Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid
Novelet Serial Abunawas Edisi I: Kecerdikan Akal dan Logika
Episode 5: Rahasia Surat Tanpa Tulisan dari Istana Baghdad
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG: PESAN YANG TAK TERBACA
Di penghujung musim gugur, ketika angin dari pegunungan
utara mulai berhembus membawa dingin yang menusuk tulang, menciptakan kabut
tipis yang menyelimuti menara-menara istana Baghdad di pagi hari, sebuah
peristiwa aneh terjadi di istana yang megah itu. Peristiwa yang tidak hanya
membingungkan para pejabat istana, tetapi juga membuat Baginda Raja Harun
Al-Rasyid sendiri tercenung berjam-jam di singgasananya, dengan selembar
perkamen di tangannya, dengan mata yang tidak berkedip, dengan pikiran yang
berputar-putar tanpa menemukan ujung.
Peristiwa itu berawal dari seorang utusan yang datang dari
negeri seberang, dari sebuah kerajaan besar di timur yang selama ini menjadi
mitra dagang sekaligus saingan politik kekhalifahan Abbasiyah. Utusan itu
datang dengan pakaian kebesaran yang sudah lusuh karena perjalanan panjang,
dengan kuda yang kelelahan, dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun selain
kelelahan seorang kurir yang telah menempuh ribuan mil. Ia tidak membawa peti
emas, tidak membawa hadiah, tidak membawa tawaran perdamaian atau pernyataan
perang. Ia hanya membawa sebuah surat. Sebuah surat yang diletakkan di atas
bantal sutra merah di dalam peti kayu cendana berukir, dijaga oleh empat
pengawal bersenjata lengkap sepanjang perjalanan, seolah-olah isinya adalah
rahasia terbesar yang pernah ada di dunia.
Para pejabat istana berkumpul di Aula Singgasana Agung
ketika utusan itu masuk. Mereka berbisik-bisik, saling bertanya, saling
menebak. Ada yang mengatakan bahwa surat itu adalah tawaran aliansi pernikahan
antara putra mahkota kerajaan timur dengan putri Baginda Raja. Ada yang
mengatakan bahwa surat itu adalah pernyataan perang yang terselubung, yang akan
mengubah peta kekuasaan di kawasan. Ada yang mengatakan bahwa surat itu adalah
rahasia dagang yang sangat berharga, tentang jalur rempah-rempah yang selama
ini diperebutkan. Ada yang mengatakan bahwa surat itu adalah… tidak ada yang
tahu. Semua orang hanya bisa menebak. Dan semua tebakan, seperti yang akan
segera diketahui, sama sekali meleset dari kebenaran.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menerima surat itu dengan
penuh kehormatan. Ia berdiri dari singgasananya ketika peti kayu cendana dibawa
masuk oleh keempat pengawal dengan gerakan yang penuh upacara. Ia sendiri yang
membuka peti itu dengan tangannya sendiri—sebuah kehormatan yang jarang ia
berikan kepada siapa pun. Ia mengeluarkan bantal sutra merah itu dengan
hati-hati, seperti seorang ahli permata yang sedang mengeluarkan berlian
terbesar dari peti penyimpanannya. Dan di atas bantal itu, tergeletak selembar
perkamen.
Perkamen itu bukan perkamen biasa. Perkamen itu terbuat
dari kulit kambing muda yang diproses dengan cara khusus, putih bersih seperti
salju di puncak gunung, halus seperti sutra, tipis seperti kabut pagi. Di
sekeliling tepinya, dihiasi dengan ukiran emas yang rumit, membentuk pola
bunga-bunga teratai dan burung phoenix yang sedang terbang—motif khas kerajaan
timur yang sangat terkenal dengan keindahannya. Di sudut kanan bawah, tertera
cap lilin merah dengan stempel kerajaan, masih utuh, belum pernah dibuka.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid membuka cap lilin itu dengan
pisau emas kecil yang disodorkan oleh Jafar. Suara lilin yang pecah terdengar
jelas di keheningan aula, seperti suara telur yang retak di pagi hari. Ia
membuka lipatan perkamen itu perlahan-lahan, dengan gerakan yang penuh
antisipasi, dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat dari
biasanya—meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya.
Dan ia melihat… kekosongan.
Perkamen itu kosong. Tidak ada satu huruf pun. Tidak ada
satu kata pun. Tidak ada satu kalimat pun. Tidak ada satu tanda baca pun. Tidak
ada satu coretan pun. Hanya putih bersih. Hanya kosong. Hanya… sunyi.
Aula yang tadinya sunyi menjadi lebih sunyi. Sunyi yang
begitu dalam hingga suara napas para pejabat yang menahan napas terdengar
seperti angin yang berhembus di lembah yang sepi. Sunyi yang begitu berat
hingga beberapa pejabat muda mulai gemetar, tidak tahu harus bereaksi
bagaimana. Sunyi yang begitu mencekam hingga Jafar, yang berdiri di samping
Baginda Raja, merasa dadanya sesak seperti sedang menahan beban gunung.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak mengatakan apa-apa. Ia
menatap perkamen kosong itu dengan mata yang tidak berkedip. Ia membaliknya,
memeriksa bagian belakangnya. Kosong. Ia mendekatkannya ke lampu minyak,
berharap melihat tulisan rahasia yang hanya muncul dengan panas. Kosong. Ia
membawanya ke jendela, membiarkan sinar matahari menyinari dari berbagai sudut,
berharap melihat tinta tak terlihat yang hanya muncul dengan cahaya. Kosong. Ia
menghirup aromanya, berharap mencium bau tinta atau sesuatu yang bisa menjadi
petunjuk. Hanya aroma kulit kambing yang sudah tua. Kosong.
Ia menatap utusan yang berdiri di hadapannya dengan wajah
datar, tidak menunjukkan apa pun.
"Apakah ini semua?" tanyanya, suaranya tenang
tetapi ada nada yang tidak biasa di dalamnya, nada yang membuat semua orang di
ruangan itu menegang.
"Ya, Baginda," jawab utusan itu, suaranya datar,
tidak bergetar. "Tuanku hanya memerintahkan saya untuk menyampaikan surat
ini. Tidak ada pesan lain. Tidak ada kata lain. Hanya surat ini."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak bertanya lagi. Ia hanya
mengangguk, memberi isyarat kepada Jafar untuk mengurus utusan itu, dan duduk
kembali di singgasananya dengan perkamen kosong di tangannya.
Para pejabat istana tidak bisa tidur malam itu. Mereka
berkumpul di ruang-ruang pertemuan, di perpustakaan, di koridor-koridor,
berbisik-bisik, berdebat, bertengkar, saling menuduh tidak mengerti, saling
menyalahkan tidak mampu. Sebuah surat kosong dari kerajaan besar di timur. Apa
artinya? Apakah itu penghinaan? Apakah itu ujian? Apakah itu kode rahasia?
Apakah itu pernyataan perang yang terselubung? Apakah itu tawaran perdamaian
yang tidak biasa? Apakah itu… tidak ada yang tahu.
Para penasihat istana, para cendekiawan yang terkenal
dengan kecerdasan mereka, para ahli bahasa yang menguasai puluhan dialek, para
ahli kode yang pernah memecahkan sandi-sandi paling rumit dari musuh-musuh
kekhalifahan, semua berkumpul. Mereka membawa buku-buku tebal, gulungan-gulungan
perkamen, alat-alat aneh yang konon bisa mendeteksi tinta tak terlihat. Mereka
memeriksa surat itu dari berbagai sudut, dengan berbagai alat, dengan berbagai
metode. Mereka memanaskannya di atas api kecil, mendinginkannya di atas es,
membasahinya dengan air mawar, menggosoknya dengan abu, menyinari dengan cahaya
lilin, cahaya matahari, cahaya bulan. Tidak ada yang muncul. Surat itu tetap
kosong. Putih bersih. Sunyi.
Hingga larut malam, ketika bulan purnama bersinar terang di
atas Baghdad, menerangi istana dengan cahaya perak yang dingin, para penasihat
itu akhirnya menyerah. Mereka datang menghadap Baginda Raja dengan wajah yang
pucat, dengan mata yang sayu, dengan suara yang serak karena terlalu banyak
berbicara dan terlalu sedikit menemukan.
"Baginda," kata ketua majelis penasihat, seorang
lelaki tua bernama Imam Syafii al-Marzuki, yang telah mengabdi di istana selama
tiga puluh tahun dan belum pernah gagal memecahkan masalah apa pun, "kami
telah berusaha. Kami telah memeriksa dengan semua cara yang kami tahu. Kami
telah memanaskan, mendinginkan, membasahi, menggosok, menyinari. Tidak ada yang
muncul. Surat ini benar-benar kosong. Tidak ada tinta. Tidak ada sandi. Tidak
ada kode. Tidak ada pesan tersembunyi. Surat ini… tidak memiliki makna."
Baginda Harun Al-Rasyid tidak marah. Ia tidak kecewa. Ia
hanya duduk di singgasananya dengan perkamen kosong di pangkuannya, dengan mata
yang menerawang ke suatu tempat di kejauhan, ke suatu tempat yang tidak bisa
dilihat oleh siapa pun.
"Imam Syafii," katanya, suaranya tenang,
"apakah mungkin sebuah surat yang dikirim dengan penuh upacara, dengan
peti kayu cendana, dengan bantal sutra merah, dengan empat pengawal bersenjata,
dengan cap lilin kerajaan yang masih utuh—apakah mungkin surat seperti itu
tidak memiliki makna? Apakah mungkin seorang raja dari kerajaan besar di timur,
yang terkenal dengan kecerdasannya, yang terkenal dengan diplomasinya, yang
terkenal dengan kebijaksanaannya—apakah mungkin ia mengirim surat kosong hanya
untuk… tidak ada apa-apa?"
Imam Syafii terdiam. Ia tidak bisa menjawab.
Baaaginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas.
"Panggil Abu Nawas," katanya.
Jafar, yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang sama
pucatnya dengan para penasihat, mengangguk. "Baginda, akan kukirim
utusan."
"Jangan dengan utusan biasa," kata Baginda Raja Harun
Al-Rasyid. "Kau sendiri yang pergi, Jafar. Kau sendiri yang menjemputnya.
Katakan padanya bahwa ada surat kosong yang perlu diisi dengan makna. Katakan
padanya bahwa ada teka-teki yang tidak bisa dipecahkan oleh para cendekiawan
terbaik di istana. Katakan padanya bahwa aku… butuh bantuannya. Bukan sebagai
raja. Tapi sebagai manusia. Manusia yang tidak mengerti mengapa seseorang
mengirim ketiadaan. Manusia yang tidak mengerti makna dari… keheningan."
BAB 1: SURAT TANPA MAKNA
Abu Nawas datang ke istana keesokan paginya, ketika kabut
pagi masih menyelimuti menara-menara, ketika embun masih membasahi bunga-bunga
di taman dalam, ketika para penjaga istana baru saja mengganti shift malam
dengan shift pagi. Ia datang bukan dengan kuda, bukan dengan keledai, bukan
dengan tandu. Ia datang berjalan kaki, dengan jubah lusuh yang sama, sandal aus
yang sama, sorban yang dililit dengan malas yang sama, dan senyum misterius
yang sama. Di tangannya, sekantong kecil kurma—kurma Sukkari yang ia beli di
pasar dengan uang terakhir yang ia miliki, karena jatah mingguan dari istana
baru akan diberikan besok.
Jafar menyambutnya di gerbang istana dengan wajah yang
masih pucat karena kurang tidur, dengan mata yang masih sayu karena begadang,
dengan suara yang masih serak karena terlalu banyak berbicara dengan para
penasihat yang tidak menghasilkan apa-apa.
"Abu Nawas," katanya, "terima kasih sudah
datang. Baginda Raja sudah menunggu sejak subuh. Ia tidak tidur semalaman. Ia
terus menatap surat itu, membaliknya, membawanya ke cahaya, menghirup aromanya,
seolah-olah ia berharap surat itu akan berbicara. Tapi surat itu tetap diam.
Hanya putih. Hanya kosong. Hanya… sunyi."
Abu Nawas mengambil kurma dari kantongnya, memasukkannya ke
mulut, mengunyah perlahan.
"Wazir," katanya, "bagaimana kabar para
penasihat istana? Apakah mereka masih sibuk memanaskan surat itu di atas api?
Atau sudah dingin? Apakah mereka masih menyinari dengan lampu minyak? Atau
sudah padam? Apakah mereka masih menggosok dengan abu? Atau sudah bersih?"
Jafar menghela napas. "Mereka sudah menyerah, Abu
Nawas. Imam Syafii sendiri, yang belum pernah gagal memecahkan masalah apa pun
dalam tiga puluh tahun, mengatakan bahwa surat itu tidak memiliki makna.
Kosong. Hampa. Tidak ada apa-apa."
Abu Nawas tertawa. "Tidak memiliki makna? Wazir, tidak
ada yang tidak memiliki makna. Bahkan kehampaan memiliki makna. Bahkan
keheningan memiliki makna. Bahkan kekosongan memiliki makna. Makna dari
kehampaan adalah… kehampaan itu sendiri. Makna dari keheningan adalah…
keheningan itu sendiri. Makna dari kekosongan adalah… kekosongan itu sendiri.
Dan para penasihat yang bijaksana itu, Wazir, terlalu sibuk mencari sesuatu
yang tidak ada sehingga mereka lupa melihat apa yang ada. Yang ada adalah…
kosong. Dan kosong, Wazir, adalah pesan yang paling sulit dibaca karena ia
tidak berbicara dengan kata-kata. Ia berbicara dengan… keheningan."
Jafar tidak mengerti. Ia hanya menggelengkan kepala,
berjalan di samping Abu Nawas menuju ruang pertemuan pribadi Baginda Raja.
Di ruang pertemuan pribadi, Harun Al-Rasyid duduk di
singgasananya dengan jubah pagi berwarna putih, tanpa mahkota, tanpa perhiasan,
hanya dengan sorban sederhana yang melilit kepalanya. Di tangannya, selembar
perkamen putih bersih dengan tepi berukir emas. Di matanya, kebingungan yang
tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, bahkan kepada Jafar yang telah
menjadi sahabatnya sejak kecil. Di hatinya, pertanyaan yang tidak bisa dijawab
oleh siapa pun, bahkan oleh para cendekiawan terbaik di kekhalifahan.
"Abu Nawas," katanya ketika Abu Nawas masuk dan
duduk bersila di lantai marmer di hadapannya, "kau sudah tahu tentang
surat ini?"
"Sudah, Baginda," jawab Abu Nawas sambil
mengambil kurma dari kantongnya. "Wazir Jafar sudah bercerita di
perjalanan. Surat dari kerajaan timur. Peti kayu cendana. Bantal sutra merah.
Empat pengawal bersenjata. Cap lilin kerajaan yang masih utuh. Dan di dalamnya…
kosong. Putih bersih. Tidak ada satu huruf pun. Tidak ada satu kata pun. Tidak
ada satu tanda pun. Hanya… sunyi."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas. "Aku
sudah memeriksanya sendiri. Aku sudah membaliknya, mendekatkannya ke api,
menyinarinya dengan matahari, menghirup aromanya. Kosong. Tidak ada tinta.
Tidak ada sandi. Tidak ada kode. Tidak ada pesan tersembunyi. Kosong.
Benar-benar kosong."
Ia meletakkan perkamen itu di atas meja perak di
sampingnya, seperti orang yang meletakkan beban yang terlalu berat untuk
dipikul.
"Para penasihat istana sudah berusaha semalaman.
Mereka memanaskan, mendinginkan, membasahi, menggosok, menyinari. Tidak ada
yang muncul. Imam Syafii sendiri, yang belum pernah gagal dalam tiga puluh
tahun, mengatakan bahwa surat ini tidak memiliki makna. Kosong. Hampa. Tidak
ada apa-apa."
Abu Nawas mengambil kurma lagi, memutarnya di antara
jari-jarinya, menatapnya dengan saksama, seperti seorang ahli permata yang
sedang memeriksa keaslian berlian.
"Baginda," katanya, "apakah Baginda percaya
bahwa seorang raja dari kerajaan besar di timur, yang terkenal dengan
kecerdasannya, yang terkenal dengan diplomasinya, yang terkenal dengan
kebijaksanaannya, akan mengirim surat kosong hanya untuk… tidak ada apa-apa?
Apakah Baginda percaya bahwa ia akan menghabiskan uang untuk peti kayu cendana,
untuk bantal sutra merah, untuk empat pengawal bersenjata, untuk perjalanan
ribuan mil, hanya untuk mengirim… ketiadaan?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia tidak bisa
menjawab.
"Baginda," lanjut Abu Nawas, "surat ini
bukan tanpa makna. Surat ini penuh dengan makna. Makna yang tidak tertulis.
Makna yang tidak terlihat. Makna yang hanya bisa dibaca oleh… hati. Bukan oleh
mata. Bukan oleh api. Bukan oleh abu. Bukan oleh cahaya. Tapi oleh… hati."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan,
menikmati setiap serat, setiap butir gula, setiap lapisan rasa yang tersembunyi
di balik manisnya.
"Baginda, surat ini adalah teka-teki. Teka-teki yang
tidak bisa dipecahkan dengan logika biasa. Teka-teki yang tidak bisa dijawab
dengan rumus-rumus. Teka-teki yang hanya bisa dipecahkan dengan… pemahaman.
Pemahaman tentang siapa pengirimnya. Pemahaman tentang hubungan Baginda dengan
pengirimnya. Pemahaman tentang… apa yang tidak dikatakan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mencondongkan tubuhnya ke
depan. "Apa maksudmu, Abu Nawas?"
Abu Nawas tersenyum. Senyum yang misterius, senyum yang
membuat Harun Al-Rasyid merasa bahwa lelaki kurus di hadapannya ini menyimpan
ribuan rahasia di balik jubah lusuhnya.
"Baginda, izinkan saya bertanya. Seberapa dekat
hubungan Baginda dengan raja di timur itu? Seberapa sering Baginda berkirim
surat? Seberapa hangat hubungan diplomatik antara kedua kerajaan? Apakah ada
yang terjadi akhir-akhir ini? Apakah ada yang… tidak beres?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia menatap Abu Nawas
dengan mata yang berubah. Bukan lagi kebingungan. Tapi… kesadaran. Kesadaran
yang mulai muncul di permukaan pikirannya, seperti gelembung udara yang naik
dari dasar sungai yang dalam.
"Abu Nawas," katanya, "beberapa bulan yang
lalu, aku mengirim utusan ke kerajaan itu. Aku mengirim tawaran. Tawaran untuk
mempererat hubungan. Tawaran yang… ditolak. Bukan ditolak dengan keras. Bukan
ditolak dengan kasar. Tapi ditolak dengan… diam. Utusanku kembali tanpa
jawaban. Tanpa surat balasan. Tanpa kabar. Hanya… diam. Dan aku… aku tidak
mengirim surat lagi. Aku tidak menanyakan alasannya. Aku hanya… diam. Seperti
sekarang."
Abu Nawas mengangguk. "Baginda, itu jawabannya. Surat
kosong ini adalah balasan atas keheningan Baginda. Surat kosong ini adalah
cermin dari keheningan yang Baginda kirimkan. Surat kosong ini adalah… bahasa
yang sama. Bahasa keheningan. Bahasa yang tidak perlu kata-kata. Bahasa yang
hanya bisa dipahami oleh hati yang sama-sama… diam."
BAB 2: MAKNA DALAM KEHENINGAN
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya duduk
di singgasananya, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang menerawang ke
suatu tempat di kejauhan, ke suatu waktu di masa lalu yang tidak akan kembali.
Pikirannya berputar-putar, mengingat setiap detail dari hubungan diplomatik
yang telah ia bangun selama bertahun-tahun dengan kerajaan timur itu. Ia
mengingat surat-surat pertama yang saling dikirim, penuh dengan kata-kata
hormat dan tawaran persahabatan. Ia mengingat pertemuan-pertemuan para utusan,
penuh dengan senyum dan jabat tangan. Ia mengingat hadiah-hadiah yang saling
diberikan, peti-peti kayu cendana berisi emas dan permata, kain-kain sutra
terbaik, kuda-kuda terbaik dari padang rumput utara. Ia mengingat bagaimana
hubungan itu tumbuh, berkembang, menguat, seperti pohon yang ditanam dengan
hati-hati dan disiram dengan kesabaran.
Dan kemudian, ia mengingat saat ketika pohon itu mulai
layu. Saat ketika surat-suratnya tidak lagi dibalas dengan cepat. Saat ketika
tawaran-tawarannya ditolak dengan alasan yang tidak jelas. Saat ketika
utusannya pulang dengan tangan hampa. Saat ketika ia, karena kebanggaan atau
karena kemarahan atau karena ketidakmengertian, memilih untuk… diam.
Ia memilih untuk tidak mengirim surat lagi. Ia memilih
untuk tidak menanyakan alasan. Ia memilih untuk tidak mencari tahu apa yang
salah. Ia memilih untuk… menunggu. Menunggu pihak lain yang bergerak lebih
dulu. Menunggu pihak lain yang mengalah lebih dulu. Menunggu pihak lain yang…
berbicara lebih dulu.
Dan sekarang, pihak lain itu berbicara. Bukan dengan
kata-kata. Bukan dengan kalimat. Bukan dengan paragraf. Tapi dengan…
keheningan. Dengan surat kosong. Dengan… diam.
"Abu Nawas," katanya akhirnya, suaranya rendah,
seperti orang yang baru saja bangun dari tidur panjang, "apakah kau benar?
Apakah surat kosong ini adalah balasan atas keheninganku? Apakah ini adalah
cara mereka mengatakan bahwa mereka kecewa? Bahwa mereka marah? Bahwa mereka…
tidak puas?"
Abu Nawas mengambil kurma lain dari kantongnya, memutarnya
di antara jari-jarinya dengan gerakan yang lambat, penuh pertimbangan, seperti
seorang filsuf yang sedang merenungkan makna kehidupan.
"Baginda," katanya, "saya tidak tahu. Saya
tidak bisa membaca pikiran raja di timur itu. Saya tidak bisa merasakan apa
yang ia rasakan. Saya tidak bisa mendengar apa yang tidak ia katakan. Tapi saya
tahu satu hal: tidak ada yang mengirim surat kosong dengan penuh upacara,
dengan peti kayu cendana, dengan bantal sutra merah, dengan empat pengawal
bersenjata, dengan cap lilin kerajaan yang masih utuh, hanya untuk… tidak ada
apa-apa. Surat kosong ini adalah pesan. Pesan yang sangat jelas. Pesan yang
tidak perlu ditulis. Pesan yang… hanya perlu dipahami."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, Baginda tahu apa yang dikatakan oleh
orang-orang bijak tentang keheningan? Mereka mengatakan bahwa keheningan adalah
bahasa yang paling jujur. Karena kata-kata bisa dibohongi. Kalimat bisa
dimanipulasi. Paragraf bisa diputarbalikkan. Tapi keheningan, Baginda,
keheningan tidak pernah berbohong. Keheningan selalu jujur. Keheningan selalu…
apa adanya."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk perlahan. "Kau
benar, Abu Nawas. Keheningan tidak pernah berbohong. Dan aku… aku telah diam
terlalu lama. Aku telah membiarkan keheningan itu tumbuh menjadi dinding di
antara kita. Aku telah membiarkan keheningan itu menjadi… jurang."
Ia berdiri, berjalan ke jendela yang menghadap ke timur, di
mana matahari pagi mulai meninggi di balik menara-menara istana, menyinari kota
Baghdad dengan cahaya keemasan yang lembut. Ia menatap langit yang biru, tanpa
awan, tanpa batas. Langit yang sama yang disaksikan oleh raja di timur itu
setiap pagi. Langit yang sama yang menjadi saksi bisu dari hubungan yang pernah
hangat dan kini dingin.
"Abu Nawas," katanya tanpa berbalik, "apa
yang harus aku lakukan? Aku sudah menerima surat kosong ini. Aku sudah
memahaminya sebagai pesan. Tapi apa balasan yang pantas? Apa yang harus aku
kirimkan? Kata-kata? Hadiah? Permintaan maaf? Penjelasan? Atau… keheningan
lagi?"
Abu Nawas berdiri, berjalan mendekati Baginda Raja, berdiri
di sampingnya, menatap langit yang sama.
"Baginda," katanya, "baginda tidak perlu
mengirim kata-kata. Baginda tidak perlu mengirim hadiah. Baginda tidak perlu
mengirim permintaan maaf. Baginda tidak perlu mengirim penjelasan. Baginda
hanya perlu mengirim… sesuatu yang sama. Sesuatu yang juga kosong. Sesuatu yang
juga sunyi. Sesuatu yang juga… diam. Tapi di dalam kehampaan itu, Baginda, ada
sesuatu. Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang…
bermakna."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berbalik, menatap Abu Nawas
dengan mata yang penuh tanya. "Sesuatu yang kecil? Sesuatu yang sederhana?
Sesuatu yang bermakna? Apa itu, Abu Nawas?"
Abu Nawas tersenyum. Senyum yang misterius, senyum yang membuat
Harun Al-Rasyid merasa bahwa lelaki kurus di hadapannya ini sedang menyimpan
kejutan yang tidak terduga.
"Baginda," katanya, "izinkan saya
menyiapkannya. Izinkan saya yang memilih. Izinkan saya yang mengemas. Izinkan
saya yang… berbicara dengan keheningan."
BAB 3: PARA PENASIHAT YANG TERSESAT LOGIKA
Kabar tentang usulan Abu Nawas menyebar di istana seperti
api di padang rumput kering. Para penasihat istana, para cendekiawan, para ahli
bahasa, para ahli kode, semua yang semalam begadang untuk memecahkan teka-teki
surat kosong, sekarang berkumpul kembali, bukan untuk memeriksa surat itu,
tetapi untuk memprotes usulan Abu Nawas.
"Mustahil!" seru Imam Syafii al-Marzuki, ketua
majelis penasihat, ketika mendengar bahwa Abu Nawas akan mengirim balasan
berupa sesuatu yang kosong. "Kita sudah menerima surat kosong. Dan
sekarang kita akan membalas dengan sesuatu yang kosong lagi? Apa gunanya? Apa
maknanya? Apa yang akan dicapai?"
"Imam Syafii," kata Abu Nawas dengan tenang,
duduk di kursi yang disediakan untuknya di ruang pertemuan para penasihat,
dengan semangkuk kurma di pangkuannya—kurma yang ia pinjam dari dapur istana
karena kurma bawaannya sudah habis di perjalanan—"apa yang salah dengan
sesuatu yang kosong? Bukankah kita sudah menerima sesuatu yang kosong? Bukankah
kita sudah menerima keheningan? Bukankah keheningan adalah bahasa yang paling
jujur? Maka balasan yang paling jujur untuk keheningan adalah… keheningan
juga."
Imam Syafii menggeleng keras. "Abu Nawas, kau tidak
mengerti. Ini bukan soal kejujuran. Ini soal diplomasi. Ini soal hubungan antar
kerajaan. Ini soal… harga diri. Kita tidak bisa membalas keheningan dengan
keheningan. Itu akan dianggap sebagai kelemahan. Itu akan dianggap sebagai
ketidakmampuan. Itu akan dianggap sebagai… kekalahan."
Seorang penasihat lain, seorang lelaki muda bernama
al-Farabi yang terkenal dengan kecerdasannya dalam logika Aristoteles, angkat
bicara. "Abu Nawas, surat kosong ini pasti memiliki makna tersembunyi.
Mungkin ada kode yang belum kita temukan. Mungkin ada tinta khusus yang hanya
muncul dengan cairan tertentu. Mungkin ada pesan yang ditulis dengan jarum pada
permukaan perkamen. Kita tidak boleh terburu-buru. Kita harus terus mencari.
Kita harus terus memeriksa. Kita harus terus… berusaha."
Abu Nawas tertawa. "Tuan al-Farabi, Tuan sudah
memeriksa semalaman. Tuan sudah memanaskan, mendinginkan, membasahi, menggosok,
menyinari. Tidak ada yang muncul. Tidak ada kode. Tidak ada tinta. Tidak ada
pesan tersembunyi. Surat ini benar-benar kosong. Hanya putih. Hanya sunyi.
Hanya… diam. Dan Tuan, Tuan yang hebat dalam logika Aristoteles, apakah Tuan
tidak tahu bahwa kadang-kadang, jawaban yang paling sederhana adalah jawaban
yang paling benar? Bahwa kadang-kadang, apa yang terlihat di permukaan adalah
apa yang sebenarnya ada? Bahwa kadang-kadang, kosong adalah… kosong."
al-Farabi tersentak. "Kosong adalah kosong? Itu tidak
logis! Segala sesuatu pasti memiliki makna! Tidak ada yang kosong! Bahkan
kehampaan adalah sesuatu! Bahkan ketiadaan adalah sesuatu! Bahkan…"
"Tuan al-Farabi," potong Abu Nawas dengan suara
yang masih tenang, "Tuan benar. Kehampaan adalah sesuatu. Ketiadaan adalah
sesuatu. Kosong adalah sesuatu. Dan itulah yang akan kita kirim. Sesuatu yang
kosong. Sesuatu yang tidak ada. Sesuatu yang… diam. Tapi di dalam kehampaan
itu, Tuan, ada sesuatu yang kecil. Sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang…
bermakna."
Imam Syafii mendekat, wajahnya merah karena emosi.
"Apa itu, Abu Nawas? Apa yang akan kau kirim? Katakan! Jangan membuat kami
penasaran! Jangan bermain-main dengan kami!"
Abu Nawas mengambil kurma, memasukkannya ke mulut,
mengunyah perlahan, menikmati setiap detiknya, membuat semua orang yang
menatapnya hampir tidak sabar.
"Imam Syafii," katanya setelah menelan kurma,
"saya tidak akan mengatakan. Karena jika saya katakan, para penasihat yang
bijaksana ini akan berdebat lagi. Mereka akan mengatakan bahwa ide saya terlalu
sederhana. Mereka akan mengatakan bahwa ide saya tidak cukup rumit. Mereka akan
mengatakan bahwa ide saya tidak layak untuk diplomasi antar kerajaan. Dan saya,
Imam Syafii, tidak punya waktu untuk berdebat. Saya hanya punya waktu untuk…
bekerja."
Ia berdiri, merapikan jubahnya yang lusuh, dan berjalan
meninggalkan ruang pertemuan, meninggalkan para penasihat yang saling
berpandangan dengan wajah yang campur aduk: ada yang marah, ada yang penasaran,
ada yang gelisah, ada yang… takut. Takut bahwa seorang pelawak, seorang pemakan
kurma dari pinggiran Baghdad, akan melakukan sesuatu yang tidak pernah
terpikirkan oleh mereka, para cendekiawan terbaik di kekhalifahan.
BAB 4: PERTANYAAN YANG MENGUNGKAP
Di ruang pribadi Baginda Raja, Abu Nawas duduk di hadapan
Harun Al-Rasyid dengan serius. Tidak ada kurma di tangannya kali ini. Tidak ada
senyum di bibirnya. Matanya serius, seperti mata seorang ahli strategi yang
sedang merencanakan pertempuran yang akan menentukan nasib ribuan orang.
"Baginda," katanya, "sebelum saya memutuskan
apa yang akan kita kirim, saya perlu bertanya sesuatu. Sesuatu yang mungkin
akan mengingatkan Baginda pada masa lalu. Sesuatu yang mungkin tidak
menyenangkan. Sesuatu yang mungkin… menyakitkan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Bertanyalah,
Abu Nawas. Aku akan menjawab dengan jujur. Sejujurnya aku bisa."
Abu Nawas mengambil napas panjang. "Baginda, apa yang
sebenarnya terjadi antara Baginda dan raja di timur itu? Bukan yang tertulis
dalam laporan diplomatik. Bukan yang dikatakan oleh para utusan. Tapi yang
sebenarnya terjadi. Yang ada di hati Baginda. Yang ada di hati raja itu. Apa
yang membuat hubungan yang hangat itu menjadi dingin? Apa yang membuat
surat-surat tidak lagi dibalas? Apa yang membuat… keheningan?"
Harun Al-Rasyid terdiam. Matanya menerawang ke suatu tempat
di kejauhan, ke suatu waktu di masa lalu yang tidak akan kembali. Tangannya
yang tadinya tenang di pangkuan, mulai gemetar sedikit.
"Abu Nawas," katanya akhirnya, suaranya rendah,
seperti orang yang sedang membuka luka lama yang belum sembuh, "beberapa
bulan yang lalu, aku mengirim utusan. Aku mengirim tawaran. Tawaran untuk
mempererat hubungan. Tawaran untuk… mengikat persahabatan dengan ikatan yang
lebih kuat. Aku menawarkan… pernikahan. Pernikahan antara putra mahkotaku,
Al-Amin, dengan putri raja itu. Pernikahan yang akan menyatukan dua kerajaan.
Pernikahan yang akan membawa perdamaian dan kemakmuran bagi kedua negeri."
Ia berhenti, menelan ludah, melanjutkan.
"Tawaran itu ditolak. Bukan ditolak dengan keras.
Bukan ditolak dengan kasar. Tapi ditolak dengan… diam. Utusanku kembali tanpa
jawaban. Tanpa surat balasan. Tanpa kabar. Tanpa… apa-apa. Hanya diam. Dan aku…
aku marah. Aku merasa dihina. Aku merasa direndahkan. Aku merasa… tidak
dihormati."
Ia menunduk, suaranya semakin rendah.
"Aku tidak mengirim surat lagi. Aku tidak menanyakan
alasan. Aku tidak mencari tahu apa yang salah. Aku hanya… diam. Seperti mereka.
Aku membiarkan keheningan itu menjadi dinding. Aku membiarkan keheningan itu
menjadi jurang. Aku membiarkan keheningan itu menjadi… akhir dari persahabatan
yang pernah indah."
Abu Nawas mengangguk. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya
duduk di hadapan Baginda Raja, dengan mata yang penuh pengertian, dengan hati
yang merasakan beban yang sama.
"Baginda," katanya setelah beberapa saat,
"apakah Baginda tahu mengapa tawaran itu ditolak? Apakah Baginda pernah
bertanya? Apakah Baginda pernah mencari tahu? Apakah Baginda pernah…
mendengarkan?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat kepalanya. Matanya
merah, tetapi tidak menangis. "Tidak, Abu Nawas. Aku tidak pernah
bertanya. Aku tidak pernah mencari tahu. Aku hanya… marah. Aku hanya…
tersinggung. Aku hanya… diam."
Abu Nawas menghela napas. "Baginda, mungkin tawaran
itu ditolak bukan karena penghinaan. Mungkin tawaran itu ditolak karena alasan
yang tidak ada hubungannya dengan Baginda. Mungkin putri raja itu sudah
dijodohkan dengan orang lain. Mungkin ada tradisi yang tidak memungkinkan.
Mungkin ada alasan yang tidak bisa mereka katakan dengan kata-kata. Mungkin
mereka diam bukan karena marah, tapi karena… malu. Malu karena harus menolak.
Malu karena harus mengatakan tidak. Malu karena harus… mengecewakan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia menatap Abu Nawas
dengan mata yang berubah. Bukan lagi kemarahan. Bukan lagi kesedihan. Tapi…
pemahaman. Pemahaman yang datang terlambat, tetapi datang juga.
"Kau benar, Abu Nawas," katanya. "Aku tidak
pernah berpikir seperti itu. Aku hanya berpikir tentang diriku sendiri. Tentang
harga diriku. Tentang kehormatanku. Aku tidak pernah berpikir tentang mereka.
Tentang alasan mereka. Tentang… perasaan mereka."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap langit yang sama
yang ia tatap pagi ini.
"Sekarang, Abu Nawas, aku mengerti. Aku mengerti
mengapa mereka mengirim surat kosong. Bukan untuk menghina. Bukan untuk
menantang. Bukan untuk… perang. Tapi untuk… memberitahu. Memberitahu bahwa
mereka juga diam. Memberitahu bahwa mereka juga menunggu. Memberitahu bahwa
mereka juga… merindukan. Merindukan persahabatan yang dulu hangat. Merindukan
kata-kata yang dulu ramah. Merindukan… hubungan yang dulu indah."
Ia berbalik menghadap Abu Nawas.
"Sekarang, Abu Nawas, katakan. Apa yang harus aku
kirim? Apa balasan yang pantas untuk keheningan ini? Apa yang bisa
mengembalikan persahabatan yang pernah hilang?"
BAB
5: KESUNYIAN YANG BERBICARA
Abu Nawas tidak menjawab segera. Ia berdiri perlahan dari
tempat duduknya di lantai marmer yang dingin, merapikan jubahnya yang lusuh
dengan gerakan yang hampir anggun—meskipun jubah itu tetap tidak bisa
dirapikan, karena sudah terlalu lama tidak dicuci dan terlalu sering digunakan
untuk membungkus kurma. Ia berjalan ke meja di sudut ruangan, meja kayu cendana
kecil yang selalu setia menemani pertemuan-pertemuan rahasia Baginda Raja, meja
yang telah menyaksikan begitu banyak keputusan penting, begitu banyak surat
dibaca, begitu banyak nasib ditentukan. Di atas meja itu, tersedia berbagai
macam perlengkapan menulis: tinta dari getah pohon akasia yang diolah dengan
madu, pena dari buluh yang diruncingkan dengan pisau emas, perkamen dari kulit
kambing muda yang diproses dengan kapur dan tepung tulang, dan segel lilin
merah yang masih lunak karena baru saja dipanaskan.
Abu Nawas mengambil selembar perkamen dari tumpukan di atas
meja. Bukan perkamen mahal dengan ukiran emas di tepinya, bukan perkamen yang
biasa digunakan untuk surat-surat kenegaraan yang penuh dengan kata-kata hormat
dan kalimat berlapis. Ia memilih perkamen biasa. Perkamen yang kasar, yang
warnanya tidak seputih salju, yang permukaannya tidak sehalus sutra. Perkamen
yang biasa digunakan oleh para juru tulis rendahan untuk mencatat inventaris
dapur atau jumlah stok kurma di gudang istana.
Ia memilih perkamen itu dengan sengaja. Dengan kesadaran
penuh. Dengan makna yang dalam.
Kemudian ia mengambil sebuah kotak kayu kecil dari rak di
samping meja. Kotak itu sederhana. Sangat sederhana. Tidak ada ukiran. Tidak
ada hiasan. Tidak ada emas. Tidak ada perak. Hanya kayu jati yang dihaluskan
dengan amplas, dipoles dengan lilin lebah hingga mengkilap, tetapi tetap
sederhana. Kotak yang biasanya digunakan untuk menyimpan koin tembaga atau
perhiasan murahan. Kotak yang tidak akan menarik perhatian siapa pun jika
diletakkan di antara peti-peti kayu cendana berukir emas dan bantal-bantal
sutra bersulam benang perak.
Ia membawa perkamen dan kotak itu ke hadapan Baginda Raja,
meletakkannya di lantai marmer di hadapan singgasana, dan duduk kembali bersila
dengan gerakan yang tenang, tidak tergesa-gesa, seperti orang yang tidak punya
beban apa pun di pundaknya.
"Baginda," katanya, suaranya pelan tetapi jelas,
bergema di ruangan yang sunyi itu seperti aliran sungai di tengah padang pasir
yang sunyi, "ini yang akan kita kirim. Perkamen kosong. Dan kotak kosong.
Kosong. Seperti yang mereka kirim. Kosong. Seperti keheningan yang kita bagi.
Kosong. Seperti… jarak yang memisahkan kita."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengerutkan kening. Alisnya
yang tebal dan hitam menyatu di pangkal hidung, menciptakan kerutan dalam di
dahinya yang lebar—kerutan yang hanya muncul ketika ia sedang sangat tidak
mengerti, sangat bingung, sangat… ragu. Kerutan yang tidak pernah ia tunjukkan
di depan para pejabat istana, tetapi tidak bisa ia sembunyikan di depan Abu
Nawas.
"Perkamen kosong? Kotak kosong?" ulangnya,
suaranya meninggi sedikit, tidak sampai marah, tetapi cukup untuk menunjukkan
bahwa kesabarannya sedang diuji. "Itu saja? Abu Nawas, bukankah itu
terlalu sederhana? Bukankah itu akan dianggap sebagai… ejekan? Sebagai…
ketidakpedulian? Sebagai… penghinaan?"
Ia berdiri dari singgasananya, berjalan mendekati Abu
Nawas, berdiri tepat di hadapannya dengan tangan disilangkan di dada—sikap yang
biasa ia tunjukkan ketika sedang mempertimbangkan sesuatu dengan sangat serius,
ketika ia sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak masuk akal.
"Abu Nawas, coba pikirkan. Mereka mengirim surat
dengan peti kayu cendana. Peti yang diukir dengan bunga teratai dan burung
phoenix. Peti yang harumnya masih tercium sampai sekarang. Mereka mengirim
bantal sutra merah, sutra terbaik dari negeri mereka, sutra yang tidak bisa
dibeli dengan emas. Mereka mengirim empat pengawal bersenjata yang menjaga peti
itu sepanjang perjalanan ribuan mil. Mereka mengirim cap lilin kerajaan yang
masih utuh, yang tidak bisa dibuka tanpa merusaknya. Dan kita akan membalas
dengan… perkamen biasa? Dengan kotak kayu sederhana? Dengan… kekosongan?"
Ia berjalan mondar-mandir di depan Abu Nawas, langkahnya
cepat, tidak sabar, seperti singa yang sedang mengurung mangsanya dalam
lingkaran yang semakin mengecil.
"Abu Nawas, kau tidak mengerti. Ini bukan soal isi
surat. Ini soal upacara. Ini soal penghormatan. Ini soal… harga diri sebuah
kerajaan. Jika kita membalas dengan sesuatu yang terlalu sederhana, mereka akan
menganggap kita meremehkan mereka. Jika kita membalas dengan kekosongan, mereka
akan menganggap kita menghina mereka. Jika kita membalas dengan…"
"Baginda," potong Abu Nawas dengan suara yang
masih tenang, tidak terpengaruh oleh kegelisahan Baginda Raja, "saya belum
selesai."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berhenti mondar-mandir. Ia
menatap Abu Nawas dengan mata yang masih penuh keraguan, tetapi juga penuh rasa
ingin tahu. Ada sesuatu dalam suara Abu Nawas yang membuatnya berhenti. Ada
sesuatu dalam mata Abu Nawas yang membuatnya sadar bahwa lelaki kurus di
hadapannya ini belum selesai berbicara. Ada sesuatu dalam senyum Abu Nawas yang
membuatnya merasa bahwa ia mungkin, sekali lagi, akan belajar sesuatu yang
tidak pernah ia pelajari sebelumnya.
"Perkamen kosong itu," lanjut Abu Nawas, suaranya
menjadi lebih pelan, lebih dalam, lebih… serius, "akan saya letakkan di
atas bantal sutra. Bantal sutra yang sama seperti yang mereka kirim. Bantal
sutra merah, dengan sulaman yang sama, dengan ukiran yang sama. Untuk
menghormati upacara mereka. Untuk menunjukkan bahwa kita menghargai cara mereka
berkomunikasi. Untuk menunjukkan bahwa kita tidak meremehkan mereka."
Ia mengambil perkamen kosong itu, memegangnya di kedua
tangannya dengan hormat, seperti seorang imam memegang kitab suci.
"Perkamen ini, Baginda, bukan perkamen biasa. Perkamen
ini adalah… cermin. Cermin dari apa yang mereka kirim. Cermin dari keheningan
mereka. Cermin dari… ketiadaan yang mereka hadiahkan kepada kita. Dengan
mengirim perkamen kosong di atas bantal sutra yang sama, kita mengatakan: 'Kami
menerima keheningan kalian. Kami menghargai keheningan kalian. Kami mengerti
bahwa keheningan kalian bukanlah ketiadaan, tetapi… pesan.'"
Harun Al-Rasyid tidak bergerak. Tidak berkedip. Tidak
bernapas. Ia hanya menatap Abu Nawas dengan mata yang semakin lebar, dengan
pikiran yang berputar semakin cepat, dengan hati yang berdetak semakin keras.
"Dan kotak kosong itu," lanjut Abu Nawas,
meletakkan perkamen itu di sampingnya dan mengambil kotak kayu sederhana itu,
"kotak kosong itu tidak sepenuhnya kosong."
Ia membuka kotak kayu kecil itu perlahan-lahan, dengan
gerakan yang penuh upacara, seperti seorang pendeta membuka tabut perjanjian.
Suara engsel kayu yang berdecit terdengar jelas di keheningan ruangan, seperti
suara pintu surga yang dibuka untuk orang-orang yang beriman. Ia memperlihatkan
bagian dalam kotak itu yang kosong—kosong, putih, hampa, tidak ada apa-apa. Dan
kemudian, dengan gerakan yang sama perlahan, sama penuh makna, ia mengambil
sesuatu dari sakunya.
Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang…
tidak terduga.
Sebuah kurma.
Sebuah kurma Sukkari dari kebun pribadi Baginda Raja. Kurma
yang matang sempurna, kulitnya mengilap seperti batu akik, dagingnya lembut
seperti sutra, aromanya manis seperti madu yang baru dipanen. Kurma yang tumbuh
di pohon yang ditanam oleh kakek Baginda Raja, yang dirawat oleh ayah Baginda
Raja, yang sekarang dijaga oleh Baginda Raja sendiri. Kurma yang menjadi simbol
kemakmuran Baghdad. Kurma yang menjadi simbol kejujuran. Kurma yang menjadi
simbol… persahabatan yang manis.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap kurma itu dengan mata
yang berubah. Dari kebingungan menjadi pemahaman. Dari pemahaman menjadi haru.
Dari haru menjadi… air mata. Air mata yang tidak bisa ia tahan lagi. Air mata
yang mengalir deras di pipinya yang tegas, membasahi janggutnya yang rapi,
jatuh ke jubah putihnya yang bersih.
"Abu Nawas," katanya, suaranya serak, terputus-putus,
seperti orang yang baru saja tersadar dari mimpi yang sangat panjang,
"kau… kau akan mengirim kurma? Satu kurma? Di dalam kotak kosong? Di dalam
perkamen kosong? Itu… itu pesan yang sangat sederhana. Sangat sederhana. Tapi
sangat… dalam. Sangat… dalam."
Abu Nawas tersenyum. Senyum yang lembut, senyum yang penuh
pengertian, senyum yang membuat Harun Al-Rasyid merasa bahwa lelaki kurus di
hadapannya ini telah melihat jauh ke dalam hatinya, membaca semua keraguannya,
semua ketakutannya, semua harapannya, dan menemukan jawaban yang paling tepat.
"Baginda," katanya, "kurma ini bukan kurma
biasa. Kurma ini dari kebun Baginda. Kurma ini adalah kurma terbaik yang pernah
Baginda tanam. Kurma ini adalah buah dari pohon yang ditanam oleh kakek
Baginda, yang dirawat oleh ayah Baginda, yang sekarang dijaga oleh Baginda
sendiri. Kurma ini adalah… simbol. Simbol dari apa yang dulu kita bagi. Simbol
dari apa yang ingin kita bagi lagi. Simbol dari… persahabatan yang manis.
Simbol dari… kejujuran yang tidak perlu diucapkan. Simbol dari… keheningan yang
dimengerti."
Ia meletakkan kurma itu di dalam kotak kayu dengan
hati-hati, seperti seorang ibu meletakkan bayinya di dalam buaian. Kurma itu
tergeletak di dasar kotak yang kosong, sendirian, kecil, sederhana, tetapi
memancarkan kehangatan yang tidak dimiliki oleh emas atau permata.
"Baginda," lanjut Abu Nawas, suaranya menjadi
lebih pelan, lebih dalam, lebih menyentuh, "ketika raja di timur itu
membuka kotak ini, ia akan melihat kekosongan. Ia akan melihat perkamen kosong.
Ia akan melihat kotak kosong. Ia akan bertanya-tanya, apa makna dari semua ini?
Apakah ini ejekan? Apakah ini penghinaan? Apakah ini…"
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap,
membiarkan imajinasi Baginda Raja terbang ke negeri timur, membayangkan seorang
raja tua yang sedang membuka peti kayu cendana dengan tangan gemetar.
"Dan kemudian, di tengah kekosongan itu, ia akan
menemukan sesuatu. Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang…
tidak terduga. Sebuah kurma. Kurma dari Baghdad. Kurma dari Baginda. Kurma yang
mengingatkan pada persahabatan yang pernah indah. Kurma yang mengingatkan pada
kata-kata yang pernah ramah. Kurma yang mengingatkan pada senyum yang pernah
tulus. Kurma yang mengingatkan pada… masa-masa yang tidak akan kembali, tetapi
bisa diulang."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk perlahan. Air
matanya masih mengalir, tetapi ia tidak lagi berusaha menyembunyikannya. Ia
membiarkan air mata itu mengalir, membiarkannya membersihkan segala yang lama,
membiarkannya menyuburkan segala yang baru.
"Abu Nawas," katanya, suaranya masih serak tetapi
lebih tenang, lebih jernih, seperti air sungai yang mengalir setelah hujan
reda, "kau benar. Kadang-kadang, yang paling sederhana adalah yang paling
dalam. Kadang-kadang, yang paling kecil adalah yang paling besar.
Kadang-kadang, yang paling sunyi adalah yang paling… berbicara."
Ia berjalan mendekati Abu Nawas, berlutut di
hadapannya—seorang raja berlutut di hadapan seorang pelawak—dan mengambil kotak
kayu itu dengan kedua tangannya, seperti seorang peziarah mengambil relik suci
dari tangan seorang suci.
"Kurma ini," katanya, "akan aku kirim dengan
penuh kehormatan. Dengan peti kayu cendana yang sama. Dengan bantal sutra merah
yang sama. Dengan cap lilin kerajaan yang sama. Dengan pengawal bersenjata yang
sama. Dengan… doa yang sama. Doa agar persahabatan yang pernah retak bisa
diperbaiki. Doa agar keheningan yang pernah memisahkan bisa diisi dengan
pengertian. Doa agar… kurma ini berbicara. Berbicara dalam bahasa yang tidak
perlu kata-kata. Berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh hati.
Berbicara dalam bahasa yang… jujur."
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, kurma ini akan
berbicara. Kurma ini akan menyampaikan pesan yang tidak bisa disampaikan oleh
seribu kata. Kurma ini akan menjembatani jarak yang tidak bisa dijembatani oleh
emas. Kurma ini akan… menyembuhkan. Menyembuhkan luka yang tidak terlihat.
Menyembuhkan keretakan yang tidak tercium. Menyembuhkan… persahabatan yang
hampir mati."
BAB 6: UJIAN KEBIJAKSANAAN RAJA
Keesokan harinya, ketika fajar mulai menyingsing di ufuk
timur, ketika sinar matahari pertama mulai menembus kabut pagi yang menyelimuti
menara-menara istana, ketika burung-burung mulai berkicau di taman dalam,
ketika para penjaga istana baru saja mengganti shift malam dengan shift pagi,
sebuah upacara kecil tetapi penuh makna berlangsung di halaman depan istana
Baghdad.
Bahinda Raja Harun Al-Rasyid berdiri di depan gerbang utama
dengan jubah kebesaran berwarna hitam, dengan mahkota emas di kepalanya, dengan
pedang pusaka di pinggangnya. Ia tidak pernah terlihat semegah ini dalam
beberapa bulan terakhir. Matanya bersinar, senyumnya tulus, posturnya tegap
seperti seorang pemuda, bukan seorang raja yang sudah memerintah selama
bertahun-tahun.
Di hadapannya, berdiri seorang utusan yang akan
diberangkatkan ke kerajaan timur. Utusan itu bukan utusan biasa. Ia adalah
salah satu diplomat terbaik kekhalifahan, seorang lelaki bernama Abdullah bin
Salim, yang telah berpengalaman dalam misi-misi diplomatik ke berbagai negeri,
yang telah berhadapan dengan raja-raja dari berbagai budaya, yang telah
memenangkan hati banyak penguasa asing dengan kebijaksanaan dan kesopanannya.
Ia mengenakan pakaian kebesaran, jubah sutra biru dengan sulaman emas, sorban
tinggi yang menunjukkan pangkatnya, dan di pinggangnya, sebuah keris pusaka
yang diwariskan dari ayahnya.
Di sampingnya, berdiri dua puluh pengawal bersenjata
lengkap, dengan kuda-kuda terbaik dari kandang istana, dengan pakaian upacara
yang baru dicuci dan disetrika, dengan tombak yang ujungnya berkilat di bawah
sinar matahari pagi. Mereka akan mengawal peti kayu cendana yang berisi balasan
Baghdad sepanjang perjalanan ribuan mil, melewati padang pasir yang panas,
melewati gunung-gunung yang dingin, melewati sungai-sungai yang deras, sampai
ke ibu kota kerajaan timur.
Peti kayu cendana itu sendiri adalah karya seni yang luar
biasa. Terbuat dari kayu cendana pilihan yang diimpor dari negeri seberang,
diukir dengan kaligrafi Arab yang indah, bertuliskan ayat-ayat suci tentang
persahabatan dan perdamaian. Di sekeliling tepinya, dihiasi dengan emas murni
yang dibentuk menjadi pola bunga-bunga melati—bunga yang menjadi simbol
Baghdad, bunga yang dikenal di seluruh dunia karena keharumannya. Di bagian
atas peti, sebuah bantal sutra merah mengkilap, dengan sulaman benang perak
yang rumit, membentuk kaligrafi nama Baginda Raja Harun Al-Rasyid dan nama raja
timur itu berdampingan, disatukan oleh sebuah ayat: "Dan
berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah
bercerai-berai."
Dan di atas bantal sutra merah itu, tergeletak selembar
perkamen kosong. Perkamen biasa, tanpa ukiran, tanpa emas, tanpa perak. Kosong.
Putih. Sunyi.
Di samping perkamen kosong itu, sebuah kotak kayu kecil,
sederhana, tanpa ukiran, tanpa hiasan, hanya kayu jati yang dihaluskan dengan
lilin lebah. Di dalam kotak itu, sebuah kurma. Sebuah kurma Sukkari dari kebun
pribadi Baginda Raja. Kurma yang telah dipilih dengan cermat, yang matangnya sempurna,
yang manisnya tidak ada bandingannya.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berjalan mendekati utusan itu,
berdiri tepat di hadapannya, menatap matanya dengan tatapan yang dalam, tatapan
yang penuh amanat, tatapan yang mengatakan: "Kau membawa lebih
dari sekadar peti. Kau membawa harapan. Kau membawa doa. Kau membawa…
persahabatan."
"Abdullah," katanya, suaranya rendah tetapi
jelas, bergema di halaman yang sunyi, "kau tahu apa yang kau bawa?"
Abdullah bin Salim mengangguk, membungkuk hormat. "Aku
tahu, Baginda. Sebuah perkamen kosong. Sebuah kotak kayu. Sebuah kurma."
"Apakah kau tahu maknanya?"
Abdullah terdiam sejenak. Matanya bergerak ke arah Abu
Nawas yang berdiri di samping Baginda Raja dengan jubah lusuh dan senyum
misterius, lalu kembali ke arah Baginda Raja.
"Aku tidak tahu, Baginda. Tapi aku percaya bahwa apa
pun yang Baginda kirim, pasti memiliki makna. Baginda adalah raja yang
bijaksana. Baginda tidak akan mengirim sesuatu tanpa makna. Dan aku… aku akan
menyampaikannya dengan penuh kehormatan. Dengan penuh keyakinan. Dengan penuh…
kejujuran."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. "Bagus,
Abdullah. Itu yang ingin kudengar. Sekarang, pergilah. Sampaikan pesan ini.
Sampaikan dengan penuh hormat. Sampaikan dengan penuh kesopanan. Sampaikan
dengan… hati."
Ia menepuk pundak Abdullah, lalu berjalan ke peti kayu
cendana, meletakkan tangannya di atasnya, dan berdoa dalam hati. Doa yang tidak
didengar oleh siapa pun, tetapi dirasakan oleh semua orang yang hadir. Doa yang
keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Doa yang memohon agar persahabatan
yang pernah retak bisa diperbaiki. Doa yang memohon agar keheningan yang pernah
memisahkan bisa diisi dengan pengertian. Doa yang memohon agar kurma itu…
berbicara.
Para penasihat istana berkumpul di gerbang untuk mengantar
kepergian utusan itu. Mereka berdiri di sisi kiri dan kanan gerbang, berbaris
rapi, dengan wajah-wajah yang berbeda-beda. Ada yang penasaran, ada yang
gelisah, ada yang ragu, ada yang yakin. Ada yang tersenyum, ada yang cemberut,
ada yang tenang, ada yang gelisah. Tapi semuanya, tanpa kecuali, menatap peti
kayu cendana itu dengan mata yang penuh pertanyaan.
Imam Syafii al-Marzuki, ketua majelis penasihat, berdiri di
barisan paling depan, dengan jubah kebesaran berwarna hijau tua, dengan sorban
tinggi yang menunjukkan pangkatnya, dengan wajah yang muram seperti langit
sebelum badai. Tiga puluh tahun ia mengabdi di istana. Tiga puluh tahun ia
memecahkan masalah-masalah yang paling rumit. Tiga puluh tahun ia tidak pernah
gagal. Dan sekarang, seorang pelawak, seorang pemakan kurma dari pinggiran
Baghdad, telah melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Sesuatu
yang terlalu sederhana. Sesuatu yang terlalu… bodoh.
"Abu Nawas," katanya ketika Abu Nawas berjalan
mendekati gerbang untuk melihat kepergian utusan, suaranya rendah tetapi tajam,
seperti pisau yang sudah lama tidak diasah tetapi masih bisa melukai, "aku
harap kau tahu apa yang kau lakukan. Aku harap kau tidak membuat kesalahan. Aku
harap kau tidak mempermalukan Baginda Raja. Aku harap kau tidak… menghancurkan hubungan
yang masih bisa diperbaiki."
Abu Nawas berhenti, menoleh ke arah Imam Syafii, tersenyum
dengan senyum yang tidak bisa dibaca, senyum yang membuat Imam Syafii merasa
bahwa lelaki kurus di hadapannya ini menyimpan rahasia yang tidak akan pernah
ia mengerti.
"Imam Syafii," katanya, suaranya tenang, tidak
terpengaruh oleh nada tajam Imam Syafii, "saya tidak tahu apa yang akan
terjadi. Saya tidak bisa melihat masa depan. Saya tidak bisa membaca pikiran
raja di timur itu. Saya tidak bisa menjamin bahwa ide saya akan berhasil. Tapi
saya tahu satu hal: kejujuran adalah bahasa yang paling universal. Kejujuran
tidak membutuhkan ukiran emas. Kejujuran tidak membutuhkan bantal sutra.
Kejujuran tidak membutuhkan kata-kata indah. Kejujuran hanya membutuhkan… hati.
Hati yang jujur. Hati yang tulus. Hati yang… berani."
Ia mengambil kurma dari sakunya—kurma yang ia pinjam dari
dapur istana pagi ini, karena jatah mingguannya baru akan diberikan besok—dan
memutarnya di antara jari-jarinya.
"Imam Syafii, Imam sudah tiga puluh tahun menjadi
penasihat istana. Imam sudah memecahkan ribuan masalah dengan logika, dengan
hukum, dengan kebijaksanaan. Tapi kadang-kadang, Imam, masalah yang paling
rumit tidak bisa dipecahkan dengan logika. Kadang-kadang, masalah yang paling
rumit hanya bisa dipecahkan dengan… kesederhanaan. Dengan kejujuran. Dengan…
kurma."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan,
menikmati setiap detiknya, membuat Imam Syafii yang sudah tidak sabar semakin
tidak sabar.
"Imam Syafii," lanjut Abu Nawas setelah menelan
kurma, "Imam pernah mendengar cerita tentang seorang bijak yang ditanya,
'Apa rahasia kebijaksanaanmu?' Ia menjawab, 'Aku tidak pernah mencoba mengerti
apa yang tidak perlu dimengerti. Aku tidak pernah mencoba menjawab apa yang tidak
perlu dijawab. Aku tidak pernah mencoba berbicara ketika keheningan sudah
cukup.'"
Imam Syafii terdiam. Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang
berubah. Bukan lagi kemarahan. Bukan lagi kekesalan. Tapi… pemikiran. Pemikiran
yang baru. Pemikiran yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
"Abu Nawas," katanya, suaranya lebih rendah,
lebih lembut, hampir berbisik, "kau benar-benar percaya bahwa kurma akan
berbicara? Kau benar-benar percaya bahwa kekosongan akan dimengerti? Kau
benar-benar percaya bahwa keheningan adalah bahasa yang cukup?"
Abu Nawas tersenyum. "Imam Syafii, saya tidak percaya.
Saya hanya… berharap. Berharap bahwa pada akhirnya, manusia akan mengerti.
Berharap bahwa pada akhirnya, hati akan berbicara. Berharap bahwa pada
akhirnya, keheningan akan dijawab dengan… pengertian."
Ia berjalan meninggalkan Imam Syafii, berjalan ke arah
utusan yang sudah siap berangkat, berjalan ke arah peti kayu cendana yang sudah
ditutup rapat.
"Abdullah," katanya kepada utusan itu, "saya
punya pesan untuk raja di timur itu. Bukan pesan resmi. Bukan pesan diplomatik.
Tapi pesan dari… hati."
Abdullah membungkuk. "Saya siap mendengar, Tuan."
Abu Nawas mendekat, menurunkan suaranya menjadi nyaris
berbisik, sehingga hanya Abdullah yang bisa mendengar.
"Katakan padanya: kurma ini bukan kurma biasa. Kurma
ini dari kebun Baginda Raja. Kurma ini tumbuh di pohon yang ditanam oleh kakek
Baginda, yang dirawat oleh ayah Baginda, yang sekarang dijaga oleh Baginda
sendiri. Kurma ini telah menunggu. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu saat yang
tepat. Menunggu… kejujuran. Dan sekarang, ia datang. Ia datang dengan
keheningan. Ia datang dengan kesederhanaan. Ia datang dengan… harapan. Harapan
bahwa persahabatan yang pernah manis bisa kembali manis. Harapan bahwa
keheningan yang pernah memisahkan bisa diisi dengan pengertian. Harapan bahwa…
kurma ini akan dimengerti."
Abdullah mengangguk, matanya berkaca-kaca, meskipun ia
tidak sepenuhnya mengerti. "Akan kusampaikan, Tuan. Kata demi kata. Dengan
penuh kehormatan. Dengan penuh kesopanan. Dengan penuh… hati."
Ia naik ke atas kudanya, memberi isyarat kepada para
pengawal, dan rombongan pun mulai bergerak. Perlahan-lahan, dengan langkah yang
teratur, dengan irama yang mantap, mereka berjalan meninggalkan gerbang istana,
meninggalkan Baghdad, meninggalkan semua keraguan, meninggalkan semua harapan,
menuju ke timur, menuju negeri yang jauh, menuju… jawaban.
BAB 7: HUMOR YANG MENYADARKAN
Beberapa pekan kemudian, ketika musim gugur mulai berganti
dengan musim dingin, ketika angin dari pegunungan utara berhembus lebih
kencang, membawa dingin yang menusuk tulang, ketika kabut pagi menyelimuti
Baghdad lebih tebal dari biasanya, menciptakan ilusi kota yang terapung di atas
awan, sebuah utusan datang dari kerajaan timur.
Utusan yang sama yang dulu membawa surat kosong. Utusan
yang sama yang dulu membuat seluruh istana kebingungan. Utusan yang sama yang
dulu menjadi saksi bisu dari kebingungan para penasihat, dari kegelisahan
Baginda Raja, dari… kecerdikan Abu Nawas.
Ia datang dengan pakaian kebesaran yang sama, dengan kuda
yang sama lelahnya, dengan wajah yang sama datarnya. Tapi kali ini, ada sesuatu
yang berbeda. Matanya tidak lagi datar. Matanya bersinar. Matanya seperti mata
orang yang membawa kabar baik. Matanya seperti mata orang yang membawa…
jawaban.
Di tangannya, ia membawa sebuah peti kayu cendana. Peti
yang sama seperti yang dibawa dari Baghdad. Peti yang diukir dengan kaligrafi
Arab yang indah, dengan emas di tepinya, dengan bantal sutra merah di dalamnya.
Peti yang telah menempuh perjalanan ribuan mil, melewati padang pasir yang
panas, melewati gunung-gunung yang dingin, melewati sungai-sungai yang deras.
Peti yang sekarang kembali ke Baghdad, membawa sesuatu yang ditunggu-tunggu
oleh seluruh istana.
Utusan itu masuk ke Aula Singgasana Agung dengan upacara
yang sama, dengan kehormatan yang sama, dengan penghormatan yang sama. Para
pejabat istana berdiri di kiri dan kanan, berbaris rapi, dengan wajah-wajah
yang tegang, dengan jantung yang berdebar, dengan napas yang tertahan. Para
penasihat istana duduk di kursi-kursi yang disediakan, dengan tangan yang
gemetar, dengan mata yang tidak berkedip, dengan doa yang terucap dalam hati.
Imam Syafii sendiri, yang tiga puluh tahun tidak pernah gemetar, tangannya gemetar
seperti daun kering yang diterpa angin.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri dari singgasananya. Ia
berdiri dengan tegak, dengan penuh wibawa, dengan penuh harapan. Ia berjalan
mendekati utusan itu dengan langkah yang mantap, tidak tergesa-gesa, tidak
terburu-buru, seperti orang yang sudah menunggu lama dan tahu bahwa sebentar
lagi jawaban akan tiba.
Ia membuka peti kayu cendana itu dengan tangannya sendiri.
Tangannya tidak gemetar. Tangannya tegap, seperti tangan seorang raja yang
tidak pernah takut pada apa pun. Ia mengeluarkan bantal sutra merah itu dengan
hati-hati, dengan penuh hormat, seperti seorang imam mengeluarkan kitab suci
dari tabut perjanjian.
Dan di atas bantal sutra merah itu, tergeletak sebuah kotak
kayu kecil. Kotak yang sama yang ia kirim. Kotak sederhana, tanpa ukiran, tanpa
hiasan, hanya kayu jati yang dihaluskan dengan lilin lebah. Kotak yang telah
menempuh perjalanan ribuan mil, yang telah dibuka di negeri timur, yang
sekarang kembali ke Baghdad dengan membawa… jawaban.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengambil kotak itu dengan
kedua tangannya. Ia merasakan beratnya. Berat yang sama seperti ketika ia
mengirimnya. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bertambah. Tidak ada yang
berkurang. Tapi ia tahu, di dalam kotak itu, ada sesuatu yang baru. Sesuatu
yang tidak ada sebelumnya. Sesuatu yang… akan mengubah segalanya.
Ia membuka kotak itu perlahan-lahan. Suara engsel kayu yang
berdecit terdengar jelas di keheningan aula, seperti suara pintu surga yang
dibuka untuk orang-orang yang beriman. Ia membuka tutupnya, sentimeter demi
sentimeter, dengan gerakan yang penuh antisipasi, dengan jantung yang berdetak
semakin cepat.
Di dalam kotak itu, ada sebuah kurma. Kurma yang sama yang
ia kirim. Kurma Sukkari dari kebun pribadinya. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Kurma itu tidak lagi utuh. Kurma itu telah dimakan setengahnya. Setengah bagian
sudah hilang. Setengah bagian masih ada. Dan di samping kurma itu, selembar
kertas kecil, dilipat rapi, dengan tulisan tangan yang indah, dengan tinta emas
yang berkilau di bawah cahaya lampu minyak.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengambil kertas itu dengan
tangan yang mulai gemetar. Tangannya yang tadi tegap, kini gemetar. Bukan
karena takut. Bukan karena ragu. Tapi karena… haru. Karena… terharu. Karena…
jawaban yang selama ini ia nantikan, akhirnya datang.
Ia membuka lipatan kertas itu perlahan-lahan. Tangannya
gemetar, tetapi ia berusaha tenang. Ia membaca tulisan itu sekali, dua kali,
tiga kali. Matanya tidak berkedip. Napasnya tertahan. Air matanya mengalir.
Tulisan itu pendek. Sangat pendek. Hanya satu kalimat. Tapi
kalimat itu, bagi Baginda Raja Harun Al-Rasyid, lebih panjang dari semua pidato
yang pernah ia dengar. Lebih dalam dari semua samudra yang pernah ia lihat.
Lebih manis dari semua kurma yang pernah ia makan.
"Persahabatan yang manis tidak perlu dihabiskan
sekaligus. Cukup dinikmati sedikit demi sedikit. Agar manisnya bertahan
lama."
Harun Al-Rasyid membaca tulisan itu berulang-ulang. Air
matanya jatuh ke kertas itu, membasahi tinta emas yang berkilau, membuat
tulisan itu semakin bersinar, semakin hidup, semakin… berbicara.
"Abu Nawas," katanya, suaranya serak,
terputus-putus, seperti orang yang baru saja melihat keajaiban, "mereka
mengerti. Mereka mengerti pesan kita. Mereka mengerti bahwa keheningan bukanlah
akhir. Mereka mengerti bahwa kekosongan bukanlah kekalahan. Mereka mengerti
bahwa… persahabatan bisa diperbaiki. Sedikit demi sedikit. Seteguk demi
seteguk. Seperti kurma yang dinikmati perlahan."
Ia berjalan mendekati Abu Nawas yang duduk di sudut aula
dengan semangkuk kurma di pangkuannya, berlutut di hadapannya—seorang raja
berlutut di hadapan seorang pelawak untuk kedua kalinya—dan menunjukkan kertas
itu padanya.
"Lihat, Abu Nawas. Mereka mengerti. Mereka mengerti
bahwa kita tidak menghina. Mereka mengerti bahwa kita tidak mengejek. Mereka
mengerti bahwa kita… merindukan. Merindukan persahabatan yang dulu. Merindukan
kata-kata yang dulu. Merindukan… senyum yang dulu."
Abu Nawas mengambil kertas itu, membacanya dengan saksama,
dan tersenyum. Senyum yang sama seperti ketika ia pertama kali melihat surat
kosong itu. Senyum yang misterius. Senyum yang tidak bisa dibaca. Senyum yang…
puas.
"Baginda," katanya, "itulah makna dari
keheningan. Keheningan bukanlah ketiadaan. Keheningan adalah… ruang. Ruang
untuk berpikir. Ruang untuk merenung. Ruang untuk… memahami. Dan ketika kita
memahami, kita tidak perlu banyak kata. Cukup satu kurma. Cukup satu pesan.
Cukup satu… keheningan yang dimengerti."
Ia mengembalikan kertas itu kepada Baginda Raja, mengambil
kurma dari mangkuknya, dan memasukkannya ke mulut dengan nikmat.
"Baginda, sekarang Baginda mengerti. Sekarang Baginda
tahu bahwa kadang-kadang, jawaban yang paling sederhana adalah jawaban yang
paling benar. Bahwa kadang-kadang, pesan yang paling dalam adalah pesan yang
tidak tertulis. Bahwa kadang-kadang, keheningan adalah bahasa yang paling…
jujur."
BAB 8: PESAN BALASAN DIKIRIM
Setelah utusan itu pulang, setelah peti kayu cendana
disimpan dengan hormat di perpustakaan istana—ditempatkan di rak khusus, di
samping kitab-kitab suci dan naskah-naskah kuno, sebagai pengingat bahwa
kadang-kadang, yang paling sederhana adalah yang paling berharga—setelah kurma
setengah dimakan itu diletakkan di atas meja perak di samping singgasana
Baginda Raja, di dalam kotak kaca yang dibuat khusus agar tidak rusak dimakan
waktu, Baginda Raja Harun Al-Rasyid memanggil Abu Nawas ke ruang pribadinya.
Ia ingin tahu. Ia ingin mengerti. Ia ingin… belajar.
Ruangan pribadi Baginda Raja sore itu terasa berbeda. Udara
di dalamnya tidak lagi terasa berat seperti beberapa pekan lalu.
Dinding-dinding yang dilapisi kain sutra biru tua terasa lebih hangat.
Lampu-lampu minyak yang menyala di sudut-sudut ruangan menciptakan cahaya yang
lembut, tidak lagi menusuk. Jendela-jendela yang menghadap ke taman dalam
dibuka lebar, membiarkan angin sore yang sejuk masuk, membawa aroma bunga
melati dan air mancur yang mengalir tenang.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan
wajah yang lebih tenang dari sebelumnya, dengan mata yang lebih jernih dari
sebelumnya, dengan hati yang lebih ringan dari sebelumnya. Ia tidak lagi
memegang surat kosong. Ia tidak lagi membolak-balik perkamen dengan
kebingungan. Ia hanya duduk, dengan tangan di pangkuan, dengan senyum di bibir,
dengan pikiran yang damai.
"Abu Nawas," katanya ketika Abu Nawas masuk dan
duduk bersila di lantai marmer di hadapannya, suaranya lembut, tidak lagi
tegang seperti beberapa pekan lalu, "aku ingin tahu. Aku ingin tahu
bagaimana kau bisa berpikir seperti itu. Aku ingin tahu bagaimana kau bisa
melihat makna di balik keheningan. Aku ingin tahu bagaimana kau bisa membaca
pesan dari surat kosong. Apakah kau seorang peramal yang bisa melihat masa
depan? Apakah kau seorang pesulap yang bisa membaca pikiran? Apakah kau seorang
nabi yang mendapat ilham dari langit?"
Abu Nawas tertawa. Tertawa yang keras, tertawa yang bebas,
tertawa yang bergema di ruangan yang tenang itu, membuat Harun Al-Rasyid ikut
tersenyum.
"Baginda," katanya, "saya bukan peramal.
Saya tidak bisa melihat masa depan. Saya bukan pesulap. Saya tidak bisa membaca
pikiran. Saya bukan nabi. Saya tidak mendapat ilham dari langit. Saya hanya…
seorang yang suka duduk di kedai pinggiran, makan kurma, minum air tajin, dan
mengamati manusia. Manusia yang tertawa, manusia yang menangis, manusia yang
marah, manusia yang bahagia, manusia yang berbicara, manusia yang… diam. Dan
dari pengamatan itu, Baginda, saya belajar satu hal: bahwa kadang-kadang,
manusia paling jujur ketika ia diam. Kadang-kadang, manusia paling berbicara
ketika ia tidak berkata apa-apa. Kadang-kadang, manusia paling mengerti ketika
ia… tidak mencoba mengerti."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengerutkan kening. "Apa
maksudmu? Bagaimana bisa manusia paling mengerti ketika ia tidak mencoba
mengerti? Bukankah mengerti adalah usaha? Bukankah mengerti adalah proses?
Bukankah mengerti adalah… hasil dari berpikir?"
Abu Nawas mengambil kurma dari sakunya—kurma yang ia pinjam
dari dapur istana karena jatah mingguannya baru akan diberikan besok, tetapi ia
sudah biasa, ia sudah terbiasa meminjam, meminta, atau kadang-kadang… mengambil
tanpa izin, tetapi tidak pernah dengan niat jahat, hanya dengan niat… bertahan
hidup—dan memutarnya di antara jari-jarinya dengan gerakan yang lambat, penuh
pertimbangan, seperti seorang filsuf yang sedang merenungkan makna kehidupan.
"Baginda," katanya, "Baginda pernah melihat
seorang kekasih yang sedang diam? Duduk berdua di tepi sungai, tidak berbicara,
hanya menatap air yang mengalir? Apakah mereka tidak mengerti satu sama lain?
Apakah mereka perlu kata-kata untuk mengerti? Apakah mereka perlu penjelasan
untuk mengerti?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia mengingat masa
lalunya. Masa ketika ia masih muda, ketika ia masih jatuh cinta, ketika ia
duduk di tepi sungai dengan Zubaidah, tidak berbicapa, hanya menatap air yang
mengalir, hanya merasakan kehadiran satu sama lain. Apakah ia mengerti Zubaidah
saat itu? Apakah ia perlu kata-kata? Apakah ia perlu penjelasan?
"Baginda," lanjut Abu Nawas, "Baginda pernah
melihat seorang sahabat yang sedang cemberut? Duduk di sudut ruangan, tidak mau
bicara, hanya memandang ke lantai? Apakah Baginda perlu bertanya mengapa ia
cemberut? Apakah Baginda perlu penjelasan panjang tentang apa yang membuatnya
marah? Atau Baginda hanya perlu… duduk di sampingnya? Diam. Menemani. Mengerti
tanpa kata-kata?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk perlahan. Ia
mengingat Jafar. Jafar yang pernah cemberut karena suatu keputusan yang ia
ambil, keputusan yang tidak disukai Jafar, keputusan yang membuat Jafar diam
selama berhari-hari. Dan ia, tanpa bertanya, hanya duduk di samping Jafar,
diam, menemani, dan akhirnya Jafar berbicara sendiri. Bukan karena dipaksa.
Bukan karena ditanya. Tapi karena… keheningan yang mengerti.
"Baginda," lanjut Abu Nawas, suaranya menjadi
lebih dalam, lebih lembut, lebih menyentuh, "Baginda pernah melihat
seorang anak yang sedang merajuk? Menangis tanpa suara, membelakangi orang
tuanya, tidak mau diganggu? Apakah orang tuanya perlu bertanya mengapa ia menangis?
Apakah mereka perlu mencari tahu apa yang salah? Atau mereka hanya perlu…
menunggu? Menunggu sampai anak itu sendiri yang datang. Menunggu sampai anak
itu sendiri yang berbicara. Menunggu sampai anak itu sendiri yang… mengerti
bahwa ia dicintai."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan,
menikmati setiap serat, setiap butir gula, setiap lapisan rasa yang tersembunyi
di balik manisnya.
"Surat kosong itu, Baginda, adalah keheningan yang
sama. Keheningan seorang sahabat yang merasa diabaikan. Keheningan seorang
mitra yang merasa tidak dihargai. Keheningan seorang teman yang merasa…
dilupakan. Bukan kemarahan. Bukan kebencian. Bukan permusuhan. Tapi… kesedihan.
Kesedihan yang terlalu dalam untuk diucapkan. Kesedihan yang terlalu berat
untuk ditulis. Kesedihan yang hanya bisa diungkapkan dengan… diam."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak bergerak. Tidak
berkedip. Tidak bernapas. Ia hanya menatap Abu Nawas dengan mata yang semakin
lebar, dengan pikiran yang berputar semakin cepat, dengan hati yang berdetak
semakin keras.
"Dan ketika kita menerima keheningan itu,
Baginda," lanjut Abu Nawas, "kita tidak perlu membalas dengan
kata-kata. Kita tidak perlu membalas dengan penjelasan. Kita tidak perlu
membalas dengan permintaan maaf yang panjang. Karena kata-kata tidak akan
cukup. Penjelasan tidak akan cukup. Permintaan maaf tidak akan cukup. Yang
cukup, Baginda, adalah… keheningan yang sama. Keheningan yang mengerti.
Keheningan yang memahami. Keheningan yang… merindukan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. Air matanya
mengalir lagi, tetapi kali ini ia tidak menyembunyikannya. Ia membiarkan air
mata itu mengalir, membiarkannya menjadi saksi dari pemahaman yang baru, dari
kebijaksanaan yang baru, dari… persahabatan yang diperbaiki.
"Dan kurma?" tanyanya, suaranya masih serak
tetapi penuh rasa ingin tahu. "Mengapa kurma? Mengapa bukan emas? Bukan
permata? Bukan sutra? Bukan… sesuatu yang lebih berharga?"
Abu Nawas tersenyum. Ia mengambil kurma lain dari
sakunya—kurma yang ia pinjam dari dapur istana, tetapi tidak ada yang perlu
tahu—dan memutarnya di antara jari-jarinya dengan gerakan yang lembut, penuh
kasih sayang, seperti seorang ibu yang memegang bayinya.
"Baginda," katanya, "emas bisa dicuri.
Permata bisa dipalsukan. Sutra bisa robek. Tapi kurma, Baginda, kurma adalah
hadiah yang paling jujur. Kurma tidak bisa dipalsukan. Kurma tidak bisa dicuri
maknanya. Kurma tidak bisa robek kejujurannya. Kurma adalah… persahabatan.
Kurma adalah… kemakmuran. Kurma adalah… manisnya hubungan yang dijaga dengan
sabar."
Ia mendekatkan kurma itu ke hidungnya, menghirup aromanya
yang manis, seperti seorang penikmat anggur yang sedang mengecek kualitas
minumannya.
"Baginda, Baginda tahu apa yang dikatakan oleh
orang-orang bijak tentang kurma? Mereka mengatakan bahwa kurma adalah buah yang
paling sabar. Ia tumbuh di padang pasir yang panas, di tanah yang kering, di
bawah terik matahari yang menyengat. Ia menunggu berbulan-bulan untuk matang.
Ia tidak terburu-buru. Ia tidak tergesa-gesa. Ia tidak memaksakan diri. Ia
hanya… menunggu. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu saat yang tepat. Menunggu…
kejujuran. Dan ketika ia matang, Baginda, ketika ia siap, ketika ia dipetik
pada waktunya, manisnya tidak ada bandingannya. Manisnya seperti… persahabatan
yang dijaga dengan sabar. Manisnya seperti… kejujuran yang dinanti dengan
sabar. Manisnya seperti… keheningan yang dijawab dengan pengertian."
Baaginda Raja Harun Al-Rasyid tertawa. Tawa yang keras,
tawa yang bebas, tawa yang sudah lama tidak terdengar di ruangan ini. Tawa yang
membuat Jafar, yang berdiri di luar pintu, tersenyum lega. Tawa yang membuat
para penjaga di koridor saling berpandangan dengan senyum. Tawa yang membuat
seluruh istana, untuk sesaat, merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kau benar, Abu Nawas. Kau benar," katanya di
sela tawa. "Kurma adalah hadiah yang paling jujur. Kurma adalah pesan yang
paling manis. Kurma adalah… bahasa yang paling universal. Siapa pun, di mana
pun, kapan pun, akan mengerti bahwa kurma adalah… persahabatan. Kurma adalah…
kemurahan hati. Kurma adalah… harapan. Kurma adalah… kejujuran yang tidak perlu
diucapkan."
Ia berdiri, berjalan ke meja di sudut ruangan, mengambil
sebuah kurma dari mangkuk perak yang disediakan—kurma Sukkari dari kebun
pribadinya, kurma yang sama yang ia kirim ke negeri timur—dan memasukkannya ke
mulut. Ia mengunyah perlahan, menikmati setiap serat, setiap butir gula, setiap
lapisan rasa yang tersembunyi di balik manisnya. Dan untuk pertama kalinya
dalam beberapa bulan, ia merasakan manisnya kurma dengan penuh kesadaran. Bukan
karena ia lapar. Bukan karena ia butuh energi. Tapi karena ia… mengerti.
Mengerti bahwa kurma bukan sekadar buah. Kurma adalah… pesan. Kurma adalah…
pelajaran. Kurma adalah… kehidupan.
"Abu Nawas," katanya sambil mengunyah, suaranya
lebih jernih, lebih ringan, lebih muda dari sebelumnya, "kau telah
mengajarkanku sesuatu yang tidak diajarkan oleh para penasihat, para
cendekiawan, atau para ahli bahasa. Kau mengajarkanku bahwa kadang-kadang,
jawaban yang paling sederhana adalah jawaban yang paling benar. Bahwa
kadang-kadang, pesan yang paling dalam adalah pesan yang tidak tertulis. Bahwa
kadang-kadang, keheningan adalah bahasa yang paling… jujur."
Abu Nawas berdiri, membungkuk dalam-dalam, lebih dalam dari
biasanya, lebih dalam dari yang pernah ia lakukan di hadapan Baginda Raja.
"Baginda," katanya, "saya hanya seorang
pelawak yang suka kurma. Saya tidak mengajarkan apa pun. Saya hanya… membantu.
Membantu Baginda membaca apa yang tidak tertulis. Membantu Baginda mendengar
apa yang tidak terucap. Membantu Baginda… memahami apa yang tidak dikatakan.
Tapi Baginda, Baginda yang memutuskan. Baginda yang memilih keheningan. Baginda
yang mengirim kurma. Baginda yang… memperbaiki persahabatan. Dan untuk itu,
Baginda, raja di timur itu berterima kasih. Dan saya, Baginda, saya hanya…
tersenyum. Tersenyum karena melihat dua raja yang bijaksana saling mengerti.
Tersenyum karena melihat keheningan yang berbicara. Tersenyum karena melihat…
kurma yang menyembuhkan."
EPILOG: ARTI SEBUAH KEHENINGAN
Beberapa hari kemudian, ketika musim dingin mulai
menunjukkan taringnya, ketika angin dari pegunungan utara berhembus semakin
kencang, ketika kabut pagi menyelimuti Baghdad seperti selimut putih yang
tebal, Abu Nawas duduk di Kedai Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut
ruangan. Di depannya, segelas air tajin dingin yang masih segar, semangkok
kurma Sukkari yang mengilap seperti batu akik—jatah mingguan yang baru saja ia
ambil dari istana pagi ini—dan sebotol kecil anggur yang ia sembunyikan di
balik jubahnya, meskipun ia sudah berjanji pada Jafar untuk tidak minum anggur
di tempat umum. Janji, pikirnya, adalah sesuatu yang mulia. Tapi anggur,
pikirnya, juga sesuatu yang mulia. Dan terkadang, dua hal yang mulia bisa
berdampingan dengan damai, asalkan tidak ada yang tahu.
Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir
Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk
tidak dikenali oleh pengunjung lain—meskipun semua orang di kedai itu sudah
tahu bahwa lelaki tampan dengan jubah sederhana itu adalah Wazir terkuat di
kekhalifahan. Jafar tampak lebih santai dari biasanya, lebih tenang, lebih…
bahagia. Mungkin karena perkara surat kosong sudah selesai. Mungkin karena
Baginda Raja tertawa lagi. Mungkin karena persahabatan dengan kerajaan timur
telah diperbaiki. Mungkin karena… ia juga belajar sesuatu dari perkara ini.
Di samping Jafar, duduk Imam Syafii al-Marzuki, ketua
majelis penasihat istana, dengan jubah sederhana berwarna abu-abu, dengan
sorban yang dililit sederhana, dengan wajah yang tenang. Ia tidak lagi terlihat
muram seperti beberapa pekan lalu. Matanya tidak lagi penuh keraguan. Tangannya
tidak lagi gemetar. Ia duduk di bangku kayu Kedai Al-Farabi dengan nyaman,
seolah-olah ia sudah biasa duduk di tempat seperti ini, meskipun sebenarnya ini
adalah pertama kalinya ia mengunjungi kedai pinggiran.
"Abu Nawas," kata Jafar sambil menyesap air tajin
yang ia pesan agar tidak mencolok—meskipun air tajin di kedai ini tidak pernah
seenak air tajin di istana, tetapi ia tidak keberatan, karena suasana di sini
lebih santai, lebih bebas, lebih… manusiawi, "aku masih penasaran dengan
satu hal. Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sejak persidangan—maaf, sejak
perkara surat kosong itu selesai."
Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan
mengunyah dengan malas. "Apa, Wazirku yang mulia? Apakah tentang kurma?
Tentang keheningan? Tentang surat kosong? Tentang Baginda Raja yang berlutut di
hadapanku dua kali? Karena itu, Wazir, adalah pemandangan yang tidak akan
pernah kau lupakan, bukan? Baginda Raja berlutut. Baginda Raja, Amirul
Mukminin, Pemimpin Orang-Orang Beriman, berlutut di hadapan seorang pelawak
yang jubahnya penuh noda kurma. Itu, Wazir, adalah kebijaksanaan yang tidak
pernah diajarkan di sekolah-sekolah hukum. Itu adalah kerendahan hati yang
tidak pernah diajarkan di istana-istana megah. Itu adalah… kejujuran yang hanya
bisa dipelajari di kedai pinggiran."
Imam Syafii tersenyum. "Abu Nawas, kau benar. Aku
sudah tiga puluh tahun menjadi penasihat istana. Aku sudah melihat banyak raja.
Aku sudah mendengar banyak pidato. Aku sudah membaca banyak kitab. Tapi tidak
pernah, tidak sekali pun, aku melihat seorang raja berlutut di hadapan
rakyatnya. Tidak pernah, tidak sekali pun, aku melihat seorang pemimpin
merendahkan diri untuk belajar. Dan hari itu, ketika Baginda Raja berlutut di
hadapanmu, aku belajar sesuatu. Aku belajar bahwa kebijaksanaan tidak selalu
datang dari orang yang duduk di kursi tinggi. Aku belajar bahwa kejujuran tidak
selalu diucapkan dengan kata-kata indah. Aku belajar bahwa… kadang-kadang,
seorang pelawak bisa menjadi guru terbaik."
Abu Nawas tertawa. "Imam Syafii, Imam terlalu baik.
Saya bukan guru. Saya hanya seorang yang suka duduk di kedai ini, makan kurma,
minum air tajin, dan tertawa. Tapi jika ada yang bisa Imam pelajari dari saya,
biarlah itu: bahwa kadang-kadang, yang paling penting tidak tertulis. Kadang-kadang,
yang paling penting harus dipahami. Kadang-kadang, yang paling penting adalah…
keheningan. Keheningan yang dijawab dengan kejujuran. Keheningan yang dijawab
dengan kesederhanaan. Keheningan yang dijawab dengan… kurma."
Jafar mengangkat mangkuk air tajinnya. "Untuk
keheningan, Abu Nawas. Untuk kejujuran. Untuk… kurma."
Abu Nawas mengangkat mangkuk air tajinnya—setelah dengan
cepat menyembunyikan botol anggur di balik jubahnya, karena ia tidak ingin Imam
Syafii melihat bahwa ia hampir melanggar janji, karena Imam Syafii adalah orang
yang sangat serius, dan orang yang sangat serius biasanya tidak mengerti
mengapa seseorang perlu minum anggur di pagi hari.
"Untuk keheningan, Wazir. Dan untuk kurma Sukkari yang
manisnya pas."
Mereka menyesap minuman mereka bersama, menikmati
keheningan sore yang mulai merambat masuk melalui jendela-jendela kedai yang
terbuka. Di luar, matahari mulai terbenam di ufuk barat, mencelupkan langit
dalam warna jingga, merah, dan ungu, seperti lukisan raksasa yang tidak pernah selesai.
Burung-burung mulai kembali ke sarang mereka, anak-anak mulai pulang ke rumah
mereka, pedagang-pedagang mulai menutup kios mereka. Baghdad mulai bersiap
untuk malam.
"Abu Nawas," kata Imam Syafii setelah beberapa
saat, suaranya rendah, penuh perenungan, "aku masih memikirkan perkara
surat kosong itu. Aku masih memikirkan bagaimana kau bisa melihat makna di
balik keheningan. Aku masih memikirkan bagaimana kau bisa memilih kurma sebagai
balasan. Dan aku sampai pada satu kesimpulan."
"Apa, Imam?" tanya Abu Nawas sambil mengambil
kurma.
"Bahwa kecerdikanmu bukan pada jawaban rumit, tetapi
pada pemahaman sederhana. Bahwa kebijaksanaanmu bukan pada kata-kata panjang,
tetapi pada keheningan yang dimengerti. Bahwa… kau, Abu Nawas, adalah orang
yang paling sederhana di istana ini, tetapi juga yang paling dalam. Orang yang
paling banyak tertawa, tetapi juga yang paling banyak berpikir. Orang yang
paling tidak dianggap, tetapi juga yang paling… bijaksana."
Abu Nawas tersenyum. "Imam Syafii, Imam terlalu baik.
Saya hanya seorang pelawak yang suka kurma. Tapi jika ada yang bisa Imam
pelajari dari saya, biarlah ini: kadang-kadang, diam adalah bahasa paling
jujur. Kadang-kadang, keheningan adalah jawaban paling tepat. Kadang-kadang,
yang paling penting tidak tertulis, tetapi harus dipahami. Dan untuk
memahaminya, Imam, kita tidak perlu otak yang cerdas. Kita tidak perlu gelar
yang tinggi. Kita tidak perlu buku yang tebal. Kita hanya perlu… hati. Hati
yang terbuka. Hati yang jujur. Hati yang… mau mendengar. Hati yang… mau diam.
Hati yang… mau mengerti."
Imam Syafii mengangguk. Ia berdiri, merapikan jubahnya, dan
berjalan keluar dari kedai dengan langkah yang ringan, dengan hati yang tenang,
dengan pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.
Di luar kedai, matahari telah sepenuhnya terbenam,
meninggalkan langit yang mulai dipenuhi bintang-bintang. Bintang-bintang yang
bersinar terang, seolah-olah ikut tersenyum melihat dunia di bawahnya. Di
kejauhan, dari arah istana, terdengar suara tawa Baginda Raja Harun
Al-Rasyid—tawa yang bergema di senja Baghdad, tawa yang membawa kedamaian bagi
kota yang selalu haus akan keadilan, tawa yang mengingatkan semua orang bahwa
di tengah kekuasaan yang berat, di tengah intrik yang rumit, di tengah
kebohongan yang bersembunyi di balik senyum, masih ada ruang untuk tawa. Masih
ada ruang untuk kejujuran. Masih ada ruang untuk… keheningan yang dimengerti.
Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap
air tajinnya, mengambil kurma terakhir di mangkuk, melemparkannya ke udara, dan
menangkapnya dengan mulut.
"Keheningan," gumamnya sambil mengunyah,
"adalah bahasa paling jujur. Karena kata-kata bisa dibohongi. Kalimat bisa
dimanipulasi. Paragraf bisa diputarbalikkan. Pidato bisa direkayasa. Sumpah
bisa dilanggar. Janji bisa diingkari. Tapi keheningan, wahai saudara-saudaraku,
keheningan tidak pernah berbohong. Keheningan selalu jujur. Keheningan selalu…
apa adanya. Keheningan selalu… menunggu. Menunggu untuk dipahami. Menunggu
untuk dijawab. Menunggu untuk… dihargai."
Ia memanggil pelayan kedai untuk yang ketiga kalinya malam
itu.
"Nak, tambah kurma satu mangkuk. Dan air tajin satu
gelas. Saya sedang merenungkan sesuatu yang sangat berat: apakah keheningan
lebih jujur dari kata-kata? Apakah diam lebih bermakna dari pidato panjang?
Apakah kurma lebih dalam dari emas? Apakah kesederhanaan lebih bijaksana dari
kerumitan? Ini teka-teki yang tidak kalah pentingnya dari surat kosong di
istana. Dan saya, Nak, tidak akan bisa tidur sebelum teka-teki ini
terjawab."
Pelayan itu tertawa, bergegas mengambil pesanan.
Dan di luar, di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema, mengingatkan
semua orang bahwa kadang-kadang, yang paling penting tidak tertulis.
Kadang-kadang, yang paling penting harus dipahami. Kadang-kadang, yang paling
penting adalah… keheningan. Keheningan yang dijawab dengan kejujuran.
Keheningan yang dijawab dengan kesederhanaan. Keheningan yang dijawab dengan…
kurma.
TAMAT
Kata Bijak dari Abu Nawas:
"Kadang-kadang, yang paling penting tidak tertulis,
tetapi harus dipahami. Kadang-kadang, yang paling dalam tidak terdengar, tetapi
harus dirasakan. Kadang-kadang, yang paling jujur tidak diucapkan, tetapi
hanya… didiamkan. Karena keheningan, wahai saudara-saudaraku, adalah bahasa
yang paling jujur. Keheningan tidak pernah berbohong. Keheningan selalu apa
adanya. Keheningan selalu menunggu. Menunggu untuk dipahami. Menunggu untuk
dijawab. Menunggu untuk… dihargai. Dan ketika keheningan dijawab dengan
kejujuran, dengan kesederhanaan, dengan… kurma, maka persahabatan yang retak
akan pulih. Maka jarak yang memisahkan akan terhubung. Maka keheningan akan
berbicara. Berbicara dalam bahasa yang tidak perlu kata-kata. Berbicara dalam
bahasa yang hanya bisa dipahami oleh hati. Berbicara dalam bahasa yang… abadi."
—Abu Nawas, di Kedai Al-Farabi, pinggiran Baghdad











