PROLOG
Angin
sore berbisik lembut di sela bilik bambu Warung RT 02. Bangku-bangku kayu yang
sudah usang dimakan usia masih setia berjejer di sudut ruangan, menyimpan
ribuan kisah yang tak pernah tercatat dalam dokumen desa manapun. Di dinding,
foto hitam putih Pak Iwan tersenyum tipis, bingkainya mulai berdebu, tapi
matanya, entah kenapa, masih terasa hidup bagi siapa pun yang duduk di bangku
panjang menghadap ke arahnya.
Meja
kayu di tengah ruangan itu lecet dimana-mana. Ada coretan kecil di sudut meja,
tulisan tangan anak kecil yang memudar: "Arjuna, 12 tahun, mimpi jadi
kepala desa." Di sebelahnya, tulisan lain yang lebih baru: "Titik, 10
tahun, pengen punya warung kayak nenek."
Seorang
lelaki tua duduk di sudut ruangan, menghisap rokok daun nipah perlahan. Asapnya
naik berputar, seolah ingin bercerita pada langit-langit bilik yang sudah
bolong di sana-sini. Itu Si Amat. Rambutnya sudah memutih sempurna, punggungnya
mulai membungkuk, tapi matanya masih menyala saat melihat pintu warung.
"Masih
ingat, Nok?" tiba-tiba ia bersuara, suaranya serak tapi jelas.
Di
seberangnya, seorang perempuan paruh baya menuang kopi ke dua cangkir. Itu
Julia, Amat Juana, panggilannya, anak bungsu Amat yang kini mengelola warung
itu. "Ingat apa, Pak?"
"Tanggal
26 Februari 2026." Si Amat tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang
tinggal separuh. "Hari pertama saya upload foto salah."
Julia
tertawa renyah. "Cerita itu lagi, Pak? Udah ribuan kali diceritain."
"Tapi
belum pernah ditulis, Nok. Belum pernah." Si Amat menatap keluar warung,
ke arah jalan desa yang kini mulus beraspal, ke arah papan nama digital yang
menampilkan informasi desa secara real-time, ke arah balai desa yang sudah tiga
kali direnovasi tapi tetap mempertahankan arsitektur aslinya. "Kisah kita
ini, harusnya ditulis. Biar anak cucu tahu."
Julia
berhenti menuang. Ia menatap ayahnya lama.
"Kita
ini," lanjut Si Amat, "tiga generasi yang duduk di warung ini, Nok.
Bapakmu ini, generasi pertama yang bikin kacau. Pak Iwan, generasi pertama yang
bikin desa ini punya mimpi. Lalu ada generasi kedua, Arjuna, Kirana, kakakmu
Amat Junior, mereka yang mewujudkan mimpi itu. Sekarang generasi ketiga: kamu,
Joko, Titik. Kalian yang menjaga."
Julia
duduk di samping ayahnya. "Bapak mau saya tulis?"
"Bukan
kamu. Kita." Si Amat meraih tangan anaknya. "Tiga generasi. Satu
warung. Satu desa. Satu langit yang sama."
Di
luar, langit Awan Biru memang masih sama seperti enam puluh tahun lalu. Biru
muda dengan semburat jingga di ufuk barat. Awan-awan kecil berarak lambat,
seolah tak peduli pada hiruk pikuk perubahan di bawahnya.
"Mulai
dari mana?" tanya Julia.
"Dari
awal, Nok. Dari pelantikan kedua Pak Iwan." Si Amat meneguk kopinya,
matanya menerawang jauh. "Dari saat saya, bodohnya, hampir membuat desa
ini jadi bahan tertawaan se-kabupaten."
Julia
mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan. Langit di luar semakin
jingga.***
Balai
Desa Awan Biru pagi itu penuh sesak. Kursi plastik warna-warni berjejer rapi di
halaman, tapi kebanyakan warga memilih berdiri di pinggir-pinggir, bersandar
pada pohon trembesi yang sudah berusia puluhan tahun. Bendera merah putih
berkibar kecil-kecil di tangan anak-anak yang berlarian di antara kerumunan.
Pak
Iwan duduk di kursi utama, jas hitam yang sedikit kebesaran membuatnya terlihat
kaku. Dasinya, yang diikat istrinya pukul lima pagi, sudah miring ke kiri. Di
sampingnya, Pak Camat dari Kecamatan Kabut Merah membaca sambutan dengan suara
monoton seperti mesin pemotong rumput.
"dan
dengan ini, saudara Iwan Prasetyo, resmi dilantik sebagai Kepala Desa Awan Biru
untuk masa jabatan kedua periode 2019-2025."
Tepuk
tangan mengalir, tapi tak begitu ramai. Pak Iwan bisa merasakannya. Tepuk
tangan yang basah, tanpa semangat. Ia tahu persis kenapa.
"Pak
Iwan, dua periode tapi jalan di tempat," bisik seorang ibu di belakang.
"Iya,
mending yang muda, ada ide baru," timpal yang lain, tak peduli suaranya
mungkin terdengar.
Pak
Iwan menggenggam surat keputusan di tangannya. Kertas itu terasa berat. Enam
tahun pertama kepemimpinannya,ia akui,lebih banyak diisi pembelajaran daripada
terobosan. Jalan desa masih berlubang di sana-sini. Sistem administrasi masih
manual, berkas menumpuk di lemari tua sampai dimakan tikus. Website desa? Baru
dibuat tahun lalu dan hampir tidak pernah update.
"Sambutan
dari kepala desa terpilih," suara Pak Camat memotong lamunannya.
Pak
Iwan berdiri, melangkah ke depan mimbar. Mikrofon berdecit. Ia menepuknya
pelan, decitan makin keras.
"Ini
mikrofon, tolong jangan ditepuk-tepuk, nanti rusak," teriak seseorang dari
barisan belakang.
Tawa
pecah. Pak Iwan ikut tersenyum. Setidaknya, warganya masih bisa bercanda.
"Bapak,
Ibu, sedulur-sedulurku semua..." Ia menghela napas. "Saya tahu, enam
tahun pertama saya mungkin belum banyak berbuat. Jalan masih bolong. Kantor
desa masih berantakan. Ada yang bilang, desa kita stagnan."
Kerumunan
hening. Beberapa orang saling pandang.
"Tapi
saya janji," lanjut Pak Iwan, suaranya mulai bergetar, "lima tahun ke
depan, kita ubah semuanya. Bukan saya yang mengubah. Kita. Semua yang hadir di
sini. Desa ini milik kita bersama."
"Setuju!"
teriak seseorang dari pinggir. Itu Santoso, petani yang selalu hadir di setiap
musyawarah meski sering ngomel. "Tapi jangan omdo, omong doang!"
Tawa
lagi. Pak Iwan mengangkat tangan, tanda setuju.
Di
pojok halaman, seorang pemuda berusia dua puluhan sibuk dengan ponselnya. Itu
Si Amat, tenaga IT desa, gelar lulusan STM jurusan listrik yang kebetulan bisa
mengoperasikan komputer. Ia sedang mencoba mengupload foto-foto pelantikan ke
website desa. Keringat mengucur di dahinya meski pagi masih sejuk.
"Koneksinya
lemot, Pakde," gerutunya pada dirinya sendiri.
Di
dekatnya, Bu Lurah, panggilan untuk istri Pak Iwan, Bu Endang, mengipasi
dirinya dengan kertas undangan. "Amat, nanti aja, ini lagi sambutan."
"Bentar,
Bu, biar cepat update." Jari-jari Amat menari di layar. Ia memilih lima
foto terbaik: Pak Iwan disumpah, Pak Iwan tanda tangan, Pak Iwan bersalaman
dengan Pak Camat, foto bersama perangkat desa, dan satu foto selfie-nya dengan
latar belakang balai desa yang ia rasa keren.
Upload.
Proses.
Loading...
Tiba-tiba,
ponselnya bergetar. Bukan sekali, berkali-kali. Notifikasi WhatsApp masuk
bertubi-tubi.
Amat
membaca satu per satu. Matanya membelalak.
"Mas
Amat! Foto APBDes!" pesan dari Yuni, staf administrasi yang duduk tak jauh
darinya.
Amat
membuka website desa. Foto yang ia upload berjejer rapi. Foto pertama: Pak Iwan
dilantik. Foto kedua: Pak Iwan tanda tangan. Foto ketiga: Pak Iwan dan Pak
Camat. Foto keempat: foto bersama perangkat. Foto kelima...
Foto
kelima adalah screenshot dokumen APBDes, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, yang
seharusnya hanya untuk konsumsi internal, tidak untuk publik. File itu ada di
galerinya karena ia diminta Bu Endang mengeceknya kemarin. Dan entah bagaimana,
tanpa sengaja, ia memilihnya untuk diupload.
"Astagfirullah..."
Amat memucat.
"Mas
Amat!" Yuni sudah berdiri di depannya, wajah merah padam. "Itu
APBDes! Anggaran rahasia! Cepat hapus!"
Amat gemetar
membuka ponsel. Jari-jarinya seperti kesemutan. Ia buka website, cari foto
kelima, klik hapus.
Konfirmasi:
"Apakah Anda yakin ingin menghapus foto ini?"
"Iya
iya iya!" Amat menghentak-hentak.
Terhapus.
Tapi sudah terlambat. Minimal dua puluh orang sudah membuka website. Screenshot
berseliweran di grup WhatsApp warga.
"Pak
Iwan gajinya berapa, sih?" teriak seseorang dari kerumunan.
"Tunjangan
perangkat desa naik? Kok gede amat?"
"Ini
dana desa buat apa aja? Kok banyak ke 'operasional'?"
Pak
Iwan, yang masih di mimbar, menoleh bingung. Ia melihat keributan di pojok. Bu
Endang berlari ke arah sumber masalah.
"Amat!!!"
teriak Bu Endang setengah berbisik, setengah meledak.
Si
Amat hanya bisa menunduk, ponsel masih gemetar di tangan.
Dua
jam kemudian, suasana pelantikan yang seharusnya berakhir dengan makan siang
bersama berubah menjadi rapat dadakan di ruang kantor desa. Pak Iwan, Bu
Endang, Yuni, Lulu, Sekdes, dan Amat duduk melingkar. Amat tak berani angkat
muka.
"Sudah,"
Pak Iwan memecah keheningan. "Apa yang sudah terjadi, ya sudah
terjadi."
"Pak
Iwan, ini masalah besar," kata Lulu, staf administrasi lain yang dikenal
vokal. "APBDes bocor ke publik. Orang bisa salah paham."
"Mereka
bukan salah paham," timpal Yuni. "Mereka paham betul. Soalnya
angka-angka itu benar. Tunjangan kita emang naik."
"Tapi
kan belum final, masih draf!" sela Bu Endang.
"Bu,
warga nggak peduli draf atau final," kata Lulu. "Yang mereka lihat:
perangkat desa naik gaji, sementara jalan desa masih bolong."
Amat
mengangkat muka, matanya berkaca-kaca. "Pak Iwan, saya... saya mundur aja.
Saya perasaan selalu bikin salah."
Pak
Iwan menatap Amat lama. Pemuda kurus dengan kemeja lusuh dan rambut tak pernah
rapi itu. Anak yatim piatu yang lulus STM seadanya, lalu ditampung jadi tenaga
honorer desa karena kasihan dan karena dia satu-satunya di desa yang paham
komputer selain anak-anak kuliahan.
"Amat,"
Pak Iwan memanggil lembut. "Kamu tahu bedanya orang bodoh dan orang
belajar?"
Amat
menggeleng.
"Orang
bodoh itu yang ngulang-ngulang kesalahan yang sama. Kamu ini cuma belum
belajar." Pak Iwan berdiri, mendekati Amat. "Ini pelajaran pertamamu.
Dan gratis. Nggak usah mundur."
"Tapi,
Pak..."
"Tapi
apa? Yang udah keceplosan, ya sudah. Kita hadapi." Pak Iwan menatap semua
yang hadir. "Sekarang kita pikirkan cara menjelaskan ke warga. Transparan.
Apa adanya."
"Tunjangan
kita memang naik, tapi karena beban kerja bertambah," kata Sekdes, mulai
berpikir. "Dana operasional itu untuk pembelian komputer baru dan
pelatihan IT."
"Bisa,"
kata Lulu. "Tapi kita harus buka semuanya. Beneran transparan."
Yuni
menghela napas. "Berarti... APBDes final nanti harus dibahas di musyawarah
terbuka? Dengan warga?"
"Kenapa
tidak?" Pak Iwan mengangkat bahu. "Bukannya memang seharusnya begitu?
Cuma selama ini kita lakukan tertutup karena takut ribut."
Semua
diam. Di luar, suara warga yang masih nongkrong di halaman balai mulai ramai.
Mereka belum pulang. Mereka menunggu penjelasan.
"Amat,"
Pak Iwan menepuk bahu pemuda itu. "Kamu ikut saya ke luar. Kamu yang akan
menjelaskan."
Amat
terkesiap. "S-saya, Pak?"
"Kamu
yang buat salah, kamu yang perbaiki. Itu juga pembelajaran." Pak Iwan
tersenyum. "Tapi saya dampingin."
Di
luar, Pak Iwan dan Amat berdiri di teras balai. Warga mengerumuni. Amat gemetar
hebat.
"Bapak-bapak,
Ibu-ibu..." Suara Amat pecah. Ia berdeham. "Saya... saya minta maaf.
Saya salah upload."
"Kami
nggak minta maaf, Mas! Kami minta penjelasan!" teriak seseorang.
"Anggarannya
benar," kata Pak Iwan tiba-tiba, tegas. Semua hening. "Tunjangan
perangkat naik 15 persen. Dana operasional naik 20 persen. Itu semua akan saya
pertanggungjawabkan."
"Iya,
Pak Iwan, tapi kok gede amat kenaikannya?"
"Karena
mulai tahun ini, kita akan digitalisasi desa. Beli server, beli komputer baru,
training untuk Amat dan staf. Itu semua butuh dana. Dan saya tidak mau ambil
dana dari pos lain, dari pos yang seharusnya untuk pembangunan fisik. Jadi ya,
operasional kita naik. Tapi kalian akan lihat hasilnya."
Warga
saling pandang. Digitalisasi. Kata asing yang belum semua paham.
"Pak
Iwan, maksudnya digitalisasi itu apa?" tanya seorang bapak tua.
Sebelum
Pak Iwan menjawab, Amat angkat bicara. Suaranya masih gemetar, tapi mulai
berani. "Maksudnya, Pak, nanti... nanti ngurus KTP, KK, surat-surat, bisa
online. Nggak perlu bolak-balik ke kantor. Nanti ada website desa yang selalu
update, jadi warga tahu program desa apa aja."
"Duitnya
dari mana? APBDes itu kan?"
"Dari
dana desa, Pak. Memang kita alokasikan untuk itu."
Seorang
ibu berteriak, "Lha, kami butuhnya jalan mulus, bukan
website-website!"
Tawa
kecil. Tapi Pak Iwan tersenyum. "Bu, jalan tetap kita muluskan. Tapi
percuma jalan mulus kalau urusan administrasi masih berbelit. Nanti kalau sudah
online, Bu, ngurus surat pindah, ngurus KK baru, cukup dari rumah. Nggak perlu
ke kantor, nggak perlu antri."
Kerumunan
mulai berdiskusi sendiri-sendiri. Ada yang manggut-manggut, ada yang masih
mengernyitkan dahi. Tapi setidaknya, ketegangan mulai reda.
Malam
harinya, di rumah Pak Iwan, perangkat desa berkumpul lagi, kali ini informal,
sambil makan gorengan dan minum kopi.
"Amat,"
kata Pak Iwan, "besok kamu buat laporan lengkap. Semua yang kamu upload
tadi, itu kan draf APBDes. Besok kita bahas ulang. Benerin yang perlu
dibenerin. Lalu kita undang warga untuk musyawarah APBDes terbuka."
"Terbuka,
Pak?" Yuni masih ragu.
"Terbuka."
Pak Iwan mengangguk mantap. "Mereka punya hak tahu. Selama ini kita
sembunyi-sembunyi, akhirnya malah kecolongan. Mulai sekarang, kita buka
semuanya. Kalau ada yang protes, kita jelaskan. Kalau ada yang usul, kita
tampung."
"Tapi
ribet, Pak."
"Memang
jadi kepala desa itu ribet, Nduk." Pak Iwan tertawa. "Kalo nggak mau
ribet, jadi karyawan swasta aja. Pulang jam lima, gajian tetap."
Semua
tertawa. Amat tertawa paling keras, lega tak jadi dipecat.***
Tiga
hari kemudian, untuk pertama kalinya dalam sejarah Desa Awan Biru, musyawarah
APBDes digelar terbuka di balai desa. Warga membludak. Kursi tak cukup. Banyak
yang duduk di lantai, di teras, bahkan di pohon trembesi yang menjorok ke
halaman.
Amat
mempresentasikan angka-angka dengan proyektor pinjaman dari kecamatan. Layarnya
putih polos, gambar agak buram karena sinar matahari masih masuk. Tapi ia
berusaha sejelas mungkin.
"Ini
pos dana desa, Rp 1,2 miliar. Kita bagi untuk: pembangunan fisik jalan
lingkungan 35 persen, pemberdayaan masyarakat 20 persen, operasional
pemerintahan desa 25 persen, dan sisanya cadangan."
Seorang
warga angkat tangan. "Operasional kok 25 persen? Gede banget?"
"Pak,
itu termasuk gaji perangkat, pembelian komputer dan server, pelatihan IT, dan
langganan internet," jelas Amat, sudah lebih percaya diri.
"Internet?
Buat apa?"
"Buat
sistem online, Pak. Nanti bapak ngurus surat nggak perlu ke sini, cukup dari
HP. Tapi bapak punya HP kan?"
Warga
itu garuk-garuk kepala. "Punya, tapi buat telponan doang."
"Nanti
kita ajarin, Pak. Ada pelatihan gratis."
Kerumunan
mulai hangat. Banyak yang bertanya, banyak yang usul. Ada yang usul jalan di
desanya dulu yang diperbaiki, ada yang minta bantuan modal usaha, ada yang
protes karena namanya tidak masuk daftar penerima bantuan. Diskusi berlangsung
alot hingga maghrib.
Di
sela keributan, Pak Iwan diam-diam memperhatikan Amat yang sibuk mencatat semua
masukan di laptopnya. Pemuda itu masih sering melakukan kesalahan kecil, salah
ketik, salah format, tapi matanya fokus, tangannya cepat. Dan yang penting, ia
tidak menyerah.
"Mas
Amat," panggil Pak Iwan lembut.
"Ya,
Pak?"
"Kamu
itu, meskipun sering salah, punya satu kelebihan yang nggak semua orang
punya."
"Apa,
Pak?"
"Kamu
nggak takut belajar. Kamu jatuh, bangun lagi. Itu lebih berharga daripada seribu
orang pintar yang takut mencoba."
Amat
tersipu. "Saya ini, Pak, seringnya bikin susah orang."
"Besok,
kalau semua sudah lancar, orang akan lupa semua kesalahanmu. Yang mereka ingat:
Mas Amat yang pertama kali bikin desa ini punya website." Pak Iwan menepuk
bahunya. "Sekarang, selesaikan catatanmu. Besok kita rapat lagi."
Di
luar, senja mulai merah. Langit Awan Biru perlahan gelap. Di warung RT 02,
segelintir warga mulai berkumpul, mendiskusikan musyawarah tadi, membandingkan
dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Lumayan,
Pak Iwan mulai terbuka," kata salah satu.
"Ya,
tapi masih lama, Bro. Ini baru omongan. Eksekusinya gimana?"
"Kita
lihat aja. Lima tahun ke depan."
Warung
RT 02, dengan lampu tempelnya yang temaram, kembali menjadi saksi bisu diskusi
desa. Tak ada yang tahu bahwa dua puluh tahun kemudian, obrolan serupa akan
terjadi di tempat yang sama, dengan generasi yang berbeda, membahas desa yang
sudah berubah total.***
Musyawarah
Perencanaan Pembangunan Desa, Musrenbang adalah acara tahunan yang paling
dibenci Amat. Bukan karena acaranya, tapi karena konsekuensinya: satu hari
penuh sibuk mondar-mandir menyiapkan presentasi, mencatat usulan, dan yang
paling menegangkan, memastikan website desa bisa menampilkan semua data secara
real-time.
Tahun
ini, Pak Iwan meminta sesuatu yang baru: semua usulan warga langsung diinput ke
sistem online, bisa diakses publik, sehingga warga bisa memantau usulan mana
yang sudah masuk, mana yang sedang diproses, mana yang ditolak.
"Transparansi
total, Mas Amat," kata Pak Iwan pagi itu. "Kita buktikan pada warga
bahwa kita serius."
Amat
mengangguk, meski hatinya dag dig dug. Server desa, sebenarnya cuma komputer
bekas yang difungsikan sebagai server, sering overheat kalau dipakai terlalu
lama. Jaringan internet desa, yang mengandalkan sinyal seluler dari menara
terdekat, lemotnya minta ampun kalau cuaca mendung.
Musrenbang
dimulai pukul sembilan pagi. Balai desa penuh. Pak Iwan membuka acara dengan
sambutan singkat. Lalu Gilang, fasilitator dari kecamatan, memandu jalannya
diskusi.
Amat
duduk di pojok, laptop terhubung ke proyektor yang menampilkan dashboard
website desa. Setiap kali ada usulan, ia mengetik cepat, dan muncul di layar.
Warga bisa melihat langsung usulan mereka terdata.
"Wah,
canggih!" seru seorang warga. "Ini bisa dilihat di rumah juga?"
"Bisa,
Pak," jawab Amat bangga. "Nanti kami kasih tautannya. Bapak buka dari
HP."
"Anu,
Mas... saya kan nggak punya HP."
"Ini
buat anaknya, Pak. Biar anaknya yang monitor."
Diskusi
berlangsung lancar hingga pukul sebelas. Usulan mengalir: perbaikan jalan
lingkungan, pembangunan talud, bantuan modal untuk kelompok tani, pelatihan
keterampilan pemuda, posyandu baru untuk dusun terpencil. Amat mencatat semua,
tangannya hampir kram.
Lalu
tiba-tiba, layar proyektor mati.
Semua
menoleh ke Amat. Amat menoleh ke laptopnya. Laptop menyala, tapi koneksi ke server
putus. Ia cek jaringan, loading terus. Ia cek server, remote desktop tak bisa
masuk.
"E...
error, Mas?" tanya seorang warga.
Amat
tersenyum kaku. "Bentar, Pak, saya cek."
Ia
berlari ke ruang server, kamar kecil di belakang kantor yang dipenuhi kabel
semrawut. Komputer server menyala, tapi kipasnya mati. Panas. Amat segera
matikan, biarkan dingin sebentar. Ia cek thermometer, suhu ruangan 38 derajat.
Server kepanasan.
Balik
ke ruang musrenbang, ia berbisik pada Pak Iwan. "Server down, Pak.
Overheat."
Pak
Iwan menghela napas. "Berapa lama?"
"Tunggu
dingin dulu, setengah jam."
"Setengah
jam?" Pak Iwan menatap ruangan yang penuh warga menunggu. "Musrenbang
nggak bisa berhenti setengah jam."
Amat
garuk-garuk kepala. "Saya catat manual dulu, Pak. Nanti diinput
ulang."
