Cerpen Si Amat Episode 8; Desa Berketahanan Iklim
Siang itu, Kantor Desa Awan Biru
tampak lebih teduh dari biasanya. Pohon ketapang di halaman depan melambai
pelan diterpa angin, seakan ikut menyimak agenda penting hari itu. Kolam kecil
di samping kantor memantulkan langit cerah, sementara burung-burung pipit
sesekali hinggap di pagar kayu yang baru dicat ulang menggunakan dana
pemeliharaan tahun lalu. Desa Awan Biru memang dikenal asri, irigasinya
tertata, sawahnya luas, dan udara pagi selalu terasa seperti bonus hidup gratis
dari alam.
Di ruang rapat, meja persegi empat
sudah dipenuhi map, laptop, dan camilan singkong goreng buatan Bu Endang, Kasi
Pelayanan yang selalu sigap bahkan dalam urusan konsumsi. Hari itu pembahasan
serius: perencanaan pembangunan desa tahun anggaran 2026 mengacu pada PMK Nomor
7 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Dana Desa.
Pak Kades Iwan membuka rapat dengan nada resmi namun
santai.
“Baik, Bapak Ibu. Kita tahu Desa Awan Biru memiliki
Indeks Risiko Iklim Desa atau IRID sangat rendah, di angka 10,00000. Artinya
risiko bencana iklim kita kecil. Tapi bukan berarti kita santai.”
Si Amat, selaku Kasi Pemerintahan, langsung angkat
tangan.
“Pak Kades, kalau IRID kita rendah banget, apa artinya
kita desa paling kalem se-Indonesia? Angkanya aja kayak nilai matematika anak
SD yang baru belajar desimal.”
Ruangan langsung terkekeh. Suara
tawa itu pecah tidak serempak, ada yang tertahan di ujung bibir, ada yang lepas
begitu saja tanpa rem. Pak Eko sampai menutup laptopnya sebentar karena bahunya
ikut berguncang, sementara Bu Endang menepuk pelan meja sambil geleng-geleng
kepala melihat ekspresi polos Si Amat yang merasa ucapannya sangat logis.
Sekdes Yuni berusaha tetap profesional, tapi sudut bibirnya tetap melengkung
sebelum akhirnya ia ikut tersenyum tipis. Bahkan Pak Kades Iwan yang biasanya
menjaga wibawa rapat pun tak kuasa menahan senyum lebar.
Suasana yang tadinya kaku karena
angka-angka anggaran dan istilah teknis IRID mendadak mencair, seperti es batu
yang dibiarkan terlalu lama di atas meja. Di tengah keseriusan pembahasan dana
desa, momen itu menjadi pengingat bahwa perencanaan boleh serius, tapi suasana
tetap boleh hangat.
Sekdes Yuni menyahut sambil merapikan notulen, “Mat,
itu bukan nilai ulangan. Itu nilai indeks risiko iklim desa atau IRID. Artinya
desa kita relatif aman dari ancaman perubahan iklim dibanding daerah lain.”
“Relatif aman, bukan kebal,” tambah Ketua BPD Didit
sambil membuka berkas. “Makanya dalam PMK itu, dana desa tetap bisa
dialokasikan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Justru karena kita
rendah, kita harus jaga supaya tetap rendah.”
Pak Sugeng, yang duduk di pojok, kebetulan sedang
berada di kator desa mengangguk pelan. “Jadi kita bukan nunggu banjir dulu baru
sibuk beli karung pasir, ya?”
“Betul!” kata Pak Kades Iwan mantap. “Kita berpikir
preventif. Nah, sekarang kita bahas anggaran mitigasi bencana. Usulan awal dari
tim perencanaan, sekitar 12% dari total dana desa dialokasikan untuk program
ketahanan iklim.”
Pak Eko, Kaur Perencanaan, membuka laptopnya. “Angka
itu kami hitung proporsional, Pak. Karena IRID kita 10,00000, kebutuhan kita
lebih pada penguatan sistem yang sudah ada. Bukan pembangunan besar-besaran.”
Si Amat membulatkan mata. “Dua belas persen? Waduh,
jangan-jangan nanti tiap rumah dikasih pelampung, Pak?”
Bu Endang terkekeh. “Kalau kamu, Mat, pelampungnya
harus ukuran ekstra.”
“Ini serius,” tegas Kaur Keuangan Lulu sambil
menghitung di kalkulatornya. “Dari total pagu dana desa, 12% itu masih wajar
dan tidak mengganggu program prioritas lain. Tapi tetap harus jelas output dan
indikatornya.”
Si Amat menyenggol pelan map di depannya. “Bu Lulu,
kalau indikatornya pohon tumbuh subur dan selokan lancar, itu masuk indikator
kinerja juga, kan?”
“Masuk,” jawab Lulu mantap. “Selama terukur dan
terdokumentasi. Jangan cuma foto-foto tanam pohon, tapi tiga bulan kemudian
hilang.”
Pak Didit menambahkan, “Karena IRID kita rendah, kita
tidak perlu bangun infrastruktur besar seperti tanggul beton raksasa. Cukup
penguatan yang proporsional dengan status risiko.”
“Jangan sampai kita belanja kayak desa pesisir yang
rawan abrasi,” sambung Pak Eko. “Kita fokus pada normalisasi drainase,
perawatan embung, sumur resapan, dan penanaman pohon di titik rawan longsor
kecil.”
Si Amat kembali angkat suara. “Berarti logikanya begini
ya, Pak. Karena kita IRID 10,00000, kita jangan belanja kayak IRID 80.000.000.
Nanti dikira lebay.”
Pak Kades tersenyum puas. “Nah, itu maksudnya. Anggaran
harus sesuai kebutuhan dan tingkat risiko. Tidak boleh under, tapi juga tidak
over.”
Sekdes Yuni menimpali, “Dan sesuai PMK, pengelolaan
dana harus transparan dan akuntabel. Jadi semua program mitigasi harus masuk
RKPDes dan APBDes dengan jelas.”
Pak Sugeng mengangkat tangan pelan. “Kalau pelatihan
tanggap darurat itu bagaimana bentuknya?”
Sekdes Yuni menjawab, “Simulasi evakuasi, pelatihan
pemadaman kebakaran lahan skala kecil, dan edukasi pengelolaan sampah supaya
tidak menyumbat drainase.”
“Berarti nanti kita latihan lari bareng kalau ada
sirine?” tanya Si Amat lagi.
“Bukan lari sembarangan,” Bu Endang menimpali. “Tapi
lari terarah. Jangan pas simulasi malah lari ke warung.”
Tawa ringan kembali mengisi
ruangan, kali ini lebih pelan namun terasa lebih akrab. Bukan lagi tawa karena
kelakar spontan semata, melainkan tawa yang lahir dari kebersamaan dan rasa
saling memahami. Pak Sugeng sampai mengusap sudut matanya yang berair karena
terlalu lama tersenyum, sementara Bu Endang bersandar sebentar di kursinya,
menikmati suasana yang hangat itu. Pak Eko menarik napas panjang sambil
tersenyum, seolah angka-angka perencanaan di layar laptopnya tak lagi terasa
seberat tadi.
Sekdes Yuni tetap mencatat jalannya rapat,
namun jemarinya bergerak lebih santai, tidak lagi sekaku di awal pembahasan.
Bahkan Kaur Keuangan Lulu yang biasanya serius soal angka pun ikut tersenyum
tipis, kalkulatornya berhenti sejenak dari bunyi ketukan. Di antara cangkir
kopi yang mulai mendingin dan berkas yang tersusun rapi, tawa itu menjadi
penyeimbang, bahwa urusan desa boleh penuh tanggung jawab, tetapi tetap
dijalani dengan hati yang ringan dan kebersamaan yang tulus.
Pak Eko menambahkan, “Kita juga rencanakan pemasangan
papan informasi titik kumpul bencana. Sederhana, tapi penting.”
Si Amat mengangguk serius. “Saya setuju. Kadang warga
panik bukan karena bencananya besar, tapi karena tidak tahu harus ke mana.”
“Betul,” kata Pak Kades. “Desa Berketahanan Iklim bukan
soal kita takut bencana. Ini soal tanggung jawab menjaga alam yang sudah baik.
IRID kita rendah karena lingkungan kita terawat. Kalau kita abai, angka itu
bisa naik.”
Kaur Keuangan Lulu menutup mapnya. “Dan kalau angkanya
naik, anggaran kita bisa ikut naik. Tapi bukan itu yang kita harapkan.”
“Lebih baik IRID tetap rendah, dompet desa tetap
sehat,” celetuk Si Amat.
“Dan masyarakat tetap aman,” tambah Sekdes Yuni.







0 komentar:
Posting Komentar