This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Sabtu, 14 Maret 2026
NOVELET MISTERI : “MISTERI KANCIl DI BUKIT MANOREH”
NOVELET MISTERI
“MISTERI KANCIl DI BUKIT MANOREH”
Petualangan Detektif Cilik Bojong Sari
Oleh: Slamet Riyadi\
PROLOG
Bojong Sari, namanya tak pernah disebut dalam peta besar
mana pun. Desa kecil yang terselip di lipatan kaki Bukit Manoreh ini hidup dalam
denyutnya sendiri—jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari gemerlap teknologi,
jauh dari segala sesuatu yang disebut modernitas. Di sini, waktu berjalan
lambat, mengikuti irama alam yang naik turun bersama kabut pagi dan senja yang
jingga.
Namun, ketenangan selalu memiliki harga. Dan harga itu
seringkali berupa rahasia.
Hutan Manoreh yang membentang di belakang desa bukan
sekadar hamparan pohon dan semak belukar. Ia adalah paru-paru desa, sumber
kehidupan, juga tabir pembatas antara dunia manusia dan dunia lain yang tak
pernah sepenuhnya dipahami. Di dalamnya hidup ribuan makhluk—kijang, landak,
ayam hutan, dan yang paling cerdik di antara semuanya: kawanan kancil yang
telah turun-temurun menjadikan hutan itu sebagai istana.
Tapi musim kemarau tahun ini berbeda. Sesuatu telah
mengubah ritme alam. Dan ketika manusia dan hewan sama-sama berjuang untuk
bertahan, tabir pembatas itu mulai menipis.
Ini bukan sekadar cerita tentang mentimun yang hilang. Ini
cerita tentang bagaimana kecerdikan berhadapan dengan kecerdikan. Tentang
sekelompok anak yang membuktikan bahwa usia tak pernah menghalangi rasa ingin
tahu. Dan tentang seekor kancil tua yang mengajarkan bahwa hutan punya caranya
sendiri untuk mengingatkan manusia.
Selamat memasuki Misteri Kebun Mentimun di Kaki Bukit
Manoreh.
Kabut masih setia membungkus Bojong Sari ketika ayam jantan
pertama berkokok. Perlahan, seperti raksasa yang baru terbangun dari tidur
panjang, Bukit Manoreh mulai memperlihatkan diri—lerengnya yang hijau tertutup
pepohonan rindang, puncaknya yang selalu enggan menampakkan wajah, seolah
menyimpan seribu rahasia yang tak ingin dibagi.
Desa Bojong Sari terhampar di ketinggian 700 meter di atas
permukaan laut. Udara dingin menusuk tulang di malam hari, namun memberi
kesejukan yang menenangkan di pagi hari. Rumah-rumah panggung kayu berdiri
berjajar tak beraturan, mengikuti kontur tanah yang berbukit dan berlembah.
Jalan setapak berbatu menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya, basah oleh
embun yang belum menguap.
Pak Wiryo, petani berusia 58 tahun dengan kumis tebal dan
kulit legam terbakar matahari, membuka jendela kamarnya. Ia menarik napas
panjang, menghirup aroma tanah basah dan dedaunan yang menjadi ciri khas
desanya sejak ia lahir.
"Wah, enggak ada duanya," gumamnya sambil mengusap
wajah.
Dari beranda rumah, ia bisa melihat hamparan sawah
bertingkat yang membentuk pola seperti tangga raksasa menuruni bukit. Padi-padi
menguning, siap panen dalam minggu ini. Bulir-bulirnya padat dan berat, hampir
membungkukkan batang yang menopang.
"Pak! Sarapan dulu!" teriak istrinya, Bu Jum,
dari dapur yang mengepulkan asap tipis.
Di dapur sederhana dengan tungku kayu bakar, Bu Jum sedang
menggoreng tempe. Aroma khas tempe goreng bercampur dengan wangi kopi tubruk
yang diseduh di cerek tanah liat.
"Pagi-pagi udah ngelamun aja," tegur Bu Jum
sambil meletakkan piring di atas meja kayu yang sudah lapuk di sudut-sudutnya.
"Lagi mikirin panen, Bu. Kayaknya tahun ini hasilnya
bagus," jawab Pak Wiryo sambil duduk bersila di lantai beralas tikar
pandan.
"Iya, alhamdulillah. Curah hujan cukup, hama juga
enggak banyak. Semoga rezekinya berkah," Bu Jum ikut duduk, menuang kopi
ke cangkir seng.
Mereka makan dalam hening yang nyaman—keheningan yang hanya
bisa diciptakan oleh puluhan tahun pernikahan. Sesekali suara burung cucak ijo
dari pohon mangga di halaman depan menyela.
Di ujung desa, di rumah yang tak kalah sederhana, seorang
bocah laki-laki berusia 11 tahun sedang bergelut dengan tas sekolahnya yang
bolong di satu sisi. Namanya Jaka, anak semata wayang Pak Karso, buruh tani
yang menggarap sawah milik orang lain.
"Mak, bolongnya tambal dulu, dong," rengek Jaka
sambil menunjukkan tasnya.
Bu Ratmi, ibunya, tengah memasak nasi di dapur. "Ya
Allah, Nak. Belum gajian bapakmu. Pakai dulu aja, yang penting bukunya
masuk."
"Tapi malu, Mak. Bolongnya gede. Nanti buku-bukunya
pada jatuh."
"Malu sama siapa? Di sekolahmu juga pada bolong semua
tasnya. Ini desa, bukan kota," jawab Bu Ratmi tanpa menoleh.
Jaka cemberut, tapi ia tahu ibunya benar. Tak ada satu pun
anak di Bojong Sari yang punya tas baru setiap tahun. Mereka bersyukur jika
masih punya tas, meski bolong dan tambal sana-sini.
Di seberang desa, di rumah yang sedikit lebih besar, Kakek
Darmo—sesepuh desa berusia 80-an tahun—duduk di beranda sambil mengisap pipa.
Matanya yang sayu menatap jauh ke arah hutan Manoreh. Pipa di tangannya sudah
lama mati, tapi ia tetap menempelkannya di bibir, seperti kebiasaan lama yang
sulit dihilangkan.
"Manoreh..." bisiknya lirih. "Kowe isih
nyimpen akeh rahasia? Kamu masih menyimpan banyak rahasia?"
Cucunya, Wulan, bocah perempuan berusia 9 tahun dengan
rambut dikepang dua, mendekat. "Kakek ngomong apa? Aku enggak
dengar."
Kakek Darmo tersenyum, mengelus kepala Wulan. "Enggak,
Nduk. Kakek cuma ngomong sama hutan."
"Ngapain ngomong sama hutan? Kan hutan enggak bisa
jawab."
"Hutan bisa jawab, Nduk. Tapi bukan dengan kata-kata.
Dengan tanda-tanda," jawab Kakek misterius.
Wulan mengerutkan dahi, tak mengerti.
Sekolah Dasar Bojong Sari hanya memiliki tiga ruang kelas
dan satu ruang guru yang juga merangkap perpustakaan—meski isinya hanya
beberapa puluh buku bekas sumbangan. Halaman sekolah berupa tanah lapang yang
becek jika hujan dan berdebu jika kemarau.
Namun pagi itu, matahari bersinar cerah. Dua puluh tujuh
murid dari kelas 1 sampai 6 duduk di ruang masing-masing. Di kelas 5 dan 6 yang
digabung jadi satu, Bu Guru Ningsih sedang mengajarkan matematika.
"Jaka, coba maju kerjakan soal nomor tiga,"
panggil Bu Guru.
Jaka bangkit, menggaruk kepalanya yang gatal. Pindidikan
matematika di desa ini mungkin tak secanggih di kota, tapi Bu Guru
Ningsih—perantau yang pulang kampung setelah gagal di kota—berusaha keras
mengajar dengan metode yang ia pelajari.
"Bener, Jaka. Tapi langkahnya masih kurang satu. Coba
teman-teman bantu," kata Bu Guru.
Seorang anak laki-laki di pojok mengacungkan tangan. Dialah
Raka, 12 tahun, kelas 6. Anak paling pintar di sekolah. Nilainya selalu
sempurna, meski dengan fasilitas seadanya.
"Langkah ketiganya harus dibagi dua dulu, Bu, baru
dikalikan," jawab Raka.
"Pintar. Duduklah, Jaka, sudah bagus."
Bel istirahat berbunyi. Anak-anak berlarian ke halaman, ada
yang jajan di kantin Bu Siti—warung kecil di samping sekolah yang menjual
gorengan dan es mambo plastik seharga seratus rupiah.
Raka, Jaka, Wulan, dan beberapa anak lain duduk di bawah
pohon beringin besar di pinggir lapangan. Mereka berteduh sambil makan
gorengan.
"Raka, kamu enggak pengen sekolah di kota? Kan kamu
pinter," tanya Jaka sambil mengunyah tahu isi.
Raka menggeleng. "Di sini aja dulu. Nanti kalau SMP
baru ke kecamatan. Lagian, pinter enggak pinter enggak nentuin di mana
sekolahnya."
"Tapi di kota kan enggak bolong tasnya kayak
punyaku," Jaka menunjuk tasnya.
Semua tertawa.
"Lu, Jak. Tas bolong doang protes. Mending
bersyukur," timpal Doni, anak gemuk yang selalu ceria.
Tawa mereka terputus oleh suara burung yang berkicau keras
dari arah hutan.
Kriiih... kriiiih... kriiiih...
"Suara apa itu?" tanya Wulan.
"Burung tekukur biasa," jawab Raka enteng.
Tapi burung itu terus berkicau, tak berhenti-henti. Dan
untuk sesaat, suasana terasa aneh. Raka menoleh ke arah hutan. Bukit Manoreh
tampak biasa saja. Namun ada sesuatu—ia tak bisa menjelaskan apa—yang
membuatnya merasa sedang diamati.
Di kejauhan, di tepi hutan yang paling dekat dengan desa,
sepasang mata hitam kecil mengawasi. Seekor kancil jantan dengan tanduk kecil
yang baru tumbuh mengendus-endus udara. Ia menangkap aroma mentimun. Mentimun
segar yang mulai ditanam petani di ladang-ladang pinggir desa.
Ia beringsut mundur, kembali ke dalam hutan. Menemui
kawanannya yang tengah menunggu kabar.
"Kancil... Kancil... kau ini makhluk apa?" gumam
Kakek Darmo dari berandanya, seolah bisa merasakan kehadiran hewan itu.
"Kau datang bawa kabar apa?"
Hutan Manoreh tetap diam. Tapi di perutnya yang dalam, denyut
kehidupan mulai berubah.
Tiga hari kemudian, Bojong Sari bergemuruh oleh suara
lesung padi. Tut... tut... tut... bunyi alu menumbuk gabah
terdengar dari berbagai penjuru desa. Panen raya telah tiba, dan seluruh desa
larut dalam hiruk-pikuk kegembiraan yang hanya datang dua kali setahun.
Sejak subuh, Pak Wiryo sudah berada di sawahnya. Cangkul
dan ani-ani—alat pemotong padi tradisional—bertengger di pinggangnya. Beberapa
tetangga ikut membantu, sesuai tradisi gotong royong yang masih kental di
Bojong Sari.
"Wiryo, tahun ini padinya padat-padat!" seru Pak
Carik—sekretaris desa—yang kebetulan lewat.
"Iya, Pak. Alhamdulillah banget. Ini rezeki
nomplok," jawab Pak Wiryo sambil memotong setangkai padi. Ia
menggenggamnya, mencium aroma khas gabah segar. "Wangi... wangi banget."
Di sawah sebelah, Pak Karso—ayah Jaka—bekerja sendiri. Ia
hanya buruh tani, menggarap sawah orang lain dengan sistem bagi hasil. Tapi
kali ini, sawah yang ia garap juga panen melimpah. Wajahnya yang biasanya
cemberut, pagi itu berseri-seri.
"Jaka! Jaka! Bantu bapak!" teriaknya.
Jaka yang sedang membantu ibunya di rumah, berlari ke
sawah. Meski hanya bocah 11 tahun, ia sudah terbiasa dengan pekerjaan keras di
desa.
"Sini ambil ini, taruh di pinggir," perintah Pak
Karso sambil menyerahkan beberapa ikat padi.
Matahari semakin tinggi. Udara panas bercampur dengan wangi
jerami. Dari kejauhan, Kakek Darmo berjalan pelan-pelan menuju sawah.
Tongkatnya menusuk tanah setiap beberapa langkah. Wulan mengikuti di belakang
sambil membawa kendi air.
"Kakek mau ke mana?" tanya Wulan.
"Lihat panen. Sudah lama Kakek enggak lihat sawah
seperti ini," jawab Kakek.
Setiba di pinggir sawah, Kakek Darmo berhenti. Ia
memandangi hamparan padi menguning. Angin berhembus, membuat bulir-bulir padi
bergoyang seperti lautan emas.
"Dulu... pas Kakek masih muda, sawah-sawah ini juga
begini. Tapi ada satu tahun yang berbeda," ujar Kakek setengah berbisik.
"Tahun apa, Kek?" tanya Wulan penasaran.
Kakek tak menjawab. Matanya menerawang jauh.
Di tengah hiruk-pikuk panen, tiba-tiba seseorang berteriak
dari kejauhan. "Pak Lurah! Pak Lurah dateng!"
Semua orang menoleh. Seorang pria paruh baya dengan baju
batik lusuh berjalan tergesa-gesa. Diali Lurah Karso—nama yang sama dengan ayah
Jaka, tapi tak ada hubungan keluarga. Lurah Karso adalah pemimpin desa yang
sudah menjabat selama dua periode. Wajahnya bulat dengan kumis tebal, perutnya
sedikit buncit—tanda bahwa ia cukup makmur di desa ini.
"Maaf mengganggu, warga Bojong Sari! Ada
pengumuman!" teriaknya.
Para petani berhenti bekerja, mendekat.
"Malam ini kita adakan syukuran panen di balai desa.
Semua diundang! Bawa makanan masing-masing, nanti ditumpeng bareng!"
"Horeee!" teriak anak-anak yang ikut orang tua
mereka ke sawah.
"Ini tradisi kita, jangan lupa. Syukuran panen harus
meriah karena tahun ini hasilnya bagus. Kita undang juga pak camat dari
kecamatan," lanjut Lurah.
Pak Wiryo mengangguk-angguk senang. "Siap, Pak Lurah!
Nanti istri saya bikin opor ayam."
"Saya bikin sambal goreng kentang!" teriak Bu Jum
dari kejauhan.
"Ibu-ibu yang lain juga jangan kalah!" Luruh
tertawa. "Pokoknya malam ini kita pesta!"
Malam harinya, balai desa yang biasanya sunyi, berubah
menjadi pusat keramaian. Puluhan lampu minyak tanah dipasang di setiap sudut,
menciptakan suasana hangat temaram. Tikar pandan digelar memenuhi lantai. Aroma
masakan—opor, sambal goreng, rendang, ayam goreng—bercampur menjadi satu,
menciptakan hidung tak henti-hentinya mencium.
Anak-anak berlarian ke sana kemari. Jaka, Raka, Wulan, dan
Doni duduk di pojok, menikmati nasi kuning dengan lauk seadanya.
"Enak banget nasi kuningnya," ucap Doni sambil
mengunyah.
"Iya, tapi jangan kebanyakan, nanti gendut tambah
gendut," goda Jaka.
"Biarin! Yang penting kenyang!"
Di depan, Lurah Karso naik ke panggung darurat yang terbuat
dari papan. Ia memukul-mukul mikropon yang mendesis.
"Halo... halo... warga Bojong Sari yang saya
banggakan!"
Semua orang menghentikan aktivitas, menatap ke panggung.
"Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Karena berkat-Nya, kita bisa berkumpul di sini dalam acara
syukuran panen tahun ini. Seperti yang kita lihat, panen tahun ini melimpah
ruah. Padi kita subur, hama sedikit. Ini semua berkat kerja keras kita bersama
dan juga restu dari alam sekitar."
"Hidup petani!" teriak seseorang dari belakang.
"Berikutnya, saya ingin menyampaikan bahwa pak camat
berhalangan hadir. Beliau titip salam dan doa buat kita semua."
Protes kecil terdengar dari beberapa warga. Tapi suasana
cepat cair ketika Lurah mempersilakan makan bersama.
"Silakan... silakan... kita doa dulu sebelum
makan!"
Doa dipimpin oleh modin desa—pegawai urusan agama—yang
suaranya merdu. Semua menunduk, khusyuk.
Usai doa, suasana semakin meriah. Tumpeng raksasa yang
dihias cabe dan sayuran dipotong oleh Lurah, lalu dibagikan ke warga. Suara
tawa, obrolan, dan canda memenuhi balai desa.
Kakek Darmo duduk di sudut, ditemani Wulan. Ia tak banyak
bicara, hanya mengamati. Matanya yang sayu sesekali melirik ke arah hutan yang
gelap di kejauhan. Malam itu, hutan Manoreh tampak hitam pekat. Tak ada cahaya
sedikit pun.
"Kakek kok sedih?" tanya Wulan.
"Enggak, Nduk. Kakek enggak sedih."
"Tapi kok diam terus?"
Kakek mengelus kepala Wulan. "Kakek cuma mikir... alam
ini baik banget sama kita. Tapi apa kita udah baik balik ke alam?"
Wulan mengerutkan kening. "Maksud Kakek?"
"Lihat hutan itu," Kakek menunjuk ke gelap.
"Dia kasih kita air, kasih kita udara sejuk, kasih kita tanah subur. Tapi
kita cuma ambil terus. Kadang kita lupa... hutan juga punya penghuni. Mereka
juga butuh makan."
"Penghuni? Maksudnya hantu?"
Kakek tertawa kecil. "Bukan hantu, Nduk. Hewan-hewan.
Kijang, landak, kancil. Mereka tinggal di sana. Kadang-kadang mereka juga
lapar. Kadang-kadang mereka juga butuh makanan."
Wulan menatap hutan dengan perasaan aneh. Gelap gulita.
Tapi diam-diam, ia merasa ada sesuatu yang juga menatap balik.
"Kancil... kancil... apa kamu lapar, ya?"
bisiknya lirih.
Di dalam hutan, seekor kancil betina mengendus-endus udara
malam. Ia menangkap aroma makanan dari desa. Bukan nasi—kancil tak suka
nasi—tapi ada aroma lain yang membuat air liurnya menetes. Aroma mentimun.
Mentimun yang mulai ditanam para petani di ladang-ladang pinggir hutan.
Kancil betina itu berbalik, masuk lebih dalam ke hutan.
Menemui yang lainnya.
Malam itu juga, rencana licik mulai disusun.
Dua minggu setelah panen raya, suasana desa berubah.
Sawah-sawah yang sebelumnya menguning kini berubah menjadi hamparan tanah
kosong. Jerami-jerami kering ditumpuk di pinggir, beberapa dibakar untuk
dijadikan pupuk. Asap tipis mengepul di sana-sini.
Para petani mulai menanam palawija. Jagung, kacang tanah,
dan yang paling favorit: mentimun.
"Harga mentimun lagi tinggi, Pak," kata Pak Wiryo
pada istrinya suatu pagi. Mereka sedang duduk di beranda, menghitung-hitung
pengeluaran dan pemasukan.
"Berapa sekarang?" tanya Bu Jum.
"Di pasar kecamatan, Rp 5.000 per kilo. Itu mahal, Bu.
Biasanya cuma Rp 3.000."
"Wah, lumayan. Kita tanam banyak-banyak dong,
Pak."
"Iya, itu rencana saya. Tanah bekas padi masih subur.
Cocok buat mentimun."
Di seantero desa, percakapan serupa terjadi. Pak Karso juga
berencana menanam mentimun di sawah garapannya. Meski hanya buruh tani, ia
punya hak untuk menentukan tanaman apa yang akan ditanam di lahan yang ia
garap.
"Jaka, besok kita beli bibit mentimun ke
kecamatan," kata Pak Karso suatu malam.
"Banyak, Pak?"
"Iya, banyak. Kita tanam seluas mungkin. Kalau untung,
bisa buat beliin tas baru buat kamu."
Jaka matanya berbinar. "Bener, Pak?"
"Bener. Tapi kamu harus rajin bantu siram-siram."
"Siap, Pak!"
Keesokan harinya, Pak Karso dan Jaka naik ojek ke kecamatan.
Mereka membeli puluhan bungkus bibit mentimun. Bibit-bibit itu kemudian disemai
di lahan kecil dekat rumah, menunggu cukup umur untuk dipindah ke sawah.
Di rumah Kakek Darmo, Wulan membantu kakeknya menyiram
tanaman di pekarangan. Kakek Darmo tak punya sawah, tapi ia punya kebun kecil
di belakang rumah. Menanam cabai, tomat, dan terong.
"Kek, kenapa orang-orang pada tanam mentimun
terus?" tanya Wulan.
"Karena mentimun cepet panennya. Tanam aja, 40 hari
udah bisa dipetik. Apalagi sekarang harganya bagus," jawab Kakek.
"Enak ya jadi petani. Bisa panen terus."
Kakek tertawa. "Enak? Enak di hasilnya aja, Nduk. Tapi
capeknya minta ampun. Bangun pagi buta, panas-panasan, kehujanan. Itu udah
biasa. Belum lagi kalau gagal panen."
"Gagal panen gimana?"
"Ya banyak. Hama, kekeringan, kebanjiran.
Atau..." Kakek berhenti.
"Atau apa, Kek?"
Kakek Darmo diam sebentar. "Atau diganggu."
"Diganggu sama apa?"
"Hewan. Dulu waktu Kakek masih muda, pernah kejadian
aneh. Tanaman Kakek habis dalam semalam. Kayak dimakan sesuatu. Tapi anehnya,
jejaknya kecil-kecil. Bukan babi hutan."
"Terus pelakunya apa?"
Kakek menggeleng. "Sampai sekarang enggak tahu. Tapi
kata orang-orang tua dulu, itu ulah kancil. Tapi mana mungkin kancil sebanyak
itu?"
Wulan diam, mencerna. Ia jadi ingat perkataan Kakek waktu
syukuran panen.
"Kancil... kancil... apa kamu lapar, ya?"
Sementara itu, di kebun Pak Wiryo, bibit mentimun mulai
ditanam. Pak Wiryo dan Bu Jum bekerja dari pagi hingga sore. Mereka membuat
lubang-lubang kecil dengan jarak tertentu, lalu memasukkan bibit satu per satu.
"Pak, tanahnya kayaknya subur banget," kata Bu
Jum sambil menutup lubang.
"Iya, alhamdulillah. Bekas padi emang paling bagus
buat sayuran. Apalagi kita kasih pupuk kandang juga."
"Semoga 40 hari lagi panen melimpah."
"Aamiin."
Di ujung desa, di kebun Pak Karso, Jaka ikut membantu
menanam. Meski tangannya kecil, ia lincah memasukkan bibit ke lubang.
"Pak, nanti kalau udah gede, aku yang jagain ya,"
kata Jaka.
"Ya, kamu kan libur sekolah. Bantu jagain dari
burung."
"Bukan dari burung, Pak. Dari pencuri."
Pak Karso tertawa. "Mentimun dicuri? Masa sih?"
"Siapa tahu ada yang suka mentimun. Kan enak buat
lalapan."
"Ya udah, kalau ada pencuri, kamu tangkap
sendiri."
Jaka tersenyum lebar. "Siap, Pak!"
Tak ada yang tahu, di balik semak-semak pinggir hutan,
sepasang mata kecil mengawasi. Kancil jantan dengan tanduk kecil itu
mengendus-endus. Aroma mentimun segar tercium jelas. Tanah yang baru ditanami
memang belum menghasilkan apa-apa, tapi aroma tanah subur dan sisa-sisa bibit
sudah cukup membuatnya penasaran.
Ia beringsung mundur, kembali ke dalam hutan. Di sebuah
lapangan kecil di tengah hutan Manoreh, puluhan kancil berkumpul. Ada yang
sedang merumput, ada yang tidur-tiduran, ada yang bermain. Tapi yang paling
menonjol adalah seekor kancil tua dengan tanduk besar dan beranting. Matanya
sayu tapi tajam. Ia adalah pemimpin kawanan itu.
Kancil jantan muda mendekat. Ia menggesek-gesekkan tubuhnya
ke pohon, memberi isyarat.
Ada apa? seolah
bertanya Kancil Tua.
Kancil muda mengendus ke arah luar hutan, lalu menirukan
gerakan mengunyah.
Makanan?
Kancil muda mengangguk-anggukkan kepala.
Kancil Tua mengangkat kepala, mengendus udara. Meski
jaraknya jauh, instingnya yang tajam bisa menangkap perubahan. Aroma manusia
memang kuat, tapi di balik itu, ada aroma lain. Aroma mentimun.
Mentimun... pikir
Kancil Tua. Sudah lama tak makan mentimun.
Dengan langkah tenang, ia berjalan ke tengah lapangan.
Kawanan lainnya mengikuti gerak-geriknya. Kancil Tua lalu menggesek-gesekkan
tanduknya ke pohon besar di tengah lapangan. Suara kruk... kruk... menggema
pelan.
Itu adalah sinyal. Sinyal bahwa sesuatu akan terjadi.
Kawanan kancil saling memandang. Mereka tahu, jika pemimpin
sudah memberi tanda seperti itu, artinya ada rencana besar yang akan dijalankan.
Malam turun di Bojong Sari. Udara dingin menusuk. Di
rumah-rumah, para petani tidur nyenyak setelah lelah bekerja. Mereka bermimpi
tentang panen mentimun yang melimpah, tentang harga jual yang tinggi, tentang
kehidupan yang lebih baik.
Di hutan Manoreh, kawanan kancil mulai bergerak.
Pelan-pelan. Hati-hati. Menyusuri jalan setapak yang hanya mereka tahu.
Mendekati desa.
Hutan Lindung Manoreh membentang luas di belakang Desa
Bojong Sari. Luasnya mencapai ribuan hektar, membentang dari lembah hingga ke
puncak bukit yang selalu diselimuti kabut. Di dalamnya, pohon-pohon raksasa
berdiri kokoh—meranti, puspa, rasamala—beberapa di antaranya sudah berusia
ratusan tahun.
Hutan ini adalah paru-paru desa. Sumber air dari mata
air-mata air yang mengalir ke sawah-sawah warga. Juga rumah bagi ribuan spesies
hewan: lutung budeng yang suka bergelantungan, babi hutan yang sesekali turun
ke kebun, landak yang muncul di malam hari, ayam hutan yang berkokok di pagi
buta, dan yang paling terkenal karena kecerdikannya: kawanan kancil.
Pagi itu, dua orang petugas dari Balai Konservasi Sumber
Daya Alam tengah melakukan patroli rutin. Pak Sapto dan Pak Yudi, keduanya
berseragam hijau, berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah mereka hapal di
luar kepala.
"Sepi, To. Kayaknya enggak ada perambah," kata
Pak Yudi.
"Bersyukur lah. Daripada banyak orang masuk, mending
sepi begini. Hewan-hewan juga nyaman," jawab Pak Sapto.
Mereka berjalan hingga sampai di sebuah lapangan kecil
dekat mata air. Di sana, puluhan kancil sedang minum. Melihat manusia datang,
mereka sempat terkejut, tapi tak langsung lari. Beberapa ekor malah menatap
dengan rasa ingin tahu.
"Lihat, Yud. Kancil-kancil itu udah mulai percaya sama
kita," kata Pak Sapto bangga.
"Berkat kita enggak pernah ganggu mereka. Mereka tahu
kita bukan ancaman."
Kancil-kancil itu kembali minum. Di antara mereka, Kancil
Tua dengan tanduk besar berdiri agak menjauh, mengamati kedua manusia itu
dengan waspada.
"Yang itu pemimpinnya," tunjuk Pak Sapto.
"Udah tua banget tuh. Mungkin umurnya udah 15 tahun lebih. Itu luar biasa
buat kancil liar."
"Berarti dia yang ngatur kawanan ini?"
"Iya. Dialah yang paling berpengalaman. Tahu mana
tempat aman, mana tempat bahaya. Kawanan ini selamat bertahun-tahun karena
dia."
Kancil Tua seolah mengerti mereka membicarakan dirinya. Ia
menundukkan kepala sedikit—gerakan yang mirip dengan anggukan hormat—lalu
berbalik perlahan masuk ke semak-semak. Kawanannya mengikuti.
"Pinter banget tuh hewan," gumam Pak Yudi.
Sore harinya, saat Pak Sapto dan Pak Yudi bersiap turun,
mereka berpapasan dengan beberapa warga desa yang sedang mencari kayu bakar di
pinggir hutan.
"Pak Sapto! Pak Yudi!" sapa seorang warga.
"Lagi cari kayu, Pak?" balas Pak Sapto.
"Iya, nih. Buat masak. Enggak apa-apa kan, cuma di
pinggir aja?"
"Enggak apa-apa, asal jangan masuk ke dalam. Dan
jangan tebang pohon hidup. Kayu mati aja."
"Siap, Pak."
Salah satu warga yang mencari kayu adalah Bu Ratmi, ibu
Jaka. Ia memanggul kayu bakar di punggung, sambil sesekali mengusap keringat.
"Bu Ratmi, hati-hati ya, jangan sampai terlalu
sore," pesan Pak Sapto.
"Iya, Pak. Ini juga udah mau balik. Nanti Jaka nunggu
di rumah."
Saat Bu Ratmi berbalik, ia melihat sesuatu di balik semak.
Dua mata kecil mengawasinya. Ia terkejut, hampir menjatuhkan kayu.
"Ada apa, Bu?" tanya Pak Sapto.
"Itu... itu ada mata yang ngeliatin saya."
Pak Sapto tersenyum. "Itu kancil, Bu. Mereka biasa
ngintip dari semak. Enggak usah takut, mereka enggak berbahaya."
Bu Ratmi menghela napas lega. "Ya ampun, kirain apa.
Jadi kancil itu kadang ngintip orang?"
"Iya. Mereka penasaran. Apalagi kalau lihat manusia
bawa makanan atau sesuatu yang baru."
Bu Ratmi tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan pulang.
Tapi dalam hatinya, ia bertanya-tanya. Kancil itu mengawasi. Seperti sedang
mempelajari.
Malam harinya, di tengah hutan Manoreh, Kancil Tua duduk di
bawah pohon besar. Di sekelilingnya, puluhan kancil berkumpul. Mereka
mengendus-endus, saling bertukar informasi. Bahasa tubuh mereka rumit—gerakan
telinga, kibasan ekor, desahan halus.
Kancil Tua mengangkat kepala. Ia menatap ke arah luar
hutan. Dari sini, meski tak terlihat, ia bisa mencium bau desa. Bau manusia,
bau asap, dan yang paling jelas: bau tanaman. Tanaman yang ditanam manusia.
Tanaman yang subur dan segar.
Beberapa kancil muda mulai gelisah. Mereka lapar. Musim
kemarau membuat rumput-rumput di hutan mulai mengering. Daun-daun muda susah
didapat. Sumber makanan berkurang.
Kancil Tua menghela napas. Ia tahu, situasi ini tak bisa
bertahan lama. Cepat atau lambat, mereka harus mencari makanan di luar hutan.
Dan di luar hutan, ada manusia. Ada risiko.
Tapi naluri bertahan hidup berbicara lain.
Kancil Tua berdiri. Ia berjalan ke tengah kawanan, lalu
menggesek-gesekkan tanduknya ke pohon. Suara kruk... kruk... menggema
di malam yang sunyi.
Kawanan mengerti. Mereka harus bersiap. Sesuatu akan
terjadi.
Di desa, para petani tidur nyenyak. Tanaman mentimun mereka
tumbuh subur. Daun-daunnya mulai lebar, batangnya mulai menjalar. Dalam
beberapa minggu lagi, buah pertama akan muncul.
Malam itu, Jaka bermimpi aneh. Ia melihat banyak mata kecil
mengawasinya dari kegelapan. Mata-mata itu berkedip, lalu perlahan mendekat.
Jaka ingin berteriak, tapi suaranya hilang. Ia hanya bisa diam, melihat
mata-mata itu semakin dekat... semakin dekat...
Dan tiba-tiba, ia terbangun.
Keringat membasahi bajunya. Jaka duduk di tempat tidur,
napas tersengal. Di luar, malam masih pekat. Ayam jantan belum berkokok.
"Jaka? Kenapa?" suara ibunya dari kamar sebelah.
"Enggak apa-apa, Mak. Mimpi."
"Udah, tidur lagi."
Jaka berbaring. Tapi matanya sulit terpejam. Ia terus
memikirkan mata-mata itu. Mata kecil yang mengawasi.
Empat puluh hari setelah tanam, mentimun pertama mulai bisa
dipanen. Pak Wiryo bangun pagi-pagi buta, bersiap ke kebun. Ia sudah
membayangkan timbangan penuh mentimun hijau segar yang akan dijual ke
kecamatan.
"Bu, saya ke kebun dulu. Nanti kalau ada pengepul,
bilang tunggu sebentar," katanya pada Bu Jum.
"Iya, Pak. Hati-hati."
Pak Wiryo berjalan menyusuri pematang sawah. Embun pagi
membasahi kakinya yang telanjang. Udara dingin menusuk, tapi ia sudah biasa.
Sesampai di kebun, ia tertegun.
Kebunnya porak-poranda.
Tanaman mentimun bergelimpangan. Daun-daun berserakan. Buah
mentimun yang kemarin hampir panen, hilang. Tinggal tangkai-tangkai yang patah.
"Allah... Allah... ini apa?" Pak Wiryo berlari ke
tengah kebun. Ia memeriksa satu per satu tanamannya. Sebagian besar rusak.
Mentimun yang masih kecil-kecil juga banyak yang hilang.
"Pa... Pak Wiryo!" teriak seseorang dari
kejauhan.
Pak Wiryo menoleh. Pak Karso berlari-lari kecil
menghampiri, wajahnya pucat.
"Pak Wiryo, kebun Bapak juga?" tanya Pak Karso.
"Iya, Mas. Hancur. Bapak juga?"
"Iya, sama. Saya baru sampai, udah begini. Ini pasti
perampok!"
Tak lama, petani-petani lain berdatangan. Semua mengalami
nasib sama. Kebun mentimun mereka rusak. Mentimun-mentimun yang siap panen,
hilang. Beberapa tanaman bahkan sampai tercabut dari akarnya.
"Lapor pak lurah!" teriak seseorang.
"Jangan dulu! Kita selidiki dulu!" sahut yang
lain.
Pak Wiryo jongkok, memeriksa tanah. Ia melihat jejak-jejak
kecil. Ratusan jejak kecil, seperti jejak kambing atau domba.
"Lihat ini! Jejaknya kecil-kecil!" tunjuknya.
"Pasti babi hutan. Babi hutan suka mentimun,"
kata seseorang.
"Tapi jejak babi kan gede. Ini kecil. Kayak jejak
kijang atau..."
"Kancil," potong Pak Karso.
Suasana hening. Semua saling pandang.
"Kancil? Mana mungkin kancil sebanyak ini. Lihat
jejaknya, ratusan. Kancil kan biasanya cuma sedikit," bantah Pak Wiryo.
"Tapi di hutan Manoreh, kancilnya banyak. Saya sering
lihat waktu cari kayu," kata Bu Ratmi yang ikut ke kebun suaminya.
"Tetep aja enggak mungkin. Kancil takut sama manusia.
Masa mereka berani ke kebun?"
Diskusi panas terjadi di tengah kebun yang porak-poranda.
Sementara itu, di pinggir hutan, Kancil Tua mengamati dari balik semak. Perutnya
kenyang. Mentimun-manis sekali rasanya. Tapi ia juga gelisah. Manusia pasti
marah. Dan manusia yang marah, berbahaya.
Kancil Tua beringsut mundur. Kembali ke hutan. Kawanannya
menunggu di tempat persembunyian. Mereka semua kenyang. Beberapa kancil muda
bahkan tidur puas.
Ini baru awal, pikir
Kancil Tua. Mentimun-manis. Tapi bahaya juga dekat.
Di balai desa, Lurah Karso memanggil para petani untuk
rapat dadakan.
"Baiklah, saya sudah dengar semuanya. Kebun mentimun
kita rusak dalam semalam. Kerugian lumayan besar. Pertanyaan kita: siapa
pelakunya?"
"Babi hutan, Pak Lurah!" teriak seseorang.
"Tapi jejaknya kecil. Kok bisa babi hutan?"
bantah yang lain.
"Mungkin kancil. Saya dengar cerita dari kakek saya,
dulu pernah kejadian kayak gini," kata Pak Karso.
"Kancil? Masa sih? Kancil kan hewan kecil, mana bisa
merusak sebanyak itu?"
Lurah menghela napas. "Baiklah, kita selidiki dulu.
Untuk sementara, malam ini kita adakan ronda di sekitar kebun. Para pemuda
harus siap jaga. Siapa tahu pelakunya datang lagi."
"Setuju!" seru para pemuda yang hadir.
Malam harinya, lima pemuda desa berjaga di pos ronda dekat
kebun mentimun. Mereka membawa senter dan pentungan. Duduk bergantian,
mengobrol ngalor-ngidul.
"Menurut lo, pelakunya apa?" tanya Yanto, pemuda
20 tahun.
"Gue sih yakin babi hutan. Soalnya babi doyan banget
sama mentimun. Dulu di desa sebelah juga pernah kejadian," jawab Joko.
"Tapi jejaknya kecil, Jo."
"Itu mungkin bekas anak babi. Babi kan anaknya banyak,
jejaknya jadi kaya kecil-kecil gitu."
"Masuk akal juga sih."
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Udara dingin sekali.
Para pemuda mulai mengantuk. Satu per satu tertidur. Hanya Yanto yang masih
melek, tapi matanya juga sudah berat.
Tiba-tiba, ia mendengar suara. Gemerisik dari arah hutan.
Yanto bangkit, menyalakan senter. Ia sorotkan ke arah suara.
Sepasang mata kecil menyala di kegelapan.
Yanto terkejut. Senter di tangannya hampir jatuh.
"Hei! Ada apa!?" teriaknya.
Mata itu menghilang. Tapi dari arah lain, muncul lebih
banyak mata. Puluhan pasang mata kecil menyala di kegelapan, berkedip-kedip.
"Bangun! Bangun!" teriak Yanto.
Para pemuda terbangun kaget. "Ada apa? Ada apa?"
"Itu! Lihat! Mata-mata itu!"
Mereka semua menyalakan senter. Cahaya senter menerangi
kebun. Dan di sana, di antara tanaman mentimun, puluhan hewan kecil berlarian.
Cepat sekali. Secepat kilat.
"Kancil! Itu kancil!" teriak Joko.
"Kejar!"
Para pemuda berlari ke kebun. Tapi kancil-kancil itu sudah
lebih dulu kabur. Mereka menghilang ke dalam hutan. Yang tertinggal hanya
jejak-jejak kecil dan tanaman mentimun yang mulai rusak.
"Kita... kita lihat sendiri," kata Yanto terbata.
"Pelakunya kancil. Tapi... tapi kenapa banyak banget?"
Mereka saling pandang. Di kejauhan, dari dalam hutan,
terdengar suara khas kancil—bukan suara keras, tapi seperti desisan lembut yang
entah mengapa terdengar seperti tawa.
Kisik... kisik... kisik...
Kancil Tua tertawa dalam hatinya. Manusia terlambat.
Lagipula, ia sudah menyusun rencana. Jika manusia berjaga, mereka akan
menyerang dari sisi lain. Kawanan kancil bisa diatur. Mereka bisa bergerak
cepat dan diam-diam.
Manusia mungkin punya senter dan pentungan. Tapi kancil
punya kecerdikan. Dan malam ini, kecerdikan itu terbukti lebih unggul.
Pagi harinya, kabar tentang penampakan kancil menyebar
cepat. Seluruh desa heboh. Para petani berkumpul di kebun Pak Wiryo, tempat
kerusakan paling parah terjadi.
"Ini gila. Kancil sebanyak itu?" tanya Pak Wiryo
tak percaya.
"Iya, Pak. Saya lihat sendiri. Puluhan, mungkin
ratusan. Mereka lari cepet banget," jawab Yanto.
"Terus kenapa kalian enggak nangkep?"
"Gimana mau nangkep, Pak? Larinya cepet. Pake senter
aja kesusahan."
Lurah Karso menghela napas panjang. "Ini masalah
serius. Bukan cuma satu dua ekor kancil, tapi satu kawanan besar. Kalau
dibiarkan, panen kita bisa habis."
"Kita pasang perangkap, Pak Lurah!" usul Joko.
"Atau kita racun aja!" usul yang lain lebih
kejam.
"Itu enggak boleh!" potong Pak Sapto yang
kebetulan datang dari hutan. "Kancil itu hewan dilindungi. Enggak semua
spesies, tapi kita tetap harus menjaga ekosistem. Kalau kalian racun, bukan
cuma kancil yang mati, hewan lain juga bisa kena."
"Terus gimana dong, Pak? Mentimun kami habis!"
Pak Sapto berpikir. "Mungkin kita bisa cari solusi
yang manusiawi. Buat pagar, atau tanaman pengalih. Tapi saya harus konsultasi
dulu dengan atasan."
Para petani kecewa. Mereka butuh solusi cepat, bukan
konsultasi berbulan-bulan.
Di tengah kerumunan, Raka, Jaka, Wulan, dan Doni mengamati
dari kejauhan. Mereka mendengar percakapan orang dewasa.
"Kancil," bisik Jaka. "Ternyata pelakunya kancil."
"Tapi kok bisa mereka berani banget? Biasanya kan
kancil takut sama manusia," kata Wulan.
"Pasti ada sesuatu," Raka mengerutkan kening.
"Kancil itu hewan pinter. Mereka pasti punya alasan kenapa turun ke
kebun."
"Alasan apa?" tanya Doni.
"Itu yang harus kita cari tahu."
Di balai desa, sore harinya, rapat digelar lagi. Kali ini
lebih ramai. Hampir semua warga dewasa hadir. Suasana tegang.
"Saya ulangi lagi," kata Lurah Karso.
"Menurut saksi mata, pelakunya adalah kawanan kancil. Tapi kita harus cari
tahu kenapa mereka berani turun. Biasanya hewan liar turun ke pemukiman kalau
ada masalah di hutan."
"Masalah apa?" tanya Pak Wiryo.
"Mungkin sumber makanan mereka berkurang. Musim
kemarau begini, rumput-rumput di hutan pada kering. Mereka kelaparan,"
jawab Pak Sapto yang diundang khusus.
"Terus kita harus kasih mereka makan?" sindir
seseorang.
"Bukan gitu. Tapi kita bisa buat solusi yang enggak
merugikan kedua pihak."
Diskusi memanas. Ada yang usul memasang perangkap, ada yang
usul minta bantuan polisi hutan, ada yang usul berburu. Pak Sapto mati-matian
mempertahankan pendapat agar kancil tidak diburu.
"Mereka juga makhluk hidup. Mereka cuma butuh makan.
Kalau kita usir dengan cara kasar, mereka bisa mati," katanya.
"Tapi mentimun kami juga butuh makan! Itu sumber
penghasilan!" bantah Pak Karso.
Kakek Darmo yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Para petani... para warga... dengarkan Kakek
sebentar."
Semua diam. Kakek Darmo memang bukan siapa-siapa, tapi
usianya yang lanjut membuatnya dihormati.
"Dulu, pas Kakek masih muda, pernah kejadian persis
begini. Kancil-kancil turun gunung. Waktu itu kami panik, kami pasang
perangkap, kami buru. Tapi hasilnya? Mereka makin pintar. Mereka belajar cara
menghindari perangkap. Dan akhirnya, kami yang kalah."
"Terus solusinya apa, Kek?" tanya Lurah.
Kakek Darmo tersenyum tipis. "Kami enggak menemukan
solusi. Sampai akhirnya musim hujan datang, rumput di hutan tumbuh lagi, dan
kancil-kancil itu balik ke hutan sendiri. Tapi sekarang, kemaraunya panjang.
Mereka mungkin enggak akan balik sampai hujan tiba."
"Berarti kita harus bertahan sampai hujan?" tanya
Pak Wiryo putus asa.
"Mungkin. Atau kita cari cara lain."
"Cara apa?"
Kakek Darmo menggeleng. "Itu tugas kalian yang
muda-muda. Kakek sudah tua, pikiran sudah tumpul. Tapi ingat satu hal: kancil
itu hewan cerdik. Mereka bisa belajar. Mereka bisa mengingat. Kalau kalian
lawan dengan kekerasan, mereka akan balas dengan kecerdikan. Kalau kalian lawan
dengan kecerdikan... ya kita lihat nanti."
Setelah rapat, Raka mengajak teman-temannya ke kebun.
Mereka ingin melihat jejak kancil secara langsung.
"Ini," tunjuk Raka. "Lihat jejaknya. Kecil,
runcing di depan. Itu ciri khas jejak kancil."
"Kamu tahu soal jejak?" tanya Jaka heran.
"Baca di buku. Di perpustakaan sekolah ada buku
tentang hewan-hewan hutan. Lumayan lah."
Mereka mengikuti jejak itu hingga ke pinggir hutan. Di
sana, jejak berhenti.
"Berarti mereka masuk lewat sini," kata Raka.
"Coba lihat, ada yang aneh enggak?" tanya Wulan.
Mereka mengamati sekeliling. Doni, yang sedari tadi diam,
tiba-tiba berteriak. "Lihat! Itu!"
Semua menoleh. Di balik pohon besar, ada tumpukan kotoran
hewan. Kotoran kecil-kecil, mengering.
"Itu kotoran kancil," kata Raka yakin.
"Berarti mereka sering ke sini?"
"Iya. Mungkin ini jalan rutin mereka."
Jaka mengerutkan kening. "Tapi kenapa mereka berani
banget? Padahal di sini dekat desa, banyak manusia."
"Itu pertanyaan bagus," Raka mengangguk.
"Pasti ada alasan kuat. Mungkin di hutan memang udah susah makan."
Mereka duduk di bawah pohon, berpikir. Tiba-tiba, Wulan
menunjuk ke atas.
"Lihat pohon itu. Ada bekas apa ya?"
Di batang pohon besar, ada goresan-goresan aneh. Seperti
bekas tanduk yang digesekkan berulang kali.
"Itu... kayak tanda," gumam Raka. "Kancil
jantan suka menggesek-gesekkan tanduk ke pohon. Tapi kalau sampai sebanyak
ini..."
"Mungkin mereka ngumpul di sini," potong Jaka.
"Kayak tempat kumpul gitu."
"Bisa jadi. Coba kita lihat sekeliling."
Mereka menyusuri area sekitar. Dan benar saja, di balik
semak-semak, ada lapangan kecil yang tersembunyi. Di sana, jejak kancil
terlihat jelas. Rumput-rumput terinjak-injak. Ada bekas tiduran di sana-sini.
"Ini... ini markas mereka!" bisik Doni.
Raka mengamati dengan saksama. Di tengah lapangan, ada
pohon besar dengan bekas gesekan tanduk paling banyak. Itu pasti pusat
aktivitas.
"Kita harus lapor orang dewasa," kata Jaka.
"Belum," potong Raka cepat. "Kita selidiki
dulu sendiri. Kalau kita lapor, mereka pasti langsung bertindak. Bisa-bisa
kancil-kancil ini diburu."
"Tapi mereka kan perusak kebun kita," kata Doni.
"Iya, tapi mereka juga hewan. Ada aturannya. Lagipula,
mungkin kita bisa cari solusi yang lebih baik."
Mereka berlima—Raka, Jaka, Wulan, Doni, dan satu anak lagi,
Sari—duduk melingkar di bawah pohon.
"Gini aja," kata Raka. "Kita bentuk tim penyelidik.
Kita cari tahu kebiasaan kancil-kancil ini. Kapan mereka turun, lewat mana, apa
yang mereka lakukan. Lalu kita cari cara mengusir mereka tanpa kekerasan."
"Setuju!" jawab yang lain kompak.
"Tapi ini rahasia. Jangan bilang orang dewasa dulu.
Nanti kalau udah punya bukti cukup, baru kita laporkan."
Mereka berjanji akan merahasiakan penyelidikan ini. Tak
tahu bahwa di balik semak-semak, Kancil Tua mengamati mereka. Matanya yang
tajam memperhatikan gerak-gerik anak-anak itu.
Manusia kecil, pikir
Kancil Tua. Kalian berbeda. Kalian tidak membawa senjata. Kalian hanya
melihat. Apa yang kalian rencanakan?
Kancil Tua beringsut mundur, kembali ke tengah hutan. Ada
perasaan aneh di hatinya. Anak-anak manusia itu berbeda dari biasanya. Mereka
tidak berteriak, tidak melempar batu. Mereka hanya mengamati.
Mungkin... mungkin kita bisa berdamai?
Malam harinya, ronda diperketat. Bukan hanya pemuda,
beberapa bapak-bapak ikut jaga. Mereka membawa obor, senter, bahkan ada yang
membawa petasan untuk menakuti hewan.
Pos ronda utama didirikan di dekat kebun Pak Wiryo. Dari
sana, mereka bisa mengawasi beberapa kebun sekaligus.
"Pokoknya malam ini kita harus tangkap," kata
Joko bersemangat.
"Jangan ditangkep, cukup usir aja. Kasian juga
hewan," sahut Yanto.
"Lo, masa kasian sama hewan perusak?"
"Mereka cuma lapar."
Perdebatan kecil terjadi. Tapi akhirnya mereka sepakat:
mengusir dengan cara halus dulu. Jika tidak mempan, baru tindakan keras.
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Udara dingin. Para ronda
minum kopi panas bergantian.
"Menurut lo, mereka datang jam berapa?" tanya
salah satu pemuda.
"Kemarin sekitar jam 2. Itu waktu manusia paling enak
tidur."
"Berarti kita harus kuat sampai jam 2."
Mereka mengobrol ngalor-ngidul untuk mengusir kantuk.
Cerita tentang hantu, tentang mistis, tentang hal-hal aneh di desa.
"Lo percaya enggak sama cerita Kakek Darmo soal
makhluk penjaga hutan?" tanya Yanto.
"Masa sih? Cerita orang tua doang."
"Tapi kata orang, di hutan Manoreh itu ada penjaganya.
Bukan hantu, tapi makhluk halus yang jagain hewan-hewan. Kalau ada yang usil
sama hewan, bisa kena akibatnya."
"Ah, lo itu. Udah jamannya percaya begituan."
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara. Gemerisik daun.
Semua langsung diam, mematikan lampu senter.
"Dengar?" bisik Joko.
"Iya. Itu dari arah hutan."
Mereka menajamkan pendengaran. Suara gemerisik semakin
dekat. Lalu, muncul bayangan-bayangan kecil. Puluhan bayangan. Bergerak cepat,
lincah.
"Sial, mereka datang!" teriak Yanto.
Para ronda menyalakan senter serentak. Cahaya menerangi
kebun. Dan di sana, puluhan kancil berhenti. Mereka terkejut, tapi tidak lari.
Mereka hanya diam, menatap balik para manusia.
"Hei! Pergi!" teriak Joko sambil melambaikan
obor.
Kancil-kancil itu mulai mundur. Tapi tidak lari. Mereka
mundur perlahan, sambil tetap menatap manusia.
"Usir! Usir!" teriak yang lain.
Petasan diledakkan. Dor! Suara keras
menggema. Kali ini, kancil-kancil itu lari terbirit-birit. Mereka menghilang ke
dalam hutan.
"Hore! Berhasil!" sorak para ronda.
Tapi Yanto tidak ikut bersorak. Ia melihat sesuatu yang
aneh. Di tengah kerumunan kancil tadi, ada satu yang paling besar. Kancil tua
dengan tanduk besar. Ia tidak lari. Ia hanya berbalik perlahan, lalu berjalan
masuk hutan. Sebelum benar-benar menghilang, ia menoleh sekali lagi. Menatap
Yanto tepat di mata.
Dan di tatapan itu, Yanto merasa... merasa seperti sedang
dinilai. Seperti kancil itu sedang mengingat wajahnya.
"Mereka... mereka bukan hewan biasa," gumam
Yanto.
"Apa?" tanya Joko.
"Enggak... enggak apa-apa."
Tapi dalam hatinya, Yanto yakin. Kancil-kancil itu bukan
sekadar hewan liar yang kelaparan. Mereka adalah makhluk cerdas. Dan malam ini,
mereka baru kalah satu ronde. Pertarungan sesungguhnya masih panjang.
Tiga malam berturut-turut, ronda berjalan sukses. Setiap
kali kancil datang, mereka berhasil diusir. Para petani mulai percaya diri.
Mereka pikir masalah selesai.
Tapi malam keempat, semuanya berubah.
Para ronda sudah bersiap. Kopi panas, petasan, senter—semua
siap. Mereka duduk di pos, menunggu kedatangan kancil seperti biasa.
Pukul 2 dini hari. Waktu kritis. Tapi tak ada tanda-tanda
kancil datang.
"Aneh, kok enggak dateng?" gumam Joko.
"Mungkin mereka udah kapok," jawab Yanto optimis.
Tapi tiba-tiba, dari arah berlawanan—bukan dari hutan, tapi
dari sungai—terdengar suara gemerisik. Mereka menoleh. Di kebun sebelah timur,
puluhan kancil sudah masuk. Mereka memakan mentimun dengan lahap.
"Astaga! Mereka pinter! Mereka ngecoh kita!"
teriak Joko.
Para ronda berlari ke kebun timur. Tapi terlambat.
Kancil-kancil itu sudah kenyang. Mereka lari saat manusia mendekat. Tapi bukan
lari ke hutan—mereka lari ke arah berbeda, menyebar, membuat para ronda
kebingungan mengejar.
"Mereka... mereka seperti punya rencana," kata
Yanto terengah.
Pagi harinya, kerusakan terparah terjadi di kebun timur.
Mentimun yang siap panen habis. Tinggal batang-batang patah.
Para petani berkumpul, frustrasi.
"Ini enggak masuk akal. Mereka pinter banget,"
kata Pak Wiryo.
"Iya. Kayaknya mereka sengaja ngecoh kita dengan
datang ke pos dulu, lalu nyerang dari sisi lain," tambah Pak Karso.
"Berarti mereka punya pemimpin yang ngatur
strategi."
Semua diam. Ide tentang kancil yang punya strategi perang
terdengar mustahil. Tapi buktinya ada di depan mata.
Lurah Karso menghela napas. "Kita kalah. Kita kalah
sama hewan."
Di balik semak, Kancil Tua mengamati. Ia puas. Rencananya
berhasil. Manusia bisa ditebak. Mereka selalu jaga di tempat yang sama, dengan
pola yang sama. Tinggal dialihkan perhatian, serangan bisa dilancarkan dari
sisi lain.
Tapi Kancil Tua juga tahu, manusia akan belajar. Mereka
akan menyusun strategi baru. Dan pertarungan ini belum selesai.
Ia berbalik, kembali ke hutan. Kawanannya menunggu dengan
perut kenyang. Mereka tidur puas, tak tahu bahwa di desa, kemarahan manusia
sedang memuncak. Dan kemarahan itu bisa berbahaya.
Kita harus lebih pintar, pikir
Kancil Tua. Kita harus selalu selangkah lebih maju.
Pagi itu, balai desa penuh sesak. Tak ada yang bekerja di
sawah. Semua datang untuk membahas krisis kancil yang semakin parah.
Lurah Karso membuka rapat dengan wajah muram.
"Warga sekalian, seperti kita lihat, kawanan kancil
sudah merusak kebun kita tiga kali dalam seminggu. Kerugian ditaksir mencapai
puluhan juta. Ini darurat."
"Kita harus berburu!" teriak seseorang.
"Setuju! Tangkap atau tembak!"
Pak Sapto dari konservasi mengangkat tangan. "Saya
mohon, jangan main tembak. Itu ilegal. Kancil memang tidak semua dilindungi,
tapi kita punya aturan main."
"Aturan main? Lalu mentimun kami? Apa enggak ada
aturan yang lindungi mentimun kami?" bentak Pak Wiryo emosi.
Pak Sapto mencoba tenang. "Saya paham frustrasi Bapak.
Tapi mari kita pikir solusi cerdas. Kawanan kancil ini jelas kelaparan. Mungkin
kita bisa buat kebun pengalih di pinggir hutan. Tanami tanaman yang mereka
suka, biar mereka enggak masuk ke kebun utama."
"Jadi kita harus kasih makan mereka?" sindir
seseorang.
"Iya, untuk sementara. Sambil cari solusi
permanen."
Gagasan Pak Sapto ditolak mentah-mentah. Para petani ingin
tindakan tegas. Perangkap, jerat, bahkan racun—semua diusulkan.
Mbah Karto, petani paling tua setelah Kakek Darmo, angkat
bicara.
"Anak-anak... dengar Mbah. Dulu, saat Mbah masih muda,
kita pernah pasang perangkap. Tapi hasilnya? Kancil-kancil itu belajar. Mereka
tahu mana perangkap, mana jerat. Mereka malah jadi makin pintar."
"Terus harus gimana, Mbah?"
Mbah Karto menghela napas. "Mbah enggak tahu. Tapi
satu hal: jangan remehkan mereka. Kancil itu hewan cerdik. Legenda tentang
kecerdikan kancil bukan isapan jempol. Mereka bisa belajar. Mereka bisa
mengingat. Kalau kalian pasang perangkap, mereka akan hafal posisinya."
Rapat berakhir tanpa keputusan. Tapi satu hal disepakati:
perangkap akan dipasang. Sebagai percobaan.
Di tengah kepanikan warga, suara-suara mistis mulai
bermunculan. Makin malam, makin banyak cerita tentang hal-hal gaib yang
dikaitkan dengan serangan kancil.
Mak Siti, dukun beranak yang juga sering meramal, mengklaim
mendapat wangsit.
"Ini bukan kancil biasa," katanya suatu sore di
warung kopi. "Ini kiriman. Ada orang yang iri sama hasil panen kita."
"Maksud Mak Siti?" tanya Joko penasaran.
"Bisa jadi ada dukun dari desa sebelah yang sengaja
ngirim kancil-kancil ini untuk merusak pertanian kita. Biar kita gagal panen,
lalu mereka yang untung."
Beberapa warga mengangguk-angguk percaya. Tapi yang lain,
terutama yang lebih muda, skeptis.
"Ah, Mak Siti itu suka ngaco," bisik Yanto pada
Joko. "Ini jelas kancil beneran. Jejaknya aja nyata."
"Tapi lo enggak bisa sanggah juga. Soalnya
kancil-kancil itu pinter banget. Mana mungkin hewan sepinter itu kalau enggak
ada yang ngatur dari belakang?"
Perdebatan antara logika dan mistis terus berlangsung.
Makin malam, makin banyak cerita. Ada yang mengaku melihat cahaya aneh di
hutan. Ada yang mendengar suara gamelan di tengah malam. Ada yang bermimpi
didatangi makhluk berwujud setengah manusia setengah kancil.
Kakek Darmo hanya geleng-geleng kepala mendengar semua ini.
"Orang-orang desa," gumamnya pada Wulan.
"Kalau ketemu masalah, langsung mikirnya ke hal-hal gaib. Padahal
jawabannya seringkali sederhana."
"Memangnya jawabannya apa, Kek?" tanya Wulan.
Kakek Darmo tersenyum. "Kancil itu lapar. Itu aja.
Tapi karena mereka lapar dan kita punya makanan, ya mereka ambil. Namanya juga
hewan."
"Tapi kenapa mereka pinter banget, Kek?"
"Karena mereka harus pinter buat bertahan hidup. Di
hutan itu keras, Nduk. Yang enggak pinter, mati. Yang pinter, hidup. Jadi ya
mereka belajar. Mereka belajar dari kesalahan. Mereka belajar dari kita."
Wulan diam, mencerna. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Kek, Raka dan teman-teman mau nyelidiki kancil. Kata
mereka, mau cari solusi yang enggak menyakiti hewan."
Kakek Darmo matanya berbinar. "Oh ya? Raka itu anak
pinter. Mungkin dia bisa nemuin cara. Kakek dukung."
"Tapi mereka enggak boleh bilang orang dewasa. Katanya
rahasia."
Kakek tertawa pelan. "Ya udah, Kakek pura-pura enggak
tahu. Tapi tolong jagain teman-temanmu, ya. Jangan sampai kenapa-kenapa. Hutan
itu bisa berbahaya kalau malam."
Wulan mengangguk. Tapi dalam hatinya, ia semakin penasaran.
Apa yang akan ditemukan Raka dan tim penyelidik cilik?
Setelah rapat, para petani mulai memasang perangkap. Mereka
membuat lubang jebakan di beberapa titik, ditutup daun dan ranting. Ada juga
yang memasang jerat dari tali nilon.
"Perangkap ini sudah dicoba di desa lain.
Berhasil," kata Joko yakin.
"Iya, semoga aja," jawab Pak Wiryo setengah
percaya.
Mereka memasang perangkap di sepanjang jalur yang diduga
dilewati kancil. Jejak-jejak kecil di tanah menjadi petunjuk utama.
"Pokoknya besok pagi kita lihat hasilnya," kata
Lurah Karso.
Malam harinya, Kancil Tua mengendus-endus udara dari
pinggir hutan. Ia mencium bau manusia yang menyengat—lebih kuat dari biasanya.
Ada juga bau besi dan tali.
Ia memberi isyarat pada kawanannya untuk berhenti.
Kancil-kancil muda yang biasanya bersemangat, kini menunggu instruksi.
Kancil Tua maju sendirian. Ia menyusuri jalur yang biasa
mereka lewati. Di sana, ia melihat perubahan. Tanah di beberapa tempat terlihat
berbeda. Ada bekas galian yang ditutupi daun.
Ia mendekat, mengendus. Bau manusia sangat kuat. Ia lalu
mengambil sebatang ranting, mendorongnya ke arah tanah yang berbeda itu.
Bruk!
Ranting itu jatuh ke lubang. Kancil Tua mundur cepat. Lalu
mengamati.
Perangkap, pikirnya. Manusia
memasang perangkap.
Ia mengelilingi area itu, mencari jalur aman. Kancil
memiliki insting luar biasa untuk menemukan jalan. Setelah beberapa saat, ia
menemukan celah—jalur sempit di antara dua perangkap.
Ia kembali ke kawanan, memberi isyarat. Ikuti aku. Jangan
ke kanan, jangan ke kiri. Ikuti jejakku tepat.
Kawanan kancil bergerak dalam barisan, satu per satu,
mengikuti jejak Kancil Tua. Mereka melewati celah sempit itu tanpa satu pun
terperosok.
Sesampai di kebun, mereka berpesta lagi. Mentimun-mentimun
yang baru mulai besar, dimakan habis.
Pagi harinya, para petani datang dengan penuh harap. Mereka
yakin akan menemukan kancil terperangkap. Tapi apa yang mereka lihat? Perangkap
kosong. Tak ada satu kancil pun tertangkap. Sementara kebun mereka kembali
porak-poranda.
"Ini... ini enggak mungkin!" teriak Joko
frustrasi.
"Lihat perangkapnya. Ada bekas ranting di dalam.
Berarti mereka tahu," kata Pak Sapto yang ikut melihat.
"Mereka tahu? Mana mungkin?"
"Mungkin pemimpinnya yang cerdas. Dia uji coba dulu
sebelum bawa kawanan."
Para petani terdiam. Jika kancil memang sepintar itu, lalu
apa yang harus mereka lakukan?
Minggu berikutnya adalah minggu kegagalan. Lima kali
perangkap dipasang, lima kali pula kancil berhasil menghindar. Bahkan jerat
yang dipasang di pohon-pohon, tak pernah menyentuh seekor kancil pun.
Yang lebih menyebalkan, kancil-kancil itu seolah mengejek.
Suatu malam, Yanto yang sedang ronda melihat seekor kancil besar duduk di
pinggir hutan. Kancil itu tidak lari saat disorot senter. Ia hanya duduk,
menatap, lalu perlahan berjalan masuk hutan. Sebelum hilang, ia menoleh dan
mengibas-ngibaskan ekornya—gerakan yang mirip dengan lambaian tangan.
"Hei! Itu kancil ngeledekin lo!" kata Joko pada
Yanto.
"Gila. Ini enggak masuk akal."
Frustrasi memuncak. Beberapa petani mulai membicarakan opsi
ekstrem: racun.
"Kita taruh umpan beracun di pinggir hutan," usul
seseorang.
"Enggak bisa! Nanti hewan lain ikut mati," bantah
Pak Sapto.
"Terserah! Yang penting kancilnya mati!"
Ketegangan antara warga dan petugas konservasi semakin
memanas. Pak Sapto kewalahan menenangkan.
Di tengah situasi ini, anak-anak desa justru semakin aktif.
Raka dan tim penyelidik ciliknya setiap sore berkumpul di rumah Kakek
Darmo—satu-satunya orang dewasa yang tahu dan mendukung misi rahasia mereka.
"Gini," kata Raka suatu sore. "Orang dewasa
gagal terus karena mereka pake cara yang sama. Sementara kancil terus belajar."
"Terus kita harus pake cara yang beda?" tanya
Jaka.
"Iya. Kita harus mikir kayak kancil."
"Eh?" Doni mengernyit. "Maksud lo?"
"Kita harus paham cara mereka berpikir. Kenapa mereka
bisa tahu perangkap? Karena mereka pelajari situasi dulu. Mereka punya pemimpin
yang tua dan berpengalaman. Jadi, kalau kita mau menang, kita harus kalahkan
pemimpinnya."
"Kalahin? Maksudnya bunuh?" tanya Wulan cemas.
"Bukan bunuh. Tapi... gimana ya... meyakinkan dia
bahwa manusia bukan musuh. Bahwa kita bisa hidup berdampingan."
Semua diam. Ide itu terdengar mulia, tapi sulit.
Kakek Darmo yang mendengarkan dari beranda, tersenyum.
"Nduk-nduk... Raka bener. Kancil itu bukan musuh.
Mereka cuma lapar. Kalian harus cari cara biar mereka kenyang tanpa ngerusak
kebun."
"Tapi gimana caranya, Kek?"
"Itu yang harus kalian cari."
Minggu ketiga, situasi semakin genting. Bukan hanya kebun
mentimun yang rusak, beberapa kebun jagung dan kacang juga mulai diserang.
Kawanan kancil semakin berani. Mereka datang lebih awal, kadang jam 9 malam,
kadang jam 11. Pola mereka tak lagi bisa ditebak.
"Sepertinya mereka sudah hafal jadwal ronda
kita," kata Pak Wiryo putus asa.
"Benar. Setiap kali kita ubah jadwal, mereka selalu
tahu."
Yang lebih aneh, beberapa warga mulai melaporkan hal-hal
janggal. Ada yang melihat bayangan menyerupai manusia kecil di pinggir hutan.
Ada yang mendengar suara tawa anak-anak di tengah malam. Cerita mistis kembali
merebak.
"Kancil-kancil itu jelmaan," kata Mak Siti yakin.
"Mereka makhluk halus yang menjelma jadi hewan."
Pak Sapto mencoba meluruskan. "Itu mungkin kancil
beneran, tapi karena gelap, bayangannya kelihatan aneh. Suara tawa? Itu bisa
suara burung atau hewan lain."
Tapi penjelasan logis tak lagi mempan. Warga lebih percaya
pada hal mistis.
Lurah Karso bingung. Ia harus menenangkan warganya, tapi
juga harus menyelesaikan masalah kancil. Ia akhirnya memutuskan mengundang
dukun dari kecamatan untuk "menangani" masalah gaib.
"Ini kesalahan," kata Pak Sapto kecewa.
"Mengundang dukun sama saja mengakui bahwa kita kalah berpikir."
Tapi keputusan sudah diambil. Malam itu, dukun datang.
Dengan sesajen dan mantra-mantra, ia "mengusir" makhluk halus
penunggu hutan. Anehnya, selama tiga malam setelahnya, kancil tidak muncul.
"Berhasil!" sorak warga.
Tapi Kakek Darmo tak percaya. "Kebetulan. Mungkin
kancilnya lagi istirahat."
Dan benar saja. Malam keempat, serangan kembali terjadi.
Lebih parah dari sebelumnya. Seolah kancil marah karena diganggu dengan ritual
mistis.
Dukun itu kebingungan. "Ini makhluknya kuat. Saya tak
bisa."
Warga panik. Mereka sudah kehabisan akal.
Di tengah kepanikan ini, Raka dan tim penyelidik cilik
justru menemukan petunjuk penting. Saat menyusuri hutan sore itu, mereka
menemukan sumber air yang mengering. Mata air yang biasanya mengalir deras,
kini hanya berupa genangan kecil.
"Lihat ini," kata Raka. "Sumber airnya
hampir kering."
"Berarti hewan-hewan di hutan kekurangan air?"
tanya Jaka.
"Iya. Kalau air susah, rumput juga susah tumbuh.
Mereka kelaparan dan kehausan."
Wulan teringat sesuatu. "Kata Kakek, musim kemaraunya
panjang tahun ini. Mungkin ini penyebabnya."
Raka mengangguk. "Bukan mistis. Bukan kiriman dukun.
Ini masalah ekologi sederhana. Hutan kekurangan sumber daya, jadi hewan turun
cari makan."
"Ini penemuan penting!" seru Doni.
"Tapi kita harus pastikan dulu. Kita perlu lihat
kondisi hutan lebih dalam."
Mereka sepakat akan ekspedisi lebih jauh ke hutan keesokan
harinya. Tak tahu bahwa dari balik pohon, Kancil Tua mengamati dengan rasa
ingin tahu yang sama.
Anak-anak ini berbeda, pikirnya. Mereka
tidak takut. Mereka tidak marah. Mereka hanya ingin tahu. Mungkin... mungkin
kita bisa percaya pada mereka.
Untuk pertama kalinya, Kancil Tua merasa ada harapan. Bahwa
konflik ini mungkin tidak harus berakhir dengan kekerasan.
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Raka mengumpulkan
teman-temannya di rumah Kakek Darmo. Kali ini anggotanya bertambah. Selain
Raka, Jaka, Wulan, dan Doni, ada Sari—anak perempuan pintar yang jago
menggambar—dan Amir, anak baru yang pindah dari kota karena ikut orang tuanya
yang pulang kampung.
"Lo pada tahu enggak," kata Amir dengan logat
kota yang kental, "di kota, kancil tuh cuma ada di kebun binatang. Enggak
nyangka di sini bisa lihat langsung."
"Lu bakal lihat lebih banyak kalau ikut kita,"
jawab Raka.
Mereka duduk melingkar di beranda. Kakek Darmo duduk di
kursi goyangnya, pura-pura tidur tapi sebenarnya mendengarkan.
"Oke, gini," Raka memulai. "Kemarin kita
nemuin sumber air yang hampir kering. Itu petunjuk penting. Tapi kita perlu
data lebih."
"Data apa?" tanya Jaka.
"Pertama, kita harus tahu populasi kancil di hutan.
Kira-kira ada berapa banyak. Kedua, kita harus tahu apa makanan mereka selain
mentimun. Ketiga, kita harus tahu pola pergerakan mereka. Kapan mereka turun,
lewat mana, jam berapa."
"Wah, itu banyak banget," keluh Doni.
"Makanya kita bagi tugas."
Raka mulai membagi tugas dengan gaya detektif sungguhan.
Amir, yang punya jam tangan dan bisa mencatat waktu, ditugaskan mencatat jam
kedatangan kancil. Sari, dengan kemampuan menggambarnya, ditugaskan membuat
peta jalur kancil. Jaka yang lincah, ditugaskan mengikuti jejak dari kebun
sampai ke hutan. Wulan yang kecil dan bisa bergerak cepat, ditugaskan mengintai
dari tempat tersembunyi. Doni... Doni ditugaskan jaga makanan.
"Kok gue cuma jaga makanan?" protes Doni.
"Lo kan doyan makan. Jadi lo paling cocok jaga bekal
kita."
Semua tertawa. Tapi Doni akhirnya setuju.
Malam harinya, operasi penyelidikan dimulai. Mereka
bersembunyi di balik semak-semak dekat kebun Pak Wiryo. Tak lupa membawa bekal
makanan—nasi bungkus dan air minum—yang dijaga ketat Doni.
Pukul 9 malam. Belum ada tanda-tanda.
Pukul 10. Udara makin dingin. Wulan mulai menggigil.
Pukul 11. Amir, yang matanya mulai berat, tiba-tiba
tersentak.
"Dengar!" bisiknya.
Semua diam. Dari arah hutan, terdengar suara gemerisik.
Pelan, tapi jelas. Lalu, muncullah bayangan pertama. Seekor kancil muncul dari
balik semak. Ia berhenti, mengendus-endus, memastikan keadaan aman.
"Itu mata-mata mereka," bisik Raka. "Dia cek
dulu."
Kancil itu berkeliling sebentar, lalu kembali ke hutan.
Beberapa saat kemudian, puluhan kancil keluar. Mereka bergerak cepat, lincah,
langsung menuju kebun mentimun.
"Wah, banyak banget!" bisik Jaka takjub.
Amir melihat jam. "Pukul 11.23. Mereka datang jam
11.23."
"Catat itu penting."
Mereka mengamati kancil-kancil itu makan. Beberapa hanya
memakan buah, beberapa juga memakan daun. Ada yang main-main, ada yang hanya
duduk diam.
Satu jam kemudian, kancil-kancil itu kembali ke hutan.
Sebelum pergi, seekor kancil besar—yang jelas pemimpinnya—berhenti sejenak. Ia
menatap ke arah semak tempat anak-anak bersembunyi.
"Hei, dia lihat kita?" cemas Wulan.
"Tenang, jangan bergerak."
Kancil itu menatap cukup lama. Lalu, entah mengapa, ia
menganggukkan kepala sedikit. Gerakan yang aneh, seperti memberi hormat.
Setelah itu, ia berlari menyusul kawanannya.
"Itu... itu kancil yang ngangguk?" tanya Doni tak
percaya.
"Iya. Dia tahu kita ada di sini. Tapi dia enggak
takut. Malah... malah kayak nyapa."
Mereka saling pandang. Perasaan aneh bercampur takjub
memenuhi hati anak-anak itu. Kancil itu bukan sekadar hewan liar. Ada
kecerdasan di matanya. Ada kesadaran.
Pulang ke rumah, mereka tak bisa tidur. Membayangkan apa
yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Keesokan harinya, mereka resmi membentuk "Tim
Penyelidik Cilik Bojong Sari". Raka jadi ketua, Jaka wakil, Wulan
sekretaris, Sari dokumentator, Amir pencatat waktu, dan Doni... tetap jadi juru
masak dan penjaga logistik.
Mereka membuat buku catatan dari kertas bekas. Setiap
temuan dicatat dengan rapi.
Data Sementara:
·
*Jumlah kancil: sekitar
50-70 ekor (perkiraan)*
·
Waktu turun: 23.23 (hari
pertama), 23.45 (hari kedua)
·
Jalur: dari hutan,
melewati sungai kering, masuk ke kebun timur
·
Pemimpin: satu kancil
besar dengan tanduk bercabang banyak
"Kita perlu masuk lebih dalam," kata Raka.
"Kita harus lihat kondisi hutan langsung."
"Masuk hutan? Berani?" tanya Wulan ragu.
"Aku berani kalau bareng-bareng," jawab Jaka.
"Gue dari kota, gue enggak biasa hutan-hutan,"
kata Amir ragu.
"Lo bakal aman kalau ikut kita. Kita kenal hutan ini
dari kecil."
Akhirnya disepakati, ekspedisi hutan akan dilakukan Minggu
pagi. Mereka akan menyusuri jejak kancil hingga ke sumber mata air yang hampir
kering itu.
Minggu pagi, seusai sarapan, mereka berkumpul di pinggir
hutan. Masing-masing membawa bekal—nasi bungkus, air minum, pisau kecil, dan
senter cadangan.
"Lo yakin enggak kesasar?" tanya Amir cemas.
"Tenang, gue hapal jalur ini. Dari kecil main
sini," jawab Jaka yakin.
Mereka masuk ke hutan. Udara langsung berubah jadi sejuk.
Pepohonan rindang menaungi. Suara burung bersahut-sahutan.
Jalan setapak yang mereka ikuti jelas—terlalu jelas untuk
jalan hewan biasa. Tanahnya padat, seperti sering dilewati.
"Ini jalur utama mereka," kata Raka.
Mereka berjalan sekitar setengah jam. Semakin masuk,
semakin banyak tanda keberadaan kancil: kotoran di sana-sini, bekas gigitan di
daun, jejak kaki di tanah basah.
Akhirnya mereka sampai di sumber mata air. Dan apa yang
mereka lihat membuat mereka sedih.
Mata air itu nyaris kering. Hanya genangan kecil air keruh
di dasar cekungan. Di sekelilingnya, tanah retak-retak. Bekas jejak hewan yang
datang bergantian terlihat jelas—tapak kijang, babi hutan, dan tentu saja
kancil.
"Ini parah," gumam Raka. "Mereka berebut
air."
"Lihat itu," tunjuk Sari.
Di balik semak, ada bangkai seekor anak kancil. Sudah
mengering, tinggal kulit dan tulang.
"Mati kehausan atau kelaparan," kata Raka lirih.
Mereka terdiam. Tiba-tiba, mereka paham. Bukan karena
nakal, bukan karena iseng. Kancil-kancil itu turun ke desa karena mereka
sekarat. Karena hutan tak lagi mampu memberi mereka hidup.
"Kita... kita harus bantu mereka," kata Wulan
dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi gimana caranya? Orang dewasa aja marah sama
mereka."
"Itu karena orang dewasa enggak tahu kondisi ini.
Kalau mereka tahu..."
"Belum tentu peduli," potong Jaka pahit.
"Mereka lebih peduli mentimun."
Raka berpikir keras. "Mungkin kita enggak perlu bikin
semua orang dewasa tahu. Mungkin kita cari solusi sendiri dulu."
"Solusi apa?"
"Kita... kita kasih mereka makan di pinggir hutan.
Biar mereka enggak perlu masuk ke kebun."
Ide gila. Memberi makan hewan liar yang merusak kebun. Tapi
di saat yang sama, ide itu masuk akal.
"Tapi pakai uang siapa?" tanya Doni praktis.
"Uang jajan kita. Kita kumpulin. Beli mentimun yang
udah enggak layak jual di pasar. Atau sayuran lain yang murah."
"Mentimun afkir? Bisa. Harganya murah."
Mereka mulai menghitung. Uang jajan mereka pas-pasan. Tapi
kalau dikumpul, mungkin cukup untuk membeli beberapa kilo mentimun afkir setiap
minggu.
"Ini gila," kata Amir. "Tapi gue suka ide
ini."
Mereka sepakat. Operasi Rahasia Pemberian Makan akan
dimulai minggu depan.
Tapi mereka tak tahu, sejak mereka masuk hutan, sejak
mereka melihat mata air kering dan anak kancil mati, sejak mereka
berbisik-bisik di bawah pohon, ada yang mengamati dari balik semak.
Kancil Tua. Ia melihat semuanya. Ia melihat air mata di
mata Wulan. Ia mendengar rencana mereka. Dan untuk pertama kalinya dalam
hidupnya, ia merasa... merasa manusia tidak semuanya jahat.
Kembali di rumah Kakek Darmo, anak-anak melaporkan temuan mereka.
Kakek mendengarkan dengan saksama.
"Kalian benar. Ini masalah ekologi. Musim kemarau
panjang bikin hujan enggak datang. Sumber air kering. Hewan-hewan kelaparan.
Kancil cuma salah satu yang paling berani turun."
"Tapi kenapa cuma kancil, Kek? Kenapa enggak kijang
atau babi hutan?" tanya Raka.
"Kancil itu paling adaptif. Mereka bisa makan apa
saja. Daun, buah, bahkan umbi-umbian. Mereka juga paling pintar baca situasi.
Makanya mereka yang pertama berani."
"Berarti kalau kita kasih mereka makan di pinggir
hutan, mereka enggak akan masuk kebun?"
"Mungkin. Tapi enggak langsung. Mereka harus percaya
dulu sama kalian. Kancil itu curiga sama manusia. Perlu waktu."
"Kita punya waktu, Kek."
Kakek tersenyum bangga. Melihat anak-anak seusia mereka
berpikir solusi, bukan kekerasan, membuatnya percaya masa depan desa ini aman
di tangan mereka.
Malam harinya, Tim Penyelidik Cilik kembali beraksi. Kali
bukan hanya mengamati, tapi juga meninggalkan "hadiah". Mereka
membawa beberapa mentimun afkir yang dibeli dari pasar—yang harganya murah
karena sudah agak layu.
Mereka letakkan mentimun itu di jalur yang biasa dilalui
kancil, dekat pinggir hutan. Lalu mereka bersembunyi, menunggu.
Pukul 11 malam. Kawanan kancil muncul seperti biasa. Mereka
berhenti saat mencium aroma mentimun. Tapi bukan di kebun, melainkan di pinggir
hutan.
Kancil Tua maju. Ia mengendus mentimun itu. Lalu menengok
ke arah semak tempat anak-anak bersembunyi. Lagi-lagi tatapan itu. Lama.
Setelah beberapa saat, ia mulai makan. Kawanannya ikut.
Mereka makan dengan lahap.
"Itu dia!" bisik Jaka girang.
"Ssttt... jangan keras-keras."
Kancil Tua sesekali menoleh ke arah mereka. Tapi tidak ada
rasa takut di matanya. Mungkin ada sedikit kecurigaan, tapi lebih banyak rasa
ingin tahu.
Setelah habis, kawanan kancil kembali ke hutan. Mereka
tidak masuk ke kebun malam itu.
"Berhasil!" bisik Doni.
"Belum. Baru satu malam."
Tapi mereka tetap girang. Ini awal yang baik.
Seminggu berlalu. Setiap malam, Tim Penyelidik Cilik
meletakkan mentimun afkir di pinggir hutan. Dan setiap malam, kancil-kancil itu
datang, makan, lalu kembali tanpa menyentuh kebun warga.
Namun, warga desa mulai curiga. Kok tiba-tiba kancil tidak
menyerang?
"Pasti dukunnya berhasil," kata beberapa orang.
"Atau mungkin kancilnya pindah tempat."
Anak-anak diam saja. Mereka menjaga rahasia dengan ketat.
Hanya Kakek Darmo yang tahu.
Tapi rahasia tak bisa bertahan lama. Suatu malam, Pak Wiryo
yang sedang ronda melihat sesuatu yang aneh. Dari kejauhan, ia melihat
kerumunan kecil di pinggir hutan. Saat didekati, ia melihat anak-anak—Raka,
Jaka, dan yang lain—sedang menaruh sesuatu di tanah.
"Heeh! Kalian ngapain malam-malam di sini?"
tegurnya.
Anak-anak terkejut. Tapi Raka cepat berpikir.
"Kami... kami lagi observasi, Pak. Buat tugas
sekolah."
"Observasi? Observasi apa?"
"Mengamati hewan malam. Itu tugas dari Bu Guru."
Pak Wiryo curiga. Tapi karena anak-anak kelihatan polos, ia
percaya. "Ya udah, kalau udah selesai cepet pulang. Malam-malam gini
bahaya."
"Iya, Pak."
Setelah Pak Wiryo pergi, mereka menghela napas lega. Tapi
mereka tahu, ini peringatan. Rahasia mereka bisa terbongkar kapan saja.
Keesokan harinya, mereka rapat darurat.
"Gimana kalau orang dewasa tahu?" cemas Wulan.
"Belum tentu mereka marah. Mungkin mereka malah senang
kancil enggak nyerang lagi."
"Tapi kalau mereka tahu kita kasih makan kancil,
bisa-bisa mereka marah. Soalnya kita dianggap membantu hama."
Raka berpikir keras. "Kita harus siap-siap. Kalau
ketahuan, kita jelaskan kondisinya. Kasih tahu soal sumber air kering, soal
anak kancil mati. Semoga mereka ngerti."
"Dan kalau enggak ngerti?"
"Ya... kita hadapi."
Di tempat lain, Kancil Tua sedang merenung. Selama seminggu
ini, ia dan kawanannya tak perlu masuk ke kebun. Makanan tersedia di pinggir
hutan. Anak-anak manusia itu baik. Tapi ia tahu, ini tak bisa terus-terusan.
Anak-anak itu punya keterbatasan. Mereka juga butuh uang untuk membeli
mentimun.
Harus ada solusi jangka panjang, pikirnya. Tapi apa?
Kancil Tua memandangi hutan yang mulai mengering. Musim
hujan belum juga datang. Mungkin masih berminggu-minggu lagi. Sementara perut
mereka harus diisi setiap hari.
Mungkin... mungkin aku harus bicara langsung dengan mereka.
Tapi bagaimana cara bicara dengan manusia? Kancil Tua tak
punya suara seperti manusia. Ia hanya bisa memberi tanda.
Malam harinya, saat anak-anak datang memberi makan, Kancil
Tua melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia
mendekat—sangat dekat—hanya beberapa meter dari tempat anak-anak bersembunyi.
Lalu ia duduk. Menatap mereka.
"Hei, dia... dia mendekat!" bisik Jaka panik.
"Tenang. Jangan bergerak."
Kancil Tua menatap mereka bergantian. Lalu perlahan, ia
menganggukkan kepala. Gerakan yang sama seperti beberapa malam lalu. Tapi kali
ini, ia juga menggesek-gesekkan kaki depannya ke tanah, membuat garis-garis.
"Mau ngomong apa ya?" gumam Raka.
Tanpa berpikir panjang, Raka mengambil ranting, lalu
menggambar garis juga di tanah. Garis lurus.
Kancil Tua menatap gambar itu. Lalu dengan kakinya, ia
membuat gambar lain: lingkaran.
Raka paham. Mereka sedang berkomunikasi. Dengan bahasa
sederhana.
Ia menggambar lingkaran, lalu di dalamnya titik-titik.
Mungkin maksudnya: air?
Kancil Tua mengangguk cepat. Lalu ia menggesek-gesekkan
kakinya ke tanah, membuat garis-garis putus-putus dari lingkaran ke arah lain.
"Air... sumber air... mereka butuh air," kata
Raka.
Dengan isyarat, Kancil Tua seolah berkata: tolong kami.
Bukan hanya makanan. Tapi air.
Anak-anak itu terharu. Mereka tak pernah menyangka, seekor
hewan bisa meminta tolong dengan cara seperti ini.
Keesokan harinya, Tim Penyelidik Cilik memutuskan ekspedisi
besar: menyusuri hutan hingga ke puncak Manoreh. Mereka ingin mencari sumber
air alternatif yang mungkin masih mengalir.
"Kata Kakek, di atas sana ada sungai kecil. Tapi
jalannya susah," kata Jaka yang paling mengenal hutan.
"Berapa jam?" tanya Amir.
"Kalau jalan cepat, tiga jam."
"Wah, itu berat."
Tapi mereka nekat. Minggu pagi, mereka berangkat lebih
awal. Bekal: nasi bungkus, air minum masing-masing satu botol, pisau, tali, dan
senter cadangan.
Mereka menyusuri jalan setapak yang semakin lama semakin
menanjak. Pepohonan semakin rapat. Suara burung semakin beragam.
Setelah dua jam berjalan, mereka sampai di sebuah lembah
kecil. Di sini, udaranya lebih sejuk. Dan mereka mendengar suara—suara air!
"Air!" seru Wulan.
Mereka berlari ke arah suara. Dan benar saja, di balik
batu-batu besar, sebuah sungai kecil mengalir. Airnya jernih, dingin.
"Ini sumber air!" kata Raka girang.
Tapi setelah mengamati lebih jauh, mereka melihat masalah.
Sungai ini berada di lembah yang curam. Sulit dijangkau hewan-hewan besar
seperti rusa atau babi hutan. Apalagi kancil yang kecil. Mereka harus turun ke
jurang yang berbahaya.
"Enggak heran mereka enggak ke sini. Susah banget
aksesnya," kata Jaka.
"Tapi airnya banyak. Kalau aja ada cara... "
Raka berpikir keras. Tiba-tiba ia dapat ide. "Kita
buat jalan! Kita buat jalur dari sini ke bawah yang lebih landai!"
"Gila lo. Itu kerjaan besar. Masa kita bertiga?"
"Enggak bertiga. Kita bertujuh. Tapi kita butuh alat.
Dan butuh izin orang dewasa."
Mereka duduk di tepi sungai, makan bekal sambil berpikir.
Ide itu mulia, tapi berat. Terlalu berat untuk anak-anak.
Tapi kadang, ide terbaik justru datang saat kita tak
memikirkannya. Saat mereka bersiap pulang, Wulan melihat sesuatu di balik batu.
"Lihat! Itu apa?"
Mereka mendekat. Di balik batu besar, ada lubang. Bukan
lubang biasa, tapi lubang yang sengaja digali. Di dalamnya, ada jejak kancil.
Banyak.
"Ini... ini sarang mereka?"
Raka mengamati. Di sekitar lubang, ada bulu-bulu kancil,
kotoran, dan sisa-sisa makanan. Ini jelas tempat persembunyian.
"Berarti mereka punya sarang di dekat sini. Tapi
kenapa mereka enggak minum dari sungai ini?"
Mereka mencari jalur dari sarang ke sungai. Ternyata, ada
jurang curam yang memisahkan. Untuk mencapai sungai, kancil harus memutar jauh,
melewati hutan yang lebih rapat dan berbahaya karena banyak predator.
"Kasian banget. Haus tapi susah dapet air."
Hari semakin sore. Mereka harus pulang. Tapi dalam
perjalanan pulang, otak Raka terus bekerja. Ada satu ide yang mulai terbentuk.
Ide gila. Tapi mungkin... mungkin bisa.
"Gini," katanya saat beristirahat. "Kita
enggak bisa buat jalan setapak sendirian. Tapi kita bisa minta tolong orang
dewasa. Caranya, kita kumpulkan bukti-bukti. Kita foto (kalau ada kamera) atau
gambar. Lalu kita presentasikan di rapat desa."
"Presentasi?" Amir terkekeh. "Kayak di kota
aja."
"Iya, presentasi. Kita tunjukkan data kita: populasi
kancil, sumber air kering, anak kancil mati, sungai yang susah dijangkau. Lalu
kita usulkan solusi: buat jalur air atau tempat minum buatan di dekat sarang
mereka."
"Kira-kira mereka mau denger?"
"Enggak tahu. Tapi kita coba."
Sore itu juga, mereka mulai menyusun rencana presentasi.
Sari mulai menggambar peta hutan dengan detail. Amir mencatat semua data waktu
dan jumlah. Raka menyusun argumen. Jaka, Wulan, dan Doni menyiapkan dukungan
moral.
Malam harinya, saat mereka meletakkan mentimun di pinggir
hutan, Kancil Tua kembali mendekat. Kali ini, Raka memberanikan diri bicara
pelan.
"Kami akan bantu kalian. Kami akan cari jalan. Tapi
butuh waktu. Sabar ya."
Kancil Tua menatapnya lama. Lalu sekali lagi, ia
mengangguk. Seperti berkata: aku percaya padamu.
Malam persiapan presentasi, Tim Penyelidik Cilik melakukan
pengintaian terakhir. Mereka ingin memastikan data jumlah kancil akurat.
Bersembunyi di balik semak dekat tempat makan, mereka
menghitung satu per satu.
"31... 32... 33..." bisik Amir sambil mencatat.
Kawanan kancil datang seperti biasa. Mereka makan dengan
tenang. Tapi malam itu ada yang berbeda. Kancil Tua tidak ikut makan. Ia duduk
agak jauh, mengawasi. Seperti sedang menjaga.
"Hei, yang tua itu enggak makan," kata Wulan.
"Mungkin dia jagain. Mungkin ada bahaya."
Dan benar saja. Tiba-tiba, dari arah desa, muncul cahaya
senter. Suara langkah kaki. Pak Wiryo dan beberapa petani datang!
"Ada orang!" bisik Raka panik.
Kancil-kancil panik. Mereka berlari kocar-kacir. Tapi
Kancil Tua dengan cepat memberi isyarat. Semua lari ke arah hutan,
menyelamatkan diri.
Pak Wiryo dan rombongan sampai di tempat itu. Mereka
melihat sisa-sisa mentimun di tanah.
"Ini... ini siapa yang taruh mentimun di sini?"
tanya Pak Wiryo heran.
Mereka menyorotkan senter ke sekeliling. Dan sorotan itu
mengenai semak tempat anak-anak bersembunyi.
"Siapa di sana! Keluar!"
Anak-anak tak bisa lari. Mereka keluar dengan perasaan
takut.
"Kalian?! Ngapain di sini malam-malam?"
Raka mencoba tenang. "Kami... kami lagi penelitian,
Pak."
"Penelitian apaan? Ini mentimun kalian yang
taruh?"
"Iya, Pak."
"Buat apa?"
Raka diam sejenak. Lalu ia memutuskan berkata jujur.
"Kami kasih makan kancil, Pak. Biar mereka enggak
masuk ke kebun."
Para petani terkejut. Lalu marah.
"Kalian bantu hama?! Gila kalian! Mentimun kami
dirusak, kalian malah kasih makan!" bentak Pak Wiryo.
"Tapi Pak, denger dulu penjelasan kami..."
"Enggak usah! Sekarang ikut ke balai desa! Lurah harus
tahu ini!"
Dengan perasaan hancur, anak-anak itu digiring ke balai
desa. Malam itu juga, orang tua mereka dipanggil. Suasana tegang mencekam.
Di balai desa, semua tokoh berkumpul. Lurah Karso duduk di
kursi utama, wajahnya serius.
"Jadi begini," katanya memulai. "Anak-anak
ini tertangkap basah memberi makan kancil di pinggir hutan. Mereka sudah
membantu hama. Saya ingin dengar penjelasan mereka."
Raka maju. Meski takut, ia berusaha tegar.
"Pak Lurah, Bapak-bapak sekalian... kami minta maaf
kalau salah. Tapi tolong dengar dulu. Kami bukan mau bantu hama. Kami cuma mau
cari solusi."
"Solusi apa?"
"Kami sudah nyelidiki kancil-kancil ini selama
berminggu-minggu. Kami tahu kenapa mereka turun ke kebun."
Raka lalu menjelaskan semuanya. Tentang sumber air yang
kering di hutan. Tentang anak kancil yang mati. Tentang sungai di atas yang
susah dijangkau. Tentang jumlah kancil yang kelaparan.
Sari membuka gambar-gambarnya—peta hutan, sketsa kancil,
ilustrasi mata air kering.
Amir membacakan catatan waktu dan jumlah.
Jaka, Wulan, dan Doni menambahkan kesaksian mereka.
Suasana mulai berubah. Kemarahan perlahan berganti menjadi
rasa ingin tahu. Beberapa petani mulai mengangguk-angguk.
"Jadi maksud kalian, kancil-kancil itu turun karena
kehausan dan kelaparan?" tanya Lurah.
"Iya, Pak. Ini musim kemarau panjang. Hutan udah
enggak bisa kasih mereka hidup."
"Terus kalian kasih makan mereka di pinggir hutan,
biar mereka enggak masuk kebun?"
"Iya, Pak. Dan itu berhasil. Seminggu terakhir, enggak
ada serangan ke kebun kan?"
Para petani saling pandang. Mereka ingat, seminggu terakhir
memang tidak ada serangan. Mereka mengira dukun berhasil, ternyata...
"Kalian... kalian yang buat kancil berhenti
nyerang?" tanya Pak Wiryo tak percaya.
"Iya, Pak. Dengan cara ngasih mereka makan di sini.
Mereka jadi kenyang, jadi enggak perlu ke kebun."
Keheningan menyelimuti balai desa. Para petani tercengang.
Anak-anak ini—masih SD dan SMP—berhasil melakukan apa yang orang dewasa gagal
lakukan.
Lurah Karso menghela napas panjang. "Anak-anak...
kalian luar biasa. Maafkan kami yang marah-marah tadi. Kalian sudah berpikir
lebih maju dari kami."
Tapi Pak Wiryo masih belum puas. "Ini cuma solusi
sementara. Kalau musim kemarau masih panjang, kita enggak bisa terus-terusan
beliin mereka mentimun. Uang dari mana?"
"Kami punya usul, Pak," kata Raka. "Kami
nemuin sungai di atas hutan. Airnya banyak. Tapi susah dijangkau kancil.
Mungkin kita bisa buat jalan setapak atau tempat minum buatan di dekat sarang
mereka. Biar mereka bisa minum tanpa harus ke kebun."
Usul itu disambut diskusi panjang. Akhirnya, Lurah
memutuskan untuk membawa usulan ini ke musyawarah desa.
Keesokan harinya, Lurah mengundang Pak Sapto dari
konservasi. Pak Sapto mendengar penjelasan anak-anak dengan takjub.
"Ini luar biasa. Anak-anak ini melakukan penelitian
yang seharusnya dilakukan ahli. Data mereka akurat. Analisis mereka tepat. Saya
usul, kita tindak lanjuti."
"Caranya?" tanya Lurah.
"Kita buat program konservasi sederhana. Bikin tempat
minum buatan di dekat sumber air yang susah dijangkau. Bikin jalur alternatif.
Dan yang paling penting, kita edukasi warga tentang pentingnya menjaga
keseimbangan ekosistem."
Program itu akhirnya disetujui. Pemerintah desa
mengalokasikan dana darurat untuk membangun dua tempat minum buatan di hutan.
Lokasinya dipilih berdasarkan rekomendasi Tim Penyelidik Cilik.
Dua minggu kemudian, tempat minum buatan selesai. Pak Sapto
membawa pipa bambu yang mengalirkan air dari sungai ke kolam kecil di dekat
sarang kancil.
Malam harinya, anak-anak mengajak beberapa petani
menyaksikan. Mereka bersembunyi di balik pohon, menunggu.
Pukul 11 malam. Kawanan kancil muncul. Mereka mendekati
tempat minum baru itu dengan hati-hati. Kancil Tua maju pertama, mengendus air.
Lalu ia minum. Kawanannya menyusul.
"Lihat! Mereka minum!" bisik Jaka girang.
Para petani yang ikut menyaksikan terharu. Mereka melihat
sendiri, hewan-hewan ini bukan hama. Mereka hanya makhluk hidup yang butuh air.
Setelah puas minum, kawanan kancil berbalik. Tapi sebelum
pergi, Kancil Tua melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia berjalan mendekati
tempat anak-anak bersembunyi. Berhenti beberapa meter. Lalu ia menundukkan
kepala—gerakan yang sangat mirip dengan membungkuk hormat. Setelah itu, ia
berlari pergi.
Semua yang menyaksikan terpana.
"Anak-anak... kalian lihat itu?" kata Pak Wiryo
lirih.
"Iya, Pak. Dia ngucapin terima kasih."
"Itu... itu enggak masuk akal. Hewan kok bisa..."
"Kancil itu hewan cerdik, Pak. Legenda itu
benar."
Sejak malam itu, serangan kancil ke kebun mentimun berhenti
total. Mereka punya sumber air sendiri. Dan sesekali, anak-anak masih menaruh
mentimun afkir di pinggir hutan—bukan karena terpaksa, tapi karena sayang.
Kancil-kancil itu sudah seperti teman.
Minggu-minggu berikutnya, hubungan antara desa dan kawanan
kancil berubah total. Tak ada lagi ketakutan, tak ada lagi kemarahan. Para
petani mulai memahami bahwa hewan-hewan ini bukan musuh.
Suatu sore, Raka dan teman-temannya pergi ke hutan. Bukan
untuk menyelidiki, tapi untuk bertemu "teman" mereka. Di tempat minum
buatan, mereka duduk menunggu.
Tak lama, kawanan kancil muncul. Mereka minum dengan
tenang, tak takut dengan kehadiran manusia. Beberapa kancil muda bahkan
mendekat, mengendus-endus dengan rasa ingin tahu.
"Ini... ini mimpi enggak sih?" kata Doni tak
percaya.
"Ini nyata. Mereka udah percaya sama kita."
Tiba-tiba, Kancil Tua muncul dari balik semak. Ia berjalan
pelan, mendekati Raka. Lalu, di depan semua orang, ia melakukan sesuatu yang
belum pernah terjadi dalam sejarah desa Bojong Sari.
Kancil Tua berbaring di dekat kaki Raka. Seperti hewan
peliharaan yang jinak.
Wulan menangis haru. Jaka dan Doni ternganga. Amir yang
dari kota tak berhenti merekam dengan ponselnya—satu-satunya ponsel di antara
mereka.
"Gila... gila... ini viral banget kalau gue
upload," katanya.
"Jangan upload!" potong Raka cepat. "Ini
rahasia kita. Biar mereka hidup tenang."
Amir menurut. Tapi dalam hatinya, ia tahu, momen ini akan
ia ingat seumur hidup.
Kancil Tua mengangkat kepala, menatap Raka. Matanya sayu,
seperti orang tua yang lelah. Raka memberanikan diri mengelus kepalanya
perlahan.
"Makasih, Kancil Tua. Makasih udah percaya sama
kita."
Kancil Tua mengedipkan mata. Lalu berdiri, dan kembali ke
kawanannya.
Saat mereka bersiap pulang, Kancil Tua sekali lagi menoleh.
Kali ini, dari matanya, Raka merasa mengerti satu hal: bahwa alam punya cara
sendiri untuk mengajarkan manusia. Bahwa kecerdikan bukan monopoli satu
spesies. Bahwa hidup berdampingan adalah satu-satunya jalan.
Keberhasilan anak-anak menyelesaikan konflik dengan kancil
membuat mereka terkenal. Bukan hanya di desa, tapi juga di kecamatan. Pak Camat
sendiri datang ke Bojong Sari untuk memberi penghargaan.
"Ini contoh nyata," katanya dalam acara
penghargaan di balai desa. "Bahwa anak-anak bisa berkontribusi untuk desa.
Bahwa solusi terbaik sering datang dari pikiran yang masih jernih, belum
tercemari prasangka dan kemarahan."
Tim Penyelidik Cilik mendapat piagam penghargaan. Raka,
Jaka, Wulan, Doni, Sari, dan Amir—semua namanya disebut. Mereka berfoto bersama
dengan latar belakang sawah dan Bukit Manoreh.
Tapi yang paling berkesan adalah saat Pak Sapto mengajak
mereka jadi "duta konservasi cilik" untuk desa Bojong Sari.
"Tugas kalian: mengedukasi warga tentang pentingnya
menjaga hutan dan hewan di dalamnya," katanya.
Mereka menerima tugas itu dengan bangga.
Namun, tak semua orang senang. Beberapa petani yang paling
dirugikan, seperti Pak Wiryo dan Pak Karso, masih menyimpan sedikit kekesalan.
Mereka kehilangan banyak mentimun. Meski kancil sudah berhenti menyerang,
kerugian tetap kerugian.
"Anak-anak sih senang dapat penghargaan. Tapi mentimun
kita? Udah pada habis," gerutu Pak Wiryo suatu hari.
"Sabar, Pak. Yang penting sekarang udah aman,"
kata istrinya.
"Iya sih. Tapi kalau suatu saat kancil itu turun lagi?
Apa kita harus ngasih makan lagi?"
"Pak Sapto bilang, selama sumber air cukup, mereka
enggak akan turun."
"Mudah-mudahan."
Tapi alam punya rencana lain. Musim kemarau tak kunjung
usai. Bulan kelima, bulan keenam, masih belum ada tanda-tanda hujan. Sumber air
buatan di hutan mulai berkurang debitnya. Sungai di atas juga mulai menyusut.
Kawanan kancil mulai gelisah.
Kancil Tua memimpin kawanannya berkeliling hutan mencari
sumber air baru. Tapi semua mengering. Hutan Manoreh yang dulu hijau, kini
berubah cokelat. Daun-daun berguguran. Rumput-rumput mati.
Kita harus turun lagi, pikir
Kancil Tua sedih. Tapi anak-anak itu... mereka pasti kecewa.
Malam harinya, saat anak-anak datang seperti biasa, Kancil
Tua tak muncul. Yang ada hanya beberapa kancil muda yang gelisah.
"Aneh, yang tua mana?" tanya Jaka.
Mereka menunggu lama. Akhirnya, dari balik semak, Kancil
Tua muncul. Ia berjalan lambat, terlihat lemah. Saat mendekat, Raka melihat
sesuatu yang membuatnya cemas.
Kancil Tua kurus. Tulang rusuknya terlihat jelas. Matanya
cekung.
"Ya ampun, dia kurus banget," bisik Wulan.
Kancil Tua berbaring di dekat mereka, kelelahan. Raka
mengelusnya, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan getaran aneh. Kancil Tua
demam.
"Ini... ini enggak bener. Dia sakit."
Mereka panik. Tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya Raka
memutuskan: lapor Pak Sapto.
Pak Sapto datang keesokan harinya dengan tim medis hewan
dari kota. Mereka membawa peralatan lengkap. Tapi untuk menangkap Kancil Tua,
mereka harus memasukkannya ke kandang. Dan kancil itu liar—meski jinak dengan
anak-anak, tetap saja liar.
"Kita harus pasang perangkap," kata dokter hewan,
drh. Widi. "Perangkap khusus yang enggak melukai."
"Perangkap? Jangan sampai dia trauma," kata Raka
cemas.
"Tenang, ini perangkap lembut. Seperti kandang berumpan.
Begitu masuk, pintu tertutup, tapi dia aman di dalam."
Anak-anak setuju dengan syarat mereka yang mengatur umpan
dan lokasi.
Malam harinya, perangkap dipasang di dekat tempat biasa
mereka bertemu. Umpannya: mentimun segar dan air bersih.
Mereka menunggu dari kejauhan. Kawanan kancil datang, tapi
waspada. Mereka melihat benda asing—kandang besi—dan curiga. Kancil Tua sendiri
tak datang. Ia terlalu lemah untuk bergerak jauh.
"Ini enggak kerja," kata Jaka frustrasi.
"Mereka curiga sama perangkap."
"Gimana kalau kita pindahin ke dekat dia?" usul
Wulan.
"Tapi kita enggak tahu dia di mana."
Mereka bingung. Sementara itu, kondisi Kancil Tua semakin
buruk. Ia tak bisa makan, tak bisa minum. Berbaring lemas di sarangnya.
Anak-anak memutuskan nekat. Mereka akan masuk hutan,
mencari Kancil Tua, dan membawakan air serta makanan. Dengan risiko sendiri.
Pak Sapto melarang, tapi anak-anak tetap pergi. Mereka
tahu, Kancil Tua adalah kunci. Tanpa dia, kawanan kancil akan kacau. Dan
konflik dengan desa bisa terulang.
Di dalam hutan, mereka mencari dengan susah payah. Hutan
yang dulu rimbun, kini gersang. Daun-daun berguguran di bawah kaki. Suasana
sunyi, tak ada kicau burung.
Akhirnya, setelah hampir dua jam, mereka menemukan sarang
Kancil Tua. Di balik batu besar, di bawah pohon rindang yang masih tersisa
daunnya, Kancil Tua terbaring lemah.
"Kancil... kita datang," bisik Raka.
Kancil Tua membuka mata. Matanya redup, tapi masih ada
sedikit cahaya di sana. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi tak mampu.
Wulan menangis melihatnya. "Kasian banget."
Mereka menuang air ke daun lebar, lalu mendekatkan ke mulut
Kancil Tua. Perlahan, ia menjilat air itu. Beberapa teguk. Lalu beberapa teguk
lagi.
Setelah minum, ia tampak sedikit segar. Raka memberi
potongan mentimun. Dimakan meski susah.
"Kita harus bawa dia ke dokter. Tapi gimana
caranya?" kata Amir.
Mereka berpikir keras. Kancil Tua terlalu besar untuk
digendong, terlalu lemah untuk berjalan. Sementara perangkap kandang terlalu
jauh.
Tiba-tiba, Raka mendapat ide. "Kita buat tandu. Dari
kayu dan kain. Lalu kita angkat bareng-bareng."
"Kuat?"
"Coba dulu."
Mereka mencari kayu-kayu kecil yang kuat, lalu mengikatnya
dengan tali. Jaket mereka dilepas jadi alas. Dengan hati-hati, mereka menggeser
Kancil Tua ke atas tandu.
Kancil Tua merintih pelan, tapi tak melawan. Seperti ia
tahu, anak-anak ini mencoba menolongnya.
Perjalanan pulang berat. Medan naik turun. Tandu harus
diangkat bergantian. Tangan pegal, kaki lelah. Tapi mereka tak menyerah.
Sesampai di pinggir hutan, Pak Sapto dan tim sudah menunggu
dengan kandang khusus. Mereka memindahkan Kancil Tua dengan hati-hati.
"Kalian... kalian luar biasa," kata drh. Widi.
"Ini pertama kalinya saya lihat anak-anak sekecil ini menyelamatkan hewan
sebesar itu."
Kancil Tua dirawat di pos konservasi selama seminggu. Drh.
Widi memberinya infus, vitamin, dan makanan bergizi. Perlahan, kondisinya
membaik.
Anak-anak menjenguk setiap hari. Mereka membawa mentimun
segar, berbicara dengan Kancil Tua, membacakan cerita.
"Lo tahu, di kota kancil cuma ada di kebun binatang.
Yang jinak-jinak. Tapi lo kayaknya lebih pinter dari mereka," kata Amir
suatu hari.
Kancil Tua hanya mengedip. Tapi anak-anak tahu, ia
mengerti.
Seminggu kemudian, Kancil Tua dinyatakan sembuh. Ia bisa
berdiri, berjalan, bahkan melompat-lompat kecil. Saatnya dilepasliarkan.
Pelepasliaran dilakukan di tempat minum buatan, di hadapan
warga desa. Banyak yang datang menyaksikan. Kawanan kancil lain sudah menunggu
di semak-semak.
Kandang dibuka. Kancil Tua keluar perlahan. Ia menatap kerumunan
manusia, lalu berjalan mendekati anak-anak. Untuk terakhir kalinya, ia
menundukkan kepala—gerakan hormat yang sama.
Lalu, dengan langkah tegap, ia berjalan menuju kawanannya.
Kancil-kancil lain menyambut dengan suara riuh rendah. Beberapa menjilat-jilat
tubuhnya, seperti menyambut pemimpin yang kembali.
Kancil Tua menoleh sekali lagi. Lalu bersama kawanan, ia
berlari masuk ke hutan. Meninggalkan manusia dengan pelajaran berharga.
"Selamat jalan, Kancil Tua," bisik Raka.
Hujan mulai turun. Rintik-rintik pertama setelah
berbulan-bulan kemarau. Seperti alam ikut merestui perdamaian ini.
Kancil Tua tak pernah kembali ke desa. Tapi anak-anak
sesekali melihatnya dari kejauhan, saat mereka berkunjung ke tempat minum
buatan. Ia selalu duduk agak jauh, mengawasi, seperti melindungi.
"Kayaknya dia jagain kita," kata Wulan.
"Iya. Dia enggak akan pernah lupa."
Musim hujan akhirnya tiba. Hutan Manoreh hijau kembali.
Sumber-sumber air terisi. Rumput-rumput tumbuh subur. Kawanan kancil tak perlu
lagi turun ke desa.
Tapi mereka tak lupa. Setiap kali anak-anak datang ke
tempat minum buatan, kancil-kancil itu akan muncul. Mereka tak lagi takut.
Mereka tahu, manusia-manusia kecil ini adalah teman.
Para petani juga mulai mengubah cara bertani. Mereka
menanam pagar alami di pinggir hutan—tanaman berduri yang tak disukai kancil.
Mereka juga menyisihkan sebagian kecil lahan untuk ditanami tanaman yang bisa
dimakan hewan, sebagai "kebun pengalih".
"Kalau hewan kenyang, mereka enggak akan ganggu
kita," kata Pak Wiryo, yang kini jadi salah satu pendukung konservasi
paling vokal.
Suatu sore, anak-anak mendapat kabar mengejutkan. Kancil
Tua terperangkap jerat pemburu liar!
Pemburu dari desa sebelah masuk ke hutan dan memasang jerat
di beberapa tempat. Kancil Tua yang selalu waspada, kali ini lengah. Jerat itu
melukai kakinya.
Anak-anak panik. Mereka lapor Pak Sapto. Tim segera
berangkat ke hutan.
Setelah mencari berjam-jam, mereka menemukan Kancil Tua. Ia
terbaring di bawah pohon, kaki terlilit jerat. Darah mengering di sekitarnya.
"Kancil! Kita datang!" teriak Raka.
Kancil Tua membuka mata. Matanya sayu, penuh sakit. Tapi
saat melihat anak-anak, ada kilatan di matanya—kilatan yang familiar. Kilatan
kecerdikan.
Drh. Widi segera melepas jerat, membersihkan luka.
"Untung enggak terlalu dalam. Tapi harus dirawat."
Saat mereka bersiap membawa Kancil Tua ke posko, tiba-tiba
dari balik semak, muncul tiga pria dengan parang. Pemburu liar!
"Hei, itu kancil kami! Biarin!" teriak salah
satu.
"Ini hewan liar, bukan milik siapa-siapa!" balas
Pak Sapto tegang.
Suasana memanas. Pemburu itu mendekat, mengancam. Anak-anak
ketakutan.
Tapi tiba-tiba, Kancil Tua yang tadi terlihat lemah,
bangkit. Ia berdiri, menatap para pemburu dengan tatapan tajam. Lalu, dengan
gerakan cepat, ia berlari—pura-pura lemah tadi hanya tipuan.
Para pemburu terkejut. Mereka mengejar, tapi Kancil Tua
terlalu lincah. Ia berlari ke dalam hutan, menghilang.
"Itu... itu kancil pura-pura sakit!" umpat salah
satu pemburu.
Mereka marah, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya
pergi.
Anak-anak dan tim tercengang. Kancil Tua, meski terluka,
masih punya akal untuk menipu. Ia sengaja berpura-pura lemah agar para pemburu
lengah, lalu kabur saat mereka mendekat.
"Kancil itu... dia nyalamin kita," kata Jaka tak
percaya. "Dia tahu kita dalam bahaya, jadi dia lari narik perhatian
mereka."
Pak Sapto mengangguk. "Kecerdikan terakhir. Dia
mengorbankan dirinya demi kalian."
Mereka mencari Kancil Tua, tapi tak ketemu. Bekas darah
terlihat di beberapa tempat, lalu menghilang.
Sepanjang malam, anak-anak gelisah. Mereka tak tahu nasib
Kancil Tua.
Pagi harinya, saat mereka kembali ke tempat kejadian,
mereka menemukan sesuatu. Di bawah pohon besar, Kancil Tua terbaring. Luka di
kakinya tampak lebih parah. Tapi ia masih hidup. Ia menatap mereka dengan mata
sayu, lalu mengangkat kepala sedikit. Seperti berkata: maaf, aku sudah
mengecewakan kalian.
Anak-anak menangis. Tapi kali ini bukan sedih—melainkan
haru. Kancil Tua selamat. Ia kembali.
Dengan hati-hati, mereka membawanya ke posko. Kali ini,
Kancil Tua tak melawan. Ia tahu, anak-anak ini adalah penyelamatnya.
EPILOG
Dua tahun kemudian...
Desa Bojong Sari berubah. Bukan secara fisik—rumah-rumah
masih sama, sawah masih sama, hutan Manoreh masih menjulang di belakang. Tapi
cara pandang warganya berubah total.
Di pinggir hutan, sebuah plakat kayu berdiri. Bertuliskan:
"Kawasan Ramah Satwa Bojong Sari"
Diresmikan oleh Tim Penyelidik Cilik
Bersama Kawanan Kancil Manoreh
Setiap minggu, anak-anak desa—yang kini bertambah
banyak—berkumpul di pos konservasi. Mereka belajar tentang hewan, tentang
hutan, tentang keseimbangan alam. Dan sesekali, kawanan kancil muncul dari
balik semak, minum di tempat yang sama, lalu pergi.
Kancil Tua masih hidup. Bulunya mulai memutih, tanduknya
semakin besar dan bercabang. Ia tak pernah lagi masuk ke desa. Tapi setiap kali
anak-anak datang ke hutan, ia selalu ada. Duduk agak jauh, mengawasi. Seperti
kakek tua yang menjaga cucu-cucunya.
Raka kini duduk di bangku SMP di kecamatan. Tapi setiap
akhir pekan, ia pulang. Bergabung dengan Tim Penyelidik Cilik yang kini punya
anggota baru—adik-adik kelasnya.
Jaka akhirnya punya tas baru. Dibeli dari uang hasil panen
mentimun yang melimpah—karena tak ada lagi serangan kancil. Tapi tas itu tak
pernah ia pakai ke hutan. Katanya, sayang kalau kotor.
Wulan tumbuh jadi gadis kecil yang pintar bercerita. Ia
sering mendongeng untuk anak-anak desa tentang petualangan mereka dengan
kancil. Tentang bagaimana hewan kecil itu mengajarkan arti persahabatan dan
kepercayaan.
Doni tetap gemuk dan ceria. Kini ia jadi juru masak utama
setiap ada kegiatan konservasi. Masakannya—nasi liwet dengan lauk
sederhana—selalu ludes diserbu.
Sari melanjutkan sekolah ke kota, bakat menggambarnya
membawanya ke sekolah seni. Tapi ia selalu pulang saat libur, membawa
sketsa-sketsa baru tentang hutan dan penghuninya.
Amir memilih tetap di Bojong Sari. Anak kota itu kini lebih
desa dari orang desa. Ia bisa membedakan jejak kancil dan jejak kijang, tahu
nama-nama pohon, hafal setiap sudut hutan Manoreh.
Suatu senja, Raka duduk di beranda Kakek Darmo. Kakek kini
sudah sangat tua, hampir 90 tahun. Tapi matanya masih tajam, pikirannya masih
jernih.
"Kakek," kata Raka. "Menurut Kakek, siapa
yang paling cerdik dalam cerita ini? Kancil atau kita?"
Kakek Darmo tertawa pelan. Pipa di tangannya sudah lama
mati, tapi tetap setia di bibir.
"Cerdik itu bukan soal siapa yang menang, Nduk. Cerdik
itu soal bisa bertahan hidup tanpa merugikan yang lain. Kancil cerdik karena
mereka bisa beradaptasi. Kalian cerdik karena kalian mau belajar. Kakek pikir,
kalian sama-sama cerdik."
"Tapi kalau harus pilih satu?"
Kakek menatap jauh ke arah hutan Manoreh yang mulai
diselimuti kabut senja. Di kejauhan, seekor kancil dengan tanduk besar duduk di
pinggir hutan, menatap balik ke arah desa.
"Kakek pilih kancil," jawab Kakek akhirnya.
"Karena dia yang pertama kali mau percaya sama kalian. Padahal kalian
manusia, yang biasanya jadi musuhnya. Itu butuh kecerdikan luar biasa."
Raka tersenyum. Ia setuju.
Di kejauhan, Kancil Tua berdiri. Menatap desa Bojong Sari
yang tenang di kaki Manoreh. Lalu perlahan, ia berbalik dan masuk ke dalam
hutan. Menghilang di antara pepohonan, seperti biasa.
Tapi sebelum benar-benar hilang, ia menoleh sekali lagi.
Mengangguk pelan. Lalu pergi.
Meninggalkan pesan yang tak pernah usang: bahwa alam dan
manusia bisa hidup berdampingan. Bahwa kecerdikan bukan monopoli satu spesies.
Dan bahwa anak-anak, dengan hati bersih mereka, seringkali bisa melakukan apa
yang orang dewasa gagal lakukan.
Di Bojong Sari, cerita tentang kancil cerdik itu akan terus
hidup. Diceritakan turun-temurun. Dari kakek ke cucu, dari ibu ke anak. Tentang
bagaimana seekor hewan kecil mengajarkan seluruh desa arti hidup berdampingan.
Dan di hutan Manoreh, kawanan kancil masih hidup bebas.
Kadang-kadang, di malam terang bulan, mereka datang ke pinggir hutan. Duduk di
sana, memandangi desa yang tenang. Seperti mengingatkan:
"Kami di sini. Kami teman kalian."
-TAMAT-












