PROLOG: Kilas Balik
Tahun 1985. Lereng Gunung Sumbing masih hijau dengan hutan
jati dan mahoni yang menjulang. Embun tebal setiap pagi membasahi rumput-rumput
liar di pinggir jalan setapak yang menghubungkan satu rumah dengan rumah
lainnya. Di sinilah, di sebuah dusun kecil bernama Krajan Wetan, Yuniarti, yang
kelak akan dikenal sebagai Bu Yuni, menghabiskan sepuluh tahun pertama
kehidupannya.
Desa itu bernama Desa Sumberejo. Letaknya sekitar 800 meter
di atas permukaan laut, di lereng barat Gunung Sumbing, Kecamatan Kaliwiro,
Kabupaten Wonosobo. Udara dingin menusuk tulang, terutama pada bulan Juli
hingga Agustus, ketika kabut tebal bisa bertahan hingga pukul sepuluh pagi.
Jalanan masih tanah berbatu, belum beraspal. Rumah-rumah penduduk berdiri dengan
dinding anyaman bambu yang disebut gedhek, beralaskan tanah yang
dipadatkan, beratapkan rumbia atau seng bekas yang sudah berkarat.
Yuniarti lahir pada tanggal 17 Agustus 1975, tepat tiga
puluh tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ayahnya, Mardikun,
seorang guru SD yang ditempatkan di SD Negeri 2 Sumberejo, sering bercanda
bahwa putrinya "lahir bertepatan dengan pesta rakyat." Ibunya,
Sumirah, adalah seorang ibu rumah tangga yang juga membantu suaminya mengajar
anak-anak desa membaca Al-Qur'an di surau kecil dekat rumah mereka.
Rumah keluarga Mardikun bukan rumah mewah. Dindingnya dari
anyaman bambu yang jika disentuh terasa kasar dan berduri kecil. Lantainya
tanah yang dipadatkan, tetapi setiap pagi disapu bersih oleh Sumirah hingga
mengkilap. Ukurannya hanya sekitar 6x8 meter, terbagi menjadi tiga ruangan:
ruang tamu yang juga menjadi ruang keluarga, satu kamar tidur untuk orang tua
dan Yuniarti, serta dapur kecil yang menyatu dengan ruang belakang. Di belakang
rumah, ada kandang ayam sederhana berisi enam ekor ayam kampung dan satu ekor
kambing yang mengembik setiap kali mendengar langkah kaki Mardikun pulang.
"Dinik, tolong ambilkan air dari sumur," panggil
Sumirah setiap pagi. Itulah rutinitas Yuniarti sejak usia lima tahun.
Sumur itu terletak sekitar seratus meter di bawah rumah,
melewati jalan setapak yang terjal dan licin jika hujan. Yuniarti harus
menuruni sekitar lima puluh anak tangga dari batu yang tidak rata, membawa dua
ember kecil yang terbuat dari kaleng bekas cat yang diberi pegangan kawat.
Perjalanan pulang naik selalu lebih berat, terutama di musim kemarau ketika air
sumur mulai surut dan ia harus menunggu lebih lama untuk mengisi embernya.
"Pelan-pelan, Nak. Jangan terburu-buru," pesan
Mardikun setiap melihat putrinya berjuang dengan ember-ember itu.
Yuniarti jarang mengeluh. Ia hanya mengangguk, mengatur
napas, lalu melanjutkan perjalanan dengan langkah pendek dan pasti. Otot-otot
tangannya yang mungil terbentuk karena kebiasaan ini. Dan tanpa disadarinya,
kegiatan sederhana itu mulai membentuk karakternya: sabar, tekun, dan tidak
mudah menyerah.
Mardikun bukan sekadar ayah bagi Yuniarti. Ia adalah guru
pertama, kedua, dan terakhir yang paling berpengaruh dalam hidupnya.
Setiap malam, setelah makan malam yang sederhana, biasanya
nasi dengan sayur lodeh atau tumis kangkung dari kebun belakang, Mardikun akan
membuka buku-buku tebal di meja kayu kecil yang juga menjadi meja belajar Yuni.
Lampu minyak tanah menyala redup, kadang berkedip-kedip jika angin masuk
melalui celah-celah dinding bambu. Listrik belum masuk ke desa mereka hingga
Yuniarti berusia dua belas tahun.
"Nak, tahukah kamu mengapa bendera kita merah
putih?" tanya Mardikun suatu malam. Yuniarti yang saat itu duduk di kelas
3 SD menggeleng.
Mardikun tersenyum. Matanya yang mulai berkerut karena usia
bersinar lembut. "Merah melambangkan keberanian. Putih melambangkan
kesucian. Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan, tapi hatinya harus
suci dari kepentingan pribadi."
Yuniarti mengangguk meskipun belum sepenuhnya mengerti.
Namun kata-kata itu tersimpan di relung memorinya, seperti biji yang tertanam
di tanah subur, menunggu waktu untuk tumbuh.
Pelajaran lain datang dari cara Mardikun mengajar di
sekolah. SD Negeri 2 Sumberejo hanya memiliki tiga ruang kelas untuk enam
tingkatan. Mardikun mengajar kelas 4, 5, dan 6 secara bergantian dalam satu
ruangan. Murid-muridnya berasal dari desa-desa sekitar, ada yang berjalan kaki
hingga dua kilometer melewati kebun dan sawah.
"Nak, mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan. Tangan
yang bekerja, itulah yang mengubah segalanya," kata Mardikun ketika suatu
hari Yuniarti mengeluh tentang PR yang menurutnya terlalu banyak.
Mardikun juga mengajarkan Yuniarti tentang ketertiban. Di
lemari kecil rumah mereka, semua buku tersusun rapi berdasarkan ukuran dan
subjek. Surat-surat penting disimpan dalam plastik dan dikelompokkan dalam
map-map bekas yang diberi label tulisan tangan. Buku catatan pengeluaran rumah
tangga ditulis dengan rapi setiap hari, dengan kolom pemasukan dan pengeluaran
yang jelas.
"Ini bukan sekadar catatan, Din. Ini adalah sejarah
keluarga kita. Jika kita tidak mencatat, kita akan lupa dari mana kita berasal
dan ke mana kita akan pergi," jelas Mardikun ketika Yuniarti yang berusia
sembilan tahun bertanya tentang buku tebal berisi angka-angka itu.
Yuniarti belum mengerti arti penting pencatatan saat itu.
Namun kebiasaan melihat ayahnya merapikan berkas-berkas itu menanamkan sesuatu
dalam dirinya: bahwa dokumen bukanlah sekadar kertas, tetapi bukti keberadaan,
jejak perjalanan, dan dasar pengambilan keputusan.
Sumirah tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Ia hanya
lulusan SD, itupun tamat pada usia lima belas tahun karena harus membantu orang
tuanya berdagang di pasar. Namun Sumirah memiliki kecerdasan yang tidak
diajarkan di sekolah: kecerdasan bertahan hidup.
Pasar Kaliwiro, sekitar satu jam perjalanan dari desa
mereka, adalah tempat Sumirah berjualan setiap Kamis legi. Ia membawa dagangan
berupa sayuran dari kebunnya: kangkung, bayam, terong, dan kadang-kadang cabai
jika musim panen. Berangkat pukul tiga pagi, berjalan kaki menyusuri jalan
setapak yang gelap, ditemani hanya oleh senter minyak yang redup dan sesekali
suara burung kokokan dari kejauhan.
Yuniarti sering ikut ibunya ke pasar sejak usia enam tahun.
Ia duduk di samping ibunya, melihat interaksi antara penjual dan pembeli,
mendengar tawar-menawar yang kadang alot namun selalu berakhir dengan senyum.
"Nak, lihat itu," Sumirah pernah berkata sambil
menunjuk ke arah seorang pedagang yang sedang bersitegang dengan pembeli.
"Mereka berbeda pendapat, tapi mereka tetap menghormati satu sama lain.
Itulah yang namanya manusia. Kamu tidak harus setuju dengan semua orang, tapi
kamu harus menghormati mereka."
Pelajaran lain datang dari cara Sumirah menghadapi
kesulitan. Ketika musim kemarau panjang melanda pada tahun 1982, sumur-sumur
desa mengering. Tanaman gagal panen. Pasar sepi. Namun Sumirah tidak panik. Ia
mengajak Yuniarti ke hutan di belakang desa, mengajarinya daun-daun apa yang
bisa dimakan, umbi-umbian mana yang aman untuk dikonsumsi.
"Allah tidak pernah memberi ujian di luar kemampuan
hamba-Nya, Din. Kita hanya perlu mencari jalan-Nya," kata Sumirah sambil
mengumpulkan daun kelor dan singkong liar.
Yuniarti belajar bahwa ketangguhan bukanlah tentang tidak
pernah jatuh, tetapi tentang kemampuan untuk bangkit setiap kali jatuh. Ia
belajar bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan panggilan
untuk lebih kreatif.
Malam-malam di Sumberejo adalah malam-malam yang sunyi.
Tidak ada televisi. Tidak ada radio. Hanya suara jangkrik, katak, dan sesekali
lolongan anjing dari kejauhan. Lampu minyak tanah yang redup membuat
bayangan-bayangan menari di dinding anyaman bambu.
Di malam-malam seperti ini, Yuniarti sering berbaring di
atas tikar anyaman sambil menatap langit-langit yang terbuat dari bilik bambu.
Ibunya duduk di sampingnya, mengipasi dengan kipas dari daun kelapa sambil
sesekali membisikkan doa-doa.
"Bu, apakah kita akan selalu seperti ini?" tanya
Yuniarti suatu malam. Matanya menatap Sumirah yang sedang menjahit baju robek
milik suaminya.
"Seperti apa, Nak?"
"Miskin, Bu."
Sumirah berhenti menjahit. Diam beberapa saat. Kemudian ia
berkata dengan suara lembut namun tegas, "Din, kita tidak miskin. Kita
hanya belum kaya. Miskin itu keadaan hati, bukan keadaan dompet. Selama kita
masih bisa tersenyum, masih bisa berbagi dengan tetangga, kita tidak pernah
miskin."
Yuniarti terdiam. Kata-kata ibunya meresap perlahan,
seperti air yang menyerap ke dalam tanah kering.
Mardikun yang mendengar percakapan itu dari balik dinding
kamar keluar. "Nak, jika kamu ingin mengubah sesuatu, jangan pernah
memulainya dengan teriakan. Mulailah dengan ketekunan."
"Dan jangan pernah takut mengerjakan apa yang orang
lain anggap remeh," sambut Sumirah, melanjutkan kalimat suaminya dengan
senyum. "Karena dari sanalah perubahan besar sering lahir."
Yuniarti tersenyum. Ia belum tahu persis apa makna
kalimat-kalimat itu. Namun ia merasakan kehangatan dari kata-kata orang tuanya,
kehangatan yang membuatnya yakin bahwa apapun yang terjadi, ia tidak akan
pernah sendirian.
Yuniarti bersekolah di SD Negeri 2 Sumberejo, tempat
ayahnya mengajar. Setiap pagi, ia berjalan kaki sekitar lima belas menit
melewati persawahan dan kebun singkong. Seragamnya sederhana: baju putih yang
sudah mulai kekuningan karena sering dicuci dengan sabun colek, rok merah yang
sudah terlalu pendek karena tubuhnya terus bertambah tinggi, dan sepatu hitam
yang solnya sudah tipis.
Duduk di kelas 4, Yuniarti menunjukkan bakatnya di bidang
administrasi, meskipun ia sendiri belum menyadarinya. Ia ditunjuk oleh gurunya,
Bu Purwati, sebagai petugas piket yang bertanggung jawab mencatat kehadiran
teman-temannya.
"Yuni, catat siapa saja yang tidak masuk hari
ini," perintah Bu Purwati.
Yuniarti membuka buku kecil yang selalu ia bawa. Buku itu
adalah buku bekas catatan ayahnya yang masih tersisa halaman kosong. Ia menulis
nama-nama temannya dengan rapi, membuat kolom tanggal, nama, dan alasan
ketidakhadiran, meskipun tidak diminta.
"Wah, rapi sekali catatanmu, Yuni," puji Bu
Purwati setelah memeriksa. "Kamu buat kolom-kolom gini sendiri?"
Yuniarti tersenyum malu. "Iya, Bu. Saya lihat ayah
kalau catat pengeluaran pakai kolom-kolom begitu."
Bu Purwati mengelus kepala Yuniarti. "Kamu anak yang
teliti. Pertahankan itu, Nak."
Pujian itu membuat Yuniarti merasa bangga. Namun kebanggaan
itu seringkali harus berhadapan dengan kenyataan pahit: keterbatasan ekonomi
keluarganya.
Ketika teman-temannya membawa bekal nasi dengan lauk pauk
yang bervariasi, Yuniarti hanya membawa nasi putih dengan garam dan sedikit
minyak. Kadang-kadang, jika ibunya sedang punya uang lebih, ada tempe goreng
atau tahu yang sudah dingin sejak pagi.
"Yuni, makan apa kamu?" tanya Siti, teman
sebangkunya, suatu hari.
Yuniarti menutup kotak makannya yang terbuat dari besek
bambu. "Biasa saja, Sit. Kamu?"
Siti tidak memaksa. Namun keesokan harinya, Siti membawa
dua porsi bekal. "Ini untukmu, Yu. Ibuku masak banyak."
Yuniarti menatap bekal itu dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, Sit. Tapi aku tidak bisa, "
"Bisa. Ambil saja. Nanti kalau kamu sudah sukses,
traktir aku."
Yuniarti tersenyum. "Iya. Aku janji."
Janji itu sederhana. Namun seperti semua janji yang
diucapkan dengan tulus, janji itu akan diingat seumur hidup.
Ketika Yuniarti duduk di kelas 5 SD, sebuah perubahan besar
terjadi dalam keluarganya. Mardikun mendapatkan promosi menjadi kepala sekolah
di SD Negeri 1 Kaliwiro. Promosi itu berarti gaji yang lebih baik, tetapi juga
berarti harus pindah ke kecamatan yang letaknya sekitar dua jam perjalanan dari
desa mereka.
"Kita pindah, Din," kata Mardikun suatu malam.
Wajahnya serius namun matanya berbinar. "Kamu akan sekolah di kota. Ada
lebih banyak kesempatan di sana."
Yuniarti merasa campur aduk. Ia akan meninggalkan desanya,
rumah bambunya, sumur di bawah bukit, dan Siti, sahabatnya yang selalu
membawakannya bekal. Namun ia juga penasaran dengan kehidupan di kota yang
selama ini hanya ia dengar cerita.
Perjalanan pindahan mereka dilakukan dengan truk terbuka
milik Bapak Karto, tetangga yang memiliki truk tua. Seluruh harta keluarga, lemari
pakaian, meja belajar, beberapa kursi kayu, dan kambing mereka yang terikat di
belakang—dimasukkan ke bak truk. Yuniarti duduk di samping ibunya, menatap
desanya yang semakin mengecil di kejauhan.
Selamat tinggal, Sumberejo, bisiknya dalam hati. Terima
kasih untuk segalanya.
Kaliwiro ternyata tidak sebesar yang Yuniarti bayangkan.
Kota kecamatan ini masih sederhana: satu pasar, satu puskesmas, satu kantor
kecamatan, dan deretan toko kecil di sepanjang jalan utama. Namun ada hal yang
tidak dimiliki desanya: listrik.
"Waah... lampu bisa menyala tanpa minyak tanah?"
Yuniarti terkesima ketika Mardikun menekan sakelar dan lampu di rumah baru
mereka langsung menyala terang.
"Listrik, Din. Inilah yang disebut kemajuan,"
kata Mardikun tersenyum.
Rumah baru mereka lebih baik dari rumah di Sumberejo.
Dindingnya sudah dari batu bata yang diplester, lantainya dari semen, atapnya
dari genteng. Halaman depannya cukup luas untuk ditanami sayuran dan
bunga-bungaan.
Namun yang paling menarik bagi Yuniarti adalah keberadaan
kantor kecamatan tepat di seberang rumah mereka. Setiap hari, ia melihat
orang-orang datang dan pergi dengan membawa map-map dan berkas-berkas. Ia
melihat para pegawai yang duduk di balik meja, menulis, membaca, dan melayani
warga.
"Din, jangan terus melamun di jendela. Bantu Ibu di
dapur!" teriak Sumirah dari dalam.
"Iya, Bu!" jawab Yuniarti sambil berlari ke
dapur. Namun sebelum pergi, ia melirik sekali lagi ke arah kantor kecamatan.
Suatu hari nanti, aku akan bekerja di sana, pikirnya. Aku akan membantu
orang-orang seperti ayah membantu murid-muridnya.
SMP Negeri 1 Kaliwiro adalah sekolah impian bagi banyak
anak di kecamatan itu. Lokasinya strategis, guru-gurunya kompeten, dan
fasilitasnya cukup lengkap untuk ukuran tahun 1980-an. Yuniarti bersyukur
karena rumah mereka hanya berjarak lima belas menit jalan kaki dari sekolah.
Masa remaja Yuniarti tidak berbeda jauh dengan masa
kecilnya. Ia masih pendiam, lebih suka mengamati daripada berbicara. Ia masih
teliti, bahkan dalam hal-hal kecil seperti merapikan meja belajar atau menyusun
buku-buku sesuai abjad.
Namun ada satu hal yang berubah: ia mulai aktif dalam
organisasi sekolah. Yuniarti bergabung dengan OSIS sebagai sekretaris. Posisi
itu sebenarnya tidak banyak dicari teman-temannya karena dianggap membosankan:
hanya mencatat, mengetik, dan mengarsip.
"Yu, kenapa kamu mau jadi sekretaris? Capek lho,
catat-catat terus," kata Wulan, teman sekelasnya.
Yuniarti tersenyum. "Aku suka mencatat, Lan. Ada
kepuasan tersendiri ketika semua beres dan rapi."
Wulan menggeleng tak mengerti. Namun ia tidak
mempermasalahkan. Setiap orang punya kesukaannya masing-masing.
Pengalaman di OSIS mengajarkan Yuniarti tentang dinamika
organisasi. Ia belajar bagaimana rapat yang tidak terstruktur dapat membuang
waktu. Ia belajar bagaimana notulen yang tidak rapi dapat menyebabkan
miskomunikasi. Ia belajar bagaimana satu surat yang salah alamat dapat
menghambat seluruh kegiatan.
"Apa ini?" tanya Ketua OSIS, Dimas, suatu hari
sambil memegang setumpuk kertas yang baru saja Yuniarti serahkan.
"Notulen rapat minggu lalu, Mas. Saya buat rangkap
tiga. Satu untuk arsip, satu untuk Bapak Pembina, satu untuk papan
pengumuman."
Dimas membuka lembaran demi lembaran. Matanya membulat.
"Wah... rapi sekali. Kamu memang telaten, Yu."
Yuniarti tersenyum bangga. Namun ia tidak membiarkan
kebanggaan itu membuatnya sombong. Ia tetap rendah hati, tetap mau membantu
teman-temannya yang kesulitan dengan administrasi.
"Yu, tolong bantu saya buat surat izin tidak masuk.
Tulisan tangan saya jelek," pinta Andi, teman sekelas yang sering bolos.
"Lain kali usahakan sendiri, Andi. Tapi kali ini saya
bantu," jawab Yuniarti sambil mengambil kertas dan pulpen.
Dari interaksi-interaksi kecil seperti inilah Yuniarti
belajar bahwa pelayanan adalah tentang membantu orang lain tanpa pamrih. Ia
belajar bahwa jabatan bukanlah untuk dipamerkan, tetapi untuk diemban.
SMA Negeri 1 Kaliwiro adalah satu-satunya SMA negeri di
kecamatan itu. Yuniarti diterima dengan nilai ujian masuk yang memuaskan. Namun
kegembiraannya terbayangi oleh kenyataan: biaya sekolah yang lebih mahal.
"Pak, apakah Yuni bisa tetap bersekolah?" tanya
Yuniarti suatu malam ketika Mardikun sedang menghitung pengeluaran bulanan di
meja belajarnya.
Mardikun mengangkat wajah. Kerutan di dahinya semakin
dalam. "Kenapa kamu bertanya begitu, Din?"
"Biaya SMA mahal, Pak. Saya lihat di dompet Bapak...
tidak cukup."
Mardikun terdiam. Matanya berkaca-kaca. Kemudian ia berkata
dengan suara yang bergetar namun tegas, "Din, Bapak mungkin tidak bisa
memberikanmu kemewahan. Tapi Bapak tidak akan menghalangimu untuk bersekolah.
Bapak akan bekerja lebih keras. Ibu juga."
Sumirah yang mendengar dari dapur langsung masuk.
"Jangan khawatir, Din. Allah selalu memberi jalan."
Yuniarti menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena haru.
Ia bersyukur memiliki orang tua seperti mereka.
Selama SMA, Yuniarti bekerja paruh waktu membantu menjaga
toko kelontong milik tetangganya sepulang sekolah. Gajinya kecil, hanya cukup
untuk membeli buku dan alat tulis. Namun ia tidak pernah mengeluh.
"Kamu tidak capek, Yu? Sekolah, organisasi, terus
kerja lagi?" tanya Lilis, sahabatnya di SMA.
"Capek, Lil. Tapi lebih capek melihat orang tuaku
bekerja keras untukku."
Lilis menghela napas. "Kamu ini luar biasa, Yu. Aku
yakin suatu hari nanti kamu akan sukses."
Yuniarti tersenyum. "Doakan saja, Lil. Aku hanya ingin
berguna bagi orang banyak."
Pertanyaan yang sering Yuniarti renungkan di malam hari
adalah: apa yang sebenarnya ingin ia lakukan dalam hidup? Ia suka administrasi,
suka mencatat, suka mengatur. Namun apakah itu cukup untuk disebut sebagai
"berguna bagi orang banyak"?
Ia tidak menemukan jawabannya saat SMA. Namun ia yakin
bahwa jawaban itu akan datang pada waktu yang tepat.
Tahun 1994. Yuniarti lulus SMA dengan nilai yang
membanggakan. Ia berhasil masuk sepuluh besar di kecamatannya. Banyak teman
yang melanjutkan kuliah ke kota-kota besar: Semarang, Yogyakarta, bahkan
Jakarta.
"Kamu tidak kuliah, Yu?" tanya Lilis suatu hari
ketika mereka berpapasan di jalan.
Yuniarti menggeleng. "Biaya kuliah mahal, Lil. Aku
tidak mau membebani orang tuaku."
"Tapi kamu pintar, Yu. Sayang kalau tidak
kuliah."
Yuniarti tersenyum. "Pintar tidak harus kuliah, Lil.
Ada banyak jalan untuk belajar."
Keputusan untuk tidak kuliah bukan keputusan mudah.
Yuniarti menangis semalaman di kamarnya setelah mengumumkan niatnya pada orang
tuanya. Ia ingin sekali melanjutkan pendidikan. Namun ia juga melihat bagaimana
Mardikun mulai sering sakit-sakitan, bagaimana rambut Sumirah mulai memutih,
bagaimana pengeluaran untuk berobat semakin besar.
"Aku tidak akan menjadi beban mereka," bisiknya
pada diri sendiri sambil menghapus air mata.
Namun Allah memiliki rencana lain. Sebulan setelah
kelulusan, pamannya yang bekerja di kantor kecamatan memberitahu adanya
lowongan staf administrasi di Kantor Kecamatan Kaliwiro.
"Kerja dulu, Din. Sambil menabung, nanti bisa kuliah
lagi," kata pamannya.
Yuniarti tidak berpikir dua kali. Ia segera mendaftar.
Tesnya cukup berat: ada tes menulis, tes hitung-hitungan, dan tes wawancara.
Namun Yuniarti lulus dengan baik.
"Selamat, Yuniarti. Kamu diterima sebagai staf
administrasi," kata Bapak Camat Kaliwiro saat itu.
Yuniarti tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Ini adalah awal
dari perjalanan panjangnya di dunia administrasi.
Tahun 1994 hingga 2001 adalah periode penting dalam
kehidupan Yuniarti. Tujuh tahun bekerja di Kantor Kecamatan Kaliwiro
mengajarkannya banyak hal tentang birokrasi, tentang sistem, dan tentang
bagaimana dokumen yang tidak tertata dapat menghambat nasib banyak orang.
Kantor Kecamatan Kaliwiro saat itu masih sederhana.
Bangunannya berdiri megah di tepi jalan raya, dengan halaman depan yang luas
dan pohon beringin rindang. Interiornya terdiri dari ruang depan untuk
pelayanan publik, beberapa ruang staf, ruang camat, dan ruang arsip di belakang.
Di ruang arsip itulah Yuniarti paling sering menghabiskan
waktunya. Ruangan itu berukuran sekitar 6x8 meter, dindingnya lembab karena
kelembaban udara yang tinggi, catnya mengelupas di sana-sini. Lemari-lemari
kayu berjajar rapi namun isinya berantakan. Map-map kusam menumpuk tanpa urutan
yang jelas. Sebagian berkas disimpan di kardus bekas, sebagian lagi diikat
dengan tali rafia yang sudah rapuh.
"Ini ruang arsip kita, Yuni. Selamat bekerja,"
kata Pak Rahmat, kepala bagian administrasi, ketika pertama kali memperkenalkan
ruangan itu.
Yuniarti melihat sekeliling. Matanya menyapu setiap sudut.
"Ini semua... belum tertata, Pak?"
Pak Rahmat tertawa kecil. "Belum? Ini sudah
bertahun-tahun tidak pernah tertata, Nak. Sebelum kamu datang, sudah beberapa
orang yang mencoba merapikan. Semua menyerah."
Yuniarti tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Namun dalam
hatinya, ia berkata, "Mungkin mereka menyerah karena tidak cukup sabar.
Aku tidak akan menyerah."
Dan ia tidak menyerah.
Selama tujuh tahun, Yuniarti secara bertahap merapikan
ruang arsip itu. Ia mulai dari hal yang paling sederhana: memisahkan berkas
berdasarkan tahun. Kemudian berdasarkan jenis. Kemudian berdasarkan abjad. Ia
membuat label-label dari kertas bekas, menulisnya dengan rapi menggunakan
spidol hitam.
"Apa kamu tidak bosan, Yu? Setiap hari cuma berurusan
dengan kertas-kertas tua?" tanya Sari, teman kerjanya, suatu hari.
Yuniarti yang sedang menyortir berkas tahun 1985 tidak
mengangkat wajah. "Kertas-kertas ini bukan sekadar kertas, Sar. Ini adalah
sejarah. Ini adalah bukti bahwa seseorang pernah mengurus sesuatu di sini. Ini
adalah hak-hak warga yang tersimpan."
Sari menggeleng. "Kamu aneh, Yu."
Yuniarti tersenyum. "Mungkin. Tapi aku bahagia."
Perlahan, perubahan mulai terlihat. Berkas-berkas yang dulu
sulit ditemukan kini dapat diakses dalam hitungan menit. Warga yang datang
mengurus administrasi tidak perlu lagi menunggu berjam-jam. Pelayanan menjadi
lebih cepat.
"Wah, sekarang enak ya. Nggak perlu nunggu lama,"
kata seorang warga suatu hari.
Pak Camat sendiri yang mendengar komentar itu tersenyum
bangga. "Itu kerja keras Yuniarti, Pak. Beliau yang merapikan arsip
kita."
Yuniarti yang berdiri di samping hanya tersenyum malu.
Namun hatinya berbunga-bunga. Ia merasa usahanya tidak sia-sia.
Tujuh tahun di Kecamatan Kaliwiro bukan hanya tentang
merapikan arsip. Yuniarti juga belajar tentang politik birokrasi, tentang ego
sektoral, tentang bagaimana kadang-kadang prosedur yang kaku justru menghambat
pelayanan.
Suatu hari, seorang warga tua datang dengan keringat
bercucuran. Wajahnya lelah, matanya sembab. Ia ingin mengurus pensiun janda
untuk istrinya yang baru saja meninggal. Namun berkas-berkas yang ia bawa tidak
lengkap.
"Pak, ini belum lengkap. Bapak harus melengkapi
dulu," kata staf pelayanan dengan nada datar.
Warga itu hampir menangis. "Tapi Mas, saya sudah tiga
kali ke sini. Selalu kurang. Saya tidak tahu harus cari di mana lagi."
Yuniarti yang kebetulan lewat menghampiri. "Pak,
berkas apa yang kurang? Coba saya lihat."
Warga itu menyerahkan map kumalnya. Yuniarti memeriksa satu
per satu. "Pak, Bapak tidak perlu surat keterangan kematian dari
kecamatan. Itu sudah diurus oleh pihak kelurahan. Cukup surat dari lurah
saja."
Staf pelayanan terkejut. "Eh, bukannya harus dari, "
"Tidak, Mas. Aturannya sudah berubah tahun lalu,"
potong Yuniarti dengan tegas namun sopan.
Warga itu menghela napas lega. "Alhamdulillah...
terima kasih, Bu."
Setelah warga itu pergi, staf pelayanan mendekati Yuniarti.
"Maaf, Bu. Saya tidak tahu aturannya sudah berubah."
Yuniarti tersenyum. "Tidak apa-apa, Mas. Lain kali
lebih sering cek peraturan baru, ya."
Dari pengalaman itu, Yuniarti belajar bahwa administrasi
bukanlah tentang kaku mengikuti aturan, tetapi tentang melayani manusia. Aturan
dibuat untuk mempermudah, bukan mempersulit. Dan tugas seorang administrator
adalah memahami aturan dengan baik sehingga ia dapat membantu warga memenuhinya
tanpa beban berlebihan.
Memasuki tahun 2001, Yuniarti mulai merasa gelisah. Bukan karena
pekerjaannya yang monoton, ia justru menikmatinya. Namun ada perasaan bahwa ia
belum mencapai potensi maksimalnya.
"Kamu kenapa, Din? Kok sering melamun?" tanya
Sumirah suatu hari ketika Yuniarti pulang kampung ke Sumberejo.
Yuniarti duduk di samping ibunya di beranda rumah yang
sudah direnovasi menjadi semi permanen. "Bu, aku merasa... ada yang
kurang."
"Kurang apa?"
"Aku tidak tahu, Bu. Mungkin... aku ingin tantangan
baru. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukan lebih."
Sumirah menggenggam tangan putrinya. Tangannya sudah
keriput, urat-uratnya menonjol. "Din, kalau kamu merasa perlu perubahan,
jangan takut untuk melangkah. Ibu dan Bapak akan selalu mendukungmu."
Mardikun yang duduk di dalam menimpali, "Tapi jangan
terburu-buru, Din. Doa istikharah dulu. Minta petunjuk sama Allah."
Yuniarti mengangguk. Malam itu, ia shalat istikharah untuk
pertama kalinya dalam hidupnya. Air matanya mengalir. Ia tidak tahu persis apa
yang ia minta. Namun ia yakin bahwa Allah akan menunjukkan jalannya.
Seminggu kemudian, seorang rekannya dari kecamatan
memberitahu tentang lowongan Sekretaris Desa di Desa Awan Biru.
"Desa kecil, Yu. Jauh dari kota. Gajinya juga tidak
seberapa. Tapi katanya sistem administrasinya berantakan parah. Mereka butuh
orang yang bisa membereskannya," kata rekannya.
Yuniarti membaca surat lamaran itu. Matanya berhenti pada
kalimat di bagian akhir: "Kami mencari sekretaris desa yang tidak takut
dengan tantangan dan memiliki integritas tinggi."
Integritas. Kata yang sama yang pernah ia dengar dari
ayahnya. Kata yang sama yang ia pegang selama bertahun-tahun.
"Aku akan melamar," kata Yuniarti.
Rekannya terkejut. "Serius, Yu? Desanya kecil lho.
Jauh pula."
"Aku tidak mencari kemewahan, Sar. Aku mencari
makna."
Dan di situlah keputusan itu diambil. Keputusan yang akan
mengubah hidupnya selamanya. Keputusan yang akan membawanya ke Desa Awan Biru,
tempat ia akan menjadi Bu Yuni, sosok perempuan tangguh yang namanya dikenang
sepanjang masa.
Desa Awan Biru terletak di lereng timur Gunung Sumbing,
sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Nama desa ini bukanlah nama resmi dalam
administrasi pemerintahan, nama resminya adalah Desa Sumbermulyo. Namun
masyarakat setempat lebih akrab menyebutnya Awan Biru karena pemandangan khas
di pagi hari ketika kabut tebal menyelimuti desa dan langit di atasnya tampak
biru cerah, menciptakan kontras yang indah antara putihnya kabut dan birunya
langit.
Desa ini berjarak sekitar 15 kilometer dari ibu kota
kecamatan, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit menggunakan kendaraan roda dua
jika jalanan baik. Namun "jika jalanan baik" adalah frasa yang jarang
terpenuhi, karena jalan menuju desa ini hanya beraspal sepanjang 5 kilometer
pertama. Sisanya adalah jalan berbatu dan tanah yang berlubang-lubang, terutama
di musim hujan ketika genangan air bisa mencapai lutut orang dewasa.
Secara administratif, Desa Awan Biru terdiri dari empat
dusun: Dusun Krajan (pusat desa), Dusun Ngemplak (di barat), Dusun Kaliwungu
(di timur), dan Dusun Gondang (di selatan). Total luas wilayah sekitar 1.200
hektar, dengan rincian 800 hektar hutan rakyat, 300 hektar lahan pertanian, dan
100 hektar pemukiman.
Penduduk Desa Awan Biru berjumlah sekitar 3.500 jiwa yang
tersebar di 900 kepala keluarga. Sebagian besar bekerja sebagai petani, buruh
tani, atau perantau di kota-kota besar. Tingkat pendidikan rata-rata adalah
lulusan SD, dengan hanya sekitar 10 persen yang melanjutkan ke SMP, 5 persen ke
SMA, dan kurang dari 1 persen yang mengenyam pendidikan tinggi.
Kondisi ekonomi desa ini bisa dibilang pas-pasan.
Pendapatan per kapita rata-rata kurang dari 500 ribu rupiah per bulan. Banyak
rumah yang masih berdinding anyaman bambu atau papan kayu yang sudah lapuk.
Atapnya dari seng yang berkarat atau genteng yang sudah retak. Lantainya dari
tanah yang dipadatkan, beralaskan tikar pandan yang sudah usang.
Namun seperti pepatah lama, "di balik kekurangan
selalu ada kelebihan." Warga Desa Awan Biru terkenal ramah dan gotong
royong. Jika ada tetangga yang sedang sakit, seluruh warga akan bergantian
menjenguk dan membawa makanan. Jika ada yang sedang hajatan, semua orang akan
datang membantu tanpa diminta imbalan. Inilah yang disebut
"paguyuban", ikatan batin yang mengikat mereka sebagai satu
komunitas.
Kantor Desa Awan Biru berdiri di tanah seluas sekitar 500
meter persegi di pusat Dusun Krajan. Bangunannya berbentuk limasan khas Jawa,
dengan atap genteng yang sudah ditumbuhi lumut karena kelembaban udara yang
tinggi. Dindingnya dari batu bata yang diplester, namun catnya sudah mengelupas
di sana-sini, meninggalkan bercak-bercak putih yang tidak merata.
Di depan kantor, ada lapangan kecil yang digunakan untuk
berbagai kegiatan desa: upacara hari kemerdekaan, pertemuan warga, atau sekadar
tempat anak-anak bermain bola sore hari. Di pinggir lapangan, tumbuh pohon
beringin besar yang akarnya menjalar ke mana-mana, seperti ingin menunjukkan
bahwa usia desa ini sudah tua.
Tiang bendera setinggi sekitar 10 meter berdiri di tengah
lapangan. Setiap hari Senin, upacara bendera dilaksanakan dengan khidmat
meskipun jumlah pesertanya tidak seberapa, hanya perangkat desa, beberapa guru SD,
dan siswa-siswi yang diwajibkan hadir.
Di dalam kantor, keadaannya tidak lebih baik. Bangunan ini
memiliki tiga ruangan utama: ruang pelayanan depan, ruang perangkat desa (yang
juga menjadi ruang rapat), dan ruang kepala desa. Masing-masing ruangan dipisahkan
oleh dinding setinggi sekitar 2,5 meter dengan pintu dari kayu jati yang sudah
lapuk karena rayap.
Lantai ruangan dari ubin hitam putih yang sudah retak di
beberapa bagian. Jika hujan deras, air akan merembes dari lantai dan dinding,
membuat suasana lembab dan bau apek. Lampu neon 20 watt menyala redup, kadang
berkedip-kedip jika listrik sedang tidak stabil, yang sering terjadi di desa
ini karena jaringan listrik yang sudah tua.
Namun bagian paling memprihatinkan dari Kantor Desa Awan
Biru adalah ruang arsipnya.
Ruang ini terletak di bagian belakang bangunan, berukuran
sekitar 4x6 meter. Dindingnya lembab dengan bercak-bercak jamur berwarna hitam
kehijauan. Catnya sudah terkelupas habis di beberapa bagian, memperlihatkan
batu bata di baliknya. Lantainya dari semen yang tidak pernah dipoles, sehingga
berdebu dan kasar. Tidak ada jendela kecuali satu lubang ventilasi kecil di
dekat langit-langit yang ukurannya tidak lebih dari 30x30 sentimeter.
Di ruangan inilah seluruh arsip desa disimpan. Dan kata
"disimpan" adalah istilah yang terlalu baik untuk menggambarkan
keadaan di sana.
Lemari-lemari kayu berjajar di sepanjang dinding. Jumlahnya
ada empat buah, masing-masing setinggi sekitar 2 meter dengan dua pintu.
Semuanya terbuat dari kayu jati, namun usianya sudah puluhan tahun. Engsel
pintu berkarat dan berderit setiap kali dibuka. Kunci-kunci lemari kebanyakan
sudah hilang, sehingga pintu hanya diikat dengan kawat atau tali rafia.
Isi lemari-lemari itu... adalah kekacauan yang sulit
dideskripsikan dengan kata-kata.
Map-map kusam menumpuk tanpa urutan yang jelas. Sebagian
map terbuat dari karton bekas yang sudah lembek karena dimakan rayap. Sebagian
lagi hanya berupa kertas-kertas yang diikat dengan tali rafia. Ada juga
berkas-berkas yang hanya diletakkan begitu saja di rak, tanpa map, tanpa label,
tanpa sistem apapun.
Sebagian map bertuliskan label dengan tinta yang sudah
luntur, sehingga tidak terbaca. Sebagian lagi tidak memiliki label sama sekali.
Ada berkas-berkas dari tahun 1980-an yang bercampur aduk dengan berkas tahun
2000-an. Ada surat-surat penting yang terselip di antara buku register yang
sudah lapuk. Bahkan ada dokumen yang sudah basah bekas tumpahan air, entah dari
mana asalnya, dengan tinta yang luntur dan kertas yang mulai rapuh.
"Kami tidak pernah berani masuk ke ruangan itu
sendirian," kata Pak Santoso, Kaur Pemerintahan yang sudah bekerja di
kantor ini selama 20 tahun. "Bukan karena angker, tapi karena... kami
takut tidak akan pernah keluar jika masuk ke dalam kekacauan itu."
Kantor Desa Awan Biru memiliki 12 orang perangkat desa,
terdiri dari:
1.
Kepala Desa (saat itu dijabat oleh Bapak Iwan Setiawan, periode
pertama)
2.
Sekretaris Desa (lowong, baru akan diisi oleh Bu Yuni)
3.
Kaur Pemerintahan (Bapak Santoso Wibowo)
4.
Kaur Kesra (Bapak Edi Prayitno)
5.
Kaur Perencanaan (Bapak Eko Prasetyo)
6.
Kaur Keuangan (Ibu Lulu Kurniawati)
7.
Kaur Pelayanan (Bapak Joko Suryanto)
8.
Kaur Umum (Bapak Ahmad Nurrohman alias Si Amat)
9.
Staf Administrasi (Ibu Endang Sri Rahayu)
10.
Staf Pelayanan (Ibu Siti Nurjanah)
11.
Staf Keuangan (Bapak Rudi Hartono)
12.
Staf Teknis (Bapak Supriyadi)
Masing-masing memiliki karakter dan kebiasaan yang berbeda.
Namun satu hal yang menyatukan mereka: kebiasaan santai yang sudah mengakar
bertahun-tahun.
Pak Santoso adalah
yang tertua di antara mereka. Usianya sudah 58 tahun, dengan rambut yang mulai
memutih di pelipis dan kacamata tebal yang sering turun ke ujung hidung. Ia
sudah bekerja di kantor desa sejak tahun 1981, melewati tiga periode kepala
desa yang berbeda. Pengalamannya sangat luas, namun sayangnya ia juga paling
enggan berubah. "Sudah begini caranya dari dulu, dan tidak pernah ada
masalah," adalah kalimat favoritnya.
Pak Edi adalah tipe
pekerja yang... bagaimana mengatakannya... cukup baik jika sedang mood. Jika
ada kopi di meja dan suasana hatinya sedang bagus, ia bisa bekerja dengan
cepat. Namun jika kopinya tidak enak atau hatinya sedang tidak baik, ia bisa
duduk berjam-jam hanya menatap langit-langit. "Kerja itu harus santai,
Pak. Nggak usah dibawa tegang," katanya suatu hari.
Pak Eko adalah yang paling
"modern" di antara mereka. Ia memiliki laptop, walaupun usianya sudah
10 tahun dan sering mati sendiri. Ia juga memiliki ponsel pintar yang selalu ia
gulir setiap waktu. Sayangnya, kecanggihan teknologi tidak selalu dimanfaatkan
untuk bekerja. "Bentar ya, Pak, saya cek WA dulu. Takutnya ada info
penting dari kecamatan," katanya sambil membuka aplikasi media sosial.
Bu Lulu adalah
satu-satunya perempuan di antara perangkat desa (sebelum Bu Yuni datang). Ia
bertanggung jawab atas keuangan desa, namun seringkali kewalahan karena sistem
pencatatannya yang masih manual dan berantakan. "Saya sudah menyerah, Pak.
Kalau dicari satu, bisa hilang dua," keluhnya suatu hari.
Si Amat, panggilan akrab untuk
Ahmad Nurrohman, adalah yang termuda. Usianya baru 28 tahun ketika Bu Yuni
datang. Ia lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah karena harus membantu
orang tuanya yang sakit. Ia sebenarnya cerdas, namun terlalu terbawa arus
kebiasaan santai di kantor. "Nanti juga ketemu sendiri" adalah mantra
yang selalu ia ucapkan ketika ada warga yang mencari berkas.
Di tengah semua kekacauan ini, ada Bapak Iwan Setiawan,
Kepala Desa Awan Biru yang baru menjabat di periode pertamanya.
Pak Iwan, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang petani
yang kemudian menjadi pengusaha kecil di bidang perdagangan hasil bumi. Ia
memutuskan mencalonkan diri sebagai kepala desa karena frustrasi melihat
kondisi desanya yang tidak pernah maju. "Desa ini butuh perubahan,"
katanya dalam kampanye. "Kita tidak bisa terus-terusan menjadi penonton di
era yang sudah berubah."
Ia terpilih dengan selisih suara yang tipis, mengalahkan
petahana yang sudah menjabat dua periode. Kemenangan itu membuatnya optimis
bahwa ia bisa membawa perubahan. Namun setelah menjabat selama enam bulan,
optimisme itu mulai pudar.
"Pak Kades, ini laporan keuangan bulan lalu masih
belum selesai," kata Bu Lulu suatu hari.
"Pak, surat dari kecamatan harus segera
ditanggapi," kata Pak Santoso di hari yang sama.
"Pak, warga komplain pelayanan lambat," kata Si
Amat di kesempatan lain.
Pak Iwan merasa seperti sedang memadamkan api di
sekelilingnya, namun setiap kali satu api padam, sepuluh api baru muncul. Ia
duduk di ruang kerjanya yang sederhana, meja kayu dengan laci macet, kursi
putar yang rodanya sudah rusak, dan lemari arsip yang hanya berisi beberapa
map, lalu menghela napas panjang.
"Kalau begini terus... kita bisa ketinggalan
jauh," gumamnya suatu pagi setelah membaca surat teguran dari kecamatan
tentang keterlambatan laporan.
Ia memandang foto istrinya yang sudah meninggal dua tahun
lalu. Foto itu masih tersimpan rapi di atas meja, dalam bingkai kayu sederhana.
"Sri, aku berjanji padamu akan membuat desa ini lebih baik. Tapi
sepertinya... aku tidak bisa melakukannya sendiri."
Air mata mengalir di pipinya yang mulai berkerut. Namun ia
cepat-cepat menghapusnya ketika mendengar ketukan di pintu.
"Pak, ada surat lamaran untuk Sekdes," kata Pak
Santoso dari luar.
"Masuk," jawab Pak Iwan, mengatur napasnya.
Pak Santoso masuk membawa setumpuk amplop. "Ini ada
tiga lamaran, Pak. Dua dari orang dalam, satu dari luar."
Pak Iwan membaca lamaran itu satu per satu. Dua lamaran
pertama adalah orang-orang yang sudah ia kenal: mantan staf kecamatan yang
pensiun dan kerabat salah satu tokoh masyarakat. CV mereka standar, tidak ada
yang istimewa.
Lamaran ketiga adalah dari seorang wanita bernama Yuniarti.
Ia membaca dengan teliti. Pengalamannya: tujuh tahun di Kantor Kecamatan
Kaliwiro, dengan spesialisasi administrasi dan kearsipan.
"Bagus juga ini," gumam Pak Iwan.
Kemudian ia membaca bagian akhir surat lamaran itu. Dan di
sanalah ia menemukan kalimat yang membuatnya terkesan:
"Saya tidak menjanjikan perubahan instan. Namun saya
berkomitmen untuk bekerja dengan integritas. Saya datang bukan untuk mencari
kekuasaan atau keuntungan pribadi, tetapi untuk mengabdi. Karena saya percaya,
sebuah desa kecil pun berhak memiliki administrasi yang bermartabat."
Pak Iwan menatap kalimat itu berulang-ulang. Matanya
berkaca-kaca.
"Integritas," bisiknya. "Kata itu sudah lama
tidak saya dengar."
Ia menoleh ke Pak Santoso. "Panggil yang ini untuk
wawancara."
"Yang mana, Pak?"
"Yuniarti."
Tiga hari setelah wawancara, Yuniarti menerima telepon
bahwa ia diterima sebagai Sekretaris Desa Awan Biru.
"Selamat, Bu Yuni," kata Pak Iwan di ujung
telepon. "Kami menanti kehadiran Ibu."
Yuniarti tidak bisa tidur malam itu. Ia duduk di kamar
kontrakannya yang sederhana di Kaliwiro, memandangi langit-langit yang retak.
Perasaannya campur aduk: senang, gugup, takut, dan bersemangat sekaligus.
"Ya Allah, aku tidak tahu apakah ini keputusan yang
tepat," bisiknya. "Tapi aku percaya ini adalah jalan yang Engkau
tunjukkan. Beri aku kekuatan."
Ia membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa ke
mana-mana. Buku itu sudah lusuh, sampulnya terlipat di sudut-sudutnya,
kertasnya mulai menguning. Di halaman pertama, ia menulis:
"Desa Awan Biru. Mulai 1 Maret 2001. Aku akan
memberikan yang terbaik."
Ia kemudian menulis daftar hal-hal yang perlu ia siapkan:
pakaian, peralatan mandi, buku-buku referensi tentang administrasi desa, dan...
kesabaran. Banyak kesabaran.
Tiga hari kemudian, ia berangkat. Perjalanan dari Kaliwiro
ke Awan Biru memakan waktu sekitar dua jam dengan bus antar kecamatan,
dilanjutkan dengan ojek sejauh 10 kilometer karena bus tidak masuk sampai ke
desa.
Ketika bus mulai meninggalkan kota, pemandangan berubah.
Rumah-rumah beton berganti dengan rumah kayu dan bambu. Jalan aspal berganti
dengan jalan berbatu. Udara yang panas berganti dengan udara sejuk yang menusuk
pori-pori.
"Ini dia... Awan Biru," gumumnya ketika bus mulai
menanjak.
Dari kejauhan, ia bisa melihat kabut putih yang menggantung
di antara pepohonan. Di atas kabut itu, langit tampak biru cerah, seperti
namanya. Kontras antara putih dan biru itu menciptakan pemandangan yang indah,
hampir magis.
"Kamu akan menjadi tempat aku mengabdi, ya?"
bisik Yuniarti sambil menatap desa yang semakin mendekat. "Aku tidak tahu
apa yang akan terjadi. Tapi aku berjanji... aku tidak akan
mengecewakanmu."
Hari pertama Yuniarti sebagai Sekretaris Desa Awan Biru
dimulai dengan kabut tebal yang menyelimuti seluruh desa.
Ia tiba di kantor pukul 07.30, lebih awal dari jadwal
seharusnya. Udara dingin menusuk pori-pori, membuatnya menggigil meskipun sudah
mengenakan jaket tebal. Embun menempel di rumput-rumput liar di halaman kantor,
membuat sepatunya basah saat ia berjalan menuju pintu.
Pintu kayu itu berderit saat didorong.
"Assalamualaikum..." suaranya lembut, namun
jelas.
Di dalam, suasana masih santai. Pak Edi sedang duduk
menyandarkan kursinya ke belakang sambil menyeruput kopi dari gelas plastik.
Wajahnya bulat, berkumis tipis, dengan ekspresi setengah sadar. Di depannya,
ada sebuah teko kopi hitam yang masih mengepul.
"Waalaikumsalam... eh, ini Bu Sekdes ya?" katanya
sambil buru-buru meluruskan duduknya, hampir membuat kopi tumpah.
Di sudut lain, Pak Eko masih sibuk, bukan dengan berkas,
tapi dengan ponselnya. Layar ponsel menyala terang di tangannya, jempolnya
sibuk menggulir tanpa henti. "Selamat datang, Bu... hati-hati ya,"
katanya sambil tersenyum tipis, tanpa mengangkat wajah.
"Hati-hati kenapa, Pak?" tanya Bu Yuni.
Pak Eko tertawa kecil. "Hati-hati... nanti
kaget."
Belum sempat Bu Yuni bertanya lebih jauh, Si Amat, yang
duduk di pojok ruangan, langsung menunjuk ke arah sebuah meja di pojok ruangan.
Meja kayu tua dengan laci macet dan permukaan penuh debu.
"Nah itu, Bu... meja Sekdes. Lengkap sudah
isinya," katanya sambil menahan tawa.
Bu Yuni melangkah mendekat. Dan di situlah ia berhenti.
Tumpukan berkas memenuhi meja. Tidak hanya satu atau dua, tetapi
seperti gunung kecil yang siap runtuh kapan saja. Map-map terbuka,
kertas-kertas berserakan, beberapa bahkan sudah menguning di ujung-ujungnya.
Ada yang sobek, ada yang basah bekas tumpahan kopi. Sebuah map plastik biru
menyembul dari bawah tumpukan, setengah tertindih buku tebal berdebu.
"Ini... semua?" tanyanya pelan.
"Iya, Bu. Itu masih yang kelihatan. Yang nggak
kelihatan lebih banyak lagi," sahut Pak Santoso dari belakang sambil
tertawa.
Pak Edi ikut menimpali, "Itu sudah dari zaman sebelum
Pak Kades sekarang, Bu. Bertahun-tahun tidak pernah dirapikan."
Bu Lulu yang baru masuk menambahkan, "Saya saja sudah
menyerah, Bu. Kalau dicari satu, bisa hilang dua."
Tawa pecah. Tawa yang sudah menjadi kebiasaan, tawa untuk
menutupi rasa malu yang tak pernah diakui.
Namun Bu Yuni tidak ikut tertawa. Ia hanya tersenyum tipis.
"Baik... kita mulai dari sini," katanya tenang.
Pak Edi mengernyit. "Mulai dari mana, Bu? Itu gunung,
bukan tumpukan."
"Dari bawah," jawab Bu Yuni sederhana.
Ia duduk di kursi yang ternyata juga berdebu. Tangannya
mulai membuka satu map. Membaca. Memisahkan. Mengelompokkan. Tanpa banyak
bicara.
Beberapa menit berlalu. Pak Eko mulai memperhatikan dari
balik ponselnya. Alisnya naik.
"Lho... Bu, itu mau dirapikan sekarang?"
tanyanya.
"Iya, Pak. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?" jawab
Bu Yuni tanpa mengangkat wajah.
"Pelan-pelan saja, Bu. Jangan terlalu serius. Di sini
santai saja," kata Si Amat sambil tersenyum, kedua tangannya bersantai di
belakang kepala.
Bu Yuni berhenti sejenak. Ia menoleh. Matanya menatap Si
Amat tidak dengan kemarahan, tetapi dengan ketegasan yang tenang.
"Mas Amat, saya menghargai bahwa Bapak sudah terbiasa
dengan cara santai. Tapi izinkan saya menjelaskan sesuatu."
Si Amat sedikit terkejut. Biasanya orang baru tidak berani
berkata seperti itu. "Iya, Bu?"
"Di setiap berkas yang Bapak anggap remeh, ada nama,
ada alamat, ada harapan. Ketika berkas itu tidak tertata, yang dirugikan bukan
hanya kantor ini. Tapi warga yang membutuhkan pelayanan cepat."
Ruangan langsung hening. Tidak ada yang bergerak. Bahkan
detak jarum jam terdengar jelas.
"Santai boleh, Mas Amat. Tapi kalau warga butuh berkas
cepat, kita juga harus siap cepat."
Kalimat itu sederhana. Namun terasa seperti paku yang
menancap di papan kayu. Tidak bisa dicabut begitu saja.
Pak Edi menggaruk kepalanya yang mulai beruban. "Ya...
ada benarnya juga sih..."
Pak Santoso menyesuaikan kacamatanya yang turun ke ujung
hidung. "Iya... kita memang harus lebih rapi."
Bu Yuni kembali ke mejanya. Namun kali ini, bukan hanya
berkas yang ia hadapi. Ia juga menghadapi kebiasaan lama yang sudah mengakar.
Dan ia tahu, itu akan menjadi pertempuran yang jauh lebih sulit daripada
sekadar merapikan tumpukan kertas.
Siang harinya, setelah beberapa jam merapikan berkas, Bu
Yuni memutuskan untuk berkeliling desa. Ia ingin mengenal warganya secara
langsung.
"Bu Yuni, belum waktunya turun ke lapangan," kata
Pak Edi. "Biasanya kami di kantor saja."
"Tapi warga ada di rumah mereka, Pak. Bukan di
kantor," jawab Bu Yuni sambil mengambil tas kecilnya.
Ia berjalan menyusuri jalan desa yang masih berbatu.
Rumah-rumah warga berdiri sederhana di kiri-kanan jalan. Ada yang terbuat dari
kayu, ada yang dari bambu. Beberapa rumah terlihat baru dicat, namun sebagian
besar sudah kusam karena usia.
"Selamat siang," sapa Bu Yuni kepada seorang ibu
yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Siang, Mbak. Siapa ya?" tanya ibu itu dengan
nada sedikit curiga.
"Saya Yuni, Bu. Sekretaris desa yang baru."
Ibu itu terkejut. Matanya membulat. "Lho, Sekdes?
Perempuan?"
"Iya, Bu. Perempuan."
Ibu itu tertawa kecil. "Wah, baru kali ini desa kami
punya Sekdes Perempuan. Biasanya laki-laki semua."
"Semoga bisa membantu, Bu."
Ibu itu mengangguk. "Semoga, Mbak. Semoga."
Pertemuan demi pertemuan, Bu Yuni mulai mengenal warganya.
Ada Pak Karto, petani yang tanahnya selalu kebanjiran setiap hujan. Ada Bu
Tini, janda dengan tiga anak yang bekerja sebagai buruh cuci. Ada Pak Darmo,
yang sedang pusing mengurus tanah warisan. Ada Anto, sopir truk yang terkenal
dengan ramalannya. Ada Guntur, remaja energik yang bercita-cita menjadi polisi.
Setiap orang memiliki cerita. Setiap orang memiliki
masalah. Dan Bu Yuni mendengarkan semuanya dengan sabar.
"Saya akan berusaha membantu," katanya kepada
setiap orang yang ia temui.
Namun di dalam hatinya, ia bertanya-tanya: bisakah ia
benar-benar membantu? Dengan sistem administrasi yang berantakan, dengan
perangkat desa yang santai, dengan keterbatasan yang ada di mana-mana?
Malam harinya, ia menulis di buku catatannya:
"Hari pertama. Meja penuh berkas. Warga punya banyak
harapan. Aku tidak tahu apakah aku bisa memenuhi semuanya. Tapi aku akan
mencoba. Dengan sekuat tenaga."
BAB 1
HARI PERTAMA YANG TIDAK BIASA
Pukul 05.30. Desa Awan Biru masih diselimuti kabut tebal.
Ayam-ayam mulai berkokok bersahutan, memecah kesunyian malam yang perlahan
berganti dengan fajar. Suara adzan subuh dari masjid desa menggema di antara
bukit-bukit, mengingatkan warga bahwa hari baru telah dimulai.
Bu Yuni sudah bangun sejak pukul 04.30. Ini adalah
kebiasaan yang ia bawa sejak kecil: bangun sebelum subuh, membantu ibunya
menyiapkan sarapan, lalu bersiap untuk aktivitas hari itu. Di rumah
kontrakannya yang sederhana, berukuran 4x6 meter dengan satu kamar tidur, ruang
tamu kecil, dan dapur sempit, ia memanaskan air di kompor minyak tanah untuk
membuat kopi.
Rumah kontrakan itu terletak sekitar sepuluh menit jalan
kaki dari kantor desa. Bangunannya dari kayu dengan dinding anyaman bambu yang
sudah mulai rapuh. Atapnya dari seng yang berbunyi setiap kali angin bertiup
kencang. Lantainya dari papan kayu yang tidak rata, berderit setiap kali
dilangkahi. Namun bagi Bu Yuni, rumah ini sudah cukup. Ia tidak butuh
kemewahan. Ia butuh tempat untuk beristirahat setelah seharian bekerja.
Setelah shalat subuh, ia duduk di beranda sambil menyeruput
kopi hitam tanpa gula. Udara dingin menusuk pipinya. Kabut masih tebal, membuat
jarak pandang hanya sekitar 20 meter. Dari kejauhan, terdengar suara
orang-orang yang mulai beraktivitas: ada yang menyapu halaman, ada yang
memanggil-manggil ayamnya yang lepas, ada juga suara anak-anak yang berangkat
ke sekolah.
"Hari ini akan berat," gumamnya sambil memandangi
langit yang mulai berwarna jingga di ufuk timur. "Tapi aku harus
kuat."
Ia mengenakan seragam kerjanya: kemeja putih lengan
panjang, rok hitam selutut, dan sepatu pantofel hitam yang sudah mulai usang.
Rambutnya ia sisir rapi ke belakang, diikat dengan jepit sederhana. Tidak ada
riasan berlebihan di wajahnya,hanya bedak tipis dan lipstik warna pink pucat.
"Ya Allah, berkati hari ini," bisiknya sambil
menutup pintu rumah.
Jalan dari rumah kontrakan Bu Yuni ke kantor desa melewati
pemukiman warga. Rumah-rumah berdiri berderet di kiri-kanan jalan setapak yang
terbuat dari batu dan tanah. Beberapa rumah sudah mulai beraktivitas: ada asap
dapur yang mengepul dari cerobong, ada suara ibu-ibu yang menyiapkan sarapan,
ada juga bau gorengan yang mulai semerbak.
"Selamat pagi, Bu," sapa Bu Yuni kepada setiap
orang yang ia temui.
"Pagi, Mbak. Mau ke kantor?" tanya seorang ibu
setengah baya yang sedang menyapu halaman.
"Iya, Bu."
"Semangat ya, Mbak. Baru mulai kan?"
"Iya, Bu. Terima kasih."
Warga Desa Awan Biru ternyata sudah tahu bahwa ada
sekretaris desa baru. Kabar berjalan cepat di desa, lebih cepat dari internet.
Dalam dua hari, hampir semua orang sudah tahu bahwa sekdes baru adalah seorang
wanita dari luar desa.
"Katanya orangnya baik," kata warga di warung
kopi.
"Katanya tegas," kata yang lain.
"Katanya... belum tahu," kata Anto sambil
tersenyum misterius.
Bu Yuni tidak tahu apa yang dibicarakan warga tentang
dirinya. Namun ia tidak terlalu memusingkan. Yang penting, ia bekerja dengan
baik. Nanti hasilnya akan berbicara sendiri.
Pukul 06.30, Bu Yuni tiba di kantor desa. Masih terlalu
awal, kantor biasanya mulai ramai pukul 08.00. Namun ia sengaja datang lebih
awal untuk mempersiapkan diri.
Pintu kantor masih terkunci. Bu Yuni mengeluarkan kunci
yang diberikan Pak Santoso kemarin. Kunci itu besar dan berkarat, susah
diputar. Butuh beberapa kali percobaan sampai akhirnya pintu terbuka dengan
suara berderit.
Di dalam, suasana masih gelap. Lampu neon belum dinyalakan.
Hanya cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah-celah jendela, menerangi
debu-debu yang beterbangan di udara.
Bu Yuni menyalakan lampu. Neon 20 watt itu berkedip-kedip
beberapa kali sebelum akhirnya menyala redup. Cahayanya hanya cukup untuk
menerangi ruangan, tidak lebih.
Ia berjalan menuju mejanya. Tumpukan berkas kemarin masih
ada, namun kali ini ia sudah memisahkan beberapa kelompok. Ada tiga tumpukan:
merah untuk arsip kependudukan, hijau untuk pertanahan, biru untuk surat
menyurat.
"Kita lanjutkan dari sini," gumamnya sambil
duduk.
Tangannya mulai bekerja. Ia membuka satu per satu berkas,
membaca isinya, lalu mengelompokkan berdasarkan jenis. Ia juga membuat catatan
kecil di buku registrasinya: nomor berkas, tanggal masuk, jenis berkas, dan
keterangan.
Proses ini memakan waktu. Namun Bu Yuni tidak terburu-buru.
Ia tahu bahwa kerapian tidak bisa dipaksakan dalam satu hari. Yang penting, ia
konsisten.
Pukul 07.30, Pak Edi datang. Seperti biasa, ia membawa kopi
dalam termos besar. Wajahnya masih setengah mengantuk, rambutnya agak
acak-acakan.
"Pagi, Bu," sapanya sambil menguap.
"Pagi, Pak Edi."
"Lho, sudah dari jam berapa ini?"
"Jam setengah tujuh, Pak."
"Wah, rajin amat. Biasanya kami datang jam setengah
delapan."
Bu Yuni tersenyum. "Saya suka datang lebih awal, Pak.
Biar bisa siap-siap dulu."
Pak Edi mengangguk-angguk sambil duduk di mejanya. Ia
menuang kopi ke gelas plastik, lalu menyeruputnya dengan nikmat. "Enak
juga kalau pagi-pagi begini. Sepi. Bisa konsentrasi."
Pukul 07.45, Pak Eko datang. Seperti biasa, ponselnya sudah
menyala di tangan. Jempolnya bergerak cepat di layar.
"Pagi, Bu. Pagi, Pak," sapanya sambil duduk.
"Pagi, Pak Eko," jawab Bu Yuni.
"Wah, meja Bu Yuni sudah mulai rapi ya," komentar
Pak Eko sambil melihat tumpukan berkas yang mulai tersusun.
"Masih jauh dari rapi, Pak. Tapi sudah mulai ada
sistem."
"Sistem apa, Bu?"
"Klasifikasi warna. Merah untuk kependudukan, hijau
untuk pertanahan, biru untuk surat menyurat."
Pak Eko terkesima. "Wah, baru kali ini saya lihat ada
sistem begitu. Biasanya cuma ditumpuk saja."
Bu Yuni tersenyum. "Semoga membantu, Pak."
Pukul 08.00, Pak Santoso, Bu Lulu, dan Si Amat datang
hampir bersamaan. Mereka terkejut melihat Bu Yuni sudah duduk di mejanya dengan
tumpukan berkas yang mulai rapi.
"Wah, Bu, sudah dari tadi ya?" tanya Pak Santoso.
"Iya, Pak. Saya suka datang lebih awal."
Si Amat menggaruk kepalanya. "Saya rasa kita harus
mulai datang lebih awal juga, ya."
Pak Edi tertawa. "Jangan, Mat. Nanti saya jadi nggak
sempat minum kopi di rumah."
Semua tertawa. Suasana hangat meskipun pagi itu dingin.
Pukul 08.30, warga pertama datang. Seorang pria paruh baya
dengan kemeja kotak-kotak lusuh dan sandal jepit. Wajahnya tampak lelah,
matanya sayu.
"Permisi, Pak... Bu... saya mau mengurus surat keterangan
tidak mampu," katanya.
Itu Pak Surip, warga Dusun Ngemplak. Ia adalah buruh tani
yang penghasilannya tidak menentu. Ia membutuhkan surat keterangan tidak mampu
untuk mengajukan beasiswa anaknya yang akan masuk SMP.
Si Amat yang bertugas di bagian pelayanan langsung berdiri.
"Silakan, Pak. Tunggu sebentar ya."
Ia membuka lemari arsip. Mulai mencari berkas Pak Surip.
Satu lemari dibuka, lalu ditutup. Lemari lain dibuka, lalu ditutup lagi.
Wajahnya mulai berkeringat.
"Sebentar, Pak... ini di mana ya..."
Pak Surip mulai gelisah. Kakinya yang bersandal jepit itu
bergerak-gerak di tempat. "Lho, Mas... bukannya sudah pernah ngurus
ya?"
"Pernah, Pak. Tapi... sepertinya pindah tempat."
Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit. Pak Surip sudah
hampir menyerah.
"Mas, saya sudah sering ke sini. Selalu begitu.
Lama."
Si Amat semakin panik. "Iya, Pak... ini lagi
dicari..."
Bu Yuni yang memperhatikan dari mejanya akhirnya berdiri.
"Mas Amat, izinkan saya mencoba."
Si Amat lega. "Silakan, Bu."
Bu Yuni mendekati lemari arsip. Matanya menyapu setiap map.
Ia membaca label satu per satu. Tangannya bergerak cepat namun pasti.
"Pak Surip, Dusun Ngemplak, ya?"
"Iya, Bu."
Bu Yuni mengambil map warna merah dari rak paling bawah. Ia
membukanya, mencari beberapa saat, lalu mengeluarkan selembar kertas.
"Ini, Pak. Surat keterangan tidak mampu yang sudah
pernah Bapak urus dulu. Tinggal diperbarui."
Pak Surip terkejut. Matanya membulat. "Wah... kok bisa
ketemu, Bu?"
"Karena sudah dikelompokkan berdasarkan dusun, Pak.
Jadi lebih mudah dicari."
Si Amat menepuk dahinya. "Wah, saya tidak kepikiran
begitu, Bu."
Bu Yuni tersenyum. "Tidak apa-apa, Mas. Kita belajar
bersama."
Pak Surip menerima surat itu dengan tangan gemetar. Matanya
berkaca-kaca. "Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak. Anak saya bisa
sekolah."
"Sama-sama, Pak. Semoga anaknya sukses."
Pak Surip keluar dengan langkah lebih ringan dari saat
datang. Di belakangnya, suasana kantor berubah. Tidak ada lagi tawa santai.
Yang ada adalah rasa hormat yang baru lahir.
Pukul 10.00, Pak Kades Iwan memanggil Bu Yuni ke
ruangannya. "Bu, tolong masuk sebentar."
Ruang Pak Kades tidak lebih mewah dari ruang lainnya. Meja
kayu sederhana, kursi putar yang rodanya sudah rusak, lemari arsip kecil, dan
foto istrinya di atas meja. Udara di ruangan ini agak pengap karena ventilasi
hanya satu di dinding belakang.
"Silakan duduk, Bu," kata Pak Iwan sambil
menunjuk kursi di depannya.
Bu Yuni duduk dengan tenang. "Ada yang bisa dibantu,
Pak?"
"Tidak ada yang khusus. Saya hanya ingin tahu...
bagaimana kesan Ibu setelah beberapa hari di sini?"
Bu Yuni berpikir sejenak. "Jujur, Pak, banyak yang
harus dibenahi."
Pak Iwan mengangguk. "Saya tahu. Itu sebabnya saya
merekrut Ibu."
"Tapi saya tidak bisa melakukannya sendiri, Pak. Saya
butuh dukungan semua pihak."
"Ibu akan mendapatkannya. Saya akan memastikan
itu."
Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Pak."
Pak Iwan menghela napas. "Bu, jujur... saya sudah
frustrasi. Sudah enam bulan saya menjabat, tapi belum ada perubahan berarti.
Warga mulai kecewa."
"Sabar, Pak. Perubahan tidak terjadi dalam
semalam."
"Saya tahu. Tapi... kadang sabar itu berat."
Bu Yuni menatap Pak Iwan dengan mata teduh. "Pak, saya
belajar dari ayah saya. Beliau seorang guru. Beliau bilang, mengubah kebiasaan
itu seperti mengukir batu. Pelan-pelan, tapi hasilnya akan permanen."
Pak Iwan tersenyum. "Ayah Ibu bijak."
"Iya, Pak. Beliau guru yang hebat."
"Baik, Bu. Saya serahkan semuanya kepada Ibu. Saya
percaya."
Bu Yuni berdiri. "Terima kasih, Pak. Saya tidak akan
mengecewakan."
Sore harinya, setelah seharian bekerja, Bu Yuni merasa
sangat lelah. Bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Ia harus berhadapan
dengan tumpukan berkas yang tidak pernah habis, dengan rekan kerja yang masih
setengah hati, dengan warga yang datang silih berganti.
Pukul 16.00, kantor mulai sepi. Satu per satu perangkat
desa pulang. Pak Edi pulang lebih awal karena ada acara keluarga. Pak Eko pamit
karena ada arisan. Si Amat pulang karena ibunya sakit.
"Bu, tidak pulang?" tanya Pak Santoso yang
terakhir keluar.
"Sebentar lagi, Pak. Saya selesaikan ini dulu."
Pak Santoso mengangguk. "Jangan terlalu malam, Bu.
Desa ini gelap kalau malam."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Bu Yuni duduk sendirian di kantor. Lampu neon
berkedip-kedip. Suara jangkrik mulai terdengar dari luar. Angin malam berhembus
masuk melalui celah-celah dinding, membawa hawa dingin yang menusuk.
Ia memandangi mejanya. Tumpukan berkas yang pagi masih
menggunung, kini sudah berkurang setengahnya. Masih banyak yang harus
dikerjakan, tapi setidaknya ada kemajuan.
"Besok akan lebih baik," gumamnya sambil
merapikan map-map.
Ia menulis di buku catatannya:
"Hari pertama sebagai Sekdes. Banyak yang harus
dibenahi. Sistem belum ada. Kebiasaan lama masih kuat. Tapi aku tidak akan
menyerah. Aku tidak akan menyerah."
Ia menutup buku itu, mengambil tasnya, dan berjalan keluar.
Udara malam menusuk pipinya. Bintang-bintang bertaburan di langit, jauh lebih
indah daripada langit kota yang selalu tertutup polusi.
"Ya Allah, beri aku kekuatan," bisiknya sambil
berjalan pulang.
Di kejauhan, terdengar suara adzan magrib menggema di
antara bukit-bukit.
Setelah magrib, Bu Yuni duduk di beranda rumah
kontrakannya. Seperti biasa, ia memegang buku catatan kecilnya. Ia membaca
kembali apa yang ia tulis hari ini.
"Pak Surip, warga Dusun Ngemplak, datang untuk
mengurus surat keterangan tidak mampu. Berkasnya hampir hilang. Untung
ketemu."
Ia menghela napas. "Berapa banyak lagi berkas yang
hampir hilang?" gumamnya.
Seekor kucing kampung berwarna oranye tiba-tiba melompat ke
pangkuannya. Bu Yuni tersenyum kecil dan mengelus kepala kucing itu.
"Kamu dari mana, ya?" tanyanya. Kucing itu hanya
mengeong pelan.
"Kita sama-sama pendatang baru, ya," lanjut Bu
Yuni. "Aku juga belum tahu banyak tentang desa ini."
Kucing itu diam, sesekali mengedipkan matanya.
Bu Yuni melanjutkan berbicara, entah kepada kucing itu,
atau kepada dirinya sendiri. "Aku tahu ini tidak akan mudah. Hari pertama
saja aku sudah melihat banyak yang perlu dibenahi. Tapi kalau aku mundur
sekarang, aku akan menyesal selamanya."
Ia menghela napas lagi, mengingat masa lalu. "Dulu,
waktu kecil, aku lihat ayahku mengajar di sekolah yang atapnya bocor.
Murid-muridnya banyak yang tidak punya buku. Tapi ayahku tidak pernah mengeluh.
Beliau hanya bilang, 'Nak, mengeluh tidak memperbaiki apa pun. Tangan yang bekerja,
itulah yang mengubah segalanya.'"
Mata Bu Yuni berkaca-kaca sebentar. "Aku kangen
ayah," bisiknya.
Kucing itu mengeong lagi, seolah ingin menghiburnya. Bu
Yuni tersenyum dan mengusap kepala kucing itu sekali lagi.
"Baiklah, mulai besok aku harus lebih siap. Bukan
hanya fisik, tapi juga mental. Karena ini bukan hanya soal merapikan berkas.
Ini soal mengubah kebiasaan manusia. Dan itu... jauh lebih sulit."
Ia menatap bintang-bintang di atasnya. "Ya Allah, beri
aku kekuatan. Aku tidak meminta kemudahan. Aku hanya meminta keteguhan untuk
tidak menyerah."
Malam itu, Bu Yuni tidur lebih larut dari biasanya. Namun tidurnya
nyenyak. Karena ia tahu, esok, perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai.
BAB
2
BERKAS YANG HILANG, KEPERCAYAAN YANG GOYAH
Hari ketiga Bu Yuni bertugas di Desa Awan Biru dimulai
dengan cara yang tidak biasa.
Biasanya, kabut pagi di desa itu turun dengan lembut,
seperti selendang putih yang perlahan membungkus lembah. Burung-burung berkicau
riang, ayam berkokok dengan bangga, dan asap dapur mulai mengepul dari
cerobong-cerobong rumah warga. Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda.
Bu Yuni terbangun pukul 03.30, lebih awal dari biasanya, dengan
perasaan tidak tenang. Ia bermimpi aneh: berkas-berkas beterbangan di udara
seperti daun kering, dan ia berusaha menangkapnya satu per satu, namun selalu
gagal. Di dalam mimpi itu, ia mendengar suara orang menangis, suara orang
marah, dan suara orang yang kecewa.
"Ya Allah, mimpi apa ini?" gumamnya sambil duduk
di tempat tidur.
Keringat dingin membasahi keningnya. Udara pagi yang dingin
menusuk pori-pori, namun ia merasa panas. Ia beranjak dari tempat tidur,
mengambil air wudhu, dan shalat tahajud. Setelah itu, ia duduk di beranda,
menunggu fajar menyingsing.
Kucing oranye kemarin tidak datang. Mungkin ia sedang tidur
di rumah orang lain, pikir Bu Yuni sambil tersenyum.
Pukul 05.00, adzan subuh berkumandang dari masjid desa.
Suaranya menggema di antara bukit-bukit, memecah kesunyian malam yang mulai
berganti dengan cahaya pagi. Bu Yuni bergegas ke masjid, masjid desa yang
sederhana dengan dinding bata putih dan kubah hijau, untuk shalat berjamaah.
Di masjid, ia bertemu beberapa warga yang sudah lebih dulu
datang. Ada Pak Karyo, pemilik warung kopi, yang duduk di baris paling depan
dengan khusyuk. Ada Pak Darmo, yang nanti siang akan menjadi sumber masalah
besar, yang duduk di pojok dengan wajah tegang. Ada juga Anto, sopir truk
dengan jaket kulitnya yang khas, yang justru duduk di baris paling belakang
sambil sesekali menguap.
Setelah shalat, Bu Yuni menyapa mereka satu per satu.
"Selamat pagi, Pak Karyo."
"Pagi, Bu Yuni. Baru bangun? Wajahnya segar
sekali," jawab Pak Karyo dengan senyum ramah. Gigi depannya sudah ompong,
namun matanya masih jernih.
"Alhamdulillah, Pak. Semoga sehat selalu."
Ia kemudian menghampiri Pak Darmo. "Selamat pagi, Pak
Darmo."
Pak Darmo hanya mengangguk singkat. Wajahnya tampak lebih
tegang dari biasanya. Matanya sedikit sembab, sepertinya kurang tidur. Kerutan
di dahinya semakin dalam, dan rahangnya mengatup rapat.
"Ada yang mengganggu pikiran, Pak?" tanya Bu Yuni
hati-hati.
"Tidak, Bu. Cuma banyak kerjaan," jawab Pak Darmo
ketus, lalu berjalan cepat meninggalkan masjid.
Bu Yuni memandang punggung Pak Darmo yang menjauh. Ada
sesuatu yang tidak beres, pikirnya. Tapi ia tidak ingin memaksa. Nanti juga
akan tahu.
Anto menghampirinya dengan langkah santai. Jaket kulitnya
yang lusuh masih setia di badan. "Bu Yuni, saya mimpi aneh tadi
malam."
"Kenapa, To?" Bu Yuni sudah mulai terbiasa dengan
"ramalan" Anto.
"Saya mimpi ada orang marah-marah di kantor desa.
Teriak-teriak. Sampai kertas beterbangan."
Bu Yuni tersenyum tipis. "Semoga hanya mimpi,
To."
"Semoga," kata Anto sambil berjalan keluar. Tapi
sebelum meninggalkan masjid, ia berbalik dan berkata, "Tapi Bu... kadang
mimpi itu pertanda."
Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya menghela napas dan berdoa
dalam hati: "Ya Allah, lindungi kami semua."
Bu Yuni sampai di kantor pukul 07.00, lebih awal dari
biasanya. Ia ingin memanfaatkan waktu sepi untuk merapikan lebih banyak berkas
sebelum rekan-rekannya datang.
Namun pagi itu, ia tidak sendirian.
Si Amat sudah ada di kantor sejak pukul 06.30. Ia sedang
duduk di mejanya, membaca buku catatan yang diberikan Bu Yuni kemarin, buku
tentang klasifikasi arsip yang ditulis tangan oleh Bu Yuni sendiri.
"Mas Amat, sudah dari tadi?" tanya Bu Yuni
terkejut.
Si Amat tersenyum malu. "Iya, Bu. Saya... saya ingin
belajar. Kemarin Ibu bilang, kalau bukan sekarang kapan lagi?"
Bu Yuni tersenyum hangat. "Bagus, Mas Amat. Semangat
seperti ini yang kita butuhkan."
"Bu, saya baca catatan Ibu tentang klasifikasi arsip.
Tapi ada yang tidak saya mengerti."
"Apa yang tidak dimengerti?"
"Klasifikasi berdasarkan jenis itu saya paham. Tapi
yang berdasarkan dusun... bagaimana caranya?"
Bu Yuni duduk di samping Si Amat. Ia membuka map contoh.
"Lihat, Mas. Setiap berkas warga, kita catat dusun asalnya. Lalu kita buat
map terpisah per dusun. Jadi kalau ada warga dari Dusun Krajan, kita cari di
map Krajan. Tidak perlu buka semua map."
Si Amat mengangguk-angguk. "Oh... jadi lebih spesifik."
"Betul. Semakin spesifik klasifikasi, semakin cepat
pencarian."
"Tapi Bu, itu berarti kita harus memisahkan ribuan
berkas berdasarkan dusun. Banyak kerja."
Bu Yuni menatap Si Amat dengan mata teduh. "Mas Amat,
lebih baik capek memisahkan sekali, daripada capek mencari setiap hari."
Si Amat terdiam. Lalu tersenyum. "Iya, Bu. Saya
mengerti."
Mereka berdua kemudian bekerja bersama. Si Amat membuka
lemari arsip, mengeluarkan berkas-berkas lama, lalu memisahkannya berdasarkan
dusun. Bu Yuni membuat label-label baru dari kertas bekas, menulisnya dengan
rapi menggunakan spidol hitam.
Pukul 07.30, Pak Edi datang. Ia terkejut melihat Si Amat
sudah bekerja.
"Wah, Mat, lo sudah dari tadi?" tanyanya sambil
menuang kopi ke gelas.
"Iya, Pak. Belajar sama Bu Yuni."
Pak Edi menggeleng-gelengkan kepala. "Dunia kiamat,
Mat. Lo yang biasanya paling santai, sekarang paling rajin."
Si Amat tertawa. "Saya sadar, Pak. Kita tidak bisa
santai terus."
Pak Edi hanya tersenyum dan duduk di mejanya. Namun matanya
sesekali melirik ke arah Bu Yuni dan Si Amat yang sedang asyik memisahkan
berkas. Ada rasa kagum yang tidak ia akui.
Pukul 08.00, rekan-rekan lain datang. Pak Eko dengan
ponselnya, Pak Santoso dengan kacamatanya, Bu Lulu dengan map keuangannya.
Suasana kantor pagi itu lebih hidup dari biasanya. Ada semangat baru yang mulai
tumbuh, meskipun masih samar-samar.
Pukul 09.30. Matahari mulai meninggi, menembus kabut yang
perlahan menghilang. Udara di kantor desa mulai hangat, namun tidak sehangat
suasana hati beberapa orang yang sedang bekerja.
Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar dari luar.
Sepatu boot menginjak kerikil halaman dengan suara gemeretak yang keras.
Bebatuan kecil terpental ke kiri dan kanan. Suasana yang tadinya tenang berubah
tegang dalam sekejap.
"PERMISI!!!"
Suara itu keras, memecah konsentrasi semua orang di dalam.
Pak Edi hampir menumpahkan kopinya. Pak Eko menjatuhkan ponselnya ke lantai, untung
tidak pecah. Si Amat berdiri tegak, jantungnya berdebar kencang.
Seorang pria setengah baya masuk dengan langkah lebar dan
wajah merah padam. Ia memakai kemeja lengan pendek warna biru tua yang basah
oleh keringat di bagian ketiak dan punggung. Celana kain hitamnya kusut,
terutama di bagian lutut. Sandal jepitnya sudah usang, solnya hampir putus.
Wajahnya merah padam, urat leher menonjol seperti tali yang ditarik kencang.
Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena amarah yang membara.
Itu Pak Darmo. Tokoh masyarakat yang dikenal tegas dan
cukup vokal. Ia adalah ketua RT 03 Dusun Krajan, juga seorang petani yang
memiliki tanah warisan seluas satu hektar di lereng bukit. Tanah itu telah
menjadi sumber kehidupan keluarganya selama tiga generasi. Namun setahun
terakhir, tanah itu menjadi sumber masalah besar.
"Mana Sekdesnya?!" suaranya langsung meninggi
hingga membuat burung pipit yang bertengger di atap terbang berhamburan.
Si Amat yang paling dekat dengan pintu langsung berdiri,
tangannya gemetar. "Itu, Pak... Bu Yuni di sana."
Pak Darmo langsung melangkah cepat ke meja Bu Yuni.
Langkahnya berat, menghentak, seperti palu godam yang menghantam lantai ubin.
Setiap hentakan terdengar jelas di ruangan yang sunyi. "Bu, saya mau
tanya! Berkas tanah saya yang saya urus dua bulan lalu itu mana?!"
Suasana langsung hening. Sunyi. Sampai-sampai dengungan
lampu neon terdengar jelas. Pak Edi menahan napas. Pak Eko memejamkan mata. Bu
Lulu memegang dadanya yang berdebar kencang. Si Amat menelan ludah hingga
jakunnya naik turun.
Bu Yuni mengangkat wajahnya. Ia tetap tenang. Tidak ada
sedikit pun kepanikan di matanya. Tidak ada gugup di bibirnya. "Silakan
duduk dulu, Pak. Kita cek bersama ya."
Suaranya lembut, tetapi tegas. Seperti orang tua yang
menenangkan anaknya yang sedang mengamuk.
"Saya nggak mau duduk, Bu! Saya sudah capek
bolak-balik ke sini!" suara Pak Darmo mulai bergetar antara marah dan
kecewa. Tangannya mengepal, kuku-kukunya hampir menembus telapak tangan.
"Kemarin katanya sudah hampir selesai, sekarang malah nggak jelas! Katanya
tinggal tanda tangan camat! Kok sampai sekarang belum ada kabar?!"
Pak Edi berbisik pelan ke Pak Eko, "Wah... ini sudah
mulai panas."
Pak Eko membalas bisikan dengan suara yang hampir tidak
terdengar, "Ini bukan panas lagi, ini sudah mendidih. Saya tidak pernah
lihat Pak Darmo segini marahnya."
Bu Lulu menimpali dengan bisikan yang lebih pelan,
"Dia biasanya orangnya sabar. Pasti ada masalah besar di rumah."
Bu Yuni tetap berdiri. Ia tidak terpancing emosi. Ia
mengambil buku catatan kecil dari sakunya, buku yang selalu ia bawa ke
mana-mana, yang sampulnya sudah lusuh karena sering dibuka-tutup. "Baik,
Pak. Boleh saya tahu nama lengkap dan tanggal pengurusannya?"
Pak Darmo mendengus keras. Uap dari mulutnya terlihat di
udara pagi yang masih dingin. "Darmo bin Kertowijoyo! Tanah di RT 03,
Dusun Krajan! Bulan lalu saya urus ulang karena katanya ada kekurangan!
Sekarang, mana berkasnya?!"
Bu Yuni membuka buku catatannya. Tangannya bergerak cepat,
menelusuri halaman demi halaman. Matanya menyipit, membaca setiap baris dengan
teliti. Ia sudah mencatat semua berkas yang masuk sejak hari pertamanya bertugas.
"Mas Amat, berkas RT 03 bagian pertanahan, bisa
dibantu?" perintah Bu Yuni dengan suara tenang.
Si Amat agak gugup. Wajahnya pucat. "Oh... iya, Bu...
sebentar..."
Ia berjalan menuju lemari arsip, lemari kayu tua yang
pintunya berderit setiap kali dibuka. Tangannya gemetar saat membuka pintu
lemari. Ia mulai mencari. Satu map dikeluarkan, diperiksa, lalu dimasukkan
lagi. Map lain dikeluarkan, dibuka, lalu ditutup lagi. Keringat mulai membasahi
keningnya, menetes ke pipi, jatuh ke lantai.
"Di mana sih..." gumamnya sambil mengutak-atik
map demi map.
Pak Darmo mulai kehilangan kesabaran. Keringatnya
bercucuran di dahi, meskipun udara pagi masih dingin. Dadanya naik turun dengan
cepat. "Gimana ini?! Jangan bilang hilang lagi!"
Ruangan mulai terasa panas meskipun udara di luar dingin.
Suhu emosi semua orang naik. Bu Lulu berbisik ke Pak Santoso, "Ya Allah...
jangan sampai hilang. Kalau sampai hilang, bisa panjang urusannya. Tanah
warisan itu sudah tiga generasi."
Pak Santoso membalas dengan suara pelan, kacamatanya turun
ke ujung hidung. "Saya tahu. Saya dengar dari Pak RT, tanah itu sedang
dipermasalahkan di pengadilan. Ada orang dari kota yang mengklaim punya
sertifikat."
Bu Yuni menatap Si Amat. "Mas Amat, terakhir berkas
itu disimpan di mana?"
Si Amat menelan ludah. Matanya berkeliaran, seperti mencari
jawaban di udara. "Kayaknya... di sini, Bu... atau... di map kuning...
atau di map biru... Saya lupa, Bu. Maaf, saya lupa."
Pak Darmo langsung menyela dengan suara tinggi, hampir
berteriak. "Lupa?! Masa berkas penting lupa?! Ini tanah saya, Pak! Bukan
kertas mainan! Saya sudah bertahun-tahun bekerja di tanah itu! Orang tua saya,
kakek saya, buyut saya, semua dari tanah itu! Sekarang ada orang dari kota yang
mengaku punya sertifikat, dan saya tidak punya bukti apa-apa karena berkas saya
hilang!"
Suasana memuncak. Pak Edi mencoba menenangkan, tangannya
terangkat setengah memohon. "Sabar, Pak Darmo... kita cari dulu..."
"Sabar, sabar! Dari kemarin saya disuruh sabar! Kata
orang, 'Sabar, Pak, berkasnya sedang diproses.' 'Sabar, Pak, minggu depan
jadi.' 'Sabar, Pak, camat sedang sibuk.' SABAR TERUS! Sekarang tanah saya mau
diambil orang, dan saya harus SABAR?!"
Tinju Pak Darmo menghantam meja kayu di depannya dengan
keras. Bunyi DUAR membuat semua orang terkejut. Gelas plastik
di atas meja itu jatuh dan berguling ke lantai. Sebuah map terbuka dan
kertas-kertasnya berhamburan.
Suasana berubah semakin tegang. Pak Eko sudah berdiri,
siap-siaga jika terjadi sesuatu. Pak Santoso menarik napas panjang, berusaha
menenangkan dirinya sendiri. Bu Lulu menutup mulutnya dengan kedua telapak
tangan, matanya berkaca-kaca.
Bu Yuni berdiri perlahan. Ia tidak terburu-buru. Tidak
panik. Ia mengambil map yang jatuh, merapikan kertas-kertas yang berhamburan,
lalu meletakkannya kembali di meja dengan tenang. Kemudian ia menatap Pak
Darmo.
Matanya tidak marah. Tidak takut. Tidak menghakimi. Matanya
justru... teduh.
"Pak Darmo," katanya pelan tapi tegas, suaranya
tidak lebih dari bisikan namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
"Saya mengerti kekecewaan Bapak. Saya mengerti ketakutan Bapak. Tanah
warisan bukan main-main. Tapi marah tidak akan menemukan berkas. Saya mohon,
beri saya waktu sebentar. Kita cari bersama. Dan saya pastikan, saya janji, kita
cari sampai ketemu."
Ruangan hening. Detak jarum jam terdengar seperti palu
godam. Semua mata tertuju pada Pak Darmo.
Pak Darmo terdiam. Dadanya masih naik turun. Namun
amarahnya perlahan mulai reda. Ia menghela napas panjang, mengatur napas yang
tersengal-sengal. "Berapa lama, Bu?"
"Lima belas menit, Pak."
"Baik. Saya tunggu. Tepat lima belas menit."
Bu Yuni mengangguk. Ia segera berjalan ke lemari arsip.
Matanya menyapu setiap map, setiap label, setiap sudut lemari. Ia seperti
pemburu yang sedang membidik jejak.
Si Amat menghampiri. "Bu, saya bantu."
"Ambil semua map pertanahan dari tiga tahun terakhir.
Keluarkan semua."
Si Amat mengangguk dan segera bekerja. Mereka berdua
mengeluarkan map demi map, meletakkannya di meja besar di tengah ruangan.
Pak Darmo berdiri di samping, menonton dengan saksama.
Wajahnya masih tegang, namun tidak lagi marah. Ada harapan di matanya, harapan
yang hampir padam, namun masih menyala kecil.
Waktu berjalan. Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Bu Yuni dan Si Amat membuka map satu per satu. Mereka
memeriksa setiap berkas, membaca setiap lembar, mencari nama "Darmo bin
Kertowijoyo".
"Tidak ada di sini, Bu," kata Si Amat setelah
memeriksa map pertama.
"Coba map tahun lalu," perintah Bu Yuni.
Map kedua dibuka. Tidak ada.
Map ketiga. Keempat. Kelima.
Suasana semakin tegang. Pak Darmo mulai gelisah lagi.
Kakinya yang bersandal jepit itu bergerak-gerak di tempat. Ia menggigit bibir
bawahnya, berusaha menahan diri untuk tidak berteriak lagi.
"Nihil, Bu," kata Si Amat dengan suara putus asa.
Bu Yuni tidak menyerah. Ia menatap lemari arsip sekali
lagi. Matanya berhenti di sebuah map tua di rak paling atas, map yang hampir
tidak terlihat karena tertutup debu tebal.
"Itu map apa, Mas Amat?"
Si Amat mengikuti arah pandang Bu Yuni. "Oh, itu map
arsip lama. Tahun 1990-an ke bawah."
"Ambilkan."
Si Amat mengambil map itu dengan susah payah, letaknya
terlalu tinggi. Ia harus berdiri di atas kursi untuk meraihnya. Debu
beterbangan saat map itu diambil, membuat Si Amat bersin tiga kali
berturut-turut.
Bu Yuni membuka map itu dengan hati-hati. Kertas-kertas di
dalamnya sudah menguning, rapuh, dan berbau apek. Beberapa lembar bahkan sudah
sobek di pinggirnya. Ia memeriksa satu per satu.
Lalu... matanya berhenti.
"Ini, Mas Amat."
Si Amat mendekat. Matanya membulat. "Apa itu,
Bu?"
"Berkas tanah Pak Darmo. Tahun 1995."
Si Amat terperangah. "Lho... kok bisa di sana? Itu
arsip lama. Seharusnya sudah dipindahkan ke map baru."
Bu Yuni menghela napas. "Itulah masalahnya, Mas. Tidak
ada sistem pemindahan arsip. Berkas lama dan baru bercampur."
Ia kemudian mengambil map itu dan menghampiri Pak Darmo.
"Pak Darmo, ini yang Bapak cari?"
Pak Darmo maju cepat. Tangannya gemetar saat menerima map
itu. Ia membukanya. Memeriksa. Lalu... wajahnya berubah. Dari merah padam
menjadi pucat, lalu menjadi lega. Matanya berkaca-kaca. Napasnya yang tadinya
tersengal mulai teratur.
"Iya... ini... ini berkas tanah saya."
Air mata mengalir di pipinya yang kasar dan berkerut. Pak
Darmo, pria tangguh yang jarang menunjukkan kelemahan, menangis di depan semua
orang.
"Saya kira sudah hilang, Bu," katanya dengan
suara parau. "Saya kira tanah saya sudah tidak ada harapan."
Bu Yuni menatapnya dengan mata teduh. Namun hatinya teriris
melihat seorang pria sekaliber Pak Darmo menangis. "Belum hilang, Pak.
Hanya tersimpan di tempat yang salah."
Pak Darmo mengangguk. Ia menghapus air matanya dengan
lengan bajunya yang basah oleh keringat. "Bu, saya minta maaf. Saya
marah-marah tadi."
"Tidak perlu minta maaf, Pak. Bapak punya hak untuk
marah."
"Tapi Ibu baru saja mulai bekerja. Saya seharusnya
tidak, "
"Pak Darmo," potong Bu Yuni lembut, "Bapak
datang dengan masalah yang sudah berlangsung bertahun-tahun, bukan masalah yang
muncul kemarin. Saya tidak akan marah karena Bapak marah. Itu wajar."
Pak Darmo terdiam. Ia menatap Bu Yuni dengan ekspresi sulit
dijelaskan, campuran antara rasa hormat, malu, dan haru.
"Bu Yuni... Ibu ini aneh."
Bu Yuni tersenyum. "Kenapa aneh, Pak?"
"Biasanya kalau ada pejabat baru, mereka sibuk membela
diri. 'Itu bukan salah saya', 'Itu kesalahan sebelumnya', 'Saya baru datang,
jadi jangan salahkan saya'. Tapi Ibu... Ibu malah menerima tanggung
jawab."
Bu Yuni menatap Pak Darmo dengan mata yang teduh namun
dalam. "Pak, kalau saya sibuk menyalahkan masa lalu, maka masa depan tidak
akan pernah berubah. Saya di sini bukan untuk menyalahkan. Saya di sini untuk
memperbaiki."
Pak Darmo mengangguk pelan. "Ibu, tanah ini penting bagi
saya. Bukan karena harganya, saya tidak peduli berapa pun harganya. Tapi ini
tanah orang tua saya. Kakek saya. Buyut saya. Di tanah ini mereka bekerja,
berdoa, dan meninggal. Saya tidak mau kehilangan itu."
Bu Yuni mengangguk. "Saya mengerti, Pak. Dan saya akan
pastikan berkas Bapak selesai dengan benar. Mulai hari ini, kami akan buat
sistem baru sehingga berkas seperti ini tidak akan pernah hilang lagi."
"Terima kasih, Bu."
Pak Darmo berbalik hendak pergi. Namun sebelum melangkah
keluar, ia berhenti sejenak. "Bu Yuni, saya akan menyebarkan kabar baik
ini ke warga lain. Mudah-mudahan mereka juga sabar."
"Terima kasih, Pak. Tapi tolong sampaikan juga bahwa
kami sedang berusaha. Perubahan tidak terjadi dalam semalam."
"Iya, Bu. Saya sampaikan."
Pak Darmo keluar dari kantor desa. Langkahnya tidak lagi
sekeras saat datang. Bahunya yang tadinya tegang kini mengendur. Ia berjalan
perlahan, menikmati matahari pagi yang mulai hangat.
Di dalam kantor, suasana berangsur normal. Namun ada yang
berubah. Semua orang memandang Bu Yuni dengan cara yang berbeda.
Siang itu, setelah makan siang, para perangkat desa
berkumpul di belakang kantor, tempat biasa mereka merokok dan bercerita. Di
sana ada pohon mangga tua yang rindang, dengan akar-akar yang menjalar ke
permukaan tanah. Beberapa kursi kayu diletakkan tidak beraturan di bawah pohon.
Udara di sini lebih sejuk karena terlindung dari sinar matahari langsung.
Pak Edi membuka bungkus rokok kreteknya, menawarkan ke yang
lain. Pak Eko mengambil satu, Pak Santoso menolak dengan halus, Si Amat juga
mengambil satu meskipun sebenarnya ia tidak terlalu suka merokok.
"Gila," kata Pak Edi sambil menyalakan rokoknya.
Asap mengepul dari hidung dan mulutnya. "Tadi itu tegang banget. Saya kira
Pak Darmo mau mukul."
Pak Eko mengangguk, menghembuskan asap ke udara. "Saya
lihat matanya. Kayak banteng mau tanduk."
"Tapi Bu Yuni tenang saja," kata Si Amat.
"Saya kira dia bakal panik. Tapi tidak. Malah tenang. Kayak tidak ada yang
terjadi."
Pak Santoso yang tidak merokok hanya duduk sambil memegang
kacamatanya. "Itu namanya pengalaman. Katanya dia tujuh tahun di
kecamatan. Pasti sudah biasa menghadapi orang marah."
Pak Edi menghela napas. "Tapi yang membuat saya kagum,
dia tidak mencari kambing hitam. Padahal kalau dia bilang 'itu kesalahan
sebelum saya datang', ya wajar. Tapi dia malah bertanggung jawab."
"Itu yang disebut integritas, Pak," kata Si Amat.
Semua menoleh ke arah Si Amat. Pak Eko mengangkat alis.
"Wah, Mat, lo sekarang pakai istilah-istilah berat."
Si Amat tersenyum malu. "Saya belajar dari Bu Yuni.
Dia sering bilang, 'Integritas itu bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang
konsisten antara ucapan dan tindakan.'"
Pak Edi bersiul kecil. "Wah, Mat, lo sudah kena
'doktrin' Bu Yuni."
"Bukan doktrin, Pak. Tapi... inspirasi."
Mereka tertawa bersama. Namun di balik tawa itu, ada
kesadaran baru yang mulai tumbuh. Bu Yuni tidak hanya merapikan berkas. Ia juga
mulai merapikan cara berpikir mereka.
Malam setelah insiden di kantor desa, Pak Darmo duduk di
ruang tamunya. Rumahnya sederhana—dinding papan kayu yang sudah berusia puluhan
tahun, atap seng yang berbunyi setiap kali angin bertiup kencang, lantai semen
yang dingin. Lampu ruangan hanya satu, dan itu pun redup, lampu neon 15 watt
yang berkedip-kedip.
Ia memegang secangkir teh hangat, namun teh itu sudah
dingin karena tidak pernah diminum. Pandangannya kosong, menembus dinding
seolah melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
Istrinya, Bu Parmi, seorang wanita paruh baya dengan rambut
yang mulai memutih di pelipis dan wajah yang mulai berkerut karena usia, duduk
di sampingnya dengan wajah khawatir. Ia memegang tangan suaminya yang kasar dan
kapalan karena bekerja di sawah.
"Masih kepikiran, Pak?" tanya Bu Parmi lembut,
suaranya hampir berbisik.
Pak Darmo menghela napas panjang. Napas itu terasa berat,
seperti membawa beban yang tidak terlihat. "Iya, Mi. Aku tadi terlalu
keras di kantor desa."
Bu Parmi mengangguk pelan. "Aku tahu. Tapi aku juga
tahu kenapa Bapak marah."
Pak Darmo terdiam. Tanah yang ia urus bukan sembarang
tanah. Itu warisan orang tuanya, Kertowijoyo, yang meninggal sepuluh tahun
lalu. Lahan seluas satu hektar di lereng bukit itu telah menjadi sumber penghidupan
keluarganya selama tiga generasi. Di atas tanah itulah kakeknya dulu membuka
hutan, menanam singkong dan jagung, membangun rumah sederhana dari kayu, dan
membesarkan anak-anaknya.
Namun setahun yang lalu, seorang pengusaha dari kota,
bernama Sugiharto datang dengan membawa secarik kertas dan mobil mewah berwarna
hitam. Katanya, tanah itu miliknya. Katanya, ada sertifikat yang membuktikan
bahwa tanah itu sudah dijual oleh kakek Pak Darmo, Mertowijoyo puluhan tahun
lalu. Kepada siapa? Kepada ayah Sugiharto, seorang pengusaha kaya yang sudah
meninggal lima tahun lalu.
Pak Darmo kaget. Ia tidak pernah tahu tentang penjualan
itu. Orang tuanya tidak pernah bercerita. Kakeknya sudah meninggal sejak ia
masih kecil, tepatnya ketika Pak Darmo berusia tujuh tahun. Siapa yang bisa
membuktikan kebenaran cerita itu?
"Kami akan buktikan di pengadilan," kata
Sugiharto waktu itu, sambil memainkan cincin emas di jari manisnya. Wajahnya
bulat, berkumis tipis, dan matanya menyipit seperti sedang meremehkan.
Sejak saat itu, Pak Darmo hidup dalam ketakutan. Setiap
malam ia sulit tidur, membayangkan tanah satu-satunya itu diambil darinya.
Setiap pagi ia bangun dengan perasaan cemas, jantungnya berdebar tidak karuan.
Setiap kali mendengar suara motor di depan rumah, ia berharap itu bukan orang
suruhan Sugiharto.
Proses pengurusan berkas tanah di kantor desa adalah bagian
dari usahanya untuk mengamankan klaimnya. Ia membutuhkan surat keterangan
riwayat tanah dari desa, bukti bahwa tanah itu adalah warisan turun-temurun.
Namun setiap kali ia datang, pelayanannya lambat. Berkasnya tidak pernah
selesai. Dan hari ini, ia hampir kehilangan harapan.
"Maafkan Bapak ya, Mi," kata Pak Darmo pelan,
suararnya parau seperti orang yang kehabisan suara. "Bapak cuma...
takut."
Bu Parmi meraih tangan suaminya lebih erat. Tangannya yang
keriput menggenggam tangan Pak Darmo yang kasar. "Saya tahu, Pak. Tapi
lihatlah, Ibu Sekdes yang baru itu... dia berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Dia tidak panik ketika Bapak marah. Dia tidak membela
diri. Dia tidak bilang 'itu bukan salah saya'. Dia hanya diam, lalu mencari,
lalu menemukan. Dan ketika ketemu, dia tidak sombong. Dia malah minta maaf
karena berkasnya tersimpan di tempat yang salah."
Pak Darmo mengingat kembali kejadian siang itu. Bu Yuni
tidak membalas amarahnya. Ia tidak berkata, "Bukan salah saya," atau
"Itu bukan wewenang saya." Ia hanya diam, lalu mencari, lalu
menemukan. Dan setelah menemukan, ia tidak menyalahkan siapapun.
"Kamu benar," kata Pak Darmo akhirnya, menghela
napas yang terasa lebih ringan dari sebelumnya. "Dia beda."
Bu Parmi tersenyum. Gigi depannya sudah ompong, tapi
senyumnya tetap hangat. "Kalau begitu, beri dia kesempatan, Pak. Jangan
langsung memvonis. Dia baru datang. Dia belum tahu semua masalah di desa
ini."
Pak Darmo mengangguk pelan. "Iya, kamu benar. Besok
aku akan ke kantor desa lagi. Bukan untuk marah-marah, tapi untuk... minta
maaf."
Bu Parmi tersenyum lebih lebar. Kerutan di wajahnya tampak
lebih dalam saat tersenyum. "Itu suami saya."
Pak Darmo akhirnya meminum tehnya, meskipun sudah dingin.
Teh pahit tanpa gula itu terasa melegakan tenggorokannya yang kering. Dan untuk
pertama kalinya dalam beberapa bulan, ia tidur dengan perasaan sedikit lebih
tenang. Mimpinya malam itu bukan tentang tanah yang diambil orang, tapi tentang
sawah yang menghijau dan panen yang melimpah.
Pukul 08.00 keesokan harinya, Pak Darmo datang lagi ke
kantor desa. Namun kali ini wajahnya tidak tegang. Tidak merah padam. Tidak ada
urat leher menonjol. Wajahnya justru teduh, seperti langit setelah hujan reda.
Ia membawa sebuah bingkisan kecil, kue klepon buatan
istrinya, dibungkus daun pisang yang masih hijau segar. Daun pisang itu diikat
dengan lidi, rapi dan bersih. Dari dalam bungkusan itu tercium aroma harum gula
merah dan kelapa parut.
"Bu Yuni," katanya sambil mendekati meja.
Bu Yuni yang sedang sibuk dengan berkas langsung mendongak.
Matanya sedikit terkejut melihat Pak Darmo datang lagi, apalagi dengan senyum
di wajahnya. "Ada yang bisa dibantu, Pak Darmo?"
Pak Darmo menggeleng. "Saya bukan datang untuk urus
berkas, Bu."
Bu Yuni sedikit mengernyit. "Lalu?"
Pak Darmo menarik napas dalam. Dadanya naik turun. Ia
meletakkan bungkusan klepon di atas meja Bu Yuni dengan hati-hati. "Saya
mau minta maaf."
Bu Yuni terlihat terkejut. Matanya membulat sebentar.
Alisnya naik. "Minta maaf? Untuk apa, Pak?"
Pak Darmo menunduk sebentar, tidak berani menatap mata Bu
Yuni. Ia memandangi ujung sandal jepitnya yang sudah usang. "Kemarin saya
terlalu emosi. Saya marah-marah padahal Ibu baru saja mulai bekerja. Itu tidak
adil. Ibu tidak pantas diperlakukan seperti itu."
Bu Yuni tersenyum pelan. Senyum yang tulus, tidak
dibuat-buat. "Pak Darmo, Bapak tidak perlu minta maaf. Bapak punya hak
untuk marah. Pelayanan memang lama. Berkas Bapak memang sempat hilang. Itu
fakta."
"Tapi bukan Ibu yang salah," potong Pak Darmo,
mengangkat kepalanya. Matanya menatap Bu Yuni dengan ekspresi memohon
pengertian. "Itu sudah terjadi sebelum Ibu datang. Saya seharusnya tidak
melampiaskan pada Ibu."
Bu Yuni menggeleng lembut. "Pak, sekarang saya yang
bertanggung jawab. Jadi jika ada warga yang marah, itu wajar. Tanggung jawab
ada di pundak saya."
Pak Darmo mengangkat kepalanya. Matanya menatap Bu Yuni
dengan ekspresi heran, campuran antara kagum dan tidak percaya. "Ibu
ini... aneh."
Bu Yuni tertawa kecil. Tawanya ringan, seperti angin
sepoi-sepoi. "Kenapa aneh, Pak?"
"Biasanya kalau ada pejabat baru, mereka sibuk membela
diri. 'Ini bukan salah saya', 'Itu kesalahan sebelumnya', 'Saya baru datang,
jadi jangan salahkan saya'. Saya sudah sering dengar kalimat-kalimat seperti
itu dari pejabat-pejabat sebelumnya. Tapi Ibu... Ibu malah menerima tanggung
jawab. Itu aneh. Tapi... aneh yang baik."
Bu Yuni menatap Pak Darmo dengan mata yang teduh. Matanya
tidak berkedip, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan
dengan kata-kata. "Pak, kalau saya sibuk menyalahkan masa lalu, maka masa
depan tidak akan pernah berubah. Saya di sini bukan untuk menyalahkan. Saya di
sini untuk memperbaiki."
Pak Darmo terdiam beberapa saat. Matanya berkaca-kaca. Lalu
ia berkata dengan suara yang sedikit bergetar, "Bu... saya tidak tahu
harus berkata apa. Saya hanya ingin Ibu tahu... tanah saya itu penting bagi
saya. Bukan karena harganya. Saya tidak peduli berapa pun harganya. Tapi itu
satu-satunya warisan orang tua saya. Kakek saya. Buyut saya. Di tanah itu
mereka bekerja, berdoa, dan meninggal. Saya tidak mau kehilangan itu. Saya rela
mati daripada kehilangan tanah itu."
Bu Yuni mengangguk serius. Tidak ada senyum di wajahnya
sekarang. Yang ada adalah ketegasan dan empati. "Saya mengerti, Pak. Saya
akan pastikan semua berkas Bapak selesai dengan benar. Saya akan urus sendiri.
Mulai dari desa, ke kecamatan, sampai ke kabupaten. Saya tidak akan berhenti
sampai Bapak mendapatkan hak Bapak."
Pak Darmo mengangguk. Ia mengulurkan bingkisan klepon.
"Ini dari istri saya. Sedikit oleh-oleh. Bu Parmi bilah, 'Sampaikan ke Bu
Yuni, terima kasih sudah membantu suami saya.'"
Bu Yuni menerimanya dengan senyum hangat. Tangannya
menerima bungkusan daun pisang itu dengan hormat. "Terima kasih, Pak.
Sampaikan salam saya untuk Bu Parmi. Sampaikan juga bahwa saya akan
sering-sering mampir ke rumah Bapak kalau ada waktu."
Pak Darmo mengangguk. Sebelum berbalik, ia berkata sekali
lagi, "Bu Yuni... jangan berubah, ya. Desa ini butuh orang seperti Ibu.
Kami butuh Ibu."
Bu Yuni tidak menjawab. Hanya tersenyum. Namun dalam
hatinya, ia berkata, "Terima kasih, Pak Darmo. Kepercayaan Bapak adalah
hadiah terbesar bagiku."
Pak Darmo berjalan keluar. Di ambang pintu, ia berpapasan
dengan Anto yang baru datang.
"Pagi, Pak Darmo," sapa Anto sambil tersenyum.
"Pagi, To."
"Wajah Bapak cerah hari ini. Pasti ada kabar
baik."
Pak Darmo tersenyum, sesuatu yang jarang dilakukan.
"Iya, To. Ada harapan baru."
Anto mengangguk-angguk. "Saya sudah bilang, Pak. Bu
Yuni itu orangnya beda."
"Kamu benar, To. Kamu benar."
Kejadian dengan Pak Darmo meninggalkan bekas yang dalam di
hati para perangkat desa. Bukan hanya karena amarah Pak Darmo yang
meledak-ledak, tapi karena cara Bu Yuni menghadapinya.
Sore itu, setelah Pak Darmo pulang, mereka berkumpul lagi
di bawah pohon mangga. Namun kali ini, bukan untuk merokok dan bercerita
santai. Kali ini, ada agenda yang lebih serius.
"Bu Yuni," kata Pak Santoso membuka percakapan,
"saya sudah 20 tahun di sini. Saya sudah melihat tiga sekdes sebelum Ibu.
Tapi saya belum pernah melihat sekdes yang... seperti Ibu."
Bu Yuni yang ikut duduk di bawah pohon itu tersenyum.
"Seperti apa, Pak?"
"Tegas tapi lembut. Serius tapi tidak kaku. Dan yang
paling penting... Ibu tidak takut."
"Takut pada apa, Pak?"
"Takut pada warga yang marah. Takut pada konflik.
Takut pada perubahan."
Bu Yuni menghela napas. "Pak Santoso, saya juga takut.
Saya manusia biasa. Tapi ketakutan tidak boleh melumpuhkan kita. Ketakutan
harus menjadi bahan bakar untuk berbenah."
Pak Eko yang biasanya paling kritis ikut angkat bicara.
"Bu, saya harus akui... cara Ibu menghadapi Pak Darmo kemarin, itu... luar
biasa. Saya tidak akan bisa setenang itu."
Bu Yuni menatap Pak Eko. "Pak Eko, Bapak juga bisa.
Hanya butuh latihan."
Pak Eko tersenyum kecut. "Latihan menghadapi orang
marah?"
"Latihan mengendalikan diri. Latihan tidak bereaksi
berlebihan. Latihan mendengarkan sebelum berbicara."
Pak Edi yang sejak tadi diam ikut nimbrung. "Bu, saya
mau tanya jujur."
"Silakan, Pak Edi."
"Waktu Pak Darmo marah-marah, apa Ibu tidak ingin
balas marah?"
Bu Yuni tersenyum. "Ingin, Pak. Saya juga manusia. Ada
bagian dari diri saya yang ingin berteriak, 'Ini bukan salah saya, Pak! Saya
baru datang!' Tapi saya tahan."
"Kenapa ditahan?"
"Karena jika saya balas marah, maka yang terjadi
adalah pertengkaran, bukan penyelesaian masalah. Pak Darmo butuh didengar,
bukan dilawan. Dia butuh solusi, bukan konfrontasi."
Pak Edi mengangguk-angguk. "Saya belajar banyak hari
ini."
Bu Yuni berdiri. "Teman-teman, saya tidak sempurna.
Saya juga akan membuat kesalahan. Tapi saya berjanji, saya akan selalu berusaha
menjadi lebih baik. Dan saya berharap, kita semua melakukan hal yang
sama."
Mereka mengangguk. Satu per satu. Tidak ada yang protes.
Tidak ada yang beralasan.
Matahari sore mulai tenggelam di balik bukit, memancarkan
cahaya jingga yang indah. Di bawah pohon mangga itu, sekelompok orang yang dulu
terbiasa dengan cara lama, mulai membuka hati untuk perubahan.
Malam itu, setelah kembali ke rumah kontrakannya, Bu Yuni
tidak langsung tidur. Ia duduk di beranda seperti biasa. Kucing oranye datang
lagi, melompat ke pangkuannya, dan meringkuk di sana.
Bu Yuni mengelus kepala kucing itu dengan lembut.
"Kamu setia ya, datang terus."
Kucing itu mengeong pelan, seolah menjawab.
"Kamu tahu, Din?" panggil Bu Yuni pada dirinya
sendiri, kebiasaan yang ia lakukan sejak kecil. "Hari ini aku belajar
sesuatu."
Ia menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit. Malam
di Awan Biru selalu cerah, tidak terhalang polusi seperti di kota.
Bintang-bintang terlihat sangat jelas, seolah bisa dijangkau dengan tangan.
"Aku belajar bahwa di balik setiap kemarahan, selalu
ada ketakutan. Pak Darmo marah karena dia takut kehilangan tanahnya. Dia takut
kehilangan satu-satunya warisan yang dimilikinya. Dia takut gagal melindungi
keluarganya."
Kucing itu bergerak sedikit, menyesuaikan posisi.
"Dan aku juga belajar bahwa kesabaran itu bukan
tentang tidak merasakan apa-apa. Kesabaran adalah tentang memilih untuk tidak
bereaksi meskipun hati bergolak."
Ia menghela napas. Udara malam dingin menusuk paru-parunya.
"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih
karena Engkau berikan aku kekuatan untuk tidak marah. Terima kasih karena
Engkau pertemukan aku dengan Pak Darmo. Dan terima kasih karena Engkau
tunjukkan bahwa perubahan itu mungkin, meskipun perlahan."
Bu Yuni menutup matanya. Ia berdoa dalam hati untuk waktu
yang lama. Ia berdoa untuk Pak Darmo dan keluarganya. Ia berdoa untuk perangkat
desa yang masih belajar. Ia berdoa untuk desa ini yang perlahan mulai berubah.
Ketika ia membuka mata, bintang-bintang terlihat lebih
terang dari sebelumnya.
"Besok akan ada tantangan baru," bisiknya.
"Tapi aku siap."
Ia masuk ke dalam rumah, membaringkan tubuhnya yang lelah
di atas kasur tipis. Kucing oranye itu mengikutinya masuk dan tidur di ujung
kasur, meringkuk seperti bola bulu oranye.
Bu Yuni tersenyum. "Selamat malam, kucing. Selamat
malam, Desa Awan Biru. Besok kita lanjutkan perjuangan."
Lampu padam. Rumah kontrakan itu gelap gulita. Hanya suara
jangkrik dan sesekali gonggongan anjing dari kejauhan yang menemani tidurnya.
Pukul 06.00 keesokan paginya, warung kopi milik Pak Karyo
sudah ramai. Warung itu terletak di pinggir jalan utama desa, tepat di
pertigaan menuju ke kantor desa. Bangunannya sederhana—dinding anyaman bambu,
atap rumbia yang sudah mulai rapuh, lantai tanah yang dipadatkan. Beberapa
bangku kayu panjang disusun tidak beraturan di depan warung. Di dalam, ada
etalase kaca kecil berisi rokok, permen, dan beberapa kebutuhan pokok.
Pak Karyo, pemilik warung yang sudah berusia 60 tahun, dengan
badan tambun dan kumis tebal, sedang sibuk menyeduh kopi untuk para
pelanggannya. Tangan kirinya memegang teko alumunium, tangan kanannya menuang
air panas ke dalam gelas-gelas plastik yang sudah berisi bubuk kopi dan gula.
Hari itu, topik pembicaraan hangat adalah insiden di kantor
desa kemarin.
"Katanya Pak Darmo marah-marah sampai meja
digedor," kata Pak Sugeng, warga Dusun Ngemplak yang terkenal suka
bergosip. Wajahnya tipis, matanya sipit, dan bibirnya tipis seperti pisau.
"Saya dengar dari Pak RT, Pak Darmo sampai
menangis," sahut yang lain, seorang wanita paruh baya bernama Bu Tini.
Rambutnya disanggul rapi, tapi beberapa helai rambut putih sudah terlihat.
"Wajar saja," kata Pak Karyo sambil menyodorkan
kopi ke pelanggannya. Tangannya yang gemetar karena usia menuang kopi dengan
hati-hati. "Tanah warisan mau diambil orang. Siapa yang tidak marah?"
Anto yang duduk di pojok, dengan jaket kulitnya yang khas,
ikut nimbrung. "Saya sudah bilang dari kemarin. Saya mimpi ada orang
marah-marah di kantor desa. Ternyata mimpi saya benar."
"Kebetulan, To. Itu namanya kebetulan," sahut Pak
Sugeng.
Anto tersenyum misterius. "Tidak ada yang kebetulan,
Pak. Semua sudah diatur."
Mereka tertawa. Namun tawa itu berhenti ketika Pak Darmo
sendiri masuk ke warung.
"Mari, Pak Darmo. Silakan duduk," sapa Pak Karyo
ramah.
Pak Darmo duduk di kursi kayu yang terletak di sudut
warung. Wajahnya tidak setegang kemarin. Bahkan ia tersenyum tipis.
"Kopi satu, Pak Karyo," katanya.
"Jadi bagaimana, Pak? Kabarnya kemarin Ibu Sekdes yang
baru itu...?" tanya Pak Sugeng dengan nada ingin tahu.
Pak Darmo menghela napas. "Jujur, saya kagum."
Semua yang hadir menoleh. Pak Karyo berhenti menuang kopi.
Anto mengangkat alis. Bu Tini membuka mulutnya sedikit.
"Kagum? Kenapa?" tanya Pak Sugeng.
"Dia tidak panik. Tidak marah. Tidak membela diri. Dia
hanya diam, lalu mencari berkas saya, lalu menemukannya. Setelah itu, dia minta
maaf karena berkasnya tersimpan di tempat yang salah. Padahal dia baru bekerja
tiga hari."
Suasana warung hening sejenak.
"Saya belum pernah melihat pejabat seperti itu,"
lanjut Pak Darmo. "Biasanya mereka sibuk menyalahkan orang lain. Tapi Bu
Yuni... dia berbeda."
Anto tersenyum puas. "Saya sudah bilang dari awal. Bu
Yuni itu orang pilihan."
Pak Karyo mengangguk-angguk. "Semoga desa kita berubah
menjadi lebih baik."
"Aamiin," jawab mereka serempak.
Sementara itu, di kantor desa, Si Amat sedang bekerja
dengan semangat yang tidak biasa. Sejak kejadian dengan Pak Darmo, ia merasa
malu. Ia merasa gagal sebagai admin desa karena tidak bisa menemukan berkas
yang dicari.
"Aku harus lebih baik," gumamnya sambil membuka
map demi map.
Bu Yuni yang duduk di sampingnya memperhatikan. "Mas
Amat, jangan terlalu keras pada diri sendiri."
"Tapi Bu, saya gagal kemarin. Saya hampir membuat
warga kecewa."
"Mas Amat, kegagalan adalah bagian dari proses
belajar. Yang penting, kita belajar dari kesalahan."
Si Amat menghela napas. "Bu, boleh saya cerita?"
"Silakan."
Si Amat berhenti bekerja. Ia menatap map di tangannya, lalu
berkata, "Dulu, saya punya mimpi. Saya ingin kuliah. Ingin jadi guru
seperti ayah saya. Tapi ayah saya sakit, lalu meninggal. Saya tidak punya
biaya. Akhirnya saya bekerja di sini. Dan karena saya kecewa, saya jadi... santai.
Malas. Tidak peduli. Saya pikir, 'Ah, kerja di desa kecil begini, buat apa
serius-serius?'"
Bu Yuni mendengarkan dengan saksama. Tidak menyela. Tidak
memberi nasihat. Hanya mendengarkan.
"Tapi setelah melihat Bu Yuni, saya sadar. Bukan
tempat yang menentukan kualitas kerja seseorang, tapi hati. Ibu datang dari
luar, tidak punya siapa-siapa di sini, tapi Ibu bekerja dengan sungguh-sungguh.
Saya yang dari sini, yang punya banyak kenalan, malah... malas."
Bu Yuni tersenyum. "Mas Amat, setiap orang punya waktunya
masing-masing. Ada yang cepat sadar, ada yang lambat. Yang penting, ketika
sadar, kita segera bergerak."
Si Amat mengangguk. "Iya, Bu. Saya akan bergerak.
Mulai hari ini."
"Bukan mulai hari ini, Mas Amat. Mulai dari
sekarang."
Si Amat tersenyum. "Baik, Bu. Mulai dari
sekarang."
Mereka berdua kembali bekerja. Namun kali ini, Si Amat
bekerja dengan hati yang berbeda. Bukan karena terpaksa. Bukan karena takut
dimarahi. Tapi karena ia mulai menemukan makna dalam pekerjaannya.
Di ruang kerjanya, Pak Kades Iwan mendengar cerita tentang
insiden kemarin dari Pak Santoso.
"Pak Darmo marah-marah, Pak. Sampai meja
digedor," lapor Pak Santoso.
Pak Iwan menghela napas. "Lalu bagaimana Bu
Yuni?"
"Dia tenang, Pak. Tidak panik. Dia mencari berkas Pak
Darmo dan menemukannya di arsip lama."
Pak Iwan mengangkat alis. "Arsip lama? Berkas tahun
berapa itu?"
"Tahun 1995, Pak."
"Wah, sudah 6 tahun lalu. Bagaimana bisa sampai di
sana?"
"Itulah masalahnya, Pak. Tidak ada sistem pemindahan
arsip. Berkas lama dan baru bercampur."
Pak Iwan menggeleng-gelengkan kepala. "Saya sudah
bilang, sistem kita berantakan."
"Tapi Bu Yuni mulai membenahi, Pak. Dia membuat
klasifikasi warna, buku register, dan label-label. Pelan-pelan, mulai
rapi."
Pak Iwan tersenyum. "Syukurlah. Saya tidak salah pilih
orang."
"Pak, satu lagi."
"Apa?"
"Pak Darmo datang lagi hari ini. Bukan untuk marah,
tapi untuk minta maaf. Dia juga membawa kue untuk Bu Yuni."
Pak Iwan terkejut. "Minta maaf? Pak Darmo? Orang
sekaku itu?"
"Iya, Pak. Dia minta maaf karena sudah marah-marah
kemarin."
Pak Iwan terdiam. Ia menatap foto istrinya di atas meja.
"Sri, kamu lihat? Perubahan mulai terjadi."
"Ada apa, Pak?" tanya Pak Santoso bingung.
"Tidak ada, Pak Santoso. Saya hanya...
bersyukur."
Sore itu, Anto mampir ke kantor desa. Bukan untuk mengurus
surat, truknya sedang tidak jalan karena mesinnya rusak, tapi untuk sekadar
ngobrol.
"Bu Yuni, saya lihat Ibu mulai disukai warga,"
katanya sambil duduk di kursi yang tersedia.
Bu Yuni yang sedang merapikan berkas menoleh. "Kok tahu?"
"Warga bicara di warung. Mereka bilang Bu Yuni
berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Beda dari sekdes-sekdes sebelumnya. Dulu, sekdes
kalau ada masalah, sibuk cari kambing hitam. Ibu malah sibuk cari solusi."
Bu Yuni tersenyum. "Itu tugas saya, To."
"Tidak semua sekdes berpikir seperti itu, Bu. Banyak
yang hanya ingin enaknya saja."
"Ya, itu pilihan mereka. Saya tidak bisa
menghakimi."
Anto mengangguk-angguk. "Bu Yuni, saya punya
ramalan."
"Silakan, To. Saya dengarkan."
"Suatu hari nanti, Ibu akan dikenang sebagai sekdes
terbaik yang pernah dimiliki desa ini. Nama Ibu akan disebut-sebut oleh
generasi mendatang. Mereka akan bercerita tentang seorang wanita tangguh yang
datang dari awan biru."
Bu Yuni tertawa kecil. "Awan biru itu nama desa ini,
To. Bukan saya."
"Bukan, Bu. Maksud saya... Ibu datang seperti malaikat
dari langit. Membawa perubahan."
Bu Yuni tersenyum, tapi tidak menjawab. Ia kembali ke
berkasnya. Namun dalam hatinya, ia berkata, "Aku tidak perlu dikenang. Aku
hanya perlu desa ini menjadi lebih baik."
Malam itu, setelah semua orang pulang, Bu Yuni masih duduk
di kantor. Ia ingin menyelesaikan satu map lagi sebelum pulang.
Lampu neon berkedip-kedip. Angin malam berhembus masuk
melalui celah-celah dinding. Suara jangkrik terdengar dari luar, seperti
orkestra kecil yang memainkan simfoni malam.
Ia membuka map terakhir. Di dalamnya, ada berkas-berkas
lama dari tahun 1998. Ada surat pernyataan tanah, ada akta kelahiran, ada kartu
keluarga yang sudah menguning.
Bu Yuni membaca satu per satu. Matanya bergerak perlahan,
menelusuri setiap baris. Ia tidak hanya membaca, tapi juga memahami. Di balik
setiap lembar kertas, ada cerita. Ada nama. Ada alamat. Ada harapan.
"Ini bukan sekadar kertas," gumamnya. "Ini
adalah sejarah hidup orang-orang."
Ia menghela napas. Tangannya mulai menulis label untuk map
itu. Setelah selesai, ia menyimpannya di rak yang sudah ia urutkan.
Pukul 21.00. Bu Yuni berdiri, merapikan meja, dan berjalan
keluar. Udara malam dingin menusuk wajahnya. Bintang-bintang bertaburan di
langit.
Ia berjalan pulang dengan langkah pelan. Tidak tergesa.
Matanya menatap desa yang gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang redup dan
sesekali lampu dari rumah-rumah warga.
"Perlahan, Desa Awan Biru," bisiknya.
"Perlahan kita akan berubah."
BAB
3
SISTEM LAMA VS CARA BARU
Hari keempat sejak Bu Yuni mulai bertugas di Desa Awan
Biru. Matahari belum sepenuhnya muncul dari balik Gunung Sumbing ketika ia
sudah bangun dari tidurnya. Pukul 04.30, seperti biasa. Namun kali ini, ia
tidak merasa lelah seperti hari-hari sebelumnya. Ada energi baru yang mengalir
dalam tubuhnya, energi yang lahir dari harapan.
Setelah shalat subuh berjamaah di masjid desa, masjid yang
sama dengan dinding bata putih dan kubah hijaunya yang mulai pudar, Bu Yuni
berjalan pulang menyusuri jalan setapak yang masih basah oleh embun. Di pinggir
jalan, seorang nenek tua sedang duduk di teras rumahnya sambil mengupas
singkong. Nenek itu bernama Mbah Tuminah, usianya sudah 80 tahun lebih,
rambutnya putih semua, wajahnya keriput seperti peta yang menceritakan
perjalanan panjang hidupnya.
"Selamat pagi, Mbah," sapa Bu Yuni sambil
membungkuk sedikit.
Mbah Tuminah menoleh. Matanya yang sudah mulai buram
berusaha fokus. "Pagi, Nak. Kamu yang baru jadi sekdes itu ya?"
"Iya, Mbah. Yuni namanya."
"Yuni... bagus namanya." Mbah Tuminah tersenyum,
memperlihatkan gusinya yang ompong. "Mbah dengar kabar, kamu baik. Kamu
bantu Darmo kemarin."
Bu Yuni tersenyum malu. "Itu sudah tugas saya,
Mbah."
"Tidak semua orang melakukan tugasnya dengan baik,
Nak. Mbah sudah hidup 80 tahun, sudah melihat banyak pejabat. Yang baik hanya
sedikit."
Bu Yuni tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum.
"Semoga Allah memberkati langkahmu, Nak," kata
Mbah Tuminah sambil kembali mengupas singkongnya.
"Terima kasih, Mbah. Semoga Mbah sehat selalu."
Bu Yuni melanjutkan perjalanan pulang. Hatinya hangat.
Kata-kata Mbah Tuminah terasa seperti berkah yang menguatkan langkahnya.
Pukul 07.00, Bu Yuni tiba di kantor desa. Hari itu, ia
tidak sendirian. Si Amat sudah ada di sana sejak pukul 06.30, seperti janjinya
kemarin. Ia sedang duduk di mejanya sambil membaca buku catatan yang diberikan
Bu Yuni, buku tentang klasifikasi arsip yang tebalnya sekitar 50 halaman,
ditulis tangan dengan rapi oleh Bu Yuni selama bertahun-tahun.
"Mas Amat, sudah dari tadi?" tanya Bu Yuni sambil
meletakkan tasnya.
"Setengah enam, Bu. Saya sudah selesai baca catatan
Ibu sampai halaman 30."
"Wah, cepat sekali."
"Saya baca sambil buka map-map lama, Bu. Saya coba
praktikkan langsung."
Bu Yuni tersenyum bangga. "Bagus, Mas Amat. Itu
namanya belajar sambil bekerja."
Mereka berdua kemudian bekerja bersama. Bu Yuni mengajarkan
Si Amat cara membuat buku register yang benar—buku besar berwarna biru dengan
kolom-kolom yang sudah ia desain sendiri: kolom nomor urut, tanggal masuk,
jenis berkas, nama pengirim, alamat, nomor berkas, dan keterangan.
"Ini yang paling penting, Mas Amat. Setiap berkas yang
masuk harus dicatat di sini. Jangan sampai ada yang terlewat."
"Tapi Bu, itu berarti setiap ada yang datang, kita
harus catat dulu. Kan lama?"
"Memang lama di awal, Mas. Tapi percayalah, suatu saat
nanti kita akan berterima kasih pada diri sendiri karena sudah mencatat
semuanya."
Si Amat mengangguk, meskipun masih setengah ragu. Namun ia
percaya pada Bu Yuni. Setelah kejadian dengan Pak Darmo, ia belajar bahwa
kata-kata Bu Yuni tidak pernah salah.
Pukul 07.30, Pak Edi datang dengan termos kopi di tangan
kirinya dan senyum di wajahnya yang bulat dan berkumis tipis. "Pagi, Bu.
Pagi, Mat."
"Pagi, Pak Edi," jawab mereka serempak.
"Wah, Mat, lo sekarang rajin amat. Dari jam segini
sudah di kantor."
"Saya belajar, Pak. Biar nggak ketinggalan."
"Belajar apa?"
"Belajar sistem baru dari Bu Yuni."
Pak Edi mengangguk-angguk sambil menuang kopi ke gelas
plastik favoritnya, gelas bekas selai yang sudah pudar gambarnya. "Ya,
kita semua harus belajar. Zaman sudah berubah."
Pukul 08.00, rekan-rekan lain datang. Pak Eko dengan
ponselnya, seperti biasa, layar menyala, jempol sibuk menggulir. Pak Santoso
dengan kacamatanya yang tebal dan buku-buku tebal di tangannya. Bu Lulu dengan
map keuangannya yang selalu ia peluk di dada seperti melindungi bayi. Pak Joko,
Kaur Pelayanan, yang jarang bicara namun bekerja dengan teliti. Bu Endang, staf
administrasi, yang pemalu dan jarang bersuara. Bu Siti, staf pelayanan, yang
ramah kepada semua orang. Pak Rudi, staf keuangan, yang selalu membawa
kalkulator ke mana-mana. Dan Pak Supriyadi, staf teknis, yang lebih sering di
lapangan daripada di kantor.
Suasana pagi itu ramai namun tidak kacau. Ada semangat baru
yang mulai terasa, meskipun masih samar-samar, seperti kabut pagi yang perlahan
menyingkap.
Pukul 09.00, Pak Kades Iwan keluar dari ruangannya.
Wajahnya serius, namun matanya berbinar. Ia memanggil semua perangkat desa
untuk berkumpul di ruang tengah.
"Teman-teman, saya ingin menyampaikan sesuatu,"
katanya sambil berdiri di depan papan tulis putih yang sudah kotor dan berdebu.
Semua perangkat desa duduk di kursi-kursi plastik warna
hijau dan biru yang berjajar tidak rapi. Beberapa kursi kosong karena
pemiliknya sedang cuti atau tugas di luar.
"Mulai hari ini, kita akan menerapkan sistem baru
dalam administrasi desa. Bu Yuni akan memimpin perubahan ini. Saya minta
dukungan dari semuanya."
Ruangan hening sejenak. Lalu Pak Eko mengangkat tangan.
"Pak Kades, maksudnya sistem baru seperti apa?"
Bu Yuni yang berdiri di samping Pak Kades menjawab,
"Sistem klasifikasi arsip, pencatatan keluar-masuk berkas, dan standar
pelayanan waktu."
Pak Eko mengernyit. "Berarti kita harus mencatat
semuanya?"
"Betul, Pak. Setiap berkas yang masuk, kita catat.
Setiap berkas yang keluar, kita catat. Setiap kali melayani warga, kita catat
waktunya."
Pak Eko terdiam. Ia tidak suka dengan ide "mencatat
segalanya" karena itu berarti ia tidak bisa lagi santai-santai. Namun ia
tidak berani protes di depan Pak Kades.
Pak Santoso, yang lebih bijaksana, bertanya dengan nada
hati-hati, "Bu Yuni, apakah sistem ini tidak akan memperlambat pelayanan?
Karena warga harus menunggu kita mencatat dulu?"
Bu Yuni tersenyum. "Pak Santoso, pertanyaan yang
bagus. Memang di awal akan terasa lebih lambat karena kita belum terbiasa. Tapi
setelah sistem berjalan, justru akan lebih cepat karena kita tidak perlu lagi
mencari-cari berkas yang hilang."
Pak Santoso mengangguk. "Baiklah, saya ikut."
Bu Lulu angkat bicara, suaranya sedikit gemetar. "Bu,
kalau untuk keuangan, apakah sistemnya juga berubah?"
"Untuk keuangan, kita akan gunakan sistem yang sudah
ada, tapi dengan pencatatan yang lebih detail. Bu Lulu, saya mohon bantuannya
untuk membuat buku kas yang lebih rapi."
Bu Lulu mengangguk, meskipun matanya menunjukkan kegugupan.
Tangannya yang memegang map keuangan sedikit gemetar.
Si Amat, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berkata,
"Saya setuju, Bu. Kita harus berubah."
Semua menoleh ke arah Si Amat. Pak Edi bersiul kecil.
"Wah, Mat, lo sekarang jadi 'duta perubahan' ya?"
Si Amat tersenyum malu. "Saya hanya sadar, Pak. Kita
tidak bisa terus-terusan seperti ini."
Pak Kades Iwan mengangguk puas. "Baik, kalau tidak ada
keberatan, kita mulai hari ini juga."
Tidak ada yang protes. Namun di dalam hati beberapa orang,
ada keraguan yang menggelayut. Apakah mereka mampu berubah? Apakah sistem baru
ini tidak akan merepotkan? Apakah Bu Yuni tidak terlalu memaksakan kehendak?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak diucapkan, tetapi mengendap
di relung hati masing-masing.
Setelah rapat, Bu Yuni langsung bergerak. Ia tidak ingin
teori-teori bagus hanya berakhir sebagai omongan kosong. Ia ingin aksi nyata.
"Mas Amat, tolong bantu saya memisahkan berkas-berkas
di lemari."
"Siap, Bu!"
Mereka berdua membuka lemari arsip, lemari kayu jati tua
yang pintunya berderit setiap kali dibuka. Debu beterbangan saat lemari dibuka,
membuat Si Amat bersin tiga kali berturut-turut. "Maaf, Bu. Alergi
debu."
Bu Yuni tersenyum. "Tidak apa-apa. Pakai sapu tangan,
Mas."
Si Amat mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, sapu
tangan kotak-kotak merah putih yang sudah lusuh dan menutup hidungnya dengan
itu.
Mereka mulai mengeluarkan map-map satu per satu. Setiap map
diperiksa isinya, lalu dikelompokkan berdasarkan jenis: kependudukan (warna
merah), pertanahan (warna hijau), surat menyurat (warna biru), arsip lama
(warna kuning), dan lain-lain (warna putih).
"Ini Bu, map kependudukan tahun 1999," kata Si
Amat sambil menyerahkan map tebal berwarna coklat yang sudah kusam.
Bu Yuni menerimanya, memeriksa isinya, lalu memberinya
label baru: "KEPENDUDUKAN - DUSUN KRAJAN - 1999".
"Wah, Bu, labelnya sampai detail dusun? Saya pikir
cuma sampai jenisnya saja."
"Semakin detail, semakin mudah mencari, Mas. Bayangkan
kalau kita hanya mengelompokkan berdasarkan jenis. Satu map kependudukan bisa
berisi ratusan berkas dari berbagai dusun. Kalau ada warga dari Dusun Gondang
yang mencari berkas, kita harus buka semua berkas satu per satu. Tapi kalau
sudah dipisah per dusun, kita tinggal ambil map Gondang."
Si Amat mengangguk-angguk. "Saya baru paham sekarang.
Bu Yuni memang jenius."
Bu Yuni tertawa kecil. "Bukan jenius, Mas. Hanya
berpikir praktis."
Di sudut ruangan, Pak Eko memperhatikan Bu Yuni dan Si Amat
yang sedang asyik memisahkan berkas. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit
diartikan, antara kagum, cemas, dan sedikit kesal.
Ia mendekati Pak Edi yang sedang duduk sambil menyeruput
kopinya. "Pak, lihat tuh. Bu Yuni sudah mulai 'menguasai' kantor."
Pak Edi mengangkat alis. "Maksudmu?"
"Semua harus pakai sistemnya. Semua harus ikut
caranya. Kita seperti tidak punya pendapat."
Pak Edi tersenyum. "Ko, jangan negative thinking dulu.
Bu Yuni kan sedang membenahi. Kita lihat dulu hasilnya."
"Tapi kita sudah bertahun-tahun bekerja dengan cara kita.
Kenapa harus berubah sekarang?"
"Karena cara kita tidak berhasil, Ko. Lihat saja,
berkas hilang, warga marah, laporan terlambat. Kalau cara kita sudah benar,
seharusnya masalah-masalah itu tidak terjadi."
Pak Eko terdiam. Ia tahu Pak Edi benar. Namun egonya sulit
menerima kenyataan bahwa cara kerjanya selama ini salah.
"Baiklah, saya lihat dulu," kata Pak Eko
akhirnya. "Tapi jangan harap saya langsung bisa mengikuti semua
perubahannya."
Pak Edi hanya tersenyum. Ia tahu Pak Eko adalah orang yang
paling sulit berubah di kantor ini. Tapi ia juga tahu bahwa Pak Eko sebenarnya
baik hati. Hanya butuh waktu.
Siang itu, setelah shalat dhuhur, beberapa remaja desa
berkumpul di kantor desa. Mereka adalah Guntur (19 tahun), Yulia (18 tahun),
Naila (17 tahun), dan Dimas (18 tahun). Mereka adalah generasi muda Desa Awan
Biru yang mulai peduli dengan perkembangan desanya.
Guntur, yang bercita-cita menjadi polisi, memiliki tubuh
tinggi dan tegap. Rambutnya selalu rapi meskipun hanya pakai gel rambut
murahan. Jaket jeans lusuh adalah pakaian favoritnya, dipadukan dengan celana
kargo dan sepatu boots yang sudah usang.
Yulia, gadis dengan rambut panjang yang selalu diikat
kuncir kuda, adalah anak paling cerdas di antara mereka. Ia bercita-cita
menjadi dokter, meskipun orang tuanya hanya buruh tani. Wajahnya bulat dengan
pipi tembem dan senyum yang manis.
Naila, sepupu Yulia, lebih pendiam dan suka mengamati.
Matanya tajam, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh orang
lain. Ia bercita-cita menjadi guru, seperti gurunya yang dulu mengajar di SD.
Dimas, anak Pak Kades Iwan, adalah yang paling kritis. Ia
kuliah di Semarang, jurusan administrasi negara, dan sedang libur semester.
Wajahnya mirip ayahnya, dengan hidung mancung dan kulit sawo matang. Ia sering
membantu ayahnya mengurus administrasi desa ketika libur.
"Paman, saya dengar desa kita akan menerapkan sistem
administrasi baru?" tanya Dimas pada ayahnya.
Pak Iwan mengangguk. "Iya, Mas. Bu Yuni yang
memimpin."
"Boleh saya lihat?"
"Silakan. Kamu kan mahasiswa administrasi negara,
pasti bisa memberi masukan."
Dimas menghampiri Bu Yuni yang sedang sibuk dengan
berkas-berkas. "Selamat siang, Bu. Saya Dimas, anak Pak Kades."
Bu Yuni menoleh dan tersenyum. "Selamat siang, Mas.
Ada yang bisa dibantu?"
"Saya dengar Ibu menerapkan sistem administrasi baru.
Saya ingin belajar."
Bu Yuni terkejut. "Wah, Mas Dimas mahasiswa
administrasi negara? Saya yang harus belajar sama Mas Dimas."
Dimas tersenyum. "Teori di kampus berbeda dengan
praktik di lapangan, Bu. Saya justru ingin belajar dari Ibu."
Mereka berdua kemudian berbincang tentang sistem
administrasi. Bu Yuni menjelaskan konsep klasifikasi arsip, buku register, dan
standar pelayanan. Dimas mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya,
sesekali mengangguk.
"Bu, ini sebenarnya konsep yang sederhana tapi
brilliant," kata Dimas setelah Bu Yuni selesai menjelaskan. "Mengapa
tidak ada yang memikirkannya sebelumnya?"
"Karena perubahan itu tidak mudah, Mas. Orang lebih
nyaman dengan kebiasaan lama, meskipun kebiasaan itu tidak efektif."
Dimas mengangguk. "Saya setuju, Bu. Semoga Ibu
sukses."
Guntur, Yulia, dan Naila yang sejak tadi hanya
mendengarkan, ikut mendekat.
"Bu, kami juga ingin membantu," kata Guntur.
"Mau bantu apa?"
Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Nak. Sekarang belum
perlu. Tapi kalau nanti ada pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga, saya akan
panggil."
"Baik, Bu. Kami siap membantu kapan saja," kata
Yulia.
Para remaja itu kemudian pamit. Namun sebelum pergi, Dimas
berkata pada Bu Yuni, "Bu, saya akan membantu mengawasi teman-teman saya.
Jangan ragu untuk memanggil kami."
Bu Yuni mengangguk. Hatinya hangat melihat semangat
generasi muda desa.
Sore harinya, sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan
kantor desa. Dari dalam mobil itu turun tiga orang: dua laki-laki dan satu
perempuan, semuanya berpakaian rapi dengan kemeja putih dan celana hitam.
Mereka adalah perwakilan dari LSM Pundi Desa, sebuah organisasi non-pemerintah
yang fokus pada pengembangan kapasitas pemerintahan desa.
"Selamat sore, kami dari Pundi Desa," kata ketua
rombongan, seorang pria bernama Pak Bambang, berusia sekitar 40 tahun, dengan
kumis tebal dan kacamata bundar. "Kami ingin bertemu dengan kepala
desa."
Pak Kades Iwan menyambut mereka dengan ramah. "Silakan
masuk, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"
Pak Bambang duduk di kursi tamu yang terbuat dari kayu jati
dengan bantal tipis berwarna merah marun. "Kami dari Pundi Desa, LSM yang
fokus pada pengembangan kapasitas pemerintahan desa. Kami mendengar bahwa Desa
Awan Biru sedang melakukan pembenahan administrasi. Kami ingin menawarkan
bantuan."
Pak Iwan terkejut. "Bantuan apa, Pak?"
"Kami bisa memberikan pelatihan kepada perangkat desa
tentang administrasi, kearsipan, dan pelayanan publik. Semua gratis. Kami
didanai oleh lembaga donor."
Pak Iwan menoleh ke Bu Yuni yang berdiri di sampingnya.
"Bu Yuni, bagaimana pendapat Ibu?"
Bu Yuni berpikir sejenak. "Pelatihan itu bagus, Pak.
Tapi kita harus selektif. Jangan sampai malah membingungkan."
Pak Bambang tersenyum. "Ibu Sekdes, tenang saja. Kami
sudah berpengalaman membantu puluhan desa di Jawa Tengah. Kami tahu pendekatan
yang tepat."
Bu Yuni mengangguk. "Baik, Pak. Kami setuju. Tapi
dengan satu syarat."
"Syarat apa, Bu?"
"Pelatihannya harus praktis, bukan hanya teori. Kami
sudah terlalu banyak teori. Yang kami butuhkan adalah panduan yang bisa
langsung kami terapkan."
Pak Bambang tersenyum lebar. "Setuju, Bu. Kami akan
kirimkan tim pelatih dalam dua minggu."
Setelah rombongan Pundi Desa pergi, Pak Iwan berkata pada
Bu Yuni, "Bu, ini kesempatan baik. Kita bisa belajar dari mereka."
"Iya, Pak. Tapi kita juga harus tetap kritis. Jangan
sampai kita hanya menjadi 'proyek' mereka."
Pak Iwan mengangguk. "Ibu benar. Saya serahkan pada
Ibu."
Keesokan harinya, Si Amat mendapat ujian pertamanya setelah
belajar sistem baru.
Seorang warga bernama Bu Tuminah, yang tidak lain adalah
nenek tua yang ditemui Bu Yuni kemarin, datang ke kantor desa untuk mengurus
surat keterangan domisili. Bu Tuminah ingin pindah ke rumah anaknya di
kecamatan, dan membutuhkan surat keterangan dari desa asal.
"Mas, saya mau bikin surat domisili," kata Bu
Tuminah dengan suara parau karena usia. Tangannya yang keriput memegang map
kecil berisi berkas-berkas.
Si Amat yang bertugas di bagian pelayanan langsung berdiri.
"Silakan, Mbah. Berkasnya sudah lengkap?"
Bu Tuminah mengeluarkan isi mapnya satu per satu: KTP, KK,
dan surat pengantar dari RT.
Si Amat memeriksa berkas-berkas itu. Semua lengkap.
"Baik, Mbah. Tunggu sebentar ya."
Ia berjalan menuju lemari arsip. Namun kali ini, ia tidak
panik seperti dulu. Ia ingat pelajaran Bu Yuni: cari berdasarkan dusun, lalu
berdasarkan tahun.
"Mbah Tuminah, Dusun Krajan, ya?" tanyanya.
"Iya, Mas."
Si Amat membuka map warna merah, kependudukan, lalu mencari
map Dusun Krajan. Ia menemukannya dengan cepat. Map itu sudah diberi label rapi
oleh Bu Yuni.
Ia membuka map tersebut, mencari nama "Tuminah".
Tidak perlu waktu lama, ia menemukan data Bu Tuminah dalam waktu kurang dari
dua menit.
"Ini, Mbah. Data Mbah sudah ada. Sekarang saya akan
buatkan suratnya."
Bu Tuminah tersenyum. "Wah, cepat sekali, Mas. Dulu
kalau ngurus surat, bisa berjam-jam."
Si Amat tersenyum bangga. "Sekarang sudah ada sistem
baru, Mbah. Jadi lebih cepat."
Dalam waktu sepuluh menit, surat keterangan domisili sudah
selesai. Bu Tuminah menerimanya dengan tangan gemetar karena kegirangan.
"Terima kasih, Mas. Semoga Mas sukses."
"Sama-sama, Mbah. Hati-hati di jalan."
Setelah Bu Tuminah pergi, Si Amat menghampiri Bu Yuni.
"Bu, saya berhasil!"
Bu Yuni tersenyum. "Bagus, Mas Amat. Saya
bangga."
"Tadi saya hanya butuh waktu sepuluh menit, Bu. Dulu
bisa satu jam."
"Itu namanya efisiensi, Mas Amat. Dan efisiensi lahir
dari sistem yang baik."
Si Amat mengangguk. "Saya sekarang percaya, Bu. Sistem
Ibu memang jitu."
Melihat keberhasilan Si Amat, Pak Eko mulai berpikir ulang
tentang penolakannya terhadap sistem baru.
Ia mendekati Bu Yuni setelah jam makan siang. "Bu,
saya mau bicara."
"Silakan, Pak Eko."
"Saya... saya ingin belajar sistem Ibu."
Bu Yuni terkejut. Matanya membulat sebentar. Alisnya naik.
"Serius, Pak?"
"Serius, Bu. Saya lihat Mat sekarang lebih cepat
kerjanya. Saya jadi iri."
Bu Yuni tersenyum. "Tidak perlu iri, Pak Eko. Bapak
juga pasti bisa. Malah Bapak mungkin lebih cepat dari Mas Amat karena Bapak
sudah lebih berpengalaman."
Pak Eko tersenyum malu. "Saya tidak tahu, Bu. Saya
orangnya susah beradaptasi."
"Adaptasi itu butuh waktu, Pak. Yang penting kemauan
untuk mencoba."
Bu Yuni kemudian mengajarkan Pak Eko tentang sistem
klasifikasi arsip. Pak Eko mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya,
sesekali mengangguk.
"Jadi, setiap berkas harus dicatat di buku
register?" tanya Pak Eko.
"Betul, Pak. Setiap berkas yang masuk, catat. Setiap
berkas yang keluar, catat. Nanti kita bisa lacak pergerakan berkas."
"Tapi Bu, itu berarti kerja ekstra."
"Memang, Pak. Tapi kerja ekstra di awal akan menghemat
waktu di kemudian hari."
Pak Eko menghela napas. "Baik, Bu. Saya coba."
Sementara itu, di ruang arsip, Bu Lulu sedang berjuang
dengan map-map keuangan yang berantakan.
"Ya Allah, ini semua campur aduk," keluhnya
sambil membuka satu map demi satu map. Keringat membasahi keningnya meskipun
ruangan itu dingin dan lembab.
Bu Endang, staf administrasi yang pemalu, menghampiri.
"Bu, saya bantu."
"Terima kasih, Endang. Kamu tahu cara memisahkan
berkas keuangan?"
"Saya belajar dari Bu Yuni kemarin, Bu. Katanya,
keuangan dipisah per tahun, lalu per jenis."
Bu Lulu mengangguk. "Baiklah, kita lakukan."
Mereka berdua mulai memisahkan map-map keuangan. Ada yang
dari tahun 1995, 1996, 1997, dan seterusnya. Ada yang laporan
pertanggungjawaban, ada yang bukti transaksi, ada yang surat perintah membayar.
"Ini Bu, bukti transaksi tahun 1998," kata Bu
Endang sambil menyerahkan setumpuk kertas yang sudah menguning.
Bu Lulu menerimanya, lalu memasukkannya ke dalam map yang
sudah diberi label "BUKTI TRANSAKSI - 1998".
"Wah, ini pekerjaan besar," keluh Bu Lulu.
"Butuh berminggu-minggu untuk merapikan semua ini."
"Tapi Bu, lebih baik daripada dibiarkan berantakan
terus," kata Bu Endang.
Bu Lulu menghela napas. "Iya, kamu benar. Mari kita
mulai."
Sore itu, ketika Bu Yuni sedang sibuk dengan berkas-berkas,
Pak Eko dan Pak Santoso terlibat perdebatan kecil.
"Pak Santoso, saya rasa sistem baru ini terlalu
rumit," kata Pak Eko sambil memegang buku register yang baru ia buat.
Pak Santoso mengangkat kacamatanya yang turun ke ujung
hidung. "Rumit bagaimana, Pak Eko?"
"Lihat, setiap berkas harus dicatat, diberi nomor,
diberi label, disimpan di map sesuai warna. Itu banyak sekali langkah."
"Itu untuk memudahkan pencarian, Pak. Buktinya, Si
Amat sekarang bisa menemukan berkas dalam hitungan menit."
"Tapi untuk apa kita repot-repot? Dulu juga tidak ada
masalah."
"Tidak ada masalah? Pak Darmo hampir kehilangan tanah
karena berkasnya hilang. Itu namanya masalah besar."
Pak Eko terdiam. Ia tahu Pak Santoso benar. Namun egonya
masih sulit menerima.
Pak Edi yang mendengar perdebatan dari kejauhan mendekat.
"Waduh, ada apa ini? Kok rame?"
"Pak Eko bilang sistem Bu Yuni terlalu rumit,"
kata Pak Santoso.
Pak Edi menatap Pak Eko. "Ko, jujur saja, apa yang membuatmu
keberatan?"
Pak Eko menghela napas. "Saya tidak tahu, Pak. Mungkin
saya merasa... kemampuan saya diragukan."
"Tidak ada yang meragukan kemampuanmu, Ko," kata
Pak Edi. "Bu Yuni justru memberi kita alat untuk bekerja lebih baik."
Pak Eko terdiam. Lalu ia berkata, "Maafkan saya. Saya
hanya butuh waktu untuk beradaptasi."
Pak Santoso menepuk bahu Pak Eko. "Tidak apa-apa, Ko.
Kita semua butuh waktu."
Malam itu, setelah semua orang pulang, Bu Yuni duduk di
beranda rumah kontrakannya. Kucing oranye datang seperti biasa, melompat ke
pangkuannya, dan meringkuk di sana.
"Kamu tahu, Din?" panggil Bu Yuni pada dirinya
sendiri. "Hari ini ada yang berhasil dan ada yang belum."
Kucing itu mengeong pelan.
"Si Amat berhasil melayani warga dengan cepat. Tapi
Pak Eko masih ragu. Sepertinya dia merasa terancam dengan sistem baru."
Kucing itu menggeliat, lalu tidur lagi.
"Aku harus meyakinkan Pak Eko bahwa sistem ini bukan
untuk menggantikan dia, tapi untuk membantu dia. Tapi bagaimana caranya?"
Bu Yuni menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit.
Malam itu, bulan bersinar terang, hampir purnama. Cahayanya menyinari desa
dengan lembut.
"Ya Allah, beri aku hikmah. Beri aku cara untuk
menyentuh hati Pak Eko. Aku tidak ingin ada yang merasa tersisih. Kita semua
satu tim."
Ia menghela napas. Udara malam dingin menusuk paru-parunya.
"Besok aku akan coba pendekatan yang berbeda. Aku
tidak akan memaksakan. Aku akan mengajak dia berdialog, bukan menggurui."
Kucing itu bangun, menggeliat, lalu melompat turun dari
pangkuan Bu Yuni. Ia berjalan ke arah pintu, seolah ingin masuk ke dalam.
"Kamu mau tidur di dalam?" tanya Bu Yuni.
Kucing itu mengeong.
"Baiklah, silakan."
Bu Yuni membuka pintu, dan kucing itu masuk dengan santai.
Ia langsung melompat ke ujung kasur dan meringkuk di sana.
Bu Yuni tersenyum. "Kamu sudah merasa betah ya?
Seperti pemilik rumah saja."
Ia menutup pintu, mematikan lampu, dan merebahkan tubuhnya
di kasur. Tubuhnya lelah, namun pikirannya masih sibuk memikirkan rencana untuk
besok.
"Besok akan lebih baik," bisiknya. "Besok
akan lebih baik."
Keesokan paginya, Bu Yuni datang ke kantor dengan membawa
sebuah papan tulis kecil yang ia buat dari triplek bekas. Papan itu berukuran
60x80 sentimeter, dengan permukaan yang sudah dilapisi kertas putih. Ia
menempelkan papan itu di dinding samping ruangan.
"Apa itu, Bu?" tanya Si Amat.
"Papan prosedur," jawab Bu Yuni. "Ini akan
membantu kita mengingat langkah-langkah pelayanan."
Bu Yuni kemudian menulis dengan spidol hitam di papan itu:
PROSEDUR PELAYANAN ADMINISTRASI DESA AWAN BIRU
1.
Terima berkas dari warga
2.
Cek kelengkapan berkas
3.
Catat di buku register
(nomor, tanggal, nama, jenis berkas)
4.
Proses berkas sesuai
jenisnya
5.
Catat di buku register
saat berkas selesai
6.
Serahkan ke warga
Standar Waktu Pelayanan:
· Surat keterangan domisili: maksimal 30 menit
· Surat pengantar KTP/KK: maksimal 1 jam
· Surat tanah: maksimal 3 hari
· Surat lainnya: disesuaikan
PROSEDUR PENCARIAN ARSIP:
1.
Cek buku register untuk
mengetahui nomor dan lokasi berkas
2.
Cari berdasarkan warna
map:
o
Merah: Kependudukan
o
Hijau: Pertanahan
o
Biru: Surat Menyurat
o
Kuning: Arsip Lama
o
Putih: Lain-lain
3.
Cari berdasarkan dusun
(untuk kependudukan)
4.
Cari berdasarkan tahun
5.
Catat di buku register
jika berkas dipindahkan
Si Amat membaca papan itu dengan saksama. "Wah, Bu,
ini seperti rambu-rambu di jalan. Kita jadi tidak bingung."
"Betul, Mas Amat. Dengan prosedur yang jelas, kita
tidak perlu berpikir keras setiap kali melayani warga."
Pak Edi yang datang menghampiri. "Bu, ini ide bagus.
Tapi apakah semua perangkat desa bisa mengikutinya?"
"Kita akan belajar bersama, Pak. Pelan-pelan."
Pak Eko yang ikut membaca papan itu hanya diam. Namun
matanya berbinar—sesuatu yang jarang terjadi.
"Pak Eko, ada yang ingin ditanyakan?" tanya Bu
Yuni.
"Tidak, Bu. Saya hanya... terkesan."
Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Pak Eko."
Untuk menguji prosedur baru, Bu Yuni meminta Si Amat untuk
melayani warga yang datang dengan mengikuti langkah-langkah di papan.
Tidak lama kemudian, seorang warga datang. Namanya Pak
Bejo, warga Dusun Kaliwungu, yang ingin mengurus surat pengantar untuk membuat
KTP baru karena KTP-nya hilang.
"Selamat pagi, Pak," sapa Si Amat.
"Pagi, Mas. Saya mau bikin surat pengantar KTP. KTP
saya hilang."
"Baik, Pak. Bisa tunjukkan berkas-berkasnya?"
Pak Bejo mengeluarkan surat keterangan kehilangan dari
kepolisian, KK, dan fotokopi akta kelahiran.
Si Amat memeriksa berkas-berkas itu. Semua lengkap. Lalu ia
membuka buku register dan menulis:
*Nomor: 001/SK/III/2001*
Tanggal: 5 Maret 2001
Nama: Bejo Suprapto
Alamat: Dusun Kaliwungu
Jenis Berkas: Surat pengantar KTP
Status: Diproses
"Pak, data Bapak sudah saya catat. Sekarang saya akan
proses. Mohon tunggu sekitar 30 menit."
"Wah, cepet amat, Mas. Dulu bisa sejam lebih."
"Itu dulu, Pak. Sekarang sudah ada sistem baru."
Pak Bejo duduk di kursi yang tersedia. Ia mengamati kantor
desa yang mulai rapi. Ada map-map berwarna di lemari. Ada papan prosedur di
dinding. Ada buku register di meja.
"Kayaknya desa kita mulai maju ya," gumumnya.
Dalam waktu 25 menit, surat pengantar KTP sudah selesai. Si
Amat menyerahkannya pada Pak Bejo.
"Ini, Pak. Suratnya. Silakan dilanjutkan ke
kecamatan."
Pak Bejo menerima surat itu dengan senyum lebar.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih."
"Sama-sama, Pak."
Setelah Pak Bejo pergi, Bu Yuni menghampiri Si Amat.
"Bagus, Mas Amat. Tepat waktu, bahkan lebih cepat."
"Saya ikuti prosedur Ibu, Bu. Ternyata memang lebih
mudah."
"Itu baru permulaan, Mas. Masih banyak yang harus kita
pelajari."
Melihat keberhasilan Si Amat, Pak Eko akhirnya memberanikan
diri untuk mencoba sistem baru.
Seorang warga dating, seorang ibu muda bernama Bu Wati yang
ingin mengurus surat keterangan usaha untuk berjualan gorengan di pasar.
"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?" tanya
Pak Eko dengan nada ramah, sesuatu yang jarang ia lakukan.
Bu Wati terkejut. Biasanya Pak Eko cuek dan sibuk dengan
ponselnya. "Siang, Pak. Saya mau bikin surat keterangan usaha."
"Baik, Bu. Bisa tunjukkan berkas-berkasnya?"
Bu Wati mengeluarkan KTP, KK, dan surat pengantar dari RT.
Pak Eko memeriksa berkas-berkas itu. Lalu ia membuka buku
register, buku yang baru ia buat pagi ini, dan menulis dengan rapi.
*Nomor: 002/SKU/III/2001*
Tanggal: 5 Maret 2001
Nama: Wati Susilowati
Alamat: Dusun Gondang
Jenis Berkas: Surat keterangan usaha
Status: Diproses
"Bu, mohon tunggu sekitar 30 menit."
"Baik, Pak."
Pak Eko kemudian memproses surat itu. Tangannya bergerak
cepat, lebih cepat dari biasanya. Ia tidak ingin kalah dengan Si Amat.
Dalam waktu 20 menit, surat itu selesai.
"Ini, Bu. Suratnya."
Bu Wati menerimanya dengan mata berbinar. "Wah, cepat
sekali, Pak. Terima kasih."
"Sama-sama, Bu."
Setelah Bu Wati pergi, Pak Eko menghela napas lega. Ia
menatap Bu Yuni yang sedang tersenyum dari kejauhan.
"Bagus, Pak Eko," kata Bu Yuni.
Pak Eko tersenyum malu. "Ternyata tidak sesulit yang
saya bayangkan, Bu."
"Itu karena Bapak mau mencoba. Selamat, Pak Eko. Bapak
telah melewati rintangan pertama."
Sabtu sore, setelah seharian bekerja, Bu Yuni mengadakan
evaluasi kecil bersama perangkat desa. Mereka berkumpul di ruang tengah, duduk
di kursi-kursi plastik yang berjajar melingkar.
"Teman-teman, kita sudah satu minggu menerapkan sistem
baru. Saya ingin mendengar pendapat kalian," kata Bu Yuni membuka diskusi.
Si Amat angkat tangan pertama. "Saya merasa lebih
mudah bekerja, Bu. Dulu saya sering panik kalau ada warga datang. Sekarang saya
tahu persis harus melakukan apa."
Pak Edi mengangguk. "Saya juga merasakan hal yang
sama. Prosedur yang jelas membantu kita tidak bingung."
Pak Eko yang duduk di pojok akhirnya angkat bicara.
"Jujur, awalnya saya ragu. Tapi setelah mencoba, saya akui sistem ini
lebih efektif."
Pak Santoso tersenyum. "Ini baru permulaan, Pak Eko.
Masih banyak yang harus kita benahi."
Bu Lulu menambahkan, "Untuk keuangan, saya masih
berjuang merapikan arsip lama. Tapi untuk arsip baru, saya sudah pakai sistem
Bu Yuni."
Bu Yuni mengangguk. "Bagus. Yang terpenting, kita
konsisten. Jangan sampai besok lupa, lalu kembali ke cara lama."
"Tidak akan, Bu," kata Si Amat mantap. "Saya
sudah ketagihan rapi."
Semua tertawa. Suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Pak Kades Iwan yang ikut dalam evaluasi itu berkata,
"Bu Yuni, saya bangga dengan kerja keras Ibu dan teman-teman. Perubahan
ini luar biasa."
"Ini berkat kerja sama semua, Pak. Saya hanya
memulai."
"Tetap saja, tanpa Ibu, ini tidak akan terjadi."
Bu Yuni tersenyum. Hatinya hangat, namun ia tidak ingin
terbuai pujian. Ia tahu perjalanan masih panjang.
Malam Minggu itu, Desa Awan Biru terasa lebih sunyi dari
biasanya. Mungkin karena banyak warga yang pergi ke kota atau sekadar berkumpul
di rumah masing-masing.
Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing oranye,
yang sudah ia beri nama "Kuning", tidur di pangkuannya. Udara malam
dingin, namun tidak sedingin biasanya. Mungkin karena musim mulai berganti.
"Kuning, kamu tahu? Hari ini aku bahagia," katanya
sambil mengelus kepala kucing itu.
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku lihat Pak Eko akhirnya mau berubah. Aku lihat Si
Amat semakin percaya diri. Aku lihat Pak Edi lebih serius bekerja. Semuanya
mulai bergerak ke arah yang benar."
Kucing itu bergerak sedikit, menyesuaikan posisi.
"Tapi aku juga tahu, ini baru awal. Masih banyak yang
harus dibenahi. Masih banyak warga yang belum terlayani dengan baik. Masih
banyak berkas lama yang berserakan."
Bu Yuni menatap langit malam. Bintang-bintang bertaburan,
bulan bersinar terang.
"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih
untuk teman-teman yang mulai percaya. Terima kasih untuk kekuatan yang Engkau
berikan."
Ia menutup matanya. Berdoa dalam hati untuk waktu yang
lama.
"Besok adalah hari Minggu. Aku akan istirahat. Tapi
hari Senin, kita lanjutkan lagi. Perubahan tidak boleh berhenti."
Kucing itu bangun, menggeliat, lalu melompat turun. Ia
berjalan ke pintu, menandakan ingin masuk.
"Baik, Kuning. Kita tidur."
Bu Yuni membuka pintu, membiarkan kucing itu masuk. Ia
kemudian menutup pintu, mematikan lampu, dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Dalam gelap, ia tersenyum. "Selamat malam, Desa Awan
Biru. Besok kita lanjutkan perjuangan."
Minggu pagi, warung kopi milik Pak Karyo lebih ramai dari
biasanya. Banyak warga yang datang untuk sekadar ngobrol sambil menikmati kopi
dan gorengan.
Topik pembicaraan hangat adalah perubahan di kantor desa.
"Saya dengar sekarang pelayanan di kantor desa lebih
cepat," kata Pak Sugeng sambil meniup kopinya yang masih panas.
"Iya, kata Bu Wati, dia cuma butuh 20 menit untuk
bikin surat keterangan usaha," sahut Bu Tini.
"Itu karena ada Sekdes baru," kata Pak Karyo
sambil menyodorkan gorengan ke pelanggannya. "Katanya orangnya teliti dan
tegas."
Anto yang duduk di pojok ikut nimbrung. "Saya sudah
bilang dari awal. Bu Yuni itu orang pilihan."
"Kamu selalu bilang begitu, To. Setiap ada orang baru,
kamu bilang 'orang pilihan'," ledek Pak Sugeng.
Anto tersenyum misterius. "Kali ini berbeda, Pak. Saya
bisa merasakannya."
Mereka tertawa. Namun di balik tawa itu, ada harapan yang
mulai tumbuh. Desa Awan Biru, yang selama ini terkesan jalan di tempat, mulai
menunjukkan tanda-tanda perubahan.
Minggu adalah hari istirahat bagi Bu Yuni. Ia tidak pergi
ke kantor. Ia memilih tinggal di rumah, membersihkan rumah kontrakannya,
mencuci pakaian, dan memasak untuk seminggu ke depan.
Namun pikirannya tidak bisa lepas dari pekerjaan. Ia
membuka buku catatannya, membaca apa yang sudah ia tulis selama seminggu
terakhir.
"Hari pertama: meja penuh berkas, sistem belum
ada."
"Hari kedua: Pak Darmo marah, berkasnya hampir
hilang."
"Hari ketiga: mulai klasifikasi arsip, Si Amat mulai
serius."
"Hari keempat: papan prosedur, Pak Eko mulai
berubah."
"Hari kelima: pelayanan lebih cepat, warga mulai
puas."
"Hari keenam: evaluasi, semuanya optimis."
Ia tersenyum membaca catatannya. "Perubahan memang
tidak instan. Tapi kalau kita konsisten, hasilnya akan terlihat."
Ia kemudian menulis catatan baru:
"Minggu pertama: fondasi sudah mulai dibangun. Sistem
sudah mulai berjalan. Tantangan ke depan: konsistensi dan perluasan sistem ke
semua aspek."
Ia menutup buku itu dan merebahkan diri di kasur. Kucing
Kuning tidur di sampingnya, mendengkur pelan.
"Besuk, Kuning. Besuk kita mulai lagi."
Senin pagi, Bu Yuni datang ke kantor dengan semangat baru.
Ia sudah menyusun rencana untuk minggu kedua: fokus pada penataan arsip lama.
"Mas Amat, minggu ini kita akan fokus pada arsip
lama," katanya.
"Arsip lama, Bu? Yang di map kuning?"
"Betul. Arsip dari tahun 1990 ke bawah. Sebagian sudah
rapuh, ada yang sudah dimakan rayap. Kita harus segera menyelamatkannya."
"Caranya bagaimana, Bu?"
"Kita pindahkan ke map baru. Kita beri label yang
jelas. Lalu kita simpan di tempat yang lebih aman."
Si Amat mengangguk. "Siap, Bu. Saya bantu."
Mereka berdua kemudian membuka lemari arsip dan
mengeluarkan map-map kuning yang penuh debu. Debu beterbangan, membuat mereka
bersin-bersin.
"Wah, Bu, ini debu sudah bertahun-tahun tidak
tersentuh," kata Si Amat sambil mengucek mata.
"Itulah masalahnya, Mas. Arsip tidak boleh dibiarkan
begitu saja. Harus dirawat."
Mereka mulai membuka map satu per satu. Setiap map berisi
puluhan berkas dari tahun 1990-an. Ada surat tanah, akta kelahiran, kartu
keluarga, dan berbagai dokumen penting lainnya.
"Ini Bu, akta kelahiran tahun 1991," kata Si Amat
sambil menunjukkan selembar kertas yang sudah menguning.
Bu Yuni menerimanya, memeriksa dengan teliti. "Masih
bisa diselamatkan. Kita pindahkan ke map baru, lalu kita lapisi dengan
plastik."
"Plastik, Bu?"
"Iya, plastik transparan. Supaya tidak cepat
rusak."
Si Amat mengangguk. "Saya cari plastiknya di warung,
Bu."
"Baik, beli yang tebal."
Si Amat bergegas pergi ke warung Pak Karyo untuk membeli
plastik. Bu Yuni melanjutkan memisahkan berkas-berkas.
Pak Edi yang melihat dari kejauhan mendekat. "Bu,
perlu bantuan?"
"Kalau Bapak tidak sibuk, bisa bantu saya memisahkan
berkas-berkas ini."
Pak Edi duduk di samping Bu Yuni. "Saya kagum, Bu. Ibu
bekerja tanpa kenal lelah."
"Ini panggilan hati, Pak. Saya merasa terpanggil untuk
membereskan ini."
"Panggilan hati?" Pak Edi mengernyit.
"Iya, Pak. Saya percaya setiap orang punya panggilan
masing-masing. Ada yang jadi guru, ada yang jadi dokter, ada yang jadi petani.
Saya... saya merasa dipanggil untuk mengurus administrasi."
Pak Edi terdiam. Lalu ia berkata, "Saya tidak pernah
berpikir seperti itu, Bu. Bagi saya, kerja ya kerja. Tapi setelah melihat Ibu,
saya mulai berpikir ulang."
"Bagus, Pak Edi. Mulailah mencari panggilan
Bapak."
Pak Edi tersenyum. "Saya akan coba, Bu."
Sore itu, ketika Bu Yuni dan timnya sedang asyik merapikan
arsip lama, mereka menemukan kendala. Beberapa berkas sudah tidak terbaca
karena tinta yang luntur dan kertas yang rapuh.
"Ini Bu, akta kelahiran tahun 1985. Tulisannya sudah
hampir hilang," kata Pak Santoso sambil menunjukkan selembar kertas yang
nyaris hancur.
Bu Yuni memeriksa dengan teliti. "Masih ada sisa
tinta. Kita bisa coba baca dengan kaca pembesar."
"Kaca pembesar, Bu? Kita tidak punya."
Bu Yuni berpikir sejenak. "Pak Santoso, tolong pinjam
ke SD terdekat. Biasanya guru-guru punya kaca pembesar untuk pelajaran
IPA."
Pak Santoso mengangguk dan bergegas pergi. Setengah jam
kemudian, ia kembali dengan membawa kaca pembesar pinjaman dari SD Negeri 1
Awan Biru.
Bu Yuni menggunakan kaca pembesar itu untuk membaca berkas-berkas
yang tulisannya sudah luntur. Matanya menyipit, berkonsentrasi penuh.
"Alhamdulillah, masih terbaca," katanya setelah
berhasil membaca satu berkas.
Ia kemudian menulis ulang data dari berkas itu ke kertas
baru, lalu menyimpannya di map baru.
"Ini harus kita lakukan untuk semua berkas yang
rusak," katanya.
"Tapi Bu, itu butuh waktu berbulan-bulan," kata
Pak Santoso.
"Tidak apa-apa, Pak. Lebih baik lambat tapi selamat,
daripada cepat tapi asal-asalan."
Pak Santoso mengangguk. "Baik, Bu. Kita lakukan."
Malam itu, setelah bekerja seharian merapikan arsip lama,
Bu Yuni merasa sangat lelah. Matanya perih karena membaca tulisan-tulisan yang
luntur. Punggungnya pegal karena duduk membungkuk berjam-jam.
Ia pulang ke rumah kontrakannya dengan langkah gontai.
Kucing Kuning menyambutnya di depan pintu, mengeong-ngeong meminta makan.
"Sabarlah, Kuning. Aku juga belum makan," katanya
sambil membuka pintu.
Ia masuk ke dapur, memanaskan nasi sisa kemarin, lalu makan
dengan lauk seadanya—tempe goreng dan sambal terasi. Sederhana, tapi
mengenyangkan.
Setelah makan, ia duduk di beranda. Kuning melompat ke
pangkuannya.
"Hari ini berat, Kuning. Tapi aku senang. Banyak
berkas yang berhasil diselamatkan."
Kucing itu mengeong pelan.
"Besok kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak akan menyerah."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah tanpa
awan. Bintang-bintang terlihat sangat jelas, seperti berlian yang bertaburan di
atas kain beludru hitam.
"Ya Allah, terima kasih untuk kekuatan hari ini.
Besok, beri aku kekuatan lagi."
Ia memejamkan mata. Angin malam berhembus pelan, membawa
aroma tanah basah dari kejauhan. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan
Biru."
Selasa pagi, Pak Kades Iwan menerima telepon dari
kecamatan. Kabar baik: Desa Awan Biru terpilih sebagai salah satu desa yang
akan menerima bantuan buku register dan map arsip dari Pemerintah Kabupaten.
"Bu Yuni, kabar baik!" seru Pak Iwan sambil
keluar dari ruangannya.
"Apa itu, Pak?"
"Kita dapat bantuan buku register dan map arsip dari
kabupaten. Lima puluh buku register dan dua ratus map."
Bu Yuni terkejut. "Wah, luar biasa, Pak. Itu sangat
membantu."
"Kata camat, ini karena desa kita mulai menunjukkan
kemajuan dalam administrasi."
Bu Yuni tersenyum. "Ini berkat kerja sama kita semua,
Pak."
Pak Iwan menggeleng. "Tidak, Bu. Ini berkat Ibu. Tanpa
Ibu, tidak akan ada kemajuan."
Bu Yuni tidak ingin berdebat. Ia hanya tersenyum dan
kembali bekerja.
Si Amat yang mendengar kabar itu bersorak kecil. "Yes!
Kita dapat bantuan!"
Pak Edi ikut bergembira. "Ini baru namanya perubahan.
Dulu kita tidak pernah dapat bantuan apa-apa."
Pak Eko mengangguk. "Saya mulai percaya, Bu Yuni
memang membawa berkah."
Bu Yuni tersenyum. "Bukan saya, Pak. Ini kerja keras
kita semua."
Karena bantuan dari kabupaten akan datang dalam waktu
dekat, Bu Yuni mempersiapkan tempat penyimpanan yang layak.
"Mas Amat, tolong bersihkan lemari arsip nomor 3 dan
4. Nanti kita gunakan untuk menyimpan map-map baru."
"Siap, Bu!"
Si Amat dan Pak Edi membersihkan lemari-lemari itu. Mereka
mengelap debu, membersihkan rayap, dan memperbaiki engsel yang rusak.
Bu Lulu dan Bu Endang menyiapkan buku register baru. Mereka
memberi nomor pada setiap buku, lalu menuliskan jenis arsip yang akan dicatat.
Pak Santoso dan Pak Eko menyusun rencana penempatan map-map
baru berdasarkan klasifikasi yang sudah dibuat Bu Yuni.
Semua bekerja dengan semangat. Ada kebanggaan yang tidak
diucapkan, tetapi terasa di udara.
"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu
Yuni sambil memandang mereka semua. "Kita mulai dari nol, dan sekarang
kita sudah punya sistem yang rapi."
"Semua karena Ibu, Bu," kata Si Amat.
"Bukan, Mas Amat. Ini karena kita mau berubah. Tanpa
kemauan itu, saya tidak akan bisa berbuat apa-apa."
Pak Kades Iwan yang mendengar itu tersenyum. "Bu Yuni,
Ibu adalah pemimpin sejati."
Bu Yuni tersenyum malu. "Saya hanya hamba Allah yang
ingin mengabdi, Pak."
Malam itu, Pak Kades Iwan duduk di ruang kerjanya. Ia
membuka jendela, membiarkan angin malam masuk. Udara dingin menusuk wajahnya,
namun ia tidak merasa dingin. Pikirannya sedang hangat.
Ia mengingat kembali perjalanannya sebagai kepala desa.
Enam bulan pertama penuh frustrasi. Tidak ada perubahan yang berarti. Warga
kecewa. Perangkat desa malas. Sistem berantakan.
Kemudian Bu Yuni datang. Dan semuanya mulai berubah.
"Ibu Yuni," bisiknya. "Terima kasih."
Ia menatap foto istrinya di atas meja. "Sri, kamu
lihat? Desa kita mulai berubah. Mungkin tidak secepat yang kita harapkan, tapi
setidaknya ada arah."
Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak menyeka.
"Ya Allah, terima kasih untuk Bu Yuni. Terima kasih
untuk perubahan yang mulai terjadi. Terima kasih untuk harapan yang kembali
tumbuh."
Ia memejamkan mata. Berdoa untuk waktu yang lama.
Ketika membuka mata, bulan sudah bergeser ke barat. Malam
semakin larut.
"Besok adalah hari baru," bisiknya. "Besok
kita lanjutkan."
Rabu pagi, kabut tebal masih menyelimuti Desa Awan Biru.
Namun di kantor desa, lampu sudah menyala sejak pukul 06.00.
Bu Yuni sudah ada di sana, bersama Si Amat dan Pak Edi.
Mereka sedang menyiapkan lemari-lemari untuk menyimpan bantuan yang akan
datang.
"Bu, kabarnya bantuan akan datang siang ini,"
kata Si Amat.
"Iya, Mas. Kita harus siap."
Pukul 10.00, sebuah truk kecil berwarna hijau berhenti di
depan kantor desa. Dari dalam truk itu, dua orang menurunkan beberapa dus besar
berisi buku register dan map arsip.
"Selamat pagi, kami dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat
dan Desa," kata sopir truk itu. "Ini bantuan untuk Desa Awan
Biru."
"Terima kasih, Pak," kata Bu Yuni sambil
menandatangani surat penerimaan.
Mereka kemudian membongkar dus-dus itu. Lima puluh buku
register dengan sampul biru tebal. Dua ratus map arsip dengan berbagai warna:
merah, hijau, biru, kuning, dan putih.
"Wah, lengkap, Bu!" seru Si Amat.
"Ini berkah, Mas Amat. Mari kita susun."
Mereka beramai-ramai menyusun map-map itu di lemari. Setiap
map diberi label sesuai klasifikasi. Buku register disimpan di rak khusus.
Pukul 12.00, semua sudah rapi. Bu Yuni memandang
lemari-lemari yang sekarang penuh dengan map berwarna-warni. Ada rasa bangga
yang tidak bisa ia ungkapkan.
"Ini baru permulaan," katanya. "Masih banyak
yang harus kita lakukan."
"Tapi setidaknya kita sudah mulai, Bu," kata Pak
Edi.
Bu Yuni mengangguk. "Iya, Pak. Kita sudah mulai."
Sore itu, setelah semua bantuan tersusun rapi, Bu Yuni
duduk di mejanya. Ia merasa sangat lelah, namun hatinya penuh.
Ia membuka buku catatannya dan menulis:
"Hari kesepuluh: Bantuan dari kabupaten datang. Lima
puluh buku register, dua ratus map arsip. Semua sudah tersusun rapi. Perangkat
desa bekerja dengan semangat. Warga mulai merasakan perubahan.
Alhamdulillah."
Ia menutup buku itu dan tersenyum.
Si Amat mendekat. "Bu, Ibu sudah makan siang?"
"Belum, Mas. Lupa."
"Wah, jangan lupa makan, Bu. Nanti sakit."
Bu Yuni tersenyum. "Iya, Mas. Nanti saya makan."
Si Amat mengeluarkan bungkusan dari sakunya. "Ini, Bu.
Saya belikan gorengan di warung Pak Karyo. Makan dulu."
Bu Yuni terharu. "Terima kasih, Mas Amat."
"Jangan sampai Ibu sakit, Bu. Desa ini butuh
Ibu."
Bu Yuni menerima bungkusan itu. Di dalamnya ada pisang
goreng dan tempe goreng yang masih hangat.
Ia makan dengan lahap. Rasa lelah perlahan berganti dengan
rasa syukur.
"Mas Amat," katanya setelah selesai makan.
"Iya, Bu?"
"Kamu sudah banyak berubah. Saya bangga."
Si Amat tersenyum malu. "Karena Ibu, Bu. Ibu yang
mengubah saya."
"Bukan, Mas. Kamu yang mengubah dirimu sendiri. Saya
hanya menunjukkan jalannya."
Si Amat mengangguk. "Terima kasih, Bu. Saya tidak akan
mengecewakan."
Sore itu, Anto mampir ke kantor desa. Truknya sedang tidak
jalan karena ban bocor, jadi ia punya waktu luang untuk ngobrol.
"Bu Yuni, saya lihat kantor sekarang rapi,"
katanya sambil duduk di kursi yang tersedia.
"Terima kasih, To. Ini kerja keras semua."
"Saya jadi ingat truk saya, Bu."
"Maksudmu?"
"Truk itu kalau rapi dan terawat, jalannya enak. Tidak
mudah mogok. Tapi kalau kotor dan tidak dirawat, sering mogok di jalan. Sama
seperti administrasi desa. Kalau rapi, semuanya lancar. Kalau berantakan, ya
sering 'mogok'."
Bu Yuni tertawa. "Filosofi yang bagus, To. Kamu
seharusnya jadi filsuf, bukan sopir truk."
Anto tersenyum misterius. "Sopir truk juga bisa jadi
filsuf, Bu. Filsuf jalanan."
Mereka tertawa bersama. Suasana sore itu hangat dan penuh
tawa.
Kamis pagi, Bu Yuni dihadapkan pada tantangan baru.
Beberapa warga datang mengeluh karena surat keterangan yang mereka terima dari
kantor desa ditolak oleh kecamatan.
"Bu, kata kecamatan, surat dari desa harus pakai
materai," kata seorang warga bernama Pak Kusnadi.
"Tapi, Pak, aturan baru mengatakan surat desa tidak
perlu materai," jawab Bu Yuni.
"Tapi kata kecamatan harus, Bu. Saya bingung."
Bu Yuni menghela napas. Ini masalah koordinasi antara desa
dan kecamatan. Aturan di tingkat kabupaten sering tidak sinkron dengan pelaksanaan
di lapangan.
"Baik, Pak. Saya akan koordinasikan dengan kecamatan.
Sementara, Bapak bisa membeli materai dulu. Nanti kalau aturannya berubah,
Bapak bisa minta ganti."
Pak Kusnadi mengangguk. "Baik, Bu. Saya cari materai
dulu."
Setelah warga itu pergi, Bu Yuni langsung menghubungi
kecamatan. Ternyata benar, ada aturan baru yang belum disosialisasikan dengan
baik.
"Bu Yuni, maaf. Itu kesalahan kami. Surat desa memang
tidak perlu materai," kata staf kecamatan.
"Baik, Pak. Tolong segera sosialisasikan ke desa-desa
lain, supaya warga tidak bingung."
"Iya, Bu. Kami akan lakukan."
Bu Yuni menutup telepon. Ia menghela napas. Ini adalah
tantangan lain dalam pekerjaannya: tidak hanya mengurus administrasi internal,
tapi juga berkoordinasi dengan pihak luar.
Sore itu, Bu Yuni mengumpulkan semua perangkat desa. Ia
ingin membahas masalah surat materai.
"Teman-teman, hari ini kita belajar sesuatu. Aturan
bisa berubah kapan saja. Tugas kita adalah selalu update."
Pak Eko mengangguk. "Tapi Bu, bagaimana caranya update
kalau sosialisasi dari kecamatan lambat?"
"Kita harus proaktif, Pak. Jangan menunggu kabar dari
kecamatan. Kita sendiri yang mencari tahu."
"Caranya?"
"Bisa dengan sering menghubungi kecamatan, membaca
peraturan yang baru keluar, atau mengikuti pelatihan-pelatihan."
Pak Santoso menambahkan, "Atau bisa juga dengan
bertanya pada LSM seperti Pundi Desa."
Bu Yuni mengangguk. "Betul, Pak. Ada banyak cara. Yang
penting, kita tidak boleh cepat puas."
Si Amat yang sejak tadi diam angkat bicara. "Bu, saya
jadi ingat kata Ibu dulu: 'Perubahan itu tidak instan.' Ternyata benar."
Bu Yuni tersenyum. "Iya, Mas Amat. Perubahan itu
proses. Dan dalam proses itu, kita akan terus belajar."
Malam itu, setelah seharian bekerja, Bu Yuni duduk di
beranda rumahnya. Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur pelan.
"Kuning, hari ini aku belajar sesuatu yang baru."
Kucing itu tidak bergerak.
"Ternyata, menjadi sekdes itu tidak hanya soal
merapikan berkas. Tapi juga soal berkoordinasi dengan pihak luar, soal
mengikuti perkembangan aturan, soal menjadi jembatan antara desa dan
kecamatan."
Ia menghela napas. Udara malam dingin, namun tidak sedingin
biasanya. Mungkin karena musim semi sudah mulai datang.
"Tapi aku tidak menyesal. Setiap hari ada tantangan
baru. Setiap hari ada pelajaran baru. Dan setiap hari, aku merasa lebih
berguna."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah tanpa
awan. Bintang-bintang terlihat sangat jelas.
"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Besok, beri
aku kekuatan untuk menghadapi tantangan baru."
Ia memejamkan mata. Angin malam berhembus pelan, membawa
aroma bunga melati dari kebun tetangga.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita lanjutkan lagi."
Jumat pagi, sebelum berangkat ke kantor, Bu Yuni mampir ke
masjid untuk shalat Jumat. Masjid desa penuh dengan jamaah. Warga
berbondong-bondong datang, memenuhi ruangan utama hingga halaman.
Setelah shalat, ia bertemu dengan Pak Darmo. Wajah Pak
Darmo sekarang lebih cerah dari sebelumnya. Kerutan di dahinya sudah tidak sedalam
dulu.
"Bu Yuni, saya mau lapor," kata Pak Darmo sambil
tersenyum.
"Lapor apa, Pak?"
"Berkas tanah saya sudah jadi. Kemarin saya terima
dari kecamatan. Terima kasih, Bu."
Bu Yuni tersenyum lega. "Alhamdulillah, Pak. Saya
turut bahagia."
"Ini semua karena Ibu, Bu. Tanpa Ibu, berkas saya
mungkin masih hilang."
"Bukan saya, Pak. Ini kerja sama tim."
Pak Darmo menggeleng. "Ibu terlalu rendah hati. Tapi
saya tahu, Ibu yang memulai semuanya."
Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
"Bu Yuni, saya titip pesan," kata Pak Darmo.
"Pesan apa, Pak?"
"Jangan pernah berubah. Desa ini butuh Ibu."
Bu Yuni mengangguk. "Terima kasih, Pak. Saya akan
berusaha."
Sabtu sore, setelah seharian bekerja, Bu Yuni mengadakan
evaluasi lagi. Kali ini, semua perangkat desa hadir.
"Teman-teman, kita sudah melewati minggu kedua. Ada
kemajuan, tapi juga ada kendala. Saya ingin mendengar pendapat kalian."
Pak Edi angkat bicara. "Saya rasa kita sudah lebih
rapi dari sebelumnya. Tapi masih banyak arsip lama yang belum tertata."
Pak Santoso menambahkan, "Saya setuju. Arsip lama
masih jadi PR besar."
Bu Lulu berkata, "Untuk keuangan, saya sudah mulai
merapikan. Tapi butuh waktu."
Pak Eko, yang sekarang sudah lebih terbuka, angkat bicara.
"Saya rasa kita perlu prioritas. Mana yang paling mendesak, kita kerjakan
dulu."
Bu Yuni mengangguk. "Setuju. Prioritas utama adalah
arsip-arsip yang sering dipakai warga: kependudukan dan pertanahan."
Si Amat mengangkat tangan. "Bu, saya usul kita buat
jadwal. Senin-Rabu: fokus pada kependudukan. Kamis-Sabtu: fokus pada
pertanahan."
"Usul yang bagus, Mas Amat. Kita coba minggu
depan."
Pak Kades Iwan yang ikut dalam evaluasi itu berkata,
"Saya bangga dengan semangat kalian. Teruskan."
Bu Yuni menatap semua perangkat desa. Matanya berbinar.
"Teman-teman, kita sudah melewati rintangan pertama.
Tapi perjalanan masih panjang. Mari kita terus bergerak. Jangan berhenti."
Mereka mengangguk serempak.
"Karena perubahan," lanjut Bu Yuni, "tidak
akan pernah terjadi jika kita hanya diam."
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumahnya untuk yang
terakhir kalinya di minggu ini. Besok adalah Minggu, hari istirahat. Tapi
pikirannya sudah melayang ke Senin.
Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur dengan
tenang.
"Dua minggu sudah, Kuning. Dua minggu yang melelahkan,
tapi juga membahagiakan."
Kucing itu tidak bergerak.
"Aku belajar banyak. Tentang kesabaran, tentang
ketekunan, tentang bagaimana mengubah kebiasaan lama."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan
sabit tipis menggantung di ufuk barat.
"Ya Allah, terima kasih untuk dua minggu ini. Terima
kasih untuk teman-teman yang mulai percaya. Terima kasih untuk warga yang mulai
merasakan perubahan."
Ia menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya. Bukan
karena sedih, tapi karena haru.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan.
Tapi aku percaya, Engkau selalu menyertaiku."
Ia membuka matanya. Bintang-bintang terlihat lebih terang
dari sebelumnya.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Ia masuk ke dalam rumah, membaringkan tubuhnya di kasur.
Kucing Kuning tidur di sampingnya.
Dalam gelap, ia tersenyum. "Perubahan itu nyata,
Kuning. Dan aku adalah bagian darinya."
BAB
4
RAPAT YANG PENUH DRAMA DAN CANDA
Hari itu, langit Desa Awan Biru terlihat lebih cerah dari
biasanya. Matahari bersinar terang sejak pukul 07.00, kabut sudah hilang sama
sekali, sebuah keanehan untuk desa yang berada di ketinggian 900 meter di atas
permukaan laut. Biasanya, kabut baru benar-benar hilang menjelang pukul 09.00.
Namun hari itu berbeda. Seolah-olah alam ikut bersiap untuk sesuatu yang
penting.
Burung-burung berkicau lebih riuh dari biasanya. Ayam-ayam
berkokok bersahutan dengan nada yang terdengar lebih bersemangat. Bahkan angin
yang berhembus pun terasa lebih segar, membawa aroma tanah basah dan dedaunan
dari kebun-kebun warga.
Di kantor desa, suasana justru sebaliknya, tegang, padat,
dan penuh ekspektasi. Sejak pukul 06.00, perangkat desa sudah mulai
berdatangan. Mereka tahu bahwa hari ini adalah hari yang penting: rapat
evaluasi kinerja pemerintahan desa yang dihadiri oleh warga, tokoh masyarakat,
dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Si Amat datang paling awal, pukul 06.15. Ia langsung
membersihkan ruangan, menyapu lantai yang masih berdebu, mengelap meja-meja,
dan menata kursi-kursi plastik warna hijau dan biru yang akan digunakan untuk
rapat. Biasanya ia malas melakukan pekerjaan seperti ini, tapi hari ini ia
bersemangat.
"Wah, Mat, lo datang pagi banget," sapa Pak Edi
yang datang pukul 06.30 sambil membawa termos kopi kesayangannya, termos
aluminium berwarna merah marun yang sudah penyok di sana-sini karena sering
jatuh.
"Iya, Pak. Hari ini kan rapat besar. Harus siap."
Pak Edi tersenyum sambil menuang kopi ke gelas plastik.
"Lo sekarang jadi rajin, Mat. Dulu mana pernah lo peduli sama kebersihan
ruangan."
"Saya malu sama Bu Yuni, Pak. Ibu itu rajin banget.
Saya jadi ikut-ikutan rajin."
"Wah, efek Bu Yuni. Hebat."
Pukul 06.45, Bu Yuni tiba. Ia terkejut melihat ruangan
sudah rapi dan kursi-kursi sudah tertata. "Mas Amat, Bapak sudah
bersih-bersih?"
"Iya, Bu. Saya datang pagi."
"Terima kasih, Mas Amat. Bapak hebat."
Si Amat tersenyum bangga. Dadanya membusung seperti merak
yang sedang memamerkan bulunya. "Senang bisa membantu, Bu."
Pak Eko datang pukul 07.00, diikuti Pak Santoso, Bu Lulu,
dan lainnya. Semua sudah bersiap. Mereka mengenakan seragam batik yang jarang
dipakai, batik coklat dengan motif parang yang sudah agak luntur karena jarang
dicuci. Wajah mereka serius, namun ada kegugupan yang tidak bisa disembunyikan.
"Pak Eko, Bapak siap?" tanya Bu Yuni.
"Insya Allah, Bu. Saya sudah siapkan data
perencanaan."
"Pak Santoso?"
"Siap, Bu. Data pemerintahan sudah saya rapiin."
"Bu Lulu?"
"Keuangan sudah, Bu. Walaupun masih ada yang
kurang."
Bu Yuni mengangguk. "Yang penting kita sudah berusaha
maksimal. Sisanya, kita serahkan pada Allah."
Pukul 08.00, warga mulai berdatangan. Mereka datang dari
berbagai dusun: Krajan, Ngemplak, Kaliwungu, dan Gondang. Ada yang berjalan
kaki, ada yang naik sepeda motor tua yang bunyinya seperti hendak copot, ada
juga yang naik andong, kereta kuda yang masih bertahan di desa itu meskipun
zaman sudah modern.
Balai desa yang berukuran 12x8 meter mulai terisi.
Lantainya ubin hitam putih yang sudah retak di beberapa bagian, retakan yang
sudah bertahun-tahun tidak diperbaiki, hanya ditutupi karpet plastik tipis.
Kursi-kursi plastik warna hijau dan biru berjajar dalam lima baris,
masing-masing baris berisi sepuluh kursi. Di depan, ada meja panjang untuk para
pembicara: Pak Kades Iwan, Bu Yuni, dan perwakilan BPD. Papan tulis putih di
depan sudah dibersihkan oleh Si Amat, meskipun masih ada bekas-bekas spidol
yang tidak bisa dihapus. Spidol yang tersedia hanya dua: satu hitam yang
tintanya sudah mulai pudar, satu biru yang masih lumayan bagus.
Udara di dalam balai desa terasa pengap karena ventilasi
hanya dua di dinding belakang, masing-masing berukuran 50x50 sentimeter dengan
kawat nyamuk yang sudah bolong-bolong. Beberapa warga mulai mengipas-ngipas
dengan koran bekas atau kardus bekas mi instan. Bau kopi dan gorengan dari
warung Pak Karyo ikut masuk lewat celah pintu dan jendela, bercampur dengan bau
keringat dan parfum murah yang disemprotkan secara berlebihan oleh beberapa
warga yang ingin tampil harum.
"Rame juga ya," kata Pak Karyo yang ikut hadir,
meskipun warungnya sedang buka, ia titipkan pada istrinya yang setia menemani
di warung. Badannya yang tambun membuat kursi plastik tempatnya duduk terlihat
meringis menahan beban.
"Iya, Pak. Ini rapat penting. Soalnya evaluasi
kinerja," sahut Pak Sugeng yang duduk di sampingnya. Wajahnya yang tipis
dengan kumis yang tidak pernah dicukur rapi itu tampak serius.
"Semoga ada hasilnya," kata Bu Tini yang duduk di
baris belakang sambil menggendong cucunya yang masih balita. Cucu itu sesekali
merengek, tapi Bu Tini dengan sabar membujuknya dengan permen yang ia bawa dari
rumah.
Di barisan tengah, Pak Darmo duduk dengan tenang. Wajahnya
tidak lagi tegang seperti beberapa minggu lalu. Ia bahkan tersenyum ketika
melihat Bu Yuni sibuk mempersiapkan berkas-berkas di meja depan.
"Pak Darmo, kelihatan senang hari ini," sapa Pak
Bejo, tetangganya, yang duduk di sampingnya.
"Iya, Jo. Berkas tanah saya sudah jadi. Semua berkat
Bu Yuni."
"Wah, bagus itu. Berarti Ibu Sekdes baru memang
beda."
"Beda, Jo. Beda banget."
Di pojok ruangan, Anto si sopir truk duduk santai sambil
menyilangkan kaki. Jaket kulitnya yang lusuh, dengan robekan di siku kanan dan
noda oli di beberapa tempat dikenakan meskipun udara sudah mulai hangat.
Matanya menyipit, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh orang
lain. Sesekali ia mengangguk-angguk sendiri, lalu tersenyum misterius.
"Anto, lo kok senyum-senyum sendiri? Lagi lihat
setan?" ledek Pak Edi yang kebetulan lewat.
Anto tidak tersinggung. Ia hanya menjawab dengan tenang,
"Saya sudah firasat dari semalam... hari ini bakal ada yang 'panas'."
"Wah, mulai lagi itu ramalan," sahut Pak Edi
sambil tertawa. "Lo mau jadi dukun, To? Buka praktik ramalan aja."
"Saya bukan dukun, Pak. Saya hanya... peka."
"Peka sama apa?"
"Peka sama energi."
Pak Edi menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan
menjauh. "Energi-energian lagi. Nggak ketulungan."
Namun beberapa warga yang mendengar perkataan Anto mulai
merasa was-was. "Panas" dalam bahasa Anto bisa berarti apa saja:
pertengkaran, perdebatan, atau bahkan skandal. Apalagi Anto terkenal dengan
ramalannya yang kadang-kadang tepat, meskipun banyak yang menganggapnya
kebetulan belaka.
"Mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa," gumam Bu
Tini sambil menggendong cucunya lebih erat.
Pukul 08.30, semua kursi sudah terisi. Bahkan beberapa
warga terpaksa berdiri di belakang karena kursi tidak mencukupi. Pak Santoso
dengan sigap mengambil kursi cadangan dari ruang arsip, kursi-kursi kayu tua
yang kakinya sudah tidak rata, sehingga jika diduduki akan bergoyang-goyang.
Pak Kades Iwan berdiri di depan meja. Wajahnya serius,
namun matanya berbinar. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna
hijau tua dengan motif lereng yang rapi. Rambutnya yang mulai beruban disisir
rapi ke belakang dengan minyak rambut wangi. Di dadanya, tersemat pin kecil
bergambar Garuda Pancasila, simbol bahwa ia adalah kepala desa.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
suaranya menggema di ruangan yang mulai sunyi.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
jawab hadirin, sebagian serempak, sebagian terlambat setengah detik karena
tidak konsentrasi.
"Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas rahmat dan hidayah-Nya, kita dapat berkumpul di tempat ini dalam
keadaan sehat wal afiat."
"Aamiin," jawab mereka.
"Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan
kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga
akhir zaman."
"Aamiin ya rabbal 'alamin."
Pak Kades mengambil napas sejenak. Ia memandang seluruh
ruangan, matanya menyapu dari baris depan hingga baris belakang. "Terima
kasih atas kehadiran Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Hari ini kita akan
membahas evaluasi pelayanan desa, khususnya administrasi yang selama ini
menjadi perhatian kita bersama."
Beberapa warga mengangguk-angguk. Ada yang berbisik-bisik,
"Nah, ini dia. Yang kita tunggu-tunggu."
"Seperti kita ketahui," lanjut Pak Kades,
"beberapa minggu terakhir ini, kita telah melakukan pembenahan di bidang
administrasi. Kita memiliki Sekretaris Desa baru, Ibu Yuniarti, yang biasa kita
panggil Bu Yuni. Beliau telah bekerja keras bersama perangkat desa untuk
merapikan sistem administrasi kita."
Pak Kades menunjuk ke arah Bu Yuni yang duduk di
sampingnya. "Untuk itu, saya persilakan Bu Yuni untuk menyampaikan paparannya."
Bu Yuni berdiri dengan tenang. Ia mengenakan kemeja putih
lengan panjang, kemeja yang sama sejak hari pertamanya bekerja, karena ia hanya
memiliki tiga stel baju kerja, rok hitam selutut, dan sepatu pantofel hitam
yang sudah mulai usang. Rambutnya disanggul rapi dengan jepit sederhana. Tidak
ada riasan berlebihan di wajahnya. Sederhana, namun bersinar.
Ia membawa map tebal berisi catatan-catatan yang ia tulis
selama tiga minggu terakhir. Map itu berwarna biru, dengan label "EVALUASI
ADMINISTRASI - AWAN BIRU" yang ditulis tangan dengan rapi menggunakan
spidol hitam.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
sapanya.
"Waalaikumsalam," jawab hadirin.
"Terima kasih, Pak Kades, atas sambutannya. Terima
kasih juga kepada Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian yang telah meluangkan
waktu untuk hadir di sini."
Ia menatap seluruh ruangan. Matanya menyapu dari baris
depan hingga baris belakang, seolah ingin memastikan setiap orang mendengarnya.
"Saya akan langsung pada inti. Selama tiga minggu
terakhir, kami telah melakukan beberapa pembenahan di bidang administrasi. Di
antaranya: klasifikasi arsip berdasarkan jenis dan dusun, pencatatan
keluar-masuk berkas dengan buku register, serta penyusunan prosedur
pelayanan."
Ia membuka map-nya, mengeluarkan beberapa lembar kertas
yang sudah ia siapkan. "Hasilnya, waktu pelayanan untuk surat keterangan
domisili berhasil kita turunkan dari rata-rata 1-2 jam menjadi maksimal 30
menit. Bahkan beberapa kali hanya 15-20 menit."
Warga mulai berbisik-bisik. "Wah, cepet banget," kata
seorang ibu di baris belakang.
"Surat pengantar KTP dari yang biasanya 2-3 jam,
menjadi maksimal 1 jam. Surat tanah dari yang biasanya berminggu-minggu atau
bahkan berbulan-bulan, menjadi maksimal 3 hari."
Suasana mulai hangat. Beberapa warga bertepuk tangan kecil.
"Namun," lanjut Bu Yuni, "kami juga
menemukan beberapa kendala. Pertama, arsip lama yang belum tertata dengan baik.
Kedua, kurangnya koordinasi dengan kecamatan. Ketiga, masih adanya warga yang
tidak membawa kelengkapan berkas."
Pak Didit, Ketua BPD, yang duduk di baris depan mengangkat
tangan. Tangannya terangkat tegas, seperti palu hakim yang siap memvonis.
Wajahnya tegas, bibir tipis, dan matanya menyipit seperti sedang mencari-cari
kesalahan.
"Maaf, Bu Sekdes. Saya ingin bertanya."
"Silakan, Pak Didit."
"Ibu bilang waktu pelayanan surat tanah menjadi
maksimal 3 hari. Tapi saya dengar dari warga, Pak Darmo misalnya, mengurus
tanahnya sampai berminggu-minggu."
Suasana langsung berubah. Beberapa warga menoleh ke arah
Pak Darmo. Pak Darmo sendiri hanya tersenyum tipis, tidak terprovokasi.
Bu Yuni menjawab dengan tenang. "Betul, Pak Didit.
Kasus Pak Darmo memang memakan waktu berminggu-minggu. Namun itu karena kami
harus mencari berkasnya yang hilang di arsip lama. Setelah berkas ditemukan,
proses selanjutnya hanya butuh 3 hari."
"Jadi, sistem baru Ibu belum sempurna?"
"Sistem apa pun tidak akan sempurna dalam waktu
singkat, Pak. Tapi kami terus berbenah. Dan target kami, ke depan, semua surat
tanah bisa diproses maksimal 3 hari."
Pak Didit tidak puas. "Lalu bagaimana dengan arsip
lama yang masih berantakan? Kapan akan selesai?"
Bu Yuni menarik napas. "Kami menargetkan dalam 6 bulan
ke depan, semua arsip lama sudah tertata dengan baik. Tapi itu tergantung pada
sumber daya yang kami miliki. Saat ini kami hanya punya 12 perangkat desa, dan
sebagian besar masih harus melayani warga setiap hari."
Pak Didit bersandar di kursinya. "6 bulan? Terlalu
lama."
Pak Kades Iwan yang mendengar itu langsung angkat bicara.
"Pak Didit, 6 bulan itu target realistis. Kami tidak bisa bekerja seperti
superhero. Kami butuh waktu."
"Warga sudah menunggu terlalu lama, Pak Kades. Desa
ini sudah bertahun-tahun terbelakang. Kami tidak bisa menunggu 6 bulan
lagi."
Suasana mulai memanas. Beberapa warga mulai berbisik-bisik
dengan nada tegang.
Pak Karyo, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri.
Badannya yang tambun sedikit terhuyung karena kursi plastik tempatnya duduk
tidak stabil. Ia mengatur napas sejenak, lalu berkata dengan suara berat yang
khas, suara seorang perokok berat yang sudah puluhan tahun menghisap kretek.
"Pak Kades, saya mau bicara."
"Silakan, Pak Karyo."
Pak Karyo menarik napas panjang. Dadanya yang bidang naik
turun. "Saya ini cuma pedagang kecil. Warung saya hanya jual kopi dan
gorengan. Tapi saya sudah puluhan tahun tinggal di desa ini. Saya melihat
pergantian kepala desa dari masa ke masa."
Semua warga diam. Mereka tahu Pak Karyo jarang bicara di
forum resmi. Jika ia bicara, pasti ada yang ingin ia sampaikan.
"Saya lihat Bu Yuni baru bekerja tiga minggu. Tiga minggu,
Pak Didit. Bukan tiga tahun. Dalam tiga minggu, beliau sudah berhasil merapikan
pelayanan. Dulu, kalau saya mau ngurus surat, bisa berjam-jam. Sekarang,
setengah jam jadi. Itu sudah kemajuan luar biasa."
Pak Didit mencoba memotong, "Tapi, "
"Tunggu dulu, Pak Didit. Saya belum selesai." Pak
Karyo mengangkat tangannya. "Saya tidak bilang sistem Bu Yuni sudah
sempurna. Tapi setidaknya ada kemajuan. Dan kemajuan itu butuh waktu. Kalau
kita terus-terusan menuntut instan, kita akan kecewa. Perubahan itu proses, Pak
Didit. Proses."
Beberapa warga bertepuk tangan. Pak Karyo duduk kembali,
dadanya masih naik turun karena emosi.
Pak Didit terdiam. Wajahnya merah padam, tapi ia tidak
membantah.
Bu Yuni yang mendengar itu tersenyum pada Pak Karyo.
"Terima kasih, Pak Karyo, atas dukungannya."
Pak Karyo mengangguk. "Saya hanya bicara fakta,
Bu."
Setelah ketegangan mereda, rapat berlanjut. Namun Pak Didit
belum selesai. Ia mengangkat tangan lagi.
"Bu Sekdes, saya punya pertanyaan lain."
"Silakan, Pak Didit."
"Menurut Ibu, apa prioritas utama pembenahan
administrasi desa?"
Bu Yuni menjawab tanpa ragu, "Prioritas utama adalah
data kependudukan. Karena hampir semua surat membutuhkan data kependudukan yang
akurat. Tanpa data kependudukan yang baik, surat-surat lain akan
bermasalah."
"Lalu mengapa Ibu juga sibuk dengan arsip pertanahan?
Bukankah itu tidak prioritas?"
Bu Yuni tersenyum. "Pak Didit, pertanyaan yang bagus.
Memang prioritas utama adalah kependudukan. Tapi ketika ada warga yang datang
mengurus tanah, kami tidak bisa mengatakan, 'Maaf, ini bukan prioritas, jadi
kami tidak akan layani.' Kami harus melayani semua, sambil tetap berfokus pada
prioritas."
"Bukankah itu membagi-bagi fokus?"
"Justru sebaliknya, Pak. Dengan sistem yang rapi, kami
bisa melayani berbagai jenis surat tanpa kehilangan fokus. Sistem klasifikasi
memungkinkan kami untuk beralih dari satu jenis surat ke jenis surat lain
dengan cepat."
Pak Didit mengangguk-angguk, meskipun wajahnya masih
menunjukkan keraguan. "Baiklah, saya akan lihat hasilnya dalam 3 bulan ke
depan."
Bu Yuni mengangguk. "Terima kasih, Pak Didit. Kami
akan buktikan."
Tiba-tiba, dari baris belakang, seorang wanita paruh baya
berdiri. Ia bernama Bu Ratih, tokoh adat desa yang sangat dihormati. Usianya
sudah lebih dari 60 tahun, rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde dari
perak, kain batiknya yang berwarna coklat tua masih terawat meskipun sudah
bertahun-tahun. Wajahnya keriput, namun matanya masih tajam.
"Bu Sekdes, saya ingin bicara," suaranya
terdengar jelas meskipun tidak keras.
"Silakan, Bu Ratih."
Bu Ratih berjalan pelan ke depan, karena suaranya kurang
terdengar jika dari belakang. Langkahnya kecil-kecil, namun tegap. Ia berdiri
di samping meja pembicara, menghadap seluruh warga.
"Saya sudah tua. Saya lahir di desa ini, besar di desa
ini, dan insya Allah akan mati di desa ini. Saya sudah melihat banyak
perubahan. Ada yang baik, ada yang buruk."
Semua warga diam. Mereka menghormati Bu Ratih sebagai
sesepuh desa.
"Perubahan yang Ibu lakukan, Bu Sekdes, menurut saya
baik. Pelayanan lebih cepat, warga lebih puas. Tapi saya ingin mengingatkan
satu hal."
"Apa itu, Bu Ratih?" tanya Bu Yuni dengan hormat.
"Jangan sampai perubahan ini membuat kita lupa pada
nilai-nilai kebersamaan. Di desa ini, kami biasa bergotong royong. Kalau ada tetangga
sakit, semua jenguk. Kalau ada yang punya hajat, semua bantu. Sistem yang Ibu
buat jangan sampai membuat kita jadi kaku, jadi formal, jadi tidak peduli satu
sama lain."
Bu Yuni mengangguk serius. "Bu Ratih, saya sangat
setuju. Sistem yang kami buat justru untuk mempermudah, bukan untuk
mempersulit. Gotong royong tetap jalan. Pelayanan tetap humanis. Sistem hanya
alat, bukan tujuan."
Bu Ratih tersenyum. Gigi depannya sudah ompong, namun
senyumnya tetap hangat. "Bagus. Saya dukung Ibu."
Ia kembali ke tempat duduknya. Beberapa warga bertepuk
tangan.
Di tengah suasana yang mulai hangat, Anto tiba-tiba
berdiri. Jaket kulitnya yang lusuh berderit saat ia bergerak. Rambutnya yang
panjang dan tidak pernah disisir rapi itu terurai sedikit.
"Pak Kades, boleh saya bicara?"
Semua menoleh. Pak Kades tersenyum. "Silakan,
Anto."
Anto berjalan ke depan dengan langkah santai, seperti
sedang berjalan di pasar. Ia berdiri di samping Bu Yuni, lalu berkata dengan
suara yang sengaja ia besarkan.
"Saya ini cuma sopir truk. Nggak sekolah
tinggi-tinggi. Tapi saya sering keluar masuk desa lain. Di sana, urus surat
cepat. Di sini... dulu, ya, lama banget."
Beberapa warga tertawa. Pak Edi sampai menepuk meja.
"Anto ini gaya bicaranya kayak orator, ya."
Anto melanjutkan, "Tapi sekarang, saya lihat mulai
berubah. Kemarin saya urus surat untuk truk, cuma 20 menit. Biasanya bisa
setengah hari. Jadi ya... jangan berhenti di tengah jalan, Pak Kades, Bu
Sekdes. Teruskan."
Pak Kades tersenyum lebar. "Terima kasih, Anto.
Masukan yang... unik tapi kena."
"Anto, lo kayak lagi kampanye aja," ledek Pak
Sugeng dari baris belakang.
Anto tidak peduli. Ia kembali ke tempat duduknya dengan
santai, sesekali membetulkan jaket kulitnya yang terlipat.
Setelah Anto duduk, giliran Ibu-ibu PKK yang angkat bicara.
Perwakilan mereka adalah Bu Sri, ketua PKK Desa Awan Biru, seorang wanita
berusia 45 tahun dengan rambut pendek dan wajah bulat yang selalu tersenyum. Ia
dikenal sebagai sosok yang energik dan vokal.
"Bu Sekdes, saya mau menyampaikan keluhan dari
ibu-ibu," kata Bu Sri sambil berdiri.
"Silakan, Bu Sri."
"Kami sering mengurus surat keterangan untuk berbagai
keperluan: bantuan sosial, beasiswa anak, atau sekadar surat pengantar ke
puskesmas. Tapi kadang-kadang, petugas di sini minta berkas yang menurut kami
tidak perlu. Contoh, untuk surat keterangan tidak mampu, kami diminta bawa
fotokopi KK, fotokopi KTP, fotokopi tagihan listrik, fotokopi... banyak
lah."
Bu Yuni mengangguk. "Bu Sri, terima kasih masukannya.
Saya akan evaluasi. Memang ada beberapa persyaratan yang berlebihan. Nanti akan
kami sederhanakan."
"Tapi jangan sampai terlalu disederhanakan, Bu, sampai
berkasnya kurang," tambah Bu Sri.
"Tentu, Bu. Kami akan cari titik tengah."
Bu Sri duduk kembali, puas dengan jawaban Bu Yuni.
Seorang pria tua dari Dusun Gondang berdiri. Namanya Pak
Jayeng, seorang pensiunan guru SD yang kini menghabiskan waktunya dengan
berkebun dan membaca. Wajahnya kurus dengan kumis putih yang panjang, matanya
cekung namun berbinar cerdas. Ia dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan
sering memberikan nasihat kepada warga.
"Bu Sekdes, saya mau bertanya," katanya dengan
suara parau karena usia.
"Silakan, Pak Jayeng."
"Menurut Ibu, apa tujuan akhir dari administrasi
desa?"
Pertanyaan itu membuat ruangan hening. Bukan pertanyaan
biasa. Ini pertanyaan filosofis yang tidak sering muncul dalam rapat desa.
Bu Yuni terdiam sejenak. Ia berpikir. Kemudian ia menjawab
dengan hati-hati, "Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan warga, Pak.
Administrasi hanyalah alat. Kalau administrasi rapi, pelayanan cepat, warga
tidak perlu bolak-balik, warga bisa fokus pada pekerjaan dan keluarganya. Itu
kesejahteraan."
Pak Jayeng mengangguk. "Jawaban yang bagus. Tapi
izinkan saya menambahkan."
"Silakan, Pak."
"Tujuan akhir administrasi desa bukan hanya kesejahteraan
materi, tapi juga ketenangan batin. Warga yang tahu bahwa hak-haknya terjamin,
bahwa data-datanya aman, bahwa surat-suratnya tidak akan hilang... mereka akan
tenang. Dan ketenangan itu, Bu Sekdes, adalah bagian dari kesejahteraan yang
sering dilupakan."
Bu Yuni terkesima. "Terima kasih, Pak Jayeng. Saya
akan ingat nasihat Bapak."
Pak Jayeng tersenyum. "Terima kasih, Bu Sekdes. Saya
hanya orang tua yang sudah banyak melihat."
Setelah beberapa jam berdiskusi, suasana mulai sedikit
memanas lagi. Beberapa warga mulai saling berdebat tentang prioritas
pembangunan. Ada yang ingin fokus pada infrastruktur, ada yang ingin fokus pada
pendidikan, ada yang ingin fokus pada pertanian.
Pak Kades Iwan berdiri dan mengangkat tangannya.
"Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Mohon tenang."
Suasana perlahan mereda.
"Saya mendengar semua masukan. Semuanya penting. Tapi
kita tidak bisa mengerjakan semuanya sekaligus. Kita perlu prioritas. Dan
prioritas utama kita saat ini adalah membenahi administrasi, karena administrasi
adalah dasar dari segalanya."
Pak Didit menyela, "Tapi Pak Kades, warga butuh jalan
yang bagus, butuh irigasi yang lancar. Itu lebih nyata daripada
administrasi."
Pak Kades menjawab dengan sabar, "Pak Didit, untuk
membangun jalan dan irigasi, kita butuh data. Data tanah, data warga yang
terkena dampak, data anggaran. Semua itu adalah administrasi. Kalau
administrasi berantakan, proyek pembangunan juga akan berantakan."
Pak Didit terdiam. Ia tidak bisa membantah.
Bu Ratih yang duduk di baris depan berkata, "Pak Kades
benar. Saya lihat sendiri dulu, proyek irigasi mangkrak karena data tanah tidak
jelas. Warga berselisih karena batas tanah tidak jelas. Semua itu karena
administrasi berantakan."
Pak Kades mengangguk. "Itu sebabnya saya
memprioritaskan pembenahan administrasi. Bukan berarti yang lain tidak penting.
Tapi ini fondasi."
Untuk memperkuat argumen Pak Kades, Bu Yuni membuka map-nya
dan mengeluarkan beberapa lembar kertas berisi data.
"Bapak, Ibu, Saudara-saudara, izinkan saya
menyampaikan data."
Ia menunjukkan kertas itu kepada warga di baris depan.
"Dalam tiga minggu terakhir, kami menerima 75 pengaduan dari warga.
Sebanyak 40 persen adalah pengaduan tentang lambatnya pelayanan administrasi.
25 persen tentang hilangnya berkas. 20 persen tentang prosedur yang
berbelit-belit. Hanya 15 persen tentang infrastruktur."
Warga mulai berbisik-bisik.
"Ini menunjukkan bahwa masalah terbesar warga saat ini
adalah administrasi, bukan infrastruktur. Bukan berarti infrastruktur tidak
penting, tapi prioritas kita harus sesuai dengan kebutuhan warga."
Pak Jayeng mengangguk-angguk. "Data tidak bisa
dibantah."
Pak Didit masih mencoba mencari celah. "Tapi Bu, data
itu dari mana? Apakah akurat?"
Bu Yuni menjawab dengan tegas, "Data dari buku
pengaduan warga yang kami buat sejak hari pertama saya bekerja. Setiap warga
yang datang, kami catat keluhannya. Jadi data ini akurat, Pak Didit."
Pak Didit akhirnya diam. Ia tidak bisa membantah data yang
disusun dengan sistematis.
Pak Santoso, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri.
Kacamatanya yang tebal naik turun di hidungnya. Wajahnya yang kurus dan
berkerut karena usia tampak serius.
"Saya sudah 20 tahun bekerja di kantor desa ini. Saya
sudah melihat banyak kepala desa dan sekdes berganti. Tapi saya belum pernah
melihat perubahan secepat ini."
Semua warga diam. Mereka tahu Pak Santoso adalah orang yang
jujur dan tidak mudah terkesan.
"Dulu, kalau ada warga datang, saya sering malu. Malu
karena tidak bisa melayani dengan cepat. Malu karena berkas sering hilang. Malu
karena warga harus bolak-balik. Tapi sekarang, saya mulai bisa tersenyum. Bukan
karena saya hebat, tapi karena sistemnya sudah lebih rapi."
Pak Santoso menatap Bu Yuni. "Terima kasih, Bu Yuni.
Ibu telah mengubah cara kami bekerja."
Bu Yuni tersenyum haru. "Pak Santoso, ini kerja sama
tim."
"Tetap saja, Ibu yang memulai. Tanpa Ibu, kami masih
santai-santai."
Beberapa warga bertepuk tangan. Pak Santoso duduk kembali,
kacamatanya naik ke dahi karena ia lupa menyesuaikan.
Momen yang paling tidak terduga datang ketika Pak Eko
berdiri. Pak Eko, yang selama ini dikenal sebagai orang yang paling keras
kepala dan paling sulit berubah, berdiri di depan semua orang.
"Pak Kades, Bu Yuni, warga sekalian, saya mau mengakui
sesuatu."
Ruangan hening. Semua mata tertuju pada Pak Eko. Wajahnya
merah padam, tangannya gemetar.
"Saya dulu adalah orang yang paling menolak perubahan.
Saya bilang sistem Bu Yuni terlalu rumit. Saya bilang kita tidak perlu
repot-repot. Tapi setelah tiga minggu, saya sadar... saya salah."
Pak Eko menunduk sebentar. Matanya berkaca-kaca.
"Sekarang, saya justru menikmati sistem baru.
Pekerjaan lebih teratur, lebih mudah, lebih cepat. Saya minta maaf pada Bu
Yuni, dan saya minta maaf pada teman-teman karena dulu saya sering
menghambat."
Bu Yuni berdiri dan berjalan mendekati Pak Eko. "Pak
Eko, Bapak tidak perlu minta maaf. Bapak berhak punya pendapat. Yang penting,
sekarang kita satu visi."
Pak Eko mengangguk. Air matanya jatuh. "Terima kasih,
Bu."
Beberapa warga terharu melihat perubahan Pak Eko. Bu Tini
sampai mengusap matanya dengan ujung kerudung.
Si Amat, yang ditunjuk sebagai notulen rapat, berdiri untuk
menyampaikan rangkuman sementara. Ia memegang buku catatan yang sudah ia tulis
dengan rapi, buku yang sama yang ia gunakan sejak belajar dari Bu Yuni.
"Pak Kades, Bu Yuni, warga sekalian, izinkan saya
menyampaikan rangkuman sementara."
"Silakan, Mas Amat," kata Pak Kades.
Si Amat membaca catatannya dengan suara agak bergetar
karena gugup. Ini pertama kalinya ia berbicara di depan banyak orang.
"Pertama, tentang administrasi. Bu Yuni sudah
melaporkan kemajuan: waktu pelayanan menurun drastis, sistem klasifikasi sudah
berjalan, buku register sudah digunakan."
"Kedua, kendala: arsip lama masih berantakan,
koordinasi dengan kecamatan masih kurang, dan warga sering tidak membawa
kelengkapan berkas."
"Ketiga, masukan dari warga: Bu Sri minta persyaratan
disederhanakan, Bu Ratih minta nilai-nilai kebersamaan tetap dijaga, Pak Jayeng
minta administrasi bertujuan pada ketenangan batin warga."
"Keempat, komitmen: Pak Kades dan Bu Yuni berkomitmen
untuk terus membenahi administrasi dengan target 6 bulan untuk arsip
lama."
Si Amat menutup catatannya. "Sekian, Pak."
Pak Kades mengangguk. "Bagus, Mas Amat. Rangkumannya
jelas."
Si Amat tersenyum bangga. Ia kembali ke tempat duduknya
dengan dada membusung.
Setelah semua pendapat disampaikan, Pak Didit yang
sebelumnya keras akhirnya melunak. Ia berdiri dan berjalan ke depan.
"Pak Kades, Bu Yuni, warga sekalian. Saya mungkin
terlalu keras tadi. Maafkan saya."
Beberapa warga terkejut. Pak Didit jarang minta maaf.
"Saya hanya khawatah. Desa ini sudah lama terbelakang.
Saya takut perubahan yang terjadi hanya kosmetik belaka. Tapi setelah mendengar
penjelasan Bu Yuni dan melihat data yang disajikan, saya mulai yakin."
Ia menatap Bu Yuni. "Bu, saya dukung Ibu. Tapi tolong
buktikan bahwa target 6 bulan itu tercapai."
Bu Yuni mengangguk. "Terima kasih, Pak Didit. Saya
akan buktikan."
Pak Didit mengulurkan tangannya. Bu Yuni menjabatnya.
Keduanya tersenyum.
Warga bertepuk tangan. Ketegangan yang sempat memuncak kini
mereda.
Pukul 12.00, rapat mulai ditutup. Pak Kades Iwan berdiri
untuk memberikan sambutan penutup.
"Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Rapat hari ini
sangat berharga. Kita mendapatkan banyak masukan. Kita juga melihat bahwa
perubahan mulai terjadi, meskipun masih banyak yang harus dibenahi."
Ia menatap seluruh ruangan. "Saya berharap dukungan
dari semuanya. Perubahan tidak bisa dilakukan oleh perangkat desa saja. Butuh
partisipasi aktif dari warga."
Bu Ratih mengangguk. "Betul, Pak Kades. Warga harus
ikut mendukung."
"Kami akan terus bekerja keras," lanjut Pak
Kades. "Dan kami mohon doa dan dukungan dari semuanya."
Ia kemudian memimpin doa. "Marilah kita tutup rapat
ini dengan doa bersama."
Semua warga menunduk. Pak Kades berdoa dengan suara
lantang, memohon kepada Allah agar desa Awan Biru menjadi lebih baik, agar
perubahan yang dimulai dapat berkelanjutan, dan agar semua warga diberikan
kesehatan dan kesabaran.
"Aamiin ya rabbal 'alamin," jawab mereka
serempak.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Setelah rapat, warga mulai keluar satu per satu. Ada yang
langsung pulang, ada yang mampir ke warung Pak Karyo untuk makan siang, ada
juga yang mengerumuni Bu Yuni untuk memberikan masukan tambahan.
"Bu, saya titip ya, tolong urus surat tanah
saya," kata Pak Bejo.
"Bu, besok saya mau bikin surat domisili, apa perlu
bawa fotokopi KK?" tanya Bu Tini.
"Bu, kalau bisa, persyaratannya ditempel di papan
pengumuman, biar warga tahu," usul Bu Sri.
Bu Yuni melayani semua dengan sabar. Ia mencatat setiap
masukan di buku catatannya.
"Baik, Bu Tini, bawa fotokopi KK saja. Asli juga
dibawa untuk dicocokkan."
"Iya, Pak Bejo, minggu depan surat Bapak akan kami
proses."
"Bu Sri, usul bagus. Nanti saya buat papan pengumuman
persyaratan."
Di sisi lain, Pak Kades Iwan berbincang dengan Pak Didit
dan Pak Jayeng. Mereka membahas rencana tindak lanjut.
"Pak Didit, saya minta BPD mengawasi jalannya
pembenahan ini," kata Pak Kades.
"Siap, Pak Kades. Saya akan bentuk tim pengawas."
"Pak Jayeng, saya minta nasihat Bapak untuk terus
mengingatkan kami jika ada yang melenceng."
Pak Jayeng tersenyum. "Saya akan dengan senang hati,
Pak Kades. Tugas orang tua memang mengingatkan."
Warung Pak Karyo sore itu ramai oleh warga yang baru
selesai rapat. Kursi-kursi kayu yang tersedia tidak cukup, sehingga beberapa
warga terpaksa berdiri sambil memegang piring berisi nasi dan lauk.
"Pak Karyo, kopi satu!" teriak Pak Sugeng.
"Gorengan masih ada, Pak?" tanya Bu Tini.
"Masih, Bu. Pisang goreng, tempe gorend, tahu isi.
Semua masih hangat," jawab Pak Karyo sibuk melayani.
Anto duduk di pojok, seperti biasa. Jaket kulitnya masih
setia di badan meskipun udara sudah hangat. Ia menyeruput kopi hitam tanpa
gula, minuman favoritnya, sambil sesekali mengamati warga yang lalu lalang.
"To, ramalan lo hari ini meleset," ledek Pak Edi
sambil duduk di sampingnya.
"Lho, kok meleset?"
"Lo bilang bakal ada yang 'panas'. Tadi rapat berjalan
lancar. Nggak ada yang panas."
Anto tersenyum misterius. "Panas itu tidak harus
marah-marah, Pak. Panas itu bisa juga artinya semangat. Tadi semangat warga
panas. Mereka antusias."
Pak Edi menggeleng-gelengkan kepala. "Lo mah bisa
muter-muter kata."
"Bukan muter-muter, Pak. Itu seni membaca
situasi."
Mereka tertawa bersama.
Sementara warga lain ramai di warung, Bu Yuni memilih makan
siang di kantor saja. Ia membuka bekal yang ia bawa dari rumah: nasi putih,
sayur lodeh, dan tempe goreng. Sederhana, tapi cukup.
Ia makan dengan perlahan sambil membaca catatan-catatan
dari rapat tadi. Ada banyak masukan yang harus ia tindak lanjuti.
"Persyaratan disederhanakan... papan pengumuman... tim
pengawas dari BPD... target 6 bulan..."
Ia menulis poin-poin itu di buku catatannya, lalu membuat
rencana aksi untuk minggu depan.
"Senin: rapat internal perangkat desa untuk
menindaklanjuti masukan warga. Selasa: mulai membuat papan pengumuman. Rabu:
koordinasi dengan kecamatan tentang persyaratan. Kamis: mulai evaluasi
berkas-berkas yang persyaratannya berlebihan. Jumat: laporan mingguan."
Ia menghela napas. Pekerjaan masih banyak. Tapi ia tidak
merasa terbebani. Justru ia merasa bersemangat.
"Bu, tidak ikut makan di warung?" tanya Si Amat
yang masuk ke kantor sambil membawa bungkusan gorengan.
"Tidak, Mas. Saya sudah bawa bekal."
"Ini gorengan untuk Ibu. Saya belikan."
Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Mas Amat. Tapi saya
sudah kenyang."
"Simpan dulu, Bu. Nanti sore."
Bu Yuni menerima bungkusan itu. "Baik, terima
kasih."
Si Amat duduk di mejanya, membuka bungkusan gorengannya sendiri.
"Bu, tadi saya deg-degan banget pas baca rangkuman."
"Tapi Bapak melakukannya dengan baik."
"Deg-degan, Bu. Suara saya gemetar."
"Itu wajar, Mas. Nanti lama-lama biasa."
Si Amat mengangguk. "Iya, Bu. Saya akan latihan."
Sore harinya, setelah kantor mulai sepi, Pak Eko mendekati
Bu Yuni. Wajahnya masih sedikit merah karena malu.
"Bu, saya mau bicara."
"Silakan, Pak Eko."
Pak Eko duduk di kursi di depan meja Bu Yuni. "Saya
malu, Bu."
"Kenapa malu, Pak?"
"Saya dulu selalu menolak ide Ibu. Saya bilang sistem
Ibu ribet. Tapi ternyata saya yang salah."
Bu Yuni tersenyum. "Pak Eko, Bapak tidak perlu malu.
Setiap orang punya proses yang berbeda. Ada yang cepat sadar, ada yang lambat.
Yang penting, pada akhirnya sadar."
"Tapi saya sudah membuang waktu berminggu-minggu, Bu.
Saya bisa lebih produktif jika sejak awal mau menerima."
"Bapak tidak membuang waktu, Pak Eko. Bapak sedang
belajar. Dan proses belajar itu sendiri berharga."
Pak Eko terdiam. Lalu ia berkata, "Bu, saya janji akan
mendukung Ibu sepenuhnya."
"Terima kasih, Pak Eko. Dukungan Bapak sangat
berarti."
Pak Eko berdiri, mengulurkan tangannya. Bu Yuni
menjabatnya. Keduanya tersenyum.
"Mulai besok, saya akan bekerja lebih keras, Bu."
"Saya percaya, Pak Eko."
Menjelang magrib, Pak Kades Iwan memanggil Bu Yuni ke
ruangannya.
"Bu, saya ingin mengucapkan terima kasih."
"Untuk apa, Pak?"
"Untuk rapat tadi. Ibu luar biasa. Ibu bisa menjawab
semua pertanyaan dengan tenang dan data yang akurat."
Bu Yuni tersenyum. "Itu karena persiapan, Pak. Saya
sudah siapkan semuanya sejak seminggu lalu."
"Ibu memang teliti. Saya tidak salah pilih
orang."
"Pak Kades yang baik. Saya hanya menjalankan
amanah."
Pak Iwan menghela napas. "Bu, jujur, saya dulu hampir
menyerah. Enam bulan pertama sebagai kepala desa, saya merasa gagal. Tapi
setelah Ibu datang, saya mulai melihat harapan."
"Jangan menyerah, Pak. Perubahan butuh waktu."
"Iya, Bu. Saya tidak akan menyerah. Selama ada Ibu di
sisi saya, saya yakin kita bisa membawa desa ini ke arah yang lebih baik."
Bu Yuni mengangguk. "Kita bisa, Pak. Asal kita
bersama-sama."
Malam itu, Bu Yuni pulang lebih lambat dari biasanya. Ia
sengaja berjalan kaki menyusuri jalan desa yang gelap, hanya diterangi cahaya
bulan dan sesekali lampu dari rumah-rumah warga.
Udara malam dingin menusuk wajahnya. Suara jangkrik dan
katak bersahutan dari sawah-sawah di pinggir jalan. Sesekali terdengar
gonggongan anjing dari kejauhan.
Bu Yuni menikmati kesunyian itu. Setelah seharian penuh
dengan suara dan debat, ia butuh ketenangan.
Sesampainya di rumah kontrakan, ia disambut oleh kucing
Kuning yang setia menunggu di depan pintu.
"Kuning, aku pulang," katanya sambil mengelus
kepala kucing itu.
Kucing itu mengeong pelan, lalu menggesek-gesekkan tubuhnya
ke kaki Bu Yuni.
Bu Yuni masuk ke dalam, menyalakan lampu minyak
tanah—karena listrik di desa itu sering mati di malam hari—dan duduk di
beranda. Kuning melompat ke pangkuannya.
"Kuning, hari ini melelahkan. Tapi aku bahagia."
Kucing itu diam, sesekali mengedipkan matanya.
"Ada banyak yang marah, banyak yang protes, banyak
yang meragukan. Tapi pada akhirnya, semua bisa diselesaikan dengan
dialog."
Ia mengelus punggung Kuning yang hangat.
"Aku belajar bahwa rapat itu penting. Bukan untuk
saling menyalahkan, tapi untuk mencari solusi bersama. Dan hari ini, kita menemukan
banyak solusi."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan
hampir purnama.
"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih
karena Engkau berikan aku ketenangan di tengah badai. Terima kasih karena
Engkau bimbing lidahku untuk berkata benar."
Ia memejamkan mata. Angin malam berhembus, membawa aroma
tanah basah.
"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita mulai lagi."
Pukul 07.00 keesokan paginya, kantor desa sudah ramai.
Perangkat desa datang lebih awal dari biasanya, semangat oleh hasil rapat
kemarin.
"Pagi, Bu," sapa Si Amat yang sudah ada di kantor
sejak pukul 06.30.
"Pagi, Mas Amat. Semangat sekali."
"Iya, Bu. Saya tidak sabar mulai bekerja."
Pak Edi datang dengan termos kopinya yang setia. "Pagi
semua. Wah, semangat pagi ini beda ya."
"Iya, Pak. Hasil rapat kemarin," kata Pak Eko
yang datang dengan wajah cerah.
Bu Lulu, Pak Santoso, dan lainnya datang bergantian. Semua
tersenyum, semua bersemangat.
Bu Yuni mengumpulkan mereka di ruang tengah.
"Teman-teman, kita akan tindak lanjuti hasil rapat kemarin. Pertama, kita
akan sederhanakan persyaratan surat-surat tertentu. Kedua, kita akan buat papan
pengumuman. Ketiga, kita akan tingkatkan koordinasi dengan kecamatan."
"Kita bagi tugas," lanjut Bu Yuni. "Pak Eko,
tolong urus koordinasi dengan kecamatan. Pak Santoso, tolong buat draf
persyaratan yang disederhanakan. Pak Edi, tolong siapkan papan pengumuman. Bu
Lulu, tolong siapkan anggaran untuk papan pengumuman. Mas Amat, tolong bantu
saya menyusun laporan mingguan."
Semua mengangguk.
"Kita mulai hari ini. Jangan ditunda-tunda."
"Setuju, Bu," kata mereka serempak.
Pak Santoso langsung bekerja. Ia mengambil semua berkas
persyaratan yang selama ini digunakan, lalu membacanya satu per satu.
"Bu, ini persyaratan surat keterangan tidak mampu.
Warga harus bawa fotokopi KK, fotokopi KTP, fotokopi tagihan listrik, surat
pengantar dari RT, dan surat keterangan dari tetangga."
Bu Yuni mengernyit. "Surat keterangan dari tetangga?
Itu berlebihan. Cukup surat pengantar dari RT sudah mewakili."
"Setuju, Bu. Saya coret."
"Fotokopi tagihan listrik juga tidak perlu. Tidak
semua warga punya listrik."
"Baik, Bu."
Mereka berdua mencoret-coret persyaratan yang dianggap
berlebihan. Dalam waktu dua jam, mereka berhasil menyederhanakan persyaratan
untuk 10 jenis surat.
"Bu, ini sudah. Sekarang tinggal disosialisasikan ke
warga," kata Pak Santoso.
"Bagus, Pak. Tolong buat dalam bentuk poster, lalu
tempel di papan pengumuman."
"Poster? Kita tidak punya komputer untuk desain,
Bu."
"Tulis tangan saja, Pak. Yang penting jelas."
Pak Santoso mengangguk. "Baik, Bu. Saya tulis
tangan."
Pak Edi pergi ke pasar kecamatan untuk membeli papan
pengumuman. Ia memilih papan triplek ukuran 1x1,5 meter dengan bingkai kayu.
Harganya 75 ribu rupiah, cukup mahal untuk ukuran desa, tapi Bu Lulu sudah
menyetujui anggarannya.
"Pak, ini papannya," kata Pak Edi sambil
meletakkan papan itu di kantor.
"Bagus, Pak. Sekarang kita pasang di dinding depan,
dekat pintu masuk."
Mereka beramai-ramai memasang papan itu. Pak Eko memegang
papan, Pak Santoso mengukur, Pak Edi memaku, Bu Yuni mengawasi.
"Naik sedikit, Pak Eko. Ke kanan sedikit."
"Gini, Bu?"
"Iya, pas. Pak Edi, paku sekarang."
Paku-paku ditancapkan dengan palu yang sedikit berkarat.
Suara puk puk puk terdengar di seluruh ruangan.
Setelah papan terpasang, Pak Santoso mulai menulis
poster-poster persyaratan dengan spidol hitam. Tulisannya rapi, meskipun tidak
seindah kalau dicetak komputer.
"Bu, ini sudah. Saya tempel ya."
"Tempel, Pak."
Poster-poster itu ditempel di papan pengumuman. Warga yang
lewat bisa membaca persyaratan sebelum masuk ke kantor.
"Bu, ini ide bagus," kata Si Amat. "Warga
jadi tidak bingung."
"Semoga, Mas. Dan semoga mereka membawa kelengkapan
berkas."
Pak Eko pergi ke kecamatan untuk berkoordinasi. Ia membawa
draf persyaratan yang sudah disederhanakan.
"Pak Camat, kami ingin menyederhanakan persyaratan
surat-surat desa," kata Pak Eko pada Bapak Camat Kaliwiro, Bapak Subroto,
seorang pria berusia 50 tahun dengan perut buncit dan kumis tebal yang selalu
tersenyum.
Bapak Subroto membaca draf itu dengan saksama. Matanya
bergerak cepat dari baris ke baris. "Wah, ini bagus. Selama ini memang
banyak persyaratan yang berlebihan."
"Kami butuh persetujuan Bapak, Pak. Karena beberapa
surat desa harus diketahui oleh kecamatan."
"Setuju. Saya setuju. Ini akan mempermudah warga. Tapi
tolong koordinasikan juga dengan dinas kependudukan dan catatan sipil."
"Baik, Pak. Terima kasih."
Pak Eko pulang dengan perasaan lega. Urusan koordinasi
berjalan lancar.
Sore itu, Anto mampir ke kantor desa dengan kabar baik.
"Bu Yuni, saya baru dari kecamatan. Kata Pak Camat,
desa kita dipuji."
"Dipuji? Kenapa?" tanya Bu Yuni.
"Katanya, Desa Awan Biru adalah satu-satunya desa di
kecamatan ini yang sudah mulai menerapkan sistem administrasi modern. Yang lain
masih berantakan."
Bu Yuni tersenyum. "Alhamdulillah. Tapi kita tidak
boleh sombong."
"Bukan sombong, Bu. Tapi bangga. Wajar bangga."
Pak Edi yang mendengar ikut bergembira. "Wah, ini
kabar bagus. Kita harus rayakan."
"Rayakan bagaimana, Pak?" tanya Si Amat.
"Ya, kita makan-makan saja. Saya belikan
gorengan."
"Setuju!" seru Si Amat.
Bu Yuni tertawa. "Baiklah, tapi jangan berlebihan.
Kita masih punya banyak pekerjaan."
Sore itu, mereka makan gorengan bersama di kantor. Pak Edi
membeli dua bungkus besar dari warung Pak Karyo: pisang goreng, tempe goreng,
tahu isi, dan ubi goreng. Mereka duduk melingkar di ruang tengah, menikmati
makanan sederhana itu dengan teh hangat.
"Ini rasanya lebih enak dari biasanya," kata Si
Amat sambil mengunyah pisang goreng.
"Karena dimakan bersama, Mat. Makanan apapun kalau
dimakan bersama rasanya enak," kata Pak Edi.
Bu Yuni mengangguk. "Betul, Pak Edi. Kebersamaan itu
penting."
Pak Eko yang biasanya diam ikut bicara. "Saya malu,
Bu. Dulu saya sering makan sendirian. Sekarang saya sadar, kerja tim itu lebih
menyenangkan."
"Pak Eko, yang penting sekarang kita sudah satu
tim," kata Bu Yuni.
"Setuju, Bu."
Mereka makan dengan riang, diselingi tawa dan canda.
Suasana sore itu hangat, penuh kebersamaan.
Malam itu, setelah semua pulang, Bu Yuni duduk di beranda
rumahnya. Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.
"Kuning, hari ini menyenangkan," katanya sambil
mengelus kepala kucing itu.
Kucing itu mengeong pelan.
"Kita berhasil menyederhanakan persyaratan, memasang
papan pengumuman, dan berkoordinasi dengan kecamatan. Semua berjalan
lancar."
Ia menatap bintang-bintang.
"Aku belajar bahwa perubahan tidak harus selalu
melalui konflik. Bisa juga melalui dialog dan kerja sama. Hari ini, semua orang
mau bekerja sama. Itu yang membuatku bahagia."
Ia menghela napas. Udara malam dingin, namun hatinya
hangat.
"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih
untuk tim yang solid. Terima kasih untuk kemudahan yang Engkau berikan."
Ia memejamkan mata.
"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita mulai lagi."
BAB 5
TEKANAN DARI ATAS, HARAPAN DARI BAWAH
Langit Desa Awan Biru pagi itu tidak seperti biasanya.
Bukan karena kabut, kabut masih setia menyelimuti lembah seperti biasa. Namun
warna langit di atas kabut itu berbeda. Tidak biru cerah seperti namanya.
Abu-abu gelap, dengan gumpalan awan hitam di ufuk timur yang bergerak perlahan
mendekat. Seolah-olah alam sedang memberi tanda bahwa sesuatu akan terjadi.
Bu Yuni bangun pukul 04.00, lebih awal dari biasanya. Ia
tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Ada firasat yang tidak bisa ia jelaskan.
Jantungnya berdebar-debar tanpa sebab yang jelas. Ia sudah shalat tahajud,
sudah berdoa, sudah membaca Al-Qur'an, namun kegelisahan itu tidak kunjung
reda.
"Ya Allah, jika ini ujian, beri aku kekuatan,"
bisiknya sambil duduk di beranda.
Kucing Kuning, yang setia menemani setiap pagi, tampak
lebih gelisah dari biasanya. Ia tidak tidur di pangkuan Bu Yuni seperti biasa.
Ia mondar-mandir di halaman, sesekali mengeong keras, lalu menatap ke arah
jalan menuju desa.
"Kamu juga merasakan sesuatu, Kuning?" tanya Bu
Yuni.
Kucing itu hanya mengeong, lalu berlari ke arah jalan.
Pukul 05.00, adzan subuh berkumandang. Bu Yuni bergegas ke
masjid. Di perjalanan, ia melihat beberapa warga sudah berdiri di depan rumah
mereka, menatap langit yang mendung.
"Pagi, Bu Yuni. Langit kok gelap ya? Biasanya
cerah," sapa Pak Karyo yang sedang membuka warungnya lebih awal.
"Pagi, Pak Karyo. Mungkin mau hujan."
"Hujan? Musim kemarau begini? Aneh."
Bu Yuni tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju masjid.
Di masjid, jamaah lebih sedikit dari biasanya. Mungkin
karena langit gelap, banyak yang mengira sudah siang atau takut kehujanan. Pak Darmo
ada di baris depan, khusyuk berdoa. Pak Jayeng di sampingnya, dengan tasbih di
tangannya. Anto, seperti biasa, di baris belakang, jaket kulitnya masih setia
meskipu udara sudah dingin.
Setelah shalat, Bu Yuni berbincang sebentar dengan Pak
Jayeng.
"Pak Jayeng, bagaimana kabar?"
"Alhamdulillah, Bu. Tapi pagi ini rasanya beda."
"Beda bagaimana, Pak?"
Pak Jayeng menatap langit yang semakin gelap. "Seperti
ada yang mau terjadi. Tapi saya tidak tahu apa."
Bu Yuni mengangguk. "Saya juga merasakan hal yang sama,
Pak."
"Kita berdoa saja, Bu. Semua sudah ada yang
mengatur."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Pukul 08.00, Bu Yuni sudah di kantor. Ia sengaja datang
lebih awal untuk mempersiapkan diri. Namun kegelisahannya semakin menjadi
ketika melihat sebuah amplop coklat di atas mejanya. Amplop itu belum ada
kemarin sore. Berarti dikirim pagi ini.
Amplop itu berukuran besar, sekitar 25x35 sentimeter,
dengan stempel merah di pojok kanan atas berbentuk lingkaran bergambar Garuda
Pancasila. Di samping stempel, ada tulisan "SEGERA" dengan huruf
kapital tebal, dicetak dengan tinta merah menyala. Kertasnya tebal, sedikit
kusut karena perjalanan dari kecamatan ke desa yang memakan waktu sekitar satu
jam dengan sepeda motor melewati jalan berbatu.
Bu Yuni membuka amplop itu dengan hati-hati. Tangannya
sedikit gemetar. Isinya sebuah surat resmi dari Kecamatan Kaliwiro,
ditandatangani oleh Camat Subroto sendiri.
*Nomor: 470/125/Kec.KW/III/2001*
Perihal: Permintaan Laporan Administrasi Desa
Lampiran: 1 (satu) berkas
Kepada Yth.
Kepala Desa Awan Biru
di tempat
Dengan hormat,
Sehubungan dengan akan dilaksanakannya verifikasi
administrasi desa oleh Tim Inspektorat Kabupaten dalam rangka penilaian kinerja
pemerintahan desa tahun anggaran 2001, bersama ini kami mohon kesediaan Saudara
untuk menyampaikan laporan administrasi desa lengkap yang terdiri dari:
*1. Laporan Keuangan Desa (Anggaran dan Realisasi) tahun
2000*
*2. Laporan Pelaksanaan Pembangunan Desa tahun 2000*
*3. Laporan Kependudukan per Desember 2000*
4. Laporan Pertanahan Desa
5. Laporan Surat Menyurat
6. Arsip Dokumen Desa yang dianggap penting
Laporan harus sudah diterima di Kantor Kecamatan paling
lambat tanggal 20 Maret 2001 (tiga hari dari sekarang).
Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima
kasih.
Hormat kami,
Camat Kaliwiro,
(Subroto)
Tembusan:
1. Bupati Wonosobo (sebagai laporan)
2. Inspektorat Kabupaten Wonosobo
3. Arsip
Bu Yuni membaca surat itu berulang-ulang. Matanya bergerak
cepat dari baris ke baris. Tangannya mulai gemetar. Ini bukan tekanan biasa.
Ini tekanan besar. Laporan administrasi lengkap dalam tiga hari? Sementara data
mereka masih berantakan? Arsip lama belum tertata? Laporan keuangan tahun 2000?
Itu artinya laporan setahun yang lalu, yang belum pernah dibuat dengan rapi.
"Ya Allah," bisiknya. "Ini ujian."
Ia berusaha menenangkan diri. Menarik napas dalam-dalam,
menghembuskannya perlahan. Lalu membacakan surat itu sekali lagi. Mungkin ada
yang terlewat. Mungkin ada kelonggaran waktu. Tapi tidak. Tiga hari. Tanggal 20
Maret 2001. Hari ini tanggal 17 Maret. Artinya, mereka punya waktu sampai
Selasa depan.
Tiga hari. Tiga hari untuk menyusun laporan yang seharusnya
disusun dalam tiga bulan.
Pukul 08.30, perangkat desa mulai berdatangan. Pak Edi datang
dengan termos kopinya yang setia, tersenyum seperti biasa. Pak Eko dengan
ponselnya, jempol sibuk menggulir. Pak Santoso dengan kacamatanya yang tebal.
Bu Lulu dengan map keuangannya. Si Amat dengan semangatnya yang baru.
Namun senyum mereka langsung berubah ketika melihat wajah
Bu Yuni yang pucat.
"Bu, ada apa? Kok pucat?" tanya Si Amat.
Bu Yuni menghela napas. "Teman-teman, kumpul. Ada
surat dari kecamatan."
Mereka berkumpul di ruang tengah. Bu Yuni membacakan surat
itu dengan suara yang berusaha ia tenangkan, meskipun hatinya bergolak.
"Laporan administrasi lengkap dalam tiga hari?"
Pak Edi hampir menjatuhkan termos kopinya. Kopi tumpah sedikit di meja,
meninggalkan noda coklat di atas kertas bekas.
"APA?!" spontan Si Amat berteriak hingga suaranya
memantul di dinding dan membuat burung pipit di atap terbang berhamburan.
"Tiga hari? Ini bukan main-main," kata Pak
Santoso sambil menyesuaikan kacamatanya yang hampir jatuh. Tangannya gemetar.
Pak Eko yang biasanya tenang mulai gelisah. Tangannya
meremas-remas ujung baju batiknya hingga kusut. "Bu, data kita saja belum
sepenuhnya rapi. Laporan keuangan tahun 2000? Itu belum pernah kita buat dengan
rapi. Masih acak-acakan."
Bu Lulu menambahkan dengan suara khawatir, hampir berbisik,
"Kalau salah sedikit saja, bisa jadi masalah besar. Inspektorat itu tidak
main-main. Mereka bisa memberi sanksi, bahkan teguran tertulis yang bisa
mempengaruhi kinerja desa."
Pak Santoso menyandarkan tubuhnya ke kursi hingga kursi itu
berderit protes. "Ini bukan tekanan lagi... ini sudah ujian berat. Ujian
yang menentukan nasib kita."
Suasana mulai kacau. Semua berbicara bersamaan, suara
bertumpuk-tumpuk seperti pasar tradisional pada jam sibuk.
"Data kependudukan belum lengkap! Masih banyak warga
yang belum terdata dengan baik karena kartu keluarga mereka berantakan."
"Arsip lama masih belum tersusun! Map-map tahun
1990-an masih berserakan di gudang belakang."
"Surat keluar-masuk belum semua dicatat! Buku register
baru kita mulai dua minggu lalu. Data sebelum itu tidak tercatat."
"Laporan keuangan tahun 2000? Itu setahun yang lalu!
Bukti-bukti transaksi banyak yang hilang, bukti-bukti pembayaran ada yang
sobek, ada yang dimakan rayap!"
Si Amat hampir panik. Wajahnya pucat seperti kertas.
Keringat dingin membasahi keningnya, menetes ke pipi, jatuh ke lantai.
"Bu... kita bisa gagal ini. Gagal total. Inspektorat akan datang, mereka
akan melihat kekacauan kita, dan kita akan mendapat teguran. Bahkan mungkin
sanksi."
Pak Edi menepuk meja, membuat gelas plastik di atasnya
bergetar. "Bukan hanya teguran, Mat. Bisa jadi dana desa kita dipotong.
Itu berarti proyek-proyek pembangunan akan terhambat."
Pak Eko menunduk, tangannya menutup wajah. "Ini semua
karena kita dulu tidak serius. Kita terlalu santai. Sekarang kita menuai
akibatnya."
Bu Lulu mulai menangis. Air matanya jatuh ke map keuangan
yang ia pegang. "Saya tidak bisa, Bu. Saya tidak bisa menyelesaikan
laporan keuangan dalam tiga hari. Data tahun 2000 saja saya tidak tahu di
mana."
Bu Yuni mendengarkan semuanya dengan sabar. Ia tidak menyela.
Ia membiarkan mereka meluapkan kekhawatirannya. Karena ia tahu, kadang-kadang
orang perlu melepaskan beban dengan berbicara.
Namun setelah beberapa menit, ketika suasana mulai mereda
karena kelelahan, Bu Yuni berdiri. Ia berjalan ke tengah ruangan, berdiri tepat
di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, lampu yang sama sejak hari pertamanya
bekerja.
"Teman-teman, boleh saya bicara?"
Semua terdiam. Mata mereka tertuju pada Bu Yuni.
"Kalau kita panik, kita sudah kalah sebelum mulai.
Kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah. Kepanikan hanya akan membuat kita
kacau dan membuat kesalahan."
Pak Eko mengangkat kepalanya. "Tapi Bu, tiga hari
sangat singkat."
"Iya, Pak. Tiga hari sangat singkat. Tapi lebih baik
kita bekerja dengan tenang selama tiga hari, daripada panik selama tiga hari
dan tidak menghasilkan apa-apa."
Pak Santoso mengangguk pelan. "Bu Yuni benar. Kita
harus tenang."
Bu Yuni mengambil buku catatannya, buku yang selalu ia bawa
ke mana-mana, yang sampulnya sudah lusuh dan halamannya mulai menguning.
"Kita bagi tugas."
Bu Yuni membuka buku catatannya. Ia sudah menyiapkan daftar
tugas berdasarkan kemampuan masing-masing perangkat desa. Tangannya yang tadi
gemetar kini sudah stabil. Matanya yang tadinya cemas kini sudah fokus.
"Pak Eko, Bapak fokus pada laporan perencanaan dan
kegiatan tahun 2000. Bapak kan yang paling paham program-program desa tahun
lalu. Saya tahu Bapak punya catatan-catatan pribadi, meskipun tidak rapi.
Keluarkan semua. Kita akan rapiin bersama."
Pak Eko mengangguk. Dadanya naik turun, namun ia berusaha
tenang. "Baik, Bu. Saya punya beberapa buku catatan tahun lalu.
Mudah-mudahan masih lengkap."
"Bu Lulu, Bapak fokus pada keuangan dan bukti
pendukung. Saya tahu ini berat, Bu. Tapi Bapak tidak sendirian. Pak Rudi akan
membantu Bapak. Kita hanya perlu data yang cukup untuk laporan, tidak perlu
sempurna. Inspektorat lebih melihat apakah ada bukti transaksi, bukan apakah
catatannya rapi."
Bu Lulu mengusap air matanya. "Tapi Bu, bukti
transaksi banyak yang hilang."
"Coba cari di arsip lama, Bu. Mungkin terselip di
map-map lain. Saya yakin tidak semuanya hilang."
"Baik, Bu. Saya coba."
"Pak Santoso, Bapak fokus pada data pemerintahan dan
pelayanan. Bapak yang paling paham administrasi pemerintahan desa. Bapak juga
yang paling tahu di mana menyimpan berkas-berkas penting."
Pak Santoso mengangguk. Kacamatanya naik turun di
hidungnya. "Saya akan coba, Bu. Tapi butuh bantuan."
"Mas Amat akan membantu Bapak."
"Pak Edi, Bapak fokus pada data sosial dan masyarakat.
Data bantuan sosial, data warga miskin, data penerima beasiswa. Itu semua
penting untuk laporan."
Pak Edi yang biasanya santai kini terlihat serius.
"Baik, Bu. Saya akan cari data-data itu."
"Bu Endang, Bu Siti, Bapak dan Ibu fokus pada surat
menyurat. Kumpulkan semua arsip surat keluar-masuk tahun 2000. Jangan khawatir
apakah rapi atau tidak. Yang penting terkumpul."
"Mas Amat, Bapak akan membantu saya di administrasi
umum dan arsip. Kita akan menyusun laporan secara keseluruhan. Ini tugas paling
berat, tapi kita akan lakukan bersama."
Si Amat yang tadinya pucat kini sedikit bersemangat.
Dadanya membusung meskipun masih grogi. "Siap, Bu... walaupun
deg-degan."
Tawa kecil muncul. Tawa yang gugup, tapi tetap tawa. Pak
Edi menyahut, "Wajar deg-degan, Mat. Saya juga deg-degan."
"Tapi ingat," lanjut Bu Yuni, "kita tidak
sendirian. Pak Kades akan membantu koordinasi ke kecamatan kalau ada yang
kurang jelas. Beliau juga akan membantu mencari data-data yang mungkin
tersimpan di rumahnya."
Pak Kades Iwan yang sejak tadi diam mendengarkan dari pintu
ruangannya berjalan mendekat. "Betul. Saya akan bantu semampu saya. Jangan
ragu untuk minta bantuan saya."
"Terima kasih, Pak Kades," kata mereka serempak.
Pukul 09.30, mereka mulai bekerja. Suasana kantor berubah
total. Tidak ada lagi tawa santai. Tidak ada lagi obrolan ringan. Yang ada
hanya suara kertas dibalik, pena menulis, dan sesekali keluhan kecil yang
segera dijawab dengan semangat.
Bu Lulu membuka lemari arsip di ruang keuangan. Map-map
berdebu dikeluarkan satu per satu. Pak Rudi, staf keuangan yang jarang bicara,
membantu dengan teliti.
"Bu, ini bukti transaksi bulan Januari 2000,"
kata Pak Rudi sambil menyerahkan setumpuk kertas yang sudah menguning.
Bu Lulu menerimanya, memeriksa satu per satu. "Ini
masih lengkap, Rud. Syukurlah. Sekarang cari bulan Februari."
Di ruang lain, Pak Eko membuka laptop tuanya, laptop yang
sering mati sendiri, untuk mencari data program desa tahun 2000. Ia membuka
file demi file, membaca catatan-catatan yang ia buat dulu.
"Wah, ini file program pengadaan jalan desa tahun
2000. Saya kira sudah hilang," gumamnya.
Pak Santoso dan Si Amat bekerja di ruang arsip. Mereka
mengeluarkan semua map tahun 2000, lalu memisahkannya berdasarkan jenis.
"Ini kependudukan, ini pertanahan, ini surat
menyurat," kata Pak Santoso sambil memilah-milah.
Si Amat mencatat setiap map yang mereka temukan di buku
register. Tangannya bergerak cepat, meskipun sesekali berhenti untuk mengusap
keringat di keningnya.
"Pak Santoso, ini map pertanahan tahun 2000 isinya apa
saja?" tanya Si Amat.
"Tanah kas desa, tanah warga yang bersertifikat, tanah
warga yang belum bersertifikat. Semua ada di situ."
"Lengkap, Pak?"
"Insya Allah lengkap. Saya yang dulu mengurus."
"Syukurlah."
Pak Edi dan Bu Endang bekerja di ruang pelayanan. Mereka
mengumpulkan semua data bantuan sosial tahun 2000. Ada data beras miskin, data
BLT, data beasiswa, data bantuan kesehatan.
"Bu Endang, ini data BLT tahun 2000. Tolong dicek
apakah sudah sesuai dengan daftar penerima," kata Pak Edi.
Bu Endang yang pemalu itu mengangguk. "Baik, Pak. Saya
cek."
Di tengah semua kesibukan, tiba-tiba pintu kantor terbuka.
Seorang warga masuk, Pak Surip, warga Dusun Ngemplak yang dulu pernah mengurus
surat keterangan tidak mampu.
"Permisi, Bu... saya mau urus surat..."
Bu Yuni yang sedang sibuk dengan laporan mendongak.
"Maaf, Pak. Saat ini kami sedang menyusun laporan penting dari kecamatan.
Tapi pelayanan tetap berjalan. Silakan ke Pak Joko."
Pak Joko, Kaur Pelayanan yang biasanya jarang terlihat
karena sering di luar, kebetulan sedang ada di kantor. Ia langsung menyambut
Pak Surip.
"Silakan, Pak. Ada yang bisa dibantu?"
" Saya mau urus surat keterangan usaha, Pak. Untuk
jualan di pasar."
"Baik, Pak. Berkasnya sudah lengkap?"
Pak Surip mengeluarkan berkas-berkasnya: KTP, KK, dan surat
pengantar dari RT. Pak Joko memeriksa dengan teliti.
"Lengkap, Pak. Mohon tunggu sekitar 30 menit."
"Wah, cepat sekali, Pak. Dulu bisa berjam-jam."
"Itu dulu, Pak. Sekarang sudah ada sistem baru."
Pak Surip duduk di kursi yang tersedia. Ia mengamati kantor
desa yang mulai rapi. Ada map-map berwarna di lemari. Ada buku register di
meja. Ada papan prosedur di dinding.
"Desa kita mulai maju ya," gumumnya.
Dalam waktu 20 menit, surat itu selesai. Pak Joko
menyerahkannya pada Pak Surip.
"Ini, Pak. Suratnya."
"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak."
" Sama-sama, Pak."
Setelah Pak Surip pergi, Bu Yuni tersenyum pada Pak Joko.
"Bagus, Pak Joko. Pelayanan tetap berjalan meskipun kita sibuk."
"Tugas kita melayani, Bu. Kapan pun, di mana
pun."
"Betul, Pak."
Pukul 11.00, Anto datang ke kantor desa. Ia membawa termos
besar berisi kopi dan bungkusan plastik berisi gorengan. Jaket kulitnya yang
lusuh masih setia di badan, meskipun udara mulai panas.
"Bu Yuni, saya dengar kalian lagi sibuk. Saya bawain
kopi sama gorengan."
Bu Yuni terkejut. "Wah, Anto, terima kasih. Tapi Bapak
tidak usah repot-repot."
"Nggak repot, Bu. Saya kebetulan lewat. Ini buat
semua."
Anto meletakkan termos dan bungkusan itu di meja. Pak Edi
yang melihat langsung mendekat. "Wah, Anto, lo memang sahabat
sejati."
"Sudah saya bilang, Pak. Saya peka sama energi."
Mereka tertawa. Suasana yang tadinya tegang sedikit
mencair.
"Anto, Bapak tahu dari mana kami lagi sibuk?"
tanya Bu Yuni.
"Dari Pak Karyo. Katanya ada surat dari kecamatan.
Wajah Bu Yuni pucat pas baca surat itu. Jadi saya tahu ada masalah."
"Bapak ini... luar biasa."
"Bukan luar biasa, Bu. Hanya peka."
Si Amat yang sedang sibuk dengan map-map mendekat.
"To, lo memang suka membantu. Makasih ya."
"Sama-sama, Mat. Semangat kerjanya. Jangan lupa
istirahat."
Mereka beristirahat sejenak, menikmati kopi dan gorengan.
Kopinya hangat, gorengannya renyah. Untuk beberapa menit, tekanan itu terasa
sedikit berkurang.
Pukul 13.00, mereka belum makan siang. Semua masih asyik
dengan pekerjaan masing-masing. Perut mulai keroncongan, tapi tidak ada yang
mau berhenti.
"Teman-teman, makan siang dulu," kata Bu Yuni.
"Jangan sampai sakit."
"Tapi Bu, waktu mepet," kata Pak Eko.
"Kalau sakit, waktu semakin mepet. Makan dulu. 30
menit saja."
Mereka makan siang bersama di kantor. Ada yang membawa
bekal dari rumah, ada yang membeli di warung Pak Karyo. Suasana makan siang itu
tidak seperti biasanya. Tidak ada tawa lepas. Yang ada hanya kegelisahan yang
tertahan.
"Bu, kita bisa selesai tidak?" tanya Si Amat
sambil mengunyah nasi dengan lauk seadanya.
"Kita harus bisa."
"Tapi kalau tidak?"
"Berarti kita belum berusaha cukup."
Si Amat terdiam. Ia melanjutkan makannya dengan porsi lebih
banyak dari biasanya, mungkin karena stres, mungkin karena butuh energi.
Pak Edi yang biasanya banyak bicara kali ini diam. Ia makan
dengan perlahan, matanya sesekali menatap tumpukan berkas di mejanya.
"Pak Edi, kenapa diam?" tanya Bu Yuni.
"Sedang berpikir, Bu. Bagaimana cara menyelesaikan
semua ini dalam tiga hari."
"Jangan dipikirkan beratnya, Pak. Pikirkan langkah per
langkah."
Pak Edi mengangguk. "Iya, Bu. Saya coba."
Pukul 16.00, setelah seharian bekerja, mulai terlihat
hasil. Pak Eko berhasil mengumpulkan data program desa tahun 2000. Bu Lulu dan
Pak Rudi berhasil menyusun laporan keuangan meskipun masih banyak yang kurang.
Pak Santoso dan Si Amat berhasil memisahkan arsip-arsip tahun 2000 berdasarkan
jenis. Pak Edi dan Bu Endang berhasil mengumpulkan data bantuan sosial. Bu Yuni
sendiri sibuk menyusun semuanya menjadi satu laporan utuh.
"Bu, ini data program desa. Masih ada yang kurang,
tapi setidaknya sudah 70 persen," kata Pak Eko sambil menyerahkan setumpuk
kertas.
"Bagus, Pak Eko. Terima kasih."
"Bu, ini laporan keuangan. Masih banyak
bolongnya," kata Bu Lulu dengan wajah cemas.
"Tidak apa-apa, Bu. Nanti kita isi dengan data
sementara. Yang penting ada bukti transaksi."
"Bu, ini arsip tahun 2000. Sudah kami pisahkan,"
kata Si Amat dengan bangga meskipun lelah.
"Bagus, Mas Amat. Sekarang bantu saya memasukkan data
ke laporan."
Mereka bekerja hingga pukul 18.00. Matahari mulai
tenggelam, cahaya jingga masuk melalui jendela. Namun tidak ada yang pulang.
Semua masih bertahan.
"Teman-teman, kita lanjutkan besok," kata Bu
Yuni. "Istirahat dulu. Jangan sampai kelelahan."
"Tapi Bu, waktu tinggal dua hari lagi," kata Pak
Eko.
"Besok kita mulai lebih pagi. Jam 06.00. Sekarang
pulang, istirahat, makan, tidur. Besok kita butuh tenaga penuh."
Mereka mengangguk, meskipun berat hati. Satu per satu mulai
merapikan meja dan pulang.
Bu Yuni masih tinggal di kantor. Ia ingin menyelesaikan
beberapa halaman laporan sebelum pulang.
"Bu, tidak pulang?" tanya Si Amat yang terakhir
keluar.
"Sebentar lagi, Mas. Saya selesaikan ini dulu."
"Jangan terlalu malam, Bu."
"Iya, Mas. Terima kasih."
Pukul 19.00, Bu Yuni masih di kantor. Lampu neon
berkedip-kedip, kadang mati sebentar lalu menyala lagi. Ia tidak peduli.
Matanya tetap fokus pada kertas-kertas di depannya.
Ia menulis laporan dengan tangan, karena komputer di kantor
hanya satu dan sering error. Tulisannya rapi, meskipun tangannya mulai lelah.
Laporan Administrasi Desa Awan Biru
Tahun Anggaran 2000
Pendahuluan:
Desa Awan Biru adalah salah satu desa di Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten
Wonosobo. Dengan luas wilayah 1.200 hektar dan jumlah penduduk 3.500 jiwa, desa
ini memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang cukup besar. Namun, selama
beberapa tahun terakhir, administrasi desa belum tertata dengan baik. Baru pada
awal tahun 2001, dilakukan pembenahan sistem administrasi secara bertahap.
Ia berhenti sejenak. Tangannya terasa kaku. Ia menggoyangkan
pergelangan tangannya, lalu melanjutkan menulis.
Pukul 20.00, ia mendengar suara langkah kaki di luar.
Seseorang masuk ke kantor. Anto.
"Bu Yuni, masih di sini?"
"Iya, To. Masih ngerjain laporan."
"Belum makan malam?"
"Belum."
"Ya Allah, Bu. Makan dulu. Nanti sakit."
"Sebentar lagi, To. Saya selesaikan paragraf
ini."
Anto duduk di kursi yang tersedia. Ia tidak memaksa. Ia
hanya menemani.
"To, Bapak tidak pulang?"
"Nanti. Istri saya sedang ke rumah orang tua. Jadi
saya sendirian."
"Bapak tidak punya anak?"
"Punya. Satu. Kuliah di Semarang."
"Oh, berarti Bapak tinggal berdua dengan istri?"
"Iya, Bu. Sepi juga kadang. Makanya saya sering
keluar."
Bu Yuni tersenyum. "Bapak baik, To. Sering
membantu."
"Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, Bu.
Desa ini butuh orang-orang yang peduli."
Bu Yuni mengangguk. Ia melanjutkan menulis. Anto diam,
sesekali melihat ke luar jendela.
Pukul 21.00, Bu Yuni selesai dengan pendahuluan laporan. Ia
meregangkan tubuhnya, menghela napas lega.
"To, Bapak masih di sini?"
"Masih, Bu. Saya tunggu Ibu selesai."
"Bapak baik sekali. Terima kasih."
"Sama-sama, Bu. Sekarang pulang. Besok masih banyak
kerja."
Bu Yuni merapikan meja, memasukkan kertas-kertas ke dalam
map, lalu berdiri. "Iya, To. Kita pulang."
Mereka berjalan bersama menyusuri jalan desa yang gelap.
Hanya cahaya bulan dan senter Anto yang menerangi jalan.
"To, langit malam ini cerah," kata Bu Yuni sambil
menatap bintang-bintang.
"Iya, Bu. Tanda besok cerah. Semangat baru."
"Semoga, To. Semoga."
Hari kedua, Selasa, 18 Maret 2001. Bu Yuni datang ke kantor
pukul 05.30. Ia sudah sarapan, sudah shalat subuh, sudah berdoa. Ia siap
bekerja.
Namun saat membuka pintu kantor, ia terkejut. Si Amat sudah
ada di sana sejak pukul 05.00. Ia sedang duduk di mejanya, memegang buku
register, matanya sembab.
"Mas Amat, Bapak sudah dari tadi?"
"Iya, Bu. Saya tidak bisa tidur. Pikiran saya terus ke
laporan."
"Bapak harus istirahat. Nanti sakit."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya kuat."
Bu Yuni menghela napas. Ia tahu tidak bisa melarang. Yang
terbaik adalah bekerja bersama.
Pukul 06.00, yang lain mulai berdatangan. Pak Edi dengan
kopi, lebih kental dari biasanya. Pak Eko dengan laptop, yang pagi ini tidak ia
buka untuk media sosial. Pak Santoso dengan kacamatanya, yang ia lap
berulang-ulang. Bu Lulu dengan map keuangan, yang ia peluk erat di dada.
"Teman-teman, kita lanjutkan," kata Bu Yuni.
"Hari ini kita fokus pada kelengkapan data. Jangan khawatir dengan
kerapian. Yang penting data terkumpul. Nanti kita rapiin di hari
terakhir."
Mereka bekerja dengan intensitas tinggi. Tidak ada yang
bicara. Yang ada hanya suara kertas dan kadang-kadang pertanyaan singkat.
"Bu, data BLT bulan Desember 2000 di mana ya?"
tanya Pak Edi.
"Coba cek di map sosial, Pak. Warna kuning."
"Ketemu, Bu. Terima kasih."
"Bu, laporan keuangan triwulan keempat 2000 tidak ada
bukti transaksinya," kata Bu Lulu dengan suara cemas.
"Coba cek di map lama, Bu. Mungkin terselip."
Bu Lulu membuka map lama. Debu beterbangan, membuatnya
bersin. Ia terus mencari. Setelah beberapa menit, "Ketemu, Bu! Di map
tahun 1999."
"Syukurlah."
Pukul 12.00, mereka belum makan siang. Perut keroncongan,
tapi semangat tidak kendur.
Namun tiba-tiba, Pak Kades Iwan keluar dari ruangannya
dengan wajah pucat. "Bu Yuni, saya dapat telepon dari kecamatan."
"Apa kata mereka, Pak?"
"Tim Inspektorat akan datang besok. Bukan lusa."
"BESOK?!" seru Si Amat hampir pingsan. Wajahnya
pucat seperti mayat.
"Iya, besok. Mereka maju jadwal."
Suasana berubah kacau. Semua berbicara bersamaan.
"Besok? Belum siap!"
"Data masih banyak yang kurang!"
"Laporan belum selesai!"
Bu Yuni berdiri. Ia menatap semua orang. Matanya tegas.
"Teman-teman, tenang."
"Tapi Bu—"
"TENANG."
Suasana hening. Bu Yuni jarang bicara keras. Jadi ketika ia
melakukannya, semua terkejut.
"Besok mereka datang. Itu sudah keputusan. Kita tidak
bisa mengubahnya. Yang bisa kita ubah adalah persiapan kita. Kita punya waktu
24 jam. Manfaatkan sebaik-baiknya."
Pak Eko mengangguk. "Bu Yuni benar. Menangis tidak
akan membantu."
"Kita lanjutkan kerja. Fokus. Jangan panik," kata
Bu Yuni.
Mereka kembali bekerja. Namun kali ini dengan kecepatan
yang lebih tinggi. Seperti pelari yang melihat garis finish di depan mata.
Pukul 18.00. Matahari sudah tenggelam. Namun lampu kantor
masih menyala. Mereka belum pulang.
"Teman-teman, kita akan lembur malam ini," kata
Bu Yuni. "Siapa yang tidak kuat, silakan istirahat. Tapi yang bisa, tolong
bantu."
Tidak ada yang pulang. Semua memilih bertahan.
Pak Edi memesan makanan dari warung Pak Karyo: nasi bungkus
dan gorengan. Mereka makan sambil bekerja. Tidak ada waktu untuk duduk santai.
"Bu, laporan kependudukan sudah 80 persen," kata
Pak Santoso.
"Bagus, Pak. Lanjutkan."
"Bu, laporan keuangan sudah 75 persen," kata Bu
Lulu.
"Terima kasih, Bu. Semangat."
"Bu, laporan program desa sudah 90 persen," kata
Pak Eko.
"Luar biasa, Pak Eko. Bapak hebat."
Pukul 21.00. Si Amat mulai menguap. Matanya sayu. Tangannya
mulai gemetar.
"Mas Amat, istirahat sebentar," kata Bu Yuni.
"Tidak, Bu. Saya kuat."
"Kalau Bapak sakit, kita akan kehilangan satu orang.
Istirahat 15 menit."
Si Amat menurut. Ia merebahkan kepalanya di meja. Dalam
hitungan detik, ia tertidur dan mendengkur pelan.
Pak Edi tertawa kecil. "Dia mah kalau disuruh
istirahat, langsung 'mati gaya', Bu."
"Biarkan, Pak. Dia butuh itu."
Pukul 23.00. Si Amat bangun. Ia merasa segar. Langsung
kembali bekerja.
"Bu, saya lanjut ya."
"Silakan, Mas Amat. Bapak hebat."
Pukul 00.00. Tengah malam. Lampu kantor masih menyala.
Suasana sunyi, hanya suara kertas dan sesekali keluhan kecil.
Bu Lulu mulai menangis. "Bu, ini data keuangannya beda
semua dengan laporan lama. Saya sudah cek ulang tiga kali, tetap saja tidak
cocok."
Bu Yuni mendekat. "Coba saya lihat, Bu."
Ia memeriksa angka-angka itu. Matanya bergerak cepat,
seperti komputer yang memindai data. Jarinya menunjuk ke baris demi baris.
"Ini, Bu Lulu. Bapak salah baca. Kolom ini bukan untuk pengeluaran, tapi
untuk sisa anggaran."
Bu Lulu menghela napas lega hingga bahunya turun. "Ya
Allah... ternyata saya yang salah."
"Tidak apa-apa, Bu. Kita perbaiki bersama."
Namun setelah Bu Lulu pergi ke toilet, Pak Santoso berbisik
pada Bu Yuni, "Bu, Bu Lulu itu sebenarnya sudah tiga hari tidak pulang.
Suaminya sudah nelpon saya dua kali."
Bu Yuni terkejut. Matanya membulat. "Apa? Kenapa tidak
bilang dari tadi?"
"Bu Lulu yang minta saya diam. Katanya dia malu."
Bu Yuni menghela napas panjang. "Ya Allah... saya
tidak tahu itu."
Ketika Bu Lulu kembali, Bu Yuni mendekatinya. "Bu
Lulu, saya dengar Ibu sudah tiga hari tidak pulang?"
Bu Lulu menunduk. "Maaf, Bu. Saya malu."
"Kenapa malu, Bu?"
"Karena saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tepat
waktu. Saya pikir dengan lembur, saya bisa selesai. Tapi ternyata tidak."
Bu Yuni menggenggam tangan Bu Lulu. "Bu, Ibu tidak
perlu malu. Ibu sudah berusaha maksimal. Tapi Ibu juga perlu istirahat. Kalau
Ibu sakit, kita semua rugi."
Bu Lulu menangis. "Maaf, Bu. Saya hanya ingin
membantu."
"Ibu sudah membantu. Lebih dari cukup. Sekarang
pulang. Istirahat. Besok pagi Ibu bisa lanjutkan."
"Tapi Bu—"
"PULANG, Bu Lulu. Itu perintah."
Bu Lulu menurut. Ia merapikan meja, mengambil tasnya, dan
berjalan keluar. Namun sebelum pergi, ia berbalik. "Bu Yuni, terima
kasih."
"Sama-sama, Bu. Hati-hati di jalan."
Setelah Bu Lulu pulang, suasana menjadi lebih sunyi. Hanya
Bu Yuni, Pak Eko, Pak Santoso, Pak Edi, dan Si Amat yang tersisa. Pak Joko dan
yang lain sudah pulang lebih awal karena kelelahan.
"Teman-teman, kita lanjutkan," kata Bu Yuni.
"Kita targetkan pukul 05.00 semua data terkumpul. Jam 06.00 kita mulai
menyusun laporan akhir."
Mereka bekerja dengan kecepatan penuh. Tidak ada lagi
pembicaraan. Hanya fokus.
Pukul 03.00. Pak Eko mulai berbicara sendiri.
"Anggaran desa... laporan kegiatan... bukti transaksi... semuanya harus
sinkron..."
"Pak Eko, Bapak bicara dengan siapa?" tanya Si
Amat.
Pak Eko menoleh dengan mata setengah sadar. "Sama
laporan."
"Laporannya nggak bisa jawab, Pak."
"Iya, aku tahu. Tapi setidaknya dia tidak
membantah."
Semua tertawa lelah. Tawa yang keluar bukan karena lucu,
tapi karena kelelahan yang sudah di ambang batas.
Pukul 04.00. Pak Santoso mulai mengantuk berat. Kacamatanya
turun ke ujung hidung, tapi ia tidak menyadarinya.
"Pak Santoso, istirahat sebentar," kata Bu Yuni.
"Tidak, Bu. Saya kuat."
"Bapak bicara sambil mata pejam, Pak."
Pak Santoso membuka matanya lebar-lebar. "Oh, iya?
Maaf. Saya lanjutkan."
Pukul 05.00. Target tercapai. Semua data terkumpul.
Meskipun masih ada yang kurang, setidaknya sudah 90 persen.
"Teman-teman, kita berhasil mengumpulkan data.
Sekarang istirahat satu jam. Jam 06.00 kita mulai menyusun laporan."
Mereka merebahkan diri di kursi-kursi plastik. Ada yang
tidur, ada yang hanya memejamkan mata. Si Amat tidur dengan mulut terbuka,
mendengkur keras. Pak Edi tidur sambil memegang termos kopinya. Pak Eko tidur
dengan laptop di pangkuannya. Pak Santoso tidur dengan kacamata masih menempel
di hidung.
Bu Yuni tidak tidur. Ia memeriksa semua data yang
terkumpul. Ia ingin memastikan tidak ada yang terlewat.
"Bu, Ibu tidak tidur?" tanya Pak Edi yang
terbangun karena haus.
"Tidak, Pak. Saya cek data dulu."
"Bu, Ibu manusia, bukan robot. Istirahat."
"Sebentar lagi, Pak."
Pak Edi menghela napas. Ia tahu tidak bisa memaksa. Ia
hanya bisa berdoa agar Bu Yuni tidak jatuh sakit.
Pukul 06.00. Matahari mulai terbit. Sinar jingganya masuk
melalui jendela, membangunkan satu per satu perangkat desa yang tidur di kursi.
"Selamat pagi, teman-teman," sapa Bu Yuni.
"Kita mulai."
Mereka bangun dengan tubuh pegal-pegal. Namun semangat
mereka tidak pudar.
"Mari kita susun laporan. Bu Lulu sudah datang? Belum?
Baik, kita mulai dulu. Nanti beliau akan menyusul."
Mereka bekerja menyusun laporan. Bu Yuni memimpin. Ia
membagi tugas: Pak Eko menulis laporan program desa, Pak Santoso menulis
laporan kependudukan, Pak Edi menulis laporan sosial, Si Amat membantu Bu Yuni
menulis laporan keseluruhan.
Pukul 08.00. Bu Lulu datang dengan wajah segar. "Maaf,
Bu. Saya terlambat."
"Tidak apa-apa, Bu. Silakan lanjutkan laporan
keuangan."
Pukul 10.00. Tim Inspektorat belum datang. Mereka lega,
tetapi tetap waspada.
"Kita selesaikan laporan sebelum mereka datang,"
kata Bu Yuni.
Pukul 11.00. Laporan hampir selesai. Tinggal beberapa
halaman lagi.
Tiba-tiba, suara mobil terdengar dari luar. Sebuah mobil
dinas berwarna abu-abu berhenti di depan kantor desa. Debu jalanan masih
beterbangan saat pintu mobil terbuka. Tiga orang turun. Dua laki-laki berkemeja
putih lengan panjang, satu perempuan dengan blazer hitam. Mereka membawa map
tebal dan tas laptop hitam. Langkah mereka pasti, tidak tergesa. Wajah mereka
serius, tidak tersenyum.
"Inspectorat," bisik Pak Edi.
Tim Inspektorat masuk ke kantor desa dengan langkah tegas.
Ketua tim, seorang pria bernama Pak Heru, berusia sekitar 45 tahun, berkumis
tebal, berkacamata bundar, dan berwajah tegas. Di sampingnya, Bu Dewi, auditor
wanita dengan rambut pendek dan tatapan tajam. Dan Pak Budi, auditor muda yang
terlihat lebih ramah.
"Selamat pagi," sapa Pak Heru.
"Pagi, Pak," jawab Pak Kades Iwan yang menyambut
di pintu.
"Kami dari Inspektorat Kabupaten. Kami akan melakukan
verifikasi administrasi desa. Mohon kerja samanya."
"Silakan, Pak. Kami sudah siap."
Pak Heru memandang sekeliling. Matanya menyapu ruangan,
meja, lemari, dan perangkat desa yang terlihat lelah. "Sepertinya
malam-malam terakhir sibuk ya?"
Pak Kades tersenyum tipis. "Iya, Pak. Kami
mempersiapkan laporan."
"Bagus. Kami akan lihat."
Tim Inspektorat duduk di kursi yang disediakan. Mereka
membuka map dan laptop. Pak Heru memimpin.
"Kami ingin melihat laporan keuangan desa tahun
2000."
Bu Lulu yang ditunjuk maju dengan gemetar. Ia menyerahkan
map tebal berisi laporan keuangan yang baru saja ia selesaikan pagi ini.
"Ini, Pak."
Pak Heru membuka laporan itu. Matanya bergerak cepat. Ia
memeriksa angka-angka, membandingkan dengan bukti transaksi.
"Bu, bukti transaksi untuk pengadaan jalan desa di
mana?"
Bu Lulu mengambil map lain. "Ini, Pak."
Pak Heru memeriksa. "Ini lengkap. Bagus."
Bu Lulu lega. Dadanya yang tadinya berdebar mulai tenang.
"Selanjutnya, laporan kependudukan."
Pak Santoso maju. Tangannya gemetar saat menyerahkan map.
"Ini, Pak."
Pak Heru memeriksa. "Data penduduk per Desember 2000
ada di sini?"
"Ada, Pak."
"Sudah diverifikasi dengan data kecamatan?"
"Belum, Pak. Tapi data ini diambil dari data kecamatan
tahun 2000."
Pak Heru mengangguk. "Baik. Kami akan cek
sendiri."
Pemeriksaan berlangsung selama dua jam. Tim Inspektorat
memeriksa semua laporan: keuangan, kependudukan, pertanahan, program desa,
bantuan sosial, dan surat menyurat.
Pak Heru sesekali mengernyit, sesekali mengangguk. Bu Dewi
mencatat dengan teliti di buku catatannya. Pak Budi memeriksa arsip-arsip di
lemari.
Pada akhir pemeriksaan, Pak Heru memanggil Pak Kades dan Bu
Yuni.
"Pak Kades, Bu Sekdes, kami sudah selesai."
"Bagaimana, Pak?" tanya Pak Kades dengan nada
khawatir.
Pak Heru menghela napas. "Secara umum, administrasi
desa ini masih perlu banyak perbaikan. Namun, kami melihat adanya upaya serius
untuk membenahi."
Pak Kades dan Bu Yuni mendengarkan dengan saksama.
"Laporan keuangan masih ada beberapa yang kurang bukti
transaksinya. Data kependudukan masih perlu diverifikasi. Arsip-arsip lama
masih belum tertata. Tapi... kami melihat kemajuan yang signifikan dalam
beberapa bulan terakhir."
Bu Yuni mengangguk. "Terima kasih, Pak. Kami akan
terus memperbaiki."
Pak Heru menatap Bu Yuni. "Ibu yang memimpin
pembenahan ini?"
"Iya, Pak."
"Ibu baru bertugas?"
"Baru sebulan, Pak."
Pak Heru terkejut. "Se bulan? Dalam sebulan Ibu sudah
bisa mengubah sistem administrasi yang berantakan menjadi seperti ini?"
Bu Yuni tersenyum. "Ini kerja tim, Pak. Bukan saya
sendiri."
Pak Heru mengangguk kagum. "Luar biasa. Biasanya
pembenahan administrasi desa butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Ibu melakukannya dalam sebulan."
"Kami belum sempurna, Pak. Masih banyak yang harus
dibenahi."
"Tentu. Tapi arah perbaikannya sudah jelas. Itu yang
penting."
Pak Heru berdiri. Ia menghadap semua perangkat desa yang
hadir.
"Bapak, Ibu, kami akan menyampaikan kesimpulan
sementara."
Semua diam.
"Pertama, administrasi keuangan desa masih perlu
pembenahan, terutama dalam hal bukti transaksi. Namun, secara umum laporan
keuangan dapat dipertanggungjawabkan."
"Kedua, administrasi kependudukan sudah cukup baik,
meskipun perlu diverifikasi dengan data kecamatan."
"Ketiga, administrasi pertanahan masih perlu penataan,
terutama arsip-arsip lama."
"Keempat, administrasi program desa dan bantuan sosial
sudah cukup baik."
"Kelima, secara keseluruhan, Desa Awan Biru
menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam bidang administrasi. Kami akan
merekomendasikan agar desa ini diberikan bimbingan teknis lebih lanjut."
Pak Kades menghela napas lega. "Terima kasih,
Pak."
"Kami juga akan merekomendasikan agar Desa Awan Biru
dijadikan salah satu desa percontohan untuk pembenahan administrasi di
kecamatan ini."
Semua terkejut. Mata membulat. Mulut ternganga.
"Desa percontohan?" tanya Pak Edi tidak percaya.
"Iya. Kami lihat potensi besar di sini. Dengan
bimbingan yang tepat, desa ini bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain."
Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih,
Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."
Tim Inspektorat pamit. Mobil abu-abu itu melaju perlahan
meninggalkan halaman kantor desa. Debu beterbangan di belakangnya.
Suasana di kantor desa hening beberapa detik. Lalu...
"WOOOOOOO!!!"
Si Amat berteriak keras hingga suaranya memantul di
dinding. Ia melompat-lompat seperti anak kecil yang baru diberi hadiah.
"KITA BERHASIL! KITA BERHASIL!"
Pak Edi langsung duduk di kursi, kakinya lemas. "Ya
Allah... ini lebih tegang dari nonton final bola..."
Pak Eko tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. "Kita
berhasil... kita benar-benar berhasil..."
Pak Santoso menepuk bahu Bu Yuni. "Ini semua karena Bu
Yuni..."
Bu Yuni menggeleng pelan. "Karena kita semua."
Bu Lulu menangis. Tangis haru. "Saya pikir kita akan
gagal. Tapi ternyata tidak."
Pak Kades Iwan memeluk Bu Yuni. "Bu, saya tidak tahu
harus berkata apa. Terima kasih."
Bu Yuni tersenyum. "Pak Kades, ini baru awal. Masih
banyak yang harus kita kerjakan."
"Iya, Bu. Tapi setidaknya kita sudah melewati ujian
ini."
Sore itu, mereka mengadakan syukuran sederhana. Pak Karyo
dimintai tolong menyediakan nasi kotak dan gorengan. Anto membawa kopi dan teh.
Warga yang mendengar kabar baik itu datang bergantian memberi selamat.
"Bu Yuni, selamat ya," kata Pak Darmo sambil
menjabat tangan Bu Yuni.
"Terima kasih, Pak."
"Ini berkat Ibu. Desa kita mulai dikenal."
"Bukan saya, Pak. Ini kerja sama semua."
"Tetap saja, Ibu yang memulai."
Bu Ratih datang dengan membawa kue tradisional. "Bu
Yuni, ini kue buatan saya. Untuk merayakan keberhasilan."
"Terima kasih, Bu Ratih."
Pak Jayeng datang dengan senyum bijaksana. "Bu Yuni,
saya bangga. Desa ini akhirnya punya harapan."
"Terima kasih, Pak Jayeng. Doakan kami terus."
"Tentu, Bu. Saya akan selalu mendoakan."
Malam itu, setelah semua pulang, Bu Yuni duduk di beranda
rumah kontrakannya. Kucing Kuning, yang sudah dua hari tidak ia elus karena
kesibukan, langsung melompat ke pangkuannya.
"Kuning, maaf ya, dua hari ini aku sibuk,"
katanya sambil mengelus kepala kucing itu.
Kucing itu mengeong pelan, seolah memaafkan.
"Aku lelah, Kuning. Sangat lelah. Tapi aku
bahagia."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan
bersinar terang.
"Ya Allah, terima kasih. Terima kasih karena Engkau
berikan kami kekuatan. Terima kasih karena Engkau bimbing kami melewati ujian
ini. Terima kasih karena Engkau tunjukkan bahwa kerja keras tidak pernah
sia-sia."
Ia memejamkan mata. Air mata mengalir di pipinya.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi aku
percaya, Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita lanjutkan perjuangan."
Pagi itu, Desa Awan Biru terasa berbeda. Kabut masih turun,
burung masih berkicau, namun ada sesuatu yang berubah di udara. Mungkin
kebanggaan. Mungkin harapan.
Bu Yuni berjalan ke kantor dengan langkah ringan. Ia sudah
tidur cukup semalam, delapan jam penuh, pertama kalinya dalam tiga hari.
Tubuhnya masih pegal, tapi semangatnya baru.
Sesampainya di kantor, ia terkejut. Semua perangkat desa
sudah ada di sana. Bahkan yang biasanya datang telat, hari ini datang lebih
awal.
"Pagi, Bu," sapa mereka serempak.
"Pagi... kok pada pagi sekali?"
"Semangat, Bu," kata Si Amat. "Setelah
kemarin, saya jadi ketagihan."
Mereka tertawa. Suasana hangat dan penuh kebersamaan.
"Teman-teman, kemarin kita berhasil. Tapi jangan
terlena. Masih banyak yang harus kita benahi."
"Setuju, Bu," kata Pak Eko.
"Mulai hari ini, kita akan fokus pada arsip lama.
Target kita, dalam tiga bulan, semua arsip harus tertata."
"Tiga bulan, Bu?" tanya Pak Edi.
"Iya, tiga bulan. Kita buktikan bahwa target 6 bulan
yang kita janjikan di rapat bisa kita perpendek."
"Semangat!" seru Si Amat.
Mereka mulai bekerja. Namun kali ini, tidak ada tekanan.
Tidak ada panik. Yang ada hanya semangat dan kebersamaan.
Siang itu, di sela-sela istirahat, Pak Kades Iwan mengajak
Bu Yuni berbicara di ruang kerjanya.
"Bu, saya ingin bercerita."
"Silakan, Pak."
Pak Iwan menghela napas. "Saya dulu hampir menyerah,
Bu. Enam bulan pertama menjabat, saya merasa gagal. Warga kecewa. Perangkat
desa malas. Sistem berantakan. Saya sering menangis di kamar, bertanya-tanya
apa saya pantas jadi kepala desa."
Bu Yuni mendengarkan dengan saksama.
"Tapi setelah Ibu datang, semuanya berubah. Ibu
seperti cahaya di tengah kegelapan. Ibu membawa harapan."
Bu Yuni tersenyum. "Pak, saya hanya manusia
biasa."
"Tapi Ibu melakukan hal yang luar biasa. Ibu merapikan
yang berantakan. Ibu menertibkan yang kacau. Ibu menyatukan yang
terpecah."
"Pak, saya hanya menjalankan amanah."
"Ibu rendah hati. Itu yang membuat Ibu hebat."
Pak Iwan menatap foto istrinya di atas meja. "Sri,
kamu lihat? Desa kita mulai berubah. Istri saya, Bu Yuni. Itu bukan namanya,
tapi saya anggap seperti itu. Ibu adalah anugerah."
Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih, Bu Yuni. Dari lubuk hati saya yang
paling dalam."
Sore itu, Anto mampir ke kantor desa. Jaket kulitnya yang
lusuh masih setia. Rambutnya yang panjang terurai sedikit.
"Bu Yuni, saya punya ramalan."
"Ramalan apa lagi, To?"
"Suatu hari nanti, desa ini akan maju. Bukan hanya
administrasinya, tapi juga ekonominya, pendidikannya, kesehatannya. Semua akan
maju. Karena perubahan dimulai dari hal kecil, dan Ibu sudah memulainya."
Bu Yuni tersenyum. "Aamiin, To. Semoga."
"Dan Ibu akan dikenang sebagai pahlawan desa
ini."
"To, saya tidak perlu dikenang. Saya hanya ingin desa
ini menjadi lebih baik."
"Tapi Ibu akan dikenang. Itu sudah takdir."
Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan kembali
bekerja.
Anto berjalan keluar dengan langkah santai. Di pintu, ia
berbalik. "Bu Yuni, jangan pernah berubah. Desa ini butuh Ibu."
Sabtu sore, seperti biasa, Bu Yuni mengadakan evaluasi
mingguan. Kali ini, semua perangkat desa hadir dengan semangat baru.
"Teman-teman, kita sudah melewati minggu yang berat.
Tapi kita berhasil."
Mereka mengangguk.
"Mulai minggu depan, kita akan fokus pada arsip lama.
Target kita, dalam tiga bulan, semua arsip harus tertata."
"Tiga bulan, Bu?" tanya Pak Edi lagi, seolah
ingin memastikan.
"Iya, tiga bulan. Kita buktikan bahwa kita bisa lebih
cepat dari target."
"Setuju!" seru mereka.
"Pembagian tugas: Pak Eko, Bapak fokus pada arsip
perencanaan. Pak Santoso, Bapak fokus pada arsip pemerintahan. Pak Edi, Bapak
fokus pada arsip sosial. Bu Lulu, Bapak fokus pada arsip keuangan. Mas Amat,
Bapak bantu saya di arsip umum."
"Siap, Bu!" kata mereka serempak.
"Kita mulai hari Senin. Akhir pekan ini, istirahat
yang cukup. Jangan sampai sakit."
"Iya, Bu."
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur pelan.
"Kuning, minggu ini berat. Tapi kita berhasil."
Kucing itu tidak bergerak.
"Aku belajar bahwa tekanan bisa datang kapan saja.
Tapi jika kita bersiap, kita bisa menghadapinya."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah.
Bintang-bintang terlihat sangat jelas.
"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih
untuk kekuatan yang Engkau berikan. Terima kasih untuk tim yang solid."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
BAB 6
FITNAH DI BALIK DEDIKASI
Pagi di Desa Awan Biru tidak lagi terasa setenang biasanya.
Kabut masih turun seperti selimut putih yang membungkus lembah, burung-burung
masih berkicau riang di pepohonan, dan asap dapur masih mengepul dari
cerobong-cerobong rumah warga. Namun di balik semua ketenangan alam itu, ada
sesuatu yang berubah di udara. Bukan suhu, bukan kelembaban, bukan arah angin.
Tapi sesuatu yang lebih halus, lebih sulit dideteksi, namun terasa oleh mereka
yang peka: getaran kegelisahan.
Bu Yuni merasakannya sejak ia membuka mata pukul 04.30. Ada
yang berbeda pagi itu. Kucing Kuning yang biasanya setia tidur di sampingnya,
kali ini tidak ada di kasur. Ia mencari ke seluruh rumah, tapi kucing itu tidak
ditemukan. Mungkin sedang berburu tikus, pikirnya. Tapi hatinya tidak tenang.
Setelah shalat subuh di masjid, masjid yang sama dengan
dinding bata putih dan kubah hijaunya yang mulai pudar, Bu Yuni berjalan pulang
menyusuri jalan setapak yang masih basah oleh embun. Biasanya, di sepanjang
jalan ini, ia akan disapa oleh warga yang sedang bersiap beraktivitas.
"Pagi, Bu Yuni," kata mereka dengan senyum ramah. Tapi pagi itu,
sapaan itu tidak ada. Yang ada hanyalah tatapan-tatapan aneh, bisik-bisik yang
berhenti ketika ia lewat, dan senyum-senyum yang dipaksakan.
"Selamat pagi, Bu Tini," sapa Bu Yuni kepada
seorang ibu yang sedang menyapu halaman.
Bu Tini tersentak, seolah tidak menyangka disapa.
"Eh... pagi, Bu... pagi," jawabnya tergagap, lalu buru-buru masuk ke
dalam rumah, meninggalkan sapu yang masih berdiri tegak di halaman.
Bu Yuni mengernyit. Ada yang tidak beres. Ia melanjutkan
perjalanan. Di tikungan depan warung Pak Karyo, ia berpapasan dengan Pak Sugeng
yang biasanya ramai. "Pagi, Pak Sugeng," sapanya.
Pak Sugeng hanya mengangguk kaku, lalu mempercepat
langkahnya. Tidak seperti biasanya yang suka ngobrol panjang lebar.
Bu Yuni berhenti sejenak. Ditatapnya warung Pak Karyo yang
mulai ramai. Dari balik dinding anyaman bambu, ia bisa mendengar suara-suara
bisik yang samar. Tidak jelas kata-katanya, tapi nadanya tidak baik.
"Ada apa ya?" gumamnya.
Ia memutuskan untuk tidak mampir ke warung. Lebih baik langsung
ke kantor.
Di warung Pak Karyo, suasana pagi itu tidak seperti
biasanya. Biasanya, warung ini dipenuhi tawa dan obrolan ringan tentang panen,
harga cabai, atau gosip tetangga. Tapi pagi itu, suasananya tegang. Beberapa
warga duduk di kursi-kursi kayu yang berjajar tidak rapi, menyeruput kopi hitam
pekat dari gelas-gelas plastik yang sudah penyok, sambil sesekali melirik ke
arah jalan tempat Bu Yuni lewat.
"Dengar-dengar, sekarang di kantor desa sudah berubah
ya?" kata Pak Sugeng sambil meniup kopinya yang masih panas. Uap putih
mengepul dari gelasnya, membentuk pola-pola abstrak di udara pagi yang dingin.
"Iya... tapi katanya juga banyak aturan baru,"
sahut Pak Karyo dari balik etalase kaca yang berisi rokok, permen, dan beberapa
kebutuhan pokok. Tangannya yang gemetar karena usia sedang merapikan dagangan
yang berantakan semalam.
"Perubahan sih bagus... tapi saya dengar juga ada yang
nggak beres..." kata Bu Tini yang duduk di pojok, suaranya sengaja
direndahkan meskipun hanya ada mereka berempat.
"Apaan tuh?" tanya Pak Sugeng, badannya mendekat,
matanya menyipit penasaran.
Bu Tini menurunkan suaranya hampir berbisik.
"Katanya... Bu Yuni itu terlalu ngatur. Bahkan katanya semua harus lewat
dia... surat ini, surat itu, semua harus minta persetujuan dia. Katanya sih
biar rapi, tapi kesannya seperti... dia yang paling berkuasa."
Seorang warga lain, Pak Karto, yang baru datang ikut
nimbrung. Badannya tambun, wajahnya bulat dengan kumis tebal yang tidak pernah
dicukur rapi. "Saya dengar juga begitu. Bahkan ada yang bilang, Pak Kades
itu hanya boneka. Bu Yuni lah yang sesungguhnya memimpin."
"Wah, jangan asal bicara, Pak Karto. Belum tentu
benar," kata Pak Karyo yang berusaha menengahi. Tangannya berhenti
merapikan dagangan, matanya menatap tajam ke arah Pak Karto.
"Bukan asal bicara, Pak Karyo. Ini sudah banyak yang
bilang. Saya dengar dari Pak RT sendiri."
"Pak RT yang mana?"
"Pak RT 02. Katanya, dia dengar dari perangkat desa
sendiri."
Suasana hening sejenak. Pak Karyo menggeleng-gelengkan
kepala. "Saya sih belum lihat buktinya. Yang saya lihat, pelayanan jadi
lebih cepat. Itu fakta."
"Tapi tidak semua yang cepat itu baik, Pak Karyo.
Kadang yang cepat itu asal-asalan. Atau ada maksud tersembunyi," kata Bu
Tini dengan nada penuh makna.
Pak Karyo tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang.
Dadanya yang bidang naik turun. "Saya hanya pedagang kecil. Tidak tahu
politik. Tapi saya tahu, Bu Yuni orangnya baik. Saya lihat sendiri dia kerja
sampai malam, tidak pulang-pulang, demi membereskan berkas."
"Ya, itu kan hanya agar terlihat baik, Pak Karyo. Itu
strategi," kata Pak Sugeng.
"Strategi untuk apa?"
"Biar disukai warga. Biar cepat naik pangkat. Biar
dapat proyek. Macam-macam."
Pak Karyo terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Di satu
sisi, ia ingin membela Bu Yuni. Di sisi lain, ia takut dibilang ikut-ikutan
atau dituduh menerima sogokan.
Di pojok warung, Anto yang sejak tadi diam mendengarkan
akhirnya angkat bicara. Jaket kulitnya yang lusuh masih setia, meskipun
udaranya tidak sedingin biasanya. Rambutnya yang panjang terurai sedikit,
beberapa helai menutupi matanya.
"Saya semalam mimpi aneh," katanya dengan suara
tenang.
Semua langsung menoleh. "Waduh... mulai lagi,"
kata Pak Sugeng dengan nada setengah mengejek.
Anto tidak terpengaruh. "Saya mimpi ada kertas
beterbangan... terus ada orang yang disalahkan padahal dia yang
beresin..."
Suasana hening sesaat. Lalu Pak Sugeng berkata pelan,
"Maksudmu?"
Anto mengangkat bahu. "Ya... tafsirkan sendiri saja.
Saya hanya cerita mimpi."
"Kamu dan mimpimu, To. Selalu saja," kata Pak
Karto sambil tertawa kecil, tapi tawanya tidak tulus.
Anto hanya tersenyum misterius, lalu menyeruput kopinya
yang sudah dingin.
Bu Yuni tiba di kantor pukul 07.00. Biasanya, ia disambut
dengan senyum dan sapaan hangat dari Si Amat atau Pak Edi yang sudah datang
lebih awal. Tapi pagi itu, suasana kantor terasa dingin. Bukan karena suhu—suhu
di dalam memang dingin—tapi karena sikap.
Si Amat yang biasanya menyambutnya dengan semangat, pagi
itu hanya menunduk dan berkata "Pagi, Bu" dengan suara yang hampir
tidak terdengar. Pak Edi yang biasanya sibuk menuang kopi, pagi itu duduk diam
di mejanya, memandangi gelas kosong tanpa melakukan apa-apa. Pak Eko, yang
biasanya sibuk dengan ponselnya, pagi itu justru tidak membawa ponselnya ke
meja. Ia hanya duduk dengan tangan terlipat di dada, wajahnya tegang.
"Pagi, teman-teman," sapa Bu Yuni berusaha ceria.
"Pagi, Bu," jawab mereka, tapi tidak serempak.
Ada yang terlambat setengah detik, ada yang hampir tidak terdengar.
Bu Yuni berhenti sejenak. Ia merasakan sesuatu, sebuah
keanehan yang tidak bisa dijelaskan. Seperti ada dinding tak terlihat yang
memisahkannya dari rekan-rekannya. Namun ia tidak mau terpancing. Ia berjalan
ke mejanya dan duduk seperti biasa.
Ia membuka map, mengambil buku catatan, dan mulai bekerja.
Namun konsentrasinya terganggu. Pikirannya terus melayang ke pertanyaan yang
tidak bisa ia jawab: apa yang terjadi pagi ini?
Pukul 08.00, Pak Santoso datang. Wajahnya lebih pucat dari
biasanya. Kacamatanya yang tebal turun ke ujung hidung, tapi ia tidak
menyesuaikannya. Ia berjalan langsung ke mejanya tanpa menyapa siapa pun.
Bu Yuni menatapnya. "Pak Santoso, ada apa? Kok wajah
Bapak pucat?"
Pak Santoso tersentak. "Eh... tidak, Bu. Mungkin
kurang tidur."
"Bapak sakit?"
"Tidak, Bu. Saya sehat."
Tapi nada suaranya tidak meyakinkan. Matanya menghindari
tatapan Bu Yuni.
Bu Lulu datang pukul 08.15. Biasanya ia ceria, pagi itu ia
berjalan dengan langkah gontai, map keuangannya tidak ia peluk di dada seperti
biasa, tapi ia seret di lantai. Wajahnya tampak lelah, matanya sembab,
sepertinya semalaman menangis.
"Bu Lulu, Ibu baik-baik saja?" tanya Bu Yuni.
Bu Lulu hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia duduk di
mejanya, membuka map, lalu menutupnya lagi. Tidak melakukan apa-apa.
Suasana kantor pagi itu seperti ruang jenazah. Sunyi,
dingin, dan penuh kesedihan yang tidak bersuara.
Pukul 09.00, Bu Endang, staf administrasi yang pemalu dan
jarang bicara, mendekati meja Bu Yuni dengan langkah ragu-ragu. Wajahnya pucat,
tangannya gemetar. Ia membawa map yang tidak jelas isinya, mungkin hanya alat
untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Bu... saya mau bicara sebentar..." suaranya
hampir berbisik.
Bu Yuni mengangkat wajah. Matanya menatap Bu Endang dengan
lembut. "Ada apa, Bu? Silakan duduk."
Bu Endang duduk di kursi di depan meja Bu Yuni. Ia
menunduk, tidak berani menatap mata Bu Yuni. Jari-jarinya memainkan ujung map
yang ia bawa, menggulung dan membuka, menggulung dan membuka.
"Bu... di luar mulai ada omongan..."
"Omongan apa, Bu?"
Bu Endang mengangkat kepalanya sekilas, lalu menunduk lagi.
"Omongan yang tidak baik tentang Ibu."
Bu Yuni tidak terkejut. Ia sudah menduga. "Omongan
apa, Bu? Tolong sampaikan terus terang."
Bu Endang menarik napas panjang. Dadanya yang kecil naik
turun. "Katanya... Ibu terlalu mendominasi. Semua harus lewat Ibu.
Katanya... Ibu cari nama sendiri. Katanya... Ibu mau jadi kepala desa, makanya
Ibu sibuk membenahi administrasi."
Bu Yuni terdiam. Wajahnya tetap tenang, namun matanya
sedikit berubah, ada kerutan halus di keningnya yang biasanya mulus.
"Katanya lagi... Ibu menerima uang dari LSM Pundi Desa
untuk proyek administrasi. Katanya... Ibu korupsi anggaran desa."
Bu Yuni tersentak. Ini tuduhan berat. Matanya membulat.
"Korupsi? Dari mana mereka tahu?"
"Tidak jelas, Bu. Tapi sudah mulai menyebar. Dari
mulut ke mulut. Saya dengar dari Bu Tini, Bu Tini dengar dari Pak Sugeng, Pak
Sugeng dengar dari Pak RT, Pak RT dengar dari... ya, tidak jelas asalnya."
Bu Yuni menghela napas panjang. Dadanya naik turun.
"Bu Endang, terima kasih sudah memberitahu saya."
"Saya hanya kasihan, Bu. Ibu sudah bekerja keras, tapi
malah difitnah."
"Tidak apa-apa, Bu. Ini sudah saya duga. Perubahan
selalu menimbulkan perlawanan."
Bu Endang mengangguk. "Saya dukung Ibu, Bu. Saya tahu
Ibu orang baik."
"Terima kasih, Bu Endang. Ibu baik."
Bu Endang berdiri, pamit, lalu kembali ke mejanya. Namun
sebelum pergi, ia berbisik, "Bu, hati-hati dengan Pak Eko."
Bu Yuni mengernyit. "Maksudnya?"
Bu Endang tidak menjawab. Ia berjalan cepat meninggalkan Bu
Yuni.
Sepanjang pagi itu, Bu Yuni mengamati Pak Eko. Ia memang
berbeda. Biasanya, Pak Eko adalah orang yang paling banyak bicara di kantor. Ia
suka berkomentar tentang segala hal, dari politik nasional hingga harga cabai
di pasar. Ia juga suka bercanda, meskipun kadang candaannya menyakitkan.
Tapi pagi itu, Pak Eko diam. Ia duduk di mejanya dengan
tangan terlipat di dada, memandangi laptop yang tidak ia nyalakan. Wajahnya
tegang, bibirnya mengatup rapat. Sesekali ia melirik ke arah Bu Yuni, lalu
cepat-cepat memalingkan muka.
Bu Yuni ingin mendekatinya. Ia ingin bertanya, "Pak
Eko, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" Tapi ia urungkan niatnya. Mungkin
belum waktunya. Mungkin Pak Eko butuh ruang.
Pukul 10.00, Pak Eko berdiri. Ia berjalan ke luar kantor,
menuju halaman belakang. Bu Yuni melihat dari balik jendela. Pak Edi
menyusulnya.
"Pak Eko, ada apa?" tanya Pak Edi sambil
mendekat.
Pak Eko tidak menjawab. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari
saku bajunya, menyalakannya dengan korek api yang tangannya gemetar. Asap
mengepul dari hidung dan mulutnya, membentuk lingkaran-lingkaran yang segera
hilang ditiup angin.
"Lo kenapa, Ko? Kayak orang lagi punya beban
berat," kata Pak Edi sambil berdiri di sampingnya.
Pak Eko menghela napas. Asap rokok mengepul lagi.
"Pak, saya lagi bingung."
"Bingung kenapa?"
"Saya dengar ada isu tentang Bu Yuni. Isu yang tidak
baik."
"Emang isu apa?"
"Katanya Bu Yuni cari nama. Katanya dia menerima uang
dari LSM. Katanya dia korupsi."
Pak Edi terkejut. Matanya membulat. "Apa? Dari mana lo
dengar?"
"Dari Pak Santoso. Pak Santoso dengar dari Pak Didit.
Pak Didit dengar dari... saya tidak tahu."
Pak Edi terdiam. Ia menatap Pak Eko dengan tajam. "Lo
percaya?"
Pak Eko mengangkat bahu. "Saya tidak tahu, Pak. Saya
bingung."
"Ko, jangan gampang percaya isu. Buktikan dulu."
"Tapi kalau isu itu benar? Kita selama ini mendukung
orang yang salah?"
Pak Edi menghela napas. "Ko, kita lihat bukti. Selama
ini, apa yang Bu Yuni lakukan? Apakah ada bukti dia korupsi? Apakah ada bukti
dia cari nama?"
Pak Eko terdiam. Ia tidak bisa menjawab.
"Dia kerja sampai malam, sampai pagi. Dia tidak minta
imbalan. Dia bahkan sering membayar keperluan kantor dari uang sendiri. Lo
lihat sendiri, dia pakai baju itu-itu saja, tidak pernah ganti. Itu tanda orang
korupsi? Korupsi biasanya hidup mewah, bukan sederhana."
Pak Eko mengangguk pelan. "Iya, sih..."
"Jadi, jangan gampang terpengaruh isu. Cari tahu dulu
kebenarannya."
Pak Eko membuang puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya
dengan sepatu. "Baik, Pak. Saya akan cari tahu."
Pak Edi kembali ke kantor. Ia mendekati meja Bu Yuni dengan
langkah tegas.
"Bu, saya mau bicara."
"Silakan, Pak Edi."
Pak Edi duduk di kursi depan meja Bu Yuni. Ia menatap Bu
Yuni dengan mata jujur. "Bu, saya dengar ada isu tidak baik tentang
Ibu."
Bu Yuni tersenyum tipis. "Saya sudah dengar,
Pak."
"Ibu tahu dari siapa?"
"Dari Bu Endang."
"Pak Eko juga dengar. Katanya isu itu sudah menyebar
ke warga."
"Iya, Pak. Saya juga merasakan suasana yang berbeda
pagi ini."
Pak Edi menghela napas. "Bu, saya percaya Ibu. Saya
tahu Ibu orang baik."
"Terima kasih, Pak Edi."
"Tapi Pak Eko masih ragu. Saya sudah coba
yakinkan."
"Tidak apa-apa, Pak. Setiap orang berhak ragu. Yang
penting, kita buktikan dengan kerja."
Pak Edi mengangguk. "Saya akan bantu Ibu membuktikan
bahwa isu itu tidak benar."
"Terima kasih, Pak Edi. Ibu baik."
Pak Edi berdiri, pamit, lalu kembali ke mejanya. Namun
sebelum pergi, ia berkata, "Bu, hati-hati. Isu ini bisa
menghancurkan."
Bu Yuni mengangguk. "Saya tahu, Pak. Saya tahu."
Si Amat yang sejak tadi diam, akhirnya mendekati Bu Yuni.
Wajahnya pucat, matanya sayu, tangannya gemetar memegang buku catatan.
"Bu... saya mau bicara."
"Silakan, Mas Amat."
Si Amat duduk di kursi. Ia menunduk, tidak berani menatap
Bu Yuni. "Bu, saya dengar isu tentang Ibu."
"Iya, Mas. Saya sudah dengar."
"Bu... saya... saya sempat percaya."
Bu Yuni terkejut. Matanya membulat. "Bapak
percaya?"
Si Amat mengangguk pelan. "Maaf, Bu. Saya bodoh. Saya
terlalu gampang percaya omongan orang."
"Kenapa Bapak percaya, Mas?"
Si Amat mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca.
"Karena yang menyebarkan adalah orang yang saya hormati, Bu. Pak Didit.
Beliau tokoh masyarakat. Saya pikir, masak tokoh masyarakat berbohong?"
Bu Yuni menghela napas. "Mas Amat, tokoh masyarakat
juga manusia. Bisa salah."
"Saya tahu, Bu. Sekarang saya sadar. Maafkan
saya."
Bu Yuni tersenyum. "Mas Amat, Bapak tidak perlu minta
maaf. Bapak jujur. Itu yang penting."
Si Amat menangis. Air matanya jatuh ke meja. "Bu, saya
malu. Saya sudah dibantu Ibu, tapi saya malah memfitnah Ibu di dalam
hati."
"Mas Amat, fitnah itu ketika Bapak menyebarkan isu.
Bapak hanya percaya, tidak menyebarkan. Itu belum fitnah. Itu hanya... kurang
teliti."
Si Amat mengusap air matanya dengan lengan baju. "Saya
janji, Bu. Saya tidak akan percaya isu lagi sebelum saya cek kebenarannya."
"Bagus, Mas Amat. Itu yang namanya dewasa."
Si Amat berdiri, membungkuk hormat, lalu kembali ke
mejanya. Namun kali ini, semangatnya kembali. Ia membuka buku catatan,
mengambil pulpen, dan mulai bekerja.
Pak Santoso, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
Ia berjalan ke tengah ruangan, berdiri di samping papan prosedur yang dulu ia
buat bersama Bu Yuni.
"Teman-teman, saya mau bicara."
Semua menoleh. Pak Santoso jarang memulai pembicaraan.
Biasanya ia hanya mengikuti.
"Saya dengar isu tentang Bu Yuni. Saya juga dengar
bahwa isu itu berasal dari Pak Didit."
Suasana hening. Semua mendengarkan.
"Saya sudah bekerja di kantor ini selama 20 tahun.
Saya sudah melihat banyak sekdes. Ada yang baik, ada yang biasa, ada yang
buruk. Tapi saya belum pernah melihat sekdes sebaik Bu Yuni."
Pak Eko mengangkat alis. "Buktinya, Pak?"
"Buktinya? Lihat sendiri. Dalam satu bulan, pelayanan
berubah drastis. Arsip mulai rapi. Warga mulai puas. Itu bukti nyata. Bukan
isu."
Pak Eko terdiam.
"Jadi, saya minta kepada teman-teman, jangan mudah
terpengaruh isu. Cari tahu dulu kebenarannya. Dan jika tidak ada bukti, jangan
percaya."
Pak Edi bertepuk tangan pelan. "Setuju, Pak
Santoso."
Si Amat ikut bertepuk tangan. "Setuju."
Bu Lulu mengangguk. "Setuju."
Pak Eko hanya diam. Ia belum bisa berkata setuju, tapi juga
tidak bisa menolak.
Bu Yuni berdiri. Ia berjalan ke tengah ruangan, berdiri di
samping Pak Santoso.
"Teman-teman, terima kasih. Terima kasih untuk
dukungannya. Tapi saya tidak ingin ada perpecahan. Saya tidak ingin ada yang
merasa terpaksa mendukung saya. Jika ada yang masih ragu, silakan. Itu hak
Bapak dan Ibu."
Ia menatap satu per satu. "Yang saya minta, jangan
menyebarkan isu yang belum terbukti kebenarannya. Karena isu bisa menghancurkan
seseorang, meskipun orang itu tidak bersalah."
Pak Eko menunduk. Ia merasa terkena.
"Baiklah, kita kembali bekerja. Masih banyak yang
harus kita kerjakan."
Sementara itu, di luar kantor, isu tentang Bu Yuni sudah
menyebar luas. Dari warung ke warung, dari rumah ke rumah, dari mulut ke mulut.
Di Pasar Awan Biru, pasar kecil yang hanya buka setiap hari
legi, para ibu-ibu sedang berbelanja sambil bergosip.
"Bu, dengar isu tentang Sekdes kita?" kata Bu
Sri, ketua PKK, kepada Bu Tini.
"Iya, saya dengar. Katanya dia cari nama."
"Bukan hanya itu. Katanya dia korupsi anggaran
desa."
"Wah, parah. Padahal saya kira dia orang baik."
"Ya, itu namanya topeng, Bu. Pura-pura baik di depan,
tapi di belakang lain."
Bu Parmi, istri Pak Darmo, yang kebetulan sedang berbelanja
sayur di kios sebelah, mendengar percakapan itu. Ia mendekat.
"Bu, maaf, saya dengar Ibu bicara tentang Bu
Yuni."
Bu Sri dan Bu Tini saling pandang. "Eh, iya, Bu. Kami
hanya ngobrol."
"Apakah Ibu punya bukti bahwa Bu Yuni korupsi?"
tanya Bu Parmi dengan nada tegas.
Bu Sri dan Bu Tini terdiam. "Ya... kata orang..."
"Kata orang? Itu bukan bukti, Bu. Itu gosip."
"Tapi kalau sudah banyak yang bilang, pasti ada
benarnya," kata Bu Tini.
Bu Parmi menggeleng. "Tidak, Bu. Banyak yang bilang
belum tentu benar. Dulu, banyak yang bilang suami saya jual tanah warisan.
Padahal tidak. Itu hanya fitnah."
Bu Sri dan Bu Tini diam.
"Saya kenal Bu Yuni. Suami saya pernah dibantunya. Bu
Yuni tidak minta imbalan apa pun. Dia bahkan menolak ketika suami saya mau
memberikan uang terima kasih."
"Jadi, Ibu percaya Bu Yuni?" tanya Bu Sri.
"Saya percaya pada bukti. Dan bukti menunjukkan bahwa
Bu Yuni orang baik."
Bu Sri mengangguk. "Baik, Bu. Saya tidak akan
ikut-ikutan menyebarkan isu lagi."
"Terima kasih, Bu."
Pak Darmo mendengar isu itu dari istrinya. Wajahnya
langsung merah padam.
"Apa? Fitnah! Itu fitnah!" bentaknya di dalam
rumah.
"Iya, Pak. Saya sudah bilang sama Bu Sri dan Bu
Tini," kata Bu Parmi.
"Besok saya akan ke kantor desa. Saya akan membela Bu
Yuni."
"Jangan marah-marah dulu, Pak. Nanti malah jadi
masalah."
"Saya tidak marah. Saya hanya... kesal. Orang baik
difitnah."
Pak Darmo duduk di kursi ruang tamunya. Ia memegang
kepalanya yang terasa pusing. "Mi, kamu tahu, Bu Yuni itu menyelamatkan
tanah kita. Kalau bukan karena dia, mungkin tanah kita sudah diambil
orang."
"Saya tahu, Pak."
"Sekarang dia difitnah. Kita harus membantunya."
"Tapi bagaimana, Pak?"
"Besok saya akan ke kantor desa. Saya akan bicara
dengan Pak Kades. Saya akan minta agar isu ini diselidiki."
"Baik, Pak. Saya dukung."
Anto, yang penasaran dengan asal-usul isu itu, melakukan
penyelidikan kecil-kecilan. Ia mengunjungi warung-warung, mendengarkan
percakapan, lalu melacak dari siapa isu itu berasal.
Dari warung Pak Karyo, ia mendapat petunjuk: isu itu
berasal dari Pak RT 02. Dari Pak RT 02, ia mendapat petunjuk: isu itu berasal
dari Pak Didit. Dari Pak Didit, ia mendapat petunjuk: isu itu berasal dari...
seseorang yang tidak mau disebutkan namanya.
Anto tidak puas. Ia mendatangi Pak Didit langsung di
rumahnya.
"Selamat sore, Pak Didit," sapa Anto sambil
berdiri di pintu.
Pak Didit terkejut. Ia tidak menyangka Anto datang.
"Eh, Anto. Ada apa?"
"Ada yang ingin saya tanyakan, Pak."
"Silakan masuk."
Anto masuk ke ruang tamu rumah Pak Didit. Rumahnya cukup
besar, berdinding bata putih, berlantai keramik, dengan sofa kulit di ruang
tamu. Sebagai Ketua BPD, Pak Didit memang lebih sejahtera dari kebanyakan
warga.
"Pak, saya dengar Bapak menyebarkan isu tentang Bu
Yuni."
Pak Didit terkejut. Wajahnya berubah. "Siapa
bilang?"
"Banyak yang bilang, Pak. Dan mereka bilang sumbernya
dari Bapak."
Pak Didit terdiam. Ia memandang Anto dengan mata tajam.
"Anto, kamu ini sopir truk. Urusanmu bawa barang, bukan urus politik
desa."
"Saya warga desa ini, Pak. Saya punya hak untuk tahu
kebenaran."
Pak Didit menghela napas. "Baik, saya akui. Saya yang
menyebarkan isu itu."
"Kenapa, Pak? Apa buktinya?"
Pak Didit diam. Ia tidak menjawab.
"Pak, saya tahu Bapak punya kepentingan. Bapak ingin
mencalonkan diri sebagai kepala desa pada pilkades berikutnya. Bu Yuni dianggap
sebagai saingan, padahal dia hanya sekdes."
Pak Didit terkejut. "Kamu tahu?"
"Sopir truk juga bisa mendengar, Pak. Kami keluar
masuk desa, dengar ini dengar itu."
Pak Didit menghela napas. "Anto, kamu jangan ikut
campur. Ini urusan politik."
"Pak, fitnah itu dosa besar. Apalagi fitnah terhadap
orang yang tidak bersalah."
"Kamu yakin dia tidak bersalah?"
"Saya yakin, Pak. Saya lihat sendiri dia bekerja.
Tidak ada indikasi korupsi."
Pak Didit terdiam. Ia memandang lantai keramik yang
mengkilap. "Anto, saya... saya minta maaf."
"Bukan saya yang Bapak sakiti, Pak. Tapi Bu
Yuni."
"Saya akan minta maaf padanya."
"Kapan, Pak?"
"Besok."
Anto berdiri. "Baik, Pak. Saya tunggu."
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, yang pagi tadi tidak ada, kini sudah kembali. Ia tidur di
pangkuan Bu Yuni, mendengkur pelan.
"Kuning, hari ini berat," katanya sambil mengelus
kepala kucing itu.
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku difitnah, Kuning. Ada yang bilang aku korupsi,
aku cari nama, aku ini, aku itu."
Kucing itu diam.
"Aku sedih, Kuning. Bukan karena fitnahnya. Tapi
karena orang-orang yang percaya. Padahal aku sudah bekerja keras untuk
mereka."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan
sabit tipis menggantung di ufuk barat.
"Ya Allah, kenapa ya? Kenapa orang baik selalu diuji?
Kenapa niat baik selalu disalahartikan? Kenapa kerja keras selalu
dicurigai?"
Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak menyekanya.
"Tapi aku tidak akan menyerah, Ya Allah. Aku akan
tetap bekerja. Aku akan tetap melayani. Karena Engkau tahu niatku. Hanya Engkau
yang tahu."
Ia memejamkan mata. Berdoa untuk waktu yang lama.
"Ya Allah, lindungi aku dari fitnah. Lindungi namaku
dari kebohongan. Dan tunjukkan kebenaran kepada mereka yang tertipu."
Ia membuka mata. Bintang-bintang terlihat lebih terang dari
sebelumnya.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok aku akan tetap tersenyum. Aku tidak akan membiarkan fitnah
mengalahkanku."
Keesokan paginya, Bu Yuni datang ke kantor dengan senyum di
wajahnya. Ia sengaja memaksakan diri untuk tersenyum, meskipun hatinya luka. Ia
ingin menunjukkan bahwa fitnah tidak akan mengalahkannya.
"Selamat pagi, teman-teman," sapanya ceria.
"Pagi, Bu," jawab mereka. Kali ini lebih serempak
dari kemarin. Mungkin karena mereka malu telah terpengaruh isu.
Pak Eko, yang kemarin paling terlihat terpengaruh, hari ini
tersenyum pada Bu Yuni. "Bu, saya minta maaf."
"Maaf untuk apa, Pak Eko?"
"Saya... saya sempat ragu. Saya sempat percaya
isu."
"Tidak apa-apa, Pak. Ragu itu wajar. Yang penting,
Bapak tidak menyebarkan isu."
"Saya tidak menyebarkan, Bu. Saya hanya... diam."
"Itu sudah baik, Pak."
Pak Eko menghela napas lega. "Terima kasih, Bu."
Pukul 09.00, Pak Didit datang ke kantor desa. Wajahnya
tegang, langkahnya ragu-ragu. Ia tidak datang sendirian. Anto ikut di
belakangnya, seperti pengawal pribadi.
"Bu Yuni, saya mau bicara," kata Pak Didit.
"Silakan, Pak Didit."
Pak Didit duduk di kursi depan meja Bu Yuni. Ia menunduk,
tidak berani menatap mata Bu Yuni.
"Bu, saya mau minta maaf."
Bu Yuni terkejut. "Minta maaf untuk apa, Pak?"
"Saya yang menyebarkan isu tentang Ibu."
Suasana kantor langsung hening. Semua mata tertuju pada Pak
Didit.
"Saya bilang Ibu korupsi, Ibu cari nama, Ibu ini, Ibu
itu. Padahal saya tidak punya bukti."
Bu Yuni terdiam. Wajahnya tenang, namun hatinya bergetar.
"Saya minta maaf, Bu. Saya bersalah. Saya telah
memfitnah Ibu."
"Kenapa, Pak?" tanya Bu Yuni dengan suara lembut.
Pak Didit menghela napas. "Karena saya iri, Bu."
"Iri?"
"Iya, iri. Ibu datang, lalu dalam sebulan bisa
mengubah desa ini. Saya yang sudah puluhan tahun di sini, tidak bisa berbuat
apa-apa. Saya merasa... terancam."
Pak Eko yang mendengar itu terkejut. "Pak Didit, Bapak
Ketua BPD. Seharusnya Bapak mendukung, bukan memfitnah."
"Saya tahu. Saya salah. Saya minta maaf."
Pak Kades Iwan yang mendengar keributan dari ruangannya
keluar. "Ada apa ini?"
"Pak Didit mengaku menyebarkan fitnah tentang Bu Yuni,
Pak," kata Pak Edi.
Pak Kades Iwan menatap Pak Didit dengan tajam. "Pak
Didit, saya kecewa."
"Saya tahu, Pak. Saya minta maaf."
"Maaf saja tidak cukup. Bapak harus bertanggung
jawab."
"Bagaimana tanggung jawabnya, Pak?"
"Bapak harus mengakui di depan umum bahwa Bapak
memfitnah Bu Yuni. Bapak harus minta maaf di depan warga."
Pak Didit mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan
lakukan."
Sore itu, Pak Kades Iwan mengumpulkan warga di balai desa.
Tidak semua warga hadir, hanya sekitar 50 orang, termasuk para tokoh
masyarakat, perangkat desa, dan beberapa warga yang kebetulan ada di sekitar
kantor.
Pak Didit berdiri di depan. Wajahnya pucat, tangannya
gemetar memegang mikrofon.
"Bapak, Ibu, warga sekalian, saya berkumpul di sini
untuk mengakui kesalahan saya."
Suasana hening. Semua mendengarkan.
"Beberapa hari terakhir, ada isu tentang Bu Yuni. Isu
bahwa beliau korupsi, cari nama, dan sebagainya. Saya yang menyebarkan isu
itu."
Warga mulai berbisik-bisik.
"Saya tidak punya bukti. Saya hanya... iri. Saya iri
karena Bu Yuni bisa mengubah desa ini dalam waktu singkat, sementara saya yang
sudah puluhan tahun di sini tidak bisa berbuat apa-apa."
Pak Didit menunduk. "Saya minta maaf kepada Bu Yuni.
Dan saya minta maaf kepada warga karena telah memfitnah."
Bu Yuni berdiri. Ia berjalan ke depan, berdiri di samping
Pak Didit.
"Pak Didit, saya maafkan Bapak."
Pak Didit terkejut. Matanya berkaca-kaca. "Bu, Ibu
memaafkan saya?"
"Iya, Pak. Saya maafkan. Manusia tempatnya salah. Yang
penting Bapak mengakui dan minta maaf."
Pak Didit menangis. Air matanya jatuh ke lantai.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih."
Warga bertepuk tangan. Ada yang menangis haru, ada yang
tersenyum lega.
Pak Kades Iwan mengambil mikrofon. "Warga sekalian,
kita harus belajar dari kejadian ini. Jangan mudah percaya isu. Cari tahu
kebenarannya. Dan jika tidak ada bukti, jangan disebarkan."
Warga mengangguk.
"Dan saya berharap, kejadian ini tidak mengganggu
kerja kita semua. Bu Yuni tetap menjalankan tugasnya. Dan kita semua
mendukungnya."
Setelah pertemuan selesai, Pak Eko mendekati Bu Yuni.
Matanya merah, pipinya basah.
"Bu, saya minta maaf."
"Pak Eko, Bapak sudah minta maaf tadi pagi."
"Tapi saya merasa bersalah, Bu. Saya sempat percaya
isu itu. Saya sempat ragu pada Ibu."
Bu Yuni tersenyum. "Pak Eko, ragu itu wajar. Yang
tidak wajar adalah jika kita menyebarkan isu tanpa bukti."
"Iya, Bu. Saya janji, mulai sekarang saya akan lebih
kritis."
"Bagus, Pak Eko. Itu yang saya harapkan."
Pak Eko mengusap air matanya. "Bu, saya boleh peluk
Ibu?"
Bu Yuni terkejut, lalu tersenyum. "Silakan, Pak."
Pak Eko memeluk Bu Yuni. Tangisnya pecah. "Maaf, Bu.
Maaf."
Bu Yuni menepuk punggung Pak Eko. "Sudah, Pak. Sudah.
Saya maafkan."
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, yang setia, tidur di pangkuannya.
"Kuning, hari ini aku belajar sesuatu."
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku belajar bahwa fitnah bisa datang dari orang yang
kita dukung. Pak Didit adalah Ketua BPD, seharusnya dia mendukung pembenahan
desa. Tapi karena iri, dia malah memfitnah."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku juga belajar bahwa tidak semua orang yang ragu
itu jahat. Pak Eko ragu, tapi dia jujur. Dia mengakuinya. Itu lebih baik
daripada orang yang pura-pura mendukung tapi di belakang memfitnah."
Kucing itu bergerak sedikit, menyesuaikan posisi.
"Dan aku belajar bahwa memaafkan itu berat, tapi
melegakan. Tadinya aku marah pada Pak Didit. Tapi setelah memaafkan, hatiku
terasa ringan."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk pelajaran hari ini.
Terima kasih karena Engkau berikan aku kekuatan untuk memaafkan. Terima kasih
karena Engkau tunjukkan bahwa kebenaran selalu menang."
Ia memejamkan mata.
"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita mulai lagi."
Pagi itu, Desa Awan Biru kembali seperti sediakala. Kabut
masih turun, burung masih berkicau, dan warung Pak Karyo kembali ramai dengan
tawa dan obrolan.
Namun ada yang berbeda. Warga yang tadinya menghindari Bu
Yuni, kini kembali menyapanya dengan hangat.
"Pagi, Bu Yuni!" sapa Pak Karyo dari warungnya.
"Pagi, Pak Karyo!"
"Ibu sudah sarapan? Mampir dulu!"
"Terima kasih, Pak. Nanti saja. Saya ke kantor
dulu."
Bu Yuni melanjutkan perjalanan dengan langkah ringan.
Hatinya lega. Fitnah sudah berlalu. Kini ia bisa kembali fokus bekerja.
Di kantor, semua perangkat desa sudah datang. Mereka
tersenyum, menyapa, dan bekerja dengan semangat.
"Bu, ini laporan mingguan," kata Si Amat sambil
menyerahkan setumpuk kertas.
"Terima kasih, Mas Amat."
"Bu, saya sudah rapikan arsip pertanahan," kata
Pak Santoso.
"Bagus, Pak Santoso."
"Bu, laporan keuangan sudah saya perbaiki," kata
Bu Lulu.
"Terima kasih, Bu Lulu."
Suasana kantor pagi itu hangat dan penuh kebersamaan.
Fitnah yang sempat memecah mereka, kini menjadi pelajaran yang mengikat mereka
lebih erat.
Pak Didit, yang tadinya menjadi sumber fitnah, kini
berubah. Ia datang ke kantor desa dan menawarkan bantuan.
"Bu Yuni, saya mau bantu."
"Bantu apa, Pak?"
"Apa saja. Saya merasa bersalah. Saya ingin menebus
kesalahan."
Bu Yuni tersenyum. "Pak Didit, Bapak tidak perlu
menebus. Cukup Bapak tidak mengulangi kesalahan."
"Tidak, Bu. Saya ingin bantu aktif. Saya bisa bantu
mengawasi pelayanan, atau bantu sosialisasi ke warga."
"Baik, Pak. Bapak bisa bantu sosialisasi persyaratan
surat-menyurat ke warga. Agar mereka tidak bolak-balik."
"Siap, Bu!"
Pak Didit pun berkeliling desa, dari rumah ke rumah, dari
dusun ke dusun, memberitahu warga tentang persyaratan surat-menyurat yang baru.
Ia melakukannya dengan sungguh-sungguh, seolah ingin menebus dosanya.
Warga yang melihat perubahan Pak Didit ikut terkesan.
"Pak Didit sekarang baik ya," kata mereka.
"Ya, dia sadar sudah salah."
"Semoga istiqomah."
Anto, yang berperan besar dalam mengungkap sumber fitnah,
mendapat pujian dari warga.
"To, kamu hebat," kata Pak Edi suatu sore di
warung Pak Karyo.
"Hebat kenapa, Pak?"
"Kamu bisa bongkar sumber fitnah. Tanpa kamu, mungkin
isu itu masih menyebar."
Anto tersenyum misterius. "Saya hanya peka, Pak. Dan
saya tidak suka ketidakadilan."
"Lo mau jadi detektif, To?" ledek Pak Sugeng.
"Detektif kampung, Pak. Kenapa tidak?"
Mereka tertawa bersama. Anto menyeruput kopinya dengan
tenang.
"Tapi serius, To. Kami berterima kasih padamu,"
kata Pak Karyo.
"Tidak usah berterima kasih, Pak. Lakukan hal yang sama
jika ada ketidakadilan di sekitar Bapak."
"Setuju, To. Setuju."
Sabtu sore, Bu Yuni mengadakan evaluasi mingguan seperti
biasa. Kali ini, semua perangkat desa hadir dengan wajah yang lebih tenang.
"Teman-teman, minggu ini berat. Tapi kita
melewatinya."
Mereka mengangguk.
"Kita belajar bahwa fitnah bisa datang kapan saja.
Kita juga belajar bahwa persatuan adalah kunci menghadapi fitnah."
Pak Eko angkat bicara. "Bu, saya malu. Saya sempat
terpecah."
"Tidak apa-apa, Pak Eko. Yang penting kita kembali
bersatu."
Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, Ibu luar biasa. Ibu
memaafkan Pak Didit. Saya tidak tahu apakah saya bisa sebesar itu."
Bu Yuni tersenyum. "Pak Santoso, memaafkan itu berat.
Tapi jika kita tidak memaafkan, kebencian akan terus tumbuh. Dan kebencian
hanya akan merusak kita."
Pak Edi mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus belajar
memaafkan."
"Mulai minggu depan," lanjut Bu Yuni, "kita
akan fokus pada arsip lama. Target kita, dalam tiga bulan, semua arsip
tertata."
"Setuju, Bu!" seru mereka.
"Dan saya minta, jika ada isu lagi, jangan mudah
percaya. Cek dulu kebenarannya. Diskusikan di sini. Jangan disebarkan ke
luar."
"Setuju, Bu!"
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur pelan.
"Kuning, minggu ini berat. Tapi aku bersyukur."
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku bersyukur karena fitnah itu membuka mataku. Aku
tahu siapa yang benar-benar mendukungku, dan siapa yang hanya pura-pura."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku juga bersyukur karena fitnah itu membuat kami
lebih bersatu. Dulu, Pak Eko agak jauh. Sekarang dia lebih dekat."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih
karena Engkau lindungi aku dari fitnah. Terima kasih karena Engkau tunjukkan
kebenaran."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Minggu pagi, Bu Yuni mampir ke rumah Pak Jayeng. Ia ingin
meminta nasihat tentang fitnah yang baru saja ia alami.
Pak Jayeng menerimanya dengan hangat. Rumahnya sederhana,
dinding kayu, lantai papan, beranda yang teduh dengan kursi-kursi bambu. Di
halaman, bunga-bunga mawar dan melati tumbuh subur.
"Selamat pagi, Bu Yuni," sapa Pak Jayeng sambil
duduk di kursi bambu.
"Selamat pagi, Pak Jayeng. Maaf mengganggu."
"Tidak mengganggu. Saya senang ada tamu."
Bu Yuni duduk di kursi di depan Pak Jayeng. "Pak, saya
ingin minta nasihat."
"Tentang apa, Nak?"
"Tentang fitnah. Saya baru saja difitnah. Saya sudah
memaafkan, tapi rasanya... masih ada luka."
Pak Jayeng menghela napas. "Nak, fitnah itu luka. Luka
butuh waktu untuk sembuh. Jangan dipaksakan."
"Tapi saya sudah memaafkan."
"Memaafkan itu keputusan. Menyembuhkan luka itu
proses. Dua hal yang berbeda. Ibu bisa memutuskan untuk memaafkan hari ini,
tapi luka mungkin masih terasa berbulan-bulan."
Bu Yuni mengangguk. "Saya mengerti."
"Yang penting, Ibu tidak membiarkan luka itu mengubah
Ibu menjadi pahit. Ibu tetap baik. Ibu tetap melayani. Ibu tetap
tersenyum."
"Tapi kadang berat, Pak."
"Iya, berat. Tapi Ibu tidak sendirian. Allah selalu
bersama Ibu. Dan Ibu punya kami, warga yang mendukung Ibu."
Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Pak Jayeng."
"Sama-sama, Nak. Ibu hebat. Ibu sudah melewati ujian
berat. Dan Ibu lulus."
"Lulus, Pak?"
"Iya, lulus. Ibu tidak membalas fitnah dengan fitnah.
Ibu membalas dengan kebaikan. Itu tanda kelulusan."
Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih,
Pak. Nasihat Bapak sangat berarti."
Senin pagi, Bu Yuni datang ke kantor dengan semangat baru.
Fitnah sudah berlalu. Kini ia bisa fokus pada pekerjaan.
"Teman-teman, minggu ini kita akan fokus pada arsip
lama. Target kita, dalam tiga bulan, semua arsip harus tertata."
"Setuju, Bu!" seru mereka.
"Pembagian tugas: Pak Eko, Bapak fokus pada arsip
perencanaan. Pak Santoso, Bapak fokus pada arsip pemerintahan. Pak Edi, Bapak
fokus pada arsip sosial. Bu Lulu, Bapak fokus pada arsip keuangan. Mas Amat,
Bapak bantu saya di arsip umum."
"Siap, Bu!"
Mereka mulai bekerja dengan semangat. Arsip-arsip lama
dikeluarkan dari lemari, dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.
"Bu, ini arsip tahun 1990. Isinya sudah rapuh,"
kata Si Amat sambil menunjukkan map yang kertasnya menguning.
"Hati-hati, Mas. Pindahkan ke map baru, lalu lapisi
dengan plastik."
"Siap, Bu."
Pak Eko yang kini sudah berubah total bekerja dengan tekun.
Ia tidak lagi sering membuka ponsel. Ia fokus pada tumpukan arsip di depannya.
"Bu, ini arsip program desa tahun 1998. Isinya
lengkap," katanya.
"Bagus, Pak Eko. Simpan di map baru, beri label yang
jelas."
"Baik, Bu."
Anto datang sore itu dengan membawa gorengan. Jaket
kulitnya yang lusuh masih setia.
"Bu Yuni, saya bawain gorengan."
"Terima kasih, To. Bapak baik sekali."
"Saya hanya ingin membantu."
"Bapak sudah banyak membantu. Kemarin Bapak yang
mengungkap sumber fitnah."
"Itu kecil, Bu. Saya hanya melakukan yang benar."
Bu Yuni tersenyum. "To, Bapak itu pahlawan tanpa tanda
jasa."
Anto tertawa. "Pahlawan kampung, Bu. Itu sudah
cukup."
Mereka makan gorengan bersama. Suasana sore itu hangat.
"To, Bapak punya cita-cita?" tanya Bu Yuni
tiba-tiba.
Anto berpikir sejenak. "Saya hanya ingin desa ini maju,
Bu. Agar anak-anak tidak perlu merantau jauh."
"Itu cita-cita mulia, To."
"Ya, Bu. Itu sudah cukup bagi saya."
Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif.
Arsip-arsip lama yang tadinya berserakan, kini mulai tertata. Map-map baru
berjejer rapi di lemari. Buku register terisi dengan lengkap.
"Bu, arsip tahun 1990-1995 sudah selesai," lapor
Si Amat pada hari Jumat.
"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1996-2000."
"Siap, Bu."
Pak Edi yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius.
"Bu, arsip sosial tahun 1998-2000 sudah saya rapikan."
"Terima kasih, Pak Edi. Bapak hebat."
Pak Edi tersenyum bangga. "Ini berkat Ibu, Bu. Ibu
yang mengubah saya."
"Bukan, Pak. Bapak yang mengubah diri Bapak
sendiri."
Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan.
Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip dari tahun 1990 hingga 1995.
Target tiga bulan, kini hanya butuh dua bulan lagi.
"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu
Yuni.
"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.
"Kita sama-sama belajar."
Bu Lulu angkat bicara. "Bu, dulu saya hampir menyerah.
Tapi sekarang saya semangat lagi."
"Bagus, Bu Lulu. Jangan pernah menyerah."
Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya sudah 20 tahun
di sini. Ini pertama kalinya saya melihat semangat seperti ini."
"Semoga berkelanjutan, Pak."
"Aamiin," jawab mereka serempak.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.
"Kuning, minggu ini produktif."
Kucing itu mengeong pelan.
"Kita berhasil merapikan banyak arsip. Target tiga
bulan, mungkin bisa lebih cepat."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Fitnah sudah berlalu. Kini aku bisa
fokus bekerja."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih
untuk semangat yang Engkau berikan. Terima kasih untuk tim yang solid."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Sejak mengakui kesalahannya, Pak Didit berubah total. Ia
tidak hanya berhenti menyebarkan fitnah, tetapi juga menjadi pembela Bu Yuni di
mana pun ia berada.
Di setiap pertemuan, di setiap kesempatan, ia selalu
mengatakan, "Bu Yuni itu orang baik. Saya dulu salah. Jangan percaya
isu."
Warga mulai menghormatinya kembali. "Pak Didit
sekarang baik," kata mereka.
"Ya, dia belajar dari kesalahan."
"Semoga istiqomah."
Pak Didit juga aktif membantu sosialisasi program-program
desa. Ia keliling dari rumah ke rumah, memberitahu warga tentang persyaratan
surat-menyurat, tentang jadwal pelayanan, tentang hak-hak warga.
"Pak Didit, Bapak repot amat," kata Bu Tini suatu
hari.
"Tidak repot, Bu. Ini tanggung jawab saya."
"Bapak baik."
"Saya hanya menebus kesalahan, Bu."
Bu Parmi, istri Pak Darmo, dan Bu Sri, ketua PKK, juga
aktif mendukung Bu Yuni. Mereka membentuk grup ibu-ibu yang bertugas
menyebarkan informasi positif tentang kantor desa.
"Bu, kami akan bantu sosialisasi," kata Bu Sri.
"Terima kasih, Bu Sri."
"Kami juga akan bantu mengingatkan warga agar tidak
mudah percaya isu."
"Bagus, Bu. Saya sangat terbantu."
Bu Parmi menambahkan, "Bu Yuni, suami saya selalu
bilang, Ibu itu malaikat desa."
Bu Yuni tersenyum malu. "Bukan malaikat, Bu. Saya
hanya manusia biasa."
"Tapi Ibu melakukan hal yang luar biasa."
"Terima kasih, Bu. Dukungan Ibu sangat berarti."
Hari terakhir bulan Maret 2001. Bu Yuni duduk di mejanya,
memandang lemari-lemari arsip yang mulai rapi. Map-map berwarna berjejer dengan
label yang jelas. Buku register terisi lengkap. Pelayanan berjalan lancar.
"Bu, laporan bulanan sudah selesai," kata Si Amat
sambil menyerahkan setumpuk kertas.
Bu Yuni memeriksa laporan itu. Matanya bergerak cepat dari
baris ke baris. "Bagus, Mas Amat. Lengkap."
"Terima kasih, Bu."
Pak Kades Iwan keluar dari ruangannya. "Bu Yuni, saya
dapat kabar baik."
"Apa itu, Pak?"
"Desa kita mendapat penghargaan dari kecamatan sebagai
desa dengan peningkatan administrasi terbaik."
Bu Yuni terkejut. "Serius, Pak?"
"Serius. Camat akan datang minggu depan untuk
menyerahkan piagam penghargaan."
Semua perangkat desa bersorak. "Hore!"
"Ini berkat Ibu, Bu Yuni," kata Pak Kades.
"Bukan, Pak. Ini berkat kita semua."
Mereka berpelukan. Suasana haru dan bahagia bercampur
menjadi satu.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning tidur di pangkuannya.
"Kuning, kita dapat penghargaan."
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku tidak menyangka. Aku hanya ingin bekerja dengan
baik. Ternyata Allah memberi lebih."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Fitnah yang dulu kini menjadi batu
loncatan. Desa ini semakin maju."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk bulan ini. Terima kasih
untuk semua pelajaran. Terima kasih untuk penghargaan ini."
Ia memejamkan mata.
"Bulan depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita mulai lagi."
BAB
7
AIR MATA DI BALIK SENYUM
Pagi itu, Desa Awan Biru tampak lebih sunyi dari biasanya.
Kabut turun lebih tebal dari hari-hari sebelumnya, seolah-olah alam ikut
menyembunyikan sesuatu atau mungkin ikut merasakan. Suara ayam berkokok
terdengar sayup, seperti dari kejauhan yang sangat jauh. Burung-burung yang
biasanya riuh berkicau, pagi itu hanya sesekali bersuara, itupun pelan.
Bu Yuni terbangun pukul 03.00. Bukan karena suara azan—azan
subuh masih dua jam lagi. Bukan karena mimpi buruk—ia tidak ingat bermimpi apa
pun. Ia terbangun begitu saja, dengan perasaan kosong yang tidak bisa ia
jelaskan.
Ia duduk di tempat tidurnya, memandangi gelapnya kamar
kontrakan yang hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah
dinding kayu. Kucing Kuning tidak ada di sampingnya. Mungkin sedang berburu
tikus, pikirnya. Tapi hatinya tidak tenang.
"Ya Allah, ada apa ini?" bisiknya.
Ia mencoba tidur lagi. Memejamkan mata, mengatur napas,
membayangkan pemandangan yang menenangkan. Tapi matanya tetap terbuka.
Pikirannya melayang ke mana-mana, tanpa arah.
Akhirnya, pukul 04.00, ia bangun. Mengambil air wudhu,
meskipun udara dingin menusuk tulang. Ia shalat tahajud, berdoa dengan khusyuk,
memohon petunjuk dan ketenangan.
"Ya Allah, jika ini ujian, beri aku kekuatan. Jika ini
teguran, beri aku kesadaran. Jika ini pertanda, beri aku pengertian."
Setelah shalat, ia duduk di beranda. Udara dingin menusuk
pipinya. Kabut masih tebal, jarak pandang hanya sekitar 10 meter. Dari
kejauhan, terdengar suara adzan subuh dari masjid desa. Suaranya menggema di
antara bukit-bukit, memecah kesunyian malam yang mulai berganti dengan fajar.
Bu Yuni bergegas ke masjid. Di perjalanan, ia berpapasan
dengan Pak Karyo yang sedang membuka warungnya lebih awal.
"Pagi, Bu Yuni. Kok pagi sekali?" sapa Pak Karyo
sambil menguap.
"Pagi, Pak Karyo. Tidak bisa tidur."
"Kenapa, Bu?"
"Entahlah, Pak. Mungkin terlalu banyak pikiran."
Pak Karyo mengangguk-angguk. "Istirahat yang cukup,
Bu. Jangan sampai sakit."
"Terima kasih, Pak."
Di masjid, jamaah masih sedikit. Pak Darmo sudah ada di
baris depan, khusyuk berdoa. Pak Jayeng di sampingnya, dengan tasbih di
tangannya. Anto, seperti biasa, di baris belakang, jaket kulitnya masih setia.
Setelah shalat, Bu Yuni berbincang sebentar dengan Pak
Jayeng.
"Pak Jayeng, saya tidak bisa tidur semalaman."
"Ada apa, Nak?"
"Saya tidak tahu, Pak. Perasaan saya tidak enak."
Pak Jayeng menatap Bu Yuni dengan mata bijaksana.
"Mungkin Ibu terlalu lelah. Istirahatlah hari ini."
"Tapi saya harus bekerja, Pak. Banyak yang harus
dikerjakan."
"Kesehatan lebih penting, Nak. Percayalah, pekerjaan
tidak akan lari."
Bu Yuni menghela napas. "Baik, Pak. Saya coba
istirahat."
Pukul 07.00, Bu Yuni tetap pergi ke kantor. Ia tidak bisa
istirahat. Pikirannya terlalu sibuk.
Sesampainya di kantor, ia terkejut. Mejanya kosong. Tidak
ada tumpukan berkas seperti biasanya. Tidak ada map, tidak ada buku register,
tidak ada pulpen.
"Mas Amat, mana berkas-berkas saya?" tanyanya
pada Si Amat yang sudah datang lebih awal.
Si Amat menggeleng. "Saya tidak tahu, Bu. Saya juga
baru datang."
Bu Yuni mencari ke mana-mana. Di lemari, di laci, di bawah
meja. Tidak ada.
"Kemana ini?" gumamnya panik.
Pak Edi yang datang menghampiri. "Bu, ada apa?"
"Berkas saya hilang, Pak. Semua berkas yang saya
kerjakan kemarin."
Pak Edi mengernyit. "Masa? Saya lihat tadi malam masih
ada."
"Tadi malam? Bapak ke kantor tadi malam?"
"Iya, Bu. Saya ambil jaket yang ketinggalan. Sekitar
jam 8. Waktu itu berkas Ibu masih ada."
Bu Yuni terdiam. Pikirannya berputar cepat. Siapa yang
mengambil? Untuk apa? Kenapa?
Pak Eko yang mendengar keributan mendekat. "Bu,
mungkin berkasnya dipindahkan?"
"Tidak, Pak. Saya tidak pernah memindahkan."
Pak Santoso ikut mencari. Bu Lulu ikut. Semua membantu.
Tapi tidak ada.
Bu Yuni duduk di kursinya. Wajahnya pucat. Tangannya
gemetar.
"Bu, jangan panik," kata Pak Edi. "Kita cari
lagi."
"Saya sudah cari, Pak. Tidak ada."
"Lapor Pak Kades."
Bu Yuni menggeleng. "Belum. Saya cari dulu."
Mereka mencari hingga dua jam. Seluruh kantor digeledah.
Lemari dibuka, laci ditarik, bahkan tempat sampah diperiksa. Tidak ada.
Akhirnya, Pak Kades Iwan keluar dari ruangannya. "Ada
apa ini? Ramai sekali."
"Pak, berkas Bu Yuni hilang," kata Si Amat.
Pak Kades terkejut. "Hilang? Bagaimana bisa?"
"Tidak tahu, Pak. Tiba-tiba tidak ada."
Pak Kades menatap Bu Yuni. "Bu, Ibu baik-baik
saja?"
Bu Yuni mengangguk, tapi matanya berkaca-kaca. "Saya
baik-baik saja, Pak."
"Jelas tidak baik-baik saja. Ibu pucat."
Bu Yuni tidak menjawab.
"Baik, kita laporkan ke polisi. Ini pencurian."
"Tidak usah, Pak," kata Bu Yuni cepat.
"Kenapa tidak?"
"Kita tidak tahu siapa pelakunya. Bisa jadi itu
kesalahan. Mungkin berkasnya terselip di tempat lain."
"Bu Yuni, Ibu terlalu baik. Ini jelas pencurian."
"Tapi Pak, "
"Tidak ada tapi. Saya yang bertanggung jawab. Saya
akan laporkan."
Pak Kades masuk ke ruangannya. Bu Yuni hanya bisa terdiam.
Siang itu, Anto datang ke kantor. Wajahnya serius, tidak
seperti biasanya yang selalu tersenyum misterius.
"Bu Yuni, saya dengar berkas Ibu hilang."
"Iya, To."
"Saya punya petunjuk."
Bu Yuni menatap Anto. "Petunjuk apa?"
"Semalam, sekitar jam 9, saya lewat depan kantor. Saya
lihat ada orang di dalam. Padahal kantor sudah tutup."
"Siapa?"
"Saya tidak lihat jelas. Gelap. Tapi dari posturnya,
seperti... perangkat desa."
Bu Yuni terkejut. "Perangkat desa? Siapa?"
"Saya tidak tahu, Bu. Saya tidak mau menuduh."
Bu Yuni terdiam. Pikirannya berputar. Siapa di antara
perangkat desa yang mungkin mengambil berkasnya? Pak Eko? Tidak mungkin. Pak
Edi? Tidak mungkin. Pak Santoso? Tidak mungkin. Bu Lulu? Tidak mungkin. Si
Amat? Tidak mungkin.
"To, Bapak yakin?"
"Saya tidak yakin, Bu. Saya hanya lihat sekilas."
"Baik, To. Terima kasih informasinya."
"Bu Yuni, hati-hati. Tidak semua orang senang dengan
Ibu."
Bu Yuni mengangguk. "Saya tahu, To. Saya tahu."
Pak Eko, yang mendengar percakapan Anto dengan Bu Yuni,
mulai curiga. Ia mendekati Bu Yuni setelah Anto pergi.
"Bu, saya dengar Anto bilang pelakunya perangkat
desa?"
"Iya, Pak. Tapi dia tidak yakin."
"Bu, saya curiga pada seseorang."
"Siapa, Pak?"
Pak Eko melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang
mendengar. "Pak Santoso."
Bu Yuni terkejut. "Pak Santoso? Kenapa?"
"Karena beliau yang paling lama di sini. Mungkin dia
merasa terancam dengan perubahan."
"Tapi Pak Santoso orangnya baik, Pak."
"Orang baik bisa berubah, Bu. Apalagi jika merasa
terancam."
Bu Yuni menggeleng. "Saya tidak percaya. Pak Santoso
tidak mungkin."
"Buktikan, Bu. Cari tahu."
Bu Yuni terdiam. Ia tidak ingin mencurigai siapa pun tanpa
bukti.
Sementara itu, Pak Santoso mendengar bisik-bisik bahwa ia
dicurigai. Wajahnya langsung merah padam.
"Ini fitnah!" bentaknya di tengah ruangan.
Semua perangkat desa terkejut. Pak Santoso jarang marah.
"Saya sudah 20 tahun di sini. Saya tidak pernah
mencuri. Saya tidak pernah mengambil barang orang lain."
"Pak Santoso, tenang," kata Pak Edi.
"Tidak bisa tenang! Saya dituduh! Saya dicurigai!
Padahal saya tidak bersalah!"
Bu Yuni mendekati Pak Santoso. "Pak Santoso, tidak ada
yang menuduh Bapak."
"Tapi saya dengar dari Pak Eko. Beliau bilang saya
dicurigai."
Bu Yuni menoleh ke Pak Eko. "Pak Eko, Bapak bilang
begitu?"
Pak Eko menunduk. "Maaf, Bu. Saya hanya curiga."
"Curiga tidak boleh disebarkan, Pak. Apalagi tanpa
bukti."
Pak Eko diam.
Pak Santoso masih marah. "Saya minta maaf, Bu. Saya
kecewa."
"Pak Santoso, saya tidak mencurigai Bapak. Saya
percaya Bapak."
"Terima kasih, Bu. Tapi saya tetap kecewa."
Pak Santoso berjalan keluar kantor. Ia duduk di bawah pohon
mangga di belakang, merokok sendirian.
Bu Yuni menyusul Pak Santoso ke belakang. Ia duduk di
sampingnya.
"Pak Santoso, saya minta maaf."
"Bukan Ibu yang salah, Bu. Ini Pak Eko."
"Pak Eko hanya curiga. Itu wajar."
"Tapi menuduh tanpa bukti itu tidak wajar, Bu."
"Iya, Pak. Saya sudah tegur."
Pak Santoso menghela napas. "Bu, saya sudah 20 tahun
di sini. Saya tidak pernah melakukan hal curang. Saya hanya ingin desa ini
maju."
"Saya tahu, Pak."
"Tapi kenapa saya dicurigai?"
"Karena orang mudah curiga pada yang lama, Pak. Itu
sifat manusia."
Pak Santoso diam. Ia membuang puntung rokoknya ke tanah,
menginjaknya dengan sepatu.
"Bu, saya dukung Ibu. Saya tidak akan menghalangi
perubahan."
"Saya tahu, Pak. Itu sebabnya saya percaya pada
Bapak."
"Terima kasih, Bu."
Mereka berdua duduk diam, menikmati angin sore yang
sepoi-sepoi.
Pukul 16.00, Si Amat berteriak dari dalam kantor. "Bu!
Berkasnya ketemu!"
Bu Yuni dan Pak Santoso bergegas masuk. Si Amat berdiri di
samping lemari arsip, memegang setumpuk kertas.
"Di mana, Mas?"
"Di lemari arsip lama, Bu. Terselip di map tahun
1995."
Bu Yuni memeriksa berkas itu. Ini memang berkasnya.
Lengkap.
"Syukurlah," katanya lega.
"Tapi kenapa bisa di sana?" tanya Pak Edi.
"Tidak tahu, Pak. Mungkin kemarin Ibu terburu-buru,
jadi salah letak," kata Si Amat.
Bu Yuni mengingat-ingat. Kemarin ia bekerja sampai malam.
Mungkin ia terlalu lelah, sehingga tanpa sadar meletakkan berkas di tempat yang
salah.
"Maaf, teman-teman. Ini salah saya. Saya yang
ceroboh."
Pak Santoso menghela napas lega. "Alhamdulillah. Jadi
tidak ada pencurian."
"Iya, Pak. Hanya kesalahan saya."
Pak Eko menunduk malu. "Maaf, Bu. Saya terlalu cepat
curiga."
"Tidak apa-apa, Pak Eko. Yang penting berkasnya
ketemu."
Namun di sudut ruangan, Anto mengamati dengan tatapan
tajam. Ia tidak yakin bahwa berkas itu hanya salah letak. Tapi ia tidak mau
bicara. Biarlah waktu yang membuktikan.
Malam itu, Bu Yuni pulang lebih lambat dari biasanya. Ia
ingin menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena insiden berkas hilang.
Pukul 20.00, ia masih di kantor. Lampu neon berkedip-kedip,
sesekali mati sebentar lalu menyala lagi. Ia tidak peduli.
Ia menulis laporan dengan tangan, karena komputernya sedang
error. Tulisannya rapi, meskipun tangannya mulai lelah.
Laporan Bulanan Desa Awan Biru
Maret 2001
Pendahuluan:
Bulan Maret 2001 adalah bulan yang penuh dinamika. Banyak tantangan yang
dihadapi, mulai dari tekanan dari kecamatan, fitnah dari oknum, hingga insiden
hilangnya berkas. Namun, dengan kerja sama tim dan dukungan warga, semua
tantangan dapat diatasi.
Ia berhenti sejenak. Tangannya terasa kaku. Ia
menggoyangkan pergelangan tangannya, lalu melanjutkan menulis.
Kami berhasil menyelesaikan laporan administrasi tepat
waktu, meskipun dengan persiapan yang sangat singkat. Tim Inspektorat
memberikan apresiasi atas kemajuan yang dicapai. Desa Awan Biru juga menerima
penghargaan dari kecamatan sebagai desa dengan peningkatan administrasi
terbaik.
Ia menghela napas. Pekerjaan masih banyak. Tapi ia tidak
bisa terus-terusan begini. Tubuhnya mulai lelah.
Pukul 21.00, ia memutuskan pulang. Ia merapikan meja,
memasukkan kertas-kertas ke dalam map, lalu berjalan keluar.
Udara malam dingin menusuk wajahnya. Bintang-bintang
bertaburan di langit, bulan sabit tipis menggantung di ufuk barat.
"Ya Allah, hari ini berat," bisiknya. "Tapi
aku masih kuat."
Ia berjalan pulang dengan langkah gontai. Sesampainya di
rumah kontrakan, ia disambut oleh kucing Kuning yang setia menunggu di depan
pintu.
"Kuning, aku pulang," katanya sambil mengelus
kepala kucing itu.
Kucing itu mengeong pelan, lalu menggesek-gesekkan tubuhnya
ke kaki Bu Yuni.
Bu Yuni masuk ke dalam, menyalakan lampu minyak tanah,
karena listrik mati dan duduk di beranda. Kuning melompat ke pangkuannya.
"Kuning, hari ini aku hampir menangis," katanya
sambil mengelus kepala kucing itu.
Kucing itu diam, sesekali mengedipkan matanya.
"Berkasku hilang. Aku panik. Aku curiga pada
teman-temanku sendiri. Aku merasa bersalah."
Ia menghela napas.
"Tapi syukurlah berkasnya ketemu. Ternyata hanya
kesalahanku sendiri."
Kucing itu mengeong pelan, seolah menghibur.
"Ya Allah, maafkan aku yang mudah panik. Maafkan aku
yang mudah curiga. Ajari aku untuk selalu tenang dan percaya pada-Mu."
Ia memejamkan mata. Air mata mengalir di pipinya. Bukan
karena sedih, tapi karena lega.
"Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih."
Pagi itu, Bu Yuni datang ke kantor dengan senyum di
wajahnya. Ia sudah beristirahat cukup, meskipun masih sedikit lelah.
"Selamat pagi, teman-teman," sapanya ceria.
"Pagi, Bu," jawab mereka.
"Bu, berkas Ibu sudah saya rapikan," kata Si
Amat.
"Terima kasih, Mas Amat."
"Bu, saya minta maaf soal kemarin," kata Pak Eko.
"Tidak apa-apa, Pak Eko. Saya juga minta maaf."
Pak Santoso tersenyum. "Kita semua belajar."
"Setuju, Pak," kata Bu Yuni.
Mereka mulai bekerja seperti biasa. Suasana kantor kembali
hangat.
Pukul 10.00, mobil dinas Camat Kaliwiro, Bapak Subroto,
berhenti di depan kantor desa. Pak Camat turun dengan langkah tegap, diikuti
oleh beberapa staf. Wajahnya bulat dengan kumis tebal, perutnya buncit sedikit,
tapi matanya bersinar ramah.
"Selamat pagi, Pak Kades, Bu Sekdes," sapa Pak
Camat.
"Pagi, Pak Camat," jawab Pak Kades Iwan sambil
menyambut.
"Kami datang untuk menyerahkan piagam
penghargaan."
Warga yang mendengar kabar itu berdatangan. Mereka ingin
menyaksikan langsung momen bersejarah ini.
Pak Camat berdiri di depan kantor, menghadap warga yang
mulai berkumpul. Di tangannya, sebuah piagam berbingkai kayu dengan stempel
emas.
"Bapak, Ibu, warga Desa Awan Biru yang saya
hormati," mulai Pak Camat.
"Berdasarkan hasil verifikasi administrasi oleh Tim
Inspektorat Kabupaten, Desa Awan Biru dinilai sebagai desa dengan peningkatan
administrasi terbaik di Kecamatan Kaliwiro."
Warga bertepuk tangan.
"Penghargaan ini kami berikan kepada Kepala Desa Awan
Biru, Bapak Iwan Setiawan, dan Sekretaris Desa, Ibu Yuniarti, beserta seluruh
perangkat desa."
Pak Camat menyerahkan piagam itu kepada Pak Kades. Pak
Kades menerimanya dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Pak Camat. Ini kehormatan bagi
kami."
"Ini hasil kerja keras Bapak dan Ibu sekalian.
Pertahankan."
Pak Camat kemudian berjabat tangan dengan Bu Yuni. "Bu
Sekdes, saya dengar Ibu yang memimpin pembenahan ini."
"Iya, Pak. Tapi ini kerja tim."
"Saya kagum. Dalam waktu singkat, Ibu bisa mengubah
desa ini. Teruskan."
"Terima kasih, Pak."
Setelah Pak Camat pergi, Bu Yuni masuk ke kantor. Ia duduk
di mejanya, memandangi piagam penghargaan yang ditempel di dinding.
Air matanya jatuh.
"Bu, Ibu menangis?" tanya Si Amat panik.
Bu Yuni mengusap air matanya. "Tidak, Mas. Saya
hanya... terharu."
"Terharu kenapa, Bu?"
"Karena perjuangan kita dihargai. Karena kerja keras
kita tidak sia-sia."
Pak Edi mendekat. "Bu, ini karena Ibu. Tanpa Ibu, kita
tidak akan dapat penghargaan."
"Bukan, Pak. Ini karena kita semua. Kita bekerja
sama."
Pak Eko menambahkan, "Bu, saya minta maaf dulu sering
menghambat."
"Sudah, Pak. Saya maafkan."
Bu Lulu ikut menangis. "Saya juga, Bu. Saya hampir
menyerah."
"Tapi Ibu tidak menyerah, Bu Lulu. Itu yang
penting."
Pak Santoso berdiri. "Teman-teman, mari kita berdoa.
Syukuri penghargaan ini."
Mereka berdoa bersama. Suasana haru dan bahagia bercampur
menjadi satu.
Siang itu, mereka makan siang bersama di kantor. Pak Karyo
dimintai tolong menyediakan nasi kotak dan gorengan. Anto membawa kopi dan teh.
Warga yang datang bergantian memberi selamat.
"Bu Yuni, selamat ya," kata Pak Darmo sambil
menjabat tangan Bu Yuni.
"Terima kasih, Pak."
"Ini berkat Ibu."
"Bukan, Pak. Ini kerja sama semua."
Bu Ratih datang dengan membawa kue tradisional. "Bu
Yuni, ini kue buatan saya. Untuk merayakan penghargaan."
"Terima kasih, Bu Ratih."
Pak Jayeng datang dengan senyum bijaksana. "Bu Yuni,
saya bangga. Desa ini akhirnya diakui."
"Terima kasih, Pak Jayeng. Doakan kami terus."
"Tentu, Bu. Saya akan selalu mendoakan."
Sore itu, Anto mampir ke kantor desa. Jaket kulitnya yang
lusuh masih setia. Rambutnya yang panjang terurai sedikit.
"Bu Yuni, saya punya ramalan."
"Ramalan apa lagi, To?"
"Suatu hari nanti, Ibu akan dikenang sebagai pahlawan
desa ini. Nama Ibu akan disebut-sebut oleh generasi mendatang."
Bu Yuni tersenyum. "To, saya tidak perlu dikenang.
Saya hanya ingin desa ini menjadi lebih baik."
"Tapi Ibu akan dikenang. Itu sudah takdir."
"Kalau itu takdir, saya terima. Tapi saya tidak akan
berhenti bekerja."
Anto tersenyum. "Itulah mengapa Ibu hebat."
Sabtu sore, seperti biasa, Bu Yuni mengadakan evaluasi
mingguan. Kali ini, semua perangkat desa hadir dengan wajah yang lebih tenang
dan bahagia.
"Teman-teman, minggu ini penuh drama. Tapi kita
melewatinya."
Mereka mengangguk.
"Kita belajar bahwa fitnah bisa datang kapan saja.
Kita juga belajar bahwa persatuan adalah kunci menghadapi fitnah. Dan kita
belajar bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia."
Pak Eko angkat bicara. "Bu, saya malu. Saya sempat
terpecah. Saya sempat curiga pada Pak Santoso."
"Tidak apa-apa, Pak Eko. Yang penting Bapak mengakui
dan minta maaf."
Pak Santoso tersenyum. "Saya maafkan, Pak Eko."
"Terima kasih, Pak."
Bu Lulu menambahkan, "Bu, saya hampir menyerah waktu
berkas Ibu hilang. Tapi saya bersyukur ketemu."
"Bu Lulu, jangan pernah menyerah. Allah selalu bersama
kita."
Pak Edi berkata, "Bu, saya bangga menjadi bagian dari
tim ini."
"Saya juga bangga, Pak."
Pak Kades Iwan yang ikut dalam evaluasi itu berkata,
"Bu Yuni, Ibu adalah anugerah bagi desa ini."
Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Pak Kades, saya
hanya menjalankan amanah."
"Dan Ibu menjalankannya dengan baik. Sangat
baik."
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur pelan.
"Kuning, hari ini aku bahagia."
Kucing itu mengeong pelan.
"Kita dapat penghargaan. Kerja keras kita dihargai.
Perjuangan kita tidak sia-sia."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku juga belajar bahwa air mata itu tidak selalu
sedih. Kadang air mata adalah ekspresi kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan
dengan kata-kata."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan
hampir purnama.
"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih
untuk semua pelajaran. Terima kasih untuk penghargaan ini. Terima kasih untuk
air mata yang menyejukkan hati."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang Bu Yuni ke rumahnya.
Rumahnya sederhana, berdinding bata putih, berlantai keramik, dengan halaman
depan yang ditanami bunga-bunga.
"Silakan masuk, Bu," kata Pak Iwan sambil
membukakan pintu.
Bu Yuni masuk ke ruang tamu. Di dinding, tergantung foto
seorang wanita cantik dengan senyum lembut.
"Itu istri saya, Bu. Almirah," kata Pak Iwan
sambil menunjuk foto itu.
"Almarhumah, Pak?"
"Iya, Bu. Meninggal dua tahun lalu karena sakit."
"Turut berduka, Pak."
Pak Iwan menghela napas. "Dia wanita hebat, Bu. Dia
yang mendorong saya untuk maju di pilkades. Dia bilang, 'Pak, desa ini butuh
pemimpin yang peduli.'"
Bu Yuni mendengarkan dengan saksama.
"Tapi dia tidak sempat melihat saya dilantik. Dia
meninggal sebulan sebelum pemilihan."
"Maaf, Pak."
"Tidak apa-apa. Saya yakin dia melihat dari
atas."
Pak Iwan menatap Bu Yuni. "Bu, Ibu mengingatkan saya
pada Almirah."
"Kenapa, Pak?"
"Sama-sama tangguh. Sama-sama peduli. Sama-sama tidak
kenal lelah."
Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Pak. Tapi saya hanya
manusia biasa."
"Manusia biasa yang melakukan hal luar biasa."
Bu Yuni juga bercerita tentang dirinya. Tentang masa
kecilnya di lereng Gunung Sumbing. Tentang ayahnya yang guru. Tentang ibunya
yang tangguh.
"Pak, saya dulu tidak pernah membayangkan akan menjadi
sekdes. Saya hanya ingin membantu orang."
"Dan Ibu berhasil, Bu."
"Belum, Pak. Masih banyak yang harus dilakukan."
"Tapi Ibu sudah memulai. Itu yang penting."
Bu Yuni mengangguk. "Iya, Pak. Saya sudah
memulai."
Pak Iwan menuangkan teh untuk mereka berdua. "Bu, saya
titip desa ini."
"Titip, Pak?"
"Iya, titip. Saya tidak tahu sampai kapan saya
menjabat. Tapi selama saya menjabat, saya ingin desa ini maju. Dan Ibu adalah
kuncinya."
"Pak, saya hanya sekdes. Bapak yang memimpin."
"Tanpa Ibu, saya tidak bisa memimpin dengan
baik."
Bu Yuni tersenyum. "Kita pimpin bersama, Pak."
"Setuju, Bu."
Senin pagi, Bu Yuni kembali ke kantor dengan semangat baru.
Penghargaan dari camat memberi energi tambahan bagi seluruh perangkat desa.
"Teman-teman, minggu ini kita akan fokus pada arsip
tahun 1996-2000. Target kita, selesai dalam dua minggu."
"Setuju, Bu!" seru mereka.
Mereka bekerja dengan semangat. Arsip-arsip dikeluarkan
dari lemari, dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.
"Bu, ini arsip tahun 1996. Isinya masih lengkap,"
kata Si Amat.
"Bagus, Mas. Simpan di map baru, beri label yang
jelas."
"Siap, Bu."
Pak Eko yang kini sudah berubah total bekerja dengan tekun.
Ia tidak lagi sering membuka ponsel. Ia fokus pada tumpukan arsip di depannya.
"Bu, ini arsip program desa tahun 1997. Sudah saya
rapikan."
"Terima kasih, Pak Eko. Bapak hebat."
Pak Edi, yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius.
"Bu, arsip sosial tahun 1998-1999 sudah saya rapikan."
"Bagus, Pak Edi."
Bu Lulu dan Pak Rudi bekerja di ruang keuangan. "Bu,
arsip keuangan tahun 1996-2000 sudah hampir selesai."
"Terima kasih, Bu Lulu. Semangat."
Di tengah pekerjaan, mereka menemukan kendala. Beberapa
arsip tahun 1996-2000 ternyata hilang atau rusak.
"Bu, arsip program desa tahun 1996 hilang," kata
Pak Eko dengan wajah cemas.
"Yakin, Pak?"
"Saya sudah cari di semua map, Bu. Tidak ada."
Bu Yuni berpikir sejenak. "Mungkin tersimpan di tempat
lain. Coba cek di lemari arsip lama."
Pak Eko mencari di lemari arsip lama. Setelah setengah jam,
ia berteriak, "Ketemu, Bu! Terselip di map tahun 1995."
"Syukurlah."
Masalah lain muncul. Beberapa arsip rusak karena dimakan
rayap atau terkena air.
"Bu, ini arsip keuangan tahun 1998. Sudah rusak,"
kata Bu Lulu sambil menunjukkan map yang kertasnya robek-robek.
Bu Yuni memeriksa dengan teliti. "Masih bisa
diselamatkan. Kita fotokopi yang masih terbaca. Yang tidak terbaca, kita
rekonstruksi dari arsip lain."
"Rekonstruksi, Bu? Caranya?"
"Kita cari data dari sumber lain. Misalnya dari
laporan tahunan, dari arsip kecamatan, atau dari warga yang terlibat."
"Siap, Bu."
Melihat kesibukan perangkat desa, warga ikut membantu.
Mereka datang bergantian, membawa makanan, atau sekadar menawarkan bantuan.
"Bu Yuni, saya bisa bantu apa?" tanya Pak Darmo.
"Pak, Bapak bisa bantu cari data warga untuk arsip
kependudukan."
"Siap, Bu."
Pak Darmo keliling desa, mendata warga, mencocokkan dengan
data yang ada.
Bu Sri dan ibu-ibu PKK membantu merapikan arsip-arsip yang
kotor. Mereka membersihkan debu, menyeka map, dan melapisi kertas dengan
plastik.
"Bu, ini bersih semua," kata Bu Sri.
"Terima kasih, Bu Sri. Ibu hebat."
Anto membantu mengantar arsip-arsip ke kecamatan untuk
dicocokkan. Ia rela bolak-balik meskipun truknya sedang tidak jalan.
"To, Bapak repot," kata Bu Yuni.
"Tidak repot, Bu. Ini untuk desa kita."
"Terima kasih, To."
Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif.
Arsip-arsip tahun 1996-2000 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata.
Map-map baru berjejer rapi di lemari. Buku register terisi dengan lengkap.
"Bu, arsip tahun 1996-1998 sudah selesai," lapor
Si Amat pada hari Kamis.
"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1999-2000."
"Siap, Bu."
Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun
1996-2000 sudah tertata rapi.
"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.
Mereka bersorak. "Hore!"
"Ini berkat kerja keras kita semua."
"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.
Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan.
Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip tahun 1996-2000. Target dua
minggu, tercapai dalam satu minggu.
"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu
Yuni.
"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.
"Kita sama-sama belajar."
Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah
melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."
"Semoga berkelanjutan, Pak."
"Aamiin," jawab mereka.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.
"Kuning, minggu ini produktif."
Kucing itu mengeong pelan.
"Kita berhasil merapikan arsip tahun 1996-2000. Target
dua minggu, tercapai dalam satu minggu."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Warga membantu. Semua bekerja
sama."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan
purnama bersinar terang.
"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih
untuk semangat yang Engkau berikan. Terima kasih untuk tim yang solid. Terima
kasih untuk warga yang mendukung."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih ada arsip tahun
1990-1995. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa
ke rumahnya untuk makan siang bersama. Ini kejutan untuk merayakan keberhasilan
mereka.
"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan
sambil membukakan pintu.
Rumahnya sederhana, tapi hari itu dihiasi dengan balon dan
pita warna-warni. Istrinya, meskipun sudah meninggal, seolah hadir dalam setiap
sudut rumah.
"Wah, Pak Kades, ini kejutan," kata Si Amat.
"Iya, Mas. Untuk merayakan keberhasilan kita."
Mereka makan siang bersama. Lauknya sederhana: ayam goreng,
tempe goreng, sambal terasi, dan lalapan. Tapi rasanya luar biasa karena
dimakan bersama.
"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.
"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah
seharusnya."
Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang
kumpul seperti ini."
"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita
solid."
"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.
"Aamiin," jawab mereka.
Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat.
"Teman-teman, keberhasilan kita hari ini bukan akhir.
Ini awal. Masih banyak yang harus kita kerjakan."
Mereka mendengarkan dengan saksama.
"Arsip tahun 1990-1995 masih menanti. Setelah itu,
arsip tahun 1980-an. Dan seterusnya. Pekerjaan tidak akan pernah habis."
"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.
"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita
punya Allah."
Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus
terus bekerja."
"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni.
"Kesehatan lebih penting."
"Setuju, Bu."
Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya
yang lusuh masih setia.
"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."
"Apa itu, To?"
"Kata Pak Camat, desa kita akan dijadikan percontohan
untuk desa lain. Tim dari kabupaten akan datang minggu depan untuk studi
banding."
Bu Yuni terkejut. "Studi banding? Jadi kita yang jadi
contoh?"
"Iya, Bu. Desa lain akan belajar dari kita."
Pak Kades Iwan tersenyum lebar. "Ini luar biasa."
"Ini berkat Bu Yuni," kata Anto.
"Bukan, To. Ini berkat kita semua."
"Tetap saja, Bu Yuni yang memulai."
Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Karena akan ada studi banding dari desa lain, Bu Yuni dan
tim mempersiapkan diri.
"Teman-teman, kita akan jadi tuan rumah. Desa lain
akan belajar dari kita. Kita harus menunjukkan yang terbaik."
"Siap, Bu!" seru mereka.
"Kita rapikan kantor. Bersihkan semua ruangan. Tata
arsip dengan rapi. Siapkan materi presentasi."
"Bu, siapa yang presentasi?" tanya Si Amat.
"Saya yang akan presentasi. Tapi kalian harus siap
menjawab pertanyaan."
"Siap, Bu."
Mereka bekerja ekstra keras. Kantor dibersihkan dari debu.
Arsip ditata ulang. Materi presentasi disiapkan.
Bu Yuni membuat slide presentasi sederhana dengan tulisan
tangan di karton. Ia tidak punya laptop untuk presentasi, tapi ia tidak malu.
Yang penting materi jelas.
Hari yang ditunggu tiba. Tim studi banding dari Desa
Sumberejo, kebetulan nama desa yang sama dengan desa asal Bu Yuni, datang
dengan dua mobil. Mereka terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan
beberapa perangkat desa.
"Selamat datang di Desa Awan Biru," sapa Pak
Kades Iwan.
"Terima kasih, Pak. Kami ingin belajar tentang
administrasi desa," kata Pak Kades Sumberejo, seorang pria berusia 50
tahun dengan wajah ramah.
"Silakan. Bu Yuni yang akan memandu."
Bu Yuni memandu tim studi banding berkeliling kantor. Ia
menunjukkan lemari arsip yang rapi, buku register yang terisi lengkap, dan
papan prosedur yang terpasang di dinding.
"Ini luar biasa," kata Pak Kades Sumberejo.
"Dalam waktu singkat, Ibu bisa mengubah desa ini."
"Kerja tim, Pak. Bukan saya sendiri."
"Tapi Ibu yang memimpin."
Bu Yuni tersenyum. "Saya hanya memulai. Mereka yang
melanjutkan."
Di balai desa, Bu Yuni mempresentasikan sistem administrasi
yang mereka terapkan. Ia menggunakan karton-karton berisi slide tulisan tangan.
Meskipun sederhana, presentasinya jelas dan menarik.
"Langkah pertama, kita klasifikasi arsip berdasarkan
jenis dan dusun. Kedua, kita buat buku register untuk mencatat keluar-masuk
berkas. Ketiga, kita pasang papan prosedur untuk memudahkan warga. Keempat,
kita latih perangkat desa untuk disiplin."
Tim studi banding mencatat dengan saksama.
"Berapa lama Ibu menerapkan sistem ini?" tanya
Sekdes Sumberejo.
"Baru dua bulan, Pak."
"Luar biasa. Dua bulan sudah berubah drastis."
"Ini berkat kerja keras tim, Pak."
"Kami ingin belajar lebih detail. Boleh kami tinggal
sehari?"
"Silakan, Pak. Kami akan layani sebaik mungkin."
