Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Jumat, 20 Februari 2026

Cerpen Si Amat; Efisiensi Anggaran

 

Cerpen Si Amat; Efisiensi Anggaran

Pagi itu Kantor Desa Awan Biru tampak lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena listrik padam, bukan juga karena wifi lemot. Tapi karena sebuah kata sakral baru saja beredar di grup WhatsApp perangkat desa Awan Biru: EFISIENSI ANGGARAN, sebuah topic cukup menarik untuk dibahas serta sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan dalam pengelolaan anggaran kususnya yang bersumber dari Aloksi Dana Desa ( ADD).

Si Amat, Kasi Pemerintahan sekaligus Admin Website Desa, membaca surat edaran tentang pembatasan perjalanan dinas dan bimbingan teknis (bimtek). Matanya membelalak. Tangannya gemetar bukan karena kopi kurang gula, tapi karena imajinasi tentang hotel, snack box, dan sertifikat berbingkai mulai memudar.

Di meja panjang ruangan itu, sudah hadir Sekdes Yuni, Kaur Keuangan Lulu dengan map tebal bertuliskan “Rasionalisasi”, Kasi Pelayanan Endang yang sibuk men-staples berkas, dan tentu saja Pak Kades Iwan yang terlihat lebih serius dari biasanya.

Amat memecah keheningan, seraya berkata;

“Jadi… benar ini, Pak? Perjalanan dinas dibatasi?” ujarnya dengan nada penasaran

Pak Kades Iwan menatapnya tenang, tidak langsung menjawab pertanyaan Si Amat, Pak Kades Iwan memandang keseluruh ruangan Kantor Desa Awan Biru, dilihatnya semua perangkat desanya telah hadir semua, siap untuk bekerja sesuai dengan arahan dan tupoksinya masing-masing. Sementara Si Amat menunggu jawaban dari Pak Kades Iwan, tak lama kemudian, Pak Kades Iwan berucap;
“Dibatasi, Mat. Bukan dihapus. Kita fokus pada yang prioritas.” Ujarnya tanpa basa basi.

Lulu mengangguk sambil membuka kalkulator, untuk menghitung kemungkinan adanya efisiensi anggaran pada beberapa bidang kegiatan terutama untuk perjalanan dinas maupun bimbingan teknis bagi aparatur pemerintah desa, seraya berkata;
“Betul. Ini bukan lagi zamannya jalan-jalan pakai kata ‘koordinasi’.” Imbuhnya dengan nada santai

Endang tersenyum tipis, sambil melirik Si Amat yang lagi bengong, memikirkan bimbingan teknis untuk pengelolaan website desa, kemungkinan gagal total, imbas dengan adanya efisiensi anggaran. Tak lama berselang Endang menyampaikan pendapatnya:
“Sekarang koordinasi bisa lewat Zoom. Tinggal cari sinyal dan sabar.” Tegasnya

Amat bersandar di kursinya, sambil menatap langit-langit Kantor Desa, sambil membayangkan , semua rencana yang telah digagas untuk Bimtek, sepertinya akan gagal total, apalagi masih banyak program prioritas lainnya yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama dalam pembangunan infrastruktur jalan, penanganan Stunting skala desa dan lain sebagainya, Si Amat mencoba mengalihkan pembicaraan, sambil bertanya kepada Pak Kades Iwan:
“Tapi, Pak… bagaimana dengan Bimtek Peningkatan Kapasitas Aparatur? Itu kan penting untuk menambah wawasan.” Ujarnya dengan bersemangat.

Yuni melipat tangan, nada suaranya diplomatis tapi tegas. Sambil menjawab pertanyaan dari Si Amat yang belum sempat di jawab oleh Pak Kades Iwan;
“Penting, iya. Tapi tidak semua harus diikuti. Kita pilih yang benar-benar relevan.” Katanya spontan.

Amat menghela napas panjang. Sambil memandang pak Kades Iwan yang dari tadi , Cuma senyam senyum aja melihat kepanikan Si Amat yang ingin ikut Bimtek Pengelolaan Website Desa , melihat suasana yang kurang menguntungkan bagi Si Amat seraya berkata:
“Biasanya saya ikut Bimtek Website Desa. Dapat ilmu, dapat jaringan, dapat… pengalaman.” Ujarnya penuh semangat.

Lulu menoleh cepat, menggoda Si Amat, sambil berkata:
“Pengalaman atau penginapan?” katanya sambil melirik kearah Endang.

Ruangan langsung riuh, atas pernyataan dari Lulu terhadap pertanyaan Si Amat, sedangkan perangkat desa yang lainnya juga tersenyum tipis, melihat sikap dari Si Amat yang masih bersemangat untuk Ikut Bimtek.Tak lama berselang Si Amat protes;
“Ibu Lulu ini selalu curiga. Saya serius belajar.” Katanya penuh tanggungjawab.

Kasi Pelayanan Endang yang dari tadi hanya sebagai pendengan setia, ikut menimpali, sambil meledek Si Amat dengan perkataannya:
“Belajarnya serius, tapi foto di hotelnya lebih banyak.” Tambahnya.

Pak Kades tersenyum sambil menepuk meja pelan, memberikan penjelasan kepada Si Amat terkait efisiensi anggaran yang sedang dilaksanakan oleh seluruh Pemerintah Desa, beliau berkata:
“Mat, kita ini bukan melarang belajar. Tapi sekarang kita harus efisien. Anggaran perjalanan dinas itu kita alihkan untuk kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat.” Katanya tegas dan berwibawa.

Amat mengernyit, masih penasaran sambil bertanya:
“Misalnya?” ujarnya penuh harap..

Lulu langsung menjawab cepat, tanpa melihat respon dari Pak Kades Iwan:
“Pelayanan administrasi, penguatan data desa, pengembangan website desa juga… asal tidak minta hotel bintang tiga.” ledeknya

Semua tertawa lagi, melihat perubahan wajah Si Amat, yang di bom bardir oleh beberapa perangkat desa lainnya.Namun hal tersebut tidak menyurutkan pendapatnya terkait peningkatan kapasitas aparatur pemerintah desa. Amat mencoba bertahan dengan menyampaikan pendapatnya:
“Tapi kalau tidak ikut Bimtek, bagaimana peningkatan kapasitas aparatur?”

Sekdes Yuni mencondongkan badan, berusaha memberikan alternative lainnya yang dapat di kerjakan oleh Si Amat, dengan adanya efisiensi anggaran.
“Kita bisa adakan pelatihan internal. Berbagi ilmu. Mas Amat kan jago nulis, bisa melatih perangkat lain mengelola website.”

Amat terdiam, sambil berpikir keras atas jawaban dari Sekdes Yuni, seraya berkata:
“Saya… melatih?”

Endang menyeringai, memberi semangat kepada Si Amat:
“Iya. Daripada jauh-jauh Bimtek, mending Bimtek Lokal: Bimbingan Teknis Meja Kantor.” Imbuhnya, sambil melangkah ke meja Lulu.

Lulu menambahkan,
“Snack-nya kopi dapur dan singkong rebus. Hemat, tapi nikmat.” Ujarnya tenang.

Pak Kades mengangguk mantap, sambil memandang ke Si Amat yang lagi galau, karena rencana bimtek yang sudah didepan mata terancam gagal, Pak Kades Iwan berkata:
“Efisiensi itu bukan berarti mundur. Justru kita ditantang kreatif.” Tegasnya

Amat mulai menggaruk kepala, mendengar jawaban dari Pak Kades Iwan yang sangat optimis dapat melalui dan menerapkan efisiensi anggaran tidak berpengaruh terhadap program pembengunan desa, kemudian Si Amat bertanya kepada Pak Kades Iwan:
“Jadi perjalanan dinas benar-benar dikurangi, Pak?” katanya pelan.

“Iya.” Jawab pak Kades Iwan singkat.

“Bimtek luar kota?” Tanya Si Amat lagi.

“Dibatasi.” Jawab Pak Kades Iwan singkat.

Amat menatap layar laptopnya yang menampilkan draft artikel baru berjudul:
“Komitmen Desa Awan Biru terhadap Efisiensi Anggaran.”

Ia membaca keras-keras.
“Dalam rangka optimalisasi penggunaan Dana Desa…” ujarnya , namun kalimatnya tidak dilanjutkan, sambil melirik Lulu, solah-olah minta pendapat. Lalu ia berhenti, menatap Pak Kades.

“Pak, jujur saja… kalau perjalanan dinas dibatasi, laporan perjalanan dinas di website juga berkurang.” Imbuhnya.

Lulu cepat menyahut;
“Bagus dong. Berarti artikelnya tidak kepanjangan lagi.” Ujarnya sambil tersenyum tipis.

Endang tertawa terbahak-bahak, melihat perubahan wajah Si Amat, yang lagi kesal dengan ucapan Lulu barusan, melihat hal Kasi Pelayanan Endang berkata;
“Si Amat kehilangan bahan tulisan.” Ujarnya.

Amat mengangkat jari seolah menemukan celah, tak mau kalah denga perangkat lainnya, yang sejak dari tadi selalu memojokan pendapatnya, namun hal tersebut sudah biasa baginya seraya berkata;
“Tapi kalau website tetap aktif, berarti perlu peningkatan kapasitas digital. Itu juga butuh anggaran.” Tegasnya.

Semua langsung menatapnya, gemas, dan sudah hapal kemana arah ending pembicaraan selanjutnya, Lulu mendesah, dan berkata;
“Balik lagi ke anggaran…” ujarnya.

Yuni tersenyum tipis, ambil memandang ke Si Amat, sambil berujar;
“Mas Amat ini konsisten. Apa pun temanya, ujungnya dana.” Kata sekdes Yuni.

Pak Kades menahan tawa, perbincangan siang ini cukup cair dan demokratis, sertiap perangkat desa berhak menyampaikan pendapatnya, apapun hasilaya, Pak Kades Iwan berusaha bijak sana dalam memberikan solusinya, seraya berkata kepada Si Amat:
“Begini saja, Mat. Kalau kamu bisa membuktikan website desa tetap aktif, informatif, dan berdampak tanpa banyak perjalanan dinas, saya pertimbangkan tambahan dukungan.”

Mata Amat berbinar, mendengar jawabah dari Pak Kades Iwan, di luar dugaannya.
“Dukungan dalam bentuk apa, Pak?” kata Si Amat, berharap.

Pak Kades menjawab santai, sambil berpindah tempat duduknya menjauh dari meja Si Amat, beliau berkata:
“Kita lihat nanti. Yang jelas bukan tiket pesawat.” Tambahnya.

Ruangan kembali pecah oleh tawa, sementara Si Amat tersipu malu, namun Si Amat gak kehabisan akal untuk balas menjawab. Amat berdiri, berjalan ke dapur, lalu kembali dengan kopi hangat seperti biasa. Ia menyeruput perlahan.

“Mantap…” katanya tegas sambil mengangak ibujarinya.

Pak Kades yang sudah hafal pola bertanya,
“Apanya yang mantap kali ini, Mat?” Tanya Pka Kades Iwan kepada Si Amat.

Amat tersenyum lebar, sambil memperhatikan artikel di laptopnya nyang hamper selassi di kerjakan dari tadi, tak lupa Si Amat menjawab pertanyaan Pk Kades Iwan;
“Efisiensinya, Pak. Ternyata tidak harus ke luar kota untuk jadi pintar.”

Endang menepuk meja, bersemangat melihat perubahan cara pandang Si Amat dalam menyikapi perubahan terkait efisiensi anggaran.
“Nah itu baru kapasitas meningkat!” ujar Kasi Pelayanan Endang.

Lulu mengangguk puas.
“Kalau semua aparatur berpikir begitu, APBDes kita aman.” Tambahnya.

Yuni menutup map rasionalisasi dengan mantap.
“Efisiensi itu bukan soal memotong, tapi menguatkan prioritas.” Ujarnya diplomatis.

Amat kembali duduk di depan laptopnya. Kursor kini bergerak lincah, Status artikel berubah dari Draft menjadi Terbit.

Dan di Kantor Desa Awan Biru, efisiensi bukan lagi kata yang menakutkan, hanya sedikit mengurangi cerita perjalanan, tapi menambah banyak cerita kebersamaan.

Sementara Amat dalam hati berbisik,
“Baiklah… tidak ada hotel, tidak apa-apa. Yang penting website tetap hidup.”

Karena bagi Si Amat, selama masih ada kopi dan koneksi internet, kapasitas aparatur masih bisa ditingkatkan… walau tanpa perjalanan dinas.

0 komentar:

Posting Komentar