Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Rabu, 25 Februari 2026

Separuh Hati untukmu


Lima belas tahun telah berlalu sejak Bambang dan Enjelina membangun Ruang Komunitas Digital. Dua puluh tahun sejak Erlangga pertama kali menjejakkan kaki di Desa Awan Biru sebagai mahasiswa KKN. Kini desa itu telah berubah. Tidak lagi sunyi, tidak lagi tertinggal. Tapi satu hal tetap sama: semangat warganya untuk terus maju.

Pagi itu, matahari baru saja muncul di ufuk timur. Sinar keemasan merambati atap-atap rumah warga, menari-nari di atas genteng tanah liat yang sudah berusia puluhan tahun. Embun masih menggantung di ujung dedaunan waru yang tumbuh di sepanjang jalan desa. Burung-burung pipit berlompatan di dahan, menyambut hari baru dengan kicauan riang.

Balai desa yang terletak di pusat Desa Awan Biru tampak berbeda pagi itu. Bendera merah putih berkibar dengan gagah di tiang depan. Umbul-umbul warna-warni dipasang di sepanjang pagar, bergoyang lembut ditiup angin sepoi-sepoi. Dari kejauhan, suara bedug masjid bersahutan dengan kokok ayam, menciptakan simfoni pagi yang khas.

Di halaman balai desa, ratusan warga sudah berkerumun sejak pukul tujuh. Para ibu duduk di kursi plastik yang disusun berjajar, sambil menggendong balita atau mengipasi diri dengan kertas undangan. Para bapak berdiri di pinggir, sesekali menyapa tetangga sambil mengisap rokok kretek. Anak-anak kecil berlarian di antara kerumunan, tertawa riang tanpa peduli acara apa yang akan berlangsung.

Pagi itu adalah hari bersejarah. Pak Iwan, kepala desa yang memimpin selama tiga periode berturut-turut, lima belas tahun lamanya, akhirnya pensiun. Usianya genap 60 tahun. Aturan tiga periode pada saat itu tak bisa ditawar. Rambutnya yang dulu hitam legam kini memutih di sana-sini, namun sorot matanya masih tajam. Senyumnya tetap hangat seperti lima belas tahun lalu saat pertama kali ia dilantik.

Di sampingnya duduk Arjuna, putra Erlangga dan Anita, yang baru saja dilantik sebagai Kepala Desa Awan Biru periode 2025-2032. Pemuda berusia 28 tahun itu duduk tegap di kursi kehormatan. Setelan jas putih yang dikenakannya tampak sedikit kaku, tapi wajahnya tenang. Ia mewarisi ketenangan ayahnya dan kecerdasan ibunya.

Arjuna tumbuh besar di antara dua dunia: kesehatan dari orang tuanya, dan digital dari Om Bambang serta Tante Enjelina. Sejak kecil ia sudah akrab dengan stetoskop dan laptop, dengan buku kesehatan dan kode pemrograman. Kini, di usia yang relatif muda, ia dipercaya memimpin desa kelahirannya.

Upacara pelantikan berlangsung khidmat. Sumpah jabatan diucapkan dengan lantang, disaksikan oleh camat, perangkat kecamatan, dan seluruh warga Desa Awan Biru. Tepuk tangan menggema saat Arjuna menandatangani berita acara pelantikan.

"Mas Arjuna, selamat ya," sapa Hermansyah, putra Pak Didit yang kini menjabat Ketua BPD menggantikan ayahnya. Herman, panggilan akrabnya, adalah teman sepermainan Arjuna sejak kecil. Mereka dulu sama-sama bermain di sawah, sama-sama memancing di sungai, sama-sama berbagi bekal saat SD. Kini, mereka duduk bersama sebagai pemimpin desa. "Berat nih tanggung jawab lo."

"Makasih, Man. Lo juga, jadi Ketua BPD di usia muda. Kita sama-sama belajar."

Herman tertawa lebar, memperlihatkan deretan gigi yang rapi. "Gue dukung lo dari belakang. Tapi kalau salah, tetep gue kritik. Biar nggak besar kepala."

"Ya elah, baru dilantik udah diancem."

Mereka tertawa bersama. Suasana akrab itu yang membuat Desa Awan Biru tetap hangat meski berganti generasi. Warga yang melihat mereka tertawa ikut tersenyum. Generasi baru telah lahir, tapi keakraban lama tetap terjaga.

Di barisan belakang, di antara kerumunan warga yang memadati halaman balai desa, seorang gadis muda dengan jilbab merah muda tersenyum melihat Arjuna. Rambutnya sebahu, diikat rapi dengan pita sederhana. Matanya bulat dan tajam, seperti dua buah bintang kejora di langit senja. Ada kecerdasan di sana, juga kehangatan.

Jilbab merah mudanya kontras dengan terik matahari pagi, namun justru membuatnya tampak bersinar. Ia duduk di bangku plastik bersama ibunya, Enjelina, sesekali mengipasi wajah dengan tangannya.

"Itu Kirana, anaknya Mas Bambang," bisik seorang ibu di sampingnya.

"Masih single, Mbak?"

"Katanya sih masih. Baru pulang dari kota."

Kirana. Putri tunggal Bambang dan Enjelina. Kini usianya 24 tahun. Dua tahun lalu ia merantau ke ibu kota provinsi untuk menyelesaikan pendidikan di bidang Manajemen Pemerintahan. Kini ia baru pulang, membawa segudang ilmu dan mimpi untuk desanya.

Hari-hari ini ia membantu ibunya mengelola Ruang Komunitas Digital, warisan orang tuanya yang kini semakin besar. Sambil menanti pengumuman seleksi perangkat desa yang akan dibuka bulan depan, ia mengisi waktu dengan mendesain ulang website desa dan melatih kader-kader muda.

Dari kejauhan, mata Arjuna dan Kirana bertemu. Hanya sepersekian detik. Cukup untuk membuat keduanya cepat berpaling. Arjuna pura-pura mengatur dasi. Kirana pura-pura melihat ponsel.

Tapi di hati masing-masing, ada sesuatu yang bergerak. Seperti riak kecil di permukaan air yang tenang.

Senja itu, setelah semua acara selesai dan warga mulai beranjak pulang, Arjuna berdiri sendirian di halaman balai desa. Ia melepas jasnya, menggantungkan di bahu. Angin sore membelai wajahnya, membawa aroma tanah dan bunga melati dari kebun samping kantor.

Di seberang halaman, Kirana juga masih duduk di bangku panjang. Ia sedang membuka laptop, mungkin mengedit sesuatu. Cahaya jingga senja menyinari wajahnya, membuatnya tampak seperti lukisan.

Arjuna menatapnya lama. Lalu tanpa sadar, ia tersenyum.***

 

Seminggu setelah pelantikan, Arjuna mengadakan rapat koordinasi pertama dengan perangkat desa. Ruang rapat balai desa yang biasa dipakai untuk pertemuan warga, hari itu dipenuhi wajah-wajah lama dan baru.

Meja panjang kayu jati yang sudah mengkilap karena usia, ditata di tengah ruangan. Di atasnya, termos kopi dan piring berisi pisang goreng tersaji rapi, tradisi yang tak pernah pudar di Desa Awan Biru. Udara ruangan sedikit pengap karena kipas angin tua yang berputar lambat, tapi tidak ada yang mengeluh.

Rapat berlangsung haru. Banyak perangkat lama yang harus pensiun karena batas usia 60 tahun. Aturan pemerintah sudah jelas. Tak bisa ditawar.

Pak Eko, ayah Bambang, yang selama puluhan tahun menjabat Kaur Perencanaan, kini harus meletakkan jabatan. Pria berusia 62 tahun itu duduk dengan punggung tegak, meski usianya tak lagi muda. Rambutnya putih semua bagaikan kapas. Tapi matanya masih tajam, sorotnya masih seperti dulu saat pertama kali ia dilantik sebagai perangkat desa di era Pak Iwan.

Tangannya yang keriput memegang map cokelat berisi dokumen perencanaan desa selama lima belas tahun terakhir. Ia meletakkannya di hadapan Arjuna dengan hati-hati, seperti meletakkan bayi di ayunan.

"Nak Arjuna, Bapak titip desa ini. Jangan sampai mundur."

Arjuna menerima map itu dengan dua tangan, sebagai tanda hormat. Ia menunduk. "Siap, Pak Eko. Saya akan lanjutkan perjuangan Bapak dan yang lain. Doakan kami."

"Pasti, Nak. Pasti."

Suara Pak Eko bergetar. Istrinya yang duduk di barisan belakang menyeka air mata dengan ujung jilbab.

Si Amat, legenda website desa, juga pensiun. Pria yang dulu lincah dan cerewet itu kini sudah renta. Kaki dan tangannya mulai gemetar jika terlalu lama duduk. Tapi semangatnya tak pernah pudar. Ia masih bisa bercanda, masih bisa membuat orang tertawa.

"Juna, website desa jangan sampai mati. Udah kayak anak sendiri gue urusin dari lahir."

Arjuna tersenyum. "Tenang, Pak Amat. Saya janji bakal terus kembangkan. Malah nanti ada tim baru yang lebih muda. Lebih ganteng."

Si Amat tertawa, diikuti yang lain. Tawa renyah khas orang tua yang ikhlas melepas.

"Iya, iya. Generasi baru. Tapi jangan lupa sama yang lama. Sesekali traktir gue kopi."

"Pasti, Pak. Siap."

Ketua BPD Didit juga pensiun. Herman menggantikannya. Lulu, Endang, Yuni, semua pensiun. Mereka adalah saksi hidup transformasi Desa Awan Biru dari desa biasa, menjadi desa kesehatan, lalu desa digital. Dari masa di mana listrik sering padam, sampai era di mana wifi bisa diakses di setiap sudut desa.

Kini, kursi-kursi itu kosong. Meja-meja itu rapi tanpa berkas. Menanti penghuni baru dengan semangat baru.

Di sela-sela acara, Arjuna mendekati Pak Iwan yang duduk termenung di sudut ruangan.

"Pak Iwan, bagaimana rasanya pensiun?"

Pak Iwan menatapnya lama. Lalu tersenyum bijak, senyum yang sama seperti lima belas tahun lalu saat pertama kali Arjuna kecil bertanya mengapa langit berwarna biru.

"Seperti melepas anak terbang, Nak. Sedih, tapi bangga. Sedih karena harus berpisah dengan rutinitas yang sudah menemani lima belas tahun. Tapi bangga karena melihat generasi baru siap melanjutkan. Kalian yang muda harus lebih baik dari kami."

"Doakan kami, Pak."

"Pasti. Setiap malam Bapak doakan."

Matahari mulai condong ke barat saat acara selesai. Arjuna berjalan sendirian meninggalkan balai desa. Langkahnya membawanya ke pinggir sungai kecil, tempat orang tuanya dulu sering menghabiskan waktu. Tempat bersejarah bagi keluarganya.

Sungai itu masih sama. Airnya jernih, mengalir pelan di antara batu-batu kecil. Pepohonan bambu di tepinya masih tegak, daun-daunnya bergemerisik ditiup angin. Ikan-ikan kecil berenang riang, sesekali melompat ke permukaan.

Arjuna duduk di batu besar yang sama, batu yang dulu menjadi saksi bisu pertemuan orang tuanya. Ia merenung. Menjadi kepala desa di usia muda bukan perkara mudah. Tanggung jawabnya besar. Ekspektasi warga tinggi. Tapi ia punya mimpi. Mimpi yang lebih besar dari sekadar melanjutkan.

Di kejauhan, dari balik rimbunnya pohon bambu, ia melihat sesosok bayangan. Jilbab merah muda. Rambut sebahu. Sesosok yang sedang duduk di batu lain, mungkin juga merenung.

Kirana.

Arjuna tersenyum. Mungkin sungai ini bukan hanya tempat bersejarah bagi keluarganya. Mungkin sungai ini akan menjadi saksi sejarah baru.***

Bulan berikutnya, pengumuman seleksi perangkat desa ditempel di papan informasi kantor desa, di masjid, di pos-pos ronda, dan di grup WhatsApp warga. Spanduk biru bertuliskan "SELEKSI TERBUKA PERANGKAT DESA AWAN BIRU" dipasang di pintu masuk balai desa, membuat siapa pun yang lewat bisa melihat.

Formasi yang dibuka: Kaur Keuangan, Kaur Perencanaan, Kasi Pelayanan, Kasi Pemerintahan, Staf Administrasi (2 orang), dan Kader Digital Desa.

Antusiasme warga luar biasa. Ratusan pemuda-pemudi desa mendaftar. Mereka datang dengan berbagai latar belakang: lulusan SMK, diploma, bahkan sarjana dari berbagai universitas. Ada yang baru pulang merantau, ada yang memang tidak pernah pergi. Ada yang datang dengan percaya diri, ada yang gugup tak karuan.

Pendaftaran dibuka selama dua minggu. Setiap hari, meja panitia dipenuhi berkas lamaran. Warna-warni map plastik berjejer di meja, menunggu untuk diseleksi.

Tim penguji dari kecamatan datang seminggu sebelum tes dimulai. Mereka terdiri dari tiga orang: Pak Burhan dari bagian kepegawaian, Bu Rina dari bagian pemerintahan, dan Mas Yuda dari bagian IT. Mereka akan mengawal proses seleksi agar berjalan transparan dan akuntabel.

Tes pertama: tes tertulis isian ganda. Dilaksanakan di balai desa yang disulap menjadi ruang ujian. Kursi-kursi plastik diatur berjajar, masing-masing diberi nomor peserta. Tiga puluh peserta memadati ruangan. Suasana tegang, hanya terdengar suara pensil menggores kertas dan kadang suara batuk atau desahan napas.

Arjuna duduk di ruang penguji bersama Herman dan tim kecamatan. Mereka mengawasi lewat CCTV yang dipasang di sudut ruangan.

"Gimana, Man? Kira-kira dapat yang bagus nggak?" tanya Arjuna.

Herman mengedikkan bahu. "Lihat nanti. Yang penting fair."

Tes kedua: tes wawancara. Dilaksanakan di tiga ruangan berbeda. Setiap peserta dipanggil satu per satu. Ada yang keluar dengan wajah cerah, ada yang lesu.

Arjuna bertugas di ruang kedua bersama Bu Rina. Satu per satu peserta masuk. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Ada yang menjawab lancar, ada yang gagap, ada yang terlalu percaya diri sampai terkesan sombong.

"Nama?" tanya Bu Rina pada peserta berikutnya.

"Kirana, Bu. Putri dari Bapak Bambang dan Ibu Enjelina."

Arjuna menoleh. Kirana. Gadis itu lagi. Pagi itu ia mengenakan kemeja putih dan rok panjang hitam. Jilbabnya merah muda, warna favoritnya. Wajahnya tenang, matanya tajam.

"Mas Arjuna kenal?" bisik Herman yang kebetulan masuk untuk mengambil berkas.

"Kenal. Anak Om Bambang."

Herman menyeringai. "Oh... pinteran mana sama lo?"

"Diem lo." Arjuna menekan lengan Herman pelan.

Tes wawancara berlangsung sekitar 20 menit. Kirana menjawab semua pertanyaan dengan cerdas. Ia paham betul kondisi desa, punya visi untuk pengembangan digital, dan menguasai administrasi pemerintahan. Bahasa tubuhnya meyakinkan, tidak grogi meski dihadapkan pada tiga penguji.

"Kenapa milih daftar di sini? Lo kan bisa kerja di kota dengan gaji lebih besar," tanya Bu Rina, menguji komitmennya.

Kirana tersenyum. Lesung pipitnya muncul, membuat wajahnya semakin manis. "Karena desa ini rumah saya, Bu. Saya lahir di sini, besar di sini. Saya ingin membangun dari dalam. Bukan dari jauh."

Jawaban itu menggema di ruangan. Bu Rina mengangguk puas. Arjuna diam, tapi dalam hatinya, ia terkesan. Sangat terkesan.

Tes ketiga: tes komputer. Dilaksanakan di Ruang Komunitas Digital. Peserta diminta mengoperasikan Microsoft Office, membuat email, mengisi formulir online, dan bagi yang berminat jadi Kader Digital, juga diuji kemampuan desain dan pengelolaan website.

Kirana unggul di semua sesi. Nilainya sempurna.***

 

Dua minggu setelah tes, pengumuman hasil seleksi ditempel di papan informasi kantor desa. Pagi itu, halaman kantor desa sudah dipenuhi warga sejak pukul enam. Mereka berkerumun, berebut melihat pengumuman.

Kirana datang pukul setengah tujuh. Jantungnya berdebar. Ia menerobos kerumunan, mencari namanya di daftar.

Kader Digital Desa: Kirana (nilai 98,7)

Kirana hampir tak percaya. Ia mengecek ulang. Namanya tercetak jelas di urutan pertama. Ia berhasil. Nilai tertinggi untuk posisi yang paling ia incar.

Air matanya jatuh tanpa diminta. Enjelina yang ikut datang langsung memeluknya.

"Alhamdulillah, Nak. Ibu bangga."

Bambang yang berdiri di belakang hanya tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.

Posisi lain juga terisi:

·       Kaur Keuangan: Dimas, pemuda lulusan akuntansi dari Universitas Terbuka. Nilai 91,2.

·       Kaur Perencanaan: Sari, gadis cerdas dari RT 03, lulusan SMK jurusan administrasi perkantoran. Nilai 89,5.

·       Kasi Pelayanan: Rudi, mantan aktivis karang taruna yang enerjik. Nilai 88,0.

·       Kasi Pemerintahan: Wulan, lulusan hukum dari Universitas di kota. Nilai 92,3.

·       Staf Administrasi: Anton (nilai 87,1) dan Lina (nilai 86,9).

Mereka semua adalah generasi baru. Muda, berpendidikan, dan penuh semangat. Wajah-wajah segar yang siap mengabdi.

Tiga hari kemudian, rapat perdana diadakan di ruang pertemuan kantor desa. Arjuna duduk di kursi kepala desa, kursi yang dulu diduduki Pak Iwan. Herman di sampingnya sebagai Ketua BPD. Di hadapan mereka, deretan perangkat desa baru duduk rapi.

"Selamat bergabung," sambut Arjuna. Suaranya tenang, tapi berwibawa. "Kita punya pekerjaan besar. Desa Awan Biru harus lebih maju. Tapi ingat, kita bukan cuma bekerja. Kita melayani. Bukan cuma mencari uang. Tari mencari berkah."

Kirana mencatat dengan tekun. Matanya sesekali melirik Arjuna yang tampak serius menjelaskan visi misi. Ada sesuatu yang menggelitik di hatinya. Sesuatu yang hangat dan aneh.

Selesai rapat, peserta satu per satu keluar. Kirana masih merapikan catatan. Arjuna mendekat.

"Kirana, selamat ya."

Kirana menoleh. "Makasih, Mas Arjuna. Eh, Pak Kades maksudnya."

Arjuna tertawa. Tawanya ringan, seperti angin sore. "Panggil Arjuna aja. Kita seumuran. Jangan formal-formal amat."

"Masa sih? Lo lebih tua empat tahun."

"Oh, riset dulu rupanya." Arjuna mengangkat alis, matanya berbinar.

Kirana tersipu. Wajahnya merona. "Bukan riset. Tau aja. Umur lo kan publik. Di data desa ada."

"Ooh... jadi lo udah buka data desa? Baru masuk udah kepo?"

"Bukan kepo! Untuk pekerjaan!"

Mereka tertawa kecil. Suasana hangat itu mengawali perjalanan mereka sebagai rekan kerja. Tanpa mereka sadari, benih-benih sesuatu yang indah mulai ditanam di hati masing-masing.***

Hari pertama Kirana bekerja, ia disambut tumpukan berkas setinggi gunung. Mejanya, meja bekas Si Amat, penuh dengan map, dokumen, dan file-file lama. Debu menempel di sana-sini. Komputernya, PC tua peninggalan kantor, berdengung keras saat dinyalakan.

"Gila, banyak banget," keluhnya sambil mengusap debu dari meja.

"Bisa dibantu?"

Kirana menoleh. Arjuna berdiri di ambang pintu ruang IT, kamar kecil di pojok kantor yang sekarang jadi markasnya. Pagi itu ia memakai kemeja batik lengan pendek, terlihat santai tapi tetap rapi.

"Lo nggak ada kerjaan lain?" tanya Kirana setengah heran.

"Ini juga kerjaan. Ngebantu staf itu tugas kepala desa. Apalagi staf baru yang masih bingung."

"Siapa yang bingung? Gue nggak bingung. Cuma... banyak aja."

Arjuna tertawa. Ia masuk, duduk di kursi sebelah Kirana. "Ya udah, mulai dari mana?"

Mereka bekerja bersama sepanjang pagi. Arjuna membantu mengelompokkan berkas, Kirana menginput data ke komputer. Sesekali mereka ngobrol, bercanda, saling meledek.

"Juna, lo kok bisa jadi Kades?" tiba-tiba Kirana bertanya di sela pekerjaan.

Arjuna menghentikan aktivitasnya. "Ditakdirin kali."

"Ah, serius."

Arjuna berpikir sejenak. Matanya menerawang ke luar jendela, ke sawah yang membentang hijau. "Gue pengen desa ini makin maju. Kayak yang diliatin orang tua kita dulu. Mereka bangun dari nol, dari desa yang listriknya sering mati, sampai desa digital seperti sekarang. Sekarang giliran kita. Gue nggak mau usaha mereka sia-sia."

Kirana mengangguk. "Gue juga. Pengen digitalisasi desa makin keren. Nggak cuma website, tapi aplikasi mobile, sistem terintegrasi, data real-time. Semua harus modern."

"Kita bisa bareng."

Mata mereka bertemu. Lagi-lagi hanya sepersekian detik. Tapi kali ini, tidak ada yang cepat berpaling. Mereka saling menatap, tersenyum kecil, lalu kembali bekerja.

Sore itu, setelah berjam-jam bekerja, mereka akhirnya menyelesaikan tugas. Website desa tampil baru dengan fitur-fitur tambahan. Data penduduk terintegrasi rapi. Sistem administrasi mulai berjalan.

"Alhamdulillah," Kirana menghela napas panjang. Ia meregangkan punggung yang pegal.

"Makasih, Ran. Lo hebat."

Panggilan "Ran" itu keluar begitu saja dari mulut Arjuna. Kirana tersenyum.

"Sama-sama, Jun."

Matahari mulai condong. Sinar jingga masuk melalui jendela, menyinari ruangan. Debu-debu kecil menari di udara, diterpa cahaya.

"Pulang yuk," ajak Arjuna.

"Yuk."

Mereka berjalan bersama meninggalkan kantor. Langkah mereka seirama. Di halaman, mereka berpapasan dengan Herman yang baru datang.

"Wah, bareng-bareng. Jadi ini rapat atau kencan?" goda Herman.

"Rapat, Man. Kerja," jawab Arjuna cepat.

"Iya iya, rapat. Rapat hati."

Kirana hanya tersenyum, tapi pipinya merona.***

 

Warung kopi Pak RT masih jadi tempat nongkrong favorit warga Desa Awan Biru. Setelah sekian lama, Pak RT sendiri, bapak tua yang dulu selalu bercerita tentang masa muda, kini sudah renta. Usianya 78 tahun, rambutnya putih semua, jalannya sudah terbungkuk. Tapi warungnya tetap buka, dikelola anaknya, Agus.

Warung itu sederhana: bangunan papan beratap seng, dengan tiga meja kayu dan kursi plastik di dalamnya. Di teras, ada dua meja panjang untuk yang suka duduk di luar. Dindingnya penuh stiker dan coretan pengunjung dari tahun ke tahun. Di sudut, ada TV kecil yang selalu menyala, menayangkan pertandingan bola atau sinetron.

Arjuna dan Kirana sering ke sana sepulang kerja. Bukan kencan, hanya ngopi sambil diskusi program. Tapi warga mulai bergosip.

"Itu lho, Pak Kades sama Mbak Kirana. Sering banget bareng," bisik Bu Emen pada Yulia. Mereka duduk di meja sebelah, pura-pura minum es teh tapi telinga pasang radar.

Yulia, yang meski sudah tua dan punya cucu, masih jadi penggerak gosip nomor satu di desa. "Iya, Bu. Padahal katanya cuma kerja. Kerja kok sampai magrib? Kerja kok sambil ngobrol ngalor-ngidul?"

"Mungkin diskusi program."

"Diskusi program atau diskusi hati?"

Mereka terkikik. Agus yang mendengar hanya menggeleng sambil melap gelas.

Di meja sudut, Arjuna dan Kirana tidak sadar sedang jadi bahan pembicaraan. Mereka asyik membahas program pelatihan digital untuk lansia.

"Ran, lo bisa bikin modul sederhana nggak? Biar yang tua-tua juga paham. Jangan pakai istilah ribet," pinta Arjuna.

"Bisa. Nanti gue bikin yang pakai gambar banyak. Font-nya gede. Bahasa sehari-hari."

"Pinter."

Arjuna menyeruput kopinya. Kirana melakukan hal yang sama. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara jangkrik mulai bersahutan.

"Lo tahu nggak, Ran," Arjuna tiba-tiba berganti topik, "orang tua kita dulu juga sering ngopi di sini. Waktu pacaran."

Kirana hampir tersedak. "Masa? Bapak gue sama Ibu?"

"Iya. Kata bokap, dulu di sini tempat mereka ngobrol pertama kali. Bahkan sebelum resmi pacaran."

"Mereka ngobrol apa?"

"Program. Sama kayak kita." Arjuna tersenyum. "Bokap cerita, dulu nyokap, Anita, itu kader kesehatan yang kritis. Setiap ngobrol selalu debat. Tapi dari debat itu, mereka jadi dekat."

Kirana tersenyum. "Romantis juga, ya."

"Iya. Dan sekarang kita di sini. Kayak mengulang sejarah."

Kalimat itu menggantung di udara. Kirana menunduk, memainkan ujung jilbabnya. Jantungnya berdebar. Ia tidak tahu apakah Arjuna sengaja atau tidak, tapi kata-kata itu membuatnya berpikir.

Mereka diam cukup lama. Hanya suara jangkrik dan sesekali klakson motor yang lewat.

"Ran," Arjuna memecah keheningan.

"Ya?"

"Gue... gue seneng ngobrol sama lo."

Kirana menatapnya. "Gue juga."

"Makasih udah mau kerja keras. Lo aset berharga buat desa ini."

"Makasih. Lo juga pemimpin yang baik."

Mereka tersenyum. Tapi di hati masing-masing, ada yang lebih dari sekadar apresiasi kerja.***

 

Anto, sopir truk legendaris, ikon Desa Awan Biru, akhirnya pensiun. Usianya 65 tahun, truknya sudah tidak layak jalan. Truk tua merek Mitsubishi tahun 90-an itu sudah bolong di sana-sini, catnya mengelupas, mesinnya sering mati mendadak. Tapi Anto tetap setia. Ia menyebut truk itu "istri pertamanya."

Warga mengadakan acara perpisahan sederhana di balai desa. Acara dimulai pukul tujuh malam. Lampu-lampu hias dipasang di halaman. Tenda plastik didirikan untuk tempat duduk. Sound system seadanya disiapkan untuk hiburan.

Anto datang dengan setelan kemeja batik, langganan dipakai hanya saat acara penting. Rambutnya yang sudah putih disisir rapi. Istrinya, Bu Anto, mendampingi dengan kebaya sederhana.

Acara dimulai dengan sambutan dari Arjuna.

"Bapak Ibu sekalian, malam ini kita berkumpul untuk melepas salah satu ikon desa kita. Sosok yang selalu setia dengan truknya, yang selalu siap membantu warga, yang juga sumber informasi nomor satu di desa ini, Pak Anto."

Tepuk tangan riuh. Anto tersenyum lebar.

"To, lo bakal jadi apa sekarang?" tanya Arjuna setelah sambutan.

Anto berdiri, mengambil mikrofon. Suaranya serak tapi masih lantang. "Jadi kakek-kakek gaul. Jaga cucu. Nonton TV. Kadang nongkrong di warung Pak RT, ngawasin anak muda pacaran."

Semua tertawa. Kirana yang duduk di barisan depan ikut tersenyum.

"Tapi serius, Juna," lanjut Anto, "gue bangga sama lo. Lo jadi Kades muda. Lo lanjutin mimpi orang tua lo. Lo bawa desa ini makin maju. Tapi inget, jangan lupa sama warga kecil kayak gue. Jangan cuma mikirin program dan angka, tapi rasakan hati mereka."

Arjuna mengangguk serius. "Nggak akan, To."

"Dan satu lagi." Anto melirik Kirana yang duduk di barisan depan. "Jaga hati lo baik-baik. Jangan sampai salah pilih. Soalnya yang bener udah kelihatan dari sini."

Semua mata langsung menatap Kirana. Kirana tersipu, menunduk dalam-dalam. Wajahnya merah padam.

"To, ini urusan kerja," protes Arjuna lemah.

"Iya iya, urusan kerja. Tapi urusan hati juga penting. Dua-duanya harus jalan."

Tawa pecah lagi. Herman berteriak, "To, lo emang yang terbaik!"

Anto membungkuk ala artis di atas panggung. "Terima kasih, terima kasih. Truk gue titip di museum desa, ya."

Malam itu, acara ditutup dengan doa bersama dan makan. Anto berkeliling, bersalaman dengan semua warga. Ada yang menangis, ada yang tertawa. Anto memang sederhana, tapi ia adalah bagian dari sejarah desa.

Menjelang tengah malam, Arjuna dan Kirana duduk di teras balai desa. Acara sudah usai, tinggal beberapa warga yang membantu membersihkan.

"To, orang baik," kata Kirana.

"Iya. Dulu waktu gue kecil, dia sering ngasih gue tumpangan ke sekolah. Truknya reyot, tapi asyik."

"Lo dekat sama dia?"

"Cukup dekat. Dia tahu banyak cerita tentang orang tua kita."

Kirana tersenyum. "Mungkin suatu hari kita juga bakal kayak mereka. Dikenang, diceritain."

Arjuna menatapnya. "Mungkin."

Malam itu, di bawah bintang yang bertaburan, dua hati terus mendekat tanpa kata.***

 

Tidak semua berjalan mulus. Hidup selalu punya cara untuk menguji.

Suatu pagi, saat Kirana baru sampai di kantor, ia melihat layar komputernya gelap. Ia coba menekan tombol power. Tidak ada reaksi. Ia cek kabel. Semua terhubung.

"Juna!" teriaknya panik.

Arjuna yang baru sampai di halaman langsung berlari masuk. "Kenapa, Ran?"

"Komputer gue mati total!"

Arjuna mencoba menekan tombol. Tidak ada. Ia buka CPU, memeriksa komponen. "Kayaknya hard disk-nya bermasalah. Lo backup data?"

Kirana pucat. "Data kita... data penduduk... semua ada di situ. Belum sempat backup ke cloud."

Arjuna terdiam. Ia tahu betapa berharganya data itu. Ribuan data penduduk, dokumen administrasi, laporan keuangan, semua hilang jika tidak bisa direstorasi.

"Bisa diperbaiki?"

Kirana hampir menangis. "Gue usahakan."

Seharian itu Kirana bekerja. Ia bongkar hard disk, coba sambungkan ke komputer lain, gunakan software recovery. Tidak ada hasil. Matanya merah, punggungnya pegal, tapi ia tak menyerah. Arjuna menemani, kadang membantu, kadang hanya duduk diam di sampingnya.

"Lo istirahat dulu, Ran. Gue yang lanjut."

"Nggak. Ini tanggung jawab gue."

"Tanggung jawab bersama."

Pukul sepuluh malam. Kirana hampir menyerah. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Juna, lo ingat nggak, Pak Amat dulu pernah bilang ada backup fisik?"

"Backup fisik?"

"Iya. Kata beliau, setiap akhir bulan ia selalu backup ke hard disk eksternal dan DVD. Mungkin masih ada di lemari arsip."

Mereka bergegas ke ruang arsip. Debu beterbangan saat mereka membuka lemari tua. Berkas-berkas lama berjejer rapi. Di rak paling bawah, mereka menemukan kotak berisi DVD dan hard disk eksternal.

"Bismillah," Kirana memasang hard disk itu.

Tunggu beberapa saat. Layar menyala. Data muncul.

"Alhamdulillah!" Kirana hampir menjerit.

Data berhasil direstorasi. Semua kembali. Kirana menangis haru. Arjuna memeluknya tanpa sadar.

"Makasih, Ran. Lo hebat."

Kirana balas memeluk. Mereka diam dalam pelukan cukup lama. Hingga Arjuna sadar, lalu melepas.

"Maaf, gue..."

"Nggak apa-apa."

Mereka diam. Tapi hati keduanya berdebar tak karuan. Suasana ruangan yang temaram, diterangi satu lampu meja, membuat segalanya terasa berbeda.

"Udah larut, Ran. Gue antar pulang."

"Iya."

Malam itu, perjalanan pulang terasa singkat. Padahal biasanya lama. Mereka tidak banyak bicara, tapi hati mereka berbicara banyak.***

 

Malam Minggu, Arjuna duduk di teras rumah. Rumah dinas kepala desa yang sederhana, bercat putih, berlantaikan keramik biasa, dengan beranda kecil tempat ia biasa duduk sambil minum teh. Malam itu sepi. Hanya suara jangkrik dan angin yang berdesir.

Pintu terbuka. Erlangga keluar, duduk di sampingnya.

"Nak, Bapak boleh duduk?"

"Silakan, Pak."

Mereka diam beberapa saat. Erlangga menikmati teh hangat bawaannya. Arjuna menatap langit yang bertabur bintang.

"Nak, Bapak lihat lo dekat sama Kirana."

Arjuna kaget. "Pak... kita teman kerja."

Erlangga tersenyum. "Bapak tahu. Tapi Bapak lihat cara lo liat dia. Beda. Bapak pernah ngalamin."

Arjuna diam.

"Nak, jadi pemimpin itu berat. Tapi jadi pemimpin yang hatinya terbagi, lebih berat lagi."

"Maksud Bapak?"

Erlangga menatap langit, seperti mencari kata-kata yang tepat. "Bapak pernah ngalamin. Waktu muda, Bapak harus bagi waktu antara tugas, penelitian, dan cinta. Antara jadi mahasiswa yang harus menyelesaikan skripsi, jadi calon dokter yang harus belajar, dan jadi lelaki yang mulai jatuh cinta sama ibu lo. Nggak mudah."

Arjuna mendengarkan dengan saksama.

"Tapi Bapak belajar satu hal, Nak. Cinta itu bukan soal punya waktu banyak. Tapi soal kualitas waktu yang lo kasih. Separuh hati lo untuk tugas, separuh lagi untuk keluarga. Tapi harus utuh di masing-masing. Kalau lo lagi kerja, kerja dengan sepenuh hati. Kalau lo lagi sama dia, beri dia sepenuh hati lo. Jangan campur aduk."

"Gimana caranya, Pak?"

"Seimbang. Nggak ada rumus pasti. Tapi dengan niat baik, Insya Allah selalu ada jalan." Erlangga menepuk bahu anaknya. "Bapak dulu juga ragu. Tapi lihat sekarang. Bapak sama ibu lo masih bersama. Bahkan setelah puluhan tahun."

Arjuna tersenyum. "Makasih, Pak."

"Kalau lo sayang sama Kirana, jangan ragu. Tapi ingat, lo punya tanggung jawab besar. Jangan sampai keluarga lo nanti merasa diabaikan karena tugas. Jadikan mereka kekuatan, bukan beban."

Malam itu, Arjuna tidak bisa tidur. Ia memikirkan Kirana. Dan ia memikirkan tanggung jawabnya sebagai kepala desa. Dua hal yang harus ia seimbangkan. Dua hal yang sama berharganya.***

 

Di malam yang sama, Kirana juga bertanya pada ibunya. Enjelina sedang menjahit di teras, hobi lamanya yang kini jadi kegiatan rutin di usia senja. Lampu teras menyala temaram, cukup untuk melihat jarum dan kain.

"Bu, boleh tanya?" Kirana duduk di samping ibunya.

"Tanya aja, Sayang."

"Waktu muda, Bapak sama Ibu pacaran nggak?"

Enjelina tersenyum. Jarum berhenti bergerak. "Pacaran? Iya. Tapi lebih banyak kerjanya."

"Maksud Ibu?"

"Dulu kita bareng bangun Ruang Komunitas. Setiap hari ketemu, setiap hari kerja. Diskusi program, bikin pelatihan, urus administrasi. Kadang capek, kadang bete. Tapi justru dari situ kita saling kenal. Kita tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kita belajar sabar, belajar kompromi."

Kirana diam, meresapi.

"Lo nanya soal Arjuna, ya?"

Kirana kaget. "Bu, kok tahu?"

Enjelina meletakkan jahitannya. Ia menatap anaknya dengan lembut. "Ibu tahu dari cara lo cerita. Dari cara lo nyebut namanya. Dari cara lo tersenyum sendiri pas ngerjain sesuatu. Dan Ibu lihat cara lo liat dia waktu rapat dulu."

Kirana tersipu. "Kelihatan, Bu?"

"Kelihatan banget. Tapi tenang, cuma ibu yang jeli."

Kirana diam. Enjelina melanjutkan.

"Nak, kalau lo sayang sama dia, jangan takut. Tapi ingat, dia pemimpin. Hatinya harus terbagi. Separuh buat desa, separuh buat lo. Lo siap?"

"Aku... aku nggak tahu, Bu."

"Itu yang harus lo pikirkan. Bukan soal dia sayang atau nggak. Tapi soal lo siap atau nggak menerima separuh hatinya. Karena jadi istri pemimpin itu nggak mudah. Lo akan sering ditinggal rapat, sering kesepian di malam Minggu, sering berbagi perhatian dengan ribuan warga."

Kirana menunduk.

"Tapi kalau lo siap, Nak, itu akan jadi petualangan yang indah. Lo akan lihat suami lo berjuang untuk orang banyak. Lo akan bangga jadi bagian dari perjuangan itu. Dan lo akan belajar bahwa cinta bukan soal memiliki sepenuhnya, tapi soal berbagi dengan ikhlas."

Enjelina memegang tangan anaknya. "Pikirkan baik-baik, Sayang. Jangan terburu-buru. Tapi kalau sudah yakin, jangan ragu."

Malam itu, Kirana baru paham. Mencintai pemimpin tidak sama dengan mencintai orang biasa. Ada harga yang harus dibayar. Ada pengorbanan yang harus dilakukan. Tapi mungkin, di balik semua itu, ada kebahagiaan yang tak ternilai.***

 

Setelah kejadian di ruang server, Arjuna dan Kirana menjaga jarak. Bukan karena marah, tapi karena bingung. Mereka tetap bekerja sama, tapi obrolan jadi formal. Tidak ada lagi candaan. Tidak ada lagi ngopi bareng setelah kerja.

Di kantor, mereka hanya berbicara seperlunya. "Pak Kades, ini laporan." "Terima kasih, Mbak Kirana." Formal. Kaku. Membingungkan.

Hari-hari terasa panjang. Arjuna merasa ada yang hilang. Kirana juga merasakan hal yang sama. Tapi mereka tidak tahu harus bagaimana.

Suatu sore, Herman datang ke ruang Arjuna. "Jun, lo kenapa sama Kirana?"

"Enggak. Biasa aja."

"Biasa aja kok kaku kayak patung? Dari kemarin gue perhatikan, lo nggak ngobrol santai sama dia. Padahal dulu tiap pulang kantor pasti ke warung kopi bareng."

Arjuna menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit, lalu menatap Herman. "Man, gue bingung."

"Bingung apa?"

"Gue suka sama dia. Tapi gue takut."

Herman duduk di kursi tamu, menyandarkan tubuh. "Takut apa?"

"Takut nanti gue nggak bisa bagi waktu. Takut dia kecewa. Takut desa jadi korban. Takut tanggung jawab gue terbengkalai. Takut banyak hal."

Herman menatapnya serius. "Jun, lo itu Kades. Lo harus tegas. Tapi lo juga manusia. Berhak bahagia. Berhak mencintai dan dicintai."

"Tapi..."

"Nggak ada tapi." Herman memotong. "Kalau lo suka, jujur. Kalau dia terima, syukur. Kalau nggak, lo terima. Tapi jangan kayak gini. Nggak jelas. Lo sengsara, dia juga sengsara."

Arjuna diam. Ia tahu Herman benar. Tapi ketakutan itu masih membayangi.

"Lo tahu cerita orang tua lo?" tiba-tiba Herman bertanya.

"Tahu."

"Mereka juga pasti ngalamin hal yang sama. Tapi lihat sekarang. Mereka tetap bersama. Bahkan setelah puluhan tahun."

Arjuna tersenyum tipis. "Makasih, Man."

"Gue bukan siapa-siapa. Cuma temen lo. Tapi gue nggak tega lihat lo kayak gini."

Sore itu, Arjuna memutuskan. Ia akan bicara. Bagaimanapun hasilnya, ia harus bicara.***

 

Di tempat lain, Kirana juga bingung. Ia duduk di kamarnya, memandangi laptop. Jari-jarinya menari di atas keyboard, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Ia rindu ngobrol santai dengan Arjuna. Rindu tawanya. Rindu cara dia menjelaskan sesuatu dengan sabar. Rindu bagaimana ia selalu ada saat Kirana butuh bantuan.

Tapi ia takut. Takut dianggap mengganggu. Takut perasaannya bertepuk sebelah tangan. Takut jika ia salah memahami semua perhatian Arjuna selama ini.

Lalu ia ingat cerita ibunya. Tentang bagaimana Bambang dulu menyatakan cinta lewat website sederhana. Tentang surat cinta digital yang membuat Enjelina menangis haru.

Ide itu muncul tiba-tiba.

Kirana mulai mengetik. Bukan surat biasa, tapi sebuah website. Ia beri judul "Untuk Arjuna". Desainnya sederhana, bersih, dengan latar belakang foto-foto mereka selama bekerja bersama: di kantor, di warung kopi, di pelatihan, di acara desa.

Setiap foto diberi caption pendek.

"Hari pertama kita kerja bareng. Lo bantuin gue beresin berkas. Lo bilang, 'Ini juga kerjaan. Ngebantu staf itu tugas kepala desa.' Gue tersenyum sendiri waktu itu."

"Sore di warung kopi. Kita diskusi program. Lo cerita tentang orang tua lo. Gue rasa, lo bakal jadi pemimpin yang baik. Karena lo tahu arti perjuangan."

"Malam di ruang server. Lo temenin gue sampai malam. Lo gak ninggalin gue sendirian. Dan gue tahu, gue nggak akan pernah sendiri kalau ada lo."

Di halaman terakhir, ada satu pertanyaan.

"Arjuna, selama ini kita kerja bareng. Gue seneng. Tapi gue bingung. Lo suka nggak sih sama gue? Kalau iya, gue mau lo jujur. Kalau nggak, gue juga mau lo jujur. Biar jelas. Biar nggak ada yang bingung lagi.

Dari Kirana, yang mungkin mulai suka sama lo."

Jantung Kirana berdebar saat menekan tombol "publish". Ia mengirim tautan itu lewat WhatsApp. Lalu mematikan ponsel. Ia tidak sanggup melihat balasannya.

Arjuna menerima pesan itu saat tengah malam. Ia baru selesai membaca laporan. Ponselnya bergetar. Tautan dari Kirana.

Ia membuka tautan itu. Satu per satu foto dan caption muncul. Matanya berkaca-kaca. Sama persis seperti cerita orang tuanya dulu. Sama persis seperti cara Bambang menyatakan cinta pada Enjelina.

Di halaman terakhir, ia membaca pertanyaan itu. Berkali-kali. Hingga air matanya jatuh.

Ia langsung mengambil ponsel. Menekan tombol panggil.

"Ran..."

"Juna..."

Hening beberapa detik. Hanya suara napas yang terdengar.

"Gue suka lo."

Di ujung sana, Kirana menangis. Tangis haru, lega, bahagia. "Gue juga suka lo."

Tapi ada satu hal yang harus Arjuna sampaikan. Hal yang sudah lama ia pikirkan.

"Ran, gue harus jujur. Gue Kades. Hati gue harus terbagi. Separuh buat desa. Separuh buat lo. Lo siap?"

Kirana menarik napas panjang. "Gue sudah mikirin itu, Juna. Dari omongan ibu. Dan gue siap. Asal lo jujur dan setia."

"Janji."

"Janji."

Malam itu, di bawah langit yang sama, dua hati bersatu dengan kesepakatan. Cinta mereka bukan cinta biasa. Tapi cinta yang sadar akan tanggung jawab. Cinta yang memahami arti pengabdian. Cinta yang siap berbagi.***

 

Kabar pacaran Arjuna dan Kirana menyebar cepat. Lebih cepat dari virus. Lebih cepat dari aplikasi desa versi baru. Dalam hitungan jam, seluruh Desa Awan Biru sudah "tahu".

Yulia, yang kini sudah nenek-nenek berusia 70 tahun tapi masih aktif, langsung mengaktifkan grup gosip. Ia mengetik dengan jari-jari keriputnya, perlahan tapi pasti.

"Cucu-cucu, dengerin! Ini berita penting! Pak Kades sama Mbak Kirana resmi pacaran!"

Grup WhatsApp pemuda desa langsung ramai.

"Akhirnya! Udah dari dulu gue tebak!"

"Cocok lah. Sama-sama anak pejabat desa. Sama-sama pinter. Sama-sama ganteng dan cantik."

"Kapan nikahnya?"

"Jangan buru-buru. Kasih mereka waktu pacaran dulu."

"Lo yang pacaran apa mereka?"

"Tahulah."

Anto yang sudah pensiun ikut nimbrung di grup. Jari-jarinya juga sudah mulai lambat, tapi semangatnya membara.

"Gue udah bilang dari dulu. Truk gue saksi bisu. Ingat waktu mereka pertama kali ke warung kopi bareng? Gue lihat sendiri!"

"To, lo nggak bawa truk ke grup."

"Gue bawa hati. Sama pentingnya."

Semua tertawa. Kirana membaca chat itu sambil tersenyum. Ia hanya bisa menggeleng.

"Mat, lo pasti yang nyebarin," protes Kirana pada Amat muda, keponakan Si Amat yang sekarang jadi admin website. Mereka sedang mengedit konten di ruang IT.

Amat muda mengangkat kedua tangan. "Bukan gue, Mbak. Itu Yulia. Cepet banget emak-emak itu."

"Yulia udah tua masih aja."

"Emang bakat. Mungkin dia punya radar khusus untuk urusan beginian."

Kirana tertawa. "Dasar."

Amat muda menyeringai. "Tapi seneng, Mbak? Akhirnya resmi."

Kirana tersipu. "Seneng. Tapi juga deg-degan."

"Deg-degan kenapa?"

"Takut nggak bisa jaga hubungan. Takut banyak godaan."

Amat muda menatapnya serius. "Mbak, lo orang pinter. Mas Arjuna juga orang baik. Insya Allah kalian bisa. Gue doain yang terbaik."

"Makasih, Mat."***

 

Setelah resmi berpacaran, Arjuna dan Kirana sepakat untuk meminta restu orang tua masing-masing. Ini bukan sekadar formalitas. Ini soal penghormatan pada orang tua yang telah berjuang membesarkan mereka.

Sabtu pagi, Arjuna datang ke rumah Bambang dengan perasaan deg-degan. Ia memakai kemeja batik, yang paling rapi yang ia punya. Rambutnya disisir rapi. Ia membawa buah tangan: jeruk dan kurma, kesukaan Enjelina.

Rumah Bambang tidak berubah. Masih sama seperti dulu: rumah sederhana bercat putih, dengan teras yang selalu bersih dan taman kecil di depan. Di teras, Bambang dan Enjelina sudah duduk menunggu.

"Silakan duduk, Nak," sapa Bambang ramah.

Arjuna duduk di kursi yang disediakan. Ia meletakkan buah tangan di meja. "Om, Tante, saya datang untuk minta izin."

Bambang tersenyum. "Izin apa, Nak?"

Arjuna menarik napas dalam. "Saya... saya suka Kirana. Dan dia juga suka saya. Kami mau serius. Mau lanjut ke jenjang yang lebih... resmi."

Bambang menatap Enjelina. Mereka bertukar pandang, lalu tersenyum. Sebuah senyum yang hanya dipahami oleh pasangan yang sudah puluhan tahun bersama.

"Nak, kami sudah lihat lo tumbuh. Dari kecil sampai sekarang jadi Kades. Kami tahu lo baik. Tapi ada satu syarat."

"Apa, Om?"

"Jangan sakiti anak kami. Jangan jadikan dia nomor dua. Kalau lo jadi pemimpin, hati lo terbagi. Tapi pastikan separuh yang buat dia, benar-benar utuh. Jangan setengah-setengah. Kalau lo lagi sama dia, beri dia perhatian penuh. Jangan bawa pekerjaan ke rumah. Jangan biarkan dia merasa sendiri meski lo sering sibuk."

Arjuna mengangguk mantap. "Saya janji, Om. Saya akan jaga Kirana sebaik-baiknya."

Enjelina menambahkan, "Nak, pernikahan itu bukan cuma soal cinta. Tapi soal komitmen. Soal kerja sama. Soal saling menguatkan. Apalagi lo pemimpin. Pasti banyak cobaan. Tapi kalian berdua kuat. Ibu percaya itu."

"Makasih, Tante."

Di rumah Erlangga, sore harinya, Kirana juga minta restu. Ia duduk di ruang tamu yang sederhana. Erlangga dan Anita duduk berhadapan.

"Pak Dokter, Bu Anita, saya minta doa restu."

Erlangga tersenyum bijak. "Nak, kami seneng lo mau sama Arjuna. Lo anak baik, pinter, pekerja keras. Tapi ingat, jadi istri kepala desa nggak mudah."

"Iya, Pak."

Anita memegang tangan Kirana. Tangannya hangat, menenangkan. "Nak, ibu juga pernah di posisi lo. Dulu ibu sama bapak, waktu bapak jadi dokter desa. Sering ditinggal, sering sendiri, sering cemas. Tapi kalau saling dukung, semua terasa ringan. Ibu percaya lo bisa."

"Makasih, Bu."

Erlangga menambahkan, "Satu pesan Bapak. Jaga Arjuna. Dampingi dia. Ingatkan kalau dia salah. Dukung kalau dia lemah. Karena pemimpin itu manusia biasa. Butuh sandaran."

Kirana mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Saya janji, Pak."

Restu telah diberikan. Kedua keluarga bersatu dalam doa. Malam itu, Arjuna dan Kirana saling berkirim pesan.

"Udah minta restu?"

"Udah. Lo?"

"Udah. Alhamdulillah, semua merestui."

"Alhamdulillah."

"Ran, ini baru awal."

"Iya. Tapi kita hadapi bareng."

"Janji?"

"Janji."***

 

Sebulan kemudian, perangkat desa yang baru resmi dilantik. Acara digelar di halaman balai desa, dihadiri oleh camat, forkopimcam, dan seluruh warga. Langit cerah, matahari bersinar hangat. Tenda-tenda putih dipasang berjajar. Kursi-kursi plastik ditata rapi. Sound system dipasang di panggung sederhana.

Kirana, Dimas, Sari, Rudi, Wulan, Anton, dan Lina, mereka berjejer rapi di depan panggung, mengenakan seragam seperti seragam pegawai negeri. Wajah mereka tegang tapi bahagia.

Arjuna membacakan surat keputusan. Satu per satu nama dipanggil, maju, mengucapkan sumpah jabatan. Tepuk tangan bergemuruh setiap kali nama disebut.

"Saya doakan kalian semua bisa bekerja dengan baik. Ingat, kita melayani, bukan dilayani. Kita bekerja untuk warga, bukan untuk diri sendiri. Jadikan amanah ini ladang ibadah," pesan Arjuna di akhir acara.

Setelah pelantikan, mereka foto bersama. Arjuna dan Kirana berdiri bersebelahan. Warga bersorak.

"Cieee... Pak Kades sama Bu Kades!"

"Kapan nikahnya?"

"Jangan lupa undangan, ya!"

Arjuna dan Kirana hanya tersipu. Wajah mereka merah.

"Mereka ini," gumam Kirana pelan.

"Biarkan. Itu tandanya mereka sayang," jawab Arjuna sambil tersenyum.

Herman mendekat, menyenggol Arjuna. "Jun, lo harus cepat. Kalau nggak, warga bisa demo."

"Demo apaan?"

"Minta lo nikah. Itu juga bagian dari pelayanan publik."

Arjuna tertawa. "Dasar lo!"

Sore itu, acara ditutup dengan makan bersama. Nasi tumpeng dipotong, doa dibaca, dan warga antre mengambil makanan. Suasana hangat penuh kebersamaan.

Arjuna dan Kirana duduk di sudut, makan bersama. Sederhana. Tapi bahagia.***

 

Di tahun pertama kepemimpinan Arjuna, ia meluncurkan program besar: "Desa Cerdas 2030". Program ambisius yang mengintegrasikan semua layanan desa ke dalam satu platform digital. Kesehatan, administrasi, keuangan, pelaporan warga, semua bisa diakses lewat ponsel.

Launching program digelar di balai desa, dihadiri oleh Bupati dan rombongan. Warga memadati halaman. Spanduk besar bertuliskan "DESA CERDAS 2030" dipasang di pintu masuk.

Arjuna memaparkan visinya. "Kita ingin desa ini nggak cuma maju secara fisik, tapi juga secara teknologi. Semua layanan harus mudah, cepat, dan transparan. Warga nggak perlu antre berjam-jam hanya untuk urus KTP atau surat keterangan. Cukup dari rumah, lewat ponsel."

Tepuk tangan riuh.

Kirana jadi motor penggerak program ini. Ia memimpin tim IT, Amat muda dan dua anak muda lainnya, untuk mengembangkan platform. Ia juga melatih kader-kader digital di setiap RT, memastikan sistem berjalan lancar.

Hari-hari Kirana penuh dengan coding, desain, dan pelatihan. Kadang ia lembur sampai malam. Kadang ia keliling desa dari pagi sampai sore. Tapi ia menikmatinya.

"Ran, lo hebat," puji Arjuna suatu malam. Mereka duduk di teras kantor desa, menikmati angin malam.

"Ini tim, Juna. Bukan gue sendiri."

"Tapi lo otaknya. Lo yang memimpin. Lo yang memastikan semua beres."

Kirana tersenyum. "Lo juga. Lo pemimpinnya. Lo yang kasih visi. Lo yang dorong kita semua."

Mereka menggenggam tangan. Senja mulai turun, langit memerah jingga.

"Juna, lo ingat pertama kali kita ngobrol serius?" tanya Kirana.

"Ingat. Di sini. Lo bilang lo mau bangun desa. Lo bilang lo pengen digitalisasi makin keren."

"Sekarang kita bareng."

"Iya. Bareng."

Mereka diam. Menikmati momen. Burung-burung terbang rendah, pulang ke sarang. Suara azan Magrib mulai berkumandang dari masjid.

"Magrib, Ran. Ayo pulang."

"Iya."

Mereka berjalan bersama. Langkah seirama. Hati bersatu.***

 

Tidak semua program berjalan mulus. Saat implementasi, banyak warga yang protes. Aplikasi error. Data tidak sinkron. Pelayanan jadi lambat. Warga yang tidak sabar mulai mengeluh di grup WhatsApp.

"Pak Kades, aplikasinya susah!" keluh seorang warga di grup.

"Kami nggak paham, Mbak!" timpal yang lain.

"Lebih enak yang dulu. Manual aja. Nggak ribet."

Kirana membaca semua keluhan itu. Hancur hatinya. Ia merasa gagal. Sudah berbulan-bulan ia bekerja keras, tapi hasilnya seperti ini. Air matanya jatuh.

Arjuna menemukannya di ruang IT, menangis sendirian.

"Ran, kenapa?"

"Ini, Juna. Warga pada protes. Aplikasi kita error. Data nggak sinkron. Mereka kecewa."

Arjuna duduk di sampingnya. "Ran, ini proses. Nggak ada yang langsung mulus. Setiap program baru pasti ada masalah. Yang penting kita perbaiki."

"Tapi gue sudah berusaha maksimal."

"Dan hasilnya tetap bagus. Hanya perlu penyesuaian. Lo lihat response mereka? Mereka peduli. Mereka mau pakai aplikasi ini. Itu artinya mereka butuh. Tinggal kita sempurnakan."

Kirana terdiam. Ia menatap Arjuna.

"Lo percaya sama gue?"

"Sangat percaya. Lo yang paling bisa."

Esoknya, mereka melakukan evaluasi. Mengunduh masukan warga. Memperbaiki sistem. Menambah fitur. Dalam sebulan, aplikasi versi baru diluncurkan. Kali ini lebih sederhana, lebih ramah pengguna.

"Wah, gampang sekarang," kata Bu Emen setelah mencoba.

"Iya, Bu. Makasih masukannya," jawab Kirana.

"Alhamdulillah," Kirana lega.***

 

Herman sebagai Ketua BPD melakukan pengawasan ketat. Ia tidak mau program desa berjalan asal-asalan. Di rapat evaluasi triwulan, ia mengkritik beberapa kebijakan Arjuna.

Rapat berlangsung di ruang pertemuan balai desa. Meja panjang diisi oleh Arjuna, Herman, Kirana, Dimas, dan perwakilan dari kecamatan. Suasana tegang.

"Pak Kades, anggaran program digital membengkak. Ini harus dijelaskan." Herman membuka map birunya. "Ada kenaikan 20 persen dari anggaran awal. BPD perlu penjelasan."

Arjuna menjelaskan dengan tenang. "Kenaikan karena penambahan fitur dan pelatihan ulang. Setelah evaluasi, kami menemukan bahwa fitur awal terlalu rumit. Jadi kami sederhanakan. Itu butuh biaya tambahan."

Herman mengangguk, tapi belum puas. "Tapi kenapa nggak dari awal direncanakan dengan baik?"

Kirana angkat bicara. "Pak Herman, kami akui ada kesalahan di awal. Tapi tim sudah bekerja keras memperbaikinya. Semua tambahan anggaran sudah melalui prosedur dan disetujui Pak Kades."

Herman menatap Kirana. "Mbak Kirana, saya hargai kerja keras Mbak. Tapi sebagai BPD, kami harus memastikan uang rakyat digunakan dengan benar."

"Kami paham, Pak."

Setelah diskusi panjang, Herman akhirnya mengangguk. "Baik. Kalau begitu, saya setuju. Tapi tolong lebih transparan ke depan. Kalau ada perubahan, koordinasi dengan BPD lebih awal."

"Siap."

Selesai rapat, Herman mendekati Arjuna. "Jun, maaf ya tadi gue keras."

"Justru gue perlu itu, Man. Biar nggak salah langkah. Lo BPD, tugas lo mengawasi. Gue Kades, tugas lo menjalankan. Kalau kita kompak, desa maju."

Herman tersenyum. "Lo beruntung punya Kirana. Dia pinter. Dan dia bisa jelasin dengan baik."

Arjuna menatap Kirana yang sedang merapikan berkas. "Iya. Beruntung banget."***

 

Tidak semua anggota tim harmonis. Dimas, Kaur Keuangan, mulai iri pada Kirana. Ia merasa Kirana terlalu dekat dengan Arjuna, mendapat perlakuan khusus. Setiap kali rapat, Kirana selalu didengar pendapatnya. Setiap kali ada masalah, Arjuna selalu minta pendapat Kirana.

Padahal, secara hierarki, posisi mereka setara. Tapi Dimas merasa Kirana lebih diistimewakan.

Suatu hari, Dimas menyebar gosip internal di grup staf. Bukan di grup resmi, tapi di grup informal yang ia buat sendiri.

"Lo pada tahu nggak, katanya Mbak Kirina naik jabatan bukan karena kemampuan, tapi karena dekat dengan Pak Kades."

"Ah masa sih?"

"Gue denger-denger gitu. Cek aja, dia dapat posisi Kader Digital padahal banyak yang lain juga bisa."

"Tapi nilainya kan tertinggi."

"Nilai bisa direkayasa."

Gosip itu menyebar. Sampai ke telinga Kirana. Hancur hatinya. Ia tidak menyangka akan difitnah seperti itu. Ia bekerja keras, lembur, berkorban, tapi dianggap hanya karena kedekatan dengan Arjuna.

"Juna, lo dengar?" tanyanya dengan mata sembab.

Arjuna mengangguk. "Udah. Dan itu nggak benar."

"Tapi orang percaya."

Arjuna menghela napas. "Biar gue urus."

Esoknya, Arjuna memanggil semua staf rapat. Ruang rapat penuh. Suasana tegang. Semua diam, menunggu.

Arjuna berdiri. "Saya dengar ada gosip nggak enak. Ada yang bilang Kirina dapat posisi karena dekat dengan saya."

Semua diam. Dimas menunduk.

"Saya tegaskan, Kirina duduk di posisinya karena kemampuannya. Nilai tesnya tertinggi. Kinerjanya terbaik. Saya punya datanya. Kalau ada yang nggak percaya, silakan cek data. Buka arsip. Lihat sendiri."

Arjuna menatap satu per satu stafnya.

"Dan saya minta, stop gosip. Kita tim. Harus solid. Kalau ada masalah, bicarakan langsung. Jangan di belakang. Karena desa ini butuh kita semua bekerja sama."

Rapat selesai. Semua bubar. Dimas mendekati Kirana.

"Mbak... maaf. Gue... gue salah."

Kirana menatapnya. "Kenapa lo lakuin itu, Mas?"

"Gue... gue iri. Gue lihat Mbak dekat sama Pak Kades. Gue pikir... maaf, Mbak."

Kirana menghela napas. "Mas, gue kerja keras karena gue cinta desa ini. Bukan karena siapa-siapa. Kalau lo mau maju, kerja keras juga. Jangan iri."

Dimas mengangguk. Sejak itu, ia menjaga sikap. Tapi luka di hati Kirana masih ada.***

 

Setelah insiden itu, Kirana merasa lelah. Lelah bekerja, lelah difitnah, lelah menjelaskan. Ia butuh waktu sendiri. Butuh menenangkan hati.

Ia minta cuti seminggu pada Arjuna.

"Ran, lo yakin?"

"Iya, Juna. Gue butuh waktu."

"Mau ke mana?"

"Ke kota. Ke rumah tante. Pengen sendiri dulu."

Arjuna menghela napas. Ia mengerti. "Baik. Gue izinin. Tapi janji, lo pulang."

"Janji."

Kirana pergi. Tanpa pamit pada yang lain, hanya Arjuna yang tahu.

Hari-hari pertama, Arjuna berusaha tenang. Ia bekerja seperti biasa. Tapi hatinya kosong. Setiap kali melewati ruang IT, ia berharap melihat Kirana di sana. Setiap kali mau ngobrol, ia sadar Kirana tidak ada.

Ia telepon, pesan, tapi Kirana jarang balas. Hanya balasan singkat.

"Aku baik-baik saja."

"Istirahat dulu."

"Nanti aku kabari."

Herman mulai curiga.

"Jun, lo kenapa? Kok murung?"

"Gue kangen Kirana."

"Telpon dong."

"Dia nggak angkat."

Herman menghela napas. "Jun, kadang perempuan butuh waktu. Lo harus sabar. Jangan maksa."

"Iya, gue tahu. Tapi berat."

Hari-hari terasa panjang. Arjuna bekerja, tapi fokusnya buyar. Rapat terasa hambar. Program terasa datar. Tanpa Kirana, semuanya berbeda.***

 

Seminggu kemudian, saat Arjuna duduk di teras kantor, seorang kurir datang. Membawa sebuah amplop cokelat. Dikirim dari kota.

Arjuna membuka dengan tangan sedikit gemetar. Di dalamnya, selembar kertas bergambar bunga kering, melati, mungkin dari halaman rumah Kirana. Dan sebuah surat tulisan tangan.

"Juna,

Maaf aku pergi tanpa pamit yang layak. Aku butuh waktu untuk berpikir. Bukan soal kita, tapi soal diriku sendiri. Aku harus kuat. Aku harus percaya diri. Aku nggak bisa terus-terusan lari padamu setiap kali ada masalah.

Di kota ini, aku banyak merenung. Tentang hidup, tentang mimpi, tentang cinta. Aku sadar satu hal: menjadi diriku sendiri adalah kekuatan terbesarku. Aku nggak perlu jadi orang lain. Aku cukup jadi Kirana yang dulu, yang berani, yang percaya diri, yang nggak gampang down.

Dan aku sadar, aku sayang kamu. Bukan karena kamu Kades, bukan karena kamu baik, tapi karena kamu adalah kamu. Kamu yang selalu ada, yang selalu percaya, yang selalu bikin aku merasa berharga.

Aku akan pulang. Tapi beri aku waktu sedikit lagi. Tunggu aku.

Kirana, yang rindu."

Arjuna membaca surat itu berulang kali. Air matanya jatuh. Ia balas dengan surat juga, ditulis tangan di kertas yang sama.

"Ran,

Aku tunggu. Secepatnya atau selambatnya, aku tunggu. Karena separuh hatiku ada di sana, bersamamu. Pulanglah.

Di sini, di desa ini, ada orang-orang yang sayang kamu. Ada program yang butuh otak cemerlang kamu. Ada aku yang kangen banget sama senyum kamu.

Juna"

Ia mengirim surat itu lewat kurir yang sama. Dengan tambahan setangkai bunga mawar dari kebun belakang kantor.***

 

Kirana pulang sepuluh hari kemudian. Bukan sepuluh hari seperti rencana awal, tapi dua minggu. Ia datang langsung ke kantor desa. Pukul dua siang. Matahari terik.

Arjuna sedang rapat dengan Herman dan beberapa staf. Begitu melihat Kirana di pintu, rapat dihentikan.

"Ran..."

"Juna..."

Mereka berpelukan di depan semua orang. Tidak ada yang berani bersuara. Herman hanya tersenyum. Dimas menunduk, merasa bersalah. Staf yang lain saling pandang, lalu tersenyum.

"Maaf," bisik Kirana.

"Nggak apa-apa. Yang penting lo pulang."

Sore itu, mereka duduk di warung kopi Pak RT. Tempat biasa. Pesan sama: kopi hitam untuk Arjuna, es teh manis untuk Kirana. Ngobrol panjang. Tentang rasa takut, tentang kecemasan, tentang masa depan.

"Juna, aku sadar satu hal."

"Apa?"

"Aku nggak boleh lari. Aku harus hadapi. Dengan lo di sampingku. Dan dengan keyakinan bahwa aku bisa."

Arjuna tersenyum. "Makasih, Ran. Makasih udah balik."

"Makasih udah nunggu."

Mereka menggenggam tangan di bawah meja. Rahasia kecil yang hanya mereka berdua tahu.***

 

Setahun kemudian, tepat di hari jadi mereka yang pertama, entah dihitung dari kapan, Arjuna melamar Kirana. Acara sederhana di rumah Kirana, dihadiri keluarga dan sahabat dekat.

Dekorasi sederhana: janur kuning di pintu masuk, rangkaian bunga di ruang tamu, dan karpet merah seadanya. Tapi kebahagiaan terpancar dari semua yang hadir.

Bambang dan Enjelina duduk berhadapan dengan Erlangga dan Anita. Herman jadi saksi. Amat muda jadi dokumentator. Anto datang dengan truk yang dihias, meski truknya sudah tidak jalan, ia tarik pakai sapi.

"Ini simbol, Jang! Cinta itu harus diperjuangkan, kayak gue narik truk!"

Semua tertawa. Anto memang tak pernah berubah.

Arjuna berlutut di hadapan Kirana. Ia membuka kotak cincin, cincin sederhana dengan ukiran daun, sama seperti yang dulu dipakai orang tuanya.

"Ran, aku bukan laki-laki sempurna. Aku punya banyak kekurangan. Aku punya tanggung jawab besar. Tapi satu hal yang pasti: separuh hatiku untuk desa, separuhnya lagi untukmu. Maukah kamu jadi pendampingku?"

Kirana menangis. Ia tak kuasa menahan haru. "Mau, Juna. Aku mau."

Cincin disematkan. Tepuk tangan pecah. Herman berteriak, "Sah! Sah!" Anto meniup terompet. Bambang dan Erlangga berpelukan.

Malam itu, di bawah lampu hias yang sederhana, dua keluarga bersatu dalam ikatan cinta.***

 

Pernikahan digelar di halaman balai desa. Sama seperti orang tua mereka dulu. Sederhana, tapi penuh makna. Undangan tidak banyak, hanya keluarga, kerabat, dan warga yang ingin hadir.

Panggung pernikahan dihias dengan janur dan bunga kertas buatan ibu-ibu PKK. Pelaminan hanya kursi rotan yang ditata rapi. Tapi semua terasa istimewa.

Pak Iwan yang sudah tua diminta menjadi saksi. Usianya 78 tahun, jalannya sudah lambat, suaranya bergetar. Tapi ia bersedia. Baginya, menjadi saksi anak-anak dari orang-orang yang dulu ia pimpin adalah kehormatan.

Penghulu Desa Awan Biru Aminudin segera meminpin ijb Kabul "Arjuna bin Erlangga, saya nikahkan engkau dengan Kirana binti Bambang dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat dan aplikasi desa versi terbaru dibayar tunai."

“ Saya terima nikahnya kirana Binti Bambang dengan mas kawis seperangkat alat sholat dan aplikasi desa versi terbaru di bayar tunai” sambut Arjuna tegas

“ Sah!”, jawaw Pak Iwan dan Junai kompak

“ Alahamdulilah, Amin”, sahut yang hadir dan Semua tertawa. Mas kawin aplikasi desa, hanya di Awan Biru, Ijab kabul berlangsung lancar.

Anto meniup terompet. Herman menyebarkan beras kuning. Erlangga dan Bambang berpelukan, air mata mereka jatuh. Anita dan Enjelina juga tak kuasa menahan haru.

Resepsi berlangsung meriah. Makanan berlimpah. Musik organ tunggal mengiringi. Warga bergantian bersalaman, memberi doa.

Malam harinya, pengantin baru itu duduk di teras rumah dinas, rumah yang dulu ditempati Bambang dan Enjelina, kini untuk mereka. Sederhana, tapi bersih dan hangat.

"Mas, kita resmi."

"Iya, Sayang. Resmi."

"Terima kasih udah milih aku."

"Terima kasih udah mau jadi separuh hatiku."

Mereka berpelukan di bawah bintang. Malam itu, Desa Awan Biru bersaksi tentang cinta yang baru lahir.***

 

Hari-hari setelah pernikahan berjalan indah. Arjuna dan Kirana bekerja bersama. Pagi di kantor, siang keliling desa, malam diskusi program. Mereka adalah tim solid. Bukan hanya suami istri, tapi juga mitra kerja.

"Sayang, program pelatihan bulan depan udah siap?" tanya Arjuna suatu pagi.

"Udah. Tinggal publikasi. Nanti aku bikin poster dan video promosi."

"Makasih, Sayang. Lo andalan."

"Lo juga. Jangan lupa rapat dengan BPD jam sepuluh."

"Ingat. Udah gue tandai di kalender."

Warga memanggil mereka "Pasangan Muda Berdedikasi". Ada kebanggaan tersendiri. Setiap kali mereka lewat, warga menyapa dengan hangat.

"Pak Kades, Bu Kades, mau ke mana?"

"Ke RT 03, Bu. Ada pelatihan."

"Wah, semangat terus, ya!"

Suatu malam, Kirana bertanya, "Mas, berat nggak sih jadi pemimpin?"

Arjuna berpikir. "Berat. Tapi kalau ada lo di sampingku, jadi ringan."

"Gombal."

"Tapi jujur. Coba bayangin kalau gue sendiri. Pasti stress."

Kirana tersenyum. "Iya. Tapi ingat, kalau capek, bilang. Kalau butuh istirahat, bilang. Jangan dipendam."

"Siap, Komandan."

Mereka tertawa. Di sela kesibukan, mereka selalu luangkan waktu untuk ngobrol, bercanda, sekadar duduk bersama. Arjuna belajar menyeimbangkan. Separuh hati untuk desa, separuh untuk istri. Dan ia berusaha utuh di masing-masing.***

 

Dua tahun berlalu. Kirana hamil. Kabar itu disambut suka cita oleh seluruh warga.

"Pak Kades, selamat, ya!" sapa warga di pasar.

"Makasih, Pak."

"Nanti kalau lahir, bagi-bagi telur, ya!"

"Siap, Pak."

Kehamilan Kirana berjalan lancar. Arjuna yang biasanya sibuk, kini berusaha pulang lebih awal. Ia temani Kirana jalan pagi, ia bacakan buku untuk calon anaknya, ia pijat kaki Kirana yang mulai bengkak.

"Mas, lo nggak capek?"

"Capek. Tapi senang."

"Gue bisa kok sendiri."

"Lo nggak sendiri. Kita bersama."

Sembilan bulan kemudian, lahirlah seorang putri mungil. Wajahnya mirip Kirana, dengan mata bulat dan lesung pipit. Arjuna menangis saat menggendongnya pertama kali.

"Ini anak kita, Sayang."

"Iya. Kecil banget."

Mereka memberi nama Alya, bermakna langit, harapan agar ia setinggi langit cita-citanya.

Warga berdatangan menjenguk. Anto datang dengan truk yang dihias balon, truk yang sama yang dulu dipakai ayahnya. Herman membawa popok dan susu dalam jumlah banyak. Amat muda membuatkan website khusus untuk baby Alya.

"Ini desa kita, Ran. Semua sayang kita."

Kirana tersenyum. "Iya. Ini rumah kita."***

 

Alya tumbuh menjadi anak cerdas. Sejak kecil ia sudah akrab dengan laptop dan buku. Arjuna mengenalkannya pada administrasi desa. Kirana mengenalkannya pada digital.

Saat Alya berusia 5 tahun, ia sudah bisa mengetik namanya sendiri. Saat 7 tahun, ia sudah bisa membuat presentasi sederhana. Saat 10 tahun, ia mulai belajar coding dari Kirana.

"Ma, Alya mau bikin game."

"Bikin game apa?"

"Game tentang desa. Biar anak-anak lain tahu tentang Awan Biru."

Kirana tersenyum bangga. "Boleh. Nanti Mama bantu."

Malam hari, Arjuna pulang dari rapat. Ia melihat Alya dan Kirana duduk bersama di depan laptop, asyik coding. Hatinya hangat.

"Ini generasi penerus kita, Ran."

"Iya. Lebih hebat dari kita."

"Mungkin."***

 

Enam belas tahun kemudian. Arjuna dan Kirana kini berusia hamper setengah abad. Rambut mereka mulai memutih. Jalannya tidak setegap dulu. Tapi semangat mereka tak pernah pudar.

Mereka telah memimpin Desa Awan Biru selama dua periode, total 16 tahun. Kini, mereka pensiun. Herman menggantikan sebagai kepala desa baru, hasil pemilihan langsung yang demokratis, mengingat aturan hanya membatasi sampai dua periode saja, masa jabataan kepala desa.

Malam perpisahan digelar meriah di balai desa. Warga berkumpul. Video perjalanan kepemimpinan Arjuna diputar. Dari awal ia dilantik, program Desa Cerdas 2030, pernikahannya dengan Kirana, kelahiran Alya, hingga masa pensiun. Semua menangis haru.

Arjuna naik ke panggung. Suaranya bergetar. "Bapak Ibu sekalian, 16 tahun lalu saya dilantik sebagai kepala desa. Saya tidak pernah menyangka akan dicintai sehangat ini. Saya tidak pernah menyangka akan ditemani istri saya, Kirana, dalam setiap langkah."

Ia menatap istrinya yang duduk di barisan depan.

"Kirana, kamu adalah separuh hatiku. Kamu yang membuatku kuat. Kamu yang membuatku bertahan. Kamu yang selalu ada, di saat susah dan senang. Terima kasih."

Kirana menangis. Ia naik ke panggung, memeluk suaminya.

"Terima kasih sudah memilihku, Mas. Terima kasih sudah setia. Terima kasih sudah berbagi hati dengan desa ini."

Warga bersorak. Herman berteriak, "Cium! Cium!"

Mereka tertawa. Tapi mereka menurut. Ciuman sederhana di pipi, disambut tepuk tangan gemuruh. Alya yang sudah dewasa ikut bertepuk tangan, matanya berkaca-kaca.***

 

Waktu telah berlalu dengan cepat, Pada suatu hari, Arjuna dan Kirana duduk di teras rumah. Rumah dinas yang dulu mereka tempati kini telah dikembalikan. Mereka tinggal di rumah pribadi, rumah kecil di samping rumah Bambang dan Enjelina.

Cucu mereka, ya, mereka punya cucu sekarang, bermain di halaman. Anak dari Alya yang sudah menikah dua tahun lalu. Bocah laki-laki berusia 3 tahun itu berlari-lari, tertawa riang.

"Pa, lihat! Cucu kita."

Arjuna tersenyum. "Iya. Cakep, ya. Mirip lo."

"Masa? Mirip lo kali."

Mereka tertawa.

"Sayang," kata Arjuna pelan.

"Apa, Pa?"

"Aku mau tanya sesuatu."

"Apa?"

"Lo bahagia nggak jadi istriku?"

Kirana menatapnya. "Mas, 40 tahun kita bersama. Lo tanya itu sekarang?"

"Aku pengen denger langsung. Dari mulut lo."

Kirana tersenyum. Senyum yang sama seperti 40 tahun lalu saat pertama kali mereka bertemu di balai desa. Senyum yang membuat Arjuna jatuh cinta.

"Mas, aku bahagia. Setiap hari. Meskipun kadang lo pulang malam, kadang lo sibuk rapat, kadang lo lebih banyak mikirin desa daripada aku. Tapi aku tahu, di balik semua itu, lo selalu nyisain waktu buat aku. Lo selalu ingat buat bilang sayang. Lo selalu ada saat aku butuh."

Arjuna menggenggam tangannya. Tangan yang mulai keriput, tapi masih hangat.

"Itu karena lo separuh hatiku. Yang paling berharga. Aku bisa kehilangan segalanya, tapi nggak bisa kehilangan lo."

Mereka memandangi desa yang mereka bangun bersama. Gedung-gedung baru menjulang. Jalan-jalan beraspal mulus. Warga sibuk dengan aktivitas digital. Tapi satu hal tetap sama: kehangatan warganya. Keramahan mereka. Cinta yang mengalir di setiap sudut.

"Mas, lo tahu nggak?"

"Apa, Sayang?"

"Aku masih ingat pertama kali lihat lo di kantor desa. Lo pakai kemeja putih. Lagi ngomong sama Pak Iwan. Aku langsung... wow."

Arjuna tertawa. "Aku juga ingat. Lo pakai jilbab merah muda. Lagi catat-catat sesuatu. Aku pikir, 'Wah, siapa nih cewek cantik? Kok baru liat?'"

"Masa sih?"

"Iya. Aku suka dari situ."

Mereka tersenyum. Senja mulai turun. Langit memerah jingga, warna yang sama seperti 40 tahun lalu.

"Senja favorit kita," kata Kirana.

"Iya. Dari dulu sampai sekarang. Nggak pernah berubah."

"Mungkin nanti kita ninggalin dunia juga pas senja."

"Boleh juga. Biar romantis."

Mereka tertawa lagi. Tawa orang tua yang ikhlas, yang bahagia.

Arjuna memeluk istrinya erat.

"Makasih udah mau jadi separuh hatiku, Ran."

"Makasih udah mau berbagi hati, Mas. Dengan desa ini, dengan warga, dengan semua."***

 

Malam itu, setelah semua hening, Arjuna dan Kirana duduk di tepi sungai kecil. Tempat pertama mereka benar-benar dekat. Tempat di mana cinta itu mulai tumbuh.

Bulan purnama bersinar terang. Air sungai mengalir pelan, gemericiknya menenangkan. Ikan-ikan kecil sesekali melompat. Kunang-kunang beterbangan di sekitar mereka.

"Ini tempat kita, ya," kata Kirana.

"Iya. Tempat di mana semuanya dimulai."

"Lo ingat? Waktu itu lo bilang, 'Kita bisa bareng bangun desa ini.'"

"Lo jawab, 'Iya, bareng.'"

Mereka tersenyum.

"Dan sekarang kita udah bareng selama 40 tahun."

"Dan akan terus bareng."

Mereka diam. Menikmati malam. Suara jangkrik mengisi keheningan.

"Mas, lo takut mati nggak?" tiba-tiba Kirana bertanya.

Arjuna berpikir. "Takut. Tapi lebih takut ninggalin lo."

Kirana memeluk lengannya. "Kita akan pergi bareng. Nanti. Pas waktunya."

"Janji?"

"Janji."

Mereka berpelukan. Malam itu, di tepi sungai kecil yang sama, dua hati bersatu dalam keabadian.

Di bawah langit Awan Biru yang sama, di ujung senja kehidupan mereka, cinta itu tetap bersemi. Tidak pernah pudar. Tidak pernah mati. Hanya bertransformasi, dari cinta muda yang penuh gairah, menjadi cinta tua yang teduh dan dalam.

Separuh hatiku untuk masyarakat dan desa.
Separuh untukmu dan keluarga.
Dan cinta yang utuh untuk selamanya.

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar