Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Minggu, 22 Februari 2026

Cerpen Si Amat Episode 6; Penyerahan LKPJ Kepada BPD

 

Cerpen Si Amat Episode 6; Penyerahan LKPJ Kepada BPD

Pendopo Kantor Desa Awan Biru siang itu tampak khidmat namun tetap hangat. Di atas meja utama terletak dokumen tebal bercover hijau bertuliskan Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (LKPJ) TA 2025. Di sampingnya, ringkasan grafik realisasi APBDes, dokumentasi kegiatan, serta print out infografis yang sebelumnya telah dipublikasikan melalui website desa sebagai bentuk ILPPD kepada masyarakat.

Si Amat sibuk memeriksa kameranya dengan wajah serius namun penuh semangat, memutar lensa perlahan untuk memastikan fokusnya tajam dan pencahayaan di pendopo cukup terang. Sesekali ia mengecek hasil jepretan sebelumnya di layar kecil kamera, lalu mengangguk puas sebelum kembali mengatur posisi berdiri agar sudut pengambilan gambar terlihat lebih proporsional dan momen penting penyerahan laporan bisa terekam dengan jelas serta layak ditampilkan di website desa.

“Pak Kades, nanti pas penyerahan buku Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (LKPJ )  jangan terlalu cepat ya. Saya butuh tiga detik buat fokus,” katanya serius.

Kades Iwan mengangguk pelan.
“Tenang, Mat. Ini laporan tahunan, bukan lomba lari.”

Kepala Desa Iwan membuka rapat penyerahan LKPJ dengan sikap tenang dan penuh wibawa, berdiri di hadapan Ketua dan anggota BPD serta para undangan yang hadir di pendopo desa. Dengan suara jelas dan terukur, ia menyampaikan bahwa rapat tersebut merupakan bagian dari kewajiban konstitusional Pemerintah Desa dalam menyampaikan Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun Anggaran 2025 sebagai bentuk akuntabilitas dan transparansi kepada BPD. Ia menegaskan bahwa LKPJ bukan sekadar laporan administratif, melainkan cerminan tanggung jawab moral dan profesional atas pelaksanaan APBDes selama satu tahun, sekaligus ruang evaluasi bersama demi perbaikan tata kelola pemerintahan desa ke depan.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Ketua dan Anggota BPD Desa Awan Biru, para perangkat desa, pendamping desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta seluruh undangan yang berkenan hadir. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul pada hari ini dalam rangka penyampaian Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun Anggaran 2025 Kepada Badan Permusyawaratan Desa ( BPD ) Desa Awan Biru dalam keadaan sehat dan penuh semangat kebersamaan.”

Dalam paparannya, Kades Iwan menyampaikan LKPJ dengan runtut dan sistematis, dimulai dari gambaran umum kondisi desa selama Tahun Anggaran 2025 hingga capaian program di setiap bidang penyelenggaraan pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa pada bidang pemerintahan, fokus diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan administrasi dan penataan arsip desa agar lebih tertib dan responsif. Pada bidang pembangunan, ia memaparkan realisasi peningkatan jalan desa, penguatan sarana Perpustakaan Desa, serta dukungan terhadap program ketahanan pangan hewani berupa ternak bebek petelur yang telah memberikan dampak ekonomi bagi kelompok masyarakat.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa seluruh pelaksanaan kegiatan telah mengacu pada APBDes TA 2025 yang disepakati bersama, dengan realisasi anggaran yang terukur dan sesuai prioritas. Ia juga menyampaikan bahwa laporan LPPD telah dikirimkan kepada Bupati melalui Camat tepat waktu, serta informasi penyelenggaraan pemerintahan desa telah dipublikasikan kepada masyarakat melalui musyawarah desa, papan informasi, dan website desa sebagai bentuk transparansi. Di akhir paparannya, Kades Iwan menekankan bahwa LKPJ ini bukan hanya kewajiban administratif, melainkan wujud komitmen Pemerintah Desa Awan Biru dalam menjaga akuntabilitas, meningkatkan kualitas tata kelola, dan membangun kepercayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Ketua BPD, Didit, memberikan kata sambutan  dengan suara tenang.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, Pemerintah Desa wajib menyampaikan LKPJ kepada BPD paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. Hari ini kita akan menerima laporan tersebut sebagai bagian dari fungsi pengawasan BPD.”

Kades Iwan berdiri melanjutkan agenda  penyerahan dokumen LKPJ kepada Ketua BPD.
“Terima kasih Ketua BPD dan seluruh anggota. LKPJ TA 2025 ini merupakan bentuk pertanggungjawaban kami atas penyelenggaraan pemerintahan desa selama satu tahun, meliputi bidang pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Penanggulangan Bencana , Mendesak Desa”

Ia mengangkat dokumen tersebut. Kamera Amat berbunyi cepat.

“Klik… klik… ya bagus, Pak. Ekspresinya seperti kepala desa yang anggarannya sehat,” celetuk Amat pelan.

Beberapa perangkat desa tersenyum menahan tawa, saling melirik satu sama lain ketika suasana rapat yang semula tegang mendadak mencair oleh celetukan ringan yang terlontar di sela pembahasan laporan. Ada yang menunduk pura-pura serius sambil merapikan berkas di hadapannya, ada pula yang berdeham pelan untuk menyamarkan senyum yang hampir pecah menjadi tawa. Namun tetap saja, sorot mata mereka memancarkan keakraban dan kebanggaan atas capaian yang dipaparkan. Di balik sikap profesional yang mereka jaga, terselip rasa lega karena kerja keras selama satu tahun anggaran akhirnya sampai pada tahap pertanggungjawaban yang terbuka dan harmonis.

Kades Iwan melanjutkan,
“Dalam TA 2025, fokus pembangunan kita meliputi peningkatan jalan desa sepanjang 850 meter, operasional dan penguatan literasi melalui Perpustakaan Desa, serta program ketahanan pangan hewani berupa pengembangan ternak bebek petelur. Dari sisi tata kelola, kami juga meningkatkan pelayanan administrasi berbasis digital dan transparansi publik melalui website desa.”

Sekdes Yuni menambahkan penjelasan teknis.
“LPPD telah kami sampaikan kepada Bupati melalui Camat tepat waktu. Sementara ILPPD kepada masyarakat kami lakukan melalui Musyawarah Desa dan media informasi, termasuk infografis realisasi APBDes yang dipasang di papan publik dan website.”

Ketua BPD Didit membuka beberapa halaman laporan dengan gerakan tenang dan penuh perhatian, jemarinya menyibakkan lembar demi lembar dokumen tebal itu sambil sesekali mengangguk kecil. Sorot matanya menyusuri angka-angka dan uraian program dengan saksama, berhenti sejenak pada bagian realisasi anggaran dan capaian kegiatan yang dianggap strategis. Ia menyesuaikan posisi kacamatanya, lalu menandai beberapa poin penting menggunakan pena di tangannya, menunjukkan keseriusan sekaligus tanggung jawab dalam menjalankan fungsi pengawasan. Suasana ruangan pun menjadi hening penuh hormat, hanya terdengar bunyi halus kertas yang dibalik, menandakan bahwa setiap halaman laporan benar-benar dicermati sebelum diberikan tanggapan resmi.
“Bagaimana dengan capaian realisasi anggaranya ?” Tanya ketua BPD

Lulu, Kaur Keuangan, menjawab mantap.
“Realisasi pendapatan dan belanja desa mencapai 100 persen. Seluruh pengeluaran sesuai prioritas dan pagu yang ditetapkan. Pajak dan kewajiban lainnya sudah disetor tepat waktu. Dokumen SPJ lengkap dan terdokumentasi.”

Didit mengangguk.
“Baik. BPD mengapresiasi kedisiplinan administrasi. Namun kami ingin menanyakan, bagaimana dampak langsung program ketahanan pangan terhadap kelompok penerima manfaat?”

Kaur Kesra Hengki menjawab,
“Program ternak bebek petelur sudah menghasilkan produksi rata-rata 70–80 persen dari populasi aktif. Hasilnya membantu tambahan pendapatan kelompok dan menjadi percontohan bagi dusun lain.”

Santoso, perwakilan masyarakat, ikut angkat suara.
“Sebagai warga, kami melihat perubahan nyata. Jalan desa memudahkan akses hasil panen. Perpustakaan juga mulai ramai anak-anak.”

Pak Eko menambahkan dengan nada reflektif.
“Memang masih ada yang perlu diperbaiki, terutama dalam peningkatan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan. Itu menjadi catatan kami untuk tahun berikutnya.”

Didit kemudian menyampaikan tanggapan resmi BPD.
“Secara umum, BPD menilai penyelenggaraan pemerintahan Desa Awan Biru TA 2025 berjalan baik dan sesuai regulasi. Kami akan menyampaikan rekomendasi tertulis sebagai bahan perbaikan, khususnya pada penguatan evaluasi internal dan optimalisasi partisipasi masyarakat.”

Babinkamtibmas tersenyum.
“Yang penting komunikasi tetap lancar. Kalau komunikasi baik, setengah masalah selesai.”

Amat yang sedang mengambil foto dari sudut kiri berkomentar,
“Pak Ketua, boleh sedikit rapat ke tengah? Biar sinerginya kelihatan di foto.”

Didit tertawa kecil.
“Ini baru namanya dokumentasi partisipatif.”

Kades Iwan kemudian menutup dengan nada serius namun hangat.
“LKPJ ini bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk komitmen kami untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Tanpa pengawasan BPD dan partisipasi warga, pemerintahan desa tidak akan berjalan optimal.”

Semua mengangguk setuju.

Didit berdiri dan menerima dokumen secara simbolis.
“Dengan ini, BPD menerima LKPJ TA 2025 Pemerintah Desa Awan Biru untuk dibahas dan diberikan rekomendasi sebagaimana mestinya.”

Tepuk tangan terdengar memenuhi pendopo.

Amat berdiri di depan, mengangkat kameranya tinggi.
“Baik, semua senyum! Ini momen akuntabilitas. Jangan ada yang berkedip, nanti transparansinya kurang tajam!”

Tawa ringan kembali mengisi ruangan ketika suasana yang sempat khidmat berubah hangat oleh selipan humor yang cerdas dan tidak berlebihan. Beberapa perangkat desa saling berpandangan sambil tersenyum, bahkan Ketua BPD Didit pun tak kuasa menahan senyum tipisnya setelah mendengar celetukan santai yang tetap relevan dengan pembahasan laporan. Gelak itu bukan sekadar candaan, melainkan tanda kedekatan dan kebersamaan yang telah terbangun selama proses kerja satu tahun anggaran. Di balik tawa tersebut, terselip rasa syukur karena rapat pertanggungjawaban berjalan terbuka, transparan, dan penuh rasa saling menghargai, sehingga forum resmi pun terasa lebih humanis tanpa kehilangan wibawanya.

Setelah acara selesai, Amat duduk di sudut pendopo membuka laptopnya. Ia mulai mengetik dengan penuh semangat:

“Penyerahan LKPJ TA 2025: Wujud Akuntabilitas dan Sinergi Pemerintah Desa Awan Biru bersama BPD.”

Ia menatap hasil fotonya dan tersenyum puas.

“Kalau laporan sudah disampaikan, rekomendasi sudah diterima, dan dokumentasi sudah diunggah… berarti bukan cuma administrasi yang tertib,” gumamnya pelan, “tapi kepercayaan juga terjaga.”

Pendopo sore itu terasa hangat, bukan hanya karena sinar matahari yang masuk dari sela jendela, tetapi karena rasa tanggung jawab yang ditunaikan bersama.

0 komentar:

Posting Komentar