KETIKA ANAK PETANI MEMIMPIN DESA
Roman Epik tentang Cita-Cita, Pengabdian, dan Perjalanan
Hidup Seorang Pemimpin Desa
Oleh:
Slamet Riyadi
PROLOG
Di ujung timur Pulau Jawa, di mana matahari pertama kali
menyapa bumi sebelum perlahan bergeser ke barat, terbentang sebuah desa yang
nyaris terlupakan oleh peta dan waktu. Namanya Desa Suka Maju, sebuah nama yang
penuh harap, seperti doa yang dipanjatkan para leluhur ketika pertama kali
membabat hutan dan mendirikan gubuk-gubuk sederhana di tepi sungai. Namun
selama berpuluh-puluh tahun, harapan itu hanya tinggal harapan. Suka Maju tetap
terpencil, tetap tertinggal, seperti buku tua yang tersimpan rapi di rak paling
tinggi, tak pernah tersentuh, tak pernah terbaca.
Di desa itulah, pada 17 Agustus 1950, tepat lima tahun
setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, seorang bayi lahir dengan
tangis yang memecah kesunyian. Bukan di rumah sakit dengan lampu terang dan
peralatan modern, bukan pula di tangan bidan bersertifikat. Ia lahir di rumah
panggung berdinding anyaman bambu, beratap rumbia yang telah lapuk dimakan
usia, di pangkuan seorang dukun beranak yang tangannya lebih terbiasa memijat
daripada memegang buku. Bayi itu lahir di tengah kesederhanaan yang nyaris tak
bersisa, di pangkuan kemiskinan yang sudah turun-temurun menjadi takdir
keluarganya.
Orang tuanya, sepasang petani penggarap yang tak punya
sawah sejengkal pun, menamainya Joko Prasetyo. Joko artinya pemuda. Prasetyo
berarti setia. Sebuah nama yang sarat harapan: semoga ia tumbuh menjadi pemuda
yang setia. Setia kepada Tuhan, setia kepada orang tua, setia kepada tanah
kelahirannya. Setia kepada cita-cita yang kelak akan menuntunnya melintasi jalan
panjang penuh liku.
Tak ada yang istimewa dari kelahiran itu. Tak ada nujum
yang meramalkan masa depannya. Tak ada pertanda langit yang menyala atau
bintang jatuh yang menandai lahirnya seorang calon pemimpin. Desa Suka Maju
terlalu kecil untuk dihiraukan oleh dunia. Terlalu terpencil untuk dilirik oleh
pemerintah. Terlalu miskin untuk diperhitungkan oleh siapa pun. Bayi itu
hanyalah satu dari sekian banyak anak petani yang lahir setiap tahun di
desa-desa pelosok Nusantara, yang biasanya tumbuh, bekerja di sawah, lalu mati
tanpa meninggalkan jejak.
Tapi sejarah tidak pernah memilih jalan yang lurus. Takdir
suka bermain dengan cara-cara yang tak terduga. Kadang ia memilih orang-orang
besar dari istana megah dan keluarga ningrat. Namun tak jarang pula ia
merengkuh mereka yang lahir di gubuk reyot, yang masa kecilnya diisi dengan
lumpur sawah dan keringat orang tua, yang mimpinya hanya setinggi pucuk ilalang
di pinggir sungai.
Joko adalah salah satu dari mereka yang direngkuh takdir.
Bukan karena ia jenius, bukan pula karena ia beruntung. Melainkan karena di
dalam dadanya tersimpan api yang tak pernah padam, api keingintahuan, api
cita-cita, api cinta pada tanah kelahirannya. Ia tumbuh dengan mata yang terus
terbuka, dengan telinga yang terus mendengar, dengan hati yang terus merasakan
denyut kehidupan desanya. Ia melihat bagaimana ayahnya membanting tulang dari
subuh hingga petang, namun tetap tak bisa keluar dari jerat kemiskinan. Ia
melihat bagaimana ibunya menghemat nasi hingga sebiji-sebiji, namun tetap harus
berhutang ke tetangga ketika musim paceklik tiba. Ia melihat bagaimana
teman-temannya putus sekolah karena orang tua tak mampu membayar uang bulanan.
Ia melihat bagaimana desanya terus terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan, dan
ketertinggalan.
Dan di dalam hati kecilnya, muncullah pertanyaan-pertanyaan
yang tak biasa diajukan oleh anak seusianya: Mengapa desaku
begini-begini saja? Mengapa kami selalu tertinggal? Mengapa anak-anak desa tak
bisa sekolah tinggi seperti anak-anak kota? Siapa yang akan mengubah semua ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengendap, terus tumbuh,
terus mencari jawaban. Dan ketika ia dewasa, ketika ia telah merasakan pahit
getirnya perjuangan, ketika ia telah melihat dunia luar yang lebih maju dan
modern, pertanyaan-pertanyaan itu menjelma menjadi sebuah keputusan
bulat: Aku harus kembali. Aku harus mengabdi. Aku harus mengubah
desaku.
Keputusan itu tidak mudah. Di zaman ketika semua orang
berlomba-lomba meninggalkan desa demi kehidupan kota yang gemerlap, ia memilih
pulang. Di saat teman-teman sebayanya sibuk melamar kerja di pabrik-pabrik atau
merantau ke negeri orang, ia memilih membuka kelas gratis di beranda rumahnya.
Ketika banyak pemuda desa malu mengaku sebagai anak petani, ia justru bangga
turun ke sawah dan berbagi ilmu dengan para petani tua.
Perjalanannya panjang. Dari seorang bocah yang setiap pagi
menyeberangi sungai dengan rakit bambu, menjadi kepala desa termuda di
kecamatannya. Dari seorang anak petani yang tak punya sepatu, menjadi pemimpin
yang membangun jalan aspal sepanjang lima kilometer. Dari seorang murid yang
belajar di bawah atap bocor, menjadi tokoh yang mendirikan perpustakaan dan
sekolah. Dari seorang pemuda yang bermimpi sendiri, menjadi inspirasi bagi
generasi setelahnya.
Ini bukan kisah tentang kesempurnaan. Joko punya banyak
kekurangan, banyak kesalahan, banyak momen keraguan. Ia pernah hampir menyerah,
pernah ingin lari dari tanggung jawab, pernah merasa tak mampu memikul beban
sebesar itu. Tapi setiap kali ia jatuh, selalu ada tangan-tangan yang
mengulurkan pertolongan, orang tuanya, gurunya, sahabatnya, istrinya, dan warga
desanya. Mereka adalah pilar-pilar yang menopangnya ketika ia hampir roboh.
Ini adalah roman tentang cita-cita dan pengabdian. Tentang
seorang anak desa yang berani bermimpi besar di tengah keterbatasan. Tentang
perjuangan mewujudkan mimpi itu dengan keringat, air mata, dan darah. Tentang
bagaimana kemiskinan bukanlah penghalang untuk menjadi berguna. Tentang
bagaimana pendidikan dan ketekunan bisa mengubah takdir seseorang dan bahkan
takdir sekian banyak orang.
Ini juga kisah tentang Indonesia yang tersembunyi. Tentang
desa-desa yang selama ini luput dari perhatian, tentang orang-orang kecil yang
berjuang dalam sunyi, tentang perubahan yang lahir bukan dari istana megah, melainkan
dari tanah berlumpur dan rumah-rumah sederhana. Di negeri ini, ada jutaan Joko
yang masih berjuang. Ada jutaan desa Suka Maju yang masih menanti perubahan.
Dan di setiap desa itu, selalu ada secercah harapan—bahwa suatu hari, dari
tanah yang paling tandus sekalipun, akan tumbuh pohon yang rindang dan berbuah
lebat.
Kisah ini saya persembahkan untuk mereka. Untuk para pemuda
desa yang memilih pulang, bukan pergi. Untuk para guru yang mengajar dengan
ikhlas di tengah keterbatasan. Untuk para petani yang membanting tulang tanpa
kenal lelah. Untuk para pemimpin desa yang bekerja diam-diam, tanpa sorot
kamera, tanpa puja-puji, hanya demi satu hal: membuat kampung halamannya
sedikit lebih baik dari kemarin.
Selamat membaca. Semoga kisah tentang Joko Prasetyo ini
tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi. Karena di setiap sudut negeri
ini, selalu ada cerita yang layak ditulis. Dan di setiap hati yang peduli, selalu
ada ruang untuk perubahan.
BAB I
DESA YANG TERTINGGAL
OLEH WAKTU
Matahari tepat di atas ubun-ubun ketika Joko Prasetyo—yang
kini akrab dipanggil Wahyu—menghentikan langkahnya. Usianya tujuh puluh lima
tahun. Rambutnya telah memutih sempurna, jalannya mulai lambat dengan bantuan
tongkat kayu jati pemberian Pak Karman, mantan kepala desa yang kini telah
berusia sembilan puluh lima tahun. Tapi matanya masih teduh memandang hamparan
sawah yang menguning di hadapannya.
Ia melepas topi anyaman bambu yang setia menemaninya sejak
subuh tadi. Keringat membasahi pelipisnya yang mulai ditumbuhi uban, namun
senyumnya tetap hangat.
"Pak, kenapa Bapak berhenti?" tanya seorang
pemuda yang berjalan di belakangnya.
Joko tersenyum. "Lihat, Nak. Sawah kita menguning.
Tiga minggu lagi panen raya."
Pemuda itu, Raka namanya, anak dari adik Joko, lahir tahun
1995, kini berusia tiga puluh tahun, menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Iya, Pak. Tapi kenapa Bapak sampai berhenti? Biasanya Bapak tidak pernah
berhenti kalau sudah di sawah. Kata warga, Bapak itu pekerja keras, pantang
menyerah."
"Hari ini istimewa," jawab Joko perlahan.
"Tepat hari ini, lima belas tahun yang lalu, aku pensiun sebagai kepala
desa. Dua puluh lima tahun aku mengabdi, dari tahun 1981 sampai 2006. Dan hari
ini, aku ingin merenung sejenak."
Raka terdiam. Ia tahu lelaki di depannya ini bukan sembarang
orang. Joko Prasetyo adalah kepala desa yang telah memimpin mereka selama dua
periode awal, lalu menjadi penasehat untuk dua periode berikutnya, dan terus
aktif membangun desa hingga usianya senja. Empat puluh lima tahun pengabdian,
membawa perubahan yang tak terbayangkan sebelumnya. Namun hari ini, di tengah
sawah yang menguning, ia hanyalah seorang petani tua yang sedang merenung.
"Ceritakan, Pak," pinta Raka. "Ceritakan
bagaimana dulu desa kita ini? Waktu saya kecil, saya sering dengar cerita dari orang
tua, tapi saya ingin dengar langsung dari Bapak."
Joko menarik napas panjang. Ia menunjuk ke arah timur, di
mana kabut tipis masih menyelimuti perbukitan. "Duduklah dulu, Nak. Ini
akan panjang."
Mereka duduk di pematang sawah. Joko mengeluarkan rokok
daun dari saku celananya, kebiasaan lama yang tak bisa ditinggalkan, lalu
menyalakannya perlahan. Asap tipis mengepul, terbawa angin yang berhembus
sepoi-sepoi.
"Dulu, Nak... desa ini benar-benar di ujung peta.
Bukan hanya secara geografis, tapi juga secara waktu. Ketika kota-kota sudah
sibuk dengan gedung bertingkat dan lampu lalu lintas, kita masih bergelut
dengan lumpur dan kegelapan malam yang pekat. Tahun 1950, saat aku lahir,
Indonesia baru merdeka lima tahun. Keadaan masih sangat susah. Tapi yang lebih
susah adalah tahun 1960-an, ketika aku mulai besar."
"Separah itu, Pak?"
"Lebih parah dari yang bisa kamu bayangkan. Waktu kamu
lahir tahun 1995, listrik sudah mulai masuk. Waktu kamu kecil, jalan sudah
mulai diaspal. Tapi aku... aku lahir di zaman ketika lampu minyak tanah adalah
kemewahan. Ketika beras harus dihemat sebiji-sebiji. Ketika sepatu adalah
barang mewah yang hanya dipakai ke sekolah, itu pun kalau tidak bolong."
Raka terdiam. Ia mencoba membayangkan kehidupan yang
digambarkan pamannya. Sulit. Ia lahir di tahun ketika desa sudah mulai berubah.
Listrik sudah masuk, meski belum merata. Jalan sudah mulai diperbaiki, meski
masih banyak lubang. Sekolah sudah direnovasi, meski belum semegah sekarang.
"Tapi Bapak bisa mengubahnya," kata Raka kemudian.
Joko tersenyum pahit. "Aku tidak sendiri, Nak. Ada
ribuan tangan yang membantu. Ada Pak Karman, Pak Kades yang dulu, yang menjadi
mentorku. Ada Ibu Sumarni yang meminjamkan buku. Ada Budi yang selalu mendukung
sejak kecil sampai sekarang. Ada warga yang percaya padaku. Tanpa mereka, aku
tidak akan jadi apa-apa."
"Tapi Bapak yang memulai, Pak. Bapak yang punya
mimpi."
"Mimpi memang penting, Nak. Tapi tanpa kerja keras,
mimpi hanya angan-angan. Lihat sawah ini. Dulu, ayahku, kakekmu Wahyono, hanya
penggarap. Tidak punya sejengkal tanah sendiri. Sekarang, sawah ini milik kita.
Bukan warisan, tapi hasil keringat bertahun-tahun."
Raka mengangguk. "Pak, aku ingin seperti Bapak. Aku
ingin mengabdi di desa ini."
Joko menoleh. Ia memandangi keponakannya dengan tatapan
tajam, mencari sesuatu di mata itu. Kejujuran? Keraguan? Atau hanya keinginan
sesaat?
"Kamu baru pulang dari Surabaya. Kuliah di universitas
negeri, jurusan pertanian. Lulus dengan nilai cum laude. Banyak tawaran kerja
di kota. Perusahaan-perusahaan besar ingin merekrutmu. Kenapa kamu memilih
pulang?"
Raka tersenyum. "Karena saya ingat pesan Bapak waktu
saya kecil. Waktu saya pamit mau merantau kuliah tahun 2013, Bapak bilang:
'Pergilah, Nak. Cari ilmu sebanyak-banyaknya. Tapi jangan lupa pulang. Desa ini
butuh orang pintar seperti kamu.' Saya tidak pernah lupa pesan itu, Pak."
Joko terharu. Ia tidak menyangka keponakannya masih
mengingat percakapan dua belas tahun lalu. Ia memeluk Raka erat.
"Terima kasih, Nak. Kamu membuatku ingat, bahwa
perjuangan ini tidak sia-sia."
Mereka duduk di pematang hingga matahari mulai condong ke
barat. Joko bercerita panjang lebar. Tentang masa lalu, tentang perjuangan,
tentang orang-orang yang telah berpulang. Dan Raka mendengarkan dengan saksama,
menyimpan setiap kata dalam hatinya.
Hujan turun tanpa ampun. Bukan hujan biasa, tapi hujan
deras yang sudah mengguyur sejak subuh. Jalan setapak yang biasanya keras, kini
berubah menjadi lumpur licin yang setiap langkah terasa seperti melawan
gravitasi.
Seorang bocah laki-laki berlari memasuki rumah panggung
sederhana dengan atap rumbia yang bocor di sana-sini. Tubuhnya basah kuyup,
rambutnya lepek, bajunya penuh lumpur. Ia menggigil kedinginan.
"Ibu! Ibu!" teriaknya sambil berlari ke dapur.
Seorang perempuan muda, Sri namanya, lahir tahun 1925, kini
berusia tiga puluh lima tahun, segera menyambutnya dengan handuk usang yang
sudah bertambal di sana-sini. Wajahnya panik bercampur cemas.
"Joko, Nak! Kenapa kau kehujanan? Tadi ibu bilang
jangan main jauh-jauh! Ini sudah sore, hujan deras begini, kamu main ke mana
saja?" suara Sri setengah berteriak, bukan karena marah, tapi karena
khawatir.
Joko, usia sepuluh tahun, menggigil sambil menjawab,
"Tapi Bu, aku mau lihat sungai! Kata teman-teman, air sungai besar sekali
kalau hujan. Aku penasaran!"
Sri menghela napas panjang. Dengan gerakan cepat namun
lembut, ia membersihkan tubuh anaknya dengan handuk kasar. "Dasar anak
petani, penasaranannya keterlaluan. Kalau kamu sakit, bagaimana? Ayahmu belum
pulang, masih di sawah. Ibu harus ngurus kamu sendirian."
"Tapi aku kepingin lihat, Bu. Teman-teman bilang
sungainya bisa banjir besar. Sampai naik ke daratan."
Sri menggeleng. "Banjir besar bukan untuk ditonton,
Nak. Itu bahaya. Kalau kamu hanyut, bagaimana? Ibu sama ayah mau cari ke
mana?"
Di luar, suara gemericik air hujan bercampur dengan deru
angin yang menerpa dinding bambu. Kadang terdengar suara dedaunan meliuk-liuk,
kadang juga suara ranting patah.
Sementara itu, di dapur, seorang lelaki bertelanjang dada
sedang memperbaiki tungku yang padam. Asap memenuhi ruangan kecil itu, membuat
matanya perih dan berair. Ia bersin beberapa kali.
"Sri! Apinya mati! Kayunya basah kena bocor!"
teriaknya dari dapur.
Sri, istrinya, segera masuk ke dapur dengan Joko yang masih
menggigil meski sudah dilap handuk. "Sudah, Pak. Biar kusulut lagi. Kau
mandi dulu, hujan-hujan begini enak mandi. Air hujan itu berkah, kata orang tua
dulu."
Lelaki itu, Wahyono namanya, suami Sri, lahir tahun 1920,
kini berusia empat puluh tahun, menggeleng. "Nanti dulu. Lebih baik kuperbaiki
atap yang bocor. Nanti kalau makin besar, rumah kita kebanjiran. Kamu tahu
sendiri, lantai rumah kita cuma bambu, kalau kebanjiran bisa ambruk."
"Tapi Pak, hujannya masih deras. Nanti kau sakit.
Siapa yang akan cari nafkah kalau kamu sakit?"
"Lebih baik sakit daripada rumah ambruk," jawab
Wahyono singkat, lalu mengambil seikat bambu dan daun rumbia yang disimpan di
kolong rumah. "Kita tidak punya uang untuk bangun rumah baru. Jadi rumah
ini harus dijaga."
Joko memperhatikan ayahnya dari balik pintu. Ia melihat
ayahnya menaiki tangga bambu yang licin karena hujan. Tubuh kekar itu bergerak
hati-hati di atas atap yang licin. Beberapa kali kakinya selip, tapi ia selalu
bisa menjaga keseimbangan.
"Bu, kenapa ayah tidak pakai tali pengaman?"
tanya Joko polos.
Sri tersenyum getir. "Kita tidak punya tali pengaman,
Nak. Ayahmu hanya modal nekat dan doa."
"Kenapa rumah kita bocor?"
"Karena atapnya sudah tua. Rumbia itu harus diganti
setiap lima tahun. Tapi kita belum punya uang untuk beli rumbia baru. Ayahmu coba
menambal yang bolong-bolong dulu."
"Kenapa tidak beli genteng, Bu? Rumah Pak Kades kan
genteng."
Sri tertawa kecil, meski ada getir di dalamnya.
"Genteng? Joko, Nak... genteng itu mahal. Untuk sampai ke kota saja kita
harus menyebrangi sungai dengan rakit. Kalau hujan begini, sungai banjir. Tidak
ada yang bisa keluar masuk desa. Mau beli genteng, harus bawa lewat rakit.
Kalau rakitnya tenggelam, gentengnya pecah. Rugi."
Joko mengerutkan kening. "Berarti kita terkepung air,
Bu?"
Sri memeluk anaknya. "Iya, Nak. Kita terkepung air.
Tapi air juga yang memberi kita hidup. Lihat sawah ayahmu di seberang sungai,
subur karena air. Padi bisa tumbuh karena air. Jadi, air itu kawan sekaligus
lawan."
Di luar, hujan mulai reda. Derasnya berkurang, tinggal
gerimis. Wahyono turun dari atap dengan tubuh basah kuyup dan berlumur lumpur.
Ia duduk di beranda sambil memandangi sungai yang mulai meluap. Airnya coklat
keruh, membawa batang-batang bambu dan kayu hanyut.
"Airnya besar sekali," gumamnya. "Rakit
hanyut semalam. Besok tidak bisa ke sawah."
Joko keluar dan duduk di samping ayahnya. "Yah, kenapa
rakitnya hanyut?"
"Karena tali tambatnya putus. Rakit itu cuma diikat ke
pohon randu. Kalau air besar, talinya bisa putus. Besok bapak harus buat rakit
baru."
"Berarti besok tidak bisa ke sawah?"
"Tidak bisa, Nak. Kecuali lewat jalan setapak utara.
Tapi jalannya lumpur, susah."
Joko diam. Ia memandangi sungai yang deras. Matanya
mengikuti arus yang membawa segala sesuatu. Lalu tiba-tiba, sebuah pertanyaan
meluncur dari bibir mungilnya.
"Yah, kenapa kita tidak buat jembatan saja?"
Wahyono menoleh. Ia tersenyum melihat polosnya anak semata
wayangnya. "Jembatan, Nak? Kau tahu berapa biaya bikin jembatan?"
"Berapa, Yah?"
"Mahal. Sangat mahal. Butuh semen, butuh besi, butuh
tenaga ahli. Semua itu harus didatangkan dari kota. Sementara untuk ke kota
saja kita harus menyebrangi sungai. Mau bawa semen, harus pakai rakit. Rakit
tidak kuat bawa semen banyak."
"Tapi kalau jadinya, kan enak. Tidak perlu naik rakit
lagi."
Wahyono tertawa. "Iya, Nak. Pasti enak. Tapi untuk
sampai ke jembatan, butuh perjuangan panjang."
"Jadi kita tidak bisa kemana-mana kalau sungai
banjir?"
"Bisa, Nak. Tapi harus memutar. Jalan setapak di utara
itu, kalau hujan begini lumpurnya sampai selutut. Sepeda tidak bisa lewat. Jadi
ya, kita tunggu sampai sungai surut."
"Berapa lama?"
"Biasanya sehari. Kalau hujannya besar, bisa dua
hari."
Joko diam. Ia memandangi sungai yang deras. Di kejauhan, ia
melihat sawah ayahnya di seberang. Padi yang baru ditanam tergenang air.
"Yah, aku ingin sekali membangun jembatan," kata
Joko lirih. Suaranya hampir tidak terdengar, tapi Wahyono mendengarnya jelas.
Wahyono mengusap kepala anaknya. "Nanti kalau kau
besar, kalau kau sekolah tinggi, mungkin kau bisa membangun jembatan itu."
"Betul, Yah?"
"Betul, Nak. Tapi untuk bisa membangun jembatan, kau
harus sekolah. Harus pintar. Harus tahu bagaimana membuat jembatan yang kuat.
Harus tahu menghitung kekuatan beton, harus tahu membaca gambar teknik."
"Tapi sekolahku cuma sampai kelas tiga, Yah. Kata Bu
Guru, setelah kelas tiga, aku harus sekolah di kampung sebelah."
Wahyono menghela napas panjang. Ia memandangi anaknya
dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cinta, harap, dan rasa
bersalah. Cinta karena ia sangat menyayangi anak ini. Harap karena ia ingin
anaknya hidup lebih baik. Rasa bersalah karena ia tidak bisa memberi lebih.
"Iya, Nak. Sekolah lanjutan memang di kampung sebelah.
Setiap pagi kau harus menyebrangi sungai dengan rakit."
"Tapi kalau hujan?"
"Kau harus lebih pagi berangkat. Sebelum hujan
turun."
"Kalau sungai banjir?"
"Kau tunggu sampai surut. Atau kau lewat jalan setapak
di utara."
"Jauh, Yah?"
Wahyono menghela napas. "Jauh, Nak. Tiga kali lipat
dari jalan biasa. Tiga jam jalan kaki. Kalau lewat rakit, cuma setengah
jam."
Joko diam. Ia menghitung dalam hati. Tiga jam. Ia harus
bangun jam satu pagi kalau sungai banjir. Tapi ia tidak berkata apa-apa.
"Yah, aku tidak takut jauh. Yang penting aku bisa
sekolah," katanya kemudian.
Wahyono memeluk anaknya. Matanya basah. Ia tidak tahu
apakah ini kebanggaan atau kesedihan. Mungkin keduanya.
Mereka duduk di beranda hingga senja. Hujan benar-benar
reda. Langit barat berwarna jingga. Burung-burung pipit beterbangan pulang ke
sarang.
"Lihat, Nak. Burung-burung itu pulang ke rumahnya.
Mereka punya rumah di pohon-pohon itu," kata Wahyono.
"Rumah mereka lebih bagus dari rumah kita, Yah?"
tanya Joko polos.
Wahyono tertawa. "Bukan soal bagus atau tidak, Nak.
Rumah adalah tempat pulang. Burung pulang ke sarang, ayam pulang ke kandang,
manusia pulang ke rumahnya masing-masing. Yang penting ada tempat pulang."
"Berarti kita beruntung, Yah. Kita punya tempat
pulang."
"Iya, Nak. Kita beruntung."
Malam turun. Mereka masuk ke rumah. Lampu minyak
dinyalakan. Cahayanya temaram, tapi cukup untuk makan malam. Lauknya hanya
tempe goreng dan sambal. Tapi bagi mereka, itu adalah makanan mewah.
Wahyono sudah bangun. Ia mengambil cangkul yang bersandar
di dinding bambu, lalu duduk di beranda mengasahnya dengan sabut kelapa. Bunyi
gesekan kres... kres... kres... memecah kesunyian.
Di dapur, Sri sudah bangun lebih dulu. Ia menyalakan tungku
dengan kayu bakar, menanak nasi dalam periuk tanah liat. Asap mengepul,
memenuhi ruangan. Tapi ia sudah terbiasa. Matanya tidak lagi perih.
"Pagi-pagi sudah mengasah cangkul, Pak?" sapa Sri
sambil membawakan segelas air hangat dalam cangkir kaleng penyok.
Wahyono menerima gelas itu. "Iya, Bu. Hari ini mau
nandur di sawah belakang. Tanahnya masih keras. Kalau cangkulnya tumpul, bisa
patah. Ganti cangkul baru mahal."
Sri duduk di samping suaminya. "Pak, kapan kita ke
pasar? Beras sudah mau habis. Joko juga butuh sepatu baru. Yang lama sudah
bolong. Besok kan masuk sekolah lagi."
Wahyono berhenti mengasah. Ia memandangi istrinya. Wajahnya
letih, tapi matanya penuh harap.
"Sabarlah, Bu. Habis panen nanti, kita jual gabah.
Semoga harga bagus."
"Tapi Pak, kemarin Pak Kades bilang, harga gabah lagi
turun. Banyak petani yang kelabakan. Mereka jual murah karena butuh uang cepat.
Kalau tidak jual, gabah bisa busuk."
"Iya, Bu. Itu yang aku pikirkan. Mungkin kita jual
nanti setelah harga naik."
"Tapi beras kita habis, Pak. Joko juga harus bayar
uang sekolah bulan depan. Sudah dua bulan belum bayar. Bu Guru baik, tapi kita
juga harus malu."
Wahyono menghela napas panjang. "Aku pinjam dulu ke
Pak Kades, Bu. Beliau baik. Pasti mau bantu."
"Jangan, Pak. Hutang kita sama Pak Kades belum lunas.
Dua bulan lalu pinjam untuk beli pupuk. Belum kita bayar."
"Lalu bagaimana?"
Mereka terdiam. Hening. Hanya suara jangkrik dari sawah
yang terdengar sayup.
"Yah, Bu!"
Joko keluar dari kamar sambil mengucek mata. Rambutnya
acak-acakan, pipinya masih merah bekas tidur.
"Joko, Nak. Kok sudah bangun? Masih pagi," sapa
Sri.
"Aku mau ikut ke sawah, Yah!" seru Joko
bersemangat.
Wahyono tersenyum. "Kau tidak sekolah, Nak?"
"Hari Minggu, Yah. Libur." Joko berlari mendekat.
"Aku mau bantu ayah nandur. Seperti minggu lalu."
"Oh iya, lupa bapak. Ayo, kau ikut bantu bapak nandur.
Tapi janji, kalau capek bilang. Jangan dipaksa."
Joko berjingkrak kegirangan. "Iya, Yah! Aku
janji!"
Sri memandangi suami dan anaknya dengan senyum. Meski hidup
susah, kebersamaan ini adalah kebahagiaan.
Mereka berangkat ketika matahari baru muncul di ufuk timur.
Jalan setapak menuju sungai masih becek karena hujan semalam. Joko yang hanya
memakai sandal jepit harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Beberapa kali
kakinya masuk ke lumpur.
"Yah, kenapa kita tidak punya sawah di dekat rumah
saja?" tanya Joko sambil berpegangan pada tangan ayahnya.
Wahyono menjelaskan dengan sabar. "Karena tanah di
dekat rumah milik orang lain, Nak. Dulu kakekmu hanya punya sawah di seberang
sungai itu. Itu pun warisan dari buyut, cuma seratus meter persegi. Sisanya
kita sewa dari Pak Karto."
"Pak Karto yang punya tanah?"
"Iya. Dia punya tanah luas di sini. Kita petani hanya
penggarap. Setiap panen, hasilnya dibagi dua. Separuh untuk pemilik tanah,
separuh untuk kita."
"Kenapa harus dibagi, Yah? Kan kita yang kerja."
"Karena tanahnya bukan milik kita, Nak. Itu aturannya.
Petani penggarap dapat setengah, pemilik tanah dapat setengah."
"Tapi ayah kerja keras dari pagi sampai sore."
Wahyono tersenyum pahit. "Itulah hidup, Nak. Tidak
selalu adil. Tapi kita harus tetap bersyukur. Setidaknya kita bisa makan dari
hasil kerja sendiri."
Mereka tiba di sungai. Rakit sederhana dari bamboo, buatan
baru karena yang lama hanyut, masih tertambat di pohon randu dengan tali ijuk.
Wahyono menaiki rakit itu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Joko.
"Pegangan erat-erat, Nak. Airnya agak besar. Duduk di
tengah, jangan di pinggir."
Rakit itu bergerak perlahan melawan arus. Joko memandangi
air sungai yang berwarna coklat keruh. Di beberapa tempat, ia melihat ikan-ikan
kecil berenang.
"Yah, kalau aku besar nanti, aku akan buat jembatan di
sini," kata Joko tiba-tiba.
Wahyono tersenyum. "Bagus, Nak. Nanti kalau ada
jembatan, kita tidak perlu naik rakit lagi."
"Dan tidak perlu takut tenggelam."
"Kau takut tenggelam, Nak?"
Joko mengangguk pelan. "Sedikit, Yah. Tapi kalau sama
bapak, aku tidak takut. Bapak kan bisa berenang."
Wahyono tertawa. "Bapak juga takut, Nak. Tapi karena
bapak harus bertanggung jawab sama kamu, bapak berani."
Mereka tiba di seberang. Sawah mereka terletak tidak jauh
dari tepi sungai. Hamparan hijau membentang sejauh mata memandang. Di
sana-sini, petani lain sudah mulai bekerja. Ada yang mencangkul, ada yang
menanam, ada yang memperbaiki pematang.
"Kita mulai dari sini, Nak," kata Wahyono sambil
melepas baju. "Kau ikuti cara bapak menanam. Satu lubang, satu bibit.
Jangan terlalu dalam, jangan terlalu dangkal."
Joko mengamati dengan seksama. Ia melihat ayahnya
membungkuk, membuat lubang dengan jari telunjuk, lalu memasukkan bibit padi.
Gerakannya begitu cepat dan tepat. Hanya butuh beberapa detik untuk satu
lubang.
"Ayah, kenapa harus pakai jari? Kenapa tidak pakai alat?"
tanya Joko.
"Alat apa, Nak?"
"Yang seperti di gambar buku. Ada alat tanam padi.
Kayak garu tapi buat nanam. Namanya apa ya... aku lupa."
Wahyono tertawa. "Itu mahal, Nak. Petani sini tidak
punya uang beli alat. Lagipula, pakai jari sudah biasa. Cepat juga. Bapak sudah
hafal."
"Tapi kalau pakai alat, kan bisa lebih cepat?"
"Iya, Nak. Tapi alat itu berat. Susah dibawa ke sawah.
Lagipula, kita harus lewat sungai. Rakit tidak kuat bawa alat berat. Bisa
tenggelam."
Joko diam. Ia kemudian membungkuk dan mulai menanam.
Jari-jari kecilnya memasukkan bibit ke dalam lumpur. Beberapa kali ia salah, terlalu
dalam atau terlalu dangkal. Tapi Wahyono sabar membetulkan.
"Jangan terlalu dalam, Nak. Nanti akarnya susah
tumbuh. Jangan terlalu dangkal, nanti hanyut kena air."
Joko mencoba lagi. Kali ini lebih baik. Ia tersenyum
bangga.
Hari semakin panas. Matahari membakar punggung mereka. Joko
mulai lelah. Tangannya pegal. Punggungnya sakit. Keringat mengucur deras.
"Yah, aku capek," katanya lirih.
"Iya, Nak. Istirahat dulu. Minum dulu. Duduk di bawah
pohon itu."
Mereka duduk di pematang sawah di bawah rindangnya pohon
asem. Wahyono mengeluarkan nasi bungkus dari tas anyaman. Daun pisang dibuka,
terlihat nasi putih dengan lauk tempe goreng dan sambal terasi. Tapi bagi
mereka, itu adalah makanan mewah.
"Yah, kita kerja di sawah tiap hari, tapi kenapa kita
tetap miskin?" tanya Joko tiba-tiba sambil mengunyah.
Wahyono tersedak. Batuk-batuk. Ia tidak menyangka anaknya
akan bertanya hal itu. Tapi ia berusaha tenang.
"Jawabannya susah, Nak. Tapi bapak coba jelaskan. Kita
kerja di sawah, tapi sawah ini bukan milik kita sendiri. Sebagian milik Pak
Karto yang kita sewa. Hasilnya dibagi dua. Setelah dibagi, kita beli pupuk,
beli bibit. Sisanya buat makan sehari-hari. Kadang pas, kadang kurang."
"Kenapa tidak punya sawah sendiri?"
"Karena tanah di desa ini kebanyakan milik tuan tanah
dari kota. Mereka beli murah dulu, sekarang harganya mahal. Petani sini tidak
sanggup beli."
"Tapi kenapa mereka beli tanah sini?"
"Untuk investasi, Nak. Mereka tidak kerja di sawah,
tapi mereka punya sawah. Petani yang kerja, dapatnya sedikit. Itu sistem yang
tidak adil, tapi sudah terjadi bertahun-tahun."
Joko mengerutkan kening. Ia mencoba memahami penjelasan
ayahnya yang rumit.
"Jadi, orang kaya makin kaya, orang miskin makin
miskin?"
Wahyono tersenyum pahit. "Kurang lebih begitu, Nak.
Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa berubah. Lihat Pak Kades. Dulu dia juga
petani. Sekarang dia punya sawah sendiri. Karena dia sekolah tinggi, jadi
pintar, lalu jadi kades. Sekarang dia bisa beli tanah."
"Aku ingin seperti Pak Kades, Yah. Aku ingin sekolah
tinggi."
"Bagus, Nak. Bapak akan kerja keras agar kau bisa
sekolah tinggi. Bapak akan cangkul sawah ini sampai bapak tua, asal kamu
sekolah."
"Tapi Yah, sekolah mahal."
"Tidak apa-apa. Bapak akan cari uang. Bapak akan kerja
tambahan. Yang penting kamu sekolah."
Mereka makan dalam diam. Di kejauhan, sekelompok burung
pipit beterbangan di atas sawah yang mulai menguning.
"Yah, burung itu makan padi kita?"
"Iya, Nak. Mereka juga butuh makan."
"Kenapa tidak kita usir?"
"Sudah diusir pakai orang-orangan sawah. Tapi mereka
pintar, tahu itu cuma boneka. Sekarang mereka sudah berani."
"Kenapa tidak pakai jaring?"
"Jaring mahal, Nak. Lagipula, burung itu juga makhluk
Tuhan. Mereka juga berhak makan. Kita harus berbagi."
Joko tertawa. "Ayah baik sekali sama burung."
"Karena ayah juga makhluk Tuhan, Nak. Sama seperti
mereka. Kita semua sama di mata Tuhan. Yang membedakan hanya ketakwaan dan
amal."
Matahari semakin tinggi. Mereka kembali bekerja. Joko
menanam dengan semangat baru. Setiap bibit yang ia tanam, ia bayangkan akan
tumbuh menjadi padi yang menghidupi mereka. Setiap lubang yang ia buat, ia
bayangkan adalah masa depannya yang cerah.
Sekolah Dasar Negeri Suka Maju terletak di tengah desa,
persis di samping balai desa. Bangunannya sederhana, dinding papan yang sudah
lapuk, lantai semen yang retak-retak, atap seng yang berkarat. Di sana-sini,
seng-seng itu bolong, sehingga kalau hujan, murid-murid harus pindah-pindah
menghindari bocoran.
Halaman sekolah berupa tanah berpasir. Kalau hujan, becek.
Kalau kemarau, berdebu. Di tengah halaman, ada tiang bendera dari bambu yang
sudah melengkung. Bendera merah putih yang dikibarkan setiap Senin sudah kusam,
tapi masih berkibar dengan gagah.
Joko duduk di bangku kelas tiga. Ia termasuk murid yang
rajin, selalu datang pagi-pagi meskipun harus berjalan kaki dua kilometer dari
rumahnya. Bajunya lusuh, tapi bersih. Bukunya dibungkus kertas bekas, tapi tidak
ada yang robek.
"Joko, kamu sudah mengerjakan PR matematika?"
tanya seorang guru, Ibu Sumarni, ketika masuk kelas.
Ibu Sumarni adalah guru yang paling disenangi murid-murid.
Usianya sekitar tiga puluh tahun, lahir tahun 1930, berjilbab rapi, selalu tersenyum.
Ia asli dari desa ini, lulusan SPG, dan memilih mengabdi di kampung halaman
daripada mengajar di kota.
"Sudah, Bu," jawab Joko bangga.
"Coba kumpulkan."
Joko mengeluarkan buku tulisnya dari tas anyaman. Sampulnya
sudah lecek, beberapa halaman sobek. Tapi isinya penuh dengan coretan angka
yang rapi. Ia menulis dengan pensil yang tinggal pendek, hampir seukuran jari
kelingking.
Ibu Sumarni memeriksa sebentar. Matanya berbinar.
"Bagus, Joko. Semua benar. Kamu memang pintar matematika. Nilai
seratus."
Joko tersenyum senang. Di sebelahnya, Budi, teman
sebangkunya, sedang mengerjakan PR dengan tergesa-gesa. Keringat di dahinya
mengucur. Tangannya gemetar.
"Jok, pinjam dong," bisik Budi. "PR-ku belum
selesai. Ibu Sumarni galak kalau lihat PR kosong."
Joko menggeleng. "Nanti ketahuan Bu Guru. Kamu tahu
sendiri, Bu Sumarni itu teliti."
"Sebentar aja. Nilaiku jelek terus kalau tidak
nyontek. Aku malu, Jok."
"Makanya belajar, Bud. Jangan main terus."
"Belajar? Di rumah aku bantu orang tua jualan di pasar
sampai malam. Kapan belajarnya? Kamu pikir enak jadi anak penjual sayur?"
Joko diam. Ia tahu Budi juga anak petani, bahkan lebih
miskin darinya. Ayah Budi hanya buruh tani yang tidak punya sawah sendiri.
Ibunya berjualan sayur keliling dengan pikulan.
"Ya sudah, nanti aku ajarin kamu sepulang
sekolah," kata Joko. "Di bawah pohon mangga. Seperti biasa."
"Bener, Jok?"
"Iya. Tapi kamu harus janji mau belajar beneran.
Jangan cuma main."
Budi mengangguk bersemangat. "Janji! Aku janji!"
Bel masuk berbunyi. Kring... kring... kring... Suara bel
dari kaleng bekas yang dipukul dengan paku. Murid-murid segera masuk ke kelas
masing-masing.
Ibu Sumarni berdiri di depan kelas. "Anak-anak, hari
ini kita akan belajar tentang cita-cita. Siapa yang tahu apa itu
cita-cita?"
Seorang murid, anak perempuan paling depan, mengacungkan
tangan. "Cita-cita itu keinginan, Bu."
"Bagus, Siti. Keinginan apa?"
"Keinginan jadi orang sukses, Bu. Jadi orang
besar."
Ibu Sumarni tersenyum. "Nah, sekarang ibu mau tanya
satu per satu. Apa cita-cita kalian? Mulai dari Andi."
Ia menunjuk murid pertama di deretan kiri. Andi, anak
laki-laki gemuk dengan rambut ikal, berdiri.
"Saya ingin jadi tentara, Bu. Biar bisa
nembak-nembak."
Semua tertawa. Ibu Sumarni tersenyum. "Bagus, Andi.
Tapi jadi tentara itu bukan cuma nembak-nembak. Harus disiplin, harus kuat,
harus pintar. Sanggup?"
"Sanggup, Bu!"
Ia menunjuk murid berikutnya. "Siti?"
Siti berdiri dengan malu-malu. "Saya ingin jadi guru,
Bu. Seperti Ibu."
Ibu Sumarni terharu. Matanya berkaca-kaca. "Wah, bagus
sekali. Ibu doakan Siti jadi guru yang baik. Guru yang sabar, guru yang
menginspirasi."
Giliran Joko tiba. "Joko, cita-citamu apa?"
Joko berdiri. Matanya menerawang ke luar jendela. Di
kejauhan, ia melihat sawah ayahnya yang menguning. Burung-burung pipit
beterbangan. Ia ingat percakapan dengan ayahnya tentang jembatan.
"Saya ingin jadi pemimpin, Bu," jawabnya mantap.
Kelas menjadi hening. Beberapa murid saling pandang. Ibu
Sumarni mengerutkan kening. "Pemimpin? Maksudmu kepala desa?"
"Bisa jadi, Bu. Atau bupati. Atau presiden. Pokoknya
saya ingin memimpin. Ingin membangun desa ini."
"Wah, hebat sekali. Tapi jadi pemimpin itu susah,
Joko. Harus bertanggung jawab, harus adil, harus pintar. Harus berani mengambil
keputusan. Kamu siap?"
"Siap, Bu. Asal saya sekolah tinggi. Asal saya banyak
belajar."
Ibu Sumarni mengangguk bangga. "Bagus, Joko. Ibu yakin
kamu bisa. Tapi ingat, jadi pemimpin bukan untuk mencari kekayaan. Bukan untuk
mencari hormat. Tapi untuk melayani rakyat."
"Itu yang saya mau, Bu. Saya mau melayani desa
saya."
Di luar kelas, seorang lelaki tua melintas dengan sepeda
ontel butut. Rantainya berisik, bunyi kletek-kletek. Ia berhenti di depan
sekolah, lalu memarkir sepedanya di pohon randu. Itu adalah Pak Kades, Kepala
Desa Suka Maju, yang sudah menjabat belasan tahun. Namanya Karman, lahir tahun
1915, kini berusia empat puluh lima tahun.
"Permisi, Bu Guru," sapa Pak Kades dari pintu.
Suaranya berat, penuh wibawa.
Ibu Sumarni segera keluar. "Ada apa, Pak Kades?"
"Ada surat dari kecamatan, Bu. Tentang bantuan buku
untuk sekolah. Tolong diterima."
Ibu Sumarni menerima amplop coklat itu. "Terima kasih,
Pak Kades. Silakan masuk. Anak-anak pasti senang melihat Bapak."
"Tidak usah, Bu. Saya mau ke sawah dulu. Ada rapat
petani. Irigasi mau diperbaiki." Pak Kades melambaikan tangan lalu pergi.
Sepeda ontelnya berderit-derit.
Ibu Sumarni kembali ke kelas dengan wajah berseri-seri.
"Anak-anak, kabar baik! Kita akan dapat bantuan buku dari kecamatan. Buku
pelajaran baru!"
Murid-murid bersorak. Mereka sangat menyukai buku, meskipun
koleksi di sekolah sangat terbatas. Hanya ada beberapa judul, itu pun sudah
lusuh.
"Bu, bukunya apa saja?" tanya Siti.
"Buku pelajaran, buku cerita, mungkin juga buku
pengetahuan. Kata Pak Kades, ada buku ensiklopedia juga."
"Ensiklo... apa, Bu?"
"Ensiklopedia. Buku yang berisi pengetahuan tentang
segala hal. Tentang dunia, tentang hewan, tentang tumbuhan, tentang
sejarah."
"Wah, asyik!"
Joko juga ikut bersorak. Tapi pikirannya melayang pada Pak Kades.
Ia mengagumi lelaki itu. Sederhana, ramah, dan selalu dekat dengan rakyat.
Tidak sombong meski jadi pemimpin.
Sepulang sekolah, Joko dan Budi duduk di bawah pohon mangga
di pinggir lapangan desa. Mereka mengerjakan PR matematika dengan alat
seadanya, papan triplek bekas sebagai meja, ranting sebagai alat tulis di tanah
untuk berhitung.
"Bud, ini cara menghitung luas. Kamu lihat, persegi
panjang ini panjangnya 5, lebarnya 3. Berapa luasnya?"
Budi mengerutkan kening. "5 dikali 3?"
"Betul. Jadi 15."
"Berarti luas itu panjang kali lebar?"
"Iya, Bud. Kamu sudah pintar."
Budi tersenyum senang. "Jok, kamu pintar banget. Nanti
kalau kamu jadi pemimpin, aku mau jadi ajudanmu."
Joko tertawa. "Ajudan? Aku kan belum tentu jadi
pemimpin. Masih lama."
"Pasti. Aku yakin. Kamu beda dari yang lain. Kamu rajin,
pintar, baik hati. Siapa lagi yang cocok jadi pemimpin kalau bukan kamu?"
"Ah, Bud. Kamu ini. Nanti kalau aku jadi pemimpin,
kamu jadi apa?"
"Jadi apa aja. Yang penting bisa bantu kamu. Bisa ikut
membangun desa ini."
Joko terharu. Ia memandangi sahabatnya yang sederhana ini.
Budi memang tidak pintar di sekolah, tapi ia punya hati yang baik.
"Makasih, Bud. Kita sama-sama ya. Sama-sama
berjuang."
Mereka melanjutkan belajar sampai matahari mulai condong ke
barat. Joko harus segera pulang untuk membantu ibunya.
"Makasih, Jok. Besok aku traktir es," kata Budi.
"Es? Kamu punya uang?"
"Punya sedikit. Dari hasil bantu ibu jualan. Dapat
receh."
"Ya sudah, kalau gitu. Tapi jangan dipaksa. Kita minum
air putih juga cukup."
"Tidak, Jok. Kamu sudah banyak bantu aku. Biar aku
yang traktir."
Joko berjalan pulang dengan langkah ringan. Ia melewati
sawah-sawah yang mulai menguning. Ia melewati sungai yang airnya mulai surut.
Ia melewati rumah-rumah panggung sederhana seperti rumahnya.
Sesampai di rumah, ibunya sedang menjemur padi di halaman.
Gabah basah dihamparkan di atas tikar pandan, dijemur di bawah sinar matahari
sore. Ayam-ayam berkeliaran, sesekali dikejar Sri.
"Joko, sana cuci kaki. Nanti makan malam," sapa
Sri tanpa menoleh.
"Iya, Bu. Ayah mana?"
"Masih di sawah. Katanya mau perbaiki pematang yang
jebol. Airnya meluap kemarin."
Joko duduk di beranda. Ia memandangi langit senja yang
mulai jingga. Di kejauhan, ia melihat asap mengepul dari beberapa rumah, pertanda
para ibu mulai memasak malam.
"Bu, aku tadi ditanya Bu Guru tentang cita-cita,"
kata Joko tiba-tiba.
Sri menghentikan kegiatannya. Ia menoleh, memandangi
anaknya. "Lalu? Kau jawab apa?"
"Aku bilang mau jadi pemimpin. Seperti Pak Kades."
Sri tersenyum. Tangannya membersihkan gabah dari kerikil
kecil. "Bagus, Nak. Tapi jadi pemimpin itu berat."
"Aku tahu, Bu. Tapi aku mau coba."
"Bukan coba, Nak. Tapi harus sungguh-sungguh. Kalau
hanya coba, nanti tengah jalan menyerah."
Joko mengangguk mantap. "Aku akan sungguh-sungguh, Bu.
Demi Ayah, demi Ibu, demi desa ini."
Sri memeluk anaknya. Matanya basah. Ia tidak tahu apakah
ini kebanggaan atau kekhawatiran. Yang ia tahu, anaknya yang masih kecil ini
sudah berpikir jauh ke depan. Jauh melampaui usianya.
"Tapi Bu, aku takut," bisik Joko.
"Takut apa?"
"Takut gagal. Takut tidak bisa. Takut
mengecewakan."
Sri melepaskan pelukannya. Ia memandangi mata Joko yang
bening.
"Dengar, Nak. Rasa takut itu wajar. Semua orang punya
rasa takut. Tapi jangan biarkan rasa takut menghentikanmu. Gunakan rasa takut
itu sebagai bahan bakar untuk terus maju. Kau mengerti?"
Joko mengangguk, meski tidak sepenuhnya mengerti.
Malam turun dengan cepat di desa Suka Maju. Setelah hari
gelap, hanya lampu minyak yang menerangi rumah-rumah. Listrik belum masuk ke
desa mereka. Kabel-kabel listrik hanya berhenti di kecamatan, sepuluh kilometer
dari sana.
Wahyono duduk di beranda bersama keluarganya. Lampu minyak
di sampingnya memberi cahaya temaram. Mereka menikmati malam yang tenang
ditemani suara jangkrik dan kodok dari sungai.
"Pak, tadi Joko bilang mau jadi pemimpin," kata
Sri memulai percakapan.
Wahyono menoleh ke arah anaknya yang duduk di dekat ibunya.
"Pemimpin? Wow, hebat sekali anak kita. Pemimpin apa, Nak?"
"Aku mau kayak Pak Kades, Yah," timpal Joko.
"Yang baik sama rakyat. Yang mau turun ke sawah. Yang mau dengerin keluhan
warga."
Wahyono tersenyum. "Pak Kades memang baik, Nak. Tapi
jadi pemimpin itu tidak mudah. Banyak yang mau jadi pemimpin, tapi sedikit yang
mau melayani."
"Maksud Ayah?"
"Banyak orang jadi pemimpin karena ingin kaya, ingin dihormati,
ingin berkuasa. Tapi sedikit yang jadi pemimpin karena ingin membantu rakyat.
Kalau kau mau jadi pemimpin, ingatlah selalu: pemimpin itu pelayan, bukan
penguasa."
Joko merenungkan kata-kata ayahnya. "Tapi Yah, kalau
pemimpin itu pelayan, kenapa banyak yang sombong?"
Wahyono tertawa. "Karena mereka lupa. Mereka terlena
dengan kekuasaan. Itu sebabnya kau harus sekolah tinggi, Nak. Supaya punya
wawasan luas, supaya tidak mudah terlena."
"Dan supaya bisa membangun jembatan?"
"Iya, Nak. Supaya bisa membangun jembatan, membangun
jalan, membangun sekolah. Semua itu butuh ilmu."
"Tapi Yah, aku masih kecil. Masih lama."
"Memang masih lama. Tapi perjalanan seribu mil dimulai
dari satu langkah. Kau sudah melangkah. Sekarang teruslah berjalan."
Di kejauhan, terdengar suara beduk dari masjid desa. Dug...
dug... dug... Waktunya Isya. Mereka segera mengambil air wudhu dan pergi ke
masjid.
Masjid desa juga sederhana. Dindingnya dari bambu anyam,
lantainya dari tanah yang dipadatkan, atapnya dari rumbia. Tapi jamaahnya
selalu ramai. Setelah shalat, mereka biasanya berkumpul sebentar untuk ngobrol.
"Wahyono, bagaimana panen tahun ini?" tanya
seorang petani tua, Mbah Karto, lahir tahun 1890, kini berusia tujuh puluh
tahun, yang duduk di serambi masjid.
"Alhamdulillah, lumayan Pak. Tapi harga gabah lagi
turun. Kata Pak Kades, karena panen raya di mana-mana."
"Iya, itu masalahnya. Petani selalu rugi kalau harga
turun. Tapi kalau tidak panen, juga rugi."
"Kenapa tidak jual nanti kalau harga naik?" tanya
Joko polos dari samping ayahnya.
Semua tertawa. Mbah Karto mengelus kepala Joko. "Nak,
kalau disimpan lama-lama, gabah bisa rusak. Dimakan tikus, dimakan kutu.
Lagipula, kami butuh uang cepat. Anak-anak butuh bayar sekolah, istri butuh
belanja. Mau tidak mau harus jual."
Joko mengangguk-angguk. Ia mulai paham bahwa menjadi petani
itu tidak mudah. Banyak sekali risiko dan ketidakpastian.
"Anakmu ini cerdas, Wahyono," kata Mbah Karto.
"Sekolahkan tinggi-tinggi. Jangan seperti kita. Biar dia jadi orang
pintar, jadi pemimpin. Mungkin dia bisa mengubah nasib petani."
"Iya, Pak. Itu cita-cita saya. Asal ada rezeki."
"Rezeki itu pasti ada, yang penting usaha. Dan doa.
Jangan lupa, orang tua harus selalu mendoakan anaknya."
Mereka berbincang sampai larut malam. Tentang sawah,
tentang harga gabah, tentang pupuk yang mahal, tentang irigasi yang kurang.
Joko mendengarkan dengan seksama. Di telinganya yang masih muda, semua keluhan
itu terekam rapi.
Suatu hari nanti, ia akan menjawab semua keluhan itu.
Sepulang dari masjid, Joko merebahkan diri di tikar pandan.
Ibunya sudah menyiapkan bantal dari kain bekas berisi kapuk. Di sampingnya,
ayahnya sudah terlelap karena lelah. Dengkurnya halus, teratur.
"Bu, besok aku sekolah lagi ya," katanya lirih.
"Iya, Nak. Istirahat yang cukup. Besok ibu bangunin."
"Bu, kita akan selalu begini? Miskin terus?"
Sri tertegun. Ia memandangi anaknya dalam gelap. Cahaya
lampu minyak sudah padam. Hanya sinar bulan yang masuk lewat celah dinding
bambu.
"Mungkin tidak selamanya, Nak. Kalau kau sekolah
tinggi, kalau kau jadi pemimpin, mungkin kita bisa berubah."
"Aku akan berusaha, Bu. Sungguh."
"Bapak dan Ibu percaya, Nak. Sekarang tidur."
Joko memejamkan mata. Dalam tidurnya, ia bermimpi tentang
jembatan besar yang menghubungkan desanya dengan dunia luar. Jembatan dari
beton kokoh, bukan rakit bambu. Ia bermimpi tentang jalan aspal yang mulus,
bukan jalan lumpur. Ia bermimpi tentang listrik yang menerangi setiap rumah,
bukan lampu minyak. Ia bermimpi tentang sekolah yang bagus, bukan atap bocor.
Mimpi itu masih jauh. Tapi ia yakin, suatu hari nanti,
mimpinya akan menjadi nyata. Desa Suka Maju tidak akan selamanya tertinggal
oleh waktu. Perubahan akan datang.
Dan ia, Joko, anak petani miskin itu, akan menjadi bagian
dari perubahan tersebut.
Joko terbangun di tengah malam oleh suara tangisan. Bukan
tangisan keras, tapi isakan tertahan yang berusaha disembunyikan. Ia membuka
mata perlahan. Di kamar sebelah yang hanya terpisah sekat anyaman bambu, ia
mendengar suara ibunya.
"Pak, beras sudah hampir habis. Mungkin cukup untuk
tiga hari lagi," bisik Sri di antara isak tangisnya.
Wahyono menghela napas panjang, napas yang berat seperti
menahan beban seluruh dunia. Joko bisa membayangkan raut wajah ayahnya di balik
kegelapan; kerutan di dahi yang semakin dalam, mata yang sayu meski berusaha
tegar.
"Sabarlah, Bu. Lusa aku ke sawah Pak Kades. Beliau
minta tolong bantu panen. Nanti kita dibayar dengan beras. Mungkin sepuluh
liter."
"Tapi Pak, itu belum cukup. Joko butuh sepatu baru.
Yang lama sudah bolong. Besok dia masuk sekolah, jalan dua kilometer. Nanti
kakinya lecet."
Wahyono diam. Hening yang begitu pekat hingga Joko bisa
mendengar detak jantungnya sendiri. Atau mungkin itu detak jantung ibunya? Atau
ayahnya? Di kegelapan, semua suara terdengar lebih nyata.
"Aku sudah bicara sama Mbah Karto," suara Wahyono
akhirnya terdengar, berat dan dalam. "Beliau bersedia meminjamkan sepatu
bekas cucunya. Tapi kita harus mengambil besok pagi ke rumahnya."
"Sepatu bekas, Pak?"
"Lebih baik daripada bolong, Bu. Cucu Mbah Karto sudah
lulus SD, sepatunya masih bagus. Beliau orang baik, mau memberi."
Sri tidak menjawab. Hanya suara isak yang semakin tertahan.
Joko merasakan sesuatu mengganjal di dadanya. Ia tidak tahu persis apa itu, mungkin
kesedihan, mungkin juga kemarahan. Kenapa mereka harus hidup begini? Kenapa
harus meminjam sepatu bekas? Tapi ia masih terlalu kecil untuk merumuskan semua
pertanyaan itu.
"Bu," panggil Joko tiba-tiba.
Hening di kamar sebelah. Lalu suara Sri berbisik,
"Joko? Kok bangun, Nak?"
Joko bangkit dari tikar pandannya. Dalam gelap, ia
meraba-raba mencari dinding bambu, lalu mengikuti suara ibunya. Ia masuk ke
kamar orang tuanya—sebuah ruangan yang lebih kecil dari kamarnya, hanya cukup
untuk tikar ukuran dua orang.
Di sana, dalam cahaya bulan yang masuk lewat celah-celah
dinding, ia melihat ibunya duduk bersandar, wajahnya basah oleh air mata.
Ayahnya duduk di samping, tangan kekarnya memegang bahu istrinya.
"Joko, kenapa belum tidur?" tanya Wahyono lembut.
"Aku dengar Ibu nangis."
Sri buru-buru menyeka air matanya dengan ujung kebaya
lusuh. "Tidak, Nak. Ibu tidak nangis. Ibu cuma... cuma kemasukan
debu."
"Bohong, Bu. Aku dengar Ibu bilang beras habis. Aku
dengar Ibu bilang sepatuku bolong."
Sri dan Wahyono saling pandang. Di remang-remang, mereka
melihat mata anak mereka yang berbinar, bukan karena bahagia, tapi karena
menahan air mata.
"Joko, Nak..." Sri meraih tangan anaknya.
"Ibu minta maaf. Ibu tidak bisa memberi yang terbaik untukmu."
Joko menggeleng kuat-kuat. Air matanya tumpah. "Tidak,
Bu. Ini bukan salah Ibu. Ini bukan salah Ayah. Aku yang minta maaf. Aku
merepotkan."
Wahyono menarik anaknya ke dalam pelukan. Tubuh kekar itu
bergetar. Joko merasakan sesuatu yang hangat jatuh di kepalanya, air mata
ayahnya. Untuk pertama kalinya ia melihat ayahnya menangis. Lelaki yang setiap
pagi mencangkul sawah dengan penuh semangat, yang setiap siang bekerja di bawah
terik matahari tanpa mengeluh, yang setiap malam memimpin doa dengan suara
mantap, lelaki itu menangis.
"Joko, Nak, dengar," bisik Wahyono di sela
isaknya. "Kau tidak pernah merepotkan. Kau adalah anugerah terbesar dalam
hidup kami. Ibu dan Ayah hanya sedih karena tidak bisa memberi yang cukup. Tapi
kami janji, kami akan berusaha lebih keras lagi. Kami akan bekerja apa saja
asal kau sekolah."
"Tapi Yah, berat. Aku lihat Ayah kerja dari pagi
sampai malam, tapi kita tetap begini."
Wahyono melepaskan pelukannya. Ia memegang pundak kecil
Joko dengan kedua tangannya. Matanya, yang basah oleh air mata, menatap tajam
ke mata anaknya.
"Dengar, Nak. Ini penting. Jangan pernah mengukur
keberhasilan dari seberapa banyak harta. Ukurlah dari seberapa besar usaha dan
keikhlasan. Ayah dan Ibu mungkin tidak bisa memberimu sepatu baru, tapi kami
bisa memberimu doa yang tidak pernah putus. Doa itu lebih mahal dari sepatu
mana pun. Mengerti?"
Joko mengangguk, meski tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia
merasakan kekuatan dalam kata-kata ayahnya. Kekuatan yang membuatnya percaya
bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja.
"Ibu, besok aku pakai sepatu bolong dulu," kata
Joko kemudian. "Nanti kalau ada rezeki, beli yang baru. Tapi kalau tidak
ada, tidak apa-apa. Yang penting aku sekolah."
Sri memeluk anaknya erat-erat. "Nak, Nak... anak baik.
Ibu janji, suatu hari nanti Ibu akan belikan sepatu baru yang bagus. Ibu akan
beli yang kulit, biar awet."
"Tapi Bu, sepatu kulit mahal."
"Tidak apa-apa. Nanti kalau panen raya, kita jual
gabah banyak. Lalu beli sepatu kulit."
Joko tersenyum. Dalam hatinya, ia tahu itu hanya mimpi.
Tapi biarlah mimpi itu ada. Setidaknya memberi harapan di malam yang kelam.
Malam itu, mereka bertiga tidur berdekatan di kamar orang
tua. Joko di tengah, diapit ayah dan ibunya. Kehangatan tubuh mereka mengusir
dingin malam. Joko mendengar ayahnya berdoa dalam hati, bibirnya bergerak-gerak
tanpa suara. Ia juga mendengar ibunya mengucap istigfar berulang-ulang.
Sebelum tidur, Joko berbisik, "Ya Allah, tolong ibu
dan ayahku. Tolong beri mereka kekuatan. Tolong jadikan aku anak yang berbakti.
Aamiin."
Di luar, angin malam berdesir membawa aroma tanah basah.
Burung hantu bersahutan di kejauhan. Kodok-kodok di sawah bernyanyi tanpa
lelah. Alam sedang bertasbih dengan caranya sendiri. Dan di rumah panggung
sederhana itu, sebuah keluarga kecil sedang bertahan melawan kerasnya hidup.
Sepulang sekolah, Joko tidak langsung pulang. Ia ingat pesan
Ibu Sumarni untuk menemuinya di ruang guru. Ia berjalan menuju ruangan
sederhana di ujung barat sekolah—sebuah bilik papan dengan satu meja dan dua
kursi.
"Joko, masuk," sapa Ibu Sumarni ramah.
Joko masuk dengan hati-hati. Ia duduk di kursi yang ditunjuk.
"Ini, Nak. Ibu punya buku matematika tambahan. Dulu
Ibu dapat dari guru Ibu waktu masih SPG. Sekarang Ibu pinjamkan padamu. Baca
dan pelajari. Nanti kalau sudah, kembalikan."
Joko menerima buku itu dengan tangan gemetar. Sampulnya
sudah lusuh, beberapa halaman menguning, tapi isinya masih utuh. Buku
matematika untuk SMP, jauh di atas levelnya yang masih SD kelas tiga.
"Bu, ini buku SMP. Apa saya bisa?"
"Kamu pasti bisa, Joko. Ibu lihat kamu punya bakat
matematika yang luar biasa. Jangan sia-siakan. Pelajari pelan-pelan. Kalau ada
yang tidak paham, tanyakan pada Ibu."
Joko memeluk buku itu erat-erat. "Terima kasih, Bu.
Saya akan jaga buku ini baik-baik."
"Ibu tahu, Nak. Sekarang pulang. Ibu mau tutup
ruangan."
Joko berpamitan. Ia berlari kecil meninggalkan sekolah. Di
tangannya, buku itu terasa sangat berharga, lebih berharga dari apapun yang
pernah ia miliki.
Di tengah jalan, ia bertemu dengan seseorang yang tidak
asing. Sepeda ontel butut dengan suara berderit. Pak Kades.
"Lho, Joko? Kok masih di sini? Sudah pulang
sekolah?" sapa Pak Kades sambil menghentikan sepedanya.
"Sudah, Pak. Baru dari ruang Bu Sumarni. Beliau
pinjami buku."
Pak Kades turun dari sepeda. Ia mendekati Joko dan melihat
buku itu. Matanya berbinar.
"Wah, buku matematika. Kamu suka matematika,
Joko?"
"Suka, Pak. Angka-angka itu indah. Kalau dihitung,
semuanya teratur."
Pak Kades tertawa. "Filsafat sekali kamu, kecil-kecil
sudah ngomong gitu. Sini, duduk dulu. Bapak mau ngobrol sebentar."
Mereka duduk di bawah pohon randu di pinggir jalan. Pak Kades
mengeluarkan rokok daun, lalu menawarkan pada Joko yang menggeleng cepat.
"Belum umur, Pak. Saya masih kecil."
"Bagus. Jangan merokok. Bapak ini sudah terlanjur,
susah berhentinya."
Pak Kades menyalakan rokoknya. Asap mengepul tipis. Matanya
menyipit memandang Joko.
"Joko, Bapak dengar dari Ibu Sumarni, kamu anak
pintar. Nilai-nilaimu bagus. Cita-citamu mau jadi pemimpin, ya?"
Joko mengangguk malu-malu. "Iya, Pak. Tapi masih
jauh."
"Tidak ada yang jauh kalau kau mulai dari sekarang.
Bapak dulu juga anak petani miskin. Orang tua Bapak cuma punya sawah sepetak.
Tapi Bapak sekolah keras. Lalu jadi guru, lalu jadi kades. Semua butuh
proses."
"Berapa lama Bapak sekolah?"
"Sampai SMA, Nak. Itu pun susah. Harus ke kota,
tinggal di kos. Orang tua jual sawah untuk biaya. Tapi hasilnya, Bapak bisa
jadi kades. Bisa bantu desa ini."
Joko merenung. "SMA di kota, Pak? Jauh?"
"Jauh. Tiga puluh kilometer dari sini. Harus naik
rakit dulu, lalu naik bus. Dulu jalannya belum bagus seperti sekarang. Makanya
Bapak ingin banget ada jembatan. Biar anak-anak desa bisa sekolah ke kota
dengan mudah."
"Pak, aku juga ingin bangun jembatan."
Pak Kades tersenyum. "Bagus, Nak. Tapi jembatan itu
mahal. Perlu dana besar, perlu tenaga ahli, perlu izin pemerintah. Tidak bisa
asal bangun."
"Lalu bagaimana caranya, Pak?"
"Dengan menjadi pemimpin yang baik. Kalau kau jadi
pemimpin, kau bisa mengajukan usulan ke pemerintah. Bikin proposal, minta
anggaran. Tapi kau harus punya ilmu untuk itu. Harus tahu bagaimana cara
membuat proposal, harus tahu mekanisme pemerintahan. Itu semua dipelajari di
sekolah."
Joko mengangguk-angguk. Ia mulai memahami bahwa menjadi
pemimpin bukan sekadar keinginan, tapi butuh persiapan panjang.
"Pak Kades, apakah berat jadi pemimpin?"
Pak Kades menghela napas panjang. Rokoknya hampir habis. Ia
membuang puntungnya, lalu mematikan dengan ujung sepatu.
"Berat, Nak. Sangat berat. Kau harus siap menerima
kritik dan cacian. Harus siap dituduh macam-macam. Harus siap bekerja keras
tanpa kenal lelah. Tapi kalau kau ikhlas, semua terasa ringan."
"Pernah Bapak menyesal?"
"Pernah. Banyak kali. Tapi setiap kali melihat senyum
warga, setiap kali melihat anak-anak bisa sekolah, setiap kali melihat sawah
terairi dengan baik, semua penyesalan itu hilang. Lalu semangat datang
lagi."
Joko terdiam. Ia mencoba membayangkan menjadi Pak Kades.
Berat, tapi mulia.
"Pak, aku mau tanya. Bagaimana caranya jadi pemimpin
yang baik?"
Pak Kades tersenyum. Ini pertanyaan yang sering ia dengar,
tapi jarang dari anak sekecil Joko.
"Pertama, kau harus jujur. Jangan pernah korupsi,
meski sedikit. Kedua, kau harus adil. Jangan pilih kasih. Ketiga, kau harus
dekat dengan rakyat. Dengarkan keluhan mereka. Keempat, kau harus pintar.
Belajar terus, jangan pernah berhenti. Kelima, kau harus berani. Berani
mengambil keputusan sulit demi kebaikan bersama."
Joko menghafal dalam hati. Jujur, adil, dekat, pintar,
berani. Lima kunci menjadi pemimpin baik.
"Pak Kades, apakah Bapak mau mengajari saya?"
Pak Kades terkaget. Tidak pernah ada anak kecil memintanya
menjadi guru. Ia terharu.
"Mau, Nak. Siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan
kalau bukan kalian? Nanti kalau kau punya waktu, datanglah ke rumah Bapak.
Bapak punya banyak buku. Bisa kau pinjam."
Mata Joko berbinar. "Bener, Pak? Saya boleh pinjam
buku Bapak?"
"Boleh. Asal kau jaga baik-baik. Dan kau baca sampai
paham."
"Janji, Pak. Saya akan jaga dan baca."
Matahari mulai condong ke barat. Pak Kades harus pergi ke
balai desa untuk rapat. Ia naik sepeda ontelnya.
"Joko, ingat pesan Bapak. Jangan pernah menyerah.
Hidup ini perjuangan. Kalau kau lelah, istirahat sebentar. Lalu lanjutkan lagi.
Jangan pernah berhenti."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Joko memandangi Pak Kades yang menjauh dengan sepeda
bututnya. Di matanya, lelaki itu seperti pahlawan. Sederhana, rendah hati, tapi
berwibawa.
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Joko langsung menuju
rumah Pak Kades. Rumah itu tidak jauh dari balai desa, sebuah rumah panggung
semi permanen, lebih besar dari rumah-rumah lain, tapi tetap sederhana.
Dindingnya dari papan kayu jati, atapnya genteng tanah liat, lantainya dari
semen. Di halaman, ada pohon mangga besar yang rindang.
Joko ragu-ragu di depan pagar bambu. Ia belum pernah ke
rumah Pak Kades. Takut mengganggu. Tapi ingat janji kemarin, ia memberanikan
diri.
"Assalamu'alaikum," sapa Joko pelan.
Tidak ada jawaban. Ia ulangi lagi, lebih keras.
"Wa'alaikumsalam. Siapa itu?"
Seorang perempuan paruh baya keluar dari dapur. Wajahnya ramah,
memakai daster lusuh dan jilbab sederhana. Itu Ibu Kades, istri Pak Karman.
"Saya Joko, Bu. Mau ketemu Pak Kades. Beliau bilang
kemarin, boleh pinjam buku."
Ibu Kades tersenyum. "Ooo Joko. Masuk, Nak. Pak Kades
baru pulang dari sawah. Sedang mandi. Duduk dulu di teras."
Joko masuk dengan hormat. Ia duduk di bangku bambu di
teras. Matanya mengamati sekeliling. Rumah Pak Kades bersih dan rapi. Di
dinding teras, tergantung beberapa foto hitam putih, foto keluarga, foto Pak Kades
saat pelantikan, foto presiden Soekarno.
Tak lama, Pak Kades keluar dengan pakaian bersih. Rambutnya
masih basah. Ia tersenyum melihat Joko.
"Joko, sudah datang? Bagus, bagus. Mari masuk ke
dalam."
Joko mengikuti Pak Kades masuk ke ruang tamu. Di sana, ia
melihat sesuatu yang membuatnya terkesima. Rak buku! Rak buku besar dari kayu
jati, penuh dengan buku-buku. Puluhan, mungkin ratusan. Joko tidak pernah
melihat buku sebanyak itu seumur hidupnya.
"Ini... ini semua buku, Pak?" tanyanya terbata-bata.
Pak Kades tertawa. "Iya, Nak. Ini koleksi Bapak dari
dulu. Ada buku pelajaran, buku cerita, buku agama, buku pengetahuan umum.
Silakan lihat."
Joko mendekati rak buku itu dengan gemetar. Jari-jarinya
menyusuri punggung buku-buku itu satu per satu. Ensiklopedia Indonesia, Ilmu
Pengetahuan Populer, Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, Biografi Tokoh Dunia,
Buku Pintar Matematika, dan masih banyak lagi.
"Pak, saya boleh pinjam yang mana?"
"Boleh semuanya. Tapi baca satu-satu, Nak. Jangan
sekaligus. Nanti pusing."
Joko tersenyum. Ia memilih sebuah buku, Buku Pintar
Matematika untuk SMP. Sampulnya tebal, halamannya banyak. Ia membukanya
pelan-pelan, mencium aroma kertas yang khas.
"Kamu suka matematika ya?" tanya Pak Kades sambil
duduk di kursi.
"Suka, Pak. Angka-angka itu tidak pernah bohong. Kalau
dua tambah dua, ya empat. Tidak bisa tiga."
Pak Kades tertawa. "Filsafatmu itu lho, hebat. Tapi
benar juga. Angka itu jujur. Lain dengan manusia, kadang suka bohong."
Joko ikut duduk. "Pak, saya mau tanya. Apa semua
pemimpin harus pintar matematika?"
"Tidak harus. Tapi matematika melatih logika. Pemimpin
harus punya logika yang baik supaya tidak mudah ditipu. Kalau ada orang yang
memberi usulan, kau bisa hitung untung ruginya. Kalau ada yang laporan
keuangan, kau bisa periksa benar salahnya."
Joko mengangguk-angguk. "Berarti matematika penting
ya, Pak."
"Sangat penting. Tapi yang lebih penting adalah
akhlak. Sehebat apapun matematikamu, kalau akhlakmu buruk, kau akan jadi
pemimpin zalim."
Joko merenung. "Pak Kades, bagaimana cara punya akhlak
baik?"
"Pertama, kau harus punya guru. Orang tua, guru di
sekolah, kiai di masjid. Kedua, kau harus banyak membaca. Buku-buku agama,
buku-buku biografi orang saleh. Ketiga, kau harus bergaul dengan orang baik.
Lingkungan sangat mempengaruhi."
"Di desa kita, siapa orang baik, Pak?"
Pak Kades tersenyum. "Banyak. Orang tuamu itu baik.
Ibu Sumarni itu baik. Mbah Karto itu baik. Para petani yang jujur itu baik. Kau
bisa belajar dari mereka."
Percakapan mereka terputus ketika Ibu Kades keluar membawa
dua gelas teh manis hangat dan sepiring pisang goreng.
"Ini, Nak. Makan dulu," sapa Ibu Kades ramah.
Joko malu-malu. "Terima kasih, Bu."
Ia minum tehnya sedikit. Manis. Sangat manis. Di rumah,
mereka jarang minum teh karena gula mahal. Kadang mereka minum air putih atau
air tajin, air rebusan beras.
"Pak Kades, rumah Bapak punya listrik ya?" tanya
Joko melihat lampu listrik di langit-langit.
"Iya, Nak. Sejak tahun lalu. Listrik masuk sampai
rumah Bapak. Tapi belum sampai ke rumah-rumah warga. Biayanya mahal untuk
pasang kabel."
"Berapa biayanya, Pak?"
"Untuk satu rumah, sekitar lima puluh ribu. Itu belum
termasuk biaya langganan bulanan. Petani sini tidak mampu."
Joko menghela napas. Lima puluh ribu adalah uang yang
sangat besar. Ayahnya bisa panen tiga kali untuk mendapat sebanyak itu.
"Pak, listrik itu penting ya?"
"Sangat penting, Nak. Dengan listrik, anak-anak bisa
belajar malam tanpa lampu minyak. Ibu-ibu bisa menjahit malam hari. Bapak-bapak
bisa dengar radio, tahu berita. Tapi ya itu, mahal."
"Suatu hari nanti, saya ingin listrik masuk ke semua
rumah."
Pak Kades tersenyum. "Kamu punya mimpi besar, Joko.
Jembatan, listrik, sekolah bagus. Tapi ingat, semua butuh proses. Jangan
terburu-buru. Nikmati setiap langkah."
Joko mengangguk. Ia menghabiskan teh dan pisang gorengnya.
Lalu berpamitan.
"Pak Kades, saya pinjam buku ini dulu. Nanti saya
kembalikan kalau sudah selesai."
"Bawa saja, Nak. Tidak usah buru-buru. Bacalah dengan
teliti."
Joko berjalan pulang dengan buku di tangan. Hatinya berbunga-bunga.
Hari ini ia mendapat harta karun, buku dari Pak Kades. Di rumah, ia akan
membaca sampai malam.
Malam itu, Joko belajar dengan semangat baru. Buku pinjaman
dari Pak Kades dibuka di halaman pertama. Ia membaca tentang bilangan bulat,
bilangan prima, faktorisasi, KPK, FPB. Semua dijelaskan dengan detail dan
contoh-contoh.
Lampu minyak di sampingnya mulai redup. Minyak tanah hampir
habis. Sri menambah sedikit dari botol cadangan.
"Joko, matanya nanti rusak. Terlalu dekat dengan
lampu," tegur Sri.
"Iya, Bu. Tapi kalau jauh, tulisannya tidak
kelihatan."
Sri menghela napas. Ia menggeser lampu sedikit, lalu
memberikan sehelai kain untuk alas buku.
"Pakai ini. Biar bukunya tidak kena jelaga."
Joko menurut. Ia terus membaca hingga matanya berat. Jam menunjukkan
pukul sepuluh, waktu yang sangat larut. Di desa, semua orang sudah tidur.
"Joko, tidur," perintah Wahyono tegas.
"Iya, Yah. Sebentar lagi."
Tapi 'sebentar' itu setengah jam lagi. Akhirnya, Wahyono
mematikan lampu paksa.
"Heh, bapak matikan lampunya, lho," gerutu Joko
setengah bercanda.
"Tidur. Besok kan sekolah. Nanti ngantuk di kelas,
dimarahi Bu Guru."
Joko merebahkan diri di tikar. Tapi pikirannya masih aktif.
Ia mengulang-ulang pelajaran yang baru dibaca. FPB dari 12 dan 18 adalah 6. KPK
dari 4 dan 6 adalah 12. Angka-angka itu berputar di kepala.
Di sampingnya, ayahnya sudah terlelap dengan dengkur halus.
Ibunya masih beres-beres di dapur. Joko memejamkan mata. Ia berdoa dalam hati.
"Ya Allah, mudahkan aku belajar. Jadikan aku anak
pintar. Supaya bisa membangun desa ini. Aamiin."
Esok harinya, Joko bangun lebih pagi dari biasanya. Jam
menunjukkan pukul tiga. Masih gelap gulita. Ia meraba-raba mencari lampu
minyak. Dinyalakan. Api kecil menyala.
Diam-diam, ia mengambil buku dan mulai membaca lagi.
Halaman tentang pecahan. 1/2 + 1/3 = 5/6. 2/3 x 3/4 = 1/2. Asyik.
Wahyono bangun jam setengah empat untuk shalat Subuh. Ia
kaget melihat lampu menyala di ruang tengah. Dikiranya lupa dimatikan. Tapi
ternyata Joko sedang belajar.
"Joko? Jam setengah empat kau sudah bangun?"
Joko tersentak. "Iya, Yah. Aku ingin belajar lebih
banyak."
Wahyono mendekat. Ia mengelus kepala anaknya. "Nak,
kau ini keterlaluan. Belajar boleh, tapi jangan sampai lupa istirahat. Nanti
sakit."
"Aku tidak sakit, Yah. Aku senang belajar."
Wahyono tersenyum. Ia tidak bisa marah. Dalam hati, ia
justru bangga. Anaknya punya semangat luar biasa.
"Ya sudah, kalau begitu. Nanti habis Subuh, bantu ayah
sebentar di sawah. Setelah itu kau bisa belajar lagi."
"Iya, Yah."
Mereka shalat Subuh berjamaah. Joko jadi imam karena
hafalannya paling banyak. Suaranya lantang meski kecil. Wahyono dan Sri
mengikuti dari belakang, khusyuk.
Seusai shalat, mereka sarapan sederhana, nasi sisa semalam
dengan kuah sayur bening. Lauknya hanya tempe goreng setengah. Tapi mereka
makan dengan penuh syukur.
"Ayah ke sawah dulu. Kau cuci piring, bantu ibu. Lalu
kau bisa belajar," pesan Wahyono.
"Iya, Yah."
Setelah ayahnya pergi, Joko membantu ibunya membereskan
rumah. Ia menyapu lantai bambu yang berdebu, mencuci piring di sungai, lalu
menjemur pakaian. Baru setelah itu ia bisa belajar lagi.
Matahari mulai naik. Joko duduk di beranda dengan buku di
tangan. Cahaya pagi cukup terang, lebih baik daripada lampu minyak. Ia membaca
dengan tekun.
Sri memperhatikan dari dapur. Ia tersenyum bangga. Anaknya
berbeda. Anaknya punya masa depan cerah. Ia hanya bisa berdoa agar semuanya
lancar.
"Bu, aku ke sekolah dulu," pamit Joko jam
setengah tujuh.
"Iya, Nak. Hati-hati. Bawa bekal."
Joko menerima bungkusan daun pisang dari ibunya. Isinya
nasi dan sambal. Sederhana, tapi cukup.
BAB II
LAHIR DI TENGAH KESEDERHANAAN
Malam itu bulan purnama bersinar terang. Cahayanya
menerangi desa Suka Maju yang sunyi. Hanya suara jangkrik dan kodok yang
terdengar dari sungai. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma tanah basah
dan dedaunan.
Di rumah panggung sederhana dengan dinding bambu dan atap
rumbia, sepasang suami istri muda sedang menanti kelahiran anak pertama mereka.
Suasana tegang namun penuh harap.
Wahyono, saat itu baru berusia tiga puluh tahun, lahir
tahun 1920, duduk gelisah di beranda. Keringat dingin membasahi telapak
tangannya. Ia memandangi langit yang bertabur bintang, seolah mencari jawaban
di antara kerlip cahaya itu.
Di dalam, istrinya Sri terbaring lemah di atas tikar pandan.
Perutnya besar, siap melahirkan. Seorang dukun beranak, Mbah Karti namanya, sedang
mendampingi. Usianya sudah enam puluh tahun, lahir tahun 1890, tapi tangannya
masih cekatan. Sudah puluhan bayi ia lahirkan.
"Bu, sebentar lagi," suara Mbah Karti terdengar
dari dalam. "Tenang, Bu. Jangan tegang. Ibu harus rileks."
Wahyono menggigit bibir. Tangannya basah oleh keringat. Ia
ingin masuk, tapi dilarang oleh Mbah Karti sejak awal.
"Kamu tunggu di luar saja, Le. Tidak baik laki-laki
melihat proses kelahiran. Itu pantangan. Nanti bisa sial."
"Tapi Mbah, saya ingin mendampingi istri saya. Dia
pasti takut."
"Sudah, sudah. Saya yang akan urus. Doa saja yang
banyak. Minta sama Tuhan. Itu lebih berguna."
Wahyono pasrah. Ia kembali duduk di beranda, memandangi langit
malam yang cerah. Bulan purnama bundar sempurna. Bintang-bintang bertaburan
seperti permata di atas beludru hitam.
"Ya Allah, ya Tuhanku," bisiknya lirih, hampir
tidak terdengar. "Berikan keselamatan kepada istriku dan anakku.
Selamatkan mereka. Jadikan anak ini anak yang sholeh, yang berbakti kepada
orang tua, yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Aku tidak punya apa-apa,
Tuhan. Aku hanya petani miskin. Tapi aku berjanji akan mendidiknya sebaik
mungkin."
Di kejauhan, seekor burung hantu bersuara. Hooo... hooo...
Wahyono tersentak. Ia memandang ke arah suara itu. Burung hantu terbang,
meninggalkan ranting pohon randu.
Di dalam, Sri menahan sakit. Tangannya mencengkeram tikar
pandan erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat membasahi seluruh
tubuhnya. Rambutnya basah, lepek.
"Ibu kuat, Bu. Sebentar lagi," ucap Mbah Karti
lembut sambil memijat perut Sri dengan minyak kelapa. "Anaknya sudah siap
lahir. Ibu harus kuat."
"Kalau bisa selamatkan bayinya, Mbah," pinta Sri
lirih. Suaranya lemah. "Saya tidak masalah. Yang penting bayinya
selamat."
"Jangan bicara begitu, Bu. Jangan berpikir yang
tidak-tidak. Kalian berdua harus selamat. Ibu masih muda, masih panjang umur.
Anak ini sudah ditunggu-tunggu."
Sri mengangguk lemah. Ia memikirkan suaminya di luar sana
yang pasti sangat cemas. Ia memikirkan bayi yang akan segera lahir ke dunia. Ia
berdoa dalam hati, memohon keselamatan.
Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Wahyono semakin gelisah.
Ia mondar-mandir di beranda. Kayu-kayu berderit setiap kali ia melangkah.
Beberapa tetangga yang mendengar kabar mulai berdatangan. Mereka duduk di
halaman, ikut menunggu.
"Le, bagaimana keadaan istrimu?" tanya seorang
tetangga, Pak Joyo, yang tinggal tidak jauh dari rumah Wahyono.
"Masih di dalam, Pak. Belum lahir. Sudah dua jam
lebih."
"Semoga lancar. Istriku dulu melahirkan anak pertama
sampai tiga hari. Capek sekali. Tapi alhamdulillah selamat."
Wahyono tambah cemas. Tiga hari? Tidak, ia tidak ingin
istrinya mengalami itu. Ia tidak sanggup melihat Sri menderita lama.
Tiba-tiba, terdengar suara tangisan bayi dari dalam.
Waaaaa... waaaaa... waaaaa... Tangisan nyaring yang memecah keheningan malam.
Suara itu bagaikan musik yang paling indah di telinga Wahyono.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar!" teriak Wahyono
sambil berlari ke dalam.
Ia segera berlari, tanpa menghiraukan larangan Mbah Karti.
Di depannya, Mbah Karti sedang membersihkan seorang bayi mungil yang baru lahir
dengan kain bersih. Bayi itu masih berlumuran darah, tapi sudah menangis keras.
Tangan mungilnya bergerak-gerak.
Sri terbaring lelah dengan senyum tipis di bibir. Wajahnya
pucat, tapi matanya bersinar bahagia.
"Ini anakmu, Le. Laki-laki," kata Mbah Karti
sambil menyerahkan bayi yang sudah dibungkus kain.
Wahyono menerima bayinya dengan tangan gemetar. Ia hampir
tidak percaya. Bayi mungil itu begitu ringan, begitu kecil. Ia menatap wajah
mungil itu dengan takjub. Mata bayi itu masih terpejam, rambutnya tipis,
kulitnya kemerahan. Hidungnya mungil, bibirnya mungil, semuanya mungil.
"Ini anakku," bisiknya. "Ini darah dagingku.
Ini bagian dari diriku dan Sri."
Air matanya menetes. Ia tidak bisa menahan haru.
Sri meraih tangan suaminya dengan lemah. "Pak,
bagaimana wajahnya?"
Wahyono mendekatkan bayi itu ke wajah Sri. "Cantik,
Bu. Seperti ibunya. Alisnya seperti ibunya, hidungnya juga."
Sri tersenyum. "Laki-laki kok cantik."
"Tampan maksudku. Maaf, Bu. Aku terlalu bahagia."
Wahyono tertawa kecil.
Mereka tertawa bersama, meskipun Sri masih lemah. Mbah
Karti menggeleng-geleng melihat pasangan muda yang begitu bahagia. Ia
tersenyum, ikut terharu.
"Nanti malam ini juga harus diadzankan, Le," kata
Mbah Karti. "Biar tumbuh jadi anak sholeh. Biar setan menjauh."
"Iya, Mbah. Nanti saya adzankan sendiri. Sekarang
juga."
Wahyono kemudian memangku bayinya. Dengan suara bergetar,
ia mengumandangkan adzan di telinga kanan bayinya. Suara adzan itu menggema di
rumah sederhana itu, seolah menjadi awal dari perjalanan panjang seorang
manusia.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Bayi itu terkejut, lalu menangis lagi. Tapi Wahyono terus
membaca hingga selesai.
Setelah adzan, ia membaca doa. "Ya Allah, jadikanlah
anak ini anak yang sholeh, yang mencintai-Mu dan dicintai-Mu. Jadikan ia
penyejuk hati orang tuanya. Jadikan ia pemimpin yang adil, yang membawa
kebaikan bagi banyak orang. Jadikan ia bermanfaat bagi agama, bangsa, dan
negara."
Mbah Karti tersenyum mendengar doa Wahyono. "Pemimpin
katamu, Le? Besar sekali doamu."
Wahyono tersipu. "Hanya harapan, Mbah. Yang penting ia
jadi anak sholeh. Jadi anak yang berbakti."
"Iya, Le. Tapi jangan takut berharap besar. Tuhan Maha
Mendengar. Siapa tahu doamu dikabulkan."
Di luar, tetangga-tetangga yang menunggu bersorak gembira
ketika mendengar tangisan bayi. Mereka bertepuk tangan, bersyukur semuanya
selamat.
"Selamat, Le! Selamat!" teriak Pak Joyo dari
luar.
Wahyono keluar sebentar, menunjukkan bayinya. "Ini
anakku, Pak. Laki-laki. Istriku selamat."
"Alhamdulillah. Selamat, Le. Moga jadi anak
sholeh."
Tetangga-tetangga itu pulang satu per satu, membawa kabar
baik. Besok pagi, seluruh desa akan tahu bahwa keluarga Wahyono telah dikaruniai
seorang anak laki-laki.
Pagi harinya, rumah Wahyono dipenuhi tetangga yang datang
bersilaturahmi. Mereka datang berbondong-bondong, membawa berbagai hadiah
sederhana, ada yang membawa beras satu liter, gula setengah kilogram, telur
satu keranjang kecil, bahkan ada yang membawa ayam hidup.
"Selamat, Le. Selamat, Bu," ucap mereka
bergantian sambil menyerahkan bawaan.
Wahyono dan Sri menerima ucapan itu dengan haru. Mereka
tidak menyangka akan mendapat perhatian sebanyak ini. Di desa yang miskin ini,
solidaritas antar warga sangat kuat. Setiap kelahiran, setiap kematian, setiap
peristiwa penting selalu dirayakan bersama.
"Nak, kasih nama apa?" tanya seorang tetua desa,
Mbah Joyo, yang kemarin ikut menunggu.
Wahyono dan Sri berpandangan. Mereka sudah berdiskusi
tentang nama anak mereka selama berbulan-bulan, sejak Sri hamil tujuh bulan.
"Kami ingin memberi nama Joko, Pak," jawab
Wahyono dengan sopan. "Joko Prasetyo."
"Joko Prasetyo? Artinya apa, Le?"
"Joko itu pemuda, Pak. Prasetyo itu setia. Harapannya,
anak ini tumbuh jadi pemuda yang setia, setia kepada Tuhan, setia kepada orang
tua, setia kepada tanah kelahirannya. Setia kepada cita-citanya. Dan karena ia
lahir tepat pada hari kemerdekaan, 17 Agustus, kami berharap ia juga setia pada
nusa dan bangsa."
Tetua itu mengangguk setuju. "Nama yang bagus. Penuh
makna. Semoga tumbuh sesuai namanya. Jangan seperti anak-anak sekarang, banyak
yang durhaka."
Mereka kemudian menggelar doa bersama. Seorang modin, sebutan
untuk penghulu atau pemimpin doa di desa, memimpin pembacaan tahlil dan doa.
Rumah sederhana itu penuh sesak oleh warga yang duduk bersila di lantai bambu.
Beberapa duduk di beranda, beberapa di halaman.
Joko kecil terbaring di samping ibunya. Ia tidur pulas,
tidak terganggu oleh keramaian di sekitarnya. Sesekali ia menggerakkan
tangannya, atau mengernyitkan dahi, seolah sedang bermimpi. Tangannya mungil,
kukunya kecil sempurna.
Setelah acara doa selesai, para tetangga berpamitan pulang
satu per satu. Mereka meninggalkan rumah Wahyono dengan perasaan bahagia.
Kelahiran seorang bayi selalu membawa harapan baru di desa yang tertinggal ini.
"Pak, kita punya anak," kata Sri lirih ketika
mereka berdua saja. Suaranya penuh syukur.
"Iya, Bu. Kita punya anak. Titipan Tuhan yang paling
berharga."
"Apa kita bisa memberinya kehidupan yang layak? Apa
kita bisa menyekolahkannya sampai tinggi?"
Wahyono memeluk istrinya dengan lembut. "Kita akan
berusaha sekuat tenaga, Bu. Asal kita sehat, asal kita mau bekerja keras, Tuhan
pasti memberi jalan. Jangan pesimis."
Tiba-tiba Joko menangis. Tangisnya nyaring, seolah protes
karena ditinggal sendirian di tikar. Tangannya meronta-ronta.
Sri segera menggendongnya dan memberinya ASI. Bayi itu
langsung tenang, menghisap dengan lahap.
"Dia lapar, Pak," kata Sri sambil tersenyum.
Wahyono mengamati istrinya menyusui. Ada keharuan di
dadanya. Ia melihat kedamaian di wajah Sri, meskipun hidup mereka serba
kekurangan. Meskipun besok mereka mungkin harus berhutang lagi.
"Bu, besok aku ke sawah lebih pagi. Mumpung musim
tanam, aku bisa kerja lebih keras. Mungkin bisa nambah penghasilan."
"Jangan lupa istirahat, Pak. Jangan sampai
sakit."
"Iya, Bu. Aku akan jaga kesehatan. Demi kalian
berdua."
Malam turun lagi. Rumah rumbia itu kembali sunyi, hanya
ditemani suara jangkrik dan sesekali tangis Joko yang minta ganti popok atau
minta disusui. Wahyono dan Sri bergantian menjaganya. Mereka tidak mengeluh.
Justru sebaliknya, mereka bahagia. Tangis Joko adalah musik yang paling indah
di telinga mereka.
Tahun-tahun berlalu. Joko tumbuh menjadi anak yang sehat
dan cerdas. Ia mulai bisa berjalan pada usia sepuluh bulan, sebuah prestasi
yang membuat Wahyono dan Sri bangga. Ia mulai bisa berbicara pada usia satu
tahun. Kata pertamanya adalah "Ayah" dan "Ibu" yang membuat
Wahyono dan Sri menangis haru.
Kini, di usia lima tahun, Joko sudah bisa berlari-lari
kecil, sudah bisa mengucapkan kalimat sederhana. Ia aktif, selalu ingin tahu
tentang segala hal.
Ketika Joko berusia lima tahun, ia sudah mulai diajak
ayahnya ke sawah. Bukan untuk bekerja, tapi untuk mengenal lingkungan tempat ia
akan dibesarkan. Wahyono menggendongnya di pundak, melewati pematang sawah yang
sempit.
"Yah, itu apa?" tanya Joko sambil menunjuk seekor
burung yang bertengger di orang-orangan sawah.
"Itu burung pipit, Nak. Dia suka makan padi."
"Kenapa dia makan padi? Kan punya kita."
Wahyono tertawa. "Padi itu milik semua makhluk, Nak.
Burung juga butuh makan. Mereka juga makhluk Tuhan. Kita harus berbagi."
"Tapi kalau habis dimakan burung, kita tidak punya padi."
"Makanya kita buat orang-orangan sawah. Biar burung
takut. Lihat yang di sana, pakai baju bekas dan topi jerami."
Joko memandangi orang-orangan sawah yang terbuat dari
jerami dan baju bekas. "Itu tidak seram, Yah. Cuma boneka. Masa burung
takut sama boneka?"
"Memang. Tapi burung tidak tahu itu boneka. Mereka
pikir itu manusia."
"Kalau aku jadi burung, aku pasti tahu itu boneka. Aku
akan tetap makan padi."
Wahyono tertawa terbahak-bahak. Anaknya ini benar-benar
kritis. Tidak mudah dibohongi.
Setelah Joko berusia lima tahun, ia mulai diajari membantu
pekerjaan ringan di sawah. Misalnya, mengumpulkan rumput untuk pakan ternak,
atau mengambil air minum untuk ayahnya di kendi kecil.
"Yah, kapan aku boleh nanam padi?" tanya Joko
suatu hari ketika melihat ayahnya sedang menanam.
"Nanti kalau sudah besar, Nak. Sekarang masih kecil,
nanti lumpurnya dalam, bisa bahaya. Bisa masuk ke dalam lumpur."
"Aku sudah besar, Yah. Lima tahun. Lihat, aku
tinggi."
Wahyono tersenyum. "Lima tahun itu masih kecil, Nak.
Nanti tujuh tahun, boleh. Itu pun harus hati-hati."
Joko cemberut. Bibirnya manyun. Tapi kemudian ia melihat
sesuatu di pematang sawah.
"Yah, itu apa?"
Wahyono menoleh. Seekor ular sedang melintas di pematang,
melata dengan tenang. Panjangnya sekitar satu meter, warna hijau kecoklatan.
"Itu ular sawah, Nak. Jangan dekati, dia bisa
menggigit. Kalau kena gigitannya, bisa sakit."
Joko menurut. Ia memandangi ular itu dari kejauhan dengan
rasa ingin tahu. Ular itu melata dengan tenang, lalu masuk ke dalam semak-semak
di pinggir sawah.
"Yah, ular itu makan apa?"
"Katak, tikus, kadang anak burung. Pokoknya
hewan-hewan kecil."
"Berarti ular itu membantu kita? Karena dia makan
tikus yang suka makan padi?"
Wahyono tertegun. Ia tidak menyangka anaknya bisa berpikir
sejauh itu. Di usia lima tahun, Joko sudah bisa membuat koneksi logis.
"Iya, Nak. Kamu benar. Ular itu membantu kita. Dia
memakan tikus yang suka merusak tanaman. Makanya jangan dibunuh kalau tidak
mengganggu. Biarkan saja."
Joko mengangguk. Ia mulai memahami bahwa alam ini memiliki
keseimbangan. Setiap makhluk punya peran masing-masing.
Pada sore hari, setelah pulang dari sawah, Joko biasanya
bermain dengan anak-anak tetangga. Mereka bermain sepak bola dengan bola dari
anyaman bambu, bola plastik terlalu mahal. Atau bermain petak umpet di antara
rumah-rumah penduduk.
"Jok, besok main lagi ya," kata Budi, teman
sebaya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Budi lahir tahun 1950, sama
dengan Joko.
"Iya, Bud. Tapi aku harus bantu ibu dulu."
"Bantu apa?"
"Jemur padi, bersihin halaman, kasih makan ayam."
"Kok banyak banget kerjaan rumahmu?"
Joko tersenyum. "Biasa, Bud. Anak petani harus kerja
keras. Kata ayahku, besok kalau sudah besar, kita bisa istirahat."
Mereka berpisah ketika matahari mulai terbenam. Joko pulang
ke rumah, mencuci kaki dan tangan di sumur dengan gayung bambu, lalu masuk ke
dapur membantu ibunya.
"Bu, aku bantu apa?"
"Bantu iris bawang, Nak. Tanganmu sudah cuci?"
"Sudah, Bu."
Joko duduk di dapur dengan papan alas dan sebilah pisau
dapur yang agak besar untuk ukuran tangannya. Dengan hati-hati ia mengiris
bawang merah. Matanya perih, tapi ia tahan. Air matanya menetes, tapi ia terus
mengiris.
"Bu, kenapa kalau iris bawang matanya perih?"
"Karena bawang mengeluarkan gas yang membuat mata
perih, Nak. Namanya gas... apa ya... ibu lupa."
"Berarti kalau kita pakai kacamata, tidak perih?"
Sri tertawa. "Bisa jadi. Tapi kita tidak punya
kacamata."
"Nanti kalau aku besar, aku beli kacamata buat ibu.
Biar tidak perih kalau iris bawang. Juga buat ayah."
Sri terharu. Anaknya ini selalu memikirkan orang lain,
bahkan untuk hal sekecil itu.
"Terima kasih, Nak. Ibu tunggu."
Setiap malam, sebelum tidur, Wahyono selalu bercerita
kepada Joko. Ceritanya bermacam-macam, tentang nabi-nabi, tentang pahlawan
nasional, tentang petani yang sukses, atau sekadar dongeng binatang yang penuh
pesan moral.
"Yah, cerita lagi," pinta Joko setiap malam
sambil merapat ke ayahnya.
"Mau cerita apa?"
"Cerita tentang orang jujur. Yang kemarin belum
selesai."
Wahyono tersenyum. "Baik, Nak. Dengarkan."
Ia memulai cerita dengan suara dalam. "Dahulu kala, di
sebuah desa tidak jauh dari sini, ada seorang petani miskin. Ia punya sawah
kecil di pinggir sungai. Sawahnya cuma seratus meter persegi, tapi ia rawat
dengan sepenuh hati. Suatu hari, ketika mencangkul, ia menemukan emas batangan.
Besar, kira-kira sebesar kepalan tangan."
"Wah, beruntung sekali petani itu," kata Joko
dengan mata berbinar.
"Tapi petani itu tidak langsung mengambil emasnya. Ia
berpikir, ini pasti milik seseorang. Ia mencari tahu siapa pemilik emas itu.
Ternyata, emas itu jatuh dari perahu saudagar kaya yang hanyut beberapa hari
lalu. Saudagar itu sedang dalam perjalanan ke kota."
"Kenapa tidak diambil saja, Yah? Kan bisa buat beli
banyak barang. Beli sawah, beli rumah."
"Karena itu bukan haknya, Nak. Emas itu milik
saudagar. Petani itu sadar, kalau ia mengambil yang bukan haknya, rezekinya
akan hilang. Tuhan tidak memberkati harta haram."
"Lalu saudagarnya senang?"
"Saudagar itu sangat senang. Ia tidak menyangka akan
bertemu orang jujur seperti petani itu. Ia memberi hadiah kepada petani itu, sawah
yang luas, rumah yang bagus, dan uang yang banyak. Petani itu menjadi kaya,
tapi dengan cara yang halal."
Joko merenungkan cerita ayahnya. "Jadi orang jujur itu
pasti dapat balasan?"
"Iya, Nak. Mungkin tidak langsung, mungkin tidak
berupa harta. Tapi orang jujur akan selalu dihormati orang. Hidupnya tenang,
tidurnya nyenyak, tidak dihantui rasa bersalah."
"Tapi Yah, banyak orang jujur yang tetap miskin.
Seperti kita."
Wahyono menghela napas. "Iya, Nak. Itu benar. Tapi
kemiskinan bukan karena kejujuran. Banyak faktor lain. Yang penting, kita tetap
jujur. Karena kejujuran adalah harga diri. Orang boleh miskin, tapi tidak boleh
kehilangan kejujuran."
Pelajaran lain yang diajarkan Wahyono adalah tentang kerja
keras.
Suatu sore, setelah pulang dari sawah, Wahyono duduk di
beranda sambil mengelap keringat. Joko duduk di sampingnya.
"Lihat tangan bapak, Nak," kata Wahyono suatu
hari sambil menunjukkan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan.
Joko memegang tangan ayahnya. Kasar, keras, penuh
garis-garis dalam.
"Kenapa tangan bapak kasar?"
"Karena bapak bekerja keras setiap hari. Mencangkul,
menanam, memotong padi, membajak sawah. Tangan ini tidak pernah mengeluh.
Tangan ini bangga karena bisa memberi makan kita semua. Tangan ini yang membuat
kita bisa hidup."
"Aku mau punya tangan seperti bapak," kata Joko.
"Kamu akan punya, Nak. Tapi bukan tangan yang kasar
karena mencangkul, tapi tangan yang halus karena memegang buku. Bapak ingin
kamu sekolah tinggi, jadi orang pintar. Bapak tidak ingin kamu susah seperti
bapak."
"Tapi bapak tidak susah, kan?"
Wahyono tertawa. "Bapak susah, Nak. Tapi bapak
bahagia. Susah dan bahagia itu beda. Orang bisa susah tapi bahagia, bisa kaya
tapi sengsara. Yang penting hati kita bersih."
Sri juga mengajarkan banyak hal kepada Joko, terutama
tentang kesederhanaan.
"Bu, kenapa kita tidak beli baju baru? Yang ini sudah
kekecilan," keluh Joko suatu hari sambil menunjukkan bajunya yang sudah
sempit di ketiak.
Sri memandangi baju Joko yang memang sudah tidak muat.
"Nanti kalau panen, Nak. Sekarang kita harus hemat. Uangnya buat bayar
sekolah."
"Tapi teman-teman punya baju baru. Budi punya baju
baru dari pasar."
Sri memeluk Joko. "Nak, baju baru itu boleh jadi
menyenangkan. Tapi yang lebih penting adalah hati yang baru. Hati yang bersih,
yang tidak iri, yang tidak dengki. Baju bisa koyak, tapi hati yang bersih akan
abadi. Orang tidak akan mengingat bajumu, tapi mereka akan mengingat
perilakumu."
Joko terdiam. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya
pada ibunya.
Pelajaran paling berharga datang ketika Joko berusia
sembilan tahun. Saat itu, Wahyono jatuh sakit. Demam tinggi selama tiga hari.
Tubuhnya panas seperti bara. Sri kebingungan karena tidak punya uang untuk
berobat ke mantri.
"Pak, bagaimana ini? Demammu tidak turun-turun,"
kata Sri cemas sambil mengompres suaminya dengan air dingin.
"Sabarlah, Bu. Mungkin ini cobaan."
Joko mendengar percakapan itu dari balik pintu. Ia melihat
ayahnya terbaring lemah, ibunya cemas. Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke
luar rumah, menuju rumah Pak Kades di ujung desa. Dengan napas tersengal, ia
mengetuk pintu.
"Pak Kades! Pak Kades!" teriaknya keras.
Pak Kades keluar dengan kaget. Wajahnya masih mengantuk.
"Ada apa, Nak? Jam sepuluh malam begini, ada apa?"
"Bapak saya sakit, Pak. Demam tinggi. Sudah tiga hari
tidak turun. Ibu tidak punya uang untuk beli obat. Tolong, Pak."
Pak Kades tidak bertanya lagi. Ia segera mengambil tasnya
yang berisi obat-obatan sederhana. "Ayo, Nak. Kita ke rumahmu.
Cepat."
Mereka berjalan cepat dalam gelap. Joko memegang senter
minyak, menerangi jalan.
Sesampai di rumah, Pak Kades langsung memeriksa Wahyono. Ia
mengukur suhu, memeriksa denyut nadi, melihat lidah.
"Ini demam berdarah, Le. Harus segera ke puskesmas.
Bahaya kalau tidak ditangani."
"Tapi Pak, saya tidak punya uang," kata Sri
lirih.
"Tidak apa-apa. Saya punya sedikit tabungan. Pakai
dulu. Nanti kalau punya uang, bayar. Yang penting nyawa dulu."
Wahyono bangkit duduk dengan susah payah. "Terima
kasih, Pak Kades. Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Bapak."
"Tidak usah membalas, Le. Yang penting kamu sehat.
Anakmu tadi datang ke rumahku minta tolong. Dia sangat cemas, lari-lari tengah
malam. Dia anak yang baik, berani minta tolong demi orang tuanya."
Wahyono memandangi Joko dengan haru. Anaknya yang masih
kecil itu sudah berani meminta tolong demi kesembuhan ayahnya. Ia memanggil
Joko mendekat.
Setelah Pak Kades pergi dengan janji akan datang lagi
besok, Wahyono memanggil Joko. "Nak, sini."
Joko mendekat. "Iya, Yah?"
"Kamu tadi ke rumah Pak Kades?"
"Iya, Yah. Aku takut ayah kenapa-kenapa. Aku takut
ayah... ayah..."
Wahyono memeluk anaknya erat. "Terima kasih, Nak. Kamu
sudah berani minta tolong. Itu tidak mudah. Banyak orang dewasa yang malu minta
tolong. Tapi ingat, suatu hari nanti, kamu harus bisa menolong orang lain
seperti Pak Kades menolong kita. Itulah gunanya jadi pemimpin."
Joko mengangguk. "Aku akan jadi seperti Pak Kades,
Yah. Menolong orang yang susah. Tidak pilih-pilih."
"Bagus, Nak. Itulah gunanya jadi pemimpin. Bukan untuk
kaya, bukan untuk dipuji, bukan untuk berkuasa. Tapi untuk menolong yang lemah,
untuk membela yang tertindas."
Sejak saat itu, tekad Joko semakin kuat. Ia ingin menjadi
pemimpin. Bukan pemimpin yang sombong, tapi pemimpin yang melayani. Seperti Pak
Kades. Seperti yang diajarkan ayah dan ibunya.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, Wahyono mengajak Joko
menyeberang dengan rakit.
"Ayo, Nak. Ayah akan tunjukkan sawah kita di
seberang," kata Wahyono sambil menggandeng tangan Joko menuju tepi sungai.
Joko memandangi rakit itu dengan campuran rasa takut dan
penasaran. Rakit itu sederhana, lima batang bambu besar yang diikat erat dengan
rotan, membentuk semacam lantai terapung. Di atasnya, hanya ada selembar tikar
pandan usang untuk duduk.
"Ini tidak akan tenggelam, Yah?" tanya Joko ragu.
Wahyono tertawa. "Tidak, Nak. Bambu itu berongga, jadi
bisa mengapung. Lihat, itu rakit bapak sudah bertahun-tahun, tidak pernah
tenggelam. Kecuali kalau kelebihan muatan. Tapi kita berdua ringan."
Joko masih ragu. Kakinya gemetar saat menginjak rakit.
Bambu itu terasa goyah, bergoyang mengikuti gerakan air.
"Pegangan erat-erat, Nak. Duduk di tengah, jangan di
pinggir," perintah Wahyono sambil mendorong rakit dengan sebatang bambu
panjang.
Rakit itu bergerak perlahan meninggalkan tepian. Joko
menoleh ke belakang, melihat desanya semakin menjauh. Ia lalu menatap air
sungai yang berwarna coklat keruh. Di beberapa tempat, ia bisa melihat pusaran
air kecil yang berputar-putar.
"Yah, itu apa? Airnya muter-muter."
"Itu pusaran, Nak. Namanya olakan. Di bawahnya
biasanya ada batu besar atau lubang. Kalau kamu jatuh di situ, bisa tersedot ke
bawah. Makanya jangan main di sungai sendirian."
Joko mengangguk, meskipun rasa penasarannya justru semakin
besar. Ia membayangkan apa yang ada di bawah pusaran itu. Mungkin ikan-ikan
besar. Mungkin batu-batu licin. Mungkin makhluk halus seperti yang sering
diceritakan teman-temannya.
Setelah sekitar dua puluh menit, rakit mencapai seberang.
Joko melompat ke daratan dengan perasaan lega sekaligus bangga. Ia sudah
menyeberangi sungai!
"Ini sawah kita, Nak," kata Wahyono sambil
menunjuk hamparan hijau di hadapan mereka. "Sebagian milik Pak Karto yang
kita sewa. Sebagian kecil milik kita sendiri, warisan dari kakekmu."
Joko memandangi sawah itu. Padi yang baru ditanam tampak
seperti rumput-rumput kecil yang tertata rapi. Di sela-sela tanaman, air
menggenang setinggi mata kaki. Beberapa burung beterbangan, mungkin mencari
serangga.
"Yah, kenapa kita tidak punya sawah sendiri
semuanya?" tanya Joko dengan polosnya.
Wahyono menghela napas. Ia tahu pertanyaan ini akan muncul
suatu hari.
"Karena dulu kakekmu cuma punya sedikit tanah, Nak.
Tanah di desa ini kebanyakan milik tuan tanah dari kota. Mereka beli murah
puluhan tahun lalu. Sekarang harganya mahal, petani seperti kita tidak sanggup
beli."
"Berarti kita kerja untuk orang lain, Yah?"
"Bisa dibilang begitu. Tapi jangan salah sangka, Pak
Karto itu orang baik. Sewanya tidak mahal. Beliau juga sering memberi bantuan
kalau kita kesulitan."
Joko diam. Ia berjalan di pematang sawah, merasakan lumpur
yang basah di sela-sela jari kakinya. Sandal jepitnya ia lepas dan gantungkan
di pematang.
"Yah, enak ya kalau jalan di lumpur?"
Wahyono tersenyum melihat anaknya yang mulai menikmati
sawah. "Lumpur itu memberi kehidupan, Nak. Di dalam lumpur ada banyak zat
hara yang dibutuhkan padi. Kalau tanahnya keras, padi susah tumbuh."
"Berarti lumpur itu baik?"
"Baik, asal tidak berlebihan. Kalau terlalu banyak
lumpur, malah jadi rawa. Padi juga tidak bisa tumbuh."
Joko mengangguk-angguk. Ia mulai memahami bahwa dalam
hidup, segala sesuatu harus seimbang. Tidak boleh terlalu sedikit, tidak boleh
terlalu banyak.
Sepanjang hari itu, Joko membantu ayahnya mencabuti rumput
liar yang tumbuh di sela-sela padi. Tangannya yang kecil cekatan memilah mana
padi dan mana rumput. Beberapa kali ia salah mencabut, tapi Wahyono sabar
membetulkan.
"Itu padi, Nak. Jangan dicabut. Lihat, daunnya lebih
lebar sedikit dari rumput. Warnanya juga lebih hijau tua."
"Rumputnya mana, Yah?"
"Itu, yang daunnya kecil-kecil, merambat. Itu namanya
rumput teki. Sukar dicabut, akarnya dalam."
Joko mencoba mencabut rumput teki. Akarnya memang dalam,
kuat mencengkeram tanah. Ia harus menarik keras-keras sampai hampir jatuh.
"Wah, kuat sekali, Yah."
"Iya, rumput itu kuat bertahan. Kadang kita bisa
belajar dari rumput. Kuat menghadapi segala cuaca, tahan banting. Tapi kalau di
sawah, dia musuh. Harus dibasmi."
Sore hari, mereka pulang dengan rakit. Joko sudah lebih
berani. Ia bahkan berani duduk di pinggir rakit sambil memasukkan kakinya ke
air.
"Hati-hati, Nak. Ada lintah," peringat Wahyono.
Joko langsung menarik kakinya cepat-cepat. "Lintah?
Yang suka hisap darah?"
"Iya. Di sungai ini banyak. Mereka suka menempel di
kaki, lalu hisap darah. Tidak sakit, tapi darah bisa keluar terus kalau tidak
segera dihentikan."
Joko merinding. Ia membayangkan binatang hitam licin itu
menempel di kakinya. Ia memutuskan untuk tidak memasukkan kaki lagi.
Tahun itu adalah tahun paceklik terparah yang pernah
dialami desa Suka Maju. Kemarau panjang melanda sejak April hingga November.
Sawah-sawah mengering, padi gagal panen. Sungai menyusut hingga tinggal setengah
dari biasanya. Bahkan di beberapa tempat, orang bisa menyeberang tanpa rakit
karena air hanya setinggi lutut.
Rumah Wahyono, seperti rumah-rumah lainnya, mulai
kekurangan beras. Persediaan yang ditabung dari panen terakhir sudah habis.
Setiap hari, mereka hanya makan sekali, itu pun dengan porsi yang sedikit.
"Bu, aku lapar," kata Joko suatu malam sambil
memegangi perutnya yang kosong.
Sri menelan ludah. Hatinya perih mendengar keluhan anaknya.
Tapi ia harus tegar.
"Sabarlah, Nak. Besok pagi ibu masak bubur. Pakai
sedikit beras, dicampur singkong. Insya Allah kenyang."
"Tapi kenapa kita tidak punya beras, Bu?"
"Karena kemarau, Nak. Sawah kita kering. Tidak bisa
panen. Ayahmu sudah berusaha cari air, tapi sumur juga kering."
Joko tidak menjawab. Ia hanya berbaring di tikar,
memejamkan mata, berusaha tidur meski perutnya keroncongan.
Wahyono yang baru pulang dari mencari air di sungai, yang
kini tinggal sedikit, duduk di beranda dengan lesu. Tangannya kotor, bajunya
basah oleh keringat dan air sungai.
"Pak, bagaimana?" tanya Sri sambil membawakan
segelas air putih, air sungai yang direbus agar aman diminum.
"Air masih ada, Bu. Tapi payau. Asin. Tidak enak
diminum. Tapi terpaksa, daripada tidak sama sekali."
"Berapa jauh kau cari?"
"Sampai ke hulu. Dua jam jalan kaki. Di sana airnya
masih agak bersih. Tapi sekarang sudah mulai surut juga."
Sri duduk di samping suaminya. Mereka saling berpandangan
dengan tatapan cemas. Bagaimana nasib mereka ke depan? Berapa lama kemarau ini
akan berlangsung?
Tiba-tiba, terdengar suara dari luar. Seseorang datang
dengan senter minyak.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Wahyono. "Siapa
itu?"
Sosok itu mendekat. Ternyata Pak Karto, pemilik tanah yang
disewa Wahyono. Di tangannya, ia membawa sebuah karung kecil.
"Le, ini buat kalian," kata Pak Karto sambil
meletakkan karung itu di teras. "Beras lima liter. Tidak banyak, tapi
cukup untuk beberapa hari."
Wahyono tertegun. Ia hampir tidak percaya.
"Pak Karto, ini... ini terlalu banyak. Saya masih
punya utang sewa ke Bapak. Bagaimana nanti bayarnya?"
"Tidak usah dipikirkan dulu. Yang penting kalian
selamat dulu. Musim paceklik begini, kita harus saling bantu. Nanti kalau panen
sudah baik, baru kita bicara lagi."
Air mata Wahyono menetes. Ia memeluk Pak Karto erat.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus berkata
apa."
"Tidak usah berkata apa-apa. Yang penting, nanti kalau
kamu sudah mampu, bantu juga orang lain. Itu balasan yang paling baik."
Setelah Pak Karto pergi, Sri keluar dari dapur. Ia melihat
karung beras itu dan langsung menangis.
"Pak, ini berkah. Tuhan tidak meninggalkan kita."
"Iya, Bu. Tuhan mengirim rezeki lewat Pak Karto."
Joko yang terbangun karena keributan, keluar dan melihat
karung beras. Matanya berbinar.
"Bu, ada beras? Kita bisa makan?"
"Iya, Nak. Besok pagi ibu masakkan nasi yang
banyak."
Malam itu, mereka bersujud syukur. Dalam kesederhanaan dan
kekurangan, mereka masih merasakan kasih sayang sesama manusia.
Paceklik berlangsung hingga Desember. Selama
berbulan-bulan, mereka bertahan dengan bantuan dari tetangga, saudara, dan
orang-orang baik seperti Pak Karto. Wahyono bekerja serabutan—mencari kayu
bakar di hutan, menjualnya ke kecamatan, kadang menjadi buruh bangunan di desa
tetangga. Sri menjahit pakaian tetangga dengan mesin jahit kaki pinjaman, mendapat
upah seadanya.
Joko, meski masih kecil, ikut membantu. Ia mencari daun
singkong di kebun kosong untuk dimasak, mencari belut di sawah yang mulai
mengering, atau sekadar menjaga adik-adik tetangga yang orang tuanya bekerja.
Suatu sore, ketika sedang mencari kayu bakar di hutan kecil
dekat desa, Joko bertemu dengan Mbah Karto yang sedang duduk di bawah pohon.
"Joko, sedang apa?"
"Mencari kayu, Mbah. Buat jualan. Ayah butuh uang beli
beras."
Mbah Karto tersenyum. "Anak baik. Sini, duduk dulu.
Mbah mau ngobrol."
Joko duduk di samping Mbah Karto. Lelaki tua itu
mengeluarkan sepotong singkong rebus dari bawaannya, lalu membaginya dua.
"Makan, Nak."
Joko menerima dengan ragu. "Tapi ini punya Mbah."
"Tidak apa-apa. Mbah kenyang. Makanlah."
Joko memakan singkong itu dengan lahap. Manis, gurih, meski
tanpa garam. Baginya, itu adalah makanan paling lezat saat itu.
"Joko, Mbah dengar kamu pintar di sekolah."
Joko mengangguk malu-malu. "Biasa saja, Mbah."
"Ibu Sumarni bilang, kamu suka matematika. Nilaimu
selalu bagus."
"Iya, Mbah. Saya suka angka."
"Bagus. Orang pintar itu aset desa. Tapi ingat, jadi
pintar saja tidak cukup. Harus punya hati. Harus peduli sama orang lain.
Seperti Pak Karto yang membantu kalian."
"Pak Karto memang baik, Mbah."
"Ia. Dia itu tuan tanah, tapi tidak sombong. Sewanya
murah. Suka membantu. Itu contoh pemimpin sejati. Meskipun dia bukan kepala
desa, dia pemimpin di hati warga."
Joko merenung. Ia ingat pesan ayahnya tentang Pak Kades.
Sekarang ia mendapat pelajaran baru tentang Pak Karto. Bahwa pemimpin tidak
selalu yang punya jabatan. Bisa juga orang biasa yang peduli pada sesama.
"Mbah, apa saya bisa jadi seperti Pak Karto?"
"Bisa, Nak. Asal kamu punya niat. Tapi jangan hanya
jadi seperti Pak Karto. Jadilah lebih baik. Jadilah orang yang bisa mengubah
desa ini jadi lebih maju. Sehingga tidak ada lagi paceklik seperti ini.
Sehingga tidak ada lagi anak-anak kelaparan seperti sekarang."
Joko terdiam. Ia memandangi hutan di sekitarnya.
Pohon-pohon kering karena kemarau. Tanah retak-retak. Sungai di kejauhan
menyisakan aliran kecil. Paceklik benar-benar membuat mereka menderita.
"Mbah, kenapa paceklik bisa terjadi?"
"Karena alam, Nak. Karena Tuhan. Tapi juga karena
kita. Hutan-hutan di hulu mulai gundul ditebang. Mata air mulai kering. Kita tidak
menjaga alam dengan baik. Akibatnya, kemarau panjang seperti ini."
"Berarti kita yang salah?"
"Kita semua. Termasuk Mbah. Tapi sekarang yang
penting, kita harus bertahan. Nanti kalau hujan turun, kita tanam lagi. Kita
perbaiki lagi."
Joko mengangguk. Ia menyimpan semua pelajaran ini dalam
hatinya. Suatu hari nanti, ia akan mengingatnya. Suatu hari nanti, ia akan
melakukan sesuatu untuk mencegah paceklik terjadi lagi.
Hujan pertama turun di pertengahan Desember. Deras,
mengguyur tanpa ampun. Seluruh desa bersorak gembira. Anak-anak berlarian di
hujan, tertawa-tawa. Orang dewasa menangis haru. Akhirnya, setelah
berbulan-bulan menderita, hujan datang.
Wahyono berdiri di beranda, membiarkan tubuhnya basah oleh
percikan air. Air matanya bercampur air hujan.
"Alhamdulillah," bisiknya. "Engkau masih
sayang pada kami, Tuhan."
Sri keluar dengan membawa baskom, menampung air hujan untuk
diminum dan dimasak.
"Pak, kita selamat," katanya sambil menangis.
"Iya, Bu. Kita selamat."
Joko ikut keluar. Ia membuka mulutnya, menampung air hujan.
Rasanya segar, manis, berbeda dengan air sungai yang payau.
"Bu, enak!" teriaknya.
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lahir dari kelegaan. Tawa
yang lahir dari harapan baru.
Malam itu, hujan terus turun. Angin bertiup kencang. Atap
rumbia bocor di sana-sini. Mereka harus memindahkan tikar beberapa kali. Tapi
tidak ada yang mengeluh. Hujan adalah berkah. Hujan adalah kehidupan.
"Pak, besok kita bisa tanam lagi?" tanya Joko
sebelum tidur.
"Iya, Nak. Besok kita siapkan lahan. Lusa kita tanam.
Semoga panennya bagus."
"Aku ikut bantu, Yah."
"Tentu, Nak. Kau pasti bantu ayah."
Joko tertidur dengan senyum di bibir. Dalam mimpinya, ia
melihat sawah yang hijau, padi yang menguning, dan panen yang melimpah. Tidak
ada lagi kelaparan. Tidak ada lagi paceklik.
Di antara teman-teman sekelasnya, yang paling akrab dengan
Joko adalah Budi. Budi adalah anak seorang buruh tani yang juga miskin, bahkan
lebih miskin dari Joko. Ayah Budi hanya buruh lepas yang tidak punya sawah sama
sekali. Ibunya berjualan sayur keliling dengan pikulan.
Meski demikian, Budi adalah anak yang baik hati, jujur, dan
setia kawan. Ia selalu membela Joko jika ada yang mengejeknya. Ia juga selalu
berbagi bekal, meskipun bekalnya sendiri pas-pasan.
Suatu hari, ketika jam istirahat, Joko dan Budi duduk di
bawah pohon mangga di halaman sekolah. Mereka membuka bekal masing-masing. Joko
membawa nasi dengan sambal dan ikan asin. Budi membawa nasi dengan tempe goreng
setengah.
"Jok, nanti pulang sekolah, aku mau ke sungai. Mau
cari ikan," kata Budi sambil mengunyah.
"Sendirian?"
"Bareng teman-teman kampung. Ada yang punya jala. Mau
dipinjemin."
"Hati-hati, Bud. Sungai lagi besar. Musim hujan
begini, arus deras."
"Tenang, Jok. Aku sudah biasa. Dari kecil main di
sungai."
Joko tidak bisa melarang. Tapi dalam hati ia cemas. Sungai
di musim hujan memang berbahaya. Banyak anak yang tenggelam karena arus deras.
Sepulang sekolah, Joko langsung pulang ke rumah. Ia
membantu ibunya sebentar, lalu belajar. Sore harinya, ia mendengar kabar yang
tidak mengenakkan.
"Joko! Joko!" teriak seseorang dari luar.
Joko keluar. Ternyata Mbah Joyo, tetangganya, datang dengan
wajah cemas.
"Ada apa, Mbah?"
"Budi! Budi tenggelam di sungai! Sekarang dibawa ke
rumahnya. Masih belum sadar!"
Joko terperanjat. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju
rumah Budi. Jaraknya cukup jauh, sekitar satu kilometer. Ia berlari sekuat
tenaga, melewati pematang sawah, melewati kebun, melewati rumah-rumah tetangga.
Sesampai di rumah Budi, ia melihat kerumunan orang. Budi
terbaring di tikar, tubuhnya pucat, bibirnya membiru. Ibunya menangis
tersedu-sedu. Beberapa tetangga mencoba memberikan pertolongan pertama.
"Bud! Bud!" teriak Joko sambil mendekat.
Budi tidak bergerak. Matanya terpejam. Dadanya naik turun
lemah, tanda ia masih bernafas, tapi sangat lemah.
"Kenapa bisa begini?" tanya Joko pada seorang
tetangga.
"Katanya dia ke tengah, ke air dalam. Terus keseret
arus. Temannya lihat, langsung tolong. Tapi dia sudah keburu masuk air
banyak."
Joko menangis. Ia memegang tangan Budi yang dingin.
"Bud, bangun. Aku di sini. Jangan mati, Bud. Kita masih harus sekolah
bareng. Kita masih harus jadi sukses bareng."
Tiba-tiba, Budi batuk. Air keluar dari mulutnya. Ia batuk
keras, lalu matanya terbuka sedikit.
"Jok... Jok..." bisiknya lemah.
"Bud! Bud! Alhamdulillah, kau selamat!"
Budi tersenyum tipis. "Airnya... dingin sekali, Jok.
Aku takut."
Ibu Budi memeluk anaknya erat. "Nak, Nak... jangan
pernah ke sungai lagi. Ibu takut kehilangan kamu."
Malam itu, Joko tidak pulang. Ia meminta izin pada orang
tuanya untuk menjaga Budi. Mereka berdua berbaring di tikar yang sama, saling
bercerita.
"Jok, tadi aku lihat cahaya terang," kata Budi
lirih. "Waktu di dalam air. Waktu aku hampir mati. Aku lihat cahaya.
Terang sekali. Terus ada suara bilang, 'Kembalilah, belum waktunya'."
"Mungkin Tuhan masih sayang sama kamu, Bud. Mungkin
kamu masih punya misi di dunia."
"Misiku apa, Jok? Aku kan cuma anak miskin, tidak
pintar seperti kamu."
"Jangan bilang gitu, Bud. Setiap orang punya misi.
Kamu mungkin jadi orang baik. Kamu mungkin jadi orang yang bisa menolong orang
lain. Itu misi mulia."
Budi terdiam. Ia merenungkan kata-kata Joko.
"Jok, makasih ya sudah jagain aku."
"Iya, Bud. Kamu sahabatku. Aku akan selalu ada
untukmu."
Malam itu, persahabatan mereka semakin erat. Mereka
berjanji akan saling menjaga, saling mendukung, apapun yang terjadi.
Suatu hari di tahun 1962, seorang petugas dari kecamatan
datang ke desa Suka Maju. Ia membawa kabar bahwa semua warga harus memiliki
Kartu Tanda Penduduk (KTP). Sebuah dokumen resmi yang membuktikan identitas
seseorang.
Warga desa berkerumun di balai desa. Mereka antre untuk
difoto dan didata. Joko ikut bersama ayahnya.
"Nama lengkap?" tanya petugas.
"Wahyono bin Karto," jawab Wahyono.
"Tempat, tanggal lahir?"
"Blitar, 12 Agustus 1920."
"Pekerjaan?"
"Petani."
Petugas itu menulis dengan rapi di formulir. Lalu giliran
Joko.
"Nama?"
"Joko Prasetyo bin Wahyono."
"Tempat, tanggal lahir?"
"Blitar, 17 Agustus 1950."
Petugas itu mengangkat alis. "Tanggal 17 Agustus? Hari
kemerdekaan?"
"Iya, Pak," jawab Wahyono bangga. "Anak saya
lahir pas hari proklamasi. Tanggal merah."
"Wah, berarti anak istimewa. Lahir di hari
kemerdekaan. Semoga jadi pejuang juga, ya, Nak."
Joko tersenyum. Ia tidak menyangka tanggal lahirnya
istimewa. 17 Agustus, hari di mana Indonesia merdeka.
Setelah selesai didata, mereka difoto dengan kamera besar
yang ditutupi kain hitam. Joko deg-degan. Ini pertama kalinya ia difoto.
Selesai, mereka pulang dengan membawa sewawan kertas, tanda
jadi bahwa data mereka sudah tercatat. KTP-nya akan jadi beberapa minggu lagi.
"Yah, aku lahir di hari kemerdekaan?" tanya Joko
di perjalanan pulang.
"Iya, Nak. 17 Agustus 1950. Tepat lima tahun setelah
Indonesia merdeka."
"Berarti aku anak kemerdekaan?"
"Bisa dibilang begitu. Kau lahir di zaman merdeka,
tidak seperti ayah yang lahir di zaman penjajahan. Kau harus bersyukur."
"Aku bersyukur, Yah. Tapi apa hubungannya dengan hari
kemerdekaan?"
Wahyono berpikir sejenak. "Mungkin ini pertanda, Nak.
Bahwa kau harus memperjuangkan kemerdekaan juga. Bukan kemerdekaan dari
penjajah, tapi kemerdekaan dari kebodohan, kemerdekaan dari kemiskinan,
kemerdekaan dari keterbelakangan. Itu perjuangan yang tidak kalah berat."
Joko merenung. Ia mengerti apa yang dimaksud ayahnya.
Kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat bisa hidup layak, bisa sekolah, bisa
berobat, bisa bekerja dengan baik.
"Yah, aku akan perjuangkan itu."
"Ayah percaya, Nak."
Malam itu, Joko menulis di buku catatannya. Buku bekas
pemberian Ibu Sumarni. Ia menulis dengan pensil pendeknya.
"17 Agustus 1950. Hari lahirku. Aku lahir di hari
kemerdekaan. Mungkin ini takdir. Aku harus memperjuangkan kemerdekaan desaku
dari keterbelakangan. Aku harus membangun jembatan, membangun jalan, membangun
sekolah. Aku harus jadi pemimpin."
Ia membaca tulisannya berulang-ulang. Lalu menyimpan buku
itu di tempat aman, di bawah tumpukan bajunya.
Suatu malam, Wahyono mengajak Joko ke balai desa. Ada rapat
warga untuk membahas perbaikan irigasi. Joko awalnya enggan, ia ingin belajar, tapi
ayahnya memaksa.
"Ikut, Nak. Kau harus tahu bagaimana rakyat
bermusyawarah. Itu pelajaran berharga."
Joko menurut. Mereka berjalan ke balai desa dengan senter
minyak. Malam itu gelap, bulan sedang tidak bersinar. Hanya suara jangkrik yang
menemani.
Di balai desa, puluhan warga sudah berkumpul. Mereka duduk
bersila di lantai semen, membentuk lingkaran. Lampu petromaks menyala terang di
tengah, mendesis pelan. Asapnya mengepul, bau minyak tanah menyengat.
Pak Kades duduk di kursi kayu sederhana, memimpin rapat. Di
sampingnya, ada sekretaris desa yang siap mencatat.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu," Pak Kades membuka rapat.
"Malam ini kita berkumpul untuk membahas perbaikan irigasi. Saluran air di
Desa Suka Maju sudah banyak yang rusak. Sawah-sawah kekeringan di musim
kemarau. Kita harus perbaiki bersama."
Seorang warga mengangkat tangan. "Pak Kades, bagaimana
dengan biayanya? Kita tidak punya uang."
"Biaya akan ditanggung bersama. Pemerintah desa punya
dana sedikit. Sisanya kita gotong royong. Tenaga dari kita, material dari kita
yang punya."
Warga lain angkat bicara. "Saya punya bambu, Pak. Bisa
buat saluran."
"Saya punya batu, Pak. Dari sungai."
"Saya bisa bantu angkut."
Satu per satu warga menawarkan bantuan. Ada yang punya
bahan, ada yang punya tenaga. Semangat gotong royong begitu kuat.
Joko memperhatikan dengan seksama. Ia melihat bagaimana Pak
Kades memimpin rapat dengan sabar, mendengarkan setiap pendapat, lalu
merumuskan kesimpulan. Ia juga melihat bagaimana warga berdiskusi dengan
hangat, saling menghargai perbedaan pendapat.
"Ini namanya demokrasi, Nak," bisik Wahyono.
"Semua orang punya hak bicara. Keputusan diambil bersama. Itulah cara kita
mengelola desa."
"Tapi kalau ada yang tidak setuju, Yah?"
"Dimusyawarahkan lagi. Dicari jalan tengah. Yang
penting semua pihak merasa dihargai. Tidak ada yang dipaksakan."
Joko mengangguk. Ia mulai memahami bahwa menjadi pemimpin
bukan hanya soal memerintah, tapi juga soal mendengarkan. Bukan hanya soal
memberi perintah, tapi juga soal merangkul semua golongan.
Rapat berlangsung hingga larut malam. Akhirnya, mereka
mencapai kesepakatan. Perbaikan irigasi akan dimulai minggu depan. Setiap
kepala keluarga wajib menyumbang tenaga atau bahan. Mereka yang tidak bisa,
boleh menyumbang makanan untuk para pekerja.
"Bagus, bagus," kata Pak Kades puas. "Kita
sudah sepakat. Sekarang, mari kita tutup dengan doa."
Seorang modin memimpin doa. Semua warga mengangkat tangan,
memohon kelancaran. Suasana khusyuk menyelimuti balai desa yang sederhana itu.
Sepulang rapat, Joko berjalan di samping ayahnya.
Pikirannya penuh dengan apa yang baru disaksikan.
"Yah, aku suka rapat tadi."
"Kau suka? Kenapa?"
"Karena semua orang bicara. Semua didengar. Tidak ada
yang dimarahi. Pak Kades sabar sekali."
"Karena itu tugas pemimpin, Nak. Sabar, mendengar,
merangkul. Kalau pemimpin suka marah-marah, rakyat takut bicara. Akhirnya
banyak masalah tidak ketahuan."
"Aku ingin jadi pemimpin seperti Pak Kades."
"Jadilah lebih baik, Nak. Jadilah pemimpin yang lebih
sabar, lebih adil, lebih pintar. Belajar dari Pak Kades, tapi juga perbaiki
kekurangannya. Setiap orang punya kekurangan."
Joko mengangguk. Ia menyimpan semua pelajaran ini dalam
hatinya.
Usia tiga belas tahun, Joko sudah dianggap cukup dewasa
untuk membantu orang tua secara lebih serius. Setiap pagi, sebelum berangkat
sekolah, ia membantu ayahnya di sawah. Mencabut rumput, memberi pupuk, atau
sekadar menjaga tanaman dari hama.
Setelah pulang sekolah, ia membantu ibunya di rumah.
Menyapu, mencuci piring, memberi makan ayam. Kadang ia juga mencari rumput
untuk kambing tetangga dengan upah seadanya.
"Joko, apa tidak capek?" tanya Sri suatu hari.
"Capek, Bu. Tapi ini demi masa depan."
"Kau ini, bicaranya seperti orang dewasa."
"Kata ayah, anak petani harus mandiri. Tidak boleh
manja. Kalau manja, nanti susah hidupnya."
Sri tersenyum bangga. Anaknya tumbuh menjadi pribadi yang
kuat, mandiri, dan bertanggung jawab.
Suatu hari, ketika sedang membantu ayahnya di sawah, Joko
melihat sesuatu yang menarik. Seorang petani menggunakan alat baru, sejenis
garu besi yang ditarik sapi. Alat itu membajak sawah dengan cepat, jauh lebih
efisien dari cangkul manual.
"Yah, lihat itu. Alatnya canggih."
"Iya, Nak. Itu bajak singkal. Pakai sapi. Petani yang
punya sapi bisa lebih cepat mengolah sawah."
"Berapa harga sapinya, Yah?"
"Mahal, Nak. Bisa seharga satu tahun panen. Kita belum
punya uang sebanyak itu."
Joko merenung. Ia membayangkan jika keluarganya punya sapi.
Ayahnya tidak perlu membajak manual, tidak perlu capek-capek. Sawah bisa
digarap lebih cepat, hasil panen bisa lebih banyak.
"Yah, nanti kalau aku sudah besar, aku belikan sapi
buat ayah."
Wahyono tertawa. "Nanti dulu, Nak. Sekarang fokus
sekolah dulu. Nanti kalau sudah sukses, baru beli sapi. Bukan cuma sapi,
traktor juga bisa."
"Traktor? Itu apa, Yah?"
"Mesin pembajak sawah. Pakai bahan bakar. Lebih cepat
dari sapi. Tapi lebih mahal. Hanya petani kaya yang punya."
"Di kota ada ya, Yah?"
"Ada. Di desa lain juga ada. Tapi di desa kita belum
ada. Mungkin nanti, kalau sudah maju."
Joko membayangkan dirinya mengendarai traktor di sawah.
Membajak dengan cepat, selesai dalam hitungan jam. Itu pasti menyenangkan.
Kemandirian Joko juga terlihat dalam hal belajar. Ia tidak
pernah minta diajari terus-menerus. Ia lebih suka mencari tahu sendiri. Jika
ada pelajaran yang sulit, ia akan membaca buku referensi, bertanya pada kakak
kelas, atau mencari informasi dari sumber lain.
"Joko, kenapa tidak minta diajari ayah?" tanya
Wahyono suatu hari.
"Percuma, Yah. Ayah kan tidak sekolah tinggi. Mending
saya cari sendiri."
Wahyono tersenyum pahit, tapi juga bangga. Anaknya sudah
bisa belajar mandiri.
Kemandirian Joko juga terlihat dalam hal ekonomi. Di usia
tiga belas tahun, ia sudah punya penghasilan sendiri. Dari hasil mencari belut,
mencari kayu bakar, atau membantu tetangga, ia bisa mengumpulkan uang.
Uang itu ia tabung di celengan bambu. Kadang untuk membeli
buku, kadang untuk membeli peralatan sekolah, kadang untuk membantu orang tua.
"Bu, ini buat beli beras," katanya suatu hari
sambil menyerahkan uang seratus rupiah.
Sri terkejut. "Dapat dari mana, Nak?"
"Dari jual belut. Kemarin dapat banyak. Lupa
bilang."
Sri menangis haru. Anaknya yang masih kecil sudah berpikir
untuk membantu ekonomi keluarga.
Tahun 1963 juga menjadi tahun penting bagi Joko. Ia lulus
dari kelas lima dan naik ke kelas enam. Nilainya selalu bagus, selalu masuk
tiga besar. Ibu Sumarni bangga padanya.
"Joko, kamu punya potensi besar. Jangan
sia-siakan," pesan Ibu Sumarni di akhir tahun ajaran.
"Iya, Bu. Saya akan terus belajar."
"Tahun depan kamu kelas enam. Setelah lulus, kamu
harus lanjut ke SMP. Ibu sudah bicara dengan Pak Kades. Ada beasiswa untuk anak
berprestasi. Kamu harus dapat."
Joko mengangguk mantap. Ia tahu ini kesempatan emas.
Beasiswa adalah satu-satunya jalan baginya untuk bisa lanjut sekolah. Tanpa
beasiswa, ia harus putus sekolah dan membantu orang tua di sawah selamanya.
Malam itu, ia berdoa khusus. "Ya Allah, tolong aku.
Beri aku kemudahan dalam ujian. Jadikan aku juara. Agar bisa dapat beasiswa.
Agar bisa sekolah tinggi. Agar bisa membangun desa ini. Aamiin."
Di luar, angin malam berdesir. Bintang-bintang bertaburan
di langit. Alam seolah ikut mendengarkan doa seorang anak petani yang bermimpi
besar.
BAB III
MIMPI SEORANG ANAK DESA
Pagi itu, Joko datang lebih awal ke sekolah. Jam baru
menunjukkan pukul setengah enam, matahari belum terbit. Ia ingin membersihkan
kelas sebelum teman-temannya datang. Ia mengambil sapu lidi dari sudut ruangan,
lalu mulai menyapu.
Ketika sedang asyik menyapu, Ibu Sumarni masuk. Ia kaget
melihat Joko.
"Joko, kamu sudah datang? Jam baru enam," sapa
Ibu Sumarni heran.
"Iya, Bu. Saya mau bersihkan kelas dulu. Kemarin
banyak debu, anginnya kencang."
Ibu Sumarni tersenyum. Anak ini benar-benar istimewa. Di
usianya yang baru tiga belas tahun, ia sudah punya inisiatif seperti ini.
"Bagus, Joko. Tapi jangan lupa sarapan."
"Sudah, Bu. Cuma nasi sisa kemarin. Tapi sudah saya
goreng, jadi nasi goreng."
Ibu Sumarni menghela napas. Ia tahu keluarga Joko miskin.
Tapi anak ini tidak pernah mengeluh, selalu semangat, selalu ceria, tidak
pernah malu dengan keadaannya.
"Joko, sini ibu ajak bicara."
Joko mendekat. Ibu Sumarni duduk di bangku kayu yang tidak
rata itu, lalu menepuk tempat di sampingnya.
"Joko, ibu lihat kamu anak yang pintar dan rajin. Ibu
bangga punya murid seperti kamu."
Joko tersipu. "Terima kasih, Bu. Ibu juga guru yang
baik."
"Tapi ibu ingin tanya. Cita-citamu jadi pemimpin desa,
betul?"
"Betul, Bu."
"Kenapa bukan jadi guru? Atau dokter? Atau insinyur?
Atau pilot?"
Joko berpikir sejenak. Matanya memandang ke luar jendela,
ke arah sawah yang mulai terlihat di kejauhan.
"Karena desa saya butuh pemimpin, Bu. Pemimpin yang
mau merubah desa ini. Ayah saya bilang, pemimpin yang baik itu seperti Pak Kades.
Melayani rakyat, bukan minta dilayani. Saya ingin seperti itu."
Ibu Sumarni terkesan. "Ayahmu bijak sekali. Tapi Joko,
jadi pemimpin desa itu tidak mudah. Kamu harus sekolah tinggi, harus punya ilmu
banyak. Di desa kita, sekolahnya cuma sampai SD. Kalau mau lanjut, harus ke
kampung sebelah. Itu pun jalannya susah."
"Saya tahu, Bu. Tapi saya tidak takut susah. Ayah saya
bilang, untuk jadi orang besar, harus berani susah dulu."
"Bagus. Ibu akan bantu kamu semampu ibu. Ibu punya
buku-buku bekas dari kota. Dulu ibu sekolah di SPG di kota, dapat banyak buku.
Nanti ibu pinjamkan. Kamu boleh baca di rumah."
Mata Joko berbinar. "Bener, Bu? Boleh?"
"Bener. Tapi kamu harus janji, rajin membaca. Dan
rajin membantu teman-teman. Jangan pelit ilmu."
"Saya janji, Bu."
Sejak itu, setiap pulang sekolah, Joko selalu singgah ke
rumah Ibu Sumarni. Rumah itu sederhana, tapi penuh dengan buku. Ada buku
pelajaran, buku cerita, majalah bekas, bahkan koran. Bagi Joko, itu adalah
harta karun.
"Bu, ini buku apa?" tanya Joko suatu hari sambil
memegang buku tebal dengan sampul bergambar pahlawan.
"Itu buku tentang sejarah, Joko. Tentang perjuangan
bangsa Indonesia melawan penjajah."
Joko membuka halaman pertama. Matanya langsung terpaku pada
gambar-gambar pahlawan. Ada Soekarno dengan peci hitamnya, Hatta dengan
kacamata bundar, Diponegoro dengan sorban dan jubah, Pattimura dengan senjata
tradisional.
"Mereka ini pahlawan, Bu?"
"Iya. Mereka berjuang merebut kemerdekaan dari
penjajah. Mereka rela berkorban harta, jiwa, raga demi bangsa ini."
"Berarti mereka pemimpin?"
"Betul. Mereka pemimpin bangsa. Mereka berani, cerdas,
dan rela berkorban untuk rakyat. Mereka tidak takut mati."
Joko membaca dengan tekun. Ia terpesona oleh kisah-kisah
perjuangan itu. Dalam hatinya, ia membayangkan suatu hari nanti, ia juga akan
berjuang. Bukan melawan penjajah, tapi melawan kemiskinan, kebodohan, dan
ketertinggalan.
"Bu, aku boleh pinjam buku ini?"
"Boleh, Joko. Tapi jaga baik-baik. Itu buku kesayangan
ibu."
"Iya, Bu. Aku akan menjaganya."
Suatu hari, ketika mampir ke rumah Ibu Sumarni, Joko
menemukan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di meja ruang tamu,
tergeletak selembar kertas besar berlipat-lipat dengan tulisan-tulisan rapi dan
gambar-gambar hitam putih. Itu adalah koran.
"Bu, ini apa?" tanya Joko sambil memegang koran
itu dengan hati-hati, seolah memegang benda paling berharga di dunia.
"Itu koran, Joko. Namanya Kompas. Ibu langganan dari
kota. Dikirim setiap minggu lewat pos."
"Koran? Untuk apa?"
"Untuk membaca berita. Tentang apa yang terjadi di
dunia. Di luar desa kita, di luar kecamatan, di luar kabupaten, bahkan di luar
negeri."
Mata Joko berbinar. Ia membuka halaman depan. Di sana
terpampang berita tentang presiden Soekarno yang sedang berkunjung ke Jepang.
Ada foto hitam putih presiden dengan setelan jas rapi, berdiri di samping
pesawat.
"Bu, ini presiden kita?"
"Iya, itu Pak Soekarno. Beliau sedang ke Jepang.
Jepang itu negara maju di Asia. Jauh sekali dari sini."
"Jepang? Di mana, Bu?"
Ibu Sumarni mengambil peta dunia yang digantung di dinding
ruang tamunya. Peta itu sudah kusam, lipatannya hampir putus, tapi masih bisa
dibaca.
"Lihat, ini Indonesia. Ini pulau Jawa. Ini desa kita,
kira-kira di sini." Ibu Sumarni menunjuk titik kecil di peta. "Nah,
ini Jepang. Jauh sekali, kan?"
Joko tercengang. Ia tidak pernah membayangkan dunia seluas
ini. Selama ini, dunianya hanya sebatas desa Suka Maju, sawah-sawah di
sekitarnya, sungai yang membelah desa, dan pasar kecamatan yang kadang
dikunjungi. Ternyata, di luar sana ada dunia yang begitu luas.
"Bu, apa yang ada di Jepang?"
"Banyak. Gedung-gedung tinggi, kereta api cepat,
teknologi canggih. Mereka sudah maju. Kita masih tertinggal."
"Kenapa kita tidak bisa seperti mereka, Bu?"
Ibu Sumarni tersenyum pahit. "Karena kita baru merdeka
delapan belas tahun, Joko. Jepang sudah maju sejak lama. Tapi kita bisa
mengejar, asal rakyatnya pintar dan mau bekerja keras."
Joko membaca koran itu dengan saksama. Ia tidak mengerti
banyak kata, tapi Ibu Sumarni dengan sabar menjelaskan setiap istilah asing.
Inflasi, investasi, teknologi, diplomasi, semua kata baru itu masuk ke dalam
kamus pribadinya.
"Bu, boleh saya pinjam koran ini kalau sudah selesai
Ibu baca?"
"Boleh, Joko. Ibu malah senang kalau ada yang baca.
Tapi ingat, koran itu harus dikembalikan. Ibu kumpulkan untuk arsip."
"Arsip? Apa itu?"
"Kumpulan dokumen. Nanti kalau kamu besar, kamu bisa
lihat kembali apa yang terjadi di masa lalu. Koran itu catatan sejarah."
Sejak hari itu, setiap minggu Joko selalu mampir ke rumah
Ibu Sumarni untuk membaca koran. Ia duduk di pojok ruang tamu, berjam-jam
membaca, sesekali bertanya jika ada yang tidak dimengerti. Ibu Sumarni dengan
sabar menjawab semua pertanyaannya.
Suatu minggu, koran memberitakan tentang pembangunan waduk
besar di Jawa Barat. Joko membaca dengan takjub.
"Bu, waduk itu apa?"
"Bendungan besar, Joko. Untuk menampung air. Kalau
musim hujan, air ditampung. Kalau musim kemarau, air dialirkan ke sawah-sawah.
Jadi petani bisa tanam sepanjang tahun, tidak tergantung musim."
"Wah, enak sekali. Di desa kita, kalau kemarau
panjang, sawah kering. Padi gagal panen. Petani susah."
"Itu karena kita belum punya irigasi yang baik, Joko.
Saluran air kita masih sederhana. Tapi suatu hari nanti, pemerintah akan
bangun. Semoga."
Joko membayangkan desanya punya waduk. Air melimpah
sepanjang tahun. Sawah-sawah hijau terus. Tidak ada lagi paceklik. Tidak ada
lagi anak-anak kelaparan seperti yang ia alami beberapa tahun lalu.
"Bu, bagaimana caranya supaya desa kita dapat
waduk?"
"Harus diusulkan, Joko. Pak Kades harus membuat
proposal ke pemerintah kabupaten, lalu ke provinsi, lalu ke pusat. Tapi itu
tidak mudah. Banyak desa lain juga butuh. Harus ada prioritas."
"Berarti kita harus bersaing?"
"Iya, Joko. Itulah hidup. Kita harus berjuang untuk
mendapatkan sesuatu. Tidak ada yang gratis."
Joko merenung. Ia mulai memahami bahwa perubahan tidak
datang dengan sendirinya. Harus ada perjuangan. Harus ada yang memperjuangkan.
Dan ia ingin menjadi salah satu dari mereka yang memperjuangkan perubahan.
Koran-koran bekas itu menjadi bacaan favorit Joko. Ia
membaca tentang pembangunan di kota-kota besar, tentang kemajuan teknologi,
tentang politik dan pemerintahan. Setiap minggu, pengetahuannya bertambah.
Suatu hari, ia membaca berita tentang seorang kepala daerah
yang korupsi. Ia tercengang.
"Bu, ini kepala daerah korupsi? Mencuri uang
rakyat?"
"Iya, Joko. Itu berita sedih. Pejabat yang seharusnya
melayani rakyat, malah mencuri uang rakyat."
"Kenapa bisa begitu, Bu?"
"Karena tidak takut Tuhan, Joko. Karena serakah.
Karena lupa diri. Itu sebabnya kamu harus punya iman yang kuat kalau mau jadi
pemimpin. Jangan sampai tergoda oleh harta."
"Tapi Bu, jadi pemimpin kan kerjanya berat. Masa
gajinya tidak cukup?"
"Gaji pemimpin desa memang kecil, Joko. Tapi itu bukan
alasan untuk korupsi. Lebih baik hidup sederhana tapi jujur, daripada kaya tapi
korupsi. Neraka itu panas."
Joko mengangguk mantap. "Saya tidak akan korupsi, Bu.
Saya janji."
"Semoga kamu tetap istiqomah, Joko. Jangan sampai
kekuasaan melupakanmu pada janji ini."
Kata-kata Ibu Sumarni terpatri dalam hati Joko.
Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menjadi kepala desa, ia selalu ingat
percakapan ini. Ia selalu ingat janjinya untuk tidak korupsi. Dan ia menepatinya,
sampai akhir hayat.
Di desa Suka Maju, ada seorang petani tua yang sangat
dihormati. Namanya Mbah Karto. Usianya sudah tujuh puluh tiga tahun, lahir
tahun 1890, tapi ia masih kuat bekerja di sawah. Pengalamannya tentang
pertanian tidak tertandingi. Ia tahu kapan waktu tepat menanam, kapan waktu
memupuk, kapan waktu memanen. Ia juga tahu tanda-tanda alam—kalau burung
tertentu bersuara, akan turun hujan; kalau langit merah di sore hari, besok
panas terik.
Joko sering mendatangi Mbah Karto. Ia ingin belajar banyak
dari petani tua itu.
"Mbah, kok padi Mbah bisa lebih hijau dari punya
ayah?" tanya Joko suatu hari ketika melihat sawah Mbah Karto yang tampak
lebih subur.
Mbah Karto tersenyum memperlihatkan giginya yang tinggal
setengah. "Rahasia, Nak. Mau tahu?"
"Mau, Mbah!"
"Pupuknya beda. Mbah pakai pupuk kandang, bukan pupuk
kimia. Pupuk kandang lebih lambat, tapi lebih baik untuk tanah. Tanah jadi
gembur, tidak keras."
"Pupuk kandang? Kotoran hewan?"
"Iya. Kotoran kerbau, sapi, kambing. Difermentasi
dulu, lalu disebar ke sawah. Hasilnya, tanah subur alami."
"Kenapa ayah tidak pakai pupuk kandang?"
"Karena ayahmu tidak punya ternak, Nak. Pupuk kandang
harus punya ternak dulu. Atau beli dari tetangga yang punya ternak."
Joko mengangguk. "Berarti kalau kita punya ternak,
kita bisa hemat pupuk?"
"Bisa. Dan ternak juga bisa dijual kalau butuh uang.
Petani yang cerdas, tidak hanya mengandalkan sawah. Harus punya usaha
sampingan. Ternak, kolam ikan, atau dagang."
Joko menyimpan nasihat itu. Suatu hari, ia akan punya
ternak. Kambing atau sapi. Ia akan belajar beternak dari Mbah Karto.
Minggu berikutnya, Joko datang lagi. Kali ia ingin belajar
tentang irigasi.
"Mbah, bagaimana cara mengairi sawah dengan
baik?"
Mbah Karto membawanya ke saluran irigasi kecil di dekat
sawahnya. Air mengalir perlahan, jernih.
"Lihat, Nak. Air harus diatur. Jangan terlalu banyak,
jangan terlalu sedikit. Kalau terlalu banyak, padi bisa busuk. Kalau terlalu
sedikit, padi kering. Harus pas."
"Bagaimana cara mengaturnya?"
"Pakai pintu air sederhana. Dari papan atau bambu.
Bisa dibuka sedikit atau banyak, sesuai kebutuhan. Tapi itu hanya untuk irigasi
sederhana. Kalau mau lebih baik, perlu irigasi teknis dari pemerintah."
"Desa kita belum punya irigasi teknis, Mbah?"
"Belum, Nak. Masih tradisional. Tergantung hujan dan
sungai. Makanya kalau kemarau panjang, susah."
Joko merenung. Ia teringat koran yang dibacanya tentang
waduk dan irigasi teknis. Suatu hari nanti, ia ingin desanya punya itu.
"Mbah, apa susah jadi petani?"
Mbah Karto tertawa. "Susah? Sangat susah, Nak. Tapi
mulia. Petani memberi makan orang banyak. Tanpa petani, kalian tidak akan makan
nasi."
"Tapi kenapa petani miskin, Mbah?"
Mbah Karto terdiam. Pertanyaan itu sulit dijawab. Ia
menghela napas panjang.
"Karena sistem, Nak. Petani hanya penghasil, bukan
penentu harga. Yang menentukan harga adalah tengkulak, pedagang besar,
pemerintah. Petani hanya menerima. Kalau harga naik, mereka senang. Kalau
turun, mereka gigit jari."
"Tapi kenapa tidak melawan, Mbah?"
"Melawan? Dengan apa? Petani tidak punya modal, tidak
punya organisasi kuat. Mereka kerja sendiri-sendiri, tidak bersatu. Makanya
gampang dipecah belah."
Joko terdiam. Ia membayangkan jika petani bersatu.
Membentuk koperasi, menjual hasil bersama, menentukan harga sendiri. Pasti
hidup mereka lebih baik.
"Mbah, nanti kalau saya besar, saya ingin petani
bersatu. Ingin punya koperasi. Ingin harga gabah ditentukan petani sendiri,
bukan tengkulak."
Mbah Karto memandang Joko dengan takjub. Anak kecil ini
berpikir jauh ke depan. Ia mengusap kepala Joko.
"Nak, kamu istimewa. Punya mimpi besar. Tapi ingat,
jalan ke sana panjang dan berat. Banyak yang akan menghalangi. Tapi jangan
menyerah. Mbah dulu juga punya mimpi seperti itu. Tapi Mbah sudah tua, tidak
sempat mewujudkannya. Mungkin kamu yang akan mewujudkannya."
Joko terharu. "Mbah, saya akan berusaha. Doakan
saya."
"Tentu, Nak. Mbah selalu mendoakan generasi muda
seperti kamu."
Tidak semua perjalanan Joko mulus. Di sekolah, ia sering
mendapat ejekan dari teman-temannya, terutama dari anak-anak yang lebih mampu.
"Joko, baju kamu sobek!" ledek seorang anak, Rudi
namanya, anak saudagar kaya di desa, lahir tahun 1950.
Joko menunduk. Bajunya memang sudah usang. Ada sobek kecil
di bagian siku, hasil jahitan ibunya mulai longgar.
"Joko anak miskin! Joko anak miskin!" teriak yang
lain.
Joko mengepalkan tangannya. Ingin rasanya ia memukul
mereka. Tapi ia ingat pesan ayahnya: jangan mudah marah, jangan membalas
kejahatan dengan kejahatan.
Ia berjalan menjauh, memilih duduk di bawah pohon mangga
sendirian. Air matanya menetes, meski ia berusaha menahannya.
Budi, sahabatnya, datang mendekat.
"Jok, jangan didengar omongan mereka. Mereka itu
sombong."
"Aku tahu, Bud. Tapi sakit juga. Kenapa mereka ejek
aku?"
"Karena mereka iri. Kamu lebih pintar dari mereka.
Nilaimu selalu bagus. Mereka tidak terima."
"Aku tidak pernah sombong, Bud. Aku selalu bantu
mereka kalau kesulitan."
"Itu masalahnya. Mereka tidak suka kamu baik hati.
Mereka ingin kamu marah, ingin kamu balas. Tapi kamu tidak pernah. Itu yang
membuat mereka semakin kesal."
Joko tersenyum. Budi selalu bisa menghiburnya.
"Makasih, Bud. Kamu sahabat terbaik."
"Kita sahabat, Jok. Sampai kapanpun."
Ejekan itu tidak berhenti. Bahkan semakin menjadi. Suatu
hari, Rudi dan kawan-kawannya menyembunyikan sepatu Joko. Joko kebingungan
mencari, sementara bel masuk sudah berbunyi.
"Joko, kenapa belum masuk?" tegur Ibu Sumarni.
"Sepatu saya hilang, Bu."
Ibu Sumarni melihat ke arah Rudi yang menyeringai. Ia sudah
tahu siapa pelakunya.
"Rudi, kembalikan sepatu Joko."
"Saya tidak tahu, Bu. Mungkin sepatunya lari
sendiri." Rudi dan teman-temannya tertawa.
Ibu Sumarni marah. "Rudi, jangan main-main. Ini
sekolah, bukan pasar. Kalau tidak segera kembalikan, Ibu panggil orang
tuamu."
Rudi ketakutan. Ia segera mengeluarkan sepatu Joko dari
balik semak-semak.
"Ini, Bu. Cuma bercanda."
"Bercanda yang tidak lucu. Minta maaf pada Joko."
Rudi dengan ogah-ogahan minta maaf. "Maaf, Jok."
Joko menerima sepatunya. "Iya, nggak apa-apa."
Tapi di dalam hatinya, ia sakit. Bukan karena sepatunya
disembunyikan, tapi karena perlakuan tidak adil yang diterimanya.
Sepulang sekolah, Joko menangis di rumah. Sri kaget melihat
anaknya menangis.
"Joko, kenapa? Sakit?"
Joko menceritakan semuanya. Sri memeluknya erat.
"Nak, di dunia ini akan selalu ada orang yang tidak
suka padamu. Bisa karena iri, bisa karena beda. Tapi jangan biarkan mereka
mengubahmu jadi orang jahat. Tetaplah baik, tetaplah rendah hati. Tuhan melihat
semuanya."
"Tapi Bu, sakit."
"Iya, Nak. Sakit itu wajar. Tapi jangan berlarut.
Bangkit lagi. Buktikan bahwa kamu lebih baik dari mereka. Caranya, dengan tetap
berprestasi. Dengan tetap membantu sesama. Mereka akan malu sendiri."
Joko mengangguk. Ia bangkit, mengusap air matanya.
"Iya, Bu. Aku akan buktikan."
Esok harinya, ketika ulangan matematika, Joko mendapat
nilai seratus. Rudi mendapat nilai tiga puluh. Ibu Sumarni mengumumkan nilai di
depan kelas.
"Selamat untuk Joko, nilai seratus. Pertahankan."
Semua bertepuk tangan, termasuk Rudi dengan wajah masam.
Joko tersenyum. Ia tidak perlu membalas ejekan dengan ejekan. Cukup dengan
prestasi, ia sudah membungkam mereka.
Malam itu, Joko terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi aneh.
Dalam mimpinya, ia melihat desa Suka Maju berubah total. Jalan-jalan beraspal
mulus. Rumah-rumah warga sudah tembok, bukan bambu. Sawah-sawah diairi irigasi
modern. Anak-anak sekolah berseragam rapi, naik sepeda atau diantar orang tua
dengan motor.
Ia melihat dirinya sendiri, sudah dewasa, berdiri di balai
desa yang megah. Memakai kemeja putih dan celana hitam. Di dadanya, tersemat
tanda jabatan kepala desa. Warga-warga tersenyum padanya, memberi hormat.
"Pak Kades, terima kasih sudah membangun desa
ini," kata seorang warga.
Joko tersenyum. "Sama-sama. Ini berkat kerja sama kita
semua."
Ia terbangun. Keringat dingin membasahi dahinya. Mimpi itu
begitu nyata. Ia bisa merasakan kebahagiaan dalam mimpinya.
"Ya Allah, apakah itu pertanda?" bisiknya.
Ia bangkit dari tikar. Berjalan ke luar rumah. Bulan sedang
tidak bersinar, langit gelap tanpa bintang. Mungkin akan turun hujan.
Joko duduk di beranda. Pikirannya melayang ke masa depan.
Ia membayangkan dirinya dua puluh tahun lagi, usia tiga puluh tiga. Mungkin
sudah menikah, mungkin sudah punya anak. Mungkin sudah jadi kepala desa, atau
mungkin jadi guru seperti Ibu Sumarni.
"Apakah mimpiku akan terwujud?"
Ia ingat kata-kata ayahnya: "Mimpi itu penting, Nak.
Tapi tanpa kerja keras, mimpi hanya angan-angan."
Ia ingat kata-kata Ibu Sumarni: "Perjalanan seribu mil
dimulai dari satu langkah."
Ia ingat kata-kata Pak Kades: "Jadi pemimpin itu
berat, tapi mulia."
Ia ingat kata-kata Mbah Karto: "Petani harus bersatu,
baru bisa sejahtera."
Semua kata-kata itu berputar di kepalanya. Memberinya
semangat. Memberinya keyakinan.
"Ya Allah, tolong aku. Aku hanya anak petani miskin. Tapi
aku punya mimpi besar. Beri aku kekuatan, beri aku jalan. Aku ingin membangun
desa ini. Aku ingin membuat orang tuaku bangga. Aku ingin membalas kebaikan
semua orang yang telah membantuku."
Doanya panjang, khusyuk. Hingga suara azan Subuh terdengar
dari masjid. Ia segera bangkit, mengambil air wudhu, lalu bergegas ke masjid.
Usai shalat Subuh, Joko duduk di serambi masjid bersama
para jamaah lain. Pak Kades ada di sana, juga Mbah Karto, juga ayahnya. Mereka
mengobrol santai sambil menunggu matahari terbit.
"Joko, semalam saya lihat kamu duduk di beranda
sendirian. Tidak tidur?" tanya Pak Kades.
Joko tersipu. "Saya mimpi, Pak. Lalu tidak bisa
tidur."
"Mimpi apa?"
Joko menceritakan mimpinya. Semua yang hadir terkesima.
Mereka tidak menyangka anak sekecil Joko punya mimpi sebesar itu.
"Wah, Joko, mimpi indah," kata Pak Kades.
"Semoga jadi kenyataan."
"Aamiin," jawab Joko.
Mbah Karto mengelus kepala Joko. "Nak, kalau mimpimu
itu jadi kenyataan, Mbah mungkin sudah tidak ada. Tapi Mbah senang, generasi
muda seperti kamu ada."
"Jangan bicara begitu, Mbah. Mbah masih kuat. Nanti
Mbah lihat desa ini maju."
Mbah Karto tertawa. "Mudah-mudahan, Nak.
Mudah-mudahan."
Wahyono hanya tersenyum. Dalam hati, ia bangga pada
anaknya. Tapi ia juga khawatir. Jangan-jangan mimpinya terlalu besar, terlalu
tinggi. Nanti kalau gagal, bisa hancur. Tapi ia tidak berkata apa-apa. Biarlah
anaknya bermimpi. Mimpi itu gratis. Yang penting, ia tetap membimbingnya.
Pagi itu, dalam perjalanan pulang dari masjid, Joko
bertanya pada ayahnya.
"Yah, apa kita miskin?"
Wahyono tertegun. Pertanyaan itu tiba-tiba dan berat.
"Kenapa tanya begitu, Nak?"
"Teman-teman bilang kita miskin. Mereka ejek aku. Tapi
aku tidak merasa miskin. Aku punya ayah, ibu, sekolah, teman. Apa itu
miskin?"
Wahyono berpikir sejenak. "Miskin itu relatif, Nak.
Secara materi, kita memang kurang. Tapi secara rohani, kita kaya. Kita punya
iman, punya keluarga yang harmonis, punya semangat hidup. Itu lebih berharga
dari harta."
"Tapi kenapa orang menilai miskin dari harta?"
"Karena kebanyakan orang hanya melihat yang kasat
mata. Mereka tidak bisa melihat yang gaib. Tapi Tuhan melihat segalanya. Di
mata Tuhan, orang kaya yang sombong lebih miskin dari orang miskin yang
bersyukur."
Joko mengangguk. "Jadi aku tidak usah sedih kalau diejek
miskin?"
"Tidak usah, Nak. Anggap saja angin lalu. Yang
penting, kamu tetap semangat sekolah. Nanti kalau sudah sukses, kamu bisa bantu
orang miskin lainnya. Itu lebih berarti."
"Seperti Pak Karto?"
"Betul. Pak Karto kaya, tapi rendah hati. Suka menolong.
Itulah contoh orang kaya yang baik."
Mereka tiba di rumah. Sri sudah menyiapkan sarapan, nasi
sisa semalam dengan sayur bening dan sambal. Sederhana, tapi penuh cinta.
"Joko, makan dulu. Nanti sekolah," kata Sri.
Joko makan dengan lahap. Ia tidak pernah mengeluh soal
makanan. Apapun yang disediakan ibunya, ia terima dengan syukur.
Suatu hari, ketika sedang bermain di lapangan desa, Joko
bertemu dengan Rudi dan teman-temannya. Rudi yang masih kesal karena kalah
saing dalam ulangan, kembali meledek.
"Hei, Joko anak miskin! Katanya mau jadi kepala desa?
Mimpi kali, ye!"
Teman-teman Rudi tertawa. Joko diam, mencoba mengabaikan.
"Kepala desa itu harus kaya, harus punya banyak uang!
Kamu punya apa? Cuma baju sobek dan sepatu bolong!" Rudi melanjutkan
ejekannya.
Joko masih diam. Tapi hatinya perih.
Budi yang ada di sampingnya, tidak bisa diam. "Rudi,
jangan keterlaluan! Joko tidak ganggu kamu!"
"Diam kau, anak penjual sayur! Sama-sama miskin!"
Budi marah. Ia maju hendak memukul Rudi, tapi Joko
menahannya.
"Bud, jangan. Biar saja."
"Tapi Jok, mereka..."
"Biar saja, Bud. Ayo kita pergi."
Mereka pergi meninggalkan Rudi dan kawan-kawannya yang
masih tertawa. Joko berjalan cepat, menahan air mata.
Di bawah pohon randu di pinggir sungai, Joko akhirnya
menangis. Budi duduk di sampingnya, ikut sedih.
"Jok, maafin aku. Tidak bisa bantu."
"Kamu sudah bantu, Bud. Dengan menemaniku."
"Tapi kenapa mereka jahat begitu?"
"Karena mereka tidak tahu, Bud. Mereka tidak tahu
perjuanganku. Mereka tidak tahu mimpiku. Mereka hanya melihat dari luar."
Joko memandangi sungai yang mengalir. Airnya tenang, tidak
peduli pada ejekan manusia.
"Bud, aku tidak akan berhenti bermimpi. Biar mereka
tertawa. Biar mereka ejek. Aku akan buktikan suatu hari nanti."
"Aku percaya, Jok. Aku yakin kamu bisa."
Mereka duduk di sana hingga sore. Membicarakan masa depan,
mimpi-mimpi, dan persahabatan.
Malamnya, Joko menulis di buku catatannya.
"Hari ini aku diejek lagi. Rudi bilang mimpiku tidak
mungkin jadi kenyataan karena aku miskin. Tapi aku tidak percaya. Aku akan
buktikan bahwa anak miskin juga bisa jadi pemimpin. Aku akan sekolah tinggi,
aku akan kerja keras, aku akan bantu desa ini. Tuhan, tolong aku."
Ia membaca tulisannya berulang-ulang. Lalu menyimpannya di
tempat aman.
Keesokan harinya, Ibu Sumarni memanggil Joko setelah pulang
sekolah.
"Joko, ibu dengar kamu diejek Rudi kemarin."
Joko menunduk. "Iya, Bu. Tapi tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa? Kamu pasti sedih."
Joko diam. Ibu Sumarni mendekat.
"Dengar, Joko. Orang-orang seperti Rudi itu tidak akan
pernah bisa menghargai mimpi orang lain karena mereka sendiri tidak punya
mimpi. Mereka hanya bisa mengejek. Tapi ingat, orang besar sering diejek
sebelum mereka terbukti besar. Nabi Muhammad juga diejek sebelum jadi rasul.
Soekarno juga diejek sebelum jadi presiden."
Joko mendongak. "Bener, Bu?"
"Bener. Ejekan itu bumbu perjuangan. Semakin banyak
yang mengejek, semakin besar kemungkinan kamu akan sukses. Asal kamu tidak
menyerah."
"Ibu pernah diejek?"
Ibu Sumarni tersenyum. "Sering. Waktu ibu mau jadi
guru, banyak yang bilang, 'Ngajar di desa terpencil, gaji kecil, susah'. Tapi
ibu jalani saja. Sekarang ibu bahagia, bisa mengajar anak-anak seperti
kamu."
"Bu, makasih ya sudah mengajar saya."
"Ibu juga makasih, Joko. Kamu murid yang membuat ibu
bangga. Teruslah bermimpi. Ibu akan selalu mendukungmu."
Joko tersenyum. Dukungan dari Ibu Sumarni seperti air di
padang pasir. Menyejukkan, menyegarkan.
Sepulang dari rumah Ibu Sumarni, Joko mampir ke rumah Pak Kades.
Ia ingin menceritakan apa yang dialaminya.
Pak Kades mendengarkan dengan sabar. Setelah Joko selesai
bercerita, ia berkata,
"Joko, dulu bapak juga sering diejek waktu kecil.
Waktu bapak bilang mau jadi kades, banyak yang ketawa. 'Kamu anak petani, mau
jadi kades? Mimpi!' Tapi bapak buktikan."
"Gimana caranya, Pak?"
"Dengan tidak peduli pada ejekan. Fokus pada tujuan.
Setiap kali ada yang mengejek, bapak jadikan cambuk untuk lebih giat belajar.
Bapak ingin buktikan bahwa mereka salah."
"Terus sekarang, Pak?"
Pak Kades tersenyum. "Sekarang mereka diam. Bahkan
yang dulu mengejek, sekarang minta tolong. Itulah hidup. Orang akan
menghormatimu kalau kamu berhasil. Jangan harap dihormati sebelum
berhasil."
Joko mengangguk. "Pak, saya akan buktikan. Saya akan
jadi kepala desa suatu hari nanti."
"Saya tunggu, Joko. Ingat, perjalanan masih panjang.
Nikmati setiap langkahnya. Jangan terburu-buru. Yang penting konsisten."
Malam adalah waktu favorit Joko. Setelah shalat Isya, ia
duduk di ruang tengah dengan lampu minyak di sampingnya. Nyala api kecil, hanya
sebesar ibu jari, tapi cukup untuk membaca. Ia membuka buku-buku pinjaman dari
Ibu Sumarni, Pak Kades, dan Pak Mansur, pedagang buku bekas di pasar yang
pernah ditemuinya.
Matanya kadang perih karena terlalu dekat dengan lampu. Tangannya
kadang kram karena terus menulis. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus membaca,
terus menulis, terus belajar.
Suatu malam, Sri terbangun dan melihat lampu masih menyala.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Ia keluar dan melihat Joko masih belajar.
"Joko, tidur! Jam sebelas!"
"Sebentar, Bu. Tinggal sedikit."
"Sedikit terus. Nanti pagi kamu ngantuk di
sekolah."
"Iya, Bu. Ini terakhir."
Sri menghela napas. Ia tidak tega melarang anaknya belajar.
Tapi ia juga khawatir kesehatannya.
"Ya sudah. Tapi jangan terlalu malam. Ibu
khawatir."
"Iya, Bu. Makasih."
Joko terus belajar hingga pukul setengah dua belas. Matanya
sudah sangat berat. Ia memejamkan buku, lalu merebahkan diri di tikar. Tanpa
sempat mengganti baju, ia langsung tertidur.
Esok harinya, ia bangun kesiangan. Matahari sudah naik. Ia
terlambat ke sawah.
"Yah, maaf, aku bangun kesiangan."
Wahyono yang sudah dari subuh di sawah, tersenyum.
"Tidak apa-apa, Nak. Ayah tahu kamu belajar sampai malam. Istirahat dulu,
nanti baru ke sawah."
"Tapi Yah, pekerjaan banyak."
"Ayah bisa sendiri. Kau istirahat."
Joko memaksa ikut. Ia tidak enak hati melihat ayahnya
bekerja sendirian. Mereka pergi ke sawah bersama, meski Joko masih mengantuk.
Sepanjang hari itu, Joko bekerja dengan setengah hati.
Tubuhnya lelah, matanya berat. Beberapa kali hampir tertidur di pematang sawah.
"Joko, pulang saja. Istirahat," paksa Wahyono.
"Aku tidak apa-apa, Yah."
"Kamu capek. Pulang. Nanti sore baru ke sawah
lagi."
Joko menurut. Ia pulang, mandi, lalu tidur. Tidur yang
lelap hingga siang.
Ibu Sumarni mendengar kabar bahwa Joko hampir pingsan di
sawah karena kelelahan. Ia datang ke rumah Joko sore harinya.
"Joko, ibu dengar kamu kecapekan."
Joko tersipu. "Iya, Bu. Maaf."
"Jangan maaf-maaf. Ibu hanya khawatir. Kamu harus jaga
kesehatan. Belajar boleh, tapi jangan lupa istirahat. Tubuh juga perlu dijaga.
Kalau kamu sakit, bagaimana mau belajar?"
"Iya, Bu. Saya akan atur waktu."
"Bagus. Kalau perlu, buat jadwal. Kapan belajar, kapan
istirahat, kapan bantu orang tua. Semua harus seimbang. Jangan
keterlaluan."
Joko mengangguk. Sejak saat itu, ia mulai mengatur jadwal.
Belajar maksimal sampai jam sembilan malam. Setelah itu, tidur. Pagi, bangun
subuh, shalat, lalu ke sawah. Siang sekolah. Sore bantu ibu. Malam belajar.
Teratur, disiplin.
Sekolah mengadakan lomba dalam rangka memperingati Hari
Kemerdekaan. Ada lomba baca puisi, lomba pidato, lomba cerdas cermat, dan lomba
olahraga. Ibu Sumarni mendaftarkan Joko untuk lomba baca puisi.
"Joko, kamu ikut lomba baca puisi ya," kata Ibu
Sumarni suatu hari.
Joko kaget. "Lomba baca puisi, Bu? Saya tidak
bisa."
"Kamu bisa. Ibu lihat kamu suka membaca. Suaramu juga
bagus. Coba saja."
"Tapi Bu, saya grogi kalau tampil di depan banyak
orang."
"Itu biasa. Semua orang grogi. Tapi dengan latihan,
grogi bisa diatasi. Ibu akan latih kamu."
Joko ragu, tapi ia tidak berani menolak Ibu Sumarni. Ia
mulai berlatih setiap pulang sekolah. Ibu Sumarni memberinya teks puisi
berjudul "Aku" karya Chairil Anwar. Puisi itu keras, penuh semangat,
cocok dengan jiwa Joko yang memberontak pada kemiskinan.
"Aku mau begini aku mau begitu. Ingin ini ingin itu.
Banyak sedikit. Aku mau begini aku mau begitu. Ingin ini ingin itu. Banyak
sedikit." Joko membaca dengan suara bergetar.
"Jangan gemetar, Joko. Berdiri tegak. Suara keras. Hayati
kata-katanya. Kau harus merasa jadi penyairnya."
Joko mencoba lagi. Kali ini lebih baik. Suaranya mulai
mantap. Matanya berbinar.
"Bagus! Terus latihan."
Hari lomba tiba. Joko berdiri di belakang panggung,
jantungnya berdegup kencang. Ia melihat peserta lain—anak-anak dari desa
tetangga, berpakaian bagus, percaya diri. Ia memandang bajunya yang sudah
usang. Rasa minder mulai datang.
"Joko, jangan takut," bisik Ibu Sumarni di
sampingnya. "Kamu sudah latihan keras. Lakukan yang terbaik. Anggap saja
penonton itu padi di sawah."
Joko tersenyum. Ia ingat nasihat Ibu Sumarni. Anggap
penonton itu padi. Padi tidak akan mengejek.
Gilirannya tiba. Ia naik ke panggung dengan langkah mantap.
Berdiri di depan mikrofon. Memandang penonton yang memenuhi halaman sekolah.
Ratusan pasang mata menatapnya. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Assalamu'alaikum wr wb. Salam sejahtera untuk kita
semua. Saya akan membacakan puisi berjudul 'Aku' karya Chairil Anwar."
Ia mulai membaca. Suaranya lantang, jelas. Kata demi kata
ia lontarkan dengan penuh penghayatan. Tangannya bergerak mengikuti irama
puisi. Matanya menyala-nyala.
"Kalau sampai waktuku, 'ku mau tak seorang kan merayu,
Tidak juga kau..."
Ia membaca dengan penuh semangat. Penonton terpukau. Mereka
tidak menyangka anak desa biasa bisa tampil sebagus itu.
Selesai membaca, Joko menunduk. Tepuk tangan meriah
menggema. Ia tersenyum. Lega. Bahagia.
Pengumuman pemenang dilakukan sore harinya. Joko duduk
tegang di antara peserta lain. Namanya disebut sebagai juara kedua. Ia tidak
menyangka. Ia hanya ingin tampil baik, tidak menyangka menang.
"Selamat, Joko!" Ibu Sumarni memeluknya.
"Kamu hebat!"
Joko tersenyum bahagia. Piala kecil dan uang pembinaan
sepuluh ribu rupiah ia terima dengan haru. Uang itu akan ia berikan pada
ibunya. Piala itu akan ia simpan sebagai kenangan.
Sepulang sekolah, ia berlari ke rumah. Menunjukkan piala
dan uang pada orang tuanya.
"Bu! Yah! Aku juara!"
Wahyono dan Sri terharu. Mereka memeluk Joko bergantian.
"Anak hebat! Anak pintar!" puji Wahyono.
Sri menangis. Ia memandangi piala itu, lalu memandangi
Joko. "Nak, ibu bangga sekali."
Malam itu, mereka makan malam dengan lauk istimewa, ayam
goreng. Uang dari Joko dibelikan ayam oleh ibunya. Mereka makan dengan bahagia.
Sebuah radio tua tiba-tiba muncul di rumah Pak Kades. Itu
adalah radio tabung, besar, dengan knop-kenop yang berkilau. Suaranya kadang
berisik, kadang hilang, tapi bisa menangkap siaran dari mana-mana.
Joko terpesona pertama kali melihat radio itu. Ia mendekat,
memandangi kotak ajaib yang bisa mengeluarkan suara manusia.
"Pak, ini bisa ngeluarin suara dari mana?"
tanyanya takjub.
"Ini radio, Joko. Menangkap gelombang dari stasiun
radio. Ada di Jakarta, Surabaya, bahkan luar negeri kalau malam."
"Luar negeri? Bisa?"
"Coba dengar." Pak Kades memutar knop. Suara
berisik, lalu terdengar suara bahasa asing. "Ini siaran dari Australia.
Bahasa Inggris."
Joko tercengang. Ia tidak mengerti bahasa Inggris, tapi ia
kagum. Dari desa terpencil ini, ia bisa mendengar suara dari negeri seberang.
Setiap malam minggu, Joko diizinkan Pak Kades datang untuk
mendengarkan radio. Ia mendengar berita-berita nasional, pidato-pidato pejabat,
bahkan drama radio dan musik keroncong.
Suatu malam, radio menyiarkan pidato presiden. Joko
mendengarkan dengan saksama. Presiden Soekarno berbicara tentang pembangunan,
tentang pemerataan, tentang kesejahteraan rakyat.
"Pak, apa benar pemerintah mau bangun desa-desa?"
tanya Joko setelah pidato selesai.
"Iya, Joko. Ada program pembangunan. Tapi desa kita
belum masuk. Mungkin nanti."
"Kenapa belum masuk?"
"Karena banyak desa lain yang lebih parah. Mereka
didahulukan. Tapi suatu hari, pasti giliran kita."
Joko menghela napas. Ia berharap giliran desanya segera
tiba.
Dari radio, Joko belajar banyak hal. Ia tahu bahwa di luar
sana ada dunia yang bergerak cepat. Ada teknologi baru, ada pembangunan di
mana-mana. Sementara desanya masih stagnan, jalan masih becek, sekolah masih
bocor.
"Kenapa kita tidak bisa seperti mereka?" tanyanya
pada Pak Kades suatu hari.
"Kita bisa, Joko. Tapi butuh waktu. Butuh perjuangan.
Dan butuh pemimpin yang mau berjuang untuk desanya."
"Aku akan jadi pemimpin itu, Pak."
Pak Kades tersenyum. "Aku tahu, Joko. Aku tahu."
Selain radio, buku-buku tetap menjadi jendela dunia utama
bagi Joko. Melalui buku, ia mengenal tokoh-tokoh besar: Soekarno, Hatta, Ki
Hajar Dewantara, RA Kartini. Ia membaca biografi mereka, belajar dari
perjuangan mereka.
Dari buku, ia juga belajar tentang geografi, tentang
negara-negara lain. Amerika dengan patung liberty-nya. Jepang dengan teknologi
canggihnya. Eropa dengan sejarah panjangnya. Ia membayangkan dirinya pergi ke
tempat-tempat itu suatu hari nanti. Bukan untuk wisata, tapi untuk belajar.
Lalu pulang, membangun desanya.
"Suatu hari nanti," bisiknya pada buku.
"Suatu hari nanti."
Ini tahun terakhirnya di sekolah dasar. Setelah lulus, ia
harus memilih: lanjut SMP atau berhenti.
Pilihan itu berat. Secara ekonomi, keluarganya tidak mampu
membiayai SMP. Tapi secara mental, Joko tidak siap berhenti sekolah. Ia masih
haus ilmu, masih ingin belajar.
Suatu malam, Wahyono memanggilnya.
"Joko, duduk. Ayah mau bicara."
Joko duduk di samping ayahnya. Wajah Wahyono serius.
"Nak, ayah tahu kamu ingin lanjut sekolah. Ayah juga
ingin kamu lanjut. Tapi ayah tidak punya uang. Sawah kita hanya sewa. Hasilnya pas-pasan.
Ibu juga tidak punya penghasilan tetap."
Joko menunduk. Ia sudah menduga ini akan terjadi.
"Tapi ayah sudah bicara dengan Pak Kades. Beliau
bilang, ada beasiswa untuk anak berprestasi. Syaratnya, kamu harus lulus ujian
dengan nilai terbaik. Harus jadi juara umum."
Joko mendongak. Ada harapan.
"Ayah juga sudah bicara dengan Ibu Sumarni. Beliau
bersedia memberikan les tambahan gratis untuk kamu. Asal kamu mau belajar
keras."
"Aku mau, Yah! Aku mau belajar keras!"
"Tapi ingat, Nak. Ini kesempatan sekali. Kalau gagal,
tidak ada kesempatan kedua. Kamu harus benar-benar fokus."
"Aku janji, Yah. Aku tidak akan mengecewakan."
Malam itu, Joko berdoa lebih khusyuk dari biasanya. Ia
memohon pada Tuhan, agar diberi kemudahan dalam ujian. Agar bisa lulus dengan
nilai terbaik. Agar bisa meraih beasiswa.
Bulan-bulan berikutnya, Joko belajar lebih keras dari
sebelumnya. Setiap malam, ia belajar hingga larut. Setiap pagi, ia bangun lebih
awal untuk mengulang pelajaran. Ibu Sumarni dengan sabar memberinya les tambahan
sepulang sekolah.
"Joko, kamu harus kuasai matematika, IPA, dan bahasa
Indonesia. Tiga mata pelajaran utama yang diujikan," kata Ibu Sumarni.
"Aku akan coba, Bu."
"Bukan coba, Joko. Tapi harus. Tidak ada kata coba.
Hanya ada kata berhasil atau gagal. Dan kamu tidak boleh gagal."
Joko mengangguk mantap. Ia tahu ini saatnya. Perjuangan
selama ini akan diuji. Mimpi-mimpinya akan dipertaruhkan.
Ujian akhir SD dilaksanakan pada bulan Mei 1963. Selama
tiga hari, Joko mengerjakan soal-soal dengan saksama. Setiap jawaban ia tulis
dengan hati-hati. Setiap hitungan ia periksa ulang. Ia tidak ingin ada
kesalahan.
Hari terakhir ujian, ia keluar dari ruangan dengan perasaan
lega bercampur cemas. Apakah jawabannya benar? Apakah cukup untuk jadi juara?
"Bagaimana, Jok?" tanya Budi.
"Entah, Bud. Semoga cukup."
"Pasti cukup. Kamu kan paling pintar."
Joko tersenyum. Budi selalu memberinya semangat.
Tiga minggu kemudian, pengumuman keluar. Joko bersama ayah
dan ibunya pergi ke sekolah untuk melihat pengumuman. Jantungnya berdegup
kencang.
Di papan pengumuman, tertulis daftar nama-nama lulusan.
Joko mencari namanya. Joko Prasetyo... Joko Prasetyo... Di sana! Nama Joko
Prasetyo tercantum di urutan pertama. Nilai: 8,5. Rata-rata tertinggi.
"Yah! Yah! Aku lulus! Aku juara!"
Wahyono memeluk anaknya. Air matanya tumpah. Sri menangis
di sampingnya.
"Alhamdulillah, Nak. Alhamdulillah."
Ibu Sumarni yang ada di dekatnya, tersenyum bangga.
"Selamat, Joko. Ibu bangga padamu."
Pak Kades yang datang untuk melihat pengumuman, ikut
memberi selamat. "Selamat, Joko. Beasiswa untuk SMP sudah pasti. Kau akan
sekolah gratis."
Joko menangis haru. Mimpinya mulai menjadi nyata.
Perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
Malam itu, desa Suka Maju bergembira. Warga datang ke rumah
Joko membawa ucapan selamat. Ada yang bawa makanan, ada yang bawa doa. Mereka
bangga, anak desa mereka jadi juara.
Mbah Karto datang dengan tongkatnya. "Joko, Mbah
bangga. Teruskan perjuanganmu. Jangan lupakan desa ini."
"Aku tidak akan lupa, Mbah. Janji."
Pak Mansur, pedagang buku dari pasar, juga datang. Ia
membawa setumpuk buku untuk Joko.
"Ini hadiah, Joko. Untuk anak pintar."
Joko menerima buku-buku itu dengan haru. "Terima
kasih, Pak. Terima kasih banyak."
Malam itu, Joko tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda,
memandangi bintang-bintang.
"Terima kasih, Tuhan. Engkau tidak pernah
meninggalkanku. Engkau selalu memberiku jalan. Aku janji, aku akan terus
berjuang. Aku akan sekolah tinggi. Aku akan jadi pemimpin. Aku akan membangun
desa ini."
Ia memandang ke arah desa yang tenang. Rumah-rumah gelap,
hanya sedikit lampu minyak yang masih menyala. Sawah-sawah terbentang luas,
padi mulai menguning.
"Aku akan kembali, desaku. Dengan ilmu yang banyak,
dengan mimpi yang nyata. Aku akan membangunmu menjadi lebih baik."
Angin malam berdesir, seolah menjawab doanya.
Bintang-bintang berkedip, seolah memberi restu. Dan di rumah sederhana itu,
seorang anak petani bermimpi besar. Mimpi yang akan segera menjadi kenyataan.
Sebelum Joko melanjutkan ke SMP di kecamatan, Ibu Sumarni
memanggilnya untuk terakhir kalinya.
"Joko, duduklah."
Joko duduk di ruang tamu Ibu Sumarni yang sederhana. Di
sekelilingnya, rak-rak buku penuh dengan koleksi.
"Joko, kamu akan pergi ke SMP. Jauh dari desa. Setiap
hari harus menyeberang sungai, naik angkutan, jalan kaki. Itu tidak mudah. Tapi
ibu yakin kamu bisa."
"Iya, Bu. Saya akan berusaha."
"Selain itu, ibu punya pesan. Di SMP nanti, kamu akan
bertemu banyak orang. Dari berbagai latar belakang. Ada yang kaya, ada yang
pintar, ada yang sombong, ada yang baik. Jangan terbawa arus. Tetaplah jadi
dirimu sendiri. Tetaplah rendah hati."
"Iya, Bu."
"Jangan malu dengan asal-usulmu. Kau anak petani, itu
mulia. Kau berjuang sendiri, tanpa bantuan siapa-siapa. Itu kebanggaan.
Ceritakan pada teman-temanmu tentang desamu, tentang perjuanganmu. Mereka akan
hormat padamu."
"Tapi Bu, kalau mereka ejek?"
"Biarkan. Orang yang mengejek belum tentu lebih baik
darimu. Anggap saja ujian. Semakin banyak ejekan, semakin kuat mentalmu."
Joko mengangguk. Ia ingat semua nasihat Ibu Sumarni.
"Bu, terima kasih untuk semuanya. Untuk buku-bukunya,
untuk lesnya, untuk nasihatnya. Saya tidak akan lupa."
Ibu Sumarni tersenyum. Air matanya menetes. "Joko,
kamu murid kesayangan ibu. Ibu bangga padamu. Teruslah berjuang. Jangan pernah
menyerah. Suatu hari nanti, ibu akan lihat kamu jadi pemimpin. Ibu akan lihat
desa ini maju karena kamu."
Mereka berpelukan. Seorang guru dan muridnya. Seorang
pembimbing dan anak didiknya. Seorang ibu dan anak desa yang bermimpi.
Joko pulang dengan langkah mantap. Di tangannya, ia membawa
buku-buku hadiah dari Ibu Sumarni. Di hatinya, ia membawa pesan-pesan berharga.
Esok, ia akan memulai babak baru dalam hidupnya. Babak sebagai siswa SMP. Babak
sebagai perantau di negerinya sendiri. Babak sebagai pejuang mimpi.
Ia memandang desanya sekali lagi. Desa Suka Maju yang
tenang, yang tertinggal oleh waktu. Tapi tidak akan lama lagi. Joko akan
mengubahnya. Bersama Tuhan, bersama orang-orang baik, ia akan mewujudkan
mimpinya.
"Aku datang, masa depan. Aku siap berjuang."
BAB IV
PERJALANAN MENUJU KESADARAN
Matahari belum terbit ketika Joko sudah berdiri di tepi
sungai. Kabut tipis masih menyelimuti permukaan air, membuat sungai tampak
misterius. Ia menggenggam senter minyak tembak di tangan kiri, sementara tangan
kanannya memegang tas selempang dari kain bekas yang dijahit ibunya.
Hari ini adalah hari pertama ia akan bersekolah di kampung
sebelah. SMP Negeri 2 Kecamatan, namanya. Joko sudah lulus SD dengan nilai
terbaik di desanya. Ibu Sumarni menangis haru ketika mengumumkan kelulusannya
tiga minggu lalu.
"Joko, kamu juara kelas. Nilai tertinggi
se-kecamatan," kata Ibu Sumarni dengan mata berkaca-kaca. "Ibu bangga
sekali."
Joko tersenyum. Tapi di hatinya, ada kegelisahan. Ia harus
melanjutkan sekolah ke kampung sebelah. Jaraknya cukup jauh, dan harus melewati
sungai yang kadang banjir.
"Bu, saya harus sekolah di mana nanti?" tanya
Joko setelah upacara kelulusan.
"Di kampung sebelah, Nak. SMP Negeri 2 Kecamatan.
Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari sini. Tepatnya di Desa Makmur."
"Tujuh kilometer? Berarti saya harus naik apa?"
"Jalan kaki, Nak. Atau kalau ada yang punya sepeda,
bisa naik sepeda."
"Kami tidak punya sepeda, Bu."
Ibu Sumarni menghela napas. "Ibu tahu. Tapi jangan
menyerah. Banyak anak desa kita yang sekolah ke sana dengan jalan kaki.
Berangkat pagi-pagi, pulang sore. Kamu pasti bisa. Toh kamu sudah biasa jalan
kaki."
Joko mengangguk. "Saya akan coba, Bu. Asal ada niat,
pasti ada jalan."
Malam harinya, keluarga Joko berkumpul di ruang tamu
sederhana. Lampu minyak menyala temaram. Wahyono memanggil Joko untuk bicara
serius.
"Nak, bapak mau bicara. Tentang sekolahmu."
"Iya, Yah."
"Bapak dan ibu bangga kamu lulus dengan nilai bagus.
Juara kelas, nilai tertinggi se-kecamatan. Itu prestasi luar biasa untuk anak
petani miskin seperti kita."
Joko tersenyum malu.
"Tapi bapak harus jujur. Bapak tidak punya uang untuk
sekolahmu di kampung sebelah. Uang pendaftaran, uang SPP, beli buku, beli
seragam... semua butuh uang. Sementara hasil panen kemarin cuma cukup buat
makan sehari-hari."
Joko terdiam. Dadanya sesak. Ia menunduk, menatap lantai
bambu.
"Tapi bapak tidak akan menyerah. Bapak sudah bicara
dengan Pak Kades kemarin. Beliau bersedia membantu biaya sekolahmu. Asal kamu
janji, belajar sungguh-sungguh. Jangan malas."
Joko mendongak. Matanya berkaca-kaca. "Ayah... Pak Kades
mau bantu?"
"Iya. Beliau bilang, kamu anak pintar, sayang kalau
tidak sekolah. Beliau akan bantu biaya SPP dan beli buku. Yang penting kamu
rajin."
Joko menangis. Ia memeluk ayahnya. "Terima kasih, Yah.
Terima kasih, Bu. Aku janji, aku akan belajar sungguh-sungguh. Aku tidak akan
mengecewakan kalian dan Pak Kades."
Sri ikut menangis. Mereka berpelukan dalam tangis haru. Di
tengah kemiskinan, harapan tetap bersemi.
Kini, di tepi sungai itu, Joko mengingat kembali percakapan
itu. Ia menguatkan hatinya.
"Joko, siap?" sapa seseorang dari belakang.
Joko menoleh. Budi, sahabatnya, berdiri di sana dengan tas
serupa. Ia juga akan sekolah di SMP yang sama.
"Bud? Kamu juga sekolah di sana?" tanya Joko
heran.
"Iya. Ortu aku mau nyekolahin. Kata mereka, mending
sekolah daripada nganggur di rumah."
"Tapi biayanya mahal, Bud."
"Aku dapat beasiswa dari sekolah. Soalnya nilai
ujianku bagus juga. Lumayan, gratis."
"Wah, selamat, Bud!"
Mereka berpelukan. Dua sahabat yang akan memulai
petualangan baru bersama.
Pak Darmo, tukang rakit, sudah siap di pinggir sungai.
Rakit bambunya telah diperbaiki, tali ijuknya baru.
"Ayo, le. Cepat naik. Nanti kalian terlambat,"
seru Pak Darmo.
Joko dan Budi naik ke rakit. Mereka duduk di tengah,
berpegangan erat. Pak Darmo mengayuh dengan galah bambu.
"Pegangan erat-erat. Airnya agak besar. Jangan
main-main."
Rakit bergerak perlahan melawan arus. Di tengah sungai,
Joko memandangi air coklat keruh yang mengalir deras. Ikan-ikan kecil kadang
melompat.
"Jok, kamu takut?" tanya Budi.
"Sedikit. Tapi sama-sama Bud, jadi tidak terlalu
takut."
Mereka tertawa. Rakit terus bergerak hingga tiba di
seberang.
Setelah menyeberang, mereka berjalan menyusuri jalan
setapak yang mulai melebar. Matahari mulai terbit di ufuk timur. Udara pagi
masih segar.
"Jauh ya, Jok," keluh Budi setelah berjalan
setengah jam.
"Iya. Tapi kita harus kuat. Ini demi masa depan."
Mereka terus berjalan. Melewati sawah-sawah hijau, melewati
kebun tebu, melewati perkampungan kecil. Sesekali mereka bertemu dengan anak
sekolah lain yang juga berjalan kaki.
Setelah satu setengah jam berjalan, mereka tiba di
perbatasan Desa Makmur. Di kejauhan, terlihat gedung sekolah yang lebih bagus
dari SD mereka dulu.
"Itu sekolahnya, Bud," kata Joko takjub.
Bangunan itu berlantai dua, dinding tembok putih, atap
genteng merah. Halamannya luas dengan pohon-pohon rindang. Pagar besi
mengelilinginya. Gerbang besar dengan tulisan "SMP Negeri 2
Kecamatan".
"Ini sekolahku," gumam Joko takjub.
SMP Negeri 2 Kecamatan terletak di Desa Makmur, sebuah desa
yang jauh lebih maju dari desa Suka Maju. Desa ini memiliki jalan aspal yang
mulus, listrik yang menyala di setiap rumah, dan pasar tradisional yang ramai setiap
hari. Bahkan ada beberapa toko kelontong yang menjual barang-barang kebutuhan
sehari-hari.
Joko takjub melihatnya. Ia belum pernah melihat desa semaju
ini sebelumnya.
Sepulang sekolah, ia sering berkeliling desa itu bersama
Budi. Mereka melihat toko-toko yang menjual berbagai barang, sabun, gula,
minyak, bahkan ada yang menjual radio. Mereka melihat rumah-rumah penduduk yang
sudah tembok, bukan bambu. Mereka melihat anak-anak bermain sepeda di halaman
rumah yang diaspal.
"Di desaku tidak ada yang seperti ini," gumam
Joko suatu hari.
"Di desaku juga tidak," timpal Budi.
"Kita harus bisa membuat desa kita seperti ini,
Bud."
"Bisa nggak ya, Jok? Butuh uang banyak."
"Pelan-pelan, Bud. Yang penting ada kemauan."
Suatu hari, ketika sedang duduk di kantin sekolah, ia
bertemu dengan seorang teman sekelas—Rudi namanya. Rudi adalah anak dari Desa
Makmur, rumahnya tidak jauh dari sekolah. Ia lahir tahun 1950, sama dengan
Joko.
"Jok, kamu dari desa Suka Maju ya?" tanya Rudi
sambil menyeruput es teh manis.
"Iya. Kamu tahu?"
"Tahu. Kata orang, desa kalian terpencil sekali. Jalan
becek, listrik belum masuk, sungainya sering banjir."
Joko mengangguk sedih. "Iya, benar. Semua itu
benar."
"Berarti kamu setiap hari jalan kaki jauh?"
"Iya. Berangkat jam empat pagi, pulang jam lima sore.
Kalau hujan, bisa lebih parah."
Rudi terkesima. "Kok bisa kuat?"
"Terbiasa, Rud. Lagipula, ini demi masa depan. Kata
ayahku, untuk jadi orang besar, harus mau susah dulu."
Rudi mengangguk. "Jok, kamu hebat. Aku saja yang
tinggal dekat sini kadang malas kalau disuruh jalan ke sekolah. Padahal cuma
lima belas menit."
Mereka kemudian berteman akrab. Rudi sering mengajak Joko
ke rumahnya. Rumah Rudi cukup besar, dengan listrik, televisi, dan kulkas. Joko
takjub melihatnya.
"Ini televisi, Jok. Bisa lihat gambar bergerak,"
jelas Rudi sambil menyalakan televisi hitam-putih.
Joko memandangi layar itu dengan takjub. Ada orang-orang
sedang bernyanyi di layar. Suaranya keluar dari kotak di sampingnya.
"Wah, seperti bioskop ya?"
"Iya, mirip. Tapi ini di rumah. Bisa nonton setiap
hari. Ada acara berita, film, hiburan."
Joko memandangi televisi itu dengan takjub. Ia
membayangkan, suatu hari nanti, desanya juga punya listrik. Setiap rumah bisa
menonton televisi, mendengar radio, dan menikmati terang di malam hari.
"Rud, apa susah pasang listrik?" tanya Joko.
"Kata ayahku, harus daftar ke PLN. Bayar biaya pasang
dulu. Terus bayar listrik tiap bulan."
"Berapa biayanya?"
"Wah, aku tidak tahu persis. Yang jelas lumayan mahal.
Tapi kalau sudah terpasang, enak. Bisa belajar malam, nonton TV, nyetrika pake
setrika listrik."
Joko merenung. Ia sadar bahwa untuk mencapai kemajuan,
desanya butuh banyak hal. Listrik, jalan aspal, air bersih, dan masih banyak
lagi. Semua itu butuh biaya besar. Tapi ia yakin, suatu hari nanti, desanya
akan seperti desa Makmur. Mungkin bahkan lebih baik.
Tiga tahun Joko menjalani sekolah di SMP Negeri 2
Kecamatan. Setiap hari ia berjalan kaki pulang pergi sejauh empat belas
kilometer, tujuh kilometer pergi, tujuh kilometer pulang. Jika dihitung dalam
seminggu, ia berjalan hampir seratus kilometer. Dalam sebulan, empat ratus
kilometer. Dalam setahun, hampir lima ribu kilometer.
Hujan, panas, banjir, semua ia lalui. Sepatu bolong, baju
basah, bekal habis, semua ia hadapi dengan tabah.
Suatu hari, ketika hujan turun sangat deras, Joko terpaksa
berteduh di gubuk sawah milik petani yang tidak dikenalinya. Ia menunggu hujan
reda, tapi hujan tidak kunjung reda. Bahkan semakin deras. Petir
menyambar-nyambar di kejauhan.
Jam tangannya, hadiah dari Pak Kades, menunjukkan pukul
setengah delapan. Ia sudah terlambat. Pelajaran pertama sudah dimulai.
"Ya Allah, bagaimana ini?" keluhnya.
Akhirnya, ia nekat meneruskan perjalanan. Hujan deras
mengguyur tubuhnya. Jalanan becek, licin. Lumpur mencapai mata kaki. Beberapa
kali ia terjatuh. Seragamnya penuh lumpur. Bukunya basah meski sudah dibungkus
plastik.
Sesampai di sekolah, ia sudah basah kuyub. Rambutnya lepek,
air mengucur dari ujung seragam. Teman-temannya menertawakan penampilannya yang
kotor.
"Lihat Joko! Dasar anak desa! Becek-becekan!"
ejek eko, anak orang kaya yang suka pamer.
Joko tidak peduli. Ia masuk kelas dan duduk di bangkunya.
Beberapa tetes air jatuh dari rambutnya ke meja.
"Joko, kamu kenapa?" tanya guru matematika, Pak
Hartono, lahir tahun 1940, yang baru masuk kelas.
"Saya terlambat, Pak. Maaf. Hujan deras, saya berteduh
dulu di gubuk. Tapi hujannya tidak reda, jadi saya nekat jalan."
Pak Hartono memandangi Joko dengan iba. Ia tahu anak ini
berjuang keras untuk sekolah. Setiap hari jalan kaki dari desa seberang.
"Duduklah, Joko. Lain kali kalau hujan, lebih pagi
berangkat."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Usai pelajaran, Pak Hartono memanggil Joko ke ruang guru.
Joko datang dengan perasaan was-was.
"Joko, bapak dengar kamu dari desa Suka Maju. Setiap hari
jalan kaki?"
"Iya, Pak."
"Jauh sekali. Tujuh kilometer. Apa tidak capek?"
"Capek, Pak. Tapi saya tidak mau menyerah. Saya ingin
sekolah tinggi, ingin jadi pemimpin desa saya. Orang tua saya miskin, mereka
tidak bisa kasih apa-apa selain doa. Saya harus berjuang sendiri."
Pak Hartono tersenyum. "Pemimpin desa? Cita-cita yang
bagus. Tapi untuk jadi pemimpin, kamu harus pintar. Tidak hanya pintar
matematika, tapi juga pintar bergaul, pintar memahami orang, pintar mengambil
keputusan."
"Saya akan belajar, Pak."
"Bagus. Kalau kamu butuh bantuan, bilang saja. Pak
guru akan bantu semampu pak guru. Pak guru juga dari desa, tahu rasanya jadi
anak desa di kota."
Joko mengangguk haru. Ia tidak menyangka akan mendapat
perhatian dari guru-gurunya.
Setelah beberapa bulan berjalan kaki setiap hari, Joko
mulai merasa kelelahan. Perjalanan pulang pergi empat belas kilometer setiap
hari sangat menguras tenaga. Ia sering tertidur di kelas karena kelelahan.
Pak Hartono, gurunya, melihat kondisi Joko yang semakin
memprihatinkan. Suatu hari, ia memanggil Joko.
"Joko, bapak lihat kamu semakin kurus dan pucat.
Jangan-jangan kamu sakit?"
"Tidak, Pak. Hanya capek. Setiap hari jalan kaki tujuh
kilometer pulang pergi. Kadang sampai rumah sudah malam, harus bantu orang tua
dulu, baru belajar."
Pak Hartono menghela napas. "Kalau begitu, bagaimana
kalau kamu kos di sini? Di dekat sekolah ada kos-kosan murah. Bapak kenal
pemiliknya, orang baik. Kamu bisa tinggal di sana, tidak perlu
bolak-balik."
"Tapi Pak, saya tidak punya uang untuk bayar
kos."
"Kamu tidak usah bayar. Bapak yang akan bayar. Anggap
saja ini investasi bapak untuk masa depan. Nanti kalau kamu sudah sukses, ganti
dengan doa."
Joko menangis. Ia tidak menyangka ada orang sebaik Pak
Hartono.
"Pak, saya tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih,
Pak."
"Tidak usah berterima kasih. Yang penting, kamu
belajar yang rajin. Jangan sia-siakan kesempatan ini."
Joko pindah ke kos-kosan di dekat sekolah. Kamar nomor 7,
di lantai dua, dengan jendela menghadap ke lorong belakang pasar. Ukurannya
hanya 2x3 meter, cukup untuk satu dipan tipis dari bambu, meja belajar kayu
lapis yang goyang, dan lemari pakaian dari triplek. Di sudut, ada ember plastik
untuk menampung air hujan karena atapnya bocor.
Namun bagi Joko, kamar ini adalah istana. Ini pertama
kalinya ia punya ruang sendiri. Di desa, ia berbagi kamar dengan orang tuanya.
Di sini, ia bisa belajar hingga larut tanpa mengganggu siapapun.
Penghuni kos lainnya beragam. Di kamar 1, ada Pak Sastro,
pedagang ayam potong di pasar, usia empat puluh tahun, sudah berkeluarga tapi
tinggal sendiri di kos karena istrinya di desa. Setiap pagi ia pergi ke pasar,
pulang sore, lalu malamnya minum tuak di warung sebelah sambil main domino.
Di kamar 2, ada Mas Heru, mahasiswa IKIP, aktif di
organisasi, sering membawa buku-buku tebal dan diskusi dengan teman-temannya
sampai larut. Joko kadang ikut mendengarkan diskusi mereka dari balik pintu.
Mereka membicarakan politik, ekonomi, pembangunan, dan hal-hal lain yang belum
pernah Joko dengar sebelumnya.
"Kita ini generasi penerus bangsa," kata Mas Heru
suatu malam, suaranya lantang hingga terdengar ke seluruh lorong. "Jangan
cuma jadi penonton! Kita harus aktif! Mahasiswa itu agen perubahan!"
Joko terkesima. Agen perubahan. Kata-kata itu menggema di
hatinya. Ia ingin jadi agen perubahan untuk desanya.
Di kamar 3, ada Pak Karman, pensiunan pegawai kantor pos,
lahir tahun 1900, sudah tua, rambutnya putih semua. Ia jarang keluar, hanya
duduk di beranda kos sambil baca koran bekas. Kadang ia mengajak Joko ngobrol.
"Nak, dari mana?" tanyanya suatu sore.
"Dari Suka Maju, Pak. Kecamatan Sumberrejo."
"Wah, jauh sekali. Di sana sudah ada listrik?"
"Belum, Pak. Masih lampu minyak."
Pak Karman menghela napas. "Saya dulu pernah ke sana,
tahun limapuluhan. Jalan masih tanah, naik delman. Sekarang bagaimana?"
"Masih tanah, Pak. Tapi sudah ada rakit buat nyebrang
sungai."
Pak Karman tersenyum. "Kamu sekolah di sini?
SMP?"
"Iya, Pak. Kelas satu."
"Bagus. Sekolah yang rajin. Jangan seperti anak saya,
putus sekolah, sekarang jadi preman di pasar."
Joko tidak berkomentar. Ia hanya tersenyum.
Di kamar 4, ada Mas Yanto, kernet bus antar kota, jarang di
kos. Kadang seminggu tidak pulang. Kamarnya kosong, hanya dipenuhi baju kotor
yang menggantung di mana-mana.
Di kamar 5 dan 6, kosong karena ditinggal penghuni lama.
Belum ada yang menyewa.
Di kamar 7, Joko. Di kamar 8, ada Mas Budi, bukan Budi
sahabatnya, tapi orang lain, tukang ojek, ramah, suka membantu. Sering ia
menawari Joko tumpangan kalau mau ke sekolah.
"Jok, naik ojek aja. Gratis," katanya.
"Terima kasih, Mas. Tapi saya jalan kaki aja, biar
sehat."
Mas Budi tertawa. "Kamu ini, hemat banget."
"Bukan hemat, Mas. Tapi saya nggak enak hati. Mas kan
cari uang dari ojek."
"Ya sudah, kalau gitu. Tapi kalau butuh bantuan,
bilang ya."
"Iya, Mas. Terima kasih."
Kehidupan kos mengajarkan Joko tentang keberagaman. Ia
bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang, dengan berbagai karakter. Ada
yang baik, ada yang cuek, ada yang ramai, ada yang pendiam. Semua memberi
pelajaran berharga.
Suatu hari, Rudi mengajak Joko ke bioskop. Ini pertama
kalinya Joko akan menonton film di gedung bioskop. Di desanya, hiburan hanya
wayang kulit dan layar tancap kalau ada acara tujuh belasan.
"Jok, ayo nonton. Ada film bagus," ajak Rudi
sambil menunjukkan poster film di koran.
Joko ragu. "Berapa harganya, Rud?"
"Dua ribu rupiah. Murah kok."
Joko menghitung uangnya. Uang sakunya pas-pasan. Dua ribu
terlalu mahal. Tapi ia tidak enak menolak Rudi.
"Aku tidak punya uang, Rud."
Rudi tersenyum. "Aku traktir. Anggap hadiah ulang
tahun."
"Ulang tahunku masih lama."
"Ya sudah, anggap hadiah pertemanan. Ayo, jangan
nolak."
Joko akhirnya setuju. Mereka pergi ke bioskop
"Garuda" di pusat kota. Gedungnya besar, dengan lampu-lampu
warna-warni di bagian depan. Antrean panjang mengular di loket.
Joko takjub melihat semua itu. Ia belum pernah melihat
gedung sebagus ini. Di dalam, kursi-kursi empuk berjejer rapi. Layar lebar
membentang di depan. Lampu mulai redup, lalu film dimulai.
Film itu berjudul "November 1828", sebuah film sejarah
tentang perang Diponegoro. Joko terpaku sejak menit pertama. Ia melihat
bagaimana para pahlawan berjuang melawan penjajah. Bagaimana mereka rela
berkorban demi tanah air. Air matanya menetes di beberapa adegan.
Usai film, mereka keluar dengan perasaan haru.
"Jok, kamu nangis?" tanya Rudi.
Joko mengusap matanya. "Iya, terharu. Melihat
perjuangan mereka."
"Kamu patriotik sekali."
"Aku memang suka sejarah, Rud. Belajar dari pahlawan.
Mereka rela mati demi bangsa. Aku hanya ingin berbakti pada desa. Jauh lebih
kecil."
"Tapi sama-sama mulia, Jok. Tidak usah kecil
hati."
Mereka berjalan menyusuri trotoar, menikmati suasana malam
kota. Lampu-lampu jalan menyala terang. Warung-warung lesehan mulai berjualan.
Bau sate dan gulai tercium dari mana-mana.
"Jok, kamu sudah punya rencana setelah lulus
SMP?" tanya Rudi.
"Lanjut SMA, kalau bisa. Tapi nggak tahu, tergantung
biaya. Orang tuaku miskin. Beasiswa susah. Mungkin aku kerja dulu."
"Semoga kamu dapat beasiswa, Jok. Kamu pantas
dapat."
"Makasih, Rud. Doakan ya."
Di SMP, Joko memiliki akses ke perpustakaan yang jauh lebih
lengkap dari perpustakaan desanya. Ribuan buku tersusun rapi di rak-rak. Ada
buku pelajaran, buku cerita, buku sejarah, buku filsafat, buku politik, dan
masih banyak lagi.
Joko seperti anak kecil yang masuk toko permen. Setiap jam
istirahat, ia habiskan di perpustakaan. Ia membaca apa saja yang bisa dibaca.
Kadang ia lupa waktu, hingga bel masuk berbunyi.
"Joko, kamu kok betah banget di perpustakaan?"
tanya pustakawan, Bu Lies, suatu hari.
"Saya suka membaca, Bu. Di desa saya tidak ada
perpustakaan. Hanya punya beberapa buku bekas."
Bu Lies tersenyum. "Kamu boleh pinjam buku
sebanyak-banyaknya. Tapi harus dikembalikan tepat waktu."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Dari perpustakaan, Joko menemukan buku-buku yang mengubah
cara pandangnya. Ia membaca buku-buku tentang perjuangan kemerdekaan, tentang
tokoh-tokoh dunia, tentang berbagai ideologi. Ia juga membaca buku-buku tentang
pertanian modern, tentang teknologi, tentang pembangunan.
Suatu malam, ia membaca buku "Di Bawah Bendera
Revolusi" karya Soekarno. Buku itu tebal, berat, tapi ia baca hingga
larut. Tentang nasionalisme, tentang perjuangan, tentang cita-cita kemerdekaan.
Kepalanya pusing, tapi ia teruskan.
"Jok, jam satu pagi, kok masih baca?" tegur Mas
Budi yang baru pulang ojek.
"Masih seru, Mas. Ini buku bagus."
"Buku apa?"
"Tentang perjuangan. Tentang Soekarno."
Mas Budi menggeleng. "Kamu ini beda. Anak-anak lain
nongkrong, main, kamu baca buku tebal."
"Aku harus kejar ketertinggalan, Mas. Di desa, aku
tidak punya akses buku. Sekarang ada, sayang kalau tidak dimanfaatkan."
"Ya sudah, lanjutkan. Tapi jangan lupa tidur."
Joko membaca hingga pukul tiga pagi. Matanya perih, tapi
hatinya puas. Ilmu baru masuk ke dalam dirinya. Ia merasa semakin siap untuk memimpin
desanya kelak.
Joko mulai sering ikut diskusi dengan Mas Heru dan
teman-teman mahasiswanya. Mereka biasa berkumpul di warung kopi "Sari
Rasa", tidak jauh dari kos.
Warung kopi itu sederhana, bangku kayu panjang, meja
plastik, lampu neon yang kadang berkedip. Tapi diskusi di sana selalu hangat.
Mereka membicarakan banyak hal: kebijakan pemerintah, pembangunan nasional,
pemilu yang akan datang, hingga isu-isu internasional.
"Jok, kamu dari desa. Menurutmu, pembangunan sudah
merata?" tanya Mas Heru suatu malam sambil mengaduk kopi tubruknya.
Joko berpikir sejenak. "Belum, Mas. Desa saya masih
terpencil. Jalan becek, listrik belum masuk, sekolah masih bocor. Kalau itu
ukurannya, pembangunan belum sampai ke kami."
"Lalu bagaimana solusinya?"
"Pemerintah harus lebih perhatikan desa. Jangan hanya
fokus ke kota. Tapi desa juga harus berusaha, tidak bisa hanya menunggu
bantuan."
"Betul. Itu namanya pembangunan partisipatif.
Masyarakat dilibatkan, bukan jadi objek."
Teman lain, sebut saja Mas Doni, menimpali. "Tapi
pemerintah juga harus tegas sama pejabat korup. Banyak uang pembangunan
dikorupsi. Rakyat tidak merasakan."
"Iya. Korupsi itu kejahatan luar biasa," sahut
Mas Heru. "Kita sebagai generasi muda harus melawan."
Joko mendengarkan dengan saksama. Ia baru tahu bahwa di
kota, orang-orang bisa bebas berdiskusi tentang politik. Di desa, politik
adalah hal tabu. Orang hanya tahu memilih, tanpa tahu visi-misi calon.
"Mas, bagaimana caranya melawan korupsi?" tanya
Joko.
"Pertama, jangan korupsi. Kedua, awasi pejabat.
Ketiga, laporkan kalau lihat. Tapi itu susah, karena aparat juga banyak yang
main."
"Berarti harus jadi orang baik dulu?"
"Betul. Kita mulai dari diri sendiri. Kalau semua
orang baik, korupsi akan berkurang."
Diskusi itu membekas di hati Joko. Ia berjanji pada diri
sendiri: kalau jadi pemimpin, ia tidak akan korupsi. Ia akan jadi pemimpin yang
bersih, melayani rakyat dengan tulus.
Malam-malam di warung kopi menjadi rutinitas baru Joko.
Setiap Sabtu malam, ia bergabung dengan diskusi. Ia belajar banyak tentang
politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Pengetahuannya semakin luas. Cara
pandangnya semakin terbuka.
"Jok, kamu pintar," puji Mas Heru suatu malam.
"Kamu bisa jadi pemimpin hebat suatu hari nanti."
"Terima kasih, Mas. Doakan saya."
"Pasti. Tapi ingat, jadi pemimpin itu harus berani.
Berani membela kebenaran, berani melawan ketidakadilan. Jangan jadi
pengecut."
Joko mengangguk mantap.
Lebaran pertama Joko di perantauan. Ia pulang ke desa
dengan perasaan campur aduk. Senang bisa bertemu keluarga, tapi sedih karena
harus meninggalkan kos dan teman-teman.
Perjalanan pulang ditempuh dengan tiga kali ganti angkutan.
Naik bemo dari kos ke terminal. Naik bus dari terminal ke kecamatan. Lalu naik
ojek dari kecamatan ke desa. Total waktu tujuh jam.
Sesampai di desa, suasana berbeda. Rumah-rumah dihias
ketupat dan lampu minyak. Anak-anak bermain petasan. Suara takbir berkumandang
dari masjid. Joko tersenyum. Inilah kampung halamannya.
"Joko! Joko pulang!" teriak Budi yang melihatnya
dari kejauhan.
Mereka berpelukan. Budi tidak melanjutkan sekolah. Ia
memilih bekerja membantu orang tuanya berjualan di pasar. Tapi persahabatan
mereka tetap erat.
"Jok, gimana kabarmu di kota?" tanya Budi.
"Baik, Bud. Banyak pengalaman baru."
"Ceritakan nanti. Sekarang pulang dulu. Orang tuamu
pasti kangen."
Joko berjalan menuju rumahnya. Rumah panggung sederhana itu
tampak bersih, dihiasi janur dan ketupat. Ayahnya duduk di beranda, memandangi
jalan.
"Yah!" sapa Joko sambil berlari.
Wahyono berdiri. Matanya berkaca-kaca. "Joko, Nak...
akhirnya pulang."
Mereka berpelukan. Tubuh Wahyono semakin kurus, rambutnya
semakin putih. Tapi matanya masih bersinar.
"Di mana Ibu?"
"Di dapur. Masak rendang. Tahu kamu pulang, dia masak
kesukaanmu."
Joko masuk ke dapur. Sri sedang sibuk mengaduk rendang di
kuali tanah liat. Asap mengepul, bau rempah memenuhi ruangan.
"Bu."
Sri menoleh. Ia segera memeluk anaknya. Tangisnya pecah.
"Joko, Nak... Ibu kangen banget."
"Ibu, aku juga kangen."
Mereka berpelukan lama. Tangis haru bercampur bahagia.
Malam harinya, mereka makan bersama. Rendang, opor ayam,
ketupat, sambal goreng ati, makanan mewah yang hanya ada saat Lebaran. Joko
makan dengan lahap. Sudah berbulan-bulan ia tidak makan masakan ibu.
"Jok, ceritakan bagaimana kotamu," pinta Wahyono.
Joko bercerita panjang lebar. Tentang kos, tentang sekolah,
tentang perpustakaan, tentang bioskop, tentang diskusi di warung kopi. Wahyono
dan Sri mendengarkan dengan takjub.
"Wah, hebat sekali Nak. Banyak pengalaman baru,"
kata Sri.
"Iya, Bu. Tapi aku tetap kangen desa."
"Tentu, Nak. Ini rumahmu. Kampung halamanmu. Jangan
lupakan."
"Tidak akan, Bu. Aku janji."
Selama liburan, Joko berkeliling desa. Ia melihat kondisi
desa yang masih sama. Jalan masih becek. Sungai masih deras. Rakit masih jadi
andalan. Sekolah masih bocor. Listrik belum masuk.
Ia bertemu dengan Ibu Sumarni. Gurunya itu sudah semakin
tua. Rambutnya mulai memutih. Tapi semangat mengajarnya tidak pudar.
"Joko, gimana kabarmu?" sapa Ibu Sumarni.
"Baik, Bu. Saya sekolah di SMP. Kelas tiga."
"Ibu dengar kamu ranking terus. Bagus. Ibu
bangga."
"Bu, saya ingin tanya. Apa desa kita tidak ada
perubahan?"
Ibu Sumarni menghela napas. "Ada sedikit. Pak Kades
sudah mengajukan proposal bantuan ke kabupaten. Tapi belum turun-turun. Mungkin
tahun depan."
"Tapi Bu, dari dulu tahun depan terus."
"Itulah, Nak. Birokrasi lama. Tapi kita harus sabar.
Yang penting terus berusaha."
Joko terdiam. Ia melihat anak-anak kecil bermain di halaman
sekolah. Mereka tertawa riang, tidak memikirkan masa depan. Joko ingin masa
depan mereka lebih baik. Ia ingin mereka sekolah di gedung yang layak, dengan
buku-buku yang cukup, dengan guru-guru yang berkualitas.
"Bu, nanti kalau saya lulus, saya akan pulang ke sini.
Membangun desa."
Ibu Sumarni tersenyum. "Ibu tunggu, Joko. Ibu yakin
kamu bisa."
Ia juga bertemu dengan Pak Kades. Pak Kades sudah semakin
tua. Jabatannya mungkin akan segera berakhir. Tapi semangatnya masih membara.
"Joko, gimana sekolahmu?" tanya Pak Kades.
"Baik, Pak. Banyak pengalaman."
"Bagus. Jangan lupakan desa ya."
"Tidak akan, Pak. Saya malah ingin cepat lulus dan
pulang ke sini."
Pak Kades tertawa. "Masih satu tahun lagi, Joko.
Nikmati dulu masa mudamu. Belajar yang rajin. Nanti kalau pulang, ilmu yang
banyak."
"Pak Kades, apa yang paling Bapak inginkan untuk desa
ini?"
Pak Kades berpikir sejenak. Matanya menerawang jauh.
"Listrik, Joko. Itu yang paling kuinginkan. Dengan
listrik, anak-anak bisa belajar malam. Ibu-ibu bisa menjahit malam hari.
Bapak-bapak bisa dengar radio, tahu berita. Listrik akan mengubah
segalanya."
"Jembatan, Pak?"
"Itu juga. Tapi listrik dulu. Jembatan nanti
menyusul."
Joko mengangguk. Ia mencatat dalam hati. Listrik dan
jembatan. Dua hal yang akan ia perjuangkan.
Liburan Lebaran berlalu cepat. Joko harus kembali ke kota.
Ia pamit pada orang tua, pada Ibu Sumarni, pada Pak Kades, pada Budi, pada
semua yang dikasihinya.
"Joko, hati-hati di jalan. Belajar yang rajin. Jangan
lupa ibadah," pesan Sri sambil menangis.
"Iya, Bu. Aku akan jaga diri."
"Joko, jadilah orang baik," pesan Wahyono.
"Bukan hanya pintar, tapi juga baik."
"Iya, Yah. Aku ingat pesan Ayah."
Ia naik ojek menuju kecamatan. Di belakang, ia melihat
desanya semakin menjauh. Tapi hatinya tetap di sana. Desa Suka Maju akan selalu
di hatinya.
Setahun terakhir di SMP adalah masa-masa penuh tekanan.
Ujian akhir semakin dekat. Persaingan semakin ketat. Setiap orang berjuang
untuk masa depan mereka masing-masing.
Joko juga merasakan tekanan itu. Nilainya harus tetap bagus
agar bisa lulus dengan baik. Tapi di luar itu, ia juga mencari jati diri. Siapa
sebenarnya dirinya? Apa yang ia inginkan dalam hidup?
Suatu malam, ia duduk sendirian di atap kos. Dari atas, ia
bisa melihat lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Indah, tapi juga asing. Ia
merasa tidak sepenuhnya menjadi bagian dari kota ini. Di sisi lain, ia juga
merasa mulai asing dengan desanya. Setiap pulang, ada jarak yang terasa.
Teman-teman lamanya sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing. Beberapa sudah
menikah, beberapa merantau ke kota lain, beberapa bekerja di sawah.
Joko merasa terombang-ambing. Tidak sepenuhnya di sini,
tidak sepenuhnya di sana.
"Jok, melamun?" sapa Mas Budi yang naik ke atap.
"Iya, Mas. Banyak pikiran."
Mas Budi duduk di sampingnya. "Pikiran apa?"
"Tentang masa depan. Tentang jati diri. Kadang aku
bingung, aku ini siapa."
Mas Budi tersenyum. "Itu wajar, Jok. Namanya juga
remaja akhir. Masih mencari."
"Mas pernah ngalamin?"
"Pernah. Waktu seumuran kamu. Aku juga bingung. Kerja
jadi kernet, jadi tukang ojek, rasanya hidup nggak jelas. Tapi lama-lama nemu
juga jalannya."
"Jalannya apa, Mas?"
"Ya jadi tukang ojek. Bukan pekerjaan hebat, tapi
halal. Bisa bantu orang. Kadang ada penumpang yang cerita tentang hidupnya. Aku
jadi belajar banyak. Itu jalanku."
Joko merenung. "Berarti jati diri itu bisa ditemukan
di mana saja?"
"Bisa. Tergantung kamu mau menerima atau tidak. Jati
diri bukan sesuatu yang jadi, tapi yang ditemukan. Kamu jalan, cari, akhirnya
nemu."
Percakapan itu memberi pencerahan. Joko tidak perlu
terburu-buru. Ia masih muda. Waktu masih panjang. Yang penting, ia terus melangkah,
terus belajar, terus mencari.
Beberapa minggu kemudian, ia mendapat kesempatan mengikuti
lomba karya tulis tingkat kabupaten. Tema lombanya adalah "Pembangunan
Desa". Joko langsung tertarik. Ia menulis tentang desanya, tentang potensi
dan masalahnya, tentang solusi yang mungkin.
Ia menulis tentang pertanian, tentang irigasi, tentang
pendidikan, tentang kesehatan. Ia menuangkan semua pengamatan dan pemikirannya
selama ini. Tangannya menari di atas kertas, menuangkan ide-ide yang selama ini
terpendam.
Seminggu kemudian, pengumuman keluar. Joko meraih juara
pertama. Ia tidak percaya. Karya tulisnya diakui, dihargai. Ini pertama kalinya
ia menang lomba di tingkat kabupaten.
"Selamat, Jok!" Rudi memeluknya. "Kamu
hebat!"
"Terima kasih, Rud. Ini berkat dukunganmu juga."
"Jangan merendah. Ini hasil kerja kerasmu
sendiri."
Hadiahnya berupa uang lima puluh ribu rupiah dan piagam
penghargaan. Uang itu akan ia kirim ke orang tuanya. Piagam itu akan ia simpan
sebagai kenangan.
Malam harinya, ia menulis surat untuk Ibu Sumarni.
"Ibu, saya menang lomba karya tulis. Saya menulis
tentang desa kita. Saya ingin desa kita maju. Saya ingin membangun desa kita.
Doakan saya ya, Bu. -Joko"
Ujian akhir SMP dilaksanakan. Joko mengerjakan soal-soal
dengan tenang. Tiga tahun belajar, tiga tahun berjuang, semua akan ditentukan
dalam beberapa hari ini.
Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, semua
ia hadapi dengan persiapan matang. Ia ingat semua yang dipelajari, semua yang
dibaca, semua yang didiskusikan.
Hari terakhir ujian, ia keluar dari ruangan dengan perasaan
lega. Keringat dingin membasahi punggung. Tangan masih gemetar. Tapi ia sudah
melakukan yang terbaik.
"Gimana, Jok?" tanya Rudi.
"Entah, Rud. Semoga cukup."
"Pasti cukup. Kamu kan paling pintar."
Mereka berpelukan singkat. Esok, mereka akan berpisah. Rudi
akan melanjutkan SMA di kota kabupaten. Joko akan pulang ke desa. Tapi hari
ini, mereka rayakan kebersamaan.
Pengumuman kelulusan sebulan kemudian. Joko datang ke
sekolah dengan perasaan campur aduk. Di papan pengumuman, ratusan nama
terpampang. Ia mencari namanya. Joko Prasetyo... Joko Prasetyo... Di sana!
Nomor 7 dari atas. Lulus dengan nilai memuaskan.
"Alhamdulillah!" serunya.
Ia mencari Rudi. Rudi juga lulus. Mereka berpelukan di
tengah kerumunan. Bahagia, haru, bangga.
"Jok, kita lulus!"
"Iya, Rud. Akhirnya."
Malam harinya, mereka rayakan di warung sate langganan.
Sate kambing, lontong, dan es teh manis. Makanan mewah yang jarang mereka
nikmati.
"Jok, kamu benar-benar akan pulang?" tanya Rudi.
"Iya, Rud. Sudah kuputuskan."
"Kapan berangkat?"
"Besok lusa. Aku harus siap-siap dulu."
Rudi menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Aku akan kangen
kamu, Jok."
"Aku juga, Rud. Tapi ini bukan perpisahan. Ini awal
perjuangan baru. Kita masih bisa berkirim surat, masih bisa bertemu
nanti."
"Iya, kamu benar. Aku akan tunggu kabarmu."
Mereka makan dalam diam, menikmati sisa kebersamaan. Malam
itu, bulan bersinar purnama.
Dua hari kemudian, Joko pamit pada semua teman di kos. Pada
Mas Budi, pada Mas Heru, pada Pak Karman (pensiunan pos), pada semua yang
pernah berbagi cerita.
"Jok, sukses ya di desa," pesan Mas Budi.
"Iya, Mas. Terima kasih untuk semuanya."
"Jangan lupa, kalau ke kota, mampir sini."
"Pasti, Mas."
Bus bergerak perlahan meninggalkan kota. Joko melambaikan
tangan dari jendela. Ia meninggalkan kotanya, meninggalkan masa mudanya. Tapi
ia tidak sedih. Ia justru bersemangat. Perjuangan baru menanti. Desa Suka Maju
menanti.
Bus tua itu berhenti di terminal kecamatan. Joko turun
dengan ransel di punggung dan koper kecil di tangan. Ia memandang sekeliling.
Terminal itu masih sama seperti tiga tahun lalu, becek, kumuh, semrawut. Tapi
kini ia melihatnya dengan mata berbeda. Mata seorang yang sudah melihat dunia
luar, yang tahu bahwa terminal bisa lebih baik, lebih bersih, lebih teratur.
Ia naik ojek menuju desa. Jalanan masih becek, berlubang di
sana-sini. Pengemudi ojek harus hati-hati melewati genangan. Joko memandangi
sawah-sawah di kanan-kiri. Padi mulai menguning. Petani sedang sibuk mengusir
burung.
"Mas, dari mana?" tanya pengemudi ojek.
"Dari SMP, Pak. Baru lulus."
"Wah, pinter. Terus mau ngapain?"
"Mau pulang ke desa. Mau bantu orang tua dulu."
"Bagus. Anak muda harus berbakti pada orang tua."
Mereka tiba di sungai. Rakit masih jadi andalan. Pak Darmo,
tukang rakit, masih setia di sana. Ia tersenyum melihat Joko.
"Joko! Lulus SMP?" sapa Pak Darmo.
"Iya, Pak. Lulus."
"Selamat, Nak. Naik, biar saya antar."
Rakit bergerak perlahan. Joko memandangi air sungai yang
mengalir tenang. Sungai ini tak pernah berubah. Airnya selalu mengalir, deras
di musim hujan, surut di musim kemarau. Tapi bagi Joko, sungai ini adalah saksi
bisu perjuangannya. Dulu, setiap pagi ia menyeberang untuk sekolah. Kini, ia
kembali sebagai lulusan SMP yang siap mengabdi.
Sesampai di desa, ia disambut haru orang tuanya. Wahyono
dan Sri menangis melihat anaknya pulang. Tiga tahun berpisah, tiga tahun
kerinduan.
"Joko, Nak... akhirnya pulang," isak Sri.
"Iya, Bu. Aku pulang."
Mereka berpelukan lama. Wahyono hanya tersenyum, matanya
basah.
Malam harinya, mereka mengadakan syukuran sederhana.
Tetangga-tetangga datang membawa makanan. Ada yang bawa ayam goreng, ada yang
bawa sambal goreng, ada yang bawa sayur lodeh. Mereka berkumpul di halaman
rumah Joko, duduk di tikar pandan, makan bersama.
"Joko, gimana kotanya?" tanya seorang tetangga.
"Besar, Pak. Banyak gedung tinggi, banyak kendaraan.
Tapi saya lebih suka desa."
"Kenapa?"
"Di sini tenang. Udaranya sejuk. Orang-orangnya ramah.
Di kota, orang sibuk sendiri-sendiri."
Mereka tertawa. Senang mendengar Joko masih cinta desa.
Pak Kades datang dengan istrinya. Ia memeluk Joko erat.
"Joko, selamat datang. Bapak bangga kamu pulang. Anak
muda seperti kamu harusnya jadi penerus."
"Siap, Pak. Saya ingin belajar dari Bapak."
"Belajar? Kamu sudah banyak belajar. Sekarang waktunya
praktek. Bapak akan bimbing kamu."
Joko tersenyum. Harapannya mulai terwujud.
Beberapa hari setelah pulang, Joko duduk di tepi sungai,
tempat ia biasa merenung sejak kecil. Ia memandangi air yang mengalir tenang,
mengenang perjalanan tiga tahun terakhir.
Ia ingat perjuangan berat di SMP. Jalan kaki pulang pergi,
hujan panas, rasa capek yang kadang membuatnya ingin menyerah. Tapi ia ingat
juga kebaikan orang-orang: Pak Hartono yang membiayai kosnya, Mas Heru yang
mengajaknya diskusi, Rudi yang menjadi sahabat, dan semua teman yang
mendukungnya.
Ia juga ingat pelajaran berharga: bahwa dunia ini luas,
bahwa perubahan mungkin terjadi, bahwa kemiskinan bukan takdir, bahwa
pendidikan adalah kunci, dan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang melayani,
bukan dilayani.
"Ya Allah, terima kasih untuk semua pengalaman. Terima
kasih untuk setiap air mata, setiap tawa, setiap pelajaran. Aku bersyukur
menjadi anak desa ini. Aku bersyukur bisa pulang dengan ilmu dan mimpi.
Sekarang, bimbing aku untuk mengabdi. Jadikan aku pemimpin yang baik, yang
adil, yang dicintai rakyat."
Di kejauhan, ayam jantan mulai berkokok. Fajar akan segera
tiba. Hari baru, perjuangan baru. Joko siap melangkah. Desa Suka Maju menanti
perubahan. Dan ia, anak petani miskin itu, akan menjadi bagian dari perubahan
tersebut.
BAB V
KEMBALI KE DESA DAN MENGABDI
Bus tua dengan cat kusam berhenti di pertigaan pasar
kecamatan. Pintu dibuka dengan suara berdecit. Joko turun dengan satu koper
kecil berisi pakaian dan buku-buku. Kopernya sudah lusuh, bekas pemberian teman
kos.
Ia memandang sekeliling. Masih sama seperti tiga tahun
lalu, pasar ramai, becak lalu lalang, debu beterbangan, pedagang asongan
berteriak menawarkan dagangan. Tidak ada perubahan berarti.
"Jok! Jok!"
Ia menoleh. Budi, sahabat kecilnya, melambai dari kejauhan
sambil berlari. Mereka berpelukan erat di tengah debu terminal.
"Bud, apa kabar?" sapa Joko sambil melepas
pelukan.
"Baik, Jok. Sehat. Lama tidak jumpa. Kok kamu pulang?
SMA-nya gimana?"
"Aku tidak lanjut SMA, Bud. Aku pulang untuk
selamanya."
Budi terkejut. Matanya membelalak. "Maksudmu? Emangnya
nggak mau sekolah lagi?"
"Aku mau membangun desa, Bud. Nggak perlu nunggu
sekolah tinggi."
"Tapi Jok..."
"Jelas nanti, Bud. Sekarang antar aku pulang. Aku
kangen sama ibu dan ayah."
Mereka naik ojek menuju desa Suka Maju. Jalanan masih sama,
tanah, becek, berlubang. Ojek harus berhati-hati melewati jalan yang rusak.
Joko memandanginya dengan tatapan baru. Kali ini, ia tidak melihatnya sebagai
penghalang, tapi sebagai tantangan yang harus diatasi.
Sesampai di rumah, orang tuanya sudah menunggu di beranda.
Wahyono dan Sri berdiri di sana dengan wajah haru. Rambut mereka sudah mulai
memutih.
"Ibu! Ayah!" Joko berlari memeluk mereka.
"Nak... Nak..." tangis Sri. Ia memeluk anaknya
erat.
Wahyono hanya mengusap kepala anaknya. Matanya basah.
"Sudah besar, Nak. Sudah dewasa."
Setelah tangis reda, mereka duduk di ruang tamu sederhana.
Joko menceritakan pengalamannya di kota, tentang sekolah, tentang teman-teman,
tentang kehidupan di perantauan.
"Jadi kamu tidak lanjut SMA?" tanya Wahyono
dengan nada hati-hati.
"Tidak, Yah. Aku mau pulang. Mau bantu desa ini."
Wahyono dan Sri berpandangan. Mereka bingung sekaligus
bangga. Bingung karena anaknya memilih jalan yang tidak biasa. Bangga karena anaknya
punya niat mulia.
"Nak, apa yang bisa kamu lakukan? Kamu cuma lulusan
SMP," kata Sri.
"Banyak, Bu. Aku bisa ngajar anak-anak desa. Bantu
petani dengan ilmu pertanian yang kudapat. Aktif di karang taruna. Ikut
kegiatan sosial. Pelan-pelan, pasti ada perubahan. Yang penting mulai."
Wahyono tersenyum. "Kamu sudah dewasa, Nak. Terserah
kamu. Bapak dan ibu dukung. Asal kamu bahagia."
Joko memeluk mereka lagi. "Terima kasih, Yah. Terima
kasih, Bu. Aku tidak akan mengecewakan kalian."
Keesokan harinya, Joko berkeliling desa. Ia ingin melihat
perubahan selama tiga tahun ia tinggalkan. Tapi ternyata, tidak banyak yang
berubah. Bahkan hampir tidak ada.
Jalan masih becek. Sekolah masih bocor. Sungai masih deras
kalau hujan. Rakit masih jadi andalan. Sawah-sawah masih hijau. Petani masih bekerja
dengan cara tradisional, menggunakan tenaga kerbau untuk membajak.
"Tidak berubah," gumamnya sedih.
Ia mampir ke rumah Pak Kades. Pak Kades sudah tua,
rambutnya memutih sempurna. Jalannya sudah agak membungkuk. Tapi semangatnya
masih sama. Matanya masih tajam.
"Joko! Kamu sudah pulang?" sapa Pak Kades dari
beranda.
"Iya, Pak. Saya pulang untuk selamanya."
"Tidak lanjut SMA?"
"Tidak, Pak. Saya mau mengabdi di desa ini. Membangun
desa bersama Bapak."
Pak Kades tersenyum lebar. "Bagus, Nak. Bapak tunggu
sejak lama. Masuk, masuk."
Mereka duduk di beranda. Joko menceritakan rencananya
dengan detail.
"Pak, saya mau aktif di karang taruna. Mau bantu anak-anak
desa belajar di luar jam sekolah. Mau bantu petani dengan ilmu pertanian yang
saya dapat di SMP, pemilihan bibit unggul, pemupukan tepat, pengendalian hama.
Apa Bapak setuju?"
"Sangat setuju, Nak. Desa ini butuh anak muda seperti
kamu. Yang mau pulang, bukan pergi ke kota. Yang mau bekerja, bukan cuma
mengeluh."
"Tapi Pak, saya masih muda, belum berpengalaman. Saya
takut salah."
"Tidak apa-apa. Pengalaman bisa dicari. Kesalahan bisa
diperbaiki. Yang penting niatmu baik. Bapak akan bantu semampu bapak. Bapak
akan dampingi."
Joko tersenyum lega. Dengan dukungan Pak Kades, ia yakin
bisa melakukan banyak hal.
Joko memulai pengabdiannya dengan hal sederhana: mengajar
anak-anak desa membaca, menulis, dan berhitung. Setiap sore, ia membuka kelas
gratis di beranda rumahnya. Anak-anak datang dengan buku bekas dan alat tulis
seadanya.
"Ayo, belajar yang rajin. Nanti kalau pintar, bisa
sekolah tinggi seperti kakak," kata Joko pada anak-anak.
Anak-anak itu antusias. Mereka senang ada yang mau mengajar
mereka gratis. Orang tua mereka juga senang, karena tidak perlu keluar biaya.
"Mas Joko, terima kasih ya," kata seorang ibu,
Mbok Minah, lahir tahun 1920, yang mengantar anaknya.
"Sama-sama, Bu. Ini kewajiban saya. Saya juga dulu
dibantu orang, sekarang giliran saya membantu."
"Moga Mas Joko panjang umur, murah rezeki."
"Amin, Bu. Terima kasih doanya."
Selain mengajar, Joko juga aktif membantu petani. Ia
membagi ilmu tentang cara bertani yang lebih baik, pemilihan bibit unggul,
pemupukan tepat waktu, pengendalian hama secara alami.
"Mas Joko, kamu tahu banyak ya," puji seorang
petani, Pak Karto, lahir tahun 1920 yang dulu sempat meragukannya.
"Saya baca dari buku, Pak. Dapat ilmu dari sekolah.
Kalau ada waktu, saya akan coba praktikkan di sawah saya dulu. Kalau berhasil,
baru saya ajarkan ke yang lain."
"Wah, hati-hati. Jangan sampai gagal. Kalau gagal,
rugi."
"Siap, Pak. Saya akan pelan-pelan."
Karang Taruna desa Suka Maju selama ini mati suri. Hanya
ada nama di atas kertas, tapi tidak ada kegiatan nyata. Joko bertekad
menghidupkannya kembali.
Ia mengumpulkan pemuda desa di balai pertemuan pada suatu
malam minggu. Awalnya hanya sedikit yang dating, sekitar sepuluh orang. Tapi
lambat laun, semakin banyak yang tertarik.
"Teman-teman, kita harus bangkit. Desa kita ini tertinggal,
bukan karena tidak punya potensi, tapi karena kita tidak bersatu. Karang Taruna
bisa jadi wadah kita untuk berbuat sesuatu."
"Lalu kita mau ngapain, Jok?" tanya seorang
pemuda, eko, lahir tahun 1950, yang dikenal sebagai pemuda nakal.
"Banyak. Kita bisa gotong royong bersihkan desa. Kita
bisa adakan turnamen olahraga. Kita bisa buat kelompok belajar untuk anak-anak.
Kita bisa adakan pengajian rutin. Yang penting kita mulai."
Para pemuda itu setuju. Mereka mulai merencanakan
kegiatan-kegiatan sederhana.
Hari Minggu, mereka gotong royong membersihkan jalan desa.
Mereka memotong rumput liar, membersihkan selokan yang mampet, menimbun lubang
di jalan. Warga desa melihatnya dengan takjub.
"Lihat, anak-anak muda itu kerja bakti," kata
seorang warga.
"Iya, bagus ya. Jadi ingat zaman dulu. Dulu sering
gotong royong, sekarang jarang."
Kegiatan lain yang dilakukan adalah turnamen voli antar RT.
Warga desa antusias. Lapangan voli sederhana dibuat di tengah desa dengan net
dari tambang plastik. Malam harinya, mereka nonton bareng pertandingan dengan
lampu petromaks yang dipinjam dari balai desa.
"Mas Joko, ide bagus ini. Warga jadi kumpul, jadi
akrab," kata Pak RT setempat.
"Iya, Pak. Ini cara kita mempererat persaudaraan.
Jangan sampai kita terpecah belah."
Setahun berlalu. Joko semakin dikenal warga. Ia tidak hanya
aktif di karang taruna, tapi juga di kegiatan keagamaan, posyandu, dan kelompok
tani. Ia hadir di setiap acara desa, dari pernikahan hingga kematian.
Suatu hari, sekelompok warga datang ke rumahnya. Mereka
dipimpin oleh Pak Kades. Wajah mereka serius, tapi ada senyum di bibir.
"Joko, kami ingin bicara," kata Pak Kades.
"Iya, Pak. Silakan masuk."
Mereka duduk di ruang tamu sederhana. Rumah itu masih sama,
dinding bambu, lantai papan, atap rumbia. Tapi bersih dan rapi.
"Joko, kami melihat pengabdianmu selama ini. Kamu
aktif, peduli, dan ikhlas. Warga desa percaya padamu. Tidak ada yang meragukan
niat baikmu."
Joko tersipu. "Terima kasih, Pak. Tapi saya hanya
melakukan kewajiban. Saya anak desa ini."
"Bukan, Joko. Kamu melakukan lebih dari kewajiban.
Kamu melakukan pengabdian. Karena itu, kami punya rencana."
"Rencana apa, Pak?"
Pak Kades tersenyum. "Kami ingin kamu maju sebagai
calon kepala desa pada pilkades tahun depan."
Joko terkejut. Hampir jatuh dari kursi. "Apa? Saya?
Tapi saya masih muda, Pak. Umur saya baru 24 tahun? Maksud Bapak, dua tahun
lagi?"
"Iya, dua tahun lagi. Tapi persiapan harus dari
sekarang. Kamu harus lebih banyak turun ke masyarakat, dengarkan aspirasi
mereka, bangun jaringan. Bapak akan dampingi."
Joko menarik napas panjang. Ia ingat mimpinya sejak kecil.
Ia ingat percakapan dengan Ibu Sumarni di tepi sungai. Ia ingat nasihat Pak Kades
di bawah pohon beringin. Ia ingat doa ayah dan ibunya. Kini, mimpi itu ada di
depan mata.
"Baik, Pak. Saya bersedia. Tapi dengan satu
syarat."
"Apa itu?"
"Warga harus doakan saya. Saya butuh dukungan dan doa
dari semuanya. Saya tidak bisa sendiri."
Warga yang hadir tersenyum lega. Mereka bertepuk tangan.
"Setuju, Joko! Kami dukung kamu!"
Pak Kades memeluk Joko. "Selamat, Nak. Perjalananmu
baru saja dimulai."
Joko tersenyum. Air matanya menetes. Ia tidak menyangka
akan sampai di titik ini. Tapi ia sadar, ini bukan akhir. Ini awal dari
perjuangan yang lebih besar.
Musim kemarau tahun itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Sawah-sawah mulai mengering, padi-padi yang baru ditanam tampak merana. Para
petani gelisah, duduk di warung kopi sambil mengeluh.
"Air susah, Pak. Sumur mulai kering," keluh
seorang petani, Pak Tumin, lahir tahun 1920.
"Iya, sungai juga surut. Irigasi kita cuma dari bambu,
nggak cukup," timpal yang lain, Pak Karto.
Joko yang kebetulan lewat, ikut duduk di warung. Ia
mendengar keluhan mereka dengan saksama.
"Pak, bagaimana kalau kita bikin kelompok tani?"
usul Joko tiba-tiba.
Semua menoleh. "Kelompok tani? Buat apa, Jok?"
tanya Pak Tumin.
"Supaya kita bisa kerja sama. Ngurus irigasi
bareng-bareng. Beli pupuk bareng biar murah. Jual hasil panen bareng biar harga
bagus. Petani di desa lain banyak yang sukses pakai kelompok tani."
Mereka berpandangan. Ide itu menarik, tapi baru. Belum
pernah ada kelompok tani di desa Suka Maju.
"Kita bisa coba, Pak. Nggak ada ruginya. Paling-paling
kita kumpul, diskusi, cari solusi bareng. Daripada mengeluh terus."
Pak Karto, petani paling tua dan paling dihormati,
mengangguk. "Joko bener. Kita harus coba. Sudah puluhan tahun kita kerja
sendiri-sendiri, hasilnya ya gini-gini aja. Mungkin kalau kerja sama, bisa
lebih baik."
Maka, berdirilah Kelompok Tani "Tunas Harapan".
Anggotanya dua puluh petani, mayoritas penggarap seperti ayah Joko. Mereka
sepakat untuk iuran sukarela, rapat rutin setiap minggu, dan gotong royong
memperbaiki irigasi.
Joko ditunjuk sebagai sekretaris. Ia bertugas mencatat
hasil rapat, membuat proposal bantuan ke dinas pertanian, dan mencari informasi
tentang teknologi pertanian baru.
"Jok, kamu ini pinter, jadi andalan kami," puji
Pak Karto.
"Saya hanya ingin desa ini maju, Pak. Kalau petani
sejahtera, desa juga sejahtera."
Dengan kelompok tani, mereka mulai membenahi irigasi. Saluran
air dari sungai diperbaiki, dibuat dari bambu yang lebih besar dan lebih rapat.
Air bisa mengalir lebih lancar ke sawah-sawah. Mereka juga belajar membuat
pupuk organik dari kotoran ternak dan sisa tanaman. Pupuk kimia mahal, dan
tanah mulai rusak karena terlalu sering pakai pupuk kimia.
"Lihat, Pak. Ini pupuk gratis. Bisa mengurangi biaya
tanam," jelas Joko sambil menunjukkan tumpukan kompos.
"Wah, bagus. Kita bisa hemat," kata Pak Tumin.
Hasilnya mulai terlihat beberapa bulan kemudian. Padi-padi
lebih hijau, lebih subur. Saat panen, hasilnya meningkat sekitar dua puluh
persen. Para petani senang.
"Jok, terima kasih. Ide kelompok tanimu
berhasil," kata Pak Karto di acara syukuran panen.
"Ini keberhasilan kita bersama, Pak. Saya cuma
fasilitator."
Mereka makan bersama di balai desa. Nasi tumpeng, ayam
ingkung, sambal goreng, dan lauk-pauk sederhana. Tertawa, bercanda, bahagia.
Kelompok Tani "Tunas Harapan" resmi jadi kebanggaan desa.
Joko punya ide lain. Ia ingin mendirikan perpustakaan desa.
Selama ini, anak-anak desa hanya mengandalkan buku teks dari sekolah. Tidak ada
buku bacaan lain. Tidak ada majalah, koran, atau ensiklopedia.
"Aku ingin mereka punya akses ke dunia luar lewat
buku," katanya pada Budi suatu hari.
"Tapi Jok, kita nggak punya buku. Mau pinjam dari
mana?"
"Dari sumbangan. Aku punya koleksi buku dari SMP dan
pinjaman dari Pak Kades. Lumayan banyak. Ibu Sumarni juga punya buku. Terus
kita minta sumbangan ke warga yang punya buku bekas."
Budi mengangguk. "Oke, aku bantu."
Mereka mulai bergerak. Joko menulis surat edaran, meminta
sumbangan buku bekas. Ia tempel di papan pengumuman desa, di masjid, di
sekolah, di warung-warung. Budi membantu mengumpulkan buku dari rumah ke rumah.
Hasilnya lumayan. Terkumpul sekitar dua ratus buku. Tidak
banyak, tapi cukup untuk memulai. Ada buku pelajaran, buku cerita anak, majalah
bekas, beberapa novel, dan ensiklopedia anak yang sudah usang.
"Kita butuh tempat," kata Joko.
"Gimana kalau di bekas ruang kosong balai desa?"
usul Budi.
Mereka menghadap Pak Kades. Pak Kades setuju. Ruang kosong
di samping balai desa—bekas gudang—dibersihkan dan dicat ulang. Warga bergotong
royong membuat rak buku sederhana dari kayu bekas. Beberapa meja dan kursi
disumbangkan warga.
Perpustakaan Desa "Cahaya Ilmu" resmi dibuka pada
Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 1970. Acaranya sederhana: potong tumpeng, doa
bersama, dan pengguntingan pita oleh Pak Kades. Anak-anak desa sudah antre di
depan pintu sejak pagi.
"Ini perpustakaan, Nak. Kalian boleh baca buku di
sini, atau pinjam pulang. Tapi harus dijaga, jangan sampai rusak," jelas
Joko pada anak-anak.
Mereka berhamburan masuk, mengambil buku-buku, lalu duduk
di lantai atau di kursi yang tersedia. Wajah-wajah polos itu berseri-seri.
Mereka belum pernah melihat buku sebanyak ini.
"Mas Joko, boleh pinjam buku cerita?" tanya
seorang anak perempuan, Sari namanya, kelas tiga SD.
"Boleh. Tapi harus dikembalikan ya. Nama dan judul
buku dicatat di buku pinjaman."
Sari mengangguk semangat. Ia memilih buku "Kancil dan
Buaya", lalu mencatat di buku pinjaman dengan tulisan masih kaku.
Joko tersenyum melihatnya. Ia ingat dirinya dulu, ketika
Ibu Sumarni meminjamkan buku pertama. Rasanya seperti mendapat harta karun. Ia
ingin anak-anak desa merasakan hal yang sama.
Perpustakaan itu menjadi ramai setiap sore. Anak-anak
datang setelah pulang sekolah. Mereka membaca, menggambar, atau sekadar
mengerjakan PR di tempat yang lebih nyaman. Joko kadang membantu mereka yang
kesulitan belajar.
"Mas Joko, ini PR matematika, susah," keluh
seorang anak laki-laki, Bowo, kelas lima SD.
Joko mendekat. "Mana, coba lihat. Oh, ini soal
pecahan. Gampang, Dik. Begini caranya..."
Ia menjelaskan dengan sabar. Bowo mengangguk-angguk, lalu
mengerjakan sendiri. Wajahnya berseri begitu selesai.
"Terima kasih, Mas Joko!"
"Sama-sama. Rajin-rajin belajar ya."
Orang tua mereka juga senang. Di perpustakaan, anak-anak
mereka terawasi, tidak berkeliaran, dan yang penting, mereka belajar.
"Mas Joko, terima kasih sudah mendirikan
perpustakaan," kata Mbok Minah, ibu dari Sari. "Sari jadi rajin baca.
Nilainya naik."
"Sama-sama, Bu. Ini untuk masa depan mereka."
Joko tidak puas hanya dengan kelompok tani dan
perpustakaan. Ia ingin membantu petani lebih jauh. Ia ingat pelajaran di SMP
tentang teknologi pertanian sederhana yang bisa diterapkan di desa.
Suatu hari, ia menemukan artikel di majalah bekas tentang
sistem irigasi tetes. Sederhana: menggunakan drum bekas, selang kecil, dan pipa
bambu. Air menetes perlahan ke akar tanaman, hemat air, cocok untuk musim
kemarau.
"Pak, ini bisa dicoba di desa kita," kata Joko
pada Pak Karto.
Pak Karto membaca artikel itu dengan saksama. "Wah,
menarik. Tapi kita nggak punya drum bekas, selang, dan pipa."
"Kita bisa cari, Pak. Drum bekas dari pengepul barang
bekas. Selang bisa beli di toko. Pipa bambu banyak di desa."
Mereka mencoba di sawah Pak Karto. Drum bekas diletakkan di
tempat tinggi, diisi air dari sungai menggunakan pompa tangan sederhana. Selang
kecil dihubungkan ke drum, lalu ke tanaman-tanaman di sawah. Air menetes
perlahan, membasahi tanah di sekitar akar.
Hasilnya mengejutkan. Tanaman lebih segar, tidak layu meski
kemarau. Air yang digunakan jauh lebih sedikit dibanding sistem genangan biasa.
"Ini hebat, Jok!" seru Pak Karto. "Kita bisa
hemat air sampai setengahnya!"
Mereka kemudian mengadakan demonstrasi di kelompok tani.
Petani-petani lain datang melihat, takjub. Beberapa langsung tertarik mencoba
di sawah mereka.
"Tapi modalnya lumayan, Pak," kata seorang
petani. "Drum, selang, pompa tangan. Nggak semua punya."
"Kita bisa gotong royong, Pak. Beli bareng, pakai
bareng. Drum bisa dipakai bergantian. Selang bisa dibagi-bagi. Yang penting
niat."
Akhirnya, mereka sepakat membeli dua drum bekas, pompa
tangan, dan selang panjang. Uangnya dari iuran anggota kelompok tani. Sistem
irigasi tetes mulai diterapkan di beberapa sawah.
Musim kemarau tahun itu tidak terlalu membuat cemas.
Sawah-sawah tetap hijau, air tetap cukup. Petani mulai percaya bahwa teknologi
sederhana bisa membantu mereka.
Joko juga memperkenalkan konsep tumpang sari. Menanam
tanaman lain di sela-sela padi, seperti kacang panjang, jagung, atau kedelai.
Hasilnya bisa dijual, menambah penghasilan.
"Pak, sawah tidak hanya untuk padi. Kita bisa tanam
sayur di pinggir pematang. Atau setelah panen padi, kita tanam palawija. Tanah
tidak nganggur, penghasilan tambah."
Pak Tumin mencoba di sawahnya. Ia tanam kacang panjang di
pematang, dan jagung di lahan bekas panen. Beberapa bulan kemudian, ia panen
kacang panjang dan jagung. Lumayan, dapat uang tambahan.
"Jok, idemu bagus," katanya. "Aku dapat uang
tambahan tanpa perlu lahan baru."
"Syukurlah, Pak. Nanti kalau semua petani lakukan,
desa kita bisa swasembada pangan. Tidak perlu beli sayur dari luar."
Keberhasilan kelompok tani mulai menarik perhatian. Hasil
panen meningkat, petani mulai bisa menabung. Tapi ini juga menarik perhatian
yang tidak diinginkan: para tengkulak.
Tengkulak adalah pedagang perantara yang biasa membeli
gabah petani dengan harga murah, lalu menjualnya ke kota dengan harga tinggi.
Selama ini, petani tidak punya pilihan. Mereka harus menjual ke tengkulak
karena butuh uang cepat.
Salah satu tengkulak paling berpengaruh di kecamatan adalah
Haji Dulah. Ia punya gudang besar di dekat pasar, lori untuk mengangkut gabah,
dan hubungan dengan pedagang di kota. Ia juga punya anak buah yang
disegani—preman-preman pasar.
Suatu hari, Haji Dulah datang ke desa Suka Maju dengan
mobil pick-up bututnya. Ia langsung menuju rumah Pak Karto.
"Pak Karto, saya dengar panen kalian bagus tahun
ini," sapa Haji Dulah dengan senyum lebar, memperlihatkan gigi emasnya.
"Alhamdulillah, Haji. Lumayan," jawab Pak Karto
hati-hati.
"Saya mau beli gabah kalian. Harga lebih tinggi dari
biasanya. Dua ratus per kilo. Biasanya kan seratus lima puluh."
Pak Karto terdiam. Harga itu memang lebih tinggi. Tapi ia
tahu, di kota harga gabah bisa empat ratus per kilo. Haji Dulah mengambil
untung terlalu besar.
"Maaf, Haji. Kami punya kelompok tani. Rencananya,
gabah akan kami jual bersama ke koperasi di kecamatan. Harga di sana tiga ratus
lima puluh."
Wajah Haji Dulah berubah. Senyumnya lenyap. Matanya
menyipit.
"Koperasi? Kalian punya koperasi?"
"Baru rencana, Haji. Tapi kelompok tani sudah
sepakat."
Haji Dulah tertawa sinis. "Kelompok tani? Kalian ini
petani miskin, mau main koperasi? Modal apa? Relasi apa? Nanti malah rugi,
gabah kalian busuk di gudang."
"Kami akan coba, Haji. Kalau gagal, baru kami jual ke
Haji."
Haji Dulah tidak senang. Ia pergi dengan muka masam. Tapi
sebelum pergi, ia berpesan, "Ingat, Pak Karto. Saya sudah lama
berkecimpung di sini. Jangan coba-coba main belakang. Bisa berabe."
Ancaman itu membuat Pak Karto gelisah. Ia tahu Haji Dulah
punya pengaruh besar. Bisa saja ia menyuruh preman-preman untuk mengganggu.
Malam harinya, kelompok tani mengadakan rapat darurat di
rumah Pak Karto. Semua anggota hadir, termasuk Joko.
"Pak, kita tidak boleh takut," kata Joko tegas.
"Ini hak kita sebagai petani. Kita boleh menjual ke siapa saja dengan
harga terbaik. Tidak boleh ada paksaan."
"Tapi Jok, Haji Dulah itu punya preman. Bisa
bahaya," kata seorang petani.
"Kalau kita bersatu, mereka tidak akan berani. Mereka
hanya berani sama yang sendiri-sendiri. Kalau kita kompak, mereka gentar."
Pak Karto mengangguk. "Joko benar. Kita sudah bersatu
di kelompok tani, jangan pecah karena ancaman. Kita harus berani."
Mereka sepakat untuk tetap menjual gabah ke koperasi.
Besoknya, mereka mulai memanen dan mengangkut gabah ke gudang koperasi di
kecamatan.
Haji Dulah tidak tinggal diam. Ia mengirim preman-preman
untuk menghadang lori-lori petani di jalan. Tapi para petani sudah siap. Mereka
bergerombol, saling menjaga. Preman-preman itu hanya bisa melihat dari
kejauhan.
"Kalian akan menyesal!" teriak salah satu preman.
Tidak ada yang menjawab. Lori terus berjalan menuju
koperasi.
Beberapa hari kemudian, kabar sampai ke telinga Haji Dulah
bahwa petani Suka Maju berhasil menjual gabah ke koperasi dengan harga tiga
ratus lima puluh. Ia marah besar. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena
petani bersatu.
"Kelompok tani itu...," gerutunya sambil
menghisap rokok. "Siapa yang memprakarsai?"
"Katanya anak muda, namanya Joko. Anaknya Wahyono,
petani penggarap," lapor anak buahnya.
"Joko... ingat nama itu. Suatu hari kita urus."
Joko mendapat kabar tentang ancaman Haji Dulah. Ia tidak
takut, tapi tetap waspada. Ia tahu, perjuangan ini tidak mudah. Banyak
kepentingan yang akan terusik.
"Jok, hati-hati. Haji Dulah orang berpengaruh,"
pesan Pak Kades.
"Saya tahu, Pak. Tapi saya yakin, selama kita di jalan
benar, Tuhan akan lindungi."
Cobaan datang bertubi-tubi.
Pertama, tuduhan korupsi. Seseorang
melaporkan Joko ke polisi dengan tuduhan menggelapkan uang kelompok tani.
Katanya, uang iuran anggota sebesar lima ratus ribu rupiah hilang. Joko dituduh
mengambilnya.
Joko kaget bukan main. Ia tidak pernah mengambil uang itu.
Semua transaksi dicatat rapi, diaudit setiap bulan. Tapi laporan tetap masuk.
Polisi datang ke desa. Joko diperiksa selama berjam-jam di
balai desa. Warga berkumpul di luar, cemas.
"Joko, bagaimana ini?" tanya Sri cemas.
"Tenang, Bu. Saya tidak bersalah. Pasti ada yang
fitnah."
Setelah pemeriksaan, ternyata uang itu tidak hilang. Hanya
salah catat. Yang membuat laporan palsu adalah orang suruhan Haji Dulah. Tapi
ia tidak bisa dituntut karena bukti tidak cukup.
"Kamu beruntung, Joko. Tapi lain kali hati-hati,"
kata polisi itu.
Kedua, isu miring tentang hubungannya dengan perempuan. Dikatakan bahwa Joko selingkuh dengan istri orang.
Tidak ada bukti, tapi gosip menyebar cepat.
Joko sedih. Ia tahu ini juga ulah Haji Dulah. Tujuannya
jelas: merusak reputasinya, membuat warga tidak percaya padanya.
"Jok, jangan sedih. Warga tahu kamu orang baik. Gosip
itu tidak akan bertahan," hibur Budi.
"Tapi Bud, ini berat. Reputasi adalah segalanya. Kalau
warga tidak percaya, bagaimana aku bisa memimpin?"
"Warga cerdas, Jok. Mereka tahu mana yang benar mana
yang fitnah. Sabar saja."
Dan benar, warga tidak percaya pada gosip itu. Mereka kenal
Joko sejak kecil. Mereka tahu ia anak saleh, tidak pernah macam-macam. Ibu-ibu
PKK bahkan mengadakan pengajian khusus untuk mendoakan Joko.
Ketiga, usaha pertaniannya diganggu. Sawahnya dirusak orang di malam hari. Tanaman padi
yang baru tumbuh dicabuti, dibiarkan layu. Joko hanya bisa pasrah.
"Siapa yang tega?" keluhnya.
"Pasti orang suruhan Haji Dulah. Mereka ingin kamu
kapok," kata Wahyono.
"Tapi Yah, saya tidak akan kapok. Saya akan terus
berjuang. Kalau saya berhenti, mereka menang."
Wahyono memeluk anaknya. "Kamu benar, Nak. Teruslah
berjuang. Ayah bangga padamu."
Cobaan-cobaan itu justru membuat Joko semakin kuat. Ia
sadar, perjuangan yang benar akan selalu ada ujian. Ia ingat kisah para nabi,
para pahlawan, yang juga difitnah, dianiaya, tapi tetap teguh.
Ia terus bekerja. Kelompok tani semakin solid. Perpustakaan
semakin ramai. Karang taruna semakin aktif. Warga semakin percaya padanya.
Suatu hari, Pak Kades memanggilnya.
"Joko, kamu sudah melewati banyak ujian. Kamu tetap
teguh. Itu bukti kedewasaanmu. Bapak bangga."
"Terima kasih, Pak. Ini semua berkat doa dan dukungan
warga."
"Pilkades tinggal beberapa bulan lagi. Kamu
siap?"
Joko menarik napas. "Siap, Pak. Dengan segala
risiko."
"Bagus. Mulai sekarang, kamu harus lebih banyak
keliling, sapa warga, dengarkan aspirasi mereka. Jangan hanya di kelompok tani.
Jangkau semua kalangan."
"Siap, Pak."
Joko mulai blusukan. Setiap sore, setelah mengajar
anak-anak, ia berkeliling desa. Mendatangi rumah-rumah warga, ngobrol dengan
mereka, mendengarkan keluhan dan harapan.
Ia mendatangi rumah Mbok Minah, janda tua yang hidup
sebatang kara.
"Mbok, ada yang bisa saya bantu?" tanya Joko.
"Joko, Nak. Mbok cuma butuh air bersih. Sumur mbok
kering. Tiap hari harus minta air ke tetangga."
"Saya catat, Mbok. Nanti kita usulkan pembuatan sumur
bor."
Ia mendatangi rumah Pak Jum, petani miskin yang tak punya
sawah.
"Pak, bagaimana kabar?"
"Biasa, Jok. Jadi buruh tani. Upah kecil, nggak cukup
buat anak sekolah."
"Anak Bapak sekolah di mana?"
"Di SD sini. Kelas tiga. Tapi sering nggak masuk,
nggak ada uang buat beli buku."
"Saya catat, Pak. Nanti kita wawanan bantuan."
Ia mendatangi rumah Slamet, pemuda pengangguran yang sering
nongkrong di warung.
"Lam, ngapain? Nggak kerja?"
"Lha kerja apa, Jok? Di desa lowongan nggak ada. Mau
ke kota, nggak punya modal."
"Gimana kalau ikut pelatihan di kecamatan? Ada program
keterampilan. Nanti bisa buka usaha sendiri."
"Ah, masak iya? Aku bisa?"
"Bisa. Asal mau. Nanti aku bantu daftarkan."
Joko mencatat semua aspirasi itu dalam buku kecil. Ia ingin
tahu persis apa yang dibutuhkan warganya. Bukan asumsi, bukan perkiraan, tapi
data nyata.
"Jok, kamu ini seperti calon bupati saja," canda
Budi suatu hari.
"Bukan, Bud. Ini cara sederhana. Kalau mau memimpin,
harus kenal dulu yang dipimpin. Nggak bisa hanya di balai desa."
Suatu malam, Joko mengadakan pertemuan di balai desa. Ia
memaparkan hasil blusukannya selama sebulan. Ada daftar panjang kebutuhan
warga: air bersih, perbaikan jalan, bantuan pendidikan, lapangan kerja,
posyandu, dan masih banyak lagi.
"Ini PR kita bersama, Pak, Bu. Kalau saya jadi kepala
desa, ini yang akan saya perjuangkan. Tapi saya tidak bisa sendiri. Saya butuh
bantuan semua. Gotong royong, kerja sama. Itu kunci."
Warga yang hadir bertepuk tangan. Mereka terkesan dengan
keseriusan Joko. Ia tidak hanya janji-janji kosong, tapi punya data, punya
rencana.
"Jok, kami percaya padamu," kata Pak Karto
mewakili warga. "Kamu sudah buktikan dengan kelompok tani, dengan
perpustakaan, dengan karang taruna. Kamu pantas jadi pemimpin kami."
Joko terharu. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih,
Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin. Doakan saya."
Malam itu, ia pulang dengan hati berbunga-bunga. Dukungan warga
semakin kuat. Ia yakin, dengan kebersamaan, desa Suka Maju bisa berubah.
Ibu Sumarni, guru SD yang dulu membimbing Joko, sudah
pensiun. Tapi semangatnya tidak pudar. Ia sering datang ke perpustakaan desa,
membantu Joko mengelola, kadang ikut mengajar anak-anak.
Suatu sore, ia memanggil Joko.
"Joko, duduk. Ibu mau bicara."
Joko duduk di samping gurunya. Ibu Sumarni sudah sangat
tua. Rambutnya putih semua, kulitnya keriput. Tapi matanya masih tajam, masih
berbinar.
"Joko, ibu lihat perjuanganmu. Ibu bangga. Kamu tidak
berubah. Masih rendah hati, masih peduli pada sesama. Itu modal utama jadi
pemimpin."
"Terima kasih, Bu. Ibu guru saya. Tanpa ibu, saya
tidak akan seperti ini."
"Jangan bilang begitu. Kamu yang mau belajar. Ibu
hanya memberi jalan."
Joko terdiam. Ia ingat masa kecilnya, ketika Ibu Sumarni
meminjamkan buku pertama, ketika Ibu Sumarni membimbingnya membaca, ketika Ibu
Sumarni menanamkan mimpi-mimpi besar.
"Bu, saya mau tanya. Apa ibu punya pesan untuk saya,
kalau nanti jadi kepala desa?"
Ibu Sumarni tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
"Joko, jadi pemimpin itu seperti jadi guru. Kamu harus
sabar, harus ikhlas, harus mendidik. Rakyat itu seperti murid. Ada yang pintar,
ada yang bodoh. Ada yang nurut, ada yang nakal. Tapi semua harus diperlakukan sama.
Jangan pilih kasih."
"Ingat juga, Nak. Kekuasaan itu sementara. Jabatan itu
titipan. Suatu hari kamu akan turun, kembali jadi rakyat biasa. Karena itu,
jangan sombong. Jangan korupsi. Jangan sakiti siapa pun. Tinggalkan kenangan
baik."
Joko menangis. Ia memeluk gurunya.
"Ibu, terima kasih untuk semuanya. Saya tidak akan
lupa pesan Ibu."
"Joko, ibu bangga padamu. Kamu adalah murid terbaik
ibu. Teruslah berjuang. Ibu akan selalu mendoakanmu."
Beberapa bulan kemudian, Ibu Sumarni meninggal dunia.
Usianya sudah sangat tua, sakit-sakitan. Tapi kepergiannya menyisakan duka
mendalam bagi Joko.
Di pemakaman, Joko menangis sejadi-jadinya. Ia kehilangan
guru, ibu, sahabat. Tapi ia juga bersyukur, sempat berpamitan, sempat menerima
pesan terakhir.
"Bu, saya akan terus berjuang. Saya akan jadi pemimpin
seperti yang Ibu harapkan. Doakan saya di sana."
Musibah melanda. Pasar desa terbakar. Api berasal dari kios
minyak tanah yang meledak. Dalam hitungan jam, seluruh pasar ludes. Puluhan
pedagang kehilangan mata pencaharian.
Warga panik. Ada yang menangis, ada yang marah, ada yang
putus asa. Pak Kades kewalahan menghadapi situasi.
Joko tidak tinggal diam. Ia segera menggerakkan Karang
Taruna dan kelompok tani untuk membantu. Mereka mendirikan posko darurat,
mengumpulkan sumbangan, mendata pedagang yang terkena musibah.
"Teman-teman, ini ujian bagi kita. Kita harus bantu
saudara-saudara kita yang kesusahan. Jangan menunggu perintah. Bergerak
sekarang!" seru Joko.
Pemuda-pemuda bergerak. Mereka membersihkan puing-puing, mendirikan
tenda darurat, mengumpulkan makanan dan pakaian. Warga lain ikut membantu.
Semangat gotong royong hidup kembali.
Joko juga mengirim surat ke dinas sosial dan PMI di
kabupaten, meminta bantuan. Dalam dua hari, bantuan mulai berdatangan. Beras,
mi instan, pakaian layak pakai, dan obat-obatan.
"Mas Joko, terima kasih. Kami tidak tahu harus
bagaimana tanpa bantuan Mas," kata seorang pedagang, Bu Sri, dengan mata
berkaca-kaca.
"Sama-sama, Bu. Ini tugas kita sebagai warga desa.
Kita harus saling bantu."
Setelah situasi reda, Joko mengusulkan pembangunan kembali
pasar yang lebih baik. Ia mengajak pedagang dan tokoh masyarakat untuk
musyawarah.
"Pak, Bu, kita harus bangun pasar yang lebih bagus,
lebih tertib, lebih aman. Jangan seperti dulu, semrawut dan rawan
kebakaran."
"Tapi Jok, kita tidak punya uang," kata Pak Kades.
"Kita bisa minta bantuan ke kabupaten, provinsi,
bahkan pusat. Saya sudah siapkan proposal. Tinggal kita ajukan bersama."
Mereka setuju. Proposal disusun, ditandatangani Pak Kades,
lalu dikirim ke berbagai instansi. Tiga bulan kemudian, kabar gembira datang.
Pemerintah kabupaten menyetujui bantuan untuk pembangunan pasar baru.
Warga desa bersorak. Mereka tidak menyangka usulan Joko
diterima. Ini kali pertama desa mereka mendapat bantuan sebesar itu.
"Joko, kamu hebat!" puji Pak Kades. "Ini
berkat kegigihanmu."
"Ini berkat kebersamaan kita, Pak. Saya hanya penyusun
proposal. Yang menentukan adalah perjuangan bersama."
Pembangunan pasar dimulai. Joko aktif mengawasi, memastikan
tidak ada penyelewengan. Ia juga melibatkan pemuda desa sebagai tenaga kerja,
memberi mereka penghasilan, hingga pasar rampung..
BAB VI
PILKADES
DAN TAKDIR KEPEMIMPINAN
Setelah menyatakan kesediaannya maju sebagai calon kepala
desa, Joko tidak tinggal diam. Ia mulai mempersiapkan diri dengan serius.
Setiap malam ia belajar tentang pemerintahan desa dari Pak Kades. Buku-buku
tentang administrasi desa ia pinjam dari kecamatan.
"Pak, apa saja tugas kepala desa?" tanya Joko
suatu malam.
"Banyak, Nak. Mengelola pemerintahan desa,
melaksanakan pembangunan, membina masyarakat, dan memberdayakan warga. Semua
harus dilakukan dengan baik."
"Bagaimana caranya agar sukses?"
"Yang pertama, kenali wargamu. Tahu masalah mereka,
tahu harapan mereka. Kedua, buat program yang sesuai kebutuhan. Ketiga, jangan
korupsi. Keempat, dekat dengan warga. Kelima, selalu belajar. Jangan pernah
merasa paling pintar."
Joko mencatat semua nasihat itu di buku khusus. Ia sadar,
jadi kepala desa tidak mudah. Tapi ia siap belajar.
Di samping belajar dari Pak Kades, Joko juga aktif turun ke
masyarakat. Ia mendatangi warga satu per satu, mendengar keluhan dan harapan
mereka.
"Pak, kalau Bapak jadi kepala desa, apa yang akan Bapak
lakukan?" tanya seorang warga, Pak Juminten, lahir tahun 1930, ketika Joko
berkunjung ke rumahnya.
"Yang pertama, saya akan perbaiki jalan desa. Biar
tidak becek kalau hujan. Biar anak-anak bisa ke sekolah dengan nyaman. Lalu
saya akan perjuangkan listrik masuk desa. Biar anak-anak bisa belajar malam.
Juga akan perbaiki sekolah, biar tidak bocor."
Pak Juminten mengangguk senang. "Bagus, Pak. Saya
dukung. Sudah lama kami menunggu perubahan."
Pendaftaran calon kepala desa dibuka pada bulan Maret. Joko
mendaftar dengan didampingi Pak Kades dan puluhan warga. Ia menjadi calon
termuda, baru 24 tahun.
Di ruang pendaftaran balai desa, ia bertemu calon-calon
lain. Ada Pak Karto (bukan petani tua yang sama, tapi orang berbeda), mantan
perangkat desa yang sudah berpengalaman, usianya 50 tahun, lahir tahun 1921.
Ada Pak Sastro, pengusaha sukses dari kota yang pulang kampung, kaya raya,
lahir tahun 1925. Ada Bu Murni, mantan guru yang dihormati, usianya 45 tahun,
lahir tahun 1926. Mereka semua lebih tua dan lebih berpengalaman darinya.
"Joko, kamu yakin?" bisik Budi yang
mendampinginya.
"Yakin, Bud. Ini panggilan hati. Saya tidak akan
mundur."
Setelah mendaftar, Joko menerima nomor urut 4. Ia akan
berkampanye selama sebulan ke depan.
Malam harinya, ia berkumpul dengan tim suksesnya, teman-teman
karang taruna dan warga yang mendukung.
"Jok, kita harus siapkan strategi. Lawan kita
berat-berat. Mereka punya uang, punya pengalaman, punya jaringan," kata
Budi.
"Iya, Bud. Tapi kita punya modal: semangat dan
dukungan warga akar rumput. Kita kampanye dengan cara sederhana, door to door.
Sambangi warga satu per satu. Jangan pakai uang, pakai hati."
"Tapi itu melelahkan, Jok. Butuh waktu lama."
"Tidak apa-apa. Yang penting kita dekat dengan warga.
Kita dengar keluhan mereka. Kita buktikan bahwa kita peduli."
Mereka menyusun jadwal kampanye. Setiap hari, Joko akan
mengunjungi puluhan rumah warga. Ia akan mendengar, berdialog, dan menyampaikan
visinya.
Kampanye dimulai. Joko berkeliling desa dengan berjalan
kaki. Sesekali naik sepeda ontel pinjaman dari Budi. Ia menyambangi warga di
sawah, di pasar, di rumah-rumah.
Reaksi warga beragam. Ada yang antusias, ada yang ragu.
"Mas Joko, kamu masih muda. Apa bisa memimpin?"
tanya seorang ibu paruh baya di dapur rumahnya.
"Saya bisa, Bu. Memang saya muda, tapi saya punya
semangat. Saya akan belajar dari yang berpengalaman. Saya akan dibantu
perangkat desa. Yang penting, saya mau bekerja untuk desa ini."
"Tapi lawanmu berat-berat. Ada Pak Karto yang sudah
lama jadi perangkat, tahu seluk-beluk desa. Ada Pak Sastro yang kaya, bisa
kasih sembako ke warga. Ada Bu Murni yang dihormati."
"Saya tahu, Bu. Tapi saya tidak takut kalah. Yang
penting saya sudah berusaha. Kalau Tuhan berkehendak, saya akan menang. Kalau
tidak, saya akan tetap mengabdi."
Ibu itu tersenyum. "Kamu anak baik, Mas. Saya doakan
sukses."
Di sisi lain, ada juga yang meragukan karena usia Joko.
"Muda amat. Apa tahu cara ngatur desa? Apa tahu cara
ngatur anggaran?" sindir seorang warga, Pak Sarman, di warung kopi.
Joko tidak marah. "Saya memang muda, Pak. Tapi muda
bukan berarti tidak bisa. Saya punya semangat, punya ide, dan punya niat baik.
Saya juga belajar dari Pak Kades. Insya Allah, dengan bantuan warga, saya
bisa."
Pak Sarman cuma mendengus. Tapi Joko tidak patah semangat.
Dukungan terbesar datang dari teman-teman karang taruna.
Mereka bergerak massal, menyebarkan visi Joko ke seluruh desa.
"Mas Joko itu baik, aktif, peduli. Dia yang ngajarin
kita gotong royong, bikin turnamen voli, ngajar anak-anak gratis. Dia pantas
jadi kepala desa," kata mereka pada warga.
Berbeda dengan calon lain yang menggunakan pengeras suara
dan spanduk besar, Joko memilih kampanye sederhana. Ia hanya menggunakan papan
nama kecil dan selebaran yang dicetak seadanya di kecamatan.
Dalam setiap pertemuan, ia tidak menjanjikan yang
muluk-muluk. Ia bicara apa adanya.
"Warga desa Suka Maju yang saya hormati. Saya Joko
Prasetyo, anak petani, lahir dan besar di desa ini. Saya tahu betul keadaan
desa kita, jalan becek, sekolah bocor, listrik belum masuk, air bersih susah.
Saya ingin mengubah itu semua."
Warga mendengarkan dengan saksama.
"Saya tidak punya uang banyak seperti calon lain. Saya
tidak punya pengalaman lama seperti calon lain. Tapi saya punya semangat, punya
niat, dan punya keberanian. Saya ingin desa kita maju. Saya ingin anak-anak
kita sekolah dengan nyaman. Saya ingin petani kita sejahtera."
Beberapa warga bertepuk tangan.
"Kalau saya terpilih, saya tidak akan korupsi. Saya
akan transparan. Saya akan melibatkan warga dalam setiap keputusan. Saya akan
menjadi kepala desa yang melayani, bukan dilayani."
Seorang warga tua, Mbah Joyo, lahir tahun 1895, berdiri
dengan tongkatnya. "Mas Joko, saya percaya sama kamu. Kamu anak baik,
rajin, dan sopan. Saya akan pilih kamu."
Joko tersenyum haru. "Terima kasih, Mbah. Doakan
saya."
Masa kampanye berlangsung selama satu bulan penuh. Bulan
itu menjadi bulan terpanjang dalam hidup Joko. Setiap hari ia harus
berkeliling, menyapa warga, meyakinkan mereka bahwa ia layak dipilih. Tapi di
balik itu semua, intrik dan politik uang mulai bermain.
Hari-hari pertama kampanye berjalan lancar. Joko bersama
timnya, Budi, Slamet, dan beberapa pemuda karang taruna, berkeliling desa
dengan berjalan kaki. Mereka menyusuri jalan setapak, melewati sawah,
mendatangi rumah-rumah warga. Joko tak pernah lelah tersenyum dan menyapa.
"Assalamu'alaikum, Pak. Kulo Joko, nyuwun wekdal
sekedap," sapanya setiap kali tiba di rumah warga.
Namun, memasuki minggu kedua, suasana mulai berubah. Warga
yang tadinya ramah mulai menunjukkan sikap berbeda. Beberapa menghindar,
beberapa hanya tersenyum sinis, beberapa menolak ditemui.
"Jok, kenapa ya warga pada ogah ditemui?" tanya
Budi heran.
"Aku juga heran, Bud. Coba kita cari tahu."
Mereka mencari informasi dari warga yang masih ramah.
Ternyata, tim sukses calon lain—terutama timnya Pak Sastro yang kaya raya—sudah
lebih dulu bergerak. Mereka membagikan sembako, uang, dan janji-janji manis.
"Mas Joko, maaf ya. Saya sudah terima bantuan dari tim
Pak Sastro. Katanya, kalau saya pilih beliau, nanti dapat tambahan," kata
seorang warga, Mbok Minah, dengan wajah menyesal.
Joko tersenyum getir. "Tidak apa-apa, Mbok. Itu hak
Mbok. Saya tidak bisa memaksa."
Tapi di dalam hati, ia sedih. Politik uang telah merusak
demokrasi desa. Warga yang miskin dengan mudah tergiur oleh uang dan sembako.
Tak hanya politik uang, fitnah juga mulai bertebaran.
Selebaran hitam ditempel di tempat-tempat strategis: di pohon dekat masjid, di
papan pengumuman desa, bahkan di dinding sekolah. Isinya fitnah keji tentang
Joko.
"JOKO PRASETYO: ANAK HARAM?! IBUNYA PERNAH JADI TUKANG
SERVIS DI KOTA!"
Joko membaca selebaran itu dengan tangan gemetar. Ia tidak
marah, tapi sedih. Ibunya—Sri—adalah wanita paling mulia yang dikenalnya. Ia
tak pernah bekerja di luar desa, apalagi menjadi tukang servis. Fitnah itu
sangat keji.
"Jok, ini keterlaluan!" Budi marah besar.
"Kita harus lapor polisi!"
"Tenang, Bud. Kalau kita lapor, malah jadi ramai.
Mereka justru senang. Lebih baik kita abaikan."
"Tapi Jok, ini soal harga diri ibumu!"
"Aku tahu, Bud. Tapi Tuhan tahu yang benar. Biarkan
waktu yang membuktikan."
Joko pulang dengan hati berat. Ia memeluk ibunya yang
menangis tersedu-sedu. Sri sudah membaca selebaran itu.
"Nak, Ibu tidak pernah... Ibu tidak pernah..."
isaknya.
"Bu, aku percaya Ibu. Semua orang yang kenal Ibu juga
percaya. Jangan hiraukan fitnah itu. Mereka hanya ingin menjatuhkan aku."
Sri mengangguk, tapi hatinya tetap perih. Fitnah begitu
mudah dilontarkan, tapi bekasnya dalam.
Fitnah terus berlanjut. Kali ini tentang masa lalu Joko di
kota. Dikatakan bahwa Joko pernah terlibat perkelahian, pernah masuk penjara,
bahkan dituduh mencuri.
Joko hanya bisa tersenyum pahit. Ia memang pernah terlibat
perkelahian, membela temannya yang dirampok, tapi itu di SMP, dan ia tidak
pernah dipenjara. Tuduhan mencuri sama sekali tidak benar.
"Jok, ini gila. Mereka mau menghancurkan
reputasimu," kata Budi.
"Biarkan, Bud. Orang pintar tidak akan percaya fitnah.
Yang percaya hanya orang bodoh. Kita fokus pada kampanye saja."
Tapi Joko tidak bisa sepenuhnya mengabaikan. Fitnah itu
menyebar cepat, mempengaruhi sebagian warga. Beberapa yang tadinya mendukung,
mulai ragu.
"Mas Joko, apa benar Ibu saya dulu tukang
servis?" tanya seorang pemuda, Karjo, dengan polos.
Joko menahan napas. "Karjo, kamu kenal ibuku? Kamu
sering ke rumahku. Apakah ibuku pernah kerja di luar desa?"
Karjo menggeleng. "Tidak pernah, Mas. Ibu Sri di rumah
terus."
"Nah, berarti itu fitnah. Mereka sengaja membuat
cerita bohong untuk menjatuhkan aku."
Karjo mengangguk. "Maaf, Mas. Aku percaya Mas
Joko."
Hari-hari berikutnya, politik uang semakin menjadi-jadi.
Tim Pak Sastro membagikan uang lima ribu rupiah per kepala keluarga, plus
sembako. Tim Pak Karto membagikan sarung dan mukena. Tim Bu Murni membagikan
buku dan alat tulis gratis untuk anak sekolah.
Joko tidak punya uang untuk itu. Ia hanya mengandalkan
ketulusan dan kerja keras. Beberapa tim suksesnya mulai putus asa.
"Jok, kita kalah telak. Mereka punya uang, kita tidak.
Gimana ini?" keluh Slamet.
"Kita tidak boleh menyerah, Slam. Uang bukan
segalanya. Warga masih punya hati nurani. Kita yakinkan mereka dengan program,
bukan dengan uang."
"Tapi Jok, orang miskin butuh uang sekarang. Mereka
tidak bisa menunggu janji."
Joko terdiam. Ia tahu Slamet benar. Kemiskinan membuat
orang rentan terhadap politik uang. Tapi ia tidak mau menempuh jalan pintas.
"Aku tidak akan melakukan politik uang, Slam. Itu akan
jadi beban di kemudian hari. Kalau aku menang karena uang, aku akan diatur oleh
uang. Aku ingin menang karena didukung hati warga."
Slamet menghela napas. "Terserah kamu, Jok. Aku tetap
dukung."
Suatu malam, Joko kedatangan tamu tak diundang. Seorang
pria berpakaian rapi, mengaku sebagai utusan Pak Sastro. Ia membawa tas besar.
"Mas Joko, saya dari tim Pak Sastro. Pak Sastro ingin
bertemu, ngobrol santai. Mungkin kita bisa kerja sama."
Joko curiga. "Kerja sama apa?"
"Pak Sastro tahu Mas Joko punya basis massa kuat di
kalangan pemuda. Kalau Mas Joko mau mendukung Pak Sastro, Pak Sastro akan beri
imbalan... katakanlah, sepuluh juta. Uangnya sudah saya bawa."
Joko terkejut. Sepuluh juta adalah uang yang sangat besar
saat itu. Bisa untuk membeli sawah, membangun rumah, atau modal usaha.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya sudah mencalonkan
diri, saya harus berjuang sampai akhir. Saya tidak bisa menjual suara pendukung
saya."
Pria itu tersenyum sinis. "Pikir-pikir lagi, Mas.
Sepuluh juta itu besar. Bisa untuk modal usaha, bisa untuk bantu orang tua.
Siapa tahu Mas Joko kalah, nggak dapat apa-apa."
"Lebih baik kalah dengan hormat, daripada menang
dengan curang. Saya sudah memutuskan, Pak."
Pria itu pergi dengan kecewa. Joko menolak tawaran yang
menggiurkan. Malam itu, ia merenung panjang. Godaan itu besar, tapi ia harus
kuat.
Keesokan harinya, Joko mendapat kabar bahwa beberapa tim
suksesnya "dibeli" oleh tim Pak Sastro. Mereka menerima uang dan
beralih mendukung calon lain.
"Salam, Karjo, mereka semua sudah digaji tim Pak
Sastro," lapor Budi dengan wajah kesal.
Joko diam. Hatinya sakit, tapi ia berusaha tegar.
"Biarkan, Bud. Mereka punya kebutuhan. Mungkin mereka butuh uang. Kita
tidak bisa memaksa."
"Tapi Jok, ini pengkhianatan!"
"Namanya juga perjuangan, Bud. Ada yang bertahan, ada
yang pergi. Yang penting kita tetap berjuang."
Tim suksesnya yang tersisa tinggal Budi dan beberapa pemuda
karang taruna yang paling loyal. Tapi mereka tidak menyerah. Justru semakin
bersemangat.
Puncak kampanye adalah kampanye terbuka di lapangan desa
dan debat kandidat yang diadakan panitia. Semua calon diberi kesempatan menyampaikan
visi-misi dan menjawab pertanyaan warga.
Hari kampanye terbuka, lapangan desa penuh sesak.
Masing-masing calon mendapat giliran 30 menit. Joko tampil paling akhir.
Ketika gilirannya tiba, Joko naik ke panggung sederhana. Ia
tidak membawa tim orkestra, tidak membawa hadiah undian, tidak membawa makanan
gratis. Hanya sebuah pengeras suara dan sewawan kertas berisi catatan.
"Warga desa Suka Maju yang saya hormati," ia
memulai dengan suara lantang.
"Saya Joko Prasetyo, anak petani, lahir dan besar di
desa ini. Saya tahu betul keadaan kita. Jalan becek, sekolah bocor, listrik
belum masuk, air bersih susah. Saya sendiri mengalami itu. Saya merasakan
bagaimana susahnya jadi anak desa."
Warga terdiam, mendengarkan.
"Saya tidak punya uang banyak seperti calon lain. Saya
tidak bisa bagi-bagi sembako. Tapi saya punya hati, punya semangat, punya niat
tulus untuk membangun desa ini. Saya sudah buktikan dengan kelompok tani,
dengan perpustakaan desa, dengan karang taruna. Saya bekerja bukan karena ingin
dipuji, tapi karena saya peduli."
Beberapa warga bertepuk tangan.
"Kalau saya terpilih, saya akan perjuangkan listrik
masuk desa. Saya akan perbaiki jalan. Saya akan bangun irigasi. Saya akan
berantas buta huruf. Saya akan bantu petani dengan teknologi baru. Saya akan
kelola anggaran dengan transparan. Tidak ada korupsi, tidak ada mark-up. Setiap
rupiah akan dipertanggungjawabkan."
Tepuk tangan semakin riuh.
"Tapi saya tidak bisa sendiri. Saya butuh dukungan
kalian. Saya butuh doa kalian. Saya butuh kerja sama kalian. Mari kita bangun
desa ini bersama-sama. Gotong royong, seperti dulu. Percayakan pada saya. Saya
tidak akan mengecewakan."
Joko mengakhiri pidatonya dengan membungkukkan badan. Warga
bersorak, bertepuk tangan meriah. Banyak yang terharu, terutama ibu-ibu.
"Mas Joko, saya dukung!" teriak seorang ibu.
"Saya juga!" teriak yang lain.
Joko tersenyum. Ia turun dari panggung, lalu dikerumuni
warga yang ingin bersalaman. Beberapa bahkan menangis memeluknya.
"Nak, kamu seperti anakku sendiri. Ibu akan pilih
kamu," kata seorang tua—Mbok Darmi.
Joko terharu. Dukungan tulus seperti ini tak ternilai
harganya.
Debat kandidat diadakan tiga hari kemudian di balai desa.
Acaranya dipandu oleh Pak Kades sebagai moderator. Hadir ratusan warga,
memadati balai desa hingga halaman.
Masing-masing calon diberi waktu menyampaikan visi-misi,
lalu menjawab pertanyaan dari panelis dan warga.
Pak Karto, calon tertua, menyampaikan visinya dengan
tenang. "Saya sudah puluhan tahun mengabdi sebagai perangkat desa. Saya
tahu persis masalah desa ini. Saya akan lanjutkan program yang sudah berjalan,
dengan perbaikan di sana-sini."
Pak Sastro, calon terkaya, tampil percaya diri. "Saya
punya modal, punya jaringan. Saya bisa datangkan investor, buka lapangan kerja.
Saya akan bangun desa ini seperti kota. Jangan ragu pilih saya."
Bu Murni, calon guru, berbicara lembut tapi tegas.
"Pendidikan adalah kunci kemajuan. Saya akan fokus pada pendidikan
anak-anak kita. Perbaiki sekolah, sediakan beasiswa, tingkatkan kualitas
guru."
Giliran Joko. Ia tampil sederhana, tanpa persiapan
berlebihan. Tapi kata-katanya mengena.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu. Saya mungkin yang termuda,
paling miskin, paling tidak berpengalaman. Tapi saya punya keberanian untuk
bermimpi, dan kemauan untuk bekerja keras. Saya tidak akan janji yang
muluk-muluk. Saya akan mulai dari hal-hal kecil yang nyata: perbaiki jalan,
perjuangkan listrik, bangun irigasi, berantas buta huruf. Saya akan transparan,
tidak korupsi, dan melibatkan warga dalam setiap keputusan. Itu janji
saya."
Warga bertepuk tangan. Beberapa pertanyaan diajukan pada
Joko.
"Mas Joko, bagaimana caranya membangun jalan tanpa
uang?" tanya seorang warga.
"Pertama, kita ajukan proposal ke pemerintah
kabupaten. Kedua, kita gotong royong, karena kita punya tenaga. Ketiga, kita
libatkan perusahaan swasta lewat CSR. Semua bisa dilakukan, asal ada kemauan
dan kerja sama."
"Mas Joko, bagaimana meyakinkan PLN agar desa kita
dapat listrik?"
"Saya sudah pelajari. PLN punya program listrik masuk
desa. Tapi kita harus aktif mengusulkan, melobi, dan meyakinkan bahwa desa kita
layak. Saya sudah punya data jumlah penduduk, potensi ekonomi, dan dukungan
warga. Insya Allah, dengan kegigihan, listrik akan masuk."
Jawaban Joko meyakinkan. Warga mulai percaya bahwa pemuda
ini serius, bukan hanya omong kosong.
Tiga malam menjelang pencoblosan, suasana desa semakin
panas. Politik uang merajalela. Beberapa warga terang-terangan menunjukkan uang
dan sembako dari calon tertentu.
Joko tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau menggunakan uang
untuk mempengaruhi warga. Malam itu, ia duduk di beranda rumah, memandangi
bintang-bintang.
"Jok, masih di luar?" Wahyono keluar, duduk di
sampingnya.
"Iya, Yah. Banyak pikiran."
"Pikiran apa?"
"Tentang pemilihan. Tentang masa depan. Aku takut
kalah, Yah. Tapi lebih takut lagi kalau menang dengan cara curang."
Wahyono mengelus kepala anaknya. "Nak, kemenangan
sejati bukan diukur dari suara terbanyak. Tapi dari ketulusan hati. Kalau kamu
kalah, itu bukan akhir dunia. Kamu masih muda, masih bisa berjuang dengan cara
lain. Yang penting, kamu sudah melakukan yang terbaik dengan cara yang
halal."
"Tapi Yah, aku ingin sekali mengubah desa ini. Aku
ingin mewujudkan mimpi-mimpi itu."
"Tuhan tahu niatmu, Nak. Kalau itu baik, Tuhan akan
beri jalan. Tapi kalau belum, mungkin ada hikmah di baliknya. Berserah
dirilah."
Joko memeluk ayahnya. "Terima kasih, Yah. Aku jadi
tenang."
Malam itu, ia shalat tahajud panjang. Ia memohon petunjuk
dan kekuatan.
"Ya Allah, jika memang aku layak jadi pemimpin, beri
aku kemenangan. Jika tidak, beri aku kekuatan untuk menerima kekalahan. Yang
terpenting, jadikan aku hamba-Mu yang selalu bersyukur dan tidak putus
asa."
Esok harinya, Budi datang dengan kabar gembira. "Jok!
Ada perubahan! Beberapa warga yang tadinya menerima uang, sekarang balik dukung
kita. Mereka sadar, uang itu hanya untuk sementara, tapi kepemimpinan yang baik
untuk jangka panjang."
Joko terkejut. "Bener, Bud?"
"Iya. Mereka bilang, setelah mendengar debat kemarin,
mereka yakin kamu yang paling tulus. Mereka akan pilih kamu, meskipun sudah
terima uang dari calon lain."
Joko tersenyum. Ada secercah harapan.
H-1, suasana desa mencekam. Dua kubu saling curiga.
Beberapa kali terjadi cekcok kecil di warung-warung. Polisi dari kecamatan
diterjunkan untuk mengamankan situasi.
Joko memanggil timnya. "Teman-teman, kita tidak boleh
terpancing. Jangan balas provokasi. Tetap tenang, tetap santun. Tunjukkan bahwa
kita berbeda."
Mereka sepakat. Sepanjang hari, mereka hanya berkeliling,
menyapa warga, dan mengingatkan untuk datang ke TPS besok.
Malam harinya, Joko tidak bisa tidur. Ia gelisah, cemas,
tapi juga penuh harap. Ia membaca Al-Qur'an, berdoa, dan mencoba tenang.
Pukul tiga pagi, ia terbangun. Ia shalat malam, bermunajat
pada Tuhan. Air matanya menetes.
"Ya Allah, serahkan semua pada-Mu. Apapun hasilnya,
aku terima. Yang penting, aku sudah berusaha maksimal."
Pagi buta, warga sudah mulai berdatangan ke TPS. Antrean
panjang mengular. Mereka datang dengan pakaian terbaik, seolah akan menghadiri
pesta.
Joko datang ke TPS sekitar pukul delapan, bersama orang tuanya.
Ia tersenyum pada warga, menyalami yang dikenalnya. Tidak ada tekanan, tidak
ada ajakan. Ia hanya ingin mencoblos dengan tenang.
"Semoga yang terbaik, Mas Joko," doa seorang ibu.
"Aamiin, Bu. Terima kasih."
Ia masuk ke bilik suara, mencoblos dengan hati-hati. Kertas
suara dimasukkan ke kotak. Ia keluar dengan perasaan lega.
"Selesai sudah," gumamnya. "Sekarang tinggal
menunggu."
Sepanjang hari, Joko di rumah. Ia tidak keluar, tidak ingin
mempengaruhi jalannya pencoblosan. Beberapa teman datang bergantian, melaporkan
situasi.
"TPS 1 ramai, Jok. Suara kita bagus."
"TPS 2 juga, antusias warga tinggi."
"TPS 3 ada sedikit keributan, tapi sudah diredam
polisi."
Joko hanya mengangguk. Ia terus berdoa.
Sore hari, pencoblosan ditutup. Petugas mulai menghitung
suara di masing-masing TPS. Joko memilih menunggu di rumah, tidak ikut
berkerumun. Ia ingin hasilnya datang dengan sendirinya.
Pukul tujuh malam, Budi datang berlari. Wajahnya
berseri-seri.
"Jok! Jok! Kita unggul sementara! Tiga TPS sudah
masuk, kita unggul 100 suara!"
Joko terkejut. "Serius, Bud?"
"Serius! Tapi masih ada dua TPS lagi. Kita
tunggu."
Jantung Joko berdegup kencang. Dua jam terakhir menjadi
jam-jam paling menegangkan dalam hidupnya.
Pukul sembilan malam, semua suara masuk. Budi datang lagi,
kali ini sambil menangis.
"Jok... Jok... kita menang! 650 suara! Unggul 150
suara dari Pak Karto di posisi kedua!"
Joko terpaku. Ia tidak bisa berkata-kata. Air matanya
mengalir deras. Ia memeluk Budi erat-erat.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah... Ya Allah, terima
kasih..."
Wahyono dan Sri keluar dari dalam rumah. Mereka ikut
menangis mendengar kabar itu. Seluruh keluarga berpelukan, bersyukur.
Tidak lama kemudian, warga mulai berdatangan ke rumah Joko.
Mereka datang berbondong-bondong, membawa makanan, membawa ucapan selamat.
Rumah Joko yang kecil itu penuh sesak.
"Pak Kades! Pak Kades! Selamat!" teriak mereka.
Joko keluar, tersenyum, melambaikan tangan. Ia tidak
menyangka akan mendapat sambutan sebesar ini.
"Terima kasih, warga desa Suka Maju! Terima kasih atas
kepercayaannya! Saya tidak akan mengecewakan!"
Malam itu, desa berpesta. Warga menyalakan obor,
berkeliling desa, bersorak-sorai. Joko hanya bisa tersenyum dan bersyukur.
Sepekan setelah pemilihan, Joko dilantik secara resmi oleh
Bupati Blitar di pendopo kabupaten. Acaranya sederhana tapi khidmat. Joko
mengenakan jas hitam—pinjaman dari Pak Kades—yang agak kebesaran, tapi ia tetap
tampak gagah.
Istri Pak Kades, Bu Kades, membantu memakaikan selempang
kepala desa. Joko tersenyum haru. Ia ingat, dulu ia hanya anak kecil yang
sering main di halaman rumah Pak Kades. Kini, ia resmi menjadi penerusnya.
"Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban
saya sebagai kepala desa dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang
teguh Pancasila dan UUD 1945, serta berbakti kepada masyarakat, nusa, dan
bangsa."
Suaranya lantang, tegas. Ia berjanji pada dirinya sendiri:
tidak akan pernah ingkar.
Usai pelantikan, ia kembali ke desa dengan didampingi
rombongan. Di perbatasan desa, ribuan warga sudah menanti. Mereka menyambut
dengan sorak-sorai dan taburan bunga.
"Selamat datang, Pak Kades!" teriak mereka.
Joko turun dari mobil, berjalan di tengah-tengah warga. Ia
menyalami satu per satu, mencium tangan para orang tua. Air matanya tak
terbendung.
"Terima kasih, warga sekalian. Saya tidak akan pernah
melupakan kepercayaan ini. Mari kita bangun desa ini bersama-sama."
Malam harinya, diadakan selamatan sederhana di balai desa.
Warga membawa makanan, duduk bersama, makan bersama. Suasana akrab dan penuh
kehangatan.
Pak Kades, sekarang mantan kades, memberi sambutan.
"Warga sekalian, hari ini kita menyaksikan sejarah.
Seorang anak muda, anak petani, yang berjuang dengan tulus, kini menjadi pemimpin
kita. Ini bukti bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Dia selalu memberi jalan bagi
hamba-Nya yang tulus."
Joko menangis di sampingnya. Ia memeluk Pak Kades.
"Pak, tanpa Bapak, saya tidak akan sampai di
sini."
"Bukan saya, Nak. Tapi Tuhan. Saya hanya alat-Nya."
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Joko duduk di beranda
rumahnya. Ia memandangi desa yang mulai terlelap. Lampu minyak di rumah-rumah
mulai padam. Tapi di hatinya, ada api yang berkobar, api semangat untuk
mengabdi.
"Yah, Bu, doakan aku. Aku akan bekerja keras untuk
desa ini."
Wahyono memeluk anaknya. "Kami selalu mendoakanmu,
Nak. Tapi ingat, jadi pemimpin itu berat. Banyak cobaan. Banyak godaan. Jaga
imanmu, jaga hatimu."
"Aku ingat, Yah. Aku tidak akan lupa dari mana aku
berasal. Aku anak petani, anak desa. Aku akan selalu rendah hati."
Sri menangis di sampingnya. "Ibu bangga, Nak. Ibu
bangga punya anak sepertimu."
Malam itu, Joko tidak bisa tidur. Ia menulis di buku
catatannya.
"Hari ini, 12 Agustus 1974, aku resmi menjadi Kepala
Desa Suka Maju. Usiaku 24 tahun. Ini adalah amanah besar dari Tuhan dan warga.
Aku berjanji: tidak akan korupsi, tidak akan sombong, tidak akan lupa pada
rakyat. Aku akan bekerja keras, siang dan malam, untuk membangun desa ini. Listrik,
jalan, air bersih, irigasi, pendidikan, semua akan aku perjuangkan. Tolong aku,
Ya Allah. Jangan biarkan aku tersesat."
Keesokan harinya, serah terima jabatan dilaksanakan di
balai desa. Pak Kades, sekarang sebut saja Pak Karim, menyerahkan dokumen dan
aset desa kepada Joko.
"Pak Kades baru, ini semua aset desa. Uang kas,
inventaris, dokumen penting. Saya serahkan dengan penuh tanggung jawab. Semoga
Bapak bisa mengelola lebih baik dari saya."
Joko menerima dokumen itu dengan hati-hati. "Terima
kasih, Pak Karman. Saya mohon bimbingannya. Saya masih baru, banyak yang tidak
tahu."
"Bapak akan baik-baik saja. Percaya diri. Saya akan
selalu siap membantu."
Joko kemudian memperkenalkan perangkat desa yang akan
membantunya. Ada Pak Karman sebagai sekretaris desa (anak Pak Kades dulu ), Pak Tumin sebagai kepala
urusan pemerintahan, Bu Rum sebagai kepala urusan pembangunan, dan Pak Dasuki
sebagai kepala urusan umum.
"Perangkat desa yang terhormat, saya mohon kerja
samanya. Mari kita bekerja bersama, gotong royong, untuk kemajuan desa ini.
Saya terbuka untuk kritik dan saran. Jangan sungkan-sungkan."
Mereka semua setuju. Suasana akrab dan penuh harap.
Setelah serah terima, Joko mengadakan rapat pertama dengan
perangkat desa. Agenda utamanya adalah menyusun program kerja jangka pendek dan
jangka panjang.
"Pak Karman, tolong siapkan data-data desa. Jumlah
penduduk, mata pencaharian, tingkat pendidikan, potensi desa, dan
masalah-masalah yang ada. Kita perlu data akurat untuk menyusun program."
"Baik, Pak Kades. Saya akan kumpulkan dalam minggu
ini."
"Pak Tumin, tolong koordinasi dengan RT/RW. Buat
jadwal pertemuan rutin. Saya ingin silaturahmi ke semua RT dalam bulan pertama
ini."
"Siap, Pak Kades."
"Bu Rum, tolong inventarisir usulan pembangunan dari
warga. Jalan mana yang paling rusak, irigasi mana yang perlu diperbaiki,
sekolah mana yang perlu renovasi. Kita akan susun prioritas."
"Baik, Pak Kades."
"Pak Dasuki, tolong urus administrasi dan
surat-menyurat. Saya butuh proposal untuk berbagai bantuan. Kita akan jemput
bola, jangan hanya menunggu."
"Siap, Pak Kades."
Rapat berjalan lancar. Joko senang melihat semangat
perangkat desa. Mereka tampak antusias dengan pemimpin baru yang enerjik.
Program pertama Joko adalah blusukan. Ia ingin mengenal
warganya secara langsung, bukan hanya dari data. Setiap sore, setelah urusan
kantor selesai, ia berkeliling desa dengan berjalan kaki.
Ia mendatangi rumah-rumah warga, duduk di beranda, ngobrol
santai. Tidak ada protokol, tidak ada formalitas. Ia hanya ingin mendengar.
"Pak Kades, mampir," sapa seorang ibu, Mbok Sum,
lahir tahun 1925, yang sedang menjemur padi di halaman.
"Mari, Mbok. Lagi apa?"
"Lagi jemur padi, Pak. Alhamdulillah, panen
lumayan."
Joko duduk di kursi bambu. Mbok Sum membawakan air putih
dalam gelas bekas selai.
"Pak Kades, saya dengar Bapak mau perjuangkan listrik.
Bener?"
"Bener, Mbok. Saya sudah urus. Mudah-mudahan dua tahun
lagi masuk."
"Wah, senangnya. Saya sudah tua, ingin lihat listrik
sebelum mati."
Joko tersenyum. "Mbok masih panjang umur. Nanti Mbok bisa
nonton TV, pakai kulkas, setrika listrik."
Mbok Sum tertawa. "Ah, Pak Kades ini bisa aja."
Di rumah lain, Joko bertemu dengan Pak wawan, seorang
petani miskin yang hanya punya sawah sewaan.
"Pak, bagaimana hasil panen?"
"Alhamdulillah, lumayan, Pak Kades. Tapi harga gabah
turun terus. Susah."
"Kita akan atasi itu, Pak. Dengan kelompok tani dan
koperasi, kita akan jual gabah langsung ke pembeli, tanpa tengkulak. Harganya
pasti lebih baik."
"Wah, bagus itu, Pak. Saya dukung."
Setiap kunjungan, Joko mencatat keluhan dan harapan warga
dalam buku kecil. Buku itu menjadi panduannya dalam menyusun program.
Selain warga biasa, Joko juga menemui para tokoh desa: para
tetua adat, tokoh agama, guru, dan perangkat desa pensiunan. Ia ingin mendapat
masukan dari semua lapisan.
Pertama, ia menemui Mbah Joyo, tetua adat tertua, lahir
tahun 1895.
"Mbah, saya mohon doa restu. Saya masih muda, banyak
kurang. Mbah tolong bimbing."
Mbah Joyo tersenyum ompong. "Nak, kamu sudah dipilih
warga. Itu bukti mereka percaya. Jangan sia-siakan. Jaga adat istiadat, jangan
ditinggal. Tapi juga buka diri untuk kemajuan. Seimbangkan."
"Siap, Mbah. Saya akan jaga."
Kedua, ia menemui Pak Kyai Sholeh, tokoh agama yang sangat
dihormati, lahir tahun 1920.
"Pak Kyai, saya mohon doa dan bimbingan. Saya ingin
desa ini maju, tapi juga ingin warganya tetap beriman."
Pak Kyai tersenyum. "Nak, dunia dan akhirat harus
seimbang. Bangun fisik, tapi jangan lupa bangun spiritual. Saya dukung
program-programmu. Yang penting, jangan lupa Allah."
"Siap, Pak Kyai. Saya akan selalu ingat."
Ketiga, ia menemui Pak guru Supardi, pensiunan kepala SD,
lahir tahun 1910.
"Pak Guru, saya mohon masukan tentang pendidikan di
desa kita."
Pak Supardi menghela napas. "Pak Kades, pendidikan di
desa kita masih tertinggal. Sekolah kekurangan guru, buku minim, fasilitas
rusak. Tolong perhatikan."
"Saya akan perhatikan, Pak. Mohon bantuannya. Saya
ingin Bapak jadi ketua tim pendidikan desa. Membantu merumuskan program
peningkatan mutu sekolah."
Pak Supardi terkejut. "Saya? Tapi saya sudah
pensiun."
"Pensiun bukan berarti berhenti berkarya, Pak. Ilmu
dan pengalaman Bapak sangat dibutuhkan."
Pak Supardi tersenyum. "Baik, Pak Kades. Saya
bersedia."
Setelah dilantik, Joko dihadapkan pada ekspektasi tinggi
warga. Mereka berharap perubahan cepat. Setiap hari, warga datang ke kantor
desa dengan berbagai permintaan.
"Pak Kades, tolong perbaiki jalan depan rumah saya.
Sudah rusak parah."
"Pak Kades, anak saya mau sekolah, minta surat
keterangan tidak mampu."
"Pak Kades, tolong bantu saya mengurus KTP."
"Pak Kades, kapan listrik masuk?"
Joko melayani semua dengan sabar. Ia tidak pernah marah,
tidak pernah mengeluh. Tapi di dalam hati, ia kewalahan.
"Pak Karman, bagaimana ini? Warga banyak sekali yang
datang," keluhnya suatu sore.
"Tenang, Pak Kades. Ini wajar. Mereka ingin kenal,
ingin dekat, ingin minta tolong. Tapi Bapak harus bisa memilah mana yang
prioritas, mana yang bisa didelegasikan."
"Bagaimana caranya, Pak?"
"Pertama, Bapak harus punya jadwal tetap. Misalnya,
pagi untuk administrasi, siang untuk turun lapangan, sore untuk menerima warga.
Kedua, Bapak harus delegasikan tugas ke perangkat desa. Tidak semua harus Bapak
tangani sendiri."
Joko mengangguk. "Saran bagus, Pak. Saya akan
atur."
Mulai minggu berikutnya, Joko menerapkan sistem itu. Pagi
di kantor, menandatangani surat, rapat dengan perangkat. Siang turun lapangan,
memantau pembangunan, blusukan. Sore menerima warga, mendengarkan keluhan dan
permintaan. Malam istirahat atau menghadiri undangan warga.
Sistem itu berjalan efektif. Warga tetap bisa bertemu, tapi
Joko tidak kewalahan. Perangkat desa juga lebih aktif, karena banyak tugas
didelegasikan.
Tidak semua berjalan mulus. Ada warga yang kecewa karena
permintaannya tidak segera dipenuhi.
"Pak Kades, saya minta bantuan minggu lalu, kok belum
ada kabar?" protes Pak Sastro, bukan calon kepala desa, tapi warga biasa, dengan
nada tinggi.
Joko menjelaskan dengan sabar. "Maaf, Pak. Bantuan
yang Bapak minta sedang diproses. Tapi karena anggaran terbatas, harus menunggu
giliran. Ada prioritas yang lebih mendesak."
"Saya juga mendesak, Pak Kades. Rumah saya mau
rubuh!"
Joko memeriksa catatan. Rumah Pak Sastro memang sudah tua,
tapi belum termasuk kategori darurat. Ada warga lain yang rumahnya lebih parah.
"Pak, maaf. Rumah Bapak memang perlu diperbaiki. Tapi
prioritas kami adalah warga yang rumahnya sudah ambruk. Setelah itu, giliran
Bapak. Sabar ya, Pak."
Pak Sastro kecewa, tapi ia mengerti. Ia pergi dengan
perasaan campur aduk.
Cobaan lain datang dari tim sukses yang kecewa karena tidak
mendapat imbalan. Beberapa orang yang tadinya membantu Joko selama kampanye,
kini menagih janji.
"Pak Kades, saya kan sudah bantu Bapak dari awal. Masa
saya tidak dapat apa-apa?" protes Iwan yang dulu sempat pindah ke tim Pak
Sastro, lalu balik lagi di akhir, dengan nada kesal.
Joko menarik napas. "Slamet, kamu mau apa? Jabatan?
Uang?"
"Ya setidaknya proyek, Pak Kades. Saya kan butuh
kerja."
"Slamet, saya tidak bisa janji proyek. Semua proyek
harus melalui prosedur, lelang terbuka. Kamu bisa ikut lelang kalau punya
kemampuan. Tapi saya tidak bisa jamin."
Slamet kecewa. "Berarti Bapak ingkar janji?"
"Slamet, saya tidak pernah janji apa-apa selama
kampanye. Saya hanya minta didukung. Kalau kamu mau proyek, ikuti prosedur.
Jangan pakai jalur belakang. Itu tidak baik."
Slamet pergi dengan muka masam. Joko sedih, tapi ia tidak
mau berkompromi dengan KKN.
Untuk mengatasi kekecewaan, Joko mengadakan pertemuan
terbuka dengan warga setiap bulan. Ia menyampaikan laporan perkembangan desa, menjelaskan
kendala yang dihadapi, dan menerima masukan.
"Warga sekalian, saya mohon maaf jika ada permintaan
yang belum terpenuhi. Anggaran terbatas, tapi kami berusaha maksimal. Yang
penting, semua dilakukan dengan transparan, tidak ada korupsi. Saya akan
pertanggungjawabkan setiap rupiah."
Warga yang hadir bertepuk tangan. Mereka mulai percaya
bahwa pemimpin muda ini berbeda.
"Pak Kades, kami percaya. Teruskan perjuangan,"
kata Pak Karto, mantan calon kepala desa yang kini menjadi pendukung setia.
Joko tersenyum. "Terima kasih, Pak. Dukungan Bapak
sangat berarti."
Pertemuan rutin itu menjadi ajang silaturahmi sekaligus
kontrol sosial. Warga bisa bertanya langsung, mengkritik langsung, dan mendapat
jawaban langsung. Ini membuat kepercayaan warga semakin kuat.
Bulan-bulan pertama menjabat, Joko banyak belajar dari
kesalahan. Ia pernah salah prioritas, salah alokasi anggaran, dan salah dalam
mengambil keputusan. Tapi ia tidak pernah mengulangi kesalahan yang sama.
"Pak Karman, saya kemarin salah mengalokasikan dana.
Uang untuk perbaikan jalan, saya pakai untuk beli alat tulis kantor. Padahal
alat tulis masih cukup," akunya suatu hari.
"Tidak apa-apa, Pak Kades. Namanya juga belajar. Tapi
ke depannya, harus lebih teliti. Setiap pengeluaran harus sesuai rencana."
"Iya, Pak. Saya akan buat catatan ketat. Setiap rupiah
harus tercatat."
Sejak itu, Joko membuat buku kas pribadi. Setiap
pengeluaran, sekecil apapun, ia catat. Ia ingin menjadi teladan dalam
transparansi.
Kesalahan lain adalah dalam hal komunikasi. Joko pernah
membuat keputusan tanpa melibatkan warga, akibatnya warga protes.
"Pak Kades, kenapa pembangunan got di kampung saya
dihentikan?" protes seorang warga.
Joko kaget. Ia tidak tahu proyek itu dihentikan mandor
karena kehabisan bahan.
"Maaf, Pak. Saya belum dapat laporan. Saya akan cek
segera."
Setelah dicek, ternyata mandor mengambil bahan untuk proyek
lain tanpa koordinasi. Joko marah, tapi ia juga sadar, ini karena lemahnya
koordinasi.
Sejak itu, ia mewajibkan laporan mingguan dari semua
pelaksana proyek. Setiap minggu, ia mengadakan rapat koordinasi untuk memantau
perkembangan.
Di tengah kesibukan, keluarga tetap menjadi sandaran.
Wahyono dan Sri selalu ada, memberi dukungan moral dan doa.
"Nak, jangan lupa makan. Jangan lupa istirahat.
Kesehatan itu penting," pesan Sri setiap kali Joko pulang larut malam.
"Iya, Bu. Aku ingat."
Wahyono kadang memberi nasihat bijak. "Nak, jadi
pemimpin itu seperti jadi bapak. Harus sabar, harus penyayang, harus adil pada
semua anak. Jangan pilih kasih."
"Iya, Yah. Aku selalu ingat nasihatmu."
Keluarga juga menjadi tempat curhat. Saat Joko lelah, putus
asa, atau kecewa, ia selalu pulang ke rumah. Pelukan ibu, nasihat ayah, selalu
bisa menguatkannya.
Suatu malam, Joko pulang dengan wajah lesu. Hari itu ia
menghadapi banyak protes dan kritik.
"Ibu, Ayah, aku capek. Rasanya ingin menyerah."
Sri memeluknya. "Nak, capek itu wajar. Tapi jangan
menyerah. Ingat, banyak warga yang berharap padamu. Mereka memilihmu karena
percaya. Jangan sia-siakan kepercayaan itu."
Wahyono menimpali. "Nak, perjuangan memang berat. Tapi
lihatlah ke belakang, berapa banyak yang sudah kamu capai. Jalan desa mulai
mulus. Listrik akan masuk. Sekolah mulai diperbaiki. Itu semua berkat kerjamu.
Jangan berhenti sekarang."
Joko tersenyum. Orang tuanya selalu bisa menguatkan.
"Terima kasih, Yah, Bu. Aku akan terus berjuang."
Setahun menjabat, Joko mulai melihat hasil kerjanya. Jalan
desa mulai diaspal, meski belum sempurna. Sekolah direnovasi, atap baru, lantai
baru. Listrik dalam proses. Koperasi desa berkembang. Kelompok tani semakin
solid.
Suatu sore, ia duduk di beranda rumah, memandangi desa yang
mulai berubah. Ia ingat perjalanan panjang yang sudah dilaluinya. Dari anak
petani miskin, menjadi kepala desa termuda. Dari bocah yang bermimpi di tepi
sungai, menjadi pemimpin yang mewujudkan mimpi.
"Ya Allah, terima kasih. Engkau beri aku kesempatan
untuk mengabdi. Jaga desa ini, lindungi warganya. Berkahi setiap langkahku.
Jangan biarkan aku sombong. Jadikan aku pemimpin yang amanah."
Angin sore berhembus sepoi. Sawah menguning di kejauhan.
Burung-burung beterbangan pulang ke sarang. Desa Suka Maju, yang dulu tertidur,
kini mulai bangun.
Dan Joko, anak petani itu, tersenyum bahagia.
BAB VII
PERUBAHAN YANG MULAI TERLIHAT
Hari pertama sebagai kepala desa, Joko datang ke balai desa
pukul enam pagi. Langit masih gelap. Ia ingin memberi contoh disiplin pada
perangkat desa.
Tapi balai desa masih sepi. Pintu terkunci rapat. Ia duduk
di teras sambil menunggu, sesekali memandangi langit timur yang mulai merekah.
Pukul setengah delapan, seorang perangkat datang—Pak Wawan namanya. Ia kaget melihat Joko sudah duduk di teras.
"Pak Kades, sudah datang? Jam baru setengah
delapan."
"Iya, Pak. Saya dari tadi jam enam. Ingin lihat
suasana pagi."
Pak Wawan malu. "Maaf, Pak. Saya terlambat. Biasanya
saya datang jam delapan."
"Tidak apa-apa, Pak. Lain kali kita perbaiki bersama.
Saya ingin balai desa buka jam tujuh pagi. Kita harus melayani warga dengan
baik."
Pak Wawan mengangguk. Ia mulai respek pada kepala desa
mudanya.
Waktu menunjukkan pukul delapan, semua perangkat datang.
Joko mengumpulkan mereka di ruang rapat. Suasana agak canggung.
"Selamat pagi, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Saya Joko, kepala
desa baru. Saya masih muda, masih banyak belajar. Saya mohon bimbingan dari
semuanya. Anggap saya anak buah di sini."
Perangkat desa tersenyum. Mereka lega kepala desanya rendah
hati, tidak sombong.
"Saya ingin kita bekerja dengan baik. Yang pertama,
saya minta data desa yang lengkap. Jumlah penduduk, mata pencaharian, tingkat
pendidikan, potensi desa. Saya ingin tahu persis kondisi desa kita."
"Baik, Pak Kades. Nanti kami siapkan," jawab Pak Wawan.
"Yang kedua, saya ingin jadwal pelayanan yang jelas.
Jam berapa buka, jam berapa tutup. Warga harus dilayani dengan ramah dan cepat.
Jangan sampai ada yang marah-marah."
"Setuju, Pak."
"Yang ketiga, saya ingin kita bangun komunikasi yang
baik. Kalau ada masalah, bicarakan. Jangan dipendam. Jangan main belakang. Kita
ini tim."
Perangkat desa mengangguk setuju. Pertemuan pertama
berlangsung lancar.
Setelah pertemuan, Joko berkeliling balai desa. Ia melihat
ruangan yang kumuh, berkas berserakan di lantai, komputer tua berdebu tidak
terpakai. Ia menghela napas.
"Pak Wawan, kenapa ini berantakan?"
"Maaf, Pak Kades. Selama ini kita kekurangan tenaga.
Administrasi terbengkalai. Banyak berkas yang belum diarsip."
"Mulai hari ini, kita benahi. Saya minta semua berkas
dirapikan, ruangan dibersihkan. Kalau perlu, kita minta bantuan karang taruna
untuk gotong royong bersih-bersih."
"Baik, Pak."
Joko tidak hanya memerintah. Ia ikut turun tangan
membersihkan ruangan. Ia menyapu, mengepel, merapikan berkas. Perangkat desa
terkejut, lalu ikut membantu. Mereka bekerja bersama hingga sore.
"Hari ini kita lembur, Pak," kata Joko sambil
tersenyum. "Saya traktir makan malam. Nasi pecel di pinggir pasar."
Perangkat desa tersenyum. Mereka senang bekerja dengan
pemimpin muda yang enerjik dan mau turun tangan.
Seminggu menjabat, Joko mulai menemui tantangan berat.
Administrasi desa ternyata sangat kompleks. Ada laporan pertanggungjawaban
keuangan, perencanaan anggaran, pengelolaan aset desa, dan banyak lagi.
"Pak Wawan, ini laporan keuangan kemarin
bagaimana?" tanya Joko suatu hari.
"Maaf, Pak. Laporan belum selesai. Kita kekurangan
staf. Yang bisa hitung cuma saya."
"Tapi ini sudah lewat deadline. Kalau tidak dilaporkan
ke kecamatan, bisa kena sanksi. Bisa kena tegur."
"Saya tahu, Pak. Tapi apa daya? Tenaga terbatas."
Joko menghela napas. Ia harus mencari solusi. Ia ingat
teman SMP-nya yang kuliah administrasi negara di Malang. Ia menghubunginya
lewat surat.
Tak lama kemudian, balasan surat datang. Temannya, Rudi, si
anak Makmur, bersedia membantu.
Rudi datang ke desa akhir pekan itu. Ia membawa buku-buku
dan contoh format administrasi.
"Jok, ini contoh pembukuan sederhana. Lihat, kolom
pemasukan, kolom pengeluaran, kolom keterangan. Setiap transaksi harus dicatat.
Nanti tinggal rekap."
Perangkat desa belajar dengan antusias. Mereka yang awalnya
gagap dengan angka, mulai paham.
"Terima kasih, Rud. Kamu banyak bantu," kata
Joko.
"Sama-sama, Jok. Suatu hari, kalau ada rezeki, aku mau
bantu desamu lebih banyak lagi. Mungkin aku akan buka usaha di sini."
"Silakan, Rud. Desa ini terbuka untuk siapa
saja."
Setelah pembukuan rapi, Joko menghadapi tantangan lain: birokrasi.
Setiap program harus melalui proses panjang, musyawarah desa, perencanaan,
pengajuan ke kecamatan, pencairan dana, pelaporan. Semua butuh waktu dan
tenaga.
"Pak Kades, ini proposal bantuan jalan kita ditolak
lagi," lapor Pak Wawan suatu hari.
"Tolak? Kenapa?"
"Katanya tidak sesuai format. Harus pakai format baru
dari kabupaten."
Joko menghela napas. Ia harus sabar. Ia mempelajari format
baru, memperbaiki proposal, lalu mengajukan lagi. Proses ini berulang
berkali-kali.
Tapi Joko tidak menyerah. Ia terus belajar, terus
memperbaiki. Pelan-pelan, ia mulai paham seluk-beluk birokrasi.
Memimpin bukan hanya soal administrasi. Joko juga harus
berhadapan dengan dinamika antar perangkat desa dan anggota BPD (Badan
Permusyawaratan Desa). Ada yang mendukung, ada yang tidak.
Suatu hari, terjadi perdebatan sengit dalam musyawarah
desa. Pak Karto, mantan calon kepala desa yang kalah, kritis terhadap program
Joko.
"Pak Kades, program jalan desa ini terlalu besar.
Anggarannya tidak masuk akal. Saya rasa lebih baik pakai dana untuk yang
lain," protesnya.
Joko tenang. "Pak Karto, anggaran itu sudah kita
hitung dengan teliti. Ada survei dari dinas PU. Ini sesuai standar. Kalau
terlalu murah, nanti kualitasnya jelek."
"Tapi saya rasa bisa lebih murah. Pakai tenaga gotong royong
saja. Warga kan bisa kerja bakti."
"Gotong royong bisa, Pak. Tapi untuk pengerasan jalan,
perlu alat berat. Itu tidak bisa gotong royong. Harus sewa."
Diskusi berlangsung alot, hampir dua jam. Joko harus
bersabar menjelaskan. Ia tidak mau memaksakan kehendak. Ia ingin semua sepakat.
Akhirnya, setelah diskusi panjang, mereka mencapai mufakat.
Program jalan desa disetujui dengan beberapa penyesuaian.
"Terima kasih, Pak Karto. Masukan Bapak sangat
berharga," kata Joko di akhir rapat.
Pak Karto tersenyum. Ia mulai respek pada kepala desa muda
yang sabar dan tidak emosian.
Di luar musyawarah, Joko juga menghadapi dinamika dengan
perangkat desa. Ada perangkat yang malas, ada yang suka korupsi kecil-kecilan.
Joko harus tegas.
"Pak, saya dengar Bapak minta imbalan untuk pengurusan
KTP," tegur Joko pada seorang staf, Pak Gono.
Pak Gono pucat. "Maaf, Pak Kades. Saya hanya bercanda.
Minta uang rokok sedikit."
"Jangan bercanda soal itu, Pak. Itu pelanggaran berat.
Itu pungli. Kalau sampai warga komplain ke polisi, saya tidak bisa membela.
Saya akan tindak tegas."
"Maaf, Pak. Saya tidak akan ulangi."
"Bagus. Lain kali layani dengan baik. Ingat, kita ini
pelayan masyarakat."
Staf itu mengangguk takut. Sejak itu, ia tidak berani lagi.
Joko juga rutin mengadakan pertemuan dengan perangkat desa
setiap Senin pagi. Ia ingin membangun komunikasi yang baik.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu. Saya tahu kita semua punya
kekurangan. Tapi mari kita perbaiki bersama. Kalau ada masalah, bicarakan.
Jangan main belakang. Kita ini satu tim."
Perangkat desa mengangguk. Mereka mulai percaya pada Joko.
Enam bulan menjabat, Joko sadar bahwa masalah keuangan
adalah area paling rawan dalam pemerintahan desa. Banyak kepala desa sebelumnya
yang terjerat korupsi karena lemahnya pengelolaan keuangan. Ia tidak ingin hal
itu menimpanya.
Suatu sore, ia memanggil seluruh perangkat desa untuk rapat
khusus membahas keuangan.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya ingin kita sepakat tentang
pengelolaan keuangan desa. Mulai hari ini, semua pemasukan dan pengeluaran
harus tercatat rapi. Tidak ada uang yang masuk atau keluar tanpa bukti."
Pak Wawan mengangguk. "Setuju, Pak Kades. Tapi selama
ini kita tidak punya sistem yang baku. Kadang catatan hanya di buku tulis
biasa."
"Mulai sekarang kita buat sistem. Saya sudah minta
tolong teman saya, Rudi, yang kuliah administrasi negara, untuk membuat format
pembukuan sederhana. Ini contohnya."
Joko membagikan fotokopian format pembukuan kepada semua
perangkat. Format itu terdiri dari kolom tanggal, uraian, pemasukan,
pengeluaran, saldo, dan keterangan.
"Setiap transaksi harus dicatat di sini. Tidak boleh
ada yang terlewat. Setiap akhir bulan, kita rekap dan buat laporan. Laporan itu
akan ditempel di papan pengumuman balai desa agar warga bisa melihat."
Beberapa perangkat terkejut. "Ditempel, Pak Kades?
Warga bisa lihat?"
"Tentu. Ini desa mereka. Mereka berhak tahu uang
mereka digunakan untuk apa. Ini bentuk transparansi. Dengan begitu, tidak ada
yang bisa menuduh kita korupsi."
Pak Gono, staf yang pernah ditegur karena pungli, bertanya
dengan nada ragu. "Tapi Pak Kades, kalau ada pengeluaran yang sensitif?
Misalnya untuk uang rokok atau jamuan tamu? Warga bisa salah paham."
"Kita catat apa adanya, Pak. Uang rokok untuk tamu?
Tidak ada. Kalau ada tamu, kita suguhi air putih dan makanan sederhana dari
dapur umum desa. Tidak perlu pakai uang rokok. Yang penting silaturahmi, bukan
kemewahan."
Perangkat desa mengangguk setuju. Mereka mulai melihat
bahwa kepala desa mereka serius ingin memberantas korupsi.
Untuk memastikan transparansi berjalan, Joko juga membentuk
tim pengawas keuangan yang terdiri dari tokoh masyarakat, bukan perangkat desa.
Tim ini bertugas memeriksa laporan keuangan setiap tiga bulan dan melaporkan
hasilnya ke warga dalam forum musyawarah desa.
"Pak Kades, ini ide bagus," puji Pak Karto,
mantan calon kepala desa yang kini menjadi ketua tim pengawas. "Dengan
adanya tim independen, warga akan lebih percaya."
"Iya, Pak. Saya tidak mau ada kecurigaan. Lebih baik
kita buka-bukaan dari awal."
Hasilnya, dalam setahun pertama, tidak ada satupun kasus
korupsi di desa Suka Maju. Laporan keuangan selalu tepat waktu dan transparan.
Warga mulai percaya pada pemerintah desa mereka.
Joko meluncurkan program bedah rumah untuk warga tidak
mampu. Program ini menggunakan dana desa yang dialokasikan khusus untuk
perbaikan rumah-rumah yang tidak layak huni.
Proses seleksi penerima dilakukan secara transparan. Tim
yang terdiri dari perangkat desa, tokoh masyarakat, dan RT/RW turun ke
lapangan, mendata rumah-rumah yang paling membutuhkan.
Hasilnya, terpilih sepuluh rumah prioritas. Mereka adalah
warga dengan kondisi rumah paling memprihatinkan, dinding bambu lapuk, atap
rumbia bolong, lantai tanah becek.
Salah satunya adalah rumah Mbah Karto, bukan mantan calon,
tapi petani tua yang pernah marah-marah di balai desa. Rumahnya memang sangat
memprihatinkan. Atapnya bolong besar, tembok bambunya sudah lapuk, lantai
tanahnya becek kalau hujan.
Ketika tim survei datang, Mbah Karto hampir tidak percaya.
"Rumah saya dapat bantuan? Serius?" tanyanya
dengan mata berkaca-kaca.
"Serius, Mbah. Ini hasil musyawarah. Rumah Mbah masuk
prioritas karena kondisinya paling parah."
Mbah Karto menangis. "Maafkan saya, Pak Kades. Dulu
saya pernah marah-marah. Saya kira Bapak pilih kasih. Ternyata Bapak
adil."
Joko yang ikut dalam tim survei, memeluk lelaki tua itu.
"Tidak apa-apa, Mbah. Itu hak Mbah untuk protes. Sekarang mari kita bangun
rumah ini bersama-sama."
Pembangunan rumah Mbah Karto melibatkan gotong royong
warga. Pemuda karang taruna membantu, tetangga ikut menyumbang tenaga dan
bahan. Dalam dua minggu, rumah baru Mbah Karto berdiri kokoh. Dinding papan,
lantai semen, atap genteng.
Mbah Karto menangis bahagia. Ia memeluk Joko erat.
"Pak Kades, saya tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih. Terima kasih
banyak."
"Ini berkat kita bersama, Mbah. Saya hanya menjalankan
amanah."
Program bedah rumah menjadi program unggulan desa Suka
Maju. Setiap tahun, minimal sepuluh rumah tidak layak huni diperbaiki. Warga
sangat terbantu. Rasa syukur dan kebersamaan tumbuh di antara mereka.
Prioritas utama Joko adalah infrastruktur. Jalan desa yang
becek dan rusak parah harus segera diperbaiki. Ia mengajukan proposal ke
pemerintah kabupaten, provinsi, bahkan pusat.
Proposal pertama ditolak. Kedua ditolak. Ketiga juga
ditolak. Tapi Joko tidak menyerah.
"Pak Wawan, kita kirim lagi proposal keempat. Kali ini
lebih lengkap. Sertakan foto-foto kondisi jalan, data jumlah penduduk yang
menggunakan jalan, dan potensi ekonomi yang terhambat."
"Tapi Pak Kades, ini sudah keempat kali. Apa tidak putus
asa?"
"Tidak, Pak. Namanya perjuangan. Bung Hatta bilang,
'Jangan lelah mencoba'. Kita terus berusaha."
Akhirnya, pada pengajuan kelima, proposal itu disetujui.
Pemerintah kabupaten memberikan dana hibah untuk perbaikan jalan desa sepanjang
tiga kilometer.
Joko hampir menangis mendengar kabar itu. Ia segera
mengumumkan ke warga melalui pengeras suara masjid.
"Warga desa Suka Maju! Kabar gembira! Jalan desa kita
akan diperbaiki! Dana sudah turun! Gotong royong minggu depan!"
Warga bersorak gembira. Mereka sudah menunggu puluhan
tahun.
Pembangunan jalan dimulai dengan semangat gotong royong.
Warga bergotong royong membersihkan badan jalan, memotong rumput liar, dan
membantu pekerja proyek. Joko turun langsung setiap hari, memantau, memberi
semangat, kadang ikut mengangkut batu.
"Pak Kades, kok ikut angkat batu? Nanti kotor,"
tegur seorang warga.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga warga desa ini. Saya
harus ikut kerja."
Teladan Joko membuat warga semakin bersemangat. Dalam tiga
bulan, jalan sepanjang tiga kilometer selesai diaspal. Untuk pertama kalinya,
desa Suka Maju punya jalan mulus.
Jalan itu tidak hanya memudahkan transportasi, tapi juga
membuka akses ekonomi. Pedagang dari luar mulai berdatangan. Harga hasil
pertanian naik karena biaya transportasi turun. Warga bisa menjual hasil bumi
dengan harga lebih baik.
Setelah jalan, giliran jembatan. Selama ini, warga harus
menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai. Kalau hujan deras, arus sungai
deras, rakit tidak bisa beroperasi. Warga terisolasi.
Joko bertekad membangun jembatan. Tapi biayanya sangat
besar. Dana desa tidak cukup. Ia harus mencari sumber lain.
Ia mengajukan proposal ke berbagai pihak. Pemerintah
provinsi, perusahaan swasta, bahkan ke DPRD. Ia juga menulis surat ke presiden,
meski tidak pernah dibalas.
Suatu hari, ia mendapat kabar baik. Seorang pengusaha
sukses asal Blitar yang merantau ke Jakarta, mendengar perjuangan Joko.
Pengusaha itu, Bapak Handoko, lahir tahun 1920, tertarik membantu.
"Saya dengar desa Bapak membutuhkan jembatan. Saya ingin
menyumbang. Sebagai wujud bakti pada kampung halaman," katanya dalam
surat.
Joko hampir tidak percaya. Ia segera membalas surat itu,
mengucapkan terima kasih, dan mengundang Pak Handoko berkunjung.
Pak Handoko datang sebulan kemudian. Ia terkesan dengan
semangat Joko dan warganya. Ia menyumbang dana yang cukup besar, setengah dari
total biaya pembangunan jembatan.
"Sisanya, Pak Kades, bisa dari dana desa dan gotong
royong warga," kata Pak Handoko.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu bagaimana membalas
kebaikan Bapak."
"Tidak usah membalas. Yang penting, jembatan ini
bermanfaat bagi masyarakat. Nanti kalau sudah jadi, tolong kirimi saya foto.
Saya ingin lihat hasilnya."
Pembangunan jembatan dimulai. Joko hampir setiap hari di
lokasi proyek. Ia memastikan kualitas pekerjaan, mengawasi penggunaan dana, dan
memberi semangat pada pekerja.
Setahun kemudian, jembatan selesai. Jembatan beton kokoh
membentang di atas sungai, menggantikan rakit bambu yang rapuh. Untuk pertama
kalinya, warga bisa menyeberang dengan aman, kapan saja, tanpa takut banjir.
Peresmian jembatan dihadiri banyak pejabat. Bupati datang,
Pak Handoko diundang khusus dari Jakarta. Joko memberi sambutan dengan suara
bergetar.
"Jembatan ini bukan hanya beton dan besi. Ini simbol
perjuangan kita. Ini bukti bahwa dengan kerja keras dan kebersamaan, tidak ada
yang mustahil. Terima kasih kepada semua yang telah membantu. Semoga jembatan
ini membawa berkah bagi desa kita."
Bupati tersenyum bangga. "Pak Joko, saya salut. Desa
ini beruntung punya pemimpin seperti Bapak. Teruskan perjuangan."
Malam harinya, Joko duduk di tepi jembatan. Ia memandangi
air sungai yang mengalir tenang di bawah cahaya bulan.
"Ini mimpi kita semua. Mimpi ayah, ibu, Pak Karman,
Ibu Sumarni, Mbah Karto, dan semua warga. Aku hanya alat Tuhan untuk
mewujudkannya."
Selain infrastruktur, Joko juga fokus pada kesehatan dan
pendidikan. Ia mendirikan posyandu di setiap dusun, melatih kader kesehatan,
dan mengadakan program imunisasi gratis.
"Bu, tolong koordinasi dengan puskesmas. Kita butuh
jadwal rutin posyandu. Juga butuh penyuluhan gizi untuk ibu hamil dan
balita," perintah Joko pada Bu Rum, Kepala Urusan Pembangunan.
"Baik, Pak Kades. Tapi kita kekurangan kader. Relawan
sedikit."
"Rekrut dari ibu-ibu PKK. Mereka pasti mau. Beri
mereka insentif kecil dari dana desa. Tidak banyak, tapi cukup untuk
transport."
Bu Rum setuju. Dalam waktu singkat, terbentuk puluhan kader
posyandu di setiap dusun. Mereka aktif mengadakan kegiatan rutin, menimbang
balita, memberi imunisasi, dan penyuluhan gizi.
Hasilnya, angka gizi buruk di desa Suka Maju turun drastis.
Bayi dan balita lebih sehat. Ibu-ibu lebih sadar pentingnya kesehatan.
Di bidang pendidikan, Joko melanjutkan program beasiswa
untuk anak tidak mampu. Setiap tahun, minimal dua puluh anak mendapat bantuan
SPP dan pembelian buku.
Ia juga memperbaiki gedung SD desa. Atap bocor diganti,
lantai semen diperbaiki, dinding dicat ulang. Murid-murid senang, guru-guru
bersemangat.
"Pak Kades, terima kasih. Sekolah kita jadi
bagus," kata kepala sekolah, Pak Hartono.
"Sama-sama, Pak. Anak-anak harus belajar di tempat
yang layak. Ini investasi masa depan."
Joko juga mengadakan program kejar paket A, B, dan C untuk
warga yang putus sekolah. Bekerja sama dengan dinas pendidikan, puluhan warga
berhasil mendapatkan ijazah setara SD, SMP, dan SMA.
"Saya bangga bisa sekolah lagi," kata seorang
warga, Mbok Minah, lahir tahun 1920, yang ikut kejar paket A di usia 53 tahun.
"Dulu saya cuma bisa baca tulis sedikit. Sekarang bisa baca koran, bisa
bantu anak belajar."
Joko tersenyum. Perubahan kecil seperti ini yang membuatnya
bahagia.
Joko sadar bahwa pemuda adalah aset desa. Ia membentuk
wadah bagi mereka untuk berkegiatan positif. Karang Taruna yang dulu mati suri,
kini hidup kembali. Mereka tidak hanya mengadakan olahraga dan kesenian, tapi
juga pelatihan keterampilan.
Bekerja sama dengan dinas tenaga kerja, Joko mengadakan
pelatihan las, menjahit, dan otomotif. Pemuda-pemuda desa ikut antusias.
Beberapa bahkan berhasil membuka usaha sendiri setelah pelatihan.
"Pak Kades, saya mau berterima kasih. Berkat pelatihan
las, sekarang saya bisa buka bengkel kecil-kecilan. Penghasilan lumayan,"
kata Salam, pemuda yang dulu sering nongkrong di warung.
"Sama-sama, lam. Yang penting rajin dan jujur. Kalau
usahanya maju, nanti rekrut teman-teman yang lain."
"Siap, Pak. Saya akan coba."
Perempuan juga tidak dilupakan. Joko membentuk kelompok
usaha bersama (KUBE) untuk ibu-ibu. Mereka dilatih membuat kerajinan, makanan
ringan, dan produk lainnya. Hasilnya dipasarkan melalui koperasi desa.
"Bu-bu, ini modal awal untuk KUBE. Seratus ribu rupiah
per kelompok. Gunakan untuk membeli bahan baku. Nanti kalau untung, putar lagi
untuk modal," jelas Joko pada pertemuan ibu-ibu PKK.
"Pak Kades, terima kasih. Kami akan manfaatkan sebaik-baiknya,"
kata ketua PKK, Bu Kades, yang kini aktif membantu program desa.
KUBE berkembang pesat. Produk keripik pisang, keripik
singkong, dan aneka kue kering mulai dikenal di luar desa. Ibu-ibu punya
penghasilan sendiri. Mereka lebih percaya diri dan mandiri.
Sebuah perusahaan besar ingin berinvestasi di desa Suka
Maju. Mereka tertarik membangun pabrik pengolahan hasil pertanian di lahan
seluas sepuluh hektar.
Awalnya, Joko menyambut baik. Investasi berarti lapangan
kerja dan pendapatan desa. Tapi setelah membaca proposal dan melakukan
negosiasi, ia menemukan kejanggalan.
"Pak, maaf. Dalam proposal ini, disebutkan perusahaan
akan memakai air tanah dalam jumlah besar. Ini bisa mengganggu pasokan air
warga. Juga limbah pabrik akan dibuang ke sungai. Itu tidak boleh," tegas
Joko dalam pertemuan dengan perwakilan perusahaan.
Perwakilan perusahaan, Pak Budiman, tersenyum manis.
"Pak Kades, kami sudah mengantongi izin dari instansi terkait. Limbah akan
diolah, tidak mencemari sungai. Air tanah juga akan kami ganti dengan sumur bor
untuk warga."
"Tapi izin dari mana? Saya belum melihatnya. Tolong
tunjukkan."
Pak Budiman mengeluarkan setumpuk dokumen. Joko membaca
dengan saksama. Izin dari dinas lingkungan hidup, izin dari dinas pertanian,
izin dari BPN. Tapi ada yang janggal.
"Pak, izin ini baru tahap awal. Belum final. Artinya,
perusahaan belum boleh beroperasi. Juga, dalam analisis dampak lingkungan,
disebutkan potensi pencemaran sungai kategori sedang. Ini harus
diperbaiki."
Pak Budiman mulai kehilangan kesabaran. "Pak Kades,
ini terlalu bertele-tele. Perusahaan sudah siap investasi miliaran. Tolong
jangan persulit."
"Saya tidak mempersulit, Pak. Saya hanya melindungi
warga saya. Kalau perusahaan mau berinvestasi, harus taat aturan. Tidak bisa
main kucing-kucingan."
Negosiasi alot. Pak Budiman mengancam akan membatalkan
investasi. Tapi Joko tidak bergeming. Ia lebih memilih kehilangan investor
daripada merusak lingkungan dan merugikan warga.
"Silakan, Pak. Kalau perusahaan tidak bisa mematuhi
aturan, lebih baik tidak usah. Kami bisa cari investor lain yang lebih
bertanggung jawab."
Pak Budiman pergi dengan muka masam. Beberapa minggu
kemudian, kabar datang bahwa perusahaan itu akhirnya memilih desa lain yang
lebih "mudah diatur". Tapi setahun kemudian, desa itu dilanda banjir
limbah dan kekeringan. Warga protes, pabrik akhirnya ditutup.
"Syukurlah, Pak Kades, kita tidak jadi menerima
mereka," kata Pak Wawan. "Kalau tidak, desa kita bisa bernasib
sama."
"Tepat, Pak. Investasi penting, tapi lebih penting
menjaga lingkungan dan kesejahteraan warga jangka panjang."
Setelah kejadian dengan investor, Joko semakin sadar
pentingnya lingkungan. Ia mulai belajar tentang pertanian organik, konservasi
tanah dan air, serta pengelolaan sampah.
Suatu hari, sekelompok aktivis lingkungan dari kota datang
ke desa. Mereka tertarik dengan konsep pertanian organik yang dikembangkan
kelompok tani "Tunas Harapan".
"Pak Kades, kami ingin belajar. Desa Bapak sudah
menerapkan pertanian organik? Luar biasa. Ini jarang ditemui," kata ketua
kelompok aktivis, Mas Yanto.
"Kami baru mulai, Mas. Masih skala kecil. Tapi kami
terus belajar. Petani di sini mulai sadar pentingnya pupuk organik untuk
menjaga kesuburan tanah jangka panjang."
Mas Yanto dan timnya tinggal beberapa hari di desa. Mereka
berbagi ilmu tentang konservasi tanah, pengelolaan sampah, dan energi
alternatif. Joko dan warga sangat antusias.
"Pak Kades, kalau desa Bapak serius ingin jadi desa
mandiri, kami siap membantu. Kami punya program pendampingan dari lembaga
swadaya masyarakat. Gratis."
Joko tertarik. "Program apa itu?"
"Pertanian organik terintegrasi, pengelolaan sampah
berbasis masyarakat, dan energi alternatif dari kotoran ternak. Ini bisa
mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, mengurangi polusi, dan menghasilkan
energi murah."
Joko setuju. Ia membentuk tim khusus untuk program itu.
Dalam setahun, desa Suka Maju memiliki puluhan instalasi biogas dari kotoran
ternak. Limbah ternak yang dulu mencemari lingkungan, kini diolah menjadi gas
untuk memasak dan pupuk organik.
Warga sangat terbantu. Mereka tidak perlu lagi membeli gas
elpiji yang mahal. Pupuk organik gratis untuk sawah mereka. Lingkungan desa
juga lebih bersih karena sampah dan limbah dikelola dengan baik.
"Pak Kades, ini luar biasa," puji Mas Yanto saat
berkunjung lagi setahun kemudian. "Desa Bapak bisa jadi percontohan desa
mandiri energi."
"Ini berkat kerja sama kita semua, Mas. Saya hanya
fasilitator."
Konflik antar warga terjadi. Dua kelompok pemuda dari dusun
berbeda terlibat perkelahian di pinggir pasar. Penyebabnya sepele, masalah
rebutan pacar. Tapi dampaknya besar. Suasana desa memanas.
Joko turun tangan. Ia memanggil kedua kelompok, juga orang
tua mereka, untuk mediasi di balai desa.
"Tolong, duduk yang rapi. Kita bicara baik-baik.
Masalah apa ini sebenarnya?"
Kedua belah pihak saling tuduh. Suasana tegang. Joko harus
bersabar.
"Saya minta kalian tenang. Tidak perlu saling tuduh.
Ceritakan dari awal dengan baik."
Setelah mendengar kedua versi, Joko menyimpulkan masalahnya
sepele. Hanya kesalahpahaman yang diperparah emosi.
"Begini, teman-teman. Kalian ini tetangga, satu desa.
Kenapa harus bertengkar karena hal sepele? Apakah masalah ini layak sampai
berkelahi? Coba pikir."
Pemuda-pemuda itu mulai menunduk. Mereka sadar telah
bertindak bodoh.
"Saya tidak akan menghukum kalian. Tapi saya minta
kalian berjabat tangan dan berdamai. Kalau tidak, saya akan laporkan ke polisi.
Kalian bisa ditahan."
Ancaman Joko berhasil. Mereka berjabat tangan, saling
memaafkan. Joko kemudian mengadakan pertemuan rutin antar pemuda dari berbagai
dusun. Ia membentuk forum silaturahmi, mengadakan kegiatan bersama seperti
turnamen voli dan kerja bakti.
Konflik antar pemuda mereda. Mereka mulai akrab, saling
mengenal, dan menghargai perbedaan.
Tidak hanya antar pemuda, konflik juga terjadi antar petani
karena masalah air irigasi. Joko harus turun tangan lagi.
Ia mengumpulkan semua petani yang terlibat. Dengan bantuan
kelompok tani, mereka merancang sistem pembagian air yang adil. Setiap petani
mendapat jatah air sesuai luas sawah dan giliran yang disepakati bersama.
"Mulai sekarang, tidak boleh ada yang curang. Ambil
air di luar giliran. Kalau ada yang melanggar, akan dikenakan sanksi.
Setuju?"
Mereka setuju. Sistem berjalan lancar. Konflik air mereda.
Tidak semua kebijakan Joko berjalan mulus. Ada beberapa
yang kontroversial dan menuai protes.
Salah satunya adalah kebijakan relokasi pasar tradisional.
Joko ingin memindahkan pasar dari lokasi lama yang semrawut dan rawan banjir ke
lokasi baru yang lebih luas dan aman. Tapi pedagang lama protes. Mereka
khawatir kehilangan pelanggan.
"Pak Kades, kami sudah puluhan tahun berjualan di
sini. Kalau dipindah, tak sepi pembeli," protes seorang pedagang, Bu
Karsih.
"Saya paham kekhawatiran Ibu. Tapi lokasi ini rawan
banjir. Setiap tahun kebanjiran, barang dagangan rusak. Di lokasi baru, lebih
aman. Nanti kami akan bantu promosi, adakan pasar malam, dan jamin tidak
sepi."
Protes berlangsung berbulan-bulan. Joko mengadakan
pertemuan berkali-kali dengan pedagang. Ia mendengar keluhan, memberi
penjelasan, dan menawarkan solusi.
Akhirnya, setelah diskusi panjang dan lobi intensif,
pedagang setuju dengan beberapa syarat: biaya pindah ditanggung desa, sewa kios
murah untuk tiga tahun pertama, dan ada jaminan pasar akan ramai.
Relokasi pasar dilakukan dengan lancar. Kios-kios baru
dibangun, lebih rapi dan bersih. Joko mengadakan pasar malam seminggu sekali
untuk menarik pengunjung. Hasilnya, pasar baru ramai, bahkan lebih ramai dari
sebelumnya.
"Pak Kades, ternyata Ibu salah sangka. Pasar baru lebih
ramai," kata Bu Karsih dengan senyum malu-malu.
"Tidak apa-apa, Bu. Ibu punya hak untuk protes. Yang
penting, sekarang kita semua senang."
Kebijakan kontroversial lain adalah larangan membuka lahan
dengan cara membakar. Joko mendapat tekanan dari kelompok tani yang terbiasa
membakar lahan untuk membersihkan sisa panen.
"Pak Kades, kalau tidak boleh bakar, bagaimana cara
bersihkan lahan? Pakai tenaga manusia? Butuh waktu lama, biaya besar,"
protes seorang petani, Pak Samad.
"Saya tahu, Pak. Tapi membakar lahan itu berbahaya.
Bisa menyebabkan kebakaran hutan, merusak tanah, dan mengganggu pernapasan.
Apalagi kalau musim kemarau, api bisa merambat ke mana-mana."
"Lalu solusinya apa?"
Joko memperkenalkan teknik pengolahan lahan tanpa bakar.
Sisa-sisa tanaman dicacah, dikomposkan, lalu dikembalikan ke tanah sebagai
pupuk organik. Butuh waktu lebih lama, tapi hasilnya lebih baik untuk kesuburan
tanah.
Awalnya petani keberatan. Tapi setelah melihat demo dan uji
coba di sawah percontohan, mereka mulai tertarik. Tanah menjadi lebih gembur,
pupuk kimia bisa dikurangi, hasil panen meningkat.
"Pak Kades, ternyata cara ini lebih baik," kata
Pak Samad setelah panen raya. "Tanah lebih subur, hasil lebih
banyak."
"Syukurlah, Pak. Saya hanya memberi saran. Yang menentukan
Bapak sendiri."
Salah satu kunci keberhasilan Joko adalah kedekatannya
dengan warga. Ia tidak hanya duduk di balai desa, tapi juga turun ke lapangan,
bergaul dengan warga, mendengar keluhan mereka.
Setiap sore, setelah pulang kantor, ia berkeliling desa.
Kadang dengan sepeda, kadang jalan kaki. Ia mampir ke rumah-rumah warga, duduk
di beranda, ngobrol santai. Tidak ada jarak antara dia dan warganya.
"Pak Kades, mampir," sapa seorang warga, Mbok
Darmi, yang sedang menjemur padi.
"Mari, Mbok. Lagi jemur padi? Hasilnya gimana?"
"Alhamdulillah, lumayan, Pak. Tapi harga gabah turun.
Susah."
"Sabar, Mbok. Nanti kalau koperasi sudah jalan, kita
jual langsung ke pembeli. Harga pasti lebih baik."
Joko juga hadir di setiap acara warga, pernikahan,
selamatan, kematian, bahkan sunatan. Ia tidak pernah absen. Kedekatan ini
membuat warga mersa diperhatikan.
"Pak Kades itu beda. Dekat sama rakyat. Tidak sombong.
Suka membantu," puji warga di mana-mana.
Suatu malam, Joko mendapat kabar bahwa Mbah Joyo, tetua
adat yang pernah membimbingnya, sakit keras. Ia segera menjenguk.
"Bagaimana keadaan Mbah?" tanya Joko pada
keluarga.
"Sudah tiga hari tidak sadar, Pak. Kata dokter, sudah
waktunya."
Joko duduk di samping Mbah Joyo. Ia memegang tangan keriput
itu, berdoa dalam hati.
"Mbah, terima kasih untuk semua nasihatnya. Saya akan
terus jaga desa ini. Doakan saya."
Seolah mendengar, Mbah Joyo membuka mata sebentar. Bibirnya
bergetar, seperti ingin bicara. Lalu matanya terpejam lagi.
Mbah Joyo meninggal keesokan harinya. Joko kehilangan
seorang guru, seorang tetua yang bijak. Tapi pesan-pesannya akan selalu
diingat.
Di pemakaman, Joko memberi sambutan singkat.
"Mbah Joyo adalah teladan bagi kita. Beliau
mengajarkan tentang adat, tentang kebijaksanaan, tentang cinta pada desa. Mari kita
doakan, semoga amal ibadahnya diterima, dan keluarga yang ditinggalkan diberi
ketabahan."
Warga menangis. Mereka kehilangan sesepuh desa. Tapi mereka
juga bersyukur, memiliki pemimpin muda seperti Joko yang peduli pada semua
kalangan.
Joko sadar, untuk memajukan desa, ia tidak bisa bekerja
sendiri. Ia perlu membangun jaringan dengan desa-desa lain, berbagi pengalaman,
dan saling membantu.
Ia aktif di forum kepala desa se-kecamatan, bahkan terpilih
sebagai ketua. Dalam forum itu, ia mendorong kerja sama antar desa dalam
berbagai bidang—pertanian, perdagangan, keamanan, dan pembangunan
infrastruktur.
"Teman-teman, kita ini satu kecamatan. Masalah kita
mirip-mirip. Kenapa kita tidak kerja sama? Misalnya, kita bisa beli pupuk
bersama biar dapat harga grosir. Atau kita ajukan proposal irigasi bersama ke
kabupaten, biar lebih kuat."
Kepala desa lain setuju. Mereka mulai merancang program
bersama. Dalam setahun, beberapa kerja sama terwujud: pembelian pupuk bersama,
pengadaan alat pertanian bersama, dan sistem keamanan lingkungan terpadu.
Joko juga sering diundang ke desa lain untuk berbagi
pengalaman. Ia bercerita tentang program-program di desanya, tentang suka duka
memimpin, tentang pentingnya kedekatan dengan warga.
"Saya salut sama Mas Joko. Muda, tapi pikirannya
matang. Program-programnya bagus, bisa ditiru," puji seorang kepala desa
tetangga, Pak Sukirman.
"Terima kasih, Pak. Saya masih belajar. Mari kita
saling mendukung."
Musim kemarau tahun itu sangat panjang. Hujan tak turun
selama enam bulan. Sawah-sawah mengering, sumur-sumur mulai kering. Warga
kesulitan air bersih.
Joko bergerak cepat. Ia mengerahkan semua perangkat desa
dan relawan untuk membantu warga. Mereka mendirikan posko air bersih di
beberapa titik, mengangkut air dari sungai yang masih mengalir menggunakan truk
tangki sewaan.
"Pak Kades, air di sungai juga mulai surut. Khawatir
tidak cukup untuk semua," lapor Pak Wawan.
"Kita harus hemat. Batasi penggunaan. Prioritas untuk
minum dan masak. Untuk mandi, pakai air seadanya."
Joko juga mengajak warga menggali sumur bor di beberapa
lokasi strategis. Bekerja sama dengan dinas PU, mereka berhasil membuat tiga
sumur bor dalam waktu singkat. Airnya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
"Alhamdulillah, sumur bor ini menyelamatkan
kami," kata seorang warga, Bu Tumini, yang rumahnya kekeringan.
"Iya, Bu. Tapi tetap hemat ya. Musim kemarau belum
tahu sampai kapan."
Musim kemarau berlangsung total delapan bulan. Padi gagal
panen di banyak tempat. Tapi berkat kerja keras Joko dan tim, tidak ada warga
yang kelaparan atau kekurangan air bersih. Stok beras dari lumbung desa dan
bantuan pemerintah cukup untuk bertahan.
Saat hujan pertama turun, seluruh desa bersyukur. Mereka
mengadakan doa bersama di masjid, memanjatkan syukur pada Tuhan.
"Terima kasih, warga sekalian, atas kerja samanya.
Kita telah melewati masa sulit bersama-sama. Semoga ke depan, kita lebih siap
menghadapi musim kemarau," kata Joko di akhir acara.
Warga bertepuk tangan. Mereka semakin percaya pada pemimpin
mudanya.
Di tengah kesibukan memimpin desa, Joko kadang merenung di
malam yang sepi. Ia duduk di beranda rumah, memandangi bintang-bintang,
mengenang perjalanan hidupnya.
Ia ingat masa kecilnya, ketika ia harus berjalan kaki ke
sekolah, ketika ia harus belajar di bawah lampu minyak, ketika ia diejek
sebagai anak miskin. Ia ingat perjuangan ayah ibunya yang tak kenal lelah. Ia
ingat jasa Ibu Sumarni, Pak Kades, Mbah Karto, dan semua orang yang
membantunya.
Kini, ia telah menjadi pemimpin. Mimpi masa kecilnya
terwujud. Tapi ia sadar, perjuangan belum selesai. Masih banyak yang harus
diperbaiki. Masih banyak warga yang perlu dibantu.
"Ya Allah, terima kasih untuk semua nikmat-Mu. Terima
kasih untuk kesempatan mengabdi. Jaga aku dari kesombongan. Jaga aku dari
godaan kekuasaan. Jadikan aku pemimpin yang amanah, yang dicintai
rakyat-Mu."
Sebuah program gagal total. Program pengadaan bibit unggul
untuk petani tidak berjalan sesuai rencana. Bibit yang dibeli ternyata
berkualitas buruk. Hasil panen turun drastis. Petani merugi.
Joko sangat kecewa. Ia merasa gagal sebagai pemimpin. Warga
mulai protes.
"Pak Kades, ganti rugi! Bibitnya jelek, kami rugi
besar!" teriak warga di balai desa.
Joko menghadapi mereka dengan tenang. "Saya minta maaf
atas kegagalan ini. Ini tanggung jawab saya. Saya akan usahakan ganti rugi dari
dana desa. Tapi mohon bersabar, prosesnya tidak cepat."
Beberapa warga tidak terima. Mereka menuntut ganti rugi
segera. Joko berusaha menenangkan.
Setelah penyelidikan, ternyata oknum perangkat desa
terlibat dalam pengadaan bibit. Ia menerima suap dari pemasok bibit jelek. Joko
marah besar. Ia memecat oknum itu dan melaporkannya ke polisi.
"Saya minta maaf kepada seluruh warga. Ini karena
kelalaian saya dalam pengawasan. Saya akan perbaiki sistem pengadaan. Tidak
akan terulang lagi."
Joko juga mengganti kerugian petani dari dana desa,
meskipun tidak penuh. Petani lega, meskipun masih ada yang kecewa.
Dari kegagalan ini, Joko belajar banyak. Bahwa sebagai
pemimpin, ia harus lebih teliti, lebih hati-hati, dan lebih mengawasi. Ia tidak
bisa percaya begitu saja pada orang lain. Harus ada kontrol dan audit yang
ketat.
"Pak Kades, jangan terlalu dipikirkan. Kegagalan itu
guru terbaik," hibur Pak Wawan.
"Iya, Pak. Tapi ini mahal. Warga yang jadi korban.
Saya harus belajar dari ini."
Setelah kejadian itu, Joko merombak sistem pengadaan desa.
Ia membentuk tim pengadaan yang independen, melibatkan tokoh masyarakat, dan
mewajibkan lelang terbuka untuk semua proyek. Tidak ada lagi proyek yang
ditunjuk langsung.
"Sekarang, semua transparan. Warga bisa mengawasi.
Kalau ada kejanggalan, laporkan ke saya langsung."
Sistem baru ini berjalan efektif. Tidak ada lagi kasus
korupsi atau suap dalam pengadaan. Kepercayaan warga kembali pulih.
Dalam enam tahun, banyak perubahan terjadi di desa Suka
Maju.
Jalan beraspal mulus sepanjang lima kilometer. Jembatan
beton kokoh melintasi sungai. Listrik sudah masuk ke seluruh desa. Sekolah
direnovasi total. Posyandu aktif di setiap dusun. Angka gizi buruk turun
drastis. Angka melek huruf meningkat. Petani lebih sejahtera berkat kelompok
tani dan koperasi yang mulai dirintis.
Joko juga berhasil membangun irigasi sepanjang sepuluh
kilometer, dan membuka akses jalan ke desa-desa tetangga.
Namun, yang paling membanggakan adalah perubahan mental
warga. Mereka lebih percaya diri, lebih mandiri, lebih bersemangat membangun
desa. Gotong royong hidup kembali. Rasa kebersamaan menguat.
"Pak Kades, terima kasih untuk semuanya. Desa kita
maju pesat berkat Bapak," kata warga dalam acara syukuran akhir masa
jabatan.
Joko tersenyum. "Ini bukan karena saya, tapi karena
kita semua. Tanpa dukungan dan kerja sama warga, tidak mungkin semua ini
terwujud."
Pak Kades yang dulu Pak Karim, yang kini menjabat sebagai
sesepuh desa, memberi sambutan.
"Warga sekalian, kita telah menyaksikan sejarah. Seorang
anak petani, yang dulu kecil dan miskin, kini telah membawa desa ini ke era
baru. Joko adalah bukti bahwa mimpi bisa menjadi nyata, asal diperjuangkan
dengan sungguh-sungguh."
Joko menangis haru. Ia memeluk Pak Karim.
"Pak, tanpa bimbingan Bapak, saya tidak akan sampai di
sini."
"Bukan saya, Nak. Tapi Tuhan yang membimbingmu.
Tetaplah rendah hati. Tetaplah mengabdi."
Menjelang akhir masa jabatan, warga mendesak Joko untuk
maju lagi. Mereka ingin Joko memimpin untuk periode kedua.
"Pak Kades, kami ingin Bapak maju lagi. Desa ini masih
butuh Bapak," kata perwakilan warga.
Joko bimbang. Ia merasa tanggung jawabnya belum selesai.
Masih banyak program yang perlu dilanjutkan.
"Tapi undang-undang membatasi dua periode, Pak. Saya
tidak bisa maju lagi."
Pak Karman tersenyum. "Itu aturan baru, Jok. Untuk
periode pertamamu, aturan itu belum berlaku. Kamu bisa maju lagi. Dan kami
semua mendukungmu."
Joko merenung lama. Akhirnya, ia memutuskan untuk maju
lagi. Dengan dukungan penuh warga, ia kembali mencalonkan diri.
Pilkades tahun 1980 berlangsung lebih tenang.
Lawan-lawannya tidak sekuat dulu. Joko menang telak dengan perolehan suara 85%.
Warga kembali mempercayakan amanah padanya.
"Saya berterima kasih atas kepercayaan ini. Saya akan
lanjutkan perjuangan. Desa Suka Maju akan terus maju, bersama-sama kita
bangun."
BAB VIII
SETELAH KEKUASAAN BERAKHIR
Lima tahun pertama kepemimpinan Joko membawa banyak
perubahan. Jalan desa sudah diaspal. Jembatan beton kokoh melintasi sungai.
Listrik sudah masuk ke seluruh desa sejak tahun 1976. Sekolah direnovasi, tidak
bocor lagi. Posyandu aktif setiap bulan. Angka kematian bayi menurun.
Warga puas. Ketika Pilkades berikutnya tiba pada
pertengahan tahun 1980, mereka kembali memilih Joko. Kali ini ia menang telak,
mengalahkan calon-calon lain dengan suara 85 persen.
"Pak Kades, selamat! Lima tahun lagi!" sambut
warga di balai desa.
Joko tersenyum haru. "Terima kasih, warga sekalian.
Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ini. Saya akan bekerja lebih
keras."
Periode kedua dimulai dengan semangat baru. Joko punya
target lebih besar: menyelesaikan pembangunan infrastruktur yang belum tuntas,
meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta mengembangkan ekonomi
desa melalui koperasi dan industri rumah tangga.
"Pak Karman, periode kedua ini harus lebih baik. Kita
sudah punya fondasi, sekarang saatnya membangun lantai dua," katanya pada
sekretaris desa suatu malam.
"Setuju, Pak Kades. Tapi ingat, jangan sampai lengah.
Banyak godaan di periode kedua."
"Ingat, Pak. Saya tidak akan korupsi. Itu harga
mati."
Proyek besar pertama di periode kedua adalah pengerasan
jalan-jalan desa yang belum tersentuh. Joko mengajukan bantuan tambahan ke
kabupaten, provinsi, dan pusat. Ia bolak-balik ke dinas-dinas, menemui pejabat,
mengurus proposal, kadang sampai lelah.
"Pak Kades, ini sudah kesekian kali Bapak ke sini.
Capek nggak?" kata seorang pejabat dinas—Pak Broto—suatu hari.
"Iya, Pak. Demi desa saya. Saya tidak akan menyerah.
Demi warga."
"Semangat sekali. Saya kasih bocoran, proposal Bapak
sudah disetujui. Tinggal pencairan."
"Alhamdulillah, Pak. Terima kasih banyak."
Akhirnya, setelah perjuangan panjang, bantuan turun.
Jalan-jalan di dusun-dusun terpencil mulai diaspal. Warga desa bergembira.
"Alhamdulillah, akhirnya jalan kita diaspal!"
seru mereka.
Proses pengerjaan berlangsung beberapa bulan. Joko
mengawasi langsung, memastikan kualitasnya baik. Ia tidak ingin hasilnya
mengecewakan.
"Pak Kades, kok Bapak setiap hari di sini?
Panas-panasan. Nanti hitam," tanya seorang pekerja.
"Saya ingin memastikan jalan ini berkualitas. Ini
untuk warga saya. Kalau jelek, saya yang malu. Warga yang menanggung."
Pekerja itu tersenyum kagum. Ia jarang melihat kepala desa
sekaliber Joko.
Setelah jalan-jalan selesai, desa Suka Maju berubah total.
Mobil dan sepeda motor bisa lewat dengan nyaman ke seluruh pelosok desa. Warga
tidak lagi becek-becekan kalau hujan. Anak-anak bisa bersepeda ke sekolah
dengan aman. Pedagang dari luar desa mulai berdatangan membawa barang dagangan.
"Pak Kades, terima kasih banyak. Ini mimpi kami jadi
nyata," kata seorang warga tua sambil menangis di depan rumahnya.
Joko memeluknya. "Sama-sama, Pak. Ini hasil kerja kita
semua. Bukan saya sendiri."
Meskipun listrik sudah mulai masuk ke sebagian desa pada
periode pertama, masih ada dusun-dusun terpencil di lereng bukit yang belum
menikmatinya. Joko bertekad, di periode kedua ini, seluruh desa Suka Maju akan
terang benderang.
Perjuangan untuk listrik tidak mudah. Joko harus
bolak-balik ke kantor PLN di kabupaten, mengurus perpanjangan jaringan,
meyakinkan petugas bahwa dusun-dusun terpencil itu layak mendapat listrik.
"Pak, dusun di lereng bukit itu penduduknya cuma lima
puluh kepala keluarga. Jarak dari jaringan terakhir cukup jauh. Biaya
pemasangannya mahal, tidak sebanding dengan potensi pendapatannya," kata
petugas PLN, Pak Suryanto, dengan nada ragu.
Joko tidak menyerah. "Pak, saya paham hitung-hitungan
Bapak. Tapi tolong lihat dari sisi kemanusiaan. Di dusun itu ada anak-anak yang
ingin belajar malam. Ada ibu-ibu yang ingin menjahit. Ada bapak-bapak yang
ingin mendengar radio. Mereka juga warga negara Indonesia, berhak mendapat
listrik."
Pak Suryanto terdiam. Joko melanjutkan, "Saya punya
data. Di dusun itu ada tiga puluh anak usia sekolah. Mereka setiap malam
belajar dengan lampu minyak. Mata mereka perih, kadang sakit. Apakah Bapak tega
melihat itu?"
Pak Suryanto menghela napas. "Pak Kades, saya hargai
perjuangan Bapak. Tapi ini di luar kewenangan saya. Saya harus konsultasi
dengan atasan."
"Silakan, Pak. Saya tunggu. Saya akan datang lagi
minggu depan."
Joko tidak hanya sekali dua kali datang. Ia bolak-balik
setiap minggu, membawa data, foto, dan surat dukungan warga. Kadang ia membawa
buah tangan dari desa, pisang, singkong, atau jagung, untuk para petugas.
Perjuangan selama setahun membuahkan hasil. PLN akhirnya
menyetujui perpanjangan jaringan ke dusun-dusun terpencil. Biaya pemasangan
ditanggung bersama: PLN, pemerintah desa, dan swadaya warga.
Ketika lampu listrik pertama kali menyala di dusun lereng
bukit, warga menangis haru. Mereka berkumpul di rumah-rumah, menyaksikan
keajaiban itu.
"Alhamdulillah... akhirnya terang," kata seorang
nenek, Mbok Sarinem, sambil memandangi lampu pijar di langit-langit rumahnya.
"Selama ini kami cuma pakai lampu minyak. Matanya perih. Sekarang, terang
sekali."
Anak-anak kecil berlarian di bawah lampu jalan, menikmati
malam yang terang benderang. Mereka tidak perlu lagi belajar dengan penerangan
seadanya.
Joko yang hadir di dusun itu, ikut menangis. Ia memeluk
warga satu per satu.
"Ini berkat perjuangan kita bersama. Listrik bukan
akhir, tapi awal. Sekarang kita harus manfaatkan dengan baik. Anak-anak harus
rajin belajar. Ibu-ibu bisa mulai usaha malam hari. Bapak-bapak bisa dengar
radio, tahu berita."
Sejak malam itu, dusun lereng bukit berubah. Aktivitas
warga meningkat. Anak-anak belajar lebih lama. Ibu-ibu mulai menjahit dan
membuat kue untuk dijual. Bapak-bapak berkumpul di warung kopi yang kini punya
lampu terang, mendengarkan radio sambil ngobrol.
Setelah listrik, prioritas berikutnya adalah air bersih.
Banyak dusun di desa Suka Maju yang kesulitan air, terutama di musim kemarau.
Warga harus berjalan jauh ke sungai atau membeli air dari pedagang keliling
dengan harga mahal.
Joko mengajukan proposal pembangunan instalasi air bersih
ke dinas PU. Lagi-lagi, perjuangan panjang. Proposal ditolak, diperbaiki,
diajukan lagi, ditolak lagi. Tapi Joko tidak menyerah.
"Pak, ini proposal kami sudah lengkap. Ada data jumlah
penduduk, peta sumber air, desain jaringan, dan analisis kebutuhan. Tolong
dipertimbangkan," katanya pada pejabat dinas.
"Pak Kades, saya lihat Bapak sudah berkali-kali
datang. Saya kagum dengan kegigihan Bapak. Tapi anggaran terbatas. Desa Bapak
masuk prioritas, tapi mungkin tahun depan."
"Tahun depan, Pak. Saya setuju. Yang penting ada
kepastian."
Setelah dua tahun menunggu, proposal itu akhirnya disetujui
tahun 1982. Pemerintah kabupaten membangun instalasi air bersih dengan sumber
mata air di bukit. Jaringan pipa membentang sepanjang lima belas kilometer,
menjangkau seluruh dusun.
Hari pertama air mengalir dari kran di rumah-rumah warga
adalah hari bersejarah. Warga berkumpul, bersorak gembira. Mereka tidak perlu
lagi berjalan jauh ke sungai. Air bersih tersedia setiap saat.
"Pak Kades, ini seperti mimpi," kata seorang ibu,
Bu Karsih, sambil menampung air di ember. "Dulu saya harus jalan satu
kilometer ke sungai, antre dengan ibu-ibu lain. Sekarang, tinggal buka
kran."
Joko tersenyum. "Nikmati, Bu. Tapi ingat, air ini
harus dijaga. Jangan boros. Jangan cemari. Ini sumber kehidupan kita."
Kelompok Tani "Tunas Harapan" yang dirintis Joko
bersama Pak Karto berkembang pesat. Mereka tidak hanya menanam padi, tapi juga
palawija, sayuran, dan buah-buahan. Lahan-lahan kosong dimanfaatkan untuk
tanaman produktif.
Joko mengundang penyuluh pertanian dari dinas untuk memberi
pelatihan rutin. Petani belajar tentang pemilihan bibit unggul, pemupukan
berimbang, pengendalian hama terpadu, dan pasca panen.
"Dulu kita tanam asal-asalan. Sekarang, kita tahu cara
tanam yang baik. Hasilnya meningkat," kata Pak Tumin, salah satu petani.
Koperasi Desa "Suka Maju" juga berkembang. Tidak
hanya melayani simpan pinjam, tapi juga memasarkan hasil pertanian. Petani
tidak lagi menjual ke tengkulak dengan harga murah. Mereka menjual ke koperasi
dengan harga lebih baik.
"Pak Kades, koperasi kita sekarang punya omzet ratusan
juta," lapor pengurus koperasi, Mas Heru, pemuda yang dulu kuliah di kota
dan sekarang pulang kampung.
"Bagus, Heru. Tapi ingat, jangan sampai dikorupsi.
Transparansi harus dijaga. Audit rutin harus dilakukan."
"Siap, Pak. Kami jaga amanah."
Koperasi juga mulai merambah usaha lain: toko kelontong,
penggilingan padi, dan penyewaan alat pertanian. Hasilnya, pemasukan desa
bertambah. Warga semakin sejahtera.
Haji Dulah, yang kalah dalam pilkades dan tersingkir dari
bisnis gabah, tidak terima. Ia mencoba berbagai cara untuk menjatuhkan
koperasi. Mulai dari menyebar isu, memprovokasi anggota, hingga melaporkan
koperasi ke polisi dengan tuduhan penipuan.
Tapi koperasi sudah kuat. Anggota solid, pengelolaan
transparan, dan yang terpenting, ada dukungan dari pemerintah desa dan
kabupaten. Laporan Haji Dulah tidak terbukti.
Suatu hari, Haji Dulah datang ke kantor desa. Ia meminta
bertemu Joko.
"Pak Kades, saya minta maaf," katanya dengan
wajah tertunduk.
Joko terkejut. "Maaf untuk apa, Haji?"
"Untuk semua perbuatan saya. Fitnah, provokasi,
laporan palsu. Saya sadar, saya salah. Saya hanya iri melihat kesuksesan
Bapak."
Joko tersenyum. Ia memaafkan Haji Dulah. Bahkan mengajaknya
bekerja sama untuk pembangunan desa.
"Haji, masa lalu biarlah berlalu. Sekarang, mari kita
bangun desa ini bersama. Haji punya pengalaman bisnis, punya jaringan luas. Itu
bisa bermanfaat untuk koperasi. Bagaimana kalau Haji bergabung?"
Haji Dulah terkejut. Ia tidak menyangka akan mendapat
tawaran seperti itu.
"Pak Kades... Bapak benar-benar orang baik. Saya
malu."
"Tidak usah malu, Haji. Semua orang bisa berubah. Mari
kita mulai lembaran baru."
Haji Dulah menangis. Ia memeluk Joko. Sejak saat itu, ia
menjadi salah satu motor penggerak koperasi, menggunakan jaringan dan pengalamannya
untuk memajukan desa.
Program beasiswa yang dirintis Joko terus berlanjut. Setiap
tahun, minimal dua puluh anak dari keluarga tidak mampu mendapat bantuan.
Mereka tidak hanya dibebaskan dari SPP, tapi juga mendapat buku dan alat tulis
gratis.
Joko juga membangun gedung baru untuk SD desa. Dua ruang
kelas tambahan, perpustakaan yang lebih besar, dan lapangan olahraga. Anak-anak
senang, guru-guru bersemangat.
"Pak Kades, sekolah kita sekarang seperti sekolah kota,"
kata kepala sekolah—Pak Hartono—dengan bangga.
"Alhamdulillah, Pak. Tapi fasilitas saja tidak cukup.
Kualitas guru juga harus ditingkatkan. Saya akan usulkan pelatihan rutin untuk
guru-guru."
Joko juga menggalakkan program kejar paket A, B, dan C
untuk warga yang putus sekolah. Puluhan warga, kebanyakan ibu-ibu dan
bapak-bapak setengah baya, mengikuti program ini. Mereka belajar membaca,
menulis, dan berhitung.
"Saya dulu malu karena buta huruf," kata seorang
peserta, Mbok Minah, 58 tahun. "Sekarang saya bisa baca Al-Qur'an
sedikit-sedikit. Bisa bantu anak belajar. Bangga sekali."
Joko tersenyum melihatnya. Perubahan tidak selalu harus
besar. Hal kecil seperti ini juga berarti.
Di bidang kesehatan, Joko tidak hanya membangun puskesmas
pembantu, tapi juga menggalakkan program keluarga berencana (KB). Bekerja sama
dengan PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana), ia mensosialisasikan
pentingnya mengatur jarak kelahiran.
"Awalnya saya ragu, Pak Kades. Takut KB itu
haram," kata seorang ibu, Bu Rumini, dalam penyuluhan.
Joko menjelaskan dengan sabar. "Bu, KB itu boleh kok.
Ulama sudah banyak yang membolehkan. Asal niatnya baik, ingin anak sehat, ingin
ibu sehat, ingin keluarga sejahtera. Bukan untuk membatasi keturunan secara
mutlak."
Setelah sosialisasi berulang kali, warga mulai sadar.
Peserta KB meningkat. Angka kelahiran mulai terkendali. Ibu-ibu lebih sehat
karena jarak kelahiran cukup.
Program imunisasi juga digalakkan. Posyandu di setiap dusun
aktif setiap bulan. Balita ditimbang, diimunisasi, dan diberi vitamin. Angka
gizi buruk turun drastis.
"Pak Kades, dulu banyak balita kurang gizi. Sekarang
alhamdulillah, sudah tidak ada," lapor bidan desa, Bu Siti.
"Syukurlah, Bu. Tapi jangan lengah. Terus pantau.
Kalau ada yang kurang, segera tangani."
Joko sadar bahwa perempuan adalah pilar penting
pembangunan. Ia membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) untuk ibu-ibu di setiap
dusun. Mereka dilatih membuat kerajinan, makanan ringan, dan produk lainnya.
Salah satu KUBE yang sukses adalah "Mekar Sari"
di Dusun Krajan. Anggotanya dua puluh ibu rumah tangga. Mereka memproduksi
keripik pisang, keripik singkong, dan aneka kue kering. Produknya dipasarkan ke
toko-toko di kecamatan dan kabupaten.
"Awalnya kami ragu, Bu. Tapi setelah pelatihan, kami
jadi percaya diri. Sekarang punya penghasilan sendiri," kata ketua KUBE, Bu
Kades, yang kini aktif sebagai penggerak PKK.
Joko juga mendorong perempuan untuk aktif di organisasi
desa. Beberapa menjadi RT, kadus, bahkan perangkat desa. Mereka membuktikan
bahwa perempuan juga bisa memimpin.
"Pak Kades, saya terima kasih. Selama ini perempuan
hanya di dapur. Sekarang kami dilibatkan," kata Bu Rum, Kepala Urusan
Pembangunan yang diangkat Joko.
"Tentu, Bu. Perempuan punya potensi besar. Asal diberi kesempatan, mereka bisa berprestasi."
Beberapa program kerja sama berhasil diwujudkan: pembelian
pupuk bersama, pengadaan alat pertanian bersama, sistem keamanan lingkungan
terpadu, dan even olahraga antar desa.
"Pak Joko ini beda. Aktif, inovatif, dan suka kerja
sama," puji seorang kepala desa tetangga—Pak Sukirman.
"Saya hanya ingin desa kita maju bersama, Pak. Tidak
ada gunanya desa sendiri maju kalau tetangganya miskin. Nanti jadi sumber
masalah."
Joko juga sering diundang ke seminar dan pelatihan di
kabupaten dan provinsi. Ia berbagi pengalaman tentang membangun desa dari
bawah. Banyak peserta yang terinspirasi.
Konflik pecah antara dua kelompok warga di Dusun Krajan. Penyebabnya
sepele, masalah batas tanah. Tapi karena masing-masing keras kepala, konflik
meluas. Hampir terjadi bentrok fisik.
Joko turun tangan. Ia memanggil kedua belah pihak, juga
saksi-saksi dan tokoh masyarakat.
"Bapak-bapak, saya minta kita bicara baik-baik.
Masalah batas tanah ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Jangan pakai
emosi."
Proses mediasi berlangsung alot. Masing-masing ngotot
dengan pendiriannya. Joko harus bersabar.
"Begini, kita punya bukti sertifikat, kita punya
saksi. Tapi kalau kedua belah pihak tidak mau mengalah, tidak akan selesai.
Saya usulkan, kita adakan pengukuran ulang oleh petugas BPN. Hasilnya kita
terima bersama. Setuju?"
Akhirnya mereka setuju. Pengukuran ulang dilakukan.
Hasilnya, salah satu pihak ternyata melanggar batas. Tapi Joko tidak serta
merta menghukum. Ia mengajak pihak yang dirugikan untuk memaafkan.
"Pak, saya tahu Bapak dirugikan. Tapi demi kerukunan,
sudilah kiranya memaafkan. Tanah yang kelebihan dikembalikan, dan yang
melanggar minta maaf. Selesai."
Pihak yang dirugikan akhirnya memaafkan. Mereka berjabat
tangan, saling memeluk. Konflik selesai tanpa kekerasan.
"Pak Kades, terima kasih. Kami jadi malu sudah
bertengkar hebat," kata salah satu warga.
"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang damai. Ingat,
kita tetangga. Hidup rukun itu lebih baik daripada punya tanah luas tapi
bermusuhan."
Bencana alam melanda desa Suka Maju. Hujan deras selama
tiga hari tiga malam menyebabkan sungai meluap. Puluhan rumah terendam banjir.
Sawah-sawah rusak. Warga panik.
Joko bergerak cepat. Ia mengaktifkan tim siaga bencana yang
sudah dibentuk sebelumnya. Mereka mengevakuasi warga ke tempat aman, balai
desa, masjid, dan sekolah. Dapur umum didirikan. Bantuan logistik didatangkan
dari kecamatan dan kabupaten.
"Pak Kades, rumah saya hanyut!" teriak seorang
warga, Pak Juminten, dengan mata merah.
"Sabar, Pak. Yang penting selamat. Harta bisa dicari
lagi. Nyawa tidak. Sekarang ikut evakuasi."
Selama seminggu, Joko tidak tidur. Ia keliling posko
pengungsian, memastikan semua kebutuhan terpenuhi. Ia juga turun ke lapangan,
membantu membersihkan lumpur, mendata kerusakan.
Setelah banjir surut, Joko mengajukan bantuan perbaikan
rumah dan sawah ke pemerintah. Proposal diajukan, lobi dilakukan, dan akhirnya
bantuan turun. Rumah-rumah diperbaiki, sawah-sawah dipulihkan.
"Pak Kades, terima kasih. Tanpa Bapak, kami tidak tahu
harus bagaimana," kata warga dalam pertemuan pasca-bencana.
"Ini tugas saya. Tapi yang terpenting, kita belajar
dari bencana. Ke depan, kita harus lebih siap. Bangun rumah di tempat aman,
jangan di bantaran sungai. Buat tanggul sederhana. Tanam pohon di hulu
sungai."
Warga setuju. Mereka mulai sadar pentingnya mitigasi
bencana.
Setelah banjir, Joko semakin sadar pentingnya menjaga
lingkungan. Ia meluncurkan "Program Hijau Suka Maju", penanaman pohon
di lahan kritis, penghijauan bantaran sungai, dan kampanye pengelolaan sampah.
Setiap musim hujan, Joko mengajak warga menanam pohon.
Bibit pohon dibagikan gratis, pohon buah-buahan, pohon kayu-kayuan, dan pohon
pelindung. Ribuan pohon ditanam di lereng-lereng bukit, di sepanjang sungai, di
lahan-lahan kosong.
"Dulu kita tebang pohon sembarangan. Sekarang kita
tanam lagi. Biar tidak banjir, biar tidak longsor," kata Joko dalam
kampanye.
Program ini mendapat dukungan luas. Sekolah-sekolah ikut
serta, setiap murid wajib menanam satu pohon. Kelompok tani menanam pohon di
lahan kritis. Ibu-ibu PKK menanam di pekarangan rumah.
Lima tahun kemudian, desa Suka Maju berubah hijau.
Lereng-lereng bukit yang dulu gundul, kini rimbun oleh pohon. Udara lebih
sejuk. Sumber mata air mulai muncul kembali.
"Pak Kades, ini hebat. Dulu waktu kecil, saya main di
sungai, airnya deras. Lalu mulai berkurang. Sekarang setelah penghijauan, air
mulai deras lagi," kata seorang pemuda.
"Syukurlah. Alam itu seperti kita. Kalau kita rawat,
dia baik. Kalau kita rusak, dia marah. Mari kita jaga terus."
Joko mulai mengembangkan potensi wisata desa. Desa Suka
Maju punya pemandangan indah, sawah terasering, sungai jernih, perbukitan
hijau. Joko ingin menjadikannya destinasi wisata alam.
Awalnya banyak warga ragu. "Masa orang mau wisata ke
desa? Yang ada pemandangan biasa," kata mereka.
Tapi Joko tidak menyerah. Ia mengajak warga membersihkan
lingkungan, menata desa, dan melatih pemuda sebagai pemandu wisata. Ia juga membangun
homestay sederhana di rumah-rumah warga.
Pertama kali wisatawan datang, warga gugup. Tapi setelah
dipandu, mereka mulai percaya diri. Mereka menyambut tamu dengan ramah,
menyediakan makanan khas, dan menunjukkan keindahan desa.
Lama kelamaan, wisatawan semakin banyak. Mereka datang dari
kota-kota besar, menikmati suasana pedesaan, belajar bertani, dan berinteraksi
dengan warga. Desa Suka Maju mulai dikenal sebagai desa wisata.
"Pak Kades, ide Bapak luar biasa. Sekarang banyak
orang datang. Warga punya penghasilan tambahan dari homestay dan
oleh-oleh," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata, Mas Budi, sahabat Joko.
"Ini berkat kerja sama kita semua. Tapi ingat, jangan
sampai pariwisata merusak lingkungan. Atur dengan baik. Batasi jumlah
pengunjung. Jaga kebersihan. Lestarikan budaya."
Di tengah arus modernisasi, Joko tidak melupakan tradisi.
Ia tetap melestarikan adat istiadat desa. Setiap tahun, desa mengadakan ritual
bersih desa, sedekah bumi, dan kenduri. Warga berkumpul, berdoa bersama, dan
makan bersama.
"Tradisi ini harus kita jaga. Ini identitas kita.
Jangan sampai tergerus zaman," kata Joko dalam sambutan acara bersih desa.
Ia juga menghidupkan kembali kesenian tradisional yang
hampir punah, jaranan, wayang kulit, dan gamelan. Pemuda-pemuda dilatih, grup
kesenian dibentuk. Mereka sering tampil di acara-acara desa dan festival
kabupaten.
"Pak Kades, saya senang belajar jaranan. Dulu saya
pikir kuno, ternyata asyik," kata seorang pemuda, Karjo.
"Syukurlah. Kalian harus bangga dengan budaya sendiri.
Jangan malu. Itu warisan leluhur."
Joko juga mendirikan sanggar seni di balai desa. Di situ,
anak-anak dan pemuda belajar menari, menyanyi, dan bermain gamelan. Mereka
tampil setiap ada acara, baik di desa maupun di luar.
Di tengah kesibukan memimpin desa, Joko menikah. Istrinya
adalah Rina Wulandari, guru muda yang bertugas di SD Suka Maju sejak tahun
1980. Rina lahir tahun 1955, kini berusia 28 tahun.
Mereka bertemu ketika Joko sering ke sekolah untuk memantau
perkembangan pendidikan. Rina sering ke kantor desa untuk urusan administrasi.
Lambat laun, perasaan itu tumbuh.
"Rin, aku mencintaimu. Maukah kau menemaniku membangun
desa ini?" tanya Joko suatu sore di tepi sungai.
Rina tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Jok. Aku akan
selalu mendampingimu."
Mereka menikah pada bulan Desember 1983. Pernikahan
sederhana digelar di balai desa, dihadiri seluruh warga. Joko berusia 33 tahun,
Rina 28 tahun.
"Selamat, Pak Kades! Selamat, Bu Kades!" seru
warga.
Joko dan Rina tersenyum bahagia. Mereka memulai hidup baru
bersama. Rina terus mengajar di SD, sambil membantu Joko membangun desa.
Setahun kemudian, tepatnya tahun 1984, Rina melahirkan anak
pertama mereka. Bayi laki-laki, lahir dengan selamat. Joko menamainya
"Prasetyo", diambil dari nama belakangnya, dengan harapan anaknya
akan setia pada cita-cita luhur.
"Ini anak kita, Rin," bisik Joko sambil
menggendong bayinya.
"Iya, Jok. Ini buah cinta kita."
Kelahiran Prasetyo membawa kebahagiaan tersendiri bagi
desa. Warga bergantian datang menjenguk, membawa hadiah sederhana, telur, ayam,
beras, dan doa.
Joko dan Rina tersenyum bahagia. Mereka berkeluarga, mereka
memimpin desa, mereka berjuang bersama.
Menjadi kepala desa dan ayah di waktu bersamaan tidak
mudah. Joko harus pintar membagi waktu. Pagi di kantor, siang di lapangan, sore
bersama keluarga, malam kembali ke tugas.
Tapi ia selalu menyempatkan waktu untuk anaknya. Setiap
pagi, sebelum berangkat, ia menggendong Prasetyo, membacakan doa. Setiap malam,
ia bercerita sebelum tidur.
"Pras, ayah sayang kamu. Kamu harus jadi anak baik.
Jangan nakal. Hormati ibu. Belajar yang rajin. Nanti kalau besar, jadi orang
berguna."
Prasetyo yang masih bayi, hanya bisa tersenyum. Tapi Joko
yakin, doa dan kasih sayang akan membentuk karakternya.
Rina juga aktif mendidik anak. Ia mengajari Prasetyo
berbicara, berjalan, dan mengenal dunia. Ia juga mengajari nilai-nilai
kebaikan.
"Bu, aku capek," keluh Prasetyo suatu hari, saat
usianya tiga tahun, setelah bermain.
"Capek itu wajar, Nak. Tapi jangan menyerah. Seperti
ayahmu, beliau capek setiap hari tapi tidak pernah menyerah."
Prasetyo tersenyum. Ia bangga pada ayahnya.
Joko mendapat penghargaan dari Bupati Blitar sebagai Kepala
Desa Teladan. Prestasinya dalam membangun desa, memberdayakan masyarakat, dan
menjaga lingkungan diakui.
Acara penyerahan penghargaan digelar di pendopo kabupaten.
Joko datang dengan pakaian rapi, didampingi Rina dan beberapa perangkat desa.
Wajahnya tenang, tapi hatinya bangga.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Blitar, saya
memberikan penghargaan ini kepada Bapak Joko Prasetyo, Kepala Desa Suka Maju,
atas dedikasi dan prestasinya dalam memajukan desa," kata Bupati.
Joko menerima piagam dan plakat penghargaan dengan tangan
sedikit gemetar. Ia memberi sambutan singkat.
"Terima kasih, Pak Bupati. Penghargaan ini bukan untuk
saya, tapi untuk seluruh warga Desa Suka Maju yang telah bekerja sama membangun
desa. Saya hanya fasilitator. Semoga penghargaan ini memotivasi kita semua
untuk terus berkarya."
Tepuk tangan riuh. Warga Suka Maju yang hadir, bangga.
Kepala desa mereka diakui.
Sepulang dari acara, Joko diarak warga keliling desa.
Mereka bersorak, bertepuk tangan, dan menabur bunga. Joko tersenyum,
melambaikan tangan.
"Ini kemenangan kita bersama!" serunya.
Penghargaan yang lebih tinggi datang. Joko terpilih sebagai
salah satu Kepala Desa Teladan tingkat Provinsi Jawa Timur. Ia diundang ke
Surabaya untuk menerima penghargaan dari Gubernur.
"Ini luar biasa, Jok," kata Rina ketika menerima
undangan itu. "Kamu diakui sampai provinsi."
"Alhamdulillah, Rin. Tapi ini berkat kita semua. Aku
hanya perwakilan."
Di Surabaya, Joko bertemu dengan kepala desa dari berbagai
daerah. Ia berbagi pengalaman, belajar dari mereka, dan menjalin jaringan. Ia
juga mendapat wawasan baru tentang pembangunan desa yang lebih modern.
Saat menerima penghargaan, ia merasa kecil di tengah para
pejabat dan tokoh. Tapi ia tetap rendah hati.
"Terima kasih, Pak Gubernur. Penghargaan ini
memotivasi saya untuk terus berkarya. Desa Suka Maju akan terus maju, bersama
warganya."
Pulang dari Surabaya, Joko membawa oleh-oleh untuk warga.
Ia membagikannya di balai desa, bercerita tentang pengalamannya.
"Kita harus terus belajar, warga sekalian. Banyak desa
yang lebih maju dari kita. Tapi kita bisa mengejar. Yang penting kerja keras,
kerja sama, dan jangan lupa berdoa."
Warga bersemangat. Mereka bangga pada kepala desanya.
Dari pengalaman di Surabaya, Joko mendapat ide untuk
memperkenalkan teknologi tepat guna di desanya. Ia membawa pulang contoh
alat-alat sederhana: alat perontok padi manual, alat pengering gabah, dan alat
pengolahan hasil pertanian.
"Warga sekalian, ini alat-alat yang bisa memudahkan
pekerjaan kita. Perontok padi ini lebih cepat dari gebot manual. Pengering
gabah ini bisa digunakan saat musim hujan, gabah tidak busuk."
Warga antusias. Mereka mencoba alat-alat itu, dan hasilnya
memuaskan. Waktu panen lebih cepat, hasil lebih bersih, harga lebih baik.
Joko juga memperkenalkan biogas dari kotoran ternak. Dengan
bantuan dinas energi, ia membangun instalasi biogas percontohan di rumah salah
satu peternak. Hasilnya, gas metan dari kotoran sapi bisa digunakan untuk
memasak. Warga tidak perlu lagi membeli gas elpiji mahal.
"Ini hebat, Pak Kades. Dulu kotoran ternak bau,
mencemari. Sekarang jadi gas, bisa masak. Pupuknya juga bisa untuk sawah,"
kata peternak itu, Pak Dulah.
Joko sadar, kepemimpinannya tidak akan selamanya. Ia harus
menyiapkan generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan membangun desa.
Ia aktif membina pemuda-pemuda desa, memberi mereka
pelatihan kepemimpinan, dan melibatkan mereka dalam organisasi desa. Ia juga
mendorong mereka untuk sekolah tinggi, agar punya wawasan luas.
"Kalian adalah masa depan desa ini. Jangan hanya jadi
penonton. Ambil peran. Kelak, kalian yang akan memimpin. Siapkan diri dari
sekarang."
Beberapa pemuda mulai menunjukkan bakat. Ada yang aktif di
karang taruna, ada yang terjun ke politik, ada yang fokus di pertanian. Joko
membimbing mereka dengan sabar.
Salah satunya adalah Budi, sahabatnya sejak kecil. Budi
yang dulu hanya lulusan SD, kini aktif di koperasi dan kelompok tani. Ia
belajar dari Joko, perlahan-lahan menjadi pemimpin yang disegani.
"Jok, aku mau seperti kamu. Memimpin, mengabdi,"
kata Budi suatu hari.
"Kamu bisa, Bud. Asal mau belajar, mau kerja keras, dan
mau rendah hati. Aku bantu."
Menjelang akhir periode kedua, ujian berat datang. Joko
difitnah oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan kemajuannya. Dituduh korupsi
dana desa, dituduh memihak pada kelompok tertentu, dituduh melanggar adat.
Fitnah itu menyebar cepat. Beberapa warga mulai ragu. Joko
sedih, tapi tidak marah. Ia yakin, kebenaran akan terungkap.
"Saya tidak akan membela diri dengan emosi. Biarkan
waktu yang berbicara. Saya punya bukti semua laporan keuangan transparan.
Silakan diperiksa," katanya dalam pertemuan terbuka.
Pihak berwenang datang memeriksa. Selama dua minggu, mereka
mengaudit keuangan desa, memeriksa dokumen, dan mewawancarai saksi. Hasilnya,
Joko bersih. Tidak ada korupsi. Semua laporan sesuai.
Warga yang sempat ragu, malu. Mereka minta maaf pada Joko.
"Pak Kades, maafkan kami. Kami termakan fitnah."
"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kita tahu
kebenaran. Mari kita lanjutkan pembangunan. Jangan terpecah belah."
Fitnah itu justru memperkuat posisi Joko. Warga semakin
percaya padanya. Mereka melihat keteguhan dan kejujurannya.
Selama sepuluh tahun memimpin (1980-1985 dan 1985-1990),
desa Suka Maju berubah total. Dari desa terpencil, tertinggal, dan miskin,
menjadi desa maju dengan infrastruktur baik, ekonomi tumbuh, dan masyarakat
sejahtera.
Dalam acara pisah sambut di balai desa, warga menangis.
Mereka kehilangan pemimpin yang baik. Tapi mereka juga bersyukur, karena Joko
akan tetap tinggal di desa, menjadi warga biasa yang siap membantu.
"Pak Kades, terima kasih untuk semuanya. Desa ini maju
karena Bapak," kata seorang warga mewakili yang lain.
Joko menangis. "Bukan karena saya. Tapi karena kita
semua. Gotong royong, kerja sama, kebersamaan. Itu kuncinya. Saya hanya
fasilitator."
Ia memandangi wajah-wajah warga yang hadir. Mereka semua
adalah keluarga baginya. Sepuluh tahun bersama, suka duka, tawa tangis,
semuanya terlewati.
"Saya akan tetap di sini, menjadi warga biasa. Kalau
ada yang butuh bantuan, saya siap. Mari kita terus jaga desa ini. Jangan sampai
kemajuan membuat kita lupa diri. Tetaplah rendah hati, tetaplah bersatu."
Warga bertepuk tangan. Mereka berjanji akan menjaga desa,
melanjutkan perjuangan Joko.
Setelah resmi tidak menjabat, Joko duduk di tepi sungai,
tempat ia sering duduk saat kecil dulu. Sungai itu masih sama, mengalir tenang.
Tapi desanya sudah berubah total.
Jalan aspal mulus ke seluruh pelosok. Jembatan beton kokoh.
Listrik terang benderang di setiap rumah. Air bersih mengalir dari kran.
Sekolah-sekolah bagus. Koperasi maju. Kelompok tani solid. Perempuan berdaya.
Pemuda kreatif. Bahkan wisatawan mulai berdatangan.
Semua itu berkat kerja keras bersama. Joko hanya pemandu.
Tapi ia bangga.
"Ya Allah, terima kasih untuk semua nikmat-Mu. Aku
tidak pernah menyangka akan sampai sejauh ini. Dulu aku hanya anak petani
miskin, bermimpi di tepi sungai ini. Kini, desaku maju, warganya
sejahtera."
Ia memandang ke desa. Lampu-lampu mulai menyala satu per
satu. Suara azan Maghrib berkumandang dari masjid. Burung-burung beterbangan
pulang ke sarang.
Rina datang menjemput dengan Prasetyo yang kini berusia
enam tahun.
"Jok, pulang. Sudah sore."
Joko tersenyum. Ia menggendong Prasetyo.
"Yah, lihat desa kita. Dulu ayah hanya bermimpi.
Sekarang mimpi itu nyata. Semua karena Tuhan, karena warga, karena kita
semua."
Prasetyo hanya tersenyum, belum mengerti. Tapi suatu hari
nanti, ia akan mengerti. Dan ia akan melanjutkan perjuangan ayahnya.
Malam itu, keluarga kecil itu makan bersama dengan bahagia.
Di luar, lampu-lampu desa berkelap-kelip. Desa Suka Maju, yang dulu tertidur,
kini terjaga dan melompat maju. Semua berkat mimpi seorang anak petani yang
tidak pernah padam.
BAB IX
JEJAK YANG TIDAK PERNAH HILANG
Sepuluh tahun berlalu. Joko menyelesaikan dua periode
kepemimpinannya. Sesuai aturan saat itu, ia bisa maju lagi untuk periode
ketiga, tapi ia memilih untuk tidak mencalonkan. Ia ingin memberi kesempatan
pada generasi baru dan lebih banyak waktu untuk keluarga.
Hari terakhir menjabat, Joko mengadakan pisah sambut dengan
kepala desa baru, Pak Harto, mantan perangkat desa yang terpilih, lahir tahun
1940. Suasana haru. Banyak warga yang menangis.
"Pak Joko, terima kasih atas pengabdiannya. Desa kita
maju berkat Bapak," kata perwakilan warga, Pak Karto, dengan suara
bergetar.
Joko tersenyum. "Saya hanya menjalankan amanah. Semua
ini berkat kerja sama kita semua. Saya mohon maaf kalau ada salah selama
memimpin."
Ia menyerahkan jabatan kepada kepala desa baru. Joko
berpesan.
"Jaga desa ini baik-baik, Pak. Lanjutkan yang sudah
baik, perbaiki yang kurang. Jangan lupa, pemimpin itu pelayan."
Pak Harto mengangguk. "Terima kasih, Pak Joko. Saya
akan belajar dari Bapak. Saya harap Bapak tetap mau memberi nasihat jika saya butuh”
"Tentu, Pak. Saya akan selalu siap membantu."
Setelah tidak menjabat, Joko kembali ke kehidupannya
sebagai warga biasa. Ia tinggal di rumah sederhana, yang sudah diperbaiki
sedikit, tapi tetap sederhana, bercocok tanam di sawah, kadang membantu Rina
mengajar di sekolah.
Awalnya terasa aneh. Dari biasa disibukkan rapat dan
kunjungan, kini ia lebih banyak di rumah. Tapi ia menikmatinya.
"Rin, ternyata enak jadi warga biasa," katanya
suatu hari sambil minum kopi di beranda.
"Syukurlah, Jok. Kamu bisa istirahat. Selama sepuluh
tahun kamu bekerja tanpa kenal lelah. Sekarang saatnya menikmati hasil."
"Tapi aku tetap ingin mengabdi. Meski bukan kepala
desa."
"Kamu bisa, Jok. Banyak cara mengabdi tanpa harus jadi
kepala desa."
Joko menemukan bentuk pengabdian baru. Ia aktif di kelompok
tani, membantu petani dengan ilmu pertanian modern yang ia pelajari dari buku
dan pelatihan. Ia juga menjadi pengurus masjid, mengurus kegiatan keagamaan.
Suatu hari, ia mengadakan pelatihan pertanian organik di
sawah percontohan. Petani desa antusias mengikutinya.
"Pak Joko, ini pupuk organiknya bagaimana cara
buat?" tanya seorang petani muda.
"Mudah, Pak. Pakai kotoran ternak, dicampur dedaunan
hijau, ditambah sedikit kapur. Difermentasi selama dua minggu. Nanti hasil
panen lebih bagus, lebih sehat, dan lebih mahal harganya."
Petani itu mencoba dan berhasil. Hasil panennya meningkat.
Petani lain ikut-ikutan. Lambat laun, desa Suka Maju mulai dikenal sebagai desa
pertanian organik.
Kepala desa baru, Pak Harto, sering datang ke rumah Joko.
Ia minta saran tentang berbagai hal.
"Pak Joko, ini ada masalah dengan warga tentang
sertifikat tanah. Bagaimana cara menyelesaikannya?"
Joko mendengarkan, lalu memberi saran. "Dekati warga
itu, ajak bicara baik-baik. Jangan pakai kekerasan. Cari solusi yang
menguntungkan semua. Kalau perlu, bantu urus ke BPN."
Pak Harto mengikuti saran itu. Masalah selesai. Ia semakin
percaya pada Joko.
"Pak Joko, terima kasih. Bapak memang bijaksana."
"Sama-sama, Pak. Aku hanya berbagi pengalaman. Yang
penting selalu ingat, kita ini pelayan masyarakat."
Seiring waktu, banyak kepala desa dari daerah lain datang
berkonsultasi. Joko menjadi semacam "guru" tidak resmi bagi para
pemimpin desa di sekitarnya. Ia berbagi pengalaman tentang membangun desa,
mengelola keuangan, dan memimpin dengan hati.
Bertahun-tahun berlalu. Joko semakin dihormati warga. Ia
bukan lagi kepala desa, tapi tetap menjadi rujukan. Setiap ada masalah, orang
datang padanya.
"Pak Joko, tolong doakan anak saya mau nikah."
"Pak Joko, ini ada sengketa tanah. Bisa bantu jadi
penengah?"
"Pak Joko, anak saya mau kuliah, butuh surat
rekomendasi."
Joko melayani semua dengan sabar. Ia tidak pernah meminta
imbalan. Ia ikhlas membantu.
"Pak Joko itu orang baik. Tidak sombong meski pernah
jadi kepala desa," puji warga.
Joko tersenyum. "Saya hanya manusia biasa. Yang
penting kita saling tolong."
Setelah tidak menjabat, Joko menemukan ritme hidup baru.
Setiap pagi, ia bangun pukul empat, shalat subuh di masjid, lalu ke sawah. Ia
masih punya sepetak sawah warisan orang tua yang dikelola sendiri.
"Mau saya bantu, Pak?" tawar seorang tetangga
yang melihat Joko mencangkul.
"Tidak usah, Mas. Saya masih kuat. Ini olahraga
sekalian," jawab Joko sambil tersenyum.
Mencangkul, menanam, memupuk, memanen, semua ia lakukan
dengan senang hati. Tangannya yang dulu terbiasa menandatangani surat dan
dokumen, kini kembali akrab dengan lumpur sawah.
"Jok, kok kamu kelihatan bahagia sekali?" tanya
Budi suatu hari ketika bertemu di sawah.
"Iya, Bud. Aku menemukan kebahagiaan baru. Dulu sibuk
memikirkan desa, sekarang sibuk memikirkan tanaman. Sama-sama butuh perhatian,
sama-sama butuh kasih sayang."
Budi tertawa. "Filosofimu itu lho, nggak
habis-habis."
"Serius, Bud. Tanaman itu seperti warga. Kalau kita
rawat, mereka tumbuh subur. Kalau kita abaikan, mereka layu. Sama, kan?"
Budi mengangguk. Ia salut pada sahabatnya yang selalu bisa
memetik hikmah dari apapun.
Setelah dari sawah, Joko biasanya pulang, mandi, lalu
sarapan bersama keluarga. Rina sudah menyiapkan makanan sederhana, nasi, sayur
asem, tempe goreng, dan sambal. Makanan yang dulu juga mereka nikmati saat
masih susah.
"Enak sekali masakan Ibu," puji Joko.
"Iya, Bu. Enak," timpal Prasetyo yang kini duduk
di kelas satu SD.
Rina tersenyum. "Makan yang banyak. Biar kuat."
Setelah sarapan, Joko biasanya ke masjid untuk mengajar
ngaji anak-anak. Ia menjadi guru ngaji sukarela. Anak-anak senang karena Pak
Joko sabar dan lucu.
"Pak Joko, ini huruf apa?" tanya seorang anak,
Siti, sambil menunjuk Al-Qur'an.
"Itu huruf ba, Nak. Bunyinya 'b'. Coba ulangi."
"Ba..."
"Pinter. Sekarang gabung dengan alif. Alif ba... jadi
apa?"
"Ba... alif... ba... alif... baa?"
"Hampir. Coba lagi."
Anak itu terus belajar dengan semangat. Joko sabar
membimbing. Ia ingat dulu, Ibu Sumarni juga sabar membimbingnya.
Joko memulai usaha kecil-kecilan. Ia membuka toko pupuk dan
obat pertanian di dekat pasar. Modal dari tabungan pensiun dan pinjaman lunak
dari koperasi.
Toko itu sederhana, hanya bilik bambu dengan rak-rak kayu.
Tapi Joko tahu persis kebutuhan petani. Ia menjual pupuk bersubsidi, pestisida,
bibit unggul, dan alat-alat pertanian sederhana.
"Pak Joko, pupuk urea ada?" tanya seorang petani.
"Ada, Pak. Mau berapa? Ini baru datang, kualitas
bagus. Langsung dari distributor."
Joko tidak hanya menjual, tapi juga memberi konsultasi
gratis. Petani sering bertanya tentang cara pemupukan yang tepat, cara
mengatasi hama, atau cara memilih bibit unggul. Joko menjawab dengan sabar,
berdasarkan pengalaman dan ilmu yang ia kumpulkan.
"Pak Joko ini beda. Nggak cuma jualan, tapi juga
ngajari. Suka nolong," puji petani.
Usaha Joko berkembang. Dari toko kecil, ia buka cabang di
dusun tetangga. Ia rekrut pemuda-pemuda desa sebagai karyawan. Mereka dilatih,
diberi tanggung jawab.
"Pak, saya mau buka toko sendiri," kata salah
satu karyawan, Suto, setahun kemudian.
"Silakan, Suto. Aku malah senang. Nanti aku suplai
barang dari tokoku. Kita kerja sama."
Slamet terharu. Ia tidak menyangka Joko akan mendukungnya.
Joko membangun rumah baru. Bukan rumah mewah, tapi rumah
sederhana yang nyaman. Ia tidak ingin berlebihan.
Rumah itu dibangun di atas tanah warisan orang tuanya, tanah
yang dulu hanya seratus meter persegi. Kini, setelah dibeli sedikit demi sedikit,
menjadi tiga ratus meter.
Desain rumahnya sederhana: tiga kamar tidur, ruang tamu,
ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi. Halamannya luas, ditanami pohon
buah-buahan, mangga, jambu, rambutan. Ada juga kolam ikan kecil di belakang.
"Jok, rumahnya bagus," puji Rina saat pertama
kali melihat hasil jadi.
"Sederhana saja, Rin. Yang penting nyaman. Untuk kita
bertiga."
Prasetyo, yang kini berusia 11 tahun, senang sekali. Ia
punya kamar sendiri. Di kamarnya, ada meja belajar, rak buku, dan tempat tidur
yang nyaman. Ia bisa belajar dengan tenang.
"Yah, kamarku bagus. Makasih, Yah."
"Sama-sama, Nak. Rajin-rajin belajar ya."
Prasetyo lulus SD dan melanjutkan ke SMP di kecamatan. Sama
seperti dulu ayahnya, ia harus menyeberang sungai setiap hari. Tapi kini sudah
ada jembatan. Tidak perlu naik rakit lagi.
"Yah, dulu Ayah sekolah juga di sini?" tanya
Prasetyo saat pertama kali diajak Joko ke sekolahnya.
"Iya, Nak. Dulu sekolah di sini. Jalannya masih tanah,
naik rakit. Sekarang sudah aspal dan ada jembatan. Kalian beruntung."
Prasetyo mengangguk. Ia bangga pada ayahnya yang telah
membangun jembatan itu.
Selama di SMP, Prasetyo aktif di organisasi. Ia ikut
Pramuka dan OSIS. Nilainya bagus, masuk peringkat sepuluh besar.
"Yah, aku ikut OSIS," lapor Prasetyo suatu hari.
"Bagus, Nak. Belajar organisasi sejak dini. Nanti
kalau sudah besar, kamu bisa jadi pemimpin."
"Aku ingin seperti Ayah. Menjadi pemimpin yang
baik."
Joko tersenyum. "Kamu bisa, Nak. Asal rajin belajar, rendah
hati, dan suka menolong."
Joko mulai menulis. Ia menuangkan pengalamannya selama
memimpin desa ke dalam buku. Buku itu diberi judul "Membangun Desa dari
Bawah: Pengalaman Sepuluh Tahun Memimpin Suka Maju".
Menulis tidak mudah. Joko harus belajar lagi. Ia kursus
menulis di kabupaten, belajar dari penulis-penulis lokal, dan rajin membaca
buku-buku referensi.
"Aku ingin berbagi pengalaman. Mungkin ada yang bisa
mengambil pelajaran dari ceritaku," katanya pada Rina.
"Bagus, Jok. Aku dukung. Nanti aku bantu edit."
Setahun kemudian, buku itu selesai. Joko mencetaknya secara
mandiri, seribu eksemplar. Ia bagikan ke perpustakaan desa, sekolah-sekolah,
dan teman-teman kepala desa.
Responnya positif. Banyak yang terinspirasi. Beberapa
kepala desa dari daerah lain datang berkunjung, ingin belajar langsung dari
Joko.
"Pak Joko, buku Bapak luar biasa. Kami jadi
termotivasi membangun desa," kata seorang kepala desa tamu.
"Terima kasih. Saya hanya berbagi. Semoga
bermanfaat."
Joko diundang sebagai dosen tamu di sebuah universitas di
Malang. Ia diminta berbagi pengalaman tentang pembangunan desa dan kepemimpinan
lokal.
Awalnya Joko ragu. "Saya hanya lulusan SMA. Masa
ngajar di universitas?"
"Tidak masalah, Pak. Bapak punya pengalaman lapangan.
Itu lebih berharga dari teori," kata dosen yang mengundang.
Joko pun tampil di hadapan mahasiswa. Ia bercerita tentang
perjuangannya, tentang suka duka memimpin desa, tentang pentingnya kedekatan
dengan rakyat. Mahasiswa antusias, bertanya banyak hal.
"Pak, bagaimana cara mengatasi korupsi di desa?"
tanya seorang mahasiswa.
"Transparansi, Mas. Buka semua laporan keuangan ke
publik. Libatkan masyarakat dalam pengawasan. Kalau perlu, bentuk tim
independen. Korupsi tidak akan terjadi kalau semua transparan."
Mahasiswa itu mengangguk. Mereka kagum pada pemikiran Joko
yang sederhana tapi tajam.
Sejak itu, Joko sering diundang sebagai pembicara di
seminar-seminar. Ia berbagi pengalaman tentang pembangunan desa, pemberdayaan
masyarakat, dan pertanian organik.
Joko mendirikan yayasan pendidikan. Namanya Yayasan
Pendidikan "Suka Maju". Tujuannya membantu anak-anak desa yang kurang
mampu agar bisa sekolah.
Yayasan ini mengelola beasiswa, bantuan buku, dan kegiatan
belajar tambahan. Joko menjadi ketua, Rina sebagai sekretaris, dan beberapa
relawan sebagai pengajar.
"Aku ingin tidak ada anak putus sekolah karena masalah
biaya. Seperti dulu, aku hampir putus sekolah," kata Joko saat peresmian
yayasan.
Warga mendukung. Banyak yang menyumbang, ada yang uang, ada
yang buku, ada yang tenaga. Yayasan berkembang pesat.
Setiap tahun, minimal lima puluh anak mendapat beasiswa.
Mereka dibebaskan dari biaya SPP, diberi buku gratis, dan mendapat bimbingan
belajar.
"Saya bisa sekolah berkat bantuan Pak Joko," kata
seorang anak, Rina namanya, sama dengan istri Joko, dengan mata berkaca-kaca.
Joko mengusap kepala anak itu. "Belajar yang rajin,
Nak. Balas budi dengan prestasi. Nanti kalau sukses, bantu orang lain."
Anak itu mengangguk. Ia berjanji akan belajar
sungguh-sungguh.
Joko memprakarsai pembangunan masjid baru. Masjid desa yang
lama sudah tidak mampu menampung jamaah yang semakin banyak. Joko menggalang
dana dari warga dan donatur.
"Warga sekalian, mari kita bangun masjid yang lebih
besar. Yang nyaman, yang indah. Untuk beribadah, untuk mengaji, untuk kegiatan
keagamaan."
Warga antusias. Mereka menyumbang sesuai kemampuan. Ada
yang menyumbang uang, ada yang bahan bangunan, ada yang tenaga. Joko memimpin
langsung pembangunannya.
Setahun kemudian, masjid baru berdiri megah. Dua lantai,
dengan kubah besar dan menara tinggi. Halamannya luas, bisa untuk acara-acara besar.
Jamaah senang, beribadah lebih khusyuk.
Setelah masjid, Joko membangun pondok pesantren. Ia bekerja
sama dengan seorang kyai dari kota, Kyai Sholeh, yang ingin berdakwah di desa.
"Pak Kyai, mari bangun pondok di sini. Anak-anak butuh
pendidikan agama yang baik. Saya akan bantu fasilitasnya."
Kyai Sholeh setuju. Mereka membangun pondok sederhana di
tanah wakaf. Santri mulai berdatangan. Awalnya hanya puluhan, lalu ratusan.
Pondok pesantren berkembang menjadi pusat pendidikan agama di wilayah itu.
Joko senang. Ia tidak hanya membangun fisik, tapi juga
membangun moral dan spiritual warga.
Joko juga aktif mengelola wakaf dan zakat. Ia menjadi amil
zakat yang dipercaya warga. Setiap Tahun ia mengumpulkan zakat fitrah dan zakat
mal setiap bulan, lalu menyalurkannya kepada yang berhak.
"Pak Joko, ini zakat saya. Tolong disalurkan,"
kata seorang warga sambil menyerahkan uang.
"Terima kasih, Pak. Akan saya salurkan ke yang berhak.
Ada bukti penerimaannya nanti."
Joko membuat sistem yang rapi. Semua zakat tercatat, semua
penyaluran terdokumentasi. Laporan rutin ditempel di masjid, agar warga bisa
melihat.
Hasilnya, kepercayaan warga meningkat. Zakat yang terkumpul
semakin banyak. Bisa membantu lebih banyak orang miskin, anak yatim, dan fakir
miskin.
Joko juga mengelola wakaf produktif. Tanah wakaf ditanami
pohon buah atau disewakan untuk sawah. Hasilnya untuk operasional masjid dan
pondok.
"Ini cara mengelola wakaf yang baik. Tidak hanya diam,
tapi dikembangkan. Hasilnya untuk umat," jelas Joko pada pengurus masjid.
Cobaan datang. Rina, istri tercinta, jatuh sakit. Awalnya
hanya demam biasa, lalu semakin parah. Dokter mendiagnosis tipes.
Joko hampir tidak percaya. Rina selama ini sehat, kuat,
jarang sakit. Tapi kali ini, ia terbaring lemah di rumah sakit.
"Rin, kamu harus kuat. Jangan menyerah," bisik
Joko di samping istrinya.
Rina tersenyum lemah. "Aku akan berjuang, Jok. Demi
kamu, demi Prasetyo."
Selama dua minggu, Joko bolak-balik ke rumah sakit. Ia
tinggalkan semua kegiatannya, fokus merawat Rina. Prasetyo yang kini berusia 19
tahun dan kuliah di Malang, pulang dan ikut menjenguk setiap akhir pekan.
"Bu, cepat sembuh ya. Aku kangen masakan Ibu,"
kata Prasetyo sambil menangis.
Rina mengusap kepala anaknya. "Ibu akan sembuh, Nak.
Doakan Ibu."
Doa warga terus mengalir. Mereka mengadakan yasinan
bersama, memohon kesembuhan untuk Bu Rina. Joko terharu.
Akhirnya, setelah perjuangan berat, Rina sembuh. Ia pulang
ke rumah dengan kondisi lemah tapi bersemangat.
"Rin, syukurlah kamu sembuh. Aku hampir gila kalau
kehilangan kamu," kata Joko sambil memeluk istrinya.
"Aku juga, Jok. Rasanya mau mati, tapi ingat kamu dan
Prasetyo, jadi semangat."
Sejak itu, Joko lebih perhatian pada kesehatan keluarga. Ia
mengatur pola makan, rajin berolahraga, dan rutin cek kesehatan.
Prasetyo lulus kuliah dari Universitas Brawijaya Malang,
jurusan pertanian. Ia memutuskan pulang ke desa, ingin mengabdi seperti
ayahnya.
"Yah, aku lulus. Nilai cum laude," lapor Prasetyo
bangga.
Joko memeluk anaknya. "Alhamdulillah, Nak. Ayah
bangga."
"Ayah, aku mau pulang ke desa. Mau bantu ayah
membangun desa."
Joko terharu. Ia ingat dulu, ia juga memilih pulang setelah
lulus SMA. Kini, anaknya melakukan hal yang sama.
"Bagus, Nak. Tapi ingat, jangan hanya ikut jejak ayah.
Temukan jalannya sendiri. Yang penting, niatmu baik dan kamu ikhlas."
Prasetyo mengangguk. "Aku akan belajar dari Ayah, tapi
juga akan mencari caraku sendiri."
Prasetyo mulai aktif di desa. Ia bergabung dengan kelompok
tani, membantu petani dengan ilmu pertanian modern yang ia pelajari di kampus.
Ia juga aktif di karang taruna, membina pemuda-pemuda desa.
Prasetyo menikah dengan seorang gadis desa, Wulan namanya,
guru SD di desa tetangga. Mereka bertemu ketika Prasetyo sering mengadakan
pelatihan pertanian di desa-desa sekitar.
Pernikahan digelar sederhana di balai desa, dihadiri ribuan
warga, sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan Joko.
"Wulan, aku bukan orang kaya. Tapi aku akan berusaha
jadi suami yang baik, seperti ayahku pada ibuku."
Wulan tersenyum. "Aku tahu, Mas. Aku tidak butuh
harta. Aku butuh suami yang sholeh dan bertanggung jawab. Seperti Bapak Joko
pada Ibu Rina."
Mereka memulai hidup baru di rumah sederhana peninggalan
Joko. Rumah yang dibangun tahun 1996 itu tidak besar, tapi penuh kenangan.
Mereka merawatnya dengan baik.
Kabar gembira datang. Wulan melahirkan bayi perempuan. Joko
resmi menjadi kakek di usianya yang ke-58.
Bayi itu diberi nama "Dewi" oleh orang tuanya.
Joko menangis haru saat menggendong cucu pertamanya.
"Ini cucuku," bisiknya. "Nak, kamu harus
jadi orang baik. Jadilah seperti ayahmu, seperti kakekmu."
Dewi kecil tersenyum dalam tidurnya, seolah setuju.
Sejak saat itu, Joko sering menghabiskan waktu dengan
cucunya. Ia menggendong, menimang, menyanyikan lagu-lagu jawa. Ia bercerita
meskipun cucunya belum mengerti.
"Nak, kakek akan cerita tentang desa ini. Tentang
perjuangan kakek. Suatu hari nanti, kalau kamu sudah besar, kamu akan
mengerti."
Meski sudah tidak menjabat, Joko tetap aktif di organisasi
kemasyarakatan. Ia menjadi ketua RT, anggota LPMD, dan pengurus masjid. Ia juga
aktif di kelompok tani dan koperasi.
"Pak Joko, kok masih aktif terus? Istirahat
dulu," goda tetangga.
"Saya tidak bisa diam, Mas. Kalau diam, badan sakit.
Lebih baik bergerak, bantu-bantu."
Di setiap organisasi, Joko memberi masukan, membagi
pengalaman, dan memotivasi anggota. Ia tidak pernah menggurui, selalu
merangkul.
Suatu hari, ia diundang dalam musyawarah desa untuk
membahas rencana pembangunan. Ia memberi saran tentang prioritas pembangunan.
"Warga sekalian, menurut saya, prioritas sekarang
adalah perbaikan irigasi. Air itu sumber kehidupan petani. Kalau irigasi bagus,
panen bagus, ekonomi desa maju."
Saran Joko diterima. Irigasi diperbaiki. Petani senang.
Joko mulai mendapat kritik dari generasi muda. Mereka
menganggap cara Joko terlalu tradisional, kurang inovatif, kurang mengikuti
perkembangan zaman.
"Pak Joko, zaman sudah berubah. Cara dulu tidak bisa
diterapkan sekarang. Kita harus lebih modern, lebih berani," kata seorang
pemuda, Andi, lahir tahun 1990, dalam forum diskusi.
Joko tidak marah. Ia justru senang. "Kamu benar, Andi.
Zaman berubah. Aku juga harus belajar. Apa usulmu?"
Andi terkejut. Ia tidak menyangka Joko akan menerima
kritiknya dengan lapang dada.
"Kita harus manfaatkan teknologi, Pak. Internet, media
sosial, e-commerce. Petani bisa jual hasil panen online. Pemuda bisa buka usaha
online."
Joko mengangguk. "Ide bagus. Tapi ingat, teknologi
hanya alat. Yang utama tetap manusianya, sumber dayanya, niatnya. Mari kita
kolaborasi. Ajar aku teknologi, aku ajar kamu kebijaksanaan."
Andi tersenyum. Sejak itu, ia sering diskusi dengan Joko.
Mereka berkolaborasi, memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern.
Joko bersama pemuda desa merintis desa wisata. Mereka memanfaatkan
keindahan alam desa, sawah terasering, sungai jernih, perbukitan hijau. Juga
potensi budaya, kesenian tradisional, kuliner khas, kerajinan tangan.
"Warga sekalian, mari kita kembangkan desa wisata. Ini
bisa jadi sumber pendapatan baru. Tapi ingat, kita harus jaga lingkungan.
Jangan sampai pariwisata merusak alam."
Warga antusias. Mereka membersihkan lingkungan, menata
desa, dan melatih diri sebagai pemandu wisata. Homestay dibuka di rumah-rumah
warga. Paket wisata ditawarkan: belajar bertani, membuat kerajinan, menari
tradisional, dan menikmati kuliner khas.
Wisatawan mulai berdatangan. Mereka dari kota-kota besar,
bahkan ada yang dari luar negeri. Desa Suka Maju mulai dikenal sebagai
destinasi wisata pedesaan.
"Pak Joko, ide Bapak luar biasa. Sekarang desa kita
ramai pengunjung," puji Andi.
"Ini berkat kerja sama kita semua. Tapi jangan cepat
puas. Tingkatkan terus kualitas. Jaga keramahan. Jaga kebersihan. Jaga
kelestarian."
Joko menulis buku kedua. Kali ini tentang kearifan lokal
dan pembangunan berkelanjutan. Buku itu diberi judul "Dari Desa untuk
Indonesia: Merajut Kearifan Lokal dalam Pembangunan".
Buku ini lebih tebal dari buku pertama. Isinya tentang
pengalaman Joko selama puluhan tahun, juga pemikirannya tentang masa depan
desa. Ia menuangkan gagasan tentang pertanian organik, energi terbarukan, desa
wisata, dan pemberdayaan masyarakat.
Buku ini mendapat sambutan luas. Banyak akademisi dan
praktisi pembangunan yang tertarik. Joko diundang ke berbagai seminar dan
diskusi.
"Pak Joko, pemikiran Bapak sangat relevan. Ini yang
dibutuhkan Indonesia: pembangunan dari bawah, berbasis kearifan lokal,"
kata seorang profesor dari UGM.
Joko tersenyum. "Terima kasih, Prof. Saya hanya petani
yang suka menulis."
Prasetyo, yang sudah aktif di desa selama sepuluh tahun,
memutuskan untuk mendaftar menjadi aparatur desa. Ia ingin lebih terlibat dalam
pemerintahan desa.
"Ayah, aku mau daftar jadi perangkat desa," kata
Prasetyo suatu hari.
Joko tersenyum. "Bagus, Nak. Tapi ingat, jadi
perangkat desa itu berat. Banyak godaan. Kamu harus kuat iman."
"Aku ingat, Yah. Aku akan belajar dari Ayah."
Prasetyo mendaftar dan diterima sebagai staf perencanaan.
Ia bekerja dengan tekun, memanfaatkan ilmunya untuk menyusun perencanaan
pembangunan yang lebih baik.
Warga senang. Mereka melihat Prasetyo mewarisi sifat
ayahnya: rendah hati, rajin, dan peduli.
Joko jatuh sakit. Tekanan darah tinggi dan komplikasi
ringan. Ia harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu.
Rina, Prasetyo, Wulan, dan Dewi bergantian menjenguk. Warga
desa juga banyak yang datang, mendoakan kesembuhannya.
"Pak Joko, cepat sembuh. Warga butuh Bapak," kata
seorang warga sambil menangis.
Joko tersenyum lemah. "Doakan saya. Saya akan berusaha
sembuh."
Selama dirawat, Joko banyak merenung. Ia mengingat
perjalanan hidupnya, dari anak petani miskin hingga menjadi pemimpin yang
dihormati, dari kepala desa hingga tokoh masyarakat. Ia bersyukur pada Tuhan.
"Ya Allah, jika ini saatnya, aku siap. Tapi jika masih
ada waktu, izinkan aku terus mengabdi. Untuk keluarga, untuk desa, untuk
umat."
Doanya terkabul. Joko sembuh dan pulang ke rumah. Ia harus
mengurangi aktivitas, menjaga pola makan, dan rutin cek kesehatan. Tapi
semangatnya tidak surut.
Setelah sembuh, Joko lebih banyak menghabiskan waktu dengan
Prasetyo. Ia mengajarkan anaknya tentang kepemimpinan, tentang pemerintahan
desa, tentang bagaimana melayani warga.
"Pras, jadi pemimpin itu bukan soal jabatan. Tapi soal
amanah. Kamu harus siap mengemban amanah itu. Jangan pernah mengkhianati
kepercayaan warga."
"Iya, Yah. Aku ingat."
"Kedua, jangan pernah korupsi. Harta itu fana. Yang
abadi adalah nama baik. Lebih baik hidup sederhana tapi dihormati, daripada
kaya raya tapi dicaci."
"Ingat, Yah."
"Ketiga, dekatlah dengan warga. Jangan hanya duduk di
kantor. Turun ke lapangan. Dengar keluhan mereka. Rasakan penderitaan mereka.
Itu akan membuatmu bijaksana."
"Keempat, selalu belajar. Zaman berubah. Teknologi
maju. Kalau kamu tidak belajar, kamu akan tertinggal."
"Kelima, jangan sombong. Kekuasaan itu sementara.
Suatu hari kamu akan turun, jadi rakyat biasa lagi."
Prasetyo mendengarkan dengan saksama. Ia merekam setiap
nasihat ayahnya dalam hati.
Joko kembali ke tepi sungai, tempat ia biasa merenung sejak
kecil. Sungai itu masih mengalir tenang. Di atasnya, jembatan beton kokoh
membentang. Jembatan yang ia bangun tahun 1973, kini sudah 44 tahun berdiri.
Di seberang, desa Suka Maju kini modern. Jalan beraspal
mulus. Rumah-rumah permanen. Listrik terang benderang. Tower telekomunikasi
menjulang. Masjid megah. Pondok pesantren ramai. Wisatawan berlalu lalang.
Joko tersenyum. Ia ingat perjalanan panjangnya. Dari bocah
desa yang bermimpi, hingga menjadi pemimpin yang mewujudkan mimpi. Banyak air
mata, banyak tawa, banyak perjuangan. Tapi semua terbayar.
"Ya Allah, terima kasih untuk semua nikmat-Mu. Aku
hamba yang lemah, tapi Engkau beri kekuatan. Aku hamba yang bodoh, tapi Engkau
beri ilmu. Aku hamba yang miskin, tapi Engkau beri kekayaan hati. Terima
kasih."
Ia memandang ke desa. Lampu-lampu mulai menyala. Suara azan
Maghrib berkumandang dari masjid. Burung-burung beterbangan pulang ke sarang.
"Yah, di sini rupanya."
Prasetyo datang, duduk di sampingnya. "Ayah suka duduk
di sini."
"Iya, Nak. Ini tempatku bermimpi dulu. Dari sini, aku
melihat masa depan. Dan masa depan itu kini jadi nyata."
Mereka duduk bersama, menikmati senja. Prasetyo memandangi
ayahnya dengan bangga.
"Yah, aku ingin seperti Ayah. Mengabdi, membangun,
melayani."
"Kamu bisa, Nak. Tapi jadilah dirimu sendiri. Jangan
jadi bayanganku. Temukan jalannya sendiri. Yang penting, niatmu baik, caramu
benar, dan kamu ikhlas."
Prasetyo mengangguk. "Aku akan berusaha, Yah."
Sepanjang tahun-tahun setelah pensiun, Joko kehilangan
banyak orang tercinta.
Tahun 2005, Wahyono, ayah Joko, meninggal dunia di usia 85
tahun. Joko kehilangan sosok panutan, guru pertama dalam hidupnya.
Dua tahun kemudian, tahun 2007, Sri, ibu Joko, menyusul.
Joko merasa sangat kehilangan, tapi ia ikhlas. Mereka telah hidup cukup lama,
dan Joko bisa membahagiakan mereka di masa tua.
Tahun 2010, Ibu Sumarni, guru tercinta, juga berpulang.
Usianya 80 tahun. Joko berdiri di samping makamnya, menangis.
"Bu, terima kasih untuk semuanya. Tanpa Ibu, saya
tidak akan bisa baca buku. Tanpa Ibu, saya tidak akan jadi pemimpin.
Istirahatlah dengan tenang."
Tahun 2012, Pak Karim, mantan kades, meninggal di usia 97
tahun. Ia adalah mentor, sahabat, dan orang tua kedua bagi Joko.
Tahun 2015, Mbah Karto, petani tua yang menjadi gurunya
tentang pertanian, juga berpulang di usia 105 tahun.
Joko semakin sadar, usianya juga tidak muda lagi. Tapi ia
tetap semangat mengabdi, melanjutkan perjuangan orang-orang yang telah pergi.
Joko merasa usianya tidak lama lagi. Ia memanggil Prasetyo,
juga tokoh-tokoh desa, untuk memberi pesan terakhir.
"Anak-anakku, warga desa Suka Maju yang saya cintai.
Saya sudah tua, mungkin tidak lama lagi. Saya ingin berpesan, jaga desa ini
baik-baik. Teruskan pembangunan. Jangan korupsi. Jangan sombong. Dekat dengan
warga. Itu kuncinya."
Mereka menangis. Joko melanjutkan.
"Ingat, desa ini bukan milik saya, bukan milik
pemerintah, tapi milik kita semua. Gotong royong, kerja sama, kebersamaan, itu
yang membuat desa ini maju. Jangan sampai kemajuan membuat kita lupa diri.
Tetaplah rendah hati, tetaplah bersatu."
"Prasetyo, anakku. Kamu sekarang sudah dewasa. Kamu
yang akan meneruskan perjuangan ayah. Jaga desa ini. Jaga ibumu. Jaga
keluargamu. Jadilah pemimpin yang baik."
Prasetyo memeluk ayahnya. "Aku janji, Yah. Akan aku
jaga semua amanah ini."
Tanggal 15 Maret 2024. Pukul 04.30 pagi. Waktu subuh.
Joko Prasetyo menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang
di rumahnya, dikelilingi keluarga. Wajahnya damai, seperti sedang tidur.
Usianya 69 tahun 7 bulan (akan 70 tahun). Rina yang setia di sampingnya,
langsung tahu. Ia memeluk suaminya, menangis tersedu-sedu.
"Jok... Jok... jangan tinggalkan aku..."
Prasetyo yang terbangun, segera berlari masuk. Ia melihat
ayahnya sudah tiada. Ia jatuh tersungkur di samping ranjang.
"Yah... Yah... jangan pergi..."
Seluruh keluarga berkumpul. Tangis pecah. Suasana duka
menyelimuti rumah sederhana itu.
Kabar kepergian Joko menyebar cepat. Warga berdatangan,
berbondong-bondong. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir. Rumah Joko yang
sederhana itu penuh sesak dalam waktu singkat.
Jenazah dimandikan, dikafani, dan dishalatkan di masjid
desa. Ribuan warga mengikuti shalat jenazah. Mereka berbaris panjang, dari
masjid hingga ke pemakaman.
Pemakaman digelar sederhana, sesuai wasiat Joko. Ia
dimakamkan di pemakaman umum desa, di samping makam orang tuanya, Wahyono (1920-2005)
dan Sri (1925-2007), juga di dekat makam Ibu Sumarni (1930-2010) dan Pak Karman
(1915-2012).
Budi (70 tahun) berdiri di depan pusara, menangis.
"Jok, sahabatku... kau pergi dulu. Tapi janjiku akan kutepati. Aku akan
jaga desa ini."
"Selamat jalan, Pak Joko. Terima kasih untuk
semuanya," ucap warga bergantian di pusara.
Prasetyo, Rina, Wulan, Dewi, dan seluruh keluarga menangis
di samping makam. Mereka kehilangan sosok pemimpin, ayah, suami, kakek, dan
buyut yang luar biasa.
Tapi di tengah kesedihan, ada rasa syukur. Joko pergi
dengan tenang, di usia yang cukup, setelah mewariskan banyak hal. Ia pergi
meninggalkan jejak yang tidak akan pernah hilang.
Dua tahun setelah Joko pergi, Rina menyusul. Ia meninggal
dengan tenang di rumahnya, dikelilingi anak dan cucu. Seperti Joko, ia pergi
setelah mengabdi seumur hidupnya sebagai guru SD (1977-2010) dan pendamping
suami.
Rina dimakamkan di samping Joko. Kini, mereka berdua
bersanding dalam damai, di bawah naungan pohon randu yang rindang.
Prasetyo menangis di samping makam kedua orang tuanya.
"Yah, Bu, kalian sudah bersama sekarang. Tenanglah di
sisi Tuhan. Aku akan teruskan perjuangan kalian."
Warga desa kembali berduka. Mereka kehilangan ibu desa yang
baik hati, yang setia mendampingi Joko dalam suka dan duka selama 37 tahun
pernikahan. Tapi seperti Joko, jejak Rina juga tidak akan hilang.
Setelah Joko dan Rina tiada, warisan mereka tetap hidup.
Desa Suka Maju terus maju. Jalan yang ia bangun semakin mulus. Listrik yang ia
perjuangkan semakin terang. Sekolah yang ia renovasi semakin bagus. Pondok
pesantren yang ia dirikan semakin besar. Desa wisata yang ia rintis semakin
ramai.
Yayasan Pendidikan "Suka Maju" terus berjalan,
memberi beasiswa pada anak-anak tidak mampu. Koperasi Desa terus berkembang,
menyejahterakan petani. Kelompok Tani "Tunas Harapan" semakin maju
dengan pertanian organik.
Nama Joko Prasetyo diabadikan sebagai nama jalan desa, nama
gedung serbaguna, dan nama beasiswa. Setiap tahun, pada tanggal 15 Maret, warga
mengadakan haul untuk mendoakannya.
"Pak Joko memang pergi, tapi semangatnya tetap hidup.
Kita harus teruskan perjuangannya," kata Prasetyo dalam sebuah acara.
Warga mengangguk setuju. Mereka berjanji akan menjaga desa,
seperti yang diajarkan Joko.
Prasetyo duduk di tepi sungai yang sama, tempat ayahnya
biasa merenung. Jembatan beton kokoh yang dibangun tahun 1973 masih berdiri.
Desa Suka Maju kini semakin maju. Wisatawan hilir mudik, anak-anak sekolah
berseragam rapi, petani panen dengan mesin modern.
Ia memandangi desa dengan bangga. Ayahnya telah meletakkan
fondasi yang kokoh. Kini, gilirannya dan generasi muda untuk melanjutkan.
"Yah, desa ini kini semakin maju. Aku akan teruskan
perjuanganmu. Jaga kami dari sana."
Matahari terbenam di ufuk barat. Langit jingga kemerahan.
Burung-burung pulang ke sarang. Desa Suka Maju tenang dan damai.
Prasetyo tersenyum. Ia ingat pesan ayahnya: "Mimpi itu
penting. Tapi tanpa kerja keras, mimpi hanya angan-angan."
Kini, mimpi itu menjadi nyata. Desa yang dulu tertinggal
oleh waktu, kini melompat maju. Semua berkat seorang anak petani yang berani
bermimpi, berani berjuang, dan berani mengabdi.
Joko Prasetyo telah pergi. Tapi warisannya abadi. Di setiap
sudut desa, di setiap senyum warga, di setiap langkah kemajuan, namanya akan
selalu dikenang.
BAB X
JEJAK YANG TIDAK PERNAH HILANG
Lima tahun setelah Joko Prasetyo berpulang, desa Suka Maju terus
melaju dengan pesat. Namun di tengah semua kemajuan itu, satu tempat tetap
dipertahankan sebagaimana adanya: rumah tua Joko di tepi sungai. Rumah itu
telah ditetapkan sebagai cagar budaya desa.
Pemerintah desa telah beberapa kali mengusulkan untuk merenovasi
rumah itu, menjadikannya museum atau perpustakaan yang lebih representatif.
Tapi Prasetyo, anak Joko, selalu menolak dengan halus.
"Biarkan saja seperti ini," katanya suatu ketika.
"Ayah dulu ingin rumah ini tetap sederhana. Agar siapa pun yang datang,
ingat bahwa pemimpin besar bisa lahir dari kesederhanaan."
Maka rumah itu tetap berdiri dengan dinding bambu yang
telah diganti beberapa kali, atap rumbia yang diperbaharui setiap lima tahun,
dan lantai papan yang sedikit miring karena usianya. Di beranda, masih
tergantung topi anyaman bambu yang biasa dipakai Joko ke sawah. Di sudut ruang
tamu, masih tersimpan cangkul tua yang setia menemani masa kecilnya. Di
dinding, terpajang foto-foto usang hitam putih, Wahyono dan Sri, Ibu Sumarni,
Pak Karman, Budi, dan wajah-wajah lain yang telah lebih dulu berpulang.
Bertepatan dengan lima tahun kepergian Joko, warga
mendirikan museum desa. Museum itu menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan
Joko: rakit bambu yang dulu ia gunakan (tahun 1960-an), lampu minyak untuk
belajar (tahun 1960-an), sepatu bolong yang ditambal ibunya (tahun 1960),
buku-buku bacaan dari Ibu Sumarni (tahun 1960-an), buku-buku karangannya (1998,
2014), piagam penghargaan kepala desa teladan (1982, 1992), dan foto-foto
perjuangan dari tahun 1970-an hingga 2010-an.
Museum itu diberi nama "Museum Joko Prasetyo: Dari
Anak Petani hingga Pemimpin Desa". Setiap hari, dikunjungi oleh pelajar,
mahasiswa, dan wisatawan. Mereka belajar tentang perjuangan membangun desa dari
bawah.
Di dinding museum, terpampang kata-kata mutiara Joko:
"Jangan
pernah malu dengan asal-usulmu. Jadikan itu sebagai cambuk untuk maju."
"Pemimpin itu pelayan, bukan penguasa."
"Korupsi adalah pengkhianatan pada rakyat."
"Bermimpilah, karena mimpi adalah awal dari kenyataan."
"Kerja keras, kerja sama, dan doa adalah kunci sukses."
"Dari tepi sungai, mimpi itu bisa menjadi nyata."
Pengunjung terinspirasi. Mereka belajar bahwa dari desa,
dari kemiskinan, dari keterbatasan, seseorang bisa menjadi besar.
Setiap hari, terutama menjelang senja, orang-orang datang
ke rumah tua itu. Bukan untuk ziarah dalam arti formal, melainkan sekadar duduk
di beranda, memandangi sungai yang mengalir tenang, dan bercerita. Mereka
adalah anak-anak muda yang tak pernah mengenal Joko secara langsung, namun
tumbuh dengan nama yang selalu disebut dalam setiap kisah.
"Kek, ceritakan lagi tentang Mbah Joko," pinta
seorang bocah pada kakeknya yang duduk di kursi bambu.
Kakek itu, Raka namanya, keponakan Joko yang kini telah
berusia 60 tahun, tersenyum. Matanya menerawang ke masa lalu, ke waktu ketika
ia masih kecil dan pamannya bercerita tentang perjuangan.
"Mbah Joko itu," Raka memulai dengan suara pelan,
"adalah anak petani paling miskin di desa ini. Bapaknya cuma penggarap,
ibunya buruh tani. Mereka tinggal di rumah ini, tepat di sini, dengan segala
kekurangannya. Mereka makan seadanya, tidur beralas tikar."
Bocah itu mendengarkan dengan takjub. "Tapi kenapa
beliau bisa jadi kepala desa, Kek? Anak petani miskin kok bisa jadi
pemimpin?"
Raka tertawa kecil. "Karena dia tidak pernah menyerah,
Nak. Karena dia punya mimpi. Karena dia tahu, kemiskinan bukan takdir yang tak
bisa diubah. Dia sekolah meski harus jalan kaki tujuh kilometer setiap hari.
Dia belajar meski buku hanya pinjaman. Dia bermimpi meski semua orang bilang
mustahil."
Bocah itu mengangguk-angguk. Di matanya yang masih bening,
tergambar kekaguman pada sosok yang tak pernah ia jumpai.
"Dan yang paling penting," Raka melanjutkan,
"Mbah Joko tidak pernah lupa asal-usulnya. Ketika sudah jadi kepala desa,
dia tetap turun ke sawah. Tetap duduk di warung kopi. Tetap mendengar keluhan
warga. Dia bilang, pemimpin itu pelayan, bukan tuan. Dan dia membuktikannya
sampai akhir hayat."
Di sudut lain desa, SD Joko Prasetyo tengah bersiap
merayakan hari ulang tahunnya yang ke-50. Sekolah yang dulu hanya tiga ruang
kelas bocor, kini telah berkembang menjadi kompleks pendidikan dengan gedung
berlantai dua, laboratorium komputer, perpustakaan digital, dan lapangan
olahraga. Namanya diambil dari tokoh yang pernah memperjuangkan pendidikan di
desa itu.
Kepala sekolahnya, Masayu, cucu dari Ibu Sumarni, sedang
memimpin rapat persiapan di ruang guru.
"Tema perayaan tahun ini adalah 'Menanam Mimpi, Menuai
Masa Depan'. Kita akan undang seluruh tokoh masyarakat, termasuk keluarga besar
Pak Joko. Ada yang punya ide lain?"
Seorang guru muda mengacungkan tangan. "Bu, bagaimana
kalau kita adakan lomba menulis cerita tentang inspirasi dari Pak Joko?
Siswa-siswa kita kebanyakan hanya tahu nama, tapi tidak tahu detail perjuangan
beliau."
Masayu tersenyum. "Ide bagus. Kita libatkan juga para
orang tua untuk bercerita. Biar anak-anak tahu, bahwa pemimpin sejati itu lahir
dari ketekunan, kejujuran, dan pengabdian, bukan dari kekayaan atau
keturunan."
Rapat berlangsung hangat. Di luar jendela, terlihat
anak-anak bermain di halaman, berlarian dengan riang, menikmati fasilitas yang
dulu tak pernah terbayangkan oleh generasi kakek-nenek mereka.
Sepanjang tahun 2025, rombongan peziarah dari berbagai
daerah datang ke makam Joko. Mereka adalah kepala desa dari berbagai kecamatan,
mahasiswa yang melakukan studi banding, bahkan beberapa politisi yang ingin
belajar tentang kepemimpinan.
Prasetyo, yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Suka Maju
(terpilih tahun 2024), sering menjadi pemandu mereka.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, inilah makam Pak Joko Prasetyo.
Sederhana, seperti hidupnya. Beliau sendiri yang meminta agar makamnya dibuat
sederhana. Tidak perlu nisan marmer, tidak perlu cungkup megah. 'Yang penting
doa,' katanya."
Para peziarah berdoa dengan khusyuk. Beberapa di antaranya
menangis, terharu dengan kesederhanaan ini.
Seorang kepala desa dari daerah lain bertanya, "Pak
Kades, apa rahasia sukses Pak Joko? Saya ingin menerapkannya di desa
saya."
Prasetyo tersenyum. "Rahasianya sederhana, Pak. Beliau
mencintai rakyatnya. Beliau turun ke bawah, mendengar keluhan, lalu bertindak.
Tidak pakai proyek fiktif, tidak pakai mark-up anggaran. Jujur, itu
kuncinya."
Kepala desa itu mengangguk-angguk. "Tapi jujur itu
susah, Pak. Godaan banyak."
"Memang susah. Tapi kalau lihat hasilnya, desa maju,
rakyat sejahtera, nama harum sampai sekarang, itu lebih berharga dari uang
korupsi yang cuma dinikmati sebentar."
Percakapan itu berlangsung lama. Para peziarah pulang dengan
membawa pelajaran berharga.
Prasetyo (46 tahun) menyelesaikan periode pertamanya
sebagai kepala desa. Ia akan maju lagi untuk periode kedua karena kinerjanya
baik. Suatu sore, ia duduk di tepi sungai, tempat ayahnya biasa merenung.
Jembatan beton tahun 1973 masih kokoh, sudah 57 tahun berdiri. Desa Suka Maju
semakin maju dengan berbagai program.
Ia memandangi desa. Lampu-lampu mulai menyala. Suara azan
Maghrib berkumandang dari masjid yang dibangun Joko tahun 2001. Burung-burung
pulang ke sarang.
"Yah, aku sudah berusaha sebaik mungkin. Aku
meneruskan perjuanganmu. Program beasiswa yang kau rintis tahun 2000, sekarang
sudah membantu ribuan anak. Koperasi yang kau dirikan tahun 1978, asetnya sudah
miliaran. Desa wisata yang kau rintis tahun 2013, sekarang jadi andalan."
Ia memejamkan mata, membayangkan ayahnya tersenyum.
"Yah, desa ini akan terus maju. Generasi muda akan meneruskan.
Jejakmu tidak akan pernah hilang. Selamat istirahat, Yah."
Dewi, cucu Joko, kini berusia 24 tahun. Ia baru lulus
kuliah dari Universitas Indonesia, jurusan ekonomi. Seperti ayah dan kakeknya,
ia memilih pulang ke desa.
"Yah, aku pulang. Mau bantu bangun desa," katanya
suatu hari.
Prasetyo tersenyum bangga. "Bagus, Nak. Kakekmu pasti
bangga. Mau jadi apa di sini?"
"Aku mau mengelola keuangan desa. Bantu bikin sistem
yang transparan. Juga mau kembangkan UMKM desa, biar produk-produk kita bisa
tembus pasar online."
"Wah, hebat. Kamu bisa bantu banyak."
Dewi mulai aktif di desa. Ia membantu pembukuan keuangan
desa, melatih ibu-ibu PKK membuat laporan keuangan sederhana, dan mengembangkan
pemasaran digital untuk produk-produk UMKM. Dalam setahun, omzet produk desa
meningkat 50 persen.
"Mbah, aku akan teruskan perjuanganmu," bisiknya
suatu malam di makam Joko. "Doakan aku."
Joko Prasetyo Muda, cicit Joko, anak dari Dewi, kini
berusia 10 tahun. Ia duduk di bangku SD kelas 4 di SD Joko Prasetyo. Ia aktif,
pintar, dan selalu ingin tahu tentang kakek buyutnya.
Suatu hari, ia bertanya pada Dewi, "Bu, ceritakan
tentang Mbah buyut Joko. Aku sering dengar namanya, lihat fotonya di museum,
tapi aku ingin tahu lebih banyak."
Dewi tersenyum. Ia membawa anaknya ke tepi sungai, duduk di
bawah pohon randu yang sama.
"Dengar, Nak. Mbah buyut Joko itu lahir tahun 1950, di
desa ini. Waktu itu, desa kita masih sangat terbelakang. Jalan tanah becek,
listrik belum masuk, sekolah bocor. Mbah buyut Joko harus naik rakit untuk menyeberang
sungai ini ke sekolah. Beliau belajar dengan lampu minyak, pakai sepatu bolong
yang ditambal ibu buyutmu."
Joko Muda membayangkan betapa beratnya.
"Tapi Mbah buyut Joko tidak pernah menyerah. Beliau
sekolah keras, aktif di organisasi, lalu jadi kepala desa tahun 1974. Beliau
membangun desa ini. Jembatan ini, jalan ini, sekolah ini, masjid ini, semua
berkat perjuangan beliau. Beliau juga menulis buku, mendirikan yayasan, dan
menginspirasi banyak orang."
"Wow, hebat sekali. Aku ingin seperti Mbah buyut
Joko."
"Kamu bisa, Nak. Tapi ingat, jadi pemimpin itu bukan
soal jabatan. Tapi soal pengabdian. Soal melayani. Soal memberi, bukan meminta.
Soal rendah hati, bukan sombong. Itu yang selalu diajarkan Mbah buyut Joko."
Joko Muda mengangguk. Ia menyimpan pesan itu dalam hati.
Malam itu, ia bermimpi bertemu buyutnya. Joko tersenyum
padanya, mengelus kepalanya.
"Nak, kamu penerusku. Aku senang melihatmu. Jadilah
baik. Jadilah berguna. Jangan pernah lupakan desa ini."
Joko Muda terbangun dengan air mata bahagia. Ia berjanji
akan mewujudkan mimpi itu.
Prasetyo menyelesaikan periode keduanya sebagai kepala
desa. Selama 16 tahun memimpin ia berhasil melanjutkan dan mengembangkan
warisan ayahnya. Desa Suka Maju kini menjadi desa percontohan nasional dalam
pengelolaan keuangan transparan, pengembangan wisata berkelanjutan, dan
pemberdayaan masyarakat.
Dalam acara pisah sambut, warga menangis. Mereka kehilangan
pemimpin yang baik, tapi juga bersyukur karena Prasetyo akan tetap tinggal di
desa, menjadi penasihat bagi generasi selanjutnya.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, terima kasih atas
kepercayaannya selama ini. Saya hanya meneruskan apa yang diajarkan ayah saya.
Ingat, desa ini bukan milik saya, bukan milik pemerintah, tapi milik kita
bersama. Jaga terus gotong royong, jaga kebersamaan. Itu kunci kemajuan."
Warga bertepuk tangan. Mereka berjanji akan menjaga desa,
melanjutkan perjuangan dua generasi pemimpin.
Tiga tahun setelah Prasetyo pensiun, ia kembali ke tepi
sungai, tempat ayahnya biasa merenung. Jembatan beton tahun 1973 masih kokoh,
sudah 67 tahun berdiri. Desa Suka Maju semakin maju. Kini bahkan sudah ada
kampus politeknik pertanian yang didirikan bekerja sama dengan pemerintah
provinsi.
Ia memandangi desa dengan haru. Dulu, ayahnya bermimpi di
sini tahun 1960-an. Kini, mimpi itu nyata, bahkan melampaui apa yang pernah
dibayangkan.
"Yah, desa ini sudah sangat maju. Ada kampus, ada
industri kecil, ada wisata berkelas. Tapi yang paling penting, nilai-nilai yang
kau ajarkan masih hidup. Anak-anak muda tetap rendah hati, tetap gotong royong,
tetap cinta desa."
Angin berhembus sepoi, seolah ayahnya menjawab.
"Sekarang giliran generasi selanjutnya. Dewi, Joko
Muda, dan teman-temannya. Mereka akan teruskan perjuangan kita. Doakan mereka,
Yah."
Rina Joko Prasetya, cicit Joko, anak dari Joko Muda, buyut kini berusia 10 tahun. Ia adalah
generasi kelima setelah Wahyono. Ia duduk di bangku SD kelas 4 di SD Joko
Prasetyo. Ia aktif, pintar, dan punya mimpi besar: menjadi pemimpin seperti
kakek buyutnya.
Suatu hari, ia bertanya pada Joko Muda, "Yah,
ceritakan tentang Mbah buyut Joko. Aku sering dengar namanya, lihat fotonya di
museum, tapi aku ingin tahu lebih banyak."
Joko Muda tersenyum. Ia membawa putrinya ke tepi sungai,
duduk di bawah pohon randu yang sama, tempat di mana empat generasi sebelumnya
duduk dan bermimpi.
"Dengar, Nak. Mbah Joko itu adalah kakek buyutmu.
Beliau lahir tahun 1950, di desa ini. Waktu itu, desa kita masih sangat
terbelakang. Jalan tanah becek, listrik belum masuk, sekolah bocor. Mbah Joko
harus naik rakit untuk menyeberang sungai ini ke sekolah. Beliau belajar dengan
lampu minyak, pakai sepatu bolong yang ditambal ibu buyutmu."
Rina kecil membayangkan betapa beratnya.
"Tapi Mbah buyut Joko tidak pernah menyerah. Beliau
sekolah keras, lalu jadi kepala desa tahun 1971. Beliau membangun desa ini.
Jembatan ini, jalan ini, sekolah ini, masjid ini, semua berkat perjuangan
beliau. Beliau juga menulis buku, mendirikan yayasan, dan menginspirasi banyak
orang. Kakekmu Prasetyo melanjutkan perjuangan, lalu ibumu Dewi, lalu ayah.
Sekarang giliranmu."
"Wow, hebat sekali. Aku ingin seperti Mbah buyut
Joko."
"Kamu bisa, Nak. Tapi ingat, jadi pemimpin itu bukan
soal jabatan. Tapi soal pengabdian. Soal melayani. Soal memberi, bukan meminta.
Soal rendah hati, bukan sombong. Itu yang selalu diajarkan Mbah buyut Joko."
Rina kecil mengangguk. Ia menyimpan pesan itu dalam hati.
Malam itu, ia bermimpi bertemu buyutnya. Joko tersenyum
padanya, mengelus kepalanya.
"Nak, kamu penerusku. Aku senang melihatmu. Jadilah
baik. Jadilah berguna. Jangan pernah lupakan desa ini."
Rina terbangun dengan air mata bahagia. Ia berjanji akan
mewujudkan mimpi itu.
Seratus tahun setelah Joko Prasetyo lahir. Desa Suka Maju
mengadakan perayaan besar. Ribuan orang datang, bukan hanya dari desa, tapi dari
berbagai daerah di Indonesia. Para kepala desa, akademisi, mahasiswa, bahkan
pejabat pemerintah pusat hadir untuk memberi penghormatan.
Acara dimulai dengan ziarah ke makam Joko. Doa bersama
dipimpin oleh ketua MUI kabupaten. Suasana haru, banyak yang menangis.
Setelah ziarah, acara dilanjutkan di balai desa yang kini
bernama "Balai Joko Prasetyo". Ada seminar tentang kepemimpinan desa,
bedah buku-buku karya Joko, dan pameran foto perjuangan.
Puncak acara adalah peluncuran patung Joko Prasetyo di alun-alun
desa. Patung perunggu setinggi tiga meter itu menggambarkan Joko sedang duduk
di pematang sawah, memandang ke kejauhan, dengan buku di pangkuannya. Di bawah
patung, terukir kata-kata terkenalnya:
"Dari tepi sungai, mimpi itu bisa menjadi nyata."
Prasetyo, yang kini berusia 66 tahun, memberi sambutan
dengan suara bergetar.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudara sekalian. Hari
ini kita memperingati seratus tahun kelahiran ayah saya, Joko Prasetyo. Seorang
anak petani miskin yang berani bermimpi. Seorang pemimpin yang tidak pernah
lupa asal-usulnya. Seorang pengabdi yang ikhlas."
Hadirin terpukau.
"Ayah saya mengajarkan bahwa kemiskinan bukan
penghalang. Bahwa pendidikan adalah kunci. Bahwa kerja keras, kejujuran, dan
kerendahan hati adalah modal utama. Bahwa pemimpin itu pelayan, bukan
penguasa."
Tepuk tangan bergemuruh.
"Mari kita teruskan perjuangan beliau. Jaga desa ini.
Jaga nilai-nilai yang beliau wariskan. Jangan sampai kemajuan membuat kita lupa
diri. Tetaplah rendah hati, tetaplah bersatu, tetaplah gotong royong. Itu pesan
terakhir beliau."
Setelah acara peringatan usai, keluarga besar Joko
berkumpul di rumah tua tepi sungai. Mereka makan malam bersama, nasi liwet,
ayam goreng, urap, dan sambal terasi, menu favorit Joko dulu. Suasana hangat
penuh canda tawa.
Prasetyo duduk di kursi favorit ayahnya, memandangi
anak-cucu-cicitnya dengan rasa syukur.
"Yah, lihatlah. Keluarga kita besar. Desa kita maju.
Namamu harum di mana-mana. Engkau pasti bahagia di sana."
Rina Joko Prasetya, cicit Joko yang kini berusia 15 tahun, mendekat.
"Kek, aku mau jadi pemimpin seperti Mbah buyut Joko.
Aku mau sekolah tinggi, lalu pulang ke desa, membangun desa ini lebih maju
lagi."
Prasetyo memeluknya. "Bagus, Nak. Kakek bangga. Tapi
ingat, nggak harus jadi kepala desa. Jadi apa pun, asal niatmu baik dan
bermanfaat untuk orang banyak, itu sudah cukup. Seperti Mbah Joko, beliau jadi
kepala desa, jadi penulis, jadi pengusaha, jadi guru ngaji, semua dilakukan
dengan ikhlas."
"Aku mau jadi guru, Kek. Seperti Ibu Sumarni. Seperti
Mbah Rina dulu. Mengajar anak-anak desa."
"Wah, itu mulia sekali. Ibu Sumarni yang ngajarin Mbah
Joko baca. Mbah Rina yang ngajarin anak-anak desa. Sekarang kamu mau
lanjutin."
Mereka berpelukan. Di luar, bintang-bintang bertaburan di
langit cerah. Sungai mengalir tenang, seperti saksi bisu perjalanan panjang
seorang anak petani yang berani bermimpi.
Sepuluh tahun setelah peringatan seratus tahun. Desa Suka
Maju kini telah menjadi kota kecil yang maju. Namanya diubah menjadi Kecamatan
Joko Prasetyo, sebagai penghormatan. Universitas-universitas menjadikan model
kepemimpinannya sebagai studi kasus. Buku-buku tentang dirinya diterjemahkan ke
berbagai bahasa.
Prasetyo telah tiada, berpulang di usia 71 tahun. Ia
dimakamkan di samping ayah dan ibunya. Dewi, putrinya, kini menjabat sebagai
anggota DPRD kabupaten, memperjuangkan kepentingan desa-desa. Joko Muda,
cucunya, menjadi kepala desa Suka Maju periode 2055-2061. Rina Joko Prasetya,
cicitnya, kuliah di Universitas Indonesia jurusan pendidikan.
Tapi yang paling penting, nilai-nilai yang ditanamkan Joko
masih hidup. Setiap kepala desa yang memimpin Suka Maju, selalu ingat pesan
itu: jujur, adil, dekat dengan rakyat. Setiap guru yang mengajar di SD Joko
Prasetyo, selalu menyisipkan kisah tentang anak petani yang berani bermimpi.
Setiap orang tua yang mendidik anaknya, selalu bilang: "Kamu bisa seperti
Mbah buyut Joko, Nak. Asal rajin belajar, jujur, dan tidak sombong."
Di beranda rumah tua tepi sungai, yang kini menjadi museum
kecil, selalu ada orang yang datang. Mereka duduk di kursi bambu, memandangi
sungai yang mengalir, membaca catatan-catatan usang, meresapi perjuangan
seorang manusia biasa yang menjadi luar biasa karena ketekunan dan
ketulusannya.
Dan ketika senja turun, ketika matahari mulai tenggelam di
ufuk barat, angin berbisik lembut membawa pesan abadi:
Bahwa seorang pemimpin sejati tidak mati. Ia hidup dalam
setiap kebaikan yang ditanam, dalam setiap perubahan yang diwariskan, dalam
setiap hati yang terinspirasi.
Bahwa anak petani bisa memimpin desa. Bahwa kemiskinan
bukan penghalang. Bahwa mimpi, jika diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, bisa
menjadi nyata.
Bahwa dari tepi sungai yang sunyi, dari rakit bambu yang
rapuh, dari lampu minyak yang temaram, dari sepatu bolong yang ditambal,
seseorang bisa bangkit dan membawa perubahan.
Bahwa jejak seorang anak petani, yang dulu dianggap kecil
dan tak berarti, ternyata bisa membekas selamanya, di atas batu, di dalam hati,
dan di sepanjang masa.
Sebagai penutup, kita kembali ke kata-kata Joko Prasetyo
yang pernah ia tulis di buku catatannya, ditemukan setelah ia tiada:
"Aku lahir di tengah kesederhanaan, di rumah panggung
berdinding bambu, di tepi sungai yang setiap musim hujan meluap dan membawa
rakitku hanyut. Aku besar dalam kemiskinan, dengan sepatu bolong dan baju
lusuh, dengan perut kadang lapar dan mimpi yang kadang dianggap mustahil.
Tapi aku tidak pernah menyerah. Karena aku percaya, Tuhan
tidak pernah tidur. Dia selalu memberi jalan bagi hamba-Nya yang mau berusaha.
Aku sekolah, aku belajar, aku bermimpi. Dan perlahan, mimpi itu menjadi nyata.
Jembatan yang dulu hanya gambar di buku catatan, kini
berdiri kokoh. Listrik yang dulu hanya sinar redup di kejauhan, kini menerangi
setiap rumah. Sekolah yang dulu bocor, kini megah dengan taman dan laboratorium.
Petani yang dulu tertindas tengkulak, kini sejahtera dengan koperasi.
Tapi yang paling membuatku bahagia, bukanlah jembatan,
listrik, atau sekolah itu. Melainkan ketika melihat anak-anak desa bisa sekolah
dengan nyaman. Ketika melihat petani tersenyum saat panen. Ketika melihat
pemuda-pemuda bangga pulang ke desa, bukan pergi ke kota. Ketika melihat
nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan gotong royong masih hidup di hati
warga.
Itulah warisan terbesar. Bukan beton dan aspal. Tapi hati
yang terus menyala.
Untuk kalian, generasi penerus: jangan pernah malu dengan
asal-usul kalian. Jadikan itu sebagai cambuk untuk maju. Bermimpilah setinggi
langit. Tapi ingat, mimpi saja tidak cukup. Harus ada kerja keras, ketekunan,
dan doa. Juga harus rendah hati. Jangan sombong kalau sukses.
Dan yang paling penting: jangan pernah lupakan desa ini.
Dari tepi sungai ini, mimpi itu menjadi nyata. Dan dari sini pula, mimpi-mimpi
baru akan lahir.
Selamat berjuang, anak-anakku. Tuhan memberkati.
Joko Prasetyo
TAMAT
EPILOG
JEJAK DI ATAS BATU, KISAH DI DALAM HATI
Seratus lima puluh tahun setelah kelahirannya, nama Joko
Prasetyo telah menjadi legenda. Bukan hanya di desa Suka Maju, tapi di seluruh
Indonesia, bahkan dunia. Buku-bukunya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah.
Universitas-universitas menjadikan model kepemimpinannya sebagai studi kasus.
Para pemimpin dari berbagai negara datang berkunjung ke desa Suka Maju, belajar
dari perjuangannya.
Desa Suka Maju sendiri telah menjadi kota kecil yang
modern, tapi tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional. Di tengah kota,
berdiri patung Joko Prasetyo setinggi lima meter, menghadap ke sungai. Di bawah
patung, terukir kata-kata terkenalnya: "Pemimpin itu pelayan, bukan
penguasa."
Rumah tua di tepi sungai masih dipertahankan, kini menjadi
museum nasional. Setiap tahun, jutaan orang berkunjung, ingin melihat langsung
tempat di mana seorang anak petani miskin dilahirkan dan bermimpi.
Namun yang paling penting, nilai-nilai yang ia tanamkan
masih hidup. Kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, gotong royong, dan cinta
pada tanah air—semua itu masih menjadi pegangan hidup warga Suka Maju,
diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada suatu senja, seorang anak kecil bertanya pada kakeknya
yang duduk di tepi sungai.
"Kek, siapa itu Joko Prasetyo?"
Kakek itu tersenyum. Matanya menerawang jauh, ke masa lalu
yang panjang.
"Dia adalah pahlawan kita, Nak. Bukan pahlawan perang,
tapi pahlawan kehidupan. Dia lahir di sini, di tepi sungai ini, dalam
kemiskinan. Tapi dia punya mimpi besar. Dia berjuang, dia belajar, dia
memimpin. Dan berkat dia, desa ini menjadi maju."
"Ceritakan, Kek," pinta anak itu.
Kakek itu mulai bercerita. Panjang lebar. Tentang seorang
anak petani yang setiap pagi menyeberangi sungai dengan rakit bambu. Tentang
perjuangannya sekolah di kampung sebelah. Tentang mimpinya membangun jembatan.
Tentang bagaimana ia menjadi kepala desa termuda, membangun jalan, listrik,
sekolah, dan segalanya. Tentang bagaimana ia tetap rendah hati meski sukses.
Tentang bagaimana ia mengajarkan bahwa pemimpin itu pelayan.
Anak itu mendengarkan dengan takjub. Di matanya yang masih
bening, tergambar kekaguman pada sosok yang tak pernah ia jumpai.
"Kek, aku ingin seperti Mbah Joko."
"Kamu bisa, Nak. Asal rajin belajar, jujur, dan tidak
sombong. Dan jangan pernah lupakan desa ini. Karena dari tepi sungai ini, mimpi
itu menjadi nyata."
Matahari terbenam di ufuk barat. Langit jingga kemerahan.
Burung-burung pulang ke sarang. Sungai mengalir tenang, membawa cerita tentang
perjuangan, tentang mimpi, tentang seorang anak petani yang berani bermimpi—dan
mewujudkannya.
Dan angin berbisik lembut, membawa pesan abadi dari masa
lalu, untuk masa kini, dan untuk selamanya:
Dari tepi sungai, mimpi itu menjadi nyata.







0 komentar:
Posting Komentar