seberapa jauh determinasi wanita itu akan bertahan di bawah tekanan badai yang akan datang. Puas dengan apa yang dilihatnya di sepasang mata Sania, Baskara menarik sebuah laci berkunci di bawah meja kerjanya.

Dari dalam sana, ia mengeluarkan sebuah map cokelat besar yang tampak agak berdebu namun sangat tebal karena dijejali oleh ratusan lembar dokumen. Ia meletakkannya dengan bunyi debuman halus tepat di hadapan Sania.

"Kebetulan yang sangat indah," ujar Baskara dengan senyum yang kali ini sarat akan makna politis yang pekat. "Saya telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti pelanggaran analisis mengenai dampak lingkungan, manipulasi izin amdal, dan sengketa lahan adat yang melibatkan proyek-proyek raksasa korporasi Baskoro di Jakarta Utara. Ada banyak celah gelap, banyak transaksi bawah meja yang melibatkan oknum dinas tata kota."

Baskara memajukan tubuhnya, menatap Sania dengan pandangan yang penuh konspirasi. "Jika Anda bersedia menjadi sekutu saya di dalam rumah itu... memberikan saya akses fisik ke dokumen-dokumen internal, draf memo rahasia, atau laporan keuangan privat yang hanya bisa dijangkau oleh lingkaran inti keluarga besar Baskoro... saya bisa menjamin dengan reputasi saya bahwa proses pengalihan saham Anda akan tertahan di pengadilan tata usaha negara untuk waktu yang sangat lama. Cukup lama untuk membuat rencana besar Tuan Baskoro berantakan karena kehilangan momentum pasar."

Sania menatap map cokelat tebal di hadapannya. Di bawah lampu ruang kerja yang remang, map itu tampak seperti sebuah kotak Pandora. Menyentuhnya dan menyetujui persyaratan Baskara berarti ia resmi melangkah ke jalur pengkhianatan total terhadap suaminya sendiri. Ia tidak lagi sekadar menjadi istri yang terabaikan; ia akan menjelma menjadi musuh dalam selimut, seorang mata-mata yang bergerak di bawah radar di dalam rumah tangganya sendiri.

Namun, bayangan kejadian semalam di lorong lantai dua kembali merayap masuk ke dalam benaknya, suara Andi yang begitu lembut, begitu protektif, dan penuh cinta yang dialokasikan khusus untuk Kayla, sementara untuk dirinya hanya ada penegasan tentang kertas kontrak yang dingin. Andi telah mengkhianati esensi dari pernikahan mereka terlebih dahulu di dalam sunyi, maka sudah sepatutnya ia mencari sekutu dalam sunyi yang sama untuk bertahan hidup.

Ibuku akan bangga, pikir Sania, mengingat kembali sosok wanita tangguh yang membangun perusahaannya dari nol. Dia tidak pernah menyerah pada intimidasi. Dan aku juga tidak akan menyerah.

Sania mengulurkan tangannya yang kini sudah tidak lagi gemetar. Ia menarik map cokelat tebal itu ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah itu adalah perisai pelindung terakhirnya.

"Katakan pada saya, Pak Baskara... apa dokumen atau kata kunci pertama yang harus saya cari dari ruang kerja pribadi Andi malam ini?"

Baskara tersenyum, bukan senyum ramah, tapi senyum puas seorang pejuang yang baru saja mendapatkan sekutu berharga. "Ada satu flashdisk hitam di laci meja kerja Andi. Di dalamnya berisi draf amandemen saham yang asli, sebelum dimodifikasi oleh tim hukum Baskoro. Jika kita bisa mendapatkan salinannya, kita akan memiliki bukti kuat tentang manipulasi yang mereka lakukan."

Sania mengangguk, mencatat semua informasi di dalam benaknya. Dadanya berdebar kencang, tapi kali ini bukan karena ketakutan. Ini adalah debaran seorang pejuang yang siap bertempur.

"Besok malam, saat Andi sedang rapat di luar, aku akan mengambilnya," kata Sania, suaranya mantap. "Jangan khawatir. Aku tahu cara bergerak tanpa ketahuan."

Di dalam ruangan yang remang dan berbau kertas tua itu, sebuah aliansi rahasia yang mematikan telah resmi lahir. Sebuah aliansi antara wanita yang terluka dan pengacara yang haus akan keadilan, siap untuk meledakkan bom waktu tepat di bawah fondasi megah imperium bisnis keluarga Baskoro yang sombong.

Sania keluar dari kantor dengan langkah ringan. Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ia merasa memiliki tujuan. Ia bukan lagi korban yang pasif. Ia adalah pejuang yang siap melawan.

Tapi di dalam hatinya, ada luka yang masih menganga. Luka yang ditinggalkan oleh kata-kata Andi, oleh tatapan dinginnya, oleh cintanya pada Kayla. Sania tahu, meskipun ia berhasil menyelamatkan perusahaannya, hatinya mungkin tidak akan pernah pulih.

Tapi itu tidak masalah, pikirnya. Yang penting, aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan warisan ibuku. Aku tidak akan membiarkan mereka menginjak-injak harga diriku lagi.

Ia menatap langit Jakarta yang kelabu, dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum—bukan senyum palsu untuk kamera, tapi senyum tulus seorang wanita yang telah menemukan kekuatannya kembali.


BAB VII

Ketika Kebohongan Menjadi Candu

Bagi Andi, kebohongan kini bukan lagi sekadar tameng darurat yang ia gunakan saat terdesak. Kebohongan telah bermutasi menjadi candu harian, sesuatu yang harus ia racik dan konsumsi setiap hari agar dunia fana yang ia bangun dengan susah payah tidak runtuh berkeping-keping. Setiap kali ia menatap layar ponselnya dan melihat nama Kayla atau Sania bergantian muncul di bilah notifikasi, ada labirin dusta baru yang harus ia rancang dengan arsitektur yang sangat rapi. Satu kebohongan membutuhkan sepuluh kebohongan baru untuk melindunginya, dan Andi telah terjebak di dalam pusaran itu tanpa jalan keluar.

Tiga hari telah berlalu sejak Sania pergi ke rumah tua ibunya. Tiga hari sejak pertengkaran hebat mereka di kamar tidur. Tiga hari sejak Andi mendengar kata-kata terakhir Sania: "Semoga kau bahagia dengan Kayla. Benar-benar bahagia. Karena jika kau tidak bahagia, maka semua penderitaan ini akan sia-sia."

Kata-kata itu terus menghantuinya, muncul di saat-saat paling tidak terduga, ketika ia sedang memimpin rapat, ketika ia menandatangani dokumen, ketika ia berbaring sendirian di atas ranjang yang terlalu luas di penthouse yang terlalu sunyi. Ia tidak mengerti mengapa kata-kata itu begitu mengganggunya. Lagipula, bukankah itu yang ia inginkan? Sania pergi, jadi ia bisa dengan bebas mengurus Kayla tanpa harus khawatir ketahuan?

Tapi mengapa dadanya terasa begitu hampa?

Malam itu, jam dinding antik berlapis perak di ruang kerja privat penthouse menunjukkan pukul sebelas malam. Atmosfer di dalam ruangan beraroma kayu cendana itu begitu sunyi. Andi baru saja melepaskan jas wolnya, menyampirkannya dengan lesu di sandaran kursi kerja kulit setinggi kepala. Ia duduk dengan posisi merosot, dasi yang semula rapi kini terurai longgar di lehernya. Di atas meja, tumpukan laporan keuangan tidak tersentuh. Pikirannya terlalu kacau untuk berkonsentrasi.

Di genggamannya, ponsel berkedip menampilkan pesan terakhir dari Kayla.

"Terima kasih, Ndi. Ibuku mulai membaik. Dokter bilang pengobatan yang baru berhasil. Aku tidak tahu harus membalas budi apa padamu."

Andi membalas dengan singkat: "Kamu tidak perlu membalas apa pun. Yang penting ibumu sembuh."

Ia meletakkan ponselnya, namun jarinya tanpa sadar membuka galeri foto. Di sana, ada foto-foto lama, foto-foto dari masa lalunya bersama Kayla. Mereka tersenyum di pantai, di kafe, di taman. Wajah mereka masih muda, masih polos, masih percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.

Andi menggeser layar, dan tiba-tiba, sebuah foto yang berbeda muncul. Foto itu bukan dari masa lalu, melainkan dari tiga bulan lalu, hari pernikahannya dengan Sania. Dalam foto itu, Sania mengenakan gaun pengantin putih, wajahnya cantik sempurna dengan riasan yang rapi. Tapi di matanya, ada sesuatu yang tidak bisa ia lupakan: ekspresi campuran antara ketakutan dan kepasrahan, seperti seorang tahanan yang diantar ke penjara.

Melihat foto itu, Andi merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Ia teringat kembali pada malam pernikahan mereka. Saat pendeta bertanya, "Apakah Anda, Andi Baskoro, bersedia menerima Sania sebagai istri Anda yang sah?" Andi menjawab "Ya" dengan suara datar, tanpa emosi. Tapi saat ia menatap Sania di bawah kerudung putihnya, untuk sesaat ia melihat kilatan harapan di matanya, harapan yang segera padam ketika Andi tidak menunjukkan sedikit pun kehangatan.

Kenapa aku ingat semua ini sekarang? tanyanya pada diri sendiri.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan di pintu ruang kerja membuyarkan lamunannya. Sebelum Andi sempat menyahut, pintu kayu mahoni itu bergeser terbuka. Sania melangkah masuk dengan keanggunan yang tak pernah luntur. Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra panjang berwarna pastel, membawa sebuah nampan kecil berisi secangkir teh kamomil yang uap hangatnya masih mengepul tipis di udara. Gerakannya begitu tenang, wajahnya halus tanpa ekspresi defensif, hampir terlalu tenang untuk seseorang yang tiga hari lalu menangis histeris di kamar tidur mereka hingga matanya membengkak.

Andi terkejut. Ia tidak menyangka Sania akan kembali malam ini, dan terlebih lagi, datang ke ruang kerjanya dengan sikap yang begitu... damai. Ada sesuatu yang aneh di sana, sesuatu yang tidak ia pahami.

"Belum tidur, Mas?" tanya Sania, suaranya mengalir lembut, memecah keheningan malam dengan kehangatan yang mendadak terasa janggal di telinga Andi.

Andi berdeham kecil, menyembunyikan riak keterkejutannya di balik topeng wajahnya yang kaku dan datar. "Belum. Masih ada beberapa laporan keuangan kuartal ketiga yang harus kutinjau sebelum drafnya naik ke meja Ayah besok pagi. Kenapa kau sendiri belum tidur? Aku pikir kau masih di rumah ibumu."

"Aku sudah kembali sore tadi," kata Sania, melangkah lebih dekat. "Dan aku belum mengantuk. Aku tahu kau baru saja menembus kemacetan Jakarta setelah seharian penuh bekerja, jadi kubuatkan ini untuk menenangkan sarafmu."

Ia meletakkan cangkir porselen tersebut di atas meja kerja Andi dengan gerakan presisi, tepat di sebelah tumpukan map dokumen korporat berkode rahasia negara. Uap teh kamomil mengepul tipis, mengeluarkan aroma menenangkan yang kontras dengan ketegangan yang mulai menyelinap di ruangan.

Sania tidak langsung berbalik pergi. Ia menyandarkan pinggulnya secara kasual di sudut meja kerja Andi, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap suaminya dengan binar mata yang sulit diartikan. "Bagaimana rapat koordinasi dengan tim hukum Papa di kantor pusat tadi sore? Berjalan lancar sesuai rencana?"

Mendengar pertanyaan itu, jantung Andi berdesir tajam selama sepersekian detik. Sebuah sinyal kewaspadaan di otaknya menyala. Sore tadi, ia sama sekali tidak menginjakkan kaki di kantor pusat Konsorsium Baskoro, apalagi menemui tim hukum ayahnya.

Ia telah menghabiskan waktu tiga jam penuh di sebuah klinik spesialis swasta yang tersembunyi di pinggiran kota Jakarta Barat, duduk di koridor dingin sembari menggenggam jemari Kayla yang gemetar, menemani wanita itu melakukan pemeriksaan medis menyeluruh sebelum Kayla bertolak kembali ke Singapura malam ini untuk mengurus administrasi perawatan ibunya. Ia telah berbohong pada sekretarisnya, berbohong pada pengawalnya, dan sekarang ia harus berbohong lagi pada Sania.

"Lancar," jawab Andi tanpa mengedipkan mata seolah-olah draf kebohongan itu sudah ia hafal di luar kepala. Ia meluncurkan kalimat dusta berikutnya dengan intonasi yang sangat natural dan penuh percaya diri, khas seorang eksekutif papan atas. "Hanya pembahasan draf rutin mengenai amandemen pasal pengalihan sisa aset dan saham PT Karya Mulia Utama. Ayah ingin memastikan semua klausul hukumnya bersih dan tidak menyisakan celah gugatan dari pihak pamanmu sebelum kita melakukan tanda tangan resmi minggu depan."

Sania tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat menawan namun hanya menggerakkan permukaan bibirnya, tidak pernah sampai ke matanya yang sedingin danau es. Sembari tersenyum, sepasang manik mata Sania melirik sekilas, mengunci pandangannya pada saku kemeja putih Andi yang telah melar.

Di sana, mencuat sedikit ujung kertas struk berwarna putih dengan logo samar sebuah klinik kesehatan swasta eksklusif, bukti transaksi pembayaran obat dan kamar observasi atas nama Kayla yang lupa Andi singkirkan karena terburu-buru pulang.

Andi mengikuti arah pandangan Sania dan langsung menyadari kesalahannya. Jantungnya berdegup lebih kencang, tapi ia mencoba tetap tenang. Mungkin dia tidak melihatnya, pikirnya optimis. Mungkin,

"Begitu ya," gumam Sania pelan, nadanya terdengar seperti sebuah nyanyian puitis yang menyembunyikan belati. "Baguslah kalau semuanya berjalan tanpa kendala, Mas. Aku hanya tidak ingin ada masalah hukum atau... skandal personal yang tidak perlu, yang bisa merepotkan posisi kita berdua di kemudian hari. Kau tahu sendiri bagaimana pers saat ini sangat menyukai drama domestik keluarga Baskoro."

Ada sesuatu dalam nada suara Sania yang membuat Andi merinding. Terlalu halus, terlalu tenang. Seolah-olah Sania tahu sesuatu yang ia tidak tahu.

Andi melangkah mendekat, mencoba mengikis jarak emosional di antara mereka dengan meletakkan tangannya di atas bahu Sania, sebuah gestur manipulatif yang biasa ia gunakan untuk menenangkan lawan bicaranya. "Kau tidak perlu cemas atau berpikir terlalu jauh, Sania. Aku yang memegang kendali atas semua proses ini. Semuanya akan selesai dengan bersih."

"Aku tentu saja selalu percaya padamu, Mas," sahut Sania dengan nada suara yang bergetar samar namun cepat-cepat ia samarkan dengan sebuah anggukan kecil. "Kau adalah seorang Baskoro. Kau selalu tahu cara menyembunyikan... maksudku, menyelesaikan sesuatu dengan sangat rapi hingga tak meninggalkan jejak sedikit pun."

Andi tidak tahu apakah itu pujian atau sindiran. Entah mengapa, kata-kata Sania terdengar seperti teka-teki yang tidak bisa ia pecahkan. Tapi ia tidak punya waktu untuk memikirkannya lebih lama. Ada hal lain yang lebih mendesak.

"Omong-omong," Andi mencoba mengalihkan topik, "Besok malam ada pertemuan dengan dewan komisaris. Aku mungkin pulang larut. Kau bisa makan malam duluan tanpa menungguku."

"Tentu, Mas," jawab Sania dengan senyum yang tetap manis. "Aku akan mengurus diriku sendiri."

Setelah Sania pamit dan melangkah keluar dari ruang kerja dengan langkah kaki yang nyaris tanpa suara, Andi seketika melososkan tubuhnya ke atas kursi kerja. Ia mengembuskan napas berat yang sejak tadi tertahan di rongga dadanya, membuat bahunya merosot layu.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa berdenyut pening. Berbohong kepada Sania kini terasa menakutkan karena dinamikanya terasa semakin mudah dan mulus. Namun, entah mengapa, setiap untaian kalimat dusta yang keluar dari bibirnya malam ini meninggalkan rasa bersalah yang semakin pekat dan menggores batinnya. Ia merasa seperti seorang peniti tali yang sedang berjalan di atas seutas benang tipis di antara jurang murka ayahnya yang tiran dan kehancuran total pernikahan kontraknya yang kini mulai terasa mengikat jiwanya.

Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan struk klinik yang hampir saja menjadi bumerang. Ceroboh sekali, pikirnya. Seharusnya aku lebih berhati-hati.

Tapi bahkan saat ia mengkritik dirinya sendiri, pikirannya tertuju pada Sania. Ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu malam ini. Sania terlihat lebih tenang, lebih terkendali, dan... lebih jauh. Seolah-olah ia telah menarik diri ke dalam cangkang yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun.

Apakah itu karena ia sudah menyerah? Apakah ia benar-benar telah menerima bahwa pernikahan ini hanyalah kontrak dan tidak ada yang bisa mengubahnya?

Jika itu benar, Andi seharusnya merasa lega. Tapi ia tidak merasa lega. Justru ada kehampaan yang menganga di dadanya, seperti bagian dari dirinya yang telah hilang dan tidak akan pernah kembali.


Andi sama sekali tidak menyadari bahwa di luar pintu ruang kerja yang tertutup rapat dan kedap suara itu, Sania masih berdiri tegak. Tubuh wanita itu menyandar pada dinding marmer koridor yang dingin. Senyum ramah, lembut, dan penuh perhatian yang ia pamerkan di dalam ruangan tadi runtuh total, menguap tanpa bekas, digantikan oleh garis wajah yang mengeras dengan tatapan mata yang memancarkan kebencian yang mendalam.

Sania meraba saku gaun tidur sutranya, mengeluarkan ponsel pribadinya yang bergetar tanpa suara sedari tadi. Di layar kaca yang menyala, ada dua pesan masuk dari dua kutub yang berbeda yang siap menghancurkan hidup suaminya.

Pesan pertama datang dari Tuan Besar Baskoro, sang ayah mertua yang tiran:

"Apakah Andi sudah pulang ke penthouse? Pastikan dia tidak berkeliaran di luar jadwal korporasi malam ini. Laporkan pada Papa jika dia menerima telepon mencurigakan."

Sania menatap pesan itu dengan sinis. Baskoro menganggapnya sebagai mata-mata, sebagai alat untuk mengawasi putranya sendiri. Pria tua itu tidak pernah menganggapnya sebagai manusia, hanya sebagai bidak yang bisa dimanipulasi.

Pesan kedua datang dari Baskara, pengacara sekutunya di dalam sunyi:

"Draf amandemen saham yang asli ada di dalam flashdisk hitam di laci meja kerja Andi. Saya butuh salinannya malam ini untuk memblokir pergerakan ayah mertuamu di pengadilan besok pagi. Bergeraklah dengan rapi, Sania."

Sania menatap pintu ruang kerja Andi dengan napas yang memburu. Di balik pintu itu, suaminya sedang duduk dengan perasaan bersalah yang tidak akan pernah ia akui. Di balik pintu itu, ada bukti yang bisa menyelamatkan perusahaan ibunya—atau menghancurkannya selamanya.

Andi mengira kecanduan dustanya telah berhasil mengecoh dan menidurkan kewaspadaan semua orang di sekitarnya, pikir Sania. Pria itu tidak pernah tahu bahwa setiap kata kebohongan yang ia ucapkan malam ini justru menjadi bumerang yang telah diasah tajam olehku.

Sania menarik napas dalam-dalam. Di dalam dadanya, ada pertarungan sengit antara dua suara. Suara pertama adalah suara seorang istri yang masih berharap, yang berharap bahwa Andi suatu saat akan berubah, bahwa ada cinta yang tersembunyi di balik kedinginannya. Suara kedua adalah suara seorang pejuang—yang tahu bahwa harapan adalah kelemahan, dan bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan bertindak.

Dia tidak akan pernah mencintaimu, kata suara kedua. Dia sudah memilih Kayla. Dia sudah memilih ayahnya. Kau hanya kewajiban administratif baginya, tidak lebih.

Sania memejamkan mata, mengingat kembali wajah ibunya. Widya pernah berkata padanya, "Dalam hidup, Nak, kau akan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Tapi ingatlah, pilihan yang benar sering kali adalah pilihan yang paling menyakitkan."

Sania membuka matanya. Air mata menggenang di pelupuknya, tapi kali ini ia tidak menangis. Ia telah menangis cukup lama. Sekarang saatnya bertindak.

Dengan langkah yang senyap seperti kucing, ia berjalan menjauh dari ruang kerja Andi. Ia tidak langsung mengambil flashdisk malam ini, terlalu berisiko. Tapi ia akan melakukannya besok, saat Andi pergi ke pertemuan dewan komisaris yang ia sebutkan tadi.

Besok malam, pikirnya, semuanya akan berubah.

Di dalam kesunyian malam yang mencekam itu, di balik punggung suaminya yang sedang meratapi rasa bersalah, Sania sedang mengumpulkan setiap serpihan kepalsuan Andi, merangkainya menjadi sebuah bom waktu yang siap diledakkan untuk meruntuhkan seluruh singgasana dan imperium bisnis megah yang mati-matian Andi pertahankan dari kehancuran.

Ia berjalan menuju kamar tidur, berbaring di atas ranjang yang dingin dan kosong. Di sisi lain penthouse, Andi masih terjaga di ruang kerjanya, tidak menyadari bahwa istrinya telah berubah dari korban menjadi ancaman terbesar bagi dunia yang ia bangun.

Besok, pikir Sania sebelum akhirnya terlelap, semuanya akan berbeda.


BAB VIII

Benturan Dua Ego

Ketegangan yang membeku dan tertahan selama berhari-hari di dalam penthouse mewah itu akhirnya mencapai titik didih pada suatu malam di akhir pekan. Di luar sana, langit Jakarta tampak kelam tanpa bintang, digulung oleh angin malam yang berdesir kencang dan memukul-mukul dinding kaca tebal ruangan. Tempat tinggal yang semula didesain sebagai simbol kemewahan dan privasi itu kini mendadak berubah fungsi, menjelma menjadi arena pertempuran dingin yang sunyi, mencekam, dan siap meledak tanpa perlu senjata api.

Pemicu dari konfrontasi malam itu sebenarnya sederhana, namun efeknya luar biasa fatal bagi fondasi pernikahan mereka yang rapuh. Andi baru saja melangkah masuk ke ruang makan, meletakkan sebuah map kulit hitam berisi draf final laporan keuangan kuartal terbaru korporasi di atas meja makan kayu panjang. Baru saja ia hendak melonggarkan dasinya, Sania berjalan mendekat dengan langkah yang sangat tenang. Tanpa sepatah kata pun, wanita itu menjatuhkan selembar kertas putih berstempel resmi tepat di atas map hitam milik Andi.

Kertas itu adalah surat penundaan resmi atas proses audit dan penyerahan aset PT Karya Mulia Utama, lengkap dengan kop surat dan tanda tangan basah dari firma hukum Baskara & Associates.

Andi menatap lembaran kertas itu selama beberapa detik. Begitu matanya menangkap nama firma hukum yang tertera di sana, rahangnya seketika mengeras, menciptakan garis kaku yang mengerikan di wajahnya. Ia mendongak, beralih menatap Sania dengan sepasang mata elang yang berkilat tajam oleh amarah yang membakar.

"Apa-apaan ini, Sania?" tanya Andi, suaranya rendah namun bergetar oleh emosi yang tertahan. "Kenapa ada nama Baskara di atas dokumen keluarga kita? Dan apa maksudnya instruksi penundaan sepihak ini?"

Sania melipat kedua tangannya di depan dada, berdiri tegak dengan dagu terangkat tanpa menunjukkan rasa takut atau gentar sedikit pun terhadap intimidasi suaminya. Ego dan harga diri seorang wanita yang selama tiga bulan ini ia tekan dalam-dalam demi status istri yang penurut, kini bangkit sepenuhnya ke permukaan. Matanya menatap Andi dengan dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah.

"Itu artinya, aku tidak akan pernah menyerahkan sisa saham utama perusahaan ibuku minggu depan, Mas," sahut Sania, setiap katanya diucapkan dengan artikulasi yang jelas dan dingin. "Aku telah resmi menundanya sampai semua sisa aset fisik dan aliran dana diperiksa secara independen oleh pihak ketiga yang tidak bisa diintervensi oleh ayahmu."

"Kita sudah punya perjanjian hitam di atas putih sebelum melangkah ke altar!" suara Andi mendadak meninggi, menggelegar dan menggema di ruang makan yang luas itu. "Kau melanggar kesepakatan hukum kita secara sepihak, Sania! Dan yang jauh lebih parah, kau menusukku dari belakang dengan bekerja sama dengan Baskara? Kau tahu betul siapa pria itu! Dia adalah musuh besar Ayah yang bertahun-tahun mencari celah untuk menjatuhkan nama keluarga kita!"

"Persetan dengan kesepakatan dan nama baik keluargamu, Andi!" pekik Sania, mengabaikan seluruh batasan formalitas panggilan yang biasa ia jaga.

Sepasang manik matanya memerah, berkaca-kaca menahan badai emosi yang luar biasa hebat. "Kesepakatan itu dibuat di atas draf kepatuhan untuk saling menyelamatkan, bukan draf perampokan legal! Kau dan ayahmu sejak awal hanya ingin menelan perusahaan peninggalan ibuku bulat-bulat demi proyek reklamasi kalian, sementara kau sendiri... kau sendiri sibuk memikirkan cara menyembunyikan dan membiayai wanita lain di Singapura!"

Andi tertegun seketika. Egonya laksana dihantam gada besar oleh tuduhan telanjang yang keluar dari bibir istrinya. Untuk beberapa saat, lidahnya mendadak kelu. Namun, harga diri dan arogansi sebagai seorang pria Baskoro serta pemimpin tertinggi korporasi tidak membiarkannya mundur atau terlihat lemah di depan wanita.

"Kayla bukan selingkuhanku, Sania! Jaga bahasamu!" bentak Andi, wajahnya memerah menahan geram. "Aku hanya melindunginya dari rencana kejam Ayah yang ingin menyingkirkannya dari kota ini! Tapi kau... kau dengan sadar menaruh mata-mata dan membawa musuh bebuyutan keluarga ini ke dalam rumah tangga kita hanya untuk menyerang posisiku!"

Sania tertawa getir—tawa yang sama sekali tidak mengandung humor, hanya kepahitan yang mendalam. "Menyerang posisimu? Kau pikir aku peduli dengan posisimu di korporasi?" ia melangkah mendekat, menatap Andi dengan mata yang membara. "Aku tidak peduli dengan jabatanmu, Andi. Aku tidak peduli dengan uangmu. Aku peduli dengan harga diriku! Harga diri yang kau injak-injak setiap hari dengan kebohonganmu!"

"Aku tidak pernah berbohong padamu tentang pernikahan ini!" bantah Andi, meskipun dalam hatinya ia tahu itu tidak sepenuhnya benar.

"Kau berbohong setiap hari, Andi!" seru Sania, suaranya mulai bergetar. "Kau berbohong tentang ke mana kau pergi, tentang siapa yang kau temui, tentang apa yang kau rasakan. Kau berbohong padaku, pada ayahmu, dan mungkin kau juga berbohong pada dirimu sendiri!"

Andi mengepalkan tangannya. "Kau tidak mengerti, Sania. Ada banyak hal yang tidak kau ketahui. Aku—"

"Lalu katakan padaku!" potong Sania, matanya memohon di balik amarahnya. "Berhenti berbicara dalam teka-teki! Berhenti memperlakukanku seperti orang bodoh! Aku istrimu, Andi. Aku berhak tahu kebenaran!"

Keheningan panjang menyelimuti ruangan. Andi menatap Sania, dan untuk pertama kalinya, ia melihat betapa hancurnya wanita itu. Matanya merah, bahunya bergetar, dan di balik kemarahannya, ada kesedihan yang begitu dalam.

Dia benar-benar terluka, pikir Andi. Dan aku yang menyebabkan itu.

Tapi kata-kata pengakuan tidak keluar dari mulutnya. Sebaliknya, yang keluar adalah pertahanan ego yang sudah menjadi kebiasaan.

"Kau tidak mengerti tekanan yang kualami," kata Andi, suaranya lebih rendah tapi masih defensif. "Ayah mengancam akan menghancurkan segalanya jika aku tidak patuh. Kayla membutuhkan perlindungan karena Ayah mengancamnya. Dan kau... kau pikir kau satu-satunya yang menderita?"

"Aku tidak pernah mengatakan aku satu-satunya!" balas Sania. "Tapi kau tidak pernah memberi aku kesempatan untuk mengerti! Kau lebih memilih berbohong daripada mempercayaiku! Kenapa, Andi? Kenapa kau begitu takut untuk membuka diri?"

Andi tidak bisa menjawab. Karena jawabannya terlalu menyakitkan untuk diucapkan. Ia takut. Takut jika ia membuka diri, ia akan kehilangan kendali. Takut jika ia menunjukkan kelemahan, orang-orang akan memanfaatkannya. Takut jika ia mencintai, ia akan kehilangan cinta itu lagi—seperti yang terjadi dengan Kayla lima tahun lalu.

"Aku tidak bisa," kata Andi akhirnya, suaranya hampir berbisik. "Aku tidak bisa membuka diri. Itu bukan siapa diriku."

"Lalu siapa dirimu?" tanya Sania, air mata mulai mengalir di pipinya. "Siapa sebenarnya Andi Baskoro di balik semua topeng itu? Karena aku sudah tiga bulan menikah denganmu, dan aku masih tidak mengenalmu sama sekali."

Andi menatap Sania, dan untuk sesaat, ia ingin sekali menjawab pertanyaan itu. Ia ingin mengatakan bahwa di balik topeng dinginnya, ada seorang pria yang lelah. Lelah berpura-pura kuat. Lelah menjadi boneka ayahnya. Lelah menjalani hidup yang bukan miliknya.

Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang keluar adalah kebohongan lain.

"Aku adalah seorang Baskoro," katanya, suaranya kembali datar. "Dan seorang Baskoro tidak pernah menunjukkan kelemahan."

Sania tersenyum getir—senyum yang sama yang ia berikan di kamar tidur beberapa hari lalu. "Kalau begitu, kau akan selalu sendirian, Andi. Karena tanpa kelemahan, tidak ada kepercayaan. Dan tanpa kepercayaan, tidak ada cinta."

"Kita tidak pernah berjanji untuk saling mencintai, Sania," kata Andi, dan ia membenci dirinya sendiri karena mengucapkan itu.

"Kau benar," Sania mengangguk pelan. "Kita tidak pernah berjanji. Tapi aku... aku bodoh karena mulai mencintaimu. Dan kau... kau tidak pernah memberi aku kesempatan untuk menunjukkan itu."

Kata-kata terakhir Sania menghantam Andi seperti pukulan fisik. Aku bodoh karena mulai mencintaimu. Jadi Sania benar-benar mencintainya? Selama ini, di balik semua pertengkaran dan air mata, ia mencintainya?

Dan Andi... Andi tidak tahu apa yang ia rasakan. Tapi satu hal yang ia tahu: melihat Sania menangis karena dirinya adalah hal paling menyakitkan yang pernah ia alami.

"Sania..." Andi mengulurkan tangan, ingin menyentuh wanita itu.

Tapi Sania mundur. "Jangan sentuh aku," katanya, suaranya bergetar. "Aku tidak tahan jika kau menyentuhku dengan tangan yang sama yang kau gunakan untuk memegang tangan Kayla. Aku tidak tahan jika kau menatapku dengan mata yang sama yang kau gunakan untuk menatapnya."

"Sania, dengarkan—"

"Cukup, Andi," potong Sania, menatap suaminya dengan mata yang basah tapi tegas. "Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan melawan. Aku akan melawan ayahmu di pengadilan. Aku akan melawanmu jika harus. Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan warisan ibuku—bahkan jika itu berarti aku harus menghancurkan pernikahan ini."

Andi terpaku, tidak bisa berkata-kata. Ia melihat Sania berbalik, berjalan menuju pintu. Di ambang pintu, wanita itu berhenti dan menoleh.

"Aku mencintaimu, Andi," katanya, suaranya nyaris berbisik. "Tapi cinta itu tidak cukup untuk membuatku tetap tinggal jika kau terus memperlakukanku seperti ini. Aku pergi untuk menyelamatkan diriku sendiri—karena jika aku tetap di sini, kau akan menghancurkanku sepenuhnya."

Pintu tertutup dengan suara pelan. Andi berdiri di ruang makan yang sunyi, menatap pintu yang baru saja tertutup. Dadanya terasa hampa, seperti ada bagian dari dirinya yang ikut pergi bersama Sania.

Dia mencintaiku, pikirnya. Dan aku membiarkannya pergi.

Andi jatuh terduduk di kursi, menundukkan kepalanya ke meja. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia menangis—menangis untuk Sania, untuk dirinya sendiri, untuk semua yang telah ia kehilangan karena ketakutannya.

Bagaimana aku bisa menjadi begitu bodoh? pikirnya. Bagaimana aku bisa membiarkan dia pergi?

Tapi jawabannya sudah jelas. Ia membiarkan Sania pergi karena ia terlalu takut untuk mempertahankannya. Terlalu takut untuk mengakui bahwa ia mungkin mencintainya. Terlalu takut untuk membuka hati yang sudah lama ia kunci.

Dan sekarang, ia sendirian. Benar-benar sendirian.

Di luar, hujan mulai turun. Andi mendongak, menatap langit yang gelap melalui jendela kaca. Di kejauhan, lampu-lampu Jakarta masih berkelap-kelip, tapi bagi Andi, dunia terasa gelap.

Sania pergi, pikirnya. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa mendapatkannya kembali.

Tapi di dalam hatinya, sebuah tekad mulai terbentuk. Ia akan membereskan semuanya. Ia akan menyelesaikan masalah dengan ayahnya, melindungi Kayla tanpa harus berbohong, dan yang terpenting—ia akan mendapatkan Sania kembali.

Tunggu aku, Sania, pikirnya. Aku akan memperbaiki semua ini. Aku bersumpah.

Tapi apakah itu cukup? Apakah kata-kata dan janji bisa memperbaiki luka yang telah ia ciptakan? Andi tidak tahu. Yang ia tahu, ia tidak akan menyerah. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari bahwa Sania bukan sekadar kontrak bisnis. Dia adalah wanita yang dicintainya. Dan ia tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.


BAB IX

Jebakan yang Terpasang

Kediaman utama keluarga Baskoro selalu sukses memberikan impresi sebagai sebuah benteng yang tak tertembus bagi siapa pun yang memandangnya dari luar. Pagar besi hitam setinggi tiga meter yang dilapisi tombak-tombak kuningan, deretan penjaga berseragam safari yang berjaga dua puluh empat jam, hingga arsitektur neoklasik yang angkuh, semuanya menyiratkan kekuasaan yang absolut. Namun bagi Sania, tempat yang kini terpaksa ia masuki kembali itu bukanlah sebuah istana, melainkan labirin mematikan yang penuh dengan ranjau tak kasat mata. Salah melangkah sedikit saja, maka sisa hidupnya dan kehormatan mendiang ibunya akan hancur berkeping-keping.

Dua hari telah berlalu sejak pertengkaran hebat di penthouse. Dua hari sejak Sania menyatakan perang terbuka pada Andi dan keluarganya. Kini, ia berdiri di depan gerbang utama kediaman Baskoro dengan hati berdebar kencang, namun langkahnya mantap. Ia telah memutuskan untuk mengambil risiko terbesar dalam hidupnya.

Sania mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambutnya diikat rapi, dan riasan wajahnya tipis namun sempurna—penampilan yang sengaja ia pilih agar tidak mencurigakan. Di dalam tas jinjingnya yang tampak biasa, tersembunyi sebuah ponsel dengan kamera siap pakai dan sebuah flashdisk kosong yang akan ia gunakan untuk menyalin dokumen-dokumen penting.

Sesuai dengan instruksi taktis yang diberikan oleh Baskara—pengacara idealis yang kini telah resmi menjadi sekutunya dalam sunyi—Sania harus bergerak cepat. Ia wajib menemukan salinan cetak draf audit forensik proyek reklamasi Jakarta Utara yang asli, dokumen primer sebelum tim hukum internal Konsorsium Baskoro melakukan manipulasi angka-angka krusial untuk menekan nilai valuasi perusahaan ibunya, PT Karya Mulia Utama.

"Selamat sore, Nyonya Sania," sapa kepala keamanan dengan hormat saat ia melintasi pintu gerbang. "Selamat datang di kediaman keluarga."

Sania tersenyum tipis, berusaha terlihat santai. "Terima kasih, Pak. Saya hanya ingin mencari beberapa buku di perpustakaan untuk mengisi waktu luang. Apakah Tuan Andi sudah pulang?"

"Belum, Nyonya. Tuan Andi masih di luar kota untuk urusan proyek pelabuhan. Tuan Besar sendiri sedang menghadiri perjamuan bisnis hingga larut malam."

Sempurna, pikir Sania. Semua berjalan sesuai rencana. Andi tidak ada, Baskoro tidak ada. Rumah besar itu sepi, hanya ada para pelayan yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Sania melangkah masuk ke dalam rumah megah itu. Setiap sudut ruangan memancarkan kemewahan yang berlebihan—lukisan-lukisan mahal di dinding, vas-vas antik dari Tiongkok, permadani Persia yang membentang di lantai marmer. Tapi bagi Sania, semua itu hanya topeng yang menutupi kebusukan di dalamnya.

Ia berjalan menuju perpustakaan pribadi keluarga yang terletak di lantai dua. Di sinilah rencana sesungguhnya dimulai. Perpustakaan itu terhubung langsung dengan ruang kerja cadangan Baskoro—tempat di mana dokumen-dokumen rahasia sering disimpan.

Langkah kakinya terasa berat, seolah dipasung oleh rasa takut yang luar biasa. Sania mendorong pintu ganda perpustakaan. Ruangan itu beraroma maskulin—perpaduan antara kayu jati tua, cerutu premium, dan minyak pelapis sofa kulit yang pekat. Rak-rak buku kayu jati setinggi langit-langit dipenuhi oleh ribuan buku berjilid kulit, sebagian besar adalah buku hukum, sejarah, dan biografi tokoh-tokoh besar.

Namun Sania tidak tertarik pada buku-buku itu. Matanya tertuju pada sebuah pintu tersembunyi di balik rak buku bagian belakang—pintu yang mengarah ke ruang kerja cadangan Baskoro.

Jantung Sania bertalu begitu hebat, menciptakan ketukan konstan yang memburu di balik dinding dadanya. Dengan jemari yang mendadak dingin dan gemetar, ia menekan mekanisme rahasia di samping rak buku. Pintu kayu jati itu bergeser terbuka dengan suara halus, memperlihatkan sebuah ruangan kecil dengan meja kerja kayu besar di tengahnya.

Ini dia. Ruang kerja cadangan Baskoro. Di sinilah rahasia-rahasia gelap keluarga Baskoro disimpan.

Sania melangkah masuk dengan hati-hati, memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu mulai membuka laci demi laci meja kerja. Di laci pertama dan kedua, ia hanya menemukan paspor, buku cek, dan beberapa draf perjanjian investasi yang sudah kedaluwarsa.

Namun, ketika tangannya menarik laci paling bawah yang berada di sisi kanan, matanya menangkap seberkas cahaya dari sebuah map jinjing kulit berwarna cokelat gelap. Di sudut kanan atas map tersebut, tertera inisial tim khusus proyek Jakarta Utara: JKT-N_RECLAMATION_VOL.01.

"Ini dia..." bisik Sania, suaranya nyaris habis tertelan tenggorokan.

Dengan napas yang tertahan, ia segera mengeluarkan ponsel pribadinya. Tangannya bergetar hebat saat ia membuka aplikasi kamera. Ia mengangkat ponselnya sejajar dengan dokumen, memastikan pencahayaan dari lampu meja cukup terang untuk menangkap setiap baris angka, tabel akuntansi, dan lampiran tanda tangan.

Klik. Klik.

Suara halus dari rana kamera ponselnya, meski sudah disamarkan, tetap terasa laksana dentuman meriam yang menggelegar di tengah keheningan ruangan yang kedap suara itu. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis Sania, membasahi beberapa helai rambutnya yang terurai.

Setiap kali lembaran kertas itu dibalik, Sania menoleh panik ke arah pintu, berjaga-jaga jika ada pelayan yang tiba-tiba masuk membawa nampan minuman. Begitu lembar terakhir berhasil diabadikan dalam bentuk digital, Sania menarik napas lega. Ia mengembalikan dokumen tersebut ke dalam map kulit dengan presisi, memastikan sudut-sudut kertasnya tidak terlipat, lalu mendorong laci jati itu kembali ke posisi semula tanpa menimbulkan riak kecurigaan.

Sania melangkah keluar dari ruang kerja dengan langkah cepat, menyusuri koridor lantai dua dengan napas yang memburu dan dada yang bergemuruh. Di dalam hatinya, ada letupan kepuasan yang luar biasa. Ia merasa menang. Ia merasa selangkah lebih maju dari taktik kotor suaminya dan kekejaman mertuanya.

Aku berhasil, pikirnya, hampir tidak percaya. Aku benar-benar berhasil.

Namun, dalam euforia yang semu itu, Sania sama sekali tidak menyadari sebuah detail kecil yang mematikan. Di sudut atas plafon perpustakaan, tersembunyi di antara ukiran kayu pembatas rak buku, sebuah lensa kamera pengawas siber nirkabel berukuran mikro yang baru saja dipasang dua hari lalu atas perintah rahasia Baskoro, telah merekam seluruh pergerakannya. Kamera itu menangkap dengan kualitas definisi tinggi bagaimana wajah Sania yang panik memotret lembar demi lembar berkas di dalam laci.


Dua jam kemudian...

Di sebuah restoran Jepang privat dengan konsep tatami yang terletak di kawasan premium pusat kota, atmosfer tampak begitu tenang dan intim. Tuan Besar Baskoro duduk dengan posisi bersila yang kokoh di atas bantal sutra, memandangi layar tablet format besar yang bersandar di meja kayu rendah di hadapannya.

Di layar tersebut, video rekaman aktivitas Sania di ruang kerjanya tadi sore terputar dalam mode pengulangan. Baskoro menyaksikan setiap gerak-gerik menantunya dengan pandangan mata yang dingin, namun perlahan, seulas senyuman culas terbit di wajahnya yang dipenuhi kerutan wibawa.

Di hadapan Baskoro, duduk seorang pria bertubuh tegap, berambut cepak dengan setelan jas hitam rapi tanpa cela. Pria itu adalah Hendra, kepala detektif swasta sekaligus orang kepercayaan yang telah bekerja untuk keluarga Baskoro selama lebih dari lima belas tahun, mengeksekusi berbagai tugas gelap korporasi.

"Dia benar-benar menggandeng si keparat Baskara," ucap Baskoro, suaranya berat, bariton, dan terdengar sangat puas—sebuah nada suara yang muncul ketika segala sesuatunya berjalan persis seratus persen seperti draf skenario yang ia prediksikan di atas kertas.

Baskoro terkekeh rendah, suara yang membuat Hendra yang berada di depannya ikut menundukkan kepala. "Wanita bodoh. Sania benar-benar berpikir dia mewarisi kecerdasan ibunya. Dia pikir dia bisa dengan mudah menyusup dan bermain api di dalam rumahku sendiri tanpa terbakar."

Hendra memajukan tubuhnya sedikit, memperbaiki posisi duduknya. "Apakah kita harus langsung mengambil tindakan hukum malam ini, Tuan? Kita bisa menggunakan bukti rekaman ini untuk membatalkan seluruh klausul jaminan pernikahan kontrak dalam perjanjian pranikah mereka, sekaligus menuntutnya atas tuduhan spionase industri."

"Tidak. Jangan sekarang, Hendra. Itu terlalu terburu-buru dan tidak menyenangkan," Baskoro memotong dengan lambaian tangan yang santai, sebuah gestur tiran yang mengendalikan papan catur. "Biarkan wanita itu merasa di atas angin untuk sementara waktu. Biarkan dia mengirimkan seluruh hasil foto dokumen itu kepada Baskara malam ini juga."

Baskoro tersenyum licik, sebuah senyuman yang memancarkan kekejaman absolut dari seorang penguasa pasar modal. Ia meraih sebatang cerutu Kuba premium dari kotaknya, memotong ujungnya dengan tenang sebelum menyalakannya dengan pemantik emas.

"Dokumen yang sengaja kutinggalkan di laci kanan paling bawah itu sudah dimodifikasi total oleh tim analisku tiga hari lalu, Hendra. Isinya bukan draf audit asli PT Karya Mulia Utama. Lembaran-lembaran itu berisi data keuangan palsu yang disisipi oleh dokumen berkode rahasia milik proyek strategis nasional yang dipegang oleh BUMN terafiliasi dengan kita. Dokumen itu sengaja dirancang untuk menjadi umpan beracun."

Baskoro menyesap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap putih yang pekat dan berbau berat ke udara restoran yang ber-AC, mengaburkan pandangan di antara mereka selama beberapa detik.

"Begitu Baskara menggunakan data palsu itu sebagai materi gugatan atau menyebarkannya ke otoritas bursa untuk menahan pengalihan sahamku minggu depan, tim hukum kita akan langsung menghantamnya balik. Kita akan menjerat firma hukum Baskara & Associates atas tuduhan konspirasi, pencurian dokumen rahasia negara, dan pencemaran nama baik korporasi berskala besar."

Baskoro mengetukkan abu cerutunya ke asbak kristal dengan penekanan yang lambat namun mematikan. "Dengan begitu, sekali mendayung, aku tidak hanya akan menghancurkan reputasi dan karier hukum Baskara hingga dia membusuk di sel, tetapi aku juga akan membuat Sania kehilangan seluruh kartu asnya. Dia tidak akan punya pilihan lain selain berlutut, menangis, dan memohon ampun di bawah kakiku."

Mata elang pria tua itu berkilat kejam saat ia membayangkan akhir dari permainan ini. "Wanita itu akan menandatangani dokumen pengalihan sisa saham ibunya tanpa syarat apa pun, dalam waktu kurang dari lima menit. Dia tidak akan berani membantah jika dia tidak ingin melihat ayahnya yang sudah penyakitan dan sekarat di rumah sakit itu menyaksikan putri tunggalnya diseret ke pengadilan dengan borgol di tangannya."

Hendra mengangguk dengan hormat. "Tuan benar-benar jenius."

"Jenius?" Baskoro tertawa kecil, suaranya penuh kepuasan. "Ini bukan soal jenius, Hendra. Ini soal pengalaman. Aku sudah bermain di papan ini lebih lama dari usia mereka. Aku tahu setiap trik, setiap celah, setiap kelemahan. Dan aku tahu satu hal yang pasti: dalam permainan ini, hanya ada dua jenis orang—pemain dan pion. Dan Sania... dia adalah pion yang sempurna."

Baskoro memandangi layar tablet sekali lagi, di mana wajah Sania masih terpampang dengan ekspresi panik. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku, Sania?" gumamnya pelan. "Kau pikir kau bisa menyelamatkan perusahaan ibumu dengan trik murahan seperti ini? Kau sama naifnya dengan ibumu dulu."

Baskoro menekan tombol pause pada video, membekukan wajah Sania di layar. "Tapi tidak apa-apa. Aku akan memberi kau waktu untuk menikmati kemenangan semu ini. Karena semakin tinggi kau terbang, semakin sakit rasanya saat kau jatuh."

Ia menoleh pada Hendra. "Pastikan tim pengacara kita siap. Besok pagi, ketika Baskara mengajukan gugatan penundaan, kita akan melancarkan serangan balik. Aku ingin melihat wajah Sania saat dia sadar bahwa dia telah jatuh ke dalam jebakannya sendiri."

Hendra mengangguk, mencatat semua perintah. "Siap, Tuan. Apakah Tuan Andi perlu diberi tahu tentang ini?"

Baskoro menggeleng dengan senyum sinis. "Tidak. Biarkan putraku yang malang itu tetap dalam ketidaktahuannya. Semakin lama dia tidak tahu, semakin besar kejutan yang akan dia dapatkan. Dan siapa tahu, mungkin ini akan menjadi pelajaran berharga baginya tentang siapa yang benar-benar berkuasa dalam keluarga ini."

Baskoro mengangkat gelas sakinya, menatap cairan bening di dalamnya. "Untuk kehancuran PT Karya Mulia Utama," katanya, bersulang pada dirinya sendiri. "Dan untuk kemenangan keluarga Baskoro."


Di tempat lain, di sebuah apartemen sederhana di pinggiran Jakarta...

Sania duduk di ruang tamu kecil Baskara, tangannya masih gemetar setelah perjalanan dari kediaman Baskoro. Di hadapannya, Baskara sedang memeriksa foto-foto dokumen yang ia ambil, matanya berbinar puas.

"Ini luar biasa, Sania," kata Baskara, menunjuk pada salah satu lembar dokumen. "Ini adalah bukti yang kita butuhkan. Manipulasi angka yang mereka lakukan sangat jelas. Kita bisa menggugat mereka di pengadilan tata usaha negara besok pagi."

Sania menghela napas lega. "Jadi, kita menang?"

"Kita akan menang," tegas Baskara. "Dengan bukti ini, pengalihan saham tidak akan terjadi. Perusahaan ibumu aman."

Sania tersenyum—senyum pertama yang tulus dalam waktu yang lama. "Terima kasih, Pak Baskara. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu."

"Kau tidak perlu membalas apa pun," kata Baskara, menatap Sania dengan serius. "Aku melakukan ini karena keadilan. Dan karena ibumu adalah sahabatku. Aku berhutang padanya."

Sania terkejut. "Ibu? Kau mengenal ibuku?"

Baskara tersenyum, namun senyumnya terasa pahit. "Kami pernah bekerja sama dulu, sebelum dia... sebelum dia meninggal. Aku tahu dia adalah wanita yang baik, wanita yang jujur. Dan aku tahu kematiannya bukan kecelakaan biasa."

Sania menatap Baskara dengan mata membelalak. "Apa maksudmu?"

"Aku punya kecurigaan," kata Baskara pelan. "Tapi belum waktunya untuk membicarakan itu. Sekarang, fokuslah pada perjuangan ini. Kita akan menghancurkan Baskoro satu per satu."

Sania mengangguk, meskipun pikirannya penuh pertanyaan. Tapi ia percaya pada Baskara. Untuk saat ini, itu sudah cukup.


Sania tidak tahu bahwa jebakan maut yang dirancang dengan kecerdasan tiran yang luar biasa kini telah terpasang dengan rapi, kokoh, dan tak terhindarkan. Pemicunya justru adalah rasa percaya diri dan keputusasaan Sania sendiri untuk membalas dendam atas luka hatinya. Tanpa disadari oleh sang istri kontrak, langkah berani yang ia sangka sebagai jalan menuju kemerdekaan, justru merupakan tali jerat yang telah dikalungkan sendiri ke lehernya, siap untuk mencekik habis seluruh sisa hidupnya dan menghancurkan aliansi sunyi yang baru saja ia bangun dengan penuh harapan.

Di kejauhan, di dalam ruang kerja pribadinya, Andi duduk di depan meja dengan perasaan gelisah yang tidak bisa ia jelaskan. Ada sesuatu yang salah, ia bisa merasakannya. Tapi apa? Ia tidak tahu.

Ia meraih ponselnya, mengetik pesan untuk Sania. "Kau baik-baik saja?"

Pesan itu tidak dibalas.

Andi menatap layar ponselnya, dadanya terasa sesak. Di dalam hatinya, sebuah firasat buruk mulai tumbuh—firasat bahwa sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi, dan ia tidak berdaya untuk menghentikannya.


BAB X

Bayang-Bayang di Balik Kaca


Mobil sedan hitam melaju pelan meninggalkan kediaman utama keluarga Baskoro. Di balik kemudi, Sania menggenggam setir dengan jari-jari yang masih gemetar. Flashdisk perak di saku jasnya terasa berat seperti batu bata, menekan dadanya dengan setiap detak jantung yang berpacu liar.

Di luar, hujan gerimis mulai turun, menciptakan aliran air tipis di atas kaca depan. Lampu-lampu jalan Jakarta yang mulai menyala satu per satu menari-nari di balik kabut air, menciptakan ilusi dunia yang berputar lambat. Sania menekan pedal gas sedikit lebih dalam, ingin secepat mungkin menjauh dari rumah besar yang baru saja ia rampok secara diam-diam.

Flashdisk itu. Dokumen-dokumen itu. Aku benar-benar melakukannya.

Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun tidak beraturan. Ia menepis rambut basah yang menempel di pelipisnya—keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Di dalam kepalanya, rekaman kejadian di ruang kerja Baskoro terus berputar seperti film kusut: cahaya lampu meja yang redup, deretan laci yang ia buka satu per satu, gemerisik kertas saat ia memotret setiap lembar dengan ponselnya, dan yang paling mengerikan—bayangan bayangan bayangan tubuh Baskoro yang ia bayangkan muncul di balik pintu kapan saja.

Tapi aku berhasil. Aku benar-benar berhasil.

Sania menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia mengarahkan mobil menuju jalan layang, menjauh dari kawasan elit tempat keluarga Baskoro berkuasa. Di kejauhan, gedung-gedung pencakar langit mulai bermandikan cahaya neon, menciptakan siluet kota yang megah namun dingin.

Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya dari lampu jalan yang berkedip-kedip mengirimkan gelombang ingatan yang tak terduga. Sania tersentak. Dunia di sekelilingnya berubah—ia bukan lagi di dalam mobil di tengah kemacetan Jakarta. Ia berada di ruang tamu rumah masa kecilnya, dua puluh tahun yang lalu.


Kilas Balik: Dua Puluh Tahun Lalu

Sania baru berusia enam tahun. Ia sedang bermain boneka di sudut ruang tamu ketika pintu depan dibuka dengan keras. Ibunya, Widya, melangkah masuk dengan wajah yang pucat pasi, matanya merah dan sembab.

"Bu?" panggil Sania kecil, berlari menghampiri.

Widya tersenyum, tetapi senyumannya tidak sampai ke matanya. "Tidak apa-apa, Sayang. Ibu hanya sedikit lelah."

Tapi Sania tidak percaya. Ia bisa melihat tangan ibunya gemetar saat meletakkan tas di atas meja. Ia bisa melihat bekas air mata di pipi ibunya, meskipun ibunya sudah berusaha menghapusnya.

Malam itu, Sania terbangun karena suara pertengkaran. Ia merangkak turun dari tempat tidurnya, menyusuri koridor gelap menuju ruang tamu. Di balik pintu yang sedikit terbuka, ia melihat ibunya berdiri berhadapan dengan seorang pria tinggi besar berwajah tegas—pria yang kini ia kenal sebagai Baskoro.

"Kau pikir kau bisa menipuku, Widya?" suara Baskoro menggelegar, rendah namun mengancam. "Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau menyembunyikan laporan keuangan asli dari konsorsium?"

Widya berdiri tegak, meskipun tubuhnya terlihat lelah. "Aku tidak menyembunyikan apa pun, Baskoro. Perusahaan ini milikku. Aku yang membangunnya dari nol, dengan tanganku sendiri. Aku tidak berkewajiban melaporkan setiap gerak-gerikku padamu."

"Kau berkewajiban!" Baskoro membanting tinjunya ke atas meja, membuat gelas-gelas di atasnya bergetar. "Karena kau adalah bagian dari konsorsium! Karena tanpa perlindunganku, perusahaan kecilmu sudah lama bangkrut!"

Widya tertawa—tawa getir yang membuat Sania kecil merinding. "Perlindungan? Kau menyebutnya perlindungan? Kau mencoba mengambil alih perusahaanku, Baskoro. Kau mencoba menghancurkanku agar aku bergantung padamu. Tapi aku tidak akan menyerah. Tidak pernah."

Baskoro melangkah mendekat, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah Widya. "Kau wanita bodoh," desisnya, suaranya penuh kebencian. "Kau pikir kau bisa melawanku? Aku akan menghancurkanmu, Widya. Aku akan menghancurkan semua yang kau cintai. Dan ketika kau jatuh, kau akan merangkak kembali padaku, memohon belas kasihan."

"Aku tidak akan pernah memohon apa pun padamu," jawab Widya dengan suara yang bergetar namun tegas. "Aku akan mati sebelum itu terjadi."

Baskoro tersenyum—senyuman yang membuat darah Sania kecil membeku. "Kau akan menyesal, Widya. Aku berjanji. Kau akan sangat menyesal."

Pria itu berbalik dan melangkah keluar, hampir menginjak Sania kecil yang bersembunyi di balik pintu. Sania memejamkan mata, menahan napas, berdoa agar pria itu tidak melihatnya. Dan Baskoro tidak melihatnya. Ia pergi, meninggalkan bau parfum berat dan aroma rokok yang menusuk hidung.

Setelah pintu tertutup, Sania mendengar ibunya menangis. Tangis yang tertahan, tangis yang ia coba sembunyikan di balik telapak tangannya. Sania berlari menghampiri, memeluk kaki ibunya.

"Bu... jangan menangis, Bu..."

Widya terkejut, lalu segera menghapus air matanya. Ia membungkuk, memeluk Sania kecil dengan erat.

"Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bermaksud membuatmu takut."

"Aku takut pada pria itu, Bu," bisik Sania. "Dia jahat."

Widya tersenyum—senyuman yang penuh air mata namun juga penuh tekad. "Dia memang jahat, Sayang. Tapi Ibu tidak akan membiarkannya menang. Ibu akan melindungimu. Ibu akan melindungi semua yang Ibu bangun. Ibu berjanji."

"Ibu kuat?" tanya Sania polos.

Widya mengangguk, menatap mata putrinya dengan sorot yang tak tergoyahkan. "Ibu kuat. Dan kau juga akan kuat, Nak. Karena kau adalah putri Ibu. Kau tidak akan pernah menyerah pada orang-orang seperti dia. Ingat itu."

Sania kecil mengangguk, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti. Yang ia tahu, ibunya adalah wanita terkuat di dunia. Dan ia ingin menjadi seperti ibunya.


Kembali ke Masa Kini

Sania tersentak, kesadarannya kembali ke jalan raya Jakarta yang macet. Air mata mengalir di pipinya—ia bahkan tidak menyadari kapan ia mulai menangis.

Ibu... aku tidak pernah menyerah. Aku berjanji.

Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, menarik napas dalam-dalam. Kenangan itu membuatnya semakin yakin. Baskoro telah menghancurkan ibunya secara sistematis selama bertahun-tahun. Dan sekarang, ia mencoba menghancurkan Sania dengan cara yang sama.

Tapi aku tidak akan membiarkannya.

Sania menatap flashdisk di saku jasnya. Dokumen-dokumen yang ia ambil dari laci Baskoro bukan hanya senjata untuk menyelamatkan perusahaan ibunya. Itu adalah senjata untuk membalaskan semua air mata yang pernah ibunya tumpahkan. Itu adalah senjata untuk menunjukkan bahwa wanita-wanita Widya tidak pernah menyerah.

Namun, di tengah tekad yang membara itu, sebuah keraguan kecil mulai merayap di sudut hatinya.

Andi... Bagaimana dengan Andi?

Sania menghela napas panjang, memikirkan suaminya. Pria yang telah menikahinya karena kontrak. Pria yang diam-diam bertemu dengan Kayla di kafe. Pria yang mengatakan bahwa pernikahan mereka hanyalah transaksi bisnis.

Tapi kenapa aku masih peduli padanya? Kenapa aku masih memikirkan bagaimana perasaannya ketika semua ini terjadi?

Sania menggigit bibirnya, mencoba menekan perasaan yang tidak seharusnya ia rasakan. Andi adalah musuh. Andi adalah bagian dari keluarga Baskoro. Andi adalah orang yang membiarkan ayahnya menghancurkan hidupnya.

Lalu kenapa hatiku terasa sakit setiap kali memikirkan wajahnya?


Sania menghentikan mobil di tepi jalan, di sebuah area parkir kecil di dekat sebuah kafe yang sepi. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan menyelimutinya. Hujan gerimis masih turun, menciptakan suara ritmis di atap mobil yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang.

Ia mengeluarkan ponselnya, tanpa sadar membuka galeri foto. Jari-jarinya bergerak sendiri, menggulir ke belakang, hingga menemukan foto-foto lama—foto-foto dari masa-masa awal pernikahan mereka.

Ada foto di hari pernikahan: Sania mengenakan gaun putih, Andi berdiri di sampingnya dengan tuksedo hitam. Mereka tersenyum ke arah kamera, tetapi Sania bisa melihat sekarang—senyum itu palsu. Senyum yang dipaksakan untuk kepentingan media.

Ada foto di acara gala: Andi melingkarkan tangannya di pinggang Sania, keduanya tampak sempurna di hadapan para jurnalis. Tapi Sania ingat bagaimana rasanya—tangan Andi yang dingin, tatapannya yang kosong, dan bisikannya yang datar: "Kau luar biasa malam ini, Sania."

Ada foto di dapur penthouse: Andi sedang minum kopi, Sania mengambil fotonya tanpa sepengetahuannya. Dalam foto itu, Andi tidak sedang berpura-pura. Wajahnya tenang, matanya sayu, dan ada kelelahan di sana yang tidak pernah ia tunjukkan di depan publik. Sania ingat saat itu—ia merasa aneh melihat Andi begitu... manusiawi.

Mengapa aku menyimpan foto ini? tanyanya pada diri sendiri.

Ia tidak punya jawaban. Yang ia tahu, foto itu membuat dadanya terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang hangat di sana, sesuatu yang ia coba sembunyikan dari dirinya sendiri.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama Andi muncul di layar.

Sania terkesiap. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar saat ia mengangkat ponsel.

"Halo?" suaranya bergetar, ia berusaha membuatnya terdengar normal.

"Halo, Sania." Suara Andi dari seberang telepon terdengar serak, lelah, namun ada sesuatu yang aneh di dalamnya—sesuatu yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Kekhawatiran. Kekhawatiran yang tulus. "Kau... di mana kau? Aku sudah meneleponmu beberapa kali."

Sania menelan ludah. "Aku... di luar. Ada urusan yang harus kuselesaikan."

"Urusan apa?" tanya Andi cepat. Terlalu cepat. Ada nada cemas yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Urusan pribadi," jawab Sania datar. Ia tidak ingin berbohong, tetapi ia juga tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. "Kenapa kau meneleponku, Mas?"

Andi terdiam sejenak. Sania bisa mendengar napasnya yang berat di seberang telepon.

"Aku... aku khawatir," kata Andi akhirnya, suaranya rendah. "Aku mendengar dari sekretaris Ayah bahwa kau datang ke rumah utama sore ini. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di sana, tapi... aku khawatir, Sania. Aku tahu Ayah. Aku tahu bagaimana dia bermain. Jika kau melakukan sesuatu yang nekat..."

"Apa kau peduli?" potong Sania, dan ia terkejut dengan ketajaman suaranya sendiri.

Andi terdiam lagi. Kali ini lebih lama.

"Aku selalu peduli, Sania," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Aku hanya... aku tidak tahu cara menunjukkannya. Aku tidak pernah diajari cara menunjukkannya."

Sania merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—seperti ada simpul yang mulai terurai. "Kau tidak pernah menunjukkannya, Andi. Kau selalu dingin, selalu berjarak, selalu memperlakukanku seperti rekan bisnis."

"Karena itu yang aku tahu," jawab Andi, suaranya penuh penyesalan. "Karena aku takut. Takut jika aku menunjukkan perasaanku, Ayah akan menggunakannya untuk menyakitiku. Takut jika aku mencintai seseorang, aku akan kehilangan mereka. Seperti Kayla. Seperti..."

Ia berhenti. Tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Seperti apa?" tanya Sania, suaranya lembut.

Andi menghela napas panjang. "Tidak penting. Yang penting, Sania... tolong berhati-hati. Apa pun yang kau lakukan, tolong pikirkan baik-baik. Ayah bukan orang yang bisa kau kalahkan dengan mudah. Dia lebih licik daripada yang kau bayangkan."

Sania tersenyum pahit. Dia lebih licik daripada yang kau bayangkan, Andi. Dan aku baru saja membuktikannya.

"Terima kasih kekhawatirannya, Mas," kata Sania akhirnya. "Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku sudah terbiasa."

"San—"

"Kita bicara lain kali, Andi. Aku harus pergi."

Sania menutup telepon sebelum Andi sempat menjawab. Ia membiarkan ponselnya jatuh ke pangkuannya, menatap kosong ke luar jendela. Hujan masih turun, menciptakan aliran air di kaca yang mengaburkan dunia di luar.

Dia khawatir. Dia benar-benar khawatir.

Sania menggigit bibirnya, menahan air mata yang kembali mengancam tumpah. Mengapa Andi membuatnya bingung seperti ini? Mengapa ketika ia mulai membencinya, Andi melakukan sesuatu yang membuatnya ragu?

Kau tidak bisa mempercayainya, Sania, kata suara di kepalanya. Dia adalah Baskoro. Dia bagian dari mereka. Dia akan mengkhianatimu, sama seperti mereka.

Tapi suara lain berbisik, lebih lembut, lebih ragu: Tapi bagaimana jika dia berbeda? Bagaimana jika dia benar-benar peduli?

Sania menutup matanya, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Ia tidak bisa terus seperti ini—terjebak di antara kebencian dan perasaan yang tidak bisa ia kendalikan.

Ia membuka mata, menatap flashdisk di saku jasnya. Kemudian, ia meraih ponselnya, membuka aplikasi kamera, dan melihat foto-foto dokumen yang ia ambil tadi. Satu per satu, ia menggulirnya, memastikan semuanya jelas dan terbaca.

Ini adalah senjataku, pikirnya. Ini adalah satu-satunya cara untuk melawan. Aku tidak bisa membiarkan perasaan canggung pada Andi menghentikanku. Aku tidak bisa membiarkan apa pun menghentikanku.

Ia menutup aplikasi foto, lalu tanpa sadar kembali ke galeri. Matanya tertuju pada foto Andi di dapur—foto yang ia ambil tanpa sepengetahuan suaminya. Wajah Andi yang tenang, matanya yang sayu, kelelahan yang tidak pernah ia tunjukkan di depan publik.

Kenapa kau membuatku bingung, Andi? pikirnya. Kenapa kau tidak bisa menjadi pria jahat yang kukira kau?

Sania menutup galeri, meletakkan ponselnya di samping. Ia menyalakan mesin mobil, menarik napas dalam-dalam, dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Tidak penting apa yang kurasakan padanya, pikirnya. Yang penting adalah menyelamatkan perusahaan ibuku. Yang penting adalah membalaskan semua yang telah Baskoro lakukan. Yang penting adalah...

Ia berhenti. Kata-kata itu tidak ingin keluar dari pikirannya.

...yang penting adalah aku bisa melihat Andi tersenyum tulus suatu hari nanti. Tanpa topeng. Tanpa kebohongan. Tanpa ketakutan.

Sania menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. Ia tidak bisa membiarkan dirinya jatuh cinta pada pria yang telah menyakitinya. Ia tidak bisa membiarkan dirinya lemah.

Tapi di dalam hatinya, ia tahu: perasaan itu sudah ada. Entah sejak kapan, entah bagaimana, Sania telah jatuh cinta pada Andi. Dan itu adalah hal paling menyakitkan yang pernah ia rasakan.


Di Ruang Kerja Andi, Malam Itu

Andi meletakkan ponselnya di atas meja, menatap layar yang sekarang gelap. Percakapannya dengan Sania tadi masih terngiang di kepalanya.

Aku selalu peduli, Sania. Aku hanya tidak tahu cara menunjukkannya.

Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. Tubuhnya terasa lelah—lelah berpura-pura kuat, lelah menjadi boneka ayahnya, lelah menjalani hidup yang bukan miliknya.

Kenapa kau tidak bisa menjadi pria jahat yang kukira kau?

Kata-kata Sania yang tidak terucapkan itu seolah ia dengar sendiri. Andi tahu, Sania membencinya. Dan ia tidak bisa menyalahkannya. Tapi di dalam hatinya, ada bagian yang berharap—berharap bahwa suatu hari nanti, Sania akan melihatnya sebagai lebih dari sekadar musuh.

Andi meraih dompetnya, membukanya, dan mengeluarkan sebuah foto kecil yang ia simpan di balik kartu identitas. Foto itu adalah foto Sania—foto yang ia ambil diam-diam saat mereka sedang menghadiri acara amal beberapa bulan lalu. Dalam foto itu, Sania sedang tersenyum, benar-benar tersenyum, tidak dipaksakan untuk kamera. Matanya berbinar, wajahnya berseri, dan ada sesuatu di sana yang membuat hati Andi berdesir setiap kali ia melihatnya.

Mengapa aku menyimpan fotonya? pikirnya, sama seperti yang dipikirkan Sania beberapa jam lalu.

Ia tidak punya jawaban. Yang ia tahu, foto itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya bertahan di tengah kekacauan hidupnya.

Sania... aku berjanji. Aku akan membereskan semua ini. Aku akan membebaskanmu dari Ayah. Dan suatu hari nanti, aku akan menunjukkan padamu siapa aku sebenarnya.

Andi menyimpan foto itu kembali, lalu menatap tumpukan dokumen di hadapannya. Ada banyak yang harus ia kerjakan—laporan keuangan yang harus ia periksa, memo internal yang harus ia tanda tangani, dan yang paling penting, bukti-bukti kejahatan ayahnya yang harus ia kumpulkan diam-diam.

Untuk Sania, pikirnya. Semua ini untuk Sania.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bekerja. Di luar, hujan masih turun, tetapi di dalam hatinya, ada secercah harapan—harapan bahwa suatu hari nanti, ia bisa memperbaiki semua kesalahannya.


Di Mobil, Dalam Perjalanan ke Kantor Baskara

Sania menekan pedal gas, melaju menembus hujan. Flashdisk di sakunya terasa lebih ringan sekarang, seolah beban yang ia pikul mulai berkurang.

Ibu, aku tidak akan menyerah. Aku berjanji.

Ia teringat kembali pada senyum ibunya, pada kata-kata terakhir yang pernah ibunya ucapkan padanya sebelum kecelakaan itu terjadi.

"Jangan pernah menyerah pada mereka yang hanya melihat angka di matamu, Nak. Kau lebih berharga dari sekadar lembar saham. Ingat itu."

