NOVELET
LANGKAH
PEMUDA KARANG TARUNA
Ketika Semangat
Kebersamaan Mengubah Wajah Sebuah Desa
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Di sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan hijau,
terbentang sebuah desa bernama Ringin Arum. Namanya indah, mengandung harapan
akan kehidupan yang terus berkembang. Namun untuk waktu yang lama, harapan itu
hanya tinggal nama.
Matahari pagi selalu terbit di ufuk timur, menyinari
sawah-sawah yang mengering, rumah-rumah panggung yang catnya mengelupas, dan
jalanan tanah yang membekas roda truk pasir. Ayam berkokok, anjing
menggonggong, tapi suara tawa anak-anak nyaris tak terdengar. Yang ada hanya
sunyi—sunyi yang begitu dalam hingga bisa dirasakan di tulang.
Orang-orang tua duduk di beranda rumah, mengunyah sirih,
memandangi jalanan kosong dengan tatapan sayu. Mereka menunggu. Menunggu
anak-anak mereka pulang. Menunggu kabar dari perantauan. Menunggu sesuatu yang
tak pasti.
Sawah-sawah terbengkalai. Rumput ilalang tumbuh subur di
mana-mana, seakan ingin menegaskan bahwa alam pun mulai mengambil alih apa yang
ditinggalkan manusia. Balai desa, yang seharusnya menjadi pusat denyut nadi
masyarakat, berdiri kusam dengan pintu terkunci rapat. Debu tebal menyelimuti
meja dan kursi di dalamnya. Papan pengumuman di halaman hanya menyisakan
selebaran lama yang luntur dimakan hujan dan panas.
Malam turun lebih cepat di desa ini. Bukan karena matahari
lebih dulu tenggelam, tapi karena lampu-lampu rumah mati satu per satu,
menyisakan kegelapan yang nyaris sempurna. Hanya suara jangkrik dan kodok yang
menemani malam. Pos kamling kosong. Gentong air untuk ronda sudah kering
berbulan-bulan lalu.
Di pinggir desa, seorang kakek tua masih setia menjaga
warung kopinya meski pembeli hampir tak pernah datang. Namanya Mbah Joyo.
Usianya sudah tujuh puluhan, matanya mulai rabun, tapi ingatannya tentang masa
lalu masih tajam. Ia ingat betul ketika desa ini ramai. Ketika pemuda-pemuda
berkumpul di balai desa setiap malam minggu. Ketika suara rebana dan shalawat
menggema di bulan Maulid. Ketika lapangan bola penuh dengan anak-anak yang
berlarian hingga magrib.
Kini semua tinggal kenangan.
"Sepi," gumamnya suatu sore, pada siapa pun yang
mau mendengar—meski hanya angin. "Desa ini kayak kuburan. Hidup tapi
mati."
Di kota-kota besar, anak-anak desa ini sibuk dengan
kehidupannya masing-masing. Ada yang bekerja di pabrik, jadi buruh bangunan,
membuka warung, atau sekadar bertahan hidup dengan segala cara. Mereka merantau
karena percaya—atau dipaksa percaya—bahwa desa tak lagi punya masa depan. Bahwa
satu-satunya jalan adalah meninggalkan.
Namun di antara mereka, ada satu dua yang mulai bertanya.
Di sela lelah bekerja dan hiruk-pikuk kota, muncul kegelisahan. Benarkah desa
tak punya masa depan? Atau justru merekalah yang lupa bahwa masa depan bisa
diciptakan, bukan hanya ditemukan?
Di Jakarta, seorang pemuda bernama Rangga termenung di
kamar kostnya yang sempit. Dua minggu lalu ia memutuskan pisah kontrak dari
bengkel las tempatnya bekerja. Badannya lelah, hatinya hampa. Uang yang ia
kumpulkan cukup untuk hidup beberapa bulan, tapi setelah itu? Ia tak punya
rencana.
Lalu tiba-tiba, tanpa sebab yang jelas, ia teringat kampung
halaman. Bukan sekadar ingatan, tapi kerinduan yang begitu dalam. Rindu pada
sawah yang dulu ia arungi saat kecil. Rindu pada suara gemericik sungai tempat
ia mandi bersama teman-teman. Rindu pada senyum ibunya yang setiap pagi
menyiapkan sarapan sederhana.
Tapi juga ada perasaan lain: kecemasan. Apa kabar desanya?
Apa masih sama seperti dulu? Atau justru semakin parah?
Rangga mengambil ponselnya, membuka galeri foto. Foto
terakhir dari kampung dikirim ibunya enam bulan lalu. Di foto itu, ibunya
tersenyum di depan rumah, tapi latar belakangnya menunjukkan rumput liar yang
makin meninggi dan cat dinding yang makin pudar.
Hatinya mencelos.
Malam itu, Rangga mengambil keputusan yang akan mengubah
segalanya. Ia akan pulang. Bukan sekadar untuk liburan, tapi untuk mencari
jawaban. Untuk melihat dengan matanya sendiri, apakah desanya masih layak
disebut rumah, atau hanya tinggal nama yang perlahan terlupakan.
Ia tak tahu apa yang akan ia temukan di sana. Tak tahu
apakah ia akan betah atau justru ingin segera kembali ke kota. Yang ia tahu,
hatinya tak bisa diam. Ada sesuatu yang memanggil. Ada desa yang
menunggu—mungkin bukan menunggunya secara pribadi, tapi menunggu seseorang,
siapa pun, yang mau mengingat bahwa desa ini pernah hidup, dan bisa hidup lagi.
Di kejauhan, di Desa Ringin Arum, Mbah Joyo menatap jalanan
kosong dari beranda warungnya. Ia tak tahu bahwa dalam beberapa hari ke depan,
seorang pemuda akan turun dari bus di perempatan pasar, membawa ransel lusuh
dan hati yang gelisah. Ia tak tahu bahwa pemuda itu akan duduk di warungnya,
memesan kopi, dan memulai percakapan yang akan menjadi awal dari segalanya.
Yang ia tahu, seperti biasa, ia akan menunggu. Menunggu hingga
malam tiba, lalu mematikan lampu warung, dan berharap esok hari akan berbeda.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Desa Ringin Arum
tenggelam dalam sunyi. Tapi di langit, bintang-bintang bersinar terang, seolah
memberi isyarat bahwa terang tak pernah benar-benar padam. Hanya menunggu saat
yang tepat untuk bersinar kembali.
Desa itu menunggu. Menunggu langkah-langkah kecil yang akan
mengubah segalanya. Menunggu pemuda-pemuda yang berani bermimpi dan
mewujudkannya. Menunggu kebangkitan.
Dan di suatu tempat di antara hiruk-pikuk kota dan hening
desa, perjalanan itu akan segera dimulai. Langkah pertama seorang pemuda.
Langkah yang mungkin tampak kecil dan tak berarti, tapi kelak akan dikenang
sebagai awal dari segalanya.
Kisah ini adalah tentang langkah-langkah itu. Tentang
mimpi-mimpi yang dianggap mustahil. Tentang desa yang hampir terlupakan. Dan
tentang sekelompok pemuda yang memilih untuk pulang, bukan karena mereka gagal
di kota, tapi karena mereka percaya bahwa di desa, ada masa depan yang menunggu
untuk dibangun.
Selamat menyaksikan perjalanan mereka. Selamat membaca
kisah tentang semangat kebersamaan yang mengubah wajah sebuah desa.
Desa Ringin Arum, di suatu tempat di Nusantara.
Waktu: Saatnya pemuda bangkit.
BAGIAN I
AWAL KEBANGKITAN PEMUDA DESA
Matahari di atas Dusun Krajan, Desa Ringin Arum, terasa
begitu gerah. Bukan hanya karena sengatan sinarnya, tapi juga karena sunyinya
desa di siang bolong. Hanya suara jangkrik dan dengung kumbang yang terdengar
samar dari celah-celah ilalang di tepi jalanan tanah yang membekas roda truk
pasir. Rumah-rumah panggung kayu berdiri kusam, catnya terkelupas dimakan usia.
Di beranda, hanya terlihat nenek-nenek yang duduk lesu, mengunyah sirih, atau
ayam-ayam yang mengais sisa gabah.
Di sebuah warung kopi tua milik Mbah Joyo, hanya ada Pak
Kades, Sartono, yang tengah berkutat dengan buku catatan. Sesekali ia menghela
napas panjang.
“Sepi, Mbah,” keluh Sartono pada Mbah Joyo yang sedang
mengelap gelas.
Mbah Joyo menyeringai, memperlihatkan giginya yang tinggal tiga.
“Lha iya, To. Pemudanya pada ke kota. Tinggal kita-kita yang sudah uzur. Desa
ini kayak kuburan, To. Hidup tapi mati.”
Sartono hanya mengangguk lesu. Ia tahu Mbah Joyo benar. Ringin
Arum dulu ramai, dengan gemuruh suara pemuda di lapangan bola dan lincahnya
anak-anak mandi di sungai. Kini, sungai itu pun tampak keruh dan dangkal,
seperti semangat desa yang hampir mati.
Di beranda rumahnya, Rangga, seorang pemuda berusia 25
tahun dengan lengan kekar bekas bekerja di bengkel las Jakarta, memandangi hamparan
sawah yang mengering. Ia baru dua minggu pulang kampung setelah memutuskan
pisah kontrak. Hatinya gundah. Kegaduhan kota dengan hiruk-pikuk mesin pabrik
tergantikan oleh sunyi yang bahkan bisa ia rasakan di tulang.
“Ras, udah sore. Kok melamun aja?” Ibu Rangg, Wati,
meletakkan segelas teh di sampingnya.
“Nggak, Bu. Cuma mikir. Di sini sepi banget ya,” jawab
Rangga lirih.
“Ya mau gimana lagi? Temen-temenmu aja pada di perantauan.
Kamu sendiri kenapa pulang? Di Jakarta kan bisa cari duit lebih banyak,” selidik
ibunya.
“Kangen, Bu. Tapi pas pulang… malah sedih. Dulu rame,
sekarang kok rasanya kayak desa mati.” Rangga menghela napas panjang. “Pemuda
pada ke mana, Bu?”
Wati ikut duduk. “Ke kota, Ras. Katanya di desa nggak ada
masa depan. Jadinya sawah-sawah banyak yang nggak keurus. Yang muda pergi, yang
tua tinggal di rumah.”
Kata-kata ibunya bagaikan duri yang menusuk kalbu Rangga.
Di matanya, desa ini bukannya tanpa masa depan. Ia justru melihat potensi di
mana-mana: tanah yang subur, hasil bumi yang melimpah, dan… kerinduan yang
mendalam akan semangat kebersamaan. Ia teringat kata-kata seorang senior di
Jakarta, “Kalau kamu nggak suka dengan keadaan, jangan cuma ngeluh. Ubah. Mulai
dari dirimu sendiri, mulai dari hal kecil di sekitarmu.”
Malam itu, Rangga tak bisa tidur. Pandangannya menerawang
ke langit-langit kamar, membayangkan desanya hidup kembali.
Keesokan harinya, Rangga berjalan kaki menyusuri desa. Ia
sampai di sebuah bangunan panggung beratap seng yang sudah mulai lapuk. Itulah
Balai Desa Ringin Arum. Pagar bambunya miring, dan rumput ilalang tumbuh subur
di halamannya. Di papan pengumuman, tertempel selebaran-selebaran lama yang
sudah luntur terkena hujan. Ia membuka pintu kayu yang tak terkunci. Di
dalamnya gelap, hanya ada meja panjang dengan kursi-kursi kayu yang berdebu.
Udara lembab bau apak menusuk hidung.
“Balai desa yang megah,” gumamnya sinis pada diri sendiri.
“Megah? Ini sih lebih mirip gudang!” sambut seseorang di
belakangnya.
Rangga terkejut, lalu menoleh. Seorang pemuda sebayanya
dengan rambut ikal berdiri sambil membawa dua batang bambu. Wajahnya
dikenalnya. “Kenthus? Kenthus kayu? Lho, kamu nggak di Kalimantan?”
Kenthus tertawa. “Baru balik seminggu lalu, Ras. Capek di
tempat orang. Mau coba peruntungan di kampung halaman. Lagian, aku kangen kopi
Mbah Joyo.” Ia masuk dan ikut memandangi ruangan yang sepi. “Balai ini dulu
ramai. Sering dipake rapat Karang Taruna, latihan rebana, rapat PKK. Sekarang?
Sepi banget.”
“Karang Taruna?” Rangga mengulang kata itu, seperti mencari
ingatan lama di sudut benaknya.
“Iya. Dulu bapakku pernah jadi pengurus. Tapi sekarang,
udah mati suri kayaknya,” jawab Kenthus sambil mengusap debu di meja. “Mungkin
karena pemuda pada pergi semua.”
Dari luar, suara motor tua masuk ke halaman. Seorang pemuda
lain turun, posturnya agak gempal, membawa bungkusan nasi bungkus. “Ras! Thus!
Ngapain di balai? Makan dulu, yuk! Kebetulan aku beli banyak.” Itu adalah
Jarwo, pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani di sawah tetangga
desa. Ia memang terkenal sebagai pemuda yang paling rajin, meski hanya bisa
menggarap lahan orang lain.
Mereka bertiga kemudian duduk di beranda balai yang teduh,
membuka bungkusan nasi pecel. Makan sambil memandangi desa yang sunyi.
Keheningan kembali menyergap.
“Berasa kayak orang
aneh, nggak sih?” celetuk Jarwo di antara kunyahannya. “Kita bertiga duduk di
balai desa kosong, kayak mau bikin organisasi rahasia.”
Kenthus terkekeh. “Organisasi apa? Organisasi Tukang
Nganggur?”
Rangga tersenyum, tapi matanya serius. “Justru ini yang
bikin aku resah. Dulu kita punya Karang Taruna. Ingat nggak, pas kita SMP dulu,
kakak-kakak kelas kita sering ngadain turnamen voli, bersih desa, malam
takbiran keliling? Sekarang, kenapa semua mati?”
“Ya karena kita yang sekarang udah pada gede, tapi pada
pergi semua. Kaya aku, baru pulang. Yang lain, Jarwo, kamu kan dari dulu di
sini?” tanya Kenthus.
Jarwo menghela napas. “Di sini tapi apa daya? Aku sendiri
mau ngapain? Ngajak kerja bakti? Yang ada cuma bapak-bapak tua. Pemuda yang
tinggal paling banter ya anak SMA yang baru pulang sekolah. Itu pun
males-malesan, main game di warung.”
“Mungkin masalahnya bukan cuma pemudanya yang pergi, tapi
juga nggak ada yang mulai,” kata Rangga pelan. “Kita cuma menunggu orang lain
bergerak. Siapa lagi kalau bukan kita? Kita yang pulang, kita yang masih
peduli. Masa kita mau jadi pemuda yang cuma bisa nyalahin keadaan?”
Udara siang terasa berubah. Kenthus dan Jarwo menatap
Rangga, ada percikan api di mata temannya itu. Api yang selama ini padam di
desa.
