Novel
Jalan Terjal Menuju Cahaya
Sebuah kisah tentang
perjuangan, harapan, dan keberanian menapaki kehidupan
Oleh: Slamet Riyadi
Hidup tidak selalu berjalan di jalan yang rata. Ada manusia
yang sejak lahir sudah berada di jalan yang terang dan mudah, tetapi ada pula
yang harus meniti kehidupan melalui jalan yang sempit, berliku, dan penuh batu
tajam.
Sebagian orang berhenti ketika langkah mereka terasa
terlalu berat. Mereka memilih kembali, menyerah pada keadaan, atau menerima
hidup apa adanya tanpa mencoba mengubahnya. Mereka tenggelam dalam kenyamanan
kepasrahan, meyakini bahwa takdir telah menuliskan nasib mereka dengan tinta
yang tidak bisa dihapus. Mereka menjadi penonton dalam drama kehidupan mereka
sendiri, membiarkan arus membawa mereka ke mana pun tanpa perlawanan.
Namun ada pula manusia-manusia yang tetap berjalan.
Meskipun pelan. Meskipun tertatih. Meskipun kadang harus menahan luka di dalam
hati. Mereka adalah para pejalan kaki di jalan terjal kehidupan, yang percaya
bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, akan membawa mereka lebih dekat pada
sesuatu yang mereka sebut cahaya. Mereka adalah para pemimpi yang tidak pernah
berhenti bermimpi, para pejuang yang tidak pernah lelah berjuang.
Kisah ini adalah tentang perjalanan seperti itu.
Perjalanan seorang anak desa yang lahir dari keluarga
sederhana. Seorang anak yang tumbuh di tengah keterbatasan, tetapi memiliki
mimpi yang jauh lebih besar dari pada desa tempat ia dilahirkan. Ia lahir di
atas tanah yang subur, tetapi tanah itu tidak cukup untuk memupuk mimpinya yang
begitu luas. Ia dibesarkan di antara sawah-sawah yang menghijau, tetapi
imajinasinya melompat jauh melampaui bukit-bukit yang mengelilingi desanya.
Ia tidak lahir dari keluarga kaya. Ia tidak memiliki
kekuasaan atau kemudahan hidup. Yang ia miliki hanyalah keyakinan bahwa hidup
tidak boleh berhenti hanya karena keadaan. Dan keyakinan itu, sekecil apa pun,
adalah modal paling mahal yang pernah dimiliki seseorang. Keyakinan itu adalah
api kecil di tengah kegelapan, yang jika dirawat dengan baik, bisa menjadi
cahaya yang menerangi jalan.
Namanya Bima.
Dan kisahnya dimulai pada sebuah senja yang tenang di
sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian kota.
Desa itu bernama Sumber Jaya. Sebuah nama yang mengandung
harapan, meskipun kenyataannya, tidak semua penduduknya hidup dalam sumber
kejayaan. Desa itu terletak di kaki bukit, dikelilingi oleh hamparan sawah yang
hijau dan sungai kecil yang mengalir perlahan di sepanjang tahun. Rumah-rumah
kayu sederhana berdiri di antara pepohonan rindang, dengan halaman-halaman yang
ditumbuhi tanaman obat dan bunga-bunga liar.
Di desa itu, kehidupan berjalan dengan ritme yang lambat
namun penuh makna. Pagi hari diisi dengan suara ayam berkokok dan para petani
yang berangkat ke sawah membawa cangkul di pundak mereka. Ibu-ibu sibuk di
dapur, menyiapkan bekal untuk suami dan anak-anak yang akan berangkat ke
sekolah. Siang hari dipenuhi terik matahari yang membakar ladang-ladang padi,
sementara anak-anak sekolah berlarian pulang dengan keringat membasahi baju seragam
mereka yang lusuh. Dan sore hari, ketika matahari mulai turun di balik
perbukitan, desa itu berubah menjadi tempat yang tenang dan damai. Para lelaki
berkumpul di warung kopi milik Pak Jono, para ibu duduk di teras rumah sambil
mengobrol atau menjemur padi, dan anak-anak bermain di lapangan kecil sampai
matahari benar-benar tenggelam.
Namun bagi seorang anak laki-laki bernama Bima, sore hari
adalah waktu yang paling istimewa. Bukan karena ia bisa bermain seperti
teman-temannya, tetapi karena sore hari adalah waktu ia bisa duduk sendiri di
tepi sawah, memandang langit yang berubah warna, dan membiarkan imajinasinya
terbang jauh melampaui bukit-bukit yang mengelilingi desanya.
Pada suatu sore yang hangat, langit tampak berwarna jingga
keemasan. Matahari perlahan turun menuju ufuk barat, menyinari hamparan sawah
yang luas dengan cahaya yang lembut. Warna jingga bercampur ungu dan merah
muda, menciptakan lukisan alam yang tak ternilai harganya. Awan-awan tipis
terbentang seperti sapuan kuas di kanvas raksasa. Angin berhembus perlahan,
menggerakkan batang-batang padi yang mulai menguning, menciptakan ombak hijau
keemasan yang bergerak seirama.
Di tepi sawah yang luas itu, seorang anak laki-laki duduk
di atas pematang tanah. Wajahnya masih polos, dengan pipi yang sedikit merona
karena terik matahari seharian. Namun matanya, matanya tampak seperti sedang
memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar dari usianya. Ada kilau di sana, kilau
yang tidak dimiliki oleh kebanyakan anak seusianya. Kilau yang berbicara
tentang mimpi, tentang harapan, tentang keyakinan bahwa hidup bisa lebih dari
sekadar apa yang terlihat di depan mata.
Anak itu adalah Bima. Usianya baru sembilan tahun ketika
cerita ini dimulai, tetapi pundaknya sudah terbiasa memikul tanggung jawab yang
seharusnya belum ia emban. Ia adalah anak tunggal dari pasangan petani
sederhana, Pak Sanusi dan Bu Yuyun. Sejak usia lima tahun, ia sudah diajak ke
sawah, belajar tentang tanaman padi, tentang air, tentang tanah, tentang
bagaimana bekerja keras tanpa mengeluh.
Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya dengan kulit
yang gelap karena matahari. Garis-garis keriput mulai menghiasi wajahnya, bekas
dari puluhan tahun bekerja di bawah terik matahari tanpa mengenal lelah.
Tangannya kasar dan penuh bekas kerja keras, kapalan di telapak, retak-retak di
jari, kuku yang kering dan pecah-pecah. Di wajahnya tergambar keteguhan seorang
lelaki yang telah lama berdamai dengan kerasnya kehidupan. Ia adalah Pak
Sanusi, ayah Bima.
Pak Sanusi bukanlah seorang yang banyak bicara. Ia lebih
sering berbicara melalui tindakan. Setiap pagi ia berangkat ke sawah sebelum
matahari terbit, dan pulang ketika matahari sudah condong ke barat. Ia tidak
pernah mengeluh, tidak pernah menggerutu, meskipun hasil panen sering kali
tidak sebanding dengan keringat yang ia keluarkan. Baginya, hidup adalah
tentang menerima dan menjalani, tentang bersyukur atas apa yang ada, dan
tentang bekerja tanpa pamrih untuk orang-orang yang dicintai.
Pak Sanusi memandang hamparan sawah di hadapannya dengan
tenang. Sawah itu adalah kehidupan baginya. Di sanalah ia menghabiskan sebagian
besar waktunya, menanam dan menuai, berharap dan kadang kecewa. Namun ia tidak
pernah membenci sawahnya. Ia justru mencintainya, karena dari sawah itulah ia
bisa menghidupi keluarganya.
Kemudian, dengan gerakan yang pelan dan penuh arti, ia
duduk di samping anaknya. Untuk sesaat mereka terdiam, menikmati keheningan
yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Di kejauhan, seekor burung
elang terbang melingkar, mungkin mencari mangsa di antara sawah-sawah.
"Capek, Nak?" tanyanya
dengan suara pelan, suara yang lembut meskipun terbiasa dengan kerja keras.
Bima menggeleng, meskipun sebenarnya tubuh mungilnya terasa
lelah setelah seharian membantu di sawah. "Tidak, Pak."
Pak Sanusi tersenyum kecil. Ia tahu anaknya berbohong,
tetapi ia juga tahu bahwa kebohongan kecil itu lahir dari keteguhan hati, dari
keinginan untuk tidak merepotkan orang tua. "Bekerja di sawah
memang tidak mudah. Panas, lumpur, dan kadang hasilnya tidak seberapa."
Bima memandang ayahnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Pertanyaan yang selama ini mengendap di hatinya akhirnya keluar juga. "Bapak
tidak pernah bosan?"
Pak Sanusi tertawa kecil. Tawanya bukan tawa yang keras,
tetapi tawa yang dalam, seperti gemericik air sungai yang mengalir tenang,
seperti dedaunan yang berbisik ditiup angin. "Bosankah matahari
terbit setiap pagi?"
Bima mengerutkan keningnya, mencoba memahami perumpamaan
itu. "Maksud Bapak?"
Pak Sanusi menatap langit yang mulai berubah warna. Merah
jingga perlahan berganti menjadi ungu tua di ufuk timur, pertanda malam akan
segera tiba. "Dalam hidup ini, Nak, tidak semua orang berjalan di
jalan yang mudah. Ada orang yang harus melewati jalan yang panjang dan terjal.
Tapi seperti matahari, kita harus terus terbit setiap pagi, tidak peduli
seberapa lelahnya kita kemarin. Kita harus terus bekerja, tidak peduli seberapa
beratnya."
Bima terdiam sejenak. Matanya menatap hamparan sawah yang
luas seakan sedang membayangkan sesuatu. Di kepalanya, ia membayangkan dirinya
berjalan di jalan yang panjang itu, melewati bukit-bukit, melintasi
sungai-sungai, sampai akhirnya tiba di tempat yang selama ini hanya ia lihat
dalam mimpinya.
"Kalau jalannya terlalu berat bagaimana, Pak?"
Pak Sanusi menepuk bahu anaknya dengan lembut. Tangannya
yang kasar terasa hangat di pundak Bima, seperti selimut di malam dingin. "Selama
kita tidak berhenti berjalan, kita pasti akan sampai. Mungkin tidak hari ini,
mungkin tidak besok. Tapi suatu hari nanti, ketika kamu menoleh ke belakang,
kamu akan sadar bahwa semua langkah berat itu telah membawamu sejauh ini."
Bima kembali menatap ayahnya. Ada sesuatu yang mengganjal
di hatinya, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia tanyakan karena takut
jawabannya akan memupuskan harapannya. "Bapak..."
"Iya?"
"Apakah orang seperti kita bisa memiliki kehidupan
yang lebih baik?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Angin sore berhenti
sejenak, seolah ikut menunggu jawaban. Burung-burung yang terbang di kejauhan
tiba-tiba diam. Daun-daun padi berhenti bergoyang.
Pak Sanusi terdiam beberapa saat. Bukan karena ia tidak
tahu jawabannya, tetapi karena ia ingin memilih kata-kata yang tepat. Kata-kata
yang bisa menjadi pegangan bagi anaknya kelak, ketika ia harus menghadapi dunia
yang keras sendirian.
Ia kemudian menarik napas panjang dan memandang jauh ke
arah matahari yang hampir tenggelam. "Bisa, Nak."
Bima menatap ayahnya dengan mata berbinar. Binar itu adalah
harapan, dan harapan adalah hal paling mahal yang bisa diberikan seorang ayah
kepada anaknya. "Benarkah?"
Pak Sanusi mengangguk pelan. "Tapi ada satu
hal yang harus kamu ingat."
"Apa itu, Pak?"
Pak Sanusi mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah
matahari yang hampir tenggelam di balik perbukitan. "Lihat ke
sana."
Bima mengikuti arah tangan ayahnya. Langit tampak seperti
lautan cahaya yang indah. Jingga, ungu, merah muda, dan emas bercampur menjadi
satu, menciptakan pemandangan yang membuat siapa pun yang melihatnya akan
merasa kecil sekaligus takjub. Itu adalah lukisan alam yang tidak akan pernah
bisa ditiru oleh pelukis mana pun.
"Itulah cahaya," kata Pak Sanusi perlahan. "Cahaya selalu
ada di depan sana. Tidak peduli seberapa gelap malam yang kita lalui, cahaya
itu akan selalu terbit lagi di ufuk timur. Tidak peduli seberapa keras badai
menerjang, matahari akan selalu muncul kembali."
Bima terdiam, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut
ayahnya.
"Tapi untuk sampai ke sana," lanjut Pak Sanusi, "kita harus berani
berjalan. Meskipun jalannya terjal. Meskipun kadang kita jatuh. Meskipun
orang-orang di sekitar kita bilang itu mustahil. Meskipun kadang kita merasa
sendiri dan putus asa."
Bima menundukkan kepalanya perlahan. Jari-jarinya yang
kecil memainkan tanah di pematang sawah. "Apakah Bapak percaya aku
bisa melakukannya?"
Pak Sanusi menatap anaknya dengan mata yang hangat. Mata
yang sama yang telah melihat Bima tumbuh dari bayi mungil menjadi anak
laki-laki yang mulai bermimpi. Mata yang sama yang telah melihat Bima pertama
kali belajar berjalan, jatuh bangun, sampai akhirnya bisa berlari. Mata yang
sama yang selalu memandangnya dengan cinta tanpa syarat.
"Bapak tidak hanya percaya."
Ia tersenyum, dan senyum itu seperti sinar matahari pagi
yang menghangatkan setelah malam yang panjang.
"Bapak yakin."
Bima memandang kembali matahari yang hampir tenggelam. Kini
hanya tersisa setengah lingkaran merah di ufuk barat. Sebentar lagi malam akan
tiba, dengan segala kegelapan dan misterinya. Tapi Bima tidak takut. Karena di
dalam hatinya, ia telah membawa secercah cahaya dari kata-kata ayahnya.
Di dalam hatinya, sesuatu mulai tumbuh. Sesuatu yang selama
ini hanya samar-samar ia rasakan. Sebuah mimpi kecil. Sebuah keyakinan yang
belum sepenuhnya ia pahami. Bahwa suatu hari nanti, ia akan berjalan jauh dari
desa kecil itu. Menapaki jalan panjang kehidupan. Melewati luka, kegagalan, dan
kesulitan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun di ujung perjalanan itu, ia percaya ada sesuatu yang
menunggunya. Sesuatu yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan. Sesuatu yang
membuatnya terus bertahan meskipun kadang ia tidak tahu persis apa itu.
Sebuah cahaya.
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya. Senja berganti
malam. Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, seperti berlian yang
tersebar di beludru hitam. Dan di tepi sawah itu, seorang ayah dan anaknya
masih duduk berdampingan, menikmati momen yang akan menjadi kenangan abadi di
hati mereka.
Tanpa mereka sadari, sejak senja itu kehidupannya telah
memilih jalannya sendiri. Sebuah jalan yang tidak mudah. Sebuah jalan yang
penuh batu dan tanjakan. Sebuah jalan yang akan menguji setiap inci keteguhan
hatinya. Sebuah jalan yang akan membuatnya menangis, tertawa, jatuh, dan
bangkit berkali-kali.
Sebuah jalan terjal menuju cahaya.
****
Pagi di Desa Sumber Jaya selalu dimulai dengan cara yang
sederhana. Ketika matahari baru saja muncul di balik perbukitan, memperlihatkan
diri dengan malu-malu seperti gadis desa yang baru bangun tidur, suara ayam
jantan sudah lebih dulu memecah kesunyian. Kokok mereka bersahut-sahutan,
menciptakan orkestra alam yang sudah berlangsung selama ratusan tahun, sejak
desa itu pertama kali didirikan oleh para leluhur.
Udara masih terasa dingin, menusuk tulang bagi mereka yang
baru keluar dari selimut. Embun menempel di ujung daun padi yang terbentang
luas seperti karpet hijau yang tak berujung. Di kejauhan, kabut tipis masih
menyelimuti perbukitan, memberikan kesan mistis pada pemandangan pagi itu.
Burung-burung mulai berkicau, menyambut datangnya hari baru.
Di sebuah rumah kayu sederhana di tepi desa, berdiri di
atas tanah seluas seratus meter persegi dengan dinding papan yang sudah mulai
lapuk dimakan usia, seorang anak laki-laki telah bangun lebih awal dari
kebanyakan anak seusianya. Rumah itu hanya memiliki tiga ruangan: satu ruang
tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga, satu kamar tidur untuk orang
tuanya, dan satu kamar kecil di belakang yang menjadi tempat tidur Bima dan
tempat menyimpan peralatan pertanian. Dapur terletak di bangunan terpisah di
belakang, dengan tungku kayu bakar dan peralatan seadanya. Di samping rumah,
ada kandang ayam kecil dan tempat menjemur padi.
Namanya Bima. Usianya baru menginjak sembilan tahun ketika
cerita ini dimulai, tetapi matanya sudah menyimpan kedalaman yang tidak biasa
pada anak seusianya. Bukan kedalaman karena pengalaman, tetapi kedalaman karena
pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan, tetapi terus bergemuruh di
dalam hatinya. Pertanyaan tentang dunia di luar desa, tentang kehidupan yang
lebih baik, tentang mimpi-mimpi yang mungkin bisa ia raih.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Bima sudah berdiri di halaman
rumah sambil mengenakan topi caping kecil milik ayahnya. Topi itu terlalu besar
untuk kepalanya, sehingga kadang menutupi matanya jika ia tidak menengadahkan
kepala. Di tangannya ia memegang cangkul kecil yang hampir sebesar tubuhnya
sendiri, pemberian ayahnya ketika ia berusia tujuh tahun. Cangkul itu sudah
mulai aus, gagangnya sudah halus karena sering digenggam.
Dari dalam rumah terdengar suara ibunya yang lembut namun
jelas. "Bima... kamu sudah bangun?"
"Iya, Bu," jawab
Bima sambil tetap fokus mencoba mengatur posisi topi yang selalu miring.
Ibunya, Bu Yuyun, keluar dari dapur sambil membawa sebuah
piring berisi nasi dan ikan asin. Wajahnya bulat dengan rambut disanggul
sederhana menggunakan tusuk bambu. Wajahnya yang teduh selalu menjadi sumber ketenangan
bagi Bima. Ada garis-garis halus di sekitar matanya, bekas dari banyak malam
begadang menunggui Bima ketika sakit, atau menyelesaikan pekerjaan rumah
setelah seharian bekerja di sawah bersama suaminya.
Ia menatap anaknya dengan sedikit rasa heran, bercampur
bangga dan juga khawatir. "Kenapa bangun pagi sekali? Bukankah
hari ini kamu sekolah?"
Bima tersenyum kecil, senyum yang sama seperti senyum
ayahnya. Senyum yang hangat dan tulus. "Aku mau membantu Bapak
dulu di sawah."
Bu Yuyun menghela napas pelan. Ia meletakkan piring nasi di
atas meja kayu sederhana di ruang tamu. "Tidak perlu setiap hari
ikut ke sawah, Nak. Kamu masih anak-anak. Biar Bapak saja yang bekerja. Kamu
cukup belajar."
Bima menggeleng perlahan. Ada keteguhan dalam gelengan itu,
meskipun gerakannya halus. "Tidak apa-apa, Bu. Aku ingin belajar.
Bapak bilang, hidup harus dijalani. Aku mau belajar menjalani hidup dari
sekarang."
Bu Yuyun tersenyum tipis. Ia tahu anaknya memang berbeda
dari kebanyakan anak di desa itu. Bima memiliki semangat yang jarang ia lihat
pada anak seusianya. Sebuah semangat yang kadang membuatnya bangga, tetapi juga
kadang membuatnya khawatir.
Tidak lama kemudian, Pak Sanusi keluar dari rumah sambil
membawa sabit di tangannya. Pakaiannya sudah siap untuk ke sawah: kemeja lusuh
lengan panjang, celana panjang yang digulung hingga lutut, dan topi caping yang
sama seperti yang dipakai Bima, hanya saja ukurannya pas di kepalanya. Di
bahunya tersampir karung kosong untuk membawa hasil panen.
Ia terkejut melihat Bima sudah siap berangkat, berdiri
tegap di halaman dengan cangkul kecil di tangan. "Lho, kamu sudah
siap dari tadi?"
Bima mengangguk antusias. "Ayo, Pak. Kita ke
sawah. Aku sudah sarapan."
