Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 26 Februari 2026

Novel Tiga Generasi Awan Biru


PROLOG

Angin sore berbisik lembut di sela bilik bambu Warung RT 02. Bangku-bangku kayu yang sudah usang dimakan usia masih setia berjejer di sudut ruangan, menyimpan ribuan kisah yang tak pernah tercatat dalam dokumen desa manapun. Di dinding, foto hitam putih Pak Iwan tersenyum tipis, bingkainya mulai berdebu, tapi matanya, entah kenapa, masih terasa hidup bagi siapa pun yang duduk di bangku panjang menghadap ke arahnya.

Meja kayu di tengah ruangan itu lecet dimana-mana. Ada coretan kecil di sudut meja, tulisan tangan anak kecil yang memudar: "Arjuna, 12 tahun, mimpi jadi kepala desa." Di sebelahnya, tulisan lain yang lebih baru: "Titik, 10 tahun, pengen punya warung kayak nenek."

Seorang lelaki tua duduk di sudut ruangan, menghisap rokok daun nipah perlahan. Asapnya naik berputar, seolah ingin bercerita pada langit-langit bilik yang sudah bolong di sana-sini. Itu Si Amat. Rambutnya sudah memutih sempurna, punggungnya mulai membungkuk, tapi matanya masih menyala saat melihat pintu warung.

"Masih ingat, Nok?" tiba-tiba ia bersuara, suaranya serak tapi jelas.

Di seberangnya, seorang perempuan paruh baya menuang kopi ke dua cangkir. Itu Julia, Amat Juana, panggilannya, anak bungsu Amat yang kini mengelola warung itu. "Ingat apa, Pak?"

"Tanggal 26 Februari 2026." Si Amat tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang tinggal separuh. "Hari pertama saya upload foto salah."

Julia tertawa renyah. "Cerita itu lagi, Pak? Udah ribuan kali diceritain."

"Tapi belum pernah ditulis, Nok. Belum pernah." Si Amat menatap keluar warung, ke arah jalan desa yang kini mulus beraspal, ke arah papan nama digital yang menampilkan informasi desa secara real-time, ke arah balai desa yang sudah tiga kali direnovasi tapi tetap mempertahankan arsitektur aslinya. "Kisah kita ini, harusnya ditulis. Biar anak cucu tahu."

Julia berhenti menuang. Ia menatap ayahnya lama.

"Kita ini," lanjut Si Amat, "tiga generasi yang duduk di warung ini, Nok. Bapakmu ini, generasi pertama yang bikin kacau. Pak Iwan, generasi pertama yang bikin desa ini punya mimpi. Lalu ada generasi kedua, Arjuna, Kirana, kakakmu Amat Junior, mereka yang mewujudkan mimpi itu. Sekarang generasi ketiga: kamu, Joko, Titik. Kalian yang menjaga."

Julia duduk di samping ayahnya. "Bapak mau saya tulis?"

"Bukan kamu. Kita." Si Amat meraih tangan anaknya. "Tiga generasi. Satu warung. Satu desa. Satu langit yang sama."

Di luar, langit Awan Biru memang masih sama seperti enam puluh tahun lalu. Biru muda dengan semburat jingga di ufuk barat. Awan-awan kecil berarak lambat, seolah tak peduli pada hiruk pikuk perubahan di bawahnya.

"Mulai dari mana?" tanya Julia.

"Dari awal, Nok. Dari pelantikan kedua Pak Iwan." Si Amat meneguk kopinya, matanya menerawang jauh. "Dari saat saya, bodohnya, hampir membuat desa ini jadi bahan tertawaan se-kabupaten."

Julia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan. Langit di luar semakin jingga.***

 

Balai Desa Awan Biru pagi itu penuh sesak. Kursi plastik warna-warni berjejer rapi di halaman, tapi kebanyakan warga memilih berdiri di pinggir-pinggir, bersandar pada pohon trembesi yang sudah berusia puluhan tahun. Bendera merah putih berkibar kecil-kecil di tangan anak-anak yang berlarian di antara kerumunan.

Pak Iwan duduk di kursi utama, jas hitam yang sedikit kebesaran membuatnya terlihat kaku. Dasinya, yang diikat istrinya pukul lima pagi, sudah miring ke kiri. Di sampingnya, Pak Camat dari Kecamatan Kabut Merah membaca sambutan dengan suara monoton seperti mesin pemotong rumput.

"dan dengan ini, saudara Iwan Prasetyo, resmi dilantik sebagai Kepala Desa Awan Biru untuk masa jabatan kedua periode 2019-2025."

Tepuk tangan mengalir, tapi tak begitu ramai. Pak Iwan bisa merasakannya. Tepuk tangan yang basah, tanpa semangat. Ia tahu persis kenapa.

"Pak Iwan, dua periode tapi jalan di tempat," bisik seorang ibu di belakang.

"Iya, mending yang muda, ada ide baru," timpal yang lain, tak peduli suaranya mungkin terdengar.

Pak Iwan menggenggam surat keputusan di tangannya. Kertas itu terasa berat. Enam tahun pertama kepemimpinannya,ia akui,lebih banyak diisi pembelajaran daripada terobosan. Jalan desa masih berlubang di sana-sini. Sistem administrasi masih manual, berkas menumpuk di lemari tua sampai dimakan tikus. Website desa? Baru dibuat tahun lalu dan hampir tidak pernah update.

"Sambutan dari kepala desa terpilih," suara Pak Camat memotong lamunannya.

Pak Iwan berdiri, melangkah ke depan mimbar. Mikrofon berdecit. Ia menepuknya pelan, decitan makin keras.

"Ini mikrofon, tolong jangan ditepuk-tepuk, nanti rusak," teriak seseorang dari barisan belakang.

Tawa pecah. Pak Iwan ikut tersenyum. Setidaknya, warganya masih bisa bercanda.

"Bapak, Ibu, sedulur-sedulurku semua..." Ia menghela napas. "Saya tahu, enam tahun pertama saya mungkin belum banyak berbuat. Jalan masih bolong. Kantor desa masih berantakan. Ada yang bilang, desa kita stagnan."

Kerumunan hening. Beberapa orang saling pandang.

"Tapi saya janji," lanjut Pak Iwan, suaranya mulai bergetar, "lima tahun ke depan, kita ubah semuanya. Bukan saya yang mengubah. Kita. Semua yang hadir di sini. Desa ini milik kita bersama."

"Setuju!" teriak seseorang dari pinggir. Itu Santoso, petani yang selalu hadir di setiap musyawarah meski sering ngomel. "Tapi jangan omdo, omong doang!"

Tawa lagi. Pak Iwan mengangkat tangan, tanda setuju.

Di pojok halaman, seorang pemuda berusia dua puluhan sibuk dengan ponselnya. Itu Si Amat, tenaga IT desa, gelar lulusan STM jurusan listrik yang kebetulan bisa mengoperasikan komputer. Ia sedang mencoba mengupload foto-foto pelantikan ke website desa. Keringat mengucur di dahinya meski pagi masih sejuk.

"Koneksinya lemot, Pakde," gerutunya pada dirinya sendiri.

Di dekatnya, Bu Lurah, panggilan untuk istri Pak Iwan, Bu Endang, mengipasi dirinya dengan kertas undangan. "Amat, nanti aja, ini lagi sambutan."

"Bentar, Bu, biar cepat update." Jari-jari Amat menari di layar. Ia memilih lima foto terbaik: Pak Iwan disumpah, Pak Iwan tanda tangan, Pak Iwan bersalaman dengan Pak Camat, foto bersama perangkat desa, dan satu foto selfie-nya dengan latar belakang balai desa yang ia rasa keren.

Upload.

Proses.

Loading...

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Bukan sekali, berkali-kali. Notifikasi WhatsApp masuk bertubi-tubi.

Amat membaca satu per satu. Matanya membelalak.

"Mas Amat! Foto APBDes!" pesan dari Yuni, staf administrasi yang duduk tak jauh darinya.

Amat membuka website desa. Foto yang ia upload berjejer rapi. Foto pertama: Pak Iwan dilantik. Foto kedua: Pak Iwan tanda tangan. Foto ketiga: Pak Iwan dan Pak Camat. Foto keempat: foto bersama perangkat. Foto kelima...

Foto kelima adalah screenshot dokumen APBDes, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, yang seharusnya hanya untuk konsumsi internal, tidak untuk publik. File itu ada di galerinya karena ia diminta Bu Endang mengeceknya kemarin. Dan entah bagaimana, tanpa sengaja, ia memilihnya untuk diupload.

"Astagfirullah..." Amat memucat.

"Mas Amat!" Yuni sudah berdiri di depannya, wajah merah padam. "Itu APBDes! Anggaran rahasia! Cepat hapus!"

Amat gemetar membuka ponsel. Jari-jarinya seperti kesemutan. Ia buka website, cari foto kelima, klik hapus.

Konfirmasi: "Apakah Anda yakin ingin menghapus foto ini?"

"Iya iya iya!" Amat menghentak-hentak.

Terhapus. Tapi sudah terlambat. Minimal dua puluh orang sudah membuka website. Screenshot berseliweran di grup WhatsApp warga.

"Pak Iwan gajinya berapa, sih?" teriak seseorang dari kerumunan.

"Tunjangan perangkat desa naik? Kok gede amat?"

"Ini dana desa buat apa aja? Kok banyak ke 'operasional'?"

Pak Iwan, yang masih di mimbar, menoleh bingung. Ia melihat keributan di pojok. Bu Endang berlari ke arah sumber masalah.

"Amat!!!" teriak Bu Endang setengah berbisik, setengah meledak.

Si Amat hanya bisa menunduk, ponsel masih gemetar di tangan.

Dua jam kemudian, suasana pelantikan yang seharusnya berakhir dengan makan siang bersama berubah menjadi rapat dadakan di ruang kantor desa. Pak Iwan, Bu Endang, Yuni, Lulu, Sekdes, dan Amat duduk melingkar. Amat tak berani angkat muka.

"Sudah," Pak Iwan memecah keheningan. "Apa yang sudah terjadi, ya sudah terjadi."

"Pak Iwan, ini masalah besar," kata Lulu, staf administrasi lain yang dikenal vokal. "APBDes bocor ke publik. Orang bisa salah paham."

"Mereka bukan salah paham," timpal Yuni. "Mereka paham betul. Soalnya angka-angka itu benar. Tunjangan kita emang naik."

"Tapi kan belum final, masih draf!" sela Bu Endang.

"Bu, warga nggak peduli draf atau final," kata Lulu. "Yang mereka lihat: perangkat desa naik gaji, sementara jalan desa masih bolong."

Amat mengangkat muka, matanya berkaca-kaca. "Pak Iwan, saya... saya mundur aja. Saya perasaan selalu bikin salah."

Pak Iwan menatap Amat lama. Pemuda kurus dengan kemeja lusuh dan rambut tak pernah rapi itu. Anak yatim piatu yang lulus STM seadanya, lalu ditampung jadi tenaga honorer desa karena kasihan dan karena dia satu-satunya di desa yang paham komputer selain anak-anak kuliahan.

"Amat," Pak Iwan memanggil lembut. "Kamu tahu bedanya orang bodoh dan orang belajar?"

Amat menggeleng.

"Orang bodoh itu yang ngulang-ngulang kesalahan yang sama. Kamu ini cuma belum belajar." Pak Iwan berdiri, mendekati Amat. "Ini pelajaran pertamamu. Dan gratis. Nggak usah mundur."

"Tapi, Pak..."

"Tapi apa? Yang udah keceplosan, ya sudah. Kita hadapi." Pak Iwan menatap semua yang hadir. "Sekarang kita pikirkan cara menjelaskan ke warga. Transparan. Apa adanya."

"Tunjangan kita memang naik, tapi karena beban kerja bertambah," kata Sekdes, mulai berpikir. "Dana operasional itu untuk pembelian komputer baru dan pelatihan IT."

"Bisa," kata Lulu. "Tapi kita harus buka semuanya. Beneran transparan."

Yuni menghela napas. "Berarti... APBDes final nanti harus dibahas di musyawarah terbuka? Dengan warga?"

"Kenapa tidak?" Pak Iwan mengangkat bahu. "Bukannya memang seharusnya begitu? Cuma selama ini kita lakukan tertutup karena takut ribut."

Semua diam. Di luar, suara warga yang masih nongkrong di halaman balai mulai ramai. Mereka belum pulang. Mereka menunggu penjelasan.

"Amat," Pak Iwan menepuk bahu pemuda itu. "Kamu ikut saya ke luar. Kamu yang akan menjelaskan."

Amat terkesiap. "S-saya, Pak?"

"Kamu yang buat salah, kamu yang perbaiki. Itu juga pembelajaran." Pak Iwan tersenyum. "Tapi saya dampingin."

Di luar, Pak Iwan dan Amat berdiri di teras balai. Warga mengerumuni. Amat gemetar hebat.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu..." Suara Amat pecah. Ia berdeham. "Saya... saya minta maaf. Saya salah upload."

"Kami nggak minta maaf, Mas! Kami minta penjelasan!" teriak seseorang.

"Anggarannya benar," kata Pak Iwan tiba-tiba, tegas. Semua hening. "Tunjangan perangkat naik 15 persen. Dana operasional naik 20 persen. Itu semua akan saya pertanggungjawabkan."

"Iya, Pak Iwan, tapi kok gede amat kenaikannya?"

"Karena mulai tahun ini, kita akan digitalisasi desa. Beli server, beli komputer baru, training untuk Amat dan staf. Itu semua butuh dana. Dan saya tidak mau ambil dana dari pos lain, dari pos yang seharusnya untuk pembangunan fisik. Jadi ya, operasional kita naik. Tapi kalian akan lihat hasilnya."

Warga saling pandang. Digitalisasi. Kata asing yang belum semua paham.

"Pak Iwan, maksudnya digitalisasi itu apa?" tanya seorang bapak tua.

Sebelum Pak Iwan menjawab, Amat angkat bicara. Suaranya masih gemetar, tapi mulai berani. "Maksudnya, Pak, nanti... nanti ngurus KTP, KK, surat-surat, bisa online. Nggak perlu bolak-balik ke kantor. Nanti ada website desa yang selalu update, jadi warga tahu program desa apa aja."

"Duitnya dari mana? APBDes itu kan?"

"Dari dana desa, Pak. Memang kita alokasikan untuk itu."

Seorang ibu berteriak, "Lha, kami butuhnya jalan mulus, bukan website-website!"

Tawa kecil. Tapi Pak Iwan tersenyum. "Bu, jalan tetap kita muluskan. Tapi percuma jalan mulus kalau urusan administrasi masih berbelit. Nanti kalau sudah online, Bu, ngurus surat pindah, ngurus KK baru, cukup dari rumah. Nggak perlu ke kantor, nggak perlu antri."

Kerumunan mulai berdiskusi sendiri-sendiri. Ada yang manggut-manggut, ada yang masih mengernyitkan dahi. Tapi setidaknya, ketegangan mulai reda.

Malam harinya, di rumah Pak Iwan, perangkat desa berkumpul lagi, kali ini informal, sambil makan gorengan dan minum kopi.

"Amat," kata Pak Iwan, "besok kamu buat laporan lengkap. Semua yang kamu upload tadi, itu kan draf APBDes. Besok kita bahas ulang. Benerin yang perlu dibenerin. Lalu kita undang warga untuk musyawarah APBDes terbuka."

"Terbuka, Pak?" Yuni masih ragu.

"Terbuka." Pak Iwan mengangguk mantap. "Mereka punya hak tahu. Selama ini kita sembunyi-sembunyi, akhirnya malah kecolongan. Mulai sekarang, kita buka semuanya. Kalau ada yang protes, kita jelaskan. Kalau ada yang usul, kita tampung."

"Tapi ribet, Pak."

"Memang jadi kepala desa itu ribet, Nduk." Pak Iwan tertawa. "Kalo nggak mau ribet, jadi karyawan swasta aja. Pulang jam lima, gajian tetap."

Semua tertawa. Amat tertawa paling keras, lega tak jadi dipecat.***

Tiga hari kemudian, untuk pertama kalinya dalam sejarah Desa Awan Biru, musyawarah APBDes digelar terbuka di balai desa. Warga membludak. Kursi tak cukup. Banyak yang duduk di lantai, di teras, bahkan di pohon trembesi yang menjorok ke halaman.

Amat mempresentasikan angka-angka dengan proyektor pinjaman dari kecamatan. Layarnya putih polos, gambar agak buram karena sinar matahari masih masuk. Tapi ia berusaha sejelas mungkin.

"Ini pos dana desa, Rp 1,2 miliar. Kita bagi untuk: pembangunan fisik jalan lingkungan 35 persen, pemberdayaan masyarakat 20 persen, operasional pemerintahan desa 25 persen, dan sisanya cadangan."

Seorang warga angkat tangan. "Operasional kok 25 persen? Gede banget?"

"Pak, itu termasuk gaji perangkat, pembelian komputer dan server, pelatihan IT, dan langganan internet," jelas Amat, sudah lebih percaya diri.

"Internet? Buat apa?"

"Buat sistem online, Pak. Nanti bapak ngurus surat nggak perlu ke sini, cukup dari HP. Tapi bapak punya HP kan?"

Warga itu garuk-garuk kepala. "Punya, tapi buat telponan doang."

"Nanti kita ajarin, Pak. Ada pelatihan gratis."

Kerumunan mulai hangat. Banyak yang bertanya, banyak yang usul. Ada yang usul jalan di desanya dulu yang diperbaiki, ada yang minta bantuan modal usaha, ada yang protes karena namanya tidak masuk daftar penerima bantuan. Diskusi berlangsung alot hingga maghrib.

Di sela keributan, Pak Iwan diam-diam memperhatikan Amat yang sibuk mencatat semua masukan di laptopnya. Pemuda itu masih sering melakukan kesalahan kecil, salah ketik, salah format, tapi matanya fokus, tangannya cepat. Dan yang penting, ia tidak menyerah.

"Mas Amat," panggil Pak Iwan lembut.

"Ya, Pak?"

"Kamu itu, meskipun sering salah, punya satu kelebihan yang nggak semua orang punya."

"Apa, Pak?"

"Kamu nggak takut belajar. Kamu jatuh, bangun lagi. Itu lebih berharga daripada seribu orang pintar yang takut mencoba."

Amat tersipu. "Saya ini, Pak, seringnya bikin susah orang."

"Besok, kalau semua sudah lancar, orang akan lupa semua kesalahanmu. Yang mereka ingat: Mas Amat yang pertama kali bikin desa ini punya website." Pak Iwan menepuk bahunya. "Sekarang, selesaikan catatanmu. Besok kita rapat lagi."

Di luar, senja mulai merah. Langit Awan Biru perlahan gelap. Di warung RT 02, segelintir warga mulai berkumpul, mendiskusikan musyawarah tadi, membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Lumayan, Pak Iwan mulai terbuka," kata salah satu.

"Ya, tapi masih lama, Bro. Ini baru omongan. Eksekusinya gimana?"

"Kita lihat aja. Lima tahun ke depan."

Warung RT 02, dengan lampu tempelnya yang temaram, kembali menjadi saksi bisu diskusi desa. Tak ada yang tahu bahwa dua puluh tahun kemudian, obrolan serupa akan terjadi di tempat yang sama, dengan generasi yang berbeda, membahas desa yang sudah berubah total.***

 

Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa, Musrenbang adalah acara tahunan yang paling dibenci Amat. Bukan karena acaranya, tapi karena konsekuensinya: satu hari penuh sibuk mondar-mandir menyiapkan presentasi, mencatat usulan, dan yang paling menegangkan, memastikan website desa bisa menampilkan semua data secara real-time.

Tahun ini, Pak Iwan meminta sesuatu yang baru: semua usulan warga langsung diinput ke sistem online, bisa diakses publik, sehingga warga bisa memantau usulan mana yang sudah masuk, mana yang sedang diproses, mana yang ditolak.

"Transparansi total, Mas Amat," kata Pak Iwan pagi itu. "Kita buktikan pada warga bahwa kita serius."

Amat mengangguk, meski hatinya dag dig dug. Server desa, sebenarnya cuma komputer bekas yang difungsikan sebagai server, sering overheat kalau dipakai terlalu lama. Jaringan internet desa, yang mengandalkan sinyal seluler dari menara terdekat, lemotnya minta ampun kalau cuaca mendung.

Musrenbang dimulai pukul sembilan pagi. Balai desa penuh. Pak Iwan membuka acara dengan sambutan singkat. Lalu Gilang, fasilitator dari kecamatan, memandu jalannya diskusi.

Amat duduk di pojok, laptop terhubung ke proyektor yang menampilkan dashboard website desa. Setiap kali ada usulan, ia mengetik cepat, dan muncul di layar. Warga bisa melihat langsung usulan mereka terdata.

"Wah, canggih!" seru seorang warga. "Ini bisa dilihat di rumah juga?"

"Bisa, Pak," jawab Amat bangga. "Nanti kami kasih tautannya. Bapak buka dari HP."

"Anu, Mas... saya kan nggak punya HP."

"Ini buat anaknya, Pak. Biar anaknya yang monitor."

Diskusi berlangsung lancar hingga pukul sebelas. Usulan mengalir: perbaikan jalan lingkungan, pembangunan talud, bantuan modal untuk kelompok tani, pelatihan keterampilan pemuda, posyandu baru untuk dusun terpencil. Amat mencatat semua, tangannya hampir kram.

Lalu tiba-tiba, layar proyektor mati.

Semua menoleh ke Amat. Amat menoleh ke laptopnya. Laptop menyala, tapi koneksi ke server putus. Ia cek jaringan, loading terus. Ia cek server, remote desktop tak bisa masuk.

"E... error, Mas?" tanya seorang warga.

Amat tersenyum kaku. "Bentar, Pak, saya cek."

Ia berlari ke ruang server, kamar kecil di belakang kantor yang dipenuhi kabel semrawut. Komputer server menyala, tapi kipasnya mati. Panas. Amat segera matikan, biarkan dingin sebentar. Ia cek thermometer, suhu ruangan 38 derajat. Server kepanasan.

Balik ke ruang musrenbang, ia berbisik pada Pak Iwan. "Server down, Pak. Overheat."

Pak Iwan menghela napas. "Berapa lama?"

"Tunggu dingin dulu, setengah jam."

"Setengah jam?" Pak Iwan menatap ruangan yang penuh warga menunggu. "Musrenbang nggak bisa berhenti setengah jam."

Amat garuk-garuk kepala. "Saya catat manual dulu, Pak. Nanti diinput ulang."

"Ya sudah, lakukan."

Musrenbang lanjut tanpa layar proyektor. Amat mencatat manual di buku, panik karena tulisannya jelek dan cepet-cepet. Sementara itu, di ruang server, komputer perlahan dingin. Tapi setelah dinyalakan lagi, error. Windows corrupt.

Amat hampir menangis.

Di sela diskusi, Yuni dan Lulu mendekati Amat.

"Gimana, Mat?" tanya Yuni.

"Server error total. Data yang sudah diinput tadi hilang."

Lulu menghela napas. "Mat, ini udah tiga kali kejadian. Kapan kita punya server beneran?"

"Kita nggak punya anggaran buat beli server baru, Lul. Ini aja komputer bekas sumbangan."

"Itu namanya kita butuh anggaran. Harus diusulkan."

"Udah diusulkan di APBDes kemarin, tapi dipangkas."

Yuni menggeleng. "Ini masalah serius, Mat. Bukan cuma soal kenyamanan, tapi kredibilitas. Warga mulai percaya sama sistem online, tapi kalau sering error gini, mereka balik lagi ke manual, dan kita balik lagi ke masa lalu."

Amat terdiam. Di depannya, warga masih sibuk berdiskusi, tak tahu bahwa data mereka yang tadi diinput raib entah ke mana.

Musrenbang selesai pukul empat sore. Warga pulang, beberapa menyempatkan bertanya pada Amat.

"Mas, usulan saya udah masuk kan? Yang talud di belakang rumah saya?"

Amat tersenyum. "Udah, Pak. Nanti saya cek lagi."

Bohong. Usulan itu hilang.

Malam harinya, Amat, Yuni, dan Lulu lembur di kantor. Mereka menyalin catatan manual ke Excel, satu per satu, dengan tulisan Amat yang sulit dibaca. Kadang mereka harus menerka-nerka: ini usulan siapa? Untuk apa? Lokasi di mana?

"Ini tulisan apa, Mat?" Yuni menunjuk satu kata.

Amat mendekat. "Itu... talud."

"Ini? Kayak gambar cacing."

"Ya itulah talud."

Lulu terkekeh. "Mat, besok kalau nulis, usahakan rapi dikit. Nggak usah cepet-cepet."

"Saya panik tadi, Lul. Server mati, Pak Iwan ngebut nyuruh catat."

"Ya sudah, kita selesaikan. Tapi Mat, ini bukan solusi jangka panjang. Kita harus ngomong sama Pak Iwan. Kita butuh server baru, koneksi internet lebih baik, dan mungkin... pegawai IT tambahan."

Amat mengangguk lesu. "Apa Pak Iwan mau? Anggaran kan mepet."

"Kita jelaskan konsekuensinya. Kalau sistem error terus, warga kecewa. Kepercayaan yang sudah susah payah kita bangun, hancur."***

Dua minggu kemudian, rapat perangkat desa membahas evaluasi Musrenbang. Amat, dengan gemetar, mempresentasikan data yang hilang, sistem yang error, dan usulan untuk pengadaan server baru.

"Estimasi harganya?" tanya Pak Iwan.

"Sekitar dua puluh juta, Pak. Untuk server, UPS, dan perbaikan ruangan biar adem."

Pak Iwan bersiul pelan. "Dua puluh juta? Dari mana?"

"Dari dana desa, Pak. Kita bisa alokasikan ulang."

"Alokasikan ulang dari pos mana?" tanya Bendahara.

Amat sudah siap. "Dari pos perjalanan dinas, Pak. Kita kurangi 30 persen. Dari pos seremonial, kita tiadakan. Dan dari pos cetak laporan, kita kurangi."

Semua diam. Mereka tak menyangka Amat berpikir sejauh itu.

"Kamu sudah hitung?" tanya Pak Iwan.

"Sudah, Pak. Ini rinciannya." Amat memberikan dokumen.

Pak Iwan membaca pelan. Matanya berbinar. "Amat, ini... ini bagus."

"Saya belajar dari kesalahan, Pak."

Yuni dan Lulu saling pandang, tersenyum. Amat mulai menunjukkan perkembangan.

"Tapi," lanjut Amat, "saya punya usulan lain, Pak. Daripada beli server baru yang mahal, mungkin kita bisa sewa cloud? Lebih murah, lebih aman, nggak perlu ruangan khusus."

"Apa itu cloud?" tanya Sekdes.

Amat menjelaskan dengan sabar: penyimpanan online, data di server besar milik perusahaan, diakses lewat internet, aman karena dikelola profesional, biaya bulanan lebih murah daripada beli server sendiri.

"Jadi kita nggak perlu punya server fisik di sini?" tanya Pak Iwan.

"Tidak, Pak. Cukup langganan. Setahun mungkin lima juta, sudah termasuk support."

Pak Iwan mengangguk-angguk. "Ini yang kamu pelajari dari mana?"

"Dari internet, Pak. Saya cari-cari solusi."

Rapat itu memutuskan untuk mengalokasikan dana langganan cloud dan peningkatan koneksi internet. Juga, memberikan tunjangan kecil untuk Amat sebagai bentuk apresiasi.

Saat keluar ruangan, Lulu menyenggol Amat. "Mat, kamu hebat, tahu."

Amat tersipu. "Ya, daripada diomelin terus, mending cari solusi."

"Bukan cuma itu. Kamu mulai mikir sistematis. Nggak cuma teknis, tapi juga anggaran."

"Karena saya nggak mau lagi nangis gara-gara server mati."

Mereka tertawa. Di luar, senja mulai turun. Lampu-lampu desa mulai menyala satu per satu. Warung RT 02 sudah ramai oleh warga yang nongkrong sambil ngopi.

"Ayo, Mat, aku traktir kopi," ajak Lulu.

"Mau, tapi jangan lama-lama. Besok saya harus setting cloud."

Di Warung RT 02, Amat, Yuni, dan Lulu duduk di meja sudut. Mbah Karyo, pemilik warung, menyajikan kopi tubruk dan gorengan.

"Loh, Mas Amat, katanya sibuk terus? Kok sekarang santai?" goda Mbah Karyo.

"Ya, Mbah, sesekali santai. Biar otak nggak meledak."

"Lha, iya. Anak muda jangan kebanyakan mikir. Nanti cepet tua."

Mereka tertawa. Dari kejauhan, terlihat beberapa pemuda desa berkumpul, asyik dengan ponsel masing-masing. Amat memandang mereka, berpikir.

"Mat, kamu lihat apa?" tanya Yuni.

"Itu... Bambang, anak Pak Santoso. Baru pulang liburan kuliah."

Bambang, mahasiswa multimedia di kota, sedang asyik menunjukkan sesuatu pada teman-temannya. Dari kejauhan, Amat bisa melihat layar ponsel Bambang, tampak seperti website desa.

"Nanti saya ajak ngobrol," gumam Amat.

"Buat apa?"

"Dia anak multimedia. Mungkin dia bisa bantu desain website kita. Biar nggak kaku kayak sekarang."

Yuni mengangguk. "Ide bagus. Ajak aja."

Amat bangkit, berjalan mendekati kelompok pemuda itu. "Bambang, boleh ngobrol sebentar?"

Bambang menoleh, kaget. "Oh, Mas Amat. Ada apa?"

"Gini, saya liat tadi kamu buka website desa. Gimana menurutmu?"

Bambang tersenyum, agak canggung. "Jujur, Mas?"

"Jujur aja."

"Website kita... agak jadul, Mas. Desainnya kaku, warnanya kurang menarik. Terus di mobile, tata letaknya berantakan."

Amat mengangguk, tak tersinggung. "Makanya saya mau minta tolong. Kamu kan anak multimedia. Bisa nggak bantu kita benahi? Desain ulang, bikin lebih modern?"

Mata Bambang berbinar. "Bisa, Mas! Saya malah senang. Ada proyek beneran."

"Tapi ini pro bono ya, nggak ada bayaran. Anggaran lagi habis buat server cloud."

"Nggak apa-apa, Mas. Yang penting pengalaman. Saya lagi butuh portofolio."

Mereka berjabat tangan. Di meja sudut, Yuni dan Lulu menyaksikan dengan senyum.

"Mas Amat makin jadi, ya," kata Lulu.

"Iya, dia mulai bisa baca kebutuhan dan cari solusi. Dulu cuma bisa panik."

"Orang belajar dari kesalahan, Lul. Dan Amat dapat kesalahan banyak."

Mereka tertawa. Di langit, bintang-bintang mulai muncul. Warung RT 02, dengan lampu tempelnya yang hangat, kembali menjadi saksi lahirnya kolaborasi baru.***

 

Musyawarah dusun selalu menjadi ujian kesabaran bagi perangkat desa. Dan ujian terberat bernama Santoso.

Pak Santoso, petani berusia 55 tahun dengan kumis tebal dan suara menggelegar, adalah tipe warga yang hadir di setiap musyawarah, duduk di barisan terdepan, dan mengajukan usulan tanpa henti. Bukan satu atau dua, tapi belasan. Semuanya penting menurutnya. Semuanya mendesak.

Pagi itu, musyawarah dusun RT 02 digelar di rumah Pak RT. Halaman depan disulap jadi tempat pertemuan dengan tikar plastik dan kursi seadanya. Pak Iwan hadir langsung, didampingi Amat yang bertugas mencatat usulan.

"Saya mulai ya, Pak Iwan," Santoso angkat bicara bahkan sebelum acara resmi dibuka. "Usulan saya: pertama, jalan gang belakang rumah saya harus diaspal. Udah bolong di mana-mana. Kedua, got di depan masjid perlu diperdalam, soalnya kalau hujan kebanjiran. Ketiga, lampu jalan di ujung desa mati dua minggu, belum diperbaiki. Keempat, bantuan pupuk untuk petani harus ditambah. Kelima..."

"Pak Santoso, sabar, Pak," potong Pak RT. "Ini acara baru mau dimulai."

"Saya takutnya lupa, Pak RT. Mending langsung saya sampaikan."

Warga lain tertawa. Santoso tak peduli. Ia terus menyebut usulan satu per satu, berjari tangan kiri untuk menghitung. Sampai usulan ke dua belas, ia berhenti karena kehabisan jari.

"Pak Santoso, itu usulannya dua belas?" tanya Pak Iwan.

"Iya, Pak Iwan. Itu saja dulu. Nanti kalau ingat lagi, saya tambah."

Amat, yang sibuk mencatat, menghela napas. Di buku catatannya, usulan Santoso sudah memenuhi setengah halaman. Sementara warga lain belum sempat bersuara.

Musyawarah berlangsung alot. Setiap kali Pak RT mempersilakan warga lain, Santoso menyela dengan tambahan usulan.

"Pak RT, saya lupa satu. Saluran irigasi di sawah saya perlu dibersihkan, udah banyak enceng gondok."

"Pak Santoso, biar warga lain dulu."

"Bentar, Pak RT, penting ini. Soalnya kalau irigasi mampet, sawah saya kebanjiran. Kalau sawah saya kebanjiran, gagal panen. Kalau gagal panen, saya nggak bisa bayar listrik. Kalau nggak bisa bayar listrik, rumah saya gelap. Kalau rumah saya gelap..."

"Ya udah, ya udah, kita catat." Pak Iwan mengangkat tangan pasrah. "Amat, catat usulan Pak Santoso yang ke-13."

Amat mencatat sambil tersenyum kecut. Di belakang, Yuni berbisik pada Lulu. "Ini musyawarah atau curhat pribadi?"

"Sabar, Lul. Itu namanya partisipasi warga."

Saat usulan masuk nomor 15, seorang warga tak tahan. "Pak Santoso, itu usulan bapak pribadi semua. Mana usulan untuk kepentingan umum?"

Santoso menoleh, kening berkerut. "Ini semua kepentingan umum, Mas. Jalan gang belakang rumah saya itu dilewati banyak orang. Got di depan masjid ya buat umum. Lampu jalan ya penerangan umum. Bantuan pupuk buat petani ya buat ketahanan pangan umum. Irigasi ya buat pengairan umum. Semua umum, Mas."

Warga itu bungkam. Logika Santoso sulit dibantah.

Pak Iwan tersenyum. Ia justru senang melihat warganya seantusias ini. Tapi ia juga harus menjaga agar musyawarah berjalan efektif.

"Pak Santoso, saya hargai semua usulan bapak. Tapi kita punya waktu terbatas, dan masih banyak warga lain yang ingin menyampaikan pendapat. Bagaimana kalau usulan bapak kita tampung dulu semua, nanti kita bahas di forum selanjutnya?"

Santoso mengangguk. "Boleh, Pak Iwan. Tapi saya minta janji, usulan saya nggak boleh didiskriminasi."

"Insha Allah, Pak. Semua usulan diperlakukan sama."

Musyawarah lanjut. Giliran warga lain menyampaikan usulan. Ada yang minta bantuan modal usaha, ada yang minta pelatihan menjahit, ada yang protes karena anaknya belum dapat KIP. Suasana mulai hidup.

Tiba-tiba, Santoso angkat tangan lagi.

"Ya, Pak Santoso?"

"Ini, Pak Iwan, saya tambah satu usulan. Nomer 16."

Seluruh ruangan menghela napas serempak.

"Usulan apa, Pak?"

"Tempat sampah di pinggir jalan raya. Soalnya banyak orang buang sampah sembarangan. Saya lihat sendiri, tadi pagi ada orang buang bungkus rokok."

Pak Iwan mengangguk sabar. "Baik, Pak Santoso, kita catat."

Amat mencatat dengan tulisan yang makin tak terbaca. Di buku catatannya, nama Santoso sudah muncul 16 kali. Sementara warga lain, rata-rata satu sampai dua usulan.

Musyawarah selesai pukul setengah satu siang. Warga membubarkan diri, beberapa mampir ke warung untuk makan siang. Santoso mendekati Pak Iwan.

"Pak Iwan, saya minta maaf kalau tadi terlalu banyak usul. Tapi saya tulus, Pak. Saya ingin desa ini maju."

Pak Iwan menepuk bahunya. "Pak Santoso, saya nggak marah. Justru bersyukur punya warga seperti bapak. Tapi lain kali, tolong usulannya diprioritaskan. Mana yang paling penting, mana yang bisa nunggu."

"Semua penting, Pak Iwan."

"Itu masalahnya." Pak Iwan tertawa. "Tapi kita punya anggaran terbatas. Nggak semua bisa dikerjakan setahun. Harus bertahap."

Santoso mengangguk, sedikit kecewa. "Jadi usulan saya yang mana yang mungkin dikerjakan tahun ini?"

"Kita lihat nanti di Musrenbang, Pak. Semua usulan akan di-ranking berdasarkan prioritas dan ketersediaan dana."

"Tapi usulan saya kan banyak, Pak Iwan. Otomatis lebih mungkin ada yang diterima."

Pak Iwan tertawa lepas. "Pak Santoso, itu strategi jitu. Usul banyak, harapan banyak yang lolos."

Santoso tersipu, seperti anak kecil ketahuan triknya. "Hehehe, ketahuan ya, Pak?"

"Ya sudahlah, Pak. Tapi ingat, kalau banyak yang lolos, bapak harus bantu awasi pelaksanaannya. Jangan cuma ngusul, nggak mau bantu."

"Siap, Pak Iwan. Saya pasti bantu. Tenaga saya siap."

Mereka berjabat tangan. Amat, yang mendengar percakapan itu, tersenyum dalam hati. Pak Iwan punya cara sendiri untuk menghadapi warga. Tidak mematahkan semangat, tapi juga mengelola ekspektasi.***

Sore harinya, di kantor desa, Amat mengetik semua usulan dari musyawarah dusun. Nama Santoso muncul di 23 baris. Beberapa usulan bahkan hampir sama, jalan lingkungan misalnya, diusulkan tiga kali dengan lokasi berbeda.

"Mas Amat, ini usulan Pak Santoso banyak banget," kata Yuni yang membantu entry data.

"Iya, Bu Yuni. Tapi dari 23 itu, mungkin cuma 3-4 yang realistis."

"Mana aja?"

"Jalan gang belakang rumahnya, got di depan masjid, irigasi, dan lampu jalan. Sisanya agak... aneh."

"Contohnya?"

Amat membaca daftar. "Usulan nomer 8: pembelian traktor pribadi. Pak Santoso bilang untuk umum, tapi jelas itu traktor buat sawahnya sendiri. Nomer 12: pelatihan penerbangan balon udara. Katanya untuk atraksi wisata desa. Nomer 17: pembangunan menara pandang setinggi 20 meter di sawahnya. Buat apa?"

Yuni tertawa. "Pak Santoso ini kreatif ya."

"Kreatif sih, tapi nggak masuk akal. Mana mungkin anggaran desa buat menara pandang di tengah sawah."

"Ya, itu nanti akan gugur di verifikasi. Tapi setidaknya, dia sudah punya mimpi."

Amat mengangguk. "Mimpi setinggi menara 20 meter."

Mereka tertawa bersama. Di luar, Pak Iwan lewat, mendengar tawa mereka.

"Lagi ngapain, kok rame?"

"Lagi baca usulan Pak Santoso, Pak. Yang menara pandang."

Pak Iwan mendekat, membaca layar komputer. Ia tertawa keras. "Pak Santoso ini, idenya liar sekali. Tapi saya suka."

"Bapak suka?" Amat heran.

"Suka. Karena dia berpikir out of the box. Nggak terpaku pada usulan-usulan standar. Mungkin idenya nggak masuk akal sekarang, tapi siapa tahu 20 tahun lagi, menara pandang di sawah jadi ide brilian."

Amat dan Yuni saling pandang. Pak Iwan memang unik.

"Tapi untuk sekarang," lanjut Pak Iwan, "kita fokus dulu pada usulan realistis. Santoso pasti akan protes kalau usulannya banyak ditolak. Kita harus siap menjelaskan."

"Bagaimana cara menjelaskannya, Pak?" tanya Amat.

"Dengan data. Tunjukkan padanya anggaran desa, tunjukkan skala prioritas, tunjukkan usulan warga lain yang lebih mendesak. Kalau dia masih protes, kita ajak duduk bersama, diskusi. Jangan pernah merendahkan mimpinya. Hanya mengarahkan."

Musrenbang tingkat desa digelar dua minggu kemudian. Semua usulan dari musyawarah dusun dibahas, di, ranking, dan dipilih mana yang masuk Rencana Kerja Pemerintah Desa tahun depan.

Santoso hadir lebih awal. Ia duduk di barisan terdepan, membawa buku catatan tebal. Di depannya, Amat menyiapkan proyektor yang menampilkan daftar usulan lengkap, termasuk 23 usulan Santoso yang tersebar di berbagai kategori.

Acara dimulai. Pak Iwan menjelaskan mekanisme: setiap usulan akan dibaca, diberi kesempatan warga untuk memberikan dukungan atau sanggahan, lalu dilakukan voting sederhana untuk menentukan prioritas.

Usulan pertama: perbaikan jalan lingkungan. Santoso langsung angkat bicara.

"Pak Iwan, itu usulan saya. Jalan gang belakang rumah."

Seorang warga lain mengangkat tangan. "Pak Iwan, saya dukung. Jalan itu memang rusak parah, setiap hujan becek."

Voting: 80 persen setuju. Lolos.

Usulan kedua: got di depan masjid. Juga usulan Santoso.

"Saya dukung," kata takmir masjid. "Setiap hujan, air masuk ke halaman masjid."

Voting: 90 persen setuju. Lolos.

Usulan ketiga: bantuan pupuk untuk petani.

Santoso kembali angkat bicara. "Ini usulan saya, Pak Iwan. Petani butuh bantuan."

Seorang petani lain menimpali. "Tapi Pak Santoso, bantuan pupuk itu kan sudah ada dari pemerintah pusat. Mungkin lebih baik kita usulkan hal lain."

Santoso mengerutkan kening. "Lho, tambahan nggak apa-apa kan?"

"Tapi anggaran terbatas, Pak. Daripada buat bantuan pupuk, lebih baik buat irigasi yang manfaatnya jangka panjang."

Diskusi memanas. Kelompok petani terbelah dua. Ada yang setuju usulan Santoso, ada yang lebih memprioritaskan irigasi.

Pak Iwan menengahi. "Baik, kita voting. Yang setuju bantuan pupuk, angkat tangan."

Tujuh tangan terangkat.

"Yang setuju irigasi?"

Lima belas tangan.

"Usulan bantuan pupuk gugur, masuk prioritas cadangan. Usulan irigasi lanjut."

Santoso menghela napas, tapi tak protes. Ini demokrasi.

Musyawarah berlangsung hingga sore. Dari 23 usulan Santoso, hanya 5 yang lolos prioritas utama. Sisanya masuk cadangan atau gugur sama sekali. Santoso terlihat kecewa, tapi ia tetap diam.

Saat istirahat, Pak Iwan mendekatinya.

"Pak Santoso, bagaimana? Kecewa?"

"Ya kecewa, Pak Iwan. Tapi saya paham. Anggaran terbatas."

"Saya hargai kedewasaan bapak. Tapi bapak tahu, kenapa usulan bapak banyak yang gugur?"

"Karena warga lain milih usulan mereka sendiri."

"Bukan cuma itu." Pak Iwan duduk di samping Santoso. "Karena bapak terlalu banyak usul, jadi usulan bapak tersebar. Warga bingung mana yang harus didukung. Coba bapak fokus pada 3-4 usulan terpenting, kumpulkan dukungan dari warga lain, pasti lebih mungkin lolos."

Santoso terdiam, merenung.

"Mulai sekarang, bapak harus jadi pengusul yang cerdas. Bukan banyak, tapi strategis. Pilih usulan yang paling mungkin didukung banyak orang, lalu perjuangkan."

"Tapi bagaimana dengan usulan-usulan lain yang penting?"

"Bapak bisa perjuangkan di tahun berikutnya. Atau bapak bisa kumpulkan kelompok warga yang punya kepentingan sama, lalu usulkan bersama. Kekuatan ada di kebersamaan, Pak."

Santoso mengangguk pelan. "Jadi saya harus... sabar?"

"Tepat. Sabar, konsisten, dan membangun aliansi. Itulah politik desa, Pak Santoso. Bukan soal siapa paling keras, tapi siapa paling cerdas membangun dukungan."

Santoso menatap Pak Iwan, matanya berbinar. "Pak Iwan, saya baru paham sekarang. Selama ini saya pikir, makin banyak usul makin besar kemungkinan diterima. Ternyata salah."

"Tidak salah, Pak. Hanya kurang strategis. Tapi bapak sudah punya semangat yang luar biasa. Semangat itulah yang membuat desa ini hidup."

