Cerpen Si Amat Episode 5: “Monitoring Anggaran TA 2025”
Pendopo Kantor Desa Awan Biru
pagi itu tampak lebih rapi dari biasanya, seolah-olah setiap sudutnya ikut
bersiap menghadapi momen penting. Map-map tebal tersusun berjejer rapi di atas
meja panjang, lengkap dengan pembatas warna-warni yang menandai SPJ dan laporan
realisasi, sementara beberapa laptop sudah menyala menampilkan file laporan
keuangan yang siap dipresentasikan. Di belakang kursi pimpinan, banner
bertuliskan Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan
Keuangan Desa TA 2025 tergantung gagah, menegaskan bahwa hari itu bukan
sekadar pertemuan biasa, melainkan agenda resmi yang sarat tanggung jawab dan
penuh makna bagi tertib administrasi desa.
Ketua BPD, Didit, berbisik pelan ke Kades Iwan.
“Pak, suasananya kayak mau ujian nasional ya.”
Kades Iwan tersenyum tipis.
“Memang ujian, Pak Didit. Bedanya ini yang dinilai bukan murid, tapi
administrasi kita.”
Tim Monev dari kecamatan dipimpin Sekcam Kurnia, SP,
duduk dengan map evaluasi di tangan.
“Baik, Bapak Ibu,” ujar Sekcam Kurnia dengan suara tenang namun tegas,
“Monitoring ini bagian dari fungsi pembinaan dan pengawasan. Tujuannya
memastikan penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa tertib administrasi,
tepat sasaran, dan sesuai regulasi.”
Lulu, Kaur Keuangan, langsung merapikan tumpukan SPJ di
depannya.
“Siap, Pak. SPJ lengkap, bukti transfer ada, pajak sudah disetor. Kalau kurang,
tinggal doa saja,” gumamnya pelan.
Amat yang sejak tadi sibuk mengatur kamera langsung
menimpali,
“Bu Lulu, jangan tegang. Nanti saya ambil fotonya pas lagi senyum biar
kelihatan administrasinya lancar.”
Semua tersenyum kecil, senyum tipis
yang muncul bersamaan seperti tanda bahwa ketegangan mulai mencair perlahan.
Ada yang saling melirik penuh arti, ada pula yang mengangguk pelan sambil
merapikan berkas di depannya, seolah ingin memastikan bahwa suasana tetap
santai meski agenda yang dibahas cukup serius.
Pendamping Desa Heru membuka salah satu berkas.
“Yang penting bukan cuma lengkap, tapi juga sinkron antara realisasi fisik dan
laporan keuangan.”
Pak Eko, Kaur Perencanaan, mengangguk.
“RAB sesuai, progres fisik sudah 100 persen untuk jalan desa dan perpustakaan.
Tinggal laporan narasinya yang harus diperjelas.”
Sekcam Kurnia menambahkan,
“Perlu diingat, hasil Monev ini juga menjadi salah satu syarat pencairan DD dan
ADD Tahun 2026. Jadi jangan sampai ada yang menganggap ini formalitas.”
Babinsa tersenyum santai.
“Kalau formalitas, biasanya yang gugup cuma yang salah.”
Ruangan mendadak hening, seakan
semua orang menahan napas sesaat mencerna kalimat yang baru saja terlontar,
sebelum akhirnya suasana pecah oleh tawa ringan yang menyebar dari barisan
depan hingga ke kursi paling belakang. Ketegangan yang sempat menggantung pun
luruh, berganti dengan rasa lega dan kebersamaan yang membuat forum terasa
lebih akrab dan manusiawi.
Setelah pemeriksaan administrasi, rombongan bergerak ke
lapangan. Amat berjalan mundur sambil merekam video.
“Mat, hati-hati! Jangan sampai monitoring berubah jadi
evakuasi,” teriak Endang.
Di lokasi jalan desa yang baru diaspal, Sekcam Kurnia
memeriksa ketebalan permukaan.
“Ini sesuai spesifikasi?”
Pak Eko cepat menjawab,
“Sesuai RAB, Pak. Panjang, lebar, dan volume sudah diverifikasi.”
Santoso, perwakilan warga, ikut nimbrung.
“Sekarang kalau hujan, motor nggak lagi joget-joget, Pak. Sudah mulus.”
Amat langsung mengarahkan kamera.
“Pak Santoso, ulangi kalimatnya. Bagus buat testimoni website.”
Semua kembali tertawa, kali ini
lebih lepas dan tanpa beban, seolah candaan kecil itu menjadi jeda yang
menyegarkan di tengah pembahasan yang cukup serius. Beberapa bahkan sampai
menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum, membuat suasana rapat terasa
hangat dan penuh keakraban.
Rombongan lanjut ke Bangunan Perpustakaan Desa.
Gedungnya sederhana namun bersih.
Sekdes Yuni berkata bangga,
“Ini bukan cuma bangunan, tapi investasi literasi.”
Tim Monev mengangguk puas.
“Administrasi dan fisiknya sinkron. Ini contoh baik.”
Amat sibuk memotret dari berbagai sudut.
“Pak Kades, berdiri dekat rak buku. Biar kelihatan visioner.”
Kades Iwan menatap kamera.
“Visioner boleh, asal anggarannya realistis.”
Terakhir, mereka menuju lokasi Ketahanan Pangan Hewani:
kandang bebek petelur yang ramai suara “kwek-kwek”.
Babinkamtibmas bercanda,
“Ini kalau bebeknya ikut Monev, pasti lulus. Produktif semua.”
Pendamping Desa Heru mencatat produksi telur harian.
“Program ini bagus untuk peningkatan ekonomi kelompok.”
Lulu menghitung cepat di buku kecilnya.
“Yang penting hasilnya jelas, supaya tidak cuma ‘bebeknya yang ramai,
laporannya sepi’.”
Amat mengambil foto bebek yang bergerombol.
“Ini angle bagus. Judulnya nanti: ‘Bebek Produktif, Desa Progresif.’”
Kades Iwan menggeleng sambil tersenyum.
“Mat, jangan terlalu kreatif. Tetap sesuai fakta.”
Kembali ke pendopo, Sekcam
Kurnia menyampaikan penutup dengan suara tenang namun penuh penegasan,
merangkum hasil monitoring hari itu secara sistematis dan jelas. Ia menekankan
pentingnya konsistensi dalam tertib administrasi serta kesinambungan antara
laporan dan pelaksanaan fisik, sambil mengapresiasi kerja sama seluruh pihak
yang telah menjaga akuntabilitas pengelolaan keuangan desa.
“Secara umum, administrasi dan pelaksanaan fisik Desa Awan Biru baik. Ada
beberapa catatan kecil untuk perbaikan, tapi secara prinsip sudah sesuai
regulasi.”
Ruangan terasa lega, seperti beban
tak kasatmata yang perlahan terangkat dari pundak masing-masing setelah
rangkaian evaluasi selesai dilalui. Wajah-wajah yang tadi tegang kini tampak
lebih santai, beberapa bahkan menarik napas panjang sambil tersenyum tipis,
menikmati suasana yang kembali ringan dan penuh rasa syukur.
Didit menepuk meja pelan.
“Alhamdulillah. Berarti kita siap menuju pencairan 2026.”
Amat mengangkat kamera untuk foto terakhir.
“Semua senyum ya! Ini bukti bahwa monitoring bukan untuk ditakuti, tapi untuk
memastikan desa kita makin tertib dan maju.”
Kades Iwan menambahkan,
“Betul. Monitoring bukan mencari kesalahan, tapi memastikan kita berjalan di
jalur yang benar.”
Setelah foto diambil, Amat langsung membuka laptopnya.
Judul berita sudah ia ketik dengan penuh semangat:
“Monitoring Anggaran TA 2025: Tertib Administrasi, Siap Menuju 2026.”
Ia menyeruput kopi yang mulai dingin dan berbisik
pelan,
“Kalau administrasi rapi dan dokumentasi lengkap… yang tenang bukan cuma tim
monev, tapi juga admin website.”
Pendopo
kembali dipenuhi tawa ringan yang mengalun santai di antara deretan kursi dan
meja yang mulai dirapikan, menjadi penutup yang manis setelah rangkaian monitoring
yang cukup menegangkan. Rasa lega bercampur bangga terpancar dari wajah para
perangkat desa, seolah mereka sepakat bahwa kerja keras menjaga administrasi
dan pelaksanaan program akhirnya terbayar dengan hasil yang membanggakan,
menutup Episode 5 dengan suasana hangat penuh optimisme.







0 komentar:
Posting Komentar