“Maksud kamu, kita
hidupin lagi Karang Taruna?” tanya Kenthus, matanya berbinar.
“Kenapa nggak?” sahut Rangga mantap. “Tapi jangan asal
hidup. Kita harus kasih nafas baru. Biar Karang Taruna ini nggak cuma jadi
nama, tapi benar-benar punya kegiatan.”
Jarwo mengerutkan kening. “Caranya? Modal kita nol. Anggota
juga baru kita bertiga.”
“Kita mulai dengan ngobrol. Ngajak anak-anak lain yang
masih di desa. Yang pulang kampung kayak kita. Nggak harus langsung banyak.
Pelan-pelan, kita bangun dulu visinya. Mau dibawa ke mana desa ini lewat tangan
kita,” jelas Rangga.
“Dulu Karang Taruna punya AD/ART, punya program. Bapakku
dulu pernah cerita. Tapi kayaknya udah nggak ada yang megang arsipnya,” timpal
Kenthus.
“Arsip sih mungkin masih ada di rumah Pak Kades atau di
sekretariat lama,” kata Rangga. “Tapi kita harus pastikan dulu, apakah
organisasi ini secara formal masih ada atau udah bubar. Dan yang paling
penting, kita perlu izin dan restu dari pemerintah desa.”
Matahari mulai condong ke barat. Tiga pemuda itu tak
menyadari, percakapan santai di beranda balai desa yang berdebu telah berubah
menjadi rapat tidak resmi pertama menuju kebangkitan.
Mereka bertiga sepakat untuk mengadakan pertemuan kecil di
rumah Rangga malam harinya. Dengan diterangi lampu minyak tembok (karena
listrik sering padam), mereka menghabiskan malam dengan menuliskan gagasan di
kertas bekas bungkus rokok.
“Oke, kita kumpulin dulu ide gila kita. Mau bikin apa aja
buat desa?” pinta Rangga selaku fasilitator dadakan.
“Benerin jalan desa! Udah bolong-bolong,” usul Jarwo semangat.
Kenthus menimpali, “Bikin kelompok tani muda! Biar
sawah-sawah yang nganggur digarap. Aku punya sedikit ilmu dari Kalimantan soal
pupuk organik.”
“Terus, hidupin lagi pos kamling. Biar malam nggak sepi,
dan kita jaga keamanan bareng,” tambah Jarwo lagi.
“Eits, pelan-pelan. Jangan terlalu muluk. Kita urut dari
yang paling mungkin dan paling kecil dulu. Yang penting bisa mengumpulkan
massa. Yang bisa langsung menyentuh warga,” Rangga mencoba merapikan ide.
“Gotong royong bersih desa?” usul Kenthus. “Itu simpel.
Kita ajak warga bersih-bersih lingkungan. Sambil memperkenalkan diri kalau kita
mau aktif lagi.”
“Setuju! Dan kita butuh nama. Bukan sekedar Karang Taruna,
tapi dengan embel-embel baru. Biar ada semangat baru,” kata Rangga.
Jarwo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Karang Taruna
‘BANGKIT’? Atau ‘RINGIN ARUM’ lagi aja?”
“Karang Taruna ‘TUNAS HARAPAN’? Biar ada kiasannya, tunas
yang bakal tumbuh jadi harapan baru,” usul Kenthus dengan mata berbinar.
Rangga tersenyum lebar. “Karang Taruna ‘Tunas Muda’ Ringin
Arum. Terdengar sederhana, tapi mengena. Kita mimpikan, suatu saat nanti, desa
ini nggak cuma jadi tempat lahir, tapi juga tempat pulang. Tempat kita
membangun masa depan.”
Malam itu, di balik temaram lampu minyak, benih mimpi mulai
disemai. Mereka sadar, perjalanan masih panjang. Mereka butuh dukungan dari
semua lapisan, termasuk para sesepuh yang masih disegani.
Pagi harinya, mereka bertiga menemui Mbah Joyo di
warungnya. Selain menjadi juru kunci sejarah desa lewat cerita-ceritanya, Mbah
Joyo adalah mantan lurah yang sangat disegani.
“Mbah, kami bertiga mau minta wejangan,” buka Rangga
hormat.
Mbah Joyo meletakkan ceret kopi, menatap mereka bergantian.
“Wejangan soal apa, Lek?”
“Soal keinginan kami untuk menghidupkan lagi Karang Taruna,
Mbah. Kami lihat desa ini sepi, pemudanya pada pergi. Kami pengen ngajak
anak-anak muda yang masih ada buat bareng-bareng membangun desa lagi,” jelas
Rangga.
Mbah Joyo terdiam lama. Lalu matanya yang sayu
berkaca-kaca. Ia menghela napas panjang, seperti mengeluarkan beban
bertahun-tahun.
“Akhirnya… ada juga yang bicara soal itu.” Suaranya parau.
“Dulu, pas aku jadi lurah, Karang Taruna ini adalah napasnya desa. Mereka yang
bikin rame, yang bikin semangat. Tapi lama-lama, godaan kota besar terlalu
kuat. Pemuda pada kecewa, pada pergi. Dan desa pun mati suri. Aku selalu
berdoa, semoga ada yang pulang dan punya hati buat desa ini. Dan kalian… kalian
lah jawabannya, mungkin.”
“Tapi Mbah, kami nggak punya pengalaman. Takut salah
langkah,” sahut Kenthus.
“Salah langkah itu biasa, Lek. Yang penting jangan salah
jalan. Jangan sampai niat baik kalian jadi rusak karena kepentingan pribadi.”
Mbah Joyo menatap tajam ke arah mereka. “Kalau kalian butuh dukungan, Mbah
dukung. Kalau ada yang nggak setuju, hadapi dengan kepala dingin. Tapi yang
paling penting, kalian harus punya restu dari Pak Kades. Pemerintah desa itu
mitra kalian, bukan lawan. Mengerti?”
Mereka bertiga mengangguk mantap. Restu dari sesepuh
memberi mereka suntikan moral yang luar biasa.
Dengan berbekal semangat dan secarik kertas berisi program
sederhana, mereka bertiga memutuskan untuk menghadap Kepala Desa, Sartono.
Mereka datang ke rumahnya sore harinya. Sartono yang sedang memperbaiki jaring
ikan, agak terkejut melihat tiga pemuda datang dengan raut wajah serius.
“Ada perlu apa, cah bagus?” sapa Sartono ramah, meski ada
nada waspada di matanya.
“Pak Kades, kami mau minta waktu sebentar. Ada yang ingin
kami sampaikan,” kata Rangga mewakili teman-temannya.
Mereka duduk di teras. Rangga kemudian menjelaskan panjang
lebar tentang kegelisahan mereka, obrolan di balai desa, mimpi mereka, dan niat
untuk menghidupkan kembali Karang Taruna ‘Tunas Muda’. Sartono mendengarkan
dengan saksama. Ekspresinya berubah dari awalnya waspada, menjadi terkejut,
lalu haru.
Selesai Rangga bicara, sunyi menyelimuti teras. Sartono
menunduk, memainkan jemarinya. Kemudian ia berkata lirih, “Sebagai Kepala Desa,
aku malu. Malu karena selama ini aku hanya sibuk dengan administrasi, proyek
bantuan, dan laporan ke atas. Aku lupa pada hal yang paling mendasar:
menghidupkan kembali semangat warganya, terutama pemuda.”
Ia menatap mereka bertiga dengan pandangan penuh haru.
“Kalian… kalian ini seperti oase di padang pasir. Selama ini aku pikir pemuda
kita sudah mati rasa. Ternyata, api itu masih ada. Hanya butuh seseorang untuk
menyalakannya.”
“Jadi, bagaimana Pak
Kades? Apakabar boleh?” tanya Jarwo dengan harap-harap cemas.
Sartono tersenyum lebar, kali ini tulus. “Boleh? Itu bukan
pertanyaan yang tepat, Nak. Ini adalah sebuah kewajiban. Pemerintah desa
harusnya yang pertama kali bergerak. Tapi kalian yang memulai. Maka, aku
sebagai Kepala Desa, bukan hanya mengizinkan, tapi akan mendukung penuh apa
yang kalian rencanakan.”
“Benar, Pak Kades?” Kenthus hampir tak percaya.
“Benar. Besok, aku akan panggil perangkat desa. Kita akan
adakan pertemuan kecil untuk meresmikan wacana ini. Dan kalian harus siap
dengan proposal atau setidaknya konsep kepengurusan yang jelas. Karang Taruna
ini adalah organisasi resmi di bawah naungan desa, sehingga strukturnya pun
harus jelas. Kalian butuh pembina, dan itu saya sendiri. Tapi pengurus
hariannya adalah kalian, para pemuda.”
Rangga, Kenthus, dan Jarwo saling berpandangan. Kebahagiaan
tak terbendung. Mereka tidak hanya mendapat izin, tapi juga dukungan penuh dari
kepala desa.
“Satu lagi, Pak Kades,” sela Rangga. “Kami mohon
bimbingannya. Kami masih hijau dalam hal organisasi dan administrasi desa.”
Sartono tertawa. “Itu urusan gampang. Nanti saya akan
perkenalkan kalian dengan perangkat desa satu per satu. Sekretaris desa kita,
Pak RT, Pak RW, Ketua BPD, dan Bu Lurah yang juga ketua PKK. Kalian harus bisa
bekerja sama dengan semua pihak. Ingat, pembangunan desa itu bukan kerja
sendiri, tapi kerja bersama.”
Dua minggu kemudian, Balai Desa Ringin Arum yang biasanya
sepi, tiba-tiba ramai. Halaman yang dulu penuh ilalang telah dibersihkan. Di
dalam balai, puluhan pemuda duduk lesehan. Ada yang baru pulang merantau, ada
yang masih sekolah, ada juga yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani.
Wajah-wajah penasaran, antusias, dan sedikit canggung terlihat.
Di kursi depan, duduk Pak Sartono, beberapa perangkat desa,
Mbah Joyo, dan Ibu Lurah. Rangga bertindak sebagai pembawa acara dadakan.
“Selamat malam dan terima kasih atas kehadiran teman-teman
semua. Seperti yang sudah kita bicarakan di grup beberapa hari ini, malam ini
adalah momentum bersejarah bagi kita. Malam di mana kita, para pemuda Desa Ringin
Arum, akan menyatakan diri untuk bangkit kembali. Bangkit untuk membangun desa
kita tercinta. Saya persilakan Bapak Kepala Desa untuk memberikan sambutan
sekaligus arahan.”
Sartono berdiri, matanya menyapu hadirin. “Anak-anakku,
pemuda-pemudi Desa Ringin Arum. Malam ini, balai ini kembali hidup. Dan itu
semua karena kalian. Pemerintah desa hanya fasilitator. Tapi kalianlah yang
menjadi penggerak. Maka, dengan mengucap syukur, saya resmikan pembentukan
kepengurusan baru Karang Taruna ‘Tunas Muda’ Desa Ringin Arum. Semoga Allah
memudahkan langkah kita semua.”
Tepuk tangan riuh rendah membahana. Mbah Joyo di sudut
ruangan mengusap matanya yang basah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
balai desa itu kembali dipenuhi oleh tawa, semangat, dan harapan.
Setelah melalui proses musyawarah, terbentuklah
kepengurusan. Rangga terpilih sebagai Ketua, Kenthus sebagai Sekretaris, dan
Jarwo sebagai Bendahara. Mereka bertiga menjadi simbol awal, namun mereka
sadar, perjuangan sebenarnya baru dimulai. Di hadapan mereka terbentang tugas
besar: membangun desa. Dan langkah pertama telah diambil.
BAGIAN II
BELAJAR MEMBANGUN ORGANISASI
Malam itu, pos ronda RT 02 yang biasanya hanya dipakai
tidur para bapak-bapak, disulap jadi markas temporer Karang Taruna. Di
dalamnya, Rangga, Kenthus, Jarwo, dan beberapa pengurus baru lainnya—ada Dini,
gadis lulusan SMK yang jago desain, serta Budi, pemuda alumni pesantren—berkumpul
dengan membawa laptop pinjaman dan buku tulis.
“Gini, teman-teman. Kita punya banyak mimpi. Tapi kalau
nggak ditulis dan direncanakan, mimpi cuma akan jadi angan-angan,” buka Rangga.
“Iya, kita harus urut. Mana yang prioritas,” timpal Kenthus
sambil membuka buku catatannya. “Kita udah sepakat, program pertama yang
langsung menyentuh masyarakat adalah kerja bakti bersih desa. Itu sudah masuk.
Tapi kita juga harus punya program internal untuk kaderisasi, misalnya
pelatihan.”
“Pelatihan apa, Thus?” tanya Budi.
“Ya... kita harus tahu dulu minat bakat teman-teman. Dan
juga kebutuhan desa. Misal, pelatihan desain grafis buat bikin konten desa,
pelatihan bikin pupuk organik, atau pelatihan jadi pemandu wisata, siapa tahu
nanti desa kita maju,” jelas Kenthus.
Dini mengacungkan tangan. “Aku bisa bantu untuk desain.
Tapi kalau untuk dokumentasi kegiatan, kita perlu punya dokumentasi yang bagus
biar kegiatannya terlihat keren. Ini penting untuk branding desa kita ke luar.”
Rangga mengangguk setuju. “Nah, itu ide bagus. Dini, kamu
bisa jadi koordinator humas dan dokumentasi. Sekarang, kita breakdown program
kerja menjadi tiga bidang: pertama, bidang sosial kemasyarakatan (kerja bakti,
pos kamling, bantuan sosial). Kedua, bidang ekonomi kreatif (pelatihan,
pengembangan UMKM). Ketiga, bidang pendidikan dan teknologi (pelatihan
komputer, digitalisasi desa).”
Mereka kemudian bekerja dengan serius. Suasana markas pos
ronda terasa hidup, dipenuhi dengan debat kecil, tawa, dan suara keyboard
laptop. Menjelang tengah malam, mereka berhasil menyusun draf program kerja
untuk satu tahun ke depan. Rasanya melelahkan, tapi juga memuaskan.
Seusai salat Jumat, Pak Sartono mengajak para pengurus
Karang Taruna ke kantor desa. Ini adalah kunjungan resmi pertama mereka. Kantor
desa yang sederhana itu memiliki beberapa ruangan: ruang Kepala Desa, ruang
sekretariat, ruang BPD, dan ruang pelayanan. Di ruang sekretariat, mereka
bertemu dengan Sekretaris Desa (Sekdes), Pak Rahmat, seorang pria paruh baya
berkacamata tebal yang terkenal teliti.
“Nah, Nak Rangga, ini Pak Sekdes. Beliau yang paling paham
soal administrasi pemerintahan desa. Kalau kalian butuh data atau aturan,
tanyakan sama beliau,” kata Pak Sartono.
Pak Rahmat menyambut mereka dengan ramah. “Wah, akhirnya
Karang Taruna kita punya pengurus baru. Selamat ya. Silahkan duduk.”
“Terima kasih, Pak Sekdes. Kami ingin belajar tentang
bagaimana desa ini dikelola. Supaya kami tahu, ketika kami punya program, harus
masuk ke mana, dan bagaimana cara mengajukan ke pemerintah desa,” ujar Rangga.
Pak Rahmat tersenyum. “Bagus, itu sikap yang benar. Jadi
begini, desa kita ini dipimpin oleh Pak Kades yang dibantu oleh perangkat desa,
seperti saya (Sekdes), para Kepala Urusan (Kaur), dan Kepala Seksi (Kasi). Lalu
ada juga Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang anggotanya adalah wakil dari
warga. Mereka yang membuat peraturan desa dan mengawasi kinerja Pak Kades.”
Ia lalu menjelaskan panjang lebar tentang tugas
masing-masing perangkat, sumber pendapatan desa (ADD, Dana Desa, dll), dan
mekanisme pengajuan proposal kegiatan. Para pemuda mendengarkan dengan saksama.
Bagi mereka, ini adalah pengetahuan baru yang sangat berharga.
“Jadi, kalau kita mau bikin kegiatan yang butuh dana dari
desa, kita harus ajukan proposal ke Pak Kades, nanti dibahas dalam Musyawarah
Desa,” simpul Kenthus.
“Tepat sekali. Dan kalian bisa mengusulkan dalam
Musyrembang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) di tingkat dusun dulu, lalu
naik ke tingkat desa. Makanya, kehadiran kalian di musyawarah desa itu
penting,” jelas Pak Rahmat.
Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang mereka duga.
Sebulan kemudian, diadakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa
(Musrenbangdes) untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) tahun
depan. Untuk pertama kalinya, Karang Taruna ‘Tunas Muda’ diundang secara resmi.
Balai Desa kembali ramai. Tampak hadir Pak Kades, perangkat
desa lengkap, Ketua BPD beserta anggotanya (termasuk Mbah Joyo yang mewakili
unsur sesepuh), Ketua PKK, Ketua RT/RW, tokoh agama, tokoh pemuda (Rangga), dan
undangan lainnya.
Suasana sedikit tegang. Ini adalah pertama kalinya Rangga
dan kawan-kawan duduk dalam forum resmi setingkat ini. Mereka menyimak dengan
saksama ketika Pak Kades memaparkan usulan program dari masing-masing dusun.
Setelah sesi pemaparan, tibalah sesi usulan dari unsur
pemuda. Rangga mengangkat tangan. Pak Kades mempersilakan.
“Kami dari Karang Taruna ‘Tunas Muda’ mengusulkan beberapa
program. Pertama, program pelatihan keterampilan bagi pemuda untuk mengurangi
pengangguran. Kedua, program pengembangan kebun bibit desa untuk ketahanan
pangan. Ketiga, kegiatan rutin bersih desa dan pos kamling. Dan keempat,
pendampingan digitalisasi untuk UMKM desa.”
Pak Rahmat (Sekdes) mencatat usulan-usulan itu. Beberapa
anggota BPD terlihat mengangguk setuju, namun ada juga yang mengerutkan kening.
Pak Jumadi, salah satu anggota BPD yang dikenal kritis,
angkat bicara. “Usulannya bagus, tapi kami perlu tahu seberapa siap pemuda
menjalankan ini. Jangan sampai program dibuat, anggaran tersedia, tapi
pelaksanaannya mandek. Lalu siapa yang akan menjadi penanggung jawabnya?”
Rangga menjawab dengan tenang, “Pak Jumadi, kami sadar
sepenuhnya akan tanggung jawab itu. Makanya, kami mengusulkan secara bertahap.
Untuk tahap awal, kami fokus pada program yang melibatkan partisipasi aktif
pemuda, seperti bersih desa dan pos kamling. Sambil berjalan, kami akan
memperkuat kapasitas internal dengan pelatihan-pelatihan. Kami mohon dukungan
dan bimbingan dari Bapak-Bapak semua.”
Pak Jumadi tersenyum tipis. “Jawaban bagus. Kalau begitu,
saya dukung asalkan ada laporan pertanggungjawaban yang jelas.”
Musyawarah berjalan alot, namun akhirnya beberapa usulan
Karang Taruna diterima dan dimasukkan ke dalam RKPDes, dengan catatan akan
dibahas lebih lanjut soal teknis dan anggarannya di tingkat dusun. Ini adalah
kemenangan kecil, tapi sangat berarti bagi semangat mereka.
Sepulang musyawarah, mereka tidak langsung berpuas diri.
Keesokan harinya, Rangga dan Kenthus menemui Pak Carik (Sekdes) Rahmat di
kantornya untuk konsultasi lebih lanjut soal teknis pengajuan proposal.
“Pak, kami mau belajar bikin proposal yang benar. Soalnya
dari Musrenbang tadi, usulan kami diterima, tapi kami harus siapkan proposal
detail untuk diajukan ke Pak Kades,” ujar Rangga.
Pak Rahmat tersenyum bangga. “Nah, ini baru pemuda yang
cerdas. Daripada nunggu disuruh, lebih baik inisiatif. Mari, saya ajarin.”
Selama dua jam, Pak Rahmat dengan sabar mengajari mereka
cara menyusun proposal kegiatan yang benar: mulai dari latar belakang, dasar
hukum, maksud dan tujuan, nama kegiatan, waktu dan tempat, susunan panitia,
hingga rencana anggaran biaya (RAB) yang rinci dan realistis.
“RAB ini penting. Jangan asal tulis. Kalian harus riset
harga dulu. Misalnya untuk beli cat tembok, semen, atau makanan. Kalau nggak
sesuai, nanti bisa jadi masalah saat pertanggungjawaban,” pesan Pak Rahmat.
“Terima kasih banyak, Pak. Kami jadi lebih paham sekarang,”
kata Kenthus.
“Iya, sama-sama. Ingat, kalian ini aset desa. Kalau kalian
mau maju, desa juga ikut maju. Kalau ada yang bingung, jangan sungkan-sungkan
datang ke sini lagi,” balas Pak Rahmat.
Hubungan baik dengan perangkat desa pun mulai terjalin.
Mereka sadar, keberhasilan program tidak lepas dari kolaborasi dengan
pemerintah desa.
Pekan berikutnya, giliran Mbah Joyo yang mengundang mereka
ke rumahnya. Sebagai anggota BPD, Mbah Joyo ingin memberikan pemahaman lebih
dalam tentang fungsi lembaga yang ia wakili.
“Lek, kalian sudah tahu kan kalau di desa ada BPD. Tapi
mungkin kalian belum paham betul apa perannya,” ujar Mbah Joyo sambil
menuangkan kopi.
“Setahu kami, BPD itu kayak DPR-nya desa, Mbah. Yang bikin
peraturan dan ngawasin Pak Kades,” jawab Budi.
“Betul, tapi jangan sampai salah paham. BPD itu mitra kerja
Pak Kades, bukan lawan. Kami bersama-sama merencanakan pembangunan, membuat
peraturan desa (Perdes), dan mengawasi jalannya pemerintahan. Tujuannya sama,
untuk kesejahteraan warga,” jelas Mbah Joyo.
“Jadi, kalau ada program dari Karang Taruna, kita juga
perlu ‘lobby’ ke anggota BPD biar didukung di musyawarah?” tanya Dini polos.
Mbah Joyo tertawa. “Bukan lobby, Ndak. Tapi komunikasi dan
sosialisasi. Sampaikan ide kalian dengan baik ke semua pihak, termasuk ke kami
di BPD. Kalau idemu bagus dan bermanfaat, pasti kami dukung. Tapi kalau kalian
diam, ya kami nggak bakal tahu. Makanya, jalin silaturahmi dengan semua
komponen desa, termasuk BPD.”
Pemahaman baru itu membuka wawasan mereka. Ternyata,
membangun desa itu tidak cukup hanya bermodal semangat, tapi juga butuh
strategi komunikasi politik yang baik dengan semua pemangku kepentingan.
Hari yang dinanti tiba. Sabtu pagi, Desa Ringin Arum yang
biasanya sunyi, mendadak heboh. Karang Taruna ‘Tunas Muda’ mengadakan program
perdana mereka: Gotong Royong Akbar Bersih Desa. Targetnya membersihkan
lingkungan, terutama saluran air yang mampet, memotong rumput liar di pinggir
jalan, dan membersihkan area sekitar balai desa serta makam.
Mereka membagi tugas. Kelompok laki-laki, dipimpin Jarwo,
bertugas membersihkan selokan dan memotong rumput dengan cangkul, arit, dan
sabit. Kelompok perempuan, dipimpin Dini, bertugas membersihkan area balai desa
dan menyiapkan konsumsi.
Awalnya, hanya puluhan pemuda yang turun. Namun, melihat
semangat para pemuda, warga sekitar pun mulai ikut bergabung. Bapak-bapak yang
biasanya hanya duduk di teras, ikut memegang cangkul. Ibu-ibu ikut membantu di
dapur umum yang didirikan di halaman balai desa. Anak-anak kecil pun ikut
memunguti sampah plastik.
Mbah Joyo, meski dengan langkah tertatih, ikut hadir
membawa minuman. “Ini dia, ini dia semangat desa yang dulu hilang. Lihat, semua
kompak!” serunya haru.
Pak Kades Sartono juga turun langsung, ikut menggotong
kayu. “Pak Kades, kok ikut angkat-angkat?” tanya seorang warga.
Sartono tersenyum, “Lha wong ini desaku. Masa aku cuma
lihat? Kerja bakti ini tanggung jawab kita bersama. Terima kasih,
pemuda-pemudaku, sudah mengingatkan kami semua.”
Suasana keakraban dan kebersamaan begitu terasa. Tawa dan
canda bercampur dengan suara cangkul dan sapu. Menjelang siang, desa tampak
lebih bersih dan rapi. Saluran air mengalir lancar, rumput-rumput liar rapi,
dan halaman balai desa kembali hijau.
Sebagai penutup, mereka mengadakan makan siang bersama
dengan lauk sederhana di halaman balai desa. Duduk lesehan, berbaur dengan
semua warga. Rasa lelah terbayar dengan kebahagiaan yang tak ternilai.
“Ras, kita berhasil,” bisik Kenthus pada Rangga sambil
mengunyah nasi bungkus.
Rangga tersenyum, menatap keramaian di sekelilingnya. “Ini
baru awal, Thus. Tapi ini awal yang baik.”
Namun, tak semua berjalan mulus. Di balik kesuksesan gotong
royong, mulai muncul riak-riak kecil di internal Karang Taruna. Masalah klasik:
perbedaan pendapat dan ego sektoral.
Suatu malam, dalam rapat evaluasi di pos ronda, suasana
memanas. Jarwo sebagai bendahara mengkritik habis-habisan pembelian konsumsi
yang dilakukan tim Dini. Menurutnya, pengeluarannya terlalu boros, tidak sesuai
RAB yang diajukan.
“Dini, ini RAB-nya untuk konsumsi kan 500 ribu. Tapi nota
belanjanya tembus 650 ribu. Kelebihannya dari mana? Apa kita pakai uang kas?”
tanya Jarwo dengan nada tinggi.
Dini tersinggung. “Jar, kita kan masak buat seratus orang
lebih. Waktu itu harga sayur lagi mahal, bumbu juga. Terpaksa nambah. Lagian,
kita kan dapat bantuan sembako dari Bu Lurah, jadi sebenarnya uang kas nggak
kepakai banyak.”
“Bantuan itu nggak tercatat di RAB, Din. Itu masalah baru.
Laporan pertanggungjawaban nanti jadi ruwet,” sela Kenthus.
“Jadi maksud kalian, salah aku dong? Kalian yang di
lapangan kerja keras, aku juga kerja keras ngurus dapur. Tapi hasilnya malah
dikritik,” Dini hampir menangis.
Budi mencoba melerai. “Sudah, sudah, tenang. Jangan saling
menyalahkan. Kita cari solusi bareng.”
Rangga yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Dini,
kami nggak menyalahkan. Tapi masalah administrasi memang harus rapi. Ke
depannya, kita harus lebih disiplin. Kalau ada perubahan harga di lapangan, kita
harus segera koordinasi dengan bendahara dan sekretaris, jangan ambil keputusan
sendiri. Setuju?”
Dini mengangguk pelan, meski masih cemberut.
“Jarwo, kamu juga. Sampaikan kritik dengan cara yang baik,
jangan pakai nada tinggi. Kita ini tim, bukan musuh. Kita sama-sama belajar,”
tambah Rangga.
Jarwo menghela napas. “Maaf, Din. Aku tadi agak keras. Tapi
aku cemas soal laporan keuangan.”
Dini tersenyum tipis. “Iya, Jar. Aku juga minta maaf kalau
belanjanya kelebihan. Lain kali aku koordinasi dulu.”
Ketegangan mereda. Mereka sadar, konflik itu wajar dalam
organisasi. Yang penting adalah bagaimana menyelesaikannya dengan kepala dingin
dan semangat kebersamaan.
Insiden itu menjadi pelajaran berharga. Mereka sepakat
untuk membuat aturan internal yang lebih jelas soal pengambilan keputusan,
terutama yang berkaitan dengan keuangan. Mereka juga memutuskan untuk rutin
mengadakan rapat evaluasi setiap dua minggu sekali, agar masalah kecil tidak
menumpuk jadi besar.
Mereka juga mulai belajar tentang manajemen konflik.
Rangga, sebagai ketua, berinisiatif untuk membaca buku-buku kepemimpinan dan
manajemen organisasi yang dipinjamnya dari perpustakaan desa. Ia membagikan
ilmunya kepada pengurus lain dalam forum-forum diskusi santai.
“Kita harus belajar untuk dewasa dalam berorganisasi,” ujar
Rangga dalam suatu kesempatan. “Perbedaan pendapat itu biasa. Tapi jangan
sampai perbedaan itu merusak persaudaraan kita. Ingat, tujuan kita sama:
memajukan desa.”
Kenthus menimpali, “Iya, dan kita harus belajar untuk
mendengarkan. Kadang kita terlalu sibuk mempertahankan pendapat sendiri, lupa
mendengar masukan orang lain.”
Jarwo, yang dikenal paling keras, perlahan mulai belajar
mengendalikan emosi. Ia bahkan menjadi penengah ketika terjadi perdebatan
antara Budi dan anggota lain soal teknis program selanjutnya.
Perlahan tapi pasti, kedewasaan berorganisasi mulai
tertanam di tubuh Karang Taruna ‘Tunas Muda’.
Setelah sukses dengan gotong royong, kegiatan Karang Taruna
mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Salah satunya dari Ibu Lurah, Ibu
Sri, yang juga menjabat sebagai Ketua PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan
Keluarga).
Suatu sore, Ibu Sri datang ke rumah Rangga. “Rangga, saya
dengar kegiatan kalian bagus. Saya ingin mengajak ibu-ibu PKK untuk bekerja
sama dengan Karang Taruna. Program apa yang sekiranya bisa kita jalankan
bersama?”
Rangga menyambut baik. “Wah, terima kasih banyak, Bu Lurah.