Sania tersenyum—senyuman yang penuh air mata namun juga penuh tekad.

"Aku ingat, Bu," bisiknya. "Aku selalu ingat."

Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai bersinar lebih terang. Sania melanjutkan perjalanannya, menuju pertemuan dengan Baskara, menuju babak baru dalam hidupnya, menuju perjuangan yang akan menentukan segalanya.

Dan di dalam hatinya, ada dua hal yang ia bawa: tekad untuk membalaskan ibunya, dan perasaan yang membingungkan untuk pria yang seharusnya ia benci.

Ini akan menjadi perjalanan yang panjang, pikirnya. Tapi aku tidak akan menyerah. Tidak pernah.

 

BAB XI

Benang Merah yang Kusut

Sania melangkah terburu-buru menembus lorong remang-remang di kantor hukum Baskara & Associates. Suara tumit sepatunya yang berbenturan keras dengan lantai ubin tua bergema liar, memecah kesunyian malam yang mulai merayap. Di dalam genggaman tangannya yang berkeringat dingin, sebuah flashdisk perak berisi salinan dokumen audit penting dicengkeramnya dengan sangat erat, seolah benda kecil itu adalah satu-satunya jangkar penyelamat hidupnya. Napas Sania masih memburu hebat, sisa dari debaran ketakutan yang luar biasa saat ia menyelinap ke dalam ruang kerja pribadi mertuanya di kediaman utama Baskoro sore tadi.

Hari itu adalah hari yang melelahkan secara emosional. Setelah berhasil mengambil foto-foto dokumen dari laci Baskoro, Sania menghabiskan sisa sorenya dengan berpura-pura tenang di hadapan para pelayan, membaca buku-buku usang di perpustakaan keluarga, dan menunggu waktu yang tepat untuk pergi tanpa menimbulkan kecurigaan. Setiap detik terasa seperti jam, setiap suara langkah kaki di koridor membuat jantungnya berdegup kencang.

"Saya berhasil, Pak Baskara," ujar Sania setengah terengah-engah begitu ia mendorong pintu ruang kerja sang pengacara. Tanpa dipersilakan terlebih dahulu, ia menjatuhkan dirinya ke kursi kayu di depan meja, lalu meletakkan flashdisk itu di atas meja kerja dengan ketukan yang bergetar. "Semua data ada di dalam sini. Angka-angka alokasi dana, rincian proyek fiktif di Jakarta Utara, hingga seluruh bukti manipulasi pajak yang mereka gunakan untuk menekan valuasi PT Karya Mulia Utama."

Baskara langsung menegakkan posisi duduknya. Sorot mata pengacara idealis itu berkilat tajam. Tanpa membuang waktu untuk berbasa-basi, ia meraih benda perak tersebut dan mencolokkannya ke port laptop yang menyala di hadapannya. Jemarinya yang panjang bergerak dengan kecepatan tinggi di atas papan ketik, menembus enkripsi folder, lalu mulai membuka berkas demi berkas dokumen format PDF yang baru saja disalin oleh Sania.

Sania menatap Baskara dengan harapan yang membara. Ia membayangkan senyum kemenangan di wajah pengacara itu, membayangkan bagaimana bukti-bukti ini akan menghancurkan rencana jahat Baskoro dan menyelamatkan perusahaan ibunya. Ia membayangkan Andi, yang akan melihat bahwa ia bukanlah wanita lemah yang bisa diinjak-injak.

Namun, seiring berjalannya waktu, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat berat. Keheningan yang mencekam kembali merayap. Kerutan di dahi Baskara perlahan semakin dalam. Sepasang matanya yang semula dipenuhi antisipasi kemenangan, kini meredup, digantikan oleh ketegangan yang pekat dan gurat kecemasan yang tak bisa disembunyikan.

"Ada apa, Pak?" tanya Sania. Sebuah firasat buruk mendadak menyengat tengkuknya seperti sengatan listrik dingin saat melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah sekutunya. "Ada... ada yang salah dengan datanya? Apakah fotonya kurang jelas?"

Baskara tidak menjawab. Ia terus menggulir layar, membuka satu per satu file dengan gerakan yang semakin cepat dan panik. Keningnya berkeringat, dan rahangnya mengeras.

"Pak Baskara?" Sania berdiri, mendekati meja kerja. "Tolong katakan padaku apa yang terjadi."

Baskara perlahan melepaskan tangannya dari papan ketik, memundurkan tubuhnya hingga bersandar sepenuhnya pada kursi kulitnya. Ia menatap layar laptop dengan pandangan tak percaya, sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya lurus-lurus ke arah Sania.

"Sania..." Suara Baskara terdengar begitu berat dan serak. "Benang merah dari seluruh dokumen yang Anda bawa ini... sama sekali tidak mengarah pada korupsi internal atau spionase bisnis keluarga Baskoro. Ini bukan senjata untuk kita. Ini adalah sebuah jebakan maut."

Sania tertegun, separuh jiwanya seolah melayang. Wajahnya yang semula berbinar harapan mendadak memucat. "Jebakan? Apa maksud Anda? Saya bersumpah, saya mengambilnya sendiri langsung dari laci paling bawah di meja kerja pribadi Papa Baskoro. Kode proyeknya sama persis dengan proyek reklamasi kita."

"Angka-angka dan lampiran di dalam berkas ini memang menggunakan nama proyek Jakarta Utara sebagai kedok, tetapi substansi aslinya... ini adalah draf laporan keuangan negara bersifat highly confidential milik konsorsium BUMN yang sedang diawasi ketat oleh kejaksaan agung," jelas Baskara, suaranya merendah, sarat akan ketakutan profesional yang mendalam.

Ia memutar layar laptopnya agar menghadap ke arah Sania, lalu menunjuk beberapa baris kode enkripsi di sudut bawah dokumen. "Dan lihat bagian log sistem tersembunyi ini, Sania. Di sini ada jejak digital forensik yang sengaja ditanam. Log ini mendaftarkan nama akun perusahaan Anda, PT Karya Mulia Utama, lengkap dengan alamat IP dari penthouse Anda, sebagai pihak yang telah mengunduh dan menyalin data rahasia negara ini secara ilegal."

Sania seketika merosot di kursinya. Wajahnya yang semula kemerahan karena lelah mendadak berubah menjadi seputih kapas. Seluruh persendian tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Dunia di sekelilingnya terasa berputar, dan ia harus mencengkeram tepi meja agar tidak jatuh.

"Itu artinya..." Kalimat Sania menggantung di udara, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena kenyataan yang mulai ia pahami terlalu mengerikan untuk diucapkan.

"Itu artinya Tuan Besar Baskoro sudah mengetahui pergerakan kita sejak awal, Sania! Beliau dengan sengaja meletakkan dokumen umpan beracun ini di sana, menunggu sampai Anda atau saya datang mengambilnya," Baskara menggebrak meja dengan frustrasi, namun suaranya tetap dijaga agar tidak terdengar sampai ke luar ruangan. "Jika dokumen ini sampai kita bocorkan ke media atau kita gunakan sebagai materi gugatan di pengadilan tata usaha negara besok pagi, bukan Baskoro yang akan hancur. Melainkan kita. Kita berdua akan langsung diseret oleh aparat atas tuduhan spionase industri, pencurian dokumen rahasia negara, dan pelanggaran undang-undang ITE. Benang merah yang kita susun dengan susah payah untuk menjatuhkannya... sengaja dikusutkan oleh Baskoro untuk menjerat leher kita sendiri hingga mati."

Sania menutup matanya rapat-rapat, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja ia terima. Di dalam kepalanya, semuanya mulai terhubung—senyum licik Baskoro saat makan malam, pertanyaan-pertanyaan mengintimidasi yang ia lontarkan, dan sekarang, dokumen umpan yang dengan sempurna dirancang untuk menjebaknya.

Dia tahu, pikir Sania dengan ngeri. Dari awal, dia sudah tahu. Dia membiarkanku masuk, membiarkanku mengambil dokumen itu, hanya untuk menertawakanku dari balik layar.

"Dia bermain dengan kita," bisik Sania, suaranya nyaris tidak terdengar. "Dia tahu aku akan datang. Dia tahu aku akan mengambil dokumen itu. Dan dia membiarkanku melakukannya karena dia ingin aku jatuh ke dalam perangkapnya."

Baskara mengangguk, wajahnya pucat. "Dia lebih pintar dari yang kita duga, Sania. Dan sekarang, kita berada dalam bahaya yang sangat nyata. Jika besok pagi kita tetap melanjutkan gugatan dengan dokumen ini, kita berdua bisa dipenjara."

Sania membuka matanya. Air mata menggenang di pelupuknya, tapi kali ini bukan air mata kesedihan—melainkan air mata kemarahan. "Jadi... dia menang? Setelah semua ini, dia menang?"

"Belum," kata Baskara, menatap Sania dengan mata yang berkilat tekad. "Kita belum kalah. Tapi kita harus berhenti sejenak, memikirkan ulang strategi. Kita tidak bisa gegabah. Baskoro telah membuktikan bahwa dia selangkah lebih maju. Sekarang giliran kita untuk memikirkan langkah selanjutnya."

Sania mengangguk pelan, meskipun hatinya hancur. Ia telah mengorbankan begitu banyak—harga dirinya, pernikahannya, ketenangan pikirannya—semua untuk mendapatkan bukti yang ternyata adalah jebakan. Ia merasa bodoh, naif, dan sangat, sangat lelah.

"Ada satu hal yang saya tidak mengerti," kata Sania akhirnya, suaranya lemah. "Jika Baskoro sudah tahu sejak awal... kenapa dia tidak langsung menghentikan saya? Kenapa dia membiarkan saya mengambil dokumen itu dan pergi?"

Baskara menatap Sania dengan ekspresi yang kompleks—campuran antara rasa hormat dan keprihatinan. "Karena dia ingin Anda merasakan kepahitan kekalahan. Dia tidak hanya ingin menghancurkan Anda secara hukum; dia ingin menghancurkan Anda secara emosional. Dia ingin Anda merasakan harapan palsu, lalu merenggutnya dari Anda di saat-saat terakhir. Itulah cara Baskoro bermain. Dia tidak pernah terburu-buru. Dia menikmati penderitaan korbannya."

Sania menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Kemarahan yang membara mulai menggantikan ketakutan di dalam dadanya. "Aku tidak akan membiarkannya," katanya, suaranya bergetar tapi tegas. "Aku tidak akan membiarkan dia menang. Tidak peduli apa pun yang terjadi."

"Sania—" Baskara mencoba memperingatkan.

"Aku tahu," potong Sania, menatap Baskara dengan mata yang membara. "Aku tahu ini berbahaya. Tapi aku sudah terlalu jauh untuk mundur. Aku sudah kehilangan terlalu banyak. Satu-satunya cara untuk maju adalah terus berjuang."

Baskara menatap Sania dengan kagum. "Anda memiliki semangat yang sama dengan ibumu," katanya pelan. "Widya juga tidak pernah menyerah. Bahkan di saat-saat tergelap sekalipun."

Sania tersenyum tipis—senyum yang pahit namun penuh tekad. "Aku harap aku bisa sekuat dia."

"Kau lebih kuat dari yang kau kira, Sania," kata Baskara. "Dan aku akan membantumu. Bagaimanapun caranya."


Sementara itu, di sebuah kamar hotel bintang lima di pinggiran kota Surabaya...

Atmosfer malam terasa tidak kalah mencekam. Andi sedang berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota, menatap layar ponsel genggamnya dengan batin yang berkecamuk hebat.

Beberapa menit yang lalu, Hendra—asisten pribadi sekaligus kepala detektif kepercayaan ayahnya—baru saja mengirimkan sebuah pesan singkat tanpa teks. Pesan itu hanya berisi sebuah lampiran gambar tangkapan layar dari rekaman CCTV internal di rumah utama Jakarta.

Di foto tersebut, wajah Sania terpampang dengan sangat jelas di bawah temaram lampu meja, sedang memegang ponsel dengan tangan gemetar, memotret lembar demi lembar berkas dari dalam laci meja kerja Baskoro.

Andi memejamkan matanya rapat-rapat, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut kencang laksana dihantam martil. Kemarahan, kekecewaan, dan rasa takut bercampur aduk menjadi satu di dalam rongga dadanya, menciptakan rasa sesak yang luar biasa. Ia merasa marah dan dikhianati karena Sania telah nekat melanggar batas kepercayaannya dengan menyelinap masuk ke sarang serigala ayahnya. Namun, di sisi lain, sebagai seorang anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang kekejaman Baskoro, Andi tahu betul tabiat asli pria tua itu.

Ini bukan hanya tentang Sania mengambil dokumen, pikir Andi, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ini tentang Ayah. Ayah pasti sudah tahu. Dia pasti sudah merencanakan sesuatu.

Jika ayahnya membiarkan kamera CCTV itu tetap menyala dan membiarkan Sania keluar dari rumah dengan membawa dokumen tersebut tanpa dicegat di pintu gerbang, itu artinya sebuah tali gantungan telah dipasang dengan rapi di leher istrinya. Ayahnya tidak akan pernah segan-segan menjebloskan Sania ke dalam penjara terdalam demi mendapatkan sisa saham PT Karya Mulia Utama secara cuma-cuma.

Andi berjalan mondar-mandir di atas karpet tebal kamarnya, mengabaikan tumpukan berkas laporan pelabuhan yang harus ia periksa. Pikirannya melayang kembali pada malam pertengkaran hebat mereka di ruang makan beberapa hari lalu. Kata-kata tajam Sania yang penuh luka kembali terngiang-ngiang di telinganya.

"Aku manusia, Andi, bukan robot administrasi! Aku melakukan ini semua untuk melindungi diriku sendiri karena kau memperlakukan aku seperti barang inventaris!"

"Kau benar-benar tidak percaya padaku, kan?"

Dan yang paling menyayat hati: "Aku mencintaimu, Andi. Tapi cinta itu tidak cukup untuk membuatku tetap tinggal jika kau terus memperlakukanku seperti ini."

Andi mengepalkan kedua tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan suara gemertak. Penyesalan yang teramat pekat mulai merayap naik ke dadanya. Segala macam rangkaian kebohongan, manipulasi draf, dan sandiwara yang selama ini ia bangun demi melindungi Kayla dari radar kekejaman ayahnya, kini justru berbalik menciptakan monster tak kasat mata yang bersiap menelan hidup-hidup istrinya sendiri.

Sania tidak tahu apa yang dia lakukan, pikir Andi dengan panik. Dia tidak tahu bahwa Ayah telah memasang jebakan. Dia pikir dia sedang menyelamatkan perusahaannya, padahal dia sedang melangkah ke dalam perangkap maut.

Andi meraih ponselnya, jarinya gemetar saat mengetik pesan untuk Sania. "Kau mengambil dokumen dari laci Ayah? Berhenti. Jangan lakukan apa pun dengan dokumen itu. Ini jebakan."

Pesan itu dikirim, tapi Sania tidak membalas.

Andi mencoba menelepon, tapi panggilannya tidak dijawab. Kepanikan mulai merayap di dadanya.

Dia tidak menjawab, pikirnya. Dia mungkin sudah memberikan dokumen itu ke Baskara. Dia mungkin sudah terlalu jauh.

Andi menarik napas dalam-dalam, mengambil keputusan tercepat dalam hidupnya. Ia menyambar jas dan kunci kamarnya, lalu melangkah cepat keluar menuju lobi. Ia sadar, ia harus segera memesan penerbangan pertama kembali ke Jakarta malam ini juga, sebelum tali jerat yang dipasang oleh ayahnya benar-benar mengetat dan mematahkan leher Sania tanpa ampun.

Di dalam taksi menuju bandara, Andi menatap layar ponselnya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia marah pada Sania karena bertindak nekat tanpa berkonsultasi dengannya. Di sisi lain, ia menyadari bahwa kemarahannya tidak sepenuhnya adil—lagipula, ia sendiri yang telah membuat Sania merasa tidak bisa mempercayainya.

Ini semua salahku, pikir Andi, menutup matanya dengan lelah. Aku yang membuatnya merasa terisolasi. Aku yang mendorongnya ke pelukan Baskara. Aku yang...

Ia tidak bisa menyelesaikan pikirannya. Rasa bersalah yang terlalu besar menenggelamkan segalanya.


Di Jakarta, di kantor Baskara...

Sania menatap layar laptop dengan pandangan kosong. Dokumen-dokumen yang ia ambil dengan susah payah kini terasa seperti bom waktu yang siap meledak. Baskara duduk di sampingnya, memikirkan strategi berikutnya.

"Kita tidak bisa menggunakan dokumen ini," kata Baskara akhirnya. "Tapi kita juga tidak bisa membiarkan Baskoro menang. Kita perlu mencari celah lain."

"Apa yang bisa kita lakukan?" tanya Sania, suaranya lemah.

"Kita perlu bukti dari sumber lain. Mungkin dari seseorang di dalam konsorsium. Seseorang yang memiliki akses ke dokumen asli, sebelum dimodifikasi."

Sania menggeleng. "Tidak ada yang akan membantuku. Mereka semua takut pada Baskoro."

Baskara terdiam. Kemudian, matanya berbinar. "Ada satu orang yang mungkin bisa membantu."

"Siapa?"

"Suamimu."

Sania terkejut. "Andi? Dia tidak akan pernah—"

"Kau yakin?" potong Baskara. "Dari semua yang kau ceritakan, Andi tampaknya bukanlah orang jahat. Dia hanya terjebak di antara kewajiban pada ayahnya dan perasaannya padamu. Mungkin, jika kau memberinya kesempatan..."

Sania menggeleng dengan putus asa. "Dia sudah memilih. Dia memilih ayahnya. Dia memilih Kayla. Aku tidak bisa mempercayainya lagi."

"Tapi kau masih mencintainya," kata Baskara pelan. "Itu terlihat dari caramu berbicara tentang dia."

Sania tidak menjawab. Air mata mulai mengalir di pipinya. Karena Baskara benar—ia masih mencintai Andi, meskipun semua yang terjadi. Dan itu adalah bagian paling menyakitkan dari semua ini.

Tiba-tiba, ponsel Sania bergetar. Ia melihat layar—sebuah pesan dari Andi.

"Kau mengambil dokumen dari laci Ayah? Berhenti. Jangan lakukan apa pun dengan dokumen itu. Ini jebakan."

Sania menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Jadi Andi tahu. Dan ia memperingatkannya. Mungkin... mungkin masih ada harapan.

Tapi kemudian ia ingat pada Kayla, pada kata-kata dingin Andi di lorong gelap, pada semua kebohongan dan pengkhianatan. Harapan itu segera padam.

"Terlambat," bisik Sania pada layar ponselnya. "Kau sudah terlambat, Andi."


BAB XII

Di Antara Dua Pilihan

Pesawat komersial yang membawa Andi dari Surabaya akhirnya mendarat di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta tepat saat semburat jingga senja tenggelam sepenuhnya, ditelan oleh hamparan lampu megapolitan Jakarta yang mulai menyala satu per satu. Sepanjang perjalanan menembus kemacetan jalan tol menuju pusat kota, Andi hanya menatap kosong ke luar jendela mobil sedan hitamnya. Pikirannya kacau, hatinya gelisah, dan di dalam genggaman tangannya yang dingin, ponsel pribadinya terus-menerus bergetar bergantian, menampilkan dua nama di layar digital yang kini menarik hidupnya ke dua arah yang bertolak belakang. Dua kutub yang sama-sama menuntut pengorbanan mutlak.

Pilihan pertama yang terus berkedip adalah Kayla.

Wanita dari masa lalunya yang penuh luka itu baru saja mengirimkan sebuah pesan suara berdurasi dua menit dengan nada yang sangat panik dan terisak-isak. Kondisi kesehatan ibunya mendadak merosot tajam hingga masuk fase kritis di salah satu rumah sakit di Singapura. Yang lebih mengerikan, Kayla memohon dengan sangat agar Andi bisa datang malam ini atau setidaknya membantunya mencairkan sisa dana darurat luar negeri yang secara sepihak mulai dibekukan oleh jaringan anak buah Baskoro.

"Ndi, aku mohon... ibuku kritis. Dokter bilang dia butuh operasi darurat, tapi dananya tidak cukup. Aku sudah coba semua cara, tapi bank membekukan rekeningku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tolong, Ndi... kau satu-satunya yang bisa kutemui..."

Suara Kayla di pesan suara itu terdengar begitu putus asa, begitu hancur. Andi bisa membayangkan wajahnya—wajah yang sama yang pernah ia lihat menangis di kafe beberapa minggu lalu. Dan di dalam hatinya, rasa bersalah dan tanggung jawab masa lalu mulai merayap naik.

Kayla membutuhkanku, pikir Andi. Aku sudah membiarkannya pergi sekali. Aku tidak bisa membiarkannya menderita lagi.

Tapi pilihan kedua yang membayangi pikirannya dengan rasa bersalah yang mencekik adalah Sania.

Istrinya sendiri, yang tanpa disadari kini sedang melangkah masuk ke dalam perangkap hukum mematikan yang dirancang secara genius oleh Baskoro. Jika Andi membiarkan Sania berjalan terus bersama pengacara Baskara menggunakan dokumen palsu dari laci meja kerja itu, Sania akan hancur lebur dalam hitungan hari. Memilih menyelamatkan Sania berarti Andi harus berani mengambil risiko terbesar dalam hidupnya: berhadapan langsung satu lawan satu dengan ayahnya yang tiran, membongkar beberapa rahasia gelap internal konsorsium, dan siap mengorbankan posisinya sebagai pewaris tunggal dinasti bisnis Baskoro yang selama ini ia perjuangkan dengan darah dan air mata.

Sania juga membutuhkanku, pikir Andi, dadanya terasa sesak. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Dia pikir dia sedang berjuang, padahal dia sedang melangkah ke dalam perangkap yang sudah disiapkan Ayah.

Andi menutup matanya, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Di dalam kepalanya, dua suara berteriak saling bertabrakan.

Kayla tidak punya siapa-siapa. Jika aku tidak membantunya, ibunya bisa mati. Aku sudah kehilangan Kayla sekali. Aku tidak bisa kehilangan dia lagi.

Tapi Sania adalah istrimu. Dia mencintaimu, dan kau membiarkannya. Kau membiarkannya berjuang sendirian. Jika kau tidak membantunya sekarang, dia akan hancur. Dan kali ini, tidak akan ada yang bisa memperbaikinya.

Andi menghela napas panjang, merasakan beban yang luar biasa berat di pundaknya. Ia membuka matanya dan menatap layar ponselnya sekali lagi. Pesan dari Kayla masih terbuka. Pesan dari Sania—yang belum ia balas—juga masih terbuka.

"Kau mengambil dokumen dari laci Ayah? Berhenti. Jangan lakukan apa pun dengan dokumen itu. Ini jebakan."

Sania tidak membalas pesan itu. Dan itu membuat Andi semakin khawatir.


Sesampainya di penthouse...

Atmosfer sunyi yang mencekam langsung menyambut langkah kaki Andi. Pintu utama terbuka tanpa suara, memperlihatkan Sania yang sedang duduk diam di atas sofa ruang tengah yang luas. Wanita itu mengenakan gaun rumah panjang berwarna gelap, menatap kosong ke arah kerlap-kerlip deretan lampu gedung pencakar langit di balik dinding kaca raksasa apartemen mereka. Tidak ada lagi sisa amarah yang meledak-ledak seperti pertengkaran hebat mereka di akhir pekan kemarin; yang tersisa di ruangan itu hanyalah keheningan yang melelahkan, keheningan dari dua jiwa yang sama-sama berada di ambang batas kemampuan mereka.

Andi berjalan mendekat dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat. Ia melempar tas kerjanya secara asal ke atas meja konsol, lalu duduk di sofa tunggal yang berada tepat di hadapan Sania.

"Kau mengambil dokumen dari laci ruang kerja pribadi Ayah di rumah utama sore tadi, Sania," buka Andi, memecah keheningan dengan suara yang terdengar sangat parau dan lelah.

Sania sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari kaca jendela untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menoleh perlahan, menatap Andi dengan seulas senyuman getir yang sangat tipis di bibirnya yang pucat.

"Jadi... Papa sudah langsung menghubungimu dan memberitahumu tentang aksi pencurianku?" tanya Sania, suaranya terdengar datar namun sarat akan sarkasme. "Dan sekarang kau buru-buru pulang dari luar kota hanya untuk memintaku menyerahkan diri ke polisi? Atau kau ingin memaksaku mengembalikan draf itu dan segera menandatangani pengalihan saham PT Karya Mulia Utama?"

Andi menahan napas, mencoba mengendalikan emosinya. "Aku pulang ke sini bukan untuk membelas dendam atau membela Ayah, Sania! Aku ke sini justru untuk menyelamatkan hidupmu!" Ia menegakkan posisi duduknya, memajukan tubuhnya dengan ekspresi wajah yang perlahan melunak. Keangkuhan ego korporat yang biasanya melekat erat pada dirinya kini luruh, digantikan oleh rasa cemas yang sangat nyata di matanya.

"Dengar dengarkan aku baik-baik. Dokumen proyek Jakarta Utara yang kau ambil dari laci meja kerja Ayah sore tadi adalah dokumen palsu. Ayah sengaja menanam berkas itu di sana karena beliau sudah tahu kau dan Baskara sedang bekerja sama. Di dalam file itu ada jejak digital forensik yang mendaftarkan nama akun perusahaan keluargamu sebagai pengunduh ilegal dokumen rahasia negara. Kalau kau atau Baskara nekat menggunakan data itu di pengadilan besok pagi, Ayah akan langsung menjebloskanmu ke penjara atas tuduhan spionase industri berskala besar."

Sania tertegun seketika. Sepasang manik matanya yang indah tampak bergetar hebat selama beberapa detik. Penjelasan Andi barusan sinkron secara sempurna dengan analisis mengerikan yang disampaikan oleh Baskara di kantor hukumnya beberapa jam yang lalu. Kebenaran bahwa dirinya telah masuk ke dalam jebakan maut milik mertuanya kini terpampang nyata. Namun, rasa tidak percaya dan luka pengkhianatan yang telanjur mengakar kuat di hati Sania membuatnya kembali mengeraskan ekspresi wajahnya.

"Lalu... setelah semua kebohongan yang kau susun berhari-hari di belakangku, kau pikir aku harus begitu saja mempercayai ucapanmu malam ini, Mas?" tanya Sania, air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya kabur. "Bagaimana aku bisa tahu kalau ini bukan taktik barumu bersama Papamu? Kau ingin menakut-nakutiku agar aku menyerah, membatalkan kontrak dengan Baskara, dan menandatangani dokumen pengalihan saham itu secara cuma-cuma, bukan? Dengan begitu, tugas bisnismu di sini selesai dengan bersih, dan kau bisa dengan tenang mengemasi koper lalu pergi menyusul Kayla ke Singapura tanpa ada beban moral dari pernikahan kontrak ini lagi. Begitu, kan, rencana aslimu?"

Andi mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat di atas lutut hingga buku-buku jarinya memutih. Tekanan di dalam rongga dadanya terasa begitu sesak dan menyakitkan, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam penthouse itu telah menguap habis. Pria itu sadar ia sedang berada di persimpangan jalan yang paling kejam dalam hidupnya.

Ini saatnya, pikir Andi. Aku harus memilih. Kayla atau Sania.

Di satu sisi, ada tanggung jawab moral masa lalu dan rasa bersalah yang mendalam terhadap kondisi Kayla yang menderita akibat ulah ayahnya. Kayla adalah wanita yang pernah ia cintai, wanita yang diusir dari hidupnya oleh kekejaman ayahnya. Ia berhutang padanya. Ia berhutang perlindungan, bantuan, dan mungkin cinta yang pernah hilang.

Di sisi lain, ada Sania—wanita yang terikat janji suci pernikahan dengannya di atas altar, wanita yang tanpa ia sadari perlahan-lahan mulai mengikis kedinginan hatinya selama beberapa bulan terakhir, namun kini berada di ujung tanduk kehancuran justru karena lingkaran kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Sania adalah istrinya. Sania adalah wanita yang mencintainya meskipun ia tidak pantas menerima cinta itu.

Dan di antara keduanya, Andi harus memilih.

"Aku bersumpah demi sisa kehormatanku, aku tidak sedang memintamu menyerah pada tirani Ayah, Sania," ucap Andi dengan nada suara yang melirih, membuang jauh-jengah seluruh arogansi dan ego Baskoro yang selama ini ia agungkan di depan dunia luar. Ia menatap mata Sania lurus-lurus, mencoba menyalurkan kejujuran yang tersisa di dalam dirinya. "Tapi aku memintamu untuk mempercayai diriku sebagai suamimu, kali ini saja. Aku mohon. Berikan aku waktu dua hari ke depan. Aku harus terbang ke Singapura malam ini juga untuk menyelesaikan urusan darurat medis Kayla dan memastikan sisa dananya aman agar Ayah tidak bisa mengintimidasi dia lagi. Setelah itu selesai, aku bersumpah aku akan kembali ke Jakarta dan mencari celah hukum internal untuk menarikmu dan PT Karya Mulia Utama keluar dari jebakan maut Ayah. Aku mohon padamu, Sania... jangan lakukan pergerakan hukum atau manuver apa pun bersama Baskara sampai aku kembali ke rumah ini."

Sania memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela kaca besar, menolak memberikan jawaban pasti atau komitmen apa pun atas permohonan Andi. Air matanya menetes pelan, membasahi permukaan gaun tidurnya yang gelap.

"Jadi... kau tetap memilih Kayla," kata Sania, suaranya nyaris berbisik. "Di saat aku berada di ambang kehancuran, kau masih memilihnya."

"Sania, bukan begitu—"

"Lalu bagaimana?" potong Sania, menoleh dan menatap Andi dengan mata yang basah. "Katakan padaku, Andi. Jika kau bisa memilih hanya satu di antara kami, siapa yang akan kau pilih? Aku atau Kayla?"

Andi terdiam. Pertanyaan itu terlalu berat. Terlalu jujur. Terlalu menyakitkan.

"Aku tidak bisa menjawab itu," katanya akhirnya.

"Kau tidak bisa, atau kau tidak mau?" tanya Sania. "Karena kau tahu jawabannya, dan kau takut mengatakannya dengan suara keras?"

Andi tidak menjawab. Dan keheningan itu adalah jawaban yang paling menghancurkan bagi Sania.

"Pergilah," kata Sania, suaranya datar. "Pergilah ke Singapura. Bantu Kayla. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Aku akan mengurus diriku sendiri."

"Sania—"

"Pergi!" teriak Sania, akhirnya kehilangan kendali. Air mata mengalir deras di pipinya. "Aku tidak butuh kau di sini! Aku sudah terbiasa berjuang sendirian!"

Andi ingin mendekat, ingin memeluknya, ingin mengatakan bahwa ia akan memilih Sania jika ia bisa. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Karena di dalam hatinya, ia masih bingung. Ia masih tidak tahu apa yang ia rasakan.

"Baiklah," kata Andi akhirnya, suaranya parau. "Aku akan pergi. Tapi tolong, Sania... tunggu aku. Jangan lakukan sesuatu yang nekat. Aku akan kembali, aku berjanji."

Sania tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah jendela, membiarkan air matanya jatuh bebas.

Andi berbalik dan melangkah keluar dari penthouse. Di pintu, ia berhenti sejenak, menatap punggung Sania yang rapuh di bawah cahaya temaram lampu ruangan.

"Aku mencintaimu, Sania," bisiknya, terlalu pelan untuk didengar. "Aku baru sadar sekarang. Tapi mungkin sudah terlambat."

Pintu tertutup. Andi pergi.

Sania tetap duduk di sofa, menatap kehampaan di depannya. Di tangannya, ponsel bergetar—pesan dari Baskara.

"Sania, aku baru mendapat informasi. Baskoro akan mengajukan gugatan balik besok pagi. Kita perlu bertemu. Segera."

Sania menatap pesan itu, lalu menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Andi. Ia telah memilih. Dan sekarang, gilirannya untuk memilih.

Aku tidak akan menunggu, pikirnya, tekad mulai terbentuk di dalam hatinya. Aku sudah terlalu lama menjadi korban. Sekarang, aku akan menjadi pemain.

Ia membalas pesan Baskara: "Aku akan datang ke kantormu malam ini. Kita bicarakan strategi."

Sania berdiri, merapikan pakaiannya. Air mata telah berhenti mengalir. Yang tersisa hanyalah tekad yang dingin dan tajam seperti baja.

Maafkan aku, Andi, pikirnya saat ia melangkah keluar dari penthouse. Tapi aku tidak bisa lagi menunggu. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri.

Di antara dua pilihan pelik yang sedang dihadapi Andi malam itu, Sania menyadari satu hal yang teramat dingin di dalam hatinya. Pernikahan kontrak mereka kini sudah bukan lagi sekadar medan perang ego atau transaksi bisnis antar-keluarga; hubungan ini telah menjelma menjadi sebuah perjudian nyawa, reputasi, dan masa depan yang sangat berbahaya, yang siap meledak hancur berkeping-keping kapan saja tanpa menyisakan jalan untuk pulang.

Dan di dalam perjudian itu, Sania telah memutuskan untuk bertaruh pada dirinya sendiri.


Di bandara, sebelum penerbangan ke Singapura...

Andi duduk di ruang tunggu VIP, menatap layar ponselnya dengan perasaan yang hancur. Pesan terakhir dari Sania masih terbuka—tidak ada balasan, hanya keheningan.

Ia membuka pesan dari Kayla sekali lagi. "Ndi, kapan kau datang? Aku sangat membutuhkanmu."

Andi mengetik balasan: "Aku dalam perjalanan. Tunggu aku."

Tapi jarinya berhenti di atas tombol kirim. Pikirannya melayang pada Sania—pada air matanya, pada tatapan hancurnya, pada kata-kata terakhirnya: "Aku sudah terbiasa berjuang sendirian."

Apakah aku membuat kesalahan? pikir Andi. Apakah aku seharusnya tinggal di sini, bersama Sania?

Ia tidak tahu. Yang ia tahu, hatinya terasa kosong. Seperti ada bagian dari dirinya yang tertinggal di penthouse, bersama Sania.

Di dalam hatinya, Andi sadar bahwa ia telah membuat pilihan. Tapi pilihan itu tidak membuatnya lega. Justru, itu membuatnya semakin tersiksa.

Maafkan aku, Sania, pikirnya saat pesawat mulai lepas landas. Aku akan kembali. Aku berjanji. Dan ketika aku kembali, aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan memilihmu.

Tapi apakah janji itu akan cukup? Apakah Sania masih mau menunggunya?

Andi tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu adalah hukuman terbesar yang pernah ia rasakan.


BAB XIII

Malam yang Mengubah Segalanya

Ketegangan di dalam penthouse mewah milik Andi dan Sania telah mencapai puncaknya, merusak seluruh sisa-sisa kenyamanan dan kehangatan semu yang pernah ada di antara mereka. Malam itu, hujan deras mengguyur ibu kota dengan sangat brutal. Petir sesekali menyambar, menciptakan latar belakang suara yang bising, kontras dengan atmosfer di dalam ruang tengah yang sunyi, pekat, dan mencekam.

Andi telah pergi. Pesawatnya telah lepas landas menuju Singapura, meninggalkan Sania sendirian dengan keputusannya sendiri. Dan di dalam keheningan penthouse yang luas itu, Sania duduk termenung di atas sofa, dikelilingi oleh tumpukan berkas hukum dan foto-foto dokumen yang ia ambil dari laci Baskoro. Di tangannya, sebuah flashdisk perak—salinan dari semua bukti yang ia kumpulkan—terasa berat seperti timah.

Air matanya telah kering. Yang tersisa hanyalah kemarahan yang dingin dan tekad yang bulat. Ia telah memutuskan untuk tidak menunggu Andi. Ia telah memutuskan untuk bertindak sendiri.

Tapi sebelum ia melangkah lebih jauh, ada satu hal yang harus ia lakukan—satu hal yang bisa mengubah segalanya.

Sania meraih ponselnya, membuka kontak Baskara. Jemarinya berhenti di atas tombol panggil, ragu-ragu sejenak. Di dalam hatinya, ada pertarungan sengit antara logika dan perasaan.

Jika aku menelepon Baskara sekarang, tidak ada jalan kembali. Aku akan memulai perang terbuka dengan Baskoro.

Tapi jika aku tidak menelepon, aku akan membiarkan mereka menghancurkan warisan ibuku. Aku akan membiarkan mereka menang.

Sania menarik napas dalam-dalam, mengingat wajah ibunya. Widya—wanita yang mengajarinya untuk tidak pernah menyerah. Wanita yang membangun perusahaannya dari nol dengan tangan sendiri. Wanita yang mati dalam kecelakaan misterius yang belum pernah terpecahkan.

Ibu tidak akan pernah menyerah, pikir Sania. Dan aku juga tidak akan menyerah.

Ia menekan tombol panggil.

"Baskara," katanya, suaranya mantap. "Aku siap. Aku akan melakukan apa pun yang diperlukan."


Sementara itu, di langit antara Jakarta dan Singapura...

Andi duduk di kursi pesawat kelas bisnis, menatap kosong ke luar jendela. Di bawah sana, lautan awan membentang luas, berwarna keperakan di bawah sinar bulan. Pikirannya kacau, hatinya gelisah.

Pesan terakhir dari Sania masih terngiang di telinganya: "Aku sudah terbiasa berjuang sendirian."

Kata-kata itu menghantuinya seperti hantu yang tidak bisa diusir. Ia membayangkan Sania duduk sendirian di penthouse yang luas, dikelilingi oleh keheningan dan keputusasaan. Ia membayangkan air mata yang mengalir di pipinya, air mata yang ia sendiri sebabkan.

Aku seharusnya tidak pergi, pikir Andi, dadanya terasa sesak. Aku seharusnya tetap di sana. Aku seharusnya memilihnya.

Tapi kemudian ia ingat pada Kayla—pada suara paniknya di pesan suara, pada ibunya yang sekarat di rumah sakit. Kayla juga membutuhkannya. Kayla juga pernah menjadi bagian dari hidupnya. Kayla adalah korban dari kekejaman ayahnya, sama seperti Sania.

Tapi Sania adalah istriku, bisik suara lain di kepalanya. Sania adalah wanita yang mencintaiku. Dan aku... aku mencintainya.

Andi tertegun. Kata-kata itu keluar dari pikirannya begitu saja, tanpa ia sadari. Aku mencintainya.

Apakah itu benar? tanyanya pada diri sendiri. Apakah aku benar-benar mencintai Sania?

Ia mengingat kembali semua momen yang telah mereka lalui bersama. Pertengkaran mereka yang sengit, yang selalu diakhiri dengan air mata Sania. Senyum pahit Sania saat mereka harus bermain sandiwara di depan publik. Tatapan Sania saat ia mengatakan, "Aku mencintaimu, Andi."

Dan di dalam hatinya, Andi menyadari bahwa ia memang mencintai Sania. Cinta itu tidak datang dengan ledakan besar atau pengakuan dramatis. Cinta itu tumbuh perlahan, di antara kebohongan dan kepalsuan, di antara air mata dan kemarahan. Cinta itu hadir dalam setiap momen kecil—ketika Sania membawakan teh untuknya di malam hari, ketika ia menahan pintu untuk Sania, ketika ia merasakan kehangatan tubuh Sania di sampingnya saat tidur.

Saya mencintainya, pikir Andi, dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi menyangkalnya. Saya mencintai Sania. Dan saya telah membuat kesalahan terbesar dalam hidup saya dengan pergi.

Andi meraih ponselnya, ingin menelepon Sania, ingin mengatakan semua yang tidak pernah ia katakan. Tapi pesawat sudah di udara, dan sinyal tidak tersedia.

Saya akan meneleponnya begitu saya mendarat, pikirnya. Saya akan mengatakan semuanya. Saya akan memintanya untuk menunggu saya. Saya akan—

Pikirannya terputus oleh pengumuman dari pramugari. "Para penumpang yang terhormat, kami akan segera mendarat di Bandara Internasional Changi. Mohon kembalikan kursi ke posisi tegak dan kencangkan sabuk pengaman Anda."

Andi menghela napas. Singapura sudah di depan mata. Dan di belakangnya, Jakarta—dan Sania—semakin jauh.

Tunggu aku, Sania, pikirnya. Aku akan kembali. Dan ketika aku kembali, aku akan memperbaiki semuanya.


Kembali di Jakarta...

Di kantor Baskara & Associates, suasana malam terasa sangat berbeda. Lampu-lampu ruangan menyala terang, menerangi tumpukan berkas yang berserakan di atas meja. Baskara dan Sania duduk berhadapan, mata mereka sama-sama berbinar tekad.

"Kita tidak bisa menggunakan dokumen yang kau ambil dari laci Baskoro," kata Baskara, menggeser sebuah map tebal ke hadapan Sania. "Tapi aku punya rencana lain."

Sania menatap map itu dengan rasa ingin tahu. "Apa itu?"

"Ini adalah salinan dari laporan audit independen yang aku kumpulkan selama bertahun-tahun," jelas Baskara. "Bukan tentang proyek Jakarta Utara, tapi tentang praktik bisnis Baskoro secara umum. Ada banyak pelanggaran di sini—penggelapan pajak, manipulasi laporan keuangan, dan yang paling penting... bukti keterlibatan Baskoro dalam kecelakaan yang menewaskan ibumu."

Sania terkejut. "Apa?! Ibuku—"

"Aku sudah curiga sejak lama," kata Baskara, wajahnya serius. "Kecelakaan yang menewaskan ibumu tidak pernah terungkap sepenuhnya. Ada banyak kejanggalan. Dan setelah bertahun-tahun mengumpulkan bukti, aku yakin Baskoro terlibat."

Sania menutup matanya, mencoba mencerna informasi itu. Selama ini ia hanya berpikir bahwa kecelakaan ibunya adalah sebuah musibah. Tapi sekarang... sekarang semuanya mulai masuk akal. Baskoro ingin menguasai PT Karya Mulia Utama. Dan ibunya adalah penghalang terbesar.

"Kau yakin?" tanya Sania, suaranya bergetar.

"Tidak seratus persen," akui Baskara. "Tapi cukup yakin untuk memulai penyelidikan. Dan jika kita bisa membuktikannya, Baskoro tidak akan pernah bisa keluar dari penjara."

Sania membuka matanya. Di dalamnya, ada api baru—api kemarahan dan tekad yang lebih besar dari sebelumnya.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.

"Kita perlu bukti tambahan," kata Baskara. "Dokumen-dokumen yang bisa menghubungkan Baskoro langsung dengan kecelakaan itu. Dan aku tahu di mana menyimpannya."

"Di mana?"

"Di brankas pribadi Baskoro di kediaman utama. Tapi untuk membukanya, kita membutuhkan kode akses. Dan hanya ada dua orang yang tahu kode itu: Baskoro sendiri... dan Andi."

Sania terdiam. Andi. Sekali lagi, segalanya kembali pada Andi.

"Tapi Andi ada di Singapura," katanya akhirnya.

"Kita bisa menunggu sampai dia kembali," kata Baskara. "Tapi waktu sangat terbatas. Baskoro akan bergerak cepat begitu dia tahu kita tidak menggunakan dokumen palsu itu."

Sania merenung sejenak. Kemudian, tekad terbentuk di wajahnya. "Aku akan menghubungi Andi. Aku akan memintanya membantu."

"Kau yakin dia akan membantu?"

"Tidak," akui Sania. "Tapi aku harus mencoba."


Di Singapura...

Andi tiba di rumah sakit tempat Kayla dan ibunya dirawat. Ia berjalan cepat menyusuri koridor yang bersih dan terang, mencari ruang perawatan intensif. Di sana, ia menemukan Kayla duduk di kursi di luar ruang ICU, wajahnya pucat dan matanya sembab.

"Kay!" panggil Andi, menghampiri wanita itu.

Kayla mendongak, dan air mata langsung mengalir di pipinya. "Ndi... kau datang. Terima kasih, Ndi. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpamu."

Andi duduk di sampingnya, meraih tangannya. "Bagaimana kondisi ibumu?"

"Kritis," kata Kayla, suaranya bergetar. "Dokter bilang dia butuh operasi segera, tapi dananya tidak cukup. Dan bank membekukan rekeningku. Aku tidak tahu harus berbuat apa."

"Tenang," kata Andi, mencoba menenangkannya. "Aku akan mengurus semuanya. Aku akan mentransfer dana yang dibutuhkan. Ibumu akan selamat."

Kayla menatap Andi dengan mata yang penuh harapan dan rasa terima kasih. "Terima kasih, Ndi. Aku tidak tahu harus membalas budi apa padamu. Kau selalu ada untukku, bahkan setelah semua yang terjadi."

Andi tersenyum tipis, tapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Pikirannya terus melayang pada Sania, pada wajahnya yang hancur saat ia pergi.

Sania, pikirnya. Aku harap kau baik-baik saja.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Andi melihat layar—nama Sania muncul di sana.

Hatinya berdegup kencang. Ia ingin segera mengangkatnya, tapi Kayla masih memegang tangannya, masih menangis di bahunya.

"Ndi, ada apa?" tanya Kayla, melihat ekspresi Andi yang berubah.

"Tidak ada," kata Andi, berusaha tersenyum. "Hanya pesan dari kantor. Aku akan meneleponnya nanti."

Ia mematikan panggilan itu. Dan di dalam hatinya, ia merasakan penyesalan yang begitu dalam.

Maafkan aku, Sania, pikirnya. Aku akan meneleponmu kembali. Aku berjanji.

Tapi waktu terus berjalan, dan panggilan itu tidak pernah terjadi.


Di Jakarta...

Sania menatap ponselnya dengan ekspresi hancur. Panggilannya tidak dijawab. Andi telah memilih untuk tidak mengangkat teleponnya.

Dia memilih Kayla, pikir Sania, air mata mulai menggenang di matanya. Sekali lagi, dia memilih Kayla.

Ia menutup matanya, merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Tapi kali ini, ia tidak menangis. Air mata tidak akan membantu. Yang bisa ia lakukan hanyalah bertindak.

Ia membuka mata, menatap Baskara dengan tekad yang baru. "Andi tidak akan membantu. Kita harus mencari cara lain."

Baskara mengangguk, meskipun wajahnya menunjukkan kekhawatiran. "Baiklah. Aku akan mencari cara untuk membuka brankas itu tanpa kode. Tapi itu akan memakan waktu."

"Kita tidak punya waktu," kata Sania. "Kita harus bergerak sekarang."

"Sania, ini berbahaya—"

"Aku tahu," potong Sania, suaranya mantap. "Tapi aku sudah terlalu jauh untuk mundur. Aku akan melakukan apa pun yang diperlukan."

Baskara menatap Sania dengan kagum dan prihatin. "Kau benar-benar mirip ibumu, Sania. Dan itu adalah hal yang paling mengagumkan sekaligus paling menakutkan tentang dirimu."

Sania tersenyum pahit. "Aku harap itu cukup."

Di luar, hujan masih turun dengan deras. Dan di dalam ruangan yang remang-remang itu, sebuah rencana baru mulai terbentuk—rencana yang akan mengubah segalanya, untuk selamanya.

Malam itu, di tengah badai yang mengamuk, Sania mengambil keputusan yang akan menentukan nasibnya. Keputusan untuk tidak lagi menjadi korban. Keputusan untuk menjadi pejuang.

Dan di kejauhan, di Singapura, Andi masih belum tahu bahwa dunia yang ia tinggalkan telah mulai berubah—dan bahwa ketika ia kembali, semuanya tidak akan pernah sama lagi.


BAB XIV

Surat dari Masa Lalu

Keesokan harinya, atmosfer di dalam penthouse mewah itu masih terasa membeku, menyisakan sisa-sisa badai emosi yang meledak semalam. Andi masih di Singapura, belum kembali dan belum juga menghubungi Sania sejak panggilan teleponnya yang tidak dijawab. Sementara itu, Sania memilih untuk mengurung diri di ruang tengah. Laptopnya tergeletak mati di atas meja, seolah ia kehilangan seluruh energi untuk melanjutkan pemberontakannya. Di kepalanya, pertanyaan-pertanyaan terus berputar tanpa henti.

Kenapa Andi tidak mengangkat teleponku? Apakah dia benar-benar sudah memilih Kayla? Apakah aku hanya bodoh karena masih berharap?

Sania menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Di tangannya, ia memegang secangkir teh yang sudah dingin, tidak pernah ia sentuh sejak diseduh satu jam lalu. Matanya menatap kosong ke arah jendela kaca besar, memandangi langit Jakarta yang kelabu dan suram.

Di tengah keputusasaan yang merayap pekat, sebuah kejutan yang tak terduga datang mengetuk jalannya takdir.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu depan terdengar ringkas namun tegas. Sania bangkit perlahan, berjalan menuju pintu dengan langkah yang berat. Ia membuka pintu dengan waspada, namun koridor di luar tampak sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana, kecuali sebuah amplop linen tebal berwarna cokelat tanpa nama pengirim yang tergeletak di atas keset.

Sania menunduk, menatap amplop itu dengan perasaan aneh. Ada sesuatu yang familiar tentangnya—arus parfum mawar yang samar, jenis kertas yang mewah, dan tulisan tangan yang rapi di bagian depan amplop: Untuk Sania.

Dengan tangan yang gemetar samar karena firasat yang mendadak menyengat batinnya, Sania membawa amplop itu masuk. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan kembali ke ruang tengah. Di sana, di bawah cahaya lampu yang temaram, ia merobek segel amplop dengan terburu-buru.

Di dalamnya, terdapat selembar surat yang mengeluarkan bau parfum mawar yang samar—aroma yang familier namun juga memicu trauma. Sania mengenali aroma itu. Itu adalah parfum yang sama yang ia cium di kafe saat melihat Andi bersama wanita asing itu. Itu adalah parfum Kayla.

Di dalam amplop itu juga terdapat beberapa lembar salinan dokumen rekam medis lama dan tiket penerbangan satu arah menuju Singapura tertanggal lima tahun lalu. Sania membuka surat itu dengan tangan yang semakin gemetar, dan matanya mulai membaca.


Untuk Sania,

Aku tahu bahwa surat ini mungkin menjadi hal terakhir yang ingin kau lihat di dunia ini. Aku juga tahu kehadiran fisikku di Jakarta beberapa waktu lalu telah menorehkan luka yang teramat dalam, kecurigaan yang membakar, dan kehancuran di dalam rumah tanggamu bersama Andi. Aku tahu kau melihat Andi menemuiku secara sembunyi-sembunyi di kafe dan mendengar potongan percakapan kami di lorong rumah Baskoro.

Tapi demi Tuhan, Sania... demi bayang-bayang keadilan yang tersisa, tolong turunkan egomu sejenak dan dengarkan kebenaran yang sesungguhnya terjadi sebelum kau melangkah terlalu jauh dan mengambil keputusan yang akan kau sesali seumur hidupmu.

Lima tahun lalu, aku tidak pernah pergi meninggalkan Andi karena aku berhenti mencintainya atau karena aku memilih uang. Aku dipaksa pergi dengan cara yang paling kejam. Tuan Besar Baskoro—ayah mertuamu—mengetahui hubungan kami. Beliau mendatangi kontrakanku, mengancam akan menghancurkan seluruh karier Andi yang baru dirintis, memenjarakan ayahku atas kasus korupsi fiktif, dan yang paling mematikan... beliau mengancam akan menghentikan seluruh pasokan dana pengobatan kanker stadium lanjut ibuku di rumah sakit jika aku tidak segera menghilang dari kehidupan putranya dalam waktu dua puluh empat jam.

Ayah Andi adalah seorang monster tiran yang mengendalikan semua orang di sekitarnya seperti boneka kain tanpa jiwa. Dan aku... aku hanyalah bidak kecil yang mudah dipatahkan.

Sania berhenti membaca. Napasnya tercekat, dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Selama ini ia mengira Kayla adalah wanita yang merusak pernikahannya, wanita yang merebut hati Andi darinya. Tapi kenyataannya... Kayla juga adalah korban. Korban dari kekejaman Baskoro yang sama.

Dengan tangan yang masih gemetar, Sania melanjutkan membaca.


Kemarin, saat aku terpaksa kembali ke Jakarta karena kondisi ibuku kembali kritis dan aku membutuhkan bantuan darurat, Andi menemuiku murni untuk membantuku lepas dari jerat ancaman ayahnya yang ternyata masih terus menghantuiku hingga ke Singapura. Andi tidak pernah mengkhianati pernikahan kalian, Sania. Dia tidak pernah memberikan hatinya lagi padaku.

Di kafe Menteng hari itu, saat aku menangis dan mencoba menggenggam tangannya untuk memohon agar kami kembali seperti dulu, Andi dengan perlahan namun sangat tegas melepaskan jemariku. Dia mengucapkan kata-kata yang menghancurkan seluruh harapanku, namun sekaligus menyadarkanku betapa beruntungnya dirimu:

"Aku harus pulang, Kay. Aku tidak bisa. Aku memiliki Sania yang harus kujaga sekarang, dan aku tidak akan pernah membiarkan Ayah menyakiti dan menghancurkannya seperti Ayah menyakitimu dulu. Dia adalah istriku."

Andi sedang mencoba melindungimu dari cengkeraman ayahnya sendiri dengan caranya yang kaku, dingin, dan tertutup. Dia menanggung semua tekanan itu sendirian di balik punggungmu agar kau tidak panik. Tolong, jangan salah paham padanya. Suamimu bukan musuhmu, Sania. Tuan Baskoro adalah monster yang sesungguhnya, dan dia sedang mengincar kalian berdua.

Lima tahun lalu, aku kehilangan Andi karena ketakutan. Aku tidak mau hal yang sama terjadi padamu. Karena Andi mencintaimu, Sania. Dan meskipun itu menyakitkan bagiku untuk mengakuinya, aku tahu bahwa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya padaku dulu.

Jangan biarkan ketakutan dan kesalahpahaman menghancurkan apa yang kalian miliki. Berjuanglah untuknya. Karena dia layak untuk diperjuangkan.

Dengan segala hormat,
Kayla


Air mata Sania menetes tanpa bisa dibendung lagi, membasahi permukaan kertas linen cokelat tersebut hingga membuat tulisan tinta di atasnya sedikit mengabur. Dadanya bergemuruh hebat oleh perpaduan rasa bersalah yang teramat pekat, rasa haru yang menyesakkan, serta kengerian yang luar biasa gila.

Andi mencintaiku, pikir Sania, mengulang-ulang kata-kata itu di kepalanya. Selama ini, dia mencintaiku. Dan aku... aku tidak pernah melihatnya. Aku terlalu sibuk merasa menjadi korban, terlalu sibuk menyalahkannya, sehingga aku tidak pernah melihat bahwa dia sedang berjuang untukku.

Seluruh persendian Sania terasa luruh. Ia jatuh terduduk di atas karpet, meremas surat dari Kayla itu tepat di atas dadanya yang terasa luar biasa sesak. Tangisnya pecah, isak tangis yang lama tertahan akhirnya meledak dengan kekuatan yang luar biasa.

Ia ingat semua pertengkaran mereka, semua kata-kata tajam yang ia lontarkan pada Andi. Ia ingat bagaimana ia menuduhnya tidak peduli, bagaimana ia menganggapnya sebagai bagian dari konspirasi Baskoro. Padahal, Andi hanya mencoba melindunginya. Andi menanggung semua tekanan itu sendirian—tekanan dari ayahnya yang tiran, tanggung jawab pada Kayla, dan cintanya pada Sania yang tidak pernah ia ungkapkan.

Aku bodoh, pikir Sania di antara isak tangisnya. Aku sangat bodoh. Aku membiarkan ketakutan dan kecurigaan menghancurkan segalanya.

Tuduhannya selama ini pada Andi ternyata salah besar. Andi—pria yang selama beberapa bulan ini ia cap sebagai robot korporat yang kejam, dingin, dan bertindak sebagai kaki tangan kejahatan Baskoro—justru sedang berdiri gagah di garis depan pertempuran. Pria itu menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai hidup untuk melindungi Sania dari kekejaman sang ayah, menelan seluruh makian dan kebencian Sania dalam sunyi demi menjaga keselamatan istrinya.

Sania teringat pada malam-malam ketika Andi pulang larut, dengan wajah lelah dan mata yang sembab. Ia mengira itu karena urusan kantor. Padahal, mungkin Andi sedang berhadapan dengan ayahnya, mencoba menahan amarah dan ancaman Baskoro agar tidak meledak pada Sania.

Ia teringat pada saat Andi mengatakan, "Kau tidak mengerti tekanan yang kualami." Dan ia, dengan sombongnya, membalas, "Lalu katakan padaku." Tapi Andi tidak bisa mengatakan—karena jika ia mengatakan, Sania akan semakin khawatir, semakin takut, dan mungkin akan melakukan hal-hal nekat yang membahayakan dirinya sendiri.

Dia melindungiku, pikir Sania, air mata terus mengalir. Dari awal, dia melindungiku. Dan aku... aku membalasnya dengan kebencian dan kecurigaan.

Di tengah isak tangisnya yang pecah, ponsel Sania yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring. Layarnya berkedip menampilkan nama: Pak Baskara.

Sania menghapus air matanya dengan cepat, mencoba menstabilkan suaranya sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Pak Baskara?"

"Sania! Dengar saya baik-baik," suara Baskara dari seberang telepon terdengar sangat panik dan terburu-buru, memotong sisa ketenangan Sania. "Gugatan penundaan saham yang kita ajukan tadi pagi menggunakan dokumen dari laci Baskoro baru saja ditolak oleh pengadilan. Tidak hanya itu... tim hukum internal Konsorsium Baskoro bersama aparat kepolisian baru saja mendatangi kantor saya. Mereka membawa surat perintah penangkapan atas nama saya dan Anda atas tuduhan pencurian dokumen negara!"

"Apa?!" pekik Sania, jantungnya laksana berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya terasa berputar. Ia mencengkeram tepi meja agar tidak jatuh.

"Baskoro sudah bergerak, Sania! Dokumen itu benar-benar umpan beracun," lanjut Baskara dengan napas memburu. "Mereka memiliki rekaman CCTV digital saat Anda mengambil berkas itu. Saya sedang mencoba menahan mereka di lobi kantor, tetapi Anda harus segera menghubungi Andi. Hanya suamimu yang memiliki akses internal untuk menghentikan kegilaan ayahnya sekarang sebelum polisi tiba di penthouse-mu!"

Bip.

Sambungan telepon terputus sepihak. Sania berdiri mematung di tengah ruangan dengan tubuh yang bergetar hebat. Rasa panik yang luar biasa kini mencengkeram kepalanya. Surat Kayla di tangannya dan peringatan Baskara berputar-putar menjadi satu kenyataan yang mengerikan: lingkaran setan yang dirancang oleh Tuan Besar Baskoro telah resmi menutup, siap menerkam dan menghancurkannya.

Dan di saat seperti ini, satu-satunya orang yang bisa ia mintai pertolongan adalah pria yang baru saja ia usir dengan penuh makian beberapa hari lalu. Pria yang ia tuduh sebagai pengkhianat. Pria yang ternyata, selama ini, diam-diam melindunginya.

Andi, pikir Sania, jantungnya berdegup kencang. Aku harus menghubungi Andi.

Ia meraih ponselnya, jarinya gemetar saat menekan nomor Andi. Panggilan itu berdering sekali, dua kali, tiga kali...

Tolong angkat, Andi, pikirnya, air mata mulai mengalir lagi. Tolong, aku mohon. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian.


Di Singapura...

Andi baru saja selesai mengurus administrasi rumah sakit untuk ibunya Kayla. Ia berjalan keluar dari ruang administrasi dengan perasaan lelah, baik secara fisik maupun emosional. Di sampingnya, Kayla berjalan dengan langkah yang lebih ringan, wajahnya mulai menunjukkan sedikit senyum setelah berhari-hari diliputi kekhawatiran.

"Terima kasih, Ndi," kata Kayla, suaranya penuh rasa terima kasih. "Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua ini. Kau benar-benar menyelamatkan hidup ibuku."

"Tidak perlu berterima kasih," kata Andi, tersenyum tipis. "Aku melakukan ini karena aku peduli padamu. Dan karena aku merasa bertanggung jawab atas semua yang terjadi."

Kayla menggeleng. "Kau tidak bertanggung jawab atas apa pun, Ndi. Ayahmulah yang—"

"Ayahku memang monster," potong Andi, suaranya tiba-tiba menjadi keras. "Tapi aku juga bagian dari keluarganya. Aku juga turut bertanggung jawab atas semua yang terjadi padamu."

Kayla terdiam. Ia menatap Andi dengan mata yang penuh pengertian. "Kau tidak seperti ayahmu, Ndi. Kau baik. Kau selalu baik. Itulah mengapa aku mencintaimu dulu."

Andi menatap Kayla, dan untuk sesaat, ia teringat pada masa lalu—pada cinta yang pernah mereka bagikan, pada mimpi-mimpi yang pernah mereka bangun bersama. Tapi kemudian ia teringat pada Sania, pada wajahnya yang hancur saat ia pergi, pada kata-kata terakhirnya: "Aku sudah terbiasa berjuang sendirian."

"Kay, aku—" Andi mulai berbicara, tapi ponselnya bergetar.

Ia melihat layar. Nama Sania muncul di sana.

Hatinya berdegup kencang. Kali ini, ia tidak akan mematikan panggilan itu.

"Maaf, Kay. Aku harus mengangkat ini," kata Andi, menggeser tombol hijau. "Sania?"

"Ndi... Andi..." Suara Sania di seberang telepon terdengar panik, terisak-isak. "Aku... aku butuh bantuanmu. Papamu... dia mengirim polisi ke kantor Baskara. Mereka akan menangkapku. Aku tidak tahu harus berbuat apa."

Andi merasakan dadanya sesak. "Tenang, Sania. Tarik napas. Katakan padaku apa yang terjadi."

"Aku mengambil dokumen dari laci Papamu, seperti yang kau tahu. Tapi itu jebakan. Dokumen itu palsu. Dan sekarang mereka menuduhku mencuri dokumen negara. Pak Baskara mengatakan mereka memiliki rekaman CCTV. Andi, aku takut. Aku tidak tahu harus berbuat apa."

Andi menutup matanya, merasakan kemarahan dan kekhawatiran yang luar biasa. Ayahnya benar-benar kejam. Dia tidak hanya menjebak Sania; dia menghancurkannya secara sistematis.

"Tetaplah di penthouse," kata Andi, suaranya tegas. "Jangan ke mana-mana. Jangan bicara dengan siapa pun. Aku akan segera kembali ke Jakarta."

"Tapi, Andi—"

"Percayalah padaku, Sania," potong Andi, dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar lembut. "Aku akan memperbaiki semua ini. Aku berjanji."

Setelah menutup telepon, Andi menatap Kayla dengan ekspresi yang menentukan. "Kay, aku harus kembali ke Jakarta. Sekarang."

Kayla terkejut. "Tapi, Ndi, ibuku—"

"Aku sudah mengurus semua administrasi dan dana yang dibutuhkan," kata Andi cepat. "Ibumu akan baik-baik saja. Tapi Sania... Sania dalam bahaya. Dan aku tidak bisa membiarkannya sendirian."

Kayla menatap Andi dengan ekspresi yang campur aduk—kecewa, sedih, tapi juga pengertian. "Kau mencintainya, bukan?"

Andi terdiam sejenak. Kemudian, ia mengangguk. "Ya. Aku mencintainya. Dan aku telah membiarkannya terlalu lama."

Kayla tersenyum pahit, tapi matanya menunjukkan ketulusan. "Pergilah, Ndi. Selamatkan dia. Dan... jangan ulangi kesalahan yang sama. Jangan biarkan dia pergi."

Andi menatap Kayla dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih, Kay. Untuk semua yang kau lakukan. Untuk mengerti."

Kayla mengangguk. "Kau pantas bahagia, Ndi. Pergilah."

Andi berbalik dan berlari meninggalkan rumah sakit. Di dalam hatinya, ada tekad yang membara: ia akan kembali ke Jakarta. Ia akan menghadapi ayahnya. Dan ia akan menyelamatkan Sania, apa pun risikonya.

Kali ini, ia tidak akan lagi memilih untuk pergi.


Di Jakarta...

Sania menutup telepon, dadanya masih berdegup kencang. Ia mendengar suara sirine polisi di kejauhan, semakin mendekat. Waktu semakin sempit.

Ia memandang surat Kayla yang masih ia pegang, lalu menatap ke arah pintu depan. Di dalam hatinya, doa-doa mulai terucap.

Andi, cepatlah kembali, pikirnya. Aku butuhmu. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi.

Dan untuk pertama kalinya, Sania menyadari bahwa ia tidak ingin kehilangan Andi. Bukan sebagai rekan kontrak. Bukan sebagai sekutu bisnis. Tapi sebagai suaminya. Sebagai pria yang ia cintai.

Aku mencintaimu, Andi, pikirnya. Dan kali ini, aku tidak akan menyembunyikannya lagi.

Di luar, sirine semakin mendekat. Namun di dalam hatinya, Sania merasa lebih tenang daripada sebelumnya. Karena untuk pertama kalinya, ia tahu bahwa Andi akan kembali. Dan kali ini, mereka akan berjuang bersama.


BAB XV

Panggung Sandiwara Akhir

Malam perayaan ulang tahun pernikahan Andi dan Sania yang ketiga bulan digelar dengan kemegahan yang melampaui batas kewajaran di grand ballroom hotel berbintang tujuh milik keluarga Baskoro. Langit-langit ruangan yang setinggi sepuluh meter itu dipenuhi dengan ribuan bunga lily putih yang didatangkan khusus dari Belanda, sementara ratusan lampu gantung kristal Baccarat memancarkan cahaya keemasan yang memantul di lantai marmer hitam yang dipoles hingga mengilap bagaikan cermin. Acara ini bukan sekadar perayaan domestik; ini adalah sebuah pameran kekuatan korporasi yang dirancang langsung oleh Tuan Besar Baskoro sebagai ajang intimidasi bagi para pesaing bisnis, kolega, dan para pemegang saham, menegaskan kepada dunia bahwa aliansi dua keluarga konglomerat ini sangat solid dan tak tergoyahkan.

Namun, di balik kemegahan itu, situasi yang sebenarnya telah mencapai titik nadir. Dua hari telah berlalu sejak Sania menerima surat dari Kayla dan ancaman penangkapan dari Baskoro. Dua hari sejak Andi memutuskan untuk kembali dari Singapura dan menghadapi ayahnya. Dua hari sejak semuanya berubah.

Sania tampil sangat anggun dengan gaun malam berbahan beludru hitam off-shoulder yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan aura dingin namun mematikan. Di sampingnya, Andi tampak gagah dalam balutan tuksedo bespoke berwarna midnight blue dengan dasi kupu-kupu yang tertata rapi. Di hadapan ratusan kilatan lampu kamera media yang terus berkejaran, mereka dipaksa kembali memainkan peran sebagai pasangan paling bahagia di dunia—sebuah panggung sandiwara yang sudah mendarah daging selama tiga bulan terakhir.

Tapi malam ini berbeda. Malam ini, topeng-topeng itu akan runtuh.


Beberapa jam sebelumnya...

Andi tiba di Jakarta dari Singapura dengan pesawat pertama. Ia langsung menuju penthouse, di mana Sania menunggunya dengan wajah pucat dan mata yang masih sembab akibat tangis.

Tanpa banyak bicara, Andi langsung memeluknya—pelukan yang erat, hangat, dan penuh penyesalan. "Maafkan aku, Sania," bisiknya di telinga Sania. "Aku seharusnya tidak pergi. Aku seharusnya memilihmu dari awal."

Sania menangis di pelukannya, menumpahkan semua ketakutan dan kekhawatiran yang ia pendam selama berhari-hari. "Aku takut, Andi. Aku takut mereka akan menangkapku. Aku takut kehilangan segalanya."

"Kau tidak akan kehilangan apa pun," kata Andi, melepaskan pelukannya dan menatap mata Sania dengan serius. "Karena aku di sini sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."

Tapi kemudian, Andi menjelaskan rencananya. Rencana yang berani, nekat, dan bisa menghancurkan segalanya—atau menyelamatkan mereka.

"Malam ini, di pesta ulang tahun pernikahan kita, Ayah akan mengumumkan pengalihan saham secara resmi," kata Andi. "Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku sudah mengumpulkan bukti-bukti tentang semua kejahatannya—dokumen-dokumen yang tidak bisa dia manipulasi. Aku akan membongkar semuanya di depan publik."

Sania terkejut. "Tapi, Andi... itu ayahmu. Jika kau melakukan itu, kau akan kehilangan segalanya. Posisimu, warisanmu, nama keluargamu..."

"Aku tidak peduli," potong Andi, suaranya mantap. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak karena takut pada ayahku. Aku kehilangan Kayla. Aku hampir kehilanganmu. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Kau lebih berharga dari semua harta dan jabatan di dunia, Sania."

Sania menatap Andi dengan mata berkaca-kaca. Di dalam hatinya, ada perpaduan antara ketakutan dan kebahagiaan. Ia takut akan konsekuensi dari rencana Andi, tapi ia juga bahagia karena akhirnya, Andi memilihnya.

"Aku akan mendukungmu," kata Sania akhirnya, menggenggam tangan Andi. "Apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama."


Kembali ke malam pesta...

Sania dan Andi berjalan bergandengan tangan menyusuri karpet merah menuju panggung utama. Kamera-kamera media terus menyorot mereka, menangkap setiap senyum dan setiap gerakan. Bagi dunia luar, mereka adalah pasangan sempurna. Bagi mereka sendiri, ini adalah panggung sandiwara terakhir.

"Tersenyumlah, Sania," bisik Andi di telinganya, suaranya tenang namun penuh penekanan. "Jangan biarkan satu pun jurnalis atau investor melihat keraguan atau kengerian di wajahmu."

Andi merangkul pinggang Sania dengan protektif. Bisikannya terdengar tenang, formal, dan terkendali, namun Sania bisa merasakan jemari suaminya yang mencengkeram pinggangnya dengan tekanan yang luar biasa erat. Itu bukan sekadar genggaman posesif, melainkan genggaman seorang pria yang ketakutan—takut melepaskan istrinya ke dalam bahaya yang telah ia susun sendiri.

Sania mendongak, menatap mata Andi. Ada rasa bersalah yang teramat sangat, cinta yang mendadak mekar di tengah puing-puing kehancuran, dan tekad baja yang kini ia sembunyikan di balik senyum anggun yang ia pamerkan kepada para tamu undangan.

"Aku tahu persis apa yang harus kulakukan, Mas," jawab Sania lirih, hampir seperti bisikan angin. "Apapun yang terjadi setelah ini, jangan mencoba menghentikanku. Ini adalah jalan satu-satunya untuk membebaskan kita dari monster itu."

Andi menatap Sania, mencoba membaca sorot mata istrinya, namun Sania dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan tamu.

Di sudut ruangan yang agak redup, Tuan Besar Baskoro berdiri tegak dengan segelas sampanye vintage di tangan. Ia menatap menantu dan putranya dari kejauhan dengan senyum penuh kemenangan—senyum seorang tiran yang merasa telah berhasil mengendalikan setiap bidak catur di atas papannya. Ia yakin malam ini akan menjadi malam penyerahan diri Sania secara total. Ia yakin istrinya yang patuh akan membubuhkan tanda tangan di atas surat pengalihan aset terakhir yang akan menghancurkan sisa-sisa harga diri keluarga mendiang istrinya.

Ia tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah menduga, bahwa di balik senyuman patuh dan sikap anggun Sania malam ini, wanita itu telah memegang sumbu api yang siap diledakkan.

Saat mereka tiba di tengah panggung, seorang pembawa acara ternama menyapa dengan suara yang menggelegar melalui pengeras suara, "Hadirin sekalian, malam ini adalah malam yang bersejarah. Bapak Baskoro akan memberikan sepatah kata untuk merayakan pernikahan putra beliau, sekaligus meresmikan ekspansi besar korporasi kita."

Tuan Baskoro melangkah naik ke panggung dengan langkah mantap. Ia mengambil mikrofon dengan angkuh. "Selamat malam, para kolega terhormat. Malam ini bukan hanya soal cinta antara putra saya dan menantu saya. Malam ini adalah soal kesinambungan masa depan. Saya mengundang Sania untuk maju ke depan, ada satu kejutan kecil yang akan mempererat ikatan bisnis kita melalui dokumen yang sangat spesial."

Sania melangkah maju, namun bukan menuju ke arah meja notaris yang disiapkan mertuanya. Ia justru berjalan menuju mikrofon utama yang berada di tengah panggung. Tangannya merogoh ke dalam clutch kecilnya, mengeluarkan sebuah flashdisk yang telah ia siapkan dengan bantuan Baskara—flashdisk yang berisi salinan dari semua bukti kejahatan Baskoro yang berhasil dikumpulkan Andi.

"Bapak Baskoro," suara Sania bergema melalui mikrofon, tenang namun berwibawa, membuat seluruh ruangan yang tadinya bising mendadak sunyi senyap. "Anda benar, ini adalah malam yang bersejarah. Dan untuk merayakannya, saya telah menyiapkan kejutan yang jauh lebih spesial daripada dokumen pengalihan saham yang Anda maksud."

Andi mematung di samping Sania, napasnya tertahan. Ia melihat Sania menatap petugas operator audio-visual dengan isyarat mata yang tajam.

"Mohon putar isi dari flashdisk ini di layar utama ballroom," perintah Sania tegas.

Wajah Tuan Baskoro seketika memucat, senyum kemenangan di wajahnya lenyap, digantikan oleh gurat kepanikan yang berusaha ia sembunyikan di balik topeng wibawanya.

"Jangan!" teriak Baskoro, mencoba meraih mikrofon dari tangan Sania. "Hentikan pemutaran itu! Ini perintahku!"

Tapi sudah terlambat. Layar raksasa di belakang panggung menyala. Bukan video ucapan selamat yang muncul, melainkan deretan dokumen transaksi rahasia, rekaman percakapan Baskoro dengan oknum pejabat perizinan, dan bukti otentik mengenai manipulasi yang menghancurkan PT Karya Mulia Utama lima tahun lalu. Ada juga bukti keterlibatan Baskoro dalam kecelakaan yang menewaskan ibu Sania—dokumen-dokumen yang selama ini disembunyikan di brankas pribadinya.

Kasak-kusuk langsung menjalar hebat, laksana api yang disiram bensin. Wajah-wajah ramah dan penuh sanjungan dari para kolega bisnis seketika berubah tegang, pucat, dan penuh selidik. Mereka mulai saling berbisik, menunjuk ke arah layar ponsel masing-masing dengan ekspresi ketakutan akan terseret ke dalam kehancuran Baskoro.

Beberapa wartawan yang berada di barisan belakang—yang tadinya diinstruksikan untuk hanya mengambil foto pesta—mendadak mengabaikan protokol keamanan hotel. Mereka merangsek maju, menembus barikade pengamanan, dan mengarahkan mikrofon serta lampu kamera yang menyilaukan tepat ke arah wajah Tuan Besar Baskoro yang masih berdiri di atas podium.

"Tuan Baskoro! Bagaimana tanggapan Anda mengenai dokumen audit fiktif yang baru saja bocor ke publik? Apakah benar ada manipulasi pajak bernilai ratusan miliar di proyek Jakarta Utara?!" teriak seorang wartawan, suaranya melengking tinggi, memecah kemegahan malam itu.

"Tuan Baskoro! Apakah konsorsium Anda akan segera runtuh setelah bukti aliran dana fiktif ini terverifikasi?!" sahut wartawan lain.

"Apakah benar Anda terlibat dalam kecelakaan yang menewaskan Widya, pemilik PT Karya Mulia Utama?" teriak wartawan ketiga, dan pertanyaan itu membuat ruangan mendadak hening.

Tuan Besar Baskoro tertegun di depan mikrofon. Senyumnya membeku. Wajahnya yang semula penuh wibawa dan angkuh seketika memucat, berganti menjadi guratan amarah yang luar biasa saat ia menyadari bahwa reputasi raksasa yang ia bangun selama puluhan tahun kini hancur berantakan dalam hitungan detik di hadapan publik. Ia menoleh ke arah layar raksasa di belakangnya—yang seharusnya menampilkan profil perusahaan—namun kini, entah bagaimana, layar itu mulai menampilkan tangkapan layar bukti transfer ilegal dan memo internal yang ditandatangani olehnya sendiri.

"Hentikan! Matikan layar itu sekarang juga!" teriak Baskoro dengan suara yang gemetar, namun suaranya tenggelam di tengah hiruk-pikuk kerumunan yang semakin menggila.

Andi melangkah maju, berdiri di samping Sania. Ia menatap ayahnya dengan mata yang dingin dan penuh tekad. "Sudah cukup, Ayah. Semua sudah berakhir."

Baskoro menatap putranya dengan tatapan yang penuh kebencian. "Kau... kau mengkhianatiku? Anakku sendiri mengkhianatiku?"

"Aku tidak mengkhianati Ayah," kata Andi, suaranya tenang namun tegas. "Aku hanya memilih untuk berada di sisi yang benar. Dan Ayah... Ayah sudah terlalu lama berada di sisi yang salah."

Di tengah kegaduhan yang memekakkan telinga itu, Sania perlahan melepaskan gandengan tangannya dari lengan Andi. Ia melangkah mundur satu pijakan, menatap kekacauan di depannya dengan dada yang bergemuruh hebat antara rasa puas yang mematikan dan ketakutan yang masif atas apa yang akan terjadi esok hari.

Andi menatap Sania dengan mata yang penuh cinta dan kekaguman. "Kau luar biasa," bisiknya.

Sania tersenyum—senyum tulus yang pertama dalam waktu yang sangat lama. "Kita luar biasa," balasnya.

Di depan mereka, Tuan Besar Baskoro tampak kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terduduk di atas podium, dikepung oleh puluhan wartawan yang haus akan darah korporasi. Di kejauhan, sirine polisi mulai terdengar mendekat. Malam ini, bukan lagi perayaan ulang tahun pernikahan. Malam ini adalah pemakaman bagi sebuah nama besar.

Dan Sania Baskoro, bersama Andi, telah menjadi algojonya.


Di tengah kekacauan...

Sania dan Andi berjalan keluar dari ballroom, meninggalkan semua kemewahan dan kepalsuan di belakang mereka. Di luar, udara malam terasa segar, dan untuk pertama kalinya, mereka bisa bernapas lega.

"Apa yang akan terjadi sekarang?" tanya Sania, menatap Andi dengan mata yang masih berbinar karena adrenalin.

Andi meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Kita akan menghadapinya bersama. Apa pun yang terjadi, kita akan melalui semuanya bersama."

Sania tersenyum, menempelkan kepalanya di bahu Andi. "Aku mencintaimu, Andi. Maafkan aku karena butuh waktu lama untuk menyadarinya."

Andi mencium keningnya dengan lembut. "Aku juga mencintaimu, Sania. Dan aku berjanji, mulai sekarang, tidak akan ada lagi kebohongan di antara kita. Hanya kejujuran dan cinta."

Di kejauhan, lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip. Dan di antara dua insan yang baru saja menghancurkan sebuah dinasti, cinta yang selama ini tersembunyi akhirnya bersinar terang.

Panggung sandiwara telah runtuh. Dan dari reruntuhannya, sebuah kisah cinta yang nyata mulai terlahir.


BAB XVI

Bom Waktu yang Meledak

Suasana di dalam grand ballroom itu terasa begitu megah, namun bagi Sania, udara di sekitarnya terasa semakin mencekik, seolah oksigen di ruangan itu telah habis terserap oleh ketegangan yang ia ciptakan sendiri. Alunan musik klasik dari orkestra yang bermain di sudut ruangan justru terdengar seperti iringan penguburan bagi sebuah imperium. Di atas panggung, ia dan Andi berdiri berdampingan—dua pion yang terjebak di tengah papan catur yang sedang dihancurkan.

Tepat pukul sembilan malam, Tuan Besar Baskoro melangkah dengan keangkuhan mutlak menuju podium utama. Langkah kakinya berat dan berwibawa, menghantam lantai marmer dengan irama yang menuntut kepatuhan. Senyum kemenangan menghiasi wajah sang tiran saat ia membetulkan letak mikrofon, siap memberikan pidato tentang kejayaan konsorsiumnya yang tak akan pernah bisa disentuh oleh hukum mana pun.

Di saat itulah, bom waktu yang sesungguhnya meledak.

Sania telah mengirimkan seluruh dokumen korupsi pengalihan lahan, rekayasa laporan keuangan, dan manipulasi pajak milik mertuanya secara anonim ke meja redaksi jaringan media nasional terkemuka, tepat satu jam sebelum pesta dimulai. Ia telah memberikan kunci pembuka gerbang neraka bagi keluarga Baskoro.

Drrtt... Drrtt... Drrtt...

Keheningan khidmat di dalam ruangan itu mendadak pecah oleh getaran dan bunyi notifikasi ponsel yang bersahut-sahutan. Awalnya hanya satu, lalu sepuluh, kemudian ratusan. Bunyi itu beresonansi di meja para jurnalis dan tamu undangan yang sejak tadi sibuk memeriksa ponsel mereka. Mata para tamu membelalak, mulut mereka menganga saat membaca sebuah berita utama yang mendadak mencuat di seluruh portal berita digital: "Skandal Besar Konsorsium Baskoro: Dokumen Korupsi dan Aliran Dana Fiktif Bocor ke Publik."

Kasak-kusuk langsung menjalar hebat, laksana api yang disiram bensin. Wajah-wajah ramah dan penuh sanjungan dari para kolega bisnis seketika berubah tegang, pucat, dan penuh selidik. Mereka mulai saling berbisik, menunjuk ke arah layar ponsel masing-masing dengan ekspresi ketakutan akan terseret ke dalam kehancuran Baskoro.

Beberapa wartawan yang berada di barisan belakang—yang tadinya diinstruksikan untuk hanya mengambil foto pesta—mendadak mengabaikan protokol keamanan hotel. Mereka merangsek maju, menembus barikade pengamanan, dan mengarahkan mikrofon serta lampu kamera yang menyilaukan tepat ke arah wajah Tuan Besar Baskoro yang masih berdiri di atas podium.

"Tuan Baskoro! Bagaimana tanggapan Anda mengenai dokumen audit fiktif yang baru saja bocor ke publik? Apakah benar ada manipulasi pajak bernilai ratusan miliar di proyek Jakarta Utara?!" teriak seorang wartawan.

"Tuan Baskoro! Apakah konsorsium Anda akan segera runtuh setelah bukti aliran dana fiktif ini terverifikasi?!" sahut wartawan lain.

Tuan Besar Baskoro tertegun di depan mikrofon. Senyumnya membeku. Wajahnya yang semula penuh wibawa dan angkuh seketika memucat, berganti menjadi guratan amarah yang luar biasa saat ia menyadari bahwa reputasi raksasa yang ia bangun selama puluhan tahun kini hancur berantakan dalam hitungan detik di hadapan publik.

"Hentikan! Matikan layar itu sekarang juga!" teriak Baskoro dengan suara yang gemetar, namun suaranya tenggelam di tengah hiruk-pikuk kerumunan yang semakin menggila.

Di tengah kegaduhan yang memekakkan telinga itu, Sania perlahan melepaskan gandengan tangannya dari lengan Andi. Ia melangkah mundur satu pijakan, menatap kekacauan di depannya dengan dada yang bergemuruh hebat antara rasa puas yang mematikan dan ketakutan yang masif atas apa yang akan terjadi esok hari.

Andi menatap Sania dengan mata yang membelalak. Ia baru menyadari sepenuhnya apa yang telah dilakukan istrinya. Ia melihat kekacauan di sekeliling mereka, para investor yang mulai berhamburan pergi, dan polisi yang terlihat mulai memasuki lobi hotel.

"Sania..." bisik Andi, suaranya tercekat. "Apa yang kau lakukan?"

Sania menoleh ke arah suaminya, tatapannya kosong namun tajam. "Aku menghancurkan penjara yang selama ini mengurung kita, Andi. Panggung sandiwara ini telah runtuh sepenuhnya. Sekarang, mari kita lihat siapa yang akan bertahan saat badai yang sesungguhnya menyapu bersih semuanya."

Di depan mereka, Tuan Besar Baskoro tampak kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terduduk di atas podium, dikepung oleh puluhan wartawan yang haus akan darah korporasi. Malam ini, bukan lagi perayaan ulang tahun pernikahan. Malam ini adalah pemakaman bagi sebuah nama besar, dan Sania Baskoro telah menjadi algojonya.


Setelah kekacauan mereda...

Sania dan Andi berhasil keluar dari ballroom tanpa terluka, meskipun mereka harus melewati lautan wartawan yang terus mengejar. Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang ke penthouse, keheningan yang mencekam menyelimuti mereka.

"Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Andi akhirnya, suaranya rendah dan penuh emosi yang tertahan.

"Karena kau tidak akan membiarkanku melakukannya," jawab Sania, menatap ke luar jendela. "Kau akan mencoba melindungiku, seperti biasa. Tapi kali ini, Andi, aku harus melindungi diriku sendiri."

Andi menarik napas panjang, mencoba mencerna semua yang terjadi. "Ayahku... dia akan hancur."

"Dia pantas mendapatkannya," kata Sania, suaranya tegas. "Dia membunuh ibuku. Dia menghancurkan hidupku. Dia hampir menghancurkan kita. Aku tidak akan menyesali apa yang kulakukan."

Andi terdiam. Di dalam hatinya, ada pergulatan yang sengit—antara kesetiaan pada ayahnya yang telah menjadi monster, dan cintanya pada Sania yang telah menjadi korbannya.

"Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian," kata Andi akhirnya, meraih tangan Sania. "Apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama."

Sania menatap Andi, air mata mulai menggenang di matanya. "Kau masih di sisiku? Setelah semua ini?"

Andi tersenyum—senyum yang tulus, senyum yang penuh cinta. "Aku akan selalu di sisimu, Sania. Karena kau adalah rumahku. Dan aku tidak akan pernah meninggalkan rumahku lagi."

Sania menangis di bahu Andi, menangis untuk semua yang telah mereka lalui, menangis untuk semua yang akan mereka hadapi, dan menangis untuk cinta yang akhirnya menemukan jalannya di tengah kehancuran.

 

BAB XVII

Senja di Rumah Tua


Tiga hari telah berlalu sejak Sania menginjakkan kaki di rumah tua peninggalan ibunya. Tiga hari sejak ia memutuskan untuk angkat kaki dari penthouse mewah yang selama ini menjadi penjara emasnya. Tiga hari sejak ia meninggalkan Andi—pria yang membuatnya bingung antara cinta dan benci—di tengah kekacauan skandal konsorsium Baskoro.

Dan dalam tiga hari itu, Sania belajar banyak hal. Tentang dirinya sendiri. Tentang ibunya. Tentang apa artinya benar-benar bebas.


Matahari pagi menyinari rumah tua itu dengan lembut, menembus celah-celah daun pohon mangga tua yang rindang di halaman depan. Sania duduk di teras belakang, secangkir teh hangat di tangannya, menatap taman kecil yang mulai ditumbuhi rumput liar. Burung-burung berkicau riang di dahan-dahan pohon, menciptakan simfoni alam yang sudah lama tidak ia dengar.

Di penthouse, yang ia dengar hanyalah suara mesin pendingin ruangan, deru mobil di jalan raya, dan keheningan yang mencekam.

Di sini, ia mendengar kehidupan.

Sania menyesap tehnya, merasakan kehangatan menyebar di sekujur tubuhnya. Rumah ini memang sederhana—dinding-dindingnya mulai mengelupas, lantai kayunya berderit setiap kali ia melangkah, dan atapnya bocor di beberapa tempat. Tapi ada sesuatu di sini yang tidak pernah ia temukan di penthouse. Ada kehangatan. Ada kenangan. Ada cinta.

"Ibu, aku di sini," bisik Sania, menatap langit biru di atasnya. "Aku kembali ke rumah."

Ia teringat pada hari terakhir ia melihat ibunya hidup. Widya berdiri di teras ini, tersenyum, melambaikan tangan saat Sania berangkat ke kampus. "Hati-hati di jalan, Nak! Ibu sayang kamu!"

Sania tidak pernah menyangka itu akan menjadi kata-kata terakhir yang ia dengar dari ibunya. Tiga hari kemudian, Widya ditemukan tewas dalam kecelakaan mobil yang diduga akibat rem blong. Polisi menyebutnya kecelakaan. Tapi Sania, setelah bertahun-tahun, mulai curiga. Dan setelah mendengar pengakuan Baskara, ia yakin: ibunya dibunuh.

Tapi aku tidak akan membiarkan kematianmu sia-sia, Bu, pikir Sania, tangannya mengepal erat di atas cangkir teh. Aku akan membongkar semuanya. Aku akan memastikan Baskoro membayar untuk semua yang telah ia lakukan.


Setelah sarapan sederhana, Sania memutuskan untuk membereskan rumah. Ia tidak bisa tinggal di tempat yang berantakan—ibunya mengajarinya bahwa kerapian mencerminkan ketenangan pikiran.

Ia mulai dari ruang tamu. Debu-debu tebal menutupi setiap permukaan, dan Sania mengibaskan kain pel yang sudah ia basahi. Ia membersihkan rak-rak buku, meja kayu tua, dan sofa usang yang masih berbau parfum ibunya—campuran melati dan kayu cendana yang khas.

Saat ia membersihkan rak buku di sudut ruangan, tangannya mengenai sesuatu yang keras di balik deretan buku tua. Sebuah kotak kayu kecil berukir, dengan gembok kecil yang sudah berkarat.

Sania menghentikan gerakannya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mengenali kotak itu—kotak itu milik ibunya. Dulu, ketika ia masih kecil, Widya sering membuka kotak itu di malam hari, membaca isinya dengan air mata di matanya. Sania tidak pernah berani bertanya apa isinya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sania membawa kotak itu ke meja. Ia mencoba membuka gemboknya, tetapi sudah terlalu berkarat. Ia mencari-cari di sekitar rumah, menemukan sebatang obeng kecil di laci dapur, dan menggunakannya untuk membobol gembok itu.

Klik.

Gembok itu terbuka.

Sania menarik napas panjang, lalu membuka tutup kotak itu. Di dalamnya, ia menemukan tumpukan surat-surat tua, foto-foto usang, dan sebuah buku diary berjilid kulit cokelat yang sudah mengelupas di beberapa bagian.

Sania mengeluarkan buku diary itu terlebih dahulu. Dengan jari yang gemetar, ia membuka halaman pertama.


Diary Widya
Tanggal: 12 Maret 1998

Hari ini aku bertemu dengan Baskoro lagi. Dia datang ke kantor, memaksaku untuk bergabung dengan konsorsiumnya. Aku menolak, seperti biasa. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ada kebencian. Kebencian yang membuatku merinding.

Aku tahu Baskoro bukan orang baik. Aku sudah mendengar desas-desus tentang caranya berbisnis. Tapi aku tidak pernah menyangka dia akan semarah ini hanya karena aku menolak tawarannya.

"Kau akan menyesal, Widya," katanya sebelum pergi. "Kau akan sangat menyesal."

Aku tidak takut padanya. Aku tidak akan pernah takut padanya. Tapi aku takut pada Sania. Aku takut dia akan menyakitinya jika aku terus menolak. Aku harus melindungi putriku. Dengan cara apa pun.


Sania menutup diary itu, air mata mengalir di pipinya. Ibunya takut. Ibunya khawatir. Tapi ibunya tidak pernah menyerah.

Ia membalik halaman demi halaman, membaca setiap kata yang ditulis ibunya.


Tanggal: 5 Juli 1999

Baskoro kembali datang. Kali ini dia membawa proposal yang lebih mengancam. Dia mengatakan bahwa jika aku tidak bergabung, dia akan menghancurkan perusahaanku. Dia akan membuatku bangkrut. Dia akan membuatku kehilangan segalanya.

Aku tertawa di depannya. Aku mengatakan padanya bahwa aku tidak takut. Tapi di dalam hati, aku takut. Aku takut kehilangan semua yang telah aku bangun. Aku takut kehilangan rumah ini. Aku takut kehilangan Sania.

Tapi aku tidak akan menunjukkan ketakutanku padanya. Aku akan menunjukkan kekuatanku. Karena aku Widya. Dan aku tidak pernah menyerah.


Tanggal: 2 November 2000

Hari ini Sania ulang tahun ke-6. Aku membelikannya boneka yang ia inginkan. Matanya berbinar saat melihatnya. Aku tersenyum, tapi di dalam hatiku, aku menangis. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa melindunginya. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan melawan Baskoro.

Tapi aku akan berjuang. Untuk Sania. Untuk masa depannya. Aku akan memberikan segalanya untuknya.

Aku mencintaimu, Nak. Lebih dari apa pun di dunia ini.


Sania menutup diary itu, tidak mampu membaca lebih lanjut. Tangisnya pecah, isak tangis yang lama tertahan akhirnya meledak. Ia memeluk diary ibunya erat-erat, seolah-olah ia bisa merasakan kehangatan ibunya melalui halaman-halaman itu.

"Ibu... Ibu..." bisiknya di antara isak tangis. "Aku merindukanmu, Bu. Aku sangat merindukanmu."

Ia menangis lama, menangis untuk semua yang telah ia kehilangan, menangis untuk semua yang telah ia derita, menangis untuk ibunya yang pergi terlalu cepat. Di dalam rumah tua yang sunyi itu, Sania membiarkan dirinya rapuh untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.


Setelah air matanya kering, Sania melanjutkan membaca kotak itu. Di dalamnya, ada foto-foto lama—foto ibunya saat masih muda, foto ibunya dengan ayahnya sebelum mereka bercerai, dan foto-foto Sania kecil.

Sania mengeluarkan satu foto yang membuatnya berhenti. Di foto itu, Widya berdiri di teras rumah ini, tersenyum ke arah kamera. Di belakangnya, pohon mangga tua yang sama yang masih berdiri di halaman depan terlihat hijau dan rimbun. Di sudut foto, ada tulisan tangan Widya yang rapi:

"Rumah ini adalah tempat aku belajar untuk menjadi kuat. Dan suatu hari nanti, putriku akan belajar hal yang sama."

Sania menekan foto itu ke dadanya, menutup mata, membiarkan kenangan mengalir. Ia ingat saat-saat bahagia bersama ibunya—saat mereka memasak bersama di dapur, saat ibunya mengajarinya membaca, saat ibunya menyanyikan lagu pengantar tidur di malam hari.

"Ibu, aku di sini sekarang," bisiknya. "Aku di rumah. Aku akan melanjutkan perjuanganmu. Aku berjanji."

Ia menyimpan foto itu dengan hati-hati, lalu mengeluarkan benda terakhir dari kotak itu: sebuah amplop cokelat yang sudah menguning, dengan tulisan tangan Widya di bagian depan:

"Untuk Sania, jika suatu hari aku tidak ada."

Sania terkesiap. Jantungnya berdegup kencang. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka amplop itu, mengeluarkan selembar surat yang sudah lama ditulis ibunya.


Surat Widya untuk Sania

Untuk putriku yang tercinta,

Jika kau membaca surat ini, itu berarti aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku menulis surat ini sebagai pengingat, sebagai warisan, dan sebagai harapan.

Sania, aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini. Kau adalah alasan aku bertahan. Kau adalah alasan aku terus berjuang, bahkan ketika segalanya terasa gelap.

Aku tahu hidup tidak selalu mudah. Aku tahu ada orang-orang yang akan mencoba menjatuhkanmu, memanfaatkanmu, dan menghancurkanmu. Tapi aku juga tahu bahwa kau kuat, Sania. Kau lebih kuat dari yang kau kira.

Jangan pernah membiarkan siapa pun merenggut harga dirimu. Jangan pernah membiarkan siapa pun membuatmu merasa tidak berharga. Kau berharga, Sania. Kau berharga karena kau adalah dirimu sendiri, bukan karena apa yang kau miliki atau siapa yang kau kenal.

Jika suatu hari kau merasa jatuh, ingatlah bahwa aku selalu bersamamu. Aku selalu ada di dalam hatimu. Aku selalu menjadi bagian dari dirimu.

Jangan pernah menyerah, Nak. Berjuanglah untuk apa yang kau percaya. Berjuanglah untuk kebahagiaanmu. Berjuanglah untuk cinta.

Aku mencintaimu, Sania. Dengan segenap hatiku.

Ibu,
Widya


Sania tidak bisa menahan tangisnya lagi. Surat itu membacanya seperti pisau, menusuk setiap sudut hatinya yang terluka. Ia meremas surat itu di dadanya, membiarkan isak tangisnya pecah.

"Ibu... Ibu tidak perlu khawatir," bisiknya di antara tangis. "Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan berjuang. Untuk Ibu. Untuk diriku sendiri. Untuk semua yang Ibu perjuangkan."

Ia menangis lama, menangis untuk semua yang telah ia kehilangan, menangis untuk semua yang telah ia derita, menangis untuk cinta ibunya yang tak pernah padam. Di dalam rumah tua yang sunyi itu, Sania merasakan kehadiran ibunya—bukan sebagai hantu, tetapi sebagai kekuatan. Sebagai pengingat. Sebagai alasan untuk terus melangkah.


Malam tiba di rumah tua itu. Sania duduk di teras belakang, menatap bintang-bintang yang mulai muncul di langit. Di tangannya, surat ibunya masih ia pegang, sudah basah oleh air mata.

Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelap-kelip, mengingatkannya pada dunia yang ia tinggalkan—dunia yang penuh dengan kebohongan, intrik, dan pengkhianatan. Di sini, di rumah ini, ia merasa damai. Ia merasa menjadi dirinya sendiri.

Tapi di dalam hatinya, ada kerinduan yang tidak bisa ia hilangkan. Kerinduan pada Andi.

Kenapa kau tidak datang, Andi? pikirnya. Kenapa kau membiarkanku berjuang sendirian?

Ia mengingat percakapan terakhir mereka di telepon, beberapa hari lalu. Andi mengatakan bahwa ia khawatir. Andi mengatakan bahwa ia peduli. Tapi di mana Andi sekarang? Mengapa ia tidak datang menjemputnya?

Mungkin dia tidak pernah benar-benar peduli, pikir Sania getir. Mungkin semua itu hanya kata-kata kosong.

Tapi kemudian ia teringat pada tatapan Andi saat ia pergi dari penthouse. Ada sesuatu di mata Andi yang membuatnya ragu—kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan, kerinduan yang tidak bisa ia pungkiri.

Atau mungkin... mungkin dia benar-benar peduli, tapi dia terlalu takut untuk menunjukkannya.

Sania menghela napas panjang. Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu, ia merindukan Andi. Ia merindukan kehadirannya, meskipun kehadiran itu sering kali disertai dengan kebohongan dan kepalsuan.

Kenapa kau membuatku bingung, Andi? pikirnya. Kenapa kau tidak bisa menjadi pria jahat yang kukira kau?

Sania menutup matanya, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia memikirkan semua yang telah terjadi—pernikahan kontrak, pertengkaran, pengkhianatan, dan akhirnya, pengakuan cinta yang terlambat. Ia memikirkan semua yang masih harus ia perjuangkan—perusahaan ibunya, keadilan untuk ibunya, dan kebebasannya sendiri.

Tapi di mana tempatmu dalam semua ini, Andi? tanyanya pada dirinya sendiri. Di mana tempatmu dalam hidupku?

Ia tidak punya jawaban. Yang ia tahu, ia tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian. Ia harus membuat keputusan. Ia harus memilih.


Saat Sania sedang tenggelam dalam pikirannya, ponselnya bergetar. Pesan dari Baskara muncul di layar.

"Sania, kabar buruk. Baskoro mulai bergerak. Dia menyewa pengacara baru dan mencoba mempengaruhi bank untuk menyita asetmu. Tapi jangan khawatir, aku sudah menyiapkan strategi. Kita punya bukti yang cukup. Kita bisa memenangkan ini. Tetaplah di rumah ibumu dan jangan ke mana-mana. Aku akan menghubungimu besok."

Sania menatap pesan itu, merasakan dingin menjalar di tulang punggungnya. Baskoro bergerak. Musuh itu tidak pernah berhenti berusaha menghancurkannya.

Tapi kali ini, Sania tidak takut. Ia memiliki senjata—diary ibunya, surat-suratnya, dan yang terpenting, tekad yang tidak bisa dipatahkan oleh siapa pun.

Ia membalas pesan Baskara: "Aku siap. Aku tidak akan menyerah. Beri tahu aku apa yang harus aku lakukan."

Setelah mengirim pesan, Sania kembali menatap langit malam. Bintang-bintang bersinar terang, seolah memberinya kekuatan.

Ibu, aku akan berjuang, pikirnya. Aku akan berjuang untukmu. Aku akan berjuang untuk diriku sendiri. Dan aku tidak akan pernah menyerah.

Ia teringat pada Andi, pada wajahnya yang lelah, pada matanya yang penuh penyesalan. Sania tidak tahu apakah mereka akan bersama lagi. Tapi satu hal yang ia tahu: ia tidak akan membiarkan cinta menghalangi perjuangannya.

Jika kita ditakdirkan bersama, kita akan bersama, pikirnya. Tapi jika tidak... aku akan tetap melanjutkan hidupku. Aku akan tetap berjuang. Karena aku adalah putri Widya. Dan aku tidak pernah menyerah.


Sania masuk ke dalam rumah, menyalakan lampu ruang tamu yang redup. Ia duduk di meja kayu tua, membuka diary ibunya sekali lagi, dan mulai membaca dari awal. Ia ingin memahami ibunya sepenuhnya—semua perjuangan, semua air mata, semua pengorbanan.

Di halaman-halaman diary itu, Sania menemukan wanita yang tidak pernah ia kenal sepenuhnya. Seorang wanita yang kuat, yang berani, yang tidak pernah menyerah pada intimidasi. Seorang wanita yang mencintainya lebih dari apa pun di dunia ini.

Ibu, aku bangga menjadi putrimu, pikir Sania, air mata mengalir di pipinya. Dan aku akan membuatmu bangga.

Ia menutup diary itu, menyimpannya dengan hati-hati di dalam kotak kayu. Kemudian, ia meraih selembar kertas dan pulpen, dan mulai menulis.


Surat Sania untuk Andi

Andi,

Jika kau membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi. Atau mungkin kau sudah datang. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu, meskipun kau menyakitiku.

Aku berjuang untuk ibuku. Tapi aku juga berjuang untukmu. Karena kau adalah satu-satunya rumah yang pernah aku kenal. Kau adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa bahwa aku lebih dari sekadar kontrak, lebih dari sekadar transaksi, lebih dari sekadar angka di atas kertas.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita. Aku tidak tahu apakah kita akan bersama lagi. Tapi aku ingin kau tahu: aku akan memilihmu. Selamanya. Aku akan memilihmu, meskipun kau menyakitiku. Aku akan memilihmu, meskipun dunia menentang kita.

Jika kita bertemu lagi, aku ingin kau tahu bahwa aku tidak menyesali apa pun. Aku tidak menyesali mencintaimu. Karena cinta adalah satu-satunya hal yang membuat hidup berarti.

Jaga dirimu, Andi. Dan jika kau pernah meragukan cintaku, ingatlah surat ini. Ingatlah bahwa aku selalu ada di sini, menunggumu.

Dengan cinta,
Sania


Sania melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop, dan menyimpannya di dalam kotak kayu milik ibunya. Surat yang tidak akan pernah ia kirimkan, tetapi akan selalu ia simpan—sebagai pengingat, sebagai harapan, sebagai bukti bahwa cinta sejati tidak pernah benar-benar mati.


Pagi berikutnya, Sania bangun dengan perasaan yang berbeda. Ia tidak lagi merasa takut. Ia tidak lagi merasa ragu. Yang ia rasakan hanyalah tekad yang murni dan bulat.

Ia berjalan ke halaman depan, menghirup udara segar pagi. Pohon mangga tua masih berdiri kokoh, seolah menjadi saksi dari semua perjuangan yang pernah terjadi di rumah ini.

Ibu, aku akan memenangkan ini, pikir Sania. Aku akan memenangkan ini untukmu.

Ia meraih ponselnya, menghubungi Baskara. "Pak Baskara, aku siap. Beri tahu aku apa yang harus aku lakukan."

Suara Baskara di seberang telepon terdengar lega. "Bagus, Sania. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kita akan menggugat Baskoro di pengadilan besok. Dengan bukti-bukti yang kita miliki, dia tidak akan bisa lolos."

Sania tersenyum—senyum yang penuh tekad. "Aku akan datang ke kantormu hari ini. Kita bicarakan strateginya."

Setelah menutup telepon, Sania menatap rumah tua itu sekali lagi. Rumah ini adalah saksi dari semua perjuangan ibunya. Dan sekarang, rumah ini akan menjadi saksi dari perjuangannya.

Perjuangan belum berakhir, pikirnya. Tapi aku siap. Aku siap menghadapi apa pun.

Ia masuk ke dalam rumah, mengambil kotak kayu berisi diary dan surat-surat ibunya. Ia akan membawanya ke kantor Baskara—sebagai bukti, sebagai pengingat, sebagai senjata.

Di ambang pintu, Sania berhenti sejenak. Ia menatap ke belakang, menatap rumah yang telah memberinya kekuatan.

Sampai jumpa, Bu, pikirnya. Aku akan kembali. Aku berjanji.

Ia menutup pintu, melangkah keluar, dan memulai perjalanannya menuju babak baru dalam hidupnya. Babak di mana ia tidak lagi menjadi korban, tetapi menjadi pejuang. Babak di mana ia akan membongkar semua kebohongan, mengungkap semua kebenaran, dan akhirnya, menemukan kebebasan yang selama ini ia cari.


Di kejauhan, di sebuah penthouse mewah di pusat kota, Andi terbangun dari tidurnya yang gelisah. Ia bermimpi tentang Sania—tentang senyumnya, tentang tangisnya, tentang kata-kata terakhir yang ia ucapkan sebelum pergi.

"Aku mencintaimu, Andi. Tapi cinta itu tidak cukup untuk membuatku tetap tinggal jika kau terus memperlakukanku seperti ini."

Andi menutup matanya, merasakan sakit yang menusuk dadanya. Ia telah membuat banyak kesalahan. Ia telah menyakiti Sania dengan cara yang tidak bisa ia perbaiki. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia akan memperbaiki semuanya. Ia akan melawan ayahnya. Ia akan membersihkan namanya. Dan suatu hari nanti, ia akan datang menjemput Sania dan membawanya pulang.

Tunggu aku, Sania, pikirnya, menatap langit-langit yang tinggi. Aku akan datang. Aku berjanji.

Di luar jendela, matahari mulai terbit, menyinari kota Jakarta dengan cahaya keemasan. Hari baru dimulai. Hari baru untuk perjuangan. Hari baru untuk harapan.

 

BAB XVIII

Angkat Kaki

Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden penthouse itu tidak lagi membawa kehangatan. Cahayanya justru jatuh tepat di atas debu-debu yang beterbangan, mempertegas kekosongan yang menjalar di setiap sudut rumah megah yang kini terasa seperti penjara kaca. Di atas ranjang king size yang seprainya masih sedikit kusut, sebuah koper kain berwarna gelap tergeletak terbuka, mulutnya menganga lebar seolah siap menelan seluruh kenangan pahit yang tersisa.

Dua hari telah berlalu sejak malam ledakan emosi di penthouse. Dua hari sejak Andi dan Sania saling mengakui cinta mereka di tengah pecahan kaca dan air mata. Namun, kenyataan yang mereka hadapi tidak semanis pengakuan itu. Baskoro mungkin sudah ditahan, tetapi gurita kekuasaannya masih bergerak. Ancaman hukum terhadap Sania belum sepenuhnya sirna. Dan tekanan dari para pemegang saham yang panik akibat skandal besar itu semakin membebani mereka berdua.

Dengan gerakan yang tenang namun pasti, Sania melipat pakaiannya. Tidak ada emosi yang meledak-ledak, tidak ada lagi histeria seperti beberapa malam lalu. Yang tersisa hanyalah rutinitas dingin seorang wanita yang sedang memutus tali yang selama ini mengikat lehernya. Ia memasukkan beberapa potong pakaian sehari-hari yang sederhana, berkas-berkas hukum milik mendiang ibunya yang selama ini ia sembunyikan di brankas tersembunyi, dan beberapa barang pribadi yang ia bawa jauh sebelum ia melangkah masuk ke dalam lingkaran setan keluarga Baskoro.

Ia sengaja meninggalkan deretan gaun mewah rancangan desainer ternama, kotak-kotak perhiasan berkilau, dan kartu kredit korporasi peninggalan mertuanya di atas meja rias. Baginya, setiap benda itu kini terasa seperti rantai besi yang berkarat, siap menjeratnya kembali ke dalam permainan kotor sang tiran jika ia berani menyentuhnya.

Andi berdiri di ambang pintu kamar, bersandar pada kusen kayu dengan kedua tangan terbenam dalam-dalam di saku celana. Tatapannya kosong, mengawasi setiap gerak-gerik Sania dengan detak jantung yang terasa seperti suara jam dinding yang lamban. Sisa-sisa amarah dan air mata beberapa malam lalu telah menguap, meninggalkan kelelahan emosional yang teramat sangat, sebuah kehampaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

"Kau benar-benar harus pergi sekarang?" tanya Andi. Suaranya parau, pecah oleh kerongkongan yang kering, memecah kesunyian yang mencekat di ruangan itu.

Sania menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia membelakangi Andi, membiarkan bahunya yang tegak menjadi satu-satunya jawaban. "Tempat ini sudah tidak aman lagi untukku, Mas. Kau tahu itu lebih baik dari siapa pun."

Ia berbalik, menatap Andi dengan sorot mata yang tak lagi berkaca-kaca, melainkan tajam penuh kewaspadaan. "Kemarahan para pemegang saham setelah kejadian di pesta tidak akan berhenti pada maki-maki saja. Mereka akan mencari kambing hitam, dan aku adalah target yang sempurna. Belum lagi ancaman hukum dari jaringan Ayahmu yang masih tersisa. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Sania menarik ritsleting kopernya dengan satu sentakan tegas, bunyi logam yang beradu terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi. Ia membalikkan tubuh, menyeret koper itu mendekati Andi.

"Aku akan kembali ke rumah tua Ibu di pinggiran kota," lanjut Sania dengan nada yang lebih tenang. "Tempat itu jauh dari jangkauan publik, jauh dari mata-mata keluarga Baskoro, dan yang paling penting... tempat itu milikku. Bukan milik Baskoro."

Andi melangkah mendekat, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka. Ego lamanya sebagai seorang pria—sebagai seorang Baskoro yang terbiasa melindungi miliknya—berontak melihat wanita yang ia cintai harus pergi dalam kondisi yang begitu rentan. "Aku akan ikut bersamamu. Aku akan melepaskan posisiku di perusahaan hari ini. Kita bisa pergi ke luar kota, bersembunyi sampai semuanya tenang."

Sania menggelengkan kepala perlahan. Ia menyentuh dada Andi dengan telapak tangannya yang dingin, merasakan detak jantung suaminya yang tidak beraturan di balik kemeja itu. "Jangan sekarang, Mas. Kalau kita berdua menghilang bersamaan, skandal ini akan semakin memburuk. Media akan menjadikan kita buronan yang melarikan diri karena bersalah. Kau harus tetap di sini. Hadapi dewan direksi, buka semua kebobrokan aliran dana itu sebelum mereka sempat menyapu bersih jejaknya, dan cari tahu apa langkah hukum yang akan mereka ambil."

"Tapi, Sania..."

"Ini bukan tentang aku melarikan diri, Andi," potong Sania lembut, menatap tepat ke manik mata pria itu. "Ini tentang strategi. Jika kau pergi bersamaku, kita kalah total. Tapi jika kau bertahan di sana, kau adalah satu-satunya orang yang bisa menjadi pelindungku dari dalam. Kau bisa memastikan bahwa keadilan benar-benar ditegakkan, bukan hanya skandal yang meledak lalu padam."

Andi menarik napas dalam, merasakan sesak yang menghimpit dadanya hingga ia nyaris kehilangan oksigen. Logika Sania benar, sangat benar hingga itu membuatnya benci pada situasinya. Membiarkan istrinya angkat kaki sendirian ke rumah tua yang lama tak berpenghuni terasa seperti kegagalan terbesar dalam hidupnya.

"Beri aku waktu," ucap Andi lirih, menggenggam erat tangan Sania yang masih menempel di dadanya. Ia memejamkan mata, membiarkan dahi mereka bersentuhan sejenak. "Aku akan menyelesaikan kekacauan internal perusahaan ini, aku akan membongkar setiap dokumen yang Ayah sembunyikan untuk memastikan posisimu aman secara hukum dari tuntutan apa pun. Aku bersumpah, Sania. Setelah semuanya mereda, aku yang akan mendatangimu. Aku yang akan membawamu pulang... dengan cara yang benar."

Sania tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang sarat akan kepasrahan sekaligus harapan baru yang tipis. "Aku pegang janjimu, Mas. Jangan biarkan mereka menghancurkanmu juga."

Mereka berpelukan di ambang pintu, sebuah pelukan yang terasa begitu berat karena mengandung makna perpisahan sementara. Sania bisa merasakan getaran di tubuh Andi—pria itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di depannya.

"Kau tahu," kata Sania tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana, "ini pertama kalinya kita benar-benar berpelukan tanpa ada kepalsuan di dalamnya."

Andi tertawa kecil, sebuah tawa yang pahit namun hangat. "Dan itu akan menjadi pelukan terakhir yang palsu. Mulai sekarang, semua pelukanku untukmu akan tulus."

Sania melepaskan pelukan itu, menatap Andi sekali terakhir. "Jaga dirimu, Mas."

"Kau juga, Sania. Hubungi aku setiap hari. Aku akan selalu menunggumu."

Sania mengangguk, lalu berbalik dan melangkah keluar. Tidak ada lagi air mata yang jatuh. Langkah kakinya terasa berat namun mantap. Ia menyeret koper itu menyusuri koridor penthouse, meninggalkan aroma parfumnya yang perlahan memudar di udara. Ia angkat kaki dari rumah itu bukan sebagai pihak yang kalah, melainkan sebagai seorang pejuang yang sedang menyelamatkan diri dan harga dirinya.

Andi berdiri mematung di tengah ruangan yang kini terasa asing. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup rapat. Kepergian Sania adalah sebuah tamparan keras yang menyadarkannya dari mimpi buruk selama bertahun-tahun. Kini, ia tidak lagi memiliki siapa pun untuk melindunginya dari sisa-sisa kekuasaan ayahnya, kecuali kebenaran itu sendiri.

Ia menarik napas panjang, merapikan kemejanya, dan bersiap untuk turun ke "medan perang" di kantor pusat. Di atas meja, sepucuk surat yang ditinggalkan Sania menarik perhatiannya.

"Andi,

Aku pergi bukan karena aku berhenti mencintaimu. Aku pergi karena aku mencintaimu, dan aku tahu kau memiliki misi yang harus kau selesaikan di sini. Jangan biarkan semua pengorbanan kita sia-sia.

Bersikaplah kuat. Aku akan menunggu.

Dengan cinta,
Sania."

Andi membaca surat itu berulang kali, merasakan kekuatan baru mengalir di dalam dirinya. Ia tidak akan mengecewakan Sania. Ia akan menyelesaikan semua ini. Dan ketika semuanya selesai, ia akan menjemputnya dan membawanya pulang—untuk selamanya.

Di luar sana, sirine mobil polisi mulai samar terdengar di kejauhan, seolah menjemput babak baru dalam hidup mereka yang tak lagi berpura-pura. Tapi kali ini, Andi tidak takut. Karena ia tahu, apa pun yang terjadi, Sania ada di sisinya—bahkan dari kejauhan.


Di rumah tua peninggalan ibunya...

Sania tiba di rumah kecil yang sudah lama tidak ia kunjungi. Rumah itu sederhana, dengan cat dinding yang mulai mengelupas dan taman yang ditumbuhi rumput liar. Tapi bagi Sania, ini adalah tempat paling aman di dunia. Ini adalah rumah ibunya—tempat di mana ia dibesarkan dengan cinta, tempat di mana ia belajar untuk menjadi kuat.

Ia masuk ke dalam rumah, membuka jendela-jendela yang tertutup rapat untuk membiarkan udara segar masuk. Debu-debu beterbangan di bawah sinar matahari, dan Sania tersenyum. Ini adalah awal yang baru. Awal yang sederhana, tapi nyata.

Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan untuk Andi: "Aku sudah sampai. Rumah ini masih sama seperti dulu. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."

Pesan itu dibalas dalam hitungan detik: "Aku lega mendengarnya. Istirahatlah yang cukup. Aku akan mengurus semuanya di sini. Aku mencintaimu."

Sania tersenyum, menatap pesan itu berulang kali. Tiga kata itu—aku mencintaimu—masih terasa asing di telinganya, tapi juga terasa begitu tepat.

"Aku juga mencintaimu, Andi. Sampai jumpa."

Ia meletakkan ponselnya, lalu berjalan ke teras belakang. Di sana, di bawah pohon mangga tua yang rindang, ia duduk bersila, menikmati ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma tanah dan dedaunan.

Aku akan baik-baik saja, pikir Sania. Kami akan baik-baik saja.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar mempercayai hal itu.


BAB XIX

Siasat di Balik Jeruji

Gemuruh badai di luar Mapolda Metro Jaya malam itu tidak sedahsyat badai yang berkecamuk di dalam ruang tahanan sementara. Tuan Besar Baskoro, sang tiran yang selama tiga dekade memerintah imperium bisnis dengan tangan besi, kini duduk di balik meja logam yang dingin. Setelan jas Armani mahalnya telah disita, digantikan oleh seragam tahanan berwarna jingga yang kasar dan longgar di bahunya. Namun, meski kehilangan simbol kekuasaan, sorot matanya tidak sedikit pun meredup. Ia masih memiliki taring yang tajam, dan otaknya terus berputar menyusun strategi balas dendam yang lebih mematikan.

Dua minggu telah berlalu sejak malam pesta pernikahan yang mengguncang jagat bisnis Indonesia. Skandal korupsi Konsorsium Baskoro menjadi berita utama di setiap media, membuat harga saham anjlok dan para investor kabur. Baskoro sendiri telah ditahan di Mapolda Metro Jaya dengan tuduhan pencucian uang, manipulasi laporan keuangan, dan keterlibatan dalam kecelakaan yang menewaskan Widya, ibu Sania.

Tapi Baskoro bukanlah tipe orang yang menyerah dengan mudah. Di balik jeruji besi, otaknya terus bekerja, merancang rencana yang lebih kejam dari sebelumnya.

Di ruang kunjungan yang dibatasi sekat kaca tebal, Baskoro duduk berhadapan dengan tim pengacara korporat seniornya. Mereka terlihat tidak nyaman, keringat dingin membasahi dahi sang pengacara utama, Adiwangsa, saat menghadapi tatapan tajam pria di hadapannya.

"Bagaimana situasi di luar, Adiwangsa?" tanya Baskoro. Suaranya rendah, serak, namun penuh penekanan yang membuat sang pengacara bergidik.

Adiwangsa membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot, berusaha menenangkan diri. "Bursa saham konsorsium anjlok hingga batas bawah, Tuan. Para investor utama menarik diri secara massal. Namun, kami telah menyiapkan draf serangan balik. Kita tidak akan membiarkan PT Karya Mulia Utama berdiri tegak. Kita akan menyerang balik dengan pasal berlapis: pelanggaran rahasia dagang, pencurian data internal, hingga pencemaran nama baik. Kita akan membuat Sania bertekuk lutut di bawah kaki Anda dalam hitungan hari."

Baskoro menyeringai tipis. Itu bukan senyuman ramah, melainkan sebuah seringai culas yang mengerikan, mirip predator yang sedang mengamati mangsanya yang terjerat perangkap. "Bagus," desisnya. "Gunakan seluruh pengaruh politik dan finansial yang masih tersisa di luar. Hubungi kolega kita di jajaran direksi bank rekanan. Tekan mereka untuk segera menagih seluruh utang jatuh tempo PT Karya Mulia Utama. Aku ingin perusahaan peninggalan mendiang ibu Sania itu pailit total dalam waktu tiga hari. Buat dia tidak memiliki sisa dana sepeser pun untuk menyewa pengacara, apalagi untuk makan."

Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengetuk kaca pembatas dengan buku jarinya yang kapalan dengan irama yang konstan dan mengancam. "Sampaikan pesan ini pada menantuku yang pembangkang itu. Katakan padanya: jika dia tidak datang ke sini, berlutut, mencabut semua barang bukti di media, dan membuat pernyataan maaf publik bahwa semua yang ia katakan adalah fitnah... aku akan memastikan dia membusuk di sel sebelahku. Aku akan menghancurkan apa pun yang tersisa dari hidupnya, hingga dia tidak memiliki masa depan lagi."

Adiwangsa mengangguk dengan cepat. "Siap, Tuan. Kami akan melaksanakan semua instruksi Anda."

"Dan satu hal lagi," tambah Baskoro, matanya berkilat tajam. "Cari tahu di mana Sania bersembunyi. Aku yakin dia tidak tinggal di penthouse Andi lagi. Temukan dia, dan laporkan padaku. Aku ingin tahu setiap langkahnya."


Sementara itu, di rumah tua peninggalan ibunya...

Sania sedang duduk di teras kecil yang lembap. Suasana sunyi, hanya ada suara jangkrik dan rintik hujan yang jatuh dari atap seng yang sudah berkarat. Rumah tua itu memang sederhana, bahkan terkesan kumuh dibandingkan dengan kemewahan penthouse yang biasa ia tempati. Tapi di sinilah ia merasa paling aman, paling menjadi dirinya sendiri.

Dua minggu telah berlalu sejak ia angkat kaki dari penthouse. Dua minggu sejak ia memutuskan untuk berjuang sendirian, meskipun Andi berjanji akan menyelesaikan semua masalah di Jakarta. Sania belum mendengar kabar buruk dari Andi, tapi ia juga belum mendengar kabar baik. Yang ia tahu, tekanan dari para pemegang saham dan ancaman hukum masih menghantuinya.

Sania baru saja menyeruput teh hangat saat sebuah mobil hitam dengan logo firma hukum ternama berhenti di depan gerbangnya yang berderit. Dua orang pria berpakaian rapi—seorang kurator hukum dan petugas dari pihak bank—turun dari mobil. Mereka berjalan dengan langkah angkuh, membawa tumpukan dokumen tebal.

Sania berdiri, jantungnya berdegup kencang. Firasat buruk menyergapnya.

"Nona Sania Baskoro?" sapa sang kurator tanpa basa-basi. "Kami datang membawa surat sita darurat dan eksekusi aset terkait dengan gagal bayar kewajiban PT Karya Mulia Utama."

Wajah Sania seketika memucat. Ia menerima tumpukan kertas itu dengan tangan gemetar. Saat ia mulai membaca rentetan pasal yang sengaja diputarbalikkan, dunia di sekelilingnya terasa runtuh. Baskoro telah bergerak lebih cepat dari yang ia bayangkan. Bank telah membatalkan seluruh komitmen kredit, dan secara hukum, rumah tua yang menjadi tempat perlindungannya kini dinyatakan sebagai aset jaminan yang akan dilelang.

"Ini tidak mungkin," bisik Sania, suaranya tercekat. "Surat perjanjian kredit ini seharusnya jatuh tempo enam bulan lagi. Ini adalah manipulasi!"

"Hukum tertulis di atas kertas, Nona," balas petugas bank dengan nada dingin yang terlatih. "Dan di atas kertas ini, Anda berada di pihak yang merugikan. Anda punya waktu dua kali dua puluh empat jam untuk mengosongkan tempat ini, atau kami akan mengerahkan eksekutor untuk mengusir Anda secara paksa."

Setelah mereka pergi, Sania duduk terpaku di tangga teras. Siasat dari balik jeruji yang dilancarkan Baskoro mulai bekerja dengan sempurna. Jerat hukum yang manipulatif kini beralih mencekik lehernya, mencoba memaksanya untuk menyerah dan merangkak kembali ke dalam kendali sang tiran.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Bukan karena ia takut kehilangan rumah tua itu, melainkan karena ia menyadari betapa mengerikannya harga yang harus ia bayar. Ia menatap ke arah langit malam yang gelap. Kini ia tahu, menghancurkan monster seperti Baskoro bukanlah tentang siapa yang paling benar di mata hukum, melainkan tentang siapa yang mampu bertahan saat seluruh dunia membalikkan punggung kepadanya.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal muncul di layarnya.

"Ayahmu sudah memulai permainan akhirnya. Jangan kembali, jangan menyerah. Aku sedang mencari bukti transaksi rahasianya di luar negeri yang tidak bisa disentuh oleh tim pengacara mana pun. Tunggu aku. - Andi."

Sania membaca pesan itu berulang kali. Harapan yang hampir padam di hatinya kembali menyala, namun kini ia sadar, ia tidak bisa lagi bersembunyi. Untuk memenangkan perang ini, ia harus berhenti menjadi bidak dan mulai menjadi pemain. Ia harus mencari cara lain, jalan pintas yang tidak pernah terpikirkan oleh Baskoro, bahkan jika itu berarti ia harus membakar sisa hidupnya sendiri.

Ia menatap surat sita darurat yang masih ia pegang, lalu menatap ke arah rumah tua yang menjadi satu-satunya perlindungannya. Aku tidak akan menyerah, pikirnya. Aku tidak akan membiarkan Baskoro menghancurkan semua yang ibu bangun.

Sania mengambil ponselnya, menekan nomor Baskara. "Pak Baskara, aku butuh bantuanmu. Mereka akan menyita rumah ibuku."

Suara Baskara di seberang telepon terdengar prihatin. "Aku sudah mendengar kabar itu, Sania. Tapi aku punya kabar baik. Andi telah menghubungiku. Dia berhasil mendapatkan bukti transaksi luar negeri Baskoro yang tidak bisa dipalsukan. Kita bisa menggugat balik besok pagi."

Sania terkejut. "Andi? Bagaimana dia bisa—"

"Aku tidak tahu detailnya," potong Baskara. "Tapi dia bilang dia akan menjelaskan semuanya saat dia datang menjemputmu. Dan Sania... dia bilang dia akan segera datang."

Sania menutup telepon, dadanya berdegup kencang. Andi akan datang. Setelah semua yang terjadi, setelah semua pertengkaran dan air mata, Andi akan datang.

Tunggu aku, Sania, bisik suara Andi di kepalanya. Aku akan menyelesaikan semua ini.

Dan Sania, yang selama ini berjuang sendirian, akhirnya merasa tidak lagi sendiri.


Di ruang tahanan Mapolda Metro Jaya...

Baskoro duduk di sudut sel, menatap langit-langit yang kotor. Di tangannya, sebuah foto usang—foto dirinya bersama Widya, ibu Sania, dari dua puluh tahun lalu. Dalam foto itu, mereka masih muda, masih tersenyum, masih menjadi rekan bisnis yang saling percaya.

"Kau mengkhianatiku, Widya," gumam Baskoro, suaranya penuh kebencian. "Kau memilih untuk pergi, memilih untuk membangun perusahaannmu sendiri. Dan sekarang... putrimu menghancurkan semua yang telah kubangun."

Ia meremas foto itu, merobeknya menjadi dua. "Tapi kau tidak akan menang. Aku tidak akan membiarkan kalian menang. Aku akan menghancurkan semua yang kau cintai, sama seperti kau menghancurkan hidupku."

Di luar sel, suara langkah kaki penjaga mulai terdengar. Baskoro menyembunyikan pecahan foto itu di sakunya, memasang ekspresi tenang di wajahnya. Di balik jeruji besi, rencana balas dendamnya masih terus berjalan. Dan kali ini, ia tidak akan berhenti sampai semuanya hancur.


BAB XX

Cinta yang Terlambat Disadari

Rumah tua peninggalan mendiang ibunya di pinggiran Jakarta terasa begitu sunyi bagi Sania. Suara detak jam dinding kayu yang beradu dengan ritme hujan di atap seng seolah menjadi satu-satunya pendampingnya. Namun, di tempat inilah—di antara perabot-perabot usang yang menyimpan memori masa kecil—ia justru menemukan ketenangan yang selama ini direnggut oleh dinding-dinding dingin dan atmosfer beracun di kediaman mewah Baskoro.

Surat sita darurat dari bank memang masih tergeletak mencolok di atas meja ruang tamu, menjadi hantu yang terus mengancam kelangsungan hidup PT Karya Mulia Utama. Kendati demikian, Sania menolak untuk membiarkan dirinya lumpuh oleh ketakutan yang sengaja ditanamkan Baskoro. Ia duduk bersila di lantai, dikelilingi oleh tumpukan berkas hukum yang ia pelajari setiap malam dengan secangkir kopi dingin di sampingnya.

Baskoro ingin aku menyerah, pikir Sania, tatapannya tajam menembus kegelapan malam. Dia ingin aku kembali merangkak padanya sebagai pengemis. Tapi dia lupa, dia telah mengambil satu-satunya alasan yang membuatku takut akan kehilangan: aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dirampok.

Di luar, hujan masih turun dengan deras. Sania meneguk kopinya yang sudah dingin, merasakan pahitnya menyebar di lidahnya—pahit seperti perjalanan hidupnya selama ini. Tapi di balik kepahitan itu, ada tekad yang terus membara. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak bisa menyerah. Ibunya tidak akan pernah menyerah.

"Kau lebih kuat dari yang kau kira, Nak," bisik suara ibunya di kepalanya. "Jangan pernah biarkan siapa pun merenggut harga dirimu."

Sania tersenyum tipis, mengingat wajah ibunya yang selalu tenang di tengah badai. Widya adalah wanita yang mengajarinya bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa keras kau bisa memukul, tapi tentang seberapa teguh kau bisa berdiri setelah kau jatuh.

"Aku akan membuatmu bangga, Ibu," bisik Sania. "Aku janji."


Sementara itu, di lantai teratas gedung konsorsium Baskoro...

Situasi tidak kalah mencekam, namun dengan atmosfer yang jauh lebih mematikan. Andi berdiri mematung di dekat jendela kaca raksasa, menatap rintik hujan yang membasahi siluet gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Di mejanya yang megah namun terasa kosong, surat pengunduran dirinya dari jabatan Direktur Utama sudah tergeletak, telah ditandatangani dengan tinta hitam yang tegas. Di sebelahnya, bertumpuk laporan keuangan fiktif peninggalan ayahnya yang baru saja selesai ia bedah bersama tim auditor independen pilihannya sendiri—sebuah bukti otentik yang siap meledakkan seluruh fondasi dinasti Baskoro.

Tiga minggu telah berlalu sejak Sania angkat kaki dari penthouse. Tiga minggu sejak mereka berpisah untuk menyelamatkan diri masing-masing. Dan dalam tiga minggu itu, Andi nyaris tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia kembali ke penthouse yang kosong, keheningan di sana seolah berteriak, mengingatkannya pada setiap sudut ruangan yang kini terasa mati tanpa kehadiran Sania. Ia masih bisa membayangkan aroma parfum Sania yang tertinggal di bantal, atau cara wanita itu merapikan dasinya sebelum mereka tampil di depan media.

Ia melangkah mendekati meja, meraih cincin pernikahan cadangan yang sengaja ia simpan di dalam laci. Dipandanginya benda berkilau itu dengan dada yang sesak. Cincin itu adalah simbol dari pernikahan kontrak mereka—dingin, transaksional, dan tanpa cinta. Tapi sekarang, ia melihatnya dengan cara yang berbeda. Cincin itu bukan lagi simbol kepalsuan, tapi simbol dari semua yang telah mereka lalui bersama, semua yang telah mereka korbankan, dan semua yang masih bisa mereka bangun.

Selama ini, Andi mengira kepeduliannya pada Sania murni karena kewajiban kontrak dan rasa tanggung jawab untuk melindungi wanita itu dari kekejaman ayahnya. Ia mengira amarahnya di malam pesta itu bersumber dari egonya yang terluka sebagai seorang pemimpin yang dikesampingkan. Namun, dalam kesendirian dan tekanan bertubi-tubi dari dewan komisaris yang mulai berpaling, sebuah kesadaran yang teramat perih dan terlambat menghantam dadanya.

Ia telah jatuh cinta pada Sania.

Cinta itu tidak datang dengan ledakan besar atau janji-janji manis. Cinta itu tumbuh perlahan di antara kebohongan-kebohongan yang mereka mainkan demi publik, di balik ketegaran Sania yang rapuh saat menghadapi ancaman ayahnya, dan dalam setiap momen di mana mereka saling mengandalkan dalam sunyi. Sialnya, Andi baru menyadari keutuhan perasaan itu justru di saat Sania sudah pergi menjauh, menganggapnya sebagai bagian dari musuh, dan menutup pintu hatinya rapat-rapat.

Aku begitu bodoh, gumam Andi, suaranya parau. Ia menggenggam cincin itu hingga pinggirannya membekas di telapak tangannya. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuktikan diriku pada Ayah, sementara aku membiarkan satu-satunya hal yang benar-benar berharga dalam hidupku pergi karena keangkuhanku sendiri.

Ia teringat pada malam-malam ketika Sania membawakan teh untuknya di ruang kerja, ketika ia diam-diam memperhatikan wanita itu tertidur di sofa dengan buku di tangannya, ketika ia merasakan kehangatan yang aneh di dadanya setiap kali Sania tersenyum padanya—bahkan ketika senyum itu palsu.

Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? pikirnya dengan penyesalan yang mendalam. Kenapa aku membiarkan ketakutanku menghalangi segalanya?

Pintu ruang kerjanya diketuk dengan kasar. Sekretaris pribadinya masuk dengan wajah pucat. "Pak Andi, tim pengacara Tuan Baskoro baru saja melayangkan tuntutan baru. Mereka akan menyeret PT Karya Mulia Utama ke pengadilan besok pagi. Dan... mereka akan mengajukan surat perintah penahanan untuk Nona Sania."

Andi memutar kursinya, tatapannya kini berubah menjadi sedingin es, namun dengan api yang berkobar di balik matanya. "Batalkan pertemuan dengan dewan komisaris."

"Tapi, Pak, itu penting untuk masa depan perusahaan—"

"Aku bilang batalkan!" potong Andi dengan nada yang tidak memberikan ruang untuk bantahan. "Kumpulkan semua berkas audit yang sudah kita bedah. Hubungi media yang paling berani untuk konferensi pers besok pagi. Dan carikan aku pengacara terbaik yang tidak berada di bawah kendali konsorsium."

"Apa yang akan Anda lakukan, Pak?"

Andi berdiri, mengambil kunci mobil dan seluruh berkas audit tersembunyi yang ia pegang. Ia menatap sekretarisnya dengan keyakinan yang baru. "Aku tidak akan membiarkan Ayah menghancurkan Sania lagi. Tidak akan pernah. Aku akan mengakhiri semua sandiwara ini dengan tanganku sendiri."

Kesadaran yang terlambat itu tidak membuat Andi menyerah. Justru, rasa cinta yang kini ia akui sepenuhnya di dalam hati menjadi bahan bakar yang jauh lebih kuat daripada ambisi apa pun yang pernah ia miliki. Ia melangkah keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan statusnya sebagai pewaris tunggal dinasti Baskoro di balik pintu.

Ia memutuskan untuk berbalik arah secara total—ia tidak lagi berdiri di tengah untuk meredam konflik atau menyeimbangkan kepentingan. Ia siap maju ke garis depan demi melawan ayahnya sendiri. Jika harus menghancurkan seluruh imperium yang dibangun ayahnya untuk menyelamatkan Sania, maka itulah yang akan ia lakukan.

Di tengah guyuran hujan Jakarta, Andi memacu mobilnya, bukan menuju kantor pusat, melainkan menuju rumah tua di pinggiran kota. Ia tidak tahu apakah Sania masih mau memandangnya, namun satu hal yang pasti: ia tidak akan membiarkan wanita yang menjadi separuh jiwanya itu berjuang sendirian lagi. Malam ini, perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.


Di rumah tua...

Sania baru saja selesai membereskan beberapa berkas ketika ia mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumahnya. Jantungnya berdegup kencang. Siapa yang datang di tengah malam seperti ini?

Ia berjalan ke jendela, menyibak tirai dengan hati-hati. Di luar, di bawah rintik hujan yang masih mengguyur, sesosok pria berdiri dengan kemeja basah kuyup, rambutnya menempel di dahi, dan matanya—matanya yang tajam—menatap lurus ke arah rumahnya.

Andi.

Sania membeku. Ia tidak menyangka Andi akan datang malam ini. Tidak di tengah badai seperti ini. Tidak setelah semua yang terjadi.

Ia membuka pintu dengan tangan gemetar. Andi berdiri di ambang pintu, basah kuyup, tapi senyumnya—senyum yang tulus dan penuh harapan—membuat hati Sania meleleh.

"Sania," panggil Andi, suaranya serak karena hujan dan emosi. "Aku di sini. Aku sudah menemukan buktinya. Semuanya sudah selesai."

Sania tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menatap Andi, melihat pria yang telah ia cintai dari jauh selama ini, pria yang akhirnya datang untuk menjemputnya.

"Kau basah," katanya akhirnya, suaranya bergetar. "Masuklah."

Andi melangkah masuk, dan saat pintu tertutup di belakangnya, ia meraih Sania dan memeluknya erat—pelukan yang terasa seperti jawaban atas semua doa yang pernah ia panjatkan.

"Aku mencintaimu, Sania," bisiknya di telinga wanita itu. "Aku mencintaimu, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi."

Sania menangis di pelukannya, menangis untuk semua rasa sakit yang telah mereka lalui, untuk semua keraguan yang telah menghantui mereka, dan untuk cinta yang akhirnya menemukan jalannya.

"Aku juga mencintaimu, Andi," balasnya. "Aku selalu mencintaimu."

Di luar, hujan masih turun deras. Tapi di dalam rumah tua itu, dua hati yang telah lama terluka akhirnya bersatu. Cinta yang terlambat disadari—tapi tidak pernah terlambat untuk dijalani.


BAB XXI

Aliansi Tak Terduga

Malam itu, hujan di luar jendela kantor Baskara Hukum Indonesia menyamarkan deru mesin mobil yang baru saja berhenti di pelataran parkir. Di dalam ruangan kerja yang dipenuhi tumpukan buku hukum pidana dan perdata yang berdebu, Sania duduk dengan wajah lelah namun tegang. Di hadapannya, Baskara—pengacara yang sekaligus sahabat mendiang ibunya—sedang memeriksa lembar demi lembar surat tuntutan sita darurat yang dikirimkan oleh pihak bank rekanan Tuan Besar Baskoro.

Andi duduk di samping Sania, tangannya menggenggam erat tangan istrinya. Setelah pertemuan emosional mereka di rumah tua, Andi langsung membawa Sania ke kantor Baskara untuk menyusun strategi hukum. Waktu sangat terbatas. Besok pagi, Baskoro akan melancarkan serangan terakhirnya melalui pengadilan.

"Ini murni intimidasi finansial, Sania," ucap Baskara, meletakkan kacamatanya di atas meja dengan gerak yang kasar. "Mertuamu menggunakan jaringan lamanya untuk mencekik likuiditas PT Karya Mulia Utama secara sistematis. Jika dalam dua hari kita tidak bisa membuktikan adanya rekayasa dalam percepatan utang ini, perusahaan ibumu akan benar-benar dinyatakan pailit. Baskoro ingin kau kehilangan segalanya agar dia bisa kembali mengendalikanmu."

Sania mengepalkan tangannya di atas pangkuan, buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak akan menyerah, Baskara. Kalaupun aku harus kehilangan perusahaan, aku akan memastikan dia tetap membusuk di dalam sel. Aku tidak butuh belas kasihan seorang tiran."

Andi menatap Sania dengan kekaguman. Wanita ini benar-benar kuat. Di tengah semua tekanan, ia tetap teguh.

"Kita tidak akan kehilangan perusahaan," kata Andi, suaranya mantap. "Aku sudah membawa semua yang kita butuhkan."

Andi mengeluarkan tas kerja kulit hitam yang ia bawa dari mobil. Dengan gerakan penuh makna, ia membuka ritsletingnya dan mengeluarkan beberapa bundel dokumen tebal dengan cap Confidential berwarna merah, serta sebuah flashdisk enkripsi tingkat tinggi yang disematkan dengan stempel segel resmi perusahaan.

Baskara menyipitkan mata, mendekat untuk memeriksa isi dokumen tersebut dengan hati-hati. "Apa ini?"

"Ini adalah sisa bukti pamungkas yang tidak sempat kalian temukan saat membobol data server kemarin," ujar Andi, menatap Baskara lalu beralih ke Sania. "Ini adalah pembukuan ganda asli dari seluruh proyek infrastruktur tersembunyi Ayah selama lima tahun terakhir. Lengkap dengan nomor rekening luar negeri yang digunakan untuk mencuci uang, serta memo internal yang membuktikan bahwa Baskoro secara sadar melakukan sabotase terhadap aset PT Karya Mulia Utama sejak era kepemimpinan ibumu."

Sania tertegun, langkah kakinya mendekat secara naluriah menuju meja. "Kau... kau membawa bukti untuk menjatuhkan ayahmu sendiri? Kau tahu apa konsekuensinya bagi posisimu sebagai pewaris?"

Andi menatap Sania dengan sorot mata yang sarat akan penyesalan sekaligus keteguhan yang belum pernah Sania lihat sebelumnya. Ego sang pewaris tunggal itu telah luruh sepenuhnya, menyisakan seorang pria yang akhirnya berani melihat dunia dengan jujur.

"Pewaris? Kehormatan?" Andi tertawa kecil, sebuah tawa pahit yang kering. "Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun mengejar itu semua, Sania. Aku pikir itu adalah segalanya. Tapi aku baru menyadari bahwa selama ini aku bertindak bodoh dengan mencoba berdiri di tengah—berpikir aku bisa melindungimu sekaligus menjaga martabat keluarga yang busuk itu."

Andi melangkah lebih dekat, menatap Sania dengan intensitas yang membuat napas Sania tertahan. "Melihat Ayah mengirim pengacara untuk menghancurkanmu dari balik jeruji besi... itu adalah titik baliknya. Aku sadar, aku tidak bisa memiliki kehormatan jika aku harus mengorbankan wanita yang seharusnya aku cintai."

Sania membekap mulutnya sendiri, tangan yang gemetar ia tempelkan ke dadanya. "Andi..."

"Aku memilihmu, Sania," ucap Andi lirih, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang selama ini ia kunci rapat. "Aku menyerahkan seluruh bukti ini agar kalian bisa mematahkan tuntutan sita darurat bank besok pagi. Dokumen ini juga akan menutup semua celah bagi Ayah untuk bebas di tingkat banding. Kita hancurkan dinasti ini bersama-sama. Aku tidak peduli jika aku harus kehilangan semuanya, asal kau aman."

Baskara menatap tumpukan dokumen tersebut dengan rasa takjub, lalu melirik ke arah Sania. "Sania, bukti ini... ini adalah kunci emas. Kita bisa membalikkan keadaan dalam hitungan jam."

Sania tidak langsung menjawab. Ia menatap Andi, mencari sisa-sisa kebohongan di wajah pria itu, namun yang ia temukan hanyalah sebuah ketulusan yang murni. Di dalam ruang kerja yang sempit dan remang itu, sebuah aliansi yang tak pernah ia duga sebelumnya baru saja terbentuk.

Andi perlahan mendekat, ia tidak berani menyentuh Sania, namun kehadirannya memberikan rasa tenang yang aneh di tengah kekacauan hidup mereka. "Aku tahu aku tidak bisa menghapus apa yang telah Ayah lakukan, atau ketakutan yang kusebabkan selama ini. Tapi izinkan aku menjadi orang yang memastikan dia tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi."

Sania akhirnya mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Andi yang dingin. "Kau mempertaruhkan segalanya malam ini, Andi. Jika kau melakukan ini, tidak akan ada jalan kembali bagimu."

"Aku tidak ingin kembali ke dunia itu lagi," jawab Andi dengan pasti. "Dunia itu tidak memiliki tempat bagimu. Dan tanpa kau... dunia itu tidak ada artinya bagiku."

Di bawah cahaya lampu meja yang temaram, di tengah sisa badai yang masih mengamuk di luar, mereka berdiri berdekatan. Sebuah aliansi yang lahir bukan lagi atas dasar kontrak pernikahan palsu atau kepentingan bisnis, melainkan atas nama pengorbanan dari sebuah cinta yang meski datang terlambat, kini siap membakar apa pun yang menghalangi jalan mereka untuk bersatu di tengah reruntuhan imperium Baskoro.


Keesokan paginya...

Sidang darurat di pengadilan tata usaha negara digelar dengan pengawalan ketat. Ruang sidang penuh sesak oleh awak media dan publik yang haus akan kelanjutan skandal konsorsium Baskoro. Kamera-kamera televisi menyorot setiap inci ruangan, menangkap detik-detik kehancuran sebuah imperium.

Di kursi penggugat, Sania duduk dengan tenang, didampingi oleh Andi dan Baskara. Di hadapan mereka, tim pengacara Baskoro duduk dengan wajah tegang, berusaha mempertahankan posisi yang mulai goyah.

Jaksa penuntut umum membacakan dakwaan. Satu per satu, bukti-bukti yang dibawa Andi dipaparkan. Rekening luar negeri, memo internal, transaksi fiktif—semua terpampang jelas di layar ruang sidang.

"Yang Mulia," kata Baskara dengan suara lantang, "kami memiliki bukti yang tak terbantahkan bahwa Tuan Baskoro telah melakukan manipulasi sistematis terhadap aset PT Karya Mulia Utama selama bertahun-tahun. Ini bukan hanya kasus korupsi korporasi, tapi juga kasus pembunuhan berencana yang melibatkan almarhumah Widya, ibu dari klien saya."

Ruangan sidang mendadak sunyi. Bahkan tim pengacara Baskoro terlihat pucat. Ini adalah tuduhan yang jauh lebih serius daripada yang mereka duga.

"Kami menuntut," lanjut Baskara, "agar seluruh aset yang tidak sah dikembalikan kepada PT Karya Mulia Utama, dan agar Tuan Baskoro mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hadapan hukum."

Hakim ketua menatap berkas-berkas yang diajukan, lalu menatap Sania dan Andi. "Apakah pihak tergugat memiliki tanggapan?"

Tim pengacara Baskoro bergumam pelan, mencoba mencari celah. Tapi bukti-bukti yang disajikan terlalu kuat, terlalu lengkap, dan terlalu otentik.

"Kami... kami meminta waktu untuk mempelajari bukti-bukti ini," kata Adiwangsa, pengacara utama Baskoro, dengan suara yang gemetar.

"Permohonan ditolak," potong hakim ketua. "Bukti sudah cukup jelas. Pengadilan memutuskan untuk mengabulkan seluruh tuntutan penggugat. Surat sita darurat dibatalkan. Seluruh aset yang telah diambil secara tidak sah harus dikembalikan. Dan kami akan merekomendasikan penyelidikan lebih lanjut mengenai tuduhan pembunuhan terhadap almarhumah Widya."

Ketukan palu sidang menggema tiga kali. Ruangan itu bergemuruh dengan sorak-sorai dari pendukung Sania. Di kursi penggugat, Sania menangis—menangis untuk ibunya, untuk semua perjuangan yang telah ia lalui, dan untuk keadilan yang akhirnya ditegakkan.

Andi meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Kau berhasil, Sania. Ibu mu pasti bangga."

Sania menatap Andi, air mata mengalir di pipinya. "Kita berhasil, Andi. Kita bersama."

Di luar ruang sidang, para wartawan berdesakan ingin mewawancarai mereka. Tapi Sania hanya menatap Andi, dan Andi hanya menatapnya. Di tengah keramaian, mereka merasa seperti berada di dunia mereka sendiri.

Baskara mendekati mereka, tersenyum puas. "Kita menang. Baskoro tidak akan bisa lagi menyentuh kalian."

Sania mengangguk, lalu menatap Andi. "Sekarang, apa langkah selanjutnya?"

Andi tersenyum, meraih kedua tangan Sania. "Kita mulai dari awal. Bersama. Tanpa kontrak, tanpa kebohongan, tanpa bayang-bayang masa lalu. Hanya kita."

Sania tersenyum—senyum yang tulus, senyum yang telah lama hilang. "Aku setuju."

Di tengah sorotan kamera dan hiruk-pikuk wartawan, Andi dan Sania berjalan bergandengan tangan meninggalkan gedung pengadilan. Mereka telah memenangkan pertempuran hukum. Dan sekarang, mereka siap memenangkan pertempuran hati.


BAB XXII

Pengorbanan Terakhir

Matahari belum sepenuhnya terbit saat berkas-berkas audit forensik dan pembukuan ganda peninggalan Tuan Besar Baskoro resmi berpindah ke tangan penyidik Tipikor. Aliansi darurat antara Andi, Sania, dan Baskara berjalan dengan kecepatan yang mematikan, sebuah pertunjukan presisi hukum yang menghancurkan benteng pertahanan terakhir sang tiran. Pagi itu juga, pengadilan secara resmi menolak tuntutan sita darurat dari bank rekanan Baskoro, membuktikan adanya manipulasi data korporasi yang terstruktur. PT Karya Mulia Utama, yang tadinya berada di ambang jurang kehancuran, untuk sementara waktu berhasil diselamatkan.

Namun, seekor monster yang terpojok selalu menjadi yang paling berbahaya. Bagi Baskoro, kekalahan bukan berarti berhenti; itu berarti ia harus membakar segalanya sebelum ia sendiri yang hancur.


Tiga hari setelah kemenangan di pengadilan...

Sania dan Andi menghabiskan waktu di rumah tua peninggalan ibunya. Rumah itu sederhana, namun terasa hangat dan penuh cinta. Mereka memasak bersama, bercanda di teras belakang, dan merencanakan masa depan yang belum pasti tapi penuh harapan.

"Ini pertama kalinya aku merasa benar-benar hidup," kata Sania, bersandar di dada Andi di bawah pohon mangga tua. "Dulu, di penthouse, semuanya terasa seperti mimpi buruk. Tapi di sini... di sini aku merasa menjadi diriku sendiri."

Andi memeluknya erat. "Aku juga. Dulu, aku pikir kebahagiaan adalah tentang kekuasaan dan uang. Tapi sekarang aku tahu, kebahagiaan adalah tentang ini—tentang berada di samping orang yang kau cintai."

Sania tersenyum, mencium pipi Andi dengan lembut. "Aku mencintaimu, Andi Baskoro. Meskipun nama belakangmu masih menyisakan banyak trauma."

Andi tertawa kecil. "Aku akan menggantinya jika kau mau. Aku akan menjadi Andi biasa, tanpa nama besar, tanpa bayang-bayang masa lalu."

"Kau tidak perlu mengganti namamu," kata Sania. "Yang penting kau sudah berubah. Dan aku mencintai siapa dirimu sekarang."

Mereka berpelukan dalam diam, menikmati ketenangan pagi yang jarang mereka dapatkan. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga dan tanah basah. Burung-burung berkicau di kejauhan, menambah harmoni pagi yang damai.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.


Sore harinya...

Sania memutuskan kembali ke rumah tua ibunya untuk mengambil beberapa dokumen asli perusahaan yang tertinggal di lantai dua—berkas-berkas yang mungkin bisa menjadi peluru tambahan bagi pengacara mereka jika Baskoro mencoba serangan balik. Andi sedang berada di kantor polisi untuk memberikan kesaksian tambahan, jadi Sania pergi sendirian.

Ia tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata sejak tadi mengawasi pergerakannya dari dalam mobil hitam beraliran gelap yang terparkir tak jauh dari gerbang rumah.

Tuan Besar Baskoro, menggunakan sisa-sisa koneksi gelapnya yang belum terendus hukum, telah menyewa orang-orang bayaran. Rencananya sederhana namun brutal: menculik Sania guna dijadikan sandera dan alat posisi tawar agar Andi mencabut seluruh laporan hukumnya.

Brakk!

Pintu depan rumah tua Sania didobrak paksa, mengguncang dinding-dinding kayu yang rapuh. Dua orang pria berbadan tegap dengan masker hitam merangsek masuk seperti badai. Sania yang sedang berada di ruang tengah terlonjak kaget. Sebelum wanita itu sempat meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, tangan-tangan kasar sudah mencengkeram lengannya dengan kuat.

"Lepaskan aku! Siapa kalian?! Apa yang kalian mau?!" jerit Sania, berusaha berontak dan menendang, namun kekuatannya kalah telak dibanding pria-pria terlatih itu.

"Tutup mulutmu!" desis salah satu pria, suaranya dingin dan tanpa emosi. Mereka menyeret Sania keluar menuju mobil yang sudah bersiap dengan pintu bagasi yang terbuka lebar.

Sania berteriak sekuat tenaga, berharap ada tetangga yang mendengar dan membantunya. Tapi rumah tua itu terletak di pinggiran kota yang sepi, dan tidak ada siapa pun di sekitar.

"Aku tidak akan pergi dengan kalian!" teriak Sania, berusaha menggigit tangan pria yang mencengkeramnya.

Pria itu meringis kesakitan, tapi tidak melepaskan cengkeramannya. "Diam, jalang!" bentaknya, dan ia mengayunkan tangannya untuk memukul Sania.

Tepat di saat yang sama, deru mesin mobil sedan hitam terdengar mendekat dengan kecepatan tinggi. Andi, yang baru saja tiba dari kantor polisi dengan pikiran yang masih tertuju pada keselamatan istrinya, langsung menangkap gelagat bahaya saat melihat pintu rumah Sania hancur dan istrinya sedang diseret paksa.

"Sania!" teriak Andi, suaranya membelah kesunyian sore itu. Matanya membelalak sempurna, dipenuhi oleh api kemarahan yang membakar. Tanpa berpikir panjang, ia memacu mobilnya, menabrakkan bagian depannya ke trotoar, lalu melompat keluar dan berlari kencang menerobos halaman.

Melihat kedatangan Andi, salah seorang pria bayaran panik. Rencana mereka berantakan. Ia mengeluarkan sebuah balok besi dari bagasi mobil, memutar tubuhnya, dan mengayunkannya dengan membabi buta ke arah Sania untuk memaksa wanita itu diam agar bisa segera dibawa pergi.

"Jangan!"

Andi melompat ke depan, tidak ada waktu untuk menghitung risiko. Ia memutar posisi tubuhnya di detik-detik terakhir demi menggunakan badannya sendiri sebagai perisai hidup.

Bugh!

Hantaman keras balok besi itu mengenai punggung dan kepala belakang Andi dengan telak. Suara benturan yang mengerikan—suara retakan tulang dan hantaman tumpul—menggema di udara sunyi sore itu. Andi terhuyung, darah segar mulai mengalir deras dari pelipisnya, namun instingnya untuk melindungi Sania tidak padam. Dengan tenaga yang tersisa, ia mendorong Sania menjauh hingga wanita itu jatuh terjerembap ke atas rerumputan dengan aman.

"Mas Andi!" jerit Sania histeris. Suaranya pecah, memenuhi udara dengan rasa sakit yang tak terlukiskan.

Andi ambruk ke atas tanah, kesadarannya mulai mengabur bagaikan lampu yang meredup. Melihat situasi yang tidak lagi menguntungkan—dan warga sekitar yang mulai keluar dari rumah mereka karena mendengar keributan—para pria bayaran itu tidak punya pilihan. Mereka melompat ke dalam mobil dan memacu kendaraan mereka pergi, meninggalkan target yang gagal dibawa, meninggalkan saksi yang akan menghancurkan mereka.

Sania merangkak cepat di atas rumput, menghampiri Andi. Ia menopang kepala suaminya di atas pangkuannya, tangannya gemetar hebat saat mencoba menahan aliran darah yang membasahi kemeja putih Andi.

"Mas, bangun... tolong lihat aku, Mas..." Tangis Sania pecah, dadanya sesak oleh rasa takut yang luar biasa. Ia menekan luka di kepala Andi, namun darah terus merembes keluar dari sela-sela jarinya. "Jangan tinggalkan aku, tolong... siapa yang akan melindungiku sekarang kalau kau pergi?"

Andi tersenyum tipis. Wajahnya yang pucat pasi tetap berusaha menunjukkan ketenangan di tengah rasa sakit yang hebat. Matanya sayu, menatap wajah Sania yang dipenuhi air mata dan debu. Dengan sisa kekuatannya yang hampir habis, ia menyentuh pipi Sania. Jemarinya yang berlumuran darah meninggalkan noda merah di sana.

"Kau... kau selamat..." bisiknya parau, suaranya hampir tak terdengar.

"Aku selamat karena kau, bodoh!" raung Sania, isak tangisnya semakin menjadi-jadi. "Kenapa kau lakukan itu? Kenapa kau selalu mempertaruhkan nyawamu untukku?"

Andi tidak menjawab. Matanya yang sayu perlahan tertutup. "Jangan... jangan takut lagi... semuanya... sudah berakhir..."

"Mas? Mas Andi? Bangun!" Sania menepuk pelan pipi Andi, namun suaminya tidak lagi merespons. Tubuhnya lunglai di pelukan Sania. Di tengah heningnya sore itu, di bawah langit yang mulai berubah menjadi jingga, Sania mendekap Andi erat-erat, membiarkan air matanya membasahi wajah pria yang baru saja ia sadari merupakan satu-satunya rumah yang pernah ia miliki.

Seseorang di kejauhan mulai berteriak memanggil ambulans, namun bagi Sania, dunia seolah berhenti berputar tepat di detik napas Andi melemah di pelukannya.

"Tolong, jangan pergi," bisiknya, suaranya hancur. "Aku baru saja menemukanmu. Aku belum siap kehilanganmu."

Di kejauhan, sirine ambulans mulai terdengar mendekat. Sania terus memeluk Andi, berdoa kepada Tuhan agar pria itu diberi kesempatan kedua. Karena ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Andi. Tidak lagi.

Tuhan, tolong selamatkan dia, pikirnya. Aku akan melakukan apa pun. Aku akan menjadi siapa pun. Asal dia selamat.

Dan di dalam pelukannya, Andi masih terbaring tak bergerak, dengan darah yang terus mengalir dan napas yang semakin melemah. Pengorbanan terakhirnya mungkin akan menjadi pengorbanan yang paling berarti—atau yang paling menghancurkan.


BAB XXIII

Runtuhnya Dinasti

Aroma antiseptik yang tajam dan bunyi detak ritmis dari bedside monitor di ruang Intensive Care Unit (ICU) menjadi latar belakang dari kecemasan yang terus mendera Sania. Di balik kaca pembatas yang tebal, sosok Andi terbaring tak berdaya. Perban putih tebal melilit kepalanya, kontras dengan kulitnya yang pucat. Dokter menyatakan fase kritis telah lewat, namun benturan keras pada tengkoraknya memaksa Andi untuk tetap berada dalam koma induksi agar otaknya bisa beristirahat total.

Tiga hari telah berlalu sejak kejadian penculikan yang gagal itu. Tiga hari sejak Andi mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Sania. Tiga hari sejak Sania menghabiskan setiap momen di sisi ranjang suaminya, berdoa dan menangis dalam diam.

Sania duduk di sisi ranjang, jemarinya menggenggam tangan Andi yang terasa hangat. Ia tidak menangis lagi. Air matanya telah kering setelah kejadian kemarin, menyisakan keteguhan yang dingin dan tajam.

"Terima kasih, Mas," bisik Sania lirih, suaranya parau namun penuh penekanan. Ia mengecup punggung tangan suaminya dengan lembut. "Kau sudah melakukan bagianmu sebagai perisai. Sekarang, izinkan aku yang memegang pedangnya. Aku akan memastikan mereka yang menyakitimu dan Ibu mendapatkan balasan yang setimpal."

Sania berdiri, merapikan pakaiannya, dan menatap Andi sekali lagi dengan tatapan penuh janji sebelum melangkah keluar memenuhi panggilan Baskara.


Di luar dinding rumah sakit...

Hukum bergerak laksana air bah yang tak bisa dibendung. Bukti pembukuan ganda dan data rekening luar negeri yang diserahkan Andi, ditambah dengan laporan polisi mengenai upaya penculikan yang gagal, menjadi paku terakhir pada peti mati kejayaan Tuan Besar Baskoro.

Sidang perdana kasus tindak pidana korupsi, pencucian uang, manipulasi aset, dan percobaan pembunuhan yang melibatkan Konsorsium Baskoro digelar dengan pengawalan militer ketat. Ruang sidang penuh sesak oleh awak media dan publik yang haus akan keadilan. Kamera-kamera televisi menyorot setiap inci ruangan, menangkap detik-detik kehancuran sebuah imperium.

Tuan Besar Baskoro duduk di kursi terdakwa. Ia tidak lagi mengenakan jas Armani yang rapi. Tubuhnya tampak jauh lebih kecil di balik seragam tahanan yang longgar. Rambutnya yang dulunya disisir klimis kini memutih dan berantakan, dan keangkuhan yang dulu menghiasi wajahnya telah menguap, berganti dengan guratan keputusasaan yang dalam.

Di barisan kursi pengunjung, Sania duduk di samping Baskara. Ia menatap lurus ke arah pria yang pernah menjadi mimpi buruknya. Di matanya, tidak ada lagi ketakutan. Yang ada hanyalah tekad dan keadilan.

Jaksa Penuntut Umum mulai membacakan dakwaan dengan suara yang lantang. Satu per satu kejahatan masa lalu dibeberkan. Bukan hanya soal suap proyek infrastruktur nasional, pencucian uang, dan manipulasi aset, namun juga keterlibatan Baskoro dalam rekayasa kecelakaan yang menewaskan ibunda Sania lima tahun lalu—sebuah pengakuan yang memaksa ruangan sidang mendadak sunyi senyap.

"Terdakwa Baskoro," kata jaksa, "kami memiliki bukti bahwa Anda secara sadar dan terencana melakukan rekayasa kecelakaan yang menewaskan almarhumah Widya, pemilik sah PT Karya Mulia Utama. Motif Anda adalah untuk menguasai seluruh aset perusahaan tersebut. Apakah Anda mengakui perbuatan ini?"

Baskoro terdiam. Wajahnya pucat, matanya menatap kosong ke depan. Seluruh pertahanan mental yang ia bangun selama bertahun-tahun mulai runtuh.

"Terdakwa Baskoro, kami ulangi pertanyaan kami," tegas jaksa. "Apakah Anda mengakui perbuatan ini?"

Baskoro akhirnya membuka mulut. Suaranya serak, bergetar, dan penuh kebencian. "Widya... Widya adalah pengkhianat. Dia memilih untuk pergi, memilih untuk membangun perusahaannya sendiri, memilih untuk tidak bergabung dengan konsorsiumku. Dia pantas mati! Dia pantas—"

"Cukup!" bentak Hakim Ketua, memotong teriakan Baskoro. "Pengadilan tidak peduli pada dendam pribadi Anda. Pengadilan hanya peduli pada kebenaran dan keadilan. Terdakwa Baskoro, dengan ini kami menyatakan Anda bersalah atas seluruh tuduhan yang diajukan."

Ketukan palu sidang menggema tiga kali, menandai vonis hukuman maksimal—penjara seumur hidup serta penyitaan seluruh aset pribadi hasil kejahatan.

Gedoran palu itu sekaligus menjadi tanda runtuhnya dinasti Baskoro secara permanen. Kerajaan bisnis yang dibangun di atas fondasi keserakahan, darah, dan air mata orang lain itu kini rata dengan tanah.

Saat Baskoro digiring keluar oleh petugas kepolisian, ia sempat berhenti sejenak di depan Sania. Matanya yang penuh kebencian menatap wanita yang telah menghancurkan segalanya.

"Kau pikir kau menang, Sania?" desisnya, suaranya penuh racun. "Kau menghancurkan masa depanmu sendiri bersamanya! Andi mungkin masih hidup, tapi dia tidak akan pernah pulih! Dia akan menjadi sayuran seumur hidupnya!"

Sania berdiri, menatap mantan mertuanya itu dengan pandangan yang tenang, tanpa kebencian, namun tanpa pengampunan. "Masa depanku baru saja dimulai, Tuan Baskoro. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak perlu lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutanmu. Selamat tinggal."

Baskoro ditarik paksa menjauh oleh petugas, suaranya menghilang di balik pintu kayu ruang sidang. Teriakan dan makiannya perlahan meredup, tenggelam dalam gemuruh keadilan yang akhirnya ditegakkan.

Skandal raksasa ini melikuidasi habis nama besar korporasi yang selama ini disandang Andi. Dinasti itu telah pecah berantakan, menyisakan puing-puing kehancuran bagi siapa saja yang berlindung di bawahnya. Sania berjalan keluar dari gedung pengadilan di bawah sorotan lampu kamera yang menyilaukan. Ia tidak lagi merasa perlu bersembunyi.

Sore itu, di depan gedung pengadilan, Baskara mendekat. "Apa langkah selanjutnya?"

Sania menatap langit Jakarta yang kini tampak lebih cerah. "Kembali ke rumah sakit. Andi harus segera tahu bahwa dunianya yang lama sudah berakhir. Sekarang, saatnya kami membangun sesuatu yang baru, di atas fondasi yang kami bangun sendiri, bukan di atas puing-puing keserakahan."

Bagi Sania, keadilan yang tegak hari ini bukan sekadar pembalasan dendam. Ini adalah halaman pertama dari sebuah buku yang ia tulis sendiri, tanpa paksaan, tanpa kontrak, dan tanpa ketakutan. Dinasti Baskoro telah runtuh, namun kehidupan Sania—dan harapannya bersama Andi—baru saja mulai bernapas.


Di rumah sakit...

Sania kembali ke ruang ICU dengan langkah yang ringan namun penuh harap. Di balik kaca, Andi masih terbaring tak bergerak. Namun saat Sania memasuki ruangan, sesuatu yang ajaib terjadi.

Kelopak mata Andi mulai bergerak. Perlahan, sangat perlahan, ia membuka matanya.

"Sania..." bisiknya, suaranya lemah namun nyata.

Sania terkesiap, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Andi! Kau sadar! Kau benar-benar sadar!"

Ia berlari mendekati ranjang, meraih tangan Andi dan menciumnya berulang kali. "Dokter! Dokter, dia sadar!" teriaknya ke arah pintu.

Andi tersenyum lemah, menatap Sania dengan mata yang masih sayu. "Aku... aku mendengar semuanya," katanya pelan. "Kau... kau luar biasa."

Sania menangis di samping ranjang, menangis untuk semua yang telah mereka lalui, untuk semua yang hampir hilang, dan untuk semua yang kini telah ditemukan kembali.

"Aku mencintaimu, Andi," bisiknya. "Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi."

Andi menggenggam tangannya dengan lemah, namun penuh makna. "Aku juga mencintaimu, Sania. Dan kali ini... aku tidak akan pergi."

Di luar jendela, matahari mulai terbenam, menyinari langit Jakarta dengan warna jingga keemasan. Sebuah dinasti telah runtuh, namun dari reruntuhannya, sebuah cinta yang lebih kuat mulai tumbuh. Dan bagi Sania dan Andi, inilah awal dari segalanya.


BAB XXIV

Puing-Puing yang Tersisa

Setelah badai hukum mereda dan ketukan palu hakim mendelegasikan Tuan Besar Baskoro ke balik jeruji besi, keheningan yang asing kembali menyelimuti kehidupan Andi dan Sania. Ruang perawatan rumah sakit kini terasa lebih sepi, jauh dari hiruk-pikuk berita yang selama ini membombardir mereka. Luka di kepala Andi berangsur pulih secara medis, namun tatapannya saat menatap langit-langit kamar sering kali kosong, menyimpan beban pikiran yang teramat berat—seolah-olah ia sedang menimbang harga dari sebuah kebebasan.

Dua minggu telah berlalu sejak Andi sadar dari komanya. Dua minggu sejak Sania menghabiskan setiap malam di sisinya, menemaninya melalui proses pemulihan yang panjang dan melelahkan. Dan dalam dua minggu itu, Andi mulai bisa berbicara, mulai bisa bergerak, dan mulai bisa merasakan kembali kehidupan yang hampir ia tinggalkan.

Tapi ada yang berubah dalam dirinya. Sesuatu yang membuat Sania khawatir.

Nama besar Baskoro telah runtuh, dan bersamanya, seluruh hak istimewa, status sosial, dan kejayaan finansial yang pernah Andi sandang ikut menguap. Ia bukan lagi sang putra mahkota korporasi tiran; ia kini hanyalah seorang pria yang berdiri di atas puing-puing nama keluarga yang telah tercoreng total oleh skandal korupsi raksasa. Bagi dunia, ia adalah anak dari monster yang dibenci. Bagi dirinya sendiri, ia adalah pria yang tidak lagi mengenal siapa dirinya.

Sore itu, Sania melangkah masuk ke dalam kamar rawat Andi dengan membawa sebuah tas kecil berisi pakaian bersih. Cahaya senja menerobos masuk melalui celah gorden, menciptakan siluet yang panjang di lantai. Langkah kakinya terhenti tepat di ambang pintu saat melihat Andi sudah berpakaian rapi dengan kemeja kasual yang sederhana. Pria itu tidak lagi memakai baju pasien; ia duduk di tepi ranjang sembari menatap selembar dokumen di atas meja nakas dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Mas... kau sudah boleh banyak bergerak?" tanya Sania lembut, suaranya memecah kesunyian yang mencekam. Ia mendekat, meletakkan tasnya, dan mencoba tersenyum, namun senyumannya pudar saat melihat atmosfer yang terasa asing.

Andi mendongak. Ia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyiratkan kelelahan batin yang mendalam, bukan kesegaran seorang pria yang baru pulih. "Aku sudah merasa jauh lebih baik, Sania. Fisikku sudah pulih." Ia menjeda kalimatnya, tangannya sedikit gemetar saat menggeser dokumen di atas meja ke arah Sania. "Ada sesuatu yang harus kuselesaikan sebelum aku pergi jauh."

Sania menunduk, membaca judul dokumen tersebut dengan detak jantung yang berpacu liar. Surat Kesepakatan Perceraian.

Jantungnya seketika mencelos. Ia merasakan dingin yang menjalar ke ujung jemarinya. "Apa... apa maksudnya ini, Mas?" suara Sania bergetar hebat. Ia menatap Andi dengan mata yang mendadak berkaca-kaca, menolak untuk memahami baris-baris kalimat hukum yang tertulis di sana. "Setelah semua yang kita lalui? Setelah kau mempertaruhkan nyawamu untuk melindungiku? Apa kau sedang bercanda?"

Andi bangkit berdiri. Gerakannya pelan namun mantap, seolah setiap ototnya sedang menolak apa yang ia lakukan. Ia memangkas jarak di antara mereka, namun menahan diri untuk tidak menyentuh Sania—seolah takut jika ia menyentuh wanita itu, ia tidak akan pernah sanggup untuk melepaskannya.

"Justru karena aku mencintaimu, Sania," ucap Andi lirih. Suaranya serak, penuh dengan kepedihan yang tak tertahankan. "Melihat kembali ke belakang, aku sadar bahwa kehadiranku dan keluargaku hanyalah sumber penderitaan bagimu. Pernikahan kontrak ini dimulai di atas tanah yang labil, dipenuhi kebohongan, dan hampir saja merenggut nyawamu kemarin. Apakah itu belum cukup menjadi bukti bahwa aku adalah racun bagimu?"

Sania menggeleng kuat-kuat, air mata mulai mengalir di pipinya. "Itu tidak benar! Kau bukan racun, kau adalah satu-satunya orang yang membelaku saat aku tidak punya siapa-siapa! Kita sudah melewati masa terburuknya, Andi. Kenapa sekarang, saat kita bisa mulai dengan jujur, kau justru ingin pergi?"

Andi menarik napas pendek, mencoba menguatkan hatinya yang hancur. "Sekarang, nama Baskoro sudah hancur. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan kepadamu, dan aku tidak ingin sisa-sisa puing kehancuran keluargaku terus membayangi masa depanmu yang baru saja bersih. Perusahaan ibumu sudah aman, namamu sudah pulih. Kau berhak hidup bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu yang kelam bersamaku. Aku hanyalah pengingat berjalan tentang semua trauma yang kau rasakan."

Sania melangkah maju, mencengkeram kedua lengan Andi dengan gemetar. "Aku tidak peduli dengan nama besar! Aku tidak peduli dengan harta atau status! Aku peduli pada pria yang duduk di depanku ini! Pria yang memilih untuk tertusuk besi demi menyelamatkanku! Apa itu tidak berarti apa-apa bagimu?"

Andi terdiam. Matanya memerah, menahan luapan emosi yang hampir meledak. Ia meraih tas ranselnya yang sudah ia siapkan di sudut ruangan, menghindari tatapan Sania yang begitu memohon.

"Aku sudah menandatanganinya," ujar Andi dengan nada final yang menyakitkan. "Kau bisa menyerahkannya pada pengacaramu kapan saja. Aku akan pergi ke luar kota, mencari tempat di mana tidak ada yang tahu siapa ayahku. Aku ingin memulai semuanya dari nol, sebagai Andi yang biasa—bukan seorang Baskoro."

"Jika kau pergi sekarang, kau tidak sedang memulai dari nol," potong Sania dengan suara yang tegas di sela isak tangisnya. "Kau sedang melarikan diri dari perasaanmu sendiri! Apa kau pikir aku akan bahagia setelah kau pergi? Apa kau pikir ini yang aku mau?"

Andi menatap Sania untuk terakhir kalinya, matanya penuh dengan kerinduan yang terpaksa ia kubur dalam-dalam. "Bahagiamu adalah tujuan utamaku, Sania. Dan pergi darimu... adalah pengorbanan terakhir yang bisa kulakukan untuk memastikannya."

Andi melangkah melewati ambang pintu kamar tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya terdengar bergema di koridor rumah sakit yang panjang, semakin lama semakin menjauh, meninggalkan Sania yang masih mematung di tempatnya.

Surat cerai itu tergeletak di atas meja, seolah mengejek impian Sania akan masa depan bersama. Sania tidak mengejarnya. Ia tahu, ketika seorang pria telah menutup pintu hatinya dengan alasan "cinta", tidak ada kunci yang bisa membukanya kecuali pria itu sendiri yang memilih untuk kembali.

Di ruangan yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya, Sania hanya bisa menatap punggung Andi yang menghilang di balik pintu, menyadari bahwa ia telah memenangkan keadilan, namun dalam prosesnya, ia justru kehilangan hal yang paling ingin ia pertahankan.


Beberapa jam kemudian...

Sania duduk di teras rumah tua ibunya, menatap langit malam yang gelap. Di tangannya, surat cerai yang ditinggalkan Andi terasa berat. Ia sudah membacanya berulang kali, mencari celah, mencari harapan, mencari alasan untuk tidak menyerah.

Dan di dalam hatinya, ia menemukannya.

Andi tidak pergi karena dia berhenti mencintai aku, pikir Sania. Dia pergi karena dia terlalu mencintai aku. Dia pikir dia adalah beban bagiku. Tapi dia salah. Dia adalah hadiah terbesar dalam hidupku.

Sania berdiri, tekad terbentuk di dalam hatinya. Ia tidak akan membiarkan Andi pergi begitu saja. Ia akan mengejarnya. Ia akan menunjukkan padanya bahwa cinta mereka lebih kuat dari masa lalu, lebih kuat dari nama keluarga, lebih kuat dari apa pun.

Ia mengambil ponselnya, menelepon Baskara. "Pak Baskara, aku butuh bantuanmu. Aku perlu tahu ke mana Andi pergi."

Baskara terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Aku sudah menduga ini akan terjadi. Andi meneleponku sebelum dia pergi. Dia bilang dia akan naik kereta malam ke kota kelahirannya di Jawa Tengah. Dia ingin memulai hidup baru di sana."

Sania tersenyum—senyum penuh tekad. "Terima kasih, Pak Baskara. Aku akan mengejarnya."

"Sania, hati-hati," peringat Baskara. "Kau baru saja melewati badai besar. Jangan sampai kau terjebak dalam badai yang lain."

"Aku tidak akan," jawab Sania mantap. "Karena kali ini, aku tahu apa yang aku perjuangkan."

Ia menutup telepon, lalu bergegas mengambil kunci mobil. Di dalam hatinya, hanya ada satu tujuan: mengejar Andi, sebelum kereta itu pergi, sebelum cinta mereka benar-benar hancur menjadi tiada.


BAB XXV

Sebelum Pecah Menjadi Tiada

Langkah kaki Sania bergaung tergesa-gesa di sepanjang koridor Stasiun Gambir. Bunyi heels-nya yang beradu dengan lantai peron terdengar begitu nyaring, bersaing dengan suara guntur yang kembali bersahut-sahitan di langit Jakarta, seolah alam pun enggan membiarkan perpisahan ini berlalu dalam sunyi. Di genggamannya, kertas surat cerai itu sudah lecek dan lembap oleh keringat dingin. Setelah interogasi singkat dengan perawat di rumah sakit, Sania tahu Andi berniat naik kereta malam menuju kota kelahirannya di Jawa Tengah untuk mengasingkan diri, menjauh dari segala ingatan tentang nama keluarga yang telah ia buang.

Hujan deras mengguyur stasiun, menciptakan suara gemuruh di atap bangunan tua itu. Sania berlari menembus hujan, mengabaikan air yang membasahi gaunnya, mengabaikan dingin yang merambat ke tulang-tulangnya. Yang ada di pikirannya hanyalah satu nama: Andi. Pria yang telah mempertaruhkan nyawanya untuknya. Pria yang kini hendak pergi karena ia pikir dirinya adalah racun.

Mata Sania menyapu peron yang mulai dipadati calon penumpang. Napasnya memburu, dadanya sesak oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—ketakutan bahwa ia akan terlambat, bahwa retakan di antara mereka akan benar-benar pecah menjadi tiada.

"Andi!" teriak Sania, suaranya parau, menembus kebisingan stasiun yang sibuk.

Di dekat pintu masuk gerbong eksekutif, sesosok pria dengan ransel hitam di pundaknya tertegun. Andi membalikkan badan perlahan. Wajahnya yang masih menyisakan pucat akibat luka di kepala tampak sangat terkejut saat melihat Sania berdiri beberapa meter di depannya dengan napas tersengal-sengal, rambutnya berantakan, dan wajahnya basah oleh rintik hujan yang sempat ia terjang di pelataran parkir.

"Sania? Kenapa kau ke sini?" Andi melangkah mendekat dengan keraguan yang kentara di matanya. "Aku sudah meninggalkan semuanya dengan jelas. Kau tidak perlu mempersulit dirimu lagi dengan datang ke sini untuk—"

"Kau yang pengecut, Andi!" potong Sania tajam. Suara tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya runtuh tak terbendung lagi. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga berdiri tepat di depan dada pria itu. "Kau pikir dengan menandatangani surat sialan ini dan pergi menjauh, kau sudah menjadi pahlawan? Kau pikir aku akan bahagia jika kau pergi dan meninggalkan satu-satunya orang yang memahamiku?!"

Andi terdiam, rahangnya mengeras menahan gejolak emosi yang hampir meledak. Ia memalingkan wajah, menatap rel kereta yang gelap di bawah sana. "Aku tidak punya apa-apa lagi, Sania. Nama baik, harta, posisi... semuanya sudah habis. Aku hanya puing-puing dari sebuah kehancuran. Aku tidak ingin menjadi beban untuk hidup barumu yang mulai bersih."

"Siapa yang peduli dengan semua kemewahan palsu itu?!" Sania mencengkeram kerah kemeja Andi dengan kedua tangannya, memaksa pria itu untuk menatapnya. Ia menumpahkan seluruh ego dan kejujurannya yang selama ini tertutup topeng pertahanan diri. "Fondasi kita memang labil sejak awal karena dibangun di atas kontrak dan dendam. Tapi malam ketika kau melompat di depanku, malam ketika kau mempertaruhkan nyawamu untuk menerima hantaman besi itu demi aku... di situ aku sadar, Andi. Aku tidak sedang melihat seorang pewaris Baskoro. Aku sedang melihat pria yang kucintai! Pria yang lebih memilih terluka daripada melihatku hancur!"

Air mata mengalir deras di pipi Sania, namun ia tidak peduli. Ia membiarkan semuanya tumpah—semua rasa sakit, semua keraguan, semua cinta yang selama ini ia pendam.

"Kau bilang kau pergi karena kau mencintaiku?" lanjut Sania, suaranya bergetar tapi tegas. "Kalau begitu, kau tidak mengerti apa itu cinta! Cinta bukan tentang pergi untuk melindungi seseorang. Cinta adalah tentang tetap tinggal, bahkan ketika segalanya terasa berat! Cinta adalah tentang berjuang bersama, bukan melarikan diri sendirian!"

Andi tertegun sempurna. Cengkeraman tangan Sania di kemejanya bergetar hebat, dan isak tangis wanita itu kini terdengar menyayat hati di antara hiruk-pikuk stasiun.

"Jangan pergi," bisik Sania lirih, kepalanya terkulai di dada Andi. "Jangan biarkan hubungan kita pecah menjadi tiada. Kita bisa merekatkannya kembali. Kita mulai semuanya dari nol, dari puing-puing ini. Tanpa kontrak, tanpa kebohongan, tanpa bayang-bayang papamu. Hanya aku dan kau, sebagai dua orang yang saling memilih."

Mendengar pengakuan tulus itu, runtuh sudah seluruh pertahanan ego Andi. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk memikirkan harga diri pria, hingga ia lupa bahwa harga diri sejati adalah kemampuan untuk tetap tinggal bagi orang yang mencintainya. Ransel di pundaknya merosot jatuh ke atas lantai peron dengan suara gedebuk yang samar.

Dengan kedua tangan yang gemetar, ia menarik Sania ke dalam pelukannya—sebuah pelukan yang begitu erat, hangat, dan sarat akan rasa syukur yang teramat dalam. Andi menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sania, menghirup aroma parfum wanita itu yang masih melekat di tengah bau hujan dan besi stasiun. Air mata Andi akhirnya jatuh, menyatu dengan air mata Sania.

"Maafkan aku, Sania..." bisik Andi parau, mengecup puncak kepala Sania berulang kali seolah takut wanita itu akan menghilang. "Maafkan aku karena berpikir bahwa aku bisa melindungimu dengan cara menjauh. Aku bodoh. Aku sangat bodoh."

"Kau memang bodoh," jawab Sania sambil tertawa tangis. "Tapi aku juga bodoh karena mencintaimu."

"Aku tidak akan pergi," janji Andi, melepaskan pelukan sedikit untuk menatap mata Sania. "Kita tidak akan membiarkan retakan ini menjadi jurang. Kita perbaiki bersama-sama. Aku berjanji, Sania. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."

Di tengah pengumuman keberangkatan kereta yang menggema dan hilir mudik manusia di peron stasiun, dua hati yang sempat saling melukai itu akhirnya memilih untuk berhenti berlari. Kereta di depan mereka mulai bergerak perlahan, meninggalkan stasiun, namun bagi Andi dan Sania, kereta itu tidak lagi penting.

Mereka berdua berjalan menjauh dari peron, melangkah kembali ke arah pintu keluar stasiun. Di atas puing-puing dinasti yang telah hancur, mereka memutuskan untuk menyatukan kembali serpihan cinta mereka yang retak. Bukan lagi sebagai majikan dan bawahan, bukan lagi sebagai tahanan kontrak pernikahan, melainkan sebagai sepasang manusia yang siap membangun fondasi baru—sebuah rumah yang dibangun di atas kejujuran, yang akan jauh lebih kokoh, abadi, dan takkan pernah bisa diruntuhkan oleh siapa pun lagi.

Hujan di luar stasiun perlahan mereda, menyisakan udara malam yang dingin namun bersih, seolah membersihkan jalan panjang yang harus mereka tempuh bersama esok hari.


Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang...

Sania duduk di kursi penumpang, bersandar di bahu Andi. Keduanya diam, menikmati keheningan yang nyaman—keheningan yang tidak lagi terasa mencekam, melainkan penuh kedamaian.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Sania akhirnya, suaranya lembut.

Andi meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Kita mulai dari awal. Aku akan mencari pekerjaan baru, di luar korporasi. Mungkin sebagai konsultan keuangan independen. Aku ingin membangun karierku dari nol, tanpa bantuan nama Baskoro."

"Aku akan mendukungmu," kata Sania. "Dan aku akan mengelola PT Karya Mulia Utama dengan lebih baik. Aku ingin membuat ibuku bangga."

"Kau sudah membuatnya bangga," kata Andi, mencium keningnya. "Dan aku akan selalu ada di sampingmu, untuk mendukung apa pun yang kau lakukan."

Sania tersenyum—senyum yang tulus, senyum yang penuh harapan. "Kita akan baik-baik saja, kan?"

Andi tersenyum balik, memeluknya lebih erat. "Kita akan lebih dari baik-baik saja, Sania. Kita akan bahagia. Aku berjanji."

Di luar, hujan telah berhenti sepenuhnya. Langit malam mulai bersih, memperlihatkan bintang-bintang yang berkelap-kelip. Dan di dalam mobil yang melaju perlahan menuju rumah, dua insan yang telah melewati badai terbesar dalam hidup mereka mulai membangun masa depan yang baru—masa depan yang mereka bangun bersama, di atas fondasi cinta yang tulus dan kejujuran yang mutlak.


BAB XXVI

Cinta yang Tumbuh dari Puing-puing

Satu bulan telah berlalu sejak pertemuan di Stasiun Gambir. Satu bulan sejak Andi dan Sania memutuskan untuk memulai kembali dari nol. Dan dalam satu bulan itu, mereka belajar banyak hal—tentang diri mereka sendiri, tentang satu sama lain, dan tentang arti sebenarnya dari sebuah fondasi yang kokoh.

Rumah tua peninggalan ibunda Sania di pinggiran Jakarta kini menjadi saksi bisu dari proses pemulihan mereka. Rumah yang dulunya sepi dan lembap kini mulai hidup kembali. Sania menanam bunga-bunga di halaman depan, memperbaiki atap yang bocor, dan mengecat ulang dinding-dinding yang mengelupas. Andi membantu dengan semampunya, meskipun tangannya masih sedikit gemetar akibat cedera otak yang ia alami.

Mereka tidak lagi tinggal di penthouse mewah itu. Sania telah menjual apartemen tersebut dan menggunakan uangnya untuk memulihkan PT Karya Mulia Utama. Andi mendukung keputusannya sepenuhnya—lagipula, penthouse itu adalah simbol dari semua kepalsuan yang telah mereka lalui.

"Kau yakin tidak masalah tinggal di rumah sederhana ini?" tanya Sania suatu sore, saat mereka duduk di teras belakang menikmati teh hangat. "Dulu kau terbiasa dengan kemewahan."

Andi tersenyum, meraih tangan Sania. "Kemewahan terbesar dalam hidupku sekarang adalah bisa duduk di sini, bersamamu, tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain. Rumah ini mungkin kecil, tapi ini adalah rumah yang nyata. Dan itulah yang paling berharga."

Sania tersenyum balik, hatinya bergetar mendengar kata-kata itu. "Kau benar-benar berubah, Andi. Aku hampir tidak percaya ini pria yang sama yang dulu datang menemuiku di kafe Menteng dengan draf perjanjian pranikah."

Andi tertawa kecil, sebuah tawa yang hangat dan tulus. "Aku juga hampir tidak percaya. Dulu aku pikir hidup adalah tentang kontrol dan kekuasaan. Sekarang aku tahu, hidup adalah tentang ketulusan dan keberanian untuk menjadi rentan."

Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati keheningan yang nyaman. Di halaman depan, seekor kucing liar mulai mendekati mereka, mengendus-endus dengan hati-hati. Sania tertawa, meraih sepotong roti dari meja dan melemparkannya ke arah kucing itu.

"Sepertinya kita punya tamu," kata Sania.

"Sepertinya kita punya hewan peliharaan baru," balas Andi, tersenyum.

Mereka berdua tertawa—tawa yang tulus, tawa yang sudah lama tidak mereka rasakan. Dan dalam tawa itu, ada kebahagiaan yang sederhana namun mendalam.


Malam harinya...

Sania dan Andi duduk di ruang tamu yang sederhana, dikelilingi oleh tumpukan berkas dan dokumen. Mereka sedang merencanakan masa depan PT Karya Mulia Utama, yang kini mulai bangkit kembali setelah kejatuhan Baskoro.

"Kita harus merekrut tim manajemen baru," kata Sania, menandai beberapa nama di daftar kandidat. "Orang-orang yang jujur dan kompeten, bukan yang hanya mencari keuntungan pribadi."

"Aku setuju," kata Andi. "Dan aku pikir kita juga perlu membangun kembali reputasi perusahaan. Skandal Baskoro telah mencoreng nama banyak pihak, termasuk PT Karya Mulia Utama."

"Bagaimana caranya?"

"Kita mulai dari hal-hal kecil. Transparansi penuh dalam laporan keuangan. Program CSR yang benar-benar berdampak. Dan yang terpenting, kita tunjukkan bahwa perusahaan ini dipimpin oleh orang yang memiliki integritas."

Sania menatap Andi dengan kagum. "Kau benar-benar serius, ya? Membangun ulang segalanya dari awal."

Andi mengangguk. "Aku sudah lelah menjadi bagian dari kebohongan, Sania. Aku ingin menjadi bagian dari sesuatu yang nyata, sesuatu yang baik. Dan aku ingin melakukannya bersamamu."

Sania meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Kita akan melakukannya bersama, Andi. Aku janji."


Beberapa hari kemudian...

Sania dan Andi mengunjungi makam ibunda Sania di pemakaman keluarga. Mereka membawa bunga segar dan lilin, duduk di samping nisan yang telah dibersihkan dengan hati-hati.

"Ibu, ini Andi," kata Sania, suaranya bergetar. "Aku tahu Ibu mungkin tidak setuju dengan pernikahan kami di awal. Tapi Andi telah berubah, Ibu. Dia telah membuktikan bahwa dia layak dipercaya. Dan aku... aku mencintainya."

Andi menunduk dengan hormat, meletakkan tangannya di atas nisan. "Bu, saya tahu saya tidak pantas menerima cinta Sania. Saya telah menyakitinya, saya telah membiarkan ayah saya menyakitinya. Tapi saya berjanji, mulai sekarang, saya akan melindungi dan mencintai dia seumur hidup saya. Saya akan menjadi pria yang pantas untuknya."

Sania menangis, bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Untuk pertama kalinya, ia merasa ibunya benar-benar merestui hubungan mereka.


Di rumah, malam itu...

Sania dan Andi duduk di teras belakang, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Udara dingin berhembus lembut, membawa aroma bunga dari taman yang baru mulai tumbuh.

"Apa kau percaya pada takdir?" tanya Sania tiba-tiba.

Andi berpikir sejenak. "Aku tidak tahu. Tapi aku percaya pada pilihan. Aku memilihmu, Sania. Bukan karena takdir atau kontrak, tapi karena aku benar-benar mencintaimu."

Sania tersenyum. "Aku juga memilihmu, Andi. Meskipun jalan kita sangat berliku, aku bersyukur kita akhirnya sampai di sini."

"Ke mana?"

"Ke tempat di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri. Tanpa topeng, tanpa kebohongan, tanpa ketakutan."

Andi meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Dan kita akan terus berjalan bersama, Sania. Tidak peduli apa pun yang terjadi."

Mereka berpelukan di bawah sinar bulan, dua hati yang telah terluka namun kini mulai sembuh. Cinta yang tumbuh dari puing-puing kehancuran—mungkin itulah cinta yang paling kuat, karena ia telah melewati ujian terberat dan tetap bertahan.


BAB XXVII

Menuju Fajar Baru

Tiga bulan telah berlalu sejak Andi dan Sania memulai hidup baru mereka. Tiga bulan sejak mereka memutuskan untuk membangun segalanya dari nol. Dan dalam tiga bulan itu, banyak hal telah berubah—baik di dalam diri mereka maupun di sekitar mereka.

PT Karya Mulia Utama kini telah bangkit kembali dengan reputasi yang lebih baik dari sebelumnya. Sania berhasil membawa perusahaan itu keluar dari keterpurukan, dengan bantuan Andi yang kini menjadi konsultan keuangan independen. Mereka bekerja sama dengan harmonis, saling melengkapi satu sama lain.

Rumah tua di pinggiran Jakarta kini telah berubah total. Tidak ada lagi cat yang mengelupas atau atap yang bocor. Sania dan Andi telah merenovasinya dengan penuh cinta, menambahkan sentuhan-sentuhan pribadi yang membuatnya terasa seperti rumah sungguhan. Tanaman-tanaman hijau menghiasi halaman, dan di teras belakang, kursi-kursi rotan yang nyaman menjadi tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu bersama.

Kucing liar yang dulu mereka beri makan kini telah menjadi anggota keluarga. Mereka menamainya "Kintsugi"—seperti teknik Jepang untuk memperbaiki keramik retak dengan emas, karena kucing itu datang di saat hidup mereka sedang retak dan membantu mereka menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan.


Suatu pagi...

Sania terbangun dengan sinar matahari yang menyinari wajahnya. Ia membuka mata, melihat Andi yang masih tertidur di sampingnya. Pria itu tampak damai, tanpa kerutan di dahinya, tanpa beban yang membebani pikirannya.

Sania tersenyum, mengusap rambut Andi dengan lembut. Dalam tiga bulan terakhir, ia telah melihat banyak perubahan pada suaminya. Andi menjadi lebih tenang, lebih terbuka, dan lebih bahagia. Ia tidak lagi menyimpan rahasia, tidak lagi berlindung di balik topeng. Ia menjadi dirinya sendiri—dan Sania mencintai pria itu lebih dari apa pun.

"Selamat pagi, istriku," bisik Andi, membuka matanya dengan senyum mengantuk.

"Selamat pagi, suamiku," balas Sania, mencium keningnya.

Mereka berbaring sebentar, menikmati kehangatan pagi. Di luar, burung-burung berkicau riang, dan sinar matahari semakin terang menerobos celah gorden.

"Hari ini kita ada janji dengan arsitek, kan?" tanya Andi. "Untuk desain kantor baru?"

"Ya. Aku ingin kantor baru PT Karya Mulia Utama menjadi tempat yang nyaman dan inspiratif. Bukan seperti gedung-gedung korporasi yang dingin dan menakutkan."

Andi mengangguk. "Aku setuju. Kita bisa menambahkan ruang hijau di dalam gedung, mungkin taman kecil di atap."

"Itu ide yang bagus," kata Sania, matanya berbinar. "Kau tahu, kadang aku masih tidak percaya kita sampai di sini. Setelah semua yang terjadi..."

Andi meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Aku juga. Tapi aku bersyukur kita bertahan. Aku bersyukur kita tidak menyerah."

"Apa yang akan terjadi jika dulu kita menyerah?" tanya Sania.

Andi berpikir sejenak. "Kita mungkin akan menjadi dua orang asing yang hidup dalam penyesalan. Tapi karena kita memilih untuk bertahan, kita di sini sekarang. Bersama."

Sania tersenyum, menempelkan kepalanya di dada Andi. "Aku mencintaimu, Andi. Dan aku tidak akan pernah bosan mengatakannya."

"Aku juga mencintaimu, Sania. Dan aku akan mengatakannya setiap hari, sampai akhir hayatku."


Siang harinya...

Sania dan Andi bertemu dengan arsitek di lokasi kantor baru PT Karya Mulia Utama. Gedung itu terletak di kawasan bisnis yang strategis, namun desainnya akan berbeda dari gedung-gedung korporasi pada umumnya.

"Saya ingin gedung ini mencerminkan nilai-nilai perusahaan," kata Sania kepada arsiteknya. "Transparansi, integritas, dan keberlanjutan. Bukan hanya bisnis, tapi juga dampak sosial."

Arsitek itu mengangguk, mencatat semua keinginan Sania. "Saya akan merancang sesuatu yang inovatif, Nyonya. Dengan banyak ruang terbuka dan elemen-elemen ramah lingkungan."

Setelah pertemuan selesai, Sania dan Andi berjalan keluar dari gedung. Di luar, matahari bersinar terang, menciptakan suasana yang cerah dan penuh harapan.

"Kau tahu," kata Andi, "aku bangga padamu, Sania. Kau telah mengubah segalanya—perusahaanmu, hidupmu, dan hidupku."

Sania tersenyum. "Aku tidak melakukannya sendirian, Andi. Kau ada di sisiku sepanjang waktu."

"Dan aku akan selalu ada di sisimu," janji Andi. "Sampai kapan pun."


Malam harinya...

Sania dan Andi mengadakan makan malam sederhana di rumah, hanya berdua. Mereka memasak bersama, bercanda di dapur, dan menikmati hidangan yang mereka buat dengan penuh cinta.

"Ini sangat berbeda dengan makan malam di rumah Baskoro," kata Sania, tertawa. "Tidak ada lilin perak, tidak ada pelayan, tidak ada ketegangan."

"Tapi jauh lebih baik," tambah Andi. "Karena di sini, kita bisa menjadi diri kita sendiri."

Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, saling bertukar senyum dan tatapan penuh cinta. Setelah makan malam, mereka duduk di teras belakang, menikmati teh hangat dan bintang-bintang di langit.

"Apa kau pernah membayangkan masa depan kita?" tanya Sania.

Andi meraih tangannya. "Sering. Aku membayangkan kita bersama, menjalani hari-hari sederhana, tertawa, bercanda, dan saling mencintai. Mungkin suatu hari kita akan memiliki anak, dan kita akan mengajari mereka tentang kejujuran dan keberanian."

Sania tersenyum, air mata kebahagiaan menggenang di matanya. "Kau benar-benar berubah, Andi. Dulu, kau tidak pernah bicara tentang masa depan."

"Karena dulu, masa depan terasa seperti beban," kata Andi. "Tapi sekarang, masa depan terasa seperti hadiah. Hadiah yang ingin kujalani bersamamu."

Mereka berpelukan di bawah sinar bulan, dua hati yang telah menemukan jalan pulang. Setelah melewati badai terbesar dalam hidup mereka, mereka akhirnya sampai di fajar baru—fajar yang cerah, penuh harapan, dan dipenuhi oleh cinta yang tulus.


Keesokan paginya...

Sania dan Andi pergi ke kantor notaris untuk menyelesaikan urusan terakhir yang menggantung. Setelah semua yang terjadi, mereka memutuskan untuk membuat perjanjian baru—bukan perjanjian pranikah yang dingin dan transaksional, tapi perjanjian hidup yang didasarkan pada cinta dan komitmen.

"Dengan ini," kata notaris, "saya resmi mencatat bahwa Andi Baskoro dan Sania Widya, yang sebelumnya terikat dalam pernikahan kontrak, kini mengikatkan diri dalam pernikahan yang sah di mata hukum dan agama, dengan penuh kesadaran dan cinta."

Sania dan Andi saling menatap, tangan mereka bergenggaman erat. Kali ini, ketika mereka mengucapkan "ya," tidak ada keraguan, tidak ada kepalsuan. Hanya cinta yang tulus dan komitmen yang sejati.

Setelah upacara selesai, mereka berjalan keluar dari kantor notaris dengan senyum bahagia. Di luar, langit Jakarta bersinar cerah, seolah menyambut babak baru dalam hidup mereka.

"Ini adalah awal yang baru," kata Sania.

"Dan kita akan menjalaninya bersama," tambah Andi.

Mereka berjalan bergandengan tangan menuju mobil, siap menghadapi masa depan dengan penuh harapan. Badai telah berlalu, dan fajar baru telah tiba. Cinta mereka, yang semula retak, kini telah diperbaiki—bukan dengan kepalsuan, tapi dengan kejujuran, pengorbanan, dan ketulusan.

Dan itulah yang membuatnya abadi.


EPILOG

Garis-Garis Penguat

Satu tahun kemudian...

Sinar matahari pagi yang hangat menembus celah jendela, menyinari butiran debu yang menari di udara sebuah rumah minimalis di pinggiran kota. Tidak ada lagi lampu kristal gantung yang mewah, tidak ada pelayan berseragam yang berdiri kaku, dan tidak ada lagi kilatan lampu kamera media yang mengintai setiap gerak-gerik kehidupan mereka. Rumah itu kecil, dengan cat dinding berwarna putih gading dan tanaman merambat di pagar kayu, namun dipenuhi oleh aroma kopi hangat dan tawa yang tulus—sebuah kemewahan yang tidak pernah bisa dibeli oleh dinasti Baskoro.

PT Karya Mulia Utama kini telah bangkit kembali. Perusahaan itu kini beroperasi dalam skala yang lebih sehat, memangkas birokrasi beracun dan berfokus pada inovasi yang etis di bawah kendali Sania yang dibantu oleh manajemen baru yang idealis. Kantor barunya yang didesain dengan konsep ramah lingkungan menjadi pusat perhatian di kawasan bisnis, menarik perhatian para investor yang menghargai transparansi dan integritas. Sania tidak lagi menjadi boneka korporasi; ia kini menjadi pemimpin sejati yang dihormati oleh karyawan dan pesaingnya.

Sementara Andi, ia telah menanggalkan seluruh atribut masa lalunya. Nama Baskoro yang dulu membuat orang gemetar kini hanya menjadi catatan kelabu di arsip pengadilan. Kini ia bekerja sebagai konsultan keuangan independen di kantor kecil yang ia sewa bersama beberapa rekan kerjanya. Ia membangun kariernya murni dari kemampuan, integritas, dan kerja kerasnya sendiri—bukan karena nama besar ayahnya. Klien-kliennya tidak tahu bahwa ia adalah mantan pewaris dinasti Baskoro, dan Andi menyukai itu. Ia ingin dikenal karena siapa dirinya, bukan karena siapa ayahnya.


Pagi itu...

Andi berjalan mendekati teras belakang, langkahnya ringan dan penuh kebahagiaan. Ia membawakan secangkir teh melati hangat untuk Sania yang sedang duduk di kursi rotan, asyik membaca buku di bawah naungan pohon kamboja yang sedang berbunga. Bunga-bunga putih dan merah muda berguguran pelan, menciptakan karpet alami di atas rumput hijau yang terawat.

"Selamat pagi, istriku tercinta," sapa Andi sambil menyerahkan cangkir teh itu. "Kau sudah bangun sejak kapan?"

Sania mendongak, tersenyum lebar. Wajahnya tampak lebih segar, lebih muda, dan lebih bahagia daripada setahun yang lalu. Tidak ada lagi kerutan kecemasan di dahinya, tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan di matanya. Ia telah berubah—dari seorang wanita yang terperangkap dalam kontrak pernikahan yang dingin, menjadi seorang wanita yang bebas dan dicintai.

"Sejak subuh," jawab Sania, menerima cangkir teh dan menyesapnya perlahan. "Aku tidak bisa tidur lagi setelah Kintsugi menginjak perutku."

Andi tertawa, menatap kucing berbulu oranye yang sedang berguling-guling di pangkuan Sania. "Dia benar-benar manja, ya? Aku masih ingat saat pertama kali dia datang ke sini, dia takut setengah mati."

"Kita semua takut setengah mati saat pertama kali datang ke sini," kata Sania, tersenyum. "Tapi lihatlah sekarang. Kita sudah menjadi keluarga."

Andi duduk di kursi di samping Sania, lalu melingkarkan lengannya di bahu istrinya dengan santai, sebuah gestur perlindungan yang kini bukan lagi paksaan kontrak, melainkan luapan kasih sayang yang murni. Kintsugi mendengkur pelan, bergeser dari pangkuan Sania ke pangkuan Andi, mencari kehangatan.

"Ada yang ingin kukatakan padamu," kata Andi tiba-tiba, suaranya sedikit gugup.

Sania menutup bukunya, menyandarkan kepalanya di dada Andi. "Apa itu, Mas?"

Andi merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru beludru. Tangannya sedikit gemetar saat ia membukanya, memperlihatkan sebuah cincin sederhana dengan batu safir kecil—batu yang berwarna biru seperti mata Sania saat ia tersenyum.

"Sania," kata Andi, suaranya bergetar oleh emosi. "Aku tahu kita sudah menikah. Aku tahu kita sudah melalui banyak hal. Tapi aku ingin melakukannya dengan benar kali ini. Aku ingin melamarmu dengan cara yang pantas. Bukan karena kontrak, bukan karena tekanan, tapi karena aku benar-benar mencintaimu. Dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu."

Sania terkejut, matanya membelalak. Air mata kebahagiaan mulai menggenang di pelupuknya. "Andi... kau sudah melakukannya setahun lalu."

"Itu bukan lamaran," kata Andi, tersenyum. "Itu transaksi. Ini lamaran. Aku ingin mendengar kau mengatakan 'ya' karena kau benar-benar menginginkannya, bukan karena kau terpaksa."

Sania tertawa, air mata mengalir di pipinya. "Kau benar-benar pria yang romantis, Andi Baskoro. Siapa sangka?"

"Aku bukan Baskoro lagi," kata Andi, menggenggam tangannya. "Aku hanya Andi. Pria yang mencintaimu. Pria yang akan selalu ada untukmu. Pria yang ingin menjadi ayah dari anak-anakmu suatu hari nanti. Jadi... maukah kau menikah denganku lagi? Dengan cara yang benar?"

Sania tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan pelukan—pelukan yang erat, hangat, dan penuh cinta.

"Ya," bisiknya di telinga Andi. "Ya, Andi. Aku akan menikah denganmu lagi. Seribu kali lagi, jika perlu."

Mereka berpelukan di teras belakang, di bawah sinar matahari pagi yang hangat, dikelilingi oleh bunga-bunga yang bermekaran dan kucing yang mendengkur. Kintsugi berlari-lari mengejar kupu-kupu di halaman, menambah kesempurnaan pagi yang sederhana itu.

"Satu hal lagi," kata Andi, melepaskan pelukan dan menatap Sania dengan mata yang berbinar. "Aku telah menghubungi Kayla. Dia dan ibunya sekarang sudah sehat dan tinggal di Singapura. Dia mengirimkan ucapan selamat untuk kita. Dan dia bilang, dia senang kita akhirnya menemukan kebahagiaan."

Sania tersenyum, hatinya hangat mendengar itu. "Kayla adalah wanita yang baik. Aku berutang banyak padanya. Tanpa suratnya, mungkin kita tidak akan pernah sampai di sini."

"Aku juga berutang padanya," kata Andi. "Dia mengajariku untuk tidak takut mencintai. Dan dia mengajariku untuk memperjuangkanmu."

Mereka berdua terdiam sejenak, merenungkan semua perjalanan yang telah mereka lalui. Dari pernikahan kontrak yang dingin, ke pertengkaran yang sengit, ke pengkhianatan dan air mata, hingga akhirnya ke pelukan dan cinta yang tulus.

"Apa kau pernah menyesal?" tanya Sania tiba-tiba.

Andi menatapnya, memikirkan pertanyaan itu dengan serius. "Menyesal? Tidak. Aku menyesal telah menyakitimu. Aku menyesal telah membiarkan ketakutanku menghalangi cinta. Tapi aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu, menikahimu, atau melalui semua kesulitan itu. Karena semua itu membawa kita ke sini."

Sania tersenyum, jemarinya mengusap bekas luka kecil di pelipis Andi—pengingat fisik dari pengorbanan terakhir yang menyelamatkan mereka dari kehancuran total. "Kita telah melewati badai raksasa yang hampir merenggut segalanya. Kadang aku masih takut jika badai itu akan kembali."

"Biarkan saja," bisik Andi seraya mencium puncak kepala Sania. "Karena badai itulah yang mengajarkan kita satu hal berharga: bahwa sesuatu yang sempat retak tidak selalu harus berakhir pecah dan hancur menjadi tiada. Jika direkatkan kembali dengan semen kejujuran, keterbukaan, dan cinta yang tulus, retakan itu justru akan bertransformasi menjadi garis-garis penguat. Seperti teknik kintsugi—retakan yang justru membuat kita jauh lebih berharga daripada saat kita masih utuh dan naif."

Sania menutup matanya, merasakan kehangatan pelukan suaminya. Di dalam hatinya, ia merasakan kedamaian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Sebuah kedamaian yang lahir dari penerimaan—penerimaan bahwa masa lalu telah berlalu, bahwa luka telah sembuh, dan bahwa masa depan terbentang di depan mereka, penuh dengan kemungkinan.

"Apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya?" tanya Sania.

Andi tersenyum, menatap langit biru yang membentang luas di atas mereka. "Kita akan menjalani hidup. Hari demi hari, dengan tawa dan air mata, dengan tantangan dan kebahagiaan. Kita akan membangun keluarga, mungkin memiliki anak, dan mengajari mereka tentang kejujuran dan keberanian. Kita akan terus tumbuh bersama, saling mendukung, dan saling mencintai. Itulah yang akan terjadi."

Sania tertawa kecil, sebuah tawa yang lepas dan penuh kebebasan. Di halaman belakang mereka, Kintsugi berlari-lari mengejar kupu-kupu, menambah kesempurnaan pagi yang sederhana itu. Di kejauhan, Jakarta tetap berdenyut dengan segala ambisinya, namun di rumah kecil ini, waktu seolah melambat untuk membiarkan mereka mengecap kedamaian.

Mereka bukan lagi pion dari permainan orang lain, bukan lagi korban dari ambisi masa lalu. Mereka adalah arsitek dari masa depan mereka sendiri. Dan dalam kesederhanaan rumah kecil mereka, mereka menemukan kebahagiaan yang lebih berharga dari semua harta yang pernah mereka miliki.

Saat mentari mulai meninggi, memandikan teras itu dengan cahaya keemasan, keduanya terdiam dalam keheningan yang nyaman. Mereka tahu bahwa di masa depan, tantangan pasti akan kembali datang, namun mereka tidak lagi takut. Karena mereka tahu, selama mereka saling menggenggam tangan, mereka tidak akan pernah hancur.

Mereka telah menemukan kebenaran bahwa cinta yang sejati tidak dibangun di atas keberhasilan yang sempurna, melainkan di atas kemampuan untuk bangkit bersama dari setiap puing-puing yang tersisa. Dan dalam kebersamaan itu, mereka menemukan kekuatan yang tidak pernah mereka sangka.

Rumah itu kini menjadi saksi bisu dari sebuah kisah yang berakhir bukan dengan kemegahan yang riuh, melainkan dengan ketenangan yang abadi. Dinasti telah runtuh, namun dari reruntuhannya, cinta mereka justru baru saja dimulai.


Di atas meja ruang tamu, di bawah bingkai foto pernikahan mereka yang baru—foto di mana mereka tersenyum tulus tanpa kepalsuan—terdapat sebuah vas kecil berisi bunga segar. Di sampingnya, sebuah buku catatan terbuka dengan tulisan tangan Sania yang rapi:

"Hari ini, aku menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang siapa yang kita miliki. Dan aku memiliki segalanya."

Dan di bawahnya, Andi menambahkan satu kalimat:

"Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuatnya tetap bahagia."


TAMAT