Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 17 April 2026

MENEMBUS BATAS CAKRAWALA

 


 

PROLOG

Jejak dari Puncak yang Sunyi

Tidak semua perjalanan berakhir ketika kaki mencapai puncak. Ada perjalanan yang justru dimulai setelah seseorang kembali pulang. Ada perjalanan yang tidak terukur oleh jarak, tidak tertulis dalam peta, tidak terhitung oleh langkah kaki. Perjalanan batin yang kadang tidak disadari oleh si pelaku, tetapi kelak akan mengubah seluruh arah hidupnya.

Joko Supratikno mengetahui hal itu dengan pasti. Bukan karena ia seorang filsuf atau guru besar. Ia hanyalah ketua Kelompok Pecinta Alam Awan Biru (KPAAB), sekelompok anak muda desa yang gemar mendaki gunung, yang lebih akrab dengan tenda dan kompor lapangan daripada dengan meja dan kursi kantor. Namun pengalaman bertahun-tahun di lereng-lereng gunung telah mengajarkannya sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah: bahwa hidup ini seperti mendaki. Awalnya penuh semangat, tengahnya penuh perjuangan, dan puncaknya... bukanlah akhir.

Pagi itu, ketika kabut masih bergelayut manja di antara pepohonan pinus di lereng selatan Gunung Merbabu, Joko terbangun lebih awal dari yang lain. Ia sudah terbiasa. Sebagai ketua, ia selalu bangun paling pertama untuk memeriksa keadaan: apakah ada tenda yang roboh, apakah persediaan air masih cukup, apakah ada anggota yang sakit atau cedera. Tanggung jawab adalah beban yang ia pikul dengan senang hati, meskipun kadang berat.

Ia duduk di atas sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut, menghadap ke timur. Dari tempat ini, dengan ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut, ia bisa melihat hamparan awan putih di bawahnya, seperti lautan kapas yang tenang, bergelombang pelan ditiup angin. Di kejauhan, Gunung Merapi menjulang gagah, sesekali mengepulkan asap tipis yang segera terbang ditiup angin. Gunung itu seperti kakek tua yang sedang merokok sambil bercerita tentang masa lalu.

“Indah, ya?”

Suara di belakangnya membuat Joko menoleh. Hermansyah, wakil ketua KPAAB yang tubuhnya kurus tetapi energinya melimpah, berjalan mendekat sambil mengucek mata yang masih mengantuk. Rambutnya awut-awutan, jaketnya tidak terurus, dan sandal jepitnya terbalik di kaki kiri. Pemandangan yang membuat Joko tersenyum kecil.

“Kau bangun juga,” kata Joko.

“Kencing. Eh, maksudnya, mau lihat pemandangan.” Hermansyah merevisi ucapannya sambil terkikik malu. “Jangan bilang yang lain aku kencing di semak-semak nanti diketawain.”

“Sudah saya foto.”

“APA?!” Hermansyah hampir melompat. “Joko, jangan main-main! Nanti foto itu jangan disebar, ya. Aku kan punya harga diri. Walaupun pacar belum ada, tapi masa depan masih panjang.”

Joko tertawa kecil. “Bercanda, Man. Santai.”

Hermansyah menghela napas lega lalu duduk di samping Joko. Keduanya terdiam sejenak, menikmati keheningan pagi di ketinggian. Hanya suara angin dan kicau burung yang sesekali terdengar. Dari kejauhan, suara azan subuh mulai menggema dari masjid-masjid di lereng gunung—bergema tipis, seperti bisikan dari dunia lain.

“Joko,” kata Hermansyah tiba-tiba.

“Hm?”

“Kita sudah bertahun-tahun mendaki. Sudah puluhan gunung kita taklukkan. Tapi kenapa ya... setiap kali kita sampai di puncak, rasanya bukan senang, tapi justru... hampa? Seperti ada yang kurang?”

Joko tidak menjawab segera. Ia memandangi awan di bawahnya. “Karena puncak bukan tujuan, Man. Puncak adalah tempat kita beristirahat sejenak sebelum turun. Dan turun... itu lebih sulit daripada naik.”

“Maksudmu?”

“Naik itu butuh tenaga. Turun itu butuh kesadaran. Sadar bahwa setelah puncak, kita harus kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Banyak pendaki yang lupa itu. Mereka terlalu sibuk mengejar puncak, lalu ketika sampai, mereka bingung harus berbuat apa. Akhirnya foto-foto, teriak-teriak, lalu turun dengan perasaan kosong.”

Hermansyah mengangguk-angguk, meskipun sebenarnya hanya setengah paham. Ia bukan tipe orang yang suka merenung terlalu dalam. Tapi ia percaya pada Joko. Sejak kecil mereka berteman, sejak Joko masih menjadi anak pemalu yang suka menyendiri, sejak Hermansyah masih menjadi anak hiperaktif yang tidak bisa diam. Persahabatan mereka telah melewati banyak hal: perkelahian antar kampung, kegagalan di sekolah, patah hati pertama, dan kematian hewan peliharaan. Persahabatan yang tidak perlu diucapkan karena sudah terasa.

“Ayo kita siapkan sarapan,” kata Joko akhirnya sambil berdiri. “Jojon pasti sudah marah-marah kalau kita tidak membantu.”

“Jojon? Marah? Tidak mungkin. Orang itu paling sabar sedunia. Kecuali kalur persediaan bawang putih habis. Baru deh jadi setan gunung.”

Mereka berjalan kembali ke area perkemahan. Di balik tenda-tenda warna-warni yang mulai diterobos sinar matahari pagi, terdengar suara Jojon, koki lapangan KPAAB yang terkenal dengan masakannya yang lezat dan ledekannya yang pedas, sedang menggoreng sesuatu di atas kompor portable.

“Nah, nih orang-orang! Bangun siang terus! Masa saya yang masak sendiri?” Jojon berteriak dengan logat Jawanya yang kental. Badannya bulat, tidak seperti pendaki pada umumnya. Tapi jangan salah, ia bisa mendaki lebih cepat daripada kebanyakan orang, dan ia tidak pernah kehabisan stok makanan. “Kopi sudah saya buat. Telur dadar sudah jadi. Nasi udah anget. Silakan makan, yo! Tapi kalau habis tanpa saya, jangan harap besok saya masak lagi!”

“Jojon, kau itu galak tapi baik,” canda Guntur yang sedang merapikan peta dan kompas. Wajahnya serius, matanya teliti. Ia sedang menghitung jarak tempuh hari itu. “Kalau tidak karena masakanmu, mungkin sudah kami tendang dari KPAAB.”

“Tendang? Kalian yang akan saya tendang!” balas Jojon sambil membolak-balik telur dadar dengan wajan.

Bayu, dokter muda desa yang selalu siap dengan kotak P3K-nya, duduk bersila sambil memeriksa persediaan obat. “Jojon, jangan terlalu banyak minyak nanti kami sakit perut.”

“Sakit perut? Saya jamin enak-enak saja. Resep turun-temurun dari nenek saya, sudah terbukti ribuan tahun.” Jojon mengangkat wajan dengan bangga.

“Ribuan tahun? Nenekmu vampir?” celetuk Amat Junior, anggota termuda yang duduk di pojok sambil mengikat tali sepatu.

Semua tertawa. Pagi itu, di ketinggian 2.500 meter, di atas awan dan kabut, tawa mereka terdengar merdu. Itulah KPAAB. Bukan sekadar kelompok pendaki. Mereka adalah keluarga yang tidak terikat darah, tetapi terikat oleh perjalanan dan rasa saling percaya.


Setelah sarapan, mereka bersiap melanjutkan pendakian. Joko memimpin doa bersama, bukan doa formal, tetapi sekadar ucapan syukur dan permohonan keselamatan. Itu sudah menjadi tradisi sejak pertama kali mereka mendaki bersama.

“Ya Allah,” kata Joko dengan suara lantang namun khusyuk, “lindungilah kami dalam perjalanan ini. Beri kami kekuatan untuk melangkah, kesabaran untuk menghadapi rintangan, dan kerendahan hati untuk tidak merusak apa pun yang Engkau ciptakan. Amin.”

“Amin,” jawab yang lain serempak.

Lalu mereka berangkat. Jalur pendakian selatan Merbabu memang terkenal menantang. Tidak banyak pendaki yang memilih jalur ini karena medannya yang terjal, minim pos pendakian, dan pemandangan yang masih perawan. Tapi justru itulah yang dicari oleh KPAAB. Mereka tidak suka keramaian. Mereka suka kesunyian. Mereka suka tantangan.

Guntur berjalan di depan dengan peta dan kompas, sesekali berhenti untuk memeriksa azimuth. “Kita akan melewati hutan pinus dulu sekitar dua jam, lalu memasuki savana. Setelah itu, medan berbatu sampai camp terakhir. Besok pagi kita summit.”

“Summit jam berapa?” tanya Yulia, bendahara yang hemat tetapi tidak pelit. Ia selalu khawatir dengan logistik. “Jangan terlalu malam nanti dingin.”

“Jam tiga pagi. Sampai puncak sekitar jam lima, pas matahari terbit. Pemandangan terbaik.”

Anita yang berjalan sambil mencatat di buku catatannya mengangkat kepala. “Jangan lupa dokumentasi. Nadya, kau siap?”

Nadya, dokumentator KPAAB yang jeli menangkap momen, mengacungkan jempol. “Siap. Baterai penuh. Memory card kosong. Lensa sudah bersih. Tinggal tunggu momen.”

“Jangan lupa foto saya paling ganteng,” kata Hermansyah sambil menyisir rambutnya dengan jari.

“Kalau mau foto paling ganteng, saya lebih ganteng,” celetuk Arga, ahli peralatan yang bisa memperbaiki hampir semua barang.

“Kalian ini laki-laki semua ngaku ganteng,” sela Camelia, pemain teater desa yang selalu bisa mencairkan suasana. Suaranya nyaring, ekspresif, seperti sedang berakting di atas panggung. “Coba lihat saya. Inilah cakep sejati.”

“Camelia, kau itu cakepnya pas lagi di panggung. Di gunung, kau cakepnya pas lagi tidur. Karena kalau bangun, rambutmu kayak sarang burung.” Jojon tertawa terbahak-bahak.

Camelia melemparkan ranting ke arah Jojon, tetapi meleset. Semua tertawa lagi.

Mereka berjalan selama berjam-jam. Keringat membasahi tubuh. Napas mulai tersengal. Namun tidak ada yang mengeluh. Mereka sudah terbiasa. Yang lebih muda membantu yang lebih tua. Yang lebih kuat membantu yang lebih lemah. Kerja sama tim yang sudah terlatih selama bertahun-tahun.

Saat memasuki kawasan savana, Anita yang berjalan di belakang tiba-tiba berteriak, “Awas! Ular!”

Semua berhenti. Di tengah jalan setapak, seekor ular hijau sepanjang hampir satu meter melingkar, lidahnya bercabang menjulur-julur. Matanya waspada.

“Tenang,” kata Bayu pelan. “Ular pohon. Tidak berbisa. Dia lebih takut sama kita daripada kita takut sama dia.”

“Tapi saya takut, Yu!” pekik Anita sambil mundur perlahan. Wajahnya pucat.

“Diam saja. Jangan bergerak tiba-tiba. Dia akan pergi sendiri.”

Benar saja. Beberapa saat kemudian, ular itu perlahan merayap ke semak-semak dan menghilang. Anita menghela napas lega sampai hampir pingsan. Yulia dan Nadya menahan tubuhnya.

“Saya tidak akan pernah bisa terbiasa dengan ular,” kata Anita sambil memegang dadanya. “Dari dulu begitu.”

“Sudah, jangan dipikirin,” hibur Yulia. “Yang penting selamat.”

“Untung bukan ular weling atau ular kobra,” kata Amat Junior polos. “Kalau itu, bisa repot.”

“JANGAN BICARA GITU, NAT!” bentak Anita Rohan hampir menangis.

Amat Junior menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ekspresinya bersalah. Camelia memeluk Anita Rohan dari samping. “Sudah, Nita. Nggak apa-apa. Kita lanjut, ya. Jangan sampai ketinggalan.”

Perjalanan dilanjutkan. Namun suasana menjadi sedikit tegang. Anita yang biasanya ceria menjadi pendiam. Joko yang berjalan di depan menoleh ke belakang sesekali, memastikan tidak ada yang tertinggal.


Matahari mulai condong ke barat ketika mereka tiba di sebuah lembah yang dikelilingi bukit-bukit hijau. Di kejauhan, tampak sebuah desa kecil tersembunyi di antara pepohonan. Asap mengepul tipis dari beberapa rumah, tanda bahwa penduduk sedang memasak.

“Itu Desa Suralaya,” kata Guntur sambil menunjuk peta. “Kita bisa singgah di sana untuk mengisi air dan beristirahat. Kata Hermasyah, penduduknya ramah.”

“Desa kecil, ya?” komentar Yulia. “Mungkin tidak banyak penduduk.”

“Sekitar tiga puluh kepala keluarga,” jawab Guntur. “Terisolasi. Jalan tidak bagus. Akses terbatas. Tapi konon mereka punya kopi yang enak.”

“Kopi?” Jojon matanya berbinar. “Ayo, kita mampir! Siapa tahu bisa beli kopi buat oleh-oleh.”

“Jojon, kita lagi mendaki, bukan belanja,” tegur Joko setengah bercanda.

“Mendaki sambil belanja namanya wisata petualang, Komandan. Beda konsep.”

Mereka berjalan memasuki desa. Suasana sunyi, tetapi tidak menakutkan. Seperti desa yang sedang beristirahat. Beberapa anak kecil berlarian, berhenti sejenak untuk mengamati para pendaki dengan mata penuh rasa ingin tahu, lalu kembali berlarian sambil tertawa. Seorang ibu-ibu yang sedang menjemur kopi di halaman tersenyum ramah.

“Selamat sore, Bu,” sapa Joko.

“Selamat sore, Nak. Dari mana?” tanya ibu itu dengan logat Jawa yang kental.

“Dari Desa Awan Biru, Bu. Kami pendaki. Mohon izin singgah dan mengisi air.”

“Silakan, silakan. Airnya ambil di belakang. Ada sumur.”

“Terima kasih, Bu.”

Mereka berjalan menuju kantor desa, sebuah bangunan kayu tua yang tampak sudah lama tidak direnovasi. Atapnya dari seng berkarat, dindingnya dari papan yang mulai lapuk, lantainya dari tanah yang dipadatkan. Namun di halaman depannya, ada sebuah pohon beringin besar yang rindang, dan di bawah pohon itu, seorang lelaki paruh baya sedang duduk membaca koran.

Lelaki itu memakai kemeja lengan panjang warna krem yang sudah agak kusam, celana bahan hitam, dan sandal jepit. Kacamatanya bertengger di ujung hidung, sesekali didorong naik dengan jari telunjuk. Wajahnya tegas namun teduh, seperti orang yang telah melihat banyak hal tetapi memilih untuk tetap tenang.

Begitu melihat rombongan pendaki, ia berdiri dan menyambut dengan senyum yang hangat. “Selamat sore. Saya Raditya, kepala desa di sini. Silakan beristirahat.”

Joko maju selangkah, melepas carrier, lalu sedikit membungkuk. “Kami dari Desa Awan Biru, Pak. Kelompok Pecinta Alam. Kami mohon izin singgah dan mengisi air minum. Jika berkenan, kami juga ingin bermalam di sini sebelum melanjutkan pendakian.”

“Silakan. Silakan. Istirahatlah seperlunya.” Pak Raditya mempersilakan mereka duduk di bangku-bangku kayu yang ada di teras balai desa. “Gunung tidak suka orang terburu-buru. Gunung suka orang yang sabar.”

Joko tersenyum. “Kami akan menjaga sikap, Pak.”

Mereka duduk. Beberapa pemuda desa membantu membawakan air dari sumur. Salah seorang di antara mereka, tubuhnya kurus, kulitnya gelap, matanya teduh, menyerahkan gayung berisi air kepada Joko. “Minum dulu, Mas. Khasiatnya bagus untuk menghilangkan lelah.”

Joko menerima gayung itu. Airnya dingin, begitu dingin hingga terasa seperti menyentuh es batu. Ia meneguknya sedikit demi sedikit. Kesegaran menyebar dari tenggorokan ke seluruh tubuh.

“Terima kasih. Siapa namamu?”

“Ilham,” jawab pemuda itu singkat. Lalu ia berbalik dan kembali ke pekerjaannya.

Namun sebelum Ilham pergi, Joko sempat menatap matanya. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti ada api yang disembunyikan di balik ketenangan. Seperti ada badai yang tertahan di balik keteduhan.

Ini pemuda yang berbeda, pikir Joko. Pemuda yang sedang mencari sesuatu.

Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari perjalanan yang lebih besar dari sekadar mendaki gunung. Perjalanan yang tidak memerlukan peta atau kompas. Perjalanan yang akan mengubah hidup Ilham, desa Suralaya, dan bahkan dirinya sendiri.

Tapi itu cerita nanti. Untuk saat ini, mereka hanya bertemu. Dua orang asing di lereng gunung. Satu dari desa yang sudah berubah. Satu dari desa yang masih menunggu.

Dan takdir, seperti biasa, tidak pernah terburu-buru.


BAB 1

Pertemuan di Lereng Merbabu

Malam turun dengan cepat di lereng selatan Gunung Merbabu. Tidak seperti di kota yang lampu-lampu mulai menyala satu per satu, atau di dataran rendah yang senja bergulir perlahan seperti film lambat. Di ketinggian hampir 2.000 meter, peralihan dari siang ke malam terjadi seperti seseorang yang menutup mata, sebentar masih terang, lalu ketika dibuka kembali, dunia telah berganti kelambu hitam yang dingin dan lembap.

Kabut turun dari puncak seperti selimut basah yang digelar oleh tangan-tangan tak terlihat. Ia menyelinap di sela-sela rumah kayu, masuk melalui celah-celah dinding yang tidak sepenuhnya rapat, menyentuh kulit dengan lembut namun menusuk hingga ke tulang. Udara terasa seperti es yang baru saja dicairkan, masih dingin, tetapi mulai mencair di kulit. Burung-burung malam mulai bersuara dari kejauhan, suara-suara aneh yang tidak bisa diidentifikasi oleh orang yang tidak terbiasa dengan hutan gunung.

Di halaman kantor desa Suralaya, api unggun menyala terang. Kayu-kayu kering yang dikumpulkan oleh pemuda desa disusun dalam bentuk kerucut sempurna, ilmu yang diturunkan dari generasi ke generasi, dari kakek ke ayah, dari ayah ke anak. Susunan kerucut itu bukan tanpa alasan. Ia memungkinkan udara mengalir dari bawah, memberi oksigen yang cukup untuk api agar terus menyala tanpa perlu diaduk terus-menerus. Sebuah kearifan lokal yang sederhana namun brilian, seperti banyak hal lain di desa ini yang sering diabaikan oleh orang luar.

Api itu menjilat kayu-kayu dengan lidah-lidah jingga yang menari-nari. Kadang ia melompat tinggi ketika angin bertiup, kadang ia merunduk seperti malu ketika angin reda. Suaranya—kreek... kreek... kreek—adalah musik yang paling tua di dunia, musik yang telah menemani manusia sejak pertama kali ia belajar menciptakan api. Percikan bara sesekali melompat ke udara, sebentar menyala terang seperti bintang jatuh, lalu mati di tanah yang lembap.

Para anggota KPAAB duduk melingkar di atas tikar anyaman bambu yang disediakan oleh warga. Tikar itu sederhana, terbuat dari bambu yang dibelah tipis dan dianyam dengan pola silang. Tidak empuk, bahkan terasa kasar di pantat. Tapi cukup untuk melindungi mereka dari tanah yang dingin dan lembap. Di atas tikar itu, mereka duduk dengan posisi yang berbeda-beda, mencerminkan karakter masing-masing.

Joko duduk bersila dengan punggung tegak lurus seperti seorang pemimpin yang selalu waspada. Ia tidak pernah benar-benar santai. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, mengamati sekeliling, memastikan semua anggotanya aman. Di pinggangnya tergantung pisau lipat kecil, hadiah dari ayahnya saat ia pertama kali naik gunung. Pisau itu belum pernah digunakan untuk hal yang serius, tetapi keberadaannya memberinya rasa aman.

Hermansyah duduk dengan kaki diluruskan ke depan, sesekali menggerak-gerakkan jari-jari kakinya yang kedinginan. Ia mengenakan kaos oblong lengan pendek, keputusan yang buruk untuk malam di gunung, tetapi ia terlalu malas mengganti jaket. "Nanti juga anget sendiri," katanya ketika Anita menegurnya. "Keringat saya panasnya kayak bara." Sekarang ia menggigil tapi tidak mau mengaku.

Guntur duduk miring, bersandar pada carrier-nya yang ia letakkan di samping. Peta dan kompas sudah ia lipat rapi dan masukkan ke kantong khusus. Tugasnya hari ini sudah selesai. Sekarang ia bisa bersantai sambil sesekali melirik ke langit, mengamati rasi bintang yang tampak begitu jelas, seperti peta lain yang tidak perlu digambar.

Bayu duduk paling dekat dengan api, memanfaatkan panasnya untuk menghangatkan tangannya yang dingin. Kotak P3K-nya terbuka di sampingnya, bukan karena ada yang sakit, tetapi karena ia sedang memeriksa ulang persediaan. Kebiasaan seorang dokter yang selalu khawatir. "Lebih baik sedia payung sebelum hujan," katanya sering mengulang. "Di gunung, hujan datang tanpa permisi."

Jojon duduk paling dekat dengan dapur darurat yang ia dirikan, sebuah tungku sederhana dari batu-batu yang disusun melingkar, di atasnya diletakkan panci aluminium yang sudah hitam karena jelaga. Ia sedang memasak air untuk kopi malam. Tangan kirinya memegang sendok kayu, tangan kanannya memegang kantong plastik berisi bubuk kopi. Matanya sesekali melirik ke arah Ilham, pemuda desa yang tadi siang memperkenalkan diri, dengan rasa penasaran.

Anita Rohan duduk di samping Yulia, sesekali menulis di buku catatannya yang tebal. Buku itu sudah setengah penuh, catatan perjalanan, data penduduk, ide-ide, dan kadang puisi-puisi pendek yang tidak pernah ia tunjukkan ke siapa pun. Pena-nya adalah pulpen murah yang tintanya sering macet, tetapi ia setia karena pulpen itu pemberian almarhum ayahnya.

Yulia duduk di samping Anita Rohan, sesekali menghitung uang kas di dalam amplop cokelat. Matanya teliti, jari-jarinya lincah. Sebagai bendahara, ia bertanggung jawab atas setiap rupiah yang keluar masuk. "Jangan sampai kurang," katanya selalu. "Uang desa bukan untuk dibuang-buang." Meskipun kadang Hermansyah menggodanya pelit, ia tidak peduli. Hemat bukan pelit. Ada batasnya.

Nadya duduk dengan kamera di pangkuan, matanya mengamati setiap sudut, mencari momen yang layak diabadikan. Ia sudah mengambil beberapa foto sore tadi, pemandangan gunung, anak-anak yang berlarian, ibu-ibu yang menjemur kopi. Sekarang ia sedang menunggu momen yang tepat: mungkin saat api unggun menyala paling terang, atau saat salah seorang anggota tertawa lepas, atau saat Ilham berbicara dengan mata berbinar.

Camelia duduk di pinggir lingkaran, matanya yang tajam memperhatikan setiap gerak-gerik warga desa yang ikut bergabung. Sebagai pemain teater, ia terbiasa mengamati orang. Ekspresi, gestur, intonasi suara, semua adalah bahan untuk karakternya nanti. Ia sudah mencatat dalam hati bahwa Pak Raditya memiliki kebiasaan mendorong kacamata dengan jari telunjuk kanan setiap kali akan mengatakan sesuatu yang penting. Dan Ilham memiliki kebiasaan menggenggam erat ujung bajunya sendiri ketika ia sedang gugup.

Arga duduk di dekat tumpukan peralatan, carrier-carrier yang berisi tenda, kompor, perlengkapan masak, dan peralatan teknis lainnya. Ia siap sedia jika ada barang yang perlu diperbaiki. Di sampingnya ada kotak peralatan kecil berisi obeng, tang, lakban, dan berbagai benda kecil lainnya yang bisa menyelamatkan situasi darurat.

Amat Junior duduk di samping Joko, matanya yang masih polos mengamati wajah-wajah baru di sekitarnya. Usianya baru tujuh belas tahun, yang termuda di KPAAB. Tapi semangatnya tidak kalah dengan yang lain. "Saya ingin belajar banyak," katanya saat pertama kali bergabung. "Saya ingin menjadi seperti kakak-kakak." Sekarang ia duduk diam, mendengarkan, sesekali mengangguk meskipun tidak ada yang bicara.

Di hadapan mereka, beberapa pemuda desa ikut bergabung. Wajah-wajah mereka masih muda, rata-rata berusia antara tujuh belas hingga dua puluh lima tahun, tetapi mata mereka menyimpan kelelahan yang tidak biasa pada usia semuda itu. Kelelahan karena hidup di desa yang tertinggal. Kelelahan karena melihat teman-teman sebaya satu per satu pergi merantau dan tidak pernah kembali. Kelelahan karena merasa bahwa tidak ada masa depan di sini.

Ilham duduk agak jauh dari yang lain, di pinggiran lingkaran, di bawah pohon kopi yang rimbun. Daun-daun kopi di atasnya bergoyang-goyang ditiup angin malam, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak di wajahnya. Ia tidak banyak bicara. Matanya tenang, tetapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan, seperti lautan yang tenang di permukaan namun menyimpan arus kuat di kedalamannya.

Di samping Ilham, duduk dua orang pemuda lain: Angga dan Rendi. Angga bertubuh kekar, tangannya penuh kapalan karena sering memperbaiki mesin-mesin pertanian. Ia pendiam, hampir tidak pernah bicara kecuali ditanya. Tapi ketika berbicara, selalu tepat sasaran. Tidak ada basa-basi. Tidak ada kalimat yang tidak perlu. Rendi sebaliknya: kurus, berkacamata, dan tidak pernah berhenti bicara. Ia suka membaca, buku apa saja yang bisa ia dapatkan dan ia suka menulis. Katanya, "Setiap orang punya cerita. Tugas kita adalah menceritakannya."

Di barisan belakang, dua orang perempuan desa ikut duduk: Nisa dan Aulia. Nisa berani, lidahnya tajam, tidak takut pada sia pun. Di desa yang masih kental dengan budaya patriarki, ia sering menjadi suara bagi perempuan-perempuan yang tidak berani bicara. Aulia sebaliknya: pendiam, pemalu, tetapi sangat pintar dalam hal-hal teknis. Ia bisa mengoperasikan computer, sesuatu yang langka di desa ini, meskipun aksesnya sangat terbatas.

Pak Raditya duduk di kursi bambu tua di teras kantor desa. Di tangannya ada cangkir kopi hitam tanpa gula. Ia sesekali menyesap, lalu mendorong kacamatanya yang mulai turun. Matanya mengamati semua orang dengan tenang, seperti seorang gembala yang mengawasi kawanan dombanya. Ia tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya terasa. Ada wibawa yang tidak perlu diucapkan.


Udara dingin. Api unggun terus menyala. Kayu-kayu baru ditambahkan oleh salah seorang pemuda desa, lelaki bertubuh tambun dengan kumis tebal bernama Kuat, sesuai dengan namanya. Kuat adalah pemuda yang paling jarang bicara, bahkan lebih pendiam dari Angga. Tapi ia paling kuat mengangkat kayu dan paling rajin membantu. Ketika ia menambahkan kayu, ia melakukannya dengan hati-hati, tidak seperti kebanyakan orang yang melempar kayu sembarangan dan membuat percikan bara ke mana-mana.

Hermansyah yang sedari tiam menggigil, akhirnya tidak tahan. "Dingin banget, ya," katanya sambil menggosok-gosok tangannya. "Kayak di kulkas. Tulang-tulang saya mulai protes. Saya rasa sendi lutut kiri mau mogok."

"Makanya pakai jaket," kata Anita tanpa menoleh. Ia masih sibuk menulis. "Sudah saya bilang dari tadi."

"Jaket saya ketinggalan di tenda. Males ambil."

"Ya sudah, menggigillah."

Camelia tertawa. "Hermansyah, kau itu kalau sudah malas, luar biasa. Malasnya sampai ke level dewa."

"Bukan malas. Ini strategi." Hermansyah mengangkat dagu dengan gaya sok keren. "Tubuh saya sedang melakukan adaptasi suhu ekstrem secara alami. Nanti kalau sudah terbiasa, saya tidak akan kedinginan lagi. Ilmu kedokteran belum tentu bisa menjelaskan."

"Kedokteran jelasinnya hipotermia, Man," kata Bayu sambil tersenyum. "Kalau sudah menggigil hebat, biru, dan mulai halusinasi, itu tandanya hipotermia tingkat lanjut. Jangan sampai ya."

"Ih, Bayu, jangan nakut-nakutin."

Ilham yang duduk di pinggiran lingkaran tersenyum tipis mendengar percakapan itu. Ia belum terbiasa dengan candaan anak-anak muda dari luar desa. Di Suralaya, orang-orang lebih kalem, lebih jarang tertawa, lebih sering diam. Bukan karena mereka tidak punya selera humor, tetapi karena beban hidup terasa lebih berat di sini. Tapi candaan Hermansyah, meskipun sederhana, berhasil membuatnya tersenyum.

"Kalian pasti sering begini ya? Saling ledek?" tanya Ilham.

Joko yang duduk di seberang api mengangguk. "Setiap hari. Kadang sampai berantem. Tapi besoknya sudah baikan lagi."

"Kayak kakak adik," kata Nisa. Matanya menatap Joko dengan rasa ingin tahu. "Di desa kami, kalau berantem, kadang butuh waktu lama untuk baikan. Ada yang sampai bertahun-tahun tidak bicara."

"Karena di desa kami," sambut Hermansyah, "kami sadar bahwa gunung tidak peduli dengan sakit hati. Gunung akan tetap dingin, tetap terjal, tetap berbahaya, tidak peduli siapa yang marah kepada siapa. Jadi kalau mau selamat, ya harus rukun. Terpaksa rukun. Lama-lama jadi kebiasaan."

"Terpaksa rukun," ulang Rendi sambil tertawa kecil. "Kedengarannya tidak romantis."

"Tapi efektif," kata Guntur.

Pak Raditya yang mendengar percakapan itu ikut tersenyum. Ia menyesap kopinya, lalu berkata pelan, "Itulah gunung. Guru yang tidak pernah bicara, tetapi ajarannya selalu benar."

Malam semakin larut. Suara jangkrik semakin keras, seperti orkestra yang tidak pernah lelah. Suara kayu terbakar—krek... krek... krek—masih setia mengiringi. Angin gunung berhembus lebih kencang dari sebelumnya, membuat api unggun kadang menyala lebih terang, kadang hampir padam.

Jojon yang sejak tadi sibuk dengan kopinya, akhirnya menyelesaikan tugasnya. "Ini kopi," katanya sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir-cangkir kecil yang terbuat dari tanah liat, pinjaman dari warga desa. "Kopi Suralaya asli. Saya beli dari Ibu-ibu tadi sore. Harganya murah, tapi rasanya? Dijamin mantap."

Dia membagikan cangkir satu per satu. Ilham menerima cangkirnya, menyesap perlahan, lalu matanya membesar. "Ini kopi dari desa kami?" tanyanya tidak percaya.

"Iya," kata Jojon. "Kenapa? Ada yang salah?"

"Tidak. Tapi saya tidak pernah merasakan kopi seenak ini. Padahal setiap hari minum kopi dari kebun sendiri."

Jojon mengangkat alis. "Kopi ini enak, tapi teknik menyeduhnya juga berpengaruh. Saya pakai air mendidih, tapi tidak terlalu mendidih. Suhu sekitar 90 derajat. Saya biarkan kopi 'bernapas' dulu sebelum dituang. Saya tambahkan sedikit garam, bukan gula, untuk mengurangi rasa pahit yang berlebihan. Itu rahasia keluarga."

"Wah, koki profesional," kata Angga setengah bercanda.

"Bukan profesional. Tapi saya suka makan. Dan kalau suka makan, belajar masak itu kewajiban. Kalau tidak, kita akan tergantung pada orang lain seumur hidup."


Di sudut lain lingkaran, Yulia yang sedari tiam diam, tiba-tiba berkata, "Ilham, boleh saya tanya sesuatu?"

Ilham menoleh. "Tentu, Mbak."

"Kamu sudah punya pacar?"

Semua orang terdiam. Beberapa menahan tawa. Yulia terkenal blak-blakan, kadang terlalu blak-blakan. Ia tidak pernah sungkan bertanya hal-hal pribadi, karena ia tidak menganggapnya pribadi. Baginya, pacar, mantan, atau tidak punya pacar adalah hal biasa yang bisa dibicarakan seperti cuaca atau harga bawang merah.

Ilham tersenyum kecut. "Belum, Mbak. Di desa kecil begini, mencari pacar susah. Yang ada cuma itu-itu saja. Kalau tidak sepupu ya tetangga. Kalau bukan tetangga ya orang yang sudah seperti saudara."

"Jadi tidak ada yang menarik?" tanya Camelia ikut nimbrung. Matanya berbinar, ini bahan yang bagus untuk drama desa nanti.

"Ada sih... tapi saya belum berani."

Nisa yang duduk di samping Aulia, tiba-tiba menegakkan tubuh. "Siapa?" tanyanya cepat. Terlalu cepat. Nada suaranya sedikit tajam, seperti cemburu. Atau mungkin hanya rasa ingin tahu yang berlebihan. Atau mungkin... sesuatu yang lain.

Ilham tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memandangi api unggun. Wajahnya kemerahan entah karena api atau karena sesuatu yang lain.

Joko yang mengamati dengan seksama, tersenyum kecil. Ia bisa membaca situasi. Nisa dan Ilham. Ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang belum diucapkan. Sesuatu yang masih tersembunyi di balik tatapan-tatapan singkat dan kebersamaan yang tidak disengaja.

Nisa adalah perempuan yang tidak mudah menunjukkan perasaan. Ia keras di luar, tetapi lembut di dalam. Ia bisa memarahi seseorang dengan keras, lalu diam-diam menangis di kamar karena takut menyakiti perasaannya. Ia bisa menolak bantuan dengan tegas, lalu menerima dengan hati-hati ketika tidak ada yang melihat. Ilham adalah kebalikannya: pendiam, penuh pertimbangan, tetapi hatinya mudah tersentuh. Mereka seperti dua sisi mata uang yang berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan.

"Sudah, jangan tanyakan hal-hal seperti itu," kata Aulia tiba-tiba. Suaranya pelan, tetapi tegas. "Kalau Ilham belum siap cerita, ya jangan dipaksa."

Yulia mengangkat bahu. "Aku hanya bertanya. Tidak ada yang dipaksa."

Tapi Nisa masih menatap Ilham. Matanya tajam. Ilham merasakan tatapan itu, tetapi ia tidak berani membalas. Ia hanya menggenggam erat ujung bajunya, kebiasaan buruknya ketika gugup.

Camelia yang melihat semua ini, dalam hati tersenyum. Wah, ini bahan drama yang bagus. Romeo dan Juliet versi desa. Tapi semoga tidak berakhir tragis.

Untuk mengalihkan suasana, Hermansyah berkata, "Joko, ceritakan dong tentang pendakian ke Rinjani dulu. Yang nyaris hilang itu."

"Jangan," kata Joko cepat. "Malu."

"Tidak malu. Inspiratif," desak Hermansyah. "Kalian tahu, Joko dulu hampir tersesat di Rinjani karena terlalu asyik motret pemandangan. Dia terpisah dari rombongan selama enam jam. Bayangkan, enam jam sendirian di gunung! Dan ketika ditemukan, dia sedang duduk di atas batu sambil makan roti tawar, tenang-tenang saja."

Joko menghela napas. "Karena kalau panik, situasi tidak akan membaik. Yang penting tetap tenang, berpikir jernih, dan mencari solusi."

"Tenang? Joko, kau itu tenangnya kebangetan," kata Arga sambil tertawa. "Dulu waktu tenda kami roboh kena angin, kau cuma bilang 'Santai, tenda bisa diperbaiki. Yang penting tidak ada yang cedera.' Padahal tenda itu satu-satunya tenda besar yang kami punya."

"Karena panik tidak akan membuat tenda berdiri kembali," kata Joko dengan nada datar.

Anita yang menulis di buku catatannya, berhenti sejenak. Ia menatap Joko dari balik bukunya. Ada sesuatu di matanya, kekaguman, mungkin. Atau sesuatu yang lebih dalam. Selama bertahun-tahun menjadi sekretaris KPAAB, Anita Rohan sering berinteraksi dengan Joko. Ia tahu Joko bukan tipe pemimpin yang banyak bicara atau karismatik. Tapi ia adalah pemimpin yang hadir. Selalu ada ketika dibutuhkan. Selalu tenang ketika orang lain panik. Selalu mengambil keputusan dengan kepala dingin meskipun hati sedang panas.

Joko... pikir Anita Rohan. Kadang aku ingin kau sedikit lebih ekspresif. Supaya aku tahu apa yang kau rasakan.

Tapi ia tidak pernah mengucapkannya. Ia hanya menulis. Karena menulis lebih aman daripada bicara. Menulis tidak bisa ditolak, tidak bisa disalahartikan, tidak bisa meninggalkan bekas yang menyakitkan.


Sementara para pendaki asyik bercerita, di balik dinding rumah-rumah kayu, beberapa warga desa berkumpul dalam kegelapan. Mereka tidak ikut bergabung di sekitar api unggun. Mereka memilih diam dari kejauhan, mengamati, mendengar, dan berbisik-bisik.

Di rumah Mbah Naryo, warung kopi yang tutup malam ini karena pemiliknya sedang sibuk mengamati, berkumpul beberapa tetua desa. Mbah Jaya Suprapta duduk di kursi bambu kesayangannya, punggungnya membungkuk tetapi matanya masih tajam seperti elang. Pak Sastro duduk di sampingnya, memegang tongkat kayu yang tidak pernah lepas dari tangannya. Pak Kirno duduk di seberang, menyilangkan tangan di dada, wajahnya tidak bisa dibaca.

Mbah Naryo sendiri duduk di sudut, menghisap rokok kreteknya yang mengepulkan asap tipis. Ia tidak ikut bicara. Ia hanya mendengar. Seperti biasanya.

"Mereka dari mana, Mbah?" tanya Pak Sastro. "Yang jelas bukan dari kecamatan. Bahasa dan pakaiannya beda."

"Desa Awan Biru," jawab Mbah Naryo pelan. "Konon desa itu sekarang maju. Jalan mulus, anak-anak muda pintar-pintar, hasil kebun laku keras."

"Desa Awan Biru?" Mbah Jaya mengernyit. "Saya dengar desa itu dulu sama seperti kita. Terisolasi. Miskin. Banyak anak muda pergi. Tapi sekarang berubah."

"Berubah karena apa?" tanya Pak Kirno skeptis. "Bantuan pemerintah?"

"Tidak. Kata orang, karena mereka belajar internet. Jualan online. Promosi lewat HP."

Pak Kirno mendengus. "Internet? Online? Omong kosong. Desa tidak akan berubah hanya karena HP. Yang membuat desa maju adalah kerja keras, bukan mainan."

Mbah Jaya tidak menjawab. Ia menatap ke arah balai desa, di mana api unggun masih menyala dan suara tawa kadang terdengar. "Anak-anak muda kita ikut bergabung," katanya. "Ilham, Nisa, Angga, Rendi, Aulia. Mereka duduk di sana. Mendengarkan cerita orang luar."

"Itu bahaya," kata Pak Sastro cepat. "Mereka akan terpengaruh. Lupa dengan adat. Lupa dengan desa. Nanti pergi semua, tidak ada yang tinggal."

"Atau sebaliknya," kata Mbah Naryo pelan. "Mereka belajar sesuatu, lalu membawanya pulang. Tidak harus pergi untuk sukses."

Pak Kirno mendengus lagi. "Mbah Naryo terlalu optimis. Saya sudah hidup puluhan tahun di desa ini. Tidak ada yang berubah. Tidak akan pernah berubah. Desa seperti kita sudah ditakdirkan jadi desa kecil yang tidak dikenal."

Mbah Jaya mengangkat tangan pelan. "Jangan bicara takdir dulu. Takdir tidak tahu-menahu dengan HP atau internet. Takdir adalah apa yang terjadi setelah kita berusaha. Belum ada yang berusaha di desa ini. Jadi jangan bicara takdir."

Ruangan hening. Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar.

Mbah Naryo mematikan rokoknya, lalu berkata, "Kita lihat saja. Tidak perlu memutuskan sekarang. Biarkan anak-anak muda itu belajar. Biarkan mereka mencoba. Tidak ada salahnya mencoba. Yang salah adalah menolak sebelum tahu."


Kembali di lingkaran api unggun, percakapan mulai berubah arah. Dari candaan dan cerita ringan, perlahan bergeser ke topik yang lebih serius. Ilham yang sedari tiam mendengarkan, akhirnya memberanikan diri bertanya.

"Mas Joko," panggilnya.

Joko menoleh. "Ya?"

"Desa Awan Biru itu... dulu seperti apa?"

Pertanyaan itu sederhana. Namun Joko bisa merasakan ada beban di baliknya. Bukan sekadar rasa ingin tahu. Ada kerinduan. Ada harapan. Ada pertanyaan yang tidak diucapkan: Mungkinkah desaku juga bisa berubah?

Joko menarik napas panjang. Udara dingin masuk ke paru-parunya, menyegarkan tetapi juga mengingatkannya pada perjuangan yang tidak mudah. Ia memandang api unggun sejenak, mengumpulkan kata-kata.

"Dulu desa kami hampir sama seperti di sini," katanya pelan. Matanya menerawang ke masa lalu, ke tahun-tahun ketika ia masih remaja dan menyaksikan desanya perlahan-lahan kehilangan anak-anak mudanya. "Jalan rusak. Anak muda banyak pergi. Hasil panen murah. Orang tua menganggap semuanya akan tetap seperti itu, tidak ada yang bisa diubah."

"Bahkan ada yang bilang," sambung Hermansyah, "'Desa kecil tidak akan pernah bisa maju. Biarlah. Ini sudah takdir.' Kata-kata itu sering kami dengar. Dari tetua, dari orang tua, bahkan dari teman sebaya."

Ilham menatap api. Karena kalimat itu terdengar sangat dekat. Sangat mirip dengan desanya sendiri. Sangat mirip dengan apa yang sering ia dengar dari bibir Pak Kirno, dari para tetua, dari orang-orang yang lebih tua.

"Lalu?" tanyanya. Suaranya sedikit bergetar.

Joko melanjutkan. "Lalu kami sadar. Kadang yang membuat desa tertinggal bukan karena letaknya. Bukan karena fasilitasnya. Bukan karena uangnya. Tapi karena orang-orangnya berhenti percaya. Mereka berhenti percaya bahwa desa mereka bisa berubah. Dan ketika kepercayaan itu mati, maka matilah segala kemungkinan."

Nisa yang mendengar itu, ikut bertanya, "Percaya pada apa?"

"Bahwa desa kecil juga bisa punya masa depan besar. Bahwa teknologi bukan musuh, tapi teman. Bahwa anak muda tidak harus pergi untuk sukses. Bahwa pulang bukan berarti kalah."

Malam mendadak terasa lebih hening. Suara kayu terbakar terdengar jelas. Bahkan desir angin di atap bambu terdengar seperti bisikan. Ilham tidak menyadari dirinya sedang menahan napas. Dadanya terasa sesak.

Joko melanjutkan ceritanya. Suaranya mengalir seperti air sungai, tenang namun membawa kekuatan yang tidak bisa diabaikan.

"Kami mulai dari hal kecil. Komunitas digital desa didirikan. Ketuanya Herman dia tidak ikut mendaki kali ini, tapi dia adalah otak di balik semua itu. Anggota-anggotanya dari kami, anak-anak KPAAB yang belajar teknologi. Kami belajar dari nol. Tidak ada yang pintar. Tidak ada yang ahli. Kami hanya punya kemauan dan rasa ingin tahu."

"Kami membaca buku, menonton tutorial di YouTube dengan kuota internet yang pas-pasan, dan sering bolak-balik ke kota untuk belajar. Kadang kami nebeng truk pasir milik Pak Anto, dia orang baik, meskipun sering marah-marah kalau truknya kotor kena debu jalanan."

"Siapa yang mengajari?" tanya Rendi.

"Herman. Dia lulusan S 1 jurusan komputer. Ilmunya tidak terlalu dalam, tapi cukup untuk memulai. Dia mengajari kami dasar-dasar: mengetik, menggunakan Excel, membuat presentasi, mengedit foto sederhana. Pelan-pelan, kami mulai mengerti."

"Lalu?"

"Kami membuat data penduduk lebih rapi. Sebelumnya, data warga hanya berupa catatan tangan di buku tulis yang mudah robek dan hilang. Sekarang, semua tersimpan di komputer, bisa diakses dengan mudah, bisa dicetak ulang jika diperlukan. Kami belajar memakai internet untuk mencari informasi. Kami memotret hasil kebun warga, kopi, sayuran, buah-buahan dan mengunggahnya ke media sosial. Kami mulai menjual kopi lewat media sosial, membuat orang tahu desa kami ada."

Ilham diam. Ia membayangkan desanya sendiri. Kopi Suralaya juga terkenal di kalangan warga sekitar. Tapi selama ini, kopi itu hanya dijual ke tengkulak dengan harga murah. Petani tidak pernah mendapatkan harga yang layak.

"Dan berhasil?" tanya Nisa. Matanya menatap Joko dengan intens.

Joko mengangguk. "Pelan-pelan. Tidak langsung. Ada yang gagal. Ada yang mengejek. Ada yang bilang ini buang-buang waktu, lebih baik kerja di ladang daripada duduk di depan layar. Tapi berubah. Kopi kami mulai dikenal. Kerajinan anyaman dipesan dari luar kota. Wisatawan mulai datang. Bahkan anak-anak muda yang dulu pergi, mulai kembali."

"Orang-orang langsung setuju?" tanya Ilham.

Joko tersenyum pahit. "Tidak. Banyak yang menolak. Mereka bilang internet bisa merusak anak muda. Budaya akan hilang. Desa akan berubah menjadi asing. Kami tidak melawan dengan kata-kata. Kami membuktikan dengan hasil. Biarlah hasil yang berbicara."

Ilham menelan ludah pelan. "Kalian tidak takut gagal?"

"Takut. Setiap hari. Setiap kali memposting sesuatu, ada rasa takut tidak ada yang melihat. Setiap kali mengajak warga, ada rasa takut mereka menolak. Setiap kali memulai sesuatu, ada rasa takut itu akan berakhir sia-sia. Tapi ketakutan itu tidak boleh lebih besar dari keyakinan."

"Lalu kenapa tetap lanjut?"

Karena pertanyaan itu, Joko terdiam cukup lama. Ia menatap langit gelap di atas mereka, di mana bintang-bintang berkelap-kelip seperti berlian yang tersebar tanpa pola. Kemudian ia berkata pelan, dengan suara yang nyaris seperti bisikan tetapi terdengar jelas di malam yang sunyi:

"Karena lebih menakutkan melihat desa sendiri diam di tempat. Lebih menakutkan menyaksikan pemuda-pemuda desa pergi satu per satu dan tidak pernah kembali. Lebih menakutkan mengetahui bahwa anak-anak kita kelak akan mewarisi desa yang sama, dengan masalah yang sama, tanpa pernah melihat perubahan."

Kalimat itu menancap dalam hati Ilham seperti bara kecil. Kecil. Namun panas. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menunduk, memandangi tanah di bawah kakinya, dan membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam relung hatinya yang paling dalam.

Nisa, yang duduk tidak jauh dari Ilham, merasakan getaran yang sama. Ia melihat Ilham, pemuda yang selama ini ia kenal sebagai anak pendiam, tidak banyak bicara, tetapi selalu ada ketika dibutuhkan. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia melihat Ilham dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai teman lama. Bukan sebagai tetangga. Tapi sebagai seseorang yang sedang bergulat dengan mimpinya sendiri. Dan itu... membuat Nisa merasa sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Ilham, pikir Nisa. Kau tidak sendirian. Aku juga ingin desa ini berubah.

Tapi ia tidak mengucapkannya. Ia hanya diam, memandangi api unggun, dan membiarkan hatinya berbicara dalam keheningan.


BAB 2

Cerita di Sekitar Api

Api unggun mulai mengecil. Kayu-kayu yang tadinya menyala terang dengan lidah api yang menjulang tinggi, kini hanya menyisakan bara kemerahan yang berdenyut-denyut seperti jantung yang berdetak pelan. Bara itu masih panas, masih cukup untuk menghangatkan tubuh yang mulai menggigil, tetapi tidak cukup untuk menerangi seluruh halaman balai desa. Gelap perlahan merayap masuk dari pinggiran lingkaran, seperti air yang naik perlahan di pantai saat air laut mulai pasang.

Para anggota KPAAB dan pemuda desa masih duduk melingkar, tetapi posisi mereka semakin rapat, bukan karena keintiman, tetapi karena dingin yang semakin menusuk. Bahu bersentuhan bahu. Lutut bersentuhan lutut. Napas yang keluar dari mulut berubah menjadi uap putih tipis yang segera lenyap di udara malam.

“Jam berapa, ya?” tanya Amat Junior sambil menggosok-gosok tangannya. Suaranya sedikit gemetar, meskipun ia berusaha menyembunyikannya.

“Sekitar jam sembilan,” jawab Guntur sambil melirik jam tangan digitalnya yang sudah agak buram layarnya. “Masih awal. Biasanya kalau di gunung, kami tidur jam delapan. Tapi karena hari ini istirahat di desa, mungkin bisa lebih malam.”

“Bisa lebih malam, tapi dinginnya minta ampun,” keluh Hermansyah. Jaket yang tadinya tidak mau dipakai, akhirnya terpaksa ia kenakan setelah gigi-giginya mulai bergemerutuk. “Bayu, apa tidak ada pil pereda dingin di kotak P3K-mu?”

“Pil pereda dingin tidak ada, Man. Yang ada hanya sarung tangan dan kaos kaki tebal,” jawab Bayu sambil tersenyum. “Tapi itu sudah saya bagikan sebelum magrib. Kalau kau tidak mengambil, ya sudah.”

“Saya kira tidak perlu.”

“Kata siapa?”

“Kata perasaan saya. Ternyata perasaan saya salah.”

Camelia tertawa. “Perasaanmu itu yang paling sering salah, Man. Dulu waktu kau bilang suka sama si Eni dari desa sebelah, kau bilang perasaanmu mengatakan dia juga suka sama kau. Ternyata dia sudah punya pacar, dan pacarnya adalah sepupumu sendiri.”

Semua tertawa. Hermansyah merah padam, bukan karena dingin, tetapi karena malu. “Itu masa lalu. Jangan diungkit lagi. Lagipula, mana aku tahu kalau sepupuku sendiri yang jadi saingan?”

“Bukan saingan, Man. Kau yang mengira-ngira sendiri,” ledek Yulia.

“Sudah, sudah. Jangan bullying Hermansyah terus,” kata Joko sambil mengangkat tangan. Meskipun nada bicaranya serius, matanya menyipit menahan tawa. “Kasihan. Nanti dia nangis.”

“Saya tidak nangis,” protes Hermansyah. “Saya hanya... sedikit tersentuh secara emosional.”

“Sama saja,” kata Anita tanpa menoleh dari buku catatannya.


Ilham yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, akhirnya ikut tersenyum. Tawa anak-anak muda dari Awan Biru itu menular. Ada kehangatan di antara mereka yang tidak hanya berasal dari api unggun. Ada kehangatan yang lahir dari persahabatan yang sudah teruji oleh waktu dan perjalanan.

“Mas Joko,” panggil Ilham tiba-tiba.

“Ya?”

“Boleh saya cerita sedikit tentang desa ini?”

Joko mengangguk. “Silakan. Kami semua mendengarkan.”

Ilham menarik napas panjang. Ia tidak terbiasa bicara di depan banyak orang. Apalagi di depan orang-orang yang baru dikenal. Tapi ada sesuatu di malam itu, sesuatu di udara, sesuatu di api unggun, sesuatu di tatapan mata Nisa yang duduk di seberang, yang membuatnya merasa bahwa ini adalah saat yang tepat.

“Desa Suralaya sudah ada sejak zaman Belanda,” mulainya pelan. Matanya menatap api, seolah-olah ia sedang membaca cerita dari bara yang berdenyut. “Konon, dulu ada seorang pertapa yang bernama Ki Suralaya. Beliau adalah prajurit Mataram yang melarikan diri dari kejaran Belanda. Beliau bersembunyi di lereng gunung ini, lalu menetap, membuka hutan, dan mendirikan pemukiman kecil. Itu sebabnya desa ini dinamai Suralaya.”

“Ki Suralaya,” ulang Rendi sambil menulis cepat di buku catatannya. Matanya berbinar, ini adalah bahan yang ia cari-cari. “Apakah ada makamnya?”

“Ada. Di belakang desa, dekat mata air. Setiap bulan Sura, warga mengadakan selamatan di sana. Doa bersama, makan bersama, kadang ada tarian tradisional.”

“Tarian apa?” tanya Camelia yang matanya langsung berbinar. Sebagai pemain teater, ia sangat tertarik dengan seni pertunjukan.

“Tarian Panen. Namanya Tari Gantar. Biasanya ditarikan oleh enam orang laki-laki dan enam orang perempuan. Mereka membawa properti berupa ranting pohon kopi yang dihias dengan pita warna-warni. Gerakannya sederhana, tapi penuh makna. Setiap gerakan menggambarkan proses menanam, merawat, hingga memanen kopi.”

“Wah, saya ingin lihat!” seru Camelia. “Kapan ada tarian lagi?”

Ilham tersenyum tipis. “Dulu setiap tahun ada. Tapi sekarang... sudah jarang. Karena anak-anak muda banyak yang pergi, tidak ada yang bisa menari lagi. Yang tersisa hanya para tetua yang sudah tua dan tidak sekuat dulu.”

Suasana berubah. Dari ceria menjadi sedikit sendu. Camelia yang tadinya bersemangat, kini terdiam. Anita berhenti menulis. Nadya menurunkan kameranya.

“Maaf,” kata Ilham cepat. “Saya tidak bermaksud membuat suasana menjadi sedih.”

“Tidak apa-apa,” kata Joko. “Kadang kesedihan perlu diungkapkan. Kalau dipendam terus, akan menjadi beban.”

Pak Raditya yang dari teras Kantor Desa ikut mendengar, mengangguk pelan. Ia tidak ikut bergabung ke lingkaran api, tetapi telinganya selalu terbuka. Sebagai kepala desa, ia harus tahu apa yang terjadi di desanya. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

“Ilham,” panggil Pak Raditya.

Ilham menoleh. “Ya, Pak?”

“Ceritakan juga tentang kopi. Biar mereka tahu.”

Ilham mengangguk. “Kopi Suralaya sudah ada sejak zaman Ki Suralaya. Konon, beliau yang pertama kali menanam kopi di lereng ini. Bibitnya dibawa dari Mataram, hadiah dari seorang saudagar. Sejak saat itu, kopi menjadi komoditas utama desa kami. Hampir setiap keluarga punya kebun kopi. Termasuk keluarga saya.”

“Berapa luas kebun kopi di desa ini?” tanya Yulia, bendahara yang selalu haus data.

“Kalau ditotal, mungkin sekitar dua puluh hektar. Tersebar di lereng timur dan selatan. Kebanyakan masih tradisional. Tanpa pupuk kimia. Tanpa pestisida. Hanya mengandalkan kesuburan tanah vulkanik dari Merbabu.”

“Organik dong?” tanya Jojon yang matanya berbinar. Sebagai koki, ia sangat peduli dengan kualitas bahan makanan.

“Organik alami, Mas. Karena tidak ada uang untuk beli pupuk kimia, jadi ya terpaksa alami. Tapi hasilnya? Menurut para pengepul, kualitasnya bagus. Hanya saja harganya murah karena kami tidak punya akses ke pembeli langsung.”

“Itu yang harus diubah,” kata Joko tegas. “Petani harus mendapat harga yang layak. Tidak boleh terus-menerus dieksploitasi oleh tengkulak.”


Percakapan serius itu tiba-tiba terputus oleh suara perut keroncongan yang sangat keras. Kruyukukuk... Suaranya seperti suara katak yang keceburan ke sungai. Semua kepala menoleh ke arah sumber suara: Jojon.

Jojon tersenyum malu. “Maaf. Perut saya protes. Belum makan malam.”

“Belum makan malam? Tadi kan sudah makan?” tanya Hermansyah.

“Sudah. Tapi porsinya sedikit. Karena saya bagi dengan Amat Junior yang makannya banyak.”

Amat Junior tertawa canggung. “Maaf, Mas Jojon. Saya memang lagi lapar.”

“Lapar? Yang benar saja, jun. Kamu itu makannya kayak orang puasa sebulan penuh terus buka puasa di hari pertama,” ledek Jojon. “Lain kali bawa bekal sendiri, ya.”

“Sudah, sudah,” kata Bayu sambil berdiri. “Saya ambilkan makanan dari tenda. Masih ada nasi bungkus sisa tadi siang.”

“Nasi bungkus sisa tadi siang? Tidak basi?” tanya Yulia khawatir.

“Masih aman. Udara di sini dingin, jadi makanan tidak cepat basi. Ilmu kedokteran dasar.”

Bayu berjalan ke arah tenda. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa tiga bungkus nasi yang masih terbungkus daun pisang. Daunnya sudah agak layu, tetapi nasinya masih terlihat putih dan bersih.

Jojon mengambil satu bungkus, membukanya dengan hati-hati, lalu menghirup aromanya. “Masih enak,” katanya. “Baunya masih wangi. Ini nasi kemarin siang yang dimasak dengan daun pandan, ya?”

“Iya,” kata Bayu. “Kamu yang masak, masa lupa?”

“Oh iya. Saya lupa. Hehe.”

Jojon makan dengan lahap. Suasana kembali cair. Hermansyah yang melihat Jojon makan, ikut lapar. “Saya juga mau,” katanya.

“Ambil saja,” kata Bayu sambil mendorong dua bungkus lainnya. “Ini untuk siapa saja yang lapar.”

Ternyata tidak hanya Hermansyah dan Jojon yang lapar. Satu per satu anggota KPAAB dan pemuda desa mulai mengambil nasi bungkus itu. Dalam hitungan menit, tiga bungkus nasi habis. Yulia menghela napas. “Besok kita harus beli bahan makanan di desa ini. Persediaan kita mulai menipis.”

“Saya bisa bantu belanjakan,” kata Kuat, pemuda desa yang bertubuh tambun, tiba-tiba. Suaranya berat dan dalam. “Saya tahu mana warung yang murah.”

“Terima kasih, Mas Kuat,” kata Yulia.

“Panggil saja Kuat. Biasa.”

“Baik, Mas Kuat.”

“Panggil Kuat.”

“Baik, Kuat.”

Hermansyah yang mendengar percakapan itu tertawa. “Yulia, kau itu kalau disuruh panggil nama tanpa ‘Mas’, kayak susah banget.”

“Karena saya terbiasa sopan,” jawab Yulia ketus. “Lain dengan kau yang sopannya hanya kalau ada yang ngasih uang.”

“Waduh, kena deh,” celetuk Camelia sambil menepuk paha Hermansyah.

Tawa kembali pecah. Bahkan Pak Raditya yang dari kejauhan ikut tersenyum. Sudah lama ia tidak mendengar tawa seperti ini di desanya. Tawa yang bebas, tanpa beban, tanpa kepedihan yang tersembunyi di baliknya.


Sementara itu, di rumah Ilham yang terletak sekitar dua ratus meter dari kantor desa, suasana berbeda. Bu Laila duduk di dapur, ditemani lampu minyak yang menyala redup. Di tangannya ada cangkir kopi yang sudah dingin, tidak diminum sejak tadi. Matanya kosong menatap dinding anyaman bambu.

Pak Hasan, suaminya, baru saja pulang dari kebun. Ia meletakkan cangkul di pojok, lalu mencuci kaki di bak air yang terbuat dari drum bekas. Wajahnya lelah, keringat masih membasahi keningnya meskipun malam sudah dingin.

“Ilham belum pulang?” tanya Pak Hasan tanpa menoleh.

“Belum,” jawab Bu Laila pelan. “Masih di kantor desa. Katanya mau belajar dari pendaki.”

Pak Hasan mendengus. “Belajar apa? Pendaki itu hanya singgah sebentar, besok pagi sudah pergi. Apa yang bisa diajarkan?”

“Jangan begitu, Pak. Ilham bilang mereka dari desa yang sudah maju. Mungkin Ilham bisa belajar sesuatu untuk desa kita.”

“Desa kita tidak butuh sesuatu. Desa kita sudah baik-baik saja.” Pak Hasan mengambil cangkir, menuang kopi dari ceret tanah liat, lalu duduk di kursi bambu. “Yang kita butuhkan adalah kerja keras. Bukan duduk-duduk di kantor desa sambil ngobrol.”

Bu Laila tidak menjawab. Ia sudah terlalu sering berdebat dengan suaminya tentang hal ini. Pak Hasan adalah tipe orang yang percaya bahwa hidup itu sederhana: bekerja, makan, tidur, ulangi. Tidak perlu macam-macam. Tidak perlu belajar hal baru. Tidak perlu berubah.

Tapi Bu Laila berbeda. Ia diam-diam mendukung putranya. Ia diam-diam berharap bahwa Ilham akan menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar petani kopi seperti ayahnya. Bukan karena ia tidak bangga dengan suaminya, ia sangat bangga. Tapi karena ia ingin Ilham memiliki pilihan. Pilihan untuk tinggal atau pergi. Pilihan untuk menjadi petani atau menjadi yang lain. Pilihan yang tidak pernah ia miliki ketika muda.

“Pak,” kata Bu Laila akhirnya.

“Hm?”

“Kalau Ilham nanti ingin pergi belajar ke luar desa, Bapak izinkan?”

Pak Hasan berhenti menyesap kopinya. Ia menatap istrinya dengan mata yang sulit dibaca. “Ke mana?”

“Ke desa Awan Biru. Kata dia, di sana ada komunitas digital. Bisa belajar komputer, internet, jualan online.”

Pak Hasan meletakkan cangkirnya. “Online? Apa itu?”

“Jualan lewat HP, Pak. Kata Ilham, harganya bisa lebih mahal daripada jual ke tengkulak.”

Pak Hasan terdiam cukup lama. Matanya menerawang ke kejauhan, mungkin mengingat-ingat bertahun-tahun ia menjual kopi dengan harga murah, pasrah, tidak pernah berani bermimpi bahwa harganya bisa lebih baik.

“Terserah dia,” kata Pak Hasan akhirnya. “Tapi jangan lupa kebun. Kebun harus tetap dijaga.”

Bu Laila tersenyum. Itu bukan izin penuh, tapi setidaknya bukan larangan. Dan bagi Bu Laila, itu sudah cukup.


Kembali di lingkaran api unggun, percakapan mulai mereda. Beberapa orang mulai menguap. Amat Junior sudah hampir tertidur, kepalanya tersandar di pundak Arga. Arga sendiri juga mulai mengantuk, tetapi berusaha tetap terjaga.

Nisa yang duduk di samping Aulia, sejak tadi tidak banyak bicara. Matanya sesekali melirik ke arah Ilham, lalu cepat-cepat berpaling ketika Ilham hampir menoleh. Perasaan yang aneh. Tidak biasa. Seperti ada kupu-kupu di perutnya.

Kenapa sih? pikir Nisa kesal pada dirinya sendiri. Dia cuma Ilham. Teman sejak kecil. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang berubah. Kenapa tiba-tiba aku merasa... gugup?

Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan mengamati para pendaki. Joko yang tenang. Hermansyah yang lucu. Guntur yang serius. Bayu yang perhatian. Jojon yang gemuk tapi gesit. Anita yang sibuk menulis. Yulia yang cerewet. Nadya yang matanya seperti kamera. Camelia yang ekspresif. Arga yang pendiam. Amat Junior yang polos.

Mereka semua tampak seperti keluarga. Keluarga yang tidak terikat darah, tetapi terikat oleh perjalanan dan rasa saling percaya. Nisa iri. Ia ingin memiliki keluarga seperti itu. Di desanya, ia sering merasa sendirian. Teman-temannya pergi merantau. Yang tinggal hanya yang tidak punya keberanian untuk pergi, atau yang tidak punya tujuan untuk dituju.

“Nisa,” panggil Aulia pelan.

“Hm?”

“Kamu kenapa? Melamun terus.”

“Tidak kenapa-kenapa. Hanya lelah.”

Aulia menatap sahabatnya itu dengan seksama. Ia tahu Nisa sedang berbohong. Tapi ia tidak akan memaksa. Aulia adalah tipe teman yang tahu kapan harus bertanya dan kapan harus diam.

“Kalau lelah, istirahatlah,” kata Aulia. “Besok masih banyak kegiatan.”

“Iya. Nanti.”

Tapi Nisa tidak bergerak. Ia tetap duduk, matanya tetap sesekali melirik ke arah Ilham. Dan di dalam hatinya, sebuah pertanyaan tumbuh: Kapan aku mulai melihat Ilham bukan sebagai teman? Kapan?

Ia tidak tahu jawabannya. Mungkin sejak Ilham mulai serius memikirkan desa. Mungkin sejak Ilham tidak hanya diam, tetapi mulai berbicara tentang mimpi-mimpi besar. Mungkin sejak malam ini, ketika Ilham bercerita tentang Ki Suralaya dan Tari Gantar dengan mata berbinar.

Ah, sudahlah, pikir Nisa akhirnya. Pikiran ini hanya karena suasana malam yang romantis. Besok pagi semuanya akan kembali normal.

Tapi ia tahu itu tidak benar. Tidak ada yang kembali normal setelah sesuatu berubah. Dan malam itu, sesuatu telah berubah di dalam dirinya.


Malam semakin larut. Api unggun hampir padam. Bara terakhir berdenyut lemah, seperti mata yang mulai terpejam karena kantuk. Beberapa orang sudah pamit pulang. Pak Raditya masuk ke dalam rumah. Kuat dan pemuda desa lainnya kembali ke rumah masing-masing. Hanya tersisa Ilham, Nisa, Aulia, Angga, Rendi, dan para anggota KPAAB.

“Kita juga harus istirahat,” kata Joko sambil berdiri. “Besok pagi kita lanjut pendakian. Terima kasih atas keramahannya, ya.”

“Sama-sama, Mas Joko,” kata Ilham. “Kami yang berterima kasih sudah mau berbagi cerita.”

Joko mengulurkan tangan. Ilham menjabatnya. Jabatan tangan yang sederhana, tetapi terasa berat. Seperti ada pesan yang tidak diucapkan.

“Jaga desamu, Ilham,” kata Joko pelan. “Jangan biarkan ia mati.”

“Saya akan coba, Mas.”

“Bukan coba. Lakukan.”

Ilham mengangguk. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak membiarkan air mata jatuh. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri: tidak akan menangis sampai desanya berubah.

Satu per satu anggota KPAAB masuk ke tenda. Hermansyah yang paling akhir, karena ia sibuk membantu Jojon membereskan peralatan masak.

“Ilham,” panggil Hermansyah tiba-tiba.

“Ya, Mas?”

“Kau punya semangat. Jangan padamkan. Dunia butuh orang-orang seperti kau.”

Ilham tersenyum. “Terima kasih, Mas.”

“Dan satu lagi.” Hermansyah mendekat, menurunkan suaranya. “Nisa itu... perhatiin, ya. Jangan sampai kehilangan.”

Ilham terkejut. Wajahnya memerah. “Maksud Mas?”

Hermansyah hanya tersenyum, menepuk pundak Ilham, lalu berjalan ke tenda. “Selamat malam, Ilham. Sampai jumpa besok.”

Ilham berdiri sendiri di halaman balai desa. Di sekelilingnya hanya kegelapan dan dingin. Tapi di atasnya, bintang-bintang berkelap-kelip seperti berlian yang tersebar di langit hitam.

“Ilham,” suara Nisa dari belakang.

Ilham menoleh. Nisa berdiri tidak jauh darinya, tangan memeluk tubuh sendiri karena dingin. Wajahnya tidak jelas dalam gelap, tetapi suaranya jelas.

“Kamu belum tidur?” tanya Ilham.

“Belum. Masih banyak pikiran.”

Mereka berdua berdiri diam beberapa saat. Hanya suara angin dan jangkrik yang terdengar.

“Nisa,” panggil Ilham.

“Hm?”

“Kita bisa mengubah desa ini, ya?”

Nisa tersenyum. Ilham tidak melihatnya, tapi ia merasakannya. “Bisa, Ham. Asal kita tidak sendiri.”

“Kamu mau membantu?”

“Sudah jelas. Aku ikut dari awal.”

Ilham menghela napas lega. “Terima kasih, Nisa.”

“Jangan berterima kasih. Aku juga ingin desa ini berubah.”

Mereka berdiri bersama di bawah bintang. Dua anak muda desa dengan mimpi besar. Dua hati yang mulai saling mendekat tanpa mereka sadari. Dan di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri tenang, menyaksikan, seolah-olah berkata: Perjalanan kalian baru saja dimulai.


BAB 3

Benih yang Tumbuh Diam-diam

Pagi datang dengan cara yang sama seperti biasa di Desa Suralaya. Ayam jantan mulai berkokok bersahutan dari berbagai penjuru, ada yang paling awal, suaranya parau seperti orang tua yang baru bangun tidur; ada yang menyusul beberapa menit kemudian, suaranya lebih jernih; ada yang paling akhir, seolah-olah ia sedang menikmati hangatnya tidur dan tidak ingin tergesa-gesa. Kokok ayam-ayam itu seperti orkestra alam yang tidak pernah lelah, yang ritmenya telah mengatur kehidupan warga desa selama puluhan, bahkan ratusan tahun.

Kabut masih menggantung rendah di atas pepohonan pinus. Ia turun dari lereng Merbabu seperti selimut putih yang ditarik perlahan oleh tangan-tangan tak terlihat. Kabut itu bergerak dengan lambat, kadang menebal, kadang menipis, kadang menyembunyikan sebagian pemandangan, kadang memperlihatkannya dengan jelas. Melalui celah-celah kabut, sesekali terlihat puncak Merbabu yang menjulang—masih diselimuti awan putih, seperti raksasa yang sedang tidur dengan selimut tebal.

Embun menempel di setiap helai rumput, di setiap daun kopi, di setiap anyaman bambu yang dijemur di halaman. Titik-titik air itu berkilauan saat sinar pertama matahari menyentuhnya, kilauan yang tidak bisa ditiru oleh berlian atau kristal buatan manusia. Alam memiliki caranya sendiri untuk menciptakan keindahan, tanpa biaya, tanpa perencanaan, tanpa pamrih.

Bu Laila sudah bangun sejak pukul empat pagi. Seperti biasa, ia memulai hari dengan menyalakan api di dapur. Kayu-kayu kering yang dikumpulkan semalam ia susun dengan hati-hati di dalam tungku dari batu bata merah yang sudah hitam oleh jelaga. Ia meniup perlahan, dan api mulai menjilat kayu-kayu itu, pelan pada awalnya, lalu semakin membesar. Ia meletakkan ceret berisi air di atas tungku, untuk membuat kopi dan teh pagi.

Bu Laila adalah perempuan yang tidak banyak bicara, tetapi gerakannya selalu penuh makna. Setiap kali ia mengaduk nasi di kuali, setiap kali ia memotong sayuran dengan pisau tua yang sudah tumpul, setiap kali ia menyapu halaman dengan sapu lidi yang sudah aus, semuanya dilakukan dengan kesadaran penuh, seolah-olah setiap tindakan adalah doa.

Pagi itu, ada sedikit kegelisahan di hatinya. Ilham, putra semata wayangnya, semalam pulang larut. Ia tidak marah, Ilham sudah dewasa, tidak perlu diatur setiap langkahnya. Tapi sebagai seorang ibu, kegelisahan adalah hak yang tidak bisa dicabut. Ia melihat Ilham duduk di beranda rumah tadi malam, tidak langsung masuk ke kamar. Ia duduk sendirian, memandangi langit bertabur bintang, dengan wajah yang berbeda dari biasanya.

Ada sesuatu yang berubah pada anak itu, pikir Bu Laila. Semoga itu perubahan yang baik.

Ia tidak bertanya. Ia hanya menyiapkan sarapan: nasi hangat, sayur bening dari daun singkong dan jagung, tempe goreng yang renyah di luar dan lembut di dalam, serta sambal terasi yang pedasnya bukan main. Semua disajikan di atas meja kayu kecil di dapur, dengan piring-piring pecah belah yang sudah retak di pinggirannya tetapi masih bersih mengkilap.

Pak Hasan turun dari kamar sekitar pukul setengah enam. Wajahnya masih mengantuk, rambutnya awut-awutan, dan langkah kakinya berat seperti orang yang tidak benar-benar ingin memulai hari. Ia duduk di kursi bambu kesayangannya, kursi yang sudah miring ke kanan karena kakinya tidak rata—dan mengambil nasi tanpa bicara.

“Pak,” sapa Bu Laila pelan.

“Hm.”

“Ilham semalam pulang larut. Saya lihat wajahnya berbeda.”

Pak Hasan tidak menjawab. Ia terus makan, matanya menatap piring di depannya.

“Pak, dengar, enggak.”

“Aku dengar.”

“Kalau Ilham nanti mau pergi belajar ke desa Awan Biru, Bapak izinkan?”

Pak Hasan berhenti mengunyah. Ia menatap istrinya dengan mata yang sulit dibaca, campuran antara kekesalan, kelelahan, dan mungkin sedikit ketakutan. “Kau sudah bicara dengan Ilham tentang itu?”

“Belum. Tapi saya bisa merasakan. Anak kita itu sedang memikirkan sesuatu yang besar.”

“Besar?” Pak Hasan mendengus pelan. “Desa kita ini kecil. Tidak ada yang besar di sini. Semua yang besar ada di kota. Kalau Ilham mau pergi ke kota untuk bekerja, saya izinkan. Tapi belajar? Belajar apa? Belajar main HP? Itu tidak akan mengisi perut.”

Bu Laila menarik napas panjang. Ia sudah menduga jawaban ini. Pak Hasan adalah lelaki keras kepala yang tidak mudah berubah. Tapi ia juga bukan lelaki jahat. Ia hanya lelaki yang terlalu lama hidup dalam keterbatasan, sehingga ia lupa bahwa ada cara lain selain yang ia ketahui.

“Pak, dulu waktu Bapak masih muda, Bapak juga pernah bermimpi, kan?” kata Bu Laila pelan.

Pak Hasan terdiam. Matanya menerawang ke kejauhan, mungkin mengingat-ingat masa lalunya. Masa ketika ia masih memiliki mimpi-mimpi besar. Masa ketika ia ingin menjadi sesuatu, pergi ke suatu tempat, mencapai suatu hal. Tapi kemudian kehidupan berbicara lebih keras daripada mimpi. Ia menikah, memiliki anak, harus menghidupi keluarga, dan mimpi-mimpi itu perlahan mati tanpa pemakaman.

“Itu dulu,” kata Pak Hasan akhirnya. Suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh suara ayam yang masih berkokok. “Sekarang sudah tidak relevan.”

“Tapi Ilham masih muda, Pak. Masih relevan untuknya.”

Pak Hasan tidak menjawab. Ia menghabiskan makanannya, lalu berdiri, mengambil cangkul di pojok, dan berjalan keluar tanpa pamit. Itu sudah biasa. Pak Hasan tidak pernah pamit. Ia hanya pergi, dan kembali ketika matahari mulai condong ke barat.

Bu Laila menghela napas. Ia membersihkan meja, mencuci piring di sungai kecil di belakang rumah, lalu berjalan ke dapur untuk menyiapkan bekal untuk Ilham, meskipun Ilham belum tentu minta bekal.

Anak itu, pikir Bu Laila, harus saya biarkan terbang. Tali yang terlalu kencang akan putus. Tali yang terlalu longgar akan lepas. Saya harus memberi kencang dan longgar yang pas.


Ilham bangun lebih lambat dari biasanya. Ketika ia membuka mata, sinar matahari sudah menembus celah-celah dinding anyaman bambu, menciptakan pola-pola cahaya di lantai tanah yang dipadatkan. Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring, memandangi langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu dan kayu gelondongan. Di sela-sela anyaman itu, sesekali terlihat laba-laba kecil yang sibuk memperbaiki jaringnya yang rusak karena angin malam.

Pikirannya masih penuh dengan percakapan semalam. Tentang Desa Awan Biru. Tentang Joko dan Hermansyah dan anggota KPAAB lainnya. Tentang api unggun dan bintang-bintang. Tentang kata-kata Joko yang masih terngiang di telinganya: Karena lebih menakutkan melihat desa sendiri diam di tempat.

Ilham duduk di tempat tidurnya, tempat tidur sederhana dari bambu yang dialasi kasur tipis berisi kapuk. Kapuk itu sudah kempes di beberapa bagian, tetapi masih cukup nyaman untuk tidur. Ia memandangi kedua telapak tangannya. Tangannya kasar, penuh kapalan, bekas memegang cangkul, memetik kopi, dan membawa karung. Tangan petani. Tangan yang telah bekerja keras sejak ia masih kecil.

Apakah tangan ini cukup untuk mengubah desa? pikirnya. Apakah aku cukup?

Ia teringat pada Nisa. Wajah Nisa muncul di pikirannya tanpa diundang, wajah yang tegas, mata yang tajam, tetapi kadang menyimpan kelembutan yang tidak ingin ditunjukkannya. Nisa selalu ada. Sejak kecil, mereka bermain bersama, belajar bersama, bertengkar bersama, dan berbaikan bersama. Nisa adalah teman yang paling ia percaya.

Tapi belakangan ini, ada yang berbeda. Ilham tidak tahu persis apa, tetapi setiap kali Nisa menatapnya, ada sesuatu di matanya yang membuat jantung Ilham berdetak lebih cepat. Apakah itu cinta? Ilham tidak tahu. Ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya, atau mungkin ia jatuh cinta tetapi tidak menyadarinya.

Ah, sudahlah, pikir Ilham sambil menggelengkan kepala. Jangan pikirkan hal-hal seperti itu sekarang. Ada yang lebih penting.

Ia bangun, mengambil air dari bak di belakang rumah, lalu membasuh muka. Airnya dingin, begitu dingin hingga membuat kulitnya merinding. Tapi kesegaran itu menyebar ke seluruh tubuh, membangunkannya dari lamunan.

“Ilham!” suara Nisa dari luar.

Ilham keluar. Nisa berdiri di depan pagar rumahnya, tangan di pinggang, dengan ekspresi yang tidak sabar. “Kau bangun siang sekali. Para pendaki sudah siap-siap mau berangkat. Joko tadi mencari-cari kau.”

“Mencari aku? Kenapa?”

“Entahlah. Katanya mau bicara sesuatu.”

Ilham cepat-cepat mengenakan baju. Ia tidak sempat sarapan. Ia hanya mengambil segelas air putih, meneguknya sekaligus, lalu berlari keluar.

Nisa mengikutinya dari belakang. “Jangan lari-lari, nanti jatuh.”

“Santai. Aku kuat.”

“Bukan kuat. Kau itu ceroboh.”

Ilham tidak menjawab. Ia terus berlari menuju balai desa. Nisa menggelengkan kepala, lalu berlari mengejarnya, meskipun ia tidak mau mengaku bahwa ia khawatir.


Di halaman kantor desa, para anggota KPAAB sudah berkemas. Carrier-carrier mereka berdiri tegak seperti pasukan yang siap berbaris. Tendah sudah dilipat rapi, peralatan masak sudah dibersihkan, dan sampah-sampah sudah dikumpulkan dalam kantong plastik besar untuk dibawa turun, kebiasaan baik yang sudah diajarkan sejak pertama kali mereka mendaki.

Joko berdiri di samping carrier-nya, memandangi Gunung Merbabu di kejauhan. Puncaknya masih diselimuti kabut, seolah-olah gunung itu sedang menyembunyikan wajahnya dari para pendaki yang akan menapaki lerengnya.

“Joko!” panggil Ilham sambil terengah-engah.

Joko menoleh. “Ilham. Ada yang mau saya sampaikan sebelum berangkat.”

“Apa, Mas?”

Joko menarik napas panjang. “Saya sudah bicara dengan Pak Raditya tadi pagi. Beliau bercerita tentang keinginanmu untuk belajar digitalisasi desa seperti di Awan Biru.”

Ilham terkejut. “Pak Raditya sudah tahu?”

“Dia kepala desa. Dia tahu segalanya.” Joko tersenyum. “Dia bilang dia mendukung. Tapi dia tidak bisa memaksa warga. Yang bisa memaksa adalah kau sendiri, dengan tindakan, bukan kata-kata.”

Ilham mengangguk. Dadanya terasa hangat. “Saya akan coba, Mas.”

“Bukan coba. Lakukan.” Joko menepuk pundak Ilham. “Kalau kau serius, datanglah ke Awan Biru. Hubungi Herman, saya akan kasih nomornya. Dia akan mengajari kau dan teman-temanmu. Gratis. Tidak dipungut biaya.”

“Mas... saya tidak punya uang untuk ongkos.”

Joko tersenyum. “Itu urusan nanti. Yang penting kemauan dulu. Uang bisa dicari. Kemauan tidak.”

Hermansyah yang mendekat ikut nimbrung. “Ilham, kau tahu, dulu Joko juga miskin. Lebih miskin dari kau, mungkin. Tapi lihat sekarang. Dia ketua KPAAB. Bukan karena kaya, tapi karena punya kemauan dan tidak malu belajar.”

“Hermansyah, jangan banding-bandingkan,” kata Joko.

“Bukan banding-bandingkan. Ini motivasi.” Hermansyah mengedipkan mata.

Jojon yang sedang memuat carrier-nya ke punggung, berteriak dari kejauhan. “Cepetan, Komandan! Kita harus segera berangkat sebelum kabut terlalu tebal!”

“Iya, iya,” jawab Joko. Ia berbalik ke arah Ilham. “Kami pamit dulu. Terima kasih atas keramahannya. Jaga desamu.”

“Selamat jalan, Mas Joko. Hati-hati di pendakian.”

Mereka berjabat tangan. Satu per satu anggota KPAAB berpamitan. Hermansyah memeluk Ilham erat, agak terlalu erat untuk ukuran orang baru kenal, lalu tertawa. Guntur hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Bayu memberikan pesan, “Jaga kesehatan. Kalau ada yang sakit, jangan diabaikan.” Jojon memberikan bungkusan kecil berisi bumbu dapur. “Ini sisa dari persediaan. Buat kau, untuk masak-masak. Jangan lupa belajar masak dari ibu kau.” Anita menuliskan sesuatu di secarik kertas, lalu memberikannya kepada Ilham. “Ini nomor telepon komunitas digital kami. Hubungi jika perlu.” Yulia mengingatkan, “Jangan boros.” Nadya mengambil foto Ilham dan Nisa bersama, tanpa izin. Camelia berbisik, “Jaga Nisa baik-baik, ya.” Arga memberikan lakban kecil. “Untuk darurat.” Amat Junior hanya tersenyum canggung sambil melambai.

Ilham berdiri di pinggir jalan desa, memandangi rombongan KPAAB yang perlahan menjauh. Langkah-langkah mereka mantap, tidak tergesa-gesa, seperti orang yang tahu persis ke mana mereka akan pergi. Di belakang mereka, Gunung Merbabu menjulang gagah, diselimuti kabut tipis yang mulai terurai terkena sinar matahari.

“Mereka baik, ya,” kata Nisa di samping Ilham.

“Iya,” jawab Ilham pelan. “Mereka seperti keluarga.”

“Kita juga bisa seperti itu, Ham. Asal kita mau berusaha.”

Ilham menoleh ke arah Nisa. Wajah Nisa berseri-seri terkena sinar matahari pagi. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang membuat jantung Ilham berdetak lebih cepat.

“Nisa,” panggil Ilham.

“Hm?”

“Kau serius mau membantu?”

“Sudah kubilang, aku ikut dari awal.”

“Sampai kapan?”

Nisa tersenyum. “Sampai desa ini berubah. Atau sampai aku mati. Mana yang lebih dulu.”

Ilham tertawa. “Jangan bicara mati-matian.”

“Ya sudah, sampai desa ini berubah.”

Mereka berdiri bersama di pinggir jalan, dua anak muda desa dengan mimpi besar, menyaksikan rombongan pendaki yang perlahan menghilang di balik tikungan.


Sore harinya, tanpa sepengetahuan para tetua, terutama tanpa sepengetahuan Mbah Jaya Suprapta dan Pak Kirno, Ilham mengumpulkan teman-temannya di balai bambu. Balai itu masih kotor, berdebu, dan penuh sarang laba-laba. Tapi bagi mereka, tempat ini adalah markas. Tempat di mana mimpi-mimpi mulai dibicarakan dengan serius.

Yang hadir: Ilham, Nisa, Angga, Rendi, dan Aulia. Lima orang. Tidak lebih. Tidak kurang.

“Kita harus serius,” kata Ilham membuka pertemuan. “Joko sudah menawarkan kita untuk belajar ke Desa Awan Biru. Herman dan timnya siap mengajari. Tapi kita harus memutuskan: siapa yang pergi, kapan pergi, dan bagaimana ongkosnya.”

Angga yang paling jarang bicara, tiba-tiba angkat suara. “Aku ikut.”

Semua menoleh. Angga biasanya hanya diam dan mengangguk. Jarang sekali ia berbicara di depan umum.

“Kau serius, Ga?” tanya Rendi.

“Serius. Aku ingin belajar memperbaiki komputer. Selama ini aku cuma bisa mesin pertanian. Kalau bisa belajar yang lain, kenapa tidak?”

“Bagus,” kata Ilham. “Rendi, kau?”

“Ikut. Aku ingin menulis tentang perjalanan ini. Buku. Atau artikel. Atau apa pun. Yang penting didokumentasikan.”

“Nisa?”

“Sudah jelas. Aku ikut. Tapi jangan lama-lama. Aku tidak tega meninggalkan ibu sendirian di rumah.”

“Aulia?”

Aulia yang pendiam itu mengangguk pelan. “Aku ikut. Tapi... aku takut.”

“Takut apa?” tanya Nisa.

“Takut orang-orang desa marah. Takut dibilang anak durhaka. Takut Mbah Jaya melarang.”

Ilham menghela napas. “Aku juga takut, Lia. Tapi ketakutan tidak boleh menghentikan kita. Kalau kita terus takut, tidak akan ada yang berubah.”

“Ilham benar,” kata Rendi. “Lihat para pendaki tadi. Mereka juga pasti pernah takut. Tapi mereka tetap melangkah. Dan lihat hasilnya. Desa mereka maju.”

Angga mengangguk-angguk. “Aku setuju. Tapi kita harus punya rencana. Jangan asal pergi.”

Mereka berdiskusi hingga matahari mulai condong ke barat. Warna jingga keemasan mulai menyapu langit, menembus celah-celah dinding balai bambu, menciptakan pola-pola cahaya yang indah di lantai tanah.

Kesimpulan dari rapat diam-diam itu: mereka akan pergi dalam dua minggu. Sebelum pergi, mereka harus mengumpulkan uang, dari hasil jualan kopi, dari tabungan pribadi, atau dari pinjaman. Mereka juga harus meminta izin kepada orang tua masing-masing. Terutama Ilham, yang ayahnya paling keras kepala.

“Aku yang paling berat,” kata Ilham sambil tersenyum pahit. “Ayahku belum tahu rencana ini. Dan aku tidak tahu bagaimana cara bilang.”

“Bilang saja langsung,” kata Nisa. “Jangan bertele-tele. Ayahmu itu keras, tapi tidak bodoh. Kalau kau jelaskan dengan baik, pasti dia mengerti.”

“Kau yakin?”

“Tidak. Tapi tidak ada salahnya mencoba.”


Sementara Ilham dan kawan-kawan berdiskusi di balai bambu, di warung Mbah Naryo suasana berbeda. Mbah Naryo sedang sibuk menyeduh kopi untuk para pelanggan malam, para bapak-bapak yang tidak punya kegiatan lain selain ngopi dan bergosip.

Pak Santo duduk di kursi bambu kesayangannya, sambil memegang cangkir kopi yang sudah setengah habis. Wajahnya yang kecokelatan oleh terik matahari kini disinari lampu minyak yang redup. “Mbah, kopinya enak malam ini. Lebih kental dari biasanya.”

“Ya, karena saya tambahin ampasnya,” jawab Mbah Naryo tanpa ekspresi.

“Ampas? Mbah, jangan main-main.”

“Bercanda. Ampasnya saya buang. Ini kopi baru.”

Pak Sugi yang duduk di samping Pak Santo tertawa. “Mbah Naryo ini kalau bercanda kadang-kadang suka serem. Tidak ada senyum, tidak ada gelak tawa, tapi kata-katanya lucu.”

“Lucu atau tidak, yang penting kopinya enak,” kata Pak Kirno yang baru datang. Ia duduk di kursi paling ujung, menyilangkan tangan di dada, seperti biasa.

“Pak Kirno, dengar kabar? Anak-anak muda mau pergi ke desa Awan Biru,” bisik Pak Santo.

Pak Kirno mengangkat alis. “Siapa bilang?”

“Ilham, Nisa, Angga, Rendi, Aulia. Kata orang, mereka sudah rapat diam-diam di balai bambu tadi sore.”

Pak Kirno mendengus. “Buang-buang waktu. Desa Awan Biru itu desa kecil sama seperti kita. Apa yang bisa diajarkan?”

“Konon mereka sudah maju, Pak Kirno,” kata Pak Sugi. “Jalan mulus, anak-anak muda pintar, hasil kebun laku keras. Kata pendaki tadi.”

“Pendaki? Mereka hanya singgah sebentar. Mana tahu mereka tentang desa itu?”

Mbah Naryo yang mendengar percakapan itu, ikut bersuara. “Pak Kirno, Bapak tidak percaya pada pendaki tadi?”

“Percaya atau tidak, itu bukan urusan saya. Yang jelas, anak-anak muda desa kita jangan sampai terpengaruh oleh hal-hal yang tidak jelas.”

“Tidak jelas bagaimana?” tanya Pak SugIi. “Mereka mau belajar. Itu jelas.”

Pak Kirno terdiam. Ia tidak suka jika argumennya dibantah, apalagi oleh Pak Sugi yang dianggapnya kurang berpendidikan.

“Sudah, sudah, jangan berdebat,” kata Mbah Naryo sambil menuang kopi ke cangkir Pak Kirno. “Minum dulu. Nanti dingin.”

Pak Kirno mengambil cangkir itu, menyesap kopinya, lalu berkata, “Pokoknya saya tidak setuju. Desa kita sudah baik-baik saja. Tidak perlu belajar dari luar.”

Pak Santo dan Pak Sugi saling pandang. Mereka tidak berani membantah Pak Kirno secara terang-terangan. Tapi di dalam hati, mereka bertanya-tanya: Apakah desa kita memang baik-baik saja? Atau kita hanya tidak mau melihat kenyataan?

Mbah Naryo yang melihat raut wajah mereka, hanya tersenyum kecil. Biarlah, pikirnya. Waktu yang akan menjawab siapa yang benar.


Malam itu, setelah rapat diam-diam selesai, Ilham dan Nisa berjalan bersama menyusuri jalan desa yang gelap. Hanya diterangi cahaya bulan yang tersembunyi di balik awan tipis, tidak cukup terang, tetapi cukup untuk melihat garis-garis jalan setapak.

Mereka berdua diam. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara anjing menggonggong dari kejauhan yang terdengar.

“Ham,” panggil Nisa akhirnya.

“Hm?”

“Kamu takut?”

Ilham tidak menjawab segera. Ia berhenti berjalan, menatap langit malam yang bertabur bintang. Bintang-bintang itu berkelap-kelip seperti mata-mata kecil yang mengawasi mereka dari atas.

“Takut,” jawabnya akhirnya. “Takut gagal. Takut mengecewakan orang tua. Takut diejek teman-teman. Takut tidak bisa membawa perubahan.”

Nisa berhenti di sampingnya. “Aku juga takut. Tapi kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu.”

“Kita bisa gagal, Nisa.”

“Iya. Kita bisa gagal. Tapi kita juga bisa berhasil. Lebih baik gagal setelah mencoba, daripada gagal karena tidak pernah mencoba.”

Ilham menoleh ke arah Nisa. Wajah Nisa yang tegas itu kini terlihat lembut di bawah cahaya bulan. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang membuat Ilham lupa akan ketakutannya sejenak.

“Nisa,” panggil Ilham pelan.

“Hm?”

“Kenapa kau mau membantu? Aku tidak punya apa-apa. Tidak bisa menjanjikan apa-apa. Bisa jadi ini semua sia-sia.”

Nisa tersenyum. “Karena aku percaya padamu, Ham. Sejak kecil, kau selalu berbeda. Kau tidak hanya diam seperti yang orang kira. Kau memikirkan banyak hal. Dan ketika kau memutuskan sesuatu, kau melakukannya dengan sepenuh hati. Itu sebabnya aku percaya.”

Ilham terdiam. Dadanya terasa hangat. Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan, campuran antara haru, bahagia, dan sesuatu yang lain.

“Terima kasih, Nisa.”

“Jangan berterima kasih. Buktikan bahwa kepercayaanku tidak salah tempat.”

Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Namun diam kali ini berbeda. Diam yang penuh makna. Diam yang mengikat.


Setelah mengantar Nisa sampai ke depan rumahnya, Ilham berjalan kembali ke rumahnya sendiri. Langit semakin gelap. Awan hitam mulai berkumpul di atas Merbabu, tanda bahwa hujan akan turun dalam beberapa jam.

Ilham tidak langsung masuk ke rumah. Ia duduk di beranda, bersandar pada tiang kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Matanya menatap kosong ke arah kebun kopi di belakang rumah—kebun yang setiap hari ia rawat bersama ayahnya.

“Belum tidur?” suara Bu Laila dari dalam rumah.

“Belum, Bu.”

Bu Laila keluar, membawa selimut tipis. Ia menyelimuti Ilham tanpa diminta. “Dingin di luar. Masuklah.”

“Sebentar lagi, Bu.”

Bu Laila duduk di samping Ilham. Mereka berdua terdiam beberapa saat.

“Bu,” panggil Ilham.

“Ya, Nak.”

“Kalau aku ingin pergi belajar ke desa lain, Ibu izinkan?”

Bu Laila tidak terkejut. Ia sudah menduga. “Ke mana?”

“Ke Desa Awan Biru. Belajar digitalisasi desa. Supaya desa kita bisa maju. Supaya kopi kita tidak dijual murah.”

Bu Laila menghela napas. “Ayahmu belum tentu setuju.”

“Aku tahu. Tapi aku akan coba meyakinkan.”

“Bagaimana caranya?”

Ilham tidak menjawab. Ia tidak tahu caranya. Tapi ia yakin, suatu saat nanti, ia akan menemukan kata-kata yang tepat.

Bu Laila menatap putranya dengan mata yang penuh kasih. “Ibu tidak bisa memutuskan untuk ayahmu. Tapi Ibu akan mendukung apa pun keputusanmu. Asal kau yakin itu benar.”

Ilham menoleh, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu.”

“Jangan berterima kasih. Ibu hanya ingin kau bahagia.”

Malam semakin larut. Hujan mulai turun perlahan, menciptakan suara gemericik di atap seng. Ilham masih duduk di beranda, ditemani ibunya, ditemani selimut tipis, ditemani doa-doa yang tidak diucapkan tetapi mengalir dalam hati.

Di kejauhan, Gunung Merbabu mulai gelap tertutup awan hujan. Namun di dalam dada Ilham, sesuatu telah menyala. Sesuatu yang tidak akan padam meskipun hujan badai sekalipun.

Benih yang ditanam malam itu, benih keberanian, benih harapan, benih perubahan, mulai tumbuh. Diam-diam. Perlahan. Tapi pasti.


BAB 4

Restu Pak Raditya

Tiga hari setelah rombongan KPAAB meninggalkan Desa Suralaya, Ilham masih belum bisa tidur nyenyak. Setiap malam, ia berguling-guling di tempat tidur bambunya, matanya melek menatap langit-langit yang gelap, pikirannya berputar-putar seperti roda gerobak yang tidak pernah berhenti. Ia membayangkan Desa Awan Biru, desa yang belum pernah ia kunjungi, tetapi telah ia dengar begitu banyak cerita. Ia membayangkan ruang RKDD dengan komputer-komputer bekas yang berfungsi baik, anak-anak muda yang sibuk belajar, ibu-ibu yang memotret anyaman, kopi yang dijual hingga ke luar kota.

Apakah Suralaya bisa seperti itu? pikirnya. Mungkinkah?

Ia teringat pada kata-kata Joko: Perubahan tidak perlu dramatis. Cukup nyata. Cukup dirasakan oleh mereka yang selama ini tidak percaya.

Tapi untuk membuat perubahan nyata, ia butuh izin. Bukan hanya izin dari orang tua, itu sudah setengah ia dapatkan dari ibunya, meskipun ayahnya masih belum sepenuhnya setuju. Ia juga butuh izin dari kepala desa. Bukan karena Pak Raditya adalah otoritas tertinggi yang harus dipatuhi, tetapi karena dukungan seorang kepala desa akan membuka banyak pintu. Tanpa dukungan Pak Raditya, usahanya akan berjalan di tempat, seperti kerbau yang berputar-putar di sekitar tiang.

Malam itu, setelah makan malam, Ilham memberanikan diri pergi ke rumah Pak Raditya. Langit sudah gelap, bulan bersinar terang, dan bintang-bintang berkelap-kelip seperti ribuan mata yang mengawasi setiap langkahnya. Udara dingin menusuk, tetapi Ilham tidak menggigil. Atau mungkin ia menggigil bukan karena dingin, tetapi karena gugup.

Rumah Pak Raditya tidak jauh dari Kantor Desa, sekitar seratus meter ke arah timur, di pinggir kebun kopi milik desa. Rumah itu sederhana, sangat sederhana, bahkan lebih sederhana dari rumah kebanyakan warga. Beranda kayu dengan dua kursi bambu yang sudah agak longgar di beberapa bagian. Dinding papan yang dicat putih tetapi mulai mengelupas di sana-sini, seperti kulit yang terkena penyakit kusta. Atapnya dari seng yang sudah berkarat di beberapa tempat, tetapi masih kokoh menahan hujan. Lampu minyak menyala redup di ruang tamu, menciptakan bayangan yang bergerak pelan di dinding ketika angin bertiup melalui celah-celah dinding yang tidak rapat.

Ilham berdiri di depan pagar kayu yang sudah lapuk. Ia menarik napas panjang beberapa kali, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar seperti genderang perang. Tangannya dingin, bukan karena suhu, tetapi karena rasa takut yang tidak bisa ia sembunyikan.

Kenapa sih gugup begini? pikirnya kesal. Pak Raditya orang baik. Tidak akan menggigit.

Tapi pikirannya tidak bisa dibohongi. Ia tahu bahwa apa yang akan ia sampaikan malam ini bukanlah permintaan biasa. Ini adalah permintaan yang bisa mengubah arah hidupnya. Ini adalah permintaan yang bisa membuat Pak Raditya tersenyum bangga atau menggelengkan kepala kecewa.

“Ilham? Masuklah, jangan sungkan-sungkan di luar sana!”

Suara Pak Raditya dari dalam rumah membuat Ilham tersentak. Pak Raditya memang selalu tahu. Matanya yang tajam, telinganya yang peka, tidak ada yang luput dari perhatiannya. Mungkin itu sebabnya ia pantas menjadi kepala desa. Bukan karena ia paling kaya atau paling pintar, tetapi karena ia paling sadar. Sadar akan apa yang terjadi di sekelilingnya, sadar akan kebutuhan warganya, sadar akan suara-suara yang tidak diucapkan.

Ilham membuka pagar kayu yang berderit pelan, lalu berjalan menuju teras. Pak Raditya sudah duduk di kursi bambu kesayangannya, ditemani secangkir teh panas yang mengepulkan uap tipis. Uap itu naik perlahan, berputar-putar di udara dingin, lalu menghilang seperti mimpi yang terlupa. Kacamata tuanya bertengger di ujung hidung, dan di tangannya ia memegang sebuah buku catatan tua, mungkin catatan desa yang harus ia baca, atau mungkin buku harian pribadinya. Sampulnya sudah lusuh, pinggirannya robek di beberapa tempat, dan kertas-kertas di dalamnya sudah menguning karena usia.

“Silakan duduk,” kata Pak Raditya sambil menunjuk kursi di hadapannya.

Ilham duduk dengan hati-hati, seolah-olah kursi itu terbuat dari kaca dan bisa pecah kapan saja. Ia meletakkan kedua tangannya di pangkuan, menggenggam erat ujung sarungnya yang sudah agak lusuh. Matanya menunduk, tidak berani menatap langsung ke arah Pak Raditya.

“Ada apa, Nak?” tanya Pak Raditya dengan suara lembut. “Kelihatannya ada yang berat di pikiranmu.”

Ilham mengangkat kepalanya. Ia menatap Pak Raditya, wajah yang tegas namun teduh, mata yang sudah tidak muda lagi tetapi masih tajam, senyum yang kecil namun hangat. Untuk beberapa saat, ia hanya diam, mengumpulkan keberanian yang semalam ia kumpulkan tetapi sekarang terasa buyar seperti pasir yang tertiup angin.

“Pak,” mulainya pelan. Suarara sedikit bergetar, seperti dawai gitar yang baru dipetik. “Saya... saya ingin bicara tentang sesuatu.”

“Tentu. Saya mendengarkan.”

Ilham menarik napas panjang. Dadanya mengembang, lalu mengempis perlahan. Udara dingin masuk ke paru-parunya, menyegarkan tetapi juga membuatnya sadar bahwa ini nyata. Ia tidak sedang bermimpi. Ia benar-benar di sini, di rumah kepala desa, hendak menyampaikan sesuatu yang bisa mengubah hidupnya, dan mungkin hidup banyak orang.

“Pak, tiga hari yang lalu, ketika para pendaki dari Awan Biru singgah di desa kita, saya banyak belajar dari mereka. Saya belajar tentang desa mereka yang dulu miskin dan terisolasi seperti kita, tetapi sekarang sudah maju. Mereka menggunakan teknologi, Pak. Internet, komputer, media sosial. Mereka menjual kopi dan anyaman secara online. Mereka membuat desa mereka dikenal.”

Pak Raditya mengangguk pelan. Matanya tidak beranjak dari Ilham. “Saya tahu. Joko sudah bercerita kepada saya sebelum mereka berangkat.”

Ilham terkejut. “Joko sudah bicara dengan Bapak?”

“Iya. Dia bilang dia melihat potensi di matamu. Dia bilang kau berbeda dari pemuda lain di desa ini. Kau tidak hanya bermimpi, tetapi juga berpikir tentang cara mewujudkannya.”

Ilham tidak tahu harus berkata apa. Dadanya terasa hangat. Joko, orang yang baru dikenal beberapa hari, percaya padanya. Lebih percaya daripada orang-orang yang sudah mengenalnya sejak kecil.

“Pak,” lanjut Ilham setelah hening sejenak, “saya ingin belajar ke Desa Awan Biru. Saya ingin belajar tentang digitalisasi desa. Saya ingin membawa ilmu itu pulang, lalu mengajarkannya kepada warga. Saya ingin desa kita berubah. Tidak menjadi kota, saya tidak ingin itu. Saya hanya ingin desa kita tidak terus-menerus tertinggal. Saya ingin anak-anak muda tidak perlu pergi merantau untuk hidup layak. Saya ingin kopi kita dihargai. Saya ingin anyaman ibu-ibu dikenal.”

Pak Raditya tidak menjawab segera. Ia menatap Ilham dalam-dalam, seperti seorang dokter yang sedang mendiagnosis penyakit yang tidak terlihat, seperti seorang guru yang sedang menguji muridnya. Matanya yang tua itu bergerak perlahan dari wajah ke wajah, membaca ketulusan, membaca ketakutan, membaca harapan, membaca keraguan, membaca semuanya sekaligus.

“Ilham,” kata Pak Raditya akhirnya, “apakah kau tahu apa yang paling sulit dari perubahan?”

Ilham menggeleng.

“Bukan teknologinya. Bukan uangnya. Bukan sarana dan prasarana. Tapi manusianya. Mengubah cara berpikir manusia itu seperti memindahkan gunung. Bisa dilakukan, tapi butuh waktu, tenaga, dan kesabaran yang luar biasa. Apakah kau siap untuk itu?”

“Saya siap, Pak.”

“Kau yakin? Karena nanti banyak yang akan menolakmu. Banyak yang akan mencemoohmu. Banyak yang akan bilang kau buang-buang waktu. Bahkan orang-orang terdekatmu mungkin akan meragukanmu.”

Ilham mengangguk mantap. “Saya tahu, Pak. Tapi saya lebih takut jika tidak mencoba. Saya lebih takut jika dua puluh tahun lagi, desa kita masih sama seperti sekarang, dan saya duduk di kebun kopi sambil bertanya-tanya, 'Bagaimana jika dulu saya berani melangkah?'”

Pak Raditya tersenyum. Senyum yang tulus, yang hangat, yang jarang ia tunjukkan kepada banyak orang. “Kau masih muda, Ilham. Tapi kau sudah berpikir seperti orang tua. Itu langka.”

“Saya hanya belajar dari Bapak dan para tetua.”

“Jangan sok merendah.” Pak Raditya melepas kacamatanya, menyapunya dengan ujung baju, gerakan yang lambat, penuh perhatian, seperti orang yang sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang penting. Lalu ia menatap Ilham dengan mata yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.

“Saya izinkan. Saya dukung. Bahkan saya akan bantu ongkos sebisanya. Tapi ingat, Ilham. Jangan pergi sendirian. Ajak teman-temanmu yang punya semangat sama. Perubahan tidak pernah dilakukan oleh satu orang. Perubahan selalu dilakukan oleh sekelompok orang yang percaya pada hal yang sama.”

Ilham hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak membiarkan air mata jatuh. Bukan karena gengsi, tetapi karena ia ingin membuktikan bahwa ia layak mendapat kepercayaan ini.

“Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan.”

“Jangan janji dulu. Buktikan nanti.”


Kabar tentang izin Pak Raditya menyebar cepat. Di desa kecil seperti Suralaya, berita berjalan lebih cepat daripada angin gunung yang turun dari lereng Merbabu. Tidak perlu pengeras suara, tidak perlu selebaran, tidak perlu papan pengumuman. Cukup satu orang bicara, maka dalam hitungan jam, seluruh desa sudah tahu.

Kecepatan penyebaran informasi di desa adalah fenomena yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu komunikasi modern. Ia seperti sihir. Seperti air yang meresap ke dalam tanah dan tiba-tiba muncul di mata air yang jauh. Seperti api yang menjalar di semak-semak kering, tidak terkendali, tidak bisa diprediksi, tetapi pasti.

Pagi harinya, ketika Ilham baru saja selesai membantu ibunya membersihkan beras di dapur, seorang tetangga, Bu Tuti, perempuan paruh baya yang mulutnya terkenal tidak bisa diam, sudah datang bertamu.

“Ilham, saya dengar kau mau pergi ke desa sebelah belajar internet?” tanya Bu Tuti dengan mata berbinar. Bukan karena ia tertarik, tetapi karena ia ingin menjadi orang pertama yang tahu dan orang pertama yang menyebarkan.

Ilham tersenyum kecut. “Ibu dengar dari mana?”

“Dari mana saja. Yang penting benar tidak?”

“Benar, Bu. Tapi belum tahu kapan berangkatnya.”

Bu Tuti mengangguk-angguk puas. “Wah, bagus, bagus. Anak muda harus berani keluar desa. Jangan kayak bapak-bapak yang di rumah terus.” Lalu ia berbalik dan pergi, tentu saja untuk menyebarkan kabar itu ke tetangga-tetangganya yang lain.

Dalam hitungan dua jam, kabar itu sudah sampai ke warung Mbah Naryo, ke rumah Pak Sastro, ke kebun Pak Kirno, dan bahkan ke kelompok arisan ibu-ibu yang sedang berkumpul di rumah Bu Lastri.

“Ilham mau pergi ke Awan Biru belajar internet,” bisik seorang ibu kepada yang lain.

“Benarkah? Sendirian?”

“Tidak. Katanya sama Nisa, Angga, Rendi, Aulia.”

“Wah, berani sekali mereka. Apa tidak takut?”

“Takut apa? Kata Pak Raditya sudah diizinkan.”

“Kalau Pak Raditya yang mengizinkan, ya sudah. Beliau tahu yang terbaik.”

Tidak semua reaksi positif. Di warung Mbah Naryo, Pak Kirno mendengar kabar itu dengan wajah masam. Cangkir kopi di tangannya hampir ia remas.

“Anak-anak muda sekarang,” gerutunya. “Mudah sekali terpengaruh oleh hal-hal dari luar. Desa kita sudah baik-baik saja. Tidak perlu belajar dari mana-mana.”

Pak Santo yang duduk di sampingnya berusaha menenangkan. “Pak Kirno, tidak ada salahnya mereka belajar. Ilmu tidak pernah merugikan.”

“Ilmu? Belajar internet, jualan online, itu ilmu? Itu hanya main-main. Bekerja di ladang, itu ilmu sejati.”

Mbah Naryo yang menyeduh kopi di belakang meja, ikut bersuara. “Pak Kirno, Bapak tidak pernah mencoba internet, bagaimana tahu itu hanya main-main?”

Pak Kirno terdiam. Ia tidak suka jika argumennya dibantah, apalagi oleh Mbah Naryo yang dianggapnya hanya penjaga warung.

“Pokoknya saya tidak setuju,” katanya akhirnya. “Tapi saya tidak akan melarang. Biar waktu yang membuktikan siapa yang benar.”


Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit berwarna jingga keemasan seperti madu yang meleleh di atas roti hangat, Ilham menerima panggilan dari Mbah Jaya Suprapta. Panggilan itu disampaikan oleh Pak Sastro, yang datang ke rumah Ilham dengan wajah serius.

“Ilham, Mbah Jaya ingin bertemu denganmu. Sekarang.”

Ilham merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Mbah Jaya adalah sesepuh desa yang paling disegani. Suaranya masih didengar banyak orang, bahkan oleh mereka yang tidak setuju dengannya. Jika Mbah Jaya menolak rencananya, maka seluruh desa akan menolak. Jika Mbah Jaya mendukung, maka pintu-pintu akan terbuka.

Ia berjalan menuju rumah Mbah Jaya yang terletak di ujung desa, dekat dengan mata air suci. Rumah itu tidak besar, tetapi terawat dengan baik. Di halamannya, ada pohon beringin tua yang rindang, pohon yang konon ditanam oleh Ki Suralaya sendiri, ratusan tahun yang lalu. Akar-akarnya yang besar menjulur ke tanah seperti ular-ular purba yang sedang tidur.

Mbah Jaya sedang duduk di beranda, ditemani segelas kopi hitam pekat tanpa gula. Wajahnya keriput seperti peta yang menggambarkan perjalanan panjang kehidupannya. Matanya masih tajam seperti elang, tidak terkaburi oleh usia. Rambutnya sudah putih semua, tetapi ia menyisirnya rapi ke belakang. Ia mengenakan pakaian adat Jawa, beskap hitam dan blangkon, meskipun hanya di rumah.

“Ilham, kemarilah,” panggil Mbah Jaya. Suaranya berat, keluar dari dadanya yang sudah renta, tetapi masih jelas dan tegas.

Ilham mendekat, lalu duduk di kursi yang ditunjuk. Ia membungkuk hormat, menyentuh dadanya dengan telapak tangan kanan. “Mbah Jaya memanggil saya?”

“Iya. Saya dengar kau mau pergi ke Awan Biru belajar sesuatu.”

“Benar, Mbah.”

Mbah Jaya menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkir di atas meja kayu di sampingnya. “Apa yang ingin kau pelajari di sana?”

Ilham menjelaskan dengan sabar, tentang digitalisasi desa, tentang komputer dan internet, tentang pemasaran online, tentang Desa Awan Biru yang dulu miskin tetapi kini maju tanpa kehilangan budayanya. Ia berbicara dengan hati-hati, memilih kata-kata yang tidak menyinggung, tetapi juga tidak mengurangi kebenaran.

Mbah Jaya mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk. Sesekali ia mengernyit. Tidak ada yang ia potong. Tidak ada yang ia tanyakan. Ia hanya mendengarkan, seperti seorang hakim yang mendengarkan kesaksian sebelum memutuskan vonis.

Ketika Ilham selesai, Mbah Jaya terdiam cukup lama. Angin sore berhembus, membuat daun-daun pohon beringin bergoyang-goyang. Daun-daun tua yang kering jatuh berhamburan ke tanah, menari-nari sebentar sebelum diam.

“Ilham,” kata Mbah Jaya akhirnya, “apakah kau tahu mengapa desa ini disebut Suralaya?”

“Karena Ki Suralaya, Mbah. Leluhur yang membuka desa ini.”

“Benar. Tapi tahukah kau arti nama Suralaya?”

Ilham menggeleng. Ia tidak pernah bertanya tentang itu.

“Suralaya berasal dari dua kata: Sura yang berarti berani, dan Laya yang berarti mati atau hancur. Jadi Suralaya berarti keberanian yang tidak pernah mati. Itu adalah pesan dari Ki Suralaya kepada kita semua. Bahwa kita harus berani. Bahwa kita tidak boleh takut pada perubahan. Bahwa kita harus terus bergerak maju, meskipun banyak rintangan.”

Ilham tertegun. Ia tidak pernah tahu itu. Selama ini ia mengira Suralaya hanya nama, tanpa makna. Ternyata di balik nama itu tersimpan pesan yang begitu dalam.

“Mbah Jaya... jadi Mbah mendukung?”

Mbah Jaya tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan. “Saya tidak mendukung atau menolak. Saya hanya mengingatkan. Jangan pernah lupa dari mana kau berasal. Jangan pernah malu dengan desamu. Jangan pernah meninggalkan adat dan budaya. Jika kau bisa menjaga itu, maka pergilah. Jika tidak, lebih baik kau tinggal.”

“Saya akan menjaga, Mbah. Saya janji.”

“Jangan janji dulu. Buktikan.”

Ilham mengangguk mantap. Ia tidak tahu apakah Mbah Jaya benar-benar mendukung, tetapi setidaknya ia tidak dihalangi. Dan itu sudah cukup untuk saat ini.


Sementara Ilham menghadap Mbah Jaya, di balai bambu yang mulai dibersihkan, Nisa sedang sibuk menata kursi-kursi plastik. Aulia membantu di sampingnya. Rendi sedang menulis sesuatu di buku catatannya. Angga sedang memeriksa komputer tua pemberian dari Awan Biru.

Tiba-tiba, seorang pemuda desa masuk. Namanya Dimas, pemuda yang tidak ikut dalam rencana perjalanan ke Awan Biru karena ia lebih memilih bekerja di ladang orang tuanya. Dimas adalah pemuda yang tampan, menurut standar desa: kulit putih bersih, rambut hitam teratur, dan senyum yang manis. Ia juga dikenal suka mendekati Nisa, meskipun Nisa tidak pernah menanggapi serius.

“Nis, aku dengar kau mau pergi ke Awan Biru?” tanya Dimas sambil bersandar di pintu. Senyumnya manis, tetapi matanya licik.

Nisa tidak menoleh. “Iya. Ada apa?”

“Jangan pergi, Nis. Di sini saja. Aku bisa buat kau bahagia.”

Angga yang sedang memeriksa komputer, berhenti sejenak. Ia menatap Dimas dengan mata tajam. Rendi mengangkat alis. Aulia tersenyum kecil, bukan karena senang, tetapi karena geli.

Nisa akhirnya menoleh. Wajahnya dingin. “Dimas, aku tidak butuh kau membuatku bahagia. Aku sudah bahagia dengan caraku sendiri.”

“Tapi Nis...”

“Sudah. Aku sibuk. Kalau tidak ada perlu, lebih baik kau pulang.”

Dimas tersinggung. Wajahnya memerah. “Karena Ilham, ya? Karena kau suka sama Ilham?”

Nisa terdiam. Wajahnya tidak berubah, tetapi di dalam hatinya ada sesuatu yang bergejolak. Apakah ia suka Ilham? Mungkin. Tapi itu bukan urusan Dimas.

“Itu tidak penting,” kata Nisa akhirnya. “Yang penting aku ingin desa ini berubah. Kalau kau tidak mau membantu, setidaknya jangan menghalangi.”

Dimas mendengus, lalu berbalik dan pergi. Langkahnya berat, seperti orang yang kalah perang.

Angga yang melihat semua itu, berkata pelan, “Nisa, hati-hati sama Dimas. Orang itu pendendam.”

“Aku tahu,” jawab Nisa. “Tapi aku tidak takut.”

Aulia mendekati Nisa, memegang tangannya. “Kamu baik-baik saja?”

“Baik. Biarkan saja.”

Namun di dalam hatinya, Nisa bertanya-tanya. Apakah perasaannya kepada Ilham sudah sejelas itu? Apakah orang lain bisa melihatnya? Dan yang lebih penting, apakah Ilham juga merasakan hal yang sama?

Ia tidak tahu jawabannya. Tapi ia yakin, waktu akan menjawab.


Dua minggu berlalu lebih cepat dari yang mereka duga. Persiapan untuk perjalanan ke Desa Awan Biru berjalan dengan berbagai kendala. Kendala pertama adalah uang. Meskipun Pak Raditya telah memberikan bantuan, amplop cokelat yang ternyata berisi lima ratus ribu rupiah, uang itu tidak cukup untuk ongkos lima orang pulang-pergi, apalagi untuk kebutuhan selama belajar.

Ilham dan teman-temannya bekerja ekstra. Mereka membantu memetik kopi di kebun tetangga dengan upah harian. Mereka menjual ayam dan kambing peliharaan. Mereka meminjam dari sanak saudara yang bersedia. Nisa bahkan menjual kerudung kesayangannya, pemberian almarhumah neneknya, kepada seorang tetangga yang kebetulan sedang membutuhkan.

“Nisa, jangan jual itu,” kata Ilham ketika mendengar kabar tersebut. Matanya sedih. “Itu kenang-kenangan dari nenekmu.”

“Tidak apa-apa,” jawab Nisa tegar. “Nenekku pasti bangga kalau tahu kerudungnya digunakan untuk membiayai perjalanan yang mulia.”

Ilham tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya terdiam, menghormati keputusan Nisa. Tapi di dalam hatinya, ia berjanji: Suatu hari nanti, aku akan membelikan kerudung baru untuk Nisa. Kerudung yang lebih bagus. Sebagai ganti.

Kendala kedua adalah izin dari orang tua. Angga mendapat izin dengan mudah, ayahnya yang sudah tua hanya berkata, “Pergilah, Nak. Jaga diri.” Rendi juga mendapat izin, meskipun ibunya menangis. Aulia mendapat izin setelah berdebat panjang dengan ayahnya yang khawatir.

Ilham sendiri masih belum mendapat izin penuh dari ayahnya. Pak Hasan belum mengatakan “iya”, tetapi juga belum mengatakan “tidak”. Ia hanya diam setiap kali Ilham membicarakan rencana itu. Diam yang berat. Diam yang penuh makna.

Suatu malam, sebelum tidur, Ilham memberanikan diri bertanya langsung.

“Yah, aku mau pergi lusa. Bapak izinkan?”

Pak Hasan yang sedang duduk di kursi bambu, memandang putranya dengan mata yang sulit dibaca. “Kau yakin ini yang kau mau?”

“Yakin, Yah.”

“Tidak akan menyesal?”

“Tidak.”

Pak Hasan terdiam cukup lama. Lalu ia berdiri, berjalan ke kamar, dan kembali dengan membawa sebuah amplop kecil. “Ini tabungan ayah. Tidak banyak. Tapi semoga cukup.”

Ilham menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Ia tidak membukanya. Ia tidak perlu melihat isinya untuk tahu bahwa amplop itu berisi uang hasil keringat ayahnya selama bertahun-tahun.

“Terima kasih, Yah.”

“Jangan berterima kasih. Buktikan bahwa ayah tidak salah memberi izin.”


Di sela-sela persiapan yang melelahkan, ada juga momen-momen lucu yang membuat mereka tertawa. Salah satunya terjadi ketika Aulia mencoba mengajari Angga cara menggunakan komputer.

Angga adalah pemuda yang tangannya terampil memperbaiki mesin pertanian, traktor, pompa air, mesin penggiling padi, tetapi ketika berhadapan dengan mouse komputer, tangannya menjadi kaku seperti kayu.

“Klik kiri, Ga,” kata Aulia sabar.

Angga menekan mouse dengan keras hingga hampir pecah. “Sudah.”

“Bukan begitu. Pelan-pelan. Seperti memegang telur.”

“Telur? Aku tidak pernah memegang telur.”

“Ya sudah, seperti memegang... HP?”

“HP aku tombol. Bukan sentuh.”

Aulia menghela napas. Rendi yang melihat dari samping tertawa terbahak-bahak. “Angga, kau itu kalau pegang mouse kayak lagi memegang cangkul. Santai, Ga. Itu benda kecil. Tidak akan lari.”

“Siapa tahu dia lari,” jawab Angga serius.

Semua tertawa. Bahkan Ilham yang sedang sibuk menghitung uang di sudut ruangan ikut tersenyum.

“Aulia, coba kau ajari dari dasar sekali,” kata Nisa. “Angga belum pernah pegang komputer sama sekali.”

“Iya, aku tahu. Tapi dasar sekali pun, tetap harus pakai mouse.”

Akhirnya, setelah satu jam berjuang, Angga berhasil menggerakkan kursor ke arah yang ia inginkan, meskipun masih tersendat-sendat. Ia tersenyum bangga. “Nah, kan bisa.”

“Bisa, tapi masih jauh dari lancar,” kata Aulia. “Latihan terus, ya.”

“Iya, Bu Guru.”

“Jangan panggil Bu Guru.”

“Iya, Bu Guru.”

Aulia menggelengkan kepala, tetapi ia tersenyum. Angga memang kikuk, tetapi ia punya semangat belajar yang tinggi. Itu yang paling penting.


Malam sebelum keberangkatan, Ilham tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda rumahnya, ditemani secangkir kopi hitam yang sudah dingin karena tidak diminum. Matanya menatap langit yang gelap, di mana bintang-bintang berkelap-kelip seperti berlian yang tersebar tanpa pola.

“Tidak tidur?” suara Nisa dari balik pagar.

Ilham menoleh. Nisa berdiri di depan pagar rumahnya, mengenakan jaket tebal yang kebesaran, mungkin jaket ayahnya. Wajahnya tidak jelas dalam gelap, tetapi suaranya jelas.

“Kau juga tidak tidur?” tanya Ilham.

“Tidak bisa. Banyak pikiran.”

“Masuklah.”

Nisa membuka pagar, berjalan mendekat, lalu duduk di samping Ilham. Mereka berdua terdiam beberapa saat, menikmati keheningan malam.

“Ham,” panggil Nisa akhirnya.

“Hm?”

“Kamu takut?”

“Takut. Tapi juga tidak sabar.”

“Tidak sabar untuk apa?”

“Untuk memulai. Untuk belajar. Untuk membuktikan bahwa kita bisa.”

Nisa tersenyum. “Aku juga. Aku tidak sabar untuk melihat desa kita berubah.”

Mereka terdiam lagi. Angin malam berhembus, membawa aroma kopi dan tanah basah. Di kejauhan, suara azan subuh belum terdengar, karena subuh masih beberapa jam lagi.

“Nisa,” panggil Ilham tiba-tiba.

“Hm?”

“Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk percaya padaku. Untuk mau ikut. Untuk tidak menyerah.”

Nisa menoleh. Wajahnya berseri-seri di bawah cahaya bulan. “Aku tidak perlu diucapkan terima kasih. Aku melakukan ini untuk desa, bukan untukmu.”

“Tapi tetap saja. Aku berhutang budi.”

“Bayar nanti. Kalau desa sudah berubah.”

Ilham tersenyum. “Setuju.”

Mereka berdua duduk di beranda hingga larut malam, berbicara tentang banyak hal, tentang masa lalu, tentang masa depan, tentang mimpi, tentang ketakutan, tentang harapan. Ketika Nisa akhirnya pamit pulang, langit timur mulai memutih. Fajar akan segera tiba.


Pagi keberangkatan tiba. Langit cerah, biru bersih tanpa awan, seolah-olah alam ikut merestui perjalanan mereka. Matahari belum terlalu tinggi, sinarnya masih keemasan dan ramah di kulit. Burung-burung berkicau di pepohonan, menyambut hari baru dengan suara-suara riang yang tidak pernah lelah.

Ilham, Nisa, Angga, Rendi, dan Aulia berkumpul di halaman balai desa. Tas-tas mereka tidak besar, hanya berisi pakaian seadanya, buku catatan, dan bekal dari ibu-ibu desa. Di tangan Ilham, ada sebungkus kopi bubuk khas Suralaya, pesan dari ayahnya yang tidak diucapkan tetapi tersirat.

Pak Raditya berdiri di depan mereka, ditemani beberapa warga yang ikut mengantar. Mbah Jaya tidak datang, tetapi pesannya disampaikan melalui Pak Sastro: “Jaga nama baik desa. Jangan lupa adat. Cepat pulang.”

Bu Laila menangis. Ia memeluk Ilham erat-erat, lalu melepaskannya dengan berat hati. “Jaga makan. Jangan lupa salat. Jangan dekat-dekat dengan hal-hal yang tidak baik.”

“Iya, Bu.”

“Dan... jangan lupa desa ini.”

“Tidak akan, Bu.”

Pak Hasan tidak ikut mengantar. Ia sudah pergi ke kebun sejak subuh, seperti biasa. Tapi di sela-sela ransel Ilham, ada sebungkus kopi bubuk yang dibungkus daun pisang. Tidak ada pesan tertulis. Tidak ada kata-kata perpisahan. Tapi Ilham tahu itu adalah restu ayahnya.

“Kita berangkat,” kata Ilham.

Mereka berjalan meninggalkan Desa Suralaya. Langkah mereka mantap, tidak tergesa-gesa, seperti orang yang tahu persis ke mana mereka akan pergi. Di belakang mereka, Gunung Merbabu menjulang gagah, diselimuti kabut tipis yang mulai terurai terkena sinar matahari.

Bu Laila masih berdiri di depan pagar rumahnya, mengusap air mata dengan ujung sarungnya. Pak Raditya menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Semoga perjalanan ini membawa berkah,” bisiknya.

Di kejauhan, dari balik jendela rumahnya, Mbah Jaya mengamati rombongan kecil itu. Ia tidak melambai. Ia hanya diam. Tapi di dalam hatinya, ia berdoa. Jaga mereka, Ya Allah. Jaga anak-anak muda ini. Mereka adalah harapan desa ini.

Dan di atas semuanya, di ketinggian 3.145 meter, Gunung Merbabu berdiri tenang, menyaksikan, seolah-olah berkata: Perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.


BAB 5

Menyusun Langkah

Perjalanan dari Desa Suralaya ke Desa Awan Biru tidaklah dekat. Tidak ada bus langsung, tidak ada jalur yang mulus, tidak ada rambu-rambu yang memberi petunjuk jalan. Yang ada hanyalah jalan tanah berbatu yang berkelok-kelok mengikuti kontur bukit, kadang naik, kadang turun, kadang lurus sebentar lalu berbelok tajam tanpa peringatan. Jalan ini adalah jalan yang sama yang dilalui oleh rombongan KPAAB seminggu yang lalu, hanya saja sekarang arahnya terbalik, dari Suralaya menuju Awan Biru, bukan sebaliknya.

Ilham dan rombongan berangkat pukul enam pagi, saat matahari baru saja muncul dari balik Gunung Merapi. Sinar keemasannya menyapu lembah-lembah, mengusir kabut yang masih bergelayut manja di antara pepohonan pinus. Udara masih dingin, begitu dingin hingga napas yang keluar dari mulut berubah menjadi uap putih tipis yang segera lenyap. Namun dingin itu tidak terasa mengganggu, justru menyegarkan, seperti air dari mata air suci yang membersihkan tubuh dan jiwa sebelum memulai perjalanan panjang.

Rombongan kecil itu terdiri dari lima orang: Ilham sebagai pemimpin, Nisa sebagai wakil, Angga sebagai pengatur logistik, Rendi sebagai dokumentator, dan Aulia sebagai ahli teknis. Masing-masing membawa ransel yang tidak terlalu besar, cukup untuk pakaian ganti, bekal makanan, buku catatan, dan beberapa peralatan sederhana. Di tangan Ilham, ada sebatang bambu yang dijadikan tongkat, pemberian dari Pak Raditya. “Untuk membantu saat jalan terjal,” kata kepala desa itu ketika memberikannya. “Bambu ini dari kebun desa. Semoga memberkati.”

“Kita akan sampai jam berapa, Ham?” tanya Nisa setelah berjalan sekitar satu jam. Wajahnya sudah mulai berkeringat, meskipun udara masih dingin. Keringat itu membasahi dahi dan pelipisnya, menetes perlahan ke pipi, lalu jatuh ke tanah yang masih basah oleh embun.

“Sekitar jam dua belas, kalau tidak ada kendala,” jawab Ilham sambil memandangi jalan di depan. Matanya teliti, memperhatikan setiap batu, setiap akar pohon yang menjulur, setiap tikungan yang tajam. “Tapi kita harus istirahat di pos-pos tertentu. Jangan sampai kelelahan.”

“Aku kuat,” kata Angga dari belakang. Suararnya datar, seperti biasa. Namun langkahnya mantap, tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Angga memang terbiasa berjalan jauh. Setiap hari ia berjalan dari rumahnya ke kebun orang tuanya yang terletak hampir dua kilometer dari desa, melewati jalan berbatu dan tanjakan terjal.

“Angga, kau itu kayak robot,” celetuk Rendi sambil terengah-engah. “Tidak pernah capek.”

“Capek. Tapi tidak perlu ditunjukkan.”

“Itulah gunanya robot. Tidak perlu menunjukkan perasaan.”

Aulia yang berjalan di belakang Rendi tersenyum kecil. Ia tidak banyak bicara, tetapi matanya selalu mengamati sekeliling. Sesekali ia membuka peta yang diberikan oleh Guntur, peta jalur pendakian yang sudah usang tetapi masih bisa dibaca. Peta itu adalah salah satu oleh-oleh paling berharga dari rombongan KPAAB.

Mereka berhenti sekitar pukul sembilan di sebuah pos peristirahatan sederhana, sebuah gubuk bambu yang didirikan oleh warga setempat untuk para pejalan kaki. Gubuk itu beratap rumbia, berdinding anyaman bambu yang sudah berlubang di beberapa tempat, dan berlantaikan tanah yang dipadatkan. Di dalamnya ada bangku panjang dari balok kayu yang sudah agak lapuk, tetapi masih cukup kuat untuk diduduki.

“Istirahat sebentar,” kata Ilham sambil melepas ranselnya. Ia duduk di bangku kayu, menghela napas lega. “Minum dulu. Makan seadanya. Jangan sampai dehidrasi.”

Nisa membagikan air minum dari botol-botol plastik yang mereka bawa. Airnya sudah agak hangat karena terpapar sinar matahari, tetapi masih segar. Ia juga membagikan nasi bungkus, nasi putih dengan lauk telur dadar dan tempe goreng, dibungkus daun pisang. Masih hangat karena baru dimasak subuh tadi oleh Bu Laila dan ibu-ibu lainnya.

“Ini enak,” kata Angga sambil mengunyah. Matanya menyipit menikmati. “Telurnya gurih.”

“Ibu yang masak,” kata Ilham. “Pesanan khusus untuk perjalanan.”

“Ibu kamu baik,” kata Rendi. “Kalau ibuku, dia hanya bilang, ‘Bawa bekal sendiri, aku sibuk.’”

“Karena kamu jarang bantu ibu,” ledek Nisa. “Makanya ibu malas masakin.”

“Aku bantu kok. Setiap hari.”

“Bantu apa? Bantu makan?”

“Itu juga bantu. Namanya bantu menghabiskan.”

Semua tertawa. Tawa itu menggema di gubuk bambu yang sederhana, memantul dari dinding ke dinding, lalu keluar melalui celah-celah anyaman, terbang bersama angin pagi. Bagi mereka, tawa adalah bekal yang tidak kalah penting dari nasi dan lauk. Tawa adalah bahan bakar bagi jiwa yang lelah. Tawa adalah pengingat bahwa di tengah perjuangan, mereka masih bisa bahagia.


Perjalanan dilanjutkan setelah istirahat tiga puluh menit. Matahari semakin meninggi, dan udara mulai terasa panas. Tidak panas seperti di dataran rendah, ketinggian masih memberi kesejukan, tetapi cukup untuk membuat keringat mengucur deras di tubuh mereka.

Jalan setapak mulai menanjak. Tanah berbatu dengan kemiringan sekitar tiga puluh derajat, membuat setiap langkah terasa berat. Otot-otot betis mereka berdenyut-denyut, dan napas mulai tersengal-sengal. Aulia yang paling tidak terbiasa dengan perjalanan jauh, mulai tertinggal.

“Aulia, kamu baik-baik saja?” tanya Nisa sambil menoleh.

“Baik... kok,” jawab Aulia terengah-engah. Wajahnya merah, keringat membasahi seluruh wajahnya. “Hanya... sedikit... lelah.”

“Istirahat dulu,” kata Ilham. “Kita tidak perlu terburu-buru.”

“Tapi kita harus sampai sebelum sore,” protes Angga. “Kalau terlalu malam, kita tidak akan punya waktu untuk istirahat sebelum besok.”

“Tidak apa-apa. Lebih baik lambat sampai daripada jatuh sakit di jalan.”

Mereka berhenti di pinggir jalan. Ilham memberikan botol air kepada Aulia. “Minum. Jangan langsung banyak-banyak. Sedikit demi sedikit.”

Aulia meminum air itu perlahan. Rasa segar menyebar dari tenggorokan ke seluruh tubuh. Ia menghela napas lega.

“Maaf, aku jadi beban,” kata Aulia pelan. Matanya menunduk, tidak berani menatap yang lain.

“Kamu bukan beban,” kata Nisa tegas. “Kita tim. Tim tidak saling menyalahkan. Tim saling membantu.”

“Nisa benar,” sambung Rendi. “Kalau kamu lelah, kita istirahat. Kalau kamu sakit, kita rawat. Itu artinya tim.”

Aulia tersenyum. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak menangis. Ia hanya mengangguk, lalu berdiri dengan susah payah.

“Aku siap,” katanya.

“Yakin?” tanya Ilham.

“Yakin.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini, Angga berjalan di belakang Aulia, siap sedia jika Aulia terjatuh. Rendi di sampingnya, sesekali menyemangati. Ilham di depan, memandu jalan. Nisa di belakang semua, memastikan tidak ada yang tertinggal.

Kerja sama tim yang sederhana, tetapi efektif. Mereka sadar bahwa perjalanan ini bukan tentang siapa yang tercepat. Ini tentang sampai bersama-sama.


Matahari mulai condong ke barat ketika mereka akhirnya melihat papan kayu besar di pintu masuk Desa Awan Biru:

“Selamat Datang di Desa Awan Biru , Desa Digital yang Berbudaya”

Ilham berhenti sejenak, memandangi papan itu dengan mata berbinar. Rasanya seperti mimpi. Seminggu yang lalu, ia hanya mendengar cerita tentang desa ini dari Joko dan rombongan KPAAB. Sekarang, ia berdiri di pintu masuknya, siap untuk belajar, siap untuk berubah, siap untuk membawa pulang ilmu yang akan mengubah desanya.

“Kita sampai,” bisiknya. Suaranya bergetar.

“Akhirnya,” kata Nisa sambil mengusap keringat di dahinya. “Aku hampir tidak percaya.”

“Ini nyata,” kata Angga. “Kita ada di sini.”

Aulia menghela napas lega. Rendi sudah membuka buku catatannya dan mulai menulis dengan cepat, mencatat kesan pertama, mencatat suasana, mencatat apa pun yang menarik perhatiannya.

Desa Awan Biru tidak mewah. Tidak seperti kota. Tidak ada gedung-gedung tinggi, tidak ada mal, tidak ada lampu-lampu neon yang menyala terang di malam hari. Namun ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tetapi bisa dirasakan dengan hati.

Jalan desa tertata rapi, tidak hanya di jalan utama, tetapi juga di gang-gang kecil. Tidak berlubang seperti di desanya, meskipun juga bukan aspal mulus. Ada perkerasan batu di beberapa ruas, ada coran semen di beberapa ruas lainnya. Mural-mural sederhana namun indah menghiasi dinding balai desa dan beberapa rumah warga. Mural itu tidak dibuat oleh seniman profesional, tetapi oleh pemuda-pemuda desa sendiri. Ada gambar gunung, ada gambar petani sedang menanam padi, ada gambar anak-anak bermain layang-layang, ada gambar tarian adat. Semuanya berwarna-warni, semuanya hidup, semuanya bercerita tentang desa ini.

Anak-anak kecil duduk di teras rumah sambil membaca buku cerita bergambar, sesekali menatap tablet yang dipegang oleh seorang pemuda yang duduk di samping mereka. Mereka tidak takut pada teknologi, tetapi juga tidak lupa pada buku. Mereka belajar dengan cara yang seimbang, dengan cara yang membuat mereka tetap menjadi anak-anak desa.

Beberapa ibu-ibu sibuk memotret anyaman bambu dengan latar belakang pemandangan gunung. Mereka menggunakan ponsel-ponsel sederhana, tetapi hasil foto mereka tidak sederhana. Mereka sudah belajar tentang pencahayaan, tentang komposisi, tentang sudut pandang. Mereka tidak hanya menjual anyaman, tetapi juga cerita di balik anyaman itu.

“Subhanallah,” bisik Nisa. Matanya membesar, mulutnya setengah terbuka. “Ini masih desa?”

“Ini desa yang memilih untuk tidak diam,” kata Ilham.


Mereka tidak perlu menunggu lama. Dari kejauhan, seorang lelaki muda berkacamata tebal berjalan cepat mendekati mereka. Di belakangnya, beberapa orang lain, wajah-wajah yang sudah tidak asing bagi Ilham karena ia melihat mereka dalam foto-foto yang dikirim oleh Joko.

“Ilham!” sapa lelaki itu dengan suara ceria. “Kau datang! Joko sudah bilang dari kemarin. Ayo, ayo, masuk!”

Lelaki itu adalah Herman, ketua Komunitas Digital Desa Awan Biru. Kacamatanya tebal seperti dasar botol, tetapi matanya di balik kaca itu sangat tajam. Rambutnya agak panjang dan sedikit berantakan, seolah-olah ia terlalu sibuk bekerja untuk memperhatikan penampilan. Ia mengenakan kaus oblong polos warna hitam dan jaket jeans lusuh yang sudah banyak bolong di siku. Di tangannya ada laptop yang tampak sudah lama, dengan stiker-stiker bertuliskan kata-kata motivasi.

“Mas Herman?” tanya Ilham.

“Iya. Panggil Herman saja. Tidak usah ‘Mas’. Kita semua teman di sini.”

Mereka berjabat tangan. Jabatan tangan Herman kuat dan hangat, seperti jabatan tangan orang yang tulus.

“Ini teman-temanku,” kata Ilham sambil menunjuk satu per satu. “Nisa, Angga, Rendi, Aulia.”

“Selamat datang, selamat datang,” sapa Herman kepada mereka semua. “Kami sudah siapkan tempat untuk kalian. Tidak mewah, tapi nyaman. Rumah warga yang bersedia menerima tamu. Kalian tidak keberatan, kan?”

“Tidak sama sekali,” kata Nisa cepat. “Kami tidak butuh kemewahan. Kami butuh ilmu.”

Herman tersenyum. “Bagus. Itu semangat yang kami cari.”

Di belakang Herman, beberapa anggota komunitas digital ikut menyambut. Ada Wati, perempuan muda dengan rambut pendek dan senyum lebar, yang bertugas mengajar fotografi produk. Ada Budi, lelaki kurus dengan tangan penuh kapalan, yang ahli dalam pemasaran online. Ada Lina, perempuan berjilbab dengan mata cekung karena sering begadang, yang mengelola media sosial desa. Ada Dani, remaja laki-laki dengan bopeng di wajah, yang bisa mengedit video dengan handal meskipun hanya menggunakan HP.

“Kami tidak banyak,” kata Herman sambil memandang timnya. “Tapi kami kompak. Dan kami tidak pernah berhenti belajar. Karena dunia digital itu berubah setiap hari. Yang tidak berubah hanyalah semangat.”


Hari pertama belajar dimulai keesokan paginya. Mereka berkumpul di ruang RKDD, Ruang Komunitas Digital Desa, sebuah ruangan sederhana yang menyatu dengan Kantor Desa Awan Biru. Dindingnya tidak diplester, bata merahnya dibiarkan terbuka, tetapi itu justru memberi kesan hangat dan alami. Papan-papan pengumuman dipasang di dinding, berisi grafik perkembangan, foto-foto kegiatan, jadwal pelatihan, dan daftar produk unggulan desa.

“Hari ini kita belajar dasar-dasar,” kata Herman di depan papan tulis putih. “Apa itu internet, apa itu media sosial, apa itu pemasaran digital. Tidak usah takut dengan istilah-istilah asing. Anggap saja seperti belajar bahasa baru. Awalnya sulit, tapi lama-lama terbiasa.”

Ilham duduk di barisan depan, matanya fokus. Nisa di sampingnya, sesekali mencatat. Rendi di belakang, menulis dengan cepat. Aulia di pojok, sudah siap dengan laptop pinjaman. Angga... Angga sedang berjuang dengan mouse.

“Klik ikon browser, Ga,” kata Aulia pelan.

“Ikon yang mana?” tanya Angga bingung.

“Yang bundar biru itu.”

“Ini?”

“Bukan. Itu ikon speaker. Nanti komputernya bunyi.”

“Oh.” Angga mencoba lagi, tetapi kali ini ia malah mengklik kanan, sehingga muncul menu pop-up yang membuatnya panik. “Aulia, ini muncul banyak tulisan! Komputernya rusak?”

“Tidak rusak. Itu menu. Klik kiri saja di luar menu.”

“Klik kiri di mana?”

“Di mana saja. Asal tidak di menu.”

Angga mengklik kiri di sembarang tempat. Menu pop-up itu hilang. Ia menghela napas lega. “Aku tidak suka komputer.”

“Tapi kamu harus belajar,” kata Aulia sabar.

“Aku tahu. Tidak suka bukan berarti tidak mau belajar.”

Herman yang melihat dari depan tersenyum. “Angga, jangan khawatir. Semua orang pernah seperti kamu. Dulu, waktu pertama kali belajar, aku juga sering salah klik. Pernah satu kali, aku tanpa sengaja menghapus file penting desa. Tiga hari kerja hilang. Aku hampir nangis.”

“Lalu bagaimana?” tanya Angga.

“Aku belajar dari kesalahan. Sekarang, sebelum menghapus apa pun, aku selalu backup. Itu pelajaran paling berharga.”

Tawa kecil terdengar di ruangan. Tawa yang menghangatkan. Tawa yang mengusir rasa takut akan kegagalan.


Di sela-sela istirahat, ketika yang lain sedang makan siang di kantin sederhana di halaman balai desa, Ilham dan Nisa duduk berdua di bawah pohon mangga yang rindang. Daun-daun mangga bergoyang-goyang ditiup angin, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak di tanah.

“Kamu paham materi tadi?” tanya Nisa sambil memegang buku catatannya.

“Sebagian,” jawab Ilham. “Tapi masih banyak yang bikin pusing. Istilah-istilah asing. SEO, engagement, algoritma. Aku tidak tahu artinya.”

“Aku juga. Tapi Herman bilang, kita tidak perlu hafal semua. Yang penting paham konsep dasarnya. Nanti juga terbiasa.”

Ilham mengangguk. Ia memandang Nisa, wajah Nisa yang tegas itu kini terlihat lembut di bawah sinar matahari siang yang tersaring oleh daun-daun mangga. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang membuat Ilham lupa akan pusingnya materi pelajaran.

“Nisa,” panggil Ilham pelan.

“Hm?”

“Kenapa kau mau ikut? Jujur. Bukan karena desa atau perubahan. Tapi kenapa?”

Nisa terdiam sejenak. Ia menunduk, memandangi rumput di bawah kakinya. Jari-jarinya menggenggam erat ujung buku catatannya.

“Karena aku tidak ingin kehilanganmu,” jawabnya akhirnya. Suarara pelan, nyaris tenggelam oleh suara angin.

Ilham terkejut. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Kehilangan aku? Maksudmu?”

“Maksudku... kalau kau pergi sendirian, aku takut kau tidak akan kembali. Bukan secara fisik. Tapi secara... perasaan. Aku takut kau berubah menjadi orang yang berbeda. Aku takut kau lupa dengan desa, lupa dengan teman-teman, lupa dengan aku.”

Ilham tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya diam, memandangi Nisa, merasakan hangatnya matahari yang menyentuh kulitnya, merasakan dinginnya bayangan yang melindunginya.

“Nisa, aku tidak akan lupa. Aku tidak akan berubah. Setidaknya, tidak menjadi orang yang melupakan asal-usulnya.”

“Janji?”

“Janji.”

Mereka berdua tersenyum. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata-kata manis. Hanya senyum. Tapi bagi mereka, itu sudah cukup.


Sementara Ilham dan Nisa berbicara di bawah pohon mangga, Rendi sedang sibuk menulis di buku catatannya. Tidak ada yang istimewa, Rendi selalu sibuk menulis. Tapi kali ini, ia menulis dengan sangat cepat, seolah-olah ada deadline yang harus ia kejar.

“Rendi, kamu nulis apa terus?” tanya Angga yang duduk di sampingnya.

“Cerita,” jawab Rendi tanpa menoleh.

“Cerita apa?”

“Cerita perjalanan kita. Dari awal sampai sekarang. Setiap detail. Setiap percakapan. Setiap ekspresi wajah.”

“Buat apa?”

“Buat kenang-kenangan. Biar kelak kita ingat bahwa kita pernah berjuang.”

Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu itu terlalu romantis, Ren. Hidup ini bukan novel.”

“Hidup ini adalah novel. Setiap orang punya cerita. Hanya saja, tidak semua orang menuliskannya.”

“Ya sudah, tulis saja. Tapi jangan lupa makan.”

“Makan nanti. Cerita tidak bisa ditunda.”

Angga menggelengkan kepala, lalu mengambil nasi bungkusnya dan mulai makan dengan lahap. Rendi tetap menulis, tidak terganggu oleh aroma nasi yang menggoda.


Malam harinya, setelah magrib, Herman mengadakan diskusi santai di teras Kantor Desa. Lampu minyak dinyalakan, listrik sedang padam, seperti biasa. Api unggun kecil dinyalakan di halaman, cukup untuk menghangatkan dan menerangi.

“Kita tidak hanya belajar teknologi,” kata Herman sambil menyeduh kopi. “Kita juga belajar tentang desa. Tentang budaya. Tentang jati diri. Karena teknologi tanpa budaya akan kehilangan arah. Budaya tanpa teknologi akan tertinggal.”

Ilham yang duduk di depan bertanya, “Bagaimana cara menggabungkan teknologi dengan budaya, Mas Herman?”

“Contoh sederhana: tarian tradisional kita, Tari Gantar. Dulu, hanya ditarikan setahun sekali pada acara panen. Sekarang, kami rekam, kami unggah ke YouTube, kami bagikan ke media sosial. Hasilnya? Orang luar desa jadi tahu. Ada yang tertarik belajar. Ada yang datang ke desa untuk melihat langsung. Budaya tidak hanya lestari, tetapi juga dikenal.”

“Tapi tidak ada yang protes? Tidak ada yang bilang ini tidak sopan?” tanya Nisa.

“Awalnya ada. Para tetua khawatir tarian sakral ini tidak boleh dilihat sembarang orang. Tapi setelah kami jelaskan bahwa kami hanya merekam tarian yang sudah biasa dipentaskan di acara-acara tertentu, bukan yang sakral, mereka paham. Sekarang, para tetua malah bangga karena tarian mereka dilihat orang banyak.”

“Kuncinya komunikasi,” kata Budi, ahli pemasaran online. “Jangan asal rekam dan unggah. Harus ada izin, ada penjelasan, ada rasa hormat. Kalau itu dilakukan, warga tidak akan keberatan.”

Wati, yang mengajar fotografi produk, ikut bersuara. “Sama seperti memotret. Jangan asal motret orang tanpa izin. Jangan asal motret barang tanpa konteks. Setiap foto harus punya cerita. Setiap cerita harus punya penghormatan pada subjeknya.”

Diskusi berlangsung hingga larut malam. Tawa dan canda sesekali pecah. Ada yang bercerita tentang pengalaman lucu saat belajar komputer, ada yang bercerita tentang kegagalan yang hampir membuat mereka menyerah, ada yang bercerita tentang keberhasilan kecil yang membuat mereka tersenyum.

Ilham mendengarkan semuanya dengan saksama. Ia belajar bahwa perubahan tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diusahakan. Ia harus diperjuangkan. Dan perjuangan itu tidak selalu berat, kadang ia diselingi tawa, kadang ia diwarnai canda, kadang ia dihangatkan oleh persahabatan.


Sementara Ilham dan kawan-kawan belajar di Awan Biru, di Suralaya, kisah lain mulai berkembang. Joko, yang setelah pendakian kembali ke desanya, tidak bisa melupakan Ilham. Ia sering bertanya-tanya, apakah pemuda itu benar-benar akan datang? Apakah ia serius? Apakah ia akan berhasil?

Suatu sore, ketika ia sedang duduk di teras kantor desa Awan Biru, Anita mendekatinya. Anita, sekretaris KPAAB yang rapi dan perfeksionis, biasanya tidak banyak bicara di luar urusan administrasi. Tapi sore itu, ia duduk di samping Joko tanpa diminta.

“Joko,” panggilnya.

“Ya?”

“Kamu sering melamun akhir-akhir ini. Ada apa?”

Joko tersenyum tipis. “Memikirkan Ilham. Apakah dia sudah sampai di Awan Biru? Apakah dia belajar dengan sungguh-sungguh? Apakah dia akan berhasil?”

“Kamu terlalu khawatir,” kata Anita. “Ilham sudah dewasa. Dia bisa menjaga dirinya sendiri.”

“Aku tahu. Tapi aku merasa bertanggung jawab. Akulah yang bercerita tentang Awan Biru. Akulah yang memberinya harapan. Kalau dia gagal, aku merasa gagal juga.”

Anita menatap Joko. Matanya lembut, kelembutan yang jarang ia tunjukkan. “Kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab atas hidup orang lain, Joko. Setiap orang punya jalannya sendiri. Yang bisa kamu lakukan adalah mendukung, bukan mengendalikan.”

Joko menoleh. “Kamu bijak, Anita.”

“Aku tidak bijak. Aku hanya perempuan yang suka mengamati.”

Mereka berdua terdiam. Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Angin berhembus pelan, membawa aroma kopi dan tanah basah. Di kejauhan, Gunung Merbabu mulai diselimuti kabut.

“Anita,” panggil Joko tiba-tiba.

“Hm?”

“Aku senang kamu ada di sini.”

Anita tersenyum. “Aku juga.”

Tidak ada yang lebih dari itu. Tapi bagi mereka, itu sudah cukup. Persahabatan yang perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih. Sesuatu yang tidak perlu diucapkan, tetapi bisa dirasakan.


Selama satu minggu penuh, Ilham dan kawan-kawan belajar tanpa henti. Setiap pagi, mereka sudah berkumpul di ruang RKDD sebelum pukul tujuh. Setiap malam, mereka baru pulang ke rumah masing-masing setelah pukul sembilan. Tidak ada hari libur. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan.

Materi yang dipelajari sangat banyak: fotografi produk, teknik menulis deskripsi yang menarik, cara menggunakan media sosial untuk promosi, strategi pemasaran digital sederhana, pengemasan cerita desa, pengelolaan data administrasi desa secara digital, dan masih banyak lagi.

Tantangan terbesar adalah Aulia dan Angga yang harus belajar dari nol. Aulia memang sudah bisa mengoperasikan komputer, tetapi pengetahuannya terbatas. Angga bahkan belum pernah menyentuh komputer sebelumnya. Namun mereka tidak menyerah. Setiap malam, setelah diskusi selesai, mereka berlatih bersama, Aulia mengajari Angga, Angga bertanya tanpa malu.

“Ga, kau itu sabar banget,” kata Rendi suatu malam ketika melihat Angga berulang kali salah klik tetapi tidak pernah marah.

“Tidak ada gunanya marah,” jawab Angga. “Komputer tidak akan takut kalau aku marah. Yang ada, komputernya rusak karena aku pukul.”

“Pernah memukul komputer?”

“Belum. Tapi hampir.”

Tawa kecil pecah. Walaupun lelah, mereka tetap bisa tertawa. Itulah kekuatan persahabatan.


Malam terakhir di Awan Biru, Herman mengadakan acara perpisahan sederhana. Api unggun dinyalakan di halaman balai desa. Kopi dan makanan ringan disajikan. Semua anggota komunitas digital hadir, bersama dengan warga desa yang selama ini membantu.

“Ilham,” kata Herman sambil berdiri. “Kami tidak bisa mengajarkan semuanya dalam satu minggu. Tapi kami sudah memberikan dasar-dasar. Sekarang, tugas kalian di rumah adalah mengembangkannya. Jangan takut salah. Jangan takut gagal. Yang penting terus belajar.”

Ilham berdiri. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Mas Herman. Terima kasih untuk semuanya. Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian.”

“Jangan berterima kasih. Buktikan bahwa apa yang kalian pelajari di sini tidak sia-sia.”

Mereka berpelukan satu per satu. Herman memeluk Ilham erat. Wati memeluk Nisa. Budi berjabat tangan dengan Angga. Lina memberikan buku catatan kepada Rendi. Dani memberikan flashdisk berisi materi pelatihan kepada Aulia.

“Jangan lupa,” kata Herman sebelum mereka berpisah. “Desa kalian punya potensi. Kopi Suralaya enak. Anyaman Suralaya indah. Cerita Suralaya unik. Tugas kalian adalah membantu warga menceritakannya kepada dunia. Bukan mengubah desa menjadi kota, tapi membuat desa dikenal dengan keunikannya sendiri.”

Ilham mengangguk mantap. “Saya tidak akan lupa.”

Malam itu, ketika mereka berjalan kembali ke rumah masing-masing, Ilham memandangi langit yang bertabur bintang. Di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri tenang, menyaksikan.

Perjalanan pulang akan segera dimulai, pikirnya. Dan setelah itu, perjuangan sesungguhnya.


BAB 6

Suara yang Menolak

Matahari tepat berada di atas ubun-ubun ketika rombongan kecil dari Suralaya akhirnya tiba di pintu masuk desa mereka. Perjalanan pulang dari Awan Biru terasa lebih singkat daripada perjalanan pergi, bukan karena jaraknya yang berkurang, tetapi karena hati mereka lebih ringan. Ransel mereka tidak bertambah berat, tetapi isi kepala mereka berlipat ganda. Buku catatan Rendi tebal dengan coretan-coretan baru. Memori kamera ponsel Nisa penuh dengan foto-foto hasil latihan. Flashdisk kecil di saku Aulia berisi materi pelatihan yang tak ternilai. Dan di dada Ilham, harapan yang semula hanya sebesar biji kopi, kini telah tumbuh menjadi tunas yang mulai merambat ke seluruh relung hatinya.

Papan nama Desa Suralaya yang sederhana, hanya sepotong kayu jati tua dengan tulisan cat hitam yang mulai pudar, menyambut mereka seperti biasa. Namun kali ini, Ilham melihatnya dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi melihat papan tua yang lusuh. Ia melihat kanvas kosong yang menunggu untuk dilukis. Ia tidak lagi melihat desa yang tertinggal. Ia melihat tanah yang subur untuk menanam benih perubahan.

“Kita sampai,” kata Ilham pelan, nyaris seperti bisikan. Matanya menjelajahi setiap sudut desa yang sudah ia kenal sejak lahir, rumah-rumah kayu dengan dinding anyaman bambu, pepohonan kopi yang berjajar di lereng, kabut tipis yang mulai turun dari puncak Merbabu. Semuanya sama, tetapi terasa berbeda.

“Akhirnya,” Nisa menghela napas panjang sambil menurunkan ransel dari punggungnya. Bahunya terasa pegal, punggungnya terasa kaku, tetapi matanya berbinar-binar. “Aku hampir tidak percaya kita sudah kembali. Rasanya seperti mimpi.”

“Bukan mimpi,” Angga berkata dengan suara datarnya yang khas. Ia menepuk-nepuk ranselnya yang berisi buku catatan tebal berisi sketsa-sketsa peralatan komputer yang ingin ia kumpulkan. “Ini nyata. Kita sudah belajar. Sekarang saatnya bekerja.”

Rendi sudah membuka buku catatannya dan mulai menulis dengan cepat, mencatat detik kedatangan, mencatat ekspresi wajah teman-temannya, mencatat suasana desa yang sunyi tetapi hangat. Tangannya bergerak seperti tidak pernah lelah. “Bab baru dimulai,” katanya sambil tersenyum. “Bab tentang implementasi.”

Aulia yang paling pendiam di antara mereka, hanya tersenyum kecil. Ia memegang flashdisk di sakunya, flashdisk kecil berwarna merah yang berisi semua materi pelatihan dari Awan Biru. Benda itu terasa berat di tangannya, bukan karena fisiknya, tetapi karena bobot tanggung jawab yang ia pikul. Ia adalah satu-satunya yang paling menguasai teknis komputer di kelompok ini. Jika ada yang salah, ia yang akan disalahkan. Jika ada yang rusak, ia yang akan diperbaiki. Tapi ia tidak takut. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri: tidak akan mundur.

Dari kejauhan, seorang anak kecil berlari menghampiri mereka. “Mas Ilham pulang! Mbak Nisa pulang!” teriaknya dengan suara riang. Anak itu adalah Tono, anak laki-laki berusia sembilan tahun yang dulu hampir menjatuhkan mouse karena terlalu bersemangat. Ia melompat-lompat di depan mereka, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

“Iya, Ton. Kami pulang,” kata Ilham sambil mengelus rambut Tono. “Kamu rindu?”

“Rindu, Mas! Aku mau lihat komputernya lagi!”

“Nanti, ya. Kita benahi dulu semuanya.”

Tono mengangguk cepat, lalu berlari kembali ke arah rumah-rumah, menyebarkan kabar bahwa para perantau kecil telah pulang. Dalam hitungan menit, pintu-pintu rumah mulai terbuka. Wajah-wajah mulai bermunculan dari balik jendela. Ibu-ibu yang sedang menjemur kopi berhenti sejenak, menatap ke arah rombongan dengan senyum tipis. Bapak-bapak yang sedang duduk di warung Mbah Karyo mengangkat kepala, menatap dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara rasa ingin tahu dan kecurigaan, antara harap dan ragu.

Desa kecil seperti Suralaya memang tidak pernah bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Setiap kedatangan, setiap kepergian, setiap perubahan sekecil apa pun selalu menjadi perbincangan. Dan kedatangan Ilham dan kawan-kawan kali ini bukanlah kedatangan biasa. Mereka pergi untuk belajar. Mereka pulang dengan membawa sesuatu. Dan semua orang ingin tahu: apa yang mereka bawa?


Pak Raditya adalah orang pertama yang menyambut mereka secara resmi. Kepala desa itu berjalan dari rumahnya dengan langkah mantap, meskipun lututnya sudah tidak sekokoh dulu. Wajahnya yang tegas namun teduh itu kini dipenuhi senyum, senyum yang tulus, yang tidak ia tunjukkan kepada banyak orang.

“Selamat datang, anak-anak muda,” sapa Pak Raditya sambil membuka kedua tangannya seperti seorang ayah yang menyambut kepulangan anak-anaknya. “Bagaimana perjalanannya? Lelah pasti. Tapi semoga hati senang.”

“Kami baik-baik saja, Pak,” jawab Ilham sambil membungkuk hormat. “Perjalanan lancar. Belajar banyak. Herman dan teman-teman sangat baik kepada kami.”

“Bagus. Bagus.” Pak Raditya menepuk pundak Ilham dengan lembut. Tangannya yang keriput namun masih kuat itu terasa hangat di bahu Ilham. “Istirahatlah dulu. Nanti malam kita bicara lebih lanjut. Saya ingin dengar cerita kalian.”

Namun tidak semua sambutan hangat. Dari balik jendela rumahnya yang terletak di ujung desa, Mbah Jaya Suprapta mengamati kepulangan itu dengan mata yang tajam. Ia tidak keluar. Ia tidak menyapa. Ia hanya duduk di kursi bambu kesayangannya, ditemani segelas kopi hitam pekat yang sudah dingin, sambil memandangi rombongan kecil itu dari kejauhan.

Di sampingnya, Pak Sastro, penjaga rumah adat, berdiri dengan tangan disilangkan di dada. Wajahnya tidak bisa dibaca. “Mereka pulang, Mbah,” katanya pelan.

“Saya lihat,” jawab Mbah Jaya datar.

“Apakah Mbah tidak akan menyapa?”

“Nanti. Biarkan mereka istirahat dulu. Yang berat belum dimulai.”

Pak Sastro mengangguk, meskipun ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang dimaksud Mbah Jaya. Tapi ia tidak bertanya. Ia hanya berdiri diam, menunggu, seperti biasa.

Di warung Mbah Naryo, suasana berbeda. Pak Kirno yang sedang duduk di kursi paling ujung, mendengus begitu mendengar kabar kepulangan Ilham. Cangkir kopi di tangannya hampir ia banting ke meja, tetapi ia tahan. Ia bukan tipe orang yang meledak-ledak. Ia lebih suka menyimpan kekesalannya, lalu melepaskannya dengan cara yang lebih halus, tapi tidak kalah tajam.

“Anak-anak muda itu pulang,” katanya kepada Pak Santo yang duduk di sampingnya. Suaranya datar, tetapi ada nada sarkastik yang tidak bisa disembunyikan.

“Syukurlah,” jawab Pak Santo polos. “Semoga selamat.”

“Selamat atau tidak, yang penting mereka tidak membawa masalah ke desa ini.”

Pak Santo mengernyit. “Masalah apa, Pak Kirno?”

“Teknologi. Internet. Hal-hal aneh dari luar. Itu bisa merusak budaya kita.”

Mbah Naryo yang sedang menyeduh kopi di belakang meja, menyelipkan komentar pelan. “Teknologi tidak merusak budaya, Pak Kirno. Yang merusak adalah cara kita menggunakannya. Pisau tidak merusak. Tangan yang memegang pisau bisa merusak.”

Pak Kirno menatap Mbah Naryo dengan mata tajam. “Mbah Naryo, Bapak terlalu percaya pada hal-hal baru.”

“Saya tidak percaya pada hal-hal baru. Saya percaya pada anak-anak muda. Mereka yang akan meneruskan desa ini. Bukan saya. Bukan Bapak. Mereka.”

Pak Kirno tidak menjawab. Ia hanya mendengus lagi, lalu menyesap kopinya dengan gerakan yang kasar. Di dalam hatinya, ia sudah memutuskan: ia akan menjadi penentang paling vokal terhadap rencana Ilham. Bukan karena ia benci pada Ilham, ia tidak benci. Ia hanya takut. Takut pada perubahan. Takut pada hal-hal yang tidak ia pahami. Dan ketakutan itu, seperti biasa, menjelma menjadi kemarahan.


Bu Laila sudah berdiri di depan pagar rumah sejak lama. Matanya yang agak rabun itu terus memandangi ujung jalan desa, menunggu sosok putranya muncul. Di tangannya ada segelas air putih, bukan untuk diminum, tetapi untuk diberikan kepada Ilham begitu ia tiba. Itu kebiasaan lama yang tidak pernah ia tinggalkan. Setiap kali Ilham pulang dari bepergian, ia selalu menyediakan segelas air putih. Air yang dingin, segar, dan membersihkan.

“Bu!” teriak Ilham dari kejauhan. Ia melambaikan tangan, lalu mempercepat langkahnya. Ransel di punggungnya bergoyang-goyang, tetapi ia tidak peduli. Ia ingin segera memeluk ibunya.

Bu Laila tersenyum. Air mata menggenang di sudut matanya, tetapi ia tidak membiarkannya jatuh. Ia bukan tipe ibu yang suka menangis di depan anaknya. Ia lebih suka tersenyum, meskipun hatinya menangis.

“Kau kurusan,” kata Bu Laila sambil memeluk Ilham. Tangannya yang kasar karena bertahun-tahun bekerja di dapur dan kebun itu mengelus punggung Ilham dengan lembut. “Tidak makan, ya?”

“Makan, Bu. Banyak. Tapi mungkin terlalu banyak berpikir.”

“Jangan terlalu banyak berpikir. Nanti sakit kepala.”

Ilham tertawa kecil. “Tidak apa-apa, Bu. Pikiran itu penting. Tanpa pikiran, tidak ada perubahan.”

Bu Laila melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah putranya. Ia melihat sesuatu yang berbeda. Ada cahaya di mata Ilham, cahaya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Cahaya harapan. Cahaya keyakinan. Cahaya yang membuat seorang ibu bangga meskipun sedikit khawatir.

“Ayahmu di kebun,” kata Bu Laila. “Tapi dia tahu kau pulang. Tadi pagi dia sudah siapkan kopi untukmu.”

Ilham terkejut. “Ayah menyiapkan kopi?”

“Iya. Dia tidak bilang apa-apa, tapi dia sengaja memetik kopi paling bagus. Lalu dia sangrai sendiri. Sampai hampir gosong karena kurang sabar.”

Ilham tidak tahu harus berkata apa. Dadanya terasa hangat. Ayahnya, lelaki keras kepala yang jarang bicara dan lebih jarang menunjukkan perasaan, telah menyiapkan kopi untuknya. Itu adalah cara ayahnya mengatakan, “Aku merindukanmu. Aku bangga padamu.”

“Aku akan ke kebun nanti, Bu. Sekarang aku mau istirahat sebentar.”

“Ya, Nak. Mandi dulu. Nanti makan siang.”

Ilham masuk ke dalam rumah. Semuanya masih sama seperti saat ia pergi. Dinding anyaman bambu yang berlubang di sana-sini. Lantai tanah yang dipadatkan. Meja kayu kecil di dapur dengan piring-piring pecah belah yang sudah retak di pinggirannya. Tempat tidur bambunya dengan kasur tipis berisi kapuk yang sudah kempes. Rumah yang sederhana. Rumah yang hangat. Rumah yang selalu menunggu.

Ia meletakkan ranselnya di sudut kamar, lalu duduk di tepi tempat tidur. Matanya menerawang kosong. Ia membayangkan ayahnya di kebun, membungkuk di antara pohon-pohon kopi, tangannya yang kasar memetik buah-buah merah dengan sabar, keringat membasahi dahi dan punggungnya. Lelaki yang tidak pernah mengeluh. Lelaki yang tidak pernah bermimpi. Lelaki yang hanya bekerja dan bekerja, tanpa pernah bertanya apakah hidup ini adil.

Yah, pikir Ilham, aku akan membuatmu bangga. Aku akan membuat desa ini berubah. Bukan untukku. Untukmu. Untuk ibu. Untuk semua orang yang selama ini hanya bisa pasrah.


Sore harinya, setelah mandi, makan, dan istirahat sejenak, Ilham dan kawan-kawan berkumpul kembali di balai bambu. Balai itu masih sama seperti saat mereka tinggalkan, kotor, berdebu, penuh sarang laba-laba. Meja kayu tua yang kakinya tidak rata masih berdiri di sudut. Kursi-kursi plastik pinjaman masih tersusun rapi meskipun tertutup debu. Komputer tua pemberian dari Awan Biru masih terbungkus plastik di atas meja, menunggu untuk dinyalakan kembali.

“Kita harus bersihkan ini semua,” kata Nisa sambil melihat sekeliling. Tangannya di pinggang, kepalanya menggeleng-geleng. “Ini kayak kapal pecah. Debu di mana-mana.”

“Kerja bakti,” kata Angga singkat. Ia sudah melepas bajunya, hanya mengenakan kaos dalam, dan mengambil sapu lidi di sudut ruangan. “Aku sapu lantai. Kalian yang lain bersihkan dinding dan jendela.”

“Angga, pakai baju dulu,” kata Nisa setengah jijik. “Jangan kelihatan kayak bapak-bapak yang baru bangun tidur.”

“Panas,” jawab Angga. “Lagian tidak ada yang lihat. Cuma kita.”

“Aku lihat,” kata Nisa.

“Kamu bukan perempuan.”

“Aku perempuan!”

“Maksudku, kamu bukan perempuan asing. Kamu teman. Beda.”

Nisa menghela napas panjang. “Angga, logikamu itu kadang bikin pusing.”

Rendi yang sudah membuka buku catatannya, tersenyum. “Biarkan saja, Nisa. Angga memang begitu. Tidak usah diperdebatkan. Nanti kita yang pusing.”

Aulia diam-diam sudah mulai membersihkan komputer dengan kain microfiber yang ia bawa dari Awan Biru. Ia membersihkan monitor, keyboard, mouse, dan CPU dengan hati-hati, seperti seorang ahli bedah yang sedang membersihkan instrumen sebelum operasi.

“Komputer ini masih bagus,” katanya pelan. “Hanya perlu dibersihkan dan sedikit perawatan. Semoga tidak ada yang rusak selama kita tinggal.”

“Kamu bisa perbaiki kalau rusak?” tanya Ilham.

“Bisa. Asal tidak terlalu parah. Kalau processor-nya yang rusak, kita tidak punya alat untuk mengganti.”

“Doakan saja tidak rusak.”

Mereka bekerja sama membersihkan balai bambu hingga senja. Debu-debu beterbangan di udara, membuat beberapa dari mereka bersin-bersin. Tawa dan canda sesekali pecah ketika Angga secara tidak sengaja menyapu debu ke arah Nisa, atau ketika Rendi kejatuhan sarang laba-laba dan berteriak histeris.

“Rendi, kamu itu laki-laki masa takut sama laba-laba?” ledek Nisa.

“Bukan takut. Ini alergi,” jawab Rendi sambil mengibas-ngibaskan bajunya.

“Alergi laba-laba? Tidak ada itu.”

“Sekarang ada. Alergi tipe baru. Belum terdaftar di dunia kedokteran.”

Semua tertawa. Tawa itu menggema di balai bambu yang mulai bersih, memantul dari dinding anyaman ke dinding anyaman, lalu keluar melalui celah-celah, terbang bersama angin sore.


Sementara mereka asyik membersihkan balai bambu, suara langkah kaki berat terdengar dari luar. Tidak ada yang perlu dikonfirmasi, semua sudah tahu siapa pemilik langkah kaki itu. Hanya satu orang di desa ini yang berjalan dengan langkah sekokoh itu: Pak Kirno.

Pintu balai bambu terbuka. Pak Kirno masuk tanpa permisi, tanpa salam, tanpa senyum. Ia berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada, dan menatap mereka satu per satu dengan mata yang dingin. Matanya bergerak dari Ilham ke Nisa, dari Nisa ke Angga, dari Angga ke Rendi, dari Rendi ke Aulia. Lalu berhenti.

“Jadi, kalian benar-benar serius,” katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Ilham berdiri. Ia menatap Pak Kirno dengan hormat, tetapi tidak takut. “Benar, Pak. Kami serius.”

“Serius untuk apa? Menghancurkan desa ini?”

Nisa yang mendengar itu, langsung berdiri. Wajahnya memerah. “Pak Kirno, dengan hormat, kami tidak menghancurkan desa. Kami ingin membangun.”

“Membangun dengan apa? Dengan komputer? Dengan internet?” Pak Kirno mendengus. “Kalian tahu apa itu internet? Kalian tahu dampaknya? Anak-anak muda akan lupa adat. Lupa budaya. Lupa dengan desanya sendiri. Mereka akan lebih bangga menjadi orang luar daripada orang Suralaya.”

“Itu tidak benar, Pak,” kata Ilham tegas. “Kami belajar dari Awan Biru. Desa mereka tetap mempertahankan budaya. Tarian tradisional masih ada. Upacara adat masih dijalankan. Tapi mereka juga maju secara ekonomi. Kopi mereka laku. Anyaman mereka dikenal. Anak-anak muda tidak perlu pergi merantau.”

“Awan Biru? Desa kecil yang sama seperti kita? Apa istimewanya?”

“Mereka berani berubah, Pak. Mereka tidak takut pada hal-hal baru.”

Pak Kirno terdiam sejenak. Matanya menyipit. “Kau berani bicara seperti itu padaku, Ilham?”

“Saya tidak bermaksud tidak hormat, Pak. Saya hanya menjelaskan.”

“Jelasanmu tidak saya butuhkan.” Pak Kirno berbalik, berjalan ke pintu, lalu berhenti. “Saya akan bicara dengan para tetua. Kita lihat nanti apakah rencana kalian bisa berjalan atau tidak.”

Ia pergi meninggalkan balai bambu. Pintu kayu yang sudah lapuk itu tertutup dengan keras, membuat debu beterbangan.

Nisa menghela napas. “Pak Kirno memang keras kepala.”

“Bukan keras kepala,” kata Ilham. “Dia takut. Orang yang takut sering kali marah. Itu cara mereka melindungi diri.”

“Tapi dia bisa menghalangi kita,” kata Rendi khawatir. “Dia punya pengaruh. Banyak warga yang mendengarkannya.”

“Kita hadapi nanti,” kata Ilham. “Yang penting kita terus berjalan. Jangan berhenti karena satu orang.”

Aulia yang sejak tadi diam, berkata pelan, “Aku setuju dengan Ilham. Tapi kita harus pintar-pintar. Jangan sampai konflik dengan Pak Kirno merembet ke mana-mana.”

“Aulia benar,” kata Angga. “Kita butuh dukungan warga. Kalau Pak Kirno berhasil mengadu domba, kita akan sulit bergerak.”

Ilham mengangguk. “Kita akan bicara dengan Pak Raditya. Beliau bisa membantu. Selain itu, kita harus segera menunjukkan hasil. Bukti lebih kuat daripada kata-kata.”


Setelah pembersihan selesai, yang lain pulang ke rumah masing-masing. Nisa dan Ilham masih duduk di beranda balai bambu, memandangi matahari terbenam di balik Gunung Merbabu. Langit berwarna jingga keemasan, warna yang tidak bisa dilukis oleh kuas mana pun, karena hanya alam yang bisa menciptakannya. Awan-awan tipis berwarna merah muda bergerak perlahan, seperti perahu-perahu kecil yang berlayar di lautan langit.

“Kita bisa, kan, Ham?” tanya Nisa pelan. Matanya menatap cakrawala, tidak menatap Ilham.

“Bisa,” jawab Ilham. “Asal kita tidak menyerah.”

“Aku tidak akan menyerah. Tapi kadang... aku takut.”

“Takut apa?”

Nisa terdiam sejenak. Jari-jarinya menggenggam erat ujung bajunya sendiri, kebiasaan yang sama seperti Ilham ketika gugup. “Takut kehilangan. Bukan hanya desa. Tapi... kalian. Teman-teman. Kamu. Aku takut perubahan akan membuat kita berjauhan.”

Ilham menoleh. Wajah Nisa yang tegas itu kini terlihat lembut di bawah sinar matahari senja. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang membuat jantung Ilham berdetak lebih cepat.

“Nisa, perubahan tidak akan membuat kita berjauhan. Justru sebaliknya. Kita berubah bersama. Kita berjuang bersama. Itu yang membuat kita semakin dekat.”

Nisa tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan. Senyum yang hanya untuk orang-orang tertentu. “Kamu yakin?”

“Yakin.”

Mereka berdua terdiam. Angin senja berhembus pelan, membawa aroma kopi dan tanah basah. Di kejauhan, suara azan magrib mulai terdengar dari surau kecil di tengah desa.

“Ayo pulang,” kata Ilham sambil berdiri. “Nanti gelap.”

“Iya,” kata Nisa. Ia berdiri, lalu tanpa diduga, ia meraih tangan Ilham. Hanya sebentar. Lalu melepaskannya. “Hanya ingin memastikan kamu nyata.”

Ilham tersenyum. “Aku nyata. Dan aku tidak akan pergi.”

Mereka berjalan pulang bersama, di bawah langit yang mulai gelap. Dua anak muda desa dengan mimpi besar. Dua hati yang perlahan saling mendekat. Tanpa drama. Tanpa kata-kata manis. Hanya kebersamaan. Hanya keyakinan. Hanya harapan.


Setelah magrib, Ilham pergi ke rumah Pak Raditya. Ia ingin melaporkan hasil perjalanannya, tetapi juga ingin meminta saran tentang cara menghadapi penolakan Pak Kirno.

Pak Raditya sedang duduk di beranda, ditemani secangkir teh jahe yang mengepulkan uap tipis. Udara malam dingin, tetapi jahe menghangatkan tubuhnya yang mulai renta. Kacamatanya bertengger di ujung hidung, dan di tangannya ada sebuah buku, buku tentang kepemimpinan desa yang sudah lama ia baca tetapi tidak pernah selesai.

“Masuk, Ilham,” sapa Pak Raditya begitu melihat Ilham. “Saya sudah dengar kalian bertemu Pak Kirno tadi sore.”

Ilham terkejut. “Bapak sudah tahu?”

“Di desa ini, tidak ada yang rahasia, Nak. Apalagi jika menyangkut Pak Kirno. Beliau adalah orang yang paling keras suaranya di desa ini. Kalau beliau marah, setengah desa akan tahu.”

Ilham duduk di kursi yang ditunjuk. Ia bercerita tentang perjalanannya ke Awan Biru, tentang apa yang ia pelajari, tentang apa yang ia lihat, tentang apa yang ia rasakan. Ia bercerita tentang Herman dan tim, tentang ruang RKDD, tentang kopi dan anyaman yang laku keras, tentang anak-anak yang belajar komputer tanpa melupakan adat.

Pak Raditya mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk. Sesekali ia tersenyum. Sesekali ia menghela napas. Tidak ada yang ia potong. Tidak ada yang ia tanyakan. Ia hanya mendengarkan, seperti seorang ayah yang mendengarkan cerita anaknya yang baru pulang dari rantau.

Ketika Ilham selesai, Pak Raditya berkata, “Jadi, apa rencanamu sekarang?”

“Kami akan memulai dari hal kecil, Pak. Mengajak ibu-ibu belajar memotret anyaman. Mengajak petani belajar memasarkan kopi secara online. Tidak memaksa. Tidak terburu-buru. Tapi konsisten.”

“Bagus. Itu pendekatan yang bijak. Tapi kau harus siap dengan penolakan. Pak Kirno bukan satu-satunya yang akan menolak. Banyak warga yang masih ragu. Mereka butuh bukti, bukan janji.”

“Saya tahu, Pak. Tapi saya tidak bisa memberikan bukti jika tidak mulai.”

Pak Raditya tersenyum. “Kau masih muda, Ilham. Tapi kau sudah berpikir seperti orang tua. Itu baik. Tapi ingat, jangan sampai kau terlalu dewasa sehingga lupa untuk menikmati masa mudamu.”

Ilham tersenyum. “Saya akan coba, Pak.”

“Bukan coba. Lakukan.” Pak Raditya berdiri, berjalan ke dalam rumah, lalu kembali dengan membawa sebuah amplop cokelat. “Ini untuk balai bambu. Tidak banyak. Tapi semoga cukup untuk membeli peralatan yang kalian butuhkan.”

Ilham menerima amplop itu dengan tangan gemetar. “Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus membalas apa.”

“Balas dengan hasil. Buktikan bahwa desa ini bisa berubah.”


Sementara Ilham dan Pak Raditya berbicara, di warung Mbah Naryo suasana berbeda. Para bapak-bapak berkumpul seperti biasa, tetapi topik pembicaraan tidak seperti biasa. Mereka membicarakan Ilham dan rencana digitalisasi desa.

“Anak muda sekarang memang suka hal-hal aneh,” kata Pak Santo sambil menyesap kopinya. “Dulu kita tidak butuh internet, hidup kita baik-baik saja.”

“Dulu kita juga tidak butuh HP, Pak Santo,” celetuk Pak Sugi. “Tapi sekarang Bapak punya HP. Bahkan Bapak sering main game di HP.”

Pak Santo tersenyum malu. “Itu hanya iseng. Beda dengan internet.”

“Internet juga hanya alat. Sama seperti HP. Tergantung yang menggunakan.”

Pak Kirno yang duduk di ujung, mendengus. “Bapak-bapak ini terlalu mudah terpengaruh. Internet itu berbahaya. Bisa merusak moral anak muda.”

“Pak Kirno, Bapak belum pernah menggunakan internet, bagaimana tahu kalau itu berbahaya?” tanya Mbah Naryo dari belakang meja.

Pak Kirno terdiam. Ia tidak suka jika argumennya dibantah, apalagi oleh Mbah Naryo yang dianggapnya hanya penjaga warung.

“Saya dengar dari orang-orang,” jawabnya akhirnya.

“Dengar dari orang-orang belum tentu benar, Pak Kirno. Lebih baik coba dulu. Kalau terbukti berbahaya, baru tolak. Jangan menolak sebelum mencoba.”

Pak Kirno tidak menjawab. Ia hanya mendengus, lalu menyesap kopinya dengan gerakan yang kasar.

Mbah Naryo tersenyum kecil. Ia tahu Pak Kirno tidak akan pernah mencoba internet. Bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia takut. Takut pada hal-hal baru. Takut pada perubahan. Takut pada dunia yang tidak ia pahami. Dan ketakutan itu, seperti biasa, menjelma menjadi kemarahan.


Kilas balik, Sementara itu, di Desa Awan Biru, Joko sedang duduk di teras kantor desa, memandangi langit malam yang bertabur bintang. Di tangannya ada ponsel, ponsel jadul yang hanya bisa digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan singkat. Ia sedang menunggu kabar dari Ilham, tetapi yang lebih ia nantikan adalah kabar dari Anita Rohan.

Anita tidak ikut dalam tim RKDD Awan Biru karena ia harus menyelesaikan administrasi desa. Tapi ia sering mengirim pesan kepada Joko, pesan-pesan pendek yang sederhana, tetapi hangat.

“Joko, apa kabar? Ilham sudah sampai di Suralaya? Aku khawatir.”

Joko membalas cepat. “Sudah sampai. Mereka baik-baik saja. Kamu sendiri? Jangan terlalu lelah bekerja.”

“Aku baik. Hanya kangen.”

Joko tersenyum membaca pesan itu. Anita Rohan memang jarang mengungkapkan perasaan secara langsung. Jadi ketika ia menulis “kangen”, itu berarti sesuatu yang besar.

“Kangen juga,” balas Joko. “Nanti kita bertemu lagi.”

“Kapan?”

“Entah. Tapi pasti.”

Percakapan singkat itu berakhir. Joko masih memandangi ponselnya, tersenyum seperti orang bodoh. Hermansyah yang lewat, melihatnya dan langsung berteriak.

“Joko! Jangan senyum-senyum sendiri! Nanti dikira gila!”

“Diam, Man,” jawab Joko tanpa menoleh.

“Ada Anita Rohan, ya? Sms-an, ya? Awas aja kalau ketahuan.”

“Diam, saya bilang.”

Hermansyah tertawa terbahak-bahak, lalu pergi meninggalkan Joko yang masih tersenyum di teras kantor desa. Di kejauhan, bintang-bintang berkelap-kelip seperti mata-mata kecil yang mengawasi.


Keesokan paginya, Ilham bangun lebih awal dari biasanya. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya penuh dengan rencana. Hari ini adalah hari pertama mereka akan memulai kegiatan di balai bambu. Tidak ada acara besar. Tidak ada peresmian. Hanya belajar bersama. Tapi bagi Ilham, ini adalah awal dari segalanya.

Ia mandi, berpakaian rapi, lalu sarapan dengan nasi dan sayur bening buatan ibunya. Bu Laila duduk di sampingnya, tidak banyak bicara. Tapi matanya mengamati putranya dengan penuh kasih.

“Hati-hati di jalan, Nak,” kata Bu Laila ketika Ilham hendak berangkat.

“Iya, Bu. Doakan kami.”

“Ibu selalu mendoakan.”

Ilham berjalan menuju balai bambu. Di perjalanan, ia bertemu dengan Nisa, Angga, Rendi, dan Aulia. Mereka berlima berjalan bersama, seperti pasukan kecil yang siap berperang, bukan melawan musuh dengan senjata, tetapi melawan ketidaktahuan dengan ilmu.

Ketika mereka tiba di balai bambu, balai itu sudah bersih. Meja kayu sudah tertata. Kursi-kursi plastik sudah berjajar rapi. Komputer tua sudah menyala, Aulia sudah datang lebih awal untuk mempersiapkan semuanya.

“Kita mulai,” kata Ilham.

Mereka duduk melingkar. Tidak banyak yang datang pada hari pertama, hanya beberapa anak kecil yang penasaran dan dua orang ibu-ibu yang diajak oleh Nisa. Tapi mereka tidak berkecil hati. Mereka mulai mengajar. Perlahan. Sabar. Tanpa paksaan.

“Ini adalah awal,” kata Ilham di dalam hatinya. “Awal dari perjalanan panjang. Awal dari perubahan. Awal dari mimpi yang mulai diwujudkan.”

Di luar balai bambu, matahari pagi bersinar cerah. Kabut mulai terurai. Burung-burung berkicau. Dan di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri tenang, menyaksikan, seolah-olah berkata: Perjalanan sesungguhnya telah dimulai.


BAB 7

Bukti yang Tak Terbantahkan

Tiga minggu pertama setelah pembukaan balai bambu sebagai pusat kegiatan digital desa terasa seperti berjalan di atas hamparan pasir hisap, setiap langkah terasa berat, setiap gerakan membutuhkan tenaga ekstra, dan setiap hari selalu ada saja yang menghambat. Bukan tembok batu yang terlihat, tetapi dinding-dinding tak kasat mata yang terbuat dari keraguan, ketakutan, dan kebiasaan lama yang sudah mengakar sejak puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun.

Setiap pagi, sebelum matahari terlalu tinggi, Ilham dan kawan-kawan sudah berkumpul di balai bambu. Mereka membersihkan ruangan, menyalakan komputer tua yang kadang suka mati mendadak, menyiapkan kursi-kursi plastik pinjaman, dan menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu siapa pun yang mau datang. Tapi yang datang tidak pernah lebih dari lima orang, itu pun kebanyakan anak-anak kecil yang penasaran dengan komputer, atau ibu-ibu yang diajak Nisa dengan bujuk rayu yang tidak mudah.

“Hari ini hanya tiga orang,” kata Nisa suatu pagi dengan nada kecewa. Ia baru saja selesai berkeliling desa untuk mengajak warga, tetapi hanya dua orang yang bersedia datang. Seorang lagi adalah Tono, anak laki-laki sembilan tahun yang sudah menjadi langganan tetap.

“Tiga orang sudah cukup,” kata Ilham sambil mengatur posisi kursi. Wajahnya tidak menunjukkan kekecewaan, meskipun di dalam hatinya ia juga merasa sedih. Tapi sebagai pemimpin, ia harus tetap tegar. “Yang penting kita mulai. Tidak perlu banyak-banyak. Satu orang yang serius belajar lebih berharga daripada sepuluh orang yang hanya ingin melihat-lihat.”

“Ilham benar,” sambung Rendi sambil membuka buku catatannya. “Kita tidak sedang lomba. Kita sedang membangun fondasi. Fondasi tidak perlu besar. Yang perlu kokoh.”

Angga yang sedang memeriksa kabel-kabel komputer, berkata tanpa menoleh, “Daripada mengeluh, lebih baik bekerja. Aulia, komputer yang satunya nyala tidak?”

“Nyala,” jawab Aulia dari sudut ruangan. “Tapi agak lemot. Mungkin perlu dibersihkan filternya.”

“Nanti aku bantu.”

Anak-anak yang datang, Tono, Wati, dan seorang anak laki-laki lain bernama Andre, duduk di kursi depan dengan mata berbinar. Mereka tidak peduli dengan jumlah peserta yang sedikit. Mereka hanya ingin belajar. Mereka hanya ingin menyentuh komputer, benda ajaib yang selama ini hanya mereka lihat di film atau dengar dari cerita orang.

“Hari ini kita belajar mengetik,” kata Aulia di depan papan tulis putih. “Mengetik adalah dasar dari semuanya. Kalau tidak bisa mengetik, kita tidak bisa menulis di komputer. Kalau tidak bisa menulis, kita tidak bisa berkomunikasi lewat internet.”

“Kak Aulia, aku sudah bisa mengetik,” kata Tono dengan bangga. “Kemarin aku belajar sendiri. Aku bisa ngetik nama aku.”

“Bagus, Ton. Coba tunjukkan.”

Tono maju ke depan, duduk di depan komputer, lalu dengan jari-jari mungilnya yang masih kaku, ia mengetik: T-O-N-O. Hurufnya besar semua, dan posisinya agak berantakan, tetapi jelas terbaca.

“Wah, bagus!” seru Aulia tulus. “Kamu cepat belajar.”

Tono tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang ompong karena baru saja tanggal dua buah.

Wati yang lebih pemalu, hanya tersenyum kecil. Andre yang hiperaktif, sudah tidak sabar ingin mencoba. “Kak, aku juga mau! Aku juga mau!”

“Semua akan mendapat giliran,” kata Aulia sabar. “Kita bergantian, ya.”


Sementara Aulia mengajar anak-anak mengetik, di sudut lain ruangan, Angga sedang berjuang dengan mouse. Ia sudah berlatih selama seminggu di Awan Biru, tetapi tangannya masih kaku seperti kayu. Kursor di layar bergerak tidak menentu, kadang ke kiri, kadang ke kanan, kadang melompat-lompat seperti katak kesurupan.

“Angga, coba pelan-pelan,” kata Rendi yang duduk di sampingnya sambil menahan tawa.

“Ini sudah pelan,” jawab Angga kesal. “Tapi kok kursor nya bandel. Mungkin ini mousenya yang rusak.”

“Mouse nya tidak rusak. Jari kamu yang rusak.”

“Jari saya sehat. Ini jari petani. Terlatih. Kuat.”

“Kuat tapi tidak luwes. Coba rileks. Anggap saja mouse itu... perempuan.”

Angga menoleh dengan tatapan aneh. “Maksudmu?”

“Maksudku, jangan digenggam keras-keras. Pegang dengan lembut. Seperti memegang tangan perempuan.”

“Aku belum pernah memegang tangan perempuan.”

“Ya sudah, anggap saja memegang... gelas. Gelas berisi air panas. Tidak boleh terlalu keras, nanti pecah. Tidak boleh terlalu longgar, nanti jatuh.”

Angga mencoba lagi. Kali ini, ia memegang mouse dengan lebih lembut. Kursor bergerak lebih stabil. Ia berhasil mengklik ikon browser. Matanya membesar.

“Aku bisa!” teriaknya.

“Ya, kamu bisa,” kata Rendi sambil tersenyum. “Sekarang coba buka folder.”

“Folder yang mana?”

“Folder latihan. Yang di desktop.”

“Desktop itu meja?”

“Bukan. Itu layar komputer. Ikon-ikon kecil di layar itu namanya desktop.”

Angga menggelengkan kepala. “Kenapa orang-orang membuat istilah-istilah aneh? Meja ya meja. Layar ya layar. Kenapa disebut desktop?”

“Itu bahasa Inggris, Ga. Mau tidak mau kita harus belajar.”

“Bahasa Inggris saja susah, apalagi komputer.”

Tapi Angga tidak menyerah. Ia terus berlatih. Sekali lagi. Dua kali lagi. Tiga kali lagi. Sampai akhirnya ia bisa membuka folder latihan tanpa bantuan.

“Aku bisa,” katanya lagi, kali ini dengan nada lebih tenang. “Aku benar-benar bisa.”

Rendi menepuk pundaknya. “Bagus, Ga. Besok kita belajar excel.”

“Excel? Apa itu?”

“Nanti kamu tahu. Santai.”


Sementara Ilham dan kawan-kawan sibuk mengajar di balai bambu, Pak Kirno tidak tinggal diam. Ia berkeliling desa dari rumah ke rumah, dari warung ke warung, dari ladang ke ladang, menyebarkan keraguan dengan cara yang halus tetapi efektif.

Di rumah Bu Lastri, ia berkata, “Bu Lastri, Ibu hati-hati dengan ajakan anak-anak muda itu. Mereka mau mengubah desa kita menjadi tempat yang asing. Budaya kita akan luntur.”

Bu Lastri yang sedang menenun, hanya diam. Ia tidak berani membantah Pak Kirno secara langsung, tetapi di dalam hatinya ia bertanya-tanya: Apakah benar budaya akan luntur? Atau Pak Kirno hanya takut?

Di warung Mbah Naryo, Pak Kirno berkata kepada para bapak-bapak yang sedang ngopi, “Kita ini orang desa. Hidup sederhana. Tidak perlu hal-hal aneh seperti komputer dan internet. Cukup bekerja di ladang, beribadah, dan menjaga keluarga. Itu sudah lebih dari cukup.”

Pak Santo yang mendengar itu, mengangguk-angguk. Pak Sugi diam, tetapi matanya menyipit. Mbah Naryo yang menyeduh kopi di belakang meja, menyelipkan komentar pelan.

“Pak Kirno, Bapak tidak salah. Tapi Bapak juga tidak sepenuhnya benar. Hidup sederhana itu baik, tetapi tidak ada salahnya belajar hal baru. Asal tidak meninggalkan yang lama.”

“Mbah Naryo selalu membela anak-anak muda itu,” kata Pak Kirno dengan nada kesal.

“Saya tidak membela siapa pun. Saya hanya bicara fakta.”

Pak Kirno mendengus, lalu pergi meninggalkan warung dengan langkah gusar. Di dalam hatinya, ia semakin bertekad untuk menggagalkan rencana Ilham. Bukan karena ia jahat, tetapi karena ia takut. Takut pada perubahan. Takut pada hal-hal yang tidak ia pahami. Takut pada dunia yang bergerak terlalu cepat tanpa ia ikut di dalamnya.


Suatu sore, ketika Ilham sedang sibuk mengajar Rendi tentang cara membuat akun media sosial, Nisa duduk di teras balai bambu sendirian. Matanya menatap kosong ke arah Gunung Merbabu yang mulai diselimuti kabut. Pikirannya tidak tenang. Bukan karena masalah desa, tetapi karena sesuatu yang lain.

Dimas, pemuda desa yang pernah menyatakan ketertarikannya kepada Nisa, datang lagi. Kali ini ia membawa sekarung kopi. “Nis, ini hasil panen ayahku. Titip ya, untuk dijual lewat internet.”

Nisa terkejut. “Kamu mau menjual lewat internet? Bukannya dulu kamu menentang?”

“Dulu. Sekarang aku lihat mungkin ada untungnya. Tapi jangan bilang Pak Kirno, ya. Nanti aku dimusuhi.”

Nisa tersenyum tipis. “Aku tidak akan bilang. Tapi kamu harus belajar sendiri. Aku tidak akan selalu membantu.”

“Aku mau belajar. Asal kamu yang mengajar.”

Nisa menghela napas. “Dimas, jangan main-main. Kalau serius belajar, silakan datang ke balai bambu. Aulia yang akan mengajar. Aku sibuk dengan yang lain.”

“Tapi aku ingin kamu yang mengajar.”

“Tidak bisa. Aku bukan guru.”

Dimas tersenyum manis, senyum yang dulu mungkin bisa membuat Nisa luluh, tetapi sekarang tidak lagi. “Karena Ilham, ya? Karena kamu sibuk dengan Ilham?”

Nisa tidak menjawab. Ia hanya berdiri, mengambil karung kopi itu, lalu membawanya ke dalam balai bambu. “Terima kasih kopinya. Nanti akan kami proses. Kalau laku, kami kabari.”

Dimas berdiri di teras, memandangi Nisa yang berjalan menjauh. Ia menggelengkan kepala, lalu pergi dengan langkah gusar. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya: Apa yang dimiliki Ilham sehingga Nisa lebih memilihnya?

Dari dalam balai bambu, Ilham melihat kejadian itu dari balik jendela. Ia tidak mendengar percakapan mereka, tetapi ia bisa membaca situasi. Ia tahu Dimas suka pada Nisa. Ia tahu Nisa tidak menanggapi. Dan ia tahu, suatu saat nanti, ia harus mengambil sikap. Tapi tidak sekarang. Sekarang, yang penting adalah desa.


Hari ke-17 setelah pembukaan balai bambu, sebuah keajaiban kecil terjadi. Seorang pembeli dari Semarang, yang menemukan akun media sosial Suralaya secara tidak sengaja, mengirim pesan.

“Halo, saya tertarik dengan kopi dari desa Anda. Apakah tersedia untuk dikirim ke Semarang?”

Aulia yang pertama melihat pesan itu, berteriak sekencang-kencangnya. Teriakannya terdengar sampai ke warung Mbah Naryo yang berjarak hampir seratus meter.

“ADA! ADA YANG NANYA!”

Nisa yang sedang menyapu teras, terkejut hingga sapunya terlepas dari tangan. Rendi yang sedang menulis, tintanya belepotan karena tangannya gemetar. Angga yang sedang memperbaiki kursi yang goyang, hampir memukul jarinya sendiri dengan palu. Ilham yang sedang duduk di depan pintai, berdiri dan berlari ke arah komputer.

“Siapa? Berapa banyak?” tanya Ilham dengan napas terengah-engah.

“Satu orang. Minta dua kilogram,” kata Aulia, matanya masih menatap layar seolah-olah takut pesan itu akan lenyap jika ia berkedip.

“Dua kilogram? Itu kecil,” kata Angga sambil menghela napas kecewa.

“Tapi itu awal,” kata Ilham. “Setiap perjalanan besar dimulai dari langkah kecil.”

Ia segera membalas pesan itu. “Tersedia. Kopi kami dipetik langsung dari kebun di lereng Merbabu. Dijemur alami. Ditumbuk secara tradisional. Kami jamin kualitasnya.”

Beberapa menit kemudian, balasan datang. “Saya pesan dua kilogram. Tolong kirim ke alamat ini. Berapa ongkos kirimnya?”

Ilham menoleh ke arah Angga. “Berapa ongkos kirim ke Semarang?”

Angga menggaruk kepala yang tidak gatal. “Aku tidak tahu. Kita belum pernah kirim barang ke luar desa.”

“Cari tahu,” kata Ilham. “Sekarang.”

Angga berlari ke rumah Pak Raditya untuk meminjam ponsel dan mencari informasi ongkos kirim. Nisa dan Rendi sibuk mencari cara mengemas kopi. Aulia menghubungi ayahnya yang punya timbangan digital, satu-satunya timbangan digital di desa, untuk meminjamnya.

Mereka bekerja seperti semut yang terganggu sarangnya. Kacau, tetapi penuh semangat. Tidak ada yang mengeluh. Tidak ada yang protes. Mereka hanya bergerak, seperti mesin yang dinyalakan setelah sekian lama mati.


Proses pengemasan kopi tidak semulus yang dibayangkan. Mereka tidak punya plastik klip yang bagus, tidak punya sealer, tidak punya label, tidak punya apa-apa. Yang mereka punya hanyalah semangat dan kreativitas.

“Plastik klipnya pakai apa?” tanya Nisa panik.

“Beli di warung Mbah Naryo,” kata Rendi. “Tadi aku lihat ada stok.”

Nisa berlari ke warung Mbah Naryo. “Mbah, ada plastik klip?”

“Ada. Mau berapa?”

“Dua biji.”

“Dua biji? Untuk apa? Kopi kan dua kilogram.”

“Iya, Mbah. Dua biji cukup.”

Mbah Naryo menggelengkan kepala. “Anak muda zaman sekarang, belanja sedikit sekali. Ini, ambil sepuluh. Bayar nanti.”

“Terima kasih, Mbah.”

Kembali ke balai bambu, Nisa membagikan plastik klip kepada yang lain. Angga mengambil alih tugas memasukkan kopi ke dalam plastik. Tangannya yang biasa memegang cangkul dan mesin pertanian itu kini memegang sendok takir, menuangkan kopi bubuk ke dalam plastik dengan hati-hati.

“Jangan tumpah, Ga,” kata Rendi.

“Aku tahu,” jawab Angga kesal.

Tapi begitu kata-kata itu keluar, tangannya bergetar dan sedikit kopi tumpah ke meja. Rendi tertawa. Nisa menghela napas. Aulia hanya tersenyum kecil.

“Sudah, biar aku,” kata Aulia sambil mengambil alih tugas. Tangannya yang lebih terampil dengan cepat menuang kopi, menutup plastik, lalu menimbangnya dengan timbangan digital.

“Pas dua kilogram,” katanya.

“Bagus,” kata Ilham. “Sekarang labelnya.”

Rendi mengambil kertas bekas, memotongnya kecil-kecil, lalu menulis dengan pulpen:

“Kopi Suralaya. Lereng Merbabu. 100% Asli.”

Tulisannya rapi, indah, seperti sebuah karya seni.

“Bagus, Ren,” kata Nisa. “Kamu memang jago nulis.”

“Terima kasih. Aku latihan setiap hari.”

Mereka menempelkan label itu pada plastik dengan lakban bening, pinjaman dari Arga yang dulu diberikan sebelum rombongan KPAAB pergi. Lakban itu sudah sebulan disimpan, dan baru sekarang digunakan.

“Selesai,” kata Ilham sambil memandangi dua bungkus kopi yang sudah siap kirim. “Besok pagi kita antar ke kecamatan. Dari sana, kirim lewat jasa ekspedisi.”

“Aku yang antar,” kata Angga. “Aku kuat jalan.”

“Kita antar bersama,” kata Ilham. “Ini keberhasilan pertama kita. Harus dirayakan.”

“Dirayakan bagaimana?” tanya Rendi.

“Makan bersama. Nasi bungkus dari Bu Laila.”

Semua tersenyum. Keberhasilan kecil, tetapi terasa besar. Seperti tetesan air di tengah padang pasir. Seperti secercah cahaya di tengah kegelapan. Seperti bukti bahwa apa yang mereka lakukan tidak sia-sia.


Setelah kopi siap dikirim, Ilham dan Nisa duduk di bawah pohon beringin besar di halaman kantor desa. Pohon beringin itu sudah berusia ratusan tahun, konon ditanam oleh Ki Suralaya sendiri. Akar-akarnya yang besar menjulur ke tanah seperti ular-ular purba yang sedang tidur. Daun-daunnya yang rindang meneduhkan mereka dari terik matahari sore.

“Kita berhasil, Ham,” kata Nisa sambil tersenyum. Senyum yang tulus, yang tidak perlu dipaksakan, yang lahir dari dalam hati.

“Kita baru mulai,” kata Ilham. “Tapi setidaknya, kita sudah membuktikan bahwa ini mungkin.”

“Apa yang akan kau lakukan dengan uang hasil penjualan nanti?”

“Sebagian untuk modal. Sebagian untuk balai bambu. Sebagian untuk petani yang kopinya kita jual. Yang penting tidak ada yang dirugikan.”

Nisa mengangguk. “Kamu adil, Ham. Itu yang membuat aku...”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ilham menoleh. “Membuat kamu apa?”

Nisa menunduk, memandangi rumput di bawah kakinya. “Membuat aku... bangga. Menjadi bagian dari ini.”

Ilham tersenyum. “Aku juga bangga. Tidak hanya pada diri sendiri. Tapi pada kita semua. Pada tim ini. Pada desa ini.”

Mereka berdua terdiam. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma kopi dan tanah basah. Daun-daun beringin bergoyang-goyang, menciptakan suara desiran yang menenangkan.

“Nisa,” panggil Ilham tiba-tiba.

“Hm?”

“Suatu hari nanti, kalau desa ini sudah berubah, apa yang akan kau lakukan?”

Nisa mengangkat kepalanya. Matanya menatap langit yang mulai jingga. “Aku ingin membuka sekolah. Sekolah untuk anak-anak desa. Bukan sekolah biasa. Tapi sekolah yang mengajarkan mereka tentang desa. Tentang budaya. Tentang teknologi. Tentang bagaimana menjadi orang desa yang tidak malu dengan desanya.”

“Itu mimpi yang besar.”

“Tapi mimpi yang bisa dicapai. Asal ada yang mau membantu.”

Ilham mengulurkan tangannya. “Aku akan membantu. Janji.”

Nisa memandangi tangan Ilham, lalu tersenyum. Ia tidak menjabat tangan itu. Ia hanya memandanginya, lalu berkata pelan, “Janji.”

Mereka tidak perlu berjabat tangan. Cukup saling percaya. Cukup saling mengerti. Cukup saling mendukung.


Keberhasilan kecil menjual kopi ke Semarang ternyata tidak membuat Pak Kirno diam. Sebaliknya, ia semakin gencar menyebarkan hasutan. Ia merasa terancam. Jika anak-anak muda ini berhasil, maka pengaruhnya di desa akan berkurang. Dan Pak Kirno tidak bisa menerima itu.

Suatu malam, ia mengumpulkan para tetua di rumah Mbah Jaya. Tanpa undangan resmi, tanpa pemberitahuan, ia datang bersama Pak Sastro dan beberapa orang lain. Mbah Jaya yang sedang duduk di beranda, menatap mereka dengan mata tajam.

“Ada apa, Pak Kirno, datang malam-malam begini?” tanya Mbah Jaya.

“Kami ingin bicara tentang anak-anak muda itu, Mbah,” jawab Pak Kirno. “Mereka terlalu jauh melangkah. Mereka menjual kopi tanpa izin. Mereka menggunakan internet tanpa pengawasan. Mereka bisa membawa malapetaka ke desa ini.”

Mbah Jaya menghela napas. “Malapetaka apa yang mereka bawa, Pak Kirno? Sejauh ini, yang saya lihat hanya kopi yang terjual dengan harga lebih baik. Apa itu malapetaka?”

“Mbah, jangan salah paham. Ini baru awal. Nanti akan semakin parah. Anak-anak muda akan lupa adat. Perempuan-perempuan akan berpakaian tidak senonoh. Budaya kita akan luntur.”

“Apakah itu sudah terjadi?”

“Belum. Tapi akan terjadi.”

“Jadi pak kirno menghukum mereka sebelum mereka bersalah?”

Pak Kirno terdiam. Ia tidak suka jika argumennya dibantah, apalagi oleh Mbah Jaya yang dihormati.

“Mbah, saya hanya khawatir,” katanya akhirnya. “Saya tidak ingin desa ini hancur.”

“Desa ini tidak akan hancur, Pak Kirno. Desa ini hanya berubah. Dan perubahan adalah hal yang alami. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan gunung pun bisa berubah.”

Pak Kirno tidak menjawab. Ia hanya berdiri, pamit dengan hormat, lalu pergi. Langkahnya berat, seperti orang yang kalah perang.

Pak Sastro yang ikut datang, masih duduk di samping Mbah Jaya. “Mbah, apakah Mbah tidak khawatir?”

“Khawatir itu wajar, Sastro. Tapi jangan sampai kekhawatiran membuat kita buta. Lihatlah anak-anak muda itu. Mereka tidak merusak. Mereka membangun. Mereka hanya butuh dukungan, bukan rintangan.”

Pak Sastro mengangguk. “Apa yang harus saya lakukan, Mbah?”

“Dukung mereka. Diam-diam. Jangan terang-terangan. Nanti Pak Kirno marah. Tunjukkan bahwa para tetua tidak semuanya menolak.”

“Baik, Mbah.”


Di Desa Awan Biru, Joko sedang duduk di kamarnya, memandangi ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia sudah beberapa hari tidak menerima kabar dari Anita Rohan. Bukan karena Anita Rohan sengaja menghindar, tetapi karena sinyal di awan biru sedang buruk, musim hujan membuat jaringan telekomunikasi sering terputus.

Kangen, pikir Joko. Aku kangen Anita Rohan. Aku kangen senyumnya. Aku kangen cara dia menulis dengan tekun di buku catatannya. Aku kangen cara dia menegurku ketika aku melakukan kesalahan.

Ia mencoba menelepon. Tidak tersambung. Ia mencoba mengirim pesan. Tidak terkirim. Ia menghela napas frustrasi.

“Joko, kenapa melamun?” suara Hermansyah dari pintu.

“Tidak kenapa-kenapa.”

“Anita Rohan, ya? Sinyal di sini memang lagi jelek. Sabar. Nanti juga baik.”

“Aku sabar.”

“Muka kamu tidak sabar. Muka kamu kayak orang puasa tapi belum buka.”

Joko tersenyum tipis. “Dasar Hermansyah, kalau bicara selalu bercanda.”

“Bercanda itu obat. Kalau tidak bercanda, hidup ini terlalu berat.” Hermansyah duduk di samping Joko. “Serius, Jok. Kamu suka sama Anita Rohan, kan?”

Joko tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.

“Ya sudah, jangan dipendam. Nanti sakit. Bilang saja.”

“Belum waktunya.”

“Kapan waktunya? Kalau nunggu waktu yang tepat, tidak akan pernah ada. Kesempatan itu harus diciptakan, bukan ditunggu.”

Joko memandangi Hermansyah. “Kamu bijak, Man. Aku tidak menyangka.”

“Aku memang bijak. Hanya saja sering tertutupi oleh tingkahku yang lucu.”

Mereka berdua tertawa. Di kejauhan, Gunung Merbabu mulai gelap tertutup awan hujan. Tapi di hati Joko, ada secercah cahaya. Cahaya yang disebut harapan. Harapan untuk bersatu dengan Anita Rohan. Harapan untuk mengungkapkan perasaan. Harapan untuk masa depan yang tidak ia ketahui, tetapi ia yakini akan indah.


Di Desa Suralaya,

Rendi tidak pernah berhenti menulis. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, jika ada waktu luang, ia akan membuka buku catatannya dan menulis. Buku itu sudah hampir penuh, tetapi ia tidak mau mengganti dengan yang baru. Katanya, "Buku ini sudah seperti sahabat. Tidak bisa diganti."

Suatu sore, ketika yang lain sedang istirahat setelah seharian mengajar, Rendi duduk di pojok balai bambu, menulis dengan tekun. Angga mendekat.

“Ren, kamu nulis apa terus?”

“Cerita perjalanan kita.”

“Cerita apa? Kita belum berhasil.”

“Kita sudah berhasil. Berhasil memulai. Itu sudah layak dicatat.”

Angga menggelengkan kepala. “Kamu itu terlalu romantis. Hidup ini bukan novel.”

“Hidup ini novel. Setiap orang punya cerita. Hanya saja, tidak semua orang menuliskannya.”

“Ya sudah, tulis saja. Tapi jangan lupa makan.”

“Makan nanti. Cerita tidak bisa ditunda.”

Angga menghela napas, lalu pergi meninggalkan Rendi yang masih setia dengan buku catatannya. Di dalam hati, Angga bertanya-tanya: Apakah Rendi akan menulis tentang aku? Tentang perjuanganku belajar mouse? Tentang kegagalanku yang dulu? Ia tidak tahu. Tapi ia berharap, jika Rendi menulis, ia akan ditulis sebagai pahlawan, bukan sebagai bahan tertawaan.


Tidak hanya kopi. Anyaman Bu Lastri juga mulai dilirik. Nisa yang rajin memotret dan mengunggah foto anyaman ke media sosial, mendapat pesanan dari seorang pembeli di Yogyakarta.

“Bu Lastri, ada pesanan! Lima anyaman!” teriak Nisa ketika berlari ke rumah Bu Lastri.

Bu Lastri yang sedang menenun, terkejut. Tangannya berhenti. Matanya membesar. “Lima? Benar, Mbak?”

“Benar, Bu. Pembelinya dari Yogya. Katanya, anyaman Ibu bagus. Mau dipakai untuk dekorasi rumah.”

Bu Lastri hampir tidak percaya. Selama puluhan tahun ia menenun, anyamannya hanya dijual ke tetangga atau digantung di dinding rumah. Sekarang, untuk pertama kalinya, karyanya akan dikirim ke luar kota. Bahkan ke luar provinsi.

“Berapa harganya, Mbak?” tanya Bu Lastri dengan suara bergetar.

“Dua ratus ribu per buah, Bu. Jadi total satu juta.”

Bu Lastri hampir pingsan. Satu juta rupiah. Jumlah yang tidak pernah ia bayangkan akan ia terima dari hasil menenun.

“Mbak Nisa, ini tidak bohong?”

“Tidak bohong, Bu. Pembelinya sudah transfer. Uangnya sudah masuk.”

Bu Lastri menangis. Air mata haru mengalir di pipinya yang keriput. Ia memeluk Nisa erat-erat. “Terima kasih, Mbak. Terima kasih. Ibu tidak tahu harus membalas apa.”

“Tidak usah dibalas, Bu. Yang penting Ibu terus menenun. Karya Ibu sangat berharga.”

Berita tentang anyaman Bu Lastri yang laku terjual menyebar cepat. Ibu-ibu lain mulai berbondong-bondong datang ke balai bambu, ingin belajar memotret anyaman mereka. Tiba-tiba, balai bambu yang dulu sepi, menjadi ramai. Ibu-ibu datang dengan anyaman, dengan kerajinan tangan lainnya, dengan harapan bahwa karya mereka juga akan dihargai.

“Mbak Nisa, ajar saya motret,” kata Bu Darmi.

“Mbak, anyaman saya juga bagus. Tolong difoto,” kata Bu Tuti.

“Mbak, saya punya kerajinan dari bambu. Bisa dijual juga, kan?” kata Bu Lastri (yang lain).

Nisa hampir kewalahan. Tapi ia tersenyum. Ini adalah masalah yang menyenangkan. Ini adalah bukti bahwa apa yang mereka lakukan mulai membuahkan hasil.


Untuk merayakan keberhasilan kecil ini, Ilham mengadakan syukuran sederhana di balai bambu. Hanya dihadiri oleh tim kecilnya, Pak Raditya, Bu Laila, dan beberapa warga yang mendukung. Tidak ada hidangan mewah. Hanya nasi tumpeng kecil yang dibuat oleh Bu Laila, lauk sederhana, dan kopi Suralaya yang diseduh dengan teknik ala jojon, meskipun Jojon tidak hadir secara fisik, tetapi teknik menyeduhnya sudah diajarkan kepada Ilham.

“Terima kasih untuk semuanya,” kata Ilham sambil berdiri. Di tangannya ada secangkir kopi, menggantikan gelas untuk bersulang. “Ini baru awal. Masih banyak yang harus kita kerjakan. Tapi setidaknya, kita sudah membuktikan bahwa desa kita bisa berubah. Bahwa kopi kita bisa laku. Bahwa anyaman kita bisa dikenal.”

“Kita baru mulai,” sambung Nisa. “Tapi kita sudah melangkah. Dan itu yang terpenting.”

Pak Raditya yang duduk di kursi kehormatan, tersenyum bangga. “Saya tidak salah memilih kalian. Kalian adalah harapan desa ini. Jangan padamkan api yang sudah menyala.”

Bu Laila yang duduk di samping Ilham, menangis haru. Ia tidak menyangka putranya akan sejauh ini. Dulu, Ilham hanyalah anak pendiam yang suka membantu di kebun. Sekarang, ia telah menjadi pemimpin bagi teman-temannya. Pemimpin bagi desanya.

“Ibu bangga, Nak,” bisik Bu Laila.

Ilham memegang tangan ibunya. “Ini karena doa Ibu.”

Malam itu, di balai bambu yang dulu nyaris roboh, di bawah lampu minyak yang menyala redup, di tengah tawa dan canda yang kadang pecah, mereka bersyukur. Bukan karena mereka telah berhasil. Tapi karena mereka telah memulai. Dan memulai, bagi mereka yang tidak punya apa-apa, adalah setengah dari perjuangan.

Di luar, hujan mulai turun. Gemericik air di atap seng menciptakan irama yang menenangkan. Di kejauhan, Gunung Merbabu gelap tertutup awan. Tapi di dalam balai bambu, ada cahaya. Cahaya harapan. Cahaya perubahan. Cahaya yang tidak akan padam meskipun badai sekalipun.


BAB 8

Meluaskan Dampak

Matahari baru saja muncul dari balik Gunung Merapi ketika Ilham sudah bangun. Udara pagi masih dingin, embun masih menempel di setiap helai rumput dan setiap daun kopi, tetapi semangatnya sudah membara seperti api unggun di malam puncak pendakian. Ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Pikirannya penuh dengan rencana, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk minggu-minggu ke depan, untuk bulan-bulan ke depan, untuk masa depan desanya yang mulai terlihat lebih cerah dari sebelumnya.

Kemarin, setelah syukuran kecil di balai bambu, Ilham duduk bersama Pak Raditya hingga larut malam. Mereka berbincang tentang langkah selanjutnya. Tentang bagaimana meluaskan dampak dari keberhasilan kecil yang telah mereka raih. Tentang bagaimana melibatkan lebih banyak warga, tidak hanya Ilham dan kawan-kawannya, tetapi juga petani-petani lain, pengrajin-pengrajin lain, ibu-ibu rumah tangga yang selama ini hanya bisa menenun tanpa pernah berpikir bahwa karyanya bisa dijual hingga ke luar kota.

“Ilham,” kata Pak Raditya malam itu, “keberhasilan kalian menjual kopi dan anyaman adalah bukti bahwa konsep ini bekerja. Tapi jangan berhenti di situ. Jangan hanya menjadi penjual. Jadilah penggerak. Ajak warga lain. Latih mereka. Beri mereka kepercayaan bahwa mereka juga bisa.”

“Tapi bagaimana caranya, Pak? Banyak yang masih ragu. Pak Kirno masih terus menyebarkan keraguan.”

“Keraguan tidak akan hilang dengan kata-kata. Keraguan hanya akan hilang dengan bukti. Kalian sudah punya bukti kecil. Sekarang buat bukti yang lebih besar. Ajak Pak Santo. Ajak Pak Sugi. Ajak petani-petani yang kopinya bagus tetapi tidak punya akses pasar. Tunjukkan kepada mereka bahwa dengan teknologi, kopi mereka bisa dihargai.”

Ilham mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan coba.”

“Bukan coba. Lakukan.”

Pagi itu, Ilham berjalan menuju balai bambu dengan langkah mantap. Di belakangnya, Nisa, Angga, Rendi, dan Aulia menyusul satu per satu. Wajah-wajah mereka masih segar, mata mereka masih berbinar, meskipun hari masih sangat pagi. Mereka sudah terbiasa. Kebiasaan yang terbentuk dari disiplin dan keyakinan.

“Hari ini kita akan keliling desa,” kata Ilham ketika mereka berkumpul di depan balai bambu. “Kita akan menemui petani-petani yang belum bergabung. Kita akan tawarkan bantuan untuk memotret hasil kebun mereka, menulis deskripsi, dan memasarkan secara online. Gratis. Tidak dipungut biaya.”

“Apakah mereka mau?” tanya Rendi ragu.

“Kita tidak tahu sebelum mencoba,” jawab Ilham. “Yang penting kita tawarkan. Biar mereka yang memutuskan.”

“Aku siap,” kata Nisa tegas. “Aku sudah siapkan contoh foto anyaman Bu Lastri. Itu bisa jadi portofolio.”

“Aku siapkan materi penjelasan sederhana,” kata Rendi sambil menepuk buku catatannya. “Tidak usah pake istilah-istilah rumit. Bahasa sehari-hari saja.”

“Aku siapkan komputer untuk demo,” kata Aulia. “Kalau perlu, kita bawa laptop pinjaman ke rumah-rumah.”

“Aku siapkan fisik,” kata Angga singkat. “Kalau ada yang perlu diangkut, aku yang angkat.”

Mereka tertawa. Tawa pagi yang menyegarkan, seperti udara dingin yang masuk ke paru-paru.


Sebelum berkeliling desa, Bu Laila meminta mereka semua sarapan di rumahnya. “Kalian tidak boleh bekerja dengan perut kosong,” kata Bu Laila ketika Nisa mampir ke rumah Ilham untuk menjemput. “Nanti sakit. Ibu sudah masak banyak.”

Mereka berlima duduk di ruang tamu rumah Ilham yang sederhana. Lantai tanah yang dipadatkan, dinding anyaman bambu, meja kayu kecil dengan piring-piring pecah belah yang sudah retak di pinggirannya. Namun hidangan yang disajikan Bu Laila tidak sederhana: nasi putih hangat, sayur bening dari daun singkong dan jagung, tempe goreng yang renyah di luar dan lembut di dalam, tahu isi yang masih mengepulkan uap, sambal terasi yang pedasnya bukan main, dan kopi Suralaya yang diseduh dengan teknik ala Jojon.

“Ibu, ini terlalu banyak,” kata Ilham sambil memandangi meja yang hampir tidak muat menampung semua hidangan.

“Tidak banyak. Kalian sedang berjuang untuk desa. Ibu hanya bisa membantu dengan makanan.”

Nisa tersenyum. “Terima kasih, Bu. Ibu baik sekali.”

“Jangan berterima kasih. Makan yang banyak. Jangan sisakan.”

Mereka makan dengan lahap. Angga mengambil porsi paling besar, dua piring nasi, lima potong tempe, tiga tahu isi, dan sambal yang hampir setengah piring. Rendi mengambil porsi sedang, tetapi ia makan dengan cepat, seolah-olah ada deadline yang harus ia kejar. Aulia makan dengan perlahan, menikmati setiap gigitan. Nisa dan Ilham duduk bersebelahan, sesekali saling berpandangan, lalu cepat-cepat berpaling ketika mata mereka bertemu.

Bu Laila yang mengamati dari dapur, tersenyum kecil. Ia tahu. Seorang ibu selalu tahu. Ada sesuatu antara anaknya dan Nisa. Sesuatu yang belum diucapkan, tetapi sudah terasa. Biarlah, pikir Bu Laila. Mereka masih muda. Masih banyak waktu. Yang penting mereka saling menjaga.

“Nisa,” panggil Bu Laila dari dapur.

“Ya, Bu?”

“Jaga Ilham, ya. Dia kadang ceroboh. Lupa makan. Lupa istirahat. Kalau sudah sibuk, dunia luar tidak diingat.”

Nisa tersenyum. “Saya akan jaga, Bu. Janji.”

Ilham yang mendengar itu, menunduk. Wajahnya memerah. Bukan karena sambal, tetapi karena sesuatu yang lain.


Setelah sarapan, mereka berkeliling desa. Rumah pertama yang mereka datangi adalah rumah Pak Santo, petani kopi yang dulu paling vokal menolak di warung Mbah Naryo, tetapi belakangan mulai menunjukkan ketertarikan.

Pak Santo sedang duduk di teras rumahnya, ditemani segelas kopi hitam pekat tanpa gula. Wajahnya kecokelatan oleh terik matahari, kumisnya tebal dan sedikit memutih di ujung. Matanya menyipit ketika melihat rombongan Ilham datang.

“Selamat pagi, Pak Santo,” sapa Ilham sambil membungkuk hormat.

“Pagi,” jawab Pak Santo singkat. “Ada apa? Banyak-banyak begini.”

“Kami ingin menawarkan bantuan, Pak. Bapak punya kebun kopi, kan?”

“Punya. Sejak zaman kakek saya. Tapi kenapa?”

“Kami bisa membantu Bapak menjual kopi secara online. Seperti yang sudah kami lakukan dengan kopi dari kebun Pak Hasan dan beberapa petani lain.”

Pak Santo mengernyit. “Online? Itu yang pakai HP itu?”

“Iya, Pak. Dengan HP, Bapak bisa memotret hasil kebun, lalu kami unggah ke internet. Pembeli dari luar kota bisa melihat, lalu memesan.”

“Berapa harganya?”

“Tergantung kualitas, Pak. Tapi rata-rata seratus dua puluh ribu per kilogram. Setelah dikurangi ongkos kirim dan biaya operasional, Bapak bisa mendapat sekitar sembilan puluh hingga seratus ribu.”

Mata Pak Santoso membesar. “Seratus ribu? Biasanya tengkulak ambil tiga puluh ribu.”

“Iya, Pak. Karena dijual langsung ke pembeli, tanpa perantara.”

Pak Santo terdiam. Matanya menerawang ke kejauhan, mungkin mengingat-ingat bertahun-tahun ia menjual kopi dengan harga murah, pasrah, tidak pernah berani bermimpi bahwa harganya bisa lebih baik.

“Kapan bisa mulai?” tanyanya akhirnya.

“Kapan saja, Pak. Asal Bapak siap.”

“Saya siap. Tapi saya tidak punya HP yang bagus. HP saya hanya untuk telepon.”

“Tidak masalah, Pak. Nanti kami yang foto. Bapak hanya perlu mengizinkan.”

Pak Santo mengangguk. “Baik. Saya coba.”

Ilham tersenyum. Satu lagi petani bergabung. Satu lagi bukti bahwa keraguan bisa diubah menjadi kepercayaan.


Di perjalanan menuju rumah Pak Sugi, Angga mengeluarkan HP-nya, HP jadul dengan layar kecil dan tombol-tombol keras yang bunyinya klik-klik-klik setiap kali ditekan. Ia mencoba membuka kamera, tetapi HP-nya terlalu lambat.

“Angga, HP kamu itu masih bisa dipakai?” tanya Rendi sambil tersenyum.

“Bisa. Masih nyala.”

“Nyala doang. Tapi kamera nya? Hasil fotonya kayak lukisan abstrak.”

“Yang penting ada gambar. Orang lihat juga tahu itu kopi.”

“Tahu kopi, tapi tidak tahu kualitasnya. Hasil foto buram, orang mengira kopinya juga buram.”

Angga menghela napas. “Kapan kita bisa beli HP baru?”

“Nanti kalau kopi laku,” kata Ilham. “Kita sisihkan sebagian hasil penjualan untuk membeli peralatan. Termasuk HP untuk dokumentasi.”

“Janji?”

“Janji.”

Angga memasukkan HP-nya ke saku, lalu berjalan lebih cepat. Di dalam hatinya, ia sudah membayangkan HP baru dengan kamera jernih, layar sentuh, dan baterai tahan lama. Suatu hari nanti, pikirnya. Suatu hari.


Sore harinya, ketika Ilham dan kawan-kawan baru saja selesai mengunjungi rumah Pak Sugi, sebuah kendaraan roda dua berhenti di depan balai bambu. Dari kendaraan itu turun dua orang: Joko dan Herman.

Ilham terkejut. “Mas Joko? Mas Herman? Kalian datang?”

Joko tersenyum. “Kami dengar kabar baik dari Suralaya. Kopi laku. Anyaman laku. Kami ingin lihat sendiri.”

“Tapi kalian tidak bilang mau datang!”

“Kejutan,” kata Herman sambil melepas helm. “Kami tidak ingin kalian sibuk menyiapkan sambutan. Kami hanya ingin melihat perkembangan.”

Nisa yang mendengar suara dari kejauhan, berlari mendekat. “Mas Joko! Mas Herman! Wah, senangnya!”

Mereka berpelukan, bukan pelukan yang erat, tetapi pelukan persahabatan yang hangat. Aulia, Angga, dan Rendi menyusul. Wajah-wajah mereka berseri-seri.

“Mas Joko, Mas Herman, masuk, masuk!” kata Ilham sambil mempersilakan. “Kami baru saja selesai keliling desa. Banyak petani yang mulai tertarik.”

“Bagus,” kata Joko. “Itu yang kami harapkan.”

Mereka masuk ke balai bambu. Joko dan Herman mengamati sekeliling. Balai bambu itu masih sederhana, bahkan terlihat kumuh dibandingkan dengan ruang RKDD di Awan Biru. Namun ada sesuatu yang berbeda. Ada kehidupan. Ada semangat. Ada denyut yang tidak pernah ada sebelumnya.

“Kalian sudah melakukan banyak hal dalam waktu singkat,” kata Herman sambil duduk di kursi plastik. “Joko bercerita tentang kopi dan anyaman. Itu luar biasa.”

“Masih jauh dari yang kami targetkan,” kata Ilham merendah. “Tapi setidaknya kami sudah memulai.”

“Memulai adalah bagian tersulit. Dan kalian sudah melewatinya.”


Malam itu, setelah magrib, mereka mengadakan diskusi besar di balai bambu. Hadir tidak hanya Ilham dan kawan-kawan, tetapi juga Joko, Herman, Pak Raditya, Pak Santo, Pak Sugi, Bu Lastri, dan beberapa warga lain yang mulai tertarik. Pak Kirno tidak hadir, tentu saja. Mbah Jaya juga tidak hadir, tetapi pesannya disampaikan melalui Pak Sastro: “Jaga adat. Jangan lupa budaya. Tapi teruslah bergerak.”

“Kita harus meluaskan dampak,” kata Herman di depan papan tulis putih. “Jangan hanya berhenti pada kopi dan anyaman. Desa Suralaya punya banyak potensi lain: wisata alam, budaya, kerajinan bambu, makanan tradisional. Semua bisa dikembangkan dengan digital.”

“Tapi bagaimana caranya?” tanya Pak Santo. “Kami tidak paham teknologi.”

“Kami yang akan membantu,” kata Ilham. “Tugas kami adalah mengajarkan. Tugas Bapak adalah mau belajar.”

“Saya mau belajar. Tapi saya takut salah.”

“Tidak apa-apa salah. Yang penting tidak berhenti.”

Pak Sugi yang duduk di samping Pak Santo, ikut bersuara. “Saya punya lahan di belakang rumah. Bisa untuk agrowisata. Orang kota suka lihat kebun kopi. Mereka bisa datang, memetik sendiri, lalu menyeduh.”

“Ide bagus, Pak Sugi,” kata Herman. “Tapi perlu persiapan. Tempat parkir, toilet, tempat istirahat. Juga promosi. Itu semua butuh waktu dan tenaga.”

“Kami siap,” kata Pak Sugi mantap. “Asal ada yang membantu.”

Diskusi berlangsung hingga larut malam. Banyak ide yang muncul. Ada yang realistis, ada yang terlalu muluk. Tapi tidak ada yang ditolak. Semua dicatat oleh Rendi di buku catatannya yang tebal. Semua didokumentasikan oleh Nisa melalui foto-foto. Semua dianalisis oleh Ilham dan Herman.

“Satu hal yang penting,” kata Joko di akhir diskusi. “Jangan tergesa-gesa. Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Yang penting konsisten. Terus bergerak. Jangan berhenti.”

“Dan jangan lupa,” sambung Herman, “teknologi hanyalah alat. Yang terpenting adalah manusia. Yang terpenting adalah cerita. Setiap desa punya cerita unik. Tugas kalian adalah membantu warga menceritakannya kepada dunia.”


Setelah diskusi selesai, Joko dan Ilham duduk di beranda balai bambu. Di tangan mereka masing-masing ada secangkir kopi Suralaya yang masih mengepulkan uap. Di kejauhan, bintang-bintang berkelap-kelip seperti berlian yang tersebar di langit hitam. Gunung Merbabu tampak seperti raksasa yang sedang tidur, tenang namun penuh kekuatan.

“Joko,” panggil Ilham.

“Hm?”

“Aku ingin bertanya sesuatu. Agak pribadi.”

Joko menoleh. “Tentang apa?”

“Tentang Anita Rohan.”

Joko tersenyum tipis. “Apa yang ingin kau tahu?”

“Kalian berdua... ada apa? Aku perhatikan, setiap kali Anita Rohan di dekatmu, kau berbeda. Lebih tenang. Lebih... tersenyum.”

Joko terdiam sejenak. Ia menyesap kopinya, lalu berkata pelan, “Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku suka padanya. Tapi aku tidak tahu apakah dia merasakan hal yang sama.”

“Kenapa tidak kau tanyakan langsung?”

“Takut. Takut jika dia tidak merasakan hal yang sama, persahabatan kami akan rusak.”

Ilham mengangguk. “Aku mengerti perasaanmu. Aku juga seperti itu dengan Nisa.”

“Kau juga?” Joko terkejut.

“Iya. Sudah lama. Tapi belum berani mengungkapkan.”

Mereka berdua terdiam. Dua lelaki dengan perasaan yang sama. Dua hati yang sedang bergulat antara keberanian dan ketakutan.

“Mungkin kita harus berani,” kata Joko akhirnya. “Kata Hermansyah, kesempatan harus diciptakan, bukan ditunggu.”

“Kapan kau akan bilang?”

“Entah. Mungkin besok. Mungkin lusa. Mungkin tidak pernah.”

Ilham tersenyum. “Jangan tidak pernah. Nanti kau menyesal.”

Joko memandangi bintang-bintang. “Kau benar. Aku tidak ingin menyesal.”


Keesokan paginya, kejutan lain datang. Sebuah truk tua berhenti di depan balai desa. Dari truk itu turun Jojon, koki lapangan KPAAB yang terkenal dengan masakannya yang lezat dan ledekannya yang pedas. Di tangannya ada karung besar berisi berbagai macam bumbu dapur.

“Jojon? Kau juga datang?” seru Ilham tidak percaya.

“Iya. Herman yang mengajak. Katanya mau bikin acara masak-masak di sini. Aku disuruh jadi koki.”

“Acara masak-masak? Acara apa?”

“Acara perkenalan produk kuliner Suralaya. Kata Herman, desa kalian punya potensi kuliner yang belum tergali. Aku datang untuk membantu menggali.”

Ilham terkejut. “Kami belum siap.”

“Tidak perlu siap. Yang perlu adalah kemauan. Dan bahan-bahan. Saya sudah bawa bumbu. Tinggal cari bahan segar di sini.”

Nisa yang mendengar dari kejauhan, berlari mendekat. “Jojon! Wah, senangnya! Aku suka masakanmu!”

“Mbak Nisa, jangan hanya suka. Bantu saya. Cari ibu-ibu yang mau belajar masak. Aku akan ajari mereka cara membuat makanan khas Suralaya yang bisa dijual online.”

“Ibu-ibu pasti antusias. Mereka suka masak.”

“Bagus. Cepat cari. Waktu tidak banyak.”


Dengan bantuan Nisa, Jojon mengumpulkan delapan orang ibu-ibu desa untuk mengikuti lomba masak kecil-kecilan. Bukan lomba yang serius, tidak ada juri profesional, tidak ada hadiah besar. Hanya sekadar ajang unjuk kebolehan dan belajar bersama.

“Hari ini kita masak sayur asem,” kata Jojon di depan para ibu. “Sayur asem adalah makanan tradisional yang hampir semua orang suka. Tapi bagaimana cara membuatnya terlihat menarik di foto? Bagaimana cara mengemasnya untuk dijual online? Itu yang akan kita pelajari.”

Para ibu-ibu yang tadinya canggung, mulai antusias. Mereka memotong sayuran, merebus air, mencampur bumbu, dengan semangat yang membara. Bu Laila paling bersemangat, ia merasa ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa ibu-ibu desa juga bisa berkarya.

Jojon berkeliling dari satu ibu ke ibu lain, memberi tips, bercanda, dan kadang mengkritik dengan cara yang lucu.

“Bu, ini sayurnya terlalu besar potongannya. Nanti susah dimakan. Orang kota itu suka yang praktis.”

“Ibu, ini rasanya kurang asin. Tambah garam sedikit. Jangan banyak-banyak. Nanti malah keasinan.”

“Bu, ini bagus. Warna kuahnya bening. Aroma sedapnya tercium. Ini layak jual.”

Setelah semua selesai, mereka menyajikan sayur asem di atas meja panjang. Nisa memotret dari berbagai sudut. Rendi menulis deskripsi yang menggoda. Aulia mengunggah ke media sosial.

Dalam waktu kurang dari satu jam, sebuah pesanan masuk. “Sayur asemnya kelihatan enak. Apakah bisa dikirim ke Semarang?”

Mata para ibu membulat. “Ada yang pesan? Benaran?” tanya Bu Darmi.

“Benar, Bu,” kata Aulia sambil menunjuk layar. “Satu porsi. Untuk makan siang.”

“Satu porsi? Itu kecil,” kata Bu Tuti.

“Tapi itu awal,” kata Ilham. “Nanti akan banyak.”

Para ibu tertawa. Tawa bahagia. Tawa yang lahir dari perasaan bahwa apa yang mereka lakukan dihargai. Bahwa karya mereka, sekecil apa pun, memiliki nilai.


Sore itu, ketika yang lain sibuk dengan persiapan acara masak-masak, Joko dan Anita Rohan duduk berdua di bawah pohon beringin besar di halaman balai desa. Aulia baru saja tiba dari Awan Biru, ia ikut dalam rombongan kedua yang datang untuk membantu.

“Kok kau ikut?” tanya Joko.

“Herman yang minta. Katanya butuh tenaga administrasi. Aku kan sekretaris.”

“Oh.”

Mereka berdua terdiam. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma kopi dan tanah basah. Daun-daun beringin bergoyang-goyang, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak di tanah.

“Anita,” panggil Joko tiba-tiba.

“Hm?”

“Ada yang ingin aku sampaikan. Sudah lama. Tapi tidak pernah berani.”

Anita menoleh. Matanya menatap Joko dengan lembut. “Apa itu?”

Joko menarik napas panjang. Dadanya berdebar seperti genderang perang. Tangannya dingin, bukan karena suhu, tetapi karena gugup.

“Aku... aku suka sama kamu, Anita Rohan. Bukan sebagai teman. Bukan sebagai rekan di KPAAB. Tapi lebih dari itu. Aku suka sejak lama. Mungkin sejak pendakian ke Merbabu dulu. Waktu kita duduk di sekitar api unggun dan kau menulis di buku catatanmu. Wajahmu serius, matamu fokus, dan aku berpikir, 'Perempuan ini beda.'”

Anita Rohan terdiam. Wajahnya tidak berubah, masih tenang, masih rapi, masih seperti biasanya. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang bergetar. Sesuatu yang selama ini ia pendam, kini mulai muncul ke permukaan.

“Joko,” katanya pelan.

“Iya.”

“Aku juga suka sama kamu. Sejak lama. Tapi aku tidak pernah berani bilang karena takut persahabatan kita rusak.”

Joko menghela napas lega. Dadanya yang sesak kini terasa lega. Seperti beban yang diangkat dari pundaknya.

“Jadi... kita?”

“Kita,” jawab Anita sambil tersenyum. Senyum yang tulus, yang jarang ia tunjukkan. Senyum yang hanya untuk orang-orang tertentu.

Mereka berdua terdiam, menikmati kebersamaan di bawah pohon beringin. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Hanya senyum. Tapi bagi mereka, itu sudah cukup.

Dari kejauhan, Hermansyah yang melihat mereka, berteriak, “JOKO! ANITA! AKU LIHAT! AKU KASIH TAHU SEMUA!”

“HERMANSYAH, DIAM!” teriak Joko balik.

Tawa pecah di halaman kantor desa. Tawa yang menghangatkan sore yang dingin. Tawa yang mengusir rasa gugup yang tersisa.


Kunjungan Joko, Herman, dan rombongan dari Awan Biru tidak hanya membawa semangat, tetapi juga membawa tawaran kerjasama konkret.

“Kami ingin membuka jalur pemasaran bersama,” kata Herman dalam pertemuan di kantor desa. “Produk Suralaya akan kami promosikan melalui jaringan Awan Biru. Sebaliknya, produk Awan Biru juga bisa dijual di Suralaya. Saling menguntungkan.”

“Apakah warga setuju?” tanya Pak Raditya.

“Kami sudah bicara dengan warga. Sebagian besar setuju. Yang belum setuju, kami yakinkan pelan-pelan.”

“Bagaimana dengan ongkos kirim?” tanya Yulia, bendahara KPAAB yang ikut datang. “Itu kendala utama.”

“Kita bisa cari jasa ekspedisi yang bersedia menjangkau daerah terpencil. Atau kita bentuk sistem pengiriman kolektif. Barang dikumpulkan di satu titik, lalu dikirim bersama. Lebih hemat.”

Ilham yang mendengar itu, mengangguk. “Ide bagus. Kami setuju.”

“Ada satu hal lagi,” kata Herman. “Kami ingin mengadakan pelatihan lanjutan di Suralaya. Bukan kalian yang datang ke Awan Biru, tetapi kami yang datang ke sini. Mengajar lebih banyak warga. Tidak hanya Ilham dan kawan-kawan, tetapi juga petani, pengrajin, ibu-ibu rumah tangga.”

“Kapan?” tanya Nisa.

“Dua minggu lagi. Kami akan bawa peralatan. Komputer, proyektor, kamera. Kalian siapkan tempat dan peserta.”

“Kami siap,” kata Ilham mantap.

Pak Raditya yang mendengar itu, tersenyum bangga. “Ini baru namanya kerjasama antar desa. Saling menguatkan. Saling mengisi. Bukan saling menjatuhkan.”


Malam itu, setelah semua tamu beristirahat di rumah-rumah warga yang bersedia menerima, Ilham duduk di beranda rumahnya. Di sampingnya, ayahnya, Pak Hasan, duduk dengan diam. Sudah lama mereka tidak duduk bersama seperti ini. Biasanya, Pak Hasan lebih memilih tidur atau pergi ke kebun daripada duduk-duduk di beranda.

“Yah,” panggil Ilham pelan.

“Hm.”

“Aku ingin berterima kasih.”

Pak Hasan menoleh. “Terima kasih untuk apa?”

“Untuk izinnya dulu. Untuk kopi yang Bapak berikan sebelum aku berangkat. Untuk dukungan yang tidak Bapak ucapkan, tetapi Bapak tunjukkan.”

Pak Hasan terdiam. Matanya menerawang ke kejauhan, ke arah kebun kopi yang gelap.

“Ayah dulu juga punya mimpi, Ham,” katanya akhirnya. Suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh suara jangkrik. “Ayah ingin pergi ke kota, belajar, menjadi sesuatu. Tapi tidak ada yang mendukung. Kakekmu bilang, 'Kamu hanya anak petani. Jangan bermimpi terlalu tinggi.' Akhirnya ayah diam. Tidak pernah bermimpi lagi.”

Ilham terkejut. Ia tidak pernah mendengar cerita ini. Ayahnya tidak pernah bercerita tentang masa lalu.

“Sekarang ayah melihatmu,” lanjut Pak Hasan. “Kau bermimpi. Kau berusaha. Kau tidak menyerah meskipun banyak yang menolak. Itu membuat ayah... bangga.”

Air mata mengalir di pipi Pak Hasan yang keriput. Lelaki keras kepala yang jarang menunjukkan perasaan itu menangis. Ilham tidak pernah melihat ayahnya menangis sebelumnya.

“Yah...” Ilham memeluk ayahnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya memeluk, merasakan hangatnya tubuh ayahnya yang mulai renta.

“Teruslah berjuang, Ham,” bisik Pak Hasan. “Jangan berhenti. Jangan seperti ayah.”

“Aku tidak akan berhenti, Yah. Janji.”

Malam itu, di rumah sederhana di lereng Merbabu, seorang ayah dan anak laki-lakinya berpelukan. Air mata mengalir. Hati yang dingin mulai mencair. Dan di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri tenang, menyaksikan, seolah-olah berkata: Inilah cinta. Inilah pengorbanan. Inilah yang membuat manusia terus melangkah meskipun lelah.


BAB 9

Menuju Puncak Perubahan

Dua minggu setelah kunjungan pertama Joko dan Herman, Desa Suralaya kedatangan rombongan besar dari Desa Awan Biru. Bukan hanya Joko, Herman, dan beberapa anggota KPAAB seperti sebelumnya, tetapi hampir seluruh pengurus Komunitas Digital Desa Awan Biru ikut serta. Mereka datang dengan dua mobil, satu mobil bak terbuka yang penuh dengan peralatan komputer, proyektor, kamera, dan perlengkapan pelatihan lainnya, serta satu mobil penumpang yang berisi para pelatih.

Hari itu langit cerah, biru bersih tanpa awan, seolah alam ikut merestui acara besar yang akan digelar di Desa Suralaya. Matahari belum terlalu tinggi, sinarnya masih keemasan dan ramah di kulit. Burung-burung berkicau di pepohonan, menyambut kedatangan tamu-tamu istimewa dengan suara-suara riang yang tidak pernah lelah. Warga desa sudah berkumpul di halaman kantor desa sejak pagi, bukan karena mereka diwajibkan, tetapi karena rasa penasaran yang menggelitik. Mereka ingin melihat dengan mata kepala sendiri apa yang akan diajarkan oleh orang-orang dari desa tetangga yang katanya sudah maju itu.

Pak Raditya berdiri di depan kantor desa, mengenakan pakaian terbaiknya, kemeja batik lengan panjang yang biasa ia kenakan hanya untuk acara-acara resmi. Wajahnya berseri-seri, senyumnya tidak pernah lepas. Ini adalah hari bersejarah bagi desanya. Untuk pertama kalinya, Suralaya menjadi tuan rumah bagi kegiatan sebesar ini. Untuk pertama kalinya, desa yang selama ini terisolasi dan nyaris dilupakan mulai diperhatikan.

“Selamat datang di Desa Suralaya,” sapa Pak Raditya kepada Herman dan rombongan. Suaranya lantang, penuh wibawa, tetapi juga hangat. “Kami sangat berterima kasih atas kedatangan mas-mas dan mba-mba sekalian. Desa kami kecil, sederhana, dan mungkin masih jauh dari kata maju. Tapi kami punya semangat. Dan semangat itu tidak akan pernah padam.”

Herman maju selangkah, melepas kacamata tebalnya, menyapunya dengan ujung baju, kebiasaan yang sudah melekat, lalu menjabat tangan Pak Raditya dengan erat. “Terima kasih, Pak Raditya. Kami di sini bukan untuk menggurui. Kami di sini untuk berbagi. Karena kami dulu juga seperti Suralaya. Miskin. Terisolasi. Hampir dilupakan. Tapi kami memilih untuk tidak diam. Dan hari ini, kami ingin membantu Suralaya melakukan hal yang sama.”

Tepuk tangan pecah dari warga yang berkumpul. Pak Santo yang berdiri di barisan depan, ikut bertepuk tangan meskipun matanya masih menyipit tanda tidak sepenuhnya percaya. Bu Lastri yang membawa anyaman terbaiknya, tersenyum lebar. Bu Laila yang berdiri di samping Pak Hasan, mengusap air mata haru.

Ilham yang berdiri tidak jauh dari Pak Raditya, merasa dadanya sesak. Bukan sesak karena sakit, tetapi karena haru. Ini adalah momen yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Dulu, ketika ia masih kecil, ia sering bertanya-tanya apakah desanya akan selamanya seperti ini, sepi, terisolasi, tanpa perubahan. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia melihat secercah harapan yang nyata. Bukan sekadar mimpi di siang bolong, tetapi sesuatu yang sedang terjadi di depan matanya.

Nisa yang berdiri di samping Ilham, tanpa sadar menggenggam tangan Ilham. Tangannya dingin, tetapi genggamannya kuat. “Kita berhasil, Ham,” bisiknya. “Setidaknya, kita sudah sampai di sini.”

Ilham membalas genggaman Nisa. “Ini baru awal, Nis. Tapi setidaknya, kita tidak sendirian lagi.”


Pelatihan dibuka secara resmi oleh Pak Raditya dan Herman. Setelah sambutan singkat, mereka mempersilakan warga untuk memasuki area pelatihan yang telah disiapkan di halaman kantor desa. Sebuah tenda besar berwarna biru putih didirikan di halaman, pinjaman dari Awan Biru, dengan kursi-kursi plastik yang disusun rapi berjajar. Di depan tenda, sebuah papan tulis putih berdiri tegak, dan di sampingnya, sebuah proyektor dipasang menghadap layar putih.

“Selama tiga hari ke depan,” kata Herman di depan papan tulis, “kami akan mengajarkan dasar-dasar digitalisasi desa. Fotografi produk. Penulisan deskripsi. Pemasaran media sosial. Pengemasan dan pengiriman. Pengelolaan keuangan sederhana. Semua gratis. Tidak dipungut biaya.”

“Apakah kami bisa langsung praktek?” tanya Pak Santo dari barisan belakang.

“Bisa. Kami bawa komputer dan kamera. Setiap peserta akan mendapat giliran praktek.”

“Saya tidak bisa baca tulis,” kata Bu Darmi dengan suara malu-malu.

“Tidak masalah, Bu. Kami akan ajarkan dengan cara yang sederhana. Banyak ibu-ibu di Awan Biru yang juga tidak bisa baca tulis, tapi mereka bisa memotret dan menjual anyaman. Karena yang paling penting bukanlah membaca dan menulis, tetapi kemauan untuk belajar.”

Bu Darmi tersenyum lega. Ia sudah khawatir tidak akan bisa mengikuti pelatihan. Ternyata, Herman dan timnya telah memikirkan semua kalangan.

Pelatihan dimulai dengan materi fotografi produk. Wati, perempuan muda dengan rambut pendek dan senyum lebar, berdiri di depan layar proyektor, menunjukkan contoh-contoh foto produk yang bagus dan yang kurang bagus.

“Perhatikan perbedaannya,” kata Wati sambil mengklik remote proyektor. “Foto yang bagus memiliki pencahayaan yang baik, sudut yang tepat, dan latar belakang yang tidak mengganggu. Foto yang kurang bagus biasanya gelap, buram, atau terlalu ramai.”

“Bagaimana cara membuat pencahayaan yang bagus?” tanya Nisa yang duduk di barisan depan.

“Gunakan cahaya alami. Matahari pagi atau sore adalah yang terbaik. Jangan menggunakan lampu kilat HP karena akan membuat foto terlihat keras dan tidak alami. Letakkan objek di dekat jendela atau di luar ruangan, tetapi tidak terkena sinar matahari langsung.”

Wati kemudian mempraktekkan langsung. Ia mengambil sebuah anyaman milik Bu Lastri, meletakkannya di atas meja kayu di bawah sinar matahari sore yang keemasan. Ia mengatur sudut kamera, memastikan tidak ada bayangan yang mengganggu, lalu memotret.

“Nah, ini hasilnya,” kata Wati sambil menunjukkan layar proyektor.

Para peserta terkesima. Anyaman yang tadinya terlihat biasa saja, kini tampak seperti karya seni. Warna-warnanya lebih hidup, teksturnya lebih jelas, dan secara keseluruhan terlihat lebih menarik.

“Wah, seperti sulap,” kata Bu Lastri dengan mata berbinar.

“Ini bukan sulap, Bu. Ini teknik. Dan Ibu bisa mempelajarinya.”


Setelah demonstrasi, giliran peserta untuk mencoba. Nisa membagikan ponsel-ponsel pinjaman dari Awan Biru kepada para ibu-ibu yang tidak memiliki HP dengan kamera bagus. Mereka berpasangan, saling membantu, saling mengajari.

Bu Lastri dan Bu Darmi duduk bersebelahan. Bu Lastri memegang ponsel dengan hati-hati, seperti memegang benda yang sangat berharga. Bu Darmi di sampingnya, memegang anyaman yang akan difoto.

“Pencet yang mana, Mbak Wati?” tanya Bu Lastri.

“Yang bundar di tengah bawah, Bu. Tapi jangan dulu. Atur dulu sudutnya.”

“Sudutnya bagaimana?”

“Coba Ibu miringkan sedikit anyamannya. Biar cahayanya jatuh di sini.”

Bu Lastri mengikuti instruksi. Tangannya yang kasar dan penuh kapalan itu berusaha mengatur anyaman dengan lembut. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya ia menemukan sudut yang pas.

“Klik, Bu. Sekarang.”

Bu Lastri menekan tombol. Klik. Foto anyaman itu tersimpan di galeri.

“Coba lihat, Bu,” kata Wati sambil mendekat.

Bu Lastri melihat layar ponsel. Matanya membesar. “Ini anyaman saya? Kok jadi bagus?”

“Iya, Bu. Ini anyaman Ibu. Cantik, kan?”

Bu Lastri tersenyum. Senyum yang tulus, yang tidak perlu dipaksakan. “Saya tidak percaya. Saya tidak percaya anyaman saya bisa seindah ini.”

“Percayalah, Bu. Karya Ibu memang indah. Selama ini hanya tidak ada yang melihat.”

Bu Darmi yang melihat hasil foto Bu Lastri, ikut bersemangat. “Aku juga mau! Ajar aku!”

“Sebentar, Bu. Giliran Ibu berikutnya.”

Di sudut lain tenda, Pak Santo dan Pak Sugi sedang berdebat tentang sudut pandang fotografi. Pak Santo bersikeras bahwa kopi harus difoto dari atas agar terlihat isinya. Pak Sugi bersikeras bahwa kopi harus difoto dari samping agar terlihat teksturnya.

“Dari atas lebih bagus,” kata Pak Santo.

“Dari samping lebih bagus,” bantah Pak Sugi.

“Coba tanya Mas Herman,” kata Pak Santo.

Herman yang mendengar, berjalan mendekat. “Kenapa tidak keduanya? Foto dari berbagai sudut, lalu pilih yang terbaik. Tidak ada aturan baku dalam fotografi. Yang penting objeknya terlihat menarik.”

“Tapi mana yang lebih menarik?” desak Pak Santo.

“Tergantung selera pembeli. Makanya foto banyak-banyak. Biar pembeli yang memilih.”

Pak Santo dan Pak Sugi saling pandang, lalu tertawa. Mereka menyadari bahwa mereka telah berdebat tentang hal yang tidak perlu. Terkadang, perubahan cara berpikir dimulai dari hal-hal sederhana seperti ini.


Sela istirahat siang, ketika yang lain sedang makan di kantin darurat yang didirikan di samping kantor desa, Ilham dan Nisa duduk di bawah pohon beringin besar. Mereka berdua membawa nasi bungkus dari Bu Laila, nasi putih dengan lauk telur dadar dan tempe goreng, sederhana tetapi hangat.

“Kamu lihat wajah Bu Lastri tadi?” kata Nisa sambil mengunyah. “Dia sangat bahagia. Sampai hampir menangis.”

“Aku lihat,” jawab Ilham. “Itu membuat semua perjuangan kita terasa berharga.”

“Iya. Kadang kita sibuk memikirkan target, angka, keberhasilan. Tapi lupa bahwa dampak terbesar dari apa yang kita lakukan adalah pada perasaan orang-orang. Pada harga diri mereka. Pada keyakinan mereka bahwa mereka berharga.”

Ilham menatap Nisa. Matanya lembut. “Kamu bijak, Nis. Aku tidak menyangka.”

“Aku tidak bijak. Aku hanya perempuan yang suka mengamati.”

Mereka berdua terdiam. Angin siang berhembus pelan, membawa aroma kopi dan tanah basah. Daun-daun beringin bergoyang-goyang, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak di tanah.

“Nisa,” panggil Ilham tiba-tiba.

“Hm?”

“Aku ingin bilang sesuatu. Tapi aku takut.”

Nisa menoleh. Wajahnya tenang, tetapi matanya penuh rasa ingin tahu. “Takut apa?”

“Takut... kau akan marah. Atau kau akan menjauh.”

Nisa tersenyum. “Coba saja bilang. Belum tahu reaksiku, sudah takut.”

Ilham menarik napas panjang. Dadanya berdebar seperti genderang perang. Tangannya dingin, bukan karena suhu, tetapi karena gugup.

“Aku... aku suka sama kamu, Nisa. Bukan sebagai teman. Bukan sebagai rekan seperjuangan. Tapi lebih dari itu. Aku suka sejak lama. Mungkin sejak kita masih kecil, bermain di kebun kopi. Atau mungkin sejak kita mulai serius memikirkan desa ini. Aku tidak tahu persis kapan. Tapi yang aku tahu, aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu.”

Nisa terdiam. Wajahnya tidak berubah, masih tenang, masih seperti biasanya. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang bergetar. Sesuatu yang selama ini ia pendam, kini mulai muncul ke permukaan.

“Ilham,” katanya pelan.

“Iya.”

“Aku juga suka sama kamu. Sejak lama. Tapi aku tidak pernah berani bilang karena takut persahabatan kita rusak. Takut kamu tidak merasakan hal yang sama. Takut... banyak hal.”

Ilham menghela napas lega. Dadanya yang sesak kini terasa lega. Seperti beban yang diangkat dari pundaknya.

“Jadi... kita?”

“Kita,” jawab Nisa sambil tersenyum. Senyum yang tulus, yang jarang ia tunjukkan. Senyum yang hanya untuk orang-orang tertentu.

Mereka berdua terdiam, menikmati kebersamaan di bawah pohon beringin. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Hanya senyum. Tapi bagi mereka, itu sudah cukup.

Dari kejauhan, Rendi yang sedang menulis, melihat mereka dan tersenyum. Ini akan menjadi babak yang indah dalam catatanku, pikirnya. Babak tentang cinta yang tumbuh di tengah perjuangan.


Sementara pelatihan berlangsung dengan lancar, di balik layar, Pak Kirno tidak tinggal diam. Ia merasa terancam. Semakin banyak warga yang berbondong-bondong mengikuti pelatihan, semakin berkurang pengaruhnya. Ia tidak bisa menerima bahwa desa yang dulu ia kendalikan kini mulai berubah tanpa persetujuannya.

Suatu sore, ketika pelatihan hari kedua baru saja usai, Pak Kirno datang ke kantor desa dengan diikuti oleh beberapa orang yang setia kepadanya. Wajahnya merah padam, matanya melotot, dan langkahnya berat seperti orang yang hendak berperang.

“Pak Raditya!” teriak Pak Kirno dari pintu kantor desa. “Saya ingin bicara!”

Pak Raditya yang sedang duduk di kursi kehormatan, berdiri dengan tenang. Wajahnya tidak berubah, masih teduh, masih seperti biasanya. “Silakan, Pak Kirno. Ada apa?”

“Saya tidak setuju dengan acara ini! Ini bukan acara desa! Ini acara orang luar! Mereka tidak tahu apa-apa tentang desa kita! Mereka hanya mau mengambil keuntungan!”

Herman yang mendengar itu, berdiri. “Pak Kirno, dengan hormat, kami tidak mengambil keuntungan apa pun. Kami datang untuk berbagi. Tanpa pamrih.”

“Tanpa pamrih? Omong kosong! Pasti ada maksud di balik semua ini!”

Ilham yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Pak Kirno, dengan hormat, apa yang kami lakukan adalah untuk desa. Untuk warga. Untuk masa depan anak-anak kita. Tidak ada maksud tersembunyi.”

“Kau jangan ikut campur, Ilham! Kau masih anak-anak! Belum tahu apa-apa!”

“Saya tahu, Pak. Saya tahu bahwa kopi kita selama ini dijual murah. Saya tahu bahwa anyaman ibu-ibu tidak dihargai. Saya tahu bahwa anak-anak muda pergi merantau karena tidak ada masa depan di sini. Dan saya tahu bahwa semua itu bisa berubah jika kita mau belajar.”

Pak Kirno terdiam. Wajahnya semakin merah. “Kurang ajar!”

Ia melangkah maju, hendak memukul Ilham. Tapi Angga yang sigap, menghadang. “Pak Kirno, jangan!”

“Kau juga ikut-ikutan!”

Pak Raditya yang melihat situasi semakin memanas, berdiri di antara mereka. “Cukup, Pak Kirno! Tidak boleh ada kekerasan di desa ini!”

Pak Kirno berhenti. Ia menatap Pak Raditya dengan mata penuh kebencian. “Bapak memihak mereka?”

“Saya tidak memihak siapa pun. Saya memihak kebenaran. Dan kebenarannya adalah, desa ini butuh perubahan. Kalau Bapak tidak suka, Bapak boleh tidak ikut. Tapi jangan menghalangi.”

Pak Kirno mendengus. “Kita lihat nanti, Pak Raditya. Saya tidak akan diam.”

Ia berbalik dan pergi, diikuti oleh para pendukungnya. Langkahnya berat, seperti orang yang kalah perang. Pintu kantor desa tertutup dengan keras, membuat debu beterbangan.

Pak Raditya menghela napas. “Maaf, Mas Herman. Maaf, Ilham. Itulah Pak Kirno. Keras kepala. Tapi sebenarnya dia tidak jahat. Dia hanya takut.”

“Kami tahu, Pak,” kata Herman. “Kami juga mengalami hal yang sama di Awan Biru dulu. Para tetua yang menolak. Warga yang meragukan. Tapi perlahan, mereka berubah. Setelah melihat bukti.”

“Semoga di sini juga begitu.”


Untuk menghilangkan ketegangan setelah konflik dengan Pak Kirno, Hermansyah dan Jojon yang ikut dalam rombongan Awan Biru, memutuskan untuk mengadakan acara hiburan sederhana di halaman kantor desa. Mereka membawa gitar dan alat musik seadanya, lalu mulai bernyanyi.

“Malam ini kita akan bernyanyi bersama!” teriak Hermansyah dengan gaya MC dadakan. “Tidak usah malu-malu! Yang punya suara bagus, silakan maju! Yang punya suara jelek, lebih baik diam!”

“Hermansyah, kamu itu kasar!” protes Camelia dari barisan penonton.

“Ini bukan kasar. Ini jujur.”

Jojon yang memegang gitar, mulai memetik senar. “Kita nyanyi lagu yang mudah. Lagu ‘Rasa Sayang’. Ayo, semua!”

Mereka bernyanyi bersama. Suara mereka tidak merdu, ada yang fals, ada yang terlalu keras, ada yang terlalu pelan. Tapi tawa mereka lebih keras daripada nyanyian. Tawa yang menghangatkan malam yang dingin. Tawa yang mengusir rasa tegang yang tersisa.

Bu Laila yang duduk di samping Pak Hasan, tersenyum. “Mereka lucu, ya, Pak.”

“Lucu,” jawab Pak Hasan singkat. Tapi matanya berbinar.

Pak Hasan yang biasanya keras dan pendiam, malam itu ikut tersenyum. Ia tidak bernyanyi, itu terlalu berlebihan untuknya. Tapi ia menikmati suasana. Ia melihat anak-anak muda dari Awan Biru dan Suralaya bercampur menjadi satu, tertawa bersama, bernyanyi bersama, tanpa memandang asal-usul.

Mungkin, pikir Pak Hasan, perubahan tidak selalu buruk. Mungkin perubahan bisa menjadi sesuatu yang indah.


Setelah sesi bernyanyi, Herman meminta semua orang duduk melingkar. Api unggun dinyalakan di tengah-tengah, seperti malam pertama Ilham bertemu Joko dan rombongan KPAAB. Tapi kali ini, lingkarannya lebih besar. Bukan hanya para pendaki, tetapi juga warga Suralaya, petani, pengrajin, ibu-ibu rumah tangga, anak-anak kecil.

“Malam ini,” kata Herman, “aku ingin bercerita tentang Awan Biru. Tentang bagaimana desa kami dulu, dan bagaimana desa kami sekarang.”

Ia bercerita dengan perlahan, penuh penghayatan. Tentang masa lalu ketika Awan Biru adalah desa yang miskin, terisolasi, dan nyaris dilupakan. Tentang anak-anak muda yang pergi merantau dan tidak pernah kembali. Tentang para tetua yang pasrah, yang menganggap bahwa desa kecil tidak akan pernah bisa maju.

“Tapi kemudian,” lanjut Herman, “kami sadar. Bahwa tidak ada yang akan mengubah desa kami selain kami sendiri. Pemerintah tidak akan datang dengan sendirinya. Investor tidak akan melirik desa terpencil. Kami harus bergerak. Kami harus belajar. Kami harus berubah.”

Ia bercerita tentang perjuangan mereka, tentang belajar komputer dari nol, tentang membeli komputer bekas dengan uang patungan, tentang bolak-balik ke kota untuk mencari ilmu, tentang kegagalan demi kegagalan yang mereka alami.

“Kami pernah hampir menyerah. Banyak kali. Ketika komputer rusak dan tidak ada yang bisa memperbaiki. Ketika hasil jualan online tidak laku-laku. Ketika warga mengejek dan mengatakan kami buang-buang waktu. Tapi kami tidak menyerah. Karena kami tahu, menyerah bukanlah pilihan.”

Air mata mengalir di pipi beberapa warga yang mendengar. Bu Lastri menangis. Pak Santo mengusap matanya dengan ujung baju. Bahkan Pak Hasan yang keras kepala itu, tampak terharu.

“Dan hari ini,” kata Herman, “kami di sini bukan untuk membanggakan diri. Kami di sini untuk berbagi. Karena kami percaya, Suralaya juga bisa. Suralaya juga punya potensi. Suralaya juga bisa berubah. Asal ada kemauan. Asal ada kerja sama. Asal ada keyakinan.”

Tepuk tangan pecah. Bukan tepuk tangan yang sopan dan terukur, tetapi tepuk tangan yang keras, yang tulus, yang lahir dari hati yang tersentuh.

Ilham yang duduk di samping Nisa, merasa dadanya sesak. Ia menatap Herman, lalu menatap Joko, lalu menatap semua orang yang hadir malam itu. Ia merasa tidak sendirian. Ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Kita bisa, pikirnya. Kita benar-benar bisa.


Hari terakhir pelatihan, Herman mengumumkan sebuah ide besar: mengadakan Pameran Produk Desa Suralaya. Pameran ini akan diadakan sebulan kemudian, dan akan dihadiri oleh perwakilan dari desa-desa tetangga, kecamatan, bahkan mungkin kabupaten.

“Tujuannya,” kata Herman, “bukan hanya untuk menjual produk. Tapi untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Suralaya ada. Bahwa Suralaya punya potensi. Bahwa Suralaya tidak kalah dengan desa-desa lain.”

“Apakah kita mampu?” tanya Pak Santo ragu.

“Kita tidak akan tahu sebelum mencoba. Yang penting kita persiapkan dengan matang. Produk yang akan dipamerkan: kopi, anyaman, kerajinan bambu, makanan tradisional, dan potensi wisata.”

“Kami siap membantu,” kata Ilham. “Tapi kami butuh dukungan semua pihak.”

“Kami dukung,” kata Pak Raditya tegas. “Ini adalah kesempatan untuk desa kita.”

Pak Kirno tidak hadir dalam pertemuan itu. Tapi kabar tentang pameran cepat menyebar. Beberapa warga yang tadinya ragu, mulai menunjukkan ketertarikan. Bahkan Pak Kirno, meskipun tidak hadir, tidak melarang istrinya untuk ikut serta.

Bu Kirno, istri Pak Kirno, datang ke balai bambu keesokan harinya. Ia membawa kerajinan anyaman buatannya sendiri. “Saya ingin ikut pameran,” katanya malu-malu. “Tapi jangan bilang suami saya, ya. Nanti marah.”

“Kami tidak akan bilang, Bu,” kata Nisa sambil tersenyum. “Tapi suatu saat nanti, Pak Kirno akan tahu. Dan semoga beliau bangga.”

Bu Kirno tersenyum. “Semoga.”


Di sela-sela persiapan pameran, Joko dan Anita semakin sering terlihat bersama. Mereka duduk berdua di bawah pohon beringin, berjalan bersama menyusuri kebun kopi, atau sekadar diam berdua di teras kantor desa sambil menikmati kopi.

Hermansyah yang melihat mereka, tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda. “Joko, Anita, kalian itu sudah kayak pengantin baru. Apa tidak malu?”

“Diam, Man,” jawab Joko sambil tersenyum.

“Kami hanya berteman,” kata Anita diplomatis.

“Berteman? Berteman yang saling pegang tangan?” Hermansyah tertawa terbahak-bahak.

Anita Rohan tersipu. Joko tertawa kecil. Mereka memang sudah semakin dekat, tetapi belum ada yang resmi. Mereka masih menikmati masa-masa penuh kehati-hatian ini, masa ketika setiap tatapan terasa istimewa, setiap senyum terasa berharga, setiap kebersamaan terasa seperti hadiah.

“Joko,” panggil Anita pelan ketika Hermansyah sudah pergi.

“Hm?”

“Aku senang kita bertemu. Aku senang kita bisa bersama.”

Joko menatap Anita. Matanya lembut. “Aku juga. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu seseorang sepertimu.”

Mereka berdua terdiam, menikmati kebersamaan di bawah pohon beringin. Di kejauhan, Gunung Merbabu mulai diselimuti kabut sore. Burung-burung pulang ke sarangnya. Dan di hati mereka, ada ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Angga yang selama ini dikenal sebagai pemuda paling kaku dan tidak romantis, tiba-tiba membuat kejutan. Suatu pagi, ketika semua orang sibuk mempersiapkan pameran, Angga datang dengan membawa setangkai bunga mawar merah, bunga yang tidak tumbuh di desa Suralaya, pasti ia beli dari kecamatan.

Semua orang terkejut. Angga tidak pernah membawa bunga. Angga tidak pernah melakukan hal-hal romantis. Angga adalah Angga, pemuda yang lebih nyaman dengan mesin dan peralatan daripada dengan kata-kata manis.

“Angga, ini untuk siapa?” tanya Rendi dengan mata membulat.

“Untuk... seseorang,” jawab Angga malu-malu.

“Siapa?”

“Rahasia.”

Tapi semua orang sudah bisa menebak. Angga sering terlihat duduk di dekat Aulia. Angga sering membantu Aulia membersihkan komputer. Angga sering membawakan makanan untuk Aulia ketika ia sibuk. Angga... suka pada Aulia.

Aulia yang duduk di sudut ruangan, pura-pura tidak mendengar. Tapi wajahnya memerah. Jantungnya berdebar lebih cepat.

Angga berjalan mendekati Aulia. Ia mengulurkan bunga mawar itu dengan tangan gemetar. “Aulia... ini untukmu.”

Aulia menerima bunga itu dengan tangan gemetar juga. “Terima kasih, Ga.”

“Aku... aku suka sama kamu. Mungkin sudah lama. Tapi baru berani bilang sekarang.”

Semua orang bertepuk tangan. Nisa menangis haru. Rendi menulis cepat di buku catatannya. Ilham tersenyum bangga.

Aulia tersenyum. “Aku juga suka sama kamu, Ga. Tapi aku pikir kamu tidak akan pernah berani bilang.”

“Aku juga tidak menyangka. Tapi kata Joko, kesempatan harus diciptakan, bukan ditunggu.”

Joko yang mendengar namanya disebut, tersenyum malu. Ia tidak menyangka kata-katanya akan diingat oleh Angga.

Malam itu, balai bambu dipenuhi tawa dan kebahagiaan. Dua pasangan baru lahir di tengah perjuangan: Ilham-Nisa dan Angga-Aulia. Dan di kejauhan, Joko-Anita yang sudah lebih dulu, tersenyum melihat mereka.

Cinta, pikir Rendi sambil menulis, tumbuh di tempat yang tidak terduga. Di tengah debu balai bambu, di antara komputer bekas, di bawah pohon beringin yang rindang. Cinta tidak perlu kemewahan. Cinta hanya perlu keberanian.


Seminggu sebelum pameran, Pak Kirno datang ke rumah Ilham. Ia datang sendirian, tanpa pengikut, tanpa amarah. Wajahnya lelah, matanya sayu. Ia duduk di kursi bambu yang disediakan Bu Laila, lalu terdiam cukup lama.

“Pak Kirno, ada apa?” tanya Ilham hati-hati.

Pak Kirno menghela napas. “Aku... ingin minta maaf.”

Ilham terkejut. Pak Kirno, lelaki paling keras di desa ini, meminta maaf. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Selama ini aku menentang kalian. Aku menyebarkan keraguan. Aku mencoba menghalangi. Karena aku takut. Takut pada perubahan. Takut pada hal-hal yang tidak aku pahami. Takut bahwa desa ini akan berubah menjadi sesuatu yang asing.”

“Pak Kirno...”

“Biarkan aku selesai.” Pak Kirno mengangkat tangan. “Tapi kemarin, istriku pulang dengan wajah berseri-seri. Dia bercerita tentang pameran. Tentang anyamannya yang akan dipamerkan. Tentang harapannya. Aku belum pernah melihat istriku sebahagia itu sejak... entah kapan.”

Air mata mengalir di pipi Pak Kirno yang kasar. Lelaki yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang keras dan dingin itu menangis.

“Aku sadar, bahwa apa yang kalian lakukan tidak merusak desa ini. Justru sebaliknya. Kalian membawa harapan. Kalian membuat istriku bahagia. Kalian membuat warga lain tersenyum. Aku... aku malu pada diriku sendiri.”

Ilham tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya duduk di samping Pak Kirno, lalu meletakkan tangannya di pundak lelaki itu.

“Pak Kirno, Bapak tidak perlu minta maaf. Bapak hanya khawatir. Itu wajar. Sekarang, Bapak mau bergabung dengan kami?”

Pak Kirno mengangguk. “Aku mau. Aku ingin membantu. Apapun yang bisa aku lakukan.”

“Bapak bisa membantu menyiapkan tempat pameran. Bapak punya lahan luas. Bisa untuk parkir.”

“Baik. Aku siapkan.”

Bu Laila yang melihat dari dapur, tersenyum. Ia menyiapkan segelas kopi untuk Pak Kirno, kopi Suralaya, diseduh dengan hangat. Pak Kirno menerimanya, menyesap pelan, lalu tersenyum.

“Kopi ini enak,” katanya.

“Kopi Suralaya, Pak. Yang selama ini Bapak jual murah ke tengkulak.”

Pak Kirno menghela napas. “Mulai sekarang, tidak akan lagi.”


Hari pameran tiba. Langit cerah, biru bersih tanpa awan, seolah alam ikut merayakan. Halaman kantor desa yang biasanya sepi, kini dipenuhi stan-stan sederhana dari anyaman bambu dan kayu. Setiap stan menampilkan produk-produk unggulan desa: kopi, anyaman, kerajinan bambu, makanan tradisional, dan berbagai hasil bumi lainnya.

Pak Kirno menepati janjinya. Lahan di belakang rumahnya yang luas, ia gunakan sebagai tempat parkir. Bahkan ia membantu mengatur lalu lintas, meskipun tidak ada yang memintanya. Wajahnya masih tegas, tetapi matanya tidak lagi dingin.

Pak Raditya berdiri di depan kantor desa, menyambut tamu-tamu yang datang. Perwakilan dari kecamatan hadir. Perwakilan dari desa-desa tetangga juga hadir. Bahkan seorang wartawan dari media lokal datang untuk meliput.

“Selamat datang di Pameran Produk Desa Suralaya,” kata Pak Raditya dalam sambutannya. “Desa kami kecil, sederhana, dan mungkin belum banyak dikenal. Tapi hari ini, kami ingin menunjukkan bahwa desa kecil punya mimpi besar. Bahwa keterbatasan bukanlah halangan. Bahwa perubahan itu mungkin, asal ada kemauan, kerja sama, dan keyakinan.”

Tepuk tangan pecah. Ilham yang berdiri di antara kerumunan, merasa dadanya sesak. Nisa di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Angga dan Aulia berdiri tidak jauh dari mereka, tersenyum. Rendi sibuk menulis dan memotret.

Herman dan rombongan dari Awan Biru datang dengan membawa kado, sepuluh unit komputer bekas yang sudah direnovasi, untuk melengkapi balai bambu Suralaya. “Ini adalah awal dari kerja sama kita,” kata Herman. “Bukan hanya pameran. Tapi juga berbagi ilmu, berbagi pengalaman, berbagi masa depan.”

Bu Lastri menangis di stan anyamannya. Anyamannya laku terjual puluhan buah dalam hitungan jam. Pembeli dari kota memuji keindahan anyamannya, memuji ketelitiannya, memuji cerita di balik setiap helai bambu yang ia anyam.

“Saya tidak pernah menyangka,” kata Bu Lastri kepada seorang pembeli. “Saya hanya menenun untuk mengisi waktu. Tidak pernah terpikir bahwa anyaman saya akan dilihat orang banyak.”

“Karya Ibu indah, Bu. Jangan pernah berhenti menenun.”

Pak Santo juga kebanjiran pesanan kopi. Ia hampir tidak percaya ketika seorang pembeli dari Jakarta memesan lima puluh kilogram untuk dijual kembali di kafe-kafe di ibu kota.

“Lima puluh kilo?” tanya Pak Santo dengan mata membulat.

“Iya, Pak. Kopi Bapak enak. Saya sudah coba sampelnya. Cocok untuk kafe saya.”

Pak Santo hampir pingsan. Pak Sugi yang berdiri di sampingnya, menepuk pundaknya. “Santai, Pak. Ini baru awal.”

“Awal? Ini sudah lebih dari awal. Ini keajaiban.”


Di tengah kesibukan pameran, Mbah Jaya Suprapta datang. Ia berjalan perlahan dengan tongkat kayu, ditemani oleh Pak Sastro. Wajahnya yang keriput itu tidak lagi cemberut seperti biasanya. Ada senyum tipis di bibirnya yang mengering.

Semua orang terkejut. Mbah Jaya tidak pernah datang ke acara-acara seperti ini. Ia lebih suka diam di rumah, atau duduk di beranda sambil menyesap kopi.

“Mbah Jaya!” sapa Pak Raditya. “Mbah datang?”

“Iya. Saya ingin lihat sendiri apa yang dilakukan anak-anak muda ini.”

Ia berjalan dari stan ke stan, mengamati setiap produk, mendengarkan penjelasan dari para penjual. Ia berhenti di stan anyaman Bu Lastri, memegang anyaman itu dengan tangan keriputnya, lalu berkata, “Bagus. Lebih bagus dari anyaman zaman saya dulu.”

Bu Lastri tersenyum malu. “Terima kasih, Mbah.”

Mbah Jaya berjalan ke stan kopi Pak Santo, menyesap kopi yang disajikan, lalu mengangguk. “Enak. Kopi Suralaya memang terbaik.”

Pak Santo hampir menangis mendengar pujian dari tetua yang paling disegani di desa.

Mbah Jaya berjalan ke stan makanan tradisional, mencicipi sayur asem buatan Bu Laila, lalu tersenyum. “Ini resep turun-temurun, ya?”

“Iya, Mbah. Resep dari nenek saya.”

“Jaga. Jangan diubah. Biar tetap asli.”

Di akhir kunjungannya, Mbah Jaya berdiri di depan kantor desa. Ia meminta semua orang berkumpul. Dengan suaranya yang berat namun masih jelas, ia berkata:

“Dulu, saya menolak perubahan. Saya pikir anak-anak muda ini akan merusak desa kita. Saya pikir teknologi akan menghapus budaya kita. Tapi hari ini, saya lihat sendiri. Budaya kita masih ada. Anyaman masih dianyam dengan tangan. Kopi masih dipetik dengan sabar. Makanan tradisional masih dimasak dengan resep leluhur. Tapi sekarang, semua itu dikenal orang lain. Semua itu dihargai. Semua itu menjadi kebanggaan kita.”

Ia berhenti sejenak, menatap Ilham yang berdiri di antara kerumunan.

“Ilham, Nisa, Angga, Rendi, Aulia. Dan semua anak muda yang telah bekerja keras. Kalian adalah harapan desa ini. Jangan pernah berhenti. Jangan pernah menyerah. Desa ini bangga pada kalian.”

Air mata mengalir di pipi Ilham. Ia tidak pernah menyangka akan mendengar kata-kata itu dari Mbah Jaya. Ia memeluk Nisa, lalu menangis. Nisa juga menangis. Angga, Aulia, Rendi, mereka semua menangis.

Pak Kirno yang berdiri di barisan belakang, ikut menangis. Ia memeluk istrinya, Bu Kirno, yang sudah lama tidak ia peluk. “Maafkan aku,” bisiknya.

Bu Kirno tersenyum. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Pak. Yang penting sekarang kita bersama.”


Pameran berakhir dengan sukses. Produk-produk Suralaya laku terjual ratusan buah. Pesanan datang dari berbagai kota. Warga desa pulang ke rumah masing-masing dengan hati penuh kebahagiaan.

Malam itu, Ilham dan Nisa duduk di bukit kecil di pinggir desa, tempat yang dulu sering didatangi Ilham saat hatinya penuh pertanyaan. Dari sana, seluruh Desa Suralaya terlihat di bawah. Lampu-lampu minyak menyala redup di rumah-rumah kayu. Kabut bergerak pelan. Dan di kejauhan, garis cakrawala terbentang seperti batas yang lembut antara langit dan bumi.

“Kita berhasil, Ham,” kata Nisa sambil menatap desa di bawah. Matanya berbinar.

“Kita baru mulai,” jawab Ilham. “Tapi setidaknya, kita sudah membuktikan bahwa desa ini bisa berubah.”

“Apa yang akan kau lakukan ke depan?”

Ilham terdiam sejenak. “Aku ingin terus belajar. Terus mengajar. Terus mengajak lebih banyak warga. Aku ingin Suralaya tidak hanya dikenal karena kopi dan anyamannya. Tapi karena orang-orangnya. Karena budayanya. Karena ceritanya.”

“Itu mimpi yang besar.”

“Tapi mimpi yang bisa dicapai. Perlahan. Satu langkah. Satu langkah. Satu langkah.”

Mereka berdua terdiam. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma kopi dan tanah basah. Di kejauhan, suara azan isya mulai terdengar dari surau kecil di tengah desa.

“Nisa,” panggil Ilham tiba-tiba.

“Hm?”

“Aku tidak akan pernah bisa melakukan ini tanpa kamu. Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk percaya padaku. Untuk mau ikut. Untuk tidak menyerah.”

Nisa tersenyum. “Aku juga tidak akan pernah bisa melakukan ini tanpa kamu, Ham. Kita berdua sama-sama berjuang. Kita berdua sama-sama percaya.”

Ilham memandang Nisa. Wajah Nisa yang tegas itu kini terlihat lembut di bawah cahaya bintang. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang membuat Ilham lupa akan lelahnya perjuangan.

“Nisa,” panggil Ilham lagi.

“Hm?”

“Aku cinta kamu.”

Nisa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggenggam tangan Ilham lebih erat, lalu berkata pelan, “Aku juga cinta kamu, Ham. Sejak dulu. Sejak kita masih kecil. Sejak kita bermain di kebun kopi. Sejak kita mulai bermimpi tentang desa ini.”

Mereka berdua terdiam, menikmati kebersamaan di bawah bintang. Dua anak muda desa dengan mimpi besar. Dua hati yang telah lama mencari, kini telah menemukan.

Di bawah langit Merbabu yang tenang, Desa Suralaya berdiri seperti kisah yang tak lagi sunyi. Sebuah desa kecil. Sebuah mimpi sederhana. Dan sekelompok pemuda yang memilih pulang untuk membuat desanya ikut melangkah.

Petualangan terbesar bukanlah menaklukkan gunung. Melainkan menemukan alasan untuk pulang, lalu mengubah tempat itu menjadi rumah bagi masa depan.

Ilham tidak pernah menaklukkan Merbabu. Ia hanya belajar menghormatinya. Dan dalam penghormatan itu, ia menemukan jati dirinya.


BAB 10

Puncak Perubahan

Satu tahun berlalu sejak pameran produk pertama Desa Suralaya. Waktu berjalan seperti air sungai di musim hujan, deras, deras, tak terasa, dan ketika kita menyadarinya, kita sudah berada di tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada yang tetap sama di desa kecil di lereng Merbabu itu. Setiap sudut, setiap wajah, setiap hati telah mengalami perubahan, perubahan yang tidak datang secara instan, tetapi melalui proses panjang yang penuh dengan suka, duka, tawa, dan air mata.

Jalan desa yang dulu hanya tanah berbatu dan becek saat hujan, kini telah diperkeras secara bertahap. Bukan aspal, bukan beton mewah, tetapi batu-batu sungai yang disusun rapi oleh tangan-tangan warga yang bergotong-royong. Proyek ini tidak dibiayai oleh pemerintah, meskipun ada sedikit bantuan dari kecamatan, tetapi oleh hasil penjualan kopi dan anyaman yang dikelola oleh komunitas digital desa. Setiap warga yang tanahnya dilalui jalan itu menyumbang batu atau tenaga. Mereka bekerja bersama, seperti dulu, seperti yang diajarkan oleh para leluhur. Tidak ada yang dibayar, tetapi tidak ada yang mengeluh. Karena mereka sadar, jalan ini adalah jalan mereka. Jalan menuju masa depan.

Balai bambu yang dulu nyaris roboh, dinding anyamannya berlubang dimakan usia, atap sengnya berkarat dan bocor di beberapa tempat, lantai tanahnya becek ketika hujan, kini telah berubah menjadi pusat kegiatan desa yang megah menurut standar Suralaya. Bukan megah dalam arti mewah, tetapi megah dalam arti hidup. Dindingnya diperkuat dengan anyaman bambu baru yang dibuat oleh Bu Lastri dan ibu-ibu lainnya. Atapnya diganti dengan seng baru hasil iuran warga. Lantainya sekarang sudah disemen, semen yang diangkut dari kecamatan dengan susah payah, tetapi hasilnya sepadan. Di depannya kini ada papan nama yang ditulis oleh Rendi dengan huruf-huruf indah:

“Pusat Informasi dan Promosi Desa Suralaya”

Di bawahnya, ada tulisan yang lebih kecil: “Bersama kita bangun desa, tanpa meninggalkan akar budaya.”

Di dalam balai bambu itu, komputer-komputer bekas pemberian dari Desa Awan Biru masih setia melayani. Jumlahnya sekarang sudah bertambah menjadi lima belas unit, beberapa dibeli dari hasil penjualan produk desa, beberapa lagi disumbangkan oleh donatur yang simpati. Setiap sore, balai itu dipenuhi oleh anak-anak desa yang belajar mengetik, menggambar, atau sekadar menjelajahi internet untuk mencari tahu tentang dunia luar. Setiap pagi, ibu-ibu datang untuk memotret anyaman mereka, belajar menulis deskripsi, atau berdiskusi tentang strategi pemasaran. Setiap malam, para petani berkumpul untuk mengecek harga pasar, berbagi informasi, atau sekadar ngopi bersama sambil bercerita.

“Dulu,” kata Pak Raditya dalam suatu sambutan di peringatan satu tahun pameran, “desa ini seperti orang yang sedang tidur panjang. Tidak sadar bahwa dunia di luar terus bergerak. Sekarang, desa ini sudah bangun. Dan bukan hanya bangun, ia berlari. Berlari menuju masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.”

Tepuk tangan pecah. Warga yang hadir, hampir seluruh warga desa, bertepuk tangan dengan penuh haru. Ada yang menangis, ada yang tersenyum, ada yang hanya diam sambil memeluk anak-anak mereka.

Pak Kirno, yang dulu menjadi penentang paling vokal, kini duduk di barisan depan bersama istrinya. Wajahnya yang dulu selalu tegang dan dingin, kini terlihat lebih lunak. Matanya tidak lagi menyipit penuh kecurigaan, tetapi berbinar dengan kebanggaan. Ia tidak pernah secara terbuka mengakui bahwa ia salah, itu terlalu berlebihan untuk lelaki sekelas dirinya, tetapi tindakannya berbicara lebih keras daripada kata-kata. Ia menyumbangkan lahannya untuk perluasan balai desa. Ia menjadi salah satu petani kopi yang paling aktif menggunakan media sosial untuk promosi. Ia bahkan ikut mengajar para petani muda tentang cara merawat kebun kopi yang baik.

“Pak Kirno,” sapa Ilham suatu hari, “Bapak berubah.”

“Saya tidak berubah,” jawab Pak Kirno singkat. “Saya hanya... belajar.”

Ilham tersenyum. “Itu namanya berubah, Pak.”

Pak Kirno tidak menjawab, tetapi ia tersenyum. Senyum yang jarang muncul di wajahnya yang keras itu.


Tepat setahun setelah pameran produk pertama, Ilham melamar Nisa. Bukan dengan cara yang mewah, tidak ada rombongan besar, tidak ada seserahan yang berlebihan, tidak ada orkestra yang memainkan lagu cinta. Hanya Ilham yang datang ke rumah Nisa dengan membawa setangkai bunga mawar merah dari kebun Pak Kirno, yang ditanam khusus untuk acara ini, dan seperangkat alat salat.

“Nisa,” kata Ilham sambil berlutut di depan Nisa. Suaranya bergetar, tangannya gemetar, tetapi matanya mantap. “Aku bukan lelaki kaya. Aku bukan lelaki sempurna. Aku hanya anak petani kopi yang punya mimpi besar. Tapi satu hal yang aku tahu: aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu. Maukah kau menjadi istriku?”

Nisa menangis. Ia tidak menyangka Ilham akan melamarnya dengan cara sesederhana itu. Ia mengira Ilham akan menunggu lebih lama, atau melakukannya dengan cara yang lebih meriah. Tapi justru kesederhanaan itulah yang membuat hatinya terharu.

“Iya, Ham,” jawab Nisa sambil tersenyum sambil menangis. “Aku mau.”

Berita tentang lamaran itu menyebar cepat ke seluruh desa, tidak perlu pengeras suara, tidak perlu selebaran, cukup satu orang bicara, maka dalam hitungan menit semua orang sudah tahu. Bu Lastri menangis haru. Bu Laila memeluk menantunya dengan erat. Pak Hasan yang biasanya pendiam, tersenyum bangga.

“Akhirnya,” kata Hermansyah ketika mendengar kabar itu. “Setelah sekian lama saling diam-diaman. Saya kira mereka tidak akan pernah berani.”

“Kamu sendiri, Man?” tanya Joko. “Kapan menyusul?”

“Saya? Masih mencari. Santai. Jangan terburu-buru. Jodoh tidak kemana-mana.”

“Kata siapa? Jodoh bisa diambil orang kalau kita tidak bergerak.”

“Ya sudah, kalau diambil orang, berarti bukan jodoh saya. Simpel.”

Tawa kecil pecah di antara mereka.


Pernikahan Ilham dan Nisa dijadwalkan dua bulan setelah lamaran. Persiapan dimulai jauh-jauh hari. Bukan karena mereka menginginkan pesta yang mewah, mereka tidak punya uang untuk itu, tetapi karena di desa kecil seperti Suralaya, pernikahan adalah urusan semua orang. Setiap warga merasa memiliki andil, setiap tetangga ingin membantu, setiap sanak saudara ingin berkontribusi.

Bu Lastri dan ibu-ibu lainnya sibuk membuat anyaman khusus untuk hiasan pelaminan. Anyaman itu berbentuk bunga-bunga dari bambu yang diwarnai dengan pewarna alami, kuning dari kunyit, merah dari secang, hijau dari daun suji. Warnanya tidak secerah pewarna kimia, tetapi lebih lembut dan alami, seperti desa itu sendiri.

Pak Santo dan Pak Sugi sibuk menyiapkan kopi untuk para tamu. Mereka menyangrai biji kopi pilihan dari kebun masing-masing, lalu menggilingnya dengan lesung kayu, cara tradisional yang menghasilkan aroma yang tidak bisa ditiru oleh mesin modern. Aroma kopi itu nantinya akan memenuhi seluruh halaman balai desa, membuat setiap tamu yang datang langsung tercium keharumannya dari kejauhan.

Pak Kirno, dengan segala kekayaannya, menyumbangkan seekor kambing untuk dimasak menjadi gulai dan sate. “Ini untuk kebahagiaan anak-anak muda itu,” katanya. “Mereka sudah banyak berjasa untuk desa. Sekarang giliran kita yang membantu mereka.”

Mbah Jaya Suprapta, meskipun usianya sudah sangat tua dan langkahnya sudah tidak stabil, meminta untuk dimintai doa restu. “Saya tidak akan bisa hadir di acaranya nanti,” katanya kepada Ilham. “Tubuh saya sudah tidak kuat. Tapi doa saya akan selalu menyertai kalian. Jaga desa ini. Jaga budaya ini. Jaga cinta kalian.”

Ilham mencium tangan Mbah Jaya. Air matanya jatuh. “Terima kasih, Mbah. Doa Mbah adalah yang paling berharga.”


Rendi ditunjuk sebagai protokol pernikahan, sebuah keputusan yang kontroversial karena Rendi dikenal sebagai pemuda yang kaku dan canggung di depan umum. Tapi ia memaksakan diri. “Ini adalah kesempatan untuk menulis babak baru dalam hidupku,” katanya. “Babak tentang berbicara di depan orang banyak.”

Hari pernikahan, Rendi berdiri di depan panggung dengan microphone seadanya, microphone yang pinjam dari mushola desa, dengan kabel yang panjangnya tidak cukup sehingga ia harus berdiri di satu tempat tanpa bisa bergerak.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Rendi. Suaranya bergetar, tangannya gemetar memegang microphone. “Selamat pagi, selamat datang, selamat berbahagia.”

“Selamat berbahagia? Rendi, pakai bahasa yang bener!” teriak Hermansyah dari barisan penonton.

Tawa pecah. Rendi tersenyum malu. “Maaf, maaf. Gugup. Saya ulang.”

Ia mengatur napas, lalu mulai lagi dengan lebih tenang. “Yang terhormat Bapak Raditya selaku kepala desa. Yang terhormat para tetua, sesepuh, tokoh masyarakat. Yang berbahagia keluarga mempelai pria dan keluarga mempelai wanita. Serta saudara-saudara sekalian yang kami hormati.”

“Nah, ini baru protokol,” bisik Hermansyah.

Acara berlangsung dengan lancar. Ilham dan Nisa duduk di pelaminan sederhana, sebuah panggung kayu yang dihiasi anyaman bunga-bunga bambu dan kain batik pinjaman dari tetangga. Wajah mereka berseri-seri, tidak sabar untuk memulai hidup baru bersama.

Pak Hasan, ayah Ilham, menangis ketika menyerahkan putranya kepada Nisa. Lelaki keras kepala yang jarang menunjukkan perasaan itu tidak bisa menahan air matanya. Bu Laila memeluk suaminya dari samping, ikut menangis.

“Ayah bangga, Nak,” bisik Pak Hasan. “Ayah bangga.”


Pernikahan Ilham dan Nisa juga menjadi ajang reuni bagi anggota KPAAB dan Komunitas Digital Awan Biru. Hampir semua datang, Joko, Anita Rohan, Hermansyah, Guntur, Bayu, Jojon, Yulia, Nadya, Camelia, Arga, Amat Junior, serta Herman, Wati, Budi, Lina, Dani, dan semua yang pernah terlibat dalam perjalanan perubahan desa.

Joko dan Anita datang bersama. Mereka tidak lagi merahasiakan hubungan mereka. Bahkan mereka sudah berencana untuk menyusul Ilham dan Nisa dalam waktu dekat.

“Joko, kapan?” tanya Ilham ketika mereka bertemu di sela-sela acara.

“Entah. Mungkin tahun depan,” jawab Joko sambil tersenyum.

“Jangan ditunda-tunda. Nanti keburu tua.”

“Aku tidak tua. Aku masih muda. Baru dua puluh lima.”

“Dua puluh lima sudah waktunya. Jangan kayak Hermansyah yang belum punya pacar sampai sekarang.”

“Eh, jangan seret-seret saya!” protes Hermansyah yang kebetulan lewat. “Saya sengaja belum punya pacar. Saya ingin fokus pada karier.”

“Karier apa? Karier jadi tukang ledek?” ledek Camelia.

Tawa pecah. Hermansyah menghela napas dramatis. “Dasar kalian. Tidak bisa menghargai pilihan hidup orang.”

Angga dan Aulia juga hadir. Mereka sudah resmi menjadi pasangan, setelah Angga memberanikan diri meminang Aulia dengan cara yang khas Angga: tanpa kata-kata manis, tanpa romantisme berlebihan, hanya dengan sebatang mawar merah dan satu kalimat: “Aulia, kamu mau jadi pendamping hidupku? Aku tidak pintar bicara. Tapi aku janji akan selalu menjaga kamu.”

Aulia menerimanya, tentu saja. Bagaimana mungkin menolak ketulusan yang sesederhana itu?

“Angga, kapan pernikahan kalian?” tanya Nisa.

“Menyusul. Setelah Ilham dan Nisa selesai.”

“Jangan terlalu lama. Nanti anak-anak kami sudah besar, kalian belum menikah.”

“Tidak apa-apa. Nanti anak-anak kalian bisa jadi bridesmaid.”

Nisa tertawa. “Bridesmaid? Bridesmaid usia balita?”

“Boleh saja. Tidak ada aturan.”


Resepsi pernikahan digelar di halaman kantor desa. Lampu-lampu minyak dan lampu tempel dipasang di setiap sudut, menciptakan suasana yang hangat dan romantis. Tidak ada lampu listrik yang terang-benderang, tetapi justru itulah yang membuat malam itu terasa istimewa—seperti kembali ke masa lalu, ketika cinta dirayakan dengan kesederhanaan yang penuh makna.

Para tamu duduk di tikar anyaman yang disediakan oleh warga. Makanan disajikan dalam wadah-wadah daun pisang, nasi tumpeng, gulai kambing, sate, sayur asem, sambal terasi, dan berbagai hidangan tradisional lainnya. Semua dimasak oleh ibu-ibu desa dengan penuh cinta.

“Selamat kepada kedua mempelai,” kata Pak Raditya dalam sambutannya. “Semoga rumah tangga kalian menjadi rumah yang penuh berkah. Semoga cinta kalian menjadi cerminan cinta desa ini kepada tanahnya, kepada budayanya, kepada masa depannya.”

Ilham dan Nisa menangis mendengar sambutan itu. Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum. Di balik senyum mereka, tersimpan janji, bukan hanya untuk saling mencintai, tetapi juga untuk terus berjuang membangun desa yang telah mempertemukan mereka.

Mbah Jaya tidak bisa hadir, tetapi doanya disampaikan melalui Pak Sastro. “Semoga kalian menjadi pemimpin bagi desa ini. Semoga kalian menjadi teladan bagi generasi muda. Semoga kalian menjadi cahaya di tengah kegelapan.”

Herman dan rombongan dari Awan Biru memberikan kado spesial: satu set komputer baru lengkap dengan printer dan kamera DSLR bekas namun masih bagus. “Untuk dokumentasi produk desa,” kata Herman. “Semakin banyak produk yang difoto dengan baik, semakin banyak pembeli yang tertarik.”

“Terima kasih, Mas Herman,” kata Ilham sambil memeluknya. “Kami tidak tahu harus membalas apa.”

“Balas dengan kesuksesan. Buktikan bahwa Suralaya bisa menjadi desa yang mandiri dan berbudaya.”


Malam setelah resepsi, ketika semua tamu sudah pulang dan hanya tersisa keluarga inti, Ilham mengajak Nisa berjalan-jalan ke kebun kopi di belakang rumahnya. Bulan purnama bersinar terang, menerangi jalan setapak yang berbatu. Kabut tipis mulai turun dari lereng Merbabu, tetapi tidak terlalu tebal, masih cukup untuk melihat jejak-jejak langkah di tanah.

“Kenapa ajak aku ke sini, Ham?” tanya Nisa penasaran.

“Ada yang ingin aku tunjukkan.”

Mereka berjalan sampai ke sebuah pohon kopi tua yang tumbuh di tepi kebun. Pohon itu sudah ada sejak zaman kakek Ilham, mungkin lebih tua. Batangnya besar, daunnya rindang, dan buahnya masih lebat meskipun usianya sudah tidak muda.

“Pohon ini pohon favoritku sejak kecil,” kata Ilham sambil memegang batang pohon itu dengan lembut. “Setiap kali aku punya masalah, aku duduk di bawah pohon ini. Aku bercerita pada pohon ini. Aku menangis di bawah pohon ini. Aku bermimpi di bawah pohon ini.”

Nisa terdiam. Ia tidak tahu bahwa Ilham memiliki tempat istimewa seperti ini.

“Suatu malam, beberapa tahun yang lalu, aku duduk di bawah pohon ini dan berdoa. Aku berdoa, 'Ya Allah, jika Engkau berkenan, pertemukan aku dengan seseorang yang mau menerima aku apa adanya. Seseorang yang mau berjuang bersamaku. Seseorang yang mau mencintai desa ini seperti aku mencintainya.'”

Ilham menoleh ke arah Nisa. Matanya berkaca-kaca.

“Dan Allah mengabulkan doaku. Dia mengirimkan kamu, Nisa. Kamu yang tidak hanya menerima aku apa adanya, tetapi juga mendorongku untuk menjadi lebih baik. Kamu yang mau berjuang bersamaku, bahkan ketika semua orang meragukan. Kamu yang mencintai desa ini seperti aku mencintainya. Mungkin lebih.”

Nisa tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk Ilham erat-erat, di bawah pohon kopi tua, di bawah cahaya bulan purnama, di bawah langit Merbabu yang tenang.

“Aku juga berdoa, Ham,” bisik Nisa. “Di bawah pohon yang sama. Di malam yang sama. Mungkin di waktu yang sama. Aku berdoa untuk seseorang seperti kamu.”

Mereka berpelukan dalam diam. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma kopi dan tanah basah. Daun-daun pohon kopi bergoyang-goyang, menciptakan suara desiran yang menenangkan.

“Aku bersyukur,” kata Ilham akhirnya. “Bersyukur untuk desa ini. Untuk pohon ini. Untuk kamu.”

“Aku juga,” jawab Nisa.


Seminggu setelah pernikahan, Joko dan rombongan KPAAB datang lagi ke Suralaya. Mereka datang bukan untuk mendaki, meskipun mereka sempat singgah ke puncak Merbabu, tetapi untuk memberikan sebuah kejutan.

“Ilham,” kata Joko sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal, “ini untuk desa kalian.”

Ilham membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat dokumen-dokumen resmi, surat-surat perjanjian, dan sebuah proposal.

“Apa ini, Mas?”

“Ini adalah proposal kerjasama resmi antara Desa Suralaya dan Desa Awan Biru. Pemerintah kabupaten sudah menyetujuinya. Mulai bulan depan, akan ada program pertukaran pemuda, pelatihan bersama, dan pemasaran produk bersama. Desa kalian tidak akan sendirian lagi.”

Ilham terpaku. Ia tidak menyangka akan sejauh ini. Dulu, ia hanya bermimpi untuk belajar sedikit tentang digitalisasi desa. Sekarang, desanya akan menjadi mitra resmi desa tetangga yang sudah lebih maju.

“Mas Joko... saya tidak tahu harus berkata apa.”

“Jangan berkata apa-apa. Buktikan bahwa kalian layak mendapat ini.”

Herman yang berdiri di samping Joko, menambahkan, “Ini bukan hadiah, Ilham. Ini adalah hasil kerja keras kalian. Kami hanya menjadi jembatan. Kalian sendiri yang membuka jalan.”

Nisa yang mendengar itu, menangis haru. Ia memeluk Ilham, lalu memeluk Joko, lalu memeluk Herman. “Terima kasih. Terima kasih untuk semuanya.”

“Jangan berterima kasih. Teruslah berjuang.”


Sebelum pulang, Joko mengajak Ilham mendaki ke puncak Merbabu. Hanya mereka berdua, dua pemuda dari desa yang berbeda, tetapi dengan mimpi yang sama.

Pendakian dimulai sebelum subuh. Mereka berjalan dalam diam, hanya diterangi senter kepala dan cahaya bintang. Udara dingin menusuk, tetapi kaki mereka tetap mantap. Tidak ada pembicaraan yang tidak perlu. Hanya langkah. Hanya napas. Hanya keyakinan.

Matahari mulai terbit ketika mereka tiba di puncak. Langit berwarna jingga keemasan, awan-awan di bawah mereka bergulung-gulung seperti lautan kapas. Di kejauhan, Gunung Merapi menjulang gagah, sesekali mengepulkan asap tipis. Pemandangan yang tidak pernah berubah, pemandangan yang sama ketika pertama kali Joko datang ke Suralaya, ketika ia bertemu Ilham untuk pertama kalinya.

“Kau ingat pertama kali kita bertemu?” tanya Joko.

Ilham tersenyum. “Di dekat mata air. Waktu itu kau banyak diam.”

“Karena saya tidak tahu harus bertanya dari mana. Saya melihat desamu, dan saya teringat desaku dulu. Sunyi. Sepi. Penuh kepasrahan.”

“Dan sekarang?”

Joko memandang ke arah Suralaya yang terlihat kecil dari ketinggian, rumah-rumah kayu, kebun-kebun kopi, balai bambu yang menjadi pusat kegiatan. Semua tampak damai, seperti lukisan yang hidup.

“Sekarang, desamu sudah bernapas. Bukan hanya bernapas, ia bernyanyi. Bernyanyi tentang harapan, tentang perjuangan, tentang perubahan.”

Ilham menatap Joko. “Kita tidak akan pernah bisa melakukan ini tanpa kalian, Mas. Tanpa Awan Biru, tanpa KPAAB, tanpa semua yang kalian ajarkan.”

“Jangan merendah, Ham. Kami hanya memantik api. Kalian yang menjaga apinya tetap menyala.”

Mereka berdiri di puncak Merbabu, di atas awan, di bawah langit yang terbentang luas. Dua pemuda dari dua desa. Dua hati yang percaya pada hal yang sama: bahwa desa kecil juga punya mimpi besar.

“Apa yang kau lihat ke depan, Ham?” tanya Joko, seperti bertahun-tahun lalu.

Ilham memandang cakrawala. Garis tipis di ujung langit yang dulu selalu terasa seperti batas, seperti tembok yang tidak bisa ditembus. Kini ia mengerti. Cakrawala bukanlah akhir. Ia hanyalah garis yang menunggu untuk dilampaui.

“Saya melihat desa ini terus berjalan. Mungkin tidak cepat. Mungkin tidak dramatis. Tapi terus berjalan. Karena tidak ada yang lebih kuat dari orang-orang yang memilih untuk tidak menyerah.”

Joko tersenyum. “Itulah jawaban yang saya nantikan.”

Mereka berdua terdiam, menikmati pemandangan. Di bawah mereka, Desa Suralaya terbentang, kecil, sederhana, tetapi penuh kehidupan. Desa yang dulu nyaris mati, kini hidup kembali. Desa yang dulu hanya menjadi tempat lahir, kini menjadi tempat pulang.


Tiga tahun kemudian, Desa Suralaya telah berubah menjadi desa percontohan digital bagi kecamatan. Bukan karena mereka paling maju, masih banyak desa yang lebih maju, tetapi karena mereka berhasil membuktikan bahwa perubahan bisa dilakukan dari bawah, oleh rakyat kecil, tanpa menunggu bantuan dari atas.

Kopi Suralaya kini dikenal hingga ke luar pulau. Anyaman Bu Lastri dipesan oleh perancang busana ternama di Jakarta. Makanan tradisional desa ini menjadi oleh-oleh favorit wisatawan yang singgah. Bahkan Tari Gantar, tarian panen yang dulu hampir punah, kini sering diundang untuk tampil di acara-acara budaya tingkat kabupaten.

Anak-anak muda yang dulu pergi merantau, mulai kembali. Mereka datang bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena mereka melihat ada masa depan di desa ini. Mereka membuka usaha kecil-kecilan, bergabung dengan komunitas digital, atau sekadar membantu orang tua mengelola kebun.

Pak Kirno, lelaki yang dulu paling keras menentang perubahan, kini menjadi ketua kelompok tani kopi digital. Ia mengajar para petani muda cara menggunakan media sosial untuk promosi. Wajahnya yang dulu selalu tegang dan dingin, kini sering tersenyum.

Mbah Jaya Suprapta meninggal setahun setelah pernikahan Ilham. Ia pergi dengan tenang, dikelilingi oleh keluarga dan tetangga. Sebelum meninggal, ia berpesan: “Jaga desa ini. Jaga budayanya. Jangan pernah lupa dari mana kalian berasal. Tapi jangan pernah takut untuk melangkah maju.”

Ilham dan Nisa dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Jaya Suralaya, nama yang diambil dari kakek buyut Ilham dan semangat Mbah Jaya. Anak itu tumbuh sehat, cerdas, dan penuh rasa ingin tahu. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan komputer, tetapi juga tidak lupa dengan budaya desa. Ia bisa menari Tari Gantar, bisa mengetik dengan sepuluh jari, dan bisa membedakan mana kopi yang bagus dan mana yang tidak.

“Ayah,” kata Jaya kecil suatu hari, “kelak kalau aku besar, aku ingin seperti Ayah.”

“Seperti Ayah bagaimana?” tanya Ilham.

“Seperti Ayah yang bisa mengubah desa. Seperti Ayah yang tidak takut pada hal-hal baru. Seperti Ayah yang tetap mencintai desa ini meskipun kadang sulit.”

Ilham menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu bisa, Nak. Kamu pasti bisa. Asal kamu tidak pernah menyerah.”


EPILOG

Puncak yang Sesungguhnya

Tidak semua perjalanan berakhir ketika kaki mencapai puncak. Ada perjalanan yang justru dimulai setelah seseorang kembali pulang. Ada perjalanan yang tidak terukur oleh jarak, tidak tertulis dalam peta, tidak terhitung oleh langkah kaki. Perjalanan batin yang kadang tidak disadari oleh si pelaku, tetapi kelak akan mengubah seluruh arah hidupnya.

Muhammad Ilham begitu nama barunya setelah menikahi Nisa, tidak pernah menyangka bahwa perjalanannya akan sejauh ini. Dulu, ia hanyalah seorang pemuda desa yang diam-diam meragukan desanya, yang diam-diam bertanya-tanya apakah ada masa depan di tempat ia dilahirkan. Sekarang, ia adalah kepala komunitas digital Desa Suralaya, suami dari Nisa, ayah dari Jaya, dan pemimpin yang dihormati oleh warganya.

Ia tidak pernah menaklukkan Merbabu, setidaknya tidak dalam arti fisik. Ia tidak pernah berdiri di puncak tertinggi gunung itu untuk merayakan kemenangan. Namun ia telah menaklukkan sesuatu yang lebih sulit: ketakutannya sendiri. Ia telah menaklukkan keraguan yang selama ini membelenggunya. Ia telah menaklukkan kepasrahan yang selama ini menjadi budaya desanya.

Dan dalam penaklukan itu, ia menemukan bahwa puncak yang sesungguhnya bukanlah tempat tertinggi di atas bumi. Puncak yang sesungguhnya adalah ketika seseorang bisa pulang ke tempat ia dilahirkan, lalu mengubah tempat itu menjadi rumah bagi masa depan.


Pagi itu, ketika kabut masih bergelayut manja di antara pepohonan pinus, Muhammad Ilham berdiri di bukit kecil di pinggir desa. Dari sana, seluruh Desa Suralaya terlihat di bawah. Atap-atap rumah kayu tampak kecil. Kebun-kebun kopi terhampar hijau. Dan di kejauhan, Gunung Merbabu menjulang gagah, diselimuti kabut tipis yang mulai terurai terkena sinar matahari.

“Ayah, lihat!” teriak Jaya kecil yang berdiri di sampingnya. “Puncaknya! Puncak Merbabu!”

Ilham tersenyum. Ia menggandeng tangan putranya yang masih mungil.

“Iya, Nak. Itu puncak Merbabu. Tapi ingat, Nak. Puncak gunung bukanlah tujuan. Tujuan sejati adalah perjalanannya. Dan perjalanan yang paling indah adalah perjalanan pulang.”

Jaya kecil tidak sepenuhnya mengerti. Ia masih terlalu muda untuk memahami kata-kata seberat itu. Tapi suatu hari nanti, ketika ia tumbuh dewasa, ketika ia menghadapi pilihan antara pergi dan tinggal, antara bermimpi dan berpasrah, ia akan mengingat kata-kata ayahnya. Dan ia akan tahu, bahwa rumahnya bukanlah tempat ia dilahirkan. Rumahnya adalah tempat ia memilih untuk pulang.

Di bawah langit Merbabu yang tenang, Desa Suralaya berdiri seperti kisah yang tak lagi sunyi. Sebuah desa kecil. Sebuah mimpi sederhana. Dan seorang pemuda yang memilih pulang untuk membuat desanya ikut melangkah.

Petualangan terbesar bukanlah menaklukkan gunung. Melainkan menemukan alasan untuk pulang, lalu mengubah tempat itu menjadi rumah bagi masa depan.

Muhammad Ilham tidak pernah menaklukkan Merbabu. Ia hanya belajar menghormatinya. Dan dalam penghormatan itu, ia menemukan jati dirinya.

TAMAT


PENUTUP DARI PENULIS

Desa bukanlah tempat yang tertinggal. Desa adalah tempat yang menunggu untuk ditemukan potensinya. Setiap desa punya cerita. Setiap desa punya mimpi. Setiap desa punya orang-orang yang berani bermimpi, dan berani mewujudkannya.

Kepada para pemuda desa di mana pun kalian berada: jangan pernah berpikir bahwa kalian tidak cukup baik. Jangan pernah berpikir bahwa desa kalian tidak cukup besar untuk mimpi kalian. Karena mimpi tidak mengenal batas. Mimpi tidak mengenal peta. Mimpi hanya mengenal keberanian.

Pergilah. Belajarlah. Kembalilah. Dan ubahlah.

Sebab puncak yang sesungguhnya bukanlah tempat tertinggi di bumi. Puncak yang sesungguhnya adalah ketika kalian bisa pulang, dan melihat desa kalian tersenyum.

Salam petualang,
Slamet Riyadi
Lereng Merbabu, 2026