Cerpen Si Amat Episode 3; Peran Perangkat Desa dalam Meningkatkan Visibilitas Website Desa
Pagi di Kantor Desa Awan Biru terasa berbeda dari biasanya; bukan lagi sunyi penuh kehati-hatian seperti saat kata “efisiensi” dulu menggema di ruang rapat dan membuat semua orang menghitung ulang setiap rupiah, melainkan lebih hidup, lebih bersemangat, seolah ada energi baru yang berembus dari pendopo hingga ruang pelayanan. Udara masih segar dengan aroma kopi dapur yang mengepul pelan, suara ketikan keyboard terdengar bersahutan, dan beberapa perangkat desa tampak sibuk membuka laptop lebih awal dari biasanya.
Jika sebelumnya pembicaraan didominasi soal pemangkasan anggaran dan prioritas pembangunan fisik, kali ini topik yang ramai diperbincangkan terdengar lebih modern dan sedikit bergengsi: Visibilitas Website Desa. Istilah itu meluncur dari mulut ke mulut dengan nada penasaran sekaligus antusias, seakan-akan Desa Awan Biru sedang bersiap melangkah ke panggung yang lebih luas, bukan hanya melayani warga di balai desa, tetapi juga tampil di layar ponsel, di mesin pencari, dan di hadapan siapa saja yang ingin mengenal potensi desa.
Papan tulis di ruang rapat kini tidak lagi dipenuhi angka-angka anggaran semata, melainkan coretan ide konten, rencana publikasi kegiatan, hingga gagasan melibatkan pemuda sebagai kontributor. Suasana yang dulu sempat kaku kini berubah menjadi diskusi yang lebih terbuka dan penuh harapan, karena semua mulai menyadari bahwa membangun desa tidak hanya soal jalan dan bangunan, tetapi juga tentang bagaimana desa itu terlihat, dikenal, dan dipercaya melalui jendela digital bernama website desa.
Spanduk kecil hasil cetakan Si Amat terpasang miring di papan pengumuman:
“Website Desa Awan Biru: Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Warga dan Dunia.”
Di ruang rapat, kopi sudah mengepul. Sekdes Yuni membuka agenda. Kaur Keuangan Lulu membawa buku kas seperti biasa. Kasi Pelayanan Endang sibuk merapikan berkas pelayanan. Dan hadir pula Kaur Perencanaan, Pak Eko—yang usianya paling senior, rambutnya mulai memutih, tapi semangatnya masih seperti mahasiswa KKN.
Pak Kades Iwan duduk di tengah, wajahnya tenang namun penuh wibawa.
Sementara itu, Si Amat terlihat berbeda. Hari ini ia duduk lebih tegak. Laptopnya terbuka, menampilkan grafik statistik pengunjung website desa yang naik turun seperti harga cabai.
Pak Kades Iwan membuka rapat.
“Baik, kita sudah bicara soal efisiensi. Sekarang kita bicara dampaknya. Website desa harus lebih terlihat. Bukan hanya aktif, tapi berdampak.”
Amat langsung tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat penuh percaya diri. Ia tahu, inilah momen yang selama ini ditunggu-tunggu, kesempatan emas untuk membuktikan bahwa perannya sebagai Admin Website Desa bukan sekadar pelengkap struktur organisasi. Setelah sekian lama menjadi sasaran ledekan soal bimtek dan anggaran, kini justru pembahasan berputar di wilayah yang paling ia kuasai. Matanya berbinar, pikirannya bergerak cepat menyusun argumen, dan dalam hati ia berbisik, “Akhirnya… lapangan mainnya saya.” Lanjut Si Amat berkata:
“Betul sekali, Pak,” katanya mantap. “Selama ini saya adminnya. Tapi kalau kontennya cuma dari saya, ya ibarat warung cuma jual satu menu”, ujarnya tenang.
Lulu menyeringai kecil, senyum khas yang selalu muncul setiap kali ia melihat Amat terlalu percaya diri. Matanya menyipit jahil, seolah sudah menyiapkan satu kalimat pamungkas untuk menggoda. Tangannya tetap tenang di atas buku catatan anggaran, tapi ekspresinya jelas berkata;
“Loh, bukannya Mas Amat jago nulis? Katanya kreatif?”
Amat membalas cepat,
“Kreatif, Bu. Tapi bukan tukang berita tunggal. Website itu etalase desa. Kalau isinya cuma ‘Perjalanan Dinas Nihil’, warga bisa bosan.”
Endang tertawa.
“Sekarang Mas Amat yang menyerang, ya?”
Pak Eko yang dari tadi diam, angkat suara dengan tenang namun dalam.
“Kalau saya boleh bicara… website itu bukan soal siapa yang menulis, tapi siapa yang peduli. Zaman sekarang, desa yang tidak tampil di internet, seperti tidak hadir di peta.”
Semua terdiam sejenak. Suasana yang tadi riuh mendadak hening, seolah memberi ruang pada makna kalimat Pak Eko yang sederhana namun dalam. Ucapannya terasa berat tapi mengena, seperti pengingat halus bahwa yang mereka bicarakan bukan sekadar website, melainkan masa depan wajah desa di mata dunia.
Yuni mengangguk.
“Maksudnya, semua perangkat harus jadi kontributor?”
Amat langsung menyambar,
“Nah, itu dia! Saya butuh tim. Sekdes bisa tulis kebijakan dan kegiatan. Bu Lulu bisa buat infografis realisasi anggaran. Bu Endang bisa update pelayanan. Pak Eko bisa share perencanaan pembangunan.”
Lulu mengangkat alis.
“Loh, saya jadi content creator sekarang?”
Amat tersenyum lebar.
“Iya, Bu. Bukan cuma penjaga kas, tapi penjaga transparansi.”
Ruangan mulai riuh kembali, suara tawa dan celetukan saling bersahutan memecah keheningan yang tadi sempat menggantung. Kursi-kursi sedikit bergeser, beberapa kepala saling menoleh, dan suasana yang sempat serius berubah hangat penuh semangat. Topik visibilitas itu kini bukan lagi wacana berat, melainkan bahan diskusi yang hidup dan penuh warna.
Pak Kades Iwan menepuk meja pelan.
“Sudah saatnya kita serius. Website desa bukan milik Amat. Itu milik Desa Awan Biru. Saya ingin semua perangkat desa terlibat sebagai kontributor.”
Endang pura-pura menghela napas panjang.
“Wah, sekarang kita yang dibombardir.”
Amat berdiri, semangatnya membuncak.
“Selama ini saya yang diledek soal Bimtek, soal hotel, soal artikel kepanjangan. Sekarang giliran saya yang minta setoran tulisan.”
Yuni tersenyum diplomatis.
“Mas Amat ini balas dendamnya elegan.”
Pak Eko tertawa kecil.
“Bagus itu. Anak muda harus berani. Saya dukung, Mat. Perencanaan desa itu banyak yang bisa dijelaskan ke masyarakat. Supaya warga tahu arah pembangunan.”
Amat mengangguk hormat.
“Terima kasih, Pak Eko. Konten kita nanti bukan cuma berita seremoni, tapi edukasi. Misalnya: kenapa jalan ini diprioritaskan, kenapa program stunting penting, bagaimana dana dikelola.”
Lulu mulai terlihat berpikir.
“Kalau begitu… laporan keuangan bisa kita ringkas jadi bahasa yang mudah dipahami warga.”
“Wah, itu keren, Bu!” sahut Amat cepat. “Namanya transparansi digital.”
Endang ikut menimpali,
“Kalau pelayanan? Saya bisa buat panduan bikin KTP, KK, surat-surat. Jadi warga tidak bolak-balik tanya.”
Amat menunjuk dengan gaya seperti pembawa seminar.
“Itu namanya pelayanan berbasis informasi!”
Semua tertawa serempak, tawa yang lepas dan tanpa beban, membuat suasana rapat yang tadi sempat serius berubah cair seketika. Bahkan yang biasanya menahan diri pun ikut tersenyum lebar, merasakan hangatnya kebersamaan yang sederhana tapi menyenangkan itu.
Pak Eko bersandar, lalu berkata pelan namun tegas,
“Kita ini bukan cuma aparat administrasi. Kita penggerak perubahan. Kalau anak muda desa lihat website aktif, mereka bangga. Mereka merasa desanya maju.”
Kalimat itu membuat suasana hening sejenak.
Pak Kades mengangguk mantap.
“Betul. Bahkan saya ingin libatkan pemuda desa sebagai kontributor tamu. Kegiatan karang taruna, UMKM, potensi wisata—semua masuk.”
Mata Amat berbinar.
“Nah! Itu baru visibilitas, Pak. Mesin pencari akan kenal Desa Awan Biru. Orang luar bisa lihat potensi kita.”
Yuni tersenyum.
“Mas Amat sekarang seperti dosen digital.”
Amat membalas cepat,
“Dulu saya yang minta anggaran. Sekarang saya minta partisipasi.”
SK Pengelola Website Desa pun mulai disebut-sebut dengan nada lebih serius, bukan lagi sekadar wacana yang lewat begitu saja. Kertas konsepnya seolah sudah terbayang di meja, lengkap dengan nama-nama yang akan tercantum di dalamnya. Bagi sebagian yang hadir, itu terdengar seperti langkah kecil, tapi bagi Amat, itu seperti pengakuan resmi atas kerja keras yang selama ini sering dianggap angin lalu.
Pak Kades berdiri.
“Baik. Saya putuskan. Kita bentuk Tim Pengelola Website Desa. Saya akan buatkan SK. Semua perangkat desa menjadi kontributor sesuai bidang masing-masing.”
Lulu berkomentar santai,
“Berarti rapat kita nanti ada target tulisan juga?”
Amat langsung menjawab,
“Betul, Bu. Target konten, bukan cuma target anggaran.”
Endang tertawa.
“Si Amat benar-benar di atas angin hari ini.”
Pak Eko menepuk bahu Amat.
“Gunakan kesempatan ini baik-baik. Bimbing kami yang tidak terlalu paham teknologi.”
Amat tersenyum tulus.
“Siap, Pak. Kita belajar bersama. Tidak ada yang terlalu tua untuk belajar digital.”
Pak Kades menutup rapat dengan kalimat tegas,
“Website desa adalah wajah desa. Kalau wajahnya bersih, informatif, dan aktif, orang akan percaya. Mulai hari ini, kita bukan hanya perangkat desa. Kita juga kontributor perubahan.”
Rapat selesai. Tapi suasana berbeda dari biasanya. Sekdes Yuni mulai mencatat ide tulisan. Lulu membuka laptopnya, mencoba membuat tabel infografis. Endang sibuk memotret ruang pelayanan untuk konten baru. Pak Eko berdiskusi dengan Amat soal rencana pembangunan jangka menengah. Dan Si Amat? Ia duduk di depan laptopnya, kali ini bukan sendirian. Status website hari itu menampilkan artikel baru berjudul:
“Bersama Meningkatkan Visibilitas Website Desa Awan Biru.”
Dalam hati ia berbisik,
“Kalau semua ikut menulis, website ini bukan cuma hidup… tapi berkembang.”
Karena kini ia sadar, Admin yang kuat bukan yang bekerja sendiri, melainkan yang mampu menggerakkan tim. Dan di Kantor Desa Awan Biru, visibilitas bukan lagi soal siapa paling sering online,
tetapi siapa paling peduli untuk berbagi informasi demi kemajuan desa.







0 komentar:
Posting Komentar