Cerpen Si Amat Episode 4: Musdes Penetapan APBDes TA 2026
Pendopo Kantor Desa Awan Biru
tampak lebih ramai dari biasanya. Kursi tersusun rapi, spanduk bertuliskan Musyawarah
Desa Penetapan APBDes TA 2026 terbentang di belakang meja pimpinan sidang.
Hadir lengkap perangkat desa, Santoso
mewakili masyarakat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, PLD, lembaga desa, hingga tim
kecamatan yang dipimpin Kurnia, SP. Di
meja depan duduk Didit selaku Ketua BPD
yang membuka musyawarah.
Didit mengetuk mikrofon pelan.
“Bismillahirrahmanirrahim… Musyawarah Desa Penetapan APBDes Tahun Anggaran 2026
secara resmi kita buka. Semoga tidak ada yang ‘walk out’ sebelum makan siang.”
Beberapa hadirin tersenyum,
suasana yang tadinya kaku perlahan mencair oleh celetukan ringan yang masih
terngiang di antara derit kursi kayu. Di sudut ruangan, Amat sibuk mengatur
tripod kecil dan memeriksa angle kamera, sesekali berjongkok lalu berdiri lagi
demi memastikan wajah para peserta rapat tertangkap jelas tanpa terpotong kipas
angin tua di langit-langit. Matanya menyipit penuh konsentrasi, tangannya
cekatan merapikan posisi lensa, seolah momen Musdes hari itu bukan sekadar
rapat anggaran, melainkan peristiwa penting yang layak diabadikan dengan
framing terbaik untuk menghiasi beranda website Desa Awan Biru.
Kepala Desa, Iwan,
berdiri dengan map tebal di tangan.
“Bapak Ibu sekalian, kita semua tahu tahun ini dana desa kita kurang dari tiga
ratus juta rupiah karena adanya Program Nasional KDMP yang wajib dilaksanakan.
Jadi kita harus realistis, jangan semua mau dibangun, kecuali mau bangun mimpi
saja.”
Tawa kecil terdengar.
Sekcam Kurnia, SP, kemudian maju memberikan
paparan.
“Penetapan APBDes bukan sekadar formalitas, tapi komitmen hukum dan moral.
Harus sesuai regulasi, transparan, dan tepat sasaran. Kalau anggaran kecil,
justru perencanaannya harus besar.”
Pak Eko, Kaur Perencanaan, mengangguk mantap.
“Siap, Pak Sekcam. Prioritas sudah kami susun berdasarkan hasil pra-musdes. Dua
program utama: pembangunan jembatan penghubung batas desa dan peningkatan jalan
desa.”
Santoso, perwakilan masyarakat, angkat tangan.
“Mohon izin, Pak. Usulan jembatan antar desa itu sudah lama dinanti warga.
Kalau musim hujan, anak sekolah mutarnya bisa sampai lima kilometer.”
Kades Iwan mengangguk serius.
“Betul, Pak Santoso. Karena itu jembatan jadi prioritas. Tapi pelaksanaannya
harus profesional. Kita rencanakan pembentukan TPK antar desa agar
koordinasinya jelas.”
Pendamping Desa, Heru, menimpali,
“Setuju, Pak. TPK antar desa penting supaya tidak ada tumpang tindih kewenangan.
Administrasi dan laporan harus rapi. Jangan sampai jembatan berdiri, tapi
SPJ-nya tenggelam.”
Suasana kembali hangat dengan
tawa ringan yang menyebar dari barisan depan hingga ke kursi paling belakang,
membuat ketegangan pembahasan angka-angka anggaran terasa lebih manusiawi dan
akrab. Beberapa peserta saling berbisik sambil tersenyum, ada yang menepuk meja
pelan, ada pula yang mengangguk setuju dengan wajah lebih santai, seakan rapat
resmi itu berubah menjadi ruang kebersamaan yang penuh rasa memiliki terhadap
masa depan desa.
Kaur Keuangan, Lulu, membuka buku anggaran
tebalnya.
“Dengan dana di bawah tiga ratus juta, kita hanya mampu dua prioritas itu.
Untuk penanganan stunting, kita pakai PAD dan sisa dana desa. Tapi mohon
dicatat, jangan tiap rapat tambah kegiatan lagi. Nanti yang pusing saya.”
Endang, Kasi Pelayanan, tersenyum.
“Yang penting pelayanan tetap jalan, Bu Lulu. Jangan sampai warga datang minta
surat, malah disuruh ikut kerja bakti jembatan.”
Tiba-tiba Amat berdiri di tengah-tengah mengambil
foto.
“Bapak Ibu, senyum dulu ya. Ini buat dokumentasi website desa. Jangan tegang,
nanti dikira rapat penangkapan koruptor.”
Babinsa tertawa lebar.
“Kalau saya kelihatan galak nggak, Mat?”
“Tenang, Pak. Nanti saya edit jadi ramah
lingkungan,” jawab Amat cepat.
Ketua BPD Didit berpose terlalu serius.
“Pak Ketua, jangan kaku begitu. Ini musdes, bukan foto ijazah.”
Ruangan kembali riuh, suara
saling sahut bercampur dengan derak kursi yang digeser dan gumaman setuju dari
berbagai sudut balai desa. Beberapa tangan terangkat ingin menanggapi,
sementara yang lain mengangguk-angguk penuh semangat, membuat suasana terasa
hidup namun tetap terarah. Di tengah keramaian itu, aura musyawarah tetap
terasa kuat—bukan sekadar perdebatan, melainkan tanda bahwa setiap orang
benar-benar peduli pada keputusan yang sedang dirumuskan bersama.
Setelah diskusi panjang dan terbuka, Kades Iwan
berdiri untuk penetapan akhir.
“Dengan mempertimbangkan regulasi, hasil pra-musdes, dan kemampuan keuangan
desa, maka hari ini APBDes Tahun Anggaran 2026 resmi kita tetapkan. Fokus pada
pembangunan Jembatan Batas Desa dan Peningkatan Jalan Desa, serta dukungan
penanganan stunting dari PAD dan sisa dana desa.”
Didit mengetuk palu sidang.
“Disetujui?”
“Setujuuu…” jawab hadirin serempak.
Amat buru-buru mengambil foto terakhir.
“Pak Kades, satu lagi. Angkat map-nya sedikit, biar kelihatan resmi.”
Kades Iwan berbisik pelan,
“Mat, jangan lupa tulis di website, ‘Musdes berjalan demokratis dan penuh
semangat kebersamaan’.”
Amat menyeringai.
“Siap, Pak. Tambah satu kalimat lagi: ‘Walau anggaran tipis, semangat tetap
tebal.’”
Lulu geleng-geleng kepala.
“Yang penting jangan tambah anggaran lagi di berita, Mat.”
Musdes pun ditutup dengan tepuk
tangan meriah yang menggema memenuhi balai desa, menyisakan rasa lega dan
bangga atas keputusan yang telah disepakati bersama. Di layar laptopnya, Amat
sudah mulai mengetik judul berita dengan jari-jari yang bergerak cepat namun
penuh kehati-hatian, memastikan setiap kata terdengar resmi, informatif, dan
membanggakan. Sesekali ia mengangkat wajahnya, memandangi ruangan yang perlahan
lengang, lalu kembali fokus merangkai kalimat pembuka untuk diunggah ke website
desa, seolah ia tahu bahwa dokumentasi hari ini akan menjadi catatan penting
perjalanan Desa Awan Biru di tahun anggaran 2026.
Di layar laptopnya, Amat sudah mulai mengetik judul
berita:
“APBDes 2026 Resmi Ditetapkan: Jembatan Harapan Warga Awan Biru Segera
Dibangun.”
Ia tersenyum puas.
“Kali ini,” gumamnya pelan, “yang viral bukan cuma kopi… tapi kerja nyata.”









0 komentar:
Posting Komentar