Pak Sanusi menatap istrinya, yang hanya mengangkat bahu
dengan pasrah. "Kamu ini seperti orang yang sudah dewasa
saja," katanya sambil tertawa kecil. "Tapi ingat,
kalau capek, bilang. Jangan dipaksa."
"Siap, Pak!" jawab
Bima dengan semangat.
Mereka berjalan bersama menuju sawah. Jalan kecil yang
mereka lewati masih basah oleh embun pagi, meninggalkan jejak kaki di tanah
yang lembap. Di kiri kanan jalan, tanaman liar tumbuh subur, beberapa di
antaranya sudah berbunga kecil. Capung-capung beterbangan rendah, mencari
tempat hinggap di ujung rumput. Kupu-kupu dengan sayap warna-warni terbang dari
satu bunga ke bunga lain.
Di kejauhan, beberapa petani sudah mulai bekerja di ladang
mereka. Ada yang sedang mencangkul, ada yang sedang memeriksa saluran air, ada
pula yang duduk-duduk di gubuk kecil sambil menikmati rokok kretek sebelum memulai
pekerjaan berat. Suara cangkul membelah tanah terdengar ritmis, seperti musik
pengiring pagi.
Pak Sanusi menyapa mereka satu per satu. Para petani itu
adalah teman-temannya sejak kecil, sejak mereka sama-sama belajar mencangkul
dari orang tua masing-masing. Mereka telah melalui suka duka bersama, panen
raya dan gagal panen, banjir dan kemarau panjang.
"Sanusi, itu anakmu sudah ikut lagi?" sapa seorang petani bernama Pak Dulah sambil berhenti
mencangkul. Pak Dulah adalah lelaki tua dengan badan kurus dan gigi yang sudah
ompong karena kebiasaan menginang. Meskipun usianya sudah enam puluhan,
semangat kerjanya tidak kalah dengan yang muda.
"Iya, Dul. Katanya mau belajar," jawab Pak Sanusi.
Pak Dulah tertawa, memperlihatkan gusinya yang tanpa
gigi. "Wah, anak muda zaman sekarang jarang yang mau ke sawah.
Biasanya pada malas, maunya main bola atau main layangan. Anakmu ini lain,
Sanusi. Lain benar."
"Semoga saja lain dalam kebaikan, Dul," jawab Pak Sanusi rendah hati.
"Pokoknya kalau anakmu besar nanti, pasti sukses.
Orang tua lihat dari sekarang," kata
Pak Dulah sambil mengacungkan jempol.
Bima hanya tersenyum malu mendengar pujian itu. Di dalam
hatinya, ia berjanji untuk tidak mengecewakan orang-orang yang percaya padanya.
Sesampainya di sawah, Pak Sanusi mulai mencangkul tanah
dengan gerakan yang terlatih, gerakan yang lahir dari puluhan tahun pengalaman.
Cangkulnya membelah tanah dengan ritme yang teratur: angkat, ayun, tancap,
tarik. Tanah yang gembur berbalik, memperlihatkan warna hitam yang subur. Sementara
itu, Bima mencoba menirukan gerakan ayahnya dengan cangkul kecil di tangannya.
Namun beberapa kali ia hampir terjatuh karena tanah yang
licin. Lumpur sawah yang basah membuat pijakannya tidak stabil. Kakinya yang
kecil tenggelam hingga mata kaki setiap kali ia melangkah, dan ia harus
mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengangkat kakinya lagi.
Pak Sanusi memperhatikannya sambil tersenyum. Kesabaran
adalah pelajaran pertama yang ia ajarkan pada anaknya. "Pelan-pelan
saja, Nak. Sawah ini tidak akan lari ke mana. Yang penting konsisten, jangan
terburu-buru. Lihat Bapak, pelan tapi pasti."
Bima berhenti sejenak dan mengusap keringat di dahinya.
Meskipun masih pagi, keringat sudah mulai membasahi pelipisnya. "Bapak
tidak capek bekerja seperti ini setiap hari?"
Pak Sanusi menghentikan cangkulnya. Ia menancapkan gagang
cangkul ke tanah dan bersandar sejenak. "Capek tentu saja."
"Lalu kenapa Bapak tetap melakukannya?"
Pak Sanusi menatap sawah yang luas di hadapannya. Hamparan
hijau itu bergerak lembut tertiup angin pagi, seperti lautan yang tenang. "Karena
hidup harus dijalani. Kalau aku berhenti karena capek, sawah ini tidak akan
menghasilkan padi. Kalau sawah tidak menghasilkan padi, kita tidak akan makan.
Kalau kita tidak makan, kita tidak akan punya tenaga untuk hidup. Begitu
seterusnya. Itulah siklus kehidupan."
Bima menunduk memandang lumpur yang menempel di kakinya.
Lendir dingin itu terasa aneh, tetapi juga akrab. "Apakah aku juga
harus menjadi petani seperti Bapak?"
Pak Sanusi tidak langsung menjawab. Ia memandang wajah
anaknya dengan serius. Di wajah itu ia melihat bayangan dirinya sendiri ketika
masih kecil, tetapi juga sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak ia miliki
dulu. Sesuatu yang disebut keberanian untuk bermimpi lebih besar.
"Kalau kamu mau menjadi petani, itu tidak salah.
Menjadi petani adalah pekerjaan mulia. Kita memberi makan orang-orang di kota
yang tidak punya waktu untuk bercocok tanam. Kita adalah pahlawan pangan,
meskipun tidak ada yang memberi kita medali."
"Kalau tidak?" Bima
menatap ayahnya dengan penuh harap.
Pak Sanusi tersenyum. "Kalau kamu punya mimpi
yang lebih besar, kejarlah."
Bima terdiam. Angin pagi berhembus perlahan melewati
hamparan sawah, membawa aroma tanah basah dan padi muda. Di kejauhan, seekor
burung terbang melintas, mungkin mencari sarang atau makanan.
"Bapak...," kata
Bima pelan.
"Iya?"
"Aku ingin sekolah setinggi mungkin."
Pak Sanusi memandangnya dengan penuh perhatian. "Kenapa?"
Bima menatap jauh ke arah perbukitan yang mulai terlihat
jelas setelah kabut pagi menghilang. Di balik bukit-bukit itu, ada dunia lain
yang belum pernah ia lihat. Ada gedung-gedung tinggi, jalan raya yang lebar,
dan orang-orang dengan pakaian rapi yang tidak pernah basah oleh lumpur sawah.
Ada sekolah-sekolah besar dengan buku-buku berlimpah. Ada kehidupan yang
berbeda.
"Aku ingin mengubah hidup kita."
Pak Sanusi terdiam cukup lama. Kalimat itu menggema di
kepalanya. Ia teringat masa mudanya, ketika ia juga bermimpi hal serupa. Tapi
kehidupan telah mengajarkannya bahwa mimpi tidak selalu mudah diwujudkan.
Kadang mimpi harus dikubur dalam-dalam, diganti dengan penerimaan atas
kenyataan. Namun ia tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama.
"Aku tidak ingin Bapak dan Ibu terus bekerja keras
seperti ini," lanjut Bima.
Pak Sanusi menarik napas panjang. "Sekolah
memang penting, Nak. Tapi jalan menuju ke sana tidak mudah."
"Aku tidak takut."
"Kamu tahu berapa biaya sekolah di kota?"
Bima menggeleng. "Tidak tahu."
"Banyak sekali. Untuk satu semester, bisa habis hasil
panen setahun."
Bima menatap ayahnya dengan penuh keyakinan. Keyakinan yang
tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Aku akan berusaha. Aku akan
bekerja kalau perlu. Aku tidak ingin jadi beban."
Pak Sanusi tersenyum tipis. "Kamu masih
kecil."
"Tapi mimpi tidak pernah terlalu kecil, Pak."
Jawaban itu membuat Pak Sanusi tertawa pelan. Tawanya
bercampur haru. "Kamu ini memang anak yang aneh."
Bima ikut tersenyum. Kehangatan menyelimuti mereka di
tengah hamparan sawah yang luas.
Setelah beberapa saat bekerja, dengan Bima yang mulai
menemukan ritmenya sendiri meskipun masih jauh dari sempurna, Pak Sanusi
berkata, "Sekarang pulanglah. Kamu harus bersiap ke sekolah. Nanti
terlambat, gurumu marah."
Bima mengangguk. Ia mencuci kaki di saluran air kecil yang
mengalir di tepi sawah. Airnya dingin dan menyegarkan, membersihkan lumpur yang
menempel di sela-sela jari kakinya. Ia membasuh muka, menghilangkan keringat
dan rasa lelah.
Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan beberapa teman
sebayanya yang sedang bermain di pinggir jalan. Mereka adalah Joko, Slamet, dan
Karjo, tiga sekawan yang terkenal nakal di desa. Joko paling besar di antara
mereka, dengan badan kekar dan suara keras. Ia adalah anak seorang buruh tani
yang suka berkelahi. Slamet kurus dengan wajah culun, selalu mengikuti apa kata
Joko. Ia anak janda, sering kelaparan karena ibunya tidak punya uang. Karjo
pendek dengan kepala plontos, suka membuat ulah. Ia anak seorang penjual sate,
sering membawa sate untuk teman-temannya.
Mereka sedang bermain layangan. Layangan Joko paling besar
dan paling tinggi terbangnya, terbuat dari kertas minyak dan bambu pilihan.
"Bima!" teriak
Joko. "Main layangan, yuk! Aku punya benang gelasan baru, bisa
untuk gelut layangan!"
Bima menggeleng. "Aku harus ke sekolah."
Slamet tertawa. "Untuk apa sekolah tinggi-tinggi?
Kita ini anak desa. Nanti juga jadi petani kayak bapak kita."
Karjo menimpali, "Iya, iya. Mending main
layangan. Sekolah itu buat apa? Nilai-nilai juga nggak bisa dijual. Mending
main, besok-besok juga kerja."
Bima berhenti sejenak. Ucapan teman-temannya itu
mengusiknya, tetapi tidak menggoyahkannya. "Aku ingin menjadi
orang yang berguna."
Joko kembali tertawa, lebih keras kali ini. "Bermimpi
saja kamu. Lihat nanti, setelah lulus SD, kamu juga akan ke sawah kayak
bapakmu. Mau sekolah tinggi, ortumu mana mampu?"
"Jangan terlalu tinggi bermimpi, nanti jatuhnya
sakit," sahut Slamet.
Bima tidak marah. Ia hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan
langkahnya. Di belakangnya, ia masih mendengar suara tawa mereka, tetapi
hatinya tidak goyah. Ia tahu, orang-orang seperti Joko, Slamet, dan Karjo tidak
bisa melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Bagi mereka, desa adalah
segalanya, akhir dari segalanya. Bagi Bima, desa hanyalah awal.
Sesampainya di rumah, Bu Yuyun sudah menyiapkan pakaian
sekolahnya. Seragam putih merah yang sudah mulai pudar dan lusuh, tetapi selalu
dicuci dan disetrika dengan rapi. Ibu Bima adalah wanita yang teliti; meskipun
seragam itu sudah tua, ia selalu berusaha membuatnya terlihat layak dipakai.
Sepatu Bima sudah bolong di bagian jempol, tetapi masih bisa dipakai.
"Kamu dari sawah lagi?" tanya Bu Yuyun sambil mengelap tangan di kain yang
tersampir di bahu.
Bima mengangguk. Ia meletakkan cangkul kecilnya di sudut
rumah, lalu duduk di bangku kayu untuk melepas sepatu butut itu.
Bu Yuyun menatapnya dengan penuh kasih. "Kamu
tidak capek?"
"Sedikit."
"Kenapa tetap dilakukan?"
Bima menjawab dengan tenang, dengan suara yang terdengar
lebih dewasa dari usianya. "Karena aku ingin belajar menjadi
kuat."
Bu Yuyun tersenyum. "Untuk apa?"
Bima mengenakan tas sekolahnya, tas pemberian Pak Rahmat
yang sudah tidak dipakai anak gurunya itu. Meskipun bukan baru, tas itu masih
layak pakai dan jauh lebih baik daripada tidak punya tas sama sekali.
"Untuk berjalan lebih jauh."
"Sejauh apa?"
Bima menatap jalan kecil yang membentang keluar desa. Jalan
yang sama yang setiap hari ia lalui, tetapi kali ini ia melihatnya dengan cara
yang berbeda. "Sejauh mungkin. Sampai aku bisa membuat Bapak dan
Ibu tidak perlu bekerja keras lagi."
Bu Yuyun tidak bisa berkata-kata. Ia hanya memeluk anaknya
erat. Di dalam pelukan itu, Bima merasakan kehangatan yang memberinya kekuatan
untuk terus melangkah.
Ia melangkah menuju sekolah dengan langkah yang ringan
meskipun tubuhnya lelah. Di dalam hatinya, mimpi itu semakin jelas. Mimpi untuk
keluar dari keterbatasan. Mimpi untuk mengubah nasib keluarganya. Mimpi untuk
menemukan cahaya yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.
Dan tanpa ia sadari, langkah kecilnya pagi itu adalah awal
dari perjalanan panjang yang akan membawa hidupnya menuju jalan yang tidak
mudah. Jalan yang akan menguji setiap inci tekadnya, setiap ons keyakinannya.
Jalan yang akan membuatnya menangis, tertawa, jatuh, dan bangkit berkali-kali.
Sebuah jalan terjal menuju cahaya.
****
Hari-hari di Desa Sumber Jaya berjalan seperti biasanya.
Matahari terbit dari balik perbukitan dengan setia, seolah tidak pernah lelah
menjalankan tugasnya. Para petani berangkat ke sawah dengan langkah yang sama
seperti kemarin, seperti lusa, seperti tahun-tahun sebelumnya. Anak-anak
berjalan menuju sekolah dengan langkah santai di jalan tanah yang membelah
desa, kadang berhenti untuk mengejar capung atau memetik buah-buahan liar di
pinggir jalan.
Namun bagi Bima, hari itu terasa sedikit berbeda. Sejak
percakapan dengan ayahnya beberapa waktu lalu di tepi sawah, mimpi yang ada di
dalam hatinya semakin jelas. Ia tidak hanya ingin bersekolah seperti biasa. Ia
ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi, pergi ke kota, dan suatu hari
kembali membawa perubahan bagi keluarganya.
Mimpi itu terus tumbuh di dalam pikirannya, seperti tunas
padi yang dirawat dengan baik. Ia memupuknya setiap hari dengan belajar
sungguh-sungguh, dengan membantu orang tuanya tanpa mengeluh, dengan membaca
buku-buku yang dipinjamkannya dari Pak Rahmat. Setiap malam, di bawah lampu
teplok yang redup, ia membaca buku-buku itu sampai matanya perih.
Namun ia belum tahu bahwa tidak semua orang akan memahami
mimpi tersebut. Di desa kecil seperti Sumber Jaya, mimpi besar sering dianggap
sebagai penyakit. Orang-orang lebih nyaman dengan rutinitas, dengan apa yang
sudah mereka kenal sejak lahir. Mimpi dianggap sebagai pengganggu ketenangan,
sebagai sesuatu yang hanya akan membawa kekecewaan. Mereka lebih suka hidup
dalam zona nyaman mereka, meskipun zona nyaman itu sebenarnya adalah zona
kemiskinan.
Sore itu, setelah pulang sekolah, Bima membantu ayahnya
mengangkat karung padi ke dalam lumbung kecil di belakang rumah. Hasil panen
kali ini cukup baik, meskipun tidak melimpah. Ada sekitar sepuluh karung padi
yang harus mereka angkat satu per satu. Setiap karung beratnya sekitar lima
puluh kilogram, terlalu berat untuk Bima, tetapi ia tetap membantu semampunya.
Tubuhnya berkeringat, tetapi wajahnya terlihat penuh
semangat. Setiap karung yang ia angkat, meskipun berat, terasa ringan karena ia
tahu itu adalah hasil kerja keras keluarganya. Ia bisa membayangkan nasi hangat
dari padi-padi itu, bisa membayangkan ibunya memasak dengan senyum bahagia.
Pak Sanusi memperhatikan anaknya sambil tersenyum
tipis. "Kamu kelihatan senang sekali hari ini."
Bima mengangguk. "Aku ingin mengatakan
sesuatu, Pak."
Pak Sanusi berhenti mengikat karung padi. Tangannya
berhenti bergerak, dan ia menatap anaknya dengan penuh perhatian. "Apa
itu?"
Bima menarik napas sejenak, seolah sedang mengumpulkan
keberanian. Kata-kata yang sudah lama ia pendam akhirnya ingin ia
ucapkan. "Setelah lulus nanti, aku ingin melanjutkan sekolah ke
kota."
Pak Sanusi terdiam. Bukan karena marah, tetapi karena ia
tahu betapa berat jalan yang akan dihadapi anaknya. Ia sendiri tidak pernah
sekolah tinggi, dan ia tahu betapa sulitnya hidup di kota bagi orang seperti
mereka. Ia tahu bahwa kota bisa menjadi tempat yang kejam bagi mereka yang
tidak siap.
"Kamu benar-benar ingin melanjutkan sekolah?"
"Iya, Pak."
"Kenapa?"
Bima menatap ayahnya dengan penuh keyakinan. "Aku
ingin belajar lebih banyak. Aku ingin mengubah hidup kita."
Pak Sanusi menghela napas perlahan. "Bima,
kamu tahu bahwa hidup di kota tidak mudah."
"Aku tahu."
"Biayanya juga besar. Untuk makan sehari-hari saja
susah, apalagi untuk sekolah."
"Aku akan bekerja kalau perlu. Aku tidak takut bekerja
keras, Pak."
Pak Sanusi menatap anaknya dengan dalam. Ia melihat
keteguhan yang jarang ia temui pada orang dewasa, apalagi pada anak-anak. "Apakah
kamu sudah memikirkan semuanya?"
Bima mengangguk pelan. "Sudah, Pak."
Pak Sanusi tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menepuk
bahu anaknya. "Nanti kita pikirkan bersama. Sekarang bantu Bapak
angkat karung yang ini."
Percakapan itu berakhir, tetapi tidak berhenti di situ.
Kata-kata Bima terus terngiang di kepala Pak Sanusi. Malam harinya, ketika
istri dan anaknya sudah tidur, ia duduk sendirian di ruang tamu, memikirkan
masa depan anaknya. Ia memandang langit-langit rumah yang mulai rapuh,
mendengar tikus-tikus berlarian di atasnya, dan bertanya-tanya apakah ia bisa
memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Keesokan harinya, berita tentang keinginan Bima untuk
melanjutkan sekolah ke kota mulai tersebar di desa. Di desa kecil seperti
Sumber Jaya, tidak ada rahasia yang bisa bertahan lama. Apalagi jika berita itu
datang dari keluarga sederhana seperti keluarga Bima. Berita menyebar dari
mulut ke mulut, dari tetangga ke tetangga, dari warung ke warung.
Warung kecil milik Pak Jono adalah pusat informasi utama di
Desa Sumber Jaya. Setiap sore, para lelaki desa berkumpul di sana, minum kopi
hitam pekat, mengisap rokok kretek, dan membicarakan apa saja, dari harga gabah
hingga gosip tetangga. Warung itu hanya berupa gubuk bambu dengan beberapa meja
kayu dan kursi plastik, tetapi selalu ramai dikunjungi. Di dindingnya
terpampang kalender bergambar pemandangan dan beberapa poster iklan rokok.
Hari itu, obrolan mereka tertuju pada Bima.
"Katanya anaknya Pak Sanusi ingin sekolah ke
kota," kata seorang pria
bernama Pak Kumis, julukan untuk lelaki dengan kumis tebal yang suka
berkomentar tentang apa pun. Pak Kumis adalah tetangga depan rumah Bima, tukang
ojek yang setiap hari mangkal di perempatan desa. Ia terkenal suka bergosip dan
punya komentar untuk segala hal.
"Anak yang sering membantu di sawah itu?" tanya Pak Jono sambil mengelap gelas dengan lap
kotor.
"Iya, itu. Anaknya kecil tapi rajin."
Pak Jono menggeleng. "Sekolah di kota itu
mahal. Mahal banget. Saya dengar dari keponakan saya, biaya pendaftaran saja
bisa jutaan. Belum lagi biaya hidup di sana."
Seorang warga lain, Pak Rasid, ikut menimpali. Pak Rasid
adalah petani setengah tua yang terkenal paling realistis di desa. "Anak
petani seperti mereka biasanya berhenti sekolah setelah lulus SD. Mending
langsung bekerja, bantu orang tua di sawah. Kalau punya uang, beli sawah
sendiri, jangan buat sekolah tinggi-tinggi. Lebih berguna."
"Terlalu tinggi mimpinya," sahut Pak Kumis. "Nanti juga kecewa.
Kasihan anaknya."
Mbah Karto, orang tua paling sepuh di desa yang sering
duduk di pojok warung sambil memainkan tasbih, ikut berkomentar. Suaranya parau
karena usia, tetapi masih jelas terdengar. "Dulu saya juga punya
mimpi. Waktu muda, saya ingin jadi pedagang sukses, punya toko besar di pasar.
Tapi hidup ini harus realistis, nduk. Kita ini orang desa, sudah sewajarnya
jadi petani. Jangan bermimpi muluk-muluk."
Beberapa orang tertawa pelan, setuju dengan ucapan Mbah
Karto. Mereka adalah orang-orang yang sudah lama berdamai dengan kenyataan,
yang sudah tidak punya energi untuk bermimpi lagi. Mereka telah menyerah pada
keadaan dan ingin orang lain juga melakukan hal yang sama.
Tanpa mereka sadari, Bima sedang berdiri tidak jauh dari
warung itu. Ia baru saja pulang dari rumah temannya, meminjam buku pelajaran.
Kata-kata dari warung itu terdengar jelas, menusuk telinganya seperti duri.
"Anak petani terlalu tinggi mimpinya."
"Nanti juga kecewa."
"Harus realistis."
Sejenak langkahnya terhenti. Dadanya terasa sesak. Ia ingin
berteriak, ingin membantah, tetapi ia hanya anak kecil. Apa yang bisa ia
lakukan? Mulutnya terkunci, kakinya terasa berat.
Namun ia tetap berjalan seolah tidak mendengar apa-apa. Ia
tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Ia terus melangkah, meskipun setiap kata
yang ia dengar terasa seperti beban yang ditambahkan ke pundaknya. Ia belajar
untuk menyembunyikan perasaannya, untuk tersenyum meskipun hatinya terluka.
Di halaman rumah, Bu Yuyun sedang menjemur pakaian.
Gerakannya teratur—mengambil baju dari ember, merentangkannya, lalu menjepitnya
dengan jepitan bambu. Jemuran itu adalah pakaian sederhana mereka, tetapi
selalu bersih dan wangi.
"Kamu sudah pulang?" sapanya tanpa menoleh.
Bima mengangguk. "Iya, Bu."
Bu Yuyun memperhatikan wajah anaknya. Seorang ibu selalu
bisa membaca perubahan pada anaknya, sekecil apa pun. Ia tahu ketika anaknya
bahagia, sedih, atau marah, bahkan sebelum anaknya mengucapkan sepatah kata
pun.
"Kamu kelihatan murung."
"Tidak apa-apa."
"Katakan saja. Ibu tahu ada sesuatu."
Bima duduk di bangku kayu di depan rumah. Kayu itu sudah
lapuk di beberapa bagian, tetapi masih cukup kuat untuk menahan beban. "Bu...
apakah mimpi yang terlalu tinggi itu salah?"
Bu Yuyun sedikit terkejut. Ia berhenti menjemur dan menatap
anaknya. "Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Tadi aku mendengar orang-orang di warung."
"Mereka berkata apa?"
"Mereka bilang mimpi anak petani seperti aku terlalu
tinggi."
Bu Yuyun terdiam sejenak. Ia duduk di samping anaknya,
melupakan pekerjaannya untuk sementara. "Bima," katanya
lembut, "dalam hidup ini selalu ada orang yang meragukan
kita."
Bima menunduk. Jari-jarinya memainkan tanah di
halaman. "Kenapa mereka begitu?"
"Karena mereka belum tentu berani bermimpi seperti
kamu. Orang yang tidak punya mimpi biasanya tidak suka melihat orang lain
bermimpi. Mereka merasa terusik. Mereka ingin semua orang sama seperti
mereka—pasrah dan menerima keadaan."
Bima menatap ibunya. "Apakah Ibu juga berpikir
mimpiku terlalu tinggi?"
Bu Yuyun tersenyum. Senyum itu adalah senyum yang sama yang
selalu memberinya ketenangan. "Tidak."
"Benarkah?"
"Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi orang yang
mau berusaha."
Bima merasa hatinya sedikit lebih tenang. Setidaknya ada
orang yang percaya padanya, meskipun seluruh desa meragukannya.
Saat itulah Pak Sanusi datang dari sawah. Wajahnya
berkeringat, bajunya basah, tetapi matanya tetap ramah. Ia membawa beberapa
batang tebu yang dipotongnya di perjalanan, manis dan segar untuk pelepas
dahaga.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya sambil meletakkan tebu di sudut rumah.
Bu Yuyun menjawab pelan. "Bima mendengar
orang-orang meragukan mimpinya."
Pak Sanusi menatap anaknya. Ia duduk di bangku kayu yang
sama, mengambil posisi di samping Bima. "Kamu sedih?"
Bima menggeleng, meskipun matanya sedikit
berkaca-kaca. "Hanya sedikit."
Pak Sanusi duduk lebih dekat. "Bima."
"Iya, Pak?"
"Kamu tahu kenapa orang-orang meragukanmu?"
"Kenapa?"
"Karena mereka hanya melihat keadaanmu sekarang."
Bima diam mendengarkan.
"Tapi kamu harus melihat dirimu di masa depan.
Orang-orang itu tidak tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, atau sepuluh
tahun lagi. Mereka hanya melihat yang sekarang. Mereka tidak bisa melihat
potensi."
Bima menatap ayahnya dengan penuh perhatian.
"Jangan biarkan keraguan orang lain menghentikan
langkahmu."
"Tapi kalau mereka benar bagaimana, Pak?"
Pak Sanusi tersenyum. "Kalau mereka benar,
setidaknya kamu sudah mencoba. Dan itu lebih berharga daripada tidak mencoba
sama sekali."
Bima menarik napas panjang.
"Dan kalau mereka salah?"
Pak Sanusi menatapnya dengan penuh keyakinan. "Suatu
hari mereka akan melihat bahwa mimpi anak petani juga bisa menjadi kenyataan.
Dan mereka akan malu dengan perkataan mereka hari ini."
Angin sore berhembus melewati halaman rumah, membawa
daun-daun kering yang beterbangan sebentar sebelum jatuh lagi. Langit perlahan
berubah warna menjadi jingga, pertanda matahari akan segera tenggelam.
Bima memandang jalan tanah yang membentang keluar desa.
Jalan itu tampak panjang, berkelok, dan gelap di ujungnya. Tapi di ujung sana,
entah di mana, ia yakin ada cahaya yang menunggunya.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa
perjalanan menuju mimpinya tidak akan mudah. Akan ada banyak keraguan. Akan ada
banyak orang yang meremehkan. Akan ada banyak malam di mana ia ingin menyerah.
Akan ada banyak air mata yang harus ia tumpahkan.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal: mimpi itu
tidak akan ia tinggalkan. Ia akan memeluknya erat-erat, merawatnya setiap hari,
dan membiarkannya tumbuh meskipun tidak ada yang percaya.
Karena bagi Bima, mimpi itu adalah langkah pertama menuju
cahaya yang selama ini ia cari. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun
memadamkannya.
****
Pagi itu langit Desa Sumber Jaya tampak cerah. Matahari
baru saja muncul dari balik perbukitan, menyinari jalan tanah yang dilalui
anak-anak desa menuju sekolah dasar yang berdiri sederhana di tengah lapangan
kecil. Sinar matahari pagi yang keemasan membuat segalanya terlihat indah,
seolah memberkati hari yang baru.
Bangunan sekolah itu tidak besar. Dindingnya terbuat dari
papan yang sudah mulai kusam dimakan waktu dan cuaca. Di beberapa tempat, papan
itu sudah berlubang kecil, cukup untuk mengintip ke luar atau melihat siapa
yang lewat. Atap sengnya sering berbunyi keras ketika hujan turun, membuat
suara guru kadang tidak terdengar. Lantainya masih tanah, dipadatkan dan disapu
setiap hari oleh murid-murid yang mendapat tugas piket. Di halaman sekolah, ada
beberapa pohon mangga dan jambu yang menjadi tempat berteduh anak-anak saat
istirahat.
Namun bagi anak-anak desa, sekolah itu adalah istana. Di
sanalah mereka belajar membaca, menulis, dan mengenal dunia di luar desa
mereka. Di sanalah mereka pertama kali mendengar tentang kota, tentang laut,
tentang gunung-gunung tinggi yang tidak pernah mereka lihat. Di sanalah mereka
belajar tentang pahlawan-pahlawan bangsa, tentang ilmuwan-ilmuwan hebat,
tentang kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas.
Termasuk bagi Bima. Dengan tas sekolah yang sudah mulai
usang di punggungnya, tas pemberian Pak Rahmat yang mulai sobek di beberapa sudut
tetapi masih bisa digunakan, Bima berjalan cepat menyusuri jalan kecil menuju
sekolah. Di dalam pikirannya masih teringat percakapan orang-orang di warung
yang meragukan mimpinya. Namun kali ini ia mencoba tidak memikirkannya terlalu
lama. Ia ingat kata-kata ayahnya: "Jangan biarkan keraguan orang lain
menghentikan langkahmu."
Setibanya di sekolah, bel kayu yang digantung di depan
kelas sudah berbunyi. Bunyinya khas: "tek-tek-tek" tiga kali,
pertanda pelajaran akan segera dimulai. Anak-anak segera masuk ke dalam kelas
mereka, berebut tempat duduk. Bima berjalan melewati mereka, menyapa beberapa
teman.
Bima duduk di bangku paling belakang, dekat jendela yang
menghadap ke sawah. Dari jendela itu ia bisa melihat hamparan hijau yang
menenangkan, mengingatkannya pada rumah dan ayahnya yang mungkin sedang bekerja
di sana. Pemandangan itu selalu memberinya ketenangan.
Di dalam kelas, seorang pria berdiri di depan papan tulis.
Papan tulis itu sudah usang, permukaannya licin di beberapa tempat sehingga
kapur sulit menempel. Pria itu mengenakan kemeja putih lusuh tetapi rapi,
dengan celana hitam yang disetrika meskipun sudah kusam. Wajahnya tampak tenang
dengan sorot mata yang tajam namun hangat. Ada kacamata tua di wajahnya, dengan
lensa tebal dan bingkai yang sudah mulai pudar warnanya.
Ia adalah Pak Rahmat, guru yang paling dihormati oleh
murid-murid di sekolah itu. Pak Rahmat sudah mengajar selama hampir dua puluh
tahun. Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis, tetapi semangatnya dalam
mengajar tidak pernah pudar. Ia datang ke sekolah lebih pagi dari siapa pun,
dan pulang lebih sore dari yang lain. Ia rela berjalan kaki lima kilometer
setiap hari dari rumahnya yang di ujung desa.
Pak Rahmat dikenal sebagai guru yang tegas tetapi sangat
peduli kepada murid-muridnya. Ia sering mengajar lebih dari sekadar pelajaran, ia
mengajarkan tentang kehidupan, tentang mimpi, tentang keberanian. Ia tahu bahwa
murid-muridnya kebanyakan berasal dari keluarga miskin, dan sekolah adalah
satu-satunya harapan mereka untuk keluar dari kemiskinan. Ia tidak pernah bosan
mengingatkan mereka tentang pentingnya pendidikan.
Pagi itu ia sedang menjelaskan pelajaran tentang cita-cita.
Materi itu selalu menjadi favoritnya, karena di situlah ia bisa menanamkan
benih-benih harapan pada anak-anak. Ia percaya bahwa cita-cita adalah bahan
bakar yang membuat seseorang terus bergerak maju.
"Anak-anak," katanya
sambil menulis sesuatu di papan tulis dengan kapur putih, "setiap
manusia memiliki masa depan. Dan masa depan itu sering dimulai dari mimpi.
Tanpa mimpi, kita seperti perahu tanpa kemudi, hanyut ke mana pun arus
membawa."
Beberapa murid tampak memperhatikan, tetapi sebagian
lainnya hanya saling bercanda. Joko, Slamet, dan Karjo, tiga sekawan yang
terkenal nakal, sedang asyik melempar kertas. Kertas-kertas kecil itu
beterbangan di sudut kelas, mengenai kepala teman-teman mereka. Pak Rahmat
memilih untuk mengabaikan mereka, setidaknya untuk saat ini.
Pak Rahmat melanjutkan, tidak terganggu oleh keributan
kecil itu. "Sekarang Bapak ingin bertanya. Siapa di antara kalian
yang memiliki cita-cita?"
Beberapa tangan terangkat. Pak Rahmat menunjuk seorang anak
di barisan depan, seorang anak laki-laki gemuk dengan pipi tembem dan senyum
lebar.
"Kamu, Budi. Apa cita-citamu?"
Budi berdiri sambil tersenyum malu, memperlihatkan gigi
depannya yang ompong karena jatuh waktu kecil. "Saya ingin menjadi
pedagang seperti ayah saya, Pak. Punya toko besar di pasar."
Pak Rahmat mengangguk. "Itu cita-cita yang
baik. Menjadi pedagang itu mulia, asalkan jujur. Ingat, pedagang yang jujur
akan dipercaya orang."
Kemudian ia menunjuk murid lain, seorang anak perempuan
dengan kucir dua bernama Wati. Wati adalah anak pendiam yang jarang bicara,
tetapi rajin mengerjakan tugas. Matanya selalu serius mengikuti pelajaran.
"Kalau kamu, Wati?"
Wati berdiri dengan gugup, jari-jarinya memainkan ujung
seragam. "Saya ingin menjadi perawat, Pak. Biar bisa merawat orang
sakit."
"Bagus sekali. Perawat itu pekerjaan mulia. Kamu akan
banyak membantu orang."
Beberapa anak lain juga menyebutkan cita-cita mereka. Ada
yang ingin menjadi tentara, guru, sopir bus, polisi, bahkan ada yang ingin
menjadi presiden, yang langsung disambut tawa oleh teman-temannya. Tapi Pak
Rahmat tidak pernah menertawakan mimpi siapa pun.
Akhirnya pandangan Pak Rahmat berhenti pada Bima yang sejak
tadi duduk diam di bangku belakang, memandang ke luar jendela dengan mata
kosong, melamunkan sesuatu.
"Bima."
Bima sedikit terkejut. Ia cepat-cepat mengalihkan
pandangannya dari sawah ke arah guru. "Iya, Pak?"
"Kamu belum mengatakan cita-citamu."
Seluruh kelas menoleh ke arahnya. Bima berdiri perlahan,
merasakan puluhan pasang mata menatapnya. Joko berbisik kepada Slamet, cukup
keras untuk didengar beberapa orang, "Dia mau jadi apa?
Petani?" Mereka tertawa kecil.
Bima mengabaikan mereka. Ia sudah terbiasa dengan ejekan
seperti itu. Ia menelan ludah sejenak, merasakan tenggorokannya kering.
"Apa cita-citamu?" tanya Pak Rahmat sekali lagi.
Bima menjawab dengan suara yang tenang, meskipun sedikit
bergetar. "Saya ingin melanjutkan sekolah setinggi mungkin,
Pak."
Beberapa murid mulai berbisik. Ada yang bertanya-tanya, apa
maksudnya "setinggi mungkin"? Bukankah lulus SD sudah cukup? Ada yang
mengangkat alis, ada yang cemberut bingung.
Pak Rahmat memperhatikan wajah Bima dengan serius. Ia bisa
melihat sesuatu di mata anak itu, sesuatu yang jarang ia lihat pada anak
seusianya. Ada api di sana, api yang tidak bisa dipadamkan oleh ejekan atau
keraguan.
"Kenapa?"
Bima menjawab dengan suara yang sama tenangnya, tetapi kali
ini lebih mantap. "Karena saya ingin mengubah hidup keluarga
saya."
Kelas tiba-tiba menjadi sunyi. Bahkan Joko dan
kawan-kawannya berhenti bercanda. Semua orang terdiam, meresapi kata-kata yang
baru saja diucapkan teman mereka. Kata-kata itu sederhana, tetapi memiliki
bobot yang dalam.
Pak Rahmat menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum. Senyum
yang hangat, penuh pengertian. "Itu cita-cita yang mulia."
Namun tiba-tiba terdengar suara tawa kecil dari sudut
kelas. Joko berkata pelan kepada temannya, tetapi cukup keras untuk
didengar: "Anak petani mau sekolah tinggi? Mau jadi apa? Kaya
raya?" Slamet dan Karjo ikut tertawa, meskipun agak ragu-ragu.
Pak Rahmat segera menoleh ke arah mereka. Wajahnya yang
biasanya ramah berubah serius. Sorot matanya tajam, membuat siapa pun yang
melihatnya akan merasa tidak nyaman. Ia berjalan mendekati bangku mereka dengan
langkah mantap.
"Joko, Slamet, Karjo. Ada yang lucu?"
Mereka langsung diam. Joko menunduk, tidak berani menatap
mata gurunya. Pak Rahmat berjalan mendekati bangku mereka. Langkahnya pelan
tetapi penuh wibawa. Setiap langkahnya bergema di kelas yang sunyi.
"Kalian tahu," katanya
dengan suara tegas, "orang besar tidak selalu lahir dari keluarga
besar. Banyak pemimpin, ilmuwan, dan orang sukses yang berasal dari keluarga
petani."
Ia berhenti di depan meja Joko. "Presiden
kedua kita, Pak Harto, juga anak petani. Bapak Proklamator kita, Bung Hatta,
lahir dari keluarga sederhana. Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan kita, juga
berjuang dari bawah. Mereka semua bermimpi, dan mereka berhasil."
Joko menunduk lebih dalam. "Maaf, Pak."
Pak Rahmat kembali menatap Bima. Suaranya melunak. "Bima."
"Iya, Pak?"
"Apakah kamu benar-benar ingin melanjutkan
sekolah?"
"Iya, Pak."
"Meskipun jalannya sulit?"
Bima mengangguk tegas. "Saya siap."
Pak Rahmat tersenyum lebar. "Bagus.
Pertahankan semangat itu."
Bel pelajaran berbunyi, menandakan waktu istirahat tiba.
Anak-anak keluar kelas dengan ribut, berlarian menuju halaman sekolah. Beberapa
ke kantin, beberapa duduk-duduk di bawah pohon. Bima berjalan keluar kelas,
merasakan udara segar di luar.
Bima sedang duduk sendirian di bawah pohon mangga di
halaman sekolah ketika Pak Rahmat mendekatinya. Guru itu membawa dua gelas air
putih, satu untuk dirinya, satu untuk Bima.
"Kamu tadi berbicara dengan sangat jujur."
Bima berdiri, menerima gelas itu dengan hormat. "Maaf
kalau cita-cita saya terdengar aneh, Pak."
Pak Rahmat menggeleng. "Tidak ada cita-cita
yang aneh." Ia duduk di bangku kayu di bawah pohon, menepuk
tempat di sampingnya. "Duduklah."
Bima duduk dengan sedikit gugup. Ia tidak terbiasa
berbicara berdua dengan guru.
Pak Rahmat menatapnya dengan penuh perhatian. "Kamu
tahu, Bima. Bapak sudah mengajar di sekolah ini hampir dua puluh tahun."
Bima mendengarkan dengan serius, tidak berani melewatkan
satu kata pun.
"Bapak sudah melihat banyak anak desa yang sebenarnya
memiliki kemampuan besar. Otak mereka pintar, semangat mereka tinggi.
Tapi..." Pak Rahmat
berhenti sejenak, menghela napas.
"Tapi apa, Pak?"
"Tapi mereka tidak memiliki kesempatan. Atau karena
mereka berhenti bermimpi. Mereka mendengar kata-kata orang lain, lalu percaya
bahwa mereka memang tidak bisa."
Bima menunduk. "Apakah saya juga akan seperti
itu, Pak?"
Pak Rahmat menatapnya dengan tegas. "Tidak."
"Kenapa Bapak begitu yakin?"
Pak Rahmat tersenyum. "Karena Bapak melihat
sesuatu dalam dirimu."
"Apa itu, Pak?"
"Keteguhan."
Bima terdiam. Kata itu asing di telinganya.
"Kamu rajin belajar. Kamu tidak mudah menyerah. Dan
yang paling penting, kamu memiliki mimpi. Bukan sekadar mimpi, tapi mimpi yang
jelas. Kamu tahu persis apa yang kamu inginkan."
Bima merasa dadanya berdebar. Ada perasaan hangat menjalari
tubuhnya.
"Tapi saya anak petani, Pak."
Pak Rahmat tersenyum. "Dan itu bukan
penghalang."
"Benarkah?"
"Banyak orang besar lahir dari keluarga sederhana.
Lihat saja Pak Harto. Beliau anak petani, tetapi bisa menjadi presiden. Lihat
juga BJ Habibie, anak Bugis yang menjadi profesor di Jerman. Atau Buya Hamka,
yang lahir dari keluarga sederhana tapi menjadi ulama besar."
Bima menatapnya dengan penuh harapan. "Tapi
mereka jenius, Pak. Saya hanya biasa saja."
Pak Rahmat tertawa kecil. "Kamu pikir mereka
lahir jenius? Tidak, Bima. Mereka bekerja keras. Mereka tidak pernah berhenti
belajar. Kejeniusan itu 1% bakat dan 99% kerja keras."
Bima meresapi kata-kata itu.
"Kalau kamu benar-benar ingin melanjutkan
sekolah," kata Pak
Rahmat, "Bapak akan membantu."
Bima terkejut. Matanya membelalak. "Membantu
bagaimana, Pak?"
"Ada program beasiswa untuk siswa berprestasi di kota.
Setiap tahun, pemerintah memberikan beasiswa untuk anak-anak desa yang pintar
tapi tidak mampu."
"Beasiswa?"
Pak Rahmat mengangguk. "Tapi untuk mendapatkannya
kamu harus belajar lebih keras. Kamu harus menjadi yang terbaik di sekolah ini.
Kamu harus mengalahkan semua teman-temanmu."
"Saya siap, Pak."
Pak Rahmat berdiri. "Mulai hari ini, Bapak
akan membimbingmu. Setiap pulang sekolah, kamu harus tinggal satu jam untuk
belajar tambahan. Kamu mau?"
Bima mengangguk dengan penuh semangat. "Saya
mau, Pak!"
Pak Rahmat menepuk bahunya. "Jangan berterima
kasih sekarang."
"Kenapa, Pak?"
"Buktikan dulu bahwa kamu benar-benar pantas
mendapatkan kesempatan itu."
Bima mengangguk mantap. "Saya akan berusaha
sebaik mungkin, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak."
Pak Rahmat tersenyum. Saat ia berjalan kembali menuju ruang
guru, Bima memandang langit yang biru di atas sekolah kecil itu. Awan-awan
putih bergerak lambat, seolah ikut merayakan harapan barunya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mimpinya tidak lagi
berjalan sendirian. Kini ada seseorang yang percaya padanya. Bukan sekadar
percaya, tetapi bersedia membantunya. Seseorang yang rela meluangkan waktu
untuk mengajarnya, untuk membimbingnya.
Dan kadang-kadang, satu orang yang percaya sudah cukup
untuk membuat seseorang berani melangkah lebih jauh. Satu orang yang percaya
bisa menjadi cahaya di tengah kegelapan. Satu orang yang percaya bisa menjadi
alasan untuk tidak menyerah.
Di bawah pohon mangga itu, Bima berjanji pada dirinya
sendiri: ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan belajar sekeras
mungkin. Ia akan membuktikan bahwa anak petani juga bisa bermimpi besar. Ia
akan membuktikan bahwa Pak Rahmat tidak salah memilih.
Dan ia akan membuat Pak Rahmat bangga.
****
Hari-hari setelah percakapan dengan Pak Rahmat menjadi
lebih berat bagi Bima. Ia sekarang harus membagi waktu antara membantu orang
tuanya di sawah, belajar di sekolah, dan mengikuti bimbingan tambahan dari Pak
Rahmat setelah pulang sekolah.
Bangun pagi buta, ke sawah membantu ayahnya selama dua jam,
pulang mandi dan sarapan seadanya, lalu berangkat sekolah dengan langkah
tergesa-gesa. Pulang sekolah, alih-alih bermain seperti teman-temannya, ia harus
tinggal untuk belajar tambahan. Sore harinya, kadang ia membantu ibunya di
rumah, atau kembali ke sawah jika ayahnya membutuhkan bantuan. Malam hari,
setelah makan malam sederhana, ia belajar di bawah cahaya lampu teplok yang
redup dan berasap.
Namun Bima tidak pernah mengeluh. Setiap tetes keringat
yang ia keluarkan, setiap rasa kantuk yang ia lawan, semuanya ia lakukan dengan
kesadaran penuh bahwa ini adalah jalan yang harus ia tempuh. Ia ingat kata-kata
ayahnya: "Selama kita tidak berhenti berjalan, kita pasti akan
sampai."
Pak Rahmat mengajar Bima dengan sabar. Setiap pulang
sekolah, selama satu jam, Bima harus tinggal di kelas untuk belajar tambahan.
Mereka membahas matematika, ilmu pengetahuan alam, bahasa Indonesia, dan
kadang-kadang pengetahuan umum—semua mata pelajaran yang akan diujikan untuk
seleksi beasiswa.
Pak Rahmat mengajarnya dengan metode yang sederhana namun
efektif. Ia tidak hanya memberi tahu jawaban, tetapi mengajarkan cara berpikir.
Ia tidak hanya menghafal rumus, tetapi memahami konsep. Ia sering memberi
contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari, membuat pelajaran yang sulit menjadi
mudah dipahami.
"Bima," kata
Pak Rahmat suatu hari, "kamu harus mengerti bahwa belajar itu
bukan hanya untuk ujian. Belajar adalah cara kita memahami dunia."
"Iya, Pak."
"Kalau kamu hanya menghafal, kamu akan lupa setelah
ujian selesai. Tapi kalau kamu memahami, ilmunya akan melekat seumur
hidup."
Bima mengangguk, mencerna kata-kata itu.
Suatu sore, ketika hujan turun dengan derasnya, Bima masih
duduk di kelas menunggu hujan reda. Hujan mengguyur atap seng dengan suara
gemuruh yang memekakkan telinga. Air mengalir deras di halaman sekolah,
membentuk sungai-sungai kecil di tanah. Beberapa anak masih berteduh di teras
sekolah, menunggu hujan reda.
Pak Rahmat duduk di mejanya, mengoreksi tugas-tugas murid.
Pena merahnya bergerak lincah, menandai jawaban yang salah dan memberi komentar
di pinggir kertas. Sesekali ia tersenyum membaca jawaban lucu dari
murid-muridnya.
"Bima," panggil
Pak Rahmat tanpa menoleh.
"Iya, Pak?"
"Kamu tidak pernah mengeluh. Apakah tidak berat
menjalani semua ini?"
Bima berpikir sejenak. Pertanyaan itu sederhana, tetapi
jawabannya tidak sesederhana itu. "Kadang berat, Pak. Tapi saya
selalu ingat kata Bapak."
"Apa katanya?"
"Bahwa selama kita tidak berhenti berjalan, kita pasti
akan sampai."
Pak Rahmat berhenti mengoreksi. Ia menatap Bima dengan
penuh perhatian. "Ayahmu orang bijak."
"Iya, Pak. Beliau hanya tidak berkesempatan sekolah
tinggi. Beliau bilang, dulu waktu muda, beliau juga ingin sekolah, tapi tidak
ada biaya. Kakeknya hanya petani miskin."
Pak Rahmat mengangguk. "Itulah sebabnya kamu
harus melanjutkan perjuangannya. Kamu harus sekolah setinggi mungkin, bukan
hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk orang tuamu."
Bima merasakan dadanya menghangat. Kata-kata Pak Rahmat
selalu memberinya semangat baru.
Hujan semakin deras. Suara gemericik air di atap seng
menciptakan irama yang menenangkan, kontras dengan keganasan curahan air dari
langit. Kadang-kadang petir menyambar di kejauhan, membuat lampu minyak di
kelas berkedip-kedip.
"Pak," kata
Bima tiba-tiba.
"Iya?"
"Apakah beasiswa itu benar-benar ada? Atau hanya
mimpi?"
Pak Rahmat meletakkan pulpennya. Ia berjalan ke arah
jendela, memandang hujan yang turun tanpa henti. "Beasiswa itu
benar-benar ada. Bapak punya teman yang mengajar di kota. Namanya Pak Hadi.
Setiap tahun, ada siswa dari desa yang mendapatkan kesempatan itu."
"Apakah mereka berhasil?"
"Beberapa berhasil. Beberapa pulang karena tidak
sanggup."
Bima terdiam. "Kenapa mereka tidak sanggup,
Pak?"
Pak Rahmat kembali ke mejanya, duduk di kursi. "Karena
hidup di kota tidak mudah. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru,
pelajaran yang lebih sulit, dan yang paling berat, mereka harus bertahan dengan
biaya yang terbatas."
"Tapi mereka sudah dapat beasiswa, Pak."
"Beasiswa hanya membayar sekolah, Bima. Untuk makan,
untuk tempat tinggal, untuk buku-buku tambahan, mereka harus mencari
sendiri."
Bima merenungkan kata-kata itu. Tantangan yang ia hadapi
ternyata lebih besar dari yang ia bayangkan.
"Tapi Bapak yakin kamu bisa," lanjut Pak Rahmat. "Karena kamu punya
alasan yang kuat."
"Apa itu, Pak?"
"Kamu ingin mengubah hidup keluargamu. Itu alasan yang
tidak akan membiarkanmu menyerah."
Malam harinya, di rumah, Bima belajar di bawah cahaya lampu
teplok. Lampu itu terbuat dari kaleng bekas, dengan sumbu dari kain yang
dicelupkan ke minyak tanah. Cahayanya redup dan berkedip-kedip, kadang hampir
padam jika angin bertiup. Asapnya membuat mata perih, dan kadang-kadang membuat
Bima batuk-batuk.
Minyak tanah mulai menipis, tetapi ia tetap bertahan.
Buku-buku pelajarannya berserakan di meja kecil, meja kayu bekas yang kakinya
sudah tidak sama panjang, sehingga harus diganjal dengan kertas lipat.
Ibunya duduk di dekatnya sambil menjahit baju yang robek.
Bu Yuyun adalah wanita yang terampil. Dengan jarum dan benang, ia bisa
memperbaiki apa saja, baju sobek, celana bolong, bahkan tas Bima yang mulai
rusak. Ia bekerja sambil sesekali memandang anaknya dengan penuh kasih.
"Belajarlah yang rajin, Nak," kata Bu Yuyun tanpa mengalihkan pandangan dari
jahitannya. "Ibu dan Bapak akan selalu mendukungmu."
Bima mengangkat wajahnya dari buku. "Bu, kalau
aku pergi ke kota nanti, Ibu dan Bapak tidak akan apa-apa?"
Bu Yuyun berhenti menjahit. Ia menatap anaknya dengan mata
yang mulai berkaca-kaca. "Tentu saja akan sedih. Rumah ini akan
terasa sepi tanpa kamu."
"Maaf, Bu..."
"Tapi Ibu lebih sedih kalau kamu tidak bisa mengejar
mimpi. Ibu lebih sedih kalau kamu harus hidup seperti kami, bekerja keras sepanjang
hidup tanpa pernah bisa keluar dari sawah."
Bima memeluk ibunya. Pelukan yang hangat, penuh kasih
sayang. "Terima kasih, Bu."
Bu Yuyun membalas pelukan itu. "Janji sama
Ibu, kamu akan sukses."
"Saya janji, Bu."
Di luar, hujan mulai reda. Suara jangkrik terdengar
kembali, menciptakan simfoni malam yang menenangkan. Dan di dalam hati Bima,
tekadnya semakin kuat.
Keesokan harinya, di sekolah, Bima bertemu dengan beberapa
teman sekelasnya saat jam istirahat. Mereka sedang duduk-duduk di halaman,
makan bekal masing-masing. Ada yang membawa nasi dengan lauk seadanya, ada yang
hanya membawa singkong rebus.
"Bima, sini!" panggil
Wati, anak perempuan yang bercita-cita jadi perawat itu.
Bima mendekati mereka. Wati membuka bekalnya, nasi dengan
lauk seadanya, tempe goreng dan sambal. Anak-anak lain juga membuka bekal
masing-masing.
"Kamu kok belakangan ini selalu tinggal sepulang
sekolah?" tanya Budi, anak
gemuk yang bercita-cita jadi pedagang itu. "Belajar tambahan sama
Pak Rahmat?"
"Iya," jawab
Bima singkat.
"Buat apa?" tanya
Joko yang kebetulan lewat. "Mau jadi apa sih, Bim? Kayak orang
ambisius aja."
"Emangnya nggak boleh?" Bima menatap Joko.
Joko tertawa. "Boleh, silakan. Tapi ingat,
kita ini anak desa. Sehebat apa pun sekolah, ujung-ujungnya juga balik ke sawah."
"Nggak semua orang harus jadi petani, Jok."
"Terus mau jadi apa? Presiden?" Joko tertawa lebih keras.
Wati ikut bicara. "Jangan gitu, Jok. Biarin
aja Bima sekolah. Nggak ada salahnya."
Joko mendengus. "Terserah. Yang penting gua
mah, yang penting enak. Nggak perlu susah-susah belajar."
Ia pergi bergabung dengan Slamet dan Karjo yang sedang main
kelereng di pojok halaman.
Wati menatap Bima. "Jangan diambil hati, Bim.
Joko emang suka gitu."
"Nggak apa-apa," jawab Bima. "Aku udah biasa."
Budi ikut berkomentar. "Tapi beneran, Bim.
Kamu mau sekolah tinggi?"
"Iya."
"Sampe SMA?"
"Sampe kuliah kalau bisa."
Budi bersiul. "Wah, mahal tuh. Orang tuamu
mampu?"
Bima terdiam. Itulah pertanyaan yang selalu
menghantuinya. "Nggak tahu. Tapi aku akan berusaha."
Wati menepuk pundaknya. "Semangat, Bim. Aku
dukung kamu."
Budi juga mengangguk. "Iya, semangat. Kalau
kamu sukses nanti, jangan lupa sama kami."
Bima tersenyum. Dukungan dari teman-teman, sekecil apa pun,
selalu memberinya kekuatan.
****
Dua tahun berlalu sejak Bima mulai belajar tambahan dengan
Pak Rahmat. Kini ia telah menyelesaikan sekolah dasarnya dengan nilai terbaik
di desanya. Ia berhasil meraih peringkat pertama di ujian akhir, mengalahkan
semua teman-temannya, bahkan Joko yang sering mengejeknya dulu.
Hari kelulusan tiba. Sekolah dihias dengan sederhana, balon-balon
dari plastik bekas, umbul-umbul dari kertas warna-warni, dan panggung kecil di
halaman sekolah. Para guru dan murid bekerja sama menghias sekolah semalaman.
Orang tua murid datang dengan pakaian seadanya, tetapi wajah mereka
berseri-seri penuh kebanggaan.
Bu Yuyun dan Pak Sanusi hadir, duduk di kursi plastik yang
disediakan panitia. Mereka memakai pakaian terbaik yang mereka miliki, Bu Yuyun
dengan kebaya lusuh tetapi bersih, Pak Sanusi dengan kemeja putih yang sudah
menguning karena usia. Meskipun sederhana, mereka tampak rapi dan bersahaja.
Bima berdiri di antara teman-teman sekelasnya, mengenakan
seragam putih merah yang sudah terlalu kecil untuknya. Lengan bajunya sudah di
bawah siku, celananya sudah di atas mata kaki. Tapi ia tetap tegap, tetap
tersenyum. Hari ini adalah hari istimewanya.
Acara berlangsung dengan hikmat. Ada sambutan dari kepala
sekolah, dari perwakilan orang tua murid, dan dari perwakilan siswa. Lagu-lagu
nasional dinyanyikan, meskipun kadang sumbang karena suara anak-anak yang belum
terlatih. Hadiah diberikan kepada siswa berprestasi.
Ketika nama Bima disebut sebagai lulusan terbaik, tepuk
tangan bergemuruh. Bima naik ke panggung dengan langkah mantap. Kepala sekolah
menyerahkan piagam penghargaan dan sebuah amplop.
"Selamat, Bima. Kamu membuat bangga sekolah ini."
"Terima kasih, Pak."
Bima memandang ke arah orang tuanya. Bu Yuyun menangis
haru, menyeka air matanya dengan ujung kerudung. Pak Sanusi tersenyum bangga,
dadanya berdebar menahan haru.
Setelah acara selesai, Pak Rahmat mendekati Bima dan orang
tuanya. Ia mengajak mereka berbicara di ruang guru.
"Pak Sanusi, Bu Yuyun, saya ingin bicara tentang masa
depan Bima."
Pak Sanusi mengangguk. "Silakan, Pak
Rahmat."
"Bima berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan
sekolah di kota. Seperti yang sudah saya bicarakan sebelumnya."
Bu Yuyun menatap suaminya. Ada kebanggaan, tetapi juga
kekhawatiran di matanya.
"Sekolahnya di SMP Negeri 5 di kota," lanjut Pak Rahmat. "Itu sekolah favorit.
Banyak lulusannya yang masuk SMA terbaik."
Pak Sanusi menghela napas. "Jadi... Bima harus
pergi?"
"Iya, Pak. Sekolahnya di kota. Tapi jangan khawatir,
saya punya teman di sana. Namanya Pak Hadi. Beliau bersedia menampung Bima
tinggal di rumahnya."
Bu Yuyun masih diam, menahan tangis.
"Tapi Bapak-Ibu harus siap," lanjut Pak Rahmat. "Hidup di kota tidak
mudah. Bima harus bekerja untuk biaya hidupnya, karena beasiswa hanya untuk
sekolah."
Pak Sanusi mengangguk. "Saya mengerti, Pak
Rahmat. Terima kasih banyak atas bantuan Bapak."
"Saya hanya melakukan kewajiban, Pak."
Malam harinya, di rumah sederhana mereka, suasana haru
menyelimuti. Mereka makan malam bersama, ibu memasak sayur asem dan ikan
goreng, masakan favorit Bima. Tapi tidak ada yang benar-benar menikmati makanan
itu.
"Jadi... kamu benar-benar akan pergi?" tanya Bu Yuyun, suaranya bergetar.
Bima mengangguk. "Iya, Bu."
"Jauh sekali."
"Iya, Bu."
Pak Sanusi yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Yuyun,
ini kesempatan besar buat Bima. Jangan menghalanginya."
"Saya tidak menghalangi," Bu Yuyun buru-buru membela. "Saya
hanya... hanya sedih. Anak saya akan pergi jauh."
Bima meraih tangan ibunya. "Bu, saya janji
akan pulang. Dan saya janji akan sukses."
Bu Yuyun memeluk anaknya. Air matanya tumpah tanpa bisa
ditahan. "Nak... Nak... Ibu akan sangat kangen."
Pak Sanusi menepuk bahu istrinya. "Sudah,
sudah. Ini saatnya bersyukur, bukan bersedih."
Tapi matanya juga basah. Ia berpaling, tidak ingin anaknya
melihat air matanya.
Beberapa hari kemudian, hari keberangkatan tiba. Pagi-pagi
sekali, Bima sudah bangun. Ia memeriksa tasnya sekali lagi, pakaian seadanya,
beberapa buku pelajaran, foto keluarga, dan amplop berisi uang pemberian orang
tuanya. Uang itu tidak banyak, hasil dari menjual beberapa ekor ayam dan
tabungan bertahun-tahun.
Bu Yuyun sibuk di dapur, membuat bekal untuk perjalanan.
Nasi dibungkus daun pisang, lauknya ikan asin dan sambal. Sederhana, tetapi
dibuat dengan penuh cinta.
Pak Sanusi duduk di ruang tamu, diam merokok. Rokok kretek
buatannya sendiri, lintingan tangan yang tidak terlalu rapi. Asapnya mengepul,
membumbung ke langit-langit rumah.
"Bapak," panggil
Bima.
"Iya."
"Bapak... saya pergi, ya."
Pak Sanusi menatap anaknya. Anak yang dulu masih bisa ia
gendong, kini sudah hampir sejajar dengan bahunya. Anak yang dulu masih belajar
berjalan, kini akan berjalan jauh meninggalkan rumah.
"Bima."
"Iya, Pak?"
"Ingat pesan Bapak."
"Pesan apa, Pak?"
Pak Sanusi berdiri. Ia memandang anaknya dengan
dalam. "Jangan pernah menyerah. Jangan pernah lupa dari mana kamu
berasal. Dan jangan pernah malu dengan keadaanmu."
"Saya ingat, Pak."
"Kota itu keras. Orang-orang di sana mungkin akan
memandang rendahmu karena kamu anak desa. Tapi tunjukkan pada mereka bahwa anak
desa juga bisa."
Bima mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
Pak Sanusi meraih tangan anaknya. Di dalam genggaman itu,
Bima merasakan kekuatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Kekuatan
seorang ayah yang melepas anaknya pergi.
"Bapak bangga padamu."
Hanya itu. Tiga kata yang membuat Bima tidak bisa menahan
air matanya lagi.
Bu Yuyun keluar dari dapur. Ia melihat suami dan anaknya
berpelukan. Ia segera menghapus air matanya, berusaha tegar.
"Sudah, sudah. Ayo berangkat. Nanti ketinggalan
bus."
Mereka berjalan bersama menuju terminal kecil di desa
tetangga. Jalanan masih sepi, matahari baru saja terbit. Udara pagi menusuk
tulang, tapi hati mereka lebih dingin dari udara itu.
Di terminal, bus sudah menunggu. Sebuah bus tua dengan cat
mengelupas dan mesin yang berisik. Beberapa penumpang sudah naik, yang lain
masih menunggu di luar. Kondektur bus berteriak-teriak menawarkan tiket.
Bima naik ke bus. Ia memilih tempat duduk di dekat jendela,
agar bisa melambai pada orang tuanya.
Pak Sanusi dan Bu Yuyun berdiri di luar, memandang anaknya
dari balik kaca jendela.
"Hati-hati di jalan, Nak!" teriak Bu Yuyun.
"Jaga kesehatan!" teriak Pak Sanusi.
Bima mengangguk. Ia tidak bisa bicara karena tenggorokannya
tercekat.
Mesin bus meraung. Bus mulai bergerak perlahan.
Bu Yuyun tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia memeluk
suaminya, menyembunyikan wajahnya di dada Pak Sanusi.
Bima melambai dari jendela. Ia melihat kedua orang tuanya
semakin kecil, semakin kabur karena air matanya. Ia melihat rumah-rumah yang ia
kenal, sawah-sawah yang ia lalui, pohon-pohon yang menjadi saksi masa kecilnya,
semuanya perlahan menjauh.
Bus melaju meninggalkan desa. Meninggalkan segalanya yang
ia kenal.
Bima menyeka air matanya. Ia menatap ke depan, ke jalan
panjang yang terbentang di hadapannya. Ia tidak tahu apa yang akan ia temui di
sana. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak akan mengecewakan orang tuanya. Ia tidak
akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Perjalanan panjang telah dimulai.
****
Perjalanan menuju kota memakan waktu hampir setengah hari.
Bus tua yang ditumpangi Bima melaju perlahan melewati jalan panjang yang
berkelok di antara bukit dan hutan. Kadang-kadang bus berhenti di pasar-pasar
kecil, menaikkan dan menurunkan penumpang. Kadang-kadang bus berhenti di
pinggir jalan karena mesinnya overheat, sesuatu yang sudah biasa terjadi.
Dari jendela bus, Bima melihat desa-desa kecil yang
perlahan tertinggal di belakang. Sawah-sawah hijau berganti dengan perkebunan,
lalu berubah menjadi hutan-hutan lebat. Sesekali ia melihat sungai yang
mengalir di lembah, atau gunung yang menjulang di kejauhan. Pemandangan yang
selama ini hanya ia lihat di buku pelajaran, kini ia saksikan dengan mata
kepalanya sendiri.
Di pangkuannya, ia memegang tas kain yang berisi pakaian
seadanya, beberapa buku pelajaran, dan sebuah amplop berisi uang yang diberikan
orang tuanya. Tidak banyak. Beberapa lembar uang lusuh yang disimpan dengan
hati-hati. Namun cukup untuk memulai perjalanan baru.
Sesekali ia memandang keluar jendela. Gedung-gedung mulai
terlihat semakin banyak. Jalanan semakin ramai. Kendaraan berlalu lalang tanpa
henti. Orang-orang berjalan cepat di trotoar, tidak saling menyapa. Semuanya
terasa asing dan sedikit menakutkan.
Bima menelan ludah. Inilah kota yang selama ini hanya ia
bayangkan dari cerita orang-orang dan gambar di buku. Inilah tempat di mana
mimpinya akan diuji. Inilah tempat di mana ia akan membuktikan bahwa anak desa
juga bisa bersaing.
Bus akhirnya berhenti di sebuah terminal yang besar dan
penuh dengan orang. Suara klakson kendaraan, teriakan pedagang, dan hiruk pikuk
manusia bercampur menjadi satu. Ada pedagang asongan yang menawarkan rokok dan
permen. Ada calo tiket yang berteriak-teriak menawarkan bus tujuan ini dan itu.
Ada anak-anak jalanan yang mengamen dengan suara sumbang. Ada gelandangan yang
tidur di pinggir terminal.
Bima turun dari bus dengan langkah ragu. Ia memandang
sekelilingnya dengan mata penuh keheranan. Ini kali pertama ia melihat
keramaian seperti ini. Di desanya, paling ramai hanya saat hari pasar, itu pun
tidak seheboh ini.
"Ramai sekali," gumamnya
pelan.
Seorang pria yang berdiri di dekatnya tertawa kecil. Pria
itu kelihatannya supir bus lain, sedang istirahat sambil minum kopi di warung
dekat terminal. Wajahnya hitam legam kena debu jalanan, dengan kumis tebal khas
supir bus.
"Kamu baru pertama kali ke kota?"
Bima mengangguk. "Iya."
Pria itu tersenyum. Senyum yang ramah, meskipun wajahnya
keras karena terik matahari. "Kalau begitu, hati-hati. Kota tidak
selalu ramah."
"Maksudnya, Pak?"
"Di sini banyak orang jahat. Copet, penipu, preman.
Jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal. Jangan pernah tinggalkan
barang bawaanmu."
Bima mengucapkan terima kasih lalu melangkah pergi. Di
tangannya ada secarik kertas kecil berisi alamat tempat tinggal sementara yang
diberikan oleh Pak Rahmat. Sebuah rumah kontrakan milik kenalan gurunya, Pak
Hadi.
Ia berjalan keluar terminal, mencoba mencari arah. Jalanan
ramai dengan kendaraan. Trotoar penuh dengan pedagang kaki lima yang menjajakan
barang dagangan mereka. Ada yang jual gorengan, ada yang jual obat-obatan
tradisional, ada yang jual pakaian bekas. Bima harus berhati-hati agar tidak
menabrak orang atau tersandung dagangan.
Setelah berjalan cukup lama dan beberapa kali bertanya
kepada orang di jalan, dengan hati-hati seperti pesan supir tadi, akhirnya Bima
sampai di sebuah gang sempit di pinggir kota. Gang itu becek dan penuh dengan
rumah-rumah yang berdempetan. Anak-anak kecil bermain bola di jalan, para ibu
duduk di teras sambil mengobrol, bau masakan bercampur dengan bau got yang
kurang terawat. Di beberapa tempat, ada tumpukan sampah yang tidak
diangkut-angkut.
Rumah yang ia cari berdiri sederhana di antara bangunan
lain. Pintunya terbuat dari kayu, catnya sudah mengelupas di sana-sini. Ada pot
bunga di depan rumah, meskipun bunganya sudah layu. Ia mengetuk pintu dengan ragu.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Seorang pria setengah
baya keluar sambil memandangnya. Pria itu bernama Pak Hadi, sekitar lima
puluhan tahun, berbadan agak gemuk dengan wajah ramah dan kumis tipis. Ia
memakai kaos oblong dan sarung, seperti orang yang sedang santai di rumah.
Matanya ramah, langsung membuat Bima merasa sedikit lebih tenang.
"Kamu Bima?"
"Iya, Pak."
"Saya Pak Hadi. Pak Rahmat sudah bercerita tentangmu.
Mari masuk."
Rumah itu tidak besar, tetapi cukup bersih dan sederhana.
Lantainya semen, dindingnya bata tanpa plester. Ada ruang tamu dengan sofa
bekas yang sudah kempes di beberapa tempat, meja kayu yang penuh dengan gelas
dan piring kotor, dan beberapa foto keluarga di dinding. Di sudut ruangan, ada
televisi kecil dengan antena yang dibalut aluminium foil.
Pak Hadi duduk di kursi kayu sambil menatap Bima. "Dari
desa tadi?"
"Iya, Pak. Naik bus dari pagi."
"Capek pasti. Nanti istirahat dulu."
Bima mengangguk.
Pak Hadi melanjutkan. "Kamu akan tinggal di
kamar belakang. Tidak besar, tapi cukup untukmu. Ada kasur tipis, meja kecil,
dan lemari bekas. Mandi dan cuci di belakang, bersama dengan kami."
"Terima kasih, Pak."
Pak Hadi mengangguk. "Tapi ada satu hal yang
harus kamu tahu."
Bima memperhatikan dengan serius.
"Tinggal di kota tidak murah."
"Saya mengerti, Pak."
"Kalau kamu ingin bertahan di sini, kamu harus
bekerja. Saya tidak bisa gratis-gratis saja menampungmu. Saya juga harus
makan."
Bima langsung menjawab, "Saya siap bekerja,
Pak."
Pak Hadi tersenyum kecil. "Bagus. Kebetulan
saya punya warung makan kecil di dekat pasar. Kamu bisa membantu di sana
setelah pulang sekolah. Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk makan dan sedikit
tabungan."
"Terima kasih banyak, Pak."
Pak Hadi berdiri. "Sekarang istirahat dulu.
Nanti sore saya antar ke warung, kenalan dengan istri saya."
Pak Hadi membawanya ke kamar belakang. Kamar itu kecil,
hanya sekitar 2x3 meter. Ada satu kasur tipis beralas tikar, meja kecil dari
kayu bekas, dan jendela kecil yang menghadap ke gang. Cat dindingnya kusam,
langit-langitnya rendah. Di sudut kamar, ada beberapa buku bekas dan lampu
tempel.
Tapi bagi Bima, kamar itu adalah istana. Ini adalah tempat
di mana ia akan memulai perjuangannya.
Malam itu, untuk pertama kalinya Bima tidur di kota. Kamar
kecil itu terasa asing baginya. Tidak ada suara jangkrik seperti di desa. Yang
terdengar hanya suara kendaraan yang tidak pernah berhenti, suara tetangga yang
bertengkar, suara musik dari warung-warung sekitar.
Bima memandang langit melalui jendela kecil.
Bintang-bintang nyaris tidak terlihat karena silau lampu kota. Yang ada hanya
langit kelabu, tanpa cahaya.
Ia teringat wajah ayah dan ibunya. Teringat rumah kayu
sederhana mereka. Teringat sawah-sawah yang luas. Teringat Pak Rahmat yang
membantunya.
"Semoga aku bisa bertahan," bisiknya pelan.
Keesokan paginya kehidupan baru Bima dimulai. Pagi hari ia
pergi ke sekolah. Siang hari ia belajar. Dan sore hingga malam ia membantu di
warung makan milik Pak Hadi.
Warung itu bernama "Warung Hidayah". Letaknya di
pinggir pasar, tidak jauh dari gang tempat Bima tinggal. Warungnya sederhana, beberapa
meja kayu, kursi plastik, dan etalase kaca tempat menyimpan lauk-pauk. Yang
dijual makanan khas Sunda: nasi timbel, ayam goreng, tahu tempe, lalapan, dan
sambal yang pedasnya bikin keringat mengucur.
Di warung itu ia mencuci piring, membersihkan meja, menyapu
lantai, dan kadang membantu melayani pelanggan. Pak Hadi dibantu istrinya, Bu
Hj. Salamah, seorang wanita paruh baya yang rambutnya selalu tertutup jilbab
dan logatnya khas Sunda. Bu Salamah gemar memasak dan sangat memperhatikan
kebersihan warungnya.
Bu Salamah terkenal cerewet, tetapi baik hati. "Bima,
cuci piringnya yang bersih, ya! Sabunnya jangan pelit! Kalau piring kotor,
pelanggan kabur!" teriaknya dari dapur.
"Siap, Bu," jawab
Bima sambil menggosok piring lebih keras.
"Bima, kalau sudah selesai cuci piring, tolong angkat
dagangan dari pasar!"
"Siap, Bu."
"Bima, pelanggan meja tiga minta sambal lagi!"
"Siap, Bu."
Bima bekerja tanpa mengeluh. Setiap perintah dilaksanakan
dengan sepenuh hati. Ia tahu bahwa ini adalah bagian dari perjuangan.
Suatu malam ketika warung sedang ramai, seorang pelanggan
memandang Bima dengan heran. Pelanggan itu adalah Pak RW, tokoh masyarakat
setempat yang sering makan di warung. Beliau adalah pensiunan pegawai negeri
yang disegani di kampung itu. Setiap malam, ia datang ke warung untuk makan
malam sambil membaca koran.
"Kamu masih sekolah?" tanya Pak RW.
"Iya, Pak."
"Kenapa bekerja juga?"
Bima tersenyum kecil. "Supaya bisa tetap
sekolah."
Pak RW mengangguk pelan, kagum. "Anak muda
seperti kamu jarang ada sekarang. Biasanya mereka minta uang jajan ke orang
tua, bukan kerja."
Bu Salamah yang mendengar percakapan itu ikut
berkomentar. "Iya, Pak RW. Anak ini rajin. Pagi sekolah, sore
bantu-bantu di sini. Nggak pernah ngeluh. Kadang saya kasihan juga."
Pak RW menatap Bima dengan penuh perhatian. "Kamu
dari mana, Nak?"
"Dari desa, Pak. Sumber Jaya namanya."
"Jauh juga. Orang tua di sana?"
"Iya, Pak. Petani."
Pak RW menghela napas. "Kamu harus bangga
punya orang tua seperti mereka. Meskipun miskin, mereka berusaha
menyekolahkanmu."
"Saya bangga, Pak."
"Kalau kamu butuh bantuan, bilang sama saya. Saya
kenal banyak orang di sini."
Bima tersenyum. "Terima kasih, Pak."
Namun tidak semua hari berjalan mudah. Suatu malam Bima
pulang ke kamar dengan tubuh sangat lelah. Tangannya masih bau sabun cuci
piring, kulitnya mulai pecah-pecah karena terlalu lama terkena air. Bajunya
basah oleh keringat.
Ia duduk di lantai sambil membuka buku pelajaran.
Matematika. Pelajaran yang paling sulit baginya. Angka-angka dan rumus-rumus
berjejalan di halaman buku. Kepalanya pusing memikirkannya.
Namun matanya terasa berat. Beberapa kali ia hampir
tertidur, kepalanya terangguk-angguk.
"Kalau aku menyerah sekarang, semua perjuanganku akan
sia-sia," gumamnya pelan.
Ia mencubit lengannya sendiri, berusaha tetap sadar. Ia
kembali memaksa dirinya membaca. Namun kali ini, rasa kantuk benar-benar tak
tertahankan. Tanpa sadar, kepalanya jatuh di atas buku. Ia tertidur.
Pintu kamar diketuk pelan. Pak Hadi masuk membawa segelas
teh hangat. Ia tersenyum melihat Bima tertidur di atas buku.
"Bima."
Bima tersadar. "Maaf, Pak. Saya
ketiduran."
Pak Hadi duduk di tepi kasur. "Kamu terlalu
memaksakan diri."
"Saya harus belajar, Pak. Ujian sudah dekat."
Pak Hadi menyerahkan teh itu. "Minum dulu.
Istirahat sebentar."
Bima menerima teh itu dengan tangan gemetar karena lelah.
Tehnya hangat, manis, menyegarkan. "Terima kasih, Pak."
Pak Hadi menatapnya dengan penuh perhatian. "Kamu
tahu, Bima. Saya kagum dengan semangatmu."
Bima tersenyum tipis.
"Tapi ingat, tubuh juga perlu istirahat. Kalau kamu
sakit, semua perjuanganmu akan terhenti. Sia-sia."
Bima mengangguk. "Saya mengerti, Pak."
"Besok hari Minggu, tidak usah kerja. Fokus belajar
saja."
"Tapi, Pak..."
"Tidak ada tapi. Saya yang putuskan."
Malam itu, setelah Pak Hadi keluar, Bima minum teh hangat
sambil memandang buku-bukunya. Ia memang lelah, tetapi di dalam hatinya, api
perjuangan masih menyala. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak boleh menyerah.
****
Senin pagi, Bima berangkat ke sekolah barunya untuk pertama
kalinya. SMP Negeri 5 terletak di pusat kota, sebuah gedung bertingkat dengan
halaman yang luas. Pagar besi mengelilingi sekolah, dan di pintu gerbang ada
satpam yang berjaga.
Bima berdiri di depan gerbang, memandang gedung sekolah itu
dengan perasaan campur aduk. Antara kagum, takut, dan bersemangat. Sekolah ini
jauh lebih besar dari SD-nya di desa. Ada lapangan basket, taman, dan banyak
pohon rindang.
"Nak, mau cari apa?" tanya satpam yang berjaga.
"Saya siswa baru, Pak. Mau masuk."
Satpam itu tersenyum. "Oh, silakan. Ruang
kelas VII di lantai dua."
Bima masuk dengan langkah hati-hati. Ia melihat banyak
siswa berseragam rapi, bergerombol di sana-sini. Mereka bercakap-cakap dengan
teman-teman mereka, tertawa, bercanda. Semua tampak akrab satu sama lain.
Bima merasa asing. Ia tidak mengenal siapa pun di sini.
Ia mencari ruang kelasnya. Di lorong, ia bertemu dengan
seorang guru.
"Kamu siswa baru? Kelas berapa?" tanya guru itu.
"VII-A, Pak."
"Oh, kelas unggulan. Ikuti Bapak."
Guru itu mengantarnya ke ruang kelas. Di dalam, sudah ada
beberapa siswa duduk. Mereka menoleh ketika Bima masuk.
"Selamat pagi, anak-anak. Ini teman baru kalian.
Silakan perkenalkan diri."
Bima berdiri di depan kelas. Semua mata tertuju padanya. Ia
merasakan jantungnya berdebar kencang.
"Nama saya Bima. Saya dari Desa Sumber Jaya."
Beberapa siswa mulai berbisik-bisik. Mungkin mereka heran
mendengar logat Bima yang khas desa.
"Silakan duduk di kursi kosong itu."
Bima duduk di kursi dekat jendela. Di sebelahnya, seorang
siswa laki-laki menyapanya.
"Hai, gue Doni. Lo dari desa?"
"Iya."
Doni tersenyum ramah. "Santai aja, gue juga
baru kenal di sini. Gue dari Jakarta, pindahan."
Bima sedikit lega. Setidaknya ada satu orang yang ramah.
Pelajaran pertama adalah matematika. Gurunya, Pak Agus,
terkenal killer. Ia masuk kelas dengan wajah serius, langsung memberikan soal
tes diagnostik.
"Kerjakan soal ini. Saya ingin lihat kemampuan
kalian."
Bima mengerjakan soal-soal itu dengan hati-hati. Beberapa
soal ia bisa kerjakan, beberapa lainnya sulit. Ia ingat pelajaran dari Pak
Rahmat, berusaha memahami konsep, bukan hanya menghafal.
Setelah pelajaran selesai, Pak Agus mengumpulkan kertas. Ia
melirik Bima sekilas.
"Kamu Bima? Dari desa?"
"Iya, Pak."
"Nilai ujian masukmu bagus. Pertahankan."
Bima mengangguk senang. Pujian pertama di sekolah baru.
Jam istirahat tiba. Doni mengajaknya ke kantin.
"Lo bawa bekal?"
Bima mengeluarkan bekalnya, nasi dan lauk sederhana
bawaannya. Doni melihatnya, tetapi tidak berkata apa-apa.
"Gue traktir es teh, yuk."
Mereka duduk di kantin. Bima melihat sekelilingnya. Kantin
sekolah ini besar dan bersih. Ada banyak pilihan makanan. Harganya pasti mahal,
pikirnya.
"Bima, lo kenapa pindah ke sini? Dari desa, pasti jauh
banget."
"Dapet beasiswa."
Doni mengangkat alis. "Wah, keren. Berarti lo
pinter."
"Nggak juga. Cuma berusaha."
"Lo tinggal di mana?"
"Di gang dekat pasar. Numpang sama kenalan guru SD
gue."
Doni mengangguk-angguk. "Kalau butuh bantuan,
bilang aja."
Bima tersenyum. "Makasih, Don."
****
Hari-hari pertama di sekolah berjalan dengan penuh
penyesuaian. Bima harus terbiasa dengan pelajaran yang lebih sulit, guru-guru
yang lebih cepat mengajar, dan teman-teman baru dengan berbagai macam karakter.
Di kelas VII-A, ada sekitar tiga puluh siswa. Mereka
berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang dari keluarga kaya seperti Doni,
ada yang dari keluarga menengah, dan ada juga beberapa siswa kurang mampu
seperti Bima.
Selain Doni, Bima mulai mengenal beberapa teman lainnya:
Rina, seorang gadis pendiam
yang duduk di depan Bima. Ia anak seorang guru, rajin dan pintar. Rambutnya
selalu dikepang dua, dan ia jarang bicara kecuali ditanya.
Andi, siswa yang paling
populer di kelas. Ayahnya pengusaha sukses, ia sering membawa makanan mahal dan
membagikannya ke teman-teman. Ia ramah, tetapi kadang sombong.
Siti, gadis berjilbab yang
sangat religius. Setiap istirahat, ia ke mushola untuk shalat. Ia baik hati dan
suka menolong.
Budi, siswa yang suka usil.
Ia sering mengganggu teman-temannya, tetapi tidak jahat. Ia hanya suka
bercanda.
Ratna, ketua kelas. Gadis
tegas dan bertanggung jawab. Ia anak seorang pedagang pasar, jadi ia paham
artinya bekerja keras.
Suatu hari, saat pelajaran olahraga, Bima mengalami
kejadian yang memalukan. Mereka bermain basket. Bima tidak pernah main basket
sebelumnya. Di desa, ia hanya main sepak bola di sawah kering.
Ketika bola diberikan kepadanya, ia bingung harus
bagaimana. Ia melempar bola dengan cara yang salah, hingga bola itu melambung
ke samping, bukan ke depan. Semua orang tertawa.
"Hahaha, dari mana sih lo? Nggak bisa main
basket?" ledek Budi.
Bima tersipu malu. "Maaf, belum pernah."
Andi datang menghampiri. "Gue ajarin, yuk.
Basket itu gampang."
Andi mengajarinya cara memegang bola, cara mendribble, dan
cara menembak. Bima belajar dengan cepat. Dalam waktu setengah jam, ia sudah
bisa melakukan lemparan dasar.
"Lo cepat belajarnya, Bim," puji Andi.
"Makasih, And."
Sejak hari itu, Bima mulai akrab dengan beberapa teman.
Mereka sering bermain bersama saat istirahat, kadang juga belajar kelompok.
Namun tidak semua orang ramah. Ada sekelompok siswa yang
suka merendahkan siswa dari desa. Mereka dipimpin oleh seorang siswa
bernama Bayu, anak seorang pejabat di kota. Bayu sering
mengolok-olok logat Bima yang medok dan pakaiannya yang sederhana.
"Hei, anak desa! Di kota pakai baju begitu?" ledek Bayu suatu hari.
Bima mencoba mengabaikannya. Ia ingat pesan ayahnya: jangan
biarkan orang lain merendahkanmu.
"Lo tuli? Gue bicara sama lo!" Bayu mendorong bahu Bima.
Bima menatapnya tenang. "Apa maumu?"
Bayu terkekeh. "Nggak ada. Cuma heran aja,
anak desa kok bisa sekolah di sini. Mungkin jalur miskin ya?"
Doni yang melihat kejadian itu langsung maju. "Bayu,
jangan macam-macam sama teman gue."
Bayu mendengus. "Dari kapan lo berteman sama anak
desa?"
"Dari dulu. Dan lo jangan sok-sokan. Ayah lo juga
pejabat korupsi, masa lo sombong?"
Bayu merah padam. "Berani lo ngomong
gitu?"
"Berani. Mau apa?"
Suasana memanas. Beberapa siswa mulai mengelilingi mereka.
Untung saja bel masuk berbunyi, membubarkan keributan itu.
Sejak hari itu, Bayu dan kawan-kawannya tidak berani
mengganggu Bima lagi. Mereka tahu Doni akan membelanya.
"Makasih, Don," kata
Bima setelah pulang sekolah.
"Santai, Bim. Itu teman harus saling bantu."
"Tapi Bayu anak pejabat. Lo nggak takut?"
Doni tertawa. "Ayah gue pengusaha lebih kaya
dari pejabat kampungan kayak dia. Biarin aja."
Bima tersenyum. Ia bersyukur punya teman seperti Doni.
****
Hari-hari di kota terus berjalan, tetapi bagi Bima, setiap
hari terasa semakin berat. Kehidupan yang dulu ia bayangkan penuh harapan kini
mulai memperlihatkan wajah aslinya—keras, melelahkan, dan sering kali terasa
tidak adil.
Pagi hari ia harus berangkat ke sekolah dengan tubuh yang
masih terasa letih. Malam hari ia bekerja di warung makan milik Pak Hadi sampai
larut. Sering kali ketika ia kembali ke kamar kecilnya, tubuhnya sudah terlalu
lelah untuk membuka buku pelajaran. Ia hanya bisa merebahkan diri di kasur dan
tertidur dengan pakaian yang masih basah oleh keringat.
Sekolah di kota ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia
bayangkan. Pelajarannya lebih kompleks, gurunya lebih cepat dalam menjelaskan,
dan teman-temannya kebanyakan berasal dari keluarga mampu yang sudah memiliki
fasilitas belajar lengkap. Mereka punya buku-buku baru, punya akses internet,
punya les privat.
Bima hanya punya buku pinjaman dari perpustakaan, catatan
hasil fotokopian dari teman, dan tekad yang kadang mulai goyah.
Di kelas, Bima sering merasa menjadi anak yang paling
tertinggal. Ketika guru menjelaskan, ia harus berusaha ekstra keras untuk
memahami. Ketika teman-temannya dengan mudah mengerjakan soal, ia masih
bergulat dengan rumus-rumus dasar.
Suatu hari, guru matematika, Pak Agus, memberikan PR yang
sangat sulit. Soal-soalnya berbeda dari biasanya, membutuhkan pemahaman konsep
yang mendalam. Bima mencoba mengerjakannya di kamar, tetapi angka-angka itu
seperti menari-nari di depan matanya karena kantuk. Berkali-kali ia mencoba,
berkali-kali gagal.
Keesokan harinya, Pak Agus mengumpulkan PR. Ketika melihat
pekerjaan Bima, ia mengerutkan dahi.
"Bima, pekerjaanmu banyak yang salah."
Bima menunduk. "Maaf, Pak. Saya kurang
paham."
Pak Agus menghela napas. "Kamu harus lebih
rajin belajar. Nilaimu terus menurun. Dari delapan puluh, sekarang enam puluh,
lalu lima puluh. Kalau terus begini, kamu bisa tinggal kelas."
Bima tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk
pasrah.
Sepulang sekolah, Doni mendekatinya. "Bim, lo
kenapa? Kok lesu banget?"
"Nggak apa-apa, Don."
"Lo pasti capek. Kerja tiap malem kan?"
Bima mengangguk.
"Gue bisa bantu lo kalau butuh. Gue kasih catatan,
atau gue ajarin."
Bima tersenyum. "Makasih, Don. Lo baik
banget."
"Santai. Teman harus saling bantu."
Malam harinya, Bima kembali ke warung. Ia mencuci piring
dengan perasaan kosong. Kata-kata Pak Agus masih terngiang di telinganya.
Nilainya terus menurun. Ia takut kehilangan beasiswanya.
Bu Salamah melihatnya murung. "Bima, kenapa?
Kok diem aja?"
"Nggak apa-apa, Bu."
"Masa? Wajah lo kusut banget."
Bima akhirnya bercerita tentang nilai-nilainya yang menurun.
Bu Salamah menghela napas. "Nak, hidup memang
nggak selalu mudah. Tapi lo harus ingat, lo berjuang di sini bukan buat
siapa-siapa, tapi buat masa depan lo sendiri."
"Tapi saya takut kehilangan beasiswa, Bu."
"Makanya, lo harus belajar lebih giat. Ibu akan
kurangi jam kerja lo, biar lo punya waktu lebih banyak buat belajar."
"Tapi, Bu, gaji saya..."
"Nggak apa-apa. Yang penting lo sekolah dulu. Duit
bisa dicari nanti."
Bima terharu. "Terima kasih, Bu."
****
Suatu hari, Bu Salamah meminta Bima mengantar dagangan ke
pelanggan di pasar. Ini adalah tugas baru yang cukup berat. Bima harus membawa
keranjang besar berisi nasi bungkus dan lauk-pauk, berkeliling pasar menawarkan
kepada para pedagang.
Pasar Sentral adalah pusat ekonomi warga. Di sanalah segala
transaksi terjadi, dari pagi buta hingga sore hari. Pedagang sayur, pedagang
ikan, pedagang daging, pedagang pakaian, semua ada di sana. Pasar ini selalu
ramai, penuh dengan suara tawar-menawar dan hiruk-pikuk aktivitas jual-beli.
Hari itu, untuk pertama kalinya Bima berkeliling pasar
sendirian. Ia melewati lorong-lorong sempit di antara kios-kios. Bau amis ikan
bercampur dengan bau sayur busuk dan keringat para pedagang. Lantai pasar
becek, penuh dengan air dan sampah.
Beberapa pedagang menyambutnya dengan ramah, membeli nasi
bungkus untuk sarapan. Yang lain mengusirnya dengan kasar.
"Nggak mau, nggak mau! Udah beli di tempat lain!"
"Pergi sana, ganggu aja!"
Bima tidak marah. Ia hanya tersenyum dan melanjutkan
perjalanan.
Namun di tengah perjalanan, ia bertemu dengan sekelompok
preman pasar. Mereka adalah pemuda-pemuda kasar yang menguasai pasar dan
memungut uang keamanan dari para pedagang. Mereka dipimpin oleh seseorang yang
dikenal dengan panggilan Bos Apek.
Bos Apek adalah lelaki bertato dengan badan kekar dan wajah
sangar. Seluruh lengannya dipenuhi tato naga dan ular. Ia memakai kaus hitam
dan celana jins, dengan rantai besar di leher dan anting-anting di telinga. Dua
anak buahnya berdiri di sampingnya—satu kurus tinggi dengan wajah licik, satu
pendek gemuk dengan tatapan kosong.
"Hei, bocah!" teriak
Bos Apek. "Mau ke mana lo? Bawa apa itu?"
Bima berhenti, jantungnya berdebar. "Ini nasi
bungkus, Bang. Mau beli?"
Bos Apek tertawa. Anak buahnya ikut tertawa, suara mereka
kasar dan menakutkan. "Nasi bungkus? Lo jualan di sini? Punya izin
nggak?"
"Izin?" Bima
bingung.
"Izin dari gue. Ini pasar gue. Siapa pun yang jualan
di sini harus setor ke gue."
"Saya cuma antar pesanan, Bang. Titipan dari
warung."
Bos Apek mendekat. Tingginya membuat Bima harus menengadah
untuk menatap wajahnya. Napasnya bau rokok dan minuman keras. "Lo
titipan dari warung mana? Warung Hidayah? Punya Hadi?"
"Iya, Bang."
Bos Apek meludah ke tanah. "Hadi itu pelit.
Setorannya sering telat. Lo bilang sama dia, kalau nggak mau bayar, jangan
jualan di sini."
Bima mengangguk takut. "Saya sampaikan,
Bang."
"Sekarang, keranjangnya tinggalin di sini."
"Tapi, Bang..."
"Tapi apa?! Lo pikir gue minta gratis? Bayar
dulu."
Bima gemetar. Ia tidak punya uang. Uangnya hanya cukup
untuk ongkos dan makan.
"Saya nggak bawa uang, Bang."
Bos Apek menyeringai, memperlihatkan gigi yang kuning
karena rokok. "Nggak bawa uang? Berarti keranjangnya jadi
jaminan."
Ia mengambil keranjang itu paksa. Nasi bungkusnya
berhamburan ke tanah.
"Bang, jangan!" teriak
Bima.
Namun anak buah Bos Apek sudah mendorongnya hingga jatuh.
Bima terjatuh ke tanah yang kotor. Lututnya berdarah terkena aspal.
Kerikil-kerikil kecil menancap di kulitnya.
Orang-orang di pasar hanya melihat, tidak ada yang berani
membantu. Mereka takut pada preman-preman itu. Mereka hanya bisa diam dan
berpura-pura tidak melihat.
Bima memandang nasinya yang tercecer di tanah. Air matanya
tumpah. Ia pulang dengan tangan kosong, lutut berdarah, dan hati hancur.
Pak Hadi marah besar ketika mendengar cerita Bima.
"Preman keparat itu! Sudah berapa kali saya berurusan
dengan mereka!"
Bu Salamah mengompres lutut Bima dengan air hangat. "Kasihan
kamu, Nak. Nggak apa-apa, nanti Ibu ganti dagangannya."
"Tapi, Bu... itu uang Bu Salamah..."
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu selamat."
Pak Hadi mondar-mandir di ruang tamu. "Saya
harus lapor polisi."
"Hadi, jangan," cegah
Bu Salamah. "Nanti mereka balas dendam. Kita ini orang kecil. Kita
nggak punya kuasa."
Pak Hadi menghela napas frustrasi. "Jadi harus
diam saja?"
Tidak ada yang bisa menjawab.
Sejak hari itu, Bima tidak pernah lagi diizinkan
berkeliling pasar. Ia hanya bekerja di warung, mencuci piring dan membersihkan
meja. Tapi kejadian itu meninggalkan luka yang dalam. Bukan hanya luka di
lututnya, tapi juga luka di hatinya.
Ia mulai bertanya-tanya: Apakah di kota ini semua orang
sejahat itu? Apakah kebaikan tidak ada harganya? Apakah orang miskin harus
selalu tertindas?
****
Hari-hari setelah kejadian di pasar, Bima menjadi lebih
pendiam. Ia bekerja seperti biasa, belajar seperti biasa, tetapi ada kesedihan
yang mengendap di hatinya.
Pak Hadi dan Bu Salamah mencoba menghiburnya, tetapi Bima
tetap murung. Ia merasa gagal. Ia merasa lemah. Ia merasa tidak berdaya.
Suatu malam, Pak Hadi memanggilnya ke ruang tamu.
"Bima, duduklah."
Bima duduk di sofa bekas itu. Pak Hadi duduk di depannya.
"Kamu masih ingat kejadian di pasar?"
Bima mengangguk. "Iya, Pak."
"Kamu marah? Kecewa?"
"Sedikit, Pak."
Pak Hadi menghela napas. "Saya ingin cerita
sesuatu."
Bima menatapnya.
"Dulu, waktu saya masih muda, saya juga pernah
mengalami hal yang sama."
"Benarkah, Pak?"
Pak Hadi mengangguk. "Saya perantau dari desa,
datang ke kota dengan modal nekat. Saya jualan makanan keliling, sama seperti
kamu. Suatu hari, preman mengambil semua dagangan saya. Saya pulang dengan
tangan kosong, lutut berdarah, persis seperti kamu."
Bima terkejut. "Terus bagaimana, Pak?"
"Saya mau menyerah. Saya mau pulang ke desa. Tapi
kemudian saya ingat orang tua saya di sana. Mereka sudah berkorban banyak.
Kalau saya pulang dengan gagal, mereka akan kecewa."
"Jadi Bapak bertahan?"
Pak Hadi tersenyum. "Saya bertahan. Saya mulai
lagi dari nol. Saya jualan lebih giat, saya cari tempat yang aman. Dan lihat
sekarang, saya punya warung sendiri. Kecil memang, tapi milik sendiri."
Bima merenung.
"Bima, hidup ini tidak selalu adil. Ada orang jahat di
mana-mana. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti."
"Tapi saya takut, Pak."
"Takut itu wajar. Tapi jangan biarkan ketakutan
menguasaimu."
Bu Salamah ikut bicara. "Nak, Ibu juga punya cerita.
Waktu masih muda, Ibu juga pernah ditipu, pernah dirampok. Tapi Ibu percaya
satu hal."
"Apa itu, Bu?"
"Setiap luka akan menguatkan kita. Setiap air mata
akan mengajarkan kita sesuatu."
Bima meresapi kata-kata mereka. Perlahan, hatinya mulai
tenang.
Malam itu, ketika ia kembali ke kamarnya, Bima membuka
jendela kecilnya. Langit kota masih kelabu, tetapi ia bisa melihat beberapa
bintang samar-samar.
Ia teringat kata-kata ayahnya di tepi sawah: "Selama
kita tidak berhenti berjalan, kita pasti akan sampai."
"Bapak... Ibu... aku akan terus berjalan," bisiknya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum.
****
Keesokan harinya di sekolah, Bima masih terlihat murung.
Doni yang melihatnya langsung bertanya.
"Bim, lo kenapa? Kok makin lesu?"
Bima bercerita tentang kejadian di pasar. Doni mendengarkan
dengan serius.
"Preman pasar? Bos Apek?"
"Lo kenal?"
Doni mengangguk. "Gue kenal. Ayah gue kenal
bosnya mereka. Bos Apek itu anak buahnya Ceng Ho, penguasa pasar gelap di
sini."
"Ceng Ho?"
"Iya. Tapi jangan khawatir. Gue bisa bantu."
"Bantu gimana?"
Doni tersenyum misterius. "Serahin aja sama
gue."
Beberapa hari kemudian, Doni mengajak Bima ke suatu tempat.
Mereka bertemu dengan seorang pria paruh baya berpakaian rapi.
"Ini Om Wijaya, kenalan ayah gue. Beliau anggota
DPRD."
Om Wijaya tersenyum ramah. "Jadi kamu Bima?
Doni cerita tentang kamu."
"Iya, Pak."
"Kamu diganggu preman pasar?"
Bima mengangguk.
Om Wijaya menghela napas. "Saya sudah lama
ingin membersihkan pasar dari preman. Tapi butuh bukti. Kamu mau bantu?"
"Bantu bagaimana, Pak?"
"Jadi saksi. Kalau ada kejadian lagi, lapor ke
saya."
Bima ragu. Ia takut akan keselamatannya.
Doni menepuk pundaknya. "Santai, Bim. Gue
jagain lo."
Sejak hari itu, Bima mulai berani kembali ke pasar. Ia
tidak sendirian, Doni selalu menemaninya, bersama dengan dua orang satpam dari
perusahaan ayah Doni.
Para preman hanya bisa melongo melihat Bima datang dengan
pengawalan. Bos Apek tidak berani macam-macam.
Suatu hari, Bos Apek tertangkap basah memalak pedagang. Om
Wijaya datang dengan polisi. Bos Apek dan anak buahnya digelandang ke kantor
polisi.
Pasar menjadi lebih aman sejak saat itu. Para pedagang
berterima kasih pada Bima dan Doni.
"Lo hebat, Bim," puji Doni.
"Lo yang hebat, Don. Lo yang bantu."
"Kita sama-sama. Teman harus saling bantu."
Sejak saat itu, persahabatan mereka semakin erat. Doni
sering datang ke warung Pak Hadi, ikut membantu kadang-kadang. Ia juga sering
mengajari Bima pelajaran-pelajaran yang sulit.
Pak Hadi dan Bu Salamah senang melihat Bima punya teman
baik.
"Doni itu anak baik," kata Bu Salamah. "Meskipun kaya, nggak
sombong."
"Iya, Bu. Dia sahabat baik saya."
****
Suatu hari, di sekolah, Bu Lestari, guru bahasa Indonesia,
memberikan tugas menulis esai. Temanya bebas.
Bima menulis tentang desanya. Tentang sawah-sawah yang
hijau, tentang ayahnya yang bekerja di bawah terik matahari, tentang ibunya
yang selalu tersenyum meskipun hidup susah. Ia menulis dengan sepenuh hati,
mengenang masa-masa indah di desa.
Ketika Bu Lestari mengembalikan tugas itu, ia memanggil
Bima.
"Bima, esaimu luar biasa."
Bima terkejut. "Benarkah, Bu?"
"Iya. Kamu menulis dengan hati. Bahasanya sederhana
tapi menyentuh."
Bima tersenyum malu.
"Kamu pernah ikut lomba menulis?"
"Belum pernah, Bu."
Bu Lestari mengeluarkan brosur dari tasnya. "Ada
lomba menulis tingkat kota. Temanya 'Perjuangan dan Harapan'. Hadiah utamanya
beasiswa."
Bima terkejut. "Beasiswa?"
"Iya. Kamu harus ikut."
"Tapi saya belum berpengalaman, Bu."
"Tidak apa-apa. Yang penting kamu menulis dengan
jujur. Ceritakan tentang hidupmu, perjuanganmu. Itu akan menjadi tulisan yang
kuat."
Bima menerima brosur itu. Di tangannya, selembar kertas itu
terasa berat. Ini adalah kesempatan.
Sejak hari itu, Bima mulai menulis. Setiap malam, setelah belajar
dan bekerja, ia menyempatkan diri untuk menulis. Ia menulis tentang desanya,
tentang orang tuanya, tentang perjuangannya, tentang mimpinya.
Kadang ia menangis saat menulis, terkenang masa-masa sulit.
Kadang ia tersenyum, mengingat kebahagiaan sederhana di desa.
Doni sering melihatnya menulis. "Lo nulis apa,
Bim?"
"Cerita. Buat lomba."
"Boleh gue baca?"
Bima ragu, tapi akhirnya mengizinkan. Doni membaca tulisan
itu dengan seksama. Ketika selesai, ia tertegun.
"Bim... ini bagus banget."
"Serius?"
"Iya. Lo nulis dengan hati. Gue sampai mau nangis baca
ini."
Bima tersenyum. "Makasih, Don."
"Lo harus menang, Bim. Gue yakin lo bisa."
****
Hari lomba tiba. Bima datang ke gedung lomba dengan
perasaan gugup. Puluhan peserta dari berbagai sekolah berkumpul di sana. Mereka
terlihat lebih percaya diri, dengan pakaian bagus dan perlengkapan lengkap.
Bima hanya membawa pena dan kertas. Pakaiannya sederhana,
tetapi ia berusaha tampil percaya diri.
Lomba dimulai. Peserta diberi waktu tiga jam untuk menulis
esai dengan tema "Perjuangan dan Harapan".
Bima menulis dengan cepat. Ia tidak perlu berpikir lama, semua
kata sudah ada di kepalanya, menunggu untuk dituliskan. Ia menulis tentang
ayahnya yang bekerja di sawah, tentang ibunya yang tak pernah lelah, tentang
perjuangannya di kota, tentang mimpinya untuk masa depan.
Tiga jam terasa sangat cepat. Ketika waktu habis, Bima
menyerahkan tulisannya dengan perasaan lega.
Beberapa minggu kemudian, pengumuman hasil lomba tiba. Bima
dipanggil ke ruang kepala sekolah.
"Bima, selamat!" sambut kepala sekolah dengan senyum lebar.
"Selamat apa, Pak?"
"Kamu juara pertama lomba menulis tingkat kota!"
Bima tidak percaya. Dunia serasa berhenti berputar. "Benarkah,
Pak?"
Kepala sekolah menyerahkan piagam dan amplop. "Ini
hadiahnya. Beasiswa pendidikan untuk satu tahun."
Bima menerimanya dengan tangan gemetar. Air matanya tumpah.
Ia tidak bisa berkata-kata.
Bu Lestari memeluknya. "Bu bangga padamu,
Bima."
Doni yang mendengar kabar itu langsung berlari
memeluknya. "Gue bilang juga apa! Lo pasti bisa!"
Bima hanya bisa menangis bahagia.
Malam itu, ia menulis surat untuk orang tuanya. Ia ingin
mereka tahu kabar gembira ini. Ia ingin mereka bangga.
Seminggu kemudian, surat balasan dari ibunya datang. Di
dalamnya, ibu menulis bahwa ayahnya menangis bahagia membaca suratnya. Mereka
sangat bangga padanya.
Bima membaca surat itu berulang kali. Ia membayangkan wajah
ayahnya yang tersenyum, ibunya yang menangis haru. Untuk pertama kalinya, ia
merasa bahwa semua perjuangannya tidak sia-sia.
Malam itu, ia membuka jendela kamarnya. Langit kota masih
kelabu, tetapi ia bisa melihat bulan sabit yang indah. Cahayanya redup, tetapi
cukup untuk menerangi malam.
"Bapak... Ibu... aku mulai melihat cahaya itu," bisiknya.
****
Kemenangan dalam lomba menulis membawa perubahan besar
dalam hidup Bima. Namanya mulai dikenal di sekolah. Guru-guru memujinya,
teman-temannya menghormatinya. Bahkan Bayu yang dulu suka mengganggunya kini
diam seribu bahasa.
Beasiswa yang ia dapatkan meringankan beban hidupnya. Ia
tidak perlu bekerja terlalu keras di warung. Bu Salamah dengan senang hati
mengurangi jam kerjanya.
"Lo fokus belajar aja, Nak. Ibu senang lihat lo
berprestasi."
Bima tersenyum. "Terima kasih, Bu. Saya tidak
akan lupa kebaikan Ibu dan Pak Hadi."
Di sekolah, Bima semakin percaya diri. Nilai-nilainya
meningkat. Ia mulai aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler, terutama
jurnalistik dan menulis.
Bu Lestari sering memberinya buku-buku untuk dibaca. "Baca
ini, Bima. Ini akan menambah wawasanmu."
Bima membaca buku-buku itu dengan antusias. Ia belajar
tentang penulis-penulis terkenal, tentang teknik menulis, tentang cara
menyampaikan pesan melalui kata-kata.
Suatu hari, Doni bertanya, "Bim, lo mau jadi
penulis?"
Bima berpikir sejenak. "Mungkin. Tapi yang
pasti, aku ingin sekolah setinggi mungkin. Ingin jadi orang berguna."
"Lo pasti bisa, Bim. Gue yakin."
Persahabatan mereka semakin erat. Doni sering mengajak Bima
ke rumahnya, memperkenalkannya pada keluarganya. Ayah Doni, seorang pengusaha
sukses, sangat terkesan dengan Bima.
"Kamu anak hebat, Nak. Jangan pernah menyerah."
Bima mengucapkan terima kasih. Ia bersyukur dikelilingi
orang-orang baik.
****
Tiga tahun berlalu sejak Bima memenangkan lomba menulis. Ia
telah menyelesaikan sekolah menengah pertamanya dengan nilai gemilang. Beasiswa
yang ia dapatkan terus berlanjut, membantunya melewati masa-masa sulit.
Kini ia duduk di bangku SMA, masih dengan beasiswa yang
sama. Namun hari ini adalah hari yang istimewa. Ia akan pulang ke desanya
setelah tiga tahun tidak pernah kembali.
Pak Hadi dan Bu Salamah mengantarnya ke terminal. Bu
Salamah menangis, memeluk Bima erat-erat.
"Nak, kamu pasti kangen sama orang tua. Hati-hati di
jalan."
"Iya, Bu. Terima kasih untuk semuanya."
Pak Hadi menjabat tangannya. "Kamu sudah
seperti anak sendiri buat kami. Jangan lupa sama kami."
"Tidak akan, Pak. Bapak dan Ibu seperti orang tua
kedua bagi saya."
Doni juga datang mengantar. "Bim, lo jangan
lama-lama di sana. Cepet balik, gue kangen."
"Iya, Don. Makasih untuk semuanya."
Bus meninggalkan kota. Bima memandang gedung-gedung tinggi
yang perlahan menjauh. Kota yang dulu terasa asing dan menakutkan kini telah
menjadi bagian dari hidupnya. Di sanalah ia belajar tentang kerasnya hidup. Di
sanalah ia jatuh dan bangkit berkali-kali. Di sanalah ia menemukan teman-teman
baru, guru-guru yang baik, dan keluarga kedua yang menyayanginya.
Setelah perjalanan panjang, bus akhirnya sampai di terminal
kecil dekat Desa Sumber Jaya. Bima turun dengan tas di tangannya. Udara desa
terasa segar, berbeda dengan udara kota yang panas dan pengap. Ia menghirup
dalam-dalam, merasakan aroma khas desa yang selama ini ia rindukan.
Jalan tanah menuju desanya masih sama seperti dulu. Debu
beterbangan ketika dilalui kendaraan. Sawah-sawah masih hijau membentang, padi
bergoyang lembut tertiup angin. Burung-burung masih berkicau riang. Semuanya
terasa akrab, seperti tidak pernah berubah.
Ketika ia mendekati rumahnya, seorang wanita sedang
menjemur pakaian di halaman. Rambutnya mulai memutih, tubuhnya mulai membungkuk.
Wanita itu menoleh. Sapu di tangannya jatuh.
"Bima?"
"Ibu..."
Bu Yuyun berlari menghampiri dan memeluknya erat. Tangisnya
pecah. "Nak... Nak... Ibu kangen banget sama kamu."
Bima memeluk ibunya. Tubuh ibunya lebih kurus dari yang ia
ingat. "Ibu, saya juga kangen."
Dari dalam rumah, Pak Sanusi keluar dengan langkah pelan.
Tubuhnya lebih kurus, rambutnya semakin putih, tetapi senyumnya masih sama.
Senyum yang selalu memberinya kekuatan.
"Bapak..."
Bima berlari dan memeluk ayahnya. Pak Sanusi menepuk punggung
anaknya. Tangannya yang kasar terasa hangat.
"Sudah besar kamu, Nak."
"Bapak sehat?"
Pak Sanusi mengangguk. "Sehat. Tua sih
iya."
Mereka tertawa bersama. Tangis haru bercampur tawa bahagia.
Malam harinya, mereka makan bersama. Ibu memasak sayur asem
dan ikan goring, masakan favorit Bima. Mereka makan sambil bercerita. Bima
bercerita tentang kehidupannya di kota, tentang Pak Hadi dan Bu Salamah,
tentang sekolahnya, tentang lomba menulisnya, tentang Doni dan teman-temannya.
Orang tuanya mendengarkan dengan takjub. Mereka tidak
pernah membayangkan anak mereka bisa sejauh ini.
"Bapak, Ibu. Saya ingin membalas semua pengorbanan
kalian."
Pak Sanusi menggeleng. "Kamu tidak perlu
membalas apa-apa. Cukup lihat kamu sukses, kami sudah bahagia."
Bu Yuyun mengusap air matanya. "Ibu cuma ingin
kamu bahagia, Nak."
Bima memandang kedua orang tuanya. Di wajah mereka, ia
melihat cinta yang tulus, pengorbanan yang tak terhingga.
"Bapak, Ibu... terima kasih."
Hanya itu yang bisa ia ucapkan. Tapi dari dalam hatinya,
rasa terima kasih itu mengalir begitu dalam, tak terkira.
****
Selama di desa, Bima banyak bertemu dengan orang-orang
lama. Ia mengunjungi Pak Rahmat, gurunya yang dulu. Pak Rahmat sudah pensiun,
tetapi masih aktif mengajar mengaji di masjid.
"Bima! Kamu sudah besar!" sambut Pak Rahmat dengan hangat.
"Pak Rahmat... terima kasih sudah membantu saya."
Pak Rahmat tersenyum. "Saya hanya melakukan
kewajiban. Yang berjuang kan kamu sendiri."
Mereka berbincang lama. Bima bercerita tentang kehidupannya
di kota. Pak Rahmat bangga mendengarnya.
"Kamu sudah membuktikan bahwa anak petani bisa
sukses."
Bima tersenyum. "Ini berkat Bapak juga."
Ia juga bertemu dengan teman-teman lamanya. Joko, Slamet,
dan Karjo kini sudah bekerja. Joko menjadi buruh bangunan, Slamet membantu ibunya
berjualan di pasar, Karjo menjadi sopir angkot.
"Bima! Lo hebat banget!" seru Joko. "Dulu kita ngejek lo,
sekarang lo sukses."
"Nggak apa-apa, Jok. Itu dulu."
"Lo mau ngajarin kami nggak? Biar kami juga bisa
sukses?"
Bima berpikir. "Mau. Tapi kalian harus
serius."
Mereka berjanji akan belajar sungguh-sungguh.
Namun tidak semua orang senang dengan kedatangan Bima. Ada
beberapa orang yang iri dengan kesuksesannya. Mereka menyebarkan gosip bahwa
Bima sombong, bahwa ia lupa dengan desanya.
"Katanya Bima sekarang sombong. Udah lupa sama
teman-teman lamanya," bisik seseorang.
"Iya, udah kayak orang kota aja."
Bima sedih mendengar gosip itu. Tapi ia ingat pesan
ayahnya: jangan biarkan kata orang menghentikan langkahmu.
"Biarkan saja, Nak," kata Pak Sanusi. "Orang iri itu biasa.
Yang penting kamu tahu diri."
Bima mengangguk. Ia tidak mau ambil pusing.
****
Selama di desa, Bima tidak tinggal diam. Ia mulai berpikir
tentang masa depan desanya. Banyak anak-anak di desa yang putus sekolah karena
tidak mampu. Bima ingin membantu mereka.
Suatu sore, ia duduk di tepi sawah, tempat yang sama
seperti dulu ia duduk bersama ayahnya. Tempat di mana mimpinya mulai tumbuh.
Ayahnya datang dan duduk di sampingnya, seperti dulu.
"Melamun?"
"Iya, Pak. Memikirkan masa depan."
"Ada rencana?"
Bima menghela napas. "Saya ingin membuka
tempat belajar untuk anak-anak desa, Pak."
Pak Sanusi menatapnya. "Maksudmu?"
"Saya ingin mengajar mereka. Membantu mereka yang
ingin sekolah lebih tinggi tapi tidak punya biaya untuk les. Banyak anak di
sini yang pintar, tapi tidak punya kesempatan."
Pak Sanusi tersenyum. "Itu ide yang
bagus."
"Tapi saya tidak punya tempat, Pak."
Pak Sanusi berpikir sejenak. "Bagaimana kalau
kita renovasi gudang di belakang rumah? Bisa dipakai untuk belajar."
Bima tersenyum lebar. "Boleh, Pak!"
Keesokan harinya, mereka mulai membersihkan gudang. Gudang
itu selama ini hanya dipakai untuk menyimpan peralatan pertanian dan hasil
panen. Tempatnya kotor, penuh debu dan sarang laba-laba.
Kabar tentang rencana Bima menyebar dengan cepat di desa.
Orang-orang mulai datang membantu. Ada yang membawa papan, ada yang membawa
cat, ada yang membawa paku dan peralatan.
Pak Rahmat datang membantu. "Bapak dengar kamu
mau buka tempat belajar?"
"Iya, Pak. Bapak mau bantu?"
Pak Rahmat tertawa. "Tentu saja. Ini tugas
mulia. Saya sudah tua, tapi masih bisa mengajar."
Tidak hanya Pak Rahmat, beberapa pemuda desa juga ikut
membantu. Bahkan Joko, Slamet, dan Karjo, teman-teman yang dulu suka mengejek
Bima, datang untuk membantu.
"Bima, kami minta maaf kalau dulu suka ngejek
kamu," kata Joko dengan
sungkan.
Bima tersenyum. "Sudah lama itu, Jo.
Lupakan."
"Kamu hebat, Bima. Sekarang kami bangga sama
kamu."
"Kalian juga bisa hebat, kalau mau berusaha."
Joko mengangguk. "Makanya kami mau bantu. Biar
kami juga ikut belajar."
Setelah dua minggu bekerja keras, gudang itu berubah
menjadi ruang belajar sederhana. Lantainya sudah disemen, dindingnya sudah
dicat putih, atapnya sudah diperbaiki. Ada papan tulis bekas dari sekolah,
beberapa meja kayu sumbangan warga, dan rak buku yang diisi buku-buku sumbangan
dari Pak Rahmat dan beberapa donatur.
Bima menamainya "Sanggar Cahaya".
Pada hari pertama dibuka, puluhan anak datang. Mereka duduk
dengan tertib di bangku-bangku kayu, mata mereka berbinar-binar penuh semangat.
"Selamat datang di Sanggar Cahaya," sapa Bima di depan kelas. "Di sini kita
akan belajar bersama. Siapa yang ingin sekolah tinggi?"
Semua anak mengangkat tangan.
"Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai."
Bima mengajar dengan penuh semangat. Ia mengajarkan
membaca, menulis, berhitung, semua yang ia bisa. Pak Rahmat kadang datang
membantu, mengajarkan ilmu pengetahuan dan matematika.
Melihat semangat anak-anak itu, Bima teringat dirinya
sendiri di masa lalu. Ia tahu persis apa yang mereka rasakan, rasa ingin tahu
yang besar, keinginan untuk belajar, tetapi terhalang oleh keterbatasan.
"Bang Bima," seorang
anak kecil bernama Ujang bertanya, "kita bisa sekolah tinggi kayak
Abang?"
Bima tersenyum. "Bisa. Kalau kalian rajin
belajar."
"Tapi orang tua kami miskin, Bang."
"Dulu Abang juga miskin. Tapi Abang tidak pernah
berhenti bermimpi. Dan sekarang Abang bisa sekolah tinggi dengan
beasiswa."
Anak-anak itu memandangnya dengan kagum.
"Kalian juga bisa. Percaya sama diri sendiri. Jangan
pernah menyerah."
****
Kabar tentang Sanggar Cahaya menyebar luas. Banyak orang
memuji inisiatif Bima. Namun tidak semua orang senang.
Kepala Desa Sumber Jaya, Pak Lurah (nama
aslinya Bapak Sumarno), merasa tersaingi. Ia selama ini dikenal sebagai tokoh
paling berpengaruh di desa. Kini ada anak muda yang mulai diperhatikan orang.
"Pak Lurah, itu Bima anaknya Sanusi, yang sekolah di
kota. Sekarang buka tempat belajar," lapor
salah satu stafnya, Pak Carik (Sekretaris Desa), seorang pria
kurus dengan kacamata tebal yang suka mencari muka.
Pak Lurah mengernyit. "Apa maksudnya?"
"Katanya mau mencerdaskan anak-anak desa. Tapi saya
curiga, jangan-jangan dia mau cari nama. Mau jadi calon kepala desa?"
Pak Lurah berpikir. Ia tidak suka ada saingan.
Beberapa hari kemudian, Pak Lurah memanggil Pak Sanusi ke
kantor desa.
"Pak Sanusi, anakmu itu Bima, ya?"
"Iya, Pak Lurah."
"Saya dengar dia buka tempat belajar di desa. Itu
bagus. Tapi apakah dia punya izin?"
Pak Sanusi terkejut. "Izin? Untuk
mengajar?"
"Iya. Setiap kegiatan di desa harus ada izin dari
saya."
Pak Sanusi bingung. "Tapi anak-anak hanya
belajar baca tulis, Pak. Bukan apa-apa."
Pak Lurah tersenyum sinis. "Tetap harus ada
izin. Ini aturan. Kalau tidak ada izin, saya bisa tutup tempat itu."
Pak Sanusi pulang dengan perasaan tidak enak. Ia ceritakan
pada Bima.
Bima terdiam. "Kenapa Pak Lurah begitu,
Pak?"
"Mungkin dia merasa tersaingi. Atau mungkin dia cari
untung."
"Cari untung?"
"Iya, mungkin dia minta uang."
Bima menghela napas. "Saya tidak punya uang,
Pak."
Mereka bingung harus bagaimana.
Keesokan harinya, Pak Lurah datang ke Sanggar Cahaya. Ia
melihat-lihat dengan tatapan sinis.
"Bagus juga tempatnya. Tapi maaf, Nak, ini harus
ditutup."
Bima kaget. "Kenapa, Pak Lurah?"
"Tidak ada izin. Saya tidak tahu apa yang diajarkan di
sini. Jangan-jangan ajaran sesat."
Bima mencoba menjelaskan. "Kami hanya
mengajarkan membaca dan menulis, Pak. Sama seperti sekolah."
"Tetap harus ada izin. Kalau mau buka, urus
surat-suratnya dulu. Biayanya tidak mahal, hanya lima ratus ribu."
Bima terkejut. Uang sebanyak itu tidak ia miliki.
"Tapi, Pak..."
"Tidak ada tapi. Ini aturan."
Pak Lurah pergi dengan senyum puas. Bima terdiam, putus
asa.
Kabar itu menyebar. Warga desa marah pada Pak Lurah. Mereka
tahu Pak Lurah hanya cari untung.
"Dasar Pak Lurah korup!" gerutu Pak Dulah.
"Iya, dia cuma mau minta uang!"
Beberapa warga mengumpulkan uang untuk membantu Bima.
Mereka menyumbang sukarela. Ada yang seribu, dua ribu, lima ribu. Dalam waktu
tiga hari, terkumpul lima ratus ribu rupiah.
Bima terharu. "Terima kasih, semuanya. Saya
tidak tahu harus berkata apa."
Pak Dulah menepuk pundaknya. "Kamu baik, Nak.
Kami bantu kamu."
Bima mengurus izin ke kantor desa. Pak Lurah tidak bisa
berkata apa-apa lagi. Sanggar Cahaya boleh beroperasi secara resmi.
Pak Lurah kalah. Tapi ia menyimpan dendam.
****
Dua tahun telah berlalu sejak Bima membuka Sanggar Cahaya.
Tempat belajar sederhana itu kini telah melahirkan banyak cerita. Beberapa anak
binaannya berhasil melanjutkan sekolah ke kota dengan beasiswa. Yang lain
membuka usaha kecil-kecilan. Yang paling penting, mimpi-mimpi baru mulai tumbuh
di desa itu.
Namun kehidupan tidak pernah berhenti memberikan ujian.
Pada suatu pagi, Bima menerima kabar bahwa Pak Hadi sakit keras. Ia harus
segera kembali ke kota.
Pak Sanusi mengantarnya ke terminal. "Hati-hati
di jalan, Nak."
"Iya, Pak."
"Jaga Pak Hadi. Beliau sudah seperti orang tua sendiri
buat kamu."
"Saya tahu, Pak."
Bima berangkat ke kota dengan perasaan cemas. Ia
membayangkan Pak Hadi terbaring lemah di rumah sakit. Ia membayangkan Bu
Salamah yang sendirian menjaga suaminya.
Sesampainya di kota, ia langsung menuju rumah sakit. Pak
Hadi terbaring di ruang rawat inap, tubuhnya kurus dan pucat. Bu Salamah duduk
di sampingnya, wajahnya letih.
"Pak Hadi..." Bima
menghampiri.
Pak Hadi membuka matanya. Ketika melihat Bima, ia tersenyum
lemah. "Kamu datang, Nak."
"Iya, Pak. Saya langsung ke sini."
"Makasih."
"Pak Hadi sakit apa?"
Bu Salamah menjawab, suaranya bergetar. "Dokter
bilang ada masalah di jantungnya. Harus operasi."
Bima terkejut. "Operasi? Mahal, Bu?"
Bu Salamah mengangguk, air matanya jatuh. "Mahal
sekali. Kami tidak punya uang sebanyak itu."
Bima terdiam. Pikirannya bekerja cepat.
Malam itu, ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan Pak Hadi yang
sudah seperti ayahnya sendiri. Orang yang menampungnya ketika ia tidak punya
tempat tinggal. Orang yang memberinya pekerjaan ketika ia tidak punya uang.
Orang yang merawatnya ketika ia sakit.
"Aku harus membantu," gumamnya.
Keesokan harinya, ia pergi ke sekolah dan menemui Bu
Lestari. Ia menceritakan semuanya.
Bu Lestari mendengarkan dengan seksama. "Kamu
mau bantu biaya operasinya?"
"Iya, Bu. Tapi saya tidak punya uang."
Bu Lestari berpikir. "Kamu punya bakat
menulis. Kenapa tidak menulis kisahmu? Kisah perjuanganmu di kota, kisah
tentang Pak Hadi. Mungkin ada yang tertarik membantu."
Bima tertegun. "Menulis buku?"
"Bukan buku, mungkin artikel. Atau status di media
sosial. Siapa tahu ada orang baik yang tergerak."
Bima mengikuti saran itu. Ia menulis dengan sepenuh hati.
Ia menulis tentang Pak Hadi, tentang kebaikannya, tentang perjuangannya melawan
preman pasar, tentang sakitnya yang kini mengancam jiwanya.
Bu Lestari membantunya menyebarkan tulisan itu di media
sosial.
Tidak disangka, responsnya luar biasa. Banyak orang yang
tergerak. Mereka menyumbang sesuai kemampuan. Doni, teman sekelas Bima yang
kaya, ikut membantu menggalang dana. Ayah Doni juga ikut menyumbang.
Dalam waktu seminggu, dana yang terkumpul sudah cukup untuk
biaya operasi.
Pak Hadi berhasil dioperasi. Dokter bilang operasinya sukses.
Ia akan pulih dalam beberapa bulan.
Di ruang rawat inap, Pak Hadi memegang tangan Bima. Air
matanya mengalir.
"Kamu... kamu selamatkan hidup saya."
Bima tersenyum. "Pak Hadi yang dulu selamatkan
saya."
"Saya cuma kasih kamu tempat tinggal dan kerja. Kamu
yang selamatkan saya dari maut."
"Kita saling menyelamatkan, Pak."
Mereka berpelukan. Bu Salamah menangis di sampingnya.
Peristiwa itu mengajarkan Bima satu hal: kebaikan akan
kembali kepada orang yang berbuat baik. Cepat atau lambat, dengan cara yang
tidak terduga.
****
Setelah operasi, Pak Hadi perlahan pulih. Bima sering
menjenguknya, membacakan buku, atau hanya menemaninya berbincang.
"Bima, saya mau bilang sesuatu," kata Pak Hadi suatu hari.
"Apa itu, Pak?"
"Warung Hidayah... saya ingin mewariskannya
padamu."
Bima terkejut. "Apa, Pak? Tidak, Pak. Itu
milik Bapak."
"Saya sudah tua. Tidak punya anak. Kamu sudah seperti
anak sendiri."
"Tapi, Pak..."
"Jangan tolak. Kamu yang meneruskan perjuangan
saya."
Bima menangis. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Bu Salamah ikut bicara. "Terimalah, Nak. Ibu
juga setuju."
Akhirnya Bima menerima. Ia berjanji akan mengelola warung
itu dengan baik.
Sejak saat itu, Bima belajar mengelola warung. Ia belajar
tentang keuangan, tentang stok barang, tentang melayani pelanggan. Pak Hadi
membimbingnya dengan sabar.
Warung Hidayah semakin maju. Pelanggan semakin banyak,
terutama karena mereka tahu cerita di balik warung itu, tentang Bima, anak desa
yang berjuang, dan Pak Hadi yang baik hati.
Bima tidak lupa pada Sanggar Cahaya di desa. Ia menyisihkan
sebagian keuntungan warung untuk membantu operasional sanggar. Ia juga rutin
pulang ke desa setiap liburan, mengajar anak-anak di sanggar.
****
Tahun berganti. Bima lulus SMA dengan nilai terbaik. Ia
diterima di universitas negeri ternama di ibu kota, dengan beasiswa penuh.
Sebelum berangkat, ia pulang ke desa untuk berpamitan.
Sanggar Cahaya kini sudah memiliki dua ruang kelas dan tiga orang guru
sukarelawan. Pak Rahmat masih setia mengajar, meskipun usianya sudah lanjut.
"Bima, kamu akan pergi lagi?" tanya Pak Rahmat.
"Iya, Pak. Kuliah di Jakarta."
Pak Rahmat tersenyum bangga. "Kamu sudah jauh,
Nak. Jangan lupa sama desa ini."
"Tidak akan, Pak."
Bima juga bertemu dengan anak-anak sanggar. Mereka menangis
mendengar Bima akan pergi.
"Bang Bima jangan pergi!" rengek Ujang.
"Abang akan kembali. Kalian harus rajin belajar, ya.
Kelak kalian juga bisa kuliah seperti Abang."
Anak-anak itu berjanji akan belajar sungguh-sungguh.
Di Jakarta, Bima menghadapi tantangan baru. Universitasnya
besar, mahasiswanya pintar-pintar. Ia harus beradaptasi lagi dengan lingkungan
baru.
Tapi Bima tidak pernah lupa dari mana ia berasal. Ia aktif
di organisasi mahasiswa daerah, membantu mahasiswa baru dari desa untuk
beradaptasi. Ia juga sering menulis artikel tentang pendidikan di desa, yang
dimuat di majalah kampus.
Suatu hari, seorang dosen memanggilnya.
"Bima, saya baca artikel-artikelmu. Bagus
sekali."
"Terima kasih, Pak."
"Kamu punya bakat menulis. Kenapa tidak serius? Ikut
lomba-lomba menulis."
Bima mengikuti saran itu. Ia mulai mengikuti berbagai lomba
menulis. Beberapa kali menang, beberapa kali kalah. Tapi ia terus belajar.
Pada tahun ketiga kuliah, ia memenangkan lomba menulis
novel tingkat nasional. Novelnya bercerita tentang perjuangan anak desa meraih
mimpi, terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri.
Namanya mulai dikenal di dunia sastra.
****
Suatu hari, ketika Bima pulang ke kota tempat ia SMA dulu,
ia mendapat kejutan. Seseorang menemuinya di warung Pak Hadi. Orang itu adalah
Bos Apek, preman pasar yang dulu merampoknya.
"Bima... kamu masih ingat saya?"
Bima terkejut, tetapi mencoba tenang. "Ingat."
Bos Apek menunduk. "Saya... saya minta
maaf."
"Minta maaf?"
"Iya. Saya sudah berubah. Setelah keluar dari penjara,
saya sadar hidup saya salah."
Bima diam, mendengarkan.
"Saya tahu saya jahat dulu. Tapi sekarang saya ingin
tobat. Saya kerja jadi satpam di pasar. Jujur, halal."
Bima tersentuh. "Saya senang dengar itu,
Bang."
"Kamu mau maafin saya?"
Bima tersenyum. "Sudah lama saya maafkan,
Bang."
Bos Apek menangis. Ia memeluk Bima. "Terima
kasih, Nak. Kamu baik hati."
Sejak saat itu, Bos Apek, kini panggilannya Aman, menjadi
teman baik Bima. Ia sering membantu di warung, menjaga keamanan pasar dari
preman-preman lain. Ia menjadi contoh bahwa orang bisa berubah.
****
Di universitas, Bima bertemu dengan seorang gadis
bernama Laras. Laras adalah mahasiswi jurusan sastra, aktif di unit
kegiatan menulis. Mereka sering bertemu di diskusi-diskusi sastra.
"Bima, tulisannya bagus banget," puji Laras suatu hari.
"Makasih. Kamu juga."
Mereka mulai sering berdiskusi, bertukar pikiran, saling
mengkritik tulisan. Perlahan, tumbuh rasa di antara mereka.
Namun Bima ragu. Ia anak desa sederhana, sementara Laras
berasal dari keluarga berada. Ayah Laras seorang dokter terkenal.
"Lo kenapa, Bim?" tanya Doni yang juga kuliah di Jakarta.
"Gue suka sama Laras, tapi gue ragu."
"Ragu kenapa?"
"Gue miskin, Don. Ortunya kaya."
Doni tertawa. "Lo pikir Laras peduli? Dia suka
sama lo karena lo baik, lo pintar, lo pekerja keras. Bukan karena duit."
Bima berpikir. Mungkin Doni benar.
Suatu hari, Bima memberanikan diri mengungkapkan
perasaannya. Laras tersenyum.
"Aku sudah tahu dari lama, Bim. Dan aku juga suka sama
kamu."
Mereka resmi berpacaran. Ayah Laras awalnya keberatan,
tetapi setelah bertemu Bima, ia berubah pikiran.
"Kamu anak baik, Nak. Saya lihat dari caramu bicara,
caramu memandang hidup. Kamu pantas untuk Laras."
Bima lega. Hidup terus berjalan indah.
****
Kebahagiaan tidak selalu abadi. Pada suatu hari, Bima menerima
kabar buruk dari desa. Ayahnya sakit keras.
Ia segera pulang. Pak Sanusi terbaring lemah di rumah. Bu
Yuyun menangis di sampingnya.
"Bapak kenapa, Bu?"
"Sudah seminggu ini. Dokter bilang ada tumor di
perutnya."
Bima terpukul. Ia tidak bisa membayangkan kehilangan
ayahnya.
Pak Sanusi membuka mata. "Bima... kamu
pulang?"
"Iya, Pak. Saya di sini."
"Jaga ibu, ya. Jaga adik-adik di sanggar."
"Bapak akan sembuh, Pak. Jangan bicara begitu."
Pak Sanusi tersenyum lemah. "Bapak sudah tua,
Nak. Sudah waktunya."
Bima menangis. Ia tidak siap kehilangan.
Operasi dilakukan, tetapi hasilnya tidak menggembirakan.
Kanker sudah menyebar. Dokter memberi harapan tipis.
Bima tinggal di desa selama sebulan, menemani ayahnya. Di
saat-saat terakhir, Pak Sanusi berpesan.
"Bima... kamu sudah buat Bapak bangga. Teruslah
berjuang. Jaga ibu. Jaga desa ini."
"Saya janji, Pak."
Pak Sanusi menghembuskan napas terakhir dengan tenang,
diiringi tangis keluarga dan tetangga.
Desa berduka. Bima kehilangan sosok panutan, sumber inspirasinya.
Tapi ia tahu, ayahnya ingin ia terus maju.
****
Setelah ayahnya meninggal, Bima jatuh dalam kesedihan yang
dalam. Ia sulit berkonsentrasi kuliah, sulit menulis, sulit melakukan apa pun.
Laras dan Doni berusaha menghiburnya. "Bim, lo
harus kuat. Almarhum ayah lo pasti nggak mau lihat lo begini."
"Gue tahu, Don. Tapi berat."
"Berat itu wajar. Tapi lo harus bangkit."
Bima mencoba bangkit. Ia kembali ke kampus, kembali
menulis. Ia menulis tentang ayahnya, tentang semua yang diajarkannya. Tulisan
itu dimuat di majalah sastra dan mendapat banyak pujian.
Ia mendirikan beasiswa atas nama ayahnya, Beasiswa
Sanusi , untuk membantu anak-anak desa yang ingin sekolah tinggi. Doni
dan Laras ikut membantu.
Sanggar Cahaya terus berkembang. Kini sudah ada sepuluh
guru relawan, delapan puluh murid. Beberapa alumni sanggar sudah kuliah,
beberapa bekerja, dan mereka kembali untuk mengajar.
Bima tersenyum melihatnya. Ayahnya akan bangga.
****
Tahun-tahun berlalu. Bima lulus kuliah dengan predikat
cumlaude. Novelnya yang terinspirasi dari kisah hidupnya diterbitkan dan
menjadi best seller. Ia diundang ke mana-mana untuk berbicara tentang
pendidikan, tentang mimpi, tentang perjuangan.
Pemerintah kota memberinya penghargaan sebagai pemuda
inspiratif. Media meliput kisahnya. Namanya dikenal banyak orang.
Namun Bima tidak pernah lupa dari mana ia berasal. Setiap
ada kesempatan, ia pulang ke desa. Ia memastikan Sanggar Cahaya terus berjalan.
Ia memastikan anak-anak desa mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang ia
dapatkan.
Suatu hari, ia diundang ke istana presiden. Presiden
sendiri yang memberinya penghargaan sebagai pahlawan pendidikan.
"Bima, kamu adalah bukti bahwa mimpi bisa diraih.
Teruslah menginspirasi."
Bima menangis. Ia ingat ayahnya, ibunya, Pak Rahmat, Pak Hadi,
Bu Salamah, Doni, Laras, dan semua orang yang telah membantunya.
"Terima kasih, Pak Presiden. Saya hanya melakukan apa
yang saya bisa."
****
Setelah lulus, Bima memilih untuk tidak bekerja di kota. Ia
kembali ke desanya, mengelola Sanggar Cahaya dan Warung Hidayah yang dikirim
Pak Hadi padanya.
Laras memilih mengikutinya. Mereka menikah sederhana di
desa, dihadiri seluruh warga. Pak Hadi dan Bu Salamah datang dari kota. Doni
menjadi saksi.
"Gue nggak nyangka, Bim. Lo sekarang jadi orang
besar."
"Berkat lo juga, Don."
"Gue cuma bantu dikit. Lo yang berjuang."
Mereka berpelukan.
Sanggar Cahaya terus berkembang. Bima mendirikan yayasan,
membuka sekolah gratis untuk anak-anak miskin. Laras membantu mengajar. Doni
menjadi donatur tetap.
Pak Hadi dan Bu Salamah pindah ke desa, tinggal bersama
Bima. Mereka bahagia melihat anak angkatnya sukses.
Bu Yuyun, ibu Bima, tersenyum bangga setiap hari. Ia sering
ke makam suaminya, bercerita tentang Bima, tentang menantunya, tentang
cucu-cucunya kelak.
"Sanusi... anakmu sudah sukses. Kau pasti bangga di
sana."
****
Lima tahun kemudian, Sanggar Cahaya telah menjadi sebuah
yayasan pendidikan lengkap: TK, SD, SMP, dan SMA gratis untuk anak-anak miskin.
Ribuan anak telah lulus dari sana. Banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi,
menjadi dokter, insinyur, guru, penulis.
Bima dan Laras dikaruniai dua anak: seorang laki-laki dan
perempuan. Mereka dinamai Sanusi (untuk menghormati kakeknya) dan Cahaya.
Setiap senja, Bima masih sering duduk di tepi sawah, tempat
yang sama seperti dulu bersama ayahnya. Kini ia ditemani anak-anaknya.
"Pak, kenapa suka duduk di sini?" tanya Sanusi kecil.
"Dulu, kakekmu sering duduk di sini bersama
Abah."
"Ceritakan, Pak."
Bima tersenyum. Ia mulai bercerita tentang masa lalunya,
tentang perjuangannya, tentang ayahnya yang mengajarinya arti cahaya.
Anak-anaknya mendengarkan dengan takjub.
"Abah, kami juga ingin seperti Abah. Berjuang untuk
mimpi."
Bima memeluk mereka. "Kalian pasti bisa.
Karena kalian punya cahaya di hati."
****
Tiga puluh tahun telah berlalu sejak senja itu. Bima kini
sudah tua, rambutnya memutih, langkahnya mulai lambat. Namun matanya masih
bersinar, seperti dulu.
Ia duduk di tepi sawah yang sama, ditemani oleh Sanusi, putranya
yang kini telah menjadi dokter dan kembali mengabdi di desa.
"Pak, apa yang Abah pikirkan?"
"Abah teringat dulu, Nak. Waktu Abah seusiamu, Abah
duduk di sini bersama kakekmu. Kakekmu bilang, cahaya selalu ada di depan
sana."
Sanusi tersenyum. "Dan Abah sudah menemukan
cahaya itu?"
Bima memandang sekelilingnya. Di kejauhan, Yayasan Sanggar
Cahaya berdiri megah. Ratusan anak berlarian di halamannya, tertawa riang. Di
sampingnya, Laras sedang mengajar di kelas terbuka. Di rumah sederhana mereka,
Bu Yuyun yang sudah sangat tua dirawat dengan penuh kasih.
"Abah sudah menemukannya, Nak. Cahaya itu bukan di
ujung jalan. Cahaya itu ada di sepanjang jalan, selama kita mau
melihatnya."
Sanusi mengangguk, memahami.
"Cahaya itu adalah ketika kita bisa membuat orang lain
tersenyum. Ketika kita bisa membantu orang lain bermimpi. Ketika kita bisa
meneruskan kebaikan yang kita terima."
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Langit berubah
jingga keemasan, persis seperti senja lima puluh tahun lalu.
"Ayo, Pak. Ibu menunggu."
Bima berdiri dengan bantuan putranya. Ia melangkah perlahan
meninggalkan sawah, meninggalkan tempat di mana mimpinya dimulai.
Namun ia tidak sedih. Karena ia tahu, mimpinya tidak
berhenti di sini. Mimpinya hidup di setiap anak yang ia ajar, di setiap orang
yang ia bantu, di setiap hati yang ia sentuh.
Cahaya itu akan terus menyala.
Dari generasi ke generasi.
Dari hati ke hati.
Selamanya.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar