JEJAK SENJA DI UJUNG DESA
Roman
Perjalanan Hidup Si Amat, Admin Website Desa Awan Biru
BAB I
“Anak
yang Lahir Saat Angin Besar”
Langit Desa Awan Biru malam itu bukan sekadar kelabu. Ia
adalah kanvas raksasa yang dilukis dengan tinta pekat kemurkaan. Awan
bergulung-gulung, bertabrakan, dan menumpuk seperti gunung-gunung hitam yang
siap runtuh. Angin tidak bertiup, ia menderu. Derunya bukan desisan biasa,
melainkan lengkingan panjang yang merobek-robek telinga, seperti suara raksasa
yang marah karena terusik dari tidurnya yang panjang.
Di kejauhan, hamparan kebun sawit berubah menjadi lautan
ombak ganas. Daun-daunnya yang lebar melambai liar, berdesir dengan suara
gemerisik ribuan ular yang mendesis serempak. Pohon-pohon karet yang sudah
puluhan tahun tegak berdiri di pinggir jalan desa ikut berderak-derak,
mengeluarkan suara lenguh seperti orang tua yang rematiknya kambuh diterpa hawa
dingin. Ranting-ranting patah berjatuhan, sesekali terdengar suara dahan besar
yang patah dan jatuh bergemuruh, seperti tiang listrik yang roboh.
Di rumah-rumah kayu panggung sederhana yang berjejer tak
beraturan di sepanjang jalan tanah merah, lampu-lampu minyak berkelip-kelip.
Sumbu yang terbakar bergetar hebat diterpa angin yang menyusup lewat
celah-celah papan dinding. Bayang-bayang di dinding menari-nari liar, seperti
makhluk halus yang ikut gamelan badai. Beberapa rumah telah mematikan lampunya
lebih awal, memilih bergelap dan berselimut tebal, berdoa agar malam cepat
berlalu.
Di tengah pusaran alam yang dahsyat itu, berdirilah sebuah
rumah papan yang tak lebih besar dari kandang kerbau milik Pak Kades. Rumah itu
milik Wiryono, seorang buruh kebun karet dengan telapak tangan penuh kapalan,
dan istrinya, Marni Wulandari, seorang penjual sayur keliling yang senyumnya
dikenal seantero desa meski hidupnya tak pernah lebih dari sekadar pas-pasan.
Di dalam bilik sempit yang hanya beralas tikar pandan usang, Marni terbaring
dengan tubuh menggigil, bukan karena dingin, tapi karena sakit yang menderanya.
Keringat dingin membasahi pelipisnya, membasahi rambutnya yang tipis.
“Pak... sudah... sudah waktunya, Pak,” bisik Marni lemah di
sela-sela erangan sakit. Suaranya nyaris tertelan oleh raungan angin yang
menggedor-gedor jendela.
Wiryono, yang sedari tadi duduk di sudut ruangan dengan wajah
tegang memandangi istrinya, langsung tersentak. Ia berlari ke samping istrinya,
memegang tangan Marni yang basah dan dingin. Wajahnya yang cokelat terbakar
matahari itu berubah pucat pasi. Di kampung sini, tidak ada bidan. Yang ada
hanyalah Mak Inah, seorang paraji tua yang matanya sudah rabun. Dan di malam
badai seperti ini, siapa yang berani keluar rumah?
“Sa... sabar, Bu. Saya... saya panggil Mak Inah dulu,” ucap
Wiryono gagap. Ia berdiri, namun kakinya terasa berat. Ia menatap pintu yang
digoyang angin seolah ingin copot dari engselnya. Di luar, gelap gulita. Hanya
suara gemuruh yang menguasai dunia.
“Ja... jangan, Pak. Jangan tinggalin saya... jangan...”
rintih Marni meraih lengan suaminya. Matanya yang cekung memancarkan ketakutan
yang dalam, bukan takut mati, tapi takut melahirkan sendirian di tengah badai.
Wiryono terdiam. Di dadanya terjadi perang besar. Antara
keinginan mencari pertolongan dan kewajiban menemani istri yang kritis. Di saat
itulah, tiba-tiba, angin menderu begitu kencang. Sebuah genteng di atap
rumahnya terlepas, jatuh dan pecah di halaman belakang dengan suara berdebam.
Marni memekik, menahan perutnya yang mulas luar biasa.
“Allah... Allah... Yang Kuasa... tolong hamba-Mu ini...”
gumam Wiryono lirih, matanya basah. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Namun, alam seolah punya rencana lain. Di tengah deru angin
yang mencekik, terdengar suara ketukan di pintu. Bukan ketukan biasa, tapi
ketukan yang keras dan teratur, mengalahkan suara badai. Tok... tok... tok...!
Wiryono terperanjat. Siapa yang berani keluar di malam
segini?
Dengan setengah ragu, ia membuka sedikit pintu. Di ambang
pintu, dengan lampu teplok yang nyaris padam, berdiri dua sosok basah kuyup.
Yang pertama adalah seorang pria dengan kacamata tebal dan jas hujan plastik
lusuh. Yang kedua adalah seorang wanita dengan rambut panjang basah, menggigil,
namun matanya tajam dan tenang. Wanita itu menggendong sebuah tas besar yang
tak asing bagi Wiryono, tas dokter.
“Wiryono, kan?” sapa pria itu, berteriak karena badai.
“Saya Budi Santoso, guru baru yang minggu lalu lapor ke pak Kades. Ini istri
saya, Ratna Dewi. Dia bidan!”
Wiryono seperti orang yang disambar petir. Ia hanya bisa
terpaku, mulutnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Ratna Dewi, sang
bidan, tak menunggu lebih lama. Ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah,
menuju ke arah mana suara erangan kesakitan itu berasal.
“Sediakan air hangat! Banyak! Bawa handuk bersih kalau
ada!” perintahnya singkat, tegas, namun menenteramkan. Suaranya bagaikan
perintah malaikat di tengah hiruk-pikuk neraka.
Wiryono tersentak dari linglungnya. Ia bergegas ke dapur,
menyalakan kayu bakar dengan tangan gemetar. Budi Santoso ikut membantunya,
menyusun kayu, meniup bara api. Di luar, badai masih mengamuk. Di dalam,
pertarungan hidup dan mati sedang berlangsung dalam keheningan yang mencekam.
Satu jam berlalu. Rasanya seperti satu abad. Hanya suara
angin dan sesekali perintah singkat Bu Ratna yang terdengar. Kemudian, di
tengah deru angin yang sedikit mereda, sebuah suara baru pecah. Tangisan.
Tangisan bayi yang nyaring, memecah keheningan, mengalahkan deru angin yang
masih bergemuruh di kejauhan.
Ratna Dewi keluar dari bilik, menggendong sebuah buntalan
kain. Wajahnya letih, namun tersungging senyuman. “Selamat, Pak Wiryono. Anak
Bapak lahir selamat. Laki-laki, kuat.”
Wiryono menerima buntalan kain itu dengan tangan gemetar.
Ia menatap wajah mungil di dalamnya, yang masih terlihat basah, dengan mata
terpejam erat, namun paru-parunya bekerja keras dengan tangisan yang nyaring.
Air mata pria yang seharian bekerja di kebun itu akhirnya tumpah. Ia menangis
haru, bersyukur, campur aduk.
Di luar, angin yang tadinya mengamuk seolah ikut mereda,
berganti menjadi desau lembut yang membelai dedaunan.
“Lahir pas angin lagi ngamuk begini, ndoro... anak ini...
pasti keras kepala seperti badai,” katanya setengah bercanda kepada Budi
Santoso dan istrinya, suaranya serak menahan haru. “Terima kasih... terima
kasih banyak, Pak, Bu. Kalau tidak ada kalian... saya... saya...”
Budi Santoso menepuk pundak Wiryono. “Ini sudah jadi jalan
takdir, Pak. Kami memang ditugaskan di sini. Dan sepertinya, desa ini butuh
kami.”
Malam itu, saat angin mulai berganti menjadi semilir pagi,
bayi mungil itu resmi diberi nama oleh bapaknya, dengan bantuan ide dari Pak
Budi, “Ahmad Syaifullah”. Tapi bagi warga desa, nama itu terlalu panjang.
Mereka akan mengenalnya dengan nama sederhana: Amat. Anak yang lahir saat angin
besar. Anak badai.
Tahun-tahun pertama kehidupan Amat berjalan beriringan
dengan denyut nadi Desa Awan Biru yang perlahan, sederhana, dan penuh
keterbatasan. Desa ini adalah definisi dari kata “terpencil”. Bukan hanya
secara geografis, tapi juga secara akses terhadap apa yang disebut sebagai
“kemajuan”.
Jalan utama desa adalah urat nadi yang sekaligus jadi
sumber penyakit. Di musim kemarau, ia adalah hamparan debu merah yang membara.
Setiap kali ada kendaraan—biasanya sepeda ontel atau sesekali motor bebek milik Kepala Desa—debu akan mengepul bak asap gunung berapi, menempel di daun-daun singkong
di tepi jalan dan membuat pakaian yang dijemur di halaman jadi kusam.
Anak-anak kecil sering bermain di pinggir jalan itu,
membuat istana-istana kecil dari debu. Mereka akan tertawa ketika debu
beterbangan, meski kemudian ibu mereka akan memarahi karena baju jadi kotor.
Amat, saat mulai bisa berjalan, juga tak luput dari kenikmatan sederhana itu.
Ia akan duduk di ambang pintu, membuat gundukan-gundukan tanah, lalu
meratakannya lagi dengan telapak tangannya yang mungil.
Di musim hujan, transformasi terjadi. Debu merah itu
berubah menjadi lumpur kental yang licin dan dalam. Setiap jejak kaki akan
tenggelam, dan setiap sepeda akan terpaksa dituntun, dengan roda yang macet
total oleh gumpalan tanah merah. Para ibu akan menggendong anak-anak mereka
sambil berhati-hati melangkah, takut terpeleset. Amat kecil sering digendong
Marni ke ladang atau ke rumah tetangga, matanya bundar mengamati lumpur yang
lengket di kaki ibunya.
Listrik, benda yang membuat bola kaca bisa menyala terang
di malam hari, adalah barang mewah yang terjadwal. Belum ada aliran listrik
dari pusat. Yang ada adalah genset besar milik desa yang hanya dinyalakan
beberapa jam saja, biasanya dari jam enam hingga jam sepuluh malam. Itupun
kalau gensetnya tidak mogok, sebuah peristiwa yang lebih sering terjadi
daripada tidak.
Setiap kali genset menyala, akan terdengar suara berisik
dari Kantor desa yang menandakan malam telah dimulai. Anak-anak akan segera
mandi dan bersiap-siap, karena mereka tahu sebentar lagi lampu rumah mereka
akan menyala terang. Di luar jam-jam itu, desa kembali ke masa lampau. Lampu
teplok dan lentera minyak tanah adalah rajanya. Di bawah cahaya temaramnya,
anak-anak belajar, ibu-ibu menjahit, dan bapak-bapak mengobrol ngalor-ngidul.
Ekonomi desa adalah gambaran nyata dari perjuangan bertahan
hidup. Hampir semua warga adalah buruh tani atau petani kecil dengan lahan
sejengkal. Dua komoditas utama adalah karet dan sawit. Setiap pagi, sebelum
matahari benar-benar menyengat, para buruh penyadap karet, termasuk Wiryono,
ayah Amat, akan berangkat ke kebun. Dengan pisau sadap di tangan dan tempurung
kelapa untuk menampung getah, mereka menyayat kulit pohon dengan hati-hati,
seperti menyayat penghidupan mereka sendiri.
Wiryono biasa berangkat pukul empat pagi, saat ayam jantan
belum mulai berkokok. Ia akan meninggalkan Marni dan Amat yang masih pulas
tertidur. Langkah kakinya di jalan setapak menuju kebun ditemani oleh suara
jangkrik dan gemericik air sungai kecil. Hasilnya tak menentu. Jika harga karet
dunia sedang baik, mereka bisa sedikit bernapas lega. Namun lebih sering, harga
jatuh, dan getah putih susu itu seolah berubah menjadi air mata.
Pohon sawit juga sama. Buahnya dijual ke pengepul dengan
harga yang sudah ditentukan sepihak. Tidak ada tawar-menawar. Hanya ada pasrah.
Para petani sawit akan memanen dengan menggunakan alat dodos, memotong
tandan buah yang berat, dan menurunkannya dengan hati-hati. Semua dilakukan
dengan risiko tinggi, karena jika salah memegang, mereka bisa jatuh.
Di tengah ekonomi yang tak menentu itulah, peran para
perempuan seperti Marni, ibu Amat, menjadi penopang. Dengan keranjang di atas
kepala atau dipikul, mereka berkeliling dari rumah ke rumah, dari dusun ke
dusun, menjajakan sayuran yang mereka beli dari pasar kecamatan Kabut Merah. Sayurnya tak
banyak: kangkung, bayam, cabai, bawang, dan tahu tempe. Untungnya tipis, hanya
cukup untuk membeli garam, gula, atau minyak goreng.
Marni biasa berangkat setelah menyiapkan sarapan sederhana
untuk Amat dan Wiryono. Amat akan dititipkan ke tetangga, atau kadang ikut
serta dalam gendongan jika rewel. Di pasar, Marni adalah langganan tetap para pedagang
grosir. Ia tahu mana sayuran yang masih segar dan mana yang sudah layu. Ia juga
pandai menawar, meski hanya bisa mendapatkan selisih seratus atau dua ratus
rupiah.
Wiryono dan Marni adalah pasangan yang sederhana. Mereka
tak punya apa-apa selain rumah papan reyot itu dan sepetak kecil tanah untuk
menanam singkong di belakang rumah. Tapi mereka punya semangat yang tak pernah
padam. Di mata mereka, Amat adalah harapan. Sebuah harapan kecil yang lahir
dari badai besar.
Suatu malam, saat Amat berusia sekitar tiga tahun, ia duduk
di pangkuan ibunya di dapur yang hanya diterangi lampu teplok. Marni sedang
menumbuk bumbu dengan cobek dan ulekan. Bunyi tuk... tuk... tuk dari batu dan
alu berpadu dengan suara jangkrik dari luar.
“Mak, lapar,” rengek
Amat kecil sambil memegang perutnya.
Marni mengelus kepala anaknya. “Sebentar ya, Le. Ini lagi
bikin sambal. Nanti sama nasi anget.”
“Lauknya apa, Mak?” tanya Amat dengan mata berbinar.
Marni tersenyum getir. Di dapur, hanya ada tempe goreng
yang sudah dingin dari tadi siang. “Tempe, Le. Tempe goreng. Enak, kan?”
Amat mengangguk polos, tapi kemudian bertanya lagi, “Mak,
kenapa kita gak pernah makan ayam? Liat itu, rumah Pak RT, tadi siang bau ayam
goreng, Mak. Wanginya sampe ke sini.”
Marni berhenti menumbuk. Ia menatap anaknya yang lugu. Di
dalam hatinya, ada sembilu yang menyayat. Ia tak ingin anaknya merasa
kekurangan, tapi ia juga tak bisa berbohong. “Pak RT itu kerjanya banyak, Le.
Dapat rezeki lebih. Bapakmu cuma buruh sadap karet. Uangnya cuma cukup buat
beli beras, sama tempe.”
Wiryono yang baru saja masuk setelah membersihkan diri di
pancuran belakang, mendengar percakapan itu. Ia duduk di kursi kayu reot,
menghela napas panjang. Kulitnya masih basah, bau getah karet belum sepenuhnya
hilang. Ada rasa sesak di dadanya, mendengar pertanyaan polos anaknya.
“Mat, sini sama Bapak,” panggilnya lembut.
Amat turun dari pangkuan ibunya dan berlari kecil ke arah
bapaknya. Wiryono memangku anaknya. Ia mencium rambut Amat yang berbau
matahari.
“Mat, kamu dengerin Bapak ya. Lauk itu yang penting bukan
ayam atau tempe. Yang penting, kita makan sama-sama. Bapak sama Ibu mu kerja
biar kamu bisa makan. Itu udah rezeki yang paling besar, Ngerti?” ucap Wiryono,
berusaha menjelaskan filosofi hidup yang sederhana pada anaknya yang masih tiga
tahun.
Amat mengerutkan dahi, setengah mengerti. “Tapi ayam lebih
enak, Pak.”
Wiryono tertawa kecil, meski ada getir di hatinya. “Iya,
lebih enak. Nanti kalau kamu udah gede, kamu sekolah yang tinggi biar pinter.
Terus kerja yang bener. Nanti kamu bisa beli ayam sendiri. Tapi inget, jangan
lupa sama Bapak sama Ibumu.”
“Bener, Pak? Nanti Amat bisa beli ayam?” tanya Amat
sumringah, matanya berbinar membayangkan ayam goreng yang hangat dan renyah.
“Bisa, Le. Asal kamu mau belajar. Jangan malas kayak Bapak
yang cuma bisa nyadap karet,” jawab Wiryono, setengah menyesali nasib, tapi
juga berusaha menanamkan semangat pada anaknya.
Marni menghapus air matanya yang tiba-tiba basah. Ia
bangkit, mengambil nasi dari penanak nasi dari anyaman bambu, lalu menyendokkan
nasi hangat ke piring tanah. Ia letakkan potongan tempe goreng di sampingnya.
Meski hanya tempe, ia berusaha menyajikannya dengan penuh cinta.
“Udah, udah. Ayo makan dulu. Amat, baca doa dulu,” kata
Marni sambil meletakkan piring di hadapan Amat.
Amat memanjatkan doa makan dengan gagap,
“Alhamdulillahilladzi ath’amanaa wa saqoonaa wa ja’alanaa minal muslimiin.”
Lalu dengan lahapnya menyantap nasi dan tempe. Di matanya saat itu, tempe
goreng adalah makanan terlezat di dunia, karena disajikan oleh ibunya dan
dimakan bersama ayahnya. Namun, percakapan tentang ayam goreng itu tak pernah
benar-benar hilang dari ingatannya. Ia jadi benih pertama dari keinginan untuk
mengubah nasib.
Malam itu, setelah makan, Amat tertidur di pangkuan ibunya.
Wiryono dan Marni duduk berdua di beranda kecil rumah mereka, menatap langit
malam yang mulai cerah setelah badai beberapa tahun lalu. Bintang-bintang
bertaburan, jauh dan terang.
“Pak, apa kita bisa nyekolahin Amat sampe tinggi?” tanya
Marni lirih, suaranya hampir berbisik, seperti takut didengar oleh malam.
Wiryono menghela napas panjang. Ia merogoh saku celananya,
mengeluarkan beberapa lembar uang lusuh hasil jualan getah hari ini. Dihitungnya
satu per satu. Jumlahnya tak seberapa. “Saya gak tau, Bu. Tapi kita usahakan.
Yang penting dia bisa baca tulis dulu. Nanti jalannya Tuhan yang buka.”
“Iya, Pak. Lihat saja Amat, matanya selalu awas kalo liat
sesuatu yang baru. Kemarin dia ngeliat Pak Darno megang radio, dia ngikutin
terus. Seperti ada rasa pengen tau yang besar,” kata Marni, setengah bangga,
setengah khawatir.
“Itu bagus, Bu. Anak yang pinter itu biasanya banyak tanya.
Jangan sampai kita matiin rasa pengen taunya. Kita dukung meski cuma bisa doa,”
ujar Wiryono bijak.
Malam semakin larut. Suara jangkrik semakin nyaring. Di
dalam rumah, Amat bermimpi. Ia bermimpi sedang makan ayam goreng bersama ayah
dan ibunya, di sebuah rumah yang lebih besar, dengan lampu yang terang
benderang. Ia tersenyum dalam tidurnya.
Televisi. Satu kata yang terdengar asing bagi sebagian
besar warga Awan Biru. Di seluruh desa, mungkin hanya ada dua atau tiga
televisi, itupun milik orang-orang berada seperti Pak Kades, Pak Camat yang
tinggal di ujung desa, dan satu lagi milik desa yang ditempatkan di Kantor desa.
Televisi itu adalah sebuah kotak besar berwarna coklat dengan layar cembung.
Bukan televisi berwarna, tapi hitam putih. Gambarnya tak pernah benar-benar
jernih. Seringkali hanya garis-garis putih yang berkejaran, atau salju putih
yang gemuruh. Tapi bagi warga desa, kotak ajaib itu adalah jendela menuju dunia
lain.
Setiap malam Minggu, halaman Kantor desa berubah menjadi
lapangan penonton dadakan. Warga datang berbondong-bondong sejak sore.
Bapak-bapak membawa tikar pandan yang sudah usang, ibu-ibu membawa kipas dari
anyaman bambu atau daun kelapa, anak-anak kecil berlarian kesana-kemari dengan
riang. Mereka semua duduk bersila di tanah, menatap layar televisi yang
diletakkan di teras Kantor desa, dimiringkan agar bisa dilihat dari halaman.
Bagi Amat kecil, malam Minggu adalah malam yang paling
ditunggu. Ia akan memegang erat tangan ibunya atau naik ke pundak ayahnya agar
bisa melihat layar dari kejauhan. Dari balik kepala orang dewasa yang berjejal,
ia berusaha menangkap secuil gambar yang muncul.
Acara yang paling ditunggu adalah siaran wayang kulit atau
lenong Betawi. Para bapak akan asyik mendengarkan suara dalang atau lawakan
para pelawak lenong. Kadang juga film-film laga lawas, yang membuat anak-anak
berteriak kegirangan setiap kali melihat adegan perkelahian. Saat gambar mulai
muncul, semua orang akan diam. Hening. Hanya suara dari televisi yang
terdengar, bersaing dengan suara jangkrik dan kodok dari sawah di belakang
balai desa.
Namun, ketenangan itu tak pernah bertahan lama. Gambar yang
tadinya bagus, tiba-tiba bisa berubah menjadi berkas-berkas hitam putih yang
bergoyang. Suaranya mendesis seperti ular.
“Lho, kok ilang, Ton?!” teriak seorang warga dari belakang,
suaranya nyaring memecah keheningan.
“Iya, gambarnya jadi garis-garis melulu! Yang ada cuma
semut!” sahut yang lain, ikut berteriak.
“Antennanya! Antennanya diputar, To! Yang pegang antena,
diputar-putar!” teriak Mak Inah, si paraji, dengan suara nyaringnya yang sudah
terkenal seantero desa.
Di samping televisi, akan selalu ada petugas khusus,
biasanya anak muda yang ditunjuk pak Kades, yang bertugas memegang dua batang
antena yang menjulang. Kali ini yang bertugas adalah Toni, anak Pak Kades yang
baru lulus SD. Dengan wajah tegang, ia memegang kedua batang antena itu seolah
memegang kendali dunia. Begitu ada instruksi, ia akan mulai memutar-mutar
batang antena itu ke segala arah.
“Gimana? Udah jelas?” teriaknya ke arah penonton, suaranya
setengah putus asa.
“Belum! Masih bersemut!” jawab puluhan suara serempak,
seperti paduan suara yang tidak terlatih.
“Ke kiri dikit, To! Ke kiri!” teriak seorang bapak dari
barisan depan.
“Ke kanan, To! Jangan ke kiri! Ke kanan, nanti gambar malah
ilang total!” bantah yang lain dari barisan belakang.
“Stop! Itu, udah lumayan! Tapi kurang keras! Putar balik
lagi dikit!” teriak Mak Inah lagi, komandannya para penonton TV.
Pertunjukan di balai desa itu bukan cuma pertunjukan di
televisi, tapi juga pertunjukan di dunia nyata. Semua orang kompak menjadi
sutradara, kameramen, dan pengarah acara. Pak Dukuh yang biasanya kalem dan
pendiam, ikut berteriak-teriak dari pojok, tangannya ikut bergerak-gerak seolah
memegang antena. Anak-anak kecil malah lebih asyik melihat tingkah orang dewasa
yang ribut daripada menonton televisi. Mereka akan tertawa terpingkal-pingkal
setiap kali ada yang berteriak dengan nada lucu.
Di tengah keramaian itu, Amat kecil sering digendong
ayahnya atau duduk di pangkuan ibunya. Matanya terbelalak menatap kotak ajaib
itu. Ia tak begitu paham dengan cerita yang disampaikan, tapi ia terpesona
dengan gambar bergerak yang muncul di layar. Kadang ia melihat gedung-gedung
tinggi di Jakarta, mobil-mobil yang melintas dengan cepat, orang-orang dengan
pakaian rapi dan cerah yang tak pernah ia lihat di desanya. Dunia di televisi
itu begitu jauh, begitu bersih, begitu berbeda dengan desanya yang becek dan
gelap.
Saat jeda iklan, sering muncul gambar produk-produk yang
tak pernah ia lihat di warung-warung desa. Sabun mandi dengan wangi bunga, susu
kaleng dengan anak gemuk, mi instan yang katanya lezat. Amat hanya bisa
membayangkan rasa dan wanginya.
Suatu malam, saat televisi menayangkan berita tentang
pembangunan jembatan di kota, Amat yang saat itu berusia enam tahun bertanya
pada ibunya dengan nada kagum.
“Mak, itu di mana?” tanyanya sambil menunjuk layar yang
menampilkan gambar jembatan besar membentang di atas sungai lebar.
“Di kota besar, Le. Jakarta, kali ya? Atau Surabaya?” jawab
Marni tak yakin, matanya juga tertuju pada keajaiban di layar.
“Kotanya bersih ya, Mak. Jalannya mulus, gak becek kayak di
sini. Gedungnya tinggi-tinggi, kayak pohon sawit tapi dari beton,” ujar Amat
kagum, mencoba membandingkan dengan apa yang ia kenal.
“Iya, Le. Itu ibu
kota. Tempatnya orang-orang kaya dan pinter. Mereka kerja di kantor, pake baju
rapi, gak kena lumpur,” jelas Marni, mencoba memberi gambaran.
“Orang desa bisa ke sana, Mak? Bisa tinggal di gedung
tinggi gitu?” tanya Amat lagi, rasa ingin tahunya tak terbendung.
Seorang bapak di sebelah mereka, Pak Darno si pemilik radio
yang terkenal dengan koleksi barang bekasnya, ikut nimbrung. Ia sudah lama
mendengar pertanyaan-pertanyaan Amat yang kritis. “Bisa saja, Mat. Bisa banget.
Tapi butuh modal. Sekolah tinggi biar jadi orang pinter, jadi insinyur, jadi
dokter, baru bisa ke kota. Atau jadi pegawai kantor.”
“Kalo cuma pengen lihat-lihat doang, modal ongkos bis aja,
Pak Darno. Tapi ya gitu, buat apa ke kota kalo cuma jadi pengangguran? Di desa
juga banyak kerjaan, cuma gaji kecil,” timpal yang lain, seorang bapak paruh
baya yang sedang mengipas-ngipas badannya dengan topi usang. “Daripada di kota
jadi beban, mending di desa jadi tuan di tanah sendiri.”
Percakapan itu seperti percikan api di padang ilalang. Amat
terus bertanya, pikirannya bekerja keras mencerna semua informasi baru.
“Pak Darno, orang di dalam TV itu asli apa bukan? Mereka
bisa keluar dari TV gak? Kalo malam mereka tidur di mana?” tanya Amat dengan
serius, tanpa sedikit pun nada bercanda.
Semua orang yang mendengar pertanyaan Amat tertawa kecil.
Ada yang terkekeh, ada yang geleng-geleng kepala. Pak Darno terkekeh geli,
ingatannya kembali pada kejadian radionya yang dibongkar Amat. “Wah, Amat ini,
pertanyaannya susah, susah. Kayak tanya kucing sama tikus. Itu mah artis, Mat.
Mereka syuting dulu di studio, terus direkam, baru diputer di TV. Mereka gak
tinggal di TV. Mereka punya rumah mewah di kota, lebih mewah dari rumah pak
Lurah.”
Amat mengerutkan dahi, mencoba membayangkan sesuatu yang
tak pernah ia lihat. “Rekam? Studio? Apa itu, Pak?”
Pak Darno garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Ia bingung
menjelaskan sesuatu yang abstrak pada anak kecil. “Ya pokoknya mereka difoto,
tapi gerak. Kayak foto di pelaminan waktu nikahan, tapi ini gerak-gerak. Pake
kamera gitu, Mat, yang bisa ngambil gambar banyak dan diputer cepat.”
“Kamera? Seperti punya Pak Kades yang buat foto nikahan
itu? Yang bunyi ‘klik’?” tanya Amat, mengingat-ingat peristiwa pernikahan kakak
sepupunya beberapa bulan lalu.
“Lebih canggih, Le. Jauh lebih canggih. Kamera televisi itu
gede, segede kambing. Pake kabel banyak, pake lampu banyak,” jawab Pak Darno
singkat, karena memang pengetahuannya terbatas.
Amat pun diam. Pikirannya berkelana membayangkan kamera
sebesar kambing, lampu-lampu terang, orang-orang berbaju rapi yang bisa
bergerak di dalam kotak. Gedung tinggi. Jalan mulus. Dunia lain di luar desa.
Semua itu mulai membentuk peta imajinasi di benaknya, seperti gambar-gambar
yang ia lihat di pasir. Malam itu, saat tidur, ia bermimpi berada di dalam
televisi, berjalan-jalan di antara gedung-gedung tinggi sambil melambai pada
teman-temannya, dan semua orang di desa menontonnya dari balai desa dengan
mulut ternganga.
Empat tahun setelah malam badai itu, ketika Amat berusia
sekitar empat tahun, sebuah peristiwa penting terjadi di Desa Awan Biru. Sebuah
mobil, benda yang jarang sekali menjejakkan rodanya di jalan tanah merah yang
berlubang, terlihat terpantul-pantul perlahan dari arah kecamatan Kabut Merah. Dari
kejauhan, hanya terlihat gumpalan debu merah yang mengepul di belakangnya.
Anak-anak desa yang sedang bermain di pinggir jalan,
termasuk Eko dan Didit yang saat itu berusia sekitar delapan tahun, berhenti
bermain. Mulut mereka terbuka, mata mereka membelalak. Mereka berlari mengikuti
mobil itu, berteriak-teriak kegirangan. “Mobil! Mobil! Ada mobil masuk desa!”
teriak mereka serempak, seperti menyambut pahlawan.
Mobil itu adalah sebuah Suzuki Carry jadul, penuh dengan
debu dan lumpur kering di bodinya, tanda telah menempuh perjalanan jauh. Mobil
itu melaju perlahan, sopirnya tampak hati-hati menghindari lubang-lubang besar
di jalan. Akhirnya, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah papan yang cukup
besar, yang selama ini kosong. Rumah itu adalah rumah dinas untuk guru.
Dari dalam mobil, turunlah seorang pria dengan kacamata
tebal, seorang wanita dengan rambut disanggul rapi, dan seorang gadis kecil
berusia sekitar empat tahun, dengan dua pita merah muda di rambutnya yang hitam
dan lurus. Ia memakai baju yang bersih, sepatu yang mengkilat, dan rok berenda
yang indah, kontras dengan tanah merah di bawahnya. Ia memandang sekeliling
dengan ekspresi campuran antara penasaran dan jijik.
“Iiih, kok becek banget sih, Yah?” rengek gadis kecil itu,
mendecak kesal saat sepatu putihnya yang mengilat terkena percikan lumpur dari
genangan terdekat.
Itulah Serena Puspasari, untuk pertama kalinya menginjakkan
kaki di Desa Awan Biru. Ayahnya, Budi Santoso, tersenyum maklum sambil membuka
kaca matanya yang berkabut karena perbedaan suhu. “Iya, Sayang. Ini desa. Nanti
kamu biasa. Lihat, udaranya seger, banyak pohon. Gak kayak di kota yang panas
dan macet.”
Serena cemberut, tapi tak bisa membantah. Ia memang tak
suka macet. Tapi lumpur dan debu juga bukan teman baiknya.
Kehadiran keluarga baru ini menjadi buah bibir nomor satu
di warung-warung kopi dan pertemuan arisan. Ibu-ibu yang sedang arisan PKK
langsung menghentikan kegiatan dan mengerumuni halaman rumah dinas, pura-pura
lewat tapi sebenarnya ingin melihat dari dekat. Pak Budi adalah guru pindahan
yang katanya pintar dan lulusan IKIP di kota provinsi. Istrinya, Bu Ratna,
adalah bidan lulusan akademi kebidanan, sebuah profesi yang sangat langka dan
berharga di desa. Kehadiran seorang bidan resmi di desa adalah berkah yang tak
terkira. Tak perlu lagi bergantung pada Mak Inah yang matanya sudah rabun dan
alat-alatnya seadanya.
Dan Serena, bagi anak-anak desa, termasuk Amat, adalah
makhluk asing dari planet lain. Ia berbeda. Ia tak pernah main tanah. Ia selalu
rapi, bajunya tak pernah kotor, rambutnya selalu bersih dengan pita yang selalu
sama indahnya. Ia tak pernah ikut berlarian di lumpur atau mandi di sungai. Dan
yang paling membuat Amat penasaran, Serena selalu membawa buku. Bukan buku
tulis biasa yang dijual di warung Bu Lulu, tapi buku cerita bergambar dengan
sampul keras dan warna-warni cerah yang tak pernah dilihat Amat sebelumnya. Sampulnya
mengilap, gambarnya hidup.
Suatu sore, saat Amat dan teman-temannya yang lebih tua
sedang asyik bermain bola di lapangan tanah dekat kebun sawit, Serena lewat. Ia
duduk di bawah pohon trembesi besar, membuka buku bawaannya, dan mulai membaca
dengan tenang. Ia sama sekali tidak peduli dengan hingar-bingar permainan bola
di dekatnya. Kakinya bersila di atas alas plastik yang ia bawa, agar roknya tak
kotor.
Amat, yang saat itu kebetulan sedang tidak ikut main karena
jadi cadangan—gawang bambu sudah terisi oleh Karyo, mendekati Serena perlahan.
Ia mengamati dari kejauhan, sedekat mungkin tanpa berani terlalu dekat.
Penasaran. Serena sesekali membalik halaman, jari mungilnya menelusuri
baris-baris tulisan, bibirnya sesekali bergerak membaca dalam hati. Kadang ia
tersenyum sendiri, kadang mengerutkan kening.
“Kamu ngapain?” tiba-tiba Amat bertanya dari belakang,
suaranya pelan, hampir berbisik, karena takut mengganggu.
Serena sedikit terkejut, menoleh cepat. Ia melihat seorang
anak laki-laki seusianya, dengan kulit sawo matang yang terbakar matahari,
rambut agak kemerahan dan berantakan karena terpaan angin dan debu, dan mata
yang sangat bulat dan hitam, penuh rasa ingin tahu yang tak disembunyikan.
“Baca,” jawab Serena singkat, lalu kembali menatap bukunya,
berusaha terlihat sibuk.
“Baca? Kamu udah bisa baca?” tanya Amat takjub, matanya
membesar. Ia sendiri baru mulai belajar mengeja dari ibunya, itu pun hanya
huruf A, B, C, itupun masih sering terbalik.
“Iya, dong. Umur segini masa belum bisa baca? Di taman kanak-kanakku
di kota, semua anak udah bisa baca. Malah udah bisa nulis nama sendiri,” jawab
Serena dengan nada sedikit sombong, khas anak kota yang baru pertama kali
merasakan lingkungan baru dan sedikit defensif karena diejek “aneh” oleh
anak-anak lain.
Amat tersentak. “Ta... taman kanak-kanak? Apa itu?”
tanyanya, kali ini lebih penasaran daripada malu.
Serena menutup bukunya, menatap Amat dengan heran, seperti
melihat makhluk dari zaman batu. “Kamu sekolah di mana? TK Kanak-kanak, tempat
belajar sebelum SD. Nyanyi, main, belajar baca tulis, belajar warna.”
Amat menggeleng pelan. Di desanya tidak ada TK. Anak-anak
langsung masuk SD saat usia tujuh tahun, itupun kalau orang tuanya mampu
membelikan seragam dan buku. “Gak ada. Di sini langsung SD. Jadi umur tujuh
tahun baru bisa baca?”
“Oh... pantas,” gumam Serena, lalu kembali membuka bukunya,
mencoba mengakhiri percakapan.
Amat tak pergi. Ia malah duduk di samping Serena, agak
berjauhan, sekitar satu meter, menjaga jarak aman. Matanya tertuju pada buku di
tangan Serena. Di sampulnya, tergambar seekor kancil yang sedang menyeberangi
sungai di atas punggung buaya. Gambarnya indah, warnanya cerah, buayanya hijau
dan kancilnya coklat dengan mata besar.
“Itu cerita apa?” tanya Amat, suaranya kecil, nyaris
berbisik, penuh hormat.
Serena mendengus, tapi melihat ketulusan di mata Amat, ia
sedikit melunak. “Ini? Cerita Kancil dan Buaya. Kamu gak tau?” tanyanya, masih
dengan nada sedikit meremehkan.
Amat menggeleng lagi, kali dengan ekspresi malu. “Gak
pernah. Ceritanya gimana? Emang kancil sama buaya temenan?”
Melihat ketertarikan Amat yang begitu tulus dan polos, hati
Serena sedikit melunak. Ia membuka halaman pertama. “Kamu mau aku bacain?”
tawar Serena, mencoba ramah.
Amat mengangguk cepat, matanya berbinar-binar, tubuhnya
otomatis merapat sedikit. Serena pun mulai membacakan cerita. Dengan suara
lantang dan intonasi yang bagus—guratan gaya mengajar dari ibunya yang bidan
dan ayahnya yang guru—ia membacakan tentang kecerdikan kancil yang berhasil
menipu para buaya untuk menyeberangi sungai. Ia menirukan suara kancil yang
lembut dan suara buaya yang berat dan bodoh. Amat mendengarkan dengan seksama,
tak berkedip. Mulutnya sedikit terbuka, terpana. Ia seolah ikut terbawa ke
dalam dunia sungai dan hutan, menyaksikan kancil yang cerdik itu berjalan di
atas punggung buaya, menghitung satu per satu.
Setelah selesai, Serena menutup bukunya dengan bangga.
“Gitu ceritanya. Kancil pinter, buaya-bodoh.”
Amat baru tersadar dari lamunannya. Matanya berbinar-binar,
penuh kekaguman. “Kancilnya pinter banget, ya! Dia bisa nipu buaya-buaya bodoh
itu! Padahal kancil kecil, buaya gede, tapi kancil yang menang!”
Serena tersenyum kecil. Senang rasanya bisa membuat anak
desa ini terkesima. Ada rasa bangga dalam dirinya. “Iya. Makanya, kalo kamu
pinter, kamu bisa nyelesein masalah besar meskipun kamu kecil. Kecil-kecil cabe
rawit, kata ibuku.”
Kalimat Serena itu menggema di kepala Amat. Seperti sebuah
mantra baru yang lebih kuat dari sekadar “beli ayam”. Kata-kata itu menancap
dalam. Ia menatap buku di tangan Serena dengan penuh hormat, seolah itu bukan
sekumpulan kertas bergambar, melainkan sebuah kotak ajaib yang berisi ribuan
cerita dan ribuan cara untuk menjadi pintar. Di dalamnya, pasti ada banyak
kancil-kancil lain yang bisa menipu buaya-buaya kehidupan.
“Serena,” panggil Amat, suaranya berubah sungguh-sungguh.
“Apa?” jawab Serena, masih memegang bukunya.
“Kamu... kamu mau ngajarin aku baca? Biar aku bisa baca
buku kayak gitu sendiri. Biar aku bisa tahu cerita-cerita lain,” pinta Amat
dengan sungguh-sungguh, matanya menatap tajam mata Serena.
Serena mengamati Amat. Anak ini berbeda. Meski dekil dan
kumuh, bajunya lusuh, kakinya berlumur debu, matanya menunjukkan rasa haus yang
tak biasa. Bukan hanya rasa ingin tahu biasa, tapi kehausan akan pengetahuan.
“Boleh. Tapi gak sekarang. Nanti aja kalo aku lagi bosen. Besok-besok sore kamu
ke rumahku. Aku pinjemin buku yang lebih gampang. Yang banyak gambarnya,
sedikit tulisannya.”
Amat mengangguk semangat, senyumnya mengembang lebar. “Iya!
Aku pasti datang! Makasih, Serena!”
Sejak sore itu, sebuah ikatan baru terbentuk. Seorang gadis
kecil dari kota dengan buku-bukunya yang berwarna-warni, dan seorang anak desa
dengan mimpi-mimpinya yang besar. Di bawah pohon trembesi, di lapangan tanah
yang berdebu, dengan latar belakang suara anak-anak bermain bola dan gemerisik
daun sawit, benih persahabatan dan keingintahuan mulai tumbuh.
Rasa penasaran Amat tak pernah padam. Ia seperti spons,
menyerap segala hal baru di sekitarnya. Setelah belajar huruf dari Serena, ia
semakin rajin bertanya tentang segala sesuatu. Salah satu sumber rasa
penasarannya yang paling besar adalah radio milik Pak Darno.
Pak Darno adalah tetangga samping rumah Amat. Seorang duda
tua yang ramah, dengan koleksi barang-barang bekas yang dianggapnya sebagai
harta karun. Di beranda rumahnya yang reyot, berserakan onderdil sepeda,
kaleng-kaleng bekas, dan mesin jahit tua. Tapi yang paling berharga di matanya
adalah sebuah radio tua bertenaga baterai besar. Radio itu besar, kotak kayu
dengan kenop-kenop kuningan yang mengilat meskipun usang. Setiap sore, ia akan
menyalakan radio itu dan mendengarkan siaran berita atau musik keroncong dengan
suara pelan sambil duduk di kursi goyangnya, sesekali mengangguk-anggukkan
kepala mengikuti irama.
Bagi Amat, radio itu adalah makhluk hidup. Ia heran,
bagaimana bisa sebuah kotak mengeluarkan suara orang berbicara dan menyanyi. Ia
sudah sering mendengar Serena membaca buku, tapi buku tak mengeluarkan suara
sendiri.
Suatu siang, saat Amat berusia lima tahun, ia duduk di
beranda rumah Pak Darno. Pak Darno sedang memutar stasiun radio yang menyiarkan
berita dari Jakarta. Dari kotak kayu itu, keluar suara pria yang membacakan
berita dengan jelas dan berwibawa.
“...Pemerintah berencana membangun proyek irigasi untuk
mengairi sawah-sawah di wilayah utara yang selama ini mengalami kekeringan
setiap musim kemarau...”
Amat mendekatkan telinganya ke radio. Matanya membesar. Ia
melihat ke balik radio, ke sisi-sisinya, mencari-cari. Ia bahkan memiringkan
badannya untuk melihat ke bawah meja, ke belakang radio, seolah mencari sesuatu
atau seseorang yang bersembunyi.
“Pak Darno,” panggil
Amat, memotong lamunan Pak Darno yang sedang mendengarkan radio sambil
memejamkan mata.
“Hm? Apa, Mat?” tanya Pak Darno, membuka satu matanya.
“Pak Darno... orangnya di dalam mana? Yang ngomong tadi?
Kok suaranya keluar dari kotak?” tanya Amat serius, tanpa sedikit pun bercanda.
Pak Darno terkekeh geli. Ia sudah sering mendapat
pertanyaan seperti ini dari anak-anak kecil di desa. “Itu bukan orang di dalam,
Mat. Itu cuma suara. Disiarkan dari Jakarta. Jauh, Le, jauh sekali.”
“Tapi suaranya keluar dari kotak ini. Pasti ada orangnya di
dalam. Mungkin kecil? Kayak jenglot? Atau jin?” desak Amat, matanya menyelidik
ke celah-celah kotak radio, seolah bisa melihat makhluk halus di sana.
“Bukan, Le. Bukan jenglot, bukan jin. Gak ada orang. Ini
cuma alat. Kayak... kamu ngomong pake kaleng yang dikasih tali, suaranya bisa
sampe ke ujung. Nah, ini lebih canggih. Pake gelombang. Suaranya dipancarkan
dari jauh, lewat udara, terus ditangkap sama radio ini,” jelas Pak Darno,
mencoba analogi sederhana.
Penjelasan Pak Darno malah membuat Amat semakin bingung.
“Gelombang? Itu apa? Kayak ombak di sawah? Tapi di udara gak ada ombak. Atau
kayak angin?”
“Ya... mirip-mirip lah. Pokoknya gelombang radio. Udahlah,
Mat, yang penting kamu tau itu bukan orang. Udah, sana main sama teman-teman,”
jawab Pak Darno menyerah, kembali memejamkan mata.
Tapi penjelasan itu tak memuaskan Amat. Malah sebaliknya,
membuatnya semakin penasaran. Di dalam kepalanya, ia tetap yakin pasti ada
sesuatu di dalam kotak ajaib itu. Mungkin bukan orang, tapi sesuatu yang
membuat suara. Ia harus membuktikannya.
Malam harinya, saat Pak Darno pergi ke warung untuk membeli
rokok (dan biasanya agak lama karena suka ngobrol), Amat melihat kesempatan.
Radio Pak Darno masih tergeletak di beranda, tidak dimatikan, hanya dikecilkan
volumenya. Suara sayup-sayup masih terdengar.
Dengan jantung berdebar-debar, seperti akan mencuri, ia
menyelinap ke beranda. Ia membawa sendok makan dari dapur rumahnya. Dengan
sendok itu, ia mulai mencongkel dan membuka baut-baut di bagian belakang radio.
Bautnya sudah agak berkarat, susah dibuka. Tapi dengan tekad baja dan keringat
di dahi, satu per satu baut ia buka dengan susah payah, ujung sendoknya mulai
bengkok.
Ketika penutup belakang radio terbuka dengan bunyi ‘krek’,
Amat mengintip ke dalam dengan napas tertahan. Ia berharap melihat
orang-orangan kecil, mungkin dengan jas dan dasi, yang sedang duduk di kursi
mini dan berbicara ke mikrofon mini. Atau mungkin makhluk aneh bercahaya. Tapi
yang ia lihat hanya kumparan kawat tembaga yang rapi, tabung kaca besar yang
mengilat seperti lampu, dan berbagai komponen kecil berwarna-warni yang tak ia
kenali. Ada yang merah, ada yang hitam, ada yang kuning. Baunya hangat dan
sedikit terbakar.
Amat mengernyit kecewa. “Lho... mana orangnya? Kok isinya
cuma kabel semua? Ini mah kayak perut ayam, isinya jeroan semua.”
Ia menyentuh sebuah tabung kaca dengan ujung jarinya.
Hangat. Lalu dengan hati-hati, karena penasaran, ia mencabut sebuah kabel kecil
yang tersambung ke salah satu komponen. Tiba-tiba, suara radio yang tadinya
sayup-sayup terdengar, langsung mati total. Hening. Sunyi. Hanya suara jangkrik
di luar yang terdengar jelas.
Amat panik. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba
memasukkan lagi kabel itu, tapi tak tahu persis di mana letaknya semula. Ada
beberapa lubang kecil. Ia bolak-balik memasang dan mencabut kabel lain,
mencoba-coba, tapi radio tetap diam seribu bahasa. Malah salah satu tabung
kacanya goyang.
“Aduh, rusak. Gimana ini?!” gumam Amat cemas, keringat
dingin mulai membasahi keningnya.
Saat ia sibuk berusaha memperbaiki dengan tangan gemetar,
Pak Darno pulang dari warung. Ia melihat dari jauh ada lampu senter menyala di
berandanya. Begitu dekat, ia kaget setengah mati melihat Amat sedang duduk di
lantai berandanya dengan radio terbuka di hadapannya, sendok di tangan, dan
puluhan komponen terlihat berantakan di dalamnya. Wajah Amat pucat pasi.
“Lho... Lho... Lho... Mat! Kamu ngapain?!” teriak Pak Darno
hampir menjatuhkan rokok dan bungkus kopinya. Suaranya nyaring dan terkejut.
Amat tersentak, menoleh dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Pa... Pak Darno... saya... saya cuma mau liat orangnya di dalam... saya kira
ada orang kecil... eh... isinya cuma kabel semua... trus... trus... saya cabut
satu kabel... trus gak bunyi lagi. Saya coba pasang lagi, tapi gak bisa.”
Pak Darno mendekati radionya dengan wajah campuran antara
kaget, gemas, dan sedih. Ia jongkok, melihat isi perut radio yang sedikit
berantakan. Untungnya tidak ada komponen yang benar-benar rusak parah. Hanya
beberapa kabel yang copot dari terminalnya, dan satu tabung agak miring. Ia
menghela napas panjang.
“Ya ampun, Mat... kamu ini...” Pak Darno menghela napas
panjang, lalu tertawa kecil. Ia tak bisa marah melihat ekspresi polos dan panik
Amat, ditambah keringat bercucuran di wajahnya. “Ini mah bukan cari orang, Mat,
tapi cari gara-gara! Cari masalah buat radio tua saya! Untung saya masih bisa
betulin.”
Mendengar teriakan Pak Darno, Marni, ibu Amat, yang sedang
memasak di dapur, keluar dari rumah. Begitu melihat pemandangan itu—anaknya
duduk lesu di samping radio terbuka, Pak Darno jongkok di depannya—ia menepuk
jidatnya keras-keras sampai berbunyi ‘tuk’.
“Ya Allah, Mat... kamu ini! Dasar anak satu ini! Maaf, Pak
Darno, maaf banget. Anak saya memang keterlaluan. Ini pasti karena dia kepo
banget sama radio Bapak. Saya ganti rugi, Pak. Berapa? Saya bayar,” ucap Marni
setengah berteriak campur malu.
“Gak apa-apa, Bu
Marni. Bocah lagi penasaran. Namanya juga anak-anak. Untung gak rusak parah,
cuma copot kabelnya. Nanti saya betulin lagi. Gak usah ganti rugi. Ini mah
pelajaran buat dia,” ujar Pak Darno bijak, sambil mulai merapikan
komponen-komponen dengan hati-hati.
Wiryono yang ikut keluar karena mendengar keributan, hanya
bisa menggeleng-geleng kepala sambil menahan tawa. Ia melihat ekspresi Amat
yang seperti kucing kehujanan. “Itulah anak bapaknya, Pak Darno. Mau tau aja.
Kayak bapaknya dulu, suka bongkar arloji sampe rusak. Darahnya memang begitu,
kepo.”
Amat menunduk lesu, tangannya masih memegang sendok yang
sudah bengkok ujungnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Maaf,
Pak Darno... maaf, Mak... saya cuma mau tau isinya... saya pikir ada orang...
saya janji gak akan ngulangin lagi.”
Marni menarik tangan Amat dengan lembut namun tegas. “Ayo
pulang, Le. Sekarang. Nanti Bapakmu ganti rugi kalau diminta. Besok kalo mau
tau sesuatu, tanya dulu sama orangnya, jangan dibongkar paksa! Pake otak, bukan
pake sendok!” Marni menunjuk-nunjuk dahi Amat.
Sejak kejadian itu, seluruh kampung tertawa terbahak-bahak
setiap kali cerita itu diceritakan ulang. Cerita tentang Amat yang membongkar
radio Pak Darno demi mencari “orang di dalam kotak” menyebar dari mulut ke
mulut, dari warung ke warung. Pak RT, Mulyono, ketika mendengar cerita itu dari
Pak Darno di pos ronda, sampai terbatuk-batuk menahan tawa sambil memegang
perut. “Dasar Amat! Dia itu bukan cari pencuri, tapi jadi ‘insinyur cilik’
kita! Bongkar-bongkar barang, siapa tahu nanti jadi ahli elektronik!”
Dan sejak saat itulah, julukan “Insinyur Cilik” melekat
pada diri Amat. Anak-anak memanggilnya begitu, kadang dengan nada bercanda,
kadang dengan nada kagum. Amat sendiri awalnya malu, tapi lama-lama ia bangga.
Setidaknya, rasa penasarannya telah memberinya identitas.
Waktu terus berjalan. Amat tumbuh menjadi anak yang lincah
dan penuh energi. Meski usianya baru enam tahun, ia lebih sering bergaul dengan
anak-anak yang usianya empat tahun lebih tua. Mereka adalah generasi yang akan
tumbuh bersama Amat, menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya, dan kelak menjadi
bagian dari perubahan desa.
Mereka adalah kumpulan anak-anak dengan latar belakang yang
hampir sama: sederhana, berkecukupan seadanya, dan akrab dengan lumpur serta
terik matahari. Mereka adalah potret mini masyarakat desa.
· Eko Prasetyo, anak
Sutrisno (mandor kebun) dan Sri Mulyati. Eko adalah yang paling berani di
antara mereka. Ia jago memanjat pohon kelapa setinggi apa pun dan memimpin
permainan dengan suara lantang. Ia bercita-cita jadi tentara.
· Didit Firmansyah, anak
Jumadi (pengepul karet) dan Rukmini. Didit lincah dan banyak bicara, tak pernah
kehabisan cerita. Ia adalah sumber informasi segala gosip di desa, tahu siapa
pacaran dengan siapa, siapa yang baru beli apa.
· Yuni Kartika, anak
Hadi Gunawan (tukang kayu) dan Lastri. Yuni kalem, suka menolong, dan pintar
membuat anyaman dari daun kelapa. Ia sering membuat keranjang kecil atau mainan
dari daun untuk adik-adiknya.
· Lulu Anggraini, anak
Teguh Saptono (pemilik warung) dan Sulastri. Lulu agak manja karena anak
satu-satunya pemilik warung, makannya selalu jajanan. Tapi baik hati, suka
bagi-bagi permen kalau lagi senang.
· Endang Lestari, anak
Kusno (petani sawit) dan Rohani. Endang pendiam, jarang bicara, tapi kuat fisiknya.
Ia tak segan ikut membantu orang tuanya di kebun, memuat tandan sawit.
· Iwan Setiawan, anak
Suradi (sopir truk sawit) dan Murniati. Iwan adalah yang paling dewasa di
antara mereka, umurnya sudah sebelas tahun. Ia sering bercerita tentang kota
karena ikut ayahnya sesekali ke luar desa, ke kecamatan atau bahkan ke
kabupaten. Celana jinsnya agak belel, tapi ia paling gaul.
· Sugeng Riyanto, anak
Warto (peternak ayam) dan Partini. Sugeng lucu, suka melucu, dan menjadi
penghibur di kala teman-temannya sedih atau saat suasana permainan tegang. Ia
bisa menirukan suara ayam, kambing, bahkan suara Pak Lurah berpidato.
· Anto Saputra, anak
Mulyono (ketua RT) dan Karti. Anto agak sombong karena anak pak RT, sering
pamer punya mainan baru atau sepatu baru. Tapi ia tetap diajak bermain, karena
kalau tidak diajak, ia bisa ngambek dan lapor bapaknya.
· Karyo Santoso, anak
Basuki (penjaga Kantor desa) dan Sumarni. Karyo pendiam dan penurut, paling
patuh pada aturan. Ia sering membantu ayahnya membersihkan balai desa, menyapu
halaman, atau mengelap kaca. Ia tahu semua sudut balai desa.
Setiap sore, sepulang sekolah atau sepulang membantu orang
tua di kebun atau sawah, mereka akan berkumpul di lapangan tanah dekat kebun
sawit. Lapangan itu adalah stadion kebanggaan mereka, gelanggang olahraga utama
Desa Awan Biru. Rumputnya tak rata, banyak batu kerikil tajam, dan saat musim
hujan, berubah menjadi kubangan lumpur licin yang mengagumkan. Namun bagi
mereka, itu adalah lapangan Wembley-nya, Stadion Utama Senayan-nya.
Mereka bermain sepak bola dengan bola anyaman plastik yang
dibuat sendiri dari kresek bekas yang diikat kencang, atau kadang menggunakan
bola karet bekas yang sudah botak dan tambal sulam. Gawangnya terbuat dari dua
batang bambu yang ditancapkan di tanah, tanpa jaring. Aturan mainnya sederhana:
siapa yang bisa memasukkan bola di antara dua bambu itu, dialah pemenangnya.
Kiper boleh pakai tangan, tapi kalau bolanya masuk meski sudah disentuh kiper,
tetap dihitung gol.
Suatu sore, mereka sedang seru-serunya bermain. Tim merah
versus tim biru. Suara teriakan dan tawa memenuhi lapangan. Amat, yang paling
kecil, selalu berusaha ikut. Hari ini ia datang lebih awal, berharap bisa main.
“Mat, kamu masih kecil! Jangan ikut main bola! Nanti
ketendang! Nanti kakimu patah!” seru Eko, sang kapten tim biru, dengan nada
memerintah dan sedikit meremehkan.
“Tapi aku cepat lari! Aku bisa jadi pemain sayap! Lari
cepat kayak kancil!” bantah Amat sambil berlari-lari kecil di tempat,
menunjukkan kecepatannya yang menurutnya luar biasa, meski langkahnya masih
pendek-pendek.
Didit, yang sedang memegang bola anyaman, tertawa
terbahak-bahak sampai hampir menjatuhkan bola. “Cepat lari? Cepat jatuh,
mungkin! Lihat tuh kaki kamu, kayak lidi kena angin! Goyang-goyang! Nanti kamu
diterjang Eko, bisa mental!”
Anak-anak lain ikut tertawa. Yuni tersenyum, Lulu
cekikikan, Sugeng menirukan gaya lari Amat yang oleng. Amat tersipu malu,
mukanya merah padam, tapi tak menyerah. Ia mengepalkan tangannya. “Pokoknya aku
mau ikut! Aku jago nendang! Coba saja kasih bola, pasti gol!”
Iwan, yang paling dewasa dan biasa jadi wasit dadakan,
mencoba menengahi. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat tenang. “Udah-udah,
gak usah ditertawain. Kasihan Amat. Tapi Mat, kamu ini badan kamu kecil, berat
badan juga kurang. Nanti kalau main sama kita, bisa cedera. Bisa keserempet,
bisa keinjak. Daripada main, kamu jadi wasit aja, gimana?”
“Wasit? Wasit itu apa?” tanya Amat, mengerutkan dahi.
Istilah asing lagi.
“Wasit itu yang ngatur jalannya pertandingan. Yang nentuin
bola masuk atau enggak. Yang niiup peluit. Yang adil, gak memihak siapapun,”
jelas Iwan, sambil mencontohkan pose wasit yang tegas.
“Tapi aku gak punya peluit,” kata Amat lesu, kecewa.
“Gak usah pake peluit. Pake teriak aja. Kalo bola masuk,
kamu teriak ‘GOAL!’ sambil nunjuk ke gawang. Kalo ada yang curang, kamu teriak
‘FOUL!’,” usul Sugeng si pelawak, sambil menirukan teriakannya sendiri,
“GOAL!!!” dengan suara melengking, membuat semua orang tertawa lagi.
Lulu, yang sedari tadi asyik menganyam daun kelapa di
pinggir lapangan sambil sesekali melihat pertandingan, ikut berkomentar dengan
suara manjanya. “Iya, Mat. Jadi wasit aja dulu. Biar belajar dulu. Nanti kalau
kamu udah gede, baru main bola beneran. Sekarang kamu jaga gawang kecil itu
aja, di pojok sana,” tunjuk Lulu ke dua batu besar yang berjarak sekitar satu
meter di pinggir lapangan, tempat biasa anak-anak yang lebih kecil latihan
menendang.
Amat melihat ke arah gawang kecil yang dimaksud Lulu.
Gawang itu benar-benar kecil, hanya seukuran dua kali tubuhnya. Tapi itu lebih
baik daripada tidak main sama sekali. Setidaknya ia tetap di lapangan.
“Boleh! Aku jaga gawang itu! Gak akan ada bola yang masuk
ke situ! Pokoknya!” seru Amat penuh semangat, langsung berlari ke gawang batu
itu dan mengambil posisi, kakinya agak ditekuk, tangannya siap, matanya awas.
Maka jadilah Amat penjaga gawang dadakan untuk gawang kecil
di pinggir lapangan. Tugasnya hanya menjaga bola yang kadang-kadang melenceng
deras ke arahnya, karena teman-temannya yang lebih besar asyik bermain di lapangan
utama. Selebihnya, ia hanya bisa berdiri, sesekali melompat-lompat kecil agar
tetap hangat, sesekali berlari-lari kecil di tempat, sambil melihat
teman-temannya yang lebih besar asyik berlarian mengejar bola.
Namun, ia tak pernah mengeluh. Ia tetap bersemangat. Setiap
kali bola mendekat, ia akan berteriak, “Sini! Sini! Tendang ke sini!” Dan
ketika ada bola yang benar-benar melenceng ke arahnya, ia akan berusaha
menangkap atau menendangnya sekuat tenaga. Kadang gagal, kadang berhasil.
Baginya, bisa berada di lapangan yang sama dengan mereka adalah sebuah
kehormatan. Ia belajar dari yang lebih tua.
Suasana sore itu berbeda. Pertandingan bola usai lebih
cepat karena bola anyaman mereka kempes dan harus ditambal. Eko dan Didit
membawa bola itu pulang untuk diperbaiki. Anak-anak lain bubar, ada yang
pulang, ada yang mandi di sungai, ada yang membantu orang tua. Amat duduk
sendirian di pinggir lapangan, tepat di dekat gawang batunya yang sudah
ditinggal.
Ia memainkan pasir dengan jarinya. Pasir halus bercampur sedikit
tanah. Ia menggambar lingkaran, lalu garis, lalu bentuk-bentuk abstrak yang
hanya ia sendiri yang mengerti. Kadang ia mencoba menulis huruf A, B, C seperti
yang diajarkan Serena, tapi tangannya belum terbiasa.
Tiba-tiba, sebuah bayangan menghalangi sinar matahari sore
yang mulai condong ke barat. Amat menengadah. Serena berdiri di hadapannya,
membawa sebuah buku dengan sampul warna-warni, seperti biasa. Hari ini Serena
memakai baju kuning dengan pita biru di rambutnya.
“Sendirian aja, Mat? Bolanya kempes ya?” tanya Serena,
melihat ke arah lapangan yang mulai sepi.
“Iya. Bolanya kempes, yang pada main udah pada bubar. Eko
sama Didit bawa pulang buat ditambal,” jawab Amat, sedikit lesu.
Serena duduk di samping Amat, agak berjauhan, tapi kali ia
tak membawa alas plastik. Ia duduk langsung di tanah, sebentar ragu, tapi
kemudian memberanikan diri. Roknya mungkin akan kotor, tapi ia tak terlalu
peduli. Ia membuka bukunya, tapi tak langsung membaca. Ia malah melihat coretan
Amat di pasir.
“Itu gambar apa?” tanya
Serena, menunjuk sebuah bulatan dengan garis-garis di dalamnya.
“Gak tau. Cuma corat-coret. Itu mungkin matahari, itu
rumah, itu pohon,” jawab Amat asal, sambil menunjuk-nunjuk coretannya.
Serena tersenyum. “Kamu tahu, Mat, daripada corat-coret gak
jelas kayak cakar ayam, mending kamu belajar nulis beneran. Nulis huruf yang
bener, nanti bisa nulis nama sendiri, bisa nulis ‘matahari’, ‘rumah’, ‘pohon’.”
“Belajar nulis? Siapa yang mau ngajarin? Ibu cuma bisa baca
tulis sedikit aja, itu pun kalau nulis sering salah. Bapak juga sibuk dari pagi
sampai sore, capek. Mereka gak sempat ngajarin,” keluh Amat, jujur.
“Aku bisa,” kata Serena mantap, tanpa ragu.
Amat menatap Serena dengan pandangan tak percaya, matanya
membelalak. “Bener? Kamu serius mau ngajarin aku baca tulis? Kan kamu juga
masih kecil, sama kayak aku.”
“Iya, aku serius. Di kota, aku udah belajar baca tulis dari
TK. Aku bisa nulis nama sendiri umur empat tahun. Sekarang aku kelas satu SD,
udah bisa baca buku tebal. Jadi, ngajarin kamu yang baru belajar, pasti bisa,”
kata Serena dengan nada agak menggurui, seperti guru kecil yang percaya diri,
tapi matanya ramah.
“Tapi, apa kamu gak
capek? Kan kamu juga sekolah,” tanya Amat, masih ragu.
“Gak capek, kok. Asyik, malah. Kayak main. Tapi kamu harus
serius. Jangan kayak main bola, cuma lari-lari doang, gak karuan,” kata Serena,
masih dengan nada mengajarnya.
Amat mengangguk semangat, wajahnya berseri-seri. “Aku
serius! Aku mau bisa baca kayak kamu! Aku mau baca buku cerita kancil sendiri!
Aku mau tahu cerita-cerita lain!”
Serena mengambil sebatang kayu kecil yang ada di dekatnya,
ranting kering yang cukup runcing. Lalu, di atas hamparan pasir yang halus dan
rata, ia mulai menulis dengan hati-hati, seperti sedang melukis.
“Ini huruf A,” Serena menulis huruf A kapital yang rapi,
dengan dua kaki dan satu topi. “Bunyinya ‘a’, kayak waktu kamu bilang ‘Amat’.
A-m-a-t. Coba, tebak, huruf pertama nama kamu apa?”
Amat menunjuk huruf A yang baru ditulis. “Ini! A! Sama
kayak A di ‘Amat’!” serunya girang.
“Pintar!” puji Serena, tersenyum lebar. “Ini huruf B.
Bunyinya ‘b’.” Serena menulis huruf B kapital dengan dua perut. “B... B...
kayak ‘bola’. Kamu suka main bola, kan?”
Amat mengangguk cepat. Matanya berbinar melihat huruf baru.
“Ini huruf C.
Bunyinya ‘c’ atau ‘ce’ kadang. C... C... kayak ‘cangkul’. Ayah kamu punya
cangkul?”
Amat tertawa, mengingat cangkul kesayangan ayahnya yang
gagangnya sudah licin. “Iya, punya! Bapak punya cangkul buat nyangkul di kebon
singkong! Gagangnya dari kayu, besinya agak tumpul, tapi tetap dipakai.”
Serena tersenyum puas. “Nah, lumayan. Kamu pintar kalau mau
belajar. Sekarang giliran kamu. Coba tulis huruf A di sini.” Serena menunjuk
tempat kosong di pasir.
Amat mengambil kayu itu dari tangan Serena, dan dengan
hati-hati, lidah sedikit menjulur karena konsentrasi, ia mencoba menulis huruf
A. Tangannya gemetar sedikit, hasilnya miring-miring tak beraturan, kakinya
terlalu panjang, topinya terlalu kecil. Tapi ia tak menyerah. Ia ulangi lagi
dan lagi, menghapus dengan telapak tangan, lalu menulis lagi. Sampai akhirnya,
setelah beberapa kali percobaan, huruf A ciptaannya lumayan mirip dengan punya
Serena.
“Lumayan, Mat. Udah mirip. Sekarang coba huruf B,” perintah
Serena.
Matahari mulai terbenam di ujung barat, melukis langit
dengan warna jingga dan keemasan yang indah. Burung-burung mulai beterbangan
kembali ke sarangnya. Suara jangkrik mulai terdengar samar-samar. Serena
melihat ke langit, lalu ke arah rumahnya yang mulai terlihat lampunya menyala.
“Aku pulang dulu, Mat. Udah sore, nanti dimarahin ibu.
Besok kita lanjut lagi, ya. Belajar huruf D, E, F. Kamu harus rajin latihan
sendiri, ya. Tulis-tulis di pasir.”
Amat mengangguk, masih memegang kayu kecil itu. “Iya, Ren.
Makasih, ya, udah mau ngajarin aku.”
Serena berdiri, membersihkan roknya yang mulai kotor.
“Sama-sama, Mat. Besok ketemu lagi.”
Ia memandangi Serena yang berjalan menjauh, menuju rumahnya
di dekat balai desa. Di tangannya, masih tergenggam kayu kecil yang tadi
digunakan untuk menulis. Di hadapannya, terhampar pasir dengan huruf-huruf
pertama yang ia pelajari, saksi bisu tekadnya. Sore itu adalah sore yang
mengubah segalanya. Di atas hamparan pasir yang dingin dan di bawah langit
jingga yang indah, Amat menemukan bahwa dunia tak hanya bisa dijelajahi dengan
kaki, tapi juga dengan huruf dan kata-kata. Huruf adalah kunci untuk membuka
pintu-pintu pengetahuan.
Malam itu, Amat pulang dengan perasaan berbeda. Ia tak
langsung bermain atau minta makan seperti biasanya, tapi duduk di sudut rumah,
di dekat jendela kecil yang temaram. Bibirnya komat-kamit, mengulang-ulang
huruf yang diajarkan Serena di dalam hati. "A... B... C... A... B... C...
D nanti, kata Serena besok..."
Jari telunjuknya menari-nari di lantai papan, mencoba
menulis huruf-huruf itu di debu. Sesekali ia mengerutkan dahi, mengingat-ingat
bentuknya. “B... b... kayak bola. C... c... kayak cangkul.”
Wiryono dan Marni melihat perubahan pada anak mereka.
Biasanya, sepulang main, Amat akan langsung minta makan atau langsung tertidur
kelelahan setelah mandi. Malam itu, ia duduk termenung, tak seperti biasanya.
“Mat, kamu kenapa? Kok diem aja? Sakit, Le?” tanya Marni
khawatir, mendekat dan meletakkan telapak tangannya di dahi Amat. “Panas? Gak
panas, kok.”
“Gak, Mak. Aku lagi belajar huruf. Tadi sore Serena
ngajarin aku nulis di pasir. Aku belajar A, B, C. Besok mau lanjut D, E, F.
Jadi aku lagi ingat-ingat,” jawab Amat polos, matanya masih menatap lantai,
jarinya masih menari.
Wiryono dan Marni berpandangan. Mereka tersenyum haru,
tanpa berkata-kata. Anak mereka, yang lahir di tengah badai, yang hanya punya
tempe untuk lauk, menunjukkan minat yang luar biasa pada hal yang tak biasa
untuk anak seusianya. Ada rasa bangga yang campur aduk dengan sedikit haru di
dada mereka.
Malam itu, setelah makan malam dengan lauk seadanya—sayur
nangka muda dan sambal terasi—Amat berbaring di samping ibunya di atas tikar
pandan. Lampu teplok sudah dipadamkan, hanya cahaya rembulan yang masuk lewat
celah-celah dinding, menciptakan garis-garis perak di lantai.
“Mak,” panggil Amat lirih, suaranya kecil di kegelapan.
“Apa, Le?” jawab Marni yang masih belum tidur, matanya
menatap langit-langit yang temaram.
“Nanti kalau aku udah gede, aku mau sekolah
setinggi-tingginya. Aku mau jadi orang pinter, kayak Pak Budi. Terus aku kerja
yang bener, gajinya gede. Aku beliin Mak baju bagus, yang warna-warna kayak
punya Serena. Beliin Bapak sepatu baru, biar gak kejedot batu lagi. Kita makan
ayam setiap hari. Ayam goreng, ayam bakar, ayam opor, semua,” ucap Amat dengan
suara penuh mimpi, membayangkan masa depan yang cerah.
Marni tersentak. Bulir air mata mengalir di pelupuk
matanya, membasahi pelipis. Ia tak menyangka, dari mulut anaknya yang baru enam
tahun, keluar kalimat seindah itu. Sebuah janji kecil yang menghangatkan hati.
Ia merangkul Amat erat, mencium rambutnya yang berbau matahari.
“Iya, Le. Bapak dan Ibu selalu doain, setiap malem, setiap
abis sholat, semoga kamu jadi anak sholeh, pinter, sukses dunia akhirat. Tapi
inget, Mat, jadi orang sukses itu bukan cuma soal gede gajinya, bisa beli ayam,
baju bagus, sepatu baru. Yang lebih penting, kamu bisa berguna buat orang
banyak. Bisa nolong orang susah. Bisa bikin desa kita maju. Kayak Pak Budi sama
Bu Ratna. Mereka ninggalin kota yang enak, pindah ke desa kita yang terpencil,
buat ngajarin kita, buat nolong orang sakit. Itu baru namanya orang hebat, Le.
Sukses sejati,” bisik Marni, suaraya bergetar haru.
Amat merenungkan kata-kata ibunya dalam diam. Pak Budi dan
Bu Ratna. Guru dan bidan yang datang dari kota. Mereka rela hidup sederhana di
desa, berbaur dengan warga, tanpa mengeluh. Mereka menjadi penerang di tengah
keterbatasan. Amat membayangkan dirinya, suatu hari nanti, juga bisa seperti
mereka. Bukan cuma sukses untuk diri sendiri, tapi juga berguna untuk desanya,
untuk orang-orang di sekitarnya. Mimpi itu mulai mekar, lebih indah dari
sekadar ayam goreng.
Tahun-tahun berlalu dengan cepat, seperti daun kering
ditiup angin. Amat genap berusia tujuh tahun. Rambutnya semakin tebal, kulitnya
semakin sawo matang karena tiap hari bermain di bawah matahari. Ia akan segera
masuk Sekolah Dasar. Desa Awan Biru pun mulai menunjukkan perubahan-perubahan
kecil, seperti tunas yang mulai tumbuh di tanah kering setelah hujan pertama.
Listrik mulai masuk lebih stabil. Genset desa yang dulu
sering mogok dan berisik, kini digantikan oleh aliran listrik dari pusat
pembangkit di kecamatan. Tiang-tiang listrik beton mulai berjejer di sepanjang
jalan utama, kabel-kabel menjulur seperti urat nadi baru. Meski masih sering
padam, terutama jika hujan deras atau angin kencang, setidaknya listrik menyala
lebih panjang, hampir sepanjang malam. Rumah-rumah mulai memasang lampu neon
terang yang menggantikan lampu teplok yang temaram. Balai desa memasang antena
televisi yang lebih tinggi dan modern, terbuat dari besi. Gambar televisi
menjadi lebih jernih, hampir tanpa semut. Warga tak perlu lagi berteriak-teriak
menyuruh antena diputar. Kini mereka bisa menikmati acara dengan tenang, meski
kadang masih terganggu oleh hujan.
Pak Budi, ayah Serena, semakin aktif. Ia tak hanya mengajar
di sekolah dasar, tapi juga menginisiasi program pemberantasan buta huruf bagi
orang dewasa di balai desa setiap malam Selasa dan Kamis. Ibu-ibu dan
bapak-bapak yang dulu hanya bisa membubuhkan cap jempol di surat-surat resmi,
kini perlahan mulai bisa menuliskan nama mereka sendiri dengan gagap. Marni,
ibu Amat, juga ikut serta. Ia ingin bisa membaca buku cerita untuk Amat.
Bu Ratna, sang bidan, juga tak kalah sibuk. Setiap hari, ia
berkeliling desa dengan sepeda onthelnya yang sudah berkarat di sana-sini,
memeriksa kesehatan ibu hamil dan balita. Tas cokelatnya selalu penuh dengan
peralatan medis sederhana. Klinik kecil di samping rumahnya, hanya sebuah
ruangan dengan dua tempat tidur, selalu ramai dikunjungi warga yang berobat,
dari batuk pilek hingga luka-luka. Kematian ibu melahirkan seperti yang nyaris
menimpa Marni tujuh tahun lalu, kini hampir tak pernah terjadi lagi. Bu Ratna
adalah malaikat penolong bagi para ibu di Awan Biru.
Suatu sore yang cerah, dengan langit biru bersih tanpa
awan, Amat, yang kini sudah duduk di bangku kelas 1 SD dan bisa membaca walau
masih mengeja, sedang membantu ibunya membereskan sayuran di teras rumah. Daun
singkong, kangkung, dan bayam berserakan di tampah anyaman bambu. Serena, yang
kini berusia sebelas tahun dan duduk di kelas 5 SD, lewat sambil membawa sebuah
buku baru. Buku itu lebih tebal dari buku-buku cerita sebelumnya, sampulnya
keras dan mengilap.
“Mat, lihat! Ini buku baru punya ayah. Cerita tentang
penemu-penemu terkenal dari seluruh dunia. Ada cerita tentang Wright bersaudara
yang bikin pesawat terbang, tentang Thomas Edison yang nemuin lampu pijar,
tentang ilmuwan-ilmuwan hebat lainnya!” seru Serena girang, sambil menunjukkan
buku itu pada Amat.
Amat berhenti membereskan sayur, matanya langsung tertuju
pada buku itu. Ia bangkit, berlari kecil mendekati Serena, tangannya ia lap-lap
ke celana agar bersih. “Boleh aku pinjem, Ren? Nanti kalau udah selesai kamu
baca?” pinta Amat dengan mata berbinar, penuh harap.
Serena tersenyum lebar. Ia suka melihat semangat Amat.
“Boleh, Mat. Tapi ini bacaan berat lho, Mat. Kamu baru kelas 1 SD, baru bisa
baca sedikit. Pasti banyak kata-kata susah yang kamu gak ngerti. Ada istilah
ilmiah segala.”
“Gak papa, Ren. Aku bacanya pelan-pelan, satu-satu. Nanti
kalo gak ngerti, aku tanya kamu. Kamu kan pinter, udah kelas 5. Atau aku tanya
Pak Budi, bapakmu,” pinta Amat, tak patah semangat.
“Oke deh. Tapi jangan sampe robek atau kena air, ya. Ini
buku kesayangan ayah. Dipinjemin khusus buat kamu. Kalau rusak, aku yang kena
marah,” pesan Serena sambil menyerahkan buku itu dengan hati-hati.
Amat menerima buku itu dengan penuh hormat dan hati-hati,
seolah memegang benda pusaka keramat. Sampulnya bergambar bola lampu pijar yang
menyala terang dan sebuah pesawat terbang kuno yang aneh bentuknya. Ia segera
membawanya ke dalam rumah, mencari tempat yang aman. Ia letakkan buku itu di
atas bantalnya, lalu duduk bersila di sampingnya, membuka halaman pertama
dengan perasaan campur aduk: kagum, penasaran, dan sedikit takut.
Huruf-hurufnya kecil dan rapat, berbeda dengan buku cerita Serena yang hurufnya
besar-besar.
Saat itu, dari arah balai desa, terdengar suara pengeras
suara yang biasa dipakai untuk mengumumkan sesuatu. Suara Pak Lurah yang
sedikit sengau mulai terdengar, menggema di seluruh penjuru desa.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh... Warga Desa
Awan Biru yang saya hormati... Diberitahukan bahwa besok pagi, pukul sembilan
tepat, akan ada sosialisasi dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten
tentang program desa digital. Program baru dari pemerintah pusat. Mohon
bapak-bapak dan ibu-ibu yang mewakili dusun masing-masing, para tokoh pemuda,
untuk hadir di balai desa. Acaranya penting. Terima kasih. Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.”
Amat yang mendengar pengumuman itu dari dalam rumah, mengernyitkan
dahi. “Desa digital? Apa itu, Mak?” tanyanya pada ibunya yang masih di teras.
Marni menggeleng, sambil terus memilah sayur. “Gak tau, Le.
Mungkin soal mesin-mesin digital, kayak komputer gitu kali ya? Saya
dengar-dengar dari Bu Ratna, katanya ada alat namanya komputer, bisa buat
ngetik, ngitung, lihat gambar, pokoknya canggih.”
Amat mengingat-ingat. Ia pernah melihat gambar komputer di
buku cerita bergambar punya Serena, atau di televisi. Sebuah kotak dengan layar
seperti televisi, tapi lebih kecil dan pipih, dan ada papan ketik putih di
depannya dengan banyak tombol. Orang-orang memakainya untuk mengetik surat,
menggambar, bahkan main game.
Ia keluar rumah, berdiri di teras, menatap balai desa di
kejauhan yang mulai dicat ulang dengan warna biru muda. Di sana, di balai desa
itu, besok pagi akan ada pembicaraan tentang masa depan desa. Masa depan
digital. Sesuatu yang masih sangat abstrak di benaknya, tapi menarik. Desa
digital. Mungkin desa mereka akan punya komputer. Mungkin mereka akan terhubung
dengan dunia luar.
Di sore itu, saat Serena membaca buku di rumahnya yang
nyaman, saat Pak Budi dan Bu Ratna sibuk dengan tugas masing-masing, saat warga
desa bergotong-royong membersihkan selokan menjelang musim hujan, Amat duduk di
teras rumahnya. Di pangkuannya, terletak buku tebal tentang para penemu. Di
telinganya, masih terngiang-ngiang pengumuman tentang desa digital. Di matanya,
terbentang panorama Desa Awan Biru yang mulai berbenah, yang mulai membuka diri
pada perubahan. Dan di dalam hatinya yang masih muda, tumbuh keyakinan yang
semakin kuat dan kokoh.
Ia ingat kata-kata ibunya di malam itu, “Sukses itu bukan
cuma soal gede gajinya, tapi bisa berguna buat orang banyak.” Ia ingat
kata-kata Pak Budi waktu mengajar di sekolah, “Desa juga butuh orang-orang muda
yang mau membangun, bukan malah pergi ninggalin desa.” Ia ingat ajaran Serena
yang pertama, “Kalo kamu pinter, kamu bisa nyelesein masalah besar meskipun
kamu kecil.”
Ia menatap televisi di rumah tetangga yang menayangkan
pemandangan kota besar, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang. Lalu ia
menatap balai desa yang mulai ramai dipersiapkan untuk acara besok. Lalu ia
menatap buku tebal di pangkuannya, jendela menuju dunia pengetahuan yang luas.
Dengan suara lirih, seolah bicara pada diri sendiri, pada
angin sore yang berhembus, Amat bergumam, “Kalau begitu... aku mau jadi orang
yang bikin desa kita masuk layar. Masuk ke dalam televisi, tapi bukan cuma buat
ditonton, kayak berita atau sinetron. Tapi biar semua orang di dunia tahu kalau
di sini ada Desa Awan Biru. Ada orang-orang baik yang mau berubah. Ada petani
karet, ada penjual sayur, ada anak-anak yang main bola di lumpur. Mereka semua
harus dikenal.”
Matahari sore yang keemasan menyinari wajahnya yang polos
namun penuh tekad. Sinar itu membelai rambut ikalnya yang acak-acakan. Angin
bertiup lembut, membelai dedaunan di sekitarnya. Tak seperti malam kelahirannya
dulu yang penuh amukan badai, angin sore ini adalah bisikan lembut masa depan.
Angin yang membawa harapan dan mimpi.
Di ujung desa yang masih terpencil, di tengah keluarga yang
hidup dalam keterbatasan ekonomi yang nyata, lahirlah sebuah tekad yang besar.
Tekad seorang anak kecil yang kelak akan menjadi jembatan antara desanya yang
sunyi dan sunyi dan dunia digital yang ramai dan hiruk-pikuk. Seorang anak yang
dulu membongkar radio Pak Darno demi mencari “orang di dalam kotak”, yang
belajar menulis di atas pasir, kini bercita-cita memasukkan seluruh desanya ke
dalam layar kaca dan layar komputer. Ia ingin desanya dikenal, tidak hanya dilupakan.
Dan kisahnya, baru akan dimulai.
Demikianlah, pada usia tujuh tahun yang masih belia, Amat
telah melewati fase pertama dari perjalanan panjang hidupnya. Fase di mana ia
belajar banyak hal dari lingkungan sekitarnya yang sederhana. Ia belajar tentang
arti kemiskinan yang pahit, tapi juga belajar tentang kehangatan perjuangan
orang tua yang tak kenal lelah. Ia belajar tentang perbedaan, saat Serena
datang dengan buku-bukunya yang indah. Ia belajar tentang arti sebuah
pertemanan yang tulus, saat Eko, Didit, dan yang lainnya menerimanya di
lapangan tanah meski hanya jadi penjaga gawang batu. Dan ia belajar tentang
kekuatan mimpi yang tak terbatas, meski dikelilingi keterbatasan.
Ia belajar membaca dari pasir di lapangan, ia belajar
tentang dunia dari radio tua Pak Darno yang sempat ia bongkar dan televisi
berpasir di balai desa, ia belajar tentang keba hati dan pengabdian dari
keluarga Budi Santoso yang rela meninggalkan kenyamanan kota, dan ia belajar
tentang tekad yang teguh dari dalam dirinya sendiri, dari rasa ingin tahunya
yang tak pernah padam.
Desa Awan Biru mungkin masih tertinggal di banyak hal
dibandingkan desa-desa lain di kecamatan. Jalanannya masih becek dan licin saat
musim hujan, masih berdebu saat kemarau. Ekonomi warganya masih pas-pasan,
mayoritas hanya buruh tani dengan pendapatan tak menentu. Namun, di balik semua
keterbatasan itu, ada denyut kehidupan yang tak pernah padam, semangat gotong
royong yang masih kental. Ada semangat untuk berubah, untuk memperbaiki nasib.
Ada mimpi-mimpi yang mulai tumbuh di hati setiap warganya, sekecil apapun mimpi
itu.
Dan Amat adalah salah satu mimpi itu. Ia adalah mimpi yang
lahir dari rahim badai, dari rahim seorang ibu yang hampir putus asa di malam
kelam. Ia dipupuk oleh keterbatasan yang mengajarkannya arti perjuangan, dan
disirami oleh rasa ingin tahu yang tak terbatas, yang membawanya pada
petualangan-petualangan kecil yang membentuk karakternya.
Kini, setelah tujuh tahun berlalu, ia berdiri di ambang
pintu menuju babak selanjutnya dalam hidupnya. Babak di mana ia akan mulai
bersekolah secara formal, belajar lebih banyak tentang dunia melalui buku-buku
pinjaman dari Serena, melalui pelajaran dari Pak Budi, dan melalui pengamatan
terhadap perubahan di desanya. Babak di mana ia akan perlahan-lahan menemukan
jalan yang pasti untuk mewujudkan mimpinya yang mulai terbentuk: menjadikan
Desa Awan Biru dikenal dunia, lewat sebuah layar.
Malam itu, sebelum tidur, Amat kembali membuka buku tentang
para penemu. Jarinya menelusuri halaman pertama, tentang Wright bersaudara.
Dengan mengeja, ia membaca pelan-pelan, “Wright... ber-sau-da-ra... a-da-lah...
dua... ber-sau-da-ra... dari A-me-ri-ka... yang... me-ning-kat-kan...
pe-sa-wat... ter-bang... per-ta-ma...”
Wiryono, yang duduk di sampingnya sambil mengelap pisau
sadapnya, tersenyum melihat anaknya yang tekun belajar. Marni, yang sedang
menjahit kain sobek, ikut tersenyum. Mereka tak banyak bicara. Mereka hanya
bersyukur. Anak mereka punya semangat yang tak mereka miliki dulu.
Di luar, angin malam berdesir lembut. Burung hantu berbunyi
dari kejauhan. Desa Awan Biru terlelap dalam damai, menyimpan mimpi-mimpi
warganya. Dan di dalam rumah papan reyot itu, seorang anak bernama Amat sedang
membaca tentang mimpi-mimpi besar para penemu, sambil memendam mimpinya sendiri
yang tak kalah besar. Jejak senja di ujung desa telah dilewatinya. Kini, ia
melangkah menuju fajar, menuju masa depan yang belum terlihat, namun terasa
begitu dekat.
BAB II
"Anak Warnet dari Desa Terpencil"
Pagi di Desa Awan Biru selalu memiliki ritualnya sendiri.
Sebelum matahari benar-benar berani menampakkan diri, kabut turun lebih dulu
sebagai tamu tak diundang. Ia datang diam-diam, menyelimuti setiap sudut desa
dengan jubah putihnya yang dingin dan lembab. Kabut itu bergelayut manja di
pucuk-pucuk pohon karet yang berbaris rapi seperti tentara tua yang setia
menjaga perbatasan. Ia juga bermain petak umpet dengan pelepah-pelepah sawit
yang lebar, membuat segalanya tampak misterius dan magis.
Jalan tanah merah yang menjadi urat nadi Desa Awan Biru
masih basah oleh embun. Ribuan tetes air kecil menempel di butiran-butiran
tanah, membuat warnanya berubah dari merah bata menjadi coklat gelap seperti
warna gula jawa yang baru dicetak. Bekas-bekas jejak kaki dari malam sebelumnya
masih tercetak rapi—jejak-jejak yang bercerita tentang warga yang pulang larut
dari pengajian, tentang bapak-bapak yang baru sembahyang Isya berjamaah di
musholla, atau mungkin tentang anjing-anjing kampung yang setia menemani
tuannya.
Di ujung gang kecil berdinding papan yang sudah lapuk
dimakan usia dan rayap, berdiri sebuah rumah panggung sederhana. Catnya sudah
mengelupas di sana-sini, memperlihatkan kayu di bawahnya yang berwarna
kehitaman karena jamur. Tiang-tiang penyangganya kokoh meski beberapa sudah
miring—seperti keyakinan warga desa yang tak pernah goyah meski hidup terus
menghantam.
Dari dalam rumah itu, terdengar suara orang mengaduk-aduk
sesuatu di dapur. Suara kayu bergesekan dengan belanga tanah liat.
Aromanya—wangi singkong rebus yang baru diangkat dari kukusan—merayap keluar
melalui celah-celah dinding papan, bercampur dengan aroma pagi yang dingin.
Amat kecil—yang kini telah menginjak usia 7 tahun dan akan
segera memulai petualangan barunya di bangku Sekolah Dasar—berdiri di depan
cermin pecah yang digantung di dinding ruang tamu. Cermin itu hanya selebar dua
telapak tangan orang dewasa, retak di bagian pojok kiri atas, dan buram di
beberapa bagian. Tapi bagi Amat, cermin itu cukup untuk melihat dirinya:
seorang bocah dengan kulit sawo matang, rambut ikal yang agak kemerahan karena
sering terjemur matahari, dan mata bulat yang selalu penuh rasa ingin tahu.
Ia mematut-matut seragam barunya. Seragam putih-merah yang
sebenarnya bukan baru—itu adalah warisan dari sepupunya yang sekarang sudah
duduk di bangku kelas 3 SMP di kecamatan. Lengan bajunya agak kepanjangan,
sehingga harus digulung dua kali. Celana pendeknya juga kebesaran di pinggang,
sehingga setiap hari ia harus menggunakan ikat pinggang tali rafia yang dianyam
ibunya.
"Bu, ini bajunya kegedean," protes Amat sambil
meraba-raba lengan baju yang bergulung.
Marni Wulandari keluar dari dapur sambil membawa piring
kecil berisi tiga potong singkong rebus yang masih mengepul uapnya. Ia
tersenyum melihat penampilan anak semata wayangnya.
"Kegedean dikit nggak apa-apa, Le. Nanti kamu besar,
bajunya jadi pas. Daripada kekecilan, kan?" jawab Marni sambil meletakkan
piring di meja kayu sederhana yang kakinya sudah tidak sama panjang—satu
kakinya diganjal dengan potongan kayu agar tidak goyang.
Amat mengernyit. "Tapi ini kayak badut, Mak. Liat,
lengannya gulung dua kali."
Marni mendekat, merapikan gulungan lengan baju Amat dengan
penuh kasih sayang. Tangannya yang kasar karena setiap hari memetik sayur dan
menumbuk bumbu, terasa hangat di kulit Amat.
"Ini tanda sayang dari sepupumu, Le. Pakai saja dulu.
Nanti kalau Bapak sudah punya uang lebih, kita beli yang baru," bisik
Marni lembut.
Dari dalam kamar, Wiryono muncul dengan handuk lusuh di
pundak. Rambutnya masih basah sehabis mandi di pancuran belakang. Ia baru saja
selesai sholat Subuh. Pria paruh baya dengan badan tegap namun mulai membungkuk
karena puluhan tahun bekerja sebagai buruh sadap karet itu menghampiri anaknya.
"Coba Bapak lihat," kata Wiryono sambil
memutar-mutar Amat. "Wah, ganteng sekali anak Bapak. Ini mah bukan badut,
ini cowok keren yang siap sekolah."
Amat tersenyum, sedikit malu. "Beneran, Pak?"
"Beneran. Nanti kalau ada yang ngejek, bilang sama
Bapak. Bapak datengin rumahnya," canda Wiryono sambil mengacungkan tinju.
Marni tertawa. "Ayahmu itu, kalau sudah ngomong suka
lebay. Udah, Amat, sarapan dulu. Nanti telat."
Amat duduk di kursi kayu reot—yang kakinya juga tidak sama
panjang, sehingga ia harus sedikit bergeser mencari posisi yang pas agar
kursinya tidak goyang—dan mulai menyantap singkong rebus. Ia mencelupkan
singkong itu ke dalam parutan kelapa yang sudah dicampur sedikit gula. Rasanya
sederhana, tapi hangat di perut.
"Bu, Bapak, aku makan dulu ya," ucap Amat sebelum
mulai mengunyah.
"Iya, Le. Makan yang banyak. Biar kuat jalannya,"
jawab Marni.
Wiryono ikut duduk di kursi sebelah, ikut mengambil satu
potong singkong. "Kamu jalan sendiri, Mat? Atau Bapak antar?"
Amat menggeleng cepat. "Nggak usah, Pak. Aku jalan
sama Eko, Didit, sama Iwan. Mereka juga baru masuk SD."
"Oke. Tapi hati-hati ya. Jangan lari-lari di jalan.
Jangan main ke sawah. Jangan terima makanan dari orang yang nggak
dikenal," pesan Marni beruntun.
"Jangan juga manjat pohon, jangan ke kali sendirian,
jangan—" timpal Wiryono.
"Bapak, Ibu, udah, udah. Amat inget semua kok,"
potong Amat sambil tertawa.
Tawa kecil itu mengisi ruangan sederhana itu, membuatnya
terasa hangat meski pagi masih dingin.
Setelah selesai makan, Amat mengambil tas lusuhnya. Tas itu
adalah tas ransel butut warna biru yang tali sebelahnya pernah putus dan sudah dijahit
ibunya dengan benang hitam—jahitannya tidak rapi, tapi kuat. Di dalam tas itu,
hanya ada sebuah buku tulis bekas yang beberapa halaman depannya sudah terpakai
untuk menulis huruf dan angka, sebuah pensil yang sudah pendek sekali—hanya
seukuran jari kelingking Amat—dan sebuah penghapus kecil berbentuk bebek yang
sudah hampir habis.
"Bu, aku berangkat," kata Amat sambil mengecup
punggung tangan ibunya—kebiasaan yang diajarkan orang tuanya sejak kecil.
Marni mengusap kepala Amat. "Jalan pelan-pelan. Jangan
lari kalau hujan. Sepatumu cuma satu itu."
Amat menunduk, melihat sepatu kanvas putihnya yang sudah
kusam dan bolong di ujung jempol kaki kanan. Sepatu itu sumbangan dari Pak RT,
bekas punya Anto yang sudah kekecilan. Tapi bagi Amat, itu adalah harta berharga.
Sepatu pertama yang benar-benar menjadi miliknya.
"Iya, Bu. Kalau rusak, nanti aku pakai sandal jepit
Bapak."
Dari dalam rumah, Wiryono yang masih duduk di kursi
menyahut lantang, "EH, ITU SANDAL KERJA! JANGAN SEMBARANGAN! Nanti kalau
aku ke kebon pakai apa?"
Amat dan Marni berpandangan, lalu tertawa bersama.
"Ya sudah, aku pinjam punya Mak aja," goda Amat.
"Maklumlah, anak bapak memang suka bikin pusing,"
kata Marni.
Amat melangkah keluar rumah, menuruni tangga kayu yang
berderit setiap kali diinjak. Di halaman, ia melihat Eko sudah menunggu di
bawah pohon mangga tetangga. Eko Prasetyo, anak mandor kebun dengan kulit legam
dan senyum lebar yang selalu memperlihatkan giginya yang tidak rata,
melambai-lambai.
"Mat! Cepetan! Nanti Didit duluan!" teriak Eko.
"Sabar, Ko. Masih pagi," jawab Amat sambil
berlari kecil—tapi kemudian ingat pesan ibunya, jadi ia mengubah larinya
menjadi jalan cepat.
Di perjalanan, mereka bertemu Didit Firmansyah yang sedang
duduk di pinggir jalan sambil mengunyah jajanan. Didit anak pengepul karet,
badannya kurus tinggi, dengan rambut yang selalu acak-acakan seolah baru bangun
tidur. Hari ini ia memakai seragam yang juga tidak kalah lusuhnya dengan Amat.
"Lama amat, sih. Aku dari tadi nunggu, udah habis
jajan," protes Didit.
"Jajan apa?" tanya Eko.
"Es lilin. Tapi udah habis. Sayang kamu nggak dateng
lebih cepet," jawab Didit sambil menjilati bibirnya yang masih ungu bekas
pewarna es.
"Aduh, enak banget. Berapa harganya?" tanya Amat.
"Seratus perak. Tapi kamu jajan pake uang apa? Jajanmu
kan cuma buat beli pensil," ledek Didit.
Amat tersenyum getir. Didit benar. Ibunya memang memberinya
uang saku, tapi hanya cukup untuk jajan satu kali—dan itupun bukan jajanan
mewah, tapi kadang hanya permen atau kerupuk. Lebih sering Amat memilih
menabung uang itu untuk membeli pensil baru atau buku tulis.
"Eh, Mat! Mat!" teriak Iwan dari kejauhan.
Iwan Setiawan, anak sopir truk sawit yang badannya paling
besar di antara mereka, datang sambil membawa sepeda butut. Iwan adalah
satu-satunya dari mereka yang punya sepeda—warisan dari kakaknya yang sudah
bekerja di kota. Sepeda itu catnya sudah mengelupas, remnya blong, dan ban
dalamnya sudah tambal sulam, tapi bagi mereka, itu adalah kendaraan mewah.
"Naik, Mat! Sekalian bonceng!" ajak Iwan.
Amat ragu. "Berat, nggak? Nanti banmu kempes."
"Ah, nggak bakal. Kemarin aja aku bonceng Eko sama
Didit, masih kuat kok," jawab Iwan PD.
"Kamu bonceng mereka berdua? Di mana duduknya?"
tanya Amat heran.
"Iya, Eko duduk di palang depan, Didit di boncengan belakang.
Aku di tengah. Jadi kayak mobil, kan?" Iwan tertawa.
Akhirnya mereka berempat berangkat dengan formasi unik.
Iwan mengayuh sepeda pelan-pelan, Amat duduk di boncengan belakang, sementara
Eko dan Didit berjalan di samping sambil sesekali berlari-lari kecil mengikuti
laju sepeda. Pagi itu, jalan tanah merah menjadi saksi tawa riang empat bocah
yang akan memulai petualangan baru mereka.
"Mudah-mudahan kita satu kelas ya," ucap Eko.
"Aamiin," jawab Amat.
"Pokoknya kalau kita satu kelas, kita harus duduk
berdekatan. Biar bisa nyontek kalau ulangan," kata Didit.
"Nyontek? Kamu ini, baru masuk SD udah mikir nyontek
aja," Iwan menggeleng.
"Biarin. Yang penting lulus," Didit membela diri.
Mereka tertawa bersama. Di kejauhan, terlihat atap SD Desa
Awan Biru yang mulai terlihat di antara rimbunnya pohon-pohon bambu. Hari
pertama sekolah telah dimulai.
SD Desa Awan Biru bukanlah sekolah yang bisa dibanggakan
dari segi bangunan. Ia hanya sebuah kompleks sederhana terdiri dari tiga ruang
kelas yang berjajar rapi, menghadap ke lapangan tanah yang berumput jarang.
Dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah menghitam di beberapa bagian
karena usia. Catnya—jika dulu pernah dicat—sudah lama mengelupas, meninggalkan
bekas-bekas warna putih dan hijau yang tak beraturan seperti peta buta.
Lantainya semen, tapi bukan semen halus. Ada banyak retak
di sana-sini, dan di beberapa sudut, semennya bahkan bolong hingga terlihat
tanah di bawahnya. Saat musim hujan, air bisa merembes masuk, membuat
genangan-genangan kecil di dalam kelas. Saat-saat seperti itu, Bu Ratih, wali
kelas 1, akan meminta murid-muridnya memindahkan bangku ke tempat yang lebih
kering—sebuah aktivitas yang selalu disambut gembira oleh anak-anak karena
mereka bisa sambil bermain air.
Atapnya terbuat dari seng gelombang yang sudah berkarat di
tepi-tepinya. Saat hujan deras, suara tetesan air di atap seng begitu kerasnya
sehingga Bu Ratih harus berteriak-teriak agar suaranya terdengar. Tapi bagi
anak-anak, itu justru seru. Mereka bisa sambil mendengarkan simfoni alam sambil
belajar.
Papan tulis di setiap kelas adalah papan tulis kapur
sejati—hitam, agak mengkilap karena puluhan tahun penggunaan, dan di pojok
kanan bawahnya selalu ada tumpukan debu kapur yang beterbangan setiap kali Bu
Ratih menulis. Kadang-kadang, kalau angin bertiup kencang masuk melalui jendela
yang tidak bisa ditutup rapat, debu kapur itu akan beterbangan ke mana-mana,
mengenai wajah anak-anak yang duduk di depan.
Di kelas 1, hari pertama itu terasa menegangkan bagi Amat.
Ia duduk di bangku paling belakang, pojok dekat jendela. Pilihannya itu
strategis: dari sana ia bisa melihat keluar jika bosan, tapi juga bisa melihat
seluruh aktivitas di dalam kelas. Seragamnya yang kependekan dan lengan
tergulung membuatnya sedikit minder, apalagi ketika beberapa anak lain
memandanginya dengan tatapan aneh.
Di bangku depan, duduk seorang anak perempuan dengan rambut
dikepang dua rapi, dihiasi pita merah muda. Bajunya bersih, putihnya
benar-benar putih, tidak kusam seperti punya Amat. Sepatunya juga baru—sepatu
hitam mengkilat dengan tali putih bersih. Anak itu adalah Siti Mawar, putri
dari Pak Harun, pemilik penggilingan padi kecil di ujung desa, dan Bu Lilis,
guru mengaji di surau. Siti Mawar adalah tipe anak yang langsung menarik
perhatian semua orang—termasuk Amat.
Bu Ratih, wali kelas mereka, adalah seorang guru paruh baya
dengan rambut disanggul rapat. Beliau terkenal disiplin, tapi juga penyayang.
Kacamata tebalnya selalu berada di ujung hidung, siap melorot kapan saja.
Beliau mulai pelajaran dengan memperkenalkan diri, lalu meminta setiap anak
memperkenalkan diri secara bergiliran.
Satu per satu anak berdiri, menyebutkan nama, alamat, dan
cita-cita. Ada yang bercita-cita jadi dokter, jadi polisi, jadi guru. Ketika
sampai giliran Siti Mawar, ia berdiri dengan anggun.
"Nama saya Siti Mawar. Rumah saya di belakang pasar.
Cita-cita saya jadi dokter," katanya lantang dan jelas.
Semua anak bertepuk tangan. Amat ikut bertepuk, tapi
matanya terus tertuju pada Siti Mawar. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari
gadis itu—sesuatu yang membuat dadanya berdebar aneh.
"Giliran kamu, Nak!" suara Bu Ratih menyadarkan
Amat.
Amat tersentak. Ia berdiri terlalu cepat, hampir
menjatuhkan bangkunya. Beberapa anak tertawa. Wajahnya memerah.
"Nama saya Ahmad Syaifullah, biasa dipanggil Amat.
Rumah saya di gang belakang balai desa. Cita-cita saya... saya..." Amat
ragu.
"Ya, cita-citamu apa?" Bu Ratih mendorong.
Amat menelan ludah. Ia teringat obrolan dengan ibunya,
dengan ayahnya, dengan Serena. Ia teringat radio Pak Darno yang dibongkarnya,
televisi di balai desa, dan rasa penasarannya yang tak pernah padam.
"Saya... saya mau jadi orang yang tahu banyak hal.
Yang bisa bikin desa ini dikenal orang," jawab Amat setengah berbisik.
Kelas hening beberapa detik. Lalu seorang anak laki-laki
dari bangku depan—Anto Saputra, anak pak RT—tertawa keras.
"Hahaha, cita-cita aneh! Desa dikenal orang buat apa?
Emang desa kita mau jadi kota?"
Beberapa anak ikut tertawa. Amat menunduk, malu.
"DIAM SEMUANYA!" suara Bu Ratih menghentikan
tawa. "Tidak boleh menertawakan cita-cita orang. Cita-cita Amat itu bagus.
Setiap orang berhak bermimpi. Duduk, Amat."
Amat duduk dengan wajah masih merah. Ia menatap punggung
Siti Mawar di depannya. Tiba-tiba, gadis itu menoleh sedikit, dan berbisik
pelan, "Aku suka cita-citamu."
Hanya itu. Tiga kata. Tapi bagi Amat, rasanya seperti
mendapat hadiah.
Suatu hari, saat pelajaran matematika, Bu Ratih menuliskan
soal di papan tulis.
"Anak-anak, Ibu punya soal. Dengar baik-baik ya. Ibu
punya 500 butir permen. Lalu Ibu ingin membagikannya kepada 4 orang anak sama
rata. Berapa permen yang diterima setiap anak?"
Kelas hening. Beberapa anak mulai menghitung dengan jari.
Didit sibuk menggerak-gerakkan jari di bawah meja, bibirnya komat-kamit. Eko
mengerutkan dahi, matanya menerawang ke langit-langit kelas yang bocor.
Siti Mawar mengangkat tangan dengan percaya diri.
"Iya, Siti Mawar, silakan."
"Seratus Dua Puluh Lima, Bu."
Bu Ratih tersenyum. "Bagus sekali, Siti Mawar. Bisa
jelaskan caranya?"
"Saya kalikan 125 dengan 4, Bu. Hasilnya 500."
"Tepat sekali. Anak-anak, kalau kalian punya 125
dikali 4, hasilnya memang 500. Pinter, Siti Mawar."
Amat yang duduk di belakang Siti Mawar, terpesona. Ia tidak
bisa melihat wajah Siti Mawar, tapi bayangan gadis itu menghitung dengan cepat
terus terbayang di benaknya. Ia mencatat jawaban itu di buku tulis bekasnya,
menulis dengan pensil pendeknya yang hampir habis.
Didit yang duduk di samping Amat, menyenggol lengannya.
"Mat, kamu lihat Siti Mawar terus. Nanti jatuh cinta,
loh."
Amat mendengus, tapi wajahnya memerah sampai ke telinga.
"Siapa yang jatuh cinta? Aku cuma... kagum."
"Kagum? Bedanya tipis sama jatuh cinta," goda
Didit dengan senyum nakal.
"Eh, Didit, kamu jangan sembarangan. Nanti Amat
nangis," timpal Eko dari belakang.
"Kalau aku sih lihat Siti Mawar emang cantik. Tapi
nggak mungkin, lah. Anak orang kaya, punya penggilingan padi," kata Iwan
dari pojok.
Amat menunduk. Ia tahu teman-temannya bercanda, tapi ada
sedikit rasa sakit di dadanya. Mereka benar. Siti Mawar dari keluarga mampu.
Sementara ia? Anak buruh karet dengan sepatu bolong. Mustahil.
Bu Ratih yang melihat anak-anaknya mulai ramai, menepuk
meja. "Eh, jangan pada ngobrol. Sekarang kerjakan soal latihan halaman 10.
Kalau sudah selesai, kumpulkan ke meja Ibu."
Anak-anak sibuk membuka buku. Amat membuka bukunya yang
bekas, lalu mulai menulis. Tapi pikirannya melayang. Ia menulis jawaban untuk
soal pertama, lalu berhenti. Matanya kembali menatap punggung Siti Mawar.
Tiba-tiba, Siti Mawar menoleh. Pandangan mereka bertemu.
Amat panik, buru-buru berpaling, pura-pura sibuk dengan bukunya. Tapi
terlambat. Siti Mawar sudah melihatnya.
"Kenapa, Amat?" tanya Siti Mawar pelan.
"Nggak... nggak apa-apa. Aku cuma..." Amat gagap.
"Kamu lihat aku?"
"Nggak! Masa' sih. Aku lihat... lihat jendela."
Siti Mawar tersenyum. "Jendela di belakangku?"
"Eh... iya. Tadi ada burung."
"Oh."
Siti Mawar kembali menghadap ke depan. Amat menghela napas
lega, tapi di saat yang sama hatinya berdebar kencang. Didit yang melihat
kejadian itu, menyenggol lagi.
"Mat, ketahuan, ya. Malu-maluin."
"DIAM, Dit! Nanti aku lapor Bu Ratih kalau kamu
ngobrol terus."
"Ya ampun, lapor-lapor. Bapaknya aja mandor, kok
anaknya tukang lapor," ledek Didit.
"Eh, kamu jangan bawa-bawa bapak!" Amat mulai
sewot.
"Udah, udah," Eko melerai. "Nanti Bu Ratih
dengar, kalian berdua yang kena."
Amat dan Didit saling melotot, lalu akhirnya tertawa kecil.
Mereka kembali mengerjakan soal matematika, sesekali saling bertanya jika ada
yang tidak paham.
Istirahat tiba. Kantin sekolah sebenarnya bukan kantin,
melainkan sebuah warung kecil milik Bu Kasni yang buka di emperan kelas 2. Bu
Kasni menjual berbagai macam jajanan sederhana: lilin-lilin an (es lilin),
permen, kerupuk, kadang-kadang gorengan kalau lagi ada rezeki.
Amat, Eko, Didit, dan Iwan duduk di bawah pohon mangga di
halaman sekolah. Mereka tidak punya uang untuk jajan, jadi hanya duduk-duduk
sambil melihat teman-teman lain yang antre di warung Bu Kasni.
"Enak ya jadi orang kaya, bisa jajan tiap hari,"
keluh Didit sambil melihat Anto yang sedang asyik menjilati es lilin.
"Kita juga bisa jajan, kok. Tapi seminggu
sekali," sahut Iwan.
"Itu pun kalau ada uang," timpal Eko.
Amat diam saja. Ia mengeluarkan bekal dari tasnya: dua
potong singkong rebus bungkus daun pisang. Bekal dari ibunya.
"Makan, yuk. Ini singkong rebus buatan ibuku,"
ajak Amat.
"Wah, singkong! Enak, tuh," Eko langsung
mengambil satu.
"Mau, mau!" Didit juga ikut.
Iwan mengeluarkan bekalnya: nasi dengan lauk tempe goreng.
"Nah, ini aku bawa nasi. Makan bareng, yuk."
Mereka berempat duduk melingkar, berbagi makanan. Singkong
rebus Amat, nasi dan tempe Iwan. Sederhana, tapi terasa mewah karena dimakan
bersama.
"Mat, ibumu jago bikin singkong. Enak banget,"
puji Eko dengan mulut penuh.
"Iya, ibuku kalau masak emang enak. Tapi ya itu,
lauknya itu-itu aja," jawab Amat.
"Nggak apa-apa. Daripada lauk mewah tapi kita nggak
makan bareng," kata Iwan filosofis.
Tiba-tiba, Siti Mawar lewat bersama dua teman perempuannya,
Yuni dan Lulu. Mereka membawa jajanan dari warung Bu Kasni: es lilin, kerupuk,
dan permen. Siti Mawar melihat Amat dan kawan-kawannya yang sedang duduk
melingkar.
"Amat, lagi pada ngapain?" tanya Siti Mawar.
"Lagi... lagi makan," jawab Amat canggung.
"Makan apa?"
"Singkong."
"Oh. Enak?"
"Iya, ini buatan ibuku. Mau?" tawar Amat tanpa
berpikir.
Begitu kata-kata itu keluar, Amat langsung menyesal. Ia
hanya punya dua potong singkong, dan itu sudah hampir habis dimakan berempat.
Mana mungkin ia menawari Siti Mawar?
Tapi Siti Mawar tersenyum. "Makasih, nanti aja. Aku
masih pegang es lilin."
Amat lega, tapi juga sedikit kecewa. Ia ingin Siti Mawar
mencoba singkong buatan ibunya. Ia yakin Siti Mawar akan suka.
"Mat, tuh pacarmu datang," bisik Didit usil.
"Sstt, jangan keras-keras!" Amat menjewer lengan
Didit.
Siti Mawar yang mendengar bisikan itu, tersenyum lalu pergi
bersama teman-temannya. Amat menatap kepergiannya.
"Kok lihatnya kayak orang kesurupan, sih," ledek
Eko.
Amat mendengus, lalu mencomot sisa singkong yang masih ada.
Waktu berlalu seperti air mengalir di sungai setelah hujan.
Cepat, tanpa terasa, dan meninggalkan jejak-jejak yang kadang sulit dilacak.
SD Desa Awan Biru telah meluluskan Amat dan teman-temannya
enam tahun lalu. Kini mereka semua telah berusia 12 tahun, dan harus
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi: Sekolah Menengah Pertama.
Masalahnya, di Desa Awan Biru tidak ada SMP. SMP terdekat berada di kecamatan,
berjarak sekitar enam kilometer dari desa.
Enam tahun di SD telah mengubah banyak hal. Amat yang dulu
kecil mungil, kini tumbuh menjadi remaja dengan badan mulai berisi, meski tetap
ramping. Rambut ikalnya yang kemerahan masih sama, tapi matanya kini lebih
tajam, lebih penuh perhitungan. Bukan mata seorang anak kecil lagi, tapi mata
seseorang yang mulai mengerti bahwa hidup ini keras dan butuh perjuangan.
Siti Mawar? Ia tetap jadi primadona sekolah. Kecantikannya
semakin terlihat, prestasinya juga tak pernah turun. Setiap tahun ia selalu
juara kelas. Wajar kalau kemudian ia jadi incaran banyak guru untuk mewakili
lomba-lomba akademik.
Hubungan Amat dengan Siti Mawar selama enam tahun SD? Biasa
saja. Mereka pernah satu kelas selama tiga tahun, lalu pisah kelas di
tahun-tahun berikutnya. Amat hanya bisa melihat Siti Mawar dari kejauhan,
sesekali berpapasan di koridor, kadang bertukar sapa. Tidak lebih. Amat terlalu
malu untuk mendekat, terlalu sadar diri dengan latar belakangnya.
Tapi perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya
terpendam, seperti umbi yang menunggu waktu untuk tumbuh.
Sementara itu, Eko, Didit, Iwan, dan teman-teman lain tetap
menjadi sahabat karib Amat. Mereka selalu bersama, melewati suka duka masa
kecil. Mereka juga sama-sama akan melanjutkan ke SMP yang sama.
Keluarga Amat? Wiryono masih menjadi buruh sadap karet
dengan upah yang tak kunjung naik. Marni masih berjualan sayur keliling, kadang-kadang
membawa tempe dan tahu buatannya sendiri untuk dijual. Hidup mereka masih
sederhana, bahkan mungkin lebih sulit karena kebutuhan Amat sebagai remaja
mulai bertambah.
Tapi ada satu hal yang berubah. Di balai desa, sudah ada
satu unit komputer—hibah dari pemerintah kabupaten. Komputer itu ditempatkan di
ruang khusus, dijaga oleh Pak Lurah sendiri. Warga boleh menggunakan, tapi
dengan pengawasan. Amat sering mengintip dari jendela, melihat kotak ajaib itu
dengan rasa penasaran yang membara.
Suatu sore, ia memberanikan diri bertanya pada Pak Lurah.
"Pak, komputer itu buat apa saja?"
Pak Lurah, yang sedang sibuk dengan berkas-berkas, menatap
Amat. "Ini buat administrasi desa, Nak. Buat ngetik surat, buat data
penduduk. Kamu mau belajar?"
"Mau, Pak! Boleh?"
"Boleh, tapi nanti aja kalau lagi lowong. Awas jangan
sampai rusak."
Sejak itu, Amat sering mampir ke balai desa, belajar
mengetik dan mengoperasikan program-program sederhana dari Pak Lurah. Meski
komputer itu hanya punya program seadanya dan sering error, Amat tetap
antusias.
Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik. Kabut masih setia
menyelimuti Desa Awan Biru. Amat, Eko, Didit, dan Iwan sudah bersiap di pinggir
jalan utama. Mereka akan berjalan kaki ke kecamatan untuk mendaftar ulang SMP.
Ini pertama kalinya mereka akan menempuh jarak sejauh itu sendirian.
"Ko, kamu bawa bekal?" tanya Amat pada Eko.
Eko mengangkat tasnya yang sudah kusam. "Bawa. Nasi
sama telur asin punya ibuku."
"Wah, mewah. Aku cuma bawa singkong," kata Amat
sambil tertawa.
"Aku bawa air putih aja. Udah cukup," timpal
Iwan.
Didit hanya cengar-cengir. "Aku bawa uang jajan. Dua
ribu."
"Wah, kamu orang kaya, Dit!" ledek Eko.
"Bukan kaya, ditabung dari uang jajan SD. Lumayan buat
beli es," jawab Didit bangga.
Mereka mulai berjalan. Jalan tanah merah yang dilalui
adalah jalan yang sama yang dulu mereka lalui saat SD, tapi kali ini tujuannya
lebih jauh. Mereka melewati kebun karet yang daunnya mulai menguning, melewati
hamparan sawit yang menjulang tinggi, melewati sungai kecil yang airnya
mengalir tenang.
Sesekali mereka bertemu warga yang naik sepeda ontel atau
motor bebek. Beberapa berhenti, menawari mereka tumpangan.
"Mau numpang, Nak?" tanya seorang bapak paruh
baya yang naik motor butut.
"Terima kasih, Pak. Kami jalan aja biar sehat,"
jawab Iwan sopan.
Setelah bapak itu pergi, Didit berkomentar,
"Sebenarnya mau, sih. Tapi motornya cuma muat satu."
"Makanya jangan berharap," sahut Eko.
Mereka terus berjalan. Setengah jam pertama masih terasa
ringan. Mereka bercerita tentang guru-guru SD, tentang kenangan masa lalu,
tentang hal-hal lucu yang terjadi.
"Kalian ingat waktu Amat salah klik di warnet?"
tiba-tiba Didit membuka topik lama.
Eko terkekeh. "Warnet? Di kecamatan itu? Sampai
sekarang masih ada, kan?"
"Iya, masih. Warnet Maju Jaya. Punya Bang Rudi,"
jawab Iwan yang paling tahu soal kecamatan karena sering ikut ayahnya.
Amat tersenyum malu. "Jangan diingat-ingat, dong. Masa
lalu."
"Tapi itu seru, Mat. Pertama kali kamu pegang komputer
langsung matiin server. Hebat, kamu," ledek Eko.
"Bukan sengaja. Aku kan nggak tahu. Waktu itu aku cuma
klik gambar huruf E, tahu-tahu semua layar mati. Bang Rudi marah-marah,"
kenang Amat.
"Abis itu gimana?" tanya Didit.
"Ya aku diusir. Tapi besoknya aku balik lagi. Nggak
boleh pegang komputer, cuma lihat dari belakang. Tapi Bang Rudi kasihan,
akhirnya diajarin dikit-dikit," jawab Amat.
"Kamu keterusan belajar komputer, Mat?" tanya
Iwan serius.
"Iya. Aku suka. Soalnya di komputer itu banyak banget
informasi. Kayak jendela ke dunia luar. Bisa lihat berita, lihat gambar-gambar
dari luar negeri. Pokoknya keren banget," mata Amat berbinar-binar saat
bicara.
Eko menggeleng. "Kalau aku sih nggak ngerti. Buat apa
lihat gambar dari luar negeri? Mending main bola."
"Main bola emang seru, Ko. Tapi komputer itu beda. Di
komputer, kita bisa tahu apa yang terjadi di tempat lain tanpa harus ke sana.
Kita bisa belajar banyak hal," jelas Amat.
"Terus, komputer bisa bantu kita apa? Bisa bikin kita
kaya?" tanya Didit skeptis.
"Bisa, Dit. Zaman sekarang, orang yang bisa komputer
bisa kerja di kantor, jadi programmer, jadi desainer. Gajinya gede," kata
Iwan, yang memang paling banyak tahu soal dunia luar dari cerita ayahnya.
"Bener, Iwan. Makanya aku mau belajar terus. Siapa
tahu suatu hari desa kita bisa punya komputer sendiri," ucap Amat penuh
semangat.
"Mimpi," kata Didit singkat.
"Mimpi itu gratis, Dit. Nggak bayar," jawab Amat.
Mereka tertawa bersama. Satu jam perjalanan terasa ringan
dengan obrolan-obrolan seperti itu.
Setelah dua jam berjalan kaki, mereka akhirnya sampai di
kecamatan. Kecamatan itu kecil, hanya terdiri dari satu pasar tradisional, satu
kantor pos, satu puskesmas, beberapa toko kelontong, dan yang paling mencolok:
sebuah bangunan kecil dengan papan bertuliskan WARNET MAJU JAYA dalam
huruf-huruf merah menyala.
Bagi Amat, bangunan itu seperti magnet. Setiap kali ke
kecamatan, ia selalu meluangkan waktu untuk sekadar melihat dari luar.
Kadang-kadang, kalau ada uang sisa dari jajan, ia masuk selama satu jam. Satu
jam untuk menjelajah dunia maya dengan koneksi internet lemot yang kadang putus
nyambung.
"Mat, lihat, tuh. Warnet langgananmu," kata Eko
sambil menunjuk.
Amat tersenyum. "Mau mampir sebentar? Cuma
lihat-lihat."
"Mending kita urus pendaftaran dulu, Mat. Nanti sore
baru main lagi," usul Iwan bijak.
"Iya, bener. Ntar keburu tutup pendaftaran,"
timpal Didit.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju SMP Negeri 1
Kecamatan. Sekolah itu jauh lebih besar dari SD mereka. Gedungnya bertingkat
dua, halamannya luas, dan di depannya ada gapura besar. Mereka masuk ke ruang
pendaftaran, mengisi formulir, menyerahkan berkas-berkas yang sudah disiapkan
orang tua masing-masing.
Prosesnya lancar. Dalam satu jam, semua urusan selesai.
"Nah, sekarang kita punya waktu luang. Mau ke
mana?" tanya Iwan.
"Warnet! Warnet!" seru Amat semangat.
"Mat, kamu ini. Baru selesai urus sekolah, udah
kepikiran warnet," ledek Eko.
"Ayo, lah. Sekali-sekali. Aku yang traktir,"
tawar Amat.
"Kamu? Traktir? Pake uang apa?" Didit curiga.
Amat mengeluarkan uang dari sakunya. "Aku nabung dari
jajan. Ada lima ribu. Buat kita berempat masuk satu jam. Lumayan, kan."
"Wah, Mat, kamu baik banget," puji Iwan.
"Ayo, ayo!" Eko langsung setuju.
Mereka berempat menuju Warnet Maju Jaya. Begitu masuk,
suasana khas warnet langsung menyambut: suara berisik kipas CPU, monitor-monitor
yang menyala terang, dan bau khas campuran debu, rokok, dan minuman kemasan.
Di meja kasir, duduk Bang Rudi—pemilik warnet—dengan kumis
tebal khasnya. Wajahnya yang bulat dan berkacamata tebal itu langsung mengenali
Amat.
"Wah, Amat! Kamu lagi, Nak. Mau matiin server
lagi?" sapa Bang Rudi sambil tertawa.
Amat tersipu. "Nggak, Bang. Aku udah jago sekarang.
Ini mau main sama teman-teman."
"Baguslah. Silakan, pilih komputer yang mana. Satu jam
lima ribu. Kalau matiin server, dendanya sepuluh ribu," goda Bang Rudi.
Mereka memilih komputer di pojok ruangan, berjejer empat.
Amat duduk di depan komputer dengan perasaan campur aduk—deg-degan, senang,
penasaran. Tangan kanannya memegang mouse, tangan kirinya siap menari di atas
keyboard.
"Mat, ini gimana caranya?" tanya Eko bingung
melihat layar desktop yang penuh ikon.
"Kamu mau main game apa browsing?" tanya Amat.
"Game apa?"
"Ada game, kok. Yang gampang main catur, atau main
mobil-mobilan."
"Main mobil-mobilan aja, ah," pilih Eko.
Amat membantu Eko membuka game. Lalu ia beralih ke komputer
Didit dan Iwan, memastikan mereka semua bisa mengoperasikan komputer dengan
benar.
"Kamu sendiri mau ngapain, Mat?" tanya Iwan.
"Aku mau browsing. Mau cari tahu tentang desa
digital."
"Desa digital? Apa lagi itu?" tanya Didit heran.
"Itu... desa yang semua administrasinya pake komputer.
Kayak surat-menyurat, data penduduk, semuanya disimpan di komputer. Bahkan
katanya, desa bisa punya website sendiri. Jadi orang luar bisa lihat desa kita
lewat internet," jelas Amat.
Eko, Didit, dan Iwan saling pandang. Mereka tidak mengerti
apa yang Amat katakan, tapi mereka melihat semangat yang luar biasa dari mata
sahabatnya itu.
"Oke, Mat. Kamu belajar yang bener. Nanti kalau udah
jago, ajari kami," kata Iwan.
Amat tersenyum lebar. Ia mulai mengetik di mesin pencari:
"cara membuat website desa", "desa digital Indonesia",
"pemerintah desa online". Satu per satu artikel ia baca, meski banyak
istilah asing yang belum ia pahami. Tapi ia terus membaca, terus mencerna,
seperti spons yang menyerap air.
Waktu satu jam terasa sangat cepat. Belum puas browsing,
timer sudah berbunyi.
"Waktunya habis, Mat," teriak Bang Rudi dari meja
kasir.
Amat menghela napas. Ia menutup browser, menyelesaikan
sesi. Tapi di kepalanya, ribuan ide sudah mulai bersemi.
"Besok kita balik lagi, yuk," ajaknya.
"Wah, Mat, kamu ini. Nanti uang jajanmu habis buat
warnet terus," kata Eko.
"Biarin. Ini investasi masa depan," jawab Amat
yakin.
Mereka keluar dari warnet, meninggalkan bangunan kecil itu.
Tapi bagi Amat, warnet itu bukan sekadar tempat main game. Itu adalah pintu
gerbang menuju masa depan.
Tiga tahun di SMP berjalan dengan ritme yang sama setiap
harinya. Pagi-pagi mereka berjalan kaki enam kilometer ke sekolah. Pulang
sekolah, mereka jalan kaki lagi ke desa. Malam hari, mereka belajar seadanya di
bawah lampu teplok. Dan di sela-sela semua itu, Amat selalu menyempatkan diri
ke warnet—minimal sebulan sekali, kalau ada uang.
Di sekolah, Amat dikenal sebagai siswa biasa saja. Nilainya
tidak jelek, tapi juga tidak luar biasa. Ia ranking 10 besar dari 30 siswa di
kelasnya. Cukup untuk naik kelas, tapi tidak cukup untuk membuat guru-guru
terpesona.
Tapi ada satu hal yang membedakan Amat dari siswa lain:
rasa ingin tahunya yang luar biasa. Setiap kali ada pelajaran yang berkaitan
dengan teknologi, informasi, atau komputer, Amat akan duduk di barisan paling
depan dan bertanya terus sampai gurunya kehabisan jawaban.
Pak Arif, guru IPS mereka yang juga merangkap wali kelas,
adalah orang yang paling sering menjadi korban pertanyaan Amat. Tapi Pak Arif
tidak pernah marah. Justru ia kagum.
"Amat ini beda," katanya suatu hari pada
guru-guru lain di ruang guru. "Anak itu punya rasa ingin tahu yang besar.
Kalau diarahkan dengan benar, bisa jadi orang hebat."
Tapi tidak semua guru sependapat. Bu Siti, guru matematika
yang terkenal killer, justru sering kesal dengan Amat.
"Amat, kamu ini. Kalau ulangan matematika nilainya
cuma cukup, tapi kalau tanya soal komputer mulu. Fokus dong, Nak. Matematika
itu penting."
"Tapi Bu, saya pikir matematika juga penting buat
komputer. Soalnya komputer itu paka—"
"Jangan membantah! Kerjakan PR-mu dulu yang
bener!" potong Bu Siti.
Amat hanya bisa menghela napas. Ia mengerti, Bu Siti
bermaksud baik. Tapi ia juga yakin, jalannya adalah dengan teknologi. Tidak ada
yang bisa mengubah keyakinannya itu.
Perpustakaan SMP Negeri 1 Kecamatan kecil dan koleksinya
terbatas. Tapi di sana ada satu rak khusus berisi majalah-majalah bekas
sumbangan dari kota. Majalah-majalah itu sudah usang, beberapa halamannya sobek,
tapi bagi Amat, itu adalah harta karun.
Suatu sore, saat menunggu teman-temannya selesai les
tambahan, Amat duduk di sudut perpustakaan membaca majalah teknologi edisi dua
tahun lalu. Sampulnya bergambar komputer tercanggih saat itu. Ia asyik membaca
sampai tidak sadar seseorang duduk di sampingnya.
"Amat, kamu masih di sini?"
Amat menoleh. Jantungnya hampir berhenti. Di sampingnya
duduk Siti Mawar, dengan seragam pramuka yang masih rapi. Rambutnya yang
dikepang dua kini berganti model ekor kuda yang membuatnya terlihat lebih
dewasa.
"Si... Siti? Kamu juga di sini?" Amat gagap.
"Iya, aku lagi cari buku biologi. Ada tugas dari Bu
Dewi." Siti Mawar tersenyum. Tersenyum manis, seperti biasa. "Kamu
baca apa?"
"Aku... aku baca majalah komputer. Lagi cari tahu soal...
soal teknologi."
Siti Mawar mendekat, ikut melihat majalah di tangan Amat.
"Wah, keren, ya. Sekarang komputer makin canggih. Dulu pas SD aku pernah
lihat komputer di kantor pos. Besar banget, monitornya kayak TV tabung."
"Kalau sekarang monitor udah tipis, pake LCD.
Gambarnya lebih jelas," jelas Amat, bersemangat.
"Oh, gitu. Kamu tahu banyak, ya, soal komputer."
Amat tersipu. "Tau dikit. Suka baca-baca aja."
Siti Mawar mengangguk. "Bagus, dong. Banyak baca itu
bikin pinter."
Mereka diam beberapa saat. Amat ingin mengatakan sesuatu,
tapi kata-katanya macet di tenggorokan. Siti Mawar yang lebih dulu memecah
keheningan.
"Amat, aku dengar kamu sering ke warnet?"
Amat kaget. "I... iya. Tapi buat belajar, kok. Bukan
main game mulu."
"Aku tahu. Kamu itu beda. Anak desa pada umumnya main
ke warnet buat game. Kamu buat baca-baca."
Amat tersenyum. Rasanya senang sekali ada yang memahami.
"Siti, kamu nggak pernah ke warnet?"
"Jarang. Orang tuaku nggak ngizinin. Takut salah
pergaulan, katanya. Tapi kalau ada tugas, kadang aku pinjam laptop punya
tetangga."
"Oh... gitu."
Hening lagi. Amat memberanikan diri.
"Siti... aku... aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Aku dengar... kamu mau lanjut SMA di kota? Di
kabupaten?"
Siti Mawar mengangguk. "Iya. Orang tuaku mau aku sekolah
di SMA favorit di sana. Biar nanti bisa kuliah kedokteran."
"Wah... keren. Pasti kamu bisa."
"Makasih. Kamu sendiri? Lanjut SMA di mana?"
Amat menunduk. "Aku... belum tahu. Mungkin di sini, di
kecamatan. Atau... mungkin kerja dulu. Orang tuaku belum tentu sanggup biayain
SMA."
Siti Mawar terdiam. Ada rasa iba di hatinya. Tapi ia tak
ingin menampakkannya.
"Tapi kamu harus tetap sekolah, Mat. Kamu punya
potensi."
"Bakat apa, Siti? Bakat jadi anak miskin?"
Siti Mawar menatap Amat tajam. "Jangan bilang gitu.
Bakatmu itu di teknologi. Kamu bisa lebih dari sekadar anak miskin. Asal kamu
mau berusaha."
Kata-kata itu seperti cambuk. Amat tersentak. Ia menatap
Siti Mawar. Gadis itu menatapnya dengan serius, tanpa canda.
"Makasih, Siti."
"Makasih buat apa?"
"Buat... percaya sama aku."
Siti Mawar tersenyum. "Aku percaya. Dan suatu hari,
aku ingin lihat kamu sukses. Mungkin suatu hari desa kita bisa maju karena
kamu."
Kalimat itu terngiang di kepala Amat sampai berhari-hari.
Ia menulisnya di buku diary—sebuah buku tulis bekas yang ia jadikan tempat
mencatat semua mimpi dan inspirasinya.
Suatu sore, sepulang sekolah, Amat dan teman-temannya
berjalan kaki seperti biasa. Mereka sudah menempuh empat kilometer, tinggal dua
kilometer lagi menuju desa. Tiba-tiba, mereka melihat seseorang duduk di
pinggir jalan, di bawah pohon asam. Itu Siti Mawar, sendirian.
"Siti? Kamu kenapa sendirian? Biasanya kan
dijemput?" tanya Amat cemas.
Siti Mawar mengangkat wajahnya. Matanya sedikit sembab,
seperti habis menangis.
"Ayahku telat jemput. Mungkin sibuk di penggilingan.
Aku capek nunggu."
"Kamu udah nunggu dari tadi?"
"Iya, hampir satu jam."
Eko, Didit, dan Iwan saling pandang. Mereka mengerti
situasi.
"Mat, kamu anterin Siti pulang. Kita duluan, ya,"
kata Iwan bijak.
"Tapi..."
"Udah, udah. Kita buru-buru mau nonton bola di rumah
Eko," timpal Didit sambil mengedipkan mata.
Mereka bertiga pergi, meninggalkan Amat dan Siti Mawar
berdua.
"Amat, kamu nggak usah repot-repot. Nanti ayahku
datang," kata Siti Mawar.
"Tapi udah sore. Lagian dari sini ke rumahmu lumayan
jauh. Kalau kamu jalan sendirian, nggak aman," bantah Amat.
Siti Mawar terdiam. Akhirnya ia mengangguk.
"Ya udah, kita jalan bareng aja."
Mereka berjalan beriringan. Dua kilometer terasa sangat
panjang sekaligus sangat pendek. Panjang karena Amat berusaha keras mencari
topik pembicaraan. Pendek karena ia ingin perjalanan ini tidak pernah berakhir.
"Kamu kenapa nangis tadi?" tanya Amat
memberanikan diri.
Siti Mawar menghela napas. "Aku... lagi mikirin masa
depan."
"Memangnya kenapa?"
"Aku takut nggak bisa jadi dokter. Biaya kuliah
kedokteran mahal. Ayahku cuma punya penggilingan padi kecil, nggak seperti
pengusaha beneran."
Amat mengerti. Ini pertama kalinya ia melihat Siti Mawar,
si primadona sekolah, si anak orang mampu, ternyata juga punya ketakutan yang
sama seperti dirinya.
"Siti, kamu pasti bisa. Kamu pintar. Nanti dapat
beasiswa."
"Beasiswa susah, Mat. Saingannya banyak dari kota.
Mereka lebih pinter, lebih kaya, lebih siap."
"Tapi kamu punya tekad. Itu yang penting."
Siti Mawar menatap Amat. "Kamu selalu bisa bikin orang
lain semangat, ya. Padahal nasibmu juga nggak lebih enak dari aku."
Amat tersenyum getir. "Biarin. Yang penting kita
berusaha. Sisanya Tuhan yang ngatur."
Siti Mawar tersenyum. Senyum yang tulus. "Makasih, Mat."
Mereka terus berjalan. Sampai di pertigaan menuju rumah
Siti Mawar, mereka berhenti.
"Udah, sampai sini aja. Makasih udah nganterin."
"Sama-sama, Siti. Hati-hati, ya."
Siti Mawar melangkah pergi. Setelah beberapa langkah, ia
berbalik.
"Amat!"
"Apa?"
"Kamu jangan pernah berhenti bermimpi, ya. Suatu hari
desa kita masuk internet, aku pengin lihat."
Amat tersenyum lebar. "Janji."
Siti Mawar balas tersenyum, lalu berlari kecil masuk ke
gang rumahnya. Amat berdiri di tempat, menatap kepergiannya. Di dadanya, ada
perasaan yang sulit dijelaskan. Perasaan hangat, perasaan termotivasi, perasaan
yang membuatnya ingin segera ke warnet dan belajar lebih giat lagi.
SMP kelas 2, Amat mengalami insiden yang nyaris membuatnya
berhenti dari dunia komputer.
Suatu hari, saat sedang asyik browsing di warnet, ia
menemukan sebuah forum diskusi tentang pemrograman web. Ia begitu serius
membaca sampai-sampai tidak sadar waktu. Ia sudah menghabiskan tiga jam di
warnet, padahal uangnya hanya cukup untuk satu jam.
"Mat, waktunya udah habis. Ini malah nambah dua
jam," tegur Bang Rudi.
Amat tersentak. "Aduh, Bang. Maaf, lupa. Saya... saya
nggak bawa uang cukup."
Bang Rudi menghela napas. "Kamu ini. Udah tiga kali
kayak gini. Kalau begini terus, kamu aku banned dari warnet ini."
"Jangan, Bang. Saya janji nggak akan lagi. Saya lagi
belajar bikin website. Penting, Bang."
"Belajar bikin website? Buat apa?"
"Buat desa saya, Bang. Saya mau bikin website Desa
Awan Biru. Biar dikenal orang."
Bang Rudi terdiam. Ia menatap Amat. Anak ini berbeda.
Matanya serius, bukan main-main.
"Kamu serius, Mat?"
"Serius, Bang."
Bang Rudi menghela napas lagi. Kali ini lebih panjang.
"Oke. Ini utang kamu sepuluh ribu. Tapi kamu nggak
perlu bayar."
Amat bingung. "Lho, kok, Bang?"
"Saya lihat kamu serius. Daripada kamu diusir, mending
saya bantu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa, Bang?"
"Kamu harus ngajarin saya juga. Saya punya warnet,
tapi saya nggak ngerti soal website. Ngajar saya, gratis, nanti kamu boleh pake
komputer di luar jam sibuk. Bayarnya... kamu bantu saya bersih-bersih warnet.
Setuju?"
Amat seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Matanya berkaca-kaca.
"Setuju, Bang! Setuju banget!"
Sejak hari itu, Amat memiliki akses ke warnet di luar jam
sibuk—biasanya pagi-pagi sebelum buka, atau malam hari setelah tutup. Ia
membantu Bang Rudi membersihkan warnet, membereskan kabel-kabel, sesekali
memperbaiki komputer yang rusak. Sebagai imbalannya, ia bisa menggunakan
komputer gratis.
Bang Rudi juga ternyata murid yang rajin. Setiap kali Amat
mengajarinya tentang HTML, CSS, atau hal-hal dasar pembuatan website, ia
menyimak dengan serius. Kadang mereka begadang sampai tengah malam, ngopi
bareng sambil ngobrol tentang teknologi.
"Mat, kamu ini hebat. Belajar otodidak dari browsing,
tapi ilmunya ngalahin lulusan kursus," puji Bang Rudi suatu malam.
"Alhamdulillah, Bang. Ini semua karena bantuan Bang
Rudi juga."
"Jangan panggil Bang Rudi terus. Panggil Rudi aja.
Kita udah kayak saudara."
Amat tersenyum. Di Bang Rudi, ia menemukan sosok kakak,
guru, sekaligus sahabat.
Di rumah, ceritanya berbeda. Wiryono dan Marni mulai
khawatir dengan aktivitas Amat yang sering pulang malam.
Suatu malam, saat Amat pulang dari warnet pukul sembilan
malam, Wiryono sudah menunggu di teras dengan wajah cemberut.
"Mat, sini. Bapak mau ngomong."
Amat mendekat dengan perasaan tidak enak.
"Kamu dari mana aja? Udah jam sembilan. Ini desa,
bukan kota. Jam segini sudah harus di rumah."
"Maaf, Pak. Tadi lagi belajar di warnet Bang Rudi.
Bapak kenal, kan? Punya warnet di kecamatan."
Wiryono menghela napas. "Amat, Bapak nggak masalah
kamu belajar. Tapi ingat, kamu masih sekolah. Jangan sampai nilai-nilaimu turun
gara-gara main komputer mulu."
"Ini bukan main, Pak. Ini belajar. Aku lagi belajar
bikin website."
"Website? Itu apa?"
Amat mencoba menjelaskan sesederhana mungkin. "Website
itu... kayak buku, tapi di komputer. Bisa diakses orang dari mana saja. Di
website, kita bisa nulis informasi tentang desa kita. Biar orang luar tahu
kalau Desa Awan Biru itu ada."
Wiryono mengerutkan dahi. "Orang luar mau tahu apa
tentang desa kita? Emang desa kita punya apa?"
"Punya banyak, Pak. Punya kebun karet, kebun sawit,
punya warga yang baik-baik, punya tradisi. Itu semua bisa diceritakan lewat
website."
Wiryono menggeleng. "Amat, Bapak ini cuma lulusan SD.
Bapak nggak ngerti soal komputer, soal internet. Yang Bapak tahu, kamu harus
sekolah yang bener, biar nanti dapat kerja yang layak. Jangan habiskan waktu
untuk hal-hal yang nggak jelas."
Amat menelan ludah. "Tapi Pak, ini nggak sia-sia.
Percaya sama Amat."
Marni yang dari dalam rumah mendengar percakapan itu,
keluar dan duduk di samping suaminya.
"Pak, mungkin Amat memang punya jalan sendiri. Ingat
waktu dia kecil, dia bongkar radio Pak Darno. Kita kira dia cuma iseng,
ternyata dia penasaran sama teknologi. Mungkin ini jalannya."
Wiryono terdiam. Ia menatap istrinya, lalu menatap anaknya.
Di mata Amat, ia melihat api yang dulu juga pernah ia miliki—api semangat untuk
mengubah nasib. Tapi api itu padam karena hidup yang keras.
"Amat," kata Wiryono akhirnya. "Bapak nggak
bisa larang kamu. Tapi ingat, prioritas utama adalah sekolah. Janji sama Bapak,
nilai-nilaimu nggak boleh turun."
"Janji, Pak."
"Dan jangan lupa sholat. Jangan sampai karena sibuk di
warnet, lupa kewajiban."
"Insyaallah, Pak. Amat ingat."
Malam itu, Amat tidur dengan perasaan lega. Orang tuanya
akhirnya mengizinkan, meski setengah hati. Ia bertekad akan membuktikan bahwa
apa yang ia lakukan tidak sia-sia.
Waktu terus berlalu. Amat kini duduk di kelas 3 SMP,
semester akhir. Sebentar lagi Ujian Nasional. Sebentar lagi kelulusan. Sebentar
lagi perpisahan.
Selama tiga tahun SMP, perasaan Amat pada Siti Mawar tak
pernah pudar. Ia mengagumi gadis itu dari jauh. Sesekali mereka ngobrol,
sesekali bertukar buku, sesekali berjalan pulang bersama kalau kebetulan. Tapi
Amat tak pernah berani menyatakan perasaannya.
Hingga suatu hari, di minggu-minggu terakhir sebelum
kelulusan, Amat memutuskan untuk memberanikan diri. Ia tidak ingin menyesal
seumur hidup.
Sore itu, sepulang sekolah, ia menunggu Siti Mawar di
gerbang. Gadis itu muncul dengan seragam putih biru yang rapi, ditemani Yuni
dan Lulu.
"Siti, boleh ngomong sebentar?" panggil Amat.
Siti Mawar menoleh. "Ada apa, Mat?"
"Sendirian aja."
Yuni dan Lulu saling pandang, lalu tersenyum-senyum. Mereka
pamit duluan.
Setelah mereka pergi, Amat dan Siti Mawar berjalan
pelan-pelan menuju arah pulang.
"Aku... aku mau ngomong sesuatu, Siti."
"Iya, Mat. Aku dengar."
