Cerpen Si Amat Episode 6; Penyerahan LKPJ Kepada BPD
Pendopo Kantor Desa Awan Biru
siang itu tampak khidmat namun tetap hangat. Di atas meja utama terletak
dokumen tebal bercover hijau bertuliskan Laporan Keterangan Penyelenggaraan
Pemerintahan Desa (LKPJ) TA 2025. Di sampingnya, ringkasan grafik
realisasi APBDes, dokumentasi kegiatan, serta print out infografis yang
sebelumnya telah dipublikasikan melalui website desa sebagai bentuk ILPPD
kepada masyarakat.
Si Amat sibuk memeriksa
kameranya dengan wajah serius namun penuh semangat, memutar lensa perlahan
untuk memastikan fokusnya tajam dan pencahayaan di pendopo cukup terang.
Sesekali ia mengecek hasil jepretan sebelumnya di layar kecil kamera, lalu
mengangguk puas sebelum kembali mengatur posisi berdiri agar sudut pengambilan
gambar terlihat lebih proporsional dan momen penting penyerahan laporan bisa
terekam dengan jelas serta layak ditampilkan di website desa.
“Pak Kades, nanti pas penyerahan buku Laporan
Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (LKPJ ) jangan terlalu cepat ya. Saya butuh tiga detik
buat fokus,” katanya serius.
Kades Iwan mengangguk pelan.
“Tenang, Mat. Ini laporan tahunan, bukan lomba lari.”
Kepala Desa Iwan membuka rapat
penyerahan LKPJ dengan sikap tenang dan penuh wibawa, berdiri di hadapan Ketua
dan anggota BPD serta para undangan yang hadir di pendopo desa. Dengan suara
jelas dan terukur, ia menyampaikan bahwa rapat tersebut merupakan bagian dari
kewajiban konstitusional Pemerintah Desa dalam menyampaikan Laporan Keterangan
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun Anggaran 2025 sebagai bentuk
akuntabilitas dan transparansi kepada BPD. Ia menegaskan bahwa LKPJ bukan
sekadar laporan administratif, melainkan cerminan tanggung jawab moral dan
profesional atas pelaksanaan APBDes selama satu tahun, sekaligus ruang evaluasi
bersama demi perbaikan tata kelola pemerintahan desa ke depan.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati Ketua dan
Anggota BPD Desa Awan Biru, para perangkat desa, pendamping desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas,
serta seluruh undangan yang berkenan hadir. Pertama-tama marilah kita panjatkan
puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya
kita dapat berkumpul pada hari ini dalam rangka penyampaian Laporan Keterangan
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun Anggaran 2025 Kepada Badan Permusyawaratan
Desa ( BPD ) Desa Awan Biru dalam keadaan sehat dan penuh semangat
kebersamaan.”
Dalam paparannya, Kades Iwan
menyampaikan LKPJ dengan runtut dan sistematis, dimulai dari gambaran umum
kondisi desa selama Tahun Anggaran 2025 hingga capaian program di setiap bidang
penyelenggaraan pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa pada bidang pemerintahan,
fokus diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan administrasi dan penataan
arsip desa agar lebih tertib dan responsif. Pada bidang pembangunan, ia
memaparkan realisasi peningkatan jalan desa, penguatan sarana Perpustakaan
Desa, serta dukungan terhadap program ketahanan pangan hewani berupa ternak
bebek petelur yang telah memberikan dampak ekonomi bagi kelompok masyarakat.
Lebih lanjut, ia menegaskan
bahwa seluruh pelaksanaan kegiatan telah mengacu pada APBDes TA 2025 yang
disepakati bersama, dengan realisasi anggaran yang terukur dan sesuai
prioritas. Ia juga menyampaikan bahwa laporan LPPD telah dikirimkan kepada
Bupati melalui Camat tepat waktu, serta informasi penyelenggaraan pemerintahan
desa telah dipublikasikan kepada masyarakat melalui musyawarah desa, papan
informasi, dan website desa sebagai bentuk transparansi. Di akhir paparannya,
Kades Iwan menekankan bahwa LKPJ ini bukan hanya kewajiban administratif,
melainkan wujud komitmen Pemerintah Desa Awan Biru dalam menjaga akuntabilitas,
meningkatkan kualitas tata kelola, dan membangun kepercayaan masyarakat secara
berkelanjutan.
Ketua BPD, Didit, memberikan kata sambutan dengan suara tenang.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan, Pemerintah Desa wajib menyampaikan LKPJ kepada BPD paling
lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. Hari ini kita akan menerima
laporan tersebut sebagai bagian dari fungsi pengawasan BPD.”
Kades Iwan berdiri melanjutkan agenda penyerahan dokumen LKPJ kepada Ketua BPD.
“Terima kasih Ketua BPD dan seluruh anggota. LKPJ TA 2025 ini merupakan bentuk
pertanggungjawaban kami atas penyelenggaraan pemerintahan desa selama satu
tahun, meliputi bidang pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan
pemberdayaan masyarakat. Penanggulangan Bencana , Mendesak Desa”
Ia mengangkat dokumen tersebut. Kamera Amat
berbunyi cepat.
“Klik… klik… ya bagus, Pak. Ekspresinya seperti
kepala desa yang anggarannya sehat,” celetuk Amat pelan.
Beberapa perangkat desa
tersenyum menahan tawa, saling melirik satu sama lain ketika suasana rapat yang
semula tegang mendadak mencair oleh celetukan ringan yang terlontar di sela
pembahasan laporan. Ada yang menunduk pura-pura serius sambil merapikan berkas
di hadapannya, ada pula yang berdeham pelan untuk menyamarkan senyum yang
hampir pecah menjadi tawa. Namun tetap saja, sorot mata mereka memancarkan
keakraban dan kebanggaan atas capaian yang dipaparkan. Di balik sikap
profesional yang mereka jaga, terselip rasa lega karena kerja keras selama satu
tahun anggaran akhirnya sampai pada tahap pertanggungjawaban yang terbuka dan
harmonis.
Kades Iwan melanjutkan,
“Dalam TA 2025, fokus pembangunan kita meliputi peningkatan jalan desa
sepanjang 850 meter, operasional dan penguatan literasi melalui Perpustakaan
Desa, serta program ketahanan pangan hewani berupa pengembangan ternak bebek
petelur. Dari sisi tata kelola, kami juga meningkatkan pelayanan administrasi
berbasis digital dan transparansi publik melalui website desa.”
Sekdes Yuni menambahkan penjelasan teknis.
“LPPD telah kami sampaikan kepada Bupati melalui Camat tepat waktu. Sementara
ILPPD kepada masyarakat kami lakukan melalui Musyawarah Desa dan media
informasi, termasuk infografis realisasi APBDes yang dipasang di papan publik
dan website.”
Ketua BPD Didit membuka beberapa
halaman laporan dengan gerakan tenang dan penuh perhatian, jemarinya
menyibakkan lembar demi lembar dokumen tebal itu sambil sesekali mengangguk
kecil. Sorot matanya menyusuri angka-angka dan uraian program dengan saksama,
berhenti sejenak pada bagian realisasi anggaran dan capaian kegiatan yang
dianggap strategis. Ia menyesuaikan posisi kacamatanya, lalu menandai beberapa poin
penting menggunakan pena di tangannya, menunjukkan keseriusan sekaligus
tanggung jawab dalam menjalankan fungsi pengawasan. Suasana ruangan pun menjadi
hening penuh hormat, hanya terdengar bunyi halus kertas yang dibalik,
menandakan bahwa setiap halaman laporan benar-benar dicermati sebelum diberikan
tanggapan resmi.
“Bagaimana dengan capaian realisasi anggaranya ?” Tanya ketua BPD
Lulu, Kaur Keuangan, menjawab mantap.
“Realisasi pendapatan dan belanja desa mencapai 100 persen. Seluruh pengeluaran
sesuai prioritas dan pagu yang ditetapkan. Pajak dan kewajiban lainnya sudah
disetor tepat waktu. Dokumen SPJ lengkap dan terdokumentasi.”
Didit mengangguk.
“Baik. BPD mengapresiasi kedisiplinan administrasi. Namun kami ingin
menanyakan, bagaimana dampak langsung program ketahanan pangan terhadap
kelompok penerima manfaat?”
Kaur Kesra Hengki menjawab,
“Program ternak bebek petelur sudah menghasilkan produksi rata-rata 70–80
persen dari populasi aktif. Hasilnya membantu tambahan pendapatan kelompok dan
menjadi percontohan bagi dusun lain.”
Santoso, perwakilan masyarakat, ikut angkat suara.
“Sebagai warga, kami melihat perubahan nyata. Jalan desa memudahkan akses hasil
panen. Perpustakaan juga mulai ramai anak-anak.”
Pak Eko menambahkan dengan nada reflektif.
“Memang masih ada yang perlu diperbaiki, terutama dalam peningkatan partisipasi
masyarakat pada tahap perencanaan. Itu menjadi catatan kami untuk tahun
berikutnya.”
Didit kemudian menyampaikan tanggapan resmi BPD.
“Secara umum, BPD menilai penyelenggaraan pemerintahan Desa Awan Biru TA 2025
berjalan baik dan sesuai regulasi. Kami akan menyampaikan rekomendasi tertulis
sebagai bahan perbaikan, khususnya pada penguatan evaluasi internal dan
optimalisasi partisipasi masyarakat.”
Babinkamtibmas tersenyum.
“Yang penting komunikasi tetap lancar. Kalau komunikasi baik, setengah masalah
selesai.”
Amat yang sedang mengambil foto dari sudut kiri
berkomentar,
“Pak Ketua, boleh sedikit rapat ke tengah? Biar sinerginya kelihatan di foto.”
Didit tertawa kecil.
“Ini baru namanya dokumentasi partisipatif.”
Kades Iwan kemudian menutup dengan nada serius
namun hangat.
“LKPJ ini bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk komitmen kami
untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Tanpa pengawasan BPD dan partisipasi
warga, pemerintahan desa tidak akan berjalan optimal.”
Semua mengangguk setuju.
Didit berdiri dan menerima dokumen secara simbolis.
“Dengan ini, BPD menerima LKPJ TA 2025 Pemerintah Desa Awan Biru untuk dibahas
dan diberikan rekomendasi sebagaimana mestinya.”
Tepuk tangan terdengar memenuhi pendopo.
Amat berdiri di depan, mengangkat kameranya tinggi.
“Baik, semua senyum! Ini momen akuntabilitas. Jangan ada yang berkedip, nanti
transparansinya kurang tajam!”
Tawa ringan kembali mengisi
ruangan ketika suasana yang sempat khidmat berubah hangat oleh selipan humor
yang cerdas dan tidak berlebihan. Beberapa perangkat desa saling berpandangan
sambil tersenyum, bahkan Ketua BPD Didit pun tak kuasa menahan senyum tipisnya
setelah mendengar celetukan santai yang tetap relevan dengan pembahasan
laporan. Gelak itu bukan sekadar candaan, melainkan tanda kedekatan dan
kebersamaan yang telah terbangun selama proses kerja satu tahun anggaran. Di
balik tawa tersebut, terselip rasa syukur karena rapat pertanggungjawaban
berjalan terbuka, transparan, dan penuh rasa saling menghargai, sehingga forum
resmi pun terasa lebih humanis tanpa kehilangan wibawanya.
Setelah acara selesai, Amat duduk di sudut pendopo
membuka laptopnya. Ia mulai mengetik dengan penuh semangat:
“Penyerahan LKPJ TA 2025: Wujud
Akuntabilitas dan Sinergi Pemerintah Desa Awan Biru bersama BPD.”
Ia menatap hasil fotonya dan tersenyum puas.
“Kalau laporan sudah disampaikan, rekomendasi sudah
diterima, dan dokumentasi sudah diunggah… berarti bukan cuma administrasi yang
tertib,” gumamnya pelan, “tapi kepercayaan juga terjaga.”
Pendopo sore itu terasa hangat, bukan hanya karena
sinar matahari yang masuk dari sela jendela, tetapi karena rasa tanggung jawab
yang ditunaikan bersama.


