Siang itu, mereka makan siang bersama di balai desa. Pak
Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak. Anto membawa kopi dan teh.
"Bu Yuni, Ibu asli mana?" tanya Pak Kades
Sumberejo.
"Saya asli Sumberejo, Pak. Tapi bukan Sumberejo yang
Bapak pimpin. Sumberejo di lereng Sumbing."
"Wah, sama-sama Sumberejo. Berarti Ibu orang Wonosobo
asli."
"Iya, Pak. Saya orang Wonosobo."
"Kebanggaan Wonosobo."
Bu Yuni tersenyum malu. "Terima kasih, Pak."
Setelah seharian belajar, tim studi banding pamit. Mereka
membawa banyak catatan dan rencana untuk diterapkan di desa mereka.
"Bu Yuni, terima kasih," kata Pak Kades
Sumberejo.
"Sama-sama, Pak. Semoga desa Bapak juga maju."
"Ibu adalah inspirasi. Saya akan cerita ke desa
lain."
"Terima kasih, Pak."
Mobil tim studi banding melaju perlahan meninggalkan
halaman kantor desa. Bu Yuni melambai-lambaikan tangan.
"Bu, Ibu sekarang terkenal," kata Si Amat.
"Bukan terkenal, Mas. Hanya berbagi."
"Tetap saja, Ibu hebat."
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning tidur di pangkuannya.
"Kuning, hari ini aku berbagi ilmu."
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku senang. Ilmu yang kita praktikkan ternyata
bermanfaat bagi desa lain."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku belajar bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari
apa yang kita capai, tapi juga dari apa yang kita bagikan."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih
karena Engkau jadikan aku alat untuk berbagi. Terima kasih karena Engkau
tunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan dan
dibagikan."
Ia memejamkan mata.
"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita mulai lagi."
BAB 8
PERLAHAN DESA MULAI BERUBAH
Pagi di Desa Awan Biru kembali seperti semula, namun dengan
rasa yang berbeda. Kabut masih turun perlahan dari lereng Gunung Sumbing,
membungkus lembah dalam selimut putih yang tebal. Burung-burung masih berkicau
riang di pepohonan, saling bersahutan seolah sedang bercerita tentang sesuatu.
Ayam-ayam masih berkokok dengan bangga, menandakan bahwa hari baru telah
dimulai. Jalanan desa yang berbatu masih basah oleh embun, dan di beberapa
tempat, genangan air kecil terbentuk karena hujan semalam.
Namun di kantor desa, ada sesuatu yang kini terasa lebih
hidup. Lebih teratur. Lebih terarah.
Pintu kantor desa terbuka pukul 06.45. Si Amat masuk lebih
awal dari biasanya—ini sudah menjadi kebiasaan baru sejak ia belajar dari Bu
Yuni. Ia membawa sapu dan kain pel, membersihkan lantai yang masih berdebu dari
aktivitas kemarin. Ia menyapu dengan teliti, menyikat sudut-sudut ruangan yang
jarang tersentuh. Ia mengelap meja-meja, membersihkan debu yang menumpuk di
atas lemari.
"Wah, Mas Amat, sudah dari tadi?" sapa Pak Edi
yang datang pukul 07.00, termos kopi kesayangannya di tangan kiri, segenggam
pisang goreng di tangan kanan.
"Iya, Pak. Biar bersih."
Pak Edi tersenyum. "Lo sekarang rajin banget, Mat.
Dulu mana pernah lo peduli sama kebersihan."
"Saya malu sama Bu Yuni, Pak. Ibu itu rajin banget.
Saya jadi ikut-ikutan rajin."
"Wah, efek Bu Yuni. Hebat."
Si Amat tersenyum bangga. Ia melanjutkan membersihkan,
sesekali bersiul kecil lagu kesukaannya—lagu campursari yang sering diputar di
radio desa.
Pak Edi duduk di mejanya, menuang kopi ke gelas plastik
favoritnya—gelas bekas selai yang sudah pudar gambarnya, namun masih ia simpan
karena sudah seperti teman lama. Ia menyeruput kopi hitam pekat itu dengan
nikmat, matanya menyapu ruangan yang mulai rapi.
"Mat, lihat tuh lemari arsip. Dulu penuh debu,
sekarang kinclong."
"Iya, Pak. Saya yang bersihin kemarin."
"Bagus. Pertahankan."
Pukul 07.15, Bu Yuni datang. Ia tersenyum melihat kantor
yang sudah bersih.
"Mas Amat, Bapak yang bersihin?"
"Iya, Bu. Biar nyaman."
"Terima kasih, Mas Amat. Bapak hebat."
Si Amat tersenyum malu. Dadanya membusung seperti merak.
"Senang bisa membantu, Bu."
Pukul 07.30, yang lain datang. Pak Eko dengan laptopnya, yang
kini tidak lagi ia gunakan untuk media sosial selama jam kerja. Pak Santoso
dengan kacamatanya yang tebal, yang kini selalu ia bersihkan sebelum dipakai.
Bu Lulu dengan map keuangannya, yang kini ia peluk di dada seperti biasa, tapi
dengan senyum di wajahnya.
"Pagi, Bu," sapa mereka serempak.
"Pagi, teman-teman."
Suasana kantor pagi itu hangat. Tidak ada lagi ketegangan
seperti beberapa minggu lalu. Tidak ada lagi bisik-bisik yang mencurigakan.
Yang ada hanya semangat kebersamaan.
Bu Yuni berjalan ke lemari arsip. Ia membuka pintu lemari, pintu
kayu jati yang dulu berderit keras, kini sudah diberi minyak sehingga lebih
halus. Di dalam lemari, map-map berwarna berjejer rapi berdasarkan jenis dan
tahun.
"Mas Amat, tolong catat di buku register: arsip tahun
1996-2000 sudah selesai."
"Siap, Bu!"
Si Amat membuka buku register, buku besar berwarna biru
dengan kolom-kolom yang rapi. Ia menulis:
Tanggal: 15 April 2001
Jenis Arsip: Kependudukan, Pertanahan, Surat Menyurat, Keuangan, Program
Desa
*Tahun: 1996-2000*
*Lokasi: Lemari 1-3*
Keterangan: Selesai
"Bu, arsip tahun 1990-1995 kapan kita mulai?"
tanya Pak Eko.
"Minggu depan, Pak. Minggu ini kita fokus pada
pelayanan. Ada beberapa warga yang mengeluh tentang lamanya pembuatan surat
tanah."
"Baik, Bu."
Bu Yuni kemudian duduk di mejanya. Ia membuka buku catatan
kecil—buku yang selalu ia bawa ke mana-mana, yang sampulnya sudah lusuh dan
halamannya mulai menguning. Ia menulis rencana untuk minggu ini:
Senin: Evaluasi pelayanan surat tanah
Selasa: Rapat dengan perangkat desa
Rabu: Sosialisasi ke dusun-dusun
Kamis: Koordinasi dengan kecamatan
Jumat: Laporan mingguan
Sabtu: Evaluasi
Ia menutup buku itu dan tersenyum. "Perlahan, tapi
pasti."
Pukul 08.30, warga pertama datang. Seorang ibu muda bernama
Bu Anik, warga Dusun Kaliwungu, yang ingin mengurus surat keterangan usaha
untuk berjualan nasi kuning di pasar.
"Selamat pagi, Bu," sapa Si Amat dengan ramah.
"Pagi, Mas. Saya mau bikin surat keterangan
usaha."
"Baik, Bu. Bisa tunjukkan berkas-berkasnya?"
Bu Anik mengeluarkan KTP, KK, dan surat pengantar dari RT.
Semua lengkap.
Si Amat memeriksa dengan teliti. "Lengkap, Bu. Mohon
tunggu sekitar 20 menit."
"Wah, cepet amat, Mas. Dulu bisa sejam lebih."
"Itu dulu, Bu. Sekarang sudah ada sistem baru."
Bu Anik duduk di kursi yang tersedia. Ia mengamati kantor
desa yang mulai rapi. Ada map-map berwarna di lemari. Ada buku register di
meja. Ada papan prosedur di dinding. Ada juga papan pengumuman berisi
persyaratan surat-menyurat.
"Desa kita mulai maju ya," gumumnya.
Dalam waktu 15 menit, surat itu selesai. Si Amat
menyerahkannya pada Bu Anik.
"Ini, Bu. Suratnya."
Bu Anik menerima surat itu dengan mata berbinar.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Bu. Semoga usahanya lancar."
"Aamiin. Doain ya, Mas."
"Tentu, Bu."
Bu Anik keluar dengan senyum lebar. Di luar, ia bertemu
dengan Bu Tini yang sedang menunggu giliran.
"Bu Tini, sekarang cepat lho. Nggak sampai 20
menit."
"Serius, Bu Anik?"
"Serius. Coba saja."
Bu Tini masuk ke kantor. Ia ingin mengurus surat domisili
untuk anaknya yang akan kuliah di Semarang.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa dibantu?" sapa
Si Amat.
"Pagi, Mas. Saya mau bikin surat domisili untuk anak
saya."
"Baik, Bu. Bisa tunjukkan berkas-berkasnya?"
Bu Tini mengeluarkan KTP, KK, dan fotokopi akta kelahiran
anaknya.
Si Amat memeriksa. "Lengkap, Bu. Mohon tunggu sekitar
15 menit."
Bu Tini duduk di kursi. Ia tidak percaya. Biasanya, surat
domisili bisa memakan waktu satu jam. Tapi 15 menit? Luar biasa.
Dalam waktu 12 menit, surat itu selesai.
"Ini, Bu. Suratnya."
Bu Tini menerima surat itu dengan tangan gemetar.
"Mas, ini benar? Cuma 12 menit?"
"Iya, Bu. Sistem baru."
"Wah, luar biasa. Saya akan bilang ke
tetangga-tetangga."
"Terima kasih, Bu."
Bu Tini keluar dengan wajah berseri-seri. Ia langsung
menghampiri Bu Anik yang masih di halaman.
"Bu Anik, benar! Cuma 12 menit!"
"Kan sudah saya bilang."
"Ini luar biasa. Desa kita benar-benar berubah."
Warung Pak Karyo, seperti biasa, menjadi pusat informasi
desa. Setiap pagi, warga berkumpul di sini untuk minum kopi, makan gorengan,
dan bertukar kabar.
Hari itu, topik pembicaraan adalah perubahan di kantor
desa.
"Bu Anik tadi cuma 15 menit dapat surat," kata
Pak Sugeng sambil meniup kopinya.
"Bu Tini cuma 12 menit," sahut Bu Tini yang ikut
nimbrung.
"Ini luar biasa. Dulu bisa berjam-jam," kata Pak
Karto.
Pak Karyo yang mendengar dari balik etalase tersenyum.
"Itu karena Bu Yuni. Beliau yang mengubah sistem."
"Bu Yuni memang hebat," kata Pak Sugeng.
"Bukan hanya hebat, tapi juga tulus. Saya lihat
sendiri beliau kerja sampai malam," kata Pak Karyo.
"Iya, saya juga sering lihat lampu kantor menyala
sampai jam 9 malam," kata Bu Tini.
"Itu namanya dedikasi," kata Pak Karyo.
Anto yang duduk di pojok ikut nimbrung. "Saya sudah
bilang dari awal. Bu Yuni itu orang pilihan."
"Kamu selalu bilang begitu, To," ledek Pak
Sugeng.
"Kali ini benar, Pak. Buktinya, desa kita sekarang
maju."
Mereka tertawa. Namun di balik tawa itu, ada rasa bangga
yang tidak bisa disembunyikan.
Pak Didit, yang dulu menjadi sumber fitnah, kini menjadi
pembela utama Bu Yuni. Di setiap kesempatan, ia selalu memuji perubahan yang
terjadi.
"Warga sekalian, kita harus dukung Bu Yuni,"
katanya dalam pertemuan RT.
"Beliau sudah mengubah desa kita. Pelayanan lebih
cepat. Arsip lebih rapi. Warga tidak perlu bolak-balik."
Warga mengangguk-angguk.
"Saya dulu salah. Saya memfitnah beliau. Tapi sekarang
saya sadar. Bu Yuni adalah anugerah bagi desa kita."
"Setuju, Pak Didit," kata warga.
"Kita harus jaga agar perubahan ini berkelanjutan.
Jangan sampai ada yang menghambat."
"Setuju!"
Pak Didit tersenyum. Ia merasa lega karena bisa menebus
kesalahannya.
Sepanjang minggu itu, pelayanan di kantor desa semakin
cepat. Warga yang datang tidak perlu menunggu lama. Surat-surat yang dulu
memakan waktu berhari-hari, kini bisa selesai dalam hitungan jam.
"Bu, ini rekor baru. Surat tanah selesai dalam 2
hari," lapor Pak Santoso dengan bangga.
"Bagus, Pak. Tapi jangan terlalu cepat. Yang penting
teliti."
"Baik, Bu. Saya selalu cek dua kali."
"Bu, surat domisili sekarang rata-rata 10 menit,"
kata Si Amat.
"Luar biasa, Mas Amat. Bapar hebat."
"Saya hanya mengikuti sistem Ibu, Bu."
"Tetap saja, Bapak yang menjalankan."
Pak Eko yang mendengar ikut melaporkan. "Bu,
koordinasi dengan kecamatan sekarang lebih lancar. Mereka sudah tahu sistem
kita."
"Bagus, Pak Eko. Itu hasil kerja Bapak."
"Terima kasih, Bu."
Hari Kamis, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD)
Kabupaten Wonosobo datang berkunjung. Mereka ingin melihat langsung perubahan
yang terjadi di Desa Awan Biru.
Tim DPMD dipimpin oleh Ibu Sulastri, Kepala Bidang
Pemerintahan Desa, seorang wanita berusia 45 tahun dengan rambut pendek dan
wajah tegas. Ia didampingi oleh dua stafnya, Pak Wahyu dan Bu Dewi.
"Selamat pagi, Pak Kades, Bu Sekdes," sapa Ibu
Sulastri.
"Pagi, Bu. Selamat datang di Desa Awan Biru,"
jawab Pak Kades Iwan.
"Kami mendengar desa ini mengalami perubahan
signifikan dalam administrasi. Kami ingin belajar."
"Silakan, Bu. Bu Yuni yang akan memandu."
Bu Yuni memandu tim DPMD berkeliling kantor. Ia menunjukkan
lemari arsip yang rapi, buku register yang terisi lengkap, dan papan prosedur
yang terpasang di dinding.
"Ini luar biasa," kata Ibu Sulastri. "Dalam
waktu singkat, Ibu bisa mengubah sistem yang berantakan menjadi rapi."
"Kerja tim, Bu. Bukan saya sendiri."
"Tapi Ibu yang memimpin."
Bu Yuni tersenyum. "Saya hanya memulai. Mereka yang
melanjutkan."
Ibu Sulastri mengangguk kagum. "Ibu adalah contoh bagi
sekdes-sekdes lain."
"Terima kasih, Bu."
Setelah berkeliling, tim DPMD meminta Bu Yuni untuk
presentasi di balai desa. Warga yang mendengar kabar itu berdatangan. Mereka
ingin menyaksikan langsung.
Bu Yuni berdiri di depan papan tulis. Ia menggunakan
karton-karton berisi slide tulisan tangan—sama seperti saat presentasi untuk
tim studi banding.
"Bapak, Ibu, perkenankan saya mempresentasikan sistem
administrasi yang kami terapkan."
Ia menjelaskan langkah demi langkah: klasifikasi arsip,
buku register, papan prosedur, standar pelayanan, dan pelatihan perangkat desa.
Ibu Sulastri dan timnya mencatat dengan saksama.
"Berapa lama Ibu menerapkan sistem ini?" tanya
Ibu Sulastri.
"Baru dua setengah bulan, Bu."
"Luar biasa. Biasanya pembenahan administrasi butuh
waktu setidaknya setahun."
"Ini berkat kerja keras tim, Bu."
"Kami akan merekomendasikan Desa Awan Biru sebagai
desa percontohan untuk administrasi desa di Kabupaten Wonosobo."
Bu Yuni terkejut. "Serius, Bu?"
"Serius. Ibu dan tim Ibu layak mendapat
apresiasi."
Warga bertepuk tangan. Pak Kades Iwan menangis haru.
Setelah presentasi, mereka makan siang bersama di balai
desa. Pak Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak. Anto membawa kopi dan
teh. Ibu-ibu PKK membawa kue tradisional.
"Bu Yuni, Ibu asli mana?" tanya Ibu Sulastri.
"Saya asli Wonosobo, Bu. Dari lereng Sumbing."
"Wah, sama. Saya juga dari Wonosobo. Tapi dari sisi
lain."
"Berarti kita satu kabupaten, Bu."
"Iya. Saya bangga ada orang Wonosobo yang berprestasi
seperti Ibu."
Bu Yuni tersenyum malu. "Saya hanya melakukan tugas,
Bu."
"Tapi Ibu melakukannya dengan luar biasa."
Setelah seharian berkunjung, tim DPMD pamit. Mereka membawa
banyak catatan dan rencana untuk diterapkan di desa-desa lain.
"Bu Yuni, terima kasih," kata Ibu Sulastri.
"Sama-sama, Bu. Semoga bermanfaat."
"Ibu adalah inspirasi. Kami akan cerita ke desa-desa
lain."
"Terima kasih, Bu."
Mobil tim DPMD melaju perlahan meninggalkan halaman kantor
desa. Bu Yuni melambai-lambaikan tangan.
"Bu, Ibu sekarang terkenal sampai kabupaten,"
kata Si Amat.
"Bukan terkenal, Mas. Hanya berbagi."
"Tetap saja, Ibu hebat."
Sore itu, Pak Kades Iwan mengumpulkan warga di balai desa.
Ia ingin menyampaikan pidato singkat.
"Warga sekalian, kita patut bersyukur. Desa kita mulai
diakui."
Warga bertepuk tangan.
"Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Ini hasil
kerja keras Bu Yuni dan seluruh perangkat desa. Juga dukungan dari kita semua."
"Setuju, Pak Kades!" teriak warga.
"Kita harus jaga agar perubahan ini berkelanjutan.
Jangan sampai kita kembali ke cara lama."
"Tidak akan, Pak Kades!" teriak Pak Darmo.
"Kita dukung Bu Yuni!" teriak warga lain.
Bu Yuni yang berdiri di samping Pak Kades menunduk. Matanya
berkaca-kaca.
"Terima kasih, warga sekalian. Tapi ini bukan tentang
saya. Ini tentang kita semua. Tentang desa kita."
"Kita cinta Bu Yuni!" teriak Anto dari belakang.
Semua tertawa. Bu Yuni tersenyum malu.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning tidur di pangkuannya, mendengkur pelan.
"Kuning, hari ini menyenangkan."
Kucing itu mengeong pelan.
"Kita dikunjungi DPMD. Mereka memuji sistem kita. Kata
mereka, desa kita akan dijadikan percontohan."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Perubahan yang kita mulai mulai
diakui. Tapi ini baru awal. Masih banyak yang harus dikerjakan."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah.
Bintang-bintang bertaburan seperti berlian.
"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih
untuk pengakuan yang Engkau berikan. Tapi jangan biarkan aku sombong. Jaga
hatiku agar tetap rendah hati."
Ia memejamkan mata.
"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita mulai lagi."
Keesokan paginya, Bu Yuni datang ke kantor dengan semangat
baru. Senyumnya merekah, matanya berbinar.
"Selamat pagi, teman-teman!" sapanya ceria.
"Pagi, Bu!" jawab mereka serempak.
"Hari ini kita akan fokus pada arsip tahun 1990-1995.
Target kita, selesai dalam dua minggu."
"Setuju, Bu!" seru mereka.
Mereka mulai bekerja. Arsip-arsip dikeluarkan dari lemari,
dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.
"Bu, ini arsip tahun 1990. Isinya sudah rapuh,"
kata Si Amat.
"Hati-hati, Mas. Pindahkan ke map baru, lalu lapisi
dengan plastik."
"Siap, Bu."
Pak Eko bekerja dengan tekun. "Bu, ini arsip program
desa tahun 1991. Masih lengkap."
"Bagus, Pak Eko. Simpan di map baru."
Pak Edi, yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius.
"Bu, arsip sosial tahun 1992 sudah saya rapikan."
"Terima kasih, Pak Edi."
Di tengah pekerjaan, mereka menemukan kendala. Beberapa
arsip tahun 1990-1995 ternyata hilang atau rusak parah.
"Bu, arsip keuangan tahun 1993 hilang," kata Bu
Lulu dengan wajah cemas.
"Yakin, Bu?"
"Saya sudah cari di semua map, Bu. Tidak ada."
Bu Yuni berpikir sejenak. "Mungkin tersimpan di
kecamatan. Dulu, arsip keuangan desa disimpan di kecamatan untuk tahun-tahun
tertentu."
"Benarkah, Bu?"
"Saya tidak yakin. Tapi tidak ada salahnya cek."
Pak Eko yang mendengar langsung menawarkan diri. "Bu,
saya ke kecamatan. Saya cek."
"Baik, Pak Eko. Terima kasih."
Pak Eko bergegas ke kecamatan. Dua jam kemudian, ia kembali
dengan membawa map tebal.
"Bu, ketemu! Tersimpan di arsip kecamatan."
"Syukurlah. Terima kasih, Pak Eko."
"Tadi saya sempat panik, Bu. Tapi Alhamdulillah
ketemu."
Melihat kesibukan perangkat desa, warga kembali membantu.
Mereka datang bergantian, membawa makanan, atau sekadar menawarkan bantuan.
"Bu Yuni, saya bisa bantu apa?" tanya Pak Darmo.
"Pak, Bapak bisa bantu cari data warga untuk arsip
kependudukan tahun 1990-1995."
"Siap, Bu."
Pak Darmo keliling desa, mewawancarai warga tua yang masih
ingat data-data lama.
Bu Sri dan ibu-ibu PKK membantu merapikan arsip-arsip yang
kotor. Mereka membersihkan debu, menyeka map, dan melapisi kertas dengan
plastik.
"Bu, ini bersih semua," kata Bu Sri.
"Terima kasih, Bu Sri. Ibu hebat."
Anto membantu mengantar arsip-arsip ke kecamatan untuk
dicocokkan. Ia rela bolak-balik meskipun truknya sedang tidak jalan.
"To, Bapak repot," kata Bu Yuni.
"Tidak repot, Bu. Ini untuk desa kita."
"Terima kasih, To."
Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif.
Arsip-arsip tahun 1990-1995 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata.
Map-map baru berjejer rapi di lemari. Buku register terisi dengan lengkap.
"Bu, arsip tahun 1990-1992 sudah selesai," lapor
Si Amat pada hari Kamis.
"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1993-1995."
"Siap, Bu."
Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun
1990-1995 sudah tertata rapi.
"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.
Mereka bersorak. "Hore!"
"Ini berkat kerja keras kita semua."
"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.
Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan.
Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip tahun 1990-1992. Target dua
minggu, tapi mereka optimis bisa selesai minggu depan.
"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu
Yuni.
"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.
"Kita sama-sama belajar."
Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah
melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."
"Semoga berkelanjutan, Pak."
"Aamiin," jawab mereka.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.
"Kuning, minggu ini produktif."
Kucing itu mengeong pelan.
"Kita berhasil merapikan arsip tahun 1990-1992. Target
dua minggu, kita kejar minggu depan selesai."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Warga membantu. Semua bekerja
sama."
Ia menatap bintang-bintang. Malam itu, langit cerah. Bulan
sabit tipis menggantung di ufuk barat.
"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih
untuk semangat yang Engkau berikan. Terima kasih untuk tim yang solid. Terima
kasih untuk warga yang mendukung."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih ada arsip tahun
1993-1995. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa
ke rumahnya untuk makan siang bersama lagi. Ini kejutan kedua untuk merayakan
keberhasilan mereka.
"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan
sambil membukakan pintu.
Rumahnya sederhana, tapi hari itu dihiasi dengan balon dan
pita warna-warni—sama seperti sebelumnya, tapi kali lebih meriah.
"Wah, Pak Kades, Ibu tidak usah repot-repot,"
kata Bu Yuni.
"Ini sudah seharusnya, Bu. Untuk merayakan
keberhasilan kita."
Mereka makan siang bersama. Lauknya lebih meriah dari
sebelumnya: ayam goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu isi, sambal terasi,
lalapan, dan buah-buahan.
"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.
"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah
seharusnya."
Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang
kumpul seperti ini."
"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita
solid."
"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.
"Aamiin," jawab mereka.
Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat lagi.
"Teman-teman, keberhasilan kita hari ini bukan akhir.
Ini awal. Masih banyak yang harus kita kerjakan."
Mereka mendengarkan dengan saksama.
"Arsip tahun 1993-1995 masih menanti. Setelah itu,
arsip tahun 1980-an. Dan seterusnya. Pekerjaan tidak akan pernah habis."
"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.
"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita
punya Allah."
Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus
terus bekerja."
"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni.
"Kesehatan lebih penting."
"Setuju, Bu."
Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya
yang lusuh masih setia.
"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."
"Apa itu, To?"
"Kata Pak Camat, desa kita akan dikunjungi Bupati
minggu depan."
Bu Yuni terkejut. "Bupati? Serius, To?"
"Serius, Bu. Bupati ingin melihat langsung perubahan
di desa kita."
Pak Kades Iwan tersenyum lebar. "Ini luar biasa."
"Ini berkat Bu Yuni," kata Anto.
"Bukan, To. Ini berkat kita semua."
"Tetap saja, Bu Yuni yang memulai."
Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Karena akan ada kunjungan Bupati, Bu Yuni dan tim
mempersiapkan diri dengan ekstra keras.
"Teman-teman, Bupati akan datang. Kita harus
menunjukkan yang terbaik."
"Siap, Bu!" seru mereka.
"Kita rapikan kantor. Bersihkan semua ruangan. Tata
arsip dengan rapi. Siapkan materi presentasi."
"Bu, siapa yang presentasi?" tanya Si Amat.
"Saya yang akan presentasi. Tapi kalian harus siap
menjawab pertanyaan."
"Siap, Bu."
Mereka bekerja ekstra keras. Kantor dibersihkan dari debu
hingga berkilau. Arsip ditata ulang dengan sangat rapi. Materi presentasi
disiapkan dengan lebih detail.
Bu Yuni membuat slide presentasi baru di karton, lebih
rapi, lebih jelas, lebih menarik. Ia juga menyiapkan data-data pendukung.
Hari yang ditunggu tiba. Bupati Wonosobo, datang dengan
iring-iringan mobil dinas. Beliau adalah seorang pria berusia 55 tahun,
berwajah ramah dengan senyum khas yang selalu merekah. Beliau dikenal sebagai
pemimpin yang dekat dengan rakyat.
"Selamat pagi, Pak Kades, Bu Sekdes," sapa
Bupati.
"Pagi, Pak Bupati. Selamat datang di Desa Awan
Biru," jawab Pak Kades Iwan dengan suara sedikit gemetar karena gugup.
"Kami mendengar desa ini mengalami perubahan luar
biasa dalam administrasi. Saya ingin melihat langsung."
"Silakan, Pak. Bu Yuni yang akan memandu."
Bu Yuni memandu Bupati berkeliling kantor. Ia menunjukkan
lemari arsip yang rapi, buku register yang terisi lengkap, papan prosedur yang
terpasang di dinding, dan papan pengumuman berisi persyaratan surat-menyurat.
"Ini luar biasa," kata Bupati. "Dalam waktu
singkat, Ibu bisa mengubah sistem yang berantakan menjadi rapi."
"Kerja tim, Pak. Bukan saya sendiri."
"Tapi Ibu yang memimpin."
Bu Yuni tersenyum. "Saya hanya memulai. Mereka yang
melanjutkan."
Bupati mengangguk kagum. "Ibu adalah contoh bagi
sekdes-sekdes lain di Wonosobo."
"Terima kasih, Pak."
Setelah berkeliling, Bupati berpidato di balai desa. Warga
yang mendengar kabar itu berdatangan berbondong-bondong. Balai desa yang
berukuran 12x8 meter penuh sesak. Ada yang duduk di kursi, ada yang berdiri di
belakang, ada yang sampai duduk di lantai.
"Warga Desa Awan Biru yang saya banggakan," mulai
Bupati.
"Kalian beruntung memiliki pemimpin yang peduli. Pak
Kades Iwan dan Bu Yuni adalah contoh pemimpin yang bekerja dengan hati."
Warga bertepuk tangan.
"Perubahan yang terjadi di desa ini tidak datang
begitu saja. Ini hasil kerja keras, pengorbanan, dan dedikasi."
Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca.
"Saya akan menjadikan Desa Awan Biru sebagai
percontohan bagi desa-desa lain di Wonosobo. Saya minta Pak Camat untuk
memfasilitasi."
"Baik, Pak Bupati," jawab Pak Camat Subroto yang
ikut hadir.
"Dan saya akan memberikan bantuan dana untuk pengembangan
administrasi desa. Saya harap bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya."
"Terima kasih, Pak Bupati," kata Pak Kades Iwan.
Setelah pidato, mereka makan siang bersama di balai desa.
Pak Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak untuk semua. Ibu-ibu PKK
membawa kue tradisional.
"Bu Yuni, Ibu asli mana?" tanya Bupati.
"Saya asli Wonosobo, Pak. Dari lereng Sumbing."
"Wah, sama. Saya juga dari Wonosobo. Tapi dari
kota."
"Berarti kita satu kabupaten, Pak."
"Iya. Saya bangga ada orang Wonosobo yang berprestasi
seperti Ibu."
Bu Yuni tersenyum malu. "Saya hanya melakukan tugas,
Pak."
"Tapi Ibu melakukannya dengan luar biasa."
Setelah seharian berkunjung, Bupati pamit. Beliau membawa
kesan yang mendalam.
"Bu Yuni, terima kasih," kata Bupati.
"Sama-sama, Pak. Semoga bermanfaat."
"Ibu adalah inspirasi. Saya akan cerita ke desa-desa
lain."
"Terima kasih, Pak."
Mobil Bupati melaju perlahan meninggalkan halaman kantor
desa. Bu Yuni melambai-lambaikan tangan.
"Bu, Ibu sekarang terkenal sampai kabupaten,"
kata Si Amat.
"Bukan terkenal, Mas. Hanya berbagi."
"Tetap saja, Ibu hebat."
Warga Desa Awan Biru berbahagia. Mereka merasa bangga
karena desanya dikunjungi Bupati. Mereka juga merasa bangga karena Bu Yuni
dipuji.
"Bu Yuni, Ibu hebat," kata Pak Darmo.
"Terima kasih, Pak. Tapi ini kerja kita semua."
"Tetap saja, Ibu yang memulai."
"Kita sama-sama memulai, Pak."
Mereka tersenyum. Suasana desa sore itu penuh kebahagiaan.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning tidur di pangkuannya.
"Kuning, hari ini luar biasa."
Kucing itu mengeong pelan.
"Bupati datang. Beliau memuji kita. Beliau akan
menjadikan desa kita percontohan."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Tapi aku juga sadar, ini baru awal.
Masih banyak yang harus dikerjakan."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih
untuk pengakuan yang Engkau berikan. Tapi jangan biarkan aku sombong. Jaga
hatiku agar tetap rendah hati."
Ia memejamkan mata.
"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus dikerjakan.
Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita mulai lagi."
Keesokan paginya, Bu Yuni datang ke kantor dengan semangat
baru. Senyumnya merekah, matanya berbinar.
"Selamat pagi, teman-teman!" sapanya ceria.
"Pagi, Bu!" jawab mereka serempak.
"Hari ini kita akan fokus pada arsip tahun 1993-1995.
Target kita, selesai dalam satu minggu."
"Setuju, Bu!" seru mereka.
Mereka mulai bekerja. Arsip-arsip dikeluarkan dari lemari,
dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.
"Bu, ini arsip tahun 1993. Isinya masih bagus,"
kata Si Amat.
"Bagus, Mas. Simpan di map baru."
Pak Eko bekerja dengan tekun. "Bu, ini arsip program
desa tahun 1994. Lengkap."
"Terima kasih, Pak Eko."
Pak Edi, yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius.
"Bu, arsip sosial tahun 1995 sudah saya rapikan."
"Terima kasih, Pak Edi."
Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif.
Arsip-arsip tahun 1993-1995 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata.
Map-map baru berjejer rapi di lemari. Buku register terisi dengan lengkap.
"Bu, arsip tahun 1993-1994 sudah selesai," lapor
Si Amat pada hari Kamis.
"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1995."
"Siap, Bu."
Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun
1990-1995 sudah tertata rapi.
"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.
Mereka bersorak. "Hore!"
"Ini berkat kerja keras kita semua."
"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.
Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan.
Dalam tiga minggu, mereka berhasil merapikan semua arsip dari tahun 1990 hingga
1995. Target tiga bulan, tercapai dalam tiga minggu.
"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu
Yuni.
"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.
"Kita sama-sama belajar."
Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah
melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."
"Semoga berkelanjutan, Pak."
"Aamiin," jawab mereka.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya. Kucing
Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.
"Kuning, kita berhasil."
Kucing itu mengeong pelan.
"Arsip tahun 1990-1995 selesai dalam tiga minggu.
Padahal target tiga bulan."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Tim bekerja keras. Warga mendukung.
Allah meridhoi."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk bulan ini. Terima kasih
untuk semua pencapaian. Tapi jangan biarkan aku berhenti. Masih banyak yang
harus dikerjakan."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Arsip tahun 1980-an
menanti. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa
ke rumahnya untuk makan siang bersama lagi. Ini kejutan ketiga.
"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan
sambil membukakan pintu.
"Wah, Pak Kades, Ibu tidak usah repot-repot,"
kata Bu Yuni.
"Ini sudah seharusnya, Bu. Untuk merayakan
keberhasilan kita."
Mereka makan siang bersama. Lauknya semakin meriah: ayam
goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu isi, sambal terasi, lalapan,
buah-buahan, dan es campur.
"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.
"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah
seharusnya."
Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang
kumpul seperti ini."
"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita
solid."
"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.
"Aamiin," jawab mereka.
Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat lagi.
"Teman-teman, kita sudah merapikan arsip hingga tahun
1990. Tapi masih ada arsip tahun 1980-an, 1970-an, dan seterusnya. Pekerjaan
belum selesai."
"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.
"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita
punya Allah."
Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus
terus bekerja."
"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni.
"Kesehatan lebih penting."
"Setuju, Bu."
Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya
yang lusuh masih setia.
"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."
"Apa itu, To?"
"Kata Pak Camat, desa kita akan menerima bantuan
komputer dan printer dari kabupaten."
Bu Yuni terkejut. "Komputer dan printer? Serius,
To?"
"Serius, Bu. Untuk mendukung administrasi desa."
Pak Kades Iwan tersenyum lebar. "Ini luar biasa."
"Ini berkat Bu Yuni," kata Anto.
"Bukan, To. Ini berkat kita semua."
"Tetap saja, Bu Yuni yang memulai."
Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Karena akan ada bantuan komputer dan printer, Bu Yuni dan
tim mempersiapkan tempat yang layak.
"Teman-teman, kita akan mendapat bantuan komputer dan
printer. Kita harus siapkan ruangan khusus."
"Siap, Bu!" seru mereka.
"Kita bersihkan ruang tamu belakang. Letakkan meja
untuk komputer. Siapkan stop kontak. Jangan sampai listrik mati."
"Bu, listrik di sini sering mati," kata Si Amat.
"Kita siapkan genset kecil. Pak Kades, bisa
dianggarkan?"
"Bisa, Bu. Saya urus."
"Terima kasih, Pak."
Mereka bekerja membersihkan ruang tamu belakang. Ruangan
itu sebelumnya jarang digunakan, penuh debu dan sarang laba-laba. Mereka
membersihkan, mengepel, dan mengecat ulang dinding.
"Wah, sekarang jadi bagus," kata Si Amat.
"Iya, Mas. Ini akan jadi ruang komputer."
Dua minggu kemudian, bantuan dari kabupaten datang. Satu
unit komputer, satu unit printer, dan satu unit meja komputer.
"Bu Yuni, ini untuk desa Ibu," kata petugas dari
DPMD.
"Terima kasih, Pak. Ini sangat membantu."
Petugas itu memasang komputer dan printer. Ia juga
mengajarkan cara mengoperasikannya kepada Si Amat dan Bu Yuni.
"Ini caranya, Bu. Tekan tombol ini untuk menyalakan.
Buka program ini untuk mengetik surat. Klik ini untuk mencetak."
Bu Yuni belajar dengan tekun. Matanya berbinar melihat
kemajuan teknologi.
"Mas Amat, Bapak juga harus belajar."
"Siap, Bu!"
Komputer pertama di Kantor Desa Awan Biru menjadi
kebanggaan tersendiri. Warga berdatangan untuk melihat.
"Wah, ada komputer!" seru anak-anak.
"Iya, ini bantuan dari kabupaten," kata Si Amat
dengan bangga.
"Bisa main game, Mas?"
"Bisa, tapi nggak boleh. Ini untuk kerja."
Anak-anak tertawa. Bu Yuni tersenyum melihat antusiasme
mereka.
"Mas Amat, tolong buat surat pertama dengan
komputer."
"Siap, Bu!"
Si Amat mengetik dengan kaku. Jari-jarinya masih
terbata-bata, huruf demi huruf. Tapi setelah beberapa menit, surat itu selesai.
"Ini, Bu. Surat pertama dari komputer."
Bu Yuni membaca surat itu. Hasilnya rapi, jelas, dan
profesional.
"Bagus, Mas Amat. Bapak hebat."
Si Amat tersenyum bangga. Dadanya membusung.
Dengan adanya komputer, pelayanan di kantor desa semakin
modern. Surat-surat yang dulu ditulis tangan, kini bisa diketik dengan rapi.
Arsip-arsip yang dulu disimpan di map, kini bisa disimpan di komputer.
"Bu, ini lebih cepat," kata Si Amat.
"Iya, Mas. Tapi jangan lupakan arsip fisik. Komputer
bisa rusak, listrik bisa mati. Arsip fisik tetap penting."
"Baik, Bu. Saya ingat."
Bu Yuni juga mengajarkan perangkat desa lain untuk
menggunakan komputer. Pak Eko, yang sudah terbiasa dengan laptop, paling cepat
belajar. Pak Edi agak lambat, tapi semangat. Pak Santoso agak gugup, tapi tidak
menyerah.
"Bu, jari saya gemetar," kata Pak Santoso.
"Tidak apa-apa, Pak. Pelan-pelan saja."
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning tidur di pangkuannya.
"Kuning, kita punya komputer sekarang."
Kucing itu mengeong pelan.
"Pelayanan akan semakin cepat. Arsip bisa disimpan di
komputer. Tapi aku tidak akan melupakan arsip fisik."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Desa ini semakin maju. Perlahan tapi
pasti."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk bantuan ini. Terima
kasih untuk kemajuan yang Engkau berikan. Jangan biarkan aku lupa bahwa ini
semua karena-Mu."
Ia memejamkan mata.
"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita mulai lagi."
BAB
9
UJIAN TERBESAR
Pagi itu, Desa Awan Biru tampak seperti biasa. Kabut tipis
masih menggantung di antara pepohonan, burung-burung mulai berkicau, dan asap
dapur mulai mengepul dari cerobong-cerobong rumah warga. Namun di balik
ketenangan itu, ada sesuatu yang bergerak di kejauhan, sesuatu yang akan
mengubah segalanya.
Pukul 08.30, sebuah mobil dinas berwarna abu-abu metalik
berhenti di depan kantor desa. Bukan mobil biasa. Ini adalah mobil Toyota
Kijang dengan pelat nomor merah, kaca film gelap, dan sirine kecil di atap, tanda
bahwa ini adalah kendaraan resmi pejabat tinggi. Debu jalanan masih beterbangan
saat pintu mobil terbuka. Tiga orang turun dengan langkah pasti.
Yang pertama adalah seorang pria berusia sekitar 50 tahun,
berperawakan tegap, dengan kumis tebal dan kacamata berbingkai emas. Ia
mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan saku di dada kiri, celana bahan
hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Di tangannya, ia membawa map tebal
berwarna coklat dengan stempel merah di pojok kanan atas. Ini adalah Pak
Hermawan, Inspektur Pembantu dari Inspektorat Kabupaten Wonosobo, dikenal
sebagai auditor paling tegas dan disegani. Wajahnya tidak pernah tersenyum
dalam tugas, matanya seperti detektor yang bisa menangkap kebohongan dari jarak
seratus meter.
Yang kedua adalah seorang wanita berusia sekitar 40 tahun,
dengan rambut pendek bergaya bob, wajah tegas, dan tatapan tajam. Ia mengenakan
blazer hitam di luar kemeja putih, rok pensil selutut, dan sepatu hak rendah.
Ini adalah Bu Dewi, auditor senior yang terkenal dengan kecermatannya dalam
memeriksa angka. Ia membawa tas laptop hitam dan sebuah map kecil berisi daftar
periksa audit. Konon, ia bisa menemukan ketidakcocokan angka hanya dengan
sekali pandang.
Yang ketiga adalah seorang pria muda berusia sekitar 30
tahun, dengan wajah ramah dan senyum tipis. Ia membawa kamera dan buku catatan.
Ini adalah Pak Budi, auditor junior yang bertugas mendokumentasikan temuan.
Meskipun terlihat ramah, ia juga dikenal teliti.
Si Amat yang sedang menyapu halaman langsung berhenti. Sapu
terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah dengan bunyi pletak.
Mulutnya menganga, matanya membelalak. Ia belum pernah melihat mobil dengan
pelat merah sedekat ini sebelumnya.
"Pak... Pak Edi! Pak Edi!" teriaknya sambil
berlari ke dalam kantor, hampir tersandung pintu. "Kita kedatangan tamu...
bukan tamu biasa... tamu 'menentukan nasib'!"
Pak Edi yang sedang duduk santai sambil menyeruput kopi
langsung berdiri. Gelas plastiknya hampir terjatuh. "Siapa, Mat? Siapa
yang datang?"
"Mobil pelat merah, Pak! Orang-orangnya kayak
pejabat!"
Pak Edi bergegas ke pintu. Melihat mobil dan tiga orang
yang sedang berjalan menuju kantor, wajahnya berubah pucat. "Waduh... ini
Inspektorat. Tim audit dari kabupaten."
"Audit?" Si Amat hampir pingsan. "Apa
maksudnya, Pak?"
"Mereka mau memeriksa administrasi desa. Semua
laporan, semua arsip, semua keuangan."
"Ya Allah... kita siap tidak, Pak?"
Pak Edi menghela napas panjang. "Mudah-mudahan."
Tim Inspektorat masuk ke kantor desa dengan langkah pasti.
Pak Hermawan di depan, diikuti Bu Dewi dan Pak Budi di belakang. Suasana
langsung berubah. Udara yang tadinya hangat mendadak dingin. Semua perangkat
desa yang sedang duduk berdiri dengan gugup.
"Selamat pagi," sapa Pak Hermawan dengan suara
berat dan tegas.
"Pagi, Pak," jawab Pak Kades Iwan yang baru
keluar dari ruangannya dengan wajah masih pucat karena kaget.
"Kami dari Inspektorat Kabupaten Wonosobo. Kami akan
melakukan audit insidental terhadap administrasi Desa Awan Biru."
Pak Kades Iwan menelan ludah. "Insidental, Pak?
Maksudnya tidak terjadwal?"
"Betul. Kami menerima laporan dari masyarakat tentang
adanya indikasi ketidakberesan dalam administrasi desa. Kami wajib
memeriksa."
Bu Yuni yang sedari tadi berdiri di samping Pak Kades
langsung merasakan dadanya berdebar. Laporan dari masyarakat? Indikasi
ketidakberesan? Ini bukan audit biasa. Ini audit karena adanya pengaduan.
"Silakan, Pak. Kami siap bekerja sama," kata Bu
Yuni dengan suara yang ia usahakan tenang, meskipun hatinya bergolak.
Pak Hermawan menatap Bu Yuni. "Ibu Sekdes?"
"Iya, Pak. Saya Yuniarti, Sekretaris Desa."
"Kami dengar Ibu yang memimpin pembenahan administrasi
di sini."
"Iya, Pak. Tapi ini kerja tim."
Pak Hermawan mengangguk tipis. "Baik. Kami akan
memeriksa semuanya. Mulai dari laporan keuangan, arsip kependudukan,
pertanahan, surat menyurat, hingga program desa."
"Silakan, Pak."
Tim audit langsung bekerja. Pak Hermawan duduk di kursi
yang disediakan, membuka map tebalnya, dan mulai memeriksa dokumen demi
dokumen. Bu Dewi membuka laptopnya, memasukkan data, dan mencocokkan angka. Pak
Budi berkeliling mengambil foto-foto dokumentasi.
"Kami ingin melihat laporan keuangan tahun 2000 dan
2001," kata Pak Hermawan.
Bu Lulu yang ditunjuk maju dengan tangan gemetar. Ia
membawa map tebal berisi laporan keuangan yang sudah ia rapikan berbulan-bulan.
"Ini, Pak."
Pak Hermawan membuka laporan itu. Matanya bergerak cepat
dari baris ke baris. Jarinya menunjuk angka-angka, bibirnya bergerak-gerak
seperti sedang menghitung dalam hati.
"Bu, bukti transaksi untuk pengadaan jalan desa tahun
2000 di mana?"
Bu Lulu mengambil map lain. "Ini, Pak."
Pak Hermawan memeriksa satu per satu. Ia mencocokkan jumlah
di laporan dengan bukti transaksi. Sesekali ia mengernyit, sesekali mengangguk.
"Bu Dewi, tolong cek data ini," katanya sambil
menyerahkan beberapa lembar kertas.
Bu Dewi menerima, memasukkan ke laptop, lalu membandingkan
dengan data di kecamatan. "Pak, ini cocok."
"Baik."
Pemeriksaan berlangsung selama dua jam. Tim audit memeriksa
semua laporan: keuangan, kependudukan, pertanahan, program desa, bantuan
sosial, dan surat menyurat.
Pak Hermawan sesekali mengajukan pertanyaan tajam.
"Bu Sekdes, mengapa ada selisih angka di laporan
keuangan triwulan ketiga tahun 2000?"
Bu Yuni mendekat, melihat angka yang dimaksud. "Itu
karena ada realokasi anggaran, Pak. Kami sudah mencantumkan di catatan
kaki."
Pak Hermawan memeriksa catatan kaki. "Benar.
Baik."
"Bu Sekdes, mengapa arsip pertanahan tahun 1998 ada
yang tidak lengkap?"
"Karena sebagian arsip lama rusak dimakan rayap, Pak.
Kami sudah berusaha merekonstruksi dari sumber lain."
"Apakah ada bukti rekonstruksinya?"
"Ada, Pak. Kami lampirkan."
Pak Hermawan mengangguk. "Baik."
Pukul 11.00, Pak Hermawan memanggil Pak Kades dan Bu Yuni
ke ruang terpisah. Wajahnya serius.
"Pak Kades, Bu Sekdes, kami menemukan beberapa
kejanggalan."
Pak Kades Iwan dan Bu Yuni saling pandang. Jantung mereka
berdebar kencang.
"Kejanggalan apa, Pak?" tanya Bu Yuni.
"Pertama, ada bukti transaksi fiktif pada tahun 1999.
Sebelum Ibu menjabat."
Bu Yuni menghela napas lega. Itu bukan masa kerjanya.
"Kedua, ada indikasi penggelembungan anggaran pada
program pengadaan jalan desa tahun 1999."
"Pak, itu sebelum saya menjabat," kata Bu Yuni.
"Saya tahu. Tapi sebagai Sekdes, Ibu bertanggung jawab
atas arsip. Mengapa bukti transaksi fiktif itu masih ada?"
Bu Yuni terdiam. Ia tidak bisa menjawab.
"Ketiga, ada laporan dari warga bahwa Ibu menerima
uang dari LSM Pundi Desa untuk proyek administrasi."
Bu Yuni terkejut. "Itu fitnah, Pak. Saya tidak pernah
menerima uang dari siapa pun."
"Kami akan buktikan. Sementara, kami akan periksa
semua bukti."
Bu Yuni menunduk. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan.
"Pak, saya siap diperiksa. Saya tidak bersalah."
Pak Kades Iwan yang mendengar tuduhan itu langsung angkat
bicara.
"Pak Hermawan, saya kenal Bu Yuni. Beliau orang jujur.
Tidak mungkin menerima uang."
"Kami tidak menuduh, Pak Kades. Kami hanya
memeriksa."
"Tapi tuduhan itu tidak berdasar. Siapa yang
melapor?"
"Kami tidak bisa menyebutkan identitas pelapor. Itu
rahasia."
Pak Kades Iwan menghela napas. "Pak, saya siap menjadi
saksi. Bu Yuni tidak bersalah."
"Kami akan buktikan. Biarkan proses berjalan."
Pak Kades Iwan terdiam. Ia hanya bisa berdoa.
Tim audit memeriksa lebih intensif. Mereka memeriksa semua
bukti transaksi, semua arsip, semua laporan. Mereka juga mewawancarai perangkat
desa satu per satu.
Pak Eko dipanggil lebih dulu.
"Pak Eko, apa Ibu tahu tentang proyek administrasi
dengan LSM Pundi Desa?"
"Iya, Pak. Saya tahu. Bu Yuni yang menginisiasi kerja
sama."
"Apakah Ibu melihat Bu Yuni menerima uang dari
LSM?"
"Tidak, Pak. Saya tidak pernah melihat."
"Apakah Ibu sendiri menerima uang?"
"Saya? Tidak, Pak. Saya tidak pernah."
Pak Santoso dipanggil berikutnya.
"Pak Santoso, apa Ibu tahu tentang laporan masyarakat
yang menuduh Bu Yuni menerima uang?"
"Saya dengar, Pak. Tapi saya yakin itu fitnah."
"Kenapa Ibu yakin?"
"Karena saya bekerja dengan Bu Yuni setiap hari. Saya
lihat beliau tidak pernah meminta imbalan. Bahkan sering membayar keperluan
kantor dari uang sendiri."
Pak Hermawan mencatat. "Baik."
Bu Lulu, Pak Edi, Si Amat, semua dipanggil. Semua
memberikan kesaksian yang sama: Bu Yuni tidak pernah menerima uang.
Anto yang kebetulan ada di kantor juga dimintai keterangan.
Ia dipanggil oleh tim audit.
"Saudara Anto, apa Ibu kenal Bu Yuni?"
"Iya, Pak. Saya kenal."
"Apa Ibu pernah melihat Bu Yuni menerima uang dari
LSM?"
"Tidak, Pak. Saya tidak pernah."
"Tapi saya dengar bapak sering membantu Bu Yuni. Apa
bapak tidak pernah diberi imbalan?"
"Saya membantu karena saya peduli, Pak. Bukan karena
imbalan."
Pak Hermawan mengangguk. "Baik."
Anto keluar dari ruang pemeriksaan. Ia mendekati Bu Yuni
yang sedang duduk di mejanya dengan wajah pucat.
"Bu Yuni, tenang. Ibu tidak bersalah."
"Terima kasih, To. Tapi saya takut."
"Takut apa, Bu?"
"Takut fitnah ini merusak semua yang sudah kita
bangun."
Anto menggeleng. "Tidak akan, Bu. Kebenaran akan
menang."
Tim audit menghubungi LSM Pundi Desa untuk mengkonfirmasi
tuduhan. Ternyata, LSM itu tidak pernah memberikan uang kepada Bu Yuni atau
perangkat desa lainnya. Yang mereka berikan hanyalah pelatihan dan pendampingan
teknis, tanpa imbalan finansial.
"Bu Dewi, ini konfirmasi dari LSM Pundi Desa. Mereka
tidak pernah memberikan uang," kata Pak Budi sambil menunjukkan surat
konfirmasi.
Bu Dewi membaca surat itu. "Jadi, tuduhan itu tidak
berdasar?"
"Tidak berdasar, Bu."
Pak Hermawan yang mendengar menghela napas. "Ada
laporan palsu."
"Sepertinya begitu, Pak."
Tim audit kemudian mencari sumber laporan palsu. Setelah
ditelusuri, laporan itu berasal dari seseorang yang tidak puas dengan perubahan
di kantor desa, seseorang yang dulu mudah mengurus surat dengan cara tidak
resmi, namun sekarang sulit karena sistem sudah rapi.
"Siapa orangnya?" tanya Pak Hermawan.
"Kami tidak bisa menyebutkan, Pak. Itu rahasia
pelapor."
"Tapi ini laporan palsu. Ini bisa dipidana."
"Kami akan proses lebih lanjut, Pak. Tapi untuk
sementara, fokus pada audit."
Pak Hermawan mengangguk. "Baik."
Setelah dua hari memeriksa, tim audit menyampaikan hasil
sementara.
"Pak Kades, Bu Sekdes, kami sudah selesai
memeriksa."
Bagaimana, Pak?" tanya Pak Kades Iwan dengan suara
bergetar.
"Secara umum, administrasi Desa Awan Biru sudah cukup
baik. Laporan keuangan dapat dipertanggungjawabkan. Arsip sudah tertata.
Pelayanan berjalan sesuai prosedur."
Bu Yuni menghela napas lega.
"Namun, kami menemukan beberapa kelemahan. Pertama,
bukti transaksi tahun 1999 masih ada yang fiktif. Itu sebelum Ibu menjabat,
tapi sebagai Sekdes, Ibu bertanggung jawab atas arsip."
"Iya, Pak. Kami akan perbaiki."
"Kedua, kami menemukan indikasi penggelembungan
anggaran pada program pengadaan jalan desa tahun 1999. Itu juga sebelum Ibu
menjabat."
"Kami akan koordinasikan dengan aparat penegak hukum,
Pak."
"Baik. Ketiga, tuduhan terhadap Ibu tidak terbukti.
Ibu tidak menerima uang dari LSM."
Bu Yuni menangis. Air matanya jatuh. "Terima kasih,
Pak."
"Tapi Ibu harus lebih hati-hati. Ada orang yang tidak
suka dengan perubahan."
"Iya, Pak. Saya akan lebih hati-hati."
Sebelum pulang, Pak Hermawan memanggil Bu Yuni untuk bicara
empat mata.
"Bu Yuni, saya dengar Ibu baru bekerja beberapa
bulan."
"Iya, Pak. Baru empat bulan."
"Dalam empat bulan, Ibu sudah mengubah desa ini. Itu
luar biasa."
Bu Yuni tersenyum malu. "Terima kasih, Pak."
"Tapi Ibu harus siap. Perubahan selalu menimbulkan
musuh. Orang-orang yang diuntungkan dengan sistem lama akan melawan."
"Saya siap, Pak."
"Ibu kuat?"
"Insya Allah, Pak."
Pak Hermawan mengangguk. "Saya akan rekomendasikan
agar Ibu diberi penghargaan. Tapi Ibu juga harus siap dengan
konsekuensinya."
"Apa konsekuensinya, Pak?"
"Ada yang akan semakin benci. Ada yang akan semakin
melawan. Tapi Ibu tidak sendirian. Allah selalu bersama orang-orang yang
berbuat baik."
Bu Yuni menunduk. "Terima kasih, Pak. Nasihat Bapak
sangat berarti."
Tim audit pamit setelah tiga hari berada di desa. Mereka
membawa banyak catatan, tapi juga kesan yang mendalam.
"Bu Yuni, pertahankan," kata Pak Hermawan sambil
berjabat tangan.
"Terima kasih, Pak. Kami akan terus memperbaiki."
"Desa ini beruntung memiliki Ibu."
Bu Yuni tersenyum. "Terima kasih, Pak."
Mobil dinas abu-abu itu melaju perlahan meninggalkan
halaman kantor desa. Bu Yuni melambai-lambaikan tangan hingga mobil itu hilang
di tikungan.
Setelah mobil tim audit hilang dari pandangan, suasana di
kantor desa berubah. Semua perangkat desa yang sejak tadi menahan napas, kini
menghela napas lega. Ada yang duduk lemas di kursi, ada yang menangis haru.
"Bu, kita lulus," kata Si Amat sambil mengusap
air matanya.
"Iya, Mas. Kita lulus."
"Ini semua karena Ibu."
"Bukan, Mas. Ini karena kita semua."
Pak Edi yang duduk di kursi dengan kaki lemas berkata,
"Ya Allah... ini lebih tegang dari audit kemarin."
Pak Eko tersenyum lebar. "Kita berhasil membuktikan
bahwa Bu Yuni tidak bersalah."
Pak Santoso menepuk bahu Bu Yuni. "Bu, saya
bangga."
Bu Lulu menangis. "Saya takut tadi, Bu. Saya takut Bu
Yuni dipenjara."
Bu Yuni tertawa kecil. "Bu Lulu, saya tidak melakukan
kejahatan. Mana mungkin dipenjara."
"Tapi tuduhannya berat, Bu."
"Tuduhan tanpa bukti tidak akan berarti."
Pak Kades Iwan mengumpulkan semua perangkat desa di ruang
tengah. Wajahnya serius, namun matanya berbinar.
"Teman-teman, kita sudah melewati ujian
terbesar."
Mereka mengangguk.
"Kita dituduh, kita diperiksa, kita hampir putus asa.
Tapi kita bertahan. Kita buktikan bahwa kita bersih."
"Setuju, Pak!" seru mereka.
"Dan ini semua berkat Bu Yuni. Tanpa beliau, kita
mungkin tidak akan sekuat ini."
Bu Yuni menunduk. "Pak Kades, ini berkat kita
semua."
"Tapi Ibu yang memulai."
"Kita sama-sama memulai."
Pak Kades Iwan tersenyum. "Baik. Sekarang, mari kita
bersyukur. Kita akan mengadakan syukuran kecil-kecilan."
"Setuju, Pak!" seru mereka.
Sore itu, mereka mengadakan syukuran sederhana di kantor.
Pak Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak dan gorengan. Anto membawa
kopi dan teh. Ibu-ibu PKK membawa kue tradisional.
"Bu Yuni, selamat ya," kata Pak Darmo sambil
menjabat tangan Bu Yuni.
"Terima kasih, Pak."
"Ibu hebat. Ibu tidak gentar meskipun dituduh."
"Saya hanya percaya pada kebenaran, Pak."
"Kebenaran selalu menang."
Bu Ratih datang dengan membawa kue lagi. "Bu Yuni, ini
kue buatan saya. Untuk merayakan."
"Terima kasih, Bu Ratih."
Bu Sri dan ibu-ibu PKK lainnya juga datang. Mereka membawa
makanan dan minuman.
"Bu Yuni, kami mendukung Ibu," kata Bu Sri.
"Terima kasih, Bu Sri. Dukungan Ibu sangat
berarti."
Anto duduk di pojok, seperti biasa. Jaket kulitnya yang
lusuh masih setia. Ia tersenyum misterius.
"Bu Yuni, saya punya ramalan."
"Ramalan apa lagi, To?"
"Ibu akan selamat. Tuduhan akan terbukti palsu. Dan
Ibu akan semakin kuat."
Bu Yuni tersenyum. "To, ramalan Bapak selalu
benar."
"Kali ini saya yakin, Bu."
Mereka tertawa. Suasana sore itu hangat dan penuh kebahagiaan.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, yang setia, tidur di pangkuannya.
"Kuning, hari ini aku belajar sesuatu."
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku belajar bahwa ujian terbesar sering datang ketika
kita merasa paling kuat. Allah ingin menguji apakah kita benar-benar ikhlas
atau hanya mencari pujian."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku juga belajar bahwa kebenaran tidak perlu
ditakuti. Kebenaran akan selalu menang, meskipun harus melalui proses yang
panjang dan menyakitkan."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk ujian ini. Terima kasih
karena Engkau tunjukkan bahwa aku tidak sendirian. Terima kasih karena Engkau
berikan aku tim yang solid dan warga yang mendukung."
Ia memejamkan mata.
"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita mulai lagi."
Keesokan harinya, Pak Didit datang ke kantor desa. Wajahnya
pucat, langkahnya ragu-ragu.
"Bu Yuni, saya mau bicara."
"Silakan, Pak Didit."
Pak Didit duduk di kursi depan meja Bu Yuni. Ia menunduk,
tidak berani menatap mata Bu Yuni.
"Bu, saya mau mengakui sesuatu."
"Apa itu, Pak?"
"Saya yang melaporkan Ibu ke Inspektorat."
Bu Yuni terkejut. Matanya membulat. "Bapak? Kenapa,
Pak?"
Pak Didit menangis. "Saya iri, Bu. Saya iri karena Ibu
lebih sukses dari saya. Saya iri karena warga lebih percaya pada Ibu."
Bu Yuni terdiam. Ia tidak menyangka.
"Saya minta maaf, Bu. Saya bersalah. Saya telah
memfitnah Ibu lagi."
Bu Yuni menghela napas panjang. "Pak Didit, Bapak tahu
bahwa laporan palsu itu bisa dipidana?"
"Saya tahu, Bu. Saya siap menerima
konsekuensinya."
Bu Yuni diam sejenak. Ia berpikir. Lalu ia berkata,
"Pak Didit, saya tidak akan melaporkan Bapak."
Pak Didit terkejut. "Kenapa, Bu?"
"Karena Bapak sudah mengakui. Karena Bapak minta maaf.
Karena saya percaya Bapak bisa berubah."
Pak Didit menangis tersedu-sedu. "Bu Yuni, Ibu terlalu
baik."
"Saya tidak baik, Pak. Saya hanya tahu bahwa dendam
tidak akan menyelesaikan masalah. Memaafkan lebih mulia."
Pak Didit berlutut. "Bu, saya berjanji tidak akan
mengulangi. Saya akan mendukung Ibu sepenuh hati."
"Saya percaya, Pak."
Sejak itu, Pak Didit berubah total. Ia tidak hanya berhenti
memfitnah, tetapi juga menjadi pembela utama Bu Yuni. Ia keliling desa,
mengakui kesalahannya, dan meminta warga untuk mendukung Bu Yuni.
"Warga sekalian, saya yang melaporkan Bu Yuni ke
Inspektorat. Saya memfitnah beliau. Saya minta maaf."
Warga terkejut. "Pak Didit, kenapa Bapak tega?"
"Saya iri, Bu. Saya iri. Tapi sekarang saya sadar. Bu
Yuni adalah orang baik. Kita harus dukung beliau."
"Setuju, Pak Didit!" teriak warga.
"Mulai sekarang, saya akan bantu Bu Yuni. Saya akan
jadi relawan."
"Kami juga, Pak!"
Pak Didit tersenyum. Ia merasa lega karena dosanya
terangkat.
Senin pagi, Bu Yuni datang ke kantor dengan semangat baru.
Senyumnya merekah, matanya berbinar.
"Selamat pagi, teman-teman!" sapanya ceria.
"Pagi, Bu!" jawab mereka serempak.
"Hari ini kita akan fokus pada arsip tahun 1980-1989.
Target kita, selesai dalam satu bulan."
"Setuju, Bu!" seru mereka.
Mereka mulai bekerja. Arsip-arsip dikeluarkan dari lemari,
dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.
"Bu, ini arsip tahun 1980. Isinya sudah sangat
rapuh," kata Si Amat.
"Hati-hati, Mas. Pindahkan ke map baru, lalu lapisi
dengan plastik. Jangan sampai hancur."
"Siap, Bu."
Pak Eko bekerja dengan tekun. "Bu, ini arsip program
desa tahun 1981. Masih lengkap."
"Bagus, Pak Eko. Simpan di map baru."
Pak Edi, yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius.
"Bu, arsip sosial tahun 1982 sudah saya rapikan."
"Terima kasih, Pak Edi."
Di tengah pekerjaan, mereka menemukan kendala. Beberapa
arsip tahun 1980-1989 ternyata hilang atau rusak parah. Bahkan ada yang sudah
tidak bisa dibaca sama sekali.
"Bu, arsip keuangan tahun 1985 hilang," kata Bu
Lulu dengan wajah cemas.
"Yakin, Bu?"
"Saya sudah cari di semua map, Bu. Tidak ada."
Bu Yuni berpikir sejenak. "Mungkin tersimpan di
kecamatan. Tapi kemungkinan kecil, karena arsip setua itu biasanya sudah
dimusnahkan."
"Kalau hilang, bagaimana, Bu?"
"Kita buat berita acara kehilangan. Kita laporkan ke
kecamatan dan kabupaten. Itu yang bisa kita lakukan."
"Baik, Bu."
Masalah lain muncul. Beberapa arsip rusak parah karena
dimakan rayap dan air.
"Bu, ini arsip pertanahan tahun 1987. Sudah
hancur," kata Pak Santoso sambil menunjukkan map yang kertasnya tinggal
serpihan.
Bu Yuni memeriksa dengan teliti. "Sayang sekali. Tapi
tidak apa-apa. Kita buat berita acara kerusakan."
"Bu, apakah tidak masalah?"
"Sepanjang kita sudah berusaha menyelamatkan, tidak
masalah. Yang penting kita jujur."
Melihat kesibukan perangkat desa, warga kembali membantu.
Mereka datang bergantian, membawa makanan, atau sekadar menawarkan bantuan.
"Bu Yuni, saya bisa bantu apa?" tanya Pak Darmo.
"Pak, Bapak bisa bantu cari data warga untuk arsip
kependudukan tahun 1980-1989."
"Siap, Bu."
Pak Darmo keliling desa, mewawancarai warga tua yang masih
ingat data-data lama.
Bu Sri dan ibu-ibu PKK membantu merapikan arsip-arsip yang
kotor. Mereka membersihkan debu, menyeka map, dan melapisi kertas dengan
plastik.
"Bu, ini bersih semua," kata Bu Sri.
"Terima kasih, Bu Sri. Ibu hebat."
Anto membantu mengantar arsip-arsip ke kecamatan untuk dicocokkan.
Ia rela bolak-balik meskipun truknya sedang tidak jalan.
"To, Bapak repot," kata Bu Yuni.
"Tidak repot, Bu. Ini untuk desa kita."
"Terima kasih, To."
Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif.
Arsip-arsip tahun 1980-1989 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata.
Map-map baru berjejer rapi di lemari. Buku register terisi dengan lengkap.
"Bu, arsip tahun 1980-1984 sudah selesai," lapor
Si Amat pada hari Kamis.
"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1985-1989."
"Siap, Bu."
Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun
1980-1989 sudah tertata rapi, meskipun beberapa hilang dan rusak.
"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.
Mereka bersorak. "Hore!"
"Ini berkat kerja keras kita semua."
"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.
Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan.
Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip tahun 1980-1984. Target satu
bulan, mereka optimis bisa selesai dalam tiga minggu.
"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu
Yuni.
"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.
"Kita sama-sama belajar."
Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah
melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."
"Semoga berkelanjutan, Pak."
"Aamiin," jawab mereka.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.
"Kuning, kita berhasil melewati ujian terbesar."
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku difitnah, diperiksa, hampir putus asa. Tapi aku
bertahan. Dan kebenaran menang."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Allah selalu bersamaku. Tim
mendukungku. Warga mempercayaiku."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk ujian ini. Terima kasih
karena Engkau buat aku lebih kuat. Terima kasih karena Engkau tunjukkan siapa
yang benar-benar peduli."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Minggu pagi, Bu Yuni mampir ke rumah Pak Jayeng. Ia ingin
meminta nasihat setelah ujian berat yang baru saja ia lalui.
Pak Jayeng menerimanya dengan hangat. Di beranda rumahnya
yang teduh dengan kursi-kursi bambu, mereka duduk bercakap-cakap.
"Bu Yuni, Ibu selamat," kata Pak Jayeng sambil
tersenyum.
"Iya, Pak. Alhamdulillah."
"Apa yang Ibu pelajari dari ujian ini?"
Bu Yuni berpikir sejenak. "Saya belajar bahwa
kebenaran tidak perlu ditakuti. Juga bahwa tidak semua orang yang tersenyum
adalah teman. Ada yang tersenyum tapi di belakang menusuk."
Pak Jayeng mengangguk. "Itu pelajaran berharga. Apa
lagi?"
"Saya juga belajar bahwa memaafkan lebih mulia
daripada membalas dendam. Pak Didit mengaku. Saya memaafkannya."
"Keputusan yang bijak, Nak. Dendam hanya akan melukai
diri sendiri."
"Terima kasih, Pak."
Pak Jayeng menatap Bu Yuni dengan mata bijaksana. "Ibu
hebat, Bu Yuni. Ibu sudah melewati ujian terbesar. Ke depan, mungkin masih ada
ujian lain. Tapi Ibu sudah lebih siap."
"Insya Allah, Pak."
Senin pagi, Bu Yuni kembali ke kantor dengan semangat baru.
Ujian telah berlalu. Kini ia bisa fokus pada pekerjaan.
"Selamat pagi, teman-teman!" sapanya ceria.
"Pagi, Bu!" jawab mereka serempak.
"Hari ini kita akan lanjutkan arsip tahun 1985-1989.
Target kita, selesai dalam dua minggu."
"Setuju, Bu!" seru mereka.
Mereka mulai bekerja. Arsip-arsip dikeluarkan dari lemari,
dipisahkan, diberi label, lalu disimpan di map baru.
"Bu, ini arsip tahun 1985. Isinya masih lumayan,"
kata Si Amat.
"Bagus, Mas. Simpan di map baru."
Pak Eko bekerja dengan tekun. "Bu, ini arsip program
desa tahun 1986. Lengkap."
"Terima kasih, Pak Eko."
Pak Edi, yang biasanya santai, kini bekerja dengan serius.
"Bu, arsip sosial tahun 1987 sudah saya rapikan."
"Terima kasih, Pak Edi."
Di tengah pekerjaan, mereka menemukan kendala baru.
Beberapa arsip tahun 1985-1989 ternyata disimpan di gudang desa yang sudah lama
tidak dibuka.
"Bu, saya dengar arsip tahun 1985-1989 disimpan di
gudang," kata Pak Santoso.
"Gudang di mana, Pak?"
"Di belakang kantor. Rumah dinas kepala desa yang
lama. Sekarang tidak dipakai."
"Baik, kita cek."
Mereka pergi ke gudang. Rumah dinas itu sudah tua,
dindingnya retak-retak, atapnya bolong. Pintunya terkunci dengan gembok besar
yang sudah berkarat.
"Kuncinya di mana, Pak?" tanya Bu Yuni.
"Pak Kades yang punya, Bu."
Bu Yuni menghubungi Pak Kades. Ia datang dengan kunci.
Gembok itu susah dibuka karena karat, tapi setelah beberapa kali digoyang,
akhirnya terbuka dengan bunyi krik.
Pintu kayu berderit keras saat didorong. Debu beterbangan.
Udara di dalam pengap dan bau apek. Cahaya matahari masuk melalui lubang-lubang
di atap, menerangi ruangan yang penuh dengan map-map dan kardus.
"Ini dia, Bu," kata Pak Santoso sambil menunjuk
tumpukan map di sudut ruangan.
Mereka mengeluarkan map-map itu satu per satu. Debu
beterbangan, membuat mereka bersin-bersin. Beberapa map sudah dimakan rayap,
beberapa lagi basah karena atap bocor.
"Bu, ini parah," kata Si Amat.
"Iya, Mas. Tapi kita harus selamatkan yang masih bisa
diselamatkan."
Mereka membawa map-map itu ke kantor. Kemudian
membersihkan, memisahkan, dan menyelamatkan arsip-arsip yang masih layak.
Di antara tumpukan arsip yang rusak, mereka menemukan
sesuatu yang berharga: dokumen-dokumen sejarah desa dari tahun 1970-an.
"Bu, ini sejarah desa kita!" seru Si Amat sambil
menunjukkan map berisi dokumen tentang pendirian Desa Awan Biru.
Bu Yuni membacanya dengan saksama. "Ini luar biasa.
Dokumen ini harus kita simpan dengan baik."
"Bu, ini foto-foto lama. Warga desa pada tahun
1970," kata Pak Edi sambil menunjukkan map berisi foto-foto hitam putih.
Bu Yuni melihat foto-foto itu. Ada foto para sesepuh desa,
foto pembangunan masjid, foto gotong royong membersihkan desa.
"Ini harus kita pajang," kata Bu Yuni. "Agar
generasi muda tahu sejarah desanya."
"Setuju, Bu!"
Bu Yuni mengusulkan untuk membuat museum mini di kantor
desa. Tempat untuk menyimpan dan memajang dokumen-dokumen sejarah desa.
"Teman-teman, kita akan buat museum mini."
"Museum mini, Bu?" tanya Si Amat.
"Iya, Mas. Untuk menyimpan dokumen-dokumen sejarah
desa. Agar tidak rusak dan bisa dilihat oleh generasi mendatang."
"Setuju, Bu!" seru mereka.
Mereka membersihkan ruang tamu belakang, ruang yang dulu
digunakan untuk menyimpan komputer. Ruangan itu berukuran 4x5 meter, cukup
untuk museum mini.
Mereka menata map-map dan foto-foto di rak-rak kayu yang
mereka buat sendiri. Pak Eko yang pandai membuat rak, Pak Edi yang pandai
mengecat, Si Amat yang pandai merapikan.
"Bu, ini sudah selesai," kata Si Amat setelah
tiga hari bekerja.
Bu Yuni melihat hasilnya. Ruangan itu kini bersih dan rapi.
Di rak-rak kayu, terpajang map-map berisi dokumen sejarah, foto-foto lama, dan
benda-benda bersejarah lainnya.
"Ini bagus, Mas. Terima kasih."
"Bu, apa kita akan buka untuk umum?"
"Iya, Mas. Setiap hari Sabtu, kita buka untuk warga
yang ingin melihat."
"Bagus, Bu!"
Sabtu pagi, museum mini Desa Awan Biru diresmikan oleh Pak
Kades Iwan. Warga berdatangan untuk melihat.
"Ini sejarah desa kita," kata Pak Kades dalam
sambutannya. "Kita harus menjaga dan melestarikannya."
Warga mengamati foto-foto lama. Ada yang menangis melihat
foto orang tuanya yang sudah meninggal. Ada yang tersenyum mengenang masa
kecil.
"Bu, ini foto Bapak saya," kata seorang warga tua
sambil menunjuk foto hitam putih.
"Wah, Bapak Ibu tampan," kata Bu Yuni.
"Iya, Bu. Beliau sudah meninggal 20 tahun lalu."
"Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya."
"Aamiin."
Anto, yang tertarik dengan sejarah, menawarkan diri menjadi
kurator museum mini.
"Bu Yuni, saya bisa jaga museum. Saya suka
sejarah."
"Serius, To?"
"Serius, Bu. Saya sudah bosan jadi sopir truk. Ini
tantangan baru."
Bu Yuni tersenyum. "Baik, To. Saya tunjuk Bapak
sebagai kurator."
"Terima kasih, Bu."
Anto pun membersihkan museum setiap hari, menata ulang
koleksi, dan memberi keterangan pada setiap foto. Ia juga membuat buku tamu
untuk pengunjung.
"To, Bapak cocok jadi kurator," kata Pak Edi.
"Siapa tahu, Pak. Bakat terpendam."
Mereka tertawa.
Sepanjang minggu itu, mereka tetap fokus pada arsip tahun
1985-1989. Meskipun disibukkan dengan pembuatan museum, mereka tetap bekerja
keras.
"Bu, arsip tahun 1985-1987 sudah selesai," lapor
Si Amat pada hari Jumat.
"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1988-1989."
"Siap, Bu."
Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun
1985-1989 sudah tertata rapi.
"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.
Mereka bersorak. "Hore!"
"Ini berkat kerja keras kita semua."
"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.
Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan.
Dalam dua minggu, mereka berhasil merapikan semua arsip tahun 1980-1989.
"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu
Yuni.
"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.
"Kita sama-sama belajar."
Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah
melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."
"Semoga berkelanjutan, Pak."
"Aamiin," jawab mereka.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.
"Kuning, kita berhasil."
Kucing itu mengeong pelan.
"Arsip tahun 1980-1989 selesai dalam tiga minggu.
Padahal target satu bulan."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Tim bekerja keras. Warga mendukung.
Allah meridhoi."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk bulan ini. Terima kasih
untuk semua pencapaian. Tapi jangan biarkan aku berhenti. Masih banyak yang
harus dikerjakan."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Arsip tahun 1970-an
menanti. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa
ke rumahnya untuk makan siang bersama lagi. Ini kejutan keempat.
"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan
sambil membukakan pintu.
"Wah, Pak Kades, Ibu tidak usah repot-repot,"
kata Bu Yuni.
"Ini sudah seharusnya, Bu. Untuk merayakan
keberhasilan kita."
Mereka makan siang bersama. Lauknya semakin meriah: ayam
goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu isi, sambal terasi, lalapan,
buah-buahan, es campur, dan puding.
"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.
"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah
seharusnya."
Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang
kumpul seperti ini."
"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita
solid."
"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.
"Aamiin," jawab mereka.
Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat lagi.
"Teman-teman, kita sudah merapikan arsip hingga tahun
1980. Tapi masih ada arsip tahun 1970-an, 1960-an, dan seterusnya. Pekerjaan
belum selesai."
"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.
"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita
punya Allah."
Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus
terus bekerja."
"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni.
"Kesehatan lebih penting."
"Setuju, Bu."
Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya
yang lusuh masih setia.
"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."
"Apa itu, To?"
"Kata Pak Camat, desa kita akan menerima bantuan buku
dan alat tulis kantor dari kabupaten."
Bu Yuni tersenyum. "Wah, bagus. Kita butuh banyak alat
tulis."
"Juga, kata Pak Camat, Bu Yuni akan menerima
penghargaan dari Bupati."
Bu Yuni terkejut. "Penghargaan? Untuk apa?"
"Atas dedikasi Ibu dalam membenahi administrasi
desa."
Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak
layak."
"Kamu layak, Bu," kata Pak Kades Iwan. "Kamu
sudah bekerja keras."
"Setuju, Bu," kata yang lain.
Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Karena akan menerima penghargaan dari Bupati, Bu Yuni dan
tim mempersiapkan diri. Mereka membersihkan kantor, menata arsip, dan
menyiapkan pakaian terbaik.
"Bu, Ibu harus pakai baju bagus," kata Si Amat.
"Saya hanya punya baju biasa, Mas."
"Pinjam saja, Bu. Saya punya baju batik.
"Terima kasih, Mas. Tapi saya tidak enak."
"Nggak apa-apa, Bu. Ini untuk desa kita."
Bu Yuni akhirnya meminjam baju batik milik Si Amat, batik
coklat dengan motif parang yang lumayan bagus. Ia juga meminjam kerudung dari Bu
Lulu.
"Bu, Ibu cantik," kata Bu Lulu.
"Terima kasih, Bu. Tapi saya tidak biasa."
"Biasakan, Bu. Ini momen spesial."
Hari yang ditunggu tiba. Bupati Wonosobo datang ke Desa
Awan Biru untuk memberikan penghargaan. Acara berlangsung di balai desa yang
penuh sesak dengan warga.
"Warga Desa Awan Biru yang saya hormati," kata
Bupati dalam sambutannya.
"Hari ini, saya akan memberikan penghargaan kepada Ibu
Yuniarti, Sekretaris Desa Awan Biru, atas dedikasi dan kerja kerasnya dalam
membenahi administrasi desa."
Bu Yuni dipanggil ke depan. Ia berjalan dengan langkah
gemetar. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca.
"Bu Yuni, Ibu adalah contoh bagi kami semua,"
kata Bupati sambil menyerahkan piagam penghargaan. "Ibu membuktikan bahwa
perubahan bisa dimulai dari hal kecil, dilakukan dengan konsistensi, dan
memberikan dampak besar."
Bu Yuni menerima piagam itu dengan tangan gemetar. Air
matanya jatuh.
"Terima kasih, Pak Bupati. Tapi ini bukan hanya saya.
Ini kerja tim. Ini dukungan warga. Ini karena Allah."
Warga bertepuk tangan. Ada yang menangis haru, ada yang
bersorak.
"Bu Yuni, Ibu hebat!" teriak Anto dari belakang.
Bu Yuni tersenyum. Ia menunduk, tidak berani menatap banyak
orang.
Setelah menerima penghargaan, Bu Yuni diminta berpidato. Ia
berdiri di depan mikrofon dengan suara bergetar.
"Bapak, Ibu, warga sekalian, saya tidak layak menerima
penghargaan ini."
Warga terdiam.
"Saya hanya melakukan tugas saya. Saya hanya merapikan
yang berantakan. Saya hanya menertibkan yang kacau. Itu sudah seharusnya."
"Tapi Ibu melakukannya dengan hati, Bu," teriak
seorang warga.
Bu Yuni tersenyum. "Iya, saya melakukannya dengan
hati. Karena saya percaya, desa ini punya potensi besar. Dan potensi itu hanya
akan keluar jika administrasinya rapi."
"Penghargaan ini bukan untuk saya. Ini untuk kita
semua. Untuk perangkat desa yang bekerja keras. Untuk warga yang mendukung.
Untuk Allah yang meridhoi."
Warga bertepuk tangan lagi.
"Terima kasih. Saya akan terus bekerja. Saya akan
terus mengabdi. Sampai desa ini benar-benar maju."
Setelah acara penghargaan, mereka makan siang bersama di
balai desa. Bupati, Camat, perangkat desa, dan warga duduk bersama menikmati
hidangan sederhana.
"Bu Yuni, Ibu luar biasa," kata Bupati.
"Terima kasih, Pak. Saya hanya menjalankan
amanah."
"Ibu menginspirasi saya. Saya akan menjadikan Ibu
sebagai contoh untuk desa-desa lain."
"Semoga bermanfaat, Pak."
Bu Yuni makan dengan tenang. Hatinya penuh syukur.
Setelah makan siang, Bupati pamit. Sebelum naik mobil, ia
berjabat tangan dengan Bu Yuni.
"Bu Yuni, pertahankan semangat Ibu."
"Insya Allah, Pak."
"Desa ini beruntung memiliki Ibu."
"Terima kasih, Pak."
Mobil Bupati melaju perlahan. Bu Yuni melambai-lambaikan
tangan.
"Bu, Ibu sekarang terkenal," kata Si Amat.
"Bukan terkenal, Mas. Hanya dihargai."
"Tetap saja, Ibu hebat."
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning tidur di pangkuannya.
"Kuning, hari ini aku menerima penghargaan."
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku tidak menyangka. Aku hanya ingin bekerja dengan
baik. Ternyata Allah memberi lebih."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Tapi aku tidak boleh sombong.
Penghargaan ini adalah amanah. Aku harus bekerja lebih keras."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk penghargaan ini. Tapi
jangan biarkan aku lupa diri. Ingatkan aku bahwa ini semua karena-Mu."
Ia memejamkan mata.
"Besok, kita lanjutkan. Masih banyak yang harus
dikerjakan. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok kita mulai lagi."
BAB 10
PENGAKUAN DAN HARAPAN BARU
Pagi itu, Desa Awan Biru terasa berbeda. Bukan karena
kabutnya yang lebih tipis, atau matahari yang lebih terang. Tapi karena suasana
yang sulit dijelaskan, ringan, hangat, dan penuh kebanggaan yang diam-diam
tumbuh di hati banyak orang. Kabar tentang penghargaan dari Bupati telah
menyebar. Bukan lewat pengumuman resmi, bukan melalui surat kabar atau radio.
Tapi dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, dari teras ke teras, dari hati
ke hati.
Bu Yuni bangun pukul 04.30 seperti biasa. Namun kali ini,
ia tidak merasa lelah. Tubuhnya segar, pikirannya jernih. Ia memandang piagam
penghargaan yang digantung di dinding kamar kontrakannya, bingkai kayu
sederhana dengan kaca bening, di dalamnya tertulis nama dan prestasinya. Piagam
itu hadiah dari Bupati kemarin, dan ia memutuskan untuk membawanya pulang
karena tidak tega meninggalkannya di kantor.
"Kuning, lihat itu," katanya pada kucing oranye
yang setia tidur di ujung kasur. "Itu penghargaan untuk kita."
Kucing itu menggeliat, lalu mengeong pelan seolah berkata,
"Aku juga bagian dari perjuanganmu."
Bu Yuni tertawa kecil. Ia bangun, mengambil air wudhu, dan
shalat subuh berjamaah di masjid desa. Di masjid, jamaah lebih banyak dari
biasanya. Warga yang biasanya malas datang, hari ini hadir. Mungkin karena
ingin melihat Bu Yuni, atau mungkin karena ingin merayakan kebanggaan bersama.
"Selamat, Bu Yuni," kata Pak Karyo setelah
shalat, sambil menjabat tangan Bu Yuni dengan kedua tangannya yang kasar karena
sering menggoreng.
"Terima kasih, Pak Karyo."
"Ibu hebat. Desa kita jadi terkenal."
"Bukan saya, Pak. Ini kerja sama."
"Tetap saja, Ibu yang memulai."
Pak Jayeng yang duduk di barisan depan menghampiri.
"Bu Yuni, saya bangga. Desa ini akhirnya diakui."
"Terima kasih, Pak Jayeng. Doakan kami terus."
"Tentu. Saya akan selalu mendoakan."
Pukul 06.30, warung Pak Karyo sudah ramai. Warga
berdatangan untuk minum kopi, makan gorengan, dan yang terpenting, membicarakan
penghargaan yang diterima Bu Yuni. Bangku-bangku kayu yang tersedia tidak
cukup, beberapa warga terpaksa berdiri sambil memegang gelas plastik berisi
kopi hitam pekat.
"Kabar baik ya, desa kita dapat penghargaan,"
kata Pak Sugeng sambil meniup kopinya yang masih panas. Uap putih mengepul dari
gelasnya, membentuk pola-pola abstrak di udara pagi.
"Iya, ini pertama kalinya dalam sejarah desa
kita," sahut Bu Tini dengan bangga. Wajahnya berseri-seri, matanya
berbinar.
"Ini semua berkat Bu Yuni," kata Pak Karyo dari
balik etalase kaca miliknya. Tangannya yang gemetar karena usia sedang menyusun
gorengan di atas piring plastik.
"Bu Yuni memang hebat. Dia mengubah desa kita dari
nol," kata Pak Karto yang duduk di pojok.
Anto yang duduk di tempat favoritnya—pojok dekat pintu,
dengan jaket kulitnya yang lusuh—ikut nimbrung. "Saya sudah bilang dari
awal. Bu Yuni itu orang pilihan. Mimpi saya tidak pernah salah."
"Kali ini kamu benar, To," kata Pak Sugeng.
"Mimpi kamu memang 'wahyu'."
Mereka tertawa. Anto tersenyum misterius, menyeruput
kopinya dengan tenang. "Bukan wahyu, Pak. Hanya firasat. Tapi ya,
kadang-kadang tepat."
Pukul 07.15, Bu Yuni tiba di kantor. Pintu kayu itu
berderit pelan saat didorong, suara yang sudah akrab di telinganya. Di dalam,
semua perangkat desa sudah datang. Bahkan yang biasanya datang terlambat, hari
ini datang lebih awal. Mereka berdiri di depan meja masing-masing, tersenyum,
wajah berseri.
"Selamat pagi, Bu!" sapa mereka serempak, suara
mereka menggema di ruangan yang kini bersih dan rapi.
"Pagi, teman-teman. Semangat sekali."
"Kami bangga, Bu," kata Si Amat. Dadanya
membusung, matanya berbinar. "Desa kita dapat penghargaan. Ibu dapat
penghargaan."
"Ini penghargaan untuk kita semua, Mas Amat. Bukan
hanya saya."
"Tetap saja, Ibu yang menerima."
Bu Yuni tersenyum. Ia berjalan ke mejanya, duduk, lalu
membuka buku catatan kecil—buku yang selalu ia bawa ke mana-mana, yang
sampulnya sudah lusuh dan halamannya mulai menguning. Di halaman terbaru, ia
menulis:
"Hari ini, 15 Mei 2001. Desa Awan Biru menerima
penghargaan dari Bupati atas prestasi dalam pembenahan administrasi. Ini adalah
buah dari kerja keras kita selama dua setengah bulan. Syukur
Alhamdulillah."
Ia menutup buku itu dan memandang sekeliling. Lemari arsip
berjejer rapi dengan map-map berwarna. Buku register terisi lengkap di rak
khusus. Papan prosedur dan papan pengumuman terpasang di dinding. Komputer dan
printer siap digunakan di ruang komputer. Museum mini di belakang kantor sudah
mulai dikunjungi warga.
"Teman-teman, kita sudah mencapai banyak hal. Tapi
perjalanan kita belum selesai. Masih ada arsip tahun 1970-an, 1960-an, bahkan
1950-an yang harus kita selamatkan."
"Kita siap, Bu!" seru mereka.
"Mulai hari ini, kita akan fokus pada arsip tahun
1970-1979. Target kita, selesai dalam satu bulan."
"Setuju, Bu!"
Pukul 10.00, sebuah rombongan dari Desa Sumberejo, desa
tetangga di lereng Sumbing yang berbeda dengan desa asal Bu Yuni, datang
berkunjung. Mereka terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan beberapa
perangkat desa. Mereka ingin belajar tentang sistem administrasi yang
diterapkan di Awan Biru.
"Selamat pagi, Bu Yuni," sapa Pak Kades
Sumberejo, seorang pria berusia 55 tahun dengan wajah ramah dan kumis putih.
"Kami mendengar desa Ibu mendapatkan penghargaan. Kami ingin
belajar."
"Selamat pagi, Pak. Silakan. Kami akan dengan senang
hati berbagi."
Bu Yuni memandu rombongan itu berkeliling kantor. Ia
menunjukkan lemari arsip yang rapi, buku register, papan prosedur, komputer,
dan museum mini.
"Ini luar biasa," kata Sekdes Sumberejo, seorang
wanita berusia 40 tahun dengan rambut panjang yang diikat kuncir. "Dalam
waktu singkat, Ibu bisa mengubah desa ini."
"Ini kerja tim, Bu. Bukan saya sendiri."
"Tapi Ibu yang memimpin."
Bu Yuni tersenyum. "Saya hanya memulai. Mereka yang
melanjutkan."
Rombongan itu kemudian mengadakan diskusi dengan perangkat
desa Awan Biru. Pak Eko menjelaskan tentang sistem perencanaan, Pak Santoso
tentang pemerintahan, Bu Lulu tentang keuangan, dan Si Amat tentang pelayanan.
"Kami ingin menerapkan sistem serupa di desa
kami," kata Pak Kades Sumberejo.
"Kami siap membantu," kata Bu Yuni. "Kami
akan berbagi pengalaman dan materi."
"Terima kasih, Bu Yuni. Ibu baik."
Siang itu, mereka makan siang bersama di balai desa. Pak
Karyo dimintai tolong menyediakan nasi kotak untuk semua. Ibu-ibu PKK membawa
kue tradisional.
"Bu Yuni, Ibu asli mana?" tanya Sekdes Sumberejo.
"Saya asli Wonosobo, Bu. Dari lereng Sumbing. Desa
Sumberejo juga, tapi Sumberejo yang berbeda."
"Wah, berarti kita satu kabupaten. Saya dari Kaliwiro
kota."
"Berarti kita tetangga, Bu."
"Iya. Saya bangga ada orang Wonosobo yang
berprestasi."
Bu Yuni tersenyum malu. "Terima kasih, Bu."
Sore itu, Pak Kades Iwan mengumpulkan warga di balai desa.
Ia ingin menyampaikan pidato tentang penghargaan dan harapan ke depan. Warga
berdatangan berbondong-bondong. Balai desa yang berukuran 12x8 meter penuh
sesak. Ada yang duduk di kursi, ada yang berdiri di belakang, ada yang sampai
duduk di lantai tanah yang dingin.
"Warga sekalian, kita patut bersyukur," kata Pak
Kades. Keringat membasahi keningnya, suaranya sedikit bergetar karena emosi.
"Desa kita mendapat penghargaan dari Bupati. Ini
adalah pengakuan bahwa kerja keras kita tidak sia-sia."
Warga bertepuk tangan. Suara tepuk tangan menggema di
ruangan, hampir memekakkan telinga.
"Tapi jangan terlena. Masih banyak yang harus kita
kerjakan. Administrasi sudah rapi. Sekarang kita harus fokus pada pembangunan.
Jalan, irigasi, pendidikan, kesehatan."
"Setuju, Pak Kades!" teriak warga.
"Kita akan bekerja sama dengan Bu Yuni dan seluruh
perangkat desa. Kita akan buat desa ini semakin maju."
"Setuju!"
Pak Kades mempersilakan Bu Yuni untuk memberi sambutan. Bu
Yuni berdiri di depan mikrofon dengan suara tenang, matanya menatap seluruh
warga.
"Warga sekalian, saya hanya manusia biasa. Saya tidak
bisa melakukan apa-apa tanpa dukungan Bapak dan Ibu."
Warga terdiam. Suasana hening, hanya terdengar suara detak
jarum jam dinding dan sesekali suara bayi yang merengek.
"Penghargaan ini adalah penghargaan untuk kita semua.
Untuk perangkat desa yang bekerja keras. Untuk warga yang mendukung. Untuk
Allah yang meridhoi."
"Mari kita jaga kebersamaan ini. Mari kita lanjutkan
perjuangan ini. Desa Awan Biru bisa maju. Asal kita bersama-sama."
Warga bertepuk tangan lagi. Ada yang menangis haru, ada
yang tersenyum bangga.
"Bu Yuni, Ibu hebat!" teriak Anto dari belakang.
Bu Yuni tersenyum. "Sama-sama hebat, To. Kita semua
hebat."
Setelah acara, Pak Darmo mendekati Bu Yuni. Wajahnya
serius, matanya berbinar.
"Bu, saya mau usul."
"Usul apa, Pak?"
"Bagaimana kalau kita buat plakat di kantor desa.
Tulisannya: 'Dedikasi Bu Yuni untuk Desa Awan Biru'."
Bu Yuni terkejut. "Pak, jangan. Saya tidak
layak."
"Ibu layak, Bu. Ibu sudah mengubah desa kita."
"Tapi itu berlebihan, Pak."
"Tidak berlebihan. Ini sebagai kenang-kenangan. Agar
generasi mendatang tahu bahwa ada seorang wanita tangguh yang pernah mengabdi
di sini."
Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Pak, saya
tidak butuh plakat. Saya hanya ingin desa ini maju."
"Tapi kami butuh mengingat jasa Ibu."
Bu Yuni menghela napas. "Baik, Pak. Tapi jangan besar-besar.
Sederhana saja."
"Setuju, Bu."
Seminggu kemudian, warga Desa Awan Biru memasang sebuah
plakat kecil di dinding kantor desa. Plakat itu terbuat dari kayu jati ukiran,
berukuran 30x40 sentimeter, dengan tulisan berwarna emas:
"DEDIKASI BU YUNI
Sekretaris Desa Awan Biru
Telah mengabdi dengan tulus
Merapikan administrasi
Mencerdaskan pelayanan
Menginspirasi perubahan
Desa Awan Biru, 2001"
Bu Yuni berdiri di depan plakat itu. Air matanya jatuh. Ia
tidak menyangka warga akan melakukan ini.
"Bu, ini tanda terima kasih kami," kata Pak
Darmo.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak layak."
"Ibu layak, Bu. Ibu lebih dari layak."
Bu Yuni memeluk Pak Darmo. Ia menangis. Pak Darmo ikut
menangis. Semua yang hadir menangis haru.
Anto berdiri di pojok, jaket kulitnya yang lusuh masih
setia. Ia tersenyum.
"Bu Yuni, saya punya ramalan."
"Ramalan apa lagi, To?"
"Suatu hari nanti, desa ini akan maju pesat. Jalan
akan beraspal. Rumah-rumah akan bagus. Anak-anak akan sekolah tinggi. Dan semua
itu karena Ibu memulai perubahan."
Bu Yuni tersenyum. "To, Bapak terlalu muluk."
"Bukan muluk, Bu. Saya yakin."
"Doakan saja, To."
"Tentu, Bu. Saya selalu mendoakan."
Setelah semua kegembiraan mereda, Bu Yuni dan tim kembali
fokus pada pekerjaan. Arsip tahun 1970-1979 menjadi target berikutnya.
"Teman-teman, arsip tahun 1970-an kemungkinan besar
sudah sangat rusak. Tapi kita harus coba selamatkan."
"Siap, Bu!" seru mereka.
Mereka membuka gudang lama, gudang yang sama dengan
sebelumnya, namun kini sudah sedikit lebih bersih. Di sudut ruangan yang gelap
dan lembab, mereka menemukan tumpukan map yang sudah berdebu tebal. Debu itu
seperti lapisan waktu yang tidak tersentuh selama puluhan tahun.
"Bu, ini arsip tahun 1970," kata Si Amat sambil
menunjukkan map yang kertasnya sudah coklat tua dan rapuh.
Bu Yuni menerimanya dengan hati-hati. Ia membuka map itu
perlahan, takut kertasnya hancur. Di dalamnya, ada dokumen-dokumen tentang
pendirian dusun-dusun di Awan Biru, tentang pembagian tanah, tentang musyawarah
desa.
"Ini sejarah," katanya. "Kita harus
selamatkan."
Mereka bekerja dengan ekstra hati-hati. Setiap lembar
kertas diangkat dengan pelan, dibersihkan dari debu dengan kuas halus, lalu
dilapisi plastik transparan sebelum dimasukkan ke map baru. Beberapa kertas
sudah terlalu rapuh dan hancur saat disentuh. Bu Yuni menangis melihatnya.
"Bu, jangan sedih," kata Si Amat. "Kita
sudah berusaha."
"Iya, Mas. Tapi sayang sekali. Ini sejarah yang
hilang."
Di antara tumpukan arsip yang rusak, mereka menemukan
sesuatu yang berharga: dokumen asli tentang berdirinya Desa Awan Biru pada
tahun 1950.
"Bu, ini akta desa!" seru Pak Santoso. Tangannya
gemetar memegang map yang sudah rapuh.
Bu Yuni membaca dokumen itu dengan saksama. Matanya
bergerak perlahan dari baris ke baris. "Ini ditandatangani oleh Bupati Wonosobo
pertama. Ini sangat berharga."
"Bu, kita harus simpan di museum mini."
"Setuju, Pak. Tapi kita harus fotokopi dulu. Aslinya
kita simpan di brankas."
"Siap, Bu."
Mereka memfotokopi dokumen itu dengan hati-hati. Hasil
fotokopinya kemudian dipajang di museum mini, sementara aslinya disimpan di
brankas besi yang baru saja dibeli dengan dana desa.
Museum mini Desa Awan Biru semakin populer. Setiap hari
Sabtu, warga berdatangan untuk melihat koleksi sejarah. Ada yang datang
sendiri, ada yang bersama keluarga, ada yang bersama rombongan sekolah.
"Bu, ini foto kakek saya," kata seorang pemuda
sambil menunjuk foto hitam putih yang dipajang di dinding.
"Wah, kakek Ibu tampan," kata Bu Yuni.
"Iya, Bu. Beliau adalah sesepuh desa. Saya
bangga."
"Semoga kita bisa menjaga warisan beliau."
Anto sebagai kurator dengan bangga menjelaskan setiap
koleksi. Ia sudah menghafal semua tanggal dan peristiwa.
"Ini foto gotong royong pertama di desa kita, tahun
1965," katanya kepada sekelompok anak sekolah.
"Wah, keren, Pak Anto!"
"Kalian harus tahu sejarah desa kalian. Agar kalian
tidak lupa dari mana kalian berasal."
Anak-anak itu mengangguk.
Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif.
Arsip-arsip tahun 1970-1979 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata.
Meskipun banyak yang rusak, mereka berhasil menyelamatkan sebagian besar.
"Bu, arsip tahun 1970-1974 sudah selesai," lapor
Si Amat pada hari Kamis.
"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1975-1979."
"Siap, Bu."
Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun 1970-1979
sudah tertata, meskipun banyak yang hilang dan rusak.
"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.
Mereka bersorak. "Hore!"
"Ini berkat kerja keras kita semua."
"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.
Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan.
Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip tahun 1970-1974.
"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu
Yuni.
"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.
"Kita sama-sama belajar."
Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah
melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."
"Semoga berkelanjutan, Pak."
"Aamiin," jawab mereka.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.
"Kuning, kita berhasil menyelamatkan sejarah
desa."
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku bersyukur. Dokumen berdirinya desa ditemukan. Itu
sangat berharga."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku juga bersyukur karena warga antusias dengan
museum. Mereka mulai peduli dengan sejarah."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih
untuk penemuan bersejarah. Terima kasih untuk semangat yang Engkau
berikan."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Arsip tahun 1960-an
menanti. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa
ke rumahnya untuk makan siang bersama lagi. Ini kejutan kelima, dan mungkin
yang terakhir karena ia mulai kehabisan ide.
"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan
sambil membukakan pintu. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar.
"Wah, Pak Kades, Ibu tidak usah repot-repot,"
kata Bu Yuni.
"Ini sudah seharusnya, Bu. Untuk merayakan
keberhasilan kita."
Mereka makan siang bersama. Lauknya semakin meriah: ayam
goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu isi, sambal terasi, lalapan,
buah-buahan, es campur, puding, dan kue bolu.
"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.
"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah
seharusnya."
Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang
kumpul seperti ini."
"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita
solid."
"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.
"Aamiin," jawab mereka.
Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat lagi.
"Teman-teman, kita sudah merapikan arsip hingga tahun
1970. Tapi masih ada arsip tahun 1960-an, 1950-an, dan seterusnya. Pekerjaan
belum selesai."
"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.
"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita
punya Allah."
Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus
terus bekerja."
"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni.
"Kesehatan lebih penting."
"Setuju, Bu."
Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya
yang lusuh masih setia. Rambutnya yang panjang mulai ia ikat karena mulai
mengganggu.
"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."
"Apa itu, To?"
"Kata Pak Camat, desa kita akan menerima bantuan dana
untuk pembangunan jalan desa."
Bu Yuni tersenyum. "Wah, bagus. Jalan desa selama ini
rusak parah."
"Juga, kata Pak Camat, Bu Yuni akan diundang ke
Jakarta untuk menjadi pembicara dalam seminar nasional tentang administrasi
desa."
Bu Yuni terkejut. "Jakarta? Seminar nasional?
Saya?"
"Iya, Bu. Ibu dianggap berhasil mengubah desa ini
dalam waktu singkat."
Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak
layak."
"Kamu layak, Bu," kata Pak Kades Iwan. "Kamu
sudah membuktikan."
"Setuju, Bu," kata yang lain.
Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Karena akan pergi ke Jakarta untuk menjadi pembicara, Bu
Yuni dan tim mempersiapkan diri. Ia harus membuat materi presentasi,
mempersiapkan pakaian, dan mengatur jadwal.
"Bu, Ibu harus pakai baju bagus," kata Si Amat.
"Saya hanya punya baju biasa, Mas."
"Pinjam saja, Bu. Saya punya baju batik baru."
"Terima kasih, Mas. Tapi saya tidak enak."
"Nggak apa-apa, Bu. Ini untuk desa kita."
Bu Yuni akhirnya meminjam baju batik milik Si Amat, batik
coklat dengan motif parang yang baru, masih ada baunya karena baru dicuci. Ia
juga meminjam kerudung dari Bu Lulu dan sepatu dari Bu Endang.
"Bu, Ibu cantik," kata Bu Lulu.
"Terima kasih, Bu. Tapi saya tidak biasa."
"Biasakan, Bu. Ini momen spesial."
Bu Yuni berangkat ke Jakarta ditemani Pak Kades Iwan.
Mereka naik bus dari Wonosobo ke Semarang, lalu naik kereta api ke Jakarta.
Perjalanan memakan waktu 12 jam.
Di Jakarta, mereka menginap di sebuah hotel sederhana dekat
tempat seminar. Bu Yuni tidak bisa tidur semalaman. Ia gugup. Ini pertama
kalinya ia ke Jakarta, pertama kalinya ia menjadi pembicara di seminar
nasional.
"Bu, tenang," kata Pak Kades. "Ibu sudah
terbiasa bicara di depan banyak orang."
"Tapi ini beda, Pak. Ini Jakarta. Pesertanya dari
seluruh Indonesia."
"Ibu bisa. Saya yakin."
Pagi harinya, Bu Yuni berdiri di depan podium. Ruangan
seminar itu besar, ber-AC, dengan kursi-kursi berlapis kain. Pesertanya ratusan
orang dari berbagai daerah. Bu Yuni menggenggam mikrofon, tangannya gemetar.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
sapanya.
"Waalaikumsalam," jawab peserta.
Bu Yuni menarik napas. Ia memulai presentasinya dengan
suara yang berusaha ia tenangkan.
"Saya dari Desa Awan Biru, Wonosobo, Jawa Tengah.
Sebuah desa kecil di lereng Gunung Sumbing."
Ia bercerita tentang perjuangannya merapikan administrasi
desa. Tentang tumpukan berkas yang menggunung. Tentang berkas yang hilang.
Tentang fitnah yang menerpa. Tentang audit yang menegangkan. Tentang
penghargaan yang diterima.
Peserta mendengarkan dengan saksama. Ada yang menangis, ada
yang tersenyum, ada yang mengangguk-angguk.
"Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Tapi jika kita
konsisten, perubahan akan terjadi. Perlahan, tapi pasti."
Peserta bertepuk tangan. Tepuk tangan itu panjang, menggema
di ruangan.
"Bu Yuni, Ibu luar biasa," kata moderator.
"Terima kasih. Saya hanya berbagi pengalaman."
Setelah presentasi, banyak peserta yang mendekati Bu Yuni.
Mereka ingin berfoto, bertanya, atau sekadar memberi selamat.
"Bu Yuni, Ibu menginspirasi saya," kata seorang
sekdes dari Sumatera.
"Terima kasih, Bu. Saya hanya melakukan tugas."
"Ibu membuktikan bahwa wanita bisa memimpin."
"Bukan memimpin, Bu. Hanya mengabdi."
"Tetap saja, Ibu hebat."
Seorang sekdes dari Papua berkata, "Bu, saya akan
terapkan sistem Ibu di desa saya."
"Silakan, Pak. Saya akan kirimkan materinya."
"Terima kasih, Bu. Ibu baik."
Setelah tiga hari di Jakarta, Bu Yuni kembali ke Desa Awan
Biru. Ia disambut oleh warga di balai desa. Mereka membawa bunga dan spanduk.
"Selamat datang, Bu Yuni!" teriak warga.
Bu Yuni menangis. Ia tidak menyangka.
"Bu, Ibu hebat," kata Si Amat.
"Terima kasih, Mas. Tapi saya hanya pergi
sebentar."
"Tetap saja, Ibu pahlawan kami."
Bu Yuni memeluk Si Amat. Ia menangis. Semua yang hadir
menangis haru.
Setelah semua kegembiraan mereda, Bu Yuni dan tim kembali
fokus pada pekerjaan. Arsip tahun 1960-1969 menjadi target berikutnya.
"Teman-teman, arsip tahun 1960-an kemungkinan besar
sudah sangat rusak. Tapi kita harus coba selamatkan."
"Siap, Bu!" seru mereka.
Mereka membuka gudang lama lagi. Di sudut yang paling gelap
dan lembab, mereka menemukan tumpukan map yang sudah hampir hancur. Beberapa
map bahkan sudah menjadi sarang rayap dan tikus.
"Bu, ini arsip tahun 1960," kata Si Amat sambil
menunjukkan map yang kertasnya tinggal serpihan.
Bu Yuni menerimanya dengan hati-hati. Ia membuka map itu
perlahan. Beberapa kertas langsung hancur saat disentuh.
"Sayang sekali," katanya. "Tapi kita
selamatkan yang masih bisa."
Mereka bekerja dengan ekstra hati-hati. Setiap lembar
kertas yang masih utuh dibersihkan, dilapisi plastik, dan disimpan di map baru.
Di antara tumpukan arsip yang hancur, mereka menemukan
dokumen langka: foto-foto perjuangan kemerdekaan di desa Awan Biru.
"Bu, ini foto para pejuang!" seru Pak Santoso.
Bu Yuni melihat foto itu. Foto hitam putih dengan pinggiran
bergerigi, memperlihatkan sekelompok pria bersenjatakan bambu runcing dan
beberapa wanita dengan kerudung putih.
"Ini sangat berharga," katanya. "Ini adalah
saksi sejarah bahwa desa kita ikut berjuang merebut kemerdekaan."
"Bu, kita harus pajang di museum."
"Setuju, Pak. Tapi kita fotokopi dulu. Aslinya kita
simpan di brankas."
"Siap, Bu."
Mereka memfotokopi foto-foto itu dengan hati-hati. Hasil
fotokopinya kemudian dipajang di museum mini, sementara aslinya disimpan di
brankas.
Anto, yang melihat foto-foto itu, menangis. "Ini foto
kakek saya," katanya sambil menunjuk salah satu pria dalam foto.
"Kakek Bapak pejuang?" tanya Bu Yuni.
"Iya, Bu. Beliau gugur dalam pertempuran melawan
Belanda. Saya tidak pernah melihat fotonya. Ini pertama kali."
Anto memeluk foto itu. Air matanya jatuh. "Kakek, saya
bangga."
Bu Yuni menepuk bahu Anto. "To, Bapak bisa mewarisi
semangat kakek Bapak."
"Iya, Bu. Saya akan berusaha."
Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif.
Arsip-arsip tahun 1960-1969 yang tadinya berserakan, kini mulai tertata.
Meskipun banyak yang rusak, mereka berhasil menyelamatkan sebagian.
"Bu, arsip tahun 1960-1964 sudah selesai," lapor
Si Amat pada hari Kamis.
"Bagus, Mas. Sekarang lanjut ke tahun 1965-1969."
"Siap, Bu."
Pada hari Sabtu, target tercapai. Semua arsip tahun
1960-1969 sudah tertata, meskipun banyak yang hilang dan rusak.
"Teman-teman, kita berhasil!" seru Bu Yuni.
Mereka bersorak. "Hore!"
"Ini berkat kerja keras kita semua."
"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.
Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi. Hasilnya memuaskan.
Dalam satu minggu, mereka berhasil merapikan arsip tahun 1960-1964.
"Teman-teman, saya bangga dengan kalian," kata Bu
Yuni.
"Kami bangga dengan Ibu, Bu," kata Pak Eko.
"Kita sama-sama belajar."
Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya belum pernah
melihat semangat seperti ini dalam 20 tahun saya bekerja."
"Semoga berkelanjutan, Pak."
"Aamiin," jawab mereka.
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.
"Kuning, kita berhasil menyelamatkan foto-foto
pejuang."
Kucing itu mengeong pelan.
"Aku bersyukur. Anto bisa melihat foto kakeknya. Itu
sangat berarti."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku juga bersyukur karena warga semakin peduli dengan
sejarah."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk minggu ini. Terima kasih
untuk penemuan foto-foto bersejarah. Terima kasih untuk semangat yang Engkau
berikan."
Ia memejamkan mata.
"Minggu depan, kita lanjutkan. Arsip tahun 1950-an
menanti. Tapi aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
Minggu pagi, Pak Kades Iwan mengundang semua perangkat desa
ke rumahnya untuk makan siang bersama lagi. Ini kejutan keenam, dan ia berjanji
ini yang terakhir karena persediaan lauk mulai menipis.
"Silakan masuk, teman-teman," kata Pak Iwan
sambil membukakan pintu.
"Wah, Pak Kades, Ibu tidak usah repot-repot,"
kata Bu Yuni.
"Ini sudah seharusnya, Bu. Untuk merayakan
keberhasilan kita."
Mereka makan siang bersama. Lauknya tetap meriah: ayam
goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu isi, sambal terasi, lalapan,
buah-buahan, es campur, puding, kue bolu, dan tambahan bakso.
"Pak Kades, terima kasih," kata Bu Yuni.
"Tidak usah berterima kasih, Bu. Ini sudah
seharusnya."
Pak Edi menambahkan, "Pak Kades, dulu kita jarang
kumpul seperti ini."
"Iya, Pak. Karena dulu kita tidak solid. Sekarang kita
solid."
"Semoga selamanya solid," kata Pak Eko.
"Aamiin," jawab mereka.
Di sela-sela makan siang, Bu Yuni memberi nasihat lagi.
"Teman-teman, kita sudah merapikan arsip hingga tahun
1960. Tinggal arsip tahun 1950-an dan sebelumnya. Pekerjaan hampir
selesai."
"Tapi kita tidak sendiri, Bu," kata Si Amat.
"Betul, Mas. Kita punya tim. Kita punya warga. Kita
punya Allah."
Pak Santoso mengangguk. "Bu Yuni benar. Kita harus
terus bekerja."
"Tapi jangan lupa istirahat," kata Bu Yuni.
"Kesehatan lebih penting."
"Setuju, Bu."
Sore itu, Anto datang ke rumah Pak Kades. Jaket kulitnya
yang lusuh masih setia, meskipun sudah bolong di beberapa tempat.
"Pak Kades, Bu Yuni, saya punya kabar baik."
"Apa itu, To?"
"Kata Pak Camat, desa kita akan menerima bantuan untuk
pembangunan pasar desa."
Bu Yuni tersenyum. "Wah, bagus. Pasar desa selama ini
kumuh."
"Juga, kata Pak Camat, Bu Yuni akan diangkat menjadi
pegawai teladan tingkat kabupaten."
Bu Yuni terkejut. "Pegawai teladan? Saya?"
"Iya, Bu. Ibu dianggap berdedikasi tinggi."
Bu Yuni menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak
layak."
"Kamu layak, Bu," kata Pak Kades Iwan. "Kamu
sudah membuktikan."
"Setuju, Bu," kata yang lain.
Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Setelah semua kegembiraan mereda, Bu Yuni dan tim kembali
fokus pada pekerjaan. Arsip tahun 1950-1959 menjadi target terakhir.
"Teman-teman, ini arsip tertua yang kita miliki.
Kemungkinan besar sudah sangat rusak. Tapi kita harus coba selamatkan."
"Siap, Bu!" seru mereka.
Mereka membuka gudang lama untuk terakhir kalinya. Di sudut
yang paling dalam, mereka menemukan sebuah peti kayu tua yang sudah lapuk. Peti
itu terkunci dengan gembok besar yang sudah berkarat.
"Kuncinya di mana, Pak?" tanya Bu Yuni.
"Tidak tahu, Bu. Mungkin hilang," kata Pak
Santoso.
"Paksa saja, Pak."
Pak Edi mengambil palu dan memecahkan gembok itu.
Suara bruk memecah kesunyian. Peti terbuka. Di dalamnya, ada
tumpukan map yang sudah hampir hancur.
"Bu, ini arsip tahun 1950," kata Si Amat sambil
mengeluarkan map yang paling atas.
Bu Yuni menerimanya dengan hati-hati. Ia membuka map itu
perlahan. Kertasnya sudah coklat tua dan rapuh, tetapi masih utuh. Di dalamnya,
ada dokumen tentang pendirian Desa Awan Biru pada tahun 1950, ditandatangani
oleh Bupati pertama Wonosobo.
"Ini dia," kata Bu Yuni dengan suara bergetar.
"Dokumen pendirian desa kita."
Semua perangkat desa mendekat. Mereka melihat dokumen
bersejarah itu dengan mata berkaca-kaca.
"Bu, ini sangat berharga," kata Pak Santoso.
"Iya, Pak. Ini adalah akta kelahiran desa kita."
Di dalam peti yang sama, mereka menemukan dokumen-dokumen
penting lainnya: peta desa pertama, daftar kepala desa dari masa ke masa,
catatan musyawarah desa pertama, dan foto-foto peresmian desa.
"Bu, ini peta desa tahun 1950," kata Pak Edi
sambil menunjukkan selembar kertas yang sudah menguning.
Bu Yuni membandingkan dengan peta saat ini. "Wah,
berbeda sekali. Dulu desa kita hanya terdiri dari dua dusun. Sekarang empat
dusun."
"Bu, ini daftar kepala desa," kata Pak Eko.
"Ada tujuh nama sebelum Pak Kades Iwan."
Bu Yuni membaca daftar itu. "Kita harus menulis
sejarah desa. Agar generasi mendatang tahu."
"Setuju, Bu!"
Bu Yuni mengusulkan untuk menulis buku sejarah Desa Awan
Biru. Buku itu akan berisi sejarah berdirinya desa, daftar kepala desa,
perkembangan desa dari masa ke masa, dan dokumen-dokumen penting.
"Teman-teman, kita akan tulis buku sejarah desa."
"Buku sejarah, Bu?" tanya Si Amat.
"Iya, Mas. Agar generasi mendatang tahu perjuangan
para pendahulu kita."
"Setuju, Bu!" seru mereka.
Bu Yuni memimpin tim penulisan. Pak Santoso bertanggung
jawab mengumpulkan data sejarah, Pak Eko menulis kronologi, Pak Edi
mengumpulkan foto-foto, Bu Lulu mengatur anggaran, Si Amat mengetik naskah.
"Bu, ini naskahnya sudah setengah jadi," kata Si
Amat setelah dua minggu.
"Bagus, Mas. Lanjutkan."
"Bu, kapan buku ini akan diterbitkan?"
"Target kita, akhir tahun. Agar bisa menjadi hadiah
untuk warga."
"Bagus, Bu!"
Warga desa antusias dengan rencana penulisan buku sejarah.
Mereka datang bergantian membawa foto-foto lama, cerita-cerita turun-temurun,
dan dokumen-dokumen yang tersimpan di rumah.
"Bu Yuni, ini foto pernikahan orang tua saya tahun
1960," kata seorang warga tua.
"Terima kasih, Pak. Ini akan kami masukkan ke
buku."
"Bu Yuni, ini cerita tentang Mbah Joyo, pendiri dusun
Gondang," kata warga lain.
"Wah, bagus. Tolong ditulis, Bu. Nanti kami
sunting."
Anto sebagai kurator museum membantu mengumpulkan dan
memverifikasi data. Ia sangat antusias.
"Bu, saya senang. Sejarah desa kita terdokumentasi
dengan baik."
"Iya, To. Ini berkat Bapak juga."
"Saya hanya melakukan yang bisa saya lakukan,
Bu."
Sepanjang minggu itu, mereka bekerja dengan produktif.
Arsip tahun 1950-1959 yang tadinya tersimpan di peti, kini sudah dipindahkan ke
map baru dan disimpan di brankas.
"Bu, arsip tahun 1950-1959 sudah selesai," lapor
Si Amat pada hari Sabtu.
"Bagus, Mas. Ini yang terakhir."
"Bu, apakah pekerjaan kita selesai?"
Bu Yuni tersenyum. "Belum, Mas. Masih ada arsip tahun
1940-an? Mungkin tidak. Tapi kita sudah menyelamatkan yang ada."
"Alhamdulillah, Bu."
Sabtu sore, mereka mengadakan evaluasi akhir bulan.
Hasilnya memuaskan. Semua arsip dari tahun 1950 hingga 2001 sudah tertata rapi.
"Teman-teman, kita sudah menyelesaikan pekerjaan
besar," kata Bu Yuni.
"Kita berhasil, Bu!" seru mereka.
"Ini berkat kerja keras kita semua."
"Terima kasih, Bu Yuni," kata mereka serempak.
Pak Santoso menambahkan, "Bu Yuni, saya sudah 20 tahun
di sini. Ini pertama kalinya saya melihat arsip serapi ini."
"Semoga bermanfaat, Pak."
"Tentu, Bu. Sangat bermanfaat."
Malam itu, Bu Yuni duduk di beranda rumah kontrakannya.
Kucing Kuning, seperti biasa, tidur di pangkuannya.
"Kuning, pekerjaan besar kita selesai."
Kucing itu mengeong pelan.
"Arsip dari tahun 1950 hingga 2001 sudah tertata.
Sejarah desa sudah terdokumentasi. Buku sejarah sedang ditulis."
Ia mengelus kepala Kuning.
"Aku bersyukur. Allah telah memberiku kekuatan. Tim
telah bekerja keras. Warga telah mendukung."
Ia menatap bintang-bintang.
"Ya Allah, terima kasih untuk semua. Terima kasih
untuk perjalanan ini. Terima kasih untuk pengabdian ini."
Ia memejamkan mata.
"Ke depan, masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi
aku tidak takut. Engkau selalu bersamaku."
Ia membuka mata, tersenyum pada bintang-bintang.
"Selamat malam, Kuning. Selamat malam, Desa Awan Biru.
Besok istirahat. Lusa, kita lanjutkan perjuangan."
EPILOG
DUA PULUH TAHUN KEMUDIAM
Bulan berjalan. Itulah satu-satunya ukuran waktu yang
tersisa di Desa Awan Biru setelah Bu Yuni tiada. Bukan kalender, bukan tahun,
bukan angka-angka di atas kertas. Hanya bulan. Yang datang dan pergi. Yang
membesar dan mengecil. Yang terbit di timur dan tenggelam di barat, setia
seperti degup jantung yang terus berdetak meski yang dicintai telah pergi.
Bulan purnama pertama setelah kepergiannya, warga Desa Awan
Biru berkumpul di makam Bu Yuni. Letaknya di bawah pohon beringin tua, di
lereng bukit yang menghadap ke desa. Tempat itu sengaja dipilih, karena Bu Yuni
selalu ingin melihat desanya, bahkan setelah mati.
Mereka membawa bunga. Bukan bunga mahal dari toko, tapi
bunga dari kebun mereka sendiri. Ada mawar merah dari kebun Bu Parmi, ada
melati putih dari halaman Pak Karyo, ada kenanga dari taman Pak Jayeng.
Bunga-bunga sederhana, seperti Bu Yuni sendiri.
Guntur, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Desa,
memimpin doa. Suaranya parau, matanya sembab.
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Bu Yuni. Tempatkanlah
beliau di sisi-Mu yang terbaik. Aamiin."
"Aamiin," jawab warga.
Mereka kemudian duduk melingkar di bawah pohon beringin. Si
Amat, yang kini sudah beruban dan menjadi kepala desa, bercerita tentang hari pertama
Bu Yuni datang.
"Waktu itu, meja Sekdes penuh tumpukan berkas. Gunung.
Saya pikir dia akan menyerah. Tapi dia malah tersenyum dan berkata, 'Kita mulai
dari sini.'"
Pak Edi, yang sudah pensiun dan keriput, menambahkan,
"Saya ingat dia tidak pernah marah. Meskipun warga marah-marah, dia tetap
tenang."
Bu Lulu yang sudah pikun tiba-tiba bersuara, "Bu Yuni
mana? Kok belum datang?"
Mereka terdiam. Lalu tersenyum pilu.
Bulan sabit pertama setelah pemakaman, Anto duduk sendirian
di museum desa. Jaket kulitnya yang dulu lusuh kini tersimpan rapi di lemari
kaca, diganti dengan jaket baru yang lebih rapi. Tapi ia tetap merasa ada yang
kurang.
Ia menatap foto Bu Yuni yang tergantung di dinding museum.
Foto itu diambil saat Bu Yuni menerima penghargaan dari Bupati. Wajahnya
tersenyum sederhana, tidak berlebihan.
"Bu, saya rindu," bisiknya.
Ia membuka buku catatan pengunjung museum. Di halaman
terbaru, seorang anak menulis: "Bu Yuni pahlawan desa kami."
Anto tersenyum. "Dia bukan pahlawan, Nak. Dia hanya
manusia biasa yang melakukan hal-hal luar biasa."
Bulan setengah penuh, Pak Darmo duduk di teras rumahnya
bersama Bu Parmi. Mereka memandangi sawah di depan rumah—sawah yang dulu hampir
diambil orang.
"Mi, ingat tidak waktu Bu Yuni mencari berkas tanah
kita?" tanya Pak Darmo.
"Ingat, Pak. Waktu itu Bapak marah-marah sampai meja
digedor."
"Dan Bu Yuni tetap tenang. Dia cuma bilang, 'Kita cari
bersama.'"
Pak Darmo menghela napas. "Seandainya Bu Yuni masih
ada, saya ingin berterima kasih sekali lagi."
Bu Parmi menggenggam tangan suaminya. "Dia sudah tahu,
Pak. Orang baik seperti dia pasti sudah tahu."
Bulan tua, hampir mati, Guntur duduk di kantor desa larut
malam. Lampu LED menyala terang, tidak berkedip-kedip seperti dulu. Namun ia
merasa kehangatan yang dulu ada, kini mulai pudar.
Ia membuka laci mejanya. Di dalamnya, tersimpan buku
catatan lama milik Bu Yuni. Sampulnya sudah lusuh, halamannya menguning. Ia
membuka halaman pertama.
"Mulai dari hal kecil. Lakukan dengan konsisten."
Guntur tersenyum. Ia mengambil pulpen dan menulis di buku
catatannya sendiri:
"Malam ini, bulan hampir mati. Tapi besok, bulan baru
akan lahir. Seperti semangat Bu Yuni, tidak pernah benar-benar padam."
Bulan baru lahir. Tipis seperti sabit, menggantung rendah
di ufuk barat. Guntur berdiri di depan kantor desa bersama Si Amat. Mereka
memandangi desa yang gelap, hanya diterangi lampu-lampu rumah warga.
"Pak Amat, apa yang paling Ibu ingat dari Bu
Yuni?" tanya Guntur.
Si Amat berpikir sejenak. "Ketekunannya. Dia tidak
pernah menyerah. Meskipun difitnah, dia tetap bekerja. Meskipun lelah, dia
tetap tersenyum."
"Saya ingat kata-katanya: 'Perubahan dimulai dari hal
kecil.'"
"Kita harus melanjutkannya, Pak."
"Iya, Mas. Kita harus."
Mereka berdua terdiam. Angin malam berhembus, membawa aroma
tanah basah dan bunga melati dari kejauhan.
Bulan purnama lagi. Warga kembali berkumpul di makam Bu
Yuni. Seperti biasa, mereka membawa bunga. Seperti biasa, mereka berdoa.
Seperti biasa, mereka bercerita.
Seorang anak kecil bertanya pada ibunya, "Bu, siapa Bu
Yuni?"
Ibunya tersenyum. "Bu Yuni adalah wanita tangguh yang
membuat desa kita menjadi lebih baik. Dia yang merapikan semua surat-surat di
kantor desa. Dia yang mengajarkan kita untuk tidak malas."
"Kenapa dia tidak di sini?"
"Dia sudah di surga, Nak."
Anak itu mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya mengerti.
Namun ia berjanji dalam hati, suatu hari nanti ia akan tahu siapa Bu Yuni.
Bulan berjalan. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Desa
Awan Biru terus berubah. Jalan beraspal. Rumah-rumah bagus. Anak-anak sekolah
tinggi. Kantor desa semakin modern. Pelayanan semakin cepat.
Namun satu hal tidak pernah berubah: kenangan tentang Bu
Yuni.
Setiap bulan purnama, warga masih berkumpul di makamnya.
Setiap ada masalah, mereka masih ingat kata-katanya: "Perubahan dimulai
dari hal kecil." Setiap ada yang ragu, mereka masih ingat senyumnya:
tenang, teduh, penuh keyakinan.
Bu Yuni mungkin sudah tiada. Tapi jejaknya tidak pernah
hilang. Jejak itu ada di setiap berkas yang tertata rapi. Ada di setiap
pelayanan yang cepat dan ramah. Ada di setiap senyum warga yang pulang dari
kantor desa dengan lega.
Jejak itu ada di hati setiap orang yang pernah mengenalnya.
Bulan purnama terakhir sebelum Guntur pensiun, ia duduk
sendirian di makam Bu Yuni. Kini ia sudah tua, rambutnya putih semua, jalannya
lambat. Namun matanya masih berbinar.
"Bu Yuni, saya akan pensiun bulan depan. Saya sudah
melakukan yang terbaik. Mudah-mudahan Ibu bangga."
Ia menghela napas. Angin malam berhembus, membawa aroma
tanah dan dedaunan.
"Saya tidak akan pernah melupakan Ibu. Desa ini tidak
akan pernah melupakan Ibu."
Ia berdiri, membungkuk hormat ke makam, lalu berjalan
perlahan meninggalkan bukit. Di belakangnya, bulan purnama bersinar terang,
menerangi desa yang tenang.
Bulan berjalan. Dan akan terus berjalan. Generasi berganti.
Wajah-wajah lama menghilang, digantikan yang baru. Namun cerita tentang Bu Yuni
tidak pernah mati. Cerita tentang seorang wanita tangguh yang datang dari awan
biru, yang mengubah desa kecil di lereng gunung menjadi lebih baik, hanya
dengan ketekunan, kesabaran, dan ketulusan.
Cerita itu akan terus diceritakan. Dari mulut ke mulut.
Dari hati ke hati. Dari generasi ke generasi.
Karena seperti kata Bu Yuni, "Perubahan sejati bukan
tentang seberapa cepat kita tiba di tujuan, tapi tentang seberapa banyak hati
yang berubah di sepanjang perjalanan."
Dan di Desa Awan Biru, banyak hati yang telah berubah.
Selamanya.
TAMAT











