Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 22 Februari 2026

Cerpen Si Amat Episode 6; Penyerahan LKPJ Kepada BPD

 

Cerpen Si Amat Episode 6; Penyerahan LKPJ Kepada BPD

Pendopo Kantor Desa Awan Biru siang itu tampak khidmat namun tetap hangat. Di atas meja utama terletak dokumen tebal bercover hijau bertuliskan Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (LKPJ) TA 2025. Di sampingnya, ringkasan grafik realisasi APBDes, dokumentasi kegiatan, serta print out infografis yang sebelumnya telah dipublikasikan melalui website desa sebagai bentuk ILPPD kepada masyarakat.

Si Amat sibuk memeriksa kameranya dengan wajah serius namun penuh semangat, memutar lensa perlahan untuk memastikan fokusnya tajam dan pencahayaan di pendopo cukup terang. Sesekali ia mengecek hasil jepretan sebelumnya di layar kecil kamera, lalu mengangguk puas sebelum kembali mengatur posisi berdiri agar sudut pengambilan gambar terlihat lebih proporsional dan momen penting penyerahan laporan bisa terekam dengan jelas serta layak ditampilkan di website desa.

“Pak Kades, nanti pas penyerahan buku Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (LKPJ )  jangan terlalu cepat ya. Saya butuh tiga detik buat fokus,” katanya serius.

Kades Iwan mengangguk pelan.
“Tenang, Mat. Ini laporan tahunan, bukan lomba lari.”

Kepala Desa Iwan membuka rapat penyerahan LKPJ dengan sikap tenang dan penuh wibawa, berdiri di hadapan Ketua dan anggota BPD serta para undangan yang hadir di pendopo desa. Dengan suara jelas dan terukur, ia menyampaikan bahwa rapat tersebut merupakan bagian dari kewajiban konstitusional Pemerintah Desa dalam menyampaikan Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun Anggaran 2025 sebagai bentuk akuntabilitas dan transparansi kepada BPD. Ia menegaskan bahwa LKPJ bukan sekadar laporan administratif, melainkan cerminan tanggung jawab moral dan profesional atas pelaksanaan APBDes selama satu tahun, sekaligus ruang evaluasi bersama demi perbaikan tata kelola pemerintahan desa ke depan.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Ketua dan Anggota BPD Desa Awan Biru, para perangkat desa, pendamping desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta seluruh undangan yang berkenan hadir. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul pada hari ini dalam rangka penyampaian Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun Anggaran 2025 Kepada Badan Permusyawaratan Desa ( BPD ) Desa Awan Biru dalam keadaan sehat dan penuh semangat kebersamaan.”

Dalam paparannya, Kades Iwan menyampaikan LKPJ dengan runtut dan sistematis, dimulai dari gambaran umum kondisi desa selama Tahun Anggaran 2025 hingga capaian program di setiap bidang penyelenggaraan pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa pada bidang pemerintahan, fokus diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan administrasi dan penataan arsip desa agar lebih tertib dan responsif. Pada bidang pembangunan, ia memaparkan realisasi peningkatan jalan desa, penguatan sarana Perpustakaan Desa, serta dukungan terhadap program ketahanan pangan hewani berupa ternak bebek petelur yang telah memberikan dampak ekonomi bagi kelompok masyarakat.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa seluruh pelaksanaan kegiatan telah mengacu pada APBDes TA 2025 yang disepakati bersama, dengan realisasi anggaran yang terukur dan sesuai prioritas. Ia juga menyampaikan bahwa laporan LPPD telah dikirimkan kepada Bupati melalui Camat tepat waktu, serta informasi penyelenggaraan pemerintahan desa telah dipublikasikan kepada masyarakat melalui musyawarah desa, papan informasi, dan website desa sebagai bentuk transparansi. Di akhir paparannya, Kades Iwan menekankan bahwa LKPJ ini bukan hanya kewajiban administratif, melainkan wujud komitmen Pemerintah Desa Awan Biru dalam menjaga akuntabilitas, meningkatkan kualitas tata kelola, dan membangun kepercayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Ketua BPD, Didit, memberikan kata sambutan  dengan suara tenang.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, Pemerintah Desa wajib menyampaikan LKPJ kepada BPD paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. Hari ini kita akan menerima laporan tersebut sebagai bagian dari fungsi pengawasan BPD.”

Kades Iwan berdiri melanjutkan agenda  penyerahan dokumen LKPJ kepada Ketua BPD.
“Terima kasih Ketua BPD dan seluruh anggota. LKPJ TA 2025 ini merupakan bentuk pertanggungjawaban kami atas penyelenggaraan pemerintahan desa selama satu tahun, meliputi bidang pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Penanggulangan Bencana , Mendesak Desa”

Ia mengangkat dokumen tersebut. Kamera Amat berbunyi cepat.

“Klik… klik… ya bagus, Pak. Ekspresinya seperti kepala desa yang anggarannya sehat,” celetuk Amat pelan.

Beberapa perangkat desa tersenyum menahan tawa, saling melirik satu sama lain ketika suasana rapat yang semula tegang mendadak mencair oleh celetukan ringan yang terlontar di sela pembahasan laporan. Ada yang menunduk pura-pura serius sambil merapikan berkas di hadapannya, ada pula yang berdeham pelan untuk menyamarkan senyum yang hampir pecah menjadi tawa. Namun tetap saja, sorot mata mereka memancarkan keakraban dan kebanggaan atas capaian yang dipaparkan. Di balik sikap profesional yang mereka jaga, terselip rasa lega karena kerja keras selama satu tahun anggaran akhirnya sampai pada tahap pertanggungjawaban yang terbuka dan harmonis.

Kades Iwan melanjutkan,
“Dalam TA 2025, fokus pembangunan kita meliputi peningkatan jalan desa sepanjang 850 meter, operasional dan penguatan literasi melalui Perpustakaan Desa, serta program ketahanan pangan hewani berupa pengembangan ternak bebek petelur. Dari sisi tata kelola, kami juga meningkatkan pelayanan administrasi berbasis digital dan transparansi publik melalui website desa.”

Sekdes Yuni menambahkan penjelasan teknis.
“LPPD telah kami sampaikan kepada Bupati melalui Camat tepat waktu. Sementara ILPPD kepada masyarakat kami lakukan melalui Musyawarah Desa dan media informasi, termasuk infografis realisasi APBDes yang dipasang di papan publik dan website.”

Ketua BPD Didit membuka beberapa halaman laporan dengan gerakan tenang dan penuh perhatian, jemarinya menyibakkan lembar demi lembar dokumen tebal itu sambil sesekali mengangguk kecil. Sorot matanya menyusuri angka-angka dan uraian program dengan saksama, berhenti sejenak pada bagian realisasi anggaran dan capaian kegiatan yang dianggap strategis. Ia menyesuaikan posisi kacamatanya, lalu menandai beberapa poin penting menggunakan pena di tangannya, menunjukkan keseriusan sekaligus tanggung jawab dalam menjalankan fungsi pengawasan. Suasana ruangan pun menjadi hening penuh hormat, hanya terdengar bunyi halus kertas yang dibalik, menandakan bahwa setiap halaman laporan benar-benar dicermati sebelum diberikan tanggapan resmi.
“Bagaimana dengan capaian realisasi anggaranya ?” Tanya ketua BPD

Lulu, Kaur Keuangan, menjawab mantap.
“Realisasi pendapatan dan belanja desa mencapai 100 persen. Seluruh pengeluaran sesuai prioritas dan pagu yang ditetapkan. Pajak dan kewajiban lainnya sudah disetor tepat waktu. Dokumen SPJ lengkap dan terdokumentasi.”

Didit mengangguk.
“Baik. BPD mengapresiasi kedisiplinan administrasi. Namun kami ingin menanyakan, bagaimana dampak langsung program ketahanan pangan terhadap kelompok penerima manfaat?”

Kaur Kesra Hengki menjawab,
“Program ternak bebek petelur sudah menghasilkan produksi rata-rata 70–80 persen dari populasi aktif. Hasilnya membantu tambahan pendapatan kelompok dan menjadi percontohan bagi dusun lain.”

Santoso, perwakilan masyarakat, ikut angkat suara.
“Sebagai warga, kami melihat perubahan nyata. Jalan desa memudahkan akses hasil panen. Perpustakaan juga mulai ramai anak-anak.”

Pak Eko menambahkan dengan nada reflektif.
“Memang masih ada yang perlu diperbaiki, terutama dalam peningkatan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan. Itu menjadi catatan kami untuk tahun berikutnya.”

Didit kemudian menyampaikan tanggapan resmi BPD.
“Secara umum, BPD menilai penyelenggaraan pemerintahan Desa Awan Biru TA 2025 berjalan baik dan sesuai regulasi. Kami akan menyampaikan rekomendasi tertulis sebagai bahan perbaikan, khususnya pada penguatan evaluasi internal dan optimalisasi partisipasi masyarakat.”

Babinkamtibmas tersenyum.
“Yang penting komunikasi tetap lancar. Kalau komunikasi baik, setengah masalah selesai.”

Amat yang sedang mengambil foto dari sudut kiri berkomentar,
“Pak Ketua, boleh sedikit rapat ke tengah? Biar sinerginya kelihatan di foto.”

Didit tertawa kecil.
“Ini baru namanya dokumentasi partisipatif.”

Kades Iwan kemudian menutup dengan nada serius namun hangat.
“LKPJ ini bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk komitmen kami untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Tanpa pengawasan BPD dan partisipasi warga, pemerintahan desa tidak akan berjalan optimal.”

Semua mengangguk setuju.

Didit berdiri dan menerima dokumen secara simbolis.
“Dengan ini, BPD menerima LKPJ TA 2025 Pemerintah Desa Awan Biru untuk dibahas dan diberikan rekomendasi sebagaimana mestinya.”

Tepuk tangan terdengar memenuhi pendopo.

Amat berdiri di depan, mengangkat kameranya tinggi.
“Baik, semua senyum! Ini momen akuntabilitas. Jangan ada yang berkedip, nanti transparansinya kurang tajam!”

Tawa ringan kembali mengisi ruangan ketika suasana yang sempat khidmat berubah hangat oleh selipan humor yang cerdas dan tidak berlebihan. Beberapa perangkat desa saling berpandangan sambil tersenyum, bahkan Ketua BPD Didit pun tak kuasa menahan senyum tipisnya setelah mendengar celetukan santai yang tetap relevan dengan pembahasan laporan. Gelak itu bukan sekadar candaan, melainkan tanda kedekatan dan kebersamaan yang telah terbangun selama proses kerja satu tahun anggaran. Di balik tawa tersebut, terselip rasa syukur karena rapat pertanggungjawaban berjalan terbuka, transparan, dan penuh rasa saling menghargai, sehingga forum resmi pun terasa lebih humanis tanpa kehilangan wibawanya.

Setelah acara selesai, Amat duduk di sudut pendopo membuka laptopnya. Ia mulai mengetik dengan penuh semangat:

“Penyerahan LKPJ TA 2025: Wujud Akuntabilitas dan Sinergi Pemerintah Desa Awan Biru bersama BPD.”

Ia menatap hasil fotonya dan tersenyum puas.

“Kalau laporan sudah disampaikan, rekomendasi sudah diterima, dan dokumentasi sudah diunggah… berarti bukan cuma administrasi yang tertib,” gumamnya pelan, “tapi kepercayaan juga terjaga.”

Pendopo sore itu terasa hangat, bukan hanya karena sinar matahari yang masuk dari sela jendela, tetapi karena rasa tanggung jawab yang ditunaikan bersama.

Sabtu, 21 Februari 2026

Cerpen Si Amat Episode 5: “Monitoring Anggaran TA 2025”

 Cerpen Si Amat Episode 5: “Monitoring Anggaran TA 2025”

Pendopo Kantor Desa Awan Biru pagi itu tampak lebih rapi dari biasanya, seolah-olah setiap sudutnya ikut bersiap menghadapi momen penting. Map-map tebal tersusun berjejer rapi di atas meja panjang, lengkap dengan pembatas warna-warni yang menandai SPJ dan laporan realisasi, sementara beberapa laptop sudah menyala menampilkan file laporan keuangan yang siap dipresentasikan. Di belakang kursi pimpinan, banner bertuliskan Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Keuangan Desa TA 2025 tergantung gagah, menegaskan bahwa hari itu bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan agenda resmi yang sarat tanggung jawab dan penuh makna bagi tertib administrasi desa.

Ketua BPD, Didit, berbisik pelan ke Kades Iwan.
“Pak, suasananya kayak mau ujian nasional ya.”

Kades Iwan tersenyum tipis.
“Memang ujian, Pak Didit. Bedanya ini yang dinilai bukan murid, tapi administrasi kita.”

Tim Monev dari kecamatan dipimpin Sekcam Kurnia, SP, duduk dengan map evaluasi di tangan.
“Baik, Bapak Ibu,” ujar Sekcam Kurnia dengan suara tenang namun tegas, “Monitoring ini bagian dari fungsi pembinaan dan pengawasan. Tujuannya memastikan penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa tertib administrasi, tepat sasaran, dan sesuai regulasi.”

Lulu, Kaur Keuangan, langsung merapikan tumpukan SPJ di depannya.
“Siap, Pak. SPJ lengkap, bukti transfer ada, pajak sudah disetor. Kalau kurang, tinggal doa saja,” gumamnya pelan.

Amat yang sejak tadi sibuk mengatur kamera langsung menimpali,
“Bu Lulu, jangan tegang. Nanti saya ambil fotonya pas lagi senyum biar kelihatan administrasinya lancar.”

Semua tersenyum kecil, senyum tipis yang muncul bersamaan seperti tanda bahwa ketegangan mulai mencair perlahan. Ada yang saling melirik penuh arti, ada pula yang mengangguk pelan sambil merapikan berkas di depannya, seolah ingin memastikan bahwa suasana tetap santai meski agenda yang dibahas cukup serius.

Pendamping Desa Heru membuka salah satu berkas.
“Yang penting bukan cuma lengkap, tapi juga sinkron antara realisasi fisik dan laporan keuangan.”

Pak Eko, Kaur Perencanaan, mengangguk.
“RAB sesuai, progres fisik sudah 100 persen untuk jalan desa dan perpustakaan. Tinggal laporan narasinya yang harus diperjelas.”

Sekcam Kurnia menambahkan,
“Perlu diingat, hasil Monev ini juga menjadi salah satu syarat pencairan DD dan ADD Tahun 2026. Jadi jangan sampai ada yang menganggap ini formalitas.”

Babinsa tersenyum santai.
“Kalau formalitas, biasanya yang gugup cuma yang salah.”

Ruangan mendadak hening, seakan semua orang menahan napas sesaat mencerna kalimat yang baru saja terlontar, sebelum akhirnya suasana pecah oleh tawa ringan yang menyebar dari barisan depan hingga ke kursi paling belakang. Ketegangan yang sempat menggantung pun luruh, berganti dengan rasa lega dan kebersamaan yang membuat forum terasa lebih akrab dan manusiawi.

Setelah pemeriksaan administrasi, rombongan bergerak ke lapangan. Amat berjalan mundur sambil merekam video.

“Mat, hati-hati! Jangan sampai monitoring berubah jadi evakuasi,” teriak Endang.

Di lokasi jalan desa yang baru diaspal, Sekcam Kurnia memeriksa ketebalan permukaan.
“Ini sesuai spesifikasi?”

Pak Eko cepat menjawab,
“Sesuai RAB, Pak. Panjang, lebar, dan volume sudah diverifikasi.”

Santoso, perwakilan warga, ikut nimbrung.
“Sekarang kalau hujan, motor nggak lagi joget-joget, Pak. Sudah mulus.”

Amat langsung mengarahkan kamera.
“Pak Santoso, ulangi kalimatnya. Bagus buat testimoni website.”

Semua kembali tertawa, kali ini lebih lepas dan tanpa beban, seolah candaan kecil itu menjadi jeda yang menyegarkan di tengah pembahasan yang cukup serius. Beberapa bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum, membuat suasana rapat terasa hangat dan penuh keakraban.

Rombongan lanjut ke Bangunan Perpustakaan Desa. Gedungnya sederhana namun bersih.

Sekdes Yuni berkata bangga,
“Ini bukan cuma bangunan, tapi investasi literasi.”

Tim Monev mengangguk puas.
“Administrasi dan fisiknya sinkron. Ini contoh baik.”

Amat sibuk memotret dari berbagai sudut.
“Pak Kades, berdiri dekat rak buku. Biar kelihatan visioner.”

Kades Iwan menatap kamera.
“Visioner boleh, asal anggarannya realistis.”

Terakhir, mereka menuju lokasi Ketahanan Pangan Hewani: kandang bebek petelur yang ramai suara “kwek-kwek”.

Babinkamtibmas bercanda,
“Ini kalau bebeknya ikut Monev, pasti lulus. Produktif semua.”

Pendamping Desa Heru mencatat produksi telur harian.
“Program ini bagus untuk peningkatan ekonomi kelompok.”

Lulu menghitung cepat di buku kecilnya.
“Yang penting hasilnya jelas, supaya tidak cuma ‘bebeknya yang ramai, laporannya sepi’.”

Amat mengambil foto bebek yang bergerombol.
“Ini angle bagus. Judulnya nanti: ‘Bebek Produktif, Desa Progresif.’”

Kades Iwan menggeleng sambil tersenyum.
“Mat, jangan terlalu kreatif. Tetap sesuai fakta.”

Kembali ke pendopo, Sekcam Kurnia menyampaikan penutup dengan suara tenang namun penuh penegasan, merangkum hasil monitoring hari itu secara sistematis dan jelas. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam tertib administrasi serta kesinambungan antara laporan dan pelaksanaan fisik, sambil mengapresiasi kerja sama seluruh pihak yang telah menjaga akuntabilitas pengelolaan keuangan desa.

“Secara umum, administrasi dan pelaksanaan fisik Desa Awan Biru baik. Ada beberapa catatan kecil untuk perbaikan, tapi secara prinsip sudah sesuai regulasi.”

Ruangan terasa lega, seperti beban tak kasatmata yang perlahan terangkat dari pundak masing-masing setelah rangkaian evaluasi selesai dilalui. Wajah-wajah yang tadi tegang kini tampak lebih santai, beberapa bahkan menarik napas panjang sambil tersenyum tipis, menikmati suasana yang kembali ringan dan penuh rasa syukur.

Didit menepuk meja pelan.
“Alhamdulillah. Berarti kita siap menuju pencairan 2026.”

Amat mengangkat kamera untuk foto terakhir.
“Semua senyum ya! Ini bukti bahwa monitoring bukan untuk ditakuti, tapi untuk memastikan desa kita makin tertib dan maju.”

Kades Iwan menambahkan,
“Betul. Monitoring bukan mencari kesalahan, tapi memastikan kita berjalan di jalur yang benar.”

Setelah foto diambil, Amat langsung membuka laptopnya.

Judul berita sudah ia ketik dengan penuh semangat:
“Monitoring Anggaran TA 2025: Tertib Administrasi, Siap Menuju 2026.”

Ia menyeruput kopi yang mulai dingin dan berbisik pelan,
“Kalau administrasi rapi dan dokumentasi lengkap… yang tenang bukan cuma tim monev, tapi juga admin website.”

Pendopo kembali dipenuhi tawa ringan yang mengalun santai di antara deretan kursi dan meja yang mulai dirapikan, menjadi penutup yang manis setelah rangkaian monitoring yang cukup menegangkan. Rasa lega bercampur bangga terpancar dari wajah para perangkat desa, seolah mereka sepakat bahwa kerja keras menjaga administrasi dan pelaksanaan program akhirnya terbayar dengan hasil yang membanggakan, menutup Episode 5 dengan suasana hangat penuh optimisme.

Cerpen Si Amat Episode 4: Musdes Penetapan APBDes TA 2026

 Cerpen Si Amat Episode 4: Musdes Penetapan APBDes TA 2026

Pendopo Kantor Desa Awan Biru tampak lebih ramai dari biasanya. Kursi tersusun rapi, spanduk bertuliskan Musyawarah Desa Penetapan APBDes TA 2026 terbentang di belakang meja pimpinan sidang. Hadir lengkap perangkat desa, Santoso mewakili masyarakat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, PLD, lembaga desa, hingga tim kecamatan yang dipimpin Kurnia, SP. Di meja depan duduk Didit selaku Ketua BPD yang membuka musyawarah.

Didit mengetuk mikrofon pelan.
“Bismillahirrahmanirrahim… Musyawarah Desa Penetapan APBDes Tahun Anggaran 2026 secara resmi kita buka. Semoga tidak ada yang ‘walk out’ sebelum makan siang.”

Beberapa hadirin tersenyum, suasana yang tadinya kaku perlahan mencair oleh celetukan ringan yang masih terngiang di antara derit kursi kayu. Di sudut ruangan, Amat sibuk mengatur tripod kecil dan memeriksa angle kamera, sesekali berjongkok lalu berdiri lagi demi memastikan wajah para peserta rapat tertangkap jelas tanpa terpotong kipas angin tua di langit-langit. Matanya menyipit penuh konsentrasi, tangannya cekatan merapikan posisi lensa, seolah momen Musdes hari itu bukan sekadar rapat anggaran, melainkan peristiwa penting yang layak diabadikan dengan framing terbaik untuk menghiasi beranda website Desa Awan Biru.

Kepala Desa, Iwan, berdiri dengan map tebal di tangan.
“Bapak Ibu sekalian, kita semua tahu tahun ini dana desa kita kurang dari tiga ratus juta rupiah karena adanya Program Nasional KDMP yang wajib dilaksanakan. Jadi kita harus realistis, jangan semua mau dibangun, kecuali mau bangun mimpi saja.”

Tawa kecil terdengar.

Sekcam Kurnia, SP, kemudian maju memberikan paparan.
“Penetapan APBDes bukan sekadar formalitas, tapi komitmen hukum dan moral. Harus sesuai regulasi, transparan, dan tepat sasaran. Kalau anggaran kecil, justru perencanaannya harus besar.”

Pak Eko, Kaur Perencanaan, mengangguk mantap.
“Siap, Pak Sekcam. Prioritas sudah kami susun berdasarkan hasil pra-musdes. Dua program utama: pembangunan jembatan penghubung batas desa dan peningkatan jalan desa.”

Santoso, perwakilan masyarakat, angkat tangan.
“Mohon izin, Pak. Usulan jembatan antar desa itu sudah lama dinanti warga. Kalau musim hujan, anak sekolah mutarnya bisa sampai lima kilometer.”

Kades Iwan mengangguk serius.
“Betul, Pak Santoso. Karena itu jembatan jadi prioritas. Tapi pelaksanaannya harus profesional. Kita rencanakan pembentukan TPK antar desa agar koordinasinya jelas.”

Pendamping Desa, Heru, menimpali,
“Setuju, Pak. TPK antar desa penting supaya tidak ada tumpang tindih kewenangan. Administrasi dan laporan harus rapi. Jangan sampai jembatan berdiri, tapi SPJ-nya tenggelam.”

Suasana kembali hangat dengan tawa ringan yang menyebar dari barisan depan hingga ke kursi paling belakang, membuat ketegangan pembahasan angka-angka anggaran terasa lebih manusiawi dan akrab. Beberapa peserta saling berbisik sambil tersenyum, ada yang menepuk meja pelan, ada pula yang mengangguk setuju dengan wajah lebih santai, seakan rapat resmi itu berubah menjadi ruang kebersamaan yang penuh rasa memiliki terhadap masa depan desa.

Kaur Keuangan, Lulu, membuka buku anggaran tebalnya.
“Dengan dana di bawah tiga ratus juta, kita hanya mampu dua prioritas itu. Untuk penanganan stunting, kita pakai PAD dan sisa dana desa. Tapi mohon dicatat, jangan tiap rapat tambah kegiatan lagi. Nanti yang pusing saya.”

Endang, Kasi Pelayanan, tersenyum.
“Yang penting pelayanan tetap jalan, Bu Lulu. Jangan sampai warga datang minta surat, malah disuruh ikut kerja bakti jembatan.”

Tiba-tiba Amat berdiri di tengah-tengah mengambil foto.
“Bapak Ibu, senyum dulu ya. Ini buat dokumentasi website desa. Jangan tegang, nanti dikira rapat penangkapan koruptor.”

Babinsa tertawa lebar.
“Kalau saya kelihatan galak nggak, Mat?”

“Tenang, Pak. Nanti saya edit jadi ramah lingkungan,” jawab Amat cepat.

Ketua BPD Didit berpose terlalu serius.
“Pak Ketua, jangan kaku begitu. Ini musdes, bukan foto ijazah.”

Ruangan kembali riuh, suara saling sahut bercampur dengan derak kursi yang digeser dan gumaman setuju dari berbagai sudut balai desa. Beberapa tangan terangkat ingin menanggapi, sementara yang lain mengangguk-angguk penuh semangat, membuat suasana terasa hidup namun tetap terarah. Di tengah keramaian itu, aura musyawarah tetap terasa kuat—bukan sekadar perdebatan, melainkan tanda bahwa setiap orang benar-benar peduli pada keputusan yang sedang dirumuskan bersama.

Setelah diskusi panjang dan terbuka, Kades Iwan berdiri untuk penetapan akhir.
“Dengan mempertimbangkan regulasi, hasil pra-musdes, dan kemampuan keuangan desa, maka hari ini APBDes Tahun Anggaran 2026 resmi kita tetapkan. Fokus pada pembangunan Jembatan Batas Desa dan Peningkatan Jalan Desa, serta dukungan penanganan stunting dari PAD dan sisa dana desa.”

Didit mengetuk palu sidang.
“Disetujui?”

“Setujuuu…” jawab hadirin serempak.

Amat buru-buru mengambil foto terakhir.
“Pak Kades, satu lagi. Angkat map-nya sedikit, biar kelihatan resmi.”

Kades Iwan berbisik pelan,
“Mat, jangan lupa tulis di website, ‘Musdes berjalan demokratis dan penuh semangat kebersamaan’.”

Amat menyeringai.
“Siap, Pak. Tambah satu kalimat lagi: ‘Walau anggaran tipis, semangat tetap tebal.’”

Lulu geleng-geleng kepala.
“Yang penting jangan tambah anggaran lagi di berita, Mat.”

Musdes pun ditutup dengan tepuk tangan meriah yang menggema memenuhi balai desa, menyisakan rasa lega dan bangga atas keputusan yang telah disepakati bersama. Di layar laptopnya, Amat sudah mulai mengetik judul berita dengan jari-jari yang bergerak cepat namun penuh kehati-hatian, memastikan setiap kata terdengar resmi, informatif, dan membanggakan. Sesekali ia mengangkat wajahnya, memandangi ruangan yang perlahan lengang, lalu kembali fokus merangkai kalimat pembuka untuk diunggah ke website desa, seolah ia tahu bahwa dokumentasi hari ini akan menjadi catatan penting perjalanan Desa Awan Biru di tahun anggaran 2026.

Di layar laptopnya, Amat sudah mulai mengetik judul berita:
“APBDes 2026 Resmi Ditetapkan: Jembatan Harapan Warga Awan Biru Segera Dibangun.”

Ia tersenyum puas.
“Kali ini,” gumamnya pelan, “yang viral bukan cuma kopi… tapi kerja nyata.”

Cerpen Si Amat Episode 3; Peran Perangkat Desa dalam Meningkatkan Visibilitas Website Desa

 Cerpen Si Amat Episode 3; Peran Perangkat Desa dalam Meningkatkan Visibilitas Website Desa

 


Pagi di Kantor Desa Awan Biru terasa berbeda dari biasanya; bukan lagi sunyi penuh kehati-hatian seperti saat kata “efisiensi” dulu menggema di ruang rapat dan membuat semua orang menghitung ulang setiap rupiah, melainkan lebih hidup, lebih bersemangat, seolah ada energi baru yang berembus dari pendopo hingga ruang pelayanan. Udara masih segar dengan aroma kopi dapur yang mengepul pelan, suara ketikan keyboard terdengar bersahutan, dan beberapa perangkat desa tampak sibuk membuka laptop lebih awal dari biasanya. 

Jika sebelumnya pembicaraan didominasi soal pemangkasan anggaran dan prioritas pembangunan fisik, kali ini topik yang ramai diperbincangkan terdengar lebih modern dan sedikit bergengsi: Visibilitas Website Desa. Istilah itu meluncur dari mulut ke mulut dengan nada penasaran sekaligus antusias, seakan-akan Desa Awan Biru sedang bersiap melangkah ke panggung yang lebih luas, bukan hanya melayani warga di balai desa, tetapi juga tampil di layar ponsel, di mesin pencari, dan di hadapan siapa saja yang ingin mengenal potensi desa. 

Papan tulis di ruang rapat kini tidak lagi dipenuhi angka-angka anggaran semata, melainkan coretan ide konten, rencana publikasi kegiatan, hingga gagasan melibatkan pemuda sebagai kontributor. Suasana yang dulu sempat kaku kini berubah menjadi diskusi yang lebih terbuka dan penuh harapan, karena semua mulai menyadari bahwa membangun desa tidak hanya soal jalan dan bangunan, tetapi juga tentang bagaimana desa itu terlihat, dikenal, dan dipercaya melalui jendela digital bernama website desa.

Spanduk kecil hasil cetakan Si Amat terpasang miring di papan pengumuman:

“Website Desa Awan Biru: Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Warga dan Dunia.”

Di ruang rapat, kopi sudah mengepul. Sekdes Yuni membuka agenda. Kaur Keuangan Lulu membawa buku kas seperti biasa. Kasi Pelayanan Endang sibuk merapikan berkas pelayanan. Dan hadir pula Kaur Perencanaan, Pak Eko—yang usianya paling senior, rambutnya mulai memutih, tapi semangatnya masih seperti mahasiswa KKN.

Pak Kades Iwan duduk di tengah, wajahnya tenang namun penuh wibawa.

Sementara itu, Si Amat terlihat berbeda. Hari ini ia duduk lebih tegak. Laptopnya terbuka, menampilkan grafik statistik pengunjung website desa yang naik turun seperti harga cabai.

Pak Kades Iwan membuka rapat.

“Baik, kita sudah bicara soal efisiensi. Sekarang kita bicara dampaknya. Website desa harus lebih terlihat. Bukan hanya aktif, tapi berdampak.”

Amat langsung tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat penuh percaya diri. Ia tahu, inilah momen yang selama ini ditunggu-tunggu, kesempatan emas untuk membuktikan bahwa perannya sebagai Admin Website Desa bukan sekadar pelengkap struktur organisasi. Setelah sekian lama menjadi sasaran ledekan soal bimtek dan anggaran, kini justru pembahasan berputar di wilayah yang paling ia kuasai. Matanya berbinar, pikirannya bergerak cepat menyusun argumen, dan dalam hati ia berbisik, “Akhirnya… lapangan mainnya saya.” Lanjut Si Amat berkata:

 “Betul sekali, Pak,” katanya mantap. “Selama ini saya adminnya. Tapi kalau kontennya cuma dari saya, ya ibarat warung cuma jual satu menu”, ujarnya tenang.

Lulu menyeringai kecil, senyum khas yang selalu muncul setiap kali ia melihat Amat terlalu percaya diri. Matanya menyipit jahil, seolah sudah menyiapkan satu kalimat pamungkas untuk menggoda. Tangannya tetap tenang di atas buku catatan anggaran, tapi ekspresinya jelas berkata;

“Loh, bukannya Mas Amat jago nulis? Katanya kreatif?”

Amat membalas cepat,

“Kreatif, Bu. Tapi bukan tukang berita tunggal. Website itu etalase desa. Kalau isinya cuma ‘Perjalanan Dinas Nihil’, warga bisa bosan.”

Endang tertawa.

“Sekarang Mas Amat yang menyerang, ya?”

Pak Eko yang dari tadi diam, angkat suara dengan tenang namun dalam.

“Kalau saya boleh bicara… website itu bukan soal siapa yang menulis, tapi siapa yang peduli. Zaman sekarang, desa yang tidak tampil di internet, seperti tidak hadir di peta.”

Semua terdiam sejenak. Suasana yang tadi riuh mendadak hening, seolah memberi ruang pada makna kalimat Pak Eko yang sederhana namun dalam. Ucapannya terasa berat tapi mengena, seperti pengingat halus bahwa yang mereka bicarakan bukan sekadar website, melainkan masa depan wajah desa di mata dunia.

Yuni mengangguk.

“Maksudnya, semua perangkat harus jadi kontributor?”

Amat langsung menyambar,

“Nah, itu dia! Saya butuh tim. Sekdes bisa tulis kebijakan dan kegiatan. Bu Lulu bisa buat infografis realisasi anggaran. Bu Endang bisa update pelayanan. Pak Eko bisa share perencanaan pembangunan.”

Lulu mengangkat alis.

“Loh, saya jadi content creator sekarang?”

Amat tersenyum lebar.

“Iya, Bu. Bukan cuma penjaga kas, tapi penjaga transparansi.”

Ruangan mulai riuh kembali, suara tawa dan celetukan saling bersahutan memecah keheningan yang tadi sempat menggantung. Kursi-kursi sedikit bergeser, beberapa kepala saling menoleh, dan suasana yang sempat serius berubah hangat penuh semangat. Topik visibilitas itu kini bukan lagi wacana berat, melainkan bahan diskusi yang hidup dan penuh warna.

Pak Kades Iwan menepuk meja pelan.

“Sudah saatnya kita serius. Website desa bukan milik Amat. Itu milik Desa Awan Biru. Saya ingin semua perangkat desa terlibat sebagai kontributor.”

Endang pura-pura menghela napas panjang.

“Wah, sekarang kita yang dibombardir.”

Amat berdiri, semangatnya membuncak.

“Selama ini saya yang diledek soal Bimtek, soal hotel, soal artikel kepanjangan. Sekarang giliran saya yang minta setoran tulisan.”

Yuni tersenyum diplomatis.

“Mas Amat ini balas dendamnya elegan.”

Pak Eko tertawa kecil.

“Bagus itu. Anak muda harus berani. Saya dukung, Mat. Perencanaan desa itu banyak yang bisa dijelaskan ke masyarakat. Supaya warga tahu arah pembangunan.”

Amat mengangguk hormat.

“Terima kasih, Pak Eko. Konten kita nanti bukan cuma berita seremoni, tapi edukasi. Misalnya: kenapa jalan ini diprioritaskan, kenapa program stunting penting, bagaimana dana dikelola.”

Lulu mulai terlihat berpikir.

“Kalau begitu… laporan keuangan bisa kita ringkas jadi bahasa yang mudah dipahami warga.”

“Wah, itu keren, Bu!” sahut Amat cepat. “Namanya transparansi digital.”

Endang ikut menimpali,

“Kalau pelayanan? Saya bisa buat panduan bikin KTP, KK, surat-surat. Jadi warga tidak bolak-balik tanya.”

Amat menunjuk dengan gaya seperti pembawa seminar.

“Itu namanya pelayanan berbasis informasi!”

Semua tertawa serempak, tawa yang lepas dan tanpa beban, membuat suasana rapat yang tadi sempat serius berubah cair seketika. Bahkan yang biasanya menahan diri pun ikut tersenyum lebar, merasakan hangatnya kebersamaan yang sederhana tapi menyenangkan itu.

Pak Eko bersandar, lalu berkata pelan namun tegas,

“Kita ini bukan cuma aparat administrasi. Kita penggerak perubahan. Kalau anak muda desa lihat website aktif, mereka bangga. Mereka merasa desanya maju.”

Kalimat itu membuat suasana hening sejenak.

Pak Kades mengangguk mantap.

“Betul. Bahkan saya ingin libatkan pemuda desa sebagai kontributor tamu. Kegiatan karang taruna, UMKM, potensi wisata—semua masuk.”

Mata Amat berbinar.

“Nah! Itu baru visibilitas, Pak. Mesin pencari akan kenal Desa Awan Biru. Orang luar bisa lihat potensi kita.”

Yuni tersenyum.

“Mas Amat sekarang seperti dosen digital.”

Amat membalas cepat,

“Dulu saya yang minta anggaran. Sekarang saya minta partisipasi.”

SK Pengelola Website Desa pun mulai disebut-sebut dengan nada lebih serius, bukan lagi sekadar wacana yang lewat begitu saja. Kertas konsepnya seolah sudah terbayang di meja, lengkap dengan nama-nama yang akan tercantum di dalamnya. Bagi sebagian yang hadir, itu terdengar seperti langkah kecil, tapi bagi Amat, itu seperti pengakuan resmi atas kerja keras yang selama ini sering dianggap angin lalu.

Pak Kades berdiri.

“Baik. Saya putuskan. Kita bentuk Tim Pengelola Website Desa. Saya akan buatkan SK. Semua perangkat desa menjadi kontributor sesuai bidang masing-masing.”

Lulu berkomentar santai,

“Berarti rapat kita nanti ada target tulisan juga?”

Amat langsung menjawab,

“Betul, Bu. Target konten, bukan cuma target anggaran.”

Endang tertawa.

“Si Amat benar-benar di atas angin hari ini.”

Pak Eko menepuk bahu Amat.

“Gunakan kesempatan ini baik-baik. Bimbing kami yang tidak terlalu paham teknologi.”

Amat tersenyum tulus.

“Siap, Pak. Kita belajar bersama. Tidak ada yang terlalu tua untuk belajar digital.”

Pak Kades menutup rapat dengan kalimat tegas,

“Website desa adalah wajah desa. Kalau wajahnya bersih, informatif, dan aktif, orang akan percaya. Mulai hari ini, kita bukan hanya perangkat desa. Kita juga kontributor perubahan.”

Rapat selesai. Tapi suasana berbeda dari biasanya. Sekdes Yuni mulai mencatat ide tulisan. Lulu membuka laptopnya, mencoba membuat tabel infografis. Endang sibuk memotret ruang pelayanan untuk konten baru. Pak Eko berdiskusi dengan Amat soal rencana pembangunan jangka menengah. Dan Si Amat? Ia duduk di depan laptopnya, kali ini bukan sendirian. Status website hari itu menampilkan artikel baru berjudul:

“Bersama Meningkatkan Visibilitas Website Desa Awan Biru.”

Dalam hati ia berbisik,

“Kalau semua ikut menulis, website ini bukan cuma hidup… tapi berkembang.”

Karena kini ia sadar, Admin yang kuat bukan yang bekerja sendiri, melainkan yang mampu menggerakkan tim. Dan di Kantor Desa Awan Biru, visibilitas bukan lagi soal siapa paling sering online,

tetapi siapa paling peduli untuk berbagi informasi demi kemajuan desa.


Jumat, 20 Februari 2026

Cerpen Si Amat Episode 2; Efisiensi Anggaran

 

Cerpen Si Amat Episode 2; Efisiensi Anggaran

Pagi itu Kantor Desa Awan Biru tampak lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena listrik padam, bukan juga karena wifi lemot. Tapi karena sebuah kata sakral baru saja beredar di grup WhatsApp perangkat desa Awan Biru: EFISIENSI ANGGARAN, sebuah topic cukup menarik untuk dibahas serta sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan dalam pengelolaan anggaran kususnya yang bersumber dari Aloksi Dana Desa ( ADD).

Si Amat, Kasi Pemerintahan sekaligus Admin Website Desa, membaca surat edaran tentang pembatasan perjalanan dinas dan bimbingan teknis (bimtek). Matanya membelalak. Tangannya gemetar bukan karena kopi kurang gula, tapi karena imajinasi tentang hotel, snack box, dan sertifikat berbingkai mulai memudar.

Di meja panjang ruangan itu, sudah hadir Sekdes Yuni, Kaur Keuangan Lulu dengan map tebal bertuliskan “Rasionalisasi”, Kasi Pelayanan Endang yang sibuk men-staples berkas, dan tentu saja Pak Kades Iwan yang terlihat lebih serius dari biasanya.

Amat memecah keheningan, seraya berkata;

“Jadi… benar ini, Pak? Perjalanan dinas dibatasi?” ujarnya dengan nada penasaran

Pak Kades Iwan menatapnya tenang, tidak langsung menjawab pertanyaan Si Amat, Pak Kades Iwan memandang keseluruh ruangan Kantor Desa Awan Biru, dilihatnya semua perangkat desanya telah hadir semua, siap untuk bekerja sesuai dengan arahan dan tupoksinya masing-masing. Sementara Si Amat menunggu jawaban dari Pak Kades Iwan, tak lama kemudian, Pak Kades Iwan berucap;
“Dibatasi, Mat. Bukan dihapus. Kita fokus pada yang prioritas.” Ujarnya tanpa basa basi.

Lulu mengangguk sambil membuka kalkulator, untuk menghitung kemungkinan adanya efisiensi anggaran pada beberapa bidang kegiatan terutama untuk perjalanan dinas maupun bimbingan teknis bagi aparatur pemerintah desa, seraya berkata;
“Betul. Ini bukan lagi zamannya jalan-jalan pakai kata ‘koordinasi’.” Imbuhnya dengan nada santai

Endang tersenyum tipis, sambil melirik Si Amat yang lagi bengong, memikirkan bimbingan teknis untuk pengelolaan website desa, kemungkinan gagal total, imbas dengan adanya efisiensi anggaran. Tak lama berselang Endang menyampaikan pendapatnya:
“Sekarang koordinasi bisa lewat Zoom. Tinggal cari sinyal dan sabar.” Tegasnya

Amat bersandar di kursinya, sambil menatap langit-langit Kantor Desa, sambil membayangkan , semua rencana yang telah digagas untuk Bimtek, sepertinya akan gagal total, apalagi masih banyak program prioritas lainnya yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama dalam pembangunan infrastruktur jalan, penanganan Stunting skala desa dan lain sebagainya, Si Amat mencoba mengalihkan pembicaraan, sambil bertanya kepada Pak Kades Iwan:
“Tapi, Pak… bagaimana dengan Bimtek Peningkatan Kapasitas Aparatur? Itu kan penting untuk menambah wawasan.” Ujarnya dengan bersemangat.

Yuni melipat tangan, nada suaranya diplomatis tapi tegas. Sambil menjawab pertanyaan dari Si Amat yang belum sempat di jawab oleh Pak Kades Iwan;
“Penting, iya. Tapi tidak semua harus diikuti. Kita pilih yang benar-benar relevan.” Katanya spontan.

Amat menghela napas panjang. Sambil memandang pak Kades Iwan yang dari tadi , Cuma senyam senyum aja melihat kepanikan Si Amat yang ingin ikut Bimtek Pengelolaan Website Desa , melihat suasana yang kurang menguntungkan bagi Si Amat seraya berkata:
“Biasanya saya ikut Bimtek Website Desa. Dapat ilmu, dapat jaringan, dapat… pengalaman.” Ujarnya penuh semangat.

Lulu menoleh cepat, menggoda Si Amat, sambil berkata:
“Pengalaman atau penginapan?” katanya sambil melirik kearah Endang.

Ruangan langsung riuh, atas pernyataan dari Lulu terhadap pertanyaan Si Amat, sedangkan perangkat desa yang lainnya juga tersenyum tipis, melihat sikap dari Si Amat yang masih bersemangat untuk Ikut Bimtek.Tak lama berselang Si Amat protes;
“Ibu Lulu ini selalu curiga. Saya serius belajar.” Katanya penuh tanggungjawab.

Kasi Pelayanan Endang yang dari tadi hanya sebagai pendengan setia, ikut menimpali, sambil meledek Si Amat dengan perkataannya:
“Belajarnya serius, tapi foto di hotelnya lebih banyak.” Tambahnya.

Pak Kades tersenyum sambil menepuk meja pelan, memberikan penjelasan kepada Si Amat terkait efisiensi anggaran yang sedang dilaksanakan oleh seluruh Pemerintah Desa, beliau berkata:
“Mat, kita ini bukan melarang belajar. Tapi sekarang kita harus efisien. Anggaran perjalanan dinas itu kita alihkan untuk kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat.” Katanya tegas dan berwibawa.

Amat mengernyit, masih penasaran sambil bertanya:
“Misalnya?” ujarnya penuh harap..

Lulu langsung menjawab cepat, tanpa melihat respon dari Pak Kades Iwan:
“Pelayanan administrasi, penguatan data desa, pengembangan website desa juga… asal tidak minta hotel bintang tiga.” ledeknya

Semua tertawa lagi, melihat perubahan wajah Si Amat, yang di bom bardir oleh beberapa perangkat desa lainnya.Namun hal tersebut tidak menyurutkan pendapatnya terkait peningkatan kapasitas aparatur pemerintah desa. Amat mencoba bertahan dengan menyampaikan pendapatnya:
“Tapi kalau tidak ikut Bimtek, bagaimana peningkatan kapasitas aparatur?”

Sekdes Yuni mencondongkan badan, berusaha memberikan alternative lainnya yang dapat di kerjakan oleh Si Amat, dengan adanya efisiensi anggaran.
“Kita bisa adakan pelatihan internal. Berbagi ilmu. Mas Amat kan jago nulis, bisa melatih perangkat lain mengelola website.”

Amat terdiam, sambil berpikir keras atas jawaban dari Sekdes Yuni, seraya berkata:
“Saya… melatih?”

Endang menyeringai, memberi semangat kepada Si Amat:
“Iya. Daripada jauh-jauh Bimtek, mending Bimtek Lokal: Bimbingan Teknis Meja Kantor.” Imbuhnya, sambil melangkah ke meja Lulu.

Lulu menambahkan,
“Snack-nya kopi dapur dan singkong rebus. Hemat, tapi nikmat.” Ujarnya tenang.

Pak Kades mengangguk mantap, sambil memandang ke Si Amat yang lagi galau, karena rencana bimtek yang sudah didepan mata terancam gagal, Pak Kades Iwan berkata:
“Efisiensi itu bukan berarti mundur. Justru kita ditantang kreatif.” Tegasnya

Amat mulai menggaruk kepala, mendengar jawaban dari Pak Kades Iwan yang sangat optimis dapat melalui dan menerapkan efisiensi anggaran tidak berpengaruh terhadap program pembengunan desa, kemudian Si Amat bertanya kepada Pak Kades Iwan:
“Jadi perjalanan dinas benar-benar dikurangi, Pak?” katanya pelan.

“Iya.” Jawab pak Kades Iwan singkat.

“Bimtek luar kota?” Tanya Si Amat lagi.

“Dibatasi.” Jawab Pak Kades Iwan singkat.

Amat menatap layar laptopnya yang menampilkan draft artikel baru berjudul:
“Komitmen Desa Awan Biru terhadap Efisiensi Anggaran.”

Ia membaca keras-keras.
“Dalam rangka optimalisasi penggunaan Dana Desa…” ujarnya , namun kalimatnya tidak dilanjutkan, sambil melirik Lulu, solah-olah minta pendapat. Lalu ia berhenti, menatap Pak Kades.

“Pak, jujur saja… kalau perjalanan dinas dibatasi, laporan perjalanan dinas di website juga berkurang.” Imbuhnya.

Lulu cepat menyahut;
“Bagus dong. Berarti artikelnya tidak kepanjangan lagi.” Ujarnya sambil tersenyum tipis.

Endang tertawa terbahak-bahak, melihat perubahan wajah Si Amat, yang lagi kesal dengan ucapan Lulu barusan, melihat hal Kasi Pelayanan Endang berkata;
“Si Amat kehilangan bahan tulisan.” Ujarnya.

Amat mengangkat jari seolah menemukan celah, tak mau kalah denga perangkat lainnya, yang sejak dari tadi selalu memojokan pendapatnya, namun hal tersebut sudah biasa baginya seraya berkata;
“Tapi kalau website tetap aktif, berarti perlu peningkatan kapasitas digital. Itu juga butuh anggaran.” Tegasnya.

Semua langsung menatapnya, gemas, dan sudah hapal kemana arah ending pembicaraan selanjutnya, Lulu mendesah, dan berkata;
“Balik lagi ke anggaran…” ujarnya.

Yuni tersenyum tipis, ambil memandang ke Si Amat, sambil berujar;
“Mas Amat ini konsisten. Apa pun temanya, ujungnya dana.” Kata sekdes Yuni.

Pak Kades menahan tawa, perbincangan siang ini cukup cair dan demokratis, sertiap perangkat desa berhak menyampaikan pendapatnya, apapun hasilaya, Pak Kades Iwan berusaha bijak sana dalam memberikan solusinya, seraya berkata kepada Si Amat:
“Begini saja, Mat. Kalau kamu bisa membuktikan website desa tetap aktif, informatif, dan berdampak tanpa banyak perjalanan dinas, saya pertimbangkan tambahan dukungan.”

Mata Amat berbinar, mendengar jawabah dari Pak Kades Iwan, di luar dugaannya.
“Dukungan dalam bentuk apa, Pak?” kata Si Amat, berharap.

Pak Kades menjawab santai, sambil berpindah tempat duduknya menjauh dari meja Si Amat, beliau berkata:
“Kita lihat nanti. Yang jelas bukan tiket pesawat.” Tambahnya.

Ruangan kembali pecah oleh tawa, sementara Si Amat tersipu malu, namun Si Amat gak kehabisan akal untuk balas menjawab. Amat berdiri, berjalan ke dapur, lalu kembali dengan kopi hangat seperti biasa. Ia menyeruput perlahan.

“Mantap…” katanya tegas sambil mengangak ibujarinya.

Pak Kades yang sudah hafal pola bertanya,
“Apanya yang mantap kali ini, Mat?” Tanya Pka Kades Iwan kepada Si Amat.

Amat tersenyum lebar, sambil memperhatikan artikel di laptopnya nyang hamper selassi di kerjakan dari tadi, tak lupa Si Amat menjawab pertanyaan Pk Kades Iwan;
“Efisiensinya, Pak. Ternyata tidak harus ke luar kota untuk jadi pintar.”

Endang menepuk meja, bersemangat melihat perubahan cara pandang Si Amat dalam menyikapi perubahan terkait efisiensi anggaran.
“Nah itu baru kapasitas meningkat!” ujar Kasi Pelayanan Endang.

Lulu mengangguk puas.
“Kalau semua aparatur berpikir begitu, APBDes kita aman.” Tambahnya.

Yuni menutup map rasionalisasi dengan mantap.
“Efisiensi itu bukan soal memotong, tapi menguatkan prioritas.” Ujarnya diplomatis.

Amat kembali duduk di depan laptopnya. Kursor kini bergerak lincah, Status artikel berubah dari Draft menjadi Terbit.

Dan di Kantor Desa Awan Biru, efisiensi bukan lagi kata yang menakutkan, hanya sedikit mengurangi cerita perjalanan, tapi menambah banyak cerita kebersamaan.

Sementara Amat dalam hati berbisik,
“Baiklah… tidak ada hotel, tidak apa-apa. Yang penting website tetap hidup.”

Karena bagi Si Amat, selama masih ada kopi dan koneksi internet, kapasitas aparatur masih bisa ditingkatkan… walau tanpa perjalanan dinas.

“Cerpen Si Amat Episode 1; Admin Website Desa Awan Biru”

 

“Cerpen Si Amat Episode 1; Admin Website Desa Awan Biru”

Pagi itu di Kantor Desa Awan Biru, suasana terlihat normal, kalau definisi normal adalah ketika satu orang menatap layar komputer seperti sedang menunggu wahyu turun dari server pusat. Kebetulan pagi ini Amat datang lebih awal dari jam biasanya, kemudian perangkat desa lainnya juga mulai masuk diantaranya Sekdes Yuni, Kaur Keuangan Lulu, Kasi Pelayanan Endang serta Pak Kades Iwan.

Amat, Kasi Pemerintahan sekaligus Admin Website Desa, duduk membatu di depan laptopnya. Di layar terpampang judul artikel: “Musyawarah Desa tentang Rencana Pembangunan Tahun 2026”
Status: Draft, crusor sama sekali tak bergerak, suasana menjadi hening, tak berselang lama kemudian, Kursor berkedip pelan. Lebih aktif dari penulisnya.

Pak Kades Iwan yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya menyandarkan badan ke kursi dan membuka percakapan dengan nada setengah serius, setengah menggoda.

Dengan suara berat tapi santai, Pak Kades Iwan berkata,
“Mat… itu artikel musyawarah sudah sampai mana? Jangan-jangan musyawarahnya sudah selesai, tapi beritanya masih musyawarah batin?”

Ruangan yang tadinya sunyi langsung terasa hangat. Sementara perangkat desa sudah datang semua, siap melaksanakan aktivitas harian sesuai dengan tupoksinya, namun Sekdes, Kaur keuangan dan Kasi Pelayanan kebetulan lagi ngumpul di ruangan Kasi Pemerintahan.

Amat, tanpa menoleh, menjawab pelan,
“Sedang proses, Pak…” jawabnya singkat

Sekdes Yuni yang sedang merapikan berkas mengangkat alisnya, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Proses apa, Mat? Rendering semangat atau loading perasaan?” ujar yuni sambil memberi isyarat ke Lulu.

Kaur Keuangan Lulu terkikik kecil sambil tetap memegang kalkulator.
“Jangan-jangan Mas Amat lagi buffering, Pak. Sinyal semangatnya satu bar.” Ujar Lulu meledek si Amat

Kasi Pelayanan Endang yang duduk di dekat jendela ikut nimbrung dengan nada dramatis.
“Atau mungkin lagi masuk mode hemat energi, seperti laptop kalau baterainya mau habis.” Kata endang tak mau kalah dengan yang lainnya.

Amat akhirnya menoleh. Wajahnya serius, tapi matanya sedikit berkaca-kaca, antara drama dan pura-pura.

“Bapak kemarin bilang artikel saya kepanjangan…” ujar Si Amat pelan seperti memelas belas kasihan.

Suasana mendadak hening. Lulu menahan tawa. Yuni menutup map perlahan.

Pak Kades Iwan mengangkat tangan, sambil berkata
“Lho iya… saya cuma bilang kepanjangan sedikit. Masa langsung demo offline?” ujar kades Iwan menjelaskan

Sementara si Amat berpendapat lain, bahwa apa yang dikatakan oleh Pak Kades Iwan beberapa waktu yang lalu terkait teguran dan kritikannya masih terasa hingga saat ini, si Amat Menjawab.

“Bapak bilang, ‘Mat, ini artikel apa skripsi?’ Itu menusuk hati saya, Pak…”, ujar si Amat pelan

Endang pura-pura mengelus dada. Seolah-olah keheranan atas jawaban dari si Amat barusan
“Ya ampun… ini kritik redaksional berubah jadi tragedi personal.” Kata endang dengan suara lembut di dramatisir.

Sementara itu Pak Kades Iwan bangkit dari kursinya dan berdiri di samping meja Amat.
“Mat, saya itu baca artikelmu sampai habis. Artinya saya peduli. Kalau saya nggak peduli, ya saya diam saja.” Imbuhnya dengan nada diplomatis antara atasan dengan bawahan.

Yuni mengangguk bijak.
“Mas Amat, revisi itu tanda cinta administratif.” Tambahnya memberi semangat pada Amat, sementara Lulu menimpali cepat,
“Betul. Kalau nggak direvisi, nanti anggaran juga bisa kepanjangan. Bahaya itu.” Ujarnya sangat bersemangat membuat suasana jadi riuh.

Amat mendesah pelan, tangannya mengepal seolah-oleh sedang kram, kecapaian mengetik sebuah artikel sebelumnya, semabari berkata;
“Saya nulis sampai malam, Pak. Dua ribu lima ratus kata.” Ujarnya tegas penuh semangat membela diri, sementara pak kades Iwan merasa heran atas jawaban si Amat.

“Lho itu dia masalahnya!” sahut Pak Kades cepat.
“Musyawarah dua jam, laporannya seperti rapat kabinet tiga hari.” Tambahnya lagi, tak kalah semangatnya dengan si Amat. Endang tertawa lepas, sembari berkata;
“Bisa-bisa warga baca sampai tengah jalan, terus mikir ini berita atau novel bersambung.” Ujarnya mengejek si Amat. Sementara Pak Kades Iwan mengangkat jari seperti menemukan ide besar.
“Kalau begitu kita bikin berseri saja. Part 1: Pembukaan. Part 2: Perdebatan. Part 3: Dana Desa dan Plot Twist.” Ujarnya sambil tersenyum lebar. Lulu langsung berseru,
“Episode terakhir: ‘APBDes Menangis.’” Tambahnya sambil menatap si Amat seperti sebagai tersangka saja.

Ruangan pecah oleh tawa. Bahkan Amat mulai tersenyum tipis. Amat akhirnya menutup laptop perlahan. Wajahnya mulai cerah. Dengan suara lirih dia berkata;

“Pak, kalau begitu… saya usul.” Ujar si Amat tegas dan berwibawa. Semua mata tertuju padanya.

“Bagaimana kalau Admin Website Desa dianggarkan khusus? Biar tambah semangat. Kan kerjaannya juga penting.” Tambahnya lagi. Lulu spontan berhenti menekan kalkulator, sambil berkata;
“Nah ini dia… ujung-ujungnya duit lagi!” sambil ngeloyor pergi mendekati meja Endang. Endang ikut terkekeh, seraya berkata;
“Tadi sedih karena revisi, sekarang bahas insentif.” Sindirnya pelan. Pak Kades Iwan mengusap dagunya, pura-pura berpikir keras, sambil mengatakan;
“Boleh saja… asal konsisten. Website harus update. Jangan cuma semangat kalau mau anggaran.” Ujarnya tegas dan berwibawa. Yuni cepat-cepat nimbrung, nada diplomatis.
“Tahun depan saja kita anggarkan, Pak Kades. Biar masuk perencanaan resmi.” Katanya bersemangat. Sementara Mata Amat langsung melotot ke arah Yuni, sembari berkata;

“Tahun depan?” Tanya si Amat ke arah Yuni. Sementara itu Lulu bersandar santai, dan bergumam lirih;
“Waduh… berarti revisi lagi nih APBDes kita.” Gumamnya lirih. Suasana jadi makin riuh, Amat berdiri mendadak, merasa kesal karena kurang mendapat respon yang positif.
“Sudah, saya bikin kopi dulu.” Ujarnya.

Ia melangkah ke dapur kecil kantor dengan wajah setengah kesal, setengah malu. Dari belakang terdengar suara Lulu,
“Jangan lama-lama, nanti artikelnya tambah basi!” katanya pelan

Beberapa menit kemudian Amat kembali sambil membawa secangkir kopi hangat. Ia duduk di kursinya, menyeruput perlahan, wajahnya mulai tenang.

“Mantap…” gumamnya.

Pak Kades yang masih berdiri di dekat meja bertanya,
“Apanya yang mantap, Mat?” kata pak kades iwan ke Si Amat. Sementara si Amat menjawab santai,
“Kopinya, Pak Kades.” Ujarmnya.

“Oh saya kira artikelnya yang mantap.” Kata pak kades Iwan pura-pura hreran. Amat tersenyum lebar.
“Itu nanti, Pak. Setelah ada anggarannya.” Ujar si Amat kepada Kades Iwan, bercanda.

Pak Kades menggeleng-geleng kepala sambil berjalan kembali ke ruangannya.
“Ada-ada saja kamu ini…” ujarnya pelan. Sementara itu, Sekdes Yuni, Lulu, dan Endang hanya saling pandang dan tersenyum.

Website Desa Awan Biru akhirnya terunggah hari itu, lebih ringkas, lebih rapi, dan penuh semangat yang sempat hampir tumbang karena satu kata: kepanjangan.

Dan sejak saat itu, setiap kali Pak Kades memberi revisi, ia selalu menambahkan satu kalimat penutup:

“Revisi kecil saja, Mat. Semangat tetap besar.”

Karena di Kantor Desa Awan Biru, bahkan urusan artikel bisa berubah jadi drama, komedi, dan sedikit horor… terutama kalau sudah menyentuh kata: anggaran.