Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Selasa, 24 Februari 2026

Cinta di Ujung Senja

 

Cinta di Ujung Senja

Episode Digital: Desa Awan Biru Go Digital

Matahari tepat di atas kepala ketika bus antarkota jurusan Kabut Merah berhenti di perempatan pasar. Bambang turun dengan ransel besar di punggung dan koper di tangan. Lima tahun ia meninggalkan Desa Awan Biru untuk menimba ilmu di Universitas Harapan Bangsa, Fakultas Ilmu Komputer, Jurusan Sistem Informasi. Kini ia pulang. Bukan untuk liburan, tapi untuk selamanya.

"Mas Bambang!"

Suara itu familiar. Anto melambai dari balik setir truk reyotnya yang setia menemani jalanan desa sejak sepuluh tahun lalu.

"To! Masih setia sama truk ini?"

"Ini istri pertamaku, Jang. Setia sampai mati." Anto turun, memeluk Bambang erat. "Selamat datang di rumah, anak rantau. Gimana, udah jadi sarjana?"

"Alhamdulillah, To. Wisuda kemarin."

"Wah, Pak Eko pasti bangga. Ayo naik, Anto antar pulang."

Bambang naik ke bak truk bersama kopernya. Truk melaju pelan melewati jalan desa yang sama seperti dulu. Sawah menguning di kiri kanan. Anak-anak kecil berlarian kejar-kejaran. Ibu-ibu duduk di teras sambil mengupas bawang.

Desa Awan Biru. Tidak berubah sama sekali.

Tapi Bambang berubah. Dan ia punya rencana besar untuk desanya.

Rumah Bambang tidak jauh dari kantor desa. Pak Eko, ayahnya, sudah menunggu di teras. Kaur Perencanaan yang terkenal tekun itu jarang menunjukkan emosi. Tapi sore itu, matanya berkaca-kaca melihat anak semata wayangnya pulang.

"Nak, selamat datang."

"Maaf, Pak. Lama banget nggak pulang."

"Yang penting lulus. Bapak dengar kamu wisuda dengan cum laude?"

Bambang tersenyum malu. "Alhamdulillah, Pak."

"Ibu sudah masak kesukaan kamu. Ayam goreng."

Malam itu, keluarga kecil itu makan bersama. Ibu Bambang tak henti-hentinya menyuapi anaknya. Pak Eko lebih banyak diam, tapi sesekali tersenyum bangga.

"Nak, Bapak dengar kamu mau bantu desa?"

"Iya, Pak. Selama ini desa kita kan belum punya sistem informasi yang baik. Website desa jarang di-update. Data administrasi masih manual. Aku punya beberapa ide."

Pak Eko mengangguk. "Besok ketemu Pak Kades. Beliau pasti senang."

Malam itu Bambang sulit tidur. Pikirannya penuh rencana. Ia ingin Desa Awan Biru go digital. Ia ingin warganya melek teknologi. Dan ia punya waktu untuk mewujudkannya.

Kantor Desa Awan Biru pagi itu ramai. Pak Iwan memimpin rapat koordinasi bulanan. Semua perangkat hadir. Di sudut ruangan, Bambang duduk dengan laptop di depan.

"Hadirin sekalian," buka Pak Iwan, "kita kedatangan putra desa yang baru menyelesaikan pendidikan di bidang komputer. Mas Bambang, anaknya Pak Eko."

Semua menoleh. Bambang mengangguk sopan.

"Mas Bambang, silahkan sampaikan apa yang ingin Mas sampaikan."

Bambang berdiri. Degup jantungnya kencang. Tapi ia berusaha tenang.

"Assalamu'alaikum. Selamat pagi Bapak Ibu sekalian. Saya Bambang, baru pulang kuliah di Jurusan Sistem Informasi. Selama di kampus, saya belajar tentang digitalisasi desa. Saya lihat website desa kita sudah ada, tapi masih kurang optimal. Update-nya jarang, fiturnya minim. Saya ingin membantu mengembangkan website ini jadi lebih berguna untuk warga."

Pak Iwan mengangguk. "Ide bagus. Memang selama ini kita terkendala sumber daya manusia."

Yuni, Sekdes, menambahkan, "Selama ini yang ngurus website Mas Amat sendiri. Kadang beliau kewalahan."

Amat, yang duduk di pojok, mengangkat tangan. "Maaf, Pak. Saya akui, kemampuan saya terbatas. Saya bisa urus administrasi, tapi soal coding dan desain web, saya nol besar."

Semua tertawa. Bambang ikut tersenyum.

"Makanya saya di sini, Pak Amat. Kita bisa kerjasama. Saya yang urus teknis, Bapak yang urus konten."

"Deal!" Amat mengacungkan jempol.

Rapat berlanjut. Bambang memaparkan rencananya: pembaruan website, pelatihan literasi digital untuk warga, dan integrasi data administrasi desa ke sistem online. Semua menyambut antusias.

Hanya satu orang yang diam sejak tadi. Di ujung meja, seorang gadis berjilbab biru muda mencatat dengan tekun. Matanya sesekali melirik ke arah Bambang.

"Itu Enjelina," bisik Amat. "Anaknya Bu Amelia, bidan desa. Sekarang jadi Kaur Tata Usaha. Cantik, ya?"

Bambang hanya tersenyum canggung. Tapi dalam hati, ia setuju. Enjelina cantik. Sederhana, tapi memikat.

Rapat selesai. Perangkat desa satu per satu pamit. Bambang masih duduk, merapikan catatan. Enjelina menghampiri.

"Mas Bambang?"

Bambang menoleh. "Iya, Mbak?"

"Enjelina. Kaur Tata Usaha." Ia mengulurkan tangan.

Bambang menjabatnya. Lembut. "Bambang. Senang kenal."

"Saya dengar Mas lulusan komputer. Hebat, ya. Selama ini kita memang butuh orang kayak Mas."

"Ah, nggak juga. Masih banyak kurangnya."

Enjelina tersenyum. Lesung pipitnya muncul. "Jangan rendah diri. Saya lihat tadi presentasinya bagus. Saya sendiri selama ini suka kesulitan kalau urusan teknologi."

"Ke depannya kita bisa belajar bareng, Mbak."

"Setuju." Enjelina mengeluarkan ponsel. "Boleh minta nomor? Siapa tahu nanti perlu koordinasi."

Bambang memberikan nomornya dengan hati berdebar. Ia tidak tahu kenapa.

Sore itu, di grup WhatsApp pemuda desa, Yulia langsung nge-tag Enjelina.

"Jel, katanya lo dapet nomor Mas Bambang?"

Enjelina kaget. "Lah, tau dari mana lo?"

"Amat bocor. Katanya lo minta nomor duluan."

"Yul, itu urusan kerja!"

"Iya iya, urusan kerja. Urusan hati juga kali."

Enjelina hanya membalas dengan emoji marah. Tapi di kamarnya, ia tersenyum sendiri.

Tiga minggu kemudian, website baru Desa Awan Biru diluncurkan. Tampilannya segar, informasinya lengkap. Ada profil desa, data penduduk, agenda kegiatan, laporan keuangan, bahkan forum warga.

Peluncuran dilakukan di balai desa dengan acara sederhana. Pak Iwan memotong tumpeng. Warga antusias.

"Ini website kita, Bapak Ibu," jelas Bambang di depan layar proyektor. "Bisa diakses lewat HP. Di sini warga bisa lihat informasi desa, ngurus administrasi online, bahkan lapor kalau ada masalah."

"Saya mau lapor, Jang!" teriak Anto dari belakang.

"Lapor apa, To?"

"Truk saya sering mogok. Minta diganti baru."

Semua tertawa. Bambang ikut tersenyum.

"Nanti kita buatkan fitur khusus laporan warga, To. Tapi untuk ganti truk, mungkin harus ngantre."

Tawa pecah lagi.

Enjelina duduk di barisan depan. Ia memperhatikan Bambang dengan seksama. Cara Bambang menjelaskan, sabar dan detail. Cara ia merespon candaan warga, santai tapi tetap fokus. Ada pesona di sana.

Selesai acara, Enjelina mendekat.

"Mas, presentasinya bagus."

"Makasih, Mbak. Dukung terus ya."

"Pasti. Saya juga mau belajar lebih banyak. Biar bisa bantu."

"Kapan-kapan kita ngopi sambil diskusi."

"Deal."

Matahari mulai condong. Senja memerah. Dua anak muda itu berdiri di halaman balai desa, tanpa sadar sedang memulai sesuatu yang indah.

Ide Ruang Komunitas Digital lahir dari obrolan santai Bambang dan Enjelina di warung kopi Pak RT. Mereka sepakat bahwa literasi digital tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Butuh wadah. Butuh tempat berkumpul.

"Aku punya ruangan kosong di samping rumah," kata Enjelina. "Bekas gudang. Bisa direnovasi."

"Bagus. Nanti kita isi dengan komputer, buku-buku teknologi, dan wifi gratis."

"Wifi? Biayanya?"

"Pak Kades sudah setuju. Anggaran dari dana desa untuk literasi digital."

Mereka berbagi tugas. Bambang mengurus perangkat dan kurikulum pelatihan. Enjelina mengurus perizinan, promosi, dan pendaftaran peserta. Amat membantu mengelola jadwal.

Dalam sebulan, Ruang Komunitas Digital resmi dibuka. Warga antusias. Anak-anak muda datang untuk belajar desain grafis. Ibu-ibu belajar belanja online. Petani belajar cek harga pasar via internet.

"Saya sekarang bisa jualan online, Jang," kata Bu Emen suatu hari. "Berkat pelatihan kemarin."

"Alhamdulillah, Bu. Terus dikembangkan."

Enjelina yang melihat itu tersenyum bangga. Bambang tidak hanya pintar, tapi juga berdampak.

Di balik layar, Amat menjadi motor penggerak konten website. Ia rajin meliput kegiatan desa, mewawancarai warga, dan menulis artikel. Enjelina membantunya mengelola media sosial desa: Instagram, Facebook, bahkan TikTok.

"Jel, besok ada lomba kreasi jajanan di posyandu. Liput ya," pinta Amat.

"Siap, Mat. Nanti aku ajak Mas Bambang."

"Ah, jadi ajang kencan."

Enjelina memukul lengan Amat. "Awas lo!"

Amat tertawa. Tapi ia senang melihat chemistry antara Bambang dan Enjelina. Mereka cocok. Bambang yang kalem, Enjelina yang ceria. Seimbang.

Suatu hari, Amat iseng membuat konten video singkat tentang "Proses di Balik Website Desa". Ia mewawancarai Bambang dan Enjelina secara terpisah, lalu menggabungkannya.

"Mas Bambang, apa kesan pertama lihat Mbak Enjelina?" tanya Amat.

Bambang kaget. "Eh, itu... kesan pertama biasa aja."

"Beneran biasa?"

"Ya... cantik sih."

Amat menyimpan jawaban itu. Lalu ia mewawancarai Enjelina.

"Mbak Jel, menurut Mbak, Mas Bambang itu gimana?"

Enjelina berpikir. "Pintar. Sabar. Dan... ganteng."

Amat menyeringai. Video itu ia edit dengan backsound romantis. Saat diunggah, komentar langsung ramai.

"Ciee... salting!"

"Jodoh memang di tangan konten kreator."

Bambang dan Enjelina hanya bisa menggeleng. Tapi di grup pribadi mereka, saling mengirim emoji malu.

Pelatihan literasi digital perdana diikuti 30 peserta. Terdiri dari ibu-ibu PKK, pemuda karang taruna, dan beberapa perangkat desa. Materinya: pengenalan internet aman, belanja online, dan membuat akun media sosial.

Bambang jadi pemateri utama. Enjelina jadi fasilitator. Mereka berkeliling mendampingi peserta satu per satu.

"Mas, kok ini error terus?" keluh seorang ibu.

"Sebentar, Bu, saya bantu." Bambang membungkuk, memperbaiki pengaturan ponsel ibu itu.

Dari kejauhan, Enjelina memperhatikan. Ada kehangatan melihat Bambang sabar melayani. Lelaki itu tidak hanya pintar, tapi juga rendah hati.

"Mbak Jel, tolong bantu di sini!" panggil peserta lain.

Enjelina segera menghampirinya. Sisa hari itu mereka sibuk, tapi bahagia.

Selesai acara, mereka duduk di teras balai desa. Lelah.

"Capai, Mas?"

"Capai. Tapi puas."

"Iya. Seneng liat mereka antusias."

"Mbak, makasih ya udah bantu."

"Sama-sama. Ini desa kita juga."

Mereka diam. Senja mulai turun. Bambang menoleh.

"Mbak, nanti malam ada waktu?"

"Ada. Kenapa?"

"Mau ngajak ngopi. Sekalian diskusi program selanjutnya."

"Boleh. Jam tujuh di tempat biasa?"

"Oke."

Malam itu, mereka ngobrol panjang. Tentang program, tentang desa, tentang masa depan. Tanpa sadar, obrolan itu berlangsung hingga pukul sepuluh. Di antaranya, ada tawa, ada diam, ada pandangan yang agak lama.

Pulang ke rumah, Enjelina tersenyum sendiri. Ia suka.

Di balik kedekatan Bambang dan Enjelina, ada dua orang tua yang mulai memasang radar. Pak Eko dan Bu Amelia.

Pak Eko, ayah Bambang, adalah tipikal orang tua yang tidak banyak bicara tapi jeli. Ia melihat perubahan pada anaknya. Bambang jadi lebih sering keluar malam. Lebih sering tersenyum sendiri. Lebih sering nyebut nama "Enjelina".

Suatu malam, Pak Eko memanggil Bambang.

"Nak, Bapak mau tanya."

"Apa, Pak?"

"Kamu sama Enjelina itu... apa sudah serius?"

Bambang kaget. "Pak, kita baru teman."

"Bapak lihat kamu sering bareng dia."

"Urusan kerja, Pak. Program literasi digital."

Pak Eko tersenyum tipis. "Bapak tidak melarang. Tapi ingat, kalau serius, jangan main-main. Enjelina anak baik. Ibunya teman Bapak."

"Iya, Pak. Aku ngerti."

Sementara itu, Bu Amelia juga mulai curiga. Anaknya yang dulu pendiam, sekarang jadi lebih cerewet. Sering cerita tentang "Mas Bambang". Sering begadang katanya "ngebut ngerjain konten".

"Jel, ibu mau tanya."

"Apa, Bu?"

"Kamu sama Mas Bambang itu pacaran?"

Enjelina tersedak. "Bu! Bukan!"

"Terus kenapa sering banget bahas dia?"

"Kerja, Bu. Dia partner kerja."

Bu Amelia menghela napas. "Ibu cuma ingetin. Jaga diri. Jaga hati. Jangan sampai kecewa."

"Iya, Bu. Aku tahu."

Tapi di kamarnya, Enjelina berkaca-kaca. Ia sendiri bingung dengan perasaannya.

Enam bulan berlalu. Program literasi digital berjalan sukses. Desa Awan Biru mulai dikenal sebagai desa digital percontohan. Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Merah Jingga memberikan penghargaan.

Bambang ditunjuk sebagai Duta Digital Kabupaten Merah Jingga. Tugasnya membantu desa-desa lain mengembangkan potensi digital mereka. Enjelina bangga, tapi juga cemas.

"Mas, nanti kalau jadi Duta Digital, pasti sering keluar desa, ya?"

"Iya. Tugasnya ke desa-desa lain."

"Berarti jarang ketemu?"

Bambang menatapnya. "Mbak Jel, sejauh apapun aku pergi, aku akan selalu kembali ke sini."

"Janji?"

"Janji."

Enjelina tersenyum. Tapi dalam hatinya, ada kecemasan. Ia takut kehilangan. Takut ditinggal.

Sementara itu, Amat mendapat posisi baru sebagai Kader Digital Desa, mendampingi Enjelina. Mereka berdua yang akan mengelola Ruang Komunitas Digital selama Bambang bertugas keliling.

"Jangan khawatir, Jel. Aku bantu," kata Amat.

"Makasih, Mat."

"Tapi kalau lo kangen Mas Bambang, jangan curhat ke gue. Gue bukan psikolog."

Enjelina memukul lengan Amat. "Diem lo!"

Bambang mulai sering keluar desa. Hari ini di Desa Sukamaju, besok di Desa Sumberejo, lusa di Desa Tanjung Sari. Tiap malam ia video call dengan Enjelina.

"Jel, gimana kabar?"

"Baik, Mas. Ruang Komunitas ramai. Amat rajin bikin konten."

"Syukurlah. Aku kangen."

"Kangen apa?"

"Kangen... ngopi bareng lo."

Enjelina tersenyum. "Aku juga kangen."

Kadang video call itu berlangsung lama. Mereka bercerita tentang kegiatan sehari-hari, tentang warga yang lucu, tentang program yang sedang berjalan. Kadang mereka hanya diam, saling memandang, lalu tertawa tanpa sebab.

Amat yang kadang ikut nimbrung suka menggoda.

"Jel, itu mah bukan video call kerja. Itu video call pacaran."

"Bukan!"

"Iya iya, bukan. Tapi pipi lo merah."

Enjelina menutup wajahnya. Amat tertawa.

Suatu malam, Bambang mengirim sesuatu ke Enjelina. Bukan pesan biasa, tapi sebuah tautan. Enjelina membukanya. Ternyata website sederhana dengan judul "Untuk Enjelina".

Isinya: foto-foto mereka selama ini. Di ruang komunitas. Di warung kopi. Di balai desa. Di pelatihan. Semua foto diiringi tulisan pendek.

"Hari pertama kita ketemu, aku tidak menyangka akan sejauh ini."

"Setiap kali lo senyum, hari-hariku jadi lebih cerah."

"Jarak ini berat. Tapi yakinlah, aku selalu pulang."

"Enjelina, aku suka lo. Mau jadi pacarku?"

Enjelina menangis. Ia langsung video call Bambang.

"Mas... ini..."

"Jawab dulu."

"Iya. Iya, aku mau."

Bambang tersenyum lebar. "Akhirnya."

"Kenapa nggak dari dulu bilang?"

"Takut. Takut lo tolak."

"Bodoh."

Mereka tertawa. Malam itu, di tengah jarak yang memisahkan, dua hati resmi bersatu.

Kabar pacaran Bambang dan Enjelina menyebar cepat. Yulia dan tim gosip desa langsung bergerak. Grup WhatsApp pemuda desa ramai.

"Cieee... akhirnya!"

"Udah dari dulu gue tebak!"

"Mas Bambang, jangan sakiti Enjelina!"

Anto mengirim stempel "SAH" bergambar cap jempol. Amat mengedit foto mereka berdua dengan bingkai pernikahan.

"Mat, apaan sih lo!" protes Enjelina.

"Udah, Jel. Santai. Ini dokumentasi pra-nikah."

Enjelina hanya bisa menggeleng. Tapi ia senang. Semua mendukung.

Pak Eko dan Bu Amelia bertemu untuk membahas masa depan anak-anak mereka.

"Pak Eko, bagaimana menurut Bapak?" tanya Bu Amelia.

"Saya setuju, Bu. Bambang anak baik. Saya yakin dia bisa jaga Enjelina."

"Saya juga lihat Enjelina bahagia sama Bambang."

"Kalau begitu, kita doakan yang terbaik."

Kedua orang tua itu bersalaman. Restu telah diberikan.

Tidak semua mulus. Enjelina mulai insecure. Bambang sering keluar desa, bertemu banyak orang baru, termasuk perempuan-perempuan dari desa lain.

"Mas, lo ketemu siapa aja hari ini?"

"Ini di Desa Sukajaya. Banyak ibu-ibu PKK."

"Ceweknya?"

"Jel, ini kerja. Bukan main."

"Aku cuma takut."

"Nggak usah takut. Aku cuma sama lo."

Tapi kecemasan Enjelina tidak mudah hilang. Apalagi setelah ia melihat foto Bambang sedang berfoto dengan seorang gadis cantik di Instagram desa lain. Fotonya biasa, tapi hati Enjelina perih.

Malam itu, ia tidak membalas pesan Bambang.

Bambang bingung. Ia telepon berkali-kali, tak diangkat. Akhirnya, ia putuskan pulang lebih awal.

Pagi-pagi, ia langsung ke rumah Enjelina.

"Jel, kenapa?"

Enjelina keluar dengan mata sembab.

"Aku lihat foto lo sama cewek itu."

"Itu panitia lokal. Biasa."

"Dia pegang lengan lo."

Bambang menghela napas. Ia mengeluarkan ponsel, menunjukkan chat dengan gadis itu.

"Ini. Dia minta foto karena senang desanya dapat pelatihan. Tidak lebih."

Enjelina membaca chat itu. Tidak ada yang aneh. Semua profesional.

"Maaf, Mas. Aku..."

Bambang memeluknya. "Jangan takut. Aku milik lo. Selamanya."

Pasca konflik kecil itu, Bambang dan Enjelina sepakat untuk lebih terbuka. Bambang selalu memberi tahu jadwalnya. Enjelina berusaha lebih percaya.

"Mungkin kita perlu aturan," kata Bambang suatu hari.

"Apa?"

"Setiap aku keluar, aku kirim lokasi. Kalau ada yang aneh, lo langsung telepon."

"Mas, nggak usah se-extreme itu."

"Biar lo tenang."

Enjelina tersenyum. "Makasih, Mas."

Mereka juga sepakat untuk punya waktu khusus. Setiap minggu, Bambang usahakan pulang meski hanya sehari. Mereka habiskan waktu di Ruang Komunitas, atau sekadar ngopi di warung Pak RT.

"Lo tahu nggak, Jel," kata Bambang suatu sore, "aku kadang mikir, andai dulu aku nggak pulang ke desa."

"Gimana?"

"Mungkin aku nggak akan ketemu lo."

Enjelina memegang tangannya. "Takdir, Mas. Takdir."

Bambang tidak sendiri. Enjelina mulai dipercaya untuk menggantikan beberapa tugasnya. Ia dilatih jadi fasilitator. Dalam sebulan, ia sudah bisa memandu pelatihan sendiri.

"Hebat, Mbak Jel," puji Amat.

"Masih belajar, Mat."

"Lo udah kayak Mas Bambang. Nanti kalau Mas Bambang sibuk, lo bisa gantikan."

Pak Iwan juga terkesan. "Enjelina, mulai bulan depan, Mbak resmi jadi Kader Digital senior. Gaji naik."

Enjelina senang bukan main. Ia telepon Bambang.

"Mas, aku naik jabatan!"

"Alhamdulillah, Sayang. Bangga sama lo."

"Ini berkat lo. Lo yang ajarin aku."

"Kita saling mengajari."

Malam itu, Enjelina menangis haru. Ia tidak pernah menyangka bisa sejauh ini. Dulu ia hanya anak bidan desa yang pendiam. Kini ia jadi motor penggerak literasi digital.

Setahun berlalu. Hubungan Bambang dan Enjelina semakin matang. Mereka sering membahas masa depan.

"Mas, kita nikah kapan?" tanya Enjelina suatu hari.

Bambang tersenyum. "Lo udah siap?"

"Udah. Tapi aku takut."

"Takut apa?"

"Takut setelah nikah, kita berubah. Sibuk masing-masing."

"Itu risiko. Tapi kita hadapi bareng."

Mereka duduk di pinggir sawah. Senja mulai turun.

"Jel, aku cinta lo."

"Aku juga cinta Mas."

"Kalau gitu, kita hadapi apapun bersama."

Mereka berpelukan. Di bawah langit jingga, dua hati bersatu dalam keyakinan.

Lamaran dilakukan sederhana. Keluarga Bambang datang ke rumah Enjelina dengan membawa seserahan seadanya. Pak Eko dan Bu Amelia duduk berhadapan.

"Kami datang untuk meminang Enjelina," kata Pak Eko.

Bu Amelia tersenyum. "Kami terima dengan senang hati."

Bambang dan Enjelina hanya bisa tersipu. Acara dilanjutkan doa bersama dan makan. Sederhana, tapi penuh makna.

Anto datang membawa truk yang dihias balon.

"Ini kado dari warga, Jang! Truknya boleh dipakai buat resepsi!"

Semua tertawa. Truk reyot itu mungkin tidak layak untuk resepsi, tapi ketulusan Anto tak ternilai.

Malamnya, Bambang dan Enjelina duduk di teras.

"Kita akan nikah, Jel."

"Iya, Mas. Akhirnya."

"Lo bahagia?"

"Bahagia banget."

Pernikahan mereka unik. Mengusung tema "digital", undangan dibuat dalam bentuk website. Tamu bisa konfirmasi kehadiran online, melihat galeri foto, bahkan memberi ucapan virtual.

Akad nikah digelar di halaman balai desa. Pak Rahmat sebagai penghulu. Saksi-saksi adalah perangkat desa.

Ijab kabul berlangsung lancar. Bambang mengucapkan dengan suara lantang. Enjelina bahagia dengan mata berkaca.

"Sah!" kata kedua saksi di ikuti oleh semua yang hadir.

Semua bersorak. Anto meniup terompet. Amat menyebarkan beras kuning.

Resepsi meriah. Makanan berlimpah. Musik organ tunggal mengiringi. Warga bergantian bersalaman.

Malam harinya, pengantin baru itu duduk di teras rumah dinas, rumah kecil yang disediakan desa untuk mereka.

"Mas, kita resmi."

"Iya, Sayang. Resmi."

"Terima kasih udah milih aku."

"Terima kasih udah mau sama orang culun kayak aku."

Enjelina tertawa. Mereka berpelukan di bawah bintang.

Hari-hari setelah pernikahan berjalan indah. Bambang dan Enjelina bekerja bersama. Pagi di Ruang Komunitas, siang di kantor desa, sore keliling warga. Mereka adalah tim solid.

"Mas, program pelatihan bulan depan udah siap?"

"Udah. Tinggal publikasi."

"Nanti aku bantu bikin poster."

"Makasih, Sayang."

Warga memanggil mereka "Pasangan Digital". Ada kebanggaan tersendiri.

Suatu hari, Arjuna, anak Erlangga dan Anita yang sekarang sudah remaja, datang.

"Om Bambang, aku mau belajar bikin game."

"Boleh. Nanti kita buat kelas khusus anak-anak."

Enjelina tersenyum. Bambang tidak hanya jadi suami yang baik, tapi juga inspirasi bagi generasi muda desa.

Setahun berlalu. Desa Awan Biru semakin maju secara digital. Banyak desa lain datang untuk studi banding. Bambang sering diminta jadi pembicara di luar kota. Enjelina mulai kewalahan sendiri.

"Mas, aku capek."

"Iya, Sayang. Aku juga."

"Mungkin kita perlu rekrut tim."

"Setuju. Kita cari anak-anak muda yang antusias."

Mereka membuka rekrutmen. Lima pemuda desa bergabung. Sekarang Bambang dan Enjelina punya tim. Beban terbagi.

Tapi tantangan baru datang: seorang anggota tim, Dita, mulai dekat dengan Bambang. Terlalu dekat.

Enjelina melihatnya. Tapi ia memilih diam. Ia percaya suaminya.

Dita mulai sering minta diajarin Bambang di luar jam kerja. Sering chat malam-malam. Kadang isi chatnya tidak penting.

"Mas, ini coding-nya error. Bantu dong."

"Mas, aku upload story, kok nggak ada yang like?"

"Mas, lo lagi di mana?"

Bambang awalnya menganggap biasa. Tapi ketika Dita mulai memanggilnya "Bang" dengan nada manja, ia mulai curiga.

Suatu malam, Dita datang ke rumah dengan alasan mau konsultasi. Padahal sudah larut. Enjelina yang membukakan pintu.

"Dita? Ada apa?"

"Mau konsultasi, Mbak. Sama Mas Bambang."

"Ini udah malam, Dita. Besok aja di kantor."

"Tapi ini urgent, Mbak."

Bambang keluar. "Ada apa, Dita?"

Dita tersipu. "Aku mau tanya soal program, Mas."

Enjelina menatap suaminya. Bambang mengerti.

"Dita, besok aja ya. Sekarang sudah waktunya istirahat. Lagipula, kalau ada masalah, bisa dibicarakan dengan tim."

Dita kecewa. Tapi ia pergi juga.

Malam itu, Enjelina menangis.

"Mas, aku nggak suka."

"Aku juga nggak suka, Sayang. Aku akan bicara dengan Dita besok."

Besoknya, Bambang memanggil Dita. Dengan tegas ia menjelaskan batasan profesional.

"Dita, saya menghargai semangatmu. Tapi ada batasan yang harus dijaga. Saya sudah menikah. Saya tidak ingin ada yang salah paham."

Dita menunduk. "Maaf, Mas. Aku... aku keterusan."

"Tidak apa-apa. Yang penting kita perbaiki."

Sejak itu, Dita menjaga jarak. Enjelina lega.

Dua tahun berlalu. Ruang Komunitas Digital berkembang pesat. Tidak hanya pelatihan, tapi juga inkubasi usaha rintisan berbasis digital.

Anak-anak muda desa mulai berbisnis online. Ibu-ibu PKK punya toko daring. Petani bisa jual hasil panen lewat marketplace.

Desa Awan Biru meraih penghargaan Desa Digital Terbaik tingkat provinsi.

Acara penghargaan digelar di ibu kota kabupaten Merah Jingga. Bambang dan Enjelina hadir dengan pakaian adat.

"Selamat, Mas. Selamat, Mbak," ucap Bupati.

"Terima kasih, Pak. Ini berkat kerjasama seluruh warga."

Sore itu, mereka pulang dengan piala. Warga menyambut meriah di balai desa.

Anto berteriak, "Jang, lo hebat! Truk gue bangga nganter lo!"

Semua tertawa.

Arjuna, anak Erlangga dan Anita, kini remaja. Ia tertarik dengan dunia digital. Sering belajar coding di Ruang Komunitas. Bambang menjadi mentornya.

"Om, aku mau buat aplikasi untuk petani."

"Bagus. Ceritakan idemu."

Arjuna bercerita tentang aplikasi pemantau harga pasar dan cuaca. Bambang terkesan.

"Ini ide bagus. Nanti kita kembangkan bersama."

Erlangga dan Anita bangga. Anak mereka tidak hanya lincah dan sigap, tapi juga melek teknologi.

"Terima kasih, Jang, sudah bimbing Arjuna," kata Erlangga.

"Justru saya yang berterima kasih, Dok. Tanpa dukungan Bapak, program literasi digital tidak akan jalan."

Mereka berpelukan. Sinergi antara kesehatan dan teknologi membuat Desa Awan Biru makin maju.

Bambang dan Enjelina kini punya anak. Seorang putri mungil yang mereka beri nama Kirana. Keceriaan anak kecil itu mewarnai hari-hari mereka.

Kirana suka melihat ayahnya ngoding. Suka melihat ibunya bikin konten. Sejak kecil, ia akrab dengan teknologi.

"Pa, Kirana mau jadi youtuber," celetuknya suatu hari.

Bambang tersenyum. "Mau jadi youtuber apaan?"

"Masak sama ibu."

Enjelina tertawa. "Nanti kita buat channel keluarga, ya."

Malam itu, mereka bertiga duduk di teras. Senja memerah. Kirana tertidur di pangkuan ibunya.

"Sayang," bisik Bambang.

"Apa, Mas?"

"Lo bahagia?"

Enjelina menatapnya. "Bahagia. Lo?"

"Aku bahagia banget."

Mereka berpelukan. Beberapa tahun lalu, Bambang pulang ke desa dengan segudang mimpi. Kini mimpinya terwujud. Ia punya keluarga. Punya karya. Punya cinta.

Waktu terus berjalan. Bambang dan Enjelina kini berusia senja. Rambut mereka mulai memutih. Tapi semangat mereka tak pernah pudar.

Ruang Komunitas Digital kini dikelola generasi baru—anak-anak muda yang dulu mereka latih. Arjuna menjadi ketuanya.

"Pak Bambang, program kita sekarang sampai ke 50 desa," lapor Arjuna.

"Bagus, Nak. Terus kembangkan."

Enjelina duduk di samping suaminya. Ia tersenyum.

"Mas, dulu kita cuma punya mimpi. Sekarang mimpi itu nyata."

"Iya. Berkat lo."

"Berkat kita."

Mereka menggenggam tangan. Senja memerah di langit Awan Biru. Sama seperti dulu, saat pertama kali Bambang pulang dan bertemu Enjelina.

Malam peringatan 25 tahun Ruang Komunitas Digital digelar meriah. Warga berkumpul di balai desa. Bambang dan Enjelina duduk di kursi kehormatan.

Acara dimulai dengan pemutaran video perjalanan. Dari website sederhana, sampai desa digital percontohan. Dari dua orang, sampai tim besar. Dari cinta yang tumbuh diam-diam, sampai keluarga bahagia.

Semua menangis haru.

Bambang naik ke panggung. Suaranya bergetar.

"Bapak Ibu sekalian, 25 tahun lalu saya pulang ke desa ini dengan laptop dan mimpi. Saya tidak pernah menyangka akan diterima sehangat ini. Saya tidak pernah menyangka akan menemukan cinta sejati di sini."

Ia menatap Enjelina.

"Enjelina, kamu adalah alasan aku pulang. Kamu adalah alasan aku bertahan. Kamu adalah rumah."

Enjelina menangis. Ia naik ke panggung, memeluk suaminya.

"Terima kasih sudah memilihku, Mas. Terima kasih sudah setia."

Warga bersorak. Anto berteriak, "Cium! Cium!"

Mereka tertawa. Tapi mereka menurut. Ciuman sederhana di pipi, disambut tepuk tangan gemuruh.

Malam itu, di bawah lampu hias yang berkelap-kelip, Desa Awan Biru merayakan cinta dan karya. Dua hal yang tak terpisahkan dalam perjalanan Bambang dan Enjelina.

Keesokan harinya, mereka duduk di teras rumah. Kirana sudah dewasa, kini menjadi manajer Ruang Komunitas. Cucu mereka, ya, mereka punya cucu sekarang, bermain di halaman.

"Pa, kita berhasil," kata Enjelina.

"Iya, Ma. Kita berhasil."

Mereka memandangi desa yang dulu sunyi, kini ramai dengan aktivitas digital. Pemuda-pemuda sibuk dengan laptop. Ibu-ibu sibuk mengelola toko online. Petani sibuk mengecek harga pasar lewat ponsel.

Desa Awan Biru telah berubah. Tapi satu hal tetap sama: kehangatan warganya. Keramahan mereka. Cinta yang mengalir di setiap sudut.

Bambang menggenggam tangan Enjelina.

"Ma, lo tahu nggak?"

"Apa, Pa?"

"Aku masih ingat pertama kali lihat lo di kantor desa. Lo pakai jilbab biru muda. Lagi catat-catat sesuatu. Aku langsung... wow."

Enjelina tertawa. "Aku juga ingat. Lo pakai kemeja kotak-kotak. Kelihatan kaku. Tapi pas ngomong, langsung cair."

"Masa sih?"

"Iya. Aku suka dari situ."

Mereka tersenyum. Senja mulai turun. Langit memerah jingga.

"Senja favorit kita," kata Bambang.

"Iya. Dari dulu sampai sekarang."

Di bawah langit Awan Biru yang sama, di ujung senja kehidupan mereka, cinta itu tetap bersemi. Tidak pernah pudar. Tidak pernah mati.

Selamanya.

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar