Cerpen Si Amat
Episode 7; Pengurusan Data Kependudukan
Pagi itu Kantor Desa Awan Biru tampak
lebih hidup dari biasanya. Cahaya matahari menyelinap lewat jendela kaca yang
sedikit terbuka, menerpa meja pelayanan yang rapi dengan map-map berlabel
warna-warni. Di sudut ruangan, banner bertuliskan “Pelayanan Administrasi
Cepat, Tepat, dan Tanpa Pungutan” tergantung gagah, seolah ikut mengawasi
jalannya pemerintahan desa.
Si Amat, Kasi Pemerintahan yang hari
itu kebagian tugas administrasi kependudukan, duduk dengan wajah serius.
Terlalu serius malah. Sebab lima belas menit sebelumnya, ia baru saja
“digembleng” oleh Pak Kades Iwan.
“Mat, ingat ya,”
ujar Pak Kades Iwan sambil melipat tangan di atas meja. “Pengurusan data
kependudukan itu gratis. Tidak boleh ada pungutan dalam bentuk apa pun.”
“Siap, Pak,” jawab Si Amat cepat.
“Dan kalau harus ke Dukcapil Kabupaten, tetap gratis
untuk masyarakat.”
Si Amat mulai mengernyit.
“Gratis… termasuk bensin juga, Pak?” tanyanya
hati-hati.
Pak Kades tersenyum tipis. “Atur strategi. Kita lagi
efisiensi anggaran perjalanan dinas.”
Si Amat menelan ludah. Jarak ke Dukcapil satu jam
perjalanan. Empat liter pertalite. Itu belum parkir, belum kopi biar nggak
ngantuk, “Pak… ini namanya sosial tingkat dewa,” gumamnya.
Pak Kades tertawa kecil. “Makanya kita cari solusi.
Bisa via WhatsApp, kirim berkas online. Kalau file Kartu Keluarga dan Akte
sudah jadi dalam bentuk PDF, kita cetak di kantor desa. Atau kalau ada
perangkat desa yang ke kabupaten,
sekalian ambilkan.”
Si Amat mengangguk pelan. Logis. Rasional. Hemat, “Baik,
Pak. Saya jalankan.” Jawab Si Amat sambil mohon izin untuk keruangannya, Ia
belum tahu bahwa hari itu rencana akan jungkir balik. Belum genap satu jam
briefing selesai, datanglah Pak Sugeng dengan wajah sumringah dan sedikit
panik.
“Pak Amat! Anak saya lahir! Mau tambah anggota keluarga
di KK,” katanya semangat. “ sekalian buatkan akte kelahirannya dan cetakan KTP
perubahan Status kawin punya anak saya Hidayat”, ujar Pak Sugeng lagi.
“Alhamdulillah! Selamat ya, Pak Sugeng,” jawab Si Amat
tulus.
“Tapi ini harus cepat, Pak. Dua hari lagi saya mudik ke
Sumatra. Lama di sana.” Tegas pak Sugeng kepadaSi Amat.
Si Amat berhenti mengetik. “Dua hari?” Tanya Si Amat ke
Pak Sugeng, keheranan.
“Iya. Jadi mohon diurus secepatnya. Saya terima beres
di sini. Gratis kan, sesuai kebijakan Pak Kades?” ujar pak sugeng, namun bagi
Si Amat Kalimat terakhir itu menusuk halus seperti jarum.
“Gratis…” ulang Si Amat pelan.
“Gratis,” Sugeng mengangguk mantap.
Rencana pengurusan melalui via WhatsApp mendadak tidak
menjamin selesai tepat waktu. Sistem online kadang lemot. File PDF belum tentu
keluar hari itu juga serta KTP tidak bisa di kirim via whatsaap..
“Saya dampingi saja ke Dukcapil, Pak?” tawar Si Amat.
Sugeng cepat menggeleng. “Waduh, saya masih urus koper.
Pokoknya saya terima bersih di sini.” Pintanya, sementara, Si Amat mulai
merasakan pusing tujuh keliling versi nyata.
Setelah menerima berkas dari Pak
Sugeng yang masih hangat dari map plastik biru, Si Amat tidak langsung duduk
santai. Ia menarik napas panjang, merapikan kerah bajunya yang sedikit berdebu,
lalu berjalan menuju ruang Pak Kades Iwan dengan langkah setengah mantap
setengah ragu. Pintu ruang kepala desa diketuk pelan dua kali sebelum ia masuk
sambil membawa map tersebut seperti membawa dokumen negara tingkat tinggi.
Di dalam ruangan, Pak Kades
sedang menandatangani beberapa berkas sambil sesekali menyeruput kopi yang
tinggal setengah. Suasana terasa lebih tenang dibanding ruang pelayanan di
depan, namun tetap menyimpan aura wibawa. Si Amat berdiri tegak di depan meja,
meletakkan map dengan hati-hati, lalu membuka percakapan dengan nada
konsultatif, bukan sekadar melapor, tetapi memastikan bahwa setiap langkah
pelayanan yang ia ambil sudah sejalan dengan kebijakan dan prinsip administrasi
yang berlaku di Desa Awan Biru. Ia segera menghadap Pak Kades.
“Pak, Sugeng mau cepat. Dua hari lagi mudik. Tidak bisa
online. Harus ke Dukcapil langsung.” Ujarnya membuka percakapannya dengan pak
Kades Iwan.
Pak Kades mengangguk. “Ya sudah, berangkat.” Perintahnya
tegas.
“Pak… bensin?” kata Si Amat sedikit binggung.
“Mat,” kata Pak Kades bijak, “pelayanan cepat dan
gratis itu komitmen.” Ujarnya tegas.
“Komitmen saya setuju, Pak. Tapi tangki motor saya juga
punya komitmen kosong.” Sanggah Si Amat
Belum sempat pak
Kades Iwan menjawab, Sekdes Yuni yang sejak tadi mengetik laporan sambil
mencuri dengar langsung menyahut santai sambil masuk ke ruangan Kades Iwan di
ikuti oleh Lulu dan Endang yang punya keperluan lainnya juga,
“Mat, mungkin motormu perlu diberi pemahaman visi-misi
dulu. Biar sejalan dengan RPJMDes.” Kata Sekdes Yuni kepada Sin Amat. Lulu yang
duduk di dekat Yuni ikut nimbrung sambil menahan tawa,
“Atau jangan-jangan motornya belum ikut musyawarah desa, jadi belum sepakat
soal efisiensi anggaran.”
Endang yang sedang merapikan arsip bahkan menambahkan
dengan wajah polos,
“Kalau perlu kita buatkan SK khusus: Motor Si Amat sebagai Relawan Pelayanan
Publik.” Ruangan mendadak pecah oleh tawa kecil yang ditahan-tahan.
Si Amat menatap mereka satu per satu dengan ekspresi
dramatis.
“Lucu ya? Nanti kalau saya dorong motornya sampai Kantor Capil, kalian jangan
minta oleh-oleh stiker Dukcapil.”
Sekdes Yuni mengangkat tangan pura-pura serius, “Tenang,
Mat. Kalau kamu dorong motor, kami siap dokumentasikan. Lumayan buat konten
transparansi pelayanan.” Ujarnya santai.
Lulu menimpali lagi, “Judulnya: ‘Pengabdian Tanpa
Batas, Bensin Terbatas.’”
Endang menutup dengan kalimat paling menohok, “Kalau
memang darurat, pakai sepeda saja, Mat. Sekalian kampanye ramah lingkungan.” Kata
endang membuat Pak Kades Iwan akhirnya
tertawa lebih keras.
“Cari cara. Pemerintahan itu soal solusi.” Ujarnya.
Si Amat keluar ruangan dengan tatapan dramatis seperti tokoh
sinetron kehilangan warisan, sementara di belakangnya tawa masih terdengar
bersahutan. Ketika ia berdiri di depan kantor desa sambil memandangi motornya,
terdengar klakson berat dari arah jalan. Ternyata truk kontraktor perkebunan
sawit melintas. Sopirnya, Anto, melambaikan tangan.
“Mau ke mana, Mat?” Tanya anto, Keajaiban kadang datang
tanpa diundang, walaupun berbentuk truk berdebu.
“Ke Capil, To!”katanya pelan
“Naik aja! Sekalian saya kirim barang!” ujar Anto
memberikan tumpangan gratis ke Si Amat. Tanpa pikir panjang, Si Amat naik di samping Anto. Angin pagi menerpa
wajahnya. Gratis. Tanpa pertalite.
Satu jam kemudian, ia tiba di Kantor Dinas Kependudukan
dan Pencatatan Sipil Kabupaten. Gedungnya tampak ramai, kendaraan terparkir
rapi di halaman. Di ruang tunggu, puluhan warga duduk tertib sambil memegang
map plastik berisi berkas. Nomor antrean terpampang di layar digital, suara
mesin cetak sesekali terdengar dari balik ruang pelayanan.
Meski padat, suasana tetap teratur.
Petugas berseragam bekerja cepat dan sigap. Tidak ada teriakan, tidak ada
saling serobot. Semua mengikuti prosedur. Si Amat, yang sudah beberapa kali ke
sana, langsung menuju meja pelayanan seperti biasanya. Ia mengangguk sopan
kepada petugas yang dikenalnya.
“Selamat pagi, Bu Wahyuni.” Sapa Si Amat ke Petugas bernama Wahyuni, ia tersenyum ramah.
“Pagi, Pak Amat. Dari Desa Awan Biru ya? Ada berkas lagi?”
“Ada, Bu. Tambah anggota keluarga baru, cetak akte
kelahiran, sekalian perubahan status kawin atas nama Hidayat, anaknya Pak
Sugeng. Sudah menikah beberapa bulan lalu. Sekalian cetak KTP barunya juga.”
Wahyuni langsung sigap menerima map tersebut. Tangannya
cekatan memeriksa satu per satu dokumen.
“Lengkap ini, Pak. Kita proses ya. Untuk KTP perubahan
status memang harus cetak fisik, tidak bisa kirim PDF.”
“Iya, Bu. Itu sebabnya saya datang langsung,” jawab Si
Amat, sambil dalam hati bersyukur keputusannya berangkat hari itu tepat. Wahyuni
mengantar berkas Si Amat ke Bagian Cetak Dokumen sambil berkata; “Baik, Pak. Mohon tunggu
sebentar.” Kurang dari satu jam,
panggilan terdengar.
“Pak Amat, sudah selesai.”
Si Amat berdiri lalu mengambil dokumen
yang baru selesai di ceka dari wahyuni. Di tangannya kini lengkap. Kartu
Keluarga terbaru dengan tambahan anggota keluarga yang baru lahir, Akte
kelahiran bayi Pak Sugeng, dan cetakan KTP perubahan status kawin atas nama
Hidayat, Cepat, Tertib dan Tanpa biaya.
“Terima kasih banyak, Bu Wahyuni. Pelayanannya luar
biasa cepat.” Kata Si Amat kepada Ibu Wahyuni.
Wahyuni tersenyum professional, “Sudah tugas kami, Pak.
Salam untuk Desa Awan Biru.”
Si Amat keluar ruangan dengan perasaan
lega, Misi sosial bermodal nebeng truk berhasil, Di perjalanan pulang, ia
menumpang truk lain milik Andi yang kebetulan kembali dari kota. Dan benar
saja, berkas Sugeng selesai dalam sehari. Tambahan anggota keluarga sudah
tercatat resmi, perubahan status sudah sah secara administrasi, dan KTP baru
sudah di tangan.
Namun setibanya di Kantor Desa Awan
Biru, wajah Si Amat tetap cemberut. Debu sawit masih menempel di celana, rambut
sedikit acak-acakan, dan aroma solar samar-samar ikut pulang bersamanya. Pelayanan
cepat dan tanggap memang tercapai. Hanya saja… gaya pulangnya sedikit dramatis.
Siang itu Kantor Desa Awan Biru
kembali hangat. Matahari siang masih tinggi ketika Si Amat turun dari truk dan
berjalan masuk ke halaman kantor desa. Pohon ketapang di depan kantor bergoyang
pelan tertiup angin, sementara beberapa warga duduk di bangku teras menunggu
pelayanan. Suasana cukup ramai, namun tetap tertib. Dari dalam ruangan terdengar
suara printer bekerja tanpa henti, bunyi stapler, dan sesekali dering telepon
kantor.
Spanduk bertuliskan “Pelayanan Administrasi Cepat, Tepat, dan Tanpa Pungutan”
tampak kontras dengan wajah Si Amat yang sedikit kusut. Ia teringat janjinya
pagi tadi.
“Siang ini juga selesai, Pak Sugeng. Ambil saja di
kantor desa,” begitu ucapnya dengan penuh percaya diri. Dan benar saja, belum
lama ia duduk dan merapikan berkas, Pak Sugeng sudah muncul di pintu dengan
wajah penuh harap.
“Pak Amat, Dokumen saya sudah jadi?” tanyanya
antusias.
Si
Amat mengangguk mantap sambil menyerahkan map. Siang itu Kantor Desa Awan Biru
kembali hangat. Sugeng menerima dokumen dengan wajah berseri-seri.
“Cepat sekali, Pak Amat! Terima kasih!” ujar Pak Sugeng
“Pelayanan cepat dan
tanggap,” jawab Si Amat lelah. Namun wajahnya cemberut. Debu sawit masih
menempel di celana. Rambut sedikit acak-acakan. Perangkat desa lain langsung
usil.
“Mat, habis ikut audisi supir truk ya?” ledek
sekdes Yuni kepada Si Amat.
“Jangan-jangan besok
pindah profesi!” kata Lulu menimpali ucapan dari sekdes Yuni. Bahkan Pak Kades
Iwan ikut tersenyum lebar.
“Saya acungi jempol, Mat. Tak ada rotan, akar pun
jadi!” ujar pak kades Iwan disertai suara tawa dari perangkat desa lainnya.
Si Amat menghela napas panjang. “Yang penting
gratis, Pak. Tapi punggung saya masih goyang.”
Pak Kades menepuk
bahunya. “Ini pengalaman bagus. Kita buat jadi berita inspiratif. Pelayanan
cepat, gratis, dan efisien.”
Di
luar, matahari mulai condong ke barat. Warga yang tadi menunggu satu per satu
sudah terlayani. Suasana kantor tetap hidup, tapi terasa ringan. Ada rasa
bangga yang tidak diucapkan, namun jelas terasa.
Si
Amat menatap banner di dinding: . “Pelayanan Administrasi Cepat,
Tepat, dan Tanpa Pungutan”
Hari
itu ia sadar, pelayanan publik bukan soal bensin atau jarak. Tapi soal kemauan
mencari solusi. Meski kadang harus nebeng truk sawit dulu. Dan di sudut
ruangan, tawa kembali pecah, bukan karena mengejek, tapi karena bangga bahwa
Desa Awan Biru selalu menemukan cara.







0 komentar:
Posting Komentar