Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Minggu, 22 Februari 2026

Cerpen Si Amat Episode 7; Pengurusan Data Kependudukan

 

Cerpen Si Amat Episode 7; Pengurusan Data Kependudukan

Pagi itu Kantor Desa Awan Biru tampak lebih hidup dari biasanya. Cahaya matahari menyelinap lewat jendela kaca yang sedikit terbuka, menerpa meja pelayanan yang rapi dengan map-map berlabel warna-warni. Di sudut ruangan, banner bertuliskan “Pelayanan Administrasi Cepat, Tepat, dan Tanpa Pungutan” tergantung gagah, seolah ikut mengawasi jalannya pemerintahan desa.

Si Amat, Kasi Pemerintahan yang hari itu kebagian tugas administrasi kependudukan, duduk dengan wajah serius. Terlalu serius malah. Sebab lima belas menit sebelumnya, ia baru saja “digembleng” oleh Pak Kades Iwan.

 “Mat, ingat ya,” ujar Pak Kades Iwan sambil melipat tangan di atas meja. “Pengurusan data kependudukan itu gratis. Tidak boleh ada pungutan dalam bentuk apa pun.”

“Siap, Pak,” jawab Si Amat cepat.

“Dan kalau harus ke Dukcapil Kabupaten, tetap gratis untuk masyarakat.”

Si Amat mulai mengernyit.

“Gratis… termasuk bensin juga, Pak?” tanyanya hati-hati.

Pak Kades tersenyum tipis. “Atur strategi. Kita lagi efisiensi anggaran perjalanan dinas.”

Si Amat menelan ludah. Jarak ke Dukcapil satu jam perjalanan. Empat liter pertalite. Itu belum parkir, belum kopi biar nggak ngantuk, “Pak… ini namanya sosial tingkat dewa,” gumamnya.

Pak Kades tertawa kecil. “Makanya kita cari solusi. Bisa via WhatsApp, kirim berkas online. Kalau file Kartu Keluarga dan Akte sudah jadi dalam bentuk PDF, kita cetak di kantor desa. Atau kalau ada perangkat desa  yang ke kabupaten, sekalian ambilkan.”

Si Amat mengangguk pelan. Logis. Rasional. Hemat, “Baik, Pak. Saya jalankan.” Jawab Si Amat sambil mohon izin untuk keruangannya, Ia belum tahu bahwa hari itu rencana akan jungkir balik. Belum genap satu jam briefing selesai, datanglah Pak Sugeng dengan wajah sumringah dan sedikit panik.

“Pak Amat! Anak saya lahir! Mau tambah anggota keluarga di KK,” katanya semangat. “ sekalian buatkan akte kelahirannya dan cetakan KTP perubahan Status kawin punya anak saya Hidayat”, ujar Pak Sugeng lagi.

“Alhamdulillah! Selamat ya, Pak Sugeng,” jawab Si Amat tulus.

“Tapi ini harus cepat, Pak. Dua hari lagi saya mudik ke Sumatra. Lama di sana.” Tegas pak Sugeng kepadaSi Amat.

Si Amat berhenti mengetik. “Dua hari?” Tanya Si Amat ke Pak Sugeng, keheranan.

“Iya. Jadi mohon diurus secepatnya. Saya terima beres di sini. Gratis kan, sesuai kebijakan Pak Kades?” ujar pak sugeng, namun bagi Si Amat Kalimat terakhir itu menusuk halus seperti jarum.

“Gratis…” ulang Si Amat pelan.

“Gratis,” Sugeng mengangguk mantap.

Rencana pengurusan melalui via WhatsApp mendadak tidak menjamin selesai tepat waktu. Sistem online kadang lemot. File PDF belum tentu keluar hari itu juga serta KTP tidak bisa di kirim via whatsaap..

“Saya dampingi saja ke Dukcapil, Pak?” tawar Si Amat.

Sugeng cepat menggeleng. “Waduh, saya masih urus koper. Pokoknya saya terima bersih di sini.” Pintanya, sementara, Si Amat mulai merasakan pusing tujuh keliling versi nyata.

Setelah menerima berkas dari Pak Sugeng yang masih hangat dari map plastik biru, Si Amat tidak langsung duduk santai. Ia menarik napas panjang, merapikan kerah bajunya yang sedikit berdebu, lalu berjalan menuju ruang Pak Kades Iwan dengan langkah setengah mantap setengah ragu. Pintu ruang kepala desa diketuk pelan dua kali sebelum ia masuk sambil membawa map tersebut seperti membawa dokumen negara tingkat tinggi.

Di dalam ruangan, Pak Kades sedang menandatangani beberapa berkas sambil sesekali menyeruput kopi yang tinggal setengah. Suasana terasa lebih tenang dibanding ruang pelayanan di depan, namun tetap menyimpan aura wibawa. Si Amat berdiri tegak di depan meja, meletakkan map dengan hati-hati, lalu membuka percakapan dengan nada konsultatif, bukan sekadar melapor, tetapi memastikan bahwa setiap langkah pelayanan yang ia ambil sudah sejalan dengan kebijakan dan prinsip administrasi yang berlaku di Desa Awan Biru. Ia segera menghadap Pak Kades.

“Pak, Sugeng mau cepat. Dua hari lagi mudik. Tidak bisa online. Harus ke Dukcapil langsung.” Ujarnya membuka percakapannya dengan pak Kades Iwan.

Pak Kades mengangguk. “Ya sudah, berangkat.” Perintahnya tegas.

“Pak… bensin?” kata Si Amat sedikit binggung.

“Mat,” kata Pak Kades bijak, “pelayanan cepat dan gratis itu komitmen.” Ujarnya tegas.

“Komitmen saya setuju, Pak. Tapi tangki motor saya juga punya komitmen kosong.” Sanggah Si Amat

Belum sempat  pak Kades Iwan menjawab, Sekdes Yuni yang sejak tadi mengetik laporan sambil mencuri dengar langsung menyahut santai sambil masuk ke ruangan Kades Iwan di ikuti oleh Lulu dan Endang yang punya keperluan lainnya juga,

“Mat, mungkin motormu perlu diberi pemahaman visi-misi dulu. Biar sejalan dengan RPJMDes.” Kata Sekdes Yuni kepada Sin Amat. Lulu yang duduk di dekat Yuni ikut nimbrung sambil menahan tawa,
“Atau jangan-jangan motornya belum ikut musyawarah desa, jadi belum sepakat soal efisiensi anggaran.”

Endang yang sedang merapikan arsip bahkan menambahkan dengan wajah polos,
“Kalau perlu kita buatkan SK khusus: Motor Si Amat sebagai Relawan Pelayanan Publik.” Ruangan mendadak pecah oleh tawa kecil yang ditahan-tahan.

Si Amat menatap mereka satu per satu dengan ekspresi dramatis.
“Lucu ya? Nanti kalau saya dorong motornya sampai Kantor Capil, kalian jangan minta oleh-oleh stiker Dukcapil.”

Sekdes Yuni mengangkat tangan pura-pura serius, “Tenang, Mat. Kalau kamu dorong motor, kami siap dokumentasikan. Lumayan buat konten transparansi pelayanan.” Ujarnya santai.

Lulu menimpali lagi, “Judulnya: ‘Pengabdian Tanpa Batas, Bensin Terbatas.’”

Endang menutup dengan kalimat paling menohok, “Kalau memang darurat, pakai sepeda saja, Mat. Sekalian kampanye ramah lingkungan.” Kata endang membuat  Pak Kades Iwan akhirnya tertawa lebih keras.
“Cari cara. Pemerintahan itu soal solusi.” Ujarnya.

Si Amat keluar ruangan dengan tatapan dramatis seperti tokoh sinetron kehilangan warisan, sementara di belakangnya tawa masih terdengar bersahutan. Ketika ia berdiri di depan kantor desa sambil memandangi motornya, terdengar klakson berat dari arah jalan. Ternyata truk kontraktor perkebunan sawit melintas. Sopirnya, Anto, melambaikan tangan.

“Mau ke mana, Mat?” Tanya anto, Keajaiban kadang datang tanpa diundang, walaupun berbentuk truk berdebu.

“Ke Capil, To!”katanya pelan

“Naik aja! Sekalian saya kirim barang!” ujar Anto memberikan tumpangan gratis ke Si Amat. Tanpa pikir panjang, Si Amat  naik di samping Anto. Angin pagi menerpa wajahnya. Gratis. Tanpa pertalite.

Satu jam kemudian, ia tiba di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten. Gedungnya tampak ramai, kendaraan terparkir rapi di halaman. Di ruang tunggu, puluhan warga duduk tertib sambil memegang map plastik berisi berkas. Nomor antrean terpampang di layar digital, suara mesin cetak sesekali terdengar dari balik ruang pelayanan.

Meski padat, suasana tetap teratur. Petugas berseragam bekerja cepat dan sigap. Tidak ada teriakan, tidak ada saling serobot. Semua mengikuti prosedur. Si Amat, yang sudah beberapa kali ke sana, langsung menuju meja pelayanan seperti biasanya. Ia mengangguk sopan kepada petugas yang dikenalnya.

“Selamat pagi, Bu Wahyuni.” Sapa Si Amat ke  Petugas bernama Wahyuni, ia tersenyum ramah.
“Pagi, Pak Amat. Dari Desa Awan Biru ya? Ada berkas lagi?”

“Ada, Bu. Tambah anggota keluarga baru, cetak akte kelahiran, sekalian perubahan status kawin atas nama Hidayat, anaknya Pak Sugeng. Sudah menikah beberapa bulan lalu. Sekalian cetak KTP barunya juga.”

Wahyuni langsung sigap menerima map tersebut. Tangannya cekatan memeriksa satu per satu dokumen.

“Lengkap ini, Pak. Kita proses ya. Untuk KTP perubahan status memang harus cetak fisik, tidak bisa kirim PDF.”

“Iya, Bu. Itu sebabnya saya datang langsung,” jawab Si Amat, sambil dalam hati bersyukur keputusannya berangkat hari itu tepat. Wahyuni mengantar berkas Si Amat ke Bagian Cetak Dokumen  sambil berkata; “Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar.”  Kurang dari satu jam, panggilan terdengar.

“Pak Amat, sudah selesai.”

Si Amat berdiri lalu mengambil dokumen yang baru selesai di ceka dari wahyuni. Di tangannya kini lengkap. Kartu Keluarga terbaru dengan tambahan anggota keluarga yang baru lahir, Akte kelahiran bayi Pak Sugeng, dan cetakan KTP perubahan status kawin atas nama Hidayat, Cepat, Tertib dan Tanpa biaya.

“Terima kasih banyak, Bu Wahyuni. Pelayanannya luar biasa cepat.” Kata Si Amat kepada Ibu Wahyuni.

Wahyuni tersenyum professional, “Sudah tugas kami, Pak. Salam untuk Desa Awan Biru.”

Si Amat keluar ruangan dengan perasaan lega, Misi sosial bermodal nebeng truk berhasil, Di perjalanan pulang, ia menumpang truk lain milik Andi yang kebetulan kembali dari kota. Dan benar saja, berkas Sugeng selesai dalam sehari. Tambahan anggota keluarga sudah tercatat resmi, perubahan status sudah sah secara administrasi, dan KTP baru sudah di tangan.

Namun setibanya di Kantor Desa Awan Biru, wajah Si Amat tetap cemberut. Debu sawit masih menempel di celana, rambut sedikit acak-acakan, dan aroma solar samar-samar ikut pulang bersamanya. Pelayanan cepat dan tanggap memang tercapai. Hanya saja… gaya pulangnya sedikit dramatis.

Siang itu Kantor Desa Awan Biru kembali hangat. Matahari siang masih tinggi ketika Si Amat turun dari truk dan berjalan masuk ke halaman kantor desa. Pohon ketapang di depan kantor bergoyang pelan tertiup angin, sementara beberapa warga duduk di bangku teras menunggu pelayanan. Suasana cukup ramai, namun tetap tertib. Dari dalam ruangan terdengar suara printer bekerja tanpa henti, bunyi stapler, dan sesekali dering telepon kantor.

Spanduk bertuliskan “Pelayanan Administrasi Cepat, Tepat, dan Tanpa Pungutan” tampak kontras dengan wajah Si Amat yang sedikit kusut. Ia teringat janjinya pagi tadi.

“Siang ini juga selesai, Pak Sugeng. Ambil saja di kantor desa,” begitu ucapnya dengan penuh percaya diri. Dan benar saja, belum lama ia duduk dan merapikan berkas, Pak Sugeng sudah muncul di pintu dengan wajah penuh harap.

“Pak Amat, Dokumen saya sudah jadi?” tanyanya antusias.

Si Amat mengangguk mantap sambil menyerahkan map. Siang itu Kantor Desa Awan Biru kembali hangat. Sugeng menerima dokumen dengan wajah berseri-seri.

“Cepat sekali, Pak Amat! Terima kasih!” ujar Pak Sugeng

“Pelayanan cepat dan tanggap,” jawab Si Amat lelah. Namun wajahnya cemberut. Debu sawit masih menempel di celana. Rambut sedikit acak-acakan. Perangkat desa lain langsung usil.

“Mat, habis ikut audisi supir truk ya?” ledek sekdes Yuni kepada Si Amat.

“Jangan-jangan besok pindah profesi!” kata Lulu menimpali ucapan dari sekdes Yuni. Bahkan Pak Kades Iwan ikut tersenyum lebar.

“Saya acungi jempol, Mat. Tak ada rotan, akar pun jadi!” ujar pak kades Iwan disertai suara tawa dari perangkat desa lainnya.

Si Amat menghela napas panjang. “Yang penting gratis, Pak. Tapi punggung saya masih goyang.”

Pak Kades menepuk bahunya. “Ini pengalaman bagus. Kita buat jadi berita inspiratif. Pelayanan cepat, gratis, dan efisien.”

Di luar, matahari mulai condong ke barat. Warga yang tadi menunggu satu per satu sudah terlayani. Suasana kantor tetap hidup, tapi terasa ringan. Ada rasa bangga yang tidak diucapkan, namun jelas terasa.

Si Amat menatap banner di dinding: . “Pelayanan Administrasi Cepat, Tepat, dan Tanpa Pungutan”

Hari itu ia sadar, pelayanan publik bukan soal bensin atau jarak. Tapi soal kemauan mencari solusi. Meski kadang harus nebeng truk sawit dulu. Dan di sudut ruangan, tawa kembali pecah, bukan karena mengejek, tapi karena bangga bahwa Desa Awan Biru selalu menemukan cara.

0 komentar:

Posting Komentar