Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Senin, 23 Februari 2026

Cerpen Si Amat Episode 8; Desa Berketahanan Iklim

 Cerpen Si Amat Episode 8; Desa Berketahanan Iklim

Siang itu, Kantor Desa Awan Biru tampak lebih teduh dari biasanya. Pohon ketapang di halaman depan melambai pelan diterpa angin, seakan ikut menyimak agenda penting hari itu. Kolam kecil di samping kantor memantulkan langit cerah, sementara burung-burung pipit sesekali hinggap di pagar kayu yang baru dicat ulang menggunakan dana pemeliharaan tahun lalu. Desa Awan Biru memang dikenal asri, irigasinya tertata, sawahnya luas, dan udara pagi selalu terasa seperti bonus hidup gratis dari alam.

Di ruang rapat, meja persegi empat sudah dipenuhi map, laptop, dan camilan singkong goreng buatan Bu Endang, Kasi Pelayanan yang selalu sigap bahkan dalam urusan konsumsi. Hari itu pembahasan serius: perencanaan pembangunan desa tahun anggaran 2026 mengacu pada PMK Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Dana Desa.

Pak Kades Iwan membuka rapat dengan nada resmi namun santai.

“Baik, Bapak Ibu. Kita tahu Desa Awan Biru memiliki Indeks Risiko Iklim Desa atau IRID sangat rendah, di angka 10,00000. Artinya risiko bencana iklim kita kecil. Tapi bukan berarti kita santai.”

Si Amat, selaku Kasi Pemerintahan, langsung angkat tangan.

“Pak Kades, kalau IRID kita rendah banget, apa artinya kita desa paling kalem se-Indonesia? Angkanya aja kayak nilai matematika anak SD yang baru belajar desimal.”

Ruangan langsung terkekeh. Suara tawa itu pecah tidak serempak, ada yang tertahan di ujung bibir, ada yang lepas begitu saja tanpa rem. Pak Eko sampai menutup laptopnya sebentar karena bahunya ikut berguncang, sementara Bu Endang menepuk pelan meja sambil geleng-geleng kepala melihat ekspresi polos Si Amat yang merasa ucapannya sangat logis. Sekdes Yuni berusaha tetap profesional, tapi sudut bibirnya tetap melengkung sebelum akhirnya ia ikut tersenyum tipis. Bahkan Pak Kades Iwan yang biasanya menjaga wibawa rapat pun tak kuasa menahan senyum lebar.

Suasana yang tadinya kaku karena angka-angka anggaran dan istilah teknis IRID mendadak mencair, seperti es batu yang dibiarkan terlalu lama di atas meja. Di tengah keseriusan pembahasan dana desa, momen itu menjadi pengingat bahwa perencanaan boleh serius, tapi suasana tetap boleh hangat.

Sekdes Yuni menyahut sambil merapikan notulen, “Mat, itu bukan nilai ulangan. Itu nilai indeks risiko iklim desa atau IRID. Artinya desa kita relatif aman dari ancaman perubahan iklim dibanding daerah lain.”

“Relatif aman, bukan kebal,” tambah Ketua BPD Didit sambil membuka berkas. “Makanya dalam PMK itu, dana desa tetap bisa dialokasikan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Justru karena kita rendah, kita harus jaga supaya tetap rendah.”

Pak Sugeng, yang duduk di pojok, kebetulan sedang berada di kator desa mengangguk pelan. “Jadi kita bukan nunggu banjir dulu baru sibuk beli karung pasir, ya?”

“Betul!” kata Pak Kades Iwan mantap. “Kita berpikir preventif. Nah, sekarang kita bahas anggaran mitigasi bencana. Usulan awal dari tim perencanaan, sekitar 12% dari total dana desa dialokasikan untuk program ketahanan iklim.”

Pak Eko, Kaur Perencanaan, membuka laptopnya. “Angka itu kami hitung proporsional, Pak. Karena IRID kita 10,00000, kebutuhan kita lebih pada penguatan sistem yang sudah ada. Bukan pembangunan besar-besaran.”

Si Amat membulatkan mata. “Dua belas persen? Waduh, jangan-jangan nanti tiap rumah dikasih pelampung, Pak?”

Bu Endang terkekeh. “Kalau kamu, Mat, pelampungnya harus ukuran ekstra.”

“Ini serius,” tegas Kaur Keuangan Lulu sambil menghitung di kalkulatornya. “Dari total pagu dana desa, 12% itu masih wajar dan tidak mengganggu program prioritas lain. Tapi tetap harus jelas output dan indikatornya.”

Si Amat menyenggol pelan map di depannya. “Bu Lulu, kalau indikatornya pohon tumbuh subur dan selokan lancar, itu masuk indikator kinerja juga, kan?”

“Masuk,” jawab Lulu mantap. “Selama terukur dan terdokumentasi. Jangan cuma foto-foto tanam pohon, tapi tiga bulan kemudian hilang.”

Pak Didit menambahkan, “Karena IRID kita rendah, kita tidak perlu bangun infrastruktur besar seperti tanggul beton raksasa. Cukup penguatan yang proporsional dengan status risiko.”

“Jangan sampai kita belanja kayak desa pesisir yang rawan abrasi,” sambung Pak Eko. “Kita fokus pada normalisasi drainase, perawatan embung, sumur resapan, dan penanaman pohon di titik rawan longsor kecil.”

Si Amat kembali angkat suara. “Berarti logikanya begini ya, Pak. Karena kita IRID 10,00000, kita jangan belanja kayak IRID 80.000.000. Nanti dikira lebay.”

Pak Kades tersenyum puas. “Nah, itu maksudnya. Anggaran harus sesuai kebutuhan dan tingkat risiko. Tidak boleh under, tapi juga tidak over.”

Sekdes Yuni menimpali, “Dan sesuai PMK, pengelolaan dana harus transparan dan akuntabel. Jadi semua program mitigasi harus masuk RKPDes dan APBDes dengan jelas.”

Pak Sugeng mengangkat tangan pelan. “Kalau pelatihan tanggap darurat itu bagaimana bentuknya?”

Sekdes Yuni menjawab, “Simulasi evakuasi, pelatihan pemadaman kebakaran lahan skala kecil, dan edukasi pengelolaan sampah supaya tidak menyumbat drainase.”

“Berarti nanti kita latihan lari bareng kalau ada sirine?” tanya Si Amat lagi.

“Bukan lari sembarangan,” Bu Endang menimpali. “Tapi lari terarah. Jangan pas simulasi malah lari ke warung.”

Tawa ringan kembali mengisi ruangan, kali ini lebih pelan namun terasa lebih akrab. Bukan lagi tawa karena kelakar spontan semata, melainkan tawa yang lahir dari kebersamaan dan rasa saling memahami. Pak Sugeng sampai mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu lama tersenyum, sementara Bu Endang bersandar sebentar di kursinya, menikmati suasana yang hangat itu. Pak Eko menarik napas panjang sambil tersenyum, seolah angka-angka perencanaan di layar laptopnya tak lagi terasa seberat tadi.

 Sekdes Yuni tetap mencatat jalannya rapat, namun jemarinya bergerak lebih santai, tidak lagi sekaku di awal pembahasan. Bahkan Kaur Keuangan Lulu yang biasanya serius soal angka pun ikut tersenyum tipis, kalkulatornya berhenti sejenak dari bunyi ketukan. Di antara cangkir kopi yang mulai mendingin dan berkas yang tersusun rapi, tawa itu menjadi penyeimbang, bahwa urusan desa boleh penuh tanggung jawab, tetapi tetap dijalani dengan hati yang ringan dan kebersamaan yang tulus.

Pak Eko menambahkan, “Kita juga rencanakan pemasangan papan informasi titik kumpul bencana. Sederhana, tapi penting.”

Si Amat mengangguk serius. “Saya setuju. Kadang warga panik bukan karena bencananya besar, tapi karena tidak tahu harus ke mana.”

“Betul,” kata Pak Kades. “Desa Berketahanan Iklim bukan soal kita takut bencana. Ini soal tanggung jawab menjaga alam yang sudah baik. IRID kita rendah karena lingkungan kita terawat. Kalau kita abai, angka itu bisa naik.”

Kaur Keuangan Lulu menutup mapnya. “Dan kalau angkanya naik, anggaran kita bisa ikut naik. Tapi bukan itu yang kita harapkan.”

“Lebih baik IRID tetap rendah, dompet desa tetap sehat,” celetuk Si Amat.

“Dan masyarakat tetap aman,” tambah Sekdes Yuni.

Di luar, angin kembali berembus lembut. Seolah-olah alam Desa Awan Biru mendengar keputusan rapat itu dan ikut mengamini. Dan di tengah keseriusan pembahasan dana desa, satu hal yang pasti: selama ada Pak Kades yang tegas, Pak Eko yang terukur, Lulu yang cermat, Yuni yang tertib, Bu Endang yang sigap, serta Si Amat yang vokal, Desa Awan Biru tak hanya berketahanan iklim, tapi juga berketahanan humor.

0 komentar:

Posting Komentar