NOVELET
Jalan Terjal Menuju Cahaya
Sebuah kisah tentang
perjuangan, harapan, dan keberanian menapaki kehidupan
Oleh: Slamet Riyadi
Hidup tidak selalu berjalan di jalan yang rata. Ada manusia
yang sejak lahir sudah berada di jalan yang terang dan mudah, tetapi ada pula
yang harus meniti kehidupan melalui jalan yang sempit, berliku, dan penuh batu
tajam.
Sebagian orang berhenti ketika langkah mereka terasa
terlalu berat. Mereka memilih kembali, menyerah pada keadaan, atau menerima
hidup apa adanya tanpa mencoba mengubahnya. Mereka tenggelam dalam kenyamanan
kepasrahan, meyakini bahwa takdir telah menuliskan nasib mereka dengan tinta
yang tidak bisa dihapus.
Namun ada pula manusia-manusia yang tetap berjalan.
Meskipun pelan. Meskipun tertatih. Meskipun kadang harus menahan luka di dalam
hati. Mereka adalah para pejalan kaki di jalan terjal kehidupan, yang percaya
bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, akan membawa mereka lebih dekat pada
sesuatu yang mereka sebut cahaya.
Kisah ini adalah tentang perjalanan seperti itu.
Perjalanan seorang anak desa yang lahir dari keluarga
sederhana. Seorang anak yang tumbuh di tengah keterbatasan, tetapi memiliki
mimpi yang jauh lebih besar daripada desa tempat ia dilahirkan. Ia lahir di
atas tanah yang subur, tetapi tanah itu tidak cukup untuk memupuk mimpinya yang
begitu luas.
Ia tidak lahir dari keluarga kaya. Ia tidak memiliki
kekuasaan atau kemudahan hidup. Yang ia miliki hanyalah keyakinan bahwa hidup
tidak boleh berhenti hanya karena keadaan. Dan keyakinan itu, sekecil apa pun,
adalah modal paling mahal yang pernah dimiliki seseorang.
Namanya Bima.
Dan kisahnya dimulai pada sebuah senja yang tenang di
sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian kota.
Desa itu bernama Sumber Jaya. Sebuah nama yang mengandung
harapan, meskipun kenyataannya, tidak semua penduduknya hidup dalam sumber
kejayaan. Desa itu dikelilingi sawah-sawah luas yang hijau, sungai kecil yang
mengalir perlahan, serta rumah-rumah kayu sederhana yang berdiri di antara
pepohonan rindang. Sawah-sawah itu adalah sumber kehidupan, tetapi juga batas
imajinasi bagi kebanyakan warganya.
Di desa itu, kehidupan berjalan dengan ritme yang lambat
namun penuh makna. Pagi hari diisi dengan suara ayam berkokok dan para petani
yang berangkat ke sawah membawa cangkul di pundak mereka. Ibu-ibu sibuk di
dapur, menyiapkan bekal untuk suami dan anak-anak yang akan berangkat ke
sekolah. Siang hari dipenuhi terik matahari yang membakar ladang-ladang padi,
sementara anak-anak sekolah berlarian pulang dengan keringat membasahi baju seragam
mereka yang lusuh. Dan sore hari, ketika matahari mulai turun di balik
perbukitan, desa itu berubah menjadi tempat yang tenang dan damai. Para lelaki
berkumpul di warung kopi milik Pak Jono, para ibu duduk di teras rumah sambil
mengobrol atau menjemur padi, dan anak-anak bermain di lapangan kecil sampai
matahari benar-benar tenggelam.
Namun bagi seorang anak laki-laki bernama Bima, sore hari
adalah waktu yang paling istimewa. Bukan karena ia bisa bermain seperti
teman-temannya, tetapi karena sore hari adalah waktu ia bisa duduk sendiri di
tepi sawah, memandang langit yang berubah warna, dan membiarkan imajinasinya
terbang jauh melampaui bukit-bukit yang mengelilingi desanya.
Pada suatu sore yang hangat, langit tampak berwarna jingga
keemasan. Matahari perlahan turun menuju ufuk barat, menyinari hamparan sawah
yang luas dengan cahaya yang lembut. Warna jingga bercampur ungu dan merah
muda, menciptakan lukisan alam yang tak ternilai harganya. Angin berhembus
perlahan, menggerakkan batang-batang padi yang mulai menguning, menciptakan
ombak hijau keemasan yang bergerak seirama.
Di tepi sawah yang luas itu, seorang anak laki-laki duduk
di atas pematang tanah. Wajahnya masih polos, dengan pipi yang sedikit merona
karena terik matahari seharian. Namun matanya—matanya tampak seperti sedang
memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar dari usianya. Ada kilau di sana, kilau
yang tidak dimiliki oleh kebanyakan anak seusianya. Kilau yang berbicara
tentang mimpi.
Anak itu adalah Bima. Usianya baru sembilan tahun, tetapi
pundaknya sudah terbiasa memikul tanggung jawab yang seharusnya belum ia emban.
Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya dengan kulit
yang gelap karena matahari. Garis-garis keriput mulai menghiasi wajahnya, bekas
dari puluhan tahun bekerja di bawah terik matahari. Tangannya kasar dan penuh
bekas kerja keras—kapalan di telapak, retak-retak di jari, kuku yang kering dan
pecah-pecah. Di wajahnya tergambar keteguhan seorang lelaki yang telah lama
berdamai dengan kerasnya kehidupan. Ia adalah Pak Sanusi, ayah Bima.
Pak Sanusi bukanlah seorang yang banyak bicara. Ia lebih
sering berbicara melalui tindakan. Setiap pagi ia berangkat ke sawah sebelum
matahari terbit, dan pulang ketika matahari sudah condong ke barat. Ia tidak
pernah mengeluh, tidak pernah menggerutu, meskipun hasil panen sering kali
tidak sebanding dengan keringat yang ia keluarkan. Baginya, hidup adalah
tentang menerima dan menjalani.
Pak Sanusi memandang hamparan sawah di hadapannya dengan
tenang. Kemudian, dengan gerakan yang pelan dan penuh arti, ia duduk di samping
anaknya. Untuk sesaat mereka terdiam, menikmati keheningan yang berbicara lebih
banyak daripada kata-kata.
"Capek, Nak?" tanyanya
dengan suara pelan.
Bima menggeleng, meskipun sebenarnya tubuh mungilnya terasa
lelah setelah seharian membantu di sawah. "Tidak, Pak."
Pak Sanusi tersenyum kecil. Ia tahu anaknya berbohong,
tetapi ia juga tahu bahwa kebohongan kecil itu lahir dari keteguhan hati. "Bekerja
di sawah memang tidak mudah. Panas, lumpur, dan kadang hasilnya tidak seberapa."
Bima memandang ayahnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Pertanyaan yang selama ini mengendap di hatinya akhirnya keluar juga. "Bapak
tidak pernah bosan?"
Pak Sanusi tertawa kecil. Tawanya bukan tawa yang keras,
tetapi tawa yang dalam, seperti gemericik air sungai yang mengalir
tenang. "Bosankah matahari terbit setiap pagi?"
Bima mengerutkan keningnya, mencoba memahami perumpamaan
itu. "Maksud Bapak?"
Pak Sanusi menatap langit yang mulai berubah warna. Merah
jingga perlahan berganti menjadi ungu tua di ufuk timur. "Dalam
hidup ini, Nak, tidak semua orang berjalan di jalan yang mudah. Ada orang yang
harus melewati jalan yang panjang dan terjal. Tapi seperti matahari, kita harus
terus terbit setiap pagi, tidak peduli seberapa lelahnya kita kemarin."
Bima terdiam sejenak. Matanya menatap hamparan sawah yang
luas seakan sedang membayangkan sesuatu. Di kepalanya, ia membayangkan dirinya
berjalan di jalan yang panjang itu, melewati bukit-bukit, melintasi
sungai-sungai, sampai akhirnya tiba di tempat yang selama ini hanya ia lihat
dalam mimpinya.
"Kalau jalannya terlalu berat bagaimana, Pak?"
Pak Sanusi menepuk bahu anaknya dengan lembut. Tangannya
yang kasar terasa hangat di pundak Bima. "Selama kita tidak
berhenti berjalan, kita pasti akan sampai. Mungkin tidak hari ini, mungkin
tidak besok. Tapi suatu hari nanti, ketika kamu menoleh ke belakang, kamu akan
sadar bahwa semua langkah berat itu telah membawamu sejauh ini."
Bima kembali menatap ayahnya. Ada sesuatu yang mengganjal
di hatinya, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia tanyakan karena takut
jawabannya akan memupuskan harapannya. "Bapak..."
"Iya?"
"Apakah orang seperti kita bisa memiliki kehidupan
yang lebih baik?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Angin sore berhenti
sejenak, seolah ikut menunggu jawaban. Burung-burung yang terbang di kejauhan
tiba-tiba diam.
Pak Sanusi terdiam beberapa saat. Bukan karena ia tidak
tahu jawabannya, tetapi karena ia ingin memilih kata-kata yang tepat. Kata-kata
yang bisa menjadi pegangan bagi anaknya kelak.
Ia kemudian menarik napas panjang dan memandang jauh ke
arah matahari yang hampir tenggelam. "Bisa, Nak."
Bima menatap ayahnya dengan mata berbinar. Binar itu adalah
harapan, dan harapan adalah hal paling mahal yang bisa diberikan seorang ayah
kepada anaknya. "Benarkah?"
Pak Sanusi mengangguk pelan. "Tapi ada satu
hal yang harus kamu ingat."
"Apa itu, Pak?"
Pak Sanusi mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah
matahari yang hampir tenggelam di balik perbukitan. "Lihat ke
sana."
Bima mengikuti arah tangan ayahnya. Langit tampak seperti
lautan cahaya yang indah. Jingga, ungu, merah muda, dan emas bercampur menjadi
satu, menciptakan pemandangan yang membuat siapa pun yang melihatnya akan
merasa kecil sekaligus takjub.
"Itulah cahaya," kata Pak Sanusi perlahan. "Cahaya selalu
ada di depan sana. Tidak peduli seberapa gelap malam yang kita lalui, cahaya
itu akan selalu terbit lagi di ufuk timur."
Bima terdiam, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut
ayahnya.
"Tapi untuk sampai ke sana," lanjut Pak Sanusi, "kita harus berani
berjalan. Meskipun jalannya terjal. Meskipun kadang kita jatuh. Meskipun
orang-orang di sekitar kita bilang itu mustahil."
Bima menundukkan kepalanya perlahan. Jari-jarinya yang
kecil memainkan tanah di pematang sawah. "Apakah Bapak percaya aku
bisa melakukannya?"
Pak Sanusi menatap anaknya dengan mata yang hangat. Mata
yang sama yang telah melihat Bima tumbuh dari bayi mungil menjadi anak
laki-laki yang mulai bermimpi. Mata yang sama yang telah melihat Bima pertama
kali belajar berjalan, jatuh bangun, sampai akhirnya bisa berlari.
"Bapak tidak hanya percaya."
Ia tersenyum, dan senyum itu seperti sinar matahari pagi
yang menghangatkan.
"Bapak yakin."
Bima memandang kembali matahari yang hampir tenggelam. Kini
hanya tersisa setengah lingkaran merah di ufuk barat. Sebentar lagi malam akan
tiba, dengan segala kegelapan dan misterinya.
Di dalam hatinya, sesuatu mulai tumbuh. Sesuatu yang selama
ini hanya samar-samar ia rasakan. Sebuah mimpi kecil. Sebuah keyakinan yang
belum sepenuhnya ia pahami. Bahwa suatu hari nanti, ia akan berjalan jauh dari
desa kecil itu. Menapaki jalan panjang kehidupan. Melewati luka, kegagalan, dan
kesulitan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun di ujung perjalanan itu, ia percaya ada sesuatu yang
menunggunya. Sesuatu yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan. Sesuatu yang
membuatnya terus bertahan meskipun kadang ia tidak tahu persis apa itu.
Sebuah cahaya.
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya. Senja berganti
malam. Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu. Dan di tepi sawah itu,
seorang ayah dan anaknya masih duduk berdampingan, menikmati momen yang akan
menjadi kenangan abadi di hati mereka.
Tanpa mereka sadari, sejak senja itu kehidupannya telah
memilih jalannya sendiri. Sebuah jalan yang tidak mudah. Sebuah jalan yang
penuh batu dan tanjakan. Sebuah jalan yang akan menguji setiap inci keteguhan
hatinya.
Sebuah jalan terjal menuju cahaya.
***
Pagi di Desa Sumber Jaya selalu dimulai dengan cara yang
sederhana. Ketika matahari baru saja muncul di balik perbukitan, memperlihatkan
diri dengan malu-malu seperti gadis desa yang baru bangun tidur, suara ayam
jantan sudah lebih dulu memecah kesunyian. Kokok mereka bersahut-sahutan,
menciptakan orkestra alam yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.
Udara masih terasa dingin, menusuk tulang bagi mereka yang
baru keluar dari selimut. Embun menempel di ujung daun padi yang terbentang
luas seperti karpet hijau yang tak berujung. Di kejauhan, kabut tipis masih
menyelimuti perbukitan, memberikan kesan mistis pada pemandangan pagi itu.
Di sebuah rumah kayu sederhana di tepi desa, berdiri di
atas tanah seluas seratus meter persegi dengan dinding papan yang sudah mulai
lapuk dimakan usia, seorang anak laki-laki telah bangun lebih awal dari
kebanyakan anak seusianya. Rumah itu hanya memiliki tiga ruangan: satu ruang
tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga, satu kamar tidur untuk orang
tuanya, dan satu kamar kecil di belakang yang menjadi tempat tidur Bima dan
tempat menyimpan peralatan pertanian. Dapur terletak di bangunan terpisah di
belakang, dengan tungku kayu bakar dan peralatan seadanya.
Namanya Bima. Usianya baru menginjak sembilan tahun ketika
cerita ini dimulai, tetapi matanya sudah menyimpan kedalaman yang tidak biasa
pada anak seusianya. Bukan kedalaman karena pengalaman, tetapi kedalaman karena
pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan, tetapi terus bergemuruh di
dalam hatinya.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Bima sudah berdiri di halaman
rumah sambil mengenakan topi caping kecil milik ayahnya. Topi itu terlalu besar
untuk kepalanya, sehingga kadang menutupi matanya jika ia tidak menengadahkan
kepala. Di tangannya ia memegang cangkul kecil yang hampir sebesar tubuhnya
sendiri, pemberian ayahnya ketika ia berusia tujuh tahun.
Dari dalam rumah terdengar suara ibunya yang lembut namun
jelas. "Bima... kamu sudah bangun?"
"Iya, Bu," jawab
Bima sambil tetap fokus mencoba mengatur posisi topi yang selalu miring.
Ibunya, Bu Yuyun, keluar dari dapur sambil membawa sebuah
piring berisi nasi dan ikan asin. Wajahnya bulat dengan rambut disanggul
sederhana menggunakan tusuk bambu. Wajahnya yang teduh selalu menjadi sumber
ketenangan bagi Bima. Ada garis-garis halus di sekitar matanya—bekas dari
banyak malam begadang menunggui Bima ketika sakit, atau menyelesaikan pekerjaan
rumah setelah seharian bekerja di sawah bersama suaminya.
Ia menatap anaknya dengan sedikit rasa heran, bercampur
bangga dan juga khawatir. "Kenapa bangun pagi sekali? Bukankah
hari ini kamu sekolah?"
Bima tersenyum kecil, senyum yang sama seperti senyum ayahnya. "Aku
mau membantu Bapak dulu di sawah."
Bu Yuyun menghela napas pelan. Ia meletakkan piring nasi di
atas meja kayu sederhana di ruang tamu. "Tidak perlu setiap hari
ikut ke sawah, Nak. Kamu masih anak-anak. Biar Bapak saja yang bekerja. Kamu
cukup belajar."
Bima menggeleng perlahan. Ada keteguhan dalam gelengan itu,
meskipun gerakannya halus. "Tidak apa-apa, Bu. Aku ingin belajar.
Bapak bilang, hidup harus dijalani. Aku mau belajar menjalani hidup dari
sekarang."
Bu Yuyun tersenyum tipis. Ia tahu anaknya memang berbeda
dari kebanyakan anak di desa itu. Bima memiliki semangat yang jarang ia lihat
pada anak seusianya. Sebuah semangat yang kadang membuatnya bangga, tetapi juga
kadang membuatnya khawatir.
Tidak lama kemudian, Pak Sanusi keluar dari rumah sambil
membawa sabit di tangannya. Pakaiannya sudah siap untuk ke sawah: kemeja lusuh
lengan panjang, celana panjang yang digulung hingga lutut, dan topi caping yang
sama seperti yang dipakai Bima, hanya saja ukurannya pas di kepalanya.
Ia terkejut melihat Bima sudah siap berangkat, berdiri
tegap di halaman dengan cangkul kecil di tangan. "Lho, kamu sudah
siap dari tadi?"
Bima mengangguk antusias. "Ayo, Pak. Kita ke
sawah. Aku sudah sarapan."
Pak Sanusi menatap istrinya, yang hanya mengangkat bahu
dengan pasrah. "Kamu ini seperti orang yang sudah dewasa
saja," katanya sambil tertawa kecil. "Tapi ingat,
kalau capek, bilang. Jangan dipaksa."
"Siap, Pak!" jawab
Bima dengan semangat.
Mereka berjalan bersama menuju sawah. Jalan kecil yang
mereka lewati masih basah oleh embun pagi, meninggalkan jejak kaki di tanah
yang lembap. Di kiri kanan jalan, tanaman liar tumbuh subur, beberapa di
antaranya sudah berbunga kecil. Capung-capung beterbangan rendah, mencari
tempat hinggap di ujung rumput.
Di kejauhan, beberapa petani sudah mulai bekerja di ladang
mereka. Ada yang sedang mencangkul, ada yang sedang memeriksa saluran air, ada
pula yang duduk-duduk di gubuk kecil sambil menikmati rokok kretek sebelum
memulai pekerjaan berat.
Pak Sanusi menyapa mereka satu per satu. Para petani itu
adalah teman-temannya sejak kecil, sejak mereka sama-sama belajar mencangkul
dari orang tua masing-masing.
"Sanusi, itu anakmu sudah ikut lagi?" sapa seorang petani bernama Pak Dulah sambil berhenti
mencangkul. Pak Dulah adalah lelaki tua dengan badan kurus dan gigi yang sudah
ompong karena kebiasaan menginang. Meskipun usianya sudah enam puluhan,
semangat kerjanya tidak kalah dengan yang muda.
"Iya, Dul. Katanya mau belajar," jawab Pak Sanusi.
Pak Dulah tertawa, memperlihatkan gusinya yang tanpa
gigi. "Wah, anak muda zaman sekarang jarang yang mau ke sawah.
Biasanya pada malas, maunya main bola atau main layangan. Anakmu ini lain,
Sanusi. Lain benar."
"Semoga saja lain dalam kebaikan, Dul," jawab Pak Sanusi rendah hati.
"Pokoknya kalau anakmu besar nanti, pasti sukses.
Orang tua lihat dari sekarang," kata
Pak Dulah sambil mengacungkan jempol.
Bima hanya tersenyum malu mendengar pujian itu. Di dalam
hatinya, ia berjanji untuk tidak mengecewakan orang-orang yang percaya padanya.
Sesampainya di sawah, Pak Sanusi mulai mencangkul tanah
dengan gerakan yang terlatih—gerakan yang lahir dari puluhan tahun pengalaman.
Cangkulnya membelah tanah dengan ritme yang teratur: angkat, ayun, tancap,
tarik. Sementara itu, Bima mencoba menirukan gerakan ayahnya dengan cangkul
kecil di tangannya.
Namun beberapa kali ia hampir terjatuh karena tanah yang
licin. Lumpur sawah yang basah membuat pijakannya tidak stabil. Kakinya yang
kecil tenggelam hingga mata kaki setiap kali ia melangkah.
Pak Sanusi memperhatikannya sambil tersenyum. Kesabaran
adalah pelajaran pertama yang ia ajarkan pada anaknya. "Pelan-pelan
saja, Nak. Sawah ini tidak akan lari ke mana. Yang penting konsisten, jangan
terburu-buru."
Bima berhenti sejenak dan mengusap keringat di dahinya.
Meskipun masih pagi, keringat sudah mulai membasahi pelipisnya. "Bapak
tidak capek bekerja seperti ini setiap hari?"
Pak Sanusi menghentikan cangkulnya. Ia menancapkan gagang
cangkul ke tanah dan bersandar sejenak. "Capek tentu saja."
"Lalu kenapa Bapak tetap melakukannya?"
Pak Sanusi menatap sawah yang luas di hadapannya. Hamparan
hijau itu bergerak lembut tertiup angin pagi. "Karena hidup harus
dijalani. Kalau aku berhenti karena capek, sawah ini tidak akan menghasilkan
padi. Kalau sawah tidak menghasilkan padi, kita tidak akan makan. Kalau kita
tidak makan, kita tidak akan punya tenaga untuk hidup."
Bima menunduk memandang lumpur yang menempel di kakinya.
Lendir dingin itu terasa aneh, tetapi juga akrab. "Apakah aku juga
harus menjadi petani seperti Bapak?"
Pak Sanusi tidak langsung menjawab. Ia memandang wajah
anaknya dengan serius. Di wajah itu ia melihat bayangan dirinya sendiri ketika
masih kecil, tetapi juga sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak ia miliki
dulu.
"Kalau kamu mau menjadi petani, itu tidak salah. Menjadi
petani adalah pekerjaan mulia. Kita memberi makan orang-orang di kota yang
tidak punya waktu untuk bercocok tanam."
"Kalau tidak?" Bima
menatap ayahnya dengan penuh harap.
Pak Sanusi tersenyum. "Kalau kamu punya mimpi
yang lebih besar, kejarlah."
Bima terdiam. Angin pagi berhembus perlahan melewati
hamparan sawah, membawa aroma tanah basah dan padi muda. Di kejauhan, seekor
burung terbang melintas, mungkin mencari sarang atau makanan.
"Bapak...," kata
Bima pelan.
"Iya?"
"Aku ingin sekolah setinggi mungkin."
Pak Sanusi memandangnya dengan penuh perhatian. "Kenapa?"
Bima menatap jauh ke arah perbukitan yang mulai terlihat
jelas setelah kabut pagi menghilang. Di balik bukit-bukit itu, ada dunia lain
yang belum pernah ia lihat. Ada gedung-gedung tinggi, jalan raya yang lebar,
dan orang-orang dengan pakaian rapi yang tidak pernah basah oleh lumpur sawah.
"Aku ingin mengubah hidup kita."
Pak Sanusi terdiam cukup lama. Kalimat itu menggema di
kepalanya. Ia teringat masa mudanya, ketika ia juga bermimpi hal serupa. Tapi
kehidupan telah mengajarkannya bahwa mimpi tidak selalu mudah diwujudkan.
Kadang mimpi harus dikubur dalam-dalam, diganti dengan penerimaan atas
kenyataan.
"Aku tidak ingin Bapak dan Ibu terus bekerja keras
seperti ini," lanjut Bima.
Pak Sanusi menarik napas panjang. "Sekolah
memang penting, Nak. Tapi jalan menuju ke sana tidak mudah."
"Aku tidak takut."
"Kamu tahu berapa biaya sekolah di kota?"
Bima menggeleng. "Tidak tahu."
"Banyak sekali. Untuk satu semester, bisa habis hasil
panen setahun."
Bima menatap ayahnya dengan penuh keyakinan. Keyakinan yang
tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Aku akan berusaha. Aku akan
bekerja kalau perlu. Aku tidak ingin jadi beban."
Pak Sanusi tersenyum tipis. "Kamu masih
kecil."
"Tapi mimpi tidak pernah terlalu kecil, Pak."
Jawaban itu membuat Pak Sanusi tertawa pelan. Tawanya
bercampur haru. "Kamu ini memang anak yang aneh."
Bima ikut tersenyum. Kehangatan menyelimuti mereka di
tengah hamparan sawah yang luas.
Setelah beberapa saat bekerja, dengan Bima yang mulai
menemukan ritmenya sendiri meskipun masih jauh dari sempurna, Pak Sanusi
berkata, "Sekarang pulanglah. Kamu harus bersiap ke sekolah. Nanti
terlambat."
Bima mengangguk. Ia mencuci kaki di saluran air kecil yang
mengalir di tepi sawah. Airnya dingin dan menyegarkan, membersihkan lumpur yang
menempel di sela-sela jari kakinya.
Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan beberapa teman
sebayanya yang sedang bermain di pinggir jalan. Mereka adalah Joko, Slamet, dan
Karjo—tiga sekawan yang terkenal nakal di desa. Joko paling besar di antara
mereka, dengan badan kekar dan suara keras. Slamet kurus dengan wajah culun,
selalu mengikuti apa kata Joko. Karjo pendek dengan kepala plontos, suka
membuat ulah.
Mereka sedang bermain layangan. Layangan Joko paling besar
dan paling tinggi terbangnya.
"Bima!" teriak
Joko. "Main layangan, yuk! Aku punya benang gelasan baru!"
Bima menggeleng. "Aku harus ke sekolah."
Slamet tertawa. "Untuk apa sekolah
tinggi-tinggi? Kita ini anak desa. Nanti juga jadi petani kayak bapak kita."
Karjo menimpali, "Iya, iya. Mending main
layangan. Sekolah itu buat apa? Nilai-nilai juga nggak bisa dijual."
Bima berhenti sejenak. Ucapan teman-temannya itu
mengusiknya, tetapi tidak menggoyahkannya. "Aku ingin menjadi
orang yang berguna."
Joko kembali tertawa, lebih keras kali ini. "Bermimpi
saja kamu. Lihat nanti, setelah lulus SD, kamu juga akan ke sawah kayak
bapakmu. Mau sekolah tinggi, ortumu mana mampu?"
"Jangan terlalu tinggi bermimpi, nanti jatuhnya
sakit," sahut Slamet.
Bima tidak marah. Ia hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan
langkahnya. Di belakangnya, ia masih mendengar suara tawa mereka, tetapi
hatinya tidak goyah. Ia tahu, orang-orang seperti Joko, Slamet, dan Karjo tidak
bisa melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Bagi mereka, desa adalah
segalanya. Bagi Bima, desa hanyalah awal.
Sesampainya di rumah, Bu Yuyun sudah menyiapkan pakaian
sekolahnya. Seragam putih merah yang sudah mulai pudar dan lusuh, tetapi selalu
dicuci dan disetrika dengan rapi. Ibu Bima adalah wanita yang teliti; meskipun
seragam itu sudah tua, ia selalu berusaha membuatnya terlihat layak dipakai.
"Kamu dari sawah lagi?" tanya Bu Yuyun sambil mengelap tangan di kain yang
tersampir di bahu.
Bima mengangguk. Ia meletakkan cangkul kecilnya di sudut
rumah, lalu duduk di bangku kayu untuk melepas sepatu butut yang sudah bolong
di bagian jempol.
Bu Yuyun menatapnya dengan penuh kasih. "Kamu
tidak capek?"
"Sedikit."
"Kenapa tetap dilakukan?"
Bima menjawab dengan tenang, dengan suara yang terdengar
lebih dewasa dari usianya. "Karena aku ingin belajar menjadi
kuat."
Bu Yuyun tersenyum. "Untuk apa?"
Bima mengenakan tas sekolahnya—tas pemberian Pak Rahmat
yang sudah tidak dipakai anak gurunya itu. Meskipun bukan baru, tas itu masih
layak pakai dan jauh lebih baik daripada tidak punya tas sama sekali.
"Untuk berjalan lebih jauh."
"Sejauh apa?"
Bima menatap jalan kecil yang membentang keluar desa. Jalan
yang sama yang setiap hari ia lalui, tetapi kali ini ia melihatnya dengan cara
yang berbeda. "Sejauh mungkin. Sampai aku bisa membuat Bapak dan
Ibu tidak perlu bekerja keras lagi."
Bu Yuyun tidak bisa berkata-kata. Ia hanya memeluk anaknya
erat. Di dalam pelukan itu, Bima merasakan kehangatan yang memberinya kekuatan
untuk terus melangkah.
Ia melangkah menuju sekolah dengan langkah yang ringan
meskipun tubuhnya lelah. Di dalam hatinya, mimpi itu semakin jelas. Mimpi untuk
keluar dari keterbatasan. Mimpi untuk mengubah nasib keluarganya. Mimpi untuk
menemukan cahaya yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.
Dan tanpa ia sadari, langkah kecilnya pagi itu adalah awal
dari perjalanan panjang yang akan membawa hidupnya menuju jalan yang tidak
mudah. Jalan yang akan menguji setiap inci tekadnya, setiap ons keyakinannya.
Sebuah jalan terjal menuju cahaya.
***
Hari-hari di Desa Sumber Jaya berjalan seperti biasanya.
Matahari terbit dari balik perbukitan dengan setia, seolah tidak pernah lelah
menjalankan tugasnya. Para petani berangkat ke sawah dengan langkah yang sama
seperti kemarin, seperti lusa, seperti tahun-tahun sebelumnya. Anak-anak
berjalan menuju sekolah dengan langkah santai di jalan tanah yang membelah
desa, kadang berhenti untuk mengejar capung atau memetik buah-buahan liar di
pinggir jalan.
Namun bagi Bima, hari itu terasa sedikit berbeda. Sejak
percakapan dengan ayahnya beberapa waktu lalu di tepi sawah, mimpi yang ada di
dalam hatinya semakin jelas. Ia tidak hanya ingin bersekolah seperti biasa. Ia
ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi, pergi ke kota, dan suatu hari
kembali membawa perubahan bagi keluarganya.
Mimpi itu terus tumbuh di dalam pikirannya, seperti tunas
padi yang dirawat dengan baik. Ia memupuknya setiap hari dengan belajar
sungguh-sungguh, dengan membantu orang tuanya tanpa mengeluh, dengan membaca
buku-buku yang dipinjamkannya dari Pak Rahmat.
Namun ia belum tahu bahwa tidak semua orang akan memahami
mimpi tersebut. Di desa kecil seperti Sumber Jaya, mimpi besar sering dianggap
sebagai penyakit. Orang-orang lebih nyaman dengan rutinitas, dengan apa yang
sudah mereka kenal sejak lahir. Mimpi dianggap sebagai pengganggu ketenangan,
sebagai sesuatu yang hanya akan membawa kekecewaan.
Sore itu, setelah pulang sekolah, Bima membantu ayahnya
mengangkat karung padi ke dalam lumbung kecil di belakang rumah. Hasil panen
kali ini cukup baik, meskipun tidak melimpah. Ada sekitar sepuluh karung padi
yang harus mereka angkat satu per satu.
Tubuhnya berkeringat, tetapi wajahnya terlihat penuh
semangat. Setiap karung yang ia angkat, meskipun berat, terasa ringan karena ia
tahu itu adalah hasil kerja keras keluarganya.
Pak Sanusi memperhatikan anaknya sambil tersenyum
tipis. "Kamu kelihatan senang sekali hari ini."
Bima mengangguk. "Aku ingin mengatakan
sesuatu, Pak."
Pak Sanusi berhenti mengikat karung padi. Tangannya
berhenti bergerak, dan ia menatap anaknya dengan penuh perhatian. "Apa
itu?"