Mereka berjabat tangan. Santoso tersenyum, untuk pertama kalinya hari itu.

Saat musyawarah dilanjutkan, Santoso tak lagi mengajukan usulan baru. Ia hanya menyimak, sesekali mengangguk, dan saat voting tiba, ia mengangkat tangan untuk usulan yang menurutnya masuk akal.

Pak Iwan tersenyum melihatnya. Perlahan, Santoso belajar.***

 

Pagi itu, suasana kantor desa panas bukan karena suhu, tapi karena emosi. Seorang laki-laki paruh baya berdiri di depan meja pelayanan, wajah merah, suara meninggi. Itu Sugeng, buruh harian lepas, ayah tiga anak yang baru saja melahirkan anak keempat seminggu lalu.

"Lima hari saya ke sini, mbak. Lima hari! Masih belum selesai juga. Anak saya butuh KK buat urus BPJS, tapi katanya terus 'diproses, diproses'. Prosesnya sampai kapan?" suara Sugeng memecah kesunyian.

Yuni, yang bertugas di meja pelayanan, mencoba tenang. "Pak Sugeng, sabar, Pak. Kita lagi input data, tapi server lemot. Mohon doanya biar cepet normal."

"Server! Server! Mulai tahun ini semua pakai server. Dulu manual, satu hari jadi. Sekarang lima hari belum kelar. Katanya digitalisasi biar cepet? Ini mah makin lambat!"

Beberapa warga yang antre di belakang mulai bergumam setuju. Suasana mulai tidak nyaman.

Amat, yang mendengar keributan dari ruang belakang, segera keluar. Ia melihat Yuni mulai kewalahan menghadapi Sugeng.

"Ada apa, Pak?" tanya Amat sopan.

"Ini lho, Mas. Urus tambah jiwa di KK. Udah lima hari, nggak kelar-kelar. Istri saya di rumah nungguin, katanya anak saya harus segera daftar BPJS. Nanti kalau sakit gimana? Tanggung jawab siapa?"

Amat menarik napas. Ia paham masalahnya. Sistem baru yang mereka terapkan, aplikasi administrasi kependudukan berbasis cloud, memang sedang migrasi data. Prosesnya lambat karena koneksi internet desa belum stabil. Tapi ia tak bisa menjelaskan semua itu pada Sugeng yang sudah emosi.

"Pak Sugeng, saya cek dulu ya. Duduk dulu, Pak. Yuni, tolong ambilkan air minum."

Amat masuk ke ruang server, kamar kecil yang kini sudah dilengkapi AC bekas untuk mendinginkan perangkat. Ia buka laptop, login ke sistem. Data Sugeng memang sudah masuk, tapi stuck di status "verifikasi" karena ada ketidakcocokan format.

Ia telpon helpdesk aplikasi. Setengah jam menunggu, baru dijawab.

"Mas, ini datanya error karena NIK istri bapak ini beda satu digit dengan yang di database Dukcapil. Mungkin salah input."

Amat menghela napas. "Bisa dibenerin?"

"Bisa, tapi harus manual. Kita nggak bisa ubah otomatis. Mas harus ajukan perbaikan data dulu ke Dukcapil."

Amat hampir membanting telepon. Prosesnya jadi makin panjang.

Ia keluar ruangan, menghadapi Sugeng yang sudah duduk dengan wajah cemberut.

"Gimana, Mas?" tanya Sugeng, nada suaranya masih tinggi.

"Pak Sugeng, maaf, ada sedikit kendala teknis. NIK ibu... eh, istri bapak, ada perbedaan dengan data pusat. Jadi harus dibenerin dulu."

Sugeng melompat berdiri. "Maksudmu? Istri saya NIK-nya salah? Itu NIK udah dipakai bertahun-tahun, buat ngurus ini itu nggak pernah masalah. Kok sekarang baru salah?"

Amat mencoba tenang. "Mungkin waktu perekaman dulu, ada kesalahan input. Tapi kita bisa urus perbaikannya, kok."

"Lama lagi?"

"Prosesnya... mungkin seminggu."

Sugeng hampir meledak. Tapi sebelum ia sempat berteriak, Bu Endang keluar dari ruang kepala desa. Ia melihat situasi, lalu mendekat.

"Pak Sugeng, mari saya bantu."

Bu Endang, istri Pak Iwan yang juga aktif di PKK, dikenal warga sebagai sosok yang tegas tapi penyabar. Ia mempersilakan Sugeng duduk lagi, lalu duduk di hadapannya.

"Pak Sugeng, saya ngerti bapak kesel. Tapi marah-marah nggak akan bikin proses lebih cepat. Sekarang, tolong ceritakan dari awal. Anak bapak lahir kapan?"

Sugeng, agak tenang, mulai bercerita. Anaknya lahir seminggu lalu di puskesmas, prematur, berat badan rendah. Dokter bilang harus rutin periksa dan mungkin butuh perawatan khusus. Makanya ia buru-buru urus BPJS.

Bu Endang mengangguk paham. "Kalau kondisinya darurat, bapak bisa langsung bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit. Mereka harus tetap melayani meskipun BPJS belum aktif."

"Tapi nanti bayarnya mahal, Bu."

"Itu nanti bisa diurus klaim setelah BPJS aktif. Ada mekanismenya. Saya kenal sama bidan Amelia, nanti saya bantu koordinasi."

Sugeng mulai sedikit lega. "Terus masalah KK-nya gimana?"

"Kita urus dua jalur. Jalur pertama, perbaikan data istri bapak ke Dukcapil. Jalur kedua, sambil nunggu, saya bantu buatkan surat keterangan dari desa yang menyatakan anak bapak sudah tercatat. Surat ini bisa dipakai sementara untuk urus BPJS."

"Bisa, Bu?"

"Bisa. Nggak ideal sih, tapi bisa. Daripada bapak nunggu lama dan anak nggak tercover."

Sugeng mengangguk. "Baik, Bu. Saya minta maaf tadi marah-marah."

"Nggak apa-apa, Pak. Namanya juga lagi panik. Saya juga gitu kalau anak saya sakit."

Bu Endang menoleh ke Amat. "Mas Amat, tolong buatkan surat keterangan untuk anak Pak Sugeng. Formatnya seperti surat keterangan lahir, tapi kita tambahkan kalimat bahwa proses KK sedang berjalan."

"Siap, Bu." Amat segera ke komputer.

Setengah jam kemudian, Sugeng pulang dengan surat keterangan di tangan. Wajahnya jauh lebih tenang.

Amat mendekati Bu Endang. "Bu, maaf, saya yang bikin kacau. Salah input NIK."

"Mas Amat, kesalahan input itu wajar. Yang nggak wajar kalau kita nggak punya solusi darurat. Ingat, warga itu nggak peduli sistem kita ribet atau gampang. Yang mereka peduli: urusan mereka selesai."

"Tapi sistem kita memang masih bermasalah, Bu. Koneksi lemot, aplikasi error, helpdesk lambat."

"Iya, itu PR kita. Tapi sambil membenahi sistem, kita harus punya plan B. Layanan manual untuk kasus darurat. Jangan sampai warga terlantar gara-gara sistem error."

Amat mengangguk. "Saya catat, Bu."

"Iya, catat. Besok kita rapatkan sama Pak Iwan. Kita perlu protokol darurat untuk pelayanan."

Rapat perangkat desa keesokan harinya membahas insiden Sugeng. Pak Iwan meminta semua evaluasi jujur.

"Ini sudah keempat kalinya dalam sebulan ada warga komplain soal lambatnya pelayanan," kata Pak Iwan. "Kita harus cari solusi."

Yuni angkat bicara. "Pak Iwan, masalah utamanya di sistem. Aplikasi Dukcapil sering error, apalagi jam sibuk. Koneksi internet kita juga nggak stabil. Sering putus nyambung."

"Koneksi bisa ditingkatkan?" tanya Pak Iwan.

"Bisa, Pak. Tapi biayanya naik. Kita harus tambah langganan bandwidth."

Lulu menambahkan. "Selain itu, kita perlu pelatihan untuk staf. Banyak yang masih gagap teknologi. Yuni dan saya bisa, tapi yang lain masih sering bingung."

Amat mengangguk. "Saya usulkan kita buat SOP darurat. Kalau sistem error, kita buka layanan manual. Pakai formulir kertas. Nanti setelah sistem normal, baru diinput."

"Tapi itu double kerja, Mat," kata Sekdes.

"Iya, Pak. Tapi daripada warga komplain, mending double kerja. Darah tinggi saya juga nggak usah naik."

Semua tertawa. Amat mulai bisa bercanda di rapat.

Pak Iwan mengangguk. "Baik, kita putuskan: Pertama, tambah bandwidth internet. Kedua, pelatihan IT untuk semua staf. Ketiga, SOP darurat untuk antisipasi error. Keempat..."

Ia menatap Amat. "Kamu harus punya asisten."

Amat terkejut. "Asisten, Pak?"

"Iya. Kamu kan sekarang merangkap: IT support, operator, helpdesk, kadang jadi psikolog warga. Nggak sehat. Kita cari satu orang lagi, khusus bantu urusan teknis. Mungkin anak muda lulusan SMK jurusan IT."

Amat hampir menangis. Selama ini ia bekerja sendirian, dari pagi hingga malam, kadang lembur sampai subuh kalau ada error besar. Dengan asisten, beban kerjanya berkurang.

"Tapi, Pak, anggarannya?"

"Kita alokasikan dari pos tak terduga. Memang ini darurat. Kepercayaan warga itu nggak ternilai, Mat. Lebih mahal dari server mana pun."***

Sepekan kemudian, pengumuman lowongan tenaga IT Desa Awan Biru terpampang di papan pengumuman dan website desa. Gaji UMK, tapi ada tunjangan transport dan makan siang. Syarat: lulusan SMK/Sederajat jurusan IT atau punya sertifikat kursus komputer.

Tiga hari pertama, tak ada yang melamar. Amat mulai cemas. Hari keempat, seorang pemuda datang ke kantor.

"Selamat pagi, Mas. Saya mau daftar."

Amat menatap pemuda itu. Masih sangat muda, mungkin 18 atau 19 tahun. Wajahnya familiar.

"Nama kamu?"

"Rizki, Mas. Adiknya Bambang."

Amat ingat. Bambang, mahasiswa multimedia yang ia ajak diskusi beberapa waktu lalu. Adiknya ini masih kelas 3 SMK, jurusan TKJ.

"Kamu masih sekolah, Ki?"

"Lulus minggu depan, Mas. Udah ujian, tinggal pengumuman. Saya bisa mulai bulan depan kalau diterima."

Amat memandanginya ragu. "Kamu bisa apa?"

"Semua yang Mas Amat butuhkan. Setting jaringan, troubleshooting PC, bikin website sederhana, ngelola database dasar. Saya juga bisa bantu desain grafis dikit-dikit."

Amat menghela napas. Ini berkah. Anak muda yang jelas kemampuannya, fresh graduate, dan mau kerja di desa.

"Kamu nggak mau merantau ke kota?"

Rizki menggeleng. "Nggak, Mas. Saya pengen di sini aja. Bantu desa. Kakak saya bilang, Mas Amat butuh bantuan. Katanya sistem desa lagi dibangun, seru."

Amat tersenyum. "Kakak kamu benar. Sistem kita lagi dibangun, kadang ambruk. Tapi seru. Kamu siap ambruk bareng?"

Rizki tertawa. "Siap, Mas. Asal jangan ambruk tiap hari."

Mereka berjabat tangan. Amat mendapatkan asisten pertamanya.***

 

Malam itu, Warung RT 02 lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena listrik padam di sebagian desa, pemadaman bergilir akibat gangguan PLN, jadi warga berkumpul di tempat yang punya genset. Warung Mbah Karyo termasuk yang beruntung: punya genset kecil dari sumbangan anaknya yang merantau.

Lampu tempel dan lampu genset menerangi warung dengan cahaya temaram. Beberapa warga duduk di bangku panjang, ngopi sambil main domino. Di pojok, sekelompok ibu-ibu asyik bergosip. Di meja dekat pintu, Pak Iwan duduk sendiri, menyeruput kopi pahit sambil memandang ke luar.

Amat datang bersama Rizki. Mereka baru selesai setting ulang server setelah listrik padam. Badan pegal, mata perih, tapi perut keroncongan.

"Mbah, minta dua kopi sama gorengan," panggil Amat.

Mbah Karyo, pemilik warung, mengangguk dari balik etalase. Usianya sudah 70 tahun, tapi masih gesit melayani. "Mas Amat, kok lembur terus? Nanti loyo, lho."

"Lah, Mbah, ini abis benahi server. Listrik mati lagi."

"Ya Allah, listrik mati mulu. PLN ogi-ogian."

Amat tertawa. Mbah Karyo sering menciptakan istilah sendiri. "Ogi-ogian" artinya kurang kerjaan, bahasa campuran Jawa-Indonesia yang hanya dipahami warga desa.

Mereka duduk di meja dekat Pak Iwan. "Selamat malam, Pak Iwan. Kok sendirian?"

Pak Iwan menoleh, tersenyum. "Endang lagi arisan PKK. Anak-anak udah tidur. Jadi saya kabur ke sini."

"Bosan di rumah, Pak?"

"Bukan bosan. Tapi di sini lebih... hidup. Banyak obrolan, banyak cerita. Saya jadi bisa dengar apa yang warga pikirkan."

Amat mengangguk. Ia paham. Warung RT 02 memang semacam parlemen tidak resmi desa. Di sini, semua orang bisa bicara bebas, tanpa protokol, tanpa jabatan.

Dari kejauhan, suara diskusi warga terdengar jelas.

"Pak RT itu kalau bagi bantuan sembako, nggak merata lho. Tetangga saya dapet dua kali, saya malah nggak dapet sama sekali."

"Sabarlah, Bu. Mungkin ada kriteria tertentu."

"Apaan kriteria, tetangga saya itu rumahnya lebih besar dari rumah saya. Masa dia lebih miskin dari saya?"

"Ya nggak gitu hitungannya, Bu..."

Pak Iwan mendengarkan dengan saksama. Amat melihat raut mukanya berubah, ada yang mengganjal.

"Nanti saya cek," gumam Pak Iwan pelan.

"Pak Iwan mau intervensi?" tanya Amat.

"Nanti, besok. Saya harus tahu dulu kebenarannya. Jangan sampai saya main tuduh. Bisa jadi ada kesalahan data, bisa jadi ada salah paham, bisa jadi... ya nggak menutup kemungkinan ada main mata. Pokoknya saya cek."

Rizki, yang masih baru, mendengarkan dengan takjub. "Pak Iwan serius banget ya sama keluhan warga."

"Rizki," Pak Iwan menatap pemuda itu, "kamu baru bergabung. Saya kasih tahu satu hal: jadi perangkat desa itu bukan cuma kerja administratif. Tapi juga jadi pendengar. Kadang warga cuma butuh didengar. Nggak selalu butuh solusi. Tapi kalau mereka punya masalah, kita harus responsif."

Rizki mengangguk.

Malam semakin larut. Pemadaman listrik berakhir pukul sembilan, tapi warga tak buru-buru pulang. Warung masih ramai. Domino masih berlanjut. Gosip masih mengalir.

Seorang pemuda masuk, langsung menuju meja Pak Iwan. "Pak Iwan, boleh nimbrung?"

Itu Bambang. Kuliahnya libur, ia pulang kampung.

"Silakan, Bang. Duduk."

Bambang duduk, memesan kopi. "Pak Iwan, saya lihat website desa udah diperbaiki. Desainnya baru, lebih kece."

"Terima kasih Bang. Itu berkat masukan kamu." Amat tersenyum. "Rizki juga banyak bantu."

Bambang menepuk bahu adiknya. "Dia anak SMK, emang jago soal IT. Saya cuma bisa desain, dia yang ngoding."

"Kerja sama yang bagus," kata Pak Iwan. "Nanti kalian berdua yang urus digitalisasi desa. Saya mau desa ini jadi percontohan."

Bambang tertawa. "Percontohan error, Pak?"

Semua tertawa. Tawa itu pecah, mengundang perhatian warga lain. Mereka ikut tertawa meski tak tahu apa lucunya. Suasana makin hangat.

Di tengah tawa, Pak Iwan tiba-tiba terdiam. Ia menatap sekeliling warung: bangku-bangku kayu usang, lampu tempel, asap dapur, warga yang bercengkerama. Matanya berkaca-kaca.

"Pak Iwan, kenapa?" tanya Amat.

"Enggak, saya cuma... merenung." Pak Iwan menghela napas. "Saya sudah dua periode jadi kepala desa. Tiga tahun lagi periode kedua selesai. Setelah itu, saya harus siap-siap pensiun."

"Pak Iwan masih bisa maju lagi, kan? Periode ketiga?"

"Bisa. Tapi maksimal tiga periode. Itu pun kalau warga milih lagi." Pak Iwan tersenyum getir. "Tapi kadang saya berpikir, apa yang sudah saya lakukan untuk desa ini? Jalan masih bolong, administrasi masih berantakan, digitalisasi baru mulai. Apa saya cukup berhasil?"

Suasana meja hening. Amat, Rizki, Bambang, semuanya diam.

"Pak Iwan," Bambang memecah keheningan, "saya baru ikut ngurus website beberapa minggu. Tapi saya lihat, Pak Iwan itu berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Pak Iwan itu... mendengar. Nggak semua kepala desa mau dengar. Apalagi dari anak muda. Tapi Pak Iwan mau dengar ide saya, mau dengar kritik saya tentang website. Itu langka, Pak."

Amat menambahkan. "Pak Iwan juga selalu bela saya. Padahal saya ini tukang error. Tapi Pak Iwan nggak pernah marah, selalu bilang 'kamu lagi belajar'."

Rizki ikut bicara. "Saya baru beberapa hari, tapi Pak Iwan sudah kasih saya tanggung jawab. Itu... berarti buat saya. Saya nggak cuma jadi anak buah, tapi diajak mikir."

Pak Iwan terharu. Ia tak menyangka anak-anak muda ini memperhatikannya begitu.

"Terima kasih, Nak. Tapi ingat, saya cuma manusia biasa. Banyak salahnya. Tapi saya coba untuk terus belajar. Dari kalian, dari warga, dari siapa pun."

Mbah Karyo, yang sedari tadi mendengar dari balik etalase, ikut angkat bicara. "Pak Iwan, saya sudah 70 tahun. Sudah lihat lima kepala desa. Pak Iwan yang paling... aneh."

"Aneh, Mbah?"

"Iya, aneh. Kepala desa lain sibuk proyek, sibuk bangun fisik. Pak Iwan sibuk ngurusin komputer, server, website. Yang warga butuh itu jalan mulus, bukan website keren."

Pak Iwan tersenyum. "Tapi Mbah, website itu jalan juga. Jalan informasi. Jalan komunikasi. Jalan transparansi. Nanti kalau jalan mulus tapi warga nggak tahu program desa, percuma. Nanti kalau bantuan lancar tapi data kacau, percuma. Saya ingin desa ini maju di dua hal: fisik dan digital."

Mbah Karyo mengangguk, meski tampaknya belum sepenuhnya paham. "Ya sudah, terserah Pak Iwan. Yang penting, warung saya tetap ramai."

Tawa lagi. Pak Iwan memesan kopi tambahan.

Malam itu, obrolan mengalir ke mana-mana. Politik nasional, harga cabai, musim tanam, gosip artis, sampai ramalan jodoh. Warung RT 02 menjadi saksi bagaimana warga desa, dari berbagai usia dan latar belakang, bisa duduk bersama tanpa sekat.

Menjelang tengah malam, warga mulai pulang satu per satu. Pak Iwan pamit lebih dulu. Amat dan Rizki menyusul. Tinggal Bambang yang masih duduk, ditemani Mbah Karyo yang mulai membereskan gelas.

"Bang, nggak pulang?" tanya Mbah Karyo.

"Nanti, Mbah. Saya lagi mikir."

"Mikir apa?"

Bambang menatap ke luar warung, ke langit yang gelap tanpa bintang. "Mbah, saya ini anak desa, kuliah di kota. Kadang saya malu kalau ditanya asal. Saya bilang dari desa, trus mereka nyepelein. Tapi malam ini, saya lihat Pak Iwan, lihat Mas Amat, lihat warga sini... saya jadi bangga."

"Bangga kenapa?"

"Karena mereka berjuang. Mungkin hasilnya belum kelihatan, tapi mereka berjuang. Pak Iwan dengan digitalisasinya, Mas Amat dengan server-nya, warga dengan usul-usulnya. Mereka nggak menyerah. Itu keren, Mbah."

Mbah Karyo tersenyum. "Bang, desa ini memang kecil. Tapi mimpi orang-orangnya besar. Kamu juga, jangan malu jadi anak desa. Nanti kalau udah sukses di kota, ingat-ingat desa ini. Bantu mereka."

"Saya akan, Mbah."

Di luar, angin malam berhembus. Langit mulai cerah, bintang-bintang muncul satu per satu. Warung RT 02, dengan segala kesederhanaannya, terus berdiri—saksi bisu perjalanan desa yang perlahan berubah.***

 

Mobil tua warna biru pudar berhenti di depan balai desa. Seorang pemuda keluar, mengedarkan pandangan. Ia tinggi, agak kurus, berkacamata tebal, membawa tas ransel besar dan koper kecil. Wajahnya lelah, tapi matanya penasaran.

"Ini Desa Awan Biru?" tanyanya pada bapak-bapak yang duduk di teras kantor.

"Iya, Mas. Cari siapa?"

"Saya Erlangga, mahasiswa kedokteran dari Universitas Gadjah Mada. Mau penelitian di sini. Ada surat tugas dari kecamatan."

Bapak itu, Pak RT yang kebetulan sedang nongkrong, menunjuk ke dalam. "Masuk, Mas. Ketemu Pak Iwan dulu."

Erlangga melangkah masuk. Kantor desa sederhana: meja-meja kayu, lemari arsip penuh dokumen, beberapa komputer yang terlihat usang. Di sudut, seorang pemuda sibuk dengan laptop, itu Amat.

"Selamat pagi, Mas. Saya Erlangga, dari UGM. Ada janji sama Pak Iwan."

Amat menoleh, tersenyum. "Oh, Mas Erlangga. Iya, Pak Iwan udah nunggu. Sebentar ya, saya panggilkan."

Tak lama, Pak Iwan keluar dari ruangannya. "Selamat datang, Mas Erlangga. Saya Iwan, kepala desa. Silakan masuk."

