Cerpen Si Amat;
Efisiensi Anggaran
Pagi itu Kantor Desa Awan Biru tampak
lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena listrik padam, bukan juga karena wifi
lemot. Tapi karena sebuah kata sakral baru saja beredar di grup WhatsApp
perangkat desa Awan Biru: EFISIENSI ANGGARAN, sebuah topic cukup menarik untuk dibahas serta sebagai bahan evaluasi dan
pertimbangan dalam pengelolaan anggaran kususnya yang bersumber dari Aloksi Dana Desa ( ADD).
Si Amat, Kasi Pemerintahan sekaligus
Admin Website Desa, membaca surat edaran tentang pembatasan perjalanan dinas
dan bimbingan teknis (bimtek). Matanya membelalak. Tangannya gemetar bukan
karena kopi kurang gula, tapi karena imajinasi tentang hotel, snack box, dan
sertifikat berbingkai mulai memudar.
Di meja panjang ruangan itu, sudah
hadir Sekdes Yuni, Kaur Keuangan Lulu dengan map tebal bertuliskan
“Rasionalisasi”, Kasi Pelayanan Endang yang sibuk men-staples berkas, dan tentu
saja Pak Kades Iwan yang terlihat lebih serius dari biasanya.
Amat memecah keheningan, seraya
berkata;
“Jadi… benar ini, Pak? Perjalanan dinas dibatasi?” ujarnya dengan nada penasaran
Pak Kades Iwan menatapnya tenang,
tidak langsung menjawab pertanyaan Si Amat, Pak Kades Iwan memandang keseluruh
ruangan Kantor Desa Awan Biru, dilihatnya semua perangkat desanya telah hadir
semua, siap untuk bekerja sesuai dengan arahan dan tupoksinya masing-masing.
Sementara Si Amat menunggu jawaban dari Pak Kades Iwan, tak lama kemudian, Pak
Kades Iwan berucap;
“Dibatasi, Mat. Bukan dihapus. Kita fokus pada yang prioritas.” Ujarnya tanpa basa basi.
Lulu mengangguk sambil membuka kalkulator,
untuk menghitung kemungkinan adanya efisiensi anggaran pada beberapa bidang kegiatan
terutama untuk perjalanan dinas maupun bimbingan teknis bagi aparatur
pemerintah desa, seraya berkata;
“Betul. Ini bukan lagi zamannya jalan-jalan pakai kata ‘koordinasi’.” Imbuhnya dengan nada santai
Endang tersenyum tipis, sambil melirik Si Amat yang
lagi bengong, memikirkan bimbingan teknis untuk pengelolaan website desa,
kemungkinan gagal total, imbas dengan adanya efisiensi anggaran. Tak lama berselang
Endang menyampaikan pendapatnya:
“Sekarang koordinasi bisa lewat Zoom. Tinggal cari sinyal dan sabar.” Tegasnya
Amat bersandar di kursinya, sambil menatap langit-langit
Kantor Desa, sambil membayangkan , semua rencana yang telah digagas untuk
Bimtek, sepertinya akan gagal total, apalagi masih banyak program prioritas
lainnya yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama dalam pembangunan
infrastruktur jalan, penanganan Stunting skala desa dan lain sebagainya, Si
Amat mencoba mengalihkan pembicaraan, sambil bertanya kepada Pak Kades Iwan:
“Tapi, Pak… bagaimana dengan Bimtek Peningkatan Kapasitas Aparatur? Itu kan
penting untuk menambah wawasan.” Ujarnya
dengan bersemangat.
Yuni melipat tangan, nada suaranya diplomatis tapi
tegas. Sambil menjawab pertanyaan dari Si Amat yang belum sempat di jawab oleh
Pak Kades Iwan;
“Penting, iya. Tapi tidak semua harus diikuti. Kita pilih yang benar-benar
relevan.” Katanya spontan.
Amat menghela napas panjang. Sambil memandang pak Kades
Iwan yang dari tadi , Cuma senyam senyum aja melihat kepanikan Si Amat yang
ingin ikut Bimtek Pengelolaan Website Desa , melihat suasana yang kurang
menguntungkan bagi Si Amat seraya berkata:
“Biasanya saya ikut Bimtek Website Desa. Dapat ilmu, dapat jaringan, dapat…
pengalaman.” Ujarnya penuh
semangat.
Lulu menoleh cepat, menggoda Si Amat, sambil berkata:
“Pengalaman atau penginapan?” katanya
sambil melirik kearah Endang.
Ruangan langsung riuh, atas pernyataan dari Lulu
terhadap pertanyaan Si Amat, sedangkan perangkat desa yang lainnya juga
tersenyum tipis, melihat sikap dari Si Amat yang masih bersemangat untuk Ikut
Bimtek.Tak lama berselang Si Amat protes;
“Ibu Lulu ini selalu curiga. Saya serius belajar.” Katanya penuh tanggungjawab.
Kasi Pelayanan Endang yang dari tadi hanya sebagai
pendengan setia, ikut menimpali, sambil meledek Si Amat dengan perkataannya:
“Belajarnya serius, tapi foto di hotelnya lebih banyak.” Tambahnya.
Pak Kades tersenyum sambil menepuk meja pelan,
memberikan penjelasan kepada Si Amat terkait efisiensi anggaran yang sedang
dilaksanakan oleh seluruh Pemerintah Desa, beliau berkata:
“Mat, kita ini bukan melarang belajar. Tapi sekarang kita harus efisien.
Anggaran perjalanan dinas itu kita alihkan untuk kegiatan yang langsung
menyentuh masyarakat.” Katanya tegas
dan berwibawa.
Amat mengernyit, masih penasaran sambil bertanya:
“Misalnya?” ujarnya penuh harap..
Lulu langsung menjawab cepat, tanpa melihat respon dari
Pak Kades Iwan:
“Pelayanan administrasi, penguatan data desa, pengembangan website desa
juga… asal tidak minta hotel bintang tiga.” ledeknya
Semua tertawa lagi, melihat perubahan wajah Si Amat, yang
di bom bardir oleh beberapa perangkat desa lainnya.Namun hal tersebut tidak
menyurutkan pendapatnya terkait peningkatan kapasitas aparatur pemerintah desa.
Amat mencoba bertahan dengan menyampaikan pendapatnya:
“Tapi kalau tidak ikut Bimtek, bagaimana peningkatan kapasitas aparatur?”
Sekdes Yuni mencondongkan badan, berusaha memberikan alternative
lainnya yang dapat di kerjakan oleh Si Amat, dengan adanya efisiensi anggaran.
“Kita bisa adakan pelatihan internal. Berbagi ilmu. Mas Amat kan jago nulis,
bisa melatih perangkat lain mengelola website.”
Amat terdiam, sambil berpikir keras atas jawaban dari
Sekdes Yuni, seraya berkata:
“Saya… melatih?”
Endang menyeringai, memberi semangat kepada Si Amat:
“Iya. Daripada jauh-jauh Bimtek, mending Bimtek Lokal: Bimbingan Teknis Meja
Kantor.” Imbuhnya, sambil melangkah
ke meja Lulu.
Lulu menambahkan,
“Snack-nya kopi dapur dan singkong rebus. Hemat, tapi nikmat.” Ujarnya tenang.
Pak Kades mengangguk mantap, sambil memandang ke Si
Amat yang lagi galau, karena rencana bimtek yang sudah didepan mata terancam
gagal, Pak Kades Iwan berkata:
“Efisiensi itu bukan berarti mundur. Justru kita ditantang kreatif.” Tegasnya
Amat mulai menggaruk kepala, mendengar jawaban dari Pak
Kades Iwan yang sangat optimis dapat melalui dan menerapkan efisiensi anggaran
tidak berpengaruh terhadap program pembengunan desa, kemudian Si Amat bertanya kepada Pak Kades Iwan:
“Jadi perjalanan dinas benar-benar dikurangi, Pak?” katanya pelan.
“Iya.” Jawab pak Kades Iwan singkat.
“Bimtek luar kota?” Tanya Si Amat lagi.
“Dibatasi.” Jawab Pak Kades Iwan singkat.
Amat menatap layar laptopnya yang menampilkan draft
artikel baru berjudul:
“Komitmen Desa Awan Biru terhadap Efisiensi Anggaran.”
Ia membaca keras-keras.
“Dalam rangka optimalisasi penggunaan Dana Desa…” ujarnya , namun kalimatnya tidak dilanjutkan,
sambil melirik Lulu, solah-olah minta pendapat. Lalu ia berhenti,
menatap Pak Kades.
“Pak, jujur saja… kalau perjalanan dinas dibatasi,
laporan perjalanan dinas di website juga berkurang.” Imbuhnya.
Lulu cepat menyahut;
“Bagus dong. Berarti artikelnya tidak kepanjangan lagi.” Ujarnya sambil tersenyum tipis.
Endang tertawa terbahak-bahak, melihat perubahan wajah
Si Amat, yang lagi kesal dengan ucapan Lulu barusan, melihat hal Kasi Pelayanan
Endang berkata;
“Si Amat kehilangan bahan tulisan.” Ujarnya.
Amat mengangkat jari seolah menemukan celah, tak mau
kalah denga perangkat lainnya, yang sejak dari tadi selalu memojokan
pendapatnya, namun hal tersebut sudah biasa baginya seraya berkata;
“Tapi kalau website tetap aktif, berarti perlu peningkatan kapasitas
digital. Itu juga butuh anggaran.” Tegasnya.
Semua langsung menatapnya, gemas, dan sudah hapal
kemana arah ending pembicaraan selanjutnya, Lulu mendesah, dan berkata;
“Balik lagi ke anggaran…” ujarnya.
Yuni tersenyum tipis, ambil memandang ke Si Amat,
sambil berujar;
“Mas Amat ini konsisten. Apa pun temanya, ujungnya dana.” Kata sekdes Yuni.
Pak Kades menahan tawa, perbincangan siang ini cukup
cair dan demokratis, sertiap perangkat desa berhak menyampaikan pendapatnya,
apapun hasilaya, Pak Kades Iwan berusaha bijak sana dalam memberikan solusinya,
seraya berkata kepada Si Amat:
“Begini saja, Mat. Kalau kamu bisa membuktikan website desa tetap aktif,
informatif, dan berdampak tanpa banyak perjalanan dinas, saya pertimbangkan
tambahan dukungan.”
Mata Amat berbinar, mendengar jawabah dari Pak Kades
Iwan, di luar dugaannya.
“Dukungan dalam bentuk apa, Pak?” kata Si Amat, berharap.
Pak Kades menjawab santai, sambil berpindah tempat
duduknya menjauh dari meja Si Amat, beliau berkata:
“Kita lihat nanti. Yang jelas bukan tiket pesawat.” Tambahnya.
Ruangan kembali pecah oleh tawa, sementara Si Amat
tersipu malu, namun Si Amat gak kehabisan akal untuk balas menjawab. Amat
berdiri, berjalan ke dapur, lalu kembali dengan kopi hangat seperti biasa. Ia
menyeruput perlahan.
“Mantap…” katanya tegas sambil mengangak ibujarinya.
Pak Kades yang sudah hafal pola bertanya,
“Apanya yang mantap kali ini, Mat?” Tanya Pka Kades Iwan kepada Si Amat.
Amat tersenyum lebar, sambil memperhatikan artikel di
laptopnya nyang hamper selassi di kerjakan dari tadi, tak lupa Si Amat menjawab
pertanyaan Pk Kades Iwan;
“Efisiensinya, Pak. Ternyata tidak harus ke luar kota untuk jadi pintar.”
Endang menepuk meja, bersemangat melihat perubahan cara
pandang Si Amat dalam menyikapi perubahan terkait efisiensi anggaran.
“Nah itu baru kapasitas meningkat!” ujar Kasi Pelayanan Endang.
Lulu mengangguk puas.
“Kalau semua aparatur berpikir begitu, APBDes kita aman.” Tambahnya.
Yuni menutup map rasionalisasi dengan mantap.
“Efisiensi itu bukan soal memotong, tapi menguatkan prioritas.” Ujarnya diplomatis.
Amat kembali duduk di depan laptopnya. Kursor kini
bergerak lincah, Status artikel berubah dari Draft menjadi Terbit.
Dan di Kantor Desa Awan Biru, efisiensi bukan lagi kata
yang menakutkan, hanya sedikit mengurangi cerita perjalanan, tapi menambah
banyak cerita kebersamaan.
Sementara Amat dalam hati berbisik,
“Baiklah… tidak ada hotel, tidak apa-apa. Yang penting website tetap hidup.”
Karena bagi Si Amat, selama masih ada kopi dan koneksi
internet, kapasitas aparatur masih bisa ditingkatkan… walau tanpa perjalanan
dinas.







0 komentar:
Posting Komentar