Bima menarik napas sejenak, seolah sedang mengumpulkan
keberanian. Kata-kata yang sudah lama ia pendam akhirnya ingin ia
ucapkan. "Setelah lulus nanti, aku ingin melanjutkan sekolah ke
kota."
Pak Sanusi terdiam. Bukan karena marah, tetapi karena ia
tahu betapa berat jalan yang akan dihadapi anaknya. Ia sendiri tidak pernah
sekolah tinggi, dan ia tahu betapa sulitnya hidup di kota bagi orang seperti
mereka.
"Kamu benar-benar ingin melanjutkan sekolah?"
"Iya, Pak."
"Kenapa?"
Bima menatap ayahnya dengan penuh keyakinan. "Aku
ingin belajar lebih banyak. Aku ingin mengubah hidup kita."
Pak Sanusi menghela napas perlahan. "Bima,
kamu tahu bahwa hidup di kota tidak mudah."
"Aku tahu."
"Biayanya juga besar. Untuk makan sehari-hari saja susah,
apalagi untuk sekolah."
"Aku akan bekerja kalau perlu. Aku tidak takut bekerja
keras, Pak."
Pak Sanusi menatap anaknya dengan dalam. Ia melihat
keteguhan yang jarang ia temui pada orang dewasa, apalagi pada anak-anak. "Apakah
kamu sudah memikirkan semuanya?"
Bima mengangguk pelan. "Sudah, Pak."
Pak Sanusi tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menepuk
bahu anaknya. "Nanti kita pikirkan bersama. Sekarang bantu Bapak
angkat karung yang ini."
Percakapan itu berakhir, tetapi tidak berhenti di situ.
Kata-kata Bima terus terngiang di kepala Pak Sanusi. Malam harinya, ketika
istri dan anaknya sudah tidur, ia duduk sendirian di ruang tamu, memikirkan
masa depan anaknya.
Keesokan harinya, berita tentang keinginan Bima untuk
melanjutkan sekolah ke kota mulai tersebar di desa. Di desa kecil seperti
Sumber Jaya, tidak ada rahasia yang bisa bertahan lama. Apalagi jika berita itu
datang dari keluarga sederhana seperti keluarga Bima.
Warung kecil milik Pak Jono adalah pusat informasi utama di
Desa Sumber Jaya. Setiap sore, para lelaki desa berkumpul di sana, minum kopi
hitam pekat, mengisap rokok kretek, dan membicarakan apa saja—dari harga gabah
hingga gosip tetangga. Warung itu hanya berupa gubuk bambu dengan beberapa meja
kayu dan kursi plastik, tetapi selalu ramai dikunjungi.
Hari itu, obrolan mereka tertuju pada Bima.
"Katanya anaknya Pak Sanusi ingin sekolah ke
kota," kata seorang pria
bernama Pak Kumis—julukan untuk lelaki dengan kumis tebal yang suka berkomentar
tentang apa pun. Pak Kumis adalah tetangga depan rumah Bima, tukang ojek yang
setiap hari mangkal di perempatan desa.
"Anak yang sering membantu di sawah itu?" tanya Pak Jono sambil mengelap gelas dengan lap
kotor.
"Iya, itu. Anaknya kecil tapi rajin."
Pak Jono menggeleng. "Sekolah di kota itu
mahal. Mahal banget. Saya dengar dari keponakan saya, biaya pendaftaran saja
bisa jutaan."
Seorang warga lain, Pak Rasid, ikut menimpali. Pak Rasid
adalah petani setengah tua yang terkenal paling realistis di desa. "Anak
petani seperti mereka biasanya berhenti sekolah setelah lulus SD. Mending
langsung bekerja, bantu orang tua di sawah. Kalau punya uang, beli sawah
sendiri, jangan buat sekolah tinggi-tinggi."
"Terlalu tinggi mimpinya," sahut Pak Kumis. "Nanti juga kecewa.
Kasihan anaknya."
Mbah Karto, orang tua paling sepuh di desa yang sering
duduk di pojok warung sambil memainkan tasbih, ikut berkomentar. Suaranya parau
karena usia, tetapi masih jelas terdengar. "Dulu saya juga punya
mimpi. Waktu muda, saya ingin jadi pedagang sukses, punya toko besar. Tapi
hidup ini harus realistis, nduk. Kita ini orang desa, sudah sewajarnya jadi
petani. Jangan bermimpi muluk-muluk."
Beberapa orang tertawa pelan, setuju dengan ucapan Mbah
Karto. Mereka adalah orang-orang yang sudah lama berdamai dengan kenyataan,
yang sudah tidak punya energi untuk bermimpi lagi.
Tanpa mereka sadari, Bima sedang berdiri tidak jauh dari
warung itu. Ia baru saja pulang dari rumah temannya, meminjam buku pelajaran.
Kata-kata dari warung itu terdengar jelas, menusuk telinganya seperti duri.
"Anak petani terlalu tinggi mimpinya."
"Nanti juga kecewa."
"Harus realistis."
Sejenak langkahnya terhenti. Dadanya terasa sesak. Ia ingin
berteriak, ingin membantah, tetapi ia hanya anak kecil. Apa yang bisa ia
lakukan?
Namun ia tetap berjalan seolah tidak mendengar apa-apa. Ia
tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Ia terus melangkah, meskipun setiap kata
yang ia dengar terasa seperti beban yang ditambahkan ke pundaknya.
Di halaman rumah, Bu Yuyun sedang menjemur pakaian.
Gerakannya teratur—mengambil baju dari ember, merentangkannya, lalu menjepitnya
dengan jepitan bambu.
"Kamu sudah pulang?" sapanya tanpa menoleh.
Bima mengangguk. "Iya, Bu."
Bu Yuyun memperhatikan wajah anaknya. Seorang ibu selalu
bisa membaca perubahan pada anaknya, sekecil apa pun. "Kamu
kelihatan murung."
"Tidak apa-apa."
"Katakan saja. Ibu tahu ada sesuatu."
Bima duduk di bangku kayu di depan rumah. Kayu itu sudah
lapuk di beberapa bagian, tetapi masih cukup kuat untuk menahan beban. "Bu...
apakah mimpi yang terlalu tinggi itu salah?"
Bu Yuyun sedikit terkejut. Ia berhenti menjemur dan menatap
anaknya. "Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Tadi aku mendengar orang-orang di warung."
"Mereka berkata apa?"
"Mereka bilang mimpi anak petani seperti aku terlalu
tinggi."
Bu Yuyun terdiam sejenak. Ia duduk di samping anaknya,
melupakan pekerjaannya untuk sementara. "Bima," katanya
lembut, "dalam hidup ini selalu ada orang yang meragukan
kita."
Bima menunduk. Jari-jarinya memainkan tanah di
halaman. "Kenapa mereka begitu?"
"Karena mereka belum tentu berani bermimpi seperti
kamu. Orang yang tidak punya mimpi biasanya tidak suka melihat orang lain
bermimpi. Mereka merasa terusik."
Bima menatap ibunya. "Apakah Ibu juga berpikir
mimpiku terlalu tinggi?"
Bu Yuyun tersenyum. Senyum itu adalah senyum yang sama yang
selalu memberinya ketenangan. "Tidak."
"Benarkah?"
"Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi orang yang
mau berusaha."
Bima merasa hatinya sedikit lebih tenang. Setidaknya ada
orang yang percaya padanya, meskipun seluruh desa meragukannya.
Saat itulah Pak Sanusi datang dari sawah. Wajahnya
berkeringat, bajunya basah, tetapi matanya tetap ramah. Ia membawa beberapa
batang tebu yang dipotongnya di perjalanan.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya sambil meletakkan tebu di sudut rumah.
Bu Yuyun menjawab pelan. "Bima mendengar
orang-orang meragukan mimpinya."
Pak Sanusi menatap anaknya. Ia duduk di bangku kayu yang
sama, mengambil posisi di samping Bima. "Kamu sedih?"
Bima menggeleng, meskipun matanya sedikit
berkaca-kaca. "Hanya sedikit."
Pak Sanusi duduk lebih dekat. "Bima."
"Iya, Pak?"
"Kamu tahu kenapa orang-orang meragukanmu?"
"Kenapa?"
"Karena mereka hanya melihat keadaanmu sekarang."
Bima diam mendengarkan.
"Tapi kamu harus melihat dirimu di masa depan.
Orang-orang itu tidak tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, atau sepuluh
tahun lagi. Mereka hanya melihat yang sekarang."
Bima menatap ayahnya dengan penuh perhatian.
"Jangan biarkan keraguan orang lain menghentikan
langkahmu."
"Tapi kalau mereka benar bagaimana, Pak?"
Pak Sanusi tersenyum. "Kalau mereka benar,
setidaknya kamu sudah mencoba. Dan itu lebih berharga daripada tidak mencoba
sama sekali."
Bima menarik napas panjang.
"Dan kalau mereka salah?"
Pak Sanusi menatapnya dengan penuh keyakinan. "Suatu
hari mereka akan melihat bahwa mimpi anak petani juga bisa menjadi kenyataan.
Dan mereka akan malu dengan perkataan mereka hari ini."
Angin sore berhembus melewati halaman rumah, membawa
daun-daun kering yang beterbangan sebentar sebelum jatuh lagi. Langit perlahan
berubah warna menjadi jingga, pertanda matahari akan segera tenggelam.
Bima memandang jalan tanah yang membentang keluar desa.
Jalan itu tampak panjang, berkelok, dan gelap di ujungnya. Tapi di ujung sana,
entah di mana, ia yakin ada cahaya yang menunggunya.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa
perjalanan menuju mimpinya tidak akan mudah. Akan ada banyak keraguan. Akan ada
banyak orang yang meremehkan. Akan ada banyak malam di mana ia ingin menyerah.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal: mimpi itu
tidak akan ia tinggalkan. Ia akan memeluknya erat-erat, merawatnya setiap hari,
dan membiarkannya tumbuh meskipun tidak ada yang percaya.
Karena bagi Bima, mimpi itu adalah langkah pertama menuju
cahaya yang selama ini ia cari. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun
memadamkannya.
***
Pagi itu langit Desa Sumber Jaya tampak cerah. Matahari
baru saja muncul dari balik perbukitan, menyinari jalan tanah yang dilalui
anak-anak desa menuju sekolah dasar yang berdiri sederhana di tengah lapangan
kecil.
Bangunan sekolah itu tidak besar. Dindingnya terbuat dari
papan yang sudah mulai kusam dimakan waktu dan cuaca. Di beberapa tempat, papan
itu sudah berlubang kecil, cukup untuk mengintip ke luar atau melihat siapa
yang lewat. Atap sengnya sering berbunyi keras ketika hujan turun, membuat suara
guru kadang tidak terdengar. Lantainya masih tanah, dipadatkan dan disapu
setiap hari oleh murid-murid yang mendapat tugas piket.
Namun bagi anak-anak desa, sekolah itu adalah istana. Di
sanalah mereka belajar membaca, menulis, dan mengenal dunia di luar desa
mereka. Di sanalah mereka pertama kali mendengar tentang kota, tentang laut,
tentang gunung-gunung tinggi yang tidak pernah mereka lihat.
Termasuk bagi Bima. Dengan tas sekolah yang sudah mulai
usang di punggungnya—tas pemberian Pak Rahmat yang mulai sobek di beberapa
sudut tetapi masih bisa digunakan—Bima berjalan cepat menyusuri jalan kecil
menuju sekolah. Di dalam pikirannya masih teringat percakapan orang-orang di
warung yang meragukan mimpinya. Namun kali ini ia mencoba tidak memikirkannya terlalu
lama. Ia ingat kata-kata ayahnya: "Jangan biarkan keraguan orang lain
menghentikan langkahmu."
Setibanya di sekolah, bel kayu yang digantung di depan
kelas sudah berbunyi. Bunyinya khas: "tek-tek-tek" tiga kali,
pertanda pelajaran akan segera dimulai. Anak-anak segera masuk ke dalam kelas
mereka, berebut tempat duduk.
Bima duduk di bangku paling belakang, dekat jendela yang
menghadap ke sawah. Dari jendela itu ia bisa melihat hamparan hijau yang
menenangkan, mengingatkannya pada rumah dan ayahnya yang mungkin sedang bekerja
di sana.
Di dalam kelas, seorang pria berdiri di depan papan tulis.
Papan tulis itu sudah usang, permukaannya licin di beberapa tempat sehingga
kapur sulit menempel. Pria itu mengenakan kemeja putih lusuh tetapi rapi,
dengan celana hitam yang disetrika meskipun sudah kusam. Wajahnya tampak tenang
dengan sorot mata yang tajam namun hangat.
Ia adalah Pak Rahmat, guru yang paling dihormati oleh
murid-murid di sekolah itu. Pak Rahmat sudah mengajar selama hampir dua puluh
tahun. Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis, tetapi semangatnya dalam
mengajar tidak pernah pudar. Ia datang ke sekolah lebih pagi dari siapa pun,
dan pulang lebih sore dari yang lain.
Pak Rahmat dikenal sebagai guru yang tegas tetapi sangat
peduli kepada murid-muridnya. Ia sering mengajar lebih dari sekadar
pelajaran—ia mengajarkan tentang kehidupan, tentang mimpi, tentang keberanian.
Ia tahu bahwa murid-muridnya kebanyakan berasal dari keluarga miskin, dan
sekolah adalah satu-satunya harapan mereka untuk keluar dari kemiskinan.
Pagi itu ia sedang menjelaskan pelajaran tentang cita-cita.
Materi itu selalu menjadi favoritnya, karena di situlah ia bisa menanamkan
benih-benih harapan pada anak-anak.
"Anak-anak," katanya
sambil menulis sesuatu di papan tulis dengan kapur putih, "setiap
manusia memiliki masa depan. Dan masa depan itu sering dimulai dari
mimpi."
Beberapa murid tampak memperhatikan, tetapi sebagian
lainnya hanya saling bercanda. Joko, Slamet, dan Karjo—tiga sekawan yang
terkenal nakal—sedang asyik melempar kertas. Kertas-kertas kecil itu
beterbangan di sudut kelas, mengenai kepala teman-teman mereka.
Pak Rahmat melanjutkan, tidak terganggu oleh keributan
kecil itu. "Sekarang Bapak ingin bertanya. Siapa di antara kalian
yang memiliki cita-cita?"
Beberapa tangan terangkat. Pak Rahmat menunjuk seorang anak
di barisan depan, seorang anak laki-laki gemuk dengan pipi tembem.
"Kamu, Budi. Apa cita-citamu?"
Budi berdiri sambil tersenyum malu, memperlihatkan gigi
depannya yang ompong. "Saya ingin menjadi pedagang seperti ayah
saya, Pak. Punya toko besar di pasar."
Pak Rahmat mengangguk. "Itu cita-cita yang
baik. Menjadi pedagang itu mulia, asalkan jujur."
Kemudian ia menunjuk murid lain, seorang anak perempuan
dengan kucir dua bernama Wati. Wati adalah anak pendiam yang jarang bicara,
tetapi rajin mengerjakan tugas.
"Kalau kamu, Wati?"
Wati berdiri dengan gugup, jari-jarinya memainkan ujung
seragam. "Saya ingin menjadi perawat, Pak. Biar bisa merawat orang
sakit."
"Bagus sekali. Perawat itu pekerjaan mulia."
Beberapa anak lain juga menyebutkan cita-cita mereka. Ada
yang ingin menjadi tentara, guru, sopir bus, bahkan ada yang ingin menjadi
presiden—yang langsung disambut tawa oleh teman-temannya.
Akhirnya pandangan Pak Rahmat berhenti pada Bima yang sejak
tadi duduk diam di bangku belakang, memandang ke luar jendela dengan mata
kosong.
"Bima."
Bima sedikit terkejut. Ia cepat-cepat mengalihkan
pandangannya dari sawah ke arah guru. "Iya, Pak?"
"Kamu belum mengatakan cita-citamu."
Seluruh kelas menoleh ke arahnya. Bima berdiri perlahan,
merasakan puluhan pasang mata menatapnya. Joko berbisik kepada Slamet, cukup
keras untuk didengar beberapa orang, "Dia mau jadi apa?
Petani?" Mereka tertawa kecil.
Bima mengabaikan mereka. Ia menelan ludah sejenak,
merasakan tenggorokannya kering. "Apa cita-citamu?" tanya
Pak Rahmat sekali lagi.
Bima menjawab dengan suara yang tenang, meskipun sedikit
bergetar. "Saya ingin melanjutkan sekolah setinggi mungkin,
Pak."
Beberapa murid mulai berbisik. Ada yang bertanya-tanya, apa
maksudnya "setinggi mungkin"? Bukankah lulus SD sudah cukup?
Pak Rahmat memperhatikan wajah Bima dengan serius. Ia bisa
melihat sesuatu di mata anak itu—sesuatu yang jarang ia lihat pada anak
seusianya. "Kenapa?"
Bima menjawab dengan suara yang sama tenangnya, tetapi kali
ini lebih mantap. "Karena saya ingin mengubah hidup keluarga
saya."
Kelas tiba-tiba menjadi sunyi. Bahkan Joko dan
kawan-kawannya berhenti bercanda. Semua orang terdiam, meresapi kata-kata yang
baru saja diucapkan teman mereka.
Pak Rahmat menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum. Senyum
yang hangat, penuh pengertian. "Itu cita-cita yang mulia."
Namun tiba-tiba terdengar suara tawa kecil dari sudut
kelas. Joko berkata pelan kepada temannya, tetapi cukup keras untuk
didengar: "Anak petani mau sekolah tinggi? Mau jadi apa? Kaya
raya?" Slamet dan Karjo ikut tertawa, meskipun agak ragu-ragu.
Pak Rahmat segera menoleh ke arah mereka. Wajahnya yang
biasanya ramah berubah serius. Sorot matanya tajam, membuat siapa pun yang
melihatnya akan merasa tidak nyaman.
"Joko, Slamet, Karjo. Ada yang lucu?"
Mereka langsung diam. Joko menunduk, tidak berani menatap
mata gurunya. Pak Rahmat berjalan mendekati bangku mereka. Langkahnya pelan
tetapi penuh wibawa. Setiap langkahnya bergema di kelas yang sunyi.
"Kalian tahu," katanya
dengan suara tegas, "orang besar tidak selalu lahir dari keluarga
besar. Banyak pemimpin, ilmuwan, dan orang sukses yang berasal dari keluarga
petani."
Ia berhenti di depan meja Joko. "Presiden
kedua kita, Pak Harto, juga anak petani. Bapak Proklamator kita, Bung Hatta,
lahir dari keluarga sederhana. Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan kita, juga
berjuang dari bawah."
Joko menunduk lebih dalam. "Maaf, Pak."
Pak Rahmat kembali menatap Bima. Suaranya melunak. "Bima."
"Iya, Pak?"
"Apakah kamu benar-benar ingin melanjutkan
sekolah?"
"Iya, Pak."
"Meskipun jalannya sulit?"
Bima mengangguk tegas. "Saya siap."
Pak Rahmat tersenyum lebar. "Bagus.
Pertahankan semangat itu."
Bel pelajaran berbunyi, menandakan waktu istirahat tiba.
Anak-anak keluar kelas dengan ribut, berlarian menuju halaman sekolah. Beberapa
ke kantin, beberapa duduk-duduk di bawah pohon.
Bima sedang duduk sendirian di bawah pohon mangga di
halaman sekolah ketika Pak Rahmat mendekatinya. Guru itu membawa dua gelas air
putih—satu untuk dirinya, satu untuk Bima.
"Kamu tadi berbicara dengan sangat jujur."
Bima berdiri, menerima gelas itu dengan hormat. "Maaf
kalau cita-cita saya terdengar aneh, Pak."
Pak Rahmat menggeleng. "Tidak ada cita-cita
yang aneh." Ia duduk di bangku kayu di bawah pohon, menepuk
tempat di sampingnya. "Duduklah."
Bima duduk dengan sedikit gugup. Ia tidak terbiasa
berbicara berdua dengan guru.
Pak Rahmat menatapnya dengan penuh perhatian. "Kamu
tahu, Bima. Bapak sudah mengajar di sekolah ini hampir dua puluh tahun."
Bima mendengarkan dengan serius, tidak berani melewatkan
satu kata pun.
"Bapak sudah melihat banyak anak desa yang sebenarnya
memiliki kemampuan besar. Otak mereka pintar, semangat mereka tinggi.
Tapi..." Pak Rahmat
berhenti sejenak, menghela napas.
"Tapi apa, Pak?"
"Tapi mereka tidak memiliki kesempatan. Atau karena
mereka berhenti bermimipi. Mereka mendengar kata-kata orang lain, lalu percaya
bahwa mereka memang tidak bisa."
Bima menunduk. "Apakah saya juga akan seperti
itu, Pak?"
Pak Rahmat menatapnya dengan tegas. "Tidak."
"Kenapa Bapak begitu yakin?"
Pak Rahmat tersenyum. "Karena Bapak melihat
sesuatu dalam dirimu."
"Apa itu, Pak?"
"Keteguhan."
Bima terdiam. Kata itu asing di telinganya.
"Kamu rajin belajar. Kamu tidak mudah menyerah. Dan
yang paling penting, kamu memiliki mimpi. Bukan sekadar mimpi, tapi mimpi yang
jelas. Kamu tahu persis apa yang kamu inginkan."
Bima merasa dadanya berdebar. Ada perasaan hangat menjalari
tubuhnya.
"Tapi saya anak petani, Pak."
Pak Rahmat tersenyum. "Dan itu bukan
penghalang."
"Benarkah?"
"Banyak orang besar lahir dari keluarga sederhana.
Lihat saja Pak Harto. Beliau anak petani, tetapi bisa menjadi presiden. Lihat
juga BJ Habibie, anak Bugis yang menjadi profesor di Jerman."
Bima menatapnya dengan penuh harapan. "Tapi
mereka jenius, Pak. Saya hanya biasa saja."
Pak Rahmat tertawa kecil. "Kamu pikir mereka
lahir jenius? Tidak, Bima. Mereka bekerja keras. Mereka tidak pernah berhenti
belajar. Kejeniusan itu 1% bakat dan 99% kerja keras."
Bima meresapi kata-kata itu.
"Kalau kamu benar-benar ingin melanjutkan
sekolah," kata Pak
Rahmat, "Bapak akan membantu."
Bima terkejut. Matanya membelalak. "Membantu
bagaimana, Pak?"
"Ada program beasiswa untuk siswa berprestasi di kota.
Setiap tahun, pemerintah memberikan beasiswa untuk anak-anak desa yang pintar
tapi tidak mampu."
"Beasiswa?"
Pak Rahmat mengangguk. "Tapi untuk
mendapatkannya kamu harus belajar lebih keras. Kamu harus menjadi yang terbaik
di sekolah ini. Kamu harus mengalahkan semua teman-temanmu."
"Saya siap, Pak."
Pak Rahmat berdiri. "Mulai hari ini, Bapak
akan membimbingmu. Setiap pulang sekolah, kamu harus tinggal satu jam untuk
belajar tambahan. Kamu mau?"
Bima mengangguk dengan penuh semangat. "Saya
mau, Pak!"
Pak Rahmat menepuk bahunya. "Jangan berterima
kasih sekarang."
"Kenapa, Pak?"
"Buktikan dulu bahwa kamu benar-benar pantas
mendapatkan kesempatan itu."
Bima mengangguk mantap. "Saya akan berusaha
sebaik mungkin, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak."
Pak Rahmat tersenyum. Saat ia berjalan kembali menuju ruang
guru, Bima memandang langit yang biru di atas sekolah kecil itu. Awan-awan
putih bergerak lambat, seolah ikut merayakan harapan barunya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mimpinya tidak lagi
berjalan sendirian. Kini ada seseorang yang percaya padanya. Bukan sekadar
percaya, tetapi bersedia membantunya.
Dan kadang-kadang, satu orang yang percaya sudah cukup
untuk membuat seseorang berani melangkah lebih jauh. Satu orang yang percaya
bisa menjadi cahaya di tengah kegelapan. Satu orang yang percaya bisa menjadi
alasan untuk tidak menyerah.
Di bawah pohon mangga itu, Bima berjanji pada dirinya
sendiri: ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan belajar sekeras
mungkin. Ia akan membuktikan bahwa anak petani juga bisa bermimpi besar.
Dan ia akan membuat Pak Rahmat bangga.
***
Hari-hari setelah percakapan dengan Pak Rahmat menjadi
lebih berat bagi Bima. Ia sekarang harus membagi waktu antara membantu orang
tuanya di sawah, belajar di sekolah, dan mengikuti bimbingan tambahan dari Pak
Rahmat setelah pulang sekolah.
Bangun pagi buta, ke sawah membantu ayahnya selama dua jam,
pulang mandi dan sarapan seadanya, lalu berangkat sekolah dengan langkah
tergesa-gesa. Pulang sekolah, alih-alih bermain seperti teman-temannya, ia
harus tinggal untuk belajar tambahan. Sore harinya, kadang ia membantu ibunya
di rumah, atau kembali ke sawah jika ayahnya membutuhkan bantuan. Malam hari,
setelah makan malam sederhana, ia belajar di bawah cahaya lampu teplok yang
redup dan berasap.
Namun Bima tidak pernah mengeluh. Setiap tetes keringat
yang ia keluarkan, setiap rasa kantuk yang ia lawan, semuanya ia lakukan dengan
kesadaran penuh bahwa ini adalah jalan yang harus ia tempuh. Ia ingat kata-kata
ayahnya: "Selama kita tidak berhenti berjalan, kita pasti akan
sampai."
Pak Rahmat mengajar Bima dengan sabar. Setiap pulang
sekolah, selama satu jam, Bima harus tinggal di kelas untuk belajar tambahan.
Mereka membahas matematika, ilmu pengetahuan alam, bahasa Indonesia, dan
kadang-kadang pengetahuan umum—semua mata pelajaran yang akan diujikan untuk
seleksi beasiswa.
Pak Rahmat mengajarnya dengan metode yang sederhana namun
efektif. Ia tidak hanya memberi tahu jawaban, tetapi mengajarkan cara berpikir.
Ia tidak hanya menghafal rumus, tetapi memahami konsep.
"Bima," kata
Pak Rahmat suatu hari, "kamu harus mengerti bahwa belajar itu
bukan hanya untuk ujian. Belajar adalah cara kita memahami dunia."
"Iya, Pak."
"Kalau kamu hanya menghafal, kamu akan lupa setelah
ujian selesai. Tapi kalau kamu memahami, ilmunya akan melekat seumur
hidup."
Bima mengangguk, mencerna kata-kata itu.
Suatu sore, ketika hujan turun dengan derasnya, Bima masih
duduk di kelas menunggu hujan reda. Hujan mengguyur atap seng dengan suara
gemuruh yang memekakkan telinga. Air mengalir deras di halaman sekolah,
membentuk sungai-sungai kecil di tanah.
Pak Rahmat duduk di mejanya, mengoreksi tugas-tugas murid.
Pena merahnya bergerak lincah, menandai jawaban yang salah dan memberi komentar
di pinggir kertas.
"Bima," panggil
Pak Rahmat tanpa menoleh.
"Iya, Pak?"
"Kamu tidak pernah mengeluh. Apakah tidak berat
menjalani semua ini?"
Bima berpikir sejenak. Pertanyaan itu sederhana, tetapi
jawabannya tidak sesederhana itu. "Kadang berat, Pak. Tapi saya
selalu ingat kata Bapak."
"Apa katanya?"
"Bahwa selama kita tidak berhenti berjalan, kita pasti
akan sampai."
Pak Rahmat berhenti mengoreksi. Ia menatap Bima dengan
penuh perhatian. "Ayahmu orang bijak."
"Iya, Pak. Beliau hanya tidak berkesempatan sekolah
tinggi. Beliau bilang, dulu waktu muda, beliau juga ingin sekolah, tapi tidak
ada biaya."
Pak Rahmat mengangguk. "Itulah sebabnya kamu
harus melanjutkan perjuangannya. Kamu harus sekolah setinggi mungkin, bukan
hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk orang tuamu."
Bima merasakan dadanya menghangat. Kata-kata Pak Rahmat
selalu memberinya semangat baru.
Hujan semakin deras. Suara gemericik air di atap seng
menciptakan irama yang menenangkan, kontras dengan keganasan curahan air dari
langit.
"Pak," kata
Bima tiba-tiba.
"Iya?"
"Apakah beasiswa itu benar-benar ada? Atau hanya
mimpi?"
Pak Rahmat meletakkan pulpennya. Ia berjalan ke arah
jendela, memandang hujan yang turun tanpa henti. "Beasiswa itu
benar-benar ada. Bapak punya teman yang mengajar di kota. Namanya Pak Hadi.
Setiap tahun, ada siswa dari desa yang mendapatkan kesempatan itu."
"Apakah mereka berhasil?"
"Beberapa berhasil. Beberapa pulang karena tidak
sanggup."
Bima terdiam. "Kenapa mereka tidak sanggup,
Pak?"
Pak Rahmat kembali ke mejanya, duduk di kursi. "Karena
hidup di kota tidak mudah. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru,
pelajaran yang lebih sulit, dan yang paling berat—mereka harus bertahan dengan
biaya yang terbatas."
"Tapi mereka sudah dapat beasiswa, Pak."
"Beasiswa hanya membayar sekolah, Bima. Untuk makan,
untuk tempat tinggal, untuk buku-buku tambahan, mereka harus mencari
sendiri."
Bima merenungkan kata-kata itu. Tantangan yang ia hadapi
ternyata lebih besar dari yang ia bayangkan.
"Tapi Bapak yakin kamu bisa," lanjut Pak Rahmat. "Karena kamu punya
alasan yang kuat."
"Apa itu, Pak?"
"Kamu ingin mengubah hidup keluargamu. Itu alasan yang
tidak akan membiarkanmu menyerah."
Malam harinya, di rumah, Bima belajar di bawah cahaya lampu
teplok. Lampu itu terbuat dari kaleng bekas, dengan sumbu dari kain yang
dicelupkan ke minyak tanah. Cahayanya redup dan berkedip-kedip, kadang hampir
padam jika angin bertiup. Asapnya membuat mata perih, dan kadang-kadang membuat
Bima batuk-batuk.
Minyak tanah mulai menipis, tetapi ia tetap bertahan.
Buku-buku pelajarannya berserakan di meja kecil—meja kayu bekas yang kakinya
sudah tidak sama panjang, sehingga harus diganjal dengan kertas lipat.
Ibunya duduk di dekatnya sambil menjahit baju yang robek.
Bu Yuyun adalah wanita yang terampil. Dengan jarum dan benang, ia bisa
memperbaiki apa saja—baju sobek, celana bolong, bahkan tas Bima yang mulai
rusak.
"Belajarlah yang rajin, Nak," kata Bu Yuyun tanpa mengalihkan pandangan dari
jahitannya. "Ibu dan Bapak akan selalu mendukungmu."
Bima mengangkat wajahnya dari buku. "Bu, kalau
aku pergi ke kota nanti, Ibu dan Bapak tidak akan apa-apa?"
Bu Yuyun berhenti menjahit. Ia menatap anaknya dengan mata
yang mulai berkaca-kaca. "Tentu saja akan sedih. Rumah ini akan
terasa sepi tanpa kamu."
"Maaf, Bu..."
"Tapi Ibu lebih sedih kalau kamu tidak bisa mengejar
mimpi. Ibu lebih sedih kalau kamu harus hidup seperti kami, bekerja keras
sepanjang hidup tanpa pernah bisa keluar dari sawah."
Bima memeluk ibunya. Pelukan yang hangat, penuh kasih
sayang. "Terima kasih, Bu."
Bu Yuyun membalas pelukan itu. "Janji sama
Ibu, kamu akan sukses."
"Saya janji, Bu."
Di luar, hujan mulai reda. Suara jangkrik terdengar
kembali, menciptakan simfoni malam yang menenangkan. Dan di dalam hati Bima,
tekadnya semakin kuat.
Keesokan harinya, di sekolah, Bima bertemu dengan beberapa
teman sekelasnya saat jam istirahat. Mereka sedang duduk-duduk di halaman,
makan bekal masing-masing.
"Bima, sini!" panggil
Wati, anak perempuan yang bercita-cita jadi perawat itu.
Bima mendekati mereka. Wati membuka bekalnya—nasi dengan
lauk seadanya. Anak-anak lain juga membuka bekal masing-masing.
"Kamu kok belakangan ini selalu tinggal sepulang
sekolah?" tanya Budi, anak
gemuk yang bercita-cita jadi pedagang. "Belajar tambahan sama Pak
Rahmat?"
"Iya," jawab
Bima singkat.
"Buat apa?" tanya
Joko yang kebetulan lewat. "Mau jadi apa sih, Bim? Kayak orang
ambisius aja."
"Emangnya nggak boleh?" Bima menatap Joko.
Joko tertawa. "Boleh, silakan. Tapi ingat,
kita ini anak desa. Sehebat apa pun sekolah, ujung-ujungnya juga balik ke
sawah."
"Nggak semua orang harus jadi petani, Jok."
"Terus mau jadi apa? Presiden?" Joko tertawa lebih keras.
Wati ikut bicara. "Jangan gitu, Jok. Biarin
aja Bima sekolah. Nggak ada salahnya."
Joko mendengus. "Terserah. Yang penting gua
mah, yang penting enak. Nggak perlu susah-susah belajar."
Ia pergi bergabung dengan Slamet dan Karjo yang sedang main
kelereng di pojok halaman.
Wati menatap Bima. "Jangan diambil hati, Bim.
Joko emang suka gitu."
"Nggak apa-apa," jawab Bima. "Aku udah biasa."
Budi ikut berkomentar. "Tapi beneran, Bim.
Kamu mau sekolah tinggi?"
"Iya."
"Sampe SMA?"
"Sampe kuliah kalau bisa."
Budi bersiul. "Wah, mahal tuh. Orang tuamu
mampu?"
Bima terdiam. Itulah pertanyaan yang selalu
menghantuinya. "Nggak tahu. Tapi aku akan berusaha."
Wati menepuk pundaknya. "Semangat, Bim. Aku
dukung kamu."
Budi juga mengangguk. "Iya, semangat. Kalau
kamu sukses nanti, jangan lupa sama kami."
Bima tersenyum. Dukungan dari teman-teman, sekecil apa pun,
selalu memberinya kekuatan.
***
Dua tahun berlalu sejak Bima mulai belajar tambahan dengan
Pak Rahmat. Kini ia telah menyelesaikan sekolah dasarnya dengan nilai terbaik
di desanya. Ia berhasil meraih peringkat pertama di ujian akhir, mengalahkan
semua teman-temannya—bahkan Joko yang sering mengejeknya dulu.
Hari kelulusan tiba. Sekolah dihias dengan
sederhana—balon-balon dari plastik bekas, umbul-umbul dari kertas warna-warni,
dan panggung kecil di halaman sekolah. Orang tua murid datang dengan pakaian
seadanya, tetapi wajah mereka berseri-seri penuh kebanggaan.
Bu Yuyun dan Pak Sanusi hadir, duduk di kursi plastik yang
disediakan panitia. Mereka memakai pakaian terbaik yang mereka miliki—Bu Yuyun
dengan kebaya lusuh tetapi bersih, Pak Sanusi dengan kemeja putih yang sudah
menguning karena usia.
Bima berdiri di antara teman-teman sekelasnya, mengenakan
seragam putih merah yang sudah terlalu kecil untuknya. Lengan bajunya sudah di
bawah siku, celananya sudah di atas mata kaki. Tapi ia tetap tegap, tetap
tersenyum.
Acara berlangsung dengan hikmat. Ada sambutan dari kepala
sekolah, dari perwakilan orang tua murid, dan dari perwakilan siswa. Lagu-lagu
nasional dinyanyikan, meskipun kadang sumbang. Hadiah diberikan kepada siswa
berprestasi.
Ketika nama Bima disebut sebagai lulusan terbaik, tepuk
tangan bergemuruh. Bima naik ke panggung dengan langkah mantap. Kepala sekolah
menyerahkan piagam penghargaan dan sebuah amplop.
"Selamat, Bima. Kamu membuat bangga sekolah ini."
"Terima kasih, Pak."
Bima memandang ke arah orang tuanya. Bu Yuyun menangis
haru, menyeka air matanya dengan ujung kerudung. Pak Sanusi tersenyum bangga,
dadanya berdebar menahan haru.
Setelah acara selesai, Pak Rahmat mendekati Bima dan orang
tuanya. Ia mengajak mereka berbicara di ruang guru.
"Pak Sanusi, Bu Yuyun, saya ingin bicara tentang masa
depan Bima."
Pak Sanusi mengangguk. "Silakan, Pak
Rahmat."
"Bima berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan
sekolah di kota. Seperti yang sudah saya bicarakan sebelumnya."
Bu Yuyun menatap suaminya. Ada kebanggaan, tetapi juga
kekhawatiran di matanya.
"Sekolahnya di SMP Negeri 5 di kota," lanjut Pak Rahmat. "Itu sekolah favorit.
Banyak lulusannya yang masuk SMA terbaik."
Pak Sanusi menghela napas. "Jadi... Bima harus
pergi?"
"Iya, Pak. Sekolahnya di kota. Tapi jangan khawatir,
saya punya teman di sana. Namanya Pak Hadi. Beliau bersedia menampung Bima
tinggal di rumahnya."
Bu Yuyun masih diam, menahan tangis.
"Tapi Bapak-Ibu harus siap," lanjut Pak Rahmat. "Hidup di kota tidak
mudah. Bima harus bekerja untuk biaya hidupnya, karena beasiswa hanya untuk
sekolah."
Pak Sanusi mengangguk. "Saya mengerti, Pak
Rahmat. Terima kasih banyak atas bantuan Bapak."
"Saya hanya melakukan kewajiban, Pak."
Malam harinya, di rumah sederhana mereka, suasana haru
menyelimuti. Mereka makan malam bersama—ibu memasak sayur asem dan ikan goreng,
masakan favorit Bima. Tapi tidak ada yang benar-benar menikmati makanan itu.
"Jadi... kamu benar-benar akan pergi?" tanya Bu Yuyun, suaranya bergetar.
Bima mengangguk. "Iya, Bu."
"Jauh sekali."
"Iya, Bu."
Pak Sanusi yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Yuyun,
ini kesempatan besar buat Bima. Jangan menghalanginya."
"Saya tidak menghalangi," Bu Yuyun buru-buru membela. "Saya
hanya... hanya sedih. Anak saya akan pergi jauh."
Bima meraih tangan ibunya. "Bu, saya janji
akan pulang. Dan saya janji akan sukses."
Bu Yuyun memeluk anaknya. Air matanya tumpah tanpa bisa
ditahan. "Nak... Nak... Ibu akan sangat kangen."
Pak Sanusi menepuk bahu istrinya. "Sudah,
sudah. Ini saatnya bersyukur, bukan bersedih."
Tapi matanya juga basah. Ia berpaling, tidak ingin anaknya
melihat air matanya.
Beberapa hari kemudian, hari keberangkatan tiba. Pagi-pagi
sekali, Bima sudah bangun. Ia memeriksa tasnya sekali lagi—pakaian seadanya,
beberapa buku pelajaran, foto keluarga, dan amplop berisi uang pemberian orang
tuanya. Uang itu tidak banyak, hasil dari menjual beberapa ekor ayam dan
tabungan bertahun-tahun.
Bu Yuyun sibuk di dapur, membuat bekal untuk perjalanan.
Nasi dibungkus daun pisang, lauknya ikan asin dan sambal. Sederhana, tetapi
dibuat dengan penuh cinta.
Pak Sanusi duduk di ruang tamu, diam merokok. Rokok kretek
buatannya sendiri, lintingan tangan yang tidak terlalu rapi. Asapnya mengepul,
membumbung ke langit-langit rumah.
"Bapak," panggil
Bima.
"Iya."
"Bapak... saya pergi, ya."
Pak Sanusi menatap anaknya. Anak yang dulu masih bisa ia
gendong, kini sudah hampir sejajar dengan bahunya. Anak yang dulu masih belajar
berjalan, kini akan berjalan jauh meninggalkan rumah.
"Bima."
"Iya, Pak?"
"Ingat pesan Bapak."
"Pesan apa, Pak?"
Pak Sanusi berdiri. Ia memandang anaknya dengan
dalam. "Jangan pernah menyerah. Jangan pernah lupa dari mana kamu
berasal. Dan jangan pernah malu dengan keadaanmu."
"Saya ingat, Pak."
"Kota itu keras. Orang-orang di sana mungkin akan
memandang rendahmu karena kamu anak desa. Tapi tunjukkan pada mereka bahwa anak
desa juga bisa."
Bima mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
Pak Sanusi meraih tangan anaknya. Di dalam genggaman itu,
Bima merasakan kekuatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Kekuatan
seorang ayah yang melepas anaknya pergi.
"Bapak bangga padamu."
Hanya itu. Tiga kata yang membuat Bima tidak bisa menahan
air matanya lagi.
Bu Yuyun keluar dari dapur. Ia melihat suami dan anaknya
berpelukan. Ia segera menghapus air matanya, berusaha tegar.
"Sudah, sudah. Ayo berangkat. Nanti ketinggalan
bus."
Mereka berjalan bersama menuju terminal kecil di desa
tetangga. Jalanan masih sepi, matahari baru saja terbit. Udara pagi menusuk
tulang, tapi hati mereka lebih dingin dari udara itu.
Di terminal, bus sudah menunggu. Sebuah bus tua dengan cat
mengelupas dan mesin yang berisik. Beberapa penumpang sudah naik, yang lain
masih menunggu di luar.
Bima naik ke bus. Ia memilih tempat duduk di dekat jendela,
agar bisa melambai pada orang tuanya.
Pak Sanusi dan Bu Yuyun berdiri di luar, memandang anaknya
dari balik kaca jendela.
"Hati-hati di jalan, Nak!" teriak Bu Yuyun.
"Jaga kesehatan!" teriak Pak Sanusi.
Bima mengangguk. Ia tidak bisa bicara karena tenggorokannya
tercekat.
Mesin bus meraung. Bus mulai bergerak perlahan.
Bu Yuyun tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia memeluk
suaminya, menyembunyikan wajahnya di dada Pak Sanusi.
Bima melambai dari jendela. Ia melihat kedua orang tuanya
semakin kecil, semakin kabur karena air matanya. Ia melihat rumah-rumah yang ia
kenal, sawah-sawah yang ia lalui, pohon-pohon yang menjadi saksi masa
kecilnya—semuanya perlahan menjauh.
Bus melaju meninggalkan desa. Meninggalkan segalanya yang
ia kenal.
Bima menyeka air matanya. Ia menatap ke depan, ke jalan
panjang yang terbentang di hadapannya. Ia tidak tahu apa yang akan ia temui di
sana. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak akan mengecewakan orang tuanya. Ia tidak
akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Perjalanan panjang telah dimulai.
***
Perjalanan menuju kota memakan waktu hampir setengah hari.
Bus tua yang ditumpangi Bima melaju perlahan melewati jalan panjang yang
berkelok di antara bukit dan hutan. Kadang-kadang bus berhenti di pasar-pasar
kecil, menaikkan dan menurunkan penumpang. Kadang-kadang bus berhenti di
pinggir jalan karena mesinnya overheat—sesuatu yang sudah biasa terjadi.
Dari jendela bus, Bima melihat desa-desa kecil yang
perlahan tertinggal di belakang. Sawah-sawah hijau berganti dengan perkebunan,
lalu berubah menjadi hutan-hutan lebat. Sesekali ia melihat sungai yang
mengalir di lembah, atau gunung yang menjulang di kejauhan.
Di pangkuannya, ia memegang tas kain yang berisi pakaian
seadanya, beberapa buku pelajaran, dan sebuah amplop berisi uang yang diberikan
orang tuanya. Tidak banyak. Beberapa lembar uang lusuh yang disimpan dengan
hati-hati. Namun cukup untuk memulai perjalanan baru.
Sesekali ia memandang keluar jendela. Gedung-gedung mulai
terlihat semakin banyak. Jalanan semakin ramai. Kendaraan berlalu lalang tanpa
henti. Orang-orang berjalan cepat di trotoar, tidak saling menyapa.
Bima menelan ludah. Inilah kota yang selama ini hanya ia
bayangkan dari cerita orang-orang dan gambar di buku. Inilah tempat di mana
mimpinya akan diuji.
Bus akhirnya berhenti di sebuah terminal yang besar dan
penuh dengan orang. Suara klakson kendaraan, teriakan pedagang, dan hiruk pikuk
manusia bercampur menjadi satu. Ada pedagang asongan yang menawarkan rokok dan
permen. Ada calo tiket yang berteriak-teriak menawarkan bus tujuan ini dan itu.
Ada anak-anak jalanan yang mengamen dengan suara sumbang.
Bima turun dari bus dengan langkah ragu. Ia memandang
sekelilingnya dengan mata penuh keheranan. Ini kali pertama ia melihat
keramaian seperti ini.
"Ramai sekali," gumamnya
pelan.
Seorang pria yang berdiri di dekatnya tertawa kecil. Pria
itu kelihatannya supir bus lain, sedang istirahat sambil minum kopi di warung
dekat terminal.
"Kamu baru pertama kali ke kota?"
Bima mengangguk. "Iya."
Pria itu tersenyum. Senyum yang ramah, meskipun wajahnya
keras karena terik matahari. "Kalau begitu, hati-hati. Kota tidak
selalu ramah."
"Maksudnya, Pak?"
"Di sini banyak orang jahat. Copet, penipu, preman.
Jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal."
Bima mengucapkan terima kasih lalu melangkah pergi. Di
tangannya ada secarik kertas kecil berisi alamat tempat tinggal sementara yang
diberikan oleh Pak Rahmat. Sebuah rumah kontrakan milik kenalan gurunya, Pak
Hadi.
Ia berjalan keluar terminal, mencoba mencari arah. Jalanan
ramai dengan kendaraan. Trotoar penuh dengan pedagang kaki lima yang menjajakan
barang dagangan mereka. Ada yang jual gorengan, ada yang jual obat-obatan
tradisional, ada yang jual pakaian bekas.
Setelah berjalan cukup lama dan beberapa kali bertanya
kepada orang di jalan—dengan hati-hati seperti pesan supir tadi—akhirnya Bima
sampai di sebuah gang sempit di pinggir kota. Gang itu becek dan penuh dengan
rumah-rumah yang berdempetan. Anak-anak kecil bermain bola di jalan, para ibu
duduk di teras sambil mengobrol, bau masakan bercampur dengan bau got yang
kurang terawat.
Rumah yang ia cari berdiri sederhana di antara bangunan
lain. Pintunya terbuat dari kayu, catnya sudah mengelupas di sana-sini. Ia
mengetuk pintu dengan ragu.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Seorang pria setengah
baya keluar sambil memandangnya. Pria itu bernama Pak Hadi, sekitar lima
puluhan tahun, berbadan agak gemuk dengan wajah ramah dan kumis tipis. Ia
memakai kaos oblong dan sarung, seperti orang yang sedang santai di rumah.
"Kamu Bima?"
"Iya, Pak."
"Saya Pak Hadi. Pak Rahmat sudah bercerita tentangmu.
Mari masuk."
Rumah itu tidak besar, tetapi cukup bersih dan sederhana.
Lantainya semen, dindingnya bata tanpa plester. Ada ruang tamu dengan sofa
bekas yang sudah kempes di beberapa tempat, meja kayu yang penuh dengan gelas
dan piring kotor, dan beberapa foto keluarga di dinding.
Pak Hadi duduk di kursi kayu sambil menatap Bima. "Dari
desa tadi?"
"Iya, Pak. Naik bus dari pagi."
"Capek pasti. Nanti istirahat dulu."
Bima mengangguk.
Pak Hadi melanjutkan. "Kamu akan tinggal di
kamar belakang. Tidak besar, tapi cukup untukmu. Ada kasur tipis, meja kecil,
dan lemari bekas. Mandi dan cuci di belakang, bersama dengan kami."
"Terima kasih, Pak."
Pak Hadi mengangguk. "Tapi ada satu hal yang
harus kamu tahu."
Bima memperhatikan dengan serius.
"Tinggal di kota tidak murah."
"Saya mengerti, Pak."
"Kalau kamu ingin bertahan di sini, kamu harus
bekerja. Saya tidak bisa gratis-gratis saja menampungmu. Saya juga harus
makan."
Bima langsung menjawab, "Saya siap bekerja,
Pak."
Pak Hadi tersenyum kecil. "Bagus. Kebetulan
saya punya warung makan kecil di dekat pasar. Kamu bisa membantu di sana
setelah pulang sekolah. Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk makan dan sedikit
tabungan."
"Terima kasih banyak, Pak."
Pak Hadi berdiri. "Sekarang istirahat dulu.
Nanti sore saya antar ke warung, kenalan dengan istri saya."
Pak Hadi membawanya ke kamar belakang. Kamar itu kecil,
hanya sekitar 2x3 meter. Ada satu kasur tipis beralas tikar, meja kecil dari
kayu bekas, dan jendela kecil yang menghadap ke gang. Cat dindingnya kusam,
langit-langitnya rendah. Tapi bagi Bima, kamar itu adalah istana. Ini adalah
tempat di mana ia akan memulai perjuangannya.
Malam itu, untuk pertama kalinya Bima tidur di kota. Kamar
kecil itu terasa asing baginya. Tidak ada suara jangkrik seperti di desa. Yang
terdengar hanya suara kendaraan yang tidak pernah berhenti, suara tetangga yang
bertengkar, suara musik dari warung-warung sekitar.
Bima memandang langit melalui jendela kecil.
Bintang-bintang nyaris tidak terlihat karena silau lampu kota. Yang ada hanya
langit kelabu, tanpa cahaya.
Ia teringat wajah ayah dan ibunya. Teringat rumah kayu
sederhana mereka. Teringat sawah-sawah yang luas. Teringat Pak Rahmat yang
membantunya.
"Semoga aku bisa bertahan," bisiknya pelan.
Keesokan paginya kehidupan baru Bima dimulai. Pagi hari ia
pergi ke sekolah. Siang hari ia belajar. Dan sore hingga malam ia membantu di
warung makan milik Pak Hadi.
Warung itu bernama "Warung Hidayah". Letaknya di
pinggir pasar, tidak jauh dari gang tempat Bima tinggal. Warungnya
sederhana—beberapa meja kayu, kursi plastik, dan etalase kaca tempat menyimpan
lauk-pauk. Yang dijual makanan khas Sunda: nasi timbel, ayam goreng, tahu
tempe, lalapan, dan sambal yang pedasnya bikin keringat mengucur.
Di warung itu ia mencuci piring, membersihkan meja, menyapu
lantai, dan kadang membantu melayani pelanggan. Pak Hadi dibantu istrinya, Bu
Hj. Salamah, seorang wanita paruh baya yang rambutnya selalu tertutup jilbab
dan logatnya khas Sunda.
Bu Salamah terkenal cerewet, tetapi baik hati. "Bima,
cuci piringnya yang bersih, ya! Sabunnya jangan pelit! Kalau piring kotor,
pelanggan kabur!" teriaknya dari dapur.
"Siap, Bu," jawab
Bima sambil menggosok piring lebih keras.
"Bima, kalau sudah selesai cuci piring, tolong angkat
dagangan dari pasar!"
"Siap, Bu."
"Bima, pelanggan meja tiga minta sambal lagi!"
"Siap, Bu."
Bima bekerja tanpa mengeluh. Setiap perintah dilaksanakan
dengan sepenuh hati. Ia tahu bahwa ini adalah bagian dari perjuangan.
Suatu malam ketika warung sedang ramai, seorang pelanggan
memandang Bima dengan heran. Pelanggan itu adalah Pak RW, tokoh masyarakat
setempat yang sering makan di warung. Beliau adalah pensiunan pegawai negeri
yang disegani di kampung itu.
"Kamu masih sekolah?" tanya Pak RW.
"Iya, Pak."
"Kenapa bekerja juga?"
Bima tersenyum kecil. "Supaya bisa tetap
sekolah."
Pak RW mengangguk pelan, kagum. "Anak muda
seperti kamu jarang ada sekarang. Biasanya mereka minta uang jajan ke orang
tua, bukan kerja."
Bu Salamah yang mendengar percakapan itu ikut
berkomentar. "Iya, Pak RW. Anak ini rajin. Pagi sekolah, sore
bantu-bantu di sini. Nggak pernah ngeluh. Kadang saya kasihan juga."
Pak RW menatap Bima dengan penuh perhatian. "Kamu
dari mana, Nak?"
"Dari desa, Pak. Sumber Jaya namanya."
"Jauh juga. Orang tua di sana?"
"Iya, Pak. Petani."
Pak RW menghela napas. "Kamu harus bangga
punya orang tua seperti mereka. Meskipun miskin, mereka berusaha menyekolahkanmu."
"Saya bangga, Pak."
Namun tidak semua hari berjalan mudah. Suatu malam Bima
pulang ke kamar dengan tubuh sangat lelah. Tangannya masih bau sabun cuci
piring, kulitnya mulai pecah-pecah karena terlalu lama terkena air. Bajunya
basah oleh keringat.
Ia duduk di lantai sambil membuka buku pelajaran.
Matematika. Pelajaran yang paling sulit baginya. Angka-angka dan rumus-rumus
berjejalan di halaman buku.
Namun matanya terasa berat. Beberapa kali ia hampir
tertidur, kepalanya terangguk-angguk.
"Kalau aku menyerah sekarang, semua perjuanganku akan
sia-sia," gumamnya pelan.
Ia mencubit lengannya sendiri, berusaha tetap sadar. Ia
kembali memaksa dirinya membaca. Namun kali ini, rasa kantuk benar-benar tak
tertahankan. Tanpa sadar, kepalanya jatuh di atas buku. Ia tertidur.
Pintu kamar diketuk pelan. Pak Hadi masuk membawa segelas
teh hangat. Ia tersenyum melihat Bima tertidur di atas buku.
"Bima."
Bima tersadar. "Maaf, Pak. Saya
ketiduran."
Pak Hadi duduk di tepi kasur. "Kamu terlalu
memaksakan diri."
"Saya harus belajar, Pak. Ujian sudah dekat."
Pak Hadi menyerahkan teh itu. "Minum dulu.
Istirahat sebentar."
Bima menerima teh itu dengan tangan gemetar karena lelah.
Tehnya hangat, manis, menyegarkan. "Terima kasih, Pak."
Pak Hadi menatapnya dengan penuh perhatian. "Kamu
tahu, Bima. Saya kagum dengan semangatmu."
Bima tersenyum tipis.
"Tapi ingat, tubuh juga perlu istirahat. Kalau kamu
sakit, semua perjuanganmu akan terhenti. Sia-sia."
Bima mengangguk. "Saya mengerti, Pak."
"Besok hari Minggu, tidak usah kerja. Fokus belajar
saja."
"Tapi, Pak..."
"Tidak ada tapi. Saya yang putuskan."
Malam itu, setelah Pak Hadi keluar, Bima minum teh hangat
sambil memandang buku-bukunya. Ia memang lelah, tetapi di dalam hatinya, api
perjuangan masih menyala. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak boleh menyerah.
***
Hari-hari di kota terus berjalan, tetapi bagi Bima, setiap
hari terasa semakin berat. Kehidupan yang dulu ia bayangkan penuh harapan kini
mulai memperlihatkan wajah aslinya—keras, melelahkan, dan sering kali terasa tidak
adil.
Pagi hari ia harus berangkat ke sekolah dengan tubuh yang
masih terasa letih. Malam hari ia bekerja di warung makan milik Pak Hadi sampai
larut. Sering kali ketika ia kembali ke kamar kecilnya, tubuhnya sudah terlalu
lelah untuk membuka buku pelajaran. Ia hanya bisa merebahkan diri di kasur dan
tertidur dengan pakaian yang masih basah oleh keringat.
Sekolah di kota ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia
bayangkan. Pelajarannya lebih kompleks, gurunya lebih cepat dalam menjelaskan,
dan teman-temannya kebanyakan berasal dari keluarga mampu yang sudah memiliki
fasilitas belajar lengkap. Mereka punya buku-buku baru, punya akses internet,
punya les privat.
Bima hanya punya buku pinjaman dari perpustakaan, catatan
hasil fotokopian dari teman, dan tekad yang kadang mulai goyah.
Di kelas, Bima sering merasa menjadi anak yang paling
tertinggal. Ketika guru menjelaskan, ia harus berusaha ekstra keras untuk
memahami. Ketika teman-temannya dengan mudah mengerjakan soal, ia masih
bergulat dengan rumus-rumus dasar.
Suatu hari, guru matematika, Pak Agus, memberikan PR yang
sangat sulit. Soal-soalnya berbeda dari biasanya, membutuhkan pemahaman konsep
yang mendalam. Bima mencoba mengerjakannya di kamar, tetapi angka-angka itu
seperti menari-nari di depan matanya karena kantuk. Berkali-kali ia mencoba,
berkali-kali gagal.
Keesokan harinya, Pak Agus mengumpulkan PR. Ketika melihat
pekerjaan Bima, ia mengerutkan dahi.
"Bima, pekerjaanmu banyak yang salah."
Bima menunduk. "Maaf, Pak. Saya kurang
paham."
Pak Agus menghela napas. "Kamu harus lebih
rajin belajar. Nilaimu terus menurun. Dari delapan puluh, sekarang enam puluh,
lalu lima puluh. Kalau terus begini, kamu bisa tinggal kelas."
Bima tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk
pasrah.
Sepulang sekolah, seorang teman sekelas bernama Doni
mendekatinya. Doni berasal dari keluarga kaya. Ayahnya pengusaha sukses di
bidang properti. Ia sering datang ke sekolah dengan sepeda motor baru dan
pakaian bagus. Rambutnya selalu rapi dengan gel, sepatunya selalu mengkilap.
"Bima, kamu kok keliatan lesu terus? Sakit?" tanya Doni.
"Nggak. Cuma capek."
"Capek ngapain?"
"Bekerja."
Doni mengangkat alis. "Kamu kerja?"
"Iya. Buat biaya sekolah."
Doni terdiam. Kemudian ia berkata, "Kalau kamu
butuh bantuan, bilang saja. Aku bisa bantu."
Bima tersenyum. "Makasih, Don. Tapi aku harus
usaha sendiri."
Doni menatapnya dengan kagum. "Kamu hebat,
Bim. Aku nggak tahu apa aku bisa sekuat kamu kalau di posisimu."
"Kuat atau tidak, lama-lama terbiasa."
Suatu malam di warung, ketika sedang mencuci piring, Bima
hampir pingsan. Tangannya tiba-tiba lemas, piring yang ia pegang jatuh dan
pecah. Pecahannya berserakan di lantai basah.
Bu Hj. Salamah yang mendengar suara pecahan piring segera
keluar dari dapur. Wajahnya panik.
"Ya Allah, Bima! Kamu kenapa?"
Bima memegangi kepalanya. Dunia terasa berputar. "Maaf,
Bu. Saya pusing."
Bu Salamah memegang kening Bima. Tangannya yang hangat
merasakan suhu tubuh Bima. "Aduh, panas badannya. Kamu sakit,
Nak!"
Pak Hadi yang mendengar keributan segera datang dari ruang
depan. "Ada apa?"
"Bima sakit, Pak. Panas."
Pak Hadi segera membopong Bima ke kamarnya. Tubuh Bima
terasa ringan di gendongannya. Ia menyuruh istrinya membuatkan air jahe hangat.
Malam itu, Bima terbaring lemah di kamarnya. Demamnya
tinggi, tubuhnya menggigil kedinginan meskipun suhu kamar biasa saja. Pak Hadi
duduk di sampingnya, sesekali mengganti kompres di keningnya.
"Kamu kerja terlalu keras," kata Pak Hadi.
"Saya harus, Pak."
"Tubuhmu butuh istirahat."
Bima terdiam. Pak Hadi memberinya air jahe hangat.
"Minumlah. Besok kamu tidak usah kerja. Istirahat
saja."
"Tapi, Pak..."
"Tidak ada tapi-tapi. Saya yang putuskan."
Bima menuruti perintah itu. Ia minum air jahe, lalu
berbaring.
Malam itu, ketika demamnya mulai sedikit reda, Bima menatap
langit-langit kamar. Catnya kusam, di beberapa tempat mengelupas. Retak-retak
halus menjalar seperti peta di atas kepalanya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat sendirian. Ia rindu
ibunya. Rindu ayahnya. Rindu desanya. Rindu sawah-sawah yang luas. Rindu suara
jangkrik di malam hari. Rindu masakan ibunya. Rindu senyum ayahnya.
Air mata jatuh perlahan dari sudut matanya, membasahi
bantal yang tipis.
"Bapak... Ibu... aku rindu kalian," bisiknya pelan.
Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah
semua ini layak? Apakah mimpinya sepadan dengan semua penderitaan ini?
***
Keesokan harinya, setelah demamnya reda, Bima kembali
bekerja. Ia tidak bisa berlama-lama istirahat. Ada tanggungan yang harus ia
penuhi.
Pak Hadi memintanya mengantar dagangan ke pelanggan di
pasar. Ini adalah tugas baru yang cukup berat. Bima harus membawa keranjang
besar berisi nasi bungkus dan lauk-pauk, berkeliling pasar menawarkan kepada
para pedagang.
Pasar Sentral adalah pusat ekonomi warga. Di sanalah segala
transaksi terjadi, dari pagi buta hingga sore hari. Pedagang sayur, pedagang
ikan, pedagang daging, pedagang pakaian—semua ada di sana.
Hari itu, untuk pertama kalinya Bima berkeliling pasar
sendirian. Ia melewati lorong-lorong sempit di antara kios-kios. Bau amis ikan
bercampur dengan bau sayur busuk dan keringat para pedagang.
Beberapa pedagang menyambutnya dengan ramah, membeli nasi
bungkus untuk sarapan. Yang lain mengusirnya dengan kasar.
"Nggak mau, nggak mau! Udah beli di tempat lain!"
"Pergi sana, ganggu aja!"
Bima tidak marah. Ia hanya tersenyum dan melanjutkan
perjalanan.
Namun di tengah perjalanan, ia bertemu dengan sekelompok
preman pasar. Mereka adalah pemuda-pemuda kasar yang menguasai pasar dan
memungut uang keamanan dari para pedagang. Mereka dipimpin oleh seseorang yang
dikenal dengan panggilan Bos Apek.
Bos Apek adalah lelaki bertato dengan badan kekar dan wajah
sangar. Ia memakai kaus hitam dan celana jins, dengan rantai besar di leher.
Dua anak buahnya berdiri di sampingnya—satu kurus tinggi dengan wajah licik,
satu pendek gemuk dengan tatapan kosong.
"Hei, bocah!" teriak
Bos Apek. "Mau ke mana lo? Bawa apa itu?"
Bima berhenti. "Ini nasi bungkus, Bang. Mau
beli?"
Bos Apek tertawa. Anak buahnya ikut tertawa. "Nasi
bungkus? Lo jualan di sini? Punya izin nggak?"
"Izin?" Bima
bingung.
"Izin dari gue. Ini pasar gue. Siapa pun yang jualan
di sini harus setor ke gue."
"Saya cuma antar pesanan, Bang. Titipan dari
warung."
Bos Apek mendekat. Tingginya membuat Bima harus menengadah
untuk menatap wajahnya. "Lo titipan dari warung mana? Warung
Hidayah? Punya Hadi?"
"Iya, Bang."
Bos Apek meludah ke tanah. "Hadi itu pelit.
Setorannya sering telat. Lo bilang sama dia, kalau nggak mau bayar, jangan
jualan di sini."
Bima mengangguk takut. "Saya sampaikan,
Bang."
"Sekarang, keranjangnya tinggalin di sini."
"Tapi, Bang..."
"Tapi apa?! Lo pikir gue minta gratis? Bayar
dulu."
Bima gemetar. Ia tidak punya uang. Uangnya hanya cukup
untuk ongkos dan makan.
"Saya nggak bawa uang, Bang."
Bos Apek menyeringai. "Nggak bawa uang?
Berarti keranjangnya jadi jaminan."
Ia mengambil keranjang itu paksa. Nasi bungkusnya
berhamburan ke tanah.
"Bang, jangan!" teriak
Bima.
Namun anak buah Bos Apek sudah mendorongnya hingga jatuh.
Bima terjatuh ke tanah yang kotor. Lututnya berdarah terkena aspal.
Orang-orang di pasar hanya melihat, tidak ada yang berani
membantu. Mereka takut pada preman-preman itu.
Bima memandang nasinya yang tercecer di tanah. Air matanya
tumpah. Ia pulang dengan tangan kosong, lutut berdarah, dan hati hancur.
Pak Hadi marah besar ketika mendengar cerita Bima.
"Preman keparat itu! Sudah berapa kali saya berurusan
dengan mereka!"
Bu Salamah mengompres lutut Bima dengan air hangat. "Kasihan
kamu, Nak. Nggak apa-apa, nanti Ibu ganti dagangannya."
"Tapi, Bu... itu uang Bu Salamah..."
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu selamat."
Pak Hadi mondar-mandir di ruang tamu. "Saya
harus lapor polisi."
"Hadi, jangan," cegah
Bu Salamah. "Nanti mereka balas dendam. Kita ini orang
kecil."
Pak Hadi menghela napas frustrasi. "Jadi harus
diam saja?"
Tidak ada yang bisa menjawab.
Sejak hari itu, Bima tidak pernah lagi diizinkan
berkeliling pasar. Ia hanya bekerja di warung, mencuci piring dan membersihkan
meja. Tapi kejadian itu meninggalkan luka yang dalam. Bukan hanya luka di
lututnya, tapi juga luka di hatinya.
Ia mulai bertanya-tanya: Apakah di kota ini semua orang
sejahat itu? Apakah kebaikan tidak ada harganya?
***
Hari-hari setelah kejadian di pasar, Bima menjadi lebih
pendiam. Ia bekerja seperti biasa, belajar seperti biasa, tetapi ada kesedihan
yang mengendap di hatinya.
Pak Hadi dan Bu Salamah mencoba menghiburnya, tetapi Bima
tetap murung. Ia merasa gagal. Ia merasa lemah. Ia merasa tidak berdaya.
Suatu malam, Pak Hadi memanggilnya ke ruang tamu.
"Bima, duduklah."
Bima duduk di sofa bekas itu. Pak Hadi duduk di depannya.
"Kamu masih ingat kejadian di pasar?"
Bima mengangguk. "Iya, Pak."
"Kamu marah? Kecewa?"
"Sedikit, Pak."
Pak Hadi menghela napas. "Saya ingin cerita
sesuatu."
Bima menatapnya.
"Dulu, waktu saya masih muda, saya juga pernah
mengalami hal yang sama."
"Benarkah, Pak?"
Pak Hadi mengangguk. "Saya perantau dari desa,
datang ke kota dengan modal nekat. Saya jualan makanan keliling, sama seperti
kamu. Suatu hari, preman mengambil semua dagangan saya. Saya pulang dengan
tangan kosong, lutut berdarah, persis seperti kamu."
Bima terkejut. "Terus bagaimana, Pak?"
"Saya mau menyerah. Saya mau pulang ke desa. Tapi
kemudian saya ingat orang tua saya di sana. Mereka sudah berkorban banyak.
Kalau saya pulang dengan gagal, mereka akan kecewa."
"Jadi Bapak bertahan?"
Pak Hadi tersenyum. "Saya bertahan. Saya mulai
lagi dari nol. Dan lihat sekarang, saya punya warung sendiri. Kecil memang,
tapi milik sendiri."
Bima merenung.
"Bima, hidup ini tidak selalu adil. Ada orang jahat di
mana-mana. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti."
"Tapi saya takut, Pak."
"Takut itu wajar. Tapi jangan biarkan ketakutan
menguasaimu."
Bu Salamah ikut bicara. "Nak, Ibu juga punya
cerita. Waktu masih muda, Ibu juga pernah ditipu, pernah dirampok. Tapi Ibu
percaya satu hal."
"Apa itu, Bu?"
"Setiap luka akan menguatkan kita. Setiap air mata
akan mengajarkan kita sesuatu."
Bima meresapi kata-kata mereka. Perlahan, hatinya mulai
tenang.
Malam itu, ketika ia kembali ke kamarnya, Bima membuka
jendela kecilnya. Langit kota masih kelabu, tetapi ia bisa melihat beberapa
bintang samar-samar.
Ia teringat kata-kata ayahnya di tepi sawah: "Selama
kita tidak berhenti berjalan, kita pasti akan sampai."
"Bapak... Ibu... aku akan terus berjalan," bisiknya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum.
***
Hari-hari setelah kejadian di pasar, Bima belajar untuk
bangkit kembali. Ia tidak lagi membiarkan ketakutan menguasainya. Ia bekerja
dengan semangat baru, belajar dengan tekad yang lebih kuat.
Pak Hadi dan Bu Salamah terus mendukungnya. Mereka seperti
orang tua kedua baginya.
Suatu sore, ketika Bima sedang belajar di kamar, Pak Hadi
mengetuk pintu.
"Bima, ada surat dari desa."
Jantung Bima berdebar. Ia menerima surat itu dengan tangan
sedikit gemetar. Amplopnya lusuh, perangko sudah kusam.
Ia membuka surat itu perlahan. Tulisannya adalah tulisan
ibunya, dengan huruf-huruf yang tidak terlalu rapi tetapi penuh kasih.
"Anakku Bima,
Apa kabar? Ibu dan Bapak di sini sehat-sehat saja. Bapak
masih bekerja di sawah seperti biasa. Ibu juga sibuk dengan pekerjaan rumah.
Kami bangga mendengar kabarmu dari Pak Rahmat. Katanya kamu
rajin belajar dan bekerja. Kami ikut senang.
Tapi Ibu ada kabar sedikit sedih. Sawah kita tahun ini
gagal panen karena hama wereng. Hasilnya tidak seberapa. Tapi jangan khawatir,
kami masih bisa makan. Yang penting kamu di sana baik-baik saja.
Ibu titip pesan: jaga kesehatan, jangan lupa ibadah, dan
jangan pernah menyerah. Bapak selalu bilang, kamu anak yang kuat.
Kami selalu mendoakanmu.
Ibu"
Bima membaca surat itu berulang kali. Air matanya jatuh
membasahi kertas. Ia tahu orang tuanya sedang kesulitan, tetapi mereka tidak
pernah mengeluh. Mereka selalu menyemangatinya.
Malam itu, Bima mengambil buku catatannya. Ia mulai
menulis. Bukan catatan pelajaran, tetapi curahan hatinya. Ia menulis tentang
rasa rindunya, tentang perjuangannya, tentang mimpi-mimpinya.
Tanpa ia sadari, tulisan itu menjadi panjang. Halaman demi
halaman ia penuhi dengan kata-kata. Dan ketika selesai, ia merasa sedikit lega.
Keesokan harinya, di sekolah, Bu Lestari, guru bahasa
Indonesia, meminta murid-muridnya menulis esai tentang pengalaman hidup.
Bima menuliskan apa yang ia rasakan. Dengan jujur, dengan
sepenuh hati.
Bu Lestari terkesan. "Bima, ini tulisan yang
luar biasa."
"Terima kasih, Bu."
"Kamu pernah ikut lomba menulis?"
Bima menggeleng.
Bu Lestari mengeluarkan brosur dari tasnya. "Ada
lomba menulis tingkat kota. Temanya 'Perjuangan dan Harapan'."
Bima membaca brosur itu. Hadiah utamanya adalah beasiswa.
"Apakah saya bisa ikut, Bu?"
"Tentu. Saya akan membimbingmu."
Sejak hari itu, Bima mulai menulis dengan lebih serius.
Setiap malam, setelah belajar dan bekerja, ia menyempatkan diri untuk menulis.
Ia menulis tentang desanya, tentang orang tuanya, tentang perjuangannya.
Dua minggu kemudian, tulisannya selesai. Ia menyerahkannya
kepada Bu Lestari.
Bu Lestari membacanya dengan seksama. Ketika selesai,
matanya berkaca-kaca.
"Bima, ini sangat bagus. Kamu menulis dengan
hati."
"Terima kasih, Bu."
"Saya yakin kamu bisa menang."
***
Hari pengumuman lomba tiba. Bima duduk di kelas dengan
perasaan campur aduk. Sepanjang pelajaran ia tidak bisa berkonsentrasi.
Pikirannya terus melayang pada hasil lomba.
Saat bel istirahat berbunyi, Bu Lestari masuk ke kelas.
Wajahnya berseri-seri, bersinar seperti matahari pagi.
"Bima, ikut Bu ke kantor."
Bima berdiri dengan jantung berdebar kencang. Ia mengikuti
Bu Lestari ke ruang guru. Di sana, Kepala Sekolah sudah menunggu, duduk di
kursinya dengan senyum lebar.
"Bima," kata
Kepala Sekolah sambil tersenyum, "selamat, ya."
Bima tertegun. "Selamat apa, Pak?"
"Kamu juara pertama lomba menulis tingkat kota."
Bima tidak percaya. Dunia terasa berhenti berputar. "Benarkah,
Pak?"
Kepala Sekolah menyerahkan sebuah sertifikat dan amplop
besar. "Ini hadiahnya. Beasiswa pendidikan untuk satu tahun."
Bima menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Air matanya
tumpah tanpa bisa ditahan. Ia tidak bisa berkata-kata.
Bu Lestari memeluknya. "Bu bangga padamu,
Bima. Kamu hebat."
Pak Agus, guru matematika yang pernah menegurnya, juga ikut
memberi selamat. "Maaf kalau dulu saya keras sama kamu. Ternyata
kamu memang anak yang luar biasa."
Bima hanya bisa menangis bahagia.
Sore itu, Bima langsung menulis surat untuk orang tuanya.
Ia ingin mereka tahu kabar gembira ini. Ia ingin mereka bangga.
Seminggu kemudian, surat balasan dari ibunya datang. Di
dalamnya, ibu menulis bahwa ayahnya menangis bahagia membaca suratnya. Mereka
sangat bangga padanya.
Bima membaca surat itu berulang kali. Ia membayangkan wajah
ayahnya yang tersenyum, ibunya yang menangis haru. Untuk pertama kalinya, ia
merasa bahwa semua perjuangannya tidak sia-sia.
Malam itu, ia membuka jendela kamarnya. Langit kota masih
kelabu, tetapi ia bisa melihat bulan sabit yang indah. Cahayanya redup, tetapi
cukup untuk menerangi malam.
"Bapak... Ibu... aku mulai melihat cahaya itu," bisiknya.
***
Tiga tahun berlalu sejak Bima memenangkan lomba menulis. Ia
telah menyelesaikan sekolah menengah pertamanya dengan nilai gemilang. Beasiswa
yang ia dapatkan terus berlanjut, membantunya melewati masa-masa sulit.
Kini ia duduk di bangku SMA, masih dengan beasiswa yang
sama. Namun hari ini adalah hari yang istimewa. Ia akan pulang ke desanya
setelah tiga tahun tidak pernah kembali.
Pak Hadi dan Bu Salamah mengantarnya ke terminal. Bu
Salamah menangis, memeluk Bima erat-erat.
"Nak, kamu pasti kangen sama orang tua. Hati-hati di
jalan."
"Iya, Bu. Terima kasih untuk semuanya."
Pak Hadi menjabat tangannya. "Kamu sudah
seperti anak sendiri buat kami. Jangan lupa sama kami."
"Tidak akan, Pak. Bapak dan Ibu seperti orang tua
kedua bagi saya."
Bus meninggalkan kota. Bima memandang gedung-gedung tinggi
yang perlahan menjauh. Kota yang dulu terasa asing dan menakutkan kini telah
menjadi bagian dari hidupnya. Di sanalah ia belajar tentang kerasnya hidup. Di
sanalah ia jatuh dan bangkit berkali-kali. Di sanalah ia menemukan teman-teman
baru, guru-guru yang baik, dan keluarga kedua yang menyayanginya.
Setelah perjalanan panjang, bus akhirnya sampai di terminal
kecil dekat Desa Sumber Jaya. Bima turun dengan tas di tangannya. Udara desa
terasa segar, berbeda dengan udara kota yang panas dan pengap. Ia menghirup
dalam-dalam, merasakan aroma khas desa yang selama ini ia rindukan.
Jalan tanah menuju desanya masih sama seperti dulu. Debu
beterbangan ketika dilalui kendaraan. Sawah-sawah masih hijau membentang, padi
bergoyang lembut tertiup angin. Burung-burung masih berkicau riang. Semuanya
terasa akrab, seperti tidak pernah berubah.
Ketika ia mendekati rumahnya, seorang wanita sedang
menjemur pakaian di halaman. Rambutnya mulai memutih, tubuhnya mulai
membungkuk. Wanita itu menoleh. Sapu di tangannya jatuh.
"Bima?"
"Ibu..."
Bu Yuyun berlari menghampiri dan memeluknya erat. Tangisnya
pecah. "Nak... Nak... Ibu kangen banget sama kamu."
Bima memeluk ibunya. Tubuh ibunya lebih kurus dari yang ia
ingat. "Ibu, saya juga kangen."
Dari dalam rumah, Pak Sanusi keluar dengan langkah pelan.
Tubuhnya lebih kurus, rambutnya semakin putih, tetapi senyumnya masih sama.
Senyum yang selalu memberinya kekuatan.
"Bapak..."
Bima berlari dan memeluk ayahnya. Pak Sanusi menepuk
punggung anaknya. Tangannya yang kasar terasa hangat.
"Sudah besar kamu, Nak."
"Bapak sehat?"
Pak Sanusi mengangguk. "Sehat. Tua sih
iya."
Mereka tertawa bersama. Tangis haru bercampur tawa bahagia.
Malam harinya, mereka makan bersama. Ibu memasak sayur asem
dan ikan goreng—masakan favorit Bima. Mereka makan sambil bercerita. Bima
bercerita tentang kehidupannya di kota, tentang Pak Hadi dan Bu Salamah,
tentang sekolahnya, tentang lomba menulisnya.
Orang tuanya mendengarkan dengan takjub. Mereka tidak
pernah membayangkan anak mereka bisa sejauh ini.
"Bapak, Ibu. Saya ingin membalas semua pengorbanan
kalian."
Pak Sanusi menggeleng. "Kamu tidak perlu
membalas apa-apa. Cukup lihat kamu sukses, kami sudah bahagia."
Bu Yuyun mengusap air matanya. "Ibu cuma ingin
kamu bahagia, Nak."
Bima memandang kedua orang tuanya. Di wajah mereka, ia
melihat cinta yang tulus, pengorbanan yang tak terhingga.
"Bapak, Ibu... terima kasih."
Hanya itu yang bisa ia ucapkan. Tapi dari dalam hatinya,
rasa terima kasih itu mengalir begitu dalam, tak terkira.
***
Setelah beberapa minggu di desa, Bima mulai berpikir
tentang masa depannya. Beasiswanya masih berjalan, ia harus kembali ke kota
untuk melanjutkan sekolah. Tapi ia tidak ingin pergi begitu saja. Ia ingin
melakukan sesuatu untuk desanya.
Suatu sore, ia duduk di tepi sawah—tempat yang sama seperti
dulu ia duduk bersama ayahnya. Tempat di mana mimpinya mulai tumbuh.
Ayahnya datang dan duduk di sampingnya, seperti dulu.
"Melamun?"
"Iya, Pak. Memikirkan masa depan."
"Ada rencana?"
Bima menghela napas. "Saya ingin membuka
tempat belajar untuk anak-anak desa, Pak."
Pak Sanusi menatapnya. "Maksudmu?"
"Saya ingin mengajar mereka. Membantu mereka yang
ingin sekolah lebih tinggi tapi tidak punya biaya untuk les. Banyak anak di
sini yang pintar, tapi tidak punya kesempatan."
Pak Sanusi tersenyum. "Itu ide yang
bagus."
"Tapi saya tidak punya tempat, Pak."
Pak Sanusi berpikir sejenak. "Bagaimana kalau
kita renovasi gudang di belakang rumah? Bisa dipakai untuk belajar."
Bima tersenyum lebar. "Boleh, Pak!"
Keesokan harinya, mereka mulai membersihkan gudang. Gudang
itu selama ini hanya dipakai untuk menyimpan peralatan pertanian dan hasil
panen. Tempatnya kotor, penuh debu dan sarang laba-laba.
Kabar tentang rencana Bima menyebar dengan cepat di desa.
Orang-orang mulai datang membantu. Ada yang membawa papan, ada yang membawa
cat, ada yang membawa paku dan peralatan.
Pak Rahmat, guru Bima dulu, datang membantu. "Bapak
dengar kamu mau buka tempat belajar?"
"Iya, Pak. Bapak mau bantu?"
Pak Rahmat tertawa. "Tentu saja. Ini tugas
mulia. Saya sudah tua, tapi masih bisa mengajar."
Tidak hanya Pak Rahmat, beberapa pemuda desa juga ikut
membantu. Bahkan Joko, Slamet, dan Karjo—teman-teman yang dulu suka mengejek
Bima—datang untuk membantu.
"Bima, kami minta maaf kalau dulu suka ngejek
kamu," kata Joko dengan
sungkan.
Bima tersenyum. "Sudah lama itu, Jo.
Lupakan."
"Kamu hebat, Bima. Sekarang kami bangga sama
kamu."
"Kalian juga bisa hebat, kalau mau berusaha."
Joko mengangguk. "Makanya kami mau bantu. Biar
kami juga ikut belajar."
Setelah dua minggu bekerja keras, gudang itu berubah
menjadi ruang belajar sederhana. Lantainya sudah disemen, dindingnya sudah
dicat putih, atapnya sudah diperbaiki. Ada papan tulis bekas dari sekolah,
beberapa meja kayu sumbangan warga, dan rak buku yang diisi buku-buku sumbangan
dari Pak Rahmat dan beberapa donatur.
Bima menamainya "Sanggar Cahaya".
Pada hari pertama dibuka, puluhan anak datang. Mereka duduk
dengan tertib di bangku-bangku kayu, mata mereka berbinar-binar penuh semangat.
"Selamat datang di Sanggar Cahaya," sapa Bima di depan kelas. "Di sini kita
akan belajar bersama. Siapa yang ingin sekolah tinggi?"
Semua anak mengangkat tangan.
"Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai."
Bima mengajar dengan penuh semangat. Ia mengajarkan
membaca, menulis, berhitung—semua yang ia bisa. Pak Rahmat kadang datang
membantu, mengajarkan ilmu pengetahuan dan matematika.
Melihat semangat anak-anak itu, Bima teringat dirinya
sendiri di masa lalu. Ia tahu persis apa yang mereka rasakan—rasa ingin tahu
yang besar, keinginan untuk belajar, tetapi terhalang oleh keterbatasan.
"Bang Bima," seorang
anak kecil bernama Ujang bertanya, "kita bisa sekolah tinggi kayak
Abang?"
Bima tersenyum. "Bisa. Kalau kalian rajin
belajar."
"Tapi orang tua kami miskin, Bang."
"Dulu Abang juga miskin. Tapi Abang tidak pernah
berhenti bermimpi. Dan sekarang Abang bisa sekolah tinggi dengan
beasiswa."
Anak-anak itu memandangnya dengan kagum.
"Kalian juga bisa. Percaya sama diri sendiri. Jangan
pernah menyerah."
***
Dua tahun telah berlalu sejak Bima membuka Sanggar Cahaya.
Tempat belajar sederhana itu kini telah melahirkan banyak cerita. Beberapa anak
binaannya berhasil melanjutkan sekolah ke kota dengan beasiswa. Yang lain
membuka usaha kecil-kecilan. Yang paling penting, mimpi-mimpi baru mulai tumbuh
di desa itu.
Namun kehidupan tidak pernah berhenti memberikan ujian.
Pada suatu pagi, Bima menerima kabar bahwa Pak Hadi sakit keras. Ia harus
segera kembali ke kota.
Pak Sanusi mengantarnya ke terminal. "Hati-hati
di jalan, Nak."
"Iya, Pak."
"Jaga Pak Hadi. Beliau sudah seperti orang tua sendiri
buat kamu."
"Saya tahu, Pak."
Bima berangkat ke kota dengan perasaan cemas. Ia
membayangkan Pak Hadi terbaring lemah di rumah sakit. Ia membayangkan Bu
Salamah yang sendirian menjaga suaminya.
Sesampainya di kota, ia langsung menuju rumah sakit. Pak
Hadi terbaring di ruang rawat inap, tubuhnya kurus dan pucat. Bu Salamah duduk
di sampingnya, wajahnya letih.
"Pak Hadi..." Bima
menghampiri.
Pak Hadi membuka matanya. Ketika melihat Bima, ia tersenyum
lemah. "Kamu datang, Nak."
"Iya, Pak. Saya langsung ke sini."
"Makasih."
"Pak Hadi sakit apa?"
Bu Salamah menjawab, suaranya bergetar. "Dokter
bilang ada masalah di jantungnya. Harus operasi."
Bima terkejut. "Operasi? Mahal, Bu?"
Bu Salamah mengangguk, air matanya jatuh. "Mahal
sekali. Kami tidak punya uang sebanyak itu."
Bima terdiam. Pikirannya bekerja cepat.
Malam itu, ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan Pak Hadi yang
sudah seperti ayahnya sendiri. Orang yang menampungnya ketika ia tidak punya
tempat tinggal. Orang yang memberinya pekerjaan ketika ia tidak punya uang.
Orang yang merawatnya ketika ia sakit.
"Aku harus membantu," gumamnya.
Keesokan harinya, ia pergi ke sekolah dan menemui Bu
Lestari. Ia menceritakan semuanya.
Bu Lestari mendengarkan dengan seksama. "Kamu
mau bantu biaya operasinya?"
"Iya, Bu. Tapi saya tidak punya uang."
Bu Lestari berpikir. "Kamu punya bakat
menulis. Kenapa tidak menulis kisahmu? Kisah perjuanganmu di kota, kisah tentang
Pak Hadi. Mungkin ada yang tertarik membantu."
Bima tertegun. "Menulis buku?"
"Bukan buku, mungkin artikel. Atau status di media
sosial. Siapa tahu ada orang baik yang tergerak."
Bima mengikuti saran itu. Ia menulis dengan sepenuh hati.
Ia menulis tentang Pak Hadi, tentang kebaikannya, tentang perjuangannya melawan
preman pasar, tentang sakitnya yang kini mengancam jiwanya.
Bu Lestari membantunya menyebarkan tulisan itu di media
sosial.
Tidak disangka, responsnya luar biasa. Banyak orang yang
tergerak. Mereka menyumbang sesuai kemampuan. Doni, teman sekelas Bima yang
kaya, ikut membantu menggalang dana.
Dalam waktu seminggu, dana yang terkumpul sudah cukup untuk
biaya operasi.
Pak Hadi berhasil dioperasi. Dokter bilang operasinya
sukses. Ia akan pulih dalam beberapa bulan.
Di ruang rawat inap, Pak Hadi memegang tangan Bima. Air
matanya mengalir.
"Kamu... kamu selamatkan hidup saya."
Bima tersenyum. "Pak Hadi yang dulu selamatkan
saya."
"Saya cuma kasih kamu tempat tinggal dan kerja. Kamu
yang selamatkan saya dari maut."
"Kita saling menyelamatkan, Pak."
Mereka berpelukan. Bu Salamah menangis di sampingnya.
Peristiwa itu mengajarkan Bima satu hal: kebaikan akan
kembali kepada orang yang berbuat baik. Cepat atau lambat, dengan cara yang
tidak terduga.
***
Lima tahun kemudian, Bima berdiri di tepi sawah yang dulu
begitu akrab dalam hidupnya. Ia kini telah menyelesaikan pendidikan tingginya
dan kembali ke desa untuk selamanya.
Di belakangnya, Sanggar Cahaya telah berkembang menjadi
sebuah bangunan permanen dua lantai. Bukan lagi gudang tua yang direnovasi,
tetapi gedung sekolah sederhana dengan tiga ruang kelas dan satu perpustakaan
kecil.
Puluhan anak belajar di sana setiap hari. Beberapa guru
muda dari desa itu sendiri yang mengajar—anak-anak binaan Bima yang dulu, kini
telah kembali untuk mengabdi.
Pak Sanusi dan Bu Yuyun tinggal di rumah yang sama, tetapi
kini rumah itu sudah direnovasi. Tidak mewah, tetapi layak huni. Pak Sanusi
tidak lagi bekerja di sawah; ia hanya sesekali membantu tetangga, lebih banyak
istirahat di usia senjanya.
Pak Hadi dan Bu Salamah sering berkunjung ke desa. Mereka
sudah seperti keluarga sendiri. Pak Hadi kagum melihat perkembangan Sanggar
Cahaya.
"Dulu kamu datang ke kota dengan tangan kosong.
Sekarang kamu punya sekolah sendiri."
Bima tersenyum. "Ini berkat banyak orang, Pak.
Termasuk Bapak."
Di kejauhan, ia melihat beberapa anak berlari-lari di
pematang sawah. Mereka tertawa riang, bermain kejar-kejaran. Wajah-wajah itu
mengingatkannya pada dirinya sendiri di masa lalu.
Pak Sanusi berjalan menghampirinya, langkahnya pelan tetapi
mantap.
"Kamu sering berdiri di sini akhir-akhir ini."
Bima menoleh. "Tempat ini mengingatkan saya
pada banyak hal, Pak."
Ayahnya berdiri di sampingnya, memandang sawah yang
bergoyang tertiup angin.
"Dulu kamu sering mengeluh kalau harus membantu di
sawah," katanya sambil
tertawa kecil.
Bima ikut tertawa. "Iya. Waktu itu saya merasa
dunia terlalu besar untuk desa kecil ini."
Ayahnya menatapnya dengan mata penuh kebanggaan. "Dan
sekarang?"
Bima menarik napas panjang. "Sekarang saya
justru merasa desa ini adalah tempat yang sangat penting."
Ia memandang ke arah Sanggar Cahaya. Anak-anak sedang
keluar kelas, berganti pelajaran. Tawa riang mereka terdengar hingga ke tepi
sawah.
"Saya ingin anak-anak di desa ini tahu bahwa mimpi
mereka tidak harus berhenti di sini. Mereka bisa pergi sejauh mungkin, dan
kembali untuk membangun."
Ayahnya mengangguk perlahan. "Kamu sudah
membawa cahaya bagi desa ini."
Bima terdiam sejenak. Selama bertahun-tahun ia selalu
berpikir bahwa cahaya yang ia cari adalah kesuksesan—gelar, pekerjaan, atau
pengakuan. Namun kini ia menyadari sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi
juga lebih berarti.
Cahaya yang sesungguhnya bukanlah sesuatu yang hanya
menerangi dirinya sendiri. Cahaya itu adalah harapan yang bisa ia bagikan
kepada orang lain. Cahaya itu adalah ketika ia bisa membuat orang lain
tersenyum. Cahaya itu adalah ketika ia bisa membantu orang lain bermimpi.
Beberapa anak kecil berlari melewati jalan dekat sawah.
Mereka mengenakan seragam pramuka, pulang dari latihan.
"Bang Bima!" teriak
mereka.
"Iya?"
"Besok kita belajar cerita lagi!"
Bima tersenyum lebar. "Tentu."
Anak-anak itu melanjutkan lari mereka sambil tertawa riang.
Bima memandang mereka cukup lama. Di wajah-wajah kecil itu, ia melihat dirinya
sendiri di masa lalu. Seorang anak desa yang penuh mimpi. Seorang anak yang
tidak pernah menyerah meskipun banyak yang meragukan.
Ia mengepalkan tangannya perlahan, bukan karena tekad yang
keras seperti dulu, tetapi karena rasa syukur yang dalam. Jalan yang ia lalui
memang tidak mudah. Ia pernah merasa lelah. Pernah hampir menyerah. Pernah
merasa sendirian di kota yang besar dan asing. Pernah dirampok preman, pernah
sakit tanpa ada keluarga di sampingnya.
Namun setiap langkah sulit itu ternyata membawanya kembali
ke tempat ini—dengan makna yang baru.
"Perjalanan ini ternyata bukan tentang seberapa jauh
aku pergi," gumamnya
pelan. "Tetapi tentang seberapa banyak cahaya yang bisa aku bawa
pulang."
Ayahnya memandangnya. "Apa?"
Bima tersenyum. "Tidak ada, Pak. Hanya
bersyukur."
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Langit berubah
warna menjadi jingga keemasan, persis seperti senja ketika ayahnya pertama kali
bercerita tentang cahaya.
Angin sore berhembus lembut melewati sawah, membawa aroma
tanah basah dan padi yang siap panen. Burung-burung terbang pulang ke
sarangnya.
Dan di desa kecil yang dahulu penuh keraguan, kini mulai
tumbuh sesuatu yang jauh lebih kuat.
Harapan.
Sebuah cahaya yang tidak lagi hanya dimiliki oleh seorang
anak desa yang bermimpi. Melainkan oleh seluruh generasi yang akan datang.
Bima berjalan pulang, bergabung dengan anak-anak yang masih
bermain di lapangan. Ia melambai pada mereka, dan mereka membalas dengan senyum
lebar.
Di langit, bintang-bintang mulai bermunculan. Malam akan
segera tiba. Tapi Bima tidak takut gelap. Karena ia tahu, di dalam dirinya, ada
cahaya yang tidak akan pernah padam.
Cahaya yang ditemukannya setelah menempuh jalan terjal.
Cahaya yang akan terus ia nyalakan untuk orang-orang di sekitarnya.
Cahaya yang sesungguhnya.
-- TAMAT --