Erlangga duduk di kursi tamu. Ruangan Pak Iwan sederhana: meja penuh berkas, dinding ditempeli peta desa, foto presiden dan wakil presiden, serta satu pigura berisi kaligrafi.

"Jadi Mas Erlangga mau penelitian apa di sini?" tanya Pak Iwan sambil menuang air.

"Saya penelitian tentang akses kesehatan masyarakat desa, Pak. Fokusnya pada ibu hamil dan balita. Dosen saya merekomendasikan desa ini karena... katanya desa ini sedang bertransformasi, jadi menarik untuk dilihat."

Pak Iwan tertawa. "Transformasi? Maksudnya lagi berantakan?"

Erlangga tersenyum. "Bukan, Pak. Maksudnya lagi bergerak. Dosen saya bilang, desa yang menarik itu bukan desa yang sudah maju, tapi desa yang sedang berusaha maju. Prosesnya yang penting."

"Wah, dosen Mas ini filosofis sekali."

"Ia, Pak. Beliau juga bilang, jangan hanya lihat angka-angka, tapi lihat juga manusianya. Cerita di balik angka."

Pak Iwan mengangguk setuju. "Baik, Mas Erlangga. Desa kami siap membantu. Tapi Mas harus siap, fasilitas di sini sederhana. Nggak ada losmen, nggak ada warnet. Mas mau tinggal di mana?"

"Saya sudah cari informasi, Pak. Rencana mau ngekos di rumah warga. Ada yang mau nerima?"

"Nanti saya tanyakan. Sementara, Mas bisa istirahat dulu di balai desa. Nanti saya carikan."

Sore harinya, Pak Iwan mengantar Erlangga ke rumah Bu RT. Sebuah rumah sederhana di gang kecil, dengan halaman penuh tanaman. Bu RT, janda berusia 50-an yang anaknya merantau semua, setuju menerima kos dengan harga murah.

"Nak, di sini sederhana. Kamar cuma satu, kasur seadanya, mandinya di sumur," jelas Bu RT.

"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah biasa hidup sederhana."

"Lho, anak UGM kok sederhana?"

"UGM juga ada yang miskin, Bu." Erlangga tersenyum getir.

Bu RT memandangnya iba. Dari raut muka, dari pakaian, dari tas ransel yang sudah usang, ia bisa menebak: Erlangga bukan dari keluarga mampu. Kuliah di UGM pasti dengan beasiswa atau keringanan biaya.

"Ya sudah, Nak. Istirahat dulu. Nanti malam saya buatkan makan."

"Matur nuwun, Bu."

Malam harinya, Erlangga duduk di teras rumah Bu RT, menatap langit desa yang penuh bintang. Di kota, bintang jarang terlihat, tertutup polusi cahaya. Di sini, bintang-bintang bertebaran seperti taburan beras di atas kain hitam.

"Mas Erlangga?" suara dari pagar.

Erlangga menoleh. Seorang pemuda berdiri di sana, Amat, yang tadi ia temui di kantor.

"Iya, Mas. Mas Amat, kan? Silakan masuk."

Amat masuk, duduk di samping Erlangga. "Gimana, Mas? Udah betah?"

"Baru beberapa jam, Mas. Masih adaptasi."

"Iya, wajar. Saya dengar Mas penelitian tentang kesehatan. Nanti bisa ketemu Bu Bidan, Bu Anita, kader posyandu, sama Bu Endang, istri Pak Iwan yang aktif PKK. Mereka bisa bantu banyak."

"Terima kasih, Mas. Saya sangat butuh bantuan."

Amat mengamati Erlangga. Ada sesuatu di mata pemuda ini, kesedihan yang disembunyikan, kelelahan yang ditahan. "Mas, maaf, saya bertanya. Mas kuliah kedokteran, kan biasanya dari keluarga mampu? Tapi Mas kelihatan... sederhana sekali."

Erlangga terdiam lama. "Ayah saya buruh bangunan, Mas. Ibu jualan gorengan di pasar. Saya kuliah dengan bidikmisi. Tiap bulan kirim uang ke rumah dari hasil jadi asisten dosen."

Amat terhenyak. "Maaf, saya nggak bermaksud..."

"Tidak apa-apa." Erlangga tersenyum. "Saya justru senang bisa bicara jujur. Di kampus, saya sering malu kalau ditanya asal. Tapi di sini, saya merasa... bebas."

"Di sini semua sederhana, Mas. Mungkin itu sebabnya."

Mereka diam, menikmati angin malam. Dari kejauhan, terdengar suara azan Isya dari masjid desa.

"Mas Amat," Erlangga membuka suara lagi. "Apa susahnya jadi perangkat desa?"

Amat tertawa. "Banyak, Mas. Gaji kecil, kerja banyak, kadang dimarahi warga. Tapi ada kepuasan tersendiri kalau lihat warga terbantu. Apalagi kalau sistem yang kita bikin bermanfaat."

"Sistem? Maksudnya?"

"Digitalisasi desa. Saya yang megang IT. Buat website, kelola data, setting server. Kadang error, warga marah. Tapi pelan-pelan mulai terbantu."

Erlangga menganggut. "Saya lihat tadi di kantor ada komputer baru."

"Itu hasil perjuangan panjang. Dulu pakai komputer bekas, sering mati. Sekarang udah lumayan. Tapi masih banyak PR."

"PR apa?"

"Koneksi internet. Masih lemot. Kadang loading aja setengah jam. Warga jadi malas akses online."

"Kenapa nggak pake provider lain?"

"Mahal, Mas. Anggaran desa terbatas. Kita harus pintar-pintar milih."

Erlangga tersenyum. "Sama seperti kesehatan. Anggaran terbatas, kebutuhan tak terbatas. Harus pintar prioritas."

"Betul. Jadi Mas lihat sendiri, desa ini lagi berjuang."

"Dan saya senang bisa jadi saksi."

Hari-hari pertama Erlangga di desa diisi dengan observasi. Ia keliling desa, mengunjungi posyandu, berbincang dengan ibu-ibu, mendata kondisi kesehatan. Yang ia temukan: banyak ibu hamil kurang gizi, banyak balita stunting, akses ke puskesmas jauh dan mahal.

Tapi ia juga menemukan semangat yang luar biasa dari para kader. Ibu-ibu PKK dengan sukarela mengurus posyandu, meski honor hanya sekedar uang transport. Bu Endang, istri Pak Iwan, tak kenal lelah mengkoordinasi. Dan ada satu nama yang sering disebut: Anita.

"Anita itu kader posyandu termuda, Mas. Baru lulus SMA, tapi semangatnya luar biasa," kata Bu Endang saat Erlangga bertanya.

"Dia anak siapa, Bu?"

"Anak Pak Santoso. Yang suka ngusul mulu itu."

Erlangga ingat. Santoso, petani cerewet yang selalu hadir di setiap musyawarah. Jadi itu anaknya.

Suatu sore, Erlangga memutuskan mampir ke posyandu—sebuah bangunan kecil di samping balai desa, catnya mulai mengelupas, tapi halamannya bersih. Di dalam, seorang gadis sedang sibuk mengatur timbangan dan alat ukur.

"Selamat sore," sapa Erlangga.

Gadis itu menoleh. Wajahnya bulat, rambut diikat ekor kuda, matanya cerah. Ia tersenyum. "Sore, Mas. Ada yang bisa dibantu?"

"Saya Erlangga, mahasiswa kedokteran yang lagi penelitian di sini. Mau lihat-lihat posyandu."

"Oalah, Mas Erlangga. Bu Endang cerita. Saya Anita. Silakan masuk."

Erlangga masuk, mengamati ruangan. Rak berisi vitamin, timbangan bayi, alat ukur tinggi, poster-poster gizi. Sederhana tapi tertata rapi.

"Posyandu buka setiap hari, Mbak?"

"Iya, Mas. Tapi ramainya tiap Kamis, pas hari buka. Hari-hari biasa, saya di sini buat jaga aja, takut ada warga yang butuh konsultasi."

"Sendirian?"

"Kadang Bu Bidan Amelia datang. Tapi beliau sibuk juga di puskesmas pembantu. Jadi saya sering sendiri."

Erlangga kagum. Gadis seusianya, lulus SMA, dengan sukarela menjaga posyandu hampir setiap hari.

"Mbak Anita, boleh tanya, kenapa memilih jadi kader?"

Anita tersenyum. "Awalnya ikut-ikut ibu. Ibu kan anggota PKK. Lama-lama suka. Seneng lihat bayi-bayi sehat. Seneng kalau bisa bantu ibu-ibu yang bingung urus anak."

"Tapi nggak digaji besar, kan?"

"Nggak. Cuma uang transport. Tapi ya, Mas, rezeki nggak selalu uang. Kadang ada ibu-ibu yang kasih makanan, ada yang kasih sayuran. Itu sudah lebih dari cukup."

Erlangga diam. Ia teringat ibunya, yang dulu juga kader posyandu di desanya. Dengan semangat yang sama, tanpa pamrih.

"Mbak Anita, besok Kamis, boleh saya ikut observasi?"

"Boleh banget, Mas. Datang aja pagi-pagi. Biasanya mulai jam delapan."

"Terima kasih, Mbak."

Mereka berjabat tangan. Untuk pertama kalinya, Erlangga merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, debar yang tak biasa. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan.***

 

Kamis pagi, posyandu sudah ramai sejak pukul tujuh. Ibu-ibu berdatangan membawa bayi dan balita mereka. Ada yang jalan kaki, ada yang naik sepeda, ada yang menggendong sambil membawa tas belanja. Anita sudah siap dengan timbangan, alat ukur, dan catatan.

Erlangga datang pukul setengah delapan. Ia membawa buku catatan dan kamera untuk dokumentasi.

"Selamat pagi, Mas. Silakan duduk di sana." Anita menunjuk kursi di pojok.

Erlangga mengamati prosesnya. Anita memanggil satu per satu ibu dan anak. Timbang berat, ukur tinggi, catat di buku KIA, lalu beri vitamin. Sesekali ia bercanda dengan anak-anak, membuat mereka tidak takut. Ia sabar menghadapi ibu-ibu yang banyak bertanya.

"Bu, anaknya kok beratnya turun? Perlahan, Bu, mungkin karena lagi sakit. Tapi nanti kalau udah sembuh, harus dikejar lagi makannya."

"Bu, ini anaknya sudah dua tahun, harusnya udah boleh makan nasi lembek. Jangan cuma ASI terus."

"Bu, imunisasinya harus lengkap. Tanggal 20 bulan depan, jangan lupa ya."

Erlangga takjub. Pengetahuan Anita cukup luas untuk ukuran kader desa. Ia hafal jadwal imunisasi, tahu tanda-tanda kurang gizi, paham cara stimulasi tumbuh kembang anak.

"Mbak Anita, ilmu kedokterannya dari mana?" tanya Erlangga di sela-sela.

"Baca-baca, Mas. Saya pinjam buku dari puskesmas. Kadang tanya Bu Bidan. Sekarang juga sering cari di internet, kalau ada sinyal."

"Luar biasa."

"Biasa aja, Mas. Ini tugas saya."

Tiba-tiba, seorang ibu masuk dengan tergopoh-gopoh, menggendong bayi yang menangis keras. Wajahnya panik.

"Mbak Anita! Mbak Anita! Tolong, anak saya panas banget, kejang-kejang!"

Anita segera bangkit. Ia terima bayi itu, rasakan keningnya, panas sekali. Bayi itu masih menangis, tapi tangisannya melemah.

"Bu Bidan di mana?" tanya Anita pada asistennya.

"Belum datang, Mbak. Biasanya jam sembilan."

Anita melihat jam, baru pukul setengah delapan. Ia menatap bayi itu, lalu ke Erlangga. Matanya berkata: tolong.

Erlangga maju. "Mbak, saya lihat."

Ia periksa bayi itu. Demam tinggi, mungkin di atas 39. Napas cepat, ubun-ubun cekung, tanda dehidrasi. Riwayat kejang? Ibu mengangguk, tadi pagi sempat kejang sebentar.

"Bu, ini butuh penanganan medis segera. Kita harus bawa ke puskesmas."

"Tapi, Mas, saya nggak punya kendaraan. Suami kerja."

"Saya bawa pakai motor." Erlangga menoleh ke Anita. "Mbak, pinjam motor?"

"Punya Bu Bidan, Mas. Ada di belakang. Saya ambil kuncinya."

Anita berlari ke belakang, kembali dengan kunci motor. Erlangga terima, lalu dengan hati-hati menggendong bayi itu. Ibu mengikuti di belakang.

"Mbak Anita, tolong catat nama dan alamatnya. Nanti saya kabari."

"Mas, saya ikut?"

"Tidak usah. Jaga posyandu. Ini tanggung jawab saya."

Erlangga melesat dengan motor, membawa bayi dan ibunya ke puskesmas kecamatan yang berjarak 20 menit.

Di posyandu, Anita melanjutkan pelayanan, tapi pikirannya melayang pada Erlangga. Pemuda itu, dengan tenang, mengambil alih situasi. Ia tidak panik, tidak ragu. Ia langsung bertindak.

"Mbak Anita, itu Mas Erlangga kok pinter?" tanya seorang ibu.

"Iya, Bu. Dia mahasiswa kedokteran."

"Wah, calon dokter ya. Nanti kalau udah lulus, jadi dokter di sini dong."

Anita tersenyum, tak menjawab. Hatinya berdebar.

Dua jam kemudian, Erlangga kembali. Wajahnya lelah, tapi tersenyum.

"Gimana, Mas?" tanya Anita cemas.

"Sudah ditangani. Demam karena infeksi. Dapat obat, sekarang dirawat di puskesmas. Kondisi stabil."

Anita menghela napas lega. "Alhamdulillah. Mas, terima kasih banyak."

"Sama-sama, Mbak. Itu sudah tugas saya, calon tugas, maksudnya."

Mereka tersenyum. Untuk beberapa detik, mata mereka bertemu. Erlangga cepat-cepat mengalihkan pandangan, berpura-pura melihat catatan.

"Sore nanti saya jenguk lagi," katanya. "Sekarang saya bantu di sini dulu, kalau Mbak Anita izinkan."

"Silakan, Mas. Malah terbantu."

Sisa hari itu, Erlangga membantu di posyandu. Ia menimbang bayi, mengukur tinggi, mencatat data. Ibu-ibu senang karena ada "dokter" yang melayani, meskipun Erlangga masih mahasiswa. Anita diam-diam memperhatikan dari kejauhan, tersenyum sendiri.

Sore harinya, setelah posyandu tutup, Anita dan Erlangga duduk di teras, minum teh yang dibuatkan ibu-ibu.

"Mas Erlangga," Anita memulai, "tadi Mas keren banget. Cepat ambil keputusan."

"Terima kasih, Mbak. Tadi kebetulan saya tahu gejalanya."

"Bukan cuma itu. Mas nggak panik. Saya lihat banyak orang panik kalau ada bayi kejang. Tapi Mas tenang."

Erlangga tersenyum. "Saya dilatih untuk itu. Di fakultas, kami belajar simulasi gawat darurat. Tapi simulasi beda dengan nyata. Tadi jantung saya juga dag dig dug."

"Tapi nggak kelihatan."

"Alhamdulillah, saya pandai menyembunyikan."

Mereka tertawa. Sore semakin gelap, lampu-lampu mulai menyala.

"Mbak Anita, saya boleh tanya sesuatu?"

"Silakan, Mas."

"Kenapa Mbak nggak lanjut kuliah? Nilai Mbak kan bagus, Bu Endang cerita. Tapi Mbak pilih jadi kader posyandu."

Anita terdiam lama. Matanya menunduk. "Soalnya, Mas... ayah saya cuma petani. Uang pas-pasan. Saya anak sulung, punya adik tiga. Harus bantu orang tua."

"Tidak ada beasiswa?"

"Ada. Saya dapat tawaran dari Dinas Kesehatan, mau di sekolahkan jadi perawat. Tapi harus di luar kota, biaya hidup tanggung sendiri. Saya nggak sanggup. Jadi ya, saya bantu di sini dulu."

Erlangga merasakan getir. Ia tahu persis rasanya, keinginan besar, keterbatasan besar.

"Mbak, jangan menyerah. Saya juga dari keluarga miskin. Tapi saya dapat bidikmisi. Mungkin Mbak bisa coba jalur itu tahun depan."

"Mas, saya sudah setahun lulus. Apakah masih bisa?"

"Bisa. Bidikmisi untuk mahasiswa baru, tidak ada batasan umur asal lulus maksimal tiga tahun. Mbak masih punya waktu."

Anita menatap Erlangga, matanya berkaca-kaca. "Mas... serius?"

"Serius. Nanti saya bantu cari informasinya. Mbak harus coba. Percuma punya bakat besar kalau tidak dijalani."

"Tapi keluarga saya..."

"Sambil kuliah, Mbak bisa cari kerja paruh waktu. Seperti saya, jadi asisten dosen. Gajinya cukup untuk hidup sederhana. Mbak nggak perlu minta uang dari orang tua."

Anita menunduk, air matanya jatuh. "Mas, saya... saya nggak tahu harus bilang apa."

"Tidak usah bilang apa-apa. Cuma, Mbak harus janji satu hal."

"Apa?"

"Besok, Mbak bantu saya terus. Saya butuh data banyak untuk penelitian. Saya butuh Mbak Anita yang semangat, bukan yang sedih."

Anita tersenyum, mengusap air mata. "Janji, Mas."

Malam itu, bintang-bintang bersinar terang. Di teras posyandu, dua anak muda duduk berbagi mimpi. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi esok, atau lusa. Tapi malam itu, mereka merasa, mungkin, takdir mempertemukan mereka untuk alasan tertentu.***

 

Bambang pulang kampung di tengah semester. Bukan karena libur, tapi karena kampusnya libur, ada demo besar di kota, kampus ditutup seminggu. Daripada nongkrong tak jelas di kos, ia memilih pulang.

Malam pertama di rumah, ia sudah tidak betah. Rumah sepi, orang tua sibuk. Ia pun jalan-jalan ke balai desa, ingin lihat perkembangan website yang ia desain beberapa bulan lalu.

Di kantor, ia menemukan Amat dan Rizki sedang lembur. Layar komputer menampilkan kode-kode yang membuatnya pusing.

"Mas Amat, lagi ngapain?"

Amat menoleh. "Wah, Bambang! Kok pulang?"

"Demo, Bang. Kampus libur."

"Oalah. Mari sini, bantu kami."

Bambang mendekat. Di layar, Rizki sedang debugging aplikasi pendataan warga. "Error, Mas. Data ganda, harus dihapus manual."

"Susah amat?"

"Nggak susah sih, cuma lama. Ada 200 data ganda."

Bambang bersiul. "200? Kok bisa?"

"Waktu migrasi dari sistem lama, ada duplikasi. Sekarang harus dibersihkan satu-satu."

"Kenapa nggak pakai script aja?"

Amat dan Rizki menatapnya. "Script?"

"Iya, skrip otomatis. Bikin kode untuk deteksi dan hapus data ganda. Cepet, tinggal jalanin."

Rizki menggeleng. "Saya nggak bisa bikin script. Cuma bisa manual."

"Ya udah, saya bantu bikin. Tapi inget, ini ilmunya pinter-pinteran. Nanti kalau udah jalan, kalian harus belajar bikin sendiri."

Bambang duduk di depan komputer. Jari-jarinya menari di keyboard. Amat dan Rizki mengamati dengan takjub. Dalam satu jam, script selesai. Data ganda terhapus dalam hitungan detik.

"Gila," Rizki takjub. "Kakakku hebat."

"Biasa aja. Ini pelajaran semester satu."

Amat menepuk bahu Bambang. "Bang, kamu ini aset desa. Jangan mau jadi karyawan kantoran. Pulang aja ke desa, bantu kami."

Bambang tertawa. "Masih kuliah, Mas. Dua tahun lagi."

"Ya udah, kalau libur, pulang. Bantu-bantu. Nanti kalau udah lulus, kita lihat."

Keesokan harinya, Bambang diajak Amat ke warung RT 02. Mereka duduk di meja sudut, ditemani Mbah Karyo yang setia dengan kopinya.

"Bang, aku mau tanya serius," kata Amat.

"Tanya aja, Mas."

"Kamu lihat desa ini, menurutmu gimana?"

Bambang diam, memikirkan jawaban. "Desa ini... unik, Mas. Kecil, tapi punya mimpi besar. Pak Iwan dengan digitalisasinya, Mas Amat dengan server-nya, warga dengan semangatnya. Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi masih banyak yang kurang. Sumber daya manusia, infrastruktur, koneksi internet. Masih jauh dari kota."

"Itulah. Aku kadang mikir, apa yang kita lakukan ini ada gunanya? Atau cuma buang-buang waktu?"

Bambang menatap Amat. Di mata pemuda ini, ia melihat kelelahan, juga keraguan.

"Mas Amat, saya cerita sesuatu." Bambang menghirup kopinya. "Di kampus, saya belajar tentang perubahan. Perubahan itu nggak selalu cepat. Kadang lambat banget, sampai orang-orang putus asa. Tapi yang penting, kita terus bergerak. Satu langkah sehari, satu perbaikan seminggu. Lama-lama, jadi bukit."

"Tapi kami sudah setahun lebih. Hasilnya? Server masih error, warga masih komplain, data masih kacau."

"Itu namanya proses, Mas. Bayangkan kalau Mas Amat nggak ada. Server mungkin error terus, nggak pernah diperbaiki. Data mungkin tambah kacau. Tapi karena Mas ada, error bisa diperbaiki. Data dibersihkan. Pelan-pelan, tapi pasti."

Amat diam, merenung.

"Mas Amat," lanjut Bambang, "saya percaya, dua puluh tahun lagi, orang akan lihat Desa Awan Biru dan bilang: 'Wah, maju sekali.' Dan mereka nggak akan tahu perjuangan Mas Amat, Mas Rizki, Pak Iwan, dan semua orang di sini. Tapi Mas tahu. Dan itu cukup."

Amat tersenyum. "Kamu ini, baru kuliah, kok filosofis banget."

"Dosen saya banyak yang nyebelin, Mas. Jadi saya baca buku sendiri."

Mereka tertawa. Mbah Karyo, yang mendengar dari balik etalase, ikut tersenyum.

"Nak Bambang," panggil Mbah Karyo. "Kamu itu anak pinter. Tapi jangan lupa, kopi dulu diminum. Nanti dingin."

"Iya, Mbah."

Malam semakin larut. Warung mulai sepi. Bambang pamit pulang, meninggalkan Amat yang masih duduk termenung.

"Mas Amat, nggak pulang?" tanya Mbah Karyo.

"Nanti, Mbah. Saya lagi mikir."

"Mikir apa?"

"Tentang masa depan, Mbah. Apakah saya akan terus di sini, atau pergi merantau seperti Bambang nanti."

Mbah Karyo duduk di sampingnya. "Mas Amat, saya sudah 70 tahun. Saya lihat banyak anak muda pergi, banyak yang kembali. Yang pergi, sukses di kota. Yang kembali, sukses di desa. Nggak ada yang salah. Yang penting, Mas Amat bahagia dengan pilihan Mas."

"Tapi Mbah, saya belum bahagia. Masih galau."

"Ya wajar, Mas. Masih muda. Nanti juga nemu jalannya sendiri."

Amat tersenyum. "Mbah ini bijak."

"Bukan bijak. Cuma udah tua, jadi banyak ngeliat." Mbah Karyo tertawa. "Sekarang pulang, Mas. Besok kan harus kerja."

"Iya, Mbah. Saya pulang."

Amat bangkit, melangkah keluar. Di langit, bintang-bintang masih setia. Ia menatapnya lama, lalu berjalan perlahan ke rumah kontrakannya yang sederhana.***

 

Rapat pembahasan APBDes perubahan digelar di balai desa. Kali ini berbeda, semua terbuka. Warga diundang, bahkan dipersilakan bicara. Pak Iwan duduk di depan, didampingi Sekdes, Bendahara, dan Amat yang menyiapkan tampilan proyektor.

"Saudara-saudara," Pak Iwan memulai, "sesuai janji saya, APBDes perubahan ini akan kita bahas bersama. Semua angka terbuka. Semua pos bisa dipertanyakan. Silakan."

Yuni maju, memaparkan usulan perubahan anggaran. Ada tambahan dana untuk perbaikan server, ada pengurangan pos perjalanan dinas, ada alokasi baru untuk pelatihan digital.

Seorang warga angkat tangan. "Pak Iwan, saya dengar kita mau beli server baru? Harganya berapa?"

Amat menjawab. "Server tidak beli, Pak. Kita sewa cloud. Setahun 5 juta. Lebih murah daripada beli server sendiri yang bisa 20 juta."

"Cloud itu apa?"

"Penyimpanan online, Pak. Data kita simpan di server besar milik perusahaan, diakses lewat internet. Aman dan nggak perlu ruangan khusus."

Warga itu mengangguk, meski tampak belum paham betul.

Yuni dan Lulu, yang duduk di barisan depan, saling pandang. Mereka sudah menyiapkan argumen jika ada yang mempertanyakan anggaran publikasi digital.

Tiba-tiba, seorang ibu berdiri. Itu Ibu RT, anggota PKK yang aktif. "Pak Iwan, saya mau tanya soal anggaran publikasi digital. Di situ tertulis 15 juta. Untuk apa saja?"

Lulu maju. "Bu, anggaran itu untuk: pertama, pembuatan konten website dan media sosial. Kedua, pelatihan IT untuk perangkat desa dan kader. Ketiga, pembelian domain dan hosting. Keempat, operasional tim IT, termasuk transport dan makan untuk Mas Amat dan tim."

"15 juta? Itu kan uang rakyat. Apa nggak mubazir?"

Diskusi mulai memanas. Beberapa warga setuju dengan Ibu RT, menganggap anggaran digital terlalu besar. Yang lain membela, bilang itu investasi masa depan.

Pak Iwan membiarkan diskusi berlangsung. Ia ingin warga belajar berdebat sehat, belajar mempertahankan argumen, belajar menerima perbedaan.

Yuni angkat bicara. "Bu, saya jelaskan lebih rinci. 15 juta itu untuk setahun. Rinciannya: langganan cloud 5 juta, domain dan hosting 1 juta, pelatihan 4 juta, operasional tim 5 juta. Kalau dibagi 12 bulan, per bulan cuma 1,25 juta. Untuk mengelola data seluruh desa, itu murah, Bu."

"Tapi kan dulu tanpa digital juga jalan?"

"Jalan, Bu. Tapi lambat, sering error, data hilang. Sekarang, dengan digital, warga bisa akses informasi kapan saja. Nggak perlu nunggu kantor buka. Nggak perlu antri."

Ibu RT masih belum puas. "Tapi buktinya masih sering error?"

Amat tersenyum getir. "Iya, Bu. Itu karena kita masih belajar. Tapi kalau kita nggak mulai, kapan bisanya? Saya minta waktu, Bu. Setahun lagi, insha Allah sistem kita stabil."

Seorang warga lain mendukung. "Sudahlah, Bu. Kasih mereka waktu. Daripada kita komplain terus, mending kita bantu awasi. Kalau ada error, lapor. Jangan cuma marah-marah."

Ibu RT menghela napas. "Ya sudah, saya setuju asal transparan. Semua pengeluaran harus dipertanggungjawabkan."

"Pasti, Bu." Pak Iwan mengangguk. "Semua laporan keuangan akan diupload ke website. Bisa diakses siapa saja."

Rapat berlangsung hingga sore. Banyak usulan, banyak debat, banyak kompromi. Pada akhirnya, APBDes perubahan disepakati dengan beberapa penyesuaian.

Saat warga mulai pulang, Yuni dan Lulu mendekati Amat.

"Mat, kamu hebat tadi," kata Yuni.

"Hah? Hebat apaan?"

"Menahan diri. Nggak emosi meski diserang."

Amat tersenyum. "Udah biasa, Bu. Warga marah itu santapan sehari-hari."

Lulu tertawa. "Ya ampun, Mat. Jangan terlalu pasrah dong."

"Bukan pasrah. Tapi saya paham, mereka marah karena peduli. Kalau nggak peduli, mereka diem aja."

Yuni dan Lulu saling pandang. Amat, yang dulu sering panik, mulai matang.

"Mat, kita traktir makan yuk," ajak Lulu.

"Boleh. Tapi di warung biasa aja."

"Ya di warung RT 02 lah."

Mereka bertiga berjalan ke warung, menikmati senja yang mulai merah. Di langit, awan-awan kecil berarak, seolah ikut merayakan hari yang melelahkan tapi berarti.***

 

Mbah Anto, atau Mbah Dukun, panggilan sinis dari sebagian warga, adalah sesepuh desa yang dianggap "berbeda". Usianya sudah 80 tahun, tinggal sendiri di pinggir desa, di rumah panggung tua yang dipenuhi wewangian dupa. Ia jarang keluar, tapi kalau keluar, pasti ada yang diramal.

Suatu sore, Mbah Anto muncul di warung RT 02. Warga terkejut, sudah setahun ia tak pernah ke warung. Jalannya lambat, terbungkuk-bungkuk, ditopang tongkat kayu jati.

"Mbah Anto? Ada perlu apa, Mbah?" tanya Mbah Karyo, pemilik warung.

"Ngalor-ngidul, Karyo. Kangen warungmu." Mbah Anto duduk di bangku panjang, menghela napas panjang. "Kopi hitam, gula aren."

Mbah Karyo mengangguk, segera menyiapkan kopi. Warga yang ada di warung mulai berbisik-bisik. Kedatangan Mbah Anto selalu jadi peristiwa.

Beberapa saat kemudian, Pak Iwan datang. Ia biasa nongkrong di warung selepas maghrib. Melihat Mbah Anto, ia kaget.

"Mbah Anto? Sehat, Mbah?"

"Sehat, Nak Iwan. Cuma udah tua." Mbah Anto tersenyum, memperlihatkan gigi tinggal tiga. "Duduk sini, Nak. Aku mau ngomong."

Pak Iwan duduk di hadapannya. Warga lain memasang telinga.

"Nak Iwan, aku sudah lihat banyak kepala desa. Kamu yang ke-7. Dan kamu yang paling aneh."

Pak Iwan tersenyum. "Aneh gimana, Mbah?"

"Kamu sibuk ngurusin hal-hal yang nggak kelihatan. Komputer, internet, data. Yang lain sibuk bangun jalan, bangun jembatan, yang kelihatan. Tapi kamu..."

Mbah Anto diam, menyeruput kopinya. Matanya menerawang.

"Aku lihat sesuatu, Nak Iwan. Di mimpiku, ada pemuda dari desa ini. Ia duduk di kursi yang sama denganmu. Tapi di sekelilingnya, banyak cahaya. Banyak layar. Banyak angka. Ia memimpin dengan cara yang berbeda."

Warga mulai mendekat. Mereka penasaran.

"Mbah, itu ramalan?" tanya salah satu.

"Aku bukan peramal. Cuma tua, jadi banyak mimpi." Mbah Anto tertawa kecil. "Tapi mimpi itu datang terus. Setiap malam. Pemuda itu, ia lahir dari rahim desa ini. Ia akan bawa desa ini ke tempat yang tak terbayangkan."

Pak Iwan terdiam. Pikirannya melayang pada anaknya, yang masih kecil. Atau mungkin pada pemuda-pemuda desa yang mulai aktif: Bambang, Rizki, atau... Erlangga?

"Mbah, kapan pemuda itu lahir?" tanya seseorang.

"Belum. Tapi sebentar lagi." Mbah Anto menatap Pak Iwan tajam. "Nak Iwan, tugasmu adalah menyiapkan jalan untuknya. Jangan takut pada perubahan. Jangan takut pada teknologi. Semua yang kamu lakukan sekarang, akan jadi fondasi untuknya."

Pak Iwan merinding. Bukan karena takut, tapi karena ada keyakinan aneh dalam kata-kata Mbah Anto.

"Mbah, terima kasih."

"Jangan terima kasih dulu. Aku punya pesan: jaga warung ini." Mbah Anto menunjuk lantai warung. "Tempat ini saksi. Banyak generasi akan duduk di sini. Banyak keputusan lahir dari obrolan di sini. Jangan biarkan warung ini tutup."

Mbah Karyo, yang mendengar, mengangguk. "Warungku nggak akan tutup, Mbah. Sampai aku mati."

"Itu janjimu, Karyo. Pegang."

Mbah Anto bangkit, pelan-pelan. Ia menatap semua orang di warung, lalu berjalan keluar. Langkahnya lambat, tapi tegap. Semua melepas pandang hingga sosoknya hilang di balik gelap.

Malam itu, warung lebih hening dari biasanya. Semua merenungkan kata-kata Mbah Anto. Pak Iwan termenung lama, kopinya tak disentuh.

"Pak Iwan," panggil Mbah Karyo, "bapak percaya ramalan Mbah Anto?"

Pak Iwan mengangkat bahu. "Entah, Mbah. Tapi yang jelas, saya akan terus bekerja. Untuk desa. Untuk anak cucu. Untuk pemuda yang entah siapa itu."

"Baguslah. Itu jawaban yang tepat."

Sepekan kemudian, Mbah Anto ditemukan meninggal di rumahnya. Warga bergotong royong memakamkan dengan layak. Di pemakaman, Pak Iwan berdiri paling depan, mengenang kata-kata terakhirnya.

"Jaga warung itu."

Pak Iwan menatap warung RT 02 dari kejauhan. Warung kecil, usang, tapi penuh cerita. Ia berjanji dalam hati: warung itu akan tetap ada.***

 

Erlangga sudah tiga bulan di Desa Awan Biru. Penelitiannya hampir selesai, tinggal menulis laporan. Tapi hatinya, entah kenapa, berat untuk pergi.

Setiap hari, ia menemukan alasan untuk ke posyandu. Kadang bantu timbang bayi, kadang diskusi dengan Anita, kadang cuma duduk-duduk sambil baca buku. Anita selalu menyambutnya dengan senyum.

"Mbak Anita, kok rajin banget ke posyandu?" goda seorang ibu suatu hari. "Atau nungguin Mas Erlangga?"

Anita tersipu. "Ah, Bu, nggak gitu."

"Bohong, Mbak. Mata Mbak berkaca-kaca kalau lihat Mas Erlangga."

Anita makin merah. Erlangga, yang kebetulan lewat, ikut tersipu. Ia cepat-cepat masuk ke ruang belakang, pura-pura cek obat.

Bu Endang, yang juga ada di posyandu, tersenyum melihat gelagat dua anak muda itu. "Bu, biarkan mereka. Masa muda cuma sekali."

Sore harinya, saat posyandu sepi, Erlangga memberanikan diri. "Mbak Anita, boleh saya ajak bicara?"

Anita menoleh, jantungnya berdebar. "Boleh, Mas. Di mana?"

"Di teras aja."

Mereka duduk di teras posyandu, menghadap ke jalan desa yang mulai sepi. Matahari sore menyinari wajah Anita, membuatnya berseri.

"Mbak Anita, saya... sebentar lagi selesai penelitian. Harus balik ke Jogja."

Anita menunduk. "Oh... iya, Mas. Tentu. Kuliah kan."

"Iya. Tapi..." Erlangga ragu. "Tapi saya nggak mau putus kontak. Saya... saya seneng sama Mbak."

Anita diam. Hatinya campur aduk: senang, sedih, takut.

"Mas Erlangga, saya ini cuma anak desa. Lulusan SMA. Mas calon dokter. Masa depan Mas cerah. Masa depan saya... ya begini."

"Mbak Anita, jangan rendahkan diri sendiri. Mbak ini hebat. Saya lihat sendiri bagaimana Mbak mengurus posyandu, bagaimana Mbak sabar dengan ibu-ibu, bagaimana Mbak hafal semua data balita. Itu luar biasa."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi. Saya suka Mbak karena siapa Mbak sekarang, bukan karena siapa Mbak nanti."

Anita menatap Erlangga. Matanya berkaca-kaca. "Mas... Mas serius?"

"Serius."

Mereka berdua diam, saling memandang. Di kejauhan, Amat yang kebetulan lewat menghentikan motornya. Ia melihat dua insan itu, lalu tersenyum. Tapi tiba-tiba, senyumnya berubah, ada rasa cemburu? Ia cepat-cepat menggeleng, lalu melanjutkan perjalanan.

Amat, diam-diam, juga punya perasaan pada Anita. Tapi ia tak pernah berani mengungkapkan. Ia hanya bisa melihat dari jauh.

Malam harinya, Amat duduk di warung RT 02, sendirian. Mbah Karyo mendekat.

"Mas Amat, kok murung?"

"Enggak, Mbah. Capek aja."

"Capek atau patah hati?"

Amat terkesiap. "Mbah tahu?"

Mbah Karyo tertawa. "Mbah ini tua, tapi mata masih awas. Mas Amat suka sama Anita, kan?"

Amat diam, mengangguk lesu.

"Nak, cinta itu soal keberanian. Kalau Mas nggak berani bilang, ya orang lain yang maju."

"Tapi Mbah, saya ini cuma tenaga IT desa. Gaji pas-pasan. Anita itu... dia hebat. Saya nggak pantas."

Mbah Karyo menghela napas. "Nak, jangan ukur pantas dengan uang. Ukur dengan hati. Tapi kalau Mas merasa belum siap, ya terima saja. Cinta nggak selalu harus memiliki."

Amat terdiam. Kata-kata Mbah Karyo masuk ke hati.

"Mbah, saya akan belajar ikhlas."

"Itu dia. Anak baik."

Di langit, bintang-bintang bersinar. Amat menatapnya lama, lalu pulang dengan langkah berat.***

 

Tahun baru, masalah baru.

Pagi itu, kantor desa dikepung warga. Puluhan orang datang dengan wajah merah, membawa KTP dan KK, berteriak-teriak. Yuni dan Lulu kewalahan.

"Pak Iwan! Kok nama saya nggak masuk daftar bantuan? Padahal tahun lalu dapet!"

"Iya, saya juga! Ini diskriminasi!"

"Data saya salah, alamatnya beda!"

Pak Iwan keluar, mencoba menenangkan. "Sabar, Bapak-Ibu. Mari kita duduk dulu, bicara baik-baik."

"Sabar gimana, Pak? Ini bantuan besok cair, tapi nama saya nggak ada!"

Amat, yang sedang di ruang server, mendengar keributan. Ia buka sistem, cek data bantuan. Matanya membelalak, data error besar. Ribuan entri kacau: nama dobel, NIK salah, alamat tidak cocok, bahkan ada warga meninggal yang masih terdaftar.

Ia turun, menghampiri Pak Iwan. "Pak, sistem error. Data bantuan kita kacau."

Pak Iwan menghela napas. "Bisa diperbaiki?"

"Bisa, tapi butuh waktu. Setidaknya tiga hari."

"Tiga hari? Besok bantuan cair!"

Amat terdiam. Ia tahu ini salahnya. Migrasi data minggu lalu, ia terburu-buru, tak sempat cek ulang.

"Saya... saya yang salah, Pak."

Pak Iwan menatapnya. Bukan marah, tapi kecewa. Dan itu lebih menyakitkan.

"Amat, ini bukan soal salah. Ini soal dampak. Lihat mereka." Pak Iwan menunjuk warga yang masih berteriak. "Mereka butuh bantuan. Besok. Kalau data salah, mereka nggak dapat. Anak-anak mereka bisa kelaparan."

Amat menunduk. "Saya perbaiki, Pak. Saya lembur. Saya akan cari solusi."

"Lakukan."

Amat kembali ke ruang server. Rizki sudah di sana, panik. "Mas, ini parah. Data relasi antar tabel putus semua. Kita harus restore backup."

"Backup terakhir kapan?"

"Seminggu lalu."

"Seminggu? Berarti data seminggu hilang?"

"Iya, Mas."

Amat hampir menangis. Tapi ia tahan. "Restore. Cepat. Nanti data yang masuk seminggu terakhir kita input manual."

Rizki mengangguk, mulai bekerja.

Di luar, Pak Iwan menghadapi warga. Ia jelaskan situasi, minta maaf, janji akan perbaiki secepatnya. Beberapa warga bisa menerima, beberapa masih marah.

"Pak Iwan, ini sudah berapa kali error? Kapan desa ini punya sistem yang bener?"

"Sabar, Pak. Kita sedang belajar."

"Belajar? Pakai uang rakyat untuk belajar?"

Pak Iwan diam. Tak bisa membantah.

Bu Endang maju. "Bapak-Ibu, mari kita tenang. Saya usul, besak-besok yang nggak dapat bantuan karena data error, kita bantu dari dana darurat dulu. Nanti setelah data bener, kita urus penggantian."

Warga mulai tenang. Usulan Bu Endang masuk akal.

"Ibu Endang janji?"

"Janji. Saya pribadi yang akan urus."

Warga mulai pulang, meski dengan wajah cemberut.

Di ruang server, Amat dan Rizki bekerja tanpa henti. Restore backup berhasil, tapi data seminggu hilang. Mereka harus input ulang 500 entri manual. Satu per satu.

Malam hari, Pak Iwan masuk. Ia membawa nasi bungkus dan kopi.

"Makan dulu."

Amat menoleh, matanya sembab. "Pak Iwan, maafkan saya."

"Amat, saya nggak marah. Tapi saya kecewa."

"Itu lebih sakit, Pak."

"Iya. Tapi itu pelajaran. Kamu harus lebih teliti. Data warga itu nyawa. Kalau salah, orang bisa kelaparan, bisa nggak sekolah, bisa nggak berobat."

Amat mengangguk. "Saya janji, Pak. Nggak akan terburu-buru lagi."

"Makan dulu. Nanti lanjut."

Amat makan, air matanya jatuh ke nasi. Rizki diam, tak berani bicara.

Pak Iwan duduk di samping mereka. "Amat, kamu tahu kenapa saya pertahankan kamu terus?"

Amat menggeleng.

"Karena kamu punya hati. Kamu nggak lari dari tanggung jawab. Setiap kali salah, kamu berusaha perbaiki. Itu langka, Mat. Orang pintar banyak, orang jujur banyak, tapi orang yang mau bertanggung jawab atas kesalahannya, itu langka."

Amat tersedu.

"Jadi, jangan menyerah. Selesaikan ini. Besok kita hadapi warga bersama."

Malam itu, Amat dan Rizki bekerja sampai subuh. Data selesai diinput. Paginya, mereka cetak ulang daftar bantuan, serahkan ke Pak Iwan.

Pak Iwan memeriksa, mengangguk. "Bagus. Sekarang istirahat."

"Tapi, Pak, warga..."

"Nanti saya yang urus. Kalian istirahat."

Amat dan Rizki pulang dengan langkah sempoyongan. Tapi hati Amat sedikit lega. Pak Iwan masih percaya padanya.***

 

Pak Eko, Kepala urusan perencanaan adalah perangkat desa paling senior setelah Pak Iwan. Usianya 58 tahun, akan pensiun tiga tahun lagi. Ia dikenal sebagai "manusia kertas": semua dokumen harus cetak, semua arsip harus fisik. Digitalisasi adalah momok baginya.

Tapi hari itu, Pak Eko meminta bertemu Amat.

"Mas Amat, saya mau tanya."

Amat agak kaget. Pak Eko jarang bicara padanya, apalagi minta tolong. "Iya, Pak. Tanya apa?"

"Saya dengar ada sistem online untuk RDKK, Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok? Betul?"

"Iya, Pak. Itu aplikasi dari Kementerian. Untuk data petani."

"Saya mau data RDKK tahun ini online. Bisa?"

Amat hampir jatuh dari kursi. Pak Eko, manusia kertas, mau online?

"B-bisa, Pak. Tapi bapak mau? Biasanya kan pakai kertas."

"Saya capek, Mas. Tiap tahun nulis ulang data 500 petani. Tangan saya udah keriting. Kalau bisa online, saya tinggal copy paste."

Amat tersenyum. "Bisa, Pak. Nanti saya ajarin."

"Tapi saya nggak bisa komputer."

"Pak Eko bisa pakai HP kan?"

"Bisa."

"Nanti kita buat grup WhatsApp. Petani input data sendiri lewat formulir Google. Pak Eko tinggal rekap."

Pak Eko mengerutkan kening. "Formulir Google? Itu apa?"

"Seperti kuesioner online, Pak. Petani tinggal isi dari HP. Nanti datanya masuk ke spreadsheet otomatis."

"Mereka bisa? Petani kan banyak yang gagap HP."

"Yang muda bisa. Atau nanti kita minta pendampingan dari anak-anaknya. Yang penting, datanya masuk. Nanti Pak Eko verifikasi."

Pak Eko diam, berpikir. "Tapi kalau ada yang nggak punya HP?"

"Kita buka posko di balai desa. Mereka datang, kita bantu input."

"Berapa lama prosesnya?"

"Cepat, Pak. Seminggu semua data masuk."

Pak Eko menghela napas. "Coba dulu. Saya setuju asal Mas Amat dampingi."

"Siap, Pak."***

Sepekan kemudian, percobaan perencanaan digital dimulai. Amat buat formulir Google sederhana, bagikan link ke grup WhatsApp petani. Beberapa langsung isi, beberapa bingung, beberapa protes.

"Ribet, Mat!"

"Nggak punya kuota!"

"HP-ku jadul, nggak bisa buka Google!"

Amat sabar melayani. Ia buka posko di balai desa. Petani datang satu per satu, ia bantu input. Yang nggak bisa datang, ia datangi ke rumah.

Pak Eko, dari kantor, memantau spreadsheet yang terus bertambah. Matanya berbinar. "Wah, ini canggih. Data masuk otomatis, nggak perlu ngetik ulang."

Lima hari kemudian, semua data masuk. Pak Eko tinggal verifikasi dan cetak laporan. Pekerjaan yang biasanya sebulan, selesai seminggu.

Di rapat evaluasi, Pak Eko angkat bicara. "Saya dulu anti digital. Sekarang, saya minta maaf. Ini luar biasa. Kita harus teruskan."

Pak Iwan tersenyum. "Pak Eko, apa yang membuat berubah?"

"Waktu, Pak Iwan. Saya sadar, kalau nggak ikut perubahan, saya akan tertinggal. Tinggal tiga tahun lagi pensiun. Saya nggak mau jadi perangkat desa kolot yang cuma bisa kertas."

Semua tepuk tangan. Amat paling keras. Kemenangan kecil, tapi berarti.***

 

Pagi itu, Anita datang ke posyandu lebih awal. Ada firasat aneh di hatinya. Benar saja, setengah jam kemudian, Bu Bidan Amelia datang dengan wajah pucat.

"Anita, ada masalah."

"Masalah apa, Bu?"

"Stok obat habis. Semua. Vitamin, obat cacing, bahkan oralit. Puskesmas Awan Merah telat kirim. Kata mereka, ada kendala distribusi."

Anita memucat. "Hari ini kan hari buka, Bu. Banyak ibu-ibu datang."

"Iya, aku tahu. Kita harus beri penjelasan."

Posyandu mulai ramai. Ibu-ibu datang dengan bayi mereka. Anita dan Bu Bidan menyambut dengan senyum, tapi hati gundah.

"Selamat pagi, Bu. Hari ini imunisasi ya?" tanya seorang ibu.

Bu Bidan menghela napas. "Bu, maaf, stok obat kita habis. Puskesmas telat kirim."

"Habis? Kok bisa?"

"Kendala teknis. Tapi jangan khawatir, minggu depan pasti datang."

"Lho, saya sudah jauh-jauh bawa anak. Masa disuruh pulang?"

Ibu-ibu lain mulai protes. Suasana memanas.

Anita maju. "Ibu-ibu, saya minta maaf. Ini di luar kendali kami. Tapi kami janji, minggu depan semua obat tersedia. Kami akan buka layanan tambahan di luar jadwal untuk mengganti."

"Tapi anak saya butuh vitamin sekarang. Udah batuk pilek seminggu."

Anita bingung. Ia menatap Bu Bidan.

Tiba-tiba, sebuah motor berhenti di depan posyandu. Erlangga turun, membawa tas besar.

"Mbak Anita, Bu Bidan, saya dengar ada masalah?"

Bu Bidan menoleh. "Mas Erlangga? Kok tahu?"

"Warga WA saya. Katanya obat habis." Erlangga membuka tasnya. "Saya bawa stok darurat dari kampus. Waktu pulang Jogja minggu lalu, saya ambil vitamin dan obat dasar. Ini untuk penelitian, tapi bisa dipakai darurat."

Anita hampir menangis. "Mas Erlangga..."

"Jangan nangis dulu. Ayo kita bagi."

Dengan cepat, Erlangga mengeluarkan isi tas: vitamin, obat cacing, oralit, bahkan beberapa antibiotik dasar. Bu Bidan memeriksa, mengangguk lega.

"Ini bisa dipakai sementara."

Posyandu berjalan lancar. Ibu-ibu senang, protes reda. Anita diam-diam menatap Erlangga dengan penuh kagum.

Sore harinya, Dr. Samsiar dari Puskesmas Awan Merah datang. Wajahnya panik.

"Bu Bidan, Anita, maaf, maaf. Ada kendala di gudang. Stok baru datang hari ini, besok saya kirim."

"Tadi kami dibantu Mas Erlangga, Dok. Stok darurat dari dia."

Dr. Samsiar menatap Erlangga. "Mas mahasiswa kedokteran?"

"Iya, Dok. Penelitian di sini."

"Terima kasih, Mas. Ini sangat membantu. Nanti kalau lulus, mau praktek di sini?"

Erlangga tersenyum. "Siapa tahu, Dok. Saya suka desa ini."

Anita, mendengar, tersenyum dalam hati.***

 

Erlangga harus kembali ke Jogja. Penelitiannya selesai, laporan sudah diterima dosen. Tapi sebelum pergi, ada satu hal yang harus ia lakukan.

Suatu malam, ia mengajak Anita ke warung RT 02. Bukan tempat romantis, tapi Erlangga punya alasan: warung ini saksi banyak kisah desa, termasuk pertemuan mereka.

"Mbak Anita, saya mau bicara serius."

Anita deg-degan. "Bicara apa, Mas?"

Erlangga menghela napas. "Saya sayang sama Mbak. Saya tahu hubungan jarak jauh itu berat. Tapi saya nggak mau kehilangan Mbak."

Anita diam, matanya berkaca-kaca.

"Saya mau minta restu. Bukan untuk sekarang, tapi untuk nanti. Setelah saya lulus, setelah dapat kerja. Saya mau Mbak jadi pendamping saya."

Anita terkesiap. "Mas Erlangga, itu... itu lamaran?"

"Kalau Mbak mau sebut begitu, iya. Tapi sederhana. Nggak ada cincin, nggak ada romantis-romantisan. Cuma janji dari hati."

Anita menangis. Bukan sedih, tapi haru.

"Mas, saya ini cuma anak desa. Saya nggak pantas untuk Mas."

"Mbak Anita, berhenti bilang begitu. Pantas atau tidak, saya yang menentukan. Dan saya memilih Mbak."

Mereka berpelukan. Mbah Karyo, yang melihat dari balik etalase, tersenyum. Ia sengaja tak mendekat, membiarkan dua anak muda itu menikmati momen.

"Mas, saya mau. Tapi saya minta waktu. Biar saya siapkan diri. Saya juga mau kuliah, seperti saran Mas."

"Itu ide bagus. Saya dukung penuh."

"Terus... bapak saya? Mas tahu kan, Si Amat itu... cerewet."

Erlangga tertawa. "Saya siap. Besok saya temui beliau."

Keesokan harinya, Erlangga datang ke rumah Santoso. Pak Santoso, yang sedang di sawah, dipanggil pulang. Ia heran ada tamu mahasiswa.

"Mas Erlangga, ada perlu apa?"

Erlangga duduk bersimpuh. "Pak Santoso, saya mau minta izin."

"Izin apa?"

"Saya sayang sama Anita. Saya ingin... melamarnya."

Santoso terbelalak. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Beberapa saat kemudian, ia tertawa keras.

"Wakakaka... Mas Erlangga, ini serius?"

"Serius, Pak."

Santoso diam, menatap Erlangga tajam. "Mas tahu anak saya itu apa? Cuma lulusan SMA. Kader posyandu. Mas calon dokter. Nanti kalau Mas malu punya istri cuma lulusan SMA?"

"Nggak, Pak. Saya justru bangga. Anita hebat. Dia lebih tahu tentang kesehatan masyarakat dari banyak mahasiswa kedokteran. Saya belajar banyak dari dia."

Santoso terharu. "Mas Erlangga, saya petani miskin. Nggak punya apa-apa. Mas yakin?"

"Saya yakin, Pak. Saya nggak minta mahar mahal. Cuma restu bapak."

Santoso diam lama. Lalu ia mengangguk. "Saya restui. Tapi satu syarat."

"Apa, Pak?"

"Anita harus kuliah. Saya nggak mau menantu saya dokter, anak saya cuma lulusan SMA. Saya mau dia setara."

Erlangga tersenyum. "Itu juga keinginan saya, Pak. Saya sudah janji bantu Anita cari beasiswa."

"Bagus. Kalau begitu, saya setuju."

Mereka berjabat tangan. Anita, yang mengintip dari balik pintu, menangis bahagia.

Malam harinya, kabar lamaran Erlangga menyebar cepat. Warga ramai membicarakan. Ada yang senang, ada yang iri, ada yang sinis. Tapi yang pasti, Desa Awan Biru punya kisah cinta baru.

Di warung RT 02, Mbah Karyo tersenyum puas. "Warungku jadi saksi lagi."***

 

Pemilihan kepala desa digelar. Pak Iwan maju lagi, untuk ketiga kalinya. Lawannya: Pak RT 03 yang didukung kelompok muda. Kampanye berlangsung sengit, tapi Pak Iwan menang tipis: 52 persen suara.

Pelantikan periode ketiga digelar sederhana di balai desa. Kali ini tak ada kemewahan, tak ada gedung-gedungan. Hanya doa dan harapan.

"Saudara-saudara," Pak Iwan berpidato, "ini periode terakhir saya. Lima tahun ke depan, saya akan fokus pada regenerasi. Siapkan generasi baru untuk memimpin desa ini."

Warga tepuk tangan. Tapi di antara tepukan, ada yang bertanya-tanya: siapakah generasi baru itu?

Pak Iwan melanjutkan. "Saya sudah tua. Teknologi berubah cepat. Yang muda harus siap. Bambang, Rizki, Anita, dan anak-anak muda lain, kalianlah masa depan desa ini."

Bambang, yang hadir, tersipu. Rizki garuk-garuk kepala. Anita, di samping Erlangga, tersenyum.

Pak Iwan menatap mereka. "Saya titip desa ini."

Di sudut, Amat mencatat semua di laptopnya. Ia sudah hafal ritme: setiap pidato, setiap janji, setiap harapan. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Pak Iwan bicara seperti orang yang pamit.

"Mas Amat," Pak Iwan memanggil setelah acara. "Kamu harus siap. Lima tahun lagi, mungkin kamu yang gantikan saya."

Amat terkesiap. "Saya, Pak? Nggak lah. Saya cuma tenaga IT."

"Tenaga IT yang tahu desa ini lebih dari siapa pun. Kamu hafal data warga, hafal masalah, hafal solusi. Kamu pantas."

"Tapi saya nggak punya pengalaman politik."

"Politik desa bukan soal pintar bicara, Mat. Tapi soal ngerti warga. Kamu ngerti warga. Itu modal utama."

Amat diam. Kata-kata Pak Iwan masuk ke hati.

Malam harinya, di warung RT 02, obrolan mengalir tentang masa depan. Bambang, yang libur kuliah, ikut nimbrung.

"Pak Iwan, serius mau regenerasi?" tanyanya.

"Serius, Bang. Saya nggak mau desa ini tergantung sama saya terus. Harus ada kader."

"Kader seperti apa?"

"Seperti kalian. Muda, melek teknologi, punya idealisme. Tapi juga harus dekat dengan warga, paham masalah riil."

Bambang mengangguk. "Saya masih kuliah, Pak. Dua tahun lagi."

"Nggak apa. Dua tahun cukup untuk belajar. Nanti kalau lulus, pulang. Bantu desa."

"Bapak yakin desa ini butuh saya?"

"Desa ini butuh semua anak mudanya. Yang di kota, yang di perantauan, yang di sini. Kita bangun bersama."

Mbah Karyo, yang setia di balik etalase, menimpali. "Pak Iwan ini, kalau ngomong, selalu bikin haru."

Semua tertawa. Tawa yang hangat, seperti biasa.***

 

Amat punya adik. Bukan adik kandung, tapi anak paman yang ikut tinggal dengannya setelah orang tuanya meninggal. Namang Amat Junior, dipanggil Jun. Usianya 14 tahun, kelas 2 SMP.

Jun sering ikut Amat ke kantor desa. Awalnya cuma nemenin, lalu mulai penasaran dengan komputer. Amat mengajari dasar-dasar: mengetik, excel, internet. Jun cepat belajar.

"Mas, kok server error mulu?" tanya Jun suatu hari.

"Ya namanya server murah, sering error."

"Kenapa nggak dibeli yang bagus?"

"Mahal, Jun. Uang desa terbatas."

Jun diam, berpikir. Lalu ia bertanya, "Mas, aku boleh bantu?"

"Bantu apa?"

"Ngecek log, lihat error pattern. Di sekolah aku diajarin dikit-dikit sama guru IT."

Amat tersenyum. "Boleh. Tapi harus disiplin. Pulang sekolah, PR dulu, baru bantu."

Jun mengangguk semangat.

Sejak itu, Jun jadi asisten tidak resmi Amat. Ia belajar membaca log server, mendeteksi error, bahkan mulai bisa bikin script sederhana. Amat kagum: adiknya ini punya bakat.

Suatu hari, Jun menemukan celah keamanan di website desa. "Mas, ini loginnya nggak pakai enkripsi. Bisa dibobol."

Amat panik. "Serius? Benerin, Jun!"

Jun duduk di depan komputer. Dalam dua jam, ia pasang enkripsi, perbaiki celah, dan testing. Website aman.

Pak Iwan, yang mendengar, memanggil Jun. "Jun, kamu hebat. Dari mana belajar?"

"Dari internet, Pak. Saya nonton tutorial di YouTube."

"Mau jadi IT desa nanti kalau besar?"

Jun tersipu. "Mau, Pak. Tapi saya masih sekolah."

"Nggak apa. Sekolah dulu yang bener. Nanti setelah lulus, kamu kita rekrut."

Amat, mendengar, bangga. Adiknya, yang dulu ia asuh, kini mulai menunjukkan kemampuan.***

Setahun kemudian, Bambang lulus kuliah. Ia pulang kampung dengan ijazah di tangan. Orang tuanya bangga, tapi juga cemas: anaknya akan kerja di mana?

"Bang, kamu mau kerja di mana?" tanya ibunya.

"Di sini, Bu. Bantu desa."

"Bantu desa? Gajinya kecil, Bang."

"Nggak apa, Bu. Saya sudah janji sama Pak Iwan. Saya mau bantu digitalisasi."

Bambang menemui Pak Iwan. "Pak, saya lulus. Siap ditugaskan."

Pak Iwan tersenyum lebar. "Bang, akhirnya. Saya tunggu."

Bambang resmi diangkat sebagai tenaga honorer, fokus pada konten digital dan media sosial desa. Gajinya kecil, tapi ia tak masalah. Yang penting, ia bisa mewujudkan mimpinya: menjadikan Desa Awan Biru dikenal luas.

Hari pertama kerja, Bambang duduk dengan Amat dan Rizki. "Mas, kita buat tim IT desa resmi."

Amat mengangguk. "Sudah waktunya. Selama ini saya sendiri, kewalahan."

Mereka bertiga mulai bekerja. Bambang urus desain dan konten, Rizki urus server dan database, Amat koordinasi dan urus administrasi. Tim kecil, tapi kompak.

Pak Iwan memberi mereka nama: "Kader Digital Desa".

"Kalian wajah baru desa ini. Tunjukkan pada dunia bahwa desa kecil bisa maju."***

Digitalisasi tak selalu mulus. Di internal kantor desa, ada yang pro dan kontra. Pak Eko sudah berubah, tapi beberapa perangkat lain masih resisten.

Puncaknya, saat rapat evaluasi sistem keuangan desa. Bendahara, Pak Rahmat, protes keras.

"Saya nggak percaya sistem online. Data keuangan itu sensitif. Kalau bocor, gimana?"

Amat mencoba menjelaskan. "Pak, sistem kita sudah dienkripsi. Hanya yang punya akses bisa lihat."

"Nggak peduli enkripsi apa. Saya lebih percaya buku."

"Tapi Pak, dengan sistem online, warga bisa memantau. Transparansi."

"Transparansi? Itu alasan kalian untuk pamer."

Diskusi memanas. Pak Iwan harus turun tangan.

"Pak Rahmat, saya hargai kekhawatiran bapak. Tapi kita harus maju. Sistem online sudah jadi kebijakan. Kalau bapak punya masukan, silakan. Tapi jangan menghambat."

Pak Rahmat diam. Ia merasa dikepung.

"Pak Rahmat," lanjut Pak Iwan, "saya usul: bapak ikut pelatihan IT. Biar paham cara kerja sistem. Setelah itu, kalau masih keberatan, kita bicara lagi."

Pak Rahmat menghela napas. "Baik, Pak. Saya ikut."

Pelatihan berlangsung sepekan. Bambang jadi instrukturnya. Awalnya Pak Rahmat kaku, takut menyentuh komputer. Tapi Bambang sabar, menjelaskan pelan-pelan.

Hari ketiga, Pak Rahmat mulai bisa. "Oh, ternyata gini. Gampang ya."

Hari kelima, ia sudah bisa input data sendiri. "Bang, ini keren. Bisa lihat laporan real-time."

Bambang tersenyum. "Nah, gitu dong, Pak."

Setelah pelatihan, Pak Rahmat berubah. Ia jadi pendukung digitalisasi paling vokal.

"Saya minta maaf," katanya di rapat berikutnya. "Saya dulu kolot. Sekarang saya lihat sendiri, sistem ini memudahkan kerja saya."

Semua tepuk tangan. Kemenangan lain bagi tim digital.***

Hujan deras mengguyur Desa Awan Biru malam itu. Di rumah Erlangga dan Anita, mereka menikah setahun lalu, suasana panik. Anita akan melahirkan, lebih cepat dari perkiraan.

"Erlangga, aku... aku rasanya mau melahirkan!" teriak Anita.

Erlangga, yang sudah resmi jadi dokter setelah lulus dan ditempatkan di Puskesmas Awan Merah, berusaha tenang. "Sabar, Sayang. Aku siapkan kendaraan."

Tapi banjir di jalan membuat mereka tak bisa ke puskesmas. Air naik cepat, motor tak bisa lewat.

"Bagaimana ini, Lang?"

Erlangga berpikir cepat. "Kita ke rumah Bu Bidan Amelia. Dekat sini."

Di tengah hujan, Erlangga menuntun Anita berjalan ke rumah Bu Bidan. Jarak 500 meter terasa seperti 5 kilometer.

Bu Bidan Amelia, yang sedang tidur, kaget mendengar ketukan keras. Ia segera buka pintu.

"Bu Bidan, tolong! Anita mau melahirkan!"

Bu Bidan sigap. Siapkan ruangan, alat, dan obat darurat. Erlangga membantu, meski tangannya gemetar.

Proses persalinan berlangsung dua jam. Di tengah rintik hujan yang mereda, tangis bayi memecah keheningan.

"Selamat, Mbak Anita. Anaknya laki-laki." Bu Bidan tersenyum.

Anita menangis bahagia. Erlangga memeluknya.

Mbah Anto, yang sudah wafat setahun lalu, pernah meramal: "Akan lahir pemimpin muda dari desa ini." Apakah bayi ini yang dimaksud?

Pak Iwan, yang datang menjenguk keesokan harinya, menimang bayi itu. "Beri nama yang baik."

Erlangga dan Anita sudah sepakat. "Arjuna, Pak. Kami ingin dia jadi ksatria desa."

Pak Iwan tersenyum. "Arjuna. Nama yang bagus."

Ia menimang bayi itu lama, seolah melihat masa depan di wajah mungilnya.***

Dua tahun berlalu. Desa Awan Biru perlahan berubah. Website desa kini rutin update. Layanan administrasi mulai online. Warga bisa cek data bantuan dari HP. Pengaduan bisa lewat WhatsApp.

Amat, Bambang, dan Rizki bekerja keras. Mereka tak hanya urus teknis, tapi juga keliling desa, mengajari warga menggunakan layanan digital.

"Bu, ini caranya. Buka website, klik 'Layanan', pilih 'Surat Keterangan', isi formulir, nanti suratnya bisa diambil besok."

"Wah, gampang ya, Mas."

"Iya, Bu. Nggak perlu antri."

Perlahan, warga mulai terbiasa. Keluhan berkurang. Kepercayaan naik.

Pak Iwan bangga. "Kalian hebat. Desa kita sekarang semi online."

"Masih banyak PR, Pak," kata Amat. "Koneksi internet masih lemot di dusun-dusun."

"Nanti kita usulkan lagi. Bertahap."

Di warung RT 02, obrolan warga mulai berubah. Tak lagi soal administrasi ribet, tapi soal konten website, soal berita desa, soal program baru.

"Mbah Karyo, website desa ada berita lomba 17-an."

"Oh iya? Coba Mbah lihat." Mbah Karyo, yang mulai bisa akses internet, membuka ponselnya. "Wah, ada fotoku juga."

Semua tertawa. Digitalisasi mulai merasuk ke semua lapisan.***

Pak Santoso, petani cerewet itu, jatuh sakit. Awalnya batuk ringan, lalu sesak napas. Keluarga bawa ke puskesmas, dirujuk ke rumah sakit kabupaten. Diagnosis: pneumonia berat.

Anita panik. Ia hubungi Erlangga yang sedang dinas di puskesmas. Erlangga segera datang.

"Pak Santoso, saya Erlangga. Tenang, Pak. Kita rawat."

Erlangga koordinasi dengan dokter rumah sakit. Santoso dapat perawatan intensif. Selama seminggu, ia dirawat, Erlangga menjenguk tiap selesai dinas.

Santoso, meski sakit, masih bisa bercanda. "Dok Erlangga, saya dulu nggak percaya sama mantu. Sekarang saya lihat sendiri, mantu saya baik."

"Pak, jangan banyak bicara. Istirahat."

"Saya mau bilang, terima kasih. Udah rawat saya."

Erlangga tersenyum. "Tugas saya, Pak."

Santoso sembuh setelah dua minggu. Pulang ke desa, ia disambut warga. Ia langsung cari Amat.

"Mas Amat, saya mau usul."

Amat menghela napas. "Usul apa lagi, Pak?"

"Saya mau data kesehatan warga di-online-kan. Biar kalau ada sakit, cepat ketahuan. Jangan sampai kejadian kayak saya."

Amat tersenyum. "Pak Santoso, usul bapak bagus. Nanti kita bahas di musrenbang."

"Saya serius, Mas. Jangan cuma jadi usulan gantung."

"Iya, Pak. Saya catat."

Sejak itu, Santoso jadi pendukung digitalisasi kesehatan. Ia keliling desa, sosialisasi pentingnya data kesehatan online. Warga heran: Pak Santoso berubah.***

Herman, anak muda lulusan SMA, aktivis karang taruna—terpilih jadi anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa). Usianya 25 tahun, termudah di antara tujuh anggota.

Pak Iwan senang. "Akhirnya ada anak muda di BPD."

Herman agak gugup. "Saya masih baru, Pak. Banyak yang harus dipelajari."

"Nggak apa. Justru dengan semangat baru, BPD bisa lebih dinamis. Tugasmu mengawasi kami, jangan sungkan."

Herman mengangguk. Di rapat pertama, ia langsung unjuk gigi.

"Pak Iwan, saya lihat laporan keuangan. Ada pos anggaran perjalanan dinas yang tersisa besar. Kenapa tidak dialihkan untuk pelatihan pemuda?"

Pak Iwan terkejut. Biasanya anggota BPD baru diam seribu bahasa. Tapi Herman langsung kritis.

"Mas Herman, itu usulan bagus. Nanti kita bahas di perubahan APBDes."

Herman tersenyum puas. Di luar, ia bertemu Didit, tokoh pemuda yang mendorongnya maju.

"Gimana, Man?"

"Lumayan, Dit. Pak Iwan terbuka."

"Itu dia. Tugasmu menjaga agar pemerintah desa tetap berpihak ke warga, terutama pemuda."

"Iya, Dit. Awasin aja."***

Arjuna tumbuh jadi anak cerdas. Di usia 4 tahun, ia sudah bisa baca tulis. Di usia 5, ia bisa operasikan tablet, main game edukasi. Di usia 6, masuk SD, ia jadi bintang kelas.

Anita dan Erlangga bangga. Tapi mereka juga waspada. Jangan sampai Arjuna terlalu dimanja.

"Nak, kamu harus tetap rendah hati," pesan Erlangga. "Pinter aja nggak cukup. Harus baik hati."

"Iya, Pa."

Arjuna aktif di organisasi anak-anak desa. Ikut karang taruna remaja, ikut lomba, ikut kegiatan sosial. Ia dekat dengan semua orang, dari anak kecil sampai orang tua.

Pak Iwan, yang masih menjabat, sering memperhatikan Arjuna. "Anak itu spesial," katanya pada Amat.

"Spesial gimana, Pak?"

"Caranya bergaul. Semua orang suka. Itu bakat pemimpin."

Amat mengangguk. Ia ingat ramalan Mbah Anto. Mungkin benar: Arjuna yang dimaksud.***

Jelang Pilkades 2030, isu mulai muncul. Banyak warga ingin pemimpin muda. Pak Iwan sudah tiga periode, tak bisa maju lagi. Siapa penggantinya?

Nama Arjuna mulai disebut. Tapi Arjuna baru 6 tahun, masih kecil. Mungkin yang dimaksud bukan Arjuna sekarang, tapi Arjuna kelak.

Pak Iwan merenung. "Regenerasi butuh waktu. Saya harus siapkan kader."

Ia mulai melibatkan pemuda dalam pemerintahan. Bambang diangkat jadi Kepala Seksi Informasi. Herman aktif di BPD. Rizki jadi operator handal. Amat jadi Sekdes, naik jabatan.

"Mas Amat, kamu harus siap," kata Pak Iwan. "Lima tahun lagi, mungkin kamu yang gantikan saya."

Amat terkejut. "Saya, Pak? Tapi saya nggak punya pengalaman."

"Kamu punya pengalaman cukup. Sepuluh tahun di desa. Tahu semua masalah. Tinggal belajar politik."

Amat diam. Mimpinya jadi kepala desa? Tak pernah terbayangkan.***

Pak Iwan duduk di warung RT 02, sendirian. Malam itu warung sepi. Hanya Mbah Karyo yang setia di balik etalase.

"Mbah, saya mau cerita."

"Cerita apa, Pak Iwan?"

"Saya sudah 13 tahun jadi kepala desa. Awalnya, saya kira jabatan ini soal kekuasaan. Ternyata bukan. Ini soal pengabdian."

Mbah Karyo mengangguk. "Saya lihat, Pak Iwan. Bapak kerja keras."

"Tapi saya juga banyak salah. Kebijakan yang nggak tepat, program yang gagal, warga yang kecewa. Kadang saya mikir, apa saya pantas?"

"Nggak ada manusia sempurna, Pak Iwan. Yang penting, bapak terus belajar."

"Iya, Mbah. Itu yang saya pegang. Belajar terus."

Pak Iwan menatap langit. "Mbah, saya kangen sama Mbah Anto. Kata-katanya selalu saya ingat: 'Jaga warung ini.' Saya jaga, Mbah. Warung ini akan tetap ada."

"Insya Allah, Pak Iwan. Selagi Mbah Karyo hidup, warung ini buka."

Mereka tersenyum. Dua orang tua, berbagi keheningan.***

Musyawarah desa terakhir di era Pak Iwan digelar. Suasananya haru. Banyak warga yang berterima kasih, banyak yang minta maaf.

Pak Iwan berdiri di mimbar. "Saudara-saudara, ini musyawarah terakhir saya. Tahun depan, saya tak maju lagi. Saya ingin desa ini dipimpin orang baru, yang lebih muda, lebih segar."

Warga diam. Beberapa ibu menangis.

"Tapi saya minta satu hal: jaga apa yang sudah kita bangun. Digitalisasi, transparansi, pelayanan. Jangan sampai mundur."

"Siap, Pak Iwan!" teriak Santoso.

Pak Iwan tersenyum. "Pak Santoso, usulannya jangan lupa diteruskan."

Semua tertawa. Suasana mencair.

Setelah musyawarah, Pak Iwan dikerubuti warga. Foto bersama, jabat tangan, pelukan. Tiga belas tahun kepemimpinan akan segera berakhir.***

Warung RT 02 sunyi. Mbah Karyo sakit, warung tutup sementara. Warga kehilangan tempat nongkrong.

Pak Iwan menjenguk Mbah Karyo. "Mbah, sehat ya. Warungnya ditungguin."

Mbah Karyo tersenyum lemah. "Pak Iwan, warung itu... titipan. Saya hanya menjaga. Nanti kalau saya pergi, harus ada yang meneruskan."

"Siapa, Mbah?"

"Anak saya, Julia. Dia di rantau. Saya minta pulang."

"Nanti saya bantu, Mbah."

Mbah Karyo mengangguk. "Pak Iwan, jaga warung itu. Tempat itu saksi."

"Iya, Mbah. Saya jaga."

Sepekan kemudian, Mbah Karyo meninggal. Desa berkabung. Warung RT 02, untuk pertama kalinya, benar-benar sunyi.***

Pilkades 2030 diikuti tiga calon: Pak RT 03 (incumbent pengganti sementara), Mas Amat (Sekdes), dan seorang pemuda 28 tahun, Arjuna.

Arjuna, yang kini berusia 9 tahun? Bukan. Yang dimaksud Arjuna lain—Arjuna Wijaya, anak Erlangga dan Anita. Ya, Arjuna kini 9 tahun, masih SD. Tapi di sinilah kejutan: ada Arjuna lain yang maju.

Arjuna yang maju adalah Arjuna Purnomo, anak Bambang. Usianya 25 tahun, lulusan IT, fresh graduate, pulang kampung untuk maju.

Warga bingung. Dua Arjuna? Yang satu anak Bambang, satu anak Erlangga. Tapi yang maju hanya satu: Arjuna Purnomo.

Deklarasi digelar di balai desa. Arjuna Purnomo, dipanggil Jun, berpidato dengan semangat.

"Saya ingin desa ini jadi desa digital seutuhnya. Bukan setengah-setengah. Saya punya tim: Bambang (ayah saya), Rizki, dan teman-teman muda. Bersama, kita bawa Awan Biru ke level berikutnya."

Warga tepuk tangan. Pak Iwan, yang hadir, tersenyum bangga.

"Akhirnya, generasi baru siap," gumamnya.***

Suasana desa tegang. Tiga calon berkampanye. Arjuna Purnomo unggul di kalangan muda. Pak RT 03 unggul di kalangan petani. Mas Amat, calon petahana, terjepit.

Amat, yang didorong Pak Iwan maju, ragu. "Pak, saya nggak yakin menang."

"Mat, kau harus coba. Menang kalah urusan belakangan. Yang penting, kau belajar."

Tapi Amat tahu, peluangnya tipis. Warga ingin perubahan. Arjuna muda, segar, visioner. Sementara Amat, meski berpengalaman, dianggap "staf lama".

Malam-malam terakhir, warung RT 02 ramai lagi. Julia, anak Mbah Karyo, kini mengelola warung. Ia pulang dari rantau, meneruskan pesan ayahnya.

"Warung ini saksi," katanya. "Silakan diskusi di sini."

Para pendukung Arjuna memenuhi warung. Mereka membahas strategi, konten kampanye digital, debat terakhir.

Arjuna duduk di pojok, ditemani Bambang dan Rizki. "Pa, gimana debat besok?"

"Tenang aja, Nak. Kau sudah siap. Tinggal percaya diri."

"Iya, Pa. Tapi deg-degan."

"Wajar. Namanya juga pertama kali."

Julia mendekat, membawakan kopi. "Mas Arjuna, semoga sukses."

Arjuna tersenyum. "Mbak Julia, terima kasih. Warung ini tempat saya kecil dulu, main sama teman-teman. Sekarang jadi saksi perjuangan."

Julia tersipu. Ada getar aneh di hatinya.***

Arjuna dan timnya bergerak cepat. Bambang, ayahnya, jadi arsitek kampanye digital. Rizki urus data dan analisis. Anak-anak muda desa jadi relawan, bikin konten, sebar info.

Website desa, yang dulu hanya untuk administrasi, kini jadi media kampanye. Profil calon, visi-misi, program, semua terpampang. Warga bisa bandingkan langsung.

"Pa, ini etis nggak ya pakai website desa?" tanya Arjuna.

"Website desa milik publik, Nak. Semua calon boleh pakai asal adil. Pak RT 03 juga ditawari, tapi dia nggak mau."

"Kenapa?"

"Katanya, percuma. Wong desa nggak pada baca."

Arjuna tersenyum. "Kita buktikan kalau mereka baca."

Konten-konten kreatif bermunculan. Video pendek, infografis, meme, podcast. Arjuna jadi seleb dadakan. Warga, terutama muda, mulai antusias.

Di warung RT 02, diskusi mengalir. "Mas Arjuna ini beda. Paham teknologi."

"Iya, tapi pengalamannya minim. Mas Amat lebih senior."

"Senior tapi nggak maju-maju. Kita butuh perubahan."

Perdebatan tak terelakkan. Tapi itulah demokrasi.***

Debat terbuka digelar di balai desa. Tiga calon duduk berhadap-hadapan. Moderator: Herman dari BPD.

Sesi pertama: visi-misi. Arjuna bicara tentang desa digital terintegrasi. Pak RT 03 bicara tentang pembangunan fisik. Mas Amat bicara tentang keberlanjutan.

Sesi kedua: tanya jawab. Arjuna diuji soal pengalaman.

"Mas Arjuna, umur 25, baru lulus kuliah. Apa pengalaman bapak memimpin?"

Arjuna tenang. "Saya memang baru. Tapi saya punya tim berpengalaman. Pak Bambang, mantan Kader Digital, akan jadi Sekdes. Mas Rizki, ahli IT, akan jadi Kepala Seksi Informasi. Saya akan delegasi pada ahlinya."

Jawaban cerdas. Arjuna tak sok tahu, tapi tahu cara mengelola tim.

Mas Amat menjawab dengan pengalamannya. Pak RT 03 dengan jaringan politiknya. Debat berlangsung seru.

Selesai debat, warga berdiskusi di warung. "Arjuna menang soal visi. Tapi Amat unggul pengalaman."

"Pilih mana?"

"Belum tahu. Lihat nanti."***

Di rumah Bambang, suasana tegang. Bambang dan Arjuna berbeda pendapat soal strategi.

"Nak, kampanyemu terlalu fokus pada digital. Petani lupa."

"Pa, petani juga perlu digital. Mereka butuh akses pasar, butuh informasi harga, butuh data cuaca. Itu yang saya tawarkan."

"Tapi mereka nggak paham. Mereka butuh sesuatu yang nyata. Jalan, irigasi, bantuan."

"Itu juga ada di program saya, Pa. Tapi saya nggak mau cuma janji fisik. Saya mau perubahan sistemik."

Bambang menghela napas. "Nak, saya cuma ingin kau menang."

"Saya juga, Pa. Tapi saya mau menang dengan cara saya."

Mereka diam. Ibu Bambang masuk, membawa teh.

"Sudah, jangan bertengkar. Masing-masing punya pendapat. Tapi ingat, kalian ayah-anak. Jangan sampai kampanye merusak hubungan."

Arjuna memeluk Bambang. "Maaf, Pa. Saya sayang Bapak."

Bambang tersenyum. "Iya, Nak. Saya juga."***

Selebaran gelap beredar di grup WhatsApp. Isinya fitnah: Arjuna anak pengacara, hidup di kota, nggak paham desa. Padahal Arjuna besar di desa, sekolah di kota karena kuliah.

Tim Arjuna panik. Bambang geram.

"Ini black campaign. Kita lapor BPD."

Herman, ketua BPD, bertindak cepat. Ia telusuri sumber, dapat nomor palsu. Tak bisa dilacak.

"Mas Herman, gimana dong?" tanya Arjuna.

"Kita lawan dengan klarifikasi. Buka data, tunjukkan fakta. Jangan balas dengan fitnah."

Arjuna setuju. Ia buat video klarifikasi, ajak warga diskusi langsung. Ia datangi rumah-rumah, jelaskan siapa dirinya.

Perlahan, fitnah mereda. Warga lebih percaya pada pertemuan langsung daripada selebaran gelap.***

Kirana, anak Bu Endang, pulang kampung. Ia lulusan IT, kerja di startup Jakarta. Tapi ada apa?

"Bu, saya resign. Mau bantu Mas Arjuna."

Bu Endang kaget. "Kok bisa? Kamu kan karirnya bagus."

"Bu, saya lihat perjuangan Mas Arjuna. Saya ingin bantu. Desa ini butuh tenaga IT. Saya bisa bantu sistem dan data."

Bu Endang diam. Ia tahu anaknya keras kepala.

"Nanti bicara sama Pak Iwan."

Kirana menemui Pak Iwan. "Pak, saya mau bantu Arjuna. Boleh?"

Pak Iwan tersenyum. "Nak Kirana, saya malah senang. Desa butuh anak muda seperti kamu. Tapi, apa nggak sayang sama karirmu?"

"Sayang, Pak. Tapi desa ini rumah saya. Saya ingin berkontribusi."

"Bagus. Silakan. Tapi jangan setengah-setengah. Kalau mau bantu, serius."

"Iya, Pak."

Kirana bergabung dengan tim Arjuna. Ia jadi ahli data dan sistem. Bersama Rizki, mereka memperkuat basis digital kampanye.

Arjuna senang. "Kir, makasih ya."

"Sama-sama, Jun. Ini desaku juga."

Ada getar di hati Arjuna. Kirana cantik, cerdas, dan satu visi. Tapi ia tahan, fokus pada kampanye.***

BPD, di bawah Herman, menjaga netralitas. Semua calon diperlakukan sama. Kampanye diawasi, pelanggaran ditindak.

Pak RT 03 protes. "Mas Herman, kok tim Arjuna dibiarin kampanye di medsos terus?"

"Pak, medsos bukan ranah kami. Yang penting, kontennya nggak melanggar aturan. Kami pantau."

Tapi Herman juga tak segan menegur Arjuna. "Jun, videomu terlalu nyinyir ke calon lain. Hapus."

Arjuna nurut. "Iya, Mas."

Netralitas Herman diakui semua calon. Ia dapat pujian dari berbagai pihak.

"Mas Herman, nanti kalau mau maju kades, saya dukung," goda warga.

Herman tertawa. "Nanti dulu. Saya masih betah di BPD."***

Santoso, kakek 66 tahun, bimbang. Ia bingung memilih. Tiga calon, tiga pilihan. Siapa yang terbaik?

Ia duduk di warung RT 02, ditemani Julia.

"Mbah Santoso, bimbang ya?" tanya Julia.

"Iya, Nok. Arjuna muda, semangat. Amat pengalaman, kenal warga. Pak RT 03, orang lama."

"Kalau Mbah, kriterianya apa?"

"Yang bisa bawa desa ini maju. Yang nggak korupsi. Yang dengerin warga."

"Itu semua calon punya, Mbah. Tinggal mana yang paling pas."

Santoso diam, berpikir. Tiba-tiba ia teringat Erlangga, mantunya. Erlangga pendukung Arjuna—anak Bambang, bukan anaknya. Tapi Erlangga bilang, Arjuna itu calon terbaik.

"Bapak, kalau lihat anak saya sendiri, Anita, dia sukses karena didukung sistem. Sekarang dia kepala puskesmas pembantu. Itu karena desa punya data kesehatan yang rapi. Arjuna punya visi untuk data itu."

Santoso mengangguk. Mungkin itu jawabannya.***

Warung RT 02 penuh sesak. Malam terakhir kampanye, semua calon hening. Warga bebas diskusi.

Arjuna duduk di pojok, bersama Kirana. Mereka berbicara pelan.

"Jun, gugup?"

"Gugup banget, Kir. Ini pertama kalinya."

"Wajar. Tapi kau sudah berusaha maksimal. Apa pun hasilnya, kau tetap hebat."

Arjuna menatap Kirana. "Kir, kalau aku menang... aku mau ngomong sesuatu."

"Apa?"

"Nanti aja. Kalau menang."

Kirana tersipu. Ia tahu apa yang Arjuna maksud.

Di meja lain, Amat duduk sendiri. Julia mendekat.

"Mas Amat, kok sendirian?"

"Sendiri aja, Nok. Mikir."

"Pikir apa?"

"Mikir, apa yang salah dengan saya. Kok warga lebih milih Arjuna?"

Julia duduk di sampingnya. "Mas Amat, Mas ini hebat. Sepuluh tahun lebih berjuang. Tapi warga mungkin butuh wajah baru. Bukan karena Mas buruk."

Amat tersenyum getir. "Mungkin."

"Mas, apa pun hasilnya, warung ini tetap buat Mas. Tempat curhat, tempat diskusi."

"Makasih, Nok."***

Pagi buta, TPS sudah ramai. Warga antre, membawa KTP elektronik. Panitia sibuk. Pengawas dari BPD berkeliling.

Arjuna mencoblos pukul delapan. Ia keluar dengan wajah tegang. Kirana menjemput.

"Gimana?"

"Udah. Tinggal nunggu."

Bambang memeluknya. "Apa pun hasilnya, Nak, Bapak bangga."

Mas Amat mencoblos pukul sembilan. Ia tenang, meski hati dag-dig-dug. Pak Iwan mendampingi.

"Mat, ikhlas ya."

"Iya, Pak."

Pak RT 03 mencoblos pukul sepuluh. Ia percaya diri, yakin menang.

Hitung suara dimulai pukul satu siang. Warga berkumpul di balai desa, menanti hasil. Tegangan tinggi.***

Hasil keluar pukul sembilan malam.

Arjuna: 2.450 suara (42%)
Mas Amat: 2.100 suara (36%)
Pak RT 03: 1.280 suara (22%)

Arjuna menang! Tapi selisih tipis, hanya 350 suara.

Warga bersorak. Pendukung Arjuna bergembira. Pendukung Amat terdiam, kecewa.

Arjuna naik ke panggung. Matanya berkaca-kaca.

"Saudara-saudara, terima kasih. Ini kemenangan kita bersama. Bukan saya, tapi desa ini. Saya akan bekerja untuk semua, termasuk yang tidak memilih saya."

Mas Amat maju, memeluk Arjuna. "Selamat, Jun. Kau pantas."

"Makasih, Mas Amat. Bimbing saya."

"Iya, Nak. Saya akan bantu."

Pak RT 03 juga memberi selamat, meski wajahnya masam.

Malam itu, warung RT 02 berpesta. Julia buka gratis untuk pendukung Arjuna. Tapi ia juga sediakan kopi untuk pendukung Amat.

"Silakan, semua. Ini warung untuk semua."***

Serah terima jabatan digelar sederhana. Pak Iwan, kini 65 tahun, menyerahkan jabatan pada Arjuna, 25 tahun. Usia terpaut 40 tahun, tapi semangat sama.

"Mas Arjuna, ini kunci desa." Pak Iwan menyerahkan kunci balai desa, simbolis.

"Pak Iwan, terima kasih. Saya akan jaga amanah."

"Saya tahu. Kau anak baik."

Mereka berpelukan. Warga haru. Banyak yang menangis, terutama yang seperjuangan dengan Pak Iwan.

Pak Iwan berpidato singkat. "Saudara-saudara, 15 tahun saya memimpin. Banyak salah, banyak khilaf. Tapi satu yang saya pegang: desa ini harus terus maju. Kini, saya percayakan pada Mas Arjuna. Dukung dia."

Tepuk tangan gemuruh.***

Pelantikan digelar di kecamatan. Arjuna resmi jadi Kepala Desa Awan Biru ke-9. Usia 25 tahun—termuda sepanjang sejarah desa.

Hadir semua perangkat, tokoh masyarakat, dan warga. Pak Iwan duduk di barisan depan, tersenyum bangga.

Setelah pelantikan, Arjuna pulang ke desa. Ia singgah di warung RT 02. Julia sudah menunggu.

"Selamat, Pak Kades."

"Makasih, Nok. Tapi panggil Jun aja, kayak dulu."

"Ah, nggak sopan. Nanti saya panggil Pak Arjuna."

Arjuna tertawa. "Terserah. Yang penting, warung ini tetap buka."

"Pasti. Pesan ayah saya."

Mereka duduk, menikmati kopi. Di luar, senja mulai jingga. Langit Awan Biru, seperti biasa, tak pernah berubah.***

Seratus hari pertama Arjuna padat. Program digital health dimulai: integrasi data posyandu, puskesmas, dan rumah sakit. Warga bisa akses riwayat kesehatan dari HP.

Anita, kini kepala puskesmas pembantu, senang. "Akhirnya, data kesehatan terintegrasi. Ini memudahkan kami."

Erlangga, yang tetap praktek di puskesmas, membantu desain sistem. Kirana coding, Rizki uji coba. Tim kecil, tapi kompak.

Program lain: UMKM Go Online. Arjuna targetkan 100 UMKM terdaftar di marketplace. Bambang jadi pelatih utama.

"Ibu-ibu, ini caranya foto produk yang bagus. Pakai HP aja, nggak perlu kamera mahal."

Ibu-ibu antusias. Beberapa langsung dapat order.

Tapi tak semua mulus. Ada resistensi dari pedagang senior.

"Pak Kades, saya ini jualan di pasar tradisional. Buat apa online? Pelanggan saya sudah tetap."

"Pak, online itu tambahan. Pelanggan bapak tetap bisa beli di pasar, tapi juga bisa pesan dari rumah. Nanti antar, atau ambil sendiri. Fleksibel."

Pedagang itu ragu. Tapi setelah lihat tetangganya dapat order, ia ikut.***

Program UMKM Go Online berjalan. Dari 100 target, 85 terdaftar. Omzet naik rata-rata 30 persen. Warga senang.

Julia, pengelola warung RT 02, ikut program. Warungnya kini bisa dipesan online. Anak-anak muda suka, karena bisa pesan kopi tanpa keluar rumah.

"Mbak Julia, kopinya pesan online dong. Nanti saya ambil."

"Boleh, Mas. Nanti saya siapkan."

Warung makin ramai. Tapi Julia tetap pertahankan suasana lama: bangku kayu, lampu tempel, kopi tubruk. Itu daya tariknya.

Arjuna sering nongkrong di sana. Bukan cuma ngopi, tapi juga diskusi dengan warga.

"Pak Kades, kok sering ke sini?"

"Ini kantor kedua saya, Bu. Di sini saya dengar keluhan langsung."

Warga senang. Pemimpin muda, tapi mau dengar.***

Arjuna punya ide besar: wisata desa berbasis digital. Ia ingin cerita desa, sejarah, perjuangan, digitalisasi, dikemas menarik.

Bambang dan Kirana bikin konten: video, artikel, foto. Dibuat website khusus wisata desa. Ada paket: belajar digitalisasi di desa, ngopi di warung legendaris, tracking ke sawah.

Awalnya, tak ada yang datang. Tapi setelah promosi di medsos, mulai ada peminat.

Hari pertama: 10 pengunjung, anak kuliahan dari kota. Mereka senang, bikin konten, viral di TikTok.

Minggu berikutnya: 50 pengunjung. Minggu selanjutnya: 200. Warung RT 02 kebanjiran order.

Julia kewalahan. "Pak Kades, ini ramai banget. Saya butuh bantuan."

"Rekrut aja, Mbak. Anak-anak muda pengangguran di sini banyak."

Julia rekrut tiga anak muda. Warung jadi lebih hidup.***

Amat Juana, panggilan Julia, kini bukan hanya pengelola warung. Ia juga menulis. Puisi, cerpen, catatan harian. Semua tentang desa.

Bambang baca tulisannya, kagum. "Mbak, ini bagus. Dipublish di website desa yuk."

"Ah, malu, Mas."

"Buat apa malu? Ini aset. Bisa jadi daya tarik wisata sastra."

Julia setuju. Tulisannya mulai muncul di website. Respon positif. Ada yang minta buku.

"Pak Kades, saya mau bikin buku. Boleh?"

Arjuna senang. "Boleh banget, Mbak. Nanti desa yang biayai."

Buku "Catatan Warung RT 02" terbit. Laris. Julia jadi ikon pemuda kreatif.

Kerja sama tim membuat Arjuna dan Kirana makin dekat. Sering lembur bareng, diskusi, makan malam. Perasaan mulai tumbuh.

Suatu malam, di warung RT 02, Arjuna memberanikan diri.

"Kir, aku mau ngomong."

"Ngomo ng apa, Jun?"

"Aku... suka sama kamu. Bukan cuma partner kerja."

Kirana tersipu. "Jun, aku juga."

Mereka berdua diam, saling pandang. Julia, yang melihat dari balik etalase, tersenyum.

"Ah, warung ini jadi saksi lagi," gumamnya.

Sejak itu, hubungan Arjuna dan Kirana resmi. Tapi mereka tetap profesional di kantor. Kerja adalah kerja, cinta adalah cinta.

Warga senang. "Cocok, Pak Kades sama Mbak Kirana. Sama-sama pinter."***

Arjuna dan Kirana menikah. Undangan digelar sederhana di balai desa, tapi dihadiri ribuan warga. Semua ingin memberi selamat.

Pak Iwan jadi saksi. Ia terharu. "Dari bayi, saya gendong Arjuna. Sekarang dia menikah."

Bambang dan Bu Endang, orang tua Kirana, juga haru. Dua keluarga bersatu.

Resepsi meriah. Makanan dari UMKM lokal. Musik dari karang taruna. Dokumentasi dari tim digital.

Malam harinya, pengantin baru duduk di warung RT 02, melepas lelah.

"Nggak nyangka, aku jadi menantu Pak Iwan," kata Arjuna.

"Dan aku jadi istri kepala desa." Kirana tersenyum.

Julia mendekat, membawa kopi. "Selamat, kalian. Warung ini turut berbahagia."

Mereka tertawa. Langit malam bertabur bintang.***

Bencana digital melanda. Server nasional PDNS, Pusat Data Nasional, diserang ransomware. Data pemerintah lumpuh total. Desa Awan Biru ikut terdampak.

Layanan administrasi berhenti. Warga panik.

"Pak Kades, gimana ini? Mau bikin KK, nggak bisa."

Arjuna tenang. "Kita punya backup lokal. Semua data tersimpan di server desa."

Kirana cek. "Data aman, Jun. Tapi nggak bisa sinkron ke pusat."

"Nggak apa. Untuk sementara, kita layani manual pakai data lokal. Nanti setelah pusat pulih, kita sinkron."

Desa Awan Biru jadi satu-satunya desa yang masih bisa layani administrasi. Warga dari desa lain datang minta tolong.

Arjuna koordinasi dengan kecamatan. "Kami buka layanan untuk semua. Data warga desa lain bisa kita input manual, nanti diserahkan ke desa masing-masing."

Kecamatan setuju. Desa Awan Biru jadi pusat layanan darurat.

Krisis berlangsung dua minggu. Setelah pusat pulih, desa dapat apresiasi dari bupati.

"Desa Awan Biru contoh kesiapsiagaan digital," katanya.***

Krisis server nasional jadi ujian bagi Arjuna. Ia harus ambil keputusan cepat, koordinasi dengan banyak pihak, dan jaga kepercayaan warga.

Ada saat ia hampir goyah. Saat warga desa lain protes karena antrean panjang.

"Pak Kades, ini nggak adil! Prioritas warga sendiri dong!"

Arjuna harus tegas. "Maaf, Pak. Ini darurat. Semua dilayani sama. Tapi saya minta kesabaran."

Malam harinya, ia duduk di warung, lelah.

"Jun, capek?" tanya Kirana.

"Capek banget. Tapi ini tanggung jawab."

"Kau hebat. Banyak yang kagum."

"Aku cuma lakukan tugas."

Julia mendekat. "Pak Kades, warung ini tempat kau recharge. Silakan, kopi gratis malam ini."

Arjuna tersenyum. "Makasih, Nok."***

Amat, kini 45 tahun, masih setia di kantor desa. Jabatannya kini Kepala Seksi Pemerintahan. Tapi ia tetap membantu urusan IT.

Suatu hari, server error. Rizki panik, tak bisa perbaiki. Amat datang, cek sebentar, lalu tertawa.

"Passwordnya lupa, Ki?"

Rizki garuk-garuk kepala. "Iya, Mas. Saya ganti, lupa catat."

Amat buka catatan kecil di dompetnya. "Ini daftar password. Saya catat semua. Jangan percaya ingatan."

Server pulih. Rizki lega. "Mas Amat, selamatkan hari."

"Biasa aja. Dulu saya sering error, sekarang error orang lain."

Semua tertawa. Amat jadi legenda hidup digitalisasi desa.***

Julia, Amat Juana, kini 28 tahun, belum menikah. Warga mulai bergosip.

"Mbak Julia kok belum nikah? Padahal cantik, pinter."

"Mungkin nggak laku."

"Masa sih? Anak Mbah Karyo, waris warung."

Julia dengar gosip itu, sedih. Tapi ia tak ambil pusing.

Di warung, seorang pemuda sering datang. Namanya Dani, guru SD, pindahan dari kota. Ia suka baca buku, suka diskusi.

"Mbak Julia, buku baru Mbak sudah terbit?"

"Sudah, Mas. Ini." Julia berikan buku.

Mereka ngobrol lama. Setiap malam, Dani datang. Warga mulai pasang mata.

Julia tersipu. Mungkin ini jawaban atas gosip.***

Herman, kini 37 tahun, memimpin BPD dengan tegas. Ia pastikan pengawasan berjalan. Arjuna, meski dekat dengannya, tetap diawasi.

"Pak Kades, laporan keuangan bulan lalu belum masuk."

"Nanti saya minta Sekdes, Mas."

"Jangan lupa. Ini kewajiban."

Arjuna senang punya BPD seperti Herman. Kritis, tapi membangun.

Kolaborasi eksekutif-legislatif makin solid. Desa maju cepat.***

Kabar keberhasilan Desa Awan Biru sampai ke kabupaten. Bupati Awan Jingga datang berkunjung.

"Ini desa kecil, tapi maju sekali. Sistem digitalnya lengkap, wisatanya berkembang, warganya sejahtera."

Arjuna malu-malu. "Ini kerja tim, Pak Bupati."

"Tim yang hebat. Saya akan jadikan desa ini percontohan untuk desa-desa lain."

Kunjungan berlanjut ke warung RT 02. Bupati kagum.

"Warung kecil, tapi jadi saksi sejarah. Ini harus dilestarikan."

Julia senang. Warungnya masuk berita.***

Pak Iwan, kini 67 tahun, jatuh sakit. Tekanan darah tinggi, komplikasi. Dirawat di rumah sakit.

Arjuna dan Kirana menjenguk. "Pak Iwan, semoga lekas sembuh."

Pak Iwan tersenyum lemah. "Jun, desa... jaga desa."

"Iya, Pak. Saya jaga."

Bu Endang menangis di sampingnya. "Pak Iwan, jangan pergi dulu."

Pak Iwan menggenggam tangan istrinya. "Endang, aku sudah tua. Tugasku sudah selesai. Sekarang tugas mereka."***

Pak Iwan pulang dari rumah sakit, kondisinya membaik. Tapi ia tahu, waktunya tak lama.

Ia minta diantar ke warung RT 02. Julia menyambut.

"Pak Iwan, mau kopi?"

"Mau, Nok. Kopi tubruk, seperti biasa."

Pak Iwan duduk di bangku favoritnya. Ia menatap sekeliling warung, bangku kayu, lampu tempel, foto-foto lama.

"Nok, warung ini harus dijaga. Jangan pernah tutup."

"Insya Allah, Pak Iwan. Ini pesan almarhum ayah."

"Bagus. Nanti kalau aku pergi, aku titip pesan sama anak cucuku: jaga warung itu. Tempat ini saksi perjuangan tiga generasi."

Julia menangis. "Pak Iwan..."

"Jangan nangis, Nok. Aku sudah bahagia. Lihat Arjuna, lihat desa ini, lihat warungmu. Semua lebih baik dari dulu."***

Pak Iwan meninggal dalam tidur. Tenang, tanpa sakit. Usia 67 tahun, 15 tahun memimpin desa, 2 tahun jadi sesepuh.

Desa berkabung. Ribuan warga mengantar ke pemakaman. Arjuna pidato di makam.

"Pak Iwan, engkau guru kami. Engkau fondasi desa ini. Kami janji, akan jaga apa yang kau bangun."

Bu Endang menangis di samping makam. Kirana memeluk ibunya.

Di warung RT 02, foto Pak Iwan dipajang di dinding. Julia menulis puisi untuknya.

"Duduk di bangku kayu
Menyeduh kopi pahit
Kau ajarkan kami bermimpi
Selamat jalan, Bapak..."***

Di tengah duka, ada kebahagiaan. Kirana melahirkan. Bayi laki-laki, sehat.

Arjuna menimang anaknya. "Joko. Kita beri nama Joko."

Kirana tersenyum lelah. "Joko. Semoga jadi penerus yang baik."

Bambang, yang jadi kakek, memeluk cucunya. "Cucuku. Generasi keempat."

Arjuna menatap Joko. "Kau lahir saat kakek buyutmu pergi. Kau penerus mimpi mereka."***

Titik, anak Julia dan Dani, tumbuh jadi gadis cerdas. Ia suka main ke warung, bantu ibunya, dan sering tampil di acara desa. Bakat publik figur mulai terlihat.

Di usia 7 tahun, Titik ikut lomba bercerita tingkat kabupaten. Cerita tentang warung RT 02. Ia juara 1.

"Bu, aku cerita tentang warung kita. Tentang Mbah Karyo, tentang Pak Iwan."

Julia bangga. "Kau hebat, Titik. Lanjutkan."

Titik tumbuh jadi remaja populer. Sering jadi MC acara desa, sering tampil di medsos. Warga mulai mengenalnya sebagai "cucu Mbah Karyo".***

Pembangunan wisata desa berjalan cepat. Tapi ada masalah: warga protes karena lahan pertanian berkurang.

Arjuna pusing. Ia harus menyeimbangkan pembangunan dan kelestarian.

"Pak Kades, ini sawah kami. Jangan dikorbankan."

"Pak, ini untuk masa depan. Tapi saya dengar."

Musyawarah digelar. Arjuna dengar semua keluhan. Ia putuskan: pembangunan dialihkan ke lahan kritis, bukan sawah produktif.

"Maaf, saya salah. Harusnya konsultasi dulu. Mulai sekarang, setiap proyek akan dibahas bersama."

Warga lega. Arjuna belajar: pembangunan harus partisipatif.

Krisis lingkungan mematangkan Arjuna. Ia sadar, pemimpin tak bisa kerja sendiri. Harus dengar warga.

Di warung, ia duduk dengan warga.

"Pak Kades, saya senang bapak mau dengar."

"Saya masih belajar, Pak. Kadang salah."

"Wajar, Pak. Yang penting, mau dengar."

Arjuna tersenyum. Ia ingat Pak Iwan: "Kepemimpinan bukan soal pintar, tapi soal mau belajar."

Target tercapai: Desa Awan Biru 100% digital. Semua administrasi tanpa kertas. Warga bisa urus semuanya dari HP.

Rizki, kini kepala IT, bangga. "Akhirnya."

Amat, yang sudah pensiun, datang melihat. "Wah, dulu kita susah payah. Sekarang mulus."

"Berkat Mas Amat dulu, fondasinya kuat."

Amat tersenyum. Ia ingat masa-masa error, warga marah, hampir mundur. Tapi ia bertahan.

Warung RT 02 renovasi. Tapi bentuk asli dipertahankan: bangku kayu, lampu tempel, dinding bilik. Hanya diperkuat strukturnya.

Julia ingin warung ini tetap jadi saksi. "Biar anak cucu tahu, dulu perjuangan dimulai dari sini."

Dani, suaminya, mendukung. "Ide bagus, Sayang."

Warung jadi lebih nyaman, tapi esensinya tetap. Pengunjung makin ramai.

Joko, 14 tahun, dan Titik, 13 tahun, sering bersama. Main, belajar, diskusi. Ada benih romansa, seperti generasi sebelumnya.

Suatu hari, Joko bilang, "Titik, aku mau jadi kepala desa kayak Bapak."

Titik tertawa. "Aku mau jaga warung kayak Ibuk. Tapi kita bisa kerja sama, kayak orang tua kita dulu."

Joko tersenyum. "Deal."

Mereka berjanji. Tak tahu bahwa janji itu akan terwujud 20 tahun kemudian.

Arjuna maju lagi, menang telak. Kini ia lebih matang, lebih bijak.

Program-program berjalan mulus. Desa makin maju. Warga sejahtera.

Kirana di sampingnya, jadi ibu desa yang aktif. Anak-anak mereka, Joko dan adiknya, tumbuh sehat.

Amat Junior, Jun, adik Amat, kini 36 tahun. Ia jadi Kepala IT desa, menggantikan Rizki yang pindah ke kabupaten.

Jun dulu cemburuan pada Anita. Kini ia bijak. Ia punya keluarga sendiri, bahagia.

"Mas Amat, dulu aku cemburu sama Mas Erlangga."

Amat tertawa. "Sudah lama, Jun. Lupakan."

"Iya, sekarang aku paham: cinta bukan soal memiliki."

Mereka berpelukan. Persaudaraan menguat.

Kirana dipercaya pimpin IT regional. Ia koordinasi 20 desa untuk digitalisasi.

Arjuna bangga. "Istriku hebat."

"Tapi aku tetap ibu rumah tangga, Jun. Prioritas keluarga."

Mereka seimbang. Karir dan keluarga berjalan.

Santoso, 95 tahun, meninggal. Tokoh warga, kakek cerewet, dikenang semua.

Anita menangis di makamnya. "Bapak, terima kasih untuk semua."

Erlangga memeluknya. "Bapak bahagia, Lihat kita semua sukses."

Warga berdatangan. Santoso, yang dulu sering usul, kini dikenang sebagai pahlawan partisipasi.

Meja bundar di balai desa. Duduk: Pak Amat (65), Bu Yuni, Bu Lulu, Pak Bambang, Bu Anita, Pak Erlangga, Pak Herman, Bu Kirana, Pak Arjuna. Juga Amat Junior, Julia, Dani.

Tiga generasi duduk bersama. Mereka refleksi perjalanan.

Pak Amat buka suara. "Dulu, saya cuma tenaga IT honorer. Sering error, sering dimarahin. Tapi Pak Iwan selalu bilang: 'Kamu lagi belajar.'"

Bu Anita menambahkan. "Saya kader posyandu, nggak punya mimpi kuliah. Tapi Mas Erlangga datang, ubah hidup saya."

Pak Arjuna bicara. "Saya lahir di era digitalisasi dimulai. Besar dengan cerita perjuangan kalian. Sekarang, tugas saya melanjutkan."

Julia berkata, "Warung RT 02 saksi semua. Dari Mbah Karyo, sampai saya."

Mereka diam, mengenang. Di dinding, foto Pak Iwan dan Mbah Anto tersenyum.

Arjuna mulai siapkan Joko. Anaknya kini 24 tahun, kuliah semester akhir.

"Jok, kau harus siap. Lima tahun lagi, mungkin kau gantikan Bapak."

Joko kaget. "Pa, aku masih muda."

"Bapak dulu juga muda. Tapi dengan persiapan, kau bisa."

Arjuna ajari Joko semua: pemerintahan, digital, hubungan warga. Joko belajar cepat.

Titik, 24 tahun, lulus komunikasi. Joko, 25 tahun, lulus IT. Mereka pulang kampung.

Titik kelola warung dan media sosial. Joko bantu IT desa. Sering kerja sama, sering diskusi.

Suatu hari, Joko bilang, "Tit, aku serius sama kamu."

Titik tersipu. "Jok, kita udah kenal kecil. Tapi ini serius?"

"Serius."

Mereka berdua setuju pacaran, dengan restu orang tua.

Lamaran digelar di warung RT 02. Sama seperti lamaran Erlangga-Anita, Arjuna-Kirana, Julia-Dani. Kini giliran Joko dan Titik.

Arjuna dan Kirana duduk sebagai orang tua. Julia dan Dani di sisi lain.

Joko berlutut. "Tit, maukah kau jadi pendampingku?"

Titik menangis. "Mau, Jok."

Semua haru. Warung RT 02, untuk ke sekian kali, jadi saksi.

Desa Awan Biru resmi jadi desa mandiri. Tak tergantung dana pusat. Pendapatan dari wisata, UMKM, dan pajak lokal cukup untuk operasional.

Arjuna bangga. "Ini mimpi Pak Iwan. Akhirnya tercapai."

Warga berbahagia. Hidup sejahtera, anak-anak sekolah, kesehatan terjamin.

Semua dokumen desa, dari 2015 sampai 2050, terdigitalisasi. Ada arsip khusus: "Cerita Pak Iwan". Berisi rekaman, foto, catatan perjuangannya.

Arjuna meresmikan arsip itu. "Generasi mendatang harus tahu: desa ini dibangun dengan keringat dan air mata."

Joko, yang kini 26 tahun, siap jadi penerus.

Warung RT 02, senja. Tiga generasi duduk: Amat (71), Arjuna (50), Joko (25). Juga Kirana, Julia, Titik, dan keluarga.

Langit biru dengan semburat jingga. Awan-awan kecil berarak.

Amat bicara. "Dulu, saya duduk di sini dengan Pak Iwan. Beliau bilang, 'Amat, langit tak pernah berubah.'"

Arjuna menyambung. "Tapi desa berubah. Dari gelap terang, dari manual digital, dari miskin mandiri."

Joko menambahkan. "Dan warung ini tetap di sini. Saksi tiga generasi."

Julia tersenyum. "Akan terus di sini. Untuk generasi keempat, kelima, seterusnya."

Titik memegang tangan Joko. Mereka tersenyum.

Matahari tenggelam di ufuk barat. Lampu warung mulai menyala. Suara tawa, obrolan, canda, mengisi ruang.

Langit Awan Biru, seperti biasa, tak pernah berubah. Biru muda, dengan semburat jingga. Awan-awan kecil berarak lambat, seolah tahu: di bawahnya, tiga generasi telah berlalu. Dan masih akan ada generasi-generasi berikutnya, duduk di bangku yang sama, di warung yang sama, di desa yang sama.

Desa Awan Biru.

EPILOG

Seorang gadis kecil duduk di bangku kayu, memandangi foto-foto di dinding. Ia baru berusia 10 tahun, bernama Awan, cicit Pak Iwan.

"Nenek, ini siapa?" tanyanya pada Julia yang kini 71 tahun.

"Itu Mbah Karyo, buyutmu. Pemilik warung pertama."

"Ini?" Awan menunjuk foto lain.

"Itu Pak Iwan, kepala desa legendaris. Dia yang memulai digitalisasi."

"Wah, banyak sekali cerita."

Julia tersenyum. "Iya, Nduk. Tiga generasi cerita. Dan kau, generasi kelima, harus tahu semuanya."

Awan mengangguk. Ia menatap ke luar warung, ke langit yang biru.

"Langitnya masih sama ya, Nek?"

"Masih, Nduk. Langit Awan Biru, tak pernah berubah. Cuma kita yang berubah."

Di luar, senja mulai jingga. Warung RT 02, dengan segala usianya, terus berdiri. Menjadi saksi. Menjadi rumah. Menjadi tempat tiga generasi, dan akan terus menjadi tempat generasi-generasi berikutnya, untuk duduk, ngopi, bercerita, dan bermimpi.

Tentang desa. Tentang perubahan. Tentang langit yang tak pernah berubah.

 

TAMAT