ANDAI
KU TAHU
Sebuah
Novelet tentang Ketidaktahuan, Keberanian, dan Arti Belajar Menjadi Manusia
Oleh: Slamet Riyadi
Di desa mana pun selalu ada orang yang berjalan pelan.
Bukan karena kakinya cedera, bukan karena ia malas, tapi karena ia memang tidak
tahu jalan mana yang harus ditempuh. Dan di Desa Sido Mukti, orang itu bernama
Raka Pratama.
Ia lahir dua puluh tiga tahun lalu dari rahim seorang
perempuan sederhana yang menjanda sejak Raka masih duduk di kelas tiga SD.
Ayahnya pergi bukan karena mati, tapi karena memilih hidup baru dengan
perempuan lain di kota. Sejak itu, Raka tumbuh dalam keheningan yang ia
ciptakan sendiri—sebagai tameng, sebagai rumah, sebagai teman.
Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang pintar matematika
tapi aneh dalam pergaulan. Saat teman-temannya bercanda tentang cewek, ia diam.
Saat mereka nongkrong sampai magrib, ia pulang. Bukan karena ia sok suci, tapi
karena ia tidak tahu harus tertawa di bagian mana, tidak tahu harus berkata apa
ketika semua orang serempak melontarkan lelucon yang masuk di telinganya
seperti bahasa asing.
Ibu Raka pernah berkata, "Kamu itu anak baik, Nak.
Tapi orang-orang sering salah paham sama kebaikan."
Raka tidak mengerti maksudnya waktu itu. Sekarang, setelah
lulus dan bekerja sebagai staf Administrasi Pemerintahan di Kantor Desa Sido
Mukti, ia mulai paham. Bahwa menjadi baik tidak cukup. Bahwa di dunia orang
dewasa, ada kode-kode yang tidak diajarkan di sekolah. Ada isyarat yang tidak
tertulis di buku. Ada makna tersembunyi di balik kata-kata sederhana seperti
"nanti saja" atau "terserah" atau "gpp".
Dan Raka—dengan segala kepolosannya yang murni—selalu
membaca semuanya secara harfiah.
Seperti hari itu. Hari ketika semuanya dimulai.***
Pagi di Desa Sido Mukti selalu datang dengan ritual yang
sama: ayam berkokok saling sahut, matahari mengintip pelan dari balik kebun
karet warga, dan Mbok Minah membuka warung lebih awal karena tahu para petani
akan mampir setelah dari sawah.
Kantor desa berdiri di ujung lapangan kecil yang rumputnya
mulai menipis di beberapa bagian—bekas bola plastik anak-anak yang main sepak
bola setiap sore. Cat dindingnya krem pudar, papan namanya biru dengan sedikit
miring ke kanan seperti orang yang terlalu capek untuk berdiri tegak.
Di depan kantor itulah Raka Pratama berdiri pukul setengah
tujuh pagi. Sepatu hitamnya mengilap berlebihan—hasil semir dua kali semalam
karena ia tidak tahu kalau sepatu kantor tidak perlu sewangi itu. Kemeja
putihnya disetrika sampai kaku, nyaris seperti kardus. Di tangan kirinya, tas
map cokelat berisi pulpen, buku catatan, bekal nasi bungkus, dan setengah
kilogram harapan yang terlalu berat untuk ukuran anak baru.
Ia menarik napas panjang.
"Bismillah," gumamnya. "Kerja itu
ibadah."
Ia tidak tahu bahwa hari itu bukan sekadar hari pertama
bekerja. Tapi hari pertama ia belajar bahwa dunia tidak selalu berbicara dalam
bahasa yang ia pahami.***
Raka mendorong pintu kantor dengan hati-hati, seolah pintu
itu bisa pecah jika dibuka terlalu keras.
Di dalam, seorang laki-laki muda sedang mengetik sambil
bersiul kecil. Rambutnya agak acak-acakan, kemejanya lengan digulung hingga
siku. Itu Ardiansyah—staf yang sudah tiga tahun bekerja, terkenal sebagai orang
paling santai di kantor desa, tapi juga paling cepat kalau urusan teknis.
Ardi menoleh.
"Eh, ini anak baru ya?"
Raka segera berdiri tegap. Tangannya lurus di samping
badan. Dagu sedikit naik.
"Iya, Pak. Raka Pratama. Staf Administrasi
Pemerintahan."
Ardi mengedip beberapa kali. Lalu tertawa kecil.
"Loh, santai aja, Mas. Nggak usah kayak apel pagi.
Saya Ardi. Panggil aja Mas Ardi."
Raka mengangguk serius. Terlalu serius.
"Baik, Mas Ardi. Siap."
Ardi menatapnya beberapa detik. Ada sesuatu di wajah Raka
yang membuatnya ingin tertawa tapi juga iba. Seperti melihat anak kucing yang
berusaha jadi harimau.
"Raka, dengar ya," Ardi memiringkan kepala.
"Di sini itu santai aja. Kita bukan kantor kementerian. Nggak usah
tegang-tegang."
"Baik, Mas Ardi. Saya akan berusaha santai."
Cara Raka mengucapkan "santai" justru terdengar
seperti laporan militer. Nada suaranya datar, tegas, tanpa jeda. Seperti robot
yang baru diinstal perintah baru.
Ardi menahan senyum. Tapi gagal. Senyumnya lolos juga.
Dari ruang tengah, terdengar suara berat yang dalam.
"Ardi! Anak barunya sudah datang?"
Raka refleks merapikan rambut dengan tangan sedikit gemetar.
Ia tidak tahu kenapa, tapi suara itu terdengar seperti suara kepala sekolah
dulu.
Ardi menjawab santai, "Sudah, Pak Haji!"
"Suruh masuk!"
Raka menatap Ardi dengan pandangan minta petunjuk.
Ardi mengangguk ke arah pintu ruang tengah. "Masuk
aja. Tenang, Pak Haji itu baik kok. Galak dikit, tapi baik."
"Galak dikit?" ulang Raka pelan.
"Ya tapi baik. Santai aja."
Raka mengangguk. Tapi langkahnya tetap kaku saat menuju
pintu ruang Kepala Desa.***
Ruang Kepala Desa tidak terlalu besar. Meja kayu tua dengan
tumpukan berkas di pojok, lemari arsip hijau yang catnya mulai mengelupas, dan
kalender bergambar pemandangan alam yang sudah tidak berganti sejak dua bulan
lalu.
Di balik meja, duduk H. Suryono—Kepala Desa Sido Mukti dua
periode. Usianya 54 tahun, rambutnya mulai memutih di pelipis, tapi matanya
masih tajam seperti elang. Ia dikenal sebagai pemimpin yang disiplin, kadang
keras, tapi sebenarnya perhatian pada anak buahnya. Asal mereka tidak membuat
kesalahan fatal.
"Raka, ya?" suaranya berat tapi tidak mengancam.
"Iya, Pak." Raka berdiri di depan meja dengan
posisi sempurna.
"Duduk. Nggak usah kaku."
Raka duduk. Punggungnya tetap tegak lurus seperti
penggaris.
"Kamu kerja di bagian Administrasi Pemerintahan. Tugas
kamu: arsip surat masuk dan keluar, bantu notulen rapat, layani warga yang urus
administrasi. Paham?"
"Paham, Pak."
Kepala Desa mengangguk. Ia mengambil selembar surat dari
atas meja.
"Ini ada surat dari kecamatan. Tolong difotokopi—lima
rangkap. Satu untuk arsip kita, satu untuk BPD, satu untuk..." ia berhenti
sejenak, menghitung. "Pokoknya difotokopi aja dulu lima. Nanti saya kasih
tahu distribusinya. Segera ya."
Raka menerima surat itu dengan dua tangan. Penuh hormat.
Seperti menerima benda pusaka.
"Baik, Pak. Segera."
Kepala Desa mengangguk. "Ya sudah. Kamu bisa ke
luar."
Raka bangkit, mundur dua langkah—seperti kebiasaan kalau
menghadap guru dulu—baru berbalik dan keluar.
Ia kembali ke meja kerjanya di pojok ruangan. Meja itu
masih kosong, hanya ada komputer tua dan tumpukan map bekas. Raka duduk,
membuka buku catatan kecilnya, dan menulis:
Tugas pertama: fotokopi surat dari kecamatan. 5 rangkap.
Ia membaca instruksi Kepala Desa sekali lagi dalam kepala:
"Segera."
Raka berpikir. "Segera" berarti tidak perlu
terburu-buru, tapi jangan terlalu lama. Mungkin besok pagi masih termasuk
"segera". Karena kalau benar-benar urgent, pasti pakai kata
"sekarang" atau "harus hari ini".
Logika.
Ia meletakkan surat itu dengan rapi di map biru. Besok
pagi, pikirnya. Biar lebih fresh, lebih teliti.***
Kepala Desa masuk dengan wajah sedikit tegang. Istrinya
baru saja nelpon masalah apa—entahlah. Yang jelas, pagi itu beliau sedang tidak
dalam mood terbaik.
"Raka, surat kemarin sudah dikirim ke BPD?"
Raka mengangguk sopan. "Belum, Pak."
"Belum?!"
"Karena Bapak bilang segera. Jadi saya
rencanakan pagi ini agar lebih tenang. Saya pikir segera itu..."
Raka tidak sempat menyelesaikan kalimat.
Wajah Kepala Desa berubah. Bukan marah besar, tapi ekspresi
campuran antara tidak percaya dan lelah.
"Raka... kalau saya bilang segera, itu
artinya hari itu juga. Paham? HARI ITU JUGA."
Raka berkedip. Otaknya memproses informasi baru.
"Oh... hari itu juga. Berarti kemarin sore
seharusnya?"
"IYA!"
"Oh..." Raka mengangguk pelan. "Saya
kira segera itu tidak harus terburu-buru. Maaf, Pak. Saya kira
masih ada waktu."
Ardi yang sedang menyiapkan berkas di meja sebelah tidak
tahan. Ia menutup mukanya dengan map sambil bahunya naik-turun menahan tawa.
Kepala Desa menghela napas panjang. Beliau memijat pangkal
hidungnya—kebiasaan kalau mulai stres.
"Raka... di dunia kerja, segera itu
artinya sekarang kalau bisa. Bukan besok, bukan lusa.
Sekarang. Ngerti?"
Raka mengangguk mantap. Lalu—dengan sangat serius—ia
membuka buku catatan kecilnya dan menulis:
Segera = hari itu juga (kalau bisa sekarang).
Ardi melihat dari kejauhan dan hampir terbahak. Tapi ia
tahan. Kasihan juga.
"Baik, Pak. Saya catat. Saya akan fotokopi sekarang
juga."
Kepala Desa menggeleng pelan, setengah tersenyum.
"Iya, fotokopi sekarang."
Raka bangkit, mengambil surat itu, dan berjalan cepat ke
ruang fotokopi.
Ardi mendekat ke meja Kepala Desa dengan hati-hati.
"Pak, maaf... itu anak baru, Pak. Masih
adaptasi."
Kepala Desa menghela napas. "Iya, saya tahu. Tapi ini
yang paling polos yang pernah saya lihat."
Ardi tersenyum. "Tapi rajin, Pak. Datang pagi, pulang
sore."
"Rajin sih. Tapi kalau salah paham terus, repot
juga."
Ardi mengangguk. "Saya bimbing, Pak.
Pelan-pelan."
"Bimbing, ya. Jangan diejek-in."
"Siap, Pak."***
Minggu berikutnya. Aula Kantor Desa.
Musyawarah desa berlangsung ramai. Hadir Ketua BPD,
perwakilan RT/RW, tokoh pemuda, dan beberapa warga yang tertarik dengan agenda
pembahasan anggaran.
Raka duduk paling belakang dengan laptop di pangkuan. Ia
sudah menyiapkan diri—buku catatan di samping, pulpen cadangan di saku.
Kepala Desa membuka rapat dengan salam. Lalu menunjuk ke
arah Raka.
"Raka, notulen ya. Catat poin-poin penting."
Raka mengangguk tegas. "Siap, Pak."
Rapat berjalan. Suasana hangat. Barang kali ada selisih
pendapat, tapi masih wajar. Raka mengetik cepat. Semua kata ia abadikan.
Termasuk:
Ketua BPD (batuk sebelum bicara): "Maaf, saya ingin
menyampaikan..."
Pak RT 03: "Kalau menurut saya..."
Ardi (berbisik ke Wawan): "Nanti habis rapat ngopi
yuk."
Wawan (berbisik balik): "Asal jangan kamu yang
bayar."
Ardi: "Peliiiiit..."
Semua masuk ke laptop Raka. Semua.
Rapat selesai pukul 12.30. Raka langsung merapikan catatan
dan mencetaknya. Lima menit kemudian, ia menyerahkan hasil notulen ke Kepala
Desa.
"Notulen rapat, Pak."
Kepala Desa menerima, tersenyum. "Wah, cepat."
Lalu beliau membaca.
Dahi beliau mulai mengernyit di paragraf pertama. Alisnya
naik di paragraf kedua. Di paragraf ketiga, beliau mengangkat wajah dengan
ekspresi campur aduk.
"Raka..."
"Iya, Pak?"
"Kenapa ini ada tulisan 'Pak Ketua batuk sebelum
bicara'?"
Raka menjawab polos, "Karena itu terjadi, Pak. Saya
catat semua kejadian."
Kepala Desa menunjuk baris berikutnya. "Dan ini...
'Pak Ardi mengajak Wawan ngopi'?"
"Karena itu juga terjadi, Pak. Di sela-sela
rapat."
Ardi yang sedang minum di dekat pintu hampir tersedak. Ia
berlari mendekat.
"Raka! Notulen itu inti rapat, bukan semua isi
ruangan!"
Raka terdiam. Otaknya bekerja keras memproses informasi
baru.
"Oh... jadi yang tidak relevan tidak perlu
ditulis?"
Ardi menghela napas. "Tidak. Yang perlu ditulis cuma
pembahasan resmi, kesimpulan, keputusan. Bukan batuk-batuk atau ajakan
ngopi!"
Raka menatap Ardi dengan serius. Lalu membuka buku catatan
kecilnya.
Notulen = inti pembahasan saja. Tidak semua kejadian.
"Termasuk batuk?" tanyanya untuk memastikan.
"Termasuk batuk," jawab Ardi.
"Termasuk Pak RT yang bersin dua kali?"
"Raka!"
"Baik, baik. Saya catat."
Kepala Desa menghela napas lagi—untuk kesekian kalinya
minggu ini. Tapi kali ini beliau tidak marah. Malah tersenyum tipis.
"Raka, kamu ini..."
"Iya, Pak?"
"Kamu unik."
Raka mengerutkan dahi. "Unik? Dalam arti positif atau
negatif, Pak?"
Kepala Desa tertawa kecil. "Nanti juga paham
sendiri."***
Siang itu. Kantor Desa sepi. Hanya Raka dan Ardi.
Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah cepat.
Wajahnya cokelat terbakar matahari, tangannya kasar—khas petani. Itu Pak Darto,
warga RT 02 yang sawahnya hanya sedikit dan sering kekurangan di akhir bulan.
"Mas, Mas," sapanya pada Raka. "Saya ini
dapat bantuan nggak?"
Raka membuka laptop. Membuka file data warga penerima
manfaat. Ia membaca dengan teliti.
"Pak Darto... menurut data, Bapak masuk kategori hampir
miskin."
Pak Darto mengerjap. "Hampir miskin?"
"Iya, Pak. Jadi belum masuk kategori miskin sekali.
Tapi juga tidak mampu. Kategori hampir miskin."
Pak Darto diam beberapa detik. Wajahnya berubah.
"Maksud kamu, saya ini miskin setengah-setengah?"
Raka bingung. "Bukan begitu, Pak. Itu istilah resmi
dari data. Hampir miskin itu kategorinya memang..."
Pak Darto memotong. Suaranya meninggi. "Saya ini
petani! Bukan hampir miskin! Kalau miskin ya miskin, kalau
nggak ya nggak! Hampir miskin itu apa?!"
Raka mencoba menjelaskan dengan tenang. "Pak, itu
terminologi dari pemerintah. Bukan saya yang buat. Ada klasifikasinya: miskin
ekstrem, miskin, hampir miskin, rentan miskin..."
"Sudah, sudahlah!" Pak Darto melambaikan tangan.
"Saya nggak ngerti istilah-istilahmu. Yang jelas, saya butuh
bantuan!"
Raka menghela napas. "Pak, kalau Bapak merasa berhak,
bisa mengajukan surat keterangan tidak mampu dari RT dan RW. Nanti kita
proses."
Pak Darto mendengus. "RT mah tahu saya ini orang
susah!"
"Iya, Pak. Tapi prosedurnya..."
Pak Darto sudah berbalik. "Nggak usah! Urus
sendiri!" Ia keluar dengan pintu dibanting pelan—tapi cukup keras untuk
menunjukkan kekesalannya.
Raka terdiam. Ia menoleh ke Ardi yang sejak tadi hanya
memperhatikan.
"Saya salah lagi, Mas?"
Ardi menghela napas panjang. "Rak... kamu itu nggak
salah secara data. Tapi cara kamu ngomongnya."
"Caranya bagaimana?"
"Kamu bilang hampir miskin ke orang
yang jelas-jelas miskin. Itu seperti bilang 'kamu hampir mati' ke orang
sakit."
Raka mengerutkan dahi. "Tapi itu istilah resmi."
"Orang nggak peduli istilah resmi kalau mereka
tersinggung."
Raka diam. Lalu membuka buku catatan kecil.
Hampir miskin = jangan diucapkan ke orang yang
bersangkutan.
Ardi melihat dan menggeleng geli. "Rak, kamu ini...
nggak ada matinya."***
Sore itu, Pak Darto duduk di warung Mbok Minah. Ia masih
kesal.
"Anak baru itu bilang saya hampir miskin. Hampir!
Kayak saya ini setengah orang!"
Mbok Minah tertawa. "Ya ampun, Pak Darto. Mungkin
maksudnya baik."
"Baik apanya? Ngomong aja nggak tahu aturan!"
Bu RT yang sedang belanja sayur ikut nimbrung.
"Itu anak memang aneh, katanya. Waktu rapat kemarin, notulennya ditulis
semua—sampai ada yang batuk juga masuk."
Wawan yang kebetulan lewat ikut menimpali. "Iya, Bu.
Dia itu... gimana ya... kayak nggak ngerti kalau orang lagi bercanda."
Mereka tertawa bersama.
Raka tidak tahu bahwa ia sedang menjadi bahan obrolan. Tapi
di desa, kabar menyebar cepat seperti api di ilalang kering.***
Malam hari. Rumah Raka.
Raka duduk di kamar. Kamar itu sederhana: dipan kayu,
lemari pakaian dari triplek, dan meja belajar yang penuh tumpukan buku.
Dindingnya hanya bercat putih tanpa hiasan—kecuali satu kalender bergambar
masjid yang sudah dua tahun tidak diganti.
Ia membuka buku catatan kecilnya. Membaca ulang:
Segera = hari itu juga.
Notulen = inti saja.
Hampir miskin = jangan diucapkan mentah.
Ia memijat pelipis. Kepalanya berdenyut pelan.
Kenapa yang saya katakan selalu salah?
Ia berdiri. Berjalan ke cermin di belakang pintu. Menatap
bayangannya sendiri.
Wajahnya biasa saja. Tidak jelek, tidak ganteng. Hidung
biasa, mata biasa, bibir biasa. Tapi di balik wajah itu, ada otak yang
sepertinya tidak sinkron dengan dunia.
"Apa saya bodoh?" bisiknya.
Ia menggeleng cepat. "Tidak. Saya bisa matematika.
Saya bisa mengetik cepat. Saya hafal aturan administrasi."
Jeda.
"Tapi kenapa saya tidak bisa... jadi normal?"
Matanya mulai memerah. Ia menunduk.
Di luar, suara motor melintas. Suara orang mengobrol. Dunia
berjalan seperti biasa. Tapi di dalam kamar ini, Raka merasa asing dengan
dunianya sendiri.
Ibunya mengetuk pintu pelan.
"Nak, makan malam."
Raka mengusap mata cepat. "Iya, Bu. Sebentar."
Ia menatap cermin sekali lagi. Berkata dengan suara sangat
pelan, nyaris seperti napas:
"Andai kutahu caranya jadi orang yang tidak salah
terus..."
Ia mematikan lampu.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak bekerja, ia merasa
bukan hanya lelah. Tapi juga kecil. Sangat kecil.****
Jika di kantor desa Raka sering salah memahami kata
"segera", maka dalam urusan hati ia bahkan tidak tahu kapan sesuatu
itu sedang dimulai.
Cinta, baginya, bukan seperti surat masuk yang jelas nomor
dan tanggalnya. Bukan pula seperti arsip yang bisa diberi label dan disimpan
rapi di rak besi. Cinta datang tanpa kop surat, tanpa disposisi, tanpa
penjelasan teknis.
Dan itulah masalahnya.
Setiap pagi, halaman Kantor Desa Sido Mukti mulai ramai
sekitar pukul setengah tujuh. Anak-anak PAUD berlarian kecil dengan tas
bergambar kartun—Doraemon, Upin Ipin, kadang ada yang bawa tas Hello Kitty
meskipun itu anak laki-laki. Suara mereka riuh rendah, bercampur dengan tawa
seorang gadis yang suaranya ringan seperti angin pagi.
Namanya Larasati.
Guru PAUD. Usia 22 tahun. Lulusan IKIP tahun lalu.
Rambutnya sering diikat sederhana—ekor kuda atau kadang cuma dijepit
asal-asalan. Tapi entah kenapa, setiap kali ia tersenyum, orang di sekitarnya
ikut tersenyum tanpa sadar. Senyumnya menular. Seperti flu, tapi versi baiknya.
Raka tidak pernah benar-benar siap menghadapi senyum
seperti itu.
Karena arsip bisa ia pelajari. Peraturan bisa ia baca. Tapi
ekspresi mata perempuan? Ia tidak punya buku panduannya.
Dan sejak hari itu, Laras mulai sering mampir ke kantor desa
untuk mengurus administrasi kegiatan PAUD, kehidupan Raka tidak lagi hanya
tentang map dan stempel. Ia mulai berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih
membingungkan:
Kode-kode halus yang tidak pernah ia pahami.***
Pagi itu. Kantor Desa.
Raka sedang mengetik laporan bulanan ketika pintu terbuka
dan seseorang masuk dengan langkah ringan. Wangi sabun murah tapi segar—Laras
selalu pakai sabun itu, Raka tahu karena hidungnya peka meskipun perasaannya
tumpul.
"Mas Raka, pagi!"
Raka refleks berdiri. Bukan karena aturan, tapi karena
kaget. Tangannya lepas dari keyboard, tubuhnya tegap seperti prajurit upacara.
"Selamat pagi, Saudari Larasati."
Laras berhenti melangkah. Tas kecilnya nyaris jatuh dari
bahu.
"Saudari?"
Raka mengangguk serius. "Iya. Itu sapaan formal yang
sopan untuk perempuan yang belum dikenal secara personal."
Laras menatapnya beberapa detik. Lalu tawanya meledak—tidak
keras, tapi cukup untuk membuat Ardi menengok dari ruang depan.
"Mas... kita ini udah ketemu hampir tiap hari tiga
minggu terakhir. Masih Saudari?"
Raka berpikir. "Oh... iya. Tiga minggu, dua belas kali
pertemuan, termasuk hari ini."
Laras menggeleng-geleng, masih tersenyum. "Nah, itu
artinya kita sudah kenal, dong."
"Berarti sapaan berubah?"
"Iya."
Raka membuka buku catatan kecil. Laras melihat dan
mengernyit.
"Loh, itu apa?"
"Catatan. Saya sedang belajar interaksi sosial."
Laras mendekat, ingin melihat isinya. Tapi Raka menutup
cepat.
"Belum boleh dilihat. Masih draf."
Laras tertawa lagi. "Astaga, Mas. Kamu ini unik
banget."
Raka mengerutkan dahi. "Unik? Dalam arti..."
"Positif! Positif!" Laras memotong cepat. Ia
sudah mulai paham pola Raka: kalau diberi komentar tambah bingung, ia akan
overthinking.
Laras meletakkan map merah mudanya di meja.
"Ini proposal kegiatan lomba mewarnai. Tolong dicek,
Mas. Kata Bu Kades harus lewat administrasi dulu."
Raka menerima map itu dengan dua tangan—sopan, seperti
menerima tamu agung. Ia membuka, membaca cepat.
"Ini sudah lengkap. Hanya kurang stempel RT dan paraf
ketua panitia."
Laras menghela napas. "Ah, iya. Lupa. Nanti saya
minta."
"Nanti" di sini berarti besok atau lusa, pikir
Raka. Tapi ia tidak bilang. Ia sudah belajar bahwa tidak semua
"nanti" harus diingatkan.
Laras tidak segera pergi. Ia berdiri di depan meja, jarinya
mengetuk-ngetuk map pelan.
"Mas Raka... aku mau tanya."
"Iya."
"Kamu ini kalau di luar kantor juga kayak gini?"
"Kayak gini maksudnya?"
"Kaku. Formal. Kayak lagi wawancara kerja."
Raka berpikir sejenak. "Saya tidak pernah nongkrong,
jadi tidak tahu bagaimana saya di luar kantor."
Laras mengerjap. "Tidak pernah nongkrong? Sama
sekali?"
"Pernah. Dua kali. Waktu SMA. Tapi saya hanya duduk
diam karena tidak tahu harus bicara apa. Setelah itu tidak pernah lagi."
Laras menatapnya dengan campuran iba dan penasaran.
"Terus kamu di rumah ngapain?"
"Baca. Bantu ibu. Kadang ulang arsip kantor biar lebih
rapi."
Laras tersenyum kecil. "Kamu ini..."
"Ya?"
"Lucu."
Raka mengerutkan dahi. "Lucu? Dalam arti menghibur
atau aneh?"
"Dua-duanya."
"Oh."
Laras tertawa lagi. Tawanya ringan. Di ruang depan, Ardi
mengintip dan tersenyum sendiri. Wah, si Raka mulai diperhatikan cewek.***
Hari-hari berikutnya, Laras semakin sering mampir.
Kadang cuma numpang print—katanya printer PAUD rusak.
Padahal printer itu sudah rusak sejak dua minggu lalu, tapi Bu Kades belum juga
beliin yang baru.
Kadang sekadar bertanya hal kecil.
"Mas, kalau bikin laporan kegiatan itu margin-nya
berapa?"
"Empat sentimeter kiri, tiga kanan, tiga atas, tiga
bawah."
"Serius amat jawabnya."
"Karena memang begitu aturannya."
Laras tersenyum. Tapi Raka tidak menangkap senyum itu. Ia
sibuk memeriksa berkas.
Kadang Laras datang cuma untuk minum—katanya habis, padahal
galon di PAUD masih penuh. Raka tidak tahu itu alasan. Ia mengambilkan gelas
dengan serius.
"Silakan."
"Makasih, Mas."
"Sama-sama."
Laras minum pelan-pelan. Lebih pelan dari biasanya. Tapi
Raka sudah kembali mengetik.
Suatu siang. Hujan turun deras.
Laras terjebak di teras kantor. Hujan datang tiba-tiba,
seperti biasa di desa. Ia melihat ke langit, berharap reda. Tapi awan hitam
masih pekat.
Raka melihat dari balik jendela. Ia mengambil
payung—satu-satunya payung yang ia bawa setiap hari karena ibunya selalu
berpesan, "Sedia payung sebelum hujan."
Ia keluar. Berdiri beberapa meter dari Laras. Tidak terlalu
dekat, karena jarak aman menurut bukunya adalah 1,5 meter untuk kenalan biasa.
"Saudari—eh, Laras. Apakah Anda—apakah kamu butuh
payung?"
Laras menoleh. Rambutnya sedikit basah di ujung. Matanya
berbinar.
"Kamu mau anterin?"
Raka berpikir cepat. Logika: Kantor dan PAUD hanya berjarak
dua puluh meter. Lari cepat bisa 5 detik. Jalan santai 30 detik. Hujan deras?
Mungkin 45 detik dengan payung.
"Jaraknya dekat," katanya.
Laras menunggu.
Tapi Raka tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya memegang
payung, siap menyerahkan.
"Tapi hujan deras," Laras berkata pelan. Ada
harapan di matanya.
Raka memproses kalimat itu seperti soal matematika.
"Hujan deras" berarti air banyak. "Air banyak" berarti
basah. "Basah" berarti tidak nyaman. Solusi: payung.
Ia menyerahkan payung itu.
"Silakan digunakan."
Laras menatap payung, lalu menatap Raka. "Kamu nggak
ikut?"
"Saya tidak perlu ke PAUD."
"Oh..."
Laras mengambil payung itu. "Ya udah. Makasih."
Ia pergi sendiri di bawah payung merah tua milik Raka.
Langkahnya tidak secepat biasanya.
Raka berdiri di teras, melihat punggung Laras menjauh.
Rambutnya sedikit terkena percikan hujan dari samping karena payungnya tidak
cukup besar untuk menutupi sempurna. Tapi ia tidak protes.
Raka merasa puas. Ia sudah membantu secara optimal. Tidak
ada yang salah.
Ia tidak tahu bahwa Laras berharap ia berkata, "Aku
anterin, yuk."
Ia tidak tahu bahwa Laras berjalan lebih lambat dan berharap ia memanggil.
Ia tidak tahu bahwa di balik hujan itu, ada kesempatan yang
baru saja lewat.***
Malam. Warung Kopi "Sumber Rejeki".
Warung ini sederhana: tenda plastik, lampu 5 watt, meja
panjang dari papan, dan kursi plastik biru yang sudah mulai pudar. Tapi kopinya
enak, dan yang jual—Mbok Minah—ramah sekali.
Bima sudah duduk di pojok. Ia sahabat Raka sejak SMA,
satu-satunya yang masih bertahan meskipun Raka sering membingungkan. Bima kerja
sebagai kuli bangunan, kadang jadi tukang ojek kalau lagi sepi order. Ia tidak
pintar, tapi ia paham orang. Itu yang membedakannya dengan Raka.
"Rak, sini!" Bima melambai.
Raka duduk di hadapannya. Meletakkan map—iya, bawa map ke
warung kopi.
"Kamu bawa map?"
"Buku catatan. Siapa tahu ada yang perlu
dicatat."
Bima menggeleng. "Kamu ini..."
"Ada yang mau dibicarakan?" tanya Raka langsung
ke inti.
Bima menyeruput kopinya. "Iya. Soal kamu sama
Laras."
Raka refleks tegang. "Kenapa?"
"Kamu suka nggak sih sama dia?"
Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong. Raka
tersedak—padahal belum minum.
"S-suka dalam arti apa?"
"Ya suka! Suka, Rak! Cewek! Hati! Deg-degan! Jantung
berdebar kenceng kalau ketemu!"
Raka berpikir keras. Matanya menerawang ke lampu warung
yang redup.
"Kalau dia datang, saya merasa... jantung saya
berdetak lebih cepat."
Bima tersenyum lebar. "NAH! ITU NAMANYA SUKA!"
"Oh." Raka mengangguk pelan. "Jadi itu
indikatornya."
Bima menghela napas. "Rak, kamu ini suka ngitung ya?
Cinta itu bukan rumus matematika."
"Tapi segala sesuatu punya pola. Kalau polanya bisa
diidentifikasi, berarti bisa dipelajari."
Bima memegang kepala. "Astaga, kau ini... oke, oke.
Yang penting, kamu suka sama dia, kan?"
Raka mengangguk ragu.
"NAH! Sekarang, kamu harus GERAK."
"Gerak bagaimana?"
"Ya peka! Kalau dia senyum, balas. Kalau dia manja
dikit, kamu perhatian."
Raka mengerutkan dahi. "Manja itu seperti apa
indikatornya?"
Bima hampir menjatuhkan kopi. "INDIKATOR?!"
"Iya. Tanda-tandanya. Supaya saya tidak salah
tafsir."
Bima diam beberapa detik. Lalu mengambil napas panjang.
"Raka, dengar. Ini gue kasih tips ampuh, tapi jangan
dicatat."
"Cuma diingat?"
"Iya! Pokoknya ini rahasia sukses."
Raka memasang telinga baik-baik.
"Kalau cewek marah sama kamu, bilang aja: 'Aku lagi
mikirin masa depan kita.'"
Raka mengerutkan dahi. "Masa depan siapa?"
"Masa depan KALIAN lah, bego!"
"Tapi kalau belum jelas hubungannya?"
"Ya nggak apa-apa! Cewek suka yang kayak gitu!"
Raka diam. Lalu membuka tas. Mengeluarkan buku catatan.
Bima refleks menyambar. "JANGAN DICATAT!"
"Tapi..."
"RAKA!"
Mereka bergumul sebentar. Akhirnya Raka menyerah.
"Baik. Tidak dicatat. Tapi saya ingat."
Bima menghela napas lega. "Nah, gitu dong."
Raka mengulang dalam hati: Jika perempuan marah =
katakan sedang memikirkan masa depan.***
Seminggu kemudian. Kantor Desa.
Suasana agak kacau. Anak-anak PAUD main di halaman—mereka
kadang kabur ke kantor kalau Laras tidak melihat. Raka sedang menyusun arsip
ketika seorang anak laki-laki kecil berlari masuk, hampir tersandung kabel
printer yang menjuntai di lantai.
Raka refleks menangkap anak itu.
"Wah, hati-hati."
Anak itu cengar-cengir. "Iya, Om."
Laras masuk beberapa detik kemudian, napasnya sedikit
tersengal. "Rafa! Jangan lari-lari!"
Tapi matanya menangkap kabel printer yang melintang di
lantai. Wajahnya berubah.
"Mas Raka, ini kabelnya menjuntai!"
Raka menoleh. "Oh, iya. Nanti saya gulung."
"Nanti?! Tadi Rafa hampir jatuh!"
"Saya akan segera menggulungnya. Sekarang juga."
Raka membungkuk untuk mengambil kabel. Tapi Laras belum
selesai.
"Mas, kalau kerja jangan cuma lihat meja sendiri! Ini
kantor, kadang anak-anak masuk. Harusnya kabel dirapihin dari awal!"
Raka terdiam. Tangannya berhenti di tengah jalan.
Ini marah, pikirnya. Ini
marah. Harus pakai jurus.
Ia teringat nasihat Bima.
Raka berdiri. Menatap Laras dengan wajah serius.
"Saya sedang memikirkan masa depan."
Laras mengerjap. "Apa?"
"Masa depan. Saya sedang memikirkannya."
"Masa depan apa? Kabel ini?"
"Bukan. Masa depan secara umum."
Laras menatapnya tidak percaya. "Mas, saya lagi
ngomongin kabel yang hampir bikin anak jatuh, terus kamu jawab masa
depan?!"
Raka bingung. Ini tidak sesuai skenario. "Tapi kalau
perempuan marah, harusnya..."
Laras memotong. "Harusnya kamu dengerin, bukan jawab
aneh-aneh!"
Raka membeku.
Laras menghela napas panjang. Tangannya memijat kening.
"Mas Raka... kamu ini sebenarnya serius nggak sih sama
apa pun?"
Raka menjawab cepat. "Saya selalu serius."
"ITU MASALAHNYA! Terlalu serius sampai nggak
peka!"
Laras berbalik, meraih tangan Rafa, dan pergi.
Raka berdiri di tengah ruangan, kebingungan. Ardi yang dari
tadi melihat hanya bisa menggeleng.
"Rak... nasihat siapa yang kamu pake tadi?"
"Bima."
Ardi menghela napas. "Bima itu jagoannya ngapak, bukan
jagoannya cewek. Lain kali jangan dengerin dia."
Raka duduk lemas.***
Beberapa hari kemudian.
Laras jarang menyapa. Kalau datang ke kantor, hanya
sebentar dan langsung pergi. Senyumnya tidak lagi lama. Sapanya hanya
seperlunya.
Raka merasa ruang kantor lebih sepi. Meskipun ramai, ada
sesuatu yang hilang.
Ia mencoba mencari waktu yang tepat. Akhirnya, suatu sore,
ia melihat Laras duduk di halaman PAUD setelah anak-anak pulang.
Raka mendekat. Langkahnya pelan. Jantungnya berdebar—ia
sadari itu sekarang, setelah Bima bilang itu indikator suka.
"Laras."
Laras menoleh. Ekspresinya datar.
"Iya?"
Raka berdiri agak kaku. Tangannya di samping, kadang
meremas ujung baju.
"Ada yang perlu saya... aku klarifikasi."
Laras mengangkat alis. "Klarifikasi?"
"Iya. Soal masa depan waktu itu."
Laras hampir tertawa, tapi menahannya. "Oh, itu."
"Itu bukan... saya tidak bermaksud mengabaikan masalah
kabel. Saya cuma... ada yang kasih saran, dan saya ikuti. Ternyata salah."
Laras menatapnya. "Saran siapa?"
"Teman saya. Bima. Dia bilang kalau perempuan marah,
bilang aja sedang mikirin masa depan."
Laras menghela napas panjang. "Mas Raka... cewek itu
bukan teka-teki yang harus dipecahkan pakai rumus."
"Saya tahu sekarang."
"Terus, kamu sebenarnya peduli nggak sih sama apa yang
aku omongin waktu itu? Soal kabel, soal anak-anak?"
Raka menjawab jujur. Suaranya lebih pelan dari biasanya.
"Peduli. Tapi saya... tidak tahu caranya
menunjukkan."
Laras diam.
Raka melanjutkan, "Saya takut salah. Makanya saya
pakai buku catatan, saya catat semua, supaya tidak salah lagi. Tapi tetap saja
salah."
Laras menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Raka yang tidak
pernah ia lihat sebelumnya: kerentanan.
"Mas," katanya pelan. "Caranya itu bukan
dihafal. Bukan dicatat di buku kecil kamu."
"Lalu?"
"Kamu harus merasa. Bukan sekadar
tahu."
Raka mengerutkan dahi. "Merasa?"
"Iya. Kalau aku cerita, kamu dengarkan. Kalau aku
sedih, kamu tanya kenapa. Bukan cari solusi, bukan kasih teori. Cuma...
hadir."
"Hadir?"
"Hadir. Secara utuh. Bukan setengah-setengah sambil
mikirin arsip."
Raka diam. Mencerna.
Laras melanjutkan, "Waktu hujan itu... aku berharap
kamu anterin. Bukan karena aku nggak bisa jalan sendiri, tapi karena aku mau
ditemenin."
Raka membeku.
"Itu bukan soal jarak, Mas. Itu soal kamu mau atau
nggak."
Sunyi.
Angin sore berhembus pelan. Membawa daun kering yang
berputar-putar di tanah.
Raka menunduk. "Saya tidak tahu bahwa itu
penting."
"Itu masalahnya." Laras berbisik. "Kamu
terlalu sibuk tahu, sampai lupa merasa."***
Sejak hari itu, Laras mulai menjaga jarak.
Bukan membenci. Hanya... menjauh. Senyumnya tetap ada, tapi
tidak hangat. Sapanya tetap ada, tapi tidak lama.
Raka kembali ke meja kerjanya dengan dada yang terasa aneh.
Seperti ada yang tertinggal di halaman PAUD, tapi ia tidak tahu cara
mengambilnya kembali.
Ardi memperhatikan dari kejauhan. Suatu siang, ia mendekat.
"Rak, muka kamu kayak arsip kebanjiran."
Raka menatapnya sayu. "Saya mungkin melakukan
kesalahan strategis."
"Masalah Laras?"
Raka mengangguk.
Ardi duduk di kursi sampingnya. "Rak, dengar. Kamu ini
bukan nggak peduli. Kamu cuma nggak ngerti cara nunjukinnya. Tapi itu bisa dipelajari."
"Caranya?"
"Mulai dari hal kecil. Tanya kabar. Tawarin bantuan
sebelum diminta. Kadang, cuma dengerin udah cukup."
Raka membuka buku catatan. Menulis:
Tanya kabar sebelum diminta. Dengarkan. Jangan langsung
kasih solusi.
Ardi melihat dan tersenyum. "Suatu hari nanti, buku
itu mungkin jadi panduan buat orang kayak kamu."
Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap halaman PAUD dari
jendela.***
Malam. Kamar Raka.
Ia duduk di meja belajar. Membuka buku catatannya. Tapi
kali ini tidak menulis. Hanya menatap kosong halaman-halaman yang penuh
coretan.
Segera = hari itu juga.
Notulen = inti saja.
Hampir miskin = jangan diucapkan.
Perempuan marah = jangan pakai jurus Bima.
Hadir = bukan sekadar tahu, tapi merasa.
Ia menghela napas.
"Kenapa perasaan tidak punya prosedur tetap?"
Ia menutup buku. Menatap langit-langit kamar.
Dulu ia pikir, kalau ia cukup pintar, cukup tahu aturan,
cukup hafal semua, ia akan aman. Tidak ada yang bisa menyalahkannya.
Tapi ternyata, hidup tidak bekerja seperti itu.
Manusia tidak bekerja seperti itu.
Di kejauhan, suara motor Laras terdengar melintas di jalan
depan rumahnya. Raka berdiri di jendela. Melihat lampu motor itu menjauh, lalu
menghilang di tikungan.
Ia tidak memanggil.
Tapi untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang tidak
bisa ia catat di buku:
Kehilangan.
Dan tanpa ia sadari, Laras tidak membencinya. Ia hanya
kecewa. Kecewa karena Raka terlalu dingin untuk seseorang yang sebenarnya
hangat.
Bab itu pun berakhir dengan jarak.
Jarak yang bukan karena benci.
Tapi karena salah tafsir.****
Desa Sido Mukti tidak pernah benar-benar sepi.
Pagi hari dipenuhi suara anak-anak sekolah yang berebut
jajan di warung Mbok Minah. Siang hari dipenuhi obrolan para ibu yang belanja
sayur sambil bertukar kabar. Malam hari dipenuhi suara televisi dari
rumah-rumah, kadang bercampur dengan suara orang mengaji dari mushola.
Tapi yang paling ramai—yang paling berisik—adalah
bisik-bisik.
Di desa, kabar tidak berjalan. Ia berlari. Bahkan terbang.
Dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, dari dapur ke dapur, tanpa perlu
internet.
Dan ketika sebuah nama mulai sering disebut dalam nada
setengah tertawa setengah mengejek, maka nama itu perlahan berubah menjadi
cerita. Bukan lagi orang, tapi bahan obrolan.
Beberapa minggu terakhir, nama itu adalah: Raka.
Awalnya hanya candaan kecil di kantor. Tentang notulen yang
menulis batuk. Tentang "hampir miskin". Tentang caranya bicara yang
terlalu formal.
Lalu cerita itu menyebar. Dari Ardi ke Wawan, dari Wawan ke
Pak Darto, dari Pak Darto ke warung Mbok Minah, dari warung ke bu RT dan ke grup arisan.
Semua tampak sepele.
Tapi di desa, yang sepele bisa membesar seperti gema di
ruang kosong.
Dan hari itu, gema itu mulai terdengar terlalu keras.***
Siang itu. Aula Desa Sido Mukti.
Musyawarah pembahasan program pembangunan jalan gang.
Agenda penting karena jalan gang di tiga RT sudah rusak parah. Warga antusias.
Aula penuh—kursi tambahan sampai ke luar pintu.
Kepala Desa H. Suryono duduk di depan, didampingi Ketua BPD
dan perangkat desa. Suasana agak ramai sebelum dimulai.
Raka duduk di sisi kiri, dekat laptop. Ia mendapat tugas
menyampaikan ringkasan hasil rapat internal sebelumnya.
Ardi berbisik sebelum acara dimulai. "Rak, yang kamu
sampaikan itu hasil revisi ya. Jangan yang lama. Yang lama sudah diganti
volumenya."
Raka mengangguk mantap. "Baik, Mas. Saya catat."
Ia membuka map. Ada dua berkas di dalamnya—draft lama dan
draft revisi. Ia membaca sekilas. Yakin mengambil yang kanan.
"Pakai yang ini, kan?" tunjuknya ke Ardi.
Ardi melihat. "Iya, itu. Siap."
Raka percaya diri.
Musyawarah dimulai. Doa, sambutan, lalu masuk agenda utama.
Ketika tiba gilirannya, Kepala Desa berkata, "Saudara
Raka akan menyampaikan hasil rapat internal terkait prioritas
pembangunan."
Raka berdiri. Tangannya sedikit gemetar—biasa, setiap
bicara di depan umum. Tapi ia berusaha tenang.
"Assalamu'alaikum wr wb. Bapak Ibu sekalian,
berdasarkan hasil pembahasan internal perangkat desa, disepakati bahwa
pembangunan jalan gang RT 03 akan ditunda karena keterbatasan anggaran."
Ruangan langsung riuh.
Pak RW Hadi berdiri. "Loh, Pak! Kemarin katanya jadi
prioritas! Warga sudah siap-siap!"
Bu RT ikut menyahut dari baris belakang. "Iya,
Pak! RT 03 itu paling parah jalannya! Anak-anak sekolah susah lewat kalau
hujan!"
Suasana semakin ramai. Beberapa warga berdiri. Ada yang
protes, ada yang bertanya.
Raka bingung. Ia membaca ulang berkas di tangannya.
Keringat dingin mulai muncul di pelipis.
Ketua BPD—yang juga punya berkas—membuka mapnya. Membaca
cepat. Wajahnya berubah.
"Ini draft yang lama, Pak! Yang baru tetap
dilaksanakan, hanya volumenya dikurangi!" teriaknya dari kursi.
Suasana hening sejenak.
Lalu gaduh lagi.
Pak Darto berteriak dari pojok, "Makanya kalau ngomong
jangan asal! Dasar!"
Raka membeku. Tangannya gemetar. Ia menoleh ke Ardi.
Ardi berbisik panik, "Itu draft lama, Rak! Yang kanan
itu yang lama! Maaf, saya lupa bilang yang mana!"
Raka merasa dunia berputar lebih lambat. Semua mata tertuju
padanya. Semua suara seperti berdengung di telinga.
Kepala Desa menghela napas panjang. Beliau berdiri, memberi
isyarat agar tenang.
"Bapak Ibu, tenang... tenang dulu. Ini kesalahan
teknis. Akan kami luruskan."
Tapi kerusuhan sudah terlanjur.
Bu RT berbisik—cukup keras hingga beberapa orang
dengar—"Anak baru itu lagi... kerjaannya cuma salah terus."
Beberapa warga mengangguk. Ada yang tersenyum sinis.
Kata-kata itu seperti mengendap di udara. Raka
mendengarnya. Jelas.
Ia tidak membalas. Tidak bisa. Mulutnya terasa kaku.
Rapat dilanjutkan setelah kesalahan diklarifikasi. Tapi
Raka sudah tidak hadir secara utuh. Tubuhnya di sana, tapi pikirannya kacau.***
Sore. Warung Mbok Minah.
Bu RT duduk bersama tiga ibu-ibu lainnya. Mbok Minah
sedang menggoreng tempe di dapur kecil, tapi telinganya tetap awas.
"Anak muda sekarang itu ya... cuma bisa main laptop.
Kerjaannya salah terus," Bu RT membuka obrolan.
"Yang kemarin bilang Pak Darto hampir miskin itu,
kan?" sahut Bu Tri, istri Pak RW.
"Iya, itu! Baru kemarin salah notulen, sekarang salah
ngomong di rapat. Duh, dasar."
Mbok Minah menyela pelan, "Tapi katanya anaknya rajin,
Bu."
Bu RT mendengus. "Rajin tapi bebal. Mending yang
biasa aja tapi ngerti, daripada pintar tapi nggak paham orang."
Mereka tertawa.
Tanpa mereka sadari, Raka lewat di depan warung. Ia baru
pulang dari kantor, jalan kaki karena motornya dipinjam Bima. Ia mendengar
namanya disebut. Langkahnya melambat.
"...kalau nggak bisa ya jangan sok kerja di kantor
desa..."
Raka berhenti beberapa detik. Di balik tenda warung,
bayang-bayang mereka terlihat jelas. Tawanya terdengar.
Ia tidak masuk. Tidak membalas. Hanya berjalan lagi.
Tapi langkahnya lebih berat.***
Keesokan harinya. Rapat internal perangkat desa.
Suasana tegang. Hanya ada Kepala Desa, Ardi, Wawan,
Sekretaris Desa, dan Raka.
Kepala Desa membuka rapat tanpa basa-basi. Wajahnya serius.
"Kemarin kejadian lagi. Informasi salah disampaikan di
forum umum."
Semua diam. Raka sudah tahu arah pembicaraan.
"Raka," suara Kepala Desa tegas. "Kamu harus
lebih teliti. Ini bukan pertama kali."
Raka menunduk. "Iya, Pak. Saya minta maaf."
"Maaf saja tidak cukup. Ini menyangkut kepercayaan
warga. Kalau kita salah ngomong, mereka bisa salah paham. Bisa ricuh."
"Iya, Pak. Saya mengerti."
Ardi mencoba menengahi. "Pak, mungkin karena
terburu-buru. Rapatnya dadakan."
Kepala Desa menggeleng. "Bukan soal terburu-buru,
Ardi. Ini soal tanggung jawab. Kamu harusnya cek ulang sebelum bicara di depan
umum."
Raka mengangguk. "Saya akan lebih hati-hati,
Pak."
Tapi Wawan—yang sejak tadi diam—menyelutuk pelan.
"Pak, mungkin Mas Raka perlu pendampingan. Soalnya dari awal memang sering
keliru."
Walau pelan, kata-kata itu menusuk. Raka menatap Wawan.
Wawan tidak melihat ke arahnya.
Kepala Desa melanjutkan, "Raka, kamu ini pintar. Nilai
ujian dinas kamu bagus. Tapi kalau tidak hati-hati, percuma. Kerja di desa itu
bukan cuma soal angka dan arsip. Tapi soal orang. Soal perasaan."
Kata "percuma" terasa seperti tamparan.
Raka menggenggam ujung mejanya. Menahan sesuatu.
Tapi ketika Bu RT—yang hari ini hadir sebagai
perwakilan RT—kembali berkomentar, "Pak Kades, mungkin stafnya perlu
dilatih lagi. Soalnya di masyarakat sudah jadi bahan omongan. Nama kantor desa
jadi ikut jelek."
Sesuatu dalam diri Raka retak.
Ia berdiri tiba-tiba.
Suasana hening.
Suara kursinya bergeser keras.
"Saya memang tidak tahu!"
Semua terdiam. Wajah-wajah menoleh.
Raka menatap satu per satu. Matanya berkaca-kaca, tapi
tidak menangis. Suaranya bergetar, tapi tidak patah.
"Saya memang sering salah. Saya tidak peka. Saya tidak
cepat seperti yang lain. Saya tidak bisa bercanda dengan lancar. Saya tidak
tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara."
Tak ada yang bergerak.
"Tapi bukan berarti saya tidak mau belajar!"
Nafasnya naik turun.
"Setiap kali saya salah, saya catat. Saya perbaiki.
Saya pulang malam karena ingin memastikan arsip benar. Saya baca ulang berkas
sampai tiga kali. Saya tidak pernah berniat merugikan siapa pun."
Ia menatap Bu RT. "Kalau saya kurang, katakan ke
saya. Jangan ke warung. Jangan ke arisan. Langsung ke saya."
Ruangan membeku.
Kepala Desa terdiam. Beliau tidak menyangka.
Raka sadar ia baru saja meninggikan suara di forum resmi.
Di depan atasannya. Di depan warga.
Ia menunduk. Suaranya melemah.
"Maaf... kalau saya tidak sesuai harapan."
Lalu ia duduk kembali.
Hening. Panjang.
Akhirnya Kepala Desa berbicara. Nadanya lebih pelan. Lebih
berat.
"Tidak ada yang bilang kamu tidak boleh belajar,
Rak."
Raka tidak mengangkat wajah.
"Tapi belajar itu juga harus sabar menghadapi
kritik."
Raka mengangguk pelan. Tidak menjawab.***
Rapat selesai.
Orang-orang keluar perlahan. Ardi menepuk bahu Raka.
"Berani juga kamu."
Raka tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata.
"Saya tidak bermaksud kurang ajar."
"Aku tahu. Kamu cuma capek."
Raka menghela napas. "Mungkin."
Di luar, Laras berdiri di dekat tangga. Ia tidak sengaja
lewat dan mendengar suara keras dari dalam. Sekarang ia melihat Raka keluar
dengan wajah pucat.
"Masa Bodoh... eh, Mas Raka."
Raka menoleh. Menatapnya sekilas.
Laras ingin berkata sesuatu. Tapi Raka sudah berjalan
melewatinya. Tidak kasar, tapi juga tidak hangat.
Laras menatap punggungnya yang menjauh. Ada perasaan aneh
di dadanya—bukan cuma iba, tapi juga kagum? Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, Raka yang tadi berbeda. Bukan Raka yang kaku
dan canggung. Tapi Raka yang... berani.***
Malam. Teras rumah Raka.
Lampu kuning menggantung redup di teras. Seekor kucing
kampung tidur di kursi bambu. Jangkrik bernyanyi dari balik semak.
Raka duduk di tangga teras. Ibunya duduk di samping,
membawa dua gelas teh hangat.
"Ibu dengar kabar," kata ibunya pelan. Tidak
bertanya, hanya memberitahu.
Raka terdiam beberapa saat.
"Bu... apa aku memang tidak cocok kerja di kantor
desa?"
Ibunya menoleh. Wajahnya teduh meskipun sudah tua. Keriput
di sudut mata semakin dalam kalau tersenyum.
"Kenapa bilang begitu?"
"Orang-orang bilang aku sering salah."
"Memang kamu sering salah?"
Raka mengangguk pelan.
"Tapi aku tidak sengaja, Bu."
Ibunya tersenyum lembut. "Tidak sengaja itu beda
dengan tidak peduli."
"Aku peduli, Bu."
"Ibu tahu."
Sunyi beberapa detik. Raka menyeruput tehnya. Hangat.
Seperti pelukan.
"Bu... kenapa jadi orang itu susah sekali?"
Ibunya tertawa kecil. Tawanya renyah, seperti kerupuk
digigit.
"Karena orang itu bukan angka. Tidak bisa dihitung
pakai rumus."
"Aku merasa dipermalukan tadi, Bu."
Ibunya memegang tangannya. Tangannya kasar karena kerja,
tapi hangat.
"Nak... orang pintar itu bukan yang tahu
segalanya."
Raka mengangkat wajah.
"...tapi yang mau belajar dari tidak tahunya."
Angin malam berhembus pelan. Membawa bau tanah dari kebun
belakang.
"Aku mau belajar, Bu."
"Kalau begitu jangan berhenti hanya karena
omongan."
Raka menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya hari itu,
dadanya terasa lebih ringan.
"Ibu... maafin aku kalau sering bikin susah."
Ibunya menepuk kepalanya pelan. "Kamu tidak pernah
bikin susah. Kamu cuma... punya jalannya sendiri. Nggak apa-apa. Yang penting
kamu baik."
Raka menunduk, menyembunyikan mata yang mulai basah.***
Malam itu, sebelum masuk kamar, ia berkata pelan pada
dirinya sendiri:
"Aku memang tidak tahu banyak hal... tapi aku tidak
akan berhenti di sini."
Di kejauhan, suara desa tetap seperti biasa. Suara orang
mengaji dari mushola. Suara anjing menggonggong kadang-kadang. Suara televisi
dari rumah tetangga.
Tapi dalam diri Raka, sesuatu telah berubah.
Ia tidak lagi hanya merasa malu.
Ia mulai merasa ingin membuktikan.****
Tidak semua perubahan datang dengan suara keras.
Sebagian datang pelan—seperti orang yang diam-diam
memperbaiki diri tanpa mengumumkannya kepada siapa pun. Seperti air yang
meresap ke tanah, tidak terlihat tapi terasa hasilnya.
Sejak malam ia berbicara dengan ibunya, Raka tidak lagi
merasa sekadar tersinggung. Ia merasa tertantang.
Ia sadar satu hal:
Masalahnya bukan karena ia bodoh.
Masalahnya karena ia terlalu takut terlihat tidak tahu.
Dan ketakutan itulah yang selama ini membuatnya kaku.
Membuatnya diam. Membuatnya selalu membaca situasi secara harfiah karena itu
yang paling aman.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka membuat
keputusan yang sederhana tapi berat:
Ia akan belajar—bukan hanya tentang administrasi, tapi
tentang manusia.
Tentang cara mereka berpikir.
Tentang apa yang mereka rasakan.
Tentang kode-kode yang selama ini tidak pernah ia pahami.***
Malam-malam Raka berubah total.
Dulu, setelah Magrib ia biasanya membaca buku peraturan
atau mengulang arsip. Sekarang, ia membuka laptop—barang bekas dari ibunya yang
sudah mulai lemot—dan mencari di internet.
"Cara komunikasi efektif"
"Bagaimana membaca bahasa tubuh"
"Kenapa orang tersinggung padahal tidak dimaksudkan"
"Cara agar tidak terlalu kaku saat bicara"
"Tips membaca perasaan orang lain"
Ia membaca artikel demi artikel. Menonton video YouTube
tentang psikologi komunikasi. Bahkan bergabung dengan forum online
tentang social skills—sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan
sebelumnya.
Suatu malam, ia menemukan buku digital berjudul "Seni
Berkomunikasi Tanpa Menyakiti". Harganya lima puluh ribu. Ia
pikir-pikir sebentar, lalu mentransfer dari tabungannya yang pas-pasan.
Ibunya melihat ia membaca serius di kamar.
"Kamu belajar apa, Nak?"
Raka mengangkat buku—masih dalam bentuk print-out.
"Belajar supaya tidak terlalu kaku, Bu."
Ibunya tersenyum. "Bagus. Tapi jangan sampai jadi
orang lain."
Raka mengerutkan dahi. "Maksud Ibu?"
"Belajar itu baik. Tapi kamu tetap kamu. Jangan
hilang."
Raka mengangguk pelan. "Aku cuma ingin jadi versi yang
lebih baik, Bu. Bukan orang lain."
Ibunya menepuk bahunya. "Nah, itu baru benar."***
Di buku catatan kecilnya, kini ada bagian baru: "Catatan
Manusia".
Isinya campur aduk:
·
Jika orang bilang
"nanti saja", tanyakan kapan pastinya. Jangan diam.
·
Kalau ada yang marah,
jangan langsung defensif. Dengarkan dulu.
·
Bahasa tubuh: lengan
bersedekap bisa berarti tertutup. Tapi kadang cuma kedinginan.
·
Senyum tidak selalu
berarti setuju. Bisa juga sopan.
·
Kalau tidak tahu harus
berkata apa, cukup bilang: "Aku dengerin."
Raka membaca ulang catatannya setiap malam. Menghafal.
Mencoba memahami.
Tapi ia tahu, menghafal saja tidak cukup. Ia harus praktik.***
Pagi. Kantor Desa.
Ardi masuk dengan tergesa-gesa. Ia baru dari kecamatan, membawa
setumpuk berkas.
"Rak, ini data perubahan anggaran. Tolong siapkan
surat pengantar untuk BPD. Format biasa aja."
Raka menerima berkas itu.
Dulu, ia pasti langsung mengerjakan tanpa bertanya. Itu
yang diajarkan ibunya: kalau disuruh, kerjakan. Jangan banyak tanya.
Tapi sekarang...
"Mas Ardi, sebentar. Yang dipakai format lama atau
yang revisi kemarin? Soalnya ada perubahan kop surat."
Ardi, yang sudah setengah jalan ke ruangannya, berhenti.
Menoleh.
"Kamu nanya?"
"Iya. Biar tidak salah."
Ardi tersenyum kecil. "Yang revisi. Kop surat
baru."
"Baik. Terima kasih."
Ardi menggeleng-geleng, masih tersenyum. "Rak, kamu
belajar dari mana ini?"
"Internet, Mas. Dan buku."
"Buku apa?"
"Seni Berkomunikasi Tanpa Menyakiti."
Ardi tertawa. "Wah, serius amat. Tapi baguslah."
Wawan yang baru datang dan mendengar percakapan itu
berkomentar, "Wah, sekarang banyak tanya ya. Nggak kayak dulu."
Raka menjawab tenang. Nada suaranya tidak defensif. Tidak
marah. Hanya datar.
"Iya. Karena saya tidak mau banyak salah."
Wawan diam. Ada sesuatu di jawaban itu yang membuatnya
tidak bisa menimpali.***
Dua minggu kemudian. Aula Kecamatan Sido Makmur.
Pelatihan administrasi dan sistem pelaporan baru.
Pesertanya staf desa se-kecamatan. Raka duduk paling depan—bukan karena sok
rajin, tapi karena itu satu-satunya kursi yang tersisa saat ia datang terlalu
pagi.
Pematerinya seorang pria muda dari Dinas Pemberdayaan
Masyarakat Desa. Materinya padat: format baru laporan keuangan, sistem
penomoran surat, dan teknis pengarsipan digital.
Di tengah sesi, pemateri bertanya, "Ada yang belum
jelas? Silakan tanya."
Semua diam. Beberapa sibuk dengan ponsel. Beberapa
mengantuk.
Raka mengangkat tangan.
Pemateri menunjuk. "Silakan, Mas."
"Untuk format laporan triwulan, apakah penomoran
mengikuti tahun anggaran atau tahun berjalan? Karena di modul hanya disebut
'penomoran berkelanjutan'."
Pemateri tersenyum. "Pertanyaan bagus. Penomoran
mengikuti tahun anggaran, tapi dengan sistem berkelanjutan per periode. Jadi
setiap tahun baru, nomor reset, tapi tetap berurutan dalam satu tahun."
Raka mencatat cepat.
Setelah sesi, beberapa peserta mendekati Raka.
"Mas, tadi pertanyaan kamu bagus. Saya juga bingung
soal itu."
Raka mengangguk sopan. "Terima kasih. Saya juga baru
belajar."
Ia tidak lagi malu bertanya.
Karena kini ia sadar:
Tidak tahu bukan dosa.
Tidak bertanya yang berbahaya.***
Siang. Kantor Desa.
Laras datang lagi. Ini pertama kalinya dalam beberapa
minggu ia muncul dengan wajah tidak terlalu cemberut.
"Mas, ini laporan kegiatan bulanan PAUD."
Nada suaranya biasa. Tidak hangat, tapi juga tidak dingin.
Raka menerima map itu. Tapi ia tidak langsung membuka. Ia
menatap Laras sebentar—mencoba membaca, seperti yang diajarkan buku-bukunya.
Ekspresi: sedikit lesu. Mata: agak sayu. Bahu: sedikit
turun.
Raka mengambil risiko.
"Laras, capek ya hari ini?"
Laras sedikit terkejut. "Kelihatan?"
"Sedikit."
Laras tersenyum tipis. "Iya. Anak-anak lagi susah
diatur. Dua orang nangis karena berebut crayon. Satu lagi kena demam, ibunya
baru jemput."
Raka menahan keinginan untuk memberi solusi. Biasanya, ia
akan bilang: "Sebaiknya crayon-nya dihitung dulu biar rata" atau
"Kalau ada anak sakit, harusnya segera dipisah".
Tapi kali ini, ia hanya berkata, "Pasti melelahkan."
Laras menatapnya beberapa detik. Matanya sedikit
berubah—lebih hangat.
"Iya. Tapi ya namanya kerja."
"Minum dulu. Air minum di belakang masih ada."
Laras tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar. "Tumben
kamu nggak kasih teori."
Raka tersenyum canggung. "Saya sedang belajar
mendengar."
Laras tertawa pelan. Tawa itu terdengar lebih hangat dari
sebelumnya.***
Namun transformasi tidak selalu mulus.
Suatu hari, Raka membaca artikel tentang pentingnya humor
dalam komunikasi. Katanya, humor bisa mencairkan suasana dan membuat orang
lebih nyaman.
Raka mencatat: Humor = penting. Harus dicoba.
Hari pertama percobaan:
Printer kantor macet. Lagi. Wawan kesal karena proposal
yang mau dicetak nggak keluar-keluar.
"Ah, printer setan!" umpat Wawan pelan.
Raka melihat kesempatan. Ia berkata dengan wajah serius:
"Printer ini mungkin sedang mencari jati diri."
Semua diam.
Wawan menoleh. "Hah?"
Raka menjelaskan, "Karena ia tidak mau mencetak.
Mungkin bingung mau jadi printer apa."
Wawan mengerutkan dahi. Ardi yang mendengar dari meja lain
menahan tawa—tapi bukan tawa lucu, lebih ke tawa iba.
"Rak... itu bukan humor. Itu pidato."
Raka mengangguk pelan. "Baik. Saya evaluasi."
Di buku catatannya, ia menulis:
Humor jangan pakai analogi filosofis. Sederhana saja.***
Percobaan kedua. Seminggu kemudian.
Ardi sedang mengetik laporan. Tiba-tiba ia berseru,
"Waduh, nolnya kebanyakan! Ini jadi 100 juta, padahal harusnya 10
juta."
Raka yang mendengar langsung merespons. Kali ini ia tidak
berpikir panjang.
"Untung bukan umur kita yang kebanyakan nol."
Ardi tertegun. Lalu tertawa spontan. "HAHAHA! Rak, itu
baru lucu!"
Raka tersenyum kecil. Ada rasa bangga yang aneh di dadanya.
"Nah, gitu dong! Nggak usah mikir berat-berat kalau
mau bercanda."
Raka mengangguk. Pesan dicatat: Humor sederhana
lebih efektif.***
Suatu sore. Kantor Desa mendadak tegang.
Wawan masuk dengan wajah pucat. Di tangannya, map merah—map
khusus laporan keuangan.
"Pak! Pak Kades!" suaranya hampir berteriak.
Kepala Desa keluar dari ruangan. "Ada apa?"
Wawan membuka map dengan tangan gemetar. "Ini... data
laporan keuangan semester kemarin beda dengan yang kita kirim ke
kecamatan!"
Ardi yang sedang menyiapkan teh langsung meletakkan gelas.
"Beda? Beda gimana?"
Wawan menunjukkan dua lembar kertas. "Ini yang kita
arsip. Ini yang dikirim. Angka belanja modal berbeda! Dua puluh juta!"
Ruangan sunyi.
Dua puluh juta. Bukan angka kecil.
Kepala Desa memijat pelipis. Beliau duduk lemas di kursi
tamu. "Bagaimana bisa? Sudah diperiksa berkali-kali."
Ardi mengambil kedua kertas itu. Membandingkan. Wajahnya
ikut pucat.
"Ini... ini selisih. Kalau sampai diaudit, kita bisa
kena tegur. Bisa lebih dari tegur."
Suasana mencekam. Wawan duduk, memegang kepala. Ardi
mondar-mandir. Kepala Desa diam seribu bahasa.
Raka yang dari tadi memperhatikan dari pojok, akhirnya
angkat bicara.
"Pak... boleh saya lihat?"
Wawan menyerahkan map tanpa semangat. "Silakan. Saya
sudah nyerah."
Raka membuka laptop. Membuka file laporan keuangan. Membandingkan
dengan data pelatihan yang baru ia ikuti.
Beberapa menit ia diam. Meneliti satu per satu kode
rekening.
Lima menit. Sepuluh menit.
Ardi mulai gelisah. "Rak, gimana?"
Raka mengangkat wajah. "Pak, ini bukan selisih
belanja."
Semua menoleh.
"Ini salah input kode rekening."
Kepala Desa mendekat. "Maksudmu?"
Raka menunjukkan layar laptop. "Lihat, Pak. Yang satu
pakai kode 5.2.3—itu belanja modal pengadaan. Yang satu pakai kode 5.3.2—itu
belanja modal pemeliharaan. Angkanya sama, tapi kodenya beda. Jadi di sistem,
dua puluh juta itu terbaca sebagai pos berbeda."
Ardi mendekat, membaca. Matanya membelalak.
"IYA! Itu dia! Berarti ini bukan salah hitung, tapi
salah kode?"
Raka mengangguk. "Iya, Mas. Tinggal koreksi kode dan
kirim klarifikasi sebelum batas waktu. Mungkin bisa diurus besok pagi."
Wawan yang tadinya pucat, perlahan bernapas lega.
"Berarti... selamat?"
Raka tersenyum tipis. "Selamat."
Kepala Desa menepuk bahu Raka. Keras. Tapi hangat.
"Bagus, Rak."
Hanya dua kata. Tapi bagi Raka, itu lebih berat dari semua
ejekan yang pernah ia dengar.
Ardi tersenyum lebar. "Wah, si Raka jadi
pahlawan."
Raka menggeleng. "Saya cuma membandingkan data."
"Tapi kamu yang sadar duluan."
Raka tidak menjawab. Tapi di dalam hati, ada rasa yang
hangat. Rasa yang tidak bisa ia catat di buku.
Rasa diakui.***
Sore itu. Laras datang lagi.
Ia mendengar kabar dari Ardi tentang kejadian tadi. Tentu
saja—di kantor kecil, berita cepat menyebar.
"Mas Raka katanya yang nemuin kesalahan laporan?"
Raka menggeleng pelan. "Bukan nemuin. Cuma lihat yang
salah."
"Tapi kamu yang sadar duluan, kan?"
Raka terdiam sebentar. Lalu berkata pelan,
"Saya memang banyak tidak tahunya, Laras."
Laras menatapnya.
"...tapi sekarang saya tidak malu mengakuinya."
Nada suaranya bukan defensif. Bukan sedih. Tapi mantap.
Laras tersenyum pelan. "Itu yang bikin kamu beda
sekarang."
Raka mengangkat alis. "Berbeda bagaimana?"
"Kamu lebih... hangat. Lebih tenang. Kayak nggak usah
berusaha keras jadi orang lain."
Raka menunduk sedikit. Malu. Tapi canggungnya sudah
berkurang.
"Saya masih belajar."
"Terus belajar, ya."
Raka mengangguk.
"Laras..."
"Iya?"
"Kalau saya salah lagi?"
Laras menjawab lembut. Lebih lembut dari biasanya.
"Ya diperbaiki. Bukan dijauhi."
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang dulu pernah hilang.
Dan kini kembali pelan-pelan.***
Malam. Teras rumah Raka.
Raka duduk sendiri. Memandang langit yang bertabur bintang.
Ia ingat malam-malam dulu, ketika ia menatap cermin dengan
putus asa. Ketika ia bertanya, "Apa yang tidak kumengerti?"
Sekarang, pertanyaan itu berubah.
Menjadi: "Apa yang bisa aku pelajari hari ini?"
Ia sadar, perubahan bukan berarti menjadi orang lain. Bukan
berarti menghapus semua kebiasaan lamanya. Ia masih suka mencatat. Masih suka
analisis. Masih kadang kaku.
Tapi kini, ia tidak lagi kaku karena takut.
Ia kaku karena sedang belajar.
Dan itu tidak apa-apa.
Di kejauhan, suara desa tidak lagi terdengar seperti bisik
ejekan.
Ia terdengar seperti ruang belajar.****
Perubahan yang paling terasa bukanlah ketika orang lain
memuji.
Bukan ketika nama kita disebut dengan hormat.
Bukan ketika kita menerima penghargaan.
Perubahan yang paling terasa adalah ketika kita berdiri di
tempat yang dulu membuat kita gemetar—dan kali ini, kaki kita tidak lagi goyah.
Beberapa bulan setelah insiden kesalahan laporan itu, Desa
Sido Mukti bersiap mengadakan Musyawarah Desa Besar Tahunan. Agenda penting:
laporan pertanggungjawaban, realisasi anggaran, dan rencana pembangunan tahun
berikutnya.
Biasanya, bagian laporan administrasi dibacakan oleh Ardi.
Ia paling paham, paling lancar bicara.
Namun kali ini, Kepala Desa membuat keputusan yang tidak
disangka banyak orang.
"Raka yang bawakan laporan administrasi."
Waktu itu di ruang rapat internal. Wawan melirik cepat ke
arah Ardi. Ardi hanya tersenyum tipis—ia sudah tahu dari kemarin.
Raka sendiri terdiam beberapa detik. Dadanya berdebar. Tapi
bukan debar panik seperti dulu. Ini debar yang berbeda.
"Siap, Pak," jawabnya. Tenang.
Tidak ada getar berlebihan di suaranya.
Karena kali ini, ia bukan berdiri untuk membuktikan bahwa
ia tidak bodoh.
Ia berdiri karena ia siap.***
Hari-H. Aula Desa Sido Mukti penuh sesak.
Kursi tambahan sampai ke luar pintu. Warga dari berbagai RT
datang lebih awal. Pak RW Hadi duduk di baris depan dengan buku catatan. Bu RT di sebelahnya—ia tidak mau ketinggalan informasi penting. Pak Darto duduk
di pojok dengan tangan bersedekap, siap protes kalau ada yang tidak beres.
Suasana ramai seperti biasanya. Ibu-ibu mengobrol.
Bapak-bapak diskusi kecil. Anak-anak berlarian di luar aula.
Pukul 09.00, Ketua BPD membuka acara. Doa. Sambutan.
Laporan demi laporan.
Ketika tiba pada agenda laporan administrasi, Kepala Desa
memanggil,
"Saudara Raka Pratama, dipersilakan."
Raka berdiri.
Langkahnya mantap ke depan. Ia membawa satu berkas
tebal—bukan dua. Semua sudah diperiksa ulang, tiga kali.
Ia menarik napas. Menatap hadirin.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Jawaban salam bergema dari seluruh ruangan.
Raka memulai. Nada suaranya jelas. Tidak terlalu cepat,
tidak terlalu lambat. Tidak terlalu formal hingga kaku, tapi tetap resmi.
"Bapak Ibu sekalian, laporan administrasi tahun
berjalan menunjukkan bahwa realisasi anggaran desa mencapai sembilan puluh
delapan koma empat persen. Sisa satu koma enam persen akan dialokasikan pada
penyesuaian tahap akhir, sesuai kesepakatan dalam musyawarah sebelumnya."
Suasana tenang. Warga mendengarkan.
Ketika sampai pada bagian perubahan volume pembangunan
jalan gang RT 03—yang dulu jadi bahan keributan—Raka menjelaskan dengan
hati-hati.
"Untuk jalan gang RT 03, volume awal direncanakan 500
meter. Karena penyesuaian anggaran, volumenya dikurangi menjadi 450 meter, tapi
dengan spesifikasi yang lebih baik: ketebalan beton ditambah. Jadi meskipun
lebih pendek, kualitasnya lebih awet. Ini sudah disepakati dalam rapat internal
dan BPD."
Pak RW Hadi mengangguk. Kali ini tidak protes.
Bu RT bertanya, "Kalau laporan bantuan sosial
bagaimana? Sudah sesuai data terbaru?"
Dulu, pertanyaan seperti itu bisa membuat Raka gugup. Tapi
kali ini, ia tersenyum tipis.
"Sudah, Bu. Data diperbarui bulan lalu, berdasarkan
hasil verifikasi lapangan. Jika ada warga yang merasa berhak tapi belum masuk,
bisa mengajukan keberatan disertai bukti pendukung. Masa sanggah dibuka sampai
tanggal 20."
Nada suaranya lurus. Terbuka. Tidak defensif.
Bu RT mengangguk. Tidak ada sindiran.
Raka melanjutkan hingga selesai. Menutup dengan salam.
Ruangan hening beberapa detik.
Lalu tepuk tangan terdengar. Tidak gemuruh, tapi cukup
lama. Cukup tulus.
Raka kembali ke tempat duduknya. Kaki terasa ringan. Dada
terasa lapang.
Kepala Desa menepuk bahunya saat ia lewat. "Bagus,
Rak."
Hanya satu kata. Tapi kali ini, kata itu terasa seperti
pengakuan penuh.***
Usai musyawarah, warga keluar perlahan. Beberapa mendekati
Raka.
Pak Darto—yang dulu marah karena "hampir
miskin"—berdiri di depannya dengan canggung.
"Penjelasannya jelas tadi, Mas."
Raka tersenyum sopan. "Terima kasih, Pak."
Pak Darto mengangguk. Lalu pergi. Tidak banyak kata. Tapi
itu cukup.
Bu RT juga mendekat. Wajahnya sedikit merah—mungkin
malu, mungkin tidak enak.
"Kamu sekarang beda ya."
Raka menjawab ringan, "Saya masih belajar, Bu."
Bu RT tersenyum kecil. Dipaksakan, tapi tulus.
"Iya. Baguslah."
Lalu ia pergi.
Ardi menghampiri Raka. Menepuk pundaknya keras—sampai Raka
sedikit oleng.
"Gimana rasanya?"
Raka tersenyum. "Tidak seseram yang saya
bayangkan."
"Karena kamu sudah siap."
Raka mengangguk.
Ya. Ia sudah siap.***
Sore itu. Matahari turun pelan di ujung kebun karet.
Anak-anak PAUD sudah pulang. Halaman sepi. Laras sedang
membereskan mainan—memasukkan balok-balok warna-warni ke dalam keranjang.
Raka berdiri di pagar kecil. Tidak terlalu dekat, tidak
terlalu jauh. Ia menunggu sampai Laras selesai.
Laras menoleh. Menyadari kehadirannya.
"Mas Raka."
Senyumnya hangat. Tidak dibuat-buat.
Raka membuka pagar dan masuk. Langkahnya mantap.
"Laras."
"Aku dengar tadi. Lancar sekali katanya."
Raka tersenyum canggung—tapi canggung yang berbeda.
Canggung yang manis.
"Terima kasih."
Sunyi sejenak. Angin sore menggerakkan rambut Laras yang
lepas dari ikatnya.
Raka menarik napas.
"Dulu saya pikir diam itu aman. Ternyata salah."
Laras mendengarkan. Matanya fokus padanya.
"Andai kutahu sejak dulu bahwa belajar itu bukan
memalukan."
Laras tersenyum pelan.
"Sekarang kamu sudah tahu."
Raka mengangguk.
"Iya."
Ia menatap Laras lebih lama dari biasanya. Lebih berani.
"Kalau begitu... boleh saya belajar tentang kamu lebih
serius?"
Laras tertawa kecil. Tawanya ringan.
"Tentang saya?"
"Iya. Supaya tidak salah tafsir lagi."
Laras mendekat satu langkah.
"Kali ini jangan terlalu pakai teori."
Raka tersenyum. "Saya akan praktik langsung."
Laras mengangkat alis. "Praktik bagaimana?"
Raka terdiam sesaat. Mencari kata yang tepat. Bukan dari
buku, tapi dari hati.
"Aku suka kamu, Laras."
Laras membeku sesaat.
Raka melanjutkan, pelan tapi jelas.
"Dan aku ingin mencoba... kalau kamu bersedia."
Tidak ada kalimat formal. Tidak ada istilah administrasi.
Tidak ada buku catatan.
Hanya sederhana. Jujur.
Laras menatapnya lama. Matanya mencari sesuatu di wajah
Raka. Mungkin mencari kepalsuan. Tapi tidak ada.
"Kamu tahu kenapa dulu aku kecewa?"
"Karena saya terlalu dingin."
"Dan sekarang?"
Raka berpikir sejenak. Lalu menjawab,
"Sekarang saya tahu bahwa peduli itu bukan disimpan
sendiri."
Laras tersenyum. Senyum yang paling hangat yang pernah Raka
lihat.
"Baiklah, Mas Raka. Kita coba."
Raka mengedip. "Coba?"
"Iya. Belajar bareng."
Raka tersenyum lebih lebar dari biasanya. Senyum yang
jarang muncul.
"Siap."***
Hari-hari berikutnya berubah pelan.
Raka tidak lagi berdiri kikuk saat Laras datang. Ia
sesekali mengantar pulang tanpa perlu analisis jarak. Ia masih bertanya jika
tidak tahu—tapi kini pertanyaannya lebih alami.
"Laras, kamu suka makan di mana?"
Bukan "Apa preferensi kuliner Anda?"
Laras selalu tertawa. Tapi tawanya hangat.
Di kantor, suasana berbeda.
Suatu hari Wawan bertanya, "Rak, yang ini pakai format
mana ya? Aku lupa."
Raka menatap berkas itu. "Ini pakai format baru, Mas.
Tapi kalau ragu, kita cek dulu sama-sama di pedoman."
Wawan mengangguk. "Oke."
Bukan lagi bahan ejekan. Bukan lagi bahan gosip.
Wawan bahkan pernah bilang ke Ardi, "Si Raka sekarang
enak diajak kerja sama."
Ardi tersenyum. "Dia cuma butuh waktu."
Desa tidak berubah. Orang-orangnya masih sama. Gosip masih
ada. Tapi cara Raka berdiri di dalamnya yang berubah.
Dan itu cukup.***
Malam. Teras rumah Raka.
Raka duduk sendiri. Memandang langit yang cerah. Bulu
bintang bertaburan.
Ia mengingat hari ketika ia berdiri gemetar di depan forum.
Ketika Bu RT Minah berbisik, "Kerjaannya cuma salah terus." Ketika ia
pulang dan menangis di depan cermin.
Ia mengingat kalimat yang dulu sering ia ucapkan dalam
hati.
"Andai kutahu..."
Kini ia tersenyum kecil.
Kalimat itu tidak lagi terasa seperti penyesalan.
Ia terasa seperti awal.
Karena dari ketidaktahuan itulah ia belajar.
Dari kesalahan itulah ia tumbuh.
Dari rasa malu itulah ia menemukan harga diri.
Dan dari keberanian untuk belajar, ia menemukan cinta.
Ia tidak lagi berkata "Andai Kutahu" dengan
sesal.
Kini ia mengucapkannya dengan syukur.***
Dari kejauhan, suara motor terdengar mendekat.
Laras berhenti di depan rumahnya. Melambai.
"Mas! Besok ikut aku ke pasar, yuk! Mau beli
perlengkapan PAUD, butuh teman angkat."
Raka tersenyum. "Jam berapa?"
"Jam enam."
"Siap."
Laras tertawa. "Jangan 'siap' dong. Bilang 'iya,
sayang'."
Raka mengerutkan dahi. "Tapi kita belum—"
"Bercanda, Mas."
"Oh."
Tapi Raka tersenyum. Laras juga.
Dan malam itu terasa lebih hangat dari biasanya.****
Pagi di Kantor Desa Sido Mukti selalu punya irama yang
sama.
Suara sepeda motor warga yang datang silih berganti. Bunyi
mesin ketik tua yang kadang masih dipakai—meskipun sudah ada komputer, beberapa
staf lebih suka ngetik manual. Aroma kopi hitam dari ruang Kepala Desa. Dan
tumpukan berkas yang, entah bagaimana, selalu tampak lebih banyak dari hari
sebelumnya.
Namun pagi itu ada satu hal yang terasa berbeda.
Di sudut meja administrasi, seorang pemuda berdiri kaku
sambil memegang map cokelat terlalu erat, seolah map itu bisa kabur kalau ia
lengah. Wajahnya tegang. Tangannya sedikit berkeringat. Tatapannya bergerak
cepat antara meja, pintu, dan lembaran formulir yang belum ia pahami
sepenuhnya.
Namanya Deni. Staf baru. Usia 21 tahun. Baru lulus SMK,
langsung ditugaskan di bagian administrasi.
Raka memperhatikannya dari kursinya.
Sekilas, ia seperti melihat dirinya sendiri beberapa bulan
lalu.
Gugup.
Takut salah.
Takut dinilai.
Takut ditertawakan.
Raka tersenyum kecil. Lalu bangkit dan mendekat.
"Sudah sarapan?" tanyanya ringan.
Deni tersentak. "Eh... sudah, Mas."
"Kenapa berdiri terus? Kursinya nggak gigit,
kok."
Deni tersenyum tipis. Tapi kegugupannya belum hilang.
"Mas... boleh tanya sesuatu?"
"Tentu."
Deni menelan ludah. "Saya takut salah."
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Raka, kalimat itu seperti
gema dari masa lalu.
Ia tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi dan duduk
berhadapan dengan Deni.
"Kamu tahu," katanya pelan, "dulu saya juga
sering salah."
Deni tampak tidak percaya. "Mas? Tapi sekarang semua
orang bilang Mas Raka paling rapi urusannya."
Raka tertawa kecil. "Rapi itu hasil dari berantakan
yang sering."
Deni mengerutkan dahi.
Raka melanjutkan, suaranya hangat tapi tegas.
"Tidak tahu itu bukan aib. Yang aib itu kalau tidak
mau belajar."
Deni diam.
"Tapi kalau saya bikin kesalahan besar gimana,
Mas?"
"Kesalahan sebesar apa?"
"Ya... salah input data. Salah ngomong ke warga. Salah
bikin laporan."
Raka tersenyum. "Semua itu bisa diperbaiki. Kecuali
kalau kamu kabur."
Deni tertawa kecil. Mulai sedikit rileks.
"Kalau salah, kita perbaiki. Kalau ditegur, kita
dengarkan. Kalau belum paham, kita tanya. Yang bikin orang marah bukan karena
kita tidak tahu... tapi karena kita pura-pura tahu."
Deni mengangguk pelan.
Raka melanjutkan, "Dulu saya pikir diam itu aman.
Ternyata salah. Diam cuma bikin orang makin salah paham."
"Mas pernah dimarahin?"
"Sering."
"Pernah malu?"
"Sering juga."
"Pernah pengen berhenti?"
Raka terdiam sejenak.
"Pernah."
Ruangan hening beberapa detik. Hanya terdengar kipas angin
tua berputar pelan.
"Tapi saya sadar," lanjut Raka, "kalau saya
berhenti waktu itu, saya nggak akan tahu rasanya berdiri percaya diri seperti
sekarang."
Deni menatapnya dengan mata yang mulai berbinar.
"Mas... kalau nanti saya salah, Mas bantu, ya?"
Raka tersenyum tulus.
"Kita belajar bareng."***
Siang. Kantor agak lengang.
Laras datang mengantar berkas PAUD. Ia melihat Raka sedang
menjelaskan format laporan kepada Deni dengan sabar.
Nada suaranya tenang. Ekspresinya lembut. Tidak ada
kecanggungan berlebihan.
Laras mendekat setelah Deni kembali ke mejanya.
"Kamu kelihatan beda kalau lagi ngajarin orang,"
katanya pelan.
Raka tersenyum. "Beda bagaimana?"
"Lebih yakin. Lebih hangat. Kayak guru."
Raka menoleh ke arah Deni yang kini mulai mengetik dengan
hati-hati.
"Saya cuma tidak mau dia merasa sendirian seperti
dulu."
Laras menatapnya lama.
"Kamu tahu? Kamu berubah bukan karena kamu jadi tahu
segalanya."
Raka mengangguk pelan.
"Tapi karena saya tidak lagi malu untuk tidak
tahu."
Laras tersenyum.
Dan Raka sadar, kalimat itu benar adanya.***
Sore. Kantor mulai sepi.
Cahaya matahari masuk dari jendela, menyinari meja
administrasi tempat Raka dulu sering salah meletakkan arsip.
Ia duduk sebentar sendirian. Membiarkan kenangan berlari di
kepala.
Hari pertama. Ardi yang tersenyum geli. Kepala Desa yang
menghela napas. Kata "segera" yang salah tafsir.
Pak Darto yang marah karena "hampir miskin". Bu
RT yang berbisik di warung. Malam-malam ketika ia menatap cermin dan
berkata pelan, "Andai kutahu..."
Kini ia tersenyum.
Desa Sido Mukti bukan hanya tempat ia bekerja. Di sanalah
ia belajar tentang manusia. Tentang ego dan empati. Tentang kesalahpahaman dan
keberanian. Tentang cinta yang tidak bisa dibaca seperti buku petunjuk. Tentang
harga diri yang tidak datang dari pujian, tapi dari kemauan untuk memperbaiki
diri.
Dan yang terpenting—tentang dirinya sendiri.
Tentang seorang pemuda yang dulu merasa selalu salah,
yang ternyata hanya belum belajar caranya.***
Dari luar, suara Deni memanggil.
"Mas Raka! Yang ini sudah benar belum? Saya bingung
nomor suratnya."
Raka berdiri. Menjawab dengan suara mantap,
"Kita cek sama-sama!"
Ia melangkah ringan.
Bukan lagi dengan beban ketakutan.
Melainkan dengan keyakinan.***
Sejak hari itu, kalimatnya berubah.
Bukan lagi:
"Andai kutahu..."
Melainkan:
"Untung aku mau belajar."
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar