Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Selasa, 24 Februari 2026

Cinta & Pengabdian di Desa Awan Biru

 

Langit pagi di atas Desa Awan Biru masih diselimuti kabut tipis ketika Erlangga pertama kali menjejakkan kaki di tanah itu. Udara terasa lembap, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang belum sepenuhnya tersentuh matahari. Desa kecil yang terletak di Kecamatan Kabut Merah itu tampak sederhana, namun menyimpan denyut kehidupan yang kompleks, sebuah ekosistem sosial yang jauh lebih rumit daripada lembar-lembar teori kesehatan masyarakat yang selama ini ia pelajari di bangku kuliah.

Erlangga, mahasiswa semester akhir Fakultas Kedokteran, datang bukan sekadar untuk menyelesaikan kewajiban akademik berupa skripsi. Penelitiannya berjudul “Strategi Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat Berbasis Pemberdayaan Lokal di Desa Awan Biru”, sebuah kajian yang memadukan pendekatan promotif, preventif, dan partisipatif dalam pembangunan kesehatan desa. Ia membawa semangat ilmiah, kerangka konseptual yang matang, serta keyakinan bahwa data yang akurat dapat melahirkan kebijakan yang tepat.

Namun, sejak awal ia menyadari bahwa desa bukanlah laboratorium steril yang dapat diukur hanya dengan angka prevalensi, grafik morbiditas, atau indikator capaian program. Derajat kesehatan masyarakat, sebagaimana didefinisikan dalam paradigma kesehatan modern, bukan semata hasil intervensi medis, melainkan refleksi dari interaksi faktor lingkungan, sosial, ekonomi, budaya, dan kebijakan publik. Desa Awan Biru menjadi ruang belajar yang hidup, tempat teori bertemu realitas, dan idealisme diuji oleh dinamika sosial.

Sebagai calon dokter, Erlangga telah dibekali pemahaman tentang determinan sosial kesehatan: pendidikan ibu, akses sanitasi, status gizi balita, kualitas air bersih, hingga ketersediaan layanan kesehatan primer. Ia memahami bahwa peningkatan derajat kesehatan tidak bisa dicapai melalui pendekatan kuratif semata. Diperlukan kolaborasi lintas sektor, pemerintah desa, kader kesehatan, tenaga medis, serta partisipasi aktif masyarakat. Namun, di balik kerangka ilmiah itu, ada satu hal yang belum pernah ia pelajari secara utuh: bagaimana membangun kepercayaan.

Desa Awan Biru bukan hanya objek penelitian. Ia adalah ruang kehidupan dengan sejarah, nilai, dan kebanggaan kolektif. Setiap kebijakan kesehatan memiliki jejak cerita; setiap program memiliki tantangan tersendiri. Di sana, angka stunting bukan sekadar persentase, melainkan wajah anak-anak yang bermain di halaman rumah kayu. Angka kunjungan posyandu bukan hanya statistik, tetapi cerminan kesadaran dan perjuangan para kader yang bekerja dengan dedikasi.

Kedatangannya menandai awal dari perjalanan intelektual sekaligus personal. Erlangga belum menyadari bahwa penelitian ini akan mengubah perspektifnya tentang profesi dokter. Ia membayangkan dirinya kelak berdiri di ruang praktik modern, mengenakan jas putih bersih, dan dikelilingi perangkat medis canggih. Namun Desa Awan Biru perlahan akan mengajarkannya bahwa inti dari pengabdian bukanlah kemewahan fasilitas, melainkan kedekatan dengan masyarakat, empati terhadap persoalan nyata, dan kemampuan mendengarkan.

Di tengah misi akademiknya, tersimpan sebuah kemungkinan yang tak tercatat dalam proposal penelitian, pertemuan dengan seseorang yang kelak menggugah sisi kemanusiaannya lebih dalam daripada diskusi ilmiah mana pun. Di desa yang sederhana itu, antara data survei dan diskusi forum warga, antara catatan lapangan dan rapat koordinasi, benih kisah lain akan tumbuh.

1

Sebuah kisah yang tidak dapat diukur dengan metode kuantitatif, tidak dapat diuji dengan hipotesis statistik, namun nyata dan menggetarkan.

Desa Awan Biru akan menjadi ruang transformasi. Bagi masyarakatnya, ia adalah rumah dan harapan. Bagi Erlangga, ia akan menjadi lebih dari sekadar lokasi penelitian, ia akan menjadi titik balik, tempat di

mana ilmu pengetahuan dan perasaan bertemu, tempat di mana idealisme akademik bersentuhan dengan cinta dan pengabdian. Dan di sanalah, tanpa ia sadari, kisahnya benar-benar dimulai.***

Kantor Desa Awan Biru berdiri sederhana di tepi jalan utama yang belum sepenuhnya beraspal. Dindingnya bercat biru muda yang mulai pudar dimakan matahari, dengan papan nama kayu bertuliskan: “Kantor Desa Awan Biru, Kecamatan Kabut Merah Kabupaten Awan Senja”. Di halaman depan, bendera merah putih berkibar pelan, sementara beberapa motor warga terparkir tidak beraturan di bawah pohon ketapang yang rindang.

Erlangga menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Tas ransel berisi laptop dan dokumen proposal penelitian menggantung di bahunya. Di tangannya, map tebal berisi lembar persetujuan etika penelitian, surat tugas akademisi. Stetoskop melingkar rapi di dalam tas, simbol kecil kebanggaannya sebagai calon dokter.

Ia membayangkan pertemuan resmi, diskusi akademik, presentasi data berbasis indikator kesehatan nasional. Ia sudah menyiapkan istilah-istilah seperti determinant of health, community-based intervention, dan preventive health model.

Begitu pintu kayu kantor desa didorong, suara kipas angin tua menyambut dengan dengung pelan. Ruangan itu terasa hidup, bukan formal seperti ruang rapat kampus, melainkan akrab. Ada aroma kopi hitam yang baru diseduh.

Di balik meja besar di tengah ruangan duduk seorang pria berwajah teduh dengan kemeja putih lengan panjang digulung rapi. Erlangga mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum disambut oleh kepala desa Awan Biru Pak Iwan.

“Selamat datang di Desa Awan Biru,” katanya sambil tersenyum. “Saya Pak Iwan, Kepala Desa Awan Biru, ”ujarnaya saat menyambut kedatangan Erlangga di Kantor Desa Awan Biru “ Silahkan Masuk”, lanjut kata pak Kades Iwan kepada tamunya erlangga, sehari sebelumnya pak Kades Iwan sudah mendapat pemberitahuan dari Dosen Pembimbing Skipsi Erlangga bahwa di desanya akan kedatangan seoarang mahasiswa semester akhir untuk melaksanakan kegiatan penelitian untuk skripsinya.

Erlangga segera menjabat tangan dengan mantap. “Terima kasih banyak, Pak. Saya Erlangga, mahasiswa Fakultas Kedokteran dari Universitas Harapan Saya akan melakukan penelitian tentang peningkatan derajat kesehatan masyarakat berbasis pemberdayaan lokal, di Desa Awan Biru” balas erlangga dengan ramah.

Pak Iwan tersenyum lebih lebar. “Wah… panjang sekali judulnya. Nanti kalau disebut di warung kopi bisa habis satu gelas dulu, mas erlangga” candanya kepada erlangga.

2

Tawa kecil terdengar dari sudut ruangan. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa ramah yang mengandung rasa ingin tahu. Di sudut Kantor desa itu berdiri beberapa perangkat Desa Awan Biru, Pak Eko dengan map cokelatnya, Ketua BPD Didit yang selalu tampak serius namun mudah tersenyum, serta dua staf administrasi desa yang sejak tadi memperhatikan dengan saksama.

Hari itu adalah kedatangan resmi pertama Erlangga sebagai peneliti kesehatan masyarakat. Pak Iwan berdehem pelan, mencoba menahan senyum.
“Maaf, mas… tadi kami kira Mas Erlangga ini mahasiswa KKN biasa. Ternyata sudah semester akhir dan hampir punya  gelar Dokter, ya.” Sapa Lulu Kaur Keuangan Desa Awan Biru, dengan ramah dan santui.

Ketua BPD Didit menimpali, “Bahasanya juga sudah seperti sidang skripsi di sini.” Tambahnya, Beberapa perangkat desa ikut tertawa kecil, hangat, tidak berjarak. Erlangga sempat kikuk. Ia datang dengan kemeja rapi, laptop di tangan, dan pikiran penuh kerangka metodologi penelitian. Ia membayangkan forum formal yang kaku. Namun yang ia temui justru sambutan yang bersahabat. Ia tersenyum sopan.

“Tenang, Pak. Saya tetap bisa diajak ngopi tanpa presentasi Power Point.” Ujar Si Amat sambil menyalami erlangga dan memperkenalkan diri. Tawa kecil itu berubah menjadi lebih lepas.

. “Di Awan Biru, yang penting bukan cuma pintar bicara, tapi mau mendengar.” Kata Pak Iwan sambil mendekat, menepuk bahu Erlangga dengan ringan

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pengantar yang tak tertulis. Erlangga menangkap makna sosial yang lebih dalam: desa bukan ruang kosong yang menunggu diisi teori. Ia adalah ruang hidup dengan struktur, relasi, dan harga diri kolektif. Perangkat desa menyambutnya bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai mitra potensial, dengan sedikit humor sebagai pembuka jarak.

Di sudut ruangan itu, tawa kecil menjadi simbol penerimaan awal. Dan tanpa disadari, momen sederhana itu adalah langkah pertama Erlangga memahami bahwa pengabdian bukan hanya tentang program, melainkan tentang membangun kepercayaan, yang sering kali dimulai dari senyum dan tawa ringan di pertemuan pertama. Pak Kades Iwan sambil memperkenalkan kepada perangkat desanya sebelum masuk ke ruangan kepala desa.

Di meja sebelah kanan, seorang perempuan berkacamata dengan map bertumpuk rapi mengangguk singkat.

“Saya Yuni, Sekdes,” katanya tegas. “Kami sudah terima suratnya. Jadwal Anda tiga bulan di sini, ya?” sapa Yuni Sekdes Desa Awan Biru.

“Ya, Bu. Rencananya observasi lapangan, survei rumah tangga, wawancara mendalam, dan analisis partisipatif.” Jawag Erlangga sopan.

“Bagus,” sahut Yuni cepat. “Tapi jangan lupa, di sini kalau mau wawancara, biasanya harus ikut minum teh dulu atau kopi. Itu prosedur tak tertulis.” Pintanya kepada Erlangga.

3

Seorang perempuan dengan jilbab warna pastel mendekat sambil membawa secangkir kopi hangat untuk tamunya.

“Betul itu,” katanya ramah. “Saya Endang, Kasi Pelayanan. Silahkan di  minum kopinya” setelah endang meletakan secangkir kopi di meja tamu.

“Dan jangan lupa,” tambah perempuan lain dari meja paling rapi di ruangan itu, “kalau data keuangan ditanya, harus jelas tujuannya apa. Saya Lulu, Kaur Keuangan.” Ikut memperkenalkan diri, nada bicaranya lembut tapi penuh presisi.

Di sudut dekat papan perencanaan desa, seorang pria berkemeja kotak-kotak mengangkat wajahnya dari berkas.

“Pak Eko. Kaur Perencanaan. Kalau mau bikin rekomendasi program, kita diskusi bareng ya. Jangan cuma teori kampus, tapi fakta lapangan.” Pancing Pak Eko kepada Erlangga, sementara Erlangga memgangguk sopan, dia belum siap untuk adu argumentasi mengingat ini hari pertama di desa awan biru.

Sementara itu, seorang pria dengan sorot mata tenang berdiri mendekat. “Saya Amat. Kasi Pemerintahan. Nanti urusan data administrasi penduduk bisa lewat saya.” Sambil menatap tajam kea rah Erlangga penuh tanda Tanya, “saya juga sebagai admin website desa, untuk urusan publikasi kegiatan, jangan sungkan koordinasi dengan saya, ya mas Erlangga”, Sapa Si Amat diplomatis, tidak seperti biasanya yang suka ceplas ceplos, kali ini dihadapannya adalah seorang mahasiswa calon dokter.

Erlangga merasa seperti sedang menghadapi tim lengkap sebuah sistem pemerintahan kecil yang solid. Ia sedikit terkesan… sekaligus merasa tertantang.

“Baik, Bapak-Ibu. Terima kasih banyak atas sambutannya, terutama dengan Pak Kades Iwan” belum selesai Erlangga bicara,  Tiba-tiba. “BLAP!”, Lampu mati, Kipas angin berhenti, Komputer desa padam, Ruangan mendadak hening.

Erlangga teringat bahwa baterai laptopnya tinggal 12%, Ia menelan ludah, sambil bertanya;

“Eh… listriknya memang sering padam, ya Pak?” tanyanya pelan.

Pak Iwan bersandar santai. “Sering sih tidak. Cuma… kadang-kadang suka kangen istirahat.” Ujarnya santui. Endang tertawa kecil sambil menengahi;
“Tenang, mas Erlangga. Biasanya hanya sebentar kemudian hidup lagi”, Lulu menimpali dengan nada serius tapi jenaka, “Kalau lowbat, itu namanya indikator ketahanan teknologi rendah.”  Ujarnya.

Pak Eko ikut bersuara, “Kalau dalam keadaan darurat kita bisa manfaatkan tenaga surya untuk arus listriknya, agar semua kegiatan di kantor desa tetap berjalan walaupun terdapat kendala mati lampu”

Seluruh ruangan hening gegara mati lampu,. Erlangga akhirnya tersenyum simpul, ini adalah salah satu kendala di desa, yauitu mati lampu. Ia sadar ini juga merupakan tantangan di hari-hari berikutnya.Pak Iwan berdiri pelan, berjalan ke jendela dan membukanya lebar-lebar, beliau tidak jadi mengajak Erlannga

4

ke ruangannya, dan lebih memilih di ruang pelayanan agar tidak terlalu formil.

“Sini duduk melingkar saja,” pintanya kepada Erlangga dan beberapa perangkat desanya. “Di desa ini, sebelum membahas angka, kita biasanya membahas manusianya dulu.”

Yuni menambahkan, “Kesehatan itu bukan cuma grafik, Mas Erlangga. Di sini, kalau ibu-ibu datang ke posyandu sambil bawa anak dan cerita masalah rumah tangga, itu juga bagian dari data.”

Amat mengangguk pelan. “Kalau mau memahami desa, jangan cuma tanya ‘berapa persen’. Tanyakan juga ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’.” Tambah Si Amat pelan. Erlangga  terdiam sejenak, sementara  Pak Iwan tersenyum puas.

Di luar, suara anak-anak terdengar bermain. Sementara di dalam kantor desa yang sederhana itu, seorang mahasiswa kedokteran mulai memahami bahwa teori hanyalah pintu masuk. Yang menentukan keberhasilan bukan sekadar presentasi, melainkan kemampuan mendengar.

Dan tanpa ia sadari, hari pertamanya di Desa Awan Biru telah mengajarkannya pelajaran paling dasar tentang kesehatan masyarakat: bahwa ilmu harus mampu hidup di tengah keterbatasan, dan kebijaksanaan sering kali lahir dari kesederhanaan.***

Halaman Posyandu “Melati Sehat” pagi itu sudah ramai bahkan sebelum matahari sepenuhnya tinggi. Balai kecil berdinding papan dan beratap seng itu tampak sederhana, namun fungsional. Di sisi kanan, meja registrasi disusun memanjang dengan taplak plastik bermotif bunga. Di atasnya tertata buku KIA, pulpen yang diikat dengan benang rafia, serta daftar hadir yang mulai terisi penuh.

Di bagian tengah ruangan, timbangan gantung tergantung pada balok kayu penyangga atap. Kain timbang berwarna hijau tampak sedikit memudar, tanda sudah lama digunakan. Tikar plastik warna-warni digelar rapi, menjadi tempat duduk ibu-ibu muda yang menggendong balita mereka. Beberapa anak merangkak bebas, ada yang sibuk memainkan sendok plastik, ada pula yang menangis karena belum terbiasa dengan keramaian.

Di sudut kiri, meja kecil berisi alat ukur tinggi badan dan pita LILA. Di sudut lainnya, termos air hangat dan wadah bubur kacang hijau disiapkan sebagai PMT hari itu. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada layar presentasi, tidak ada pointer laser seperti yang biasa Erlangga temui di ruang seminar kampus. Namun sistemnya berjalan, Registrasi, Penimbangan, Pencatatan, Konseling singkat, Pemberian PMT, Semua berlangsung dalam alur yang tampak alami.

Erlangga berdiri sejenak di ambang pintu, memperhatikan. Dalam benaknya, pelayanan kesehatan masyarakat selalu dibayangkan dalam kerangka formal, alur pelayanan tercetak jelas, diagram alir ditempel di dinding, data diinput langsung ke sistem digital. Di sini, alur itu hidup dalam ingatan kolektif para kader, di sudut ruangan, terdengar suara tegas namun lembut.

“Bu, beratnya 9,2 kilogram. Bulan lalu 8,9. Naik, tapi belum signifikan. Nanti kita cek lagi pola makannya, ya.” Anita mulai menimbang balita, Erlangga menoleh, memperhatikan sumber suara dan mengamatinya dengan seksama.

5

Anita berdiri di dekat timbangan gantung, satu tangan memegang buku KIA, tangan lainnya menunjuk grafik pertumbuhan dengan ujung pulpen. Ekspresinya serius namun bersahabat.

Ibu yang sedang ditimbang anaknya tampak cemas, “Berarti masih kurang, Mbak?”

“Bukan kurang,” jawab Anita tenang. “Hanya perlu kita dorong lagi. Kemarin sempat sakit, kan?” Tanya Anita kepada ibu si balita.

“Iya, diare dua hari.” ujarnya

“Nah, itu pengaruh juga. Yang penting kita perbaiki makanannya pelan-pelan. Jangan stres dulu.” Kata Anita memberikan saran nasehat.

Erlangga mendekat, tertarik. “Boleh saya lihat grafiknya?” tanyanya sopan.

Anita menyerahkan buku itu, Erlangga mengamati kurva pertumbuhan. Secara teoritis, garisnya memang masih berada pada zona risiko ringan menurut standar WHO.

“Secara kurva, memang perlu pemantauan lebih ketat,” katanya refleks.

Beberapa ibu menoleh, seolah istilah “kurva” dan “standar” terdengar cukup serius.

Anita tersenyum tipis. “Makanya kita pantau tiap bulan, Dok, eh mas Erlangga, maaf .” kata Anita tersipu malu. Jawaban itu ringan, tetapi mengandung penegasan bahwa praktik lapangan tidak pernah abai terhadap teori, hanya saja bahasanya berbeda.

Seorang ibu lain tiba-tiba bertanya, “Dokter dari kota, ya?” ibu itu belum mengetahui bahwa Erlangga masih berstatus mahasiawa akhir, dikiranya sudah menjadi dokter.

“Iya, Bu. Saya sedang belajar di sini,” jawab Erlangga.

“Belajar apa?” jawab si ibu tadi

Erlangga sempat berpikir, lalu tersenyum. “Belajar supaya nanti kalau lihat angka, saya ingat wajah anaknya juga.” Ucapnya sambil bercanda, Ibu-ibu tertawa kecil, sementara  Anita menatapnya sekilas, kali ini bukan dengan nada menantang, melainkan dengan pengakuan diam-diam.

Di tengah tikar plastik, tangisan balita, dan aroma bubur kacang hijau, Erlangga menyadari sesuatu: posyandu bukan sekadar titik layanan kesehatan. Ia adalah ruang sosial tempat ilmu bertemu empati.

Dan pagi itu, sebelum diskusi teoritis apa pun dimulai, ia sudah belajar pelajaran pertamanya, bahwa kesehatan masyarakat tidak pernah berdiri di atas grafik semata, melainkan di atas relasi yang dibangun dengan sabar dari bulan ke bulan.

Seorang gadis mengenakan rompi kader berwarna hijau muda berdiri sambil mencatat di buku besar. Rambutnya diikat sederhana. Gerakannya cekatan, tatapannya fokus. Ia berbicara dengan kombinasi ketegasan dan kehangatan yang jarang ia temui.

 

6

 

“Itu  Anita,” bisik Ibu Amelia kepada Erlangga, Bidan Desa, yang berdiri di samping Erlangga. “KPM kami. Rajin sekali.” Ujarnya pelan.  Lain halnya dengan Erlangga mendengar nama Anita di sebut oleh Ibu Amelia. Nama itu terasa ringan diucapkan, tapi kehadirannya tidak ringan sama sekali.

Erlangga memperhatikan cara Anita menimbang balita, mencatat angka, lalu berdiskusi dengan ibu-ibu tentang asupan protein. Bukan sekadar kegiatan rutin. Ada pemahaman di balik caranya berbicara.

Setelah beberapa menit mengamati, naluri akademis Erlangga mengambil alih. Ia melangkah mendekat.

“Permisi,” katanya sopan. “Saya Erlangga, mahasiswa kedokteran yang sedang penelitian di desa ini.”

Anita menoleh. Tatapannya cepat, menilai. “Oh. Yang kemarin presentasi pakai istilah determinan struktural itu, saat meghadap Kepala Desa Pak Iwan?” Tanya Anita.

Erlangga sedikit tersedak. “Ya… saya.”

“Baik,” jawab Anita singkat sambil kembali menulis. “Silakan observasi. Tapi jangan berdiri di dekat timbangan, nanti anaknya takut.” Ucap Anita sopan, Erlangga mundur setengah langkah, Beberapa ibu tersenyum geli,Setelah sesi penimbangan selesai, Anita menghampirinya.

“Jadi, Mas Erlangga mau lihat data stunting kami?” Tanya Anita kepada Erlangga.

“Ya,” jawabnya penuh semangat. “Saya melihat dari laporan agregat desa, angka risiko stunting masih 18 persen. Artinya intervensi belum optimal.” Selidik Erlangga.

Anita mengangkat alis. “Delapan belas persen itu dari data mana?” sanggah Anita tajam.

“Rekap semester lalu.” Ujar Erlangga berdasarkan informasi dari kader posyandu lainnya.

“Yang sebelum kami lakukan validasi ulang rumah ke rumah warga, ya?” jawabnya pelan.

Erlangga berhenti sejenak. “Validasi ulang?” sementara Anita menyilangkan tangan.

“Mas, data stunting itu bukan cuma angka di spreadsheet. Kami turun langsung. Ada yang awalnya masuk kategori risiko karena berat badan stagnan dua bulan, tapi setelah ditelusuri, ternyata anaknya sedang diare waktu penimbangan.” Anita menjelaskan duduk perkara 18 persen itu.

Erlangga mulai merasa tertarik. “Berarti ada potensi bias pengukuran.” Tanya Erlangga bersemangat.

“Bukan potensi. Realitas,” jawab Anita cepat. Ibu Amelia yang mendengar percakapan itu ikut tersenyum. Anita melanjutkan, “Kami lakukan verifikasi antropometri ulang, cek panjang badan, cek asupan makanan, wawancara ibu. Jadi angka terakhir bukan 18 persen lagi.”

“Berapa sekarang?” tanya Erlangga, nadanya berubah lebih serius.

7

“Turun jadi 11,4 persen.” Jaweab Anita tegas.

Erlangga terdiam. “Sebentar… itu signifikan. Intervensinya apa saja?” Tanya Erlangga berikutnya.

Anita mulai menjelaskan dengan nada runtut, hampir seperti presentasi ilmiah. “Kami lakukan edukasi gizi berbasis dapur rumah tangga. Tidak pakai contoh makanan dari Mall. Kami sesuaikan dengan bahan lokal. Ikan sungai, tempe, daun kelor. Lalu kami kolaborasi dengan pemerintah desa untuk penyediaan air bersih di RT 002 karena sanitasi mempengaruhi kasus diare.”

Erlangga memperhatikan dengan sungguh-sungguh. “Jadi pendekatannya bukan hanya kuratif, tapi promotif-preventif berbasis komunitas,” gumamnya.

Anita tersenyum tipis. “Nah, itu istilah yang Mas suka.” Beberapa kader yang duduk di tikar tertawa kecil. Erlangga tidak tersinggung. Justru semakin penasaran. “Tapi secara metodologi,” lanjutnya, “apakah validasinya sudah sesuai standar WHO?” kemudian Anita mendekat sedikit;

“Mas Erlangga,” katanya dengan nada santai tapi tajam, “standar WHO itu penting. Tapi kalau ibu-ibu di sini tidak percaya pada kader, seakurat apa pun alatnya, datanya tetap tidak jujur.” Kalimat itu menghantam lebih keras daripada kritik ilmiah.

Seorang ibu yang duduk di dekat mereka menyela, “Yang penting anak saya sekarang doyan makan, Mas. Dulu susah sekali.”

Anita menoleh pada ibu itu dengan hangat. “Itu indikator keberhasilan paling nyata, Bu.”

Erlangga tersenyum kecil. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Saya akui, saya terlalu fokus pada angka.”

“Dan saya akui,” jawab Anita cepat, “kadang kami kurang sistematis dalam dokumentasi.”

Mereka saling menatap, ada keheningan singkat yang berbeda dari sebelumnya, bukan lagi perdebatan defensive, melainkan pertukaran gagasan.

“Kalau begitu,” ujar Erlangga, “bagaimana kalau kita kolaborasi? Saya bantu analisis statistiknya, Anita bantu saya memahami konteks sosialnya.” Pinta Erlangga kepada Anita.

Anita pura-pura berpikir. “Hmm. Jadi bukan cuma datang, ambil data, lalu pulang?”

“Tidak,” jawabnya mantap. “Saya ingin datanya benar-benar merefleksikan kondisi lapangan.” Kata Erlangga kemudian.

Anita tersenyum lebih lebar kali ini. “Baiklah, Dokter Teori. Kita uji di lapangan.” Goda Anita sambil tersenyun simpul.

“Panggil saja Erlangga.” Pintanya

“Baik, Mas Erlangga. Tapi kalau terlalu banyak istilah Latin, saya denda suruh timbang bayi sepuluh kali.” Ancam Anita ke Erlangga, pastilah bagi Anita bahasa akdemik kurang dia kuasai apalagi dengan

8

istilah bahasa latin segala. Tawa pecah di antara kader, Erlangga ikut tertawa juga.

Di antara timbangan gantung dan buku catatan sederhana itu, sesuatu yang tak terukur mulai tumbuh. Bukan hanya rasa saling menghormati secara intelektual, tetapi juga ketertarikan yang halus, lahir dari perdebatan yang sehat dan kekaguman yang diam-diam, Erlangga merasa tertantang.
Anita merasa didengar.

Dan di tengah riuhnya kegiatan posyandu, di antara angka-angka dan realitas, benih pertama itu mulai bersemi, tanpa grafik, tanpa tabel, tanpa hipotesis, Namun sangat nyata.***

Jika pada hari pertama Erlangga datang dengan teori, maka pada minggu kedua ia datang dengan sepatu yang mulai berdebu. Bukan sekadar debu fisik yang menempel di ujung solnya, melainkan simbol dari proses adaptasi yang perlahan namun pasti. Pada kunjungan pertamanya, ia membawa laptop, pointer presentasi, dan rangkaian kerangka konseptual yang tersusun rapi dalam pikirannya. Ia berbicara tentang prevalensi, intervensi berbasis bukti, dan model konvergensi layanan dengan artikulasi yang terlatih. Namun realitas desa tidak dapat sepenuhnya dipetakan oleh diagram.

Dalam minggu kedua itu, Erlangga tidak lagi memulai hari dengan membuka file PowerPoint. Ia memulai pagi dengan menyusuri jalan tanah yang sedikit lembap oleh embun. Sepatunya yang semula bersih kini mulai kehilangan kilapnya, tergores kerikil kecil, terciprat lumpur tipis di bagian samping. Ia tidak lagi berjalan cepat seperti seseorang yang mengejar jadwal presentasi. Langkahnya melambat, memberi ruang untuk menyapa warga yang ditemuinya.

“Pagi, Dok!” seru seorang anak kecil sambil berlari.

“Pagi. Sudah sarapan?” balasnya spontan, Interaksi sederhana itu sebelumnya tidak pernah masuk dalam indikator keberhasilan program kesehatan. Namun kini ia menyadari, kehadiran yang konsisten adalah variabel penting yang sering tidak tertulis.

Pada minggu kedua, ia mulai membawa buku catatan kecil alih-alih hanya tablet digital. Ia mencatat percakapan, kebiasaan makan keluarga, bahkan cerita tentang musim tanam yang memengaruhi pola konsumsi protein. Ia mulai memahami bahwa determinan kesehatan di desa tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga ekonomis dan kultural.

Teori yang ia bawa tidak hilang, ia tetap menggunakannya sebagai kerangka analisis. Tetapi kini teori itu tidak berdiri sebagai menara yang tinggi. Ia mulai membumikan konsep-konsep tersebut dalam bahasa yang lebih kontekstual, Ia juga mulai menyadari keterbatasannya.

Beberapa istilah medis yang dulu ia ucapkan tanpa ragu kini ia tahan sejenak, memikirkan padanan kata yang lebih mudah dipahami. Ia belajar bahwa komunikasi kesehatan bukan sekadar transfer informasi, melainkan proses negosiasi makna. Sepatu yang mulai berdebu itu menjadi saksi perubahan kecil dalam dirinya. Ia tidak lagi sekadar “mahasiswa yang melakukan penelitian.” Ia mulai bertransformasi menjadi pengamat yang terlibat—seseorang yang tidak hanya mengukur, tetapi juga mendengar. Dan sebelum ia menyadari sepenuhnya perubahan itu, minggu kedua telah menggeser posisinya dari pusat narasi menuju bagian dari lanskap sosial desa yang sedang ia pelajari.

9

Pagi itu ia berdiri di halaman Puskesmas Pembantu bersama Bidan Desa Ibu Amelia, Bidan Yunita dan Bidan Susanti dari Puskesmas, serta Kepala Puskesmas Kabut Merah, Dokter Samsiar, seorang dokter senior dengan sorot mata tajam namun penuh ketenangan.

“Erlangga,” ujar Dokter Samsiar sambil memeriksa daftar kunjungan, “di kampus kamu belajar epidemiologi?” tanyan Dokter Saamsiar ramah.

“Ya, Dok. Analisis insidensi, prevalensi, risk factor, regresi logistik” jawab Erlangga dengan sopan

“Bagus,” potong Dokter Samsiar santai. “Sekarang belajar satu lagi.” lanjut Dokter Samsiar sambil memperhatikan Erlangga, yang sudah mulai berubah, tidak lagi kaku seabagai mahasiswa tingkat akhir melainkan seorang mahasiswa yang sedang praktek langsung ke masyarakat.

“Apa itu, Dok?”, Tanya Erlangga ingin mengetahui, apa yang dimaksud oleh Dokter Samsia.

“Regresi realita.” Jawab Dokter Samsiar singat dan padat.

Bidan Yunita tertawa. “Maksudnya, teori sering mundur kalau ketemu kenyataan, Mas.” Ledek Bidan Yunita, sambil bersiap-siap untuk melaksanakan kegiatan pemantauan secara langsung ke tengah masyarakat bersama Erlangga , Dokter Samsiar dan Bidan Susanti serta Ibu Amelia. Erlangga membawa buku catatan kecil. Kali ini bukan laptop. Rumah pertama yang mereka datangi milik Pak Sugeng, petani yang dikenal cerewet namun ramah. Semapainya di rumah pak sugeng, Erlangga beserta para Bidan dan Dokter Samsiar di sambut oleh Pak Sugeng dengan ramah.

“Mas dokter dari kota, ya?” sapa Pak Sugeng sambil menyodorkan kursi plastik.

“Masih mahasiswa, Pak,” jawab Erlangga sopan.

Pak Sugeng menatapnya dari atas ke bawah, “Mahasiswa kok bawa stetoskop terus. Mau periksa ayam saya juga?” waduh pak sugeng mulai pasang aksi humornya, Tawapun pecah seketika.

Erlangga ikut tersenyum,“Kalau ayamnya batuk mungkin bisa saya rujuk ke fakultas kedokteran hewan, Pak.” Balas Erlangga seketika.

“Wah pintar juga jawabannya,” celetuk Ibu Amelia.

Erlangga mulai bertanya soal sanitasi, sumber air, pola makan keluarga. Ia mencatat dengan serius.

Pak Sugeng memperhatikan dengan heran, “Mas, kalau nulis cepat begitu, nanti tanganmu keram.”

“Tidak apa-apa, Pak. Data primer harus dicatat langsung”, jawab Erlangga tegas.

Pak Sugeng mengangguk pelan, “Yang penting jangan cuma dicatat. Kadang kami ini sudah sering ditanya-tanya. Habis itu hilang”, tutur Pak Sugeng mengingatkan kembali,

Kalimat itu membuat Erlangga berhenti menulis sejenak, “Tidak, Pak. Saya ingin hasilnya kembali ke desa”, Erlangga mencoba menjelaskannya.

10

Pak Sugeng tersenyum tipis. “Kalau begitu, Mas Erlangga beda.” Imbuhnya, tak berapa lama rombongan Erlangga berpamitan ke Pak Sugeng setelah seluruh data di catat. Selanjutnya kegiatan menuju ke rumah Pak Kartolo, tak jauh dari rumah pak Sugeng. Di rumah berikutnya, kejutan datang lebih cepat, sesampainya di rumah pak Kartolo, Ibu Kratolo langsung menarik tangan Erlangga dan langsung di cerca pertanyaan, “Mas, sudah punya calon belum?” cecar bu Kartolo ke Erlangga, sehingga Erlangga sempat melongo dan bingung serta tersedak,“Eh… belum, Bu.” Jawabnya gagap.

“Bagus!” jawab Ibu Katolo semangat. “Di sini banyak gadis baik-baik.” Kata ibu Kartolo menyakinkan, sementara Pak Kartolo ikut  menimpali, “Yang penting kuat makan singkong.” Membuat  Seluruh rombongan tertawa.

Erlangga mencoba tetap akademis.“Sebenarnya saat ini saya sedang fokus penelitian, Bu.” Kata Erlangga mencoba menghidari dari pertanyaan bu Kartolo, Namun ibu Kartolo gak mau kalah, “Penelitian hati juga penting,” sahut Ibu Katolo cepat. Di belakang rombongan, Anita yang ikut mendampingi kunjungan pura-pura sibuk mencatat. Tapi senyumnya sulit disembunyikan.

Tak mau dikerjain terus oleh Ibu Kartolo, Erlangga bergegas pamit untuk melanjutkan pemantauan selanjutnya di Rumah Pak Rio sesuai dengan sekeju yang sudah disusun sehari sebelumnya. Sesampainya di rumah Pak Rio, Erlangga disambut oleh Pak Rio dan Ibu Rio.  Di sini Erlangga mengalami salah paham bahasa lokal pertama.

Pak Rio berkata, “Anak saya kemarin panas, terus saya kasih diurut biar ‘anginnya keluar’.”

Erlangga mengernyit. “Angin… keluar?”

“Iya, diurut. Biar anginnya pindah.” Lanjut Pak Rio menjelaskan.

Erlangga mencoba menjelaskan secara ilmiah, “Secara fisiologis, demam itu akibat respons imun terhadap patogen, Pak, bukan karena angin terperangkap.”

Pak Rio menatapnya datar, “Mas, kalau bukan angin, kenapa namanya masuk angin?”

Suasana menjadi Hening, Bidan Susanti menepuk bahu Erlangga pelan. “Mas, di sini kita jelaskan pelan-pelan. Jangan langsung pakai istilah patogen.” Sanggah Bidan Susanti, agar Erlangga dalam meberikan arahan dengan menggunakan bahasa ataau istilah yang mudah dipahami masyarakat.

Anita akhirnya tertawa kecil, melihat perubahan wajah Erlangga, memang Anita sebagai Kader KPM selalu mendampingi semua kegiatan Erlangga di Desanya, sembari nyeletuk, “Dokter Teori, bab satu: komunikasi kesehatan berbasis budaya.” Ledek Anita sambil tertawa kecil.

Erlangga menghela napas, lalu mencoba lagi dengan bahasa sederhana, “Oh… jadi maksudnya badan terasa tidak enak karena kelelahan, ya Pak?”

Pak Rio langsung tersenyum lebar, “Nah itu! Mas ini cepat belajar.” Selanjutnya Erlangga beserta rombongan dan Anita menuju target seklanjutnya yaitu ke rumah Pak Arga, Di rumah ini, mereka

11

mendapati balita yang berat badannya stagnan. Erlangga mulai menjelaskan soal asupan protein hewani.

Bu Arga mengangguk-angguk, “Tapi ikan mahal, Mas.” Jawab Ibu Arga memelas.

Sebelum Erlangga sempat menjawab, Anita menyela, “Bu, kemarin kita sudah diskusi. Telur bisa, tempe juga bagus. Tidak harus mahal.” Sela Anita penuh perhatian, sementara itu secara diam-diam Erlangga memperhatikan Anita. Ia tidak hanya menyampaikan solusi, tapi dengan nada yang bersahabat, tidak menggurui.

Dokter Samsiar berbisik pelan pada Erlangga, “Itu yang namanya intervensi kontekstual.”

Erlangga mengangguk. “Ya, Dok. Adaptasi sosial ekonomi.”

Sebagai kunjungan yang terakhir Erlangga bersama – sama teman-teman menuju ke wilayah RT 002 tepatnya di Ruman Pak RT 002 Pak Emen. Setibanya di sana, Ketua RT 002, Pak Emen, menyambut mereka dengan suara lantang. “Dokter muda! Katanya mau survei air bersih?” sambut Pak RT sekaligus bertanya.

“Ya, Pak”, jawab Erlangga singkat dan padat.

Pak Emen menunjuk sumur di belakang rumah, “Ini sumur kami. Airnya kadang keruh kalau hujan deras.”

Erlangga mengambil sampel kecil untuk dianalisis sederhana, sementara Bu Emen tertawa,
“Mas ini serius sekali. Kayak mau ujian nasional.” Ungkapnya menggoda.

“Memang ini ujian, Bu,” sahut Erlangga spontan. “Ujian kehidupan.” Sontak saja Semua tertawa, termasuk Anita yang dari tadi selalu memperhatikan gerak gerik dari Erlangga, rasa itu tumbuh dari banyaknya pertemuan dan seringanya interaksi serta saling membutuhkan. Menjelang Tengah hari seluruh rangkaian kegiatan berhasil diselesaiakan tepat waktu, saatnya untuk kembali ke aktivitas masing-masing, Pak Dokter Samsiar kembali ke Puskesmas, sementara Bidan Yunita kembali ke Pustu tinggal Erlangga, Yunita dan Bu Amelia.

Di perjalanan pulang, mereka bertemu dengan  truk Anto, yang beru pulang dari belanja barang untuk keperluan di PT, ketika melewati rombongan Anita, Anto melirik Erlangga lewat kaca spion.
“Mas, sudah cocok belum sama desa ini?” Tanya Anto kepada Erlangga

“Cocok bagaimana maksudnya?”, giliran Erlangga bingung mau menjawab apa.

“Cocok hatinya.” Goda ando sambil minta pamit jalan duluan dengan mengendarai truk setianya.

Bidan Yunita langsung terkekeh, “Anto ini selain sopir juga penyiar gosip,” kata Ibu Amelia.

Anto santai saja, “Kalau Mas sering bareng Anita terus, nanti saya pasang tarif sewa truk jadi paket prewedding.” Dari kejauhan masih sempat mendengar ucapan Bidan Yunita sekaligus meledek Erlangga dan Anita secara spontan. Erlangga hampir tersedak, Anita yang berjalan di samping Erlangga pura-pura

12

 

 melihat pemandangan, tapi pipinya merah merona. Malamnya, Erlangga duduk di teras rumah singgah, menulis catatan lapangan. Ia menulis:

“Kesehatan masyarakat di Desa Awan Biru tidak dapat dipahami hanya melalui indikator kuantitatif. Diperlukan pendekatan sosio-kultural dan komunikasi partisipatif. Interaksi langsung membuka perspektif baru tentang kepercayaan, bahasa, dan makna sehat bagi masyarakat.” Ia berhenti sejenak, pikirannya mulai melayang entah sampai dimana.

Hari itu ia tidak hanya belajar tentang sanitasi, gizi, atau epidemiologi. Ia belajar tentang humor sebagai jembatan komunikasi. Tentang ejekan ringan sebagai bentuk penerimaan sosial. Dan di antara canda ibu-ibu yang terang-terangan menjodohkannya, di antara tatapan diam Anita yang sesekali menantangnya dengan senyum kecil, Erlangga menyadari sesuatu: Desa ini bukan lagi sekadar lokasi penelitian, Ia mulai merasa menjadi bagian dari ceritanya.

Sementara di kejauhan, suara tawa warga masih terdengar samar, mengiringi seorang mahasiswa kedokteran yang perlahan belajar bahwa untuk menyelami desa, ia harus lebih dulu menanggalkan kesombongan teori… dan membuka ruang bagi hati.***

Balai Desa Awan Biru sore itu lebih ramai dari biasanya. Kursi-kursi plastik disusun berbaris. Di depan, terpasang layar putih seadanya yang dipinjam dari sekolah dasar. Di atas meja panjang, termos kopi dan pisang goreng tersaji rapi, ritual wajib setiap forum desa. Agenda hari itu: Forum Evaluasi Program Kesehatan Desa.

Erlangga duduk di depan, laptop sudah menyala penuh, kali ini ia memastikan baterai 100 persen. Presentasi PowerPoint berisi grafik tren stunting, diagram batang cakupan imunisasi, dan tabel realisasi anggaran kesehatan desa sudah siap.

Di barisan depan duduk:

  • Pak Iwan, tenang seperti biasa.
  • Sekdes Yuni dengan map tebal.
  • Lulu, Kaur Keuangan, membawa laporan realisasi.
  • Pak Eko, Kaur Perencanaan, memegang notulen lama.
  • Si Amat, tegap dan serius.
  • Ketua BPD Didit dengan wajah kritis.
  • Beberapa warga: Pak Sugeng, Pak Kartolo, Bu Rio, dan lainnya.
  • Anita duduk di sisi kanan, membawa buku catatan.

Dengan rasa hormat kepada Pak Kades Iwan beserta perakat, Ketua BPD, serta Hadirin yang hadir, Erlangga minta izin ke Pak Kades untuk menyampaikan Presentasinya selama beberapa mingu kegiatannya dalam rangka penelitian untuk Skripsi di masa akhir kuliahnya. Dengan hati berdebar kencang Erlangga harus siap untuk tampil menyampaikan hasil kerja lapangan, tidak hanya itu saja,

13

 di sudut yang berbeda sepasang mata binar selalu mencuri pandangan matanya. Siapa lagi kalau bukan Anita yang belakangan ini telah menemati kemanapun dia ada kegiatan di masyarakat. Tak dapat di pungkiri benih-benih cinta mulai tumbuh dan berkembang di sanubahrinya.

Erlangga berdiri, “Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Berdasarkan analisis komparatif antara data agregat desa dan hasil observasi lapangan, terdapat beberapa discrepancy signifikan.” Kata Erlangga sebagai awal pembuka persentasinya di depan pemerintah desa dan masyarakat terkait kesehatan.

Pak Sugeng berbisik pada Pak Kartolo, “Dis… apa?” tanyanya karena kurang mengerti bahasa kerennya.

Pak Kartolo mengangkat bahu, “Mungkin jenis vitamin baru.” Jawab Pak Kartolo asal-asalan.

Erlangga melanjutkan penuh percaya diri, “Misalnya, laporan tahun lalu menunjukkan cakupan intervensi gizi mencapai 85 persen. Namun berdasarkan validasi lapangan, implementasi efektifnya hanya sekitar 62 persen”, ungkapnya, walaupun Erlangga memahami pasti akan terjadi perdebatan, namun berdasarkan teori yang Erlangga pelajari di Kampus harus diuji coba di desa ini.

Ruangan mulai hening, Lulu mengangkat kepala, “62 persen itu dihitung dari mana, Mas?” Tanya Lulu penasaran karena terdapat perbedaan data signifikan.

“Dari sampel rumah tangga yang saya kunjungi, Bu. Dengan pendekatan stratified sampling.” Jawab Erlangga dengan bahasa akademik, walaupun banyak warga yang kurang mengerti dengan bahasa akdemik.

Ketua BPD Didit menyela, “Berarti tidak seluruh warga?” menyakinkan atas sampel yang di ambil oleh Erlangga dalam kunjungan ke masyarakat.

“Secara metodologi tidak perlu seluruhnya, Pak. Cukup representatif.”, Erlangga mencoba menyakinkan semua yang hadir, termasuk Pak Kades Iwan, maupun Anita selaku Kader KPM yang juga bertanggungjawab terhadap data kesehatan masyarakat.

Didit mengangguk pelan, tapi wajahnya tidak sepenuhnya puas, begitu juga dengan Anita, sejak tadi sangat focus memperhatikan Erlangga dalam mempersentasikan melalui layar ,  Erlangga mengganti slide.

“Selain itu, program penyuluhan sanitasi yang tercatat rutin tiap bulan, pada praktiknya hanya berjalan empat kali dalam setahun.” Erlangga semakin berani untuk menyampaikan temuan di lapangan terkait penyuluhan saanitasi,         Erlangga sadar bahwa di forum tersebut juga turut hadir para petugas yang sangaat berkepentingan terhadap data kesehatan, perbedaan yang signifikan dapat mempengaruhi nilai indeks di mata pemerintah daerah, oleh karena itu prinsip teori yang di gunakan harus dapat dibuktikan sesuai dengan fakta lapangan.

Pak Eko langsung bersuara, “Itu karena dua bulan hujan deras, Mas. Jalan ke RT 002 terputus.”Erlangga menjawab cepat, “Dalam manajemen program, kendala eksternal seharusnya sudah diantisipasi dalam

14

perencanaan.” Kalimat itu terdengar datar, sangat datar datar, sebagai Bantahan seolah Erlangga berada diatas angin dan menyudutkan pihak pemerintah desa yang kurang sigap dalam perubahan ilkim desa.

Si Amat yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. “Mas Erlangga,” suaranya tenang tapi berat,
“kalau di proposal tertulis dua belas kali penyuluhan, itu karena memang direncanakan dua belas kali. Kalau realisasi empat, itu bukan berarti kami tidak bekerja.” Dengan suara tak biasa, Si Amat sangat serius dengan pendapat Erlangga yang menyudutkan pemerintah desa, Si Amat yang biasaya suka melawak, pagi ini kehabisan akal untuk menghibur, wajahnya sangat serius menyimak angka-demi angka yang di sampaikan oleh Erlangga, hingga lupa bahwa Si Amat juga harus Upload kegiatan hari ini.

Erlangga tersadar, tapi sudah terlanjur. “Saya tidak mengatakan tidak bekerja, Pak. Saya hanya menyampaikan skeju antara perencanaan dan implementasinya” ungkap Erlangga dengan nada pelan, Erlangga menyadari, bahwa apa yang sudah disampaikan membawa perdebatan sengit karena menyangkut Kinerja Pemerintah Desa dalam perencanaan, serta kinerja Kader KPM Anita yang mulai sewot atas analisisnya berbeda signifikan.

Pak Sugeng berdehem. “Gap itu siapa orangnya?” tanyanya sok mau tahu, tawa kecil muncul, tapi suasana tetap tegang, Erlangga hanya tersenyun tipis taanpaa menanggapinya, kemudian  Erlangga, masih dengan nada akademis, melanjutkan. “Dan terkait dana desa untuk kesehatan, berdasarkan laporan anggaran, terdapat alokasi cukup besar untuk kegiatan promotif. Namun outcome-nya belum sepenuhnya optimal.”

Lulu langsung menatap tajam, “Mas, laporan itu sudah diaudit. Semua transparan.” Protes Lulu dengan nada ketus.

“Saya tidak meragukan transparansi, Bu,” jawab Erlangga cepat, “hanya efektivitasnya,” jawab Erlangga diplomatis dengan bahasa akdemisi.

Anita menatap Erlangga lama, Ia tahu Erlangga tidak berniat menyerang. Tapi cara penyampaiannya terasa seperti sidang skripsi, bukan forum desa.

Pak Iwan akhirnya berbicara, “Mas Erlangga,” katanya pelan, “di kampus, kritik itu biasa. Di desa, kritik juga penting. Tapi ada satu hal yang lebih penting,” kata Pak Kades Iwan menengahi perdebatan agar tidak meruncing tajam.

“Apa itu, Pak?” tanya Erlangga.

“Rasa memiliki,” jawab Pak Kades Iwan singkat dan padat, suasana kembali Hening.

Pak Iwan melanjutkan, “Data itu penting. Tapi di balik data itu ada orang-orang yang bekerja tanpa honor besar. Ada kader yang jalan kaki keliling RT. Ada ibu-ibu yang datang meski hujan.” Pungkasnya.

Si Amat menambahkan, “Kami tidak anti kritik. Tapi kalau Mas hanya melihat angka yang kurang, Mas tidak melihat keringatnya.” Kata Si Amat tegas, walaupun Si Amat menyadari bahwa kemampuan akdemiknya masih di bawah Erlangga namun tak semudah itu, menyerah dengan argumentasi Erlangga.

15

Anita akhirnya angkat suara, “Mas Erlangga,” katanya lembut tapi tegas, “waktu kita ke rumah Bu Arga, Mas bilang intervensi kontekstual itu penting. Di forum ini juga sama. Konteks sosialnya jangan hilang.” Ungkap Anita yang masih teringat ucapan Erlaangga beberapa waktu yang lalu.

Erlangga terdiam, Ia mulai merasakan bahwa grafik yang tadi begitu ia banggakan, kini terasa kaku, namun Ketua BPD Didit justru tersenyum miring, “Kalau boleh jujur,” katanya, “saya justru senang ada yang berani bicara begini. Supaya kita tidak merasa semua sudah sempurna.” Ujarnya.

Pak Sugeng ikut menimpali, “Betul. Tapi ngomongnya pelan-pelan saja. Jangan kayak dosen lagi marah.” Sontak saja Tawa pecah, Suasana mencair sedikit.

Erlangga menarik napas panjang, “Baik,” katanya akhirnya. “Saya minta maaf kalau penyampaian saya terlalu… akademis.” Ungkapnya, ia menyadari bahwa saat ini Erlangga berada di desa bukan di bangku kuliah.

Pak Kartolo langsung bersuara,“Itu artinya apa?”

Anita menjawab cepat, “Artinya Mas Erlangga terlalu semangat.” Semua tertawa lagi, membuat suasana semakin mencair. Namun setelah forum selesai, suasana antara Erlangga dan Anita berubah. Di luar balai desa, senja mulai turun.

“Anita,” panggil Erlangga pelan, Anita berhenti tapi tidak langsung menoleh.

“Kamu marah?” Tanya Erlangga dengan suara pelan.

“Tidak,” jawabnya singkat.

“Jelas kamu kecewa.” Selidik Erlangga

Anita akhirnya menatapnya. “Mas tahu tidak kenapa warga di sini menerima Mas dengan cepat?”

“Karena saya sopan?” coba Erlangga.

“Karena mereka merasa Mas ingin belajar. Tapi tadi… Mas terdengar seperti ingin menilai.”

Erlangga terdiam. “Saya hanya ingin programnya lebih baik.”

“Dan kami juga ingin,” jawab Anita lembut. “Tapi perubahan di desa itu tidak bisa seperti mengubah slide PowerPoint.” Tegas Anita ketus.

Kalimat itu menusuk. “Saya tidak bermaksud meremehkan.” Jawaab Erlangga hati-hati.

“Aku tahu,” kata Anita pelan. “Tapi Mas belum sepenuhnya memahami ritme desa.” Lanjut kata Anita,

Angin sore berhembus pelan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tidak ada canda di antara mereka. Erlangga merasa ada yang lebih berat dari sekadar perbedaan data. Hubungan mereka mulai renggang, bukan karena tidak peduli, tetapi keduanya sama-sama keras pada idealisme masing-masing.

16

 

Malam itu, di kamar singgahnya, Erlangga membuka kembali slide presentasinya. Ia menatap grafik-grafik itu lama. Secara statistik, ia benar. Namun secara sosial… mungkin ia belum tentu bijak. Dan untuk pertama kalinya dalam penelitiannya, ia menyadari bahwa konflik terbesar bukan antara teori dan data, melainkan antara ego dan empati.***

Sejak forum desa yang sedikit “memanas” itu, hubungan Erlangga dan Anita berubah menjadi lebih hati-hati. Tidak ada lagi debat spontan yang penuh tawa. Tidak ada lagi sindiran ringan soal “Dokter Teori.” Yang tersisa justru keheningan yang canggung, seolah keduanya sedang menjaga jarak, padahal hati diam-diam semakin dekat. Namun desa kecil seperti Awan Biru tidak pernah membiarkan sesuatu berlangsung diam terlalu lama.

Sore itu Anita duduk di teras bersama sahabat-sahabatnya: Yulia, Sintia, Amanda, dan Anjelia. Mereka sedang menyusun konten artikel untuk website desa tentang kegiatan posyandu bulan ini.

Yulia tiba-tiba menyenggol lengan Anita, “Eh Nit, tadi dokter ganteng itu lewat lagi ya depan rumahmu?” Tanya Yulia kepada Anita, sementara Anita sama sekali tidak merespon, Anita tetap mengetik, setelah diam sesaat baarulah Anita menjawab,  “Namanya Erlangga.”

“Oooo… sudah hafal namanya,” goda Sintia cepat.

Amanda ikut menimpali, “Katanya cuma penelitian. Tapi kok penelitiannya sering lewat sini?” selidik Amanda sok ingin tahu urusan orang saja.

Anjelia tertawa kecil. “Jangan-jangan lagi penelitian jantung.”

Anita akhirnya berhenti mengetik dan menatap mereka. “Kalian ini ya. Dia itu serius orangnya. Fokus penelitian.” Bantaah Anita untuk menyaakinkan bahwa Anita tida memiliki hubungan yang spsial.

Yulia mengangkat alis, “Serius? Makanya tiap ketemu kamu jadi salah tingkah?” godanya lagi

Anita pura-pura tidak peduli, tapi pipinya mulai menghangat. “Dia cuma… terlalu akademis.” Sambil menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai di ketahui oleh teman-temannya.

“Akademis itu bukan berarti kebal cinta, Nit,” sahut Amanda dramatis.

Semua tertawa, Anita akhirnya tersenyum tipis.
“Aku cuma tidak mau dia datang ke sini lalu pergi begitu saja.” Ujar Anita Pelan,

Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah. Sahabat-sahabatnya saling pandang. Mereka tahu, Anita bukan tipe yang mudah terkesan.

Sementara itu, di pos ronda dekat lapangan, Erlangga duduk bersama Paijo, Rahmat, Andreas, dan Komang. Mereka sedang minum kopi sachet sambil menikmati angin malam.

17

Paijo melirik Erlangga, “Lang, kenapa sekarang rajin banget ke kantor desa? Dulu kan jarang.” Selidik Paijo kepada Erlangga, dia heran atas sikap Erlangga yang sok rajin ke kantor desa pasti ada maunya.

“Saya perlu koordinasi data,” jawab Erlangga defensive, sambil menyembunyikan perasaannyaa yang sedang menggelora di dadanya.

Rahmat tertawa keras, “Koordinasi atau komunikasi?” ejeknya

Sementara Andreas menambahkan,  “Data yang mana? Data kependudukan atau data perasaan?” canda Andreas membuat Erlangga kelabakan , seolah-olah mereka sudah tahu atas kedekatannya dengan Anita belakangan ini.

Komang yang paling santai berkata, “Di Bali ada istilahnya, kalau sering cari alasan ketemu, itu bukan penelitian. Itu pendekatan.” Ujar Komang santai tapi langsung mengena.

Erlangga menggeleng, tapi ia tidak bisa menyangkal bahwa belakangan ini langkahnya memang lebih sering menuju kantor desa… bahkan ketika tidak ada agenda resmi.

“Saya hanya merasa… diskusi dengan Anita itu menarik. Dia kritis.”

Paijo menyeringai, “Kritis atau manis?” godanyan, Tawapun pecah, menyelimuti udara yang semakin malam. Erlangga akhirnya ikut tertawa, tapi dalam hati ia tahu, ia mulai mencari-cari alasan untuk bertemu Anita. Hari semakin larut malam Erlangga berpamitan dengan teman-temannya untuk beristirahat pulang.

 Setibanya di rumah yang menjadi tempat tinggalnya sementara merupakan sebuah rumah kosong yang kondisinya masih terawat dengan baik, sehingga membuat Erlangga merasa nyaman tinggal sendiri, masak sendiri dan makanpun sendiri. Setelah rebahan di sopa Erlangga langsung tertidur lelap, hingga ayam berkokok menandakan hari telah pagi.

Dilain waktu, pada Suatu sore , hujan turun tiba-tiba saat Erlangga masih berada di balai desa menyusun laporan sementara. Listrik kembali padam seperti tradisi tak tertulis desa itu. Anita datang membawa beberapa berkas. “Mas masih di sini?” Tanya Anita saat melihat Erlangga masih berada di ruangan balai desa, sambil menyusun berkas calon Skibsinya.

“Iya. Saya sedang menyusun analisis regresi”,jawab Erlangga tenang.

“Dalam gelap?”, selidik Anita, memang matahari belum tenggelam namun dalam ruangan tanpa pencahayaan lampu listrik terasa gelap.

“Secara metodologis, cahaya memang membantu,” jawabnya serius.

Anita terkekeh, Hujan makin deras. Suara air memukul atap seng menciptakan irama yang hangat. Mereka duduk berseberangan di meja panjang.

 

18

“Mas,” Anita membuka percakapan pelan, “kenapa memilih penelitian di desa?” Tanya Anita ingin tahu sebab musabab mengadakan penelitian guna melengkapi berkas Skripsi semester akhir.

Erlangga menatap hujan sejenak, “Awalnya karena topiknya menarik. Saya ingin melihat bagaimana teori kesehatan masyarakat diterapkan langsung. Tapi sekarang…” ia berhenti.

“Sekarang?” Anita menunggu.

“Sekarang saya merasa desa ini seperti… mengoreksi saya.” Ujar Erlangga, terutama Si Amat yang ternyata orang tuanya Anita, pendapatnya sangat tajam, tak mau desanya mendapat masalah karena hasil skipsinya agak berbeda dengan hasil laporan dari pemerintah desa Awan Biru, itu yang membuat Erlangga bingung antara teori, realita atau demi kebaikan desa dalam perencanaan tata kelola desa yang kadang belum sempurna di laksanakan sesuai perencanaannya.

Anita tersenyum lembut, “Desa memang suka begitu. Menguji, bukan dengan soal pilihan ganda.”

Hening sejenak. Tapi bukan hening yang canggung. Hening yang nyaman, ditemani seorang gadis desa yang rupawan. Keduanya saling pandang, tajam menembus relung hati keduanya, tanpa kata, sunyi senyap, meresapi suasana yang sahdu, benih benih cinta terus tumbuh subur di hati sanubahrinya, hingga keduanya di kejutkan oleh suara azhan magrik menandakan hari mulai malam. 

Akhirnya keduanya pulang, saling pandang, Anita menunduk tak kuasa menahan tatapan mata Erlangga, cepat-cepat Anita menstater motornya dan begitu saja meninggalkan Erlangga sendirian, takut kalau hatinya ketahuan bahwa Anita sebenarnya mulai menyukainya, namun Anita hanya seorang gadis desa tak berani mengungkapkan perasaannya pada Erlangga. Sepeninggalan Anita Erlangga juga buru-buru pulang, dengan hati riang gembira, hatinya berbunga-bunga, dapat berduan dan sepuasnya memandang Anita walau hanya sesaat.

Beberapa hari kemudian, motor Erlangga mogok di jalan dekat sawah. Ia berkali-kali menstarter, gagal.

Anita yang kebetulan lewat berhenti, “Dokter Teori, motor juga pakai pendekatan ilmiah?” ledeknya melihat wajah Erlangga memerah kena teriknya matahari.

“Sepertinya karburatornya bermasalah,” jawab Erlangga sok yakin.

Anita turun, membuka jok, memeriksa sebentar. “Bensinnya habis.”

Erlangga terdiam. Anita tertawa kecil, “Analisisnya terlalu jauh, Mas.”

Ia membantu mendorong motor sampai ke warung terdekat. Di bawah matahari sore, mereka berjalan berdampingan. Anita mencoba membuka percakapan dengan Erlangga.

“Mas tahu,” kata Anita pelan, “kadang solusi itu sederhana. Tidak selalu perlu regresi.”

Erlangga tersenyum. “Saya mulai menyadarinya.” Momen itu terasa kecil. Tapi justru karena sederhana, ia terasa istimewa.

19

 

Dilain waktu,Suatu malam di tepi sungai kecil desa, mereka duduk berdampingan.

“Setelah lulus nanti, Mas mau ke mana?” tanya Anita.

“Mungkin spesialisasi,” jawab Erlangga jujur. “Atau kerja di rumah sakit besar.”

“Tidak terpikir tinggal di desa?” Tanya Anita

Erlangga terdiam. “Dulu tidak.”

“Sekarang?” desak Anita ingin tahu sejauh mana perasaan Erlangga terhadapnya selama ini, seperti yang selalu di gosipkan oleh teman-teman Anita terhadap hubungannya dengan Erlangga yang katanya sangat bspesial.

Ia menatap Anita, dengan tatapan yang sahdu, “Sekarang… saya mulai mempertimbangkan.”

Anita menunduk, memainkan ujung jilbabnya, tak berani menatap langsung ke Erlangga , Pipinya mulai merah merona di terpa udara malam yang sepoi-sepoi.

“Aku ingin desa ini maju. Bukan cuma dikenal karena masalahnya, tapi karena solusinya.” Erlangga menatapnya lama. “Kita bisa,” katanya pelan. “Dengan pendekatan berbasis komunitas, penguatan kader, integrasi data digital ”

Anita tersenyum, “Mas tidak bisa lepas dari istilah ilmiah, ya?” Tanya Anita sambil memandang Erlangga yang kebetulan Erlangga juga sedang menatapnya dengan tajam. Erlangga menyakinkan Anita, “Tapi kali ini saya serius.”

“Aku juga.” Sahut Anita tak mau kalah dengan Erlangga.

Tatapan mereka bertemu. Jantung Erlangga berdetak lebih cepat dari biasanya dan kali ini bukan karena aktivitas fisik. Namun, keduanya tetap menjaga jarak. Tidak ada pernyataan langsung. Tidak ada pengakuan. Erlangga terlalu rasional untuk gegabah sedangkan Anita terlalu berhati-hati untuk berharap. Cinta mereka tumbuh seperti hujan sore di Desa Awan Biru, turun perlahan, tidak gaduh, tapi meresap dalam. Dan meski belum terucap, keduanya tahu… sesuatu sedang bersemi dalam diam.***

Malam itu hujan turun lebih deras dari biasanya. Angin menggoyangkan pohon-pohon di tepi jalan tanah menuju RT 002. Langit Desa Awan Biru gelap pekat, hanya sesekali disambar kilat. Pukul 20.37 WIB, Telepon Ibu Amelia berdering. “Bu Arga kontraksi hebat. Tekanan darahnya naik. Pendarahan mulai terlihat,” suara panik Bidan Yunita dari ujung sana.

Ibu Amelia langsung berdiri. “Erlangga! Siapkan tas medis!” Tanpa banyak tanya, Erlangga mengambil tas emergensi yang selama ini ia siapkan “untuk jaga-jaga.” Jantungnya berdegup cepat. Ini bukan lagi simulasi laboratorium. Ini bukan lagi studi kasus ujian OSCE, Ini nyata. Erlangga memang menempati sebelah rumah milik Ibu Amelia yang kosong sehingga ketiak ada waktu luang, Erlangga menyempatkan

20

waktu untuk silaturahmi dengan keluarga Ibu Amelia, seperti halnya saat ini, Erlangga memang sedang berada di Rumah  Keluar Ibu Emilia.

Masalahnya satu: jalan menuju rumah Bu Arga rusak parah akibat hujan dua hari terakhir. Pak Emen, Ketua RT 002, sudah berdiri di tengah jalan dengan senter, “Kita tidak bisa lewat motor, Dok! Licin sekali!” namun tiba-tiba Anto muncul dengan truknya. “Naik saja di bak belakang! Ini truk proyek, sudah biasa lewat lumpur.” Anto memberi saran agar menggunakan truk milik proyek.

Erlangga sempat ragu sepersekian detik. Di kampus, ambulans lengkap adalah standar. Di sini? Truk proyek dengan terpal. Sementara Ibu Amelia menatapnya tegas, “Tidak ada waktu untuk ragu.” Mereka naik. Anita juga ikut tanpa diminta, setelah di hubungi Bidan Yunita via telepon.

“Kenapa kamu ikut?” tanya Erlangga.

“Karena ini desa saya,” jawab Anita singkat.

Truk melaju perlahan, ban berputar di lumpur. Pak Emen dan beberapa warga berjalan di depan, membuka jalan dengan cangkul, menyingkirkan batu besar. Hujan tidak berhenti. Di dalam bak truk, Erlangga memegang tas medis dengan tangan sedikit gemetar. Ia berusaha mengatur napas.

Anita menyentuh lengannya, “Kamu bisa.” Itu sederhana. Tapi cukup, tak seberapa lama kemudian Erlangga sampai di rumah Bu Arga, Suasana tegang, Bu Arga terbaring pucat. Suaminya mondar-mandir panik. Bidan Yunita sudah bersiap, Bidan Susanti membantu menyiapkan alat. Tekanan darah tinggi. Tanda-tanda preeklamsia berat.

Erlangga bergerak cepat, “Pasang infus. Monitor tekanan darah setiap lima menit,” katanya refleks, suara lebih mantap dari yang ia rasakan di dalam.

Ibu Amelia memandangnya sekilas. “Tenang. Kita kerja sama.”

Di luar rumah, warga berkumpul. Pak Sugeng berdoa lirih. Bu Emen membantu menenangkan keluarga.

Anto berdiri dengan wajah serius, tidak ada lagi candaan malam itu. Erlangga menyadari satu hal: ini bukan hanya soal prosedur medis. Ini tentang kepercayaan, Semua mata berharap.

“Kalau kondisi tidak stabil, kita harus rujuk ke Puskesmas Kabut Merah sekarang,” katanya pada Ibu Amelia.

“Tapi jalannya?” tanya Pak Arga dengan suara gemetar.

Pak Emen masuk, “Kami sudah perlebar sedikit jalannya. Truk bisa lewat pelan-pelan.”

Keputusan diambil, Dalam hujan, Bu Arga dibawa ke truk. Anita membantu memegang payung meski tubuhnya sendiri basah kuyup, Perjalanan terasa panjang, Erlangga memantau kondisi pasien sepanjang jalan, jantungnya berpacu dengan suara mesin truk, Dan di momen itulah ia benar-benar mengerti, kesehatan masyarakat bukan hanya tentang grafik penurunan angka kematian ibu.

21

 

Ia tentang malam-malam panjang, tentang lumpur, tentang solidaritas.

Menjelang subuh, Bu Arga berhasil ditangani di Puskesmas. Kondisinya stabil, Semua menghela napas lega, di luar, cahaya fajar perlahan muncul, Erlangga duduk di tangga Puskesmas, kelelahan. Anita duduk di sampingnya, “Kamu tadi hebat,” kata Anita pelan.

Erlangga menggeleng, “Kalau tidak ada kalian, saya tidak bisa apa-apa.” Ia menatap Desa Kabut Merah tempat Puskesmas  berada perlahan mulai terang.

“Selama ini saya bicara tentang sistem. Tapi malam ini saya melihat jantungnya,” kata Erlangga dengan suara pelan.

“Jantung siapa?” Anita tersenyum kecil.

“Desa ini.” Untuk pertama kalinya, Erlangga merasa bukan sebagai peneliti. Tapi sebagai bagian dari perjuangan. Dan di sampingnya, Anita tidak hanya menjadi rekan diskusi. Ia menjadi alasan mengapa malam itu terasa lebih bermakna.***

Namun kedamaian tidak pernah tinggal lama, Beberapa hari setelah kejadian itu, gosip mulai beredar.

Anto, yang biasanya sumber candaan, kali ini menyampaikan kabar dengan wajah ragu. “Lang… katanya kamu habis sidang proposal lanjutan, ya? Setelah selesai penelitian langsung balik kota?”

Erlangga mengernyit, “Memang rencananya setelah skripsi selesai, saya harus kembali.”

“Orang-orang bilang kamu cuma jadikan desa ini bahan laporan.” Ujar Anto serius. Kata-kata itu menusuk, di sisi lain, Anita mendengar versi berbeda.

“Katanya Erlangga sudah diterima kerja di rumah sakit besar,” bisik Yulia. “Penelitian ini cuma batu loncatan.”

Anita terdiam, Malamnya, ia menghindari pertemuan dengan Erlangga.

Pada hari berikutnya di balai desa yang kini sunyi, Erlangga akhirnya menemukan Anita, “Kamu menjauh,” katanya langsung.

Anita tidak menatapnya, “Aku hanya sibuk.”

“Tidak. Ini bukan soal sibuk.” Cecar Erlangga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi belakangan ini.

Anita akhirnya berbicara, “Mas Erlangga memang akan pergi, kan?”

“Setelah selesai, ya. Itu kewajiban.” Jawab Erlangga tegas

“Dan setelah itu?” Tanya Anita lagi, ingin tahu rencana apa kedepanya.

22

Erlangga terdiam. Ia belum punya jawaban pasti. Anita tersenyum tipis, senyum yang menyembunyikan kecewa, “Itu yang aku takutkan. Desa ini bukan studi kasus, Mas.” Ungkap Anita dengan suara pelan.

“Aku tidak pernah menganggapnya begitu!” sahut Erlangga

“Tapi kamu tidak pernah bilang ingin tinggal.” Selidik Anita denag perasaan cemas.

Keheningan menggantung. Erlangga merasa terpojok oleh sesuatu yang belum pernah ia pikirkan serius. “Anita… aku masih menyusun masa depan.”

“Dan aku tidak ingin jadi bagian dari catatan kaki penelitianmu.” Jawab Anita sewot. Kalimat itu seperti tamparan halus, bagi Erlangga.

Sejak malam itu, Anita benar-benar menjaga jarak. Di posyandu, ia profesional. Di rapat, ia formal.
Tidak ada lagi candaan tentang “Dokter Teori.” Erlangga merasa kehilangan lebih dari sekadar rekan diskusi. Ia mulai menyadari bahwa selama ini ia terlalu fokus membuktikan kompetensi akademiknya, tanpa pernah memastikan bahwa hatinya punya arah.

Konflik ini bukan tentang gosip. Bukan tentang kota atau desa. Melainkan tentang pilihan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Erlangga merasa ragu bukan pada teori… melainkan pada dirinya sendiri.***

Balai desa sore itu penuh. Kursi-kursi plastik tersusun rapi. Pak Sugeng duduk paling depan dengan wajah serius. Ketua BPD Didit membawa map tebal seolah siap menguji sidang terbuka. Pak Iwan berdiri di sisi ruangan, tenang seperti biasa. Ibu-ibu posyandu berbisik pelan, sementara Anto sudah duduk di pojok dengan ekspresi penasaran bercampur siap menyebarkan “rilis pers versi sopir truk.”

Anita berdiri di belakang, memegang notulen. Wajahnya profesional. Hatinya? Tidak sesederhana itu.

Erlangga berdiri di depan layar proyektor. Kali ini ia tidak membawa nada defensif. Tidak ada kalimat pembuka yang terlalu teoretis. Ia menarik napas panjang. “Bapak Ibu sekalian… hari ini saya tidak ingin memulai dengan grafik.”

Beberapa warga saling pandang. Anto berbisik, “Lho, biasanya grafiknya banyak.”

Terdengar tawa kecil, Erlangga tersenyum tipis, “Saya ingin memulai dengan terima kasih.” Ruangan menjadi hening. Ia mulai memaparkan hasil penelitian. Angka stunting. Tren perbaikan. Kendala distribusi PMT. Hambatan administrasi. Semua disampaikan runtut, sistematis, dan tetap akademis.

Namun kali ini berbeda, “Jika data kita berbeda dengan teori,” katanya tenang, “maka bukan desa yang  salah. Bisa jadi pendekatannya yang perlu disesuaikan.” Ia menoleh ke arah Anita.

“KPM telah bekerja jauh melampaui deskripsi tugas formalnya. Validasi lapangan yang dilakukan justru memperkaya analisis saya.” Ungkap Erlangga tidak seperti sebelumnya yang dominan teori praktek lapangan sebagai pijkan akhir. Anita terdiam. Ini pertama kalinya ia mendengar pengakuan itu di forum terbuka.

23

Erlangga melanjutkan: “Pemerintah desa juga telah mengalokasikan anggaran kesehatan dengan niat baik. Tantangannya bukan pada kemauan, melainkan pada sistem monitoring dan pendampingan yang berkelanjutan.”

Pak Kades Iwan mengangguk pelan, ia heran atas perubahan sikap Erlangga yang lebih dewasa dibandingkan ketika baru datang ke Desa Awan Biru.

“Karena itu,” lanjut Erlangga, “saya tidak mengusulkan perubahan yang revolusioner. Saya mengusulkan kolaborasi yang konsisten.” Slide berikutnya muncul:

Program Kolaboratif Desa Awan Biru 2027–2030

  • Integrasi data KPM dan Puskesmas berbasis validasi rumah tangga.
  • Pelatihan kader tentang interpretasi data sederhana.
  • Forum evaluasi triwulanan lintas sektor.
  • Pendampingan medis preventif untuk ibu hamil risiko tinggi.

Ketua BPD Didit mengangkat tangan, “Artinya kita tidak disalahkan?”

Erlangga tersenyum, “Artinya kita belajar bersama.” Suasana mencair. Bahkan Anto bertepuk tangan paling keras.

Setelah presentasi selesai, Erlangga menutup laptopnya. Ia tampak ragu sepersekian detik.

“Masih ada satu hal lagi,” katanya. Ruangan kembali hening.

“Penelitian ini memang bagian dari tugas akademik saya. Tapi pengalaman di desa ini mengubah perspektif saya tentang pengabdian” , Ia menatap wajah-wajah yang kini tidak lagi terasa asing.

“Setelah saya lulus nanti… saya ingin kembali ke Desa Awan Biru sebagai dokter pengabdi. Bukan sebagai peneliti sementara. Tapi sebagai bagian dari sistem yang kita bangun bersama.”

Beberapa detik sunyi. Lalu terdengar suara Bu Emen, “Alhamdulillah!” Disusul tepuk tangan yang perlahan membesar.

Pak Sugeng berdiri“, Kalau begitu, Nak Erlangga bukan tamu lagi. Sudah jadi orang sini.”

Anto berbisik keras-keras, “Berarti gosip saya salah, ya? Tawa pecah kembali. Di tengah riuh tepuk tangan itu, Anita menunduk. Matanya berkaca-kaca.

Forum selesai. Warga perlahan pulang. Langit Desa Awan Biru memerah lembut. Awan tipis bergerak perlahan seperti sedang menyaksikan adegan yang sudah lama ditunggu.

Erlangga berdiri di halaman balai desa. Anita keluar beberapa langkah di belakangnya.

“Apa itu keputusan spontan?” tanya Anita pelan.

24

“Tidak,” jawab Erlangga. “Itu keputusan yang lahir dari banyak malam panjang.”

Anita menatapnya, masih dengan jarak.

Erlangga melangkah mendekat. “Aku datang ke sini untuk penelitian,” katanya, suara lebih lembut dari biasanya. “Untuk angka. Untuk laporan. Untuk gelar.”

Ia menatap langit senja. “Tapi yang kutemukan… adalah alasan untuk kembali.”

Anita tidak langsung menjawab. Air matanya jatuh lebih dulu. “Mas tahu rasanya mencintai sesuatu yang takut kehilangan?” suaranya bergetar.

“Aku tahu sekarang.”jawan Erlangga tenang.

“Kenapa tidak bilang dari dulu?”, desak Anita ingin kepastian.

“Karena aku sendiri baru mengerti.” Ungkapnya dengan suara lirih.

Hening. Angin sore berembus pelan. “Anita,” lanjutnya, “aku tidak ingin kamu jadi catatan kaki penelitianku. Aku ingin kamu jadi bagian dari masa depanku.”

Anita tertawa kecil di sela tangisnya, “Bahasanya tetap akademis, ya.” Ujarnya hatinya mulai berbunga-bunga.

“Maaf. Refleks ilmiah”, kata Erlangga sambil tersipu malu.

Anita akhirnya melangkah mendekat, “Kalau begitu, Dokter Pengabdi,” katanya pelan, “kita bangun desa ini bersama. Tapi satu syarat.” Tanya Anita serius.

“Apa?” ledek Erlangga sambil cengengesan.

“Kalau debat soal data, jangan terlalu sok tahu”, pintanya.

Erlangga tersenyum lebar, “Deal. Tapi kamu juga jangan langsung anggap teori itu musuh.”

“Deal.” Jawab Anita sambil tersenyum puas.

Langit Awan Biru semakin temaram. Di kejauhan, suara warga masih terdengar samar. Desa itu tetap sederhana. Tetap penuh tantangan. Namun kini ada dua orang yang memilih tinggal bukan karena kewajiban, melainkan karena keyakinan. Cinta mereka tidak lahir dari puisi megah. Ia tumbuh dari data yang diperdebatkan, dari lumpur yang dilalui, dari malam-malam darurat, dan dari keberanian untuk pulang. Dan di bawah langit Awan Biru, kisah itu resmi bersemi.

Beberapa tahun berlalu. Papan nama di depan bangunan kecil bercat putih itu kini bertuliskan:

“Klinik Pratama Desa Awan Biru, dr. Erlangga, M.Kes.”

Tak lagi sekadar kunjungan penelitian. Tak lagi status “sementara.” Ia kembalidan kali ini untuk tinggal.

25

Erlangga berubah. Bukan dalam prinsip ilmiahnya, ia tetap sistematis, tetap mengutip jurnal terbaru saat rapat koordinasi, tetapi dalam cara memaknai ilmunya. Kini ia tidak hanya membaca data prevalensi anemia ibu hamil.

Ia tahu wajah-wajah di balik angka itu. Ia hafal kebiasaan Pak Sugeng yang selalu lupa minum obat hipertensi. Ia tahu Pak Rio akan panik berlebihan setiap anaknya demam 37,5°C. Ia mengerti Bu Arga masih trauma setiap hujan deras datang.

Klinik kecil itu menjadi ruang pertemuan antara ilmu dan empati.

Setiap tiga bulan, forum evaluasi kesehatan desa tetap berjalan. Bedanya, kini tidak ada lagi debat defensif.

“Data itu bukan alat mencari salah,” kata Erlangga suatu sore dalam rapat, “tapi alat membaca peluang perbaikan.”

Ketua BPD Didit terkekeh, “Sekarang bahasanya sudah tidak bikin kami deg-degan lagi, Dok.” Semua tertawa.

Di sisi lain, Anita tidak pernah berhenti bergerak. Sebagai Kader Pembangunan Manusia, ia memperluas pendekatan. Data stunting kini tidak hanya ditempel di papan informasi, tetapi dijelaskan lewat kelas literasi keluarga.

Website desa yang dulu hanya berisi pengumuman kini berkembang menjadi portal informasi kesehatan, artikel edukasi gizi, laporan transparansi dana desa, bahkan cerita inspiratif warga. Anita memimpin tim kecil yang terdiri dari Yulia, Sintia, Amanda, dan Anjelia. Mereka mengadakan pelatihan menulis bagi remaja desa.

“Kalau desa ingin maju,” kata Anita dalam satu pelatihan, “informasinya harus terbuka dan warganya harus paham.”

Erlangga sering menjadi narasumber dadakan.

“Dok, jelaskan apa itu anemia tanpa pakai istilah rumit,” tantang Anita suatu hari.

Erlangga tersenyum, “Baik. Anemia itu ketika tubuh kekurangan ‘kurir oksigen’. Jadi kita harus bantu tambah kurirnya.” Anak-anak tertawa, Anita mengangguk puas.

Program kolaboratif yang dulu hanya berupa slide presentasi kini menjadi sistem nyata:

  • Data KPM terintegrasi dengan catatan klinik.
  • Pemeriksaan ibu hamil dilakukan lebih terjadwal.
  • Remaja desa mendapat edukasi kesehatan reproduksi secara terbuka.
  • Dana kesehatan desa diaudit dan dipublikasikan secara transparan.

Pak Iwan pernah berkata dalam rapat kabupaten: “Desa Awan Biru bukan desa tanpa masalah.

26

Tapi desa yang mau belajar.” Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan transformasi yang tidak instan.

Hubungan Erlangga dan Anita pun berkembang. Bukan kisah cinta penuh kembang api. Lebih sering berupa:

  • Diskusi panjang sambil menyusun laporan.
  • Perdebatan kecil soal metode survei.
  • Candaan tentang istilah medis yang terlalu tinggi.
  • Kopi hangat di teras klinik setelah posyandu selesai.

Suatu sore, saat senja kembali memerah seperti tahun-tahun lalu, Anita berkata pelan: “Mas ingat waktu bilang menemukan alasan untuk kembali?”

Erlangga mengangguk, “Alasan itu ternyata bukan cuma aku,” lanjut Anita sambil tersenyum.

“Benar,” jawabnya. “Alasan itu adalah kita. Dan desa ini.” Tidak ada deklarasi berlebihan. Tidak ada drama. Hanya keyakinan yang tumbuh perlahan dan mengakar.

Desa Awan Biru kini dikenal bukan karena angka stuntingnya semata, melainkan karena model kolaborasinya. Mahasiswa datang untuk belajar. Bukan untuk “meneliti lalu pergi,” tetapi untuk memahami. Anto masih menjadi sopir truk sekaligus pusat informasi informal. Pak Emen tetap sigap membuka jalan, kali ini jalan diskusi. Ibu Amelia dan para bidan tersenyum melihat sistem yang dulu diperjuangkan kini berjalan lebih stabil.

Dan di tengah semua itu, Desa Awan Biru berdiri bukan sebagai objek pembangunan, melainkan subjek perubahan. Desa itu pernah menjadi lokasi penelitian. Kini ia menjadi rumah. Di sana tumbuh:

  • Cinta yang lahir dari perdebatan.
  • Pengabdian yang lahir dari pengalaman.
  • Harapan yang lahir dari kerja bersama.

Karena pada akhirnya, pembangunan bukan sekadar program. Ia adalah pertemuan antara ilmu dan kemanusiaan. Dan di bawah langit Awan Biru yang selalu setia menaungi, keduanya memilih untuk terus tumbuh dan berkembang dalam ikatan cinta.

 

 

 

 

 

 

27

0 komentar:

Posting Komentar