Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Senin, 02 Maret 2026

CERPEN TIGA DARA; LUPAKAN URUSAN PACAR UNTUK SEMENTARA

 


CERPEN TIGA DARA

LUPAKAN URUSAN PACAR UNTUK SEMENTARA

Oleh: Slamet Riyadi

Bel masuk SMA Awan Biru baru saja berbunyi. Namun, tiga siswi kelas XI IPA ini justru berjalan santai menuju kantin. Mereka adalah Kirana, Naila, dan Lidya, atau yang lebih dikenal sebagai "Tiga Dara".

"Ra, lo yakin guru nggak masuk?" tanya Lidya sambil menggeser rambut panjangnya yang sebahu. Gaya jalannya agak amburadul, tapi entah kenapa kelihatan keren. Seperti model catwalk yang salah panggung.

"Insya Allah, Ly. Pak Budi lagi pelatihan di kecamatan," jawab Kirana yakin. Gadis berponi ini terkenal paling update informasi. Cucu Kaur Perencanaan, ya gitu deh, suka ngatur. Bahkan jadwal guru bolos aja dia catet di buku agenda.

Naila mencubit lengan Kirana. "Eh, lo liatin Arjuna, ya? Jangan malu-maluin, Ra. Dari tadi lo udah lima kali nengok ke kanan. Lo pikir lo wiper mobil?"

"Apaan, sih? Gue liatin pohon pisang di belakangnya!" Kirana berusaha membela diri, padahal dadanya berdebar kencang. Debarannya kayak lagu dangdut koplo.

"Pohon pisang? Lo suka sama pohon pisang? Berarti lo jodohnya monyet, dong?" ledek Naila sambil nyengir kemenangan.

Kirana memutar mata. "Diem lo, Lidya. Lo juga dari tadi ngelipetin uang seribu lima kali. Itu uang mau lo lamar?"

Arjuna, putra dr. Erlangga, memang lagi duduk di kantin bersama Hermansyah dan Dadang. Cowok berkacamata itu tertawa bareng Hermansyah, cucu Pak Kades. Suara tawanya... duh, bikin Kirana suka lupa nama rumus kimia. Bahkan tadi di kelas, dia nulis NaCL jadi NaClara.

"Kirana, ngelus-ngelus meja kayak lagi baca Al-Qur'an aja lu," ledek Ldya lagi. "Kalo lo baca Al-Qur'an, yang bener. Itu meja, bukan sajadah."

Naila terkikik. "Dia lagi salat tahajud, kali. Minta jodoh yang pinter kayak Arjuna. Atau salat hajat biar Arjuna liat ke sini."

"Diem lo, bebek!" Kirana menepuk pundak Naila. "Lo juga dari tadi ngelipetin ujung rok. Rok lo mau lo setrika pake tangan?"

Di meja sebelah, Hermansyah mencolek Dadang. "Bang, tuh Tiga Dara pada ngeliatin kita. Menurut lo, mereka ngeliatin siapa?"

Dadang, cowok enerjik yang rambutnya selalu acak-acakan kayak baru bangun tidur, langsung berbisik, "Mana? Wah, gue liat Kirana lagi senyum. Itu pertanda baik!"

"Pertanda baik apa, tolol? Itu pertanda lo bakal dikasih PR tambahan sama Bu Guru. Lo liat senyumannya? Itu senyum sinis, Bang. Bukan senyum cinta," sahut Hermansyah sambil ngelus dada.

"Lo pikir lo psikolog? Baca senyum aja lebay," balas Dadang.

Arjuna cuma geleng-geleng. "Udah, udah. Daripada ribut, mending lo berdua liatin es teh masing-masing. Itu es teh lebih menarik dari pada lo berdua."

Tiba-tiba, Mbah Karyo keluar dari dapur sambil bawa es teh manis. Kakek berumur 70 tahun ini masih lincah dan suka nge-prank anak muda. "Wis, wis, pada ngapaian? Mending pada belajar, jangan pada lirik-lirikan kayak ayam liat musang."

"Kami nggak lirik-lirikan, Mbah," sahut Lidya cepat.

"Oh ya? Terus mata lo kenapa? Kayak kena kedip-kedip lampu disco?" ledek Mbah Karyo.

Semua ketawa. Tapi mata mereka tetap saling mencari. Kirana diam-diam ngelirik Arjuna yang lagi ngelap kacamatanya. Kenapa sih cowok itu kalo ngelap kacamata kelihatan pinter banget? batin Kirana.

Naila sibuk ngatur napas. Soalnya tadi Hermansyah ngeliat ke arahnya dan... senyum. Duh, Tuhan, kenapa senyumannya manis kayak gula jawa asli?

Lidya? Dia malah sibuk ngeliatin Dadang yang lagi ngelus dagu. Duh, cowok itu kalo ngelus dagu kayak lagi mikirin rumus relativitas. Padahal mah mungkin mikirin gorengan.

"Ly, lo ngiler," bisik Naila.

"Apa? Ah, enggak! Gue lagi mikir... uh... tugas!"

"Tugas apaan? Libur, Bolot!"

Lidya garuk-garuk kepala yang nggak gatal.***

 

Sore harinya, di warung kopi RT 02 milik Mbah Karyo, tiga dara nongkrong sambil nugas. Eh, tiba-tiba datang rombongan anak-anak kecil: Joko (8 tahun), Titik (6 tahun), dan Juana (9 tahun). Mereka kayak detektif cilik yang selalu tau rahasia orang.

"Mba Kirana, titip salam! Kata Kang Arjuna, mba Kirana cantik hari ini," teriak Joko.

Kirana hampir tersedak es jeruk. "Apa? Siapa yang suruh bilang?"

"Enggak, itu kata Juana!" Joko cekikikan sambil loncat-loncat.

Juana mengangguk polos. Mata bulatnya berbinar. "Iya, tadi Kang Arjuna nanyain Mba Kirana. Katanya, 'Ju, Kirana lagi di mana? Kok nggak kelihatan seharian?' Terus aku bilang, 'Kang Arjuna naksir Mba Kirana, ya?'"

Kirana langsung menutup muka dengan kedua tangan. Wajahnya merah kayak tomat kepanasan. "Ya Allah, Juana, nanti Mba kasih permen, diem ya."

"Tapi Kang Arjuna nggak jawab. Dia malah ngasih aku seribu! Berarti iya, dong!" Juana makin semangat.

Lidya melotot. "Terus, yang nanyain gue siapa? Jangan-jangan nggak ada?"

Titik, adiknya Joko yang masih pakai kuncir dua, angkat tangan mungilnya. "Kang Dadang! Tapi dia bilang, 'Titik, mba Lidya lagi di mana?' Terus aku jawab, 'Lagi di rumah Mbah Karyo. Mau digrebek?'"

Ledakan tawa pecah. Lidya memegang kepala. "Anak kecil jaman now lebay-lebay. Grebek-grebek apaan, sih? Gue bukan maling!"

"Terus Kang Dadang ngapain?" tanya Kirana penasaran.

Titik mikir bentar. "Dia garuk-garuk kepala, trus bilang, 'Udah, nggak jadi.' Terus pergi. Aneh, ya? Orang garuk-garuk kepala sampe rambutnya kayak sarang burung."

Dadang yang baru datang dari arah belakang langsung kaget. "Heh, lo pada ngomongin gue, ya?"

Semua pada diam. Lalu Joko teriak, "Iya, Bang! Katanya lo garuk-garuk kepala sampe rambut kayak sarang burung!"

Dadang garuk-garuk kepala lagi. "Ah, bocah nggak sopan."

Belum selesai drama, Anto si sopir truk yang sok tahu datang. Om-om 45 tahun ini suka bawel dan ngaku punya indera keenam. "Woy, anak-anak. Lo pada tau nggak? Semalam gue mimpi."

"Ah, Pak Anto lagi. Mimpinya apaan? Jodoh lagi?" celetuk Kirana malas.

"Iya, gue mimpi lo, Kirana, nikah sama Arjuna. Trus lo, Naila, sama Hermansyah. Lo, Lidya, sama Dadang. Tapi... acaranya di atas gerbong kereta wisata! Dan yang ngebacain ijab kabulnya Mbah Karyo!"

Mbah Karyo yang lagi ngeloyor bawa gelas langsung berhenti. "Wah, Anto, mimpimu tingkat tinggi. Gerbong kereta, bukan gerbong sapi. Tapi kok gue yang jadi penghulu? Udah tua begini malah jadi penghulu. Kapan lulus ujiannya?"

"Udah, Pak Anto, jangan meramal sembarangan," potong Naila malu-malu.

"Bukan meramal, Nduk. Ini firasat. Gue kan punya indera keenam. Kemarin gue juga ngeramal sapi pak RT bakal melahirkan, eh iya. Kemarin lagi, gue ngeramal hujan, eh iya."

"Pak Anto, itu mah namanya perkiraan cuaca, bukan indera keenam," ledek Hermansyah yang baru datang.

Arjuna muncul dari belakang Hermansyah. "Udah, Pak. Nanti kalo beneran nikah, yang pertama undang Pak Anto."

Kirana langsung nunduk. Hatinya dag-dig-dug. Dia bilang "kalo beneran nikah"? Maksudnya?

Naila sibuk ngipas-ngipas muka. Lidya malah sibuk garuk-garuk kepala kayak Dadang. Joko, Titik, dan Juana pada cekikikan sambil bisik-bisik.

"Udah, udah. Mending lo pada ngopi dulu," ajak Mbah Karyo. "Ini gorengan baru. Mumpung anget."

Mereka pun duduk melingkar. Tapi posisi duduknya nggak biasa. Arjuna duduk di depan Kirana. Hermansyah di depan Naila. Dadang di depan Lidya. Kayak lagi setting-an buat kencan buta.

"Kok lo pada diem?" tanya Arjuna.

"Lo duluan yang diem," balas Kirana.

"Gue kan nunggu lo ngomong."

"Gue nunggu lo ngomong."

Dadang garuk-garuk kepala lagi. "Lha, ini mah malah pada saling nunggu. Kaya lomba diam. Mending gue ngomong aja. Ly, lo udah makan?"

Lidya bengong. "Udah... tadi... eh, belum... eh udah... lupa."

"Lupa? Lo lupa makan?" Dadang ketawa. "Untung nggak lupa nama sendiri."

"Gue nggak lupa nama. Lo aja yang aneh. Kok nanya udah makan atau belum?"

"Soalnya tadi lo liatin gorengan kayak lagi ngelamar."

Mbah Karyo ngacungin jempol. "Nah, itu baru dialog romantis. Nanya udah makan, tandanya perhatian. Jaman gue dulu, kalo naksir cewek, gue kasih singkong rebus."

Semua ketawa. Suasana mulai cair.***

 

Pagi-pagi, di kelas XI IPA, Bu Guru Rini masuk dengan muka tegang. Wajahnya kayak habis lihat utang jatuh tempo. "Anak-anak, hari ini ada rapat orang tua. Yang nilai rapor tengah semester turun, orang tuanya dipanggil."

Dunia serasa runtuh buat Naila. "Ya Tuhan, gue turun tiga peringkat. Nyokap gue bakal ngamuk. Dulu waktu turun satu peringkat aja, gue disuruh ngaji sampe khatam."

"Turun tiga peringkat dari mana?" tanya Lidya.

"Dari peringkat 15 ke 18," bisik Naila.

"Dih, turun dikit doang, lo kayak kiamat aja. Gue dari peringkat 7 ke 25 nggak bunuh diri," balas Lidya cuek sambil ngelem catatan.

"Lo mah beda. Lo udah kerasan di jurang."

"Iya, jurang kebebasan."

Kirana megang jidat. "Lo berdua ini... gue turun dari peringkat 3 ke 4 aja udah stres. Lo pada santai banget."

"Ya namanya juga hidup, Ra. Kadang di atas, kadang di bawah. Lo kira peringkat itu kayak eskalator? Naik terus?" filosofi Lidya.

Bu Guru Rini nepuk meja. "Udah, udah. Jangan pada ngelamun. Yang nilainya bagus, pertahankan. Yang turun, perbaiki. Jangan kebanyakan nongkrong di warung Mbah Karyo."

Semua pada diem. Tapi dalam hati mereka protes. Mbah Karyo mah tempat nongkrong paling adem, Bu.

Di luar kelas, para cowok lagi ngumpul di bawah pohon mangga. Hermansyah ngomong, "Bang, gue curhat dikit. Lo jangan ketawa."

"Curhat aja, Bang. Gue siap nampung curhatan lo, kayak bak penampungan air hujan," kata Dadang.

"Gue suka sama Naila. Tapi tiap liat dia, gue malah lupa nama gue sendiri. Kemarin gue mau minta pulpen, eh yang keluar, 'Naila, pinjam... hati lo.'"

Dadang ngakak sampai tersedak ludah sendiri. "Pinjam hati? Lu mau lamaran, bang? Kalo pinjam hati, kapan balikinnya?"

"Makanya gue bingung. Trus dia jawab, 'Hati lo mana?' Gue bengong. Lupa kalo hati gue masih di tempat."

Arjuna ngetuk kepala mereka berdua. "Udah, udah. Fokus dulu. Kalo nilai turun, nggak bakal direstuin orang tua. Lo tau sendiri bokap gue, dokter. Kalo nilai turun, dia bakal nyuntik pake jarum sunat."

"Waduh, serem amat," Hermansyah merinding.

"Bukan serem. Itu pilihan. Antara belajar atau disuntik."

Di warung Mbah Karyo, Si Amat, admin desa yang humoris, lagi ngopi sambil ngasih wejangan. Pak Amat ini kalau ngomong suka muter-muter dulu, kayak lagu lawas.

"Kalian ini, anak-anak SMA, pusingnya jangan cuma pacar. Nilai matematika aja setengah mati. Nanti kalo udah lulus, baru deh pacaran. Tapi inget, jangan sampe kebablasan."

"Emang kebablasan gimana, Pak?" tanya Dadang polos.

"Kebablasan itu... lo pacaran tapi lupa sholat. Lo pacaran tapi lupa makan. Lo pacaran sampe lupa kalo lo masih punya utang PR. Itu namanya kebablasan."

Mendadak Endang, neneknya Naila yang juga Kasi Pelayanan, muncul dari balik warung. Wajahnya galak, tapi sebenernya baik hati. "Naila! Loe belajar atau ngelamunin cowok? Awas, ya, kalo nilai turun lagi! Nek Endang bakal kasih lo tugas tambahan: nulis 100 kali 'Aku janji nggak pacaran sampe lulus'!"

Naila meringkuk. "Iya, Nek. Tapi aku nggak pacaran, Nek. Cuma suka."

"Suka aja udah dosa. Apalagi sampe cinta. Nanti lo lupa sama Allah."

Amelia, Bidan Desa sekaligus neneknya Lidya, ikut nimbrung. Beliau baru pulang dari posyandu. "Iya, Lidya juga. Jangan sok sibuk nulis puisi buat cowok. Nulis rumus dulu, baru nulis puisi. Puisi mah kapan aja bisa. Kalo rumus, kalo lupa ya lupa."

Lidya cuma bisa garuk-garuk kepala. "Iya, Nek. Aku nggak nulis puisi kok."

"Oh ya? Trus tadi aku liat buku catetan lo, banyak coretan 'Dadang, Dadang, Dadang'. Itu apa, kalo bukan puisi?"

Lidya merah padam. "Itu... itu... catatan biologi, Nek! Dadang itu nama latinnya... uh... daun!"

Semua ngakak. Naila sampe megang perut. "Daun? Daun apa, Ly? Daun singkong?"

"Daun... uh... Daun Dang-dangan!"

Amelia cuma geleng-geleng sambil senyum. "Wis, wis. Aku cuma ngomong, jangan sampe nyesel nanti."***

 

Mendekati Ujian Akhir Semester, sekolah berubah jadi ladang stres. Suasana kelas kayak ruang perang. Semua sibuk baca buku, coret-coret kertas, atau ngelamun sambil mikirin masa depan.

Kirana belajar mati-matian. Di kamarnya, dinding penuh tempelan rumus. Ayahnya, Pak Bambang, sering ngasih soal tambahan sampe tengah malam. "Ra, kalo lulus nanti, boleh minta apa aja."

"Apa aja, Pa?"

"Asalkan bukan minta pacar."

"Yah, rese. Pacar kan nggak jualan, Pa. Masa iya minta di toko?"

"Lo tau maksud bapak."

"Tau, Pa. Bapak mah overprotektif."

"Iya, karena bapak sayang. Nanti kalo udah kuliah, silahkan. Sekarang fokus dulu."

Kirana ngelus dada. Bapak kok kayak satpam, ya? Jaga ketat banget.

Naila di rumah malah sibuk bantuin Ibunya, Juana. Tapi pikirannya melayang ke Hermansyah yang tadi ngasih dia es krim di kantin. Dia baik banget... apa dia suka? Atau cuma temenan?

"Naila, lo ngulek sambel apa ngulek lamunan?" tegur Juana.

"Ah, nggak, Ma. Ini lagi ngulek..."

"Naila, cabenya udah ancur. Ini mau jadi bubur cabe?"

Naila liat cobek. Cabe-cabe udah lumat kayak bubur bayi. "Aduh, Ma. Maaf."

"Udah, udah. Lo istirahat aja. Mikirin cowok mulu. Kalo lulus nanti, baru deh mikirin yang begituan. Sekarang fokus belajar."

"Iya, Ma."

Lidya? Dia malah lagi sibuk ngedekor mading sekolah bertema "Cinta dan Prestasi". Ketika lagi asik ngelem kertas, Dadang datang. Cowok itu kelihatan ragu-ragu.

"Ly, bantuin?"

"Bantuin apa?"

"Bantuin gue... ngerti rumus fisika."

Lidya ketawa. "Gue aja belum tentu ngerti, Bang. Lo minta bantuan orang buta buat nebeng, ya?"

"Tapi lo kan pinter bahasa. Mungkin cara ngajarnya beda. Gue kalo baca buku fisika, matanya kayak digedor-gedor."

"Bang, fisika itu bukan bahasa. Lo nggak bisa nulis puisi buat rumus. Rumus nggak bakal bales."

"Ya udah, minimal temenin belajar. Biar nggak sendiri. Sendiri itu galau."

Lidya mikir bentar. "Ya udah. Nanti sepulang sekolah, di perpustakaan. Tapi janji, lo serius. Bukan malah ngelamun."

"Janji deh. Kalo gue ngelamun, gue traktir es krim seminggu."

"Deal!"

Dr. Erlangga, ayah Arjuna, suatu sore mampir ke sekolah. Beliau baru selesai praktek. "Arjuna, tolong inget, kamu itu contoh buat teman-teman. Jangan sampai kegoda hal yang nggak jelas."

"Iya, Pa."

"Tapi kalo nanti waktunya tepat, silakan. Asal jangan sekarang. Ayah dulu juga pacaran pas kuliah. SMP-SMA mah fokus belajar."

Arjuna manggut-manggut. Tapi hatinya berkata, Tapi, Pa... aku suka sama Kirana. Aku cuma nunggu waktu yang tepat. Kayak lagu, nunggu nada yang pas.

Di sisi lain, Kades Iwan malah ngasih wejangan ke semua anak muda di balai desa. Bapak-bapak berusia 50 tahun ini karismatik banget kalo ngomong.

"Pacaran itu boleh, tapi jangan digeber-geber. Kaya motor, kalo digeber terus, ntar ngeden. Mending pelan-pelan, nikmati masa muda dengan belajar."

Semua tertawa, termasuk Pak Eko, kakeknya Kirana. "Iya, cucu saya aja saya ingetin terus. Disiplin dulu, baru cinta. Jangan sampe kayak saya dulu, pacaran sampe lupa kalo besok ujian."

"Trus gimana, Pak Eko?" tanya Dadang.

"Ya nilainya jeblok. Untung mbah putrinya nggak marah. Malah bilang, 'Udah, nggak papa. Yang penting jujur.'"

"Wah, romantis juga, Pak."

"Romantis apanya? Itu mah nasib. Sekarang saya jadi Kaur Perencanaan gara-gara rajin, bukan gara-gara pacaran."***

 

Hari kelulusan tiba. Matahari bersinar cerah, langit biru tanpa awan. SMA Awan Biru dihias bendera merah putih dan umbul-umbul warna-warni. Suasana haru campur bahagia.

Arjuna, Hermansyah, dan Dadang resmi lulus SMA Awan Biru. Tiga Dara masih kelas XI, jadi mereka cuma bisa nonton dari barisan penonton. Duduk di kursi kayu lapangan, sambil megang kamera Hp masing-masing.

"Liat tuh Arjuna, pake toga, ganteng banget," bisik Kirana ke Naila.

"Lo liat Hermansyah, rambutnya disisir rapi. Biasanya kayak sarang tawon," balas Naila.

"Dadang juga, dasinya lurus. Biasanya miring kayak tanjakan," timpal Lidya.

Mereka bertiga ngikik.

Acara kelulusan berlangsung khidmat. Sambutan kepala sekolah, pengumuman nilai terbaik, dan Arjuna masuk tiga besar. Hermansyah dapat juara harapan. Dadang? Dia lulus dengan nilai pas-pasan, tapi tetap senyum lebar.

Saat acara ramah tamah selesai, para siswa berpamitan. Ada yang nangis, ada yang ketawa, ada yang foto-foto. Orang tua pada sibuk megang kamera.

Arjuna nyamperin Kirana di pinggir lapangan. Udara sore sejuk, angin berhembus pelan. Di belakang mereka, pohon mangga tua berdiri kokoh.

"Kirana, makasih, ya. Lo udah jadi temen belajar yang asik," ucap Arjuna pelan. Matanya agak berkaca-kaca, tapi ditahan.

"Iya, sama-sama. Lo juga. Jagoan fisika. Nanti kalo jadi fisikawan, jangan lupa sama temen-temen," balas Kirana, gugup. Jarinya mainin ujung jilbab.

Mereka saling diam. Suasana hening, cuma suara burung gereja yang sesekali berkicau.

Lalu Arjuna bilang, "Ra, mungkin ini agak canggung. Dan mungkin lo bakal ketawa. Tapi... gue tunggu lo setahun lagi. Lulus, kita lanjut... mungkin?"

Kirana tersenyum. Senyum yang manis, beda dari biasanya. "Janji?"

"Janji. Tapi janji ini pake materai. Nggak bisa digugat."

"Materainya mana?"

"Di hati."

Kirana ketawa. "Gombal."

"Iya, namanya juga cowok. Kalo nggak gombal, bukan cowok."

Mereka berdua ketawa. Lalu Kirana bilang, "Oke. Gue tunggu lo setahun. Tapi lo harus janji, belajar yang bener di kuliah. Jangan malah sibuk cari cewek lain."

"Gue? Cari cewek lain? Ra, lo aja udah bikin gue bingung bedain mana rumus mana perasaan."

Di sisi lain, Hermansyah ketemu Naila di dekat pohon mangga. Dia megang buku tahunan, keringatan.

"Naila, lo cantik. Eh maksudnya, lo baik. Maksud gue..." Hermansyah gugup, keringatnya nambah.

Naila tertawa. "Iya, Bang. Gue tau maksud lo. Santai aja. Kita tunggu waktu yang tepat."

"Lo serius? Gue kira lo bakal nolak."

"Nolak kenapa? Lo baik, pinter, lucu. Cuma agak... aneh."

"Aneh gimana?"

"Ya aneh. Lo tanya pinjam hati."

Hermansyah garuk-garuk kepala. "Itu kan salah ucap. Maaf."

"Nggak papa. Justru itu lucu."

"Berarti... kita punya janji?"

"Janji. Lo kuliah yang bener. Nanti kalo lulus, kita liat."

"Deal. Tapi janji ini pake tanda tangan."

"Tanda tangan di mana?"

"Di sini." Hermansyah nunjuk hatinya.

Naila ketawa. "Gombal lo mirip Arjuna."

"Ya satu geng."

Dadang malah lebih nggak karuan. Dia ngasih Lidya sebuah kertas lipat. Tangannya gemeteran. "Ini... puisi buat lo. Maaf jelek. Tapi dari hati. Bukan dari buku."

Lidya baca perlahan:

"Lidya, kau bak bintang di langit biru.
Sayangnya aku harus pergi dulu.
Tapi janji, kita ketemu lagi...
Setelah aku jadi pilot."

Lidya ngakak. "Pilot? Lo mau jadi pilot? Lo aja naik motor sering oleng."

"Itu kan dulu. Sekarang gue udah les."

"Les apa? Les terbang?"

"Les motor. Tapi ntar lanjut les pilot."

"Wah... keren juga. Ntar kalo lo jadi pilot, jangan lupa ajak gue terbang."

Dadang sumringah. Wajahnya bersinar kayak lampu disco. "Deal! Lo mau gue ajak terbang?"

"Iya. Asal jangan jatuh."

"Janji. Kalo jatuh, gue jadi parasut."

Lidya ketawa. "Gombal lo parah."

"Iya, demi lo."

Mbah Karyo, yang kebetulan lewat bawa nasi bungkus, cuma geleng-geleng. "Lha, pacaran model sekarang, pake puisi segala. Jaman gue dulu, cukup ngasih tebu. Diterima, ya syukur. Ditolak, tebu dimakan sendiri."

Semua ketawa. Sementara itu, Pak Anto ngintip dari balik pagar. Matanya sipit kayak detektif. "Itu dia! Cinta segitiga... eh, segienam! Kayak ramalan gue, tapi beda episode!"

Bu Yuni, Sekdes, menimpali, "Wis, Pak Anto, mending ramalin harga cabe. Ini cabe naik terus."

"Ih, Bu Yuni, romantis dikit dong. Ini anak muda lagi pada pacaran."

"Ini mah bukan pacaran, Pak. Ini janji masa depan. Beda."

Di balik canda tawa, ada satu pesan yang mereka semua pegang: Cinta itu indah, tapi masa depan lebih penting. lupakan urusan pacar Untuk sementara, kejar mimpi dulu.

Tiga Dara melambaikan tangan ke tiga cowok yang akan merantau. Kirana, Naila, dan Lidya tahu: perjalanan mereka masih panjang. Dan mungkin... di ujung jalan itu, cinta sejati sudah menanti.

Langit biru Awan Biru menjadi saksi bisu perjuangan, persahabatan, dan janji yang belum terucap sempurna.

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Warna jingga menghiasi langit. Arjuna, Hermansyah, dan Dadang berjalan meninggalkan sekolah, membawa mimpi dan janji.

Di balik gerbang, Tiga Dara masih berdiri. Melambai, tersenyum, dan berbisik dalam hati:

"Sampai jumpa di masa depan."

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar