Cinta
di Ujung Senja
Episode Digital: Desa Awan Biru Go Digital
Matahari
tepat di atas kepala ketika bus antarkota jurusan Kabut Merah berhenti di
perempatan pasar. Bambang turun dengan ransel besar di punggung dan koper di
tangan. Lima tahun ia meninggalkan Desa Awan Biru untuk menimba ilmu di
Universitas Harapan Bangsa, Fakultas Ilmu Komputer, Jurusan Sistem Informasi.
Kini ia pulang. Bukan untuk liburan, tapi untuk selamanya.
"Mas
Bambang!"
Suara
itu familiar. Anto melambai dari balik setir truk reyotnya yang setia menemani
jalanan desa sejak sepuluh tahun lalu.
"To!
Masih setia sama truk ini?"
"Ini
istri pertamaku, Jang. Setia sampai mati." Anto turun, memeluk Bambang
erat. "Selamat datang di rumah, anak rantau. Gimana, udah jadi
sarjana?"
"Alhamdulillah,
To. Wisuda kemarin."
"Wah,
Pak Eko pasti bangga. Ayo naik, Anto antar pulang."
Bambang
naik ke bak truk bersama kopernya. Truk melaju pelan melewati jalan desa yang
sama seperti dulu. Sawah menguning di kiri kanan. Anak-anak kecil berlarian kejar-kejaran.
Ibu-ibu duduk di teras sambil mengupas bawang.
Desa
Awan Biru. Tidak berubah sama sekali.
Tapi
Bambang berubah. Dan ia punya rencana besar untuk desanya.
Rumah
Bambang tidak jauh dari kantor desa. Pak Eko, ayahnya, sudah menunggu di teras.
Kaur Perencanaan yang terkenal tekun itu jarang menunjukkan emosi. Tapi sore
itu, matanya berkaca-kaca melihat anak semata wayangnya pulang.
"Nak,
selamat datang."
"Maaf,
Pak. Lama banget nggak pulang."
"Yang
penting lulus. Bapak dengar kamu wisuda dengan cum laude?"
Bambang
tersenyum malu. "Alhamdulillah, Pak."
"Ibu
sudah masak kesukaan kamu. Ayam goreng."
Malam
itu, keluarga kecil itu makan bersama. Ibu Bambang tak henti-hentinya menyuapi
anaknya. Pak Eko lebih banyak diam, tapi sesekali tersenyum bangga.
"Nak,
Bapak dengar kamu mau bantu desa?"
"Iya,
Pak. Selama ini desa kita kan belum punya sistem informasi yang baik. Website
desa jarang di-update. Data administrasi masih manual. Aku punya beberapa
ide."
Pak
Eko mengangguk. "Besok ketemu Pak Kades. Beliau pasti senang."
Malam
itu Bambang sulit tidur. Pikirannya penuh rencana. Ia ingin Desa Awan Biru go
digital. Ia ingin warganya melek teknologi. Dan ia punya waktu untuk
mewujudkannya.
Kantor
Desa Awan Biru pagi itu ramai. Pak Iwan memimpin rapat koordinasi bulanan.
Semua perangkat hadir. Di sudut ruangan, Bambang duduk dengan laptop di depan.
"Hadirin
sekalian," buka Pak Iwan, "kita kedatangan putra desa yang baru
menyelesaikan pendidikan di bidang komputer. Mas Bambang, anaknya Pak
Eko."
Semua
menoleh. Bambang mengangguk sopan.
"Mas
Bambang, silahkan sampaikan apa yang ingin Mas sampaikan."
Bambang
berdiri. Degup jantungnya kencang. Tapi ia berusaha tenang.
"Assalamu'alaikum.
Selamat pagi Bapak Ibu sekalian. Saya Bambang, baru pulang kuliah di Jurusan
Sistem Informasi. Selama di kampus, saya belajar tentang digitalisasi desa.
Saya lihat website desa kita sudah ada, tapi masih kurang optimal. Update-nya
jarang, fiturnya minim. Saya ingin membantu mengembangkan website ini jadi
lebih berguna untuk warga."
Pak Iwan
mengangguk. "Ide bagus. Memang selama ini kita terkendala sumber daya
manusia."
Yuni,
Sekdes, menambahkan, "Selama ini yang ngurus website Mas Amat sendiri.
Kadang beliau kewalahan."
Amat,
yang duduk di pojok, mengangkat tangan. "Maaf, Pak. Saya akui, kemampuan
saya terbatas. Saya bisa urus administrasi, tapi soal coding dan desain web,
saya nol besar."
Semua
tertawa. Bambang ikut tersenyum.
"Makanya
saya di sini, Pak Amat. Kita bisa kerjasama. Saya yang urus teknis, Bapak yang
urus konten."
"Deal!"
Amat mengacungkan jempol.
Rapat
berlanjut. Bambang memaparkan rencananya: pembaruan website, pelatihan literasi
digital untuk warga, dan integrasi data administrasi desa ke sistem online.
Semua menyambut antusias.
Hanya
satu orang yang diam sejak tadi. Di ujung meja, seorang gadis berjilbab biru
muda mencatat dengan tekun. Matanya sesekali melirik ke arah Bambang.
"Itu
Enjelina," bisik Amat. "Anaknya Bu Amelia, bidan desa. Sekarang jadi
Kaur Tata Usaha. Cantik, ya?"
Bambang
hanya tersenyum canggung. Tapi dalam hati, ia setuju. Enjelina cantik.
Sederhana, tapi memikat.
Rapat
selesai. Perangkat desa satu per satu pamit. Bambang masih duduk, merapikan
catatan. Enjelina menghampiri.
"Mas
Bambang?"
Bambang
menoleh. "Iya, Mbak?"
"Enjelina.
Kaur Tata Usaha." Ia mengulurkan tangan.
Bambang
menjabatnya. Lembut. "Bambang. Senang kenal."
"Saya
dengar Mas lulusan komputer. Hebat, ya. Selama ini kita memang butuh orang
kayak Mas."
"Ah,
nggak juga. Masih banyak kurangnya."
Enjelina
tersenyum. Lesung pipitnya muncul. "Jangan rendah diri. Saya lihat tadi
presentasinya bagus. Saya sendiri selama ini suka kesulitan kalau urusan
teknologi."
"Ke
depannya kita bisa belajar bareng, Mbak."
"Setuju."
Enjelina mengeluarkan ponsel. "Boleh minta nomor? Siapa tahu nanti perlu
koordinasi."
Bambang
memberikan nomornya dengan hati berdebar. Ia tidak tahu kenapa.
Sore
itu, di grup WhatsApp pemuda desa, Yulia langsung nge-tag Enjelina.
"Jel,
katanya lo dapet nomor Mas Bambang?"
Enjelina
kaget. "Lah, tau dari mana lo?"
"Amat
bocor. Katanya lo minta nomor duluan."
"Yul,
itu urusan kerja!"
"Iya
iya, urusan kerja. Urusan hati juga kali."
Enjelina
hanya membalas dengan emoji marah. Tapi di kamarnya, ia tersenyum sendiri.
Tiga
minggu kemudian, website baru Desa Awan Biru diluncurkan. Tampilannya segar,
informasinya lengkap. Ada profil desa, data penduduk, agenda kegiatan, laporan
keuangan, bahkan forum warga.
Peluncuran
dilakukan di balai desa dengan acara sederhana. Pak Iwan memotong tumpeng.
Warga antusias.
"Ini
website kita, Bapak Ibu," jelas Bambang di depan layar proyektor.
"Bisa diakses lewat HP. Di sini warga bisa lihat informasi desa, ngurus
administrasi online, bahkan lapor kalau ada masalah."
"Saya
mau lapor, Jang!" teriak Anto dari belakang.
"Lapor
apa, To?"
"Truk
saya sering mogok. Minta diganti baru."
Semua
tertawa. Bambang ikut tersenyum.
"Nanti
kita buatkan fitur khusus laporan warga, To. Tapi untuk ganti truk, mungkin
harus ngantre."
Tawa
pecah lagi.
Enjelina
duduk di barisan depan. Ia memperhatikan Bambang dengan seksama. Cara Bambang
menjelaskan, sabar dan detail. Cara ia merespon candaan warga, santai tapi
tetap fokus. Ada pesona di sana.
Selesai
acara, Enjelina mendekat.
"Mas,
presentasinya bagus."
"Makasih,
Mbak. Dukung terus ya."
"Pasti.
Saya juga mau belajar lebih banyak. Biar bisa bantu."
"Kapan-kapan
kita ngopi sambil diskusi."
"Deal."
Matahari
mulai condong. Senja memerah. Dua anak muda itu berdiri di halaman balai desa,
tanpa sadar sedang memulai sesuatu yang indah.
Ide
Ruang Komunitas Digital lahir dari obrolan santai Bambang dan Enjelina di
warung kopi Pak RT. Mereka sepakat bahwa literasi digital tidak bisa dilakukan
sendiri-sendiri. Butuh wadah. Butuh tempat berkumpul.
"Aku
punya ruangan kosong di samping rumah," kata Enjelina. "Bekas gudang.
Bisa direnovasi."
"Bagus.
Nanti kita isi dengan komputer, buku-buku teknologi, dan wifi gratis."
"Wifi?
Biayanya?"
"Pak
Kades sudah setuju. Anggaran dari dana desa untuk literasi digital."
Mereka
berbagi tugas. Bambang mengurus perangkat dan kurikulum pelatihan. Enjelina
mengurus perizinan, promosi, dan pendaftaran peserta. Amat membantu mengelola
jadwal.
Dalam
sebulan, Ruang Komunitas Digital resmi dibuka. Warga antusias. Anak-anak muda
datang untuk belajar desain grafis. Ibu-ibu belajar belanja online. Petani
belajar cek harga pasar via internet.
"Saya
sekarang bisa jualan online, Jang," kata Bu Emen suatu hari. "Berkat
pelatihan kemarin."
"Alhamdulillah,
Bu. Terus dikembangkan."
Enjelina
yang melihat itu tersenyum bangga. Bambang tidak hanya pintar, tapi juga
berdampak.
Di
balik layar, Amat menjadi motor penggerak konten website. Ia rajin meliput
kegiatan desa, mewawancarai warga, dan menulis artikel. Enjelina membantunya
mengelola media sosial desa: Instagram, Facebook, bahkan TikTok.
"Jel,
besok ada lomba kreasi jajanan di posyandu. Liput ya," pinta Amat.
"Siap,
Mat. Nanti aku ajak Mas Bambang."
"Ah,
jadi ajang kencan."
Enjelina
memukul lengan Amat. "Awas lo!"
Amat
tertawa. Tapi ia senang melihat chemistry antara Bambang dan Enjelina. Mereka
cocok. Bambang yang kalem, Enjelina yang ceria. Seimbang.
Suatu
hari, Amat iseng membuat konten video singkat tentang "Proses di Balik
Website Desa". Ia mewawancarai Bambang dan Enjelina secara terpisah, lalu
menggabungkannya.
"Mas
Bambang, apa kesan pertama lihat Mbak Enjelina?" tanya Amat.
Bambang
kaget. "Eh, itu... kesan pertama biasa aja."
"Beneran
biasa?"
"Ya...
cantik sih."
Amat
menyimpan jawaban itu. Lalu ia mewawancarai Enjelina.
"Mbak
Jel, menurut Mbak, Mas Bambang itu gimana?"
Enjelina
berpikir. "Pintar. Sabar. Dan... ganteng."
Amat
menyeringai. Video itu ia edit dengan backsound romantis. Saat diunggah,
komentar langsung ramai.
"Ciee...
salting!"
"Jodoh
memang di tangan konten kreator."
Bambang
dan Enjelina hanya bisa menggeleng. Tapi di grup pribadi mereka, saling
mengirim emoji malu.
Pelatihan
literasi digital perdana diikuti 30 peserta. Terdiri dari ibu-ibu PKK, pemuda
karang taruna, dan beberapa perangkat desa. Materinya: pengenalan internet
aman, belanja online, dan membuat akun media sosial.
Bambang
jadi pemateri utama. Enjelina jadi fasilitator. Mereka berkeliling mendampingi
peserta satu per satu.
"Mas,
kok ini error terus?" keluh seorang ibu.
"Sebentar,
Bu, saya bantu." Bambang membungkuk, memperbaiki pengaturan ponsel ibu
itu.
Dari
kejauhan, Enjelina memperhatikan. Ada kehangatan melihat Bambang sabar
melayani. Lelaki itu tidak hanya pintar, tapi juga rendah hati.
"Mbak
Jel, tolong bantu di sini!" panggil peserta lain.
Enjelina
segera menghampirinya. Sisa hari itu mereka sibuk, tapi bahagia.
Selesai
acara, mereka duduk di teras balai desa. Lelah.
"Capai,
Mas?"
"Capai.
Tapi puas."
"Iya.
Seneng liat mereka antusias."
"Mbak,
makasih ya udah bantu."
"Sama-sama.
Ini desa kita juga."
Mereka
diam. Senja mulai turun. Bambang menoleh.
"Mbak,
nanti malam ada waktu?"
"Ada.
Kenapa?"
"Mau
ngajak ngopi. Sekalian diskusi program selanjutnya."
"Boleh.
Jam tujuh di tempat biasa?"
"Oke."
Malam
itu, mereka ngobrol panjang. Tentang program, tentang desa, tentang masa depan.
Tanpa sadar, obrolan itu berlangsung hingga pukul sepuluh. Di antaranya, ada
tawa, ada diam, ada pandangan yang agak lama.
Pulang
ke rumah, Enjelina tersenyum sendiri. Ia suka.
Di
balik kedekatan Bambang dan Enjelina, ada dua orang tua yang mulai memasang
radar. Pak Eko dan Bu Amelia.
Pak
Eko, ayah Bambang, adalah tipikal orang tua yang tidak banyak bicara tapi jeli.
Ia melihat perubahan pada anaknya. Bambang jadi lebih sering keluar malam.
Lebih sering tersenyum sendiri. Lebih sering nyebut nama "Enjelina".
Suatu
malam, Pak Eko memanggil Bambang.
"Nak,
Bapak mau tanya."
"Apa,
Pak?"
"Kamu
sama Enjelina itu... apa sudah serius?"
Bambang
kaget. "Pak, kita baru teman."
"Bapak
lihat kamu sering bareng dia."
"Urusan
kerja, Pak. Program literasi digital."
Pak
Eko tersenyum tipis. "Bapak tidak melarang. Tapi ingat, kalau serius,
jangan main-main. Enjelina anak baik. Ibunya teman Bapak."
"Iya,
Pak. Aku ngerti."
Sementara
itu, Bu Amelia juga mulai curiga. Anaknya yang dulu pendiam, sekarang jadi
lebih cerewet. Sering cerita tentang "Mas Bambang". Sering begadang
katanya "ngebut ngerjain konten".
"Jel,
ibu mau tanya."
"Apa,
Bu?"
"Kamu
sama Mas Bambang itu pacaran?"
Enjelina
tersedak. "Bu! Bukan!"
"Terus
kenapa sering banget bahas dia?"
"Kerja,
Bu. Dia partner kerja."
Bu
Amelia menghela napas. "Ibu cuma ingetin. Jaga diri. Jaga hati. Jangan sampai
kecewa."
"Iya,
Bu. Aku tahu."
Tapi
di kamarnya, Enjelina berkaca-kaca. Ia sendiri bingung dengan perasaannya.
Enam
bulan berlalu. Program literasi digital berjalan sukses. Desa Awan Biru mulai
dikenal sebagai desa digital percontohan. Dinas Komunikasi dan Informatika
Kabupaten Merah Jingga memberikan penghargaan.
Bambang
ditunjuk sebagai Duta Digital Kabupaten Merah Jingga. Tugasnya membantu
desa-desa lain mengembangkan potensi digital mereka. Enjelina bangga, tapi juga
cemas.
"Mas,
nanti kalau jadi Duta Digital, pasti sering keluar desa, ya?"
"Iya.
Tugasnya ke desa-desa lain."
"Berarti
jarang ketemu?"
Bambang
menatapnya. "Mbak Jel, sejauh apapun aku pergi, aku akan selalu kembali ke
sini."
"Janji?"
"Janji."
Enjelina
tersenyum. Tapi dalam hatinya, ada kecemasan. Ia takut kehilangan. Takut
ditinggal.
Sementara
itu, Amat mendapat posisi baru sebagai Kader Digital Desa, mendampingi
Enjelina. Mereka berdua yang akan mengelola Ruang Komunitas Digital selama
Bambang bertugas keliling.
"Jangan
khawatir, Jel. Aku bantu," kata Amat.
"Makasih,
Mat."
"Tapi
kalau lo kangen Mas Bambang, jangan curhat ke gue. Gue bukan psikolog."
Enjelina
memukul lengan Amat. "Diem lo!"
Bambang
mulai sering keluar desa. Hari ini di Desa Sukamaju, besok di Desa Sumberejo,
lusa di Desa Tanjung Sari. Tiap malam ia video call dengan Enjelina.
"Jel,
gimana kabar?"
"Baik,
Mas. Ruang Komunitas ramai. Amat rajin bikin konten."
"Syukurlah.
Aku kangen."
"Kangen
apa?"
"Kangen...
ngopi bareng lo."
Enjelina
tersenyum. "Aku juga kangen."
Kadang
video call itu berlangsung lama. Mereka bercerita tentang kegiatan sehari-hari,
tentang warga yang lucu, tentang program yang sedang berjalan. Kadang mereka
hanya diam, saling memandang, lalu tertawa tanpa sebab.
Amat
yang kadang ikut nimbrung suka menggoda.
"Jel,
itu mah bukan video call kerja. Itu video call pacaran."
"Bukan!"
"Iya
iya, bukan. Tapi pipi lo merah."
Enjelina
menutup wajahnya. Amat tertawa.
Suatu
malam, Bambang mengirim sesuatu ke Enjelina. Bukan pesan biasa, tapi sebuah
tautan. Enjelina membukanya. Ternyata website sederhana dengan judul
"Untuk Enjelina".
Isinya:
foto-foto mereka selama ini. Di ruang komunitas. Di warung kopi. Di balai desa.
Di pelatihan. Semua foto diiringi tulisan pendek.
"Hari
pertama kita ketemu, aku tidak menyangka akan sejauh ini."
"Setiap
kali lo senyum, hari-hariku jadi lebih cerah."
"Jarak
ini berat. Tapi yakinlah, aku selalu pulang."
"Enjelina,
aku suka lo. Mau jadi pacarku?"
Enjelina
menangis. Ia langsung video call Bambang.
"Mas...
ini..."
"Jawab
dulu."
"Iya.
Iya, aku mau."
Bambang
tersenyum lebar. "Akhirnya."
"Kenapa
nggak dari dulu bilang?"
"Takut.
Takut lo tolak."
"Bodoh."
Mereka
tertawa. Malam itu, di tengah jarak yang memisahkan, dua hati resmi bersatu.
Kabar
pacaran Bambang dan Enjelina menyebar cepat. Yulia dan tim gosip desa langsung
bergerak. Grup WhatsApp pemuda desa ramai.
"Cieee...
akhirnya!"
"Udah
dari dulu gue tebak!"
"Mas
Bambang, jangan sakiti Enjelina!"
Anto
mengirim stempel "SAH" bergambar cap jempol. Amat mengedit foto
mereka berdua dengan bingkai pernikahan.
"Mat,
apaan sih lo!" protes Enjelina.
"Udah,
Jel. Santai. Ini dokumentasi pra-nikah."
Enjelina
hanya bisa menggeleng. Tapi ia senang. Semua mendukung.
Pak
Eko dan Bu Amelia bertemu untuk membahas masa depan anak-anak mereka.
"Pak
Eko, bagaimana menurut Bapak?" tanya Bu Amelia.
"Saya
setuju, Bu. Bambang anak baik. Saya yakin dia bisa jaga Enjelina."
"Saya
juga lihat Enjelina bahagia sama Bambang."
"Kalau
begitu, kita doakan yang terbaik."
Kedua
orang tua itu bersalaman. Restu telah diberikan.
Tidak
semua mulus. Enjelina mulai insecure. Bambang sering keluar desa, bertemu
banyak orang baru, termasuk perempuan-perempuan dari desa lain.
"Mas,
lo ketemu siapa aja hari ini?"
"Ini
di Desa Sukajaya. Banyak ibu-ibu PKK."
"Ceweknya?"
"Jel,
ini kerja. Bukan main."
"Aku
cuma takut."
"Nggak
usah takut. Aku cuma sama lo."
Tapi
kecemasan Enjelina tidak mudah hilang. Apalagi setelah ia melihat foto Bambang
sedang berfoto dengan seorang gadis cantik di Instagram desa lain. Fotonya
biasa, tapi hati Enjelina perih.
Malam
itu, ia tidak membalas pesan Bambang.
Bambang
bingung. Ia telepon berkali-kali, tak diangkat. Akhirnya, ia putuskan pulang
lebih awal.
Pagi-pagi,
ia langsung ke rumah Enjelina.
"Jel,
kenapa?"
Enjelina
keluar dengan mata sembab.
"Aku
lihat foto lo sama cewek itu."
"Itu
panitia lokal. Biasa."
"Dia
pegang lengan lo."
Bambang
menghela napas. Ia mengeluarkan ponsel, menunjukkan chat dengan gadis itu.
"Ini.
Dia minta foto karena senang desanya dapat pelatihan. Tidak lebih."
Enjelina
membaca chat itu. Tidak ada yang aneh. Semua profesional.
"Maaf,
Mas. Aku..."
Bambang
memeluknya. "Jangan takut. Aku milik lo. Selamanya."
Pasca
konflik kecil itu, Bambang dan Enjelina sepakat untuk lebih terbuka. Bambang
selalu memberi tahu jadwalnya. Enjelina berusaha lebih percaya.
"Mungkin
kita perlu aturan," kata Bambang suatu hari.
"Apa?"
"Setiap
aku keluar, aku kirim lokasi. Kalau ada yang aneh, lo langsung telepon."
"Mas,
nggak usah se-extreme itu."
"Biar
lo tenang."
Enjelina
tersenyum. "Makasih, Mas."
Mereka
juga sepakat untuk punya waktu khusus. Setiap minggu, Bambang usahakan pulang
meski hanya sehari. Mereka habiskan waktu di Ruang Komunitas, atau sekadar
ngopi di warung Pak RT.
"Lo
tahu nggak, Jel," kata Bambang suatu sore, "aku kadang mikir, andai
dulu aku nggak pulang ke desa."
"Gimana?"
"Mungkin
aku nggak akan ketemu lo."
Enjelina
memegang tangannya. "Takdir, Mas. Takdir."
Bambang
tidak sendiri. Enjelina mulai dipercaya untuk menggantikan beberapa tugasnya.
Ia dilatih jadi fasilitator. Dalam sebulan, ia sudah bisa memandu pelatihan
sendiri.
"Hebat,
Mbak Jel," puji Amat.
"Masih
belajar, Mat."
"Lo
udah kayak Mas Bambang. Nanti kalau Mas Bambang sibuk, lo bisa gantikan."
Pak
Iwan juga terkesan. "Enjelina, mulai bulan depan, Mbak resmi jadi Kader
Digital senior. Gaji naik."
Enjelina
senang bukan main. Ia telepon Bambang.
"Mas,
aku naik jabatan!"
"Alhamdulillah,
Sayang. Bangga sama lo."
"Ini
berkat lo. Lo yang ajarin aku."
"Kita
saling mengajari."
Malam
itu, Enjelina menangis haru. Ia tidak pernah menyangka bisa sejauh ini. Dulu ia
hanya anak bidan desa yang pendiam. Kini ia jadi motor penggerak literasi
digital.
Setahun
berlalu. Hubungan Bambang dan Enjelina semakin matang. Mereka sering membahas
masa depan.
"Mas,
kita nikah kapan?" tanya Enjelina suatu hari.
Bambang
tersenyum. "Lo udah siap?"
"Udah.
Tapi aku takut."
"Takut
apa?"
"Takut
setelah nikah, kita berubah. Sibuk masing-masing."
"Itu
risiko. Tapi kita hadapi bareng."
Mereka
duduk di pinggir sawah. Senja mulai turun.
"Jel,
aku cinta lo."
"Aku
juga cinta Mas."
"Kalau
gitu, kita hadapi apapun bersama."
Mereka
berpelukan. Di bawah langit jingga, dua hati bersatu dalam keyakinan.
Lamaran
dilakukan sederhana. Keluarga Bambang datang ke rumah Enjelina dengan membawa
seserahan seadanya. Pak Eko dan Bu Amelia duduk berhadapan.
"Kami
datang untuk meminang Enjelina," kata Pak Eko.
Bu
Amelia tersenyum. "Kami terima dengan senang hati."
Bambang
dan Enjelina hanya bisa tersipu. Acara dilanjutkan doa bersama dan makan.
Sederhana, tapi penuh makna.
Anto
datang membawa truk yang dihias balon.
"Ini
kado dari warga, Jang! Truknya boleh dipakai buat resepsi!"
Semua
tertawa. Truk reyot itu mungkin tidak layak untuk resepsi, tapi ketulusan Anto
tak ternilai.
Malamnya,
Bambang dan Enjelina duduk di teras.
"Kita
akan nikah, Jel."
"Iya,
Mas. Akhirnya."
"Lo
bahagia?"
"Bahagia
banget."
Pernikahan
mereka unik. Mengusung tema "digital", undangan dibuat dalam bentuk
website. Tamu bisa konfirmasi kehadiran online, melihat galeri foto, bahkan
memberi ucapan virtual.
Akad
nikah digelar di halaman balai desa. Pak Rahmat sebagai penghulu. Saksi-saksi
adalah perangkat desa.
Ijab
kabul berlangsung lancar. Bambang mengucapkan dengan suara lantang. Enjelina
bahagia dengan mata berkaca.
"Sah!"
kata kedua saksi di ikuti oleh semua yang hadir.
Semua
bersorak. Anto meniup terompet. Amat menyebarkan beras kuning.
Resepsi
meriah. Makanan berlimpah. Musik organ tunggal mengiringi. Warga bergantian
bersalaman.
Malam
harinya, pengantin baru itu duduk di teras rumah dinas, rumah kecil yang
disediakan desa untuk mereka.
"Mas,
kita resmi."
"Iya,
Sayang. Resmi."
"Terima
kasih udah milih aku."
"Terima
kasih udah mau sama orang culun kayak aku."
Enjelina
tertawa. Mereka berpelukan di bawah bintang.
Hari-hari
setelah pernikahan berjalan indah. Bambang dan Enjelina bekerja bersama. Pagi
di Ruang Komunitas, siang di kantor desa, sore keliling warga. Mereka adalah
tim solid.
"Mas,
program pelatihan bulan depan udah siap?"
"Udah.
Tinggal publikasi."
"Nanti
aku bantu bikin poster."
"Makasih,
Sayang."
Warga
memanggil mereka "Pasangan Digital". Ada kebanggaan tersendiri.
Suatu
hari, Arjuna, anak Erlangga dan Anita yang sekarang sudah remaja, datang.
"Om
Bambang, aku mau belajar bikin game."
"Boleh.
Nanti kita buat kelas khusus anak-anak."
Enjelina
tersenyum. Bambang tidak hanya jadi suami yang baik, tapi juga inspirasi bagi
generasi muda desa.
Setahun
berlalu. Desa Awan Biru semakin maju secara digital. Banyak desa lain datang
untuk studi banding. Bambang sering diminta jadi pembicara di luar kota.
Enjelina mulai kewalahan sendiri.
"Mas,
aku capek."
"Iya,
Sayang. Aku juga."
"Mungkin
kita perlu rekrut tim."
"Setuju.
Kita cari anak-anak muda yang antusias."
Mereka
membuka rekrutmen. Lima pemuda desa bergabung. Sekarang Bambang dan Enjelina
punya tim. Beban terbagi.
Tapi
tantangan baru datang: seorang anggota tim, Dita, mulai dekat dengan Bambang.
Terlalu dekat.
Enjelina
melihatnya. Tapi ia memilih diam. Ia percaya suaminya.
Dita
mulai sering minta diajarin Bambang di luar jam kerja. Sering chat malam-malam.
Kadang isi chatnya tidak penting.
"Mas,
ini coding-nya error. Bantu dong."
"Mas,
aku upload story, kok nggak ada yang like?"
"Mas,
lo lagi di mana?"
Bambang
awalnya menganggap biasa. Tapi ketika Dita mulai memanggilnya "Bang"
dengan nada manja, ia mulai curiga.
Suatu
malam, Dita datang ke rumah dengan alasan mau konsultasi. Padahal sudah larut.
Enjelina yang membukakan pintu.
"Dita?
Ada apa?"
"Mau
konsultasi, Mbak. Sama Mas Bambang."
"Ini
udah malam, Dita. Besok aja di kantor."
"Tapi
ini urgent, Mbak."
Bambang
keluar. "Ada apa, Dita?"
Dita
tersipu. "Aku mau tanya soal program, Mas."
Enjelina
menatap suaminya. Bambang mengerti.
"Dita,
besok aja ya. Sekarang sudah waktunya istirahat. Lagipula, kalau ada masalah,
bisa dibicarakan dengan tim."
Dita
kecewa. Tapi ia pergi juga.
Malam
itu, Enjelina menangis.
"Mas,
aku nggak suka."
"Aku
juga nggak suka, Sayang. Aku akan bicara dengan Dita besok."
Besoknya,
Bambang memanggil Dita. Dengan tegas ia menjelaskan batasan profesional.
"Dita,
saya menghargai semangatmu. Tapi ada batasan yang harus dijaga. Saya sudah
menikah. Saya tidak ingin ada yang salah paham."
Dita
menunduk. "Maaf, Mas. Aku... aku keterusan."
"Tidak
apa-apa. Yang penting kita perbaiki."
Sejak
itu, Dita menjaga jarak. Enjelina lega.
Dua
tahun berlalu. Ruang Komunitas Digital berkembang pesat. Tidak hanya pelatihan,
tapi juga inkubasi usaha rintisan berbasis digital.
Anak-anak
muda desa mulai berbisnis online. Ibu-ibu PKK punya toko daring. Petani bisa
jual hasil panen lewat marketplace.
Desa
Awan Biru meraih penghargaan Desa Digital Terbaik tingkat provinsi.
Acara
penghargaan digelar di ibu kota kabupaten Merah Jingga. Bambang dan Enjelina
hadir dengan pakaian adat.
"Selamat,
Mas. Selamat, Mbak," ucap Bupati.
"Terima
kasih, Pak. Ini berkat kerjasama seluruh warga."
Sore
itu, mereka pulang dengan piala. Warga menyambut meriah di balai desa.
Anto
berteriak, "Jang, lo hebat! Truk gue bangga nganter lo!"
Semua
tertawa.
Arjuna,
anak Erlangga dan Anita, kini remaja. Ia tertarik dengan dunia digital. Sering
belajar coding di Ruang Komunitas. Bambang menjadi mentornya.
"Om,
aku mau buat aplikasi untuk petani."
"Bagus.
Ceritakan idemu."
Arjuna
bercerita tentang aplikasi pemantau harga pasar dan cuaca. Bambang terkesan.
"Ini
ide bagus. Nanti kita kembangkan bersama."
Erlangga
dan Anita bangga. Anak mereka tidak hanya lincah dan sigap, tapi juga melek
teknologi.
"Terima
kasih, Jang, sudah bimbing Arjuna," kata Erlangga.
"Justru
saya yang berterima kasih, Dok. Tanpa dukungan Bapak, program literasi digital
tidak akan jalan."
Mereka
berpelukan. Sinergi antara kesehatan dan teknologi membuat Desa Awan Biru makin
maju.
Bambang
dan Enjelina kini punya anak. Seorang putri mungil yang mereka beri nama
Kirana. Keceriaan anak kecil itu mewarnai hari-hari mereka.
Kirana
suka melihat ayahnya ngoding. Suka melihat ibunya bikin konten. Sejak kecil, ia
akrab dengan teknologi.
"Pa,
Kirana mau jadi youtuber," celetuknya suatu hari.
Bambang
tersenyum. "Mau jadi youtuber apaan?"
"Masak
sama ibu."
Enjelina
tertawa. "Nanti kita buat channel keluarga, ya."
Malam
itu, mereka bertiga duduk di teras. Senja memerah. Kirana tertidur di pangkuan
ibunya.
"Sayang,"
bisik Bambang.
"Apa,
Mas?"
"Lo
bahagia?"
Enjelina
menatapnya. "Bahagia. Lo?"
"Aku
bahagia banget."
Mereka
berpelukan. Beberapa tahun lalu, Bambang pulang ke desa dengan segudang mimpi.
Kini mimpinya terwujud. Ia punya keluarga. Punya karya. Punya cinta.
Waktu
terus berjalan. Bambang dan Enjelina kini berusia senja. Rambut mereka mulai
memutih. Tapi semangat mereka tak pernah pudar.
Ruang
Komunitas Digital kini dikelola generasi baru—anak-anak muda yang dulu mereka
latih. Arjuna menjadi ketuanya.
"Pak
Bambang, program kita sekarang sampai ke 50 desa," lapor Arjuna.
"Bagus,
Nak. Terus kembangkan."
Enjelina
duduk di samping suaminya. Ia tersenyum.
"Mas,
dulu kita cuma punya mimpi. Sekarang mimpi itu nyata."
"Iya.
Berkat lo."
"Berkat
kita."
Mereka
menggenggam tangan. Senja memerah di langit Awan Biru. Sama seperti dulu, saat
pertama kali Bambang pulang dan bertemu Enjelina.
Malam
peringatan 25 tahun Ruang Komunitas Digital digelar meriah. Warga berkumpul di
balai desa. Bambang dan Enjelina duduk di kursi kehormatan.
Acara
dimulai dengan pemutaran video perjalanan. Dari website sederhana, sampai desa
digital percontohan. Dari dua orang, sampai tim besar. Dari cinta yang tumbuh
diam-diam, sampai keluarga bahagia.
Semua
menangis haru.
Bambang
naik ke panggung. Suaranya bergetar.
"Bapak
Ibu sekalian, 25 tahun lalu saya pulang ke desa ini dengan laptop dan mimpi.
Saya tidak pernah menyangka akan diterima sehangat ini. Saya tidak pernah
menyangka akan menemukan cinta sejati di sini."
Ia
menatap Enjelina.
"Enjelina,
kamu adalah alasan aku pulang. Kamu adalah alasan aku bertahan. Kamu adalah
rumah."
Enjelina
menangis. Ia naik ke panggung, memeluk suaminya.
"Terima
kasih sudah memilihku, Mas. Terima kasih sudah setia."
Warga
bersorak. Anto berteriak, "Cium! Cium!"
Mereka
tertawa. Tapi mereka menurut. Ciuman sederhana di pipi, disambut tepuk tangan
gemuruh.
Malam
itu, di bawah lampu hias yang berkelap-kelip, Desa Awan Biru merayakan cinta
dan karya. Dua hal yang tak terpisahkan dalam perjalanan Bambang dan Enjelina.
Keesokan
harinya, mereka duduk di teras rumah. Kirana sudah dewasa, kini menjadi manajer
Ruang Komunitas. Cucu mereka, ya, mereka punya cucu sekarang, bermain di
halaman.
"Pa,
kita berhasil," kata Enjelina.
"Iya,
Ma. Kita berhasil."
Mereka
memandangi desa yang dulu sunyi, kini ramai dengan aktivitas digital.
Pemuda-pemuda sibuk dengan laptop. Ibu-ibu sibuk mengelola toko online. Petani
sibuk mengecek harga pasar lewat ponsel.
Desa
Awan Biru telah berubah. Tapi satu hal tetap sama: kehangatan warganya.
Keramahan mereka. Cinta yang mengalir di setiap sudut.
Bambang
menggenggam tangan Enjelina.
"Ma,
lo tahu nggak?"
"Apa,
Pa?"
"Aku
masih ingat pertama kali lihat lo di kantor desa. Lo pakai jilbab biru muda.
Lagi catat-catat sesuatu. Aku langsung... wow."
Enjelina
tertawa. "Aku juga ingat. Lo pakai kemeja kotak-kotak. Kelihatan kaku.
Tapi pas ngomong, langsung cair."
"Masa
sih?"
"Iya.
Aku suka dari situ."
Mereka
tersenyum. Senja mulai turun. Langit memerah jingga.
"Senja
favorit kita," kata Bambang.
"Iya.
Dari dulu sampai sekarang."
Di
bawah langit Awan Biru yang sama, di ujung senja kehidupan mereka, cinta itu
tetap bersemi. Tidak pernah pudar. Tidak pernah mati.
Selamanya.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar