Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Sabtu, 21 Februari 2026

Cerpen Si Amat Episode 4: Musdes Penetapan APBDes TA 2026

 Cerpen Si Amat Episode 4: Musdes Penetapan APBDes TA 2026

Pendopo Kantor Desa Awan Biru tampak lebih ramai dari biasanya. Kursi tersusun rapi, spanduk bertuliskan Musyawarah Desa Penetapan APBDes TA 2026 terbentang di belakang meja pimpinan sidang. Hadir lengkap perangkat desa, Santoso mewakili masyarakat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, PLD, lembaga desa, hingga tim kecamatan yang dipimpin Kurnia, SP. Di meja depan duduk Didit selaku Ketua BPD yang membuka musyawarah.

Didit mengetuk mikrofon pelan.
“Bismillahirrahmanirrahim… Musyawarah Desa Penetapan APBDes Tahun Anggaran 2026 secara resmi kita buka. Semoga tidak ada yang ‘walk out’ sebelum makan siang.”

Beberapa hadirin tersenyum, suasana yang tadinya kaku perlahan mencair oleh celetukan ringan yang masih terngiang di antara derit kursi kayu. Di sudut ruangan, Amat sibuk mengatur tripod kecil dan memeriksa angle kamera, sesekali berjongkok lalu berdiri lagi demi memastikan wajah para peserta rapat tertangkap jelas tanpa terpotong kipas angin tua di langit-langit. Matanya menyipit penuh konsentrasi, tangannya cekatan merapikan posisi lensa, seolah momen Musdes hari itu bukan sekadar rapat anggaran, melainkan peristiwa penting yang layak diabadikan dengan framing terbaik untuk menghiasi beranda website Desa Awan Biru.

Kepala Desa, Iwan, berdiri dengan map tebal di tangan.
“Bapak Ibu sekalian, kita semua tahu tahun ini dana desa kita kurang dari tiga ratus juta rupiah karena adanya Program Nasional KDMP yang wajib dilaksanakan. Jadi kita harus realistis, jangan semua mau dibangun, kecuali mau bangun mimpi saja.”

Tawa kecil terdengar.

Sekcam Kurnia, SP, kemudian maju memberikan paparan.
“Penetapan APBDes bukan sekadar formalitas, tapi komitmen hukum dan moral. Harus sesuai regulasi, transparan, dan tepat sasaran. Kalau anggaran kecil, justru perencanaannya harus besar.”

Pak Eko, Kaur Perencanaan, mengangguk mantap.
“Siap, Pak Sekcam. Prioritas sudah kami susun berdasarkan hasil pra-musdes. Dua program utama: pembangunan jembatan penghubung batas desa dan peningkatan jalan desa.”

Santoso, perwakilan masyarakat, angkat tangan.
“Mohon izin, Pak. Usulan jembatan antar desa itu sudah lama dinanti warga. Kalau musim hujan, anak sekolah mutarnya bisa sampai lima kilometer.”

Kades Iwan mengangguk serius.
“Betul, Pak Santoso. Karena itu jembatan jadi prioritas. Tapi pelaksanaannya harus profesional. Kita rencanakan pembentukan TPK antar desa agar koordinasinya jelas.”

Pendamping Desa, Heru, menimpali,
“Setuju, Pak. TPK antar desa penting supaya tidak ada tumpang tindih kewenangan. Administrasi dan laporan harus rapi. Jangan sampai jembatan berdiri, tapi SPJ-nya tenggelam.”

Suasana kembali hangat dengan tawa ringan yang menyebar dari barisan depan hingga ke kursi paling belakang, membuat ketegangan pembahasan angka-angka anggaran terasa lebih manusiawi dan akrab. Beberapa peserta saling berbisik sambil tersenyum, ada yang menepuk meja pelan, ada pula yang mengangguk setuju dengan wajah lebih santai, seakan rapat resmi itu berubah menjadi ruang kebersamaan yang penuh rasa memiliki terhadap masa depan desa.

Kaur Keuangan, Lulu, membuka buku anggaran tebalnya.
“Dengan dana di bawah tiga ratus juta, kita hanya mampu dua prioritas itu. Untuk penanganan stunting, kita pakai PAD dan sisa dana desa. Tapi mohon dicatat, jangan tiap rapat tambah kegiatan lagi. Nanti yang pusing saya.”

Endang, Kasi Pelayanan, tersenyum.
“Yang penting pelayanan tetap jalan, Bu Lulu. Jangan sampai warga datang minta surat, malah disuruh ikut kerja bakti jembatan.”

Tiba-tiba Amat berdiri di tengah-tengah mengambil foto.
“Bapak Ibu, senyum dulu ya. Ini buat dokumentasi website desa. Jangan tegang, nanti dikira rapat penangkapan koruptor.”

Babinsa tertawa lebar.
“Kalau saya kelihatan galak nggak, Mat?”

“Tenang, Pak. Nanti saya edit jadi ramah lingkungan,” jawab Amat cepat.

Ketua BPD Didit berpose terlalu serius.
“Pak Ketua, jangan kaku begitu. Ini musdes, bukan foto ijazah.”

Ruangan kembali riuh, suara saling sahut bercampur dengan derak kursi yang digeser dan gumaman setuju dari berbagai sudut balai desa. Beberapa tangan terangkat ingin menanggapi, sementara yang lain mengangguk-angguk penuh semangat, membuat suasana terasa hidup namun tetap terarah. Di tengah keramaian itu, aura musyawarah tetap terasa kuat—bukan sekadar perdebatan, melainkan tanda bahwa setiap orang benar-benar peduli pada keputusan yang sedang dirumuskan bersama.

Setelah diskusi panjang dan terbuka, Kades Iwan berdiri untuk penetapan akhir.
“Dengan mempertimbangkan regulasi, hasil pra-musdes, dan kemampuan keuangan desa, maka hari ini APBDes Tahun Anggaran 2026 resmi kita tetapkan. Fokus pada pembangunan Jembatan Batas Desa dan Peningkatan Jalan Desa, serta dukungan penanganan stunting dari PAD dan sisa dana desa.”

Didit mengetuk palu sidang.
“Disetujui?”

“Setujuuu…” jawab hadirin serempak.

Amat buru-buru mengambil foto terakhir.
“Pak Kades, satu lagi. Angkat map-nya sedikit, biar kelihatan resmi.”

Kades Iwan berbisik pelan,
“Mat, jangan lupa tulis di website, ‘Musdes berjalan demokratis dan penuh semangat kebersamaan’.”

Amat menyeringai.
“Siap, Pak. Tambah satu kalimat lagi: ‘Walau anggaran tipis, semangat tetap tebal.’”

Lulu geleng-geleng kepala.
“Yang penting jangan tambah anggaran lagi di berita, Mat.”

Musdes pun ditutup dengan tepuk tangan meriah yang menggema memenuhi balai desa, menyisakan rasa lega dan bangga atas keputusan yang telah disepakati bersama. Di layar laptopnya, Amat sudah mulai mengetik judul berita dengan jari-jari yang bergerak cepat namun penuh kehati-hatian, memastikan setiap kata terdengar resmi, informatif, dan membanggakan. Sesekali ia mengangkat wajahnya, memandangi ruangan yang perlahan lengang, lalu kembali fokus merangkai kalimat pembuka untuk diunggah ke website desa, seolah ia tahu bahwa dokumentasi hari ini akan menjadi catatan penting perjalanan Desa Awan Biru di tahun anggaran 2026.

Di layar laptopnya, Amat sudah mulai mengetik judul berita:
“APBDes 2026 Resmi Ditetapkan: Jembatan Harapan Warga Awan Biru Segera Dibangun.”

Ia tersenyum puas.
“Kali ini,” gumamnya pelan, “yang viral bukan cuma kopi… tapi kerja nyata.”

0 komentar:

Posting Komentar