Langit pagi di atas Desa Awan
Biru masih diselimuti kabut tipis ketika Erlangga pertama kali menjejakkan kaki
di tanah itu. Udara terasa lembap, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang
belum sepenuhnya tersentuh matahari. Desa kecil yang terletak di Kecamatan
Kabut Merah itu tampak sederhana, namun menyimpan denyut kehidupan yang
kompleks, sebuah ekosistem sosial yang jauh lebih rumit daripada lembar-lembar
teori kesehatan masyarakat yang selama ini ia pelajari di bangku kuliah.
Erlangga, mahasiswa semester
akhir Fakultas Kedokteran, datang bukan sekadar untuk menyelesaikan kewajiban
akademik berupa skripsi. Penelitiannya berjudul “Strategi Peningkatan
Derajat Kesehatan Masyarakat Berbasis Pemberdayaan Lokal di Desa Awan Biru”,
sebuah kajian yang memadukan pendekatan promotif, preventif, dan partisipatif
dalam pembangunan kesehatan desa. Ia membawa semangat ilmiah, kerangka
konseptual yang matang, serta keyakinan bahwa data yang akurat dapat melahirkan
kebijakan yang tepat.
Namun, sejak awal ia menyadari
bahwa desa bukanlah laboratorium steril yang dapat diukur hanya dengan angka
prevalensi, grafik morbiditas, atau indikator capaian program. Derajat
kesehatan masyarakat, sebagaimana didefinisikan dalam paradigma kesehatan
modern, bukan semata hasil intervensi medis, melainkan refleksi dari interaksi
faktor lingkungan, sosial, ekonomi, budaya, dan kebijakan publik. Desa Awan
Biru menjadi ruang belajar yang hidup, tempat teori bertemu realitas, dan
idealisme diuji oleh dinamika sosial.
Sebagai calon dokter, Erlangga
telah dibekali pemahaman tentang determinan sosial kesehatan: pendidikan ibu,
akses sanitasi, status gizi balita, kualitas air bersih, hingga ketersediaan
layanan kesehatan primer. Ia memahami bahwa peningkatan derajat kesehatan tidak
bisa dicapai melalui pendekatan kuratif semata. Diperlukan kolaborasi lintas
sektor, pemerintah desa, kader kesehatan, tenaga medis, serta partisipasi aktif
masyarakat. Namun, di balik kerangka ilmiah itu, ada satu hal yang belum pernah
ia pelajari secara utuh: bagaimana membangun kepercayaan.
Desa Awan Biru bukan hanya objek
penelitian. Ia adalah ruang kehidupan dengan sejarah, nilai, dan kebanggaan
kolektif. Setiap kebijakan kesehatan memiliki jejak cerita; setiap program
memiliki tantangan tersendiri. Di sana, angka stunting bukan sekadar
persentase, melainkan wajah anak-anak yang bermain di halaman rumah kayu. Angka
kunjungan posyandu bukan hanya statistik, tetapi cerminan kesadaran dan
perjuangan para kader yang bekerja dengan dedikasi.
Kedatangannya menandai awal dari
perjalanan intelektual sekaligus personal. Erlangga belum menyadari bahwa
penelitian ini akan mengubah perspektifnya tentang profesi dokter. Ia
membayangkan dirinya kelak berdiri di ruang praktik modern, mengenakan jas
putih bersih, dan dikelilingi perangkat medis canggih. Namun Desa Awan Biru
perlahan akan mengajarkannya bahwa inti dari pengabdian bukanlah kemewahan
fasilitas, melainkan kedekatan dengan masyarakat, empati terhadap persoalan
nyata, dan kemampuan mendengarkan.
Di tengah misi akademiknya,
tersimpan sebuah kemungkinan yang tak tercatat dalam proposal penelitian, pertemuan
dengan seseorang yang kelak menggugah sisi kemanusiaannya lebih dalam daripada
diskusi ilmiah mana pun. Di desa yang sederhana itu, antara data survei dan
diskusi forum warga, antara catatan lapangan dan rapat koordinasi, benih kisah
lain akan tumbuh.
1
Sebuah kisah yang tidak dapat
diukur dengan metode kuantitatif, tidak dapat diuji dengan hipotesis statistik,
namun nyata dan menggetarkan.
Desa Awan Biru akan menjadi
ruang transformasi. Bagi masyarakatnya, ia adalah rumah dan harapan. Bagi
Erlangga, ia akan menjadi lebih dari sekadar lokasi penelitian, ia akan menjadi
titik balik, tempat di
mana ilmu pengetahuan dan
perasaan bertemu, tempat di mana idealisme akademik bersentuhan dengan cinta
dan pengabdian. Dan di sanalah, tanpa ia sadari, kisahnya benar-benar dimulai.***
Kantor Desa Awan Biru berdiri
sederhana di tepi jalan utama yang belum sepenuhnya beraspal. Dindingnya bercat
biru muda yang mulai pudar dimakan matahari, dengan papan nama kayu
bertuliskan: “Kantor Desa Awan Biru, Kecamatan Kabut Merah Kabupaten Awan
Senja”. Di halaman depan, bendera merah putih berkibar pelan, sementara
beberapa motor warga terparkir tidak beraturan di bawah pohon ketapang yang
rindang.
Erlangga menarik napas panjang sebelum
melangkah masuk. Tas ransel berisi laptop dan dokumen proposal penelitian
menggantung di bahunya. Di tangannya, map tebal berisi lembar persetujuan etika
penelitian, surat tugas akademisi. Stetoskop melingkar rapi di dalam tas, simbol
kecil kebanggaannya sebagai calon dokter.
Ia membayangkan pertemuan resmi,
diskusi akademik, presentasi data berbasis indikator kesehatan nasional. Ia
sudah menyiapkan istilah-istilah seperti determinant of health, community-based
intervention, dan preventive health model.
Begitu pintu kayu kantor desa
didorong, suara kipas angin tua menyambut dengan dengung pelan. Ruangan itu
terasa hidup, bukan formal seperti ruang rapat kampus, melainkan akrab. Ada
aroma kopi hitam yang baru diseduh.
Di balik meja besar di tengah ruangan
duduk seorang pria berwajah teduh dengan kemeja putih lengan panjang digulung
rapi. Erlangga mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum disambut oleh kepala
desa Awan Biru Pak Iwan.
“Selamat datang di Desa Awan Biru,”
katanya sambil tersenyum. “Saya Pak Iwan, Kepala Desa Awan Biru, ”ujarnaya saat
menyambut kedatangan Erlangga di Kantor Desa Awan Biru “ Silahkan Masuk”,
lanjut kata pak Kades Iwan kepada tamunya erlangga, sehari sebelumnya pak Kades
Iwan sudah mendapat pemberitahuan dari Dosen Pembimbing Skipsi Erlangga bahwa
di desanya akan kedatangan seoarang mahasiswa semester akhir untuk melaksanakan
kegiatan penelitian untuk skripsinya.
Erlangga segera menjabat tangan dengan
mantap. “Terima kasih banyak, Pak. Saya Erlangga, mahasiswa Fakultas Kedokteran
dari Universitas Harapan Saya akan melakukan penelitian tentang peningkatan
derajat kesehatan masyarakat berbasis pemberdayaan lokal, di Desa Awan Biru”
balas erlangga dengan ramah.
Pak Iwan tersenyum lebih lebar. “Wah…
panjang sekali judulnya. Nanti kalau disebut di warung kopi bisa habis satu
gelas dulu, mas erlangga” candanya kepada erlangga.
2
Tawa kecil terdengar dari sudut
ruangan. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa ramah yang mengandung rasa ingin
tahu. Di sudut Kantor desa itu berdiri beberapa perangkat Desa Awan Biru, Pak
Eko dengan map cokelatnya, Ketua BPD Didit yang selalu tampak serius namun
mudah tersenyum, serta dua staf administrasi desa yang sejak tadi memperhatikan
dengan saksama.
Hari itu adalah kedatangan resmi pertama Erlangga
sebagai peneliti kesehatan masyarakat. Pak Iwan berdehem pelan, mencoba menahan
senyum.
“Maaf, mas… tadi kami kira Mas Erlangga ini mahasiswa KKN biasa. Ternyata sudah
semester akhir dan hampir punya gelar
Dokter, ya.” Sapa Lulu Kaur Keuangan Desa Awan Biru, dengan ramah dan santui.
Ketua BPD Didit menimpali, “Bahasanya
juga sudah seperti sidang skripsi di sini.” Tambahnya, Beberapa perangkat desa
ikut tertawa kecil, hangat, tidak berjarak. Erlangga sempat kikuk. Ia datang
dengan kemeja rapi, laptop di tangan, dan pikiran penuh kerangka metodologi
penelitian. Ia membayangkan forum formal yang kaku. Namun yang ia temui justru
sambutan yang bersahabat. Ia tersenyum sopan.
“Tenang, Pak. Saya tetap bisa diajak ngopi tanpa
presentasi Power Point.” Ujar Si Amat sambil menyalami erlangga dan
memperkenalkan diri. Tawa kecil itu berubah menjadi lebih lepas.
. “Di Awan Biru, yang penting bukan cuma pintar bicara,
tapi mau mendengar.” Kata Pak Iwan sambil mendekat, menepuk bahu Erlangga
dengan ringan
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa
seperti pengantar yang tak tertulis. Erlangga menangkap makna sosial yang lebih
dalam: desa bukan ruang kosong yang menunggu diisi teori. Ia adalah ruang hidup
dengan struktur, relasi, dan harga diri kolektif. Perangkat desa menyambutnya
bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai mitra potensial, dengan sedikit
humor sebagai pembuka jarak.
Di sudut ruangan itu, tawa kecil
menjadi simbol penerimaan awal. Dan tanpa disadari, momen sederhana itu adalah
langkah pertama Erlangga memahami bahwa pengabdian bukan hanya tentang program,
melainkan tentang membangun kepercayaan, yang sering kali dimulai dari senyum
dan tawa ringan di pertemuan pertama. Pak Kades Iwan sambil memperkenalkan
kepada perangkat desanya sebelum masuk ke ruangan kepala desa.
Di meja sebelah kanan, seorang perempuan berkacamata
dengan map bertumpuk rapi mengangguk singkat.
“Saya Yuni, Sekdes,” katanya tegas. “Kami sudah terima
suratnya. Jadwal Anda tiga bulan di sini, ya?” sapa Yuni Sekdes Desa Awan Biru.
“Ya, Bu. Rencananya observasi lapangan, survei rumah
tangga, wawancara mendalam, dan analisis partisipatif.” Jawag Erlangga sopan.
“Bagus,” sahut Yuni cepat. “Tapi jangan lupa, di sini
kalau mau wawancara, biasanya harus ikut minum teh dulu atau kopi. Itu prosedur
tak tertulis.” Pintanya kepada Erlangga.
3
Seorang perempuan dengan jilbab warna pastel mendekat
sambil membawa secangkir kopi hangat untuk tamunya.
“Betul itu,” katanya ramah. “Saya Endang, Kasi
Pelayanan. Silahkan di minum kopinya”
setelah endang meletakan secangkir kopi di meja tamu.
“Dan jangan lupa,” tambah perempuan lain dari meja
paling rapi di ruangan itu, “kalau data keuangan ditanya, harus jelas tujuannya
apa. Saya Lulu, Kaur Keuangan.” Ikut memperkenalkan diri, nada bicaranya lembut
tapi penuh presisi.
Di sudut dekat papan perencanaan desa, seorang pria
berkemeja kotak-kotak mengangkat wajahnya dari berkas.
“Pak Eko. Kaur Perencanaan. Kalau mau bikin rekomendasi
program, kita diskusi bareng ya. Jangan cuma teori kampus, tapi fakta lapangan.”
Pancing Pak Eko kepada Erlangga, sementara Erlangga memgangguk sopan, dia belum
siap untuk adu argumentasi mengingat ini hari pertama di desa awan biru.
Sementara itu, seorang pria dengan sorot mata tenang
berdiri mendekat. “Saya Amat. Kasi Pemerintahan. Nanti urusan data administrasi
penduduk bisa lewat saya.” Sambil menatap tajam kea rah Erlangga penuh tanda
Tanya, “saya juga sebagai admin website desa, untuk urusan publikasi kegiatan,
jangan sungkan koordinasi dengan saya, ya mas Erlangga”, Sapa Si Amat
diplomatis, tidak seperti biasanya yang suka ceplas ceplos, kali ini
dihadapannya adalah seorang mahasiswa calon dokter.
Erlangga merasa seperti sedang menghadapi tim lengkap
sebuah sistem pemerintahan kecil yang solid. Ia sedikit terkesan… sekaligus
merasa tertantang.
“Baik, Bapak-Ibu. Terima kasih banyak atas sambutannya,
terutama dengan Pak Kades Iwan” belum selesai Erlangga bicara, Tiba-tiba. “BLAP!”, Lampu mati, Kipas angin
berhenti, Komputer desa padam, Ruangan mendadak hening.
Erlangga teringat bahwa baterai laptopnya tinggal 12%,
Ia menelan ludah, sambil bertanya;
“Eh… listriknya memang sering padam, ya Pak?” tanyanya
pelan.
Pak Iwan bersandar santai. “Sering sih tidak. Cuma…
kadang-kadang suka kangen istirahat.” Ujarnya santui. Endang tertawa kecil
sambil menengahi;
“Tenang, mas Erlangga. Biasanya hanya sebentar kemudian hidup lagi”, Lulu
menimpali dengan nada serius tapi jenaka, “Kalau lowbat, itu namanya indikator
ketahanan teknologi rendah.” Ujarnya.
Pak Eko ikut bersuara, “Kalau dalam keadaan darurat kita
bisa manfaatkan tenaga surya untuk arus listriknya, agar semua kegiatan di
kantor desa tetap berjalan walaupun terdapat kendala mati lampu”
Seluruh ruangan hening gegara mati lampu,. Erlangga
akhirnya tersenyum simpul, ini adalah salah satu kendala di desa, yauitu mati
lampu. Ia sadar ini juga merupakan tantangan di hari-hari berikutnya.Pak Iwan
berdiri pelan, berjalan ke jendela dan membukanya lebar-lebar, beliau tidak
jadi mengajak Erlannga
4
ke ruangannya, dan lebih memilih di ruang pelayanan
agar tidak terlalu formil.
“Sini duduk melingkar saja,” pintanya kepada Erlangga
dan beberapa perangkat desanya. “Di desa ini, sebelum membahas angka, kita
biasanya membahas manusianya dulu.”
Yuni menambahkan, “Kesehatan itu bukan cuma grafik, Mas
Erlangga. Di sini, kalau ibu-ibu datang ke posyandu sambil bawa anak dan cerita
masalah rumah tangga, itu juga bagian dari data.”
Amat mengangguk pelan. “Kalau mau memahami desa, jangan
cuma tanya ‘berapa persen’. Tanyakan juga ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’.” Tambah Si
Amat pelan. Erlangga terdiam sejenak,
sementara Pak Iwan tersenyum puas.
Di luar, suara anak-anak terdengar
bermain. Sementara di dalam kantor desa yang sederhana itu, seorang mahasiswa
kedokteran mulai memahami bahwa teori hanyalah pintu masuk. Yang menentukan
keberhasilan bukan sekadar presentasi, melainkan kemampuan mendengar.
Dan tanpa ia sadari, hari pertamanya
di Desa Awan Biru telah mengajarkannya pelajaran paling dasar tentang kesehatan
masyarakat: bahwa ilmu harus mampu hidup di tengah keterbatasan, dan
kebijaksanaan sering kali lahir dari kesederhanaan.***
Halaman Posyandu “Melati Sehat” pagi
itu sudah ramai bahkan sebelum matahari sepenuhnya tinggi. Balai kecil
berdinding papan dan beratap seng itu tampak sederhana, namun fungsional. Di
sisi kanan, meja registrasi disusun memanjang dengan taplak plastik bermotif
bunga. Di atasnya tertata buku KIA, pulpen yang diikat dengan benang rafia,
serta daftar hadir yang mulai terisi penuh.
Di bagian tengah ruangan, timbangan
gantung tergantung pada balok kayu penyangga atap. Kain timbang berwarna hijau
tampak sedikit memudar, tanda sudah lama digunakan. Tikar plastik warna-warni
digelar rapi, menjadi tempat duduk ibu-ibu muda yang menggendong balita mereka.
Beberapa anak merangkak bebas, ada yang sibuk memainkan sendok plastik, ada
pula yang menangis karena belum terbiasa dengan keramaian.
Di sudut kiri, meja kecil berisi alat
ukur tinggi badan dan pita LILA. Di sudut lainnya, termos air hangat dan wadah
bubur kacang hijau disiapkan sebagai PMT hari itu. Tidak ada pendingin ruangan,
tidak ada layar presentasi, tidak ada pointer laser seperti yang biasa Erlangga
temui di ruang seminar kampus. Namun sistemnya berjalan, Registrasi,
Penimbangan, Pencatatan, Konseling singkat, Pemberian PMT, Semua berlangsung
dalam alur yang tampak alami.
Erlangga berdiri sejenak di ambang
pintu, memperhatikan. Dalam benaknya, pelayanan kesehatan masyarakat selalu dibayangkan
dalam kerangka formal, alur pelayanan tercetak jelas, diagram alir ditempel di
dinding, data diinput langsung ke sistem digital. Di sini, alur itu hidup dalam
ingatan kolektif para kader, di sudut ruangan, terdengar suara tegas namun
lembut.
“Bu, beratnya 9,2 kilogram. Bulan lalu
8,9. Naik, tapi belum signifikan. Nanti kita cek lagi pola makannya, ya.” Anita
mulai menimbang balita, Erlangga menoleh, memperhatikan sumber suara dan
mengamatinya dengan seksama.
5
Anita berdiri di dekat timbangan gantung, satu tangan
memegang buku KIA, tangan lainnya menunjuk grafik pertumbuhan dengan ujung
pulpen. Ekspresinya serius namun bersahabat.
Ibu yang sedang ditimbang anaknya tampak cemas, “Berarti
masih kurang, Mbak?”
“Bukan kurang,” jawab Anita tenang. “Hanya perlu kita
dorong lagi. Kemarin sempat sakit, kan?” Tanya Anita kepada ibu si balita.
“Iya, diare dua hari.” ujarnya
“Nah, itu pengaruh juga. Yang penting kita perbaiki
makanannya pelan-pelan. Jangan stres dulu.” Kata Anita memberikan saran
nasehat.
Erlangga mendekat, tertarik. “Boleh saya lihat grafiknya?” tanyanya
sopan.
Anita menyerahkan buku itu, Erlangga
mengamati kurva pertumbuhan. Secara teoritis, garisnya memang masih berada pada
zona risiko ringan menurut standar WHO.
“Secara kurva, memang perlu pemantauan lebih ketat,” katanya refleks.
Beberapa ibu menoleh, seolah istilah “kurva” dan “standar” terdengar
cukup serius.
Anita tersenyum tipis. “Makanya kita
pantau tiap bulan, Dok, eh mas Erlangga, maaf .” kata Anita tersipu malu. Jawaban
itu ringan, tetapi mengandung penegasan bahwa praktik lapangan tidak pernah
abai terhadap teori, hanya saja bahasanya berbeda.
Seorang ibu lain tiba-tiba bertanya, “Dokter
dari kota, ya?” ibu itu belum mengetahui bahwa Erlangga masih berstatus
mahasiawa akhir, dikiranya sudah menjadi dokter.
“Iya, Bu. Saya sedang belajar di sini,” jawab Erlangga.
“Belajar apa?” jawab si ibu tadi
Erlangga sempat berpikir, lalu
tersenyum. “Belajar supaya nanti kalau lihat angka, saya ingat wajah anaknya
juga.” Ucapnya sambil bercanda, Ibu-ibu tertawa kecil, sementara Anita menatapnya sekilas, kali ini bukan
dengan nada menantang, melainkan dengan pengakuan diam-diam.
Di tengah tikar plastik, tangisan
balita, dan aroma bubur kacang hijau, Erlangga menyadari sesuatu: posyandu
bukan sekadar titik layanan kesehatan. Ia adalah ruang sosial tempat ilmu
bertemu empati.
Dan pagi itu, sebelum diskusi teoritis
apa pun dimulai, ia sudah belajar pelajaran pertamanya, bahwa kesehatan masyarakat
tidak pernah berdiri di atas grafik semata, melainkan di atas relasi yang
dibangun dengan sabar dari bulan ke bulan.
Seorang gadis mengenakan rompi kader berwarna hijau
muda berdiri sambil mencatat di buku besar. Rambutnya diikat sederhana. Gerakannya
cekatan, tatapannya fokus. Ia berbicara dengan kombinasi ketegasan dan
kehangatan yang jarang ia temui.
6
“Itu Anita,” bisik Ibu Amelia kepada Erlangga,
Bidan Desa, yang berdiri di samping Erlangga. “KPM kami. Rajin sekali.” Ujarnya
pelan. Lain halnya dengan Erlangga
mendengar nama Anita di sebut oleh Ibu Amelia. Nama itu terasa ringan
diucapkan, tapi kehadirannya tidak ringan sama sekali.
Erlangga memperhatikan cara Anita menimbang balita,
mencatat angka, lalu berdiskusi dengan ibu-ibu tentang asupan protein. Bukan
sekadar kegiatan rutin. Ada pemahaman di balik caranya berbicara.
Setelah beberapa menit mengamati, naluri akademis
Erlangga mengambil alih. Ia melangkah mendekat.
“Permisi,” katanya sopan. “Saya Erlangga, mahasiswa
kedokteran yang sedang penelitian di desa ini.”
Anita menoleh. Tatapannya cepat, menilai. “Oh. Yang
kemarin presentasi pakai istilah determinan struktural itu, saat meghadap
Kepala Desa Pak Iwan?” Tanya Anita.
Erlangga sedikit tersedak. “Ya… saya.”
“Baik,” jawab Anita singkat sambil
kembali menulis. “Silakan observasi. Tapi jangan berdiri di dekat timbangan,
nanti anaknya takut.” Ucap Anita sopan, Erlangga mundur setengah langkah,
Beberapa ibu tersenyum geli,Setelah sesi penimbangan selesai, Anita
menghampirinya.
“Jadi, Mas Erlangga mau lihat data stunting kami?”
Tanya Anita kepada Erlangga.
“Ya,” jawabnya penuh semangat. “Saya melihat dari
laporan agregat desa, angka risiko stunting masih 18 persen. Artinya intervensi
belum optimal.” Selidik Erlangga.
Anita mengangkat alis. “Delapan belas persen itu dari
data mana?” sanggah Anita tajam.
“Rekap semester lalu.” Ujar Erlangga berdasarkan
informasi dari kader posyandu lainnya.
“Yang sebelum kami lakukan validasi ulang rumah ke
rumah warga, ya?” jawabnya pelan.
Erlangga berhenti sejenak. “Validasi ulang?” sementara Anita
menyilangkan tangan.
“Mas, data stunting itu bukan cuma
angka di spreadsheet. Kami turun langsung. Ada yang awalnya masuk kategori
risiko karena berat badan stagnan dua bulan, tapi setelah ditelusuri, ternyata anaknya
sedang diare waktu penimbangan.” Anita menjelaskan duduk perkara 18 persen itu.
Erlangga mulai merasa tertarik. “Berarti ada potensi
bias pengukuran.” Tanya Erlangga bersemangat.
“Bukan potensi. Realitas,” jawab Anita
cepat. Ibu Amelia yang mendengar percakapan itu ikut tersenyum. Anita
melanjutkan, “Kami lakukan verifikasi antropometri ulang, cek panjang badan,
cek asupan makanan, wawancara ibu. Jadi angka terakhir bukan 18 persen lagi.”
“Berapa sekarang?” tanya Erlangga, nadanya berubah lebih
serius.
7
“Turun jadi 11,4 persen.” Jaweab Anita tegas.
Erlangga terdiam. “Sebentar… itu signifikan.
Intervensinya apa saja?” Tanya Erlangga berikutnya.
Anita mulai menjelaskan dengan nada
runtut, hampir seperti presentasi ilmiah. “Kami lakukan edukasi gizi berbasis
dapur rumah tangga. Tidak pakai contoh makanan dari Mall. Kami sesuaikan dengan
bahan lokal. Ikan sungai, tempe, daun kelor. Lalu kami kolaborasi dengan
pemerintah desa untuk penyediaan air bersih di RT 002 karena sanitasi
mempengaruhi kasus diare.”
Erlangga memperhatikan dengan sungguh-sungguh. “Jadi
pendekatannya bukan hanya kuratif, tapi promotif-preventif berbasis komunitas,”
gumamnya.
Anita tersenyum tipis. “Nah, itu
istilah yang Mas suka.” Beberapa kader yang duduk di tikar tertawa kecil. Erlangga
tidak tersinggung. Justru semakin penasaran. “Tapi secara metodologi,”
lanjutnya, “apakah validasinya sudah sesuai standar WHO?” kemudian Anita
mendekat sedikit;
“Mas Erlangga,” katanya dengan nada
santai tapi tajam, “standar WHO itu penting. Tapi kalau ibu-ibu di sini tidak
percaya pada kader, seakurat apa pun alatnya, datanya tetap tidak jujur.” Kalimat
itu menghantam lebih keras daripada kritik ilmiah.
Seorang ibu yang duduk di dekat mereka menyela, “Yang
penting anak saya sekarang doyan makan, Mas. Dulu susah sekali.”
Anita menoleh pada ibu itu dengan hangat. “Itu
indikator keberhasilan paling nyata, Bu.”
Erlangga tersenyum kecil. “Baiklah,” katanya akhirnya.
“Saya akui, saya terlalu fokus pada angka.”
“Dan saya akui,” jawab Anita cepat, “kadang kami kurang
sistematis dalam dokumentasi.”
Mereka saling menatap, ada keheningan
singkat yang berbeda dari sebelumnya, bukan lagi perdebatan defensive, melainkan
pertukaran gagasan.
“Kalau begitu,” ujar Erlangga, “bagaimana kalau kita
kolaborasi? Saya bantu analisis statistiknya, Anita bantu saya memahami konteks
sosialnya.” Pinta Erlangga kepada Anita.
Anita pura-pura berpikir. “Hmm. Jadi bukan cuma datang,
ambil data, lalu pulang?”
“Tidak,” jawabnya mantap. “Saya ingin datanya
benar-benar merefleksikan kondisi lapangan.” Kata Erlangga kemudian.
Anita tersenyum lebih lebar kali ini. “Baiklah, Dokter
Teori. Kita uji di lapangan.” Goda Anita sambil tersenyun simpul.
“Panggil saja Erlangga.” Pintanya
“Baik, Mas Erlangga. Tapi kalau
terlalu banyak istilah Latin, saya denda suruh timbang bayi sepuluh kali.”
Ancam Anita ke Erlangga, pastilah bagi Anita bahasa akdemik kurang dia kuasai
apalagi dengan
8
istilah bahasa latin segala. Tawa
pecah di antara kader, Erlangga ikut tertawa juga.
Di antara timbangan gantung dan buku
catatan sederhana itu, sesuatu yang tak terukur mulai tumbuh. Bukan hanya rasa
saling menghormati secara intelektual, tetapi juga ketertarikan yang halus, lahir
dari perdebatan yang sehat dan kekaguman yang diam-diam, Erlangga merasa tertantang.
Anita merasa didengar.
Dan di tengah riuhnya kegiatan posyandu, di antara
angka-angka dan realitas, benih pertama itu mulai bersemi, tanpa grafik, tanpa
tabel, tanpa hipotesis, Namun sangat nyata.***
Jika pada hari pertama Erlangga datang
dengan teori, maka pada minggu kedua ia datang dengan sepatu yang mulai
berdebu. Bukan sekadar debu fisik yang menempel di ujung solnya, melainkan
simbol dari proses adaptasi yang perlahan namun pasti. Pada kunjungan
pertamanya, ia membawa laptop, pointer presentasi, dan rangkaian kerangka
konseptual yang tersusun rapi dalam pikirannya. Ia berbicara tentang
prevalensi, intervensi berbasis bukti, dan model konvergensi layanan dengan
artikulasi yang terlatih. Namun realitas desa tidak dapat sepenuhnya dipetakan
oleh diagram.
Dalam minggu kedua itu, Erlangga tidak
lagi memulai hari dengan membuka file PowerPoint. Ia memulai pagi dengan
menyusuri jalan tanah yang sedikit lembap oleh embun. Sepatunya yang semula
bersih kini mulai kehilangan kilapnya, tergores kerikil kecil, terciprat lumpur
tipis di bagian samping. Ia tidak lagi berjalan cepat seperti seseorang yang
mengejar jadwal presentasi. Langkahnya melambat, memberi ruang untuk menyapa
warga yang ditemuinya.
“Pagi, Dok!” seru seorang anak kecil sambil berlari.
“Pagi. Sudah sarapan?” balasnya
spontan, Interaksi sederhana itu sebelumnya tidak pernah masuk dalam indikator
keberhasilan program kesehatan. Namun kini ia menyadari, kehadiran yang
konsisten adalah variabel penting yang sering tidak tertulis.
Pada minggu kedua, ia mulai membawa
buku catatan kecil alih-alih hanya tablet digital. Ia mencatat percakapan,
kebiasaan makan keluarga, bahkan cerita tentang musim tanam yang memengaruhi
pola konsumsi protein. Ia mulai memahami bahwa determinan kesehatan di desa
tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga ekonomis dan kultural.
Teori yang ia bawa tidak hilang, ia
tetap menggunakannya sebagai kerangka analisis. Tetapi kini teori itu tidak
berdiri sebagai menara yang tinggi. Ia mulai membumikan konsep-konsep tersebut
dalam bahasa yang lebih kontekstual, Ia juga mulai menyadari keterbatasannya.
Beberapa istilah medis yang dulu ia
ucapkan tanpa ragu kini ia tahan sejenak, memikirkan padanan kata yang lebih
mudah dipahami. Ia belajar bahwa komunikasi kesehatan bukan sekadar transfer
informasi, melainkan proses negosiasi makna. Sepatu yang mulai berdebu itu
menjadi saksi perubahan kecil dalam dirinya. Ia tidak lagi sekadar “mahasiswa
yang melakukan penelitian.” Ia mulai bertransformasi menjadi pengamat yang
terlibat—seseorang yang tidak hanya mengukur, tetapi juga mendengar. Dan
sebelum ia menyadari sepenuhnya perubahan itu, minggu kedua telah menggeser
posisinya dari pusat narasi menuju bagian dari lanskap sosial desa yang sedang
ia pelajari.
9
Pagi itu ia berdiri di halaman
Puskesmas Pembantu bersama Bidan Desa Ibu Amelia, Bidan Yunita dan Bidan
Susanti dari Puskesmas, serta Kepala Puskesmas Kabut Merah, Dokter Samsiar,
seorang dokter senior dengan sorot mata tajam namun penuh ketenangan.
“Erlangga,” ujar Dokter Samsiar sambil memeriksa daftar
kunjungan, “di kampus kamu belajar epidemiologi?” tanyan Dokter Saamsiar ramah.
“Ya, Dok. Analisis insidensi, prevalensi, risk factor,
regresi logistik” jawab Erlangga dengan sopan
“Bagus,” potong Dokter Samsiar santai.
“Sekarang belajar satu lagi.” lanjut Dokter Samsiar sambil memperhatikan
Erlangga, yang sudah mulai berubah, tidak lagi kaku seabagai mahasiswa tingkat
akhir melainkan seorang mahasiswa yang sedang praktek langsung ke masyarakat.
“Apa itu, Dok?”, Tanya Erlangga ingin mengetahui, apa
yang dimaksud oleh Dokter Samsia.
“Regresi realita.” Jawab Dokter Samsiar singat dan
padat.
Bidan Yunita tertawa. “Maksudnya,
teori sering mundur kalau ketemu kenyataan, Mas.” Ledek Bidan Yunita, sambil bersiap-siap
untuk melaksanakan kegiatan pemantauan secara langsung ke tengah masyarakat
bersama Erlangga , Dokter Samsiar dan Bidan Susanti serta Ibu Amelia. Erlangga
membawa buku catatan kecil. Kali ini bukan laptop. Rumah pertama yang mereka
datangi milik Pak Sugeng, petani yang dikenal cerewet namun ramah. Semapainya
di rumah pak sugeng, Erlangga beserta para Bidan dan Dokter Samsiar di sambut
oleh Pak Sugeng dengan ramah.
“Mas dokter dari kota, ya?” sapa Pak Sugeng sambil
menyodorkan kursi plastik.
“Masih mahasiswa, Pak,” jawab Erlangga sopan.
Pak Sugeng menatapnya dari atas ke bawah, “Mahasiswa
kok bawa stetoskop terus. Mau periksa ayam saya juga?” waduh pak sugeng mulai
pasang aksi humornya, Tawapun pecah seketika.
Erlangga ikut tersenyum,“Kalau ayamnya batuk mungkin
bisa saya rujuk ke fakultas kedokteran hewan, Pak.” Balas Erlangga seketika.
“Wah pintar juga jawabannya,” celetuk Ibu Amelia.
Erlangga mulai bertanya soal sanitasi, sumber air, pola
makan keluarga. Ia mencatat dengan serius.
Pak Sugeng memperhatikan dengan heran, “Mas, kalau
nulis cepat begitu, nanti tanganmu keram.”
“Tidak apa-apa, Pak. Data primer harus dicatat langsung”,
jawab Erlangga tegas.
Pak Sugeng mengangguk pelan, “Yang penting jangan cuma
dicatat. Kadang kami ini sudah sering ditanya-tanya. Habis itu hilang”, tutur
Pak Sugeng mengingatkan kembali,
Kalimat itu membuat Erlangga berhenti menulis sejenak, “Tidak,
Pak. Saya ingin hasilnya kembali ke desa”, Erlangga mencoba menjelaskannya.
10
Pak Sugeng tersenyum tipis. “Kalau
begitu, Mas Erlangga beda.” Imbuhnya, tak berapa lama rombongan Erlangga
berpamitan ke Pak Sugeng setelah seluruh data di catat. Selanjutnya kegiatan
menuju ke rumah Pak Kartolo, tak jauh dari rumah pak Sugeng. Di rumah berikutnya,
kejutan datang lebih cepat, sesampainya di rumah pak Kartolo, Ibu Kratolo langsung
menarik tangan Erlangga dan langsung di cerca pertanyaan, “Mas, sudah punya
calon belum?” cecar bu Kartolo ke Erlangga, sehingga Erlangga sempat melongo
dan bingung serta tersedak,“Eh… belum, Bu.” Jawabnya gagap.
“Bagus!” jawab Ibu Katolo semangat. “Di sini banyak
gadis baik-baik.” Kata ibu Kartolo menyakinkan, sementara Pak Kartolo ikut menimpali, “Yang penting kuat makan
singkong.” Membuat Seluruh rombongan
tertawa.
Erlangga mencoba tetap akademis.“Sebenarnya
saat ini saya sedang fokus penelitian, Bu.” Kata Erlangga mencoba menghidari
dari pertanyaan bu Kartolo, Namun ibu Kartolo gak mau kalah, “Penelitian hati
juga penting,” sahut Ibu Katolo cepat. Di belakang rombongan, Anita yang ikut mendampingi
kunjungan pura-pura sibuk mencatat. Tapi senyumnya sulit disembunyikan.
Tak mau dikerjain terus oleh Ibu
Kartolo, Erlangga bergegas pamit untuk melanjutkan pemantauan selanjutnya di
Rumah Pak Rio sesuai dengan sekeju yang sudah disusun sehari sebelumnya.
Sesampainya di rumah Pak Rio, Erlangga disambut oleh Pak Rio dan Ibu Rio. Di sini Erlangga mengalami salah paham bahasa
lokal pertama.
Pak Rio berkata, “Anak saya kemarin panas, terus saya
kasih diurut biar ‘anginnya keluar’.”
Erlangga mengernyit. “Angin… keluar?”
“Iya, diurut. Biar anginnya pindah.” Lanjut Pak Rio
menjelaskan.
Erlangga mencoba menjelaskan secara ilmiah, “Secara
fisiologis, demam itu akibat respons imun terhadap patogen, Pak, bukan karena
angin terperangkap.”
Pak Rio menatapnya datar, “Mas, kalau bukan angin,
kenapa namanya masuk angin?”
Suasana menjadi Hening, Bidan Susanti
menepuk bahu Erlangga pelan. “Mas, di sini kita jelaskan pelan-pelan. Jangan
langsung pakai istilah patogen.” Sanggah Bidan Susanti, agar Erlangga dalam
meberikan arahan dengan menggunakan bahasa ataau istilah yang mudah dipahami
masyarakat.
Anita akhirnya tertawa kecil, melihat
perubahan wajah Erlangga, memang Anita sebagai Kader KPM selalu mendampingi
semua kegiatan Erlangga di Desanya, sembari nyeletuk, “Dokter Teori, bab satu:
komunikasi kesehatan berbasis budaya.” Ledek Anita sambil tertawa kecil.
Erlangga menghela napas, lalu mencoba lagi dengan
bahasa sederhana, “Oh… jadi maksudnya badan terasa tidak enak karena kelelahan,
ya Pak?”
Pak Rio langsung tersenyum lebar, “Nah itu! Mas ini
cepat belajar.” Selanjutnya Erlangga beserta rombongan dan Anita menuju target
seklanjutnya yaitu ke rumah Pak Arga, Di rumah ini, mereka
11
mendapati balita yang berat badannya stagnan. Erlangga
mulai menjelaskan soal asupan protein hewani.
Bu Arga mengangguk-angguk, “Tapi ikan mahal, Mas.”
Jawab Ibu Arga memelas.
Sebelum Erlangga sempat menjawab,
Anita menyela, “Bu, kemarin kita sudah diskusi. Telur bisa, tempe juga bagus.
Tidak harus mahal.” Sela Anita penuh perhatian, sementara itu secara diam-diam Erlangga
memperhatikan Anita. Ia tidak hanya menyampaikan solusi, tapi dengan nada yang
bersahabat, tidak menggurui.
Dokter Samsiar berbisik pelan pada Erlangga, “Itu yang
namanya intervensi kontekstual.”
Erlangga mengangguk. “Ya, Dok. Adaptasi sosial
ekonomi.”
Sebagai kunjungan yang terakhir Erlangga bersama – sama
teman-teman menuju ke wilayah RT 002 tepatnya di Ruman Pak RT 002 Pak Emen.
Setibanya di sana, Ketua RT 002, Pak Emen, menyambut mereka dengan suara
lantang. “Dokter muda! Katanya mau survei air bersih?” sambut Pak RT sekaligus
bertanya.
“Ya, Pak”, jawab Erlangga singkat dan padat.
Pak Emen menunjuk sumur di belakang rumah, “Ini sumur
kami. Airnya kadang keruh kalau hujan deras.”
Erlangga mengambil sampel kecil untuk dianalisis
sederhana, sementara Bu Emen tertawa,
“Mas ini serius sekali. Kayak mau ujian nasional.” Ungkapnya menggoda.
“Memang ini ujian, Bu,” sahut Erlangga
spontan. “Ujian kehidupan.” Sontak saja Semua tertawa, termasuk Anita yang dari
tadi selalu memperhatikan gerak gerik dari Erlangga, rasa itu tumbuh dari
banyaknya pertemuan dan seringanya interaksi serta saling membutuhkan.
Menjelang Tengah hari seluruh rangkaian kegiatan berhasil diselesaiakan tepat
waktu, saatnya untuk kembali ke aktivitas masing-masing, Pak Dokter Samsiar
kembali ke Puskesmas, sementara Bidan Yunita kembali ke Pustu tinggal Erlangga,
Yunita dan Bu Amelia.
Di perjalanan pulang, mereka bertemu dengan truk Anto, yang beru pulang dari belanja
barang untuk keperluan di PT, ketika melewati rombongan Anita, Anto melirik
Erlangga lewat kaca spion.
“Mas, sudah cocok belum sama desa ini?” Tanya Anto kepada Erlangga
“Cocok bagaimana maksudnya?”, giliran Erlangga bingung
mau menjawab apa.
“Cocok hatinya.” Goda ando sambil minta pamit jalan
duluan dengan mengendarai truk setianya.
Bidan Yunita langsung terkekeh, “Anto ini selain sopir
juga penyiar gosip,” kata Ibu Amelia.
Anto santai saja, “Kalau Mas sering
bareng Anita terus, nanti saya pasang tarif sewa truk jadi paket prewedding.”
Dari kejauhan masih sempat mendengar ucapan Bidan Yunita sekaligus meledek
Erlangga dan Anita secara spontan. Erlangga hampir tersedak, Anita yang
berjalan di samping Erlangga pura-pura
12
melihat pemandangan, tapi pipinya merah merona.
Malamnya, Erlangga duduk di teras rumah singgah, menulis catatan lapangan. Ia
menulis:
“Kesehatan masyarakat di Desa Awan
Biru tidak dapat dipahami hanya melalui indikator kuantitatif. Diperlukan
pendekatan sosio-kultural dan komunikasi partisipatif. Interaksi langsung
membuka perspektif baru tentang kepercayaan, bahasa, dan makna sehat bagi
masyarakat.” Ia berhenti sejenak, pikirannya mulai melayang entah sampai dimana.
Hari itu ia tidak hanya belajar
tentang sanitasi, gizi, atau epidemiologi. Ia belajar tentang humor sebagai
jembatan komunikasi. Tentang ejekan ringan sebagai bentuk penerimaan sosial. Dan
di antara canda ibu-ibu yang terang-terangan menjodohkannya, di antara tatapan
diam Anita yang sesekali menantangnya dengan senyum kecil, Erlangga menyadari
sesuatu: Desa ini bukan lagi sekadar lokasi penelitian, Ia mulai merasa menjadi
bagian dari ceritanya.
Sementara di kejauhan, suara tawa warga masih terdengar
samar, mengiringi seorang mahasiswa kedokteran yang perlahan belajar bahwa
untuk menyelami desa, ia harus lebih dulu menanggalkan kesombongan teori… dan
membuka ruang bagi hati.***
Balai Desa Awan Biru sore itu lebih ramai dari
biasanya. Kursi-kursi plastik disusun berbaris. Di depan, terpasang layar putih
seadanya yang dipinjam dari sekolah dasar. Di atas meja panjang, termos kopi
dan pisang goreng tersaji rapi, ritual wajib setiap forum desa. Agenda hari
itu: Forum Evaluasi Program Kesehatan Desa.
Erlangga duduk di depan, laptop sudah menyala penuh, kali
ini ia memastikan baterai 100 persen. Presentasi PowerPoint berisi grafik tren
stunting, diagram batang cakupan imunisasi, dan tabel realisasi anggaran
kesehatan desa sudah siap.
Di barisan depan duduk:
- Pak Iwan, tenang seperti biasa.
- Sekdes Yuni dengan map tebal.
- Lulu, Kaur Keuangan, membawa laporan realisasi.
- Pak Eko, Kaur Perencanaan, memegang notulen lama.
- Si Amat, tegap dan serius.
- Ketua BPD Didit dengan wajah kritis.
- Beberapa warga: Pak Sugeng, Pak Kartolo, Bu Rio, dan lainnya.
- Anita duduk di sisi kanan, membawa buku catatan.
Dengan rasa hormat kepada Pak Kades
Iwan beserta perakat, Ketua BPD, serta Hadirin yang hadir, Erlangga minta izin
ke Pak Kades untuk menyampaikan Presentasinya selama beberapa mingu kegiatannya
dalam rangka penelitian untuk Skripsi di masa akhir kuliahnya. Dengan hati
berdebar kencang Erlangga harus siap untuk tampil menyampaikan hasil kerja
lapangan, tidak hanya itu saja,
13
di sudut yang berbeda sepasang mata binar
selalu mencuri pandangan matanya. Siapa lagi kalau bukan Anita yang belakangan
ini telah menemati kemanapun dia ada kegiatan di masyarakat. Tak dapat di
pungkiri benih-benih cinta mulai tumbuh dan berkembang di sanubahrinya.
Erlangga berdiri, “Terima kasih atas kesempatan yang
diberikan kepada saya. Berdasarkan analisis komparatif antara data agregat desa
dan hasil observasi lapangan, terdapat beberapa discrepancy signifikan.”
Kata Erlangga sebagai awal pembuka persentasinya di depan pemerintah desa dan
masyarakat terkait kesehatan.
Pak Sugeng berbisik pada Pak Kartolo, “Dis… apa?”
tanyanya karena kurang mengerti bahasa kerennya.
Pak Kartolo mengangkat bahu, “Mungkin jenis vitamin
baru.” Jawab Pak Kartolo asal-asalan.
Erlangga melanjutkan penuh percaya diri, “Misalnya,
laporan tahun lalu menunjukkan cakupan intervensi gizi mencapai 85 persen.
Namun berdasarkan validasi lapangan, implementasi efektifnya hanya sekitar 62
persen”, ungkapnya, walaupun Erlangga memahami pasti akan terjadi perdebatan,
namun berdasarkan teori yang Erlangga pelajari di Kampus harus diuji coba di
desa ini.
Ruangan mulai hening, Lulu mengangkat kepala, “62
persen itu dihitung dari mana, Mas?” Tanya Lulu penasaran karena terdapat
perbedaan data signifikan.
“Dari sampel rumah tangga yang saya kunjungi, Bu.
Dengan pendekatan stratified sampling.” Jawab Erlangga dengan bahasa akademik,
walaupun banyak warga yang kurang mengerti dengan bahasa akdemik.
Ketua BPD Didit menyela, “Berarti tidak seluruh warga?”
menyakinkan atas sampel yang di ambil oleh Erlangga dalam kunjungan ke
masyarakat.
“Secara metodologi tidak perlu seluruhnya, Pak. Cukup
representatif.”, Erlangga mencoba menyakinkan semua yang hadir, termasuk Pak
Kades Iwan, maupun Anita selaku Kader KPM yang juga bertanggungjawab terhadap
data kesehatan masyarakat.
Didit mengangguk pelan, tapi wajahnya tidak sepenuhnya
puas, begitu juga dengan Anita, sejak tadi sangat focus memperhatikan Erlangga
dalam mempersentasikan melalui layar , Erlangga
mengganti slide.
“Selain itu, program penyuluhan
sanitasi yang tercatat rutin tiap bulan, pada praktiknya hanya berjalan empat
kali dalam setahun.” Erlangga semakin berani untuk menyampaikan temuan di
lapangan terkait penyuluhan saanitasi, Erlangga
sadar bahwa di forum tersebut juga turut hadir para petugas yang sangaat
berkepentingan terhadap data kesehatan, perbedaan yang signifikan dapat
mempengaruhi nilai indeks di mata pemerintah daerah, oleh karena itu prinsip
teori yang di gunakan harus dapat dibuktikan sesuai dengan fakta lapangan.
Pak Eko langsung bersuara, “Itu karena dua bulan hujan
deras, Mas. Jalan ke RT 002 terputus.”Erlangga menjawab cepat, “Dalam manajemen
program, kendala eksternal seharusnya sudah diantisipasi dalam
14
perencanaan.” Kalimat itu terdengar datar, sangat datar
datar, sebagai Bantahan seolah Erlangga berada diatas angin dan menyudutkan
pihak pemerintah desa yang kurang sigap dalam perubahan ilkim desa.
Si Amat yang sejak tadi diam akhirnya
angkat bicara. “Mas Erlangga,” suaranya tenang tapi berat,
“kalau di proposal tertulis dua belas kali penyuluhan, itu karena memang
direncanakan dua belas kali. Kalau realisasi empat, itu bukan berarti kami
tidak bekerja.” Dengan suara tak biasa, Si Amat sangat serius dengan pendapat
Erlangga yang menyudutkan pemerintah desa, Si Amat yang biasaya suka melawak,
pagi ini kehabisan akal untuk menghibur, wajahnya sangat serius menyimak
angka-demi angka yang di sampaikan oleh Erlangga, hingga lupa bahwa Si Amat
juga harus Upload kegiatan hari ini.
Erlangga tersadar, tapi sudah
terlanjur. “Saya tidak mengatakan tidak bekerja, Pak. Saya hanya menyampaikan
skeju antara perencanaan dan implementasinya” ungkap Erlangga dengan nada
pelan, Erlangga menyadari, bahwa apa yang sudah disampaikan membawa perdebatan
sengit karena menyangkut Kinerja Pemerintah Desa dalam perencanaan, serta
kinerja Kader KPM Anita yang mulai sewot atas analisisnya berbeda signifikan.
Pak Sugeng berdehem. “Gap itu siapa
orangnya?” tanyanya sok mau tahu, tawa kecil muncul, tapi suasana tetap tegang,
Erlangga hanya tersenyun tipis taanpaa menanggapinya, kemudian Erlangga, masih dengan nada akademis, melanjutkan.
“Dan terkait dana desa untuk kesehatan, berdasarkan laporan anggaran, terdapat
alokasi cukup besar untuk kegiatan promotif. Namun outcome-nya belum sepenuhnya
optimal.”
Lulu langsung menatap tajam, “Mas, laporan itu sudah
diaudit. Semua transparan.” Protes Lulu dengan nada ketus.
“Saya tidak meragukan transparansi, Bu,” jawab Erlangga
cepat, “hanya efektivitasnya,” jawab Erlangga diplomatis dengan bahasa
akdemisi.
Anita menatap Erlangga lama, Ia tahu Erlangga tidak
berniat menyerang. Tapi cara penyampaiannya terasa seperti sidang skripsi, bukan
forum desa.
Pak Iwan akhirnya berbicara, “Mas Erlangga,” katanya
pelan, “di kampus, kritik itu biasa. Di desa, kritik juga penting. Tapi ada
satu hal yang lebih penting,” kata Pak Kades Iwan menengahi perdebatan agar
tidak meruncing tajam.
“Apa itu, Pak?” tanya Erlangga.
“Rasa memiliki,” jawab Pak Kades Iwan singkat dan
padat, suasana kembali Hening.
Pak Iwan melanjutkan, “Data itu penting. Tapi di balik
data itu ada orang-orang yang bekerja tanpa honor besar. Ada kader yang jalan
kaki keliling RT. Ada ibu-ibu yang datang meski hujan.” Pungkasnya.
Si Amat menambahkan, “Kami tidak anti
kritik. Tapi kalau Mas hanya melihat angka yang kurang, Mas tidak melihat
keringatnya.” Kata Si Amat tegas, walaupun Si Amat menyadari bahwa kemampuan
akdemiknya masih di bawah Erlangga namun tak semudah itu, menyerah dengan
argumentasi Erlangga.
15
Anita akhirnya angkat suara, “Mas Erlangga,” katanya
lembut tapi tegas, “waktu kita ke rumah Bu Arga, Mas bilang intervensi kontekstual
itu penting. Di forum ini juga sama. Konteks sosialnya jangan hilang.” Ungkap
Anita yang masih teringat ucapan Erlaangga beberapa waktu yang lalu.
Erlangga terdiam, Ia mulai merasakan
bahwa grafik yang tadi begitu ia banggakan, kini terasa kaku, namun Ketua BPD
Didit justru tersenyum miring, “Kalau boleh jujur,” katanya, “saya justru
senang ada yang berani bicara begini. Supaya kita tidak merasa semua sudah
sempurna.” Ujarnya.
Pak Sugeng ikut menimpali, “Betul. Tapi ngomongnya
pelan-pelan saja. Jangan kayak dosen lagi marah.” Sontak saja Tawa pecah,
Suasana mencair sedikit.
Erlangga menarik napas panjang, “Baik,” katanya
akhirnya. “Saya minta maaf kalau penyampaian saya terlalu… akademis.”
Ungkapnya, ia menyadari bahwa saat ini Erlangga berada di desa bukan di bangku
kuliah.
Pak Kartolo langsung bersuara,“Itu artinya apa?”
Anita menjawab cepat, “Artinya Mas Erlangga terlalu
semangat.” Semua tertawa lagi, membuat suasana semakin mencair. Namun setelah
forum selesai, suasana antara Erlangga dan Anita berubah. Di luar balai desa,
senja mulai turun.
“Anita,” panggil Erlangga pelan, Anita berhenti tapi
tidak langsung menoleh.
“Kamu marah?” Tanya Erlangga dengan suara pelan.
“Tidak,” jawabnya singkat.
“Jelas kamu kecewa.” Selidik Erlangga
Anita akhirnya menatapnya. “Mas tahu tidak kenapa warga
di sini menerima Mas dengan cepat?”
“Karena saya sopan?” coba Erlangga.
“Karena mereka merasa Mas ingin belajar. Tapi tadi… Mas
terdengar seperti ingin menilai.”
Erlangga terdiam. “Saya hanya ingin programnya lebih
baik.”
“Dan kami juga ingin,” jawab Anita lembut. “Tapi
perubahan di desa itu tidak bisa seperti mengubah slide PowerPoint.” Tegas
Anita ketus.
Kalimat itu menusuk. “Saya tidak bermaksud meremehkan.”
Jawaab Erlangga hati-hati.
“Aku tahu,” kata Anita pelan. “Tapi Mas belum
sepenuhnya memahami ritme desa.” Lanjut kata Anita,
Angin sore berhembus pelan. Untuk
pertama kalinya sejak mereka bertemu, tidak ada canda di antara mereka. Erlangga
merasa ada yang lebih berat dari sekadar perbedaan data. Hubungan mereka mulai
renggang, bukan karena tidak peduli, tetapi keduanya sama-sama keras pada
idealisme masing-masing.
16
Malam itu, di kamar singgahnya,
Erlangga membuka kembali slide presentasinya. Ia menatap grafik-grafik itu
lama. Secara statistik, ia benar. Namun secara sosial… mungkin ia belum tentu
bijak. Dan untuk pertama kalinya dalam penelitiannya, ia menyadari bahwa
konflik terbesar bukan antara teori dan data, melainkan antara ego dan empati.***
Sejak forum desa yang sedikit
“memanas” itu, hubungan Erlangga dan Anita berubah menjadi lebih hati-hati.
Tidak ada lagi debat spontan yang penuh tawa. Tidak ada lagi sindiran ringan
soal “Dokter Teori.” Yang tersisa justru keheningan yang canggung, seolah
keduanya sedang menjaga jarak, padahal hati diam-diam semakin dekat. Namun desa
kecil seperti Awan Biru tidak pernah membiarkan sesuatu berlangsung diam
terlalu lama.
Sore itu Anita duduk di teras bersama
sahabat-sahabatnya: Yulia, Sintia, Amanda, dan Anjelia. Mereka sedang menyusun
konten artikel untuk website desa tentang kegiatan posyandu bulan ini.
Yulia tiba-tiba menyenggol lengan Anita, “Eh Nit, tadi
dokter ganteng itu lewat lagi ya depan rumahmu?” Tanya Yulia kepada Anita,
sementara Anita sama sekali tidak merespon, Anita tetap mengetik, setelah diam
sesaat baarulah Anita menjawab, “Namanya
Erlangga.”
“Oooo… sudah hafal namanya,” goda Sintia cepat.
Amanda ikut menimpali, “Katanya cuma penelitian. Tapi
kok penelitiannya sering lewat sini?” selidik Amanda sok ingin tahu urusan
orang saja.
Anjelia tertawa kecil. “Jangan-jangan lagi penelitian
jantung.”
Anita akhirnya berhenti mengetik dan menatap mereka. “Kalian
ini ya. Dia itu serius orangnya. Fokus penelitian.” Bantaah Anita untuk
menyaakinkan bahwa Anita tida memiliki hubungan yang spsial.
Yulia mengangkat alis, “Serius? Makanya tiap ketemu
kamu jadi salah tingkah?” godanya lagi
Anita pura-pura tidak peduli, tapi pipinya mulai
menghangat. “Dia cuma… terlalu akademis.” Sambil menyembunyikan perasaannya
yang sudah mulai di ketahui oleh teman-temannya.
“Akademis itu bukan berarti kebal cinta, Nit,” sahut
Amanda dramatis.
Semua tertawa, Anita akhirnya tersenyum tipis.
“Aku cuma tidak mau dia datang ke sini lalu pergi begitu saja.” Ujar Anita
Pelan,
Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah. Sahabat-sahabatnya
saling pandang. Mereka tahu, Anita bukan tipe yang mudah terkesan.
Sementara itu, di pos ronda dekat lapangan, Erlangga
duduk bersama Paijo, Rahmat, Andreas, dan Komang. Mereka sedang minum kopi
sachet sambil menikmati angin malam.
17
Paijo melirik Erlangga, “Lang, kenapa sekarang rajin
banget ke kantor desa? Dulu kan jarang.” Selidik Paijo kepada Erlangga, dia
heran atas sikap Erlangga yang sok rajin ke kantor desa pasti ada maunya.
“Saya perlu koordinasi data,” jawab Erlangga defensive,
sambil menyembunyikan perasaannyaa yang sedang menggelora di dadanya.
Rahmat tertawa keras, “Koordinasi atau komunikasi?” ejeknya
Sementara Andreas menambahkan, “Data yang mana? Data kependudukan atau data
perasaan?” canda Andreas membuat Erlangga kelabakan , seolah-olah mereka sudah
tahu atas kedekatannya dengan Anita belakangan ini.
Komang yang paling santai berkata, “Di Bali ada
istilahnya, kalau sering cari alasan ketemu, itu bukan penelitian. Itu
pendekatan.” Ujar Komang santai tapi langsung mengena.
Erlangga menggeleng, tapi ia tidak bisa menyangkal
bahwa belakangan ini langkahnya memang lebih sering menuju kantor desa… bahkan
ketika tidak ada agenda resmi.
“Saya hanya merasa… diskusi dengan Anita itu menarik.
Dia kritis.”
Paijo menyeringai, “Kritis atau manis?”
godanyan, Tawapun pecah, menyelimuti udara yang semakin malam. Erlangga
akhirnya ikut tertawa, tapi dalam hati ia tahu, ia mulai mencari-cari alasan
untuk bertemu Anita. Hari semakin larut malam Erlangga berpamitan dengan
teman-temannya untuk beristirahat pulang.
Setibanya di rumah yang menjadi tempat
tinggalnya sementara merupakan sebuah rumah kosong yang kondisinya masih
terawat dengan baik, sehingga membuat Erlangga merasa nyaman tinggal sendiri,
masak sendiri dan makanpun sendiri. Setelah rebahan di sopa Erlangga langsung
tertidur lelap, hingga ayam berkokok menandakan hari telah pagi.
Dilain waktu, pada Suatu sore , hujan turun tiba-tiba
saat Erlangga masih berada di balai desa menyusun laporan sementara. Listrik
kembali padam seperti tradisi tak tertulis desa itu. Anita datang membawa
beberapa berkas. “Mas masih di sini?” Tanya Anita saat melihat Erlangga masih
berada di ruangan balai desa, sambil menyusun berkas calon Skibsinya.
“Iya. Saya sedang menyusun analisis regresi”,jawab
Erlangga tenang.
“Dalam gelap?”, selidik Anita, memang matahari belum
tenggelam namun dalam ruangan tanpa pencahayaan lampu listrik terasa gelap.
“Secara metodologis, cahaya memang membantu,” jawabnya
serius.
Anita terkekeh, Hujan makin deras. Suara air memukul
atap seng menciptakan irama yang hangat. Mereka duduk berseberangan di meja
panjang.
18
“Mas,” Anita membuka percakapan pelan, “kenapa memilih
penelitian di desa?” Tanya Anita ingin tahu sebab musabab mengadakan penelitian
guna melengkapi berkas Skripsi semester akhir.
Erlangga menatap hujan sejenak, “Awalnya karena
topiknya menarik. Saya ingin melihat bagaimana teori kesehatan masyarakat
diterapkan langsung. Tapi sekarang…” ia berhenti.
“Sekarang?” Anita menunggu.
“Sekarang saya merasa desa ini
seperti… mengoreksi saya.” Ujar Erlangga, terutama Si Amat yang ternyata orang
tuanya Anita, pendapatnya sangat tajam, tak mau desanya mendapat masalah karena
hasil skipsinya agak berbeda dengan hasil laporan dari pemerintah desa Awan
Biru, itu yang membuat Erlangga bingung antara teori, realita atau demi
kebaikan desa dalam perencanaan tata kelola desa yang kadang belum sempurna di
laksanakan sesuai perencanaannya.
Anita tersenyum lembut, “Desa memang suka begitu.
Menguji, bukan dengan soal pilihan ganda.”
Hening sejenak. Tapi bukan hening yang
canggung. Hening yang nyaman, ditemani seorang gadis desa yang rupawan.
Keduanya saling pandang, tajam menembus relung hati keduanya, tanpa kata, sunyi
senyap, meresapi suasana yang sahdu, benih benih cinta terus tumbuh subur di
hati sanubahrinya, hingga keduanya di kejutkan oleh suara azhan magrik
menandakan hari mulai malam.
Akhirnya keduanya pulang, saling
pandang, Anita menunduk tak kuasa menahan tatapan mata Erlangga, cepat-cepat
Anita menstater motornya dan begitu saja meninggalkan Erlangga sendirian, takut
kalau hatinya ketahuan bahwa Anita sebenarnya mulai menyukainya, namun Anita
hanya seorang gadis desa tak berani mengungkapkan perasaannya pada Erlangga.
Sepeninggalan Anita Erlangga juga buru-buru pulang, dengan hati riang gembira,
hatinya berbunga-bunga, dapat berduan dan sepuasnya memandang Anita walau hanya
sesaat.
Beberapa hari kemudian, motor Erlangga mogok di jalan
dekat sawah. Ia berkali-kali menstarter, gagal.
Anita yang kebetulan lewat berhenti, “Dokter Teori,
motor juga pakai pendekatan ilmiah?” ledeknya melihat wajah Erlangga memerah
kena teriknya matahari.
“Sepertinya karburatornya bermasalah,” jawab Erlangga
sok yakin.
Anita turun, membuka jok, memeriksa sebentar. “Bensinnya
habis.”
Erlangga terdiam. Anita tertawa kecil, “Analisisnya
terlalu jauh, Mas.”
Ia membantu mendorong motor sampai ke warung terdekat.
Di bawah matahari sore, mereka berjalan berdampingan. Anita mencoba membuka
percakapan dengan Erlangga.
“Mas tahu,” kata Anita pelan, “kadang solusi itu
sederhana. Tidak selalu perlu regresi.”
Erlangga tersenyum. “Saya mulai
menyadarinya.” Momen itu terasa kecil. Tapi justru karena sederhana, ia terasa
istimewa.
19
Dilain waktu,Suatu malam di tepi sungai kecil desa, mereka duduk berdampingan.
“Setelah lulus nanti, Mas mau ke mana?” tanya Anita.
“Mungkin spesialisasi,” jawab Erlangga jujur. “Atau
kerja di rumah sakit besar.”
“Tidak terpikir tinggal di desa?” Tanya Anita
Erlangga terdiam. “Dulu tidak.”
“Sekarang?” desak Anita ingin tahu
sejauh mana perasaan Erlangga terhadapnya selama ini, seperti yang selalu di
gosipkan oleh teman-teman Anita terhadap hubungannya dengan Erlangga yang
katanya sangat bspesial.
Ia menatap Anita, dengan tatapan yang sahdu, “Sekarang…
saya mulai mempertimbangkan.”
Anita menunduk, memainkan ujung jilbabnya, tak berani
menatap langsung ke Erlangga , Pipinya mulai merah merona di terpa udara malam
yang sepoi-sepoi.
“Aku ingin desa ini maju. Bukan cuma dikenal karena
masalahnya, tapi karena solusinya.” Erlangga menatapnya lama. “Kita bisa,”
katanya pelan. “Dengan pendekatan berbasis komunitas, penguatan kader,
integrasi data digital ”
Anita tersenyum, “Mas tidak bisa lepas dari istilah
ilmiah, ya?” Tanya Anita sambil memandang Erlangga yang kebetulan Erlangga juga
sedang menatapnya dengan tajam. Erlangga menyakinkan Anita, “Tapi kali ini saya
serius.”
“Aku juga.” Sahut Anita tak mau kalah dengan Erlangga.
Tatapan mereka bertemu. Jantung
Erlangga berdetak lebih cepat dari biasanya dan kali ini bukan karena aktivitas
fisik. Namun, keduanya tetap menjaga jarak. Tidak ada pernyataan langsung.
Tidak ada pengakuan. Erlangga terlalu rasional untuk gegabah sedangkan Anita
terlalu berhati-hati untuk berharap. Cinta mereka tumbuh seperti hujan sore di
Desa Awan Biru, turun perlahan, tidak gaduh, tapi meresap dalam. Dan meski
belum terucap, keduanya tahu… sesuatu sedang bersemi dalam diam.***
Malam itu hujan turun lebih deras dari
biasanya. Angin menggoyangkan pohon-pohon di tepi jalan tanah menuju RT 002.
Langit Desa Awan Biru gelap pekat, hanya sesekali disambar kilat. Pukul 20.37
WIB, Telepon Ibu Amelia berdering. “Bu Arga kontraksi hebat. Tekanan darahnya
naik. Pendarahan mulai terlihat,” suara panik Bidan Yunita dari ujung sana.
Ibu Amelia langsung berdiri.
“Erlangga! Siapkan tas medis!” Tanpa banyak tanya, Erlangga mengambil tas
emergensi yang selama ini ia siapkan “untuk jaga-jaga.” Jantungnya berdegup
cepat. Ini bukan lagi simulasi laboratorium. Ini bukan lagi studi kasus ujian
OSCE, Ini nyata. Erlangga memang menempati sebelah rumah milik Ibu Amelia yang
kosong sehingga ketiak ada waktu luang, Erlangga menyempatkan
20
waktu untuk silaturahmi dengan
keluarga Ibu Amelia, seperti halnya saat ini, Erlangga memang sedang berada di
Rumah Keluar Ibu Emilia.
Masalahnya satu: jalan menuju rumah Bu Arga rusak parah
akibat hujan dua hari terakhir. Pak Emen, Ketua RT 002, sudah berdiri di tengah
jalan dengan senter, “Kita tidak bisa lewat motor, Dok! Licin sekali!” namun
tiba-tiba Anto muncul dengan truknya. “Naik saja di bak belakang! Ini truk
proyek, sudah biasa lewat lumpur.” Anto memberi saran agar menggunakan truk
milik proyek.
Erlangga sempat ragu sepersekian detik. Di kampus,
ambulans lengkap adalah standar. Di sini? Truk proyek dengan terpal. Sementara Ibu
Amelia menatapnya tegas, “Tidak ada waktu untuk ragu.” Mereka naik. Anita juga
ikut tanpa diminta, setelah di hubungi Bidan Yunita via telepon.
“Kenapa kamu ikut?” tanya Erlangga.
“Karena ini desa saya,” jawab Anita singkat.
Truk melaju perlahan, ban berputar di
lumpur. Pak Emen dan beberapa warga berjalan di depan, membuka jalan dengan
cangkul, menyingkirkan batu besar. Hujan tidak berhenti. Di dalam bak truk,
Erlangga memegang tas medis dengan tangan sedikit gemetar. Ia berusaha mengatur
napas.
Anita menyentuh lengannya, “Kamu
bisa.” Itu sederhana. Tapi cukup, tak seberapa lama kemudian Erlangga sampai di
rumah Bu Arga, Suasana tegang, Bu Arga terbaring pucat. Suaminya mondar-mandir
panik. Bidan Yunita sudah bersiap, Bidan Susanti membantu menyiapkan alat. Tekanan
darah tinggi. Tanda-tanda preeklamsia berat.
Erlangga bergerak cepat, “Pasang infus. Monitor tekanan
darah setiap lima menit,” katanya refleks, suara lebih mantap dari yang ia
rasakan di dalam.
Ibu Amelia memandangnya sekilas. “Tenang. Kita kerja sama.”
Di luar rumah, warga berkumpul. Pak Sugeng berdoa
lirih. Bu Emen membantu menenangkan keluarga.
Anto berdiri dengan wajah serius, tidak ada lagi
candaan malam itu. Erlangga menyadari satu hal: ini bukan hanya soal prosedur medis.
Ini tentang kepercayaan, Semua mata berharap.
“Kalau kondisi tidak stabil, kita harus rujuk ke
Puskesmas Kabut Merah sekarang,” katanya pada Ibu Amelia.
“Tapi jalannya?” tanya Pak Arga dengan suara gemetar.
Pak Emen masuk, “Kami sudah perlebar sedikit jalannya.
Truk bisa lewat pelan-pelan.”
Keputusan diambil, Dalam hujan, Bu
Arga dibawa ke truk. Anita membantu memegang payung meski tubuhnya sendiri
basah kuyup, Perjalanan terasa panjang, Erlangga memantau kondisi pasien
sepanjang jalan, jantungnya berpacu dengan suara mesin truk, Dan di momen
itulah ia benar-benar mengerti, kesehatan masyarakat bukan hanya tentang grafik
penurunan angka kematian ibu.
21
Ia tentang malam-malam panjang, tentang
lumpur, tentang solidaritas.
Menjelang subuh, Bu Arga berhasil
ditangani di Puskesmas. Kondisinya stabil, Semua menghela napas lega, di luar,
cahaya fajar perlahan muncul, Erlangga duduk di tangga Puskesmas, kelelahan.
Anita duduk di sampingnya, “Kamu tadi hebat,” kata Anita pelan.
Erlangga menggeleng, “Kalau tidak ada
kalian, saya tidak bisa apa-apa.” Ia menatap Desa Kabut Merah tempat Puskesmas berada perlahan mulai terang.
“Selama ini saya bicara tentang sistem. Tapi malam ini
saya melihat jantungnya,” kata Erlangga dengan suara pelan.
“Jantung siapa?” Anita tersenyum kecil.
“Desa ini.” Untuk pertama kalinya, Erlangga merasa
bukan sebagai peneliti. Tapi sebagai bagian dari perjuangan. Dan di sampingnya,
Anita tidak hanya menjadi rekan diskusi. Ia menjadi alasan mengapa malam itu
terasa lebih bermakna.***
Namun kedamaian tidak pernah tinggal lama, Beberapa
hari setelah kejadian itu, gosip mulai beredar.
Anto, yang biasanya sumber candaan, kali ini
menyampaikan kabar dengan wajah ragu. “Lang… katanya kamu habis sidang proposal
lanjutan, ya? Setelah selesai penelitian langsung balik kota?”
Erlangga mengernyit, “Memang rencananya setelah skripsi
selesai, saya harus kembali.”
“Orang-orang bilang kamu cuma jadikan desa ini bahan
laporan.” Ujar Anto serius. Kata-kata itu menusuk, di sisi lain, Anita
mendengar versi berbeda.
“Katanya Erlangga sudah diterima kerja di rumah sakit
besar,” bisik Yulia. “Penelitian ini cuma batu loncatan.”
Anita terdiam, Malamnya, ia menghindari pertemuan
dengan Erlangga.
Pada hari berikutnya di balai desa yang kini sunyi, Erlangga
akhirnya menemukan Anita, “Kamu menjauh,” katanya langsung.
Anita tidak menatapnya, “Aku hanya sibuk.”
“Tidak. Ini bukan soal sibuk.” Cecar Erlangga ingin
tahu apa yang sebenarnya terjadi belakangan ini.
Anita akhirnya berbicara, “Mas Erlangga memang akan
pergi, kan?”
“Setelah selesai, ya. Itu kewajiban.” Jawab Erlangga
tegas
“Dan setelah itu?” Tanya Anita lagi, ingin tahu rencana
apa kedepanya.
22
Erlangga terdiam. Ia belum punya
jawaban pasti. Anita tersenyum tipis, senyum yang menyembunyikan kecewa, “Itu
yang aku takutkan. Desa ini bukan studi kasus, Mas.” Ungkap Anita dengan suara
pelan.
“Aku tidak pernah menganggapnya begitu!” sahut Erlangga
“Tapi kamu tidak pernah bilang ingin tinggal.” Selidik
Anita denag perasaan cemas.
Keheningan menggantung. Erlangga merasa terpojok oleh
sesuatu yang belum pernah ia pikirkan serius. “Anita… aku masih menyusun masa
depan.”
“Dan aku tidak ingin jadi bagian dari catatan kaki
penelitianmu.” Jawab Anita sewot. Kalimat itu seperti tamparan halus, bagi
Erlangga.
Sejak malam itu, Anita benar-benar
menjaga jarak. Di posyandu, ia profesional. Di rapat, ia formal.
Tidak ada lagi candaan tentang “Dokter Teori.” Erlangga merasa kehilangan lebih
dari sekadar rekan diskusi. Ia mulai menyadari bahwa selama ini ia terlalu
fokus membuktikan kompetensi akademiknya, tanpa pernah memastikan bahwa hatinya
punya arah.
Konflik ini bukan tentang gosip. Bukan
tentang kota atau desa. Melainkan tentang pilihan. Dan untuk pertama kalinya
dalam hidupnya, Erlangga merasa ragu bukan pada teori… melainkan pada dirinya
sendiri.***
Balai desa sore itu penuh. Kursi-kursi
plastik tersusun rapi. Pak Sugeng duduk paling depan dengan wajah serius. Ketua
BPD Didit membawa map tebal seolah siap menguji sidang terbuka. Pak Iwan
berdiri di sisi ruangan, tenang seperti biasa. Ibu-ibu posyandu berbisik pelan,
sementara Anto sudah duduk di pojok dengan ekspresi penasaran bercampur siap
menyebarkan “rilis pers versi sopir truk.”
Anita berdiri di belakang, memegang notulen. Wajahnya
profesional. Hatinya? Tidak sesederhana itu.
Erlangga berdiri di depan layar proyektor. Kali ini ia
tidak membawa nada defensif. Tidak ada kalimat pembuka yang terlalu teoretis.
Ia menarik napas panjang. “Bapak Ibu sekalian… hari ini saya tidak ingin
memulai dengan grafik.”
Beberapa warga saling pandang. Anto berbisik, “Lho,
biasanya grafiknya banyak.”
Terdengar tawa kecil, Erlangga
tersenyum tipis, “Saya ingin memulai dengan terima kasih.” Ruangan menjadi hening.
Ia mulai memaparkan hasil penelitian. Angka stunting. Tren perbaikan. Kendala
distribusi PMT. Hambatan administrasi. Semua disampaikan runtut, sistematis,
dan tetap akademis.
Namun kali ini berbeda, “Jika data kita berbeda dengan
teori,” katanya tenang, “maka bukan desa yang salah. Bisa jadi pendekatannya yang perlu
disesuaikan.” Ia menoleh ke arah Anita.
“KPM telah bekerja jauh melampaui
deskripsi tugas formalnya. Validasi lapangan yang dilakukan justru memperkaya
analisis saya.” Ungkap Erlangga tidak seperti sebelumnya yang dominan teori
praktek lapangan sebagai pijkan akhir. Anita terdiam. Ini pertama kalinya ia
mendengar pengakuan itu di forum terbuka.
23
Erlangga melanjutkan: “Pemerintah desa juga telah
mengalokasikan anggaran kesehatan dengan niat baik. Tantangannya bukan pada
kemauan, melainkan pada sistem monitoring dan pendampingan yang berkelanjutan.”
Pak Kades Iwan mengangguk pelan, ia heran atas
perubahan sikap Erlangga yang lebih dewasa dibandingkan ketika baru datang ke
Desa Awan Biru.
“Karena itu,” lanjut Erlangga, “saya tidak mengusulkan
perubahan yang revolusioner. Saya mengusulkan kolaborasi yang konsisten.” Slide
berikutnya muncul:
Program Kolaboratif Desa Awan Biru 2027–2030
- Integrasi data KPM dan Puskesmas berbasis validasi rumah tangga.
- Pelatihan kader tentang interpretasi data sederhana.
- Forum evaluasi triwulanan lintas sektor.
- Pendampingan medis preventif untuk ibu hamil risiko tinggi.
Ketua BPD Didit mengangkat tangan, “Artinya kita tidak
disalahkan?”
Erlangga tersenyum, “Artinya kita belajar bersama.” Suasana
mencair. Bahkan Anto bertepuk tangan paling keras.
Setelah presentasi selesai, Erlangga menutup laptopnya.
Ia tampak ragu sepersekian detik.
“Masih ada satu hal lagi,” katanya. Ruangan kembali
hening.
“Penelitian ini memang bagian dari tugas akademik saya.
Tapi pengalaman di desa ini mengubah perspektif saya tentang pengabdian” , Ia
menatap wajah-wajah yang kini tidak lagi terasa asing.
“Setelah saya lulus nanti… saya ingin kembali ke Desa
Awan Biru sebagai dokter pengabdi. Bukan sebagai peneliti sementara. Tapi
sebagai bagian dari sistem yang kita bangun bersama.”
Beberapa detik sunyi. Lalu terdengar suara Bu Emen, “Alhamdulillah!”
Disusul tepuk tangan yang perlahan membesar.
Pak Sugeng berdiri“, Kalau begitu, Nak Erlangga bukan
tamu lagi. Sudah jadi orang sini.”
Anto berbisik keras-keras, “Berarti gosip saya salah,
ya? Tawa pecah kembali. Di tengah riuh tepuk tangan itu, Anita menunduk.
Matanya berkaca-kaca.
Forum selesai. Warga perlahan pulang. Langit Desa Awan
Biru memerah lembut. Awan tipis bergerak perlahan seperti sedang menyaksikan
adegan yang sudah lama ditunggu.
Erlangga berdiri di halaman balai desa. Anita keluar
beberapa langkah di belakangnya.
“Apa itu keputusan spontan?” tanya Anita pelan.
24
“Tidak,” jawab Erlangga. “Itu keputusan yang lahir dari
banyak malam panjang.”
Anita menatapnya, masih dengan jarak.
Erlangga melangkah mendekat. “Aku datang ke sini untuk
penelitian,” katanya, suara lebih lembut dari biasanya. “Untuk angka. Untuk
laporan. Untuk gelar.”
Ia menatap langit senja. “Tapi yang kutemukan… adalah
alasan untuk kembali.”
Anita tidak langsung menjawab. Air matanya jatuh lebih
dulu. “Mas tahu rasanya mencintai sesuatu yang takut kehilangan?” suaranya
bergetar.
“Aku tahu sekarang.”jawan Erlangga tenang.
“Kenapa tidak bilang dari dulu?”, desak Anita ingin
kepastian.
“Karena aku sendiri baru mengerti.” Ungkapnya dengan
suara lirih.
Hening. Angin sore berembus pelan. “Anita,” lanjutnya,
“aku tidak ingin kamu jadi catatan kaki penelitianku. Aku ingin kamu jadi
bagian dari masa depanku.”
Anita tertawa kecil di sela tangisnya, “Bahasanya tetap
akademis, ya.” Ujarnya hatinya mulai berbunga-bunga.
“Maaf. Refleks ilmiah”, kata Erlangga sambil tersipu
malu.
Anita akhirnya melangkah mendekat, “Kalau begitu,
Dokter Pengabdi,” katanya pelan, “kita bangun desa ini bersama. Tapi satu
syarat.” Tanya Anita serius.
“Apa?” ledek Erlangga sambil cengengesan.
“Kalau debat soal data, jangan terlalu sok tahu”,
pintanya.
Erlangga tersenyum lebar, “Deal. Tapi kamu juga jangan
langsung anggap teori itu musuh.”
“Deal.” Jawab Anita sambil tersenyum puas.
Langit Awan Biru semakin temaram. Di
kejauhan, suara warga masih terdengar samar. Desa itu tetap sederhana. Tetap
penuh tantangan. Namun kini ada dua orang yang memilih tinggal bukan karena
kewajiban, melainkan karena keyakinan. Cinta mereka tidak lahir dari puisi
megah. Ia tumbuh dari data yang diperdebatkan, dari lumpur yang dilalui, dari
malam-malam darurat, dan dari keberanian untuk pulang. Dan di bawah langit Awan
Biru, kisah itu resmi bersemi.
Beberapa tahun berlalu. Papan nama di depan bangunan
kecil bercat putih itu kini bertuliskan:
“Klinik Pratama Desa Awan Biru, dr. Erlangga, M.Kes.”
Tak lagi sekadar kunjungan penelitian.
Tak lagi status “sementara.” Ia kembalidan kali ini untuk tinggal.
25
Erlangga berubah. Bukan dalam prinsip
ilmiahnya, ia tetap sistematis, tetap mengutip jurnal terbaru saat rapat
koordinasi, tetapi dalam cara memaknai ilmunya. Kini ia tidak hanya membaca data
prevalensi anemia ibu hamil.
Ia tahu wajah-wajah di balik angka itu. Ia hafal
kebiasaan Pak Sugeng yang selalu lupa minum obat hipertensi. Ia tahu Pak Rio
akan panik berlebihan setiap anaknya demam 37,5°C. Ia mengerti Bu Arga masih
trauma setiap hujan deras datang.
Klinik kecil itu menjadi ruang pertemuan antara ilmu
dan empati.
Setiap tiga bulan, forum evaluasi kesehatan desa tetap
berjalan. Bedanya, kini tidak ada lagi debat defensif.
“Data itu bukan alat mencari salah,” kata Erlangga
suatu sore dalam rapat, “tapi alat membaca peluang perbaikan.”
Ketua BPD Didit terkekeh, “Sekarang bahasanya sudah
tidak bikin kami deg-degan lagi, Dok.” Semua tertawa.
Di sisi lain, Anita tidak pernah
berhenti bergerak. Sebagai Kader Pembangunan Manusia, ia memperluas pendekatan.
Data stunting kini tidak hanya ditempel di papan informasi, tetapi dijelaskan
lewat kelas literasi keluarga.
Website desa yang dulu hanya berisi pengumuman kini
berkembang menjadi portal informasi kesehatan, artikel edukasi gizi, laporan
transparansi dana desa, bahkan cerita inspiratif warga. Anita memimpin tim
kecil yang terdiri dari Yulia, Sintia, Amanda, dan Anjelia. Mereka mengadakan
pelatihan menulis bagi remaja desa.
“Kalau desa ingin maju,” kata Anita dalam satu
pelatihan, “informasinya harus terbuka dan warganya harus paham.”
Erlangga sering menjadi narasumber dadakan.
“Dok, jelaskan apa itu anemia tanpa pakai istilah
rumit,” tantang Anita suatu hari.
Erlangga tersenyum, “Baik. Anemia itu ketika tubuh
kekurangan ‘kurir oksigen’. Jadi kita harus bantu tambah kurirnya.” Anak-anak tertawa,
Anita mengangguk puas.
Program kolaboratif yang dulu hanya berupa slide
presentasi kini menjadi sistem nyata:
- Data KPM terintegrasi dengan catatan klinik.
- Pemeriksaan ibu hamil dilakukan lebih terjadwal.
- Remaja desa mendapat edukasi kesehatan reproduksi secara terbuka.
- Dana kesehatan desa diaudit dan dipublikasikan secara transparan.
Pak Iwan pernah berkata dalam rapat kabupaten: “Desa
Awan Biru bukan desa tanpa masalah.
26
Tapi desa yang mau belajar.” Kalimat itu sederhana,
tetapi mencerminkan transformasi yang tidak instan.
Hubungan Erlangga dan Anita pun berkembang. Bukan kisah
cinta penuh kembang api. Lebih sering berupa:
- Diskusi panjang sambil menyusun laporan.
- Perdebatan kecil soal metode survei.
- Candaan tentang istilah medis yang terlalu tinggi.
- Kopi hangat di teras klinik setelah posyandu selesai.
Suatu sore, saat senja kembali memerah seperti tahun-tahun
lalu, Anita berkata pelan: “Mas ingat waktu bilang menemukan alasan untuk
kembali?”
Erlangga mengangguk, “Alasan itu ternyata bukan cuma
aku,” lanjut Anita sambil tersenyum.
“Benar,” jawabnya. “Alasan itu adalah kita. Dan desa
ini.” Tidak ada deklarasi berlebihan. Tidak ada drama. Hanya keyakinan yang
tumbuh perlahan dan mengakar.
Desa Awan Biru kini dikenal bukan
karena angka stuntingnya semata, melainkan karena model kolaborasinya.
Mahasiswa datang untuk belajar. Bukan untuk “meneliti lalu pergi,” tetapi untuk
memahami. Anto masih menjadi sopir truk sekaligus pusat informasi informal. Pak
Emen tetap sigap membuka jalan, kali ini jalan diskusi. Ibu Amelia dan para
bidan tersenyum melihat sistem yang dulu diperjuangkan kini berjalan lebih
stabil.
Dan di tengah semua itu, Desa Awan Biru berdiri bukan
sebagai objek pembangunan, melainkan subjek perubahan. Desa itu pernah menjadi
lokasi penelitian. Kini ia menjadi rumah. Di sana tumbuh:
- Cinta yang lahir dari perdebatan.
- Pengabdian yang lahir dari pengalaman.
- Harapan yang lahir dari kerja bersama.
Karena pada akhirnya, pembangunan bukan sekadar
program. Ia adalah pertemuan antara ilmu dan kemanusiaan. Dan di bawah langit
Awan Biru yang selalu setia menaungi, keduanya memilih untuk terus tumbuh dan
berkembang dalam ikatan cinta.
27







0 komentar:
Posting Komentar