“Cerpen Si Amat;
Admin Website Desa Awan Biru”
Pagi itu di Kantor Desa Awan Biru, suasana terlihat
normal, kalau definisi normal adalah ketika satu orang menatap layar komputer
seperti sedang menunggu wahyu turun dari server pusat. Kebetulan pagi ini Amat datang
lebih awal dari jam biasanya, kemudian perangkat desa lainnya juga mulai masuk
diantaranya Sekdes Yuni, Kaur Keuangan Lulu, Kasi Pelayanan Endang serta Pak
Kades Iwan.
Amat, Kasi Pemerintahan sekaligus Admin Website Desa,
duduk membatu di depan laptopnya. Di layar terpampang judul artikel: “Musyawarah
Desa tentang Rencana Pembangunan Tahun 2026”
Status: Draft, crusor sama sekali tak
bergerak, suasana menjadi hening, tak berselang lama kemudian, Kursor
berkedip pelan. Lebih aktif dari penulisnya.
Pak Kades Iwan yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya
menyandarkan badan ke kursi dan membuka percakapan dengan nada setengah serius,
setengah menggoda.
Dengan suara berat tapi santai, Pak Kades Iwan berkata,
“Mat… itu artikel musyawarah sudah sampai mana? Jangan-jangan musyawarahnya
sudah selesai, tapi beritanya masih musyawarah batin?”
Ruangan yang tadinya sunyi langsung terasa hangat.
Sementara perangkat desa sudah datang semua, siap melaksanakan aktivitas harian
sesuai dengan tupoksinya, namun Sekdes, Kaur keuangan dan Kasi Pelayanan
kebetulan lagi ngumpul di ruangan Kasi Pemerintahan.
Amat, tanpa menoleh, menjawab pelan,
“Sedang proses, Pak…” jawabnya
singkat
Sekdes Yuni yang sedang merapikan berkas mengangkat
alisnya, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Proses apa, Mat? Rendering semangat atau loading perasaan?” ujar yuni sambil memberi isyarat ke Lulu.
Kaur Keuangan Lulu terkikik kecil sambil tetap memegang
kalkulator.
“Jangan-jangan Mas Amat lagi buffering, Pak. Sinyal semangatnya satu bar.” Ujar Lulu meledek si Amat
Kasi Pelayanan Endang yang duduk di dekat jendela ikut
nimbrung dengan nada dramatis.
“Atau mungkin lagi masuk mode hemat energi, seperti laptop kalau baterainya
mau habis.” Kata endang tak mau
kalah dengan yang lainnya.
Amat akhirnya menoleh. Wajahnya serius, tapi matanya
sedikit berkaca-kaca, antara drama dan pura-pura.
“Bapak kemarin bilang artikel saya kepanjangan…” ujar Si Amat pelan seperti memelas belas
kasihan.
Suasana mendadak hening. Lulu menahan tawa. Yuni
menutup map perlahan.
Pak Kades Iwan mengangkat tangan, sambil berkata
“Lho iya… saya cuma bilang kepanjangan sedikit. Masa langsung demo offline?”
ujar kades Iwan menjelaskan
Sementara si Amat berpendapat
lain, bahwa apa yang dikatakan oleh Pak Kades Iwan beberapa waktu yang lalu
terkait teguran dan kritikannya masih terasa hingga saat ini, si Amat Menjawab.
“Bapak bilang, ‘Mat, ini artikel apa skripsi?’ Itu
menusuk hati saya, Pak…”, ujar si Amat
pelan
Endang pura-pura mengelus dada. Seolah-olah keheranan
atas jawaban dari si Amat barusan
“Ya ampun… ini kritik redaksional berubah jadi tragedi personal.” Kata endang dengan suara lembut di
dramatisir.
Sementara itu Pak Kades Iwan bangkit dari kursinya dan berdiri di samping meja
Amat.
“Mat, saya itu baca artikelmu sampai habis. Artinya saya peduli. Kalau saya
nggak peduli, ya saya diam saja.” Imbuhnya
dengan nada diplomatis antara atasan dengan bawahan.
Yuni mengangguk bijak.
“Mas Amat, revisi itu tanda cinta administratif.” Tambahnya memberi semangat pada Amat,
sementara Lulu menimpali cepat,
“Betul. Kalau nggak direvisi, nanti anggaran juga bisa kepanjangan. Bahaya
itu.” Ujarnya sangat bersemangat
membuat suasana jadi riuh.
Amat mendesah pelan, tangannya mengepal seolah-oleh
sedang kram, kecapaian mengetik sebuah artikel sebelumnya, semabari berkata;
“Saya nulis sampai malam, Pak. Dua ribu lima ratus kata.” Ujarnya tegas penuh semangat membela diri,
sementara pak kades Iwan merasa heran atas jawaban si Amat.
“Lho itu dia masalahnya!” sahut Pak Kades cepat.
“Musyawarah dua jam, laporannya seperti rapat kabinet tiga hari.” Tambahnya lagi, tak kalah semangatnya dengan
si Amat. Endang tertawa lepas, sembari berkata;
“Bisa-bisa warga baca sampai tengah jalan, terus mikir ini berita atau novel
bersambung.” Ujarnya mengejek si
Amat. Sementara Pak Kades Iwan mengangkat jari seperti menemukan ide
besar.
“Kalau begitu kita bikin berseri saja. Part 1: Pembukaan. Part 2:
Perdebatan. Part 3: Dana Desa dan Plot Twist.” Ujarnya sambil tersenyum lebar. Lulu langsung berseru,
“Episode terakhir: ‘APBDes Menangis.’” Tambahnya sambil menatap si Amat seperti sebagai tersangka saja.
Ruangan pecah oleh tawa. Bahkan Amat mulai tersenyum
tipis. Amat akhirnya menutup laptop perlahan. Wajahnya mulai cerah. Dengan
suara lirih dia berkata;
“Pak, kalau begitu… saya usul.” Ujar si Amat tegas dan berwibawa. Semua mata tertuju padanya.
“Bagaimana kalau Admin Website Desa dianggarkan khusus?
Biar tambah semangat. Kan kerjaannya juga penting.” Tambahnya lagi. Lulu spontan
berhenti menekan kalkulator, sambil berkata;
“Nah ini dia… ujung-ujungnya duit lagi!” sambil ngeloyor pergi mendekati meja Endang. Endang ikut terkekeh,
seraya berkata;
“Tadi sedih karena revisi, sekarang bahas insentif.” Sindirnya pelan. Pak Kades Iwan mengusap
dagunya, pura-pura berpikir keras, sambil mengatakan;
“Boleh saja… asal konsisten. Website harus update. Jangan cuma semangat
kalau mau anggaran.” Ujarnya tegas
dan berwibawa. Yuni cepat-cepat nimbrung, nada diplomatis.
“Tahun depan saja kita anggarkan, Pak Kades. Biar masuk perencanaan resmi.” Katanya bersemangat. Sementara Mata
Amat langsung melotot ke arah Yuni, sembari berkata;
“Tahun depan?” Tanya si Amat ke arah Yuni. Sementara itu Lulu
bersandar santai, dan bergumam lirih;
“Waduh… berarti revisi lagi nih APBDes kita.” Gumamnya lirih. Suasana jadi makin riuh, Amat berdiri mendadak,
merasa kesal karena kurang mendapat respon yang positif.
“Sudah, saya bikin kopi dulu.” Ujarnya.
Ia melangkah ke dapur kecil kantor dengan wajah
setengah kesal, setengah malu. Dari belakang terdengar suara Lulu,
“Jangan lama-lama, nanti artikelnya tambah basi!” katanya pelan
Beberapa menit kemudian Amat kembali sambil membawa
secangkir kopi hangat. Ia duduk di kursinya, menyeruput perlahan, wajahnya
mulai tenang.
“Mantap…” gumamnya.
Pak Kades yang masih berdiri di dekat meja bertanya,
“Apanya yang mantap, Mat?” kata
pak kades iwan ke Si Amat. Sementara si Amat menjawab santai,
“Kopinya, Pak Kades.” Ujarmnya.
“Oh saya kira artikelnya yang mantap.” Kata pak kades Iwan pura-pura hreran. Amat tersenyum lebar.
“Itu nanti, Pak. Setelah ada anggarannya.” Ujar si Amat kepada Kades Iwan, bercanda.
Pak Kades menggeleng-geleng kepala sambil berjalan
kembali ke ruangannya.
“Ada-ada saja kamu ini…” ujarnya
pelan. Sementara itu, Sekdes Yuni, Lulu, dan Endang hanya saling pandang
dan tersenyum.
Website Desa Awan Biru akhirnya terunggah hari itu, lebih
ringkas, lebih rapi, dan penuh semangat yang sempat hampir tumbang karena satu
kata: kepanjangan.
Dan sejak saat itu, setiap kali Pak Kades memberi
revisi, ia selalu menambahkan satu kalimat penutup:
“Revisi kecil saja, Mat. Semangat tetap besar.”
Karena di Kantor Desa Awan Biru, bahkan urusan artikel
bisa berubah jadi drama, komedi, dan sedikit horor… terutama kalau sudah
menyentuh kata: anggaran.







0 komentar:
Posting Komentar