Amat berdebar-debar. Kata-kata yang sudah ia susun rapi di
kepala tiba-tiba berantakan. Akhirnya ia hanya bisa berkata jujur.
"Siti... selama ini aku suka sama kamu. Dari SD. Aku
tahu aku cuma anak miskin, anak buruh karet, nggak selevel sama kamu. Tapi aku
nggak bisa bohong sama perasaanku."
Siti Mawar berhenti berjalan. Ia menatap Amat dengan
pandangan sulit diartikan. Campuran antara terharu, iba, dan mungkin sedikit
bingung.
"Mat..."
"Iya?"
"Aku tahu. Aku tahu perasaan kamu. Selama ini aku juga
lihat caramu memandangku."
Amat kaget. "Ka... kamu tahu?"
Siti Mawar tersenyum lembut. "Amat, aku ini perempuan.
Aku peka. Aku tahu kamu suka sama aku."
"Lalu... lalu gimana?"
Siti Mawar menghela napas. "Mat, kamu orang baik. Kamu
pintar, kamu punya mimpi besar. Aku suka itu. Tapi..."
Amat merasakan jantungnya berhenti. "Tapi apa?"
"Aku... aku nggak bisa memikirkan hubungan sekarang.
Orang tuaku sudah merencanakan aku untuk lanjut SMA di kota. Aku harus fokus
belajar, fokus meraih cita-cita jadi dokter. Aku nggak bisa berpaling dari
itu."
Amat menunduk. Rasanya seperti disambar petir di siang
bolong.
"Aku ngerti, Siti. Aku ngerti."
"Maaf, Mat. Bukan kamu nggak baik. Kamu baik banget.
Cuma waktunya aja yang belum tepat."
Amat mengangkat wajahnya. Ia mencoba tersenyum, meski
hatinya hancur berkeping-keping.
"Nggak apa-apa, Siti. Aku paham. Kamu harus kejar
cita-citamu. Aku juga harus kejar mimpiku."
Siti Mawar tersenyum lega. "Kamu memang dewasa,
Mat."
"Tapi aku minta satu hal, Siti."
"Apa?"
"Kalau nanti... suatu hari desa kita masuk internet,
aku ingin kamu lihat. Mungkin lewat website yang aku buat."
Siti Mawar tersenyum. "Janji."
Mereka berjalan pulang dalam diam. Di persimpangan menuju
rumah Siti Mawar, mereka berpisah.
"Amat, sukses ya. Jangan pernah berhenti
bermimpi."
"Siti, sukses juga. Semoga jadi dokter yang
baik."
Siti Mawar melangkah pergi. Amat memandanginya sampai sosok
itu hilang di balik tikungan. Air matanya akhirnya tumpah juga. Ia menangis di
pinggir jalan, sendirian. Menangis untuk cinta pertamanya yang harus berakhir
sebelum benar-benar dimulai.
Kabar penolakan Amat cepat menyebar di kalangan sahabatnya.
Eko, Didit, dan Iwan langsung mengerubungi Amat keesokan harinya.
"Mat, gue dengar lo ditolak Siti Mawar," kata
Didit dengan gaya ceplas-ceplosnya.
Amat menghela napas. "Iya, Dit. Udah, lupain
aja."
"Lupain gimana? Cinta pertama itu paling susah
dilupain, Mat," kata Eko bijak.
Iwan memukul pundak Amat. "Lo nggak usah sedih, Mat.
Masih banyak cewek lain."
"Tapi kan yang ini Siti Mawar," keluh Amat.
"Ya emang. Tapi lo harus lihat ke depan. Lo punya
mimpi besar, Mat. Jangan sampai patah hati bikin lo lupa sama mimpi lo,"
nasihat Iwan.
Amat merenung. Sahabat-sahabatnya benar. Ia tidak boleh
larut dalam kesedihan.
"Lo tahu, Mat," kata Eko tiba-tiba. "Gue
salut sama lo. Lo berani ngomong. Kalau gue, mungkin diem aja sampe
kubur."
Mereka tertawa bersama. Tawa itu sedikit mengobati luka di
hati Amat.
"Makasih, guys. Lo semua emang sahabat sejati."
"Sahabat sejati mah wajib, Mat. Udah, sekarang lo
harus fokus ujian. Nanti kalau lulus, kita rayain bareng," ajak Didit.
"Rayain pake apa? Uang kita pas-pasan," timpal
Eko.
"Rayain pake semangat! Dan singkong rebus!" seru
Iwan.
Mereka tertawa lagi. Di bawah pohon mangga di halaman
sekolah, empat sahabat itu berbagi tawa, berbagi mimpi, dan berbagi duka.
Persahabatan yang akan terus bertahan meski waktu memisahkan.
Seminggu sebelum Ujian Nasional, Pak Arif memanggil Amat ke
ruang guru.
"Amat, Ibu dengar kamu patah hati?"
Amat tersipu. "Iya, Pak. Maaf, sampai guru-guru pada
tahu."
Pak Arif tersenyum. "Bukan urusan patah hati yang Ibu
panggil. Itu urusan pribadi. Ibu mau ngomong soal masa depanmu."
"Masa depan saya?"
"Iya. Ibu lihat selama tiga tahun ini, kamu konsisten
belajar soal komputer, soal teknologi. Ibu tahu kamu sering ke warnet, sering
baca buku-buku teknologi di perpus. Itu bagus. Tapi Ibu ingin tanya, setelah
lulus nanti, kamu mau ke mana?"
Amat terdiam. Pertanyaan itu tepat mengenai sasaran.
"Saya... belum tahu, Pak. Orang tua saya belum tentu
sanggup biayain SMA."
Pak Arif mengangguk paham. "Ibu tahu. Tapi jangan
putus asa. Ada banyak jalan. Ada beasiswa, ada sekolah kejuruan yang biayanya
lebih murah, bahkan ada program-program dari pemerintah untuk anak kurang
mampu."
"Tapi saya nggak pintar, Pak. Nilai saya biasa
aja."
"Pintar itu bukan cuma nilai ujian, Amat. Kamu punya
passion, punya visi. Itu lebih berharga daripada sekadar nilai bagus di rapor.
Kamu tahu apa yang mau kamu capai. Banyak anak pintar tapi nggak punya tujuan,
akhirnya nyasar."
Amat merenung. Kata-kata Pak Arif menamparnya.
"Jadi saya harus gimana, Pak?"
"Ibu punya kenalan di kota. Dia punya yayasan yang
fokus pada pendidikan teknologi untuk anak desa. Kalau kamu serius, Ibu bisa
bantu rekomendasiin."
Mata Amat berbinar. "Bener, Pak?"
"Ibu nggak pernah bohong. Tapi syaratnya, kamu harus
lulus ujian dengan nilai yang layak. Nggak harus juara, tapi setidaknya lulus
dengan baik."
"Saya usahakan, Pak. Saya janji."
"Bagus. Sekarang fokus ujian dulu. Urusan beasiswa,
urusan nanti."
Amat keluar dari ruang guru dengan perasaan campur aduk.
Sedih karena patah hati, tapi juga bersemangat karena ada harapan baru. Ia
bertekad akan belajar mati-matian untuk ujian.
Malam-malam menjelang ujian, Amat dan ketiga sahabatnya
belajar kelompok di rumah Iwan. Rumah Iwan paling besar di antara mereka, meski
tetap sederhana. Mereka belajar di teras, diterangi lampu teplok karena listrik
sering padam.
"Mat, gue nggak ngerti rumus ini. Lu ajarin,
dong," pinta Eko sambil menunjukkan buku catatannya.
"Ini sih gampang, Ko. Lu lihat—"
Tiba-tiba lampu teplok mati. Angin bertiup cukup kencang.
"Waduh, mati!" seru Didit.
"Sabar, sabar. Nyalain lagi pake korek," kata
Iwan.
Setelah lampu menyala kembali, mereka melanjutkan belajar.
"Gue heran, Mat. Lu patah hati, tapi kok bisa belajar
dengan tenang?" tanya Didit iseng.
Amat tersenyum. "Justru dengan belajar, gue lupa sama
patah hati. Daripada mikirin Siti Mawar, mending mikirin rumus
matematika."
"Wah, lu sudah move on, Mat," puji Eko.
"Belum sih. Tapi gue coba alihkan."
Iwan yang paling dewasa di antara mereka, ikut berkomentar.
"Lo tahu, Mat, kadang cinta itu memang nggak berjalan sesuai rencana. Tapi
mungkin ini yang terbaik buat lo. Lo jadi fokus sama masa depan."
"Iya, gue juga mikir gitu. Siapa tahu nanti di
perjalanan, gue ketemu yang lebih cocok."
"Masa' sih ada yang lebih cocok dari Siti Mawar?"
tanya Didit skeptis.
"Banyak, Dit. Dunia ini luas," jawab Amat
filosofis.
Mereka belajar sampai larut malam. Sesekali tertawa,
sesekali mengeluh soal soal sulit. Tapi kebersamaan itu membuat beban terasa
ringan. Ujian Nasional tinggal beberapa hari lagi.
Ujian Nasional berlangsung selama seminggu. Amat
menjalaninya dengan perasaan campur aduk. Ada tegang, ada deg-degan, tapi juga
ada semangat. Setiap selesai ujian, ia langsung ke warnet Bang Rudi untuk
refreshing—bukan main game, tapi membaca artikel-artikel motivasi.
Bang Rudi selalu menyambutnya dengan senyum.
"Gimana, Mat? Ujiannya lancar?"
"Alhamdulillah, Bang. Tadi matematika lumayan susah,
tapi gue usahain."
"Kamu pasti bisa. Gue yakin."
Hari terakhir ujian, Amat pulang dengan perasaan lega. Tapi
di perjalanan, ia bertemu sesuatu yang tak terduga. Siti Mawar berdiri di
pinggir jalan, sendirian, seperti dulu.
"Siti? Kamu kenapa?"
Siti Mawar tersenyum. "Nunggu kamu."
Amat kaget. "Nunggu aku? Buat apa?"
"Buat ngasih ini."
Siti Mawar mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Buku tebal
bersampul gambar bola dunia.
"Ini buku tentang teknologi dunia. Aku beli di toko
buku pas ke kota minggu lalu. Buat kamu."
Amat menerima buku itu dengan tangan gemetar. "Bu...
buat aku?"
"Iya. Sebagai kenang-kenangan. Kamu kan suka
teknologi. Semoga buku ini bermanfaat."
Amat tak bisa berkata-kata. Dadanya menghangat.
"Makasih, Siti. Makasih banyak."
"Kamu jangan sedih terus, ya. Aku tahu kamu pasti bisa
sukses. Aku akan lihat dari jauh."
"Siti... aku..."
"Sst. Nggak usah ngomong apa-apa. Ini bukan tanda
apa-apa. Hanya tanda... persahabatan. Kita tetap berteman, kan?"
Amat mengangguk. "Iya. Kita tetap berteman."
Siti Mawar tersenyum. "Aku duluan, ya. Ayahku udah
nunggu di ujung sana."
Ia berlari kecil meninggalkan Amat yang masih terpaku
dengan buku di tangan. Amat membuka halaman pertama. Di sana, ada tulisan
tangan Siti Mawar:
"Untuk Amat, anak desa dengan mimpi sebesar langit.
Jangan pernah berhenti. - Siti Mawar"
Amat tersenyum. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan
air mata sedih. Ini air mata haru.
Pengumuman kelulusan tiba. Amat lulus dengan nilai
memuaskan—tidak juara, tapi cukup untuk membuat orang tuanya bangga. Wiryono
dan Marni datang ke sekolah untuk pertama kalinya, melihat anak mereka menerima
ijazah.
"Selamat, Le," bisik Marni sambil memeluk Amat
erat.
Wiryono hanya menepuk pundak anaknya, tapi matanya basah.
Hari kelulusan juga hari perpisahan. Siti Mawar akan segera
pindah ke kota untuk melanjutkan SMA. Eko akan membantu ayahnya di kebun,
sambil sesekali kerja serabutan. Didit akan ikut pamannya berjualan di pasar.
Iwan akan ikut ayahnya jadi sopir truk. Masing-masing punya jalan sendiri.
Di bawah pohon mangga tempat mereka biasa berkumpul, Amat
berkumpul dengan sahabat-sahabatnya untuk terakhir kalinya dalam suasana
lengkap.
"Jadi, Mat, lo beneran mau lanjut sekolah?" tanya
Eko.
"Iya. Pak Arif bantu cari beasiswa. Doain aja."
"Pasti dapet, Mat. Lo kan anak pinter," ucap
Didit.
"Gue bukan pinter. Gue cuma... nggak mau
menyerah."
Iwan merangkul Amat. "Lo harus sukses, Mat. Buktikan
kalau anak desa juga bisa. Nanti kalau lo udah jadi orang sukses, jangan lupa
sama kita."
"Lo semua sahabat gue. Nggak akan pernah lupa."
Mereka berpelukan. Persahabatan empat anak desa yang tumbuh
bersama dalam suka dan duka. Kini waktu memisahkan, tapi kenangan akan tetap
ada.
Sore itu, sebelum pulang, Amat mampir ke warnet Bang Rudi
untuk pamit.
"Bang, saya mau pamit. Besok saya nggak tahu kapan
bisa ke warnet lagi."
Bang Rudi tersenyum. "Lo mau ke mana, Mat?"
"Saya mau cari beasiswa. Mau lanjut sekolah."
"Bagus. Itu yang gue tunggu-tunggu dari lo. Jangan
nyerah, Mat. Dunia butuh orang kayak lo."
"Makasih, Bang. Makasih buat semuanya."
"Jangan lupa, kalau udah jadi orang sukses, warnet gue
ini harus lo renovasi, ya. Biar jadi warnet modern."
Amat tertawa. "Siap, Bang. Itu janji."
Mereka berjabat tangan. Amat melangkah keluar dari warnet
untuk terakhir kalinya sebagai anak SMP.
Malam itu, Amat duduk di beranda rumahnya. Langit cerah,
bintang-bintang bertaburan. Di tangannya, buku pemberian Siti Mawar terbuka di
halaman tentang internet dan masa depan digital.
Ia memandangi desanya yang sepi. Rumah-rumah papan gelap
gulita. Hanya beberapa titik lampu minyak yang berkelip. Jalan tanah merah
membelah desa seperti ular tidur. Suara jangkrik dan kodok menjadi orkes malam.
Di kepalanya, ribuan rencana berkecamuk. Ia ingin desanya
berubah. Ia ingin Desa Awan Biru tidak lagi menjadi titik buta di peta. Ia
ingin dunia tahu bahwa di sini, di ujung senja, ada kehidupan yang layak
diperhatikan.
"Aku nggak tahu apa yang akan terjadi besok,"
bisiknya pada dirinya sendiri. "Tapi aku tahu satu hal: aku nggak akan
berhenti bermimpi. Aku nggak akan berhenti belajar. Aku nggak akan berhenti
berusaha."
Marni keluar dari rumah, membawa segelas air putih.
"Le, belum tidur?"
"Belum, Mak. Lagi mikir."
"Mikir apa?"
"Mikir masa depan. Mikir gimana caranya bikin desa
kita maju."
Marni duduk di samping anaknya. Ia memeluk Amat.
"Mak nggak ngerti soal komputer, soal internet. Tapi
Mak percaya sama kamu. Apa pun yang kamu lakukan, Mak dukung."
"Makasih, Mak."
"Tapi inget, jangan lupa sama kampung halaman. Jangan
lupa sama orang-orang di sini."
"Nggak akan, Mak. Janji."
Mereka berdua memandangi langit malam. Di kejauhan, seekor
burung malam terbang melintas, meninggalkan desa menuju tempat yang tak
diketahui. Seperti Amat, yang sebentar lagi akan meninggalkan desa untuk
mencari ilmu, sebelum akhirnya kembali untuk membangun.
Esok harinya, Amat kembali ke sekolah untuk mengambil surat
rekomendasi dari Pak Arif. Pak Arif memberinya amplop coklat berisi surat yang
sudah ditandatangani dan distempel.
"Ini, Amat. Simpan baik-baik. Ini tiketmu menuju masa
depan."
Amat menerima amplop itu dengan hormat. "Makasih, Pak.
Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Ibu tahu. Ibu percaya padamu. Suatu hari, Ibu ingin
melihat namamu tercetak di koran sebagai orang sukses."
Amat tersenyum. "Aamiin, Pak. Doain ya."
"Pasti."
Amat keluar dari ruang guru dengan langkah mantap. Di luar,
matahari bersinar terang. Ia menatap langit biru yang luas, seperti masa
depannya yang terbentang di depan mata.
Dua minggu kemudian, surat dari yayasan di kota datang.
Amat diterima di program pelatihan teknologi informasi untuk anak desa
berbakat. Semua biaya ditanggung. Ia harus segera berangkat.
Wiryono dan Marni melepas kepergiannya di pinggir jalan.
Air mata Marni tak terbendung.
"Mak, Bapak, jangan nangis. Aku akan pulang kalau
sudah selesai," hibur Amat.
"Jaga diri, Le. Jangan lupa sholat, jangan lupa
makan," pesan Marni.
Wiryono memeluk anaknya erat. "Bapak bangga sama kamu,
Mat. Buktikan kalau anak desa juga bisa."
Amat mengangguk. Ia naik ke angkutan desa yang akan
membawanya ke kota. Dari dalam angkutan, ia melambai pada orang tuanya, pada
desanya, pada masa kecilnya.
"Desa Awan Biru, tunggu aku. Aku akan kembali. Dan aku
akan membuatmu terkenal di seluruh dunia."
Angkutan itu melaju perlahan, meninggalkan debu merah di
belakangnya. Amat memulai perjalanan panjangnya. Perjalanan seorang anak desa
yang bermimpi mengubah dunia, bermodalkan tekad dan secercah harapan.
BAB III
"Cinta, Cita, dan Keyboard Tua"
Langit kabupaten tidak pernah benar-benar gelap. Itu hal
pertama yang Amat sadari ketika ia tiba di kota kabupaten tujuh tahun lalu.
Kini, di usia 21 tahun, ia masih sering memandangi langit malam yang kemerah-merahan
itu—warna yang berasal dari lampu-lampu toko, baliho raksasa, dan lampu
kendaraan yang lalu lalang. Berbeda dengan Desa Awan Biru yang jika malam tiba,
gelapnya begitu pekat hingga bintang-bintang terlihat jelas berkerlip, seolah
berlomba menarik perhatian siapa pun yang memandang.
Di sebuah gang sempit bernama Gang Melati, yang terletak
tidak jauh dari pasar lama yang becek dan bau, berdiri sebuah rumah kos
berlantai dua. Dindingnya semen kusam penuh lumut di beberapa bagian.
Catnya—jika dulu pernah dicat—sudah lama mengelupas, meninggalkan bekas-bekas
warna hijau pudar yang membuat bangunan itu terlihat lebih tua dari usianya. Di
lantai dua, pojok kanan, ada sebuah kamar berukuran tiga kali empat meter.
Cukup untuk satu tempat tidur kayu yang berderit setiap kali digerakkan, satu
meja belajar reyot yang kakinya tidak sama panjang, dan satu lemari pakaian
kecil yang pintunya susah ditutup.
Di kamar itulah Amat, pemuda asal Desa Awan Biru,
menghabiskan masa SMA-nya. Tujuh tahun—iya, tujuh tahun, karena setelah lulus
SMA ia tidak langsung pulang. Ia tinggal, bekerja serabutan, dan terus belajar
tentang dunia yang ia cintai: teknologi dan internet.
Kamar itu pengap di siang hari, tapi cukup hangat di malam
hari. Kipas angin yang menggantung di langit-langit lebih sering berbunyi
berisik seperti traktor rusak daripada benar-benar berfungsi mengusir panas.
Tapi bagi Amat, itu sudah istana. Lebih baik daripada tidur di emperan toko
atau di warnet seperti yang ia lakukan beberapa bulan pertama setelah lulus SMA
dulu.
Malam itu, seperti malam-malam biasa, Amat duduk di tepi
ranjang, menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Di tangannya, sebuah
buku catatan usang berisi coretan-coretan ide, alamat website, dan
kutipan-kutipan motivasi yang ia kumpulkan dari berbagai sumber.
"Jadi ini rasanya merantau," gumamnya pelan,
setengah bertanya pada diri sendiri.
Tujuh tahun di perantauan. Ia datang sebagai anak desa
polos yang baru pertama kali naik bus. Kini ia pergi—sebentar lagi—sebagai
pemuda yang matanya sudah melihat lebih banyak, hatinya sudah merasakan lebih
pahit, dan pikirannya sudah terbuka lebih luas.
Dari jendela kecil yang selalu ia buka sedikit agar udara
masuk, terdengar suara orang naik tangga dengan langkah tergesa-gesa. Disusul
suara pintu kamar sebelah dibuka, lalu suara familiar yang tak asing di telinga
Amat.
"Mat! Jangan bengong aja! Besok MOS organisasi, lo
jadi MC, kan?"
Itu suara Riko. Teman sekamar sebelah, tapi lebih tepatnya
teman sekos yang sudah seperti saudara. Riko adalah anak kota asli, besar di
kabupaten ini, tapi tidak pernah merendahkan Amat yang anak desa. Justru
merekalah yang paling sering membantu Amat saat kesusahan.
Amat tersenyum kecil menanggapi teriakan Riko. Ia bangkit
dari ranjang, membuka pintu kamarnya, dan berteriak ke arah pintu kamar Riko
yang tertutup.
"Iya! Lo jangan lupa, kalau gue grogi di panggung, lo
harus pura-pura pingsan di barisan depan biar acaranya jadi lucu!"
Pintu kamar Riko terbuka. Riko muncul dengan rambut
acak-acakan dan kaos oblong lusuh. Wajahnya bulat dengan kacamata tebal yang
selalu melorot ke ujung hidung. Ia tertawa lebar, memperlihatkan deretan gigi
yang agak renggang.
"Hahaha! Lo ini, gila bener! Gue pura-pura pingsan,
nanti malah dikira kecapean beneran. Ujung-ujungnya digotong ke UKS, malu
gue!"
"Ya udah, gue pingsanin beneran aja. Nanti viral, jadi
kenangan abadi," goda Amat.
Riko keluar kamar sambil membawa gorengan bungkus kertas
bekas. Ia menyodorkannya ke Amat.
"Nih, gue baru balik dari warung Bu Tini. Beli pisang
goreng. Makan bareng, yuk."
Mereka duduk di lantai lorong kos, bersandar di dinding
semen yang dingin. Lorong itu cukup lebar untuk mereka duduk berdua. Lampu
temaram di ujung lorong memberikan cahaya yang cukup untuk melihat isi
gorengan.
Riko mengambil satu potong pisang goreng, menggigitnya
dengan lahap. "Jadi gimana persiapan lo buat besok? Udah siap teks
MC-nya?"
Amat mengunyah pisang goreng, berpikir sejenak. "Udah.
Gue buat sendiri. Tema acaranya 'Semangat Muda, Semangat Desa'. Jadi gue mau
sisipin cerita-cerita tentang anak desa yang merantau."
Riko mengangguk kagum. "Wah, keren. Lo emang jago
bikin kata-kata, Mat. Dari dulu gue heran, lo ini anak desa, tapi ngomongnya
lancar, nulisnya juga bagus. Padahal lo nggak pernah les atau apa."
Amat tersenyum getir. "Justru karena gue anak desa,
gue harus bisa lebih. Kalau gue biasa aja, orang kota bakal remehin gue. Jadi
gue paksa diri gue buat belajar. Baca buku, browsing di warnet, latihan ngomong
di depan cermin."
"Di depan cermin? Serius?"
"Serius. Dulu pas masih di kos pertama, gue pasang
cermin kecil di dinding. Setiap malam gue latihan pidato, latihan MC, latihan
presentasi. Kadang sampai tengah malam. Sampai pemilik kos bawahnya protes
karena gue terlalu keras ngomong."
Riko tertawa terbahak-bahak, hampir tersedak pisang goreng.
"Hahaha, gila! Lo itu sungguh-sungguh banget, Mat. Gue salut."
Mereka diam sejenak, menikmati gorengan dan suasana malam.
Dari kejauhan, terdengar suara kendaraan dan musik dari warung-warung yang
masih buka. Suara kota yang tidak pernah tidur.
"Mat, gue mau nanya serius," kata Riko tiba-tiba.
"Apa?"
"Lo nggak pernah cerita banyak tentang desa lo.
Padahal lo sering nulis tentang itu. Kenapa?"
Amat menatap lurus ke depan. Matanya menerawang, seolah
melihat sesuatu yang jauh di balik dinding lorong kos itu.
"Karena... desa gue itu kayak luka. Sakit kalau
diingat, tapi gue juga nggak bisa lupain. Gue lahir di sana, tumbuh di sana.
Orang tua gue di sana. Tapi gue juga inget, di sana gue ngerasa kecil, ngerasa
kurang, ngerasa nggak cukup."
Riko diam, mendengarkan.
"Tapi lama-lama gue sadar," lanjut Amat.
"Luka itu yang bikin gue kuat. Rasa kurang itu yang bikin gue terus
belajar. Jadi sekarang gue nggak malu lagi. Justru gue bangga. Makanya gue
tulis cerita-cerita tentang desa. Biar orang tahu, dari tempat yang kecil, dari
ujung jalan tanah, bisa lahir mimpi-mimpi besar."
Riko merangkul bahu Amat. "Lo keren, Mat. Sungguh.
Suatu hari, gue yakin desa lo bakal bangga punya orang kayak lo."
Amat tersenyum. "Makasih, Ko. Lo juga keren, udah mau
berteman sama anak desa kayak gue."
"Ah, apaan sih. Lo ini saudara gue. Udah, habisin
gorengannya. Besok lo harus tampil maksimal."
Mereka menghabiskan pisang goreng dengan tertawa dan
bercanda. Malam di kota kabupaten terus berjalan. Lampu-lampu tetap menyala.
Dan di kamar kos sederhana itu, seorang pemuda desa terus mempersiapkan diri
untuk masa depan.
SMA Negeri 1 Kabupaten adalah sekolah bergengsi di kota
itu. Gedungnya besar, halamannya luas, dan murid-muridnya kebanyakan dari
kalangan menengah ke atas. Anak-anak desa seperti Amat hanya sedikit, dan
biasanya mereka cenderung diam, minder, dan tidak percaya diri.
Tapi Amat berbeda.
Sejak hari pertama masuk, ia sudah menunjukkan warna
aslinya. Saat perkenalan di kelas, ketika guru meminta setiap siswa menyebutkan
nama, asal, dan hobi, Amat berdiri dengan percaya diri.
"Nama saya Ahmad Syaifullah. Biasa dipanggil Amat.
Saya dari Desa Awan Biru, sebuah desa kecil yang kalau malam gelap gulita,
kalau siang panasnya bukan main, dan kalau hujan, lumpurnya sampai mata kaki.
Hobi saya? Saya suka ngebongkar radio."
Kelas tertawa. Guru yang mengajar ikut tersenyum.
"Kenapa suka ngebongkar radio?" tanya guru itu.
"Karena dulu saya kira di dalam radio ada orang kecil
yang ngomong. Ternyata isinya cuma kabel. Jadi saya belajar, kadang yang kita
kira ajaib, sebenarnya cuma teknologi yang belum kita pahami."
Sejak saat itu, Amat dikenal sebagai anak desa yang lucu,
cerdas, dan tidak malu dengan asalnya. Ia cepat akrab dengan teman-teman
sekelasnya. Ia bergabung dengan OSIS, ikut klub teater, dan bahkan masuk
ekstrakurikuler jurnalistik.
Di OSIS, ia bertemu dengan Laila—ketua OSIS yang cantik,
populer, dan juga cerdas. Laila anak seorang pejabat di kabupaten, rumahnya
besar, mobilnya bagus. Tapi ia tidak sombong. Ia justru tertarik pada Amat yang
selalu punya ide-ide segar dan out of the box.
Suatu hari, saat rapat OSIS persiapan pentas seni tahunan,
Laila membuka diskusi.
"Baik, teman-teman. Kita perlu ide untuk tema pentas
seni tahun ini. Tahun lalu kita ambil tema 'Muda dan Kreatif'. Tahun ini kita
harus lebih fresh, lebih menarik. Ada usulan?"
Suasana rapat hening. Beberapa anggota OSIS sibuk menunduk,
takut ditunjuk. Yang lain berpikir keras.
Amat mengangkat tangan.
"Iya, Amat. Silakan," kata Laila.
"Gimana kalau kita buat tema 'Dari Desa ke
Dunia'?"
Semua menoleh ke arah Amat. Beberapa mulai berbisik-bisik.
"Maksudnya?" tanya Laila, penasaran.
"Maksud gue, kita angkat cerita-cerita anak desa yang
merantau ke kota. Anak-anak kayak gue ini. Biar mereka—maksudnya kita—nggak
minder. Biar semua orang tahu, yang dari desa itu bukan berarti nggak bisa
tampil. Justru kita punya cerita yang nggak dimiliki anak kota."
Ruangan hening sesaat. Laila tersenyum lebar.
"Itu ide bagus, Mat. Sangat bagus."
Amat melanjutkan dengan gaya khasnya. "Karena yang
dari desa itu bukan berarti tidak bisa tampil. Buktinya saya, dari Desa Awan
Biru, sudah sampai ke kantin sekolah ini. Besok-besok, insyaallah sampai ke
panggung utama."
Semua tertawa. Suasana rapat yang tadinya tegang menjadi
cair. Ide Amat diterima dengan antusias.
Setelah rapat, Laila mendekati Amat.
"Mat, boleh ngobrol sebentar?"
"Iya, boleh."
Mereka duduk di bangku taman sekolah. Sore itu cuaca cerah,
angin bertiup sepoi-sepoi.
"Aku suka ide kamu tadi. Kamu selalu punya perspektif
yang berbeda," puji Laila.
Amat tersenyum malu. "Makasih, La. Aku cuma... ngomong
apa adanya. Aku tahu rasanya jadi anak desa di kota. Awalnya takut, minder,
nggak pede. Tapi lama-lama sadar, kita nggak perlu jadi orang lain. Kita cukup
jadi diri sendiri."
"Kamu hebat, Mat. Banyak orang minder karena asalnya.
Tapi kamu malah bangga."
"Ya... bangga sedikit, sedih sedikit. Campur aduk,
sih. Tapi lebih baik bangga daripada terus-terusan malu, kan?"
Laila tertawa. "Iya, benar."
Sejak saat itu, pertemanan Amat dan Laila semakin dekat.
Mereka sering diskusi, sering ngobrol di kantin, kadang juga belajar bersama di
perpustakaan. Laila suka mendengar cerita Amat tentang desanya, tentang orang
tuanya, tentang mimpinya membuat website desa.
Suatu hari, Laila bertanya, "Mat, kamu nggak pernah
sedih jauh dari keluarga?"
Amat berpikir sejenak. "Sedih, pasti. Tapi sedih itu
nggak boleh terlalu lama. Harus diubah jadi motivasi. Makanya aku belajar
terus, ikut kegiatan terus, biar nggak sempat sedih."
"Kalau aku, mungkin nggak kuat. Aku manja
soalnya," canda Laila.
"Manja boleh, asal jangan lebay. Nanti susah
adaptasi."
"Eh, kamu ngeledain aku, ya?"
Mereka tertawa bersama. Persahabatan yang hangat dan tulus.
Namun di balik semua kesibukan dan popularitasnya, Amat
menyimpan luka yang belum sembuh. Luka itu bernama Siti Mawar.
Sejak kelulusan SMP dulu, Siti Mawar benar-benar pindah ke
kota provinsi. Mereka jarang berkomunikasi. Ponsel masih mahal, dan internet
belum semudah sekarang. Sesekali Amat mencoba mengirim surat, tapi tak pernah
ada balasan.
Suatu sore, saat jam istirahat, Amat meminjam komputer
perpustakaan untuk membuka email. Ia masih ingat alamat email yang dulu Siti
Mawar berikan. Dengan perasaan campur aduk, ia login ke akun email gratisan
yang ia buat di warnet bertahun-tahun lalu.
Ada satu pesan masuk. Dari alamat yang asing, tapi namanya
familiar: sitimawar@...
Jantung Amat berdebar kencang. Ia membuka pesan itu dengan
tangan gemetar.
Isinya singkat. Hanya beberapa baris.
Dari: sitimawar@...
Kepada: amat.awambiru@...
Subjek: Kabar
Assalamu'alaikum, Mat.
Maaf baru bisa kabar. Aku sudah diterima di SMA favorit di
kota provinsi. Sekolahnya bagus, lingkungannya juga mendukung. Aku harus fokus
belajar di sini karena targetku tetap kedokteran.
Kamu juga harus sukses di kota kabupaten. Aku dengar kamu
aktif di OSIS. Bagus. Teruslah bermimpi.
Mungkin kita tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama.
Tapi aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.
– Siti
P.S. Jangan pernah berhenti nulis tentang desa kita.
Amat membaca pesan itu berkali-kali. Ada rasa haru, ada
rasa bahagia, tapi juga ada rasa sakit yang menusuk. Kata-kata "mungkin
kita tidak akan bertemu lagi" seperti pisau yang menggores hati.
Ia membalas dengan panjang. Menceritakan tentang
kehidupannya di kota, tentang OSIS, tentang klub teater, tentang mimpinya
membuat website. Ia menulis berlembar-lembar dalam imajinasinya, tapi di layar
komputer ia hanya menulis beberapa paragraf. Ia kirim, dan menunggu.
Tapi tak pernah ada balasan.
Beberapa bulan kemudian, kabar itu datang dari seorang
teman SMP yang juga sekolah di kota provinsi. Kabar itu sampai ke Amat melalui
pesan pendek di ponsel pinjaman.
"Mat, lo tahu nggak? Siti Mawar katanya sekarang
pacaran sama anak pengusaha. Mobilnya bagus, sering jemput pakai Alphard."
Amat membaca pesan itu berulang kali. Lalu ia tertawa
kecil. Tertawa getir.
Malam itu, di kamar kosnya, Amat duduk di tepi ranjang.
Riko masuk membawa gorengan, seperti biasa.
"Mat, lo kok diem aja? Makan gorengan, yuk."
Amat menggeleng. "Nggak laper, Ko."
Riko mengamati wajah Amat. Ada sesuatu yang berbeda.
"Lo kenapa? Kok murung? Ada masalah?"
Amat diam beberapa saat, lalu berkata lirih, "Siti
Mawar... sudah punya pacar."
Riko mengerutkan dahi. "Siti Mawar? Siapa itu?"
"Cewek... dari desa gue. Yang dulu... yang dulu gue
suka."
Riko menghela napas. Ia duduk di samping Amat.
"Oh... gitu. Kenapa? Lo masih suka sama dia?"
Amat menghela napas panjang. "Mungkin... mungkin masih
ada sisa-sisanya. Tapi gue tahu, dari dulu pun gue nggak mungkin. Dia anak
orang mampu. Gue? Anak buruh karet."
"Tapi lo hebat, Mat. Lo lebih dari sekadar anak buruh
karet."
"Tapi dia nggak lihat itu, Ko. Atau mungkin dia lihat,
tapi milih yang lain. Yang lebih... selevel."
Riko memukul pundak Amat. "Mat, denger gue. Cinta itu
bukan soal selevel atau nggak. Tapi soal siapa yang mau berjuang bareng. Kalau
dia milih yang lain, ya sudah. Berarti bukan jodoh lo. Masih banyak cewek di
luar sana."
Amat tersenyum getir. "Gue tahu, Ko. Tapi rasanya...
sakit."
"Iya, pasti. Tapi jangan terlalu lama sakitnya. Nanti
lo lupa sama mimpi lo."
Amat menatap Riko. "Mimpi?"
"Iya. Mimpi lo bikin website desa. Mimpi lo bikin desa
lo dikenal. Jangan sampai cinta yang gagal bikin lo lupa sama itu semua."
Kata-kata Riko seperti tamparan. Amat tersadar.
"Lo benar, Ko. Gue nggak boleh tenggelam."
"Nah, gitu dong. Udah, makan gorengan. Lo butuh
karbohidrat buat mikir."
Amat tertawa. "Dasar lo! Bawa-bawa gorengan
mulu."
Mereka makan gorengan bersama, tertawa kecil. Tapi malam
itu, setelah Riko kembali ke kamarnya, Amat menangis diam-diam. Menangis untuk
cinta pertamanya yang benar-benar telah pergi.
Sejak malam itu, Amat memutuskan untuk mengubur perasaannya
pada Siti Mawar. Ia sadar, terus memikirkan seseorang yang sudah memilih jalan
lain hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Maka ia memilih jalan baru: menulis.
Di perpustakaan sekolah, ada dua unit komputer tua dengan
koneksi internet seadanya. Komputer itu biasanya digunakan untuk pelajaran TIK,
tapi di luar jam pelajaran, siswa boleh memakainya untuk belajar. Amat sering
menghabiskan waktu di sana, menulis apa saja yang terlintas di kepala.
Suatu hari, saat sedang asyik mengetik, Pak Arman—guru TIK
yang juga pembina ekstrakurikuler jurnalistik—mendekat.
"Lagi nulis apa, Mat?" tanya Pak Arman sambil
melihat layar monitor.
Amat agak kaget, lalu menjawab, "Ah, ini, Pak. Cuma
nulis cerita tentang desa saya."
"Cerita tentang desa? Untuk tugas?"
"Bukan, Pak. Untuk internet. Saya pengin orang lain
tahu tentang desa saya."
Pak Arman tertarik. Ia menarik kursi dan duduk di samping
Amat.
"Ceritakan, desamu seperti apa?"
Mata Amat berbinar. Ia bercerita tentang Desa Awan Biru,
tentang rumah papan reyotnya, tentang jalan tanah merah yang becek saat hujan,
tentang kebun karet dan sawit, tentang televisi satu-satunya di balai desa yang
jadi pusat keramaian. Ia bercerita tentang kelahirannya saat badai, tentang
radio Pak Darno yang dibongkarnya, tentang Serena yang mengajarinya membaca di
pasir, tentang Siti Mawar yang memberinya buku sebelum pergi.
Pak Arman mendengarkan dengan saksama. Ketika Amat selesai
bercerita, ia tersenyum.
"Kamu punya banyak cerita, Mat. Cerita yang berharga.
Kamu tahu cara menulisnya dengan baik. Tapi..."
"Tapi apa, Pak?"
"Kamu menulis di mana? Di notepad? Nanti hilang kalau
komputer direstart."
Amat tersenyum malu. "Iya, Pak. Saya cuma nulis di
sini, terus saya simpan di flashdisk. Tapi flashdisk saya kecil, cuma muat
sedikit."
Pak Arman mengangguk. "Kamu tahu platform blog?
Seperti Blogger atau WordPress?"
Amat menggeleng. "Pernah dengar, tapi nggak tahu cara
pakainya."
"Nah, itu solusinya. Kamu bisa nulis di blog. Gratis,
bisa diakses dari mana saja, dan nggak bakal hilang. Mau saya ajarin?"
Mata Amat berbinar. "Mau, Pak! Mau banget!"
Pak Arman mengajarkan Amat cara membuat blog di platform
gratisan. Mulai dari mendaftar, memilih template, hingga memposting tulisan
pertama. Amat mencatat setiap langkah dengan saksama, takut ketinggalan satu
detail pun.
Setelah blog jadi, Amat memilih judul yang sudah lama ia
pikirkan:
"Desa Awan Biru – Dari Ujung Jalan Tanah"
Pak Arman membaca judul itu, tersenyum. "Judul yang
bagus. Puitis."
"Makasih, Pak. Saya pengin orang yang baca merasa
seperti ada di sana. Merasakan udara desa, melihat langitnya, mendengar suara
jangkrik di malam hari."
"Bagus. Sekarang coba tulis postingan pertamamu."
Amat mengetik dengan semangat. Jari-jarinya menari di atas
keyboard komputer tua yang beberapa tombolnya sudah aus. Ia menulis tentang
balai desa, tentang kebun karet, tentang televisi tunggal yang dulu jadi pusat
keramaian. Ia menulis dengan gaya yang sederhana tapi mengalir, seperti orang
bercerita pada teman.
Judul Postingan Pertama: "Kenangan di Balai Desa"
Dulu, ketika desaku belum punya listrik yang stabil, balai
desa adalah pusat dunia. Di sana ada televisi satu-satunya di desa. Setiap
malam Minggu, warga berbondong-bondong datang membawa tikar. Mereka duduk di
halaman, menonton siaran yang gambarnya sering hilang. Tapi tak ada yang marah.
Justru saat gambar hilang, seru. Semua kompak berteriak, "Antenanya
diputar! Diputar!"
Anak-anak kecil seperti saya dulu, lebih asyik melihat
tingkah orang dewasa yang ribut daripada menonton TV. Tapi di balik semua itu,
ada kebersamaan yang sulit dicari di kota. Kebersamaan yang membuat saya selalu
rindu.
Desa Awan Biru mungkin kecil. Mungkin tertinggal. Tapi di
sana, saya belajar arti berbagi. Saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu
datang dari barang mewah, tapi dari kebersamaan dengan orang-orang yang kita
cintai.
– Amat, anak desa yang kini merantau di kota.
Setelah selesai, Amat menekan tombol
"Publikasikan" dengan perasaan campur aduk. Jantungnya berdebar. Ini
pertama kalinya tulisannya akan dibaca orang—bukan hanya teman atau guru, tapi
orang-orang di seluruh dunia yang punya akses internet.
"Gimana rasanya?" tanya Pak Arman.
"Deg-degan, Pak. Kayak... kayak mau terbang."
"Bagus. Itu artinya kamu serius. Teruslah menulis,
Mat. Siapa tahu suatu hari blogmu dibaca banyak orang. Bahkan mungkin dibaca
oleh orang-orang di desamu sendiri."
Amat tersenyum. "Makasih, Pak. Saya nggak akan
berhenti."
Sejak hari itu, Amat rajin menulis di blognya. Setiap
minggu, setidaknya satu tulisan baru ia publikasikan. Kadang tentang kenangan
masa kecil, kadang tentang pengalamannya di kota, kadang tentang teknologi dan
internet. Tema utamanya tetap sama: desanya, orang-orangnya, dan mimpinya untuk
memajukan Desa Awan Biru.
Di kantin sekolah, suatu hari Laila bertanya, "Mat,
aku dengar kamu sering di perpustakaan. Lagi kejar ranking, ya?"
Amat menggeleng. "Kejar dunia."
"Kejar dunia? Maksudnya?"
"Dunia maya. Internet."
Laila tertawa. "Kamu ini aneh. Nggak kayak anak
kebanyakan."
"Memang. Saya aneh. Tapi aneh yang punya tujuan."
"Apa tujuannya?"
"Suatu hari, desa saya masuk Google. Kalau orang
search 'Desa Awan Biru', muncul. Ada ceritanya, ada fotonya, ada informasinya."
Laila mengerutkan kening. "Kamu serius?"
"Sangat."
Laila menatap Amat dengan pandangan berbeda. Ada rasa kagum
di matanya.
"Kalau gitu, aku dukung. Nanti kalau udah jadi, kasih
tahu aku, ya. Aku pengin baca cerita-cerita desamu."
"Iya. Makasih, La."
Sementara Amat sibuk dengan blog dan aktivitas sekolahnya,
Desa Awan Biru perlahan mulai berubah. Perubahan itu kecil, tapi berarti.
Listrik mulai masuk lebih stabil. Genset desa yang dulu
sering mogok, kini digantikan oleh aliran listrik dari pusat. Warga tak perlu
lagi menyalakan lampu teplok setiap malam. Rumah-rumah mulai memasang lampu
neon, televisi, bahkan kulkas bagi yang mampu.
Jalan tanah merah mulai diperbaiki. Pemerintah kabupaten
mengirim bantuan untuk pengerasan jalan. Kini, saat hujan turun, jalan tak lagi
berubah lumpur sedalam mata kaki. Sepeda dan motor bisa lewat dengan lebih
mudah.
Wiryono, ayah Amat, masih bekerja sebagai buruh sadap
karet. Tapi kini ada sedikit peningkatan. Harga karet kadang naik, kadang
turun, tapi setidaknya lebih stabil dari dulu. Marni, ibunya, masih berjualan
sayur keliling, tapi kini ia punya gerobak dorong yang lebih baik—hadiah dari
Amat hasil tabungan selama kerja part-time di kota.
Suatu sore, Amat menerima telepon dari ayahnya. Di wartel
dekat kos, ia mendengar suara Wiryono yang terbata-bata.
"Mat... di sini sekarang lampu nggak sering
mati."
"Serius, Pak?" Amat tak percaya.
"Iya. Katanya jaringan sudah diperbaiki. Sekarang tiap
malam terang. Ibumu senang, bisa jahit baju malam-malam."
Amat terdiam. Rasanya seperti mimpi. Desa yang dulu gelap
gulita, kini mulai terang.
"Pak... suatu hari kita punya internet sendiri."
Wiryono tertawa kecil di seberang. Suaranya serak, khas
orang tua yang mulai renta.
"Kamu ini kalau ngomong selalu tinggi sekali. Internet
di desa? Mimpi kali."
"Bukan mimpi, Pak. Di kota, internet sudah biasa. Di
kecamatan juga sudah mulai masuk. Pasti nanti sampai ke desa."
"Ya... nanti, kalau waktunya tiba. Yang penting kamu
sekolah yang bener, Mat. Jangan lupa sama desa."
"Nggak akan lupa, Pak. Janji."
Setelah telepon selesai, Amat berjalan kembali ke kos
dengan langkah ringan. Di kamarnya, ia menempelkan foto desa yang ia bawa dari
rumah di dinding. Foto itu usang, buram, tapi cukup jelas menunjukkan hamparan
sawit dan langit biru di atasnya.
Setiap malam, sebelum tidur, ia menatap foto itu. Mengingat
kembali semua kenangan: rumah papan reyot, jalan tanah merah, suara jangkrik,
dan senyum ibunya saat menyajikan singkong rebus.
"Mimpi itu harus tinggi, Pak," bisiknya.
"Supaya desa kita nggak selalu di bawah."
Pertemanan Amat dan Laila semakin erat. Mereka sering
menghabiskan waktu bersama, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kadang
belajar kelompok, kadang nongkrong di kafe sederhana, kadang jalan-jalan di
akhir pekan.
Laila adalah pribadi yang hangat dan perhatian. Ia selalu
mendukung apa pun yang dilakukan Amat, termasuk mimpinya tentang website desa.
Ia juga sering membantu Amat mencari informasi tentang beasiswa kuliah dan
kursus-kursus online gratis.
Suatu hari, saat mereka duduk di taman kota, Laila
bertanya, "Mat, aku mau tanya sesuatu."
"Apa, La?"
"Kamu pernah suka sama seseorang?"
Amat terkejut. Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Ia berpikir
sejenak, lalu menjawab jujur, "Pernah. Waktu SMP dulu."
"Sekarang?"
Sekarang? Amat menatap Laila. Gadis di depannya ini, dengan
rambut panjangnya, senyum manisnya, dan matanya yang teduh. Selama ini ia
menganggap Laila hanya teman. Tapi pertanyaan itu membuatnya sadar, mungkin ada
sesuatu yang lebih.
"La... kenapa nanya gitu?"
Laila tersenyum, tapi ada sedikit gugup di wajahnya.
"Nggak... iseng aja. Penasaran."
Mereka diam sejenak. Suasana taman sore itu tenang.
Anak-anak bermain di kejauhan. Sepasang kekasih duduk di bangku seberang,
bergandengan tangan.
"La, kamu mau tahu?" Amat memberanikan diri.
"Apa?"
"Sekarang... aku nggak tahu. Mungkin aku suka
seseorang. Tapi aku takut."
"Takut kenapa?"
"Takut nggak selevel. Takut ditolak. Takut... merusak
pertemanan."
Laila menatap Amat. Matanya tajam, mencari sesuatu di wajah
Amat.
"Kamu suka siapa?"
Amat menghela napas. Kata-kata itu sulit keluar. Tapi ia
sudah muak terus memendam perasaan.
"Kamu, La."
Laila membelalak. Ia tidak menyangka.
"Aku?"
"Iya. Kamu. Maaf kalau aku lancang. Aku tahu aku cuma
anak desa, anak buruh karet. Sementara kamu anak pejabat. Tapi aku nggak bisa
bohong. Selama ini, kebersamaan kita... rasanya beda. Aku nyaman. Aku seneng.
Dan aku mulai..."
"Mat, stop."
Amat berhenti bicara. Hatinya hancur.
"Maaf, La. Aku keterlaluan, ya?"
Laila menggeleng. "Bukan gitu, Mat. Bukan."
"Terus kenapa?"
Laila menatap Amat dengan pandangan sulit diartikan. Ada
kasih, ada sedih, ada juga penyesalan.
"Mat, aku... aku juga suka sama kamu."
Kali ini Amat yang terbelalak. "Apa?"
"Iya. Aku suka. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Ayahku... dia sudah menjodohkan aku dengan anak
temannya. Keluarga mereka kaya. Mereka sudah merencanakan pertunangan setelah
aku lulus SMA."
Dunia Amat seperti berhenti berputar. Lagi-lagi. Lagi-lagi
ia harus berhadapan dengan tembok yang sama: status sosial.
"Oh... gitu."
"Maaf, Mat. Aku nggak bermaksud menyakiti."
Amat tersenyum hambar. "Nggak apa-apa, La. Ini bukan
salah kamu."
Mereka diam cukup lama. Sore itu, untuk pertama kalinya,
mereka duduk bersama dalam keheningan yang berat.
"Mat, kita tetap berteman, kan?" tanya Laila
lirih.
"Tentu. Selamanya."
Tapi di dalam hati, Amat tahu, sesuatu telah berubah. Dan
ia harus kembali merelakan.
Kelas tiga SMA adalah tahun penentuan. Amat harus
memikirkan masa depannya. Dengan segala keterbatasan ekonomi, ia tahu
satu-satunya jalan untuk kuliah adalah melalui beasiswa. Ia menargetkan
universitas negeri jurusan Teknik Informatika.
Ia belajar mati-matian. Setiap malam, setelah pulang dari
sekolah, ia langsung belajar di kamar kos. Kadang sampai larut, sampai Riko
protes karena lampu kamar Amat masih menyala dan mengganggu tidurnya.
"Mat, lo nggak punya kehidupan sosial, ya? Belajar
mulu," protes Riko suatu malam.
"Ini demi masa depan, Ko. Lo tahu sendiri, gue nggak
punya uang buat kuliah swasta. Harus dapat beasiswa."
"Tapi lo juga perlu istirahat. Nanti lo sakit."
"Gue sehat, Ko. Tenang aja."
Riko menggeleng, tapi ia mengagumi semangat sahabatnya itu.
Setiap malam ia sering mengirimi Amat kopi atau teh hangat, sekadar menemani.
Hari pengumuman ujian masuk perguruan tinggi tiba. Amat
membuka website pengumuman di warnet dekat kos. Tangannya gemetar saat mengetik
nomor pendaftaran. Riko berdiri di belakangnya, ikut deg-degan.
Laman pengumuman terbuka. Amat mencari nomornya. Tidak ada.
Ia refresh. Tidak ada. Ia coba lagi. Tetap tidak ada.
Dunia serasa gelap.
"Mat..." Riko meletakkan tangan di pundak Amat.
Amat tersenyum hambar. "Servernya mungkin error,
ya?"
"Mat..."
Amat menutup layar perlahan. "Mungkin bukan
jalanku."
Malam itu, ia menelepon ayahnya dari wartel. Wiryono
mengangkat dengan suara cemas.
"Mat? Gimana hasilnya?"
Amat terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata lirih,
"Pak... aku nggak lulus."
Wiryono terdiam lama. Di seberang, hanya terdengar suara
napas berat.
"Nggak apa-apa, Nak."
"Aku sudah belajar keras, Pak."
"Aku tahu. Bapak tahu."
"Tapi kenapa, Pak? Kenapa susah banget?"
Wiryono menghela napas. "Mat, denger Bapak. Hidup ini
bukan cuma soal lulus ujian. Tapi soal lulus dari putus asa. Kamu gagal
sekarang, itu ujian. Besok kamu bangkit lagi, itu lulus. Paham?"
Amat menutup wajahnya. Air mata mengalir.
"Aku lelah, Pak."
"Aku tahu, Le. Tapi jangan berhenti. Masih banyak
jalan."
Telepon berakhir. Amat berjalan kembali ke kos dengan
langkah berat. Di kamar, ia duduk di lantai, menatap foto desa di dinding.
"Gue gagal lagi," bisiknya. "Gagal cinta,
gagal kuliah. Apa berikutnya gue gagal hidup?"
Pintu kamar terbuka. Riko masuk membawa dua gelas kopi.
"Lo boleh sedih, Mat. Tapi cuma malam ini. Besok lo
harus bangkit lagi."
Amat menerima kopi itu. "Lo nggak capek ngadepin gue
yang kayak gini?"
Riko duduk di samping Amat. "Lo temen gue. Lo saudara
gue. Gue nggak akan pernah capek."
Mereka minum kopi dalam diam. Malam itu, Amat bersumpah
dalam hati: apapun yang terjadi, ia tidak akan menyerah.
Gagal masuk universitas negeri bukan akhir segalanya. Amat
mencari jalan lain. Ia bekerja serabutan di kota: jadi penjaga warnet malam,
jadi asisten toko komputer, jadi apapun yang bisa menghasilkan uang. Di siang
hari, ia ikut kursus online gratis tentang pemrograman web, desain grafis, dan
digital marketing.
Bang Rudi, pemilik warnet Maju Jaya di kecamatan, tahu
kabar Amat. Ia menelepon suatu hari.
"Mat, gue dengar lo gagal SNMPTN. Lo sekarang
ngapain?"
"Kerja serabutan, Bang. Sambil kursus online."
"Wah, semangat. Lo masih pengen bikin website
desa?"
"Masih, Bang. Itu nggak akan pernah berubah."
"Bagus. Lo butuh modal? Gue punya kenalan yang mau
bikin website untuk usaha kecil. Lo mau coba? Meskipun dibayar sedikit,
setidaknya lo dapet pengalaman."
Mata Amat berbinar. "Mau, Bang! Mau banget!"
Sejak saat itu, Amat mulai menerima proyek-proyek kecil
pembuatan website. Dari toko kelontong, dari warung makan, dari koperasi desa.
Hasilnya tidak seberapa, tapi cukup untuk biaya hidup dan membeli laptop
bekas—laptop pertama dalam hidupnya.
Laptop itu adalah ASUS bekas keluaran lima tahun lalu.
Catnya sudah mengelupas, baterainya cuma tahan setengah jam, dan keyboard-nya
bermasalah: beberapa huruf samar, tombol "E" harus ditekan keras agar
muncul. Tapi bagi Amat, itu adalah harta paling berharga.
Dengan laptop itu, ia bisa bekerja di mana saja. Ia tak
perlu lagi ke warnet untuk menulis blog atau mengerjakan proyek. Ia bisa duduk
di beranda kos, di taman kota, atau di pinggir sawah saat pulang kampung.
Suatu malam, setelah menyelesaikan proyek website untuk
sebuah koperasi, Amat duduk di beranda kos. Riko keluar membawa dua gelas kopi.
"Mat, lo itu kayak mesin. Nggak kenal lelah."
Amat tersenyum. "Gue seneng, Ko. Ngerjain ini semua.
Rasanya... kayak mimpi jadi nyata. Dulu gue cuma bisa lihat website orang lain.
Sekarang gue bikin sendiri."
"Lo keren, Mat. Gue iri sama semangat lo."
"Jangan iri, Ko. Lo juga punya semangat sendiri. Kita
beda jalan, tapi tujuan sama: sukses."
Riko tersenyum. "Lo benar. Eh, ngomong-ngomong soal
sukses, gue denger desa lo sekarang mulai maju, ya? Ada internet?"
"Alhamdulillah, mulai masuk. Masih lemot, tapi
lumayan. Orang tua gue udah bisa video call pake HP."
"Wah, keren. Berarti lo bisa kerja dari desa,
dong?"
Amat terdiam. Ia merenungkan kata-kata Riko.
"Lo benar, Ko. Gue bisa kerja dari mana aja. Yang
penting ada internet."
"Nah, gitu. Lo udah cukup pengalaman di kota. Mungkin
udah waktunya lo pulang dan bangun desa lo sendiri."
Pulang. Kata itu mengiang di kepala Amat. Ia sudah lama
merantau. Tujuh tahun. Mungkin sudah waktunya.
"Mungkin lo benar, Ko. Gue harus pulang."
Tujuh tahun setelah pertama kali menginjakkan kaki di kota
kabupaten, Amat pulang ke Desa Awan Biru. Usianya 21 tahun. Ia tidak membawa
gelar sarjana. Tidak membawa uang banyak. Tidak membawa pacar.
Tapi ia membawa sesuatu yang jauh lebih besar: visi.
Di atas bus yang membawanya pulang, ia memandangi hamparan
sawit dan karet yang mulai ia kenali. Desa Awan Biru masih di ujung jalan,
masih dengan jalan tanah merah yang mulai diperbaiki, masih dengan rumah-rumah
papan yang sederhana. Tapi ada yang berbeda.
Listrik kini menyala stabil. Beberapa rumah sudah punya
antena parabola. Anak-anak muda terlihat asyik dengan ponsel masing-masing.
Internet—meskipun lambat—sudah mulai masuk ke desa.
Bus berhenti di perempatan dekat balai desa. Amat turun
dengan tas ransel butut dan laptop kesayangan. Ia berjalan menyusuri gang kecil
menuju rumahnya.
Di beranda rumah, Wiryono duduk dengan kopi di tangan.
Melihat anaknya datang, ia tersenyum lebar.
"Mat! Akhirnya pulang!"
Amat memeluk ayahnya erat. "Iya, Pak. Pulang."
Marni keluar dari dapur. Begitu melihat Amat, ia langsung
memeluknya erat, menangis haru.
"Nak... Nak... Ibu kangen."
"Ibu, aku juga kangen."
Mereka duduk di beranda. Amat mengeluarkan laptopnya,
membuka blog yang selama ini ia rawat.
"Pak, Bu, lihat. Ini blog tentang desa kita."
Wiryono dan Marni melihat layar laptop dengan mata
berbinar. Mereka tidak mengerti sepenuhnya, tapi mereka bangga.
"Di sini aku nulis tentang desa, tentang Bapak,
tentang Ibu. Tentang semua kenangan. Dan banyak orang yang baca. Dari Jakarta,
dari Surabaya, bahkan dari luar negeri."
"Serius?" tanya Wiryono tak percaya.
"Serius, Pak. Ini buktinya." Amat menunjukkan
kolom komentar. Ada puluhan komentar dari berbagai kota.
Marni menangis lagi. "Anak Ibu... hebat sekali."
Malam itu, mereka makan malam bersama. Marni memasak sayur
asem dan ikan asin—hidangan favorit Amat. Lampu rumah menyala terang. Tak lagi
gelap seperti dulu.
Setelah makan, Amat duduk di beranda sendirian. Langit
malam cerah, bintang-bintang bertaburan. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa
aroma khas desa: campuran tanah, daun kering, dan sedikit asap dapur.
Dari dalam rumah, terdengar suara ayahnya yang sedang
mengaji. Ibunya sibuk membereskan piring. Suara jangkrik dan kodok menjadi
orkes malam yang menenangkan.
Amat membuka laptopnya. Keyboard tua itu masih setia,
tombol "E" masih harus ditekan keras. Ia membuka blognya dan mulai
menulis.
Judul Postingan: "Aku Kembali"
Aku kembali.
Setelah tujuh tahun merantau di kota, aku pulang ke Desa
Awan Biru. Pulang dengan tangan kosong—tanpa gelar, tanpa uang banyak, tanpa
cinta yang berhasil aku pertahankan.
Tapi aku pulang dengan kepala penuh mimpi. Dan hati penuh
tekad.
Desa ini mungkin belum punya internet yang kencang. Mungkin
belum punya gedung-gedung tinggi. Mungkin masih tertinggal dari kota-kota lain.
Tapi desa ini punya aku. Punya kita. Punya orang-orang yang tidak pernah
berhenti bermimpi.
Aku akan mulai dari rumah sendiri. Dari laptop tua ini.
Dari keyboard yang tombol E-nya harus ditekan keras.
Dan suatu hari, desa ini akan dikenal dunia. Bukan karena
gedung pencakar langitnya. Tapi karena ceritanya. Karena orang-orangnya. Karena
mimpinya.
– Amat, anak desa yang pulang untuk membangun.
Ia menekan tombol "Publikasikan" dengan mantap.
Lalu menatap langit malam.
"Aku gagal di banyak hal," bisiknya. "Tapi
aku tidak akan gagal untuk desa ini."
Dari dalam rumah, ibunya memanggil, "Mat, tidur, Le.
Udah malam."
"Iya, Mak. Sebentar."
Amat menutup laptopnya. Ia memandangi desa yang mulai
terang. Listrik kini menyala stabil. Di beberapa rumah, televisi masih menyala.
Anak-anak muda asyik dengan ponsel masing-masing.
Dunia sedang berubah. Dan Amat ingin menjadi bagian dari
perubahan itu.
Beberapa hari setelah kepulangannya, Amat diundang ke rapat
RT. Pak Mulyono, Ketua RT yang dulu sering ia lihat dari jauh, memintanya
hadir.
"Amat, kamu kan anak muda yang paham teknologi. Tolong
hadir, kita mau bahas program desa," kata Pak Mulyono singkat.
Amat datang ke balai desa. Ruangan itu masih sama seperti
dulu: dinding papan, lantai semen, dan papan pengumuman yang penuh tempelan.
Tapi kini ada tambahan: sebuah komputer tua di pojok ruangan, dan koneksi
internet dari modem USB.
Rapat dihadiri perangkat desa dan beberapa tokoh
masyarakat. Pak Lurah membuka rapat dengan agenda utama: program desa digital.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, pemerintah pusat sekarang
gencar dengan program desa digital. Kita ditawari bantuan untuk mengembangkan
sistem administrasi online dan website desa. Tapi kita nggak punya SDM yang
bisa. Siapa yang mau ditunjuk?"
Ruangan hening. Semua saling pandang. Pak RT mengangkat
tangan.
"Pak Lurah, saya usul Amat. Anak muda ini baru pulang
dari kota. Katanya dia paham komputer dan internet."
Semua menoleh ke arah Amat. Ia agak kaget, tapi juga
senang.
"Betulkah, Mat? Kamu bisa?" tanya Pak Lurah.
Amat berdiri. "Saya bisa, Pak Lurah. Saya sudah punya
pengalaman bikin website untuk beberapa usaha kecil di kota. Saya juga punya
blog tentang desa ini."
"Blog? Apa itu?" tanya salah satu warga tua.
"Blog itu... seperti buku harian online, Pak. Saya
nulis tentang desa kita di sana. Banyak orang yang baca."
Pak Lurah tertarik. "Bisa kita lihat?"
Amat mengeluarkan laptopnya. Ia membuka blog "Desa
Awan Biru – Dari Ujung Jalan Tanah" dan menunjukkannya pada Pak Lurah dan
perangkat desa lainnya.
"Ini, Pak. Ini tulisan saya tentang balai desa,
tentang kebun karet, tentang warga kita. Ini juga ada fotonya."
Pak Lurah membaca beberapa paragraf, lalu tersenyum lebar.
"Wah, bagus ini. Bahasanya sederhana, tapi menyentuh.
Ini bisa jadi modal kita untuk mempromosikan desa."
Amat tersenyum bangga.
"Jadi, Mat, kamu bersedia membantu desa?" tanya
Pak Lurah.
"Bersedia, Pak. Dengan senang hati."
"Tapi kita nggak bisa bayar banyak. Hanya uang
transport dan sedikit honor."
"Nggak apa-apa, Pak. Ini untuk desa saya. Saya
ikhlas."
Sejak hari itu, Amat resmi menjadi "tenaga ahli
IT" Desa Awan Biru—meskipun gajinya tidak seberapa dan statusnya tidak
jelas. Tapi baginya, ini adalah awal dari mimpi besar.
Amat tidak bekerja sendiri. Ia mengajak anak-anak muda desa
yang punya minat di teknologi. Beberapa di antaranya adalah adik-adik kelasnya
dulu, yang kini sudah SMA atau lulus SMA dan menganggur.
Ia memulai dengan pelatihan sederhana di balai desa.
Materinya: dasar-dasar komputer, internet, dan pembuatan konten.
"Ayo, kita belajar bareng. Nggak perlu takut. Dulu
saya juga nggak bisa. Tapi saya coba terus," ujarnya di depan puluhan anak
muda yang hadir.
Salah satu peserta, Joko—anak muda 19 tahun yang putus
sekolah—bertanya, "Mat, belajar ini buat apa? Emang ada kerjaannya?"
"Ada, Jo. Zaman sekarang, semua butuh internet. Toko
butuh promosi online. Desa butuh website. Bahkan petani butuh informasi harga
pasar. Kalau kita bisa, kita yang pegang kendali. Bukan orang luar."
Joko mengangguk-angguk.
"Tapi kita nggak punya modal, Mat."
"Modal kita nggak perlu uang. Modal kita kemauan.
Laptop bisa nebeng di balai desa. Internet bisa pakai wifi desa. Yang penting
kita mau belajar."
Anak-anak muda itu mulai tertarik. Satu per satu mereka
ikut pelatihan. Ada yang serius, ada yang setengah hati. Tapi Amat sabar
membimbing.
Di malam hari, setelah pelatihan usai, Amat sering duduk
sendirian di balai desa. Ia menulis laporan, merencanakan materi berikutnya,
atau sekadar menikmati keheningan.
Pak Basuki, penjaga balai desa yang dulu sering ditemuinya
kecil, kadang menemani.
"Mat, kamu ini kayak dulu. Nggak berubah," kata
Pak Basuki suatu malam.
"Maksudnya, Pak?"
"Dulu kamu kecil, suka duduk di sini lihat TV.
Sekarang kamu duduk di sini bawa laptop. Masih sama, penasaran sama
teknologi."
Amat tersenyum. "Iya, Pak. Memang dari kecil saya
sudah penasaran. Dulu bongkar radio, sekarang bongkar internet."
Pak Basuki tertawa. "Baguslah. Desa ini butuh orang
kayak kamu."
"Makasih, Pak."
Malam itu, Amat menatap balai desa yang sunyi. Di dinding,
masih ada bekas tempat televisi dulu diletakkan. Kini televisi sudah pindah ke
rumah-rumah warga. Tapi balai desa tetap jadi pusat kegiatan, pusat perubahan.
"Suatu hari," bisik Amat, "balai desa ini
akan jadi pusat internet. Pusat digital. Dan semua orang akan tahu, dari desa
kecil ini, lahir perubahan besar."
Tiga bulan setelah Amat pulang, website resmi Desa Awan
Biru resmi diluncurkan. Bukan website mewah, hanya platform sederhana dengan
informasi dasar: profil desa, data penduduk, potensi wisata, dan berita
kegiatan.
Tapi bagi warga desa, itu adalah keajaiban.
Pak Lurah bangga. "Lihat, desa kita sekarang ada di
internet. Orang Jakarta bisa lihat kita."
Wiryono dan Marni datang ke acara peluncuran. Mereka duduk
di barisan depan, memandangi layar proyektor yang menampilkan website desa. Di
halaman utama, ada foto balai desa, foto kebun karet, dan foto warga yang
sedang bergotong-royong.
Marni menangis haru. "Itu... itu desa kita, Pak."
Wiryono mengusap air mata istrinya. "Iya, Bu. Anak
kita yang buat."
Di samping mereka, Serena—yang kini sudah lulus kuliah dan
bekerja di kota—pulang untuk acara itu. Ia tersenyum bangga pada Amat.
"Mat, kamu berhasil. Dulu kamu bilang mau bikin desa
masuk layar. Sekarang jadi kenyataan."
Amat tersenyum. "Masih awal, Ren. Masih banyak yang
harus dilakukan. Website ini harus diisi terus. Harus dikembangin. Harus
bermanfaat buat warga."
"Tapi ini awal yang bagus."
"Iya. Berkat kamu juga, Ren. Kamu yang pertama
ngajarin aku baca di pasir."
Serena tertawa. "Ah, masa kecil. Dulu kamu masih lugu,
sekarang jadi web developer."
Mereka tertawa bersama. Kenangan masa kecil terasa hangat.
Acara peluncuran berlangsung meriah. Warga desa
berbondong-bondong datang. Mereka antre untuk difoto, untuk diwawancarai, untuk
sekadar melihat nama mereka muncul di layar.
Anak-anak muda yang ikut pelatihan Amat, kini menjadi tim
pengelola website. Mereka bergantian menulis berita, mengupdate informasi, dan
merespons komentar dari pengunjung website.
Malam harinya, setelah semua acara selesai, Amat duduk
sendirian di beranda rumah. Laptop tuanya masih menyala, keyboard dengan tombol
"E" yang harus ditekan keras masih setia menemani.
Ia membuka blog pribadinya. Postingan terakhir sudah tiga
bulan lalu, saat ia pertama kali pulang. Kali ini ia menulis lagi.
Judul Postingan: "Hari Ini Desa Kami Lahir di Dunia
Maya"
Hari ini adalah hari bersejarah. Desa Awan Biru resmi
memiliki website. Bukan website biasa, tapi website yang akan menjadi rumah
bagi semua informasi tentang desa kami. Tentang warga kami. Tentang mimpi-mimpi
kami.
Tiga bulan lalu aku pulang dengan laptop tua dan hati penuh
tekad. Hari ini, tekad itu mulai membuahkan hasil. Tapi ini baru awal. Masih
banyak yang harus dilakukan.
Aku ingin website ini bukan sekadar pajangan. Aku ingin warga
desa merasakan manfaatnya. Petani bisa cek harga pasar. Ibu-ibu bisa promosi
dagangan. Anak muda bisa belajar online. Semua bisa terhubung dengan dunia
luar.
Mimpi itu masih panjang. Tapi kami tidak akan berhenti.
Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung. Untuk Bapak
dan Ibu, yang selalu percaya. Untuk Serena, yang pertama mengajariku membaca.
Untuk Bang Rudi, yang memberiku kesempatan di warnet. Untuk Pak Arman, yang
mengajariku ngeblog. Untuk semua warga Desa Awan Biru, yang sudah menerimaku kembali
dengan tangan terbuka.
Mari kita bangun desa ini bersama.
– Amat, admin website Desa Awan Biru.
Ia mempublikasikan tulisan itu. Lalu menutup laptop
perlahan.
Dari dalam rumah, ibunya memanggil, "Mat, tidur, Le.
Besok masih banyak kerjaan."
"Iya, Mak. Sebentar."
Amat memandangi langit malam. Bintang-bintang bertaburan,
sama seperti saat ia kecil dulu. Tapi kini ia melihatnya dengan cara berbeda.
Dulu, ia hanya melihat keindahan. Kini, ia melihat masa
depan.
Di ujung jalan tanah, di desa yang mulai terang, seorang
pemuda dengan keyboard tua sedang menulis babak baru dalam sejarah kampung
halamannya.
Dan dunia—lewat layar-layar kecil di berbagai penjuru—mulai
memperhatikan.
Keesokan paginya, Amat bangun lebih awal. Ia membuka laptop
dan melihat statistik pengunjung website desa. Angka pengunjung melonjak
drastis sejak kemarin. Puluhan komentar masuk, kebanyakan dari orang-orang yang
terharu membaca cerita desa.
"Selamat untuk Desa Awan Biru. Semoga makin
maju."
"Keren banget, desa kecil bisa punya website sebagus ini."
"Aku jadi kangen kampung halamanku setelah baca cerita ini."
Amat tersenyum. Ini baru permulaan.
Ia turun ke bawah, mencium tangan orang tuanya yang sedang
bersiap ke kebun.
"Pak, Bu, hari ini aku mau ke balai desa. Ada rapat
koordinasi dengan tim website."
"Iya, Le. Hati-hati," pesan Marni.
"Jangan lupa sarapan dulu," tambah Wiryono.
Amat mengangguk. Setelah sarapan sederhana dengan nasi dan
sambal, ia berangkat ke balai desa. Di perjalanan, ia bertemu Joko dan beberapa
anak muda lain yang juga menuju ke sana.
"Mat, gue baca komentar di website. Banyak yang suka,
Mat!" seru Joko bersemangat.
"Iya, Jo. Itu karena kita kerja sama. Kalau cuma gue
sendiri, nggak akan sebagus ini."
Mereka berjalan bersama, tertawa dan bercanda. Di balai
desa, tim sudah berkumpul. Pak Lurah dan Pak RT juga hadir.
"Selamat pagi, Mat. Ada kabar baik," sapa Pak
Lurah.
"Kabar apa, Pak?"
"Kemarin, setelah acara peluncuran, ada beberapa
wartawan dari kota yang menghubungi. Mereka tertarik meliput desa kita.
Katanya, cerita desa digital dengan admin anak muda itu menarik."
Amat terkejut. "Serius, Pak?"
"Serius. Mereka akan datang minggu depan. Jadi kita
harus siap-siap. Siapkan materi, siapkan tempat, siapkan warga yang mau
diwawancarai."
Tim website bersorak gembira. Amat tersenyum lebar.
Mimpinya mulai terwujud.
"Mari kita siapkan semuanya dengan baik, teman-teman.
Ini kesempatan kita untuk menunjukkan pada dunia, bahwa desa kecil pun bisa
maju."
Mereka mulai bekerja. Membagi tugas, menyusun jadwal,
mempersiapkan bahan-bahan. Balai desa yang dulu sunyi, kini ramai oleh
anak-anak muda dengan laptop masing-masing.
Di sela-sela kesibukan, Amat melirik ke luar jendela. Ia
melihat jalan tanah merah yang mulai diperbaiki, sawah dan kebun yang
menghijau, dan langit biru yang cerah.
"Kita akan membuat sejarah," bisiknya.
"Bersama-sama."
Minggu berikutnya, wartawan dari kota datang. Mereka
terkesan dengan apa yang mereka lihat: desa kecil dengan website yang dikelola
anak-anak muda, dengan cerita-cerita hangat yang menyentuh hati.
Amat diwawancarai di depan balai desa. Dengan laptop tuanya
di pangkuan, ia bercerita tentang perjalanannya, tentang mimpinya, tentang
desanya.
"Apa pesan Anda untuk anak-anak muda di desa
lain?" tanya wartawan.
Amat tersenyum. "Jangan pernah malu dengan asal
kalian. Justru dari sanalah kekuatan kalian berasal. Gunakan teknologi untuk
bercerita, untuk terhubung, untuk membangun. Karena dari desa, kita bisa
mengubah dunia."
Berita itu tayang di televisi lokal keesokan harinya. Warga
desa berkumpul di rumah-rumah yang punya TV, menyaksikan Amat dan desa mereka
muncul di layar kaca.
Wiryono dan Marni menangis haru. Mereka tidak pernah
menyangka, anak mereka yang lahir di tengah badai, yang dulu hanya bisa makan
tempe dan singkong, kini tampil di televisi.
Di kamarnya, Amat menonton berita itu sendirian. Air
matanya jatuh. Bukan karena sedih, tapi karena haru. Perjalanan panjangnya
akhir membuahkan hasil.
Tapi ia tahu, ini baru awal. Masih banyak yang harus
dilakukan. Desa ini butuh lebih dari sekadar website. Butuh internet yang lebih
cepat, butuh pelatihan untuk warga, butuh program-program yang benar-benar
bermanfaat.
Malam itu, ia menulis di blognya lagi.
Judul Postingan: "Ini Baru Awal"
Hari ini desaku muncul di televisi. Bukan karena bencana,
bukan karena hal buruk. Tapi karena mimpinya. Karena semangat anak-anak
mudanya.
Aku menangis saat menontonnya. Bukan karena bangga pada
diriku sendiri, tapi karena melihat wajah-wajah warganya yang tersenyum.
Melihat bapak dan ibuku yang menangis haru.
Ini baru awal. Masih banyak yang harus dilakukan. Tapi
setidaknya, kita sudah memulai. Dan kita tidak akan berhenti.
Untuk semua anak muda di desa: jangan takut bermimpi.
Jangan takut pulang. Karena desa kita butuh kita. Karena dari desa, kita bisa
membangun Indonesia.
– Amat, anak desa yang sedang bermimpi.
Ia mempublikasikan tulisan itu. Lalu memandangi langit
malam. Bintang-bintang bertaburan, sama seperti malam kelahirannya dulu.
Tapi kini, angin tidak lagi menderu kencang. Ia berhembus
lembut, membawa bisikan masa depan.
Di kejauhan, lampu-lampu desa mulai menyala satu per satu.
Jalan tanah merah mulai diperbaiki. Internet mulai mengalir.
Dan di sebuah rumah papan sederhana, seorang pemuda dengan
keyboard tua tersenyum. Mimpinya mulai menjadi nyata.
Perjalanan masih panjang. Tapi ia tidak sendiri. Ada
desanya, ada orang tuanya, ada teman-temannya, ada semua orang yang percaya
padanya.
"Desa Awan Biru," bisiknya. "Kita akan
terbang bersama."
BAB IV
"Pegawai Honorer dan Cinta yang Rumit"
Pagi itu, Desa Awan Biru bangun lebih awal dari biasanya.
Matahari belum sepenuhnya naik, tapi kabut sudah mulai menipis, meninggalkan
butiran-butiran embun yang berkilauan di ujung daun ilalang. Ayam jantan
berkokok silih berganti, seperti paduan suara alam yang tidak pernah salah irama.
Di tengah desa, berdiri sebuah bangunan sederhana yang
menjadi pusat pemerintahan: Kantor Desa Awan Biru. Bangunan itu tidak
megah—dindingnya bercat putih pudar dengan beberapa bagian mengelupas,
memperlihatkan tembok di bawahnya yang kehitaman karena jamur dan lumut. Papan
nama di depan kantor agak miring ke kiri, seolah sedang memberi hormat pada
setiap orang yang lewat. Tiang bendera di halaman menjulang tinggi, dengan
bendera merah putih yang mulai lusuh tapi tetap berkibar setiap pagi.
Halaman kantor berupa lapangan rumput yang mulai rata—tidak
karena dirawat, tapi karena sering diinjak warga yang datang mengurus surat
atau sekadar duduk-duduk di bangku taman sederhana di bawah pohon trembesi. Di
pojok halaman, ada sebuah sumur tua dengan timba bambu yang masih digunakan
untuk mengambil air saat musim kemarau.
Di dalam kantor, suasana masih sunyi. Meja-meja kayu tua
berjajar rapi, masing-masing dengan kursi kayu yang sudah berderak dimakan
usia. Di atas meja utama, sebuah mesin ketik tua berdiri gagah seperti veteran
perang yang enggan pensiun. Mesin itu merk "Brother", warna hitam
mengilap di beberapa bagian, tapi tombol-tombolnya sudah aus—huruf
"A" dan "E" hampir tidak terlihat lagi. Setiap kali
digunakan, suaranya "tak-tak-tak" keras memenuhi ruangan,
mengingatkan siapa pun yang mendengar bahwa administrasi desa masih setia pada
cara lama.
Di samping mesin ketik itu, sebuah komputer tua dengan
monitor tabung—hibah dari pemerintah kabupaten tiga tahun lalu—tergeletak
begitu saja. Debu menempel di layar dan CPU, menandakan bahwa mesin modern itu
jarang disentuh. Kebanyakan perangkat desa lebih nyaman dengan mesin ketik dan
tulisan tangan. Komputer itu hanya menjadi pajangan, bukti bahwa desa pernah
menerima bantuan, meski tidak tahu cara menggunakannya.
Di dinding belakang, sebuah lemari besi tua berdiri kokoh.
Cat hijaunya mengelupas di sana-sini, memperlihatkan besi di bawahnya yang
mulai berkarat. Di dalam lemari itu, tersimpan ratusan berkas—ada yang rapi,
ada yang berantakan—semuanya menguning seperti sejarah yang tak sempat
dirapikan. Surat tanah, surat nikah, surat kematian, semuanya bercampur aduk.
Mencari satu berkas bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari.
Pak Carik, sekretaris desa lama yang sudah pensiun lima
tahun lalu, pernah berkata, "Berkas-berkas ini adalah arwah desa. Kalau
berantakan, arwahnya juga gentayangan."
Pernyataan itu dianggap lucu, tapi juga sedikit mengganggu.
Di sudut ruangan, sebuah papan pengumuman besar ditempeli
berbagai macam kertas: informasi program pemerintah, jadwal posyandu,
pengumuman lomba 17 Agustusan, dan selebaran-selebaran lain yang sudah
menguning karena terlalu lama menempel. Sebagian sudah sobek, sebagian lagi
hampir tidak terbaca karena tertimpa pengumuman baru.
Kantor Desa Awan Biru adalah cerminan dari desa itu
sendiri: sederhana, agak kumuh, penuh dengan barang-barang tua, tapi tetap
hidup dan berdenyut setiap hari. Di sinilah urusan warga diurus, dari kelahiran
hingga kematian. Dari surat pengantar KTP hingga rekomendasi izin usaha.
Semuanya manual, semuanya pakai kertas, semuanya lambat.
Tapi hari ini, akan ada perubahan. Perlahan, tapi pasti.
Amat tiba di kantor desa pukul setengah delapan pagi. Ia
datang lebih awal dari yang diminta, karena ia ingin melihat semuanya,
merasakan semuanya, mempersiapkan diri untuk hari pertama sebagai pegawai
honorer.
Ia memakai kemeja putih lengan panjang—satu-satunya kemeja
putih yang ia miliki—dengan celana bahan hitam agak longgar. Sepatunya adalah
sepatu pantofel bekas yang ia beli di pasar loak seharga dua puluh ribu rupiah.
Lumayan, tidak bolong seperti sepatu masa kecilnya dulu.
Di tangannya, ia membawa tas ransel usang berisi
laptop—laptop tua yang menjadi sahabat setianya selama ini. Tombol
"E"-nya masih harus ditekan keras, baterainya cuma tahan setengah
jam, tapi itu cukup. Lebih dari cukup.
Saat ia melangkah masuk ke halaman kantor, ia berhenti
sejenak. Memandangi bangunan itu dengan perasaan campur aduk.
"Dulu, waktu kecil, aku sering main di halaman sambil
nunggu televisi dinyalakan," gumamnya pelan. "Sekarang aku kerja di
sini."
Ia tersenyum sendiri, lalu melanjutkan langkah.
Begitu memasuki ruangan utama, ia melihat seseorang sudah
duduk di meja depan. Sosok itu familiar—rambut sebahu rapi disanggul, kacamata
tipis di wajah, dan senyum yang langsung melebar begitu melihat Amat.
Yuni Kartika. Teman masa kecil yang dulu sering main bareng
di lapangan tanah. Sekarang, di usia 23 tahun, Yuni menjabat sebagai Sekretaris
Desa—posisi yang cukup bergengsi untuk ukuran desa. Ia adalah lulusan SMK Administrasi
Perkantoran yang langsung direkrut setelah lulus karena kemampuannya yang
diakui.
"Wah, Admin Desa sudah datang!" sapa Yuni dengan
nada ceria.
Amat tersenyum canggung. "Eh, Yuni. Kamu sudah di sini
dari tadi?"
"Baru aja sampai. Biasanya aku datang setengah tujuh,
biar bisa nyiapin ruangan sebelum yang lain datang," jawab Yuni sambil
merapikan berkas di mejanya.
"Rajin banget."
"Namanya juga kerja, Mat. Harus profesional. Lagian,
jadi Sekdes itu tanggung jawabnya besar. Salah-salah bisa kena marah Pak
Kades."
Amat duduk di kursi yang disediakan—sebuah kursi kayu tua
yang langsung berderak begitu ia duduk. Ia agak kaget, takut kursinya ambruk.
"Tenang, Mat. Kursi itu sudah menemani tiga sekretaris
desa sebelumnya. Masih kuat kok," goda Yuni.
Amat tertawa kecil, lalu meletakkan tasnya di samping meja.
"Jadi, apa yang harus aku kerjakan hari pertama?"
tanyanya.
Yuni berpikir sejenak. "Sebenarnya belum ada job desk
resmi untukmu. Kamu di sini sebagai tenaga honorer, khusus IT. Jadi, mungkin
kamu bisa mulai dengan... ya, ngeliat-lihat dulu. Kenalan sama rekan kerja.
Siapa tahu ada yang bisa kamu bantu."
"Oke. Tapi... IT di sini apa yang bisa dikerjakan?
Komputernya saja cuma satu, itu pun jarang dipake."
"Itulah PR-mu, Mat. Kamu harus bikin kita semua pake komputer.
Bukan cuma pajangan."
Amat mengangguk mantap. "Siap. Aku usahakan."
Dari ruangan sebelah, terdengar suara langkah kaki
mendekat. Pintu terbuka, dan muncullah sosok yang tak asing: Iwan Setiawan,
teman sepermainan bola masa kecil yang dulu paling dewasa di antara mereka.
Sekarang, di usia 25 tahun, Iwan menjabat sebagai Kepala Desa Awan Biru—kepala
desa termuda dalam sejarah desa. Ia terpilih dalam pemilihan kepala desa
setahun lalu, mengalahkan dua calon senior dengan program-program inovatifnya.
Iwan mengenakan kemeja batik lengan panjang, dipadukan
dengan celana hitam rapi. Rambutnya disisir ke belakang, sedikit diberi gel
agar tetap rapi. Wajahnya masih sama—tampan, dengan senyum yang selalu membuat
orang merasa nyaman. Hanya saja, kini ada aura kewibawaan yang mulai terbentuk.
"Mat! Akhirnya datang juga!" sapa Iwan lebar.
Amat berdiri, agak canggung. "Pa... Pak Kades."
Iwan langsung tertawa keras. "Astaga, Mat! Jangan
panggil Pak Kades kalau cuma kita berdua. Nanti aku merasa tua banget."
"Tapi... secara resmi, kan, kamu kepala desa."
"Resmi urusan nanti kalau ada tamu atau rapat.
Sekarang, panggil Iwan aja. Atau Wan, kayak dulu."
Amat tersenyum lega. "Oke, Wan."
Iwan mendekat, menjabat tangan Amat erat. "Selamat
bergabung, Mat. Aku senang banget kamu mau bantu desa ini."
"Makasih, Wan. Aku juga senang bisa pulang dan bekerja
di sini."
Mereka duduk. Yuni ikut bergabung di kursi sebelah.
"Gimana kabarmu, Mat? Sudah tujuh tahun, ya, sejak
terakhir kita ketemu?" tanya Iwan.
"Delapan tahun, kalau hitung sejak aku lulus SMP. Dulu
aku langsung merantau ke kota, kamu masih di sini."
"Iya, aku sempat kerja di kecamatan beberapa tahun,
lalu balik lagi ke desa. Waktu pilkades kemarin, banyak yang nyuruh aku maju.
Awalnya ragu, tapi lama-lama yakin."
"Dan kamu menang. Selamat, ya."
"Alhamdulillah. Tapi jadi kepala desa itu berat, Mat.
Tanggung jawabnya gila-gilaan. Warga datang setiap hari dengan berbagai
masalah. Ada yang minta surat, ada yang ngadu tanah, ada yang minta bantuan.
Kadang aku kewalahan."
"Untung ada Yuni," celetuk Amat.
Iwan mengangguk. "Untung ada Yuni. Dan sekarang,
untung ada kamu. Kita butuh orang yang paham teknologi. Desa ini harus berubah.
Administrasi harus rapi. Laporan harus jelas. Transparansi harus dijaga."
Amat mendengarkan dengan saksama. Matanya berbinar.
"Aku siap bantu, Wan. Sebisaku."
"Bagus. Oh iya, tunggu—" Iwan berdiri, menuju
pintu dan berteriak ke luar. "Eko! Cepetan! Udah jam setengah delapan,
masih aja belum datang!"
Dari kejauhan, terdengar suara orang berlari. Tak lama
kemudian, Eko Prasetyo muncul di ambang pintu dengan napas tersengal-sengal. Ia
masih memakai kaos oblong dan celana training, jelas belum siap kerja.
"Maaf... maaf... tadi aku bantu ibu dulu, jemur
gabah," ucapnya terbata-bata.
Iwan menggeleng-geleng. "Kamu ini, Ko. Udah jadi Kaur
Perencanaan, masih aja telat."
"Tapi kan belum jam kerja, Wan. Ini masih setengah
delapan."
"Jam kerja kita mulai jam delapan. Tapi sebagai
aparatur desa, kita harus datang lebih awal, siap lebih awal."
Eko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya, iya.
Besok aku usahakan lebih pagi. Eh, Mat! Lo sudah datang!" Eko langsung
menghampiri Amat, memeluknya erat.
"Eko, sesak!" protes Amat sambil tertawa.
"Kangen, Mat! Delapan tahun! Lo nggak pernah pulang,
cuma kabar lewat telepon."
"Iya, iya. Maaf. Sibuk di kota."
"Sibuk apaan? Katanya kerja serabutan?"
"Ya, serabutan. Jadi asisten toko komputer, jaga
warnet, freelance bikin website."
Eko mengangguk-angguk. "Wah, keren. Sekarang lo jadi
IT-nya desa. Kita satu tim lagi, kayak dulu."
"Iya, satu tim. Tapi sekarang nggak main bola, kerja
beneran."
Mereka tertawa bersama. Suasana hangat memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian, dua orang lain masuk: Lulu Anggraini dan
Endang Lestari. Lulu, 21 tahun, adalah Kaur Keuangan—lulusan SMK Akuntansi yang
teliti dan agak pemalu. Endang, 22 tahun, adalah Kasi Pelayanan—lulusan SMA
yang kemudian kursus administrasi perkantoran. Mereka berdua adalah teman satu
angkatan dengan Amat di SD dulu.
"Amat!" seru Lulu girang. "Kamu sudah
datang!"
"Iya, Lu. Gimana kabarmu?"
"Baik. Kerja di sini lumayan, kadang sibuk, kadang
santai. Tapi kalau akhir bulan, pasti sibuk ngurus laporan keuangan."
Endang ikut menyapa. "Mat, kamu sekarang jadi anak
buah kita, ya?"
Amat tersenyum. "Iya, End. Kalian semua atasanku sekarang."
Endang tertawa. "Jangan gitu. Kita sama-sama kerja.
Nggak ada atasan-bawahan. Yang penting, kita kompak."
Iwan mengangguk setuju. "Nah, itu yang penting. Kita
semua satu tim. Mungkin secara struktur, aku kepala desa, Yuni sekdes, dan
kalian semua perangkat. Tapi di luar urusan resmi, kita tetap kawan. Kita
tumbuh bersama di desa ini, kita harus bangun desa ini bersama."
Semua mengangguk. Ada semangat baru di ruangan itu.
Semangat anak muda yang ingin mengubah sesuatu.
Tapi di sudut ruangan, dari balik pintu yang sedikit
terbuka, sesosok pria paruh baya mengamati mereka dengan tatapan sulit
diartikan. Pak Surono—perangkat desa senior yang sudah mengabdi selama 30
tahun, sejak zaman Pak Lurah masih bernama Pak Kepala Desa. Ia adalah saksi
hidup perjalanan desa ini, dari masa paling gelap hingga mulai terang seperti
sekarang.
Ia menghela napas pelan, lalu berbalik dan pergi ke
ruangannya di belakang.
"Anak-anak muda," gumamnya pelan. "Mereka
paham apa tentang desa?"
Hari pertama Amat bekerja di kantor desa berlangsung dengan
berbagai kejutan kecil. Setelah perkenalan dengan semua rekan kerja, ia mulai
berkeliling, mengamati, dan bertanya-tanya tentang sistem administrasi yang
berjalan.
Yang pertama ia perhatikan adalah tumpukan berkas di meja
Pak Carik—posisi yang sekarang dipegang Yuni, meski secara struktural Sekdes
adalah jabatan berbeda. Tumpukan berkas itu tingginya hampir setengah meter,
berisi surat-surat yang belum diproses, proposal yang belum direspon, dan
laporan-laporan yang belum direkap.
"Yun, ini semua berkas apa?" tanya Amat.
Yuni menghela napas. "Itu... PR kita. Surat-surat yang
masuk tiga bulan terakhir. Sebagian belum dijawab, sebagian belum
diarsip."
"Kenapa lama banget?"
"Karena manual, Mat. Kita tulis semua dengan tangan,
atau pakai mesin ketik. Satu surat bisa makan waktu setengah jam. Belum lagi
kalau salah ketik, harus ulang dari awal."
Amat mengangguk paham. "Seharusnya ini bisa lebih
cepat dengan komputer."
"Bisa, tapi siapa yang bisa? Kamu lihat sendiri,
komputer kita cuma satu, itu pun jarang dipake. Kebanyakan dari kita nggak
terbiasa."
Amat berpikir sejenak. "Kalau aku latih kalian?
Pelan-pelan. Nggak perlu langsung bisa semua. Mulai dari yang paling dasar
dulu: ngetik, nyimpan file, bikin folder."
Yuni tersenyum. "Kamu mau repot-repot gitu?"
"Bukan repot. Ini tugasku."
"Bagus kalau gitu. Tapi jangan harap semua langsung
mau belajar. Ada beberapa yang... ya, agak keras kepala."
Amat tahu siapa yang dimaksud Yuni. Ia sudah mendengar
tentang Pak Surono dari Iwan.
Di meja dekat jendela, Lulu sedang sibuk dengan kalkulator
dan tumpukan kwitansi. Ia menghitung satu per satu dengan teliti, sesekali
mencoret di buku catatan.
"Lu, sibuk?" tanya Amat mendekat.
Lulu mengangkat wajah, menghela napas. "Ini laporan
keuangan bulan lalu. Harus selesai hari ini, soalnya besok mau dibawa ke
kecamatan."
"Banyak banget?"
"Banyak, Mat. Setiap transaksi harus dicatat manual.
Ada puluhan kwitansi, belanja desa, honor kegiatan, beli alat tulis, semua
harus direkap. Kalau salah satu aja, bisa koma."
"Pernah pakai Excel?"
Lulu mengerutkan dahi. "Excel? Itu apa?"
"Program di komputer buat ngitung otomatis. Kamu
masukin angka, dia bakal jumlahin sendiri."
Mata Lulu berbinar. "Serius? Bisa gitu?"
"Bisa. Nanti aku ajarin."
Lulu tersenyum lebar. "Makasih, Mat. Kamu
penyelamat."
Di ruang sebelah, Endang sedang melayani warga yang datang
mengurus surat keterangan tidak mampu. Seorang ibu paruh baya dengan baju lusuh
duduk di hadapannya, menunggu dengan sabar.
"Bu, ini suratnya sudah jadi. Tinggal tanda tangan Pak
Kades besok, baru bisa diambil," kata Endang.
"Makasih, Nduk. Berapa biayanya?"
"Gratis, Bu. Nggak dipungut biaya."
Ibu itu tersenyum lega. "Alhamdulillah. Makasih,
Nduk."
Setelah ibu itu pergi, Amat mendekati Endang.
"Sering kayak gini?" tanyanya.
"Setiap hari, Mat. Warga datang dengan berbagai
keperluan. Ada yang minta surat pengantar KTP, surat nikah, surat keterangan
usaha. Semua harus dilayani dengan sabar."
"Kamu nggak kewalahan?"
"Kadang iya. Tapi ini tugas. Lagian, seneng bisa bantu
orang."
Amat tersenyum. "Kamu baik, End."
Endang tersipu. "Ah, biasa aja."
Siang itu, saat jam istirahat, mereka makan bersama di
halaman kantor. Lulu membawa nasi bungkus, Endang membawa gorengan, Eko membawa
buah pepaya dari kebunnya, dan Iwan membawa air kelapa. Mereka duduk di bangku
taman di bawah pohon trembesi, seperti reuni kecil.
"Mat, cerita dong, gimana rasanya di kota selama
delapan tahun?" pinta Eko sambil mengunyah gorengan.
Amat berpikir sejenak. "Awalnya berat. Merantau di
usia 14 tahun, jauh dari orang tua, hidup sendiri. Tapi lama-lama terbiasa.
Kerja serabutan, belajar otodidak. Alhamdulillah, Allah kasih jalan
terus."
"Kamu nggak pernah ngerasa pengin pulang?" tanya
Lulu.
"Sering. Tiap hari. Tapi aku selalu ingat kata Bapak:
'Kalau pulang sebelum sukses, kamu cuma nambah beban keluarga.' Jadi aku
bertahan."
Iwan mengangguk. "Orang tuamu hebat, Mat."
"Iya. Mereka selalu support, meski kadang nggak ngerti
apa yang aku lakukan."
Eko tiba-tiba tertawa. "Ingat dulu waktu kita main
bola di lapangan tanah? Amat jadi penjaga gawang, badannya kecil, tapi
semangatnya gede."
Mereka semua tertawa. Kenangan masa kecil mengalir hangat.
"Dulu kita nggak punya apa-apa," kenang Endang.
"Bola anyaman plastik, gawang bambu. Tapi seneng banget."
"Sekarang kita punya kantor, punya tanggung
jawab," timpal Lulu.
"Tapi jangan sampai lupa sama yang dulu," kata
Iwan bijak. "Masa kecil kita yang bikin kita kuat. Yang bikin kita ngerti
susahnya hidup."
Amat mengangguk setuju. "Kita anak desa. Kita tahu
arti berjuang."
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Angin siang
bertiup lembut, membawa aroma tanah dan dedaunan. Burung-burung kecil
beterbangan di sekitar pohon trembesi, mencari sisa-sisa makanan yang mungkin
jatuh.
Tiba-tiba, dari balik kantor, muncul suara mesin ketik.
Tak-tak-tak... tak-tak-tak... keras dan teratur.
"Itu Pak Surono," kata Yuni. "Beliau masih
setia pakai mesin ketik. Katanya, lebih mantap, lebih resmi."
"Pernah ditawari pake komputer?" tanya Amat.
"Pernah. Tapi beliau nolak. Katanya, komputer itu bikin
orang malas mikir. Tinggal klik, surat jadi. Padahal, isinya belum tentu
bener."
Amat tersenyum getir. "Pernyataan yang lumayan
ekstrem."
"Iya. Tapi itulah Pak Surono. Beliau sudah 30 tahun di
sini. Sudah melihat tiga kepala desa berganti. Pengalamannya banyak."
"Tapi pengalaman tanpa adaptasi bisa jadi usang,"
kata Iwan.
Yuni menghela napas. "Itu PR kita. Gimana caranya
ngebujuk Pak Surono buat terbuka sama perubahan. Tanpa beliau, susah. Beliau
punya pengaruh besar di kalangan warga senior."
Amat merenung. "Mungkin butuh pendekatan khusus."
"Iya. Tapi itu nanti. Sekarang, kita nikmati dulu
istirahatnya."
Mereka kembali makan dan bercanda. Sementara di dalam
kantor, Pak Surono terus mengetik. Tak-tak-tak. Suara mesin ketik itu seperti
nyanyian masa lalu yang enggan berhenti.
Seminggu setelah mulai bekerja, Amat memutuskan untuk
memulai misi besarnya: membawa teknologi ke kantor desa. Ia tahu ini tidak
mudah. Selain keterbatasan infrastruktur, ada resistensi dari beberapa pihak,
terutama Pak Surono.
Tapi Amat tidak patah semangat. Ia ingat kata-kata ayahnya:
"Kadang hidup bukan soal lulus ujian, tapi lulus dari putus asa."
Suatu pagi, ia datang ke kantor dengan membawa dua benda
besar: sebuah CPU bekas yang ia beli dari toko komputer bekas di kecamatan
seharga tiga ratus ribu rupiah, dan sebuah modem USB pinjaman dari Bang Rudi,
pemilik warnet Maju Jaya.
"Hari ini kita belajar komputer!" serunya penuh
semangat begitu memasuki kantor.
Yuni, Lulu, dan Endang yang sudah ada di tempat langsung
menoleh. Eko belum datang—seperti biasa, agak telat.
"Wah, Mat, itu apa?" tanya Lulu penasaran.
"Ini CPU. Otaknya komputer. Yang ini modem, buat
koneksi internet."
"Internet? Di sini?" Yuni agak ragu.
"Iya. Sinyal di desa kita lumayan, apalagi setelah ada
tower baru di kecamatan. Coba kita tes."
Amat mulai menyambungkan kabel-kabel. CPU bekas itu
diletakkan di samping monitor tua yang sudah ada. Ia mencolokkan kabel power,
kabel VGA ke monitor, lalu kabel keyboard dan mouse.
Semua memperhatikan dengan antusias. Bahkan Pak Surono,
yang sedari tadi duduk di meja belakang sambil membaca koran, ikut melirik.
Setelah semua terhubung, Amat menekan tombol power. CPU
mengeluarkan suara berisik—kipasnya agak berdebu—tapi lampu indikator menyala.
Monitor menyala, menampilkan logo Windows yang ketinggalan zaman.
"Yes! Hidup!" seru Amat.
Lulu dan Endang bertepuk tangan. Yuni tersenyum lebar.
"Oke, sekarang kita coba internet," kata Amat.
Ia memasukkan modem USB ke port yang tersedia. Lampu modem
berkedip-kedip, mencari sinyal. Semua menahan napas.
Beberapa detik kemudian, lampu modem berubah menjadi biru
stabil.
"Konek!" teriak Amat.
Lulu langsung lompat-lompat kecil. "Asyikkk! Kita bisa
internetan!"
Pak Surono mendengus pelan. "Internetan buat apa?
Nonton YouTube?"
Amat tersenyum. "Bukan cuma buat nonton, Pak. Buat
cari informasi, buat kirim email, buat promosi desa. Banyak manfaatnya."
Pak Surono hanya menggeleng, lalu kembali ke korannya.
Amat tidak patah semangat. "Oke, siapa yang mau
pertama kali coba?"
Lulu mengacungkan tangan paling cepat. "Aku!
Aku!"
"Silakan, Lu. Duduk di depan komputer."
Lulu duduk dengan perasaan campur aduk—senang sekaligus
tegang. Ia menatap layar dengan mata berbinar.
"Ini apa?" tanyanya sambil menunjuk mouse.
"Itu mouse."
Lulu langsung meloncat mundur, hampir menjatuhkan kursi.
"Tikus?!"
Semua tertawa terbahak-bahak. Eko yang baru saja masuk ikut
terkekeh.
"Itu bukan tikus hidup, Lu!" teriak Eko sambil
menahan tawa.
Lulu memegang dadanya, napasnya terengah-engah.
"Jangan kagetin begitu! Saya trauma tikus di gudang beras! Dulu pernah
digigit!"
Amat menahan tawa, mencoba menjelaskan dengan serius.
"Tenang, Lu. Ini namanya mouse. Namanya memang tikus, tapi ini benda mati.
Fungsinya buat nunjukin sesuatu di layar."
"Jadi ini nggak gigit?"
"Nggak. Coba pegang."
Dengan ragu-ragu, Lulu meraih mouse. Ia menggenggamnya,
lalu menggerakkan ke kanan dan kiri. Kursor di layar ikut bergerak.
"Wah, gerak!" serunya kaget.
"Iya, itu dia. Kalau kamu mau ngeklik sesuatu, tekan
tombol yang kiri."
Lulu mencoba menekan tombol kiri. Sebuah ikon di layar
berubah warna.
"Aku bisa! Aku bisa!" Lulu girang seperti anak
kecil.
Endang yang sedari tadi mengamati dari belakang, mulai
tidak sabar. "Giliran aku, Mat! Aku juga mau coba!"
"Sabar, End. Satu-satu."
Lulu terus bereksperimen dengan mouse. Ia
menggerak-gerakkan, menekan sana-sini, kadang salah klik, kadang kebuka program
yang tidak sengaja. Tapi ia menikmati setiap detiknya.
Setelah Lulu puas, giliran Endang. Ia duduk di depan
komputer dengan sedikit ragu.
"Mat, aku mau ngetik. Gimana caranya?"
"Arahin kursor ke ikon yang tulisannya 'Microsoft
Word', lalu klik dua kali cepat."
Endang mencoba. Ia agak kesulitan menggerakkan mouse, tapi
akhirnya berhasil membuka Word.
"Ini tempat ngetiknya?"
"Iya. Coba ketik nama kamu."
Endang mulai mengetik. Jari-jarinya kaku, satu per satu
huruf ia tekan dengan hati-hati. Huruf E, N, D, A, N, G—muncul di layar.
"Wah, keluar!" serunya senang.
Amat tersenyum bangga. Melihat rekan-rekannya mulai akrab
dengan teknologi adalah kepuasan tersendiri.
Tapi kemudian Endang bertanya, "Mat, kenapa hurufnya
besar semua?"
Amat melihat layar. "Itu Caps Lock aktif."
"Caps Lock? Apa itu?"
"Tombol di keyboard yang bikin huruf jadi kapital
semua. Coba tekan tombol Caps Lock sekali lagi."
Endang mencari-cari tombol Caps Lock. "Yang
mana?"
"Itu, di sebelah kiri, agak ke tengah."
Endang menekan, lalu mengetik lagi. Sekarang hurufnya
kecil.
"Oh, gitu. Berarti kalau nggak sengaja ke pencet,
hurufnya jadi teriak semua, ya?"
Semua tertawa. Eko berseloroh, "Berarti surat kita
nanti teriak semua dong? 'KEPADA YTH...' huaahaha!"
Ruangan penuh tawa. Keceriaan anak muda memenuhi kantor
desa yang biasanya sunyi.
Di sudut ruangan, Pak Surono masih membaca koran. Tapi
sesekali ia melirik ke arah mereka. Ada sesuatu di matanya—mungkin rasa
penasaran, mungkin rasa iri, mungkin juga kekhawatiran.
"Anak-anak muda," gumamnya pelan. "Mereka
paham apa?"
Beberapa minggu berlalu. Amat terus melatih rekan-rekannya
menggunakan komputer. Perlahan, mereka mulai terbiasa. Lulu sudah bisa
menggunakan Excel untuk rekap keuangan. Endang bisa mengetik surat di Word.
Yuni mulai belajar menyimpan file dalam folder-folder yang rapi. Eko—meski agak
lambat—mulai bisa membuat presentasi sederhana.
Tapi Pak Surono tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau
menyentuh komputer. Setiap kali ada surat yang harus diketik, ia masih
menggunakan mesin ketik tua itu. Suara tak-tak-tak masih setia menemani
aktivitas kantor.
Suatu hari, konflik memuncak.
Iwan memimpin rapat desa rutin. Hadir semua perangkat desa,
termasuk Pak Surono dan beberapa tokoh masyarakat senior. Agenda utama: rencana
digitalisasi administrasi desa.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, sesuai arahan dari kabupaten,
kita diminta untuk mulai beralih ke sistem administrasi berbasis digital.
Artinya, semua surat-menyurat, laporan keuangan, data penduduk, harus tersimpan
dalam komputer," jelas Iwan.
Pak Surono langsung mengangkat tangan. "Pak Kades,
saya ingin protes."
"Silakan, Pak Surono."
"Ini ide dari mana? Digitalisasi segala. Desa kita ini
desa kecil. Warganya petani dan buruh. Apa perlu repot-repot pakai komputer?
Selama 30 tahun saya kerja, pakai mesin ketik saja sudah cukup."
Iwan mencoba tenang. "Saya paham, Pak. Tapi zaman
berubah. Pemerintah pusat sudah mewajibkan. Laporan keuangan harus online. Data
penduduk harus masuk database nasional. Kalau kita tidak ikut, kita bisa
ketinggalan."
"Ketinggalan? Kita ini di desa, Pak Kades. Yang
penting warga terlayani. Urusan administrasi beres. Nggak perlu
heboh-heboh."
Yuni mencoba menjelaskan. "Pak Surono, justru dengan
komputer, pelayanan bisa lebih cepat. Warga nggak perlu nunggu lama. Surat bisa
jadi dalam hitungan menit."
Pak Surono mendengus. "Menit? Dengan mesin ketik, saya
bisa bikin surat dalam 10 menit. Cepat mana?"
"Tapi kalau suratnya banyak, Pak? Kalau ada 20 surat
dalam sehari? Dengan komputer, kita bisa buat template. Tinggal ganti nama dan
data, selesai. Dengan mesin ketik, harus ngetik dari awal setiap kali."
Pak Surono terdiam. Tapi ia belum menyerah.
"Lalu soal keuangan? Katanya harus online. Itu artinya
data kita disimpan di internet? Di tempat yang nggak jelas? Siapa yang bisa
akses? Kalau bocor gimana?"
Amat angkat bicara. "Pak, izin menjelaskan."
Pak Surono menatap Amat dengan tajam. "Kamu ini yang
bawa-bawa komputer, ya?"
"Iya, Pak. Tapi izinkan saya jelaskan. Data kita
disimpan di server pemerintah. Ada sistem keamanannya. Tidak semua orang bisa
akses. Hanya yang punya otoritas. Justru ini untuk transparansi. Semua laporan
bisa dilihat publik, jadi nggak ada yang bisa korupsi."
Mendengar kata "korupsi", beberapa wajah senior
berubah. Pak Surono tampak tersinggung.
"Maksudmu, selama ini kita korupsi?"
"Bukan begitu, Pak. Maksud saya—"
"Sudah, sudah. Saya ngerti maksud anak muda. Kalian
pikir kami ini kuno, nggak ngerti zaman. Tapi ingat, kami yang jaga desa ini
selama puluhan tahun. Waktu kalian masih pipis di celana, kami sudah ngurus
surat-surat warga."
Suasana tegang. Iwan mencoba menengahi.
"Pak Surono, tidak ada yang meremehkan. Justru kami
butuh pengalaman Bapak. Digitalisasi bukan berarti meniadakan cara lama. Tapi
menambah cara baru. Bapak tetap bisa pakai mesin ketik kalau mau. Tapi untuk
laporan yang harus online, kami butuh bantuan tim IT."
Pak Surono berdiri. "Sudah, saya tidak mau debat. Yang
jelas, saya tidak akan pernah pakai komputer itu. Kalau desa mau maju, silakan.
Tapi jangan harap saya ikut-ikutan."
Ia keluar ruangan dengan langkah tegas. Pintu dibanting
pelan, tapi cukup membuat semua terdiam.
Suasana rapat menjadi canggung. Beberapa tokoh senior lain
tampak ragu. Ada yang mendukung Pak Surono, ada yang diam.
Iwan menghela napas. "Lanjutkan rapat lain kali saja.
Kita diskusi internal dulu."
Rapat bubar. Amat duduk termenung di kursinya. Yuni
mendekat.
"Mat, kamu nggak salah. Jangan berkecil hati."
"Aku salah, Yun. Mungkin terlalu memaksa."
"Kamu nggak memaksa. Kamu cuma menjelaskan.
Masalahnya, Pak Surono belum siap menerima. Butuh waktu."
"Tapi waktunya berapa lama? Sementara tuntutan dari
atas terus berdatangan."
Yuni tersenyum simpuh. "Namanya perubahan, Mat. Nggak
pernah instan. Dulu kita main bola pakai bola anyaman, sekarang pakai bola
sungguhan. Itu juga butuh waktu."
Amat tersenyum getir. "Kamu bijak, Yun."
"Bukan bijak. Cuma sudah terbiasa lihat konflik kayak
gini. Dulu waktu awal-awal jadi Sekdes, banyak juga yang nggak setuju. Tapi
pelan-pelan, mereka luluh."
"Gimana caranya?"
"Buktikan. Bukan dengan debat, tapi dengan hasil.
Kalau komputer bisa bikin kerjaan lebih cepat, lebih rapi, lebih mudah, mereka
lama-lama akan lihat sendiri."
Amat mengangguk. "Makasih, Yun."
"Sama-sama, Mat. Ayo, kita kerja lagi."
Mereka kembali ke meja masing-masing. Suasana kantor
kembali normal. Tapi di hati Amat, ada tekad yang semakin kuat. Ia harus
membuktikan. Bukan untuk dirinya, tapi untuk desa ini.
Suatu sore, saat Amat sedang sibuk memperbaiki kabel-kabel
komputer yang semrawut, seseorang masuk ke kantor. Seorang perempuan muda,
dengan rambut sebahu yang diikat setengah, mengenakan baju kurung sederhana dan
jilbab warna pastel. Di tangannya, ia membawa map berisi beberapa lembar
kertas.
"Permisi, apa ini kantor desa?" tanyanya dengan
suara lembut.
Amat yang sedang setengah merangkak di bawah meja langsung
berdiri—terlalu cepat. Kepalanya membentur meja.
"Duk!"
Perempuan itu terkejut. "Astaghfirullah, tidak
apa-apa?"
Amat mengusap kepalanya yang sakit, wajahnya memerah.
"Ti... tidak apa-apa. Meja yang salah tempat."
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang teduh, seperti cahaya
matahari sore yang masuk lewat jendela.
"Iya, ini kantor desa. Ada yang bisa dibantu?"
tanya Amat berusaha terlihat profesional, meski kepalanya masih berdenyut.
"Saya Rania Putri Lestari. Guru PAUD yang baru
ditugaskan di sini. Saya mau mengajukan proposal kegiatan literasi anak."
Amat menerima map itu. "Silakan, Bu. Duduk dulu. Saya
panggilkan Sekdes, Bu Yuni."
"Terima kasih."
Rania duduk di kursi tamu. Matanya mengamati sekeliling
ruangan. Lalu tertuju pada komputer yang menyala di meja Amat.
"Wah, desa ini sudah pakai komputer?" tanyanya
dengan nada kagum.
Amat tersenyum bangga. "Sedang menuju digital.
Pelan-pelan."
"Bagus sekali. Di tempat tugas saya sebelumnya,
komputer cuma jadi pajangan. Jarang dipake."
"Di sini juga awalnya gitu. Tapi sekarang mulai
aktif."
Yuni keluar dari ruangannya. "Ada tamu, Mat?"
"Iya, Yun. Ini Bu Rania, guru PAUD baru. Mau ngajukan
proposal."
Yuni menyambut hangat. "Silakan, Bu. Mari ke ruangan
saya."
Rania berdiri, lalu menoleh pada Amat. "Makasih, Pak.
Senang desa ini punya anak muda yang paham teknologi."
Amat tersipu. "Sama-sama, Bu."
Setelah Rania masuk ke ruang Yuni, Amat kembali ke mejanya.
Tapi pikirannya melayang. Ada sesuatu dari perempuan itu yang membuatnya...
berbeda.
"Mat! Melamun?" tegur Eko yang tiba-tiba muncul.
Amat tersentak. "Ah, nggak... nggak."
Eko menyeringai nakal. "Wah, ada yang jatuh cinta,
nih."
"Jangan ngawur, Ko. Aku cuma... kaget aja."
"Kaget apaan?"
"Kaget... kepalaku terbentur meja."
Eko tertawa keras. "Iya, iya. Alasan klasik."
Tak lama kemudian, Rania keluar dari ruang Yuni.
Proposalnya sudah diterima. Ia mendekati Amat lagi.
"Pak, tadi Bu Yuni bilang, kalau saya butuh bantuan
teknis untuk dokumentasi kegiatan PAUD, bisa hubungi Bapak."
Amat mengangguk cepat. "Iya, Bu. Siap. Bisa."
"Terima kasih. Oh iya, Bapak tadi bilang, desa ini
sedang menuju digital. Artinya, anak-anak PAUD juga akan dikenalkan
teknologi?"
Amat berpikir sejenak. "Rencananya, iya. Tapi nggak
langsung. Mereka harus tetap kenal mainan tradisional, tetap kenal alam.
Teknologi hanya alat bantu."
Rania tersenyum lebar. "Saya suka cara berpikir Bapak.
Tidak terburu-buru, tetap memegang akar budaya."
"Makasih, Bu."
"Saya Rania. Panggil Rania aja."
"Kalau saya, Amat."
"Senang bertemu, Amat." Rania mengulurkan tangan.
Amat menjabatnya dengan sedikit gemetar. Tangannya lembut,
hangat.
"Senang bertemu juga, Rania."
Setelah Rania pergi, Amat duduk lemas di kursinya. Eko
langsung menghampiri.
"Gimana? Udah request apa?"
"Apaan sih, Ko! Nggak ada apa-apa."
"Yakin? Matanya berbinar-binar tadi."
"Aku lagi sakit mata."
"Sakit mata apaan? Sakit hati kali."
Mereka tertawa. Tapi dalam hati Amat, ada perasaan baru yang
tumbuh. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Sejak Siti Mawar. Sejak
Laila. Kali ini berbeda. Rania ada di desa yang sama. Sama-sama berjuang.
Sama-sama punya mimpi.
Beberapa hari kemudian, Amat mengunjungi PAUD tempat Rania
mengajar. Alasannya resmi: membantu memasang komputer bekas untuk administrasi
PAUD. Tapi sebenarnya, ia hanya ingin bertemu Rania lagi.
PAUD desa terletak di bekas rumah dinas guru SD yang sudah
tidak dipakai. Bangunannya sederhana—panggung kayu dengan atap seng—tapi
halamannya luas dan penuh pohon rindang. Anak-anak bermain di bawah pohon, ada
yang main ayunan, ada yang main bola, ada yang sekadar berlarian.
Amat tiba saat jam istirahat. Rania sedang duduk di
beranda, mengawasi anak-anak bermain. Begitu melihat Amat, ia tersenyum.
"Amat, datang!"
"Iya, mau pasang komputernya."
"Mari, saya antar ke ruang administrasi."
Mereka masuk ke ruang kecil di pojok bangunan. Ruangan itu
sederhana: meja kayu, lemari arsip, dan beberapa kardus berisi mainan edukatif.
"Komputernya taruh sini saja," tunjuk Rania pada
meja di pojok.
Amat mulai bekerja. Membongkar kardus, mengeluarkan CPU dan
monitor, menyambung kabel-kabel. Rania duduk di kursi sebelah, memperhatikan.
"Kamu dari mana beli komputer ini?" tanya Rania.
"Bekas. Beli di toko komputer bekas di kecamatan.
Murah, tapi masih lumayan buat administrasi."
"Berani banget beli barang bekas."
"Daripada beli baru tapi nggak sanggup. Yang penting
fungsi."
Rania mengangguk. "Prinsip hidup sederhana."
"Iya. Saya dari keluarga sederhana. Terbiasa apa
adanya."
Mereka diam sejenak. Suara anak-anak bermain terdengar dari
luar.
"Amat, kamu asli sini?" tanya Rania lagi.
"Asli. Lahir di sini, besar di sini. Waktu SMP
merantau ke kota kabupaten, baru balik lagi sekarang."
"Kenapa balik?"
"Pengen bangun desa. Dari kecil saya punya mimpi,
suatu hari desa ini dikenal orang lewat internet. Sekarang saya mulai wujudkan,
meski pelan."
Rania tersenyum. "Mimpi yang indah."
"Kamu sendiri, Rania? Asli mana?"
"Aku dari kota. Tapi sejak kuliah di jurusan PAUD, aku
punya mimpi juga: pingin ngajar di desa. Anak-anak desa itu istimewa. Mereka
polos, semangat, tapi sering kurang perhatian. Aku pingin ngasih yang terbuat
buat mereka."
"Kenapa milih desa ini?"
"Ditugasin. Tapi seneng, kok. Desa ini adem,
orang-orangnya ramah."
Amat memasang kabel terakhir. "Selesai. Coba
nyala."
Ia menekan tombol power. CPU menyala, monitor menyala.
Komputer berfungsi.
"Wah, jadi!" seru Rania girang.
"Iya. Tinggal install programnya. Nanti saya ajarin
cara pakenya."
"Makasih banyak, Amat. Kamu baik banget."
Amat tersipu. "Sama-sama."
Mereka duduk di beranda setelah komputer selesai. Rania
membawakan dua gelas teh manis.
"Ini, minum. Capek, kan?"
"Makasih."
Mereka menikmati teh sambil memandangi anak-anak yang
bermain.
"Seru, ya, lihat mereka," kata Amat.
"Iya. Setiap hari aku bersyukur bisa ngajar di sini.
Mereka mengingatkan aku tentang hal-hal sederhana: senang itu mudah, tertawa
itu gratis."
"Kamu filosofis."
"Bukan filosofis. Cuma... pengalaman. Dulu aku pernah
stres di kota. Semua serba cepat, serba kompetitif. Di sini, aku belajar
pelan-pelan. Menikmati proses."
Amat merenung. Kata-kata Rania menyentuh sesuatu di dalam
dirinya. Ia yang selalu terburu-buru, selalu ingin cepat berubah, selalu ingin
hasil instan. Mungkin perlu belajar dari Rania.
"Rania, kamu mau ngajar di sini lama?" tanyanya
tiba-tiba.
Rania menoleh. "Mungkin iya. Tergantung. Kenapa?"
"Nggak... cuma tanya. Kalau kamu di sini lama, mungkin
kita bisa kerja sama lebih banyak. PAUD dan desa. Bikin program literasi
digital yang ramah anak."
Rania tersenyum. "Ide bagus. Nanti kita diskusi lebih
lanjut."
Matahari mulai condong ke barat. Amat harus segera pulang.
Ia pamit, meninggalkan PAUD dengan perasaan hangat di dada.
Setelah website pertama yang alamatnya panjang dan gratisan
sering mati, Amat memutuskan untuk membuat yang baru. Kali ini, ia menggunakan
platform yang lebih stabil, dengan domain yang lebih pendek dan mudah diingat:
awambiru.desa.id.
Prosesnya tidak mudah. Domain desa.id harus melalui
verifikasi dari pemerintah pusat. Butuh waktu berminggu-minggu untuk mengurus
administrasi, mengirimkan surat permohonan, menunggu persetujuan. Tapi Amat
tidak menyerah. Ia bolak-balik ke kecamatan, ke kabupaten, mengurus berkas demi
berkas.
Akhirnya, setelah tiga bulan, domain itu disetujui.
Hari peluncuran website baru, Amat mengundang semua
perangkat desa berkumpul di ruang utama. Ia memasang proyektor pinjaman dari
sekolah, menyiapkan laptop, dan membuka website dengan bangga.
"Ini, Pak, Bu. Website baru Desa Awan Biru. Alamatnya
awambiru.desa.id. Resmi, terdaftar, dan mudah diingat."
Semua memandangi layar dengan takjub. Di halaman utama,
terpampang foto balai desa, foto kebun karet, foto warga bergotong-royong. Ada
menu profil desa, data penduduk, berita kegiatan, dan layanan publik.
Iwan berdiri, bertepuk tangan. "Hebat, Mat! Luar
biasa!"
Yuni, Lulu, Endang, dan Eko ikut bertepuk. Bahkan beberapa
warga yang kebetulan datang ikut menyaksikan.
Tapi di sudut ruangan, Pak Surono hanya memandang dengan
tatapan datar. Ia tidak bertepuk, tidak tersenyum. Tapi ia juga tidak protes.
Mungkin ada sedikit rasa penasaran di matanya.
Amat menjelaskan fitur-fitur website. "Ini profil
desa, berisi sejarah dan data umum. Ini data penduduk, akan kita update
berkala. Ini berita, tempat kita kasih info kegiatan desa. Dan ini layanan
publik, nanti warga bisa download formulir, lihat jadwal, bahkan ajukan surat
online."
"Warga bisa urus surat online?" tanya seorang
warga.
"Bisa, Pak. Tapi masih proses. Nanti kita
sosialisasikan."
Warga itu mengangguk-angguk. "Wah, canggih
sekali."
Setelah peluncuran, mereka foto bersama di halaman kantor.
Foto itu kemudian diunggah ke website, dengan caption: "Launching Website
Resmi Desa Awan Biru, Langkah Menuju Desa Digital".
Malam harinya, Amat duduk di beranda rumah. Laptopnya
terbuka, menampilkan statistik pengunjung website. Sudah ada 50 orang yang
mengunjungi hari pertama. Sebagian dari desa sendiri, sebagian dari kecamatan,
bahkan ada dari Jakarta.
Ia tersenyum. Mimpi masa kecilnya mulai terwujud.
Tapi kebahagiaan tidak bertahan lama. Seminggu setelah
peluncuran, website mati. Tiba-tiba saja tidak bisa diakses.
Amat panik. Ia cek koneksi internet, normal. Ia coba ping
domain, tidak respons. Ia hubungi penyedia hosting, tapi karena sudah malam,
tidak ada yang merespons.
Pagi harinya, ia langsung ke kantor. Ia coba lagi. Masih
mati.
Yuni datang, bertanya, "Mat, kenapa? Kok website nggak
bisa dibuka?"
"Error, Yun. Mungkin ada masalah di server
hosting."
"Server hosting? Itu apa?"
"Tempat nyimpen data website kita. Kalau mereka error,
website kita ikut error."
"Berapa lama bisa pulih?"
"Belum tahu. Masih nunggu respons dari penyedia."
Berita website mati cepat menyebar. Warga yang tadinya
antusias mulai kecewa. Beberapa datang ke kantor menanyakan kabar.
"Katanya website desa, kok baru seminggu mati?"
protes seorang warga.
"Lagi diperbaiki, Pak. Sabar," jawab Amat sabar.
Pak Surono, yang selama ini diam, mulai bersuara.
"Sudah saya bilang. Internet itu nggak bisa diandalkan. Gampang mati,
gampang error. Lebih baik pakai mesin ketik. Nggak perlu internet, nggak perlu
server segala."
Amat mencoba menjelaskan. "Pak, ini masalah teknis.
Bisa terjadi pada siapa saja. Yang penting kita punya backup data."
"Backup? Kalau servernya hilang, backupnya ikut
hilang. Nggak ada yang aman di internet."
"Tapi—"
"Sudah, saya nggak mau debat. Urus sendiri."
Pak Surono pergi. Amat menghela napas panjang.
Eko menghampiri. "Mat, lo nggak usah ambil pusing.
Emang Pak Surono itu susah diajak berubah."
"Aku tahu, Ko. Tapi ini bikin aku frustrasi. Aku udah
kerja keras, eh malah error."
"Namanya teknologi, Mat. Kadang naik, kadang turun.
Kayak emosi orang jatuh cinta."
Amat tertawa kecil. "Dasar lo."
Tiga hari kemudian, website pulih. Penyedia hosting minta
maaf, ada masalah teknis di data center mereka. Data website aman, tidak ada
yang hilang.
Amat langsung posting pengumuman di website dan media
sosial desa. "Website kembali normal. Mohon maaf atas
ketidaknyamanan."
Respon warga positif. Banyak yang senang website bisa
diakses lagi. Tapi Pak Surono tetap pada pendiriannya. Ia tidak pernah
menyentuh komputer, tidak pernah melihat website. Mesin ketiknya masih setia
menemani setiap hari.
Tak-tak-tak... tak-tak-tak...
Beberapa bulan kemudian, sebuah insiden memicu konflik
baru. Laporan keuangan desa triwulan pertama diunggah ke website, sesuai arahan
transparansi dari pemerintah kabupaten.
Semua data keuangan bisa diakses publik: berapa dana masuk,
berapa keluar, untuk apa saja. Rincian sampai ke tingkat pembelian alat tulis
dan honor kegiatan.
Awalnya, tidak ada masalah. Tapi kemudian, beberapa warga
mulai bertanya. Terutama tentang pos-pos tertentu yang mereka anggap janggal.
"Pak Kades, kenapa belanja alat tulisnya tiga juta?
Padahal kantor cuma punya lima pegawai," tanya seorang warga di forum
diskusi desa.
Iwan menjelaskan dengan sabar. "Itu untuk setahun,
Pak. Beli kertas, tinta printer, dan perlengkapan lain. Sudah sesuai
standar."
Tapi pertanyaan terus berdatangan. Beberapanya bernada
curiga, seolah-olah ada yang tidak beres.
Pak Surono datang ke kantor dengan wajah merah padam. Ia
langsung menghadap Iwan.
"Pak Kades, ini gara-gara website itu! Warga jadi pada
curiga! Padahal selama ini nggak pernah ada masalah!"
Iwan tenang. "Pak Surono, justru dengan transparansi,
warga jadi tahu. Mereka berhak bertanya. Itu bagian dari demokrasi."
"Tapi ini bikin susasana nggak enak! Beberapa tokoh
masyarakat protes ke saya. Mereka minta website ditutup saja."
"Tidak bisa, Pak. Ini arahan dari atas."
Pak Surono menunjuk Amat yang sedang duduk di meja sebelah.
"Ini semua gara-gara dia! Anak kemarin sore mau mengatur desa!"
Amat terkejut. "Pak, saya hanya menjalankan
tugas."
"Tugas? Kamu tahu apa tentang desa? Kamu baru balik
setahun, sudah sok tahu! Kami di sini puluhan tahun, tahu seluk-beluknya. Tapi
kamu datang bawa teknologi, bikin onar!"
Yuni mencoba menengahi. "Pak Surono, tenang. Ini bukan
salah Amat. Ini program pemerintah. Kita harus jalankan."
"Kalian ini! Anak-anak muda, bikin masalah, lalu kami
yang tua-tua disuruh beresin!"
Pak Surono keluar dengan emosi. Pintu dibanting keras.
Suasana kantor hening. Semua diam. Amat menunduk, menatap
lantai.
Iwan mendekat, meletakkan tangan di pundak Amat. "Mat,
kamu nggak salah. Jangan berkecil hati."
"Tapi dia benar, Wan. Aku memang baru balik setahun.
Apa aku terlalu memaksa?"
"Kamu nggak memaksa. Kamu melakukan tugas. Ini
konsekuensi dari perubahan. Pasti ada yang tidak setuju. Tapi kita harus tetap
jalan."
Lulu ikut menghibur. "Mat, kita semua di sini dukung
kamu. Nggak usah pikirin Pak Surono."
Endang menimpali. "Iya, Mat. Kalau ada apa-apa, kita
hadapi bareng."
Amat tersenyum getir. "Makasih, semuanya."
Malam harinya, Amat duduk termenung di beranda rumah. Rania
datang, membawa kue buatan sendiri.
"Amat, aku dengar ada masalah di kantor."
Amat menghela napas. "Iya. Pak Surono marah besar.
Katanya gara-gara aku, warga jadi curiga sama keuangan desa."
Rania duduk di sampingnya. "Kamu sedih?"
"Sedih... juga kecewa. Aku cuma mau bantu. Tapi malah
dianggap bikin masalah."
"Amat, dengar. Perubahan itu nggak pernah mudah.
Apalagi di tempat yang sudah nyaman dengan cara lama. Pasti ada
resistensi."
"Aku tahu. Tapi kadang capek juga."
Rania tersenyum. "Capek itu wajar. Tapi jangan
berhenti. Kamu lihat PAUD-ku? Dulu waktu pertama datang, orang tua murid pada
curiga. 'Guru baru dari kota, pasti aneh-aneh.' Tapi pelan-pelan, aku buktikan.
Sekarang mereka percaya."
"Gimana caranya?"
"Dengan konsisten. Dengan sabar. Dengan terus kasih
yang terbaik. Pada akhirnya, orang akan lihat hasil, bukan proses."
Amat merenung. "Kamu bijak."
"Bukan bijak. Cuma berpengalaman dikit."
Mereka tertawa kecil. Malam itu, Amat merasa sedikit lega.
Setelah insiden dengan Pak Surono, Amat memutuskan untuk
tidak menyerah. Tapi ia juga sadar, ia tidak bisa bekerja sendiri. Ia butuh
tim. Butuh anak-anak muda desa yang bisa diajak bergerak bersama.
Ia mulai merekrut relawan dari kalangan pemuda desa. Mereka
adalah lulusan SMA yang belum kerja, atau mahasiswa yang sedang libur kuliah.
Amat mengajari mereka dasar-dasar komputer, internet, dan pengelolaan konten.
"Kita akan jadi tim relawan digital Desa Awan
Biru," jelas Amat pada pertemuan pertama di balai desa. "Tugas kita:
membantu desa dalam hal teknologi. Mulai dari update website, dokumentasi
kegiatan, sampai bantu warga yang mau belajar."
Ada 10 pemuda yang datang. Sebagian antusias, sebagian
masih ragu.
"Mat, kita dibayar?" tanya Joko, anak muda 19
tahun yang dulu ikut pelatihan pertama.
"Nggak dibayar, Jo. Sukarela. Tapi kita dapat
pengalaman, dapat ilmu, dan bisa nambah portofolio. Siapa tahu nanti ada proyek
berbayar."
Joko mengangguk. "Oke. Aku ikut."
Satu per satu yang lain setuju. Mereka mulai belajar
bersama setiap Minggu sore di balai desa. Amat mengajar dengan sabar, dari nol.
Cara mengetik, cara menggunakan email, cara membuat laporan sederhana.
Minggu-minggu berikutnya, tim relawan mulai aktif. Mereka
membantu dokumentasi kegiatan desa. Mereka menulis berita untuk website. Mereka
mendampingi warga yang ingin mengurus surat online.
Respon warga positif. Banyak yang terbantu, terutama yang
anaknya merantau dan ingin mengurus surat dari jauh.
Pak Surono masih diam. Ia masih menggunakan mesin ketik.
Tapi beberapa kali, ia terlihat melirik ke arah komputer. Mungkin penasaran.
Mungkin ragu.
BAB V
"Server Down dan Hati yang Bimbang"
Pagi itu, Desa Awan Biru bangun dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi hanya ayam berkokok dan burung berkicau yang menyambut matahari.
Kini, ada suara lain yang ikut meramaikan: suara kendaraan bermotor yang lalu
lalang, suara buruh bangunan yang mulai bekerja, dan dari kejauhan, terdengar
alunan musik dari pengeras suara di balai desa—pengumuman tentang kegiatan
posyandu yang akan dilaksanakan siang nanti.
Desa Awan Biru tidak lagi sama.
Jalan tanah merah yang dulu menjadi ciri khas—yang becek
saat hujan dan berdebu saat kemarau—kini sebagian besar sudah diaspal. Aspalnya
masih baru, hitam mengkilap, dengan marka putih yang masih terlihat jelas.
Hanya beberapa gang kecil di pelosok yang masih mempertahankan tanah merah,
seperti sengaja menjadi saksi bisu perjalanan desa ini.
Kantor desa yang dulu catnya pudar dan papan namanya
miring, kini berdiri dengan wajah baru. Cat krem muda membuatnya terlihat lebih
cerah dan ramah. Papan nama sudah diluruskan, dengan huruf-huruf timbul yang
dicat emas: KANTOR DESA AWAN BIRU. Di halaman, taman kecil ditata rapi dengan
bunga-bunga warna-warni. Dua pohon trembesi yang dulu menjadi tempat berteduh,
kini diberi kursi taman melingkar di sekelilingnya, tempat warga duduk-duduk
sambil mengobrol.
Di depan kantor, sebuah papan informasi besar dipasang. Di
sana terpampang struktur organisasi desa, jadwal kegiatan, dan yang paling
mencolok: infografis penggunaan dana desa. Dengan warna-warna cerah dan bahasa
sederhana, warga bisa melihat kemana uang desa dialokasikan: untuk pembangunan
jalan, untuk bantuan langsung tunai, untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Di dalam kantor, perubahan juga terasa. Ruangan kini lebih
terang dengan cat putih bersih dan lampu neon yang cukup terang. Meja-meja kayu
tua sudah diganti dengan meja modern berbahan multipleks, meski beberapa masih
mempertahankan kursi kayu lawas—sebagai kenangan. Di sudut ruangan, sebuah rak
khusus berdiri dengan papan bertuliskan: DOKUMEN TRANSPARANSI DANA DESA. Di rak
itu, semua laporan keuangan tersusun rapi, bisa diakses siapa saja yang ingin
melihat.
Dan di meja paling pojok dekat jendela, duduk seorang pria
dengan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Di hadapannya,
sebuah laptop—bukan lagi laptop bekas dengan tombol "E" yang harus
ditekan keras, tapi laptop baru yang ia beli dari hasil tabungan dan honor
selama bertahun-tahun. Di samping laptop, sebuah modem WiFi—bukan lagi modem
USB lambat—menyala dengan lampu indikator stabil.
Pria itu adalah Amat. Usianya kini 28 tahun. Rambutnya
masih sama—ikal agak kemerahan—tapi wajahnya lebih dewasa. Ada garis-garis
halus di sudut matanya, tanda dari tahun-tahun yang penuh perjuangan. Kumis
tipis mulai tumbuh, membuatnya terlihat lebih berwibawa.
Ia menatap layar laptop dengan senyum kecil. Website desa
terbuka di hadapannya, dengan tampilan baru yang lebih modern. Statistik
pengunjung hari ini sudah mencapai 200 orang—angka yang dulu hanya mimpi.
"Akhirnya," gumamnya pelan. "Dari ujung
jalan tanah, sampai ke layar dunia."
Pintu kantor terbuka. Iwan masuk dengan langkah cepat,
diikuti Yuni dan beberapa perangkat desa lainnya. Wajah Iwan berseri-seri,
membawa secarik kertas.
"Mat! Mat! Ini surat keputusannya sudah turun!"
seru Iwan sambil melambai-lambaikan kertas.
Amat berdiri, sedikit bingung. "Surat keputusan apa,
Wan?"
Iwan mendekat, meletakkan kertas itu di meja Amat.
"Baca sendiri."
Amat membaca. Matanya membelalak. Surat Keputusan Kepala
Desa tentang Pengangkatan Tenaga IT Menjadi Kepala Seksi Pelayanan Informasi
Desa. Di bawahnya, tercantum namanya: Ahmad Syaifullah.
"Wan... ini..."
"Ini resmi, Mat. Kamu bukan lagi honorer. Kamu
sekarang ASN desa. Gajimu naik, statusmu jelas, dan kamu punya tanggung jawab
lebih besar."
Amat terdiam. Rasanya seperti mimpi. Delapan tahun bekerja
sebagai honorer dengan gaji pas-pasan, kadang telat berbulan-bulan, kadang
hanya dapat ucapan terima kasih. Kini, semua terbayar.
Yuni tersenyum. "Selamat, Mat. Kamu pantas dapat
ini."
Eko yang ikut masuk, menepuk pundak Amat. "Nah,
sekarang lo punya SK. Sah jadi tukang server."
Semua tertawa. Amat ikut tertawa, matanya sedikit
berkaca-kaca.
"Bukan tukang server," katanya pelan.
"Tukang masa depan."
Iwan mengangkat tangan, meminta perhatian. "Baik,
semuanya. Karena ini momen bersejarah, kita adakan rapat resmi sebentar lagi.
Semua perangkat desa wajib hadir. Kita akan umumkan secara resmi pengangkatan
Amat."
Satu jam kemudian, ruang rapat balai desa penuh sesak.
Semua perangkat desa hadir: Iwan sebagai kepala desa, Yuni sebagai sekretaris,
Eko, Lulu, Endang, Pak Surono, dan beberapa staf lain. Juga hadir tokoh
masyarakat dan perwakilan warga.
Iwan berdiri di depan, membuka rapat dengan resmi.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,"
jawab semua serempak.
"Hari ini kita punya agenda penting. Bukan agenda
rutin, tapi agenda yang akan menentukan arah desa kita ke depan. Saya ingin
mengumumkan sesuatu."
Semua hening, menanti.
Iwan mengambil napas. "Mulai hari ini, saudara kita,
Amat—Ahmad Syaifullah—resmi diangkat sebagai Kepala Seksi Pelayanan Informasi
Desa. Ini adalah posisi baru yang kita ciptakan khusus untuk menjawab tantangan
zaman. Dengan jabatan ini, Amat tidak hanya bertanggung jawab atas website
desa, tapi juga seluruh sistem informasi, dokumentasi, dan literasi digital warga."
Tepuk tangan bergemuruh. Beberapa warga bersorak. Amat
tersenyum, sedikit malu.
Didit—yang kini menjabat Ketua BPD—berdiri dan angkat
bicara. "Pak Kades, izin bicara."
"Silakan, Pak Didit."
Didit memandang Amat. "Mat, dulu kita kecil, saya
sering ngejek kamu. Saya bilang kamu aneh karena suka bongkar radio, suka
belajar komputer. Tapi sekarang, saya lihat sendiri. Kamu buktikan bahwa yang
aneh itu bisa jadi yang terdepan. Atas nama BPD, saya ucapkan selamat."
Amat terharu. "Makasih, Dit. Makasih banyak."
Pak Surono ikut angkat bicara. Ini pertama kalinya ia
bicara dalam forum resmi dengan nada dukungan.
"Saya dulu paling keras menolak teknologi. Saya pikir
mesin ketik sudah cukup. Tapi Amat sabar mengajari saya. Sekarang saya bisa
video call sama anak di perantauan. Saya bisa baca berita online. Saya...
berubah. Makasih, Mat."
Amat hampir menangis. Pak Surono—musuh terbesarnya
dulu—kini menjadi pendukung.
Iwan menutup sambutan. "Dengan pengangkatan ini, kita
harap Desa Awan Biru semakin maju. Bukan cuma infrastruktur, tapi juga sumber
daya manusianya. Mari kita dukung Amat menjalankan tugas."
Tepuk tangan lagi. Amat berdiri, memberi hormat pada semua
yang hadir.
Rapat selesai. Warga satu per satu memberi selamat. Ada
yang berjabat tangan, ada yang memeluk. Amat merasa seperti baru saja
menikah—dengan desanya sendiri.
Tahun-tahun berikutnya menjadi tahun yang penuh warna bagi
Desa Awan Biru. Pembangunan berjalan pesat berkat dana desa yang rutin turun.
Jalan diperbaiki, irigasi dibangun, posyandu direnovasi. Tapi yang paling
membahagiakan bukan hanya pembangunan fisik.
Kelahiran.
Anak-anak mulai lahir, membawa generasi baru yang akan
mewarisi desa ini.
Suatu subuh, di rumah sederhana Amat dan Rania, suasana
tegang. Rania terbaring di tempat tidur, keringat membasahi dahi. Amat duduk di
sampingnya, memegang tangannya erat.
"Sabar, Sayang. Sabar," bisik Amat, meski hatinya
deg-degan.
Rania meringis kesakitan. "Mat... sakit
sekali..."
Seorang perempuan muda dengan jas putih masuk. Ia adalah
Amilia Pradita, bidan desa yang baru ditugaskan beberapa bulan sebelumnya.
Usianya sekitar 25 tahun, dengan rambut sebahu dan senyum yang selalu
menenangkan. Ia datang bersama seorang anak kecil berusia tiga tahun—putrinya,
Anjelina—yang kini duduk di pojok ruangan dengan mata bulat penasaran.
"Bu Rania, Bu Rania, tenang. Ikuti napas saya.
Tarik... hembuskan... tarik... hembuskan..." pandu Amilia dengan tenang.
Amat hanya bisa berdoa. Ia menggenggam tangan Rania,
membisikkan kalimat-kalimat penguat.
Proses berlangsung lama. Matahari mulai naik ketika
akhirnya...
"Waaaaaaaa..."
Tangisan bayi memecah kesunyian subuh. Suara kecil yang
nyaring, seperti suara kehidupan baru.
Amilia tersenyum lebar. "Selamat, Pak Amat, Bu Rania.
Anak ibu lahir selamat. Perempuan."
Ia menggendong bayi mungil itu, membersihkannya dengan
lembut, lalu menyerahkan pada Rania.
Rania menangis haru. Bayi mungil dengan rambut tipis dan
mata terpejam itu terbaring di dadanya, merasakan kehangatan pertama dari
ibunya.
Amat mencium kening Rania, lalu mencium bayi itu. Air
matanya jatuh.
"Cantik sekali," bisiknya. "Cantik seperti
ibunya."
Amilia bertanya, "Sudah punya nama, Pak?"
Amat menatap Rania. Mereka sudah berdiskusi lama tentang
nama. Akhirnya, mereka sepakat.
"Anita," jawab Amat. "Anita Ahmad."
Rania tersenyum lemah. "Anita... bunga yang
indah."
Anjelina, putri Amilia, mendekat dengan malu-malu. Ia
menjulurkan jari kecilnya, menyentuh pipi Anita yang lembut.
"Adik..." bisiknya polos.
Amilia tersenyum. "Iya, Lin. Itu adik. Nanti kalau
besar, kalian bisa main bersama."
Hari itu, Amat merasa dunia lebih besar dari sekadar
website. Ada kehidupan baru yang lahir, ada tanggung jawab baru yang harus
diemban.
Tak lama setelah kelahiran Anita, desa semakin ramai dengan
kelahiran-kelahiran lain.
Di rumah Eko, istrinya melahirkan seorang anak laki-laki.
Eko—yang dulu paling sering telat dan suka bercanda—kini berganti peran menjadi
ayah. Ia memberi nama anaknya Bambang Prakoso.
"Bambang... biar kayak kesatria," katanya bangga
saat menunjukkan bayinya pada Amat.
Amat tertawa. "Kesatria apa? Kesatria telat?"
Eko mendelik. "Eh, jangan gitu. Sekarang aku rajin,
kok. Demi anak."
Di rumah Didit—yang kini akrab dipanggil "Pak Ketua
BPD"—lahir pula seorang anak laki-laki. Didit sudah punya anak pertama,
Hermawan, yang kini berusia 7 tahun dan mulai masuk SD. Anak kedua ini diberi
nama Herman.
Didit bercerita pada Amat, "Mat, anak keduaku. Semoga
bisa jadi seperti kamu."
Amat terkejut. "Seperti aku? Anakmu mau jadi admin
website?"
"Bukan. Mau jadi orang yang tekun. Yang nggak gampang
menyerah. Dulu aku sering ngejek kamu, tapi sekarang aku lihat hasilnya. Kamu
berhasil."
Amat tersenyum. Hidup memang penuh kejutan. Dulu musuh,
kini menjadi teman yang saling mendukung.
Anita, Bambang, dan Herman tumbuh bersama. Mereka sebaya,
sering bermain bersama di halaman kantor desa atau di lapangan dekat kebun
sawit—tempat yang dulu menjadi saksi masa kecil orang tua mereka.
Anjelina, putri Amilia, juga ikut bermain. Usianya tiga
tahun lebih tua dari Anita, jadi ia seperti kakak bagi mereka. Ia sering
mengajari Anita main boneka, atau berlarian mengejar Bambang yang selalu
lincah.
Suatu sore, saat matahari mulai condong, anak-anak itu
bermain di halaman kantor desa. Amat sedang sibuk di dalam, memeriksa laporan
APBDes di laptopnya. Rania duduk di teras, mengawasi anak-anak sambil membaca
buku.
Tiba-tiba, teriakan Rania memecah ketenangan sore.
"Mat! Mat! Cepat! Anita!"
Amat tersentak. Ia berlari keluar, jantung berdegup
kencang. "Ada apa? Kenapa?"
Rania menunjuk Anita yang sedang duduk di tanah, dengan
mulut belepotan tanah. Ia baru saja memasukkan segenggam tanah ke mulutnya.
Amat tertegun sejenak. Lalu tanpa sengaja, mulutnya
berkata, "Tanah? Itu aset desa!"
Rania melotot. "Kamu ini! Masih sempat bercanda?
Anakmu makan tanah!"
Amat langsung sadar, lalu tertawa gugup. "Maaf, maaf,
refleks. Udah kebiasaan mikir aset."
Ia menggendong Anita, membersihkan mulutnya dengan tisu
basah. Anita cengar-cengir, tidak mengerti kenapa ayah dan ibunya ribut.
"Anita, tanah itu bukan makanan. Tanah buat jalan, buat
nanam pohon. Bukan buat dimakan," jelas Amat pada bayinya yang belum
mengerti apa-apa.
Anita hanya tertawa kecil, lalu meraih wajah ayahnya dengan
tangan belepotan tanah.
Rania menggeleng-geleng, tapi akhirnya ikut tertawa.
"Dasar anak ayahnya. Sama-sama suka tanah."
Malam itu, mereka bertiga—Amat, Rania, dan Anita—duduk di
beranda rumah. Anita tertidur lelap di pangkuan Rania. Amat memandangi anaknya
dengan perasaan campur aduk.
"Ra, aku kadang nggak percaya," bisiknya.
"Aku punya anak. Aku punya keluarga."
Rania tersenyum. "Iya, Mat. Dan kamu juga punya desa,
punya tanggung jawab."
"Kadang aku takut. Takut nggak bisa jadi ayah yang
baik."
"Kamu pasti bisa. Asal... jangan lupa sama kami."
Amat merangkul istrinya. "Nggak akan."
Di usia 30 tahun, Amat semakin matang mengelola website
desa. Ia tidak hanya mengunggah laporan keuangan dan berita kegiatan. Ia mulai
menulis artikel-artikel ringan dengan gaya khasnya: humoris, sederhana, tapi
mengena.
Suatu hari, ia menulis artikel tentang penggunaan dana
desa. Judulnya sengaja dibuat menggelitik:
"Uang Desa Bukan untuk Beli Motor Ninja Kepala
Desa"
Isinya menjelaskan dengan bahasa sehari-hari tentang
alokasi dana desa: untuk jalan, untuk irigasi, untuk bantuan langsung, untuk
kegiatan pemberdayaan. Ada ilustrasi lucu buatannya sendiri: gambar Pak Kades
naik motor butut, dengan balon kata "Tenang, motor saya masih
2005-an."
Ia juga menyisipkan cerita tentang anak-anak desa yang
bermain di lapangan, tentang Anita yang pernah makan tanah, tentang Bambang
yang suka lari-lari. Semua dibungkus dengan pesan bahwa dana desa adalah untuk
masa depan anak-anak ini.
Artikel itu diunggah Kamis sore. Jumat pagi, sesuatu yang
tak terduga terjadi.
Eko berlari masuk ke kantor desa dengan napas
tersengal-sengal. Matanya membelalak, membawa ponsel di tangan.
"Mat! Mat! Website kita viral!"
Amat yang sedang asyik mengetik, menoleh dengan tenang.
"Viral? Maksudnya?"
"Ini! Artikel lo tentang motor ninja! Udah dishare di
grup-grup WhatsApp kecamatan, kabupaten, bahkan sampai provinsi! Komentarnya
ribuan!"
Amat berdiri, mendekati Eko. Ia melihat ponsel Eko yang
menampilkan grup WhatsApp dengan ratusan pesan baru. Semua membahas artikelnya.
"Wah, gila," gumam Amat.
Belum sempat ia merespons, tiba-tiba...
Layar laptopnya mati.
Amat mencoba refresh. Tidak ada koneksi. Ia cek modem—lampu
indikator mati. Ia coba restart—tetap tidak ada.
"Server down," gumamnya pelan.
Yuni yang mendengar, langsung panik. "Server down?
Berarti website kita nggak bisa diakses?"
"Iya. Kayaknya kelebihan pengunjung. Server kita nggak
kuat."
Iwan masuk dengan wajah campur aduk—antara bangga dan
khawatir. "Mat, ini kabar baik atau buruk sih?"
Didit yang ikut datang, tersenyum lebar. "Baik, Wan.
Artinya orang mulai baca. Desa kita dikenal."
"Tapi servernya mati," timpal Lulu.
"Ya itu konsekuensi. Kita harus upgrade."
Amat menghela napas panjang. "Ini ironis. Artikel
tentang transparansi dana desa malah bikin server kita jebol. Nanti dibilang,
desa cuma viral sehari."
Pak Surono yang sedari tadi diam, angkat bicara. "Mat,
ini pelajaran. Jangan cuma bangga karena viral. Kita harus siapkan
infrastruktur. Server harus ditingkatkan."
Amat mengangguk. "Iya, Pak. Saya akan urus."
Seharian itu, Amat sibuk menghubungi penyedia hosting,
meminta upgrade kapasitas. Sementara itu, komentar terus berdatangan di media
sosial—meski website mati, artikelnya sudah dishare dan dibaca di mana-mana.
Malam harinya, server kembali normal. Amat langsung posting
permintaan maaf dan penjelasan.
Judul Postingan: "Maaf, Server Kami Jebol Karena Kegemukan
Pengunjung"
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kepada seluruh pembaca setia website Desa Awan Biru, mohon
maaf yang sebesar-besarnya karena website kami sempat tidak bisa diakses
beberapa jam. Penyebabnya? Server kami kegemukan. Maksudnya, kelebihan
pengunjung.
Ternyata, artikel saya tentang "Uang Desa Bukan untuk
Beli Motor Ninja" menarik perhatian banyak pihak. Ada yang setuju, ada
yang protes, ada yang iseng nge-share. Terima kasih untuk semuanya.
Tapi ini jadi pelajaran berharga buat kami. Bahwa
transparansi bukan hanya soal mempublikasi data. Tapi juga soal menyiapkan
infrastruktur agar data bisa diakses siapa saja, kapan saja.
Kami akan upgrade server. Kami akan perbaiki sistem. Dan
kami akan terus menulis, dengan gaya kami sendiri: sederhana, jujur, kadang
lucu.
Karena desa ini bukan milik kami. Tapi milik kita semua.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
– Amat, Admin Website Desa Awan Biru.
Postingan itu langsung banjir komentar. Banyak yang memuji
kejujuran dan gaya humornya. Beberapa menawarkan bantuan teknis. Bahkan ada
dari dinas komunikasi kabupaten yang berjanji akan membantu pengembangan
infrastruktur.
Keesokan harinya, mobil dinas dari Kabupaten Awan Jingga
datang. Bukan untuk audit, tapi untuk membantu. Mereka membawa peralatan baru:
server yang lebih canggih, koneksi internet yang lebih stabil, dan pelatihan
untuk tim IT desa.
Amat tidak menyangka. Viral membawa berkah.
Namun ketenaran juga membawa konsekuensi. Semakin dikenal,
semakin banyak yang mengawasi.
Suatu pagi, sebuah mobil dinas berwarna hitam berhenti di
depan kantor desa. Dari dalam turun empat orang dengan pakaian rapi dan wajah
serius. Mereka membawa map-map tebal dan laptop.
Lulu yang melihat dari jendela, langsung berbisik panik,
"Inspektorat! Inspektorat datang!"
Semua perangkat desa tegang. Iwan mencoba tenang, tapi
tangannya sedikit gemetar. Yuni merapikan berkas-berkas di mejanya. Eko sibuk
mencari-cari dokumen yang mungkin diperlukan.
Amat menelan ludah. Ia tahu, inspektorat adalah lembaga
pengawas keuangan daerah. Kedatangan mereka bisa berarti pemeriksaan rutin,
tapi bisa juga berarti ada indikasi masalah.
Di ruang rapat, auditor senior—seorang pria paruh baya
dengan kacamata tebal—membuka pembicaraan.
"Selamat pagi, Pak Kades, Ibu Sekdes, dan jajaran.
Kami dari Inspektorat Kabupaten Awan Jingga akan melaksanakan audit rutin atas
penggunaan dana desa tiga tahun terakhir. Kami sudah mempelajari
laporan-laporan yang dipublikasikan di website desa. Sangat transparan, sangat
detail. Kami apresiasi."
Iwan menghela napas lega. "Terima kasih, Pak. Kami
memang berusaha transparan."
"Tapi," lanjut auditor itu, "kami tetap
perlu memverifikasi langsung. Memastikan semua sesuai aturan, sesuai bukti
fisik. Proses ini bisa memakan waktu beberapa hari."
Amat merasakan dadanya berdebar. Di dalam hatinya, ia
bergumam, "Kalau salah unggah satu angka saja... bisa bahaya."
Audit berlangsung selama tiga hari. Setiap berkas
diperiksa, setiap transaksi ditelusuri, setiap bukti fisik dicocokkan. Tim
Inspektorat bekerja teliti, sesekali bertanya, sesekali mencatat.
Amat hampir tidak tidur selama tiga hari itu. Ia
bolak-balik ke kantor, memastikan semua data bisa diakses, membantu tim auditor
mencari dokumen yang mereka perlukan. Ia juga terus memantau website,
memastikan tidak ada kesalahan teknis yang bisa menimbulkan kecurigaan.
Malam kedua, ia masih di kantor pukul sebelas malam.
Laptopnya menyala, menampilkan puluhan file yang harus dicek ulang. Matanya
perih, kepalanya pusing, tapi ia belum bisa pulang.
Pintu kantor terbuka. Rania masuk, membawa termos teh dan
sekotak makanan. Wajahnya lelah, tapi matanya penuh perhatian.
"Mat, kamu belum tidur?"
Amat menoleh, tersenyum lemah. "Ra? Kamu kok ke sini
malam-malam?"
"Anakmu udah tidur. Aku khawatir sama kamu. Belum
pulang, nggak kabar."
Amat menghela napas. "Maaf, Ra. Saya sibuk banget.
Auditnya besok terakhir."
Rania duduk di sampingnya. Ia menuangkan teh ke dalam
gelas, menyodorkannya pada Amat.
"Minum dulu. Makan. Jangan sampai sakit."
Amat menerima teh itu, meminumnya sedikit. Hangatnya
merambat di tenggorokan.
"Ra, Anita tadi demam. Kamu bahkan tidak tahu."
Amat tertegun. "Demam? Parah?"
"Udah turun sekarang. Tadi agak tinggi. Aku bawa ke
posyandu, dikasih obat. Sekarang tidur."
Amat menunduk. Rasa bersalah menyergap.
"Maaf, Ra. Aku... aku nggak tahu."
"Iya, karena kamu sibuk. Terlalu sibuk."
Mereka diam sejenak. Suara jangkrik dari luar terdengar
jelas.
"Mat," Rania memecah keheningan, "aku tahu
ini penting. Audit, website, semua itu penting. Tapi kamu juga punya keluarga.
Anita butuh ayahnya."
"Ra, aku lakukan ini semua buat kalian. Biar Anita
bangga punya ayah yang membangun desa."
Rania menatapnya lembut tapi tegas. "Anita lebih butuh
ayah yang hadir daripada ayah yang viral. Dia masih kecil, Mat. Dia nggak
ngerti soal website, soal transparansi. Dia cuma ngerti, ayahnya sering nggak
ada."
Amat terdiam. Kata-kata Rania seperti notifikasi keras di
hatinya.
"Aku... aku akan coba atur waktu lebih baik, Ra."
"Bukan coba. Lakukan. Karena kalau kamu terus begini,
aku merasa sendirian."
Rania berdiri, bersiap pulang. "Aku tinggal dulu.
Anita sendirian di rumah sama mbak yang jaga. Kamu kalau sudah selesai, pulang.
Jangan larut malam."
Ia melangkah pergi, meninggalkan Amat dengan segudang
perasaan.
Malam itu, Amat tidak bisa tidur. Bukan karena audit, tapi
karena kata-kata Rania yang terus terngiang.
Hari ketiga, audit selesai. Tim Inspektorat mengadakan
pertemuan penutupan dengan seluruh perangkat desa.
Auditor senior itu berdiri, membuka mapnya.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, setelah tiga hari melakukan pemeriksaan, kami
sampaikan hasil sementara."
Semua menahan napas.
"Hasilnya... sangat baik. Semua laporan sesuai dengan
bukti fisik. Tidak ditemukan penyimpangan. Penggunaan dana desa transparan dan
akuntabel. Kami apresiasi setinggi-tingginya."
Ruangan bergemuruh. Semua bersorak lega. Iwan memeluk Yuni.
Eko lompat-lompat kecil. Lulu menangis haru.
Amat tersenyum, tapi di dalam hatinya ada kelegaan yang
mendalam. Beban berat terangkat dari pundaknya.
"Tapi," lanjut auditor itu, "kami punya satu
catatan penting."
Semua diam lagi.
"Website desa ini luar biasa. Tapi jangan sampai
pengelolaannya mengorbankan kesehatan dan keluarga. Kami lihat Pak Amat
terlihat sangat kelelahan. Ingat, pembangunan desa harus seimbang dengan
pembangunan keluarga. Pesan dari kami: jaga kesehatan, jaga keluarga."
Semua menoleh ke arah Amat. Ia tersipu malu.
Iwan berdiri. "Terima kasih, Pak. Pesan Bapak akan
kami jadikan pegangan."
Setelah rombongan inspektorat pergi, Amat duduk lemas di
kursinya. Yuni mendekat.
"Mat, kamu denger kan pesan mereka? Jangan terlalu
memforsir diri."
"Iya, Yun. Aku dengar."
"Rania juga pasti khawatir."
Amat menghela napas. "Aku tahu. Aku akan ubah."
Malam itu, Amat pulang lebih awal. Ia matikan laptop pukul
setengah tujuh, sebelum magrib. Ia beli oleh-oleh untuk Anita: boneka kecil
dari pasar.
Sesampai di rumah, Anita langsung berlari memeluknya.
"Ayah! Ayah pulang!"
Amat menggendongnya, menciumi pipi gembulnya. "Iya,
Sayang. Ayah pulang."
Rania keluar dari dapur, melihat pemandangan itu. Matanya
berkaca-kaca.
"Kamu pulang awal?"
"Iya. Aku mau bobok sama Anita."
Malam itu, mereka makan malam bersama. Amat cerita tentang
audit yang selesai, tentang pujian dari inspektorat, tentang pesan mereka.
Rania mendengarkan dengan senyum.
Setelah Anita tidur, mereka duduk di beranda. Langit cerah,
bintang-bintang bertaburan.
"Ra, maafin aku," ucap Amat pelan.
"Maafin apa?"
"Maafin aku yang selama ini sibuk. Maafin aku yang
sering lupa sama kalian. Aku terlalu fokus sama desa, sampai lupa sama keluargaku
sendiri."
Rania menggenggam tangannya. "Aku nggak marah, Mat.
Aku cuma khawatir. Kamu kerja keras itu baik. Tapi jangan sampai habis."
"Aku janji, mulai sekarang aku atur waktu. Yang
penting, kualitas, bukan kuantitas."
Rania tersenyum. "Itu yang aku mau dengar."
Mereka berpelukan di bawah langit malam. Di dalam rumah,
Anita tertidur lelap dengan boneka barunya.
Keesokan harinya, Didit datang ke kantor. Bukan untuk rapat
BPD, tapi untuk ngobrol santai dengan Amat.
"Mat, gue mau ngomong."
"Apa, Dit?"
Didit duduk di kursi sebelah. "Gue selama ini... agak
merasa bersalah."
"Bersalah kenapa?"
"Dulu waktu kecil, gue sering ngejek lo. Bilang lo
aneh, bilang lo cuma anak desa yang mimpi terlalu tinggi. Gue kira lo nggak
akan kemana-mana."
Amat tersenyum. "Itu masa lalu, Dit."
"Iya, tapi gue masih inget. Sekarang lo buktikan. Lo
jadi orang penting di desa. Lo bikin website, bikin desa dikenal. Bahkan
inspektorat aja puji."
"Alhamdulillah, semua berkat dukungan kalian."
Didit menghela napas. "Gue jadi mikir, mungkin kalau
dulu gue nggak ngejek, gue juga bisa belajar dari lo. Tapi gue sibuk ngejek
mulu."
Amat menepuk pundak Didit. "Dit, nggak ada kata
terlambat buat belajar. Lo sekarang Ketua BPD. Lo bisa bantu desa dengan cara
lo sendiri."
"Iya. Tapi gue mau minta maaf. Sungguh-sungguh."
Amat tersenyum tulus. "Maaf diterima, Dit. Kita
sama-sama berjuang untuk desa ini."
Mereka berjabat tangan erat. Pertemanan masa kecil yang
sempat renggang, kini terjalin kembali dengan lebih dewasa.
Beberapa hari kemudian, rapat BPD digelar. Didit memimpin
rapat dengan gaya yang lebih santai, tapi tetap serius. Iwan hadir sebagai
kepala desa. Amat hadir sebagai Kepala Seksi Pelayanan Informasi.
Agenda utama: pengembangan website dan peningkatan
kapasitas SDM.
Didit membuka rapat. "Baik, kita mulai rapat. Agenda
pertama, laporan dari Pak Amat tentang perkembangan website."
Amat berdiri, memaparkan statistik pengunjung, fitur-fitur
baru, dan rencana ke depan.
"Kita akan tambah fitur konsultasi online. Warga bisa
tanya langsung ke perangkat desa lewat website. Juga fitur pengaduan, jadi
kalau ada masalah, bisa lapor tanpa harus datang ke kantor."
Pak Surono mengangkat tangan. "Mat, saya usul, jangan
lupa sama warga yang gaptek. Mereka tetap harus dilayani secara manual."
"Tentu, Pak. Itu sudah kami pikirkan. Website hanya
alternatif, bukan pengganti. Yang manual tetap jalan."
Iwan mengangguk setuju. "Bagus. Keseimbangan itu
penting."
Rapat berlangsung lancar. Semua memberikan masukan, semua
didengar. Tidak ada lagi konflik generasi seperti dulu. Kini, yang tua dan muda
bekerja sama, saling melengkapi.
Setelah rapat, mereka ngopi bareng di halaman kantor. Eko
bawa gorengan, Lulu bawa pisang, Endang bawa teh manis. Suasana hangat seperti
keluarga.
"Mat, lo ingat dulu kita main bola?" tanya Eko.
"Inget. Lo selalu jadi kapten, gue cuma jadi penjaga
gawang cadangan."
"Haha, iya. Tapi sekarang lo jadi kiper utama desa.
Kiper data."
Semua tertawa.
"Dan gue jadi ketua BPD," timpal Didit.
"Dulu gue cuma tukang ngejek."
"Lo masih tukang ngejek, Dit. Cuma sekarang ngejeknya
sopan," goda Iwan.
Tawa pecah lagi.
Di bawah pohon trembesi, di halaman kantor desa yang kini
lebih rapi, generasi Desa Awan Biru tertawa bersama. Masa kecil yang penuh
keterbatasan, kini menjadi masa dewasa yang penuh pencapaian.
Beberapa minggu kemudian, sebuah undangan resmi datang dari
Kecamatan Kabut Merah. Desa Awan Biru diminta mempresentasikan pengalaman
digitalisasi desa dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)
tingkat kecamatan.
Iwan girang bukan main. "Mat, ini kesempatan besar!
Kita bisa jadi contoh desa lain!"
Amat agak grogi. "Presentasi di depan camat dan semua
kepala desa se-kecamatan?"
"Iya! Kamu yang akan presentasi. Soalnya ini tentang
digitalisasi, kamu ahlinya."
"Wan, aku nggak biasa bicara di depan banyak
orang."
"Lo bisa, Mat. Lo dulu waktu SMA sering jadi MC, kan?
Sering presentasi di OSIS. Ini sama aja."
Amat menghela napas. "Oke. Tapi lo harus dampingin
aku."
"Tentu."
Mereka mulai mempersiapkan materi presentasi. Amat
mendesain slide sederhana tapi menarik: foto-foto desa dulu dan sekarang,
grafik peningkatan kunjungan website, testimoni warga, dan tips untuk desa lain
yang ingin memulai digitalisasi.
Rania membantu menyusun naskah. Anita—yang kini sudah bisa
bicara—ikut membantu dengan caranya sendiri: duduk di pangkuan ayahnya sambil
memegang boneka.
"Ayah mau ngomong apa?" tanyanya polos.
"Cerita tentang desa kita, Nak."
"Cerita tentang Anita juga?"
Amat tersenyum. "Tentu. Anita bagian dari desa
kita."
Hari presentasi tiba. Aula Kecamatan Kabut Merah penuh
sesak. Camat duduk di barisan depan, didampingi para kepala dinas. Semua kepala
desa se-kecamatan hadir, plus perangkat desa dan tokoh masyarakat.
Amat berdiri di podium. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia
ingat kata-kata Rania: "Kamu bisa. Kamu sudah melalui banyak hal."
Ia mulai berbicara. Suaranya mantap, meski awalnya agak
terbata. Ia bercerita tentang perjalanan Desa Awan Biru dari desa tertinggal
menuju desa berkembang. Ia bercerita tentang website, tentang transparansi,
tentang keterlibatan warga. Ia juga bercerita tentang tantangan: server down,
konflik generasi, dan tekanan audit.
Tapi yang paling menarik perhatian adalah cerita tentang
anak-anak. Ia menampilkan foto Anita, Bambang, Herman, dan Anjelina bermain di
halaman kantor.
"Ini anak-anak kita. Mereka akan mewarisi desa ini.
Kalau kita bangun sekarang, mereka yang akan menikmati. Website ini bukan untuk
kita, tapi untuk mereka. Untuk masa depan mereka."
Semua terpukau. Beberapa kepala desa mengangguk-angguk.
Camat tersenyum bangga.
Setelah presentasi, tepuk tangan bergemuruh. Beberapa
kepala desa langsung mendekat, minta diajari cara membuat website serupa.
Camat berdiri, memberi sambutan. "Saudara-saudara,
inilah contoh desa yang berani berubah. Bukan karena punya uang banyak, tapi
karena punya mimpi besar dan kerja keras. Saya minta semua desa di kecamatan
ini belajar dari Desa Awan Biru."
Amat merasa seperti di awan. Mimpinya mulai terwujud.
Sore itu, Amat pulang dengan perasaan campur aduk—lelah,
bangga, bahagia. Ia langsung menuju rumah, ingin segera bertemu Rania dan
Anita.
Sesampai di rumah, ia melihat Anita sedang bermain di
halaman dengan Anjelina. Mereka membuat istana pasir di bawah pohon mangga.
"Ayah!" teriak Anita begitu melihat Amat. Ia
berlari, meninggalkan istana pasirnya.
Amat menggendongnya, memutar-mutar hingga Anita tertawa
kegirangan.
"Gimana presentasinya?" tanya Rania yang keluar
dari dapur.
"Sukses, Ra. Camat senang. Banyak desa lain mau
belajar."
Rania tersenyum bangga. "Aku tahu kamu bisa."
Malam itu, mereka makan malam bersama. Amat cerita tentang
acara di kecamatan, tentang tepuk tangan, tentang pujian camat. Anita
mendengarkan dengan mata berbinar, meski mungkin tidak sepenuhnya mengerti.
"Ayah pahlawan, ya?" tanyanya polos.
Amat tertawa. "Bukan pahlawan, Nak. Hanya orang biasa
yang punya mimpi."
"Tapi ayah bisa bikin desa dikenal orang."
"Iya, karena ayah dibantu banyak orang. Ibu,
teman-teman di kantor, warga desa. Semua."
Rania menggenggam tangannya di bawah meja. "Kamu
hebat, Mat. Sungguh."
Malam itu, setelah Anita tidur, mereka duduk di beranda
lagi. Seperti biasa, langit cerah, bintang bertaburan.
"Ra, terima kasih," ucap Amat.
"Terima kasih buat apa?"
"Terima kasih sudah sabar. Sudah mau menungguku. Sudah
mau mengingatkanku saat aku lupa diri."
Rania tersenyum. "Itu tugasku sebagai istri."
"Aku janji, mulai sekarang lebih seimbang. Desa tetap
maju, keluarga tetap bahagia."
"Itu yang aku mau."
Mereka berpelukan. Angin malam berhembus lembut, membawa
aroma khas desa: tanah, dedaunan, dan sedikit asap dapur.
Waktu berlalu. Lima tahun setelah presentasi di kecamatan,
Desa Awan Biru semakin dikenal. Bukan hanya di tingkat kabupaten, tapi hingga
provinsi. Website desa menjadi rujukan bagi desa-desa lain yang ingin melakukan
digitalisasi.
Amat, kini berusia 35 tahun, sudah tidak sendiri. Ia
memiliki tim: Joko dan tiga anak muda lain yang dulu ia latih, kini menjadi
staf IT desa yang handal. Mereka mengelola website, media sosial, dan pelatihan
digital untuk warga.
Pak Surono, di usia 67 tahun, masih aktif membantu. Ia
tidak lagi menggunakan mesin ketik—mesin itu sudah pensiun, dipajang di sudut
kantor sebagai museum kecil. Kini ia asyik dengan tablet, membaca berita dan
sesekali video call dengan anaknya di perantauan.
Iwan masih menjadi kepala desa, sekarang periode ketiga.
Yuni tetap setia sebagai sekdes. Eko, Lulu, Endang, semua masih di posisi
masing-masing, bekerja dengan solid.
Didit, ketua BPD, menjadi mitra kritis yang sehat. Mereka
sering berbeda pendapat dalam rapat, tapi selalu berakhir dengan solusi terbaik
untuk desa.
Anak-anak pun tumbuh. Anita kini berusia 7 tahun, duduk di
kelas 1 SD. Ia pintar dan aktif, mewarisi rasa ingin tahu ayahnya. Bambang dan
Herman, teman sebayanya, juga tumbuh menjadi anak-anak yang ceria. Anjelina,
yang kini 10 tahun, menjadi kakak yang baik bagi mereka.
Suatu sore, Amat mengajak Anita jalan-jalan ke kebun sawit.
Tempat yang dulu menjadi saksi masa kecilnya. Mereka duduk di bawah pohon,
memandangi hamparan hijau yang luas.
"Ayah, dulu ayah main di sini?" tanya Anita.
"Iya, Nak. Dulu ayah sama teman-teman main bola di
lapangan tanah dekat sini."
"Sekarang lapangannya sudah jadi perumahan?"
"Iya. Tapi ayah senang, karena perumahan itu buat
warga desa. Mereka punya rumah layak."
Anita mengangguk-angguk, meski mungkin belum paham
sepenuhnya.
"Ayah, nanti kalau Anita besar, Anita mau jadi
apa?"
Amat tersenyum. "Terserah kamu, Nak. Yang penting,
jangan lupa sama desa ini. Jangan lupa sama orang-orang di sini."
"Ayah dulu punya mimpi apa?"
Amat memandang jauh ke ufuk barat. "Ayah dulu mimpi,
desa ini dikenal orang lewat internet. Sekarang mimpi itu sudah jadi
nyata."
"Terus, mimpi ayah sekarang apa?"
Amat merangkul putrinya. "Mimpi ayah sekarang, lihat
kamu tumbuh jadi anak yang baik. Lihat desa ini makin maju. Lihat semua orang
bahagia."
Anita tersenyum. "Nanti Anita bantu ayah."
Amat terharu. "Makasih, Nak."
Matahari mulai terbenam. Langit berwarna jingga kemerahan.
Di kejauhan, terlihat atap-atap rumah desa yang mulai tertata rapi. Jalan-jalan
beraspal mulus. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu.
Senja di ujung desa. Senja yang sama seperti 35 tahun lalu,
saat Amat lahir dalam badai. Kini, badai sudah reda. Yang tersisa adalah
kedamaian dan kebanggaan.
Malam itu, Amat duduk di beranda rumah. Laptopnya terbuka
di samping, tapi ia tidak menatapnya. Ia memandangi langit malam, seperti
biasa.
Rania keluar, membawakan secangkir kopi.
"Melamun lagi?" tanyanya.
"Bukan melamun. Bersyukur."
Rania duduk di sampingnya. "Bersyukur apa?"
"Bersyukur punya desa yang maju. Punya keluarga yang
utuh. Punya anak yang lucu."
Rania tersenyum. "Itu semua karena kamu tidak
menyerah."
"Karena kita tidak menyerah."
Mereka diam sejenak, menikmati malam.
"Ra, aku ingat waktu dulu kamu bilang, 'Anita lebih
butuh ayah yang hadir daripada ayah yang viral'. Itu kalimat yang
mengubahku."
"Kamu masih ingat?"
"Sampai sekarang. Setiap kali aku mulai sibuk
berlebihan, kalimat itu yang muncul."
Rania memeluknya. "Kamu sudah berubah, Mat. Jadi lebih
baik."
Dari dalam rumah, terdengar suara Anita memanggil. "Ayah!
Ibu! Saya mau ikut!"
Anita berlari keluar, naik ke pangkuan Amat. Mereka bertiga
duduk di beranda, memandangi bintang.
"Lihat, Nak, bintang banyak sekali," kata Amat.
"Cantik," ucap Anita.
"Iya. Bintang-bintang itu seperti masa depan. Banyak,
bersinar, dan selalu ada."
Anita menatap ayahnya. "Ayah, Anita boleh minta
sesuatu?"
"Apa, Nak?"
"Anita mau ayah cerita tentang desa ini setiap malam.
Biar Anita tahu."
Amat tersenyum. "Tentu, Nak. Setiap malam ayah
cerita."
Malam itu, Amat bercerita tentang desa ini. Tentang
sejarahnya, tentang orang-orangnya, tentang perjuangannya. Anita mendengarkan
dengan saksama, sesekali bertanya, sesekali tertawa.
Rania memandangi mereka dengan perasaan hangat. Inilah yang
ia inginkan. Keluarga yang utuh, ayah yang hadir, anak yang bahagia.
Di dalam rumah, laptop Amat masih menyala. Website desa
terbuka di halaman utama, dengan statistik pengunjung hari ini: 1.500 orang.
Tapi Amat tidak melihatnya. Ia sedang sibuk menjadi ayah.
Karena ia sudah belajar: server memang bisa down. Tapi hati
yang dijaga dengan cinta akan selalu menemukan cara untuk restart.
Keesokan harinya, Amat bangun lebih awal. Ia sholat subuh,
lalu duduk di beranda menikmati udara pagi. Kabut tipis masih menyelimuti desa,
seperti 35 tahun lalu saat ia lahir.
Tapi kini, kabut itu tidak lagi menakutkan. Ia seperti
selimut lembut yang membungkus desa dalam kehangatan.
Rania keluar, membawa segelas susu hangat untuk Anita yang
masih tidur.
"Bangun pagi sekali?" tanyanya.
"Iya. Mau lihat matahari terbit."
"Kamu jadi puitis."
"Bukan puitis. Hanya... bersyukur."
Rania duduk di sampingnya. "Cerita tentang apa malam
ini?"
"Malam ini aku mau cerita tentang bintang. Tentang
bagaimana bintang-bintang itu selalu ada, meski kadang tertutup awan."
"Seperti perjuanganmu."
Amat tersenyum. "Seperti perjuangan kita semua."
Matahari mulai naik di ufuk timur. Sinar jingga keemasan
menyebar, menyapa setiap sudut desa. Burung-burung mulai berkicau. Ayam jantan
berkokok bergantian.
Dari dalam rumah, terdengar suara Anita memanggil.
"Ayah! Ibu! Anita bangun!"
Anita berlari keluar dengan rambut acak-acakan, masih
memakai piyama. Ia langsung naik ke pangkuan Amat.
"Ayah, cerita tentang bintang, katanya?"
"Nanti malam, Nak. Sekarang kita siap-siap
sekolah."
"Tapi Anita mau cerita sekarang!"
Amat tertawa. "Nak, kalau mau cerita, harus sabar.
Seperti bintang, dia sabar menunggu malam tiba."
Anita mengerutkan dahi, lalu mengangguk. "Oke. Anita
sabar."
Rania tersenyum melihat mereka. "Ayo, mandi. Nanti
telat."
Setelah Anita masuk, Amat masih duduk di beranda. Ia
memandangi desa yang mulai ramai. Warga berangkat kerja, anak-anak berangkat
sekolah, kendaraan lalu lalang.
Hidup terus berjalan. Desa terus berkembang.
Ia membuka laptopnya sebentar, mengecek website. Ada pesan
baru dari seorang kepala desa di kabupaten tetangga, minta diajari cara membuat
website serupa. Ada juga komentar dari warga yang berterima kasih karena
suratnya bisa diurus online.
Amat membalas satu per satu, dengan sabar. Ini bukan lagi
tugas, tapi panggilan hati.
Tiga puluh lima tahun telah berlalu sejak Amat lahir dalam
badai. Dari seorang bocah penasaran yang membongkar radio, menjadi pemuda yang
merantau dengan mimpi, lalu pulang untuk membangun desa.
Kini, di usia 35 tahun, ia telah melewati banyak fase.
Cinta pertama yang kandas, persahabatan yang diuji, konflik generasi yang
mereda, keluarga yang terbentuk, dan desa yang berubah.
Tapi satu hal tidak pernah berubah: rasa ingin tahunya. Itu
yang membawanya sejauh ini.
Malam itu, setelah Anita tidur, Amat duduk di beranda sendirian.
Rania sedang membereskan dapur. Langit cerah, bintang bertaburan.
Ia membuka laptop. Bukan untuk bekerja, tapi untuk menulis.
Menulis untuk dirinya sendiri.
Catatan Pribadi Amat
Hari ini aku 35 tahun. Setengah baya, kata orang. Tapi aku
merasa masih muda. Masih punya mimpi.
Dulu aku bermimpi desa ini dikenal dunia lewat internet.
Sekarang mimpi itu jadi nyata. Tapi aku punya mimpi baru: melihat Anita tumbuh,
melihat Bambang dan Herman sekolah, melihat desa ini terus maju.
Perjalanan ini panjang. Kadang menyenangkan, kadang
melelahkan. Tapi aku bersyukur, aku tidak sendiri. Ada Rania, ada Anita, ada
Iwan dan Yuni, ada Eko, Lulu, Endang, Didit, bahkan Pak Surono. Ada semua warga
Desa Awan Biru.
Kita semua adalah bagian dari cerita ini. Kita semua adalah
jejak di ujung senja.
– Amat
Ia menutup laptop. Memandangi langit malam sekali lagi.
Dari dalam, Rania memanggil, "Mat, tidur. Udah
malam."
"Iya, sebentar."
Amat berdiri, berjalan ke dalam. Sebelum masuk, ia menoleh
ke belakang. Memandangi desa yang mulai sunyi. Lampu-lampu mulai padam satu per
satu. Hanya beberapa titik yang masih menyala—mungkin warung, mungkin rumah
yang masih ada kegiatan.
Desa Awan Biru tertidur. Tenang, damai.
Amat tersenyum. Ia masuk ke kamar, berbaring di samping
Rania dan Anita. Putrinya sudah tidur pulas, dengan boneka kesayangan di
pelukan.
"Selamat malam, desaku," bisiknya. "Besok
kita lanjut lagi."
BAB VI
"Desa Digital dan Gosip Politik"
Pagi itu, Desa Awan Biru bangun dengan suasana berbeda.
Hujan semalaman telah membasahi seluruh penjuru, meninggalkan aroma khas tanah
basah yang selalu membangkitkan kenangan. Tetesan air masih bergelayut di ujung
daun-daun trembesi di halaman kantor desa, berkilauan diterpa sinar matahari
pagi yang mulai hangat.
Amat tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia membuka
pintu, menyalakan lampu, dan duduk di meja kerjanya. Di hadapannya, sebuah
piagam berbingkai kayu berlapis kaca tergeletak rapi—piagam yang diterima
kemarin di acara penghargaan tingkat kabupaten.
PENGHARGAAN INOVASI DESA DIGITAL
KABUPATEN AWAN JINGGA
Diberikan kepada: Desa Awan Biru
Ia membaca tulisan itu berulang kali, seolah tak percaya.
Dua puluh satu tahun lalu, ia adalah anak kecil yang membongkar radio demi
mencari "orang di dalam kotak". Dua belas tahun lalu, ia adalah remaja
yang pertama kali memegang mouse dan tanpa sengaja mematikan server warnet.
Tujuh tahun lalu, ia pulang ke desa dengan laptop bekas dan mimpi besar.
Kini, piagam itu ada di tangannya.
"Selamat pagi, Admin," sapa Yuni yang masuk
dengan membawa dua gelas kopi. "Kok sudah datang pagi-pagi? Belum jam
tujuh."
Amat tersenyum. "Nggak bisa tidur, Yun. Masih nggak
percaya."
Yuni meletakkan satu gelas kopi di meja Amat. "Harus
percaya. Ini hasil kerja kerasmu selama ini."
"Bukan kerja kerasku saja. Kerja keras kita
semua."
Yuni tersenyum. "Ngomong-ngomong, acara kemarin seru,
ya. Waktu MC menyebut namamu, semua menoleh. Rasanya seperti artis."
Amat tertawa kecil. "Artis apa? Artis server."
Mereka tertawa bersama. Dari luar, terdengar suara
kendaraan berhenti. Iwan masuk dengan langkah semangat, masih mengenakan kemeja
batik yang sama seperti kemarin.
"Mat! Fotonya udah beredar di grup WhatsApp! Banyak
yang komen!" seru Iwan sambil menunjukkan ponselnya.
Amat melihat layar ponsel Iwan. Di grup "Warga Peduli
Awan Biru", foto Iwan menerima piagam dengan Amat di belakangnya sudah
dishare berkali-kali. Komentarnya beragam:
"Wah, Pak Kades dapat penghargaan!"
"Itu yang di belakang Pak Amat, ya? Admin website kita."
"Keren-keren. Desa kita terkenal."
"Semoga setelah ini ada dampaknya buat warga."
Amat membaca dengan senyum. "Alhamdulillah, responnya
positif."
Iwan duduk di kursi sebelah. "Mat, ini baru awal.
Penghargaan ini akan membuka banyak pintu. Kita bisa dapat bantuan lebih
banyak, program lebih banyak. Tapi..."
Amat menatap Iwan. "Tapi apa, Wan?"
Iwan menghela napas. "Tapi kita juga harus siap dengan
konsekuensinya. Semakin dikenal, semakin banyak yang mengawasi. Semakin banyak
yang iri. Semakin banyak yang mencari-cari kesalahan."
Amat merenung. Iwan benar. Ia sudah merasakan sedikit
tekanan saat website mulai viral. Kini, dengan penghargaan resmi dari
kabupaten, tekanannya pasti lebih besar.
"Kita hadapi bersama, Wan. Seperti biasa."
Iwan tersenyum. "Itu yang aku mau dengar."
Seminggu setelah penghargaan, suasana di Desa Awan Biru
mulai berubah. Bukan perubahan fisik, tapi perubahan atmosfer. Di warung-warung
kopi, obrolan tentang website desa semakin sering terdengar. Di grup-grup
WhatsApp, diskusi tentang transparansi dan akuntabilitas semakin hangat.
Suatu pagi, saat Amat sedang asyik mengupdate website,
ponselnya berdering. Sebuah nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Halo, Pak Amat? Saya Rahman. Calon kepala desa untuk
periode mendatang."
Amat tertegun. Ia tahu nama itu. Pak Rahman adalah
pengusaha sukses dari kecamatan yang berencana maju dalam Pilkades mendatang.
Usianya sekitar 50 tahun, berpengalaman, dan memiliki jaringan luas.
"Iya, Pak Rahman. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau minta tolong. Rencananya minggu depan saya
akan mengadakan sosialisasi di Desa Awan Biru. Tolong diupload di website desa,
ya. Biar warga tahu."
Amat berpikir sejenak. "Pak, maaf, untuk kegiatan
sosialisasi calon kepala desa, kami punya aturan. Semua calon harus diberi
porsi yang sama. Jadi kami akan upload kegiatan semua calon, dengan format dan
durasi yang sama."
Pak Rahman tertawa kecil di seberang. "Oh, begitu. Ya
sudah, nanti saya koordinasi dengan tim sukses. Tapi tolong, ya, jangan sampai
kegiatan saya kalah banyak dengan yang lain."
"Saya usahakan seobjektif mungkin, Pak."
Setelah telepon selesai, Amat menghela napas. Ia sudah
menduga, masa-masa sulit akan segera tiba.
Eko yang mendengar percakapan itu dari meja sebelah,
mendekat. "Mat, itu calon yang katanya punya uang banyak?"
"Iya, Ko. Pak Rahman. Pengusaha sawit."
"Hati-hati, Mat. Orang kayak gitu biasanya punya
banyak cara."
Amat mengangguk. "Aku tahu, Ko. Tapi kita harus tetap
netral. Itu prinsip."
Pilkades Desa Awan Biru tinggal tiga bulan lagi. Iwan, yang
telah menjabat dua periode, tidak bisa mencalonkan lagi karena aturan pembatasan
masa jabatan. Ini berarti akan ada wajah baru yang memimpin desa.
Tiga calon resmi mendaftar:
1.
Pak Rahman – Pengusaha sawit, bermodal kuat, jaringan luas
hingga kabupaten.
2.
Pak Karyono – Mantan perangkat desa, pengalaman puluhan tahun,
didukung kelompok senior.
3.
Bu Sumarni – Kader PKK, aktivis pemberdayaan perempuan, didukung
kelompok muda dan ibu-ibu.
Masing-masing punya pendukung fanatik. Masing-masing punya
strategi.
Di kantor desa, suasana mulai tegang. Setiap hari ada saja
tim sukses yang datang, meminta ini-itu, bertanya tentang jadwal, atau sekadar
"silaturahmi" yang sebenarnya lobi.
Suatu sore, Yuni berkumpul dengan Amat, Eko, Lulu, dan
Endang di ruang belakang.
"Guys, kita harus sepakat. Kita ini perangkat desa,
harus netral. Jangan sampai terlibat politik praktis," kata Yuni tegas.
Eko mengangguk. "Setuju. Tapi gimana caranya tetap
netral sementara semua calon mendekati kita?"
Lulu menimpali. "Iya. Kemarin timnya Pak Rahman datang
ke rumahku. Bawa oleh-oleh. Aku terima, tapi langsung aku infokan ke
sekdes."
Endang menambahkan. "Timnya Bu Sumarni juga sering
ngobrol sama aku. Nanya-nanya tentang program pemberdayaan."
Amat diam sejak tadi. Ia memikirkan posisinya sebagai admin
website. Dari semua perangkat, posisinyalah yang paling rawan. Website adalah
sumber informasi utama warga. Siapa yang menguasai informasi, dialah yang punya
pengaruh.
"Yun, aku butuh pedoman tertulis. Aturan tentang
pemberitaan calon di website. Biar aku punya pegangan kalau ada yang
protes," ucap Amat akhirnya.
Yuni mengangguk. "Bagus. Nanti aku buatkan surat
keputusan internal. Semua calon harus mendapat porsi yang sama. Tidak boleh ada
yang lebih."
Iwan yang tiba-tiba muncul di pintu, ikut angkat bicara.
"Dan kalau ada yang melanggar, laporkan ke BPD. Didit akan tegas."
Didit, yang kebetulan datang untuk rapat, mengacungkan
jempol. "Siap. BPD akan kawal. Kita ingin pilkades yang bersih dan
transparan."
Suasana kebersamaan itu menguatkan Amat. Ia tidak sendiri.
Namun, sekuat apa pun niat untuk netral, gosip tetap berjalan.
Apalagi di era grup WhatsApp, informasi—benar atau salah—menyebar dalam
hitungan detik.
Suatu malam, Amat menerima pesan dari Rania. Istrinya
mengirimkan screenshot dari grup arisan RT.
Grup: Arisan Ibu-Ibu RT 03
Ibu Tuti: "Kabar-kabar, katanya website desa mau
dipakai buat kampanye salah satu calon?"
Ibu Yati: "Astaghfirullah, jangan sampai. Itu kan milik desa."
Ibu Tuti: "Katanya adminnya dekat dengan calon tertentu."
Ibu Ani: "Admin? Yang punya istri guru PAUD itu?"
Ibu Tuti: "Iya, itu. Hati-hati, jangan sampai termakan berita."
Amat membaca dengan dahi berkerut. Isi gosip itu tidak
menyebut nama calon, tapi sudah cukup membuatnya tidak nyaman.
"Ra, ini dari mana?" tanyanya pada Rania via
telepon.
"Dari grup arisan. Aku cuma bisa diam, Mat. Tapi sakit
hati lihatnya."
"Kamu jangan ambil pusing, Ra. Itu cuma gosip."
"Aku tahu. Tapi kalau makin banyak yang percaya,
gimana?"
Amat tidak bisa menjawab.
Malam itu, ia sulit tidur. Ia memikirkan bagaimana gosip
bisa merusak kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Keesokan harinya, saat istirahat siang, Amat memutuskan
untuk minum kopi di warung Pak Darman—warung kopi langganan warga. Ia ingin
merasakan langsung bagaimana obrolan warga.
Begitu masuk, ia melihat beberapa warga sedang duduk
melingkar. Suasana agak canggung ketika mereka melihat Amat.
"Eh, Pak Amat, mari sini," sapa Pak Darman ramah.
Amat duduk di kursi kosong. Memesan kopi hitam.
Obrolan sempat terhenti beberapa saat. Lalu seorang
warga—sebut saja Pak Jum—mulai bicara.
"Pak Amat, saya mau tanya. Website desa itu punya
siapa? Punya desa atau punya pribadi?"
Amat menjawab tenang. "Punya desa, Pak. Dikelola oleh
perangkat desa untuk kepentingan publik."
"Berarti semua warga punya hak yang sama untuk
diinformasikan?"
"Tentu."
Pak Jum tersenyum tipis. "Lalu kenapa kegiatan Pak
Rahman cuma dikasih dua foto, sementara kegiatan Bu Sumarni sampai lima foto?
Itu adil?"
Amat menghela napas. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan
muncul.
"Pak Jum, saya jelaskan. Kegiatan Pak Rahman yang saya
liput adalah acara sosialisasi yang berlangsung satu jam. Beliau datang,
menyampaikan materi, lalu pulang. Saya ambil dua foto: saat beliau datang dan
saat beliau bicara. Sementara kegiatan Bu Sumarni adalah acara dialog
interaktif selama tiga jam, dengan sesi tanya jawab panjang. Banyak momen yang
layak diabadikan. Bukan karena pilih kasih."
Pak Jum terdiam. Warga lain saling pandang.
Seorang warga lain, Pak Rudi, ikut bertanya. "Terus,
kenapa berita Pak Karyono nggak pernah muncul?"
"Pak Karyono baru satu kali mengadakan kegiatan
terbuka dalam dua bulan terakhir. Itu pun kami liput dan upload. Silakan cek di
website, ada fotonya."
Suasana mulai mencair. Pak Jum mengangguk-angguk.
"Ya sudah, kalau gitu. Maaf kalau tanya-tanya."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya justru senang warga kritis.
Itu tanda demokrasi sehat."
Setelah kopi habis, Amat pamit pulang. Di perjalanan, ia
merenung. Ia harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini setiap hari.
Seminggu sebelum debat publik, tim sukses Pak Rahman datang
ke kantor desa. Mereka datang berlima, dengan pakaian rapi dan senyum lebar.
"Selamat siang, Pak Amat. Kami dari tim Pak Rahman.
Mau koordinasi soal debat nanti," kata ketua tim—seorang pria berkumis
tebal.
Amat menyambut di ruang tamu kantor. "Silakan, Pak.
Ada yang bisa dibantu?"
"Kami ingin memastikan, saat debat nanti, live
streaming-nya lancar. Dan kami minta, rekaman debat bisa diakses di website
setelah acara."
"Itu sudah pasti, Pak. Semua calon dapat porsi sama.
Rekaman akan diupload setelah debat, tanpa diedit."
"Bagus. Terus, kami juga minta, selama masa kampanye,
semua kegiatan Pak Rahman diupload secara berimbang."
Amat tersenyum profesional. "Tentu, Pak. Semua
kegiatan semua calon akan kami upload dengan porsi yang sama. Itu sudah aturan
dari desa."
Tim sukses itu mengangguk puas. Mereka pamit dengan senyum.
Setelah mereka pergi, Eko mendekat. "Mat, hati-hati.
Mereka terlihat baik, tapi bisa jadi punya agenda lain."
"Aku tahu, Ko. Tapi selama aku pegang aturan, aku
aman."
Malam harinya, Amat menerima telepon dari nomor tidak
dikenal. Suara di seberang berat dan dalam.
"Pak Amat?"
"Iya, benar. Ini siapa?"
"Saya cukup tahu siapa saya. Saya hanya ingin
mengingatkan, dalam politik, netralitas itu perlu. Tapi kadang, yang netral
bisa terseret arus."
Amat menegang. "Maksud Bapak?"
"Maksud saya, hati-hati dalam memilih berita. Jangan
sampai terkesan memihak. Karena kalau terkesan memihak, bisa timbul
masalah."
"Apa yang Bapak maksud masalah?"
"Ya... masalah. Bisa fitnah, bisa tuduhan. Di desa,
nama baik itu penting. Saya rasa Bapak paham."
Telepon ditutup.
Amat terdiam mematung. Ini pertama kalinya ia mendapat
ancaman langsung. Meski tidak terang-terangan, nadanya jelas: "Ikuti
keinginan kami, atau kau akan menghadapi konsekuensi."
Rania melihat perubahan wajah suaminya. "Mat, kamu
kenapa? Pucat sekali."
Amat menceritakan telepon itu. Rania terkejut.
"Ini sudah kelewatan, Mat. Lapor polisi?"
"Polisi? Tidak ada bukti. Hanya telepon tanpa
nama."
"Lapor Iwan, lapor Didit. Setidaknya mereka
tahu."
Amat mengangguk. Ia akan melapor besok. Tapi malam itu, ia
tidak bisa tidur.
Keesokan harinya, Iwan mengadakan rapat khusus. Hadir semua
perangkat desa dan anggota BPD. Didit memimpin rapat dengan wajah serius.
"Saudara-saudara, kita terima laporan dari Pak Amat
tentang telepon ancaman tadi malam. Ini serius. Kita tidak boleh biarkan
intimidasi terjadi di desa kita."
Pak Surono, yang kini lebih aktif di BPD, angkat bicara.
"Saya sudah lama di desa ini. Saya tahu siapa yang biasa main begitu.
Mereka yang tidak suka aturan main yang adil."
Didit menatap Pak Surono. "Pak, siapa menurut
Bapak?"
Pak Surono berpikir sejenak. "Saya tidak bisa tuduh
tanpa bukti. Tapi biasanya, yang punya banyak uang dan biasa menang dengan cara
licik, merekalah yang main begitu."
Semua diam. Mereka tahu siapa yang dimaksud.
Iwan memecah keheningan. "Kita tidak bisa menuduh
tanpa bukti. Tapi kita bisa bersikap. Mulai sekarang, semua komunikasi dengan
tim sukses harus terdokumentasi. Semua permintaan harus melalui surat resmi.
Jangan ada lobi-lobi tidak resmi."
Amat mengangguk. "Setuju, Wan."
Yuni menambahkan. "Dan untuk keamanan, kita minta Pak
Hansip untuk lebih sering patroli di sekitar kantor, terutama malam hari."
Rapat berlangsung produktif. Mereka menyusun
langkah-langkah antisipasi.
Setelah rapat, Didit mendekati Amat. "Mat, kalau ada
apa-apa lagi, langsung hubungi aku. Jangan tunggu sampai parah."
"Makasih, Dit. Aku hargai."
"Kita ini kawan lama. Dulu aku ngejek kamu, sekarang
aku bela kamu. Itulah hidup."
Mereka tersenyum.
Hari yang ditunggu tiba. Debat publik calon kepala desa
digelar di halaman balai desa. Ribuan warga hadir. Kursi-kursi plastik disusun
rapi, panggung sederhana tapi representatif dibangun di tengah lapangan.
Di sudut khusus, Amat dan tim IT-nya—Joko dan dua anak muda
lainnya—mempersiapkan peralatan live streaming. Dua kamera, satu laptop utama,
satu laptop cadangan, tiga modem dari provider berbeda, dan generator listrik
cadangan.
"Joko, cek sinyal. Pastikan semua stabil,"
perintah Amat.
Joko sibuk dengan ponselnya. "Sinyal provider A lumayan,
provider B kuat, provider C agak lemot. Tapi kita pakai yang A dan B
saja."
"Bagus. Siapkan failover. Kalau satu mati, otomatis
pindah ke yang lain."
Tim bekerja cepat. Warga mulai berdatangan, memenuhi
kursi-kursi yang disediakan. Suasana meriah, tapi juga tegang.
Pukul 19.30, acara dimulai. Moderator—seorang dosen
komunikasi dari kabupaten—naik ke panggung. Ia membuka acara dengan salam, lalu
menjelaskan tata tertib debat.
Amat memulai live streaming. Di layar laptopnya, ia melihat
tampilan siaran langsung dengan puluhan penonton—jumlah yang terus bertambah
setiap detik.
"Live mulai. Semoga tidak buffering saat visi
misi," gumamnya.
Debat berlangsung seru. Masing-masing calon memaparkan visi
misi, saling bertanya, kadang saling sindir. Pak Rahman bicara dengan percaya
diri, didukung data dan pengalaman bisnisnya. Pak Karyono bicara dengan tenang,
mengandalkan pengalaman puluhan tahun di pemerintahan. Bu Sumarni bicara dengan
penuh semangat, menyentuh isu-isu perempuan dan anak.
Warga antusias. Sesekali tepuk tangan pecah. Sesekali
sorak-sorai terdengar.
Namun di tengah debat, insiden terjadi. Pak Rahman
tiba-tiba menunjuk ke arah tim live streaming dan bertanya pada moderator,
"Pak Moderator, saya mau tanya. Admin desa yang pegang
live streaming ini, dia netral tidak?"
Ruangan hening. Semua menoleh ke arah Amat.
Moderator terkejut. "Maaf, Pak Rahman, maksud
Bapak?"
"Saya dengar, admin desa ini dekat dengan salah satu
calon. Apakah live streaming ini objektif?"
Amat menelan ludah. Di kolom komentar live streaming, pesan
mulai bermunculan:
"Wah, panas!"
"Admin kena serang."
"Ayo, jawab, Admin!"
Iwan, yang duduk di barisan depan, segera berdiri.
"Pak Moderator, izin bicara."
Moderator mengangguk.
Iwan menghadap ke arah Pak Rahman. "Pak Rahman, saya
jamin, Pak Amat adalah admin yang profesional. Semua kegiatan calon diliput
dengan porsi sama. Silakan cek website desa, semua bukti ada. Tuduhan tanpa
bukti seperti ini tidak fair dan mengganggu jalannya debat."
Warga bertepuk tangan. Beberapa bersorak mendukung Iwan.
Pak Rahman tersenyum tipis. "Baik, kalau Pak Kades
jamin, saya percaya. Saya hanya ingin pastikan semuanya adil."
Moderator melanjutkan debat. Tapi suasana sedikit berubah.
Ada ketegangan yang tersisa.
Amat terus memantau live streaming. Jari-jarinya agak
gemetar, tapi ia berusaha tenang.
Di kolom komentar, seorang warganet menulis:
"Admin kelihatan tegang."
Eko yang berada di samping Amat, membisikkan, "Mat, lo
kelihatan di kamera. Santai aja."
Amat menarik napas dalam. Ia mencoba tersenyum kecil.
Debat selesai pukul 21.30. Hasilnya belum ada—masih
menunggu penghitungan suara minggu depan. Tapi satu hal pasti: live streaming
sukses, tidak buffering, tidak mati.
Amat menghela napas lega. "Alhamdulillah."
Sehari setelah debat, gosip justru semakin menjadi-jadi. Di
grup-grup WhatsApp, berbagai narasi beredar:
"Admin desa dituduh tidak netral di debat."
"Pak Rahman curang, nuduh tanpa bukti."
"Iwan bela mati-matian adminnya. Pasti ada apa-apa."
"Admin itu profesional, kok. Kerjanya bagus."
Dua kubu mulai terbentuk: pro dan kontra.
Di kantor desa, Yuni mengumpulkan semua perangkat.
"Guys, ini sudah mulai memanas. Kita harus keluarkan pernyataan
resmi."
Amat setuju. "Aku sudah siapkan draf. Isinya penegasan
netralitas website dan mekanisme pengelolaan informasi."
Mereka membaca draf itu. Isinya lugas dan jelas: website
desa dikelola secara profesional, semua calon mendapat porsi sama, dan
masyarakat dipersilakan mengawasi.
Draf itu diupload di website dan media sosial desa.
Responsnya positif. Banyak warga yang memuji sikap tegas perangkat desa.
Namun, Pak Rahman belum puas. Ia datang ke kantor desa dua
hari kemudian, ditemani tim suksesnya.
"Pak Amat, saya minta maaf kalau di debat kemarin saya
agak emosional," katanya, nadanya merendah. "Tapi saya tetap punya
hak untuk bertanya."
"Tentu, Pak. Dan saya sudah jawab dengan data. Silakan
cek website, semua bukti ada."
Pak Rahman tersenyum. "Saya sudah cek. Memang semua
calon dapat porsi sama. Tapi ada satu hal yang mengganjal."
"Apa itu, Pak?"
"Kenapa artikel kegiatan saya waktu sosialisasi cuma
dua foto, sementara kegiatan Bu Sumarni lima foto? Itu kan tidak
proporsional."
Amat menjelaskan panjang lebar seperti yang sudah ia
jelaskan di warung kopi. Pak Rahman mendengarkan dengan saksama.
"Baik, kalau penjelasannya begitu. Tapi lain kali,
tolong informasikan ke tim saya kalau kegiatan saya singkat. Biar kami bisa
atur waktu lebih panjang."
"Siap, Pak. Akan saya lakukan."
Setelah Pak Rahman pergi, Lulu berbisik, "Mat, ini
belum selesai. Dia akan cari cara lain."
Amat menghela napas. "Aku tahu, Lu. Tapi kita hadapi
saja."
Seminggu menjelang pemilihan, serangan mulai bergeser ke
ranah digital. Akun-akun anonim muncul di media sosial, menyerang Amat secara
pribadi.
Salah satu akun, @warga_peduli_77, menulis:
"Admin Desa Awan Biru ternyata tim sukses salah satu
calon! Buktinya, dia sering terlihat ngobrol dengan tim calon tertentu di
warung kopi."
Akun lain, @pemuda_kritis, menambahkan:
"Website desa tidak netral! Hanya berita calon
tertentu yang ditonjolkan! Ini namanya abuse of power!"
Amat membaca dengan kepala berdenyut. Tuduhan itu tidak
berdasar. Ia memang sering ngobrol di warung kopi, tapi dengan siapa
saja—termasuk tim semua calon.
Rania yang melihat suaminya stres, mencoba menghibur.
"Mat, jangan dibaca terus. Itu cuma akun palsu."
"Aku tahu, Ra. Tapi orang percaya. Reputasiku
dipertaruhkan."
"Apa kata orang-orang terdekatmu? Iwan, Yuni, Eko,
Didit, Pak Surono? Mereka percaya?"
"Ya, mereka percaya."
"Nah, itu yang penting. Orang yang kenal kamu tahu kamu
seperti apa. Yang nggak kenal, biarkan waktu yang bicara."
Amat merenung. Rania benar.
Mendengar gosip yang semakin memanas, Iwan mengambil
inisiatif. Ia mengundang ketiga calon kepala desa untuk bertemu di kantor desa.
Amat, Yuni, dan Didit juga hadir.
Iwan membuka pertemuan. "Bapak-bapak, Ibu, saya undang
hari ini untuk klarifikasi. Ada isu yang beredar bahwa admin desa kita tidak
netral. Saya ingin semua pihak duduk bersama dan membicarakan ini secara
terbuka."
Pak Rahman langsung angkat bicara. "Saya hanya ingin
pastikan, semua calon diperlakukan sama. Itu saja."
Bu Sumarni menimpali. "Setahu saya, Pak Amat selama
ini profesional. Saya tidak pernah merasa dirugikan."
Pak Karyono mengangguk. "Saya juga. Semua kegiatan
saya diliput dengan baik."
Iwan menatap Pak Rahman. "Nah, Pak Rahman, dua calon
lain tidak merasa dirugikan. Lalu kenapa Bapak terus mempersoalkan?"
Pak Rahman agak tersudut. "Saya... saya hanya
mendengar dari tim. Mungkin tim saya terlalu sensitif."
Didit angkat bicara tegas. "Pak Rahman, ini serius.
Tuduhan tidak netral bisa merusak reputasi seseorang. Kalau tidak ada bukti,
seharusnya tidak disebarkan."
Akhirnya, setelah diskusi panjang, Pak Rahman mengakui
bahwa timnya mungkin terlalu agresif. Ia berjanji akan mengendalikan mereka.
Pertemuan ditutup dengan kesepakatan: semua calon akan
mendapatkan akses yang sama ke website, dan jika ada keberatan, harus
disampaikan secara resmi, bukan melalui gosip.
Hari pemilihan tiba. Cuaca cerah, warga antusias. TPS-TPS
didirikan di berbagai titik. Proses pencoblosan berlangsung lancar.
Amat bertugas memantau situasi dari kantor desa, mengelola
informasi dan dokumentasi. Ia memasang kamera di beberapa TPS untuk live
streaming situasi.
Siaran langsung pemilihan ditonton ratusan warga yang tidak
bisa hadir karena merantau. Komentar berdatangan:
"Makasih, desa! Bisa lihat keluarga dari jauh."
"Keren, pemilihan online."
"Ini baru desa digital."
Penghitungan suara berlangsung malam hari. Semua warga
berkumpul di balai desa, menanti hasil. Layar proyektor menampilkan hitungan
real-time yang diupdate oleh tim IT.
Amat duduk di depan laptop, memasukkan data satu per satu.
Joko dan tim membantu memverifikasi.
Pukul 22.30, hasil final keluar.
Bu Sumarni: 1.250 suara
Pak Karyono: 980 suara
Pak Rahman: 770 suara
Bu Sumarni menang! Ia terpilih sebagai kepala desa
perempuan pertama dalam sejarah Desa Awan Biru.
Sorak-sorai pecah. Pendukung Bu Sumarni bersuka cita. Pak
Karyono dan Pak Rahman menerima kekalahan dengan lapang dada.
Amat menghela napas lega. Pemilihan selesai. Semua berjalan
lancar. Tidak ada kerusuhan. Tidak ada kecurangan.
Iwan mendekati Amat. "Mat, terima kasih. Live
streaming-nya sukses besar. Warga di perantauan bisa lihat langsung."
Amat tersenyum lelah. "Alhamdulillah, Wan. Server
kuat, internet lancar, tim kompak."
Didit ikut mendekat. "Mat, lo hebat. Di tengah tekanan
gila-gilaan, lo tetap profesional."
"Berkat dukungan kalian semua, Dit."
Seminggu setelah pemilihan, proses transisi kepemimpinan
dimulai. Iwan menyiapkan laporan akhir masa jabatan. Bu Sumarni mulai
mempelajari tugas-tugas kepala desa.
Amat bertemu Bu Sumarni untuk membahas pengelolaan website
ke depan.
"Pak Amat, saya dengar banyak tekanan yang Anda alami
selama masa kampanye," kata Bu Sumarni lembut.
"Iya, Bu. Tapi alhamdulillah bisa dilewati."
"Saya ingin Anda tetap menjadi admin website. Dengan
satu syarat."
"Apa itu, Bu?"
"Tetap netral. Jangan pernah berpihak. Bekerjalah
untuk desa, bukan untuk orang per orang. Saya tidak akan intervensi. Saya hanya
ingin desa ini tetap maju."
Amat terharu. "Terima kasih, Bu. Itu yang selalu saya
pegang."
"Bagus. Kalau begitu, mari kita lanjutkan."
Setelah pemilihan usai, Amat punya waktu lebih banyak untuk
keluarga. Ia pulang lebih awal, bermain dengan Anita, membantu Rania di dapur.
Suatu malam, saat mereka bertiga makan malam, Anita
bertanya, "Ayah, kenapa kemarin banyak orang marah sama ayah?"
Amat dan Rania berpandangan.
"Memangnya Anita dengar apa?" tanya Amat lembut.
"Teman sekolah bilang, ayah jahat. Soalnya ayah
pilih-pilih berita."
Amat menghela napas. Ia menjelaskan pada Anita dengan
bahasa sederhana.
"Nak, ayah itu kerja buat semua orang. Ayah harus
adil. Kadang orang marah karena mereka tidak tahu apa yang ayah lakukan. Tapi
ayah tetap berusaha yang terbaik."
Anita mengangguk-angguk, meski mungkin belum paham
sepenuhnya.
"Ayah, Anita bangga sama ayah."
Amat terharu. Ia memeluk putrinya.
"Makasih, Nak."
Malam itu, setelah Anita tidur, Rania berkata, "Mat,
aku minta maaf."
"Maaf kenapa?"
"Dulu aku sempat minta pindah ke kota. Aku pikir,
mungkin lebih baik tinggal di tempat yang tidak terlalu banyak tekanan."
"Tapi?"
"Tapi sekarang aku lihat, kamu kuat. Kamu tetap teguh.
Dan aku bangga."
Amat tersenyum. "Kamu yang paling berjasa, Ra. Kamu
yang selalu mendukung, selalu mengingatkan."
Mereka berpelukan.
Tiga bulan setelah Bu Sumarni menjabat, diadakan evaluasi
besar tentang sistem informasi desa. Amat mempresentasikan capaian dan
tantangan.
"Capaian kita: website aktif dengan 5.000 pengunjung
per bulan, media sosial dengan 3.000 pengikut, layanan online untuk 10 jenis
surat. Tantangan: masih ada warga gaptek yang perlu pendampingan, serangan
siber sesekali terjadi, dan isu netralitas yang harus terus dijaga."
Bu Sumarni mengangguk. "Bagus. Lalu solusi untuk
tantangan itu?"
"Pertama, kita akan adakan pelatihan rutin untuk
warga. Kedua, kita tingkatkan keamanan siber. Ketiga, kita buat pedoman etika
yang lebih jelas dan disosialisasikan ke publik."
"Setuju. Lanjutkan."
Evaluasi berlangsung positif. Semua pihak sepakat bahwa
website desa harus terus dikembangkan.
Di tahun keempat masa jabatan Bu Sumarni, ujian baru
datang. Bukan dari dalam desa, tapi dari luar.
Sebuah berita muncul di media online kabupaten dengan
judul:
"Desa Digital Awan Biru: Antara Prestasi dan
Kontroversi Netralitas"
Artikel itu mengulas kembali gosip-gosip lama saat
Pilkades, dengan sudut pandang yang cenderung negatif. Disebutkan bahwa admin
desa diduga tidak netral dan ada indikasi penyalahgunaan wewenang.
Amat membaca artikel itu dengan kepala berdenyut. "Ini
dari mana? Kok tiba-tiba muncul lagi?"
Iwan—yang kini menjadi Ketua RT setelah masa jabatannya
selesai—menelepon. "Mat, sudah baca berita itu?"
"Sudah, Wan. Ini ngaco."
"Ini pasti ulah pihak yang tidak puas dengan hasil
Pilkades. Mereka coba menyerang lagi."
"Harus bagaimana?"
"Kita klarifikasi. Segera."
Amat menyusun siaran pers. Ia jelaskan kronologi, tunjukkan
bukti-bukti, dan tantang siapa pun yang merasa dirugikan untuk melapor ke jalur
resmi.
Siaran pers itu diupload di website dan media sosial.
Responsnya cepat. Banyak warga yang membela Amat:
"Pak Amat itu profesional. Saya saksi."
"Jangan fitnah orang baik."
"Kami warga Awan Biru bangga dengan website desa kami."
Bu Sumarni juga angkat bicara. Dalam wawancara dengan media
yang sama, ia mengatakan:
"Pak Amat adalah admin yang berintegritas. Saya tidak
pernah menemukan indikasi penyimpangan. Jika ada pihak yang tidak puas, silakan
laporkan secara resmi. Jangan main fitnah di media."
Media itu akhirnya mencabut artikelnya dan meminta maaf.
Usai badai reda, Amat duduk di beranda rumah pada suatu
sore. Usianya 42 tahun. Rambutnya mulai beruban di sana-sini. Garis-garis di
wajahnya semakin dalam, tapi matanya masih sama: penuh rasa ingin tahu.
Rania duduk di sampingnya. Anita—kini berusia 14
tahun—sedang belajar di kamarnya.
"Mat, kamu ingat 21 tahun lalu? Waktu pertama kali
pulang ke desa?" tanya Rania.
"Ingat. Laptop bekas, tombol 'E' harus ditekan
keras."
"Dan sekarang? Kamu punya tim, punya website yang
diakui kabupaten."
Amat tersenyum. "Dan punya istri yang sabar, punya
anak yang lucu."
Mereka tertawa kecil.
"Ra, kadang aku berpikir, apa yang akan terjadi kalau
dulu aku menyerah? Saat server down, saat dituduh tidak netral, saat dapat
ancaman."
"Kamu pasti akan menyesal."
"Iya. Tapi aku bersyukur, tidak menyerah."
Rania memegang tangannya. "Karena kamu punya mimpi.
Mimpi yang lebih besar dari sekadar website."
"Apa itu?"
"Mimpi tentang desa yang maju, tentang anak-anak yang
punya masa depan, tentang kepercayaan yang bisa dijaga."
Amat merenung. Istrinya benar. Mimpi itu selalu lebih
besar.
Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak bermain. Anita
keluar, bergabung dengan mereka. Bambang, Herman, Anjelina—semua tumbuh menjadi
remaja.
"Lihat mereka," kata Amat. "Mereka generasi
baru. Mereka akan melanjutkan."
"Kamu sudah mewariskan sesuatu yang berharga, Mat.
Bukan hanya website, tapi nilai-nilai: kejujuran, ketekunan, keberanian."
Matahari mulai terbenam. Langit berwarna jingga keemasan.
Senja yang sama seperti 42 tahun lalu, saat Amat lahir dalam badai.
Kini, badai sudah berlalu. Yang tersisa adalah kedamaian
dan kebanggaan.
Malam itu, Amat membuka laptopnya. Bukan laptop baru, tapi
laptop tua yang dulu menemani perjuangannya—sebagai kenang-kenangan. Tombol
"E" masih harus ditekan keras.
Ia membuka blog pribadinya, yang sudah lama tidak diupdate.
Lalu menulis.
Judul Postingan: "42 Tahun, 21 Tahun Perjuangan"
Hari ini genap 42 tahun usiaku. 21 tahun di antaranya
kuhabiskan untuk desa ini—setengah hidupku.
Dari bocah yang bongkar radio, jadi admin website yang
pernah matikan server. Dari remaja yang patah hati, jadi suami dan ayah. Dari
honorer yang gajinya sering telat, jadi kepala seksi dengan tim andal.
Banyak badai yang kulewati. Server down, tuduhan miring,
ancaman, gosip. Semua datang silih berganti. Tapi satu hal yang kupelajari:
badai tidak akan pernah berhenti. Yang bisa kita lakukan adalah belajar
berlayar di tengahnya.
Kini, saat kupandangi desa ini, aku tersenyum. Jalan sudah
mulus. Kantor sudah rapi. Anak-anak muda sibuk dengan ponsel—bukan untuk main
game, tapi untuk belajar, untuk bekerja.
Website desa dikunjungi ribuan orang setiap bulan. Laporan
keuangan bisa diakses siapa saja. Calon kepala desa bisa berdebat secara
terbuka, disaksikan warga hingga ke perantauan.
Ini bukan pencapaianku sendiri. Ini pencapaian kita semua.
Iwan, Yuni, Eko, Lulu, Endang, Didit, Pak Surono, Bu Sumarni, dan semua warga
Desa Awan Biru yang percaya bahwa perubahan itu mungkin.
Terima kasih untuk Rania, yang selalu sabar. Untuk Anita,
yang menjadi alasan aku terus berjuang. Untuk semua yang pernah
meragukan—kalian membuatku lebih kuat.
Desa ini akan terus berubah. Aku mungkin tidak akan selalu
di sini. Tapi website ini, nilai-nilai ini, akan terus hidup.
Karena desa digital bukan hanya soal teknologi. Tapi soal
hati yang dijaga, kepercayaan yang dirawat, dan masa depan yang diwariskan.
Salam dari ujung jalan tanah yang kini beraspal.
– Amat, anak desa yang mimpinya tak pernah padam.
Ia menekan tombol "Publikasikan" dengan mantap.
Lalu menutup laptop perlahan.
Dari kamar, Anita memanggil, "Ayah! Ibu! Saya mau
cerita!"
Amat dan Rania masuk ke kamar Anita. Mereka duduk di sisi
tempat tidur, mendengarkan cerita putri mereka tentang sekolah, tentang teman,
tentang mimpi-mimpinya.
"Ayah, Anita mau jadi seperti ayah," kata Anita
sebelum tidur.
"Jadi apa, Nak?"
"Jadi orang yang berguna buat banyak orang."
Amat terharu. Ia mencium kening Anita.
"Kamu bisa, Nak. Kamu pasti bisa."
Malam itu, di rumah sederhana di ujung desa, seorang ayah,
ibu, dan anak berbagi mimpi. Mimpi yang lebih besar dari sekadar website. Mimpi
tentang masa depan.
Dan di luar, angin malam berhembus lembut. Membawa bisikan
dari masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Desa Awan Biru terus melangkah. Dengan teknologi di tangan,
dengan integritas di hati, dengan cinta yang tak pernah padam.
Dua bulan setelah artikel kontroversi mereda, sebuah
kejutan datang. Mobil berplat merah dengan tulisan "Dinas Komunikasi dan
Informatika Provinsi" berhenti di depan kantor desa.
Amat yang sedang meng-update website, langsung berdiri.
"Wah, tamu besar."
Seorang pria paruh baya dengan kemeja batik rapi turun,
diikuti dua staf muda. Ia adalah Kepala Dinas Kominfo Provinsi, Bapak
Hendrawan.
"Selamat pagi, Bapak. Ada yang bisa kami bantu?"
sapa Amat sopan.
"Selamat pagi. Saya Hendrawan dari Kominfo Provinsi.
Saya ingin bertemu dengan admin website Desa Awan Biru. Konon, beliau adalah
tokoh di balik kesuksesan digitalisasi desa ini."
Amat tersipu. "Saya, Pak. Amat."
"Wah, masih muda sekali. Saya kira sudah separuh
baya." Pak Hendrawan tertawa.
Amat mempersilakan tamu masuk. Bu Sumarni yang mendengar
kedatangan tamu penting, segera bergabung.
Setelah perkenalan dan basa-basi, Pak Hendrawan
menyampaikan maksud kedatangannya.
"Kami dari provinsi sangat terkesan dengan
perkembangan Desa Awan Biru. Website-nya aktif, transparan, dan yang paling
penting—dikelola dengan baik. Kami ingin menjadikan desa ini sebagai
percontohan untuk desa-desa lain di provinsi."
Amat terkejut. "Percontohan, Pak?"
"Iya. Kami akan adakan studi banding. Kepala desa dan
admin website dari 20 desa akan datang ke sini untuk belajar langsung. Apa
Bapak bersedia?"
Bu Sumarni langsung menjawab. "Bersedia, Pak. Ini
kehormatan bagi kami."
Pak Hendrawan tersenyum. "Bagus. Nanti tim saya akan
koordinasi lebih lanjut. Tapi pesan saya: pertahankan semangat ini. Jangan
mudah terpengaruh isu miring. Teruslah berkarya."
Setelah rombongan provinsi pergi, Amat duduk lemas. Eko
yang sejak tadi mengintip dari belakang, langsung menghampiri.
"Mat, lo mau jadi bintang tamu? 20 desa bakal dateng
ke sini?"
"Sepertinya iya, Ko."
"Wah, gila. Lo naik pangkat. Dari admin desa jadi
dosen desa."
Amat tertawa. "Dosen apa? Dosen server?"
Semua tertawa. Tapi di dalam hati, Amat merasa bangga.
Perjalanannya selama 21 tahun mulai diakui.
Dua bulan penuh persiapan. Amat dan tim IT-nya bekerja
ekstra. Mereka merapikan website, menyiapkan materi presentasi, dan mendesain
modul pelatihan sederhana.
Suatu malam, mereka lembur di kantor. Joko, yang kini
menjadi asisten andal, sibuk mendesain slide.
"Mat, ini slide tentang sejarah website. Apa perlu
ditambah foto lo waktu kecil?"
Amat tertawa. "Foto apa? Waktu kecil aku cuma punya
foto ijazah SD."
"Ya itu. Biar dramatis. Dari anak desa jadi admin
terkenal."
"Jangan lebay, Jo. Yang penting informatif, bukan
sensasional."
Rania datang membawa makanan untuk tim lembur. Anita ikut
serta, membawa minuman.
"Ayah, Anita bantu bawa es teh," kata Anita
sambil meletakkan gelas di meja.
"Wah, terima kasih, Sayang. Kamu baik sekali."
Joko berbisik pada Anita, "Nita, ayahmu mau jadi artis.
Banyak orang akan dateng liatin dia."
Anita mengerutkan dahi. "Artis? Ayah mau nyanyi?"
Semua tertawa. Suasana lembur jadi hangat.
Hari yang ditunggu tiba. 20 desa dari berbagai kabupaten
mengirimkan perwakilan. Aula balai desa penuh sesak. Spanduk besar bertuliskan
"Studi Banding Digitalisasi Desa" terpasang di depan panggung.
Amat berdiri di podium, ditemani Bu Sumarni dan Iwan. Ia
membuka presentasi dengan perasaan campur aduk—grogi, tapi juga bangga.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
datang di Desa Awan Biru. Saya Amat, admin website desa ini. Hari ini saya akan
berbagi pengalaman tentang perjalanan digitalisasi desa kami, dari nol hingga
sekarang."
Ia memaparkan slide demi slide. Dari masa kecilnya yang
suka bongkar radio, hingga perjuangannya membangun website dengan laptop bekas.
Dari konflik dengan Pak Surono, hingga serangan siber dan gosip politik.
Semua mendengarkan dengan saksama. Beberapa terharu,
beberapa tertawa, beberapa mengangguk-angguk.
Sesi tanya jawab berlangsung seru. Banyak pertanyaan
tentang teknis, tentang cara mengatasi resistensi, tentang menjaga netralitas.
Seorang kepala desa bertanya, "Pak Amat, bagaimana
cara Bapak tetap bertahan di tengah tekanan politik?"
Amat menjawab, "Saya selalu ingat, saya bekerja untuk
desa, bukan untuk orang per orang. Saya punya aturan, punya tim, punya keluarga
yang mendukung. Itu yang membuat saya kuat."
Tepuk tangan bergemuruh.
Setelah acara, banyak peserta ingin foto bersama Amat. Ia
seperti artis sungguhan.
Pak Hendrawan yang hadir lagi, tersenyum bangga. "Pak
Amat, saya ucapkan selamat. Presentasi Bapak luar biasa. Ini akan menjadi
inspirasi bagi banyak desa."
"Terima kasih, Pak. Semoga bermanfaat."
Suatu sore, saat Amat sedang membereskan meja, ia menemukan
sebuah amplop tua di antara tumpukan berkas. Amplop itu sudah menguning, dengan
tinta tulisan tangan yang mulai pudar.
Ia membuka amplop itu. Isinya sebuah surat, ditulis tangan
rapi.
Untuk Amat,
Kalau kamu baca surat ini, mungkin aku sudah jauh. Entah di
mana, entah bagaimana kabarku.
Aku hanya ingin bilang, aku bangga sama kamu. Aku dengar
dari teman-teman, kamu berhasil membangun website desa. Kamu mewujudkan mimpi
yang dulu kamu ceritakan padaku di bawah pohon trembesi.
Maaf aku tidak pernah membalas surat-suratmu dulu. Bukan
karena aku tidak peduli. Tapi karena aku takut. Takut kalau aku balas, aku akan
terus terikat pada masa lalu yang harus aku tinggalkan.
Kamu berhak bahagia. Kamu berhak punya keluarga yang
mencintaimu. Dan aku, di sini, juga sedang membangun kebahagiaanku sendiri.
Terima kasih untuk semua kenangan indah. Terima kasih sudah
menjadi bagian dari masa laluku.
Salam hangat,
Siti Mawar
Amat membaca surat itu berulang kali. Matanya berkaca-kaca.
Kenangan masa kecil, masa SMP, perasaan yang dulu pernah ada—semua kembali.
Tapi ia tidak sedih. Justru ada kelegaan. Seperti sebuah
buku yang akhirnya ditutup dengan rapi.
Ia menyimpan surat itu di dalam buku diary lamanya, bersama
kenangan-kenangan lain.
Malam harinya, ia bercerita pada Rania.
"Ra, hari ini aku nemu surat lama."
"Surat dari siapa?"
"Dari... Siti Mawar."
Rania terdiam sejenak. Lalu tersenyum. "Cinta
pertamamu?"
"Iya. Dia ngirim surat... entah kapan. Mungkin sudah
lama. Isinya... dia bilang dia bangga, minta maaf, dan mendoakan aku."
Rania memegang tangannya. "Kamu kenapa? Sedih?"
"Enggak. Justru lega. Seperti ada yang ditutup dengan
baik. Masa lalu itu penting, tapi masa kini lebih penting. Dan masa depan,
paling penting."
Rania tersenyum. "Kamu sudah dewasa, Mat."
"Berkat kamu."
Suatu malam, saat makan malam, Anita bertanya, "Ayah,
Anita boleh ikut ayah kerja besok?"
"Boleh, Nak. Tapi bangun pagi, ya. Ayah berangkat jam
setengah tujuh."
"Anita mau lihat ayah jadi admin."
Keesokan harinya, Anita datang ke kantor desa. Ia duduk di
samping Amat, mengamati ayahnya bekerja.
"Ayah, ini apa?" tanyanya sambil menunjuk layar.
"Ini dashboard website desa. Di sini ayah lihat berapa
orang yang baca berita kita."
"Wah, banyak. 2.000 orang hari ini."
"Iya. Mereka baca dari mana-mana. Dari Jakarta,
Surabaya, bahkan ada yang dari luar negeri."
Anita membelalak. "Luar negeri? Jauh banget."
"Mereka mungkin mantan warga yang merantau, atau orang
yang tertarik dengan desa kita."
Anita mengangguk-angguk. Lalu bertanya, "Ayah, susah
nggak jadi admin?"
Amat berpikir sejenak. "Susah, Nak. Tapi menyenangkan.
Ayah harus belajar terus, harus sabar, harus kuat. Kadang ada yang marah,
kadang ada yang protes. Tapi kalau lihat hasilnya, semua terbayar."
"Anita nanti mau jadi admin juga. Biar kayak
ayah."
Amat tersenyum. "Kamu bisa jadi apa saja, Nak. Yang
penting, jangan lupa sama desa ini. Jangan lupa sama orang-orang di sini."
"Iya, Ayah. Anita ingat."
Tahun ketujuh masa jabatan Bu Sumarni, diadakan rapat
koordinasi lintas sektor. Hadir perwakilan dari kecamatan, kabupaten, bahkan
provinsi. Agenda utama: pengembangan desa digital terintegrasi.
Amat diminta mempresentasikan rencana pengembangan lima
tahun ke depan. Ia sudah menyiapkan materi matang: perluasan layanan online,
integrasi dengan aplikasi pemerintah daerah, pelatihan digital untuk UMKM, dan
pembangunan pusat informasi publik.
Presentasinya berjalan lancar. Para pejabat
mengangguk-angguk.
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten berkata, "Pak Amat,
kami sangat terkesan. Desa Awan Biru benar-benar menjadi contoh. Kami akan
alokasikan anggaran tambahan untuk pengembangan lebih lanjut."
Setelah rapat, Amat dikerumuni peserta. Banyak yang ingin
bertanya, ingin belajar, ingin berkolaborasi.
Eko, yang ikut mendampingi, berbisik, "Mat, lo
sekarang jadi selebriti."
"Selebriti apa, Ko?"
"Selebriti desa digital."
Amat tertawa. Tapi dalam hati, ia bersyukur. Perjalanan
panjangnya tidak sia-sia.
Atas rekomendasi Dinas Kominfo Provinsi, Amat diundang ke
Jakarta untuk menjadi pembicara dalam seminar nasional tentang digitalisasi
desa. Ini pertama kalinya ia ke luar pulau.
Ia naik pesawat—pertama kali dalam hidupnya. Dari jendela,
ia melihat hamparan awan putih, mengingatkannya pada Desa Awan Biru yang dulu
diselimuti kabut.
"Ra, ini keren banget," katanya pada Rania yang
ikut serta.
"Iya. Kamu pantas ada di sini, Mat."
Di seminar, Amat tampil percaya diri. Ia bercerita tentang
perjalanannya, tentang tantangan yang dihadapi, tentang kunci sukses:
konsistensi, integritas, dan kerja tim.
Peserta seminar, yang kebanyakan dari perkotaan, terpukau.
Seorang peserta bertanya, "Pak Amat, apa pesan Bapak untuk anak muda desa
yang ingin sukses?"
Amat menjawab, "Jangan pernah malu dengan asal kalian.
Gunakan teknologi untuk belajar, untuk berkarya, untuk membangun. Desa bukan
tempat untuk dilupakan, tapi tempat untuk dikembangkan. Kalau kita bisa, siapa
lagi?"
Tepuk tangan panjang mengiringi jawabannya.
Setelah seminar, banyak yang ingin berkenalan, bertukar
kontak, berfoto. Amat merasa seperti artis sungguhan.
Malam harinya, di hotel, ia menelpon Anita via video call.
"Nak, lihat, ini pemandangan Jakarta."
"Wah, tinggi banget, Ayah. Ada gedung-gedung
gede."
"Iya. Tapi Ayah lebih suka desa kita."
"Kenapa?"
"Karena di sana ada kamu, ada Ibu, ada teman-teman.
Itu yang bikin Ayah nyaman."
Anita tersenyum lebar. "Anita kangen Ayah."
"Ayah juga kangen. Besok Ayah pulang."
Setelah pulang dari Jakarta, Amat duduk di beranda rumah
pada suatu senja. Usianya 42 tahun, 21 tahun mengabdi untuk desa. Banyak yang
sudah diraih, tapi ia merasa ini bukan akhir. Ini justru awal dari babak baru.
Anita duduk di sampingnya, membawa buku catatan.
"Ayah, Anita mau nulis cerita tentang ayah."
"Cerita apa, Nak?"
"Cerita tentang ayah, dari kecil sampai sekarang. Biar
nanti kalau Anita besar, Anita ingat."
Amat tersenyum. "Wah, bagus. Nanti kalau sudah
selesai, kasih ayah baca, ya."
"Iya, Ayah."
Mereka memandangi matahari terbenam. Langit jingga
keemasan, sama seperti puluhan tahun lalu.
"Lihat, Nak, senja. Setiap hari dia datang, setiap
hari dia pergi. Tapi dia selalu kembali."
"Kayak ayah, ya. Setiap hari kerja, setiap hari
pulang."
Amat tertawa. "Iya, Nak. Tapi ayah tidak sendiri. Ada
ibu, ada kamu, ada semua orang di desa ini."
Anita memeluk ayahnya.
"Ayah, Anita sayang ayah."
"Ayah juga sayang kamu, Nak. Lebih dari website, lebih
dari apa pun."
Di dalam rumah, Rania tersenyum melihat mereka. Ia tahu,
suaminya telah menemukan keseimbangan. Antara mimpi dan keluarga. Antara desa
dan hati.
Dan di ujung desa, angin berhembus lembut. Membawa cerita
tentang seorang anak yang lahir dalam badai, tumbuh dalam keterbatasan,
berjuang dalam tekanan, dan akhirnya menjadi legenda di tanah kelahirannya.
Desa Awan Biru,
tempat mimpi tak pernah mati.
BAB VII
"Puncak Karier dan Retaknya Persahabatan"
Pagi itu, matahari terbit dengan lambat di ufuk timur,
seolah enggan terburu-buru menyapa Desa Awan Biru yang sedang tertidur pulas.
Namun ketika sinar pertamanya menyentuh pucuk-pucuk pohon sawit, desa itu
langsung hidup. Ayam berkokok sambung-menyambung, burung-burung beterbangan
dari sarangnya, dan dari kejauhan terdengar suara azan subuh dari musholla yang
diperbaharui lima tahun lalu.
Di gerbang masuk desa, sebuah papan besar berdiri megah.
Tulisan timbul berwarna emas dengan latar biru langit terpampang jelas:
"SELAMAT DATANG DI DESA AWAN BIRU
DESA DIGITAL, DESA TRANSPARAN
DESA PERCONTOHAN PROVINSI"
Di bawahnya, tertera logo-logo: Kementerian Desa PDTT,
Pemerintah Provinsi, dan Kabupaten Awan Jingga. Sebuah lampu sorot dipasang di
atas papan itu, menyala otomatis saat malam tiba, membuat tulisan itu terlihat
dari kejauhan.
Amat berdiri di depan gerbang itu. Usianya 44 tahun,
rambutnya mulai banyak uban, terutama di bagian pelipis. Wajahnya yang dulu
polos kini dihiasi garis-garis halus—bekas dari tahun-tahun penuh perjuangan.
Namun matanya masih sama: tajam, penuh rasa ingin tahu, meski kini ada sedikit
lapisan kelelahan di sudut-sudutnya.
Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang—khas aparatur
desa—dengan celana bahan hitam rapi. Di tangan kanannya, sebuah ponsel pintar
model terbaru, bukan lagi ponsel jadul yang dulu hanya bisa telepon dan SMS. Di
pinggangnya, terselip kartu identitas dengan tulisan: Ahmad Syaifullah,
Kepala Seksi Pelayanan Informasi Desa Awan Biru.
"Dulu kita cuma punya modem rebutan," gumamnya
pelan, matanya menerawang ke masa lalu. "Satu modem untuk satu desa.
Sinyalnya cuma dapat kalau hujan, itu pun kalau beruntung."
Eko—yang kini berusia 46 tahun dengan perut sedikit
membuncit dan rambut mulai menipis di bagian atas—berdiri di sampingnya. Ia
tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang masih sama seperti dulu: agak
renggang dan sedikit kuning karena kopi.
"Sekarang WiFi di pos ronda saja kencang. Anak-anak
muda main game online sampai subuh. Dulu kita main bola pakai bola anyaman,
sekarang mereka main e-sport pakai laptop," sahut Eko sambil tertawa.
Amat ikut tersenyum. "Kadang aku mikir, apa ini semua
mimpi? Apa aku akan bangun dan mendapati diriku masih di kamar kos dengan
laptop bekas dan tombol 'E' yang harus ditekan keras?"
Eko menepuk pundaknya. "Ini nyata, Mat. Lo lihat itu
jalan beraspal? Itu nyata. Lihat itu lampu tenaga surya? Nyata. Lihat itu papan
nama? Nyata. Lo yang bikin semua ini nyata."
Amat menggeleng pelan. "Bukan aku. Kita. Semua
orang."
"Iya, iya. Tapi lo otaknya. Lo yang mulai. Lo yang
nggak pernah menyerah."
Mereka terdiam sejenak, memandangi desa yang terus
berkembang. Truk-truk kecil lalu lalang membawa hasil bumi. Ibu-ibu dengan
gerobak dorong berjalan ke pasar. Anak-anak sekolah bersepeda dengan seragam
rapi.
"Mat, lo ingat dulu waktu kita kecil? Main bola di
lapangan tanah?" tanya Eko tiba-tiba.
"Ingat. Lo selalu jadi kapten. Gue cuma jadi penjaga
gawang cadangan."
"Haha, iya. Tapi sekarang lo jadi kapten. Kapten
digital."
Amat tertawa kecil. "Kapten tanpa kapal."
"Kapalnya desa ini. Dan kapal ini nggak akan tenggelam."
Mereka berjalan perlahan menuju kantor desa. Sepanjang
jalan, warga menyapa. Ada yang angkat tangan, ada yang mengangguk hormat, ada
yang berhenti sebentar untuk bersalaman.
"Pagi, Pak Amat."
"Selamat pagi, Bu."
"Pak Amat, website desa kemarin error? Saya mau lihat jadwal
posyandu."
"Sudah normal, Pak. Tadi pagi saya perbaiki."
"Oh, alhamdulillah. Makasih, Pak."
Percakapan kecil seperti itu terjadi setiap hari. Amat
sudah terbiasa. Namanya dikenal, wajahnya diingat, jasanya diakui. Tapi di
balik semua itu, ada beban yang tak terlihat.
Kantor Desa Awan Biru kini tidak lagi seperti dulu.
Bangunan lama sudah direnovasi total dua tahun lalu dengan dana desa dan
bantuan provinsi. Kini berdiri bangunan dua lantai dengan arsitektur modern
bernuansa tradisional. Atapnya bergaya joglo, tapi dindingnya kaca dan beton.
Di halaman, taman ditata rapi dengan bunga-bunga warna-warni dan air mancur
kecil.
Lantai pertama: ruang pelayanan publik dengan loket-loket
modern, ruang tunggu ber-AC, dan papan informasi digital yang menampilkan
antrean dan jadwal. Warga datang, ambil nomor antrean, duduk nyaman, dan
menunggu dipanggil melalui layar.
Lantai dua: ruang rapat, ruang kepala desa, dan yang paling
membanggakan—Ruang Digital Desa. Di ruangan ini, terdapat enam unit
komputer canggih, satu server rakitan, studio mini untuk konten kreator, dan
layar lebar untuk presentasi.
Di dinding ruang digital, terpampang foto-foto perjalanan
desa: dari jalan tanah merah hingga beraspal, dari kantor reyot hingga gedung
megah, dari modem usb hingga WiFi kencang. Ada juga foto Amat saat menerima
penghargaan dari bupati, foto Iwan menyerahkan laporan transparan, foto Bu
Sumarni melaunching program baru.
Amat duduk di mejanya—meja khusus kepala seksi di pojok
ruangan dengan pemandangan langsung ke halaman. Di mejanya, tiga monitor
terpasang: satu untuk pengelolaan website, satu untuk media sosial, satu untuk
monitoring server. Di sampingnya, rak berisi buku-buku teknologi dan
binder-binder tebal berisi dokumentasi.
"Selamat pagi, Pak Amat!" sapa Joko, anak muda 25
tahun yang dulu jadi relawan, kini menjadi staf IT tetap. Ia baru lulus kuliah
tahun lalu dan langsung direkrut.
"Pagi, Jo. Ada laporan?"
"Ini, Pak. Statistik kunjungan minggu lalu naik 15%.
Pengunjung terbanyak dari provinsi, terus Jakarta, bahkan ada dari
Malaysia."
Amat tersenyum bangga. "Wah, sudah
internasional."
"Iya, Pak. Mungkin mereka baca artikel tentang UMKM
kita."
"Bagus. Terus update konten. Jangan sampai
ketinggalan."
Joko mengangguk, lalu kembali ke mejanya.
Amat membuka laptop—bukan laptop bekas lagi, tapi laptop
baru spek tinggi yang dibelikan desa untuk operasional. Namun di laci mejanya,
ia masih menyimpan laptop tua itu. Sesekali ia mengeluarkannya, menekan tombol
"E" yang masih harus ditekan keras, dan tersenyum.
"Kenangan," gumamnya.
Suatu siang, amplop coklat tebal tiba di kantor desa.
Isinya surat undangan dari Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi. Amat membaca
dengan mata membelalak.
Kepada Yth. Sdr. Ahmad Syaifullah
di tempat
Dengan hormat,
Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Seminar
Transformasi Digital Desa Berbasis Transparansi, kami mengundang Saudara untuk
menjadi narasumber pada acara tersebut yang akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal: Kamis, 15 Oktober 2026
Waktu: 09.00 WIB - selesai
Tempat: Hotel Grand Parama, Kota Provinsi
Tema: "Membangun Desa Digital dari Akar Rumput"
Kami memilih Saudara berdasarkan rekam jejak keberhasilan
Desa Awan Biru dalam mengelola sistem informasi desa yang transparan dan
partisipatif. Besar harapan kami, pengalaman Saudara dapat menginspirasi
desa-desa lain di provinsi ini.
Atas perhatian dan kesediaannya, kami ucapkan terima kasih.
Amat membaca surat itu tiga kali. Rasanya seperti mimpi.
"Yun! Yun!" teriaknya memanggil Yuni yang sedang
di ruang sebelah.
Yuni masuk dengan wajah khawatir. "Ada apa, Mat?
Server down?"
"Bukan. Baca ini."
Yuni membaca surat itu. Matanya membelalak, lalu tersenyum
lebar. "Wah, Mat! Selamat! Kamu jadi narasumber tingkat provinsi!"
Eko, Lulu, Endang, dan Joko yang mendengar keributan, ikut
masuk. Begitu tahu isinya, mereka semua bersorak.
"Selamat, Mat!"
"Keren banget!"
"Narasumber provinsi!"
"Amit-amit, jangan lupa sama kami kalau sudah terkenal."
Amat tersenyum, tapi tangannya sedikit gemetar.
"Ini... ini serius? Aku yang ngomong di depan orang provinsi?"
Iwan—yang kebetulan datang untuk rapat—masuk dan langsung
tahu situasi. Ia membaca surat itu, lalu memeluk Amat.
"Mat, ini buah dari kerja kerasmu selama ini.
Nikmati."
Malam harinya, di rumah, Rania menyetrika kemeja batik
terbaik Amat. Wajahnya berseri-seri.
"Kamu sekarang pembicara provinsi, Mat. Dulu cuma
admin desa, sekarang narasumber."
Amat tersenyum kecil, duduk di kursi sambil memandangi
istrinya. "Semoga suaraku tidak buffering."
Rania tertawa. "Buffering? Kamu ini, istilah mulu.
Yang penting bicara dari hati."
"Tapi aku grogi, Ra. Di depan ratusan orang."
"Kamu bisa. Dulu waktu pertama kali pegang mouse, kamu
juga grogi. Sekarang jago."
Amat merenung. Istrinya benar. Hidup adalah proses belajar
tanpa henti.
Hotel Grand Parama adalah hotel berbintang di pusat kota
provinsi. Bangunannya menjulang 15 lantai, dengan lobby megah berlapis marmer.
Amat merasa seperti orang desa yang baru pertama kali ke kota—padahal ia sudah
sering ke kota, tapi hotel semewah ini baru kali ini ia injak.
Ia datang dengan pakaian terbaik: kemeja batik pemberian
Rania, celana bahan hitam, sepatu pantofel yang disemir sampai mengkilap. Di
saku, ia membawa flashdisk berisi materi presentasi yang sudah disiapkan
berminggu-minggu.
Ruang seminar di lantai 3 sudah penuh. Sekitar 200 peserta
dari berbagai desa se-provinsi hadir. Mereka adalah kepala desa, perangkat
desa, pengelola website, dan mahasiswa yang tertarik dengan topik digitalisasi
desa.
Amat duduk di kursi narasumber bersama dua orang lain:
seorang akademisi dari universitas negeri dan seorang pejabat dari Dinas
Kominfo Provinsi. Moderator—seorang wanita muda dengan pakaian rapi—membuka
acara.
Acara berlangsung lancar. Akademisi bicara tentang teori
transformasi digital. Pejabat bicara tentang kebijakan pemerintah. Giliran
Amat, ia agak gugup saat naik ke podium.
Tapi begitu melihat layar menampilkan foto Desa Awan
Biru—foto lama jalan tanah merah yang kontras dengan foto baru jalan
beraspal—ia merasa tenang.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
sapanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,"
jawab peserta serempak.
Amat mulai berbicara. Suaranya mantap, meski awalnya
sedikit bergetar. Ia bercerita tentang perjalanan Desa Awan Biru: dari desa
tertinggal dengan listrik putus-nyambung, hingga menjadi desa digital
percontohan. Ia bercerita tentang laptop bekas, tentang modem rebutan, tentang
server yang sering down. Ia bercerita tentang konflik generasi, tentang Pak
Surono yang dulu menentang teknologi, kini menjadi pengguna setia. Ia bercerita
tentang transparansi dana desa, tentang website yang diaudit publik, tentang
warga yang bisa mengawasi langsung.
"Kami mulai dari satu laptop, satu modem, dan satu
tekad: jangan sampai uang desa hilang tanpa jejak digital. Karena kalau uang
desa hilang, yang rugi bukan cuma perangkat desa, tapi seluruh warga. Anak-anak
sekolah yang harusnya dapat beasiswa bisa tidak dapat. Jalan yang harusnya
mulus bisa tetap rusak."
Peserta diam, mendengarkan dengan saksama.
"Tantangan terbesar bukan teknologi. Tapi manusia.
Meyakinkan orang tua bahwa teknologi itu teman, bukan musuh. Meyakinkan warga
bahwa transparansi itu kebaikan, bukan ancaman. Meyakinkan diri sendiri bahwa
kita bisa."
Amat tersenyum, lalu menambahkan dengan nada humor khasnya,
"Dan tentu saja, jangan sampai server down saat bupati menonton live
streaming. Karena kalau itu terjadi, bukan cuma malu, tapi bisa kena
tegur."
Peserta tertawa. Suasana mencair.
Setelah presentasi, sesi tanya jawab berlangsung meriah.
Puluhan peserta antre bertanya. Ada yang minta tips, ada yang minta diajari,
ada yang sekadar minta foto bersama.
Di sela-sela keramaian, Amat melihat seseorang duduk di
pojok ruangan. Seorang pemuda berusia sekitar 25 tahun, dengan kemeja putih
rapi dan wajah yang familiar. Ia menatap Amat dengan tatapan sulit
ditebak—campuran antara kagum, iri, dan mungkin... dendam.
Herman. Anak Pak Didit.
Amat ingin mendekat, tapi Herman sudah lebih dulu berdiri
dan pergi. Ia menghilang di balik pintu.
Perjalanan pulang dari kota provinsi memakan waktu lima
jam. Amat duduk di kursi bus, memandangi pemandangan luar yang bergerak cepat.
Sawah, kebun, desa-desa kecil, semua terlewati.
Pikirannya melayang pada Herman. Ia ingat masa kecil
Herman—anak kecil yang lucu, yang dulu sering main dengan Anita. Ia ingat
Didit—sahabat masa kecil yang kini menjadi Ketua BPD. Hubungan mereka sempat
renggang dulu, lalu membaik. Tapi kini, ada jarak baru yang terbentuk.
Di ponselnya, pesan dari Didit masuk.
Didit: "Mat,
selamat. Aku dengar presentasimu sukses."
Amat: "Makasih, Dit. Tapi ada yang mengganjal."
Didit: "Apa?"
Amat: "Herman di sana. Tapi dia pergi begitu saja."
Didit: "..."
Pesan itu tidak dibalas.
Amat menghela napas. Ada yang tidak beres.
Di Desa Awan Biru, warung kopi bukan sekadar tempat minum
kopi. Ia adalah parlemen rakyat. Di sanalah berita beredar, opini dibentuk, dan
gosip berkembang biak.
Warung Kopi "Sederhana" milik Pak Darman—yang
kini sudah pensiun dan warungnya dikelola anaknya—menjadi pusat diskusi warga
setiap sore. Di sana, para bapak-bapak duduk melingkar, menyeruput kopi hitam,
dan membahas apa saja: harga sawit, program desa, hingga politik.
Suatu sore, obrolan bergeser ke arah yang tidak
mengenakkan.
"Percuma kita punya website, yang pegang itu-itu
terus," kata seorang warga paruh baya—sebut saja Pak Jum—yang dulu pernah
protes soal berita Pilkades.
"Iya. Pak Amat itu sudah terlalu lama. Harusnya ada
regenerasi," timpal yang lain.
"Katanya semua proyek digital pasti lewat dia.
Jangan-jangan ada fee?"
"Itu mah fitnah. Jangan sembarangan," bela
seorang warga lain.
"Fitnah apa? Lihat saja, anak-anak muda mana yang
dikasih kesempatan? Semua dipegang sendiri."
Herman yang kebetulan duduk di pojok, hanya diam. Tapi
matanya menyala-nyala.
Malam harinya, sebuah akun anonim muncul di media sosial.
Namanya @warga_peduli_asli. Profilnya baru dibuat, foto profilnya
gambar wayang. Postingan pertamanya langsung menyerang:
"Desa digital? Atau desa dikuasai satu orang? Selama
20 tahun lebih, sistem digital desa dipegang orang yang sama. Tidak ada regenerasi.
Tidak ada kaderisasi. Ini namanya monopoli informasi. Warga harus sadar!"
Postingan itu dishare puluhan kali dalam semalam. Komentar
bermunculan. Ada yang mendukung, ada yang membela, ada yang cuma kasih emoji.
Eko membaca postingan itu di rumah. Ia langsung menelepon
Amat.
"Mat, lo lihat belum?"
"Lihat apa, Ko?"
"Di medsos. Ada yang ngejelek-jelekin lo."
Amat membuka ponselnya. Ia membaca postingan itu dengan
wajah datar. Tapi di dalam, ada sesuatu yang perih.
"Biarkan, Ko. Mungkin cuma iseng."
"Iseng? Itu udah 50 share, Mat. Ini bukan iseng."
Amat diam. Ia tahu, ini baru awal.
Hari-hari berikutnya, serangan di media sosial semakin
menjadi. Akun-akun anonim baru bermunculan, semua dengan narasi yang sama: Amat
terlalu lama berkuasa, sistem digital desa tidak transparan, perlu regenerasi.
Di balik semua itu, Herman diam-diam membangun basis
pendukung. Ia aktif di organisasi pemuda, sering memberi pendapat di
forum-forum, dan mulai dikenal sebagai "suara kritis" terhadap sistem
yang ada.
Suatu malam, Didit datang ke rumah Herman. Wajahnya tegang.
"Her, kamu di balik akun-akun itu?"
Herman diam. Tidak menjawab.
"Ayah tahu itu kamu. Jangan bohong."
Herman menghela napas. "Iya, Ayah. Aku yang
buat."
Didit terkejut. "Kenapa? Apa salah Pak Amat sama kamu?"
"Dia nggak salah. Tapi sistemnya salah. Terlalu lama
dipegang satu orang. Aku juga punya hak, punya kemampuan. Tapi dia nggak pernah
kasih ruang."
"Kamu pernah minta?"
"Harus minta? Seharusnya dia lihat sendiri. Anak-anak
muda butuh kesempatan."
Didit duduk lemas. "Her, kamu salah. Pak Amat itu
bukan orang jahat. Dia cuma... mungkin terlalu fokus sehingga lupa kaderisasi.
Tapi menyerangnya kayak gini, itu nggak benar."
"Kalau tidak dengan tekanan, dia nggak akan berubah,
Ayah."
Didit menatap anaknya. Ada kebanggaan melihat anaknya
berani bersuara, tapi juga ada kekecewaan karena caranya.
"Ayah minta kamu berhenti. Hapus akun-akun itu."
"Maaf, Ayah. Aku tidak bisa."
Malam itu, pukul 23.47. Amat baru saja hendak tidur setelah
seharian bekerja. Tiba-tiba, laptopnya—yang masih menyala di meja
kerja—berbunyi aneh. Bukan notifikasi biasa, tapi bunyi alarm.
Amat bangkit, mendekati laptop. Layar menampilkan pesan
peringatan dari sistem keamanan:
"INTRUSION DETECTED. UNAUTHORIZED ACCESS
ATTEMPT."
Jantung Amat berdegup kencang. Ia segera membuka dashboard
server. Yang dilihatnya membuatnya terlonjak.
Website desa telah berubah. Latar hitam pekat. Di tengah,
tulisan merah besar:
"HACKED. TRANSPARANSI HANYA ILUSI."
Di bawahnya, ada logo palu arit—simbol yang tidak ada
hubungannya dengan desa—dan tulisan: "Bangun dari mimpi
digitalmu."
"Ran! Ran!" teriak Amat.
Rania yang setengah mengantuk, berlari masuk. Begitu
melihat layar, ia terbelalak.
"Mat, ini serius? Website kita?"
"Ini bukan template baru, Ran. Ini diserang."
Rania memegang mulutnya. "Ya Allah... gimana
ini?"
Amat menarik napas dalam. "Tenang. Kita punya backup.
Tapi pertama, kita harus matikan akses publik dulu."
Ia segera mengambil ponsel, menelepon Eko.
"Ko! Server diserang!"
Eko menjawab dengan suara masih ngantuk. "Ha? Serangan
apa?"
"Hacker! Website kita dirusak!"
Eko langsung sadar. "Mat, jangan bilang kamu pakai
password tanggal lahir lagi!"
Amat terdiam dua detik. "...Bukan."
"Kamu yakin?"
"...Setengah yakin."
Di tengah situasi mencekam, percakapan absurd itu membuat
Amat hampir tertawa. Tapi ia tahan.
"Ko, serius. Bantu aku matikan akses publik
dulu."
"Oke, oke. Aku on."
Mereka bekerja cepat. Dalam 15 menit, akses publik ke
website berhasil dimatikan. Halaman yang diretas tidak bisa dilihat orang lagi.
Tapi di grup WhatsApp warga, pesan sudah mulai masuk:
"Website desa kenapa gelap?"
"Ada tulisan aneh. HACKED katanya."
"Apakah ini sabotase politik?"
"Adminnya tidur?"
"Jangan-jangan data kita dicuri!"
Amat membaca pesan-pesan itu dengan kepala berdenyut. Ia
harus segera mengatasi krisis ini.
Pukul 01.30 dini hari, Amat masih di depan laptop. Eko
datang ke rumahnya. Mereka berdua bekerja.
"Mat, kita punya backup, kan?" tanya Eko.
"Iya. Aku selalu backup setiap minggu. Tiga tempat:
server lokal, cloud, dan hardisk eksternal."
"Wah, lo selamat. Kalau nggak, bisa gila."
"Makanya, pengalaman. Dulu pernah hampir kehilangan
data. Kapok."
Mereka memulihkan data dari backup. Prosesnya lama—butuh
waktu hingga subuh. Tapi akhirnya, website kembali normal. Halaman utama
kembali seperti sedia kala.
Amat menghela napas lega. "Alhamdulillah."
Eko menepuk pundaknya. "Lo hebat, Mat. Cepat
tanggap."
"Ini belum selesai, Ko. Kita harus investigasi siapa
pelakunya."
Pagi harinya, Amat melaporkan kejadian ke Iwan dan Didit.
Mereka mengadakan rapat darurat.
"Kita harus laporkan ke polisi," kata Iwan tegas.
Didit mengangguk. "Ini serangan siber. Bisa
dipidanakan."
Amat diam. Pikirannya melayang pada Herman. Ia tidak punya
bukti, tapi instingnya mengatakan, ini ada hubungannya.
"Didit," panggil Amat pelan.
"Apa, Mat?"
"Sebelum lapor polisi... bicara dulu sama
Herman."
Didit terkejut. "Herman? Maksud lo?"
Amat menatapnya tajam. "Kita sama-sama tahu. Aku nggak
menuduh. Tapi kalau benar dia, lebih baik diselesaikan secara
kekeluargaan."
Didit terdiam. Wajahnya pucat.
Malam harinya, Amat diundang ke rumah Didit. Suasana
tegang. Herman duduk di ruang tamu dengan wajah tertunduk. Didit duduk di
sampingnya, wajahnya campuran marah dan sedih. Ibu Herman—istri Didit—duduk di
pojok, matanya sembab.
Amat masuk, duduk di kursi yang disediakan.
"Mat, maaf undang malam-malam," ucap Didit lirih.
"Tidak apa, Dit."
Didit menatap Herman. "Her, katakan."
Herman diam.
"Katakan!" suara Didit meninggi.
Amat mengangkat tangan. "Dit, tenang. Biar aku yang bicara."
Amat menatap Herman. Matanya teduh, tidak marah.
"Her, aku tahu kamu pintar. Aku tahu kamu punya
potensi. Aku juga tahu kamu merasa tidak diberi ruang. Itu salahku. Mungkin aku
terlalu fokus pada sistem sehingga lupa kaderisasi."
Herman masih diam.
"Tapi serangan hacker itu, kalau benar kamu yang
melakukannya, itu bukan cara. Itu merusak. Bukan cuma merusak website, tapi
merusak kepercayaan. Merusak persahabatan."
Air mata Herman mulai jatuh.
"Pak... saya... saya minta maaf."
Amat menghela napas. "Kamu yang melakukannya?"
Herman mengangguk pelan. "Saya... saya hanya ingin
diperhatikan. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa. Tapi saya salah
jalan."
Didit menutup wajahnya. Rasa malu dan kecewa bercampur jadi
satu.
Amat duduk lebih dekat ke Herman. "Her, lihat
aku."
Herman mengangkat wajahnya.
"Aku pernah seumur kamu. Aku juga pernah merasa tidak
dianggap. Tapi aku tidak pernah merusak. Aku memilih belajar, memilih bekerja
keras, memilih sabar. Itu yang membuatku sampai di sini."
"Saya malu, Pak."
"Tidak perlu malu. Yang perlu adalah memperbaiki.
Hapus semua akun anonim itu. Bantu kami memulihkan kepercayaan warga. Dan mulai
besok, kamu resmi menjadi anggota tim IT desa. Bukan karena tekanan, tapi
karena kamu pantas."
Herman terkejut. "Bener, Pak?"
"Bener. Tapi dengan satu syarat: jangan pernah ulangi
ini lagi."
Herman menangis. Ia memeluk Amat.
Didit juga menangis, tapi kali karena haru. "Mat...
maafkan kami. Maafkan anakku."
Amat tersenyum. "Sudah, Dit. Yang penting sekarang
kita perbaiki bersama."
Tiga hari setelah insiden, diadakan pertemuan terbuka di
balai desa. Warga diundang. Iwan, Didit, Amat, dan Herman duduk di panggung.
Iwan membuka acara. "Bapak-bapak, Ibu-ibu, kita
berkumpul hari ini untuk klarifikasi. Website desa kita sempat diretas. Pelakunya
sudah diketahui dan sudah menyesal."
Warga mulai berbisik-bisik.
"Pelaku adalah saudara kita sendiri, Herman, anak Pak
Didit."
Warga terkejut. Beberapa mulai berkomentar negatif.
Tapi Iwan melanjutkan, "Tapi daripada menghakimi, kita
pilih untuk memperbaiki. Herman sudah meminta maaf. Dan Pak Amat, dengan lapang
dada, menerimanya. Mulai besok, Herman akan bergabung dengan tim IT desa. Mari
kita dukung dia untuk berkarya positif."
Herman berdiri, mengambil mikrofon. Tangannya gemetar.
"Assalamu'alaikum... Saya Herman. Saya minta maaf
sebesar-besarnya pada seluruh warga, terutama pada Pak Amat. Saya salah. Saya
terima konsekuensi. Tapi saya berjanji, akan menggunakan kemampuan saya untuk
hal yang benar. Doakan saya."
Warga diam. Lalu seseorang bertepuk tangan. Disusul yang
lain. Akhirnya, tepuk tangan bergemuruh.
Amat tersenyum. Ia melirik Didit yang menangis haru.
Setelah insiden itu, Amat memulai program regenerasi
besar-besaran. Ia membuka pelatihan rutin untuk anak-anak muda desa yang
berminat di bidang IT. Herman menjadi asisten utamanya.
Setiap Sabtu sore, balai desa penuh dengan anak muda.
Mereka belajar tentang dasar-dasar komputer, pengelolaan website, keamanan
siber, dan content creation. Amat mengajar dengan sabar, dibantu Herman dan
Joko.
Suatu sore, saat istirahat, Herman mendekati Amat.
"Pak, saya mau tanya."
"Apa, Her?"
"Kenapa Bapak mau memaafkan saya? Saya sudah merusak
website yang Bapak bangun bertahun-tahun."
Amat tersenyum. "Her, website bisa diperbaiki. Tapi
manusia? Kalau kita salah memperlakukan, bisa rusak selamanya. Kamu masih muda,
masih bisa diarahkan. Sayang kalau sampai masa depanmu hancur karena satu
kesalahan."
Herman menunduk. "Makasih, Pak. Saya nggak akan lupa
kebaikan Bapak."
"Bukan kebaikan. Ini investasi. Investasi untuk masa
depan desa. Kamu dan teman-temanmu yang akan melanjutkan nanti."
Herman mengangguk mantap.
Usai pelatihan, Amat duduk di bangku taman halaman balai
desa. Matahari mulai terbenam. Langit berwarna jingga kemerahan—senja yang sama
seperti masa kecilnya dulu.
Rania datang, duduk di sampingnya.
"Lelah?" tanyanya.
"Capek, Ra. Tapi... puas."
"Kamu baik banget memaafkan Herman."
"Bukan baik. Tapi... aku belajar dari hidup. Dendam
tidak pernah membawa kebaikan. Yang kubawa dari perjalanan ini adalah: kita harus
terus belajar, terus memaafkan, dan terus melangkah."
Rania memegang tangannya. "Aku bangga sama kamu."
"Sebaliknya, aku yang harus bangga punya istri seperti
kamu. Sabar, setia, selalu mendukung."
Mereka tersenyum.
Dari kejauhan, Anita—kini berusia 21 tahun, mahasiswi
semester akhir—datang bersama Herman. Mereka berbincang akrab.
"Lihat mereka," kata Amat. "Masa
depan."
"Mereka akan lebih baik dari kita."
"Insyaallah."
Setahun setelah insiden, Desa Awan Biru kembali meraih
penghargaan. Kali ini tingkat provinsi: Desa Digital Terbaik dalam
Kategori Transparansi dan Partisipasi Publik.
Acara penyerahan digelar di gedung gubernuran. Amat, Iwan,
Bu Sumarni, dan Herman hadir. Herman bahkan diminta ikut naik panggung sebagai
perwakilan generasi muda.
Gubernur memberikan sambutan. "Desa Awan Biru adalah
contoh nyata bahwa digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tapi soal membangun
kepercayaan. Mereka tidak hanya sukses secara sistem, tapi juga sukses secara
manusia. Saya dengar ada kisah rekonsiliasi di sana—seorang pemuda yang sempat
menyerang, kini menjadi bagian dari tim. Itulah esensi pembangunan: memulihkan,
bukan menghukum."
Herman menunduk, matanya berkaca-kaca.
Selesai acara, mereka foto bersama. Di belakang panggung,
Herman memeluk Amat.
"Pak, terima kasih. Saya tidak akan pernah lupa."
"Her, ingat ini: kesuksesan sejati bukan ketika kita
berada di puncak, tapi ketika kita bisa membawa orang lain ikut naik."
Herman mengangguk.
Di usia 49 tahun, Amat mulai mempersiapkan pensiunnya.
Bukan pensiun dari kehidupan, tapi dari posisi strategis di desa. Ia ingin
memberi ruang pada generasi muda.
Ia mengajukan Herman sebagai calon penggantinya. Didukung
Iwan dan Bu Sumarni, usulan itu disetujui.
Dalam rapat desa terakhir yang dihadirinya sebagai kepala
seksi, Amat berkata:
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, 28 tahun sudah saya mengabdi di
desa ini. Mulai dari honorer dengan gaji pas-pasan, sampai jadi kepala seksi.
Banyak suka duka. Tapi yang paling berharga adalah melihat desa ini tumbuh.
Sekarang saatnya saya mundur. Bukan karena sakit atau tidak mampu, tapi karena
saya ingin memberi kesempatan pada generasi muda. Herman, anak Pak Didit, akan
menggantikan saya. Saya percaya dia bisa lebih baik."
Ruangan hening. Lalu tepuk tangan pecah.
Herman berdiri, maju ke depan. "Pak Amat, saya... saya
tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas, saya akan jaga amanah ini. Saya akan
teruskan apa yang Bapak bangun."
Amat tersenyum. Ia turun dari panggung, duduk di kursi
biasa.
Untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, ia tidak lagi di depan.
Tapi di dalam hatinya, ada rasa damai.
Malam setelah serah terima jabatan, Amat duduk di beranda
rumah. Rania di sampingnya. Anita—yang kini sudah lulus kuliah dan bekerja di
kota—pulang untuk merayakan.
"Gimana rasanya pensiun?" tanya Anita.
"Ringan, Nak. Kayak beban di pundak hilang."
"Tapi sedih, kan? Nggak pegang website lagi."
"Sedih dikit. Tapi lebih bangga. Lihat Herman, lihat
Joko, lihat anak-anak muda itu. Mereka akan lebih baik."
Rania tersenyum. "Kamu sudah wariskan sesuatu yang
besar, Mat. Bukan cuma website, tapi nilai-nilai: kejujuran, ketekunan, dan
kemampuan memaafkan."
"Ah, lebay."
"Serius."
Mereka tertawa.
Amat membuka laptop tuanya—laptop bekas dengan tombol
"E" yang masih harus ditekan keras. Ia membuka blog pribadinya, yang
sudah lama tidak diupdate. Lalu menulis untuk terakhir kalinya.
Judul Postingan: "Purnabakti di Ujung Senja"
Hari ini, setelah 28 tahun, aku resmi melepas jabatan
sebagai pengelola sistem digital Desa Awan Biru. Bukan perpisahan, tapi
penyerahan estafet.
Dari bocah yang bongkar radio, sampai jadi admin website
yang webnya sempat diretas. Dari yang dituduh tidak netral, sampai jadi
narasumber provinsi. Dari yang dikhianati, sampai bisa memaafkan.
Hidup mengajarkanku banyak hal. Bahwa server boleh down,
tapi integritas tidak. Bahwa sahabat bisa retak, tapi bisa diperbaiki. Bahwa
iri hati ada di mana-mana, tapi kebaikan harus tetap jalan.
Kini, kuserahkan sistem ini pada Herman, anak muda yang
dulu pernah menyerangku. Bukan karena aku lupa, tapi karena aku percaya: setiap
orang berhak pada kesempatan kedua.
Desa Awan Biru akan terus maju. Bukan karena aku, tapi
karena kita semua. Karena anak-anak muda yang akan melanjutkan. Karena warga
yang peduli. Karena teknologi yang terus berkembang.
Terima kasih untuk semua: Iwan, Yuni, Eko, Lulu, Endang,
Didit, Pak Surono, Bu Sumarni, dan seluruh warga Desa Awan Biru. Terima kasih
untuk Rania, istriku yang selalu setia. Terima kasih untuk Anita, putriku, yang
menjadi alasan aku terus berjuang.
Senja ini indah. Dan aku tahu, besok akan ada matahari
baru. Bukan untukku, tapi untuk mereka yang akan melanjutkan.
Salam dari ujung desa, dari seorang admin yang kini
pensiun.
– Amat, anak desa yang mimpinya tak pernah padam.
Ia menekan tombol "Publikasikan". Lalu menutup
laptop perlahan.
Di luar, bintang-bintang mulai bermunculan. Langit malam
cerah, seperti malam-malam 49 tahun lalu saat ia lahir dalam badai. Kini, badai
sudah reda. Yang tersisa adalah ketenangan.
"Yah, Anita bangga sama Ayah," bisik Anita
memeluknya.
"Ibu juga," tambah Rania.
Amat memeluk mereka berdua. "Aku juga bangga punya
kalian."
Keesokan paginya, sebuah amplop terselip di pintu rumah
Amat. Ia membukanya, menemukan surat tulisan tangan dari Herman.
Untuk Pak Amat,
Saya menulis ini dengan tangan, bukan komputer. Karena saya
ingin pesan ini lebih personal, lebih dari sekadar data digital.
Saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Bapak. Bapak
bukan hanya memaafkan saya, tapi juga memberi saya kesempatan, kepercayaan, dan
masa depan. Saya, anak yang hampir hancur karena ambisi buta, kini berdiri
karena Bapak.
Saya janji, akan menjaga sistem ini lebih dari hidup saya
sendiri. Akan saya rawat, akan saya kembangkan, akan saya wariskan pada
generasi berikutnya. Bapak telah membangun fondasi yang kokoh. Tugas saya hanya
melanjutkan.
Suatu hari, kalau saya punya anak, akan saya ceritakan
tentang Bapak. Tentang bagaimana seorang admin desa bisa lebih besar dari
pejabat mana pun. Tentang bagaimana ketulusan bisa mengalahkan dendam. Tentang
bagaimana mimpi tidak pernah padam.
Terima kasih, Pak. Terima kasih untuk semuanya.
Salam hormat,
Herman
Amat membaca surat itu berulang kali. Air matanya jatuh.
Bukan karena sedih, tapi karena haru.
Ia menyimpan surat itu di dalam laci, bersama laptop tua
dan kenangan-kenangan lain.
Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, Amat tidak
pergi ke kantor. Ia bangun lebih siang sedikit, menikmati kopi di beranda
bersama Rania.
"Grasa-grusu nggak?" tanya Rania.
"Enggak. Aneh, tapi enggak grasa-grusu."
"Berarti kamu sudah siap."
"Iya. Mungkin ini saatnya."
Dari kejauhan, ia melihat Herman dan Joko berjalan menuju
kantor. Mereka melambai. Amat membalas lambaian itu.
"Mereka akan baik-baik saja," kata Amat.
"Pasti. Mereka didikanmu."
Siang itu, seseorang datang ke rumah Amat. Seorang pria
paruh baya dengan rambut putih dan tongkat di tangan.
Pak Surono.
Usianya kini 80 tahun. Badannya mulai rapuh, tapi matanya
masih tajam.
"Pak Surono! Mari, mari," sapa Amat.
Pak Surono duduk di kursi beranda. Ia menghela napas, lalu
berkata,
"Mat, saya dengar kamu pensiun."
"Iya, Pak. Sudah waktunya."
"Bagus. Kamu sudah cukup berjuang. Sekarang saatnya
menikmati hasil."
Amat tersenyum. "Makasih, Pak."
"Kamu tahu, Mat? Dulu saya paling benci sama kamu.
Saya pikir kamu anak kemarin sore yang mau merusak desa."
Amat tertawa kecil. "Saya ingat, Pak."
"Sekarang saya lihat, kamu yang selamatkan desa ini.
Bukan cuma dengan teknologi, tapi dengan hati. Saya minta maaf kalau dulu saya
kasar."
"Sudah, Pak. Itu masa lalu. Saya malah berterima
kasih. Karena tantangan dari Bapak, saya jadi lebih kuat."
Pak Surono tersenyum. "Kamu baik, Mat. Terlalu baik
untuk dunia yang kejam ini."
Mereka berbincang lama. Tentang masa lalu, tentang
perubahan, tentang masa depan. Saat Pak Surono pamit, Amat merasa ada satu lagi
babak yang ditutup dengan indah.
Seminggu setelah pensiun, Amat menerima undangan dari Dinas
Pendidikan Kabupaten. Bukan untuk bekerja, tapi untuk berbagi. Ia diminta
menjadi mentor dalam program "Sekolah Digital" untuk SMA di
kabupaten.
Amat ragu. "Ra, aku sudah pensiun. Masih mau kerja
lagi?"
Rania tersenyum. "Ini bukan kerja, Mat. Ini panggilan.
Kamu punya ilmu, kamu punya pengalaman. Jangan disimpan sendiri."
Amat berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Iya juga,
ya."
Ia menerima tawaran itu. Seminggu sekali, ia pergi ke SMA di
kecamatan, mengajar guru-guru dan siswa tentang pengelolaan konten digital,
keamanan siber, dan literasi media.
Di kelas pertama, ia berdiri di depan puluhan siswa. Mereka
memandangnya dengan rasa ingin tahu.
"Selamat pagi, anak-anak. Nama saya Amat. Dulu saya
admin website desa. Sekarang saya pensiun. Tapi pensiun bukan berarti berhenti
belajar. Dan hari ini, saya akan belajar bersama kalian."
Seorang siswa bertanya, "Pak, apa rahasia sukses
Bapak?"
Amat tersenyum. "Rahasianya: jangan pernah takut memulai
dari nol. Jangan pernah malu dengan asal-usul. Dan jangan pernah berhenti
bermimpi."
Rumah panggung tempat Amat lahir dan besar, kini akan
direnovasi. Bukan dirobohkan, tapi diperbaiki total. Amat memutuskan untuk
mempertahankan struktur aslinya sebagai museum pribadi.
Malam sebelum renovasi, ia duduk sendirian di beranda.
Lampu-lampu desa berkelip di kejauhan. Suara jangkrik dan kodok masih sama
seperti 49 tahun lalu.
Ia mengeluarkan laptop tua itu. Tombol "E" masih
harus ditekan keras. Ia membuka folder "Kenangan" dan melihat
foto-foto lama: foto SD, foto SMP, foto warnet, foto pertama website.
"Ibu, Bapak," bisiknya pada foto orang tuanya
yang sudah berpulang. "Aku sudah sampai di sini. Kalian pasti
bangga."
Air matanya jatuh. Tapi kali ini, air mata bahagia.
Keesokan harinya, Anita pulang untuk membantu persiapan
renovasi. Mereka membersihkan rumah bersama.
"Ayah, Anita mau tanya," kata Anita di sela-sela
kerja.
"Apa, Nak?"
"Ayah nggak pernah menyesal memilih pulang ke desa?
Dulu ayah bisa saja tetap di kota, kerja di perusahaan besar, gaji besar."
Amat berhenti membersihkan. Ia menatap putrinya.
"Nak, dengar. Uang besar bisa dicari di mana saja.
Tapi kepuasan batin? Itu hanya bisa ditemukan kalau kita hidup sesuai panggilan
hati. Ayah dipanggil pulang. Dan ayah tidak pernah menyesal."
"Tapi ayah bisa lebih kaya."
"Mungkin. Tapi kalau ayah kaya di kota, ayah tidak
akan pernah punya cerita ini. Tidak akan pernah punya pengalaman membangun desa
dari nol. Tidak akan pernah punya teman-teman seperti Iwan, Eko, Didit, Pak
Surono. Tidak akan pernah bertemu ibumu. Dan tidak akan pernah punya
kamu."
Anita tersenyum. "Ayah romantis."
"Bukan romantis. Fakta."
Mereka tertawa bersama.
Renovasi rumah Amat selesai dalam tiga bulan. Rumah
panggung itu kini lebih kokoh, tapi tetap mempertahankan bentuk aslinya. Di
dalamnya, Amat membuat museum kecil: laptop tua, modem usb, mesin ketik Pak
Surono, foto-foto perjalanan, dan piagam-piagam penghargaan.
Pada hari peresmian, Herman datang bersama tim IT desa yang
baru. Mereka membawa kado: sebuah website baru yang didedikasikan untuk Amat.
"Ini, Pak. Kami buatkan website pribadi untuk Bapak.
Biar Bapak tetap bisa nulis, tetap bisa berbagi."
Amat terharu. Ia membuka website itu. Di halaman utama,
tertulis:
"Jejak Senja – Catatan Perjalanan Ahmad
Syaifullah"
Ada menu: Blog, Galeri, Kenangan, dan "Pesan
untuk Generasi".
"Kalian... kalian terlalu baik," ucap Amat dengan
suara bergetar.
"Kami hanya membalas apa yang Bapak berikan,"
jawab Herman.
Di usia 49 tahun, Amat diminta berpidato dalam acara HUT
Desa Awan Biru yang ke-75. Ribuan warga hadir. Panggung utama dipasang di
lapangan yang dulu menjadi tempat mereka bermain bola.
Amat naik ke panggung dengan langkah mantap. Rambutnya yang
memutih, wajahnya yang berkerut, semuanya adalah saksi bisu perjalanan panjang.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
sapanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,"
jawab ribuan warga serempak.
Amat tersenyum. "Hari ini, di usiaku yang ke-49, aku
berdiri di sini bukan sebagai admin, bukan sebagai kepala seksi, bukan sebagai
narasumber. Tapi sebagai anak desa. Anak desa yang lahir dalam badai 49 tahun
lalu."
Ia bercerita tentang masa kecilnya, tentang perjuangannya,
tentang mimpi-mimpinya. Ia bercerita tentang laptop tua, tentang server down,
tentang gosip politik, tentang serangan hacker, tentang rekonsiliasi dengan
Herman.
"Dan sekarang, saat aku melihat ke sekeliling, aku
melihat desa yang dulu gelap, kini terang. Jalan yang dulu becek, kini mulus.
Anak-anak yang dulu main bola dengan bola anyaman, kini main e-sport dengan
laptop. Ini bukan karena aku. Ini karena kita semua."
Ia berhenti sejenak, menahan haru.
"Tapi yang paling membuatku bangga, bukanlah
gedung-gedung ini, bukan jalan-jalan ini, bukan website ini. Tapi
orang-orangnya. Iwan, Yuni, Eko, Lulu, Endang, Didit, Pak Surono, Bu Sumarni,
Herman, dan semua warga Desa Awan Biru. Kalian adalah alasan aku bertahan.
Kalian adalah alasan desa ini terus maju."
Tepuk tangan bergemuruh. Air mata di mana-mana.
Amat menutup pidatonya dengan kata-kata yang selalu ia
ingat dari ibunya:
"Ibuku dulu bilang, 'Sukses itu bukan cuma soal gede
gajinya, tapi bisa berguna buat orang banyak.' Hari ini, aku bisa berkata: Ibu,
aku sudah berguna. Dan aku tidak akan berhenti."
Malam setelah acara, Amat duduk di beranda rumahnya. Rania
di sampingnya. Anita di sisi lain. Herman, Joko, dan tim IT baru duduk di
kursi-kursi taman di halaman. Mereka semua memandangi langit malam.
"Ayah, lihat bintang," kata Anita.
"Iya, Nak. Mereka bersinar, tapi tidak pernah meminta
perhatian. Mereka hanya ada, setia menemani malam."
"Seperti Ayah."
Amat tersenyum. "Seperti kita semua."
Rania memegang tangannya. "Kamu sudah mewariskan
sesuatu yang besar, Mat. Bukan cuma website, tapi semangat."
"Dan itu akan terus hidup," sambung Herman.
"Kami yang akan melanjutkan."
Amat memandangi mereka semua. Generasi baru yang siap
membawa Desa Awan Biru lebih jauh. Iwan, Didit, Eko—sahabat-sahabat
lamanya—duduk di pojok, ikut menikmati malam.
Di dalam rumah, laptop tua itu masih tersimpan rapi. Tombol
"E"-nya masih harus ditekan keras. Tapi Amat tidak akan membukanya
lagi malam ini. Malam ini, ia hanya ingin menikmati kebersamaan.
Karena ia tahu, jejaknya sudah terukir. Bukan hanya di
server, bukan hanya di website, tapi di hati setiap orang yang pernah ia
sentuh.
Dan Desa Awan Biru, desa yang dulu sunyi di ujung jalan
tanah, kini bersinar terang. Menjadi mercusuar bagi desa-desa lain. Menjadi
bukti bahwa dari keterbatasan, bisa lahir keajaiban.
Senja di ujung desa. Bukan akhir, tapi awal yang baru.
BAB VIII
"Anak-Anak Desa dan Warisan Digital"
Pagi itu, Desa Awan Biru bangun dengan cara yang sama
seperti lima puluh tahun terakhir: ayam berkokok, burung berkicau, dan matahari
naik perlahan dari balik bukit. Namun bagi Amat, pagi ini terasa berbeda. Bukan
karena ada perubahan besar, tapi karena ia sadar: usianya kini setengah abad
lebih. 50 tahun. Setengah abad mengarungi hidup.
Ia duduk di beranda rumah—rumah yang sama tempat ia
dibesarkan, tapi sudah berkali-kali direnovasi. Kini rumah itu lebih layak:
dinding bata, lantai keramik, atap genteng baru. Tapi beranda depannya masih
sama: kursi kayu panjang tempat ia biasa duduk memandangi langit.
Rania keluar membawa dua gelas kopi. Usianya kini 48 tahun,
rambutnya mulai beruban, tapi senyumnya masih sama seperti pertama kali Amat
melihatnya dulu di kantor desa.
"Melamun lagi?" tanya Rania sambil menyodorkan
kopi.
Amat menerimanya, menyeruput pelan. "Bukan melamun.
Merenung."
"Renungin apa?"
"Tentang waktu. Cepat sekali berlalu. Rasanya baru
kemarin aku pulang ke desa dengan laptop bekas. Sekarang... 28 tahun
sudah."
Rania duduk di sampingnya. "Dan lihat hasilnya. Desa
ini maju. Anak-anak muda pada pulang, bukan pergi."
"Iya. Tapi..."
"Tapi apa?"
Amat menghela napas. "Aku mulai mikir, Ra. Kalau aku
berhenti, siapa yang lanjut? Selama ini aku yang pegang semuanya. Website,
media sosial, pelatihan. Apa sistem ini bisa jalan tanpa aku?"
Rania memegang tangannya. "Itu pertanyaan orang tua.
Tanda kamu mulai sadar, tidak bisa selamanya di depan."
Amat tersenyum getir. "Tua ya, Ra?"
"Bukan tua. Bijak."
Mereka tertawa kecil. Dari dalam rumah, terdengar suara
ponsel berdering. Amat melihat layar: panggilan dari Anita.
"Yah, hari ini aku pulang. Ada kabar baik."
"Kabar apa, Nak?"
"Nanti aja. Rahasia."
Amat menggeleng. "Anakmu itu, suka bikin
penasaran."
Sore harinya, Anita tiba di rumah. Usianya 22 tahun, baru
lulus kuliah teknologi informasi dengan predikat cumlaude. Rambutnya panjang,
wajahnya mirip Rania, tapi matanya—matanya persis Amat: tajam, penuh rasa ingin
tahu.
Bersamanya, seorang pemuda tampan dengan kacamata tipis dan
senyum ramah. Tinggi, agak kurus, dengan kulit sawo matang khas orang yang suka
keluar rumah.
"Yah, ini Erlangga. Teman kuliahku. Sekarang
dokter."
Amat dan Rania berpandangan. "Dokter?" tanya
Rania.
Erlangga mengangguk sopan. "Iya, Bu. Baru lulus dari
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Sekarang lagi ambil koas."
Amat menjabat tangannya. "Wah, hebat. Silakan
duduk."
Mereka duduk di ruang tamu. Anita duduk di samping Erlangga,
agak dekat. Amat mengamati bahasa tubuh mereka. Ada sesuatu.
"Yah, Bu, aku mau ngomong sesuatu," kata Anita
memecah keheningan.
"Iya, Nak."
"Erlangga dan aku... kami serius. Dan dia mau praktik
di sini. Di desa kita."
Amat terkejut. "Di sini? Dokter mau di desa?"
Erlangga tersenyum. "Saya dari kota, Pak. Tapi selama
penelitian skripsi dulu, saya jatuh cinta sama desa ini. Suasananya,
orang-orangnya. Dan saya lihat, potensi kesehatan di sini besar. Tapi tenaga
medis masih kurang. Saya ingin membantu."
Amat memandang Erlangga dengan pandangan baru. Bukan lagi
sebagai teman anaknya, tapi sebagai calon menantu dan calon tenaga medis desa.
"Kamu serius, Nak?"
"Sangat serius, Pak. Saya sudah bicara dengan
puskesmas kecamatan. Mereka butuh dokter di desa ini. Dan Bu Lurah—maaf, Bu
Sumarni—sudah setuju."
Rania hampir menangis. "Anita... kamu... kamu mau
tinggal di sini?"
Anita mengangguk. "Iya, Bu. Aku mau bangun desa ini
bareng Erlangga. Seperti ayah dulu."
Amat terharu. Ia menepuk pundak Erlangga. "Selamat
datang di keluarga kami, Nak."
Malam itu, mereka makan malam bersama. Obrolan hangat
mengisi ruangan. Erlangga bercerita tentang pengalamannya selama penelitian,
tentang bagaimana website desa membantu risetnya, tentang kekagumannya pada
sistem yang dibangun Amat.
"Pak, website desa ini luar biasa. Waktu saya
penelitian, semua data kesehatan ada. Riwayat imunisasi, jadwal posyandu,
bahkan data balita stunting. Itu membantu banget."
Amat tersenyum bangga. "Itu hasil kerja tim. Bukan
saya sendiri."
"Tapi bapak yang memulai."
Anita menimpali, "Ayah, Erlangga mau bantu kembangkan
fitur kesehatan di website. Biar lebih interaktif."
"Wah, ide bagus. Tapi jangan lupa, keamanan data
kesehatan harus dijaga ketat."
Erlangga mengangguk. "Saya paham, Pak. Itu sudah saya
pelajari."
Setahun kemudian, Desa Awan Biru menjadi saksi pernikahan
pertama dari generasi kedua. Anita, anak Amat, menikah dengan Erlangga, dokter
muda yang kini resmi bertugas di desa.
Pernikahan digelar sederhana tapi meriah di halaman balai
desa. Semua warga diundang. Iwan datang dengan keluarganya. Yuni, Eko, Lulu,
Endang, Didit, Pak Surono—semua hadir. Bu Sumarni sebagai kepala desa memberi
sambutan.
"Ini hari bersejarah. Anak pertama dari generasi
digital desa kita menikah. Dan dengan seorang dokter pula. Semoga jadi awal
yang baik untuk desa kita."
Amat berdiri di samping Rania, menahan air mata. Saat Anita
dan Erlangga bersanding di pelaminan, ia berbisik pada istrinya, "Anak
kita menikah dengan dokter, Ra."
Rania tersenyum haru. "Kamu dulu cuma punya modem
rebutan, sekarang punya menantu dokter."
Mereka tertawa kecil, tapi air mata tetap jatuh.
Herman, yang kini menjadi pengelola utama website desa,
menjadi dokumentator acara. Ia memotret setiap momen dengan kamera profesional.
Di sampingnya, Bambang—anak Eko—membantu dengan videografi.
"Her, angle-nya jangan lupa. Ini buat konten
website," kata Bambang.
"Udah, udah. Aku tahu. Jangan ngatur."
Mereka tertawa. Persahabatan generasi kedua mulai
terbentuk.
Dua tahun setelah pernikahan, kabar gembira datang. Anita
melahirkan seorang anak laki-laki. Proses kelahiran dibantu Erlangga
sendiri—dokter yang jadi suami, sekaligus jadi bidan darurat saat proses
persalinan.
"Selamat, Pak Amat, Bu Rania. Cucu bapak lahir
selamat. Laki-laki," kata Erlangga sambil menggendong bayi mungil.
Amat menerima bayi itu dengan tangan gemetar. Matanya
berkaca-kaca. "Cucuku... cucuku..."
Rania memegang bahu Amat. "Dia lahir di desa digital,
Mat."
Amat menatap bayi itu. "Apa kita beri nama?"
Anita, yang masih lemah, berbisik, "Arjuna. Biar jadi
kesatria digital."
Amat tersenyum. "Arjuna... nama yang bagus."
Sejak saat itu, Arjuna menjadi pusat perhatian. Setiap
hari, Amat menggendongnya, mengajaknya jalan-jalan keliling desa, mengenalkan
pada tempat-tempat bersejarah: balai desa, kantor desa, lapangan tempat dulu
main bola.
"Lihat, Jun, ini tempat ayahmu dulu belajar bikin
website," katanya suatu hari sambil menunjuk ruang digital.
Arjuna hanya tertawa kecil, belum mengerti apa-apa.
Tak lama setelah Arjuna lahir, kabar bahagia datang dari
keluarga lain. Bambang—anak Eko—yang kini menjadi content creator desa, menikah
dengan Diana, anak Yuni. Mereka adalah pasangan yang serasi: Bambang kreatif,
Diana teliti dan rapi.
Pernikahan mereka digelar di halaman rumah Eko. Suasananya
meriah, dengan hiasan bernuansa modern—sesuai dengan profesi mereka.
Amat duduk di barisan depan bersama Rania. Di sampingnya,
Anita menggendong Arjuna yang baru berusia 3 bulan.
"Lihat, Jun, itu paman Bambang nikah. Nanti kamu punya
sepupu baru," bisik Anita.
Dua tahun kemudian, Diana melahirkan seorang anak
perempuan. Namanya Kirana. Usianya dua tahun lebih muda dari Arjuna.
Sejak kecil, Arjuna dan Kirana sudah akrab. Mereka sering
bermain bersama di halaman balai desa, seperti orang tua mereka dulu. Bedanya,
mereka bermain bukan dengan bola anyaman, tapi dengan tablet dan game edukasi.
"Lihat mereka," kata Amat suatu sore, memandangi
kedua cucu yang asyik dengan tablet. "Dulu kita main bola, sekarang mereka
main game."
Rania tersenyum. "Zaman berubah, Mat. Tapi kebahagiaan
tetap sama."
Hubungan yang dulu sempat retak antara Amat dan Herman
perlahan membaik. Herman kini menjadi tulang punggung pengelolaan digital desa.
Ia bertanggung jawab atas website, media sosial, dan pelatihan-pelatihan.
Suatu hari, Herman datang ke rumah Amat dengan wajah
berseri-seri.
"Pak, saya mau ngomong."
"Apa, Her?"
"Saya... saya mau menikah."
Amat terkejut, lalu tersenyum. "Wah, selamat. Dengan
siapa?"
"Dengan Anjelina. Putri Bu Amilia."
Anjelina—putri bidan Amilia—adalah teman masa kecil Anita.
Ia kini menjadi bidan muda, menggantikan ibunya yang pensiun. Usianya sebaya
dengan Herman.
"Wah, cocok. Kamu IT, dia bidan. Digital dan kesehatan
bersatu," canda Amat.
Herman tersenyum malu. "Doakan, Pak."
Pernikahan Herman dan Anjelina digelar setahun kemudian.
Suasananya haru, terutama saat Didit—ayah Herman—memberi sambutan.
"Anak saya dulu pernah buat salah. Tapi Pak Amat
memaafkan. Kini dia jadi orang baik. Terima kasih, Mat."
Amat hanya tersenyum. "Sudah berlalu, Dit. Yang
penting sekarang mereka bahagia."
Setahun setelah menikah, Herman dan Anjelina dikaruniai
seorang anak perempuan. Namanya Naila. Usianya setahun di bawah Kirana.
Kini, tiga cucu Amat dan Rania: Arjuna (4 tahun), Kirana (2
tahun), dan Naila (1 tahun). Mereka tumbuh bersama, bermain bersama, seperti
generasi sebelumnya.
Di usia 53 tahun, Amat semakin serius mengembangkan
kaderisasi. Ia membentuk Komunitas IT Desa Awan Biru—wadah bagi anak-anak muda
desa yang ingin belajar teknologi.
Di balai desa, satu ruangan khusus disulap menjadi Ruang
Belajar Digital. Dindingnya dicat warna cerah, dihiasi poster-poster motivasi
dan infografis teknologi. Di dalamnya, tersedia 10 unit komputer, 20 tablet,
dan koneksi internet kencang.
Setiap Sabtu sore, ruangan itu penuh dengan anak-anak muda.
Usia mereka bervariasi, dari 15 hingga 25 tahun. Ada yang belajar desain
grafis, ada yang belajar coding, ada yang belajar editing video, ada yang
belajar pemasaran online.
Amat berdiri di depan kelas, memegang laser pointer, di
hadapan sepuluh remaja. Rambutnya semakin putih, tapi matanya masih tajam.
"Baik, hari ini kita belajar dasar keamanan digital.
Sebelum mulai, pesan saya: jangan pernah pakai password nama mantan."
Anak-anak tertawa.
Seorang remaja—sebut saja Rudi, 17 tahun—mengangkat tangan.
"Pak Amat, apa itu enkripsi?"
Amat tersenyum. Ia suka pertanyaan seperti ini.
"Enkripsi itu, anggap saja seperti kamu menyimpan uang
di celengan yang hanya kamu punya kuncinya. Kalau ada orang lain mau ambil,
harus punya kunci dulu. Nah, data kita juga harus dienkripsi biar nggak bisa
dibaca sembarangan orang."
"Kalau dicuri, Pak?"
"Makanya jangan pamer kunci. Jangan sembarangan kasih
password. Jangan klik link aneh. Itu dasar."
Rudi mengangguk-angguk.
Bambang, yang menjadi asisten pelatih, ikut menimpali.
"Pak Amat, dulu bapak pernah kena hack, kan?"
Amat menghela napas, lalu tersenyum. "Pernah. Itu
pengalaman pahit sekaligus guru terbaik. Sejak itu, saya belajar keamanan
digital dengan serius."
"Cerita, Pak," pinta yang lain.
Amat pun bercerita tentang insiden hacker enam tahun lalu.
Tentang website yang diretas, tentang akun-akun anonim, tentang Herman yang
ternyata pelakunya. Tapi ia juga bercerita tentang rekonsiliasi, tentang
memaafkan, tentang bagaimana Herman kini menjadi andalan.
Anak-anak diam, terpukau. Mereka tidak hanya belajar
teknologi, tapi juga nilai-nilai kehidupan.
Dua tahun setelah komunitas berdiri, Amat mulai mengurangi
porsi mengajarnya. Ia memberi ruang pada Bambang, Herman, dan Joko untuk
menjadi pelatih utama. Ia hanya datang sesekali, memberi motivasi, atau sekadar
ngobrol dengan anak-anak.
Suatu hari, Bambang melaporkan perkembangan.
"Pak, komunitas kita sudah mandiri. Anak-anak sudah
bisa bikin website sendiri, bikin konten, bahkan ada yang mulai dapat order
desain dari luar desa."
Amat bangga. "Bagus. Itu yang saya tunggu."
"Tapi mereka tetap minta bapak datang. Kata mereka,
tanpa Pak Amat, rasanya kurang greget."
Amat tersenyum. "Saya akan datang. Tapi bukan sebagai
guru utama. Sebagai teman."
Ia pun hadir di pertemuan komunitas berikutnya. Anak-anak
menyambutnya dengan tepuk tangan. Amat duduk di antara mereka, bukan di depan
kelas.
"Pak Amat, hari ini kita belajar apa?" tanya
seorang anak.
Amat menjawab santai, "Hari ini saya yang belajar dari
kalian. Tunjukkan apa yang sudah kalian buat."
Anak-anak pun memamerkan karya mereka: website UMKM, konten
media sosial, desain grafis, bahkan aplikasi sederhana untuk pencatatan
posyandu. Amat tertegun. Mereka sudah melampaui ekspektasinya.
"Ini luar biasa. Saya bangga sama kalian semua."
Erlangga, sang menantu, tidak tinggal diam. Ia aktif
mengembangkan fitur kesehatan di website desa. Dibantu Herman dan Bambang, ia
membuat sistem informasi kesehatan terpadu.
Fitur-fitur baru bermunculan:
1.
Jadwal Posyandu
Interaktif – Warga bisa cek jadwal imunisasi
dan pemeriksaan balita secara online, lengkap dengan notifikasi ke ponsel.
2.
Konsultasi Online – Warga bisa bertanya masalah kesehatan melalui chat,
dijawab oleh Erlangga atau tenaga kesehatan lain.
3.
Data Kesehatan
Terintegrasi – Riwayat
kesehatan warga tersimpan rapi, bisa diakses oleh tenaga medis dengan izin.
4.
Edukasi Kesehatan – Artikel dan video pendek tentang pola hidup sehat,
pencegahan penyakit, dan gizi seimbang.
Amat melihat semua itu dengan bangga. "Dulu website
kita cuma berisi laporan dana desa. Sekarang bisa bantu kesehatan warga."
Erlangga tersenyum. "Semua berkat sistem yang bapak
bangun. Kami tinggal mengembangkan."
"Kamu jangan merendah. Ide-ide itu dari kamu."
Generasi ketiga tumbuh dengan pesat. Arjuna, Kirana, dan
Naila kini berusia 6, 4, dan 3 tahun. Mereka adalah cucu-cucu Amat—Arjuna dari
Anita, Kirana dari Bambang, dan Naila dari Herman.
Setiap sore, mereka bermain di halaman balai desa. Tempat
yang sama di mana orang tua dan kakek mereka dulu bermain. Tapi suasana
berbeda.
Arjuna asyik dengan tablet, memainkan game edukasi. Kirana
menggambar di aplikasi lukis digital. Naila—yang paling kecil—menonton video
animasi di ponsel.
Amat duduk di bangku taman, memandangi mereka. Rania di
sampingnya.
"Mereka generasi streaming," gumam Amat.
Rania tersenyum. "Dulu kita main bola pakai bola
anyaman. Mereka main game di tablet."
"Tapi lihat, mereka tetap bermain bersama. Itu yang
penting."
Arjuna tiba-tiba berlari mendekat. "Kakek! Kakek!
Lihat, aku bisa bikin gambar!"
Ia menunjukkan tabletnya. Di layar, terlihat gambar rumah
dengan tulisan "Rumah Kakek". Gambar sederhana, tapi penuh warna.
Amat terharu. "Wah, bagus sekali. Arjuna jago
menggambar."
Kirana menyusul. "Kakek, Kirana juga! Lihat!"
Gambar Kirana: pemandangan dengan matahari, awan, dan dua
orang bergandengan tangan. "Ini Kakek dan Nenek," katanya polos.
Amat memeluk mereka berdua. Naila ikut merangkak naik ke
pangkuannya.
Tiga cucu itu memeluknya. Amat merasa hangat.
Suatu malam, saat semua sudah tidur, Amat duduk sendirian
di Ruang Digital Balai Desa. Lampu ruangan redup, hanya menyisakan cahaya dari
monitor-monitor yang dalam mode sleep.
Ia memandangi ruangan ini. Dinding-dindingnya penuh foto
dan piagam. Foto dirinya saat menerima penghargaan. Foto tim IT desa. Foto
anak-anak komunitas. Foto generasi.
Di sudut ruangan, ada etalase kecil berisi barang-barang
bersejarah: modem USB pertama, laptop bekas dengan tombol "E" yang
harus ditekan keras, papan sirkuit radio yang dulu dibongkarnya, dan mesin
ketik tua milik Pak Surono.
Amat mendekati etalase itu. Ia mengambil laptop tua,
membukanya perlahan. Tombol "E" masih ada, masih harus ditekan keras.
Ia menekannya. Huruf "e" muncul di layar—laptop itu masih menyala,
meski baterainya sudah tidak tahan lama.
"Kau setia sekali," bisiknya pada laptop itu.
Ia memandang barang-barang lain: modem USB yang dulu jadi
andalan, papan sirkuit yang membawanya pada rasa penasaran teknologi, mesin
ketik yang jadi simbol konflik generasi.
"Ini semua sejarah. Tanpa ini, tidak akan ada ruangan
ini. Tidak akan ada komunitas ini. Tidak akan ada generasi ini."
Ia duduk di kursi, memandangi layar-layar monitor yang
mati. Pikirannya melayang.
"28 tahun. Setengah hidupku kuhabiskan di sini. Untuk
desa ini."
Pintu ruangan terbuka. Herman masuk, membawa dua gelas
kopi.
"Pak, saya tahu bapak masih di sini."
Amat tersenyum. "Kok tahu?"
"Saya lihat lampu dari rumah. Biasanya kalau bapak
lagi galau, bapak ke sini."
Amat tertawa kecil. "Bukan galau. Renungan."
Herman duduk di sampingnya, menyodorkan kopi. Mereka
menyeruput bersama dalam diam.
"Pak, saya mau bilang sesuatu."
"Apa, Her?"
"Makasih. Makasih udah memaafkan saya dulu. Makasih
udah percaya saya. Tanpa bapak, saya mungkin sudah hancur."
Amat menatap Herman. "Her, setiap orang pernah salah.
Yang membedakan adalah kemauan untuk belajar dan berubah. Kamu punya itu."
Herman menunduk. "Saya cuma berusaha jadi lebih
baik."
"Nah, itu kuncinya. Teruslah begitu."
Mereka diam lagi. Lalu Herman bertanya, "Pak, bapak
sedih nggak kalau nanti sistem ini jalan tanpa bapak?"
Amat berpikir sejenak. "Sedih? Mungkin sedikit. Tapi
lebih bangga. Lihat ruangan ini. Lihat anak-anak komunitas. Lihat Bambang,
Joko, kamu. Semua bisa jalan tanpa saya. Itu yang saya inginkan."
"Tapi bapak tetap jadi fondasinya."
"Fondasi boleh ada, tapi bangunan harus berdiri
sendiri. Kalau fondasi terus menopang, bangunan nggak akan kuat."
Herman tersenyum. "Bapak filosofis sekali."
"Bukan filosofis. Tua."
Mereka tertawa kecil.
Di usia 55 tahun, Amat menghadiri rapat desa untuk terakhir
kalinya sebagai penasihat aktif. Bu Sumarni memimpin rapat dengan agenda:
evaluasi program desa dan persiapan lomba desa digital tingkat nasional.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, kita mendapat kehormatan
diundang mengikuti lomba Desa Digital Tingkat Nasional. Ini kesempatan besar.
Kita harus siap."
Semua antusias. Herman, Bambang, dan tim IT sudah
menyiapkan presentasi.
Bu Sumarni melanjutkan, "Tapi sebelum itu, saya ingin
memberikan penghargaan khusus pada seseorang yang telah memulai semua ini.
Tanpa beliau, kita tidak akan ada di sini."
Semua menoleh ke arah Amat.
"Pak Amat, tolong ke depan."
Amat terkejut. "Bu Lurah, ini..."
"Naiklah, Pak."
Amat maju ke depan dengan langkah pelan. Bu Sumarni
mengambil sebuah plakat dari bawah meja.
"Ini adalah penghargaan dari desa untuk Bapak. Atas
dedikasi 28 tahun membangun sistem digital desa. Bapak adalah pelopor, guru,
dan inspirasi bagi kami semua."
Plakat itu diserahkan. Amat membaca tulisan di atasnya:
"PEMBANGUN SISTEM DIGITAL DESA AWAN BIRU
AHMAD SYAIFULLAH
Atas Dedikasi, Inovasi, dan Inspirasi Tanpa Henti"
Amat terharu. Matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih... terima kasih semuanya. Saya hanya
melakukan apa yang saya bisa. Yang membuat desa ini maju adalah kita
semua."
Tepuk tangan bergemuruh. Iwan maju memeluknya. Disusul
Didit, Eko, Yuni, Lulu, Endang. Lalu Herman, Bambang, Joko. Semua ingin
bersalaman, berfoto.
Amat tersenyum. Ini adalah puncak pengakuan yang tidak
pernah ia bayangkan.
Beberapa minggu setelah penghargaan, Bambang mengajak Amat
membuat konten untuk media sosial desa.
"Pak, sekarang lagi tren konten receh. Bapak bisa
bikin yang lucu-lucu."
Amat mengernyit. "Receh? Saya nggak jualan
receh."
Bambang tertawa. "Bukan receh beneran. Receh itu lucu,
sederhana."
"Oke, saya coba."
Merekam pun dimulai. Bambang menjadi kameramen, Herman sebagai
pengarah acara. Amat duduk di depan kamera, agak kaku.
"Ayo, Pak, santai. Anggap saja ngobrol sama
teman."
Amat menarik napas. "Baik. Assalamu'alaikum... Saya
Amat, admin website Desa Awan Biru. Hari ini saya mau kasih tips keamanan
digital: Jangan pakai password tanggal lahir. Nanti mudah ditebak. Pakai yang
susah, misalnya... nama mantan. Tapi jangan lupa ganti kalau sudah punya pacar
baru."
Bambang dan Herman tertawa di belakang kamera. Amat mulai
enjoy.
"Terus, kalau dapat email minta transfer uang, jangan
langsung transfer. Cek dulu. Kalau perlu, tanya ke saya. Tapi jangan tanya
malam-malam, karena kakek sudah tidur."
Video itu diupload. Dalam sehari, ditonton 50 ribu kali.
Dalam seminggu, 200 ribu. Komentar berdatangan:
"Kakek ini lucu banget."
"Tipsnya sederhana tapi berguna."
"Desa Awan Biru keren!"
"Pak Amat nasional!"
Anita menunjukkan video itu pada Amat. "Yah, lihat.
Ayah viral."
Amat melihat komentar-komentar itu, tersenyum.
"Sekarang saya jadi artis, Ra."
Rania tertawa. "Artis tua."
Mereka tertawa bersama.
Suatu sore, saat Amat duduk di beranda, Arjuna mendekat.
Usianya 6 tahun, sebentar lagi masuk SD. Ia duduk di pangkuan kakeknya.
"Kek, dulu kakek kecil main apa?"
Amat tersenyum. "Kakek kecil main bola di lapangan
tanah. Bolanya dari plastik anyaman. Gawangnya bambu."
"Seru, Kek?"
"Seru banget. Walaupun sederhana, kami senang."
"Terus, kakek punya komputer?"
"Belum. Waktu kakek kecil, belum ada komputer di desa.
Listrik aja masih sering mati."
Arjuna membelalak. "Listrik mati? Terus belajar
gelap-gelapan?"
"Iya. Pakai lampu teplok. Lampu minyak."
"Wah, susah banget, Kek."
Amat mengelus kepala cucunya. "Susah, tapi itu yang
bikin kakek termotivasi. Kakek ingin desa ini maju. Ingin anak-anak seperti
kamu punya akses ke teknologi."
Arjuna diam berpikir. Lalu bertanya, "Kek, Arjuna
nanti bisa bantu desa juga?"
Amat terharu. "Bisa, Nak. Kamu bisa lebih dari kakek.
Zaman sekarang teknologi lebih canggih. Kamu bisa belajar banyak hal. Tapi
ingat, teknologi harus dipakai buat kebaikan."
Arjuna mengangguk mantap. "Arjuna mau jadi seperti
kakek."
Amat memeluknya. "Kakek bangga sama kamu."
Usia 56 tahun. Amat genap setengah abad lebih enam tahun.
Rania mengadakan pesta kecil di rumah. Hanya keluarga dan sahabat terdekat.
Hadir Iwan dengan keluarganya, Yuni, Eko, Lulu, Endang,
Didit, Pak Surono—yang kini sudah 80 tahun tapi masih sehat—Bu Sumarni, dan
tentu saja anak-anak muda: Herman, Anjelina, Naila, Bambang, Diana, Kirana,
Erlangga, Anita, Arjuna. Juga Joko dan beberapa anggota komunitas IT.
Suasana hangat. Makanan sederhana tapi berlimpah. Tawa
canda mengisi ruangan.
Iwan memberi sambutan. "Mat, 56 tahun. Setengah lebih
perjalanan hidupmu sudah lewat. Tapi lihat, apa yang kau tinggalkan? Desa ini
maju. Anak-anak muda mandiri. Cucu-cucu lucu. Itu warisan yang tak
ternilai."
Didit menambahkan, "Dulu kita sering berantem.
Sekarang kita tua bersama."
Pak Surono, dengan suara serak, ikut bicara. "Saya
dulu paling keras menolak teknologi. Sekarang saya jadi pengguna setia. Amat,
kamu memang keras kepala. Tapi keras kepalamu itu yang bikin desa ini
maju."
Semua tertawa.
Giliran Amat bicara. Ia berdiri, memandangi semua orang
yang hadir.
"Saya hanya ingin bilang terima kasih. Tanpa kalian,
saya tidak akan sampai di sini. Dulu saya anak desa biasa, dengan mimpi
setinggi langit. Kini mimpi itu jadi nyata. Bukan karena saya hebat, tapi
karena kita bersama."
Ia menatap Rania. "Terima kasih untuk istriku, yang
selalu sabar. Untuk Anita, putriku, yang jadi inspirasiku. Untuk menantuku,
Erlangga, yang membawa semangat baru. Untuk cucu-cucuku, Arjuna, Kirana,
Naila—kalianlah masa depan."
Ia menatap Herman, Bambang, Joko, dan anak-anak muda.
"Untuk kalian, generasi penerus. Jaga desa ini. Jangan pernah berhenti
bermimpi. Jangan pernah berhenti belajar. Dan jangan pernah lupa: teknologi
adalah alat, bukan tujuan. Yang terpenting adalah hati."
Tepuk tangan menggema. Arjuna berlari memeluk kakeknya.
Disusul Kirana dan Naila. Mereka bertiga memeluk Amat.
Malam itu, di bawah langit Awan Biru yang bertabur bintang,
seorang kakek berusia 56 tahun merasakan kebahagiaan sejati. Bukan karena
penghargaan, bukan karena pujian, tapi karena keluarga dan sahabat yang
mengelilinginya.
Beberapa hari setelah ulang tahun, Amat duduk di Ruang
Digital, menulis untuk terakhir kalinya di blog pribadinya. Ia sudah jarang
menulis, tapi kali ini ada sesuatu yang harus ia sampaikan.
Judul Postingan: "Untuk Generasi yang Akan
Datang"
Anak-anakku, cucu-cucuku, dan seluruh generasi muda Desa
Awan Biru,
Jika kalian membaca tulisan ini, mungkin aku sudah tidak
lagi aktif di dunia digital. Mungkin rambutku sudah semakin putih. Mungkin aku
lebih banyak duduk di beranda daripada di depan komputer.
Tapi ada satu pesan yang ingin kusampaikan:
Desa ini bukan milikku. Bukan milik pemerintah. Bukan milik
siapa pun. Desa ini milik kita semua. Dan kita semua bertanggung jawab untuk
menjaganya.
Aku memulai perjalanan ini dengan satu laptop bekas, satu
modem lambat, dan satu tekad: membuat desa ini dikenal, membuat administrasi
transparan, membuat warga melek teknologi.
Kini, 28 tahun kemudian, aku lihat hasilnya. Website desa
dikelola tim yang solid. Komunitas IT berkembang pesat. UMKM naik kelas.
Anak-anak muda pulang dengan ilmu. Dan yang terpenting, transparansi terjaga.
Tapi perjalanan tidak berhenti di sini. Teknologi akan
terus berubah. Tantangan akan terus datang. Yang harus kalian lakukan adalah:
beradaptasi, belajar, dan tetap menjaga nilai-nilai kebaikan.
Ingat:
1.
Teknologi adalah alat,
bukan tujuan. Tujuan kita adalah kesejahteraan warga.
2.
Transparansi bukan
pilihan, tapi kewajiban. Uang rakyat harus dipertanggungjawabkan.
3.
Regenerasi itu penting.
Beri ruang pada yang muda, hargai yang tua.
4.
Persahabatan lebih
berharga daripada jabatan. Jangan rusak hubungan karena ambisi.
5.
Keluarga adalah fondasi.
Jangan korbankan mereka untuk pekerjaan.
Untuk Arjuna, Kirana, Naila, dan cucu-cucuku yang lain:
Kakek sayang kalian. Kakek berjuang keras demi masa depan kalian. Gunakan
teknologi dengan bijak. Jadilah generasi yang lebih baik dari kakek.
Untuk Herman, Bambang, Joko, dan semua anak muda: Teruslah
belajar. Teruslah berkarya. Desa ini ada di tangan kalian.
Untuk Iwan, Yuni, Eko, Lulu, Endang, Didit, dan semua
sahabat seperjuangan: Terima kasih untuk kebersamaan ini. Kalian adalah
saudara.
Untuk Rania, istriku: Aku tidak akan sampai di sini
tanpamu. Kau adalah rumahku.
Dan untuk Desa Awan Biru: Kau adalah jiwa ragaku. Kau
adalah alasan aku bertahan.
Mungkin suatu hari nanti, ketika aku sudah tiada, website
ini akan tetap hidup. Komunitas ini akan terus berkembang. Desa ini akan
semakin maju.
Dan di suatu senja, mungkin ada anak kecil yang bertanya
pada orang tuanya: "Siapa yang memulai semua ini?"
Kalau itu terjadi, jawablah: "Seorang anak desa biasa,
yang lahir saat badai, yang tidak pernah berhenti bermimpi."
Salam hangat,
Amat
Anak Desa Awan Biru
Ia menekan tombol "Publikasikan" dengan mantap.
Lalu menutup laptop perlahan.
Di luar, matahari mulai terbenam. Langit berwarna jingga
keemasan. Senja yang sama seperti 56 tahun lalu, saat ia lahir dalam badai.
Kini, badai telah reda. Yang tersisa adalah kedamaian.
Amat keluar ruangan, duduk di beranda. Rania sudah menunggu
dengan dua gelas teh.
"Menulis lagi?" tanya Rania.
"Iya. Pesan untuk generasi."
Rania tersenyum. "Kamu baik, Mat."
"Bukan baik. Hanya ingin memastikan, mereka tahu dari
mana mereka berasal."
Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak bermain. Arjuna,
Kirana, dan Naila berlarian di halaman. Mereka tertawa riang.
"Lihat mereka," kata Amat. "Mereka generasi
yang lahir di desa digital. Mereka tidak pernah merasakan susahnya akses
informasi."
"Tapi mereka akan menghadapi tantangan yang
berbeda."
"Iya. Tapi aku percaya, mereka bisa."
Mereka menyeruput teh dalam diam. Angin sore berhembus
lembut, membawa aroma khas desa: tanah, dedaunan, dan sedikit asap dapur.
Sabtu sore berikutnya, Amat kembali mengunjungi Ruang
Belajar Digital. Ia hanya duduk di pojok, mengamati anak-anak muda yang asyik
berkarya.
Bambang sedang mengajar desain grafis. Herman membimbing
programmer pemula. Joko membantu content creator. Suasana hidup, penuh
semangat.
Seorang anak perempuan, umur sekitar 16 tahun, mendekati
Amat. "Pak Amat, saya mau tanya."
"Apa, Nak?"
"Saya ingin bikin aplikasi untuk UMKM desa. Tapi
bingung mulai dari mana."
Amat tersenyum. "Mulai dari masalah. Cari tahu, UMKM
kita punya masalah apa. Misalnya, susah promosi. Nah, bikin aplikasi yang bantu
promosi. Atau susah catat keuangan, bikin aplikasi pencatatan sederhana."
Anak itu mengangguk-angguk. "Terus, bahasa
pemrogramannya apa?"
"Nggak usah pusing soal bahasa. Yang penting logika
jalan. Nanti kalau sudah biasa, baru belajar bahasa lain. Saya dulu mulai dari
nol, browsing sana-sini. Kalau saya bisa, kamu pasti bisa."
Anak itu tersenyum semangat. "Makasih, Pak."
Amat mengangguk bangga. Inilah yang ia inginkan: generasi
muda yang mandiri, percaya diri, dan siap melanjutkan.
Suatu pagi, Amat pergi ke makam orang tuanya. Makam itu
terletak di pemakaman desa, tidak jauh dari kebun karet yang dulu menjadi
tempat ayahnya bekerja.
Ia duduk di samping nisan. Membersihkan rumput liar yang
tumbuh.
"Ibu, Bapak," bisiknya. "Aku sudah tua
sekarang. 56 tahun. Punya cucu tiga. Arjuna, Kirana, Naila. Mereka
lucu-lucu."
Ia tersenyum sendiri.
"Desa ini sudah maju, Bu, Pak. Jalan sudah aspal.
Listrik stabil. Internet kencang. Anak-anak muda pada pulang, bukan pergi.
Website desa dikelola tim. Ada komunitas IT. Ada dokter, ada bidan. Semua
karena doa Ibu dan Bapak."
Air matanya jatuh. Bukan sedih, tapi haru.
"Aku rindu kalian. Tapi aku tahu, kalian pasti bangga
lihat aku sekarang. Bukan karena aku sukses, tapi karena aku tidak pernah
menyerah. Seperti yang Ibu ajarkan dulu: 'Sukses itu bukan cuma soal gede
gajinya, tapi bisa berguna buat orang banyak.'"
Ia memandangi langit. "Aku sudah berguna, Bu. Aku
sudah berguna."
Setelah beberapa saat, ia bangkit, menabur bunga, lalu
pulang.
Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang petani tua yang
sedang bekerja di kebun. Mereka tersenyum dan saling menyapa.
Hidup terus berjalan. Tapi kenangan tetap abadi.
Tahun ajaran baru tiba. Arjuna masuk SD. Ia memakai seragam
putih merah, seperti ayahnya dulu. Ibu dan ayahnya mengantar. Amat dan Rania
ikut serta.
Di depan sekolah, Arjuna bergaya foto dengan
kakek-neneknya. Wajahnya berseri-seri.
"Kek, nanti aku bisa main komputer di sekolah?"
Amat tertawa. "Bisa, Nak. Sekarang sekolah sudah punya
komputer. Tapi jangan lupa, main yang bermanfaat."
"Arjuna mau belajar bikin website, kayak kakek."
"Wah, semangat. Tapi ingat, belajar yang rajin dulu.
Nanti kalau sudah besar, kakek ajarin."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berjabat tangan kecil. Arjuna masuk ke kelas,
melambai pada kakeknya. Amat melambai balik.
Rania memegang lengannya. "Senang lihatnya."
"Iya. Seperti kemarin aku masuk SD."
"Zaman dulu lain. Sekarang lain."
"Tapi semangatnya sama."
Kirana, usia 5 tahun, mendapat hadiah tablet baru dari
orang tuanya. Ia senang bukan main. Tapi Bambang dan Diana memberi aturan
ketat: hanya boleh main 1 jam sehari, dengan konten edukasi.
Amat datang berkunjung. Kirana langsung menunjukkan
tabletnya.
"Kek, lihat! Aku punya tablet!"
"Wah, bagus. Kirana main apa?"
"Main game belajar huruf. Lihat, Kek, aku bisa nulis
A."
Kirana menulis huruf A di layar. Bentuknya lumayan rapi.
"Pintar. Sekarang coba tulis nama Kakek."
Kirana menulis: A-M-A-T. "Betul, Kek?"
"Betul sekali. Kirana hebat."
Bambang ikut bergabung. "Pak, saya ajari Kirana sejak
dini. Biar nggak gagap teknologi."
"Bagus. Tapi ingat, keseimbangan. Jangan sampai lupa
main di luar."
"Iya, Pak. Setiap sore kami ajak main di
halaman."
Amat mengangguk puas. Cucu-cucunya tumbuh dengan baik.
Naila, usia 3 tahun, paling suka dipangku kakeknya. Setiap
sore, ia minta dinyanyikan lagu. Amat tak pandai bernyanyi, tapi ia hafal
lagu-lagu daerah dari masa kecilnya.
"Nek, nyanyi," pinta Naila.
Amat pun bernyanyi dengan suara serak-serak basah. Lagu
"Cublak-Cublak Suweng" atau "Gundul-Gundul Pacul". Naila
tertawa senang.
"Nek, suaranya lucu."
Amat berpura-pura tersinggung. "Lucu? Nggak
bagus?"
"Bagus, Kek. Tapi lucu."
Rania yang mendengar dari dapur, ikut tertawa. "Naila
benar, suaramu memang lucu."
Amat menghela napas dramatis. "Istri dan cucu
sama-sama jahil."
Tapi ia tetap bernyanyi. Karena melihat Naila senang, ia
pun senang.
Tahun-tahun berlalu. Desa Awan Biru terus berkembang.
Website desa tetap aktif, dikelola tim yang solid. Komunitas IT terus melahirkan
generasi baru. UMKM semakin maju. Kesehatan warga semakin baik. Transparansi
tetap terjaga.
Amat pensiun dari aktivitas harian, tapi ia tetap menjadi
penasihat yang dihormati. Setiap ada masalah, anak-anak muda datang meminta
pendapat. Setiap ada pencapaian, mereka datang berbagi kabar.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bersama Rania,
bersama cucu-cucu. Sesekali ia jalan-jalan keliling desa, melihat
perubahan-perubahan kecil yang terjadi.
Suatu sore, saat berjalan di tepi sawah, ia bertemu dengan
seorang anak kecil. Anak itu sedang asyik dengan ponsel, merekam pemandangan.
"Lagi ngapain, Nak?" tanya Amat.
Anak itu menoleh. "Lagi bikin konten, Kek. Buat
channel YouTube desa."
Amat tersenyum. "Wah, hebat. Konten tentang apa?"
"Tentang sejarah desa. Tentang bagaimana desa ini dulu
tertinggal, sekarang maju. Kakek tahu siapa yang memulai semua ini?"
Amat berpikir sejenak. "Ada seorang pria. Namanya
Amat."
Anak itu membelalak. "Amat? Itu kakek, kan? Saya lihat
fotonya di ruang digital."
Amat mengangguk pelan. "Iya, itu aku."
Anak itu terkejut. "Kakek Amat? Sungguh? Boleh saya
wawancara?"
Amat tertawa. "Boleh. Tapi singkat saja, ya. Kakek
sudah tua."
Anak itu pun mewawancarainya. Bertanya tentang masa lalu,
tentang perjuangan, tentang mimpi. Amat menjawab dengan sabar, sesekali
tertawa.
Setelah selesai, anak itu pamit. "Makasih, Kek. Video
ini akan saya upload. Biar semua orang tahu sejarah desa kita."
Amat tersenyum. "Terima kasih kembali, Nak. Teruslah
berkarya."
Ia melanjutkan perjalanan, memandangi sawah yang menghijau,
langit yang cerah, dan desa yang terus hidup.
"Warisan bukan tentang dikenang," gumamnya.
"Warisan adalah ketika sesuatu tetap berjalan meski kita sudah melangkah
pelan."
Matahari mulai terbenam. Senja menyapa dengan lembut.
Dan di ujung desa, jejak senja itu tetap sama seperti dulu.
Tapi desa yang disapanya kini berbeda.
Desa yang maju. Desa yang mandiri. Desa yang tidak pernah
berhenti bermimpi.
Malam itu, Amat duduk di beranda. Rania di sampingnya. Di
halaman, Arjuna, Kirana, dan Naila bermain dengan lampu-lampu kecil—hadiah dari
orang tua mereka.
"Ra, aku bahagia," ucap Amat tiba-tiba.
Rania menoleh. "Kenapa tiba-tiba?"
"Lihat mereka. Lihat desa ini. Lihat semua yang sudah
kita lewati. Aku bahagia."
Rania memegang tangannya. "Aku juga, Mat."
Amat memandangi langit malam. Bintang-bintang bertaburan,
sama seperti malam 56 tahun lalu, saat ia lahir dalam badai.
Kini, badai sudah reda. Yang tersisa adalah kedamaian. Dan
rasa syukur yang tak terhingga.
"Apa yang akan terjadi nanti?" tanya Rania.
"Entahlah. Tapi yang pasti, selama ada orang-orang
baik di sini, desa ini akan terus hidup."
"Mereka akan melanjutkan."
"Iya. Mereka akan lebih baik dari kita."
Dari halaman, Arjuna berteriak, "Kakek! Lihat! Aku
bisa bikin lingkaran cahaya!"
Ia memutar-mutar lampu kecilnya, menciptakan lingkaran
cahaya di udara. Kirana dan Naila tertawa riang.
Amat tersenyum. "Lihat, Ra. Mereka sudah bikin
lingkaran cahaya. Nanti mereka akan bikin lingkaran yang lebih besar."
"Lingkaran apa?"
"Lingkaran mimpi. Lingkaran yang mengelilingi desa
ini. Melindungi, menerangi, dan menginspirasi."
Rania tersenyum. "Kamu romantis kalau sudah
malam."
Amat tertawa. "Bukan romantis. Tua."
Malam itu, di bawah langit Awan Biru yang bertabur bintang,
seorang kakek dan nenek duduk tenang. Anak-anak muda desa sibuk berkarya di
ruang digital. Cucu-cucu mereka bermain riang di halaman.
Dan Desa Awan Biru terus melangkah. Dengan teknologi di
tangan, dengan integritas di hati, dengan mimpi yang tak pernah padam.
Senja di ujung desa. Bukan akhir, tapi awal yang baru.
Berulang-ulang, sepanjang masa.
BAB IX
"Pensiun, Sepi, dan Cinta yang Setia"
Pagi itu, matahari terbit lambat di ufuk timur, seolah
enggan terburu-buru menyapa dunia. Sinar pertamanya menyelinap pelan melalui
celah-celah genteng rumah tua di ujung Desa Awan Biru, menari-nari di lantai
keramik yang mulai kusam. Ayam jantan berkokok sambung-menyambung dari kandang
belakang, memecah kesunyian yang sudah menjadi teman setia sejak beberapa tahun
terakhir.
Rumah itu—rumah tempat Amat dibesarkan, tempat ia
membesarkan Anita, tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya—kini tampak
lebih tua dari penghuninya. Dindingnya mulai kusam dimakan usia. Cat krem yang
dulu dicat ulang saat pernikahan Anita, kini mengelupas di sana-sini,
memperlihatkan tembok di bawahnya yang kehitaman. Tiang-tiang kayu di beranda
mulai lapuk, meski masih kokoh menopang atap yang sama sejak puluhan tahun
lalu.
Di teras depan, dua kursi kayu panjang masih setia
menemani. Kursi yang sama tempat Amat duduk memandangi langit saat kecil, saat
remaja, saat dewasa, dan kini saat usianya menginjak 56 tahun. Sandarannya
telah aus berganti beberapa kali, tapi rangkanya masih sama—saksi bisu
perjalanan panjang seorang anak desa yang tak pernah berhenti bermimpi.
Di belakang rumah, kebun kecil tumbuh subur. Cabai merah
bergelantungan di ranting-rantingnya yang rimbun. Tomat-tomat muda mulai
menguning siap panen. Daun bawang menjulang hijau segar. Dan di pojok kebun,
pohon mangga yang dulu ditanam Amat saat Anita masih kecil, kini jauh lebih
tinggi dari atap rumah, rindang dan setiap tahun berbuah lebat.
Amat duduk di kursi kayu itu, memegang cangkir kopi yang
mulai dingin. Usianya 63 tahun—sudah tujuh tahun berlalu sejak ia resmi pensiun
sebagai admin desa. Rambutnya kini nyaris putih seluruhnya, hanya sedikit helai
hitam yang tersisa di bagian belakang. Wajahnya dipenuhi kerutan halus, bekas
dari tahun-tahun penuh perjuangan. Matanya masih sama: tajam, penuh rasa ingin
tahu, meski kini ada lapisan kelelahan dan ketenangan di sudut-sudutnya.
Ia mengenakan kaus oblong lusuh dan sarung—pakaian santai
yang menjadi seragam hariannya sejak pensiun. Tak lagi kemeja batik, tak lagi
celana bahan rapi. Kini ia bebas menjadi dirinya sendiri.
"Kopi kamu sudah dingin," suara lembut Rania
terdengar dari belakang.
Amat menoleh. Istrinya keluar membawa teko kopi panas. Usia
Rania 60 tahun, rambutnya juga mulai memutih, tapi senyumnya masih sama seperti
pertama kali Amat melihatnya di kantor desa dulu: teduh, hangat, menenangkan.
"Lagi melamun," jawab Amat.
Rania duduk di kursi sebelah, menuangkan kopi panas ke
cangkir Amat. "Melamun apa?"
Amat menghela napas. "Memikirkan waktu. Cepat sekali
berlalu. Rasanya baru kemarin aku pensiun, sekarang sudah tujuh tahun."
"Dan tujuh tahun itu kamu habiskan di sini, di kursi
ini, minum kopi dan memandangi kebun."
Amat tersenyum. "Kedengarannya membosankan."
"Tidak. Kedengarannya damai."
Mereka terdiam sejenak, menikmati kopi dan suasana pagi.
Burung-burung pipit beterbangan di pohon mangga, mencari sisa-sisa buah yang
jatuh. Angin pagi berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma tanah basah dan
dedaunan.
"Ra, aku mikir," kata Amat tiba-tiba.
"Mikir apa?"
"Apa aku berarti selama ini? Setelah pensiun, setelah
tidak pegang apa-apa, apa aku masih berarti?"
Rania menatapnya lembut. "Pertanyaan itu masih muncul
setelah tujuh tahun?"
"Kadang-kadang. Malam-malam, saat sunyi, saat semua
tidur."
Rania memegang tangannya. "Mat, dengar. Kamu bertanya
apakah kamu berarti? Lihat desa ini. Lihat sistem yang masih jalan. Lihat
anak-anak muda yang meneruskan. Lihat Arjuna jadi kepala desa. Itu semua karena
kamu."
"Tapi itu dulu. Sekarang?"
"Sekarang kamu berarti buat aku. Buat anak-anak kita.
Buat cucu-cucu kita. Buat tanaman-tanaman di kebun yang kamu rawat setiap hari.
Itu juga berarti."
Amat merenung. Istrinya selalu bisa membuatnya tenang.
Desa Awan Biru kini telah berubah total dari masa lalu.
Bukan hanya fisiknya, tapi juga sistem dan manusianya.
Semua layanan sudah digital. Surat-menyurat bisa diurus
online dari rumah. Warga tidak perlu lagi antre berjam-jam di kantor desa.
Cukup buka website, isi formulir, upload dokumen, dan dalam beberapa jam surat
selesai.
UMKM desa punya katalog daring yang terintegrasi dengan
marketplace nasional. Produk-produk lokal seperti keripik pisang, kopi bubuk,
dan anyaman bambu kini bisa dibeli dari seluruh Indonesia. Omzet para pelaku
UMKM naik berkali-kali lipat.
Klinik desa terintegrasi dengan sistem kesehatan nasional.
Data pasien tersimpan rapi, riwayat penyakit terdokumentasi, jadwal kontrol dan
imunisasi terkirim otomatis ke ponsel warga. Erlangga—menantu Amat—yang kini
menjadi kepala klinik, terus mengembangkan sistem dengan bantuan tim IT desa.
Laporan keuangan desa real-time dan bisa diakses warga
kapan saja. Setiap rupiah yang masuk dan keluar tercatat dengan jelas. Tidak
ada lagi ruang untuk korupsi, tidak ada lagi ruang untuk kecurigaan.
Semua itu berjalan tanpa Amat.
Ia hanya bisa melihat dari jauh, sesekali mendapat kabar
dari Anita atau Arjuna, sesekali membaca berita di website yang sudah tidak
lagi ia kelola.
"Bagus," gumamnya suatu hari saat membaca laporan
keuangan terbaru. "Mereka bahkan menambahkan fitur yang tidak aku
pikirkan."
Rania yang mendengar, tersenyum. "Itu artinya mereka
belajar dari kamu, lalu mengembangkan sendiri."
"Iya. Tapi kadang sedih juga. Seperti anak yang sudah
besar dan tidak butuh orang tua lagi."
"Bukan tidak butuh. Mereka butuh dengan cara berbeda.
Mereka butuh kamu sebagai penasihat, bukan sebagai pelaksana."
Amat menghela napas. "Mungkin kamu benar."
Amat masih ingat jelas hari perpisahannya tujuh tahun lalu.
Acara digelar sederhana di balai desa—balai yang sama tempat dulu ia menonton
televisi hitam putih saat kecil.
Saat itu, usianya 56 tahun. Ia baru saja resmi pensiun
sebagai Kepala Seksi Pelayanan Informasi Desa, setelah 28 tahun mengabdi. Surat
keputusan pensiun ditandatangani Bu Sumarni, kepala desa saat itu, dengan
pertimbangan kesehatan dan regenerasi.
Balai desa penuh. Semua perangkat desa hadir. Iwan—yang
sudah pensiun beberapa tahun sebelumnya—datang sebagai tamu undangan. Rambutnya
memutih total, tapi tatapannya masih hangat seperti dulu. Ia duduk di barisan
depan, sesekali tersenyum pada Amat.
Yuni, Eko, Lulu, Endang—semua sahabat masa kecil—hadir
dengan keluarganya. Didit datang dengan Herman. Pak Surono, yang saat itu
berusia 80 tahun, masih kuat duduk di kursi roda yang didorong anaknya.
Bu Sumarni memberi sambutan. "Bapak-bapak, Ibu-ibu,
hari ini kita melepas salah satu pilar desa kita. Pak Amat, setelah 28 tahun
mengabdi, resmi pensiun. Beliau adalah orang yang memulai semua ini. Website,
sistem informasi, transparansi—semuanya berawal dari beliau."
Tepuk tangan bergemuruh.
Arjuna—yang saat itu berusia 26 tahun, baru lulus kuliah
dan aktif di komunitas IT—membacakan sambutan perwakilan generasi muda.
Suaranya mantap, matanya berbinar.
"Pak Amat, saya mewakili anak muda Desa Awan Biru
ingin mengucapkan terima kasih. Bapak bukan hanya admin desa. Bapak adalah
fondasi digital desa ini. Tanpa bapak, mungkin kami masih sibuk main game,
bukan belajar bikin website. Tanpa bapak, mungkin UMKM kami masih jualan dari
pintu ke pintu, bukan online. Tanpa bapak, mungkin transparansi masih jadi
mimpi. Terima kasih, Pak. Kami akan teruskan."
Amat terharu. Matanya berkaca-kaca.
Gilirannya bicara. Ia berdiri pelan, memandangi semua wajah
yang hadir.
"Saya tidak punya banyak kata. Hanya ingin bilang:
terima kasih. Terima kasih untuk kepercayaan, untuk dukungan, untuk
kebersamaan. Saya tidak pergi. Saya hanya pindah tempat duduk. Dari depan, ke
belakang. Dari pelaksana, ke penonton. Tapi hati saya tetap di sini, di desa
ini."
Tepuk tangan lagi. Lebih lama, lebih hangat.
Setelah acara, satu per satu warga mendekat, bersalaman,
berfoto. Ada yang menangis, ada yang tertawa. Amat melayani semua dengan senyum.
Malam harinya, saat semua sudah pulang, Amat duduk di
beranda rumah. Rania duduk di sampingnya. Mereka diam, menikmati malam.
"Gimana rasanya?" tanya Rania.
"Kosong. Lega. Sedih. Campur aduk."
"Itu wajar. Kamu sudah 28 tahun di sana."
Amat menghela napas. "Sekarang apa yang harus aku
lakukan?"
"Menikmati hidup. Istirahat. Berkebun. Main sama
cucu."
Amat tersenyum. "Kedengarannya menyenangkan."
"Memang."
Namun kenyataannya tidak semenyenangkan itu.
Beberapa minggu pertama setelah pensiun terasa aneh. Amat
bangun pagi seperti biasa, mandi, sarapan, lalu duduk di beranda. Tapi setelah
itu? Tidak ada yang harus ia kerjakan.
Tak ada notifikasi error dari server. Tak ada pesan darurat
tengah malam dari tim IT. Tak ada grafik trafik yang harus dipantau. Tak ada
rapat yang harus dihadiri. Tak ada laporan yang harus direview.
Ia mencoba mengisi waktu dengan berkebun. Setiap pagi ia ke
kebun belakang, menyiram tanaman, membersihkan gulma, memupuk. Tapi kebun itu
kecil, tidak butuh waktu lama. Paling setengah jam selesai.
Ia mencoba membaca. Buku-buku teknologi yang dulu ia
koleksi, buku-buku motivasi, novel-novel. Tapi matanya cepat lelah. Pikirannya
melayang ke mana-mana.
Ia mencoba menonton televisi. Tapi acara-acara di TV tidak
semenarik dulu. Iklan terlalu banyak. Sinetron terlalu panjang. Berita terlalu
monoton.
Ia mencoba jalan-jalan keliling desa. Tapi setiap kali
bertemu warga, mereka selalu bertanya tentang website, tentang sistem, tentang
hal-hal yang sudah tidak ia pegang. Ia menjawab sebisanya, lalu merasa seperti
orang asing di desanya sendiri.
"Kamu kehilangan ritme, ya?" tanya Rania suatu
sore, saat melihat Amat duduk termenung di beranda.
Amat menghela napas. "Aku merasa seperti sistem yang
dimatikan."
Rania tersenyum. "Kamu bukan sistem. Kamu manusia."
"Tapi selama ini aku hidup untuk itu. Hidup untuk
website, untuk desa, untuk sistem. Sekarang semuanya diambil. Aku merasa...
hampa."
"Itu namanya krisis identitas. Wajar setelah
pensiun."
"Lalu harus bagaimana?"
"Temukan identitas baru. Yang tidak terkait
pekerjaan."
Amat berpikir. "Identitas baru? Apa? Tukang kebun?
Kakek-kakek pensiunan?"
"Kenapa tidak? Itu juga berharga."
Amat merenung. Mungkin Rania benar.
Sementara Amat bergulat dengan krisis identitasnya,
generasi muda desa justru melesat lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Bambang—anak Eko—yang kini berusia 35 tahun, bersama
Anita—putri Amat—membuka Ruang Komunitas Digital Desa. Tempat ini bukan sekadar
ruang komputer biasa. Ia adalah pusat kreativitas, inovasi, dan pembelajaran
bagi anak-anak muda desa.
Ruangannya luas, sekitar 100 meter persegi, di lantai dua
balai desa yang baru direnovasi. Di dalamnya, terdapat 20 unit komputer
canggih, 10 tablet, 5 kamera profesional, studio mini untuk podcast dan konten
kreator, perpustakaan digital, dan ruang diskusi dengan papan tulis besar penuh
coretan ide.
Dinding-dindingnya dihiasi poster-poster motivasi,
infografis teknologi, dan foto-foto perjalanan desa. Ada juga etalase khusus
berisi barang-barang bersejarah: modem USB pertama Amat, laptop bekasnya, dan
mesin ketik Pak Surono.
Setiap hari, ruangan itu ramai. Anak-anak muda belajar
desain grafis, coding, pemasaran digital, videografi, dan berbagai keterampilan
lain. Ada yang serius menekuni, ada yang sekadar mencoba-coba. Tapi semuanya
antusias.
Bambang menjadi direktur utama, Anita menjadi manajer
program. Mereka dibantu tim yang solid: Joko (35 tahun) sebagai instruktur
coding, Rudi (27 tahun) sebagai instruktur desain, dan beberapa anak muda lain.
Anjelina—anak Amilia—juga aktif, meski fokusnya di kesehatan
digital. Ia sering bekerja sama dengan Ruang Komunitas untuk membuat konten
edukasi kesehatan: video tentang gizi seimbang, infografis tentang imunisasi,
podcast tentang kesehatan ibu dan anak.
Suatu sore, Amat mampir ke ruang komunitas. Ia berdiri di
pintu, memandangi keramaian di dalam. Anak-anak muda sibuk dengan laptop dan
tablet masing-masing. Ada yang diskusi serius, ada yang tertawa lepas. Suasana
hangat dan produktif.
Bambang melihatnya, langsung mendekat. "Pak Amat! Mari
masuk."
Amat tersenyum. "Hanya mampir. Lihat-lihat."
"Silakan. Ini semua berkat bapak."
Amat masuk, berjalan pelan. Ia melihat anak-anak muda yang
asyik belajar. Ada yang sedang membuat desain kaos, ada yang coding aplikasi
sederhana, ada yang mengedit video.
Seorang anak—mungkin 17 tahun—menyapanya. "Pak Amat!
Saya bisa bikin website berkat belajar dari modul bapak."
Amat terkejut. "Modul saya?"
"Iya, yang bapak tulis dulu. Dasar-dasar HTML. Saya
baca online."
Amat tersenyum bangga. "Wah, bagus. Teruskan."
Ia melanjutkan perjalanan. Di sudut ruangan, ada etalase
dengan barang-barang lamanya. Ia berhenti, memandangi laptop bekas dengan
tombol "E" yang harus ditekan keras. Di sampingnya, modem USB pertama
yang dikuasinya.
"Kenangan," gumamnya.
Anita mendekat. "Yah, kami pajang di sini sebagai
museum. Biar generasi muda tahu dari mana mereka berasal."
"Bagus. Mereka harus tahu perjuangannya."
"Iya. Dan mereka harus tahu, semua berkat ayah."
Amat menggeleng. "Bukan berkat aku. Berkat kita
semua."
Mereka berpelukan.
Di usia 60 tahun, Amat semakin jarang ke luar rumah. Tapi
ia selalu mendapat kabar tentang perkembangan desa dari Anita atau Arjuna.
Herman—anak Didit—kini menjadi Ketua BPD, menggantikan
Didit yang pensiun karena usia. Ia dikenal tegas tapi adil, seperti ayahnya
dulu, tapi dengan sentuhan teknologi yang lebih kuat. Setiap rapat BPD, ia
selalu menggunakan aplikasi khusus untuk voting dan dokumentasi, semua
tersimpan rapi di cloud.
Bu Sumarni masih menjabat sebagai kepala desa, periode
kedua. Di bawah kepemimpinannya, desa semakin maju. Program-program inovatif
bermunculan: bank sampah digital, pasar tani online, sekolah orang tua berbasis
aplikasi.
Arjuna—cucu Amat—kini berusia 30 tahun, aktif di berbagai
kegiatan desa. Ia menjadi koordinator relawan digital, membantu warga yang
kesulitan mengakses layanan online. Ia juga sering menjadi pembicara di
acara-acara pemuda, mewakili generasi muda desa.
Suatu hari, ada berita besar: Desa Awan Biru terpilih
menjadi tuan rumah Konferensi Desa Digital Tingkat Nasional. Ratusan peserta
dari seluruh Indonesia akan datang.
Amat membaca berita itu di website desa. Ia tersenyum
bangga.
"Ra, lihat. Desa kita jadi tuan rumah konferensi
nasional."
Rania mendekat, membaca layar. "Wah, hebat. Itu karena
sistem yang kamu bangun."
"Bukan aku. Mereka. Generasi muda."
"Iya, tapi kamu yang memulai."
Konferensi berlangsung meriah. Selama tiga hari, balai desa
dan ruang komunitas penuh dengan peserta. Mereka belajar tentang sistem digital
desa, tentang transparansi, tentang pemberdayaan masyarakat. Bambang dan Anita
menjadi narasumber utama. Herman mempresentasikan sistem e-government desa.
Arjuna menjadi moderator di beberapa sesi.
Amat diundang sebagai tamu kehormatan. Ia duduk di barisan
depan, memandangi panggung dengan bangga. Di panggung itu, anak-anak muda yang
dulu ia latih, kini menjadi pembicara nasional.
Saat sesi penutup, panitia meminta Amat naik ke panggung
untuk memberi sambutan. Ia naik pelan, dibantu Arjuna. Di hadapan ratusan
peserta, ia berkata dengan suara bergetar:
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya tidak banyak bicara. Saya
hanya ingin bilang: lihatlah mereka. Anak-anak muda ini. Mereka adalah masa
depan. Dulu saya hanya punya modem dan mimpi. Kini mereka punya sistem dan
keyakinan. Saya bangga. Terima kasih."
Tepuk tangan bergemuruh. Beberapa peserta berdiri, memberi
hormat.
Amat turun dari panggung dengan mata berkaca-kaca.
Namun setelah keramaian konferensi usai, sunyi kembali
menyapa.
Rumah Amat yang dulu ramai dikunjungi tamu, kini sepi.
Anak-anak sibuk dengan urusan masing-masing. Cucu-cucu sudah besar dan punya
kesibukan sendiri. Rania kadang pergi ke pengajian atau arisan, meninggalkan
Amat sendiri di rumah.
Ia duduk di beranda, memandangi jalan yang mulai sepi.
Sesekali ada warga lewat, melambai, lalu pergi. Tak ada yang berhenti lama.
Semua orang sibuk.
"Sepi ya," gumamnya.
Rania yang baru pulang dari pengajian, duduk di sampingnya.
"Kangen ramai?"
"Iya. Dulu setiap hari ada saja yang datang. Ada yang
konsultasi, ada yang minta tolong, ada yang sekadar ngobrol. Sekarang?"
"Sekarang mereka sudah mandiri. Itu yang kamu
inginkan."
"Iya. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi aku merasa... tidak dibutuhkan lagi."
Rania memegang tangannya. "Mat, kamu selalu
dibutuhkan. Mungkin tidak setiap hari. Tapi saat mereka butuh nasihat, mereka
akan datang."
"Kapan? Mereka sudah hebat semua."
"Justru karena mereka hebat, mereka akan semakin
menghargai orang yang mengajari."
Amat merenung. Mungkin Rania benar.
Warung Mbah Karyo masih berdiri di pinggir jalan utama,
meski usianya sudah lebih dari 40 tahun. Mbah Karyo sendiri kini berusia 80
tahun lebih, tapi masih setia menjaga warungnya setiap hari. Meja kayu tua yang
sama masih ada, kini semakin lapuk dan penuh coretan. Kursi-kursi plastik
warna-warni menggantikan kursi kayu yang sudah tidak layak.
Tempat ini masih menjadi titik kumpul warga, terutama
bapak-bapak pensiunan yang ingin ngobrol ngalor-ngidul. Amat sesekali mampir,
duduk bersama mereka, minum kopi, dan tertawa.
Suatu sore, Anto—sahabat lama yang dulu dikenal cerewet dan
penuh celetukan—duduk bersama Arjuna di warung itu. Anto kini berusia 65 tahun,
rambutnya putih semua, tapi mulutnya masih sama: tidak pernah berhenti bicara.
Arjuna—yang saat itu berusia 28 tahun—sedang minum kopi
setelah seharian bekerja. Anto duduk di hadapannya, menyeruput kopi dengan
nikmat.
"Jun, kamu itu dari kecil sudah beda," kata Anto
tiba-tiba.
Arjuna mengangkat alis. "Beda bagaimana, Om?"
"Lupa helm, tapi ingat tanggung jawab."
Arjuna tertawa. Anto selalu punya cara unik untuk memuji.
"Dari kecil, kamu suka ngatur teman-teman. Waktu main
bola, kamu yang jadi kapten. Waktu belajar kelompok, kamu yang bagi tugas.
Waktu ada masalah, kamu yang cari solusi. Itu bakat pemimpin."
Arjuna tersenyum. "Ah, Om lebay."
"Saya serius. Saya punya firasat... kamu nanti jadi
kepala desa."
Arjuna hampir tersedak kopinya. "Apa? Kepala desa? Om
jangan bercanda."
"Saya tidak bercanda. Lihat saja nanti."
Mbah Karyo yang mendengar dari balik etalase, ikut angkat
bicara. "Anto benar, Jun. Dari kecil saya lihat, kamu itu beda. Waktu
anak-anak lain sibuk main, kamu sibuk nanya-nanya. 'Mbah, ini kenapa? Mbah, itu
gimana?' Itu tanda orang ingin tahu. Pemimpin itu harus ingin tahu."
Arjuna terdiam. Kata-kata mereka diam-diam tertanam di
hatinya.
Malam harinya, ia cerita pada Amat.
"Kek, tadi Om Anto bilang aku bakal jadi kepala desa.
Beneran, Kek?"
Amat tersenyum. "Kamu mau?"
"Aku... nggak tahu, Kek. Masih mikir."
"Jun, jadi kepala desa itu bukan soal kekuasaan. Tapi
soal pelayanan. Kamu siap melayani?"
Arjuna berpikir. "Aku siap, Kek. Tapi takut
salah."
"Semua orang pernah salah. Yang penting mau belajar.
Dulu kakek juga salah berkali-kali. Server down, dituduh tidak netral, kena
hack. Tapi dari situ kakek belajar."
Arjuna mengangguk. "Makasih, Kek."
Waktu terus berjalan. Generasi kedua dan ketiga Desa Awan
Biru mulai berumah tangga.
Arjuna dan Kirana—yang sejak remaja dekat—akhirnya menikah.
Usia Arjuna 30 tahun, Kirana 28 tahun. Pernikahan digelar sederhana tapi hangat
di halaman balai desa, tempat yang sama di mana orang tua mereka dulu bermain.
Amat duduk di kursi depan, menggenggam tangan Rania
erat-erat. Air matanya jatuh saat Arjuna dan Kirana bersanding di pelaminan.
"Lihat mereka, Ra," bisiknya. "Dulu mereka
main sepeda di halaman. Sekarang menikah."
Rania tersenyum, matanya juga basah. "Waktu cepat
sekali."
"Terlalu cepat."
Tak lama setelah pernikahan Arjuna, giliran Herman yang
menikah. Bukan dengan Anjelina—karena Anjelina memilih fokus pada kariernya
sebagai bidan—tapi dengan Yulia, seorang guru SD yang baru bertugas di desa.
Pernikahan mereka digelar di rumah Didit. Suasananya hangat
dan penuh canda. Didit—yang kini berusia 68 tahun—terlihat sangat bahagia.
"Mat, anak saya menikah," katanya sambil memeluk
Amat.
"Selamat, Dit. Semoga langgeng."
"Makasih. Dulu kita berantem soal website. Sekarang
anak kita berantem soal cara mendidik cucu."
Mereka tertawa bersama.
Juana—anak Endang—juga menikah. Pasangannya adalah seorang
pemuda dari desa tetangga yang dikenalnya saat pelatihan digital. Naila—anak
Herman dan Yulia—masih kecil, belum waktunya.
Rumah Amat semakin sering ramai oleh kunjungan cucu dan
cicit. Setiap akhir pekan, selalu ada saja yang datang. Arjuna dan Kirana
membawa oleh-oleh. Herman dan Yulia membawa Naila. Kadang Bambang dan Diana
juga mampir.
Tapi justru setelah tamu pulang, sunyi terasa lebih dalam.
Rumah besar itu hanya dihuni dua orang tua: Amat dan Rania.
"Sepi ya kalau habis ramai," keluh Amat suatu
malam.
"Iya. Tapi besok mereka akan datang lagi."
"Besok belum tentu. Minggu depan mungkin."
"Itu namanya kehidupan, Mat. Anak-anak tumbuh, punya
keluarga sendiri. Kita harus ikhlas."
Amat menghela napas. "Ikhlas itu susah."
"Tapi harus."
Ramalan Anto menjadi kenyataan.
Di usia 32 tahun, Arjuna mencalonkan diri dalam pemilihan
kepala desa. Ia maju sebagai calon muda, didukung penuh oleh keluarga dan
komunitas.
Tiga calon lain ikut bertarung: Pak Karyono junior—anak Pak
Karyono yang dulu calon kepala desa—seorang pengusaha muda, dan seorang
pensiunan aparatur desa.
Kampanye berlangsung damai. Debat digelar di balai desa,
disiarkan live melalui website dan media sosial. Arjuna tampil memukau dengan
visi "Digital untuk Kesejahteraan" dan program-program inovatifnya.
Hari pemilihan tiba. Proses pemungutan suara menggunakan
sistem digital yang dikembangkan tim IT desa. Setiap suara tercatat real-time,
transparan, dan bisa diaudit.
Malam harinya, hasil keluar.
Arjuna: 2.450 suara
Pak Karyono junior: 1.200 suara
Edi pengusaha: 950 suara
Lena pensiunan: 400 suara
Arjuna menang telak.
Ia menjadi kepala desa termuda dalam sejarah Desa Awan
Biru, mengalahkan rekor Iwan yang dulu menjadi kepala desa di usia 25 tahun.
Malam itu, Arjuna datang ke rumah Amat. Wajahnya campuran
antara gembira dan takut.
"Kek... aku menang."
Amat memeluknya erat. "Selamat, Nak. Kakek
bangga."
"Tapi aku takut, Kek. Takut salah. Takut nggak
bisa."
Amat melepas pelukan, menatap mata cucunya. "Jun,
dengar. Semua pemulai pernah takut. Dulu kakek juga takut waktu pertama kali
pegang mouse. Takut waktu pertama kali presentasi di depan orang banyak. Tapi
rasa takut itu wajar. Yang penting, jangan biarkan rasa takut
menghentikanmu."
Arjuna mengangguk.
"Satu lagi, Jun. Jangan pernah takut pada
transparansi. Buka semua data. Biar warga tahu. Karena hanya dengan
transparansi, kepercayaan bisa dibangun."
"Makasih, Kek. Aku akan ingat itu."
Pak Didit, yang kini berusia 70 tahun, sudah pensiun dari
jabatan Ketua BPD. Posisinya digantikan oleh Herman—putranya sendiri. Estafet
kepemimpinan berjalan alami.
Suatu sore, Didit mampir ke rumah Amat. Mereka duduk di
beranda, ditemani kopi dan pisang goreng buatan Rania.
"Mat, lihat anak-anak kita sekarang," kata Didit.
"Herman jadi Ketua BPD. Arjuna jadi kepala desa. Bambang pegang komunitas
digital. Anita bantu suaminya di klinik. Semua pada sukses."
Amat tersenyum. "Iya, Dit. Dulu kita rebutan server,
sekarang anak-anak kita rebutan bikin program."
Mereka tertawa.
"Dulu kita sering berantem," kenang Didit.
"Saya paling keras menentang ide-idemu. Sekarang saya lihat sendiri, kamu
benar."
"Kita sama-sama benar, Dit. Hanya cara pandang yang
berbeda."
"Iya. Untung kita bisa akur lagi."
"Untung kita punya anak-anak yang jadi perekat."
Mereka diam sejenak, menikmati sore.
"Mat, aku mau bilang sesuatu," kata Didit
tiba-tiba.
"Apa?"
"Makasih. Makasih udah memaafkan Herman dulu. Makasih
udah membimbing dia. Dia bisa jadi seperti sekarang karena kamu."
Amat menggeleng. "Bukan karena aku. Karena dia
sendiri. Dia punya kemauan untuk berubah."
"Tapi kamu yang memberinya kesempatan."
"Setiap orang berhak pada kesempatan kedua, Dit. Itu
yang aku pelajari dari hidup."
Didit tersenyum. "Kamu bijak, Mat."
"Bukan bijak. Tua."
Mereka tertawa lagi.
Di tengah semua kesibukan generasi muda, Amat menemukan
ritme baru. Ia mulai menulis buku tentang perjalanan digital desa.
Awalnya hanya iseng. Ia menulis di blog pribadinya, seperti
dulu. Tapi ceritanya panjang, terlalu panjang untuk blog. Anita menyarankan
agar dibuat buku.
"Yah, kumpulin tulisannya, diedit, terus diterbitin.
Bisa jadi inspirasi buat desa lain."
Amat berpikir. "Ide bagus. Tapi aku bukan
penulis."
"Kamu penulis yang baik, Yah. Tulisanmu sederhana tapi
mengena. Orang suka."
Amat pun mulai menulis serius. Setiap pagi, setelah
menyiram kebun, ia duduk di beranda dengan laptop—laptop baru yang dibelikan
Arjuna. Ia mengetik pelan-pelan, mengingat-ingat kembali perjalanan panjangnya.
Ia menulis tentang masa kecil: tentang radio yang
dibongkarnya, tentang televisi satu-satunya di balai desa, tentang Serena yang
mengajarinya membaca di pasir.
Ia menulis tentang masa remaja: tentang warnet, tentang
server yang dimatikannya, tentang Siti Mawar, tentang patah hati.
Ia menulis tentang masa dewasa: tentang kepulangannya ke
desa, tentang laptop bekas, tentang perjuangan membangun website, tentang
konflik dengan Pak Surono.
Ia menulis tentang masa puncak: tentang penghargaan,
tentang serangan hacker, tentang rekonsiliasi dengan Herman, tentang
regenerasi.
Ia menulis tentang cinta: tentang Rania yang setia, tentang
Anita yang lahir, tentang Arjuna yang kini menjadi kepala desa.
Dan ia menulis tentang pensiun: tentang sunyi, tentang
krisis identitas, tentang menemukan makna baru.
Rania sering duduk di sampingnya saat ia mengetik. Kadang
membawakan kopi, kadang membacakan hasil tulisannya, kadang sekadar menemani.
"Kamu tulis tentang aku juga?" tanya Rania suatu
hari.
"Iya."
"Bagian apa?"
"Bagian paling penting."
Rania tersenyum. "Boleh aku baca?"
"Nanti, kalau sudah jadi."
Setahun kemudian, buku itu selesai. Tebalnya 400 halaman.
Judulnya:
"DARI MODEM KE MANDIRI:
Kisah Desa yang Percaya pada Transparansi"
Anita membantu proses editing dan penerbitan. Bambang
membuat desain sampul. Herman menulis kata pengantar. Arjuna menulis epilog.
Buku itu diterbitkan oleh penerbit lokal, lalu
didistribusikan ke seluruh Indonesia. Ternyata, sambutannya luar biasa. Dalam
tiga bulan, cetakan pertama habis. Cetakan kedua menyusul. Pesanan dari
desa-desa lain berdatangan.
Amat diundang ke berbagai tempat untuk bedah buku. Ia
menjadi narasumber lagi—bukan sebagai admin desa, tapi sebagai penulis.
Bedanya, kini ia bicara bukan tentang teknologi, tapi tentang pengalaman hidup.
"Orang mungkin lupa cara membuat website,"
katanya dalam suatu acara. "Tapi mereka tidak akan lupa nilai-nilai:
kejujuran, ketekunan, keberanian untuk berubah."
Suatu senja, saat usia Amat 63 tahun, ia duduk di kebun
kecilnya. Tanaman cabai dan tomat tumbuh subur, berkat perawatannya setiap
hari. Pohon mangga di pojok kebun mulai berbuah, rantingnya hampir patah karena
terlalu lebat.
Rania duduk di sampingnya, di bangku kayu sederhana yang ia
buat sendiri puluhan tahun lalu. Keduanya menikmati udara sore yang sejuk.
"Mat, kamu masih merasa kosong?" tanya Rania.
Amat berpikir sejenak. "Tidak sesering dulu."
"Apa yang berubah?"
"Aku sadar... aku tidak kehilangan peran. Hanya
berganti bentuk."
Rania tersenyum. "Bentuk apa?"
"Dulu aku admin, pegang sistem. Sekarang aku... ya,
aku. Kakek-kakek yang nulis buku, berkebun, kadang dimintai nasihat. Itu juga
peran."
"Peran yang penting."
"Iya. Aku baru paham sekarang. Pensiun bukan berarti
berhenti berarti. Hanya berarti berhenti dari satu pekerjaan. Tapi masih banyak
pekerjaan lain: menjadi suami, menjadi ayah, menjadi kakek, menjadi teman
bicara."
Rania memegang tangannya. "Itu yang selama ini aku
rasakan. Peran-peran kecil yang sering tidak terlihat, tapi sangat
berarti."
Amat menatap istrinya. Di usia 63 tahun, Rania masih cantik
di matanya. Mungkin tidak seperti dulu, tapi ada kedalaman di wajahnya yang
tidak bisa digantikan.
"Ra, aku mau bilang sesuatu."
"Apa?"
"Makasih. Makasih udah setia selama ini. Makasih udah
sabar menghadapi aku yang keras kepala, yang sibuk, yang sering lupa waktu.
Makasih udah menjadi rumah."
Rania terharu. Matanya berkaca-kaca. "Kamu baru
ngomong gini sekarang?"
"Mungkin baru sekarang sadar. Kadang yang paling dekat
justru paling sering dilupakan."
Rania memeluknya. "Aku juga makasih, Mat. Makasih udah
memilihku. Makasih udah menjadi suami yang baik."
Mereka berpelukan di bawah pohon mangga, ditemani senja
yang perlahan turun.
Malam harinya, Arjuna datang. Bukan untuk rapat atau urusan
desa, tapi hanya untuk duduk-duduk bersama kakeknya.
"Kek, sibuk?" tanyanya.
"Tidak pernah sibuk, Jun. Hanya sibuk menikmati
hidup."
Arjuna tertawa. Ia duduk di kursi sebelah, menikmati kopi
yang dibuatkan Rania.
"Kek, aku mau tanya."
"Apa?"
"Gimana caranya jadi pemimpin yang baik?"
Amat memandang cucunya. Pertanyaan yang sama pernah ia
tanyakan pada dirinya sendiri puluhan tahun lalu.
"Jun, jadi pemimpin itu bukan soal pintar, bukan soal
hebat. Tapi soal mau mendengar, mau belajar, dan mau melayani."
Arjuna mengangguk.
"Dulu kakek belajar dari kesalahan. Dari server down,
dari tuduhan tidak netral, dari serangan hacker. Semua itu ngajarin kakek: kita
tidak bisa mengendalikan semuanya. Yang bisa kita kendalikan hanya diri
sendiri."
"Terus, gimana cara tetap tenang di tengah tekanan?"
Amat tersenyum. "Ingat, kamu tidak sendiri. Ada tim,
ada keluarga, ada warga. Kalau kamu merasa berat, bagi. Kalau kamu merasa
bingung, tanya. Kalau kamu merasa salah, perbaiki. Sederhana."
Arjuna merenung. "Makasih, Kek."
"Sama-sama, Jun. Kakek bangga sama kamu."
Mereka diam sejenak, menikmati malam. Dari kejauhan,
terdengar suara jangkrik dan kodok, harmoni malam yang selalu sama sejak
puluhan tahun lalu.
"Kek, dulu kakek pernah merasa takut dilupakan?"
tanya Arjuna tiba-tiba.
Amat berpikir. "Pernah. Waktu pertama pensiun, aku
merasa semua yang aku bangun akan hilang, dilupakan orang."
"Terus?"
"Terus aku sadar, warisan bukan tentang diingat.
Warisan adalah ketika sesuatu tetap berjalan meski kita sudah tidak di sana.
Lihat desa ini. Lihat sistem yang jalan. Lihat komunitas yang berkembang. Itu
warisan. Bukan namaku, tapi nilai-nilai yang aku tanamkan."
Arjuna mengangguk pelan.
"Jun, kamu tidak perlu takut dilupakan. Lakukan saja
yang terbaik. Sisanya, biar waktu yang bicara."
Esok harinya, ada acara besar di balai desa: Festival
Digital Desa Awan Biru. Acara tahunan yang digagas Arjuna untuk merayakan
kemajuan teknologi desa dan menginspirasi desa-desa lain.
Panggung megah didirikan di halaman balai desa. Ribuan
warga hadir. Ada stan-stan UMKM yang memamerkan produk digital mereka. Ada
workshop-workshop teknologi. Ada lomba konten kreator. Ada hiburan musik.
Arjuna membuka acara dengan sambutan. Di panggung, ia
tampil percaya diri, memaparkan capaian-capaian desa selama setahun terakhir.
Herman, Bambang, Anita, Erlangga—semua naik panggung secara
bergantian, mempresentasikan program masing-masing. Warga bertepuk tangan
bangga.
Amat duduk di barisan depan, bersama Rania. Di sampingnya,
Iwan dan Yuni juga hadir. Di belakang, cucu-cucu mereka duduk dengan bangga.
Saat sesi penghargaan tiba, Arjuna berkata, "Ada satu
orang yang pantas mendapat penghargaan khusus hari ini. Beliau adalah yang
memulai semua ini. Tanpa beliau, mungkin kita tidak akan ada di sini."
Semua menoleh ke arah Amat.
"Kakek, tolong naik ke panggung."
Amat terkejut. Ia tidak menyangka. Dengan dibantu Arjuna,
ia naik ke panggung pelan-pelan.
Arjuna mengambil mikrofon. "Kakek, saya mewakili
seluruh warga Desa Awan Biru, ingin memberikan penghargaan ini. Bukan
penghargaan resmi, tapi penghargaan dari hati."
Ia menyerahkan sebuah plakat sederhana. Di atasnya
tertulis:
"UNTUK KAKEK AMAT
PELOPOR DIGITAL, PEMBANGUN DESA, PANUTAN GENERASI"
Amat membaca, matanya berkaca-kaca. Ia memandangi ribuan
wajah di depannya. Wajah-wajah yang dikenalnya: ada yang tua, ada yang muda,
ada yang masih kecil.
"Terima kasih," ucapnya dengan suara bergetar.
"Terima kasih untuk semuanya. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa.
Yang membuat desa ini hebat adalah kalian semua. Generasi muda, teruslah
berkarya. Yang tua, teruslah memberi semangat. Yang kecil, kelak kalian yang
akan melanjutkan."
Tepuk tangan bergemuruh. Beberapa orang menangis haru.
Amat turun dari panggung, kembali ke kursinya. Rania
memeluknya.
"Kamu lihat, Mat? Mereka tidak melupakanmu."
Amat tersenyum, air mata mengalir di pipinya. "Bukan
aku yang mereka ingat. Tapi nilai-nilai yang aku perjuangkan."
Beberapa hari setelah festival, Iwan datang berkunjung. Ia
kini berusia 70 tahun, rambutnya putih semua, jalannya sudah lambat. Tapi
senyumnya masih sama.
"Mat, lagi ngapain?" sapa Iwan.
"Lagi baca buku. Lo bawa apa?"
"Nggak bawa apa-apa. Hanya diri sendiri."
Mereka tertawa. Duduk di beranda seperti biasa.
"Gimana kabarmu, Wan?"
"Sehat. Tua. Kadang lupa ini-itu."
"Sama. Kita sudah di usia itu."
Iwan memandangi desa di kejauhan. "Mat, kadang aku
nggak percaya. Lihat desa ini. Dulu kita kecil, jalan becek, listrik mati
nyala. Sekarang?"
"Sekarang sudah kayak kota kecil."
"Bukan kecil. Desa maju."
Mereka diam sejenak.
"Mat, aku mau bilang sesuatu."
"Apa?"
"Makasih. Makasih udah memilih pulang. Dulu waktu kamu
pulang, aku senang. Tapi aku nggak pernah bilang. Sekarang, setelah sekian
tahun, aku lihat hasilnya. Kamu bikin perubahan besar."
Amat tersenyum. "Aku nggak sendiri, Wan. Ada lo, ada
Yuni, ada Eko, ada semuanya."
"Tapi kamu yang memulai. Kamu yang paling keras
kepala."
Mereka tertawa.
"Lo tahu, Mat? Dulu aku pikir, teknologi itu hanya
alat. Tapi setelah lihat semua ini, aku sadar: teknologi itu bisa jadi nyawa
kalau dikelola dengan hati. Dan lo yang ngajarin itu."
Amat terharu. "Makasih, Wan."
Mereka berpelukan. Dua sahabat yang telah melewati setengah
abad bersama.
Malam harinya, saat Amat membaca di kamar, Rania sibuk di
dapur. Ia membuat kue kesukaan Amat: pisang goreng.
Aroma pisang goreng tercium hingga ke kamar. Amat keluar,
menghampiri dapur.
"Ra, kamu bikin pisang goreng?"
"Iya. Biar kamu ingat masa muda."
Amat tersenyum. "Dulu, waktu PDKT, kamu sering bawa
pisang goreng ke kantor."
"Ingat, ya?"
"Ingat. Waktu itu aku kagum. Istri calon, pinter bikin
kue."
Rania tertawa. "Istri calon? Belum jadi istri."
"Tapi udah dipesen."
Mereka tertawa. Suasana hangat.
Amat mengambil satu potong pisang goreng, menggigitnya.
Rasanya masih sama seperti dulu. Hangat, manis, dan penuh cinta.
"Ra, kamu nggak pernah berubah. Dari dulu sampai
sekarang, masakanmu selalu enak."
"Kamu juga nggak pernah berubah. Dari dulu sampai
sekarang, selalu pujian."
Mereka tersenyum.
Setelah makan pisang goreng, mereka duduk di ruang tamu.
Lampu ruangan temaram, menciptakan suasana damai.
"Ra, kita sudah bersama 40 tahun lebih, ya?"
"40 tahun 3 bulan, kalau hitung sejak nikah."
"Kamu hafal?"
"Istri harus hafal."
Amat tertawa. "Aku bahkan lupa tanggal lahir
sendiri."
"Tanggal 17 Agustus. Gampang diingat. Sama kayu hari
kemerdekaan."
"Oh, iya. Lupa."
Rania menggeleng-geleng. "Sudah tua, lupa di
mana-mana."
"Tapi nggak lupa sama kamu."
Rania tersenyum. "Itu yang penting."
Akhir pekan tiba. Rumah Amat ramai kembali. Arjuna datang
bersama Kirana dan anak pertama mereka, seorang bayi laki-laki berusia 6 bulan.
Herman datang dengan Yulia dan Naila, yang kini berusia 5 tahun. Bambang dan
Diana juga mampir, membawa Kirana—yang kini sudah 7 tahun.
Rumah yang biasanya sunyi, tiba-tiba penuh dengan suara
anak-anak. Naila berlarian di halaman. Kirana asyik menggambar di teras. Bayi
Arjuna digendong-gendong oleh semua orang.
Amat duduk di kursi, memandangi semua itu dengan senyum.
Rania sibuk di dapur, menyiapkan makan siang.
"Kek, lihat, Kirana bisa gambar rumah," teriak
Kirana sambil menunjukkan gambarnya.
"Wah, bagus. Rumahnya mirip rumah kakek."
"Iya, itu rumah kakek."
Amat terharu. "Makasih, Na."
Naila mendekat, naik ke pangkuan Amat. "Kek,
cerita."
"Cerita apa?"
"Cerita tentang waktu kakek kecil."
Amat pun bercerita tentang masa kecilnya. Tentang radio
yang dibongkarnya. Tentang televisi satu-satunya di balai desa. Tentang
lapangan tanah tempat bermain bola. Tentang susahnya dapat sinyal internet.
Naila dan Kirana mendengarkan dengan saksama. Sesekali
tertawa, sesekali bertanya.
"Kek, dulu nggak ada game online, ya?"
"Tidak ada."
"Terus main apa?"
"Main bola, main petak umpet, main kelereng. Seru
juga."
Naila mengernyit. "Kelereng? Apa itu?"
Amat tertawa. "Nanti kakek kasih lihat. Masih ada di
lemari."
Makan siang tiba. Semua duduk bersama di meja besar. Rania
menyajikan masakan kesukaan keluarga: ayam goreng, sayur asem, sambal terasi,
dan tentu saja pisang goreng.
Suasana hangat dan penuh tawa. Anak-anak berebut lauk.
Orang tua bercerita tentang pekerjaan. Kakek-nenek tersenyum bahagia.
Setelah makan, saat semua sudah pulang, Amat duduk di
beranda. Rania duduk di sampingnya.
"Capek?" tanya Rania.
"Capek. Tapi senang."
"Itu yang penting. Senang."
Amat memandangi langit senja. Warna jingga mulai muncul di
ufuk barat.
"Ra, aku tidak takut lagi."
"Takut apa?"
"Takut sepi. Karena setelah ramai begini, aku tahu
mereka akan kembali."
Rania tersenyum. "Itu artinya kamu sudah
berdamai."
"Iya. Dengan sunyi, dengan waktu, dengan diri
sendiri."
Setiap pagi, rutinitas Amat sama: ke kebun. Ia menyiram
tanaman, memupuk, membersihkan gulma. Kebun itu kini menjadi dunianya.
Suatu pagi, saat sedang mencangkul, Arjuna datang. Ia ikut
turun ke kebun, membantu kakeknya.
"Kek, aku bantu."
"Boleh. Tapi hati-hati, cangkulnya berat."
Arjuna mencangkul dengan semangat. Meski keringat
bercucuran, ia tetap tersenyum.
"Kek, kenapa suka berkebun?"
"Karena tanaman tidak pernah mengeluh. Mereka hanya
perlu air, sinar, dan perhatian. Sama seperti manusia."
Arjuna merenung.
"Kamu lihat pohon mangga itu? Dulu kakek tanam waktu
ibumu masih kecil. Sekarang sudah besar, berbuah lebat setiap tahun. Itu
pelajaran: apa yang kita tanam, akan kita tuai."
"Tapi butuh waktu lama, Kek."
"Iya. Tapi waktu itu akan terbayar. Seperti desa ini.
Kakek tanam ide-ide, sistem, nilai-nilai. Butuh puluhan tahun untuk berbuah.
Tapi lihat sekarang."
Arjuna mengangguk. "Aku mengerti, Kek."
Mereka bekerja bersama hingga matahari naik tinggi. Lalu
duduk di bawah pohon mangga, menikmati hasil kebun: jambu air yang ranum dan
mangga muda yang masih asam.
"Ini yang paling enak, Kek. Makan buah langsung dari
pohon."
"Iya. Tidak ada yang bisa mengalahkan itu."
Suatu malam, Rania terbaring lemah di tempat tidur. Demam
tinggi. Amat panik. Ia segera menelepon Erlangga.
"Lang, Ibu sakit. Demam tinggi."
"Saya segera ke sana, Pak."
Erlangga datang dalam 10 menit. Ia memeriksa Rania dengan
saksama.
"Tidak apa-apa, Pak. Hanya flu biasa. Tapi karena
usia, harus dirawat baik-baik."
Amat lega, tapi tetap khawatir. Ia duduk di samping Rania
sepanjang malam, memegang tangannya.
"Ra, kamu nggak apa-apa?" tanyanya setiap
beberapa menit.
Rania tersenyum lemah. "Aku baik-baik saja, Mat.
Istirahat."
"Tapi aku khawatir."
"Jangan khawatir. Aku kuat."
Malam itu, Amat tidak tidur. Ia terus menjaga istrinya,
sesekali mengompres, sesekali memberikan air. Baru saat subuh, ia tertidur di
kursi.
Pagi harinya, Rania sudah membaik. Ia melihat Amat tertidur
di kursi, tangannya masih memegang tangannya.
"Mat... Mat..." panggilnya lembut.
Amat terbangun. "Ra! Kamu gimana?"
"Aku sudah baikan. Kamu capek?"
"Tidak capek. Yang penting kamu sehat."
Rania tersenyum. "Kamu suamiku yang terbaik."
Amat tersenyum. "Kamu istriku yang terbaik."
Mereka berpelukan.
Tujuh tahun telah berlalu sejak pensiun. Amat kini berusia
63 tahun. Rambutnya putih semua, jalannya mulai lambat, sesekali sakit-sakitan.
Tapi matanya masih tajam, pikirannya masih jernih.
Ia menghabiskan hari-harinya dengan rutinitas sederhana:
pagi menyiram kebun, siang membaca atau menulis, sore duduk di beranda, malam
menonton televisi atau mengobrol dengan Rania.
Rumahnya masih sama: sederhana, sedikit kusam, tapi hangat.
Kursi kayu di beranda masih setia menemani. Kebun di belakang masih terawat.
Pohon mangga masih berbuah lebat setiap tahun.
Anak dan cucu sering berkunjung. Anita dan Erlangga datang
setiap akhir pekan, membawa oleh-oleh. Arjuna dan Kirana mampir setiap ada
kesempatan, kadang hanya untuk duduk-duduk sebentar. Herman dan Yulia juga
sering datang, terutama saat Naila ingin main ke rumah kakek buyutnya.
Suatu sore, Amat duduk di beranda sendirian. Rania sedang
di dapur menyiapkan makan malam. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, melukis
langit dengan warna jingga keemasan.
Senja yang sama seperti 63 tahun lalu, saat ia lahir dalam
badai. Kini, badai telah lama reda. Yang tersisa adalah ketenangan.
Ia memandangi desa di kejauhan. Dari sini, ia bisa melihat
puncak-puncak rumah yang menjulang, lampu-lampu yang mulai menyala satu per
satu, dan balai desa yang megah di tengah.
"Desa yang indah," gumamnya.
Rania keluar, duduk di sampingnya. "Masih
melamun?"
"Bukan melamun. Bersyukur."
"Bersyukur apa?"
"Bersyukur bisa melihat semua ini. Desa yang maju,
anak-anak yang sukses, cucu-cucu yang lucu. Dan kamu, di sampingku."
Rania tersenyum. "Kita sudah bersama 40 tahun, Mat.
Masih romantis juga."
"Romantis itu bukan soal usia. Tapi soal hati."
Mereka tertawa kecil.
"Ra, aku sudah tidak takut lagi."
"Takut apa?"
"Takut dilupakan. Karena aku sadar, warisan bukan
tentang nama yang diingat. Warisan adalah ketika nilai tetap hidup meski kita
duduk lebih jauh dari panggung."
Rania memegang tangannya. "Kamu bijak, Mat."
"Bukan bijak. Tua."
Mereka tertawa lagi.
Dari dalam rumah, telepon berdering. Rania masuk
mengangkatnya. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan senyum.
"Mat, Arjuna tadi telepon. Dia mau mampir sebentar.
Katanya mau ngobrol."
"Ngobrol apa?"
"Entahlah. Mungkin mau minta nasihat."
Amat tersenyum. "Lihat, Ra. Masih ada yang butuh
nasihatku."
"Itu artinya kamu masih berarti."
Matahari semakin rendah. Senja semakin dalam. Arjuna akan
segera datang. Dan rumah di ujung desa itu akan kembali ramai.
Tapi setelah itu, sunyi akan kembali menyapa. Sunyi yang
tidak lagi menakutkan, sunyi yang menjadi teman, sunyi yang mengingatkan bahwa
hidup adalah siklus: ramai dan sunyi, muda dan tua, datang dan pergi.
Amat memandangi langit senja. Ia teringat kata-kata yang
ditulisnya puluhan tahun lalu di blog pertama:
"Kami memang jauh dari kota. Tapi kami punya langit
paling luas dan orang-orang paling keras kepala untuk bertahan."
Kini, langit itu masih sama luasnya. Dan orang-orang
itu—mereka tidak hanya bertahan, tapi berjaya.
Di rumah sederhana dengan kebun kecil di belakangnya,
di samping Rania yang setia,
Amat akhirnya berdamai dengan sunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak pensiun,
ia tidak merasa kosong.
Ia merasa cukup.
Ia merasa utuh.
Ia merasa... di rumah.
BAB X
"Jejak Senja di Ujung Desa"
Pagi itu, Desa Awan Biru bangun dengan cara yang sama
seperti tujuh tahun terakhir: ayam berkokok, burung berkicau, dan matahari naik
perlahan dari balik bukit. Namun bagi siapa pun yang hanya mengenal desa ini
tiga puluh tahun lalu, pemandangan pagi ini akan terasa seperti mimpi.
Jalan-jalan desa kini mulus beraspal hitam, dengan marka
putih yang masih terlihat jelas. Di sepanjang jalan, lampu-lampu tenaga surya
berjajar rapi, siap menyala otomatis saat malam tiba. Trotoar untuk pejalan
kaki dibangun di kedua sisi, dengan pohon-pohon peneduh yang ditata apik.
Rumah-rumah warga tak lagi berupa papan reyot. Kebanyakan
sudah bangunan permanen, dengan dinding bata dan atap genteng. Halaman-halaman
tertata rapi, beberapa bahkan memiliki taman kecil dengan bunga-bunga
warna-warni.
Di pusat desa, kantor desa berdiri megah dengan fasad kaca
dan panel surya di atapnya. Bangunan dua lantai ini dirancang oleh arsitek muda
lulusan ITB—anak desa yang pulang setelah sukses di kota. Dinding depannya
dihiasi mozaik karya seniman lokal, menggambarkan perjalanan desa dari masa
lalu hingga masa kini.
Di halaman kantor, sebuah tiang bendara menjulang tinggi,
dengan bendera merah putih berkibar gagah. Di sampingnya, papan informasi
digital menampilkan berbagai pengumuman dan jadwal kegiatan.
Balai desa—yang dulu hanya bangunan papan sederhana dengan
televisi satu-satunya—kini telah direnovasi total. Bangunannya modern, dengan
layar digital besar di fasad depannya. Di dalam, tersedia WiFi publik
berkecepatan tinggi, ruang serbaguna ber-AC, dan yang paling
membanggakan: Ruang Server Desa.
Ruang server itu berukuran sekitar 4x5 meter, ber-AC khusus
dengan suhu terjaga 18 derajat Celsius. Di dalamnya, deretan rak server
tersusun rapi, lampu-lampu indikator berkedip-kedip seperti bintang di malam
hari. Semua data desa tersimpan di sini, dengan sistem backup otomatis ke cloud
nasional.
Di gerbang masuk desa, sebuah papan besar berdiri megah.
Tulisan timbul berwarna emas dengan latar biru langit terpampang jelas:
"DESA AWAN BIRU – MODEL NASIONAL TRANSFORMASI DIGITAL
BERBASIS KOMUNITAS"
Di bawahnya, terpampang logo-logo: Kementerian Desa PDTT,
Pemerintah Provinsi, Kabupaten Awan Jingga, dan beberapa lembaga mitra.
Nama itu—Desa Awan Biru—pernah hanya mimpi di kepala
seorang anak kecil yang membongkar radio. Kini menjadi kenyataan yang bisa
dilihat, diraba, dan dibanggakan.
Di rumah sederhana di ujung desa, Amat duduk di kursi kayu
di beranda. Usianya 67 tahun. Rambutnya putih semua, wajahnya dipenuhi kerutan,
tubuhnya mulai membungkuk. Namun matanya masih sama: tajam, penuh rasa ingin
tahu, meski kini ada lapisan kedamaian di sudut-sudutnya.
Ia memandangi desa yang telah berubah total. Dari tempatnya
duduk, ia bisa melihat puncak-puncak bangunan baru, panel-panel surya yang
berkilau diterpa matahari, dan balai desa yang megah di tengah.
"Dulu kita cuma punya modem rebutan," gumamnya
pelan. "Sekarang... lihatlah."
Rania keluar dari dapur, membawa dua gelas jus jambu—buah
dari kebun belakang. Usianya 64 tahun, rambutnya juga putih, tapi senyumnya
masih sama seperti dulu.
"Masih melamun?" tanyanya sambil menyodorkan jus.
Amat menerimanya, menyeruput pelan. "Bukan melamun.
Bersyukur."
"Bersyukur apa?"
"Bersyukur bisa melihat semua ini. Desa yang dulu
gelap, kini terang. Desa yang dulu tertinggal, kini jadi model nasional. Dan
aku... aku masih di sini, bisa melihatnya."
Rania duduk di sampingnya. "Kamu yang memulai semua
ini, Mat."
"Bukan aku. Kita. Semua orang."
"Tapi kamu yang pertama percaya."
Amat tersenyum. Mungkin istrinya benar. Tapi ia tidak ingin
sombong. Ia hanya merasa bersyukur.
Meski usianya sudah lanjut, Amat masih suka mampir ke balai
desa. Bukan untuk bekerja, tapi untuk melihat-lihat, mengobrol dengan anak-anak
muda, atau sekadar duduk di pojok ruang digital sambil membaca buku.
Ruang digital kini lebih ramai dari sebelumnya. Puluhan
anak muda duduk di depan komputer, asyik dengan aktivitas masing-masing. Ada
yang mendesain, ada yang coding, ada yang mengedit video, ada yang sekadar
browsing.
Joko—yang kini berusia 38 tahun—menjadi koordinator ruang
digital. Rambutnya mulai tipis, perutnya sedikit buncit, tapi semangatnya masih
seperti dulu.
"Pak Amat! Mari duduk," sambutnya begitu melihat
Amat masuk.
Amat tersenyum. "Hanya mampir, Jo. Mau
lihat-lihat."
"Silakan. Ini semua berkat bapak."
Amat berjalan pelan, memandangi anak-anak muda yang asyik
belajar. Beberapa menyapanya, beberapa hanya mengangguk hormat. Ia sampai di
etalase kaca di sudut ruangan—museum kecil tempat barang-barang bersejarah
dipajang.
Di sana, laptop bekasnya dengan tombol "E" yang
harus ditekan keras tergeletak di rak paling atas. Di sampingnya, modem USB
pertama yang dulu jadi andalan. Juga mesin ketik Pak Surono yang sudah pensiun.
Amat memandangi barang-barang itu lama. Laptop itu—pernah
menjadi satu-satunya senjatanya dalam membangun sistem desa. Tombol
"E"-nya yang harus ditekan keras, baterainya yang hanya tahan
setengah jam, layarnya yang mulai buram. Tapi dari sanalah semuanya bermula.
"Kenangan," gumamnya.
Seorang anak muda—mungkin 17 tahun—mendekat. "Pak
Amat, itu laptop bapak?"
"Iya, Nak. Dulu saya pakai itu selama
bertahun-tahun."
"Kok kecil sekali? Sekarang laptop lebih tipis dan
lebih cepat."
Amat tertawa. "Iya, zaman berubah. Tapi dari laptop
itulah website desa pertama dibuat."
Anak itu membelalak. "Hebat banget, Pak."
"Bukan hebat. Nekat."
Mereka tertawa bersama.
Arjuna kini telah menjabat sebagai kepala desa selama empat
tahun. Usianya 36 tahun, matang dan berpengalaman. Di bawah kepemimpinannya,
desa semakin maju.
Program-program inovatif bermunculan:
1.
Sekolah Digital Gratis – Anak-anak desa bisa belajar coding, desain, dan
digital marketing gratis, dibimbing oleh tim komunitas IT.
2.
Pasar Tani Online – Petani bisa menjual hasil panen langsung ke
konsumen tanpa perantara, dengan harga lebih baik.
3.
Klinik Digital
Terintegrasi – Semua data
kesehatan terpusat, memudahkan penanganan pasien dan pencegahan penyakit.
4.
Bank Sampah Digital – Warga bisa menukar sampah dengan poin yang bisa
digunakan untuk belanja di warung desa.
5.
Layanan Administrasi 24
Jam – Semua surat bisa diurus online kapan saja, tanpa
harus datang ke kantor.
Arjuna juga aktif menjalin kerja sama dengan pihak luar.
Beberapa perusahaan teknologi membuka cabang pelatihan di desa.
Universitas-universitas menjadikan desa sebagai lokasi penelitian. Bahkan ada
investor yang tertarik menanamkan modal untuk pengembangan UMKM.
Namun di balik semua kesuksesan itu, ujian besar menanti.
Suatu sore, langit Desa Awan Biru berubah mendadak. Dari
arah barat, awan hitam menggumpal cepat. Angin mulai bertiup kencang,
menderu-deru seperti suara marah.
Amat yang sedang duduk di beranda, langsung berdiri. Ia
mengenali tanda-tanda ini—sama seperti malam kelahirannya dulu. Tapi kali ini,
ia tidak lagi muda.
"Ran, cepat masuk! Angin kencang!" teriaknya.
Rania berlari masuk. Mereka berdua berlindung di dalam
rumah, mendengar deru angin yang semakin keras.
Di luar, pohon-pohon tumbang. Atap rumah beterbangan. Kabel
listrik putus, memercikkan bunga api. Beberapa bangunan rusak parah.
Puting beliung melanda Desa Awan Biru dan desa-desa
sekitarnya. Hanya sepuluh menit, tapi kerusakannya luar biasa.
Setelah angin reda, Amat keluar. Yang dilihatnya membuat
hatinya hancur.
Balai desa—yang baru direnovasi—kini retak di beberapa
sisi. Atapnya bolong, kaca-kacanya pecah. Ruang digital berantakan,
komputer-komputer berserakan. Panel surya di atap kantor desa rusak parah.
Di sepanjang jalan, pohon-pohon tumbang melintang.
Rumah-rumah warga rusak. Beberapa bahkan roboh.
Amat tertegun. "Ya Allah... ini lebih buruk dari
server down."
Rania memegang tangannya. "Mat... gimana ini?"
Amat tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa berdoa.
Di tengah kekacauan, Arjuna tampil sebagai pemimpin sejati.
Dengan cepat, ia mengerahkan seluruh sumber daya.
"Prioritas evakuasi dulu! Data bisa kita pulihkan.
Nyawa tidak!" teriaknya di hadapan tim.
Ruang Komunitas Digital—meski rusak—segera disulap menjadi
pusat koordinasi darurat. Bambang dan Anita mengatur logistik. Herman mengelola
data korban dan kerusakan. Anjelina dan tim medis menangani yang terluka.
Remaja-remaja seperti Joko (bukan Joko yang dulu, tapi Joko
muda, 20 tahun), Hendro (22 tahun), dan Titik (19 tahun) bahu-membahu membantu.
Mereka menggunakan aplikasi pelaporan cepat yang dulu dirancang generasi Amat
untuk mendata kerusakan.
Dalam hitungan jam, data terkumpul: 50 rumah rusak ringan,
20 rusak berat, 5 roboh total. 30 orang luka-luka, 2 kritis. Beruntung, tidak
ada korban jiwa.
Arjuna melaporkan data itu ke pemerintah kabupaten dan
provinsi. Bantuan segera turun.
Tiga hari kemudian, keadaan mulai terkendali. Pengungsi
ditempatkan di tenda-tenda darurat. Dapur umum didirikan. Logistik
terdistribusi.
Arjuna berdiri di depan warga yang berkumpul di halaman
balai desa yang rusak.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, kita baru saja melewati ujian
besar. Tapi lihat, kita masih berdiri. Kita tidak runtuh. Kita belajar. Dan
kita akan bangkit lebih kuat."
Warga bertepuk tangan. Beberapa menangis haru.
Amat, yang duduk di kursi roda karena kakinya mulai lemah,
menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca. "Dia sudah siap," bisiknya
pada Rania.
Enam bulan setelah puting beliung, Desa Awan Biru bangkit
lebih kuat dari sebelumnya.
Bantuan pemerintah dan donasi dari berbagai pihak mengalir
deras. Rumah-rumah warga dibangun kembali dengan desain yang lebih tahan
bencana. Balai desa direnovasi total, dengan struktur yang lebih kokoh.
Ruang digital dibangun ulang dengan peralatan baru, lebih
canggih dari sebelumnya. Server-server yang rusak diganti dengan yang lebih
canggih, dengan sistem backup otomatis ke tiga lokasi berbeda.
Panel surya dipasang ulang, kali dengan kapasitas lebih
besar, sehingga desa bisa mandiri energi.
Arjuna memimpin langsung proses rekonstruksi. Ia turun ke
lapangan, memantau setiap tahap pembangunan, memastikan tidak ada yang
terlewat.
Suatu sore, saat pembangunan hampir selesai, Amat diajak
Arjuna melihat balai desa yang baru.
"Kek, lihat. Ini balai desa baru. Lebih kuat, lebih
modern."
Amat memandangi bangunan itu. Fasad kacanya berkilau,
atapnya kokoh, dan di depannya, sebuah layar digital besar menampilkan
informasi desa.
"Cantik," gumamnya. "Jauh berbeda dari balai
desa zaman dulu."
"Zaman dulu bagaimana, Kek?"
"Dulu cuma bangunan papan, lantai semen retak, dan
satu televisi hitam putih yang gambarnya sering hilang. Tapi dari sanalah kita
mulai. Dari menonton TV bersama, sampai punya ruang digital seperti ini."
Arjuna tersenyum. "Kakek hebat."
"Bukan hebat. Tapi tidak pernah menyerah."
Mereka masuk ke dalam. Amat melihat ruang digital yang
baru. Komputer-komputer canggih berjajar rapi, dinding-dindingnya dihiasi
poster motivasi, dan di sudut ruangan, etalase kaca dengan barang-barang
bersejarah masih ada.
Laptop bekasnya masih di sana. Modem USB pertama masih
tergeletak. Mesin ketik Pak Surono masih setia menemani.
"Kakek, kami pajang terus barang-barang itu. Biar
generasi muda tahu sejarah," kata Arjuna.
"Bagus. Mereka harus tahu dari mana mereka
berasal."
Dua tahun setelah puting beliung, kabar duka datang. Pak
Iwan—sahabat seperjuangan Amat, mantan kepala desa dua periode—wafat di usia 75
tahun.
Beliau meninggal dengan tenang di rumahnya, dikelilingi
keluarga. Penyebabnya adalah komplikasi usia tua.
Berita itu menggegerkan desa. Iwan adalah tokoh yang sangat
dihormati. Bersama Amat, ia membangun desa dari masa-masa sulit hingga menjadi
seperti sekarang.
Pemakaman digelar dengan khidmat. Ribuan warga hadir,
berduyun-duyun mengantarkan ke peristirahatan terakhir.
Amat datang dengan kursi roda, didorong Rania. Di depan pusara,
ia berhenti lama. Matanya basah.
"Dulu kita cuma punya modem satu, Wan," bisiknya
lirih. "Kita rebutan sinyal, rebutan ide, kadang rebutan pendapat. Tapi
kita selalu bersama."
Ia menghela napas. "Sekarang desamu jadi model
nasional. Lihat, semua orang datang. Mereka menghormatimu."
Air matanya jatuh. "Selamat jalan, sahabat. Doakan
kami yang masih di sini."
Rania memegang bahunya. "Ayo, Mat. Iwan sudah
tenang."
Di balai desa, foto Iwan dipajang dengan pita hitam. Di
bawahnya, tertulis:
"IR. IWAN SETIAWAN
KEPALA DESA AWAN BIRU 2010–2022
PEMBANGUN, PEMIMPIN, PANUTAN"
Amat pulang dengan langkah berat. Untuk pertama kalinya, ia
benar-benar merasa generasinya mulai menepi. Satu per satu sahabat seperjuangan
pergi. Yang tersisa tinggal kenangan.
Setelah kepergian Iwan, Amat semakin sering menghabiskan
waktu di balai desa. Bukan untuk bekerja, tapi untuk duduk-duduk, mengamati,
dan sesekali bercanda dengan anak-anak muda.
Di usia 69 tahun, ia sudah tidak bisa banyak bergerak.
Kakinya lemah, napasnya sering sesak. Tapi semangatnya masih menyala.
Setiap pagi, setelah sarapan, ia minta diantar ke balai
desa. Rania atau salah satu cucu akan mendorong kursi rodanya. Ia akan duduk di
pojok ruang digital, memandangi anak-anak muda yang asyik belajar.
Kadang ia diajak ngobrol. Kadang ia hanya diam, menikmati
suasana.
Suatu hari, saat duduk di pojok, ia melihat seorang anak
kecil—mungkin 5 tahun—asyik bermain tablet. Anak itu membuka aplikasi belajar
membaca, menekan layar dengan jari mungilnya.
Amat tersenyum. "Nak, kamu belajar apa?"
Anak itu menoleh. "Belajar baca, Kek."
"Wah, hebat. Dulu kakek belajar baca di pasir. Pakai
ranting."
Anak itu membelalak. "Di pasir? Kok bisa?"
"Iya, dulu belum ada tablet. Kakek belajar dari
seorang kakak yang baik hati. Dia nulis huruf di pasir, kakek niruin."
"Seru, Kek?"
"Seru banget. Tapi kotor."
Anak itu tertawa. Amat ikut tertawa.
Di meja sebelah, sekelompok remaja sedang berdiskusi soal
coding. Joko—yang 20 tahun—sedang menjelaskan tentang algoritma.
"Jadi, algoritma itu langkah-langkah logis untuk
menyelesaikan masalah. Misalnya, kalau mau bikin kopi, langkahnya: siapkan
gelas, masukkan kopi, tambah gula, tuang air panas, aduk."
Seorang remaja bertanya, "Kalau mau bikin website,
algoritmanya gimana?"
"Lebih kompleks. Tapi intinya sama: kita harus tahu
langkah-langkahnya dulu, baru nulis kode."
Amat mendengarkan dari jauh. Ia tersenyum. Dulu ia
mengajari generasi pertama dengan sabar. Kini generasi kedua mengajari generasi
ketiga. Estafet berjalan alami.
Generasi ketiga Desa Awan Biru kini mulai menunjukkan
taringnya.
Joko (bukan Joko yang
dulu, tapi Joko baru, 20 tahun) adalah anak dari Herman dan Yulia. Ia mewarisi
bakat ayahnya di bidang IT, tapi lebih tertarik pada kecerdasan buatan (AI). Ia
sedang mengembangkan aplikasi untuk deteksi dini penyakit tanaman menggunakan
AI, bekerja sama dengan petani desa.
Hendro (22 tahun) adalah
anak dari Bambang dan Diana. Ia jago di bidang jaringan dan keamanan siber.
Setelah lulus SMK, ia langsung bekerja sebagai network engineer di perusahaan teknologi
di kabupaten, tapi setiap akhir pekan pulang untuk mengajari anak-anak desa.
Titik (19 tahun) adalah
anak dari Ani—salah satu warga biasa—yang sejak kecil menunjukkan bakat di
bidang desain. Ia sekarang menjadi desainer grafis andalan desa, membuat
konten-konten menarik untuk media sosial dan website desa.
Mereka bertiga sering disebut "Tiga Serangkai"
oleh warga. Mereka adalah simbol bahwa regenerasi berjalan dengan baik.
Suatu sore, Amat mengobrol dengan mereka bertiga di ruang
digital.
"Kalian hebat," katanya. "Di usia muda sudah
punya prestasi."
Joko tersenyum. "Semua berkat bapak, Pak. Bapak yang
membangun pondasinya."
Hendro menambahkan. "Iya, Pak. Kalau bapak dulu tidak
memulai, mungkin kami masih sibuk main game."
Amat menggeleng. "Bukan aku. Tapi orang tua kalian.
Mereka yang belajar, lalu mengajari kalian."
Titik tersenyum manis. "Pak Amat, saya mau
tanya."
"Apa, Nak?"
"Waktu bapak muda, apa yang bikin bapak semangat
terus?"
Amat berpikir sejenak. "Mungkin... rasa ingin tahu.
Saya selalu penasaran sama hal-hal baru. Waktu kecil, saya bongkar radio karena
penasaran ada orang di dalamnya. Waktu remaja, saya ke warnet karena penasaran
sama internet. Waktu dewasa, saya belajar bikin website karena penasaran bisa
atau tidak."
"Dan sekarang?"
"Sekarang? Sekarang saya penasaran sama kalian. Siapa
tahu dari kalian lahir ide-ide yang lebih besar."
Mereka tertawa. Tapi kata-kata Amat menggugah.
Suatu sore, Amat membuka lemari tua di rumahnya. Di
dalamnya, ia menemukan sesuatu yang sudah lama tidak dilihatnya: mesin ketik
tua yang dulu pernah dipakai kantor desa sebelum era komputer.
Mesin itu berdebu, beberapa tutsnya macet. Tapi ketika ia
mencoba menekan, suaranya masih sama: tak-tak-tak, seperti suara masa lalu.
Ia membawa mesin itu ke balai desa. Anak-anak muda langsung
mengerumuni.
"Wah, apa ini, Pak?" tanya Joko penasaran.
"Ini mesin ketik. Dulu, sebelum komputer, semua surat
diketik pakai ini."
Hendro memegangnya dengan hati-hati. "Ini kayak
printer manual, ya?"
Amat tertawa. "Bisa dibilang gitu. Tapi lebih ribet.
Kalau salah ketik, nggak bisa dihapus. Harus ulang dari awal."
Titik membelalak. "Serius? Berarti dulu orang lebih
sabar."
"Bukan sabar. Terpaksa."
Mereka semua tertawa.
Amat mendemonstrasikan cara menggunakan mesin ketik. Ia
memasukkan kertas, memutar rol, lalu mulai mengetik. Tak-tak-tak...
tak-tak-tak... Suara itu mengingatkannya pada masa lalu.
"Dulu, Pak Surono—kalian tidak kenal, beliau sudah
meninggal—adalah jagonya mesin ketik ini. Beliau bisa ngetik cepat tanpa salah.
Tapi beliau paling keras menolak komputer."
"Kenapa?" tanya Joko.
"Karena beliau takut perubahan. Tapi akhirnya, beliau
belajar juga. Dan jadi pengguna setia."
Anak-anak muda itu terpukau. Mereka belajar bahwa perubahan
itu tidak mudah, tapi harus dijalani.
Memasuki usia 69 tahun, tubuh Amat semakin melemah. Ia
lebih sering batuk, napasnya kadang pendek, dan kakinya hampir tidak bisa
digerakkan.
Erlangga—menantunya yang dokter—secara rutin memeriksanya.
Diagnosa: komplikasi usia tua, ditambah riwayat kelelahan semasa muda.
"Yah, harus istirahat total. Jangan banyak
aktivitas," pesan Erlangga.
Amat tersenyum. "Aku sudah istirahat total, Lang.
Duduk di kursi seharian."
"Iya. Tapi jangan terlalu banyak mikir. Itu juga
melelahkan."
Rania setia mendampinginya siang dan malam. Ia menyuapi,
memandikan, menemani ngobrol. Cinta yang tak pernah pudar.
Suatu malam, saat Rania duduk di samping tempat tidur, Amat
berkata pelan, "Ran... kalau nanti aku tidak ada, kamu jangan merasa
sendiri."
Rania tersentak. "Mat, jangan ngomong gitu."
"Aku serius, Ra. Kita sudah tua. Aku bisa pergi kapan
saja."
"Tapi aku belum siap."
"Nggak ada yang siap, Ra. Tapi hidup harus terus
jalan."
Rania menangis pelan. Amat memegang tangannya.
"Kita sudah melewati server down, fitnah, badai, dan
segalanya. Masa kalah sama waktu?"
Rania tersenyum tipis. "Iya, kita pasti bisa."
Tapi dalam hatinya, ia tahu waktu adalah lawan yang tidak
bisa dikalahkan.
Beberapa minggu sebelum usianya genap 70 tahun, Amat
meminta diantar ke ruang digital untuk terakhir kalinya.
Arjuna mendorong kursi rodanya pelan-pelan. Mereka melewati
halaman balai desa yang ramai, melewati taman tempat anak-anak bermain,
melewati papan informasi digital yang menampilkan berita terkini.
Di dalam ruang digital, suasana ramai seperti biasa. Anak-anak
muda asyik dengan aktivitas masing-masing. Begitu melihat Amat, mereka
berhenti, memberi hormat.
"Selamat sore, Pak Amat," sapa Joko.
Amat tersenyum. "Selamat sore, semuanya. Lanjutkan,
jangan berhenti karena saya."
Mereka kembali ke aktivitas masing-masing, tapi sesekali
melirik ke arah Amat.
Amat meminta Arjuna mendorongnya ke etalase kaca. Ia
memandangi laptop bekasnya, modem USB pertama, dan mesin ketik Pak Surono.
"Jun, kamu tahu kenapa barang-barang ini
penting?"
"Karena sejarah, Kek."
"Iya. Tapi lebih dari itu. Barang-barang ini
mengingatkan kita bahwa semua yang besar berawal dari yang kecil. Laptop ini
dulu jadi satu-satunya senjataku. Modem ini dulu jadi satu-satunya jalanku ke
dunia luar. Mesin ketik ini dulu jadi satu-satunya alat administrasi."
Ia menghela napas. "Sekarang, semuanya serba canggih.
Tapi jangan pernah lupa dari mana kita berasal."
Arjuna mengangguk. "Aku akan ingat, Kek."
Amat menatap cucunya. "Jun, kakek bangga sama kamu.
Kamu jadi pemimpin yang baik. Lebih baik dari kakek."
"Jangan gitu, Kek. Aku masih belajar."
"Teruslah belajar. Jangan pernah merasa paling
pintar."
Mereka berpelukan. Beberapa anak muda yang melihat ikut
terharu.
Pada suatu senja yang tenang, langit Desa Awan Biru
berwarna jingga lembut. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan
semburat warna keemasan di ufuk timur.
Amat duduk di kursi kayu di teras rumahnya—kursi yang sama
yang telah menemaninya puluhan tahun. Dari tempatnya, ia bisa melihat kebun
kecil yang ia rawat setiap hari. Pohon mangga masih berdiri kokoh, meski
buahnya tidak sebanyak dulu.
Rania duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Mereka
diam, menikmati senja.
Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak tertawa di balai
desa. Suara kehidupan, suara masa depan.
"Ran... dengar itu?" bisik Amat.
"Iya. Anak-anak bermain."
"Mereka generasi penerus. Mereka yang akan
melanjutkan."
Rania mengangguk. Matanya basah.
"Ran... aku mau bilang sesuatu."
"Apa, Mat?"
"Makasih. Makasih udah setia selama ini. Makasih udah
sabar. Makasih udah menjadi istri terbaik."
Rania menangis. "Mat, jangan kayak orang mau
pergi."
Amat tersenyum lemah. "Mungkin ini waktunya, Ra. Aku
capek."
"Tapi aku belum siap."
"Nggak ada yang siap, Ra. Tapi aku tenang. Aku lihat
desa ini maju. Lihat anak-anak kita sukses. Lihat cucu-cucu kita tumbuh. Aku
sudah cukup."
Rania memeluknya erat. Amat membalas pelukan itu lemah.
Nafasnya pelan. Matanya mulai berat.
"Ra... jaga diri... jaga anak-anak... dan jangan
lupa... siram kebun..."
"Aku akan, Mat. Aku akan."
Amat tersenyum. Matanya terpejam. Napasnya berhenti pelan,
tanpa gemuruh, tanpa drama.
Seperti senja yang perlahan memeluk malam.
Di usia 70 tahun, Amat pergi dengan tenang.
Kabar kepergian Amat menyebar cepat. Dari mulut ke mulut,
dari grup WhatsApp ke media sosial, dari desa ke kecamatan, hingga ke kabupaten
dan provinsi.
Keesokan harinya, ribuan warga berduyun-duyun ke rumah
duka. Mereka datang dengan wajah sedih, membawa bunga, membawa doa, membawa
kenangan.
Di halaman rumah, tenda-tenda didirikan untuk menampung
pelayat. Kursi-kursi plastik berjajar rapi. Pengeras suara memancarkan lantunan
ayat suci.
Anita menangis di samping jenazah ayahnya. Erlangga mencoba
menenangkan. Arjuna duduk termenung, matanya merah. Rania, dengan kekuatan luar
biasa, melayani pelayat dengan senyum getir.
Hari pemakaman, ribuan orang hadir. Jalan-jalan desa macet
oleh kendaraan peziarah. Mereka datang dari berbagai desa, berbagai kecamatan,
bahkan dari luar kabupaten.
Di pemakaman umum desa, Amat dimakamkan di samping makam
Iwan—sahabat seperjuangannya. Dua sahabat, kini bersanding dalam keabadian.
Arjuna membacakan sambutan terakhir.
"Kakek... terima kasih untuk semuanya. Terima kasih
sudah mengajari kami arti perjuangan. Terima kasih sudah memulai semua ini.
Kami janji, akan menjaga desa ini. Akan meneruskan apa yang kakek mulai.
Istirahatlah dengan tenang, Kek. Doa kami selalu menyertaimu."
Tangis pecah di antara pelayat.
Keesokan harinya, ketika warga membuka website Desa Awan
Biru, mereka mendapati tampilan yang berbeda. Latar halaman utama berubah
menjadi hitam putih. Di tengah, sebuah foto Amat tersenyum—foto saat ia
menerima penghargaan tingkat provinsi dulu.
Di bawah foto itu, tertulis:
"TERIMA KASIH, ADMIN PERTAMA KAMI"
In Memoriam: Ahmad Syaifullah (Amat)
*1956 – 2026*
Beliau bukan hanya pengelola website.
Beliau adalah fondasi transparansi.
Dari modem sederhana hingga desa model nasional,
jejaknya ada di setiap sistem yang kami jalankan hari ini.
Di bawah kepemimpinannya, desa ini belajar arti
keterbukaan.
Di bawah bimbingannya, generasi muda belajar arti teknologi.
Di bawah teladannya, kami semua belajar arti ketekunan.
Website ini mungkin dikelola oleh tim sekarang.
Tapi rohnya—roh transparansi, roh inovasi, roh pantang menyerah—
akan selalu menjadi miliknya.
Selamat jalan, Pak Amat.
Admin pertama, guru sejati, panutan abadi.
Dari seluruh warga Desa Awan Biru.
Kami tidak akan melupakanmu.
Artikel itu dibagikan ribuan kali. Media nasional ikut
memberitakan. Kisah Amat—anak desa yang memulai dari nol, membangun sistem
hingga diakui nasional—menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Tapi yang paling berarti adalah komentar-komentar dari
warga sendiri:
"Pak Amat yang ngajari saya bikin KTP online."
"Pak Amat yang sabar ngajarin saya komputer umur 60 tahun."
"Dulu saya benci dia, sekarang saya rindu."
"Selamat jalan, pahlawan desa."
Beberapa bulan kemudian, Desa Awan Biru kembali normal.
Kehidupan berjalan seperti biasa. Anak-anak muda masih sibuk di ruang digital.
Petani masih ke sawah. UMKM masih berjualan online.
Tapi di teras rumah sederhana di ujung desa, kursi kayu itu
kosong. Tak ada lagi sosok tua yang duduk memandangi senja.
Rania masih tinggal di rumah itu. Anak dan cucu bergantian
menjenguk. Ia kuat, meski kadang matanya berkaca-kaca saat melihat kursi kosong
itu.
Suatu sore, Arjuna datang. Ia duduk di kursi yang biasa
diduduki Amat.
"Nek, aku mau ngomong."
"Apa, Jun?"
"Nek, kakek itu... luar biasa. Aku baru sadar,
seberapa besar perjuangannya."
Rania tersenyum. "Iya, Jun. Kakekmu bukan orang hebat
di mata dunia. Tapi di mata kita, di mata desa ini, dia pahlawan."
"Aku akan teruskan perjuangannya, Nek."
"Kakekmu pasti bangga."
Mereka berpelukan.
Di kejauhan, matahari mulai terbenam. Langit berwarna
jingga keemasan. Senja yang sama seperti saat Amat lahir, saat Amat berjuang,
saat Amat pergi.
Malam harinya, Arjuna mengadakan pertemuan di balai desa.
Hadir semua perangkat desa, tokoh masyarakat, dan generasi muda.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, malam ini kita berkumpul bukan
untuk rapat biasa. Tapi untuk merenung dan berkomitmen."
Semua diam.
"Kita baru saja kehilangan seorang tokoh besar. Kakek
saya—Pak Amat—telah pergi. Tapi beliau meninggalkan warisan yang tak ternilai:
sistem yang transparan, generasi yang terdidik, dan semangat yang tak pernah
padam."
Ia berdiri, memandangi semua yang hadir.
"Saya berjanji, akan melanjutkan perjuangan beliau.
Bukan karena saya cucunya, tapi karena saya percaya pada apa yang beliau
perjuangkan: transparansi, inovasi, dan keberpihakan pada rakyat."
Tepuk tangan menggema.
Herman berdiri. "Arjuna, kami semua di belakangmu.
Desa ini akan terus maju."
Bambang menambahkan. "Kita akan jaga warisan Pak Amat.
Bukan hanya sistemnya, tapi nilai-nilainya."
Anita, meski masih berduka, ikut bicara. "Ayah saya
dulu sering bilang: 'Warisan bukan tentang diingat. Warisan adalah ketika
sesuatu tetap berjalan meski kita sudah tidak di sana.' Mari kita buktikan
itu."
Semua mengangguk.
Setahun setelah kepergian Amat, sebuah prasasti diresmikan
di halaman balai desa. Prasasti itu terbuat dari batu andesit hitam, dengan
ukiran nama dan tanggal.
Di atasnya tertulis:
AHMAD SYAIFULLAH (AMAT)
1956 – 2026
PELOPOR DIGITAL DESA AWAN BIRU
YANG MEMULAI DARI MODEM, BERAKHIR DI HATI RAKYAT
"Jangan pernah takut pada perubahan.
Yang perlu ditakutkan adalah ketika kita berhenti percaya
bahwa perubahan itu mungkin."
– Amat, 2020
Di bawah prasasti itu, sebuah kotak kaca memajang laptop
bekasnya, modem USB pertama, dan mesin ketik Pak Surono. Tiga benda bersejarah
yang menjadi saksi perjalanan.
Setiap tahun, pada tanggal kepergiannya, warga desa mengadakan
doa bersama di prasasti itu. Mereka mengenang, merenung, dan berkomitmen untuk
terus maju.
Joko—anak Herman—terus mengembangkan aplikasi AI-nya.
Setelah melalui uji coba panjang, aplikasi deteksi dini penyakit tanaman
akhirnya diluncurkan.
Aplikasi itu diberi nama "Amat-AI" —sebagai
penghormatan pada kakek buyutnya.
Fitur-fitur aplikasi:
1.
Deteksi Penyakit – Petani bisa memotret tanaman yang sakit, aplikasi
akan mendeteksi penyakit dan memberi rekomendasi pengobatan.
2.
Prakiraan Cuaca – Terintegrasi dengan BMKG, memberi info cuaca dan
waktu tanam yang tepat.
3.
Harga Pasar – Update harga komoditas pertanian secara real-time.
4.
Forum Tani – Tempat diskusi dan berbagi pengalaman antar petani.
5.
Konsultasi Online – Petani bisa berkonsultasi dengan penyuluh pertanian
melalui video call.
Aplikasi itu diunduh ribuan petani di seluruh kabupaten.
Produktivitas pertanian meningkat drastis.
Joko, di usianya yang baru 23 tahun, mendapat penghargaan
dari bupati sebagai inovator muda.
Saat menerima penghargaan, ia berkata, "Ini untuk
kakek buyut saya, Pak Amat. Beliau mengajari saya bahwa teknologi harus
bermanfaat untuk orang banyak."
Hendro—anak Bambang—kini bekerja sebagai konsultan keamanan
siber untuk beberapa perusahaan. Tapi ia tetap setia pulang setiap akhir pekan untuk
mengajari anak-anak desa.
Ia mendirikan "Komunitas Siber Awan Biru" ,
tempat belajar tentang keamanan digital. Anggotanya puluhan remaja yang
antusias.
Materi yang diajarkan: dasar-dasar keamanan jaringan, etika
hacking, proteksi data pribadi, dan cara menghadapi serangan siber.
Suatu hari, salah satu anggota komunitas berhasil menemukan
celah keamanan di website desa. Bukan untuk diserang, tapi untuk dilaporkan dan
diperbaiki.
Hendro bangga. "Ini yang diajarkan kakek buyut kita:
gunakan ilmu untuk kebaikan, bukan kejahatan."
Titik—si jenius desain—kini menjadi content creator
terkenal. Channel YouTube-nya tentang kehidupan desa memiliki jutaan
subscriber. Ia membuat konten tentang pertanian, kuliner lokal, kerajinan
tangan, dan tentu saja, tentang sejarah digital desa.
Salah satu video terpopulernya berjudul: "Kisah
Kakek Amat: Dari Modem ke Model Nasional" .
Video itu menampilkan wawancara dengan Rania, Anita,
Arjuna, dan beberapa tokoh desa. Juga menampilkan barang-barang bersejarah di
etalase kaca.
Komentar warganet:
"Inspiratif banget."
"Kakek Amat pahlawan tanpa tanda jasa."
"Desa Awan Biru keren!"
"Mau dong belajar ke desanya."
Titik tersenyum. Kakek buyutnya masih bisa menginspirasi,
bahkan setelah tiada.
Rania kini berusia 68 tahun. Ia masih tinggal di rumah tua
itu, ditemani kenangan.
Setiap sore, ia duduk di kursi kayu di teras—kursi yang
dulu selalu didampingi Amat. Ia memandangi kebun kecil yang masih terawat,
pohon mangga yang masih berbuah, dan langit senja yang tak pernah berubah.
Kadang anak dan cucu datang menemaninya. Kadang ia sendiri,
menikmati sunyi.
Suatu sore, Arjuna datang dengan Kirana dan anak mereka—Amat
Muda , atau biasa dipanggil "Mat Muda", yang lahir setahun
setelah kepergian kakek buyutnya.
"Nek, lihat. Mat Muda sudah bisa jalan."
Rania tersenyum melihat cicitnya yang lucu. Mat Muda
berlari-lari kecil di halaman, tertawa riang.
"Dia mirip kakeknya," gumam Rania.
"Iya, Nek. Matanya, senyumnya, semuanya."
Rania memanggilnya. "Mat, sini."
Mat Muda berlari mendekat. Rania menggendongnya.
"Kakek buyutmu dulu orang hebat, Nak. Dia memulai
semua ini. Suatu hari, kamu akan tahu."
Mat Muda hanya tersenyum, belum mengerti.
Arjuna duduk di samping Rania. Mereka memandangi senja
bersama.
"Nek, aku kadang mikir. Apa kakek bahagia di sana?"
Rania tersenyum. "Pasti. Dia melihat desa ini maju.
Melihat kalian semua sukses. Melihat Mat Muda lahir. Apa lagi yang
kurang?"
"Kadang aku rindu, Nek. Rindu nasehatnya."
"Aku juga, Jun. Tiap hari. Tapi nasehatnya selalu ada.
Di setiap sistem yang jalan, di setiap anak muda yang belajar, di setiap senja
yang datang."
Arjuna merenung. "Kata-kata kakek selalu sederhana,
tapi dalam."
"Iya. Itulah dia. Sederhana, tapi mengena."
Mereka diam sejenak.
"Nek, aku akan jaga desa ini. Seperti yang kakek
mau."
"Aku tahu, Jun. Kamu pasti bisa."
Tahun berganti. Generasi silih berganti. Tapi semangat yang
ditanamkan Amat tidak pernah pudar.
Website desa terus berkembang, kini dengan fitur-fitur
canggih: AI untuk layanan publik, big data untuk perencanaan pembangunan, IoT
untuk pertanian pintar.
Ruang digital terus melahirkan inovator-inovator baru.
Joko, Hendro, Titik, dan puluhan lainnya menjadi motor penggerak.
UMKM desa makin maju, produk-produknya menembus pasar
internasional. Beberapa bahkan diekspor ke Jepang dan Eropa.
Klinik desa menjadi rujukan, dengan sistem kesehatan
digital yang terintegrasi.
Dan di setiap sudut desa, di setiap sistem yang berjalan,
di setiap anak muda yang belajar, ada jejak Amat. Jejak seorang anak desa yang
tidak pernah berhenti bermimpi.
Seratus tahun setelah kelahiran Amat, Desa Awan Biru telah
menjadi kota kecil yang maju. Namanya dikenal di seluruh Indonesia, bahkan di
mancanegara, sebagai pelopor transformasi digital berbasis komunitas.
Di pusat kota, sebuah monumen megah berdiri. Patung seorang
pria tua duduk di kursi, memandangi laptop tua di pangkuannya. Di bawahnya,
tertulis:
"AHMAD SYAIFULLAH (AMAT)
1956 – 2026
PELOPOR DIGITAL DESA AWAN BIRU
YANG MEMULAI DARI MODEM, BERAKHIR DI HATI RAKYAT"
Setiap tahun, pada tanggal 17 Agustus, ribuan orang datang
berziarah ke monumen itu. Mereka adalah anak cucu warga desa, pejabat
pemerintah, akademisi, dan wisatawan yang terinspirasi oleh kisahnya.
Di samping monumen, sebuah museum berdiri. Di dalamnya,
dipajang barang-barang bersejarah: laptop bekas dengan tombol "E"
yang harus ditekan keras, modem USB pertama, mesin ketik Pak Surono, dan
berbagai dokumen, foto, dan video perjalanan digital desa.
Di ruang audiovisual museum, film dokumenter tentang
perjalanan Amat diputar setiap hari. Judulnya: "Jejak Senja di
Ujung Desa" . Film itu menceritakan kisahnya dari lahir dalam
badai, hingga menjadi inspirasi nasional.
Para pengunjung, terutama anak-anak muda, sering menangis
terharu saat menonton. Mereka tidak percaya, dari keterbatasan sebesar itu,
bisa lahir perubahan sebesar ini.
Di akhir film, muncul tulisan:
"Dari satu laptop, satu modem, dan satu tekad,*
seorang anak desa mengubah segalanya.
Jangan pernah remehkan mimpi.
*Karena dari mimpilah, kenyataan tercipta."
Pada suatu senja, di halaman museum, seorang kakek duduk
bersama cucunya. Kakek itu adalah Mat Muda—cicit Amat—yang kini berusia 90
tahun. Cucunya, seorang remaja 15 tahun, duduk di sampingnya.
"Kek, cerita lagi tentang buyut," pinta sang
cucu.
Mat Muda tersenyum. "Cerita apa?"
"Cerita tentang laptop tua itu. Yang tombol 'E'-nya
harus ditekan keras."
Mat Muda tertawa. "Itu cerita favoritmu."
"Iya. Seru."
Mat Muda pun bercerita. Tentang kakek buyutnya yang lahir
dalam badai. Tentang radio yang dibongkarnya. Tentang warnet, tentang server
down, tentang serangan hacker, tentang rekonsiliasi. Tentang bagaimana semua
itu membentuk desa yang sekarang.
Sang cucu mendengarkan dengan saksama. Matanya berbinar.
"Kek, aku mau jadi seperti buyut. Hebat,
bermanfaat."
Mat Muda mengelus kepala cucunya. "Kamu bisa, Nak.
Asal mau berjuang, mau belajar, dan tidak pernah menyerah. Seperti yang
diajarkan buyutmu."
"Tapi zaman sekarang beda, Kek. Semua sudah
canggih."
"Iya, beda. Tapi prinsipnya sama. Teknologi adalah
alat. Yang terpenting adalah hati. Hati yang ingin berbagi, hati yang ingin
melayani."
Sang cucu mengangguk. "Aku mengerti, Kek."
Mereka memandangi senja bersama. Langit berwarna jingga
keemasan—senja yang sama seperti saat Amat lahir, saat Amat berjuang, saat Amat
pergi.
"Kek, kenapa langit selalu jingga saat senja?"
"Karena senja mengingatkan kita bahwa setiap hari
adalah perjalanan. Mulai dari fajar, berakhir di senja. Dan besok, akan ada
fajar baru."
"Seperti buyut?"
"Seperti buyut. Dia pergi di senja, tapi fajar
perjuangannya terus bersinar."
Dan begitulah, jejak Amat tetap hidup. Bukan hanya di
server, bukan hanya di website, bukan hanya di monumen. Tapi di hati setiap
orang yang pernah mendengar kisahnya.
Di setiap anak desa yang bermimpi besar.
Di setiap pemuda yang belajar teknologi.
Di setiap warga yang menikmati layanan transparan.
Di setiap senja yang datang dan pergi.
Desa Awan Biru terus melangkah. Bukan karena satu nama.
Tapi karena satu semangat. Semangat yang ditanamkan Amat, yang kini tumbuh
menjadi hutan. Semangat yang tak akan pernah padam.
Karena jejak sejati bukanlah yang tertulis di batu. Bukan
yang tersimpan di server. Tapi yang terukir di hati, yang diwariskan dari
generasi ke generasi, yang terus hidup meski waktu berlalu.
Seperti senja yang selalu kembali setiap hari, mengingatkan
bahwa dari ujung desa yang paling sunyi sekalipun, mimpi besar bisa lahir.
Dan akan terus lahir.
Selamanya.
Pada peringatan 10 tahun kepergian Amat, seorang penyair
desa menulis puisi yang kemudian diukir di dinding museum.
Jejak di Ujung Senja
Pada suatu senja di ujung desa,
lahir seorang anak dalam badai yang menggema.
Tak ada listrik, tak ada sinyal,
hanya mimpi yang terus menggeliat.
Ia membongkar radio mencari orang kecil,
belajar membaca di pasir yang lembek.
Warnet pertama jadi saksi bisu,
salah klik server, dunia jadi kelabu.
Pulang ke desa dengan laptop tua,
tombol 'E' harus ditekan, baterai separuh mati saja.
Website pertama lahir dari perjuangan,
meski server down berkali-kali, hati tak goyah kehilangan.
Ditentang, difitnah, diserang,
ia tetap teguh pada pendirian yang tenang.
Memaafkan yang menyakiti, merangkul yang membenci,
membangun sistem yang transparan, adil, dan abadi.
Kini, di senja yang sama,
desa ini bersinar gemilang namanya.
Dari modem ke model nasional,
jejaknya abadi, tak lekang oleh waktu dan musim.
Terima kasih, Amat, anak desa yang tak pernah padam
mimpinya.
Kau ajarkan kami bahwa dari keterbatasan,
keajaiban bisa tercipta.
Kau buktikan bahwa satu orang bisa mengubah dunia,
cukup dengan satu tekad, satu hati, satu mimpi yang setia.
Jejakmu takkan pernah hilang,
di setiap sistem yang jalan, di setiap anak muda yang belajar,
di setiap senja yang datang,
kau selalu ada. Selamanya.
Setiap kali membaca puisi itu, warga desa terharu. Mereka
ingat sosok sederhana yang pernah duduk di beranda, minum kopi, dan memandangi
senja.
Tiga tahun setelah kepergian Amat, Rania menyusul. Usianya
71 tahun. Ia pergi dengan tenang di rumah yang sama, di kursi yang sama, saat
senja tiba.
Anita, Arjuna, dan seluruh keluarga berkumpul. Mereka
menguburkannya di samping Amat, bersanding dalam keabadian.
Di pusara mereka, sebuah prasasti kecil berdiri:
"AMAT DAN RANIA
BERSAMA DALAM HIDUP, BERSAMA DALAM ABADI"
Warga desa berduka, tapi juga bersyukur. Pasangan itu telah
memberikan segalanya untuk desa ini. Kini mereka beristirahat bersama.
Tahun demi tahun berlalu. Generasi penerus terus
bermunculan.
Arjuna menjabat kepala desa selama tiga periode, lalu
pensiun dengan tenang. Anaknya, Amat Muda , kemudian menjadi
kepala desa berikutnya, meneruskan tradisi keluarga.
Herman menjadi Ketua BPD selama dua periode, lalu
digantikan anaknya. Bambang tetap mengelola komunitas digital hingga usia
senja. Anita dan Erlangga mengembangkan klinik desa menjadi rumah sakit tipe D,
dengan layanan digital terintegrasi.
Joko, Hendro, dan Titik menjadi tokoh nasional di bidang
masing-masing. Mereka sering diundang ke berbagai acara, berbagi kisah tentang
desa yang menginspirasi.
Dan di setiap kesempatan, mereka selalu menyebut satu
nama: Amat. Kakek buyut yang memulai semuanya.
Pada ulang tahun ke-100 Desa Awan Biru, sebuah museum
digital diresmikan. Museum ini bukan hanya menyimpan benda-benda bersejarah,
tapi juga menampilkan perjalanan desa dalam format digital interaktif.
Pengunjung bisa berjalan virtual di desa tempo dulu,
merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa listrik, tanpa internet. Mereka bisa
"bertemu" dengan Amat versi hologram, yang akan bercerita tentang
perjuangannya.
Di akhir tur, sebuah ruangan khusus menampilkan pesan
terakhir Amat, yang direkam sebelum ia pergi:
"Anak-anakku, cucu-cucuku, dan seluruh generasi Desa
Awan Biru. Jangan pernah lupa dari mana kalian berasal. Jangan pernah berhenti
bermimpi. Dan jangan pernah takut pada perubahan. Karena hanya dengan berubah,
kita bisa bertahan. Hanya dengan bermimpi, kita bisa terbang. Selamat jalan,
dan teruslah berkarya."
Pesan itu diputar setiap hari, mengingatkan semua orang
tentang warisan seorang anak desa biasa, yang tidak pernah berhenti percaya
bahwa perubahan itu mungkin.
Pada suatu senja, berpuluh-puluh tahun setelah kepergian
Amat, seorang anak kecil duduk di bawah pohon mangga di kebun belakang rumah
tua itu. Di pangkuannya, sebuah tablet canggih. Ia membuka aplikasi belajar
sejarah desa.
Di layar, muncul foto seorang pria tua tersenyum. Di
bawahnya, tertulis: Amat – Pelopor Digital Desa Awan Biru.
Anak itu membaca. Matanya berbinar.
"Kakek buyutku," gumamnya.
Dari dalam rumah, neneknya memanggil. "Mat Muda! Sini,
Nak. Nenek mau cerita."
Anak itu berlari masuk. Ia duduk di samping neneknya, siap
mendengar cerita.
"Cerita apa hari ini, Nek?"
"Cerita tentang kakek buyutmu. Tentang bagaimana dia
memulai semua ini dari sebuah radio tua dan satu modem."
Mat Muda tersenyum. "Aku suka cerita itu, Nek."
"Iya, Nak. Karena dari cerita itulah, kamu akan tahu
dari mana kamu berasal. Dan ke mana kamu harus pergi."
Di luar, senja mulai turun. Langit berwarna jingga
keemasan—senja yang sama seperti puluhan tahun lalu, saat seorang anak bernama
Amat lahir dalam badai, saat seorang pria bernama Amat berjuang membangun desa,
saat seorang kakek bernama Amat pergi dengan tenang.
Senja di ujung desa.
Senja yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang.
Senja yang mengingatkan bahwa dari tempat yang paling kecil sekalipun, mimpi
besar bisa lahir.
Senja yang abadi, seperti jejak yang ditinggalkan.
Jejak senja di ujung desa.
Jejak yang tak akan pernah terhapus.
Selamanya.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar