Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 25 Februari 2026

Cerpen Si Amat Episode 9; Cinta Monyet Ala Amat Junior

 Cerpen Si Amat Episode 9; Cinta Monyet Ala Amat Junior

Desa Awan Biru di sore hari selalu terasa seperti adegan pembuka film remaja. Langit jingga menggantung rendah, merambati ufuk barat dengan gradasi warna yang perlahan memudar menjadi ungu. Suara azan Magrib samar terdengar dari musala ujung dusun, berbaur dengan kepulan asap dapur rumah-rumah warga yang mulai menyiapkan makan malam. Debu halus lapangan voli menari setiap kali bola ditampar keras oleh tangan-tangan keras pemuda desa yang berlumuran keringat.

Di sisi lain lapangan, Warung Kopi Pak RT berdiri kokoh seperti biasa. Bangunan papan beratap seng itu sudah puluhan tahun menjadi saksi bisu perjalanan desa. Meja-meja kayunya penuh dengan bekas gelas dan lingkaran panas dari cangkir kopi. Di dinding, stiker-stiker lama dari berbagai merek rokok dan minuman kemasan menempel rapat, menambah kesan klasik. Kipas angin tua di sudut ruangan berputar lambat, hanya mampu mengusir sedikit gerah, tapi tak satu pun pengunjung mengeluh.

Warung ini bukan sekadar tempat jualan. Ia adalah pusat informasi tak resmi desa, tempat kabar tercepat menyebar, bahkan lebih cepat dari grup WhatsApp Karang Taruna. Di sinilah warga berkumpul setelah seharian bekerja. Di sinilah gosip lahir, tumbuh, dan kadang mati karena terbantahkan fakta. Di sinilah para lelaki desa duduk bersila, menyeruput kopi hitam, dan membahas segala hal, dari harga sawit sampai kisah asmara anak muda.

Di situlah Amat Junior sering nongkrong selepas latihan voli. Tubuhnya tinggi semampai, ideal untuk seorang spiker. Rambutnya sedikit berantakan karena baru saja melepas helm, tapi itu justru menambah pesona remaja delapan belas tahun yang baru lulus SMK Multimedia. Senyumannya percaya diri, khas anak muda yang merasa dunia bisa diedit seperti video, dipotong, diperbaiki, diberi efek, dan hasilnya selalu sesuai keinginan.

"Mat, smash kamu tadi mantap, Jung," kata Pak RT sambil menuang kopi ke dalam gelas kaca tebal. Tangannya yang keriput tetap lincah menuangkan air panas ke atas bubuk kopi, lalu mengaduknya perlahan.

"Latihan terus, Pak. Biar siap turnamen antar-dusun bulan depan," jawab Amat Junior sambil menyandarkan tubuh di kursi plastik. Kaus bolanya yang basah oleh keringat ia lepas, menyingkapkan kaos putih lengan pendek di baliknya.

Dari sudut warung, Mas Anto, sopir truk perusahaan kelapa sawit yang terkenal murah hati, menarik kursi dan duduk di samping mereka. Pria paruh baya dengan kumis tebal itu baru saja pulang dari perjalanan panjang. Kaos oblongnya masih bau solar dan debu jalanan. Tapi matanya selalu berbinar, terutama kalau sudah mulai membahas soal hati.

"Saya lihat tadi di lapangan," ujar Mas Anto sambil menyulut rokok kreteknya. Asap mengepul tipis, terbawa angin sore. "Bukan cuma smash yang mantap. Cara kamu lihat Diana juga mantap. Lebih mantap dari pukulan kamu."

Warung langsung riuh. Pak RT terkekeh, memperlihatkan deretan gigi yang mulai ompong. Dua pemuda yang duduk di meja belakang ikut mencuri dengar, menyeringai.

Amat Junior pura-pura batuk. Wajahnya yang agak gelap merona, terbakar oleh gosip yang tiba-tiba meledak. "Mas Anto ini kalau nggak nyetir truk, jadi peramal cinta. Dapat klien dari mana?"

Mas Anto tersenyum misterius, matanya menyipit penuh arti. "Saya pernah bilang, garis tanganmu itu putus-nyambung dulu, baru serius. Saya lihat dari sini, " ia menunjuk telapak tangan Amat Junior dengan puntung rokok, "masa putus-nyambungnya belum kelar. Tapi kalau lihat cara kamu liat Diana, kayaknya udah masuk fase serius."

"Fase serius apaan, To? Saya aja belum ngomong apa-apa sama dia," protes Amat Junior, meski nada bicaranya tidak meyakinkan.

"Justru itu," sergah Mas Anto. "Yang paling keliatan itu yang nggak diomongin. Orang kalau suka, matanya bicara. Mata kamu tadi di lapangan, teriak-teriak, 'Diana, liat aku! Aku jago voli!'"

Pak RT menambahkan dengan bijak, "Mas Anto ini memang punya ilmu gaib, Mat. Dulu dia pernah bilang Pak Kades Iwan bakal menang dua periode. Terbukti."

"Itu mah ramalan umum, Pak. Siapa juga yang ngalahin Pak Kades?" sahut Amat Junior.

"Yang penting," lanjut Mas Anto, mengabaikan bantahan, "kamu harus siap mental. Diana itu anaknya Sekdes Yuni. Pintar, cantik, anak Fisika lagi. Jangan sampe kamu nembak pakai rumus silat, ditangkis pakai hukum Newton."

Semua tertawa. Tawa yang hangat, tawa yang akrab. Tawa yang hanya bisa ditemukan di warung kopi desa, di sore hari, di antara orang-orang yang saling mengenal sejak kecil.

Amat Junior tertawa juga, meski wajahnya masih memerah. Ia menyeruput kopinya dalam-dalam, berharap sensasi pahit itu bisa menenangkan debaran jantungnya. Tapi ternyata tidak. Yang ada, ia malah membayangkan Diana, senyumnya, rambutnya, cara ia menatap laptop dengan serius.

"Cinta monyet," gumamnya pelan.

"Apa?" tanya Mas Anto.

"Nggak, To. Nggak apa-apa."

Tapi ia tahu, ini bukan cinta monyet biasa. Ini cinta monyet yang mulai tumbuh dewasa. Dan seperti tanaman yang baru disiram, ia butuh waktu, butuh perhatian, butuh kesabaran.***


Balai Desa Awan Biru sore itu berubah fungsi. Kursi-kursi plastik warna-warni disusun melingkar, meja kayu panjang dipenuhi proposal kegiatan, botol air mineral bekas, dan camilan sisa rapat, pisang goreng yang sudah dingin dan keripik singkong yang tinggal separuh. Lampu neon di langit-langit menyala terang, menerangi wajah-wajah serius anak muda yang sedang berdiskusi.

Rapat Karang Taruna berlangsung alot. Bukan karena perdebatan sengit, tapi karena banyaknya agenda yang harus diselesaikan. Turnamen olahraga antar-RW, lomba tujuh belasan, bakti sosial, dan yang paling bikin pusing: anggaran.

Amat Junior duduk di ujung meja sebagai Ketua. Jabatan ini ia dapat bukan karena pencalonan, tapi lebih karena "tunjuk hidung", ketika yang lain pada sibuk, ia kebetulan tidak sibuk. Tapi ia menjalankannya dengan serius. Baginya, Karang Taruna adalah panggung untuk membuktikan bahwa anak SMK juga bisa memimpin.

Di sebelahnya, Diana, Sekretaris Karang Taruna, duduk dengan laptop terbuka di depannya. Siswi SMA jurusan Fisika itu adalah anak dari Sekdes Yuni, dan mewarisi ketelitian ibunya. Rambutnya diikat sederhana dengan pita hitam, beberapa helai terlepas membingkai wajahnya yang serius. Tatapannya fokus pada layar, jari-jarinya lincah mengetik notulen rapat.

Bu Endang, Kasi Pelayanan yang terkenal keibuan, duduk di samping Diana. Wanita paruh baya itu selalu hadir dalam setiap rapat pemuda, bukan untuk mengawasi, tapi untuk memastikan mereka tidak kelaparan. Di hadapannya, sepiring gorengan masih utuh, menunggu disantap.

Pak Eko, Kaur Perencanaan, duduk dengan map tebal di pangkuannya. Pria itu terkenal detail. Tidak ada angka yang lolos dari pengawasannya. Di sampingnya, Lulu, Kaur Keuangan, memegang kalkulator siap pakai. Keduanya adalah "dewa-dewi" anggaran yang ditakuti sekaligus dihormati.

"Baik, teman-teman," ujar Diana, memulai rapat. Suaranya tenang tapi tegas, khas anak sekdes yang terbiasa berbicara di forum. "Untuk lomba voli dan sepak bola antar-RW, jadwal sudah saya susun. Kita pakai sistem gugur, dua minggu pelaksanaan. Tapi RAB masih perlu revisi."

Ia memutar laptopnya, memperlihatkan tabel anggaran di layar. Angka-angka berjejer rapi, tapi beberapa kolom masih kosong.

"Kenapa perlu revisi?" tanya seorang anggota dari RW 03.

"Karena konsumsi," jawab Diana cepat. "Anggaran konsumsi di RAB awal Rp5.000 per orang per hari. Dengan inflasi sekarang dan harga bahan pokok naik, itu tidak cukup. Saya usul naikkan jadi Rp7.000, atau kita kurangi hari pelaksanaan."

Pak Eko mengangguk pelan. Rambutnya yang mulai memutih bergoyang sedikit. "Perencanaan itu bukan cuma semangat, tapi detail. Saya setuju revisi. Jangan sampai kegiatan besar, tapi pertanggungjawaban kecil. Nanti di audit BPD bisa runyam."

Lulu langsung menyela, suaranya nyaring. "Dan jangan sampai anggaran konsumsi lebih besar dari hadiah juara. Nanti bukan lomba, tapi piknik. Peserta pada gemuk, panitia kurus."

Tawa pecah. Suasana tegang mencair. Diana tersenyum tipis.

"Setuju, Bu Lulu. Makanya kita hitung ulang."

Amat Junior dari ujung meja memperhatikan Diana. Bukan sengaja, tapi matanya seperti punya kemauan sendiri. Ia melihat cara Diana menjelaskan, sabar, detail, tapi tidak menggurui. Cara ia merespons pertanyaan, cepat, tepat, disertai senyum. Cara ia mengetik, cepat, tanpa melihat keyboard, seperti pianis memainkan sonata.

"Mat, lo diem aja," bisik Herman, wakil ketua, dari sampingnya.

"Eh, iya. Gue denger."

"Denger apaan? Mata lo liatin Diana, telinga lo denger apa?"

Amat Junior tersedak. "Diem lo, Man. Gue konsen."

"Konsen atau konser? Ini rapat, bukan panggung cinta."

Untung tidak ada yang mendengar bisikan mereka. Rapat berlanjut.

Setelah sesi anggaran selesai, Diana menoleh ke arah Amat Junior. "Ketua, ada yang mau ditambahkan?"

Amat Junior tersentak. "Eh, nggak. Lancar. Makasih Sekretaris."

Diana mengangkat alis. "Dipanggil Sekretaris aja, Mbak Diana kurang?"

"Biar formal."

"Formal tapi matanya lihat ke mana?"

Hening sesaat. Beberapa anggota mulai menyadari ada yang aneh. Herman menyeringai. Lulu menahan tawa. Bu Endang tersenyum penuh arti.

Amat Junior mencoba tenang. "Mata saya lihat ke semua peserta rapat. Itu tugas ketua."

Diana menatapnya. Matanya bulat, tajam, seperti dua buah bintang kejora. "Baik, kalau begitu. Saya lanjutkan."

Rapat berlanjut, tapi atmosfernya berubah. Ada yang hangat di udara. Ada yang menggelitik di hati.

Selesai rapat, peserta satu per satu keluar. Amat Junior membereskan berkas. Diana masih duduk, mengecek notulen.

"Mat," panggilnya pelan.

"Iya?"

"Lo tadi... ngeliatin aku terus."

Amat Junior berhenti. Jantungnya berdegup. "Nggak. Gue liatin presentasi lo."

"Presentasi atau orangnya?"

Dilema. Pilihan sulit. Antara jujur dan malu. Antara mengaku dan ditertawakan.

"Keduanya," jawabnya akhirnya. "Presentasi lo bagus. Dan lo juga... ya gitu."

Diana tersenyum. Senyum yang membuat Amat Junior lupa bernapas. "Makasih. Lo juga ketua yang baik."

"Makasih balik."

Mereka diam. Lampu balai desa berkedip, tanda listrik sedang tidak stabil, tradisi tak tertulis Desa Awan Biru.

"Mat," Diana memecah keheningan.

"Apa?"

"Besok abis latihan voli, minum kopi yuk. Di warung Pak RT. Ada yang mau aku diskusikan."

"Diskusi apa?"

"Rencana program. Atau..." Diana menggantung kalimatnya. "...yang lain."

Ia berdiri, merapikan laptop, lalu berjalan keluar. Meninggalkan Amat Junior yang masih terpaku.

"Yang lain. Yang lain apaan?" gumamnya.

Herman yang tiba-tiba muncul dari belakang menepuk pundaknya. "Yang lain itu artinya dia mau ngobrol personal, goblok. Udah diledekin masih aja bego."

"Man, gue..."

"Lo kenapa?"

"Gue... gue suka dia."

Herman menghela napas panjang. "Udah tau dari dulu. Yang nggak tau cuma elo berdua."***


Ruang Digital Komunitas Desa (RDKK) terletak di sayap timur balai desa. Ruangan ini awalnya adalah gudang, tapi kemudian direnovasi menjadi pusat pelatihan digital. Dindingnya dicat biru muda, dihiasi poster-poster tentang internet aman dan cara membuat konten kreatif. Lima unit komputer terbaru berjejer rapi di meja panjang. Di sudut, ada rak buku berisi literasi digital dan beberapa novel.

Pagi itu, pelatihan pembuatan konten edukatif digelar. Bambang, pakar IT desa yang juga menjabat sebagai Duta Digital Kabupaten, menjadi instruktur utama. Istrinya, Anjelina, duduk di sampingnya sebagai asisten. Mereka adalah pasangan digital desa, legenda hidup yang membangun RDKK dari nol.

"Pagi semuanya," sapa Bambang, suaranya bersemangat. "Hari ini kita belajar bikin konten edukatif yang menarik. Target audiens kita adalah remaja dan pemuda. Jadi bahasanya harus kekinian, visualnya kece, tapi pesannya sampai."

Anjelina menambahkan, "Ingat, konten edukatif itu bukan berarti nggak bisa lucu. Bisa kok, asal nggak kehilangan esensi. Contohnya, kalau mau jelasin soal keamanan akun, jangan pakai bahasa teknis. Pakai analogi yang dekat dengan keseharian."

Diana, yang duduk di barisan depan, mengangkat tangan. "Kalau soal password, gimana jelasinnya yang asyik?"

Bambang tersenyum. "Nah, pertanyaan bagus. Diana, tolong ke depan. Coba jelaskan."

Diana berdiri, melangkah ke depan dengan percaya diri. Ia menghadap ke peserta, sekitar dua puluh anak muda desa, lalu mulai berbicara.

"Teman-teman, password itu kayak baju dalam," ucapnya, disambut tawa. "Iya, serius. Baju dalam itu pribadi, nggak boleh dipinjemin. Password juga begitu. Jangan dikasih ke siapa pun, bahkan ke pacar sekalipun."

"Wih, Diana!" teriak seorang peserta dari belakang.

"Terus," lanjut Diana, "password jangan pakai tanggal lahir. Jangan pakai 123456. Jangan pakai 'password'. Itu sama aja kayak lo pake baju bolong ke mana-mana. Semua orang bisa lihat."

Bambang mengangguk bangga. "Bagus, Diana. Jelas, lucu, dan nyantol."

Anjelina menambahkan, "Dan ingat, jangan pakai nama pacar juga. Itu rawan bocor, apalagi kalau putus."

Tawa pecah lagi. Diana kembali ke tempat duduknya.

Amat Junior yang duduk di belakang, memperhatikan dengan seksama. Ia melihat bagaimana Diana tampil percaya diri. Bagaimana ia bisa membuat orang tertawa sambil belajar. Ada rasa bangga, meski ia sendiri tidak tahu kenapa bisa bangga.

Saat istirahat, ia mendekati Diana. "Keren tadi."

"Makasih. Lo juga."

"Gue nggak ngapa-ngapain."

"Lo latihan voli tadi pagi, kan? Itu juga keren."

Amat Junior tersenyum. "Lo perhatiin?"

Diana tersipu. "Kebetulan lewat."

Hening. Canggung. Tapi hangat.

Masalah mulai tumbuh ketika Diana terlihat sering berdiskusi serius dengan Bambang. Bukan diskusi biasa, tapi diskusi panjang yang kadang berlangsung hingga sore. Mereka duduk berhadapan, laptop di tengah, asyik membahas algoritma, desain grafis, dan strategi konten.

Amat Junior yang melihat dari kejauhan mulai merasa tidak nyaman. Ia tidak tahu persis apa yang ia rasakan. Cemburu? Iya. Tapi ia tidak mau mengaku.

Suatu malam, setelah latihan voli, ia mampir ke RDKK. Diana masih di sana, bersama Bambang. Mereka tertawa. Tawa yang akrab. Tawa yang membuat perut Amat Junior mulas.

"Ran," panggilnya dari pintu.

Diana menoleh. "Mat? Kok ke sini?"

"Jemput. Udah malem."

Bambang tersenyum. "Wah, dijemput. Romantis."

Anjelina yang sedang merapikan komputer ikut berkomentar, "Cie, yang dijemput."

Diana tersipu. "Sebentar, Mat. Ini tinggal sedikit."

Amat Junior duduk di kursi terdepan. Ia menunggu. Tapi menunggu sambil melihat Diana dan Bambang tertawa bersama adalah siksaan.

Akhirnya, pukul delapan malam, mereka selesai. Diana pamit pada Bambang, lalu keluar bersama Amat Junior.

Mereka berjalan di bawah lampu jalan yang temaram. Suara jangkrik mengisi keheningan.

"Lo sering banget ya diskusi sama Bambang?" tanya Amat Junior, berusaha terdengar biasa.

"Karena ini soal program desa," jawab Diana tenang.

"Iya, tapi kamu lebih semangat."

Diana berhenti. "Maksud lo?"

Amat Junior juga berhenti. Ia menatap Diana. "Gue liat lo lebih semangat diskusi sama dia daripada sama gue."

Diana terdiam. "Lo... cemburu?"

Amat Junior tidak langsung menjawab. Diamnya itulah yang menjadi jawaban.

Diana menghela napas. "Mat, Bambang itu udah menikah. Dengan Anjelina. Mereka itu pasangan. Aku diskusi sama dia karena dia pinter, karena dia bisa ngajarin aku banyak hal. Nggak lebih."

"Aku tahu. Tapi..."

"Tapi apa?"

Amat Junior menggenggam tangannya sendiri, berusaha mengontrol emosi. "Aku takut. Takut kalau aku nggak cukup buat lo. Lo pinter, lo cantik, lo anak sekdes. Aku cuma anak SMK. Nanti lo bosan. Nanti lo nemu yang lebih."

Diana menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca. "Lo tahu nggak, Mat. Aku nggak butuh yang paling pinter. Aku nggak butuh yang paling kaya. Aku butuh yang setia. Yang mau belajar bareng. Yang nggak takut buat bilang sayang."

"Aku sayang lo," ucap Amat Junior spontan.

Diana tersenyum. "Aku juga sayang lo."

Mereka berpelukan di bawah lampu jalan. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka saling mengaku.***

 

Tapi cinta tidak selalu berjalan mulus. Seminggu setelah pengakuan itu, pertengkaran pertama terjadi.

Penyebabnya sepele. Diana posting foto bersama teman laki-laki di Instagram. Teman biasa, dari kelompok belajarnya. Tapi Amat Junior yang sedang insecure melihatnya dan langsung panas.

"Lo posting foto sama cowok?" tanyanya lewat chat.

"Iya. Temen kelompok. Kenapa?"

"Lo nggak bilang-bilang."

"Emang harus bilang? Dia cuma temen."

"Tapi lo nggak pernah posting foto sama aku."

Diana membaca pesan itu, lalu menghela napas. Ia menelepon.

"Mat, kamu serius?"

"Iya. Aku serius."

"Jadi kamu cemburu buta gitu?"

"Aku cuma minta kamu lebih perhatian."

Diana diam. Lalu berkata, "Kalau cinta harus dipaksa kayak gini, aku nggak sanggup."

Tut.

Amat Junior terdiam. Panggilan ditutup. Ia coba telepon lagi. Tidak diangkat. Pesan tak dibalas.

Esok harinya, di rapat Karang Taruna, suasana terasa dingin. Diana duduk berjauhan. Mereka tidak saling sapa. Tidak saling lihat.

Pak Eko berbisik pada Lulu, "Ini bukan rapat evaluasi, tapi evaluasi hubungan."

Lulu mengangguk. "Kalau hubungan mereka pakai sistem keuangan desa, mungkin sudah direvisi berkali-kali. Sudah melewati beberapa kali perubahan, tapi belum disahkan."

Bu Endang yang mendengar ikut berbisik, "Sudah saya bilang, cinta anak muda itu naik-turun kayak harga bawang."

Di Warung Kopi Pak RT, kabar putusnya mereka jadi bahan obrolan utama.

"Ketua Karang Taruna patah hati," kata Pak RT dramatis sambil menuang kopi. "Ini berita besar."

Mas Anto mengangkat tangan seperti cenayang. "Sudah saya bilang. Sudah saya bilang dari awal. Garis tangannya putus-nyambung dulu. Saya sudah lihat itu dari jauh-jauh hari. Ini baru putus pertama. Nanti sambung lagi. Terus putus lagi. Baru setelah itu serius."

"Berapa kali, To?" tanya seorang pemuda.

"Itu tergantung. Ada yang tiga kali, ada yang lima. Yang penting jangan sampai tujuh. Kalau tujuh, namanya bukan cinta, tapi kebiasaan."

Semua tertawa. Tapi Amat Junior yang duduk di sudut warung tidak tertawa. Ia hanya menunduk, memainkan ujung gelas kopinya.

Herman duduk di sampingnya. "Jun, lo kenapa?"

"Gue... gue nyesel."

"Nyesel apaan?"

"Gue terlalu cemburu. Gue terlalu takut. Akhirnya malah ilang."

Herman menepuk pundaknya. "Lo masih bisa ngomong. Masih bisa minta maaf. Ini belum terlambat."

"Apa dia mau denger?"

"Coba dulu. Kalau nggak dicoba, nggak tahu."***

 

Malam itu, Amat Junior duduk di teras rumah. Langit gelap tanpa bintang. Hatinya juga gelap.

Si Amat, pamannya, keluar, duduk di sampingnya.

"Mat, Bapak dengar lo putus sama Diana."

Amat Junior menghela napas. "Iya, Pak."

"Kenapa?"

Amat Junior menceritakan semuanya. Tentang foto itu, tentang cemburunya, tentang kata-kata Diana yang terakhir.

Si Amat mendengarkan dengan sabar. Setelah selesai, ia berkata,

"Mat, kamu ini Ketua Karang Taruna. Masa ngurus hati sendiri nggak bisa?"

"Saya cuma takut kehilangan, Pakde."

"Kalau takut kehilangan, jangan bikin orang merasa diabaikan. Kamu tahu perasaan Diana? Dia pasti merasa nggak dipercaya. Padahal dia nggak salah apa-apa."

Amat Junior menunduk.

"Pacaran itu bukan soal memiliki, Mat. Tapi soal saling percaya. Kalau lo cemburu terus, lo bakal bikin dia capek. Dan perempuan yang capek, pasti pergi."

"Terus gimana, Pakde?"

Si Amat tersenyum. "Minta maaf. Tulus. Dan buktikan kalau lo berubah. Bukan cuma omong doang."

Di rumah Sekdes, Bu Endang sedang berkunjung. Ia duduk di ruang tamu bersama Diana yang masih murung.

"Din, kamu masih sedih?"

Diana mengangguk.

"Padahal sayang, ya?"

"Sayang, Bu. Tapi... capek."

Bu Endang memegang tangannya. "Capek itu wajar. Tapi kalau masih sayang, jangan menyerah dulu. Coba ngomong. Laki-laki itu kadang butuh kalimat langsung, bukan kode. Mereka nggak bisa baca pikiran."

"Dia harusnya tahu, Bu."

"Dia tahu kalau kamu jelasin. Bukan dengan diam."

Diana merenung.

"Kalau kamu masih sayang, buka pintu. Tapi jangan langsung percaya. Minta dia buktikan. Dan lihat, apakah dia berubah."***

 

Seminggu berlalu. Amat Junior dan Diana tidak bertemu. Rapat Karang Taruna ditunda karena ketua dan sekretarisnya "sakit".

Suatu sore, Amat Junior datang ke rumah Diana. Ia membawa bunga, bukan bunga mahal, tapi bunga kertas buatan sendiri, hasil kerajinan tangannya.

Diana membuka pintu. Matanya sembab. Tapi ia tidak langsung marah.

"Ran," ucap Amat Junior pelan. "Aku minta maaf."

Diana diam.

"Aku salah. Aku terlalu cemburu. Aku nggak percaya sama kamu, padahal kamu nggak pernah kasih alasan buat aku nggak percaya. Maaf."

Diana masih diam.

"Ini," Amat Junior menyerahkan bunga kertas itu. "Aku buat sendiri. Nggak bagus. Tapi dari hati."

Diana menerimanya. Ditatapnya bunga itu lama. Lalu air matanya jatuh.

"Mat, aku cuma minta satu."

"Apa?"

"Kamu percaya sama aku."

Amat Junior mengangguk. "Aku janji."

Mereka berpelukan. Lagi-lagi di teras rumah. Lagi-lagi malam hari. Tapi kali ini, pelukannya lebih erat. Lebih dewasa.

Pak Dokter Erlangga dan istrinya Anita, bibi Amat Junior, memberi nasihat saat bertemu mereka di warung beberapa hari kemudian.

"Din, Mat," panggil Anita. "Sini, Bibi mau ngomong."

Mereka mendekat.

"Bibi dengar kalian putus-nyambung," kata Dokter Erlangga bijak. "Itu wajar. Tapi ingat, cinta itu bukan lomba siapa paling benar. Bukan juga proyek yang bisa kamu edit seenaknya."

Anita menambahkan, "Cinta itu komitmen. Kalau kalian serius, harus siap berubah. Harus siap belajar. Harus siap minta maaf dan memberi maaf."

Amat Junior menunduk. "Saya belajar, Tante."

Diana memegang tangannya. "Kita belajar bareng."***

 

Waktu berlalu. Mereka balikan. Putus lagi, sekali. Balikan lagi. Tepat seperti ramalan Mas Anto.

Tapi setiap kali putus, mereka belajar. Setiap kali balikan, mereka lebih dewasa.

Tiga tahun kemudian, Amat Junior sudah bekerja sebagai konten kreator di desa. Diana lulus kuliah dan pulang untuk mengabdi. Mereka tidak lagi remaja. Mereka pemuda-pemudi yang siap melangkah ke jenjang lebih serius.

Suatu senja di lapangan yang sama, lapangan voli tempat semuanya dimulai, Amat Junior berdiri di hadapan Diana.

Bukan dengan bunga kertas. Bukan dengan kata-kata puitis. Tapi dengan kalimat sederhana yang keluar dari hati.

"Ran, kita sudah terlalu sering drama. Sudah terlalu sering putus-nyambung. Aku nggak mau cinta kita cuma jadi bahan gosip desa. Aku mau jadi cerita yang utuh."

Diana menatapnya. Matanya berkaca-kaca. "Kamu yakin mau serius?"

"Aku yakin. Aku mau satu tim, bukan cuma satu periode Karang Taruna. Aku mau seumur hidup."

Hening sejenak. Angin berembus lembut, membawa aroma tanah dan bunga melati dari kebun samping.

"Aku mau," jawab Diana akhirnya.

Amat Junior mengeluarkan cincin sederhana, bukan emas, bukan berlian, tapi perak dengan ukiran daun. "Ini, aku beli dari tabungan. Nggak mahal. Tapi tulus."

Diana menangis. Ia menerima cincin itu, lalu memakainya sendiri.

Di kejauhan, Mas Anto lewat dengan truknya. Ia menghentikan kendaraan, menjulurkan kepala keluar jendela, dan berteriak,

"Ramalan saya tepat! Sudah saya bilang, putus-nyambung dulu, baru serius!"

Mereka tertawa. Mas Anto memang tidak pernah berubah.***

 

Akad nikah berlangsung sederhana di balai desa. Tempat yang sama di mana mereka dulu rapat Karang Taruna. Tempat yang sama di mana cinta mereka tumbuh diam-diam.

Pak Kades Iwan tersenyum bangga. Sekdes Yuni menitikkan air mata haru, anaknya akhirnya menikah.

Pak Eko berbisik pada Lulu, "Perencanaan jangka panjang berhasil. Dari rapat Karang Taruna sampai ke pelaminan."

Lulu tersenyum, "Semoga laporan keuangan rumah tangganya transparan. Jangan sampai ada defisit kas."

Bambang menepuk bahu Amat Junior. "Selamat, Mat. Upgrade status berhasil. Dari Ketua Karang Taruna jadi Ketua Rumah Tangga."

Anjelina menambahkan, "Semoga akun cintanya nggak pernah kena hack."

Bu Endang berkata pelan sambil menyeka air mata, "Karang Taruna resmi naik level. Kehilangan ketua dan sekretaris sekaligus."

Herman, yang jadi saksi, berkata, "Gue saksi perjuangan lo dari jaman cemburu buta sampai jadi suami. Lo hebat, Mat."

Mas Anto datang dengan truk yang dihias, truk yang dulu reyot, kini dicat ulang, dipasangi balon dan pita. "Ini kado dari saya! Truk boleh dipakai bulan madu!"

Semua tertawa. Tapi Amat Junior dan Diana hanya tersenyum. Mereka bahagia.

Beberapa tahun kemudian, lahirlah bayi laki-laki: Muhammad Japar.

Tangisnya memenuhi rumah sederhana mereka. Si Amat, yang kini sudah benar-benar setengah baya, menggendongnya dengan mata berkaca-kaca.

"Ini hasil revisi cinta monyet yang paling sempurna," katanya.

Diana tersenyum pada suaminya. "Kita berhasil, Mas."

Amat Junior mengangguk. "Karena kita nggak menyerah. Karena kita belajar dari setiap putus. Karena kita mau berubah."

"Dan karena kita saling percaya," tambah Diana.

Bayi Japar tertidur pulas di gendongan. Di luar, senja memerah. Suara azan Magrib berkumandang.***

 

Di Warung Kopi Pak RT, cerita itu masih dikenang. Pak RT yang sudah sangat tua, bercerita pada generasi baru.

"Dulu, di sinilah Amat Junior sering nongkrong. Galau. Patah hati. Balikan lagi. Putus lagi. Kami semua jadi saksi."

Mas Anto, yang kini sudah pensiun nyetir truk, tapi masih setia nongkrong, menambahkan, "Ramalan saya tepat. Putus tiga kali, baru mantap. Saya sudah bilang dari awal."

Seorang pemuda bertanya, "Emang Mas Anto peramal?"

"Bukan. Tapi saya kenal Amat Junior sejak dia masih ngepel voli. Saya tahu garis tangannya."

Semua tertawa.

Di meja sudut, Amat Junior dan Diana duduk bersama. Mereka tidak muda lagi. Rambut mereka mulai memutih. Tapi senyum mereka masih sama.

"Pa, kita dikenang," kata Diana.

"Iya. Jadi bahan gosip desa sepanjang masa."

"Tapi gosip yang indah."

Mereka menggenggam tangan. Di luar, senja mulai turun. Langit memerah jingga, warna yang sama seperti saat pertama kali Amat Junior jatuh cinta.

Di Desa Awan Biru, kisah cinta yang dulu penuh drama, cemburu digital, ramalan sopir truk, dan gosip warung kopi itu kini menjadi cerita tentang dua anak muda yang tumbuh dewasa, bersama, sabar, dan konsisten, hingga akhirnya cinta monyet mereka benar-benar matang menjadi cinta yang utuh.

Cinta yang separuh hati untuk desa, separuh untuk keluarga. Dan utuh untuk selamanya.

TAMAT