NOVEL MISTERI
MISTERI KANCIL DI BUKIT MANOREH
Petualangan Detektif Cilik Bojong Sari
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG – Ketika Alam Mulai Berbisik
Di lereng selatan Bukit Manoreh, tepat di mana kabut pagi
masih setia bergelayut meski matahari sudah meninggi, terbentang sebuah desa
bernama Bojong Sari. Desa ini bukan sekadar titik di peta kecamatan, melainkan
sebuah permadani raksasa yang ditenun dari terasering sawah bertingkat-tingkat,
petak-petak ladang palawija yang menghijau, dan rimbunnya rumpun bambu yang selalu
berbisik setiap kali angin berlalu.
Udara di Bojong Sari selalu terasa sejuk, bercampur aroma
tanah subur setelah hujan, dedaunan basah, dan sesekali bau khas kandang
kambing milik Pak Carik yang memang lokasinya persis di pinggir jalan desa.
"Bau tapi berkah," begitu selalu kata Pak Carik kalau ada yang
meledeknya.
Di sebelah timur desa, Hutan Manoreh
membentang luas bak benteng alam yang selama berpuluh-puluh tahun menjadi
penjaga keseimbangan. Hutan itu adalah paru-paru desa, sumber mata air, dan rumah
bagi ribuan makhluk hidup yang jarang menunjukkan diri pada manusia. Konon,
menurut cerita Mbah Kromo, sesepuh desa berusia 90 tahun yang masih gesit
mencangkul di sawah, hutan itu punya penunggu berupa Kancil Putih raksasa
sebesar kerbau. Tapi itu cerita dongeng pengantar tidur yang hanya dipercaya
anak-anak di bawah umur 10 tahun.
Namun beberapa bulan terakhir, alam seolah mulai berbisik
dengan nada yang berbeda. Para petani tua yang setiap pagi duduk di beranda
rumah sambil menyeruput kopi pahit—kopi tubruk tanpa gula karena katanya biar
makin kuat pikul cangkul—mulai merasakan keganjilan.
"Ki, aku rasa kemarau tahun ini beda," kata Mbah
Kromo pada Mbah Joyo, sahabatnya yang sudah 70 tahun berteman.
"Bedanya apa, Mbak?" tanya Mbah Joyo sambil
mengusap-usap kumis putihnya yang lebat.
"Biasanya burung perkutut itu berkicau dari subuh
sampai jam tujuh. Sekarang? Paling cuma dua kali bunyi terus diam. Itu pertanda
apa coba?"
Mbah Joyo mengangguk-angguk. "Iya juga. Burung tekukur
di pohon randu sebelah rumahku juga sudah dua minggu ini jarang bersuara.
Biasanya kalau pagi ribut sekali."
Bisikan alam itu halus, seperti desiran angin yang membawa
pesan, namun tak seorang pun cukup peka untuk mendengarnya. Hingga suatu malam,
bisikan itu berubah menjadi sebuah keheningan yang mencekam. Kodok di sawah
tiba-tiba berhenti berbunyi serempak. Jangkrik ikut tutup mulut. Keheningan itu
begitu pekat, bahkan suara jarum jatuh pun mungkin terdengar seperti gempa.
Pertanda bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi.
Sesuatu yang akan mengubah Bojong Sari selamanya. Dan seperti biasa, yang
pertama kali menyadari keganjilan bukanlah orang dewasa dengan segala
kesibukannya, melainkan anak-anak dengan mata dan telinga yang masih bersih
dari kebisingan dunia.
BAGIAN SATU: DESA YANG
TENANG
Matahari pagi menyapu embun dari ujung-ujung daun padi.
Bojong Sari terjaga dengan aktivitasnya yang khas seperti tarian yang sudah
ditarikan berulang-ulang selama puluhan tahun.
Di sawah, para petani mulai mencangkul dan membersihkan
pematang. Suara cangkul membelah tanah terdengar ritmis, diiringi kicauan
burung pipit yang berebut padi di sawah yang baru dipanen. Pak Carik—nama
aslinya Carik Sumarto, perangkat desa yang bertugas mengurus administrasi—sudah
sejak jam setengah lima pagi berada di sawah. Celana pendeknya digulung sampai
paha, caping anyaman bambu di kepala, dan rokok kretek tak pernah lepas dari
mulutnya meski cangkul terus bergerak.
"Pak Carik, rokoknya nanti abis dimakan cangkul
lho!" teriak Bu Tini, pedagang sayur keliling yang setiap pagi lewat
dengan keranjang besar di belakang sepeda ontelnya.
"Ah, Bu Tini ini. Mulutmu itu ya, kalau ngomong suka
bikin orang ketawa. Rokok mana bisa dimakan cangkul, cangkul mana bisa makan
rokok. Yang ada cangkulnya ngidam rokok," balas Pak Carik dengan logat
Jawa medhoknya.
Bu Tini tertawa renyah. "Ya sudah, nanti saya bawakan
rokok dua bungkus, Pak. Yang penting saya boleh panen cabai di ladang Bapak,
ya?"
"Nah, ini dia. Dasar ibu-ibu, selalu ada maunya!"
Suasana pagi yang hangat dan penuh keakraban. Ibu-ibu
lainnya sibuk di dapur masing-masing, menyiapkan sarapan dengan kayu bakar yang
berderak merdu. Asap dapur mengepul dari setiap rumah, berbaur dengan kabut
tipis yang masih enggan pergi. Aroma nasi liwet, sambal goreng, dan
kadang-kadang ikan asin goreng tercium jelas di udara.
Anak-anak sekolah berjalan kaki atau naik sepeda ontel,
melewati pematang sawah sambil tertawa riang. Mereka berseragam putih merah,
dengan tas ransel yang kebanyakan sudah lusuh karena diwarisi dari kakak ke
adik. Tapi semangat mereka tak pernah lusuh.
"Wati, nanti kalau pulang sekolah kita main ke kali
ya?" teriak Bejo, bocah gembul dengan seragam yang agak sempit karena
badannya terus melar sementara orang tuanya belum punya uang buat beli baru.
"Bisa aja kamu, Jo. Makanan di kali apa? Ikan? Udang?
Atau kepiting?" ledek Wati, gadis kecil berambut dua ekor yang selalu
cekatan dan pemberani.
"Ya cari ikan lah. Nanti kalau dapat banyak, kita
bakar di pinggir kali," balas Bejo dengan semangat.
"Eh, kalian jangan lupa nanti pulang sekolah kita ada
tugas kelompok!" teriak Raka dari belakang mereka.
Raka mengayuh sepedanya pelan-pelan. Bocah lelaki berusia
11 tahun itu memang beda dari yang lain. Matanya yang cokelat terang selalu
tampak awas, mengamati segala sesuatu di sekelilingnya. Bukan hanya jalan
setapak yang ia lalui, tapi juga sarang laba-laba di antara ilalang—ia
menghitung berapa ekor laba-laba yang tinggal di sana. Ia juga mengamati jenis
burung yang berkicau di pohon aren—hari ini ada burung cucak ijo, padahal biasanya
cuma burung gereja. Dan ia tak pernah melewatkan jejak kaki tikus di pematang
sawah.
"Ra, matamu itu kayak kamera CCTV," ledek Bejo
suatu kali. "Apa-apa diamati."
"Bukan CCTV, Jo. Itu namanya mata detektif,"
sahut Wati membela.
Raka adalah anak yang pendiam, namun memiliki rasa ingin
tahu yang tak terbatas. Baginya, Bojong Sari adalah laboratorium alam raksasa
yang penuh teka-teki. Ia tahu persis di mana pohon jambu air yang buahnya
paling manis—yaitu pohon jambu milik Pak Lurah yang dijaga ketat karena katanya
buahnya cuma untuk keluarga. Tapi Raka menemukan satu dahan yang menjorok ke
jalan setapak, dan dari situlah ia sesekali bisa mencuri manisnya buah jambu.
Ia hafal kapan bunga randu akan mekar—tepatnya tujuh hari
setelah musim kemarau datang, saat malam-malam mulai dingin. Dan ia bisa
menirukan suara burung perkutut dengan sempurna, bahkan Mbah Kromo pernah
terkecoh dan mengira burung piaraannya yang berkicau, padahal itu Raka dari
balik pagar.
"Kamu ini Nak Raka, kok isa-isané wae (bisa-bisanya
aja)!" kata Mbah Kromo setengah jengkel setengah kagum.
Ketika teman-temannya asyik bermain kelereng atau galasin
di lapangan, Raka lebih sering duduk di bawah pohon beringin besar di ujung
desa. Di sana ia membaca buku bekas pemberian gurunya, Bu Guru Siti, atau
sekadar mengamati semut-semut yang berbaris rapi membawa potongan daun.
Pohon beringin itu adalah tempat favoritnya. Dari sini ia
bisa melihat seluruh desa: sawah di selatan, ladang di utara, sungai di barat,
dan Hutan Manoreh di timur. Posisi strategis, katanya dalam hati. Cocok buat
markas pengintaian.
Suatu sore, saat ia sedang asyik mengamati burung elang
yang berputar-putar di atas hutan, seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Ngapain, Ra?"
Raka menoleh. Wati. Gadis kecil itu memang paling sering
mencarinya jika tak kelihatan di lapangan.
"Nggak ngapa-ngapain. Cuma ngelihatin elang,"
jawab Raka singkat.
"Elang? Yang di atas hutan itu?" Wati ikut
mendongak. "Elang lagi cari mangsa kali, Ra. Lagi musim kemarau begini,
tikus di sawah pada pindah ke hutan. Elang ikut pindah."
Mata Raka berbinar. "Kamu tahu juga?"
"Ya tahu dong. Aku kan sering bantu ibu nyemai padi di
sawah. Kalau lagi duduk di dangau, ya ngelihatin burung-burung aja. Daripada
bengong."
Raka tersenyum. Senang rasanya punya teman yang tak
menganggapnya aneh. Bejo baik, tapi kadang terlalu berisik dan suka merusak
konsentrasi.
"Wati, kamu ngerasa nggak kalau akhir-akhir ini ada
yang beda?"
"Maksudnya?"
"Alam. Hewan-hewan. Mereka kayak... gelisah
gitu."
Wati mengerutkan kening. Memikirkan. Lalu mengangguk pelan.
"Iya juga sih. Burung perkutut Mbah Kromo itu sekarang jarang bunyi.
Padahal biasanya setiap subuh kenceng banget, bikin orang nggak bisa
tidur."
"Tepat!" Raka hampir berteriak. "Dan
jangkrik di sawah dekat rumahku juga diam. Padahal bulan purnama begini
biasanya ramai."
Wati menatap Raka dengan rasa hormat baru. "Kamu ini
kayak pawang hewan ya, Ra. Tau aja."
"Aku bukan pawang. Aku cuma... memperhatikan."
Di tengah desa, tepat di pertigaan jalan, berdiri warung
kopi sederhana milik Pak Darmo. Papan namanya bertuliskan "Warung Kopi
RASA" dengan cat merah yang sudah pudar. RASA singkatan dari "Rasa
Asli Segar dan Aman", begitu Pak Darmo selalu menjelaskan pada setiap
pelanggan baru.
Warung ini adalah pusat informasi Bojong Sari. Setiap pagi
dari jam 6 sampai jam 9, dan sore dari jam 4 sampai maghrib, warung ini selalu
penuh. Di sinilah berita-berita desa diolah, dibumbui, lalu disebarkan kembali.
Jika ada gosip, pasti pertama kali muncul di warung RASA. Jika ada rencana,
pasti didiskusikan di warung RASA. Jika ada masalah, pasti dicari solusinya di
warung RASA—walau solusinya kadang cuma: "Ya sudah, ngalah aja, sing
penting tentrem."
Hari itu, suasana warung agak beda. Topik pembicaraannya
serius.
"Kemarau tahun ini panjang, Mas," kata Pak Carik
sambil menyeruput kopi pahitnya.
"Iya, biasanya bulan Agustus sudah mulai hujan.
Sekarang udah September kok masih terik begini," timpal Pak Joko, pemilik
sawah terluas di Bojong Sari.
Pak Joko ini orangnya agak sombong karena sawahnya paling luas.
Tapi ia juga dermawan, jadi warga tetap hormat padanya. Istilahnya, sombong
tapi berguna.
"Menurutku bukan cuma kemaraunya yang panjang,"
ucap seorang pemuda berkaus oblong duduk di pojok. Namanya Guntur, 22 tahun,
lulusan SMA yang belum dapat kerja dan memilih jadi buruh tani sambil menunggu
panggilan kerja ke kota. "Tapi udaranya juga lebih panas. Dulu jam 9 pagi
masih adem. Sekarang jam 8 aja udah kayak di oven."
"Oven opo to, Gun? Wong kowe tau nduwe oven wae ora
(oven apa, Gun? Kamu aja nggak punya oven)," ledek Pak Carik, disambut
tawa para pengunjung.
"Ya itu kiasan, Pak. Kiasan!" Guntur membela
diri, mukanya merah.
Di sudut lain, duduk dua orang pemuda yang baru pulang dari
merantau di Jakarta. Mereka pulang karena PHK massal gara-gara pabrik tutup.
Yang satu bernama Heri, tinggi kurus dengan rambut spike ala tahun 2000-an.
Satunya lagi Budi, agak gemuk dengan kacamata tebal yang membuat matanya
kelihatan kecil.
"Enak ya kalian di desa, adem-adem aja," kata
Heri sambil mengipas-ngipas tangannya.
"Adem? Ini panas tau, Ri!" protes Budi.
"Ya iya sekarang panas. Tapi dibanding Jakarta, ini
masih adem."
Diskusi tentang cuaca berlanjut hingga Pak Kades masuk. Pak
Kades—nama lengkapnya Kartono Wijaya, 45 tahun—adalah kepala desa pilihan
rakyat yang cukup bijaksana. Meski begitu, ia punya satu kelemahan: suka
kebanyakan mikir sampai lupa waktu. Istrinya, Bu Kades, sering marah karena Pak
Kades telat makan.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Pak Kades sambil
duduk di kursi favoritnya, tepat di tengah-tengah agar semua orang bisa
mendengar kalau ia bicara.
"Pagi, Pak Kades. Pesen apa?" tanya Pak Darmo
dari balik etalase kaca yang isinya gorengan, kue lapis, dan pisang rebus.
"Kopi hitam satu, gorengan dua."
Tak lama kemudian, seorang lelaki tua masuk dengan langkah
gontai. Mbah Kromo. Semua orang memberi salam hormat.
"Mbah, sini duduk sini!" Pak Kades mempersilakan
duduk di sampingnya.
Mbah Kromo duduk perlahan. Wajahnya tampak lebih kusut dari
biasanya. Matanya sayu, seperti orang habis begadang.
"Mbah kok kelihatan capek? Kurang tidur?" tanya
Pak Carik.
Mbah Kromo menghela napas panjang. "Iya, NDoro Carik.
Aku semaleman ora iso turu (semalaman nggak bisa tidur)."
"Loh, kenapa Mbah?" tanya Guntur penasaran.
"Buronan perkututku, wingi bengi mati (Burung
perkututku, kemarin malam mati)." Suara Mbah Kromo bergetar. Perkutut itu
sudah dipeliharanya selama 15 tahun, sejak masih piyik.
Semua orang tertegun. Perkutut Mbah Kromo adalah ikon desa.
Burung itu selalu berkicau setiap subuh, dan suaranya merdu sekali. Kadang orang
dari desa tetangga datang hanya untuk mendengarkan.
"Loh Mbah, kok bisa mati?" tanya Pak Kades
prihatin.
"Ya aku yo ora ngerti. Wes dipakani, diombe'i,
dirawat. Tapi mati koyok ngono wae (Ya saya nggak tahu. Sudah dikasih makan,
minum, dirawat. Tapi mati begitu aja)."
Suasana warung mendadak hening. Mereka yang tadinya sibuk
ngobrol, kini hanya diam menunduk. Ada firasat buruk yang mulai menyusup di
hati masing-masing.
Di pojok warung, tanpa disadari siapa pun, Raka yang baru
pulang sekolah duduk diam sambil minum es teh manis. Ia mendengar semua
percakapan itu. Di buku catatan kecilnya yang selalu ia bawa ke mana-mana, ia
menulis: "Perkutut Mbah Kromo mati. Mungkin ada hubungannya dengan
perubahan alam?"
Setelah dari warung, Raka langsung mencari Wati dan Bejo.
Ia menemukan mereka di lapangan, sedang main kelereng dengan anak-anak lain.
"Wati, Jo, sini bentar!" panggil Raka.
Wati yang sedang fokus membidik kelereng lawan, menoleh
sebentar. "Tunggu, Ra. Ini aku lagi apes. Kelerengku tinggal dua!"
Bejo yang kalah telak dan sudah nggak punya kelereng sama
sekali, langsung bangkit dan berlari ke arah Raka. Lega bisa kabur dari
kekalahan.
"Ada apa, Ra?" tanya Bejo sambil menyeka keringat
di dahinya. Badannya yang gembul membuatnya cepat berkeringat.
"Aku mau ngomong sesuatu. Penting."
Tak lama Wati menyusul. "Apes banget! Kalah lagi.
Nggak papa, besok aku bawa kelereng baru." Ia lalu menatap Raka. "Ada
apa sih, serius amat muka kamu?"
Raka menarik mereka ke bawah pohon mangga di pinggir
lapangan. Suasana teduh dan agak sepi.
"Kalian tahu Mbah Kromo? Perkututnya mati."
Wati dan Bejo menganga. "Loh, kok bisa?" tanya
Wati kaget.
"Itulah. Aku curiga ada yang nggak beres. Beberapa
hari ini aku ngamatin, banyak hewan yang aneh. Jangkrik pada diam.
Burung-burung pada pergi. Terus sekarang perkutut Mbah Kromo mati."
"Mungkin sakit kali, Ra," kata Bejo enteng.
"Nggak mungkin. Perkutut itu dirawat Mbah Kromo dengan
baik. Udah 15 tahun. Masa baru sekarang sakit?"
Wati yang lebih cepat tanggap mulai mengerti.
"Maksudmu, ada yang nggak beres dengan alam kita? Kayak... pertanda
gitu?"
Raka mengangguk. "Bisa jadi. Aku ingat cerita mbah
buyutku dulu. Katanya, sebelum terjadi bencana atau sesuatu yang besar,
hewan-hewan biasanya ngasih tanda."
"Bencana?" Bejo memucat. "Jangan-jangan
gunung meletus!"
"Di sini nggak ada gunung, Jo. Paling banter
longsor," sahut Wati.
"Longsor juga serem!"
Raka menepuk pundak Bejo. "Tenang, Jo. Belum tentu
bencana. Bisa juga hal lain. Tapi yang pasti, kita harus lebih waspada dan
banyak-banyak ngamatin."
Wati mengangguk semangat. "Setuju! Kita mulai dari
mana?"
"Kita bagi tugas. Wati, kamu yang biasa bantu ibu di
sawah, coba amati sawah-sawah. Ada nggak keanehan? Bejo, kamu yang sering ikut
bapak ke hutan cari kayu, amati hutan. Apa hewan-hewan di sana masih
normal?"
"Terus kamu?" tanya Bejo.
"Aku akan amati desa dan sekitarnya. Dan aku juga akan
banyak-banyak baca buku di perpustakaan sekolah, cari tahu soal pertanda
alam."
Maka terbentuklah tim kecil yang tak resmi. Tiga bocah
Bojong Sari yang akan menjadi saksi pertama dari misteri besar yang akan
datang.
Bulan September tahun itu menjadi saksi panen raya terbesar
dalam sejarah Bojong Sari. Sawah-sawah yang membentang dari utara ke selatan
berubah menjadi lautan emas. Bulir-bulir padi menguning merona, merunduk karena
berat dan bernas. Tak ada satu pun petak sawah yang tidak subur.
"Ini berkah, Ndoro!" kata Pak Tani—nama aslinya
Taniyo, ayah Raka—dengan mata berbinar. Tangannya yang kasar dan penuh kapalan
memegang sebatang padi, mengelus-elus bulirnya seperti mengelus kepala anak
sendiri.
Bu Tani, istrinya, tersenyum lebar. "Alhamdulillah,
Pak. Doa kita selama ini terkabul. Tahun kemarin kita hampir gagal panen
gara-gara wereng. Sekarang wereng nggak ada, hujan pas, semua baik."
Pak Tani mengangguk setuju. "Ini pasti berkah dari
panen tahun kemarin yang kita sedekahkan sebagian ke panti asuhan."
Di sawah lain, Pak Joko berjalan-jalan dengan dada
membusung. "Gini nih cara bertani yang bener. Lihat sawah saya, paling
subur se-Bojong Sari!" katanya pada siapa pun yang mau dengar.
Pak Carik yang kebetulan lewat cuma geleng-geleng kepala.
"Iya, iya, Pak Joko. Sawah Bapak paling subur. Yang penting nanti zakatnya
jangan lupa."
"Loh, saya mah orang dermawan, Pak Carik. Tanya aja
sama warga!"
Warga yang mendengar cuma saling lirik sambil
senyum-senyum. Dermawan sih iya, tapi kalau pamer ya pamer juga.
Panen raya di Bojong Sari bukan sekadar aktivitas
pertanian. Ini adalah pesta rakyat. Semua warga terlibat, dari yang muda sampai
yang tua. Suara lesung penumbuk padi bergema dari berbagai sudut. Buk...
buk... bug... ritmis dan merdu.
Anak-anak kecil ikut membantu menjemur gabah di atas tikar
pandan yang luas. Tugas mereka adalah mengusir ayam-ayam yang ingin ikut
memakan bulir padi. Ini bukan pekerjaan mudah karena ayam-ayam desa Bojong Sari
terkenal bandel.
"Hus! Hus!" teriak Wati sambil melemparkan sandal
jepit ke arah ayam jago hitam yang nekat mendekat.
Ayam itu kabur sebentar, lalu kembali lagi begitu Wati
lengah.
"Dasar ayam nggak tau diri!" gerutu Wati. Ia lalu
mencari akal. Tanpa sepengetahuan ibunya, ia mengambil tali rafia dan membuat
perangkap sederhana.
"Kamu ngapain, Ti?" tanya Bejo yang kebetulan
lewat membawa minuman.
"Nungguin ayam-ayam nakal itu. Aku pasang
perangkap."
"Perangkap? Buat ayam?" Bejo terkikik. "Apa
nggak kebangetan?"
"Daripada terus-terusan ngusir. Capek tau!"
Tak lama, ayam jago hitam itu kembali. Ia melangkah dengan
sombong, matanya awas ke kiri kanan. Begitu ia menginjak area yang dipasangi
tali rafia, byuur! Sebuah ember plastik jatuh menimpa
badannya.
"Woy! Kena kau!" teriak Wati girang.
Ayam itu berkotek histeris, berusaha melepaskan diri dari
ember yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia berlari ke sana kemari tanpa arah,
terbentur-bentur, hingga akhirnya ember itu terlepas dan ayam itu kabur
terbirit-birit dengan bulu-bulu berdiri.
Warga yang melihat kejadian itu tertawa terbahak-bahak.
"Wati, kamu itu ya, keterlaluan sama ayam!" kata Bu Tini sambil
memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
"Biarin, Bu. Biar kapok!" balas Wati dengan
bangga. Panen raya membawa harapan baru di setiap rumah. Di rumah Pak Tani,
mereka sudah merencanakan untuk memperbaiki bagian dapur yang bocor.
"Uangnya cukup, Pak. Nanti kita beli genteng baru, yang bagus," kata
Bu Tani sambil menghitung-hitung uang hasil menjual gabah.
Pak Tani mengangguk setuju. "Iya, Bu. Terus Raka juga
butuh sepatu baru. Yang lamanya sudah bolong."
Raka yang mendengar itu tersenyum. Bukan karena dapat
sepatu baru, tapi karena melihat orang tuanya bahagia. Sudah lama ia tak
melihat ayahnya setenang ini. Biasanya, Pak Tani sering murung kalau harga
gabah turun atau sawahnya diserang hama.
Di rumah Bu Juminten, janda tua yang tinggal sendiri, panen
raya berarti ia bisa membayar utang di warung Pak Darmo. "Nggak enak
rasanya utang mulu. Alhamdulillah, tahun ini bisa lunas," katanya sambil
menangis haru.
Di rumah Pak Joko, panen raya berarti ia bisa membeli
traktor baru. "Traktor! Biar nggak ketinggalan jaman!" katanya dengan
semangat.
"Iya, Pak. Tapi jangan lupa, traktornya bisa dipakai warga
juga ya?" kata istrinya, Bu Joko, yang lebih rendah hati.
"Ya iyalah. Saya kan dermawan!"
Puncak dari panen raya adalah pesta panen yang diadakan di
balai desa. Seluruh warga diundang. Ibu-ibu membawa masakan andalan
masing-masing. Bu Tini membawa sayur asem yang katanya rahasia warisan nenek
moyang. Bu Juminten membawa urap-urap dengan bumbu yang wangi. Bu Tani membawa
ikan goreng bumbu kuning yang renyah.
Laki-laki sibuk menyiapkan tenda dan kursi. Anak-anak
berlarian kesana-kemari, sesekali mencuri gorengan dari meja yang sudah ditata.
"Kamu itu, Jo, jangan rakus!" tegur Wati melihat
Bejo sudah menggenggam tiga buah pisang goreng.
"Ini buat cadangan. Nanti kalau kehabisan
gimana?" balas Bejo dengan mulut penuh.
"Nggak akan kehabisan, Jo. Lihat tuh, ibu-ibu pada
datang terus bawa makanan."
Memang, meja panjang di balai desa sudah penuh sesak dengan
aneka masakan. Ada tumpeng, ayam goreng, ikan bakar, sambal goreng kentang,
perkedel, tempe mendoan, lalapan, dan puluhan jenis lainnya.
Pak Kades membuka acara dengan sambutan singkat.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, sedulur-sedulurku warga Bojong Sari. Hari ini kita
bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panen raya yang melimpah. Ini adalah
berkah yang harus kita syukuri bersama. Mari kita nikmati hidangan yang sudah
disiapkan, dan jangan lupa, panen tahun depan harus lebih baik lagi!"
Tepuk tangan riuh rendah. Lalu semua orang mulai mengambil
makanan. Suasana hangat dan penuh kebersamaan. Tak ada sekat antara kaya dan
miskin, antara pejabat desa dan rakyat biasa. Mereka duduk lesehan di lantai
balai desa, makan bersama dengan lahap.
Raka, Wati, dan Bejo duduk di satu sudut. Mereka asyik
menyantap nasi dan lauk sambil sesekali berbisik.
"Ra, kamu udah ngamatin apa-apa?" tanya Wati.
Raka menggeleng. "Masih aman. Tapi aku tetap
waspada."
"Kalian ini, lagi enak-enak makan kok bahas hal
serius," protes Bejo sambil memasukkan tempe mendoan ke mulut.
"Nikmatin dulu, Jo!"
"Makan terus kamu, Jo. Nanti gendut beneran,"
ledek Wati.
"Udah gendut dari sananya kok," balas Bejo cuek.
Mereka bertiga tertawa. Di luar, langit cerah tanpa awan.
Tak ada yang menyangka bahwa di balik kebahagiaan ini, badai sedang bersiap
menerjang.
Setelah padi dipanen dan dikeringkan, tiba saatnya para
petani menanam palawija di sawah mereka. Ini adalah tradisi turun-temurun.
Sawah tak boleh dibiarkan kosong, harus terus ditanami. Ada yang menanam
jagung, ada yang kacang tanah, ada pula yang menanam cabai.
Pak Tani memilih menanam mentimun. "Mentimun itu cepat
panennya, Bu. Cuma 40 hari udah bisa dipetik. Harganya juga lumayan,"
jelasnya pada Bu Tani.
"Iya, Pak. Tapi mentimun itu rawan hama. Gampang kena
ulat," kata Bu Tani was-was.
"Nggak papa. Kita rawat dengan baik. Pakai pupuk yang
pas, semprot kalau perlu."
Maka dimulailah masa tanam mentimun. Pak Tani bersama Raka
membuat lanjaran-lanjaran dari bambu untuk tempat mentimun merambat. Raka
senang membantu ayahnya. Ia suka melihat bagaimana tanaman kecil itu tumbuh,
mengeluarkan sulur, lalu merambat naik ke lanjaran.
"Ayah, kenapa mentimun harus dirambatkan? Kalau di
tanah aja gimana?" tanya Raka suatu hari.
"Nak, kalau dirambatkan, buahnya nggak kena tanah.
Jadi bersih dan nggak gampang busuk. Terus sinar mataharinya juga merata, jadi
buahnya bagus semua."
"Oh, gitu." Raka mengangguk paham. Lalu ia mengeluarkan
buku catatannya dan menulis: "Mentimun harus dirambatkan agar buah
tidak terkena tanah dan terkena sinar matahari merata."
Pak Tani tersenyum melihat kebiasaan anaknya. "Kamu
ini mau jadi ilmuwan ya, Ra?"
"Mau jadi detektif, Yah. Detektif yang pinter soal
alam."
"Detektif alam? Wah, hebat dong."
Dalam hitungan minggu, ladang mentimun Pak Tani berubah
menjadi lautan hijau. Daun-daun mentimun lebar dan rimbun, menutupi seluruh
lanjaran. Bunga-bunga kuning kecil bermunculan, lalu menjadi bakal buah. Tak
lama kemudian, mentimun-mentimun muda bergelantungan, hijau segar dan ranum.
Setiap pagi, Pak Tani akan memeriksa tanamannya. Ia
membuang daun yang kering, memastikan tak ada hama yang menyerang.
Kadang-kadang ia menemukan ulat, lalu dengan sabar ia mengambilnya satu per
satu.
"Kalau ulatnya dikit, mending diambil manual. Nggak
usah disemprot," katanya pada Raka.
"Kenapa, Yah?"
"Karena kalau disemprot, nanti obatnya bisa nempel di
buah. Kasian yang makan."
Raka senang mendengar itu. Ayahnya bukan hanya petani yang
rajin, tapi juga petani yang bijak. Ia peduli pada konsumennya.
Di sela-sela tanamannya, Pak Tani juga menanam beberapa
pohon cabai dan tomat. "Buat selingan, Ra. Biar nggak mentimun melulu.
Nanti kalau panen, ibu bisa bikin sambal."
Tak hanya Pak Tani yang menanam mentimun. Pak Carik, Pak
Joko, dan beberapa petani lain juga menanam mentimun. Mereka punya lahan
masing-masing, dan secara tak langsung bersaing.
"Pak Tani, mentimunnya kelihatannya subur ya,"
tegur Pak Joko suatu sore, saat berpapasan di pematang sawah.
"Alhamdulillah, Pak. Lumayan. Bapak sendiri
gimana?"
"Saya sih biasa aja. Tapi yang penting panennya
banyak. Target saya 5 ton dari lahan 2 hektar."
Wah, pamer lagi pamer lagi. Pak Tani cuma tersenyum.
"Wah hebat, Pak. Saya mah cuma 2 ton dari lahan setengah hektar."
"Itu karena bibitnya kurang bagus. Besar kemungkinan.
Saya pake bibit impor, lho. Mahal, tapi kualitas terjamin."
Pak Tani tak mau terpancing. Ia tahu, bibit impor memang
bagus, tapi perawatannya lebih susah. Bibit lokal lebih tahan terhadap hama dan
penyakit. Tapi ia tak perlu menjelaskan itu pada Pak Joko. Biarlah Pak Joko
dengan kesombongannya.
Yang lebih menyenangkan adalah Pak Carik. Ia tak pernah
sombong meski sawahnya lumayan luas. Setiap kali bertemu, ia selalu berbagi
tips.
"Nak Tani, mentimunmu kelihatan agak kekuningan di
daunnya. Mungkin kurang pupuk nitrogen. Coba kasih pupuk urea dikit, tapi
jangan kebanyakan."
"Terima kasih, Pak Carik. Nanti saya coba."
Mentimun-mentimun itu bukan sekadar tanaman. Bagi warga Bojong
Sari, ini adalah simbol harapan. Harapan akan masa depan yang lebih baik.
Di rumah Pak Tani, rencana-rencana kecil mulai disusun.
"Kalau panen mentimun nanti dapat untung banyak, kita beli kambing satu,
Bu," kata Pak Tani pada istrinya.
"Kambing? Buat apa?"
"Buat diternakin. Nanti kalau sudah besar, bisa
dijual. Atau buat kurban."
Bu Tani tersenyum. "Wah, boleh juga tuh. Nanti Raka
bisa bantu ngangon."
Di rumah Bu Juminten, ia berencana membeli ayam. "Ayam
kampung, biar bisa bertelur. Telurnya bisa dijual, lumayan buat
tambah-tambah."
Di rumah Pak Carik, ia ingin memperbaiki kandang kambingnya
yang sudah reyot. "Kasian kambingnya, udah gak nyaman. Lagian biar baunya
nggak terlalu nyebar."
Di rumah Pak Joko, ia berencana membeli traktor seperti
yang sudah direncanakan. "Traktor! Biar aku jadi petani modern!"
Tak ada yang menyangka, kehijauan yang menjanjikan ini
justru akan segera menarik perhatian tamu tak diundang dari balik Hutan
Manoreh. Tamu yang akan mengubah segalanya.
Di batas paling timur Bojong Sari, Hutan Manoreh berdiri
kokoh seperti tembok raksasa berwarna hijau. Pepohonan besar seperti mahoni,
jati, beringin, dan rasamala menjulang tinggi, membentuk kanopi rapat yang
hanya sedikit meneruskan sinar matahari ke dasar hutan. Di bawahnya, udara selalu
lembab dan sejuk, bahkan saat matahari di luar sedang terik-teriknya.
Hutan ini adalah saksi bisu perjalanan Bojong Sari sejak
zaman nenek moyang. Konon, leluhur desa ini pertama kali membuka lahan di
pinggir hutan, lalu perlahan-lahan melebar ke selatan dan barat. Mereka punya
aturan tak tertulis: jangan pernah masuk terlalu dalam ke hutan, jangan ganggu
penghuninya, dan jangan tebang pohon sembarangan.
"Alam itu seperti ibu, Nak," kata Mbah Kromo pada
Raka suatu hari. "Kalau kita baik padanya, dia akan baik pada kita. Tapi
kalau kita jahat, dia bisa marah. Dan marahnya alam itu dahsyat."
Raka mengingat pesan itu dengan baik. Ia selalu hormat pada
hutan. Setiap kali melewati batas desa dan hutan, ia selalu memberi salam dalam
hati. "Permisi, para penghuni hutan. Saya cuma lewat."
Di dalam Hutan Manoreh, ada dunia lain yang berlangsung.
Sebuah kerajaan sunyi yang dihuni oleh berbagai makhluk. Bagi orang awam, hutan
ini mungkin terlihat sepi. Tapi bagi yang peka, hutan ini sangat ramai.
Kera ekor panjang melompat dari dahan ke dahan, bercanda
kejar-kejaran di antara pepohonan. Sesekali mereka bergelantungan dengan
ekornya, menjerit-jerit memanggil temannya. Monyet-monyet ini adalah penghuni
paling berisik di hutan. Mereka suka mengganggu siapa pun yang lewat, melempar
buah atau ranting.
"Woi, dasar monyet nakal!" umpat Bejo suatu kali
saat kena lempar buah rambutan hutan yang keras.
Tupai terbang meluncur di antara celah pepohonan. Mereka
membentangkan selaput di kaki dan tangannya, melayang dengan anggun dari satu
pohon ke pohon lain. Gerakannya cepat, hampir tak terlihat. Kalau tak jeli,
orang akan mengira itu hanya daun jatuh.
Burung-burung elang berputar-putar di angkasa, mengawasi
wilayahnya dengan mata tajam. Kadang-kadang mereka menyelam cepat, menyambar
tikus atau kadal yang lengah. Elang jawa adalah yang paling besar, dengan
bentang sayap mencapai dua meter.
Di dasar hutan, babi hutan berkeliaran mencari umbi-umbian.
Mereka adalah hewan paling ditakuti warga karena bisa ganas kalau terdesak.
Tapi biasanya mereka lebih memilih kabur daripada menyerang.
Dan yang paling sulit dilihat adalah kijang dan kancil.
Mereka pemalu, selalu waspada. Begitu mendengar suara aneh, mereka langsung
lari menjauh. Jejak kaki mereka sering terlihat di tanah berlumpur, tapi
wujudnya jarang.
Di antara semua penghuni hutan, yang paling menarik
perhatian Raka adalah kancil. Hewan kecil dengan bulu cokelat kemerahan ini
selalu membuatnya penasaran. Dalam dongeng, kancil digambarkan sebagai hewan
cerdik yang bisa mengalahkan buaya, harimau, bahkan manusia. Tapi apakah kancil
di Hutan Manoreh juga begitu?
Raka belum pernah melihat kancil secara langsung. Ia hanya
melihat jejaknya. Tapi dari ukuran jejak itu, ia bisa memperkirakan ada kancil
dewasa dan anak-anak. Dan dari pola pergerakannya, ia yakin mereka punya
pemimpin.
Yang tak diketahui Raka, pemimpin kawanan kancil itu adalah
seekor kancil tua yang sangat bijaksana. Bulunya yang dulu cokelat kemerahan,
kini mulai memutih di bagian moncong dan punggungnya. Matanya yang bulat dan
jernih menyimpan pengalaman panjang tentang hidup berdampingan dengan manusia.
Kancil tua itu telah melewati banyak musim kemarau dan
hujan. Ia selamat dari berbagai upaya perburuan—pernah kakinya hampir kena
jerat, pernah hampir tertembak senapan angin, pernah dikejar anjing pemburu.
Tapi selalu saja ia lolos dengan kecerdikannya.
Ia juga mengingat setiap lekuk jalan di hutan ini. Setiap
sumber air, setiap pohon buah, setiap tempat persembunyian. Ia tahu kapan
buah-buahan liar matang, kapan air di sungai surut, dan kapan harus pindah
tempat mencari makan.
Kancil tua itu sering merenung di bawah pohon beringin
raksasa di tengah hutan—tempat yang dianggap keramat oleh manusia. Di sana, ia
mengingat cerita-cerita yang diturunkan oleh nenek moyangnya.
Konon, dulu kancil dan manusia hidup berdampingan dengan
damai. Manusia tak pernah mengganggu mereka, bahkan kadang memberi makanan di
pinggir hutan. Mata air dari desa mengalir deras ke hutan, dan buah-buahan di
pinggir hutan selalu cukup untuk semua.
Tapi seiring waktu, manusia semakin banyak dan hutan
semakin sempit. Mereka mulai memasang jerat, membawa anjing pemburu, dan
menebang pohon-pohon yang menjadi rumah para kancil. Kancil-kancil pun mundur
semakin dalam ke hutan.
"Manusia itu aneh," pikir kancil tua.
"Mereka butuh hutan, tapi mereka juga merusaknya. Mereka butuh kami, tapi
mereka juga memburu kami."
Namun kancil tua ini berbeda. Ia tak ingin bermusuhan
dengan manusia. Ia percaya, masih ada manusia-manusia baik di luar sana. Dan ia
berharap, suatu saat, mereka bisa hidup berdampingan lagi seperti dulu.
Akhir-akhir ini, kancil tua itu mulai merasa gelisah. Ada
sesuatu yang tidak beres.
Mata air di hulu sungai mulai menyusut. Padahal biasanya,
saat musim kemarau pun, mata air ini masih mengalir deras. Tapi sekarang,
airnya tinggal setengah. Batu-batu di tepi sungai mulai kering dan berlumut,
pertanda sudah lama tak tergenang air.
Buah-buahan liar juga tak semudah dulu ditemukan.
Pohon-pohon beringin yang biasa berbuah lebat, sekarang hanya berbuah sedikit.
Pohon-pohon rasamala yang bijinya disukai kancil, tampak meranggas.
Kancil tua itu berkeliling, mencari sumber makanan baru. Ia
menemukan beberapa tempat, tapi tak cukup untuk seluruh kawanan. Yang paling
parah, kawanannya terus bertambah. Beberapa betina melahirkan anak-anak baru.
Mulut yang harus diberi makan semakin banyak, sementara makanan semakin
sedikit.
"Kita harus mencari sumber makanan baru," katanya
pada kawanan dalam bahasa kancil. "Atau kita akan kelaparan."
Tapi di mana? Mereka sudah menjelajahi hampir seluruh
hutan. Tak ada lagi tempat yang belum dikunjungi. Kecuali...
Kancil tua itu menatap ke arah barat, ke arah batas hutan.
Di sana, di luar hutan, ada hamparan hijau yang berbeda. Ladang-ladang manusia.
Dengan tanaman-tanaman yang tampak segar dan ranum.
Tapi itu terlarang. Nenek moyang sudah berpesan: jangan
pernah keluar hutan. Itu wilayah manusia, dan itu berbahaya.
Namun perut lapar tak bisa dibohongi. Anak-anak kancil
mulai merengek minta makan. Yang lebih muda mulai terlihat lemah. Kancil tua
itu harus membuat keputusan sulit.
Malam di Bojong Sari selalu sama. Setelah maghrib,
aktivitas mulai meredup. Lampu-lampu minyak tanah atau lampu petromak mulai
dinyalakan. Anak-anak belajar atau bermain sebentar di teras rumah sebelum
tidur. Orang dewasa duduk-duduk sambil ngobrol ringan, lalu perlahan masuk ke
rumah.
Sekitar jam sembilan malam, desa sudah sunyi. Hanya suara
jangkrik dan kodok yang masih setia menemani malam. Sesekali anjing
menggonggong, mungkin melihat hantu—atau hanya kucing liar.
Di rumah Pak Tani, lampu sudah padam sejak jam setengah
sembilan. Keluarga ini punya kebiasaan tidur cepat karena Pak Tani harus bangun
subuh untuk ke sawah. Raka sudah di kamarnya, tapi matanya masih terbuka. Ia
sedang membaca buku bekas pemberian gurunya: "Ensiklopedia Hewan
Nusantara".
Halaman yang ia baca adalah tentang kancil. "Kancil
(Tragulus javanicus) adalah hewan mamalia kecil dari keluarga Tragulidae.
Mereka aktif di malam hari (nokturnal) dan sangat pemalu. Makanan utama mereka
adalah dedaunan, buah-buahan, dan kadang-kadang serangga kecil..."
"Jadi kancil itu aktif malam hari," gumam Raka.
"Berarti kalau siang mereka tidur."
Ia menutup buku dan memejamkan mata. Tapi sesuatu
membuatnya tak bisa tidur. Ada firasat aneh.
Tengah malam. Raka terbangun karena haus. Ia turun dari
tempat tidurnya, berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Di tengah
perjalanan, ia mendengar sesuatu.
Suara itu lembut. Kresek... kresek... seperti
langkah kaki kecil di atas daun kering. Lalu disusul suara lain, seperti suara
menggigit sesuatu yang renyah. Krauk... krauk...
Raka membeku. Ia menajamkan telinga. Suara itu datang dari
arah belakang rumah, dari ladang mentimun ayahnya.
Dengan hati-hati, ia berjalan ke jendela kamar yang
menghadap ke belakang. Ia mengintip. Di bawah sinar rembulan yang pucat, ia
melihat beberapa bayangan kecil bergerak lincah di antara tanaman merambat.
Mereka memakan mentimun, satu demi satu, dengan lahapnya.
Jantung Raka berdebar kencang. Ia ingin berteriak
membangunkan ayahnya, tapi sesuatu menahannya. Rasa penasarannya justru lebih
besar dari rasa takut.
Ia mengamati bayangan-bayangan itu dengan saksama. Tubuhnya
kecil, sekitar seukuran kucing besar. Kakinya jenjang, telinganya lebar.
Gerakannya lincah dan waspada. Setiap beberapa detik, mereka akan berhenti
makan dan menengadah, mengendus-endus udara, memastikan tak ada bahaya.
Kancil. Itu pasti kancil. Raka tak percaya dengan matanya.
Kancil-kancil itu keluar dari hutan dan masuk ke ladang ayahnya!
Raka tak bisa tidur lagi. Ia duduk di depan jendela,
mengamati pemandangan di ladang. Para kancil itu tak terganggu oleh
keberadaannya. Mereka asyik memakan mentimun, kadang-kadang berlarian kecil
kejar-kejaran, seperti anak kecil yang sedang piknik.
Raka mengeluarkan buku catatannya. Dengan pensil, ia mulai
membuat sketsa. Ia menggambar bentuk kancil, cara mereka bergerak, cara mereka
makan. Ia juga mencatat waktu: pukul 12.30 malam. Jumlah kancil: sekitar 6-8
ekor. Durasi mereka di ladang: sekitar 30 menit, lalu mereka pergi kembali ke
arah hutan.
"Jadi ini pelakunya," bisik Raka. "Bukan
hama, bukan hantu. Tapi kancil."
Ia tersenyum sendiri. Misteri yang selama ini
menggelisahkan warga, sebenarnya sederhana. Tapi kenapa tak ada yang menyadari?
Kenapa tak ada yang mengintai seperti dirinya?
"Mungkin karena orang dewasa sibuk dengan urusan
mereka. Atau mungkin mereka takut."
Raka menghadapi dilema. Ia menemukan pelaku perusakan
ladang. Tapi apa yang harus ia lakukan?
Jika ia memberi tahu ayah dan warga, mereka pasti akan
marah dan berusaha menangkap atau mengusir kancil-kancil itu. Tapi Raka tak
tega. Dari pengamatannya, kancil-kancil itu tak makan dengan rakus. Mereka
hanya makan beberapa mentimun, lalu pergi. Mereka tak merusak tanaman dengan
sengaja. Mereka hanya... mencari makan.
"Pasti ada alasan kenapa mereka keluar hutan,"
pikir Raka. "Kancil itu hewan pemalu. Mereka pasti terpaksa."
Raka memutuskan untuk menyimpan rahasia ini dulu. Ia akan
menyelidiki lebih lanjut. Ia harus tahu alasan di balik perilaku aneh
kancil-kancil itu.
Keesokan paginya, Raka bangun lebih awal dari biasanya. Ia
langsung ke ladang mentimun. Ayahnya sudah di sana, berdiri terpaku dengan
wajah pucat.
Di ladang, puluhan mentimun berserakan. Ada yang hanya
tergigit separuh, ada yang penuh lubang gigitan kecil, dan banyak yang
terinjak-injak hingga hancur. Pemandangan yang mengenaskan.
"Ya Allah, mentimun kita!" pekik Bu Tani dari
belakang. Ia baru saja keluar rumah dan melihat pemandangan itu.
Pak Tani tak berkata apa-apa. Ia hanya berlutut di tanah,
memegang mentimun yang hancur dengan tangan gemetar. Air mata pria itu nyaris
jatuh.
Raka merasa hancur melihat ayahnya begitu sedih. Tapi di
saat yang sama, ia juga merasa kasihan pada kancil-kancil itu. Mereka pasti
kelaparan. Mereka tak punya pilihan lain.
"Ayah..." Raka memulai dengan hati-hati.
"Iya, Nak?" Pak Tani menoleh, matanya sembab.
Raka ingin mengatakan yang sebenarnya. Tapi lidahnya terasa
kelu. Ia belum siap. Belum saatnya.
"Sabarlah, Yah. Mungkin masih ada yang bisa
diselamatkan."
Pak Tani menghela napas panjang. "Iya, Nak. Ayah coba
sabar. Tapi ini... ini sudah kedua kalinya. Panen padi habis, sekarang mentimun
juga hancur."
Raka memeluk ayahnya erat-erat. Ia berjanji dalam hati:
suatu saat nanti, ia akan mengungkap seluruh kebenaran. Dan ia akan mencari
solusi yang tak merugikan siapa pun. Baik ayahnya, maupun kancil-kancil itu.
BAGIAN DUA: MISTERI
MULAI TERKUAK
"Ya Allah! Mentimun kita! Hancur semua!"
Pekik Bu Tani pagi itu tidak hanya membangunkan
keluarganya, tapi juga tetangga-tetangga sekitar. Dalam hitungan menit, puluhan
orang sudah berkumpul di ladang Pak Tani. Mereka melihat pemandangan yang sama:
ladang porak-poranda, mentimun berserakan, tanaman-tanaman lain ikut rusak.
"Innalillahi, parah sekali," gumam Bu Tini sambil
menutup mulut.
"Ini pasti ulah babi hutan!" teriak seseorang
dari belakang.
"Babi hutan? Masa cuma ninggalin jejak kecil
gitu?" yang lain membantah.
Pak Carik datang dengan tergesa-gesa, masih mengenakan
sarung dan kaos oblong. Rambutnya awut-awutan. "Ada apa? Ada apa?"
tanyanya sambil mengatur napas.
Begitu melihat ladang Pak Tani, ia langsung terdiam. Lalu
perlahan berkata, "Astagfirullah..."
Pak Kades segera datang bersama beberapa perangkat desa.
Mereka memasang garis polisi—bukan garis polisi beneran, cuma tali rafia yang
dipasang mengelilingi ladang. "Jangan ada yang masuk dulu! Ini TKP!"
kata Pak Kades dengan gaya sok polisi.
"TKP itu apa, Pak?" tanya Bejo yang ikut nonton.
"Tempat Kejadian Perkara, Nak. Istilahnya polisi
gitu."
"Wah, Pak Kades jadi polisi?" Bejo makin bingung.
"Bukan! Pokoknya jangan masuk dulu!"
Orang-orang hanya bisa menonton dari pinggir ladang. Pak
Kades berjalan-jalan di dalam ladang, mengamati jejak-jejak yang ada. Kadang ia
berjongkok, memegang tanah, lalu menggeleng-geleng.
"Pak Kades, Bapak ngerti ini jejak apa?" tanya
Pak Carik dari luar.
"Tentu saja! Ini jejak..." Pak Kades terdiam
lama. "Ini jejak... hewan."
Semua orang tertawa. "Ya iyalah Pak, masa jejak
manusia," ledek Guntur.
Pak Kades cemberut. "Heh, kalian bisa? Coba masuk
sini, tunjukin kalau kalian lebih pintar!"
Tak ada yang berani masuk. Mereka hanya tertawa-tawa kecil.
Sementara orang dewasa sibuk dengan kegaduhan mereka, Raka
diam-diam mendekati pinggir ladang. Ia berjongkok, mengamati jejak-jejak di
tanah. Matanya yang awas langsung menangkap detail yang terlewat oleh Pak
Kades.
Jejak itu kecil, dengan dua kuku runcing di depan.
Bentuknya seperti hati terbalik. Ukurannya sekitar 3-4 sentimeter. Jejak ini
bertebaran di seluruh ladang, tapi konsentrasi terbanyak ada di dekat tanaman
mentimun.
Raka mengeluarkan buku catatan dan pensil. Ia membuat
sketsa jejak itu dengan teliti. Ia juga mengukur panjang dan lebarnya dengan
jarinya—nanti di rumah ia akan mengukurnya dengan penggaris.
"Ra, kamu ngapain?" Wati tiba-tiba muncul di
sampingnya.
Raka kaget. "Wuih, kaget aja. Ngamatin jejak."
"Ini jejak apa?"
"Aku belum tahu pasti. Tapi sepertinya...
kancil."
Wati terbelalak. "Kancil? Serius?"
"Iya. Aku semalem liat sendiri."
Wati makin kaget. "Kamu liat? Kok nggak lapor?"
Raka menghela napas. "Itu yang bikin aku bingung, Ti.
Aku liat mereka, tapi... mereka keliatannya bukan mau jahat. Mereka kayak
cuma... lapar."
Wati menatap Raka dengan tatapan baru. Bocah ini memang
beda. Di saat semua orang marah, ia justru bisa melihat dari sisi lain.
Kabar tentang ladang Pak Tani yang porak-poranda segera
menyebar seperti api. Warga desa berbondong-bondong datang. Tak hanya ladang
Pak Tani, mereka kemudian menemukan ladang lain juga mengalami nasib serupa.
Ladang Pak Carik, ladang Pak Joko, bahkan ladang Bu Juminten yang kecil itu
juga tak luput.
"Ladang saya juga! Mentimun saya juga!" teriak
Pak Joko dengan wajah merah padam. Ia hampir menangis. Traktor impiannya
melayang.
Bu Juminten hanya bisa pasrah. "Sudah nasib, Bu,"
katanya pada Bu Tini. "Mungkin rezeki saya belum sampai."
Tapi tak semua orang bisa pasrah seperti Bu Juminten.
Beberapa petani mulai marah-marah, menuduh ini ulah orang iseng atau bahkan
santet dari desa tetangga.
"Ini pasti ulah orang Dengklok! Mereka kan selalu iri
sama hasil panen kita!" teriak seorang petani.
"Iya! Mereka itu terkenal suka pesugihan! Mungkin
mereka kirim hewan jadi-jadian!"
Warga mulai terpancing emosi. Suasana mulai memanas.
Pak Kades segera turun tangan. "Tenang, tenang
semuanya! Jangan saling tuduh dulu! Kita selidiki dulu baik-baik!"
"Pak Kades, ini jelas-jejak hewan! Masa kita nggak
bisa ngusir hewan?"
"Iya! Kita pasang perangkap aja!"
"Atau kita buru saja!"
Raka yang mendengar itu merasa cemas. Ia harus cepat
bertindak sebelum semuanya terlambat.
Setelah kerumunan bubar, Raka kembali ke ladang. Kali ini
ia membawa Wati dan Bejo. Mereka bertiga berkeliling, mengamati setiap jejak
yang ada.
"Coba lihat ini," kata Raka sambil menunjuk ke
tanah. "Jejaknya konsisten. Ukuran dan bentuknya sama. Berarti hewannya
satu jenis."
"Mana yang paling besar?" tanya Bejo.
Raka mencari-cari. "Ini. Yang ini lebih besar dari
yang lain. Mungkin pemimpinnya."
Wati mengangguk kagum. "Kamu ini jenius, Ra."
"Bukan jenius. Cuma teliti."
Mereka mengikuti jejak-jejak itu sampai ke batas desa, di
mana hutan dimulai. Di sana jejak-jejak itu menghilang, tertutup oleh semak
belukar.
"Mereka masuk ke hutan," kata Wati.
"Berarti pelakunya hewan hutan," Bejo
menyimpulkan.
"Tapi hewan apa?" tanya Wati.
Raka mengeluarkan buku catatannya. Ia menunjukkan sketsa
yang ia buat. "Ini jejaknya. Dua kuku runcing. Kecil. Kalo kambing atau
domba, jejaknya lebih besar. Kalo rusa atau kijang, juga lebih besar dan
jaraknya lebih panjang. Ini... ini persis seperti jejak kancil di buku
ensiklopediaku."
Wati dan Bejo terbelalak. "Kancil? Serius?"
"Aku yakin 90 persen."
Untuk memastikan, Raka memutuskan untuk bertanya pada Mbah
Kromo. Siapa lagi yang lebih tahu tentang hewan-hewan di Bojong Sari selain
Mbah Kromo? Lelaki tua itu memang terkenal sebagai "pawang hewan" tak
resmi di desa. Ia tahu segala hal tentang burung, ikan, dan hewan-hewan liar.
Mereka bertiga pergi ke rumah Mbah Kromo. Rumah itu
sederhana, berdinding anyaman bambu, dengan halaman yang dipenuhi tanaman obat
dan beberapa sangkar burung kosong. Sangkar-sangkar itu kosong karena
burung-burungnya sudah mati atau dijual.
"Permisi, Mbah Kromo!" panggil Raka dari pintu.
"Opo to? Sopo?" suara parau dari dalam.
Rumah itu gelap. Hanya ada satu jendela kecil yang
membiarkan cahaya masuk. Mbah Kromo duduk di lantai beralas tikar pandan,
sedang memilin rokok daun kering.
"Mbah, saya Raka. Ini Wati dan Bejo. Mau tanya
sesuatu."
"Tanya opo? Aku iki lagi susah, lho. Perkututku
mati." Mbah Kromo masih belum move on dari kematian burung kesayangannya.
"Mbah, kami tahu. Tapi ini penting. Ini tentang hewan
yang merusak ladang."
Mata Mbah Kromo berbinar. "O, ngono. Ayo mlebu.
Duduk."
Mereka bertiga duduk bersila di lantai. Raka membuka buku
catatannya dan menunjukkan sketsa jejak.
"Mbah, ini jejak apa?"
Mbah Kromo mengambil buku itu, mendekatkannya ke mata.
Matanya sudah mulai rabun. Ia mengamati lama, lalu tersenyum.
"Iki jejaké kancil, Nak. Kancil. Aku yakin."
"Kancil? Beneran, Mbah?"
"Beneran. Kancil kuwi sikilé cilik, kukuncé runcing
loro. Mlakué alon-alon, waspada. Iki jejaké kancil, ora salah."
Wati dan Bejo menatap Raka dengan kagum. Tebakannya benar.
Mbah Kromo kemudian bercerita panjang lebar tentang kancil.
Matanya menerawang, seperti sedang mengingat masa lalu.
"Dulu, pas aku isih cilik, kancil kuwi kerep metu saka
alas. Tapi ora tau ngrusak tanduran. Paling mung mangan godhong-godhongan ing
pinggir alas. Wong-wong kene malah seneng ndelok kancil, dianggep sebagai
pertanda baik."
"Terus kenapa sekarang mereka berani masuk ke ladang,
Mbah?" tanya Raka.
Mbah Kromo menghela napas. "Mungkin alasé lagi susah,
Nak. Mungkin panganané kurang. Kancil kuwi kewan pinter. Ora bakal metu nek ora
kepaksa."
Raka mengangguk. Ini sesuai dengan hipotesisnya.
"Tapi kenapa baru sekarang, Mbah? Musim kemarau kan
sudah terjadi setiap tahun."
"Musim kemarau tahun iki beda, Nak. Panasé luar biasa.
Aku wae ngrasakké. Biasane jam 9 isih adem, iki jam 7 wis panas. Mungkin sumber
banyu neng alas mulai garing. Mungkin woh-wohané padha garing."
Raka mencatat semuanya dengan teliti. Ia mulai melihat
pola. Kemarau panjang → sumber air dan makanan di hutan berkurang → hewan-hewan
keluar mencari makan → kancil masuk ke ladang.
"Ini bukan serangan, ini... penyelamatan diri,"
gumam Raka.
Sepulang dari Mbah Kromo, Tim Penyelidik Cilik—begitu
mereka menamai diri—mengadakan rapat darurat di markas rahasia mereka, sebuah
gubuk kosong di pinggir desa yang tak terpakai.
"Oke, kita punya tiga kemungkinan," kata Raka,
membuka buku catatannya. "Pertama, ini serangan biasa. Kancil memang suka
makan mentimun dan mereka iseng. Tapi ini kemungkinan kecil, karena kancil itu
hewan pemalu."
"Kedua, mereka terpaksa. Karena sumber makanan di
hutan habis. Ini kemungkinan besar, sesuai kata Mbah Kromo."
"Ketiga, ada yang lebih besar. Mungkin hutan sedang
sakit. Mungkin ada bencana yang mengancam. Dan hewan-hewan merasakannya lebih
dulu."
"Bencana?" Bejo memucat. "Jangan gunung
meletus lagi, deh."
"Bukan gunung meletus, Jo. Tapi bisa longsor, banjir,
atau kekeringan parah."
Wati mengangguk serius. "Lalu kita harus apa?"
"Kita harus menyelidiki ke dalam hutan. Lihat langsung
kondisi di sana. Tapi ini berbahaya. Kita harus siap mental."
Bejo mengangkat tangan. "Aku... aku takut."
"Kamu takut wajar, Jo. Aku juga takut. Tapi kalau
nggak kita lakukan, siapa lagi? Orang dewasa sibuk marah-marah dan saling tuduh.
Mereka nggak akan mikir sejauh ini."
Wati menepuk pundak Bejo. "Kita hadapi bareng-bareng,
Jo. Janji?"
Bejo ragu-ragu, lalu mengangguk. "Janji."
Malam harinya, Pak Kades mengadakan rapat besar di balai
desa. Semua warga diundang. Balai desa yang biasanya sepi, malam itu penuh
sesak. Warga datang berbondong-bondong, ada yang membawa tikar, ada yang
membawa bekal, ada pula yang hanya membawa emosi.
Lampu petromak menyala terang di beberapa sudut, menerangi
wajah-wajah cemas dan marah para petani. Udara terasa panas meski malam, bukan
hanya karena cuaca, tapi juga karena emosi yang memuncak.
Pak Kades duduk di kursi utama, dikelilingi perangkat desa:
Pak Carik, Pak Lurah—maksudnya Pak Joko yang bukan lurah tapi sok lurah—, Bu
Kades yang setia mendampingi, dan beberapa tokoh pemuda seperti Guntur, Heri,
dan Budi.
"Hadirin sekalian, mari kita buka rapat ini dengan
doa," kata Pak Kades memulai. "Demi kelancaran dan kemudahan..."
"Doa apa, Pak? Yang penting cepet cari solusi!"
potong seseorang dari belakang.
"Sabar, sabar. Jangan grusa-grusu."
Setelah doa singkat, Pak Kades mempersilakan warga untuk
menyampaikan pendapat. Dan seperti gayung bersambut, langsung pecah perdebatan
seru.
"Ini pasti ulah babi hutan!" teriak Pak Slamet,
petani dari dusun timur. "Babi hutan itu rakus, suka ngerusak
tanaman!"
"Babi hutan? Jejaknya mana ada sebesar babi
hutan?" bantah Pak Carik. "Jejaknya kecil-kecil. Kayak jejak
kambing."
"Kambing? Masa kambing mau makan mentimun? Kambing kan
makan rumput!"
"Lho, kambing juga suka sayuran."
"Tapi kok banyak banget? Kambing siapa yang
lepas?"
Perdebatan berlangsung seru. Masing-masing punya teori
sendiri. Ada yang bilang ulah kijang, ada yang bilang ulah monyet, ada yang
bilang ulah landak, ada pula yang mulai mengaitkan dengan hal-hal mistis.
"Jangan-jangan ini ulah genderuwo!" kata Mbah
Joyo, teman Mbah Kromo. "Genderuwo kan suka ngganggu tanaman."
"Ah, Mbah Joyo ini, genderuwo kok doyan mentimun.
Mending pecel," ledek Guntur, disambut tawa.
"Eh, jangan mentertawakan hal-hal gaib. Banyak kejadian
aneh di desa kita akhir-akhir ini. Burung-burung pada pergi, jangkrik pada
diam, perkutut Mbah Kromo mati. Itu semua pertanda."
Suasana mulai meredup. Warga mulai merasa merinding. Benar
juga, banyak kejadian aneh akhir-akhir ini. Mungkin ada hubungannya dengan
hal-hal mistis.
Pak Kades mencoba menengahi. "Bapak-bapak, ibu-ibu.
Semua pendapat bagus. Tapi kita harus mencari solusi, bukan saling menyalahkan.
Mari kita dengar pendapat dari perangkat desa. Silakan Pak Carik."
Pak Carik berdeham, lalu berdiri. "Begini, warga
Bojong Sari sekalian. Menurut saya, apapun pelakunya, kita harus bertindak
cepat. Kita harus melindungi ladang kita. Saya usulkan kita adakan ronda malam
khusus. Berjaga di ladang-ladang yang rawan."
"Setuju!" teriak beberapa orang.
"Tapi ronde saja cukup?" tanya Pak Joko.
"Saya usul kita pasang perangkap. Jebakan. Biar pelakunya
tertangkap!"
"Perangkap? Nanti kalau yang kena warga sendiri
gimana?"
"Ya jangan asal masuk ladang malam-malam!"
Perdebatan lagi. Akhirnya diputuskan dua strategi
sekaligus: ronda malam dan pemasangan perangkap. Warga akan bergiliran berjaga
setiap malam.
Di tengah keramaian, Raka, Wati, dan Bejo duduk di sudut
ruangan. Mereka tak banyak bicara, hanya mendengarkan. Raka mencatat poin-poin
penting di bukunya.
"Mereka mau pasang perangkap," bisik Wati cemas.
"Iya. Kasian kancilnya."
"Tapi kita belum bisa bilang apa-apa, Ti. Kita belum
punya bukti kuat."
Bejo menghela napas. "Berat banget jadi detektif.
Harus simpan rahasia mulu."
"Memang berat, Jo. Tapi ini tugas kita. Kita harus
selidiki dulu ke hutan. Cari tahu kenapa mereka keluar. Baru setelah itu kita
bisa bicara."
Wati mengangguk setuju. "Kapan kita ke hutan?"
"Minggu depan. Hari Minggu, kita libur sekolah. Kita
bilang mau main ke sungai, tapi kita masuk hutan."
"Setuju!" timpal Wati dan Bejo bersamaan.
Rapat berakhir sekitar jam 10 malam. Warga pulang dengan
perasaan campur aduk. Ada yang lega karena ada rencana, ada yang masih cemas,
ada pula yang mulai memasang muka sangar karena besok dapat giliran ronda pertama.
Pak Tani berjalan pulang dengan Raka. Sepanjang jalan ia
diam saja. Raka tahu ayahnya masih sedih.
"Yah, sabar ya," kata Raka pelan.
Pak Tani menepuk pundak anaknya. "Iya, Nak. Ayah coba
sabar. Tapi ini berat."
"Raka janji, Yah. Raka akan bantu cari solusi. Solusi
yang baik buat semua."
Pak Tani tersenyum tipis. "Kamu ini, Ra. Kadang
bicaramu kayak orang tua. Tapi terima kasih. Ayah hargai itu."
Mereka berjalan pulang dalam keheningan malam. Di kejauhan,
dari arah hutan, terdengar lolongan anjing hutan yang panjang dan sayu.
Pertanda apa lagi?
Malam pertama ronda dimulai dengan persiapan matang. Pos
ronda di pinggir desa, yang biasanya hanya digunakan untuk ronda biasa setiap
malam, kini disulap jadi markas darurat. Warga membawa tikar, kopi, gorengan,
dan berbagai bekal untuk begadang.
Yang dapat giliran pertama adalah tim campuran: Pak Tani,
Pak Carik, Guntur, Heri, Budi, dan dua pemuda lainnya. Mereka membawa senter,
obor, golok, cangkul, dan berbagai senjata seadanya. Ada yang membawa ketapel
besar, ada yang membawa tombak bambu, bahkan ada yang membawa mercon—buat apa?
Nggak jelas.
"Pak Tani, bawa apa?" tanya Guntur.
"Ini golok. Lumayan buat jaga-jaga."
"Golok doang? Saya bawa ketapel! Pelurunya kelereng.
Kalau kena, bisa pingsan."
"Kalau saya bawa tombak, Pak," kata Heri dengan
bangga. "Tinggal tusuk, beres."
"Eh, jangan sembarangan tusuk. Nanti kalau hewannya
dilindungi gimana?" Pak Carik mengingatkan.
"Lha terus gimana? Dibiarkan aja?"
"Tangkap hidup-hidup, lalu kembalikan ke hutan."
"Wah, susah itu, Pak."
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Para penjaga mulai siaga.
Mereka duduk di pos ronda sambil ngobrol ngalor-ngidul. Dari masalah pertanian,
beralih ke masalah politik, lalu ke masalah keluarga, lalu ke gosip artis
ibukota.
"Eh, kalian tahu nggak, si Anessa itu katanya mau
cerai lagi," kata Heri.
"Ah, kamu ini, ngapain pikirin artis. Pikirin aja
ladang kita," tegur Guntur.
"Iya, tapi kan biar nggak tegang."
Jam 10 malam. Mulai ada yang mengantuk. Budi sudah terlihat
sering mangap-mangap. Matanya sayu.
"Budi! Jangan tidur! Kamu tugas jaga!" hardik
Guntur.
"Aku nggak tidur, Gun. Cuma merem dikit."
"Merem dikit = tidur."
Jam 11 malam. Gorengan habis. Kopi juga mulai menipis. Pak
Tani yang paling waspada, matanya tak pernah lepas dari ladang. Ia ingat pesan
Raka: "Ayah, coba perhatikan baik-baik. Jangan teriak dulu kalau lihat
sesuatu. Amati dulu."
Pesan aneh, tapi ia turuti.
Jam 12 tepat. Tengah malam. Bulan bersinar terang. Suasana
sunyi, hanya suara jangkrik yang kadang terdengar—tapi tidak sebanyak biasanya.
Tiba-tiba, dari arah hutan, muncul gerakan. Samar-samar,
bayangan-bayangan kecil bergerak lincah mendekati ladang.
"Itu dia!" bisik Pak Tani.
Semua orang terbangun dari kantuknya. Mereka mengintip dari
balik pos.
"Mereka apa? Keliatan nggak?" tanya Guntur.
"Kayaknya... kecil. Bukan babi hutan."
"Kijang? Rusa?"
"Bukan. Lebih kecil."
Bayangan-bayangan itu mulai masuk ke ladang. Mereka
bergerak lincah, waspada. Kadang berhenti, mendongak, mengendus udara. Lalu
kembali bergerak.
"Siap-siap... kita kejar!" bisik Pak Carik.
Para penjaga mulai merangkak keluar pos. Mereka berusaha
tidak bersuara. Tapi...
"HEM!" Guntur tiba-tiba bersin keras. Rupanya
kena debu.
Bayangan-bayangan itu terkejut. Mereka berhenti sejenak,
lalu berlari tunggang-langgang kembali ke arah hutan.
"Kejar! Kejar!" teriak Pak Carik.
Para penjaga berlari sekuat tenaga. Tapi bayangan-bayangan
itu terlalu cepat. Dalam sekejap, mereka sudah lenyap di balik kegelapan hutan.
Namun, satu hal penting terjadi. Saat mereka berlari,
Guntur sempat menyorotkan senternya ke arah bayangan yang paling belakang.
Untuk sesaat, terlihat jelas wujudnya: tubuh ramping, kaki jenjang, telinga
lebar, dan ekor pendek.
"Itu... itu kancil!" teriak Guntur.
Semua orang berhenti. "Kancil? Serius?"
"Iya! Aku lihat jelas! Kancil!"
Pak Tani terdiam. Ia ingat pesan Raka. Jadi ini pelakunya.
Bukan babi hutan, bukan kijang, tapi kancil. Hewan kecil yang katanya cerdik
itu.
9.5. Laporan Pagi dan
Reaksi Warga
Keesokan paginya, kabar ini menyebar cepat. Pelaku
misterius akhirnya terungkap: kancil!
Reaksi warga campur aduk. Ada yang marah, ada yang heran,
ada pula yang malah gemas.
"Kancil? Yang suka nipu buaya itu?" tanya Bu
Tini.
"Iya, Bu. Yang di dongeng Si Kancil dan Buaya."
"Lha kok jadi beneran ada?"
"Ya emang ada. Kancil itu hewan beneran, bukan dongeng
doang."
Pak Joko, yang ladangnya juga rusak, geram. "Kancil
apaan! Tetep aja pencuri! Kita tangkap, kita usir!"
"Tapi Pak Joko, kancil itu hewan dilindungi. Nggak
boleh dibunuh," Pak Carik mengingatkan.
"Lha terus gimana? Dibiarkan?"
Semua orang bingung. Mereka tahu pelakunya, tapi tak tahu
cara mengatasinya. Kancil dilindungi undang-undang. Tak boleh diburu, apalagi
dibunuh.
Maka dimulailah babak baru: perang antara manusia dan
kancil. Perang yang tak seimbang, karena satu pihak punya senjata, pihak lain
punya kecerdikan.
Setelah identitas pelaku terungkap, warga desa bergotong
royong membuat perangkap. Mereka tak bisa membunuh kancil, tapi setidaknya bisa
menangkap dan memindahkannya jauh-jauh.
Bahan-bahan perangkap sederhana: bambu, tali, dan umpan.
Mereka membuat perangkap bubu, perangkap jepit, dan perangkap jerat. Ada juga
yang membuat perangkap kandang: kandang bambu dengan pintu yang akan jatuh
begitu tali pengaitnya tersentuh.
"Pokoknya, besok pagi kita lihat hasilnya!" kata
Pak Joko optimis.
Pembuatan perangkap berlangsung meriah. Warga bekerja
bersama, saling bantu. Suasana lebih seperti pesta daripada kerja bakti.
"Ini talinya kencengin, Mas!"
"Udah kenceng kok."
"Coba liat, masih bisa goyang."
"Ya namanya juga perangkap, harus peka. Sedikit goyang
langsung jatuh."
"Jangan sampai kena warga sendiri."
Ibu-ibu ikut menyemangati sambil membawakan minuman dan
makanan kecil. Anak-anak berlarian sambil membantu seadanya.
Bejo, dengan badannya yang gembul, jadi sasaran ledekan.
"Jo, jangan masuk perangkap, nanti jatuh!"
"Ah, Mbah Joyo ini. Bejo kan bukan kancil."
"Tapi badannya sebesar kancil raksasa!"
Semua tertawa. Bejo cemberut, tapi tak bisa marah. Ia
memang gembul.
Malam itu, perangkap-perangkap dipasang di titik-titik strategis.
Umpan mentimun segar diletakkan di dalamnya. Warga optimis. "Besok kita
lihat, kancil-kancil itu pada terperangkap semua!"
Pak Tani yang biasanya pesimis, ikut optimis.
"Mudah-mudahan berhasil. Saya capek ladang dirusak terus."
Hanya Raka yang tak ikut optimis. Ia tahu, kancil itu hewan
cerdik. Tak mungkin mereka tertipu perangkap sederhana.
Malam itu, Raka tak bisa tidur. Ia mengintip dari jendela
kamarnya, melihat ladang yang dipasangi perangkap. Dan seperti malam-malam
sebelumnya, kancil-kancil itu datang lagi.
Namun kali ini, mereka tak langsung masuk. Mereka berhenti
di pinggir ladang. Kancil tua itu—pemimpin mereka—maju ke depan. Ia
mengendus-endus udara. Lalu berjalan pelan mengelilingi ladang, mengamati
setiap perangkap.
Yang terjadi selanjutnya di luar dugaan Raka.
Kancil tua itu bergerak dengan sangat hati-hati. Ia
mendekati perangkap kandang. Dengan hidungnya, ia mengendus tali pengait. Lalu
dengan sangat cerdik, ia mengambil mentimun yang ada di luar perangkap—bukan
yang di dalam—tanpa menyentuh tali sama sekali.
Setelah itu, ia memberi contoh pada kawanannya.
Kancil-kancil lain mengikuti. Mereka memakan mentimun yang ada di
pinggir-pinggir perangkap, tanpa masuk ke dalam. Bahkan, ada yang dengan
sengaja menjatuhkan bambu-bambu perangkap dari kejauhan, membuat perangkap
aktif tanpa menangkap apa pun.
Raka menyaksikan semua ini dengan mulut menganga.
"Ini... ini luar biasa. Mereka lebih pintar dari yang kita kira."
Dalam waktu setengah jam, semua perangkap sudah
dinonaktifkan, umpan-umpan di pinggir habis, dan kawanan kancil pergi dengan
selamat.
Pagi harinya, para petani berdatangan ke ladang dengan
semangat. Mereka yakin akan melihat kancil-kancil terperangkap.
Namun, yang mereka lihat hanyalah perangkap-perangkap yang
rusak, umpan-umpan hilang, dan tak seekor kancil pun tertangkap.
"Mana kancilnya?" tanya Pak Joko bingung.
"Lha ini perangkap pada jatuh semua. Tapi kok
kosong?"
"Ini pasti ada yang sabotase! Mana ada hewan sepintar
itu?"
Pak Carik mengamati perangkap. "Ini... ini jejaknya.
Mereka makan di luar perangkap. Mereka nggak masuk."
"Mustahil! Kancil kan cuma hewan!"
Mbah Kromo yang ikut melihat, tertawa kecil. "He he
he. Kancil kuwi kewan pinter, Nak. Mbokmenawa mbahmu dongeng kancil karo baya
kuwi ora mung dongeng. Mungkin pancen kancil kuwi pinter tenan."
Pak Tani menghela napas. Ini baru permulaan. Perangkap
pertama gagal total.
Berita kegagalan perangkap menyebar cepat. Warga desa mulai
putus asa. Jika perangkap saja tak mempan, apa lagi yang bisa dilakukan?
Di warung RASA, diskusi kembali memanas.
"Ini nggak masuk akal. Masa kita kalah sama
kancil?"
"Mungkin bukan kancil biasa. Mungkin ini kancil
kiriman dukun."
"Ah, Mbah Joyo lagi-lagi mistis."
"Beneran! Masa kancil bisa tahu itu perangkap?"
Guntur yang ikut ronda malam, punya teori sendiri.
"Mungkin mereka punya pemimpin yang cerdik. Aku semalem lihat yang paling
besar, kayaknya yang komando. Dialah yang paling waspada."
"Pemimpin kancil? Berarti kancil punya
organisasi?"
"Ya iyalah. Kawanan hewan biasanya ada pemimpinnya.
Singa aja ada."
"Kancil kok disamain singa."
Perdebatan berlanjut tanpa ujung. Sementara itu, di gubuk
kosong, Tim Penyelidik Cilik mengadakan rapat darurat.
Raka membuka buku catatannya. "Oke, kita dapat info
penting. Pertama, pelakunya kancil. Kedua, mereka punya pemimpin yang sangat
cerdik. Ketiga, perangkap warga gagal total."
"Terus kita harus apa?" tanya Wati.
"Kita harus masuk hutan. Cari tahu keadaan di sana.
Cari tahu kenapa mereka keluar. Dan kita harus cepat, sebelum warga melakukan
tindakan yang lebih keras."
"Setuju," kata Wati. "Minggu ini juga."
Bejo mengangguk, meski wajahnya pucat. "Aku... aku
siap."
"Janji, kita hadapi bersama."
Mereka bertiga bertautkan tangan. Misi besar akan segera
dimulai.
BAGIAN TIGA:
KEKALAHAN ORANG DEWASA
Setelah perangkap pertama gagal, warga desa kembali
mengadakan rapat. Kali ini suasananya lebih panas. Ada yang mulai frustrasi,
ada yang mulai menyalahkan, ada pula yang mulai pasrah.
"Pak Kades, ini gimana? Perangkap kita gagal!"
teriak Pak Joko dengan nada tinggi.
"Sabarlah, Pak Joko. Kita cari strategi lain."
"Strategi apa lagi? Udah perangkap, ronda, semua
gagal!"
Pak Carik mencoba menenangkan. "Begini, Pak Joko.
Mungkin kita perlu evaluasi. Apa perangkap kita kurang bagus? Atau kita salah
pasang?"
"Perangkapnya udah bagus! Tapi mereka tahu cara
menghindar!"
Mbah Kromo yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Sakjane, iki dudu salah perangkapé. Tapi kancilé sing pinter. Kancil kuwi
kewan sing wis sinonim karo kecerdikan. Mungkin kita kudu mikir cara
liya."
"Cara apa, Mbah?"
Mbah Kromo mengangkat bahu. "Aku yo ora ngerti. Tapi
mbok menawa, tinimbang perang, luwih apik golek cara supaya kancilé ora perlu
metu saka alas."
Mendengar itu, mata Raka berbinar. Mbah Kromo sepaham
dengannya! Akar masalahnya bukan di ladang, tapi di hutan.
Tapi sayangnya, usulan Mbah Kromo tak digubris. Para petani
lebih memilih cara-cara keras.
Strategi baru yang diusulkan Pak Joko: membuat pagar bambu
keliling di setiap ladang. Pagar yang rapat dan tinggi, sehingga tak ada hewan
yang bisa masuk.
"Pagar bambu! Itu solusinya!" seru Pak Joko
dengan semangat.
"Tapi Pak Joko, itu butuh banyak bambu. Butuh tenaga
banyak. Juga butuh waktu," kata Pak Carik meragukan.
"Nggak papa! Kita kerja bakti! Semua warga harus
ikut!"
Maka dimulailah proyek besar pembuatan pagar bambu. Warga
bergotong royong menebang bambu di hutan—ironisnya, mereka menebang bambu dari
hutan yang sama yang menjadi rumah para kancil. Mereka membelah, merajut, dan
memasang pagar di sekeliling ladang.
"Kuat nggak ini?" tanya Guntur sambil
mengetuk-ngetuk pagar.
"Insya Allah kuat. Bambu ini kan keras."
Pekerjaan berlangsung selama tiga hari. Hasilnya, pagar
bambu setinggi 1,5 meter mengelilingi hampir semua ladang di Bojong Sari.
"Wah, rapi sekali! Sekarang aman!" kata Pak Joko
bangga.
Malam pertama setelah pagar selesai, warga optimis. Mereka
yakin tak ada kancil yang bisa masuk.
Namun pagi harinya, kenyataan pahit kembali menanti. Di
beberapa ladang, pagar bambu jebol. Ada yang roboh, ada yang berlubang, ada
pula yang utuh tapi bagian bawahnya digali.
"Ini... ini bagaimana bisa?" Pak Joko hampir
menangis melihat pagarnya yang roboh.
Mereka menemukan lubang-lubang di bawah pagar. Ukurannya
pas untuk dilewati kancil. Ternyata, kancil-kancil itu menggali tanah di bawah
pagar dan masuk lewat situ.
"Lubang! Mereka bikin lubang!" teriak Guntur.
"Kenapa nggak kita tutup rapat pagarnya sampai ke
tanah?"
"Udah rapat! Tapi mereka gali!"
Pak Carik menggeleng-geleng. "Ini bukan kancil biasa.
Ini kancil jenius."
Yang lebih parah, setelah pagar bambu dipasang, serangan
kancil justru semakin menjadi-jadi. Mungkin mereka marah karena wilayah
makannya dibatasi. Atau mungkin mereka lapar dan tak punya pilihan.
Di ladang Pak Tani, kerusakan lebih parah dari sebelumnya.
Bukan hanya mentimun, tanaman cabai dan tomat juga ikut rusak. Bahkan beberapa
pohon pisang di pinggir ladang tumbang, dimakan batangnya yang berair oleh
kancil yang kehausan.
"Ya Allah, Pak, ini parah sekali," keluh Bu Tani.
Pak Tani hanya bisa pasrah. Ia duduk di beranda, memandangi
ladangnya yang porak-poranda. Pikirannya kalut. Bagaimana ia bisa memenuhi
kebutuhan keluarga jika tanamannya terus dirusak?
Kegagalan demi kegagalan mulai mempengaruhi psikologi
warga. Mereka mulai frustrasi, emosi, dan kehilangan akal sehat.
Pak Joko yang biasanya sombong dan percaya diri, kini mulai
sering marah-marah tanpa sebab. Istrinya, Bu Joko, kewalahan menghadapinya.
"Pak, sabarlah. Ini cobaan."
"Cobaan? Cobaan terus? Udah berkali-kali! Kapan
selesainya?"
Guntur, pemuda yang biasanya ceria, mulai sering murung. Ia
mengurung diri di kamar, malas bergaul.
Heri dan Budi, dua pemuda rantau yang pulang, mulai
berpikir untuk kembali ke Jakarta meski belum dapat kerja. "Mending di
Jakarta nganggur daripada di sini stres," kata Budi.
Bahkan Pak Kades, yang biasanya bijaksana, mulai terlihat
pusing tujuh keliling. Setiap hari ada saja warga yang datang mengeluh.
"Pak Kades, ladang saya diserang lagi!"
"Pak Kades, ini kapan selesainya?"
"Pak Kades, tolong cari solusi dong!"
Pak Kades hanya bisa menghela napas. Ia tak tahu lagi harus
berbuat apa.
Di tengah semua kekacauan itu, ada satu orang yang tetap
tenang: Raka. Bocah 11 tahun itu terus mengamati, mencatat, dan menganalisis.
Dari pengamatannya, ia melihat pola. Setiap kali warga
memasang pagar atau perangkap, kancil-kancil selalu bisa mengatasinya. Mereka
seperti punya intelijen sendiri. Mereka tahu persis apa yang dilakukan manusia.
"Pemimpin mereka pasti sangat cerdik," pikir
Raka. "Mungkin lebih cerdik dari semua orang dewasa di desa ini."
Raka juga melihat bahwa serangan kancil selalu berhubungan
dengan musim kemarau. Semakin panjang kemarau, semakin sering mereka keluar.
Semakin kering hutan, semakin nekat mereka.
"Hipotesisku semakin kuat. Mereka keluar karena sumber
makanan di hutan habis. Dan satu-satunya cara menghentikan mereka adalah...
membantu mereka bertahan hidup di hutan."
Tapi bagaimana caranya? Bagaimana membuat orang dewasa yang
sudah frustrasi itu mau mendengarkan seorang bocah?
Raka belum tahu jawabannya. Tapi ia yakin, suatu saat
nanti, kebenaran akan terungkap. Dan saat itu tiba, ia harus siap.
Kegagalan demi kegagalan membuat akal sehat warga mulai
tergerus. Di warung RASA, topik pembicaraan berubah dari strategi pertanian
menjadi cerita-cerita mistis.
"Jangan-jangan ini bukan kancil biasa," bisik
Mbah Joyo dengan nada misterius. "Ini kancil kiriman."
"Kiriman dari mana, Mbah?" tanya Heri yang ikut
nimbrung.
"Dari desa sebelah. Mungkin ada yang nggak suka sama
kita."
"Masa sih, Mbah? Kita kan baik-baik aja sama
tetangga."
"Itu yang di permukaan. Di dalam hati, siapa yang
tahu."
Pak Carik yang biasanya rasional, ikut-ikutan terbawa
suasana. "Sebenarnya, dulu ada cerita. Kancil Putih penunggu Hutan
Manoreh. Katanya, kalau ada yang mengganggu hutan, Kancil Putih akan marah dan
mengirim pasukannya untuk mengganggu manusia."
"Wah, Pak Carik juga percaya mistis?"
"Bukan percaya. Tapi sebagai orang Jawa, kita harus
menghormati cerita-cerita leluhur."
Mbah Joyo kemudian bercerita panjang lebar tentang Kancil
Putih. Cerita ini membuat bulu kuduk berdiri.
"Konon, jaman dulu, ada seorang pemburu dari Bojong
Sari yang masuk hutan terlalu dalam. Ia melihat seekor kancil putih sebesar
kambing. Karena serakah, ia ingin menangkapnya. Tapi begitu ia mendekat, kancil
itu berubah menjadi raksasa dan memakannya hidup-hidup."
"Astagfirullah..." desis beberapa orang.
"Sejak saat itu, siapa pun yang berani mengganggu
kancil di hutan, akan mendapat kutukan. Tanamannya akan rusak, ternaknya akan
mati, bahkan bisa celaka."
"Tapi kita kan nggak ngganggu kancil, Mbah. Mereka yang
ngganggu kita."
"Mereka ngganggu kita karena mungkin kita yang salah
duluan. Mungkin kita terlalu banyak nebang pohon, atau terlalu sering masuk
hutan."
Warga mulai berpikir. Benar juga, akhir-akhir ini banyak
warga yang menebang pohon di hutan untuk kayu bakar atau bahan bangunan.
Mungkin itu penyebabnya.
Cerita Mbah Joyo menyebar cepat. Dalam semalam, semua warga
sudah mendengar tentang Kancil Putih. Dan dalam dua hari, ketakutan mulai
melanda.
Ibu-ibu tak berani keluar rumah sendirian setelah maghrib.
Anak-anak dilarang main di pinggir hutan. Bahkan para petani mulai ragu untuk
pergi ke ladang saat subuh.
Bu Tini, pedagang sayur yang biasanya berkeliling sejak jam
5 pagi, sekarang baru keluar jam 7. "Takut, Bu. Kata orang, Kancil Putih
suka muncul jam setengah enam pagi."
"Ah, Bu Tini ini, percaya aja sama gosip," kata
Bu Tani.
"Bukan gosip, Bu. Mbah Joyo bilang begitu. Mbah Joyo
kan orang tua, pasti tahu."
Bu Tani hanya bisa menghela napas. Ia sendiri mulai merasa
takut, meski berusaha tegar.
Para pemuda desa, yang biasanya sok kritis, ikut
terpengaruh. Guntur, yang biasa cuek, sekarang selalu membawa jimat ke
mana-mana. "Ini buat jaga-jaga, siapa tahu ketemu Kancil Putih,"
katanya.
Heri dan Budi, yang baru pulang dari Jakarta, malah tambah
parah. Mereka membeli berbagai perlengkapan "tameng gaib": minyak
misik, kemenyan, bahkan ada yang beli keris—padahal harganya mahal.
"Lu pada ngapain sih?" tanya Guntur suatu hari.
"Buat jaga-jaga, Tong. Di Jakarta juga banyak dukun.
Mereka jual barang-barang begini."
"Tapi lu kan di Bojong Sari sekarang. Di sini
aman."
"Aman apanya? Malah lebih serem! Di Jakarta mah copet,
di sini Kancil Putih!"
Semua orang tertawa, meski sebenarnya juga takut.
Ketakutan massal ini berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Aktivitas warga menurun drastis. Sawah-sawah mulai terbengkalai karena
pemiliknya malas pergi. Ladang-ladang semakin tidak terurus.
Yang paling parah, hubungan antarwarga mulai renggang.
Mereka saling curiga. "Jangan-jangan tetangga sebelahku itu punya ilmu
hitam. Mungkin dia yang mengirim kancil ke ladangku," begitu pikir
beberapa orang.
Pak Kades kewalahan. Ia sudah mencoba menenangkan warga,
tapi tak ada yang percaya.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, ini semua cuma takhayul! Kancil
itu hewan biasa! Jangan percaya cerita-cerita kayak gitu!"
"Lha terus kenapa perangkap kita gagal? Kenapa pagar
kita jebol? Itu pasti kekuatan gaib!" balas warga.
Pak Kades tak bisa membantah. Ia sendiri mulai ragu.
Mungkin benar ada kekuatan di luar nalar yang bekerja?
Di tengah histeria massal itu, Raka tetap tenang. Ia terus
mengamati, mencatat, dan menganalisis. Baginya, semua kejadian ini punya
penjelasan logis. Tak perlu mistis-mistisan.
"Wati, Jo, kalian percaya Kancil Putih?" tanya
Raka suatu hari.
"Nggak lah," jawab Wati tegas. "Itu cuma cerita
orang tua buat nakut-nakutin anak."
"Aku... agak percaya sih," kata Bejo ragu.
"Soalnya serem."
"Jo, jangan gitu. Kita harus berpikir logis. Kancil
yang kita lihat itu biasa. Bulunya cokelat, bukan putih. Mereka juga bertingkah
seperti hewan biasa. Cuma lebih pintar."
"Tapi kenapa perangkap gagal?"
"Karena mereka belajar. Mereka amati perangkap kita,
lalu cari cara menghindar. Itu namanya adaptasi, bukan mistis."
Bejo manggut-manggut, meski masih ragu.
Raka melanjutkan, "Ini justru baik. Ketakutan warga
pada mistis membuat mereka takut ke ladang. Jadi kancil makin bebas. Tapi kita
nggak boleh ikut-ikutan takut. Kita harus terus selidiki. Kita harus buktikan
bahwa semua ini ada penjelasan ilmiahnya."
Setelah berminggu-minggu dilanda ketakutan dan kegagalan,
beberapa warga mengusulkan untuk meminta bantuan dukun. Mbah Dukun, begitu
sebutannya, adalah seorang tua yang tinggal di pinggir desa, di perbatasan
dengan desa tetangga. Konon ia sakti, bisa berkomunikasi dengan makhluk halus,
dan punya ilmu penglaris, penolak bala, serta berbagai kesaktian lain.
"Pak Kades, mending kita panggil Mbah Dukun,"
usul Pak Joko yang mulai putus asa.
"Mbah Dukun? Yang di pinggir desa itu?"
"Iya. Katanya sakti. Bisa ngusir hama, ngusir makhluk
halus, apa pun."
"Tapi Pak Joko, apa kita nggak malu? Masalah kancil
aja kok panggil dukun."
"Nggak papa! Yang penting ladang kita selamat!"
Akhirnya, setelah melalui perdebatan panjang, Pak Kades
setuju. Ia bersama beberapa tokoh masyarakat akan mendatangi Mbah Dukun dan
meminta bantuannya.
Mbah Dukun tinggal di rumah yang terpencil, dikelilingi
pohon-pohon besar dan berbagai sesajen di halaman. Rumahnya beratap sirap,
berdinding kayu jati tua yang sudah hitam dimakan usia. Di teras, tergantung
berbagai macam barang: tengkorak hewan, tanduk rusa, keris, dan berbagai jimat.
Pak Kades dan rombongan datang dengan perasaan campur aduk:
antara harap dan takut. Mereka dipersilakan masuk oleh seorang cucu Mbah Dukun,
lalu duduk di ruang tamu yang gelap dan penuh asap dupa.
Tak lama, Mbah Dukun keluar. Ia sudah sangat tua, mungkin
lebih dari 90 tahun. Tubuhnya bungkuk, matanya sayu, tapi sorot matanya tajam.
Ia memakai kain sarung dan baju putih longgar. Di tangannya, ia memegang tasbih
besar.
"Ada perlu apa, Tuan-tuan datang ke gubuk saya?"
tanyanya dengan suara parau.
Pak Kades membuka suara. "Mbah, kami datang mau minta
tolong. Ladang kami diserang kancil. Tanaman kami rusak. Kami sudah coba
berbagai cara, tapi gagal. Mohon Mbah sudi membantu."
Mbah Dukun tersenyum tipis. "Kancil? O... kancil. Saya
tahu. Mereka bukan kancil biasa. Mereka dikirim oleh penunggu hutan."
Semua orang merinding. Benar dugaan mereka!
Mbah Dukun setuju untuk membantu. Ia datang ke ladang pada
malam hari, membawa berbagai perlengkapan ritual: dupa, kemenyan, bunga-bunga,
dan sesajen berupa tumpeng kecil, ayam panggang, serta berbagai makanan
tradisional.
Warga berkumpul di kejauhan, menyaksikan dengan napas
tertahan. Mbah Dukun berjalan mengelilingi ladang sambil membaca mantra. Aroma
dupa yang khas memenuhi udara malam. Kadang ia berhenti, menaburkan bunga, lalu
melanjutkan perjalanan.
Prosesi berlangsung sekitar satu jam. Setelah selesai, Mbah
Dukun mendekati Pak Kades. "Sudah. Saya sudah meminta pada penunggu hutan
agar menarik kembali kancil-kancilnya. Mulai malam ini, ladang kalian
aman."
"Terima kasih, Mbah. Berapa yang harus kami
bayar?"
Mbah Dukun menggeleng. "Nggak usah. Cukup sedekah ke
masjid. Dan ingat, jangan ganggu hutan. Hargai penghuninya."
Setelah itu Mbah Dukun pergi, meninggalkan warga dengan
perasaan lega.
Dua malam setelah ritual, tidak ada laporan serangan. Warga
bergembira. Mereka menganggap Mbah Dukun benar-benar sakti.
"Alhamdulillah, Mbah Dukun hebat!" seru Pak Joko.
"Iya, sekarang aman. Kancil-kancil itu pergi."
"Mungkin mereka takut sama Mbah Dukun."
Pak Tani ikut lega. Ladangnya mulai aman. Mentimun-mentimun
baru mulai tumbuh. Ia bisa tersenyum lagi.
Hanya Raka yang tak ikut bergembira. Ada yang mengganjal di
hatinya. Ia curiga, mungkin saja para kancil itu pergi karena sesuatu yang
lain, bukan karena mantra.
"Terlalu kebetulan," pikirnya. "Mungkin
mereka memang sedang tidak keluar. Atau mungkin mereka menemukan sumber makanan
lain. Atau mungkin..."
Raka memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Malam itu, ia
pergi ke pinggir hutan sendirian. Ia ingin memastikan apakah kancil-kancil itu
benar-benar pergi.
Malam itu, Raka bersembunyi di balik semak-semak dekat
hutan. Ia menunggu lama. Tak ada tanda-tanda kancil keluar. Ia mulai percaya
bahwa mantra Mbah Dukun bekerja.
Tapi kemudian, sesuatu terjadi. Dari dalam hutan, muncul
sesosok bayangan. Kancil tua. Ia keluar sendirian. Ia berjalan ke pinggir
hutan, lalu duduk di bawah pohon. Matanya menatap ke arah ladang, lalu ke arah
hutan, lalu lagi ke ladang. Seolah ia sedang bimbang.
Raka mengamati dengan saksama. Kancil tua itu tampak kurus.
Tulang rusuknya mulai terlihat. Ia terlihat lemah.
"Mereka tetap kelaparan," bisik Raka dalam hati.
"Mereka tak pergi. Mereka hanya... berhenti karena alasan lain. Tapi
kenapa?"
Tak lama, kancil tua itu bangkit dan masuk kembali ke
hutan. Raka tak melihat kancil lain keluar. Tapi ia yakin, ini bukan karena
mantra. Ini karena alasan lain. Mungkin karena mereka kelelahan. Atau mungkin
karena mereka sedang mencari strategi baru.
"Besok harus ke hutan," putus Raka. "Harus
lihat keadaan di sana."
Warga terus bergembira. Mereka menggelar syukuran
kecil-kecilan sebagai ungkapan terima kasih pada Mbah Dukun. Pak Kades memberi
sedikit uang untuk masjid, sesuai pesan Mbah Dukun.
"Alhamdulillah, masalah selesai," kata Pak Kades
dalam sambutannya.
"Iya, Pak Kades. Berkat Mbah Dukun."
"Dan juga berkat kerja sama kita semua."
Semua orang tersenyum. Mereka kembali bekerja di ladang
dengan semangat baru. Mentimun ditanam lagi. Pagar-pagar diperbaiki. Harapan
kembali bersemi.
Namun Raka tak bisa ikut tersenyum. Ia tahu, ini hanya
ketenangan sementara. Badai yang lebih besar sedang menunggu di depan.
Tiga malam setelah ritual Mbah Dukun, euforia warga sirna
sudah.
Malam itu, serangan kancil kembali terjadi. Dan kali ini,
jauh lebih ganas dari sebelumnya.
Bukan hanya mentimun di ladang Pak Tani, tapi hampir semua
ladang di Bojong Sari porak-poranda dalam satu malam. Tanaman-tanaman muda
habis dilahap, buah-buah yang baru mulai membesar dipatahkan. Beberapa ladang
bahkan rata dengan tanah, tak menyisakan apa pun.
Pagi harinya, pekik histeris terdengar dari berbagai
penjuru desa.
"Ladang saya! Hancur!"
"Tanaman saya! Habis!"
"Ya Allah, parah sekali!"
Warga berlarian ke ladang masing-masing. Pemandangan yang
mereka saksikan sungguh mengenaskan. Ladang yang kemarin masih hijau dan segar,
kini berubah menjadi tanah gersang dengan sisa-sisa tanaman yang berserakan.
Tak butuh waktu lama bagi kemarahan untuk meledak. Warga
berkumpul di balai desa, menuntut penjelasan dan tindakan.
"Ini gimana, Pak Kades! Katanya sudah diberesin Mbah
Dukun, kok malah makin parah?!"
"Pak Kades, Mbah Dukun tipu! Kita minta uang
kembali!"
"Bukan! Mungkin kancilnya dendam!"
Semua orang berbicara bersamaan, menciptakan hiruk-pikuk
yang memusingkan. Pak Kades hanya bisa diam, wajahnya pucat pasi. Ia tak tahu
lagi harus berbuat apa.
Mbah Dukun yang kebetulan lewat, langsung dikerumuni warga.
"Mbah! Kok kancilnya balik lagi? Malah lebih ganas!"
Mbah Dukun tenang saja. Ia menghela napas panjang.
"Ini di luar kendali saya. Kancil-kancil itu sangat gigih. Mereka seperti
punya misi. Atau mungkin... ada yang salah dengan keseimbangan alam di hutan.
Saya hanya bisa berdoa."
Setelah berkata begitu, Mbah Dukun pergi. Warga tercengang.
Dukun saja menyerah. Lalu apa lagi yang bisa mereka lakukan?
Di tengah kekacauan itu, Raka diam-diam melakukan
investigasi sendiri. Ia berkeliling ke semua ladang yang rusak, mengamati pola
serangan, dan mencatat semuanya di buku.
"Wati, Jo, lihat ini," panggil Raka.
Wati dan Bejo segera mendekat.
"Ada apa, Ra?"
"Lihat pola serangannya. Mereka tidak asal merusak.
Mereka fokus pada tanaman yang masih muda dan segar. Mereka juga
memprioritaskan tanaman yang berair, seperti mentimun dan tomat."
"Itu kan wajar, Ra. Mereka kan butuh makan."
"Tapi lihat yang ini." Raka menunjuk bekas
gigitan di batang pisang. "Ini bekas gigitan untuk mengambil air. Mereka
kehausan. Sangat kehausan. Itu sebabnya mereka sangat ganas kali ini."
"Mungkin kemarau makin parah di hutan," tebak
Wati.
"Tepat. Dan itu yang harus kita buktikan. Minggu ini
juga kita masuk hutan."
Bejo mengangguk, meski raut wajahnya tegang. "Siap,
Ra. Tapi kita harus hati-hati."
"Tentu. Kita akan hati-hati."
Pak Tani, ayah Raka, adalah salah satu yang paling parah
terkena dampak. Ladangnya yang sudah dua kali diperbaiki, kini hancur total. Ia
duduk di beranda rumah dengan tatapan kosong, memandangi ladangnya yang tersisa
hanya tanah dan sisa-sisa tanaman layu.
Bu Tani keluar, meletakkan tangan di pundak suaminya.
"Sudah, Pak, sabar. Mungkin ini cobaan."
Tapi kata-kata itu tak mampu mengobati luka. Pak Tani hanya
diam, memandangi ladangnya yang hancur dengan tatapan kosong, tatapan seorang
pria yang kehilangan harapan.
Raka melihat itu dari jendela kamarnya. Hatinya hancur.
Tapi di saat yang sama, tekadnya semakin menguat. Ia harus menyelesaikan
misteri ini. Bukan hanya untuk desa, tapi juga untuk ayahnya.
Desa Bojong Sari yang tadinya tenang, kini diselimuti awan
kelabu kesedihan. Di mana-mana orang bicara dengan nada rendah, lesu, tanpa
semangat. Anak-anak pun ikut merasakan dampaknya. Mereka jarang bermain di
luar, lebih banyak di rumah membantu orang tua yang terpuruk.
Di warung RASA, suasana berubah total. Tak ada lagi tawa,
tak ada lagi canda. Pengunjung datang hanya untuk minum kopi, lalu diam seribu
bahasa. Sesekali ada yang bicara, itu pun hanya keluhan.
"Gini terus, kita bisa mati kelaparan."
"Iya. Ladang habis, sawah juga belum bisa ditanami.
Apa yang mau dimakan?"
"Mungkin kita harus merantau. Cari kerja di
kota."
"Merantau? Dengan modal apa?"
Semua orang terdiam. Tak ada jawaban.
Di saat semua orang dewasa menyerah, di sinilah petualangan
sesungguhnya dimulai. Dari sepasang mata bocah yang tak pernah berhenti
bertanya. Dari hati kecil yang masih percaya bahwa selalu ada jalan keluar.
Kekeringan dan serangan kancil telah mengubah total
kehidupan di Bojong Sari. Sawah-sawah terbengkalai karena air tak kunjung
datang. Ladang-ladang kosong tak bertuan karena pemiliknya tak punya modal
untuk menanam lagi. Warung-warung mulai sepi pembeli karena warga lebih memilih
menghemat uang untuk membeli beras.
Anak-anak sekolah masih tetap bersekolah, tapi semangat
mereka menurun. Bejo, yang biasanya ceria dan suka makan, kini terlihat
kurusan—bukan karena diet, tapi karena jatah makan di rumah berkurang.
"Jo, kamu kok kurusan?" tanya Wati suatu hari.
"Iya. Di rumah cuma makan nasi sama garam. Lauknya
udah habis."
Wati sedih mendengarnya. Ia tahu Bejo berasal dari keluarga
kurang mampu. Serangan kancil ini benar-benar menghancurkan mereka.
Raka yang mendengar itu, langsung berpikir keras. "Jo,
nanti sore ke markas ya. Aku bawain sesuatu."
Sore harinya, di markas rahasia, Raka membawa bekal makanan
dari rumah. Ibunya memang selalu memasak lebih, dan Raka minta jatah lebih
untuk "teman". Tanpa sepengetahuan ibunya, ia membaginya dengan Bejo.
"Ini, Jo. Makan."
Bejo menatap Raka dengan mata berkaca-kaca. "Makasih,
Ra."
"Nggak papa. Kita kan sahabat."
Karena frustrasi, beberapa warga mulai merencanakan
tindakan nekat. Mereka akan masuk ke hutan dan memburu kancil-kancil itu.
"Daripada kita mati kelaparan, mending kita buru
kancil itu!" seru Pak Joko dalam pertemuan kecil di rumahnya.
"Tapi Pak Joko, kancil dilindungi," kata Pak
Carik ragu.
"Dilindungi? Siapa yang melindungi kita? Pemerintah?
Nggak ada! Kita harus selamatkan diri sendiri!"
Beberapa warga setuju. Mereka mulai menyiapkan senjata:
tombak, panah, bahkan ada yang punya senapan angin.
Pak Tani yang diundang dalam pertemuan itu, diam saja. Ia
bimbang. Di satu sisi, ia ingin melindungi ladangnya. Di sisi lain, ia tak tega
membunuh hewan.
"Apa nggak ada cara lain?" tanyanya lirih.
"Cara lain udah kita coba semua! Ronda, perangkap,
pagar, dukun. Semua gagal! Ini satu-satunya cara!"
Pak Tani menghela napas. Ia tak bisa menolak, tapi juga tak
bisa menyetujui. Akhirnya ia memilih pulang.
Raka mendengar rencana warga dari Bejo, yang mendengar dari
ayahnya yang ikut pertemuan. Ia panik. Jika warga sampai masuk hutan dan
memburu kancil, bencana besar akan terjadi. Bukan hanya bagi kancil, tapi juga
bagi desa. Mereka bisa ditangkap polisi karena memburu hewan dilindungi.
"Kita harus cepat. Sebelum Minggu depan, kita harus
masuk hutan dan cari bukti. Bukti bahwa kancil kelaparan dan butuh bantuan,
bukan diburu," kata Raka pada Wati dan Bejo.
"Tapi Minggu kan lusa. Kita siap?" tanya Wati.
"Harus siap. Nggak ada pilihan lain."
Malam itu, Raka menyiapkan segala sesuatu untuk ekspedisi
ke hutan. Ia meminjam golok kecil ayahnya tanpa sepengetahuan ayah. Ia
menyiapkan bekal makanan, air minum, obat-obatan sederhana, dan tentu saja buku
catatan.
"Semoga berhasil," bisiknya sebelum tidur.
Keesokan harinya, Raka pamit pada ayahnya untuk pergi main
ke sungai bersama Wati dan Bejo. Pak Tani yang sedang murung, hanya mengangguk
tanpa banyak tanya.
Mereka bertiga berkumpul di markas. Wajah mereka tegang,
tapi mata mereka berbinar. Petualangan besar akan segera dimulai.
"Kita semua tahu risikonya. Hutan itu luas dan bisa
berbahaya. Tapi kita harus lakukan ini. Untuk desa kita, untuk orang tua kita,
dan untuk kancil-kancil itu," kata Raka dengan suara mantap.
"Kita hadapi bersama," sambung Wati.
"Aku siap," kata Bejo, berusaha tegar meski
kakinya gemetar.
Mereka bertiga berjalan menuju batas desa, menuju hutan. Di
belakang mereka, desa Bojong Sari tertidur dalam keputusasaan. Di depan mereka,
misteri terbentang luas, menanti untuk dipecahkan.
Inilah awal dari petualangan yang akan mengubah segalanya.
BAGIAN EMPAT:
DETEKTIF CILIK MULAI BERGERAK
Malam sebelum ekspedisi, Raka tak bisa tidur. Ia
bolak-balik di tempat tidur, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi
besok. Otaknya bekerja keras, mensimulasikan setiap skenario.
"Bagaimana kalau kita tersesat? Bagaimana kalau ketemu
babi hutan? Bagaimana kalau ada ular berbisa? Bagaimana kalau orang tua
tahu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Tapi
setiap kali rasa takut muncul, ia ingat wajah ayahnya yang murung, ibunya yang
cemas, dan warga desa yang putus asa.
"Aku harus lakukan ini. Untuk mereka."
Akhirnya, sekitar jam 2 pagi, ia tertidur. Tapi tidurnya
tak nyenyak. Mimpi-mimpi aneh datang silih berganti. Ia bermimpi dikejar kancil
raksasa, lalu berubah menjadi manusia, lalu berbicara padanya.
"Tolong kami..." suara itu berulang kali terdengar.
Raka terbangun dengan keringat dingin. Jam menunjukkan
pukul 4 pagi. Subuh sebentar lagi. Ia bangkit, berwudhu, dan shalat Subuh.
Setelah itu, ia mempersiapkan diri.
Raka mengecek ranselnya sekali lagi:
1.
Golok kecil (pinjaman dari ayah, tanpa izin) - untuk membuka
jalan di semak-semak.
2.
Air minum dua botol - cukup untuk sehari.
3.
Makanan - nasi bungkus dan beberapa biskuit.
4.
Obat-obatan sederhana - betadine, plester, minyak kayu putih.
5.
Senter kecil - untuk jaga-jaga kalau kemalaman.
6.
Buku catatan dan pensil - senjata utamanya.
7.
Kompas (pinjaman dari perpustakaan sekolah) - untuk
navigasi.
8.
Tali rafia - untuk berbagai keperluan.
"Semoga cukup," gumamnya.
Ia juga membawa peta sederhana yang ia buat sendiri
berdasarkan cerita Mbah Kromo dan pengalamannya main di pinggir hutan. Peta itu
tak detail, tapi setidaknya memberi gambaran tentang sungai, mata air, dan
beberapa titik penting.
Pukul setengah 5 pagi, Raka pamit pada ibunya. "Bu,
aku mau main ke sungai sama Wati dan Bejo. Nanti siang pulang."
Ibunya yang sedang memasak di dapur, hanya mengangguk.
"Iya, Nak. Hati-hati. Jangan berenang terlalu lama."
Raka merasa sedikit bersalah karena berbohong. Tapi ini
demi kebaikan. Ibunya tak akan mengerti jika ia bilang mau ke hutan.
Di luar, udara masih gelap. Kabut tipis menyelimuti desa.
Raka berjalan cepat menuju markas. Di sana, Wati dan Bejo sudah menunggu. Wati
terlihat tegang, Bejo terlihat setengah mengantuk.
"Siap?" tanya Raka.
"Siap!" jawab Wati tegas.
"Aku... siap," Bejo mengucek mata.
Mereka bertiga berjalan menuju timur, ke arah hutan yang
mulai terlihat samar-samar di balik kabut.
Batas antara desa dan hutan ditandai oleh sungai kecil yang
mengering. Setelah melewati sungai itu, mereka resmi memasuki wilayah hutan.
Udara langsung terasa berbeda: lebih lembab, lebih sejuk, dan lebih... sunyi.
"Aku merinding," bisik Bejo.
"Tenang, Jo. Kita bersama," Wati menepuk pundaknya.
Raka membuka peta dan kompasnya. "Kita akan ikuti
jalan setapak yang biasa dipakai pencari kayu. Kata Mbah Kromo, jalan ini
menuju ke mata air. Di sanalah yang mau kita lihat."
Mereka berjalan perlahan, sesekali berhenti untuk mengamati
lingkungan. Raka mencatat setiap hal yang dilihatnya: jenis pohon, kondisi
tanah, jejak hewan, dan suara-suara yang terdengar.
"Lihat!" Wati menunjuk ke tanah.
Di sana, tercetak jelas jejak kancil. Banyak sekali,
berlapis-lapis, seperti baru saja dilalui rombongan besar.
"Mereka lewat sini," kata Raka. "Dan ini
masih baru. Mungkin semalam."
Mereka mengikuti jejak itu, masuk semakin dalam ke hutan.
Semakin mereka masuk, semakin terasa perubahan hutan.
Pepohonan besar masih berdiri kokoh, tapi pohon-pohon kecil mulai terlihat
layu. Daun-daun berguguran lebih banyak dari biasanya. Beberapa pohon buah
terlihat kering, tak berbuah.
"Di sini panas juga ternyata," kata Bejo sambil
menyeka keringat.
"Iya. Kanopinya mungkin mulai menipis karena
pohon-pohon kecil mati," Raka menganalisis.
Mereka menemukan sungai kecil. Atau lebih tepatnya, bekas
sungai. Airnya hanya tinggal genangan kecil di beberapa titik. Batu-batu di
tepi sungai kering dan berlumut, pertanda sudah lama tak dialiri air.
"Ini sungai yang sama yang mengalir ke desa kita,"
kata Raka sedih. "Sumbernya pasti sudah kering."
Mereka melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, Bejo berhenti.
"Ssst! Ada suara!"
Mereka diam. Dari balik semak, terdengar suara gemerisik.
Perlahan, seekor kancil muncul. Ia sedang mencari makan di semak-semak.
Tubuhnya kurus, bulunya kusam, dan gerakannya lamban.
Kancil itu belum melihat mereka. Raka memberi isyarat untuk
bersembunyi. Mereka mengintip dari balik pohon.
Kancil itu terus mencari, memakan dedaunan yang ada. Tapi
dedaunan itu kering dan tak bergizi. Ia tampak kelelahan. Setelah beberapa
saat, ia pergi, tertatih-tatih.
"Hewan itu kelaparan," bisik Wati dengan mata
berkaca-kaca.
"Iya. Mereka benar-benar kelaparan."
Mereka terus mengikuti jejak kancil itu, tak menyadari
bahwa di balik pohon lain, sepasang mata mengawasi mereka. Mata yang bijaksana,
milik kancil tua pemimpin kawanan.
Setelah berjalan sekitar dua jam, mereka sampai di lokasi
yang dituju: mata air di hulu sungai. Atau lebih tepatnya, bekas mata air.
Tempat yang seharusnya menjadi sumber kehidupan itu kini
hanya tinggal genangan kecil air keruh, tak lebih dari 2 meter persegi. Di
sekelilingnya, tanah becek penuh jejak hewan. Ratusan jejak dari berbagai
jenis: kancil, kijang, babi hutan, bahkan harimau—tapi Raka tak tahu itu jejak
harimau.
"Ini... ini tempat semua hewan datang untuk
minum," kata Raka.
Tapi yang paling memilukan ada di dekat genangan itu.
Seekor anak kancil tergeletak lemas di tanah, tak berdaya. Napasnya
tersengal-sengal. Di dekatnya, seekor kancil dewasa, mungkin induknya,
mondar-mandir dengan cemas. Ia menjilati anaknya, berusaha memberinya sedikit
kelembaban.
Wati spontan menutup mulutnya. Air matanya jatuh. Bahkan
Bejo yang biasanya ceria, ikut diam membisu, matanya berkaca-kaca.
Raka menelan ludah. Semua teka-teki terpecahkan sudah.
Kancil-kancil itu keluar dari hutan bukan karena mereka nakal atau ingin
merusak. Mereka keluar karena terpaksa. Musim kemarau panjang telah
mengeringkan sumber air dan makanan di hutan. Mereka kelaparan dan kehausan,
dan ladang mentimun warga adalah satu-satunya sumber kehidupan yang tersisa.
"Mereka... mereka hanya ingin bertahan hidup,"
bisik Raka lirih, matanya mulai basah.
Tanpa berpikir panjang, Raka mengambil botol air minumnya.
Ia mendekat perlahan ke arah anak kancil yang sekarat itu. Kancil dewasa di
dekatnya waspada, tapi terlalu lemah untuk lari atau menyerang.
"Ra, hati-hati!" bisik Wati.
Raka terus mendekat. Ia berlutut di samping anak kancil
itu. Dengan tangan gemetar, ia menuangkan air ke tutup botol, lalu
mendekatkannya ke moncong anak kancil.
Anak kancil itu menjilat air itu. Lemah, tapi ia
menjilatnya. Raka menuang lagi, dan lagi, hingga air di botolnya habis
setengah. Anak kancil itu mulai terlihat sedikit segar. Matanya terbuka lebih
lebar.
Kancil dewasa di dekatnya—ibunya—mendekat. Ia mengendus
Raka, lalu mulai menjilati anaknya. Raka tersenyum, air matanya jatuh.
"Kita harus bantu mereka," katanya pada Wati dan
Bejo.
Wati dan Bejo mendekat. Mereka juga memberi air dari botol
mereka. Anak kancil itu minum dengan lahap.
"Lihat! Dia mulai bangun!" seru Bejo gembira.
Anak kancil itu perlahan berdiri. Tubuhnya goyah, tapi ia
berdiri. Induknya menjilatinya dengan penuh kasih.
Mereka bertiga tersenyum bahagia. Di tengah kesedihan dan
keputusasaan, mereka menemukan secercah harapan. Dan di saat itulah, mereka
sadar bahwa mereka sedang diawasi.
Dari balik pohon, muncul seekor kancil yang lebih besar.
Bulunya cokelat kemerahan dengan moncong putih. Matanya tajam dan bijaksana. Ia
mendekat perlahan, tanpa rasa takut.
"Itu dia," bisik Raka. "Pemimpin
mereka."
Kancil tua itu berhenti beberapa meter dari mereka. Ia
menatap Raka lama. Lalu, perlahan, ia menundukkan kepala. Seperti memberi
hormat. Atau berterima kasih.
Raka membalas dengan anggukan. Ia tak tahu apakah kancil
itu mengerti, tapi ia berusaha mengirimkan pesan: "Kami datang
untuk membantu."
Kancil tua itu menatap mereka bergantian. Lalu ia berbalik
dan berjalan perlahan ke dalam hutan. Sesekali ia menoleh, seolah
berkata, "Ikuti aku."
"Ra, dia kayak nyuruh kita ikut," kata Wati.
"Aku lihat. Tapi hati-hati."
Mereka mengikuti kancil tua itu dari kejauhan. Ia membawa
mereka ke sebuah tempat tersembunyi, sebuah gua kecil di balik air terjun
kering. Di dalam gua itu, ada puluhan kancil. Tua, muda, besar, kecil. Semua
terlihat lemah dan kelaparan.
"Ini... ini markas mereka," kata Raka tak
percaya.
Puluhan pasang mata kancil menatap mereka. Awalnya waspada,
tapi begitu melihat kancil tua di depan, mereka mulai tenang.
Mereka bertiga tak bisa berkata-kata. Di depan mereka,
terbentang fakta yang tak terbantahkan: kancil-kancil ini benar-benar dalam
kondisi kritis. Mereka butuh bantuan. Segera.
"Kita harus lakukan sesuatu," kata Raka dengan
suara bergetar. "Kita harus selamatkan mereka."
Sepulang dari hutan, Tim Penyelidik Cilik mengadakan rapat
darurat di markas rahasia. Suasana hening. Mereka masih terbayang pemandangan
di gua itu: puluhan kancil kelaparan, anak-anak yang lemah, induk-induk yang
putus asa.
"Kita harus kasih nama untuk tim kita," kata Raka
tiba-tiba.
"Nama?" Wati mengerutkan kening.
"Iya. Biar resmi. Biar semangat."
"Tim Detektif Cilik?" usul Bejo.
"Kepanjangan. Yang pendek aja, tapi bermakna."
Wati berpikir keras. "Tim Penyelidik Cilik Bojong
Sari. TPCBS. Gimana?"
Raka mengangguk. "Bagus. Singkat, jelas, ada unsur
daerahnya."
Bejo setuju. "TPCBS! Keren!"
Maka resmilah Tim Penyelidik Cilik Bojong Sari. Dengan Raka
sebagai ketua merangkap analis, Wati sebagai kepala lapangan, dan Bejo sebagai
kepala logistik (karena badannya gendut dan suka makan, cocok urusan
logistik—begitu alasan Wati yang membuat Bejo cemberut).
Setelah nama terbentuk, mereka merumuskan misi dan visi
tim.
Visi: "Mewujudkan Bojong Sari yang harmonis antara
manusia dan alam."
Misi:
1.
Menyelidiki penyebab
kancil keluar hutan.
2.
Mencari solusi damai
antara warga dan kancil.
3.
Menyelamatkan
kancil-kancil yang kelaparan.
4.
Mengedukasi warga
tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
"Berat banget misinya," keluh Bejo.
"Iya, Jo. Tapi kita hadapi bersama. Ingat pemandangan
tadi. Mereka butuh kita."
Bejo mengangguk, tekadnya menguat.
Raka membuka buku catatannya. "Oke, kita bagi
tugas."
"Pertama, kita harus memberi makan kancil-kancil itu.
Tapi diam-diam. Kalau orang tua tahu, mereka bisa marah."
"Caranya?" tanya Wati.
"Kita kumpulkan sisa-sisa sayuran dari dapur
masing-masing. Wortel yang udah layu, kol bagian luar, ketela yang nggak
terpakai. Terus kita taruh di pinggir hutan, di tempat yang aman."
"Tapi kan kita nggak punya banyak," kata Bejo
ragu.
"Nggak papa. Yang penting ada. Sedikit demi
sedikit."
"Malam hari?" tanya Wati.
"Malam hari. Biar nggak ketahuan. Kita lakukan operasi
rahasia."
Mereka menyusun rencana detail: rute, waktu, tempat, dan
kode-kode rahasia. Kalau ketahuan orang dewasa, bisa runyam.
Malam harinya, tepat jam 10 malam, Tim Penyelidik Cilik
berkumpul di markas. Mereka membawa kantong plastik berisi sayuran bekas dari
dapur masing-masing.
Raka membawa wortel layu dan kol bagian luar. Wati membawa
kulit ketela dan batang bayam. Bejo membawa... nasi sisa dan lauk? "Jo,
ini lauk buat apa?" tanya Wati heran.
"Ini... aku pikir kancil juga suka nasi."
"Kancil tuh hewan liar, Jo. Makan dedaunan, bukan nasi
goreng!"
"Ya udah, nanti aku makan sendiri."
Mereka tertawa kecil, meredakan ketegangan.
Dengan hati-hati, mereka menyusuri pinggir desa menuju
hutan. Jalan gelap, hanya diterangi rembulan yang samar. Sesekali mereka
berhenti, memastikan tak ada yang melihat.
Sampai di tempat yang ditentukan—sebuah lapangan kecil di
pinggir hutan, dekat dengan lokasi mereka melihat kancil kemarin—mereka
meletakkan sayuran itu. Raka menyusunnya rapi, agar mudah dilihat kancil.
"Selesai. Ayo kita sembunyi."
Mereka bersembunyi di balik semak-semak, menunggu. Tak
lama, muncul gerakan. Seekor kancil mendekat dengan hati-hati. Ia mengendus
udara, lalu melihat tumpukan sayuran. Dengan ragu, ia mendekat dan mulai
memakan wortel layu itu.
Tak lama, kancil-kancil lain menyusul. Mereka makan dengan
lahap.
Tim Penyelidik Cilik tersenyum lebar. Operasi pertama
berhasil.
Saat mereka hendak pergi, seekor kancil yang lebih besar
muncul. Kancil tua. Ia tak langsung makan. Ia berjalan ke arah semak tempat
mereka bersembunyi, lalu berhenti. Matanya menatap lurus ke arah mereka.
"Dia tahu kita di sini," bisik Bejo panik.
"Tenang. Diam dulu."
Kancil tua itu menatap mereka lama. Lalu, dengan sangat
pelan, ia menundukkan kepala. Seperti memberi hormat. Atau berterima kasih.
Setelah itu, ia berbalik dan ikut makan bersama kawanannya.
Raka merasa dadanya hangat. Ada koneksi yang terjalin malam
itu. Koneksi antara manusia dan hewan. Koneksi yang akan mengubah segalanya.
Keesokan harinya, Tim Penyelidik Cilik mengadakan evaluasi
di markas.
"Operasi berhasil. Mereka makan," lapor Wati.
"Tapi ini belum cukup," kata Raka. "Kita
hanya memberi mereka sedikit makanan. Sedangkan mereka butuh banyak. Dan air
juga. Air di hutan hampir habis."
"Lalu kita harus apa?"
Raka berpikir keras. "Kita harus mencari cara agar
warga mau membantu. Tapi sebelum itu, kita butuh bukti lebih banyak. Kita butuh
dokumentasi. Foto-foto kondisi hutan dan kancil."
"Pakai kamera?" tanya Bejo.
"Iya. Pakai kamera pinjaman dari sekolah. Bu Guru Siti
punya kamera digital. Mungkin beliau mau pinjamkan."
"Tapi bagaimana kalau ketahuan?"
"Resiko. Tapi kita harus ambil."
Mereka sepakat untuk melanjutkan misi. Ini baru awal. Masih
panjang jalan di depan.
Hari Minggu pagi, Tim Penyelidik Cilik berkumpul lebih pagi
dari biasanya. Mereka membawa perlengkapan lengkap: ransel, air minum, makanan,
golok, tali, dan yang paling penting: kamera digital pinjaman dari Bu Guru
Siti.
"Bu Guru baik banget ya, mau minjemin kamera
mahal," kata Wati.
"Iya. Tapi kita harus hati-hati. Jangan sampai
rusak."
Raka membuka peta buatannya. "Rute kita sama seperti
kemarin. Tapi kali kita mau lebih dalam. Sampai ke mata air dan gua itu."
"Kita mau motret kondisi di sana?"
"Iya. Biar jadi bukti kalau kancil benar-benar
kelaparan."
Mereka berangkat dengan semangat membara. Hari itu cerah,
tapi tak terlalu panas karena masih pagi. Kabut tipis masih menyelimuti hutan,
menciptakan suasana misterius.
Mereka menyusuri jalan setapak yang mulai dikenali. Raka
sesekali berhenti, mengambil foto jejak kaki kancil, pohon-pohon kering, dan
sungai yang hampir mati.
"Ini semua bukti penting," katanya.
Wati yang paling jeli, menemukan sesuatu. "Ra, lihat
ini. Ada jejak lain selain kancil."
Mereka mengamati jejak itu. Lebih besar dari jejak kancil,
dengan cakar yang jelas.
"Ini jejak babi hutan," kata Raka setelah
membandingkan dengan buku. "Mereka juga kelaparan. Lihat, mereka mencari
umbi-umbian di sini. Tanahnya pada bolong."
"Mungkin semua hewan di hutan ini kelaparan,"
kata Bejo sedih.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan perasaan berat.
Sesampainya di mata air, pemandangan masih sama: genangan
kecil air keruh, tanah becek penuh jejak. Tapi kali ini, ada yang berbeda.
"Lihat!" Wati menunjuk ke arah genangan.
Di sana, seekor babi hutan besar sedang minum. Di dekatnya,
beberapa kancil juga ikut minum. Mereka hidup berdampingan, tanpa saling
mengganggu. Biasanya, babi hutan dan kancil tak pernah bersama. Tapi kelaparan
menyatukan mereka.
Raka segera mengambil foto. Klik... klik... klik... Ia
mengabadikan momen langka itu.
"Ini bukti yang luar biasa," katanya.
"Hewan-hewan yang biasanya bermusuhan, sekarang bersama karena sama-sama
kelaparan."
Mereka mengamati sekitar. Di dekat mata air, banyak pohon
yang sudah mati. Daun-daun berguguran di luar musim. Tanah retak-retak karena
kekeringan.
"Ini parah," gumam Raka.
Perjalanan dilanjutkan ke gua tempat kawanan kancil
bersembunyi. Kancil tua itu sepertinya sudah menunggu. Ia muncul dari balik
pohon, lalu memimpin mereka ke gua.
"Seperti pemandu wisata saja," ledek Bejo.
Di dalam gua, pemandangan sama memilukannya. Puluhan kancil
terbaring lemas. Yang masih kuat hanya beberapa, itupun terlihat kurus.
Raka mengambil foto sebanyak-banyaknya. Ia juga mencatat
perkiraan jumlah kancil: sekitar 30-40 ekor. Terdiri dari jantan dewasa,
betina, dan anak-anak.
"Ini populasi yang cukup besar. Mereka butuh banyak
makanan."
"Ra, lihat ini." Wati menunjuk ke sudut gua.
Di sana, ada beberapa kancil yang sudah mati. Mayatnya
mulai membusuk. Mungkin mati kelaparan beberapa hari lalu.
Mereka terdiam. Kesedihan memenuhi hati.
Raka mengamati lebih teliti. Ia menemukan sesuatu yang
menarik: di dinding gua, ada coretan-coretan. Bukan coretan biasa, tapi
seperti... gambar.
"Ini... ini gambar kancil. Dan manusia. Lihat!"
serunya.
Di dinding gua, terukir gambar-gambar sederhana:
kancil-kancil sedang makan, manusia sedang memberi makan, dan ada gambar mata
air yang mengalir.
"Ini pasti gambar dari kancil-kancil zaman dulu,"
kata Raka takjub. "Mereka merekam sejarah mereka di sini."
"Ini luar biasa," kata Wati. "Mereka punya
kebudayaan?"
"Mungkin bukan kebudayaan, tapi memori kolektif.
Mereka mewariskan pengetahuan dari generasi ke generasi melalui gambar-gambar
ini."
Salah satu gambar paling menarik: manusia dan kancil
berdiri berdampingan, di atas ada gambar matahari dan air. Simbol harmoni.
"Lihat ini. Ini pesan dari nenek moyang mereka. Bahwa dulu,
manusia dan kancil hidup berdampingan dengan damai."
Mata Raka berbinar. "Ini kuncinya. Ini yang akan kita
tunjukkan pada warga."
Sore harinya, mereka pulang dengan perasaan campur aduk.
Sedih melihat penderitaan kancil, tapi juga bersemangat karena punya bukti
kuat.
"Kita punya foto-foto ini," kata Raka.
"Sekarang tinggal bagaimana menyampaikannya pada warga."
"Tapi warga kan nggak akan percaya anak-anak,"
kata Bejo ragu.
"Makanya kita harus pintar-pintar. Kita buat
presentasi. Kita tunjukkan bukti-bukti ini. Dan kita ajak mereka berpikir
dengan kepala dingin."
"Kapan?" tanya Wati.
"Kita tunggu waktu yang tepat. Mungkin pas rapat warga
berikutnya. Aku akan minta waktu bicara pada Pak Kades."
"Berani kamu, Ra?"
"Harus berani. Demi semuanya."
Malam itu, di kamarnya, Raka memandangi foto-foto di
kamera. Wajah-wajah kancil yang kelaparan, mata air yang kering, dan
gambar-gambar di gua. Ia berjanji pada dirinya sendiri: esok, ia akan melakukan
sesuatu. Sesuatu yang besar.
Beberapa hari setelah ekspedisi, Tim Penyelidik Cilik terus
menjalankan operasi rahasia pemberian makan. Setiap malam, mereka meletakkan
sayuran di tempat yang sama. Dan setiap malam, kawanan kancil datang.
Namun suatu malam, ada yang berbeda. Kancil tua itu tak
ikut makan. Ia duduk di bawah pohon, menatap ke arah mereka. Setelah kawanannya
selesai makan dan pergi, ia tetap di sana.
"Kenapa dia nggak ikut makan?" tanya Wati.
"Nggak tahu. Mungkin dia menjaga sesuatu."
Raka memutuskan untuk mendekat. Dengan hati-hati, ia
berjalan ke arah kancil tua. Wati dan Bejo mengikuti dari belakang, siap lari
kalau ada bahaya.
Kancil tua itu diam saja. Matanya menatap Raka dengan
intens. Begitu Raka cukup dekat, ia bangkit dan berjalan perlahan ke arah
hutan. Sekali lagi menoleh, mengajak ikut.
"Dia ingin kita ikut lagi," kata Raka.
"Tapi ini malam, Ra. Bahaya."
"Aku rasa dia nggak akan membawa kita ke tempat
bahaya. Ayo ikut."
Mereka bertiga mengikuti kancil tua masuk ke dalam hutan.
Malam hari, hutan terasa berbeda: lebih gelap, lebih sunyi, lebih angker. Suara
jangkrik terdengar nyaring. Sesekali burung malam berseru, membuat bulu kuduk
berdiri.
Bejo gemetaran. "Ra... aku takut..."
"Tenang, Jo. Kita bersama. Lihat, kancil itu jalan
pelan, nggak buru-buru. Dia mau kita ikuti."
Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Akhirnya, mereka
sampai di sebuah tempat yang tak pernah mereka kunjungi sebelumnya: sebuah
padang rumput kecil di tengah hutan, dengan pohon beringin raksasa di
tengahnya.
Di bawah pohon itu, puluhan kancil berkumpul. Tapi bukan
untuk makan. Mereka duduk melingkar, seperti sedang... rapat?
"Ini apa?" bisik Bejo tak percaya.
Kancil tua itu bergabung dengan lingkaran. Ia duduk di
tengah, lalu mengangkat kepala. Kancil-kancil lain ikut mengangkat kepala.
Mereka seperti sedang... berdoa?
"Ini... ini ritual," kata Raka takjub.
"Mereka sedang melakukan ritual."
Malam itu adalah malam purnama. Bulan bersinar terang,
menerangi padang rumput. Di bawah pohon beringin, kancil-kancil itu duduk
tenang. Tak ada suara, hanya keheningan yang khidmat.
Setelah beberapa saat, kancil tua itu berdiri. Ia berjalan
mengelilingi lingkaran, menyentuh setiap kancil dengan moncongnya. Seperti
memberi berkah. Atau memberi semangat.
Beberapa kancil yang terlihat paling lemah, disentuh lebih
lama. Kancil tua itu seolah berusaha mentransfer energi pada mereka.
"Ini... ini luar biasa," bisik Wati, matanya
berkaca-kaca. "Mereka bukan sekadar hewan. Mereka punya perasaan, punya
komunitas, punya ritual."
Mereka menyaksikan ritual itu sampai selesai. Setelah itu,
kancil-kancil itu pergi satu per satu, meninggalkan kancil tua sendirian di
bawah pohon.
Kancil tua itu menatap ke arah mereka. Lalu perlahan, ia
merebahkan diri di tanah. Seperti kelelahan. Atau mungkin... menyerah?
Tanpa berpikir panjang, Raka mendekati kancil tua itu. Ia
berlutut di sampingnya. Kancil tua itu menatapnya. Matanya sayu, tapi tetap
bijaksana.
Raka mengelus kepala kancil itu. Bulunya kasar dan kering.
Tubuhnya sangat kurus. Ia bisa merasakan tulang rusuknya di bawah bulu.
"Kamu pasti lelah," bisik Raka. "Memimpin
kawanan di masa sulit seperti ini pasti berat."
Kancil tua itu menggerakkan telinganya. Seolah mengerti.
Wati dan Bejo ikut mendekat. Mereka duduk di samping Raka,
membentuk lingkaran kecil di sekitar kancil tua.
Malam itu, di bawah pohon beringin raksasa, terjalin
persahabatan yang tak terduga. Tiga bocah desa dan seekor kancil tua.
Persahabatan yang melampaui batas spesies.
Mereka bertiga berlutut di sekitar kancil tua itu, tak ada
yang berbicara. Keheningan malam seolah menjadi saksi bisu ikatan baru yang terjalin.
Setelah beberapa lama, kancil tua itu bangkit perlahan. Ia
menatap mereka satu per satu, lalu menundukkan kepala. Kemudian, tanpa suara,
ia berbalik dan berjalan perlahan masuk ke dalam hutan, menghilang di balik
semak-semak.
Tim Penyelidik Cilik masih terdiam. Mereka baru saja
menyaksikan sesuatu yang tak akan pernah mereka lupakan.
"Ra," bisik Wati, "apa yang baru saja kita
lihat?"
"Aku... aku juga nggak tahu pasti. Tapi aku rasa, kita
baru saja diterima. Diterima sebagai bagian dari... keluarga mereka."
Bejo yang biasanya banyak bicara, hanya diam. Matanya
berkaca-kaca. "Mereka... mereka nggak sejahat yang orang tua kita
kira," katanya lirih.
Mereka pulang malam itu dengan perasaan yang berbeda. Bukan
lagi sekadar ingin menyelidiki, tapi juga ingin melindungi. Kawanan kancil itu
kini bukan lagi objek penelitian, tapi... sahabat.
Keesokan harinya, Tim Penyelidik Cilik mengadakan pertemuan
di markas. Raka membuka laptop pinjaman dari kakak kelasnya—jadul, tapi bisa untuk
melihat foto.
Mereka melihat foto-foto hasil jepretan kemarin: ritual
kancil di bawah pohon beringin, kancil tua yang merebahkan diri, dan
momen-momen intim lainnya.
"Ini luar biasa," kata Wati. "Ini bukti
bahwa kancil punya kehidupan sosial yang kompleks."
"Tapi akankah orang dewasa percaya?" tanya Bejo
ragu.
"Kita harus buat mereka percaya. Tapi kita butuh
strategi yang tepat."
Raka membuka buku catatannya. Ia menuliskan beberapa poin:
1.
Fakta Ilmiah: Kancil kelaparan karena kemarau.
2.
Bukti Visual: Foto-foto kondisi hutan dan kancil.
3.
Aspek Emosional: Kisah ritual dan persahabatan.
4.
Solusi: Program konservasi desa.
"Ini yang akan kita presentasikan pada warga. Tapi
kita tunggu waktu yang tepat. Saat emosi mereka sudah sedikit mereda."
Mereka bersumpah untuk merahasiakan semua ini. Tak boleh
ada yang tahu, kecuali mereka bertiga. Orang tua, guru, bahkan Pak Kades, tak
boleh tahu dulu. Bukan karena tidak percaya, tapi karena mereka tahu, warga
sedang dalam kondisi emosional. Berita tentang "persahabatan dengan
kancil" bisa dianggap mengada-ada, bahkan gila.
"Jadi, ini rahasia kita bertiga," kata Raka.
"Rahasia," sahut Wati dan Bejo bersamaan.
Mereka bertiga berjabat tangan. Sebuah ikatan baru
terbentuk. Bukan hanya sebagai Tim Penyelidik Cilik, tapi juga sebagai penjaga
rahasia. Penjaga hubungan istimewa antara manusia dan kancil di Bojong Sari.
Setelah menemukan fakta-fakta mencengangkan di hutan, Tim
Penyelidik Cilik memutuskan untuk meningkatkan operasi pemberian makan. Tak
lagi asal-asalan, tapi dengan perencanaan matang.
Raka membuat jadwal piket:
·
Senin, Rabu, Jumat: Raka
bertugas mengumpulkan sayuran.
·
Selasa, Kamis: Wati
bertugas.
·
Sabtu: Bejo bertugas (meski
sering lupa dan harus diingatkan).
Minggu: Operasi bersama, sekaligus evaluasi dan
dokumentasi.
Mereka juga membuat peta "titik aman" di pinggir
hutan—tempat-tempat yang jarang dilalui warga, sehingga aman untuk meletakkan
makanan. Ada tiga titik: dekat pohon beringin, dekat sungai kering, dan dekat
batu besar.
"Setiap malam, kita bagi tugas. Dua orang meletakkan
makanan, satu orang mengawasi dari kejauhan," jelas Raka.
Awalnya, mereka hanya mengandalkan sisa sayuran dari dapur
masing-masing. Tapi itu tak cukup. Kebutuhan kancil semakin banyak. Mereka
harus mencari sumber lain.
Wati punya ide cemerlang. "Bu Tini, pedagang sayur!
Setiap sore, dia selalu punya sayuran yang udah layu dan nggak laku. Biasanya
dibuang."
"Kamu yakin dia mau kasih?"
"Coba aja dulu."
Esoknya, Wati mendatangi Bu Tini. "Bu, apa Bu Tini
punya sayuran layu yang mau dibuang? Boleh minta?"
Bu Tini heran. "Loh, buat apa, Nak?"
Wati sudah siap dengan jawabannya. "Buat makan
kambing, Bu. Kambing kami suka sayuran."
"Oh, boleh boleh. Malah Bu Tini senang, nggak usah
buang-buang. Nanti sore ambil aja ke sini."
Sejak saat itu, setiap sore Wati mengambil sayuran layu
dari Bu Tini. Semakin lama, Bu Tini bahkan menyisihkan khusus untuknya.
"Buat kambingnya ya, Ti?"
"Iya, Bu. Makasih banyak."
Malam hari adalah waktu paling menegangkan. Mereka harus
berjalan di kegelapan, melewati pematang sawah dan semak-semak, menuju pinggir
hutan. Pernah beberapa kali hampir ketahuan warga yang sedang ronda.
Suatu malam, saat mereka sedang meletakkan makanan di titik
pohon beringin, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.
"Sst! Ada orang!" bisik Raka.
Mereka segera bersembunyi di balik semak. Dua orang lewat
dengan senter. Ronda malam.
"Nggak ada apa-apa di sini," kata salah satu.
"Iya. Udah aman kayaknya. Kancil udah nggak berani
keluar."
"Mungkin karena udah sering dironda."
Mereka tertawa kecil lalu pergi. Tim Penyelidik Cilik
menghela napas lega.
Operasi pemberian makan tak hanya memberi makanan pada
kancil, tapi juga momen-momen mengharukan. Setiap malam, kancil-kancil itu
datang. Mereka mulai mengenali Tim Penyelidik Cilik. Tak lagi lari ketakutan.
Bahkan anak-anak kancil yang dulu sekarat, kini sudah bisa
berlari kecil. Induknya selalu mendampingi, sesekali menjilati kepala anaknya
sambil menatap ke arah mereka, seperti berterima kasih.
Kancil tua juga selalu datang. Ia tak pernah makan, hanya
duduk di kejauhan, mengawasi. Seperti sesepuh yang mengawasi anak-cucunya
makan.
"Lihat, kancil tua itu," bisik Wati. "Dia
kayak... kakek-kakek yang bangga lihat cucunya makan."
Raka tersenyum. "Iya. Dia pemimpin yang baik."
Operasi rahasia ini hampir terbongkar suatu malam. Saat itu
Bejo bertugas meletakkan makanan sendirian—Raka dan Wati sedang demam. Bejo
yang agak ceroboh, tidak memperhatikan sekeliling.
Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul seseorang. "Heh!
Kamu ngapain di sini malam-malam?"
Bejo kaget setengah mati. Itu Guntur, pemuda yang ikut
ronda malam.
"Aku... aku... buang air kecil, Kang!" jawab Bejo
panik.
"Buang air kecil di sini? Dekat hutan? Nanti diganggu
kancil!"
"He he he, iya Kang. Nggak papa, aku berani."
Guntur curiga. "Itu bawa apa?"
"Ini... plastik. Buat bungkusin... e... kotoran."
Guntur makin curiga. Tapi sebelum sempat bertanya lebih
lanjut, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara kancil. Nging...
nging...
"Itu suara kancil!" seru Guntur. "Awas,
mereka datang!"
Guntur langsung lari terbirit-birit meninggalkan Bejo. Bejo
lega, sekaligus gemas. Ternyata Guntur penakut juga.
Sejak saat itu, Bejo lebih berhati-hati.
Setiap minggu, Tim Penyelidik Cilik mengadakan evaluasi.
Mereka menghitung berapa banyak makanan yang terkumpul, berapa banyak kancil
yang makan, dan perkembangan kondisi kawanan.
"Semakin lama, kancil yang datang semakin
banyak," catat Raka. "Minggu pertama 10 ekor, minggu kedua 15, minggu
ketiga 20. Sekarang sudah 30-an."
"Tapi makanan kita juga makin banyak yang
dibutuhkan," kata Wati khawatir.
"Kita harus cari sumber lebih besar. Mungkin kita bisa
minta sumbangan dari warga yang peduli? Tapi itu risiko."
"Atau kita tanam sendiri?" usul Bejo.
Raka berpikir. "Tanam sendiri? Bisa juga. Tapi di
mana? Lahan kita kan sempit."
Wati tiba-tiba berseru. "Di pinggir hutan! Lahan
kosong di pinggir hutan itu kan nggak dipakai siapa-siapa. Kita bisa tanam
sayuran di sana!"
Mata Raka berbinar. "Ide bagus! Tapi harus hati-hati.
Itu lahan milik desa. Nanti bisa kena marah."
"Kita lakukan diam-diam. Tanam sedikit-sedikit."
Maka dimulailah fase baru operasi: bertani untuk kancil.
Mereka memilih lahan di pinggir hutan, dekat titik
pemberian makan, tapi tersembunyi dari jalan. Lahan itu sempit, tapi cukup
untuk menanam beberapa jenis sayuran: kangkung, bayam, dan ketela pohon.
Setiap sore sepulang sekolah, mereka bergantian mengurus
kebun rahasia itu. Menyiram, memupuk (dengan pupuk kandang dari kambing
tetangga), dan merawat.
Tanaman tumbuh subur. Mungkin karena tanah di pinggir hutan
memang subur. Atau mungkin karena berkah dari alam.
Kancil-kancil itu kadang datang melihat mereka berkebun.
Mereka duduk di kejauhan, mengamati. Seperti penonton setia.
"Lihat, mereka nontonin kita," kata Bejo.
"Mungkin mereka jaga-jaga, siapa tahu ada yang
mengganggu kita," kata Wati.
Raka tersenyum. Persahabatan yang indah.
Hari-hari berlalu. Operasi rahasia berjalan lancar.
Kancil-kancil semakin sehat. Anak-anak kancil yang dulu kurus, kini mulai
berisi. Mereka bahkan mulai berani mendekat, kadang makan dari tangan Tim
Penyelidik Cilik.
Kancil tua juga berubah. Ia tak lagi hanya duduk di
kejauhan. Kadang ia mendekat, duduk di samping Raka saat mereka beristirahat.
Seperti teman lama yang nyaman diam bersama.
Suatu sore, saat Raka sedang sendiri di kebun (Wati dan
Bejo izin tidak masuk), kancil tua itu datang. Ia duduk di samping Raka. Mereka
diam beberapa saat, menikmati sore yang tenang.
"Kamu pasti lelah sekali ya," kata Raka pelan.
"Memimpin kawanan, mencari makanan, melindungi mereka dari bahaya. Tugas
yang berat."
Kancil tua itu menatapnya. Matanya berkata banyak hal.
"Aku janji, akan bantu kalian. Aku akan buat orang
dewasa mengerti. Mereka boleh marah sekarang, tapi suatu hari mereka akan tahu
kebenarannya."
Kancil tua itu menggerakkan telinganya. Lalu perlahan, ia
menyandarkan kepalanya di pangkuan Raka.
Raka terkejut, tapi kemudian tersenyum. Ia mengelus kepala
kancil tua itu dengan lembut. Sore itu, di kebun rahasia pinggir hutan,
terjalin ikatan yang tak akan pernah putus.
BAGIAN LIMA: KOMUNIKASI
DENGAN HEWAN
Suatu malam, saat Tim Penyelidik Cilik sedang meletakkan
makanan di titik biasa, kancil tua datang dengan cara yang berbeda. Ia tidak
hanya duduk di kejauhan, tapi mendekat langsung ke arah mereka.
"Itu dia," bisik Wati. "Dia datang."
Kancil tua berhenti beberapa meter dari mereka. Ia menatap
Raka, lalu menoleh ke arah hutan. Lalu kembali menatap Raka. Lalu menoleh lagi
ke hutan.
"Dia kayak... nyuruh kita ikut lagi," kata Bejo.
"Aku juga lihat," kata Raka. "Tapi ke
mana?"
Kancil tua itu mulai berjalan perlahan ke arah hutan.
Sesekali berhenti, menoleh, memastikan mereka mengikuti.
"Ayo kita ikut," putus Raka.
Mereka bertiga mengikuti kancil tua masuk ke dalam hutan.
Malam itu gelap, tapi kancil tua seolah tahu jalan. Ia bergerak lincah di
antara pepohonan, sementara mereka bertiga tersandung-sandung di belakang.
Perjalanan malam itu lebih panjang dari biasanya. Mereka
melewati sungai kering, melewati gua tempat kawanan kancil dulu bersembunyi,
lalu naik ke bukit kecil.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah tempat yang belum pernah
mereka lihat sebelumnya: sebuah lapangan luas di puncak bukit, dengan batu-batu
besar melingkar seperti Stonehenge versi mini. Di tengah lingkaran batu itu,
ada sebuah batu datar besar, seperti altar.
"Ini... ini tempat apa?" tanya Wati takjub.
Kancil tua berjalan ke tengah lingkaran. Ia duduk di atas
batu datar itu, lalu menatap bulan yang bersinar terang. Malam itu purnama.
Kancil-kancil lain mulai berdatangan. Mereka duduk di
sekeliling lingkaran, membentuk formasi yang rapi. Semua menghadap ke batu
altar, tempat kancil tua berada.
"Ini ritual lagi," bisik Raka. "Tapi yang
lebih besar."
Kancil tua itu mulai bersuara. Bukan suara biasa, tapi
suara panjang dan melengking, seperti nyanyian. Kancil-kancil lain menyahut,
menciptakan paduan suara yang aneh namun indah.
Mereka bertiga hanya bisa terdiam, menyaksikan pemandangan
yang tak akan pernah mereka lupakan. Puluhan kancil "bernyanyi" di
bawah sinar bulan purnama, di atas bukit dengan lingkaran batu. Ini seperti
adegan film fantasi.
Setelah nyanyian selesai, kancil tua itu turun dari altar.
Ia berjalan mengelilingi lingkaran, menyentuh setiap kancil dengan moncongnya.
Ritual yang sama seperti malam itu, tapi kali lebih khidmat.
Saat kancil tua itu sampai di hadapan Raka, ia berhenti. Ia
menatap Raka lama. Lalu, dengan gerakan yang sangat lambat, ia menyentuh dahi
Raka dengan moncongnya.
Raka merasakan getaran aneh di sekujur tubuhnya. Bukan
listrik, tapi seperti... energi. Kehangatan yang merambat dari dahinya ke
seluruh tubuh.
Wati dan Bejo menyaksikan dengan takjub. Mereka tak berani
bergerak.
Setelah itu, kancil tua mundur. Ia kembali ke altar, lalu
duduk. Kancil-kancil lain mulai pergi satu per satu, meninggalkan mereka
bertiga di lingkaran batu bersama kancil tua.
Malam itu, di bawah sinar bulan purnama, Raka merasa ada
yang berubah dalam dirinya. Ia merasa lebih... terhubung. Dengan alam, dengan
hutan, dengan kancil-kancil itu. Seperti ada jembatan tak kasat mata yang kini
menghubungkan mereka.
Mereka pulang larut malam. Raka, Wati, dan Bejo tak banyak
bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Apa yang baru saja terjadi? Apakah itu nyata? Atau hanya
mimpi?
Tapi mereka tahu itu nyata. Bau hutan masih melekat di baju
mereka. Lelah di kaki membuktikan mereka benar-benar berjalan jauh. Dan yang
paling penting, di dahi Raka, masih terasa hangat bekas sentuhan kancil tua.
Malam itu, sebelum tidur, Raka menulis di buku catatannya:
"Malam ini, aku disentuh oleh kancil tua. Rasanya
aneh, tapi hangat. Seperti diberi kepercayaan. Atau mungkin... pesan. Aku harus
melakukan sesuatu. Sesuatu yang besar. Untuk mereka."
Setelah malam di puncak bukit, hubungan Tim Penyelidik
Cilik dengan kawanan kancil semakin dekat. Mereka tak lagi hanya memberi makan
dari kejauhan. Sekarang, mereka bisa duduk di antara kancil-kancil itu,
mengamati mereka dari dekat.
Raka, dengan insting detektifnya, mulai mempelajari bahasa
tubuh kancil. Ia mencatat setiap gerakan, setiap suara, dan mencoba
mengartikannya.
"Lihat, kalau telinganya tegak, itu artinya
waspada," katanya pada Wati dan Bejo suatu sore. "Kalau telinganya ke
belakang, itu artinya takut atau stres. Kalau telinganya rileks ke samping,
artinya tenang."
"Terus ekornya?" tanya Wati.
"Ekor kancil pendek, jadi susah dibaca. Tapi kalau dia
mengibas-ngibaskan ekor cepat, itu tanda gelisah. Kalau diam saja,
tenang."
Bejo yang biasanya kurang teliti, kali ini serius
memperhatikan. "Kalau yang ini, mukanya kenapa?" tanyanya menunjuk
seekor kancil yang tampak murung.
"Itu ekspresi sedih. Mungkin dia kehilangan anaknya,
atau sedang sakit."
Perhatian utama Raka tentu saja kancil tua. Ia adalah kunci
segalanya. Dengan memahaminya, mereka bisa memahami seluruh kawanan.
Raka menghabiskan berjam-jam hanya untuk mengamati kancil
tua. Ia mencatat:
·
Gerakan Mata: Kancil tua sering menatap ke arah tertentu. Ke arah timur
(sumber mata air), ke arah barat (desa), dan ke langit (mungkin melihat
tanda-tanda cuaca).
·
Posisi Tubuh: Saat duduk dengan tegak, ia sedang memimpin. Saat
merebahkan diri, ia sedang beristirahat atau mungkin sedang sedih.
·
Interaksi dengan Kancil
Lain: Ia sering mendekati kancil yang sakit atau lemah,
menjilati mereka. Seperti memberi semangat.
Suatu hari, Raka melihat sesuatu yang menarik. Kancil tua
berdiri di pinggir hutan, menatap ke arah desa. Matanya tampak sayu. Lalu ia
menunduk, seperti menghela napas.
"Dia sedih," kata Raka. "Dia sedih karena
harus mengirim kawanannya ke desa untuk mencari makan. Dia tahu itu berbahaya,
tapi tak punya pilihan."
Suatu sore, Raka duduk sendirian di dekat pohon beringin,
tempat favorit kancil tua. Tak lama, kancil tua itu datang dan duduk di
sampingnya.
Mereka diam beberapa saat. Raka berbicara pelan, meski tahu
kancil itu tak mengerti kata-katanya.
"Aku tahu kamu sedih. Kamu nggak mau ganggu desa kami.
Tapi kamu juga harus selamatkan kawananmu. Aku mengerti."
Kancil tua menoleh, menatapnya. Matanya berkata, "Terima
kasih sudah mengerti."
"Aku akan bantu. Tapi butuh waktu. Orang dewasa di
desaku keras kepala. Mereka butuh bukti."
Kancil tua menggerakkan telinganya. Mungkin artinya, "Aku
tunggu."
Raka tersenyum. Percakapan tanpa kata ini terasa lebih
dalam dari ribuan kata.
Wati dan Bejo yang datang belakangan, melihat Raka sedang
"berbicara" dengan kancil tua. Mereka tak mengganggu, hanya duduk di
kejauhan dan mengamati.
"Raka itu istimewa," bisik Wati.
"Iya. Dia bisa ngerti kancil. Aku nggak."
"Mungkin bukan ngerti secara harfiah. Tapi dia peka.
Dia bisa baca perasaan mereka."
Bejo mengangguk. "Kita beruntung punya teman seperti
dia."
Sore itu, Raka mendapat pelajaran berharga: komunikasi tak
selalu perlu kata-kata. Kadang, keheningan dan kehadiran sudah cukup. Kadang,
dengan duduk diam bersama, kita sudah menyampaikan segalanya.
Setelah berminggu-minggu berinteraksi, Tim Penyelidik Cilik
merasa perlu memberi nama pada kancil tua itu. Bukan karena mereka anggap
binatang peliharaan, tapi sebagai bentuk penghormatan.
"Kasih nama apa ya?" tanya Wati.
"Ki," usul Bejo. "Singkatan dari
Kancil."
"Ki... Ki... terlalu umum."
"Kai?" usul Wati. "Dari bahasa Inggris,
'Kai' berarti lautan. Tapi ini kan kancil."
"Terserah deh. Yang penting kita sepakat."
Akhirnya mereka sepakat memanggilnya "Kai".
Singkat, mudah diingat, dan terdengar agak keren.
Suatu sore, Raka memanggil, "Kai!"
Kancil tua itu menoleh. Matanya berbinar. Seperti tahu itu
namanya.
"Dia tahu!" seru Bejo girang.
"Dia pinter banget."
Sejak saat itu, Kai menjadi anggota keempat Tim Penyelidik
Cilik. Anggota kehormatan.
Hari-hari Tim Penyelidik Cilik kini diisi dengan rutinitas
baru: sekolah, belajar, membantu orang tua, lalu sore hari pergi ke kebun
rahasia atau ke tempat favorit Kai di bawah pohon beringin.
Di sana, mereka biasanya menghabiskan waktu hingga maghrib.
Kadang bercerita, kadang diam-daman, kadang mengamati kawanan kancil yang lalu
lalang.
Kai selalu ada. Ia duduk di samping mereka, seperti anjing
setia. Tapi ia bukan anjing. Ia kancil. Dan itu membuatnya istimewa.
Anak-anak desa lain mulai curiga. "Kok kalian sering
ke pinggir hutan?"
"Main aja," jawab Wati enteng.
"Main apa? Nggak bosan?"
"Nggak. Alam itu indah."
Jawaban diplomatis. Persahabatan dengan kancil ternyata
banyak momen lucunya. Suatu hari, Bejo membawa pisang goreng sisa jajanannya.
Ia ingin memberi Kai.
"Ini, Kai. Pisang goreng. Enak."
Kai mengendus, lalu menjilat. Begitu merasakan rasa gula
dan minyak, ia langsung memuntahkannya dengan wajah jijik.
Semua tertawa. "Kai, kamu nggak suka gorengan ya?
Kambingku sih suka," kata Bejo kecewa.
Kai menatapnya dengan ekspresi, "Apa-apaan
ini? Mana sayuranku?"
Sejak saat itu, Bejo tak pernah lagi memberi makanan aneh.
Momen lucu lainnya, saat Kai tiba-tiba mengejar kupu-kupu.
Kancil tua itu berlari kecil, melompat-lompat, mencoba menangkap kupu-kupu.
Gerakannya lucu sekali, seperti anak kucing.
"Ini dia main," kata Wati gemas. "Kai masih
punya jiwa muda."
Setelah lelah, Kai kembali ke samping mereka, terengah-engah.
Mereka bertiga tertawa. Persahabatan ini benar-benar tak terduga.
Semakin sering bersama, semakin banyak rahasia Kai yang
terungkap. Raka menemukan bahwa Kai punya kebiasaan unik: ia suka mengumpulkan
benda-benda kecil yang berkilau. Di bawah pohon beringin tempatnya biasa duduk,
Raka menemukan koleksi Kai: koin-koin kuno, pecahan kaca, bahkan sebuah cincin
kuningan.
"Ini koleksinya," kata Raka takjub.
"Kancil suka benda berkilau?"
"Mungkin. Atau mungkin dia anggap itu berharga."
Mereka tak pernah mengambil benda-benda itu. Itu milik Kai.
Rahasia lain: Kai suka sekali dielus di bagian belakang
telinga. Setiap kali dielus di sana, ia akan memejamkan mata dan mendengkur
pelan. Seperti kucing.
"Dia kangen dielus," kata Wati. "Mungkin
dulu, sebelum manusia dan kancil bermusuhan, ada yang sering mengelusnya."
Puncak persahabatan ini terjadi suatu sore. Raka sedang
duduk termenung di bawah pohon beringin. Ia sedang memikirkan cara meyakinkan
warga. Wajahnya tampak stres.
Tiba-tiba, Kai mendekat. Ia meletakkan kepalanya di
pangkuan Raka. Lalu diam.
Raka tersentuh. Ia mengelus kepala Kai. "Kamu tahu aku
sedang susah, ya?"
Kai menggerakkan telinganya. Seolah menjawab.
"Kita akan cari jalan. Bersama."
Sore itu, untuk pertama kalinya, Raka menangis di depan
Kai. Menangis karena beban yang terlalu berat untuk anak seusianya. Dan Kai
hanya diam, menemani, seperti sahabat sejati.
Persahabatan yang tak terduga ini mengajarkan mereka banyak
hal. Bahwa persahabatan tak mengenal spesies. Bahwa makhluk hidup, apa pun
bentuknya, bisa saling memahami jika ada niat baik.
Mereka juga belajar bahwa kepercayaan itu dibangun, bukan
diberikan. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Kai dan kawanannya untuk benar-benar
percaya pada mereka. Dan butuh keberanian bagi mereka untuk terus mendekat
meski ada risiko.
"Kita beruntung," kata Wati suatu hari.
"Nggak semua orang punya sahabat kancil."
"Iya. Kita harus jaga kepercayaan ini."
Mereka bertiga dan Kai, di bawah pohon beringin, menikmati
sore yang tenang. Persahabatan yang tak terduga, tapi begitu berharga.
Waktu terus berjalan. Kemarau tak kunjung usai. Hutan
semakin kering. Sumber air di hulu sungai hampir mati total. Kawanan kancil
semakin bergantung pada pemberian makan Tim Penyelidik Cilik.
Tapi pemberian makan itu tak cukup. Jumlah kancil terlalu
banyak. Kebun rahasia mereka hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan. Sisanya,
mereka masih harus mengandalkan sisa sayuran dari Bu Tini dan dapur
masing-masing.
Suatu malam, saat operasi pemberian makan, Raka melihat
sesuatu yang mengkhawatirkan: beberapa kancil terlihat lemas. Bahkan setelah
makan, mereka tetap terlihat lemah.
"Mereka butuh lebih dari sekadar makanan," kata
Raka. "Mereka butuh air. Sumber air di hutan sudah hampir habis."
"Lalu kita harus apa?" tanya Wati.
Raka diam lama. Lalu matanya berbinar. "Kita harus
bicara dengan warga."
Di markas rahasia keesokan harinya, Raka memaparkan
rencananya.
"Kita akan membuat presentasi. Presentasi untuk warga
desa. Kita tunjukkan semua bukti yang kita punya: foto-foto kondisi hutan, foto
kancil kelaparan, foto ritual mereka, dan yang paling penting: gambar-gambar di
gua itu."
"Tapi apa mereka mau dengar?" tanya Bejo ragu.
"Kita harus buat mereka mau dengar. Kita undang semua
warga. Kita minta waktu pada Pak Kades. Dan kita presentasikan dengan
sebaik-baiknya."
"Terus apa yang mau kita usulkan?"
Raka membuka buku catatannya. "Program Konservasi
Desa. Program untuk membantu kancil sekaligus menyelamatkan ladang kita."
"Caranya?"
"Pertama, kita buat tempat minum buatan di pinggir
hutan. Kita isi air secara rutin dari sumber mata air yang masih tersisa."
"Kedua, kita tanam tanaman pakan di pinggir hutan.
Rumput gajah, ketela pohon, dan sayuran yang disukai kancil."
"Ketiga, kita relakan sebagian kecil ladang di dekat
hutan sebagai 'ladang bersama' untuk kancil. Warga yang tanahnya digunakan akan
mendapat kompensasi dari dana desa."
Mata Wati dan Bejo membelalak. "Ini... ini rencana
besar banget, Ra."
"Iya. Tapi ini satu-satunya cara. Kalau kita cuma
kasih makan diam-diam, mereka tetap akan kelaparan. Musim kemarau masih
panjang. Kita butuh solusi permanen."
Tim Penyelidik Cilik bekerja keras menyiapkan presentasi.
Mereka mengumpulkan semua foto, mencatat semua data, dan merancang
argumen-argumen yang meyakinkan.
Raka bertugas menyusun materi. Wati bertugas mendesain
poster dan alat peraga. Bejo bertugas... menyediakan camilan untuk menemani
mereka begadang.
"Ini susah banget," keluh Raka saat menyusun
argumen. "Harus ilmiah, tapi juga harus menyentuh emosi."
"Kamu pasti bisa, Ra," semangat Wati.
Bejo menyodorkan pisang goreng. "Ini buat otak."
Mereka begadang berhari-hari. Kadang di markas, kadang di
rumah Raka saat orang tuanya tidur. Perlahan, presentasi mulai terbentuk.
Sebelum melangkah lebih jauh, Raka merasa perlu minta restu
Kai. Sore itu, ia pergi ke pohon beringin sendirian. Kai sudah menunggu.
"Kai, aku akan bicara pada warga desa. Aku akan minta
mereka membantu kalian. Tapi aku takut. Mereka mungkin tidak percaya. Mereka
mungkin marah."
Kai menatapnya tenang.
"Apa yang harus aku lakukan kalau mereka marah?"
Kai diam beberapa saat. Lalu, dengan gerakan lambat, ia
mengusapkan kepalanya ke tangan Raka. Seperti memberi semangat.
Raka tersenyum. "Kamu bilang aku pasti bisa, ya? Atau
kamu bilang 'lakukan saja yang terbaik'?"
Kai menggerakkan telinganya. Raka tak tahu artinya, tapi ia
merasa lebih tenang.
"Makasih, Kai. Akan aku lakukan yang terbaik."
Langkah selanjutnya: meminta waktu bicara pada Pak Kades.
Ini bagian tersulit. Seorang bocah 11 tahun minta bicara di rapat warga? Bisa dianggap
kurang ajar.
Tapi Raka nekat. Ia mendatangi rumah Pak Kades suatu malam.
"Pak Kades, permisi."
"Oh, Raka. Ada apa, Nak? Masuk."
Raka masuk dengan gugup. Pak Kades sedang santai di teras.
"Pak Kades, saya mau minta izin. Saya mau bicara di
rapat warga berikutnya."
Pak Kades terkejut. "Bicara? Tentang apa?"
"Tentang kancil. Saya punya bukti-bukti. Dan saya
punya usulan."
Pak Kades menatap Raka lama. Bocah ini serius.
"Kamu yakin, Nak? Orang dewasa bisa marah. Mereka
sudah frustrasi dengan kancil."
"Saya yakin, Pak. Saya harus lakukan ini. Demi desa
kita."
Pak Kades tersenyum. Ada sesuatu di mata Raka yang
membuatnya percaya. "Baiklah. Rapat warga lusa. Aku kasih kamu waktu 15
menit. Siapkan materi sebaik mungkin."
Raka hampir melompat girang. "Terima kasih, Pak
Kades!"
"Tapi ingat, Nak. Kalau mereka marah, aku nggak bisa
melindungi kamu."
"Saya siap."
Dua hari sebelum rapat, Tim Penyelidik Cilik latihan
presentasi di markas. Raka berdiri di depan, Wati dan Bejo jadi audiens.
"Selamat malam, Bapak-bapak, Ibu-ibu..." Raka
memulai.
"Keras, Ra!" teriak Wati.
"Selamat malam, BAPAK-BAPAK, IBU-IBU!"
"Gitu dong."
Raka memaparkan materinya. Foto-foto ditunjukkan. Data-data
dibacakan. Argumen-argumen dilontarkan.
Wati dan Bejo memberi masukan.
"Kurang jelas di bagian penyebab kemarau."
"Terlalu cepat di bagian usulan program."
"Coba tambahin cerita tentang Kai. Biar
menyentuh."
Raka mencatat semua masukan. Latihan diulang berkali-kali
hingga larut malam.
Malam sebelum rapat, Raka tak bisa tidur. Ia bolak-balik
memikirkan presentasinya. Apa cukup meyakinkan? Apa warga akan marah? Apa Pak
Kades akan membela mereka?
Pukul 2 pagi, ia bangkit. Ia memandang ke luar jendela, ke
arah hutan yang gelap.
"Kai, doakan aku," bisiknya.
Dari kejauhan, terdengar suara kancil. Nging...
nging... Seperti jawaban.
Raka tersenyum. Ia kembali tidur, kali ini lebih tenang.
BAGIAN ENAM:
PERTARUNGAN KECERDIKAN
Malam rapat besar. Balai desa penuh sesak. Warga datang
lebih awal, ingin tahu perkembangan terbaru. Beberapa masih dengan wajah
frustrasi, beberapa mulai apatis.
Pak Kades membuka rapat seperti biasa. Setelah
laporan-laporan rutin, ia mengumumkan sesuatu yang mengejutkan.
"Sebelum kita lanjut ke sesi berikutnya, ada satu anak
yang minta bicara. Raka, anaknya Pak Tani. Silakan, Nak."
Suasana mendadak riuh. Anak kecil bicara di rapat warga?
"Ini apaan? Anak kecil ikut campur?"
"Pak Kades, jangan main-main!"
"Tenang, tenang! Dengarkan dulu!"
Raka berdiri, berjalan ke depan. Tangannya gemetar memegang
buku catatan. Wajahnya pucat, tapi matanya mantap.
Ia menatap kerumunan. Mencari wajah ayahnya. Pak Tani
terlihat bingung, tapi juga bangga.
Raka menarik napas dalam-dalam. "Selamat malam,
Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian."
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya tahu kalian mungkin
berpikir, 'anak kecil ini ngapain?' Tapi tolong beri saya waktu 15 menit.
Setelah itu, kalian boleh marah kalau saya salah."
Beberapa warga tersenyum sinis. Tapi yang lain mulai
penasaran.
Raka memulai dengan pertanyaan. "Bapak-bapak, kenapa
kancil menyerang ladang kita?"
"Ya karena mereka nakal!" teriak seseorang.
"Karena mereka lapar!" teriak yang lain.
"Tepat. Karena mereka lapar. Tapi kenapa mereka
lapar?"
Suasana mulai hening. Raka melanjutkan.
"Selama ini kita cuma lihat efeknya: ladang rusak.
Tapi kita tak pernah bertanya penyebabnya. Saya dan teman-teman—Wati dan
Bejo—telah menyelidiki. Kami masuk ke hutan. Dan kami menemukan fakta yang
mengejutkan."
Raka menunjukkan foto-foto. Satu per satu.
"Ini foto sungai di hutan. Airnya tinggal sedikit. Ini
bekas mata air. Hampir kering. Ini pohon-pohon yang mati karena
kekeringan."
Warga mulai memperhatikan. Foto-foto itu berbicara lebih
keras dari kata-kata.
"Ini foto jejak kaki kancil di sekitar mata air.
Lihat, berlapis-lapis. Mereka bolak-balik ke sini untuk minum, tapi airnya tak
cukup."
"Ini foto kancil yang kelaparan. Lihat, tulang
rusuknya kelihatan. Ini anak kancil yang hampir mati kehausan."
Suasana balai desa mendadak hening. Beberapa ibu menutup
mulut, menahan haru.
"Ini bukan karena mereka nakal, Bapak-bapak, Ibu-ibu.
Mereka keluar hutan karena terpaksa. Mereka kelaparan dan kehausan."
"Ini... ini apa?" tanya Pak Joko dengan suara
bergetar.
"Ini gua tempat kawanan kancil berlindung. Di dinding
gua ini ada gambar-gambar. Gambar yang dibuat oleh kancil-kancil zaman
dulu."
Raka menunjukkan foto close-up coretan di dinding gua.
"Lihat, ini gambar manusia dan kancil berdampingan. Ini gambar mata air
yang mengalir. Ini gambar mereka makan bersama."
"Maksudmu... kancil bisa menggambar?" tanya
seseorang tak percaya.
"Mungkin bukan menggambar seperti manusia. Tapi ini
adalah cara mereka mewariskan pengetahuan. Mereka merekam sejarah mereka di
dinding gua. Dan sejarah itu bilang: dulu manusia dan kancil hidup berdampingan
dengan damai."
Suasana semakin hening. Beberapa warga mulai terlihat
terenyuh.
Raka kemudian bercerita tentang Kai. Tentang kancil tua
yang memimpin kawanannya dengan bijaksana. Tentang ritual bulan purnama yang
mereka saksikan. Tentang persahabatan yang terjalin.
"Namanya Kai. Dia pemimpin kawanan itu. Setiap malam,
dia tidak ikut makan. Dia hanya duduk di kejauhan, mengawasi, memastikan
kawanannya selamat. Dia lebih memilih kelaparan daripada meninggalkan
tugasnya."
Beberapa ibu mulai menyeka air mata.
"Suatu malam, Kai mendatangi saya. Dia menyentuh dahi
saya dengan moncongnya. Saya merasakan... sesuatu. Seperti dia titip pesan.
Pesan agar saya membantu mereka. Agar saya jadi jembatan antara manusia dan
kancil."
Raka berhenti sejenak, menahan tangis. "Maaf...
saya... saya tak kuasa..."
Pak Tani berdiri. Ia berjalan ke depan dan meletakkan
tangan di pundak Raka. "Tenang, Nak. Ayah di sini."
Momen itu sangat mengharukan. Seorang ayah mendampingi
anaknya di depan seluruh warga.
Setelah tenang, Raka melanjutkan dengan usulannya.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya punya usulan. Bukan untuk
melawan kancil, tapi untuk membantu mereka sekaligus menyelamatkan ladang
kita."
Ia memaparkan Program Konservasi Desa:
1.
Tempat minum buatan di
pinggir hutan.
2.
Penanaman tanaman pakan.
3.
Lahan konservasi di
pinggir hutan.
4.
Edukasi warga tentang
pentingnya menjaga keseimbangan alam.
"Jika kita membantu mereka bertahan di hutan, mereka
tak perlu keluar ke ladang. Ladang kita aman, kancil pun selamat. Semua
untung."
Raka menutup presentasinya dengan kalimat yang membuat
semua orang terdiam.
"Kita boleh marah pada mereka yang merusak ladang
kita. Tapi ingat, mereka juga makhluk hidup. Mereka juga punya keluarga, punya
perasaan, punya pemimpin yang mereka cintai. Sama seperti kita."
Presentasi Raka selesai. Tak ada yang bertepuk tangan. Tak
ada yang bersuara. Hanya keheningan yang menyelimuti balai desa.
Raka menunduk. Jantungnya berdebar kencang. Apa
mereka marah? Apa mereka kecewa?
Pak Joko berdiri. Semua orang menoleh. Wajahnya serius. Ia
berjalan mendekati Raka.
"Ini... ini semua benar?" tanyanya dengan suara
serak.
"I-iya, Pak. Saya bersumpah."
Pak Joko diam beberapa saat. Lalu tiba-tiba, ia tertawa.
Bukan tertawa mengejek, tapi tertawa getir.
"Selama ini kita salah! Kita kira mereka penjahat,
ternyata mereka korban! Kita kira kita yang paling susah, ternyata mereka lebih
susah!"
Ia menepuk pundak Raka keras-keras. "Kamu hebat, Nak!
Kamu lebih pintar dari kami semua!"
Suasana berubah. Tepuk tangan bergemuruh. Semua warga
berdiri, memberi hormat pada bocah 11 tahun itu.
Raka tak kuasa menahan tangis. Ia menangis di pundak
ayahnya. Wati dan Bejo berlari ke depan, memeluknya. Sesi tanya jawab dimulai.
Warga yang tadinya sinis, kini antusias. Mereka ingin tahu lebih banyak.
"Berapa jumlah kancil di hutan?"
"Sekitar 30-40 ekor, Pak."
"Apa mereka semua kelaparan?"
"Ya, Pak. Yang paling parah anak-anak dan yang
tua."
"Kenapa mereka nggak pindah ke hutan lain?"
"Hutan lain juga kering, Bu. Kemarau di
mana-mana."
Pak Carik mengangkat tangan. "Nak Raka, usulanmu
bagus. Tapi bagaimana dengan biaya? Desa kita nggak punya banyak dana."
Raka sudah siap dengan jawabannya. "Kita bisa mulai
dengan swadaya, Pak. Gotong royong. Yang punya bambu, sumbang bambu. Yang punya
tenaga, sumbang tenaga. Yang punya lahan di pinggir hutan, sumbang lahannya
untuk program konservasi. Nanti kalau program berhasil, baru minta bantuan
pemerintah."
Pak Carik mengangguk kagum. Bocah ini pikirannya sudah
seperti orang dewasa.
Pak Tani, ayah Raka, mengalami campur aduk perasaan. Malu,
karena sebagai orang dewasa ia tak terpikir untuk menyelidiki sedalam itu.
Bangga, karena anaknya yang melakukannya.
Ia berdiri dan berbicara. "Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya
sebagai orang tua Raka, minta maaf. Selama ini saya sibuk marah dan frustrasi,
sampai lupa berpikir jernih. Ternyata anak saya yang mengingatkan. Mari kita
dukung program ini. Demi desa kita, demi anak cucu kita."
Tepuk tangan kembali bergemuruh. Pak Tani tersenyum pada
Raka. Raka membalas dengan senyum. Ayah dan anak itu saling memahami tanpa
kata.
Setelah diskusi panjang, Pak Kades mengambil keputusan
bersejarah.
"Warga Bojong Sari yang saya cintai. Malam ini kita
menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Seorang anak berusia 11 tahun telah
membuka mata kita. Ia mengajarkan bahwa di balik setiap masalah, selalu ada
akar yang harus dicari. Dan solusi terbaik adalah solusi yang menguntungkan
semua pihak."
"Oleh karena itu, dengan persetujuan kalian semua,
saya nyatakan: Desa Bojong Sari resmi meluncurkan Program Konservasi Manoreh.
Program untuk menyelamatkan hutan dan kancil, sekaligus melindungi ladang kita.
Semua warga wajib mendukung!"
Sorak-sorai menggema. Warga bersalaman, berpelukan, ada
yang menangis haru. Malam itu menjadi malam bersejarah bagi Bojong Sari.
Setelah rapat, Tim Penyelidik Cilik dikerumuni warga.
Mereka ingin tahu lebih banyak tentang petualangan di hutan, tentang Kai,
tentang ritual kancil.
Raka, Wati, dan Bejo bergantian bercerita. Tentu dengan
sedikit sensor—mereka tak ceritakan semua detail operasi rahasia pemberian
makan. Yang penting, pesan utama tersampaikan.
Pak Kades mendekat. "Nak Raka, mulai sekarang kalian
bertiga jadi konsultan desa. Konsultan khusus urusan kancil."
"Konsultan? Bayar nggak, Pak?" ledek Bejo.
Semua tertawa. "Nanti kita pikirkan
honorariumnya," jawab Pak Kades sambil tertawa.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan,
warga Bojong Sari tidur dengan perasaan lega. Bukan karena masalah
selesai—sebenarnya masalah baru saja dimulai. Tapi karena mereka punya arah,
punya rencana, punya harapan.
Raka pulang dengan perasaan campur aduk. Lelah, tapi
bahagia. Begitu tiba di rumah, ia langsung merebahkan diri di tempat tidur.
Tapi sebelum tidur, ia membuka jendela dan memandang ke arah hutan.
"Kai, kita berhasil," bisiknya. "Besok kita
mulai."
Dari kejauhan, terdengar suara kancil. Nging...
nging... Seperti jawaban. Seperti ucapan terima kasih.
Raka tersenyum, lalu terlelap. Mimpi indah tentang kancil
dan manusia yang hidup berdampingan menemani tidurnya.
Keesokan harinya, balai desa kembali ramai. Tapi kali ini suasananya
berbeda. Bukan rapat yang penuh emosi dan saling tuduh, tapi rapat perencanaan
yang penuh semangat gotong royong.
Pak Kades memimpin rapat dengan dibantu Tim Penyelidik
Cilik—yang kini duduk di kursi VIP, dekat dengan perangkat desa. Raka, Wati,
dan Bejo merasa sedikit canggung, tapi juga bangga.
"Baik, kita bahas poin-poin program," buka Pak
Kades.
"Pertama: pembuatan tempat minum buatan. Siapa yang
punya ide?"
Raka mengangkat tangan. "Kita bisa pakai bambu besar
yang dibelah, atau bak plastik bekas. Yang penting mudah dibersihkan dan tidak
beracun."
"Bambu! Banyak bambu di desa kita," usul Pak
Carik.
"Setuju. Lalu di mana lokasinya?"
Raka membuka peta sederhana. "Di tiga titik: dekat
pohon beringin, dekat sungai kering, dan dekat batu besar. Itu adalah tempat
yang sering dilalui kancil."
Hari berikutnya, gotong royong dimulai. Warga
berbondong-bondong ke hutan—bukan untuk menebang, tapi untuk membangun. Mereka
membawa bambu, peralatan, dan bekal makanan.
Tim Penyelidik Cilik menjadi pemandu. Mereka menunjukkan
lokasi-lokasi yang tepat. Kai dan kawanannya mengamati dari kejauhan, awas tapi
tenang. Mereka tahu manusia sedang membantu.
"Ini dia tempatnya," kata Raka di titik pertama.
"Di sini tanahnya cekung, cocok untuk tampungan air."
Warga segera bekerja. Ada yang memotong bambu, ada yang
menggali tanah, ada yang merangkai bak penampungan. Suasana riuh rendah, tapi
penuh semangat.
Bu Tini datang dengan dagangannya. "Makan! Makan dulu!
Biar kuat!"
Ibu-ibu lain juga membawa makanan. Suasana lebih seperti
piknik daripada kerja bakti.
Di sela-sela kerja, Raka melihat Kai duduk di bawah pohon,
mengamati dari kejauhan. Ia menghampiri.
"Kai, ini semua untuk kalian. Tempat minum. Nanti
kalian nggak perlu ke desa lagi."
Kai menatapnya. Matanya berkaca-kaca? Atau hanya pantulan
cahaya? Raka tak tahu pasti, tapi ia merasa Kai mengerti.
Beberapa warga melihat interaksi itu. Mereka tak
mengganggu, hanya tersenyum. Kepercayaan antara manusia dan kancil mulai terbangun.
Tiga hari kemudian, tempat minum pertama selesai. Bak bambu
besar berisi air jernih siap digunakan. Warga berkumpul di kejauhan, menunggu
dengan harap-harap cemas.
Tak lama, seekor kancil muda mendekat. Ia mengendus-endus
udara, waspada. Lalu melihat bak berisi air. Dengan hati-hati, ia mendekat dan
menjilat air itu.
Segar!
Ia minum dengan lahap. Tak lama, kancil-kancil lain
menyusul. Suasana haru menyelimuti warga. Ada yang bertepuk tangan, ada yang
menangis.
"Berhasil!" seru Pak Kades.
Raka, Wati, dan Bejo berpelukan. Mereka hampir tak percaya.
Mimpi mereka menjadi kenyataan.
Setelah tempat minum berfungsi, program selanjutnya:
penanaman tanaman pakan. Lahan di pinggir hutan yang disiapkan mulai digarap.
Warga membawa bibit: rumput gajah, ketela pohon, dan
sayuran-sayuran. Mereka menanam dengan hati-hati, berharap tanaman ini bisa
menjadi sumber makanan alternatif bagi kancil.
Tim Penyelidik Cilik mendapat tugas khusus: mengawasi
pertumbuhan tanaman dan memastikan kancil tidak merusaknya sebelum cukup umur.
"Kalau mereka makan sebelum besar, percuma," kata
Raka.
"Gimana cara ngawasinnya?" tanya Bejo.
"Kita pasang pagar sederhana dulu. Setelah besar, baru
dibuka."
Yang paling menggembirakan dari program ini adalah
perubahan sikap warga. Mereka yang tadinya benci kancil, kini mulai peduli.
Bahkan ada yang memberi nama pada kancil-kancil yang sering terlihat.
"Si Telinga Lecek, itu yang suka makan di pojok."
"Si Ekor Pendek, yang jalannya agak pincang."
"Si Gendut, yang paling rakus."
Kai sendiri mendapat nama kehormatan: "Mbah
Kancil". Warga mulai mengenalnya sebagai pemimpin bijaksana yang patut
dihormati.
Anak-anak desa juga mulai tertarik pada kancil. Mereka
sering main ke pinggir hutan, mengamati dari kejauhan. Tim Penyelidik Cilik
jadi pemandu wisata dadakan.
"Itu Si Telinga Lecek. Jangan dekat-dekat, dia
pemalu."
Kabar tentang Program Konservasi Bojong Sari menyebar ke
luar desa. Pemerintah kecamatan mendengar dan tertarik. Mereka mengirim tim
untuk melihat langsung.
"Luar biasa," kata Pak Camat setelah melihat
tempat minum buatan dan interaksi warga dengan kancil. "Ini contoh nyata
konservasi berbasis masyarakat. Akan saya usulkan ke bupati untuk didanai."
Tak lama, bantuan datang. Dana dari pemerintah untuk
pengembangan program. Bak bambu diganti dengan bak semen yang lebih permanen.
Tanaman pakan diperluas. Bahkan dibangun pos pengamatan kecil di pinggir hutan.
Tim Penyelidik Cilik resmi diangkat sebagai "Duta
Konservasi Cilik" oleh pemerintah kecamatan. Mereka dapat piagam, uang
pembinaan, dan yang paling membanggakan: seragam khusus.
"Wah, kita jadi selebriti desa," ledek Bejo
sambil memamerkan seragamnya.
Setiap bulan, Tim Penyelidik Cilik mengadakan evaluasi
program bersama perangkat desa. Mereka mencatat perkembangan:
·
Bulan pertama: 3 tempat
minum berfungsi, kunjungan kancil meningkat 50%.
·
Bulan kedua: tanaman
pakan mulai tumbuh, serangan ke ladang menurun 30%.
·
Bulan ketiga: populasi
kancil mulai stabil, anak-anak kancil terlihat lebih sehat.
"Ini progres yang bagus," kata Raka dalam
evaluasi. "Tapi kita harus terus waspada. Kemarau belum berakhir."
Pak Kades mengangguk. "Kita siapkan cadangan air. Dan
kita terus pantau kondisi hutan."
Setelah bantuan dari pemerintah, tempat minum buatan
ditingkatkan kualitasnya. Bak bambu diganti dengan bak semen yang lebih besar
dan kokoh. Ada tiga bak di tiga titik strategis:
1.
Titik Beringin - dekat pohon beringin tempat Kai biasa duduk. Bak
ini paling besar, bisa menampung hingga 500 liter air.
2.
Titik Sungai - di dekat sungai kering, untuk memudahkan pengisian
air jika sungai kembali mengalir.
3.
Titik Batu - dekat batu besar, tempat yang teduh dan sejuk.
Setiap bak dilengkapi dengan saluran air sederhana dari
mata air yang masih tersisa. Warga bergiliran memeriksa dan membersihkan bak
setiap hari.
Program konservasi menciptakan rutinitas baru bagi warga.
Setiap pagi, sebelum ke ladang, beberapa warga akan memeriksa bak-bak air.
Mereka memastikan air cukup, membersihkan kotoran, dan mencatat jumlah kancil
yang datang.
Pak Carik yang paling rajin. Ia selalu membawa buku
catatan, menulis pengamatannya.
"Hari ini 25 kancil minum di titik Beringin. 15 di
titik Sungai. 10 di titik Batu. Total 50 ekor. Luar biasa!"
Ibu-ibu juga ikut andil. Mereka membuat jadwal memasak
"jajan pasar" untuk dibawa ke pos pengamatan. Tradisi baru: ngopi
sambil ngamatin kancil.
Semakin sering berinteraksi, semakin dekat hubungan warga
dengan kancil. Kancil-kancil itu tak lagi lari ketakutan setiap melihat
manusia. Mereka mulai terbiasa, bahkan beberapa yang paling berani mau
didekati.
Si Telinga Lecek, kancil yang paling sering terlihat di
titik Beringin, kadang mau makan dari tangan. Ia akan mendekat, mengendus, lalu
mengambil daun dengan lembut.
Warga senang. Mereka merasa dihargai. "Dia percaya
sama kita," kata Bu Tini.
Kai tetap menjaga jarak. Ia duduk di bawah pohon beringin,
mengawasi semuanya. Tapi sesekali, saat Raka datang, ia akan mendekat dan
menyandarkan kepala di pangkuannya.
Momen itu selalu mengharukan. Manusia dan kancil, duduk
bersama di bawah pohon. Damai.
Suatu pagi, Wati datang berlari ke rumah Raka. "Ra!
Ra! Ada kabar gembira!"
Raka yang sedang sarapan langsung berhenti.
"Apa?"
"Di titik Beringin, ada anak kancil lahir! Bayi!
Mungil!"
Raka langsung berlari ke titik Beringin. Di sana, warga
sudah berkumpul. Mereka mengamati dari kejauhan.
Di bawah pohon beringin, seekor induk kancil sedang
menjilati bayinya yang baru lahir. Bayi itu masih basah, bulunya belum kering.
Ia terlihat lemah, tapi hidup.
"Itu pertanda baik," kata Mbah Kromo yang ikut
datang. "Di musim kemarau begini, jarang ada hewan melahirkan. Tapi dengan
adanya air dan makanan dari kita, mereka bisa bertahan."
Semua orang tersenyum. Anak kancil itu simbol harapan.
Harapan bahwa program konservasi berhasil. Harapan bahwa masa depan yang lebih
baik sedang menanti.
Warga sepakat memberi nama anak kancil itu. Usul-usul
bermunculan.
"Kasih nama Kemarau!"
"Nggak bagus. Kasih nama Harapan!"
"Atau nama Dewi Sri?"
Diskusi seru, sampai akhirnya Raka angkat bicara. "Bagaimana
kalau kita kasih nama Asih? Artinya kasih sayang. Karena dia lahir dari kasih
sayang kita semua."
Semua setuju. "Asih! Nama yang bagus!"
Maka anak kancil itu bernama Asih. Dan sejak saat itu,
tradisi memberi nama pada kancil dimulai. Warga merasa lebih dekat, lebih
peduli. Mereka bukan lagi "hewan pengganggu", tapi
"sahabat" yang punya nama dan identitas. Tempat minum buatan ini
mengajarkan banyak hal pada warga. Bahwa alam itu sistem yang rumit, tapi
indah. Bahwa setiap makhluk punya peran. Bahwa membantu yang lemah adalah
kebaikan yang akan kembali pada diri sendiri.
Pak Kades dalam suatu kesempatan berpidato, "Kita
belajar dari kancil. Mereka mengajarkan kita tentang perjuangan hidup, tentang
kebersamaan, tentang kepemimpinan. Dan kita belajar dari anak-anak kita, yang
mengajarkan kita tentang kepedulian dan keberanian."
Semua orang menoleh ke arah Tim Penyelidik Cilik. Raka,
Wati, Bejo, tersipu malu.
"Terima kasih, Tim Detektif Cilik!"
Tepuk tangan meriah. Mereka bertiga tersenyum. Inilah
puncak dari semua perjuangan. Tapi mereka tahu, perjalanan belum selesai. Masih
ada ujian di depan.
BAGIAN TUJUH: UJIAN
TERAKHIR
Bulan berganti, tapi hujan tak kunjung datang. Kemarau
tahun itu ternyata sangat panjang dan ganas. Lebih dari biasanya. Mata air
kecil yang selama ini menjadi sumber pengisi bak minum buatan mulai menunjukkan
tanda-tanda kekeringan.
Debit air berkurang drastis. Warga yang tadinya bisa
mengisi bak setiap dua hari sekali, kini harus berjuang mencari air dari sumber
yang lebih jauh. Sungai di desa mulai mengering. Sumur-sumur warga mulai
berkurang airnya.
"Pak Kades, air sumur saya tinggal setengah!"
"Pak Kades, sawah saya retak-retak!"
Keluhan datang setiap hari. Pak Kades kewalahan.
Program konservasi terancam gagal. Bak-bak air mulai
mengering. Warga harus memilih: mengisi bak untuk kancil, atau menyimpan air
untuk kebutuhan sendiri.
Rapat darurat diadakan. Suasana tegang.
"Maaf, Pak Kades. Saya rasa kita harus prioritas untuk
manusia dulu," kata Pak Joko. "Kancil bisa cari air sendiri."
"Cari di mana? Hutan sudah kering total," balas
Pak Carik.
"Ya itu urusan mereka. Kita juga susah."
Raka berdiri. Semua memandang.
"Bapak-bapak, saya paham kesulitan kita. Tapi ingat,
kalau bak ini kering, kancil akan kembali ke ladang. Dan kali ini mungkin lebih
ganas. Mereka akan melakukan apa pun untuk bertahan hidup."
"Lalu kita harus apa? Mengorbankan kebutuhan kita?"
"Bukan mengorbankan. Tapi berbagi. Kita bagi air
secara adil. Untuk manusia dan untuk kancil. Kita kurangi penggunaan air yang
tidak perlu. Kita hemat."
Warga akhirnya sepakat. Mereka akan berbagi air. Setiap
rumah diminta mengurangi pemakaian air. Mandi sekali sehari, cuci baju seminggu
sekali, siram tanaman dengan air bekas cucian.
Tim Penyelidik Cilik mendapat tugas baru: mengatur jadwal
pengisian bak. Mereka harus memastikan bak-bak itu tidak kosong, meski air terbatas.
Setiap pagi, Raka, Wati, dan Bejo berkeliling ke tiga titik
bak. Mereka mengecek ketinggian air, mencatat, lalu melaporkan ke Pak Kades.
Warga yang bertugas mengangkut air akan mendapat informasi berapa banyak yang
harus dibawa.
"Ini kerja ekstra," keluh Bejo sambil mengusap
keringat. "Tapi demi kancil, kita lakukan."
Bak air yang semakin jarang terisi membuat kancil mulai
gelisah. Mereka kembali terlihat mondar-mandir di pinggir hutan dengan lidah
menjulur kehausan. Sesekali mereka mendekati bak yang kering, menjilati
dindingnya yang basah, mencari sisa air.
Kai, pemimpin mereka, tampak lebih sering duduk di bawah
pohon beringin, menatap ke arah desa. Matanya sayu. Ia tahu, warga juga
kesulitan. Tapi kawanannya harus selamat.
Suatu sore, Raka melihat Kai di dekat bak yang hampir
kering. Ia duduk di sampingnya.
"Kai, kita sedang berusaha. Tapi air semakin sulit.
Mohon bersabar."
Kai menoleh. Matanya berkata, "Aku mengerti.
Tapi anak-anakku kehausan."
Raka mengelus kepala Kai. "Aku akan cari cara.
Janji."
Malam harinya, Raka tak bisa tidur. Ia memikirkan solusi.
Bagaimana cara mendapatkan air di tengah kekeringan?
Tiba-tiba, ia teringat pelajaran sekolah tentang daur air.
Tentang penguapan, kondensasi, dan presipitasi. Tentang bagaimana air bisa
diambil dari udara.
"Udara! Udara mengandung uap air!"
Pagi harinya, ia langsung mencari Pak Carik. "Pak,
saya punya ide!"
"Ide apa, Nak?"
"Kita bisa ambil air dari udara. Pakai jaring
kabut!"
Raka menjelaskan konsep jaring kabut: jaring-jaring yang
dipasang di tempat tinggi untuk menangkap kabut. Butir-butir air di kabut akan
menempel di jaring, lalu menetes ke penampungan.
"Di desa kita, kabut sering turun di pagi hari.
Apalagi di daerah dekat hutan. Itu bisa kita manfaatkan!"
Pak Carik terbelalak. "Ini ide gila! Tapi... bisa
dicoba!"
Mereka segera mengumpulkan warga. Raka menjelaskan idenya
dengan bantuan gambar sederhana.
"Ini murah, Pak, Bu. Cuma butuh jaring, tiang, dan
penampungan. Kalau berhasil, kita bisa dapat air gratis dari kabut."
Warga awalnya skeptis. Tapi karena tak ada pilihan lain,
mereka setuju mencoba.
Dengan gotong royong, warga memasang jaring kabut di tiga
tempat: dekat titik beringin, di lereng bukit, dan di pinggir hutan. Mereka
menggunakan jaring nilon bekas, tiang bambu, dan ember penampungan.
Proses pemasangan memakan waktu dua hari. Tim Penyelidik
Cilik mengawasi, memastikan semuanya sesuai rencana.
"Semoga berhasil," doa Raka saat jaring terakhir
terpasang.
Malam itu, kabut turun sangat tebal. Jaring-jaring itu
bekerja menangkap butir-butir air.
Pagi harinya, warga bergegas ke lokasi jaring kabut. Apa
yang mereka lihat membuat semua orang tercengang.
Di bawah jaring, ember-ember penampungan terisi air! Tidak
banyak, tapi cukup untuk puluhan liter. Air itu jernih dan segar.
"Berhasil! Berhasil!" teriak warga.
Raka tersenyum lebar. Idinya bekerja. Kini mereka punya
sumber air alternatif.
Pak Kades memeluk Raka. "Kamu jenius, Nak! Kamu
penyelamat desa!"
Raka hanya tersenyum malu. Dalam hati, ia bersyukur. Kai dan
kawanannya bisa minum lagi.
Suatu pagi, Raka pergi ke titik Beringin seperti biasa.
Tapi kali ini, Kai tak menyambutnya di bawah pohon. Ia mencari ke sana kemari,
tapi Kai tak terlihat. Raka mulai cemas. Ia masuk ke hutan, menyusuri jalan
yang biasa mereka lewati. Setelah beberapa saat, ia menemukan Kai.
Kai tergeletak di bawah semak, dekat sungai yang benar-benar
kering. Napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya semakin kurus. Matanya sayu, hampir
tertutup.
"Kai!" Raka berlari dan berlutut di sampingnya.
Kai membuka mata sedikit. Begitu melihat Raka, matanya
berbinar, meski redup. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi tak mampu.
"Kamu sakit, Kai? Kenapa?"
Kai tak bisa menjawab. Hanya napasnya yang berat terdengar.
Raka tak berpikir panjang. Ia berlari sekencang-kencangnya
ke desa. Ia cari ayahnya, Pak Tani, yang sedang di sawah.
"Yah! Yah! Kai sakit! Tolong!"
Pak Tani kaget. "Kai? Kancil itu?"
"Iya, Yah. Dia tergeletak di hutan. Kayaknya mau
mati!"
Pak Tani segera memanggil warga lain. Dalam hitungan menit,
beberapa orang berkumpul: Pak Tani, Pak Carik, Guntur, dan beberapa pemuda.
"Mana Kai? Tunjukkan!"
Raka memimpin mereka ke lokasi Kai. Begitu sampai, semua
orang tertegun melihat kondisi kancil tua itu.
"Kasihan sekali," bisik Pak Carik.
"Kita harus bawa dia ke desa," kata Pak Tani.
"Tapi dia kancil liar. Apa bisa?" Guntur ragu.
"Kita coba. Demi persahabatan."
Dengan hati-hati, mereka mengangkat Kai. Kancil tua itu tak
melawan. Ia terlalu lemah. Mereka membawanya ke rumah Pak Tani, karena paling
dekat dengan hutan.
Bu Tani yang melihat kedatangan mereka, kaget. "Itu...
itu kancil?"
"Iya, Bu. Ini Kai, sahabat Raka. Dia sakit. Tolong
rawat."
Bu Tani ragu, tapi melihat ketulusan di mata Raka, ia
mengangguk. "Bawa ke belakang. Siapkan kandang darurat."
Kai ditempatkan di kandang darurat beralas jerami. Raka tak
pernah meninggalkannya. Ia memberi air sedikit demi sedikit dengan dot, lalu
bubur sayuran yang lembut.
Awalnya Kai tak mau makan. Ia hanya memandangi Raka dengan
mata sayu.
"Makan, Kai. Biar kuat."
Perlahan, Kai membuka mulut. Ia menelan bubur itu sedikit
demi sedikit. Raka tersenyum.
Wati dan Bejo datang membantu. Mereka bergantian menjaga
Kai. Warga lain juga datang, membawa berbagai macam makanan dan obat
tradisional.
"Ini jamu, buat kuatkan badan," kata Bu Juminten.
"Ini madu, biar cepet sembuh," kata Bu Tini.
Kai, meski sakit, dikelilingi oleh kasih sayang manusia.
Ironis, karena beberapa bulan lalu, manusia ingin membunuhnya.
Malam pertama, Kai masih lemah. Raka tak mau pulang. Ia
tidur di samping kandang, sesekali bangun memeriksa Kai.
"Ra, tidur di dalam saja," kata Bu Tani.
"Nggak, Bu. Aku jagain Kai."
Bu Tani menghela napas, tapi mengerti. Ia membawakan
selimut dan bantal.
Malam itu, Kai beberapa kali terbangun dan minum. Raka
selalu siap dengan dot berisi air. Ia mengelus kepala Kai, menenangkannya.
"Kamu pasti sembuh, Kai. Janji."
Hari kedua, Kai mulai bisa duduk. Hari ketiga, ia mulai
makan lahap. Hari keempat, ia sudah bisa berdiri meski masih goyah.
Raka senang bukan main. Ia memeluk Kai dengan hati-hati.
"Kai, kamu baik-baik aja!"
Kai menjilat tangan Raka. Matanya kembali bersinar. Ia
menggerakkan telinganya, seperti berterima kasih.
Wati dan Bejo ikut senang. Mereka bergantian mengelus Kai.
Seminggu kemudian, Kai sudah benar-benar pulih. Ia kembali
lincah, bahkan kadang melompat-lompat kecil di kandangnya.
Saatnya mengembalikan Kai ke hutan.
Raka sedih, tapi tahu ini yang terbaik. Kai punya kawanan
yang menunggu. Ia harus kembali memimpin.
Pagi itu, Raka, Wati, Bejo, dan beberapa warga mengantar
Kai ke pinggir hutan. Kai berjalan di samping Raka, sesekali menyandarkan
kepala di pundaknya.
Sesampainya di batas hutan, Raka berhenti. "Kai, ini
batasnya. Kamu harus pulang."
Kai menatapnya lama. Lalu, dengan gerakan yang sangat
lambat, ia menundukkan kepala. Memberi hormat. Berterima kasih.
Raka menangis. Ia memeluk Kai erat-erat. "Jaga dirimu,
Kai. Jaga kawananmu. Aku akan sering ke sini."
Setelah itu, Kai berbalik. Ia berjalan perlahan masuk ke
hutan. Sesekali menoleh. Tiga kali menoleh, lalu lenyap di balik pepohonan.
Raka, Wati, dan Bejo terdiam. Air mata mengalir di pipi
mereka. Tapi hati mereka hangat. Kai selamat. Persahabatan mereka abadi.
Beberapa hari setelah Kai pulang, terjadi peristiwa
dramatis. Suatu sore, Guntur yang sedang mencari kayu di hutan, melihat sesuatu
yang mengerikan.
Asap! Tebal dan hitam, mengepul dari arah dalam hutan!
Guntur berlari sekencang-kencangnya ke desa.
"Kebakaran! Kebakaran hutan!"
Warga panik. Api di musim kemarau bisa membesar dengan
cepat. Apalagi hutan Manoreh kering kerontang.
Pak Kades segera mengumpulkan warga. "Semua siapkan
alat! Ember, cangkul, golok! Kita padamkan api!"
Di tengah kepanikan, Raka teringat Kai dan kawanannya.
"Kai! Mereka di dalam hutan!"
Tanpa pikir panjang, Raka berlari ke arah hutan. Wati dan
Bejo mengikuti.
"Ra, bahaya!" teriak Pak Tani.
"Tapi Kai di sana, Yah!"
Pak Tani ragu, lalu mengikuti. Beberapa pemuda juga ikut.
Mereka berlari menuju titik Beringin, tempat biasanya Kai
berada. Di sana, pemandangan mengerikan: api sudah mendekat. Kawanan kancil
panik, berlari tak beraturan.
Kai berdiri di tengah, mencoba menenangkan kawanannya. Tapi
mereka terlalu takut.
"Kai!" teriak Raka.
Kai menoleh. Matanya cemas, tapi juga lega melihat Raka.
Raka, Wati, dan Bejo segera bertindak. Mereka tahu
kancil-kancil itu percaya pada mereka.
"Ke sini! Ikuti kami!" teriak Raka sambil berlari
ke arah yang aman.
Ajaibnya, kancil-kancil itu mulai mengikuti. Mereka lari di
belakang Raka, Wati, dan Bejo, seperti anak itik mengikuti induknya.
Kai memimpin dari belakang, memastikan tak ada yang
tertinggal.
Pak Tani dan pemuda lain membantu mengarahkan kancil-kancil
yang tersesat. Mereka membentuk barisan manusia, memandu hewan-hewan itu keluar
dari hutan.
Di tengah evakuasi, Wati melihat seekor anak kancil
terjatuh. Kakinya terluka. Induknya panik di sampingnya.
"Tunggu!" teriak Wati.
Ia berlari ke arah anak kancil itu, mengangkatnya dengan
hati-hati. Induknya mengikuti, cemas tapi tak menyerang.
Wati berlari membawa anak kancil itu. Bejo membantu
mengusir api yang mulai mendekat dengan ranting basah.
Mereka berhasil menyelamatkan anak kancil itu tepat sebelum
api mencapai tempat itu.
Saat evakuasi hampir selesai, tiba-tiba langit mendadak
gelap. Awan hitam bergulung cepat. Angin kencang bertiup.
Dan kemudian... hujan turun.
Bukan hujan biasa. Hujan deras, seperti air bah dari
langit. Api yang berkobar perlahan padam. Asap berganti uap air.
Semua orang tercengang. Hujan di musim kemarau? Ini
keajaiban!
Warga berteriak gembira. Mereka menari-nari di bawah hujan.
Kancil-kancil juga tenang, menikmati air yang membasahi tubuh mereka.
Raka menengadah ke langit. Air hujan bercampur air matanya.
"Terima kasih," bisiknya.
Hujan itu menyelamatkan hutan. Api padam. Hutan Manoreh
selamat. Kawanan kancil selamat. Semua berkat kerja sama dan keberanian.
Malam harinya, warga mengadakan syukuran sederhana. Mereka
bersyukur atas hujan, atas keselamatan, atas kebersamaan.
Pak Kades berpidato dengan mata berkaca-kaca. "Hari
ini kita menyaksikan keajaiban. Tapi keajaiban terbesar adalah keberanian
anak-anak kita. Raka, Wati, Bejo, kalian pahlawan sesungguhnya."
Tepuk tangan riuh. Tim Penyelidik Cilik tersipu malu, tapi
bahagia.
Di pinggir hutan, di bawah pohon beringin, Kai duduk
bersama kawanannya. Mereka memandang ke arah desa yang berpesta. Kai menunduk,
memberi hormat pada sahabat-sahabatnya.
Hujan itu adalah pertanda. Musim kemarau panjang akhirnya
berakhir. Esoknya, hujan kembali turun. Dan esoknya lagi. Hutan mulai hijau
kembali. Sungai mulai mengalir. Mata air kembali hidup.
Kawanan kancil tak perlu lagi bergantung pada pemberian
makan. Mereka bisa kembali hidup mandiri di hutan yang pulih.
Tapi mereka tak pernah lupa. Setiap sore, di bawah pohon
beringin, Kai dan beberapa kancil lain selalu datang. Mereka duduk, menunggu.
Menunggu sahabat mereka datang.
Dan setiap sore, Raka, Wati, dan Bejo selalu datang. Mereka
duduk bersama, berbincang dalam bahasa yang tak perlu kata. Persahabatan yang
tak terduga, tapi abadi.
Dua minggu setelah kebakaran, Kai benar-benar pulih.
Bulunya yang tadinya kusam, kini mulai mengilap lagi. Matanya kembali tajam dan
bijaksana. Ia kembali memimpin kawanannya dengan penuh wibawa.
Raka senang melihatnya. Setiap sore, ia selalu menyempatkan
diri ke pohon beringin. Kadang sendiri, kadang dengan Wati dan Bejo. Mereka
duduk bersama Kai, kadang berbincang, kadang hanya diam.
"Hari ini banyak kancil yang minum di bak," lapor
Raka. "Mungkin karena hujan sudah turun, mereka lebih jarang ke
desa."
Kai menggerakkan telinganya. Seperti mengangguk.
"Kamu pasti senang ya, Kai? Kawananmu selamat. Hutan
pulih."
Kai menatapnya. Matanya berkata, "Terima
kasih, kawan."
Suatu sore, saat Raka hendak pulang, Kai tiba-tiba
menggamit celananya. Ia menarik pelan, mengajak ke arah hutan.
"Kai, mau ke mana? Aku harus pulang, sebentar lagi
maghrib."
Tapi Kai terus menariknya. Raka penasaran. Ia memanggil
Wati dan Bejo yang kebetulan masih di sekitar.
"Hei, Kai ngajak kita ke hutan."
"Ke mana?" tanya Wati.
"Nggak tahu. Tapi sepertinya penting."
Mereka bertiga mengikuti Kai masuk ke hutan. Kali ini tidak
terlalu dalam. Hanya sampai di sebuah tempat yang belum pernah mereka lihat:
sebuah padang rumput kecil, dengan bunga-bunga liar bermekaran. Di tengahnya,
ada sebuah batu besar, datar seperti meja.
"Wah, indah sekali," seru Wati.
"Ini tempat apa?"
Kai naik ke atas batu itu. Ia duduk, lalu menoleh ke arah
mereka. Seperti mempersilakan naik.
Begitu mereka naik dan duduk di atas batu, sesuatu yang ajaib
terjadi.
Dari balik semak-semak, muncullah puluhan kancil. Mereka
berbaris rapi, lalu mulai bergerak dalam formasi. Seperti sedang menari.
"Mereka... mereka menari?" tanya Bejo tak
percaya.
"Iya. Mereka menari untuk kita."
Tarian itu indah. Gerakannya lincah, kadang cepat, kadang
lambat. Kadang berputar, kadang melompat. Mereka seperti sedang bercerita
melalui gerakan.
Setelah tarian, giliran atraksi lain. Seekor kancil muda
berlari kencang, lalu melompati punggung kancil lain yang membungkuk. Seperti sirkus.
Yang lain berguling-guling, berjungkir balik, melakukan
berbagai atraksi lucu.
Tim Penyelidik Cilik tertawa terbahak-bahak. Ini
pertunjukan yang tak pernah mereka bayangkan.
Setelah semua atraksi selesai, Kai turun dari batu. Ia
berjalan ke arah Raka. Lalu, dengan gerakan tiba-tiba, ia pura-pura pincang.
Jalannya timpang, seperti sakit.
"Kai, kenapa?" Raka cemas.
Tapi Kai lalu lari kencang, berputar, lalu kembali
pincang-pincang. Lalu lari lagi. Lalu pura-pura jatuh. Lalu bangkit dan
melompat-lompat.
Wati yang pertama mengerti. "Dia... dia bercanda! Dia
pura-pura!"
Raka dan Bejo baru sadar. Mereka tertawa. Kai, si cerdik,
melakukan tipu daya terakhirnya. Bukan untuk menipu, tapi untuk menghibur.
Untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Untuk mengucapkan terima kasih
dengan caranya sendiri.
"Kai, kamu ini!" Raka tertawa sambil memeluknya.
Kai menjilat tangan Raka. Matanya berbinar. Mereka tertawa
bersama di padang bunga itu.
Setelah pertunjukan selesai, Kai duduk di hadapan mereka.
Matanya serius, tapi hangat. Ia menatap mereka satu per satu: Raka, Wati, Bejo.
Lalu perlahan, ia menundukkan kepala. Bukan sekali, tapi
tiga kali. Seperti membungkukkan badan. Seperti memberi hormat pada sahabat.
Raka mengerti. Ini adalah cara Kai mengucapkan terima
kasih. Terima kasih telah menyelamatkan kawanannya. Terima kasih telah menjadi
sahabat. Terima kasih atas segalanya.
Raka menunduk membalas. Wati dan Bejo juga.
Mereka duduk diam beberapa saat. Tak ada yang bicara. Tak
perlu bicara. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, memancarkan sinar keemasan
di padang bunga itu.
Setelah matahari hampir tenggelam, Kai bangkit. Ia berjalan
ke arah hutan. Kawanannya mengikuti dari belakang.
Di batas padang rumput, Kai berhenti. Ia menoleh untuk
terakhir kalinya. Menatap Raka, Wati, Bejo.
Raka mengangkat tangan, melambai. "Sampai jumpa, Kai.
Jaga dirimu."
Kai menggerakkan telinganya. Lalu berlari kecil masuk ke
hutan, menghilang di balik pepohonan.
Tim Penyelidik Cilik masih duduk di atas batu. Mereka tak
ingin segera pulang. Momen ini terlalu berharga untuk dilewatkan.
"Ia akan baik-baik saja," kata Wati.
"Ia pemimpin yang hebat," timpal Bejo.
Raka tersenyum. "Kita beruntung mengenalnya."
Mereka pulang saat hari hampir gelap. Di saku celananya,
Raka membawa sesuatu: sebuah batu kecil berwarna putih, yang diberikan Kai
sebelum pergi. Batu itu halus, bundar, seperti kerikil sungai.
"Apa ini?" tanya Wati.
"Aku nggak tahu. Mungkin hadiah dari Kai."
Mereka bertiga memandangi batu itu. Batu kecil yang tak
berharga secara materi, tapi tak ternilai secara makna. Simbol persahabatan
antara manusia dan kancil.
Raka menyimpannya di dalam kotak khusus di kamarnya. Setiap
kali melihatnya, ia akan teringat pada Kai. Pada petualangan yang tak
terlupakan. Pada pelajaran tentang kehidupan.
EPILOG – Pelajaran dari
Kaki Bukit Manoreh
Musim hujan kembali datang dengan normal. Hutan Manoreh
kembali hijau, mata airnya kembali mengalir deras. Bak-bak minum buatan tetap
dirawat oleh warga sebagai monumen perdamaian. Kadang masih digunakan oleh
kancil, kadang tidak. Tapi mereka tetap menjaganya, sebagai pengingat.
Ladang-ladang di Bojong Sari kembali subur. Tak ada lagi
serangan kancil. Sesekali, di pagi hari, warga melihat sekawanan kancil datang
ke pinggir hutan, sekadar melihat-lihat, lalu pergi dengan tenang. Seperti
mereka hanya ingin memastikan bahwa sahabat-sahabat mereka di desa baik-baik
saja.
Pak Tani kini tak hanya dikenal sebagai petani, tapi juga
sebagai salah satu penggerak konservasi desa. Ia sering diminta bicara di
acara-acara pertanian, berbagi pengalaman tentang hidup berdampingan dengan
satwa liar.
Bu Tani membuka usaha kecil-kecilan: "Kopi
Kancil", kopi bubuk produksi desa dengan gambar Kai di kemasannya.
Lumayan, jadi oleh-oleh khas Bojong Sari.
Wati dan Bejo tetap menjadi detektif cilik, tapi sekarang
mereka lebih sering mengajak anak-anak lain untuk mengamati satwa. Mereka
mendirikan "Klub Sahabat Alam" yang anggotanya puluhan anak. Setiap
minggu, mereka melakukan kegiatan: membersihkan hutan, mengamati burung, atau
sekadar main ke pinggir hutan untuk melihat kancil.
Bejo, yang dulu penakut, sekarang jadi pelopor. Ia paling
berani masuk hutan, paling jago melacak jejak. Badannya tetap gembul, tapi itu
tak masalah. Malah jadi maskot klub.
Wati jadi instruktur utama. Ia mengajarkan pada anak-anak
cara mengamati hewan tanpa mengganggu, cara membaca jejak, dan cara mencintai
alam.
Dan Raka?
Raka kini menjadi pahlawan kecil di desanya. Buku
catatannya yang usang kini tersimpan rapi di museum desa—museum kecil yang
didirikan untuk mengenang peristiwa besar itu. Di dalamnya ada foto-foto,
dokumen, dan batu putih pemberian Kai.
Raka masih sering ke pohon beringin. Sendirian. Duduk di
bawahnya, menatap ke arah hutan. Kadang Kai muncul, kadang tidak. Tapi saat
mereka bertemu, selalu ada kebahagiaan yang tak tergambarkan.
Bojong Sari tetap menjadi permata di kaki Manoreh, namun
kini permata itu bersinar lebih terang, diterangi oleh pelajaran berharga:
Bahwa alam bukanlah musuh yang harus ditaklukkan, melainkan
saudara yang harus dipahami.
Bahwa di balik setiap masalah, selalu ada akar yang harus
dicari. Jangan pernah puas dengan solusi permukaan.
Bahwa anak-anak, dengan kepolosan dan keberaniannya, kadang
bisa melihat apa yang tak dilihat orang dewasa.
Dan yang terpenting: bahwa persahabatan sejati bisa terjadi
di mana saja, dengan siapa saja, bahkan dengan makhluk yang paling tak terduga
sekalipun.
Konon, di malam-malam tertentu, saat bulan purnama bersinar
terang, orang-orang Bojong Sari masih bisa mendengar suara aneh dari puncak
bukit. Suara lengkingan panjang, seperti nyanyian. Mereka percaya itu adalah Kai
dan kawanannya, sedang melakukan ritual bulan purnama. Ritual untuk bersyukur.
Ritual untuk mengenang.
Dan di bawah pohon beringin, di sebuah batu besar, sering
terlihat tiga bocah duduk bersila. Kadang sendiri, kadang bertiga. Mereka
memandang ke arah hutan, tersenyum, lalu pulang dengan hati tenang.
Mereka tahu, di balik pepohonan itu, ada sahabat yang
selalu menanti. Sahabat yang tak akan pernah melupakan kebaikan. Sahabat yang
mengajarkan arti kehidupan.
TAMAT
PENUTUP
Demikianlah kisah "Misteri Kancil Bukit Manoreh",
sebuah novel tentang petualangan, persahabatan, dan keberanian tiga bocah desa
yang mengubah cara pandang seluruh warganya. Semoga kisah ini menginspirasi
pembaca untuk lebih peduli pada alam dan semua makhluk di dalamnya.
Karena pada akhirnya, kita semua adalah bagian dari alam
yang sama. Dan hanya dengan saling memahami, kita bisa hidup berdampingan
dengan damai.
Salam dari Sriwidadi,
Slamet Riyadi