Itu kehormatan bagi kami. Kebetulan kami sedang merencanakan pelatihan membuat
kerajinan dari sampah plastik untuk ibu-ibu. Mungkin PKK bisa membantu dalam
hal koordinasi dengan ibu-ibu dan penyediaan tempat.”
Ibu Sri tersenyum. “Ide bagus. Itu selaras dengan program
PKK tentang pengelolaan sampah dan peningkatan ekonomi keluarga. Saya dukung.
Nanti saya akan umumkan di pertemuan PKK minggu depan. Kalian siap jadi
pemateri?”
“Siap, Bu. Tapi mungkin kami butuh pendampingan dari
ibu-ibu yang sudah ahli,” ujar Rangga rendah hati.
“Tentu, saya akan libatkan Bu Jum, yang jago membuat
kerajinan anyaman. Kalian bisa saling belajar,” kata Ibu Sri.
Kerja sama itu pun berjalan lancar. Pelatihan kerajinan
dari sampah plastik dihadiri puluhan ibu-ibu. Mereka diajari oleh Dini dan
timnya cara membuat tas, dompet, dan hiasan dari bungkus kopi dan plastik
detergen. Bu Jum, dengan keahlian anyamannya, memberikan sentuhan tradisional
yang membuat produknya semakin unik.
Antusiasme ibu-ibu sangat tinggi. Mereka tidak hanya
mendapat keterampilan baru, tapi juga merasa dihargai dan dilibatkan dalam
kegiatan desa. Hasil kerajinan mereka pun mulai dipasarkan, meski dalam skala
kecil. Dukungan PKK menjadi energi baru bagi kebangkitan desa.
Kegiatan demi kegiatan yang dilakukan Karang Taruna mulai
membuahkan hasil. Nama ‘Tunas Muda’ tidak hanya dikenal di Desa Ringin Arum,
tapi juga mulai terdengar di desa-desa tetangga. Pos kamling yang dulu mati,
kini hidup kembali dengan jadwal ronda yang teratur. Anak-anak muda terlihat
nongkrong di pos ronda sambil main catur atau sekadar ngobrol, bukan di warung
kopi sampai larut malam.
Suatu malam, saat ronda, seorang bapak paruh baya bernama
Pak Karto berkata pada Jarwo, “Lek, saya seneng lihat kalian. Dulu, waktu saya
muda, kami juga giat kayak gini. Tapi lama-lama pudar. Sekarang, kalian yang
bangkitkan lagi. Desa kita jadi hidup.”
Jarwo tersenyum bangga. “Alhamdulillah, Pak. Tapi ini
berkat semua warga juga. Tanpa dukungan bapak-bapak, kami nggak akan bisa
jalan.”
Pak Karto tertawa. “Jangan merendah, Lek. Kalian yang
memulai. Kalian lah penggeraknya. Teruslah bersemangat. Jangan mudah putus
asa.”
Di tempat lain, seorang remaja putus sekolah bernama Yoga
mendatangi Dini. “Mba Dini, aku mau ikut Karang Taruna, boleh nggak? Aku mau
belajar bikin desain kayak Mba.”
Dini menyambutnya dengan hangat. “Boleh banget, Yoga.
Senang sekali kamu mau bergabung. Nanti kita belajar bareng. Siapa tahu bakatmu
bisa berguna buat desa.”
Lambat laun, jumlah anggota Karang Taruna bertambah. Mereka
datang dari berbagai latar belakang: pelajar, mahasiswa yang libur kuliah,
buruh tani, bahkan ibu-ibu muda yang ingin berkegiatan. Desa Ringin Arum, yang
dulu hampir terlupakan, mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru. Semangat
kebersamaan mulai mengubah wajahnya, satu langkah kecil pada satu waktu.
BAGIAN III
PEMUDA DAN PEMBANGUNAN DESA
Bulan Ramadhan tahun itu terasa berbeda di Desa Ringin Arum.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, suara takbir berkumandang tidak
hanya dari masjid, tapi juga dari pengeras suara yang dipasang di pos kamling.
Karang Taruna 'Tunas Muda' menginisiasi kegiatan "Safari Ramadhan"
keliling dusun.
Rangga memimpin rapat persiapan di pos ronda yang kini
resmi menjadi sekretariat mereka. "Kita bagi tim. Tim pertama untuk
pengumpulan zakat fitrah dan donasi. Tim kedua untuk koordinasi dengan
masjid-masjid tujuan. Tim ketiga untuk konsumsi dan takjil buka bersama."
"Pak Kades sudah setuju meminjamkan mobil desa untuk
angkut logistik," lapor Kenthus sambil memeriksa catatannya.
Jarwo mengangkat tangan. "Untuk dana, kita punya sisa
kas dari kegiatan sebelumnya. Tapi aku usul kita buka donasi umum. Biar semua
warga merasa memiliki."
"Setuju," sahut Dini. "Aku sudah buat poster
digital untuk disebar di grup WhatsApp warga."
Malam pertama Safari Ramadhan, mereka mengunjungi Masjid
Baiturrahman di Dusun Krajan. Puluhan pemuda dan pemudi datang dengan membawa
puluhan bingkisan sembako untuk anak yatim dan lansia. Pak Mahmud, seorang
kakek berusia 70 tahun yang tinggal sendirian, tak kuasa menahan haru saat
menerima bingkisan.
"Terima kasih, Nak. Sudah ingat orangtua seperti
saya," ucapnya dengan suara bergetar.
Kenthus memeluknya hangat. "Doakan kami terus, Pak.
Semoga kami bisa terus bermanfaat untuk warga."
Malam-malam berikutnya, Safari Ramadhan berlanjut ke
dusun-dusun lain. Di setiap masjid, mereka tidak hanya membagikan sembako, tapi
juga mengadakan buka puasa bersama dan kultum singkat yang disampaikan oleh
Budi, alumni pesantren. Suasana hangat dan penuh kebersamaan tercipta.
Anak-anak kecil berebut takjil, ibu-ibu menyiapkan konsumsi, bapak-bapak
bergotong royong menyiapkan tempat.
Pak Sartono yang ikut dalam beberapa kesempatan berkata
pada Rangga, "Ras, ini luar biasa. Yang kalian lakukan bukan sekadar
berbagi materi, tapi menghidupkan kembali silaturahmi yang sempat renggang.
Semua warga berkumpul lagi."
Rangga tersenyum. "Kami hanya menjalankan apa yang
diajarkan orang tua kami, Pak. Bahwa
Setelah Ramadhan, energi Karang Taruna tidak surut.
Pemerintah desa melalui Pak Rahmat, Sekdes, mengundang mereka untuk membantu
pelaksanaan program vaksinasi massal yang digagas pemerintah pusat. Puskesmas
kecamatan kewalahan menjangkau warga, terutama lansia, karena keterbatasan
tenaga.
"Kami butuh bantuan kalian untuk sosialisasi dan
pendampingan," ujar Pak Rahmat dalam pertemuan di kantor desa.
"Banyak warga lansia yang takut divaksin karena isu-isu miring. Juga yang
punya keterbatasan mobilitas, mereka butuh dijemput."
Rangga langsung mengkoordinasi tim. "Kita bagi tugas.
Tim medis? Mungkin kita nggak bisa bantu teknis medis, tapi kita bisa bantu
administrasi, pendaftaran, dan antar-jemput warga."
Dini mengusulkan, "Aku bisa bantu bikin poster dan
pamflet informasi yang mudah dipahami, plus infografis tentang manfaat vaksin,
biar warga nggak takut."
Budi menimpali, "Aku dan teman-teman bisa jadi relawan
di lapangan. Bantu ibu-ibu hamil dan lansia untuk antre."
Hari pelaksanaan vaksinasi tiba. Lapangan desa yang
biasanya sepi berubah menjadi ramai. Tenda-tenda didirikan, kursi-kursi disusun
rapi. Para pemuda Karang Taruna terlihat sibuk: ada yang memandu warga mengisi
formulir, ada yang membagikan nomor antrean, ada yang menggendong lansia dari
kendaraan menuju kursi tunggu.
Seorang nenek bernama Mbah Karti menggenggam tangan Jarwo
erat. "Lek, aku takut. Jarumnya sakit ya?"
Jarwo tersenyum sabar. "Nggak kok, Mbah. Cuma seperti
digigit semut. Setelah ini, Mbah jadi lebih sehat dan nggak mudah sakit. Nanti
saya temani sampai selesai."
Setelah disuntik, Mbah Karti tersenyum lega. "Eh,
beneran cuma seperti digigit semut. Makasih ya, Lek. Kamu baik sekali."
Di akhir acara, Kepala Puskesmas, dr. Dewi, menyampaikan
apresiasinya pada Pak Sartono. "Pak Kades, saya sangat terkesan dengan
semangat pemuda di sini. Tanpa mereka, target vaksinasi pasti sulit tercapai.
Desa Ringin Arum jadi contoh untuk desa-desa lain."
Pak Sartono tersenyum bangga. "Itu berkat Karang
Taruna kami, Bu Dokter. Mereka memang luar biasa."
Dari keberhasilan program vaksinasi, kepercayaan pemerintah
desa pada Karang Taruna semakin besar. Saat musim tanam tiba, Pak Sartono
memanggil Rangga dan beberapa pengurus untuk membahas program ketahanan pangan
desa.
"Pemerintah pusat menggalakkan program ketahanan
pangan. Desa kita punya lahan tidur cukup luas di belakang balai desa, sekitar
satu hektar. Saya ingin Karang Taruna mengelola lahan itu. Bisa?" tanya
Pak Sartono.
Rangga mengerutkan kening, berpikir. "Tantangan besar,
Pak. Tapi kalau ada dukungan dan pendampingan, insyaallah kami bisa."
Kenthus, yang punya pengalaman di Kalimantan, menimpali,
"Pak, saya punya sedikit ilmu tentang pertanian organik. Di Kalimantan
dulu saya belajar dari petani lokal. Mungkin itu bisa kita terapkan."
"Bagus! Kalau bisa organik, nilai jualnya lebih
tinggi," sahut Pak Sartono antusias. "Saya akan carikan penyuluh
pertanian dari kecamatan untuk mendampingi kalian."
Proyek pertanian dimulai. Lahan tidur itu dibersihkan oleh
puluhan pemuda dalam kerja bakti besar-besaran. Jarwo yang sehari-hari sebagai
buruh tani menjadi koordinator lapangan. Dengan sabar ia mengajari
teman-temannya cara mencangkul yang benar, membuat bedengan, dan mengatur irigasi.
"Nggak boleh asal tanam. Kita harus perhatikan musim,
jenis tanaman, dan kondisi tanah. Kalau asal, hasilnya nggak maksimal,"
jelas Jarwo pada para pemuda yang masih awam.
Mereka menanam berbagai komoditas: cabai, tomat, terong,
kangkung, dan jagung. Kenthus mempraktikkan pembuatan pupuk organik dari
kotoran kambing dan limbah rumah tangga. Pupuk kimia mereka hindari sebisa
mungkin.
Hari demi hari, mereka belajar. Gagal panen karena hama
sempat terjadi, namun mereka tidak menyerah. Mereka belajar dari kesalahan,
berkonsultasi dengan penyuluh, dan mencoba lagi. Perlahan, tanaman mulai tumbuh
subur.
Melihat semangat para pemuda yang begitu tinggi, beberapa
pihak tergerak untuk membantu. Pak Rahmat berhasil menjalin kerja sama dengan
Balai Latihan Kerja (BLK) di kabupaten untuk mengadakan pelatihan keterampilan
di desa.
"Kalian mau pelatihan apa? BLK siap mengirim
instruktur ke sini kalau pesertanya memadai," tanya Pak Rahmat pada rapat
pengurus.
Dini langsung angkat bicara. "Desain grafis, Pak!
Banyak anak muda yang minat, apalagi buat modal jadi konten kreator atau
desainer logo."
Jarwo mengusulkan, "Las dan otomotif, Pak. Biar yang
nggak lanjut sekolah punya keterampilan buat buka bengkel."
Budi menambahkan, "Tata boga, Pak. Banyak ibu-ibu muda
yang pengen belajar masak buat jualan."
Setelah berdiskusi, mereka memutuskan untuk mengadakan tiga
pelatihan sekaligus secara paralel: desain grafis, las dan otomotif, serta tata
boga. Antusiasme warga luar biasa. Kuota 30 orang per pelatihan langsung
terpenuhi dalam dua hari.
Pelatihan berlangsung selama dua minggu penuh. Balai desa
dan pos ronda berubah jadi ruang kelas. Suara mesin las terdengar dari halaman
belakang, aroma masakan memenuhi dapur umum, dan deretan laptop terlihat di
ruang utama.
Seorang peserta pelatihan las, Slamet (22 tahun), yang
selama ini menganggur, berkata pada Jarwo, "Jar, aku baru sadar kalau
punya bakat di las. Selama ini aku cuma bantu-bantu bapak di sawah. Setelah
ini, aku mau coba buka bengkel las kecil-kecilan di depan rumah."
Jarwo menepuk pundaknya. "Gas, Slam! Aku dukung penuh.
Nanti kalau bengkelmu jadi, aku titip pesan buat benerin cangkul."
Di akhir pelatihan, mereka mengadakan pameran hasil karya.
Produk las berupa rak sepeda dan teralis sederhana dipamerkan. Kue-kue dan
snack hasil pelatihan tata boga dicicipi warga. Desain-desain grafis karya
peserta dipajang di papan. Semua bangga dengan hasil yang dicapai.
Seiring perkembangan kegiatan, Karang Taruna menyadari perlunya
memanfaatkan teknologi informasi. Dini yang paling getol mengusulkan
digitalisasi desa.
"Kita harus punya website desa yang informatif, media
sosial yang aktif, dan sistem informasi administrasi yang memudahkan
warga," ujarnya dalam rapat. "Aku sudah bikin draf konsepnya."
Pak Sartono yang hadir dalam rapat tersebut sangat
tertarik. "Digitalisasi desa? Itu program bagus. Tapi kita nggak punya
anggaran untuk beli perangkat."
Dini tersenyum. "Nggak perlu mahal-mahal, Pak. Kita
bisa manfaatkan laptop dan HP yang sudah ada. Untuk website, kita pakai
platform gratis dulu. Yang penting kontennya yang bagus."
Mereka memulai dengan hal sederhana: membuat akun Instagram
dan Facebook resmi Desa Ringin Arum. Dini dan tim humasnya rajin mengunggah
foto-foto kegiatan, informasi jadwal posyandu, pengumuman dari pemerintah desa,
serta potensi wisata dan produk UMKM desa.
Tidak butuh waktu lama, akun media sosial desa mulai ramai
pengikut. Bukan hanya warga, tapi juga orang luar desa, bahkan perantau yang
kangen kampung halaman.
Seorang perantau di Jakarta mengirim pesan ke akun
Instagram desa: "Makasih infonya. Saya jadi tahu kondisi desa terbaru.
Kangen Ringin Arum, semoga makin maju."
Mereka juga membuat grup WhatsApp untuk setiap dusun,
memudahkan koordinasi dan penyebaran informasi. Pak Rahmat sangat terbantu.
Jika dulu ia harus keliling memasang pengumuman di papan, kini cukup mengetik
di grup, semua warga langsung tahu.
"Efisien banget," ujar Pak Rahmat. "Pemuda
emang jagonya teknologi."
Digitalisasi desa membawa dampak lain. Produk kerajinan
ibu-ibu PKK dan hasil pertanian pemuda mulai dipasarkan secara online. Pesanan
mulai berdatangan dari luar desa. Ekonomi warga perlahan bergerak.
Memasuki bulan Agustus, semangat kemerdekaan membuncah.
Karang Taruna mengusulkan ide besar: mengadakan Festival Pemuda Desa dalam
rangka HUT RI. Bukan sekadar lomba-lomba biasa, tapi festival yang merayakan
kebangkitan pemuda dan potensi desa.
Rapat persiapan berlangsung alot. "Kita ingin festival
ini beda," tegas Rangga. "Ada pameran UMKM, pentas seni, lomba
tradisional, dan tentu saja turnamen olahraga."
Jarwo menambahkan, "Aku usul ada lomba merakit sepeda
onthel. Biar rame dan nostalgia."
Budi punya ide lain. "Kita adakan lomba azan dan
hafalan surat pendek untuk anak-anak. Biar nuansa religi tetap ada."
Dini sibuk mendesain poster dan spanduk. "Aku sudah
siapkan konsep visualnya. Kita pakai tema 'Pemuda Bangkit, Desa Maju'."
Mereka membagi panitia menjadi beberapa seksi. Koordinasi
dengan pemerintah desa, sponsor, keamanan, konsumsi, hingga dokumentasi. Semua
bekerja keras.
Hari festival tiba. Lapangan desa berubah warna-warni.
Puluhan tenda UMKM berjejer menawarkan berbagai produk: kerajinan tangan,
makanan ringan, sayuran organik, hingga jasa desain grafis. Panggung utama
berdiri megah di tengah, lengkap dengan sound system pinjaman dari kecamatan.
Acara dibuka dengan kirab budaya. Puluhan pemuda berpakaian
adat dan pakaian daerah berjalan keliling desa, diiringi musik rebana dan
drumband anak-anak SD. Warga berjejer di sepanjang jalan, menyaksikan dengan
bangga.
Sambutan Pak Sartono penuh haru. "Ini pertama kalinya
desa kita punya festival sebesar ini. Semua ini berkat pemuda kita. Mereka
membuktikan bahwa desa tidak akan mati selama pemudanya mau bergerak."
Lomba-lomba berlangsung meriah. Sorak-sorai penonton
menggema. Anak-anak berebut hadiah di lomba balap karung dan panjat pinang.
Remaja unjuk kebolehan di lomba band dan desain grafis. Bapak-bapak antusias
mengikuti lomba merakit sepeda onthel.
Puncak acara adalah pentas seni malam hari. Grup rebana
ibu-ibu PKK tampil memukau, disusul penampilan drama kolosal tentang sejarah
desa yang diperankan para pemuda. Penonton terpukau. Tak ada yang menyangka
desa sekecil Ringin Arum bisa menghasilkan pertunjukan sebagus itu.
Mbah Joyo yang duduk di baris depan tak kuasa menahan air
mata. "Desaku... hidup lagi. Hidup lagi," bisiknya lirih.
Kesuksesan festival membuka mata banyak pihak, termasuk
pemerintah kecamatan. Camat Suka Makmur, Bapak Heru, datang berkunjung ke Desa Ringin
Arum untuk melihat langsung aktivitas pemuda.
"Saya dengar desa ini luar biasa. Pemudanya aktif
sekali," ujar Pak Camat saat bertemu pengurus Karang Taruna di kantor
desa.
Rangga menjelaskan berbagai program yang telah dan akan
dijalankan. Termasuk masalah klasik yang masih mereka hadapi: pengangguran
pemuda.
"Pak Camat, masalah terbesar kami adalah lapangan
kerja. Banyak pemuda lulusan SMK atau putus sekolah yang masih menganggur.
Mereka butuh pekerjaan atau setidaknya pelatihan yang menghasilkan uang."
Pak Camat mengangguk paham. "Itu masalah umum di
desa-desa. Tapi dari yang saya lihat, kalian punya potensi besar. Lahan
pertanian, kerajinan, dan keterampilan dari pelatihan BLK. Kalian harus mengorganisasi
ini jadi usaha produktif."
Dari diskusi itu, muncul ide untuk membentuk unit usaha
bersama. Mereka mendirikan "Tunas Muda Mart", sebuah toko kelontong
yang dikelola pemuda, menjual kebutuhan pokok sekaligus produk-produk UMKM
desa. Keuntungannya masuk ke kas organisasi dan dibagi untuk pengelola.
Mereka juga membentuk "Tunas Muda Farm" untuk
mengelola lahan pertanian secara lebih profesional. Tidak lagi sekadar menanam,
tapi juga mengolah hasil panen menjadi produk setengah jadi: cabai kering, abon,
keripik, dan lain-lain. Pemasaran dilakukan secara online dan offline.
Jarwo yang kini dipercaya mengelola Tunas Muda Farm
bercerita, "Kita pelan-pelan. Sekarang sudah ada 10 pemuda yang kerja
penuh di sini. Gajinya memang belum besar, tapi cukup buat kebutuhan
sehari-hari. Yang penting mereka punya kegiatan dan tidak menganggur."
Slamet, alumni pelatihan las, kini membuka bengkel las
kecil-kecilan di depan rumah. Ia mendapat order membuat teralis dan pagar dari
warga, bahkan dari desa tetangga. "Alhamdulillah, sekarang bisa bantu
orang tua. Nggak cuma nganggur di rumah."
Dengan berkembangnya unit usaha, Karang Taruna semakin
dekat dengan para pelaku UMKM desa. Mereka tidak hanya menjadi pengelola, tapi
juga mitra dan fasilitator.
Bu Jum, pengrajin anyaman yang dulu hanya menjual produknya
di pasar mingguan dengan harga murah, kini dibantu Dini untuk mengembangkan
desain dan pemasaran. Produk anyamannya di foto dengan latar menarik,
dipasarkan melalui media sosial, bahkan mendapat pesanan dari luar kota.
"Mba Dini, ini ada pesanan 50 tas anyaman dari
Jakarta. Bisa nggak kita penuhi?" tanya Bu Jum setengah tak percaya.
Dini tersenyum. "Bisa, Bu. Kita kerjakan
bareng-bareng. Saya akan koordinasikan dengan ibu-ibu PKK yang ikut pelatihan.
Kalau perlu kita tambah tenaga."
Mereka juga membantu kelompok peternak kambing untuk
mengelola susu kambing etawa. Dengan bantuan Kenthus yang paham pengolahan
pangan, mereka mulai memproduksi susu pasteurisasi dan yoghurt kemasan. Produknya
diberi merek "Tunas Muda Dairy".
Pak Sartono sangat mendukung inisiatif ini. "Ini yang
saya maksud dengan pemberdayaan. Bukan sekadar memberi ikan, tapi memberi kail
dan mengajari cara memancing. Karang Taruna menjadi kailnya, warga yang
memancing."
Tidak hanya fokus pada ekonomi, Karang Taruna juga terus
aktif dalam kegiatan sosial. Ketika salah satu warga, Pak Karto, jatuh sakit
dan harus dirawat di rumah sakit kabupaten, para pemuda bergerak cepat. Mereka
menggalang dana dari warga dan mengunjungi Pak Karto bergantian.
Jarwo memimpin penggalangan dana. "Teman-teman, Pak
Karto butuh biaya operasi. Kita kumpulkan sumbangan. Berapa pun, yang penting
ikhlas."
Dalam waktu dua hari, terkumpul dana yang cukup. Rangga dan
beberapa pengurus langsung membawanya ke rumah sakit. Pak Karto yang terbaring
lemah menangis haru saat menerima bantuan.
"Terima kasih, Nak. Kalian... seperti keluarga
sendiri," ucapnya terbata-bata.
Rangga menggenggam tangannya. "Kita semua keluarga, Pak.
Di desa ini, kita harus saling menjaga."
Kegiatan sosial lain yang rutin dilakukan adalah
"Jumat Berkah". Setiap Jumat pagi, para pemuda membagikan nasi kotak
kepada warga kurang mampu, tukang becak, dan pemulung. Dana untuk kegiatan ini
berasal dari iuran sukarela anggota dan donatur.
Awalnya hanya 20 kotak, lama-lama bertambah menjadi 50
kotak setiap Jumat. Warga yang mampu mulai ikut menyumbang. Budi yang
mengkoordinir kegiatan ini bersyukur, "Ini bukti bahwa kebaikan itu
menular. Dulu kita mulai kecil, sekarang banyak yang ikut."
Setahun setelah kebangkitan Karang Taruna, perubahan di
Desa Ringin Arum mulai terlihat nyata. Jalan-jalan desa yang dulu bolong, kini
sudah diperbaiki dengan dana desa yang dimanfaatkan maksimal. Saluran air
lancar, lingkungan bersih. Rumah-rumah warga mulai dicat warna-warni, hasil
kerja sama Karang Taruna dengan warga dalam lomba kebersihan dan keindahan
lingkungan.
Lapangan desa yang dulu sunyi, kini setiap sore ramai
dengan anak-anak bermain bola dan remaja berolahraga. Warung Mbah Joyo yang
dulu hanya dikunjungi segelintir orang, kini ramai oleh pemuda yang nongkrong
sambil ngopi, diskusi, atau sekadar bercanda.
Mbah Joyo sendiri tak henti-hentinya bersyukur. "Dulu
warungku sepi kayak kuburan. Sekarang rame terus. Yang beli kopi, yang beli
gorengan. Hidup lagi, Lek. Hidup lagi desa kita."
Ekonomi warga mulai bergerak. Produk-produk UMKM desa
dikenal sampai luar kecamatan. Beberapa pemuda yang dulu merantau, mulai
kembali pulang karena melihat ada peluang di desa.
Salah satunya adalah Anton, teman SMP Rangga yang selama
lima tahun merantau di Batam. Ia datang ke rumah Rangga suatu sore.
"Ras, gue balik. Denger-denger kampung lagi rame.
Pemuda pada bikin banyak kegiatan. Bener nggak sih?" tanya Anton.
Rangga tersenyum lebar, memeluk teman lamanya itu.
"Bener, Ton. Dan masih banyak yang harus kita kerjakan. Kamu balik pas
banget. Tenagamu kita butuhin."
Anton tersenyum lega. "Gue kangen kampung. Kangen
suasana kebersamaan kayak dulu. Di rantau, duit banyak tapi hati kosong. Di
sini, duit mungkin belum banyak, tapi hati rame."
Sore itu mereka duduk di teras rumah, ngobrol panjang
tentang rencana-rencana selanjutnya. Tentang desa yang masih punya banyak
potensi untuk digali. Tentang mimpi-mimpi yang belum terwujud.
Pak Sartono, saat berjalan-jalan sore keliling desa,
tersenyum melihat pemandangan itu. Ia bertemu Mbah Joyo yang sedang duduk di
beranda warungnya.
"Bah, lihat itu. Desa kita sekarang," ujar Pak
Sartono sambil menunjuk ke arah lapangan yang ramai, ke arah warung Mbah Joyo
yang dipenuhi pemuda, ke arah balai desa yang terang benderang karena ada rapat
Karang Taruna.
Mbah Joyo mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Iya, To.
Ini berkat mereka. Berkat pemuda. Dulu kita hampir menyerah, sekarang... Alhamdulillah."
Pak Sartono duduk di samping Mbah Joyo. "Ini baru
awal, Bah. Masih panjang perjalanan kita. Tapi setidaknya, kita sudah melangkah
ke arah yang benar."
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit
Desa Ringin Arum dengan jingga keemasan. Di kejauhan, suara azan Maghrib
berkumandang dari masjid, bersahutan dengan suara tawa anak-anak yang masih
asyik bermain di lapangan. Desa yang hampir terlupakan itu, kini mulai
menemukan kembali nadinya. Berdetak perlahan, namun pasti. Berkat langkah kecil
para pemuda yang berani bermimpi dan mewujudkannya.
BAGIAN IV
TANTANGAN DAN UJIAN PERJUANGAN
Namun, tidak semua warga memandang perubahan dengan mata
yang sama. Di tengah gemuruh kesuksesan, mulai muncul suara-suara sumbang.
Kritik pedas dilontarkan, terutama dari mereka yang merasa terusik dengan
aktivitas para pemuda.
Pagi itu, di warung Mbah Joyo, seorang bapak paruh baya
bernama Pak Darman berbicara keras. "Pemuda sekarang itu apa nggak kerja?
Kerjaannya rapat melulu, nongkrong di pos ronda, foto-foto buat medsos. Itu
namanya kerja?"
Mbah Joyo mencoba melerai. "Lha mereka itu kerjanya
untuk desa, Dik. Nggak cuma nongkrong, mereka diskusi, merencanakan
kegiatan."
Pak Darman mendengus. "Kegiatan? Yang jelas mereka
bikin bising dengan musik-musik itu. Saya jadi susah tidur siang. Dulu desa
tenang, sekarang rame terus."
Kritik serupa juga muncul dari kelompok yang merasa
tersaingi. Pak Jumadi, anggota BPD yang dulu kritis, kini berubah menjadi salah
satu pengkritik paling vokal. Dalam pertemuan BPD, ia menyuarakan keberatannya.
"Saya dukung pemuda, tapi jangan sampai mereka terlalu
dominan. Semua program desa dipegang mereka. Mana proposalnya? Mana
pertanggungjawabannya? Saya curiga ada main-main di belakang."
Tudingan itu sampai ke telinga Rangga. Ia merasa tersudut.
Malam harinya, dalam rapat pengurus, ia menyampaikan kegalauannya.
"Teman-teman, kita dapat kritik keras. Ada yang
menuduh kita tidak transparan, ada yang bilang kita terlalu berisik, ada juga
yang bilang kita sok sibuk padahal cuma nongkrong."
Kenthus menghela napas panjang. "Ini risiko, Ras.
Semakin besar dampak kita, semakin besar pula resistensi. Ada yang iri, ada
yang merasa terganggu, ada yang cuma cari sensasi."
Jarwo yang biasanya cepat emosi, kali ini mencoba tenang.
"Kita harus hadapi. Jangan diam, tapi juga jangan reaktif. Kita buktikan
dengan kinerja dan transparansi."
Dini mengusulkan, "Ajak mereka dialog. Yang protes di
warung, kita datangi. Yang kritik di BPD, kita undang rapat. Biar mereka tahu
kita bekerja dengan sungguh-sungguh, bukan main-main."
Kritik berubah menjadi konflik ketika Pak Jumadi mulai
aktif menghambat program-program Karang Taruna. Di Musrenbangdes berikutnya, ia
berhasil menggolkan keputusan untuk memotong anggaran beberapa program yang
diusulkan pemuda dengan alasan efisiensi.
"Program pelatihan keterampilan lagi? Kemarin kan
sudah. Sekarang fokus ke infrastruktur, itu lebih penting," ujarnya dalam
rapat.
Rangga mencoba berargumen, "Pak Jumadi, pelatihan itu
investasi jangka panjang. Pemuda yang terampil akan mengurangi pengangguran,
dan itu dampaknya besar."
Pak Jumadi menggeleng. "Investasi? Saya lihat hasilnya
belum jelas. Kas desa terbatas, harus prioritas."
Pak Sartono yang memimpin rapat mencoba netral. "Baik,
kita tampung semua pendapat. Untuk sementara, anggaran pelatihan kita tunda
dulu. Nanti kita evaluasi lagi."
Keputusan itu memukul para pemuda. Mereka pulang dengan
perasaan kecewa. Jarwo hampir marah, tapi Rangga menahannya.
"Jangan reaktif, Wo. Ini ujian. Kita cari jalan
lain."
Mereka kemudian mencari sumber dana alternatif. Mengajukan
proposal ke perusahaan-perusahaan di kecamatan, ke dinas sosial kabupaten, dan
menggalang dana dari warga melalui program "Sobat Tunas Muda",
semacam crowdfunding untuk kegiatan sosial.
Perlahan, dana mulai terkumpul. Tidak banyak, tapi cukup
untuk menjalankan program sederhana. Mereka juga mulai menjalin komunikasi
dengan anggota BPD lain yang lebih bersimpati. Mbah Joyo menjadi jembatan
penting.
"Jangan lawan Pak Jumadi secara frontal," pesan
Mbah Joyo. "Dia itu tokoh berpengaruh. Ajak dia terlibat. Kasih dia peran,
biar merasa dihargai. Siapa tahu hatinya luluh."
Tekanan datang silih berganti. Selain konflik eksternal,
masalah internal mulai bermunculan. Beberapa anggota mengeluh karena merasa
terlalu sibuk, sementara yang lain iri karena merasa perannya kurang terlihat.
Yang paling berat adalah ketika Kenthus, tangan kanan
Rangga, mendapat tawaran pekerjaan di kota. Sebuah perusahaan di Surabaya
menawarinya posisi dengan gaji yang cukup menggiurkan.
Kenthus datang ke rumah Rangga malam-malam. Wajahnya
terlihat gelisah. "Ras, gue dapat tawaran kerja di Surabaya. Gaji lumayan.
Gue bingung."
Rangga terdiam lama. Ia tahu Kenthus adalah pilar penting
organisasi. Tanpanya, banyak program akan terganggu. Tapi ia juga tahu,
sahabatnya itu punya masa depan yang harus dipikirkan.
"Thus, gue nggak bisa larang kamu. Itu kesempatan
bagus. Tapi gue jujur, berat banget kalau kamu pergi," ujar Rangga lirih.
Kenthus menunduk. "Gue juga berat, Ras. Kampung ini...
Karang Taruna ini... kayak anak sendiri. Tapi gue juga harus mikir masa depan.
Orang tua makin tua."
Mereka berdiskusi panjang malam itu. Akhirnya Kenthus
memutuskan untuk tetap menerima tawaran kerja, namun dengan komitmen akan tetap
membantu dari jauh, terutama dalam hal administrasi dan pendampingan online.
Kepergian Kenthus meninggalkan kekosongan. Rangga harus
merangkap jabatan sebagai ketua dan sekretaris. Beban kerjanya bertambah. Ia
mulai kelelahan, baik fisik maupun mental.
Suatu malam, ia jatuh sakit. Demam tinggi. Ibunya, Wati,
cemas setengah mati. "Ras, kamu kerja terlalu keras. Istirahat, Nak.
Organisasi itu penting, tapi kesehatanmu lebih penting."
Saat terbaring lemah, Rangga merenung. Apakah ia terlalu
memaksakan diri? Apakah ia layak memimpin? Keraguan mulai menyergap.
Saat Rangga sakit, kabar buruk datang bertubi-tubi. Tanpa
kehadirannya, koordinasi organisasi kacau. Jarwo dan Dini berbeda pendapat soal
pengelolaan dana program. Budi merasa diabaikan karena usulannya tidak direspon
cepat.
Yang paling parah, isu miring mulai beredar. Ada yang
bilang Rangga korupsi dana organisasi untuk biaya berobat. Padahal biaya berobatnya
ditanggung keluarganya sendiri. Fitnah itu menyebar cepat, terutama dari
pihak-pihak yang memang tidak suka dengan Karang Taruna.
Saat Rangga kembali beraktivitas, ia mendapati
organisasinya porak-poranda. Anggota yang datang rapat tinggal setengahnya.
Semangat mereka kendur. Dini bahkan sempat tidak datang selama dua minggu
karena sakit hati dituduh boros oleh Jarwo.
Rangga memanggil semua pengurus untuk rapat darurat di pos
ronda. Suasana tegang dan canggung. Semua diam.
"Teman-teman," buka Rangga dengan suara serak,
masih sisa sakit. "Maafkan saya. Mungkin selama ini saya terlalu fokus
pada program, kurang memperhatikan perasaan kalian. Saya minta maaf."
Jarwo membuang muka. Dini menunduk. Budi menghela napas.
"Saya tahu, akhir-akhir ini banyak masalah. Fitnah,
konflik internal, kepergian Kenthus. Tapi saya percaya, kita tidak bisa
menyerah. Ingat awal kita dulu. Ingat desa kita yang dulu mati, sekarang mulai
hidup. Kalau kita bubar, semua itu akan sia-sia. Desa kita akan kembali
sepi."
Mata Rangga berkaca-kaca. "Saya mungkin bukan pemimpin
yang baik. Tapi saya punya mimpi yang sama dengan kalian: melihat desa ini
maju. Tolong, jangan tinggalkan saya. Jangan tinggalkan Karang Taruna. Kita
selesaikan masalah ini bersama-sama."
Suasana hening. Beberapa anggota terlihat terharu. Dini
akhirnya angkat bicara.
"Ras, aku juga minta maaf. Mungkin aku terlalu
sensitif. Tapi aku kesal karena merasa tidak dihargai. Kalau mau, kita atur
lagi sistemnya. Biar semua merasa punya peran dan tanggung jawab."
Jarwo mengangguk. "Aku juga. Mungkin aku terlalu
keras. Tapi aku cemas kalau keuangan berantakan. Lain kali, aku akan lebih baik
dalam menyampaikan."
Perlahan, ketegangan mencair. Mereka saling terbuka tentang
perasaan dan harapan masing-masing. Rapat darurat itu menjadi titik balik.
Mereka sepakat untuk membenahi manajemen organisasi, memperkuat komunikasi, dan
saling mendukung. Krisis kepercayaan mulai teratasi.
Ujian berikutnya datang dalam bentuk yang tak terduga. Musim
hujan tahun itu sangat ekstrem. Hujan deras mengguyur selama tiga hari tiga
malam tanpa henti. Tanggul sungai di hulu desa jebol. Banjir bandang menerjang
Desa Ringin Arum.
Rangga mendapat telepan dari Pak Sartono tengah malam.
"Ras! Cepat kumpulkan pemuda! Tanggul jebol, air masuk pemukiman!"
Tanpa pikir panjang, Rangga mengirim pesan berantai ke
semua anggota grup. "Bencana! Banjir! Kumpul di balai desa, bawa peralatan
seadanya!"
Dalam waktu setengah jam, puluhan pemuda berkumpul. Mereka
datang dengan membawa senter, tali, dan peralatan lain. Jarwo memimpin tim
evakuasi. Dini mengkoordinir tim dapur umum. Budi dan beberapa pemuda lainnya
membantu warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, yaitu balai desa dan
masjid.
Malam itu mencekam. Suara gemuruh air, teriakan warga,
tangis anak-anak. Para pemuda bekerja tanpa kenal lelah. Mereka menggendong
lansia, memangku balita, menyelamatkan barang-barang berharga. Tubuh mereka
basah kuyup, dingin, tapi semangat tak padam.
Saat evakuasi hampir selesai, terdengar teriakan minta
tolong dari rumah yang hampir tenggelam. "Tolong! Masih ada orang!"
Jarwo tanpa pikir panjang berenang menuju rumah itu.
Ternyata Mbah Karti, nenek yang dulu ia temani vaksin, terjebak di dalam. Air
sudah setinggi dada.
"Mbah! Pegang tangan saya!" teriak Jarwo.
Mbah Karti ketakutan, gemetar. "Lek Jarwo... aku
takut..."
"Tenang, Mbah. Saya gendong. Kita ke luar." Jarwo
menggendong Mbah Karti dengan susah payah, berjuang melawan arus. Beberapa
pemuda lain datang membantu. Akhirnya mereka selamat.
Saat fajar menyingsing, air mulai surut. Namun desa
porak-poranda. Rumah-rumah rusak, lumpur di mana-mana, ternak hanyut. Warga
berkumpul di pengungsian dengan wajah lesu.
Rangga berkumpul dengan tim. "Teman-teman, ini belum
selesai. Sekarang tugas kita: membersihkan lumpur, mendirikan dapur umum, dan
mencari bantuan."
Mereka bekerja siang malam. Karang Taruna menjadi garda
terdepan penanganan bencana. Dapur umum mereka kelola dengan bantuan ibu-ibu
PKK. Tim kesehatan dari puskesmas dibantu pemuda untuk pelayanan kesehatan. Tim
logistik mendistribusikan bantuan yang mulai berdatangan.
Pak Camat Heru datang meninjau lokasi bencana. Ia takjub
melihat koordinasi yang rapi. "Pak Sartono, ini luar biasa. Pemuda di sini
sangat terorganisir. Bantuan cepat sampai, evakuasi berjalan lancar."
Pak Sartono menghela napas lega. "Ini berkat Karang
Taruna, Pak Camat. Mereka yang bergerak pertama kali. Mereka pahlawan desa
kami."
Bencana itu, meskipun menyisakan duka dan kerusakan, justru
menjadi pelecut solidaritas. Warga yang sebelumnya apatis atau bahkan kritis,
kini melihat langsung peran nyata Karang Taruna. Pak Darman, yang dulu vokal
mengkritik, kini ikut bergabung dalam tim pembersihan lumpur.
"Lek Jarwo, saya minta maaf. Dulu saya salah. Sekarang
saya lihat sendiri kalian kerja keras untuk warga," ujarnya dengan nada
bersalah.
Jarwo tersenyum. "Nggak apa-apa, Pak. Yang penting
sekarang kita bareng-bareng bersihin desa. Butuh tenaga bapak."
Pak Jumadi, yang dulu menghambat program, datang ke posko
pengungsian membawa bantuan sembako dari keluarganya. Ia bertemu Rangga.
"Nak Rangga, saya... minta maaf. Mungkin selama ini
saya terlalu keras dan curiga. Tapi setelah lihat kerja kalian di bencana ini,
saya sadar. Kalian benar-benar tulus."
Rangga memeluknya. "Terima kasih, Pak Jumadi. Kami
juga minta maaf kalau ada salah. Mari kita bangun desa ini bersama-sama."
Krisis telah berlalu. Karang Taruna bangkit kembali, bahkan
lebih solid. Anggota baru berdatangan, termasuk beberapa pemuda yang sebelumnya
apatis. Pak Darman bahkan mendaftarkan anaknya yang baru lulus SMA untuk
bergabung.
Mbah Joyo, di tengah keterbatasan usianya, ikut membantu di
dapur umum. Ia tersenyum melihat keguyuban itu.
"Inilah desa yang saya rindukan. Bukan saat senang
saja bersama, tapi saat susah pun tetap bergandengan tangan. Pemuda kita...
mereka hebat."
Bencana yang melanda Ringin Arum menjadi perhatian luas.
Media lokal meliput kegigihan warga dan pemuda dalam menghadapi musibah. Pak
Camat Heru mengusulkan Desa Ringin Arum sebagai contoh penanganan bencana
berbasis komunitas di tingkat kabupaten.
Sepekan setelah banjir surut, sebuah tim dari kabupaten
datang. Mereka bukan hanya menilai kerusakan, tapi juga melihat sistem
organisasi pemuda yang terbangun.
"Saya dengar Karang Taruna di sini sangat aktif. Bisa
cerita?" tanya ibu dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.
Rangga, ditemani Jarwo dan Dini, menjelaskan panjang lebar
perjalanan Karang Taruna 'Tunas Muda', dari awal kebangkitan hingga penanganan
bencana. Ibu itu terkesima.
"Ini model yang bagus. Pemuda sebagai garda terdepan
pembangunan dan penanggulangan bencana. Saya akan usulkan desa ini jadi desa
percontohan untuk program penguatan kapasitas pemuda."
Beberapa minggu kemudian, kabar gembira datang. Desa Ringin
Arum terpilih menjadi salah satu desa percontohan untuk program "Desa
Tangguh Bencana" yang digagas pemerintah kabupaten. Mereka mendapat
bantuan dana untuk pelatihan, peralatan kebencanaan, dan pembangunan pos induk.
Pak Sartono sumringah. "Ini berkat kalian. Tanpa
Karang Taruna, kita nggak akan dapat ini."
Rangga tersenyum. "Ini berkat semua warga, Pak. Kami
hanya bagian kecil darinya."
Status sebagai desa percontohan membawa angin segar.
Desa-desa lain mulai berdatangan untuk studi tiru. Mereka ingin belajar
bagaimana membangkitkan pemuda, bagaimana mengelola organisasi, dan bagaimana
membangun kolaborasi dengan pemerintah desa.
Suatu hari, rombongan dari Desa Sumber Rejo datang. Mereka
dipimpin oleh kepala desanya yang masih muda, Pak Eko. Pak Eko sudah mendengar
sepak terjang Karang Taruna Ringin Arum.
"Saya penasaran. Di desa saya, pemuda susah sekali
digerakkan. Malah banyak yang apatis. Apa rahasianya?" tanya Pak Eko pada
Rangga.
Rangga tersenyum. "Nggak ada rahasia khusus, Pak. Cuma
satu: jangan menunggu. Mulai saja dari hal kecil, dari diri sendiri. Ajak
ngobrol, dengarkan keluhan mereka, libatkan dalam perencanaan. Jangan
menggurui, tapi jadi teman."
Dini menambahkan, "Dan beri ruang untuk berekspresi.
Pemuda itu butuh dihargai. Ketika ide-ide mereka didengar dan diwujudkan,
mereka akan merasa memiliki."
Pak Eko mengangguk-angguk. "Saya catat ini. Terima
kasih banyak. Saya akan coba terapkan di desa saya."
Setelah kunjungan itu, Pak Eko beberapa kali berkonsultasi
dengan Rangga via telepon. Enam bulan kemudian, ia mengirim kabar bahwa Karang
Taruna di desanya mulai bangkit. Mereka sudah mengadakan gotong royong dan
pentas seni.
"Terima kasih, Ringin Arum. Kalian inspirasi
kami," tulis Pak Eko di grup WhatsApp antar-desa.
Keberhasilan demi keberhasilan membuat Karang Taruna
semakin percaya diri. Namun Rangga dan kawan-kawan sadar, ini bukan akhir.
Mereka harus terus berpikir ke depan. Apa masa depan desa? Apa peran pemuda di
dalamnya?
Mereka mengadakan diskusi besar bertajuk "Pemuda dan
Masa Depan Desa". Mengundang semua pemuda, tokoh masyarakat, perangkat
desa, bahkan pelajar SMA. Diskusi berlangsung di balai desa, malam Minggu, dihadiri
lebih dari seratus orang.
Pak Sartono membuka acara. "Malam ini kita tidak hanya
bicara program tahunan. Tapi kita bicara visi jangka panjang. Mau jadi apa desa
kita 10, 20 tahun lagi? Dan apa peran pemuda?"
Diskusi berlangsung hangat. Berbagai ide bermunculan.
Budi mengusulkan, "Kita kembangkan desa wisata. Punya
kita pemandangan sawah yang indah, sungai yang bersih, dan kerajinan tangan.
Bisa jadi daya tarik."
Dini menimpali, "Tapi infrastruktur harus siap.
Homestay, akses jalan, dan tentu saja promosi digital. Aku bisa bantu dari sisi
media."
Jarwo punya ide lain. "Pertanian organik kita
tingkatkan. Bukan cuma jual sayur mentah, tapi jadi produk olahan. Restoran
desa dengan menu sehat, misalnya."
Seorang pelajar SMA bernama Rina angkat bicara malu-malu.
"Kak, aku punya usul. Mungkin kita bisa bikin perpustakaan digital dan
ruang belajar bersama. Biar anak-anak muda nggak ketinggalan informasi. Aku dan
teman-teman pengen belajar coding, tapi nggak ada tempat."
Usul Rina disambut tepuk tangan. Rangga tersenyum bangga.
"Nah, ini yang kita butuhkan. Ide-ide segar dari adik-adik kita.
Perpustakaan digital dan ruang belajar. Kita catat itu."
Diskusi berlangsung hingga larut. Banyak gagasan lahir.
Yang penting, semua sepakat: pemuda harus
Dampak dari semua perjuangan itu bukan hanya infrastruktur
dan ekonomi yang membaik. Yang lebih penting adalah perubahan kesadaran
masyarakat. Warga yang dulu apatis, kini mulai percaya pada peran pemuda.
Mereka tidak lagi memandang pemuda sebagai anak kemarin sore yang belum
berpengalaman, tapi sebagai mitra strategis dalam pembangunan.
Di warung Mbah Joyo, percakapan warga berubah. Bukan lagi
gosip atau keluhan, tapi diskusi tentang program desa, usulan untuk Karang
Taruna, atau rencana kolaborasi.
Mbah Joyo sering bercerita pada siapa pun yang mau
mendengar. "Dulu saya pikir desa ini akan mati. Tapi sekarang, lihatlah.
Pemuda kita bangkit. Dan kita, orang tua, harus mendukung mereka. Mereka bukan
pengganti kita. Mereka adalah kita di masa muda. Mereka adalah masa depan
desa."
Pak Darman, yang dulu vokal mengkritik, kini menjadi salah
satu donatur tetap Karang Taruna. Ia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk
mendukung kegiatan pemuda.
"Anak saya dulu malas-malasan, sekarang ikut Karang
Taruna jadi rajin. Katanya mau buka usaha ternak lele. Saya dukung. Lebih baik
daripada nganggur di rumah," ujarnya bangga.
Ibu-ibu PKK semakin erat bekerja sama dengan pemuda. Bu
Lurah Sri memfasilitasi pertemuan rutin antara kedua kelompok. Hasilnya,
program-program menjadi lebih terintegrasi. Ketika Karang Taruna mengadakan
pelatihan, ibu-ibu PKK ikut mendukung. Ketika PKK mengadakan posyandu, pemuda
membantu antar-jemput warga.
Pak Sartono, di akhir masa jabatannya, merasa tenang. Ia
tahu, meskipun ia nanti tidak lagi menjabat, desa ini akan terus bergerak.
Karena ada Karang Taruna yang siap menjadi mitra siapa pun pemimpinnya.
"Pak Kades, tenang saja. Kami tidak akan
berhenti," ujar Rangga suatu hari. "Ini bukan tentang siapa yang
memimpin desa. Ini tentang desa kita. Selama masih ada pemuda yang peduli, Ringin
Arum akan terus maju."
Pak Sartono tersenyum. Ia percaya.
BAGIAN V
WARISAN PERUBAHAN
Tiga tahun setelah kebangkitan Karang Taruna, Desa Ringin
Arum berubah drastis. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara sosial dan
ekonomi. Jalan-jalan desa yang dulu berlubang kini beraspal mulus, berkat
kolaborasi pengajuan proposal pemerintah provinsi yang digagas pemuda dan
difasilitasi perangkat desa. Lampu penerangan jalan tenaga surya terpasang di
sepanjang poros desa, membuat malam tak lagi gelap gulita.
Balai desa yang dulu sepi bagai kuburan, kini menjadi pusat
kegiatan. Siang hari dipakai untuk pelayanan administrasi, sore untuk latihan
karawitan dan rebana, malam untuk rapat-rapat Karang Taruna atau diskusi
komunitas. Halamannya yang dulu ditumbuhi ilalang, kini menjadi taman kecil
dengan gazebo tempat warga nongkrong.
Lahan tidur di belakang balai desa telah berubah menjadi
kawasan pertanian terpadu yang dikelola Tunas Muda Farm. Ada sayuran organik,
kolam lele dan nila, serta kandang kambing etawa. Produk-produknya tidak hanya
memenuhi kebutuhan desa, tapi juga dipasarkan ke supermarket di kota.
"Kita sekarang punya omzet rata-rata 15 juta per bulan
dari Tunas Muda Farm," lapor Jarwo dalam rapat evaluasi. "Tenaga
kerja tetap kita ada 12 orang pemuda, plus puluhan ibu-ibu yang dilibatkan
untuk pengolahan hasil panen."
Dini memaparkan perkembangan UMKM desa. "Produk
kerajinan anyaman Bu Jum sudah tembus pasar ekspor ke Malaysia. Ada buyer yang
pesan 500 tas anyaman untuk dijual di sana. Omzet ibu-ibu pengrajin naik
drastis."
Tunas Muda Mart yang dulu hanya toko kelontong kecil, kini
berkembang menjadi minimarket sederhana yang buka 24 jam. Dikelola oleh 6
pemuda secara bergantian, toko ini menjadi sumber pendapatan sekaligus tempat
nongkrong anak muda yang positif.
Mbah Joyo, yang kini usianya menginjak 80 tahun, masih
setia menjaga warungnya. Tapi warungnya tak lagi sepi. Setiap sore,
pemuda-pemuda nongkrong di sana, ngopi, diskusi, atau sekadar bercanda. Mbah
Joyo seperti kakek bagi mereka semua.
"Lek, dulu saya hanya bisa bermimpi desa ini rame
lagi. Sekarang mimpi itu jadi nyata. Saya bisa mati tenang," ujarnya suatu
sore pada Rangga.
Rangga tersenyum, menggenggam tangan keriput Mbah Joyo.
"Jangan mati dulu, Mbah. Masih banyak yang harus Mbah saksikan. Perjuangan
kita belum selesai."
Pak Sartono memasuki masa akhir jabatannya sebagai Kepala
Desa. Ia telah menjabat dua periode, dan sesuai aturan, tidak bisa mencalonkan
lagi. Namun ia tidak khawatir. Ia tahu, regenerasi kepemimpinan di desanya
sudah berjalan baik, termasuk di tingkat pemuda.
Dalam rapat koordinasi terakhir bersama perangkat desa dan
Karang Taruna, Pak Sartono menyampaikan pesan.
"Saya bangga dengan kalian. Selama tiga tahun
terakhir, kalian bukan hanya menjadi pelaksana program, tapi juga mitra sejajar
pemerintah desa. Kalian selalu hadir dengan ide-ide segar, kritik yang
membangun, dan kerja nyata."
Rangga mewakili Karang Taruna menyampaikan apresiasi.
"Kami juga berterima kasih, Pak Kades. Tanpa dukungan Bapak, kami tidak
akan sampai di sini. Bapak selalu memberi kami ruang, kepercayaan, dan
bimbingan."
Pak Rahmat, Sekdes yang kini menjadi pejabat sementara
Kepala Desa, menambahkan, "Hubungan pemerintah desa dan pemuda di sini
adalah model ideal. Saling percaya, saling mendukung, dan saling menghargai.
Ini harus terus dijaga, siapapun kepala desanya nanti."
Setelah Pak Sartono pensiun, Pilkades digelar. Yang
menarik, salah satu kandidatnya adalah alumni Karang Taruna angkatan pertama,
Budi. Ia mencalonkan diri dengan visi "Desa Digital dan Pemuda Berdaya".
"Kalau saya terpilih, saya ingin melanjutkan apa yang
sudah dirintis Pak Sartono dan Karang Taruna. Tapi dengan sentuhan teknologi
dan inovasi yang lebih kuat," ujar Budi dalam debat kandidat.
Budi akhirnya terpilih menjadi Kepala Desa Ringin Arum
periode berikutnya. Ia adalah kepala desa termuda dalam sejarah desa itu,
usianya baru 32 tahun. Kemenangannya disambut antusias oleh pemuda, namun juga
diiringi harapan besar.
Rangga, yang tetap menjadi ketua Karang Taruna, berkata
pada Budi, "Selamat, Pak Kades. Tugasmu sekarang lebih berat. Bukan cuma
mengelola program, tapi memastikan kolaborasi kita tetap berjalan. Aku dan
teman-teman siap mendukung."
Budi tersenyum. "Makasih, Ras. Aku tidak akan jadi
Kades yang sombong. Aku tetap bagian dari Karang Taruna. Hanya saja sekarang
peranku agak berbeda. Kita harus bisa menjaga keseimbangan: sebagai mitra
kritis, tapi juga mitra kerja."
Di bawah kepemimpinan Budi, program-program desa semakin
banyak yang berbasis pemuda. Bukan berarti mengabaikan kelompok lain, tapi
memposisikan pemuda sebagai penggerak utama.
Salah satu program unggulan adalah "Sekolah
Desa", semacam pendidikan nonformal untuk warga yang putus sekolah atau
ingin meningkatkan keterampilan. Pemuda menjadi pengajar sukarelawan. Dini
mengajar desain grafis dan fotografi, Jarwo mengajar pertanian modern, anggota
Karang Taruna lain mengajar bahasa Inggris dasar dan komputer.
"Tujuan Sekolah Desa ini," jelas Budi dalam
sosialisasi, "adalah menciptakan sumber daya manusia yang unggul di desa.
Kita tidak ingin warga kita ketinggalan zaman. Dengan keterampilan yang
memadai, mereka bisa bersaing, baik di desa maupun di kota."
Antusiasme warga tinggi. Tidak hanya anak muda, ibu-ibu dan
bapak-bapak paruh baya pun ikut mendaftar. Mereka ingin belajar hal-hal baru
yang dulu tidak mereka dapatkan.
Bu Jum, pengrajin anyaman, ikut kelas desain grafis.
"Saya ingin bisa mempromosikan produk sendiri lewat medsos. Selama ini
dibantu Dini, tapi saya ingin bisa mandiri," ujarnya semangat.
Program lain adalah "Inkubator Bisnis Desa".
Karang Taruna bekerja sama dengan dinas koperasi dan UKM untuk membina warga
yang ingin memulai usaha. Mereka diberi pelatihan, pendampingan, dan akses
permodalan melalui koperasi desa yang baru dibentuk.
Beberapa usaha rintisan lahir dari program ini: katering
rumahan, jasa desain grafis, bengkel las, hingga tour guide pemuda untuk wisata
desa.
Seiring waktu, anggota Karang Taruna generasi pertama mulai
sibuk dengan urusan masing-masing. Rangga, Kenthus, Jarwo, Dini, Budi—mereka
semua sudah tidak muda lagi. Rangga kini berusia 30 tahun, telah menikah dan
memiliki seorang anak. Jarwo juga menikah dengan gadis desa, dan bersama
istrinya mengelola Tunas Muda Farm. Dini sibuk dengan bisnis desainnya yang
mulai berkembang.
Sudah saatnya regenerasi.
Dalam Musyawarah Desa Pemuda (Musdes Pem) tahunan, mereka
secara resmi menyerahkan tongkat estafet kepada generasi baru. Terpilih sebagai
ketua baru adalah Rina, gadis 22 tahun yang dulu dalam diskusi masa depan desa
mengusulkan perpustakaan digital. Ia adalah lulusan D3 perpustakaan yang
memilih pulang kampung.
Rina menerima mandat dengan haru. "Saya tidak
menyangka dipercaya sebesar ini. Tapi saya tidak akan mengecewakan. Saya akan
meneruskan apa yang telah kakak-kakak rintis. Tentu dengan gaya dan ide anak
muda jaman now."
Rangga, yang kini menjadi penasihat Karang Taruna, berpesan
pada Rina dan pengurus baru. "Ingat, Rina. Kalian bukan pengganti kami.
Kalian adalah penyambung. Bawa Karang Taruna ini lebih jauh, lebih tinggi,
lebih baik. Jangan takut berbeda, jangan takut salah. Yang penting terus
bergerak."
Kenthus yang hadir khusus dari Surabaya untuk acara ini
menambahkan, "Dan jangan lupakan sejarah. Pelajari perjalanan kami, ambil
hikmahnya. Tapi jangan terpaku. Buat sejarah kalian sendiri."
Bagi Rangga, melepas jabatan sebagai ketua Karang Taruna
adalah proses yang tidak mudah. Organisasi itu seperti anaknya sendiri. Ia
hadir di setiap langkah awal, dari nol hingga berkembang. Ia tahu setiap sudut
pos ronda tempat mereka rapat, setiap debu di balai desa yang mereka bersihkan,
setiap lelah dan tangis di balik kesuksesan.
Namun ia sadar, memegang terus tidak akan baik. Organisasi
butuh darah baru, ide baru, semangat baru.
"Ras, kamu kenapa? Kok melamun terus?" tanya
istrinya, Wulan, seorang gadis desa yang dinikahinya dua tahun lalu.
Rangga tersenyum. "Nggak apa-apa, Lan. Cuma... agak
berat aja melepas Karang Taruna. Rasanya kayak baru kemarin kita mulai,
sekarang sudah berganti."
Wulan memegang tangannya. "Itu artinya kamu berhasil,
Ras. Kamu berhasil membesarkan anak, dan sekarang anak itu sudah dewasa, bisa
jalan sendiri. Kamu harus bangga, bukan sedih."
Kata-kata istrinya menohok. Rangga tersenyum. "Kamu
benar. Aku harus bangga. Dan aku harus mendukung mereka, bukan malah
melankolis."
Keesokan harinya, Rangga datang ke sekretariat Karang
Taruna yang baru—sebuah bangunan sederhana di samping balai desa, hasil swadaya
pemuda dan bantuan desa. Rina dan pengurus baru sedang rapat. Mereka menyambut
Rangga dengan hangat.
"Kak Rangga, ada yang bisa kami tanyakan?" tanya
Rina.
Rangga menggeleng. "Nggak, Din. Aku cuma mau bilang,
kalau kalian butuh apa-apa, aku siap membantu. Tapi aku tidak akan ikut campur.
Ini waktunya kalian bersinar."
Rina tersenyum haru. "Terima kasih, Kak. Dukungan
kakak sangat berarti. Doakan kami ya."
Rangga mengangguk. Ia keluar dari sekretariat dengan
perasaan lega. Di langit, burung-burung terbang bebas. Ia tersenyum. Saatnya
melepas, saatnya membiarkan yang muda terbang.
Cerita perjuangan pemuda Desa Ringin Arum semakin menyebar
luas. Tidak hanya di tingkat kecamatan dan kabupaten, tapi juga provinsi,
bahkan nasional. Beberapa stasiun televisi datang meliput. Majalah dan portal
berita online menulis feature tentang kebangkitan desa melalui pemuda.
Judul-judulnya bermacam-macam: "Ketika Pemuda Pulang,
Desa Bangkit", "Kisah Karang Taruna yang Mengubah Wajah Desa",
"Dari Desa Hampir Mati Menjadi Desa Percontohan".
Rangga dan kawan-kawan diundang ke berbagai acara. Seminar,
diskusi, pelatihan. Mereka diminta berbagi pengalaman, menjadi narasumber,
bahkan menjadi mentor untuk desa-desa lain.
Yang paling membanggakan, Desa Ringin Arum mendapat kunjungan
dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Dalam
kunjungannya, sang menteri terkesan.
"Saya sudah banyak melihat desa, tapi yang ini luar
biasa. Bukan karena infrastrukturnya yang megah, tapi karena semangat
masyarakatnya. Terutama pemudanya. Ini model yang harus direplikasi di seluruh
Indonesia," ujarnya.
Desa Ringin Arum resmi ditetapkan sebagai "Desa Wisata
Pemuda" dan "Desa Percontohan Pemberdayaan Pemuda". Mereka
mendapat bantuan tambahan untuk pengembangan infrastruktur dan program.
Pak Sartono yang kini menjadi sesepuh desa, ikut hadir
dalam acara tersebut. Matanya berkaca-kaca. "Mimpi... mimpi yang jadi
nyata," bisiknya pada Mbah Joyo yang duduk di sampingnya.
Mbah Joyo mengangguk. "Ini buah dari kerja keras, To.
Buah dari keyakinan bahwa pemuda adalah masa depan. Aku bersyukur masih diberi
umur panjang sampai bisa menyaksikan ini."
Malam harinya, Rangga duduk sendirian di beranda balai
desa. Tempat yang sama di mana dulu ia duduk bersama Kenthus dan Jarwo, memulai
semua ini. Kini Kenthus di Surabaya, sukses dengan kariernya. Jarwo sibuk
dengan keluarganya dan Tunas Muda Farm. Budi sibuk sebagai kepala desa. Dini
sibuk dengan bisnisnya.
Mereka semua sudah punya jalan masing-masing. Tapi jejak
mereka tetap abadi di desa ini.
Rangga merenung. Dulu, saat pertama kali pulang dari
Jakarta, ia hanya seorang pemuda bingung yang merasa desanya mati. Kini,
desanya hidup, bahkan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dulu, ia hanya punya
mimpi yang samar. Kini, mimpi itu nyata, bahkan melampaui apa yang pernah ia
bayangkan.
"Kak Rangga?" suara Rina memecah lamunannya.
"Kok sendirian di sini?"
Rangga tersenyum. "Iya, Din. Lagi nostalgia. Dulu di
sini aku, Kenthus, Jarwo, pertama kali ngobrol serius tentang Karang Taruna.
Tempat ini berdebu, sepi, gelap. Sekarang... lihatlah."
Rina duduk di sampingnya. "Kak, aku ingin cerita. Hari
ini ada pemuda dari desa tetangga datang. Dia bilang, setelah membaca artikel
tentang Ringin Arum, dia jadi termotivasi. Dia ingin mengajak teman-temannya
membangun desa. Dia minta tips."
Rangga tersenyum bangga. "Itu bagus, Din. Kalian harus
bantu. Kalian sekarang punya tanggung jawab lebih: bukan cuma membangun desa
sendiri, tapi juga menginspirasi desa lain. Seperti dulu kita belajar dari
orang lain, sekarang giliran kita berbagi."
Rina mengangguk mantap. "Aku akan lakukan yang
terbaik, Kak. Doakan kami."
Rangga menepuk pundaknya. "Kami selalu mendoakan
kalian, Din. Ingat, perjuangan ini tidak akan pernah berhenti. Akan selalu ada
generasi baru dengan tantangan baru. Tapi selama pemuda terus bergerak, desa
akan terus hidup."
Hari itu, Desa Ringin Arum mengadakan acara tahunan:
"Festival Pemuda dan Masa Depan Desa". Ribuan orang hadir, tidak hanya
dari Ringin Arum, tapi juga dari desa-desa sekitar, bahkan dari kabupaten lain.
Acaranya meriah: pameran UMKM, pentas seni, diskusi panel, dan tentu saja
penampilan musik dari band-band lokal.
Di panggung utama, Rina bersama pengurus Karang Taruna baru
memberikan sambutan. Ia tampil percaya diri, dengan bahasa yang lugas dan penuh
semangat.
"Selamat datang di Festival Pemuda dan Masa Depan
Desa! Hari ini kita rayakan bukan hanya pencapaian, tapi juga semangat.
Semangat bahwa desa bukanlah tempat untuk ditinggalkan, tapi tempat untuk
kembali dan membangun. Semangat bahwa pemuda bukanlah beban, tapi aset.
Semangat bahwa kebersamaan adalah kunci."
Sorak-sorai penonton membahana.
Di antara penonton, duduk Rangga bersama Wulan dan anaknya
yang masih balita. Juga Jarwo bersama keluarganya, Budi, Kenthus yang sengaja
pulang untuk acara ini, Dini, dan Mbah Joyo yang kini menggunakan kursi roda.
Mbah Joyo berkata lirih, "Lek, aku bangga. Bangga
sekali."
Rangga menggenggam tangannya. "Terima kasih, Mbah.
Tanpa dukungan Mbah, kita tidak akan sampai di sini."
Mbah Joyo tersenyum. Matanya menerawang jauh. "Aku
hanya orang tua yang menunggu. Kalian yang bergerak. Kalian yang mewujudkan.
Ingat, Lek. Perjuangan ini tidak berhenti di sini. Akan ada generasi setelah
kalian, setelah Rina, dan seterusnya. Jaga api ini tetap menyala."
Di panggung, Rina dan pengurus Karang Taruna baru
menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh semangat. Lalu mereka meluncurkan
program baru: "Beasiswa Tunas Muda" untuk anak-anak desa berprestasi
yang ingin kuliah tapi terkendala biaya. Dana beasiswa berasal dari keuntungan
unit usaha Karang Taruna dan donatur.
"Ini adalah investasi jangka panjang," jelas
Rina. "Kami ingin anak-anak desa tidak perlu merantau jauh untuk sekolah.
Tapi kalau mereka merantau, kami ingin mereka punya bekal. Dan yang terpenting,
kami ingin mereka kembali, seperti kakak-kakak kami dulu."
Malam harinya, diadakan acara khusus: pemutaran film
dokumenter tentang perjalanan Desa Ringin Arum. Film berjudul "Langkah
Pemuda" itu diproduksi oleh Dini dan tim media Karang Taruna, dengan
bantuan sineas muda dari kabupaten.
Film itu menceritakan semuanya. Dari kegelisahan Rangga di
awal, pertemuan tak sengaja di balai desa, perjuangan merintis Karang Taruna,
dukungan Mbah Joyo dan Pak Sartono, kerja keras gotong royong, konflik dan
krisis, bencana yang menguji, hingga kebangkitan dan pengakuan.
Penonton terharu, banyak yang menitikkan air mata. Yang
paling terharu adalah para tokoh yang terlibat langsung. Mbah Joyo tak kuasa
menahan tangis. Pak Sartono memeluk Rangga erat.
Kenthus yang duduk di samping Rangga berbisik, "Ras,
kita hebat ya? Dulu kita cuma tiga orang ngobrol nggak jelas. Sekarang jadi
film."
Rangga tersenyum. "Kita nggak hebat sendiri, Thus.
Semua orang di ruangan ini, semua warga desa, mereka juga bagian dari cerita
ini. Kita hanya... pemantik api. Yang membuat api terus menyala adalah mereka
semua."
Di layar, film berakhir dengan adegan matahari terbit di
atas sawah Ringin Arum. Suara narator: "Mereka memulai dengan langkah
kecil, dari kegelisahan seorang pemuda. Mereka bertahan melalui kritik dan
konflik. Mereka bangkit dari bencana dan keterpurukan. Dan kini, mereka
meninggalkan jejak. Jejak perjuangan pemuda desa, yang akan terus dikenang dan
dilanjutkan."
Tepuk tangan panjang memenuhi balai desa.
Pagi harinya, Rangga berjalan menyusuri desa. Sendirian. Ia
ingin melihat semuanya sekali lagi sebelum kembali ke rutinitasnya sebagai
kepala keluarga dan penasihat Karang Taruna.
Ia melewati warung Mbah Joyo yang sudah mulai buka. Mbah
Joyo melambai dari dalam. Ia melewati pos ronda yang dulu jadi markas mereka,
kini sudah direnovasi menjadi sekretariat yang lebih layak. Ia melewati Tunas
Muda Farm yang sudah panen, para pemuda sibuk memetik sayuran. Ia melewati
Tunas Muda Mart yang buka 24 jam, kasirnya menyapa ramah.
Ia berhenti di balai desa. Di halaman depan, ada prasasti
kecil yang baru dipasang. Bunyinya:
"Balai Desa Ringin Arum. Saksi Bisu Kebangkitan
Pemuda. Diresmikan kembali oleh Karang Taruna 'Tunas Muda' pada tahun 2023,
sebagai simbol semangat gotong royong dan perjuangan pemuda untuk desa."
Di bawahnya terukir nama-nama: Rangga, Kenthus, Jarwo,
Dini, Budi, dan semua pengurus Karang Taruna generasi pertama.
Rangga tersenyum. Namanya terukir di batu, tapi ia tahu,
yang abadi bukanlah nama, melainkan semangat. Semangat yang kini sudah menular
ke Rina dan generasi baru.
Tiba-tiba, ia mendengar suara riuh di kejauhan. Dari arah
lapangan, puluhan pemuda berkumpul. Mereka membawa cangkul, sapu, dan peralatan
kebersihan lainnya. Rina memimpin, memberikan arahan.
Rangga mendekat. Rina melihatnya dan tersenyum.
"Kak Rangga! Hari ini kami kerja bakti bersih-bersih
sungai. Mau ikut?"
Rangga tertawa. "Tentu. Kasih aku cangkul."
Ia mengambil cangkul dan bergabung dengan kerumunan. Di
sana, ia tidak lagi sebagai ketua, bukan juga sebagai penasihat. Ia hanya
seorang pemuda desa, bersama pemuda-pemuda lain, melakukan hal sederhana:
membersihkan sungai.
Di tengah guyuran keringat dan tawa, Rangga merasakan
kebahagiaan yang sama seperti dulu. Bahwa perjuangan ini tidak pernah berhenti.
Bahwa langkah pemuda akan terus berlanjut. Bahwa selama ada sungai yang perlu
dibersihkan, selama ada sawah yang perlu ditanami, selama ada warga yang perlu
dibantu, di situlah pemuda akan hadir.
Matahari pagi menyinari Desa Ringin Arum. Cahayanya
keemasan, hangat. Di sungai itu, puluhan pemuda bekerja bahu-membahu. Ada yang
bergurau, ada yang serius, ada yang menyanyi. Tapi semua bergerak. Bersama.
Langkah pemuda Karang Taruna tak pernah berhenti. Akan
terus ada generasi baru, tantangan baru, dan mimpi baru. Karena itulah hakikat
perjuangan: bukan tentang garis finish, tapi tentang terus melangkah.
Desa yang hampir terlupakan itu kini telah berubah. Bukan
karena bangunan megah atau jalan beraspal, tapi karena hatinya yang kembali
berdetak. Berdetak dengan irama kebersamaan, digerakkan oleh langkah pemuda
yang tak pernah lelah.
Dan cerita ini, tentu saja, tidak berakhir di sini. Karena
setiap akhir adalah awal yang baru. Setiap generasi akan menulis babnya
sendiri. Yang penting, api itu tetap menyala. Semangat itu terus berkobar.
Langkah itu tak pernah berhenti.
Di Desa Ringin Arum, di hati setiap pemudanya, perjuangan
akan terus berlanjut. Selamanya.
EPILOG
Lima tahun kemudian.
Seorang anak kecil berlari-lari di halaman balai desa. Ia
memanggil-manggil, "Ayah! Ayah!"
Rangga, yang kini berusia 35 tahun dengan sedikit uban di
pelipis, menoleh. Ia menggendong putrinya yang lucu.
"Ada apa, Nak?"
"Ayah, lihat! Ada kakak-kakak rapat lagi di balai
desa. Banyak sekali. Kayak Ayah dulu ya?"
Rangga tersenyum. Ia memandang ke arah balai desa. Di
dalamnya, Rina dan pengurus Karang Taruna generasi kedua sedang rapat membahas
program-program baru. Di antaranya ada wajah-wajah baru yang lebih muda:
generasi ketiga mulai bermunculan.
"Iya, Nak. Seperti Ayah dulu. Tapi sekarang mereka
yang melanjutkan."
"Aku kalau besar nanti boleh ikut rapat?"
Rangga tertawa. "Tentu, Nak. Suatu hari nanti, kamu
akan duduk di sana, bersama teman-temanmu, memikirkan masa depan desa ini. Tapi
untuk sekarang, cukup bermain dulu. Nikmati masa kecilmu."
Anak itu berlari lagi, mengejar kupu-kupu di taman. Rangga
memandangnya dengan penuh cinta. Lalu ia kembali memandang balai desa, tempat
di mana segala sesuatunya bermula.
"Terima kasih," bisiknya pada angin. "Terima
kasih untuk semua langkah yang telah kami ambil. Dan untuk semua langkah yang
akan diambil oleh mereka."
Di dalam balai desa, rapat berlangsung seru. Rina memimpin
dengan penuh semangat. Dinding balai itu penuh dengan foto-foto dokumentasi
perjalanan Karang Taruna, dari masa ke masa. Foto Rangga, Kenthus, Jarwo,
terpajang di sana. Foto Mbah Joyo dan Pak Sartono. Foto bencana banjir dan
gotong royong. Foto festival dan panen raya. Semua adalah jejak.
Dan di luar sana, di bawah langit Ringin Arum yang cerah,
seorang anak kecil berlari mengejar mimpi, seperti ayahnya dulu. Seperti semua
pemuda yang pernah dan akan ada.
Langkah pemuda Karang Taruna terus berlanjut. Tak pernah
berhenti.
SELESAI