"Ya
sudah, lakukan."
Musrenbang
lanjut tanpa layar proyektor. Amat mencatat manual di buku, panik karena
tulisannya jelek dan cepet-cepet. Sementara itu, di ruang server, komputer
perlahan dingin. Tapi setelah dinyalakan lagi, error. Windows corrupt.
Amat
hampir menangis.
Di
sela diskusi, Yuni dan Lulu mendekati Amat.
"Gimana,
Mat?" tanya Yuni.
"Server
error total. Data yang sudah diinput tadi hilang."
Lulu
menghela napas. "Mat, ini udah tiga kali kejadian. Kapan kita punya server
beneran?"
"Kita
nggak punya anggaran buat beli server baru, Lul. Ini aja komputer bekas
sumbangan."
"Itu
namanya kita butuh anggaran. Harus diusulkan."
"Udah
diusulkan di APBDes kemarin, tapi dipangkas."
Yuni
menggeleng. "Ini masalah serius, Mat. Bukan cuma soal kenyamanan, tapi
kredibilitas. Warga mulai percaya sama sistem online, tapi kalau sering error
gini, mereka balik lagi ke manual, dan kita balik lagi ke masa lalu."
Amat
terdiam. Di depannya, warga masih sibuk berdiskusi, tak tahu bahwa data mereka
yang tadi diinput raib entah ke mana.
Musrenbang
selesai pukul empat sore. Warga pulang, beberapa menyempatkan bertanya pada
Amat.
"Mas,
usulan saya udah masuk kan? Yang talud di belakang rumah saya?"
Amat
tersenyum. "Udah, Pak. Nanti saya cek lagi."
Bohong.
Usulan itu hilang.
Malam
harinya, Amat, Yuni, dan Lulu lembur di kantor. Mereka menyalin catatan manual
ke Excel, satu per satu, dengan tulisan Amat yang sulit dibaca. Kadang mereka
harus menerka-nerka: ini usulan siapa? Untuk apa? Lokasi di mana?
"Ini
tulisan apa, Mat?" Yuni menunjuk satu kata.
Amat
mendekat. "Itu... talud."
"Ini?
Kayak gambar cacing."
"Ya
itulah talud."
Lulu
terkekeh. "Mat, besok kalau nulis, usahakan rapi dikit. Nggak usah
cepet-cepet."
"Saya
panik tadi, Lul. Server mati, Pak Iwan ngebut nyuruh catat."
"Ya
sudah, kita selesaikan. Tapi Mat, ini bukan solusi jangka panjang. Kita harus
ngomong sama Pak Iwan. Kita butuh server baru, koneksi internet lebih baik, dan
mungkin... pegawai IT tambahan."
Amat
mengangguk lesu. "Apa Pak Iwan mau? Anggaran kan mepet."
"Kita
jelaskan konsekuensinya. Kalau sistem error terus, warga kecewa. Kepercayaan
yang sudah susah payah kita bangun, hancur."***
Dua
minggu kemudian, rapat perangkat desa membahas evaluasi Musrenbang. Amat,
dengan gemetar, mempresentasikan data yang hilang, sistem yang error, dan
usulan untuk pengadaan server baru.
"Estimasi
harganya?" tanya Pak Iwan.
"Sekitar
dua puluh juta, Pak. Untuk server, UPS, dan perbaikan ruangan biar adem."
Pak
Iwan bersiul pelan. "Dua puluh juta? Dari mana?"
"Dari
dana desa, Pak. Kita bisa alokasikan ulang."
"Alokasikan
ulang dari pos mana?" tanya Bendahara.
Amat
sudah siap. "Dari pos perjalanan dinas, Pak. Kita kurangi 30 persen. Dari
pos seremonial, kita tiadakan. Dan dari pos cetak laporan, kita kurangi."
Semua
diam. Mereka tak menyangka Amat berpikir sejauh itu.
"Kamu
sudah hitung?" tanya Pak Iwan.
"Sudah,
Pak. Ini rinciannya." Amat memberikan dokumen.
Pak
Iwan membaca pelan. Matanya berbinar. "Amat, ini... ini bagus."
"Saya
belajar dari kesalahan, Pak."
Yuni
dan Lulu saling pandang, tersenyum. Amat mulai menunjukkan perkembangan.
"Tapi,"
lanjut Amat, "saya punya usulan lain, Pak. Daripada beli server baru yang
mahal, mungkin kita bisa sewa cloud? Lebih murah, lebih aman, nggak perlu
ruangan khusus."
"Apa
itu cloud?" tanya Sekdes.
Amat
menjelaskan dengan sabar: penyimpanan online, data di server besar milik
perusahaan, diakses lewat internet, aman karena dikelola profesional, biaya
bulanan lebih murah daripada beli server sendiri.
"Jadi
kita nggak perlu punya server fisik di sini?" tanya Pak Iwan.
"Tidak,
Pak. Cukup langganan. Setahun mungkin lima juta, sudah termasuk support."
Pak
Iwan mengangguk-angguk. "Ini yang kamu pelajari dari mana?"
"Dari
internet, Pak. Saya cari-cari solusi."
Rapat
itu memutuskan untuk mengalokasikan dana langganan cloud dan peningkatan
koneksi internet. Juga, memberikan tunjangan kecil untuk Amat sebagai bentuk
apresiasi.
Saat
keluar ruangan, Lulu menyenggol Amat. "Mat, kamu hebat, tahu."
Amat
tersipu. "Ya, daripada diomelin terus, mending cari solusi."
"Bukan
cuma itu. Kamu mulai mikir sistematis. Nggak cuma teknis, tapi juga
anggaran."
"Karena
saya nggak mau lagi nangis gara-gara server mati."
Mereka
tertawa. Di luar, senja mulai turun. Lampu-lampu desa mulai menyala satu per
satu. Warung RT 02 sudah ramai oleh warga yang nongkrong sambil ngopi.
"Ayo,
Mat, aku traktir kopi," ajak Lulu.
"Mau,
tapi jangan lama-lama. Besok saya harus setting cloud."
Di Warung
RT 02, Amat, Yuni, dan Lulu duduk di meja sudut. Mbah Karyo, pemilik warung,
menyajikan kopi tubruk dan gorengan.
"Loh,
Mas Amat, katanya sibuk terus? Kok sekarang santai?" goda Mbah Karyo.
"Ya,
Mbah, sesekali santai. Biar otak nggak meledak."
"Lha,
iya. Anak muda jangan kebanyakan mikir. Nanti cepet tua."
Mereka
tertawa. Dari kejauhan, terlihat beberapa pemuda desa berkumpul, asyik dengan
ponsel masing-masing. Amat memandang mereka, berpikir.
"Mat,
kamu lihat apa?" tanya Yuni.
"Itu...
Bambang, anak Pak Santoso. Baru pulang liburan kuliah."
Bambang,
mahasiswa multimedia di kota, sedang asyik menunjukkan sesuatu pada
teman-temannya. Dari kejauhan, Amat bisa melihat layar ponsel Bambang, tampak
seperti website desa.
"Nanti
saya ajak ngobrol," gumam Amat.
"Buat
apa?"
"Dia
anak multimedia. Mungkin dia bisa bantu desain website kita. Biar nggak kaku
kayak sekarang."
Yuni
mengangguk. "Ide bagus. Ajak aja."
Amat
bangkit, berjalan mendekati kelompok pemuda itu. "Bambang, boleh ngobrol
sebentar?"
Bambang
menoleh, kaget. "Oh, Mas Amat. Ada apa?"
"Gini,
saya liat tadi kamu buka website desa. Gimana menurutmu?"
Bambang
tersenyum, agak canggung. "Jujur, Mas?"
"Jujur
aja."
"Website
kita... agak jadul, Mas. Desainnya kaku, warnanya kurang menarik. Terus di
mobile, tata letaknya berantakan."
Amat
mengangguk, tak tersinggung. "Makanya saya mau minta tolong. Kamu kan anak
multimedia. Bisa nggak bantu kita benahi? Desain ulang, bikin lebih
modern?"
Mata
Bambang berbinar. "Bisa, Mas! Saya malah senang. Ada proyek beneran."
"Tapi
ini pro bono ya, nggak ada bayaran. Anggaran lagi habis buat server
cloud."
"Nggak
apa-apa, Mas. Yang penting pengalaman. Saya lagi butuh portofolio."
Mereka
berjabat tangan. Di meja sudut, Yuni dan Lulu menyaksikan dengan senyum.
"Mas
Amat makin jadi, ya," kata Lulu.
"Iya,
dia mulai bisa baca kebutuhan dan cari solusi. Dulu cuma bisa panik."
"Orang
belajar dari kesalahan, Lul. Dan Amat dapat kesalahan banyak."
Mereka
tertawa. Di langit, bintang-bintang mulai muncul. Warung RT 02, dengan lampu
tempelnya yang hangat, kembali menjadi saksi lahirnya kolaborasi baru.***
Musyawarah
dusun selalu menjadi ujian kesabaran bagi perangkat desa. Dan ujian terberat
bernama Santoso.
Pak
Santoso, petani berusia 55 tahun dengan kumis tebal dan suara menggelegar, adalah
tipe warga yang hadir di setiap musyawarah, duduk di barisan terdepan, dan
mengajukan usulan tanpa henti. Bukan satu atau dua, tapi belasan. Semuanya
penting menurutnya. Semuanya mendesak.
Pagi
itu, musyawarah dusun RT 02 digelar di rumah Pak RT. Halaman depan disulap jadi
tempat pertemuan dengan tikar plastik dan kursi seadanya. Pak Iwan hadir
langsung, didampingi Amat yang bertugas mencatat usulan.
"Saya
mulai ya, Pak Iwan," Santoso angkat bicara bahkan sebelum acara resmi
dibuka. "Usulan saya: pertama, jalan gang belakang rumah saya harus
diaspal. Udah bolong di mana-mana. Kedua, got di depan masjid perlu diperdalam,
soalnya kalau hujan kebanjiran. Ketiga, lampu jalan di ujung desa mati dua
minggu, belum diperbaiki. Keempat, bantuan pupuk untuk petani harus ditambah.
Kelima..."
"Pak
Santoso, sabar, Pak," potong Pak RT. "Ini acara baru mau
dimulai."
"Saya
takutnya lupa, Pak RT. Mending langsung saya sampaikan."
Warga
lain tertawa. Santoso tak peduli. Ia terus menyebut usulan satu per satu,
berjari tangan kiri untuk menghitung. Sampai usulan ke dua belas, ia berhenti
karena kehabisan jari.
"Pak
Santoso, itu usulannya dua belas?" tanya Pak Iwan.
"Iya,
Pak Iwan. Itu saja dulu. Nanti kalau ingat lagi, saya tambah."
Amat,
yang sibuk mencatat, menghela napas. Di buku catatannya, usulan Santoso sudah
memenuhi setengah halaman. Sementara warga lain belum sempat bersuara.
Musyawarah
berlangsung alot. Setiap kali Pak RT mempersilakan warga lain, Santoso menyela
dengan tambahan usulan.
"Pak
RT, saya lupa satu. Saluran irigasi di sawah saya perlu dibersihkan, udah
banyak enceng gondok."
"Pak
Santoso, biar warga lain dulu."
"Bentar,
Pak RT, penting ini. Soalnya kalau irigasi mampet, sawah saya kebanjiran. Kalau
sawah saya kebanjiran, gagal panen. Kalau gagal panen, saya nggak bisa bayar
listrik. Kalau nggak bisa bayar listrik, rumah saya gelap. Kalau rumah saya
gelap..."
"Ya
udah, ya udah, kita catat." Pak Iwan mengangkat tangan pasrah. "Amat,
catat usulan Pak Santoso yang ke-13."
Amat
mencatat sambil tersenyum kecut. Di belakang, Yuni berbisik pada Lulu.
"Ini musyawarah atau curhat pribadi?"
"Sabar,
Lul. Itu namanya partisipasi warga."
Saat
usulan masuk nomor 15, seorang warga tak tahan. "Pak Santoso, itu usulan
bapak pribadi semua. Mana usulan untuk kepentingan umum?"
Santoso
menoleh, kening berkerut. "Ini semua kepentingan umum, Mas. Jalan gang
belakang rumah saya itu dilewati banyak orang. Got di depan masjid ya buat
umum. Lampu jalan ya penerangan umum. Bantuan pupuk buat petani ya buat
ketahanan pangan umum. Irigasi ya buat pengairan umum. Semua umum, Mas."
Warga
itu bungkam. Logika Santoso sulit dibantah.
Pak
Iwan tersenyum. Ia justru senang melihat warganya seantusias ini. Tapi ia juga
harus menjaga agar musyawarah berjalan efektif.
"Pak
Santoso, saya hargai semua usulan bapak. Tapi kita punya waktu terbatas, dan
masih banyak warga lain yang ingin menyampaikan pendapat. Bagaimana kalau
usulan bapak kita tampung dulu semua, nanti kita bahas di forum
selanjutnya?"
Santoso
mengangguk. "Boleh, Pak Iwan. Tapi saya minta janji, usulan saya nggak
boleh didiskriminasi."
"Insha
Allah, Pak. Semua usulan diperlakukan sama."
Musyawarah
lanjut. Giliran warga lain menyampaikan usulan. Ada yang minta bantuan modal
usaha, ada yang minta pelatihan menjahit, ada yang protes karena anaknya belum
dapat KIP. Suasana mulai hidup.
Tiba-tiba,
Santoso angkat tangan lagi.
"Ya,
Pak Santoso?"
"Ini,
Pak Iwan, saya tambah satu usulan. Nomer 16."
Seluruh
ruangan menghela napas serempak.
"Usulan
apa, Pak?"
"Tempat
sampah di pinggir jalan raya. Soalnya banyak orang buang sampah sembarangan.
Saya lihat sendiri, tadi pagi ada orang buang bungkus rokok."
Pak
Iwan mengangguk sabar. "Baik, Pak Santoso, kita catat."
Amat
mencatat dengan tulisan yang makin tak terbaca. Di buku catatannya, nama
Santoso sudah muncul 16 kali. Sementara warga lain, rata-rata satu sampai dua
usulan.
Musyawarah
selesai pukul setengah satu siang. Warga membubarkan diri, beberapa mampir ke
warung untuk makan siang. Santoso mendekati Pak Iwan.
"Pak
Iwan, saya minta maaf kalau tadi terlalu banyak usul. Tapi saya tulus, Pak.
Saya ingin desa ini maju."
Pak
Iwan menepuk bahunya. "Pak Santoso, saya nggak marah. Justru bersyukur
punya warga seperti bapak. Tapi lain kali, tolong usulannya diprioritaskan.
Mana yang paling penting, mana yang bisa nunggu."
"Semua
penting, Pak Iwan."
"Itu
masalahnya." Pak Iwan tertawa. "Tapi kita punya anggaran terbatas.
Nggak semua bisa dikerjakan setahun. Harus bertahap."
Santoso
mengangguk, sedikit kecewa. "Jadi usulan saya yang mana yang mungkin
dikerjakan tahun ini?"
"Kita
lihat nanti di Musrenbang, Pak. Semua usulan akan di-ranking berdasarkan
prioritas dan ketersediaan dana."
"Tapi
usulan saya kan banyak, Pak Iwan. Otomatis lebih mungkin ada yang
diterima."
Pak
Iwan tertawa lepas. "Pak Santoso, itu strategi jitu. Usul banyak, harapan
banyak yang lolos."
Santoso
tersipu, seperti anak kecil ketahuan triknya. "Hehehe, ketahuan ya,
Pak?"
"Ya
sudahlah, Pak. Tapi ingat, kalau banyak yang lolos, bapak harus bantu awasi
pelaksanaannya. Jangan cuma ngusul, nggak mau bantu."
"Siap,
Pak Iwan. Saya pasti bantu. Tenaga saya siap."
Mereka
berjabat tangan. Amat, yang mendengar percakapan itu, tersenyum dalam hati. Pak
Iwan punya cara sendiri untuk menghadapi warga. Tidak mematahkan semangat, tapi
juga mengelola ekspektasi.***
Sore
harinya, di kantor desa, Amat mengetik semua usulan dari musyawarah dusun. Nama
Santoso muncul di 23 baris. Beberapa usulan bahkan hampir sama, jalan
lingkungan misalnya, diusulkan tiga kali dengan lokasi berbeda.
"Mas
Amat, ini usulan Pak Santoso banyak banget," kata Yuni yang membantu entry
data.
"Iya,
Bu Yuni. Tapi dari 23 itu, mungkin cuma 3-4 yang realistis."
"Mana
aja?"
"Jalan
gang belakang rumahnya, got di depan masjid, irigasi, dan lampu jalan. Sisanya
agak... aneh."
"Contohnya?"
Amat
membaca daftar. "Usulan nomer 8: pembelian traktor pribadi. Pak Santoso
bilang untuk umum, tapi jelas itu traktor buat sawahnya sendiri. Nomer 12:
pelatihan penerbangan balon udara. Katanya untuk atraksi wisata desa. Nomer 17:
pembangunan menara pandang setinggi 20 meter di sawahnya. Buat apa?"
Yuni
tertawa. "Pak Santoso ini kreatif ya."
"Kreatif
sih, tapi nggak masuk akal. Mana mungkin anggaran desa buat menara pandang di
tengah sawah."
"Ya,
itu nanti akan gugur di verifikasi. Tapi setidaknya, dia sudah punya
mimpi."
Amat
mengangguk. "Mimpi setinggi menara 20 meter."
Mereka
tertawa bersama. Di luar, Pak Iwan lewat, mendengar tawa mereka.
"Lagi
ngapain, kok rame?"
"Lagi
baca usulan Pak Santoso, Pak. Yang menara pandang."
Pak
Iwan mendekat, membaca layar komputer. Ia tertawa keras. "Pak Santoso ini,
idenya liar sekali. Tapi saya suka."
"Bapak
suka?" Amat heran.
"Suka.
Karena dia berpikir out of the box. Nggak terpaku pada usulan-usulan standar.
Mungkin idenya nggak masuk akal sekarang, tapi siapa tahu 20 tahun lagi, menara
pandang di sawah jadi ide brilian."
Amat
dan Yuni saling pandang. Pak Iwan memang unik.
"Tapi
untuk sekarang," lanjut Pak Iwan, "kita fokus dulu pada usulan
realistis. Santoso pasti akan protes kalau usulannya banyak ditolak. Kita harus
siap menjelaskan."
"Bagaimana
cara menjelaskannya, Pak?" tanya Amat.
"Dengan
data. Tunjukkan padanya anggaran desa, tunjukkan skala prioritas, tunjukkan
usulan warga lain yang lebih mendesak. Kalau dia masih protes, kita ajak duduk
bersama, diskusi. Jangan pernah merendahkan mimpinya. Hanya mengarahkan."
Musrenbang
tingkat desa digelar dua minggu kemudian. Semua usulan dari musyawarah dusun
dibahas, di, ranking, dan dipilih mana yang masuk Rencana Kerja Pemerintah Desa
tahun depan.
Santoso
hadir lebih awal. Ia duduk di barisan terdepan, membawa buku catatan tebal. Di
depannya, Amat menyiapkan proyektor yang menampilkan daftar usulan lengkap, termasuk
23 usulan Santoso yang tersebar di berbagai kategori.
Acara
dimulai. Pak Iwan menjelaskan mekanisme: setiap usulan akan dibaca, diberi
kesempatan warga untuk memberikan dukungan atau sanggahan, lalu dilakukan
voting sederhana untuk menentukan prioritas.
Usulan
pertama: perbaikan jalan lingkungan. Santoso langsung angkat bicara.
"Pak
Iwan, itu usulan saya. Jalan gang belakang rumah."
Seorang
warga lain mengangkat tangan. "Pak Iwan, saya dukung. Jalan itu memang
rusak parah, setiap hujan becek."
Voting:
80 persen setuju. Lolos.
Usulan
kedua: got di depan masjid. Juga usulan Santoso.
"Saya
dukung," kata takmir masjid. "Setiap hujan, air masuk ke halaman
masjid."
Voting:
90 persen setuju. Lolos.
Usulan
ketiga: bantuan pupuk untuk petani.
Santoso
kembali angkat bicara. "Ini usulan saya, Pak Iwan. Petani butuh
bantuan."
Seorang
petani lain menimpali. "Tapi Pak Santoso, bantuan pupuk itu kan sudah ada
dari pemerintah pusat. Mungkin lebih baik kita usulkan hal lain."
Santoso
mengerutkan kening. "Lho, tambahan nggak apa-apa kan?"
"Tapi
anggaran terbatas, Pak. Daripada buat bantuan pupuk, lebih baik buat irigasi
yang manfaatnya jangka panjang."
Diskusi
memanas. Kelompok petani terbelah dua. Ada yang setuju usulan Santoso, ada yang
lebih memprioritaskan irigasi.
Pak
Iwan menengahi. "Baik, kita voting. Yang setuju bantuan pupuk, angkat
tangan."
Tujuh
tangan terangkat.
"Yang
setuju irigasi?"
Lima
belas tangan.
"Usulan
bantuan pupuk gugur, masuk prioritas cadangan. Usulan irigasi lanjut."
Santoso
menghela napas, tapi tak protes. Ini demokrasi.
Musyawarah
berlangsung hingga sore. Dari 23 usulan Santoso, hanya 5 yang lolos prioritas
utama. Sisanya masuk cadangan atau gugur sama sekali. Santoso terlihat kecewa,
tapi ia tetap diam.
Saat
istirahat, Pak Iwan mendekatinya.
"Pak
Santoso, bagaimana? Kecewa?"
"Ya
kecewa, Pak Iwan. Tapi saya paham. Anggaran terbatas."
"Saya
hargai kedewasaan bapak. Tapi bapak tahu, kenapa usulan bapak banyak yang
gugur?"
"Karena
warga lain milih usulan mereka sendiri."
"Bukan
cuma itu." Pak Iwan duduk di samping Santoso. "Karena bapak terlalu
banyak usul, jadi usulan bapak tersebar. Warga bingung mana yang harus
didukung. Coba bapak fokus pada 3-4 usulan terpenting, kumpulkan dukungan dari
warga lain, pasti lebih mungkin lolos."
Santoso
terdiam, merenung.
"Mulai
sekarang, bapak harus jadi pengusul yang cerdas. Bukan banyak, tapi strategis.
Pilih usulan yang paling mungkin didukung banyak orang, lalu perjuangkan."
"Tapi
bagaimana dengan usulan-usulan lain yang penting?"
"Bapak
bisa perjuangkan di tahun berikutnya. Atau bapak bisa kumpulkan kelompok warga
yang punya kepentingan sama, lalu usulkan bersama. Kekuatan ada di kebersamaan,
Pak."
Santoso
mengangguk pelan. "Jadi saya harus... sabar?"
"Tepat.
Sabar, konsisten, dan membangun aliansi. Itulah politik desa, Pak Santoso.
Bukan soal siapa paling keras, tapi siapa paling cerdas membangun dukungan."
Santoso
menatap Pak Iwan, matanya berbinar. "Pak Iwan, saya baru paham sekarang.
Selama ini saya pikir, makin banyak usul makin besar kemungkinan diterima.
Ternyata salah."
"Tidak
salah, Pak. Hanya kurang strategis. Tapi bapak sudah punya semangat yang luar
biasa. Semangat itulah yang membuat desa ini hidup."
Mereka
berjabat tangan. Santoso tersenyum, untuk pertama kalinya hari itu.
Saat
musyawarah dilanjutkan, Santoso tak lagi mengajukan usulan baru. Ia hanya
menyimak, sesekali mengangguk, dan saat voting tiba, ia mengangkat tangan untuk
usulan yang menurutnya masuk akal.
Pak
Iwan tersenyum melihatnya. Perlahan, Santoso belajar.***
Pagi
itu, suasana kantor desa panas bukan karena suhu, tapi karena emosi. Seorang
laki-laki paruh baya berdiri di depan meja pelayanan, wajah merah, suara
meninggi. Itu Sugeng, buruh harian lepas, ayah tiga anak yang baru saja
melahirkan anak keempat seminggu lalu.
"Lima
hari saya ke sini, mbak. Lima hari! Masih belum selesai juga. Anak saya butuh
KK buat urus BPJS, tapi katanya terus 'diproses, diproses'. Prosesnya sampai
kapan?" suara Sugeng memecah kesunyian.
Yuni,
yang bertugas di meja pelayanan, mencoba tenang. "Pak Sugeng, sabar, Pak.
Kita lagi input data, tapi server lemot. Mohon doanya biar cepet normal."
"Server!
Server! Mulai tahun ini semua pakai server. Dulu manual, satu hari jadi.
Sekarang lima hari belum kelar. Katanya digitalisasi biar cepet? Ini mah makin
lambat!"
Beberapa
warga yang antre di belakang mulai bergumam setuju. Suasana mulai tidak nyaman.
Amat,
yang mendengar keributan dari ruang belakang, segera keluar. Ia melihat Yuni
mulai kewalahan menghadapi Sugeng.
"Ada
apa, Pak?" tanya Amat sopan.
"Ini
lho, Mas. Urus tambah jiwa di KK. Udah lima hari, nggak kelar-kelar. Istri saya
di rumah nungguin, katanya anak saya harus segera daftar BPJS. Nanti kalau
sakit gimana? Tanggung jawab siapa?"
Amat
menarik napas. Ia paham masalahnya. Sistem baru yang mereka terapkan, aplikasi
administrasi kependudukan berbasis cloud, memang sedang migrasi data. Prosesnya
lambat karena koneksi internet desa belum stabil. Tapi ia tak bisa menjelaskan
semua itu pada Sugeng yang sudah emosi.
"Pak
Sugeng, saya cek dulu ya. Duduk dulu, Pak. Yuni, tolong ambilkan air
minum."
Amat
masuk ke ruang server, kamar kecil yang kini sudah dilengkapi AC bekas untuk
mendinginkan perangkat. Ia buka laptop, login ke sistem. Data Sugeng memang
sudah masuk, tapi stuck di status "verifikasi" karena ada
ketidakcocokan format.
Ia
telpon helpdesk aplikasi. Setengah jam menunggu, baru dijawab.
"Mas,
ini datanya error karena NIK istri bapak ini beda satu digit dengan yang di
database Dukcapil. Mungkin salah input."
Amat
menghela napas. "Bisa dibenerin?"
"Bisa,
tapi harus manual. Kita nggak bisa ubah otomatis. Mas harus ajukan perbaikan
data dulu ke Dukcapil."
Amat
hampir membanting telepon. Prosesnya jadi makin panjang.
Ia
keluar ruangan, menghadapi Sugeng yang sudah duduk dengan wajah cemberut.
"Gimana,
Mas?" tanya Sugeng, nada suaranya masih tinggi.
"Pak
Sugeng, maaf, ada sedikit kendala teknis. NIK ibu... eh, istri bapak, ada
perbedaan dengan data pusat. Jadi harus dibenerin dulu."
Sugeng
melompat berdiri. "Maksudmu? Istri saya NIK-nya salah? Itu NIK udah
dipakai bertahun-tahun, buat ngurus ini itu nggak pernah masalah. Kok sekarang
baru salah?"
Amat
mencoba tenang. "Mungkin waktu perekaman dulu, ada kesalahan input. Tapi
kita bisa urus perbaikannya, kok."
"Lama
lagi?"
"Prosesnya...
mungkin seminggu."
Sugeng
hampir meledak. Tapi sebelum ia sempat berteriak, Bu Endang keluar dari ruang
kepala desa. Ia melihat situasi, lalu mendekat.
"Pak
Sugeng, mari saya bantu."
Bu
Endang, istri Pak Iwan yang juga aktif di PKK, dikenal warga sebagai sosok yang
tegas tapi penyabar. Ia mempersilakan Sugeng duduk lagi, lalu duduk di hadapannya.
"Pak
Sugeng, saya ngerti bapak kesel. Tapi marah-marah nggak akan bikin proses lebih
cepat. Sekarang, tolong ceritakan dari awal. Anak bapak lahir kapan?"
Sugeng,
agak tenang, mulai bercerita. Anaknya lahir seminggu lalu di puskesmas,
prematur, berat badan rendah. Dokter bilang harus rutin periksa dan mungkin
butuh perawatan khusus. Makanya ia buru-buru urus BPJS.
Bu
Endang mengangguk paham. "Kalau kondisinya darurat, bapak bisa langsung
bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit. Mereka harus tetap melayani meskipun
BPJS belum aktif."
"Tapi
nanti bayarnya mahal, Bu."
"Itu
nanti bisa diurus klaim setelah BPJS aktif. Ada mekanismenya. Saya kenal sama
bidan Amelia, nanti saya bantu koordinasi."
Sugeng
mulai sedikit lega. "Terus masalah KK-nya gimana?"
"Kita
urus dua jalur. Jalur pertama, perbaikan data istri bapak ke Dukcapil. Jalur
kedua, sambil nunggu, saya bantu buatkan surat keterangan dari desa yang
menyatakan anak bapak sudah tercatat. Surat ini bisa dipakai sementara untuk
urus BPJS."
"Bisa,
Bu?"
"Bisa.
Nggak ideal sih, tapi bisa. Daripada bapak nunggu lama dan anak nggak
tercover."
Sugeng
mengangguk. "Baik, Bu. Saya minta maaf tadi marah-marah."
"Nggak
apa-apa, Pak. Namanya juga lagi panik. Saya juga gitu kalau anak saya
sakit."
Bu
Endang menoleh ke Amat. "Mas Amat, tolong buatkan surat keterangan untuk
anak Pak Sugeng. Formatnya seperti surat keterangan lahir, tapi kita tambahkan
kalimat bahwa proses KK sedang berjalan."
"Siap,
Bu." Amat segera ke komputer.
Setengah
jam kemudian, Sugeng pulang dengan surat keterangan di tangan. Wajahnya jauh
lebih tenang.
Amat
mendekati Bu Endang. "Bu, maaf, saya yang bikin kacau. Salah input
NIK."
"Mas
Amat, kesalahan input itu wajar. Yang nggak wajar kalau kita nggak punya solusi
darurat. Ingat, warga itu nggak peduli sistem kita ribet atau gampang. Yang
mereka peduli: urusan mereka selesai."
"Tapi
sistem kita memang masih bermasalah, Bu. Koneksi lemot, aplikasi error,
helpdesk lambat."
"Iya,
itu PR kita. Tapi sambil membenahi sistem, kita harus punya plan B. Layanan manual
untuk kasus darurat. Jangan sampai warga terlantar gara-gara sistem
error."
Amat
mengangguk. "Saya catat, Bu."
"Iya,
catat. Besok kita rapatkan sama Pak Iwan. Kita perlu protokol darurat untuk
pelayanan."
Rapat
perangkat desa keesokan harinya membahas insiden Sugeng. Pak Iwan meminta semua
evaluasi jujur.
"Ini
sudah keempat kalinya dalam sebulan ada warga komplain soal lambatnya
pelayanan," kata Pak Iwan. "Kita harus cari solusi."
Yuni
angkat bicara. "Pak Iwan, masalah utamanya di sistem. Aplikasi Dukcapil
sering error, apalagi jam sibuk. Koneksi internet kita juga nggak stabil.
Sering putus nyambung."
"Koneksi
bisa ditingkatkan?" tanya Pak Iwan.
"Bisa,
Pak. Tapi biayanya naik. Kita harus tambah langganan bandwidth."
Lulu
menambahkan. "Selain itu, kita perlu pelatihan untuk staf. Banyak yang
masih gagap teknologi. Yuni dan saya bisa, tapi yang lain masih sering
bingung."
Amat
mengangguk. "Saya usulkan kita buat SOP darurat. Kalau sistem error, kita
buka layanan manual. Pakai formulir kertas. Nanti setelah sistem normal, baru
diinput."
"Tapi
itu double kerja, Mat," kata Sekdes.
"Iya,
Pak. Tapi daripada warga komplain, mending double kerja. Darah tinggi saya juga
nggak usah naik."
Semua
tertawa. Amat mulai bisa bercanda di rapat.
Pak
Iwan mengangguk. "Baik, kita putuskan: Pertama, tambah bandwidth internet.
Kedua, pelatihan IT untuk semua staf. Ketiga, SOP darurat untuk antisipasi
error. Keempat..."
Ia
menatap Amat. "Kamu harus punya asisten."
Amat
terkejut. "Asisten, Pak?"
"Iya.
Kamu kan sekarang merangkap: IT support, operator, helpdesk, kadang jadi
psikolog warga. Nggak sehat. Kita cari satu orang lagi, khusus bantu urusan
teknis. Mungkin anak muda lulusan SMK jurusan IT."
Amat
hampir menangis. Selama ini ia bekerja sendirian, dari pagi hingga malam, kadang
lembur sampai subuh kalau ada error besar. Dengan asisten, beban kerjanya
berkurang.
"Tapi,
Pak, anggarannya?"
"Kita
alokasikan dari pos tak terduga. Memang ini darurat. Kepercayaan warga itu
nggak ternilai, Mat. Lebih mahal dari server mana pun."***
Sepekan
kemudian, pengumuman lowongan tenaga IT Desa Awan Biru terpampang di papan
pengumuman dan website desa. Gaji UMK, tapi ada tunjangan transport dan makan
siang. Syarat: lulusan SMK/Sederajat jurusan IT atau punya sertifikat kursus
komputer.
Tiga
hari pertama, tak ada yang melamar. Amat mulai cemas. Hari keempat, seorang
pemuda datang ke kantor.
"Selamat
pagi, Mas. Saya mau daftar."
Amat
menatap pemuda itu. Masih sangat muda, mungkin 18 atau 19 tahun. Wajahnya
familiar.
"Nama
kamu?"
"Rizki,
Mas. Adiknya Bambang."
Amat
ingat. Bambang, mahasiswa multimedia yang ia ajak diskusi beberapa waktu lalu.
Adiknya ini masih kelas 3 SMK, jurusan TKJ.
"Kamu
masih sekolah, Ki?"
"Lulus
minggu depan, Mas. Udah ujian, tinggal pengumuman. Saya bisa mulai bulan depan
kalau diterima."
Amat
memandanginya ragu. "Kamu bisa apa?"
"Semua
yang Mas Amat butuhkan. Setting jaringan, troubleshooting PC, bikin website
sederhana, ngelola database dasar. Saya juga bisa bantu desain grafis
dikit-dikit."
Amat
menghela napas. Ini berkah. Anak muda yang jelas kemampuannya, fresh graduate,
dan mau kerja di desa.
"Kamu
nggak mau merantau ke kota?"
Rizki
menggeleng. "Nggak, Mas. Saya pengen di sini aja. Bantu desa. Kakak saya
bilang, Mas Amat butuh bantuan. Katanya sistem desa lagi dibangun, seru."
Amat
tersenyum. "Kakak kamu benar. Sistem kita lagi dibangun, kadang ambruk.
Tapi seru. Kamu siap ambruk bareng?"
Rizki
tertawa. "Siap, Mas. Asal jangan ambruk tiap hari."
Mereka
berjabat tangan. Amat mendapatkan asisten pertamanya.***
Malam
itu, Warung RT 02 lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena listrik padam di sebagian
desa, pemadaman bergilir akibat gangguan PLN, jadi warga berkumpul di tempat
yang punya genset. Warung Mbah Karyo termasuk yang beruntung: punya genset kecil
dari sumbangan anaknya yang merantau.
Lampu
tempel dan lampu genset menerangi warung dengan cahaya temaram. Beberapa warga
duduk di bangku panjang, ngopi sambil main domino. Di pojok, sekelompok ibu-ibu
asyik bergosip. Di meja dekat pintu, Pak Iwan duduk sendiri, menyeruput kopi
pahit sambil memandang ke luar.
Amat
datang bersama Rizki. Mereka baru selesai setting ulang server setelah listrik
padam. Badan pegal, mata perih, tapi perut keroncongan.
"Mbah,
minta dua kopi sama gorengan," panggil Amat.
Mbah
Karyo, pemilik warung, mengangguk dari balik etalase. Usianya sudah 70 tahun,
tapi masih gesit melayani. "Mas Amat, kok lembur terus? Nanti loyo,
lho."
"Lah,
Mbah, ini abis benahi server. Listrik mati lagi."
"Ya
Allah, listrik mati mulu. PLN ogi-ogian."
Amat
tertawa. Mbah Karyo sering menciptakan istilah sendiri. "Ogi-ogian"
artinya kurang kerjaan, bahasa campuran Jawa-Indonesia yang hanya dipahami
warga desa.
Mereka
duduk di meja dekat Pak Iwan. "Selamat malam, Pak Iwan. Kok
sendirian?"
Pak
Iwan menoleh, tersenyum. "Endang lagi arisan PKK. Anak-anak udah tidur.
Jadi saya kabur ke sini."
"Bosan
di rumah, Pak?"
"Bukan
bosan. Tapi di sini lebih... hidup. Banyak obrolan, banyak cerita. Saya jadi
bisa dengar apa yang warga pikirkan."
Amat
mengangguk. Ia paham. Warung RT 02 memang semacam parlemen tidak resmi desa. Di
sini, semua orang bisa bicara bebas, tanpa protokol, tanpa jabatan.
Dari
kejauhan, suara diskusi warga terdengar jelas.
"Pak
RT itu kalau bagi bantuan sembako, nggak merata lho. Tetangga saya dapet dua
kali, saya malah nggak dapet sama sekali."
"Sabarlah,
Bu. Mungkin ada kriteria tertentu."
"Apaan
kriteria, tetangga saya itu rumahnya lebih besar dari rumah saya. Masa dia
lebih miskin dari saya?"
"Ya
nggak gitu hitungannya, Bu..."
Pak
Iwan mendengarkan dengan saksama. Amat melihat raut mukanya berubah, ada yang
mengganjal.
"Nanti
saya cek," gumam Pak Iwan pelan.
"Pak
Iwan mau intervensi?" tanya Amat.
"Nanti,
besok. Saya harus tahu dulu kebenarannya. Jangan sampai saya main tuduh. Bisa
jadi ada kesalahan data, bisa jadi ada salah paham, bisa jadi... ya nggak
menutup kemungkinan ada main mata. Pokoknya saya cek."
Rizki,
yang masih baru, mendengarkan dengan takjub. "Pak Iwan serius banget ya
sama keluhan warga."
"Rizki,"
Pak Iwan menatap pemuda itu, "kamu baru bergabung. Saya kasih tahu satu
hal: jadi perangkat desa itu bukan cuma kerja administratif. Tapi juga jadi
pendengar. Kadang warga cuma butuh didengar. Nggak selalu butuh solusi. Tapi
kalau mereka punya masalah, kita harus responsif."
Rizki
mengangguk.
Malam
semakin larut. Pemadaman listrik berakhir pukul sembilan, tapi warga tak
buru-buru pulang. Warung masih ramai. Domino masih berlanjut. Gosip masih
mengalir.
Seorang
pemuda masuk, langsung menuju meja Pak Iwan. "Pak Iwan, boleh
nimbrung?"
Itu
Bambang. Kuliahnya libur, ia pulang kampung.
"Silakan,
Bang. Duduk."
Bambang
duduk, memesan kopi. "Pak Iwan, saya lihat website desa udah diperbaiki.
Desainnya baru, lebih kece."
"Terima
kasih Bang. Itu berkat masukan kamu." Amat tersenyum. "Rizki juga
banyak bantu."
Bambang
menepuk bahu adiknya. "Dia anak SMK, emang jago soal IT. Saya cuma bisa
desain, dia yang ngoding."
"Kerja
sama yang bagus," kata Pak Iwan. "Nanti kalian berdua yang urus
digitalisasi desa. Saya mau desa ini jadi percontohan."
Bambang
tertawa. "Percontohan error, Pak?"
Semua
tertawa. Tawa itu pecah, mengundang perhatian warga lain. Mereka ikut tertawa
meski tak tahu apa lucunya. Suasana makin hangat.
Di
tengah tawa, Pak Iwan tiba-tiba terdiam. Ia menatap sekeliling warung:
bangku-bangku kayu usang, lampu tempel, asap dapur, warga yang bercengkerama.
Matanya berkaca-kaca.
"Pak
Iwan, kenapa?" tanya Amat.
"Enggak,
saya cuma... merenung." Pak Iwan menghela napas. "Saya sudah dua
periode jadi kepala desa. Tiga tahun lagi periode kedua selesai. Setelah itu,
saya harus siap-siap pensiun."
"Pak
Iwan masih bisa maju lagi, kan? Periode ketiga?"
"Bisa.
Tapi maksimal tiga periode. Itu pun kalau warga milih lagi." Pak Iwan
tersenyum getir. "Tapi kadang saya berpikir, apa yang sudah saya lakukan
untuk desa ini? Jalan masih bolong, administrasi masih berantakan, digitalisasi
baru mulai. Apa saya cukup berhasil?"
Suasana
meja hening. Amat, Rizki, Bambang, semuanya diam.
"Pak
Iwan," Bambang memecah keheningan, "saya baru ikut ngurus website
beberapa minggu. Tapi saya lihat, Pak Iwan itu berbeda."
"Berbeda
bagaimana?"
"Pak
Iwan itu... mendengar. Nggak semua kepala desa mau dengar. Apalagi dari anak
muda. Tapi Pak Iwan mau dengar ide saya, mau dengar kritik saya tentang
website. Itu langka, Pak."
Amat
menambahkan. "Pak Iwan juga selalu bela saya. Padahal saya ini tukang
error. Tapi Pak Iwan nggak pernah marah, selalu bilang 'kamu lagi
belajar'."
Rizki
ikut bicara. "Saya baru beberapa hari, tapi Pak Iwan sudah kasih saya
tanggung jawab. Itu... berarti buat saya. Saya nggak cuma jadi anak buah, tapi
diajak mikir."
Pak
Iwan terharu. Ia tak menyangka anak-anak muda ini memperhatikannya begitu.
"Terima
kasih, Nak. Tapi ingat, saya cuma manusia biasa. Banyak salahnya. Tapi saya
coba untuk terus belajar. Dari kalian, dari warga, dari siapa pun."
Mbah
Karyo, yang sedari tadi mendengar dari balik etalase, ikut angkat bicara.
"Pak Iwan, saya sudah 70 tahun. Sudah lihat lima kepala desa. Pak Iwan
yang paling... aneh."
"Aneh,
Mbah?"
"Iya,
aneh. Kepala desa lain sibuk proyek, sibuk bangun fisik. Pak Iwan sibuk
ngurusin komputer, server, website. Yang warga butuh itu jalan mulus, bukan
website keren."
Pak
Iwan tersenyum. "Tapi Mbah, website itu jalan juga. Jalan informasi. Jalan
komunikasi. Jalan transparansi. Nanti kalau jalan mulus tapi warga nggak tahu
program desa, percuma. Nanti kalau bantuan lancar tapi data kacau, percuma.
Saya ingin desa ini maju di dua hal: fisik dan digital."
Mbah
Karyo mengangguk, meski tampaknya belum sepenuhnya paham. "Ya sudah,
terserah Pak Iwan. Yang penting, warung saya tetap ramai."
Tawa
lagi. Pak Iwan memesan kopi tambahan.
Malam
itu, obrolan mengalir ke mana-mana. Politik nasional, harga cabai, musim tanam,
gosip artis, sampai ramalan jodoh. Warung RT 02 menjadi saksi bagaimana warga
desa, dari berbagai usia dan latar belakang, bisa duduk bersama tanpa sekat.
Menjelang
tengah malam, warga mulai pulang satu per satu. Pak Iwan pamit lebih dulu. Amat
dan Rizki menyusul. Tinggal Bambang yang masih duduk, ditemani Mbah Karyo yang
mulai membereskan gelas.
"Bang,
nggak pulang?" tanya Mbah Karyo.
"Nanti,
Mbah. Saya lagi mikir."
"Mikir
apa?"
Bambang
menatap ke luar warung, ke langit yang gelap tanpa bintang. "Mbah, saya
ini anak desa, kuliah di kota. Kadang saya malu kalau ditanya asal. Saya bilang
dari desa, trus mereka nyepelein. Tapi malam ini, saya lihat Pak Iwan, lihat
Mas Amat, lihat warga sini... saya jadi bangga."
"Bangga
kenapa?"
"Karena
mereka berjuang. Mungkin hasilnya belum kelihatan, tapi mereka berjuang. Pak
Iwan dengan digitalisasinya, Mas Amat dengan server-nya, warga dengan
usul-usulnya. Mereka nggak menyerah. Itu keren, Mbah."
Mbah
Karyo tersenyum. "Bang, desa ini memang kecil. Tapi mimpi orang-orangnya
besar. Kamu juga, jangan malu jadi anak desa. Nanti kalau udah sukses di kota,
ingat-ingat desa ini. Bantu mereka."
"Saya
akan, Mbah."
Di
luar, angin malam berhembus. Langit mulai cerah, bintang-bintang muncul satu
per satu. Warung RT 02, dengan segala kesederhanaannya, terus berdiri—saksi
bisu perjalanan desa yang perlahan berubah.***
Mobil
tua warna biru pudar berhenti di depan balai desa. Seorang pemuda keluar,
mengedarkan pandangan. Ia tinggi, agak kurus, berkacamata tebal, membawa tas
ransel besar dan koper kecil. Wajahnya lelah, tapi matanya penasaran.
"Ini
Desa Awan Biru?" tanyanya pada bapak-bapak yang duduk di teras kantor.
"Iya,
Mas. Cari siapa?"
"Saya
Erlangga, mahasiswa kedokteran dari Universitas Gadjah Mada. Mau penelitian di
sini. Ada surat tugas dari kecamatan."
Bapak
itu, Pak RT yang kebetulan sedang nongkrong, menunjuk ke dalam. "Masuk,
Mas. Ketemu Pak Iwan dulu."
Erlangga
melangkah masuk. Kantor desa sederhana: meja-meja kayu, lemari arsip penuh
dokumen, beberapa komputer yang terlihat usang. Di sudut, seorang pemuda sibuk
dengan laptop, itu Amat.
"Selamat
pagi, Mas. Saya Erlangga, dari UGM. Ada janji sama Pak Iwan."
Amat
menoleh, tersenyum. "Oh, Mas Erlangga. Iya, Pak Iwan udah nunggu. Sebentar
ya, saya panggilkan."
Tak
lama, Pak Iwan keluar dari ruangannya. "Selamat datang, Mas Erlangga. Saya
Iwan, kepala desa. Silakan masuk."
Erlangga
duduk di kursi tamu. Ruangan Pak Iwan sederhana: meja penuh berkas, dinding
ditempeli peta desa, foto presiden dan wakil presiden, serta satu pigura berisi
kaligrafi.
"Jadi
Mas Erlangga mau penelitian apa di sini?" tanya Pak Iwan sambil menuang
air.
"Saya
penelitian tentang akses kesehatan masyarakat desa, Pak. Fokusnya pada ibu
hamil dan balita. Dosen saya merekomendasikan desa ini karena... katanya desa
ini sedang bertransformasi, jadi menarik untuk dilihat."
Pak
Iwan tertawa. "Transformasi? Maksudnya lagi berantakan?"
Erlangga
tersenyum. "Bukan, Pak. Maksudnya lagi bergerak. Dosen saya bilang, desa
yang menarik itu bukan desa yang sudah maju, tapi desa yang sedang berusaha
maju. Prosesnya yang penting."
"Wah,
dosen Mas ini filosofis sekali."
"Ia,
Pak. Beliau juga bilang, jangan hanya lihat angka-angka, tapi lihat juga
manusianya. Cerita di balik angka."
Pak
Iwan mengangguk setuju. "Baik, Mas Erlangga. Desa kami siap membantu. Tapi
Mas harus siap, fasilitas di sini sederhana. Nggak ada losmen, nggak ada
warnet. Mas mau tinggal di mana?"
"Saya
sudah cari informasi, Pak. Rencana mau ngekos di rumah warga. Ada yang mau
nerima?"
"Nanti
saya tanyakan. Sementara, Mas bisa istirahat dulu di balai desa. Nanti saya
carikan."
Sore
harinya, Pak Iwan mengantar Erlangga ke rumah Bu RT. Sebuah rumah sederhana di
gang kecil, dengan halaman penuh tanaman. Bu RT, janda berusia 50-an yang
anaknya merantau semua, setuju menerima kos dengan harga murah.
"Nak,
di sini sederhana. Kamar cuma satu, kasur seadanya, mandinya di sumur,"
jelas Bu RT.
"Tidak
apa-apa, Bu. Saya sudah biasa hidup sederhana."
"Lho,
anak UGM kok sederhana?"
"UGM
juga ada yang miskin, Bu." Erlangga tersenyum getir.
Bu RT
memandangnya iba. Dari raut muka, dari pakaian, dari tas ransel yang sudah
usang, ia bisa menebak: Erlangga bukan dari keluarga mampu. Kuliah di UGM pasti
dengan beasiswa atau keringanan biaya.
"Ya
sudah, Nak. Istirahat dulu. Nanti malam saya buatkan makan."
"Matur
nuwun, Bu."
Malam
harinya, Erlangga duduk di teras rumah Bu RT, menatap langit desa yang penuh
bintang. Di kota, bintang jarang terlihat, tertutup polusi cahaya. Di sini,
bintang-bintang bertebaran seperti taburan beras di atas kain hitam.
"Mas
Erlangga?" suara dari pagar.
Erlangga
menoleh. Seorang pemuda berdiri di sana, Amat, yang tadi ia temui di kantor.
"Iya,
Mas. Mas Amat, kan? Silakan masuk."
Amat
masuk, duduk di samping Erlangga. "Gimana, Mas? Udah betah?"
"Baru
beberapa jam, Mas. Masih adaptasi."
"Iya,
wajar. Saya dengar Mas penelitian tentang kesehatan. Nanti bisa ketemu Bu
Bidan, Bu Anita, kader posyandu, sama Bu Endang, istri Pak Iwan yang aktif PKK.
Mereka bisa bantu banyak."
"Terima
kasih, Mas. Saya sangat butuh bantuan."
Amat
mengamati Erlangga. Ada sesuatu di mata pemuda ini, kesedihan yang
disembunyikan, kelelahan yang ditahan. "Mas, maaf, saya bertanya. Mas
kuliah kedokteran, kan biasanya dari keluarga mampu? Tapi Mas kelihatan...
sederhana sekali."
Erlangga
terdiam lama. "Ayah saya buruh bangunan, Mas. Ibu jualan gorengan di
pasar. Saya kuliah dengan bidikmisi. Tiap bulan kirim uang ke rumah dari hasil
jadi asisten dosen."
Amat
terhenyak. "Maaf, saya nggak bermaksud..."
"Tidak
apa-apa." Erlangga tersenyum. "Saya justru senang bisa bicara jujur.
Di kampus, saya sering malu kalau ditanya asal. Tapi di sini, saya merasa...
bebas."
"Di
sini semua sederhana, Mas. Mungkin itu sebabnya."
Mereka
diam, menikmati angin malam. Dari kejauhan, terdengar suara azan Isya dari
masjid desa.
"Mas
Amat," Erlangga membuka suara lagi. "Apa susahnya jadi perangkat
desa?"
Amat
tertawa. "Banyak, Mas. Gaji kecil, kerja banyak, kadang dimarahi warga.
Tapi ada kepuasan tersendiri kalau lihat warga terbantu. Apalagi kalau sistem
yang kita bikin bermanfaat."
"Sistem?
Maksudnya?"
"Digitalisasi
desa. Saya yang megang IT. Buat website, kelola data, setting server. Kadang
error, warga marah. Tapi pelan-pelan mulai terbantu."
Erlangga
menganggut. "Saya lihat tadi di kantor ada komputer baru."
"Itu
hasil perjuangan panjang. Dulu pakai komputer bekas, sering mati. Sekarang udah
lumayan. Tapi masih banyak PR."
"PR
apa?"
"Koneksi
internet. Masih lemot. Kadang loading aja setengah jam. Warga jadi malas akses
online."
"Kenapa
nggak pake provider lain?"
"Mahal,
Mas. Anggaran desa terbatas. Kita harus pintar-pintar milih."
Erlangga
tersenyum. "Sama seperti kesehatan. Anggaran terbatas, kebutuhan tak
terbatas. Harus pintar prioritas."
"Betul.
Jadi Mas lihat sendiri, desa ini lagi berjuang."
"Dan
saya senang bisa jadi saksi."
Hari-hari
pertama Erlangga di desa diisi dengan observasi. Ia keliling desa, mengunjungi
posyandu, berbincang dengan ibu-ibu, mendata kondisi kesehatan. Yang ia
temukan: banyak ibu hamil kurang gizi, banyak balita stunting, akses ke
puskesmas jauh dan mahal.
Tapi
ia juga menemukan semangat yang luar biasa dari para kader. Ibu-ibu PKK dengan
sukarela mengurus posyandu, meski honor hanya sekedar uang transport. Bu
Endang, istri Pak Iwan, tak kenal lelah mengkoordinasi. Dan ada satu nama yang
sering disebut: Anita.
"Anita
itu kader posyandu termuda, Mas. Baru lulus SMA, tapi semangatnya luar
biasa," kata Bu Endang saat Erlangga bertanya.
"Dia
anak siapa, Bu?"
"Anak
Pak Santoso. Yang suka ngusul mulu itu."
Erlangga
ingat. Santoso, petani cerewet yang selalu hadir di setiap musyawarah. Jadi itu
anaknya.
Suatu
sore, Erlangga memutuskan mampir ke posyandu—sebuah bangunan kecil di samping
balai desa, catnya mulai mengelupas, tapi halamannya bersih. Di dalam, seorang
gadis sedang sibuk mengatur timbangan dan alat ukur.
"Selamat
sore," sapa Erlangga.
Gadis
itu menoleh. Wajahnya bulat, rambut diikat ekor kuda, matanya cerah. Ia
tersenyum. "Sore, Mas. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya
Erlangga, mahasiswa kedokteran yang lagi penelitian di sini. Mau lihat-lihat
posyandu."
"Oalah,
Mas Erlangga. Bu Endang cerita. Saya Anita. Silakan masuk."
Erlangga
masuk, mengamati ruangan. Rak berisi vitamin, timbangan bayi, alat ukur tinggi,
poster-poster gizi. Sederhana tapi tertata rapi.
"Posyandu
buka setiap hari, Mbak?"
"Iya,
Mas. Tapi ramainya tiap Kamis, pas hari buka. Hari-hari biasa, saya di sini
buat jaga aja, takut ada warga yang butuh konsultasi."
"Sendirian?"
"Kadang
Bu Bidan Amelia datang. Tapi beliau sibuk juga di puskesmas pembantu. Jadi saya
sering sendiri."
Erlangga
kagum. Gadis seusianya, lulus SMA, dengan sukarela menjaga posyandu hampir
setiap hari.
"Mbak
Anita, boleh tanya, kenapa memilih jadi kader?"
Anita
tersenyum. "Awalnya ikut-ikut ibu. Ibu kan anggota PKK. Lama-lama suka.
Seneng lihat bayi-bayi sehat. Seneng kalau bisa bantu ibu-ibu yang bingung urus
anak."
"Tapi
nggak digaji besar, kan?"
"Nggak.
Cuma uang transport. Tapi ya, Mas, rezeki nggak selalu uang. Kadang ada ibu-ibu
yang kasih makanan, ada yang kasih sayuran. Itu sudah lebih dari cukup."
Erlangga
diam. Ia teringat ibunya, yang dulu juga kader posyandu di desanya. Dengan
semangat yang sama, tanpa pamrih.
"Mbak
Anita, besok Kamis, boleh saya ikut observasi?"
"Boleh
banget, Mas. Datang aja pagi-pagi. Biasanya mulai jam delapan."
"Terima
kasih, Mbak."
Mereka
berjabat tangan. Untuk pertama kalinya, Erlangga merasakan sesuatu yang aneh di
dadanya, debar yang tak biasa. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan.***
Kamis
pagi, posyandu sudah ramai sejak pukul tujuh. Ibu-ibu berdatangan membawa bayi
dan balita mereka. Ada yang jalan kaki, ada yang naik sepeda, ada yang
menggendong sambil membawa tas belanja. Anita sudah siap dengan timbangan, alat
ukur, dan catatan.
Erlangga
datang pukul setengah delapan. Ia membawa buku catatan dan kamera untuk
dokumentasi.
"Selamat
pagi, Mas. Silakan duduk di sana." Anita menunjuk kursi di pojok.
Erlangga
mengamati prosesnya. Anita memanggil satu per satu ibu dan anak. Timbang berat,
ukur tinggi, catat di buku KIA, lalu beri vitamin. Sesekali ia bercanda dengan
anak-anak, membuat mereka tidak takut. Ia sabar menghadapi ibu-ibu yang banyak
bertanya.
"Bu,
anaknya kok beratnya turun? Perlahan, Bu, mungkin karena lagi sakit. Tapi nanti
kalau udah sembuh, harus dikejar lagi makannya."
"Bu,
ini anaknya sudah dua tahun, harusnya udah boleh makan nasi lembek. Jangan cuma
ASI terus."
"Bu,
imunisasinya harus lengkap. Tanggal 20 bulan depan, jangan lupa ya."
Erlangga
takjub. Pengetahuan Anita cukup luas untuk ukuran kader desa. Ia hafal jadwal
imunisasi, tahu tanda-tanda kurang gizi, paham cara stimulasi tumbuh kembang
anak.
"Mbak
Anita, ilmu kedokterannya dari mana?" tanya Erlangga di sela-sela.
"Baca-baca,
Mas. Saya pinjam buku dari puskesmas. Kadang tanya Bu Bidan. Sekarang juga
sering cari di internet, kalau ada sinyal."
"Luar
biasa."
"Biasa
aja, Mas. Ini tugas saya."
Tiba-tiba,
seorang ibu masuk dengan tergopoh-gopoh, menggendong bayi yang menangis keras.
Wajahnya panik.
"Mbak
Anita! Mbak Anita! Tolong, anak saya panas banget, kejang-kejang!"
Anita
segera bangkit. Ia terima bayi itu, rasakan keningnya, panas sekali. Bayi itu
masih menangis, tapi tangisannya melemah.
"Bu
Bidan di mana?" tanya Anita pada asistennya.
"Belum
datang, Mbak. Biasanya jam sembilan."
Anita
melihat jam, baru pukul setengah delapan. Ia menatap bayi itu, lalu ke
Erlangga. Matanya berkata: tolong.
Erlangga
maju. "Mbak, saya lihat."
Ia
periksa bayi itu. Demam tinggi, mungkin di atas 39. Napas cepat, ubun-ubun
cekung, tanda dehidrasi. Riwayat kejang? Ibu mengangguk, tadi pagi sempat
kejang sebentar.
"Bu,
ini butuh penanganan medis segera. Kita harus bawa ke puskesmas."
"Tapi,
Mas, saya nggak punya kendaraan. Suami kerja."
"Saya
bawa pakai motor." Erlangga menoleh ke Anita. "Mbak, pinjam
motor?"
"Punya
Bu Bidan, Mas. Ada di belakang. Saya ambil kuncinya."
Anita
berlari ke belakang, kembali dengan kunci motor. Erlangga terima, lalu dengan
hati-hati menggendong bayi itu. Ibu mengikuti di belakang.
"Mbak
Anita, tolong catat nama dan alamatnya. Nanti saya kabari."
"Mas,
saya ikut?"
"Tidak
usah. Jaga posyandu. Ini tanggung jawab saya."
Erlangga
melesat dengan motor, membawa bayi dan ibunya ke puskesmas kecamatan yang
berjarak 20 menit.
Di
posyandu, Anita melanjutkan pelayanan, tapi pikirannya melayang pada Erlangga.
Pemuda itu, dengan tenang, mengambil alih situasi. Ia tidak panik, tidak ragu.
Ia langsung bertindak.
"Mbak
Anita, itu Mas Erlangga kok pinter?" tanya seorang ibu.
"Iya,
Bu. Dia mahasiswa kedokteran."
"Wah,
calon dokter ya. Nanti kalau udah lulus, jadi dokter di sini dong."
Anita
tersenyum, tak menjawab. Hatinya berdebar.
Dua
jam kemudian, Erlangga kembali. Wajahnya lelah, tapi tersenyum.
"Gimana,
Mas?" tanya Anita cemas.
"Sudah
ditangani. Demam karena infeksi. Dapat obat, sekarang dirawat di puskesmas.
Kondisi stabil."
Anita
menghela napas lega. "Alhamdulillah. Mas, terima kasih banyak."
"Sama-sama,
Mbak. Itu sudah tugas saya, calon tugas, maksudnya."
Mereka
tersenyum. Untuk beberapa detik, mata mereka bertemu. Erlangga cepat-cepat
mengalihkan pandangan, berpura-pura melihat catatan.
"Sore
nanti saya jenguk lagi," katanya. "Sekarang saya bantu di sini dulu,
kalau Mbak Anita izinkan."
"Silakan,
Mas. Malah terbantu."
Sisa
hari itu, Erlangga membantu di posyandu. Ia menimbang bayi, mengukur tinggi,
mencatat data. Ibu-ibu senang karena ada "dokter" yang melayani, meskipun
Erlangga masih mahasiswa. Anita diam-diam memperhatikan dari kejauhan,
tersenyum sendiri.
Sore
harinya, setelah posyandu tutup, Anita dan Erlangga duduk di teras, minum teh
yang dibuatkan ibu-ibu.
"Mas
Erlangga," Anita memulai, "tadi Mas keren banget. Cepat ambil
keputusan."
"Terima
kasih, Mbak. Tadi kebetulan saya tahu gejalanya."
"Bukan
cuma itu. Mas nggak panik. Saya lihat banyak orang panik kalau ada bayi kejang.
Tapi Mas tenang."
Erlangga
tersenyum. "Saya dilatih untuk itu. Di fakultas, kami belajar simulasi
gawat darurat. Tapi simulasi beda dengan nyata. Tadi jantung saya juga dag dig
dug."
"Tapi
nggak kelihatan."
"Alhamdulillah,
saya pandai menyembunyikan."
Mereka
tertawa. Sore semakin gelap, lampu-lampu mulai menyala.
"Mbak
Anita, saya boleh tanya sesuatu?"
"Silakan,
Mas."
"Kenapa
Mbak nggak lanjut kuliah? Nilai Mbak kan bagus, Bu Endang cerita. Tapi Mbak
pilih jadi kader posyandu."
Anita
terdiam lama. Matanya menunduk. "Soalnya, Mas... ayah saya cuma petani.
Uang pas-pasan. Saya anak sulung, punya adik tiga. Harus bantu orang tua."
"Tidak
ada beasiswa?"
"Ada.
Saya dapat tawaran dari Dinas Kesehatan, mau di sekolahkan jadi perawat. Tapi
harus di luar kota, biaya hidup tanggung sendiri. Saya nggak sanggup. Jadi ya,
saya bantu di sini dulu."
Erlangga
merasakan getir. Ia tahu persis rasanya, keinginan besar, keterbatasan besar.
"Mbak,
jangan menyerah. Saya juga dari keluarga miskin. Tapi saya dapat bidikmisi.
Mungkin Mbak bisa coba jalur itu tahun depan."
"Mas,
saya sudah setahun lulus. Apakah masih bisa?"
"Bisa.
Bidikmisi untuk mahasiswa baru, tidak ada batasan umur asal lulus maksimal tiga
tahun. Mbak masih punya waktu."
Anita
menatap Erlangga, matanya berkaca-kaca. "Mas... serius?"
"Serius.
Nanti saya bantu cari informasinya. Mbak harus coba. Percuma punya bakat besar
kalau tidak dijalani."
"Tapi
keluarga saya..."
"Sambil
kuliah, Mbak bisa cari kerja paruh waktu. Seperti saya, jadi asisten dosen.
Gajinya cukup untuk hidup sederhana. Mbak nggak perlu minta uang dari orang
tua."
Anita
menunduk, air matanya jatuh. "Mas, saya... saya nggak tahu harus bilang
apa."
"Tidak
usah bilang apa-apa. Cuma, Mbak harus janji satu hal."
"Apa?"
"Besok,
Mbak bantu saya terus. Saya butuh data banyak untuk penelitian. Saya butuh Mbak
Anita yang semangat, bukan yang sedih."
Anita
tersenyum, mengusap air mata. "Janji, Mas."
Malam
itu, bintang-bintang bersinar terang. Di teras posyandu, dua anak muda duduk
berbagi mimpi. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi esok, atau lusa. Tapi
malam itu, mereka merasa, mungkin, takdir mempertemukan mereka untuk alasan
tertentu.***
Bambang
pulang kampung di tengah semester. Bukan karena libur, tapi karena kampusnya
libur, ada demo besar di kota, kampus ditutup seminggu. Daripada nongkrong tak
jelas di kos, ia memilih pulang.
Malam
pertama di rumah, ia sudah tidak betah. Rumah sepi, orang tua sibuk. Ia pun
jalan-jalan ke balai desa, ingin lihat perkembangan website yang ia desain
beberapa bulan lalu.
Di
kantor, ia menemukan Amat dan Rizki sedang lembur. Layar komputer menampilkan
kode-kode yang membuatnya pusing.
"Mas
Amat, lagi ngapain?"
Amat
menoleh. "Wah, Bambang! Kok pulang?"
"Demo,
Bang. Kampus libur."
"Oalah.
Mari sini, bantu kami."
Bambang
mendekat. Di layar, Rizki sedang debugging aplikasi pendataan warga.
"Error, Mas. Data ganda, harus dihapus manual."
"Susah
amat?"
"Nggak
susah sih, cuma lama. Ada 200 data ganda."
Bambang
bersiul. "200? Kok bisa?"
"Waktu
migrasi dari sistem lama, ada duplikasi. Sekarang harus dibersihkan
satu-satu."
"Kenapa
nggak pakai script aja?"
Amat
dan Rizki menatapnya. "Script?"
"Iya,
skrip otomatis. Bikin kode untuk deteksi dan hapus data ganda. Cepet, tinggal
jalanin."
Rizki
menggeleng. "Saya nggak bisa bikin script. Cuma bisa manual."
"Ya
udah, saya bantu bikin. Tapi inget, ini ilmunya pinter-pinteran. Nanti kalau udah
jalan, kalian harus belajar bikin sendiri."
Bambang
duduk di depan komputer. Jari-jarinya menari di keyboard. Amat dan Rizki
mengamati dengan takjub. Dalam satu jam, script selesai. Data ganda terhapus
dalam hitungan detik.
"Gila,"
Rizki takjub. "Kakakku hebat."
"Biasa
aja. Ini pelajaran semester satu."
Amat
menepuk bahu Bambang. "Bang, kamu ini aset desa. Jangan mau jadi karyawan
kantoran. Pulang aja ke desa, bantu kami."
Bambang
tertawa. "Masih kuliah, Mas. Dua tahun lagi."
"Ya
udah, kalau libur, pulang. Bantu-bantu. Nanti kalau udah lulus, kita
lihat."
Keesokan
harinya, Bambang diajak Amat ke warung RT 02. Mereka duduk di meja sudut,
ditemani Mbah Karyo yang setia dengan kopinya.
"Bang,
aku mau tanya serius," kata Amat.
"Tanya
aja, Mas."
"Kamu
lihat desa ini, menurutmu gimana?"
Bambang
diam, memikirkan jawaban. "Desa ini... unik, Mas. Kecil, tapi punya mimpi
besar. Pak Iwan dengan digitalisasinya, Mas Amat dengan server-nya, warga
dengan semangatnya. Tapi..."
"Tapi?"
"Tapi
masih banyak yang kurang. Sumber daya manusia, infrastruktur, koneksi internet.
Masih jauh dari kota."
"Itulah.
Aku kadang mikir, apa yang kita lakukan ini ada gunanya? Atau cuma buang-buang
waktu?"
Bambang
menatap Amat. Di mata pemuda ini, ia melihat kelelahan, juga keraguan.
"Mas
Amat, saya cerita sesuatu." Bambang menghirup kopinya. "Di kampus,
saya belajar tentang perubahan. Perubahan itu nggak selalu cepat. Kadang lambat
banget, sampai orang-orang putus asa. Tapi yang penting, kita terus bergerak.
Satu langkah sehari, satu perbaikan seminggu. Lama-lama, jadi bukit."
"Tapi
kami sudah setahun lebih. Hasilnya? Server masih error, warga masih komplain,
data masih kacau."
"Itu
namanya proses, Mas. Bayangkan kalau Mas Amat nggak ada. Server mungkin error
terus, nggak pernah diperbaiki. Data mungkin tambah kacau. Tapi karena Mas ada,
error bisa diperbaiki. Data dibersihkan. Pelan-pelan, tapi pasti."
Amat
diam, merenung.
"Mas
Amat," lanjut Bambang, "saya percaya, dua puluh tahun lagi, orang
akan lihat Desa Awan Biru dan bilang: 'Wah, maju sekali.' Dan mereka nggak akan
tahu perjuangan Mas Amat, Mas Rizki, Pak Iwan, dan semua orang di sini. Tapi
Mas tahu. Dan itu cukup."
Amat
tersenyum. "Kamu ini, baru kuliah, kok filosofis banget."
"Dosen
saya banyak yang nyebelin, Mas. Jadi saya baca buku sendiri."
Mereka
tertawa. Mbah Karyo, yang mendengar dari balik etalase, ikut tersenyum.
"Nak
Bambang," panggil Mbah Karyo. "Kamu itu anak pinter. Tapi jangan
lupa, kopi dulu diminum. Nanti dingin."
"Iya,
Mbah."
Malam
semakin larut. Warung mulai sepi. Bambang pamit pulang, meninggalkan Amat yang
masih duduk termenung.
"Mas
Amat, nggak pulang?" tanya Mbah Karyo.
"Nanti,
Mbah. Saya lagi mikir."
"Mikir
apa?"
"Tentang
masa depan, Mbah. Apakah saya akan terus di sini, atau pergi merantau seperti
Bambang nanti."
Mbah
Karyo duduk di sampingnya. "Mas Amat, saya sudah 70 tahun. Saya lihat
banyak anak muda pergi, banyak yang kembali. Yang pergi, sukses di kota. Yang
kembali, sukses di desa. Nggak ada yang salah. Yang penting, Mas Amat bahagia
dengan pilihan Mas."
"Tapi
Mbah, saya belum bahagia. Masih galau."
"Ya
wajar, Mas. Masih muda. Nanti juga nemu jalannya sendiri."
Amat
tersenyum. "Mbah ini bijak."
"Bukan
bijak. Cuma udah tua, jadi banyak ngeliat." Mbah Karyo tertawa.
"Sekarang pulang, Mas. Besok kan harus kerja."
"Iya,
Mbah. Saya pulang."
Amat
bangkit, melangkah keluar. Di langit, bintang-bintang masih setia. Ia
menatapnya lama, lalu berjalan perlahan ke rumah kontrakannya yang sederhana.***
Rapat
pembahasan APBDes perubahan digelar di balai desa. Kali ini berbeda, semua
terbuka. Warga diundang, bahkan dipersilakan bicara. Pak Iwan duduk di depan,
didampingi Sekdes, Bendahara, dan Amat yang menyiapkan tampilan proyektor.
"Saudara-saudara,"
Pak Iwan memulai, "sesuai janji saya, APBDes perubahan ini akan kita bahas
bersama. Semua angka terbuka. Semua pos bisa dipertanyakan. Silakan."
Yuni
maju, memaparkan usulan perubahan anggaran. Ada tambahan dana untuk perbaikan
server, ada pengurangan pos perjalanan dinas, ada alokasi baru untuk pelatihan
digital.
Seorang
warga angkat tangan. "Pak Iwan, saya dengar kita mau beli server baru?
Harganya berapa?"
Amat
menjawab. "Server tidak beli, Pak. Kita sewa cloud. Setahun 5 juta. Lebih
murah daripada beli server sendiri yang bisa 20 juta."
"Cloud
itu apa?"
"Penyimpanan
online, Pak. Data kita simpan di server besar milik perusahaan, diakses lewat
internet. Aman dan nggak perlu ruangan khusus."
Warga
itu mengangguk, meski tampak belum paham betul.
Yuni
dan Lulu, yang duduk di barisan depan, saling pandang. Mereka sudah menyiapkan
argumen jika ada yang mempertanyakan anggaran publikasi digital.
Tiba-tiba,
seorang ibu berdiri. Itu Ibu RT, anggota PKK yang aktif. "Pak Iwan, saya
mau tanya soal anggaran publikasi digital. Di situ tertulis 15 juta. Untuk apa
saja?"
Lulu
maju. "Bu, anggaran itu untuk: pertama, pembuatan konten website dan media
sosial. Kedua, pelatihan IT untuk perangkat desa dan kader. Ketiga, pembelian
domain dan hosting. Keempat, operasional tim IT, termasuk transport dan makan
untuk Mas Amat dan tim."
"15
juta? Itu kan uang rakyat. Apa nggak mubazir?"
Diskusi
mulai memanas. Beberapa warga setuju dengan Ibu RT, menganggap anggaran digital
terlalu besar. Yang lain membela, bilang itu investasi masa depan.
Pak
Iwan membiarkan diskusi berlangsung. Ia ingin warga belajar berdebat sehat,
belajar mempertahankan argumen, belajar menerima perbedaan.
Yuni
angkat bicara. "Bu, saya jelaskan lebih rinci. 15 juta itu untuk setahun.
Rinciannya: langganan cloud 5 juta, domain dan hosting 1 juta, pelatihan 4
juta, operasional tim 5 juta. Kalau dibagi 12 bulan, per bulan cuma 1,25 juta.
Untuk mengelola data seluruh desa, itu murah, Bu."
"Tapi
kan dulu tanpa digital juga jalan?"
"Jalan,
Bu. Tapi lambat, sering error, data hilang. Sekarang, dengan digital, warga
bisa akses informasi kapan saja. Nggak perlu nunggu kantor buka. Nggak perlu
antri."
Ibu RT
masih belum puas. "Tapi buktinya masih sering error?"
Amat
tersenyum getir. "Iya, Bu. Itu karena kita masih belajar. Tapi kalau kita
nggak mulai, kapan bisanya? Saya minta waktu, Bu. Setahun lagi, insha Allah
sistem kita stabil."
Seorang
warga lain mendukung. "Sudahlah, Bu. Kasih mereka waktu. Daripada kita
komplain terus, mending kita bantu awasi. Kalau ada error, lapor. Jangan cuma
marah-marah."
Ibu RT
menghela napas. "Ya sudah, saya setuju asal transparan. Semua pengeluaran
harus dipertanggungjawabkan."
"Pasti,
Bu." Pak Iwan mengangguk. "Semua laporan keuangan akan diupload ke
website. Bisa diakses siapa saja."
Rapat
berlangsung hingga sore. Banyak usulan, banyak debat, banyak kompromi. Pada
akhirnya, APBDes perubahan disepakati dengan beberapa penyesuaian.
Saat
warga mulai pulang, Yuni dan Lulu mendekati Amat.
"Mat,
kamu hebat tadi," kata Yuni.
"Hah?
Hebat apaan?"
"Menahan
diri. Nggak emosi meski diserang."
Amat
tersenyum. "Udah biasa, Bu. Warga marah itu santapan sehari-hari."
Lulu
tertawa. "Ya ampun, Mat. Jangan terlalu pasrah dong."
"Bukan
pasrah. Tapi saya paham, mereka marah karena peduli. Kalau nggak peduli, mereka
diem aja."
Yuni
dan Lulu saling pandang. Amat, yang dulu sering panik, mulai matang.
"Mat,
kita traktir makan yuk," ajak Lulu.
"Boleh.
Tapi di warung biasa aja."
"Ya
di warung RT 02 lah."
Mereka
bertiga berjalan ke warung, menikmati senja yang mulai merah. Di langit,
awan-awan kecil berarak, seolah ikut merayakan hari yang melelahkan tapi
berarti.***
Mbah
Anto, atau Mbah Dukun, panggilan sinis dari sebagian warga, adalah sesepuh desa
yang dianggap "berbeda". Usianya sudah 80 tahun, tinggal sendiri di
pinggir desa, di rumah panggung tua yang dipenuhi wewangian dupa. Ia jarang
keluar, tapi kalau keluar, pasti ada yang diramal.
Suatu
sore, Mbah Anto muncul di warung RT 02. Warga terkejut, sudah setahun ia tak
pernah ke warung. Jalannya lambat, terbungkuk-bungkuk, ditopang tongkat kayu
jati.
"Mbah
Anto? Ada perlu apa, Mbah?" tanya Mbah Karyo, pemilik warung.
"Ngalor-ngidul,
Karyo. Kangen warungmu." Mbah Anto duduk di bangku panjang, menghela napas
panjang. "Kopi hitam, gula aren."
Mbah
Karyo mengangguk, segera menyiapkan kopi. Warga yang ada di warung mulai
berbisik-bisik. Kedatangan Mbah Anto selalu jadi peristiwa.
Beberapa
saat kemudian, Pak Iwan datang. Ia biasa nongkrong di warung selepas maghrib.
Melihat Mbah Anto, ia kaget.
"Mbah
Anto? Sehat, Mbah?"
"Sehat,
Nak Iwan. Cuma udah tua." Mbah Anto tersenyum, memperlihatkan gigi tinggal
tiga. "Duduk sini, Nak. Aku mau ngomong."
Pak
Iwan duduk di hadapannya. Warga lain memasang telinga.
"Nak
Iwan, aku sudah lihat banyak kepala desa. Kamu yang ke-7. Dan kamu yang paling
aneh."
Pak
Iwan tersenyum. "Aneh gimana, Mbah?"
"Kamu
sibuk ngurusin hal-hal yang nggak kelihatan. Komputer, internet, data. Yang
lain sibuk bangun jalan, bangun jembatan, yang kelihatan. Tapi kamu..."
Mbah
Anto diam, menyeruput kopinya. Matanya menerawang.
"Aku
lihat sesuatu, Nak Iwan. Di mimpiku, ada pemuda dari desa ini. Ia duduk di
kursi yang sama denganmu. Tapi di sekelilingnya, banyak cahaya. Banyak layar.
Banyak angka. Ia memimpin dengan cara yang berbeda."
Warga
mulai mendekat. Mereka penasaran.
"Mbah,
itu ramalan?" tanya salah satu.
"Aku
bukan peramal. Cuma tua, jadi banyak mimpi." Mbah Anto tertawa kecil.
"Tapi mimpi itu datang terus. Setiap malam. Pemuda itu, ia lahir dari
rahim desa ini. Ia akan bawa desa ini ke tempat yang tak terbayangkan."
Pak
Iwan terdiam. Pikirannya melayang pada anaknya, yang masih kecil. Atau mungkin
pada pemuda-pemuda desa yang mulai aktif: Bambang, Rizki, atau... Erlangga?
"Mbah,
kapan pemuda itu lahir?" tanya seseorang.
"Belum.
Tapi sebentar lagi." Mbah Anto menatap Pak Iwan tajam. "Nak Iwan,
tugasmu adalah menyiapkan jalan untuknya. Jangan takut pada perubahan. Jangan
takut pada teknologi. Semua yang kamu lakukan sekarang, akan jadi fondasi
untuknya."
Pak
Iwan merinding. Bukan karena takut, tapi karena ada keyakinan aneh dalam
kata-kata Mbah Anto.
"Mbah,
terima kasih."
"Jangan
terima kasih dulu. Aku punya pesan: jaga warung ini." Mbah Anto menunjuk
lantai warung. "Tempat ini saksi. Banyak generasi akan duduk di sini.
Banyak keputusan lahir dari obrolan di sini. Jangan biarkan warung ini
tutup."
Mbah
Karyo, yang mendengar, mengangguk. "Warungku nggak akan tutup, Mbah.
Sampai aku mati."
"Itu
janjimu, Karyo. Pegang."
Mbah
Anto bangkit, pelan-pelan. Ia menatap semua orang di warung, lalu berjalan
keluar. Langkahnya lambat, tapi tegap. Semua melepas pandang hingga sosoknya
hilang di balik gelap.
Malam
itu, warung lebih hening dari biasanya. Semua merenungkan kata-kata Mbah Anto.
Pak Iwan termenung lama, kopinya tak disentuh.
"Pak
Iwan," panggil Mbah Karyo, "bapak percaya ramalan Mbah Anto?"
Pak
Iwan mengangkat bahu. "Entah, Mbah. Tapi yang jelas, saya akan terus
bekerja. Untuk desa. Untuk anak cucu. Untuk pemuda yang entah siapa itu."
"Baguslah.
Itu jawaban yang tepat."
Sepekan
kemudian, Mbah Anto ditemukan meninggal di rumahnya. Warga bergotong royong
memakamkan dengan layak. Di pemakaman, Pak Iwan berdiri paling depan, mengenang
kata-kata terakhirnya.
"Jaga
warung itu."
Pak
Iwan menatap warung RT 02 dari kejauhan. Warung kecil, usang, tapi penuh
cerita. Ia berjanji dalam hati: warung itu akan tetap ada.***
Erlangga
sudah tiga bulan di Desa Awan Biru. Penelitiannya hampir selesai, tinggal
menulis laporan. Tapi hatinya, entah kenapa, berat untuk pergi.
Setiap
hari, ia menemukan alasan untuk ke posyandu. Kadang bantu timbang bayi, kadang
diskusi dengan Anita, kadang cuma duduk-duduk sambil baca buku. Anita selalu
menyambutnya dengan senyum.
"Mbak
Anita, kok rajin banget ke posyandu?" goda seorang ibu suatu hari.
"Atau nungguin Mas Erlangga?"
Anita
tersipu. "Ah, Bu, nggak gitu."
"Bohong,
Mbak. Mata Mbak berkaca-kaca kalau lihat Mas Erlangga."
Anita
makin merah. Erlangga, yang kebetulan lewat, ikut tersipu. Ia cepat-cepat masuk
ke ruang belakang, pura-pura cek obat.
Bu
Endang, yang juga ada di posyandu, tersenyum melihat gelagat dua anak muda itu.
"Bu, biarkan mereka. Masa muda cuma sekali."
Sore
harinya, saat posyandu sepi, Erlangga memberanikan diri. "Mbak Anita,
boleh saya ajak bicara?"
Anita
menoleh, jantungnya berdebar. "Boleh, Mas. Di mana?"
"Di
teras aja."
Mereka
duduk di teras posyandu, menghadap ke jalan desa yang mulai sepi. Matahari sore
menyinari wajah Anita, membuatnya berseri.
"Mbak
Anita, saya... sebentar lagi selesai penelitian. Harus balik ke Jogja."
Anita
menunduk. "Oh... iya, Mas. Tentu. Kuliah kan."
"Iya.
Tapi..." Erlangga ragu. "Tapi saya nggak mau putus kontak. Saya...
saya seneng sama Mbak."
Anita
diam. Hatinya campur aduk: senang, sedih, takut.
"Mas
Erlangga, saya ini cuma anak desa. Lulusan SMA. Mas calon dokter. Masa depan Mas
cerah. Masa depan saya... ya begini."
"Mbak
Anita, jangan rendahkan diri sendiri. Mbak ini hebat. Saya lihat sendiri
bagaimana Mbak mengurus posyandu, bagaimana Mbak sabar dengan ibu-ibu,
bagaimana Mbak hafal semua data balita. Itu luar biasa."
"Tapi..."
"Tidak
ada tapi. Saya suka Mbak karena siapa Mbak sekarang, bukan karena siapa Mbak
nanti."
Anita
menatap Erlangga. Matanya berkaca-kaca. "Mas... Mas serius?"
"Serius."
Mereka
berdua diam, saling memandang. Di kejauhan, Amat yang kebetulan lewat menghentikan
motornya. Ia melihat dua insan itu, lalu tersenyum. Tapi tiba-tiba, senyumnya
berubah, ada rasa cemburu? Ia cepat-cepat menggeleng, lalu melanjutkan
perjalanan.
Amat,
diam-diam, juga punya perasaan pada Anita. Tapi ia tak pernah berani
mengungkapkan. Ia hanya bisa melihat dari jauh.
Malam
harinya, Amat duduk di warung RT 02, sendirian. Mbah Karyo mendekat.
"Mas
Amat, kok murung?"
"Enggak,
Mbah. Capek aja."
"Capek
atau patah hati?"
Amat
terkesiap. "Mbah tahu?"
Mbah
Karyo tertawa. "Mbah ini tua, tapi mata masih awas. Mas Amat suka sama
Anita, kan?"
Amat
diam, mengangguk lesu.
"Nak,
cinta itu soal keberanian. Kalau Mas nggak berani bilang, ya orang lain yang
maju."
"Tapi
Mbah, saya ini cuma tenaga IT desa. Gaji pas-pasan. Anita itu... dia hebat.
Saya nggak pantas."
Mbah
Karyo menghela napas. "Nak, jangan ukur pantas dengan uang. Ukur dengan
hati. Tapi kalau Mas merasa belum siap, ya terima saja. Cinta nggak selalu
harus memiliki."
Amat
terdiam. Kata-kata Mbah Karyo masuk ke hati.
"Mbah,
saya akan belajar ikhlas."
"Itu
dia. Anak baik."
Di
langit, bintang-bintang bersinar. Amat menatapnya lama, lalu pulang dengan
langkah berat.***
Tahun
baru, masalah baru.
Pagi
itu, kantor desa dikepung warga. Puluhan orang datang dengan wajah merah,
membawa KTP dan KK, berteriak-teriak. Yuni dan Lulu kewalahan.
"Pak
Iwan! Kok nama saya nggak masuk daftar bantuan? Padahal tahun lalu dapet!"
"Iya,
saya juga! Ini diskriminasi!"
"Data
saya salah, alamatnya beda!"
Pak
Iwan keluar, mencoba menenangkan. "Sabar, Bapak-Ibu. Mari kita duduk dulu,
bicara baik-baik."
"Sabar
gimana, Pak? Ini bantuan besok cair, tapi nama saya nggak ada!"
Amat,
yang sedang di ruang server, mendengar keributan. Ia buka sistem, cek data
bantuan. Matanya membelalak, data error besar. Ribuan entri kacau: nama dobel,
NIK salah, alamat tidak cocok, bahkan ada warga meninggal yang masih terdaftar.
Ia
turun, menghampiri Pak Iwan. "Pak, sistem error. Data bantuan kita
kacau."
Pak
Iwan menghela napas. "Bisa diperbaiki?"
"Bisa,
tapi butuh waktu. Setidaknya tiga hari."
"Tiga
hari? Besok bantuan cair!"
Amat
terdiam. Ia tahu ini salahnya. Migrasi data minggu lalu, ia terburu-buru, tak
sempat cek ulang.
"Saya...
saya yang salah, Pak."
Pak
Iwan menatapnya. Bukan marah, tapi kecewa. Dan itu lebih menyakitkan.
"Amat,
ini bukan soal salah. Ini soal dampak. Lihat mereka." Pak Iwan menunjuk
warga yang masih berteriak. "Mereka butuh bantuan. Besok. Kalau data
salah, mereka nggak dapat. Anak-anak mereka bisa kelaparan."
Amat
menunduk. "Saya perbaiki, Pak. Saya lembur. Saya akan cari solusi."
"Lakukan."
Amat
kembali ke ruang server. Rizki sudah di sana, panik. "Mas, ini parah. Data
relasi antar tabel putus semua. Kita harus restore backup."
"Backup
terakhir kapan?"
"Seminggu
lalu."
"Seminggu?
Berarti data seminggu hilang?"
"Iya,
Mas."
Amat
hampir menangis. Tapi ia tahan. "Restore. Cepat. Nanti data yang masuk
seminggu terakhir kita input manual."
Rizki
mengangguk, mulai bekerja.
Di
luar, Pak Iwan menghadapi warga. Ia jelaskan situasi, minta maaf, janji akan
perbaiki secepatnya. Beberapa warga bisa menerima, beberapa masih marah.
"Pak
Iwan, ini sudah berapa kali error? Kapan desa ini punya sistem yang
bener?"
"Sabar,
Pak. Kita sedang belajar."
"Belajar?
Pakai uang rakyat untuk belajar?"
Pak
Iwan diam. Tak bisa membantah.
Bu
Endang maju. "Bapak-Ibu, mari kita tenang. Saya usul, besak-besok yang
nggak dapat bantuan karena data error, kita bantu dari dana darurat dulu. Nanti
setelah data bener, kita urus penggantian."
Warga
mulai tenang. Usulan Bu Endang masuk akal.
"Ibu
Endang janji?"
"Janji.
Saya pribadi yang akan urus."
Warga
mulai pulang, meski dengan wajah cemberut.
Di
ruang server, Amat dan Rizki bekerja tanpa henti. Restore backup berhasil, tapi
data seminggu hilang. Mereka harus input ulang 500 entri manual. Satu per satu.
Malam
hari, Pak Iwan masuk. Ia membawa nasi bungkus dan kopi.
"Makan
dulu."
Amat
menoleh, matanya sembab. "Pak Iwan, maafkan saya."
"Amat,
saya nggak marah. Tapi saya kecewa."
"Itu
lebih sakit, Pak."
"Iya.
Tapi itu pelajaran. Kamu harus lebih teliti. Data warga itu nyawa. Kalau salah,
orang bisa kelaparan, bisa nggak sekolah, bisa nggak berobat."
Amat
mengangguk. "Saya janji, Pak. Nggak akan terburu-buru lagi."
"Makan
dulu. Nanti lanjut."
Amat
makan, air matanya jatuh ke nasi. Rizki diam, tak berani bicara.
Pak
Iwan duduk di samping mereka. "Amat, kamu tahu kenapa saya pertahankan
kamu terus?"
Amat
menggeleng.
"Karena
kamu punya hati. Kamu nggak lari dari tanggung jawab. Setiap kali salah, kamu
berusaha perbaiki. Itu langka, Mat. Orang pintar banyak, orang jujur banyak,
tapi orang yang mau bertanggung jawab atas kesalahannya, itu langka."
Amat
tersedu.
"Jadi,
jangan menyerah. Selesaikan ini. Besok kita hadapi warga bersama."
Malam
itu, Amat dan Rizki bekerja sampai subuh. Data selesai diinput. Paginya, mereka
cetak ulang daftar bantuan, serahkan ke Pak Iwan.
Pak
Iwan memeriksa, mengangguk. "Bagus. Sekarang istirahat."
"Tapi,
Pak, warga..."
"Nanti
saya yang urus. Kalian istirahat."
Amat
dan Rizki pulang dengan langkah sempoyongan. Tapi hati Amat sedikit lega. Pak
Iwan masih percaya padanya.***
Pak
Eko, Kepala urusan perencanaan adalah perangkat desa paling senior setelah Pak
Iwan. Usianya 58 tahun, akan pensiun tiga tahun lagi. Ia dikenal sebagai
"manusia kertas": semua dokumen harus cetak, semua arsip harus fisik.
Digitalisasi adalah momok baginya.
Tapi
hari itu, Pak Eko meminta bertemu Amat.
"Mas
Amat, saya mau tanya."
Amat
agak kaget. Pak Eko jarang bicara padanya, apalagi minta tolong. "Iya,
Pak. Tanya apa?"
"Saya
dengar ada sistem online untuk RDKK, Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok?
Betul?"
"Iya,
Pak. Itu aplikasi dari Kementerian. Untuk data petani."
"Saya
mau data RDKK tahun ini online. Bisa?"
Amat
hampir jatuh dari kursi. Pak Eko, manusia kertas, mau online?
"B-bisa,
Pak. Tapi bapak mau? Biasanya kan pakai kertas."
"Saya
capek, Mas. Tiap tahun nulis ulang data 500 petani. Tangan saya udah keriting.
Kalau bisa online, saya tinggal copy paste."
Amat
tersenyum. "Bisa, Pak. Nanti saya ajarin."
"Tapi
saya nggak bisa komputer."
"Pak
Eko bisa pakai HP kan?"
"Bisa."
"Nanti
kita buat grup WhatsApp. Petani input data sendiri lewat formulir Google. Pak
Eko tinggal rekap."
Pak
Eko mengerutkan kening. "Formulir Google? Itu apa?"
"Seperti
kuesioner online, Pak. Petani tinggal isi dari HP. Nanti datanya masuk ke
spreadsheet otomatis."
"Mereka
bisa? Petani kan banyak yang gagap HP."
"Yang
muda bisa. Atau nanti kita minta pendampingan dari anak-anaknya. Yang penting,
datanya masuk. Nanti Pak Eko verifikasi."
Pak
Eko diam, berpikir. "Tapi kalau ada yang nggak punya HP?"
"Kita
buka posko di balai desa. Mereka datang, kita bantu input."
"Berapa
lama prosesnya?"
"Cepat,
Pak. Seminggu semua data masuk."
Pak
Eko menghela napas. "Coba dulu. Saya setuju asal Mas Amat dampingi."
"Siap,
Pak."***
Sepekan
kemudian, percobaan perencanaan digital dimulai. Amat buat formulir Google
sederhana, bagikan link ke grup WhatsApp petani. Beberapa langsung isi,
beberapa bingung, beberapa protes.
"Ribet,
Mat!"
"Nggak
punya kuota!"
"HP-ku
jadul, nggak bisa buka Google!"
Amat
sabar melayani. Ia buka posko di balai desa. Petani datang satu per satu, ia
bantu input. Yang nggak bisa datang, ia datangi ke rumah.
Pak
Eko, dari kantor, memantau spreadsheet yang terus bertambah. Matanya berbinar.
"Wah, ini canggih. Data masuk otomatis, nggak perlu ngetik ulang."
Lima
hari kemudian, semua data masuk. Pak Eko tinggal verifikasi dan cetak laporan.
Pekerjaan yang biasanya sebulan, selesai seminggu.
Di
rapat evaluasi, Pak Eko angkat bicara. "Saya dulu anti digital. Sekarang,
saya minta maaf. Ini luar biasa. Kita harus teruskan."
Pak
Iwan tersenyum. "Pak Eko, apa yang membuat berubah?"
"Waktu,
Pak Iwan. Saya sadar, kalau nggak ikut perubahan, saya akan tertinggal. Tinggal
tiga tahun lagi pensiun. Saya nggak mau jadi perangkat desa kolot yang cuma
bisa kertas."
Semua
tepuk tangan. Amat paling keras. Kemenangan kecil, tapi berarti.***
Pagi
itu, Anita datang ke posyandu lebih awal. Ada firasat aneh di hatinya. Benar
saja, setengah jam kemudian, Bu Bidan Amelia datang dengan wajah pucat.
"Anita,
ada masalah."
"Masalah
apa, Bu?"
"Stok
obat habis. Semua. Vitamin, obat cacing, bahkan oralit. Puskesmas Awan Merah
telat kirim. Kata mereka, ada kendala distribusi."
Anita
memucat. "Hari ini kan hari buka, Bu. Banyak ibu-ibu datang."
"Iya,
aku tahu. Kita harus beri penjelasan."
Posyandu
mulai ramai. Ibu-ibu datang dengan bayi mereka. Anita dan Bu Bidan menyambut
dengan senyum, tapi hati gundah.
"Selamat
pagi, Bu. Hari ini imunisasi ya?" tanya seorang ibu.
Bu
Bidan menghela napas. "Bu, maaf, stok obat kita habis. Puskesmas telat
kirim."
"Habis?
Kok bisa?"
"Kendala
teknis. Tapi jangan khawatir, minggu depan pasti datang."
"Lho,
saya sudah jauh-jauh bawa anak. Masa disuruh pulang?"
Ibu-ibu
lain mulai protes. Suasana memanas.
Anita
maju. "Ibu-ibu, saya minta maaf. Ini di luar kendali kami. Tapi kami
janji, minggu depan semua obat tersedia. Kami akan buka layanan tambahan di
luar jadwal untuk mengganti."
"Tapi
anak saya butuh vitamin sekarang. Udah batuk pilek seminggu."
Anita
bingung. Ia menatap Bu Bidan.
Tiba-tiba,
sebuah motor berhenti di depan posyandu. Erlangga turun, membawa tas besar.
"Mbak
Anita, Bu Bidan, saya dengar ada masalah?"
Bu
Bidan menoleh. "Mas Erlangga? Kok tahu?"
"Warga
WA saya. Katanya obat habis." Erlangga membuka tasnya. "Saya bawa
stok darurat dari kampus. Waktu pulang Jogja minggu lalu, saya ambil vitamin
dan obat dasar. Ini untuk penelitian, tapi bisa dipakai darurat."
Anita
hampir menangis. "Mas Erlangga..."
"Jangan
nangis dulu. Ayo kita bagi."
Dengan
cepat, Erlangga mengeluarkan isi tas: vitamin, obat cacing, oralit, bahkan
beberapa antibiotik dasar. Bu Bidan memeriksa, mengangguk lega.
"Ini
bisa dipakai sementara."
Posyandu
berjalan lancar. Ibu-ibu senang, protes reda. Anita diam-diam menatap Erlangga
dengan penuh kagum.
Sore
harinya, Dr. Samsiar dari Puskesmas Awan Merah datang. Wajahnya panik.
"Bu
Bidan, Anita, maaf, maaf. Ada kendala di gudang. Stok baru datang hari ini,
besok saya kirim."
"Tadi
kami dibantu Mas Erlangga, Dok. Stok darurat dari dia."
Dr.
Samsiar menatap Erlangga. "Mas mahasiswa kedokteran?"
"Iya,
Dok. Penelitian di sini."
"Terima
kasih, Mas. Ini sangat membantu. Nanti kalau lulus, mau praktek di sini?"
Erlangga
tersenyum. "Siapa tahu, Dok. Saya suka desa ini."
Anita,
mendengar, tersenyum dalam hati.***
Erlangga
harus kembali ke Jogja. Penelitiannya selesai, laporan sudah diterima dosen.
Tapi sebelum pergi, ada satu hal yang harus ia lakukan.
Suatu
malam, ia mengajak Anita ke warung RT 02. Bukan tempat romantis, tapi Erlangga
punya alasan: warung ini saksi banyak kisah desa, termasuk pertemuan mereka.
"Mbak
Anita, saya mau bicara serius."
Anita
deg-degan. "Bicara apa, Mas?"
Erlangga
menghela napas. "Saya sayang sama Mbak. Saya tahu hubungan jarak jauh itu
berat. Tapi saya nggak mau kehilangan Mbak."
Anita
diam, matanya berkaca-kaca.
"Saya
mau minta restu. Bukan untuk sekarang, tapi untuk nanti. Setelah saya lulus,
setelah dapat kerja. Saya mau Mbak jadi pendamping saya."
Anita
terkesiap. "Mas Erlangga, itu... itu lamaran?"
"Kalau
Mbak mau sebut begitu, iya. Tapi sederhana. Nggak ada cincin, nggak ada
romantis-romantisan. Cuma janji dari hati."
Anita
menangis. Bukan sedih, tapi haru.
"Mas,
saya ini cuma anak desa. Saya nggak pantas untuk Mas."
"Mbak
Anita, berhenti bilang begitu. Pantas atau tidak, saya yang menentukan. Dan
saya memilih Mbak."
Mereka
berpelukan. Mbah Karyo, yang melihat dari balik etalase, tersenyum. Ia sengaja
tak mendekat, membiarkan dua anak muda itu menikmati momen.
"Mas,
saya mau. Tapi saya minta waktu. Biar saya siapkan diri. Saya juga mau kuliah,
seperti saran Mas."
"Itu
ide bagus. Saya dukung penuh."
"Terus...
bapak saya? Mas tahu kan, Si Amat itu... cerewet."
Erlangga
tertawa. "Saya siap. Besok saya temui beliau."
Keesokan
harinya, Erlangga datang ke rumah Santoso. Pak Santoso, yang sedang di sawah,
dipanggil pulang. Ia heran ada tamu mahasiswa.
"Mas
Erlangga, ada perlu apa?"
Erlangga
duduk bersimpuh. "Pak Santoso, saya mau minta izin."
"Izin
apa?"
"Saya
sayang sama Anita. Saya ingin... melamarnya."
Santoso
terbelalak. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Beberapa saat
kemudian, ia tertawa keras.
"Wakakaka...
Mas Erlangga, ini serius?"
"Serius,
Pak."
Santoso
diam, menatap Erlangga tajam. "Mas tahu anak saya itu apa? Cuma lulusan
SMA. Kader posyandu. Mas calon dokter. Nanti kalau Mas malu punya istri cuma
lulusan SMA?"
"Nggak,
Pak. Saya justru bangga. Anita hebat. Dia lebih tahu tentang kesehatan
masyarakat dari banyak mahasiswa kedokteran. Saya belajar banyak dari
dia."
Santoso
terharu. "Mas Erlangga, saya petani miskin. Nggak punya apa-apa. Mas
yakin?"
"Saya
yakin, Pak. Saya nggak minta mahar mahal. Cuma restu bapak."
Santoso
diam lama. Lalu ia mengangguk. "Saya restui. Tapi satu syarat."
"Apa,
Pak?"
"Anita
harus kuliah. Saya nggak mau menantu saya dokter, anak saya cuma lulusan SMA.
Saya mau dia setara."
Erlangga
tersenyum. "Itu juga keinginan saya, Pak. Saya sudah janji bantu Anita
cari beasiswa."
"Bagus.
Kalau begitu, saya setuju."
Mereka
berjabat tangan. Anita, yang mengintip dari balik pintu, menangis bahagia.
Malam
harinya, kabar lamaran Erlangga menyebar cepat. Warga ramai membicarakan. Ada
yang senang, ada yang iri, ada yang sinis. Tapi yang pasti, Desa Awan Biru
punya kisah cinta baru.
Di
warung RT 02, Mbah Karyo tersenyum puas. "Warungku jadi saksi lagi."***
Pemilihan
kepala desa digelar. Pak Iwan maju lagi, untuk ketiga kalinya. Lawannya: Pak RT
03 yang didukung kelompok muda. Kampanye berlangsung sengit, tapi Pak Iwan
menang tipis: 52 persen suara.
Pelantikan
periode ketiga digelar sederhana di balai desa. Kali ini tak ada kemewahan, tak
ada gedung-gedungan. Hanya doa dan harapan.
"Saudara-saudara,"
Pak Iwan berpidato, "ini periode terakhir saya. Lima tahun ke depan, saya
akan fokus pada regenerasi. Siapkan generasi baru untuk memimpin desa
ini."
Warga
tepuk tangan. Tapi di antara tepukan, ada yang bertanya-tanya: siapakah
generasi baru itu?
Pak
Iwan melanjutkan. "Saya sudah tua. Teknologi berubah cepat. Yang muda
harus siap. Bambang, Rizki, Anita, dan anak-anak muda lain, kalianlah masa
depan desa ini."
Bambang,
yang hadir, tersipu. Rizki garuk-garuk kepala. Anita, di samping Erlangga,
tersenyum.
Pak
Iwan menatap mereka. "Saya titip desa ini."
Di
sudut, Amat mencatat semua di laptopnya. Ia sudah hafal ritme: setiap pidato,
setiap janji, setiap harapan. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Pak Iwan bicara
seperti orang yang pamit.
"Mas
Amat," Pak Iwan memanggil setelah acara. "Kamu harus siap. Lima tahun
lagi, mungkin kamu yang gantikan saya."
Amat
terkesiap. "Saya, Pak? Nggak lah. Saya cuma tenaga IT."
"Tenaga
IT yang tahu desa ini lebih dari siapa pun. Kamu hafal data warga, hafal
masalah, hafal solusi. Kamu pantas."
"Tapi
saya nggak punya pengalaman politik."
"Politik
desa bukan soal pintar bicara, Mat. Tapi soal ngerti warga. Kamu ngerti warga.
Itu modal utama."
Amat
diam. Kata-kata Pak Iwan masuk ke hati.
Malam
harinya, di warung RT 02, obrolan mengalir tentang masa depan. Bambang, yang
libur kuliah, ikut nimbrung.
"Pak
Iwan, serius mau regenerasi?" tanyanya.
"Serius,
Bang. Saya nggak mau desa ini tergantung sama saya terus. Harus ada
kader."
"Kader
seperti apa?"
"Seperti
kalian. Muda, melek teknologi, punya idealisme. Tapi juga harus dekat dengan
warga, paham masalah riil."
Bambang
mengangguk. "Saya masih kuliah, Pak. Dua tahun lagi."
"Nggak
apa. Dua tahun cukup untuk belajar. Nanti kalau lulus, pulang. Bantu
desa."
"Bapak
yakin desa ini butuh saya?"
"Desa
ini butuh semua anak mudanya. Yang di kota, yang di perantauan, yang di sini.
Kita bangun bersama."
Mbah
Karyo, yang setia di balik etalase, menimpali. "Pak Iwan ini, kalau
ngomong, selalu bikin haru."
Semua
tertawa. Tawa yang hangat, seperti biasa.***
Amat
punya adik. Bukan adik kandung, tapi anak paman yang ikut tinggal dengannya
setelah orang tuanya meninggal. Namang Amat Junior, dipanggil Jun. Usianya 14
tahun, kelas 2 SMP.
Jun
sering ikut Amat ke kantor desa. Awalnya cuma nemenin, lalu mulai penasaran
dengan komputer. Amat mengajari dasar-dasar: mengetik, excel, internet. Jun
cepat belajar.
"Mas,
kok server error mulu?" tanya Jun suatu hari.
"Ya
namanya server murah, sering error."
"Kenapa
nggak dibeli yang bagus?"
"Mahal,
Jun. Uang desa terbatas."
Jun
diam, berpikir. Lalu ia bertanya, "Mas, aku boleh bantu?"
"Bantu
apa?"
"Ngecek
log, lihat error pattern. Di sekolah aku diajarin dikit-dikit sama guru
IT."
Amat
tersenyum. "Boleh. Tapi harus disiplin. Pulang sekolah, PR dulu, baru
bantu."
Jun
mengangguk semangat.
Sejak
itu, Jun jadi asisten tidak resmi Amat. Ia belajar membaca log server,
mendeteksi error, bahkan mulai bisa bikin script sederhana. Amat kagum: adiknya
ini punya bakat.
Suatu
hari, Jun menemukan celah keamanan di website desa. "Mas, ini loginnya
nggak pakai enkripsi. Bisa dibobol."
Amat
panik. "Serius? Benerin, Jun!"
Jun
duduk di depan komputer. Dalam dua jam, ia pasang enkripsi, perbaiki celah, dan
testing. Website aman.
Pak
Iwan, yang mendengar, memanggil Jun. "Jun, kamu hebat. Dari mana
belajar?"
"Dari
internet, Pak. Saya nonton tutorial di YouTube."
"Mau
jadi IT desa nanti kalau besar?"
Jun
tersipu. "Mau, Pak. Tapi saya masih sekolah."
"Nggak
apa. Sekolah dulu yang bener. Nanti setelah lulus, kamu kita rekrut."
Amat,
mendengar, bangga. Adiknya, yang dulu ia asuh, kini mulai menunjukkan
kemampuan.***
Setahun
kemudian, Bambang lulus kuliah. Ia pulang kampung dengan ijazah di tangan.
Orang tuanya bangga, tapi juga cemas: anaknya akan kerja di mana?
"Bang,
kamu mau kerja di mana?" tanya ibunya.
"Di
sini, Bu. Bantu desa."
"Bantu
desa? Gajinya kecil, Bang."
"Nggak
apa, Bu. Saya sudah janji sama Pak Iwan. Saya mau bantu digitalisasi."
Bambang
menemui Pak Iwan. "Pak, saya lulus. Siap ditugaskan."
Pak Iwan
tersenyum lebar. "Bang, akhirnya. Saya tunggu."
Bambang
resmi diangkat sebagai tenaga honorer, fokus pada konten digital dan media
sosial desa. Gajinya kecil, tapi ia tak masalah. Yang penting, ia bisa
mewujudkan mimpinya: menjadikan Desa Awan Biru dikenal luas.
Hari
pertama kerja, Bambang duduk dengan Amat dan Rizki. "Mas, kita buat tim IT
desa resmi."
Amat
mengangguk. "Sudah waktunya. Selama ini saya sendiri, kewalahan."
Mereka
bertiga mulai bekerja. Bambang urus desain dan konten, Rizki urus server dan
database, Amat koordinasi dan urus administrasi. Tim kecil, tapi kompak.
Pak Iwan
memberi mereka nama: "Kader Digital Desa".
"Kalian
wajah baru desa ini. Tunjukkan pada dunia bahwa desa kecil bisa maju."***
Digitalisasi
tak selalu mulus. Di internal kantor desa, ada yang pro dan kontra. Pak Eko
sudah berubah, tapi beberapa perangkat lain masih resisten.
Puncaknya,
saat rapat evaluasi sistem keuangan desa. Bendahara, Pak Rahmat, protes keras.
"Saya
nggak percaya sistem online. Data keuangan itu sensitif. Kalau bocor,
gimana?"
Amat
mencoba menjelaskan. "Pak, sistem kita sudah dienkripsi. Hanya yang punya
akses bisa lihat."
"Nggak
peduli enkripsi apa. Saya lebih percaya buku."
"Tapi
Pak, dengan sistem online, warga bisa memantau. Transparansi."
"Transparansi?
Itu alasan kalian untuk pamer."
Diskusi
memanas. Pak Iwan harus turun tangan.
"Pak
Rahmat, saya hargai kekhawatiran bapak. Tapi kita harus maju. Sistem online
sudah jadi kebijakan. Kalau bapak punya masukan, silakan. Tapi jangan
menghambat."
Pak
Rahmat diam. Ia merasa dikepung.
"Pak
Rahmat," lanjut Pak Iwan, "saya usul: bapak ikut pelatihan IT. Biar
paham cara kerja sistem. Setelah itu, kalau masih keberatan, kita bicara
lagi."
Pak
Rahmat menghela napas. "Baik, Pak. Saya ikut."
Pelatihan
berlangsung sepekan. Bambang jadi instrukturnya. Awalnya Pak Rahmat kaku, takut
menyentuh komputer. Tapi Bambang sabar, menjelaskan pelan-pelan.
Hari
ketiga, Pak Rahmat mulai bisa. "Oh, ternyata gini. Gampang ya."
Hari
kelima, ia sudah bisa input data sendiri. "Bang, ini keren. Bisa lihat
laporan real-time."
Bambang
tersenyum. "Nah, gitu dong, Pak."
Setelah
pelatihan, Pak Rahmat berubah. Ia jadi pendukung digitalisasi paling vokal.
"Saya
minta maaf," katanya di rapat berikutnya. "Saya dulu kolot. Sekarang
saya lihat sendiri, sistem ini memudahkan kerja saya."
Semua
tepuk tangan. Kemenangan lain bagi tim digital.***
Hujan
deras mengguyur Desa Awan Biru malam itu. Di rumah Erlangga dan Anita, mereka
menikah setahun lalu, suasana panik. Anita akan melahirkan, lebih cepat dari
perkiraan.
"Erlangga,
aku... aku rasanya mau melahirkan!" teriak Anita.
Erlangga,
yang sudah resmi jadi dokter setelah lulus dan ditempatkan di Puskesmas Awan
Merah, berusaha tenang. "Sabar, Sayang. Aku siapkan kendaraan."
Tapi
banjir di jalan membuat mereka tak bisa ke puskesmas. Air naik cepat, motor tak
bisa lewat.
"Bagaimana
ini, Lang?"
Erlangga
berpikir cepat. "Kita ke rumah Bu Bidan Amelia. Dekat sini."
Di
tengah hujan, Erlangga menuntun Anita berjalan ke rumah Bu Bidan. Jarak 500
meter terasa seperti 5 kilometer.
Bu
Bidan Amelia, yang sedang tidur, kaget mendengar ketukan keras. Ia segera buka
pintu.
"Bu
Bidan, tolong! Anita mau melahirkan!"
Bu
Bidan sigap. Siapkan ruangan, alat, dan obat darurat. Erlangga membantu, meski
tangannya gemetar.
Proses
persalinan berlangsung dua jam. Di tengah rintik hujan yang mereda, tangis bayi
memecah keheningan.
"Selamat,
Mbak Anita. Anaknya laki-laki." Bu Bidan tersenyum.
Anita
menangis bahagia. Erlangga memeluknya.
Mbah
Anto, yang sudah wafat setahun lalu, pernah meramal: "Akan lahir pemimpin
muda dari desa ini." Apakah bayi ini yang dimaksud?
Pak
Iwan, yang datang menjenguk keesokan harinya, menimang bayi itu. "Beri
nama yang baik."
Erlangga
dan Anita sudah sepakat. "Arjuna, Pak. Kami ingin dia jadi ksatria
desa."
Pak
Iwan tersenyum. "Arjuna. Nama yang bagus."
Ia
menimang bayi itu lama, seolah melihat masa depan di wajah mungilnya.***
Dua
tahun berlalu. Desa Awan Biru perlahan berubah. Website desa kini rutin update.
Layanan administrasi mulai online. Warga bisa cek data bantuan dari HP.
Pengaduan bisa lewat WhatsApp.
Amat,
Bambang, dan Rizki bekerja keras. Mereka tak hanya urus teknis, tapi juga
keliling desa, mengajari warga menggunakan layanan digital.
"Bu,
ini caranya. Buka website, klik 'Layanan', pilih 'Surat Keterangan', isi
formulir, nanti suratnya bisa diambil besok."
"Wah,
gampang ya, Mas."
"Iya,
Bu. Nggak perlu antri."
Perlahan,
warga mulai terbiasa. Keluhan berkurang. Kepercayaan naik.
Pak
Iwan bangga. "Kalian hebat. Desa kita sekarang semi online."
"Masih
banyak PR, Pak," kata Amat. "Koneksi internet masih lemot di
dusun-dusun."
"Nanti
kita usulkan lagi. Bertahap."
Di
warung RT 02, obrolan warga mulai berubah. Tak lagi soal administrasi ribet,
tapi soal konten website, soal berita desa, soal program baru.
"Mbah
Karyo, website desa ada berita lomba 17-an."
"Oh
iya? Coba Mbah lihat." Mbah Karyo, yang mulai bisa akses internet, membuka
ponselnya. "Wah, ada fotoku juga."
Semua
tertawa. Digitalisasi mulai merasuk ke semua lapisan.***
Pak
Santoso, petani cerewet itu, jatuh sakit. Awalnya batuk ringan, lalu sesak
napas. Keluarga bawa ke puskesmas, dirujuk ke rumah sakit kabupaten. Diagnosis:
pneumonia berat.
Anita
panik. Ia hubungi Erlangga yang sedang dinas di puskesmas. Erlangga segera
datang.
"Pak
Santoso, saya Erlangga. Tenang, Pak. Kita rawat."
Erlangga
koordinasi dengan dokter rumah sakit. Santoso dapat perawatan intensif. Selama
seminggu, ia dirawat, Erlangga menjenguk tiap selesai dinas.
Santoso,
meski sakit, masih bisa bercanda. "Dok Erlangga, saya dulu nggak percaya
sama mantu. Sekarang saya lihat sendiri, mantu saya baik."
"Pak,
jangan banyak bicara. Istirahat."
"Saya
mau bilang, terima kasih. Udah rawat saya."
Erlangga
tersenyum. "Tugas saya, Pak."
Santoso
sembuh setelah dua minggu. Pulang ke desa, ia disambut warga. Ia langsung cari
Amat.
"Mas
Amat, saya mau usul."
Amat
menghela napas. "Usul apa lagi, Pak?"
"Saya
mau data kesehatan warga di-online-kan. Biar kalau ada sakit, cepat ketahuan.
Jangan sampai kejadian kayak saya."
Amat
tersenyum. "Pak Santoso, usul bapak bagus. Nanti kita bahas di
musrenbang."
"Saya
serius, Mas. Jangan cuma jadi usulan gantung."
"Iya,
Pak. Saya catat."
Sejak
itu, Santoso jadi pendukung digitalisasi kesehatan. Ia keliling desa,
sosialisasi pentingnya data kesehatan online. Warga heran: Pak Santoso berubah.***
Herman,
anak muda lulusan SMA, aktivis karang taruna—terpilih jadi anggota BPD (Badan
Permusyawaratan Desa). Usianya 25 tahun, termudah di antara tujuh anggota.
Pak
Iwan senang. "Akhirnya ada anak muda di BPD."
Herman
agak gugup. "Saya masih baru, Pak. Banyak yang harus dipelajari."
"Nggak
apa. Justru dengan semangat baru, BPD bisa lebih dinamis. Tugasmu mengawasi
kami, jangan sungkan."
Herman
mengangguk. Di rapat pertama, ia langsung unjuk gigi.
"Pak
Iwan, saya lihat laporan keuangan. Ada pos anggaran perjalanan dinas yang
tersisa besar. Kenapa tidak dialihkan untuk pelatihan pemuda?"
Pak
Iwan terkejut. Biasanya anggota BPD baru diam seribu bahasa. Tapi Herman
langsung kritis.
"Mas
Herman, itu usulan bagus. Nanti kita bahas di perubahan APBDes."
Herman
tersenyum puas. Di luar, ia bertemu Didit, tokoh pemuda yang mendorongnya maju.
"Gimana,
Man?"
"Lumayan,
Dit. Pak Iwan terbuka."
"Itu
dia. Tugasmu menjaga agar pemerintah desa tetap berpihak ke warga, terutama
pemuda."
"Iya,
Dit. Awasin aja."***
Arjuna
tumbuh jadi anak cerdas. Di usia 4 tahun, ia sudah bisa baca tulis. Di usia 5,
ia bisa operasikan tablet, main game edukasi. Di usia 6, masuk SD, ia jadi
bintang kelas.
Anita
dan Erlangga bangga. Tapi mereka juga waspada. Jangan sampai Arjuna terlalu
dimanja.
"Nak,
kamu harus tetap rendah hati," pesan Erlangga. "Pinter aja nggak
cukup. Harus baik hati."
"Iya,
Pa."
Arjuna
aktif di organisasi anak-anak desa. Ikut karang taruna remaja, ikut lomba, ikut
kegiatan sosial. Ia dekat dengan semua orang, dari anak kecil sampai orang tua.
Pak
Iwan, yang masih menjabat, sering memperhatikan Arjuna. "Anak itu
spesial," katanya pada Amat.
"Spesial
gimana, Pak?"
"Caranya
bergaul. Semua orang suka. Itu bakat pemimpin."
Amat
mengangguk. Ia ingat ramalan Mbah Anto. Mungkin benar: Arjuna yang dimaksud.***
Jelang
Pilkades 2030, isu mulai muncul. Banyak warga ingin pemimpin muda. Pak Iwan
sudah tiga periode, tak bisa maju lagi. Siapa penggantinya?
Nama
Arjuna mulai disebut. Tapi Arjuna baru 6 tahun, masih kecil. Mungkin yang dimaksud
bukan Arjuna sekarang, tapi Arjuna kelak.
Pak
Iwan merenung. "Regenerasi butuh waktu. Saya harus siapkan kader."
Ia
mulai melibatkan pemuda dalam pemerintahan. Bambang diangkat jadi Kepala Seksi
Informasi. Herman aktif di BPD. Rizki jadi operator handal. Amat jadi Sekdes, naik
jabatan.
"Mas
Amat, kamu harus siap," kata Pak Iwan. "Lima tahun lagi, mungkin kamu
yang gantikan saya."
Amat
terkejut. "Saya, Pak? Tapi saya nggak punya pengalaman."
"Kamu
punya pengalaman cukup. Sepuluh tahun di desa. Tahu semua masalah. Tinggal
belajar politik."
Amat
diam. Mimpinya jadi kepala desa? Tak pernah terbayangkan.***
Pak
Iwan duduk di warung RT 02, sendirian. Malam itu warung sepi. Hanya Mbah Karyo
yang setia di balik etalase.
"Mbah,
saya mau cerita."
"Cerita
apa, Pak Iwan?"
"Saya
sudah 13 tahun jadi kepala desa. Awalnya, saya kira jabatan ini soal kekuasaan.
Ternyata bukan. Ini soal pengabdian."
Mbah
Karyo mengangguk. "Saya lihat, Pak Iwan. Bapak kerja keras."
"Tapi
saya juga banyak salah. Kebijakan yang nggak tepat, program yang gagal, warga
yang kecewa. Kadang saya mikir, apa saya pantas?"
"Nggak
ada manusia sempurna, Pak Iwan. Yang penting, bapak terus belajar."
"Iya,
Mbah. Itu yang saya pegang. Belajar terus."
Pak
Iwan menatap langit. "Mbah, saya kangen sama Mbah Anto. Kata-katanya
selalu saya ingat: 'Jaga warung ini.' Saya jaga, Mbah. Warung ini akan tetap
ada."
"Insya
Allah, Pak Iwan. Selagi Mbah Karyo hidup, warung ini buka."
Mereka
tersenyum. Dua orang tua, berbagi keheningan.***
Musyawarah
desa terakhir di era Pak Iwan digelar. Suasananya haru. Banyak warga yang
berterima kasih, banyak yang minta maaf.
Pak
Iwan berdiri di mimbar. "Saudara-saudara, ini musyawarah terakhir saya.
Tahun depan, saya tak maju lagi. Saya ingin desa ini dipimpin orang baru, yang
lebih muda, lebih segar."
Warga
diam. Beberapa ibu menangis.
"Tapi
saya minta satu hal: jaga apa yang sudah kita bangun. Digitalisasi,
transparansi, pelayanan. Jangan sampai mundur."
"Siap,
Pak Iwan!" teriak Santoso.
Pak
Iwan tersenyum. "Pak Santoso, usulannya jangan lupa diteruskan."
Semua
tertawa. Suasana mencair.
Setelah
musyawarah, Pak Iwan dikerubuti warga. Foto bersama, jabat tangan, pelukan.
Tiga belas tahun kepemimpinan akan segera berakhir.***
Warung
RT 02 sunyi. Mbah Karyo sakit, warung tutup sementara. Warga kehilangan tempat
nongkrong.
Pak
Iwan menjenguk Mbah Karyo. "Mbah, sehat ya. Warungnya ditungguin."
Mbah
Karyo tersenyum lemah. "Pak Iwan, warung itu... titipan. Saya hanya
menjaga. Nanti kalau saya pergi, harus ada yang meneruskan."
"Siapa,
Mbah?"
"Anak
saya, Julia. Dia di rantau. Saya minta pulang."
"Nanti
saya bantu, Mbah."
Mbah
Karyo mengangguk. "Pak Iwan, jaga warung itu. Tempat itu saksi."
"Iya,
Mbah. Saya jaga."
Sepekan
kemudian, Mbah Karyo meninggal. Desa berkabung. Warung RT 02, untuk pertama
kalinya, benar-benar sunyi.***
Pilkades
2030 diikuti tiga calon: Pak RT 03 (incumbent pengganti sementara), Mas Amat
(Sekdes), dan seorang pemuda 28 tahun, Arjuna.
Arjuna,
yang kini berusia 9 tahun? Bukan. Yang dimaksud Arjuna lain—Arjuna Wijaya, anak
Erlangga dan Anita. Ya, Arjuna kini 9 tahun, masih SD. Tapi di sinilah kejutan:
ada Arjuna lain yang maju.
Arjuna
yang maju adalah Arjuna Purnomo, anak Bambang. Usianya 25 tahun, lulusan IT,
fresh graduate, pulang kampung untuk maju.
Warga
bingung. Dua Arjuna? Yang satu anak Bambang, satu anak Erlangga. Tapi yang maju
hanya satu: Arjuna Purnomo.
Deklarasi
digelar di balai desa. Arjuna Purnomo, dipanggil Jun, berpidato dengan
semangat.
"Saya
ingin desa ini jadi desa digital seutuhnya. Bukan setengah-setengah. Saya punya
tim: Bambang (ayah saya), Rizki, dan teman-teman muda. Bersama, kita bawa Awan
Biru ke level berikutnya."
Warga
tepuk tangan. Pak Iwan, yang hadir, tersenyum bangga.
"Akhirnya,
generasi baru siap," gumamnya.***
Suasana
desa tegang. Tiga calon berkampanye. Arjuna Purnomo unggul di kalangan muda.
Pak RT 03 unggul di kalangan petani. Mas Amat, calon petahana, terjepit.
Amat,
yang didorong Pak Iwan maju, ragu. "Pak, saya nggak yakin menang."
"Mat,
kau harus coba. Menang kalah urusan belakangan. Yang penting, kau
belajar."
Tapi
Amat tahu, peluangnya tipis. Warga ingin perubahan. Arjuna muda, segar,
visioner. Sementara Amat, meski berpengalaman, dianggap "staf lama".
Malam-malam
terakhir, warung RT 02 ramai lagi. Julia, anak Mbah Karyo, kini mengelola
warung. Ia pulang dari rantau, meneruskan pesan ayahnya.
"Warung
ini saksi," katanya. "Silakan diskusi di sini."
Para
pendukung Arjuna memenuhi warung. Mereka membahas strategi, konten kampanye
digital, debat terakhir.
Arjuna
duduk di pojok, ditemani Bambang dan Rizki. "Pa, gimana debat besok?"
"Tenang
aja, Nak. Kau sudah siap. Tinggal percaya diri."
"Iya,
Pa. Tapi deg-degan."
"Wajar.
Namanya juga pertama kali."
Julia
mendekat, membawakan kopi. "Mas Arjuna, semoga sukses."
Arjuna
tersenyum. "Mbak Julia, terima kasih. Warung ini tempat saya kecil dulu,
main sama teman-teman. Sekarang jadi saksi perjuangan."
Julia
tersipu. Ada getar aneh di hatinya.***
Arjuna
dan timnya bergerak cepat. Bambang, ayahnya, jadi arsitek kampanye digital.
Rizki urus data dan analisis. Anak-anak muda desa jadi relawan, bikin konten,
sebar info.
Website
desa, yang dulu hanya untuk administrasi, kini jadi media kampanye. Profil
calon, visi-misi, program, semua terpampang. Warga bisa bandingkan langsung.
"Pa,
ini etis nggak ya pakai website desa?" tanya Arjuna.
"Website
desa milik publik, Nak. Semua calon boleh pakai asal adil. Pak RT 03 juga
ditawari, tapi dia nggak mau."
"Kenapa?"
"Katanya,
percuma. Wong desa nggak pada baca."
Arjuna
tersenyum. "Kita buktikan kalau mereka baca."
Konten-konten
kreatif bermunculan. Video pendek, infografis, meme, podcast. Arjuna jadi seleb
dadakan. Warga, terutama muda, mulai antusias.
Di
warung RT 02, diskusi mengalir. "Mas Arjuna ini beda. Paham
teknologi."
"Iya,
tapi pengalamannya minim. Mas Amat lebih senior."
"Senior
tapi nggak maju-maju. Kita butuh perubahan."
Perdebatan
tak terelakkan. Tapi itulah demokrasi.***
Debat
terbuka digelar di balai desa. Tiga calon duduk berhadap-hadapan. Moderator:
Herman dari BPD.
Sesi
pertama: visi-misi. Arjuna bicara tentang desa digital terintegrasi. Pak RT 03
bicara tentang pembangunan fisik. Mas Amat bicara tentang keberlanjutan.
Sesi
kedua: tanya jawab. Arjuna diuji soal pengalaman.
"Mas
Arjuna, umur 25, baru lulus kuliah. Apa pengalaman bapak memimpin?"
Arjuna
tenang. "Saya memang baru. Tapi saya punya tim berpengalaman. Pak Bambang,
mantan Kader Digital, akan jadi Sekdes. Mas Rizki, ahli IT, akan jadi Kepala
Seksi Informasi. Saya akan delegasi pada ahlinya."
Jawaban
cerdas. Arjuna tak sok tahu, tapi tahu cara mengelola tim.
Mas
Amat menjawab dengan pengalamannya. Pak RT 03 dengan jaringan politiknya. Debat
berlangsung seru.
Selesai
debat, warga berdiskusi di warung. "Arjuna menang soal visi. Tapi Amat
unggul pengalaman."
"Pilih
mana?"
"Belum
tahu. Lihat nanti."***
Di
rumah Bambang, suasana tegang. Bambang dan Arjuna berbeda pendapat soal
strategi.
"Nak,
kampanyemu terlalu fokus pada digital. Petani lupa."
"Pa,
petani juga perlu digital. Mereka butuh akses pasar, butuh informasi harga,
butuh data cuaca. Itu yang saya tawarkan."
"Tapi
mereka nggak paham. Mereka butuh sesuatu yang nyata. Jalan, irigasi,
bantuan."
"Itu
juga ada di program saya, Pa. Tapi saya nggak mau cuma janji fisik. Saya mau
perubahan sistemik."
Bambang
menghela napas. "Nak, saya cuma ingin kau menang."
"Saya
juga, Pa. Tapi saya mau menang dengan cara saya."
Mereka
diam. Ibu Bambang masuk, membawa teh.
"Sudah,
jangan bertengkar. Masing-masing punya pendapat. Tapi ingat, kalian ayah-anak.
Jangan sampai kampanye merusak hubungan."
Arjuna
memeluk Bambang. "Maaf, Pa. Saya sayang Bapak."
Bambang
tersenyum. "Iya, Nak. Saya juga."***
Selebaran
gelap beredar di grup WhatsApp. Isinya fitnah: Arjuna anak pengacara, hidup di
kota, nggak paham desa. Padahal Arjuna besar di desa, sekolah di kota karena
kuliah.
Tim
Arjuna panik. Bambang geram.
"Ini
black campaign. Kita lapor BPD."
Herman,
ketua BPD, bertindak cepat. Ia telusuri sumber, dapat nomor palsu. Tak bisa
dilacak.
"Mas
Herman, gimana dong?" tanya Arjuna.
"Kita
lawan dengan klarifikasi. Buka data, tunjukkan fakta. Jangan balas dengan
fitnah."
Arjuna
setuju. Ia buat video klarifikasi, ajak warga diskusi langsung. Ia datangi
rumah-rumah, jelaskan siapa dirinya.
Perlahan,
fitnah mereda. Warga lebih percaya pada pertemuan langsung daripada selebaran
gelap.***
Kirana,
anak Bu Endang, pulang kampung. Ia lulusan IT, kerja di startup Jakarta. Tapi
ada apa?
"Bu,
saya resign. Mau bantu Mas Arjuna."
Bu
Endang kaget. "Kok bisa? Kamu kan karirnya bagus."
"Bu,
saya lihat perjuangan Mas Arjuna. Saya ingin bantu. Desa ini butuh tenaga IT.
Saya bisa bantu sistem dan data."
Bu
Endang diam. Ia tahu anaknya keras kepala.
"Nanti
bicara sama Pak Iwan."
Kirana
menemui Pak Iwan. "Pak, saya mau bantu Arjuna. Boleh?"
Pak
Iwan tersenyum. "Nak Kirana, saya malah senang. Desa butuh anak muda
seperti kamu. Tapi, apa nggak sayang sama karirmu?"
"Sayang,
Pak. Tapi desa ini rumah saya. Saya ingin berkontribusi."
"Bagus.
Silakan. Tapi jangan setengah-setengah. Kalau mau bantu, serius."
"Iya,
Pak."
Kirana
bergabung dengan tim Arjuna. Ia jadi ahli data dan sistem. Bersama Rizki,
mereka memperkuat basis digital kampanye.
Arjuna
senang. "Kir, makasih ya."
"Sama-sama,
Jun. Ini desaku juga."
Ada
getar di hati Arjuna. Kirana cantik, cerdas, dan satu visi. Tapi ia tahan,
fokus pada kampanye.***
BPD,
di bawah Herman, menjaga netralitas. Semua calon diperlakukan sama. Kampanye
diawasi, pelanggaran ditindak.
Pak RT
03 protes. "Mas Herman, kok tim Arjuna dibiarin kampanye di medsos
terus?"
"Pak,
medsos bukan ranah kami. Yang penting, kontennya nggak melanggar aturan. Kami
pantau."
Tapi
Herman juga tak segan menegur Arjuna. "Jun, videomu terlalu nyinyir ke
calon lain. Hapus."
Arjuna
nurut. "Iya, Mas."
Netralitas
Herman diakui semua calon. Ia dapat pujian dari berbagai pihak.
"Mas
Herman, nanti kalau mau maju kades, saya dukung," goda warga.
Herman
tertawa. "Nanti dulu. Saya masih betah di BPD."***
Santoso,
kakek 66 tahun, bimbang. Ia bingung memilih. Tiga calon, tiga pilihan. Siapa
yang terbaik?
Ia
duduk di warung RT 02, ditemani Julia.
"Mbah
Santoso, bimbang ya?" tanya Julia.
"Iya,
Nok. Arjuna muda, semangat. Amat pengalaman, kenal warga. Pak RT 03, orang
lama."
"Kalau
Mbah, kriterianya apa?"
"Yang
bisa bawa desa ini maju. Yang nggak korupsi. Yang dengerin warga."
"Itu
semua calon punya, Mbah. Tinggal mana yang paling pas."
Santoso
diam, berpikir. Tiba-tiba ia teringat Erlangga, mantunya. Erlangga pendukung
Arjuna—anak Bambang, bukan anaknya. Tapi Erlangga bilang, Arjuna itu calon
terbaik.
"Bapak,
kalau lihat anak saya sendiri, Anita, dia sukses karena didukung sistem.
Sekarang dia kepala puskesmas pembantu. Itu karena desa punya data kesehatan
yang rapi. Arjuna punya visi untuk data itu."
Santoso
mengangguk. Mungkin itu jawabannya.***
Warung
RT 02 penuh sesak. Malam terakhir kampanye, semua calon hening. Warga bebas
diskusi.
Arjuna
duduk di pojok, bersama Kirana. Mereka berbicara pelan.
"Jun,
gugup?"
"Gugup
banget, Kir. Ini pertama kalinya."
"Wajar.
Tapi kau sudah berusaha maksimal. Apa pun hasilnya, kau tetap hebat."
Arjuna
menatap Kirana. "Kir, kalau aku menang... aku mau ngomong sesuatu."
"Apa?"
"Nanti
aja. Kalau menang."
Kirana
tersipu. Ia tahu apa yang Arjuna maksud.
Di
meja lain, Amat duduk sendiri. Julia mendekat.
"Mas
Amat, kok sendirian?"
"Sendiri
aja, Nok. Mikir."
"Pikir
apa?"
"Mikir,
apa yang salah dengan saya. Kok warga lebih milih Arjuna?"
Julia
duduk di sampingnya. "Mas Amat, Mas ini hebat. Sepuluh tahun lebih
berjuang. Tapi warga mungkin butuh wajah baru. Bukan karena Mas buruk."
Amat
tersenyum getir. "Mungkin."
"Mas,
apa pun hasilnya, warung ini tetap buat Mas. Tempat curhat, tempat
diskusi."
"Makasih,
Nok."***
Pagi
buta, TPS sudah ramai. Warga antre, membawa KTP elektronik. Panitia sibuk.
Pengawas dari BPD berkeliling.
Arjuna
mencoblos pukul delapan. Ia keluar dengan wajah tegang. Kirana menjemput.
"Gimana?"
"Udah.
Tinggal nunggu."
Bambang
memeluknya. "Apa pun hasilnya, Nak, Bapak bangga."
Mas
Amat mencoblos pukul sembilan. Ia tenang, meski hati dag-dig-dug. Pak Iwan
mendampingi.
"Mat,
ikhlas ya."
"Iya,
Pak."
Pak RT
03 mencoblos pukul sepuluh. Ia percaya diri, yakin menang.
Hitung
suara dimulai pukul satu siang. Warga berkumpul di balai desa, menanti hasil.
Tegangan tinggi.***
Hasil
keluar pukul sembilan malam.
Arjuna:
2.450 suara (42%)
Mas Amat: 2.100 suara (36%)
Pak RT 03: 1.280 suara (22%)
Arjuna
menang! Tapi selisih tipis, hanya 350 suara.
Warga
bersorak. Pendukung Arjuna bergembira. Pendukung Amat terdiam, kecewa.
Arjuna
naik ke panggung. Matanya berkaca-kaca.
"Saudara-saudara,
terima kasih. Ini kemenangan kita bersama. Bukan saya, tapi desa ini. Saya akan
bekerja untuk semua, termasuk yang tidak memilih saya."
Mas
Amat maju, memeluk Arjuna. "Selamat, Jun. Kau pantas."
"Makasih,
Mas Amat. Bimbing saya."
"Iya,
Nak. Saya akan bantu."
Pak RT
03 juga memberi selamat, meski wajahnya masam.
Malam
itu, warung RT 02 berpesta. Julia buka gratis untuk pendukung Arjuna. Tapi ia
juga sediakan kopi untuk pendukung Amat.
"Silakan,
semua. Ini warung untuk semua."***
Serah
terima jabatan digelar sederhana. Pak Iwan, kini 65 tahun, menyerahkan jabatan
pada Arjuna, 25 tahun. Usia terpaut 40 tahun, tapi semangat sama.
"Mas
Arjuna, ini kunci desa." Pak Iwan menyerahkan kunci balai desa, simbolis.
"Pak
Iwan, terima kasih. Saya akan jaga amanah."
"Saya
tahu. Kau anak baik."
Mereka
berpelukan. Warga haru. Banyak yang menangis, terutama yang seperjuangan dengan
Pak Iwan.
Pak
Iwan berpidato singkat. "Saudara-saudara, 15 tahun saya memimpin. Banyak
salah, banyak khilaf. Tapi satu yang saya pegang: desa ini harus terus maju.
Kini, saya percayakan pada Mas Arjuna. Dukung dia."
Tepuk
tangan gemuruh.***
Pelantikan
digelar di kecamatan. Arjuna resmi jadi Kepala Desa Awan Biru ke-9. Usia 25
tahun—termuda sepanjang sejarah desa.
Hadir
semua perangkat, tokoh masyarakat, dan warga. Pak Iwan duduk di barisan depan,
tersenyum bangga.
Setelah
pelantikan, Arjuna pulang ke desa. Ia singgah di warung RT 02. Julia sudah
menunggu.
"Selamat,
Pak Kades."
"Makasih,
Nok. Tapi panggil Jun aja, kayak dulu."
"Ah,
nggak sopan. Nanti saya panggil Pak Arjuna."
Arjuna
tertawa. "Terserah. Yang penting, warung ini tetap buka."
"Pasti.
Pesan ayah saya."
Mereka
duduk, menikmati kopi. Di luar, senja mulai jingga. Langit Awan Biru, seperti biasa,
tak pernah berubah.***
Seratus
hari pertama Arjuna padat. Program digital health dimulai: integrasi data
posyandu, puskesmas, dan rumah sakit. Warga bisa akses riwayat kesehatan dari
HP.
Anita,
kini kepala puskesmas pembantu, senang. "Akhirnya, data kesehatan
terintegrasi. Ini memudahkan kami."
Erlangga,
yang tetap praktek di puskesmas, membantu desain sistem. Kirana coding, Rizki
uji coba. Tim kecil, tapi kompak.
Program
lain: UMKM Go Online. Arjuna targetkan 100 UMKM terdaftar di marketplace.
Bambang jadi pelatih utama.
"Ibu-ibu,
ini caranya foto produk yang bagus. Pakai HP aja, nggak perlu kamera
mahal."
Ibu-ibu
antusias. Beberapa langsung dapat order.
Tapi
tak semua mulus. Ada resistensi dari pedagang senior.
"Pak
Kades, saya ini jualan di pasar tradisional. Buat apa online? Pelanggan saya
sudah tetap."
"Pak,
online itu tambahan. Pelanggan bapak tetap bisa beli di pasar, tapi juga bisa
pesan dari rumah. Nanti antar, atau ambil sendiri. Fleksibel."
Pedagang
itu ragu. Tapi setelah lihat tetangganya dapat order, ia ikut.***
Program
UMKM Go Online berjalan. Dari 100 target, 85 terdaftar. Omzet naik rata-rata 30
persen. Warga senang.
Julia,
pengelola warung RT 02, ikut program. Warungnya kini bisa dipesan online.
Anak-anak muda suka, karena bisa pesan kopi tanpa keluar rumah.
"Mbak
Julia, kopinya pesan online dong. Nanti saya ambil."
"Boleh,
Mas. Nanti saya siapkan."
Warung
makin ramai. Tapi Julia tetap pertahankan suasana lama: bangku kayu, lampu
tempel, kopi tubruk. Itu daya tariknya.
Arjuna
sering nongkrong di sana. Bukan cuma ngopi, tapi juga diskusi dengan warga.
"Pak
Kades, kok sering ke sini?"
"Ini
kantor kedua saya, Bu. Di sini saya dengar keluhan langsung."
Warga
senang. Pemimpin muda, tapi mau dengar.***
Arjuna
punya ide besar: wisata desa berbasis digital. Ia ingin cerita desa, sejarah,
perjuangan, digitalisasi, dikemas menarik.
Bambang
dan Kirana bikin konten: video, artikel, foto. Dibuat website khusus wisata
desa. Ada paket: belajar digitalisasi di desa, ngopi di warung legendaris,
tracking ke sawah.
Awalnya,
tak ada yang datang. Tapi setelah promosi di medsos, mulai ada peminat.
Hari
pertama: 10 pengunjung, anak kuliahan dari kota. Mereka senang, bikin konten,
viral di TikTok.
Minggu
berikutnya: 50 pengunjung. Minggu selanjutnya: 200. Warung RT 02 kebanjiran
order.
Julia
kewalahan. "Pak Kades, ini ramai banget. Saya butuh bantuan."
"Rekrut
aja, Mbak. Anak-anak muda pengangguran di sini banyak."
Julia
rekrut tiga anak muda. Warung jadi lebih hidup.***
Amat
Juana, panggilan Julia, kini bukan hanya pengelola warung. Ia juga menulis.
Puisi, cerpen, catatan harian. Semua tentang desa.
Bambang
baca tulisannya, kagum. "Mbak, ini bagus. Dipublish di website desa
yuk."
"Ah,
malu, Mas."
"Buat
apa malu? Ini aset. Bisa jadi daya tarik wisata sastra."
Julia
setuju. Tulisannya mulai muncul di website. Respon positif. Ada yang minta
buku.
"Pak
Kades, saya mau bikin buku. Boleh?"
Arjuna
senang. "Boleh banget, Mbak. Nanti desa yang biayai."
Buku
"Catatan Warung RT 02" terbit. Laris. Julia jadi ikon pemuda kreatif.
Kerja
sama tim membuat Arjuna dan Kirana makin dekat. Sering lembur bareng, diskusi,
makan malam. Perasaan mulai tumbuh.
Suatu
malam, di warung RT 02, Arjuna memberanikan diri.
"Kir,
aku mau ngomong."
"Ngomo
ng apa, Jun?"
"Aku...
suka sama kamu. Bukan cuma partner kerja."
Kirana
tersipu. "Jun, aku juga."
Mereka
berdua diam, saling pandang. Julia, yang melihat dari balik etalase, tersenyum.
"Ah,
warung ini jadi saksi lagi," gumamnya.
Sejak
itu, hubungan Arjuna dan Kirana resmi. Tapi mereka tetap profesional di kantor.
Kerja adalah kerja, cinta adalah cinta.
Warga
senang. "Cocok, Pak Kades sama Mbak Kirana. Sama-sama pinter."***
Arjuna
dan Kirana menikah. Undangan digelar sederhana di balai desa, tapi dihadiri
ribuan warga. Semua ingin memberi selamat.
Pak
Iwan jadi saksi. Ia terharu. "Dari bayi, saya gendong Arjuna. Sekarang dia
menikah."
Bambang
dan Bu Endang, orang tua Kirana, juga haru. Dua keluarga bersatu.
Resepsi
meriah. Makanan dari UMKM lokal. Musik dari karang taruna. Dokumentasi dari tim
digital.
Malam
harinya, pengantin baru duduk di warung RT 02, melepas lelah.
"Nggak
nyangka, aku jadi menantu Pak Iwan," kata Arjuna.
"Dan
aku jadi istri kepala desa." Kirana tersenyum.
Julia
mendekat, membawa kopi. "Selamat, kalian. Warung ini turut berbahagia."
Mereka
tertawa. Langit malam bertabur bintang.***
Bencana
digital melanda. Server nasional PDNS, Pusat Data Nasional, diserang
ransomware. Data pemerintah lumpuh total. Desa Awan Biru ikut terdampak.
Layanan
administrasi berhenti. Warga panik.
"Pak
Kades, gimana ini? Mau bikin KK, nggak bisa."
Arjuna
tenang. "Kita punya backup lokal. Semua data tersimpan di server
desa."
Kirana
cek. "Data aman, Jun. Tapi nggak bisa sinkron ke pusat."
"Nggak
apa. Untuk sementara, kita layani manual pakai data lokal. Nanti setelah pusat
pulih, kita sinkron."
Desa
Awan Biru jadi satu-satunya desa yang masih bisa layani administrasi. Warga
dari desa lain datang minta tolong.
Arjuna
koordinasi dengan kecamatan. "Kami buka layanan untuk semua. Data warga
desa lain bisa kita input manual, nanti diserahkan ke desa masing-masing."
Kecamatan
setuju. Desa Awan Biru jadi pusat layanan darurat.
Krisis
berlangsung dua minggu. Setelah pusat pulih, desa dapat apresiasi dari bupati.
"Desa
Awan Biru contoh kesiapsiagaan digital," katanya.***
Krisis
server nasional jadi ujian bagi Arjuna. Ia harus ambil keputusan cepat,
koordinasi dengan banyak pihak, dan jaga kepercayaan warga.
Ada
saat ia hampir goyah. Saat warga desa lain protes karena antrean panjang.
"Pak
Kades, ini nggak adil! Prioritas warga sendiri dong!"
Arjuna
harus tegas. "Maaf, Pak. Ini darurat. Semua dilayani sama. Tapi saya minta
kesabaran."
Malam
harinya, ia duduk di warung, lelah.
"Jun,
capek?" tanya Kirana.
"Capek
banget. Tapi ini tanggung jawab."
"Kau
hebat. Banyak yang kagum."
"Aku
cuma lakukan tugas."
Julia
mendekat. "Pak Kades, warung ini tempat kau recharge. Silakan, kopi gratis
malam ini."
Arjuna
tersenyum. "Makasih, Nok."***
Amat,
kini 45 tahun, masih setia di kantor desa. Jabatannya kini Kepala Seksi
Pemerintahan. Tapi ia tetap membantu urusan IT.
Suatu
hari, server error. Rizki panik, tak bisa perbaiki. Amat datang, cek sebentar,
lalu tertawa.
"Passwordnya
lupa, Ki?"
Rizki
garuk-garuk kepala. "Iya, Mas. Saya ganti, lupa catat."
Amat
buka catatan kecil di dompetnya. "Ini daftar password. Saya catat semua.
Jangan percaya ingatan."
Server
pulih. Rizki lega. "Mas Amat, selamatkan hari."
"Biasa
aja. Dulu saya sering error, sekarang error orang lain."
Semua
tertawa. Amat jadi legenda hidup digitalisasi desa.***
Julia,
Amat Juana, kini 28 tahun, belum menikah. Warga mulai bergosip.
"Mbak
Julia kok belum nikah? Padahal cantik, pinter."
"Mungkin
nggak laku."
"Masa
sih? Anak Mbah Karyo, waris warung."
Julia
dengar gosip itu, sedih. Tapi ia tak ambil pusing.
Di
warung, seorang pemuda sering datang. Namanya Dani, guru SD, pindahan dari
kota. Ia suka baca buku, suka diskusi.
"Mbak
Julia, buku baru Mbak sudah terbit?"
"Sudah,
Mas. Ini." Julia berikan buku.
Mereka
ngobrol lama. Setiap malam, Dani datang. Warga mulai pasang mata.
Julia
tersipu. Mungkin ini jawaban atas gosip.***
Herman,
kini 37 tahun, memimpin BPD dengan tegas. Ia pastikan pengawasan berjalan.
Arjuna, meski dekat dengannya, tetap diawasi.
"Pak
Kades, laporan keuangan bulan lalu belum masuk."
"Nanti
saya minta Sekdes, Mas."
"Jangan
lupa. Ini kewajiban."
Arjuna
senang punya BPD seperti Herman. Kritis, tapi membangun.
Kolaborasi
eksekutif-legislatif makin solid. Desa maju cepat.***
Kabar
keberhasilan Desa Awan Biru sampai ke kabupaten. Bupati Awan Jingga datang
berkunjung.
"Ini
desa kecil, tapi maju sekali. Sistem digitalnya lengkap, wisatanya berkembang,
warganya sejahtera."
Arjuna
malu-malu. "Ini kerja tim, Pak Bupati."
"Tim
yang hebat. Saya akan jadikan desa ini percontohan untuk desa-desa lain."
Kunjungan
berlanjut ke warung RT 02. Bupati kagum.
"Warung
kecil, tapi jadi saksi sejarah. Ini harus dilestarikan."
Julia senang.
Warungnya masuk berita.***
Pak
Iwan, kini 67 tahun, jatuh sakit. Tekanan darah tinggi, komplikasi. Dirawat di
rumah sakit.
Arjuna
dan Kirana menjenguk. "Pak Iwan, semoga lekas sembuh."
Pak
Iwan tersenyum lemah. "Jun, desa... jaga desa."
"Iya,
Pak. Saya jaga."
Bu
Endang menangis di sampingnya. "Pak Iwan, jangan pergi dulu."
Pak
Iwan menggenggam tangan istrinya. "Endang, aku sudah tua. Tugasku sudah
selesai. Sekarang tugas mereka."***
Pak
Iwan pulang dari rumah sakit, kondisinya membaik. Tapi ia tahu, waktunya tak
lama.
Ia
minta diantar ke warung RT 02. Julia menyambut.
"Pak
Iwan, mau kopi?"
"Mau,
Nok. Kopi tubruk, seperti biasa."
Pak
Iwan duduk di bangku favoritnya. Ia menatap sekeliling warung, bangku kayu,
lampu tempel, foto-foto lama.
"Nok,
warung ini harus dijaga. Jangan pernah tutup."
"Insya
Allah, Pak Iwan. Ini pesan almarhum ayah."
"Bagus.
Nanti kalau aku pergi, aku titip pesan sama anak cucuku: jaga warung itu.
Tempat ini saksi perjuangan tiga generasi."
Julia
menangis. "Pak Iwan..."
"Jangan
nangis, Nok. Aku sudah bahagia. Lihat Arjuna, lihat desa ini, lihat warungmu.
Semua lebih baik dari dulu."***
Pak
Iwan meninggal dalam tidur. Tenang, tanpa sakit. Usia 67 tahun, 15 tahun
memimpin desa, 2 tahun jadi sesepuh.
Desa
berkabung. Ribuan warga mengantar ke pemakaman. Arjuna pidato di makam.
"Pak
Iwan, engkau guru kami. Engkau fondasi desa ini. Kami janji, akan jaga apa yang
kau bangun."
Bu
Endang menangis di samping makam. Kirana memeluk ibunya.
Di
warung RT 02, foto Pak Iwan dipajang di dinding. Julia menulis puisi untuknya.
"Duduk
di bangku kayu
Menyeduh kopi pahit
Kau ajarkan kami bermimpi
Selamat jalan, Bapak..."***
Di
tengah duka, ada kebahagiaan. Kirana melahirkan. Bayi laki-laki, sehat.
Arjuna
menimang anaknya. "Joko. Kita beri nama Joko."
Kirana
tersenyum lelah. "Joko. Semoga jadi penerus yang baik."
Bambang,
yang jadi kakek, memeluk cucunya. "Cucuku. Generasi keempat."
Arjuna
menatap Joko. "Kau lahir saat kakek buyutmu pergi. Kau penerus mimpi
mereka."***
Titik,
anak Julia dan Dani, tumbuh jadi gadis cerdas. Ia suka main ke warung, bantu
ibunya, dan sering tampil di acara desa. Bakat publik figur mulai terlihat.
Di
usia 7 tahun, Titik ikut lomba bercerita tingkat kabupaten. Cerita tentang
warung RT 02. Ia juara 1.
"Bu,
aku cerita tentang warung kita. Tentang Mbah Karyo, tentang Pak Iwan."
Julia
bangga. "Kau hebat, Titik. Lanjutkan."
Titik
tumbuh jadi remaja populer. Sering jadi MC acara desa, sering tampil di medsos.
Warga mulai mengenalnya sebagai "cucu Mbah Karyo".***
Pembangunan
wisata desa berjalan cepat. Tapi ada masalah: warga protes karena lahan
pertanian berkurang.
Arjuna
pusing. Ia harus menyeimbangkan pembangunan dan kelestarian.
"Pak
Kades, ini sawah kami. Jangan dikorbankan."
"Pak,
ini untuk masa depan. Tapi saya dengar."
Musyawarah
digelar. Arjuna dengar semua keluhan. Ia putuskan: pembangunan dialihkan ke
lahan kritis, bukan sawah produktif.
"Maaf,
saya salah. Harusnya konsultasi dulu. Mulai sekarang, setiap proyek akan
dibahas bersama."
Warga
lega. Arjuna belajar: pembangunan harus partisipatif.
Krisis
lingkungan mematangkan Arjuna. Ia sadar, pemimpin tak bisa kerja sendiri. Harus
dengar warga.
Di
warung, ia duduk dengan warga.
"Pak
Kades, saya senang bapak mau dengar."
"Saya
masih belajar, Pak. Kadang salah."
"Wajar,
Pak. Yang penting, mau dengar."
Arjuna
tersenyum. Ia ingat Pak Iwan: "Kepemimpinan bukan soal pintar, tapi soal
mau belajar."
Target
tercapai: Desa Awan Biru 100% digital. Semua administrasi tanpa kertas. Warga
bisa urus semuanya dari HP.
Rizki,
kini kepala IT, bangga. "Akhirnya."
Amat,
yang sudah pensiun, datang melihat. "Wah, dulu kita susah payah. Sekarang
mulus."
"Berkat
Mas Amat dulu, fondasinya kuat."
Amat
tersenyum. Ia ingat masa-masa error, warga marah, hampir mundur. Tapi ia
bertahan.
Warung
RT 02 renovasi. Tapi bentuk asli dipertahankan: bangku kayu, lampu tempel,
dinding bilik. Hanya diperkuat strukturnya.
Julia
ingin warung ini tetap jadi saksi. "Biar anak cucu tahu, dulu perjuangan
dimulai dari sini."
Dani,
suaminya, mendukung. "Ide bagus, Sayang."
Warung
jadi lebih nyaman, tapi esensinya tetap. Pengunjung makin ramai.
Joko,
14 tahun, dan Titik, 13 tahun, sering bersama. Main, belajar, diskusi. Ada
benih romansa, seperti generasi sebelumnya.
Suatu
hari, Joko bilang, "Titik, aku mau jadi kepala desa kayak Bapak."
Titik
tertawa. "Aku mau jaga warung kayak Ibuk. Tapi kita bisa kerja sama, kayak
orang tua kita dulu."
Joko
tersenyum. "Deal."
Mereka
berjanji. Tak tahu bahwa janji itu akan terwujud 20 tahun kemudian.
Arjuna
maju lagi, menang telak. Kini ia lebih matang, lebih bijak.
Program-program
berjalan mulus. Desa makin maju. Warga sejahtera.
Kirana
di sampingnya, jadi ibu desa yang aktif. Anak-anak mereka, Joko dan adiknya, tumbuh
sehat.
Amat
Junior, Jun, adik Amat, kini 36 tahun. Ia jadi Kepala IT desa, menggantikan
Rizki yang pindah ke kabupaten.
Jun dulu
cemburuan pada Anita. Kini ia bijak. Ia punya keluarga sendiri, bahagia.
"Mas
Amat, dulu aku cemburu sama Mas Erlangga."
Amat
tertawa. "Sudah lama, Jun. Lupakan."
"Iya,
sekarang aku paham: cinta bukan soal memiliki."
Mereka
berpelukan. Persaudaraan menguat.
Kirana
dipercaya pimpin IT regional. Ia koordinasi 20 desa untuk digitalisasi.
Arjuna
bangga. "Istriku hebat."
"Tapi
aku tetap ibu rumah tangga, Jun. Prioritas keluarga."
Mereka
seimbang. Karir dan keluarga berjalan.
Santoso,
95 tahun, meninggal. Tokoh warga, kakek cerewet, dikenang semua.
Anita
menangis di makamnya. "Bapak, terima kasih untuk semua."
Erlangga
memeluknya. "Bapak bahagia, Lihat kita semua sukses."
Warga
berdatangan. Santoso, yang dulu sering usul, kini dikenang sebagai pahlawan
partisipasi.
Meja
bundar di balai desa. Duduk: Pak Amat (65), Bu Yuni, Bu Lulu, Pak Bambang, Bu
Anita, Pak Erlangga, Pak Herman, Bu Kirana, Pak Arjuna. Juga Amat Junior,
Julia, Dani.
Tiga
generasi duduk bersama. Mereka refleksi perjalanan.
Pak
Amat buka suara. "Dulu, saya cuma tenaga IT honorer. Sering error, sering
dimarahin. Tapi Pak Iwan selalu bilang: 'Kamu lagi belajar.'"
Bu
Anita menambahkan. "Saya kader posyandu, nggak punya mimpi kuliah. Tapi
Mas Erlangga datang, ubah hidup saya."
Pak
Arjuna bicara. "Saya lahir di era digitalisasi dimulai. Besar dengan
cerita perjuangan kalian. Sekarang, tugas saya melanjutkan."
Julia
berkata, "Warung RT 02 saksi semua. Dari Mbah Karyo, sampai saya."
Mereka
diam, mengenang. Di dinding, foto Pak Iwan dan Mbah Anto tersenyum.
Arjuna
mulai siapkan Joko. Anaknya kini 24 tahun, kuliah semester akhir.
"Jok,
kau harus siap. Lima tahun lagi, mungkin kau gantikan Bapak."
Joko
kaget. "Pa, aku masih muda."
"Bapak
dulu juga muda. Tapi dengan persiapan, kau bisa."
Arjuna
ajari Joko semua: pemerintahan, digital, hubungan warga. Joko belajar cepat.
Titik,
24 tahun, lulus komunikasi. Joko, 25 tahun, lulus IT. Mereka pulang kampung.
Titik
kelola warung dan media sosial. Joko bantu IT desa. Sering kerja sama, sering
diskusi.
Suatu
hari, Joko bilang, "Tit, aku serius sama kamu."
Titik
tersipu. "Jok, kita udah kenal kecil. Tapi ini serius?"
"Serius."
Mereka
berdua setuju pacaran, dengan restu orang tua.
Lamaran
digelar di warung RT 02. Sama seperti lamaran Erlangga-Anita, Arjuna-Kirana,
Julia-Dani. Kini giliran Joko dan Titik.
Arjuna
dan Kirana duduk sebagai orang tua. Julia dan Dani di sisi lain.
Joko
berlutut. "Tit, maukah kau jadi pendampingku?"
Titik
menangis. "Mau, Jok."
Semua
haru. Warung RT 02, untuk ke sekian kali, jadi saksi.
Desa
Awan Biru resmi jadi desa mandiri. Tak tergantung dana pusat. Pendapatan dari
wisata, UMKM, dan pajak lokal cukup untuk operasional.
Arjuna
bangga. "Ini mimpi Pak Iwan. Akhirnya tercapai."
Warga
berbahagia. Hidup sejahtera, anak-anak sekolah, kesehatan terjamin.
Semua
dokumen desa, dari 2015 sampai 2050, terdigitalisasi. Ada arsip khusus:
"Cerita Pak Iwan". Berisi rekaman, foto, catatan perjuangannya.
Arjuna
meresmikan arsip itu. "Generasi mendatang harus tahu: desa ini dibangun
dengan keringat dan air mata."
Joko,
yang kini 26 tahun, siap jadi penerus.
Warung
RT 02, senja. Tiga generasi duduk: Amat (71), Arjuna (50), Joko (25). Juga
Kirana, Julia, Titik, dan keluarga.
Langit
biru dengan semburat jingga. Awan-awan kecil berarak.
Amat
bicara. "Dulu, saya duduk di sini dengan Pak Iwan. Beliau bilang, 'Amat,
langit tak pernah berubah.'"
Arjuna
menyambung. "Tapi desa berubah. Dari gelap terang, dari manual digital,
dari miskin mandiri."
Joko
menambahkan. "Dan warung ini tetap di sini. Saksi tiga generasi."
Julia
tersenyum. "Akan terus di sini. Untuk generasi keempat, kelima,
seterusnya."
Titik
memegang tangan Joko. Mereka tersenyum.
Matahari
tenggelam di ufuk barat. Lampu warung mulai menyala. Suara tawa, obrolan,
canda, mengisi ruang.
Langit
Awan Biru, seperti biasa, tak pernah berubah. Biru muda, dengan semburat
jingga. Awan-awan kecil berarak lambat, seolah tahu: di bawahnya, tiga generasi
telah berlalu. Dan masih akan ada generasi-generasi berikutnya, duduk di bangku
yang sama, di warung yang sama, di desa yang sama.
Desa
Awan Biru.
EPILOG
Seorang
gadis kecil duduk di bangku kayu, memandangi foto-foto di dinding. Ia baru
berusia 10 tahun, bernama Awan, cicit Pak Iwan.
"Nenek,
ini siapa?" tanyanya pada Julia yang kini 71 tahun.
"Itu
Mbah Karyo, buyutmu. Pemilik warung pertama."
"Ini?"
Awan menunjuk foto lain.
"Itu
Pak Iwan, kepala desa legendaris. Dia yang memulai digitalisasi."
"Wah,
banyak sekali cerita."
Julia
tersenyum. "Iya, Nduk. Tiga generasi cerita. Dan kau, generasi kelima,
harus tahu semuanya."
Awan
mengangguk. Ia menatap ke luar warung, ke langit yang biru.
"Langitnya
masih sama ya, Nek?"
"Masih,
Nduk. Langit Awan Biru, tak pernah berubah. Cuma kita yang berubah."
Di
luar, senja mulai jingga. Warung RT 02, dengan segala usianya, terus berdiri.
Menjadi saksi. Menjadi rumah. Menjadi tempat tiga generasi, dan akan terus
menjadi tempat generasi-generasi berikutnya, untuk duduk, ngopi, bercerita, dan
bermimpi.
Tentang
desa. Tentang perubahan. Tentang langit yang tak pernah berubah.
TAMAT











