MAHLIGAI BIRU
Sebuah
Novel tentang Obsesi Cinta, Pilihan Hidup, dan Takdir yang Berputar dalam Waktu
PROLOG
Desa Sukamerta adalah desa yang tenang. Letaknya tidak
terlalu jauh dari jalan kabupaten, namun cukup terpencil untuk tetap menjaga
suasana pedesaan yang khas. Hamparan sawah hijau mengelilingi desa seperti
karpet alam yang tak pernah habis dipandang. Di pagi hari, embun masih menempel
di pucuk daun padi. Udara terasa sejuk dengan aroma tanah basah yang bercampur
wangi jerami.
Kehidupan di desa itu berjalan dengan ritme yang sederhana
namun teratur.
Pagi dimulai dengan suara ayam jantan yang berkokok dari
berbagai penjuru kampung, seolah saling bersahutan membangunkan manusia dari
tidurnya. Para ibu menyalakan tungku dapur dengan kayu bakar, menyiapkan
sarapan sederhana bagi keluarga mereka. Para lelaki berangkat ke sawah membawa
cangkul atau sabit, sementara anak-anak berjalan menuju sekolah dengan seragam
yang kadang masih agak kebesaran.
Menjelang siang, suara mesin penggiling padi mulai terdengar
dari rumah-rumah penggilingan. Bunyi berderak mesin tua bercampur dengan
obrolan para petani yang menunggu giliran gabah mereka digiling.
Sore hari menjadi waktu paling santai bagi warga desa.
Sebagian duduk di teras rumah, sebagian lagi berkumpul di
warung kopi kecil yang berdiri di tepi jalan utama desa.
Warung itu milik Pak Darto.
Warung kopi Pak Darto bukan sekadar tempat minum kopi.
Ia adalah pusat informasi, tempat bercanda, tempat
berdebat, bahkan kadang menjadi "kantor tidak resmi" bagi para pemuda
desa yang belum memiliki pekerjaan tetap.
Warung itu sederhana.
Bangunannya hanya terbuat dari papan kayu dengan atap seng
yang sudah agak berkarat. Di depan warung terdapat beberapa bangku panjang dari
kayu. Meja-meja kecil dengan permukaan yang sudah penuh goresan menjadi saksi
berbagai cerita yang pernah terjadi di sana.
Di sanalah biasanya para pemuda desa berkumpul setiap sore.
Dan di antara mereka, ada satu pemuda yang sering menjadi
bahan pembicaraan.
Namanya Arga Pradipta.
Arga bukan pemuda biasa.
Ia tidak berasal dari keluarga kaya, namun keluarganya
cukup dihormati di desa. Ayahnya, Pak Surya, dikenal sebagai orang yang rajin
ke masjid, sementara ibunya, Bu Ratmi, adalah perempuan yang aktif dalam
kegiatan pengajian ibu-ibu kampung.
Sejak kecil Arga dikenal cerdas.
Ia sempat kuliah di kota meskipun hanya sampai jenjang
sarjana muda. Setelah itu ia kembali ke desa dan membantu orang tuanya mengurus
kebun dan beberapa usaha kecil keluarga.
Secara fisik, Arga juga tidak buruk.
Tinggi badannya di atas rata-rata pemuda desa. Kulitnya
sawo matang dengan wajah yang cukup tampan. Namun yang membuatnya menonjol
bukan hanya penampilannya.
Melainkan cara berpikirnya.
Kadang terlalu jauh dari kebiasaan orang desa.
Sore itu, matahari mulai condong ke barat ketika Arga duduk
di warung kopi Pak Darto bersama tiga sahabatnya.
Jamal.
Udin.
Rifki.
Keempat pemuda itu sudah berteman sejak kecil.
Mereka pernah bermain layangan bersama, mandi di sungai
yang sama, bahkan pernah dimarahi guru yang sama saat masih sekolah dasar.
Pak Darto baru saja meletakkan empat gelas kopi hitam di
atas meja kayu mereka.
Aroma kopi robusta yang kuat langsung memenuhi udara.
Jamal adalah orang pertama yang menyeruput kopinya.
"Ah… kopi Pak Darto ini memang tidak ada lawan."
Pak Darto yang sedang menggoreng pisang di dapur kecil
warungnya langsung tertawa.
"Ya iyalah, Jamal. Kalau kopinya tidak enak, siapa
yang mau nongkrong di sini?"
Udin bersandar santai di bangku kayu.
Matanya melirik ke arah Arga yang sedang menatap jalan
dengan pikiran entah ke mana.
"Eh Ga… kamu ini kenapa belakangan sering
melamun?"
Arga tersenyum kecil.
"Melamun bagaimana?"
Rifki langsung menyela.
"Jangan pura-pura. Kamu itu kalau sedang memikirkan
perempuan wajahmu beda."
Jamal menepuk meja.
"Betul! Wajahnya seperti orang yang sedang menyusun
strategi perang."
Mereka semua tertawa.
Arga hanya menggeleng pelan.
Namun Jamal tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Ga, jujur saja. Kamu ini sebenarnya sedang mencari
pacar… atau sedang melakukan seleksi calon ratu dunia?"
Udin langsung tertawa keras.
"Nah itu dia! Aku juga mau tanya hal yang sama!"
Arga mengangkat alisnya.
"Kenapa begitu?"
Rifki mulai menghitung dengan jari.
"Coba kita ulang lagi kriteria perempuan
idamanmu."
Ia mengangkat jari pertama.
"Cantik."
Jari kedua.
"Tinggi."
Jari ketiga.
"Rambut panjang."
Jari keempat.
"Kulit sawo matang."
Jamal ikut menambahkan.
"Harus lulusan kuliah."
Udin tidak mau kalah.
"Harus pernah mondok di pesantren."
Rifki kembali menimpali.
"Anak orang kaya."
Jamal menutup daftar itu dengan dramatis.
"Dan bapaknya harus tokoh agama!"
Warung kopi langsung dipenuhi tawa.
Bahkan Pak Darto yang mendengar dari dapur ikut tertawa.
"Kalau begitu, kamu sekalian saja cari putri raja
Arab, Ga!"
Jamal menepuk bahu Arga.
"Jujur saja… kamu ini cari istri atau cari
bidadari?"
Arga hanya tersenyum tenang.
Ia tidak tersinggung.
Ia bahkan terlihat santai.
Perlahan ia mengaduk kopinya dengan sendok kecil.
Suara sendok yang menyentuh gelas terdengar pelan di tengah
tawa teman-temannya.
"Kalau kriterianya tinggi," katanya pelan,
"berarti usaha juga harus tinggi."
Udin menghela napas panjang.
"Masalahnya bukan tinggi, Ga…" Ia menunjuk meja
dengan jari. "Masalahnya mustahil."
Rifki mengangguk setuju.
"Di desa ini saja cari perempuan lulusan kuliah sudah
susah. Apalagi yang pernah mondok pesantren."
Jamal menyambung.
"Belum lagi harus cantik dan tinggi."
Udin menambahkan lagi.
"Ditambah anak orang kaya."
Rifki menutup dengan kalimat dramatis.
"Dan bapaknya tokoh agama!"
Mereka kembali tertawa keras.
Namun Arga justru menatap ke luar warung.
Langit sore mulai berubah warna menjadi jingga.
Burung-burung kembali ke sarangnya.
Arga berkata pelan.
"Kalau memang tidak ada satu perempuan yang
sempurna…" Ia berhenti sejenak. Teman-temannya menunggu. Arga melanjutkan.
"…mungkin Tuhan menciptakan dua."
Beberapa detik warung itu hening.
Kemudian—
BOOM!
Ledakan tawa kembali terjadi.
Jamal hampir tersedak kopinya.
"Gila kamu!"
Udin memukul meja.
"Dasar pemuda desa kurang kerjaan!"
Rifki bahkan sampai berdiri sambil tertawa.
"Jadi kamu mau punya dua istri?"
Arga hanya tersenyum samar.
Ia tidak menjawab.
Jamal menunjuknya sambil tertawa.
"Ingat kata-kataku hari ini! Kalau kamu benar-benar
punya dua pacar nanti… aku traktir satu warung ini!"
Pak Darto langsung menyahut dari dapur.
"Eh jangan janji sembarangan kamu, Jamal!"
Tawa kembali memenuhi warung kecil itu.
Tak seorang pun benar-benar menganggap serius ucapan Arga.
Bagi mereka, itu hanyalah candaan sore hari.
Namun mereka tidak tahu.
Di balik senyum tenang Arga…
tersimpan sebuah obsesi yang tidak sederhana.
Obsesi yang suatu hari nanti akan menyeret banyak hati ke
dalam pusaran cinta, kebohongan, pilihan, dan takdir.
Dan dari desa kecil bernama Sukamerta itulah…
kisah Hahligai Biru akan dimulai.
BAB I
Pemuda dengan Dua Nama
Pagi di Desa Sukamerta selalu datang dengan cara yang
sederhana namun menenangkan.
Kabut tipis menggantung di atas sawah yang membentang di
sepanjang pinggiran desa. Burung-burung pipit berterbangan rendah di atas
hamparan padi yang mulai menguning. Dari kejauhan terdengar suara orang-orang
yang saling menyapa saat berjalan menuju ladang.
"Pagi, Pak Surya!"
"Pagi… pagi!"
Desa Sukamerta memang tidak besar. Jalan utamanya hanya
satu, membelah kampung dari utara ke selatan. Di kanan kiri jalan berdiri
rumah-rumah sederhana dengan halaman yang ditumbuhi pohon mangga, jambu, atau
pisang.
Di salah satu rumah sederhana itulah tinggal seorang pemuda
bernama Arga Pradipta.
Rumahnya tidak besar, namun bersih dan tertata rapi.
Dindingnya masih papan kayu, namun halaman depannya selalu disapu setiap pagi
oleh ibunya.
Ayah Arga, Pak Surya, dikenal warga sebagai petani yang
rajin dan rendah hati. Selain bekerja di sawah, ia juga sering diminta menjadi
imam salat di masjid desa. Suaranya yang tenang dan bacaan Qur'annya yang merdu
membuat banyak orang menghormatinya.
Ibunya, Bu Ratmi, adalah perempuan yang tak pernah bisa
diam. Setiap pagi sebelum matahari terbit ia sudah berangkat ke pasar desa
dengan keranjang sayur di tangannya.
Meski hidup mereka sederhana, keluarga itu dikenal hangat
dan penuh canda.
Namun ada satu hal unik dalam keluarga tersebut.
Sesuatu yang sebenarnya kecil… tetapi kelak akan menjadi
awal dari kisah yang sangat rumit.
Sejak kecil, Arga sering dipanggil dengan dua nama berbeda.
Ibunya selalu memanggilnya:
"Argaaa…!"
Sementara ayahnya hampir selalu memanggil:
"Pradipta!"
Hal itu sudah menjadi kebiasaan sejak Arga masih kecil.
Suatu pagi, seperti biasa Bu Ratmi sibuk di dapur.
"Arga! Bangun! Sudah siang!"
Arga yang masih berbaring di kamar langsung menjawab dengan
suara malas.
"Iya… Bu…"
Belum sempat ia bangun, suara ayahnya terdengar dari ruang
depan.
"Pradipta! Kamu mau ikut ke sawah tidak?"
Arga membuka mata dan menghela napas panjang.
"Ini aku Arga atau Pradipta sih…" gumamnya pelan.
Ia bangkit dari tempat tidur sambil tertawa kecil.
Saat keluar kamar, ia melihat ibunya sedang menyiapkan nasi
goreng di dapur.
"Bu, kalau dipanggil dua nama begini nanti aku bingung
sendiri," katanya.
Bu Ratmi tersenyum.
"Lho, kan itu memang nama kamu."
Arga duduk di kursi kayu.
"Tapi Ibu selalu panggil Arga, Bapak selalu panggil
Pradipta."
Ibunya mengangkat bahu santai.
"Biar lengkap."
Arga tertawa kecil.
Tak lama kemudian Pak Surya masuk dari halaman sambil
membawa topi capingnya.
"Pradipta, nanti siang bantu Bapak di sawah ya."
Arga menjawab sambil setengah bercanda.
"Kalau Bapak panggil Arga boleh juga."
Pak Surya tertawa.
"Tidak cocok. Kamu itu lebih cocok dipanggil
Pradipta."
"Kenapa?"
Pak Surya menepuk bahunya.
"Karena Pradipta itu artinya cahaya. Harapannya kamu
bisa jadi cahaya bagi keluarga."
Arga tersenyum tipis.
Namun saat itu ia sama sekali tidak menyangka… bahwa dua
nama itu suatu hari akan menjadi dua identitas yang berbeda.
Sore harinya, seperti biasa Arga pergi ke pos ronda di
ujung desa.
Pos ronda itu adalah tempat berkumpul favorit para pemuda
Sukamerta. Bangunannya sederhana: hanya panggung kayu beratap seng dengan
bangku panjang di sekelilingnya.
Namun di situlah berbagai cerita lahir.
Saat Arga datang, tiga sahabatnya sudah duduk di sana.
Jamal, Udin, dan Rifki.
Jamal sedang memutar rokok di tangannya.
Udin bersandar malas di tiang kayu.
Rifki sibuk memainkan ponsel bututnya.
Begitu melihat Arga datang, Jamal langsung menyeringai.
"Nah… ini dia tokoh utama desa Sukamerta."
Arga duduk santai.
"Apa lagi ini?"
Udin langsung menimpali.
"Kamu ini akhir-akhir ini banyak rahasia ya."
Arga mengangkat alis.
"Rahasia apa?"
Rifki tertawa kecil.
"Rahasia perempuan mungkin."
Arga menggeleng.
"Kalian ini kalau ngobrol tidak jauh-jauh dari
perempuan."
Jamal tiba-tiba menatap Arga serius.
"Ga… aku mau tanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Kamu ini sebenarnya punya dua nama ya?"
Arga mengangguk santai.
"Iya. Kenapa?"
Jamal tersenyum usil.
"Enak dong."
"Enak bagaimana?"
Jamal mencondongkan tubuhnya.
"Kalau punya dua nama… berarti bisa punya dua
pacar."
Udin langsung tertawa keras.
"Betul! Yang satu pacarnya Arga… yang satu pacarnya
Pradipta!"
Rifki menepuk bahu Arga.
"Kalau ketahuan, bilang saja: salah orang!"
Semua tertawa keras.
Arga juga ikut tertawa.
Namun Jamal masih melanjutkan bercandanya.
"Bayangkan saja…" Ia menunjuk Arga dengan jari.
"Di desa sebelah kamu jadi Arga."
Udin menyambung.
"Di desa lain kamu jadi Pradipta."
Rifki menambahkan.
"Pacarnya dua… tapi tidak tahu kalau orangnya
sama!"
Tawa kembali pecah.
Arga masih tertawa.
Namun perlahan… tawanya berubah menjadi senyum yang lebih
tenang.
Karena tanpa disadari…
kata-kata teman-temannya mulai menyalakan sesuatu di dalam
pikirannya.
Jamal masih berceloteh.
"Tapi kamu jangan macam-macam ya. Nanti dimarahi Pak
Surya."
Udin ikut menimpali.
"Apalagi bapaknya imam masjid."
Rifki tertawa.
"Bayangkan kalau Pak Surya tahu anaknya punya dua
pacar!"
Mereka kembali tertawa.
Namun Arga kini justru terlihat sedikit lebih diam.
Ia menatap jalan desa yang mulai gelap.
Lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu.
Dalam hatinya ia bergumam pelan.
"Arga…" Ia berhenti sejenak.
"Pradipta…" Ia tersenyum tipis. "Dua nama…"
Tiba-tiba Jamal menepuk bahunya.
"Eh! Kamu malah melamun!"
Arga tersentak.
"Hah? Tidak."
Udin menatapnya curiga.
"Jangan-jangan kamu serius memikirkan ide tadi."
Arga tertawa lagi.
"Tidak mungkin."
Namun jauh di dalam pikirannya…
sebuah ide aneh mulai tumbuh perlahan.
Ide yang awalnya hanya candaan di pos ronda.
Namun suatu hari nanti akan berubah menjadi strategi paling
berani—dan paling berbahaya—dalam sejarah percintaan desa Sukamerta.
BAB II
Dua Desa, Dua Takdir
Di luar Desa Sukamerta, kehidupan tidak kalah berwarna.
Jika seseorang berjalan sekitar lima kilometer dari
Sukamerta, melewati jalan tanah yang membelah sawah, menyeberangi sungai kecil
dengan jembatan bambu, lalu mengikuti jalan bercabang di tengah kebun karet,
maka ia akan menemukan dua desa yang sangat berbeda.
Dua desa yang kelak menjadi bagian penting dalam kisah
hidup Arga.
Di sebelah timur berdiri Desa Arum Sari.
Sedangkan di sebelah barat terdapat Desa Tegal Wangi.
Kedua desa itu seperti dua dunia yang berbeda meskipun
jaraknya tidak terlalu jauh.
Desa Arum Sari dikenal sebagai desa para pedagang.
Begitu seseorang memasuki desa itu, suasana langsung terasa
berbeda.
Rumah-rumahnya lebih besar. Banyak yang sudah berdinding
bata dan memiliki pagar besi. Halaman rumah ditumbuhi tanaman hias yang tertata
rapi.
Beberapa rumah bahkan memiliki mobil pribadi yang terparkir
di halaman.
Di sepanjang jalan desa berdiri toko-toko kelontong, kios
sembako, dan gudang beras.
Banyak anak muda dari Arum Sari yang melanjutkan kuliah ke
kota.
Mereka pulang kampung dengan pakaian rapi, sepatu mahal,
dan ponsel canggih.
Bagi pemuda desa lain, Arum Sari sering dianggap sebagai
desa orang berada.
Suatu malam, Arga datang ke Arum Sari bersama Jamal dan
Udin.
Di lapangan desa sedang berlangsung pasar malam tahunan.
Lampu-lampu warna-warni menggantung di sepanjang lapangan.
Musik dangdut terdengar dari panggung hiburan. Anak-anak berlari-larian di
sekitar wahana komidi putar.
Aroma jagung bakar dan sate ayam memenuhi udara malam.
Jamal memandang sekeliling dengan kagum.
"Desa ini kalau ada acara selalu meriah ya."
Udin mengangguk.
"Maklum… desa pedagang."
Arga hanya tersenyum sambil melihat keramaian.
Namun tak lama kemudian… matanya tiba-tiba berhenti pada
satu sosok.
Di dekat stan minuman, seorang gadis sedang berbicara
dengan temannya.
Lampu pasar malam memantulkan cahaya lembut di wajahnya.
Ia cantik sekali.
Kulitnya putih bersih.
Rambutnya panjang terurai hingga punggung.
Gaun sederhana yang ia pakai justru membuatnya terlihat
semakin anggun.
Ketika gadis itu tersenyum, seolah-olah seluruh keramaian
di pasar malam tiba-tiba menghilang.
Arga langsung terdiam.
Jamal yang sedang makan cilok menyenggolnya.
"Kenapa kamu?"
Arga tidak menjawab.
Matanya masih terpaku.
Udin mengikuti arah pandangannya.
Lalu ia tersenyum lebar.
"Ooo… itu toh."
Arga akhirnya berkata pelan.
"Cantik."
Jamal tertawa kecil.
"Wajar."
Arga masih menatap gadis itu.
"Siapa dia?"
Jamal melirik sekilas.
"Serius kamu tidak tahu?"
Arga menggeleng.
Jamal menunjuk pelan.
"Itu Nadira Maheswari."
Arga mengulang nama itu dalam hati.
"Nadira…"
Udin menambahkan dengan nada santai.
"Anak Pak Mahendra."
Arga langsung menoleh.
"Pak Mahendra yang punya gudang beras itu?"
Jamal mengangguk.
"Yang paling besar di kecamatan."
Arga kembali melihat ke arah gadis itu.
Kini ia baru sadar… gadis itu memang terlihat berbeda dari
yang lain.
Caranya berdiri tenang.
Cara ia berbicara.
Cara ia tersenyum kepada orang-orang di sekitarnya.
Semua terlihat elegan namun tetap ramah.
Seolah-olah ia terbiasa berada di tengah banyak orang,
tetapi tidak pernah merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Arga berkata pelan.
"Dia kelihatan tidak sombong."
Udin mengangguk.
"Memang tidak."
Jamal menambahkan.
"Dia kuliah di kota. Katanya jurusan manajemen."
"Serius?"
"Iya. Baru lulus tahun kemarin."
Arga masih menatapnya.
Nadira sedang tertawa bersama dua temannya.
Tawa itu ringan, tidak dibuat-buat.
Jamal tiba-tiba menepuk bahu Arga.
"Sudah… jangan dilihat terus."
"Kenapa?"
Jamal tersenyum usil.
"Bahaya."
Udin ikut tertawa.
"Jangan mimpi terlalu tinggi."
Arga mengangkat alis.
"Mimpi apa?"
Jamal menunjuk Nadira.
"Itu anak orang kaya."
Udin menambahkan.
"Dan kamu… anak petani."
Jamal kembali tertawa.
"Jaraknya jauh, Ga."
Arga tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis.
Dalam hatinya ia berkata pelan.
Cantik… kaya… berpendidikan…
Ia berhenti sejenak.
Lalu tersenyum.
Tiga kriteria sudah ada.
Beberapa minggu kemudian, Arga pergi ke desa lain.
Desa Tegal Wangi.
Jika Arum Sari dipenuhi toko dan rumah besar, Tegal Wangi
justru terasa jauh lebih tenang.
Begitu memasuki desa itu, suasana religius langsung terasa.
Masjid besar berdiri di tengah desa.
Suara anak-anak mengaji sering terdengar dari surau-surau
kecil.
Di banyak rumah terlihat papan bertuliskan: "Rumah
Tahfidz."
Penduduk desa dikenal sederhana dan sangat menjunjung
tinggi nilai agama.
Malam itu Arga datang bersama Jamal untuk menghadiri pengajian
akbar.
Halaman masjid penuh oleh warga yang duduk bersila di atas
tikar.
Lampu-lampu masjid memancarkan cahaya hangat.
Seorang ustadz sedang memberikan ceramah tentang kesabaran.
Arga mendengarkan dengan tenang.
Namun tiba-tiba suara lain terdengar dari pengeras suara.
Seorang gadis diminta membaca ayat Al-Qur'an sebelum acara
ditutup.
Arga mengangkat kepala.
Dari sisi depan masjid, seorang gadis berjalan menuju
mikrofon.
Ia mengenakan kerudung sederhana berwarna krem.
Tubuhnya tinggi semampai.
Kulitnya sawo matang.
Gerakannya tenang dan anggun.
Saat ia mulai membaca Al-Qur'an… suasana masjid langsung
berubah menjadi sangat hening.
Suaranya lembut.
Jernih.
Mengalun perlahan seperti air yang mengalir di sungai
pegunungan.
Arga merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak hanya mendengar suara.
Ia merasakan ketenangan.
Seolah-olah ayat-ayat itu masuk langsung ke dalam hatinya.
Jamal yang duduk di sampingnya berbisik pelan.
"Bagus kan suaranya?"
Arga hanya mengangguk pelan.
Matanya tidak lepas dari gadis itu.
Ketika bacaan selesai, seluruh jamaah mengucapkan Aamiin
bersama.
Gadis itu menunduk sopan lalu kembali duduk.
Arga langsung bertanya pelan.
"Yang tadi baca Qur'an… siapa?"
Jamal menjawab santai.
"Itu Aisyah Nuraini."
Arga mengulang nama itu dalam hati.
"Aisyah…"
Jamal menambahkan.
"Anaknya Ustadz Hadi."
Arga menoleh.
"Ustadz Hadi yang sering ceramah di radio itu?"
"Iya."
Arga kembali melihat ke arah Aisyah.
Gadis itu kini sedang berbicara dengan beberapa ibu-ibu
dengan sikap sangat sopan.
Tidak ada kesan ingin menonjolkan diri.
Tidak ada gaya berlebihan.
Namun justru itulah yang membuatnya terlihat berbeda.
Arga berkata pelan.
"Dia… luar biasa."
Jamal tersenyum miring.
"Jangan bilang kamu jatuh cinta lagi."
Arga tidak menjawab.
Karena dalam pikirannya mulai muncul sesuatu yang aneh.
Ia mengingat Nadira.
Lalu melihat Aisyah.
Ia mulai menyusun sesuatu di dalam kepala.
Nadira… cantik, kaya, berpendidikan.
Aisyah… tinggi, sederhana, kuat agamanya.
Arga menatap langit malam di atas masjid.
Bintang-bintang bersinar terang.
Ia tersenyum tipis.
Jamal menyenggolnya lagi.
"Kamu kenapa diam?"
Arga menjawab pelan.
"Tidak apa-apa."
"Serius?"
Arga mengangguk.
Namun dalam hatinya ia berkata:
Ternyata benar.
Yang satu punya dunia.
Yang satu punya iman.
Ia menghela napas panjang.
Lalu tersenyum dengan cara yang membuat Jamal sedikit
curiga.
Karena saat itu…
tanpa seorang pun menyadarinya…
di dalam kepala Arga mulai terbentuk sebuah rencana.
Rencana yang jika orang lain mengetahuinya…
mungkin mereka hanya akan berkata satu hal:
"Pemuda itu benar-benar gila."
BAB III
Strategi Dua Cinta
Sejak malam pasar di Desa Arum Sari dan pengajian di Desa
Tegal Wangi, kehidupan Arga Pradipta tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.
Dulu hari-harinya sederhana.
Pagi membantu ayahnya di sawah.
Siang kadang membantu ibunya di pasar.
Sore nongkrong di warung kopi Pak Darto.
Malam ronda bersama teman-temannya.
Namun sekarang… semua berubah.
Hari-harinya dipenuhi oleh satu hal yang sama:
perhitungan.
Bukan perhitungan uang.
Bukan perhitungan hasil panen.
Tetapi perhitungan waktu, jarak, dan kebohongan kecil yang
harus dijaga agar tidak terbongkar.
Karena kini Arga sedang menjalankan sesuatu yang bahkan
teman-temannya pun belum benar-benar memahaminya.
Sebuah strategi dua cinta.
Malam itu udara Desa Sukamerta terasa dingin. Angin dari
persawahan membawa aroma tanah basah.
Di pos ronda dekat perempatan desa, empat pemuda duduk
melingkar di atas tikar lusuh.
Arga, Jamal, Udin, dan Rifki.
Di tengah mereka ada termos kopi, sepiring pisang goreng,
dan sebungkus rokok yang sudah hampir habis.
Jamal menatap Arga dengan tatapan curiga sejak tadi.
Akhirnya ia tidak tahan.
"Ga… aku mau tanya serius."
Arga masih sibuk mengaduk kopi.
"Apa?"
Jamal menyipitkan mata.
"Kamu sekarang sering ke Arum Sari kan?"
Arga mengangguk santai.
"Iya."
Udin langsung menyeringai.
"Katanya juga sering ke Tegal Wangi."
Arga mengangkat alis.
"Terus?"
Rifki tertawa kecil sambil menepuk lutut.
"Terus… kamu ini sebenarnya pacaran berapa
orang?"
Arga menyeruput kopi dengan tenang.
"Kalau dua kenapa?"
Tiga temannya langsung membelalak.
"DUA?!" mereka berseru bersamaan.
Jamal memukul meja bambu pos ronda.
"Dasar playboy desa!"
Udin sampai terbatuk-batuk.
"Gila kamu, Ga!"
Rifki menatap Arga seperti melihat makhluk aneh.
"Yang satu Nadira Maheswari…"
"Yang satu Aisyah Nuraini…"
Ia menggeleng-geleng.
"Kamu ini seperti mau menabrak dua gunung
sekaligus."
Arga hanya tertawa kecil.
"Kalian ini lebay."
Jamal menghela napas panjang.
"Bukan lebay, ini fakta."
Ia menunjuk Arga dengan jari telunjuk.
"Yang di Arum Sari itu cantiknya kayak artis
sinetron."
Udin menambahkan.
"Yang di Tegal Wangi anak ustadz pula."
Rifki menepuk bahu Arga.
"Kalau ketahuan… kamu bukan cuma ditampar. Bisa
dikejar satu desa."
Semua tertawa.
Arga ikut tertawa, tapi di dalam kepalanya sebenarnya
sedang bekerja sebuah sistem yang sangat rapi.
Ia sudah membuat jadwal kunjungan.
Jadwal Rahasia Arga
Senin dan Kamis →
Arum Sari
Selasa dan Sabtu → Tegal Wangi
Rabu → membantu ibu di pasar
Jumat → pengajian
Minggu → istirahat… atau memperbaiki strategi
Ia bahkan sudah menghitung jarak tempuh.
Sukamerta – Arum Sari: 30 menit naik motor.
Sukamerta – Tegal Wangi: 35 menit.
Namun yang paling penting dalam strategi itu adalah
identitas.
Di Arum Sari ia dikenal sebagai: Arga.
Di Tegal Wangi ia dikenal sebagai: Pradipta.
Dan yang paling aneh…
kedua nama itu memang benar-benar namanya.
Suatu sore Arga duduk di teras rumah Nadira.
Rumah keluarga Mahendra sangat besar dibanding rumah-rumah
lain di desa.
Halaman luas.
Taman bunga tertata rapi.
Ada mobil hitam mengkilap terparkir di samping garasi.
Nadira datang membawa dua gelas jus jeruk.
Ia tersenyum.
"Mas Arga sekarang sering ke sini ya."
Arga tersenyum.
"Kalau tidak datang, nanti dibilang sombong."
Nadira tertawa kecil.
"Mas Arga ini ada saja jawabannya."
Ia duduk di kursi rotan di depan Arga.
Angin sore meniup rambut panjangnya.
Arga menatapnya sebentar… lalu cepat-cepat memalingkan
wajah agar tidak terlalu terlihat terpaku.
Nadira berkata pelan.
"Bapak juga suka sama Mas Arga."
Arga sedikit terkejut.
"Serius?"
"Iya."
"Apa kata beliau?"
Nadira tersenyum.
"Kata bapak… Mas Arga pemuda yang sopan. Tidak banyak
gaya."
Arga mengangguk pelan.
Di dalam hatinya ia berkata:
Alhamdulillah… satu benteng berhasil ditembus.
Nadira lalu menatapnya agak lama.
"Mas Arga… boleh tanya sesuatu?"
"Tanya saja."
"Mas Arga belum punya pacar?"
Arga hampir tersedak jus.
"Eee…"
Nadira tertawa melihat reaksinya.
"Kenapa gugup?"
Arga mencoba tersenyum.
"Belum."
"Kenapa?"
Arga menatap langit sore.
"Masih mencari yang tepat."
Nadira memiringkan kepala.
"Yang seperti apa?"
Arga berpikir sejenak.
Lalu berkata pelan.
"Cantik."
Nadira tertawa.
"Semua pria bilang begitu."
Arga melanjutkan.
"Cerdas."
"Masih wajar."
Arga menatap Nadira.
"Dan… hatinya baik."
Nadira tidak berkata apa-apa.
Namun pipinya memerah sedikit.
Beberapa hari kemudian.
Di beranda rumah sederhana milik Ustadz Hadi, Pradipta
duduk bersama Aisyah.
Rumah itu tidak besar.
Namun sangat bersih dan terasa damai.
Dari dalam rumah terdengar suara anak-anak mengaji.
Aisyah datang membawa dua gelas teh hangat.
"Mas Pradipta kelihatannya capek."
Pradipta tersenyum.
"Perjalanan dari Sukamerta lumayan."
Aisyah duduk di kursi bambu di depannya.
"Mas Pradipta rajin sekali datang pengajian."
Pradipta menunduk sedikit.
"Masih belajar."
Aisyah tersenyum.
"Bapak bilang Mas Pradipta pemuda yang baik."
Pradipta terdiam sesaat.
Dalam hati ia berkata:
Ya Allah… benteng kedua juga terbuka.
Aisyah memandangnya lembut.
"Mas Pradipta bekerja apa?"
"Kadang membantu orang tua… kadang di sawah."
Aisyah mengangguk.
"Sederhana ya."
Pradipta tersenyum.
"Tidak apa-apa kan?"
Aisyah menggeleng.
"Tidak."
Ia menatap jauh ke halaman.
"Bapak selalu bilang… laki-laki yang baik bukan yang
paling kaya… tapi yang paling bertanggung jawab."
Pradipta merasa dadanya hangat.
Suatu malam di pos ronda, Jamal menatap Arga serius.
"Ga… kamu pernah kepikiran ketahuan?"
Arga mengangkat bahu.
"Belum tentu ketahuan."
Udin menggeleng.
"Ini bukan mainan."
Rifki menatapnya tajam.
"Kalau dua-duanya cinta kamu?"
Arga terdiam.
Angin malam berhembus pelan.
Lampu jalan berayun tertiup angin.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
"Aku tidak main-main."
Jamal mengerutkan dahi.
"Maksudnya?"
Arga menatap jauh ke jalan desa yang gelap.
Lalu berkata dengan tenang.
"Aku ingin menikahi mereka."
Tiga temannya langsung terdiam.
Beberapa detik kemudian…
Jamal tertawa keras.
"Dasar gila!"
Udin sampai menepuk dahinya.
"Ini bukan drama sinetron, Ga!"
Rifki menggeleng sambil tertawa.
"Kalau dua-duanya jadi istri kamu… aku traktir satu
desa!"
Semua tertawa.
Namun Arga tidak ikut tertawa kali ini.
Matanya justru terlihat serius.
Karena bagi Arga…
strategi ini bukan permainan.
Bukan juga sekadar petualangan cinta.
Ini adalah obsesi yang sedang ia perjuangkan.
Dan ia belum tahu…
bahwa strategi dua cinta itu suatu hari nanti akan berubah
menjadi badai besar yang mengguncang tiga desa sekaligus.
BAB IV
Cinta yang Terlanjur
Dalam
Musim tanam kedua tahun itu datang dengan angin yang lebih
lembut dari biasanya. Sawah-sawah di sekitar Desa Sukamerta tampak hijau
membentang seperti permadani alam yang luas. Air irigasi mengalir perlahan di
pematang, memantulkan cahaya matahari sore yang mulai condong ke barat.
Di desa kecil itu, kehidupan berjalan seperti biasa. Para
petani menutup hari dengan menata alat cangkulnya. Anak-anak berlarian di jalan
tanah sambil tertawa riang. Dari kejauhan terdengar azan asar memanggil
orang-orang menuju masjid.
Namun bagi Arga Pradipta, waktu tidak lagi berjalan biasa.
Ia kini hidup di antara dua dunia.
Di Sukamerta, ia adalah Arga — pemuda santai yang sering
berjalan di pematang sawah bersama seorang gadis bernama Nadira.
Di Tegal Wangi, ia dikenal sebagai Pradipta — pemuda sopan
yang rajin membantu ustadz di masjid, dekat dengan gadis bernama Aisyah.
Awalnya semua hanya permainan identitas.
Sebuah strategi gila yang lahir dari candaan di pos ronda.
Namun sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan mulai tumbuh…
Cinta.
Dan cinta memiliki satu sifat yang tidak bisa dikendalikan
siapa pun.
Ia tumbuh…
diam-diam…
namun sangat dalam.
Sore itu langit berwarna jingga keemasan. Angin dari
perbukitan berhembus lembut melewati hamparan sawah Arum Sari.
Arga dan Nadira berjalan perlahan di pematang yang sempit.
Sesekali kaki mereka harus berhati-hati agar tidak terpeleset ke lumpur sawah
yang masih basah.
Nadira mengenakan kerudung krem sederhana. Beberapa helai
rambutnya terlepas dan tertiup angin.
Arga memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.
Dalam hati ia berpikir.
"Kenapa setiap kali bersamanya… semuanya terasa lebih
tenang?"
Nadira tiba-tiba berhenti berjalan.
Ia memandang ke arah hamparan sawah yang luas.
"Mas Arga…"
Arga menoleh.
"Iya?"
Suara Nadira pelan. Hampir seperti bisikan.
"Mas Arga pernah jatuh cinta?"
Arga tersenyum kecil.
Namun kali ini senyum itu tidak sepenuhnya santai.
"Sekarang."
Nadira menoleh cepat.
Pipinya langsung memerah.
"Mas Arga suka bercanda."
Arga berhenti berjalan.
Ia menatap Nadira dengan serius.
"Tidak."
Untuk beberapa detik tidak ada suara apa pun.
Hanya suara angin dan gemericik air irigasi.
Nadira menunduk.
Tangannya memainkan ujung kerudungnya dengan gugup.
"Mas Arga… aku ingin tanya sesuatu."
"Tanya saja."
Nadira menarik napas panjang.
Seolah sedang mengumpulkan keberanian.
"Kalau suatu hari kita tidak bisa bersama… Mas Arga bagaimana?"
Pertanyaan itu seperti petir yang menyambar pikiran Arga.
Jantungnya berdetak lebih keras.
Ia tahu…
Pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan biasa.
Itu adalah ketakutan seorang perempuan.
Arga menatap wajah Nadira.
Wajah yang kini mulai ia kenal dengan sangat baik.
Wajah yang entah sejak kapan mulai memenuhi pikirannya.
Namun ada satu masalah besar.
Ia juga mencintai orang lain.
Arga menelan ludah.
Namun ia tetap menjawab dengan suara tenang.
"Aku akan tetap berjuang."
Nadira tersenyum.
Senyum yang sangat tulus.
Senyum seseorang yang percaya sepenuhnya.
Dan senyum itu justru membuat dada Arga terasa lebih berat.
Malam itu suasana masjid Al-Ikhlas di Desa Tegal Wangi
terasa tenang.
Lampu-lampu neon menerangi halaman kecil masjid. Suara
jangkrik terdengar dari semak-semak di sekitar.
Pradipta — identitas kedua Arga — sedang membantu Ustadz
Hadi membersihkan karpet masjid.
Ia mengangkat gulungan karpet sambil tertawa kecil.
"Ustadz… karpetnya berat sekali."
Ustadz Hadi tersenyum.
"Kalau mau jadi laki-laki kuat, harus biasa kerja
begini."
Pradipta mengangguk sambil bercanda.
"Kalau begitu saya sudah setengah kuat, Ustadz."
"Kenapa setengah?"
"Karena setengahnya lagi masih lapar."
Ustadz Hadi tertawa.
Saat itulah seorang gadis datang membawa nampan berisi air
minum.
Aisyah.
Putri Ustadz Hadi.
Ia berjalan pelan ke arah mereka.
"Mas Pradipta…"
Pradipta menoleh.
"Iya?"
Aisyah menyodorkan gelas.
"Ini minum dulu."
Pradipta menerima dengan senyum.
"Terima kasih."
Aisyah duduk di tangga masjid.
Ia memperhatikan Pradipta yang masih membersihkan lantai.
"Mas Pradipta…"
"Iya?"
"Kenapa Mas selalu membantu di masjid?"
Pradipta berpikir sejenak.
"Karena di sini hati saya tenang."
Aisyah menatapnya lama.
Ada sesuatu dalam tatapan itu.
Sesuatu yang membuat Pradipta merasa sedikit gugup.
"Mas Pradipta orang yang baik."
Pradipta tertawa kecil.
"Belum tentu."
Aisyah menggeleng pelan.
"Bapak bilang Mas Pradipta cocok menjadi pemimpin
keluarga."
Pradipta hampir tersedak air minumnya.
"Serius?"
Aisyah mengangguk.
Wajahnya memerah.
"Mas Pradipta…"
"Iya?"
Aisyah menunduk.
Suaranya sangat pelan.
"Kalau suatu hari… Mas ingin menikah…"
Pradipta menunggu.
"Iya?"
"Apakah Mas akan mencari perempuan yang
sempurna?"
Pradipta terdiam.
Pertanyaan itu terasa sangat dalam.
Ia memandang halaman masjid yang sunyi.
Lalu menjawab perlahan.
"Tidak ada manusia yang sempurna."
Aisyah mengangkat wajahnya.
"Kalau begitu?"
Pradipta menatapnya.
"Mas hanya perlu seseorang yang mau berjalan
bersama."
Aisyah tersenyum.
Senyum yang lembut.
Namun saat itu juga…
Pradipta merasakan sesuatu yang membuat dadanya bergetar.
Ia sadar sesuatu.
Ini bukan lagi strategi.
Ia benar-benar jatuh cinta.
Kepada Aisyah.
Dan kepada Nadira.
Beberapa hari kemudian, malam di pos ronda kembali ramai.
Jamal, Udin, dan Rifki duduk sambil minum kopi.
Jamal menggeleng.
"Ini anak benar-benar sibuk."
Udin bertanya.
"Siapa?"
"Si Arga itu."
Rifki tertawa.
"Pacar dua desa pasti capek."
Tiba-tiba Arga datang.
Jamal langsung berseru.
"Nah itu dia orangnya!"
Arga duduk santai.
Udin langsung bertanya.
"Dari mana?"
Arga menjawab ringan.
"Pengajian."
Rifki menyipitkan mata.
"Pengajian yang mana?"
Arga tertawa.
"Pengajian cinta."
Jamal memukul bahunya.
"Gila kamu."
Udin ikut tertawa.
"Kalau suatu hari ketahuan, kami tidak ikut tanggung
jawab."
Arga menyandarkan punggungnya ke tiang ronda.
Ia menatap langit malam.
Bintang-bintang terlihat jelas.
"Tenang saja."
Namun Jamal memandangnya serius.
"Ga… aku serius."
Arga menoleh.
"Kenapa?"
Jamal berkata pelan.
"Kalau kamu benar-benar jatuh cinta… permainan ini
bisa berbahaya."
Untuk pertama kalinya Arga tidak langsung menjawab.
Ia hanya diam.
Karena dalam hatinya…
ia tahu Jamal benar.
Cinta yang awalnya hanya obsesi dan permainan identitas…
kini telah berubah menjadi perasaan yang nyata.
Dan semakin dalam perasaan itu tumbuh…
semakin dekat pula hari di mana semua rahasia akan
terbongkar.
BAB V
Dua Pertunangan
Musim panen selalu membawa suasana berbeda di desa. Padi
yang menguning telah dipotong, gabah dijemur di halaman rumah, dan aroma jerami
kering menyebar di udara. Para petani terlihat lebih santai, duduk di warung
kopi sambil membicarakan hasil panen dan rencana musim berikutnya.
Namun di balik ketenangan desa, takdir seseorang justru
sedang bergerak ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.
Bagi Arga Pradipta, hidup yang selama ini terasa seperti
permainan mulai berubah menjadi kenyataan yang jauh lebih rumit.
Candaan di pos ronda yang dulu terdengar ringan kini mulai
berbuah konsekuensi yang berat.
Dua desa.
Dua keluarga.
Dua perempuan yang sama-sama percaya kepadanya.
Dan yang paling berbahaya…
Dua pertunangan yang tidak pernah ia rencanakan terjadi
bersamaan.
Di Desa Arum Sari, rumah besar milik Pak Mahendra terlihat
lebih ramai dari biasanya.
Rumah itu berdinding kayu jati tua dengan halaman luas yang
dipenuhi pohon mangga. Di teras depan, beberapa kursi bambu disusun rapi. Para
kerabat duduk sambil berbincang pelan.
Di ruang tamu yang luas, suasana terasa sedikit tegang.
Arga duduk dengan punggung tegak di kursi tamu. Di
hadapannya duduk Pak Mahendra dengan wajah serius namun tenang.
Di samping Pak Mahendra, Bu Ratna duduk sambil sesekali
melirik ke arah putrinya.
Nadira duduk di kursi dekat jendela. Wajahnya menunduk
sejak tadi.
Pak Mahendra membuka percakapan.
"Arga…"
"Iya, Pak."
"Sudah berapa lama kamu kenal Nadira?"
Arga mencoba tetap tenang.
"Sekitar delapan bulan, Pak."
Pak Mahendra mengangguk pelan.
"Delapan bulan bukan waktu yang sebentar."
Ia menatap Arga dengan mata tajam namun penuh penilaian.
"Selama itu kamu sering datang ke rumah ini."
Arga mengangguk.
Pak Mahendra melanjutkan.
"Kamu membantu di sawah. Kadang ikut mengangkut karung
beras dari gudang. Bahkan waktu banjir kecil bulan lalu, kamu yang pertama
datang membantu memperbaiki tanggul."
Arga tersenyum kecil.
"Saya hanya membantu sebisanya, Pak."
Pak Mahendra bersandar di kursinya.
"Dan selama itu… saya tidak pernah mendengar satu pun
kabar buruk tentangmu."
Bu Ratna tersenyum hangat.
"Arga… kamu anak baik."
Kalimat itu membuat dada Arga terasa hangat… sekaligus
berat.
Pak Mahendra menatap Nadira sekilas, lalu kembali ke Arga.
"Karena itu… saya ingin bicara sesuatu."
Ruangan tiba-tiba terasa lebih sunyi.
Beberapa kerabat berhenti berbincang.
Nadira mengangkat wajahnya sedikit.
Pak Mahendra berkata dengan suara tenang.
"Bagaimana kalau hubungan kalian kita lanjutkan ke
arah yang lebih serius?"
Nadira menatap ayahnya kaget.
"Pak… maksudnya?"
Pak Mahendra tersenyum tipis.
"Pertunangan."
Nadira langsung menunduk.
Pipinya memerah.
Bu Ratna tertawa kecil melihat reaksi putrinya.
Sementara Arga…
seolah kehilangan udara di paru-parunya.
Namun ia berusaha tetap tenang.
Ia menunduk hormat.
"Kalau memang Bapak dan Ibu merestui… saya tentu
merasa sangat terhormat."
Pak Mahendra tertawa kecil.
"Restu itu sudah lama ada, Arga."
Seorang paman Nadira ikut berkata sambil tersenyum.
"Dari dulu juga sudah kelihatan."
Nadira semakin menunduk malu.
Beberapa hari kemudian, rumah Pak Mahendra kembali ramai.
Tidak ada pesta besar.
Hanya keluarga dekat.
Di ruang tengah, sebuah meja kecil dihias bunga melati.
Pak Mahendra berdiri di depan Arga dan Nadira.
Ia memegang sebuah kotak kecil.
Ketika kotak itu dibuka, terlihat cincin emas sederhana.
Pak Mahendra menatap Arga.
"Arga."
"Iya, Pak."
"Mulai hari ini hubungan kalian tidak lagi sekadar
perkenalan."
Ia menyerahkan cincin itu kepada Arga.
"Ini tanda keseriusan."
Arga menerima cincin itu dengan tangan sedikit gemetar.
Ia memandang Nadira.
Nadira menatapnya dengan mata berbinar.
Perlahan Arga memasangkan cincin itu ke jari Nadira.
Tepuk tangan kecil terdengar dari keluarga.
Bu Ratna bahkan terlihat menyeka air matanya.
Pak Mahendra kemudian menepuk bahu Arga.
"Mulai hari ini… kamu bukan hanya tamu di rumah
ini."
Arga menunduk hormat.
"Terima kasih, Pak."
Nadira menatap Arga dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Mas Arga…"
"Iya?"
"Ini seperti mimpi."
Arga tersenyum lembut.
Namun di balik senyum itu…
sebuah kegelisahan kecil mulai tumbuh.
Karena ia tahu…
di desa lain…
seseorang juga menunggunya.
Dua minggu kemudian.
Di Desa Tegal Wangi, suasana rumah Ustadz Hadi juga
terlihat berbeda.
Rumah sederhana itu dipenuhi aroma teh hangat dan kue
tradisional.
Di ruang tamu, Pradipta — identitas kedua Arga — duduk
bersila dengan sopan.
Di hadapannya duduk Ustadz Hadi.
Wajahnya tenang namun penuh wibawa.
Ustadz Hadi membuka percakapan.
"Pradipta."
"Iya, Ustadz."
"Saya sudah lama memperhatikan kamu."
Pradipta menunduk hormat.
"Saya hanya belajar, Ustadz."
Ustadz Hadi tersenyum.
"Belajar itu bagus."
Ia berhenti sebentar.
"Tapi yang lebih penting adalah akhlak."
Ia menatap Pradipta dalam-dalam.
"Dan kamu memiliki itu."
Di sudut ruangan, Aisyah duduk di dekat ibunya.
Pipinya memerah sejak tadi.
Ustadz Hadi melanjutkan dengan suara pelan namun tegas.
"Kamu datang ke rumah ini bukan hanya untuk pengajian,
kan?"
Ruangan mendadak sunyi.
Pradipta tidak langsung menjawab.
Aisyah semakin menunduk.
Ustadz Hadi tersenyum tipis.
"Kalau kamu serius… saya ingin mendengar langsung dari
kamu."
Pradipta menarik napas panjang.
Detik itu terasa sangat panjang.
Akhirnya ia berkata.
"Ustadz…"
"Iya?"
"Saya ingin melamar Aisyah."
Ruangan langsung hening.
Aisyah menutup wajahnya dengan kerudung.
Ibunya tersenyum haru.
Ustadz Hadi menatap langit-langit rumah sejenak.
Seolah sedang memikirkan sesuatu.
Lalu ia berkata pelan.
"Kalau niatmu baik… saya tidak akan menghalangi."
Pradipta menunduk dalam-dalam.
"Terima kasih, Ustadz."
Beberapa hari kemudian, setelah pengajian malam Jumat
selesai, keluarga kecil itu berkumpul.
Tidak ada kemewahan.
Hanya doa dan kehangatan.
Beberapa jamaah yang dekat dengan keluarga ikut
menyaksikan.
Ustadz Hadi memegang tangan Pradipta.
"Anak muda…"
"Iya, Ustadz."
"Menikah itu bukan hanya soal cinta."
Ia menatap Aisyah.
"Ini tentang tanggung jawab."
Pradipta mengangguk serius.
"Saya mengerti."
Ustadz Hadi kemudian berkata dengan suara hangat.
"Mulai hari ini kamu bukan hanya tamu di rumah
ini."
Kalimat itu membuat jantung Arga berdetak lebih cepat.
Karena ia pernah mendengar kalimat yang sama.
Di rumah Pak Mahendra.
Ustadz Hadi melanjutkan.
"Mulai hari ini kamu bagian dari keluarga kami."
Aisyah menatap Pradipta dengan mata penuh kebahagiaan.
Ia tersenyum lembut.
"Mas Pradipta…"
"Iya?"
"Terima kasih sudah datang dalam hidupku."
Pradipta tersenyum.
Namun di dalam hatinya…
kegelisahan itu semakin besar.
Karena kini kenyataan yang ia jalani tidak lagi bisa
disebut permainan.
Ia telah bertunangan dengan dua perempuan sekaligus.
Dua perempuan yang sama-sama percaya kepadanya.
Dua keluarga yang sama-sama menerimanya.
Dan yang paling berbahaya…
tidak seorang pun mengetahui kebenaran itu.
Namun Arga tahu satu hal.
Rahasia sebesar ini…
tidak mungkin tersembunyi selamanya.
Dan ketika hari itu tiba…
bukan hanya hatinya yang akan hancur.
Tetapi juga hati orang-orang yang paling mempercayainya.
BAB VI
Rencana Pernikahan
Musim berganti perlahan di desa-desa kecil sekitar
Sukamerta.
Setelah panen dan musim silaturahmi usai, biasanya satu per
satu keluarga mulai membicarakan sesuatu yang dianggap sebagai fase berikutnya
dalam kehidupan anak-anak mereka.
Pernikahan.
Bagi masyarakat desa, pertunangan bukanlah sekadar janji
romantis.
Pertunangan adalah tahap menuju akad.
Jika terlalu lama dibiarkan, akan muncul banyak pertanyaan.
"Kenapa belum dinikahkan?"
"Ada masalah?"
"Jangan-jangan tidak serius?"
Itulah sebabnya, ketika dua keluarga besar mulai memikirkan
masa depan anak mereka, pembicaraan tentang pernikahan pun tak terelakkan.
Namun tak seorang pun menyadari bahwa keputusan yang tampak
sederhana itu akan menciptakan badai terbesar dalam hidup seorang pemuda
bernama Arga Pradipta.
Di Desa Arum Sari, rumah besar Pak Mahendra terlihat tenang
malam itu.
Di ruang makan, keluarga kecil itu sedang menikmati makan
malam.
Di meja panjang, Pak Mahendra duduk di ujung meja,
sementara Nadira dan ibunya duduk di sisi lain.
Suasana terasa santai sampai Pak Mahendra tiba-tiba
berkata:
"Nadira."
"Iya, Pak?"
"Kamu sekarang sudah berapa umur?"
Nadira mengangkat alis sedikit.
"Dua puluh empat."
Pak Mahendra mengangguk.
"Sudah cukup umur untuk menikah."
Sendok di tangan Nadira berhenti bergerak.
Bu Ratna tersenyum kecil melihat reaksi putrinya.
"Memang sudah waktunya."
Nadira menatap ayahnya.
"Bapak tiba-tiba bicara begitu kenapa?"
Pak Mahendra meneguk air putih.
"Pertunangan kamu dengan Arga sudah berjalan beberapa
bulan."
Ia melanjutkan dengan suara santai.
"Kalau terlalu lama… nanti orang desa mulai banyak
bertanya."
Bu Ratna menambahkan dengan nada bercanda.
"Dan bapakmu juga sudah tidak sabar."
Nadira menatap ibunya.
"Tidak sabar apa?"
Pak Mahendra tertawa.
"Tidak sabar melihat cucu."
Nadira hampir menjatuhkan sendoknya.
"Pak!"
Bu Ratna tertawa kecil.
"Sudah tidak usah malu."
Nadira menunduk sambil menutup wajahnya dengan tangan.
Pak Mahendra akhirnya berkata dengan nada serius.
"Bapak pikir… pernikahan kalian sebaiknya
dipercepat."
Nadira mengangkat wajahnya.
"Secepat apa?"
Pak Mahendra menjawab tenang.
"Bulan depan."
Nadira langsung membeku.
"Bulan depan?!"
Pak Mahendra mengangguk mantap.
"Bulan Syawal. Bulan yang baik."
Bu Ratna ikut menimpali.
"Banyak orang menikah di bulan itu."
Nadira masih terlihat kaget.
"Cepat sekali…"
Pak Mahendra tersenyum.
"Kalau jodoh sudah jelas, kenapa ditunda?"
Nadira tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Di dalam hatinya, perasaan bahagia bercampur gugup.
Ia membayangkan hidup bersama Arga.
Rumah tangga.
Masa depan.
Dan mungkin… anak-anak kecil yang berlari di halaman rumah.
Beberapa hari kemudian, Arga datang ke rumah Pak Mahendra
seperti biasa.
Ia tidak menyangka bahwa hari itu akan menjadi hari yang
membuat hidupnya berubah.
Di ruang tamu, Pak Mahendra langsung berbicara tanpa basa-basi.
"Arga."
"Iya, Pak."
"Duduklah."
Arga duduk dengan sopan.
Pak Mahendra menatapnya dengan serius.
"Hubunganmu dengan Nadira sudah jelas."
Arga mengangguk.
"Ya, Pak."
Pak Mahendra kemudian berkata langsung:
"Bagaimana kalau pernikahan kalian kita lakukan bulan
depan?"
Arga yang sedang minum teh langsung tersedak.
"Batuk—khek—bulan depan?!"
Pak Mahendra mengangguk santai.
"Kenapa? Terlalu lama?"
Arga panik.
"Bukan, Pak… maksud saya…"
Bu Ratna tertawa kecil.
"Arga kelihatan gugup."
Pak Mahendra tersenyum.
"Tenang saja. Semua biaya pernikahan bapak yang
urus."
Arga hanya bisa tersenyum kaku.
Dalam kepalanya mulai muncul satu kalimat besar:
Pak Mahendra melanjutkan.
"Kalau kamu setuju, kita pilih tanggal baik."
Arga menelan ludah.
"Ba… baik, Pak."
Pak Mahendra terlihat puas.
"Bagus."
Ia mengambil kalender.
"Kalau begitu… tanggal 12 Syawal."
Arga mengangguk otomatis.
Padahal pikirannya sudah tidak berada di ruangan itu lagi.
Begitu pulang ke Sukamerta, Arga tidak langsung ke rumah.
Ia berlari menuju pos ronda.
Di sana Jamal, Udin, dan Rifki sedang bermain kartu sambil
minum kopi.
Udin tertawa.
"Ini pasti kalah lagi!"
Jamal melihat Arga datang dengan wajah pucat.
"Eh… ada apa ini?"
Arga duduk dengan napas terengah.
"Gawat."
Rifki mengangkat alis.
"Kenapa?"
Arga berkata pelan.
"Mereka mau menikahkan aku bulan depan."
Udin langsung tertawa.
"Bagus dong!"
Arga menatapnya tajam.
"Masalahnya…"
Ia berhenti sebentar.
"Yang mana dulu?"
Kartu di tangan Jamal langsung jatuh ke lantai.
"ASTAGA."
Rifki menatap Arga seperti melihat makhluk aneh.
"Jangan bilang…"
Arga mengangguk.
"Yang Arum Sari."
Udin menepuk kening.
"Ya ampun."
Jamal berdiri.
"Terus yang Tegal Wangi?"
Arga menggeleng.
"Belum tahu."
Jamal menghela napas.
"Semoga saja belum ada rencana."
Namun nasib ternyata tidak sebaik itu.
Beberapa hari kemudian, Arga datang ke Tegal Wangi untuk
pengajian seperti biasa.
Setelah pengajian selesai, Ustadz Hadi memanggilnya.
"Pradipta."
"Iya, Ustadz."
"Ayo duduk sebentar."
Pradipta duduk di teras rumah.
Aisyah juga duduk tidak jauh dari mereka.
Ustadz Hadi berkata dengan suara tenang.
"Kami sekeluarga sudah berdiskusi."
Perasaan tidak enak langsung muncul di dada Arga.
"Diskusi apa, Ustadz?"
Ustadz Hadi tersenyum.
"Kami ingin segera menikahkan kalian."
Pradipta hampir pingsan.
"Secepat itu?"
Ustadz Hadi mengangguk.
"Lebih baik dipercepat daripada ditunda."
Aisyah tersenyum malu.
"Mas Pradipta…"
"Iya?"
"Aku tidak menyangka secepat ini."
Pradipta hanya bisa mengangguk.
Dalam kepalanya satu kalimat terus berputar:
Ini bencana.
Ustadz Hadi melanjutkan.
"Kami sudah memilih tanggal."
Pradipta menatapnya lemah.
"Bulan Syawal."
Dunia terasa berhenti berputar.
Malam itu Arga kembali duduk di pos ronda sendirian.
Lampu jalan desa menyala redup.
Jamal datang membawa dua gelas kopi.
"Ini minum dulu."
Arga menerima gelas itu tanpa bicara.
Beberapa menit mereka diam.
Akhirnya Arga berkata pelan.
"Mal."
"Iya?"
"Kalau dua pernikahan di bulan yang sama…"
Ia berhenti sebentar.
"itu dosa atau rekor?"
Jamal hampir tersedak.
"Jangan bilang…"
Arga mengangguk pelan.
Jamal memegang kepalanya.
"Ya Tuhan…"
Saat itu Udin datang sambil membawa buku kecil.
"Ada kabar."
Arga menatapnya lemah.
"Apa lagi?"
Udin membuka catatan.
"Arum Sari."
Ia melihat Arga.
"Tanggal 12 Syawal."
Arga menelan ludah.
"Terus?"
Udin menarik napas panjang.
"Tegal Wangi."
Ia berhenti sejenak.
"Tanggal 19 Syawal."
Semua langsung terdiam.
Angin malam berhembus pelan melewati jalan desa yang sunyi.
Jamal akhirnya berkata dengan suara pelan.
"Ini bukan cinta segitiga."
Rifki yang baru datang ikut duduk.
Ia mendengar percakapan terakhir.
Lalu berkata dengan wajah serius:
"Ini… bom waktu."
Arga menatap langit Sukamerta.
Bintang-bintang terlihat tenang.
Namun hidupnya…
sebentar lagi akan berubah menjadi badai besar.
Karena dalam hitungan minggu…
dua desa akan bersiap mengadakan pesta.
Dua keluarga akan menunggu pengantin pria.
Dan satu rahasia besar…
akan segera mendekati saat untuk terbongkar.
Drama sebenarnya…
baru saja akan dimulai.
BAB VII
Identitas Terbongkar
Seminggu sebelum hari pernikahan pertama yang telah
ditentukan, suasana di tiga desa mulai berubah.
Di Arum Sari, rumah Pak Mahendra menjadi pusat kesibukan.
Di Tegal Wangi, keluarga Ustadz Hadi mulai mengatur acara
akad dan walimah.
Sementara di Sukamerta, Arga menjalani hari-harinya dengan
perasaan yang semakin tidak tenang.
Pagi-pagi sekali suara tukang bambu sudah terdengar di
halaman rumah Nadira.
"Pak… bambu untuk rangka tenda ditaruh di mana?"
tanya salah satu pekerja.
Pak Mahendra menunjuk halaman depan.
"Di sana. Kita pasang panggung kecil juga."
Bu Ratna sibuk memeriksa daftar tamu.
"Keluarga dari kecamatan sudah dicatat?"
"Iya," jawab seorang sepupu Nadira.
Di sudut ruangan, Nadira duduk sambil menatap undangan yang
baru dicetak.
Di atas kertas putih itu tertulis:
Pernikahan Nadira Maheswari dengan Arga Pradipta.
Nadira tersenyum kecil.
Namun ia tidak tahu bahwa di desa lain, nama yang hampir
sama juga sedang tercetak di undangan lain.
Siang itu Pak Mahendra duduk bersama beberapa kerabat.
Ia terlihat berpikir serius.
Bu Ratna menyadarinya.
"Pak… kenapa dari tadi diam?"
Pak Mahendra menghela napas.
"Saya hanya ingin memastikan semuanya berjalan
lancar."
"Lancar bagaimana?"
Pak Mahendra menatap istrinya.
"Kita harus memastikan keluarga Arga benar-benar
jelas."
Bu Ratna mengernyit.
"Memangnya kenapa?"
Pak Mahendra menjawab tenang.
"Ini bukan soal curiga. Tapi adat kita memang
begitu."
Ia menoleh ke arah keponakannya, Raka.
"Raka."
"Iya, Om."
"Besok kamu ke Sukamerta."
Raka langsung duduk tegak.
"Ada apa, Om?"
"Cari informasi tentang keluarga Arga lebih
lengkap."
Raka mengangguk.
"Baik."
Bu Ratna berkata lembut.
"Sampaikan saja kita hanya ingin bersilaturahmi."
Raka tersenyum.
"Tenang saja, Tante."
Di waktu yang hampir sama, di rumah sederhana Ustadz Hadi,
percakapan serupa juga sedang berlangsung.
Beberapa kerabat Aisyah duduk di ruang tamu.
Paman Aisyah, Pak Salim, berkata:
"Hadi, sebelum pernikahan kita perlu memastikan
silsilah keluarga calon menantu."
Ustadz Hadi mengangguk pelan.
"Saya juga memikirkan hal itu."
Salah satu bibi Aisyah menambahkan:
"Bukan karena tidak percaya. Tapi ini adat."
Ustadz Hadi berkata tenang:
"Pradipta anak baik. Tapi tidak ada salahnya
memastikan."
Aisyah yang duduk di sudut ruangan tersenyum kecil.
"Mas Pradipta orang jujur."
Ibunya menatapnya lembut.
"Kamu yakin?"
Aisyah mengangguk.
"Sangat."
Pak Salim berdiri.
"Kalau begitu biar saya yang ke Sukamerta."
Ustadz Hadi mengangguk.
"Silakan."
Aisyah tersenyum lagi.
Ia tidak tahu bahwa perjalanan sederhana itu akan membuka
rahasia terbesar dalam hidupnya.
Dua hari kemudian.
Sebuah warung kopi kecil di perbatasan desa menjadi saksi
pertemuan yang tidak direncanakan.
Raka dari Arum Sari duduk di kursi kayu sambil minum kopi.
Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya datang dan
duduk di sebelahnya.
Itu adalah Pak Salim dari Tegal Wangi.
Pemilik warung bertanya:
"Biasanya tidak pernah lihat bapak di sini."
Pak Salim tertawa kecil.
"Saya dari Tegal Wangi."
Raka menoleh.
"Oh, saya dari Arum Sari."
Percakapan ringan pun dimulai.
Raka bertanya:
"Bapak ada urusan di Sukamerta?"
Pak Salim mengangguk.
"Mencari informasi calon menantu."
Raka tertawa kecil.
"Wah… kebetulan sekali."
Pak Salim mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Saya juga."
Mereka tertawa bersama.
Raka bertanya lagi:
"Calon menantu bapak namanya siapa?"
Pak Salim menjawab santai.
"Pradipta."
Raka mengangguk.
"Bagus juga namanya."
Pak Salim balik bertanya:
"Kalau calon menantu keluarga mas?"
Raka menjawab tanpa berpikir panjang.
"Arga."
Pak Salim tersenyum.
"Banyak juga pemuda baik di Sukamerta."
Raka mengangguk.
"Memang."
Namun rasa penasaran membuat Raka bertanya lagi.
"Nama lengkapnya siapa, Pak?"
Pak Salim berkata santai.
"Pradipta saja yang saya tahu."
Raka berkata ringan:
"Kalau calon menantu kami namanya Arga Pradipta."
Kalimat itu membuat Pak Salim membeku.
Ia menatap Raka dengan mata melebar.
"Ulangi lagi?"
Raka mengerutkan dahi.
"Arga Pradipta."
Pak Salim berdiri perlahan.
"Mas… calon menantu kami juga dari Sukamerta."
Raka ikut berdiri.
"Namanya Pradipta?"
Pak Salim mengangguk pelan.
Keduanya saling menatap.
Sebuah perasaan tidak enak mulai muncul.
Raka berkata:
"Lebih baik kita memastikan langsung."
Pak Salim mengangguk.
"Iya."
Rumah Arga di Sukamerta tampak sederhana.
Halaman kecil dengan pohon mangga di depan.
Ibunya sedang menyapu ketika dua tamu itu datang.
"Permisi, Bu."
Ibunya menoleh.
"Iya?"
Raka bertanya sopan.
"Kami ingin menanyakan tentang Arga."
Ibunya tersenyum ramah.
"Arga Pradipta?"
Kedua pria itu saling menatap.
Pak Salim bertanya pelan:
"Jadi benar…?"
Ibunya tertawa kecil.
"Anak saya memang punya dua nama."
Raka merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
"Arga dan…?"
"Pradipta."
Suasana tiba-tiba terasa dingin.
Pak Salim bertanya lagi.
"Dia… sedang bertunangan?"
Ibunya menjawab santai.
"Iya."
Raka bertanya cepat.
"Dengan siapa, Bu?"
Ibunya mengangkat bahu.
"Dia tidak pernah cerita detail."
Pak Salim dan Raka saling menatap dengan wajah pucat.
Mereka sadar satu hal yang sangat mengerikan.
Dua gadis dari dua desa berbeda… bertunangan dengan orang
yang sama.
Kabar itu menyebar seperti api di rumput kering.
Malam itu dua keluarga besar berkumpul di balai desa
Sukamerta.
Lampu terang menyinari ruangan.
Wajah-wajah tegang memenuhi tempat itu.
Arga dipanggil.
Ia datang dengan wajah bingung.
Namun ketika melihat Pak Mahendra berdiri di satu sisi
ruangan dan Ustadz Hadi di sisi lain…
dadanya langsung berdebar keras.
Pak Mahendra berbicara lebih dulu.
"Arga."
Suaranya dingin.
"Namamu sebenarnya siapa?"
Arga terdiam.
Ustadz Hadi melanjutkan dengan tatapan tajam.
"Arga… atau Pradipta?"
Seluruh ruangan sunyi.
Jamal yang berdiri di belakang berbisik pada Udin.
"Ini benar-benar kiamat."
Akhirnya Arga menjawab pelan.
"Keduanya benar."
Ruangan langsung meledak.
"Jadi kamu mempermainkan anak kami?!" teriak Pak
Mahendra.
Pak Salim ikut maju.
"Ini penipuan!"
Udin menutup wajahnya.
"Habis sudah."
Nadira berdiri dengan mata berkaca-kaca.
"Mas… ini benar?"
Di sisi lain Aisyah menatapnya dengan wajah pucat.
"Mas Pradipta…?"
Arga menunduk.
"Iya."
Air mata Nadira jatuh.
"Jadi selama ini kamu berbohong?"
Aisyah menggigit bibirnya menahan tangis.
Ustadz Hadi berkata dengan suara berat.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
Arga menjawab pelan.
"Aku tidak pernah berniat mempermainkan mereka."
Pak Mahendra tertawa sinis.
"Lalu ini apa?"
Arga menatap Nadira dan Aisyah bergantian.
Suaranya gemetar.
"Aku mencintai mereka berdua."
Semua orang langsung marah.
Namun yang paling mengejutkan…
Nadira dan Aisyah tidak memakinya.
Mereka hanya menangis.
Karena di dalam hati mereka…
perasaan itu sudah terlalu dalam.
Dan malam itu, di balai desa Sukamerta,
bukan hanya identitas Arga yang terbongkar.
Tetapi juga sebuah kenyataan pahit:
cinta yang terlalu rumit untuk diselesaikan dengan satu
keputusan.
BAB VIII
Pilihan yang Menyakitkan
Malam di Desa Sukamerta terasa lebih panjang dari biasanya.
Lampu-lampu di balai desa menyala terang, tetapi suasana di
dalamnya dipenuhi ketegangan. Kursi-kursi kayu yang biasanya dipakai untuk
rapat warga kini dipenuhi wajah-wajah serius. Para tokoh desa, keluarga dari
Arum Sari, keluarga dari Tegal Wangi, serta beberapa warga yang penasaran,
semuanya berkumpul menyaksikan satu persoalan yang tidak pernah mereka
bayangkan sebelumnya.
Di tengah ruangan, berdiri seorang pemuda yang kini menjadi
pusat perhatian semua orang.
Arga Pradipta.
Pemuda yang selama ini dikenal ramah, pekerja keras, dan
sopan.
Namun malam ini, ia berdiri seperti seorang terdakwa.
Di sebelah kiri ruangan berdiri Pak Mahendra bersama
keluarganya. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras menahan emosi. Nadira berdiri
di samping ibunya dengan mata sembab.
Di sisi kanan ruangan, Ustadz Hadi berdiri bersama keluarga
besar Tegal Wangi. Wajahnya tidak kalah serius. Aisyah duduk dengan tangan
gemetar di pangkuannya.
Sementara di belakang Arga, Jamal, Udin, dan Rifki berdiri
gelisah.
Mereka tahu satu hal.
Apa pun keputusan Arga malam ini akan menyakiti seseorang.
Pak Mahendra akhirnya melangkah maju.
Suaranya keras dan penuh amarah.
"Anak saya tidak akan dipermainkan!"
Beberapa warga langsung berbisik-bisik.
Pak Salim menimpali dari belakang.
"Ini penghinaan bagi keluarga!"
Di sisi lain, Ustadz Hadi mengangkat tangan meminta semua
orang tenang.
Namun wajahnya tetap menunjukkan kemarahan yang tertahan.
"Kamu harus bertanggung jawab, Arga."
Arga berdiri tanpa bergerak.
Tangannya terasa dingin.
Jamal berbisik pelan dari belakang.
"Ga… kamu harus bicara sekarang. Kalau tidak, keadaan
akan semakin buruk."
Arga menelan ludah.
Sebelum ia sempat berkata apa pun, Pak Mahendra kembali
bersuara.
"Ini tidak perlu diperdebatkan lagi!"
Ia menunjuk Arga dengan tegas.
"Pilih salah satu!"
Kalimat itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada yang berani berbicara.
Hanya suara napas berat yang terdengar.
Semua mata tertuju kepada Arga.
Arga perlahan menoleh ke arah Nadira.
Gadis itu berdiri dengan wajah penuh air mata.
Matanya merah, namun masih menyimpan harapan.
Dengan suara yang gemetar, Nadira berkata:
"Mas Arga… apakah aku hanya permainan?"
Kalimat itu terasa seperti pukulan bagi Arga.
Ia langsung menggeleng.
"Tidak. Tidak pernah."
Nadira menatapnya dalam-dalam.
"Lalu kenapa ini terjadi?"
Arga membuka mulutnya.
Namun tidak ada kata yang keluar.
Karena ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan
semuanya.
Ia kemudian menoleh ke arah Aisyah.
Gadis itu duduk dengan wajah pucat.
Air mata mengalir perlahan di pipinya.
Dengan suara yang hampir tidak terdengar, Aisyah berkata:
"Mas Pradipta…"
Arga menutup matanya sejenak.
Nama itu terasa seperti beban.
Aisyah melanjutkan:
"Apakah aku hanya pilihan kedua?"
Pertanyaan itu terasa seperti pisau yang menembus dadanya.
Ia tidak mampu langsung menjawab.
Ustadz Hadi akhirnya berkata dengan suara tegas.
"Kamu tidak bisa menikahi dua wanita sekaligus tanpa
kejelasan."
Pak Mahendra menambahkan dengan nada keras:
"Pilih sekarang."
Balai desa menjadi sangat sunyi.
Angin malam masuk melalui jendela yang terbuka.
Lampu neon berdengung pelan di langit-langit.
Arga merasa seolah dunia berhenti berputar.
Di satu sisi ada Nadira.
Perempuan yang pertama kali membuat hatinya berdebar di
pasar malam Arum Sari.
Perempuan yang tertawa bersamanya di pematang sawah.
Perempuan yang selalu percaya padanya.
"Mas Arga…"
"Mas Arga pernah jatuh cinta?"
"Kalau suatu hari kita tidak bisa bersama…"
Di sisi lain ada Aisyah.
Perempuan yang ia temui di masjid Tegal Wangi.
Perempuan yang suaranya membuat hatinya tenang ketika
membaca Al-Qur'an.
Perempuan yang membuatnya ingin menjadi lelaki yang lebih
baik.
"Mas Pradipta…"
"Apakah Mas akan mencari perempuan yang
sempurna?"
"Bapak bilang Mas Pradipta cocok menjadi pemimpin
keluarga."
Dua perempuan.
Dua cinta.
Dua kehidupan.
Arga akhirnya menarik napas panjang.
"Aku akan memilih."
Semua orang menahan napas.
Ia menatap Nadira lama sekali.
Kenangan demi kenangan muncul di kepalanya.
Tawa Nadira.
Cara Nadira memanggil namanya.
Cara Nadira menatapnya penuh cinta.
Lalu ia menoleh ke arah Aisyah.
Aisyah menatapnya dengan mata yang penuh harapan sekaligus
ketakutan.
Arga merasakan dadanya seperti dihancurkan dari dalam.
Namun akhirnya ia berkata:
"Aku memilih… Aisyah."
Ruangan langsung gempar.
Beberapa orang berbicara bersamaan.
Pak Mahendra berdiri dengan wajah marah.
Bu Ratna memeluk Nadira yang langsung menangis keras.
Aisyah sendiri terlihat terkejut.
Matanya melebar.
"Mas…?"
Arga menatapnya dengan wajah berat.
"Aku ingin membangun rumah tangga yang kuat dalam
agama."
Ustadz Hadi terdiam.
Beberapa tokoh desa mengangguk perlahan.
Namun di sisi lain ruangan, suara tangis Nadira semakin
keras.
"Mas Arga…"
Ia hampir tidak mampu berdiri.
"Aku mencintaimu."
Arga menunduk.
Suaranya sangat pelan ketika menjawab.
"Aku juga mencintaimu."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali sunyi.
Nadira menatapnya dengan mata merah.
"Kalau begitu… kenapa?"
Arga menjawab dengan suara yang penuh luka.
"Karena hidup bukan hanya tentang cinta."
Air mata Nadira jatuh semakin deras.
Ia memandang Arga lama.
Seolah mencoba mengingat wajahnya untuk terakhir kali.
"Aku mengerti…"
Ia berdiri perlahan.
Pak Mahendra mencoba menahannya.
"Nadira—"
Namun Nadira menggeleng.
"Biarkan aku, Pak."
Ia berjalan beberapa langkah menuju pintu balai desa.
Namun sebelum keluar, ia berhenti.
Ia menoleh ke arah Arga untuk terakhir kalinya.
"Mas Arga…"
Arga mengangkat wajahnya.
Nadira berkata lirih:
"Aku tidak tahu apakah aku bisa membencimu."
Air matanya jatuh lagi.
"Karena hatiku masih mencintaimu."
Setelah itu ia berbalik.
Langkahnya perlahan.
Namun setiap langkah terasa seperti meninggalkan potongan
hatinya di ruangan itu.
Pintu balai desa terbuka.
Angin malam masuk.
Dan Nadira pergi.
Malam itu akhirnya keputusan telah dibuat.
Keributan perlahan mereda.
Beberapa orang mulai meninggalkan balai desa.
Ustadz Hadi menepuk bahu Arga.
"Kalau kamu sudah memilih, kamu harus menjaga
keputusan itu."
Arga hanya mengangguk.
Namun hatinya terasa kosong.
Di luar, langit Sukamerta tampak gelap.
Bintang-bintang tetap bersinar seperti biasa.
Dunia tidak berubah.
Tetapi di dalam hati Arga…
ada satu cinta yang ia lepaskan malam itu.
Dan ia tahu satu hal yang pasti.
Beberapa kenangan tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka hanya belajar hidup diam-diam di dalam hati.
BAB IX
Cinta yang Tertinggal
Sejak malam di balai desa itu, Nadira seperti menjadi orang
yang berbeda.
Rumah besar milik Pak Mahendra yang biasanya dipenuhi suara
tawa, langkah para pekerja, dan obrolan keluarga kini terasa aneh.
Sunyi.
Di halaman rumah, bunga bougenville tetap bermekaran.
Kolam ikan tetap beriak tertiup angin sore.
Namun di dalam rumah itu… ada satu ruang yang terasa paling
sepi.
Kamar Nadira.
Tirai jendela sering tertutup.
Lampu kamar jarang dinyalakan pada siang hari.
Dan Nadira hampir tidak pernah keluar kecuali untuk makan.
Di meja kecil dekat jendela, sebuah kotak kayu kecil masih
terletak rapi.
Di dalamnya…
sebuah cincin pertunangan.
Cincin yang dulu diberikan Arga.
Nadira tidak pernah membuangnya.
Tidak pernah pula memakainya lagi.
Kadang ia hanya membuka kotak itu…
menatapnya lama…
lalu menutupnya kembali.
Seolah cincin itu adalah kenangan yang terlalu berharga
untuk dibuang, namun terlalu menyakitkan untuk disentuh.
Suatu sore, pintu kamar Nadira diketuk pelan.
"Dira…"
Suara lembut itu milik Bu Ratna.
Nadira tidak menjawab.
Pintu dibuka perlahan.
Ibunya masuk dengan langkah pelan.
Melihat Nadira duduk di dekat jendela, memandang hamparan
sawah yang mulai menguning oleh musim panen.
Angin sore meniup rambut panjangnya.
"Nak… kamu belum keluar sejak pagi."
Nadira menjawab tanpa menoleh.
"Aku baik-baik saja, Bu."
Bu Ratna duduk di sampingnya.
Ia menatap wajah putrinya lama.
Wajah yang dulu selalu cerah itu kini terlihat pucat.
"Kamu masih memikirkannya?"
Nadira diam.
Beberapa detik berlalu.
Lalu setetes air mata jatuh.
Kemudian satu lagi.
"Bu…"
Suaranya bergetar.
"Iya, Nak."
"Apakah aku kurang baik?"
Pertanyaan itu membuat dada Bu Ratna terasa sesak.
Ia langsung memeluk putrinya.
"Tidak. Kamu perempuan yang sangat baik."
Nadira menutup wajahnya.
"Lalu kenapa dia tidak memilih aku?"
Bu Ratna tidak menjawab.
Bukan karena tidak ingin.
Namun karena tidak tahu jawabannya.
Kadang dalam hidup…
cinta memang tidak selalu berpihak pada mereka yang paling
layak.
Hari-hari terus berlalu.
Musim panen datang.
Sawah-sawah menguning.
Namun hati Nadira masih seperti langit mendung.
Banyak pria datang melamar.
Sebagian anak pengusaha dari kota.
Sebagian anak pejabat desa.
Ada pula seorang pengacara muda yang dianggap sangat mapan.
Namun semuanya ditolak.
Tanpa banyak penjelasan.
Suatu malam, Pak Mahendra akhirnya memanggil Nadira ke
ruang tamu.
Lampu ruang tamu menyala terang.
Ayahnya duduk dengan wajah serius.
"Nadira… duduklah."
Nadira duduk perlahan.
Pak Mahendra menatap putrinya cukup lama sebelum berbicara.
"Kamu tidak bisa terus seperti ini."
Nadira menatap ayahnya.
"Ayah ingin aku menikah dengan orang lain?"
Pak Mahendra menghela napas panjang.
"Ayah hanya ingin kamu bahagia."
Nadira tersenyum tipis.
Senyum yang lebih mirip luka.
"Hatiku masih tertinggal, Yah."
Pak Mahendra terdiam.
"Di mana?"
Nadira menatap langit malam dari jendela besar ruang tamu.
"Di Sukamerta."
Ayahnya menunduk.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa luka di hati
putrinya…
tidak semudah itu sembuh.
Di desa-desa sekitar, kisah mereka menjadi bahan cerita.
Terutama di warung kopi Pak Samin.
Tempat para lelaki desa berkumpul setiap malam.
Suatu malam, Udin, Rifki, dan beberapa warga sedang duduk
di sana.
"Asli aku masih tidak percaya," kata Udin.
"Apa?"
"Arga memilih Aisyah."
Rifki mengangguk.
"Padahal Nadira itu… sempurna."
"Cantik, kaya, pintar."
"Siapa yang tidak mau?"
Seseorang di meja lain menimpali.
"Mungkin Arga takut sama Pak Mahendra."
Semua tertawa kecil.
Namun Jamal yang duduk di sudut hanya diam sambil mengaduk
kopi.
Udin menatapnya.
"Mal… kamu kan sahabat Arga. Menurutmu kenapa dia
memilih Aisyah?"
Jamal menarik napas panjang.
"Bukan karena takut."
"Lalu?"
"Karena Arga memilih jalan yang menurutnya
benar."
Udin mengerutkan dahi.
"Benar bagaimana?"
Jamal menatap keluar warung.
"Kadang… orang harus memilih sesuatu yang menyakitkan
demi hidup yang lebih tenang."
Udin menghela napas.
"Tapi yang terluka tetap Nadira."
Jamal tidak membantah.
Karena itu memang benar.
Sementara itu di Sukamerta…
kehidupan Arga mulai berjalan seperti biasa.
Ia menikah dengan Aisyah dalam sebuah pernikahan sederhana.
Tidak ada pesta besar.
Hanya keluarga, tetangga, dan beberapa sahabat dekat.
Namun suasananya penuh kehangatan.
Saat ijab kabul diucapkan, suara Arga sempat bergetar.
Dan ketika semuanya selesai, Aisyah tersenyum dengan mata
berkaca-kaca.
Sejak hari itu, kehidupan mereka dimulai.
Aisyah menjadi istri yang lembut.
Setiap pagi ia bangun lebih dulu.
Menyiapkan sarapan.
Kadang nasi goreng sederhana.
Kadang sayur bening dan tempe goreng.
Arga sering bercanda.
"Kalau mas jadi gemuk bagaimana?"
Aisyah tertawa kecil.
"Itu berarti mas bahagia."
Malam hari mereka sering duduk bersama membaca Al-Qur'an.
Suasana rumah kecil itu terasa damai.
Namun kadang…
ketika malam semakin sunyi…
Arga duduk sendiri di teras rumah.
Menatap langit.
Angin malam bertiup pelan.
Bintang-bintang terlihat jelas.
Dan di saat seperti itu…
bayangan seseorang dari masa lalu muncul.
Senyum Nadira.
Tawanya.
Cara ia memanggilnya dengan manja.
"Mas Arga…"
Arga sering menggeleng pelan.
Berusaha mengusir kenangan itu.
Namun kenangan memang tidak pernah benar-benar pergi.
Suatu malam, Aisyah keluar ke teras.
Ia melihat Arga duduk diam.
"Mas…"
Arga menoleh.
"Iya?"
Aisyah duduk di sampingnya.
"Kamu sedang memikirkan sesuatu?"
Arga tersenyum.
"Hanya melihat bintang."
Aisyah menatap langit juga.
Lalu berkata pelan.
"Mas Arga…"
"Iya?"
"Kadang aku merasa… ada bagian hatimu yang masih
sedih."
Arga terdiam.
"Kalau mas masih memikirkan Nadira… aku tidak
marah."
Arga menoleh kaget.
"Kenapa kamu berkata begitu?"
Aisyah tersenyum lembut.
"Karena aku tahu… cinta tidak bisa hilang dalam satu
malam."
Arga menatap istrinya lama.
Perempuan di sampingnya ini tidak hanya sabar.
Ia juga mengerti.
Sangat mengerti.
Arga menggenggam tangan Aisyah pelan.
"Aku memilihmu."
Aisyah mengangguk.
"Aku tahu."
Beberapa detik mereka hanya duduk diam.
Memandang langit.
Namun jauh di suatu tempat…
di desa lain…
di kamar yang sunyi…
Nadira juga sedang menatap langit yang sama.
Dengan hati yang masih menyimpan satu nama.
Arga.
Dan cinta yang tertinggal itu…
belum benar-benar selesai.
BAB X
Lima Tahun Kemudian
Waktu berjalan tanpa pernah menoleh ke belakang.
Musim berganti.
Panen datang dan pergi.
Anak-anak yang dulu bermain di jalan desa kini sudah mulai
beranjak remaja.
Dan tanpa terasa…
lima tahun telah berlalu.
Rumah kecil milik Arga dan Aisyah kini terlihat lebih hidup
dibanding dulu.
Di halaman depan, beberapa pohon mangga yang dulu ditanam
Arga kini sudah mulai berbuah.
Di samping rumah terdapat gudang kecil tempat Arga menyimpan
hasil pertanian dari sawah dan kebun yang ia kelola bersama beberapa petani
desa.
Usaha kecilnya berkembang pelan namun pasti.
Ia membeli hasil panen warga lalu menjualnya ke kota.
Tidak besar, tetapi cukup membuat hidup mereka lebih baik.
Sementara itu Aisyah menjadi sosok yang sangat dihormati di
Sukamerta.
Setiap sore selepas ashar, suara anak-anak mengaji
terdengar dari rumah mereka.
Anak-anak duduk melingkar di ruang tamu.
"Alif… Ba… Ta…"
Aisyah membimbing mereka dengan suara lembut.
Kadang Arga berdiri di pintu sambil tersenyum melihat
pemandangan itu.
Dalam hati ia sering berpikir:
Aisyah akan menjadi ibu yang sangat baik.
Namun ada satu hal yang masih belum hadir dalam kehidupan
mereka.
Seorang anak.
Suatu pagi, Arga sedang duduk di teras rumah sambil
memperbaiki mesin pompa air.
Tiba-tiba suara motor berhenti di depan rumah.
"Assalamualaikum!"
Arga menoleh.
"Waalaikumsalam."
Ternyata Jamal.
Sahabatnya itu turun dari motor sambil membawa dua gelas
kopi plastik.
"Ini… kopi pagi."
Arga tertawa.
"Kamu ini selalu datang membawa kopi."
Jamal duduk di kursi bambu.
"Biar pembicaraan kita serius."
Arga menyipitkan mata.
"Serius bagaimana?"
Jamal melihat sekeliling rumah.
Ia mengangguk pelan.
"Rumah sudah bagus."
Arga mengangguk.
"Usaha juga mulai jalan."
Arga kembali mengangguk.
Jamal lalu berkata santai:
"Cuma satu yang kurang."
Arga sudah tahu arah pembicaraan itu.
Ia menatap sahabatnya sambil tersenyum tipis.
"Anak?"
Jamal mengangguk pelan.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Angin pagi bertiup melewati halaman.
Arga akhirnya berkata pelan.
"Semua ada waktunya."
Jamal menepuk bahunya.
"Iya. Aku cuma mendoakan saja."
Namun setelah Jamal pulang…
Arga duduk sendiri di teras cukup lama.
Matanya menatap kosong ke arah jalan desa.
Di dalam hatinya…
sebuah kegelisahan yang selama ini ia sembunyikan mulai
muncul kembali.
Lima tahun.
Bukan waktu yang sebentar.
Beberapa hari kemudian, Aisyah datang membawa teh hangat.
Ia duduk di samping Arga.
Wajahnya terlihat sedikit ragu.
"Mas…"
"Iya?"
Aisyah memainkan ujung kerudungnya.
"Bagaimana kalau… kita periksa ke dokter?"
Arga menatapnya beberapa detik.
Lalu menjawab cepat.
"Iya."
Aisyah terlihat lega.
"Benarkah?"
Arga mengangguk.
"Kita cari tahu saja."
Beberapa hari kemudian mereka pergi ke kota.
Perjalanan hampir dua jam dari desa.
Rumah sakit itu besar dan bersih.
Namun bagi Arga dan Aisyah… suasananya terasa asing.
Dinding putih.
Lampu terang.
Orang-orang berjalan dengan wajah tegang.
Aisyah menggenggam tangan Arga saat mereka duduk di ruang
tunggu.
"Mas… aku sedikit takut."
Arga menepuk tangannya.
"Tidak apa-apa."
Setelah beberapa pemeriksaan, mereka diminta menunggu lagi.
Waktu terasa berjalan lambat.
Akhirnya seorang perawat memanggil.
"Pak Arga… Bu Aisyah… silakan masuk."
Mereka masuk ke ruang dokter.
Dokter perempuan itu terlihat tenang.
Namun raut wajahnya sedikit serius.
"Ibu Aisyah…"
"Iya, Dok?"
Dokter membuka berkas pemeriksaan.
"Kami menemukan sesuatu."
Aisyah mulai gugup.
Tangannya semakin erat menggenggam tangan Arga.
"Apa itu, Dok?"
Dokter menarik napas pelan.
"Ada pertumbuhan jaringan di rahim Ibu."
Arga langsung tegang.
"Jaringan?"
Dokter menatap mereka dengan hati-hati.
"Tumor."
Ruangan terasa sunyi.
"Tumor?"
Suara Arga terdengar berat.
Dokter melanjutkan dengan nada tenang.
"Kemungkinan besar… ini kanker rahim stadium
awal."
Dunia seperti berhenti berputar.
Aisyah menatap kosong.
Tangannya mulai gemetar.
"Apakah… aku bisa sembuh?"
Dokter mengangguk.
"Dengan pengobatan yang tepat, peluang sembuh cukup
besar."
Aisyah menoleh kepada Arga.
Matanya penuh air.
"Lalu… tentang anak?"
Dokter terdiam beberapa detik.
Ia tahu pertanyaan itu akan datang.
"Itu yang sulit."
Arga merasakan dadanya sesak.
Dokter akhirnya berkata pelan.
"Pengobatan yang harus dijalani kemungkinan besar akan
memengaruhi rahim."
Arga menatap dokter.
"Artinya?"
Dokter berkata perlahan.
"Kemungkinan untuk memiliki anak… sangat kecil."
Air mata langsung jatuh dari mata Aisyah.
Tanpa suara.
Tanpa tangisan keras.
Hanya air mata yang mengalir perlahan.
Arga menggenggam tangannya erat.
"Tidak apa-apa."
Namun jauh di dalam hatinya…
sesuatu terasa runtuh.
Sebuah mimpi yang sejak kecil ia bayangkan.
Menjadi ayah.
Malam itu mereka kembali ke desa.
Langit terlihat sangat gelap.
Di teras rumah, mereka duduk berdua.
Lampu kecil menerangi halaman.
Aisyah memandang ke arah sawah.
"Mas…"
"Iya?"
"Kalau aku tidak bisa memberikan anak…"
Arga langsung memotong.
"Jangan bicara begitu."
Aisyah menatapnya dengan mata basah.
"Mas berhak menjadi ayah."
Arga memegang tangannya.
"Aku lebih memilih menjadi suami yang baik
untukmu."
Aisyah menangis pelan.
Namun di dalam hati Arga…
sebuah konflik mulai tumbuh.
Konflik yang sangat berat.
Antara:
cinta kepada istrinya
dan
keinginan menjadi seorang ayah.
Sementara itu…
di Desa Arum Sari…
seseorang sedang berdiri di beranda rumah besar milik Pak
Mahendra.
Angin malam meniup rambut panjangnya.
Di tangannya masih ada cincin lama yang tidak pernah ia
buang.
Nadira.
Lima tahun telah berlalu.
Namun ada satu hal yang tidak berubah.
Cinta yang dulu ia simpan…
tidak pernah benar-benar padam.
Ia memandang langit malam.
Langit yang sama yang sedang dilihat Arga di desa lain.
Takdir…
perlahan mulai bergerak.
Membuka jalan baru.
Jalan yang mungkin akan mempertemukan mereka kembali.
Dan ketika hari itu datang…
tidak ada seorang pun yang tahu
siapa yang akan terluka untuk kedua kalinya.
BAB XI
Kesempatan yang Datang
Musim hujan datang lebih awal tahun itu.
Langit di atas Desa Tegal Wangi hampir setiap sore
diselimuti awan kelabu. Hujan turun tanpa banyak peringatan—kadang hanya gerimis
panjang, kadang deras seperti seseorang yang menumpahkan kesedihan dari langit.
Bagi sebagian orang, hujan adalah berkah bagi sawah dan
ladang.
Namun bagi Arga, hujan seperti mempertegas suasana hatinya
yang sedang retak.
Sejak istrinya divonis mengidap kanker rahim, hidupnya
terasa berjalan di atas jalan yang rapuh. Rumah tangga mereka masih berdiri,
tetapi di dalamnya ada keheningan yang lebih sering hadir dibanding tawa.
Aisyah—istrinya—tetap menjalani hari-hari seperti biasa.
Ia tetap bangun lebih pagi dari Arga.
Ia tetap memasak nasi dan sayur untuk sarapan.
Ia tetap menyapu halaman kecil di depan rumah.
Ia tetap tersenyum ketika Arga pulang dari sawah.
Namun Arga tahu.
Senyum itu tidak lagi sama.
Kadang ketika Aisyah mengira Arga tidak melihatnya, ia
duduk sendirian di dapur sambil memegang perutnya.
Kadang ia memejamkan mata lama sekali.
Seolah sedang menahan sesuatu.
Seolah sedang berdamai dengan takdir yang tidak pernah ia
pilih.
Suatu sore hujan turun pelan.
Arga duduk di warung kopi di ujung desa bersama Jamal dan
Udin.
Warung itu sederhana. Dindingnya dari papan kayu tua, dan
atap sengnya berbunyi keras setiap kali tetesan hujan jatuh.
Beberapa lelaki desa sedang berbincang ringan.
Namun tiba-tiba sebuah kalimat membuat Arga menoleh.
"Eh… kamu tahu tidak?" kata seorang lelaki di
ujung meja.
"Apa?"
"Gadis dari Arum Sari itu… kembali."
"Siapa?"
"Yang dulu hampir menikah dengan Arga."
Warung kopi mendadak terasa lebih sunyi bagi Arga.
Jamal menoleh perlahan ke arah Arga.
Arga hanya diam.
Lelaki itu melanjutkan ceritanya.
"Katanya dia pulang dari kota."
"Menikah?"
"Belum."
"Belum?"
"Iya. Masih sendiri sampai sekarang."
Udin menghela napas pelan.
"Kasihan juga ya."
Jamal menyesap kopinya.
"Tidak semua orang bisa melupakan cinta dengan
mudah."
Arga tetap diam.
Namun dadanya seperti dipukul oleh sesuatu yang lama
terkubur.
Sebuah nama yang selama ini ia simpan jauh di dalam
hatinya.
Nadira.
Beberapa hari kemudian…
Arga pergi ke pasar kecamatan untuk membeli pupuk dan
beberapa keperluan rumah.
Pasar itu cukup ramai.
Pedagang sayur berteriak menawarkan dagangannya.
Ibu-ibu menawar harga cabai.
Anak-anak berlari di antara kios.
Arga berjalan melewati kios pakaian.
Dan di situlah ia melihat seseorang.
Seorang perempuan berdiri di depan kios kain.
Perempuan itu memegang selembar kain batik sambil berbicara
dengan penjual.
Arga hampir tidak mengenalinya.
Namun ada sesuatu pada cara perempuan itu berdiri…
cara ia memiringkan kepala…
cara ia tersenyum kecil…
yang terasa sangat familiar.
Perempuan itu menoleh.
Mata mereka bertemu.
Waktu seperti berhenti.
Perempuan itu terdiam.
Lalu berkata pelan.
"Arga?"
Suara itu.
Suara yang pernah mengisi begitu banyak hari dalam
hidupnya.
Arga menelan ludah.
"Nadira…"
Nama itu keluar tanpa ia rencanakan.
Mereka berdiri saling memandang.
Beberapa detik.
Namun rasanya seperti bertahun-tahun.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tangisan dramatis.
Hanya keheningan yang penuh dengan kenangan.
Nadira tersenyum kecil.
"Kamu terlihat berbeda."
Arga tertawa pelan.
"Kamu juga."
Nadira menatapnya sebentar.
"Lebih tua."
Arga mengangkat bahu.
"Lima tahun bukan waktu sebentar."
Mereka berjalan pelan menyusuri lorong pasar.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Nadira berkata pelan.
"Aku dengar tentang istrimu."
Arga menunduk.
"Iya."
"Dia sakit."
"Iya."
Nadira berhenti melangkah.
"Aku ikut sedih."
Arga mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Hujan mulai turun tipis.
Orang-orang mulai membuka payung.
Namun mereka tetap berjalan.
Seolah tidak ingin percakapan itu selesai terlalu cepat.
Beberapa saat kemudian Nadira berkata pelan.
"Aku masih sendiri."
Arga berhenti melangkah.
Ia tidak berani menatapnya.
"Aku tahu."
Nadira tersenyum tipis.
"Bukan karena aku tidak bisa menikah."
Ia menatap Arga dalam-dalam.
"Hanya saja… hatiku belum pernah benar-benar pergi dari
seseorang."
Kalimat itu menghantam Arga seperti badai.
Kenangan lama kembali muncul.
Suara tawa Nadira.
Cara ia memanggilnya dulu.
"Mas Arga…"
Arga memejamkan mata sebentar.
"Aku minta maaf atas masa lalu."
Nadira menggeleng pelan.
"Aku tidak datang untuk menuntut apa-apa."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin tahu…"
Ia berhenti bicara sebentar.
"Apakah hidupmu bahagia?"
Arga terdiam lama.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun jawabannya sangat rumit.
Akhirnya ia berkata pelan.
"Aku berusaha."
Nadira mengangguk.
"Itu sudah cukup."
Sore itu mereka berpisah di ujung pasar.
Sebelum pergi, Nadira berkata pelan.
"Arga."
"Iya?"
"Kadang hidup memberi kita kesempatan kedua."
Arga menatapnya.
"Namun kesempatan itu sering datang ketika kita sudah
memiliki banyak hal untuk dipertahankan."
Arga tidak tahu harus menjawab apa.
Nadira tersenyum kecil.
"Jaga istrimu."
Lalu ia berjalan pergi.
Meninggalkan Arga berdiri di tengah pasar.
Dengan hati yang jauh lebih berat dari sebelumnya.
Ketika Arga pulang ke rumah…
hari sudah hampir malam.
Lampu rumah kecilnya menyala hangat.
Aisyah duduk di kursi bambu di teras.
Ia sedang menjahit baju anak-anak pengajian.
Ketika melihat Arga datang, ia langsung tersenyum.
"Mas sudah pulang?"
"Iya."
Aisyah berdiri.
"Aku buatkan teh."
Arga memandangnya beberapa detik.
Perempuan ini…
perempuan yang selalu sabar.
Perempuan yang tidak pernah menuntut apa pun.
Perempuan yang sedang berjuang melawan penyakit.
Aisyah kembali membawa teh hangat.
Ia duduk di samping Arga.
"Mas terlihat lelah."
Arga tersenyum tipis.
"Sedikit."
Aisyah memandang langit yang mulai gelap.
"Hujannya indah ya."
Arga mengangguk.
Namun kali ini…
ia tidak mampu membalas senyum istrinya dengan utuh.
Karena di dalam hatinya…
sebuah kesempatan lama telah kembali.
Dan kesempatan itu…
membawa konflik yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Jika ia mendekat…
ia akan melukai seseorang yang telah setia bersamanya.
Jika ia menjauh…
ia mungkin akan menutup kesempatan terakhir dalam hidupnya.
Malam itu…
hujan turun lebih deras dari biasanya.
Dan di dalam hati Arga…
sebuah badai yang lebih besar sedang mulai terbentuk.
BAB XII
Pengorbanan Seorang
Istri
Malam itu angin berhembus sangat pelan.
Langit di atas Desa Sukamerta tampak gelap tanpa bintang.
Hanya suara jangkrik dan gesekan daun pisang yang terdengar dari halaman rumah.
Di dalam rumah kecil yang sederhana itu, lampu minyak di
ruang tengah menyala redup. Cahayanya bergetar setiap kali angin menyusup dari
celah dinding papan.
Aisyah duduk di lantai beralaskan tikar pandan. Tubuhnya
tampak lebih kurus dari biasanya. Wajahnya pucat, tetapi matanya masih
memancarkan kelembutan yang sama seperti ketika Arga pertama kali mengenalnya.
Di depannya, Arga duduk bersandar di kursi kayu.
Namun malam itu ia tidak benar-benar hadir.
Pikirannya melayang jauh.
Aisyah sudah memperhatikan perubahan itu sejak beberapa
hari terakhir.
Arga lebih sering diam.
Lebih sering menatap kosong ke arah halaman.
Kadang ketika Aisyah memanggilnya, ia baru tersadar setelah
beberapa detik.
Sebagai seorang istri, Aisyah tahu.
Ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam hati suaminya.
Ia tidak langsung bertanya.
Ia hanya menunggu waktu yang tepat.
Akhirnya, dengan suara lembut, ia berkata:
"Ada yang ingin kamu ceritakan?"
Arga terdiam.
Tangannya menggenggam gelas teh yang sudah lama dingin.
Ia ingin mengatakan tidak.
Ia ingin menyembunyikan semuanya.
Namun wajah Aisyah yang tenang justru membuatnya merasa
semakin bersalah.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Arga menarik napas panjang.
"Aku bertemu seseorang di pasar beberapa hari
lalu."
Aisyah mengangkat pandangannya.
"Siapa?"
Arga menelan ludah.
"Nadira."
Nama itu membuat waktu seolah berhenti.
Namun Aisyah tidak terkejut.
Ia hanya terdiam, lalu berkata pelan:
"Gadis yang dulu hampir menikah denganmu?"
Arga mengangguk.
Ia mulai menceritakan semuanya.
Tentang pertemuan mereka di pasar.
Tentang percakapan singkat yang terasa berat.
Tentang kalimat Nadira yang mengatakan bahwa hatinya belum
pernah benar-benar pergi.
Aisyah mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Tidak ada tangisan.
Hanya keheningan yang dalam.
Setelah Arga selesai bercerita, ruangan itu menjadi sangat
sunyi.
Lampu minyak bergetar kecil.
Angin malam terdengar semakin jelas.
Aisyah menunduk.
Tangannya yang kurus saling menggenggam.
Arga bisa melihat jari-jarinya sedikit gemetar.
Ia tahu penyakit itu semakin menggerogoti tubuh istrinya.
Beberapa minggu lalu dokter sudah menjelaskan semuanya
dengan sangat hati-hati.
Tumor di rahim Aisyah mulai berkembang.
Pengobatan memang bisa dilakukan.
Namun kemungkinan untuk memiliki anak hampir tidak ada.
Padahal Arga tahu satu hal yang tidak pernah ia katakan
dengan lantang.
Ia selalu bermimpi memiliki anak.
Seorang anak yang akan berlari di halaman rumah.
Seorang anak yang akan memanggilnya "Ayah."
Aisyah perlahan menarik napas panjang.
Lalu ia berkata pelan:
"Arga…"
Suaminya menatapnya dengan mata penuh rasa bersalah.
"Iya?"
Aisyah menatap lantai beberapa detik sebelum melanjutkan.
"Aku tidak ingin kamu kehilangan masa depanmu karena
penyakitku."
Arga langsung menggeleng keras.
"Jangan bicara seperti itu."
Namun Aisyah mengangkat tangannya pelan.
"Dengarkan aku."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu."
Kalimat itu keluar begitu tulus.
Tanpa drama.
Tanpa paksaan.
Hanya kejujuran dari hati seorang istri.
"Karena itu," lanjutnya, "aku tidak ingin
kamu hidup dengan penyesalan."
Air mata perlahan jatuh di pipinya.
"Aku tahu kamu ingin anak."
Arga tidak mampu berkata apa-apa.
Dadanya terasa sesak.
"Aku juga ingin memberikannya," bisik Aisyah.
"Tapi mungkin… aku tidak bisa."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Arga memegang tangan istrinya.
Tangan itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Lalu Aisyah mengatakan sesuatu yang membuat dunia Arga
terasa runtuh.
"Jika suatu hari kamu ingin menikah lagi…"
Ia berhenti sejenak.
"…aku mengizinkan."
Arga langsung menggenggam tangannya lebih erat.
"Tidak!"
Suaranya terdengar keras di ruangan kecil itu.
"Aku tidak akan melakukan itu."
Namun Aisyah menggeleng pelan.
"Ini bukan karena aku menyerah."
Ia menatap Arga dengan mata penuh cinta.
"Ini karena aku mencintaimu."
Air mata Arga akhirnya jatuh.
Ia tidak pernah membayangkan istrinya akan mengatakan hal
seberat itu.
Aisyah tersenyum tipis, meskipun hatinya jelas sedang
hancur.
"Aku hanya ingin kamu bahagia."
Arga menggeleng.
"Bahagiaku bersamamu."
Aisyah mengusap air matanya sendiri.
"Kadang kebahagiaan tidak datang dalam bentuk yang
kita inginkan."
Ia menatap Arga dengan lembut.
"Kadang kebahagiaan datang dalam bentuk
pengorbanan."
Angin malam bertiup sedikit lebih kencang.
Lampu minyak hampir padam sebelum kembali menyala kecil.
Aisyah melanjutkan dengan suara yang hampir seperti
bisikan.
"Jika suatu hari kamu menikah lagi…"
"Jangan lakukan karena kasihan padaku."
"Lakukan karena kamu ingin membangun masa depan."
Arga menunduk.
Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
"Aku tidak pantas mendapatkan istri sepertimu."
Aisyah tersenyum kecil.
"Tidak ada yang pantas atau tidak pantas dalam
cinta."
Ia menggenggam tangan Arga.
"Ada satu hal yang aku minta."
"Apa?"
"Jangan pernah berhenti menjadi orang baik."
Arga mengangguk dengan mata basah.
Malam semakin larut.
Di luar rumah, suara daun-daun bergesekan ditiup angin
malam.
Di dalam rumah kecil itu…
seorang istri sedang melakukan pengorbanan terbesar dalam
hidupnya.
Bukan karena ia lemah.
Bukan karena ia menyerah pada takdir.
Tetapi karena cintanya terlalu besar.
Terlalu tulus.
Dan terlalu kuat untuk menahan seseorang yang ia cintai
tetap tinggal…
jika tinggal itu berarti mengorbankan masa depan.
Malam itu…
Arga menyadari satu hal yang sangat menyakitkan.
Kadang cinta terbesar tidak datang dari seseorang yang kita
pilih.
Tetapi dari seseorang yang rela melepaskan kita demi
kebahagiaan kita sendiri.
BAB XIII
Pernikahan Kedua
Keputusan itu tidak terjadi dalam satu malam.
Tidak pula lahir dari keinginan yang ringan.
Butuh waktu berbulan-bulan bagi Arga untuk benar-benar
menerima kenyataan bahwa hidupnya telah berada di sebuah persimpangan yang
tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Selama ini ia selalu percaya bahwa hidupnya sudah selesai
dengan satu pilihan.
Ia telah memilih.
Memilih Aisyah, sebagaimana keluarganya memanggilnya—dan
meninggalkan masa lalu yang pernah hampir menjadi masa depan.
Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana
manusia.
Kadang takdir memutar jalan begitu jauh… hingga kita
kembali berdiri di tempat yang sama dengan hati yang jauh lebih berat.
Beberapa bulan setelah percakapan malam itu, kondisi
kesehatan Aisyah semakin melemah.
Tubuhnya sering terasa lelah.
Kadang ketika bangun pagi, ia harus duduk beberapa menit di
tepi tempat tidur sebelum mampu berdiri.
Namun ia tidak pernah mengeluh.
Ia tetap memasak jika mampu.
Tetap menyapu halaman meskipun hanya beberapa menit.
Tetap menyambut Arga dengan senyum ketika suaminya pulang
dari sawah.
Namun Arga tahu.
Senyum itu kini lebih rapuh dari sebelumnya.
Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik
hamparan sawah yang luas, mereka duduk berdua di teras rumah.
Langit berwarna jingga.
Burung-burung kembali ke sarangnya.
Angin desa berhembus pelan membawa aroma tanah basah.
Aisyah memandang jauh ke arah sawah.
"Arga…" ucapnya pelan.
"Iya?" jawab Arga.
"Kamu masih ingat apa yang pernah aku katakan?"
Arga tahu persis apa yang dimaksud istrinya.
Namun ia pura-pura tidak mengerti.
"Apa?"
Aisyah tersenyum kecil.
"Tentang masa depanmu."
Arga menunduk.
Dadanya terasa berat.
Aisyah melanjutkan dengan suara lembut namun tegas.
"Aku tidak ingin kamu hidup sendirian jika suatu hari
aku tidak ada."
Kalimat itu menusuk hati Arga seperti pisau.
Ia langsung menggeleng.
"Jangan bicara seperti itu lagi."
Namun Aisyah tetap tenang.
"Ini bukan tentang hari ini," katanya.
"Ini tentang hidupmu nanti."
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memandang sawah yang perlahan gelap.
Dalam hatinya, badai besar sedang terjadi.
Beberapa minggu kemudian, keluarga besar akhirnya
berkumpul.
Pertemuan itu berlangsung di rumah Pak Surya, ayah Arga.
Ruang tamu sederhana itu dipenuhi oleh anggota keluarga
dari kedua belah pihak.
Ada yang duduk di kursi kayu.
Ada yang duduk di tikar.
Suasana terasa tegang.
Pak Surya membuka pembicaraan dengan suara berat.
"Kita semua tahu kenapa kita berkumpul di sini."
Tidak ada yang menjawab.
Bu Ratmi memandang menantunya dengan mata berkaca-kaca.
Ia tahu Aisyah adalah perempuan yang sangat baik.
Sulit membayangkan rumah itu tanpa dirinya.
Namun kenyataan tidak selalu bisa ditolak.
Salah satu paman Arga berkata pelan,
"Ini keputusan yang sangat berat."
Yang lain menambahkan,
"Tidak semua orang mampu menjalani hidup seperti
ini."
Namun Aisyah sendiri yang akhirnya berbicara.
Dengan suara pelan namun jelas ia berkata,
"Aku yang meminta ini."
Semua orang terdiam.
Aisyah menatap mereka satu per satu.
"Aku tidak ingin Arga kehilangan masa depan karena
penyakitku."
Bu Ratmi menutup wajahnya dengan tangan.
Air mata jatuh di pipinya.
"Anak… kamu terlalu baik."
Namun Aisyah hanya tersenyum.
"Kebaikan bukan milikku," katanya pelan.
"Ini hanya caraku mencintai suamiku."
Ruangan itu menjadi sangat sunyi.
Tidak ada yang mampu membantah kata-katanya.
Di Desa Arum Sari, kabar itu sampai kepada Nadira.
Ia mendengarnya dari bibinya suatu sore.
"Nadira… ada kabar dari Sukamerta."
Nadira menoleh.
"Apa?"
Bibinya ragu beberapa detik sebelum berkata,
"Arga ingin menikah lagi."
Kalimat itu membuat jantung Nadira berdegup keras.
"Dengan siapa?"
Bibinya menatapnya dalam-dalam.
"Denganmu."
Nadira langsung terdiam.
Dunia terasa seperti berhenti.
Bertahun-tahun ia menunggu tanpa pernah benar-benar
berharap.
Ia pernah mencoba melupakan Arga.
Pernah mencoba membuka hatinya untuk orang lain.
Namun setiap kali seseorang datang…
bayangan seorang pemuda dari Sukamerta selalu muncul.
Ia akhirnya berkata lirih,
"Kenapa sekarang?"
Bibinya menjawab pelan,
"Karena istrinya yang meminta."
Nadira menutup matanya.
Air mata jatuh perlahan.
Takdir benar-benar memiliki cara yang aneh.
Hari pernikahan itu akhirnya tiba.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada panggung megah.
Pernikahan itu dilaksanakan secara sederhana di rumah Arga.
Hanya keluarga terdekat dan beberapa tetangga yang hadir
sebagai saksi.
Langit pagi tampak cerah.
Namun suasana hati orang-orang yang hadir dipenuhi berbagai
perasaan yang sulit dijelaskan.
Bahagia.
Sedih.
Haru.
Canggung.
Semua bercampur menjadi satu.
Arga duduk di depan penghulu dengan wajah tegang.
Tangannya dingin.
Di sampingnya duduk Pak Surya sebagai wali.
Sementara di ruang dalam, Nadira—yang hari itu mengenakan
kebaya sederhana—duduk dengan kepala tertunduk.
Tangannya gemetar.
Ia tidak pernah membayangkan perjalanan hidupnya akan
berakhir seperti ini.
Dulu ia hampir menjadi istri Arga.
Lalu ia kehilangan semuanya.
Dan kini…
takdir membawanya kembali.
Penghulu mulai membacakan khutbah nikah.
Suara itu terdengar pelan namun jelas.
Setiap kata terasa berat di dada Arga.
Akhirnya tiba saat ijab kabul.
Penghulu memandang Arga.
"Saudara Arga Pradipta…"
Arga mengangkat kepalanya.
"Saya nikahkan dan kawinkan saudari Nadira binti
Mahendra dengan engkau…"
Semua orang menahan napas.
"…dengan maskawin seperangkat alat salat dibayar
tunai."
Arga menarik napas dalam-dalam.
Lalu dengan suara yang sedikit bergetar ia menjawab,
"Saya terima nikahnya Nadira binti Mahendra dengan
maskawin tersebut… tunai."
Suara itu terdengar jelas di ruangan.
Beberapa detik hening.
Lalu penghulu berkata,
"Sah."
Suasana langsung berubah.
Beberapa orang mengucap syukur.
Beberapa yang lain menitikkan air mata.
Di ruang dalam, Nadira menundukkan kepala.
Air matanya jatuh perlahan.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena perjalanan panjang hatinya akhirnya
menemukan jawaban.
Namun ada satu pemandangan yang membuat semua orang terdiam.
Aisyah hadir dalam pernikahan itu.
Ia duduk di kursi dekat dinding.
Tubuhnya tampak lemah.
Wajahnya pucat.
Namun matanya memancarkan ketenangan yang luar biasa.
Ketika Nadira keluar setelah akad, ia berjalan perlahan
mendekati Aisyah.
Langkahnya ragu.
Hatinya penuh rasa bersalah.
Ia berhenti di depan perempuan yang secara hukum kini
menjadi madunya.
"N… maafkan aku…" bisik Nadira dengan suara
gemetar.
Namun Aisyah tersenyum lembut.
Ia mengulurkan tangannya.
Menggenggam tangan Nadira dengan hangat.
"Jaga dia," ucap Aisyah pelan.
Air mata Nadira langsung mengalir.
Aisyah melanjutkan,
"Dan jaga rumah tangga ini bersama-sama."
Pada saat itu…
semua orang yang menyaksikan merasa dadanya sesak.
Bukan sekadar pernikahan.
Bukan sekadar akad.
Tetapi sebuah kisah panjang tentang cinta, kesabaran,
pengorbanan, dan takdir yang berputar sangat jauh sebelum akhirnya kembali
bertemu di titik yang sama.
Arga berdiri di sana.
Melihat dua perempuan yang sama-sama pernah terluka karena
dirinya.
Kini mereka berdiri dalam satu rumah.
Satu takdir.
Dan satu perjalanan hidup yang jauh lebih rumit dari
sebelumnya.
Di dalam hati Arga hanya ada satu doa.
Semoga ia mampu menjadi lelaki yang cukup kuat…
untuk menjaga dua hati yang begitu rapuh karena cinta.
BAB XIV
Tiga Hati dalam Satu
Rumah
Hari-hari pertama setelah pernikahan berlangsung dalam
suasana yang aneh.
Canggung.
Seperti orang asing yang baru saja dipertemukan dalam satu
rumah yang sama, meskipun sebenarnya mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Nadira bangun pagi-pagi sekali di hari pertama.
Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Di dapur, Aisyah sudah sibuk memasak seperti biasa.
Nadira berdiri di ambang pintu dapur, merasa seperti tamu
di rumahnya sendiri.
Aisyah menoleh dan tersenyum.
"Selamat pagi."
Nadira membalas dengan ragu.
"Pagi."
Aisyah melanjutkan menggoreng tempe.
"Kamu mau sarapan?"
Nadira menggeleng.
"Aku tidak biasa sarapan."
Aisyah tertawa kecil.
"Dulu aku juga begitu. Tapi Arga suka sarapan. Jadi
lama-lama terbiasa."
Nadira hanya mengangguk.
Ia merasa tidak tahu harus berkata apa.
Aisyah tiba-tiba berhenti menggoreng.
Ia menatap Nadira dengan lembut.
"Nadira…"
"Iya?"
"Aku tahu ini tidak mudah."
Nadira menunduk.
Aisyah melanjutkan,
"Tapi kita harus belajar bersama. Untuk Arga."
Kalimat itu menyentuh sesuatu di hati Nadira.
Perempuan ini, yang secara hukum adalah madunya, justru
menjadi orang yang paling memahami perasaannya.
Nadira mengangkat wajahnya.
"Aku… akan berusaha."
Aisyah tersenyum.
"Bagus. Sekarang bantu aku mengangkat piring."
Arga turun dari kamar dengan perasaan tidak menentu.
Ia sudah mendengar suara mereka di dapur.
Namun ia tidak tahu apa yang akan terjadi ketika mereka
semua duduk bersama.
Di meja makan, Aisyah duduk di sisi kiri.
Nadira duduk di sisi kanan.
Arga di tengah.
Suasana hening.
Aisyah memecah keheningan.
"Mas… nasinya."
Arga mengulurkan piring.
"Makasih."
Nadira ikut mengambil lauk.
Suara sendok dan piring terdengar sangat jelas.
Setelah beberapa saat, Aisyah berkata,
"Nadira, nanti aku tunjukkan letak peralatan
dapur."
Nadira mengangguk.
"Iya."
Arga hanya bisa menunduk.
Dalam hatinya ia berkata,
Ya Allah… semoga ini berjalan lancar.
Selesai sarapan, Aisyah berkata pada Arga,
"Mas, aku mau ngomong sesuatu."
Arga menatapnya.
"Apa?"
Aisyah memandang Nadira.
"Kamar Nadira belum selesai. Malam ini biar dia tidur
di kamar kita."
Arga hampir tersedak.
"Apa?!"
Nadira juga terkejut.
"Tidak usah, aku bisa tidur di ruang tamu."
Aisyah menggeleng.
"Tidak bisa. Nanti digigit nyamuk."
"Tapi—"
Aisyah memotong dengan tegas.
"Aku sudah memutuskan."
Ia menatap Arga.
"Mas, kamu tidur di ruang tamu malam ini."
Arga mengerjap.
"Lho?!"
Aisyah tersenyum tipis.
"Aku dan Nadira perlu ngobrol."
Nadira dan Arga saling pandang.
Mereka tidak tahu harus berkata apa.
Malam itu, dua perempuan duduk di atas dipan kamar.
Suasana sunyi.
Aisyah membuka percakapan.
"Nadira…"
"Iya?"
"Maafkan aku."
Nadira menoleh.
"Maaf untuk apa?"
Aisyah menunduk.
"Karena aku yang membuatmu menunggu lima tahun."
Nadira terdiam.
Aisyah melanjutkan,
"Seandainya dulu aku tahu… mungkin aku akan
mengalah."
Nadira menggeleng.
"Bukan salahmu."
"Aku tahu. Tapi perasaanku tetap tidak enak."
Nadira menatap Aisyah.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah."
Aisyah tersenyum tipis.
"Aku senang kamu akhirnya bisa bersama Arga."
Nadira bertanya pelan,
"Kamu benar-benar ikhlas?"
Aisyah memandang jendela.
Cahaya bulan masuk perlahan.
"Aku ikhlas karena aku mencintainya."
Ia berhenti sebentar.
"Dan aku tahu, suatu hari nanti aku tidak akan bisa
mendampinginya."
Nadira merasakan dadanya sesak.
"Jangan bicara seperti itu."
Aisyah tertawa kecil.
"Sudah, sudah. Sekarang ceritakan tentang kamu."
"Tentang apa?"
"Tentang lima tahun tanpa Arga."
Nadira terdiam.
Kemudian perlahan ia bercerita.
Tentang malam-malam panjang di kamarnya.
Tentang lamaran yang ditolak.
Tentang harapan yang hampir padam.
Tentang cinta yang tidak pernah benar-benar pergi.
Aisyah mendengarkan dengan seksama.
Sesekali matanya berkaca-kaca.
Ketika Nadira selesai, Aisyah berkata,
"Sekarang aku tahu kenapa Arga memilihku dulu."
Nadira menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena dia tidak sanggup melihatmu terluka lebih
dalam."
Nadira tersenyum getir.
"Tapi aku tetap terluka."
"Iya. Tapi sekarang kamu di sini."
Nadira mengangguk.
"Iya. Sekarang aku di sini."
Malam itu, di kamar sederhana itu, dua perempuan yang dulu
bersaing kini saling memahami.
Bukan karena mereka tidak punya pilihan lain.
Tapi karena mereka sama-sama mencintai lelaki yang sama.
Dan cinta, kadang, mengajarkan cara berbagi yang tidak pernah
diajarkan sekolah mana pun.
Keesokan paginya, Arga bangun dengan leher agak pegal
karena tidur di ruang tamu.
Ia berjalan menuju dapur.
Dan di sana ia melihat pemandangan yang membuatnya
terkesima.
Aisyah dan Nadira memasak bersama.
Aisyah menggoreng.
Nadira mengiris bawang.
Mereka tertawa kecil karena sesuatu.
Arga menggosok matanya.
Apakah ini mimpi?
Aisyah melihatnya.
"Mas sudah bangun?"
Nadira menoleh.
"Sarapan hampir siap."
Arga hanya bisa mengangguk.
Di meja makan, mereka bertiga duduk bersama.
Kali ini suasananya berbeda.
Tidak ada kecanggungan.
Tidak ada keheningan yang aneh.
Aisyah bercerita tentang anak-anak mengaji yang lucu.
Nadira tertawa.
Arga tersenyum melihat mereka.
Dalam hatinya ia berdoa,
Ya Allah, jika ini mimpi, jangan pernah bangunkan aku.
Waktu terus berjalan.
Minggu pertama terasa seperti masa penyesuaian.
Minggu kedua mulai terbiasa.
Minggu ketiga, mereka mulai menemukan ritme.
Aisyah tetap menjadi istri pertama yang mengatur rumah
tangga.
Nadira membantu di dapur dan kadang mengurus administrasi
usaha Arga.
Mereka belajar membagi waktu.
Belajar memahami kebiasaan masing-masing.
Belajar bahwa hidup bersama tidak selalu mudah.
Pernah suatu malam, Nadira menangis karena rindu rumah.
Aisyah duduk di sampingnya.
"Kangen orang tua?"
Nadira mengangguk.
"Besok kita pulang."
Nadira menatapnya.
"Kamu mau antar?"
Aisyah tersenyum.
"Kita antar bersama."
Nadira memeluknya.
"Terima kasih."
Aisyah tertawa.
"Iya, iya. Jangan nangis terus."
Suatu sore, mereka bertiga sedang di dapur.
Aisyah sedang membuat kue.
Nadira membantu mengocok telur.
Arga duduk di pojok sambil minum kopi.
Nadira tiba-tiba berkata,
"Aku baru sadar."
Aisyah menoleh.
"Sadar apa?"
Nadira menatap Arga.
"Arga ini pemalas."
Arga yang sedang minum kopi langsung tersedak.
"Apa?!"
Aisyah tertawa.
"Iya, benar. Dia jarang bantu di dapur."
Nadira menambahkan,
"Dulu waktu pacaran, dia rajin bantu. Ternyata
akting."
Arga protes.
"Aku ini lelaki! Tugas lelaki di luar!"
Aisyah menyenggol Nadira.
"Dengar itu. Tugas lelaki di luar katanya."
Nadira tertawa.
"Di luar rumah main gaple sama Jamal?"
Arga makin merah.
"Kalian ini…"
Aisyah dan Nadira tertawa bersama.
Untuk pertama kalinya, Arga melihat mereka tertawa lepas
seperti itu.
Hatinya terasa hangat.
Meskipun jadi bahan ejekan, ia bahagia.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Suatu malam, ketika sedang makan bersama, Aisyah tiba-tiba
memegang perutnya.
Wajahnya pucat.
Arga langsung cemas.
"Aisyah?"
Aisyah mencoba tersenyum.
"Tidak apa-apa. Sedikit mual."
Nadira melihat ekspresi Aisyah.
Ia tahu itu bukan sekadar mual.
"Aisyah, kamu harus istirahat."
Aisyah menggeleng.
"Nanti saja. Kita makan dulu."
Namun tubuhnya tidak bisa diajak kompromi.
Ia hampir jatuh dari kursi.
Arga segera memapahnya.
"Aisyah! Aisyah!"
Aisyah memejamkan mata.
Napasnya tersengal.
Nadira panik.
"Aku panggil ambulans!"
Malam itu, Aisyah dilarikan ke rumah sakit.
Di ruang tunggu UGD, Arga duduk dengan wajah pucat.
Nadira duduk di sampingnya.
Tangannya menggenggam tangan Arga.
"Mas, tenang. Dia pasti baik-baik saja."
Arga tidak menjawab.
Matanya terus menatap pintu ruang UGD.
Dokter akhirnya keluar.
Wajahnya serius.
"Pak Arga?"
Arga berdiri.
"Iya, Dok. Bagaimana istri saya?"
Dokter menghela napas.
"Kondisinya memang sudah parah. Tumor di rahimnya
berkembang lebih cepat dari perkiraan kami."
Arga terhuyung.
Nadira menahan lengannya.
"Tapi dia bisa sembuh kan, Dok?" tanya Nadira.
Dokter menjawab dengan hati-hati.
"Kami akan melakukan yang terbaik. Tapi… keluarga
harus siap dengan kemungkinan terburuk."
Arga merasakan dunianya runtuh.
"Siap… maksudnya?"
Dokter menatapnya dengan iba.
"Bersiap untuk apa pun yang terjadi."
Aisyah terbaring lemah di ruang perawatan.
Tangannya diinfus.
Wajahnya pucat.
Namun ketika melihat Arga masuk, ia tersenyum.
"Mas…"
Arga mendekat.
Tangannya menggenggam tangan Aisyah.
"Aisyah, kamu harus kuat."
Aisyah tersenyum lemah.
"Aku sudah siap, Mas."
Arga menggeleng keras.
"Jangan bicara begitu. Kamu harus sembuh."
Aisyah menatapnya.
"Mas…"
"Iya?"
"Janji sama aku."
"Apa?"
"Jaga Nadira. Jaga rumah tangga kalian."
Arga menangis.
"Kamu juga akan menjaganya bersamaku."
Aisyah tersenyum.
"Iya. Aku akan menjaganya dari sana."
Nadira masuk ke ruangan.
Ia duduk di sisi lain ranjang.
Air matanya tidak tertahan.
"Ndira…" panggil Aisyah lemah.
"Iya, Mbak."
"Aku titip Arga ya."
Nadira mengangguk sambil menangis.
"Dan titip rumah tangga ini."
Nadira memegang tangan Aisyah.
"Mbak akan sembuh. Kita akan jaga rumah ini
bersama-sama."
Aisyah tersenyum.
Kemudian matanya terpejam.
Lelah.
Hari-hari berikutnya adalah masa penantian yang paling
berat.
Arga hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit.
Nadira bergantian menjaganya.
Kadang mereka duduk bersama di ruang tunggu.
Kadang mereka bergantian masuk menemani Aisyah.
Suatu malam, ketika Aisyah tertidur, Nadira berkata pada
Arga,
"Mas."
"Iya?"
"Aku takut."
Arga menatapnya.
"Takut apa?"
Nadira menunduk.
"Takut kehilangan dia."
Arga memeluknya.
"Aku juga."
Nadira menangis di dadanya.
"Bagaimana kalau dia benar-benar pergi?"
Arga tidak menjawab.
Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Tiga minggu berlalu.
Kondisi Aisyah naik turun.
Kadang membaik.
Kadang kembali kritis.
Dokter sudah berkali-kali memberi tanda bahaya.
Namun Aisyah tetap bertahan.
Suatu sore, Arga duduk di samping ranjang Aisyah.
Aisyah terbangun.
"Mas…"
"Aisyah, kamu sadar?"
Aisyah tersenyum lemah.
"Aku ingin bilang sesuatu."
"Apa?"
Aisyah menatapnya.
"Aku bahagia."
Arga bingung.
"Bahagia? Kamu sakit begini bilang bahagia?"
Aisyah mengangguk.
"Iya. Karena aku melihat kalian berdua bersama."
Arga terdiam.
Aisyah melanjutkan,
"Dulu aku takut kamu akan kesepian kalau aku
pergi."
"Tapi sekarang… kamu punya Nadira."
Arga memegang tangannya.
"Tapi aku juga butuh kamu."
Aisyah tersenyum.
"Aku akan selalu ada di hati kalian."
Dua bulan kemudian, Aisyah diizinkan pulang.
Tidak ada keajaiban medis.
Tidak ada kesembuhan total.
Tapi ia bisa menjalani sisa waktunya di rumah, bersama
orang-orang yang dicintainya.
Di rumah kecil di Sukamerta itu, mereka menjalani hari-hari
dengan cara yang berbeda.
Lebih lambat.
Lebih bermakna.
Setiap pagi, Nadira memasak bubur untuk Aisyah.
Setiap siang, mereka bertiga duduk di teras, menikmati
angin sawah.
Setiap malam, Arga membacakan ayat-ayat suci untuk Aisyah.
Aisyah sering tersenyum.
"Mas…"
"Iya?"
"Aku tidak pernah menyangka akhir hidupku akan seindah
ini."
Arga menahan tangis.
"Jangan bilang akhir. Masih panjang."
Aisyah tertawa pelan.
"Berapa pun sisanya, aku bersyukur."
Suatu malam purnama, mereka bertiga duduk di halaman.
Bulan bersinar terang.
Langit penuh bintang.
Aisyah berbaring di kursi panjang, diselimuti.
Arga dan Nadira duduk di sampingnya.
Aisyah berkata,
"Kalau aku pergi nanti, aku mau dikubur di sini."
Arga menatapnya.
"Maksudmu?"
"Di makam desa sini. Dekat rumah."
Nadira bertanya,
"Kenapa? Bukannya Mbak mau di Tegal Wangi?"
Aisyah menggeleng.
"Aku ingin dekat kalian. Biar kalian mudah
ziarah."
Arga menunduk.
Aisyah melanjutkan,
"Dan nanti, kalau kalian punya anak… ajak dia ziarah
ke makamku."
Nadira menangis.
"Mbak, jangan bicara begitu."
Aisyah memegang tangan Nadira.
"Ini penting. Aku ingin dikenang."
Arga akhirnya berkata,
"Kamu akan selalu dikenang, Sari."
Aisyah tersenyum.
"Iya. Aku tahu."
Tiga bulan setelah pulang dari rumah sakit, Aisyah
menghembuskan napas terakhirnya.
Malam itu tenang.
Tidak ada petir.
Tidak ada hujan.
Hanya angin sepoi yang membawa aroma melati dari halaman.
Arga sedang membacakan Al-Qur'an ketika napas Aisyah mulai
tersengal.
Nadira segera mengambil air wudhu.
Mereka bersama-sama menuntun Aisyah mengucapkan kalimat
syahadat.
Perlahan.
Satu per satu.
Hingga akhirnya…
Aisyah tersenyum.
Dan pergi dengan tenang.
Arga menangis.
Nadira menangis.
Namun di tengah tangis itu, mereka merasakan sesuatu yang
aneh.
Ketenangan.
Seolah Aisyah sedang berkata,
"Aku sudah sampai di rumah yang baru. Jangan
sedih."
Pagi harinya, seluruh desa datang melayat.
Ustadz Hadi memimpin doa dengan suara bergetar.
Ia kehilangan putri kesayangannya.
Namun ia tahu, Aisyah pergi dalam keadaan baik.
Ketika jenazah diturunkan ke liang lahat, Arga berdiri di
tepi kubur.
Nadira memegang lengannya.
Mereka melihat tanah menutupi jasad perempuan yang sangat
mereka cintai.
Saat doa selesai, seseorang berkata,
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un."
Arga mengucapkannya dengan lirih.
Nadira hanya bisa menangis.
Namun di tengah tangis itu, Nadira berbisik,
"Aku akan menjaga janjiku, Mbak."
Rumah itu terasa kosong setelah Aisyah pergi.
Nadira mencoba mengisi kekosongan itu.
Setiap pagi ia bangun lebih awal.
Memasak seperti yang biasa dilakukan Aisyah.
Namun rasanya tetap berbeda.
Suatu sore, Nadira menemukan buku catatan di kamar Aisyah.
Buku itu berisi tulisan tangan.
"Untuk Arga dan Nadira."
Nadira memanggil Arga.
Mereka membaca bersama.
Aku tahu suatu hari aku akan pergi lebih dulu. Maka aku
menulis ini.
Nadira, tolong jaga Arga. Ia suka lupa makan kalau sedang
sibuk. Pastikan ia makan.
Arga, jangan lupa pakai sandal kalau ke sawah. Nanti
cacingan.
Mereka tertawa di sela tangis.
Surat itu panjang.
Penuh dengan pesan-pesan kecil.
Tentang letak bumbu dapur.
Tentang tanaman yang harus disiram.
Tentang anak-anak mengaji yang harus diteruskan.
Dan di akhir surat, Aisyah menulis:
Aku mencintai kalian berdua.
Jangan pernah berhenti bahagia.
Karena kebahagiaan kalian adalah kebahagiaanku.
Hari-hari berlalu.
Nadira mulai mengajar mengaji di rumah, meneruskan yang
dulu dilakukan Aisyah.
Anak-anak desa datang setiap sore.
Suara mereka mengaji memenuhi rumah itu.
Kadang Arga pulang dari sawah dan duduk di teras,
mendengarkan suara itu.
Dalam hati ia berkata,
Aisyah, anak-anak mengaji masih ramai.
Nadira mengajar dengan baik.
Kami baik-baik saja.
Dan ia merasa, di suatu tempat, Aisyah tersenyum.
Sembilan
Bulan Kemudian
Suatu pagi, Nadira terbangun dengan rasa mual.
Ia berlari ke kamar mandi.
Arga yang mendengar suara itu segera bangun.
"Nadira, kamu sakit?"
Nadira menggeleng.
"Aku tidak tahu. Beberapa hari ini mual terus."
Arga mengernyit.
"Mual?"
Tiba-tiba ia tersentak.
"Nadira… jangan-jangan…"
Nadira menatapnya.
"Jangan-jangan apa?"
Arga menggenggam tangannya.
"Kita periksa ke dokter."
Di klinik desa, dokter tersenyum setelah memeriksa Nadira.
"Selamat, Pak Arga. Ibu hamil."
Arga terdiam.
Nadira menutup mulutnya.
Air mata langsung mengalir.
"Benar, Dok?"
Dokter mengangguk.
"Sudah dua bulan."
Arga memeluk Nadira.
Mereka menangis bersama.
Di tengah tangis bahagia itu, Arga berbisik,
"Aisyah… kamu dengar? Kita punya anak."
Sore harinya, mereka pergi ke makam Aisyah.
Arga membawa sekuntum mawar putih.
Nadira membawa air mawar.
Mereka duduk di samping pusara.
Nadira berkata,
"Mbak Aisyah… aku hamil."
Angin sepoi berhembus.
Seperti jawaban.
Arga menambahkan,
"Kamu akan menjadi bibi yang baik untuk anak
kami."
Nadira tersenyum.
"Kami akan beri nama dia Aisyah, kalau
perempuan."
Arga mengangguk.
"Kalau laki-laki, kami beri nama Aisy."
Angin berhembus lagi.
Lebih lembut.
Seolah Aisyah membelai mereka dari sana.
Waktu berjalan seperti air sungai yang tidak pernah
berhenti mengalir.
Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa.
Di ruang bersalin rumah sakit kecil di kota kecamatan, Arga
berdiri di sudut ruangan dengan kedua tangan gemetar.
Ia bukan pria yang mudah menangis.
Namun saat tangisan bayi pertama kali terdengar memecah
kesunyian ruangan, sesuatu di dalam dadanya runtuh.
Air mata jatuh begitu saja.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Mas… bayinya sehat," kata bidan dengan senyum
hangat.
Arga hanya bisa mengangguk pelan.
Suara tangisan bayi itu terasa seperti musik paling indah
yang pernah ia dengar.
Namun orang yang pertama kali menggendong bayi itu bukanlah
Nadira.
Melainkan dalam hati Arga, ia merasa Aisyah ada di sana.
Menyaksikan.
Tersenyum.
Arga berbisik pelan,
"Aisyah… ini anak kita."
Nadira yang terbaring lemah di ranjang tersenyum.
"Ia akan kita beri nama… Aisy. Aisy Pradipta."
Arga menggendong bayinya dengan hati-hati.
Bayi itu menggenggam jarinya dengan erat.
Seolah mengenal kehangatan tangan ayahnya.
Arga memandang bayi itu lama.
"Selamat datang, Nak."
Rumah kecil milik Arga yang dulu sering terasa sunyi, kini
berubah menjadi tempat yang penuh kehidupan.
Di halaman rumah yang menghadap ke hamparan sawah desa
Sukamerta, suara tawa seorang anak kecil hampir selalu terdengar setiap pagi.
Anak itu adalah putra Arga dan Nadira.
Seorang bayi laki-laki yang lahir dengan tubuh sehat dan
mata yang jernih seperti langit desa setelah hujan.
Hari kelahirannya menjadi hari yang tidak pernah dilupakan
oleh keluarga kecil itu.
Hari yang penuh air mata.
Hari yang penuh rasa syukur.
EPILOG Mahligai Biru
Waktu berjalan seperti air sungai yang tidak pernah
berhenti mengalir.
Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa.
Rumah kecil milik Arga yang dulu sering terasa sunyi, kini
berubah menjadi tempat yang penuh kehidupan.
Di halaman rumah yang menghadap ke hamparan sawah desa
Sukamerta, suara tawa seorang anak kecil hampir selalu terdengar setiap pagi.
Aisy—begitu mereka memanggilnya—kini sudah berusia tiga tahun.
Anak laki-laki yang lincah dengan mata cokelat seperti
ibunya dan senyum yang entah bagaimana mengingatkan semua orang pada Aisyah.
Seiring waktu, kehidupan rumah tangga mereka berjalan
seperti perahu yang berlayar di lautan luas.
Tidak selalu tenang.
Kadang ada ombak kecil.
Kadang ada angin yang membuat arah terasa goyah.
Namun mereka belajar satu hal penting.
Rumah tangga bukan tentang siapa yang paling sempurna.
Rumah tangga adalah tentang siapa yang paling sabar
bertahan.
Arga tetap menjadi lelaki sederhana yang bekerja di sawah
dan mengurus usaha kecilnya.
Nadira menjadi istri yang setia dan ibu yang penuh kasih
untuk Aisy.
Dan meskipun Aisyah telah tiada, namanya selalu hadir dalam
keseharian mereka.
Setiap kali Nadira memasak, ia ingat resep yang diajarkan
Aisyah.
Setiap kali Aisy sakit, Arga berdoa dengan cara yang
diajarkan Aisyah.
Setiap kali mereka ziarah ke makamnya, mereka membawa Aisy
kecil.
Anak itu sering bertanya,
"Bu, ini makam siapa?"
Nadira akan menjawab,
"Ini makam bibi yang sangat baik. Yang menjaga Ayah
dan Bunda dari surga."
Aisy akan mengangguk, meskipun belum sepenuhnya mengerti.
Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik sawah,
Arga duduk di beranda.
Aisy bermain di halaman dengan layang-layang kecil.
Nadira keluar membawa dua gelas teh.
Ia duduk di samping Arga.
"Mas…"
"Iya?"
"Kangen Mbak Aisyah?"
Arga tersenyum tipis.
"Setiap hari."
Nadira mengangguk.
"Aku juga."
Mereka diam sejenak, menikmati senja.
Aisy berlari ke arah mereka.
"Yah! Layang-layangnya putus!"
Arga tertawa.
"Ya sudah, nanti Bapak buatkan yang baru."
Aisy duduk di pangkuan Arga.
"Yah, cerita tentang bibi lagi dong."
Arga menatap Nadira.
Nadira tersenyum dan mengangguk.
Arga memulai cerita,
"Dulu, ada seorang bibi yang sangat baik…"
Aisy mendengarkan dengan saksama.
Matanya berbinar.
Meskipun ia tidak pernah bertemu Aisyah, ia tumbuh dengan
cerita tentangnya.
Tentang perempuan yang rela berkorban.
Tentang cinta yang tidak pernah mati.
Malam itu bulan purnama bersinar terang.
Arga, Nadira, dan Aisy pergi ziarah ke makam Aisyah.
Aisy sudah hafal jalan menuju makam itu.
Ia sering diajak.
Di depan pusara, Arga membacakan Yasin.
Nadira menaburkan bunga.
Aisy duduk di samping mereka, memandang nisan dengan
hormat.
Setelah selesai, Aisy bertanya,
"Yah, bibi di surga senang lihat kita?"
Arga mengusap kepalanya.
"Pasti. Dia selalu senang lihat kita."
Aisy tersenyum.
"Kalau begitu, aku mau doa biar bibi makin
senang."
Anak itu memejamkan mata, menempelkan kedua telapak
tangannya di dada.
Berdoa dengan cara sederhana seorang anak.
Arga dan Nadira saling pandang.
Mereka tersenyum.
Di tengah doa itu, angin sepoi berhembus.
Membawa aroma melati.
Seperti Aisyah membisikkan,
"Aku baik-baik saja di sini."
"Bahagiaku melihat kalian bahagia."
Dalam perjalanan pulang, Aisy tertidur di punggung Arga.
Nadira berjalan di samping mereka.
Jalan desa yang sunyi diterangi cahaya bulan.
Nadira berkata pelan,
"Mas, kadang aku berpikir…"
"Tentang apa?"
"Tentang perjalanan hidup kita. Dulu kita hampir
musuhan. Sekarang begini."
Arga tersenyum.
"Hidup memang aneh."
Nadira tertawa kecil.
"Iya. Dulu aku benci sama Aisyah. Tapi sekarang… aku
justru merasa kehilangan."
Arga menatapnya.
"Karena dia mengajarkan kita arti ikhlas."
Nadira mengangguk.
"Tanpa dia, mungkin kita tidak akan seperti
sekarang."
Mereka berjalan dalam diam.
Merenungi takdir yang begitu rumit namun indah.
Kata "Mahligai" dalam judul novel ini diambil
dari bahasa kuno yang berarti "perjalanan panjang di lautan".
Dan biru adalah warna kedalaman.
Warna ketenangan.
Warna yang abadi.
Perjalanan Arga memang seperti hahligai di lautan biru.
Penuh ombak.
Penuh badai.
Namun pada akhirnya, ia sampai di pelabuhan yang tenang.
Suatu pagi, Arga duduk di tepi sawah.
Aisy bermain di dekatnya.
Nadira menyusul dengan membawa bekal.
Mereka bertiga duduk bersama.
Hamparan sawah menghijau di depan mereka.
Langit biru cerah tanpa awan.
Aisy tiba-tiba berkata,
"Yah, lihat langit! Biru banget!"
Arga mengangguk.
"Iya, Nak. Biru."
Nadira tersenyum.
"Seperti judul novel yang dulu
Ayah mau tulis."
Arga menatapnya.
"Kamu ingat?"
"Nama novel itu kan Mahligai Biru."
Arga tertawa.
"Iya. Tapi aku tidak pernah menulisnya."
Nadira memiringkan kepala.
"Kenapa?"
Arga memandang langit.
"Karena hidupku sudah menjadi novel. Dengan akhir yang
bahagia."
Aisy tiba-tiba berlari.
"Yah! Kejar aku!"
Arga bangkit.
"Siap! Awas lari!"
Ia mengejar Aisy di pematang sawah.
Suara tawa anak itu memenuhi udara.
Nadira memandang mereka dari kejauhan.
Dalam hatinya ia berdoa,
Terima kasih, Allah.
Terima kasih sudah mempertemukan kami.
Terima kasih sudah memberi kami kesempatan kedua.
Dan terima kasih untuk Aisyah, yang mengajarkan arti cinta
sejati.
Angin berhembus lembut.
Membawa bisikan dari masa lalu.
"Cinta yang bertahan adalah cinta yang pulang."
Dan mereka…
telah pulang.
Ke rumah.
Ke hati satu sama lain.
Ke pelabuhan terakhir dari Mahligai biru kehidupan mereka.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar