Cerpen Si Amat Episode 9; Cinta Monyet Ala Amat Junior
Desa
Awan Biru di sore hari selalu terasa seperti adegan pembuka film remaja. Langit
jingga menggantung rendah, merambati ufuk barat dengan gradasi warna yang perlahan
memudar menjadi ungu. Suara azan Magrib samar terdengar dari musala ujung
dusun, berbaur dengan kepulan asap dapur rumah-rumah warga yang mulai
menyiapkan makan malam. Debu halus lapangan voli menari setiap kali bola
ditampar keras oleh tangan-tangan keras pemuda desa yang berlumuran keringat.
Di
sisi lain lapangan, Warung Kopi Pak RT berdiri kokoh seperti biasa. Bangunan
papan beratap seng itu sudah puluhan tahun menjadi saksi bisu perjalanan desa.
Meja-meja kayunya penuh dengan bekas gelas dan lingkaran panas dari cangkir
kopi. Di dinding, stiker-stiker lama dari berbagai merek rokok dan minuman
kemasan menempel rapat, menambah kesan klasik. Kipas angin tua di sudut ruangan
berputar lambat, hanya mampu mengusir sedikit gerah, tapi tak satu pun pengunjung
mengeluh.
Warung
ini bukan sekadar tempat jualan. Ia adalah pusat informasi tak resmi desa, tempat
kabar tercepat menyebar, bahkan lebih cepat dari grup WhatsApp Karang Taruna.
Di sinilah warga berkumpul setelah seharian bekerja. Di sinilah gosip lahir,
tumbuh, dan kadang mati karena terbantahkan fakta. Di sinilah para lelaki desa
duduk bersila, menyeruput kopi hitam, dan membahas segala hal, dari harga sawit
sampai kisah asmara anak muda.
Di
situlah Amat Junior sering nongkrong selepas latihan voli. Tubuhnya tinggi
semampai, ideal untuk seorang spiker. Rambutnya sedikit berantakan karena baru
saja melepas helm, tapi itu justru menambah pesona remaja delapan belas tahun
yang baru lulus SMK Multimedia. Senyumannya percaya diri, khas anak muda yang
merasa dunia bisa diedit seperti video, dipotong, diperbaiki, diberi efek, dan
hasilnya selalu sesuai keinginan.
"Mat,
smash kamu tadi mantap, Jung," kata Pak RT sambil menuang kopi ke dalam
gelas kaca tebal. Tangannya yang keriput tetap lincah menuangkan air panas ke
atas bubuk kopi, lalu mengaduknya perlahan.
"Latihan
terus, Pak. Biar siap turnamen antar-dusun bulan depan," jawab Amat Junior
sambil menyandarkan tubuh di kursi plastik. Kaus bolanya yang basah oleh
keringat ia lepas, menyingkapkan kaos putih lengan pendek di baliknya.
Dari
sudut warung, Mas Anto, sopir truk perusahaan kelapa sawit yang terkenal murah
hati, menarik kursi dan duduk di samping mereka. Pria paruh baya dengan kumis
tebal itu baru saja pulang dari perjalanan panjang. Kaos oblongnya masih bau
solar dan debu jalanan. Tapi matanya selalu berbinar, terutama kalau sudah
mulai membahas soal hati.
"Saya
lihat tadi di lapangan," ujar Mas Anto sambil menyulut rokok kreteknya.
Asap mengepul tipis, terbawa angin sore. "Bukan cuma smash yang mantap. Cara
kamu lihat Diana juga mantap. Lebih mantap dari pukulan kamu."
Warung
langsung riuh. Pak RT terkekeh, memperlihatkan deretan gigi yang mulai ompong.
Dua pemuda yang duduk di meja belakang ikut mencuri dengar, menyeringai.
Amat
Junior pura-pura batuk. Wajahnya yang agak gelap merona, terbakar oleh gosip
yang tiba-tiba meledak. "Mas Anto ini kalau nggak nyetir truk, jadi
peramal cinta. Dapat klien dari mana?"
Mas
Anto tersenyum misterius, matanya menyipit penuh arti. "Saya pernah
bilang, garis tanganmu itu putus-nyambung dulu, baru serius. Saya lihat dari
sini, " ia menunjuk telapak tangan Amat Junior dengan puntung rokok, "masa
putus-nyambungnya belum kelar. Tapi kalau lihat cara kamu liat Diana, kayaknya
udah masuk fase serius."
"Fase
serius apaan, To? Saya aja belum ngomong apa-apa sama dia," protes Amat
Junior, meski nada bicaranya tidak meyakinkan.
"Justru
itu," sergah Mas Anto. "Yang paling keliatan itu yang nggak
diomongin. Orang kalau suka, matanya bicara. Mata kamu tadi di lapangan,
teriak-teriak, 'Diana, liat aku! Aku jago voli!'"
Pak RT
menambahkan dengan bijak, "Mas Anto ini memang punya ilmu gaib, Mat. Dulu
dia pernah bilang Pak Kades Iwan bakal menang dua periode. Terbukti."
"Itu
mah ramalan umum, Pak. Siapa juga yang ngalahin Pak Kades?" sahut Amat
Junior.
"Yang
penting," lanjut Mas Anto, mengabaikan bantahan, "kamu harus siap
mental. Diana itu anaknya Sekdes Yuni. Pintar, cantik, anak Fisika lagi. Jangan
sampe kamu nembak pakai rumus silat, ditangkis pakai hukum Newton."
Semua
tertawa. Tawa yang hangat, tawa yang akrab. Tawa yang hanya bisa ditemukan di
warung kopi desa, di sore hari, di antara orang-orang yang saling mengenal
sejak kecil.
Amat
Junior tertawa juga, meski wajahnya masih memerah. Ia menyeruput kopinya
dalam-dalam, berharap sensasi pahit itu bisa menenangkan debaran jantungnya.
Tapi ternyata tidak. Yang ada, ia malah membayangkan Diana, senyumnya,
rambutnya, cara ia menatap laptop dengan serius.
"Cinta
monyet," gumamnya pelan.
"Apa?"
tanya Mas Anto.
"Nggak,
To. Nggak apa-apa."
Tapi ia tahu, ini bukan cinta monyet biasa. Ini cinta monyet yang mulai tumbuh dewasa. Dan seperti tanaman yang baru disiram, ia butuh waktu, butuh perhatian, butuh kesabaran.***
Balai
Desa Awan Biru sore itu berubah fungsi. Kursi-kursi plastik warna-warni disusun
melingkar, meja kayu panjang dipenuhi proposal kegiatan, botol air mineral
bekas, dan camilan sisa rapat, pisang goreng yang sudah dingin dan keripik
singkong yang tinggal separuh. Lampu neon di langit-langit menyala terang,
menerangi wajah-wajah serius anak muda yang sedang berdiskusi.
Rapat
Karang Taruna berlangsung alot. Bukan karena perdebatan sengit, tapi karena
banyaknya agenda yang harus diselesaikan. Turnamen olahraga antar-RW, lomba
tujuh belasan, bakti sosial, dan yang paling bikin pusing: anggaran.
Amat
Junior duduk di ujung meja sebagai Ketua. Jabatan ini ia dapat bukan karena
pencalonan, tapi lebih karena "tunjuk hidung", ketika yang lain pada
sibuk, ia kebetulan tidak sibuk. Tapi ia menjalankannya dengan serius. Baginya,
Karang Taruna adalah panggung untuk membuktikan bahwa anak SMK juga bisa
memimpin.
Di
sebelahnya, Diana, Sekretaris Karang Taruna, duduk dengan laptop terbuka di
depannya. Siswi SMA jurusan Fisika itu adalah anak dari Sekdes Yuni, dan mewarisi
ketelitian ibunya. Rambutnya diikat sederhana dengan pita hitam, beberapa helai
terlepas membingkai wajahnya yang serius. Tatapannya fokus pada layar,
jari-jarinya lincah mengetik notulen rapat.
Bu
Endang, Kasi Pelayanan yang terkenal keibuan, duduk di samping Diana. Wanita
paruh baya itu selalu hadir dalam setiap rapat pemuda, bukan untuk mengawasi,
tapi untuk memastikan mereka tidak kelaparan. Di hadapannya, sepiring gorengan
masih utuh, menunggu disantap.
Pak
Eko, Kaur Perencanaan, duduk dengan map tebal di pangkuannya. Pria itu terkenal
detail. Tidak ada angka yang lolos dari pengawasannya. Di sampingnya, Lulu,
Kaur Keuangan, memegang kalkulator siap pakai. Keduanya adalah
"dewa-dewi" anggaran yang ditakuti sekaligus dihormati.
"Baik,
teman-teman," ujar Diana, memulai rapat. Suaranya tenang tapi tegas, khas
anak sekdes yang terbiasa berbicara di forum. "Untuk lomba voli dan sepak
bola antar-RW, jadwal sudah saya susun. Kita pakai sistem gugur, dua minggu
pelaksanaan. Tapi RAB masih perlu revisi."
Ia
memutar laptopnya, memperlihatkan tabel anggaran di layar. Angka-angka berjejer
rapi, tapi beberapa kolom masih kosong.
"Kenapa
perlu revisi?" tanya seorang anggota dari RW 03.
"Karena
konsumsi," jawab Diana cepat. "Anggaran konsumsi di RAB awal Rp5.000
per orang per hari. Dengan inflasi sekarang dan harga bahan pokok naik, itu
tidak cukup. Saya usul naikkan jadi Rp7.000, atau kita kurangi hari
pelaksanaan."
Pak
Eko mengangguk pelan. Rambutnya yang mulai memutih bergoyang sedikit.
"Perencanaan itu bukan cuma semangat, tapi detail. Saya setuju revisi.
Jangan sampai kegiatan besar, tapi pertanggungjawaban kecil. Nanti di audit BPD
bisa runyam."
Lulu
langsung menyela, suaranya nyaring. "Dan jangan sampai anggaran konsumsi
lebih besar dari hadiah juara. Nanti bukan lomba, tapi piknik. Peserta pada
gemuk, panitia kurus."
Tawa
pecah. Suasana tegang mencair. Diana tersenyum tipis.
"Setuju,
Bu Lulu. Makanya kita hitung ulang."
Amat
Junior dari ujung meja memperhatikan Diana. Bukan sengaja, tapi matanya seperti
punya kemauan sendiri. Ia melihat cara Diana menjelaskan, sabar, detail, tapi
tidak menggurui. Cara ia merespons pertanyaan, cepat, tepat, disertai senyum.
Cara ia mengetik, cepat, tanpa melihat keyboard, seperti pianis memainkan
sonata.
"Mat,
lo diem aja," bisik Herman, wakil ketua, dari sampingnya.
"Eh,
iya. Gue denger."
"Denger
apaan? Mata lo liatin Diana, telinga lo denger apa?"
Amat
Junior tersedak. "Diem lo, Man. Gue konsen."
"Konsen
atau konser? Ini rapat, bukan panggung cinta."
Untung
tidak ada yang mendengar bisikan mereka. Rapat berlanjut.
Setelah
sesi anggaran selesai, Diana menoleh ke arah Amat Junior. "Ketua, ada yang
mau ditambahkan?"
Amat
Junior tersentak. "Eh, nggak. Lancar. Makasih Sekretaris."
Diana
mengangkat alis. "Dipanggil Sekretaris aja, Mbak Diana kurang?"
"Biar
formal."
"Formal
tapi matanya lihat ke mana?"
Hening
sesaat. Beberapa anggota mulai menyadari ada yang aneh. Herman menyeringai.
Lulu menahan tawa. Bu Endang tersenyum penuh arti.
Amat
Junior mencoba tenang. "Mata saya lihat ke semua peserta rapat. Itu tugas
ketua."
Diana
menatapnya. Matanya bulat, tajam, seperti dua buah bintang kejora. "Baik,
kalau begitu. Saya lanjutkan."
Rapat
berlanjut, tapi atmosfernya berubah. Ada yang hangat di udara. Ada yang
menggelitik di hati.
Selesai
rapat, peserta satu per satu keluar. Amat Junior membereskan berkas. Diana
masih duduk, mengecek notulen.
"Mat,"
panggilnya pelan.
"Iya?"
"Lo
tadi... ngeliatin aku terus."
Amat
Junior berhenti. Jantungnya berdegup. "Nggak. Gue liatin presentasi
lo."
"Presentasi
atau orangnya?"
Dilema.
Pilihan sulit. Antara jujur dan malu. Antara mengaku dan ditertawakan.
"Keduanya,"
jawabnya akhirnya. "Presentasi lo bagus. Dan lo juga... ya gitu."
Diana
tersenyum. Senyum yang membuat Amat Junior lupa bernapas. "Makasih. Lo
juga ketua yang baik."
"Makasih
balik."
Mereka
diam. Lampu balai desa berkedip, tanda listrik sedang tidak stabil, tradisi tak
tertulis Desa Awan Biru.
"Mat,"
Diana memecah keheningan.
"Apa?"
"Besok
abis latihan voli, minum kopi yuk. Di warung Pak RT. Ada yang mau aku
diskusikan."
"Diskusi
apa?"
"Rencana
program. Atau..." Diana menggantung kalimatnya. "...yang lain."
Ia
berdiri, merapikan laptop, lalu berjalan keluar. Meninggalkan Amat Junior yang
masih terpaku.
"Yang
lain. Yang lain apaan?" gumamnya.
Herman
yang tiba-tiba muncul dari belakang menepuk pundaknya. "Yang lain itu
artinya dia mau ngobrol personal, goblok. Udah diledekin masih aja bego."
"Man,
gue..."
"Lo
kenapa?"
"Gue...
gue suka dia."
Herman menghela napas panjang. "Udah tau dari dulu. Yang nggak tau cuma elo berdua."***
Ruang
Digital Komunitas Desa (RDKK) terletak di sayap timur balai desa. Ruangan ini
awalnya adalah gudang, tapi kemudian direnovasi menjadi pusat pelatihan
digital. Dindingnya dicat biru muda, dihiasi poster-poster tentang internet
aman dan cara membuat konten kreatif. Lima unit komputer terbaru berjejer rapi
di meja panjang. Di sudut, ada rak buku berisi literasi digital dan beberapa
novel.
Pagi
itu, pelatihan pembuatan konten edukatif digelar. Bambang, pakar IT desa yang
juga menjabat sebagai Duta Digital Kabupaten, menjadi instruktur utama. Istrinya,
Anjelina, duduk di sampingnya sebagai asisten. Mereka adalah pasangan digital
desa, legenda hidup yang membangun RDKK dari nol.
"Pagi
semuanya," sapa Bambang, suaranya bersemangat. "Hari ini kita belajar
bikin konten edukatif yang menarik. Target audiens kita adalah remaja dan
pemuda. Jadi bahasanya harus kekinian, visualnya kece, tapi pesannya
sampai."
Anjelina
menambahkan, "Ingat, konten edukatif itu bukan berarti nggak bisa lucu.
Bisa kok, asal nggak kehilangan esensi. Contohnya, kalau mau jelasin soal
keamanan akun, jangan pakai bahasa teknis. Pakai analogi yang dekat dengan
keseharian."
Diana,
yang duduk di barisan depan, mengangkat tangan. "Kalau soal password,
gimana jelasinnya yang asyik?"
Bambang
tersenyum. "Nah, pertanyaan bagus. Diana, tolong ke depan. Coba
jelaskan."
Diana
berdiri, melangkah ke depan dengan percaya diri. Ia menghadap ke peserta, sekitar
dua puluh anak muda desa, lalu mulai berbicara.
"Teman-teman,
password itu kayak baju dalam," ucapnya, disambut tawa. "Iya, serius.
Baju dalam itu pribadi, nggak boleh dipinjemin. Password juga begitu. Jangan
dikasih ke siapa pun, bahkan ke pacar sekalipun."
"Wih,
Diana!" teriak seorang peserta dari belakang.
"Terus,"
lanjut Diana, "password jangan pakai tanggal lahir. Jangan pakai 123456.
Jangan pakai 'password'. Itu sama aja kayak lo pake baju bolong ke mana-mana.
Semua orang bisa lihat."
Bambang
mengangguk bangga. "Bagus, Diana. Jelas, lucu, dan nyantol."
Anjelina
menambahkan, "Dan ingat, jangan pakai nama pacar juga. Itu rawan bocor,
apalagi kalau putus."
Tawa
pecah lagi. Diana kembali ke tempat duduknya.
Amat
Junior yang duduk di belakang, memperhatikan dengan seksama. Ia melihat
bagaimana Diana tampil percaya diri. Bagaimana ia bisa membuat orang tertawa sambil
belajar. Ada rasa bangga, meski ia sendiri tidak tahu kenapa bisa bangga.
Saat
istirahat, ia mendekati Diana. "Keren tadi."
"Makasih.
Lo juga."
"Gue
nggak ngapa-ngapain."
"Lo
latihan voli tadi pagi, kan? Itu juga keren."
Amat
Junior tersenyum. "Lo perhatiin?"
Diana
tersipu. "Kebetulan lewat."
Hening.
Canggung. Tapi hangat.
Masalah
mulai tumbuh ketika Diana terlihat sering berdiskusi serius dengan Bambang.
Bukan diskusi biasa, tapi diskusi panjang yang kadang berlangsung hingga sore.
Mereka duduk berhadapan, laptop di tengah, asyik membahas algoritma, desain
grafis, dan strategi konten.
Amat
Junior yang melihat dari kejauhan mulai merasa tidak nyaman. Ia tidak tahu
persis apa yang ia rasakan. Cemburu? Iya. Tapi ia tidak mau mengaku.
Suatu
malam, setelah latihan voli, ia mampir ke RDKK. Diana masih di sana, bersama
Bambang. Mereka tertawa. Tawa yang akrab. Tawa yang membuat perut Amat Junior
mulas.
"Ran,"
panggilnya dari pintu.
Diana
menoleh. "Mat? Kok ke sini?"
"Jemput.
Udah malem."
Bambang
tersenyum. "Wah, dijemput. Romantis."
Anjelina
yang sedang merapikan komputer ikut berkomentar, "Cie, yang
dijemput."
Diana
tersipu. "Sebentar, Mat. Ini tinggal sedikit."
Amat Junior
duduk di kursi terdepan. Ia menunggu. Tapi menunggu sambil melihat Diana dan
Bambang tertawa bersama adalah siksaan.
Akhirnya,
pukul delapan malam, mereka selesai. Diana pamit pada Bambang, lalu keluar
bersama Amat Junior.
Mereka
berjalan di bawah lampu jalan yang temaram. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Lo
sering banget ya diskusi sama Bambang?" tanya Amat Junior, berusaha
terdengar biasa.
"Karena
ini soal program desa," jawab Diana tenang.
"Iya,
tapi kamu lebih semangat."
Diana
berhenti. "Maksud lo?"
Amat
Junior juga berhenti. Ia menatap Diana. "Gue liat lo lebih semangat
diskusi sama dia daripada sama gue."
Diana
terdiam. "Lo... cemburu?"
Amat
Junior tidak langsung menjawab. Diamnya itulah yang menjadi jawaban.
Diana
menghela napas. "Mat, Bambang itu udah menikah. Dengan Anjelina. Mereka
itu pasangan. Aku diskusi sama dia karena dia pinter, karena dia bisa ngajarin
aku banyak hal. Nggak lebih."
"Aku
tahu. Tapi..."
"Tapi
apa?"
Amat
Junior menggenggam tangannya sendiri, berusaha mengontrol emosi. "Aku
takut. Takut kalau aku nggak cukup buat lo. Lo pinter, lo cantik, lo anak
sekdes. Aku cuma anak SMK. Nanti lo bosan. Nanti lo nemu yang lebih."
Diana
menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca. "Lo tahu nggak, Mat. Aku nggak
butuh yang paling pinter. Aku nggak butuh yang paling kaya. Aku butuh yang
setia. Yang mau belajar bareng. Yang nggak takut buat bilang sayang."
"Aku
sayang lo," ucap Amat Junior spontan.
Diana
tersenyum. "Aku juga sayang lo."
Mereka
berpelukan di bawah lampu jalan. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka
saling mengaku.***
Tapi
cinta tidak selalu berjalan mulus. Seminggu setelah pengakuan itu, pertengkaran
pertama terjadi.
Penyebabnya
sepele. Diana posting foto bersama teman laki-laki di Instagram. Teman biasa,
dari kelompok belajarnya. Tapi Amat Junior yang sedang insecure melihatnya dan
langsung panas.
"Lo
posting foto sama cowok?" tanyanya lewat chat.
"Iya.
Temen kelompok. Kenapa?"
"Lo
nggak bilang-bilang."
"Emang
harus bilang? Dia cuma temen."
"Tapi
lo nggak pernah posting foto sama aku."
Diana
membaca pesan itu, lalu menghela napas. Ia menelepon.
"Mat,
kamu serius?"
"Iya.
Aku serius."
"Jadi
kamu cemburu buta gitu?"
"Aku
cuma minta kamu lebih perhatian."
Diana
diam. Lalu berkata, "Kalau cinta harus dipaksa kayak gini, aku nggak
sanggup."
Tut.
Amat
Junior terdiam. Panggilan ditutup. Ia coba telepon lagi. Tidak diangkat. Pesan
tak dibalas.
Esok
harinya, di rapat Karang Taruna, suasana terasa dingin. Diana duduk berjauhan.
Mereka tidak saling sapa. Tidak saling lihat.
Pak
Eko berbisik pada Lulu, "Ini bukan rapat evaluasi, tapi evaluasi
hubungan."
Lulu
mengangguk. "Kalau hubungan mereka pakai sistem keuangan desa, mungkin
sudah direvisi berkali-kali. Sudah melewati beberapa kali perubahan, tapi belum
disahkan."
Bu
Endang yang mendengar ikut berbisik, "Sudah saya bilang, cinta anak muda
itu naik-turun kayak harga bawang."
Di
Warung Kopi Pak RT, kabar putusnya mereka jadi bahan obrolan utama.
"Ketua
Karang Taruna patah hati," kata Pak RT dramatis sambil menuang kopi.
"Ini berita besar."
Mas
Anto mengangkat tangan seperti cenayang. "Sudah saya bilang. Sudah saya
bilang dari awal. Garis tangannya putus-nyambung dulu. Saya sudah lihat itu
dari jauh-jauh hari. Ini baru putus pertama. Nanti sambung lagi. Terus putus
lagi. Baru setelah itu serius."
"Berapa
kali, To?" tanya seorang pemuda.
"Itu
tergantung. Ada yang tiga kali, ada yang lima. Yang penting jangan sampai
tujuh. Kalau tujuh, namanya bukan cinta, tapi kebiasaan."
Semua
tertawa. Tapi Amat Junior yang duduk di sudut warung tidak tertawa. Ia hanya
menunduk, memainkan ujung gelas kopinya.
Herman
duduk di sampingnya. "Jun, lo kenapa?"
"Gue...
gue nyesel."
"Nyesel
apaan?"
"Gue
terlalu cemburu. Gue terlalu takut. Akhirnya malah ilang."
Herman
menepuk pundaknya. "Lo masih bisa ngomong. Masih bisa minta maaf. Ini
belum terlambat."
"Apa
dia mau denger?"
"Coba
dulu. Kalau nggak dicoba, nggak tahu."***
Malam
itu, Amat Junior duduk di teras rumah. Langit gelap tanpa bintang. Hatinya juga
gelap.
Si
Amat, pamannya, keluar, duduk di sampingnya.
"Mat,
Bapak dengar lo putus sama Diana."
Amat
Junior menghela napas. "Iya, Pak."
"Kenapa?"
Amat
Junior menceritakan semuanya. Tentang foto itu, tentang cemburunya, tentang
kata-kata Diana yang terakhir.
Si
Amat mendengarkan dengan sabar. Setelah selesai, ia berkata,
"Mat,
kamu ini Ketua Karang Taruna. Masa ngurus hati sendiri nggak bisa?"
"Saya
cuma takut kehilangan, Pakde."
"Kalau
takut kehilangan, jangan bikin orang merasa diabaikan. Kamu tahu perasaan Diana?
Dia pasti merasa nggak dipercaya. Padahal dia nggak salah apa-apa."
Amat
Junior menunduk.
"Pacaran
itu bukan soal memiliki, Mat. Tapi soal saling percaya. Kalau lo cemburu terus,
lo bakal bikin dia capek. Dan perempuan yang capek, pasti pergi."
"Terus
gimana, Pakde?"
Si
Amat tersenyum. "Minta maaf. Tulus. Dan buktikan kalau lo berubah. Bukan
cuma omong doang."
Di
rumah Sekdes, Bu Endang sedang berkunjung. Ia duduk di ruang tamu bersama Diana
yang masih murung.
"Din,
kamu masih sedih?"
Diana
mengangguk.
"Padahal
sayang, ya?"
"Sayang,
Bu. Tapi... capek."
Bu
Endang memegang tangannya. "Capek itu wajar. Tapi kalau masih sayang,
jangan menyerah dulu. Coba ngomong. Laki-laki itu kadang butuh kalimat
langsung, bukan kode. Mereka nggak bisa baca pikiran."
"Dia
harusnya tahu, Bu."
"Dia
tahu kalau kamu jelasin. Bukan dengan diam."
Diana
merenung.
"Kalau
kamu masih sayang, buka pintu. Tapi jangan langsung percaya. Minta dia
buktikan. Dan lihat, apakah dia berubah."***
Seminggu
berlalu. Amat Junior dan Diana tidak bertemu. Rapat Karang Taruna ditunda
karena ketua dan sekretarisnya "sakit".
Suatu
sore, Amat Junior datang ke rumah Diana. Ia membawa bunga, bukan bunga mahal,
tapi bunga kertas buatan sendiri, hasil kerajinan tangannya.
Diana
membuka pintu. Matanya sembab. Tapi ia tidak langsung marah.
"Ran,"
ucap Amat Junior pelan. "Aku minta maaf."
Diana
diam.
"Aku
salah. Aku terlalu cemburu. Aku nggak percaya sama kamu, padahal kamu nggak
pernah kasih alasan buat aku nggak percaya. Maaf."
Diana
masih diam.
"Ini,"
Amat Junior menyerahkan bunga kertas itu. "Aku buat sendiri. Nggak bagus.
Tapi dari hati."
Diana
menerimanya. Ditatapnya bunga itu lama. Lalu air matanya jatuh.
"Mat,
aku cuma minta satu."
"Apa?"
"Kamu
percaya sama aku."
Amat
Junior mengangguk. "Aku janji."
Mereka
berpelukan. Lagi-lagi di teras rumah. Lagi-lagi malam hari. Tapi kali ini,
pelukannya lebih erat. Lebih dewasa.
Pak
Dokter Erlangga dan istrinya Anita, bibi Amat Junior, memberi nasihat saat
bertemu mereka di warung beberapa hari kemudian.
"Din,
Mat," panggil Anita. "Sini, Bibi mau ngomong."
Mereka
mendekat.
"Bibi
dengar kalian putus-nyambung," kata Dokter Erlangga bijak. "Itu
wajar. Tapi ingat, cinta itu bukan lomba siapa paling benar. Bukan juga proyek
yang bisa kamu edit seenaknya."
Anita
menambahkan, "Cinta itu komitmen. Kalau kalian serius, harus siap berubah.
Harus siap belajar. Harus siap minta maaf dan memberi maaf."
Amat
Junior menunduk. "Saya belajar, Tante."
Diana
memegang tangannya. "Kita belajar bareng."***
Waktu
berlalu. Mereka balikan. Putus lagi, sekali. Balikan lagi. Tepat seperti
ramalan Mas Anto.
Tapi
setiap kali putus, mereka belajar. Setiap kali balikan, mereka lebih dewasa.
Tiga
tahun kemudian, Amat Junior sudah bekerja sebagai konten kreator di desa. Diana
lulus kuliah dan pulang untuk mengabdi. Mereka tidak lagi remaja. Mereka
pemuda-pemudi yang siap melangkah ke jenjang lebih serius.
Suatu
senja di lapangan yang sama, lapangan voli tempat semuanya dimulai, Amat Junior
berdiri di hadapan Diana.
Bukan
dengan bunga kertas. Bukan dengan kata-kata puitis. Tapi dengan kalimat
sederhana yang keluar dari hati.
"Ran,
kita sudah terlalu sering drama. Sudah terlalu sering putus-nyambung. Aku nggak
mau cinta kita cuma jadi bahan gosip desa. Aku mau jadi cerita yang utuh."
Diana
menatapnya. Matanya berkaca-kaca. "Kamu yakin mau serius?"
"Aku
yakin. Aku mau satu tim, bukan cuma satu periode Karang Taruna. Aku mau seumur
hidup."
Hening
sejenak. Angin berembus lembut, membawa aroma tanah dan bunga melati dari kebun
samping.
"Aku
mau," jawab Diana akhirnya.
Amat
Junior mengeluarkan cincin sederhana, bukan emas, bukan berlian, tapi perak
dengan ukiran daun. "Ini, aku beli dari tabungan. Nggak mahal. Tapi
tulus."
Diana
menangis. Ia menerima cincin itu, lalu memakainya sendiri.
Di
kejauhan, Mas Anto lewat dengan truknya. Ia menghentikan kendaraan, menjulurkan
kepala keluar jendela, dan berteriak,
"Ramalan
saya tepat! Sudah saya bilang, putus-nyambung dulu, baru serius!"
Mereka
tertawa. Mas Anto memang tidak pernah berubah.***
Akad
nikah berlangsung sederhana di balai desa. Tempat yang sama di mana mereka dulu
rapat Karang Taruna. Tempat yang sama di mana cinta mereka tumbuh diam-diam.
Pak
Kades Iwan tersenyum bangga. Sekdes Yuni menitikkan air mata haru, anaknya
akhirnya menikah.
Pak
Eko berbisik pada Lulu, "Perencanaan jangka panjang berhasil. Dari rapat
Karang Taruna sampai ke pelaminan."
Lulu
tersenyum, "Semoga laporan keuangan rumah tangganya transparan. Jangan
sampai ada defisit kas."
Bambang
menepuk bahu Amat Junior. "Selamat, Mat. Upgrade status berhasil. Dari
Ketua Karang Taruna jadi Ketua Rumah Tangga."
Anjelina
menambahkan, "Semoga akun cintanya nggak pernah kena hack."
Bu
Endang berkata pelan sambil menyeka air mata, "Karang Taruna resmi naik
level. Kehilangan ketua dan sekretaris sekaligus."
Herman,
yang jadi saksi, berkata, "Gue saksi perjuangan lo dari jaman cemburu buta
sampai jadi suami. Lo hebat, Mat."
Mas
Anto datang dengan truk yang dihias, truk yang dulu reyot, kini dicat ulang,
dipasangi balon dan pita. "Ini kado dari saya! Truk boleh dipakai bulan
madu!"
Semua
tertawa. Tapi Amat Junior dan Diana hanya tersenyum. Mereka bahagia.
Beberapa
tahun kemudian, lahirlah bayi laki-laki: Muhammad Japar.
Tangisnya
memenuhi rumah sederhana mereka. Si Amat, yang kini sudah benar-benar setengah baya, menggendongnya
dengan mata berkaca-kaca.
"Ini
hasil revisi cinta monyet yang paling sempurna," katanya.
Diana
tersenyum pada suaminya. "Kita berhasil, Mas."
Amat
Junior mengangguk. "Karena kita nggak menyerah. Karena kita belajar dari
setiap putus. Karena kita mau berubah."
"Dan
karena kita saling percaya," tambah Diana.
Bayi
Japar tertidur pulas di gendongan. Di luar, senja memerah. Suara azan Magrib
berkumandang.***
Di
Warung Kopi Pak RT, cerita itu masih dikenang. Pak RT yang sudah sangat tua,
bercerita pada generasi baru.
"Dulu,
di sinilah Amat Junior sering nongkrong. Galau. Patah hati. Balikan lagi. Putus
lagi. Kami semua jadi saksi."
Mas
Anto, yang kini sudah pensiun nyetir truk, tapi masih setia nongkrong, menambahkan,
"Ramalan saya tepat. Putus tiga kali, baru mantap. Saya sudah bilang dari
awal."
Seorang
pemuda bertanya, "Emang Mas Anto peramal?"
"Bukan.
Tapi saya kenal Amat Junior sejak dia masih ngepel voli. Saya tahu garis
tangannya."
Semua
tertawa.
Di
meja sudut, Amat Junior dan Diana duduk bersama. Mereka tidak muda lagi. Rambut
mereka mulai memutih. Tapi senyum mereka masih sama.
"Pa,
kita dikenang," kata Diana.
"Iya.
Jadi bahan gosip desa sepanjang masa."
"Tapi
gosip yang indah."
Mereka
menggenggam tangan. Di luar, senja mulai turun. Langit memerah jingga, warna
yang sama seperti saat pertama kali Amat Junior jatuh cinta.
Di
Desa Awan Biru, kisah cinta yang dulu penuh drama, cemburu digital, ramalan
sopir truk, dan gosip warung kopi itu kini menjadi cerita tentang dua anak muda
yang tumbuh dewasa, bersama, sabar, dan konsisten, hingga akhirnya cinta monyet
mereka benar-benar matang menjadi cinta yang utuh.
Cinta
yang separuh hati untuk desa, separuh untuk keluarga. Dan utuh untuk selamanya.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar