SANG LEGENDA KONTRIBUTOR DESA
Dari Admin Biasa Menjadi Penjaga Informasi di Sepuluh Desa
Sebuah
Novel Inspiratif tentang Perjuangan, Dedikasi, dan Transformasi Digital Desa
Oleh:
Slamet Riyadi
PROLOG
"Ketika
Jarak Bukan Lagi Halangan"
Pagi di desa itu selalu datang dengan cara yang sama:
perlahan, sunyi, dan sederhana.
Kabut tipis menggantung di antara pohon-pohon karet dan
sawit yang berjajar di kejauhan, seperti selendang putih yang dengan lembut
membelai puncak-puncak dedaunan. Jalan tanah yang membelah perkampungan masih
basah oleh embun malam yang belum sepenuhnya menguap, menciptakan aroma khas
tanah basah yang bercampur dengan wangi dedaunan. Di kejauhan, sesekali
terdengar suara ayam jantan bersahutan, seolah mereka sedang berlomba menjadi
jam alarm alami bagi seluruh penghuni desa. Suara itu kemudian disusul oleh
bunyi sepeda motor tua yang melintas menuju kebun, dengan suara knalpot yang
sudah mulai reyot namun tetap setia mengantar pemiliknya mencari nafkah.
Desa itu bernama Sido Mukti—sebuah nama yang mengandung
harapan akan kehidupan yang makmur dan sejahtera. Terletak di sebuah lembah
kecil yang dikelilingi perbukitan hijau, desa ini adalah rumah bagi sekitar
seribu dua ratus jiwa yang sebagian besar hidup sebagai petani karet, pekebun
sawit, dan peternak sapi skala kecil. Rumah-rumah di desa ini kebanyakan masih
berdinding kayu dengan atap seng yang sudah mulai berkarat di beberapa bagian,
namun di balik kesederhanaannya, ada kehangatan yang tidak bisa ditemukan di
kota-kota besar.
Di sebuah rumah kayu yang berdiri tidak jauh dari balai
desa, tepatnya di RT 03 RW 02, Dusun Mulyo Rejo, seorang pria paruh baya duduk
di depan meja sederhana. Meja itu bukan meja kerja yang mewah—bukan meja
eksekutif dengan lapisan kaca mengilap, bukan pula meja minimalis modern yang
dijual di toko-toko mebel kota. Meja itu adalah meja kayu jati tua warisan
orang tuanya, dengan cat berwarna coklat yang sudah mulai pudar di beberapa
bagian, sudut-sudutnya sedikit terkelupas karena dimakan usia, dan kaki mejanya
sudah tidak sama panjang sehingga harus diganjal dengan potongan kayu kecil
agar tidak goyah setiap kali digunakan mengetik.
Di atas meja itu hanya terdapat beberapa barang sederhana:
·
Sebuah laptop merek Acer
Aspire berwarna hitam, keluaran tahun 2012, dengan stiker yang sudah menguning
di sudut-sudutnya, tuts keyboard yang sudah aus di beberapa huruf, dan kipas
pendingin yang setiap kali dinyalakan mengeluarkan suara berisik seperti mesin
traktor tua yang kehabisan oli.
·
Sebuah modem internet
merek Huawei berwarna putih, yang selalu ditempelkan di dekat jendela karena
hanya di sanalah sinyal bisa ditangkap dengan stabil—itupun kadang hilang
timbul jika cuaca mendung atau jika ada pohon yang terlalu basah karena hujan.
·
Tiga buah buku catatan
warna-warni: buku hijau untuk mencatat data kegiatan desa, buku biru untuk
mencatat ide-ide artikel, dan buku merah untuk mencatat jadwal dan tenggat
waktu dari sepuluh desa yang kelak akan bekerja sama dengannya.
·
Dua buah bolpoin merek
Pilot berwarna hitam dan biru, keduanya sudah kehilangan tutup, namun masih
setia menggoreskan tinta di atas kertas.
·
Dan sebuah cangkir
keramik putih dengan gambar bunga mawar yang mulai terkelupas—cangkir hadiah
pernikahan dua puluh tahun lalu—yang setiap pagi diisi kopi hitam panas tanpa
gula oleh istrinya.
Pria itu bernama Arman.
Bukan nama besar. Bukan nama yang akan dikenang dalam
sejarah nasional. Bahkan di desanya sendiri, banyak warga yang mungkin masih
bingung jika ditanya tentang nama lengkapnya. Mereka lebih sering memanggilnya
"Pak Man"—sebutan sederhana yang akrab di telinga.
Arman berusia empat puluh tujuh tahun pada saat kisah ini
dimulai. Rambutnya sudah mulai memutih di bagian pelipis, tidak lebat seperti
masa mudanya, namun masih cukup rapi disisir ke samping. Wajahnya bulat dengan
kulit sawo matang khas orang desa yang setiap hari terpapar matahari, meskipun
akhir-akhir ini ia lebih banyak duduk di depan komputer sehingga warna kulitnya
sedikit lebih terang. Matanya sipit, namun di balik kelopak mata itu tersimpan
ketajaman yang tidak biasa—ketajaman seorang pengamat yang terbiasa melihat
detail-detail kecil yang sering terlewatkan orang lain.
Hari itu Arman mengenakan kemeja lengan panjang warna biru
muda yang sudah mulai luntur karena terlalu sering dicuci, dipadukan dengan
celana bahan warna hitam yang juga sudah mulai tipis di bagian lutut. Di
kakinya, sandal jepit merek Swallow warna coklat menemani setiap langkahnya.
Penampilannya sederhana—sangat sederhana—seperti kebanyakan pria desa
seusianya.
Ia bukan wartawan.
Ia bukan lulusan jurnalistik. Ia tidak pernah mengenyam
pendidikan di bidang komunikasi, apalagi teknologi informasi. Pendidikan
terakhirnya hanyalah SMA, itu pun lulus dengan nilai pas-pasan karena harus
membantu orang tuanya di kebun sejak usia muda. Ia tidak pernah mengenal
istilah-istilah rumit seperti SEO, traffic pengunjung, engagement rate, atau
algoritma mesin pencari.
Ia juga bukan ahli teknologi informasi. Jika ditanya
tentang perbedaan antara RAM dan ROM, ia mungkin hanya akan menggelengkan
kepala sambil tersenyum malu. Jika disuruh menjelaskan apa itu coding atau
pemrograman web, ia akan tertawa dan mengatakan bahwa itu terlalu rumit untuk
kepalanya.
Bahkan jika ditanya tentang istilah-istilah digital yang
sedang tren seperti artificial intelligence atau machine learning, ia mungkin
hanya akan mengangkat bahu dan berkata, "Yang penting laptop saya masih
bisa dipakai mengetik."
Yang ia tahu hanyalah satu hal sederhana: mengetik di
Microsoft Word.
Tidak lebih.
Ia belajar mengetik secara otodidak, dengan metode yang
sangat sederhana: melihat tuts keyboard satu per satu, menekan dengan dua jari
telunjuk—jari telunjuk kiri untuk huruf-huruf di sisi kiri keyboard, jari
telunjuk kanan untuk huruf-huruf di sisi kanan. Jari-jari lainnya hanya menjadi
penonton, sesekali ikut membantu jika ada huruf yang agak jauh. Teknik mengetik
yang oleh orang-orang modern mungkin akan disebut sebagai "java
typist" atau "mengetik 11 jari" (karena hanya dua jari yang
bekerja, sementara sembilan lainnya hanya menjadi hiasan).
Namun justru dari kemampuan yang sangat sederhana itulah
sebuah perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya mulai terbentuk.***
Beberapa tahun sebelumnya, Arman hanyalah seorang perangkat
desa biasa—tepatnya menjabat sebagai Kepala Urusan Umum dan Perencanaan di Desa
Sido Mukti. Sebuah posisi yang dalam struktur pemerintahan desa berada di bawah
sekretaris desa, setara dengan kepala seksi lainnya, namun dengan lingkup tugas
yang sangat luas: mengurus surat-menyurat, mendokumentasikan kegiatan, membantu
administrasi kantor, dan menjadi "tukang serba bisa" yang dimintai
tolong oleh siapa pun.
Ia menjalani hari-harinya seperti kebanyakan aparat desa
lainnya. Bangun pagi, membantu istri menyiapkan anak-anak berangkat sekolah,
lalu berjalan kaki sekitar dua ratus meter menuju kantor desa—sebuah bangunan
berwarna krem dengan atap genteng merah, halaman berumput yang kadang dipakai
untuk apel pagi, dan sebuah papan nama besar bertuliskan "Kantor Desa Sido
Mukti" yang sudah mulai miring karena salah satu paku penyangganya longgar
sejak dua tahun lalu.
Sesampainya di kantor, rutinitasnya selalu sama: menghadiri
rapat, membantu administrasi kantor desa, mencatat kegiatan pembangunan, dan
sesekali menemani kepala desa dalam musyawarah bersama warga. Kadang ia
ditugaskan menjadi notulen rapat, kadang menjadi fotografer dadakan dengan
kamera ponsel jadulnya, kadang pula menjadi kurir yang mengantarkan surat ke
rumah-rumah warga.
Hidupnya berjalan biasa saja.
Tidak ada yang istimewa.
Hingga suatu hari, kepala desa memanggilnya ke kantor.***
Hari itu adalah
hari Selasa, tanggal 17 Maret 2020—tanggal yang tidak akan pernah ia lupakan
seumur hidupnya. Matahari bersinar cukup terang, namun tidak terlalu panas
karena angin berhembus cukup kencang dari arah perbukitan. Di halaman kantor
desa, beberapa ekor ayam milik warga sedang asyik mematuk-matuk tanah mencari
cacing, sementara seekor kucing hitam putih tidur dengan tenang di atas kursi
plastik yang biasa dipakai tamu.
Arman baru saja selesai membuatkan surat keterangan usaha
untuk Pak Tugiman, seorang warga yang ingin mengajukan pinjaman ke bank, ketika
tiba-tiba Bu Lestari—Sekretaris Desa—memanggilnya dari ruang kepala desa.
"Man, sini sebentar. Bapak panggil."
Arman mengangkat kepalanya dari tumpukan berkas.
"Sekarang, Bu?"
"Iya, sekarang."
Arman meletakkan bolpoin di atas meja, merapikan kerah
kemejanya yang sedikit kusut, lalu berjalan menuju ruang kepala desa.
Langkahnya biasa saja—tidak tergesa, tidak pula lambat—karena ia sudah terbiasa
dipanggil kapan saja. Mungkin Pak Rahmat hanya ingin menyuruhnya membeli rokok
di warung, atau mungkin ada rapat mendadak yang perlu dicatat.
Namun dugaan itu ternyata salah.
Di ruang kepala desa, suasana terasa sedikit berbeda.
Biasanya ruangan ini selalu ramai dengan obrolan, gelak tawa, atau setidaknya
suara radio kecil yang selalu diputar Pak Rahmat. Namun kali ini sunyi. Hanya
ada Pak Rahmat yang duduk di kursinya sambil memegang secarik kertas, dan di
depannya sudah duduk Pak Darso—Kepala Seksi Pemerintahan yang terkenal cerewet—dengan
ekspresi serius yang tidak biasa.
Pak Rahmat, Kepala Desa Sido Mukti, adalah seorang pria
berusia lima puluh tiga tahun dengan tubuh agak gemuk, rambut yang sudah nyaris
botak di bagian depan, dan kumis tipis yang selalu ia rawat. Hari itu ia mengenakan
kemeja batik lengan panjang warna coklat, celana bahan hitam, dan sepatu
pantofel yang sudah mulai retak di bagian depan. Wajahnya yang biasanya selalu
tersenyum cerah, pagi itu terlihat serius—serius seperti sedang menghadapi
masalah besar.
Pak Darso, di sisi lain, adalah kebalikan dari Pak Rahmat.
Usianya lima puluh tahun, tubuhnya kurus dengan perut agak buncit karena
terlalu banyak duduk dan minum kopi. Wajahnya tirus dengan hidung mancung, dan
rambutnya yang sudah memutih di bagian pelipis selalu ia sisir rapi ke
belakang. Hari itu ia mengenakan kemeja putih lengan pendek yang sudah mulai
kekuningan di bagian ketiak, dan di tangannya selalu ada cangkir kopi—seolah
cangkir itu adalah bagian tak terpisahkan dari tubuhnya.
"Silakan duduk, Man," kata Pak Rahmat sambil
menunjuk kursi kosong di samping Pak Darso.
Arman duduk. Hatinya mulai bertanya-tanya ada apa gerangan.
Biasanya rapat-rapat penting melibatkan semua perangkat desa, tidak hanya
bertiga seperti ini. Apakah ada masalah? Apakah ada yang salah dengan
pekerjaannya? Apakah ada laporan warga yang tidak menyenangkan?
Pak Rahmat kemudian mengambil sebuah kertas dari mejanya.
Kertas itu adalah print-out berwarna, dengan logo pemerintah daerah di bagian
atas dan alamat sebuah situs internet yang dicetak tebal.
"Man," kata kepala desa sambil menyerahkan kertas
itu, "desa kita sekarang punya website."
Arman menerima kertas itu dengan tangan agak ragu. Ia
membaca alamat yang tercetak di sana: www.sidomukti.desa.id. Beberapa detik ia menatap tulisan itu, lalu mengangkat
kepalanya dengan ekspresi bingung.
"Website, Pak?"
"Iya, website."
Arman mengerutkan kening. "Maksudnya...?"
Pak Darso yang dari tadi diam, tiba-tiba menyela dengan
nada khasnya yang sarkastik. "Website itu ya... punya desa di internet.
Seperti Facebook, tapi punya desa. Orang bisa lihat desa kita dari mana saja,
bahkan dari Jakarta."
Arman mengangguk pelan, walaupun sebenarnya ia belum
sepenuhnya memahami apa arti dari kata website itu sendiri. Dalam bayangannya,
website adalah sesuatu yang rumit—milik perusahaan-perusahaan besar, bukan
milik desa kecil seperti Sido Mukti.
"Bagus dong, Pak," katanya ragu. "Berarti
desa kita sudah maju."
Pak Rahmat tersenyum tipis. "Iya, bagus. Tapi ada
masalahnya."
"Masalah apa, Pak?"
Pak Rahmat menatap Arman dengan serius. "Website itu
tidak ada isinya."
Arman membuka mulut hendak bertanya, namun Pak Darso sudah
lebih dulu menjelaskan. "Website itu seperti rumah baru, Man. Bagus,
megah, tapi kosong melompong. Tidak ada perabotan, tidak ada penghuni. Orang
lihat, lalu pergi."
Pak Rahmat mengangguk. "Iya. Website kita sudah jadi
sejak tiga bulan lalu. Tapi sampai sekarang hanya ada profil desa, visi misi,
dan struktur organisasi. Itu pun fotonya Pak Darso yang lagi pegang
cangkir."
Pak Darso langsung protes. "Loh, Pak, itu foto saya
yang paling bagus."
"Kamu pegang cangkir terus, orang kira itu iklan
kopi."
Arman tertawa kecil. Percakapan seperti ini sudah biasa di
kantor desa—serius setengah bercanda, bercanda setengah serius.
Namun tawa Arman segera berhenti ketika Pak Rahmat
melanjutkan kalimatnya.
"Mulai sekarang kamu yang mengurus website itu."
Arman terdiam.
Bibirnya terbuka sedikit, namun tidak ada suara yang
keluar. Matanya membelalak, alisnya terangkat tinggi, dan tangannya yang
memegang kertas itu sedikit gemetar. Selama beberapa detik ia hanya duduk
membeku, seperti patung yang tiba-tiba kehilangan kemampuan bergerak.
"Pak... Pak... maksud Bapak?" akhirnya ia
terbata-bata.
"Kamu yang mengelola website desa," ulang Pak
Rahmat dengan sabar. "Menulis berita, mengupload foto kegiatan, pokoknya
semua yang berhubungan dengan website."
Arman menelan ludah. "Pak... saya tidak bisa."
"Tidak bisa apa?"
Arman menghela napas panjang. "Saya tidak bisa komputer,
Pak."
Pak Darso langsung tertawa. "Man, masa tidak bisa
komputer? Laptop itu kan sudah ada di kantor bertahun-tahun."
"Iya, Pak. Tapi saya cuma bisa mengetik di Word. Itu
pun pakai dua jari."
Pak Darso menunjuk keyboard laptop di meja sebelah.
"Coba ketik sesuatu."
Arman bangkit, duduk di depan laptop kantor desa yang sudah
tua itu. Ia menyalakannya, membuka Microsoft Word, lalu mulai mengetik dengan
dua jari telunjuknya—jari telunjuk kiri menekan huruf-huruf di sisi kiri, jari
telunjuk kanan menekan huruf-huruf di sisi kanan. Gerakannya lambat, namun
cukup teratur. Setiap kali selesai menekan satu huruf, matanya akan mencari
huruf berikutnya di keyboard, lalu menekannya lagi.
Pak Darso dan Pak Rahmat memperhatikan dengan serius.
Setelah sekitar tiga puluh detik, Arman berhenti. Di layar
komputer muncul sebuah kalimat:
"Saya hanya bisa mengetik dengan dua jari."
Pak Darso membaca kalimat itu, lalu menepuk pahanya
keras-keras. "Wah, ini mah sudah hebat, Man! Saya saja masih pakai satu
jari!"
Pak Rahmat ikut tertawa. "Berarti kamu sudah lebih
maju dari Pak Darso."
Arman tersenyum malu. "Tapi saya tidak tahu cara
mengelola website, Pak. Saya tidak tahu cara memasukkan berita, tidak tahu cara
mengupload foto, tidak tahu apa-apa tentang internet."
Pak Rahmat menghela napas. Ia berdiri dari kursinya,
berjalan ke jendela, dan memandang keluar selama beberapa detik. Di luar,
matahari semakin tinggi, dan beberapa warga mulai berdatangan ke kantor desa
untuk mengurus administrasi.
Setelah beberapa saat, ia berbalik dan berkata dengan nada
yang lebih lembut.
"Man, dengar ya."
Arman menatapnya.
"Saya tahu kamu bukan ahli komputer. Saya juga bukan.
Pak Darso juga bukan. Tapi desa ini butuh seseorang yang mau belajar."
Arman diam.
"Website ini sudah jadi. Pemerintah daerah sudah bayar
puluhan juta untuk membuatnya. Kalau tidak diisi, itu sama saja buang-buang
uang."
Pak Darso menambahkan. "Kita tidak perlu jadi hacker,
Man. Tidak perlu jadi programmer. Cukup bisa menulis kegiatan desa."
Pak Rahmat mengangguk. "Kamu kan sudah terbiasa
mencatat rapat, menulis laporan, membuat notulen. Sama saja. Bedanya, ini
ditulis di internet."
Arman masih diam. Pikirannya berkecamuk. Ia takut. Takut
salah. Takut merusak sesuatu yang berharga. Takut menjadi bahan tertawaan orang
karena ketidaktahuannya.
Pak Darso, yang membaca kegalauan di wajah Arman, tiba-tiba
berkata dengan nada bercanda.
"Man, kalau takut, nanti saya temani."
Arman menoleh. "Temani bagaimana?"
"Setiap kamu menulis, saya duduk di belakang sambil
bawa kopi. Kalau ada yang salah, saya kasih tahu."
"Pak Darso juga tidak bisa komputer."
Pak Darso mengangkat bahu. "Saya tidak bisa komputer,
tapi saya bisa baca. Kalau tulisannya salah, saya tahu. Kalau fotonya terbalik,
saya tahu."
Arman tertawa kecil. Pak Rahmat ikut tersenyum.
"Bagaimana, Man?" tanya Pak Rahmat.
"Bersedia?"
Arman menatap Pak Rahmat. Lalu menatap Pak Darso. Lalu
menatap layar komputer dengan kalimat yang baru saja ia ketik.
"Saya hanya bisa mengetik dengan dua jari."
Ia menarik napas panjang.
"Pak, kalau Bapak percaya, saya coba."
Pak Rahmat tersenyum lebar. "Bagus! Itu yang saya
tunggu."
Pak Darso menepuk bahu Arman. "Nah, gitu dong. Nanti
kalau websitenya terkenal, saya minta foto saya dipasang di halaman
utama."
Arman tertawa. "Pak Darso, nanti foto Bapak pegang
cangkir lagi?"
Pak Darso mengangkat cangkirnya. "Ini ciri khas saya.
Biar orang tahu kalau di desa ini adminnya minum kopi terus."
Semua orang tertawa. Suasana tegang yang sempat menyelimuti
ruangan itu kini mencair, berganti dengan kehangatan khas percakapan di kantor
desa.
Namun di balik tawa itu, Arman menyadari bahwa hidupnya
akan berubah mulai hari ini.
Ia tidak tahu caranya.
Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tapi ia punya satu hal yang mungkin lebih penting dari segalanya:
kemauan untuk belajar.
BAB I
ADMIN WEBSITE YANG TIDAK SENGAJA
Pagi di Desa Sido Mukti selalu dimulai dengan cara yang
sama—dengan suara ayam berkokok bersahutan, dengan kabut tipis yang masih
enggan pergi, dengan aroma kopi yang mulai tercium dari dapur-dapur rumah warga,
dan dengan rutinitas yang sudah berlangsung puluhan tahun tanpa perubahan
berarti.
Namun bagi Arman, pagi itu terasa berbeda.
Malam sebelumnya ia hampir tidak bisa tidur. Setelah pulang
dari kantor desa dengan status baru sebagai admin website, pikirannya terus
berkecamuk. Ia berbaring di tempat tidur, memandangi langit-langit kamar yang
kayunya sudah mulai lapuk di beberapa bagian, sementara istrinya, Sari, sudah
terlelap di sampingnya.
Website. Admin.
Internet dan Publikasi.
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya seperti kaset
rusak yang diputar berulang-ulang. Ia mencoba membayangkan apa yang harus ia
lakukan besok, namun bayangan itu terlalu kabur, terlalu asing, seperti orang
buta yang diminta membayangkan warna merah.
Sekitar pukul dua pagi, ia akhirnya tertidur—tidak karena
mengantuk, tetapi karena otaknya sudah terlalu lelah berpikir.
Dan sekarang, pagi telah tiba.
Arman duduk di tepi tempat tidur, mengucek mata yang masih
terasa berat. Di luar, matahari baru saja muncul di ufuk timur, menerangi
perbukitan dengan warna keemasan yang indah. Ia mendengar suara Sari di dapur,
menyiapkan sarapan sederhana seperti biasa: nasi putih hangat, sambal terasi,
dan lalapan mentah dari kebun belakang rumah.
"Mas, sudah bangun?" suara Sari terdengar dari dapur.
"Sarapan dulu."
Arman menghela napas. "Iya, sebentar."
Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah dengan
air sumur yang dingin. Ia memandangi cermin kecil yang retak di sudutnya.
Wajahnya terlihat lelah. Kantung mata hitam menghiasi bagian bawah matanya.
"Arman, kau bisa melakukan ini," bisiknya pada
bayangannya sendiri. "Atau setidaknya, kau harus mencoba."***
Pukul setengah tujuh pagi, Arman sudah tiba di kantor desa.
Ia datang lebih pagi dari biasanya—bukan karena semangat, tetapi karena ingin
segera memulai dan menyelesaikan tugas baru ini sebelum rasa takutnya semakin
besar.
Kantor desa masih sepi. Hanya Pak Satpam—sebutan untuk
tukang kebun merangkap penjaga malam yang bernama asli Pak Karto—yang sedang
menyapu halaman dengan sapu lidi. Pak Karto adalah pria berusia enam puluh
tahun, kurus, dengan gigi yang sudah ompong di beberapa bagian, namun
semangatnya masih seperti anak muda.
"Wah, Pak Man pagi-pagi sudah datang," sapa Pak
Karto sambil berhenti menyapu. "Ada kegiatan apa?"
Arman tersenyum canggung. "Ah, tidak ada, Pak Karto.
Cuma mau nyicil kerjaan."
Pak Karto mengangguk, lalu kembali menyapu dengan irama
yang sama—satu, dua, tiga, sapu—satu, dua, tiga, sapu.
Arman membuka pintu kantor dengan kunci yang selalu ia
bawa. Bau khas ruangan tertutup semalaman menyambutnya: bau kertas, bau kayu,
dan sedikit bau apek dari lemari arsip yang sudah tua. Ia menyalakan lampu,
lalu berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan.
Meja itu adalah meja kayu biasa, tidak berbeda dengan meja
perangkat desa lainnya. Namun kali ini, di atas meja itu ada sesuatu yang
berbeda: laptop kantor desa yang sudah tua, dan di sampingnya, secarik kertas
berisi alamat website desa yang diberikan Pak Rahmat kemarin.
Arman duduk. Ia memandangi laptop itu selama beberapa
detik, seolah-olah laptop itu adalah makhluk asing yang bisa menyerang kapan
saja.
"Baiklah," gumamnya. "Kita mulai."
Ia menyalakan laptop. Seperti biasa, kipas pendinginnya
langsung mengeluarkan suara berisik—bukan suara normal seperti laptop kebanyakan,
tetapi suara seperti helikopter mini yang sedang bersiap lepas landas.
Bruuuuuttttt...
Arman menghela napas. "Kau ini, sudah tua masih
ribut."
Ia menunggu hingga layar menyala. Proses booting laptop ini
memang selalu lambat—bisa sampai lima menit sebelum benar-benar siap digunakan.
Selama menunggu, ia merapikan beberapa berkas di meja, membuka buku catatan
hijaunya, dan menyiapkan bolpoin.
Ketika layar akhirnya menampilkan desktop, Arman mengklik
ikon browser internet—sebuah ikon bola dunia berwarna biru yang selalu
membuatnya agak bingung. Jujur saja, ia jarang menggunakan internet. Sesekali
ia membuka Facebook untuk melihat kabar teman-teman lama, itupun jika istrinya
tidak sedang memakai ponsel untuk main game.
Lalu ia mengetik alamat website desa di address bar.
Ia menekan Enter.
Beberapa detik kemudian, halaman website muncul.
Arman memandangi layar dengan perasaan campur aduk. Di satu
sisi, ia bangga—desanya ternyata punya website yang tampilannya cukup bagus.
Ada foto kantor desa di header, ada menu-menu seperti Profil Desa,
Pemerintahan, Potensi Desa, dan Berita. Warna-warnanya cerah, hijau dan kuning,
seperti warna logo desa.
Namun di sisi lain, ia juga kecewa—karena setelah membuka
menu Berita, yang muncul hanya satu artikel: "Selamat Datang di Website
Resmi Desa Sido Mukti." Itu pun artikel pendek yang tidak lebih dari tiga
paragraf, berisi ucapan selamat datang dari kepala desa.
Kosong.
Betul kata Pak Darso. Website ini seperti rumah baru yang
megah tapi tidak berpenghuni.
Arman mengklik menu-menu lain. Profil Desa: ada. Struktur
Organisasi: ada, dengan foto-foto perangkat desa yang diambil setahun
lalu—termasuk foto Pak Darso yang lagi pegang cangkir. Potensi Desa: ada daftar
produk unggulan seperti karet, sawit, dan anyaman bambu.
Tapi Berita? Kosong. Artikel? Kosong. Dokumentasi kegiatan?
Tidak ada.
Arman menghela napas panjang. "Baiklah, dari mana aku
harus mulai?"
Ia membuka halaman pengelolaan website. Di pojok kanan atas
ada tombol "Login" yang belum pernah ia klik sebelumnya. Dengan ragu,
ia mengklik tombol itu. Sebuah halaman baru muncul, meminta username dan
password.
Arman menggaruk kepalanya. "Username... password...
aku tidak punya."
Ia mencoba menebak-nebak. Mungkin username-nya
"admin"? Ia coba. Password-nya? Ia coba "password". Tidak
bisa.
"Coba "desa123"." Tidak bisa.
"Coba "sidomukti"." Tidak bisa.
"Coba "12345678"." Tidak bisa.
Setelah sepuluh kali percobaan gagal, Arman hampir
menyerah. Namun tiba-tiba ia teringat bahwa Pak Rahmat pernah menyebutkan bahwa
semua data login website desa ada di buku agenda desa—buku besar berwarna merah
yang disimpan di laci meja Pak Rahmat.
Masalahnya, Pak Rahmat belum datang. Biasanya beliau datang
sekitar pukul delapan.
Arman melihat jam di layar komputer. Pukul 07.15.
"Baiklah, aku tunggu."***
Pukul 08.15, Pak Rahmat tiba dengan sepeda motor
bututnya—sebuah Honda Supra tahun 2005 yang catnya sudah mulai terkelupas di
mana-mana, namun masih setia mengantar ke mana pun. Di belakangnya duduk Pak
Darso yang dari kejauhan sudah terlihat membawa cangkir kopi kesayangannya.
Mereka berdua masuk ke kantor dengan langkah santai. Pak
Darso langsung duduk di kursinya, sementara Pak Rahmat menuju ruang kerjanya.
Arman segera menyusul Pak Rahmat ke ruangannya.
"Pak, maaf," katanya.
Pak Rahmat menoleh. "Ada apa, Man?"
"Saya mau login ke website desa, tapi tidak tahu
username dan password."
Pak Rahmat tersenyum. "Oh, iya. Saya lupa kasih
tahu."
Ia membuka lacinya, mengambil buku agenda merah yang tebal
itu, lalu membalik-balik halaman hingga menemukan catatan tentang website desa.
Di sana tertulis username dan password dengan tinta biru.
"Ini," katanya sambil menunjukkan buku itu.
"Username: admin_sidomukti. Password: sidomukti2020."
Arman mencatatnya di buku hijaunya. "Terima kasih,
Pak."
"Silakan dicoba. Kalau ada masalah, bilang saja."***
Kembali ke mejanya, Arman mengetik username dan password
yang diberikan Pak Rahmat.
Login berhasil.
Halaman pengelolaan website terbuka di depannya. Dan Arman
langsung pusing.
Di layar itu ada puluhan menu, puluhan tombol, puluhan
pilihan yang tidak ia pahami sama sekali. Ada menu Dashboard, ada menu Artikel,
ada menu Halaman, ada menu Media, ada menu Komentar, ada menu Pengaturan. Ada
tombol Tambah Baru, tombol Edit, tombol Hapus, tombol Publikasi. Ada
kotak-kotak dengan label seperti Kategori, Tag, Featured Image, Excerpt, dan
banyak lagi istilah yang asing di telinganya.
Arman menatap layar itu dengan mata terbelalak. Kepalanya
mulai pening.
"Ya ampun... ini apa semua?"
Pak Darso yang melihat ekspresi Arman dari kejauhan,
berjalan mendekat sambil membawa cangkir kopinya. Ia berdiri di belakang Arman
dan ikut menatap layar.
"Wah, ramai sekali," komentarnya.
Arman menoleh. "Pak Darso, ini semua untuk apa?"
Pak Darso mengangkat bahu. "Mana saya tahu. Saya cuma
bisa minum kopi."
"Lalu bagaimana saya harus mulai?"
Pak Darso memikirkan sesuatu. "Coba cari menu yang
paling sederhana. Yang tulisannya mudah dipahami."
Arman memindai layar. Matanya berhenti di sebuah menu yang
cukup jelas: Tambah Artikel Baru.
"Ini, Pak. Tambah Artikel Baru."
Pak Darso mengangguk. "Nah, itu. Klik saja."
Arman mengklik menu itu. Halaman baru terbuka, dengan
sebuah kotak besar di tengahnya—tempat menulis artikel, lengkap dengan berbagai
tombol format seperti di Microsoft Word. Ada tombol untuk membuat teks tebal,
miring, bergaris bawah. Ada tombol untuk membuat daftar, mengatur perataan
teks, bahkan menambahkan gambar.
Arman menghela napas lega. "Ini seperti Word."
"Mirip, kan?"
"Iya. Ini saya bisa."
Pak Darso menepuk bahunya. "Nah, kan. Mulai saja dari
yang kamu bisa."
Arman mengangguk. Ia membuka Microsoft Word di
laptopnya—sebuah kebiasaan yang sudah ia lakukan ratusan kali. Kemudian ia
mulai berpikir: apa yang harus ia tulis?
Hari itu kebetulan ada kegiatan di desa. Semalam, warga RT
02 dan RT 03 mengadakan gotong royong membersihkan saluran air yang tersumbat
lumpur. Bukan kegiatan besar, tapi cukup penting karena saluran air itu adalah
satu-satunya jalur drainase di dusun mereka.
Arman mulai mengetik di Word.
Dengan dua jarinya yang setia, ia menulis:
Kegiatan Gotong Royong Warga Desa Sido Mukti
Pada hari Minggu, 22 Maret 2020, warga RT 02 dan RT 03 Desa
Sido Mukti mengadakan kegiatan gotong royong membersihkan saluran air. Kegiatan
dimulai pukul 07.30 pagi dan diikuti oleh sekitar 50 orang warga.
Saluran air yang dibersihkan sepanjang kurang lebih 200
meter, dari ujung dusun hingga ke sungai kecil di belakang kebun karet. Warga
membersihkan lumpur, sampah, dan rumput liar yang menyumbat aliran air.
Kegiatan berjalan lancar dan selesai sekitar pukul 11.30
siang. Warga berharap dengan bersihnya saluran air, tidak akan ada lagi banjir
saat musim hujan tiba.
Arman membaca ulang tulisannya. Sederhana. Sangat sederhana.
Bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi ini adalah awal.
"Selesai," gumamnya.
Sekarang tantangan berikutnya: memindahkan tulisan ini dari
Word ke website.
Ia menyalin seluruh teks (Ctrl+C, sebuah perintah yang baru
ia pelajari minggu lalu dari anaknya), lalu menempelkannya di kotak artikel
website (Ctrl+V). Teks itu muncul persis seperti di Word.
"Sip."
Sekarang judul. Ia mengetik judul di kolom yang tersedia:
"Gotong Royong Warga Bersihkan Saluran Air."
Selanjutnya, gambar. Arman mengambil ponselnya, mencari
foto-foto gotong royong kemarin. Ia memilih tiga foto yang paling bagus—foto
warga sedang mengangkat lumpur, foto saluran air yang sudah bersih, dan foto
bersama setelah kegiatan selesai.
Ia mengklik tombol "Tambah Media", lalu memilih
foto-foto itu dari galeri ponselnya (setelah setengah jam belajar bagaimana
cara memindahkan foto dari ponsel ke laptop). Proses upload berjalan lambat
karena koneksi internet yang pas-pasan, tapi akhirnya selesai juga.
Arman menambahkan foto-foto itu ke dalam artikel, satu per
satu, dengan caption sederhana di bawahnya.
Sekarang, langkah terakhir yang paling menegangkan:
tombol Publikasikan.
Arman menatap tombol itu dengan perasaan campur aduk.
Jarinya melayang di atas mouse, ragu untuk mengklik.
"Kalau salah bagaimana?" pikirnya. "Kalau
websitenya rusak bagaimana? Kalau tiba-tiba hilang semua bagaimana?"
Pak Darso yang dari tadi memperhatikan, tiba-tiba berkata.
"Man, kalau terlalu lama ditatap, tombol itu bisa hamil."
Arman tertawa. "Pak Darso ini..."
"Klik saja. Paling-paling cuma error. Kalau error,
kita coba lagi."
Arman menarik napas. Lalu, dengan mantap, ia mengklik Publikasikan.
Layar berkedip. Sebuah pesan muncul:
Artikel berhasil dipublikasikan.
Arman menatap layar itu selama beberapa detik. Lalu ia
membuka website desa di tab baru, dan menyegarkan halaman.
Dan di sana, di halaman utama website Desa Sido Mukti,
muncul artikel baru:
Gotong Royong Warga Bersihkan Saluran Air
Arman tersenyum lebar.
"Pak Darso... lihat!"
Pak Darso mendekat. Ia membaca artikel itu dengan serius.
"Hmm..."
"Kenapa, Pak?"
"Lumayan."
"Lumayan bagaimana?"
"Lumayan panjang. Lumayan jelas. Lumayan ada
fotonya."
Arman tertawa. "Cuma lumayan?"
Pak Darso mengangkat bahu. "Untuk pertama kali, itu
sudah hebat. Nanti kalau sudah sering, bisa jadi lebih bagus."
Pak Rahmat yang keluar dari ruangannya mendengar keributan
kecil itu. Ia berjalan mendekat.
"Ada apa?"
Pak Darso menunjuk layar. "Pak, lihat. Arman sudah
berhasil membuat artikel pertama."
Pak Rahmat membaca artikel itu. Wajahnya berseri-seri.
"Wah, Man! Bagus sekali!"
Arman tersenyum malu. "Sederhana saja, Pak."
"Ini yang kita butuhkan. Sederhana tapi jelas.
Masyarakat jadi tahu kegiatan desa."
Pak Darso menambahkan. "Iya. Sekarang kalau ada yang
tanya, 'Desa Sido Mukti ada kegiatan apa?' tinggal buka website. Tidak perlu
repot-repot jelasin."
Pak Rahmat mengangguk. "Man, ini awal yang bagus.
Teruskan."
Arman merasa dadanya hangat. Pujian dari kepala desa,
meskipun sederhana, terasa sangat berarti.
Hari itu, untuk pertama kalinya, website Desa Sido Mukti
memiliki lebih dari satu artikel.
Dan Arman, untuk pertama kalinya, merasa bahwa ia
mungkin—mungkin saja—bisa melakukan tugas barunya ini.
Namun perjalanan baru saja dimulai.
Beberapa hari setelah artikel pertama itu dipublikasikan,
Arman mulai menyadari bahwa mengelola website desa tidak semudah yang ia
bayangkan.
Pertama, masalah data.
Setiap kali ada kegiatan desa, ia harus mencari informasi
ke sana kemari. Kadang Pak Darso lupa memberi tahu, kadang Bu Lestari sibuk
sehingga tidak sempat mengirimkan laporan, kadang warga tidak mau difoto karena
malu. Arman harus menjadi detektif kecil yang memburu berita ke setiap sudut
desa.
Kedua, masalah waktu.
Menulis artikel itu tidak cepat. Satu artikel bisa memakan
waktu satu hingga dua jam, dari mencari informasi, menulis, memilih foto,
mengedit, hingga mempublikasikan. Apalagi dengan metode mengetik dua jari yang
lambat, setiap artikel terasa seperti proyek besar.
Ketiga, masalah teknis.
Kadang website error. Kadang foto tidak bisa diupload.
Kadang koneksi internet putus di tengah jalan. Kadang laptop mati mendadak
karena baterai habis sementara colokan listrik jauh.
Suatu hari, ketika Arman sedang asyik menulis artikel
tentang musyawarah desa, tiba-tiba layar laptopnya menjadi biru.
Blue screen of death.
Arman panik. Ia tidak tahu apa itu blue screen. Dalam
pikirannya, laptopnya mungkin sedang sekarat.
"Pak Darso! Pak Darso!"
Pak Darso yang sedang minum kopi di teras langsung berlari
masuk. "Ada apa, Man? Kebakaran?"
Arman menunjuk layar biru itu. "Laptop saya... mati...
biru!"
Pak Darso menatap layar itu dengan serius. Ia tidak tahu
apa-apa tentang komputer, tetapi ia harus terlihat pintar di depan Arman.
"Oh... ini mah biasa," katanya dengan nada sok
tahu. "Laptop lagi bingung."
"Bingung?"
"Iya. Kayak orang kalau bingung, mukanya merah. Kalau
laptop bingung, mukanya biru."
Arman hampir tertawa meskipun panik. "Lalu bagaimana,
Pak?"
Pak Darso menggaruk kepalanya. "Coba dimatiin terus
dinyalain lagi."
Arman menekan tombol power, menahan hingga laptop mati. Ia
menunggu beberapa detik, lalu menyalakannya lagi.
Laptop menyala normal.
"Alhamdulillah," desah Arman lega.
Pak Darso mengangguk puas. "Nah, kan. Laptop itu kayak
orang. Kalau lagi pusing, tidur sebentar, bangun-bangun segar lagi."
Arman tertawa. "Pak Darso ini, tahu banyak soal laptop
padahal tidak pernah pegang."
Pak Darso mengangkat cangkirnya. "Saya tidak tahu
laptop, tapi saya tahu kopi. Dua-duanya sama: kalau terlalu panas, bikin
masalah."***
Di tengah segala kesulitan itu, ada satu hal yang membuat
Arman terus bertahan: kepuasan melihat artikelnya dibaca orang.
Suatu sore, ketika sedang duduk di warung kopi milik Pak
Jumari—warung sederhana beratap rumbia di pinggir jalan desa—Arman mendengar
percakapan dua orang warga yang duduk tidak jauh darinya.
"Kamu lihat website desa?" tanya seorang pria
paruh baya.
"Website apa?" tanya yang lain.
"Website desa kita. Di internet. Ada berita gotong
royong kemarin."
"Oh, iya, saya lihat. Di-share sama Pak RT di grup
WhatsApp."
"Bagus ya. Jadi kita tahu kegiatan desa."
"Iya. Biasanya kita cuma dengar-dengar dari mulut ke
mulut. Sekarang bisa baca langsung."
Arman tersenyum kecil mendengar percakapan itu. Tanpa
mereka sadari, pria yang menulis berita itu sedang duduk hanya beberapa meter
dari mereka, menyeruput kopi dengan perasaan hangat di dada.
Sejak saat itu, Arman semakin bersemangat menulis.
Ia mulai membuat artikel tentang:
·
Musyawarah desa membahas
Dana Desa
·
Pembangunan jalan
lingkungan
·
Kegiatan posyandu balita
·
Pelatihan kelompok tani
·
Pembagian bantuan sosial
Setiap minggu, minimal tiga artikel ia publikasikan. Kadang
lebih, jika banyak kegiatan.
Ia juga mulai belajar dari internet—bukan tentang teknologi
rumit, tetapi tentang cara menulis yang baik. Ia membaca artikel-artikel dari
website lain, melihat bagaimana mereka menyusun kalimat, bagaimana mereka
memilih judul, bagaimana mereka mengatur foto.
Pelan tapi pasti, tulisannya mulai membaik.
Pak Darso, yang setiap hari menjadi pembaca pertama
artikel-artikel Arman, mulai memberikan komentar yang lebih positif.
"Man, artikelmu makin bagus."
"Serius, Pak?"
"Iya. Dulu tulisannya kayak laporan RT. Sekarang agak
seperti berita."
Arman tertawa. "Agak?"
"Ya, pelan-pelan. Nanti kalau sering, jadi seperti
wartawan beneran."***
Suatu malam, ketika sedang menulis di rumah, Arman mendapat
telepon dari Pak Rahmat.
"Man, besok ada tamu dari kabupaten."
"Tamu apa, Pak?"
"Mereka mau melihat website desa kita."
Arman kaget. "Melihat website? Kenapa?"
"Katanya website desa kita paling aktif di kecamatan
ini."
Arman terdiam. Ia tidak menyangka bahwa kerja kerasnya
selama ini ternaya diketahui orang lain.
"Besok jam sepuluh, di kantor. Siapkan semua artikel
yang sudah kamu tulis."
"Baik, Pak."
Keesokan harinya, sebuah mobil dinas berwarna silver
terparkir di halaman kantor desa. Dua orang dari Dinas Komunikasi dan
Informatika Kabupaten turun, membawa laptop dan kamera.
Mereka disambut oleh Pak Rahmat, Bu Lestari, dan tentu saja
Arman yang gugup setengah mati.
"Selamat pagi," sapa salah satu tamu, seorang
pria berkacamata dengan kemeja batik rapi. "Saya Andi dari Diskominfo. Ini
rekan saya, Dina."
"Selamat pagi, silakan masuk," kata Pak Rahmat.
Di ruang pertemuan, Pak Andi langsung membuka laptopnya.
"Pak Rahmat, kami dari kabupaten sedang melakukan
monitoring website desa. Dan kami menemukan sesuatu yang menarik."
"Apa itu?"
Pak Andi membuka website Desa Sido Mukti. "Website
desa Bapak adalah satu-satunya di kecamatan ini yang update setiap
minggu."
Pak Rahmat tersenyum bangga. "Alhamdulillah."
Bahkan di tingkat kabupaten, hanya sekitar dua puluh persen
desa yang websitenya aktif. Sebagian besar hanya dibuat lalu dibiarkan begitu
saja."
Dina menambahkan. "Kami penasaran, siapa yang
mengelola website ini?"
Pak Rahmat menunjuk Arman. "Ini orangnya. Arman."
Pak Andi dan Dina menatap Arman dengan rasa ingin tahu.
"Pak Arman, latar belakang pendidikannya apa?"
tanya Pak Andi.
Arman menjawab dengan agak malu. "SMA, Pak."
"Jurusan?"
"IPA. Tapi lulus biasa saja."
Pak Andi mengangguk. "Terus belajar IT di mana?"
Arman tersenyum canggung. "Tidak belajar IT, Pak. Saya
cuma bisa mengetik di Word."
Pak Andi dan Dina saling berpandangan.
"Maksudnya?"
Arman menjelaskan dengan jujur. "Saya tidak bisa
apa-apa soal komputer. Tidak tahu coding, tidak tahu desain web, tidak tahu apa
itu server. Saya hanya menulis artikel di Word, lalu memindahkannya ke
website."
Pak Andi terdiam beberapa detik. Lalu tiba-tiba ia tertawa.
"Pak Arman, anda ini luar biasa."
"Luar biasa bagaimana?"
"Anda tidak perlu jadi ahli IT untuk membuat website
desa hidup. Yang anda lakukan adalah yang paling penting: mengisi website
dengan informasi."
Dina mengangguk. "Iya. Website itu seperti toko.
Tokonya boleh bagus, boleh megah, tapi kalau tidak ada barang, orang tidak akan
datang. Website Bapak tidak megah, tapi barangnya banyak. Itu yang
penting."
Arman merasa sedikit lega. Selama ini ia mengira dirinya
kurang mampu karena tidak mengerti teknologi. Ternyata yang ia lakukan sudah
benar.
Pak Andi kemudian meminta Arman menunjukkan bagaimana ia
menulis artikel. Arman membuka laptopnya, membuka Microsoft Word, dan mulai
mengetik dengan dua jarinya.
Pak Andi dan Dina memperhatikan dengan seksama. Melihat
Arman mengetik dengan metode dua jari, mereka tersenyum.
"Pak Arman, ini yang namanya perjuangan," kata
Dina. "Mengetik dengan dua jari, tapi menghasilkan puluhan artikel."
Pak Andi menambahkan. "Saya punya staf lulusan IT,
bisa mengetik sepuluh jari, tapi tidak pernah menulis satu artikel pun. Yang
penting bukan cepatnya, tapi hasilnya."
Pertemuan itu berlangsung sekitar dua jam. Mereka
berdiskusi tentang website desa, tentang tantangan yang dihadapi, tentang
harapan ke depan.
Sebelum pulang, Pak Andi berkata, "Pak Arman, teruskan
apa yang Bapak lakukan. Ini sangat berarti untuk desa."
"Terima kasih, Pak."
"Dan suatu saat, kami mungkin akan meminta Bapak
berbagi pengalaman dengan desa-desa lain."
Arman terkejut. "Saya? Berbagi? Saya tidak bisa,
Pak."
Pak Andi tersenyum. "Justru anda yang paling bisa.
Karena anda membuktikan bahwa untuk mengelola website desa, tidak perlu jadi ahli.
Cukup mau belajar dan konsisten."
Setelah kunjungan itu, semangat Arman semakin membara.
Ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan bukan sekadar
pekerjaan administrasi. Ini adalah misi—misi untuk membuat desanya dikenal,
untuk membuat informasi desa tersedia bagi siapa pun, untuk membangun
transparansi dan akuntabilitas.
Ia mulai menulis dengan lebih rajin.
Setiap ada kegiatan, ia catat. Setiap ada foto, ia
kumpulkan. Setiap ada informasi penting, ia publikasikan.
Desa Sido Mukti, yang dulu hanya dikenal oleh warga
sekitarnya, kini mulai dikenal di dunia maya. Orang-orang dari luar daerah
mulai membaca artikel-artikelnya. Bahkan beberapa kali ada yang mengirim pesan,
bertanya tentang potensi desa, tentang produk unggulan, tentang peluang
investasi.
Pak Rahmat sangat senang. Suatu hari ia berkata kepada
Arman.
"Man, sejak website kita aktif, banyak orang luar yang
tertarik ke desa kita."
"Benarkah, Pak?"
"Iya. Kemarin ada pengusaha dari kota yang mau lihat
potensi karet kita. Dia baca artikel tentang kelompok tani karet di
website."
Arman tersenyum. "Alhamdulillah."
"Ini semua berkat tulisanmu."
Arman menggeleng. "Bukan, Pak. Ini berkat kegiatan
desa yang banyak. Saya hanya menuliskannya."
Pak Darso yang mendengar percakapan itu langsung menyela.
"Man, kamu ini rendah hati sekali. Nanti rendahnya
kebanyakan, jadi jongkok."
Arman tertawa. "Pak Darso, komentar selalu tidak
terduga."
"Yang penting hasilnya. Sekarang desa kita terkenal.
Mungkin nanti Pak Rahmat jadi bupati."
Pak Rahmat tertawa. "Darso, jangan ngelantur."***
Bulan-bulan berlalu.
Artikel-artikel Arman semakin banyak. Ia mulai
mengembangkan gaya tulisannya, tidak lagi sekadar laporan kegiatan, tetapi juga
analisis sederhana, opini, dan cerita-cerita inspiratif tentang warga desa.
Ia menulis tentang petani karet yang sukses, tentang
ibu-ibu PKK yang kreatif membuat kerajinan, tentang pemuda desa yang
berprestasi, tentang kearifan lokal yang mulai dilupakan.
Website Desa Sido Mukti perlahan menjadi semacam arsip
digital kehidupan desa. Semua terekam, semua terdokumentasi, semua bisa diakses
kapan saja.
Dan semua itu dimulai dari satu langkah kecil: keberanian
untuk mencoba.
Namun di tengah kebahagiaan itu, Arman tidak pernah
menyangka bahwa perjalanannya akan segera memasuki babak baru yang jauh lebih besar.
Sebuah babak di mana ia tidak hanya menulis untuk satu
desa, tetapi untuk sepuluh desa sekaligus.
Sebuah babak di mana ia akan menghadapi konflik, tekanan,
dan tuntutan yang jauh lebih berat.
Sebuah babak di mana ia akan dikenal sebagai Sang Legenda
Kontributor Desa.
Tapi semua itu masih ada di depan.
Untuk saat ini, Arman masih duduk di mejanya yang
sederhana, mengetik dengan dua jari, ditemani suara kipas laptop yang berisik,
secangkir kopi yang hampir dingin, dan hati yang penuh semangat.
BAB II
BENIH PERUBAHAN
Enam bulan telah berlalu sejak Arman secara tidak sengaja
menjadi admin website Desa Sido Mukti.
Jika pada awalnya website itu terasa seperti halaman kosong
yang hanya diisi laporan kegiatan desa, perlahan sesuatu mulai berubah—meski
Arman sendiri belum sepenuhnya menyadari seberapa besar perubahan itu.
Pagi itu di kantor desa, suasana masih sama seperti
biasanya. Suara kipas angin tua berputar dengan bunyi berderit pelan, berpadu
dengan suara ketukan keyboard dari beberapa meja, suara percakapan para
perangkat desa, dan suara telepon yang sesekali berdering. Beberapa perangkat
desa sedang sibuk dengan berkas-bersitas administrasi yang menumpuk di meja,
sementara yang lain sibuk melayani warga yang datang mengurus surat-surat.
Arman duduk di depan laptopnya, mengetik dengan penuh
konsentrasi.
Di layar komputer terlihat judul artikel yang sedang ia
tulis:
"Penjelasan Penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa
(ADD) Berdasarkan Regulasi Terbaru"
Ini adalah jenis artikel baru yang mulai ia kembangkan
beberapa minggu terakhir. Jika sebelumnya ia hanya menulis berita kegiatan,
kini ia mulai menulis artikel-artikel informatif—tulisan yang menjelaskan
berbagai hal tentang pemerintahan desa, regulasi, dan kebijakan.
Ide ini muncul ketika ia menyadari bahwa banyak warga desa
yang tidak memahami aturan-aturan pemerintah. Mereka hanya tahu bahwa ada uang
desa, ada bantuan, tetapi tidak tahu bagaimana mekanismenya, berapa jumlahnya,
untuk apa saja digunakan.
Arman berpikir, mengapa tidak menulis penjelasan sederhana
di website desa?
Akhirnya ia mencoba. Dan ternyata, artikel-artikel seperti
ini justru banyak dibaca.
Hari itu ia mengetik dengan ritme khasnya—lambat, tapi
pasti. Jari telunjuk kiri bergerak mencari huruf-huruf di sisi kiri keyboard,
jari telunjuk kanan mencari huruf-huruf di sisi kanan. Sesekali jari tengah
ikut membantu jika ada huruf yang agak jauh.
Di belakangnya, Pak Darso memperhatikan sambil menyeruput
kopi dari cangkir keramik kesayangannya—cangkir hadiah dari anaknya yang
bekerja di Bali, bergambar pemandangan pantai dengan tulisan "I ❤️ Bali" di bagian depan.
"Man," kata Pak Darso.
Arman tidak menoleh, matanya masih fokus pada layar.
"Iya, Pak?"
"Kamu ini sekarang seperti wartawan."
Arman tersenyum kecil, tetap mengetik. "Bukan
wartawan, Pak. Cuma menulis saja."
Pak Darso berdiri lalu berjalan mendekati meja Arman. Ia
membaca layar komputer itu dengan ekspresi serius—ekspresi yang jarang sekali
muncul di wajahnya yang biasanya penuh canda.
"Ini tulisan tentang Dana Desa?"
"Iya."
"Panjang sekali."
"Supaya orang desa paham, Pak."
Pak Darso mengangguk. Ia membaca beberapa paragraf dengan
seksama. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, sesekali
mengerutkan dahi jika menemui istilah yang agak rumit.
Namun beberapa detik kemudian ia tertawa. "Man, kalau
warga membaca semua ini, mungkin mereka tertidur sebelum sampai paragraf
kedua."
Arman ikut tertawa, berhenti mengetik sejenak. "Tapi
kalau ada yang membaca sampai selesai, berarti mereka benar-benar ingin
tahu."
Pak Darso mengangkat bahu. "Yang penting jangan sampai
kepala desa juga tertidur membacanya."
Tiba-tiba dari ruang kepala desa terdengar suara Pak Rahmat
yang memanggil dengan suara khasnya—sedikit berat, tapi ramah.
"Darso!"
"Iya, Pak!" jawab Pak Darso sambil beranjak.
"Masuk sebentar!"
Pak Darso langsung berjalan menuju ruang kepala desa, masih
membawa cangkir kopinya yang setia. Langkahnya cepat, namun tetap hati-hati
agar kopinya tidak tumpah—sebuah keterampilan yang sudah diasah bertahun-tahun.
Arman kembali fokus mengetik.
Artikel tentang Dana Desa dan ADD itu sebenarnya lahir dari
kebiasaannya membaca berbagai regulasi pemerintah yang sering dikirimkan oleh
kecamatan atau kabupaten. Biasanya dokumen-dokumen itu hanya disimpan di lemari
arsip, dibaca oleh beberapa orang, lalu terlupakan.
Awalnya Arman membaca hanya untuk memahami laporan desa
yang harus ia buat setiap bulan. Namun suatu malam, ketika sedang menunggu
artikel lain selesai diupload, ia berpikir:
Mengapa tidak menuliskan penjelasan sederhana tentang
regulasi itu di website desa?
Malam itu juga ia mulai menulis.
Bahasanya dibuat sederhana. Tidak terlalu teknis. Ia
menghindari istilah-istilah hukum yang rumit, dan berusaha menjelaskan dengan
analogi-analogi yang mudah dipahami orang desa. Misalnya, ia menjelaskan
perbedaan Dana Desa dan ADD dengan analogi uang jajan anak sekolah: Dana Desa
seperti uang jajan yang diberikan orang tua untuk kebutuhan sekolah, sementara
ADD seperti uang tambahan untuk les atau kegiatan ekstrakurikuler.
Ketika artikel itu selesai, ia mempublikasikannya di
website desa seperti biasa.
Ia tidak memiliki ekspektasi apa pun.
Namun beberapa hari kemudian, sesuatu yang tidak terduga
mulai terjadi.***
Satu minggu setelah artikel itu dipublikasikan, Arman duduk
di mejanya dengan perasaan iseng. Ia ingin melihat berapa banyak orang yang
membaca artikel-artikelnya selama ini. Selama setengah tahun menjadi admin, ia
belum pernah sekalipun membuka statistik pengunjung website.
"Pak Darso, cara lihat statistik pengunjung
gimana?" tanyanya.
Pak Darso yang sedang asyik membaca koran bekas menoleh.
"Statistik apa?"
"Pengunjung website. Siapa saja yang baca artikel
kita."
Pak Darso menggaruk kepala. "Wah, saya tidak tahu.
Tanya laptop itu."
"Laptop tidak bisa jawab, Pak."
"Ya sudah, coba cari sendiri. Saya juga buta."
Arman tersenyum. Ia mulai mencari menu
"Statistik" atau "Analytics" di halaman pengelolaan
website. Setelah beberapa kali mencoba, ia menemukan sebuah menu bernama
"Jetpack" yang menyediakan fitur statistik sederhana.
Ia mengklik menu itu.
Sebuah halaman terbuka, menampilkan grafik dan angka-angka.
Arman membaca angka yang muncul di layar.
Pengunjung 7 hari terakhir: 187
Ia mengerutkan dahi.
"Mana mungkin?"
Ia menggosok matanya, lalu membaca lagi.
Pengunjung 7 hari terakhir: 187
Biasanya, sebelum artikel Dana Desa itu tayang, jumlah
pengunjung website per minggu tidak lebih dari 20 orang—itupun sebagian besar
adalah perangkat desa sendiri yang membuka website untuk keperluan
administrasi.
Tiba-tiba angka 187 terasa seperti keajaiban.
Arman mencoba memeriksa artikel mana yang paling banyak
dibaca. Fitur statistik menunjukkan daftar artikel terpopuler.
Peringkat pertama: "Penjelasan Penggunaan Dana
Desa dan Alokasi Dana Desa (ADD) Berdasarkan Regulasi Terbaru" dengan
89 pembaca.
Peringkat kedua: "Musyawarah Desa Tetapkan
Prioritas Pembangunan Tahun Ini" dengan 23 pembaca.
Peringkat ketiga: "Kegiatan Posyandu Balita
Desa Sido Mukti" dengan 18 pembaca.
Arman menatap layar itu dengan perasaan campur aduk: heran,
bangga, tidak percaya.
"Pak Darso!" panggilnya.
Pak Darso yang sedang membaca koran di teras langsung
berlari masuk, mengira ada kejadian darurat. "Ada apa, Man? Laptop biru
lagi?"
"Bukan, Pak. Lihat ini."
Pak Darso mendekat. "Apa itu?"
"Ini statistik pengunjung website."
Pak Darso membaca angka itu dengan mata menyipit—seperti
orang yang lupa membawa kacamata baca. "Seratus delapan puluh tujuh?"
"Iya."
Pak Darso bersiul panjang. "Wah... lebih banyak dari
warga desa kita yang ikut rapat."
Arman tertawa. "Sepertinya banyak orang mencari informasi
tentang Dana Desa."
Pak Darso tiba-tiba terlihat serius. "Kalau begitu
kamu sekarang bukan cuma menulis untuk desa kita."
"Lalu?"
"Untuk seluruh Indonesia."
Arman terdiam.
Kalimat itu terasa sedikit berlebihan. Namun di dalam
hatinya, ia mulai menyadari bahwa sesuatu memang sedang berubah.
Kejutan belum berakhir.
Dua minggu kemudian, ketika Arman kembali membuka
statistik, angka yang muncul membuatnya hampir menjatuhkan mouse.
Pengunjung 7 hari terakhir: 1.247
"Ya Allah..."
Pak Darso yang kebetulan lewat langsung berhenti.
"Kenapa, Man?"
"Pak... satu ribu dua ratus."
"Apa yang seribu dua ratus?"
"Pengunjung website."
Pak Darso langsung berjalan mendekat dengan langkah
cepat—bahkan kopinya sempat goyang, sesuatu yang jarang terjadi.
"Masa?"
"Iya."
Mereka berdua menatap layar itu dalam diam selama beberapa
detik.
Pak Darso akhirnya berseru, "Man, kamu harus minta
kenaikan gaji!"
Arman tertawa. "Pak Darso, ini bukan soal gaji."
"Lalu?"
"Ini soal... saya tidak menyangka ada yang membaca
tulisan saya."
Pak Darso menepuk bahu Arman keras-keras. "Man, orang
baca tulisanmu karena tulisannya berguna. Itu yang paling penting."
Arman tersenyum. "Terima kasih, Pak."
"Sekarang, traktir saya kopi."
"Loh, kok jadi saya?"
"Ya, sebagai perayaan. Nanti saya pesan kopi yang
mahal."
"Di warung Pak Jumari kopinya cuma tiga ribu."
"Itu sudah mahal. Dua hari lalu masih dua ribu lima
ratus. Naik lima ratus rupiah itu mahal."
Arman tertawa. "Baik, Pak. Nanti siang saya
traktir."
Namun kejutan terbesar belum datang.
Beberapa hari kemudian, ketika Arman sedang asyik menulis
artikel di kantor, ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor
yang tidak dikenal.
Arman membukanya.
"Assalamualaikum Pak Arman. Saya admin website desa di
Kabupaten sebelah. Saya sering membaca artikel di website Desa Sido
Mukti."
Arman membaca pesan itu beberapa kali. Ia sedikit terkejut.
Selama ini ia mengira hanya warga desa dan beberapa orang
sekitar yang membaca tulisannya. Ternyata ada juga admin website dari desa
lain.
Ia membalas dengan sederhana.
"Waalaikumsalam. Terima kasih banyak sudah
membaca."
Beberapa detik kemudian balasan datang.
"Artikel tentang Dana Desa sangat membantu kami
memahami regulasi. Saya mau tanya, sumbernya dari mana?"
Arman menjawab dengan jujur.
"Saya baca dari Permendesa, PP, dan berbagai aturan
pemerintah. Lalu saya tulis ulang dengan bahasa sederhana."
Balasan berikutnya membuatnya tersenyum.
"Wah, hebat. Saya kira Pak Arman lulusan hukum.
Ternyata otodidak."
Arman tertawa kecil.
"Otodidak yang masih banyak belajar."
Percakapan itu berlangsung cukup lama. Mereka berdiskusi
tentang website desa, tentang tantangan mengelola informasi, tentang harapan ke
depan.
Di akhir percakapan, admin desa itu menulis:
"Pak Arman, teruslah menulis. Artikel Bapak sangat
bermanfaat bagi kami yang masih belajar."
Arman membaca pesan itu berulang-ulang.
Ada perasaan hangat yang tidak bisa ia jelaskan. Selama ini
ia menulis sendirian, tanpa tahu siapa yang membaca, tanpa tahu apakah
tulisannya berguna. Kini ia mendapat konfirmasi bahwa apa yang ia lakukan
ternyata berarti bagi orang lain.
Namun popularitas kecil itu ternyata juga membawa masalah.
Suatu malam, ketika sedang bersantai di rumah setelah
seharian menulis, ponsel Arman berbunyi terus-menerus. Ia membuka grup WhatsApp
yang diikutinya—sebuah grup bernama "Komunitas Admin Website Desa
Se-Provinsi".
Grup itu biasanya sepi. Anggotanya para admin website desa
dari berbagai kabupaten. Mereka jarang berdiskusi, lebih sering hanya berbagi
informasi teknis jika ada masalah.
Namun malam itu, grup itu ramai.
Arman membaca pesan-pesan yang muncul.
"Teman-teman, baca artikel di website Desa Sido Mukti
tentang Dana Desa?" tulis seorang
anggota.
"Sudah. Lumayan bagus," jawab yang lain.
"Lumayan? Menurut saya itu copas dari internet."
Arman mengerutkan dahi. Ia terus membaca.
"Copas? Masa?"
"Iya. Saya juga curiga. Bahasanya terlalu rapi untuk
ukuran admin desa."
"Betul. Admin desa biasanya nulisnya kayak laporan
RT."
"Harusnya kita protes. Ini namanya plagiarisme."
Arman membaca percakapan itu dengan perasaan campur aduk.
Ia tidak marah—tidak, ia bukan tipe orang yang mudah marah. Namun ada rasa
kecewa yang cukup dalam.
Ia bekerja keras menulis artikel itu. Berjam-jam membaca
regulasi, berhari-hari menyusun kalimat agar mudah dipahami, berkali-kali
merevisi agar tidak ada kesalahan. Dan kini ada yang menuduhnya copy-paste.
Sari, istrinya, yang duduk di sampingnya sambil merajut,
melihat perubahan ekspresi di wajah suaminya.
"Mas, kenapa?" tanyanya lembut.
Arman tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan layar ponselnya.
Sari membaca pesan-pesan itu dengan seksama. Wajahnya yang
biasanya tenang berubah sedikit tegang.
"Ini yang nulis siapa, Mas?"
"Tidak tahu. Anggota grup."
Sari membaca lagi. Lalu tiba-tiba ia tertawa kecil.
Arman menoleh. "Kenapa ketawa?"
Sari tersenyum. "Mas, kalau orang mulai menuduh
seperti ini, berarti tulisan Mas sudah terkenal."
Arman mengangkat alis. "Maksudmu?"
"Orang biasanya hanya menuduh kalau mereka merasa
tersaingi. Atau iri. Atau tidak percaya bahwa orang biasa bisa menulis sebagus
itu."
Arman terdiam. Ia merenungkan kata-kata istrinya.
Sari melanjutkan, "Ingat waktu kita jualan kue dulu?
Waktu kue laris, ada tetangga yang bilang kita pakai pengawet. Padahal kita
bikin sendiri, pakai bahan alami."
Arman tersenyum. "Iya, saya ingat."
"Nah, sama saja. Ini bukti bahwa tulisan Mas
diperhatikan."
Arman menghela napas panjang. Ia mengambil ponselnya, lalu
mulai mengetik balasan di grup itu dengan hati-hati.
"Assalamualaikum teman-teman. Saya Arman, admin
website Desa Sido Mukti. Saya membaca diskusi tentang artikel Dana Desa yang
saya tulis."
Ia berhenti sejenak, berpikir.
Sari memperhatikan. "Tulis saja yang jujur, Mas."
Arman mengangguk, lalu melanjutkan mengetik.
"Terima kasih atas masukannya. Saya ingin menjelaskan
bahwa artikel yang saya tulis memang menggunakan referensi dari Permendesa, PP,
dan berbagai regulasi pemerintah. Namun saya tidak copy-paste. Saya membaca,
memahami, lalu menulis ulang dengan bahasa yang lebih sederhana agar mudah
dipahami warga desa."
Ia menambahkan:
"Saya hanya lulusan SMA yang belajar menulis otodidak.
Maaf jika ada kekurangan. Saya terbuka untuk kritik dan saran.
Wassalamualaikum."
Ia mengirim pesan itu.
Grup menjadi sunyi selama beberapa menit.
Lalu seseorang menulis:
"Wah, Pak Arman sendiri yang nulis. Maaf kalau ada
yang salah paham."
Yang lain menambahkan:
"Iya, Pak Arman. Jangan tersinggung ya. Kami hanya
kaget ada admin desa yang bisa nulis sebagus itu."
Seorang anggota lain, yang ternyata adalah moderator grup,
menulis:
"Teman-teman, mari kita jaga grup ini dengan baik.
Jangan mudah menuduh tanpa bukti. Pak Arman, terima kasih sudah menjelaskan.
Tulisan Bapak sangat menginspirasi."
Perdebatan kecil itu akhirnya mereda.
Arman meletakkan ponselnya, menghela napas lega.
Sari meraih tangannya. "Mas, saya bangga sama
Mas."
"Bangga kenapa?"
"Karena Mas tidak marah. Mas jelaskan dengan
baik-baik."
Arman tersenyum. "Kalau saya marah, masalahnya tambah
besar."
"Iya. Itu yang bikin saya bangga."***
Keesokan harinya di kantor desa, Pak Darso sudah mendengar
cerita itu. Entah dari mana, mungkin dari grup WhatsApp perangkat desa, mungkin
dari obrolan warung kopi. Yang jelas, ketika Arman datang, Pak Darso langsung
menyambutnya dengan pertanyaan khas.
"Man, saya dengar kamu jadi artis internet."
Arman tertawa. "Artis bagaimana, Pak?"
"Katanya ada yang protes, ada yang bela, rame di
grup."
"Iya, Pak. Tapi sudah selesai."
Pak Darso mengangguk. "Syukurlah. Saya kira kamu mau
mundur."
"Kenapa harus mundur?"
"Ya, karena dikritik orang."
Arman menggeleng. "Pak Darso, kalau saya mundur karena
dikritik, saya sudah mundur dari dulu."
"Maksudnya?"
Arman tersenyum. "Setiap minggu saya dikritik istri.
Katanya terlalu banyak di depan laptop."
Pak Darso tertawa keras. "Wah, itu kritik paling
berat."
"Iya. Tapi saya tidak mundur."
Pak Darso menepuk bahu Arman. "Nah, itu baru semangat.
Sekarang, traktir saya kopi lagi."
"Loh, kemarin kan sudah."
"Itu kemarin. Hari ini ada cerita baru. Jadi harus
traktir lagi."
Arman menggeleng sambil tersenyum. "Pak Darso ini,
kalau urusan kopi, tidak pernah lupa."
"Ingatan saya kuat hanya untuk kopi. Yang lain
lupa."***
Minggu-minggu berikutnya, artikel-artikel Arman semakin
dikenal.
Bukan hanya di kalangan admin website desa, tetapi juga di
kalangan perangkat desa, pendamping desa, bahkan beberapa akademisi yang
tertarik dengan isu-isu desa.
Suatu hari, Arman menerima telepon dari seorang dosen di
universitas negeri di kota provinsi.
"Selamat pagi, Pak Arman?"
"Selamat pagi."
"Perkenalkan, saya Dr. Supriyadi dari Universitas
Mulawarman. Saya dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik."
Arman hampir salah tingkah. Dosen? Universitas? Orang
penting?
"I-iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya membaca artikel Bapak tentang partisipasi
masyarakat dalam musyawarah desa. Sangat menarik."
Arman tersenyum gugup. "Terima kasih, Pak. Itu hanya
tulisan sederhana."
"Tidak, tidak. Analisis Bapak cukup tajam. Saya ingin
bertanya, apakah Bapak bersedia menjadi narasumber dalam seminar saya bulan
depan?"
Arman terdiam.
Seminar? Narasumber? Ia?
"Pak... saya cuma admin desa biasa."
"Tidak apa-apa. Justru itu yang saya butuhkan. Saya
ingin menghadirkan praktisi langsung, bukan hanya akademisi."
Arman berpikir sejenak. "Boleh saya pikir dulu,
Pak?"
"Tentu. Saya tunggu kabarnya."
Setelah telepon itu, Arman duduk diam cukup lama.
Ia menatap laptopnya yang masih menyala, dengan artikel
setengah jadi di layar.
Dari admin desa biasa, menjadi narasumber seminar.
Perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan.
Sari yang melihatnya termenung bertanya, "Mas, kenapa?"
Arman menceritakan semuanya.
Sari tersenyum lebar. "Mas, ini kesempatan
besar."
"Tapi saya tidak bisa bicara di depan orang
banyak."
"Kamu bisa. Kamu sudah biasa bicara di rapat
desa."
"Itu beda. Rapat desa isinya orang kenal. Seminar
isinya dosen-dosen."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, mereka mengundang
Mas karena mereka menganggap Mas ahli. Percaya diri saja."
Arman menarik napas panjang.
Mungkin ini saatnya melangkah lebih jauh.***
Malam itu, sebelum tidur, Arman membuka laptopnya sekali
lagi.
Ia membaca artikel-artikel lama yang pernah ia tulis. Dari
artikel pertama yang sangat sederhana, hingga artikel-artikel terbaru yang
lebih berbobot.
Perjalanan setengah tahun ini telah mengajarkannya banyak
hal.
Bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil.
Bahwa konsistensi lebih penting daripada bakat.
Bahwa menulis, meskipun hanya dengan dua jari, bisa
mengubah hidup.
Bahwa kritik dan tuduhan bukan alasan untuk berhenti.
Dan yang terpenting:
Bahwa ia tidak sendirian.
Ada Pak Darso dengan candaannya yang selalu menghibur.
Ada Pak Rahmat dengan dukungannya yang tak pernah putus.
Ada Sari dengan kesabarannya yang luar biasa.
Ada warga desa yang bangga membaca tulisannya.
Dan kini, ada orang-orang dari luar sana yang mulai
memperhatikannya.
Arman menutup laptopnya.
Ia memandang ke luar jendela.
Bulan purnama bersinar terang di atas desa. Cahayanya
menerangi sawah-sawah, pepohonan, dan rumah-rumah yang mulai sepi.
Di luar sana, sepuluh desa masih tidur nyenyak.
Mereka belum tahu bahwa sebentar lagi, seorang pria
sederhana dari Desa Sido Mukti akan datang—bukan dengan kaki, tetapi dengan
tulisannya—untuk membantu mereka bercerita kepada dunia.
Perjalanan Arman sebagai kontributor desa baru saja
dimulai.
Dan benih perubahan yang ditanamnya enam bulan lalu, kini
mulai tumbuh menjadi pohon yang rindang.
BAB III
TAWARAN DARI DESA TETANGGA
Ketika Kepercayaan Datang dari Arah yang Tak Terduga
Pagi itu Desa Sido Mukti tampak lebih ramai dari biasanya.
Di halaman kantor desa, belasan sepeda motor terparkir
berderet tidak rapi—ada yang di bawah pohon, ada yang di pinggir halaman, ada
pula yang setengah masuk ke selokan kecil karena pemiliknya buru-buru. Suara
orang-orang yang mengobrol, suara ketukan palu dari tukang yang sedang
memperbaiki pagar, dan suara radio yang diputar keras-keras dari warung Pak
Jumari, semuanya berpadu menjadi simfoni pagi yang khas.
Hari itu sedang berlangsung rapat koordinasi rutin antara
pemerintah desa, BPD, dan perwakilan warga. Topiknya cukup penting: rencana
pembangunan jalan usaha tani di Dusun Krajan, sebuah dusun terpencil yang
selama ini aksesnya sangat sulit, terutama saat musim hujan.
Di ruang pertemuan kantor desa, sekitar dua puluh orang
duduk mengelilingi meja panjang yang ditutup taplak hijau. Di ujung meja, Pak
Rahmat duduk dengan kemeja batik kesayangannya—motif parang dengan warna coklat
tua, hadiah dari anaknya yang merantau di Jakarta. Di sampingnya ada Bu Lestari
dengan buku catatan tebal, siap mencatat setiap keputusan penting. Di sisi
lain, Pak Jaya, Ketua BPD yang terkenal keras kepala, duduk dengan tangan
bersedekap, sesekali melirik jam tangannya.
Arman duduk di sudut ruangan, agak menjauh dari keramaian.
Di pangkuannya, laptop tua kesayangannya terbuka, siap mencatat poin-poin
penting yang nantinya akan ia olah menjadi artikel berita. Seperti biasa, ia
tidak terlalu banyak terlibat dalam perdebatan rapat. Ia lebih suka diam,
mendengarkan, mencatat, dan sesekali tersenyum melihat tingkah para peserta
rapat.
Pak Rahmat membuka rapat dengan suara khasnya—berat, namun
ramah.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
pagi, Bapak-bapak, Ibu-ibu."
"Waalaikumsalam," jawab para peserta hampir
bersamaan.
Pak Rahmat melanjutkan. "Agenda kita hari ini adalah
membahas rencana pembangunan jalan usaha tani di Dusun Krajan. Seperti kita
tahu, selama ini warga Dusun Krajan kesulitan mengangkut hasil panen karena
jalan yang rusak parah."
Pak Jaya langsung menyela dengan nada agak keras. "Pak
Rahmat, saya sudah lama mengusulkan ini. Kenapa baru sekarang dibahas?"
Pak Rahmat tersenyum sabar. "Jaya, sabar. Prosesnya
memang panjang. Anggarannya harus disiapkan, perencanaannya harus matang."
"Sudah matang dari tahun lalu."
Bu Lestari ikut bicara. "Pak Jaya, kita harus
mengikuti prosedur. Tidak bisa asal bangun."
Pak Jaya menghela napas. "Prosedur, prosedur. Warga
sudah menunggu bertahun-tahun."
Pak Darso yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara dari
pojok ruangan. "Pak Jaya, kalau warga sudah menunggu bertahun-tahun,
tambah setahun lagi tidak apa-apa."
Semua orang menoleh ke arah Pak Darso yang sedang
menyeruput kopinya dengan tenang.
Pak Jaya mengerutkan dahi. "Maksudmu, Darso?"
Pak Darso mengangkat bahu. "Maksud saya, yang penting
sekarang jadi. Jangan diperdebatkan terus."
Pak Jaya terdiam. Beberapa peserta rapat tersenyum kecil.
Pak Rahmat memanfaatkan momen itu untuk melanjutkan.
"Baiklah, mari kita bahas teknisnya. Pak Darso, tolong jelaskan
proposalnya."
Pak Darso meletakkan cangkirnya, lalu membuka map hijau
yang tebal. Ia mulai menjelaskan panjang lebar tentang rencana pembangunan:
panjang jalan 1,5 kilometer, lebar 3 meter, menggunakan rabat beton, dengan
anggaran bersumber dari Dana Desa dan swadaya masyarakat.
Arman mencatat semua itu dengan tekun. Jari-jarinya—dua
jari andalannya—menari di atas keyboard, mengetik poin-poin penting:
·
Pembangunan jalan usaha
tani Dusun Krajan
·
Panjang 1,5 km, lebar 3
m
·
Rabat beton
·
Anggaran: Dana Desa +
swadaya
·
Target mulai: Juni 2020
·
Target selesai: Desember
2020
Diskusi berlangsung alot. Ada yang setuju dengan desain
yang diusulkan, ada yang mengusulkan modifikasi, ada yang mempertanyakan
anggaran, ada pula yang hanya diam sambil mengangguk-angguk.
Arman terus mencatat.
Di tengah diskusi, tiba-tiba ponselnya bergetar.
Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Arman membacanya pelan.
"Assalamualaikum Pak Arman. Saya Kepala Desa Sungai
Harapan dari Kabupaten Kutai Kartanegara. Saya sering membaca artikel di
website Desa Sido Mukti."
Arman sedikit terkejut. Ia menatap layar ponselnya beberapa
detik, lalu kembali ke rapat. Namun pesan itu terus mengganggu pikirannya.
Kepala Desa? Dari kabupaten lain?
Ia mencoba fokus ke rapat, tapi matanya terus melirik
ponsel.
Pak Darso yang duduk tidak jauh darinya melihat gelagat
aneh Arman. "Man, kenapa? Ada apa?"
Arman berbisik. "Nanti, Pak. Lagi rapat."
Pak Darso mengangguk, lalu kembali memperhatikan diskusi
yang semakin memanas.
Setelah sekitar satu jam, rapat akhirnya selesai dengan
keputusan: pembangunan jalan usaha tani disetujui, dengan beberapa revisi
desain. Semua peserta tampak lega—kecuali Pak Jaya yang masih terlihat kurang
puas, namun memilih untuk diam.
Saat para peserta mulai beranjak pulang, Arman segera
membuka ponselnya dan membaca ulang pesan tadi.
Kepala Desa Sungai Harapan.
Ia mencoba mengingat di mana letak desa itu. Setelah
berpikir sejenak, ia ingat: Sungai Harapan adalah sebuah desa di kabupaten
tetangga, sekitar 120 kilometer dari Sido Mukti. Ia pernah mendengar namanya
dalam suatu pertemuan, tapi tidak pernah berkunjung ke sana.
Arman membalas pesan itu dengan hati-hati.
"Waalaikumsalam warahmatullah. Terima kasih Pak. Ada
yang bisa saya bantu?"
Beberapa menit kemudian, balasan datang.
"Saya ingin bertanya, apakah Bapak bersedia membantu
mengisi berita kegiatan di website desa kami?"
Arman berhenti membaca.
Matanya membelalak.
Mengisi berita untuk desa lain?
Ia membaca ulang pesan itu, memastikan tidak salah baca.
"Maaf Pak, maksudnya?" tanyanya ragu.
"Maksudnya, kami ingin Bapak membantu menulis berita
kegiatan desa kami. Seperti yang Bapak lakukan di Desa Sido Mukti."
Arman terdiam.
Pikirannya berkecamuk. Selama ini ia menulis untuk desanya
sendiri—desa tempat ia tinggal, tempat ia bekerja, tempat ia mengenal hampir
semua warga. Menulis untuk desa lain? Desa yang tidak pernah ia kunjungi? Desa
yang warganya tidak ia kenal?
Mungkinkah?
Pak Darso yang dari tadi memperhatikan Arman, akhirnya
tidak sabar. Ia berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
"Man, dari tadi kamu lihat ponsel terus. Ada
masalah?"
Arman memperlihatkan layar ponselnya. "Pak Darso, baca
ini."
Pak Darso membaca pesan itu dengan seksama. Matanya
membesar seiring ia membaca baris demi baris.
"Wah!" serunya agak keras.
"Ada apa?" tanya Arman.
"Ini kepala desa dari kabupaten sebelah minta bantuan
kamu."
"Iya."
Pak Darso langsung bersemangat. "Man, kamu ini sekarang
sudah ekspor jasa."
Arman tertawa kecil. "Jangan berlebihan, Pak."
"Ini serius. Orang dari luar daerah minta bantuan
kamu. Itu berarti nama kamu sudah dikenal."
Arman menggaruk kepala. "Tapi saya bingung, Pak. Saya
belum pernah ke desa itu. Tidak tahu orang-orangnya. Tidak tahu kegiatan
mereka."
Pak Darso mengangkat bahu. "Itu gampang. Mereka pasti
akan kirim data."
"Maksudnya?"
"Mereka kirim laporan kegiatan, foto-foto, data-data.
Kamu tinggal menulis."
Arman merenung. "Bisa begitu?"
"Bisa. Zaman sekarang, apa saja bisa lewat
internet."
Arman masih ragu. "Tapi Pak, saya ini pegawai desa
Sido Mukti. Bolehkah saya bekerja untuk desa lain?"
Pak Darso berpikir sejenak. "Itu pertanyaan bagus.
Sebaiknya kamu tanya Pak Rahmat dulu."
Arman mengangguk. "Iya, benar."
Setelah rapat selesai dan semua peserta pulang, Arman
mengetuk pintu ruang kepala desa.
"Pak, boleh minta waktu sebentar?"
Pak Rahmat yang sedang merapikan berkas di mejanya menoleh.
"Silakan, Man. Masuk."
Arman masuk, duduk di kursi tamu. Ia masih terlihat ragu
bagaimana memulai pembicaraan.
Pak Rahmat yang melihat kegugupan itu bertanya, "Ada
masalah, Man?"
Arman menghela napas. "Pak, saya baru saja dapat pesan
dari kepala desa lain."
"Kepala desa lain? Dari mana?"
"Sungai Harapan, Kabupaten Kutai Kartanegara."
Pak Rahmat mengangkat alis. "Oh, jauh juga. Ada
apa?"
Arman menjelaskan semuanya—tentang pesan yang ia terima,
tentang permintaan bantuan mengisi website desa, tentang keraguannya.
Pak Rahmat mendengarkan dengan seksama. Ketika Arman
selesai, ia diam sejenak, berpikir.
Lalu ia tersenyum.
"Man, ini kabar baik."
"Kabar baik, Pak?"
"Iya. Ini bukti bahwa kerja kerasmu selama ini
diperhatikan orang."
Arman tersenyum malu. "Tapi Pak, saya masih ragu. Saya
ini kan perangkat desa Sido Mukti. Bolehkah saya membantu desa lain?"
Pak Rahmat berpikir sejenak. "Secara aturan,
sebenarnya tidak ada larangan. Kamu bekerja sebagai perangkat desa di sini,
tapi di luar jam kerja, kamu bebas melakukan apa saja."
"Tapi ini kan masih terkait desa."
"Iya, tapi desa lain. Itu di luar tanggung jawabmu di
sini. Selama tidak mengganggu pekerjaan pokok, saya rasa tidak masalah."
Arman merasa sedikit lega. "Terus, bagaimana dengan
Pak Camat? Atau kabupaten?"
Pak Rahmat tersenyum. "Man, kamu ini terlalu khawatir.
Ini urusan antar desa, bukan urusan pemerintahan formal. Kamu membantu teman,
itu biasa."
Pak Darso yang tiba-tiba masuk tanpa diminta ikut
berkomentar. "Iya, Man. Ini mah kayak tolong-menolong sesama tetangga.
Tetangga dekat tolong, tetangga jauh juga tolong."
Pak Rahmat tertawa. "Darso, kamu ini selalu masuk di
saat yang tepat."
"Saya cuma ingin memberikan dukungan moral, Pak."
"Sudah, duduk sana."
Pak Darso duduk di kursi kosong, masih dengan cangkir
kopinya.
Pak Rahmat melanjutkan. "Man, kalau kamu bersedia
membantu, saya dukung. Tapi ingat, jangan sampai lupa dengan desa
sendiri."
"Iya, Pak. Saya akan tetap prioritas kan desa kita
dulu."
"Itu dia. Yang penting seimbang."
Arman mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih
sarannya."***
Malam harinya, setelah shalat Isya, Arman duduk di ruang
tamu rumahnya sambil memandangi ponsel. Istrinya, Sari, duduk di sampingnya
sambil merajut—kegiatan yang selalu ia lakukan di waktu luang.
"Mas, dari tadi lihat ponsel terus. Ada yang
dipikirkan?" tanya Sari.
Arman menghela napas. "Iya, Ni. Ada tawaran dari desa
lain."
Sari berhenti merajut. "Tawaran apa?"
Arman menjelaskan semuanya—tentang pesan dari Kepala Desa
Sungai Harapan, tentang diskusinya dengan Pak Rahmat, tentang keraguannya.
Sari mendengarkan dengan seksama. Ketika Arman selesai, ia
tersenyum.
"Mas, ini rezeki."
"Rezeki?"
"Iya. Mas punya keahlian, orang butuh, kenapa
tidak?"
"Tapi saya takut tidak bisa."
"Tidak bisa apa?"
Arman berpikir sejenak. "Tidak bisa memenuhi harapan
mereka. Mereka mungkin mengharapkan tulisan yang bagus, sementara saya hanya
menulis sederhana."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, mereka
menghubungi Mas karena mereka suka dengan tulisan Mas. Berarti standar mereka
ya tulisan Mas. Jadi tidak usah khawatir."
Arman merenung. Istrinya selalu bisa menenangkan pikirannya
yang kacau.
"Terus, menurutmu saya harus terima?" tanyanya.
"Itu keputusan Mas. Tapi kalau saya jadi Mas, saya
akan coba dulu. Kalau ternyata berat, bisa mundur. Tapi kalau tidak dicoba,
tidak akan tahu."
Arman tersenyum. "Kamu ini selalu bijak."
Sari tertawa kecil. "Bukan bijak, Mas. Cuma suka lihat
Mas dari jauh. Mas ini kalau diberi tantangan baru, selalu takut duluan.
Padahal nanti kalau dijalani, Mas bisa."
Arman tertawa. "Iya, benar juga."
Ia mengambil ponselnya, lalu mulai mengetik pesan untuk
Kepala Desa Sungai Harapan.
"Assalamualaikum Pak. Maaf baru balas. Saya sudah
pikirkan tawaran Bapak. Insya Allah saya bersedia membantu, dengan catatan
kalau ada data lengkap dari desa Bapak."
Beberapa menit kemudian balasan datang.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, terima kasih banyak
Pak Arman. Besok saya akan minta staf saya mengirimkan data-data kegiatan desa
kami."
"Baik Pak. Nanti saya proses."
"Sekali lagi terima kasih. Oh iya, kami juga akan
memberikan honor untuk setiap artikel yang Bapak tulis. Semoga cukup."
Arman membaca pesan terakhir itu. Honor? Ia tidak menyangka
akan dibayar.
Ia membalas. "Wah, Pak tidak usah repot-repot.
Saya ikhlas membantu."
"Tidak bisa, Pak. Kami harus menghargai waktu dan
tenaga Bapak. Biar kecil, yang penting ada."
Arman menatap layar ponselnya. Ada perasaan hangat di
dadanya.
Sari yang membaca layar ponsel dari samping, tersenyum.
"Nah, Mas. Rezeki tidak kemana."
Arman tersenyum. "Iya, Ni. Tapi saya tidak
menyangka."
"Ya sudah, jalani saja. Yang penting niatnya baik."
Malam itu, Arman tidur dengan perasaan campur aduk—antara
senang, bangga, dan sedikit cemas.
Ia akan menulis untuk desa lain.
Sebuah tantangan baru.***
Beberapa hari kemudian, data-data dari Desa Sungai Harapan
mulai berdatangan.
Pak Hasan—Kepala Desa Sungai Harapan—ternyata serius. Ia
meminta stafnya, seorang pemuda bernama Rudi, untuk mengirimkan semua informasi
yang dibutuhkan. Rudi mengirimkan:
·
Foto-foto kegiatan desa
selama sebulan terakhir (ada 47 foto!)
·
Laporan musyawarah desa
·
Data pembangunan
infrastruktur
·
Informasi program
pemberdayaan masyarakat
·
Bahkan video-video
pendek dari beberapa acara
Arman membuka semua file itu dengan perasaan sedikit
kewalahan.
"Wah, banyak sekali," gumamnya.
Ia mulai memilah-milah. Foto mana yang bagus untuk artikel,
data mana yang penting untuk dipublikasikan, informasi mana yang harus ditulis
lebih dulu.
Setelah beberapa jam, ia berhasil mengidentifikasi tiga
kegiatan utama yang layak dijadikan artikel:
1.
Musyawarah desa
pembahasan RKPDes
2.
Kegiatan posyandu lansia
3.
Pembangunan drainase
lingkungan
Arman mulai menulis.
Seperti biasa, ia menulis di Microsoft Word terlebih
dahulu. Dengan dua jari andalannya, ia mulai merangkai kalimat demi kalimat.
Artikel 1: Musyawarah Desa Sungai Harapan Bahas RKPDes 2021
*SUNGAI HARAPAN - Pemerintah Desa Sungai Harapan menggelar
musyawarah desa untuk membahas Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) tahun
2021. Kegiatan berlangsung di balai desa pada hari Kamis, 15 Oktober 2020, dan
dihadiri oleh perangkat desa, BPD, serta perwakilan masyarakat.*
Dalam musyawarah tersebut, dibahas berbagai usulan program
pembangunan yang akan dilaksanakan tahun depan. Beberapa usulan yang mengemuka
antara lain pembangunan jalan lingkungan, pengadaan lampu penerangan jalan, dan
program pelatihan keterampilan bagi pemuda putus sekolah.
"Kami ingin agar RKPDes tahun depan benar-benar
mencerminkan kebutuhan masyarakat. Karena itu, masukan dari warga sangat kami
harapkan," ujar Kepala Desa Sungai Harapan, Hasan, dalam sambutannya.
Musyawarah berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan
menghasilkan 15 program prioritas yang akan diusulkan dalam APBDes tahun 2021.
Artikel 2: Posyandu Lansia di Sungai Harapan Tetap Aktif di
Masa Pandemi
*SUNGAI HARAPAN - Meskipun di masa pandemi COVID-19,
kegiatan posyandu lansia di Desa Sungai Harapan tetap berjalan dengan
menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kegiatan rutin setiap bulan ini
dilaksanakan di tiga lokasi berbeda untuk menghindari kerumunan.*
Para lansia yang datang wajib memakai masker, mencuci
tangan, dan menjaga jarak. Petugas kesehatan dari puskesmas setempat tetap
melayani pemeriksaan tekanan darah, gula darah, serta pemberian vitamin.
"Kesehatan lansia tetap harus diperhatikan meskipun
pandemi. Kami bersyukur para lansia tetap antusias datang, tentu dengan protokol
kesehatan yang ketat," kata salah satu kader posyandu.
Artikel 3: Pembangunan Drainase di Sungai Harapan Atasi
Banjir
*SUNGAI HARAPAN - Pemerintah Desa Sungai Harapan memulai
pembangunan drainase di RT 05 dan RT 06 untuk mengatasi masalah banjir yang
selama ini melanda saat musim hujan. Pembangunan menggunakan anggaran Dana Desa
tahap kedua.*
Panjang drainase yang dibangun mencapai 300 meter, dengan
lebar 60 sentimeter dan kedalaman 80 sentimeter. Pembangunan ditargetkan
selesai dalam waktu dua bulan.
"Kami berharap dengan adanya drainase ini, genangan
air di pemukiman warga bisa berkurang. Ini adalah usulan warga yang sudah lama
kami perjuangkan," ujar Kepala Desa Hasan saat meninjau lokasi
pembangunan.
Setelah tiga artikel selesai, Arman membaca ulang semuanya.
Ia memeriksa ejaan, memastikan tidak ada kesalahan, lalu menambahkan foto-foto
yang sesuai.
Proses upload foto memakan waktu cukup lama karena koneksi
internet yang lambat. Beberapa kali foto gagal terupload, beberapa kali ia
harus mengulang dari awal. Namun akhirnya, semua selesai.
Arman mengirimkan ketiga artikel itu kepada Rudi melalui
WhatsApp.
"Mas Rudi, ini tiga artikel untuk desa. Tolong dicek
dulu sebelum dipublikasikan."
Tidak butuh waktu lama, Rudi langsung membalas.
"Wah, cepat sekali, Pak! Saya baca dulu."
Beberapa menit kemudian, ponsel Arman berdering. Rudi
menelepon.
"Pak Arman, ini luar biasa!" suara Rudi terdengar
antusias.
Arman tersenyum. "Alhamdulillah kalau Mas Rudi
suka."
"Suka? Saya sangat suka! Tulisannya rapi, fotonya pas,
informasinya jelas. Ini lebih baik dari yang saya bayangkan."
Arman tertawa kecil. "Saya hanya menulis apa adanya
dari data yang Mas kirim."
"Tapi ini bukan sekadar menulis, Pak. Ini seperti
berita beneran. Saya sampai tidak percaya ini ditulis oleh satu orang dengan
laptop biasa."
"Memang satu orang, Mas. Saya tidak punya tim."
Rudi tertawa. "Pak Arman, saya kira Bapak punya kantor
besar dengan banyak wartawan. Ternyata cuma Bapak sendiri."
"Sendiri, ditemani kopi dan laptop tua."
"Luar biasa. Mulai sekarang, saya akan kirim data
rutin ke Bapak. Oh iya, soal honor, akan saya transfer minggu ini."
Arman menghela napas. "Mas, honor tidak usah
dipikirkan dulu. Yang penting desa Bapak aktif websitenya."
"Tidak bisa, Pak. Ini sudah keputusan kepala desa. Bapak
harus terima."
Arman tersenyum. "Baiklah, kalau begitu. Saya
terima."***
Sejak saat itu, Arman mulai menulis untuk Desa Sungai
Harapan secara rutin.
Setiap minggu, Rudi mengirimkan data kegiatan desa. Kadang
berupa foto, kadang laporan tertulis, kadang hanya catatan singkat lewat
WhatsApp. Arman mengolah semua itu menjadi artikel berita yang informatif.
Awalnya, ia hanya menulis untuk satu desa tetangga. Namun
tanpa ia sadari, ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Beberapa minggu kemudian, Arman menerima telepon dari Pak
Hasan langsung.
"Pak Arman, selamat siang."
"Selamat siang, Pak Hasan. Ada yang bisa saya
bantu?"
"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Website
desa kami sekarang hidup berkat Bapak."
Arman tersenyum. "Alhamdulillah, Pak. Saya hanya
menjalankan amanah."
"Pak Arman, saya ada rencana."
"Rencana apa, Pak?"
"Saya ingin merekomendasikan Bapak ke desa-desa lain
di sekitar kami. Mereka juga punya masalah yang sama: website kosong, tidak ada
yang mengelola."
Arman terkejut. "Wah, Pak... saya sendiri belum
siap."
"Kenapa tidak siap? Bapak sudah membuktikan bisa. Satu
desa Bapak handle, dua desa juga pasti bisa."
"Tapi Pak, saya hanya punya waktu terbatas. Masih ada
pekerjaan di desa saya sendiri."
Pak Hasan berpikir sejenak. "Itu masalah manajemen
waktu, Pak. Saya yakin Bapak bisa mengaturnya."
Arman terdiam. Pikirannya berkecamuk.
Pak Hasan melanjutkan, "Pak Arman, percayalah. Banyak
desa yang membutuhkan orang seperti Bapak. Mereka punya website, punya
anggaran, tapi tidak punya sumber daya manusia untuk mengelolanya. Bapak bisa
menjadi solusi."
"Tapi saya tidak punya pengalaman bekerja untuk banyak
desa, Pak."
"Semua pernah pertama kali. Saya dulu juga tidak punya
pengalaman jadi kepala desa. Tapi dijalani, ya bisa."
Arman tersenyum mendengar kalimat itu. Pak Hasan benar.
"Baik, Pak. Saya pikir-pikir dulu."
"Silakan. Tapi jangan terlalu lama. Desa-desa itu
sudah menunggu."
Setelah telepon itu, Arman duduk termenung cukup lama.
Sari yang melihat suaminya melamun, bertanya, "Mas,
ada apa lagi?"
Arman menceritakan percakapannya dengan Pak Hasan.
Sari tersenyum. "Mas, ini kesempatan."
"Kesempatan atau beban?"
"Keduanya. Tapi lebih banyak kesempatan."
Arman menghela napas. "Tapi saya takut tidak
sanggup."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, ingat waktu
pertama kali disuruh jadi admin website? Mas juga takut waktu itu. Tapi
sekarang? Mas sudah bisa menulis untuk desa sendiri, bahkan untuk desa
tetangga."
Arman mengangguk. "Iya, benar."
"Nah, kalau Mas bisa handle dua desa, kenapa tidak
tiga? Atau empat? Yang penting diatur waktunya."
Arman merenung. Istrinya selalu punya cara sederhana untuk
menjelaskan hal-hal rumit.
"Terus, menurutmu saya harus terima?"
"Itu keputusan Mas. Tapi kalau saya jadi Mas, saya
akan coba. Nanti kalau berat, bisa evaluasi. Tapi kalau tidak dicoba, tidak
akan tahu."
Arman tersenyum. "Kamu ini selalu mendukung
saya."
"Istri memang tugasnya mendukung suami, selama
suaminya benar."
Arman tertawa. "Berarti kalau saya salah, tidak
didukung?"
Sari tertawa. "Kalau salah, saya ingatkan. Kalau tetap
bandel, baru tidak didukung."***
Malam itu, Arman mengambil keputusan.
Ia akan menerima tantangan baru. Jika ada desa lain yang
membutuhkan bantuannya, ia akan mencoba membantu—selama tidak mengganggu
pekerjaan utamanya di Desa Sido Mukti dan selama ia sanggup mengatur waktu.
Ia tidak tahu berapa banyak desa yang akan datang.
Ia tidak tahu seberapa besar tantangan yang akan dihadapi.
Tapi satu hal yang ia tahu: ia tidak sendiri. Ada Sari yang
selalu mendukung, ada Pak Darso yang selalu menghibur, ada Pak Rahmat yang
selalu memberi restu, dan ada keyakinan bahwa apa yang ia lakukan adalah
sesuatu yang baik—membantu desa-desa bercerita kepada dunia.
Esok harinya, ia mengirim pesan ke Pak Hasan.
"Assalamualaikum Pak Hasan. Saya sudah pikirkan
tawaran Bapak. Insya Allah saya siap membantu desa-desa lain yang membutuhkan.
Tapi mohon bimbingannya, karena saya masih baru dalam hal ini."
Balasan Pak Hasan datang cepat.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, Pak Arman. Saya tunggu
kabar baiknya. Besok saya akan hubungi beberapa kepala desa yang saya kenal.
Semoga berkah."
Arman membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk—antara
bersemangat dan cemas.
Perjalanannya sebagai kontributor lintas desa akan segera
dimulai.
Dan ia tidak tahu bahwa dalam beberapa bulan ke depan,
jumlah desa yang akan ia layani bukan hanya satu atau dua, tetapi sepuluh desa
sekaligus.
BAB IV
SEPULUH DESA MEMANGGIL
Ketika Pekerjaan dari Desa Demi Desa Datang Bersamaan
Tiga bulan telah berlalu sejak Arman menerima tawaran
pertama dari Desa Sungai Harapan.
Jika seseorang bertanya kepada Arman setahun lalu apakah ia
akan menjadi kontributor untuk beberapa desa sekaligus, ia pasti akan tertawa
dan menganggap pertanyaan itu sebagai lelucon. Namun hidup memang sering berjalan
dengan cara yang tidak terduga. Kadang kita merencanakan sesuatu, tetapi takdir
memiliki rencana lain yang jauh lebih besar.
Pagi itu, di rumah sederhananya, Arman duduk di kursi kayu
tua di teras depan. Di tangannya, secangkir kopi hitam tanpa gula—kebiasaan
yang ia warisi dari ayahnya. Di pangkuannya, ponsel yang sejak semalam tidak
berhenti bergetar.
Pesan demi pesan masuk ke WhatsApp-nya.
Dari berbagai nomor.
Dari berbagai desa.
Dari berbagai kabupaten.
Sari, istrinya, keluar dari dapur sambil membawa nampan
berisi pisang goreng buatannya sendiri. Melihat suaminya yang sejak pagi sudah
sibuk dengan ponsel, ia tersenyum.
"Mas, dari tadi lihat ponsel terus. Makan dulu,"
katanya sambil meletakkan nampan di meja kecil di samping Arman.
Arman mengangkat kepala, tersenyum tipis. "Iya, Ni.
Ini lagi baca pesan."
"Siapa lagi? Yang kemarin saja belum dibalas
semua?"
Arman tertawa kecil. "Ini desa baru lagi. Yang kemarin
juga masih nunggu."
Sari duduk di kursi sebelahnya. "Berapa sekarang,
Mas?"
Arman menghitung sejenak. "Yang sudah jalan rutin ada
enam. Yang baru hubungi kemarin dan hari ini ada empat. Total sepuluh."
Sari mengangkat alis. "Sepuluh desa?"
"Iya."
Sari terdiam beberapa detik. Lalu ia berkata dengan nada
setengah bercanda, "Mas, meja kerja Mas itu kecil. Nanti muat tidak untuk
sepuluh desa?"
Arman tertawa. "Meja kecil, tapi laptopnya muat. Yang
penting desanya di laptop, bukan di meja."
"Ya sudah, kalau begitu. Tapi jangan lupa makan. Nanti
kalau Mas sakit, sepuluh desa itu pusing semua."
Arman tersenyum hangat. Istrinya selalu punya cara untuk
mengingatkannya pada hal-hal sederhana namun penting.
Perjalanan Arman dari satu desa menjadi sepuluh desa
terjadi secara bertahap, seperti air yang mengisi kolam—setetes demi setetes,
tanpa terasa, akhirnya penuh.
Semuanya dimulai dari rekomendasi Pak Hasan, Kepala Desa
Sungai Harapan. Setelah melihat website desanya aktif dan penuh berita berkat
tulisan Arman, Pak Hasan mulai mempromosikan "jasa" Arman kepada
rekan-rekan sesama kepala desa di wilayahnya.
Dalam sebuah pertemuan koordinasi antar desa di kantor
kecamatan, Pak Hasan duduk di samping Pak Suroto, Kepala Desa Bukit Lestari. Di
sela-sela rapat yang membosankan tentang administrasi kependudukan, Pak Hasan
membuka percakapan.
"Suro, website desamu gimana?" bisik Pak Hasan.
Pak Suroto menghela napas. "Ah, jangan ditanya. Sudah
setahun tidak diurus. Adminnya sibuk, katanya."
"Masih kosong?"
"Kosong melompong. Cuma ada profil desa doang. Itu pun
fotoku muka kusam, kurang tidur."
Pak Hasan tertawa kecil. "Kalau gitu, aku kenalin
orang. Bisa bantu urus website."
Pak Suroto menoleh dengan rasa ingin tahu. "Siapa?
Punya tim?"
"Bukan tim. Satu orang. Namanya Arman, dari Desa Sido
Mukti."
Pak Suroto mengerutkan dahi. "Sido Mukti? Itu kan di
kecamatan sebelah, beda kabupaten."
"Iya. Tapi dia bisa bantu dari jarak jauh. Kita kirim
data, dia tulis berita."
Pak Suroto terdiam, mempertimbangkan. "Serius?
Bisa?"
"Sudah bukti. Website desaku sekarang penuh berita.
Padahal dulu sama kayak kamu, kosong."
Pak Suroto semakin tertarik. "Berapa bayarannya?"
"Itu nanti bicara langsung sama dia. Yang penting,
desamu jadi aktif."
Pak Suroto mengangguk. "Kasih nomornya. Nanti aku
hubungi."
Percakapan serupa terjadi berulang kali. Pak Hasan seperti
menjadi marketing tidak resmi untuk "jasa" Arman. Di setiap
pertemuan, di setiap kesempatan, ia selalu merekomendasikan Arman kepada kepala
desa lain yang mengeluhkan website desanya yang mati suri.
Dalam sebuah acara silaturahmi antar kepala desa
se-kabupaten, Pak Hasan duduk satu meja dengan tiga kepala desa lainnya: Pak
Rahman dari Desa Karya Mandiri, Pak Bambang dari Desa Maju Bersama, dan Bu Dewi
dari Desa Mekar Sari.
Suasana santai. Mereka sedang menunggu acara dimulai sambil
menikmati hidangan kecil.
Pak Rahman membuka percakapan. "Hasan, saya lihat
website desamu sekarang rame ya. Sering update."
Pak Hasan tersenyum bangga. "Iya, Alhamdulillah.
Sekarang tiap minggu ada berita baru."
Pak Bambang menimpali. "Dulu aku lihat juga kosong.
Tiba-tiba sekarang penuh. Siapa yang urus?"
Pak Hasan menjelaskan dengan antusias. "Ada
kontributor dari desa lain. Namanya Arman. Dia nulis berita dari rumah, kita
cuma kirim data."
Bu Dewi yang sejak tadi diam, tiba-tiba tertarik.
"Kontributor? Maksudnya orang luar yang nulis?"
"Iya, Bu. Dia di Desa Sido Mukti, kecamatan sebelah.
Tapi dia bisa nulis untuk desa kita."
Bu Dewi mengangguk. "Wah, menarik. Aku juga pusing
sama website desaku. Sudah ganti admin tiga kali, tetap saja sepi."
Pak Rahman menambahkan. "Iya, admin desa itu susah
dicari. Yang muda-mauda pada sibuk, yang tua-tua pada tidak bisa."
Pak Hasan melihat peluang. "Kalau mau, saya kasih
nomornya. Nanti hubungi langsung."
Ketiga kepala desa itu serempak mengangguk. "Boleh,
kasih."***
Sejak saat itu, ponsel Arman tidak pernah sepi.
Setiap minggu, setidaknya ada satu atau dua kepala desa
baru yang menghubunginya. Mereka semua memiliki keluhan yang sama: website desa
ada, tapi tidak ada yang mengelola. Ada yang adminnya tidak bisa menulis, ada
yang adminnya sibuk, ada pula yang adminnya sudah resign tapi tidak diganti.
Dan mereka semua menawarkan kerja sama yang sama: Arman
menulis berita, mereka membayar.
Awalnya Arman menerima semua tawaran itu dengan perasaan
campur aduk. Ada rasa bangga karena keahliannya diakui orang, tapi juga ada
rasa khawatir karena jumlahnya semakin banyak.
Dalam catatan kecil di buku hijaunya, Arman mulai mendata
desa-desa yang sudah bekerja sama dengannya:
1.
Desa Sido Mukti (desa sendiri) - sejak Maret 2020
2.
Desa Sungai Harapan - sejak Oktober 2020 (rekomendasi Pak Hasan)
3.
Desa Bukit Lestari - sejak November 2020 (rekomendasi Pak Hasan)
4.
Desa Karya Mandiri - sejak November 2020 (rekomendasi Pak Hasan)
5.
Desa Maju Bersama - sejak Desember 2020 (rekomendasi Pak Hasan)
6.
Desa Mekar Sari - sejak Desember 2020 (rekomendasi Pak Hasan)
7.
Desa Sumber Rejeki - sejak Januari 2021 (rekomendasikan Pak Rahmat ke temannya)
8.
Desa Tani Makmur - sejak Januari 2021 (dari Pak Darso yang punya
kenalan)
9.
Desa Harapan Jaya - sejak Februari 2021 (mereka mencari sendiri di
internet)
10.
Desa Kerta Bhakti - sejak Februari 2021 (dari rekomendasi mulut ke
mulut)
Arman menatap daftar itu dengan perasaan tidak percaya.
Sepuluh desa. Ia harus menulis untuk sepuluh desa yang tersebar di berbagai
kabupaten di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Beberapa desa bahkan berjarak ratusan kilometer dari tempat
tinggalnya. Ada yang di kabupaten tetangga, ada yang di provinsi sebelah. Ada
yang pernah ia dengar namanya, ada pula yang benar-benar asing di telinganya.
Namun yang menarik, Arman tidak pernah sekalipun menginjakkan
kaki di desa-desa itu.
Semua dilakukan dari jarak jauh, melalui pesan singkat,
telepon, dan kadang video call.***
Suatu sore, ketika sedang menulis artikel untuk Desa Bukit
Lestari, Arman kedatangan tamu tak terduga.
Pak Darso datang ke rumahnya, masih dengan ciri khasnya:
cangkir kopi di tangan, sandal jepit di kaki, dan senyum lebar di wajah.
"Man, lagi sibuk?" sapa Pak Darso dari pintu.
Arman menoleh. "Wah, Pak Darso. Silakan masuk."
Pak Darso masuk, duduk di kursi kayu di ruang tamu. Matanya
langsung tertuju pada meja kerja Arman yang penuh dengan catatan dan laptop
yang menyala.
"Wah, meja kerja makin rame," komentarnya.
Arman tersenyum. "Iya, Pak. Makin banyak desa, makin
banyak catatan."
Pak Darso mengamati buku-buku catatan di meja. Ada buku
hijau, biru, merah, dan sekarang bertambah buku kuning dan ungu.
"Ini buku apa saja?" tanyanya.
Arman menjelaskan dengan bangga. "Buku hijau untuk
desa kita, Sido Mukti. Buku biru untuk Sungai Harapan. Buku merah untuk Bukit
Lestari. Buku kuning untuk Karya Mandiri. Buku ungu untuk Maju Bersama."
Pak Darso mengerutkan dahi. "Wah, kayak pelangi. Nanti
kalau tambah desa lagi, bukunya apa? Pelangi kan cuma tujuh warna."
Arman tertawa. "Nanti cari warna lain, Pak. Mungkin
warna silver, emas, atau warna-warna pastel."
Pak Darso mengangguk-angguk. "Bagus, bagus. Tapi Man,
saya lihat kamu mulai kurusan. Istirahat cukup?"
Arman menghela napas. "Sejujurnya, Pak, kadang
kewalahan juga. Apalagi kalau semua desa kirim data bersamaan."
"Berapa artikel seminggu sekarang?"
Arman menghitung. "Rata-rata tiap desa butuh dua
artikel per minggu. Jadi sekitar 20 artikel seminggu."
Pak Darso bersiul. "Dua puluh artikel? Kamu nulis
sendiri?"
"Iya, Pak."
"Wah, itu seperti menulis buku setiap minggu."
Arman tertawa. "Buku tipis mungkin, Pak."
Pak Darso menggeleng-geleng. "Man, kamu ini memang
luar biasa. Tapi jangan lupa kesehatan. Nanti kalau sakit, sepuluh desa itu
bingung semua."
"Iya, Pak. Saya usahakan tetap istirahat."
Pak Darso kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya—sebuah
bungkusan kecil berwarna coklat. "Ini, saya bawain gula aren asli dari
kebun belakang rumah. Buat teman kopi. Biar semangat nulisnya."
Arman terharu. "Wah, Pak Darso... terima kasih."
"Ah, biasa saja. Saya kan supporter nomor satu
kamu."
Mereka berdua tertawa.
Setelah Pak Darso pulang, Arman kembali ke mejanya. Ia
membuka laptop dan mulai bekerja.
Hari itu, tugasnya cukup banyak:
Pertama, menyelesaikan artikel
untuk Desa Sungai Harapan tentang pelatihan kelompok tani. Rudi sudah
mengirimkan foto-foto kegiatan kemarin sore. Ada sekitar 20 foto yang harus
dipilih yang terbaik. Arman memilih tiga foto: foto petani sedang mendengarkan
penyuluh, foto demonstrasi pembuatan pupuk organik, dan foto bersama setelah
acara. Ia menulis artikel dengan judul: "Kelompok Tani Sungai Harapan
Ikuti Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik."
Kedua, menulis artikel untuk
Desa Bukit Lestari tentang pembangunan jembatan gantung. Pak Suroto mengirimkan
laporan panjang lebar tentang progres pembangunan yang sudah mencapai 70 persen.
Ia juga mengirimkan video pendek yang direkam dengan ponselnya. Arman menulis
artikel dengan judul: "Pembangunan Jembatan Gantung Bukit Lestari Capai 70
Persen."
Ketiga, mengedit artikel dari
Desa Karya Mandiri. Biasanya Pak Rahman hanya mengirim data mentah, tapi kali
ini ia mencoba menulis sendiri. Tulisannya masih perlu banyak
perbaikan—ejaannya kacau, strukturnya tidak jelas, fotonya juga buram. Namun
Arman tetap menghargai usahanya. Ia memperbaiki tulisan itu tanpa mengubah
maknanya, lalu mengirimkannya kembali ke Pak Rahman dengan catatan: "Sudah
diedit, Pak. Semoga sesuai."
Keempat, membuat artikel untuk
Desa Maju Bersama tentang kegiatan posyandu. Pak Bambang mengirimkan foto-foto
yang cukup bagus—ada yang diambil dengan kamera bagus, mungkin dari ponsel anak
mudanya. Arman menulis artikel dengan judul: "Posyandu Melati Desa Maju
Bersama Layani 50 Balita."
Kelima, artikel untuk Desa
Mekar Sari tentang persiapan lomba desa. Bu Dewi mengirimkan data yang sangat
lengkap—bahkan terlalu lengkap. Ada dokumen 15 halaman yang harus Arman baca
dan ringkas menjadi artikel 500 kata. Ia menghela napas panjang, lalu mulai
membaca.
Keenam, hingga kesepuluh,
artikel-artikel lain dari desa-desa lainnya.
Arman bekerja tanpa henti.
Jari-jarinya—dua jari andalannya—terus menari di atas
keyboard. Kadang kecepatannya meningkat ketika ia sudah "hangat",
kadang melambat ketika lelah mulai menyerang. Tapi ia tidak pernah berhenti.
Sesekali ia berhenti untuk minum kopi, meregangkan
punggung, atau sekadar memejamkan mata selama beberapa detik. Lalu kembali lagi
ke laptop.
Malam semakin larut.
Jam dinding menunjukkan pukul 23.30.
Sari keluar dari kamar, mendapati suaminya masih duduk di
depan laptop. Wajahnya lelah, matanya sembab, tapi tangannya masih mengetik.
"Mas, sudah malam. Istirahat dulu," kata Sari
lembut.
Arman menoleh, tersenyum letih. "Sebentar lagi, Ni.
Tinggal satu artikel."
"Sudah berapa yang selesai?"
"Lima belas. Tinggal satu."
Sari menghela napas. "Mas, ini sudah keterlaluan. Jam
setengah dua belas malam masih kerja."
Arman meregangkan punggungnya yang terasa kaku. "Iya,
Ni. Ini memang lagi banyak. Besok pagi semua artikel harus sudah dikirim."
Sari duduk di sampingnya. "Mas, saya khawatir.
Kesehatan Mas ini yang utama. Sepuluh desa itu penting, tapi Mas lebih
penting."
Arman memegang tangan istrinya. "Saya tahu, Ni. Tapi
ini tanggung jawab. Mereka sudah percaya sama saya."
Sari menghela napas. "Baiklah. Tapi janji, setelah
artikel ini selesai, langsung tidur."
"Janji."
Sari kembali ke kamar, meninggalkan Arman yang kembali
fokus ke layar laptop.
Artikel terakhir malam itu adalah untuk Desa Harapan
Jaya—desa nomor sembilan dalam daftarnya. Mereka mengadakan musyawarah desa
khusus membahas penanganan stunting. Pak Kades-nya, seorang pria muda bernama Pak
Firmansyah, sangat antusias dengan program ini. Ia mengirimkan banyak foto dan
catatan detail.
Arman menulis dengan hati-hati. Ia ingin artikel ini bagus
karena Pak Firmansyah adalah kepala desa baru yang penuh semangat.
Judul artikel: "Desa Harapan Jaya Gelar Musyawarah
Khusus Penanganan Stunting."
Ia menulis:
*HARAPAN JAYA - Pemerintah Desa Harapan Jaya menggelar
musyawarah desa khusus membahas penanganan stunting di wilayahnya. Kegiatan
yang berlangsung di balai desa pada hari Selasa, 16 Februari 2021, ini dihadiri
oleh perangkat desa, kader posyandu, tenaga kesehatan dari puskesmas, serta
perwakilan orang tua balita.*
Dalam musyawarah tersebut, terungkap bahwa angka stunting
di Desa Harapan Jaya masih cukup tinggi, mencapai 15 persen dari total balita.
Beberapa faktor penyebab antara lain kurangnya asupan gizi, pola asuh yang
kurang tepat, dan keterbatasan akses layanan kesehatan.
"Kami tidak bisa diam melihat angka ini. Stunting
adalah masalah serius yang mempengaruhi masa depan anak-anak kita. Karena itu,
kami menyusun program khusus untuk menanganinya," ujar Kepala Desa Harapan
Jaya, Firmansyah.
Beberapa program yang direncanakan antara lain pemberian
makanan tambahan bagi balita kurang gizi, penyuluhan pola asuh bagi orang tua,
dan peningkatan layanan posyandu.
Arman membaca ulang tulisannya. Cukup bagus untuk artikel
yang ditulis tengah malam.
Ia menambahkan foto-foto: foto para peserta musyawarah,
foto Kepala Desa sedang berbicara, dan foto balita-balita yang sedang diperiksa
kesehatannya di posyandu.
Lalu ia mengklik tombol Publikasikan.
Selesai.
Arman meregangkan tubuh. Ia melihat jam di pojok layar:
00.47.
"Subhanallah, sudah lewat tengah malam,"
gumamnya.
Ia menyimpan laptop, membereskan meja, lalu berjalan menuju
kamar dengan langkah gontai.
Sari sudah tertidur pulas. Arman berbaring perlahan agar
tidak membangunkan istrinya.
Namun pikirannya masih belum bisa tenang.
Besok, atau lebih tepatnya hari ini, ada 20 artikel baru
yang harus ia tulis. Ada 10 desa yang menunggu berita mereka dipublikasikan.
Ada puluhan pesan yang belum ia balas. Ada ratusan foto yang harus ia pilih dan
edit.
Dan semua itu harus dilakukan dengan dua jari, laptop tua,
dan koneksi internet pas-pasan.
Arman tersenyum dalam gelap.
Inilah yang kumau,
pikirnya. Bukan soal uang. Bukan soal popularitas. Tapi soal bagaimana
aku bisa membantu desa-desa ini bercerita kepada dunia.
Ia memejamkan mata.
Besok adalah hari baru.
Besok ada 20 artikel menunggu.
Dan Arman siap menghadapinya.***
Kehidupan Arman setelah memiliki sepuluh desa mitra berubah
drastis.
Jika dulu ia memiliki waktu luang untuk bersantai, ngobrol
dengan tetangga, atau sekadar duduk di warung kopi sambil membaca koran, kini
hampir semua waktunya habis di depan laptop.
Rutinitas hariannya menjadi sangat terstruktur, hampir
seperti mesin yang sudah diprogram:
Pukul
04.30 - Bangun tidur, shalat Subuh.
Pukul 05.00 - 06.00 - Membaca pesan-pesan yang masuk semalam,
memprioritaskan mana yang harus segera ditangani.
Pukul 06.00 - 07.00 - Sarapan, mandi, persiapan ke kantor desa.
Pukul 07.30 - 12.00 - Bekerja di kantor desa Sido Mukti sebagai
perangkat desa biasa. Di sela-sela waktu luang, ia menyempatkan membaca data
dari desa lain dan merencanakan artikel.
Pukul 12.00 - 13.00 - Istirahat, shalat Dzuhur, makan siang.
Pukul 13.00 - 16.00 - Kembali bekerja di kantor desa. Setelah jam
kantor resmi selesai, ia biasanya masih bertahan untuk menyelesaikan beberapa
artikel.
Pukul 16.00 - 17.00 - Pulang, shalat Ashar, istirahat sejenak.
Pukul 17.00 - 19.00 - Waktu untuk keluarga. Bermain dengan anak,
ngobrol dengan Sari, membantu pekerjaan rumah.
Pukul 19.00 - 20.00 - Shalat Maghrib dan Isya, makan malam.
Pukul 20.00 - 23.00 - Waktu utama menulis artikel. Ini adalah
jam-jam paling produktif.
Pukul 23.00 - 00.00 - Menyelesaikan artikel yang belum selesai,
membalas pesan, merencanakan jadwal besok.
Pukul 00.00 - Tidur (jika tidak ada keperluan mendesak).
Rutinitas ini ia jalani hampir setiap hari, tujuh hari
seminggu, tanpa libur.
Pak Darso, yang sering melihat Arman kelelahan, kadang
menggodanya.
"Man, kamu ini kayak robot. Dicas malem, kerja siang,
dicas lagi malem, kerja lagi siang."
Arman tertawa lelah. "Robot apa, Pak? Robot
nulis."
"Robot nulis dengan dua jari. Inovasi baru."
"Iya, Pak. Patenin saja."
"Yang penting kamu istirahat. Robot juga butuh
perawatan."***
Suatu sore, ketika Arman sedang asyik mengetik di kantor
desa, seorang tamu datang mencarinya.
Seorang pria muda, sekitar 25 tahun, dengan kemeja batik
rapi dan tas selempang. Ia terlihat agak bingung mencari seseorang di kantor desa
yang mulai sepi.
"Selamat sore, Pak," sapanya kepada Pak Darso
yang sedang duduk di teras. "Saya mencari Pak Arman."
Pak Darso menunjuk ke dalam. "Di sana, di pojok. Yang
lagi ngetik."
Pemuda itu masuk, mendekati meja Arman. Arman yang sedang
fokus mengetik tidak menyadari kehadirannya.
"Pak Arman?" sapa pemuda itu.
Arman menoleh, terkejut. "Eh, iya. Ada apa?"
Pemuda itu tersenyum. "Perkenalkan, saya Rudi dari
Desa Sungai Harapan. Saya yang biasa kirim data ke Bapak."
Arman terkejut. "Wah, Mas Rudi? Silakan duduk."
Rudi duduk di kursi di samping meja Arman. Matanya langsung
tertuju pada layar laptop Arman yang menampilkan artikel setengah jadi.
"Ini lagi nulis, Pak?"
Arman tersenyum. "Iya, lagi nulis artikel untuk desa
tetangga."
Rudi mengamati meja kerja Arman dengan seksama. Meja kayu
sederhana dengan cat mulai pudar. Laptop tua dengan stiker menguning. Tumpukan
catatan warna-warni. Modem yang diletakkan di dekat jendela. Cangkir kopi yang
hampir kering.
"Pak Arman, ini kantor Bapak?" tanya Rudi.
Arman tertawa. "Ini meja kerja saya di kantor desa.
Kalau di rumah, mejanya juga sama sederhananya."
Rudi menggeleng-geleng. "Pak, saya selama ini
membayangkan Bapak punya kantor besar dengan banyak komputer, staf yang sibuk
mengetik, mungkin AC yang dingin, dan kursi empuk."
Arman tertawa terbahak-bahak. "Mas Rudi, itu kantor
gubernur, bukan kantor admin desa."
Rudi ikut tertawa. "Saya tidak menyangka. Bapak
bekerja sendirian, dengan peralatan seadanya, tapi bisa menulis untuk sepuluh
desa."
"Sepuluh? Mas Rudi tahu?"
Rudi mengangguk. "Saya ngobrol dengan teman-teman
admin desa lain. Mereka bilang Bapak juga nulis untuk desa mereka."
Arman tersenyum. "Iya, Alhamdulillah dipercaya."
Rudi menghela napas. "Pak Arman, saya jadi malu. Saya
ini admin desa, punya fasilitas lumayan, tapi tidak bisa nulis sebagus Bapak.
Saya sering kirim data ke Bapak, Bapak olah jadi berita bagus."
Arman memegang bahu Rudi. "Mas Rudi, setiap orang
punya kelebihan masing-masing. Tugas saya menulis, tugas Mas Rudi mengirim
data. Kita sama-sama bekerja."
Rudi tersenyum. "Terima kasih, Pak. Saya jadi
termotivasi. Mungkin nanti saya coba belajar menulis."
"Nah, itu semangat. Nanti kalau sudah bisa, desanya
makin maju."
Setelah Rudi pulang, Arman merenung.
Ia tidak menyangka bahwa perjuangannya selama ini
diperhatikan orang. Ia hanya melakukan apa yang ia bisa, dengan alat seadanya,
dengan kemampuan sederhana. Tapi ternyata itu berarti bagi orang lain.
Malam harinya, ia menulis catatan di buku hariannya—sebuah
buku kecil yang ia gunakan untuk menuliskan refleksi pribadi:
*17 Februari 2021*
Hari ini didatangi Mas Rudi dari Desa Sungai Harapan. Ia
datang jauh-jauh hanya untuk melihat di mana saya bekerja. Ia kaget melihat
meja kerja saya yang sederhana.
Katanya, ia membayangkan saya punya kantor besar dengan
banyak komputer. Saya tertawa mendengarnya.
Tapi di balik itu, saya sadar sesuatu. Saya bekerja
sendirian, dengan peralatan sederhana, tapi saya bisa membantu banyak desa. Ini
bukan karena saya hebat. Ini karena Allah memberi saya kesempatan.
Sepuluh desa sekarang mempercayakan website mereka kepada
saya. Sepuluh desa yang warganya mungkin tidak pernah saya temui, tapi mereka
membaca tulisan saya setiap minggu.
Ini tanggung jawab besar.
Saya tidak boleh mengecewakan mereka.
Saya harus terus belajar, terus menulis, terus berkarya.
Meskipun hanya dengan dua jari.***
Hari-hari berikutnya, Arman semakin disiplin mengatur
waktu.
Ia membuat jadwal khusus untuk setiap desa:
·
Senin: Desa Sido Mukti, Desa Sungai Harapan, Desa Bukit Lestari
·
Selasa: Desa Karya Mandiri, Desa Maju Bersama, Desa Mekar Sari
·
Rabu: Desa Sumber Rejeki, Desa Tani Makmur
·
Kamis: Desa Harapan Jaya, Desa Kerta Bhakti
·
Jumat: Cadangan untuk artikel mendadak, revisi, atau kegiatan
khusus
·
Sabtu: Menulis artikel tambahan jika ada, merapikan arsip
·
Minggu: Istirahat (atau lebih tepatnya, menulis artikel yang
kemarin belum selesai)
Setiap desa memiliki buku catatan sendiri. Di buku itu, ia
mencatat:
·
Jadwal rutin artikel per
minggu
·
Jenis artikel yang biasa
ditulis
·
Kontak person yang bisa dihubungi
·
Catatan khusus tentang
desa tersebut (misalnya: Desa A suka artikel panjang, Desa B suka banyak foto,
Desa C suka judul yang heboh)
·
Tanggal-tanggal penting
(HUT desa, pemilihan kades, dll)
Sistem ini membantunya bekerja lebih efisien. Ia tidak perlu
berpikir panjang setiap kali menerima data—ia langsung tahu harus menulis
seperti apa, dengan gaya bagaimana, dan untuk siapa.
Namun bekerja untuk sepuluh desa tidak selalu mulus.
Tantangan terbesar adalah ketika semua desa mengirim data
di waktu yang bersamaan. Biasanya ini terjadi menjelang akhir bulan, ketika
banyak desa harus melaporkan kegiatan ke kabupaten.
Suatu hari di akhir Februari, ponsel Arman hampir meledak.
Pukul 19.30, setelah shalat Isya, ia membuka ponselnya dan
mendapati 47 pesan WhatsApp belum terbaca.
47 pesan.
Dari berbagai desa.
Semuanya berisi data kegiatan yang harus segera dijadikan
artikel.
Arman menghela napas panjang. "Ya Allah, ujian
lagi."
Ia mulai membaca satu per satu.
Desa Sungai Harapan mengirim 5 kegiatan sekaligus: pelatihan
UMKM, rapat BPD, pembagian bantuan sosial, kegiatan posyandu, dan peresmian
jalan desa. Semua harus segera ditulis karena besok ada monitoring dari
kabupaten.
Desa Bukit Lestari mengirim 3 kegiatan: musyawarah dusun,
pembangunan drainase, dan kegiatan karang taruna.
Desa Karya Mandiri mengirim 4 kegiatan: lomba 17-an
(walaupun sudah lewat, mereka baru sempat mengirim fotonya), pelatihan
perangkat desa, kunjungan camat, dan rapat koordinasi.
Dan seterusnya, dari desa-desa lain.
Total, malam itu Arman harus menulis 19 artikel.
Arman memandangi ponselnya dengan tatapan kosong.
Sari yang melihatnya bertanya, "Mas, kenapa?"
Arman menunjukkan ponselnya. "Lihat, Ni. 47 pesan. 19
artikel harus ditulis malam ini."
Sari ikut lemas. "Ya Allah, Mas. Bisa?"
Arman menghela napas. "Harus bisa. Mereka sudah
menunggu."
"Tapi ini sudah malam, Mas."
"Tidak apa-apa. Saya biasa begadang."
Sari menggeleng. "Mas, saya bantu."
Arman menoleh heran. "Kamu bantu? Kamu bisa
nulis?"
Sari tersenyum. "Saya bisa ngetik. Mas ajarin cara
nulis artikel berita."
Arman berpikir sejenak. "Kamu serius?"
"Serius. Daripada Mas kerja sendirian sampai
pagi."
Arman tersenyum haru. "Terima kasih, Ni."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Arman memiliki
asisten—asisten yang paling setia, istrinya sendiri.
Sari duduk di sampingnya. Arman mengajarinya dasar-dasar
menulis artikel berita.
"Gampang, Ni. Setiap artikel harus menjawab 5W + 1H.
What, who, when, where, why, how."
Sari mencatat. "What itu apa? Who itu siapa?"
"Iya. Jadi, apa kegiatannya, siapa yang terlibat,
kapan dilaksanakan, di mana tempatnya, kenapa diadakan, dan bagaimana
pelaksanaannya."
Sari mengangguk. "Oh, seperti itu. Lalu
bahasanya?"
"Bahasa sederhana saja. Seperti kita cerita ke
tetangga."
Sari tersenyum. "Berarti saya bisa. Saya kan suka
cerita ke tetangga."
Arman tertawa. "Nah, itu dia. Sama saja."
Mereka mulai bekerja. Arman mengambil 10 artikel yang
paling mudah, Sari mengambil 9 artikel sisanya. Sari menulis di laptop pinjaman
dari anaknya—sebuah netbook kecil yang sudah jarang dipakai.
Suasana rumah malam itu berubah menjadi kantor redaksi
dadakan. Hanya terdengar suara ketikan keyboard dari dua arah. Sesekali Sari
bertanya, "Mas, ini fotonya pakai yang mana?" atau "Mas,
judulnya gimana?" atau "Mas, ini kata 'swadaya' ejaannya bener?"
Arman menjawab dengan sabar, sambil terus mengetik.
Pukul 23.00, mereka berhasil menyelesaikan 8 artikel.
Pukul 00.00, 13 artikel selesai.
Pukul 01.30, 17 artikel selesai.
Pukul 02.45, 19 artikel akhirnya rampung semua.
Arman meregangkan tubuh yang terasa remuk. Sari menguap
lebar, matanya sudah sangat berat.
"Selesai, Ni," kata Arman dengan napas lega.
Sari tersenyum letih. "Alhamdulillah."
"Terima kasih banyak, Ni. Tanpa kamu, saya tidak akan
bisa."
Sari memeluk suaminya. "Mas, saya bangga sama Mas.
Tapi tolong, jangan terlalu sering begini. Kesehatan Mas yang utama."
Arman mengangguk. "Iya, Ni. Janji."
Mereka berdua berjalan menuju kamar dengan langkah
sempoyongan, lalu langsung tertidur pulas begitu kepala menyentuh bantal.***
Keesokan harinya, Arman bangun kesiangan.
Jam menunjukkan pukul 08.30 ketika ia membuka mata.
Biasanya ia sudah di kantor pada jam segini. Ia langsung panik, bergegas mandi
dan bersiap.
Sari yang sudah bangun lebih dulu tersenyum melihat
kepanikan suaminya. "Mas, santai saja. Tadi Pak Darso telepon. Katanya Mas
boleh datang siang, istirahat dulu."
Arman menghela napas lega. "Pak Darso telepon? Dia
tahu?"
"Saya cerita kalau Mas begadang nulis sampai jam 3
pagi. Pak Darso bilang, 'Wah, suruh istirahat dulu. Nanti kalau sakit, sepuluh
desa pada demo.'"
Arman tertawa. "Dasar Pak Darso, selalu
bercanda."
Meskipun diizinkan istirahat, Arman tetap berangkat ke
kantor pukul 10.00. Ada beberapa urusan administrasi yang harus ia selesaikan.
Sesampainya di kantor, Pak Darso langsung menyambutnya
dengan senyum lebar.
"Wah, Man, sudah bangun? Saya kira kamu tidur sampai
Maghrib."
Arman tersenyum malu. "Maaf, Pak. Kemarin
begadang."
"Sudah saya dengar dari Sari. 19 artikel dalam
semalam? Dengan dua jari?"
"Dibantu Sari, Pak. Jadi 19 artikel dengan empat
jari."
Pak Darso tertawa keras. "Wah, inovasi baru: menulis
empat jari. Nanti kalau anakmu ikut bantu, jadi enam jari. Makin cepat."
Arman ikut tertawa. "Iya, Pak. Nanti kalau seluruh
keluarga bantu, jadi banyak jari."
Pak Rahmat yang keluar dari ruangannya mendengar percakapan
itu. "Ada apa rame-rame?"
Pak Darso menjelaskan. "Pak, Arman kemarin nulis 19
artikel dalam semalam. Dibantu istrinya."
Pak Rahmat terkejut. "19 artikel? Untuk desa
kita?"
"Bukan, Pak. Untuk semua desa yang dia handle."
Pak Rahmat menggeleng-geleng. "Man, kamu ini luar
biasa. Tapi tolong jaga kesehatan. Nanti kalau kamu sakit, desa-desa itu pada
bingung."
Arman tersenyum. "Iya, Pak. Saya usahakan."
Pak Rahmat kemudian berkata, "Man, saya mau
tanya."
"Iya, Pak?"
"Kamu menulis untuk sepuluh desa. Itu berarti ada
sepuluh kepala desa yang percaya sama kamu. Apa rahasianya?"
Arman berpikir sejenak. "Rahasianya sederhana,
Pak."
"Apa?"
"Jujur dan konsisten. Saya tulis apa adanya, tidak
dilebih-lebihkan. Dan saya usahakan selalu tepat waktu."
Pak Rahmat mengangguk. "Bagus. Itu kunci
kepercayaan."
Pak Darso menambahkan, "Ditambah kopi setiap malam.
Itu bahan bakarnya."
Semua tertawa.***
Sore harinya, Arman menerima telepon dari Pak Hasan, Kepala
Desa Sungai Harapan.
"Pak Arman, selamat sore."
"Selamat sore, Pak Hasan."
"Ada kabar baik, Pak."
"Kabar apa, Pak?"
"Kemarin tim dari kabupaten datang monitoring website
desa. Mereka kaget melihat website kami aktif terus."
Arman tersenyum. "Alhamdulillah, Pak."
"Mereka tanya, siapa yang mengelola? Saya jawab, ada
kontributor dari desa tetangga. Mereka minta nomor Bapak."
Arman sedikit tegang. "Untuk apa, Pak?"
"Katanya, mereka ingin Bapak jadi narasumber dalam
pelatihan pengelolaan website desa tingkat kabupaten."
Arman terdiam. "Narasumber? Saya?"
"Iya. Mereka bilang, orang seperti Bapak yang
dibutuhkan. Bukan ahli IT, tapi praktisi yang langsung terjun."
Arman menghela napas. "Pak Hasan, saya tidak pernah
bicara di depan orang banyak."
"Tidak apa-apa. Nanti diatur sedemikian rupa. Yang penting
Bapak bersedia berbagi pengalaman."
Arman berpikir sejenak. "Boleh saya pikir dulu,
Pak?"
"Tentu. Tapi tolong pertimbangkan. Ini kesempatan
untuk menginspirasi lebih banyak orang."
"Baik, Pak. Terima kasih infonya."
Setelah telepon itu, Arman duduk merenung.
Narasumber pelatihan.
Ia, yang hanya lulusan SMA, yang hanya bisa mengetik dengan
dua jari, yang bekerja dari meja kayu sederhana, diminta menjadi narasumber.
Hidang memang penuh kejutan.***
Malam harinya, ia menceritakan hal itu kepada Sari.
Sari tersenyum lebar. "Mas, ini luar biasa."
"Luar biasa atau menakutkan?"
"Dua-duanya. Tapi lebih banyak luar biasanya."
Arman menghela napas. "Saya takut tidak bisa,
Ni."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, ingat waktu
pertama kali nulis artikel? Mas juga takut. Tapi sekarang? Mas sudah nulis
ratusan artikel."
Arman mengangguk.
"Mas ingat waktu pertama kali ada kepala desa lain
yang minta bantuan? Mas juga takut. Tapi sekarang? Mas sudah bantu sepuluh
desa."
Arman tersenyum.
"Nah, sekarang giliran jadi narasumber. Mas takut.
Tapi nanti kalau sudah dijalani, Mas pasti bisa."
Arman menatap istrinya dengan penuh rasa syukur. "Kamu
ini selalu bisa menenangkan saya."
Sari tersenyum. "Itu tugas istri, Mas."
Arman memeluk istrinya. "Terima kasih, Ni. Terima
kasih untuk semuanya."
Malam itu, Arman mengambil keputusan.
Ia akan menerima tawaran menjadi narasumber.
Bukan karena ia merasa hebat, tapi karena ia ingin berbagi.
Mungkin ada orang lain di luar sana yang mengalami kesulitan yang sama seperti
dulu, dan ia bisa membantu.
Seperti Pak Hasan membantunya dulu dengan merekomendasikan
ke desa-desa lain.
Seperti Pak Darso yang selalu menyemangatinya dengan
candaan.
Seperti Sari yang selalu mendukungnya dari belakang layar.
Kini gilirannya untuk berbagi.***
Keesokan harinya, ia menelepon Pak Hasan.
"Pak Hasan, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Pak Arman. Ada kabar?"
"Pak, tentang tawaran jadi narasumber kemarin... Insya
Allah saya bersedia."
Pak Hasan di seberang sana terdengar senang.
"Alhamdulillah! Saya sudah tunggu kabar ini."
"Tapi Pak, saya minta bimbingannya. Saya tidak
pengalaman bicara di depan umum."
"Tidak apa-apa, Pak. Nanti kita siapkan bersama. Yang
penting Bapak cerita pengalaman Bapak. Itu yang paling berharga."
"Baik, Pak. Terima kasih."
"Doakan lancar ya, Pak."
"Aamiin."
Telepon ditutup. Arman menatap ponselnya dengan perasaan
campur aduk—antara deg-degan dan bangga.
Ia akan menjadi narasumber.
Dari admin biasa, menjadi penjaga informasi di sepuluh
desa.
Dan kini, menjadi inspirasi bagi orang lain.
Perjalanan masih panjang, tapi Arman siap melangkah.
BAB V
KONTRIBUTOR LINTAS DESA
Ketika Waktu, Desa, dan Berita Berpacu dalam Satu Meja
Kerja
Tiga bulan setelah keputusan besar itu, Arman resmi menjadi
kontributor untuk sepuluh desa.
Jika dulu ia hanya menulis satu atau dua berita dalam
seminggu untuk website Desa Sido Mukti, kini hampir setiap hari ia harus
menulis berita dari berbagai desa yang berbeda. Dan semuanya dilakukan dari
tempat yang sama: sebuah meja kayu sederhana di sudut ruang tamu rumahnya.
Meja itu, yang dulunya hanya digunakan untuk meletakkan vas
bunga dan koran bekas, kini telah berubah menjadi pusat komando informasi
sepuluh desa. Di atasnya, laptop tua kesayangan selalu dalam keadaan menyala,
siap digunakan kapan saja. Di samping laptop, berjejer buku catatan
warna-warni—hijau, biru, merah, kuning, ungu, orange, pink, coklat, abu-abu,
dan hitam—masing-masing mewakili satu desa dengan segala data, jadwal, dan
catatan khasnya.
Di pojok meja, sebuah modem kecil diletakkan di atas tumpukan
buku agar sinyalnya lebih kuat—sebuah trik yang Arman temukan secara tidak
sengaja setelah berkali-kali putus asa karena koneksi internet yang lemot. Di
sisi lain, sebuah dispenser mini berisi air panas selalu siap menemani, bersama
dengan stoples berisi kopi bubuk dan gula aren pemberian Pak Darso.
Sari, istrinya, sering bercanda melihat meja kerja itu.
Suatu pagi, ketika Arman baru saja membuka laptopnya, Sari berkata sambil
meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"Mas, meja ini sekarang seperti terminal bus
desa."
Arman yang sedang fokus membaca pesan menoleh.
"Maksudnya?"
"Karena setiap hari desa datang dan pergi dari sini.
Ada yang dari desa Sido Mukti, Sungai Harapan, Bukit Lestari, semua pada
antri."
Arman tertawa kecil. "Iya, Ni. Sekarang meja ini jadi
terminal."
"Terminalnya supir bus dengan dua jari."
"Supir bus?"
"Iya, supir bus berita. Mas yang nyetir, desa-desa
yang jadi penumpang."
Arman menggeleng sambil tersenyum. "Kamu ini kreatif
sekali."
Sari mengangkat bahu. "Istri kreatif, suami rajin.
Cocok."
Arman menyalakan laptopnya. Hari itu seperti hari-hari
sebelumnya—pekerjaan sudah menunggu.
Rutinitas Arman kini hampir seperti jadwal kerja seorang
redaktur berita di kantor media besar, hanya saja dengan skala yang jauh lebih
sederhana dan tanpa gaji sebesar redaktur sungguhan.
Pagi hari, sebelum matahari benar-benar tinggi, Arman sudah
duduk di mejanya. Ini adalah waktu yang ia manfaatkan untuk membaca semua pesan
yang masuk semalam. Biasanya, dalam semalam, setidaknya ada 10-15 pesan dari
berbagai desa yang masuk ke WhatsApp-nya.
Pesan-pesan itu berisi macam-macam:
·
Laporan kegiatan desa
yang baru saja dilaksanakan
·
Foto-foto yang perlu
dipilih dan diedit
·
Pertanyaan tentang
jadwal publikasi
·
Permintaan revisi
artikel yang sudah dikirim
·
Informasi tentang
kegiatan mendatang yang perlu diliput
·
Dan kadang-kadang, hanya
sekadar ucapan selamat pagi dari admin desa yang sudah akrab
Arman membaca satu per satu, memprioritaskan mana yang
harus segera ditangani. Artikel untuk desa yang ada acara besar hari ini harus
didahulukan. Artikel untuk kegiatan yang sudah lewat beberapa hari bisa sedikit
ditunda.
Setelah memilah pesan, Arman mulai bekerja.
Pukul 06.30, ia
membuka data dari Desa Sungai Harapan. Rudi, admin desa itu, mengirimkan foto
kegiatan posyandu lansia kemarin sore. Ada 15 foto yang harus dipilih. Arman
memilih tiga terbaik: foto para lansia sedang antre diperiksa, foto kader
posyandu sedang mengukur tekanan darah, dan foto kepala desa yang kebetulan
hadir memberi sambutan singkat.
Ia menulis artikel dengan judul: "Posyandu Lansia
Sungai Harapan Berjalan Lancar, 50 Lansia Ikuti Pemeriksaan Kesehatan."
Selesai satu artikel, ia langsung mengirimkannya ke Rudi
untuk dicek sebelum dipublikasikan.
Pukul 07.30, ia
beralih ke Desa Bukit Lestari. Pak Suroto mengirimkan laporan panjang tentang
pembangunan jembatan gantung yang sebentar lagi rampung. Ada juga video pendek
yang direkam dengan ponsel—goyang, buram, tapi cukup menunjukkan progres
pembangunan.
Arman menulis artikel dengan judul: "Pembangunan Jembatan
Gantung Bukit Lestari Masuki Tahap Akhir, Warga Sambut Antusias."
Pukul 08.30,
tiba-tiba ponselnya berdering. Telepon dari Pak Rahman, Kepala Desa Karya
Mandiri.
"Assalamualaikum, Pak Arman. Selamat pagi."
"Waalaikumsalam, Pak Rahman. Ada yang bisa saya
bantu?"
"Pak Arman, saya mau minta tolong. Hari ini ada
kunjungan Bupati ke desa kami. Acaranya peresmian jalan desa. Bisakah Bapak
datang?"
Arman terkejut. "Datang, Pak? Ke desa Bapak?"
"Iya. Kami ingin dokumentasi yang bagus. Kalau Bapak
bisa datang, kami akan sangat berterima kasih."
Arman berpikir sejenak. Selama ini ia bekerja dari jarak
jauh. Ia belum pernah sekalipun mengunjungi desa-desa yang ia layani. Kunjungan
ini akan menjadi yang pertama.
"Pak, jarak ke desa Bapak berapa jam?"
"Kalau dari tempat Bapak, sekitar 3 jam perjalanan
darat. Tapi nanti kami jemput."
Arman masih ragu. "Saya harus izin dulu dengan Pak
Rahmat, Pak. Dan juga keluarga."
"Silakan, Pak. Tolong kabari secepatnya. Acaranya jam
10.00."
Telepon ditutup. Arman menatap ponselnya dengan perasaan
campur aduk.
Ini pertama kalinya ia diundang langsung ke desa yang ia
layani. Selama ini ia hanya melihat desa-desa itu melalui foto dan video yang
dikirim. Kini ia akan melihat langsung.
Ia segera menelepon Pak Rahmat.
"Assalamualaikum, Pak. Selamat pagi."
"Waalaikumsalam, Man. Ada apa pagi-pagi?"
"Pak, saya minta izin. Ada undangan dari Desa Karya
Mandiri. Hari ini ada kunjungan Bupati, mereka minta saya datang."
Pak Rahmat di seberang sana terdiam sejenak, lalu tertawa.
"Wah, Man, kamu sudah jadi selebriti antar desa."
Arman tersenyum malu. "Bukan begitu, Pak. Mereka minta
tolong dokumentasi."
"Iya, saya paham. Silakan, Man. Saya izinkan. Yang
penting pekerjaan di sini aman."
"Terima kasih, Pak. Saya usahakan kembali besok."
"Iya, hati-hati di jalan."
Setelah mendapat izin, Arman memberitahu Sari. Sari yang
sedang menyiapkan sarapan langsung menoleh.
"Mas mau ke desa lain? Jauh?"
"3 jam perjalanan. Tapi katanya dijemput."
Sari menghela napas. "Mas, ini pertama kali Mas pergi
jauh sendirian."
"Iya, Ni. Tapi ini bagian dari pekerjaan."
Sari mendekat, merapikan kerah kemeja suaminya.
"Hati-hati ya, Mas. Jangan lupa makan. Jangan lupa shalat. Jangan
lupa..." ia berhenti, matanya berkaca-kaca.
Arman terharu. "Ni, kenapa?"
Sari tersenyum, meskipun matanya basah. "Saya bangga,
Mas. Mas yang dulu hanya di rumah, sekarang mulai dikenal orang. Tapi saya juga
khawatir."
Arman memeluk istrinya. "Saya akan baik-baik saja, Ni.
Ini cuma perjalanan dinas biasa."
"Iya, Mas. Tapi tetap hati-hati."
Pukul 09.00, sebuah mobil pick-up warna silver datang
menjemput Arman di depan rumahnya. Yang datang bukan sopir, tapi Pak Rahman
sendiri.
"Pak Arman!" sapa Pak Rahman dengan hangat sambil
turun dari mobil. Ia adalah pria berusia sekitar 50 tahun, bertubuh agak gemuk,
dengan kumis tebal khas orang desa. Hari itu ia mengenakan kemeja batik lengan
panjang dan celana bahan hitam.
"Pak Rahman? Bapak sendiri yang jemput?" Arman
terkejut.
"Iya, Pak. Masa saya suruh orang lain jemput tamu
penting?"
Arman tersenyum malu. "Saya bukan tamu penting,
Pak."
"Justru Bapak tamu paling penting hari ini. Silakan
naik."
Perjalanan menuju Desa Karya Mandiri memakan waktu sekitar
3,5 jam. Jalanannya berkelok-kelok melewati perbukitan, kadang naik, kadang
turun. Pemandangan di kanan-kiri adalah hutan karet dan sawit yang membentang
luas, sesekali diselingi sungai kecil dan perkampungan.
Selama perjalanan, mereka berbincang banyak hal. Pak Rahman
bercerita tentang desanya, tentang tantangan yang dihadapi, tentang harapannya
agar desa Karya Mandiri bisa maju seperti desa-desa lain.
"Pak Arman, saya terus terang saja," kata Pak
Rahman di tengah perjalanan. "Saya tidak pernah menyangka website desa
bisa sepenting ini."
"Maksudnya, Pak?"
"Dulu saya pikir website itu cuma formalitas.
Ikut-ikutan desa lain. Tapi setelah Bapak kelola, saya sadar bahwa website itu
penting."
Arman mendengarkan dengan saksama.
"Sekarang, setiap ada kegiatan, warga selalu tanya,
'Pak, ini sudah diupload belum?' Mereka ingin tahu. Mereka ingin desanya
terlihat."
Arman tersenyum. "Itu bagus, Pak. Berarti masyarakat
mulai peduli dengan informasi desa."
"Iya. Dan semua itu berkat Bapak."
Arman menggeleng. "Bukan, Pak. Berkat Bapak dan
perangkat desa yang rajin mengirim data. Saya hanya menulis."
Pak Rahman tertawa. "Pak Arman ini rendah hati
sekali."
Mereka terus mengobrol, membahas berbagai hal tentang desa,
tentang pemerintahan, tentang harapan ke depan. Arman merasa nyaman. Pak Rahman
adalah tipe pemimpin yang hangat dan mudah diajak bicara.
Sekitar pukul 12.30, mereka tiba di Desa Karya Mandiri.
Desa itu terletak di sebuah lembah yang dikelilingi
perbukitan hijau. Rumah-rumah penduduk berjejer di sepanjang jalan utama yang
sudah diaspal mulus—hasil pembangunan tahun lalu. Di tengah desa, terdapat
sebuah lapangan kecil dengan pohon beringin besar di tengahnya. Di samping
lapangan, berdiri kantor desa berlantai dua dengan cat warna hijau putih,
tampak lebih megah dari kantor desa Sido Mukti.
"Wah, bagus sekali desa ini, Pak," puji Arman.
Pak Rahman tersenyum bangga. "Alhamdulillah, kami
terus membenahi. Tapi masih banyak PR."
Mereka turun dari mobil. Beberapa perangkat desa sudah
menunggu di halaman kantor. Pak Rahman memperkenalkan Arman satu per satu.
"Ini Pak Arman, kontributor website desa kita. Yang
selama ini menulis berita-berita di website."
Seorang pria muda, sekitar 30 tahun, menjabat tangan Arman
erat-erat. "Pak Arman, senang bertemu. Saya Heru, admin desa yang biasa
kirim data."
Arman tersenyum. "Oh, Mas Heru. Terima kasih sudah
rajin kirim data."
Heru tertawa. "Saya yang harusnya terima kasih, Pak.
Tanpa Bapak, data-data itu hanya menumpuk di ponsel saya."
Yang lain ikut menyalami. Ada Bu Yuni dari bagian
perencanaan, Pak Jarwo dari bagian pembangunan, dan beberapa staf lainnya.
Semua menyambut Arman dengan hangat, seolah ia adalah keluarga sendiri.
Setelah ramah tamah singkat, mereka langsung menuju lokasi
acara: peresmian jalan desa di dusun sebelah. Bupati dijadwalkan tiba pukul
14.00.
Di lokasi, sebuah panggung sederhana telah didirikan di
pinggir jalan baru yang mulus. Umbul-umbul warna-warni dipasang di sepanjang
jalan. Warga sudah berdatangan, duduk di kursi-kursi plastik yang disusun rapi.
Beberapa ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan di dapur umum darurat.
Arman mulai bekerja. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai
memotret. Suasana, persiapan, warga yang datang, panggung, jalan baru—semua ia
abadikan. Ia juga merekam beberapa video pendek untuk dokumentasi.
Pak Rahman mendekat. "Pak Arman, nanti Bapak bisa
ambil foto dari depan panggung. Saya sudah siapkan tempat khusus."
"Wah, Pak, jangan repot-repot. Saya bisa ambil dari
mana saja."
"Tidak bisa. Bapak tamu penting. Silakan."
Arman hanya bisa tersenyum.
Pukul 14.15, rombongan Bupati tiba. Sebuah mobil hitam
dengan pengawalan berhenti di depan panggung. Bupati turun, disambut oleh Pak
Rahman dan jajarannya.
Acara berlangsung meriah. Ada sambutan dari kepala desa,
sambutan dari Bupati, pemotongan pita, penandatanganan prasasti, dan tentu
saja, foto bersama.
Arman sibuk mengambil gambar dari berbagai sudut. Ia jongkok,
berdiri, berjingkat, bahkan naik ke atas tangga darurat untuk mendapatkan angle
yang bagus. Keringat bercucuran, tapi ia tidak peduli. Ini adalah momen
penting, dan ia harus mendokumentasikannya dengan baik.
Sekitar pukul 16.30, acara selesai. Bupati dan rombongan
pamit pulang. Warga mulai membubarkan diri. Arman meregangkan tubuh yang pegal.
Pak Rahman mendekat. "Bagaimana, Pak Arman? Dapat
fotonya?"
"Alhamdulillah, Pak. Banyak."
"Syukurlah. Sekarang kita makan dulu. Bapak pasti
capek."
Mereka menuju rumah Pak Rahman, yang tidak jauh dari kantor
desa. Di sana, istri Pak Rahman sudah menyiapkan hidangan makan malam: nasi
liwet, ayam goreng, ikan bakar, sayur asem, dan sambal terasi yang menggoda.
"Makanlah, Pak. Ini masakan istri saya. Mudah-mudahan
cocok," kata Pak Rahman.
Arman yang memang sudah lapar, langsung menyantap hidangan
itu dengan lahap. Sambil makan, mereka mengobrol santai.
"Pak Arman, saya mau tanya serius," kata Pak
Rahman setelah makan.
Arman menegakkan duduknya. "Iya, Pak."
"Selama ini Bapak menulis untuk sepuluh desa. Itu
berat tidak?"
Arman berpikir sejenak. "Jujur, Pak, kadang berat.
Apalagi kalau semua desa kirim data bersamaan."
"Terus, kenapa Bapak bertahan?"
Arman tersenyum. "Karena saya percaya apa yang saya
lakukan itu penting. Website desa adalah jendela informasi. Kalau jendela itu
tertutup, orang tidak akan tahu apa yang terjadi di desa."
Pak Rahman mengangguk. "Bapak benar."
"Selain itu, Pak, saya juga senang melihat desa-desa
menjadi lebih dikenal. Dulu, desa Bapak mungkin hanya dikenal oleh warga
sekitar. Sekarang, orang dari luar daerah bisa tahu tentang Karya Mandiri hanya
dengan membaca website."
Pak Rahman tersenyum lebar. "Itu yang membuat saya
bangga. Kemarin ada investor yang tertarik dengan potensi pertanian kami. Dia
tahu dari website."
"Wah, Alhamdulillah, Pak."
"Itu semua berkat Bapak."
Arman menggeleng. "Bukan, Pak. Itu berkat Bapak dan
warga yang rajin berkegiatan. Saya hanya menuliskan."
Mereka mengobrol hingga larut malam. Tentang desa, tentang
pemerintahan, tentang mimpi-mimpi besar untuk masa depan. Arman merasa seperti
sedang berbicara dengan teman lama, bukan dengan kepala desa yang baru ia temui
hari itu.***
Keesokan harinya, setelah shalat Subuh dan sarapan, Arman
pamit pulang. Pak Rahman kembali mengantarnya sendiri, dengan mobil pick-up
yang sama.
Sebelum berangkat, Pak Rahman memberikan sebuah bingkisan.
"Ini, Pak, oleh-oleh dari desa kami. Hanya gula aren dan kopi bubuk hasil
kebun warga."
Arman terharu. "Wah, Pak, merepotkan."
"Tidak merepotkan. Ini sebagai terima kasih
kami."
Perjalanan pulang terasa lebih singkat. Mungkin karena
mereka terus mengobrol, atau mungkin karena Arman sudah tidak sabar pulang ke
rumah.
Sekitar pukul 11.00, mereka tiba di depan rumah Arman. Sari
sudah menunggu di teras, tersenyum lebar melihat suaminya pulang.
"Pak Rahman, terima kasih banyak," kata Arman
sambil turun dari mobil.
"Sama-sama, Pak Arman. Terima kasih sudah mau datang.
Saya tunggu artikelnya ya."
"Siap, Pak. Nanti saya kirim."
Mobil pick-up itu perlahan menjauh. Arman melambai hingga
mobil itu menghilang di tikungan.
Sari mendekat. "Mas, gimana?"
Arman tersenyum. "Luar biasa, Ni. Pengalaman yang luar
biasa."
"Cerita dong."
Arman mulai bercerita. Tentang perjalanan, tentang sambutan
hangat, tentang acara peresmian, tentang obrolan dengan Pak Rahman. Sari
mendengarkan dengan antusias, sesekali bertanya, sesekali tertawa.
"Mas, saya bangga," kata Sari ketika Arman
selesai bercerita.
"Bangga kenapa?"
"Mas sekarang tidak hanya menulis dari rumah. Mas
sudah mulai dikenal orang. Dijemput pakai mobil, disambut hangat, dikasih
oleh-oleh."
Arman tersenyum. "Itu bukan karena saya hebat, Ni. Itu
karena saya punya istri yang selalu mendukung."
Sari memeluk suaminya. "Mas, saya cinta Mas."
"Saya juga cinta kamu, Ni."***
Setelah pengalaman pertama itu, Arman mulai sering diundang
ke desa-desa yang ia layani.
Tidak semua, tapi beberapa. Biasanya untuk acara-acara
besar seperti peresmian, kunjungan pejabat, atau festival desa.
Setiap kali ia datang, sambutannya selalu hangat. Para kepala
desa dan perangkat desa menyambutnya seperti keluarga sendiri. Mereka sudah
mengenal namanya dari artikel-artikel yang ia tulis, dan kini bertemu langsung.
Dalam setiap kunjungan, Arman selalu belajar hal baru.
Di Desa Bukit Lestari, ia belajar tentang kearifan lokal
masyarakat Dayak yang masih menjaga tradisi.
Di Desa Maju Bersama, ia belajar tentang inovasi pertanian
di lahan gambut.
Di Desa Mekar Sari, ia belajar tentang pemberdayaan
perempuan melalui kelompok usaha bersama.
Di Desa Tani Makmur, ia belajar tentang pengolahan karet
menjadi produk bernilai tambah.
Setiap desa punya cerita unik. Dan Arman, sebagai
kontributor, adalah orang yang paling beruntung karena bisa mendengar dan
menuliskan cerita-cerita itu.***
Suatu malam, setelah pulang dari kunjungan ke Desa Harapan
Jaya, Arman duduk di mejanya dan membuka laptop.
Ia menulis catatan di buku hariannya:
*12 Mei 2021*
Hari ini pulang dari Desa Harapan Jaya. Desa yang indah di
lereng perbukitan, dengan pemandangan matahari terbenam yang luar biasa.
Saya diundang untuk meliput festival budaya tahunan mereka.
Tari-tarian tradisional, makanan khas, kerajinan tangan. Semua ditampilkan
dengan bangga.
Saya bertemu dengan banyak orang: para tetua adat, pemuda
karang taruna, ibu-ibu PKK, bahkan anak-anak kecil yang ikut menari.
Mereka semua tersenyum ketika saya foto. Mereka senang
desanya diliput.
Satu hal yang saya sadari: desa-desa ini punya begitu
banyak potensi. Potensi alam, potensi budaya, potensi manusia. Tapi selama ini
potensi itu hanya diketahui oleh warga setempat.
Lewat tulisan saya, potensi itu bisa dikenal orang luar.
Lewat website desa, cerita-cerita ini bisa sampai ke mana-mana.
Ini yang membuat saya terus bersemangat.
Meskipun lelah, meskipun kadang begadang, meskipun harus
mengetik dengan dua jari yang pegal.
Karena saya tahu, tulisan saya berarti bagi mereka.***
Keesokan harinya, Arman kembali ke rutinitasnya. Menulis
untuk sepuluh desa, mengatur jadwal, membalas pesan, mengirim artikel.
Hidupnya kini adalah tentang deadline, tentang data,
tentang foto, tentang kata-kata.
Tapi ia tidak pernah mengeluh.
Karena di balik semua itu, ada kebahagiaan yang tidak bisa
dijelaskan dengan kata-kata. Kebahagiaan melihat desa-desa yang ia layani
semakin dikenal. Kebahagiaan membaca komentar warga yang bangga dengan desanya.
Kebahagiaan mendapat pesan dari orang luar yang tertarik mengunjungi desa
setelah membaca artikelnya.
Dan yang terpenting, kebahagiaan karena ia bisa melakukan
apa yang ia cintai, sambil tetap bisa berkumpul dengan keluarga, sambil tetap
bisa minum kopi di teras rumah, sambil tetap bisa menjadi Arman yang sederhana.
Namun di balik semua kebahagiaan itu, ada satu tantangan
yang mulai mengganggu pikirannya: bagaimana membagi waktu secara adil untuk
sepuluh desa?
Karena meskipun ia sudah membuat jadwal, kenyataan di
lapangan sering berbeda. Kadang ada desa yang tiba-tiba mengirim banyak data di
waktu yang sama. Kadang ada desa yang minta revisi artikel berkali-kali. Kadang
ada desa yang lupa mengirim data, lalu tiba-tiba mengirim semuanya sekaligus di
akhir minggu.
Suatu hari, ketika sedang menulis artikel untuk Desa Sungai
Harapan, ponselnya berdering. Itu adalah panggilan video dari Pak Suroto,
Kepala Desa Bukit Lestari.
"Assalamualaikum, Pak Arman. Selamat sore."
"Waalaikumsalam, Pak Suroto. Ada yang bisa saya
bantu?"
Pak Suroto di layar ponsel terlihat agak tegang. "Pak
Arman, saya mau tanya. Artikel tentang pembangunan jembatan kemarin, kenapa
belum diupload?"
Arman terkejut. "Belum diupload, Pak? Saya sudah kirim
ke Pak Rudi minggu lalu."
"Pak Rudi bilang belum terima."
Arman mengerutkan dahi. Ia yakin sudah mengirim artikel
itu. Ia membuka chat dengan Rudi, admin Desa Bukit Lestari. Ternyata, artikel
itu sudah terkirim, tapi Rudi belum membalas. Mungkin Rudi lupa atau sedang
sibuk.
"Pak, saya sudah kirim ke Pak Rudi. Mungkin beliau
belum sempat publish. Saya coba hubungi."
"Tolong cepat ya, Pak. Warga sudah pada tanya. Katanya
mau lihat fotonya di website."
"Siap, Pak. Saya urus."
Setelah menutup telepon, Arman segera menghubungi Rudi.
Ternyata benar, Rudi lupa. Ia sedang sibuk dengan urusan keluarga dan belum
sempat membuka pesan.
"Maaf, Pak Arman. Saya lupa. Nanti saya publish
sekarang."
"Terima kasih, Mas Rudi."
Insiden kecil itu membuat Arman berpikir. Ia tidak bisa
mengontrol apakah artikelnya langsung dipublikasikan atau tidak setelah dikirim
ke admin desa. Kadang admin desa sibuk, kadang lupa, kadang bahkan tidak paham
cara mempublikasikan.
Ia mulai berpikir untuk mengelola langsung website
desa-desa itu, tidak hanya menulis artikel. Tapi itu berarti ia harus memiliki
akses login ke semua website desa. Apakah para kepala desa akan
mempercayakannya?
Suatu sore, ia menyampaikan gagasan ini kepada Pak Darso di
kantor desa.
"Pak Darso, saya mau minta pendapat."
"Pendapat soal apa, Man?"
"Saya ingin mengelola langsung website desa-desa
mitra. Tidak hanya menulis artikel, tapi juga mempublikasikannya. Soalnya,
kadang admin desa lupa atau sibuk, jadi artikelnya telat naik."
Pak Darso mengangguk-angguk. "Ide bagus. Tapi apa
mereka mau kasih akses login?"
"Itu yang saya pikirkan. Mungkin ada yang tidak
percaya."
Pak Darso berpikir sejenak. "Man, kalau kamu minta
akses, itu tandanya kamu minta kepercayaan lebih. Ada yang bisa kasih, ada yang
tidak. Tapi tidak ada salahnya ditawarkan."
"Jadi saya harus tanya satu per satu?"
"Iya. Tapi sebelumnya, siapkan alasan yang kuat.
Jelaskan kenapa kamu perlu akses langsung."
Arman mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih
sarannya."
Malam harinya, Arman mulai menyusun pesan yang akan ia
kirim ke semua kepala desa mitra. Ia ingin menjelaskan dengan baik, tanpa
membuat mereka merasa tidak percaya dengan admin desanya masing-masing.
Pesan itu ia tulis dengan hati-hati:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kepada Yth. Bapak/Ibu Kepala Desa [nama desa]
Semoga Bapak/Ibu selalu dalam keadaan sehat dan sukses
menjalankan amanah.
Saya Arman, kontributor website desa yang selama ini
membantu menulis berita kegiatan di desa Bapak/Ibu.
Melalui pesan ini, saya ingin menyampaikan sebuah usulan.
Selama ini, setelah saya menulis artikel, saya kirimkan ke admin desa untuk
dipublikasikan. Namun, kadang terjadi keterlambatan publikasi karena admin
sibuk atau lupa.
Untuk mengatasi hal ini, saya mengusulkan agar saya
diberikan akses langsung ke website desa Bapak/Ibu. Dengan akses ini, saya bisa
langsung mempublikasikan artikel setelah selesai ditulis, sehingga berita bisa
segera dibaca masyarakat.
Tentu saya memahami bahwa ini menyangkut kepercayaan. Saya
berjanji akan menggunakan akses ini dengan sebaik-baiknya, hanya untuk
mempublikasikan artikel, tidak untuk mengubah hal-hal lain di website.
Jika Bapak/Ibu berkenan, saya siap membantu lebih maksimal.
Jika tidak, saya tetap akan menulis artikel seperti biasa dan mengirimkannya ke
admin desa.
Demikian usulan saya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang
kurang berkenan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Arman
Pesan itu ia kirimkan ke sepuluh kepala desa.
Keesokan harinya, satu per satu balasan mulai masuk.
Pak Hasan (Sungai Harapan) adalah yang pertama membalas.
"Waalaikumsalam. Pak Arman, saya setuju. Silakan saya
buatkan akses. Ini justru memudahkan. Terima kasih sudah mau membantu
lebih."
Pak Suroto (Bukit Lestari) membalas dengan nada santai.
"Wah, Pak Arman, saya malah senang. Berarti Bapak bisa
langsung naikkan berita. Rudi itu suka lupa. Saya kasih akses ya."
Pak Rahman (Karya Mandiri) bahkan menelepon langsung.
"Pak Arman, usulan bagus. Saya setuju. Saya akan minta
IT desa untuk membuatkan akun khusus untuk Bapak. Nanti aksesnya terbatas,
hanya untuk menulis artikel, tidak bisa hapus atau ubah yang lain."
"Wah, terima kasih banyak, Pak. Itu lebih baik."
"Iya, biar aman. Tapi Bapak bisa publish
langsung."
Bu Dewi (Mekar Sari) juga
setuju, tapi dengan sedikit catatan.
"Pak Arman, saya setuju. Tapi tolong tetap koordinasi
dengan admin desa kami ya. Biar mereka juga tahu dan belajar."
"Siap, Bu. Insya Allah."
Dari sepuluh desa, sembilan langsung setuju. Hanya satu
desa yang agak ragu, Desa Tani Makmur. Kepala desanya, Pak Karsono, adalah tipe
pemimpin yang hati-hati. Ia minta waktu untuk mempertimbangkan.
Dua hari kemudian, Pak Karsono membalas.
"Pak Arman, setelah saya diskusikan dengan perangkat
desa, kami setuju memberikan akses. Tapi dengan catatan: setiap artikel yang
Bapak tulis, tolong informasikan juga ke admin desa kami. Biar mereka tetap
tahu perkembangan."
"Siap, Pak. Insya Allah."
Akhirnya, semua desa setuju. Arman kini memiliki akses langsung
ke sepuluh website desa.
Dengan akses baru ini, pekerjaan Arman menjadi lebih
efisien.
Setelah selesai menulis artikel, ia bisa langsung
mempublikasikannya, tanpa harus menunggu admin desa. Jika ada revisi, ia bisa
langsung mengedit. Jika ada foto baru, ia bisa langsung menambahkan.
Tidak ada lagi keterlambatan karena admin lupa atau sibuk.
Namun dengan akses ini, tanggung jawabnya juga bertambah.
Ia harus lebih hati-hati. Satu kesalahan bisa berakibat fatal. Satu artikel
salah desa, satu foto salah keterangan, satu judul salah tulis—semua akan
langsung terpublikasi dan sulit ditarik kembali.
Suatu malam, ketika sedang mempublikasikan artikel untuk
Desa Sungai Harapan, Arman hampir saja melakukan kesalahan fatal.
Ia sedang lelah. Sudah menulis 15 artikel hari itu. Matanya
mulai kabur. Ketika mempublikasikan artikel untuk Desa Sungai Harapan, tanpa
sengaja ia memilih menu untuk Desa Bukit Lestari di tab yang berbeda.
Beruntung, sebelum mengklik tombol
"Publikasikan", ia membaca judulnya sekali lagi.
"Pembangunan Jembatan Gantung Sungai Harapan Capai 80
Persen"
Ia mengerutkan dahi. "Jembatan gantung? Sungai
Harapan? Bukannya itu desa Bukit Lestari?"
Ia mengecek tab yang terbuka. Ternyata ia sedang di halaman
admin website Bukit Lestari, bukan Sungai Harapan.
"Astaghfirullah," desahnya lega. "Hampir
saja."
Ia segera mengganti tab, memastikan ia berada di website
yang benar, lalu mempublikasikan artikel itu.
Sejak kejadian itu, Arman membuat sistem baru. Setiap kali
akan mempublikasikan artikel, ia selalu membaca tiga kali: judul, isi, dan
alamat website. Ia juga membuat daftar periksa sederhana:
·
Website sudah benar?
·
Judul sudah sesuai?
·
Isi artikel sudah
lengkap?
·
Foto sudah terpasang?
·
Caption foto sudah
benar?
·
Tanggal kejadian sudah
sesuai?
Daftar periksa itu ia tempel di dinding di samping mejanya.
Setiap kali akan publish, ia mengecek satu per satu.
Sari yang melihat daftar itu bertanya, "Mas, itu
apa?"
"Daftar periksa, Ni. Biar tidak salah publish."
Sari tersenyum. "Mas ini seperti pilot. Sebelum
terbang, checklist dulu."
Arman tertawa. "Iya, supaya tidak jatuh."
"Jatuh bagaimana?"
"Jatuh dari kursi admin. Malu kalau salah
publish."
Dengan sistem baru ini, Arman bekerja lebih tenang. Ia tahu
persis apa yang harus dilakukan, kapan harus melakukannya, dan bagaimana cara
melakukannya dengan benar.
Sepuluh desa kini memiliki website yang aktif. Setiap
minggu, setidaknya dua artikel baru muncul di setiap website. Warga desa bisa
membaca perkembangan desanya. Pemerintah kabupaten bisa memantau kegiatan desa.
Investor bisa melihat potensi desa.
Dan di balik semua itu, ada seorang pria sederhana dengan
laptop tua, dua jari yang setia mengetik, dan secangkir kopi yang selalu
menemani.
Arman, Sang Legenda Kontributor Desa, kini benar-benar
menjadi jembatan informasi antara desa dan dunia.
Namun perjalanan masih panjang.
Tantangan baru selalu datang.
Dan Arman siap menghadapinya.
BAB VI
KONFLIK DI BALIK WEBSITE
Ketika Tulisan Sederhana Menimbulkan Gelombang Besar
Malam itu langit desa tampak sunyi.
Hanya suara jangkrik dan sesekali angin yang menggoyang
daun pisang di samping rumah Arman yang terdengar, menciptakan irama malam yang
menenangkan. Bulan sabit menggantung rendah di ufuk barat, menerangi halaman
rumah dengan cahaya perak yang temaram. Di kejauhan, sesekali terdengar suara
anjing menggonggong, mungkin terganggu oleh kucing liar yang melintas.
Namun di dalam rumah Arman, suasana tidak setenang malam di
luar.
Di ruang kerjanya yang sederhana—sebuah meja kayu tua yang
kini semakin penuh dengan catatan, laptop yang sudah mulai panas meskipun
kipasnya berbunyi seperti helikopter, dan modem internet yang lampunya
berkedip-kedip tak menentu—Arman sedang menyelesaikan sebuah artikel.
Bukan artikel biasa.
Artikel ini berbeda.
Judulnya cukup berani untuk ukuran website desa:
"Transparansi Anggaran Desa: Wujud Akuntabilitas
kepada Masyarakat"
Arman menatap layar cukup lama setelah mengetik judul itu.
Jari-jarinya—dua jari andalannya—terhenti di atas keyboard. Pikirannya melayang
ke berbagai kemungkinan yang bisa terjadi setelah artikel ini terbit.
Artikel ini adalah buah dari kegelisahannya selama beberapa
bulan terakhir. Ia sering membaca berita tentang penyalahgunaan Dana Desa di
berbagai daerah. Ia juga sering mendengar keluhan warga yang tidak tahu persis
kemana uang desa digunakan. Di beberapa desa yang ia layani, ada juga warga
yang bertanya-tanya tentang transparansi anggaran.
Sebagai penulis yang setiap hari berkutat dengan berita
desa, Arman merasa punya tanggung jawab moral untuk mengangkat isu ini. Bukan
untuk menuduh atau menyudutkan siapa pun, tetapi untuk mengedukasi masyarakat
tentang hak mereka untuk tahu.
Dalam artikel itu ia menjelaskan secara sederhana tentang:
·
Apa itu Dana Desa dan
Alokasi Dana Desa (ADD)
·
Bagaimana mekanisme
perencanaan dan pelaporan anggaran desa
·
Hak masyarakat untuk
mengakses informasi anggaran
·
Pentingnya transparansi
untuk mencegah korupsi
·
Contoh-contoh praktik
baik transparansi di desa-desa
Bahasanya dibuat sangat hati-hati. Ia tidak menyebut nama
desa mana pun. Ia tidak menuduh siapa pun. Ia hanya menjelaskan secara umum,
dengan gaya khasnya yang sederhana dan mudah dipahami.
Namun ia tahu, di dunia desa yang penuh dengan
sensitivitas, artikel seperti ini bisa dianggap sebagai "batu yang
dilempar ke kolam tenang." Gelombangnya bisa kecil, bisa juga besar.
Arman menghela napas panjang.
"Semoga tidak ada yang tersinggung," gumamnya
sambil mengusap wajahnya yang lelah.
Ia membaca ulang artikel itu sekali lagi, memastikan tidak
ada kata-kata yang bisa disalahtafsirkan. Setelah yakin, ia mengklik
tombol Publikasikan.
Artikel itu tayang di website Desa Sido Mukti, desanya
sendiri, pada pukul 22.47 malam.
Arman menutup laptop, berdoa semoga semuanya baik-baik
saja, lalu pergi tidur.
Ia tidak tahu bahwa saat ia terlelap, badai sedang mulai
terbentuk.***
Keesokan harinya, Arman datang ke kantor desa seperti
biasa. Pukul 07.30, ia sudah duduk di mejanya, membuka laptop, dan bersiap
memulai rutinitas.
Namun pagi itu terasa berbeda.
Beberapa perangkat desa yang biasanya menyapanya dengan
ramah, kali ini hanya melirik sekilas. Ada yang berbisik-bisik di sudut
ruangan. Suasana kantor terasa canggung, seperti ada yang tidak beres.
Arman mulai curiga. "Selamat pagi, Pak Darso,"
sapanya kepada Pak Darso yang baru datang dengan cangkir kopi kesayangannya.
Pak Darso, yang biasanya langsung bercanda, kali ini hanya
menjawab singkat. "Pagi, Man." Lalu ia duduk di mejanya tanpa banyak
bicara.
Arman semakin heran. Ada apa gerangan?
Ia membuka ponselnya. Beberapa pesan WhatsApp sudah masuk.
Pertama, dari Pak Rahmat: "Man, setelah sampai
kantor, temui saya di ruangan."
Kedua, dari Bu Lestari: "Pak Arman, artikel
tadi malam tentang transparansi, tolong tidak dipublikasikan dulu di website
desa lain. Ada yang perlu didiskusikan."
Ketiga, dari nomor tidak dikenal: "Dasar admin
kurang ajar! Mau menghancurkan desa kami?"
Arman membaca pesan terakhir itu dengan perasaan campur aduk.
Jantungnya berdegup kencang. Tangan yang memegang ponsel sedikit gemetar.
Ada apa ini?
Ia segera berdiri dan menuju ruang kepala desa. Pak Rahmat
sudah duduk di kursinya, ditemani Bu Lestari dan Pak Darso. Wajah mereka
serius—sangat serius, tidak seperti biasanya.
"Silakan duduk, Man," kata Pak Rahmat.
Arman duduk. Suasana hening beberapa detik.
"Man," Pak Rahmat memulai, "kamu tahu
artikel yang kamu tulis tadi malam?"
Arman mengangguk. "Tahu, Pak. Tentang transparansi
anggaran desa."
Pak Rahmat menghela napas. "Itu artikel... menimbulkan
reaksi."
Arman mengerutkan dahi. "Reaksi? Maksudnya, Pak?"
Bu Lestari mengambil alih. "Pagi-pagi sekali, Pak
Camat sudah telepon. Beliau dapat laporan dari beberapa kepala desa yang
keberatan dengan artikel itu."
Arman terkejut. "Pak Camat? Kepala desa lain? Tapi
saya tidak menyebut desa mana pun, Bu."
"Itu masalahnya, Man. Justru karena tidak menyebut,
semua desa merasa disebut. Mereka menganggap artikel itu menuduh semua desa
tidak transparan."
Arman membela diri. "Bu, saya sama sekali tidak
menuduh. Saya hanya menjelaskan pentingnya transparansi. Itu kan edukasi."
Pak Darso yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara.
"Man, kamu ini terlalu polos. Di dunia desa, masalah anggaran itu
sensitif. Banyak orang yang tidak suka jika transparansi dibahas."
Arman mulai paham. Ia tidak menyangka tulisannya akan
menimbulkan reaksi sebesar ini.
Pak Rahmat melanjutkan. "Selain Pak Camat, saya juga
dapat telepon dari beberapa kepala desa. Ada yang protes, ada yang minta
penjelasan, ada juga yang marah-marah."
"Siapa saja, Pak?"
"Pak Kades Tani Makmur paling keras. Katanya artikel
itu provokatif. Dia minta kita tarik artikel itu dan minta maaf."
Arman terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Pak Darso menepuk bahunya. "Man, ini risiko jadi
penulis. Tidak semua orang suka dengan tulisan kita."
"Tapi Pak, saya niatnya baik."
"Orang tidak lihat niat, Man. Mereka lihat dampak. Dan
dampak artikel ini, mereka merasa tersinggung."
Percakapan di kantor desa itu baru permulaan.
Sore harinya, ketika Arman pulang ke rumah, ponselnya tidak
berhenti berdering.
Pertama, telepon dari Pak Hasan, Kepala Desa Sungai
Harapan.
"Pak Arman, selamat sore."
"Selamat sore, Pak Hasan."
"Pak Arman, saya baru baca artikel tentang
transparansi itu. Saya ingin tanya, itu untuk desa mana?"
Arman menjelaskan. "Pak, itu artikel umum. Saya tidak
menunjuk desa tertentu. Hanya edukasi."
Pak Hasan terdiam sejenak. "Saya paham maksud Bapak.
Tapi tolong hati-hati. Di grup kepala desa, artikel itu jadi bahan
perbincangan. Ada yang pro, ada yang kontra."
"Yang kontra siapa, Pak?"
"Saya tidak bisa sebut. Tapi mereka menganggap artikel
itu menuduh desa-desa tidak transparan."
Arman menghela napas. "Pak Hasan, saya tidak pernah
menuduh."
"Saya tahu. Tapi itu persepsi mereka. Mungkin Bapak
perlu klarifikasi."
"Baik, Pak. Saya pikirkan."
Kedua, telepon dari Pak Rahman, Kepala Desa Karya Mandiri.
Berbeda dengan Pak Hasan yang tenang, Pak Rahman terlihat agak kesal.
"Pak Arman, saya mau tanya. Apa maksud artikel
itu?"
Arman menjelaskan lagi dengan sabar. "Pak Rahman, itu
artikel edukasi. Saya ingin masyarakat paham tentang transparansi
anggaran."
"Tapi kenapa bahasanya seperti menuduh? 'Banyak desa
yang tidak transparan', 'Masyarakat berhak tahu', itu kan menyudutkan."
"Pak, itu bukan menuduh. Itu fakta umum. Di banyak
berita, sering terjadi kasus korupsi dana desa."
"Tapi desa kami tidak seperti itu, Pak Arman. Anggaran
kami transparan, laporan kami rutin. Ketika masyarakat baca artikel itu, mereka
jadi curiga."
Arman mulai frustrasi. "Pak Rahman, saya tidak pernah
bilang desa Bapak tidak transparan."
"Tapi karena tidak disebut, orang bisa menafsirkan
sendiri. Itu masalahnya."
Arman terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Pak Rahman melanjutkan dengan nada lebih lunak. "Pak
Arman, saya tahu maksud Bapak baik. Tapi tolong ke depannya, kalau mau tulis
hal sensitif, koordinasikan dulu dengan kami. Biar tidak salah paham."
"Baik, Pak. Maaf jika ada yang kurang berkenan."
"Iya, tidak apa-apa. Yang penting kita belajar."
Ketiga, telepon dari Pak Karsono, Kepala Desa Tani Makmur.
Ini yang paling berat.
"Pak Arman, saya Karsono dari Tani Makmur."
Arman sudah menduga ini akan datang. "Iya, Pak. Ada
yang bisa saya bantu?"
"Pak Arman, saya terus terang kecewa dengan artikel
Bapak."
"Maaf, Pak. Bisa dijelaskan?"
"Artikel itu menimbulkan kegaduhan di desa saya. Warga
mulai bertanya-tanya, apa benar desa kami tidak transparan? Padahal kami selalu
melaporkan anggaran di papan pengumuman."
"Pak Karsono, saya tidak pernah bilang desa Bapak
tidak transparan."
"Tapi karena Bapak tulis 'banyak desa' tanpa menyebut
contoh, orang bisa mengira desa kami termasuk yang dimaksud."
Arman mencoba menjelaskan. "Pak, saya menulis itu
berdasarkan data umum. Saya tidak menunjuk desa tertentu."
Pak Karsono menghela napas panjang. "Pak Arman, saya
menghargai kerja keras Bapak. Tapi tolong, kalau menulis, pikirkan dampaknya.
Jangan asal tulis."
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud..."
"Saya tahu Bapak tidak bermaksud buruk. Tapi akibatnya
sudah terlanjur. Saya terpaksa minta, artikel itu ditarik dari website desa
kami."
Arman terkejut. "Ditarik, Pak?"
"Iya. Saya tidak ingin warga saya resah. Kalau Bapak
setuju, saya minta akses login dikembalikan ke admin desa."
Arman terdiam. Ini pukulan berat. Desa Tani Makmur adalah
salah satu desa pertama yang percaya padanya. Kini kepercayaan itu goyah.
"Baik, Pak. Kalau itu keputusan Bapak, saya
hormati."
"Maaf, Pak Arman. Ini bukan pribadi. Ini demi
ketenangan desa."
"Saya paham, Pak. Terima kasih sudah jujur."
Setelah telepon dari Pak Karsono, Arman duduk terpaku di
kursinya.
Ponselnya masih terus berdering, tapi ia tidak lagi
mengangkat. Ia hanya menatap layar ponsel yang menampilkan puluhan notifikasi
pesan.
Sari keluar dari dapur, melihat suaminya yang murung. Ia
mendekat, duduk di samping Arman.
"Mas, kenapa?" tanyanya lembut.
Arman tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan ponselnya.
Sari membaca beberapa pesan yang masuk. Wajahnya berubah
dari heran menjadi prihatin.
"Mas, ini semua karena artikel kemarin?"
Arman mengangguk lesu. "Iya, Ni. Saya kira artikel itu
baik. Ternyata... banyak yang tidak suka."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, ceritakan dari
awal."
Arman bercerita. Tentang panggilan Pak Rahmat, tentang
telepon dari Pak Hasan, tentang kekecewaan Pak Rahman, dan yang paling berat, tentang
keputusan Pak Karsono menarik aksesnya.
Sari mendengarkan dengan saksama. Ketika Arman selesai, ia
berkata, "Mas, saya mau tanya."
"Iya?"
"Waktu Mas menulis artikel itu, apa niat Mas?"
"Niat saya baik, Ni. Saya ingin masyarakat paham
tentang transparansi. Saya ingin desa-desa lebih terbuka."
"Itu niat baik. Terus, apa yang Mas tulis itu benar
atau tidak?"
"Benar. Semua berdasarkan aturan dan fakta."
"Nah, kalau niat baik dan tulisannya benar, kenapa Mas
harus sedih?"
Arman terdiam. Istrinya selalu punya cara sederhana untuk
melihat masalah.
Sari melanjutkan. "Mas, orang marah bukan karena
tulisan Mas salah. Mereka marah karena mereka merasa tersindir. Itu artinya,
mungkin hati kecil mereka tahu bahwa mereka kurang transparan."
Arman merenung.
"Tapi, Ni, ada yang minta artikelnya ditarik. Ada yang
minta aksesnya dikembalikan."
"Itu hak mereka, Mas. Tapi itu bukan berarti Mas
salah. Mungkin ini ujian. Ujian untuk melihat seberapa kuat Mas memegang
prinsip."
Arman memeluk istrinya. "Kamu ini selalu bisa
menenangkan saya."
Sari tersenyum. "Saya kan istri Mas. Tugas saya
menenangkan, bukan menambah masalah."***
Malam itu, Arman tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tempat tidur, memandangi langit-langit
kamar, pikirannya berkecamuk. Ribuan pertanyaan berputar di kepalanya:
Apakah saya salah?
Apakah seharusnya saya tidak menulis artikel itu?
Apakah saya akan kehilangan semua desa karena satu artikel?
Apakah yang saya lakukan selama ini sia-sia?
Ia mencoba memejamkan mata, tapi pikiran-pikiran itu terus
mengganggu. Jam dinding menunjukkan pukul 02.30 ketika akhirnya ia tertidur,
lelah secara fisik dan mental.***
Keesokan harinya, Arman bangun dengan perasaan berat.
Ia malas ke kantor. Malas bertemu orang. Malas membuka
ponsel. Tapi ia tahu, ia harus tetap bekerja. Ada sepuluh desa yang menunggu
artikelnya.
Dengan langkah gontai, ia berjalan ke kamar mandi, membasuh
wajah, lalu bersiap ke kantor.
Sesampainya di kantor, suasana masih canggung. Beberapa
perangkat desa hanya menyapa sekadarnya. Pak Darso belum datang. Pak Rahmat
juga belum terlihat.
Arman duduk di mejanya, membuka laptop, dan mulai bekerja
seperti biasa. Ia membuka pesan-pesan yang masuk.
Ada puluhan pesan baru. Ia membaca satu per satu dengan
hati-hati.
Beberapa mendukung:
"Pak Arman, jangan menyerah. Artikel Bapak bagus dan
perlu." (dari Rudi, Sungai
Harapan)
"Pak, saya baca artikel transparansi itu. Menurut saya
penting. Teruslah menulis." (dari
Lina, admin Mekar Sari)
"Mas Arman, di desa kami, artikel itu malah memicu
diskusi positif. Warga mulai bertanya dan kami jelaskan. Ini bagus untuk
edukasi." (dari Heru, Karya
Mandiri)
Beberapa netral:
"Pak Arman, kami tetap dukung. Tapi mungkin ke depan
perlu lebih hati-hati dengan topik sensitif." (dari Bu Dewi, Mekar Sari)
"Artikelnya bagus, tapi timing-nya kurang tepat. Ada
beberapa desa yang sedang ada masalah internal." (dari Pak Suroto, Bukit Lestari)
Dan beberapa, tentu saja, masih marah:
"Admin provokatif! Hancurkan nama baik desa!" (dari nomor tidak dikenal)
"Kami akan laporkan ke DPMD! Ini fitnah!" (dari nomor lain)
Arman membaca semua itu dengan perasaan campur aduk. Ada
dukungan, ada kritik, ada kemarahan.
Di tengah membaca pesan, ponselnya berdering. Pak Rahmat.
"Man, ke ruangan sebentar."
Arman berjalan menuju ruang kepala desa. Pak Rahmat sudah
duduk dengan beberapa dokumen di mejanya. Di sampingnya, Bu Lestari dan Pak
Darso.
"Man, duduk."
Arman duduk. Kali ini ia sudah siap dengan kemungkinan
terburuk.
"Man, saya sudah bicara dengan Pak Camat," kata
Pak Rahmat. "Beliau sudah memahami bahwa artikel itu bersifat umum, tidak
menyerang desa tertentu."
Arman merasa sedikit lega. "Alhamdulillah, Pak."
"Tapi, Pak Camat minta kita lebih berhati-hati ke
depan. Topik-topik sensitif sebaiknya dikonsultasikan dulu sebelum
dipublikasikan."
"Baik, Pak. Saya mengerti."
Bu Lestari menambahkan. "Pak Arman, ini pelajaran
berharga. Menulis itu tidak hanya soal kebenaran, tapi juga soal waktu, cara
penyampaian, dan konteks."
Arman mengangguk. "Iya, Bu. Saya belajar banyak dari
kejadian ini."
Pak Darso yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. "Man,
saya punya nasihat."
"Iya, Pak?"
"Kamu ini seperti tukang masak. Kamu masak makanan
bergizi, tapi ada orang yang tidak suka karena pedas, ada yang tidak suka
karena terlalu asin. Itu biasa. Yang penting, masakanmu bergizi."
Arman tersenyum. "Jadi saya harus terus masak?"
"Iya. Tapi sesuaikan selera tamu. Kalau tamunya tidak
suka pedas, jangan dikasih sambal terlalu banyak."
Semua tertawa. Suasana ruangan yang tegang mulai mencair.
Pak Rahmat menutup pertemuan. "Man, saya tetap dukung
kamu. Kejadian ini adalah bagian dari proses belajar. Jangan berkecil
hati."
"Terima kasih, Pak."
Setelah pertemuan itu, Arman kembali ke mejanya dengan
perasaan sedikit lebih tenang.
Namun masalah belum selesai. Ia masih harus menghadapi satu
hal yang paling berat: kehilangan kepercayaan dari Desa Tani Makmur.
Ia menelepon Pak Karsono.
"Assalamualaikum, Pak Karsono."
"Waalaikumsalam, Pak Arman."
"Pak, saya telepon untuk minta maaf secara langsung.
Saya tidak bermaksud membuat masalah di desa Bapak."
Pak Karsono di seberang sana terdiam sejenak. "Pak
Arman, saya sudah terima maaf Bapak. Tapi keputusan saya tetap: untuk
sementara, akses Bapak ke website kami kami tarik."
Arman menghela napas. "Saya mengerti, Pak. Itu hak
Bapak."
"Bukan karena saya tidak percaya, Pak Arman. Tapi
untuk menenangkan situasi. Warga masih panas. Biarkan reda dulu."
"Berapa lama, Pak?"
"Saya tidak tahu. Mungkin sebulan, mungkin dua bulan.
Nanti kalau sudah tenang, saya kabari."
"Baik, Pak. Saya tunggu."
"Pak Arman, satu hal."
"Iya, Pak?"
"Saya tetap mengapresiasi kerja keras Bapak.
Artikel-artikel Bapak selama ini sangat membantu desa kami. Ini hanya
masalah... timing."
"Terima kasih, Pak. Saya paham."
Telepon ditutup. Arman menatap ponselnya dengan perasaan
lega bercampur sedih. Lega karena Pak Karsono tidak marah total. Sedih karena
ia kehilangan satu desa, setidaknya untuk sementara.***
Hari-hari berikutnya, Arman bekerja dengan perasaan yang
berbeda.
Ia masih menulis untuk sembilan desa lainnya, tapi dengan
lebih berhati-hati. Setiap kali menulis topik yang agak sensitif, ia selalu
berpikir ulang. Kadang ia minta pendapat Pak Darso atau Sari sebelum
mempublikasikan.
Suatu sore, ketika sedang menulis di rumah, Sari bertanya.
"Mas, kenapa belakangan ini kelihatan kurang
semangat?"
Arman menghela napas. "Masih kepikiran kejadian
kemarin, Ni."
"Desa Tani Makmur?"
"Iya. Padahal mereka baik-baik saja selama ini.
Sekarang akses saya ditarik."
Sari duduk di sampingnya. "Mas, saya mau tanya."
"Apa?"
"Selama ini Mas nulis untuk desa Tani Makmur, ada
masalah tidak?"
"Tidak ada. Lancar-lancar saja."
"Berapa lama Mas nulis untuk mereka?"
"Setahun lebih."
"Sudah berapa artikel?"
Arman membuka catatannya. "Sekitar 80 artikel."
Sari mengangguk. "80 artikel selama setahun, tanpa masalah.
Sekarang satu artikel menimbulkan masalah, dan akses ditarik."
Arman menatap istrinya, menunggu kelanjutan.
Sari melanjutkan, "Mas, kalau ada orang yang selama
setahun memberi kita 80 kebaikan, lalu satu kali melakukan kesalahan, apa kita
lupakan semua kebaikannya?"
"Tidak seharusnya."
"Nah, itu. Mas sudah memberi 80 kebaikan untuk desa
Tani Makmur. Satu artikel yang kontroversial, itu pun tidak salah secara fakta,
hanya timing yang kurang tepat, jangan sampai membuat Mas lupa pada 80 kebaikan
itu."
Arman merenung.
"Maksudmu, saya harus tetap bangga dengan apa yang
sudah saya lakukan?"
"Iya. Dan jangan biarkan satu kejadian ini
menghancurkan semangat Mas. Mas masih punya sembilan desa lain yang percaya.
Mas masih punya keluarga yang mendukung. Mas masih punya kemampuan
menulis."
Arman tersenyum. "Kamu ini bijak sekali, Ni."
Sari tertawa. "Bukan bijak, Mas. Cuma suka lihat Mas
dari jauh. Mas ini kalau sedih, lama banget sembuhnya."
"Iya, saya memang perasa."
"Itu bagus. Tapi jangan terlalu lama. Bangkit lagi.
Tulis lagi. Buktikan bahwa Mas tidak takut."
Arman memeluk istrinya. "Terima kasih, Ni. Kamu selalu
ada saat saya butuh."***
Keesokan harinya, Arman bangun dengan semangat baru.
Ia memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan. Ia akan
terus menulis, dengan lebih hati-hati, tapi dengan semangat yang sama.
Ia membuka laptop dan mulai bekerja.
Hari itu, ia menulis artikel untuk Desa Sungai Harapan
tentang keberhasilan program ketahanan pangan. Ia menulis dengan gaya yang
sama: informatif, jelas, dan mudah dipahami. Tapi kali ini, ia lebih
berhati-hati dengan pilihan kata.
Setelah selesai, ia mengirimkan artikel itu ke Rudi untuk
dicek. Tidak lama, balasan datang.
"Pak Arman, artikelnya bagus. Terima kasih."
Arman tersenyum. Setidaknya, masih ada yang menghargai
tulisannya.
Siang harinya, ia mendapat telepon dari Pak Hasan.
"Pak Arman, selamat siang."
"Selamat siang, Pak Hasan."
"Saya dengar tentang Desa Tani Makmur. Saya turut
prihatin."
"Terima kasih, Pak. Ini jadi pelajaran buat
saya."
"Pak Arman, saya justru ingin bilang, jangan berkecil
hati. Di desa saya, artikel transparansi itu malah disambut baik. Warga jadi
lebih paham dan kami jadi lebih giat menjelaskan."
Arman terharu. "Alhamdulillah, Pak. Terima kasih
dukungannya."
"Pak Arman, saya percaya sama Bapak. Teruslah menulis.
Tapi boleh saya kasih saran?"
"Silakan, Pak."
"Mungkin ke depan, untuk topik-topik sensitif, Bapak
bisa konsultasi dulu dengan kepala desa masing-masing. Biar tidak kaget."
"Iya, Pak. Saya sudah belajar dari kejadian ini."
"Bagus. Saya tunggu artikel-artikel berikutnya."***
Minggu-minggu berikutnya, Arman bekerja dengan ritme baru.
Ia masih menulis untuk sembilan desa. Ia juga masih
berharap suatu saat Desa Tani Makmur akan kembali mempercayainya. Tapi ia tidak
menunggu dengan pasrah. Ia terus bekerja, terus menulis, terus berkarya.
Suatu sore, ketika sedang duduk di warung kopi Pak Jumari,
ia bertemu dengan Pak Darso. Mereka duduk bersama, memesan kopi, dan mengobrol
santai.
"Man, gimana kabarnya?" tanya Pak Darso.
"Alhamdulillah, Pak. Baik."
"Masih sedih soal Tani Makmur?"
Arman tersenyum. "Sudah tidak, Pak. Saya sudah move
on."
"Bagus. Saya kira kamu masih merenung di rumah."
"Sempat, Pak. Tapi istri saya yang membuat saya
sadar."
Pak Darso mengangguk. "Sari itu istri sholehah, Man.
Jaga baik-baik."
"Iya, Pak. Saya bersyukur punya dia."
Mereka menyeruput kopi masing-masing. Suasana sore itu
tenang. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma tanah dari sawah yang baru
dibajak.
"Man," kata Pak Darso tiba-tiba.
"Iya, Pak?"
"Saya mau kasih tahu sesuatu."
"Apa, Pak?"
Pak Darso menatap Arman dengan serius—sesuatu yang jarang
terjadi. "Kejadian dengan Tani Makmur itu, jangan dianggap sebagai
kegagalan."
"Lalu apa, Pak?"
"Itu adalah bukti bahwa tulisanmu berpengaruh. Orang
marah karena mereka peduli. Kalau tulisanmu tidak penting, mereka tidak akan
peduli."
Arman merenung.
Pak Darso melanjutkan. "Coba bayangkan, kalau kamu
nulis artikel receh, nggak penting, apa ada yang marah? Nggak ada. Orang cuek
aja. Tapi karena tulisanmu menyentuh hal sensitif, orang bereaksi. Itu artinya,
tulisanmu berbobot."
Arman tersenyum. "Pak Darso, baru kali ini saya lihat
Bapak serius."
Pak Darso tertawa. "Saya bisa serius kalau perlu. Tapi
lebih sering lucu karena hidup ini sudah terlalu serius."
Mereka berdua tertawa.
"Terima kasih, Pak. Nasihat Bapak berarti buat
saya."
"Sama-sama, Man. Sekarang, traktir saya kopi
lagi."
"Loh, kan baru satu."
"Itu kopi pertama. Sekarang kopi kedua. Namanya
traktiran berantai."
Arman tertawa. "Baik, Pak. Saya traktir."***
Malam harinya, ketika sedang menulis di rumah, ponsel Arman
berdering.
Nomor tidak dikenal.
Dengan ragu, ia mengangkatnya.
"Halo?"
"Assalamualaikum, Pak Arman?"
"Waalaikumsalam. Iya, benar. Ini dengan siapa?"
"Ini Pak Karsono, dari Tani Makmur."
Arman terkejut. Jantungnya berdegup kencang. "Oh, Pak
Karsono. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Arman, saya telepon untuk menyampaikan
sesuatu."
"Iya, Pak?"
Pak Karsono terdiam sejenak. Lalu ia berkata, "Pak
Arman, saya minta maaf."
Arman bingung. "Minta maaf? Bapak? Untuk apa?"
"Beberapa minggu lalu, saya mungkin terlalu keras.
Saya menarik akses Bapak tanpa banyak diskusi. Saya mohon maaf."
Arman terharu. "Pak Karsono, tidak usah minta maaf.
Saya yang harus minta maaf. Artikel saya yang membuat masalah."
"Tidak, Pak Arman. Setelah saya pikir-pikir, artikel
Bapak itu benar. Warga desa saya jadi lebih kritis, lebih banyak bertanya. Dan
ternyata, itu baik."
Arman tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Pak Karsono melanjutkan. "Sekarang, setelah situasi
tenang, saya lihat warga lebih paham tentang anggaran desa. Mereka tidak lagi
hanya menerima, tapi juga bertanya. Dan kami, pemerintah desa, jadi lebih
hati-hati dan transparan."
"Alhamdulillah, Pak. Saya senang mendengarnya."
"Karena itu, Pak Arman, saya ingin menawarkan kembali
kerja sama. Apakah Bapak bersedia kembali mengelola website kami?"
Arman hampir tidak percaya. "Bersedia, Pak. Sangat
bersedia."
"Terima kasih, Pak Arman. Dan sekali lagi, maaf atas
kejadian kemarin."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga belajar banyak."
"Baiklah, besok aksesnya saya kirimkan lagi. Terima
kasih, Pak Arman."
"Terima kasih kembali, Pak Karsono."
Telepon ditutup. Arman menatap ponselnya dengan perasaan
haru.
Sari yang sedari tadi mendengarkan dari dapur, keluar dan
bertanya. "Mas, itu tadi Pak Karsono?"
Arman mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Iya, Ni. Dia
minta maaf. Dan dia minta saya kembali."
Sari tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Mas. Lihat? Mas
tidak perlu sedih. Yang benar akan menang pada waktunya."
Arman memeluk istrinya erat-erat. "Terima kasih, Ni.
Tanpa kamu, saya mungkin sudah menyerah."
"Mas, saya hanya mengingatkan. Yang berjuang kan Mas
sendiri."
Malam itu, Arman menulis catatan di buku hariannya:
*15 Agustus 2021*
Hari ini adalah hari yang luar biasa.
Pak Karsono dari Desa Tani Makmur menelepon. Ia minta maaf
dan meminta saya kembali.
Saya tidak menyangka. Saya kira hubungan kami sudah putus
selamanya.
Tapi ternyata, waktu menyembuhkan luka. Dan kebenaran, pada
akhirnya, akan diakui.
Kejadian ini mengajarkan saya banyak hal:
1. Menulis itu bukan sekadar menuangkan kata. Ada tanggung
jawab besar di dalamnya.
2. Konflik itu tidak selalu buruk. Kadang ia membersihkan,
kadang ia menguatkan.
3. Orang bisa berubah. Dari marah menjadi paham. Dari
menolak menjadi menerima.
4. Kesabaran itu penting. Jika saya dulu marah balik,
mungkin tidak akan ada rekonsiliasi.
5. Dukungan keluarga adalah segalanya. Sari, istriku,
adalah malaikat tanpa sayap.
Sekarang, saya kembali memiliki sepuluh desa.
Sepuluh desa yang percaya bahwa saya bisa membantu mereka
bercerita kepada dunia.
Dan saya tidak akan mengecewakan mereka.***
Keesokan harinya, akses ke website Desa Tani Makmur kembali
aktif.
Arman membuka halaman admin, melihat dashboard yang sudah
dua minggu tidak ia sentuh. Semuanya masih sama. Artikel-artikel lama masih
terpajang rapi.
Ia mulai menulis artikel pertama setelah
"kembali". Judulnya sederhana:
"Desa Tani Makmur Kembali Aktif: Warga Diajak Lebih
Peduli Anggaran Desa"
Dalam artikel itu, ia tidak hanya menceritakan kegiatan
desa, tapi juga mengajak warga untuk terus aktif mengawasi dan bertanya. Dengan
gaya khasnya, ia menulis:
"Transparansi bukan tugas pemerintah desa saja.
Masyarakat juga punya peran untuk bertanya, mengawasi, dan memberi masukan.
Dengan saling bekerja sama, anggaran desa bisa digunakan sebaik-baiknya untuk
kesejahteraan bersama."
Ia membaca ulang tulisannya. Kali ini, ia yakin tidak ada
yang salah.
Lalu ia mengklik tombol Publikasikan.
Artikel itu tayang.
Dan untuk pertama kalinya setelah dua minggu, website Desa
Tani Makmur kembali memiliki berita baru.
BAB VII
STRATEGI PARA KEPALA DESA
Ketika Sepuluh Kepala Desa Duduk Bersama Membahas Masa
Depan
Pagi itu udara di Kecamatan terasa segar setelah hujan
semalam.
Awan tipis masih menggantung di langit, seperti kapas yang
diurai lembut, sementara halaman kantor kecamatan mulai ramai oleh kendaraan
para kepala desa yang datang menghadiri rapat koordinasi bulanan. Motor-motor
tua berjajar tidak rapi di halaman, bercampur dengan beberapa mobil dinas dan
satu-dua mobil pribadi milik kepala desa yang cukup beruntung memiliki
kendaraan roda empat.
Di ruang rapat yang cukup luas, meja panjang telah disusun
membentuk huruf U—formasi klasik rapat-rapat pemerintahan. Di tengah meja
terdapat beberapa teko kopi, puluhan gelas kaca, dan sepiring pisang goreng
yang masih hangat, mengeluarkan aroma manis yang menggoda. Di sudut ruangan,
sebuah dispenser air minum berdiri tegak, ditemani kotak kardus berisi gelas
plastik.
Para kepala desa duduk santai sambil menunggu rapat
dimulai. Ada yang membuka map laporan, ada yang sibuk memeriksa ponsel, ada
pula yang sudah menyeruput kopi sejak awal, seolah kopi adalah syarat mutlak
untuk bisa bertahan dalam rapat yang biasanya berlangsung lama dan membosankan.
Di antara mereka, duduk beberapa kepala desa yang selama
ini bekerja sama dengan Arman: Pak Hadi dari Desa Sungai Harapan, Pak Suroto
dari Desa Bukit Lestari, Pak Rahman dari Desa Karya Mandiri, Pak Bambang dari
Desa Maju Bersama, Bu Dewi dari Desa Mekar Sari, dan Pak Karsono dari Desa Tani
Makmur—yang kini kembali akrab dengan Arman setelah insiden beberapa waktu
lalu.
Mereka duduk berkelompok di salah satu sisi meja, membentuk
kluster informal yang tidak tercantum dalam susunan acara. Di seberang mereka,
duduk kepala desa dari kecamatan lain yang juga memiliki agenda masing-masing.
Rapat sebenarnya sudah hampir selesai. Pembahasan tentang
program pembangunan, alokasi anggaran, dan evaluasi kegiatan sudah ditutup oleh
pihak kecamatan. Camat—seorang pria paruh baya berkacamata dengan perut agak
buncit—sudah meninggalkan ruangan setelah memberikan sambutan penutup yang
klise: "Mari kita sukseskan program pembangunan demi kesejahteraan
masyarakat."
Namun sebelum semua orang pulang, Pak Hadi—yang di antara
mereka dianggap paling senior—tiba-tiba membuka pembicaraan baru dengan suara
yang cukup keras untuk didengar kelompoknya.
"Bapak-bapak, sebelum pulang, kita ngobrol bentar
ya," katanya sambil menyandarkan tubuh di kursi dan melipat tangan di atas
perut.
Pak Suroto yang duduk di sampingnya menoleh. "Ngobrol
apa, Hadi? Saya sudah kangen sama istri."
Pak Hadi tersenyum. "Sebentar saja. Ini penting."
Pak Rahman ikut penasaran. "Apa sih, Hadi? Misterius
amat."
Pak Hadi menatap satu per satu teman-temannya.
"Ngomong-ngomong soal website desa... bagaimana perkembangan di desa
masing-masing?"
Beberapa kepala desa langsung tertawa kecil. Pak Bambang
mengangkat tangan, seperti murid di sekolah.
"Kalau di desa saya, sekarang website sudah mulai
ramai pengunjungnya. Bahkan minggu kemarin ada 500 orang lebih yang baca."
Pak Suroto menimpali dengan nada bangga. "Di desa saya
juga. Malah ada warga yang protes kalau website telat update."
Bu Dewi ikut bersuara. "Iya, saya juga ngalamin. Warga
saya sekarang pada kritis. Kalau ada kegiatan, mereka tanya, 'Bu, ini sudah
diupload belum?'"
Semua orang tertawa. Suasana ruangan yang tadinya mulai
sepi karena rapat selesai, kini kembali hangat dengan obrolan mereka.
Pak Hadi kemudian berkata dengan nada sedikit misterius.
"Bapak-bu, kalian sadar tidak...?"
"Sadar apa?" tanya Pak Rahman.
Pak Hadi tersenyum tipis. "Kita ini sebenarnya sedang
menjalankan strategi."
Pak Suroto mengangkat alis, matanya menyipit penuh selidik.
"Strategi apa? Saya tidak tahu apa-apa."
Pak Hadi menjawab pelan, seperti orang yang membagikan
rahasia negara. "Strategi mendidik admin desa."
Beberapa kepala desa langsung tertawa keras. Pak Rahman
bahkan hampir menumpahkan kopi yang baru saja ia seruput.
"Wah... berarti kita ini diam-diam sedang jadi
guru?" tanya Pak Bambang sambil menyeka tisu di bajunya yang terkena
percikan kopi.
Pak Hadi mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Guru yang
tidak terlihat. Guru yang muridnya tidak tahu kalau sedang diajar."
Bu Dewi menggeleng-geleng. "Hadi ini, kalau ngomong
selalu filosofis."
Pak Hadi mengangkat bahu. "Bukan filosofis. Cuma
ngamati."
Pak Suroto kemudian berkata sambil menepuk meja pelan,
mengeluarkan suara dug yang cukup keras. "Makanya kita
menggunakan Arman."
Semua kepala desa mengangguk setuju.
Pak Rahman, yang paling vokal di antara mereka, menjelaskan
dengan nada sedikit berguru. "Kalau kita hanya menyuruh admin desa
menulis, mereka sering bingung mulai dari mana. Apalagi yang muda-muda, pada
sibuk main game."
Pak Bambang menambahkan. "Betul. Admin saya itu anak
muda, umur 23 tahun. Katanya bisa komputer, tapi kalau disuruh nulis, cuma bisa
nulis caption Instagram."
Bu Dewi tertawa. "Sama. Admin saya juga gitu. Dulu
waktu saya suruh bikin berita desa, dia tanya, 'Bu, ini pakai hastag
apa?'"
Semua tertawa lagi. Cerita-cerita lucu tentang admin desa
selalu bisa mencairkan suasana.
Pak Hadi, yang memulai diskusi ini, kembali bicara dengan
nada lebih serius. "Karena itulah kita menggunakan kontributor luar.
Arman."
Pak Suroto, yang duduk di sampingnya, menimpali. "Biar
admin desa kita belajar sambil melihat."
Pak Karsono, yang sejak tadi diam—mungkin masih malu dengan
insiden sebelumnya—akhirnya buka suara. "Saya setuju. Di desa saya, admin
yang dulu sempat saya tarik aksesnya karena saya marah, sekarang malah jadi
lebih rajin belajar."
Pak Hadi menatap Pak Karsono dengan rasa ingin tahu.
"Ceritakan, Karsono. Biar kami tahu."
Pak Karsono menghela napas, lalu mulai bercerita.
"Dulu, waktu saya tarik akses Arman, admin desa saya, namanya Budi,
disuruh nulis sendiri. Awalnya dia panik. Katanya, 'Pak, saya tidak bisa nulis
kayak Pak Arman.'"
Bu Dewi menyela. "Lalu?"
Pak Karsono melanjutkan. "Saya bilang, 'Kamu belajar
dari artikel-artikel Arman yang sudah ada. Tiru gayanya, tapi jangan
plagiat.'"
"Terus?"
"Sekarang, Budi sudah bisa nulis sendiri. Memang belum
sebagus Arman, tapi sudah lumayan. Dia juga lebih percaya diri."
Pak Hadi mengangguk puas. "Nah, itu dia. Itulah yang
saya maksud. Arman tidak hanya menulis untuk kita, tapi juga secara tidak
langsung mengajari admin kita."
Pak Rahman menambahkan. "Jadi, uang yang kita bayar ke
Arman itu bukan cuma untuk artikel, tapi juga untuk biaya kursus tidak langsung
buat admin kita."
Semua tertawa lagi.
Setelah tawa mereda, Pak Suroto berbicara dengan nada lebih
serius. "Bapak-bapak, sekarang zaman sudah berubah."
Ia melanjutkan sambil menatap semua orang di ruangan itu,
matanya berbinar-binar seperti pendakwah yang baru menemukan ayat inspiratif.
"Desa tidak bisa lagi hanya mengandalkan papan pengumuman di kantor
desa."
Pak Rahman mengangguk dengan mantap. "Betul. Sekarang
masyarakat mencari informasi dari internet. Anak muda lihat YouTube, ibu-ibu
lihat Facebook, bapak-bapak lihat WhatsApp. Kalau desa tidak ada di situ, kita
ketinggalan."
Pak Bambang menambahkan. "Bahkan warga saya lebih
cepat tahu berita desa dari Google daripada dari kantor desa. Kadang mereka
baca di website, baru nanya ke saya, 'Pak, ini bener ya desa kita dapat
bantuan?'"
Semua tertawa lagi, tapi kali ini tawanya lebih pendek,
karena mereka tahu ini masalah serius.
Pak Hadi lalu berkata dengan nada filosofis. "Website
desa itu seperti jendela."
"Jendela?" tanya Pak Rahman, pura-pura tidak
paham padahal sudah sering mendengar analogi ini.
Pak Hadi menjelaskan dengan penuh kesabaran. "Iya,
jendela. Melalui website, orang luar bisa melihat bagaimana desa kita bekerja.
Investor, dinas, masyarakat umum, semuanya bisa lihat."
Pak Suroto menambahkan. "Kalau website kosong, orang
mengira desa kita tidak punya kegiatan."
Pak Bambang langsung menyahut dengan nada bercanda.
"Padahal kegiatan banyak, hanya malas menulis."
Semua tertawa lagi. Ini adalah lelucon lama yang selalu
muncul setiap kali mereka membahas website desa.
Bu Dewi, yang sejak tadi hanya tersenyum, akhirnya bicara.
"Bapak-bapak, saya mau tanya serius."
Mereka semua menatapnya.
"Menurut Bapak-bapak, apa yang membuat website desa
kita bisa bertahan? Padahal banyak desa lain yang websitenya mati."
Pak Hadi berpikir sejenak. "Menurut saya, ada tiga
faktor."
"Apa saja?" tanya Bu Dewi.
Pak Hadi menjawab dengan nada seperti dosen. "Pertama,
komitmen kepala desa. Kalau kepala desanya tidak peduli, website pasti
mati."
Semua mengangguk.
"Kedua, konten yang berkualitas. Ini peran Arman. Dia
yang membuat orang mau baca."
Pak Karsono menimpali. "Ketiga, keterlibatan admin
desa. Mereka harus belajar, tidak bisa selamanya bergantung ke Arman."
Pak Hadi mengangguk setuju. "Tepat. Jadi kita harus
menjaga keseimbangan. Gunakan Arman untuk mengisi konten dan mendidik admin.
Tapi pastikan admin juga berkembang."
Pak Rahman kemudian berkata dengan nada lebih serius.
"Selain itu, website juga penting untuk transparansi."
Pak Suroto mengangguk. "Ya. Sekarang masyarakat
semakin kritis. Mereka tidak bisa dibohongi."
Pak Hadi menambahkan. "Kalau kita terbuka sejak awal,
masyarakat justru akan percaya. Mereka tidak akan curiga."
Pak Bambang lalu berkata dengan nada sedikit humor.
"Kalau tidak transparan, nanti yang transparan malah rumor."
Semua tertawa lagi. Pak Bambang memang terkenal dengan
guyonan-guyonan segar yang selalu pas waktunya.
Pak Rahman melanjutkan. "Makanya saya tidak pernah
takut kalau kegiatan desa dipublikasikan. Biar semua orang tahu."
Pak Suroto menatapnya sambil tersenyum. "Selama
kegiatan kita benar, kenapa harus takut?"
Pak Rahman menjawab santai. "Kalau takut, berarti ada
yang disembunyikan."
Ruangan kembali dipenuhi tawa. Ini adalah kebenaran yang
dikemas dalam canda.
Bu Dewi, yang biasanya lebih serius dari yang lain, ikut
berkomentar. "Di desa saya, dulu ada isu macam-macam soal anggaran.
Setelah saya rutin publikasikan laporan di website, isu itu hilang dengan
sendirinya."
Pak Hadi mengangguk. "Nah, itu bukti. Transparansi itu
obat paling ampuh untuk isu negatif."
Di tengah percakapan yang serius itu, Pak Bambang tiba-tiba
berkata dengan nada penuh keheranan. "Ngomong-ngomong soal Arman..."
Semua kepala desa langsung menoleh, seperti burung yang
serempak memutar kepala.
Pak Bambang melanjutkan. "Saya kira dia punya kantor
besar."
Pak Hadi tertawa, sudah pernah mendengar ini. "Saya
juga dulu mengira begitu."
Pak Rahman menambahkan. "Saya bahkan pernah bertanya,
'Timnya berapa orang?'"
"Lalu dia jawab apa?" tanya Pak Suroto yang belum
pernah mendengar cerita ini.
Pak Rahman tertawa keras, mengingat kejadian itu. "Dia
bilang... timnya satu orang."
Semua kepala desa langsung tertawa. Pak Bambang bahkan
menepuk meja.
"Satu orang mengurus sepuluh desa!" seru Pak
Bambang.
Pak Karsono ikut heran. "Satu orang? Dengan laptop
apa?"
Pak Rahman menjawab. "Laptop tua. Katanya kipasnya
bunyi kayak helikopter."
Semua tertawa lagi. Bayangan Arman dengan laptop berisiknya
membuat mereka terhibur.
Pak Hadi menggeleng sambil tersenyum. "Anak itu memang
luar biasa. Kerjanya dari rumah, pakai laptop seadanya, tapi hasilnya
bagus."
Bu Dewi menambahkan. "Saya pernah lihat videonya waktu
ngetik. Dia pakai dua jari."
"Serius?" tanya Pak Karsono.
"Iya. Jari telunjuk kiri sama kanan. Tapi hasil
tulisannya rapi."
Pak Hadi menghela napas. "Itulah yang membuat saya
segan sama dia. Bukan kemampuan teknisnya, tapi semangatnya."
Pak Rahman mengangguk setuju. "Betul. Dia tidak pernah
mengeluh. Padahal kita semua tahu, ngurus sepuluh desa itu berat."
Setelah obrolan tentang Arman mereda, Pak Hadi kembali ke
topik utama.
"Bapak-bapak, kita harus pikirkan masa depan. Nanti
suatu saat, admin desa harus bisa mengelola website sendiri."
Pak Suroto mengangguk serius. "Benar. Arman hanya
membantu memulai. Tapi jangan sampai kita bergantung terus."
Pak Rahman menambahkan. "Yang penting sekarang budaya
menulis sudah mulai tumbuh. Admin desa kita mulai terbiasa."
Pak Bambang berkata dengan nada optimis. "Kalau setiap
desa punya website aktif, informasi pembangunan akan lebih terbuka."
Pak Hadi menatap semua orang di ruangan itu. "Dan
masyarakat akan tahu bahwa desa bekerja. Bekerja untuk mereka."
Semua kepala desa mengangguk, setuju dengan pernyataan itu.
Bu Dewi, yang biasanya pendiam, tiba-tiba mengusulkan.
"Bagaimana kalau kita buat semacam pelatihan untuk admin desa?"
Pak Hadi menatapnya dengan rasa tertarik.
"Maksudnya?"
"Kita kumpulkan semua admin desa, lalu undang Arman
jadi pelatih. Diajarin cara nulis berita yang baik."
Pak Suroto langsung setuju. "Ide bagus. Biar mereka
belajar langsung dari ahlinya."
Pak Rahman menambahkan. "Dan kita bisa bareng-bareng,
biayanya ditanggung bersama."
Pak Karsono mengangkat tangan. "Saya setuju. Ini penting
untuk keberlanjutan."
Pak Hadi berpikir sejenak. "Tapi apa Arman mau? Dia
kan orangnya pemalu."
Pak Bambang tertawa. "Itu tugas kita. Kita harus
yakinkan dia."
Bu Dewi tersenyum. "Saya yakin dia mau. Arman itu
orangnya baik. Pasti mau berbagi."
Pak Hadi mengambil keputusan. "Baiklah. Nanti setelah
ini, kita hubungi Arman. Tawarkan ide ini. Kalau dia setuju, kita rencanakan
lebih lanjut."
Rapat sebenarnya sudah selesai sejak lama. Para kepala desa
dari kelompok lain sudah lama pulang. Ruangan kini hanya berisi mereka berenam,
plus beberapa staf kecamatan yang sibuk membereskan kursi.
Tapi mereka masih duduk santai sambil menikmati kopi yang
sudah dingin dan pisang goreng yang tinggal remah-remah.
Sebelum pulang, Pak Hadi berkata sambil tersenyum lebar.
"Bapak-bapak... jangan lupa kirim data kegiatan ke Arman."
Pak Rahman langsung tertawa. "Kalau tidak, besok Arman
yang menelepon kita."
Pak Bambang menambahkan. "Dia lebih rajin daripada
admin desa kita. Kadang saya lupa kirim data, dia yang nanyain."
Semua orang tertawa keras. Suasana hangat itu terasa
seperti keluarga, bukan sekadar kolega kerja.
Pak Hadi berdiri, merapikan kemejanya. "Baiklah, saya
pamit dulu. Istri sudah menunggu."
Pak Suroto ikut berdiri. "Saya juga. Nanti kalau ada
perkembangan tentang pelatihan, kabari ya."
Pak Hadi mengangguk. "Pasti. Kita koordinasikan lewat
grup."
Mereka beranjak satu per satu, meninggalkan ruangan dengan
perasaan puas. Bukan puas karena rapat selesai, tapi puas karena mereka telah
membicarakan sesuatu yang penting untuk masa depan desa mereka.***
Malam harinya, Pak Hadi menelepon Arman.
"Assalamualaikum, Pak Arman. Selamat malam."
"Waalaikumsalam, Pak Hadi. Ada yang bisa saya
bantu?"
"Pak Arman, saya mau tanya. Apa Bapak punya waktu
dalam waktu dekat?"
Arman di seberang sana terdengar ragu. "Waktu untuk
apa, Pak?"
Pak Hadi menjelaskan. "Kami, para kepala desa, ingin
mengadakan pelatihan untuk admin desa. Dan kami ingin Bapak jadi
pelatihnya."
Arman terdiam cukup lama. Pak Hadi bisa mendengar napasnya
yang sedikit tersengal.
"Pak Hadi... saya jadi pelatih?"
"Iya. Siapa lagi kalau bukan Bapak?"
"Tapi Pak, saya tidak punya pengalaman ngajar."
Pak Hadi tersenyum, meskipun Arman tidak bisa melihatnya.
"Pak Arman, Bapak sudah mengajar tanpa sadar. Selama ini, admin desa kami
belajar dari tulisan Bapak. Sekarang waktunya belajar langsung."
Arman masih ragu. "Saya takut tidak bisa, Pak."
"Tidak apa-apa. Nanti kita siapkan bersama. Yang
penting Bapak mau berbagi pengalaman."
Arman berpikir sejenak. "Boleh saya pikir dulu, Pak?"
"Tentu. Tapi tolong jangan lama-lama. Admin desa kami
sudah tidak sabar."
"Baik, Pak. Terima kasih tawarannya."
Setelah telepon itu, Arman duduk merenung.
Sari yang sejak tadi mendengarkan dari samping, bertanya.
"Mas, ditawarin jadi pelatih?"
Arman mengangguk lesu. "Iya, Ni. Tapi saya
takut."
"Takut apa?"
"Takut tidak bisa. Saya ini cuma lulusan SMA, ngomong
depan orang banyak aja grogi."
Sari tersenyum. "Mas, ingat waktu pertama kali jadi
admin website?"
Arman mengingat-ingat. "Iya."
"Waktu itu Mas takut juga kan?"
"Iya."
"Sekarang? Mas sudah mengelola sepuluh desa."
Arman menghela napas. "Iya, tapi itu beda."
"Tidak beda, Mas. Semua butuh keberanian. Dan Mas
sudah punya modal: pengalaman."
Arman menatap istrinya. "Kamu yakin saya bisa?"
Sari mengangguk mantap. "Saya yakin. Dan saya akan
selalu dukung Mas."
Arman tersenyum. "Terima kasih, Ni."
Malam itu, Arman mengambil keputusan. Ia akan menerima
tawaran menjadi pelatih.
Ia akan berbagi pengalaman.
Ia akan menjadi guru, meskipun ia sendiri masih merasa sebagai
murid yang terus belajar.
BAB VIII
SANG LEGENDA KONTRIBUTOR
Ketika Sebutan Itu Muncul dari Mereka yang Pernah Belajar
Tiga bulan telah berlalu sejak pertemuan para kepala desa
di kantor kecamatan.
Tiga bulan sejak Pak Hadi menelepon Arman dan menawarinya
menjadi pelatih.
Tiga bulan yang penuh dengan persiapan, kegugupan, dan
akhirnya—keberhasilan.
Malam itu, rumah Arman kembali menjadi saksi bisu dari
perjalanan panjang seorang pria sederhana yang tidak pernah menyangka akan
sampai di titik ini.
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 23.47. Sebagian
besar warga desa telah tertidur lelap. Jalan kampung sepi, hanya suara jangkrik
yang terdengar bersahutan dari semak-semak di belakang rumah, ditemani sesekali
suara burung malam yang terbang rendah mencari mangsa.
Namun di dalam rumah sederhana itu, Arman masih duduk di
depan laptop.
Layar komputer memancarkan cahaya kebiruan yang memantul di
wajahnya yang mulai lelah. Kantung mata hitam menghiasi bagian bawah
matanya—tanda bahwa ia sudah berhari-hari kurang tidur. Rambutnya sedikit
berantakan, tidak sesisir biasanya. Kemeja yang ia kenakan sejak pagi masih
melekat di tubuhnya, kusut di beberapa bagian.
Di meja kayu tua itu berserakan beberapa catatan, secarik
kertas berisi jadwal pelatihan, sebuah buku tentang teknik menulis berita yang
baru ia beli secara online, secangkir kopi yang sudah dingin sejak dua jam
lalu, dan ponsel yang sejak sore tidak berhenti berbunyi.
Pesan WhatsApp terus berdatangan.
Dari sepuluh desa yang berbeda.
Dari para admin desa yang kini mulai aktif bertanya.
Dari para kepala desa yang terus memberi semangat.
Asal Mula Sebutan "Legenda"
Semua itu berawal dari sebuah pelatihan sederhana.
Dua minggu setelah Pak Hadi menelepon, pelatihan admin desa
akhirnya terlaksana. Bertempat di Aula Kecamatan yang cukup besar, acara itu
dihadiri oleh 25 peserta—admin website dari sepuluh desa mitra Arman, plus
beberapa desa lain yang mendengar kabar dan meminta izin untuk ikut.
Arman berdiri di depan ruangan dengan perasaan campur aduk.
Jantungnya berdebar kencang, hampir seperti mau melompat keluar dari dada.
Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Ia memandangi wajah-wajah muda di
hadapannya—rata-rata berusia 20-30 tahun, lebih muda darinya—yang menatapnya
dengan penuh rasa ingin tahu.
Pak Hadi membuka acara dengan sambutan singkat.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, khususnya para admin website
desa. Hari ini kita akan belajar dari seorang yang luar biasa. Beliau adalah
orang yang selama ini menulis artikel di website desa kita. Beliau adalah
Arman, dari Desa Sido Mukti."
Beberapa peserta bertepuk tangan. Arman tersenyum canggung.
Pak Hadi melanjutkan. "Saya ingin bercerita sedikit.
Dulu, website desa kami kosong melompong. Tidak ada berita, tidak ada kegiatan,
tidak ada apa-apa. Lalu saya kenal Pak Arman. Dengan kemampuan sederhana,
beliau mulai menulis untuk desa kami. Kini, website kami penuh dengan berita.
Dan yang lebih penting, Pak Arman tidak hanya menulis, tapi juga secara tidak
langsung mengajari admin kami."
Arman menunduk malu. Pujian seperti ini selalu membuatnya
tidak nyaman.
"Karena itu, saya minta kepada Bapak Arman, sudilah
kiranya berbagi pengalaman dengan para admin desa kita. Silakan, Pak
Arman."
Arman berjalan ke depan, berdiri di samping podium
sederhana. Ia membuka laptopnya, menyambungkannya ke proyektor, lalu mulai
berbicara dengan suara yang agak bergetar.
"Assalamualaikum... selamat pagi semuanya."
"Waalaikumsalam," jawab para peserta kompak.
Arman menarik napas dalam-dalam. "Saya mau jujur dari
awal. Saya ini bukan siapa-siapa. Saya cuma lulusan SMA. Saya tidak pernah
sekolah jurnalistik. Saya bahkan tidak bisa mengetik dengan cepat."
Beberapa peserta tersenyum, ada yang saling berpandangan.
"Yang bisa saya lakukan hanya satu: mengetik di
Microsoft Word. Itu pun pakai dua jari."
Arman menunjukkan tangannya, menggerakkan dua jari telunjuk
seperti sedang mengetik. Peserta tertawa.
"Tapi dari situlah semuanya dimulai. Saya belajar dari
nol. Saya membaca artikel orang lain. Saya belajar dari kesalahan. Saya terus
menulis, meskipun awalnya jelek."
Seorang peserta, perempuan muda berjilbab, mengangkat
tangan. "Pak Arman, berapa lama Bapak belajar sampai bisa menulis seperti
sekarang?"
Arman berpikir sejenak. "Saya masih belajar sampai
sekarang. Setiap artikel adalah proses belajar. Tapi kalau ditanya kapan mulai
bisa... mungkin setelah setahun menulis rutin."
"Setahun?" seru beberapa peserta.
Arman mengangguk. "Iya. Setahun. Selama setahun itu,
saya menulis hampir setiap hari. Kadang bagus, kadang jelek, kadang banyak yang
baca, kadang sepi. Tapi saya tidak berhenti."
Pak Hadi dari kursi paling depan ikut berkomentar.
"Itulah kuncinya, teman-teman. Konsistensi."
Pelatihan itu berlangsung selama tiga jam. Arman
mengajarkan dasar-dasar menulis berita: 5W+1H, cara membuat judul yang menarik,
cara memilih foto yang bagus, cara menyusun paragraf yang enak dibaca.
Sesi tanya jawab berlangsung meriah. Para admin desa
bertanya macam-macam:
·
"Pak, kalau bingung
mulai nulis dari mana?"
·
"Pak, foto yang
bagus itu yang seperti apa?"
·
"Pak, bagaimana
cara biar artikelnya banyak yang baca?"
·
"Pak, kalau kepala
desa minta nulis berita yang tidak benar, gimana?"
Arman menjawab satu per satu dengan sabar, dengan gaya
khasnya yang sederhana dan jujur.
Di akhir sesi, seorang peserta, pemuda bernama Riko dari
Desa Bukit Lestari, berdiri dan berkata dengan suara lantang.
"Pak Arman, saya mau bilang sesuatu."
Arman menatapnya, agak tegang. "Silakan."
Riko tersenyum lebar. "Pak Arman, Bapak ini
legenda."
Ruangan langsung riuh. Beberapa peserta bertepuk tangan,
yang lain bersorak.
"Legenda kontributor website desa!" teriak yang
lain.
Arman tersipu malu. "Waduh, jangan begitu. Saya biasa
saja."
Tapi para peserta tidak peduli. Mereka terus bersorak,
meneriakkan "Legenda! Legenda! Legenda!"
Sejak saat itu, sebutan "Sang Legenda Kontributor
Desa" melekat pada diri Arman.
Sejak pelatihan itu, nama Arman mulai dikenal lebih luas.
Bukan hanya di kalangan sepuluh desa mitranya, tetapi juga
di desa-desa lain yang adminnya ikut pelatihan. Mereka pulang ke desa masing-masing
dengan semangat baru, dan mereka selalu menyebut-nyebut nama Arman sebagai
inspirasi.
Artikel-artikel yang ditulis Arman semakin banyak dibaca
orang.
Berita tentang:
·
musyawarah desa
·
pembangunan jalan desa
·
penyaluran Dana Desa
·
penggunaan Alokasi Dana
Desa
·
kegiatan posyandu
·
pelatihan kelompok tani
·
hingga kisah-kisah
inspiratif warga desa
menjadi bahan bacaan banyak orang.
Tidak hanya warga desa, tetapi juga:
·
perangkat desa dari
daerah lain
·
pendamping desa dari
kabupaten
·
mahasiswa yang melakukan
penelitian
·
akademisi yang tertarik
dengan isu-isu desa
·
bahkan beberapa pejabat
di dinas pemberdayaan masyarakat.
Suatu hari, Arman menerima telepon dari seorang dosen di
sebuah universitas ternama di Kalimantan.
"Selamat pagi, Pak Arman. Saya Dr. Supriyadi dari
Universitas Mulawarman. Saya dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik."
Arman yang menerima telepon itu hampir salah tingkah.
"I-iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya membaca artikel Bapak tentang partisipasi
masyarakat dalam musyawarah desa. Sangat menarik. Analisis Bapak cukup
tajam."
Arman tersenyum gugup. "Terima kasih, Pak. Itu hanya
tulisan sederhana."
"Tidak, tidak. Saya serius. Saya ingin mengundang
Bapak menjadi pembicara dalam seminar nasional kami bulan depan."
Arman terkejut. "Seminar nasional? Saya?"
"Iya. Temanya 'Digitalisasi Desa dan Partisipasi
Masyarakat'. Saya rasa pengalaman Bapak sangat relevan."
Arman terdiam cukup lama. Pikirannya berkecamuk. Seminar
nasional? Berbicara di depan dosen-dosen dan mahasiswa? Ia, lulusan SMA?
"Pak... saya hanya lulusan SMA," katanya jujur.
Dr. Supriyadi tertawa di seberang sana. "Pak Arman,
ijazah tidak menentukan segalanya. Pengalaman Bapak lebih berharga dari sekadar
gelar. Bapak praktisi langsung, bukan teoritisi. Itu yang kami butuhkan."
Arman masih ragu. "Boleh saya pikir dulu, Pak?"
"Tentu. Tapi tolong jangan terlalu lama. Acaranya
sudah dekat."
Setelah telepon itu, Arman menceritakan semuanya kepada
Sari.
Sari yang sedang menyiapkan makan malam, berhenti sejenak
dan menatap suaminya dengan bangga.
"Mas, ini luar biasa."
"Luar biasa atau menakutkan?"
"Dua-duanya. Tapi lebih banyak luar biasanya."
Arman menghela napas. "Saya takut tidak bisa, Ni.
Seminar nasional, isinya orang-orang pintar."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, ingat waktu
pelatihan admin desa dulu? Mas juga takut. Tapi ternyata bisa."
"Iya, tapi itu beda."
"Tidak beda, Mas. Sama-sama bicara di depan orang.
Hanya skalanya yang lebih besar."
Arman merenung.
Sari melanjutkan. "Mas, ini kesempatan. Mas bisa
berbagi pengalaman dengan lebih banyak orang. Mungkin ada yang terinspirasi
seperti Mas dulu."
Arman tersenyum. "Kamu ini selalu bisa membesarkan
hati saya."
"Itu tugas istri, Mas."
Malam itu, Arman mengambil keputusan. Ia akan menerima
undangan seminar nasional.***
Di balik semua kesibukan dan popularitas yang mulai datang,
ada perubahan besar yang mulai dirasakan keluarganya.
Suatu malam, ketika Arman sedang asyik menulis, Sari masuk
ke ruang kerja kecil di sudut rumah dengan membawa secangkir teh hangat.
"Mas, masih menulis?"
Arman mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Iya, Ni. Ini berita pembangunan jembatan Desa Harapan Jaya."
Sari meletakkan teh di samping laptop. Ia duduk di kursi
kecil di sebelah Arman.
"Mas, saya mau ngomong."
Arman menoleh. "Ada apa, Ni?"
Sari tersenyum. "Mas tahu, uang yang dari desa-desa
itu kemarin sudah masuk lagi."
"Oh iya? Berapa?"
"Lumayan. Bulan ini lebih besar dari biasanya."
Arman tersenyum. "Alhamdulillah."
Sari memandangi suaminya dengan penuh rasa sayang.
"Mas, dulu kita susah banget. Mas ingat? Waktu anak pertama mau masuk SD,
kita bingung cari uang untuk beli seragam."
Arman mengangguk, matanya sedikit berkaca-kaca. "Iya,
saya ingat."
"Sekarang, alhamdulillah, semuanya tercukupi. Anak
bisa sekolah, rumah bisa diperbaiki sedikit-sedikit, kita bisa makan enak
setiap hari."
Arman meraih tangan istrinya. "Itu semua berkat kamu
juga, Ni. Kamu yang selalu mendukung saya."
Sari menggeleng. "Bukan, Mas. Itu berkat kerja keras
Mas. Saya cuma di belakang, masak, nyuci, jaga anak."
"Tanpa kamu di belakang, saya tidak akan bisa
maju."
Mereka berdua diam sejenak, menikmati kebersamaan di tengah
malam yang sunyi.
Sari kemudian berkata, "Mas, saya bangga sama
Mas."
"Bangga kenapa?"
"Mas tidak berubah. Mas tetap Arman yang sederhana,
meskipun sekarang sudah dikenal orang."
Arman tersenyum. "Saya memang tidak berubah, Ni. Saya
tetaplah Arman yang hanya bisa ngetik dua jari."
"Itu yang membuat saya bangga."
Namun di balik keberhasilan itu, ada sesuatu yang perlahan
mulai terasa berat.
Rutinitas Arman semakin padat.
Setiap hari, ia harus menulis berita dari sepuluh desa.
Pagi hari, pukul 05.30, ia sudah bangun. Setelah shalat
Subuh, ia langsung membuka ponsel, membaca pesan-pesan yang masuk semalam.
Biasanya sudah ada 10-15 pesan menunggu.
Pukul 06.30, ia mulai menulis artikel pertama. Biasanya
untuk desa yang paling pagi mengirim data.
Pukul 07.30, ia mandi, sarapan, lalu berangkat ke kantor
desa.
Pukul 08.00-12.00, ia bekerja di kantor desa Sido Mukti. Di
sela-sela pekerjaan, ia menyempatkan membuka laptop dan melanjutkan menulis
jika ada waktu luang.
Pukul 12.00-13.00, istirahat, shalat Dzuhur, makan siang.
Kadang sambil makan, ia masih membaca pesan.
Pukul 13.00-16.00, kembali bekerja di kantor. Setelah jam
kantor selesai, ia biasanya masih bertahan 1-2 jam untuk menyelesaikan artikel.
Pukul 16.00, pulang, shalat Ashar, istirahat sejenak.
Pukul 17.00-19.00, waktu untuk keluarga. Bermain dengan
anak, ngobrol dengan Sari, membantu pekerjaan rumah.
Pukul 19.00-20.00, shalat Maghrib dan Isya, makan malam.
Pukul 20.00-23.00, waktu utama menulis artikel. Ini adalah
jam-jam paling produktif. Biasanya ia bisa menyelesaikan 3-5 artikel dalam
rentang waktu ini.
Pukul 23.00-00.00, menyelesaikan artikel yang belum
selesai, membalas pesan, merencanakan jadwal besok.
Pukul 00.00, tidur (jika tidak ada keperluan mendesak).
Rutinitas ini ia jalani hampir setiap hari, tujuh hari
seminggu, tanpa libur.
Suatu malam, ketika sedang menulis, Arman tiba-tiba
merasakan pusing yang luar biasa. Pandangannya berkunang-kunang. Ia memegangi
kepalanya, mencoba menenangkan diri.
Sari yang kebetulan lewat melihat kejadian itu. "Mas,
kenapa? Kok pucat?"
Arman menggeleng lemah. "Pusing, Ni. Tiba-tiba."
Sari segera mengambil air minum. "Minum dulu, Mas.
Istirahat."
Arman minum, lalu merebahkan diri di kursi. Matanya
terpejam.
Sari memijat pelipis suaminya dengan lembut. "Mas,
kamu terlalu capek. Setiap hari nulis terus, begadang terus."
Arman membuka matanya. "Tidak apa-apa, Ni. Ini
tanggung jawab."
"Tanggung jawab boleh, tapi kesehatan nomor satu.
Kalau Mas sakit, sepuluh desa itu bagaimana?"
Arman tersenyum lemah. "Kamu benar."
"Mas, tolong kurangi sedikit. Mungkin nggak usah nulis
sampai tengah malam setiap hari."
Arman menghela napas. "Tapi kalau tidak selesai malam,
besok numpuk."
"Ya diatur. Yang penting Mas istirahat cukup."
Arman memegang tangan istrinya. "Baik, Ni. Saya
usahakan."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Arman
tidur sebelum pukul 22.00.
Seiring dengan popularitas yang meningkat, tuntutan terhadap
Arman juga semakin tinggi.
Setiap desa ingin websitenya selalu update.
Setiap kepala desa ingin desanya terlihat aktif.
Setiap admin desa ingin artikelnya segera tayang.
Jika dua hari saja tidak ada berita baru di suatu desa,
pesan akan datang.
"Pak
Arman, website kami kok sepi?"
"Pak Arman, tolong segera update."
"Pak Arman, ada kegiatan baru hari ini."
"Pak Arman, artikel kemarin sudah dibaca berapa orang?"
Arman hanya bisa tersenyum setiap kali membaca pesan-pesan
itu. Kadang ia bercanda pada dirinya sendiri.
"Sepertinya saya sudah jadi wartawan desa keliling...
hanya saja kelilingnya lewat laptop."
Suatu hari, ia menerima telepon dari Pak Suroto, Kepala
Desa Bukit Lestari.
"Pak Arman, selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak Suroto. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Arman, saya mau minta tolong. Minggu depan desa
kami kedatangan tim verifikasi lomba desa. Tolong website kami dibuat ramai
seminggu ini."
Arman mengerutkan dahi. "Ramai bagaimana, Pak?"
"Ya, artikelnya banyak. Setiap hari minimal satu. Biar
kelihatan desa kami aktif."
Arman menghela napas dalam hati. Tuntutan seperti ini
semakin sering ia terima.
"Baik, Pak. Saya usahakan."
"Terima kasih, Pak Arman. Saya percaya sama
Bapak."
Telepon ditutup. Arman menatap laptopnya dengan perasaan
campur aduk. Ia senang dipercaya, tapi juga lelah dengan tuntutan yang semakin
tinggi.
Di tengah tekanan itu, Arman selalu bisa mengandalkan
teman-temannya.
Pak Darso, sahabat sejati di kantor desa, selalu ada dengan
candaan-candaannya yang menghibur.
Suatu siang, ketika Arman sedang lelah menulis, Pak Darso
mendekat dengan cangkir kopinya.
"Man, lagi stres?"
Arman tersenyum lelah. "Sedikit, Pak."
"Stres karena apa?"
"Banyak tuntutan. Setiap desa minta ini-itu."
Pak Darso mengangguk-angguk. "Man, kamu ini seperti
kue lapis."
Arman bingung. "Maksudnya, Pak?"
"Kue lapis itu makin lama makin laris. Kalau sudah
laris, banyak yang minta. Tapi kalau kebanyakan minta, bisa hancur."
Arman tertawa. "Jadi saya harus jaga diri?"
"Iya. Jangan sampai hancur karena kebanyakan permintaan."
"Terima kasih, Pak. Nasihat Bapak selalu unik."
"Makanya saya jadi Pak Darso. Kalau jadi orang lain,
nasihatnya biasa-biasa aja."
Mereka berdua tertawa.***
Suatu sore, Arman kedatangan tamu tak terduga.
Tiga orang pemuda datang ke rumahnya. Mereka adalah Riko
dari Bukit Lestari, Lina dari Mekar Sari, dan Budi dari Maju Bersama—tiga admin
desa yang pernah ikut pelatihannya.
"Wah, kalian? Ada apa?" sapa Arman heran.
Riko tersenyum lebar. "Kami sowan, Pak. Ingin
silaturahmi."
Arman mempersilakan mereka masuk. Sari menyuguhkan minuman.
Setelah basa-basi, Riko berkata, "Pak Arman, kami mau
ngomong sesuatu."
"Silakan."
Riko menatap dua temannya, lalu kembali ke Arman. "Pak
Arman, kami mau berterima kasih."
"Terima kasih? Untuk apa?"
Lina menjawab. "Untuk pelatihan kemarin. Kami jadi
lebih paham cara nulis berita."
Budi menambahkan. "Sekarang saya sudah berani nulis
sendiri, Pak. Nggak selalu minta bantuan Bapak."
Arman tersenyum bangga. "Wah, bagus dong. Itu yang
saya harapkan."
Riko melanjutkan. "Pak Arman, kami juga mau bilang,
Bapak itu inspirasi buat kami."
Arman tersipu. "Ah, masa?"
"Iya. Bapak memulai dari nol, dari yang tidak bisa
apa-apa, sekarang jadi legenda. Itu luar biasa."
Arman menghela napas. "Dengar, nak. Saya bukan
legenda. Saya cuma orang biasa yang kebetulan suka menulis."
"Tapi Bapak menginspirasi banyak orang, Pak."
"Itu bukan saya. Itu Allah yang menggerakkan hati
orang. Saya cuma alat."
Mereka mengobrol panjang lebar. Tentang desa, tentang
website, tentang mimpi-mimpi masa depan.
Sebelum pulang, Riko berkata, "Pak Arman, doakan kami
ya. Semoga bisa seperti Bapak."
Arman meletakkan tangannya di bahu Riko. "Kalian akan
lebih baik dari saya. Saya yakin itu."
Hari-hari berlalu. Nama Arman semakin dikenal.
Di berbagai pertemuan desa, di berbagai diskusi kelompok,
namanya sering disebut.
"Kamu
tahu Arman? Kontributor website desa itu?"
"Yang nulis artikel di mana-mana?"
"Iya, itu. Dia hebat."
Tapi di rumahnya yang sederhana, Arman tetaplah orang yang
sama.
Ia
masih duduk di kursi kayu yang sama.
Masih menulis di laptop lama yang sama.
Masih minum kopi dari gelas keramik yang sama.
Masih ditemani Sari yang setia.
Hanya saja sekarang, tanggung jawabnya jauh lebih besar.***
Malam semakin larut.
Arman kembali membuka laptopnya setelah shalat Isya. Sebuah
pesan baru masuk di WhatsApp.
Dari kepala desa lain—desa yang belum pernah bekerja sama
dengannya.
"Assalamualaikum Pak Arman. Saya Kepala Desa Sumber
Makmur dari kabupaten tetangga. Saya mendengar nama Bapak dari teman-teman.
Apakah Bapak bersedia membantu website desa kami?"
Arman membaca pesan itu. Ini adalah desa ke-11 yang
menawarkan kerja sama.
Ia menarik napas panjang.
Sebelas desa.
Bisakah ia menangani sebanyak itu?
Lalu ia teringat kata-kata Pak Darso: "Kue lapis makin
laris, tapi jangan sampai hancur."
Ia harus bijak. Ia harus menjaga keseimbangan.
Arman mulai mengetik balasan.
"Waalaikumsalam. Terima kasih atas tawarannya. Sebelum
saya memutuskan, boleh saya tahu dulu kondisi website desa Bapak dan apa saja
yang Bapak butuhkan?"
Ia kirim pesan itu, lalu menatap layar laptopnya.
Perjalanan sebagai Sang Legenda Kontributor Website Desa
masih jauh dari selesai.
Dan tantangan yang lebih besar mungkin sudah menunggu di
depan.
Tapi Arman siap.
Karena ia tahu, di belakangnya ada Sari yang selalu
mendukung, ada Pak Darso yang selalu menghibur, ada para kepala desa yang
percaya, dan ada generasi baru admin desa yang mulai belajar.
Ia tidak sendiri.
Dan dengan keyakinan itu, ia terus melangkah.
BAB IX
GENERASI BARU ADMIN DESA
Ketika Murid-Murid Mulai Melampaui Gurunya
Pagi itu, suasana Balai Desa Sido Mukti terlihat berbeda
dari biasanya.
Matahari baru saja naik di ufuk timur, menyinari halaman
balai desa dengan cahaya keemasan yang hangat. Embun pagi masih membasahi
dedaunan di sekitar halaman, dan burung-burung berkicau riang di pohon mangga
besar yang tumbuh di pojok halaman.
Di ruang pertemuan yang biasanya digunakan untuk musyawarah
desa, kini duduk belasan anak muda desa dengan membawa laptop, buku catatan,
tablet, dan ponsel pintar di tangan mereka. Suara ketukan keyboard, dering
ponsel, dan bisik-bisik percakapan bercampur menjadi satu, menciptakan suasana
yang hidup dan penuh semangat.
Sebagian dari mereka terlihat antusias, matanya
berbinar-binar menanti apa yang akan disampaikan. Sebagian lagi terlihat gugup,
jari-jari mereka gelisah memainkan pulpen atau menggulung ujung kertas catatan.
Di
dinding ruangan, terpampang spanduk sederhana namun cukup besar, bertuliskan:
"PELATIHAN
LANJUTAN ADMIN WEBSITE DESA
Meningkatkan Kualitas Konten dan Manajemen Website
Desa Sido Mukti, 15-16 Februari 2023"
Di sudut ruangan, sebuah meja panjang dilengkapi dengan dua
termos besar berisi kopi dan teh, lengkap dengan gelas-gelas plastik dan
camilan tradisional seperti pisang goreng, ubi rebus, dan kue lapis.
Di depan ruangan berdiri seorang pria sederhana dengan
kemeja lengan panjang batik warna coklat muda, dipadukan celana bahan hitam,
dan sepatu pantofel yang sudah agak usang namun tetap kinclong karena rutin
disemir.
Dialah Arman.
Sang legenda kontributor yang selama ini mengisi berita
untuk sepuluh website desa.
Namun pagi itu, perannya tidak lagi hanya sebagai penulis
atau kontributor. Ia berdiri di depan mereka sebagai mentor, sebagai guru,
sebagai inspirasi.
Ini adalah pelatihan lanjutan yang kedua. Jika pelatihan
pertama setahun lalu lebih fokus pada dasar-dasar menulis berita, pelatihan
kali ini lebih mendalam: teknik wawancara, fotografi jurnalistik, manajemen
website, dan yang terpenting—bagaimana membangun kepercayaan masyarakat melalui
website desa.
Program regenerasi admin desa sebenarnya sudah dirancang
sejak setahun lalu, setelah pelatihan pertama yang sukses besar.
Para kepala desa, dalam pertemuan rutin mereka, menyadari
bahwa ketergantungan pada Arman terlalu besar. Jika suatu saat Arman berhenti
atau sakit, website desa mereka bisa lumpuh total.
"Kita tidak bisa selamanya bergantung pada
Arman," kata Pak Hadi dalam pertemuan itu. "Dia membantu kita
memulai, tapi desa harus bisa mandiri."
Pak Suroto mengangguk setuju. "Betul. Kita harus siapkan
generasi penerus."
Pak Rahman menimpali. "Website desa harus dikelola
oleh orang desa sendiri. Mereka yang paling tahu kondisi desa."
Pak Bambang menambahkan sambil tersenyum. "Apalagi
sekarang banyak anak muda yang pintar teknologi. Mereka lebih cepat belajar
daripada kita-kita ini."
Bu Dewi ikut bicara. "Tapi mereka perlu bimbingan.
Mereka punya semangat, tapi belum punya pengalaman."
Dari diskusi itulah muncul keputusan penting: setiap desa
harus memiliki minimal dua admin website yang aktif. Mereka akan direkrut dari
kalangan pemuda-pemudi desa, dilatih secara intensif, dan didampingi hingga
benar-benar siap mandiri.
Dan orang yang diminta menjadi pembimbing utama mereka,
tentu saja, Arman.
"Kamu yang paling tahu soal ini, Man," kata Pak
Rahmat ketika menyampaikan keputusan itu. "Kamu yang memulai semuanya.
Sekarang waktunya kamu melahirkan generasi penerus."
Arman yang mendengar itu sempat ragu. "Tapi Pak, saya
sendiri masih belajar."
"Justru itu. Kamu yang paling tahu proses belajar.
Kamu bisa membimbing mereka melewati apa yang sudah kamu lalui."
Akhirnya, Arman menerima tugas baru itu dengan perasaan
campur aduk. Bangga karena dipercaya, tapi juga berat karena ini tanggung jawab
besar.
Arman berdiri di depan ruangan sambil memandang para
peserta pelatihan.
Ada sekitar dua puluh anak muda dari sepuluh desa
mitra—masing-masing desa mengirim dua orang. Usia mereka rata-rata antara 18
sampai 28 tahun. Beberapa di antaranya masih mahasiswa semester akhir, beberapa
sudah bekerja, dan beberapa lainnya fresh graduate yang belum mendapat
pekerjaan tetap.
Mereka datang dengan latar belakang pendidikan yang
beragam: ada yang lulusan SMK jurusan multimedia, ada yang kuliah di jurusan
komunikasi, ada yang belajar otodidak tentang desain grafis, dan ada pula yang benar-benar
awam tentang dunia tulis-menulis.
Namun mereka punya satu kesamaan: semangat untuk memajukan
desa mereka melalui teknologi informasi.
Arman tersenyum. "Selamat pagi semuanya."
"Selamat pagi, Mas Arman!" jawab mereka hampir
bersamaan, dengan suara kompak yang membuat Arman terkejut.
Arman tertawa kecil. "Wah... kompak sekali. Kalian
sudah latihan sebelumnya?"
Seorang pemuda di barisan depan, yang tidak lain adalah
Riko dari Desa Bukit Lestari, menjawab dengan semangat. "Kami sudah siap,
Mas! Kami sudah tidak sabar belajar dari legenda!"
Arman menggeleng-geleng sambil tersenyum. "Riko, kamu
ini... sudah saya bilang jangan panggil saya legenda."
Riko tetap bergeming. "Tapi Mas Arman legenda bagi
kami. Mau tidak mau, itu fakta."
Peserta lain tertawa. Suasana ruangan langsung hangat.
Arman menghela napas pasrah. "Baiklah, terserah
kalian. Yang penting kita belajar bersama."
Sebelum memulai materi, Arman meminta semua peserta
memperkenalkan diri. Bukan sekadar nama dan asal desa, tapi juga alasan mereka
tertarik menjadi admin website desa.
Giliran pertama, seorang pemuda berkacamata tebal dengan
kemeja flanel berdiri.
"Nama saya Andi, dari Desa Karya Mandiri. Saya lulusan
SMK Multimedia. Alasan saya ikut pelatihan ini karena saya ingin desa saya
dikenal banyak orang lewat internet. Selama ini, potensi desa kami besar, tapi
tidak banyak yang tahu."
Arman mengangguk. "Bagus, Andi. Semangat."
Giliran kedua, seorang perempuan muda berjilbab pink dengan
senyum manis.
"Nama saya Lina, dari Desa Mekar Sari. Saya mahasiswa
semester akhir jurusan Komunikasi. Saya ingin belajar menulis berita yang baik,
karena selama ini di kampus lebih banyak teori. Saya ingin praktik
langsung."
Arman tersenyum. "Lina, ini kesempatan bagus buat
kamu. Praktik langsung di desa itu pengalaman berharga."
Giliran ketiga, seorang pemuda bertubuh agak gemuk dengan
rambut agak panjang.
"Nama saya Budi, dari Desa Maju Bersama. Saya... jujur
saja, saya tidak punya latar belakang menulis. Saya lulusan SMA, kerja
serabutan. Tapi kepala desa saya menyuruh saya ikut pelatihan ini. Katanya,
'Kamu muda, harus belajar.'"
Beberapa peserta tertawa. Budi tersenyum malu.
Arman menatap Budi dengan hangat. "Budi, kamu tahu?
Dulu saya juga tidak punya latar belakang menulis. Saya cuma lulusan SMA, kerja
biasa. Tapi saya belajar. Dan sekarang saya bisa menulis untuk sepuluh
desa."
Budi menatap Arman dengan mata berbinar. "Serius,
Mas?"
"Serius. Jadi jangan berkecil hati. Yang penting mau
belajar."
Budi mengangguk semangat. "Siap, Mas! Saya akan
belajar sungguh-sungguh."
Perkenalan berlanjut. Satu per satu peserta bercerita
tentang latar belakang dan mimpi mereka. Arman mendengarkan dengan saksama,
sesekali memberi komentar atau semangat.
Ada cerita tentang Rina dari Desa Harapan Jaya yang ingin
membuat majalah desa digital. Ada cerita tentang Joko dari Desa Tani Makmur
yang bercita-cita menjadi wartawan. Ada cerita tentang Siti dari Desa Sungai
Harapan yang ingin mempromosikan produk UMKM desanya lewat website.
Setelah semua memperkenalkan diri, Arman berdiri di depan
dengan perasaan haru.
"Kalian tahu?" katanya. "Mendengar cerita
kalian, saya jadi ingat diri saya dulu. Saya juga punya mimpi, tapi tidak tahu
cara mewujudkannya. Saya juga pernah bingung, takut, ragu."
Semua peserta diam, memperhatikan.
"Tapi saya bersyukur, ada orang-orang yang membantu
saya. Pak Rahmat yang memberi kepercayaan, Pak Darso yang selalu menyemangati
dengan candaannya, Pak Hadi yang merekomendasikan saya ke desa lain, dan yang
paling penting, istri saya yang selalu mendukung."
Arman berhenti sejenak, mengatur emosi.
"Sekarang, giliran saya untuk membantu kalian. Saya
akan berbagi apa yang saya tahu. Tapi ingat, pada akhirnya, kalian sendiri yang
harus berjuang. Saya hanya membuka pintu. Kalian yang harus melangkah
masuk."
Ruangan hening beberapa detik. Lina, peserta dari Mekar
Sari, tiba-tiba bertepuk tangan. Yang lain mengikuti. Tepuk tangan menggema di
ruangan itu, penuh semangat dan haru.
Setelah sesi perkenalan, Arman memulai materi pertama:
dasar-dasar menulis berita yang menarik.
Ia menyalakan proyektor, menampilkan slide sederhana yang
ia buat sendiri dengan bantuan Sari. Tidak ada animasi canggih, tidak ada
desain grafis yang memukau. Hanya tulisan hitam di atas latar putih, dengan
beberapa gambar ilustrasi.
"Menulis berita desa itu sebenarnya sederhana,"
kata Arman sambil menunjuk layar. "Kalian hanya perlu menjawab enam
pertanyaan dasar."
Di layar muncul:
5W + 1H
·
What (Apa)
·
Who (Siapa)
·
When (Kapan)
·
Where (Di mana)
·
Why (Mengapa)
·
How (Bagaimana)
Arman menjelaskan satu per satu dengan bahasa sederhana dan
contoh-contoh konkret dari pengalamannya.
"Misalnya, kita mau nulis berita tentang gotong
royong. Kita harus jawab: Apa kegiatannya? Gotong royong. Siapa yang ikut?
Warga RT 02. Kapan dilaksanakan? Hari Minggu kemarin. Di mana? Di lingkungan RT
02. Mengapa diadakan? Karena banyak selokan tersumbat. Bagaimana
pelaksanaannya? Lancar, diikuti 50 orang, selesai jam 12 siang."
Riko mengangkat tangan. "Mas, kalau sudah dapat semua
jawabannya, bagaimana cara merangkainya jadi berita?"
Arman tersenyum. "Nah, itu pertanyaan bagus. Kalian
rangkai seperti bercerita. Mulai dari yang paling penting."
Ia menampilkan contoh struktur berita:
Piramida Terbalik
·
Paragraf 1: Informasi
paling penting (apa, siapa, kapan, di mana)
·
Paragraf 2-3: Informasi
pendukung (mengapa, bagaimana, detail kegiatan)
·
Paragraf 4: Informasi
tambahan (kesan pesan, rencana ke depan)
"Bayangkan kalian punya beras satu karung. Kalian
tumpahkan ke lantai. Yang paling besar dan berat akan jatuh paling bawah?
Salah. Dalam berita, yang paling penting justru di atas."
Semua peserta tertawa dengan analogi sederhana itu.
Budi, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berseru. "Oh,
jadi gitu! Saya baru paham sekarang. Dulu saya bingung, kok artikel Mas Arman
enak dibaca. Ternyata ada triknya."
Arman tertawa. "Bukan trik, Budi. Ini teknik dasar
jurnalistik. Tapi saya juga belajar dari membaca."
Setelah teori, Arman memberikan sesi praktik. Ia membagikan
data mentah berupa foto-foto kegiatan dan catatan singkat tentang sebuah acara
di Desa Sido Mukti: peresmian sumur bor untuk warga RT 05.
"Kalian punya waktu 30 menit. Buatlah artikel berita
dari data ini. Boleh diskusi dengan teman sebangku. Setelah selesai, kita bahas
bersama."
Suasana ruangan langsung berubah. Peserta sibuk membuka
laptop, memilih foto, dan mulai mengetik. Ada yang serius menatap layar, ada
yang berbisik-bisik dengan teman, ada yang mengernyitkan dahi kebingungan.
Arman berkeliling, mengamati satu per satu. Sesekali ia
berhenti di belakang peserta, melihat tulisannya, lalu memberi komentar pelan.
"Bagus,
sudah mulai."
"Judulnya coba buat lebih menarik."
"Foto itu bagus, dipakai saja."
"Jangan lupa caption fotonya."
Ketika sampai di belakang Budi, Arman melihat layar laptop
peserta itu. Budi baru menulis dua kalimat. Tangannya gemetar di atas keyboard.
"Budi, kenapa?" tanya Arman lembut.
Budi menoleh dengan wajah cemas. "Mas, saya bingung.
Saya tidak bisa."
Arman duduk di sampingnya. "Coba ceritakan, apa yang
membuat bingung?"
Budi menghela napas. "Saya takut tulisannya jelek.
Takut salah."
Arman tersenyum. "Budi, dengar. Saya juga dulu begitu.
Takut salah, takut jelek. Tapi kalau terus takut, kapan bisanya?"
Budi diam.
"Coba tulis saja dulu. Jelek tidak apa-apa. Nanti kita
perbaiki bersama. Yang penting ada dulu tulisannya."
Budi mengangguk, lalu mulai mengetik lagi. Perlahan,
kalimat demi kalimat mulai terbentuk.
Arman mengamati dari samping, sesekali membisikkan saran.
"Bagus. Terus. Tambahin foto itu."
30 menit berlalu. Arman meminta beberapa peserta membacakan
hasil tulisannya.
Riko maju lebih dulu. Ia membacakan artikelnya dengan
percaya diri:
"Warga RT 05 Bersyukur, Sumur Bor Resmi
Beroperasi"
*SIDO MUKTI - Warga RT 05 Desa Sido Mukti kini tidak perlu
lagi khawatir kekurangan air di musim kemarau. Sumur bor yang dibangun menggunakan
Dana Desa tahap kedua resmi beroperasi, Minggu (12/2/2023).*
Peresmian ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Kepala
Desa Sido Mukti, Rahmat, di lokasi sumur bor. Acara dihadiri oleh perangkat
desa, BPD, dan puluhan warga RT 05.
"Kami sangat bersyukur. Selama ini, kalau musim
kemarau, kami harus antre ambil air di sungai yang jaraknya cukup jauh.
Sekarang, air bisa diambil di sini," ujar Karjo, salah satu warga RT 05.
Pembangunan sumur bor menelan anggaran Rp 45 juta dan
dikerjakan selama dua bulan. Ke depan, desa berencana menambah dua sumur bor
lagi di lokasi lain.
Semua peserta bertepuk tangan. Arman tersenyum bangga.
"Bagus, Riko. Strukturnya benar, informasinya lengkap.
Ada kutipan warga, ada data anggaran. Ini berita yang baik."
Riko tersenyum lebar. "Terima kasih, Mas. Ini berkat
bimbingan Mas."
Giliran Budi. Dengan gugup, ia maju ke depan. Tangannya
sedikit gemetar memegang kertas print out tulisannya.
Ia membaca dengan suara pelan, tapi cukup jelas:
"Sumur Bor Baru di RT 05"
Hari Minggu kemarin, warga RT 05 senang sekali. Ada acara
peresmian sumur bor baru. Acaranya ramai, banyak yang datang. Pak Kades juga
datang, potong tumpeng. Warga bernama Pak Karjo bilang, selama ini susah air
kalau kemarau. Sekarang sudah ada sumur bor, jadi tidak susah lagi. Sumur bor
ini dibangun pakai uang desa, Rp 45 juta. Semoga desa bisa buat sumur lagi di
tempat lain.
Budi selesai membaca. Ruangan hening beberapa detik. Lalu
Arman mulai bertepuk tangan. Yang lain mengikuti.
"Budi, ini bagus," kata Arman.
Budi terkejut. "Bagus, Mas? Tapi saya lihat tulisan
saya kacau."
"Tidak kacau. Informasinya lengkap. Hanya susunannya
yang perlu diperbaiki. Tapi untuk pertama kali, ini luar biasa."
Budi tersenyum lega. "Terima kasih, Mas."
Arman kemudian membahas bersama-sama, bagaimana memperbaiki
tulisan Budi agar lebih terstruktur. Semua peserta ikut memberi masukan.
Suasana belajar yang hangat dan saling mendukung terasa sekali.
Sesi kedua diisi oleh Heru, admin Desa Karya Mandiri yang
kini sudah cukup mahir fotografi. Arman sengaja mengundangnya untuk berbagi
ilmu, karena ia sadar, dirinya bukan ahli foto.
Heru maju dengan percaya diri. Di tangannya, sebuah kamera
DSLR semi-profesional.
"Teman-teman, foto itu penting. Orang lebih tertarik
melihat gambar daripada membaca teks panjang. Tapi foto juga harus
berkualitas."
Ia menjelaskan dasar-dasar fotografi sederhana:
·
Pencahayaan yang cukup
·
Komposisi yang baik
(rule of thirds)
·
Fokus pada subjek utama
·
Hindari foto goyang
·
Ambil dari berbagai
sudut
"Yang paling penting, tangkap momen. Bukan hanya foto
seremoni, tapi juga foto orang sedang bekerja, sedang tersenyum, sedang
berinteraksi."
Peserta antusias. Mereka bertanya macam-macam, dari teknik
dasar hingga cara mengedit foto dengan ponsel.
Sesi foto berlangsung seru. Heru mempraktikkan cara
mengambil foto yang baik, lalu meminta peserta mempraktikkan dengan ponsel
masing-masing.
Budi, yang tadi kesulitan menulis, ternyata punya bakat
fotografi. Foto-foto yang ia hasilkan cukup bagus, dengan komposisi yang
menarik.
"Wah, Budi, ini bagus!" puji Heru. "Kamu
punya bakat."
Budi tersipu. "Ah, biasa aja."
"Serius. Kalau menulis masih perlu belajar, fotomu
udah oke."
Arman yang mendengar itu tersenyum. Setiap orang punya
kelebihan masing-masing.
Sesi terakhir hari pertama diisi oleh Arman sendiri. Kali
ini tentang manajemen website dan bagaimana berinteraksi dengan masyarakat
melalui kolom komentar.
"Website desa bukan cuma tempat nulis berita,"
kata Arman. "Ini juga ruang interaksi dengan masyarakat. Kalian harus siap
dengan berbagai respons."
Ia bercerita tentang pengalamannya dengan artikel
transparansi anggaran yang sempat menimbulkan kontroversi.
"Ada yang marah, ada yang protes, ada yang minta
artikel ditarik. Itu semua saya hadapi. Yang penting, kita tetap tenang, tetap
profesional."
Lina mengangkat tangan. "Mas, kalau ada komentar
negatif, bagaimana menyikapinya?"
Arman menjawab dengan bijak. "Pertama, jangan langsung
marah. Kedua, baca dengan kepala dingin. Ketiga, lihat apakah komentar itu
membangun atau hanya provokasi. Keempat, balas dengan sopan, jelaskan fakta,
tapi jangan terlibat debat kusir."
"Kalau komentarnya sangat kasar?"
"Kalau sangat kasar, bisa diabaikan. Atau kalau
mengandung fitnah, bisa dilaporkan ke admin. Yang penting, jangan terpancing
emosi."
Riko bertanya lagi. "Mas, bagaimana menjaga
konsistensi? Supaya website tetap update?"
Arman tersenyum. "Ini yang paling sulit. Kuncinya cuma
satu: disiplin. Buat jadwal, tetapkan target, dan jalankan. Misalnya, setiap
Senin harus ada satu artikel. Lama-lama jadi kebiasaan."
Ia melanjutkan. "Saya dulu juga susah konsisten. Tapi
setelah punya target dan jadwal, jadi lebih mudah. Apalagi kalau sudah lihat
respons positif dari pembaca, itu jadi semangat tambahan."
Setelah sesi materi selesai, Arman mengajak semua peserta makan
malam bersama di halaman balai desa. Sari dan beberapa ibu-ibu PKK menyiapkan
hidangan sederhana: nasi liwet, ayam goreng, ikan asin, sambal, dan lalapan.
Suasana santai. Mereka duduk lesehan di atas tikar pandan
yang digelar di halaman. Lampu-lampu hias sederhana menerangi area makan,
menciptakan suasana hangat dan akrab.
Malam itu, tidak ada lagi pembicaraan serius tentang materi
pelatihan. Mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing, tentang
mimpi-mimpi, tentang desa mereka.
Riko bercerita tentang perjuangannya meyakinkan orang tua
bahwa menjadi admin desa adalah pekerjaan yang membanggakan. Lina bercerita
tentang pacarnya yang kurang setuju ia sering lembur di kantor desa. Budi
bercerita tentang usahanya berjualan online yang bangkrut, dan bagaimana ia
kini menemukan semangat baru di dunia website desa.
Arman mendengarkan semua cerita itu dengan penuh perhatian.
Di matanya, anak-anak muda ini adalah masa depan desa. Mereka yang akan
melanjutkan apa yang sudah ia mulai.
Di sela-sela obrolan, Riko tiba-tiba berkata, "Mas
Arman, saya mau ngomong serius."
Semua menoleh. Riko berdiri, mengambil gelas plastik berisi
teh manis.
"Mas Arman, saya mewakili teman-teman, mau mengucapkan
terima kasih."
Arman tersenyum, agak malu.
Riko melanjutkan. "Mas Arman, tanpa Mas, kami mungkin
tidak akan pernah tahu cara menulis berita. Tanpa Mas, website desa kami
mungkin masih kosong. Tanpa Mas, kami mungkin tidak akan pernah bertemu dan
akrab seperti ini."
Beberapa peserta mengangguk, terharu.
"Mas Arman, terima kasih sudah menjadi guru yang
sabar. Terima kasih sudah berbagi ilmu dengan tulus. Kami berjanji, ilmu ini
tidak akan kami sia-siakan. Kami akan terus belajar, terus menulis, terus
memajukan desa kami."
Semua bertepuk tangan. Arman berdiri, matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih, teman-teman. Saya hanya melakukan apa
yang saya bisa. Ilmu ini bukan milik saya. Ini milik kita bersama. Saya senang
kalian mau belajar. Karena pada akhirnya, desa kalian yang akan maju."
Mereka bersulang dengan gelas masing-masing. Malam itu, di
bawah langit desa yang bertabur bintang, terjalin ikatan yang lebih dari
sekadar guru dan murid. Mereka adalah keluarga baru, keluarga digital desa.***
Pagi harinya, mereka praktik langsung ke lapangan. Arman
membagi peserta menjadi lima kelompok, masing-masing ditugaskan meliput
kegiatan di lima lokasi berbeda di Desa Sido Mukti:
1.
Kelompok 1: Kegiatan
posyandu di dusun Krajan
2.
Kelompok 2: Pembangunan
drainase di RT 03
3.
Kelompok 3: Pelatihan
kelompok tani di balai pertemuan
4.
Kelompok 4: Kegiatan
belajar mengajar di PAUD desa
5.
Kelompok 5: Persiapan
lomba desa di kantor desa
Mereka diberi waktu dua jam untuk mengambil foto,
mewawancarai narasumber, dan mengumpulkan data. Setelah itu, kembali ke balai
desa untuk menulis artikel.
Arman berkeliling dari satu lokasi ke lokasi lain,
mengamati, memberi arahan, dan sesekali membantu jika ada kesulitan.
Di posyandu, ia melihat Lina dengan sabar mewawancarai
seorang kader tentang perkembangan balita. Di pembangunan drainase, ia melihat
Riko sibuk mengambil foto dari berbagai sudut, bahkan sampai jongkok di
selokan. Di pelatihan kelompok tani, ia melihat Budi—yang kemarin kesulitan
menulis—dengan percaya diri mewawancarai ketua kelompok tani.
Arman tersenyum. Anak-anak ini cepat belajar.
Dua jam kemudian, mereka kembali ke balai desa.
Masing-masing kelompok sibuk menulis artikel, memilih foto, dan menyusun
laporan.
Arman berkeliling lagi, memberi masukan. Tapi kali ini, ia
lebih banyak diam dan membiarkan mereka bekerja. Sesekali ia hanya mengangguk
atau tersenyum melihat hasil kerja mereka.
Pukul 15.00, semua artikel selesai. Arman meminta setiap
kelompok mempresentasikan hasilnya.
Hasilnya luar biasa.
Kelompok 1 menulis artikel tentang posyandu dengan sangat
informatif, lengkap dengan data jumlah balita dan jenis imunisasi. Kelompok 2
menulis tentang pembangunan drainase dengan foto-foto yang dramatis,
menunjukkan kontras antara kondisi sebelum dan sesudah. Kelompok 3 menulis
tentang pelatihan kelompok tani dengan kutipan-kutipan menarik dari para
petani. Kelompok 4 menulis tentang PAUD desa dengan gaya yang hangat dan
menyentuh. Kelompok 5 menulis tentang persiapan lomba desa dengan sangat
terstruktur dan profesional.
Arman berdiri di depan, memandangi mereka dengan bangga.
"Teman-teman, saya tidak punya kata-kata. Kalian luar
biasa. Dalam dua hari, kalian sudah menunjukkan kemajuan yang luar biasa."
Semua tersenyum bangga.
Arman melanjutkan. "Saya hanya bisa berkata, teruslah
belajar, teruslah menulis. Jangan pernah puas dengan apa yang sudah kalian
capai. Karena selalu ada yang bisa diperbaiki, selalu ada yang bisa
dipelajari."
"Dan ingat, kalian bukan hanya admin website. Kalian
adalah penjaga cerita desa kalian. Kalian adalah saksi sejarah pembangunan
desa. Lewat tulisan kalian, anak cucu kalian nanti akan tahu bagaimana desa ini
dibangun."
Ruangan hening. Haru menyelimuti semua yang hadir.
Riko berdiri. "Mas Arman, satu pertanyaan
terakhir."
"Iya, Riko."
Riko tersenyum lebar. "Mas Arman, setelah ini, apakah
kami sudah bisa disebut legenda seperti Mas?"
Semua tertawa. Arman ikut tertawa.
"Belum, Riko. Masih panjang perjalanan kalian. Tapi
kalau kalian terus belajar dan konsisten, suatu hari nanti, kalian akan
melampaui saya."
"Kami akan buktikan, Mas!"
Sore harinya, acara pelatihan resmi ditutup. Pak Rahmat
datang memberikan sambutan singkat, mewakili para kepala desa yang mendukung
program ini.
"Anak-anakku," kata Pak Rahmat dengan suara
beratnya yang khas. "Kalian adalah harapan desa. Pemerintah desa tidak
bisa bekerja sendiri. Kami butuh kalian, butuh anak-anak muda seperti kalian,
untuk membantu desa maju."
"Website desa adalah salah satu alatnya. Lewat
website, desa kita bisa dikenal. Lewat website, kita bisa transparan. Lewat
website, kita bisa menginspirasi desa lain."
Ia menunjuk Arman. "Lihat Mas Arman. Dulu dia juga
tidak bisa apa-apa. Tapi sekarang, dia sudah menjadi legenda. Bukan karena dia
hebat, tapi karena dia mau belajar dan tidak pernah menyerah."
"Ikuti jejaknya. Jadilah legenda bagi desa kalian
masing-masing."
Tepuk tangan bergemuruh.
Setelah sambutan, Arman membagikan sertifikat kepada semua
peserta. Bukan sertifikat formal, tapi selembar kertas yang ia cetak sendiri,
dengan desain sederhana namun penuh makna.
Di sertifikat itu tertulis:
"Diberikan
kepada: [Nama Peserta]
Sebagai Bukti Keikutsertaan dalam Pelatihan Lanjutan Admin Website Desa
dan Pengakuan atas Dedikasi untuk Memajukan Desa Melalui Informasi
Digital"
Ditandatangani: Arman, Kontributor Website Desa
Satu per satu peserta maju menerima sertifikat. Beberapa
dari mereka memeluk Arman, terharu. Lina menangis haru ketika menerima
sertifikatnya.
"Terima kasih, Mas Arman," bisiknya.
Arman tersenyum. "Terima kasih kembali, Lina. Teruslah
menulis."
Acara ditutup dengan foto bersama. Semua peserta berjejer
di teras balai desa, dengan latar belakang spanduk pelatihan. Arman duduk di
tengah, dikelilingi oleh generasi baru admin desa yang siap melanjutkan
perjuangannya.
Sari, yang sejak tadi membantu di dapur, ikut berfoto. Pak
Darso juga ikut, dengan cangkir kopi setianya.
"Pak Darso, kopinya difoto dong," goda Riko.
Pak Darso mengangkat cangkirnya. "Ini identitas saya.
Tanpa kopi, foto saya tidak sah."
Semua tertawa. Flash kamera menyala, mengabadikan momen
berharga itu.***
Enam bulan setelah pelatihan, perubahan mulai terlihat.
Website desa yang dulu sangat bergantung pada Arman, kini
mulai diisi oleh admin desa masing-masing. Riko di Bukit Lestari sudah bisa
menulis 2-3 artikel per minggu tanpa bantuan Arman. Lina di Mekar Sari bahkan
menciptakan rubrik baru "Profil Warga" yang sangat diminati pembaca.
Budi di Maju Bersama, meskipun tulisannya masih perlu banyak perbaikan, sudah
lebih percaya diri dan rutin mengirim artikel.
Arman masih menulis, tapi tidak lagi sebanyak dulu. Ia
lebih banyak menjadi editor, membaca artikel para admin, memberi masukan, dan
sesekali menulis jika ada kegiatan besar.
Suatu sore, Arman duduk di teras rumahnya sambil membuka
laptop. Ia membuka satu per satu website desa yang dulu ia kelola hampir
sendirian.
Di Desa Sungai Harapan, artikel terbaru ditulis oleh Rudi.
Judulnya: "Warga Sungai Harapan Gotong Royong Bangun Jalan
Lingkungan."
Arman membaca. Tulisannya sudah jauh lebih baik dari
setahun lalu. Strukturnya rapi, fotonya bagus, informasinya lengkap.
"Bagus, Rudi," gumamnya.
Di Desa Bukit Lestari, artikel terbaru ditulis oleh Riko.
Judulnya: "Pemuda Bukit Lestari Gelar Turnamen Sepak Bola Antar RT."
Arman tersenyum. Riko memang paling cepat perkembangannya.
Ia bahkan mulai berani membuat liputan olahraga, yang notabene cukup sulit
karena harus menangkap momen-momen cepat.
Di Desa Mekar Sari, artikel terbaru ditulis oleh Lina.
Judulnya: "Kisah Mbah Karjo, Petani Karet yang Sukses Biayai Kuliah Tiga
Anaknya."
Arman terkesima. Ini artikel feature, bukan sekadar berita
kegiatan. Lina mulai berani menulis kisah inspiratif. Gaya tulisannya hangat
dan menyentuh.
"Mantap, Lina," pujinya dalam hati.
Di Desa Maju Bersama, artikel terbaru ditulis oleh Budi.
Judulnya: "Budi Daya Ikan Lele di Lahan Sempena, Solusi Ketahanan Pangan
Keluarga."
Arman membaca. Tulisannya masih sederhana, tapi jauh lebih
baik dari dulu. Ejaannya sudah benar, strukturnya lumayan, dan fotonya—foto
Budi selalu bagus.
"Budi, kamu hebat. Fotografimu menyelamatkan
tulisammu," gumam Arman sambil tersenyum.
Satu per satu website desa ia buka. Hampir semuanya sudah
aktif dengan artikel dari admin masing-masing. Beberapa masih perlu bimbingan,
tapi secara umum, kemajuan sangat signifikan.
Sari keluar membawa teh hangat. Melihat suaminya
tersenyum-senyum sendiri, ia bertanya.
"Mas, senyum-senyum sendiri? Ada apa?"
Arman menunjuk layar laptop. "Lihat, Ni. Ini artikel
dari Riko, ini dari Lina, ini dari Budi. Mereka sudah bisa nulis sendiri."
Sari membaca beberapa artikel. Ia tersenyum.
"Wah, bagus-bagus. Mas pasti bangga ya?"
Arman mengangguk. "Bangga sekali, Ni. Rasanya...
seperti melihat anak-anak kita tumbuh."
Sari duduk di sampingnya. "Mas, saya juga bangga sama
Mas."
"Bangga kenapa?"
"Mas tidak hanya menulis, tapi juga melahirkan
penulis-penulis baru. Itu lebih berharga."
Arman meraih tangan istrinya. "Terima kasih, Ni. Tanpa
dukunganmu, saya tidak akan sampai di sini."
Mereka berdua diam, menikmati sore yang tenang.***
Hari-hari berikutnya, peran Arman perlahan bergeser.
Jika dulu ia adalah penulis utama untuk sepuluh desa, kini
ia lebih banyak menjadi supervisor, editor, dan motivator.
Setiap hari, ia menerima artikel dari para admin desa
melalui WhatsApp atau email. Ia membaca, memberi masukan, kadang mengedit jika
perlu. Tapi ia selalu berusaha untuk tidak mengubah terlalu banyak. Ia ingin
mereka belajar dari kesalahan, bukan hanya menerima hasil jadi.
Suatu hari, Riko mengirim artikel dengan judul yang agak
bombastis: "Bupati Terkesima dengan Pembangunan Desa Bukit Lestari!"
Arman membaca artikel itu. Isinya sebenarnya biasa saja,
hanya kunjungan biasa. Tapi judulnya terlalu berlebihan.
Ia membalas pesan Riko: "Riko, judulnya terlalu heboh.
Cukup 'Bupati Kunjungi Desa Bukit Lestari, Apresiasi Pembangunan
Infrastruktur'. Yang penting sesuai isi."
Riko membalas cepat. "Iya, Mas. Saya perbaiki. Maaf,
masih suka kelebihan semangat."
Arman tersenyum. "Semangat bagus, tapi tetap
proporsional."
Lain waktu, Lina mengirim artikel tentang kegiatan
posyandu. Isinya bagus, tapi lupa mencantumkan tanggal kejadian.
Arman membalas: "Lina, kapan kegiatannya? Tanggalnya
jangan lupa."
Lina membalas dengan malu-malu. "Aduh, lupa Mas. Nanti
saya tambahkan. Makasih koreksinya."
Budi, yang paling lemah dalam menulis, sering mengirim
artikel dengan ejaan yang kacau. Tapi Arman selalu sabar membetulkan, sambil
memberi penjelasan.
"Budi, ini kata 'di' pisah kalau menunjukkan tempat.
'Di rumah', 'di kantor'. Tapi digabung kalau menunjukkan pasif. 'Dimakan',
'diminum'. Paham?"
Budi membalas. "Paham, Mas. Tapi kadang masih
bingung."
"Tidak apa-apa, pelan-pelan. Yang penting terus menulis."***
Suatu malam, Arman menerima telepon dari Pak Hadi.
"Pak Arman, selamat malam."
"Selamat malam, Pak Hadi. Ada apa?"
"Pak Arman, saya mau lapor. Admin desa kami, Rudi,
sekarang sudah bisa nulis sendiri. Bahkan minggu ini dia nulis tiga artikel tanpa
bantuan siapa pun."
Arman tersenyum. "Alhamdulillah, Pak. Saya senang
mendengarnya."
"Saya telepon bukan cuma lapor, Pak. Saya mau
mengucapkan terima kasih. Atas nama Desa Sungai Harapan, terima kasih sudah
membimbing anak buah kami."
Arman terharu. "Pak Hadi, itu berkat kemauan Rudi
belajar. Saya cuma membantu sedikit."
"Jangan merendah, Pak Arman. Tanpa bimbingan Bapak,
mana mungkin mereka bisa."
Telepon dari Pak Hadi disusul telepon dari Pak Suroto, Pak
Rahman, Bu Dewi, dan kepala desa lainnya. Semua melaporkan kemajuan admin desa
mereka, semua mengucapkan terima kasih.
Arman merasa dadanya hangat. Ini adalah kebahagiaan yang
berbeda. Kebahagiaan karena melihat orang lain berkembang, karena ilmu yang ia
bagikan bermanfaat.
Malam itu, ia menulis di buku hariannya:
*17 Agustus 2023*
Hari ini saya menerima banyak telepon dari para kepala
desa. Mereka melaporkan kemajuan admin desa masing-masing. Rudi, Riko, Lina,
Budi, dan yang lainnya, sudah mulai mandiri.
Saya tidak menyangka. Dulu saya hanya ingin membantu
desa-desa ini punya website aktif. Sekarang, lebih dari itu. Saya telah
melahirkan penulis-penulis baru.
Ini perasaan yang sulit dijelaskan. Bangga, haru, bahagia,
semuanya campur aduk.
Saya ingat kata Pak Darso: "Man, kamu ini seperti kue
lapis. Makin lama makin laris." Mungkin benar. Tapi saya bukan kue lapis.
Saya lebih suka disebut sebagai pohon.
Pohon yang berbuah. Dan buahnya jatuh ke tanah, tumbuh
menjadi pohon baru.
Riko, Lina, Budi, dan yang lainnya adalah pohon-pohon baru
itu. Mereka akan tumbuh, mungkin lebih besar dari saya. Mereka akan menulis
lebih baik, mengambil foto lebih bagus, mengelola website lebih profesional.
Dan saya? Saya akan tetap di sini, menjadi pohon tua yang
rindang, tempat mereka berteduh jika lelah, tempat mereka bertanya jika
bingung.
Karena itulah arti menjadi guru. Bukan untuk membuat murid
bergantung, tapi untuk membuat mereka mandiri.
Terima kasih, Allah, telah memberi saya kesempatan ini.
BAB X
PENUTUP
Ketika Desa Mulai Menulis Ceritanya Sendiri
Dua tahun telah berlalu sejak Arman pertama kali duduk di
depan laptop tua itu, dengan dua jari yang malu-malu mengetik artikel pertama
untuk website Desa Sido Mukti.
Dua tahun yang penuh dengan perjuangan, air mata, tawa, dan
pelajaran berharga.
Dua tahun yang mengubah seorang pria sederhana menjadi
legenda, dan melahirkan generasi baru penulis desa yang siap melanjutkan
perjuangannya.***
Sore itu, langit Desa Sido Mukti cerah sekali.
Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya
keemasan di sawah-sawah yang menguning menunggu panen. Burung-burung
beterbangan riang, mencari tempat berteduh di pepohonan rindang. Angin
sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan dedaunan, menciptakan suasana damai
yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Arman duduk santai di kursi kayu tua di teras rumahnya,
seperti biasa. Di depannya, laptop kesayangannya masih terbuka, namun kali ini
ia tidak sedang mengetik.
Ia hanya menatap layar dengan senyum kecil yang tidak
pernah lepas dari wajahnya.
Di layar itu, terbuka sepuluh tab website desa yang dulu ia
kelola hampir sendirian. Satu per satu ia buka, membaca artikel-artikel
terbaru, mengamati foto-foto yang terpajang, dan merasakan kebanggaan yang
sulit dijelaskan.
Website Desa Sungai Harapan menampilkan artikel tentang
panen raya padi yang ditulis oleh Rudi. Tulisannya rapi, informasinya lengkap,
fotonya juga bagus. Di bagian bawah artikel, puluhan komentar warga membanjiri,
sebagian besar mengucapkan selamat dan bangga dengan desanya.
Website Desa Bukit Lestari menampilkan liputan khusus
tentang festival budaya tahunan. Artikelnya panjang dan mendalam, ditulis oleh
Riko dengan gaya yang semakin matang. Ada video pendek yang disematkan,
wawancara dengan sesepuh desa, dan galeri foto yang memukau.
Website Desa Mekar Sari menampilkan rubrik "Wirausaha
Muda" yang digagas Lina. Kali ini ia menulis tentang seorang pemuda yang
sukses dengan budidaya jamur tiram. Kisahnya inspiratif, ditulis dengan gaya
feature yang hangat.
Website Desa Maju Bersama menampilkan artikel tentang
pembangunan irigasi. Tulisannya sederhana, tapi fotonya—foto Budi—luar biasa.
Ada foto petani yang sedang bersyukur, ada foto air yang mengalir di
sawah-sawah kering, ada foto anak-anak yang bermain di dekat irigasi baru.
Dan seterusnya, dari desa satu ke desa lain, semua
menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Arman menghela napas panjang. Ada perasaan haru yang
mengganjal di dadanya.
"Lihat, Ni," katanya kepada Sari yang sedang
duduk di sampingnya sambil merajut. "Mereka sudah bisa semua."
Sari menoleh, melihat layar laptop, lalu tersenyum.
"Mas pasti bangga ya?"
Arman mengangguk. "Bangga sekali, Ni. Rasanya...
seperti melihat anak-anak kita sendiri tumbuh dan mandiri."
Sari meletakkan rajutannya, meraih tangan suaminya.
"Mas, saya juga bangga sama Mas."
"Bangga kenapa?"
"Karena Mas tidak egois. Mas mau berbagi ilmu. Mas mau
melahirkan generasi penerus. Tidak semua orang bisa begitu."
Arman merenung sejenak. "Awalnya saya juga ragu, Ni.
Takut mereka akan menggantikan saya, takut saya tidak dibutuhkan lagi."
"Lalu?"
"Tapi saya sadar, ini bukan tentang saya. Ini tentang
desa-desa itu. Mereka butuh banyak orang yang bisa menulis, bukan cuma
satu."
Sari tersenyum bangga. "Itulah yang membuat Mas
berbeda, Mas. Mas tidak pernah berpikir untuk diri sendiri."***
Sore itu, tiba-tiba beberapa kendaraan berhenti di depan
rumah Arman. Tiga motor dan satu mobil pick-up terparkir tidak rapi di pinggir
jalan.
Dari kendaraan itu turun wajah-wajah yang sudah sangat
akrab bagi Arman: Riko, Lina, Budi, Rudi, Andi, dan beberapa admin desa
lainnya. Mereka datang bersama, membawa berbagai bingkisan dan kue.
"Wah, ada apa ini?" sapa Arman heran.
Riko, yang bertindak sebagai juru bicara, menjawab dengan
semangat. "Mas Arman, kami sowan. Ada acara khusus."
Arman mempersilakan mereka masuk. Rumahnya yang sederhana
itu tiba-tiba penuh oleh anak-anak muda yang ceria. Sari sibuk menyiapkan
minuman dan camilan.
Setelah semua duduk lesehan di ruang tamu, Riko berdiri dan
membuka suara.
"Mas Arman, Ibu Sari, terima kasih sudah menerima
kami."
Arman tersenyum. "Ada apa ini, Riko? Serius
amat."
Riko mengambil napas. "Mas Arman, hari ini kami datang
untuk menyampaikan sesuatu."
Semua peserta diam, menanti.
Riko melanjutkan. "Mas Arman, dua tahun lalu, kami
tidak tahu apa-apa tentang menulis berita. Kami cuma anak muda biasa, dengan
mimpi-mimpi yang abstrak."
Arman mendengarkan dengan saksama.
"Tapi Mas Arman, dengan sabar, Mas mengajari kami. Mas
tidak pernah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang kadang bodoh. Mas
tidak pernah marah ketika kami salah. Mas selalu memberi semangat ketika kami
putus asa."
Lina, yang duduk di samping Riko, matanya mulai
berkaca-kaca.
Riko melanjutkan, suaranya sedikit bergetar.
"Sekarang, lihat kami. Rudi sudah jadi admin andalan di Sungai Harapan.
Lina punya rubrik sendiri di Mekar Sari. Budi, yang dulu takut nulis, sekarang
fotonya sering dipuji orang. Dan saya, Alhamdulillah, sudah bisa nulis liputan
khusus."
Ia berhenti sejenak, mengatur emosi.
"Semua ini, Mas, berkat Mas Arman. Mas adalah guru
kami. Mas adalah inspirasi kami."
Arman terharu. Matanya juga mulai basah.
Riko mengambil sebuah bingkisan besar yang dibungkus kado.
"Mas, ini tanda terima kasih dari kami semua. Tidak seberapa, tapi ini
dari hati."
Arman menerima bingkisan itu dengan tangan sedikit gemetar.
Ia membukanya. Di dalamnya, terdapat sebuah plakat kayu yang diukir indah. Di
plakat itu tertulis:
"UNTUK
SANG LEGENDA KONTRIBUTOR DESA
Terima kasih telah menyalakan api literasi di desa-desa kami
Dari anak didikmu yang bangga
Riko, Lina, Budi, Rudi, Andi, Siti, Joko, Rina, Heru, dan semua admin desa
yang terinspirasi
Agustus 2023"*
Arman membaca tulisan itu berulang-ulang. Air matanya
akhirnya tumpah. Ia tidak bisa menahan haru.
"Ini... ini terlalu berlebihan," katanya
terbata-bata.
Riko memeluknya. "Tidak berlebihan, Mas. Ini hanya
sebagian kecil dari rasa terima kasih kami."
Satu per satu, mereka memeluk Arman. Sari, yang menyaksikan
dari samping, juga tidak kuasa menahan haru. Iapun menangis, tapi tangis
bahagia.
Malam itu, rumah sederhana Arman berubah menjadi panggung
kebahagiaan. Mereka makan bersama, bernyanyi bersama, bercerita bersama. Suara
tawa memenuhi ruangan, mengusir sepi yang biasa menyelimuti malam-malam Arman.
Di tengah kebersamaan itu, Arman memandangi mereka satu per
satu. Riko yang penuh semangat, Lina yang lembut tapi tegas, Budi yang polos
tapi berbakat, Rudi yang kini lebih percaya diri, dan yang lainnya.
Ia tersenyum.
Ini lebih berharga dari apa pun, pikirnya. Melihat mereka tumbuh, melihat mereka
sukses, itulah hadiah terbesar.
Setelah semua tamu pulang, Arman duduk sendirian di teras.
Langit malam cerah, bertabur bintang. Bulan sabit menggantung rendah, menerangi
halaman dengan cahaya perak.
Sari keluar, membawa dua cangkir kopi. Ia duduk di samping
Arman, memberikan satu cangkir.
"Mas, capek?"
Arman menggeleng. "Tidak capek, Ni. Malah
senang."
Mereka menyeruput kopi bersama, menikmati keheningan malam.
"Mas, saya mau tanya," kata Sari.
"Apa, Ni?"
"Mas bahagia nggak dengan semua ini?"
Arman merenung sejenak. "Bahagia, Ni. Sangat
bahagia."
"Bahagianya karena apa? Karena terkenal? Karena banyak
uang?"
Arman menggeleng. "Bukan. Bahagia karena saya bisa
bermanfaat. Saya bisa membantu orang lain."
Sari tersenyum. "Itulah yang membuat saya cinta sama
Mas."
Arman memeluk istrinya. "Dan saya cinta kamu karena
selalu mendukung, apa pun yang terjadi."
Mereka berdua diam, menikmati kebersamaan di bawah langit
malam.
Arman kemudian berkata, "Ni, saya mau cerita."
"Iya, Mas."
"Dulu, waktu pertama kali disuruh jadi admin website,
saya takut sekali. Saya pikir, apa yang bisa saya lakukan? Saya cuma lulusan
SMA, tidak bisa apa-apa."
Sari mendengarkan.
"Tapi Pak Rahmat bilang, 'Yang penting kamu mau
belajar.' Pak Darso selalu nyemangatin dengan candaannya. Kamu selalu di
belakang, mendukung diam-diam."
Arman berhenti sejenak.
"Sekarang, saya lihat anak-anak itu. Mereka dulunya
sama seperti saya. Takut, ragu, bingung. Tapi sekarang mereka sudah bisa.
Mereka bahkan lebih baik dari saya."
"Itu karena Mas mau berbagi."
"Mungkin. Tapi lebih dari itu, karena mereka mau
berjuang. Saya cuma menunjukkan jalan. Mereka yang memilih untuk
berjalan."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, kamu adalah orang
terbaik yang pernah saya kenal."
Arman tersenyum. "Karena kamu belum kenal Pak
Darso."
Sari tertawa. "Pak Darso lain lagi. Dia unik."
Mereka berdua tertawa, memecah kesunyian malam.***
Keesokan harinya, di kantor desa, Arman bertemu dengan Pak
Darso. Seperti biasa, Pak Darso sudah duduk dengan cangkir kopinya.
"Man, selamat pagi. Wajahmu cerah sekali. Ada angin
apa?"
Arman tersenyum. "Tidak ada angin, Pak. Cuma senang
aja."
"Senang karena kemarin dikunjungi anak-anak muda
itu?"
Arman mengangguk. "Iya, Pak. Mereka memberi saya
plakat. Bilang saya legenda."
Pak Darso tertawa. "Legenda? Itu sudah saya bilang dari
dulu. Sekarang baru percaya?"
Arman tertawa. "Pak Darso ini, selalu saja."
Pak Darso menyeruput kopinya. "Man, saya mau tanya
serius."
"Iya, Pak."
"Sekarang admin desa sudah pada bisa. Apa kamu tidak
khawatir? Khawatir tidak dibutuhkan lagi?"
Arman berpikir sejenak. "Dulu sempat khawatir, Pak.
Tapi sekarang tidak."
"Kenapa?"
"Karena saya sadar, ini bukan tentang saya. Ini
tentang desa-desa itu. Kalau mereka sudah bisa mandiri, itu lebih baik. Berarti
misi saya berhasil."
Pak Darso mengangguk. "Bagus. Itu jawaban seorang guru
sejati."
Arman tersenyum. "Saya bukan guru, Pak. Saya
cuma..."
"Jangan 'cuma-cuma' lagi, Man. Kamu sudah membuktikan.
Kamu bukan 'cuma' apa-apa. Kamu adalah seseorang yang menginspirasi banyak
orang."
Arman terdiam, merenungkan kata-kata Pak Darso.
"Pak Darso, terima kasih."
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk semua dukungan Bapak. Untuk candaan-candaan
Bapak yang selalu menghibur. Untuk kopi-kopi yang Bapak traktir."
Pak Darso tertawa. "Wah, kalau urusan kopi, jangan
salah. Saya yang paling banyak ditraktir kamu."
Mereka berdua tertawa. Kehangatan persahabatan mereka tidak
pernah pudar, meskipun waktu terus berjalan.***
Hari-hari berlalu. Perubahan di sepuluh desa mitra Arman
semakin terasa.
Di Desa Sungai Harapan, Rudi tidak hanya menjadi admin
website, tapi juga dipercaya menjadi koordinator informasi desa. Ia rutin
mengadakan pelatihan kecil untuk pemuda-pemuda desa yang ingin belajar menulis.
Website desa kini tidak hanya berisi berita, tapi juga artikel-artikel ringan
tentang kehidupan sehari-hari, resep masakan khas, dan cerita rakyat setempat.
Di Desa Bukit Lestari, Riko menjadi tokoh muda yang
disegani. Ia sering diundang ke desa-desa lain untuk berbagi pengalaman tentang
pengelolaan website desa. Artikel-artikelnya tentang budaya lokal menjadi
referensi bagi mahasiswa yang melakukan penelitian. Ia bahkan mulai menulis
buku tentang kearifan lokal masyarakat Dayak di desanya.
Di Desa Mekar Sari, Lina berhasil menggerakkan ibu-ibu PKK
untuk aktif menulis. Mereka menulis tentang kegiatan kelompok, tentang resep
masakan, tentang kisah sukses berjualan online. Rubrik "Wirausaha
Wanita" yang digagas Lina menjadi rubrik terpopuler di website desa.
Di Desa Maju Bersama, Budi menemukan panggilannya sebagai
fotografer. Ia tidak hanya memotret untuk website desa, tapi juga mulai
menerima pesanan foto pernikahan dan acara-acara lain. Tapi ia tidak pernah
lupa, setiap ada kegiatan desa, ia selalu ada dengan kameranya.
Di desa-desa lain, admin-administrator baru juga
menunjukkan perkembangan masing-masing. Mereka saling mendukung, saling berbagi
ilmu, saling menginspirasi. Sebuah komunitas kecil telah terbentuk—komunitas
penulis desa yang lahir dari bimbingan Arman.
Arman memantau semua perkembangan itu dari jauh. Kadang
melalui WhatsApp, kadang melalui telepon, kadang dengan membaca artikel-artikel
mereka. Ia tidak lagi banyak campur tangan. Ia lebih suka membiarkan mereka
berkembang dengan gaya masing-masing.
Tapi ia selalu ada ketika dibutuhkan. Jika ada yang
bertanya, ia akan menjawab. Jika ada yang minta masukan, ia akan memberi. Jika
ada yang putus asa, ia akan menyemangati.
Perannya kini adalah sebagai penjaga api—api semangat
menulis yang telah ia nyalakan.***
Suatu sore, Arman menerima telepon dari Pak Hadi.
"Assalamualaikum, Pak Arman. Selamat sore."
"Waalaikumsalam, Pak Hadi. Ada apa?"
"Pak Arman, ada undangan istimewa nih."
"Undangan dari mana, Pak?"
"Dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi.
Mereka mengadakan seminar nasional tentang digitalisasi desa. Mereka minta
Bapak jadi pembicara utama."
Arman terkejut. "Pembicara utama? Saya?"
"Iya. Katanya, mereka sudah mendengar tentang Bapak.
Tentang perjuangan Bapak mengelola website desa, tentang bagaimana Bapak
membina admin-admin desa. Mereka ingin Bapak berbagi di tingkat provinsi."
Arman terdiam. Ini level yang berbeda. Sebelumnya ia hanya
bicara di seminar universitas. Sekarang di seminar tingkat provinsi, dengan
peserta dari seluruh Kalimantan.
"Pak, saya... saya takut."
Pak Hadi tertawa. "Pak Arman, sudah berapa kali Bapak
bilang takut? Tapi setiap kali, Bapak bisa melewatinya."
Arman tersenyum. "Iya, Pak. Tapi ini levelnya
beda."
"Tidak beda, Pak Arman. Ceritanya sama. Yang berubah
hanya jumlah pendengarnya."
Arman berpikir sejenak. "Boleh saya pikir dulu,
Pak?"
"Tentu. Tapi tolong cepat. Acaranya bulan depan."
Telepon ditutup. Arman menatap ponselnya dengan perasaan
campur aduk.
Malam harinya, ia menceritakan hal itu kepada Sari.
Sari tersenyum. "Mas, ini kesempatan."
"Kesempatan atau tantangan?"
"Dua-duanya. Tapi lebih banyak kesempatannya."
"Kamu yakin saya bisa?"
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, sudah berapa
banyak orang yang terinspirasi oleh Mas? Riko, Lina, Budi, dan yang lainnya.
Sekarang waktunya Mas menginspirasi lebih banyak orang."
Arman merenung.
"Mas, ingat pesan Pak Darso? 'Kue lapis makin laris,
tapi jangan sampai hancur.' Mas tidak akan hancur. Mas akan semakin
besar."
Arman tersenyum. "Kamu ini selalu bisa meyakinkan
saya."
"Itu tugas istri, Mas."
Malam itu, Arman mengambil keputusan. Ia akan menerima
undangan itu.
Seminar Nasional di Samarinda
Sebulan kemudian, Arman berdiri di sebuah hotel berbintang
di Samarinda. Di depannya, ratusan peserta dari berbagai kabupaten di
Kalimantan duduk rapi, siap mendengarkan paparannya.
Ia mengenakan kemeja batik baru—hadiah dari Sari untuk
acara ini. Celana bahan hitam, sepatu pantofel yang sudah disemir mengilap.
Penampilannya sederhana, tapi rapi.
Di belakang layar, ia sempat gugup. Jantungnya berdebar
kencang. Keringat dingin membasahi telapak tangan.
Tapi ia ingat pesan Sari: "Mas, kamu sudah melalui
banyak hal. Ini hanya salah satunya."
Ia ingat pesan Pak Darso: "Man, anggap saja mereka itu
perangkat desa. Yang penting ngomong aja."
Ia ingat pesan Riko: "Mas Arman, kami semua mendoakan
Mas. Semoga lancar."
Dengan menguatkan hati, ia melangkah ke podium.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
pagi dan salam sejahtera untuk kita semua."
"Waalaikumsalam," jawab peserta serempak.
Arman menarik napas. "Perkenalkan, saya Arman. Saya
dari Desa Sido Mukti, sebuah desa kecil di kabupaten tetangga. Saya hanya
lulusan SMA. Saya tidak punya gelar, tidak punya sertifikat, tidak punya
pelatihan formal apa pun."
Beberapa peserta tersenyum. Ada yang saling berpandangan.
"Yang saya punya hanya satu: kemauan untuk belajar. Dua
tahun lalu, saya tidak tahu apa-apa tentang website. Saya bahkan tidak bisa
mengetik dengan cepat. Tapi kepala desa saya meminta saya mengelola website
desa."
Arman mulai bercerita. Tentang awal yang sulit, tentang
laptop tua dengan kipas berisik, tentang mengetik dengan dua jari, tentang
artikel pertama yang sangat sederhana.
Peserta mendengarkan dengan antusias. Banyak yang
tersenyum, banyak yang mengangguk, banyak yang terinspirasi.
"Saya tidak hebat," kata Arman di tengah
ceramahnya. "Saya hanya konsisten. Saya menulis setiap hari, meskipun
kadang hanya satu paragraf. Saya belajar dari kesalahan. Saya terus mencoba,
meskipun gagal berkali-kali."
Ia bercerita tentang bagaimana satu desa berkembang menjadi
sepuluh desa. Tentang konflik yang harus dihadapi. Tentang tekanan dan
tuntutan. Tentang dukungan keluarga dan teman-teman.
Dan yang paling menginspirasi, ia bercerita tentang
generasi baru admin desa yang kini telah mandiri.
"Saya bukan lagi penulis utama untuk desa-desa itu.
Sekarang mereka menulis sendiri. Saya hanya menjadi editor, menjadi motivator,
menjadi teman diskusi. Dan itu membuat saya lebih bahagia daripada menulis
sendiri."
Arman mengakhiri presentasinya dengan pesan sederhana.
"Teman-teman, siapa pun kalian, apa pun latar belakang
kalian, kalian bisa melakukan apa yang saya lakukan. Bahkan bisa lebih baik.
Kuncinya hanya satu: mau belajar dan tidak menyerah."
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Beberapa peserta
berdiri, memberi standing ovation.
Arman tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Ia telah melakukannya.***
Dua hari kemudian, Arman kembali ke desanya. Ia disambut
oleh Sari, Pak Darso, dan beberapa perangkat desa di halaman kantor desa.
"Selamat datang, pembicara nasional!" sapa Pak
Darso dengan nada bercanda.
Arman tertawa. "Pak Darso, jangan begitu."
"Bagaimana? Hebat kan? Dari admin desa biasa, jadi
pembicara di hotel bintang lima."
Arman menggeleng. "Bukan hotel bintang lima, Pak.
Hotel biasa."
"Ya, pokoknya hotel. Yang penting naik pangkat."
Semua tertawa.
Pak Rahmat menjabat tangan Arman. "Selamat, Man. Kamu
sudah mengharumkan nama desa kita."
Arman tersenyum malu. "Alhamdulillah, Pak. Ini semua
berkat dukungan Bapak-bapak semua."
Malam harinya, Arman duduk di teras rumah, ditemani Sari.
Mereka menikmati kopi, menikmati keheningan, menikmati kebersamaan.
"Mas, capek?" tanya Sari.
"Tidak capek, Ni. Senang."
"Besok istirahat dulu ya. Jangan langsung nulis."
Arman tersenyum. "Iya, Ni. Besok saya libur."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua diam, menikmati malam.
Arman memandang langit. Bintang-bintang bertaburan, lebih
indah dari lampu-lampu kota di Samarina.
"Ni," katanya pelan.
"Apa, Mas?"
"Saya bersyukur."
"Bersyukur apa?"
Arman meraih tangan istrinya. "Bersyukur punya kamu.
Bersyukur punya teman-teman seperti Pak Darso, Pak Rahmat, dan yang lainnya.
Bersyukur bisa bertemu dengan anak-anak muda itu. Bersyukur bisa
bermanfaat."
Sari memeluk suaminya. "Mas, saya juga bersyukur punya
Mas."
Malam itu, di bawah langit desa yang bertabur bintang,
Arman merasa damai.
Perjalanan panjangnya telah membuahkan hasil yang tak
terduga.
Dan ia tahu, ini bukan akhir.
Ini adalah awal dari babak baru.***
Waktu terus berjalan.
Satu tahun setelah seminar di Samarinda, banyak hal
berubah.
Arman kini tidak lagi menulis untuk sepuluh desa. Perannya
telah bergeser total menjadi fasilitator, mentor, dan inspirator.
Ia sering diundang ke berbagai tempat: seminar, pelatihan,
diskusi kelompok, bahkan acara televisi lokal. Ia berbagi cerita, berbagi
pengalaman, berbagi semangat.
Tapi ia selalu kembali ke desanya. Ke rumah kayu sederhana
itu. Ke meja tua yang penuh catatan. Ke laptop dengan kipas berisik. Ke Sari
yang setia menemaninya.
Suatu sore, ia duduk di teras, membuka laptop seperti
biasa.
Ia membuka satu per satu website desa yang dulu ia kelola.
Desa Sungai Harapan: Rudi
kini menjadi redaktur pelaksana website desa. Ia telah melatih tiga orang admin
baru. Artikel-artikelnya semakin berkualitas. Bahkan ada rubrik khusus tentang
pariwisata desa.
Desa Bukit Lestari: Riko
menjadi tokoh inspiratif. Ia menerbitkan buku kumpulan artikel tentang budaya
Dayak. Bukunya laris di pasaran, bahkan dibahas di koran nasional.
Desa Mekar Sari: Lina
berhasil menggerakkan puluhan ibu-ibu untuk menulis. Mereka kini punya majalah
desa digital yang terbit setiap bulan. Ibu-ibu itu bangga melihat nama mereka
terpampang sebagai penulis.
Desa Maju Bersama: Budi
kini menjadi fotografer terkenal. Fotonya tentang kehidupan desa sering muncul
di media sosial dan mendapat ribuan like. Tapi ia tidak pernah sombong. Ia
selalu berkata, "Saya belajar dari Mas Arman."
Desa Karya Mandiri: Andi
dan timnya berhasil membuat website desa yang sangat interaktif. Ada fitur
pengaduan warga, layanan administrasi online, bahkan pasar digital untuk produk
UMKM.
Desa Tani Makmur:
Admin baru yang dilatih oleh Budi (bukan Budi dari Maju Bersama, tapi Budi yang
berbeda) kini aktif menulis tentang inovasi pertanian. Artikel-artikelnya
sering dijadikan referensi oleh penyuluh pertanian.
Desa Harapan Jaya: Tim
admin desa berhasil membuat dokumentasi lengkap tentang sejarah desa. Mereka
mewawancarai para sesepuh, mengumpulkan foto-foto lama, menuliskan cerita
rakyat. Website mereka kini menjadi arsip digital yang berharga.
Dan seterusnya. Semua desa menunjukkan kemajuan yang
membanggakan.
Arman membaca semua itu dengan senyum yang tidak pernah
pudar.
Sari keluar membawa teh hangat. Melihat suaminya
tersenyum-senyum, ia bertanya.
"Mas, lihat apa?"
Arman menunjuk layar. "Lihat, Ni. Mereka sudah pada
hebat semua."
Sari membaca beberapa artikel. "Wah, bagus-bagus. Mas pasti
bangga."
Arman mengangguk. "Bangga sekali, Ni. Lebih bangga
daripada dapat penghargaan apa pun."
Sari duduk di sampingnya. "Mas, saya mau tanya."
"Apa, Ni?"
"Mas pernah menyesal nggak, memulai semua ini?"
Arman merenung sejenak. "Tidak pernah, Ni. Sama sekali
tidak pernah."
"Meskipun capek? Meskipun banyak tekanan?"
"Justru capek dan tekanan itu yang membuat saya kuat.
Justru itu yang membuat saya menghargai semua ini."
Sari tersenyum. "Mas, saya juga tidak pernah
menyesal."
"Menyesal apa?"
"Menyesal menikah dengan Mas. Menyesal mendukung Mas.
Menyesal jadi istri Mas."
Arman terharu. "Ni..."
Sari melanjutkan. "Saya lihat Mas berjuang dari nol.
Saya lihat Mas nangis karena konflik. Saya lihat Mas begadang sampai pagi. Tapi
saya juga lihat Mas tersenyum bangga melihat anak-anak didik Mas sukses."
"Itu semua karena kamu, Ni. Kamu yang selalu
mendukung."
Mereka berpelukan, menikmati sore yang damai.***
Malam harinya, Arman duduk sendirian di mejanya. Di
depannya, laptop terbuka, siap untuk menulis.
Ia ingin menulis sesuatu. Bukan artikel berita, bukan
laporan kegiatan. Tapi catatan pribadi, untuk dirinya sendiri.
Ia mulai mengetik dengan dua jarinya yang setia.
Desa Sido Mukti, 17 Agustus 2024
Tiga tahun sudah saya menjalani peran sebagai kontributor
website desa.
Tiga tahun yang penuh dengan suka dan duka. Tiga tahun yang
mengubah hidup saya.
Dari seorang yang tidak tahu apa-apa tentang website, saya
kini telah membantu sepuluh desa memiliki website aktif.
Dari seorang yang takut menulis, saya kini telah menulis
ratusan artikel.
Dari seorang yang bekerja sendiri, saya kini telah
melahirkan puluhan penulis baru.
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya Arman, warga biasa Desa
Sido Mukti.
Tapi saya percaya, setiap orang punya potensi untuk menjadi
sesuatu.
Yang dibutuhkan hanya kemauan untuk belajar, ketekunan
untuk berusaha, dan keberanian untuk menghadapi tantangan.
Saya bersyukur kepada Allah yang telah memberi saya jalan
ini.
Saya bersyukur kepada istri saya, Sari, yang selalu
mendukung tanpa pamrih.
Saya bersyukur kepada Pak Rahmat yang telah memberi
kepercayaan.
Saya bersyukur kepada Pak Darso yang selalu menghibur
dengan candaannya.
Saya bersyukur kepada para kepala desa yang percaya pada
kemampuan saya.
Saya bersyukur kepada Riko, Lina, Budi, Rudi, dan semua
anak didik saya, yang telah membuktikan bahwa mereka bisa lebih baik dari saya.
Dan saya bersyukur kepada pembaca semua, yang telah
meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan saya.
Perjalanan ini masih panjang. Masih banyak desa yang butuh
bantuan. Masih banyak anak muda yang butuh bimbingan. Masih banyak cerita yang
perlu ditulis.
Tapi saya tidak sendiri. Kini ada banyak tangan yang siap
membantu. Ada banyak hati yang siap berbagi. Ada banyak semangat yang siap
menyala.
Saya hanya pemicu. Mereka adalah apinya.
Dan api itu, Insya Allah, tidak akan padam.
Terima kasih untuk semuanya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Arman
Sang Legenda Kontributor Desa
Arman selesai menulis. Ia membaca ulang tulisannya, lalu
menyimpannya di folder khusus berjudul "Catatan Pribadi."
Ia mematikan laptop, membereskan meja, lalu berjalan menuju
kamar.
Sari sudah terlelap. Arman mengecup kening istrinya, lalu
berbaring di sampingnya.
Di luar, malam semakin larut. Suara jangkrik masih setia
menemani. Angin berhembus pelan, membawa wangi tanah dan dedaunan.
Arman memejamkan mata.
Pikirannya tenang.
Hatinya damai.
Perjalanan panjangnya sebagai kontributor desa telah
membawanya ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Dan ia tahu, ini bukan akhir.
Ini adalah awal dari petualangan baru.
Petualangan di mana desa-desa kini bisa menulis cerita
mereka sendiri.
Dan ia, Sang Legenda, akan selalu ada di sana—bukan sebagai
penulis utama, tapi sebagai saksi, sebagai penyemangat, sebagai penjaga api
yang tak pernah padam.
EPILOG
Ketika Desa Bisa Bercerita Sendiri
Beberapa tahun telah berlalu sejak perjalanan panjang itu
dimulai.
Waktu berjalan perlahan, seperti aliran sungai yang tidak
pernah berhenti. Banyak hal berubah, banyak pula yang berkembang. Anak-anak
desa yang dulu masih kecil kini sudah remaja. Remaja yang dulu baru belajar
menulis kini sudah menjadi penulis handal. Para kepala desa yang dulu baru
mulai mengenal teknologi kini sudah mahir mengakses internet.
Di berbagai wilayah di Pulau Kalimantan, sepuluh desa yang
dulu pernah bekerja sama dengan Arman kini telah memiliki website desa yang
hidup dan aktif.
Bukan lagi sekadar halaman kosong yang hanya menampilkan
profil desa.
Kini website desa itu telah menjadi ruang cerita desa.
Setiap minggu selalu ada artikel baru. Berita tentang
kegiatan masyarakat, pembangunan desa, musyawarah desa, pelatihan kelompok
tani, hingga kisah-kisah kecil tentang kehidupan warga.
Semua ditulis oleh anak-anak muda desa sendiri.***
Di Desa Sungai Harapan, Rudi kini menjadi kepala seksi
informasi dan komunikasi desa—sebuah jabatan baru yang sengaja dibuat untuk
mengakomodasi peran penting website desa. Ia tidak bekerja sendiri. Tiga orang
admin muda membantunya mengelola website, media sosial, dan kanal YouTube desa.
Setiap bulan, mereka menerbitkan majalah digital yang bisa
diunduh gratis oleh warga. Majalah itu berisi ringkasan kegiatan desa, profil
warga berprestasi, resep masakan lokal, dan cerita rakyat setempat.
Suatu pagi, Rudi duduk di kantor desa sambil mengetik
artikel tentang persiapan lomba desa. Di belakangnya, seorang staf bertanya.
"Pak Rudi, nanti lomba desa, kita siapkan apa
saja?"
Rudi menjawab tanpa berhenti mengetik. "Siapkan
dokumentasi yang bagus. Foto, video, wawancara. Semua harus lengkap."
"Seperti biasa, Pak?"
"Lebih. Kita harus lebih baik dari tahun lalu."
Staf itu mengangguk, lalu pergi bersiap.
Rudi tersenyum sendiri. Dulu, ia bahkan tidak tahu cara
menulis berita. Sekarang, ia yang memimpin tim.***
Di Desa Bukit Lestari, Riko kini menjadi tokoh yang cukup
dikenal di kabupatennya. Bukan hanya karena artikel-artikelnya, tapi karena
bukunya tentang budaya Dayak yang mendapat sambutan hangat dari berbagai
kalangan.
Buku itu, "Menyapa Lebatnya Hutan: Kisah dan Kearifan
Lokal Dayak di Bukit Lestari," adalah kumpulan artikel yang pernah ia
tulis di website desa, ditambah dengan hasil wawancara mendalam dengan para
tetua adat.
Suatu sore, Riko menerima telepon dari seorang penerbit
nasional. Mereka tertarik menerbitkan bukunya secara nasional.
"Mas Riko, kami lihat buku Mas punya potensi besar.
Apakah Mas tertarik bekerja sama?"
Riko hampir tidak percaya. "Tertarik, Pak. Sangat
tertarik."
"Bagus. Nanti kita bicarakan lebih lanjut."
Setelah telepon itu, Riko menangis. Ia teringat Arman,
gurunya, yang pernah berkata, "Teruslah menulis, Riko. Suatu hari, tulisammu
akan dibaca banyak orang."***
Di Desa Mekar Sari, Lina kini menjadi koordinator program
literasi desa. Ia tidak hanya fokus pada website, tapi juga menggerakkan
perpustakaan desa, taman baca, dan klub menulis untuk ibu-ibu dan remaja.
Setiap hari Minggu, puluhan anak berkumpul di balai desa
untuk belajar menulis. Lina mengajari mereka dengan sabar, persis seperti Arman
dulu mengajarinya.
Seorang anak perempuan, mungkin usia 10 tahun, menunjukkan
tulisannya.
"Kak Lina, ini bagus nggak?"
Lina membaca tulisan anak itu tentang kucing kesayangannya.
Sederhana, tapi jujur dan menggemaskan.
"Ini bagus sekali. Teruslah menulis, ya."
Anak itu tersenyum senang.
Lina tersenyum. Ia melihat dirinya sendiri di masa lalu.
Dan ia bersyukur bisa menjadi seperti Arman bagi anak-anak ini.***
Di Desa Maju Bersama, Budi kini menjadi fotografer yang
cukup sibuk. Ia sering dipanggil ke berbagai acara: pernikahan, ulang tahun,
bahkan acara resmi pemerintah. Tapi ia tidak pernah lupa dengan desanya.
Setiap kali ada kegiatan desa, ia selalu ada dengan
kameranya. Foto-fotonya memperindah website desa, membuat orang betah membaca.
Suatu hari, ada pameran fotografi di ibu kota provinsi.
Budi diundang untuk memamerkan fotonya.
Temanya: "Wajah Desa."
Foto-foto Budi tentang petani, anak-anak bermain, pasar
tradisional, dan kehidupan sehari-hari di desa mendapat banyak pujian.
Seorang pengunjung bertanya, "Mas, ini foto di
mana?"
Budi menjawab bangga. "Di desa saya, Maju
Bersama."
"Wah, indah sekali desanya."
Budi tersenyum. Ia berhasil memperkenalkan desanya lewat
foto.***
Di desa-desa lain, cerita serupa juga terjadi.
Andi di Karya Mandiri kini menjadi konsultan website desa
untuk beberapa desa tetangga.
Siti di Harapan Jaya berhasil membuat kanal YouTube desa yang
punya ribuan subscriber.
Joko di Tani Makmur mulai menulis artikel tentang pertanian
organik yang dijadikan referensi oleh penyuluh pertanian.
Rina di Sumber Rejeki menjadi penulis tetap untuk majalah
desa yang terbit setiap bulan.
Mereka semua adalah generasi baru penulis desa, yang lahir
dari bimbingan Arman.
Dan mereka semua, di setiap kesempatan, selalu menyebut
nama Arman.
"Guru kami, Mas Arman."
"Beliau yang mengajari kami menulis."
"Tanpa beliau, kami tidak akan bisa."
Sementara itu, di rumah sederhana yang sama seperti
beberapa tahun lalu, Arman duduk santai di teras rumahnya.
Laptopnya masih ada di meja kayu tua. Tapi kini jarang
terbuka sepanjang malam seperti dulu.
Sesekali ia masih menulis artikel. Biasanya jika ada
kegiatan besar di desanya sendiri. Atau jika salah satu admin desa memintanya
menulis sesuatu yang spesial.
Tapi lebih sering, ia hanya membaca. Membaca
artikel-artikel karya anak didiknya. Memberi komentar, memberi semangat,
memberi masukan jika diminta.
Suatu sore, Riko mengirim pesan.
"Mas Arman, saya mau kasih kabar."
"Kabar apa, Riko?"
"Buku saya mau diterbitkan penerbit nasional,
Mas!"
Arman tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Riko. Selamat
ya!"
"Terima kasih, Mas. Ini semua berkat Mas."
"Bukan, Riko. Ini berkat kerja kerasmu sendiri. Saya
cuma membantu sedikit."
"Mas Arman selalu merendah. Tapi saya tahu, tanpa Mas,
saya tidak akan pernah sampai di sini."
Arman terharu membaca pesan itu.
Tak lama, Lina juga mengirim pesan.
"Mas Arman, program literasi saya dapat penghargaan
dari bupati!"
Arman membalas. "Wah, selamat Lina! Luar biasa!"
"Terima kasih, Mas. Mas adalah inspirasi saya."
Budi juga mengirim kabar.
"Mas Arman, foto saya dipamerkan di Samarinda!"
Arman membalas. "Selamat Budi! Bangga sama kamu."
Budi membalas dengan emoji menangis. "Mas, saya tidak
akan bisa tanpa Mas."
Satu per satu pesan masuk. Dari Rudi, Andi, Siti, dan yang
lainnya. Semua berbagi kabar baik, semua berterima kasih.
Arman membaca semua pesan itu dengan perasaan haru.
Sari yang duduk di sampingnya bertanya. "Mas, pada
ngapain?"
Arman menunjukkan ponselnya. "Lihat, Ni. Mereka semua
pada kirim kabar baik."
Sari membaca satu per satu. Ia tersenyum.
"Mas pasti bangga ya?"
Arman mengangguk. "Bangga sekali, Ni. Ini lebih
berharga dari apa pun."***
Suatu sore, ketika Arman sedang duduk di teras, sebuah
mobil berhenti di depan rumahnya.
Dari mobil itu turun puluhan orang. Wajah-wajah yang
dikenalnya.
Riko, Lina, Budi, Rudi, Andi, Siti, Joko, Rina, dan semua
admin desa yang pernah ia bimbing. Mereka datang bersama, membawa berbagai
makanan dan kue.
"Wah, ada apa ini?" sapa Arman heran.
Riko tersenyum. "Mas Arman, kami sowan. Mau rayain
sesuatu."
"Rayain apa?"
Lina menjawab. "Hari ini, genap lima tahun Mas Arman
mulai menulis."
Arman terkejut. "Kalian ingat?"
"Tentu, Mas. Kami semua ingat. 17 Maret 2020, Mas
menulis artikel pertama."
Arman terharu. Ia sendiri lupa tanggal persisnya. Tapi
anak-anak ini mengingatnya.
Mereka duduk lesehan di halaman rumah. Sari sibuk
menyiapkan minuman. Suasana hangat dan akrab seperti keluarga.
Riko berdiri, membuka suara. "Mas Arman, lima tahun
lalu, Mas memulai sesuatu yang sederhana. Mas hanya ingin mengisi website desa.
Tapi lihat sekarang..."
Ia menunjuk teman-temannya. "Kami semua ada di sini,
bisa menulis, bisa berkarya, berkat Mas."
Lina menambahkan. "Mas, kami tidak akan pernah bisa
melupakan jasa Mas. Mas adalah guru kami, inspirasi kami, legenda bagi
kami."
Budi, yang biasanya pendiam, tiba-tiba bicara. "Mas,
dulu saya paling bodoh di antara yang lain. Saya takut nulis, tulisan saya
jelek. Tapi Mas tidak pernah marah. Mas selalu sabar membimbing."
Matanya berkaca-kaca. "Sekarang, saya bisa. Foto saya
dipamerkan. Saya dapat uang dari fotografi. Semua berkat Mas."
Arman memeluk Budi. "Budi, kamu tidak bodoh. Kamu
punya bakat yang berbeda. Dan bakatmu itu luar biasa."
Yang lain ikut terharu. Suasana haru menyelimuti pertemuan
itu.
Mereka makan bersama, bernyanyi bersama, bercerita bersama.
Seperti keluarga besar yang sedang berkumpul.
Malam harinya, sebelum pulang, Riko menyerahkan sebuah
bingkisan.
"Mas, ini dari kami semua."
Arman membukanya. Di dalamnya, sebuah album foto tebal.
Setiap halaman berisi foto-foto kegiatan mereka selama ini, lengkap dengan
catatan tangan masing-masing.
Di halaman terakhir, tertulis:
"UNTUK
SANG LEGENDA
Dari anak-anakmu yang bangga
Terima kasih telah menyalakan api literasi di desa-desa kami
Kami tidak akan pernah melupakanmu
Selamat ulang tahun kelima, Mas Arman"*
Arman menangis. Tidak bisa menahan haru.
"Terima kasih, anak-anak. Terima kasih untuk semuanya."
Malam itu, di bawah langit desa yang cerah, Arman merasa
menjadi manusia paling bahagia di dunia.***
Tahun-tahun berikutnya, apa yang dimulai Arman terus
berkembang.
Website desa tidak lagi menjadi hal asing. Hampir semua
desa di kabupatennya memiliki website aktif. Bahkan beberapa desa mulai
mengembangkan aplikasi mobile untuk layanan publik.
Para admin desa yang pernah dilatih Arman, langsung atau
tidak langsung, kini tersebar di berbagai desa. Mereka menjadi agen perubahan,
menjadi motor penggerak literasi digital di desa masing-masing.
Riko menjadi kepala dinas pemberdayaan masyarakat di
kabupatennya, setelah sukses memimpin program digitalisasi desa.
Lina mendirikan yayasan yang fokus pada literasi desa.
Yayasannya sudah melatih ribuan admin desa di berbagai provinsi.
Budi menjadi fotografer profesional yang karyanya sering
muncul di media nasional. Tapi ia selalu menyempatkan diri memotret desanya.
Rudi menjadi dosen di universitas negeri, mengajar mata
kuliah komunikasi pembangunan. Ia sering mengundang Arman sebagai dosen tamu.
Yang lainnya juga sukses di bidang masing-masing. Tapi
mereka semua tetap terhubung, tetap saling mendukung, tetap menyebut Arman
sebagai guru.
Arman sendiri? Ia tetap tinggal di desanya, di rumah
sederhana itu. Ia masih sesekali menulis, masih sesekali memberi masukan, masih
sesekali menjadi narasumber.
Tapi ia lebih banyak menikmati masa tuanya bersama Sari.
Berkebun, bercocok tanam, mengunjungi anak-anak mereka yang sudah bekerja di
kota.
Namun di setiap kesempatan, ketika ditanya tentang apa yang
paling ia banggakan, jawabannya selalu sama:
"Bukan artikel-artikel saya. Bukan penghargaan yang
saya terima. Tapi anak-anak muda itu. Mereka yang kini meneruskan perjuangan.
Mereka adalah warisan saya yang abadi."***
Suatu pagi, Arman didatangi oleh seorang pemuda. Usianya
mungkin 20 tahun, membawa laptop dan buku catatan.
"Selamat pagi, Pak Arman. Saya pengagum Bapak. Saya
mau belajar menulis seperti Bapak."
Arman tersenyum. Wajah pemuda ini mengingatkannya pada
Riko, Lina, Budi, dan yang lainnya, beberapa tahun lalu.
"Silakan duduk, Nak. Mau minum apa?"
"Kopi saja, Pak."
Arman memanggil Sari untuk menyiapkan kopi. Lalu ia duduk
berhadapan dengan pemuda itu.
"Nak, saya hanya bisa mengajari dasar-dasarnya. Tapi
yang paling penting, kemauan belajar ada di diri kamu sendiri."
Pemuda itu mengangguk. "Saya siap belajar, Pak."
Arman membuka laptopnya, yang masih sama—laptop tua dengan
kipas berisik.
"Kamu lihat laptop ini?"
"Iya, Pak."
"Ini laptop yang sama yang saya gunakan sejak pertama
kali menulis. Sudah 10 tahun. Kipasnya berisik, baterainya cepat habis, tapi
masih setia."
Pemuda itu tersenyum.
"Menulis itu tidak butuh alat mahal, Nak. Yang butuh
cuma kemauan. Dan konsistensi."
Arman mulai mengajari pemuda itu. Tentang 5W+1H, tentang
piramida terbalik, tentang memilih foto yang bagus.
Sari keluar membawa kopi. Melihat suaminya mengajar, ia
tersenyum.
Masih sama seperti dulu,
pikirnya. Tidak pernah lelah berbagi.
Matahari semakin tinggi. Suara ayam dan burung terdengar
dari kejauhan. Angin desa berhembus pelan.
Di teras rumah sederhana itu, seorang legenda sedang
menyalakan api baru.
Api literasi desa.
Api yang akan terus menyala, dari generasi ke generasi.
Selesai
CATATAN PENULIS
Novel ini adalah karya fiksi yang terinspirasi dari kisah
nyata ribuan pengelola website desa di berbagai daerah di Indonesia. Tokoh
Arman adalah representasi dari mereka—para pejuang literasi digital yang
bekerja diam-diam namun memberi dampak besar bagi desa-desa di tanah air.
Kisah ini ingin menyampaikan beberapa pesan:
1.
Setiap orang bisa
memulai dari nol. Arman memulai
perjalanannya hanya dengan kemampuan mengetik dua jari. Tidak ada bakat
istimewa, tidak ada pendidikan khusus. Yang ada hanyalah kemauan belajar dan
konsistensi.
2.
Perubahan besar dimulai
dari langkah kecil. Artikel pertama Arman
sangat sederhana. Tapi dari situlah semuanya bermula. Satu langkah kecil, jika
dilakukan konsisten, bisa membawa perubahan besar.
3.
Berbagi ilmu adalah
investasi terbaik. Arman tidak menyimpan
ilmunya sendiri. Ia berbagi dengan siapa pun yang mau belajar. Dan hasilnya, ia
melahirkan generasi baru penulis desa yang akan terus melanjutkan
perjuangannya.
4.
Keluarga adalah fondasi
utama. Di balik kesuksesan Arman, ada Sari
yang selalu mendukung. Dukungan keluarga adalah bahan bakar yang membuatnya
terus bertahan di saat-saat sulit.
5.
Desa punya cerita yang
layak didengar. Selama ini, cerita
tentang desa sering terpinggirkan. Padahal, desa menyimpan kekayaan budaya,
kearifan lokal, dan kisah inspiratif yang tak kalah menarik dari cerita kota.
6.
Teknologi hanyalah alat. Yang terpenting bukan kecanggihan teknologi, tapi
bagaimana teknologi itu digunakan. Website desa yang sederhana namun aktif
lebih bermanfaat daripada website canggih yang kosong.
7.
Konflik adalah bagian
dari proses. Arman menghadapi
berbagai konflik: kritik, tuduhan, bahkan penarikan kepercayaan. Tapi ia tidak
menyerah. Ia belajar dari setiap konflik dan menjadi lebih baik.
8.
Keberhasilan sejati
adalah ketika orang lain sukses berkat kita.
Arman mencapai puncak kebahagiaannya bukan saat menerima penghargaan, tapi saat
melihat anak didiknya sukses.
Semoga kisah ini menginspirasi para pembaca, terutama yang
tinggal di desa atau berkecimpung dalam pemerintahan desa, untuk mulai menulis
dan mendokumentasikan kegiatan desa.
Website desa bukan sekadar kewajiban administratif, tapi
jendela yang membuka desa kepada dunia.
Dan setiap orang, dengan segala keterbatasannya, bisa
menjadi penjaga jendela itu.
Selamat menulis, selamat berkarya, selamat menjadi penjaga
cerita desa!
Slamet
Riyadi
Penulis, pegiat literasi desa, admin website desa sejak 2023.
Desa Sriwidadi, 06 Maret 2026
"Ketika anak muda desa mulai menulis, masa depan desa akan terang."
"Ketika seorang legenda lahir dari kesederhanaan, inspirasi akan menyebar ke mana-mana."







0 komentar:
Posting Komentar