Cerpen
Jalan Terjal
Menuju Cahaya
Sebuah kisah tentang perjuangan,
harapan, dan keberanian menapaki kehidupan
Oleh: Slamet Riyadi
Hidup tidak selalu berjalan di jalan yang rata. Ada manusia
yang sejak lahir sudah berada di jalan yang terang dan mudah, tetapi ada pula
yang harus meniti kehidupan melalui jalan yang sempit, berliku, dan penuh batu
tajam.
Sebagian orang berhenti ketika langkah mereka terasa
terlalu berat. Mereka memilih kembali, menyerah pada keadaan, atau menerima
hidup apa adanya tanpa mencoba mengubahnya.
Namun ada pula manusia-manusia yang tetap berjalan.
Meskipun pelan. Meskipun tertatih. Meskipun kadang harus menahan luka di dalam
hati.
Kisah ini adalah tentang perjalanan seperti itu.
Perjalanan seorang anak desa yang lahir dari keluarga
sederhana. Seorang anak yang tumbuh di tengah keterbatasan, tetapi memiliki
mimpi yang jauh lebih besar daripada desa tempat ia dilahirkan.
Ia tidak lahir dari keluarga kaya.
Ia tidak memiliki kekuasaan atau kemudahan hidup.
Yang ia miliki hanyalah keyakinan bahwa hidup tidak boleh berhenti hanya karena
keadaan.
Namanya Bima.
Dan kisahnya dimulai pada sebuah senja yang tenang di sebuah desa kecil yang
jauh dari keramaian kota.
Desa itu bernama Sumber Jaya. Dikelilingi sawah-sawah luas
yang hijau, sungai kecil yang mengalir perlahan, serta rumah-rumah kayu
sederhana yang berdiri di antara pepohonan rindang. Sebuah desa yang damai,
namun juga desa yang sering kali membatasi mimpi warganya hanya pada luasnya
hamparan sawah.
Di desa itu, kehidupan berjalan dengan ritme yang lambat
namun penuh makna. Pagi hari diisi dengan suara ayam berkokok dan para petani
yang berangkat ke sawah membawa cangkul di pundak mereka. Siang hari dipenuhi
terik matahari yang membakar ladang-ladang padi. Dan sore hari, ketika matahari
mulai turun di balik perbukitan, desa itu berubah menjadi tempat yang tenang
dan damai.
Pada suatu sore yang hangat, langit tampak berwarna jingga
keemasan. Matahari perlahan turun menuju ufuk barat, menyinari hamparan sawah
yang luas dengan cahaya yang lembut. Angin berhembus perlahan, menggerakkan
batang-batang padi yang mulai menguning.
Di tepi sawah yang luas itu, seorang anak laki-laki duduk
di atas pematang tanah. Wajahnya masih polos, tetapi matanya tampak seperti
sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar dari usianya. Anak itu adalah
Bima.
Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya dengan kulit
yang gelap karena matahari. Tangannya kasar dan penuh bekas kerja keras. Di
wajahnya tergambar keteguhan seorang lelaki yang telah lama berdamai dengan
kerasnya kehidupan. Ia adalah Pak Sanusi, ayah Bima.
Pak Sanusi memandang hamparan sawah di hadapannya dengan
tenang. Kemudian ia duduk di samping anaknya.
"Capek, Nak?" tanyanya
dengan suara pelan.
Bima menggeleng. "Tidak, Pak."
Pak Sanusi tersenyum kecil. "Bekerja di sawah
memang tidak mudah. Panas, lumpur, dan kadang hasilnya tidak seberapa."
Bima memandang ayahnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Bapak
tidak pernah bosan?"
Pak Sanusi tertawa kecil. "Bosankah matahari
terbit setiap pagi?"
Bima mengerutkan keningnya. "Maksud
Bapak?"
Pak Sanusi menatap langit yang mulai berubah warna. "Dalam
hidup ini, Nak, tidak semua orang berjalan di jalan yang mudah. Ada orang yang
harus melewati jalan yang panjang dan terjal."
Bima terdiam sejenak. Matanya menatap hamparan sawah yang
luas seakan sedang membayangkan sesuatu. "Kalau jalannya terlalu
berat bagaimana, Pak?"
Pak Sanusi menepuk bahu anaknya dengan lembut. "Selama
kita tidak berhenti berjalan, kita pasti akan sampai."
Bima kembali menatap ayahnya. "Bapak…"
"Iya?"
"Apakah orang seperti kita bisa memiliki kehidupan
yang lebih baik?"
Pertanyaan itu membuat Pak Sanusi terdiam beberapa saat.
Angin sore berhembus pelan melewati mereka. Ia kemudian menarik napas panjang
dan memandang jauh ke arah matahari yang hampir tenggelam.
"Bisa, Nak."
Bima menatap ayahnya dengan mata berbinar. "Benarkah?"
Pak Sanusi mengangguk pelan. "Tapi ada satu
hal yang harus kamu ingat."
"Apa itu, Pak?"
Pak Sanusi mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah
matahari yang hampir tenggelam di balik perbukitan. "Lihat ke
sana."
Bima mengikuti arah tangan ayahnya. Langit tampak seperti
lautan cahaya yang indah. "Itulah cahaya," kata Pak
Sanusi perlahan. "Cahaya selalu ada di depan sana."
Bima terdiam. "Tapi untuk sampai ke
sana," lanjut Pak Sanusi, "kita harus berani
berjalan. Meskipun jalannya terjal."
Bima menundukkan kepalanya perlahan. "Apakah
Bapak percaya aku bisa melakukannya?"
Pak Sanusi menatap anaknya dengan mata yang hangat. "Bapak
tidak hanya percaya." Ia tersenyum. "Bapak
yakin."
Bima memandang kembali matahari yang hampir tenggelam. Di
dalam hatinya, sesuatu mulai tumbuh. Sebuah mimpi kecil. Sebuah keyakinan yang
belum sepenuhnya ia pahami. Bahwa suatu hari nanti, ia akan berjalan jauh dari
desa kecil itu. Menapaki jalan panjang kehidupan. Melewati luka, kegagalan, dan
kesulitan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun di ujung perjalanan itu, ia percaya ada sesuatu yang
menunggunya. Sesuatu yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan. Sebuah
cahaya.
Dan tanpa ia sadari, sejak senja itu kehidupannya telah
memilih jalannya sendiri. Sebuah jalan yang tidak mudah. Sebuah jalan yang
penuh batu dan tanjakan. Sebuah jalan terjal menuju cahaya.
**
Pagi di Desa Sumber Jaya selalu dimulai dengan cara yang
sederhana. Ketika matahari baru saja muncul di balik perbukitan, suara ayam
jantan sudah lebih dulu memecah kesunyian. Udara masih terasa dingin, embun
menempel di ujung daun padi yang terbentang luas seperti karpet hijau yang tak
berujung.
Di sebuah rumah kayu sederhana di tepi desa, seorang anak
laki-laki telah bangun lebih awal dari kebanyakan anak seusianya. Namanya Bima.
Usianya baru sembilan tahun, tetapi matanya sudah menyimpan banyak pertanyaan
tentang dunia.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Bima sudah berdiri di halaman
rumah sambil mengenakan topi caping kecil milik ayahnya yang kebesaran. Di
tangannya ia memegang cangkul kecil yang hampir sebesar tubuhnya sendiri.
Dari dalam rumah terdengar suara ibunya. "Bima…
kamu sudah bangun?"
"Iya, Bu," jawab
Bima.
Ibunya, Bu Yuyun, keluar dari dapur sambil membawa sebuah
piring berisi nasi dan ikan asin. Wajahnya bulat dengan rambut disanggul
sederhana. Ia menatap anaknya dengan sedikit rasa heran. "Kenapa
bangun pagi sekali? Bukankah hari ini kamu sekolah?"
Bima tersenyum kecil. "Aku mau membantu Bapak
dulu di sawah."
Bu Yuyun menghela napas pelan. "Tidak perlu
setiap hari ikut ke sawah, Nak. Kamu masih anak-anak."
Bima menggeleng perlahan. "Tidak apa-apa, Bu.
Aku ingin belajar."
Bu Yuyun tersenyum tipis. Ia tahu anaknya memang berbeda dari
kebanyakan anak di desa itu. Bima memiliki semangat yang jarang ia lihat pada
anak seusianya.
Tidak lama kemudian, Pak Sanusi keluar dari rumah sambil
membawa sabit di tangannya. Ia terkejut melihat Bima sudah siap
berangkat. "Lho, kamu sudah siap dari tadi?"
Bima mengangguk. "Ayo, Pak. Kita ke
sawah."
Pak Sanusi tertawa kecil. "Kamu ini seperti
orang yang sudah dewasa saja."
Mereka berjalan bersama menuju sawah. Jalan kecil yang
mereka lewati masih basah oleh embun pagi. Di kejauhan, beberapa petani sudah
mulai bekerja di ladang mereka. Pak Sanusi menyapa mereka satu per satu.
"Sanusi, itu anakmu sudah ikut lagi?" sapa seorang petani bernama Pak Dulah sambil berhenti
mencangkul.
"Iya, Dul. Katanya mau belajar," jawab Pak Sanusi.
Pak Dulah tertawa. "Wah, anak muda zaman
sekarang jarang yang mau ke sawah. Biasanya pada malas. Anakmu ini lain."
Bima hanya tersenyum malu.
Sesampainya di sawah, Pak Sanusi mulai mencangkul tanah
dengan gerakan yang terlatih. Sementara itu, Bima mencoba menirukan gerakan
ayahnya dengan cangkul kecil di tangannya. Namun beberapa kali ia hampir
terjatuh karena tanah yang licin.
Pak Sanusi memperhatikannya sambil tersenyum. "Pelan-pelan
saja, Nak. Sawah ini tidak akan lari ke mana."
Bima berhenti sejenak dan mengusap keringat di dahinya. "Bapak
tidak capek bekerja seperti ini setiap hari?"
Pak Sanusi menghentikan cangkulnya. "Capek
tentu saja."
"Lalu kenapa Bapak tetap melakukannya?"
Pak Sanusi menatap sawah yang luas di hadapannya. "Karena
hidup harus dijalani."
Bima menunduk memandang lumpur yang menempel di
kakinya. "Apakah aku juga harus menjadi petani seperti
Bapak?"
Pak Sanusi tidak langsung menjawab. Ia memandang wajah
anaknya dengan serius. "Kalau kamu mau menjadi petani, itu tidak
salah."
"Kalau tidak?"
Pak Sanusi tersenyum. "Kalau kamu punya mimpi
yang lebih besar, kejarlah."
Bima terdiam. Angin pagi berhembus perlahan melewati
hamparan sawah.
"Bapak…," kata
Bima pelan.
"Iya?"
"Aku ingin sekolah setinggi mungkin."
Pak Sanusi memandangnya dengan penuh perhatian. "Kenapa?"
Bima menatap jauh ke arah perbukitan. "Aku
ingin mengubah hidup kita."
Pak Sanusi terdiam cukup lama. "Aku tidak
ingin Bapak dan Ibu terus bekerja keras seperti ini," lanjut
Bima.
Pak Sanusi menarik napas panjang. "Sekolah
memang penting, Nak. Tapi jalan menuju ke sana tidak mudah."
"Aku tidak takut."
"Kamu tahu berapa biaya sekolah di kota?"
Bima menggeleng. "Tidak tahu."
"Banyak sekali."
Bima menatap ayahnya dengan penuh keyakinan. "Aku
akan berusaha."
Pak Sanusi tersenyum tipis. "Kamu masih
kecil."
"Tapi mimpi tidak pernah terlalu kecil, Pak."
Jawaban itu membuat Pak Sanusi tertawa pelan. "Kamu
ini memang anak yang aneh."
Bima ikut tersenyum.
Setelah beberapa saat bekerja, Pak Sanusi berkata, "Sekarang
pulanglah. Kamu harus bersiap ke sekolah."
Bima mengangguk. Ia mencuci kaki di saluran air kecil, lalu
berjalan pulang.
Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan beberapa teman
sebayanya yang sedang bermain di pinggir jalan. Ada Joko, Slamet, dan
Karjo—tiga sekawan yang terkenal nakal di desa.
"Bima!" teriak
Joko. "Main bola, yuk!"
Bima menggeleng. "Aku harus ke sekolah."
Slamet tertawa. "Untuk apa sekolah
tinggi-tinggi? Kita ini anak desa."
Karjo menimpali, "Iya, nanti juga jadi petani
kayak bapak kita."
Bima berhenti sejenak. "Aku ingin menjadi
orang yang berguna."
Joko kembali tertawa. "Bermimpi saja
kamu."
Bima tidak marah. Ia hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan
langkahnya. Di belakangnya, ia masih mendengar suara tawa mereka, tetapi
hatinya tidak goyah.
Sesampainya di rumah, Bu Yuyun sudah menyiapkan pakaian
sekolahnya. "Kamu dari sawah lagi?"
Bima mengangguk.
Bu Yuyun menatapnya dengan penuh kasih. "Kamu
tidak capek?"
"Sedikit."
"Kenapa tetap dilakukan?"
Bima menjawab dengan tenang. "Karena aku ingin
belajar menjadi kuat."
Bu Yuyun tersenyum. "Untuk apa?"
Bima mengenakan tas sekolahnya. "Untuk
berjalan lebih jauh."
"Sejauh apa?"
Bima menatap jalan kecil yang membentang keluar desa. "Sejauh
mungkin."
Ia melangkah menuju sekolah dengan langkah yang ringan. Di
dalam hatinya, mimpi itu semakin jelas. Mimpi untuk keluar dari keterbatasan.
Mimpi untuk mengubah nasib keluarganya. Mimpi untuk menemukan cahaya yang
selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.
Dan tanpa ia sadari, langkah kecilnya pagi itu adalah awal
dari perjalanan panjang yang akan membawa hidupnya menuju jalan yang tidak
mudah. Sebuah jalan terjal menuju cahaya.
**
Hari-hari di Desa Sumber Jaya berjalan seperti biasanya.
Matahari terbit dari balik perbukitan, para petani berangkat ke sawah, dan
anak-anak berjalan menuju sekolah dengan langkah santai di jalan tanah yang
membelah desa.
Namun bagi Bima, hari itu terasa sedikit berbeda. Sejak
percakapan dengan ayahnya beberapa waktu lalu di tepi sawah, mimpi yang ada di
dalam hatinya semakin jelas. Ia tidak hanya ingin bersekolah seperti biasa. Ia
ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi, pergi ke kota, dan suatu hari
kembali membawa perubahan bagi keluarganya.
Mimpi itu terus tumbuh di dalam pikirannya. Namun ia belum
tahu bahwa tidak semua orang akan memahami mimpi tersebut.
Sore itu, setelah pulang sekolah, Bima membantu ayahnya
mengangkat karung padi ke dalam lumbung kecil di belakang rumah. Tubuhnya
berkeringat, tetapi wajahnya terlihat penuh semangat.
Pak Sanusi memperhatikan anaknya sambil tersenyum
tipis. "Kamu kelihatan senang sekali hari ini."
Bima mengangguk. "Aku ingin mengatakan
sesuatu, Pak."
Pak Sanusi berhenti mengikat karung padi. "Apa
itu?"
Bima menarik napas sejenak, seolah sedang mengumpulkan
keberanian. "Setelah lulus nanti, aku ingin melanjutkan sekolah ke
kota."
Pak Sanusi terdiam. Bukan karena marah, tetapi karena ia
tahu betapa berat jalan yang akan dihadapi anaknya.
"Kamu benar-benar ingin melanjutkan sekolah?"
"Iya, Pak."
"Kenapa?"
Bima menatap ayahnya dengan penuh keyakinan. "Aku
ingin belajar lebih banyak. Aku ingin mengubah hidup kita."
Pak Sanusi menghela napas perlahan. "Bima,
kamu tahu bahwa hidup di kota tidak mudah."
"Aku tahu."
"Biayanya juga besar."
"Aku akan bekerja kalau perlu."
Pak Sanusi menatap anaknya dengan dalam. "Apakah
kamu sudah memikirkan semuanya?"
Bima mengangguk pelan. "Sudah, Pak."
Pak Sanusi tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menepuk
bahu anaknya. "Nanti kita pikirkan bersama."
Keesokan harinya, berita tentang keinginan Bima untuk
melanjutkan sekolah ke kota mulai tersebar di desa. Di warung kecil milik Pak
Jono, beberapa warga sedang duduk sambil minum kopi.
Warung Pak Jono adalah pusat informasi utama di Desa Sumber
Jaya. Setiap sore, para lelaki desa berkumpul di sana, minum kopi hitam pekat,
mengisap rokok kretek, dan membicarakan apa saja—dari harga gabah hingga gosip
tetangga.
Hari itu, obrolan mereka tertuju pada Bima.
"Katanya anaknya Pak Sanusi ingin sekolah ke
kota," kata seorang pria
bernama Pak Kumis—julukan untuk lelaki dengan kumis tebal yang suka berkomentar
tentang apa pun.
"Anak yang sering membantu di sawah itu?" tanya Pak Jono sambil mengelap gelas.
"Iya."
Pak Jono menggeleng. "Sekolah di kota itu
mahal."
Seorang warga lain, Pak Rasid, ikut menimpali. "Anak
petani seperti mereka biasanya berhenti sekolah setelah lulus. Mending langsung
bekerja."
"Terlalu tinggi mimpinya," sahut Pak Kumis. "Nanti juga
kecewa."
Mbah Karto, orang tua paling sepuh di desa yang sering
duduk di pojok warung, ikut berkomentar. "Dulu saya juga punya
mimpi. Tapi hidup ini harus realistis, nduk."
Beberapa orang tertawa pelan.
Tanpa mereka sadari, Bima sedang berdiri tidak jauh dari
warung itu. Ia baru saja pulang dari sekolah dan mendengar percakapan mereka.
Kata-kata itu menusuk hatinya, tetapi ia memilih untuk tetap berjalan seolah
tidak mendengar apa-apa.
Di halaman rumah, Bu Yuyun sedang menjemur pakaian. "Kamu
sudah pulang?"
Bima mengangguk. "Iya, Bu."
Bu Yuyun memperhatikan wajah anaknya. "Kamu
kelihatan murung."
"Tidak apa-apa."
"Katakan saja."
Bima duduk di bangku kayu di depan rumah. "Bu…
apakah mimpi yang terlalu tinggi itu salah?"
Bu Yuyun sedikit terkejut. "Kenapa kamu
bertanya begitu?"
"Tadi aku mendengar orang-orang di warung."
"Mereka berkata apa?"
"Mereka bilang mimpi anak petani seperti aku terlalu
tinggi."
Bu Yuyun terdiam sejenak. Ia duduk di samping
anaknya. "Bima," katanya lembut, "dalam
hidup ini selalu ada orang yang meragukan kita."
Bima menunduk. "Kenapa mereka begitu?"
"Karena mereka belum tentu berani bermimpi seperti
kamu."
Bima menatap ibunya. "Apakah Ibu juga berpikir
mimpiku terlalu tinggi?"
Bu Yuyun tersenyum. "Tidak."
"Benarkah?"
"Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi orang yang
mau berusaha."
Bima merasa hatinya sedikit lebih tenang. Saat itulah Pak
Sanusi datang dari sawah. Wajahnya berkeringat, tetapi matanya ramah.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Bu Yuyun menjawab pelan. "Bima mendengar
orang-orang meragukan mimpinya."
Pak Sanusi menatap anaknya. "Kamu sedih?"
Bima menggeleng. "Hanya sedikit."
Pak Sanusi duduk di bangku kayu yang sama. "Bima."
"Iya, Pak?"
"Kamu tahu kenapa orang-orang meragukanmu?"
"Kenapa?"
"Karena mereka hanya melihat keadaanmu sekarang."
Bima diam mendengarkan.
"Tapi kamu harus melihat dirimu di masa depan."
Bima menatap ayahnya dengan penuh perhatian.
"Jangan biarkan keraguan orang lain menghentikan
langkahmu."
"Tapi kalau mereka benar bagaimana, Pak?"
Pak Sanusi tersenyum. "Kalau mereka benar,
setidaknya kamu sudah mencoba."
Bima menarik napas panjang.
"Dan kalau mereka salah?"
Pak Sanusi menatapnya dengan penuh keyakinan. "Suatu
hari mereka akan melihat bahwa mimpi anak petani juga bisa menjadi
kenyataan."
Angin sore berhembus melewati halaman rumah. Langit
perlahan berubah warna menjadi jingga. Bima memandang jalan tanah yang
membentang keluar desa.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa
perjalanan menuju mimpinya tidak akan mudah. Akan ada banyak keraguan. Akan ada
banyak orang yang meremehkan.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal: mimpi itu
tidak akan ia tinggalkan. Karena bagi Bima, mimpi itu adalah langkah pertama
menuju cahaya yang selama ini ia cari.
**
Pagi itu langit Desa Sumber Jaya tampak cerah. Matahari
baru saja muncul dari balik perbukitan, menyinari jalan tanah yang dilalui
anak-anak desa menuju sekolah dasar yang berdiri sederhana di tengah lapangan
kecil.
Bangunan sekolah itu tidak besar. Dindingnya terbuat dari
papan yang sudah mulai kusam dimakan waktu. Atap sengnya sering berbunyi keras
ketika hujan turun. Namun bagi anak-anak desa, sekolah itu adalah tempat mereka
mengenal dunia.
Termasuk bagi Bima. Dengan tas sekolah yang sudah mulai
usang di punggungnya, Bima berjalan cepat menyusuri jalan kecil menuju sekolah.
Di dalam pikirannya masih teringat percakapan orang-orang di warung yang
meragukan mimpinya. Namun kali ini ia mencoba tidak memikirkannya terlalu lama.
Setibanya di sekolah, bel kayu yang digantung di depan
kelas sudah berbunyi. Anak-anak segera masuk ke dalam kelas mereka. Bima duduk
di bangku paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke sawah.
Di dalam kelas, seorang pria berdiri di depan papan tulis.
Wajahnya tampak tenang dengan sorot mata yang tajam namun hangat. Ia adalah Pak
Rahmat, guru yang paling dihormati oleh murid-murid di sekolah itu. Pak Rahmat
sudah mengajar selama hampir dua puluh tahun. Rambutnya mulai memutih di bagian
pelipis, tetapi semangatnya dalam mengajar tidak pernah pudar.
Pak Rahmat dikenal sebagai guru yang tegas tetapi sangat
peduli kepada murid-muridnya. Ia sering mengajar lebih dari sekadar
pelajaran—ia mengajarkan tentang kehidupan.
Pagi itu ia sedang menjelaskan pelajaran tentang cita-cita.
"Anak-anak," katanya
sambil menulis sesuatu di papan tulis, "setiap manusia memiliki
masa depan. Dan masa depan itu sering dimulai dari mimpi."
Beberapa murid tampak memperhatikan, tetapi sebagian
lainnya hanya saling bercanda. Joko dan Slamet, dua murid nakal di kelas,
sedang asyik melempar kertas.
Pak Rahmat melanjutkan, "Sekarang Bapak ingin
bertanya. Siapa di antara kalian yang memiliki cita-cita?"
Beberapa tangan terangkat. Pak Rahmat menunjuk seorang anak
di barisan depan.
"Kamu, Budi. Apa cita-citamu?"
Budi berdiri sambil tersenyum malu. "Saya
ingin menjadi pedagang seperti ayah saya, Pak."
Pak Rahmat mengangguk. "Itu cita-cita yang
baik."
Kemudian ia menunjuk murid lain, seorang anak perempuan
dengan kucir dua bernama Wati.
"Kalau kamu, Wati?"
Wati berdiri. "Saya ingin menjadi
perawat."
"Bagus."
Beberapa anak lain juga menyebutkan cita-cita mereka. Ada
yang ingin menjadi tentara, guru, bahkan ada yang ingin menjadi sopir bus.
Akhirnya pandangan Pak Rahmat berhenti pada Bima yang sejak
tadi duduk diam di bangku belakang.
"Bima."
Bima sedikit terkejut. "Iya, Pak?"
"Kamu belum mengatakan cita-citamu."
Seluruh kelas menoleh ke arahnya. Bima berdiri perlahan.
Joko berbisik kepada Slamet, "Dia mau jadi apa? Petani?" Mereka
tertawa kecil.
"Apa cita-citamu?" tanya Pak Rahmat.
Bima menelan ludah sejenak. "Saya ingin
melanjutkan sekolah setinggi mungkin, Pak."
Beberapa murid mulai berbisik. Pak Rahmat memperhatikan
wajah Bima dengan serius.
"Kenapa?"
Bima menjawab dengan suara yang tenang. "Karena
saya ingin mengubah hidup keluarga saya."
Kelas tiba-tiba menjadi sunyi. Pak Rahmat menatapnya
beberapa saat, lalu tersenyum.
"Itu cita-cita yang mulia."
Namun tiba-tiba terdengar suara tawa kecil dari sudut
kelas. Joko berkata pelan kepada temannya, "Anak petani mau
sekolah tinggi?" Slamet dan Karjo ikut tertawa.
Pak Rahmat segera menoleh ke arah mereka. Wajahnya berubah
serius.
"Joko, Slamet, Karjo. Ada yang lucu?"
Mereka langsung diam. Pak Rahmat berjalan mendekati bangku
mereka.
"Kalian tahu," katanya
dengan suara tegas, "orang besar tidak selalu lahir dari keluarga
besar. Banyak pemimpin, ilmuwan, dan orang sukses yang berasal dari keluarga
petani."
Joko menunduk. "Maaf, Pak."
Pak Rahmat kembali menatap Bima. "Bima."
"Iya, Pak?"
"Apakah kamu benar-benar ingin melanjutkan
sekolah?"
"Iya, Pak."
"Meskipun jalannya sulit?"
Bima mengangguk. "Saya siap."
Pak Rahmat tersenyum lebar. "Bagus."
Bel pelajaran berbunyi. Anak-anak keluar kelas untuk
beristirahat.
Bima sedang duduk sendirian di bawah pohon mangga di
halaman sekolah ketika Pak Rahmat mendekatinya. Guru itu membawa dua gelas air
putih.
"Kamu tadi berbicara dengan sangat jujur."
Bima berdiri. "Maaf kalau cita-cita saya
terdengar aneh, Pak."
Pak Rahmat menggeleng. "Tidak ada cita-cita
yang aneh." Ia duduk di bangku kayu di bawah pohon. "Duduklah."
Bima duduk dengan sedikit gugup.
Pak Rahmat menatapnya dengan penuh perhatian. "Kamu
tahu, Bima. Bapak sudah mengajar di sekolah ini hampir dua puluh tahun."
Bima mendengarkan dengan serius.
"Bapak sudah melihat banyak anak desa yang sebenarnya
memiliki kemampuan besar."
"Lalu kenapa mereka tidak melanjutkan sekolah,
Pak?"
Pak Rahmat menghela napas. "Karena mereka
tidak memiliki kesempatan. Atau karena mereka berhenti bermimpi."
Bima menunduk. "Apakah saya juga akan seperti
itu?"
Pak Rahmat menatapnya dengan tegas. "Tidak."
"Kenapa Bapak begitu yakin?"
Pak Rahmat tersenyum. "Karena Bapak melihat
sesuatu dalam dirimu."
"Apa itu, Pak?"
"Keteguhan."
Bima terdiam.
"Kamu rajin belajar. Kamu tidak mudah menyerah. Dan
yang paling penting, kamu memiliki mimpi."
Bima merasa dadanya berdebar.
"Tapi saya anak petani, Pak."
Pak Rahmat tersenyum. "Dan itu bukan
penghalang."
"Benarkah?"
"Banyak orang besar lahir dari keluarga sederhana.
Presiden kedua kita, Pak Harto, juga anak petani. Banyak lagi yang
lainnya."
Bima menatapnya dengan penuh harapan.
"Kalau kamu benar-benar ingin melanjutkan
sekolah," kata Pak
Rahmat, "Bapak akan membantu."
Bima terkejut. "Membantu bagaimana, Pak?"
"Ada program beasiswa untuk siswa berprestasi di
kota."
"Beasiswa?"
Pak Rahmat mengangguk. "Tapi untuk
mendapatkannya kamu harus belajar lebih keras."
"Saya siap, Pak."
Pak Rahmat berdiri. "Mulai hari ini, Bapak
akan membimbingmu."
Bima merasa seperti mendapatkan kekuatan baru. "Terima
kasih, Pak."
Pak Rahmat menepuk bahunya. "Jangan berterima
kasih sekarang."
"Kenapa?"
"Buktikan dulu bahwa kamu benar-benar pantas
mendapatkan kesempatan itu."
Bima mengangguk dengan penuh semangat. "Saya
akan berusaha sebaik mungkin."
Pak Rahmat tersenyum. Saat ia berjalan kembali menuju ruang
guru, Bima memandang langit yang biru di atas sekolah kecil itu.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mimpinya tidak lagi
berjalan sendirian. Kini ada seseorang yang percaya padanya. Dan kadang-kadang,
satu orang yang percaya sudah cukup untuk membuat seseorang berani melangkah
lebih jauh.
**
Hari-hari setelah percakapan dengan Pak Rahmat menjadi
lebih berat bagi Bima. Ia sekarang harus membagi waktu antara membantu orang
tuanya di sawah, belajar di sekolah, dan mengikuti bimbingan tambahan dari Pak
Rahmat setelah pulang sekolah.
Pak Rahmat mengajar Bima dengan sabar. Setiap pulang
sekolah, selama satu jam, Bima harus tinggal di kelas untuk belajar tambahan.
Mereka membahas matematika, ilmu pengetahuan, dan bahasa Indonesia—semua mata
pelajaran yang akan diujikan untuk seleksi beasiswa.
Suatu sore, ketika hujan turun dengan derasnya, Bima masih
duduk di kelas menunggu hujan reda. Pak Rahmat duduk di mejanya, mengoreksi
tugas-tugas murid.
"Bima," panggil
Pak Rahmat.
"Iya, Pak?"
"Kamu tidak pernah mengeluh. Apakah tidak berat
menjalani semua ini?"
Bima berpikir sejenak. "Kadang berat, Pak.
Tapi saya selalu ingat kata Bapak."
"Apa katanya?"
"Bahwa selama kita tidak berhenti berjalan, kita pasti
akan sampai."
Pak Rahmat tersenyum. "Ayahmu orang
bijak."
"Iya, Pak. Beliau hanya tidak berkesempatan sekolah
tinggi."
Pak Rahmat mengangguk. "Itulah sebabnya kamu
harus melanjutkan perjuangannya."
Hujan semakin deras. Suara gemericik air di atap seng
menciptakan irama yang menenangkan.
"Pak," kata
Bima tiba-tiba.
"Iya?"
"Apakah beasiswa itu benar-benar ada? Atau hanya
mimpi?"
Pak Rahmat meletakkan pulpennya. "Beasiswa itu
benar-benar ada. Bapak punya teman yang mengajar di kota. Setiap tahun, ada
siswa dari desa yang mendapatkan kesempatan itu."
"Apakah mereka berhasil?"
"Beberapa berhasil. Beberapa pulang karena tidak
sanggup."
Bima terdiam.
"Tapi Bapak yakin kamu bisa," lanjut Pak Rahmat. "Karena kamu punya
alasan yang kuat."
"Apa itu, Pak?"
"Kamu ingin mengubah hidup keluargamu. Itu alasan yang
tidak akan membiarkanmu menyerah."
Malam harinya, di rumah, Bima belajar di bawah cahaya lampu
teplok. Minyak tanah mulai menipis, tetapi ia tetap bertahan. Ibunya duduk di
dekatnya sambil menjahit baju yang robek.
"Belajarlah yang rajin, Nak," kata Bu Yuyun. "Ibu dan Bapak akan
selalu mendukungmu."
Bima mengangkat wajahnya. "Bu, kalau aku pergi
ke kota nanti, Ibu dan Bapak tidak akan apa-apa?"
Bu Yuyun tersenyum, meskipun matanya sedikit
berkaca-kaca. "Tentu saja akan sedih. Tapi Ibu lebih sedih kalau
kamu tidak bisa mengejar mimpi."
Bima memeluk ibunya. "Terima kasih, Bu."
Di luar, hujan mulai reda. Suara jangkrik terdengar
kembali. Dan di dalam hati Bima, tekadnya semakin kuat.
**
Perjalanan menuju kota memakan waktu hampir setengah hari.
Bus tua yang ditumpangi Bima melaju perlahan melewati jalan panjang yang
berkelok di antara bukit dan hutan. Dari jendela bus, ia melihat desa-desa
kecil yang perlahan tertinggal di belakang.
Di pangkuannya, ia memegang tas kain yang berisi pakaian
seadanya, beberapa buku pelajaran, dan sebuah amplop berisi uang yang diberikan
orang tuanya. Tidak banyak. Namun cukup untuk memulai perjalanan baru.
Sesekali ia memandang keluar jendela. Gedung-gedung mulai
terlihat semakin banyak. Jalanan semakin ramai. Kendaraan berlalu lalang tanpa
henti. Bima menelan ludah. Inilah kota yang selama ini hanya ia bayangkan.
Bus akhirnya berhenti di sebuah terminal yang besar dan
penuh dengan orang. Suara klakson kendaraan, teriakan pedagang, dan hiruk pikuk
manusia bercampur menjadi satu. Bima turun dari bus dengan langkah ragu. Ia
memandang sekelilingnya dengan mata penuh keheranan.
"Ramai sekali," gumamnya
pelan.
Seorang pria yang berdiri di dekatnya tertawa kecil. "Kamu
baru pertama kali ke kota?"
Bima mengangguk. "Iya."
Pria itu tersenyum. "Kalau begitu, hati-hati.
Kota tidak selalu ramah."
Bima hanya tersenyum kecil lalu melangkah pergi. Di
tangannya ada secarik kertas kecil berisi alamat tempat tinggal sementara yang
diberikan oleh Pak Rahmat. Sebuah rumah kontrakan milik kenalan gurunya.
Setelah berjalan cukup lama dan beberapa kali bertanya
kepada orang di jalan, akhirnya Bima sampai di sebuah gang sempit di pinggir
kota. Gang itu becek dan penuh dengan rumah-rumah yang berdempetan. Anak-anak
kecil bermain bola di jalan, para ibu duduk di teras sambil mengobrol.
Rumah yang ia cari berdiri sederhana di antara bangunan
lain. Ia mengetuk pintu dengan ragu.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Seorang pria setengah
baya keluar sambil memandangnya. Pria itu bernama Pak Hadi, sekitar lima
puluhan tahun, berbadan agak gemuk dengan wajah ramah.
"Kamu Bima?"
"Iya, Pak."
"Saya Pak Hadi. Pak Rahmat sudah bercerita
tentangmu."
Bima mengangguk dengan sopan. "Masuklah."
Rumah itu tidak besar, tetapi cukup bersih dan sederhana.
Ada ruang tamu dengan sofa bekas, meja kayu, dan beberapa foto keluarga di
dinding.
Pak Hadi duduk di kursi kayu sambil menatap Bima. "Kamu
akan tinggal di kamar belakang. Tidak besar, tapi cukup untukmu."
"Terima kasih, Pak."
Pak Hadi mengangguk. "Tapi ada satu hal yang
harus kamu tahu."
Bima memperhatikan dengan serius.
"Tinggal di kota tidak murah."
"Saya mengerti, Pak."
"Kalau kamu ingin bertahan di sini, kamu harus
bekerja."
Bima langsung menjawab, "Saya siap
bekerja."
Pak Hadi tersenyum kecil. "Bagus. Kebetulan
saya memiliki warung makan kecil di dekat pasar. Kamu bisa membantu di sana
setelah pulang sekolah."
Bima merasa lega. "Terima kasih banyak,
Pak."
Malam itu, untuk pertama kalinya Bima tidur di kota. Kamar
kecil di belakang rumah itu terasa asing baginya. Hanya berukuran 2x3 meter,
dengan satu kasur tipis, meja kecil, dan jendela yang menghadap ke gang. Tidak
ada suara jangkrik seperti di desa. Yang terdengar hanya suara kendaraan yang
tidak pernah berhenti.
Bima memandang langit melalui jendela kecil.
Bintang-bintang nyaris tidak terlihat karena silau lampu kota. Ia teringat
wajah ayah dan ibunya.
"Semoga aku bisa bertahan," bisiknya pelan.
Keesokan paginya kehidupan baru Bima dimulai. Pagi hari ia
pergi ke sekolah. Siang hari ia belajar. Dan sore hingga malam ia membantu di
warung makan milik Pak Hadi.
Warung itu bernama "Warung Hidayah". Letaknya di
pinggir pasar, tidak jauh dari gang tempat Bima tinggal. Warungnya
sederhana—beberapa meja kayu, kursi plastik, dan etalase kaca tempat menyimpan
lauk-pauk. Yang dijual makanan khas Sunda: nasi timbel, ayam goreng, tahu
tempe, dan lalapan.
Di warung itu ia mencuci piring, membersihkan meja, dan
kadang membantu melayani pelanggan. Pak Hadi dibantu istrinya, Bu Hj. Salamah,
seorang wanita paruh baya yang ramah tetapi cerewet.
"Bima, cuci piringnya yang bersih, ya! Sabunnya jangan
pelit!" teriak Bu Salamah
dari dapur.
"Siap, Bu," jawab
Bima sambil menggosok piring lebih keras.
Suatu malam ketika warung sedang ramai, seorang pelanggan
memandang Bima dengan heran. Pelanggan itu adalah Pak RW, tokoh masyarakat
setempat yang sering makan di warung.
"Kamu masih sekolah?" tanya Pak RW.
"Iya, Pak."
"Kenapa bekerja juga?"
Bima tersenyum kecil. "Supaya bisa tetap
sekolah."
Pak RW mengangguk pelan. "Anak muda seperti
kamu jarang ada sekarang."
Bu Salamah yang mendengar percakapan itu ikut
berkomentar. "Iya, Pak RW. Anak ini rajin. Pagi sekolah, sore
bantu-bantu di sini. Nggak pernah ngeluh."
Bima hanya tersenyum malu.
Namun tidak semua hari berjalan mudah. Suatu malam Bima
pulang ke kamar dengan tubuh sangat lelah. Tangannya masih bau sabun cuci
piring. Bajunya basah oleh keringat. Ia duduk di lantai sambil membuka buku
pelajaran.
Namun matanya terasa berat. Beberapa kali ia hampir
tertidur. "Kalau aku menyerah sekarang, semua perjuanganku akan
sia-sia," gumamnya pelan.
Ia kembali memaksa dirinya membaca. Namun kali ini, rasa
kantuk benar-benar tak tertahankan. Tanpa sadar, kepalanya jatuh di atas buku.
Ia tertidur.
Pintu kamar diketuk pelan. Pak Hadi masuk membawa segelas
teh hangat.
"Kamu tidur di sini?"
Bima tersadar. "Maaf, Pak. Saya
ketiduran."
Pak Hadi duduk di tepi kasur. "Kamu terlalu
memaksakan diri."
"Saya harus belajar, Pak. Ujian sudah dekat."
Pak Hadi menyerahkan teh itu. "Minum dulu.
Istirahat sebentar."
Bima menerima teh itu dengan tangan gemetar karena
lelah. "Terima kasih, Pak."
Pak Hadi menatapnya dengan penuh perhatian. "Kamu
tahu, Bima. Saya kagum dengan semangatmu."
Bima tersenyum tipis.
"Tapi ingat, tubuh juga perlu istirahat. Kalau kamu
sakit, semua perjuanganmu akan terhenti."
Bima mengangguk. "Saya mengerti, Pak."
Malam itu, setelah Pak Hadi keluar, Bima minum teh hangat
sambil memandang buku-bukunya. Ia memang lelah, tetapi di dalam hatinya, api
perjuangan masih menyala.
**
Hari-hari di kota terus berjalan, tetapi bagi Bima, setiap
hari terasa semakin berat. Kehidupan yang dulu ia bayangkan penuh harapan kini
mulai memperlihatkan wajah aslinya—keras, melelahkan, dan sering kali terasa
tidak adil.
Pagi hari ia harus berangkat ke sekolah dengan tubuh yang
masih terasa letih. Malam hari ia bekerja di warung makan milik Pak Hadi sampai
larut. Sering kali ketika ia kembali ke kamar kecilnya, tubuhnya sudah terlalu
lelah untuk membuka buku pelajaran.
Sekolah di kota ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia
bayangkan. Pelajarannya lebih kompleks, gurunya lebih cepat dalam menjelaskan,
dan teman-temannya kebanyakan berasal dari keluarga mampu yang sudah memiliki
fasilitas belajar lengkap.
Di kelas, Bima sering merasa menjadi anak yang paling
tertinggal. Ia tidak punya buku penunjang selain buku pinjaman dari
perpustakaan. Ia tidak punya uang untuk les tambahan seperti teman-temannya.
Suatu hari, guru matematika, Pak Agus, memberikan PR yang
sangat sulit. Bima mencoba mengerjakannya di kamar, tetapi angka-angka itu
seperti menari-nari di depan matanya karena kantuk.
Keesokan harinya, Pak Agus mengumpulkan PR. Ketika melihat
pekerjaan Bima, ia mengerutkan dahi.
"Bima, pekerjaanmu banyak yang salah."
Bima menunduk. "Maaf, Pak. Saya kurang
paham."
Pak Agus menghela napas. "Kamu harus lebih
rajin belajar. Nilaimu terus menurun."
Bima tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk
pasrah.
Sepulang sekolah, seorang teman sekelas bernama Doni
mendekatinya. Doni berasal dari keluarga kaya. Ayahnya pengusaha sukses. Ia
sering datang ke sekolah dengan sepeda motor baru dan pakaian bagus.
"Bima, kamu kok keliatan lesu terus? Sakit?" tanya Doni.
"Nggak. Cuma capek."
"Capek ngapain?"
"Bekerja."
Doni mengangkat alis. "Kamu kerja?"
"Iya. Buat biaya sekolah."
Doni terdiam. Kemudian ia berkata, "Kalau kamu
butuh bantuan, bilang saja."
Bima tersenyum. "Makasih, Don. Tapi aku harus
usaha sendiri."
Suatu malam di warung, ketika sedang mencuci piring, Bima
hampir pingsan. Tangannya tiba-tiba lemas, piring yang ia pegang jatuh dan
pecah.
Bu Hj. Salamah yang mendengar suara pecahan piring segera
keluar dari dapur.
"Ya Allah, Bima! Kamu kenapa?"
Bima memegangi kepalanya. "Maaf, Bu. Saya
pusing."
Bu Salamah memegang kening Bima. "Aduh, panas
badannya. Kamu sakit!"
Pak Hadi yang mendengar keributan segera datang. "Ada
apa?"
"Bima sakit, Pak. Panas."
Pak Hadi segera membopong Bima ke kamarnya. Ia menyuruh
istrinya membuatkan air jahe hangat.
Malam itu, Bima terbaring lemah di kamarnya. Pak Hadi duduk
di sampingnya.
"Kamu kerja terlalu keras," kata Pak Hadi.
"Saya harus, Pak."
"Tubuhmu butuh istirahat."
Bima terdiam. Pak Hadi memberinya air jahe hangat.
"Minumlah. Besok kamu tidak usah kerja. Istirahat
saja."
"Tapi, Pak..."
"Tidak ada tapi-tapi. Saya yang putuskan."
Bima menuruti perintah itu. Ia minum air jahe, lalu
berbaring.
Malam itu, ketika demamnya mulai turun, Bima menatap
langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat sendirian. Ia
rindu ibunya. Rindu ayahnya. Rindu desanya.
Air mata jatuh perlahan dari sudut matanya. "Bapak...
Ibu... aku rindu kalian," bisiknya pelan.
**
Pagi setelah demamnya reda, Bima terbangun dengan tubuh
yang masih lemas. Ia memandang jam dinding. Sudah pukul tujuh. Ia terlambat
sekolah.
Dengan tergesa-gesa ia bangun, tetapi kepalanya masih
terasa berat. Pak Hadi masuk ke kamarnya.
"Sudah sadar?"
"Pak, saya terlambat sekolah."
Pak Hadi menggeleng. "Kamu tidak usah ke
sekolah hari ini. Istirahat dulu."
"Tapi, Pak..."
"Saya sudah telepon sekolahmu. Bilang kamu
sakit."
Bima menghela napas pasrah. Ia kembali berbaring.
Pak Hadi duduk di kursi kecil di samping kasur. "Bima,
saya mau bicara serius denganmu."
Bima menatapnya.
"Kamu mau terus begini? Sekolah, kerja, sakit, lalu
sekolah lagi?"
"Saya tidak punya pilihan, Pak."
"Kamu punya pilihan. Kamu bisa berhenti kerja dan
fokus sekolah."
Bima menggeleng. "Kalau saya berhenti kerja,
saya tidak bisa bayar sekolah."
Pak Hadi terdiam sejenak. "Bagaimana kalau
saya bantu biaya sekolahmu?"
Bima terkejut. "Pak Hadi, saya tidak bisa menerima
itu."
"Kenapa?"
"Saya sudah terlalu banyak merepotkan Bapak."
Pak Hadi tersenyum. "Kamu tidak merepotkan.
Kamu seperti anak saya sendiri sekarang."
Bima menunduk. Matanya berkaca-kaca.
"Tapi ada syaratnya," lanjut Pak Hadi.
"Apa itu, Pak?"
"Kamu harus janji akan lulus dengan nilai
terbaik."
Bima mengangkat wajahnya. "Saya janji,
Pak."
Sejak hari itu, kehidupan Bima sedikit berubah. Ia tidak
perlu lagi bekerja terlalu keras di warung. Pak Hadi memberinya jadwal kerja
yang lebih ringan—hanya tiga jam sehari, dan tidak perlu lembur. Sisanya, ia
bisa fokus belajar.
Namun cobaan lain datang. Suatu sore, ketika Bima sedang
belajar di kamar, Pak Hadi mengetuk pintu. Wajahnya tampak serius.
"Bima, ada surat dari desa."
Jantung Bima berdebar. Ia menerima surat itu dengan tangan
gemetar. Tulisan di amplop adalah tulisan ibunya.
Dengan hati-hati ia membuka surat itu. Semakin ia membaca,
wajahnya semakin pucat.
"Ada apa?" tanya
Pak Hadi cemas.
"Bapak... sakit."
Pak Hadi terdiam. "Sakit apa?"
"Tidak dijelaskan. Ibu hanya bilang Bapak sudah dua
minggu tidak bisa bekerja."
Bima duduk lemas di tepi kasur. Pikirannya kacau.
"Kamu harus pulang?" tanya Pak Hadi.
Bima tidak menjawab. Ia bimbang. Di satu sisi, ia ingin
segera pulang menjenguk ayahnya. Di sisi lain, ujian akhir sekolah tinggal dua
minggu lagi. Jika ia pulang sekarang, ia bisa ketinggalan pelajaran dan mungkin
gagal dalam ujian.
Malam itu, ia tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan
ayahnya. Ia ingat bagaimana ayahnya selalu bekerja keras di sawah. Ia ingat bagaimana
ayahnya selalu tersenyum meskipun lelah.
Keesokan paginya, ia memutuskan untuk menelepon desa dari
wartel dekat pasar. Dengan koin secukupnya, ia menekan nomor tetangga yang
punya telepon.
"Halo?" suara
di seberang agak jauh.
"Bu RT? Ini Bima. Bisa tolong panggilkan Ibu
saya?"
Beberapa menit kemudian, suara ibunya terdengar. "Bima?
Kamu, Nak?"
"Iya, Bu. Kabar Bapak bagaimana?"
Suara ibunya bergetar. "Bapak sedang sakit,
Nak. Sudah dua minggu ini."
"Sakit apa, Bu?"
"Dokter bilang ada masalah di paru-parunya. Mungkin
karena terlalu lama bekerja di sawah."
Bima menahan tangis. "Bapak harus istirahat,
Bu."
"Ibu tahu. Tapi kamu jangan khawatir. Fokus saja
sekolahmu di sana."
"Tapi, Bu..."
"Dengar, Nak. Bapak selalu bilang, dia bangga padamu.
Dia ingin kamu sukses. Jangan pulang dulu. Selesaikan ujianmu."
Bima tidak bisa menahan air matanya lagi. "Ibu...
saya rindu."
"Ibu juga, Nak. Tahan dulu rindumu. Demi masa
depanmu."
Setelah telepon berakhir, Bima berdiri lama di depan
wartel. Air matanya terus mengalir. Namun di balik kesedihan itu, ada tekad
yang semakin kuat.
Ia kembali ke kamarnya, membuka buku, dan mulai belajar
dengan semangat baru. Bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tapi untuk ayahnya
yang terbaring sakit. Untuk ibunya yang terus berjuang. Untuk keluarganya di
desa.
**
Hari-hari setelah kabar tentang sakit ayahnya, Bima belajar
dengan lebih giat. Ia bangun lebih pagi, tidur lebih larut, dan tidak pernah
melewatkan satu menit pun untuk belajar.
Pak Hadi heran melihat perubahan itu. "Kamu
berubah, Bima."
Bima tersenyum. "Saya ingin membuat Bapak
bangga."
Di sekolah, Bu Lestari, guru bahasa Indonesia,
memperhatikan perubahan Bima. Suatu hari, setelah pelajaran selesai, ia
memanggil Bima.
"Bima, sebentar."
Bima menghampiri meja guru.
"Nilai tugas esaimu akhir-akhir ini sangat bagus. Kamu
punya bakat menulis."
Bima tersenyum malu. "Terima kasih, Bu."
"Kamu pernah ikut lomba menulis?"
"Belum pernah, Bu."
Bu Lestari mengeluarkan brosur dari laci mejanya. "Ada
lomba menulis tingkat kota bulan depan. Temanya 'Perjuangan dan Harapan'."
Bima membaca brosur itu.
"Hadiah utamanya beasiswa pendidikan," kata Bu Lestari.
Bima langsung menatapnya. "Beasiswa?"
"Iya. Jika kamu menang, biaya sekolahmu bisa
ditanggung selama satu tahun."
Jantung Bima berdebar kencang. Ini kesempatan yang selama
ini ia nantikan.
"Apakah saya bisa ikut, Bu?"
"Tentu. Saya akan membimbingmu."
Sejak hari itu, Bima mulai menulis. Setiap malam, setelah
belajar, ia menyempatkan diri untuk menulis. Ia menulis tentang desanya.
Tentang ayahnya. Tentang perjuangannya.
Suatu malam, ketika sedang menulis, ia teringat kata-kata
ayahnya di tepi sawah: "Selama kita tidak berhenti berjalan, kita pasti
akan sampai."
Ia menuliskan kalimat itu di akhir tulisannya.
**
Hari pengumuman lomba tiba. Bima duduk di kelas dengan
perasaan campur aduk. Sepanjang pelajaran ia tidak bisa berkonsentrasi.
Pikirannya terus melayang pada hasil lomba.
Saat bel istirahat berbunyi, Bu Lestari masuk ke kelas.
Wajahnya berseri-seri.
"Bima, ikut Bapak Ibu ke kantor."
Bima berdiri dengan jantung berdebar. Ia mengikuti Bu
Lestari ke ruang guru. Di sana, Kepala Sekolah sudah menunggu.
"Bima," kata
Kepala Sekolah sambil tersenyum, "selamat, ya."
Bima tertegun. "Selamat apa, Pak?"
"Kamu juara pertama lomba menulis tingkat kota."
Bima tidak percaya. "Benarkah, Pak?"
Kepala Sekolah menyerahkan sebuah sertifikat dan
amplop. "Ini hadiahnya. Beasiswa pendidikan untuk satu
tahun."
Bima menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Air matanya
tumpah. Ia tidak bisa berkata-kata.
Bu Lestari memeluknya. "Bapak Ibu bangga
padamu, Bima."
Sore itu, Bima langsung menulis surat untuk orang tuanya.
Ia ingin mereka tahu kabar gembira ini. Ia berharap kabar ini bisa menjadi obat
bagi ayahnya yang sedang sakit.
Beberapa hari kemudian, surat balasan dari ibunya datang.
Ibunya menulis bahwa ayahnya sudah mulai membaik. Dan mereka sangat bangga
padanya.
Bima membaca surat itu berulang kali. Untuk pertama kalinya
sejak lama, ia merasa benar-benar bahagia.
**
Dua tahun kemudian, Bima berdiri di pelabuhan, siap kembali
ke desanya. Ia sudah menyelesaikan sekolahnya di kota dengan nilai memuaskan.
Beasiswa yang ia dapatkan membantunya melewati masa-masa sulit.
Pak Hadi dan Bu Salamah mengantarnya ke terminal.
"Kamu benar-benar akan pulang?" tanya Pak Hadi.
"Iya, Pak. Saya ingin membangun desa saya."
Pak Hadi tersenyum. "Kamu anak yang luar
biasa. Jangan lupa sama kami."
"Tidak akan, Pak. Bapak dan Ibu seperti orang tua
kedua bagi saya."
Bu Salamah menangis. "Hati-hati di jalan, ya,
Nak."
Bima memeluk mereka berdua. "Terima kasih
untuk semuanya."
Bus meninggalkan kota. Bima memandang gedung-gedung tinggi
yang perlahan menjauh. Kota yang dulu terasa asing kini telah menjadi bagian
dari hidupnya.
Setelah perjalanan panjang, bus akhirnya sampai di terminal
kecil dekat Desa Sumber Jaya. Bima turun dengan tas di tangannya. Udara desa
terasa segar. Ia menghirup dalam-dalam.
Jalan tanah menuju desanya masih sama seperti dulu.
Sawah-sawah masih hijau membentang. Burung-burung masih berkicau. Semuanya
terasa akrab.
Ketika ia mendekati rumahnya, seorang wanita sedang
menjemur pakaian di halaman. Wanita itu menoleh. Sapu di tangannya jatuh.
"Bima?"
"Ibu..."
Bu Yuyun berlari menghampiri dan memeluknya erat. "Nak...
Nak... Ibu kangen banget sama kamu."
Bima memeluk ibunya. "Ibu, saya juga
kangen."
Dari dalam rumah, Pak Sanusi keluar dengan langkah pelan.
Tubuhnya lebih kurus dari yang Bima ingat, tetapi senyumnya masih sama.
"Bapak..."
Bima berlari dan memeluk ayahnya. Pak Sanusi menepuk
punggung anaknya.
"Sudah besar kamu, Nak."
"Bapak sehat?"
Pak Sanusi mengangguk. "Sudah jauh lebih
baik."
Malam harinya, mereka makan bersama. Ibu memasak sayur asem
dan ikan goreng—masakan favorit Bima. Mereka tertawa, bercerita, dan menangis
bersama.
**
Beberapa minggu setelah pulang, Bima mulai berpikir tentang
masa depannya. Ia punya ijazah, punya pengalaman, tetapi ia tidak ingin bekerja
di kota. Ia ingin melakukan sesuatu untuk desanya.
Suatu sore, ia duduk di tepi sawah—tempat yang sama seperti
dulu ia duduk bersama ayahnya. Pak Sanusi datang dan duduk di sampingnya.
"Melamun?"
"Iya, Pak. Memikirkan masa depan."
"Ada rencana?"
Bima menghela napas. "Saya ingin membuka
tempat belajar untuk anak-anak desa, Pak."
Pak Sanusi menatapnya. "Maksudmu?"
"Saya ingin mengajar mereka. Membantu mereka yang ingin
sekolah lebih tinggi tapi tidak punya biaya untuk les."
Pak Sanusi tersenyum. "Itu ide yang
bagus."
"Tapi saya tidak punya tempat, Pak."
Pak Sanusi berpikir sejenak. "Bagaimana kalau
kita renovasi gudang di belakang rumah? Bisa dipakai untuk belajar."
Bima tersenyum lebar. "Boleh, Pak!"
Keesokan harinya, mereka mulai membersihkan gudang. Kabar
tentang rencana Bima menyebar dengan cepat di desa.
Pak Rahmat, guru Bima dulu, datang membantu. "Bapak
dengar kamu mau buka tempat belajar?"
"Iya, Pak. Bapak mau bantu?"
Pak Rahmat tertawa. "Tentu saja. Ini tugas
mulia."
Tidak hanya Pak Rahmat, beberapa pemuda desa juga ikut
membantu. Bahkan Joko, Slamet, dan Karjo—teman-teman yang dulu suka mengejek
Bima—datang untuk membantu.
"Bima, kami minta maaf kalau dulu suka ngejek
kamu," kata Joko.
Bima tersenyum. "Sudah lama itu, Jo.
Lupakan."
"Kamu hebat, Bima. Sekarang kami bangga sama
kamu."
Setelah dua minggu bekerja, gudang itu berubah menjadi
ruang belajar sederhana. Ada papan tulis bekas dari sekolah, beberapa meja
kayu, dan rak buku yang diisi buku-buku sumbangan.
Bima menamainya "Sanggar Cahaya".
Pada hari pertama dibuka, puluhan anak datang. Mereka duduk
dengan tertib, mata mereka berbinar-binar.
"Selamat datang di Sanggar Cahaya," sapa Bima. "Di sini kita akan belajar
bersama. Siapa yang ingin sekolah tinggi?"
Semua anak mengangkat tangan.
"Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai."
**
Tiga tahun telah berlalu sejak Bima membuka Sanggar Cahaya.
Tempat belajar sederhana itu kini telah melahirkan banyak cerita. Beberapa anak
binaannya berhasil melanjutkan sekolah ke kota dengan beasiswa. Yang lain
membuka usaha kecil-kecilan. Yang paling penting, mimpi-mimpi baru mulai tumbuh
di desa itu.
Suatu sore yang tenang, Bima berdiri di tepi sawah yang
dulu begitu akrab dalam hidupnya. Angin lembut berhembus membawa aroma tanah
basah dan padi yang mulai menguning. Tempat ini tidak pernah benar-benar
berubah.
Sawah yang luas masih terbentang seperti dahulu. Jalan
tanah kecil masih menjadi jalur para petani menuju ladang mereka. Burung-burung
masih terbang rendah di atas hamparan hijau yang menenangkan.
Namun bagi Bima, desa ini terasa berbeda. Bukan karena
bentuknya berubah, tetapi karena harapan di dalamnya mulai tumbuh.
Di kejauhan, ia melihat beberapa anak berjalan pulang dari
Sanggar Cahaya. Mereka membawa buku-buku di tangan dan bercakap-cakap dengan
wajah penuh semangat.
"Besok kita belajar lagi, ya!" seru salah satu anak.
"Iya! Aku mau pintar seperti Bang Bima!"
Bima tersenyum mendengar suara mereka.
Langkah-langkah pelan terdengar di belakangnya. Ayahnya
datang berjalan perlahan sambil membawa topi caping di tangannya.
"Kamu sering berdiri di sini akhir-akhir ini," kata ayahnya.
Bima menoleh dan tersenyum. "Tempat ini
mengingatkan saya pada banyak hal, Pak."
Ayahnya berdiri di sampingnya, memandang sawah yang
bergoyang tertiup angin.
"Dulu kamu sering mengeluh kalau harus membantu di
sawah," katanya sambil
tertawa kecil.
Bima ikut tertawa. "Iya. Waktu itu saya merasa
dunia terlalu besar untuk desa kecil ini."
Ayahnya menatapnya dengan mata penuh kebanggaan. "Dan
sekarang?"
Bima menarik napas panjang. "Sekarang saya
justru merasa desa ini adalah tempat yang sangat penting."
Ia memandang ke arah Sanggar Cahaya di ujung jalan. "Saya
ingin anak-anak di desa ini tahu bahwa mimpi mereka tidak harus berhenti di
sini."
Ayahnya mengangguk perlahan. "Kamu sudah
membawa cahaya bagi desa ini."
Bima terdiam sejenak. Selama bertahun-tahun ia selalu
berpikir bahwa cahaya yang ia cari adalah kesuksesan—gelar, pekerjaan, atau
pengakuan. Namun kini ia menyadari sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi
juga lebih berarti.
Cahaya yang sesungguhnya bukanlah sesuatu yang hanya
menerangi dirinya sendiri. Cahaya itu adalah harapan yang bisa ia bagikan
kepada orang lain.
Beberapa anak kecil berlari melewati jalan dekat sawah.
"Bang Bima!" teriak
mereka.
"Iya?"
"Besok kita belajar cerita lagi!"
Bima tersenyum lebar. "Tentu."
Anak-anak itu melanjutkan lari mereka sambil tertawa riang.
Bima memandang mereka cukup lama. Di wajah-wajah kecil itu, ia melihat dirinya
sendiri di masa lalu. Seorang anak desa yang penuh mimpi.
Ia mengepalkan tangannya perlahan, bukan karena tekad yang
keras seperti dulu, tetapi karena rasa syukur yang dalam. Jalan yang ia lalui
memang tidak mudah. Ia pernah merasa lelah. Pernah hampir menyerah. Pernah
merasa sendirian di kota yang besar dan asing. Namun setiap langkah sulit itu
ternyata membawanya kembali ke tempat ini—dengan makna yang baru.
Bima menatap langit senja yang perlahan berubah warna
menjadi keemasan.
"Perjalanan ini ternyata bukan tentang seberapa jauh
aku pergi," gumamnya
pelan. "Tetapi tentang seberapa banyak cahaya yang bisa aku bawa
pulang."
Angin sore berhembus lembut melewati sawah. Dan di desa
kecil yang dahulu penuh keraguan, kini mulai tumbuh sesuatu yang jauh lebih
kuat.
Harapan.
Sebuah cahaya yang tidak lagi hanya dimiliki oleh seorang
anak desa yang bermimpi. Melainkan oleh seluruh generasi yang akan datang.
--- TAMAT --







0 komentar:
Posting Komentar