ANAK
DESA YANG MENANTANG TAKDIR
Novelet
Perjuangan Seorang Anak Desa Melawan Keterbatasan Hidup dan Membawa Perubahan
bagi Tanah Kelahirannya
Oleh:
Slamet Riyadi
PROLOG
Pagi baru saja membuka matanya di sebuah desa kecil yang
terletak jauh dari hiruk-pikuk kota. Matahari perlahan naik dari balik
perbukitan hijau, menyinari hamparan sawah yang luas seperti permadani alam
yang tak bertepi. Embun masih menempel di ujung-ujung daun padi, memantulkan
cahaya yang lembut seperti butiran mutiara kecil yang berkilauan diterpa sinar
mentari pagi. Burung-burung pipit terbang berkelompok dari satu pohon ke pohon
lainnya, menyambut hari baru dengan kicauan riang yang menghiasi kesunyian
desa.
Desa itu bernama Sumber Langit.
Nama yang terdengar indah, seolah-olah desa itu adalah
tempat di mana langit menurunkan segala berkahnya. Namun kenyataannya tidak
selalu demikian. Di balik keindahan alamnya yang memesona, desa itu menyimpan
kisah panjang tentang keterbatasan, kemiskinan, dan perjuangan hidup yang tak
pernah kenal lelah. Hamparan sawah yang hijau itu tidak selalu menjamin perut
kenyang bagi para petani yang menggarapnya. Pemandangan bukit yang elok itu
tidak bisa mengusir rasa cemas ketika musim paceklik tiba.
Jalan utama desa masih berupa tanah merah yang keras dan
berdebu ketika kemarau, tetapi berubah menjadi lumpur licin yang membahayakan
ketika hujan turun. Setiap kali musim hujan tiba, warga harus ekstra hati-hati
melangkah. Banyak anak yang terjatuh dalam perjalanan ke sekolah. Banyak
ibu-ibu yang mengeluh karena hasil kebunnya sulit dijual ke pasar akibat jalan
yang becek dan licin. Sepeda motor pun jarang yang berani melintas, takut
terpeleset atau terperosok ke dalam lubang yang tertutup genangan air.
Rumah-rumah penduduk berdiri sederhana, sebagian besar terbuat
dari kayu dan bambu yang sudah mulai rapuh dimakan usia. Atap-atap seng yang
telah berkarat berbunyi nyaring setiap kali angin kencang bertiup. Di malam
hari, lampu minyak tanah masih menjadi penerang utama di banyak rumah karena
listrik sering padam berjam-jam tanpa pemberitahuan. Sinyal telepon nyaris tak
pernah stabil. Jika ingin menelepon atau mengirim pesan, warga harus berjalan
ke tempat yang lebih tinggi, mencari titik di mana jaringan bisa ditangkap.
Sekolah hanya sampai tingkat dasar.
Sekolah Menengah Pertama yang terdekat berada di kecamatan,
berjarak belasan kilometer dari desa. Setiap pagi, beberapa anak yang beruntung
harus naik sepeda ontel atau berjalan kaki berjam-jam untuk bisa mengenyam
pendidikan. Sisanya, kebanyakan memilih berhenti sekolah setelah lulus SD.
Bukan karena tidak ingin melanjutkan, tetapi karena ongkos dan jarak menjadi
penghalang yang terlalu berat.
Banyak anak desa yang akhirnya memilih meninggalkan tempat
itu ketika mereka dewasa.
Mereka pergi ke kota.
Mencari pekerjaan.
Mencari kehidupan yang lebih baik.
Mencari mimpi yang tak bisa mereka raih di desa.
Dan jarang sekali ada yang kembali.
Setiap kali ada perantau yang pulang, hanya untuk beberapa
hari saat lebaran atau ketika ada keluarga yang meninggal. Mereka datang dengan
pakaian yang lebih bagus, dengan logat bicara yang sedikit berubah, dengan
cerita tentang gemerlapnya kota. Tapi setelah itu, mereka pergi lagi.
Meninggalkan desa yang tetap sama seperti dulu. Meninggalkan sawah-sawah yang
tetap hijau namun tak cukup memberi harapan. Meninggalkan orangtua yang menua
sendirian di rumah-rumah bambu yang semakin lapuk.
Desa Sumber Langit perlahan menjadi desa yang sunyi. Sunyi
bukan karena tak ada orang, tetapi karena tak ada masa depan.
Namun di tengah sunyinya desa itu, masih ada yang percaya
pada mimpi.
Di sebuah rumah kecil yang berdiri di pinggir sawah,
kehidupan berjalan dengan kesederhanaan yang nyaris tanpa pilihan. Rumah itu
tidak besar, tidak megah, bahkan bisa dibilang sangat sederhana. Dindingnya
terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai kusam dimakan waktu dan cuaca.
Beberapa bagian anyaman sudah longgar, membuat angin malam masuk tanpa permisi.
Atapnya dari seng tua yang berbunyi keras setiap kali hujan turun, seperti
genderang perang yang tak pernah berhenti memukul.
Lantainya masih tanah yang dipadatkan, dilapisi tikar bambu
di beberapa sudut. Di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang
keluarga, hanya ada sebuah dipan bambu tua yang digunakan untuk duduk-duduk dan
menerima tamu. Di dinding, tergantung beberapa gambar usang: foto pernikahan
yang sudah menguning, kalender tahun lalu yang tidak diganti, dan ijazah SD
Arga yang dibingkai dengan kayu sederhana.
Namun di rumah itulah sebuah kisah besar akan dimulai.
Kisah tentang seorang anak kecil yang berani bermimpi di
tengah keterbatasan.
Kisah tentang perjuangan melawan keadaan yang sudah dianggap takdir.
Kisah tentang keberanian untuk tidak menerima begitu saja apa yang diberikan
hidup.
Kisah tentang cinta pada tanah kelahiran yang tak pernah padam.
Kisah tentang perjalanan panjang seorang anak desa yang ingin mengubah
dunianya.
Di dalam rumah itu tinggal seorang petani bernama Pak
Wiryo, istrinya Bu Ratri, dan seorang anak laki-laki kecil berusia tujuh tahun
bernama Arga.
Pak Wiryo adalah lelaki sederhana dengan kulit yang legam
terbakar matahari selama bertahun-tahun membajak sawah. Wajahnya diukir oleh
garis-garis kerutan yang dalam, peta perjalanan hidup yang penuh perjuangan.
Tangannya kasar oleh kapalan dan retak-retak akibat kerja keras bertahun-tahun
menggenggam cangkul dan sabit. Namun di balik fisiknya yang keras, tersimpan
hati yang lembut dan penuh kasih.
Setiap hari ia pergi ke sawah sejak matahari belum
sepenuhnya terbit, ketika ayam jantan baru saja mulai berkokok bergantian dari
satu rumah ke rumah lainnya. Ia akan pulang ketika matahari sudah condong ke
barat, dengan tubuh letih namun tetap menyempatkan diri bercanda dengan Arga
sebelum beristirahat.
Sementara Bu Ratri adalah perempuan yang lembut tetapi
tangguh. Tubuhnya kecil namun penuh energi. Ia membantu ekonomi keluarga dengan
menjual sayur di pasar desa setiap pagi. Setiap pukul tiga dini hari, ia sudah
bangun untuk memetik sayur dari kebun kecil di belakang rumah, lalu berjalan
kaki ke pasar yang berjarak lima kilometer. Ia baru pulang menjelang siang,
dengan sisa sayur yang tak terjual atau kadang hanya membawa uang pas-pasan.
Namun tak pernah sekalipun ia mengeluh. Setiap kali Arga
bertanya apakah ibunya lelah, Bu Ratri hanya tersenyum dan berkata, "Ibu
tidak lelah, Nak. Ibu bahagia bisa bekerja untukmu."
Mereka bukan orang kaya. Bahkan sering kali mereka harus
menghitung setiap rupiah yang mereka miliki. Setiap pembelian harus dipikirkan
matang-matang. Gula, kopi, minyak goreng—semua diukur dengan cermat agar cukup
sampai akhir minggu. Daging hanya muncul di meja makan sekali atau dua kali
setahun, saat Idul Fitri atau Idul Adha. Hari-hari biasa, mereka hanya makan
nasi dengan sayur dari kebun dan sedikit tempe atau tahu.
Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga dari
harta benda.
Mereka memiliki kasih sayang yang tulus. Mereka memiliki keyakinan bahwa kerja
keras akan membuahkan hasil. Mereka memiliki harapan.
Harapan bahwa suatu hari nanti, kehidupan akan lebih baik. Harapan
bahwa anak mereka tidak akan mengalami pahitnya hidup seperti mereka. Harapan
bahwa dari desa kecil ini, akan lahir sesuatu yang besar.
Suatu pagi, ketika matahari baru saja muncul dari
peraduannya, Arga kecil duduk di tangga rumahnya sambil memperhatikan ayahnya
yang sedang menyiapkan cangkul dan alat-alat pertanian lainnya. Pak Wiryo
membetulkan ikat pinggangnya, memastikan golok kecil di pinggangnya terpasang
kuat, lalu mengikatkan topi caping di kepala.
"Pak..." panggil Arga dengan suara polos khas
anak seusianya.
Pak Wiryo menoleh. Wajahnya yang sudah mulai keriput itu
tersenyum melihat anak semata wayangnya.
"Iya, Le?"
Arga menatap sawah yang terbentang luas di depan rumah
mereka, hamparan hijau yang bergelombang tertiup angin pagi. Padi-padi mulai
menguning di beberapa bagian, tanda bahwa musim panen akan segera tiba.
"Kenapa kita selalu bekerja di sawah?"
Pak Wiryo berhenti sejenak. Pertanyaan seperti ini jarang
keluar dari mulut anak seusia Arga. Ia berjalan mendekati anaknya lalu ikut
duduk di tangga bambu, meletakkan cangkul di sampingnya.
"Karena sawah ini yang memberi kita makan, Le."
Jawabnya pelan. "Lihat itu padi. Dari situlah kita mendapatkan beras untuk
kita makan sehari-hari."
Arga mengangguk, berpikir sejenak. Matanya yang bulat dan
bening menatap ayahnya dengan serius.
"Apakah aku juga harus jadi petani seperti Bapak
nanti?"
Pertanyaan itu membuat Pak Wiryo terdiam cukup lama. Ia
menatap anaknya, melihat sorot mata yang penuh rasa ingin tahu. Di dalam
hatinya, ia berharap anaknya tidak mengalami kerasnya hidup sebagai petani seperti
dirinya. Namun ia juga tidak ingin anaknya tumbuh dengan perasaan malu pada
pekerjaan orang tuanya.
"Kalau kamu mau jadi petani, tidak ada yang salah
dengan itu, Le." Katanya akhirnya, dengan suara yang dalam dan bijak.
"Menjadi petani itu pekerjaan mulia. Kita memberi makan orang banyak.
Tapi..."
Ia berhenti, mencari kata-kata yang tepat.
"Tapi kalau kamu punya mimpi yang lebih besar,
kejarlah mimpi itu. Jangan biarkan siapa pun meremehkan mimpimu hanya karena
kamu anak petani."
"Mimpi?" tanya Arga, mengernyitkan dahi kecilnya.
"Mimpi itu apa, Pak?"
Pak Wiryo tersenyum. Ia menunjuk ke arah langit biru yang
luas, di mana beberapa burung terbang melintas dengan bebasnya.
"Dunia ini lebih besar dari desa kita, Le. Jauh lebih
besar. Di luar sana ada banyak hal yang tidak pernah kita lihat. Ada
gedung-gedung tinggi, ada sekolah-sekolah besar, ada orang-orang pintar yang
menciptakan banyak hal. Nah, kalau kamu ingin melihat semua itu suatu hari
nanti, itulah mimpi."
Arga menatap langit dengan mata yang tiba-tiba berbinar. Ia
membayangkan apa yang dikatakan ayahnya. Gedung-tinggi? Sekolah besar? Semua
itu seperti cerita dongeng yang belum pernah ia lihat secara langsung.
"Tapi bagaimana caranya, Pak?"
Pak Wiryo menghela napas. Ia tahu jalan menuju mimpi itu tidak
akan mudah untuk anaknya. Tapi ia juga tahu, jika tidak dimulai dari sekarang,
mungkin anaknya akan terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sama seperti
dirinya.
"Caranya adalah dengan belajar, Le. Belajar yang rajin
di sekolah. Baca buku sebanyak-banyaknya. Tanya kalau ada yang tidak mengerti.
Karena hanya dengan ilmu, kamu bisa pergi jauh."
Arga mengangguk pelan, meskipun belum sepenuhnya mengerti.
Namun kata-kata ayahnya menempel di dalam hatinya seperti benih kecil yang
suatu hari akan tumbuh menjadi pohon besar.
Percakapan itu mungkin hanya percakapan biasa antara ayah
dan anak. Namun bagi Arga, itu adalah awal dari segalanya. Itu adalah percikan
pertama api mimpi yang akan terus menyala sepanjang hidupnya.
Hari-hari berlalu dengan sederhana di Desa Sumber Langit.
Arga tumbuh sebagai anak desa biasa. Ia bermain di sungai bersama
teman-temannya, berenang di air yang jernih sambil mencari ikan kecil dengan
tangan kosong. Ia berlari-lari di pematang sawah, kadang terjatuh dan
berlumuran lumpur. Ia membantu ibunya membawa sayur dari kebun, atau sesekali
ikut ayahnya ke sawah hanya untuk bersenang-senang di pinggir pematang.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya dibanding
anak-anak seusianya.
Ia selalu ingin tahu banyak hal.
Ketika melihat burung terbang, ia bertanya mengapa burung
bisa terbang sementara manusia tidak. Ketika melihat air sungai mengalir, ia
bertanya dari mana air itu berasal dan ke mana perginya. Ketika malam tiba dan
langit penuh bintang, ia bertanya apa sebenarnya bintang-bintang itu dan
mengapa ada yang berkelap-kelip.
Pertanyaan-pertanyaan itu sering membuat orang tuanya
bingung menjawab. Mereka hanya orang desa dengan pendidikan terbatas. Tapi
mereka tidak pernah melarang Arga bertanya. Mereka selalu berusaha menjawab
sebisanya, atau menyuruh Arga bertanya pada guru di sekolah.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu semakin lama semakin dalam.
Mengapa desa mereka tertinggal?
Mengapa jalan desa rusak dan tidak pernah diperbaiki?
Mengapa listrik sering padam?
Mengapa banyak anak tidak bisa melanjutkan sekolah?
Mengapa pemuda-pemuda desa pergi merantau dan tidak kembali?
Mengapa desa mereka seperti terlupakan?
Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul di kepalanya,
terutama ketika ia melihat ketimpangan antara desanya dan desa-desa lain yang lebih
maju.
Suatu sore, ketika Arga berusia sepuluh tahun, ia berdiri
di sebuah bukit kecil di pinggir desa. Dari sana ia bisa melihat hampir seluruh
desa Sumber Langit. Rumah-rumah kecil dengan atap seng yang kusam. Sawah yang
luas dengan padi yang siap panen. Jalan tanah yang berkelok-kelok seperti ular.
Sungai kecil yang membelah desa. Dan anak-anak kecil yang bermain di halaman
rumah tanpa memikirkan masa depan mereka.
Angin sore bertiup pelan, membawa aroma khas pedesaan:
campuran antara tanah basah, padi, dan asap dapur dari rumah-rumah penduduk
yang mulai memasak untuk makan malam.
Arga memandang jauh ke arah cakrawala, di mana matahari
perlahan tenggelam di balik bukit.
Di dalam hatinya, tanpa ia sadari, sebuah mimpi mulai
lahir. Mimpi yang sederhana.
Namun juga sangat besar.
Ia ingin suatu hari nanti membuat desanya berubah. Ia ingin
desa Sumber Langit tidak lagi menjadi desa yang tertinggal dan terlupakan. Ia
ingin anak-anak desa memiliki masa depan yang lebih baik, tidak harus merantau
ke kota untuk mencari kehidupan. Ia ingin jalan desa mulus, listrik tidak
pernah padam, sekolah yang bagus, dan masa depan yang cerah bagi semua orang.
Mimpi itu mungkin terdengar naif untuk anak seusianya. Tapi
itulah mimpi yang lahir dari hati seorang anak yang mencintai tanah
kelahirannya.
Saat itu Arga masih terlalu kecil untuk memahami betapa
panjang dan berat perjalanan yang harus ia tempuh untuk mewujudkan mimpi itu.
Ia belum tahu bahwa hidup akan memberinya banyak ujian, cobaan, dan air mata.
Ia belum tahu bahwa ia akan kehilangan orang yang paling ia cintai di tengah
perjalanan. Ia belum tahu bahwa dunia di luar desa jauh lebih keras dan kejam
daripada yang ia bayangkan. Ia belum tahu bahwa akan ada banyak orang yang
mencoba menghalanginya, meremehkannya, bahkan menjatuhkannya.
Namun satu hal yang pasti.
Mimpi itu sudah lahir. Dan ia akan berjuang untuk mewujudkannya.
Di desa kecil yang hampir terlupakan oleh dunia itu,
seorang anak petani sedang memulai perjalanan hidupnya. Perjalanan panjang yang
penuh onak dan duri. Perjalanan yang akan mengubah bukan hanya hidupnya
sendiri, tetapi juga nasib seluruh desanya.
Dan dari tempat sederhana itu lahirlah sebuah kisah.
Kisah tentang keberanian.
Kisah tentang mimpi.
Kisah tentang kerja keras.
Kisah tentang pengorbanan.
Kisah tentang cinta pada tanah kelahiran.
Kisah tentang seorang anak desa yang berani menantang takdir.
BAGIAN I
Pagi di Desa Sumber Langit selalu datang dengan cara yang
sederhana namun indah. Matahari muncul perlahan dari balik perbukitan,
memancarkan cahaya hangat berwarna keemasan yang menyentuh hamparan sawah yang
luas. Embun masih menempel di daun-daun padi, berkilauan seperti berlian kecil
ketika terkena sinar matahari. Kabut tipis masih menyelimuti beberapa bagian
desa, menambah kesan misterius dan damai pada pemandangan pagi itu. Angin pagi
membawa aroma tanah basah yang menenangkan, bercampur dengan wangi bunga-bunga
liar yang tumbuh di pinggir-pinggir sawah.
Burung-burung pipit beterbangan dari satu pohon ke pohon
lainnya, menyambut hari baru dengan kicauan riang yang berpadu dengan kokok
ayam yang bersahutan dari berbagai penjuru desa. Sesekali terdengar suara
kerbau yang melenguh dari kandang-kandang petani, atau suara orang-orang yang
mulai beraktivitas di dapur masing-masing. Asap mengepul dari cerobong-cerobong
dapur sederhana, pertanda bahwa ibu-ibu sudah mulai memasak untuk sarapan
keluarga.
Di pinggir sawah itulah berdiri sebuah rumah kecil yang
terbuat dari bambu.
Rumah itu tidak besar, bahkan bisa dibilang sangat
sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai pudar
warnanya dimakan usia dan cuaca. Beberapa bagian anyaman sudah mulai longgar,
meninggalkan celah-celah kecil yang menjadi jalan masuk angin di malam hari. Atap
sengnya tampak kusam dan berkarat di beberapa bagian, dengan beberapa lubang
kecil yang telah ditambal dengan potongan seng bekas atau bahkan daun rumbia.
Di depan rumah, ada beranda kecil yang juga terbuat dari
bambu. Di beranda itulah keluarga kecil ini biasa duduk-duduk di sore hari,
menikmati angin sepoi-sepoi sambil memandangi hamparan sawah yang terbentang
luas. Beberapa pot tanaman sederhana—bunga-bunga liar yang ditanam Bu Ratri
dalam kaleng bekas—menghiasi sudut beranda, memberi sedikit warna pada
kesederhanaan rumah itu.
Lantai rumah masih berupa tanah yang dipadatkan, namun
ditutupi tikar pandan di beberapa ruangan. Perabotan di dalamnya sangat
sederhana: beberapa dipan bambu untuk duduk dan tidur, sebuah meja kayu kecil
yang sudah usang, lemari pakaian dari kayu lapis yang catnya sudah mengelupas,
serta peralatan dapur seadanya yang tersusun rapi di sudut dapur.
Namun rumah itu selalu dipenuhi kehangatan.
Bukan kehangatan dari selimut tebal atau pakaian bagus,
melainkan kehangatan dari kasih sayang yang mengalir di antara penghuninya. Di
rumah itulah tawa Arga kecil selalu terdengar setiap kali ayahnya bercanda atau
ibunya menyanyikan lagu-lagu sederhana. Di rumah itulah cerita-cerita tentang
masa lalu diceritakan berulang-ulang, tentang bagaimana Pak Wiryo dan Bu Ratri
muda dulu berjuang membangun kehidupan dari nol.
Di rumah itulah tinggal Arga, seorang anak laki-laki
berusia tujuh tahun, bersama kedua orang tuanya: Pak Wiryo dan Bu Ratri.
Pak Wiryo sudah bangun sejak subuh, seperti biasa. Sebagai
petani, ia tidak mengenal hari libur. Sawah tidak mengenal minggu atau hari
raya. Padi harus dirawat setiap hari, air harus diatur, rumput liar harus
dibersihkan, hama harus diusir. Semua itu tidak bisa ditunda-tunda.
Ia berdiri di depan rumah sambil mengikatkan kain di
kepalanya—sebuah cara sederhana untuk menahan terik matahari yang sebentar lagi
akan memanggang sawah. Tangannya memegang cangkul yang sudah lama menemaninya
bekerja, dengan gagang kayu yang sudah halus karena bertahun-tahun digenggam. Di
pinggangnya terselip sabit untuk memotong rumput atau ranting yang mengganggu.
Di sampingnya, tergeletak keranjang anyaman bambu yang akan
digunakan untuk membawa hasil panen atau rumput untuk pakan ternak. Pak Wiryo
memang tidak punya kerbau atau sapi, tapi ia memelihara beberapa ekor kambing
di kandang kecil di belakang rumah.
Arga keluar dari rumah sambil mengucek-ngucek matanya yang
masih berat. Rambutnya masih awut-awutan, belum disisir. Ia berjalan tertatih
menuju ayahnya, lalu duduk di tangga bambu sambil menguap lebar.
"Bapak sudah mau ke sawah?" tanyanya dengan suara
masih serak karena baru bangun tidur.
Pak Wiryo menoleh dan tersenyum melihat anaknya yang masih
setengah mengantuk. Di matanya, tidak ada yang lebih indah dari pemandangan
ini: anaknya yang sehat, rumahnya yang sederhana namun hangat, dan hari baru
yang menanti.
"Iya, Le. Padi tidak akan tumbuh kalau Bapak hanya
tidur di rumah."
Arga tertawa kecil dengan suara khas anak-anak. Ia
menggeliat, mencoba mengusir rasa kantuk yang masih tersisa. Matanya mulai
terbuka lebar, menangkap pemandangan sawah yang luas di depannya.
"Bapak tidak capek bekerja setiap hari?" tanya
Arga lagi. Pertanyaan itu sudah sering ia lontarkan, namun ia selalu penasaran
dengan jawaban ayahnya.
Pak Wiryo berhenti sejenak dari aktivitasnya. Ia meletakkan
cangkul, lalu berjalan mendekati Arga. Ia duduk di samping anaknya di tangga
bambu itu, merasakan kayu yang sedikit lembab karena embun pagi.
"Capek itu biasa, Nak." Jawabnya pelan, dengan
suara yang dalam dan penuh makna. "Tapi kalau kita bekerja untuk keluarga,
capek itu terasa ringan. Bapak capek, tapi Bapak tahu kalau hasil dari kerja
Bapak bisa buat kamu makan, bisa buat kamu sekolah. Itu yang membuat capek
Bapak jadi hilang."
Arga mengangguk pelan, meskipun mungkin belum sepenuhnya
mengerti filosofi di balik kata-kata ayahnya. Tapi ia mengerti satu hal:
ayahnya bekerja keras untuk keluarganya.
Tak lama kemudian Bu Ratri keluar dari dapur sambil membawa
nasi hangat dan sayur sederhana di atas nampan bambu. Rambutnya disanggul
sederhana, dan sarung yang ia kenakan masih bersih meskipun sudah lusuh dimakan
usia. Wajahnya masih segar meskipun ia sudah bangun sejak pukul tiga pagi untuk
memasak dan menyiapkan dagangan sayurnya.
"Wiryo, makan dulu sebelum ke sawah." Katanya
lembut sambil meletakkan nampan di lantai beranda.
Pak Wiryo bangkit dan duduk di dekat nampan. Arga ikut
duduk di sampingnya. Mereka makan bersama dengan sederhana. Tidak ada lauk
mewah di atas meja: hanya nasi putih hangat, sayur bayam bening dengan sedikit
jagung pipilan, dan beberapa potong ikan asin yang digoreng garing. Sambal
terasi di mangkuk kecil melengkapi hidangan sederhana itu.
Namun mereka makan dengan rasa syukur yang besar.
"Ini enak sekali, Bu." Puji Pak Wiryo sambil
menyendok sayur bayam ke mulutnya.
Bu Ratri tersenyum senang mendengar pujian suaminya.
"Syukurlah kalau Bapak suka. Ini bayamnya baru petik dari kebun tadi pagi.
Masih segar."
"Ibu, ikan asinnya yang ini buat Arga ya?" tanya
Arga sambil menunjuk ikan asin yang paling besar di piring.
Bu Ratri dan Pak Wiryo saling pandang, lalu tersenyum.
"Iya, Le. Makan yang banyak biar cepat besar."
Arga makan dengan lahap, sesekali mencelupkan ikan asin ke
sambal meskipon lidahnya kepedasan. Melihat itu, Bu Ratri segera mengambil air
minum untuk anaknya.
"Pelan-pelan, Le. Nanti kepedasan."
Arga menerima air itu dan meminumnya dengan tergesa-gesa.
"Ih, pedasnya nendang, Bu!" katanya sambil menjulurkan lidah.
Mereka tertawa bersama. Tawa yang hangat di pagi yang
cerah.
Bagi keluarga kecil itu, kebersamaan jauh lebih penting
daripada kemewahan. Mereka tidak punya banyak harta, tapi mereka punya satu
sama lain. Mereka tidak punya meja makan besar, tapi mereka punya tikar
sederhana yang bisa digunakan untuk makan bersama. Mereka tidak punya piring
mahal, tapi mereka punya nasi hangat yang bisa mengenyangkan perut.
Di tengah kesederhanaan itulah Arga tumbuh.
Ia tidak memiliki banyak mainan seperti anak-anak kota.
Tidak ada robot-robotan, tidak ada mobil-mobilan, tidak ada boneka mahal. Tapi
ia memiliki alam sebagai tempat bermainnya. Sungai dengan air jernihnya, sawah
dengan lumpurnya, pohon-pohon dengan buah-buah liar yang bisa dipetik.
Ia tidak memiliki pakaian bagus seperti yang dijual di
toko-toko kota. Kebanyakan pakaiannya adalah pemberian dari tetangga atau
kerabat, yang sudah dipakai berkali-kali dan diwariskan. Tapi ibunya selalu
menjahitkan tambalan di bagian yang sobek, mencuci hingga bersih, dan
menyetrikanya dengan rapi.
Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak anak
lain: kasih sayang orang tua yang tulus dan semangat untuk belajar yang tak
pernah padam.
Setelah sarapan, Pak Wiryo berangkat ke sawah. Arga
melambai dari beranda, melihat ayahnya berjalan menyusuri pematang dengan
langkah tegap meskipun tubuhnya sudah mulai renta.
"Bapak, pulangnya jangan sore-sore!" teriak Arga.
"Iya, Le!" jawab Pak Wiryo sambil tetap berjalan.
Arga kemudian membantu ibunya membereskan piring-piring
kotor. Meskipun hanya membawa piring ke dapur, ia melakukannya dengan senang
hati. Bu Ratri selalu mengajarinya untuk membantu pekerjaan rumah sejak kecil.
"Nak, nanti kamu mandi ya. Terus siap-siap ke sekolah.
Ibu mau ke pasar dulu." Kata Bu Ratri sambil mengemas sayur-mayur ke dalam
keranjang besar.
"Iya, Bu. Arga nanti mandi sendiri."
Bu Ratri mencium kening anaknya sebelum pergi.
"Hati-hati di sekolah. Jangan nakal ya."
"Arga nggak nakal, Bu. Arga anak baik."
Bu Ratri tersenyum dan segera berangkat ke pasar dengan
keranjang sayur di tangannya. Ia harus berjalan kaki sejauh lima kilometer ke
pasar desa, tempat ia biasa menjual sayur dari kebunnya. Jika beruntung,
dagangannya akan laku sebelum siang. Jika tidak, ia harus pulang dengan sisa
sayur dan uang yang pas-pasan.
Arga duduk sendirian di beranda setelah ibunya pergi. Ia
memandangi sawah yang luas di depannya. Angin pagi masih bertiup sepoi-sepoi,
membuat bulir-bulir padi bergoyang lembut. Di kejauhan, ia bisa melihat
beberapa petani yang sudah mulai bekerja. Ada yang mencangkul, ada yang
membersihkan rumput, ada pula yang mengatur air di pematang sawah.
Dalam benak Arga yang masih kecil, pemandangan itu biasa
saja. Ia belum mengerti bahwa dari pemandangan sederhana inilah, dari rumah
bambu di pinggir sawah inilah, sebuah perjalanan panjang akan dimulai.
Perjalanan yang akan membawanya ke tempat-tempat yang jauh, ke dunia yang tak
pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia belum tahu bahwa kelak ia akan merindukan pemandangan
ini ketika berada jauh di perantauan. Ia akan merindukan suara burung pipit di
pagi hari, aroma tanah basah setelah hujan, dan hamparan sawah yang hijau
terbentang luas. Ia akan merindukan rumah bambu sederhana ini lebih dari apa
pun di dunia.
Tapi itu semua masih jauh di masa depan.
Saat ini, Arga hanyalah seorang anak kecil yang harus
bersiap-siap ke sekolah. Ia bangkit, masuk ke dalam rumah, mengambil handuk dan
gayung, lalu menuju ke sumur di belakang rumah untuk mandi.
Sekolah dasar di Desa Sumber Langit bernama SD Negeri
Sumber Langit. Sekolah itu terletak hampir tiga kilometer dari rumah Arga, di ujung
desa dekat perbatasan dengan desa tetangga. Bangunannya sederhana, hanya
beberapa ruang kelas dari papan kayu dengan atap genting yang sudah banyak
berlumut. Halamannya luas, dengan dua pohon besar yang memberikan keteduhan di
siang hari.
Setiap pagi, Arga harus berjalan kaki melewati pematang
sawah yang sempit, jalan tanah yang berdebu atau becek tergantung musim, dan
sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu tua yang sudah mulai rapuh.
Jembatan itu hanya cukup untuk dilalui pejalan kaki atau sepeda, dengan
papan-papan kayu yang jika diinjak mengeluarkan bunyi "krek-krek"
seperti akan patah.
Hari itu matahari baru saja terbit ketika Arga berangkat
bersama beberapa temannya. Mereka berjalan berkelompok, berbincang dan bercanda
di sepanjang jalan. Ada Bima, anak gemuk yang suka makan dan paling senang
bercerita tentang makanan. Ada Joko, anak yang pendiam tapi pintar memancing di
sungai. Ada Wati dan Siti, dua perempuan kembar yang selalu kompak dalam segala
hal. Kadang-kadang ada juga beberapa anak lain yang bergabung, tergantung siapa
yang berangkat lebih pagi.
Tas Arga sangat sederhana, terbuat dari kain bekas yang
dijahit oleh ibunya menjadi bentuk tas. Warna aslinya mungkin biru, tapi
sekarang sudah pudar menjadi abu-abu kebiruan. Beberapa bagian sudah ditambal
dengan kain perca berbagai warna. Tali tasnya sudah beberapa kali putus dan
disambung, sehingga panjangnya tidak sama.
Di dalam tas itu hanya ada beberapa buku tulis yang sudah
dihapus dan dipakai ulang beberapa kali, sebuah pensil pendek yang sudah sering
diraut hingga hampir habis, sebuah penghapus kecil yang sudah aus, dan bekal
makanan sederhana: nasi dengan sedikit sayur dan sambal, dibungkus daun pisang.
Di tengah perjalanan, Bima yang paling cerewet mulai
bertanya-tanya.
"Ga, kamu nggak capek jalan jauh setiap hari?"
tanyanya sambil terengah-engah. Badannya yang gemuk membuatnya cepat lelah,
apalagi berjalan di pematang sawah yang naik turun.
Arga menggeleng dengan mantap. "Nggak capek. Aku malah
senang."
"Senang?" Bima mengerutkan dahi, tidak mengerti.
"Senang apanya?"
Arga menunjuk ke arah sekolah yang terlihat kecil di
kejauhan. Di balik gedung sekolah itu, terlihat bukit-bukit hijau yang
menjulang dengan awan-awan putih bergelayut manis di puncaknya.
"Karena di sana aku bisa belajar banyak hal. Kata
guru, dengan belajar, kita bisa tahu banyak hal tentang dunia."
Bima tertawa kecil, nada tawanya agak mengejek.
"Belajar itu membosankan. Aku lebih suka main di sungai, mancing, atau
nyari belut di sawah."
Beberapa teman yang lain tertawa mendengar celetukan Bima.
Mereka kebanyakan setuju dengan Bima. Belajar dianggap membosankan, sementara
bermain jauh lebih menyenangkan.
Arga tidak menjawab. Ia justru terus berjalan dengan
langkah ringan, sesekali menoleh ke kanan kiri menikmati pemandangan. Baginya,
setiap perjalanan ke sekolah adalah petualangan kecil yang menyenangkan. Ia
suka melihat capung beterbangan di atas sawah, atau burung-burung kecil yang
mandi di genangan air. Ia suka menghitung jenis tanaman yang tumbuh di pinggir
jalan, atau memperhatikan kehidupan semut-semut yang berbaris rapi membawa
makanan.
Ketika mereka melewati jembatan kayu yang biasa mereka
lalui, tiba-tiba Wati yang paling penakut berteriak.
"Awas! Papannya goyang!"
Benar saja, salah satu papan kayu di jembatan itu sudah
longgar. Jika diinjak di ujung yang salah, papan itu bisa terbalik dan membuat
orang terjatuh ke sungai di bawahnya. Sungai itu tidak terlalu dalam, tapi
airnya cukup deras dan penuh batu-batu besar.
Mereka berhenti, bingung harus bagaimana. Bima yang paling
gemuk mulai panik.
"Gimana dong? Aku nggak berani lewat."
Joko, yang paling tenang di antara mereka, maju ke depan.
Ia mengamati jembatan itu dengan saksama, mencari tahu bagian mana yang aman
untuk dilewati.
"Kita harus lewat satu-satu. Pegangan erat-erat di
tali bambu ini." Katanya sambil menunjuk tali bambu yang berfungsi sebagai
pegangan di sisi jembatan.
Satu per satu mereka menyeberang dengan hati-hati. Joko
paling depan, menunjukkan jalan yang aman. Disusul Wati dan Siti yang
berpegangan tangan erat. Kemudian Bima, yang hampir terjatuh karena badannya
yang berat membuat papan bergoyang lebih keras. Arga paling belakang,
memastikan tidak ada yang tertinggal atau kesulitan.
Setelah semua berhasil menyeberang, mereka menghela napas
lega. Bima langsung duduk di rerumputan, mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Aku hampir jatuh tadi!" katanya sambil memegangi
dadanya.
Mereka tertawa bersama, melepaskan ketegangan.
Perjalanan dilanjutkan. Mereka melewati kebun-kebun
penduduk, sawah-sawah yang mulai menguning, dan beberapa rumah penduduk yang
masih sepi karena penghuninya sudah pergi ke sawah atau ke pasar. Anjing-anjing
kampung menggonggong dari kejauhan, tapi tidak berani mendekat karena sudah
kenal dengan anak-anak ini.
Ketika mereka sampai di sekolah, bel masuk baru saja
berbunyi. Mereka berlari menuju kelas masing-masing, tidak ingin terlambat.
Sekolah itu sangat sederhana. Bangunannya dari papan kayu
yang catnya sudah mulai pudar. Lantainya dari semen kasar yang di beberapa
tempat sudah retak-retak. Atapnya dari genting yang jika hujan turun, sering
bocor di beberapa titik. Murid-murid harus pintar-pintar memilih tempat duduk
agar tidak kehujanan saat pelajaran berlangsung.
Ruang kelas Arga tidak terlalu besar. Mungkin hanya cukup
untuk dua puluh murid, tapi diisi oleh dua puluh lima sampai tiga puluh anak.
Bangku dan meja dari kayu yang sudah tua, dengan coretan-coretan bekas
murid-murid sebelumnya. Papan tulisnya dari papan hitam yang sudah mulai
keputihan di beberapa bagian, kapur tulisnya sering habis dan harus dibeli
sendiri oleh murid.
Namun di tempat itulah banyak mimpi kecil tumbuh. Di tempat
itulah anak-anak desa belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengenal dunia
yang lebih luas melalui buku-buku pelajaran yang terbatas.
Di dalam kelas, Arga selalu duduk di bangku paling depan.
Bukan karena ia murid terkecil, tapi karena ia ingin dekat dengan guru dan
papan tulis. Ia ingin bisa melihat dan mendengar dengan jelas semua yang
diajarkan.
Pak Darma, guru kelasnya, sudah siap di depan kelas dengan
buku pegangan di tangannya. Pak Darma adalah guru yang sudah tua, mungkin
usianya sudah mendekati lima puluh tahun. Rambutnya sudah mulai memutih di
beberapa bagian, dan kacamatanya tebal dengan bingkai hitam yang sudah kusam.
Tapi semangatnya mengajar tidak pernah pudar.
"Hari ini kita akan belajar tentang Indonesia."
Katanya memulai pelajaran. "Indonesia adalah negara kita. Negara yang
luas, dari Sabang sampai Merauke."
Ia lalu membuka peta besar yang digantung di dinding. Peta
itu sudah tua dan robek di beberapa bagian, tapi masih bisa dilihat dengan
jelas. Pak Darma menunjuk titik-titik di peta, menjelaskan nama-nama pulau, ibu
kota provinsi, dan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia.
Arga memperhatikan setiap kata yang diucapkan Pak Darma
dengan penuh perhatian. Matanya mengikuti ke mana pun jari Pak Darma menunjuk.
Pikirannya membayangkan bagaimana rasanya berada di tempat-tempat yang
disebutkan: Jakarta yang katanya penuh gedung pencakar langit, Surabaya dengan
kotanya yang sibuk, Bali dengan pantainya yang indah, Papua dengan alamnya yang
masih perawan.
Ia begitu terpesona sampai tidak sadar bahwa pelajaran
sudah selesai. Pak Darma menutup buku dan berkata, "Itu saja untuk hari
ini. Besok kita lanjutkan lagi."
Murid-murid berhamburan keluar kelas untuk istirahat.
Mereka membawa bekal masing-masing, duduk di bawah pohon atau di teras kelas,
makan bersama sambil bercanda.
Arga tetap di dalam kelas. Ia membuka buku catatannya,
membaca ulang apa yang baru saja ia tulis. Tulisannya belum rapi, karena pensil
pendeknya sering membuat tangannya pegal. Tapi ia berusaha menulis sebaik
mungkin.
Ketika jam istirahat hampir habis, Pak Darma yang baru
kembali ke kelas melihat Arga masih duduk sendirian di bangku paling depan.
Anak itu sedang membaca buku pinjaman dari perpustakaan kecil sekolah, sebuah
buku tentang penjelajahan laut yang sudah lusuh.
"Arga," panggil Pak Darma.
Arga segera berdiri, meletakkan bukunya di atas meja.
"Iya, Pak."
"Kenapa kamu tidak istirahat di luar? Teman-temanmu
pada bermain."
Arga menjawab dengan polos, dengan nada suara yang mantap
meskipun masih kecil. "Saya ingin membaca buku ini, Pak. Pinjamannya hanya
boleh seminggu, saya ingin cepat selesai."
Pak Darma tersenyum. Ia mendekati Arga dan duduk di bangku
di depannya. "Buku apa itu?"
"Buku tentang pelaut, Pak. Cerita orang-orang yang
berlayar ke pulau-pulau jauh."
"Kamu suka membaca?"
"Suka sekali, Pak. Tapi bukunya sedikit di
perpustakaan."
Pak Darma mengangguk mengerti. Perpustakaan sekolah memang
sangat sederhana. Hanya satu rak buku kecil dengan koleksi yang terbatas.
Kebanyakan buku-buku sumbangan yang sudah tua dan lusuh.
"Kamu anak yang rajin, Arga. Bapak senang melihat
semangat belajarmu." Pak Darma menepuk pundak Arga dengan lembut.
"Teruskan semangat itu. Dengan belajar, kamu bisa meraih apa pun yang kamu
inginkan."
Arga tersenyum lebar, senang mendapat pujian dari gurunya.
"Terima kasih, Pak."
Pak Darma beranjak pergi, tapi beberapa langkah kemudian ia
berhenti dan menoleh. "Arga, nanti sore kamu ke rumah Bapak ya. Bapak punya
beberapa buku bekas dari keponakan Bapak di kota. Mungkin kamu suka."
Mata Arga berbinar-binar. "Sungguh, Pak?"
"Sungguh. Tapi kamu harus tetap rajin belajar."
"Iya, Pak. Arga janji."
Hari itu Arga tidak sabar menunggu waktu pulang sekolah. Ia
terus membayangkan buku-buku apa yang akan ia dapat dari Pak Darma. Mungkin
buku cerita? Atau buku pengetahuan? Atau mungkin buku pelajaran yang lebih
lengkap?
Apapun itu, ia sudah sangat bersyukur. Di desa yang serba
terbatas ini, sebuah buku adalah harta yang tak ternilai.
Pak Darma bukanlah guru biasa. Ia adalah salah satu guru
yang sudah lama mengajar di desa itu, mungkin lebih dari dua puluh tahun. Ia
datang ke Desa Sumber Langit ketika masih muda, dengan semangat membara untuk
mengabdi. Dan hingga rambutnya memutih, ia masih setia mengajar di sekolah
sederhana itu.
Banyak tawaran pindah ke kota yang datang padanya. Dengan
pengalaman dan kemampuannya, ia pasti bisa mendapatkan posisi yang lebih baik
di sekolah-sekolah kota. Tapi ia selalu menolak. Ia merasa terpanggil untuk
tetap di desa, mengajar anak-anak yang mungkin tidak akan mendapat pendidikan
yang layak jika tidak ada guru seperti dirinya.
"Desa ini membutuhkan guru." Katanya suatu kali
ketika ditanya kenapa tidak pindah. "Anak-anak di sini tidak kalah pintar
dari anak-anak kota. Mereka hanya kurang kesempatan. Tugas sayalah memberi
mereka kesempatan itu."
Pak Darma sering memperhatikan Arga di kelas. Anak itu
selalu duduk paling depan, selalu memperhatikan dengan saksama, selalu mencatat
dengan rapi, dan selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas. Ketika
teman-temannya mengantuk atau melamun, Arga tetap fokus. Ketika teman-temannya
malas mengerjakan PR, Arga selalu mengumpulkan tugas tepat waktu.
Suatu hari setelah pelajaran selesai, Pak Darma memanggil
Arga untuk tetap tinggal sebentar. Murid-murid lain sudah pulang, kelas menjadi
sepi.
"Arga, sini sebentar, Nak."
Arga mendekat, agak gugup. Apa mungkin ia melakukan
kesalahan? Tapi wajah Pak Darma tersenyum ramah, tidak menunjukkan tanda-tanda
kemarahan.
"Iya, Pak?"
Pak Darma mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah buku. Bukan
buku biasa, tapi buku yang cukup tebal dengan sampul yang masih bagus. Judulnya
"Kisah-Kisah Inspiratif dari Seluruh Dunia".
"Ini buat kamu." Kata Pak Darma sambil
menyerahkan buku itu.
Arga menerimanya dengan hati-hati, seolah memegang benda
yang sangat berharga. Matanya membelalak melihat buku itu. Sampulnya bergambar
orang-orang dari berbagai negara dengan pakaian tradisional mereka. Kertasnya
putih dan halus, bukan kertas buram seperti buku-buku pelajarannya.
"Ini... ini untuk saya, Pak?" tanyanya tidak
percaya.
"Iya. Bapak dapat dari keponakan di kota. Bapak pikir
kamu akan suka membaca buku ini. Ada banyak cerita tentang orang-orang biasa
yang berhasil meraih mimpi besar."
Arga membuka buku itu perlahan. Halaman pertamanya
bergambar seorang anak miskin dari Afrika yang kemudian menjadi dokter
terkenal. Ia membaca sekilas cerita itu, hatinya berdebar-debar.
"Terima kasih, Pak!" ucapnya dengan mata
berkaca-baca. "Terima kasih banyak."
Pak Darma tersenyum, hatinya hangat melihat antusiasme
murid kesayangannya itu. "Sama-sama, Arga. Kamu anak yang pintar, dan yang
lebih penting, kamu punya rasa ingin tahu yang besar. Itu modal yang sangat berharga."
Arga menunduk sedikit, merasa malu dipuji. "Saya hanya
ingin belajar, Pak. Saya ingin tahu banyak hal."
"Itu bagus. Orang yang ingin tahu akan terus belajar
sepanjang hidupnya." Pak Darma berdiri, berjalan ke jendela dan memandang
keluar. Halaman sekolah mulai sepi. Hanya ada beberapa anak yang masih bermain
di bawah pohon.
"Arga, boleh Bapak tanya sesuatu?"
"Silakan, Pak."
"Kamu punya mimpi? Mimpi tentang masa depanmu?"
Arga terdiam. Pertanyaan itu membuatnya berpikir. Mimpi?
Tentu ia punya mimpi. Tapi apakah mimpi itu masuk akal untuk anak desa
sepertinya?
"Saya... saya ingin menjadi orang pintar, Pak. Saya
ingin sekolah setinggi-tingginya." Jawabnya pelan.
Pak Darma mengangguk. "Itu mimpi yang bagus. Tapi
setelah itu? Setelah kamu sekolah tinggi, kamu mau jadi apa?"
Arga memandang ke luar jendela, ke arah sawah yang
terbentang luas di belakang sekolah. Angin sore bertiup pelan, membuat
pohon-pohon di halaman bergoyang lembut.
"Saya ingin... membantu desa ini, Pak." Jawabnya
akhirnya, dengan suara yang lebih mantap. "Desa kita ini tertinggal. Jalan
rusak, listrik sering mati, sekolah cuma sampai SD. Saya ingin suatu hari nanti
desa ini berubah."
Pak Darma tertegun. Ia tidak menyangka anak sekecil Arga
bisa memiliki pemikiran sebesar itu. Biasanya anak-anak seusianya hanya
memikirkan mainan atau jajan. Tapi anak ini, anak petani dari rumah bambu di
pinggir sawah, memikirkan masa depan desanya.
"Kamu ingin mengubah desa ini?"
"Iya, Pak. Tapi saya belum tahu caranya. Saya masih
kecil."
Pak Darma tersenyum bangga. Ia kembali duduk di depan Arga,
menatap mata anak itu dengan serius.
"Dengarkan Bapak, Arga. Usia tidak menentukan seberapa
besar mimpi seseorang. Banyak orang besar yang bermimpi sejak kecil. Yang
penting adalah kemauan untuk belajar dan bekerja keras mewujudkannya."
Arga mengangguk, menyimpan setiap kata Pak Darma dalam
hatinya.
"Kalau kamu terus belajar, suatu hari nanti kamu bisa
pergi jauh dari desa ini. Kamu bisa sekolah di kota, bahkan mungkin di luar
negeri. Kamu bisa belajar banyak hal yang tidak bisa dipelajari di sini."
Arga terdiam. Pergi dari desa? Meninggalkan tempat
kelahirannya? Ia belum pernah membayangkan itu sebelumnya. Bagaimana dengan
sawah? Bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dengan rumah bambunya?
Tapi Pak Darma sepertinya membaca kegelisahan itu. Ia
melanjutkan, "Pergi bukan berarti melupakan, Arga. Justru dengan pergi,
kamu bisa belajar banyak hal yang nantinya bisa kamu bawa pulang untuk
membangun desa ini. Seperti para perantau yang sukses, mereka pulang dengan
ilmu dan pengalaman baru."
Arga mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak."
"Bapak percaya, suatu hari nanti kamu akan menjadi
orang yang membawa perubahan bagi desa ini. Bapak sudah melihatnya dari caramu
belajar, dari pertanyaan-pertanyaanmu, dari kepedulianmu pada sekitarmu."
Mendengar kata-kata itu, Arga merasa terharu. Tidak pernah
ada orang yang mengatakan hal seperti itu padanya. Bahwa ia, anak kecil dari
keluarga miskin, bisa menjadi seseorang yang berarti bagi desanya.
"Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha."
Pak Darma berdiri, mengusap kepala Arga dengan lembut.
"Bapak yang berterima kasih, Arga. Karena kamu mengingatkan Bapak mengapa
dulu Bapak memilih menjadi guru. Untuk melihat murid-murid seperti kamu, yang
punya mimpi dan semangat."
Sore itu Arga pulang dengan perasaan yang berbeda. Di
tangannya, ia memegang buku pemberian Pak Darma dengan erat. Di dalam hatinya,
ia menyimpan kata-kata gurunya dengan dalam.
Ia berjalan menyusuri pematang sawah seperti biasa.
Matahari mulai condong ke barat, membuat bayang-bayangnya memanjang di hamparan
sawah. Angin sore membawa kesejukan yang menenangkan. Burung-burung pipit
beterbangan pulang ke sarangnya.
Arga berhenti sejenak di tengah pematang. Ia memandang
desanya dari kejauhan. Rumah-rumah sederhana dengan asap dapur yang mulai
mengepul. Sawah-sawah hijau yang bergelombang ditiup angin. Bukit-bukit di
kejauhan yang mulai diselimuti kabut tipis.
Desa yang indah. Desa yang damai. Tapi juga desa yang
tertinggal.
Di dalam hatinya, Arga berbisik pelan. "Suatu hari
nanti, aku akan membuat desa ini lebih baik. Aku janji."
Langkahnya kemudian dilanjutkan. Menuju rumah bambu di
pinggir sawah, tempat ibunya menunggu dengan sayur-mayur sisa dagangan dan
pertanyaan tentang bagaimana sekolahnya hari ini.
Ia tidak tahu bahwa kata-kata yang ia ucapkan sore itu akan
menjadi sumpah yang akan menuntun hidupnya bertahun-tahun kemudian. Ia tidak
tahu bahwa perjalanan panjang sedang menanti. Ia tidak tahu bahwa ia akan
melewati banyak ujian, air mata, dan kepahitan sebelum bisa menepati janji itu.
Tapi satu hal yang pasti: benih mimpi itu sudah ditanam.
Dan tidak ada yang bisa mencabutnya.
Seiring bertambahnya usia, Arga mulai melihat banyak hal
yang sebelumnya tidak ia sadari. Dunia tidak hanya seindah yang ia bayangkan
ketika masih kecil. Ada sisi-sisi gelap yang mulai ia pahami, ada
kenyataan-kenyataan pahit yang mulai ia mengerti.
Suatu sore, ketika ia berusia sembilan tahun, ia berjalan
melewati jalan desa yang rusak bersama ibunya. Mereka baru pulang dari pasar,
tempat Bu Ratri menjual sayur. Hasil hari itu tidak terlalu baik, hanya cukup
untuk membeli sedikit beras dan lauk seadanya.
Di tengah jalan, mereka melihat seorang warga yang
mengendarai sepeda ontel hampir terjatuh. Sepeda itu oleng setelah masuk ke lubang
besar di tengah jalan yang tertutup genangan air. Untung saja warga itu masih
bisa menguasai sepedanya, meskipun sempat terhuyung-huyung.
"Awas, Pak!" teriak Bu Ratri refleks.
Warga itu, seorang petani tua, menghentikan sepedanya dan
melihat ke belakang. Ia menghela napas lega karena selamat, tapi kemudian
menggeleng-geleng melihat lubang di jalan.
"Jalan begini terus, nggak pernah diperbaiki."
Gerutunya kesal. "Kalau hujan, makin parah. Lubangnya makin dalam,
genangan air di mana-mana."
Arga memperhatikan lubang itu. Lubang besar dengan air
keruh di dalamnya, bekas roda kendaraan yang terperosok. Di sekelilingnya,
jalan tanah merah becek dan licin.
Ia bertanya kepada ibunya setelah warga itu pergi.
"Bu, kenapa jalan desa kita rusak sekali?"
Bu Ratri menghela napas panjang. Pertanyaan anaknya sering
kali sulit dijawab, terutama jika menyangkut hal-hal seperti ini. Tapi ia
berusaha menjelaskan sebisanya.
"Karena desa kita jarang diperhatikan, Le.
Diperhatikan oleh pemerintah, maksudnya."
"Pemerintah? Pemerintah itu apa, Bu?"
Bu Ratri berpikir mencari kata-kata yang mudah dimengerti.
"Pemerintah itu... orang-orang yang mengurus negara. Mereka punya uang
untuk membangun jalan, sekolah, rumah sakit. Tapi mereka jarang memperhatikan
desa-desa kecil seperti kita."
"Kenapa tidak diperhatikan?"
"Mungkin karena desa kita kecil, jauh dari kota.
Mungkin juga karena kita tidak punya orang penting yang bisa menyuarakan
kepentingan kita."
Arga terdiam. Ia mulai mengerti. Desa mereka kecil, miskin,
dan jauh dari pusat kekuasaan. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang
memperjuangkan.
Beberapa hari kemudian, pelajaran serupa ia dapatkan dari
kejadian lain.
Malam itu listrik padam, seperti biasa. Keluarga Arga harus
menggunakan lampu minyak tanah untuk penerangan. Cahaya lampu minyak yang
temaram hanya cukup untuk menerangi ruang tamu tempat mereka duduk-duduk.
Arga sedang membaca buku pemberian Pak Darma di bawah
cahaya lampu minyak itu. Matanya harus bekerja ekstra keras karena cahaya yang
redup. Ia sudah memicingkan mata, mendekatkan buku ke sumber cahaya, tapi tetap
saja sulit.
"Ibu, kenapa listrik di desa kita sering padam?"
tanyanya.
Bu Ratri yang sedang menjahit baju tetangga untuk tambahan
penghasilan, berhenti sejenak. Jarum di tangannya berhenti menusuk kain.
"Konon katanya, listrik kita hanya dapat kiriman dari
desa tetangga. Kalau pasokan ke desa tetangga kurang, kita yang
dikorbankan." Jawabnya.
"Kenapa kita yang dikorbankan?"
"Karena kita kecil, Le. Karena suara kita tidak
didengar."
Arga mengangguk pelan. Pola yang sama. Desa mereka selalu
menjadi yang terakhir, yang paling tidak penting.
Beberapa tahun kemudian, ketika Arga duduk di kelas enam
SD, ia menyaksikan fenomena lain yang membuatnya semakin paham tentang
ketertinggalan desanya.
Pemuda-pemuda desa mulai pergi merantau satu per satu.
Mereka pergi ke kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bali. Ada yang jadi
buruh pabrik, ada yang jadi pembantu rumah tangga, ada yang jadi kuli bangunan,
ada pula yang tidak jelas pekerjaannya.
Satu per satu rumah-rumah di desa mulai ditinggalkan oleh
anak-anak mudanya. Yang tinggal hanya orang tua dan anak-anak kecil. Para orang
tua menua sendirian di rumah-rumah bambu yang semakin lapuk. Anak-anak tumbuh
tanpa sosok kakak atau orang dewasa yang bisa menjadi panutan.
Di lapangan desa, Arga dan Bima yang kini sudah remaja
duduk di bawah pohon besar. Mereka melihat beberapa pemuda yang sedang
bersiap-siap berangkat ke kota. Ada tangis perpisahan, ada pesan-pesan
terakhir, ada pelukan yang lama.
"Lihat itu, Ga." Bima berkata dengan nada getir.
"Makin banyak yang pergi. Nanti desa kita tinggal orang-orang tua dan
anak-anak."
Arga mengangguk. "Mereka pergi karena di sini tidak
ada pekerjaan."
"Iya. Sawah hanya bisa menghidupi petani. Anak-anak
muda mana mau jadi petani? Kerja keras, hasil tidak menentu."
"Sebenarnya kalau desa ini maju, mereka tidak perlu
pergi." Gumam Arga.
Bima menoleh. "Maksudmu?"
"Maksudku, kalau di sini ada pabrik, atau ada usaha
lain selain pertanian, mereka bisa bekerja di sini. Tidak perlu jauh-jauh ke
kota."
Bima tertawa getir. "Mimpi, Ga. Desa kita ini sudah
dilupakan. Mau sampai kapan pun, nggak akan ada pabrik di sini. Nggak akan ada
kemajuan."
Arga tidak menjawab. Tapi dalam hatinya, ia tidak setuju.
Ia tidak percaya bahwa desanya akan selamanya terlupakan. Ia percaya bahwa
selama masih ada orang yang peduli, selama masih ada orang yang berjuang,
perubahan pasti bisa terjadi.
Malam harinya, ketika semua sudah tidur, Arga keluar dari
rumah. Ia duduk di beranda bambu, memandangi langit malam yang cerah. Bintang-bintang
bertaburan, berkelap-kelip indah. Bulan sabit menggantung di ufuk barat,
memberikan cahaya perak yang lembut.
Ia teringat ayahnya. Pak Wiryo sudah mulai renta. Tubuhnya
mulai bungkuk, langkahnya mulai lambat. Tapi ia masih tetap ke sawah setiap
hari. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta lebih.
"Pak, kenapa kita selalu bekerja di sawah?"
tanyanya dulu.
"Karena sawah ini yang memberi kita makan."
"Apakah aku juga harus jadi petani seperti Bapak
nanti?"
"Kalau kamu mau jadi petani, tidak ada yang salah.
Tapi kalau kamu punya mimpi yang lebih besar, kejarlah mimpi itu."
Arga menarik napas panjang. Ia memandangi desa dalam gelap
malam. Rumah-rumah yang hanya diterangi lampu minyak temaram. Sawah yang sunyi.
Jalan yang rusak. Semua tampak tenang, tapi juga tampak... sedih.
"Ayah..." bisiknya pelan. "Aku tidak akan
membiarkan desa ini terus terlupakan. Aku tidak tahu caranya, tapi aku akan
berusaha."
Ia tidak tahu bahwa beberapa tahun kemudian, ujian terbesar
dalam hidupnya akan datang. Ia tidak tahu bahwa ia akan kehilangan orang yang
paling ia cintai. Tapi tekadnya sudah bulat. Mimpi itu sudah menjadi bagian
dari dirinya.
Dan tidak ada yang bisa memadamkannya.
Tahun-tahun berlalu seperti aliran sungai yang tenang. Arga
tumbuh menjadi remaja. Ia kini duduk di kelas dua SMP di kecamatan, karena di
desanya hanya ada sekolah dasar. Setiap pagi ia harus naik sepeda ontel sejauh
lima belas kilometer ke sekolah, melewati jalanan yang naik turun, kadang
becek, kadang berdebu.
Perjalanan itu melelahkan, tapi ia tidak pernah mengeluh.
Ia selalu berangkat pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit. Kadang ia harus
menuntun sepedanya di jalan yang menanjak, kadang ia harus berhati-hati di
jalan yang licin. Tapi semangatnya tidak pernah surut.
Pak Wiryo sudah semakin tua. Tubuhnya mulai renta,
tenaganya mulai berkurang. Tapi ia masih tetap ke sawah setiap hari, meskipun
kini ia hanya mampu mengolah setengah dari sawah yang dulu ia garap.
Suatu malam, Arga duduk di depan rumah bersama ayahnya.
Langit desa sangat cerah malam itu. Tidak ada polusi cahaya dari lampu-lampu
kota, sehingga bintang-bintang terlihat begitu banyak. Galaksi Bimasakti
membentang dari utara ke selatan, seperti sungai susu di langit.
Arga bertanya pelan, suaranya lirih di tengah kesunyian
malam.
"Pak, apakah desa kita bisa berubah?"
Pak Wiryo menoleh. Matanya yang mulai rabun masih bisa
melihat wajah anaknya dengan jelas di bawah cahaya bintang.
"Maksudmu?"
"Supaya jalan tidak rusak lagi. Supaya listrik tidak sering
padam. Supaya sekolah lebih bagus. Supaya anak-anak muda tidak perlu pergi
merantau."
Pak Wiryo tersenyum kecil. Senyum yang getir, tapi juga
penuh harapan.
"Perubahan tidak datang begitu saja, Nak."
Jawabnya bijak. "Perubahan butuh perjuangan. Butuh orang-orang yang berani
bermimpi dan berani berjuang."
"Lalu bagaimana caranya?"
"Harus ada orang yang berani memperjuangkannya. Orang
yang tidak hanya diam melihat keadaan. Orang yang mau mengambil risiko, mau
bekerja keras, mau berkorban."
Arga memandang langit. Bintang-bintang berkelap-kelip
seolah memberi isyarat.
"Ayah percaya suatu hari nanti akan ada orang seperti
itu di desa kita?"
Pak Wiryo terdiam cukup lama. Lalu ia menatap anaknya
dengan pandangan yang dalam.
"Ayah percaya, Nak. Dan Ayah berharap, orang itu
adalah kamu."
Arga terkejut. "Saya? Tapi saya hanya anak petani
biasa."
"Justru karena kamu anak petani, kamu tahu bagaimana
rasanya hidup susah. Kamu tahu bagaimana rasanya kekurangan. Kamu tahu
bagaimana rasanya dilupakan. Itu yang akan membuatmu lebih peduli, lebih
berjuang, lebih mengerti apa yang dibutuhkan desa ini."
Arga terdiam. Kata-kata ayahnya meresap jauh ke dalam
hatinya. Ia memang anak petani. Ia memang hidup dalam keterbatasan. Tapi justru
itulah yang membuatnya tahu persis apa yang salah dengan desanya.
"Kalau Ayah bilang begitu, apa Ayah tidak ingin saya
menjadi orang sukses di kota? Hidup enak, punya rumah besar, mobil bagus?"
Pak Wiryo tersenyum. Tersenyum dengan bijak.
"Ayah ingin kamu sukses, Nak. Tapi sukses bukan hanya
soal harta. Sukses yang sejati adalah ketika kamu bisa bermanfaat bagi orang
lain, ketika kamu bisa membantu mereka yang membutuhkan. Kalau kamu sukses di
kota, hanya kamu dan keluargamu yang menikmati. Tapi kalau kamu berhasil
membangun desa ini, semua orang akan merasakan manfaatnya."
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi Arga. Di
bawah langit yang penuh bintang, di depan rumah bambu yang sederhana, seorang
ayah menanamkan mimpi besar pada anaknya.
Mimpi yang mungkin terlalu besar untuk anak petani
sepertinya. Mimpi yang mungkin akan membuatnya melalui jalan yang panjang dan
berliku. Tapi mimpi itu sudah ditanam, dan tidak ada yang bisa mencabutnya.
Suatu pagi, ketika Arga libur sekolah, ia memutuskan untuk
ikut ayahnya ke sawah. Bukan sekadar menemani, tapi benar-benar membantu. Ia
ingin merasakan bagaimana beratnya pekerjaan yang dilakukan ayahnya setiap
hari.
Mereka berangkat pagi-pagi sekali. Matahari belum muncul,
udara masih dingin menusuk. Kabut tipis masih menyelimuti sawah-sawah, membuat
segalanya tampak misterius. Di kejauhan, ayam jantan berkokok bersahutan.
Sesampainya di sawah, Pak Wiryo mulai bekerja. Ia
mencangkul tanah dengan pelan tetapi pasti. Gerakannya terukur, tidak
terburu-buru. Cangkulnya membelah tanah, membalikkannya, lalu memecah
gumpalan-gumpalan besar menjadi lebih halus.
Arga memperhatikan ayahnya. Melihat keringat yang mulai
membasahi punggung bapaknya, melihat otot-otot tangannya yang menegang setiap
kali mengayunkan cangkul.
"Pak, kenapa Bapak selalu bekerja keras?" tanya
Arga tiba-tiba.
Pak Wiryo berhenti sejenak. Ia menyandarkan badannya pada
gagang cangkul, lalu menatap sawah di depannya yang terbentang luas. Sawah yang
mungkin sudah ribuan kali ia lalui, yang sudah ia kenal setiap sudutnya.
"Karena hidup tidak akan memberi apa-apa kepada orang
yang malas, Le." Jawabnya pelan. "Lihat sawah ini. Kalau kita diam
saja, tidak pernah mencangkul, tidak pernah menanam, tidak pernah merawat, apa
yang akan terjadi?"
"Ya, tidak akan ada padi yang tumbuh."
"Betul. Tidak akan ada padi, tidak akan ada panen,
tidak akan ada beras untuk dimakan. Sama seperti hidup. Kalau kita diam saja,
tidak mau berusaha, tidak mau bekerja keras, maka kita tidak akan mendapatkan
apa-apa."
Pak Wiryo lalu berjalan ke arah Arga dan menepuk bahunya.
"Kalau kamu ingin berhasil, kamu harus bekerja lebih
keras daripada orang lain. Kamu harus rela berkorban, rela capek, rela
berkeringat. Tidak ada kesuksesan yang datang dengan sendirinya. Semua butuh
perjuangan."
Arga mengangguk, mencerna kata-kata ayahnya.
"Tapi kerja keras saja tidak cukup, Le." Lanjut
Pak Wiryo. "Harus pintar juga. Harus punya ilmu. Makanya Ayah selalu
bilang, belajarlah yang rajin. Karena dengan ilmu, kerja kerasmu akan lebih
berarti."
Mereka kemudian bekerja bersama. Arga membantu membersihkan
rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela padi. Meskipun tangannya mulai
lecet dan pegal, ia terus bekerja. Ia ingin membuktikan pada ayahnya bahwa ia
bisa.
Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke barat,
mereka pulang. Badan terasa letih, tapi hati puas. Di perjalanan pulang, mereka
melewati pematang sawah yang sempit. Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa
kesejukan yang menyegarkan setelah seharian bekerja di bawah terik matahari.
"Le, Ayah mau pesan sesuatu." Kata Pak Wiryo
tiba-tiba.
"Iya, Pak?"
"Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah lupa dari
mana kamu berasal. Jangan pernah malu mengaku anak petani. Karena dari situlah
kamu belajar tentang kehidupan. Dari situlah kamu belajar arti kerja keras,
kejujuran, dan kesederhanaan."
Arga menatap ayahnya. Ada sesuatu dalam nada suara ayahnya
yang membuatnya merasa... haru. Seolah-olah ayahnya sedang menyampaikan pesan
terakhir.
"Ayah kenapa bicara seperti itu?"
Pak Wiryo tersenyum. "Tidak apa-apa. Ayah hanya ingin
kamu ingat."
Mereka berjalan dalam diam sampai tiba di rumah. Bu Ratri
sudah menunggu dengan masakan sederhana yang mengepul asapnya.
Malam itu mereka makan bersama dengan hangat. Tidak ada
yang tahu bahwa ini adalah salah satu malam terakhir mereka makan bersama
sebagai keluarga utuh. Tidak ada yang tahu bahwa takdir telah menyiapkan ujian
terbesar yang akan mengubah segalanya.
Arga tidur dengan perasaan damai malam itu. Ia tidak tahu
bahwa ketika ia bangun besok pagi, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Ia tidak tahu bahwa pelajaran dari ayahnya hari itu akan
menjadi warisan terakhir yang ia terima.
BAGIAN II
Musim hujan datang lebih lama dari biasanya di Desa Sumber
Langit tahun itu. Langit hampir setiap hari tertutup awan kelabu yang tebal.
Angin bertiup kencang membawa udara dingin yang menusuk kulit, bahkan hingga ke
tulang. Hujan turun hampir setiap hari, kadang gerimis, kadang deras disertai
petir yang menggelegar.
Sawah-sawah yang dulu hijau kini terlihat seperti lautan
air yang keruh. Padi-padi yang hampir panen terendam, hanya menyisakan
ujung-ujungnya saja yang masih terlihat di atas permukaan air. Petani-petani
berdiri di pinggir sawah dengan wajah murung, tidak bisa berbuat banyak menghadapi
amukan alam.
Pak Wiryo berdiri di pinggir sawah miliknya sambil menatap
tanaman padi yang mulai menguning sebelum waktunya. Padahal seharusnya panen
masih dua minggu lagi. Tapi karena terlalu banyak air, akar-akarnya mulai
membusuk. Daun-daunnya menguning, lalu layu.
Arga berdiri di samping ayahnya, ikut memandangi
pemandangan yang menyedihkan itu. Hujan gerimis turun, membuat mereka basah
kuyup. Tapi sepertinya tidak ada yang peduli.
"Pak, kenapa padi kita seperti itu?" tanya Arga
dengan cemas. Ia sudah cukup besar untuk mengerti arti gagal panen bagi
keluarganya.
Pak Wiryo menghela napas panjang. Napas yang berat, seperti
membawa seluruh beban kehidupan di pundaknya.
"Karena terlalu banyak air, Le. Akarnya tidak kuat.
Padinya busuk sebelum sempat dipanen."
Beberapa petani lain juga berdiri di pematang sawah
masing-masing. Wajah mereka terlihat murung, lesu, tanpa semangat. Sebagian
mencoba menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan, memotong padi-padi yang masih
hijau untuk dijadikan pakan ternak. Sebagian lagi hanya diam, pasrah pada
keadaan.
"Kalau begini terus, panen kita gagal." Kata
salah seorang petani dengan suara parau. "Hutang di toko pupuk belum
lunas, ini malah gagal panen."
Petani lain menimpali, "Iya. Saya juga masih punya
utang untuk beli bibit. Gimana mau bayar kalau begini jadinya?"
Pak Wiryo tidak menjawab. Ia hanya menatap hamparan sawah
yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarganya. Sawah yang diwariskan
turun-temurun dari kakeknya. Sawah yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup
keluarganya. Kini hanya tinggal genangan air dan padi-padi yang membusuk.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Hujan tidak
berhenti. Sebagian padi benar-benar membusuk sebelum sempat dipanen. Yang bisa
diselamatkan hanya sedikit, itu pun kualitasnya jelek, tidak laku dijual dengan
harga bagus.
Pendapatan keluarga Pak Wiryo hampir tidak ada. Uang
tabungan yang disimpan untuk biaya sekolah Arga mulai terkuras untuk kebutuhan
sehari-hari.
Di rumah, Bu Ratri mulai menghitung uang yang tersisa. Ia
duduk di dekat lampu minyak, menghitung lembar demi lembar uang receh dengan
tangan gemetar.
"Wiryo..." panggilnya pelan dengan suara hampir
berbisik, takut didengar Arga.
Pak Wiryo yang sedang berbaring karena kelelahan menoleh.
"Iya, Bu?"
"Uang kita tinggal sedikit." Kata Bu Ratri dengan
suara bergetar. "Mungkin hanya cukup untuk makan seminggu. Itu pun harus
diirit."
Pak Wiryo hanya terdiam. Ia tahu apa artinya itu.
Kesulitan. Keterbatasan yang lebih parah dari sebelumnya. Musim kemarau panjang
tahun lalu, disusul musim hujan yang terlalu deras tahun ini. Nasib petani
memang selalu bergantung pada alam. Dan alam sedang tidak bersahabat.
Beberapa hari kemudian, untuk pertama kalinya dalam
hidupnya, Arga merasakan lapar yang sesungguhnya. Bukan lapar biasa setelah
bermain, tapi lapar karena perut kosong dan tidak ada makanan.
Di dapur, persediaan beras tinggal sedikit. Bu Ratri
terpaksa mencampur nasi dengan singkong agar lebih awet. Lauk hanya garam dan
sambal. Kadang hanya nasi dengan kuah air panas diberi garam.
Arga tidak mengeluh. Ia melihat sendiri bagaimana orang
tuanya berjuang. Ibunya bahkan sering tidak makan, mengaku sudah kenyang,
padahal sebenarnya hanya menyisakan makanan untuknya.
Suatu malam, Arga terbangun karena haus. Saat berjalan ke
dapur untuk mengambil air, ia melihat ibunya duduk sendirian di ruang tamu,
menangis dalam diam. Air matanya jatuh membasahi pipi yang mulai kurus.
Arga ingin menghampiri, ingin memeluk ibunya. Tapi ia tahu
ibunya pasti malu jika tahu ia menangis dilihat anaknya. Maka ia diam-diam
kembali ke kamar, berbaring, dan menangis dalam hati.
Malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri: suatu hari
nanti, ia akan membuat ibunya tidak perlu menangis lagi karena kekurangan.
Beberapa minggu kemudian, kehidupan keluarga Arga mulai
terasa lebih berat. Kondisi ekonomi semakin parah. Pak Wiryo terpaksa menjual
kambing satu-satunya untuk membeli beras dan membayar hutang di warung. Bu
Ratri harus bekerja lebih keras, selain berjualan sayur, ia juga menerima
cucian dari tetangga.
Arga masih tetap bersekolah. Tapi kadang perutnya
keroncongan di kelas, membuatnya sulit berkonsentrasi. Kepalanya sering pusing,
badannya lemas. Ia harus menahan kantuk dan lapar saat pelajaran berlangsung.
Suatu pagi Arga bersiap pergi ke sekolah seperti biasa. Ia
memasukkan buku ke dalam tasnya yang semakin lusuh. Pensilnya sudah hampir
habis, hanya tinggal sependek jari kelingking.
Bu Ratri memanggilnya dari dapur. "Arga, makan
dulu."
Arga datang ke dapur. Di atas meja hanya ada sepiring nasi
dan sedikit sayur. Nasi itu tidak banyak, mungkin hanya setengah porsi untuk
ukuran anak seusianya.
Arga memandang ibunya. "Ibu sudah makan?"
Bu Ratri tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan, senyum
yang menyembunyikan lapar. "Ibu nanti saja. Ibu belum terlalu lapar."
Arga tahu ibunya berbohong. Ia tahu ibunya selalu
mengorbankan diri untuknya. Ia tahu ibunya akan mengatakan sudah kenyang
meskipun sebenarnya belum makan seharian.
Arga mengambil sedikit nasi, hanya beberapa sendok.
"Arga tidak terlalu lapar, Bu. Ini saja cukup."
Bu Ratri menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu
Arga juga berbohong. Anaknya itu pasti lapar, tapi ia sengaja makan sedikit
agar ibunya bisa makan lebih banyak.
Tak ada yang berkata apa-apa. Mereka hanya saling memandang
dengan perasaan yang sama: cinta dan pengorbanan.
Arga berjalan menuju sekolah seperti biasa. Di tengah
perjalanan, ia bertemu Bima yang juga sedang dalam perjalanan ke sekolah dengan
sepeda bututnya.
"Ga, kamu sudah sarapan?" tanya Bima.
Arga mengangguk. "Udah, lah. Masa belum."
Namun sebenarnya perutnya masih kosong. Hanya beberapa
sendok nasi yang ia makan pagi itu, itu pun sudah dua jam yang lalu.
Di sekolah, pelajaran pertama adalah matematika. Guru
matematika mereka, Pak Suryanto, adalah guru yang tegas dan disiplin. Ia tidak
suka murid yang mengantuk atau tidak memperhatikan.
Arga berusaha tetap fokus pada pelajaran. Ia mencatat,
memperhatikan rumus-rumus yang dijelaskan di papan tulis. Tapi rasa lapar
membuat kepalanya terasa ringan, pandangannya kadang berkunang-kunang.
"Arga, coba kerjakan soal nomor tiga." panggil
Pak Suryanto tiba-tiba.
Arga berdiri, berjalan menuju papan tulis. Ia mengambil
kapur, tapi tangannya gemetar. Soal di papan tulis seperti berputar-putar di
depannya.
Tiba-tiba pandangannya gelap. Ia merasakan dunia berputar
cepat, lalu ia tidak tahu apa-apa lagi.
"Arga! Arga!" Suara-suara terdengar jauh.
Ketika Arga membuka mata, ia sudah berada di ruang UKS.
Tempat tidur kayu sederhana dengan bantal keras. Pak Darma duduk di sampingnya,
wajahnya tampak khawatir.
"Arga, kamu sadar?" tanya Pak Darma lega.
Arga mencoba duduk. Kepalanya masih pusing. "Saya...
saya kenapa, Pak?"
"Kamu pingsan di kelas. Kata teman-temanmu, kamu jatuh
waktu mengerjakan soal di papan tulis."
Arga mengingat kejadian itu samar-samar. Ya, ia ingat
tiba-tiba gelap, lalu tidak tahu apa-apa lagi.
"Arga, jujur pada Bapak. Kamu sudah makan?" tanya
Pak Darma dengan suara lembut tapi tegas.
Arga terdiam. Beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan.
Pak Darma menghela napas. Ia mengerti. Kemiskinan,
kelaparan, perjuangan hidup. Itu semua bukan hal asing baginya di desa ini.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan bekal makanan yang
dibawanya dari rumah. Sepiring nasi dengan lauk sederhana, tapi masih hangat.
"Ini, makan dulu."
Arga menolak. "Tapi itu makanan Bapak..."
Pak Darma tersenyum. "Bapak masih bisa makan nanti.
Kamu yang lebih membutuhkan sekarang. Makanlah, biar cepat pulih."
Arga menerima makanan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia
makan perlahan, menahan air mata yang ingin tumpah. Bukan karena lapar, tapi
karena tersentuh dengan kebaikan gurunya.
"Terima kasih, Pak." Ucapnya lirih.
"Tidak usah berterima kasih, Arga. Bapak hanya
melakukan kewajiban. Tapi kamu harus janji sama Bapak."
"Janji apa, Pak?"
"Janji bahwa kamu akan tetap semangat. Jangan biarkan
keadaan membuatmu putus asa. Teruslah berjuang."
Arga mengangguk mantap. "Saya janji, Pak."
Hari itu ia belajar satu hal penting: bahwa kebaikan bisa
datang dari siapa saja. Bahwa di tengah kesulitan, selalu ada tangan-tangan
yang siap menolong. Bahwa ia tidak sendiri dalam perjuangan ini.
Beberapa bulan kemudian, masalah baru muncul. Biaya sekolah
Arga di SMP mulai terasa semakin berat bagi keluarganya. Setiap bulan harus membayar
SPP, membeli buku, membeli seragam, membeli alat tulis. Semua itu membutuhkan
uang yang tidak sedikit.
Pak Wiryo sudah tidak bisa bekerja keras seperti dulu.
Kesehatannya mulai menurun. Batuk-batuk yang dulu hanya kadang-kadang, kini
menjadi lebih sering. Badannya semakin kurus, tenaganya semakin berkurang.
Suatu malam, ketika Arga sedang belajar di kamarnya yang
sempit, ia tidak sengaja mendengar percakapan orang tuanya di dapur. Dinding
bambu yang tipis membuat suara dari dapur terdengar jelas.
"Bagaimana kita membayar kebutuhan sekolah Arga?"
tanya Bu Ratri dengan suara cemas. "SPP bulan depan sudah harus dibayar.
Dia juga butuh sepatu baru, yang lama sudah bolong."
Pak Wiryo terdiam lama. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya
berat, penuh beban. "Saya tidak tahu, Bu. Hasil panen kemarin hanya cukup
buat bayar utang. Kambing sudah habis terjual. Apa lagi yang bisa kita
jual?"
"Mungkin kita bisa pinjam ke tetangga?"
"Siapa yang mau pinjami kita? Kita sudah punya utang
di mana-mana. Warung Bu Siti, toko Pak Karjo, bahkan ke sanak saudara juga
sudah."
Keheningan yang panjang. Lalu suara Pak Wiryo lagi, pelan
tapi terdengar jelas. "Kalau keadaan tidak membaik... mungkin Arga harus
berhenti sekolah sementara."
Jantung Arga seperti berhenti berdetak mendengar kata-kata
itu.
Berhenti sekolah?
Itu adalah hal yang paling ia takutkan. Sekolah adalah
satu-satunya harapannya. Satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan.
Satu-satunya cara untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Jika ia harus berhenti, lalu
bagaimana dengan semua impian itu? Bagaimana dengan janjinya pada ayahnya?
Bagaimana dengan cita-citanya membangun desa?
Ia mendengar ibunya menangis tersedu-sedu. "Tidak,
Wiryo. Jangan. Arga anak yang pintar. Dia punya masa depan. Jangan sampai kita
yang merusak masa depannya."
"Lalu bagaimana, Bu? Saya juga tidak tega. Tapi apa
daya kita? Perut harus diisi. Hidup harus jalan. Kalau terus begini, kita semua
bisa mati kelaparan."
Percakapan itu berakhir dengan tangis. Tangis keputusasaan.
Tangis ketidakberdayaan.
Arga tidak bisa tidur malam itu. Ia hanya terbaring di
dipan bambunya, menatap langit-langit gelap, memikirkan masa depannya yang
tiba-tiba terasa suram. Air mata mengalir tanpa suara. Tangisnya diam-diam,
tidak ingin didengar orang tuanya.
Keesokan harinya, Arga tetap pergi ke sekolah. Namun
pikirannya penuh kegelisahan. Di kelas, ia tidak bisa konsentrasi. Kata-kata
guru seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Setelah pelajaran selesai, ia duduk sendirian di bangku
kelas yang sudah kosong. Kelas itu sunyi. Hanya ada suara jangkrik dari luar
dan gemerisik daun tertiup angin.
Pak Darma, yang kebetulan masih ada di sekolah, melihat
Arga duduk sendiri di kelas. Ia masuk dan duduk di bangku di depannya.
"Kamu kelihatan murung hari ini. Ada masalah?"
Arga terdiam. Ia ragu untuk bercerita. Tapi melihat wajah
ramah Pak Darma yang sudah seperti bapaknya sendiri, ia akhirnya berkata pelan.
"Pak... mungkin saya harus berhenti sekolah."
Pak Darma terkejut. Meskipun ia sudah menduga ada masalah,
tapi mendengar langsung dari mulut Arga tetap saja mengejutkan.
"Kenapa?"
"Orang tua saya tidak punya uang. SPP belum dibayar.
Bapak saya sakit-sakitan. Mungkin saya harus bekerja membantu orang tua."
Pak Darma memandang Arga dengan serius. Matanya yang bijak
menatap dalam-dalam anak di depannya.
"Dengarkan Bapak, Arga."
Arga menatap gurunya.
"Kamu tidak boleh menyerah hanya karena keadaan sulit.
Hidup ini memang penuh ujian. Orang yang berhasil adalah mereka yang bisa
bertahan di tengah badai."
"Tapi bagaimana caranya, Pak? Saya tidak mau membebani
orang tua."
"Biarkan Bapak yang memikirkan caranya." Pak
Darma berdiri, berjalan ke jendela. "Ada beberapa program bantuan untuk
siswa berprestasi. Bapak akan coba daftarkan kamu. Tapi kamu harus janji tidak
akan menyerah dulu."
Arga mengangguk. "Saya janji, Pak."
"Bagus. Sekarang pulanglah. Istirahat yang cukup.
Jangan terlalu banyak berpikir. Serahkan semuanya pada Tuhan."
Arga pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang. Tapi di
dalam hatinya, kekhawatiran masih bersemayam. Ia tahu perjuangan belum selesai.
Bahkan mungkin baru dimulai.
Beberapa hari kemudian, seperti yang dijanjikan, Pak Darma
datang ke rumah Arga. Ia datang dengan sepeda tuanya, mengenakan kemeja lusuh
yang biasa ia pakai sehari-hari.
Pak Wiryo yang sedang terbaring karena sakit, mencoba
bangkit menyambut tamu. Ia agak canggung menerima guru di rumahnya yang
sederhana.
"Maaf, rumah kami sangat sederhana, Pak Guru."
Katanya dengan suara lemah.
Pak Darma tersenyum. Ia duduk di dipan bambu yang
ditawarkan Bu Ratri.
"Saya datang bukan untuk melihat rumah, Pak Wiryo.
Saya datang untuk bicara tentang Arga."
Bu Ratri yang sejak tadi cemas, segera mendekat. "Ada
apa dengan Arga, Pak Guru? Apa dia bermasalah di sekolah?"
"Tidak, tidak. Justru sebaliknya. Arga adalah murid
yang pintar dan rajin. Nilainya selalu bagus. Saya datang untuk membicarakan
masa depannya."
Pak Darma lalu menjelaskan bahwa ada program bantuan
pendidikan dari pemerintah untuk siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Program itu mencakup beasiswa SPP, bantuan buku, dan uang saku.
"Arga memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa ini.
Nilainya bagus, perilakunya baik, dan keluarganya memang kurang mampu secara
ekonomi." Jelas Pak Darma.
Pak Wiryo menatap Arga dengan mata berbinar. Wajahnya yang
pucat karena sakit terlihat berseri-seri. "Apakah benar begitu, Le?"
Arga hanya menunduk malu. Tapi dalam hatinya, ia bersyukur
Pak Darma datang.
Pak Darma melanjutkan, "Jika Arga mendapatkan bantuan
ini, ia bisa melanjutkan sekolah tanpa membebani orang tua. Bahkan nanti kalau
nilainya terus bagus, bisa lanjut sampai SMA bahkan kuliah."
Bu Ratri menutup mulutnya, menahan tangis haru. Air matanya
jatuh membasahi pipi yang kurus. "Terima kasih, Pak Guru. Terima kasih
banyak." Katanya berulang-ulang.
Pak Darma mengangguk. "Sama-sama, Bu. Tugas saya
memang membantu murid-murid. Apalagi yang punya semangat seperti Arga."
Setelah Pak Darma pulang, suasana rumah berubah. Ada
kehangatan baru. Ada harapan yang mulai tumbuh lagi. Arga melihat ibunya tersenyum
untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ia melihat ayahnya yang meskipun
sakit, matanya berbinar-binar.
"Le, kamu harus belajar lebih giat lagi." Kata
Pak Wiryo. "Ini kesempatan besar. Jangan sia-siakan."
"Iya, Pak. Arga akan berusaha."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu,
keluarga kecil itu makan malam dengan perasaan lebih tenang. Bukan karena
makanan lebih banyak, tapi karena ada harapan di hati.
Harapan bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan. Harapan
bahwa di tengah kesulitan, selalu ada pertolongan. Harapan bahwa mimpi-mimpi
itu tidak harus mati.
Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Beberapa minggu setelah Pak Darma datang dengan kabar gembira itu, kondisi Pak
Wiryo semakin memburuk.
Penyakit yang dulu hanya batuk-batuk biasa, ternyata
berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Pak Wiryo semakin kurus, semakin
lemah. Ia tidak lagi bisa pergi ke sawah. Hanya terbaring di dipan bambu,
kadang batuk-batuk hebat hingga mengeluarkan darah.
Bu Ratri membawanya ke puskesmas kecamatan. Dokter
mengatakan bahwa Pak Wiryo menderita TBC dan harus segera diobati. Tapi
obat-obatan mahal, dan mereka tidak punya uang.
Arga duduk di samping tempat tidur ayahnya setiap hari. Ia
memegang tangan ayahnya yang semakin kurus, yang dulu begitu kuat menggenggam
cangkul, kini hanya tinggal tulang terbungkus kulit.
"Pak, Bapak harus cepat sembuh." Katanya dengan
suara bergetar. "Arga belum siap kalau Bapak..."
Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Air mata mengalir
deras.
Pak Wiryo tersenyum lemah. Tangannya yang lemah meraih
tangan Arga.
"Hidup ini seperti musim, Nak." Katanya lirih.
"Ada masa baik, ada masa sulit. Ada masa tanam, ada masa panen. Ada masa
sehat, ada masa sakit. Semua harus dijalani dengan ikhlas."
Arga mengangguk, meskipun hatinya hancur.
"Tapi ingat pesan Ayah." Lanjut Pak Wiryo.
"Jangan pernah berhenti berjuang. Jangan pernah berhenti sekolah. Itu
satu-satunya warisan yang bisa Ayah berikan padamu."
"Iya, Pak. Arga ingat."
Beberapa hari kemudian, kondisi Pak Wiryo semakin memburuk.
Ia tidak bisa bangun sama sekali. Napasnya tersengal-sengal. Kadang ia bicara
tidak jelas, seolah berada di antara sadar dan tidak sadar.
Suatu malam, ia memanggil Arga mendekat. Cahaya lampu
minyak yang temaram membuat ruangan terasa begitu sunyi dan sakral.
"Arga... mendekatlah."
Arga mendekat, menggenggam tangan ayahnya yang dingin. Air
matanya tidak bisa ia tahan lagi.
"Jangan pernah berhenti sekolah." Kata Pak Wiryo
pelan. "Sekolah setinggi-tingginya. Raih mimpimu."
"Arga janji, Pak."
"Dan jangan lupakan desa ini." Lanjut Pak Wiryo.
"Desa ini tanah kelahiranmu. Suatu hari nanti, kalau kamu sudah sukses,
ingatlah untuk kembali dan membangunnya."
Arga menangis tersedu-sedu. "Arga janji, Pak. Arga
tidak akan lupa."
Pak Wiryo tersenyum. Senyum terakhir yang akan selalu
terkenang dalam hati Arga. Lalu ia menutup matanya untuk terakhir kalinya.
"Pak? Pak!" teriak Arga histeris. "Pak,
jangan tinggalkan Arga! Pak!"
Bu Ratri yang mendengar teriakan itu berlari masuk. Ia
melihat suaminya telah tiada. Tubuhnya ambruk di samping suaminya, menangis
sejadi-jadinya.
Malam itu, desa Sumber Langit kehilangan salah satu
petaninya. Seorang lelaki sederhana yang telah bekerja keras sepanjang hidupnya
untuk keluarga. Seorang ayah yang telah menanamkan mimpi-mimpi besar pada
anaknya.
Dan Arga kehilangan sosok yang paling ia kagumi. Sosok yang
menjadi panutannya. Sosok yang pertama kali mengajarinya tentang mimpi, tentang
perjuangan, tentang cinta pada tanah kelahiran.
Pemakaman Pak Wiryo berlangsung sederhana, sesuai dengan
kesederhanaan hidupnya. Warga desa datang untuk memberikan penghormatan
terakhir. Mereka membawa serta makanan, membantu Bu Ratri yang sedang berduka,
dan mendoakan almarhum.
Arga berdiri di samping makam ayahnya dengan mata merah.
Sepanjang pemakaman, ia tidak banyak bicara. Ia hanya diam, menatap tanah yang
baru saja menutup tubuh ayahnya.
Angin sore bertiup pelan, seolah ikut berduka. Daun-daun
kering beterbangan, jatuh di sekitar makam baru itu. Langit mendung, tapi tidak
hujan. Seperti alam pun ikut merasakan kesedihan.
Setelah semua orang pulang, Arga masih berdiri di sana
sendirian. Ia memandang gundukan tanah merah yang menjadi peristirahatan
terakhir ayahnya. Di atasnya, bunga-bunga sederhana yang dibawa warga mulai
layu.
Di dalam hatinya, Arga berkata pelan, "Pak... Arga
akan menepati janji Arga. Arga akan sekolah setinggi-tingginya. Arga akan
meraih mimpi-mimpi kita. Dan suatu hari nanti, Arga akan kembali untuk
membangun desa ini."
Bu Ratri berdiri di sampingnya. Ia memeluk anaknya dari
samping.
"Kamu harus kuat, Nak." Katanya lembut.
Arga mengangguk. Ia mengusap air matanya dengan lengan
baju.
"Ibu, Arga janji. Arga tidak akan mengecewakan Ayah.
Arga akan membuat Ayah bangga dari atas sana."
Mereka berdua berdiri di bawah langit senja yang mulai
memerah, di depan makam yang masih basah. Dua insan yang ditinggalkan, tapi
tidak patah. Dua hati yang terluka, tapi masih berdetak dengan harapan.
Hari itu Arga memahami satu hal: hidup tidak selalu memberi
jalan yang mudah. Kadang ia memberi ujian yang begitu berat, begitu
menyakitkan, hingga rasanya ingin menyerah saja. Tapi justru dari kesulitan
itulah manusia belajar menjadi kuat. Justru dari air mata itulah manusia
belajar tentang arti perjuangan.
Di bawah langit desa yang mulai gelap, seorang anak petani
berdiri dengan tekad baru. Ia tidak lagi hanya memiliki mimpi. Kini ia juga
memiliki alasan yang lebih kuat untuk berjuang: janji pada ayahnya, cinta pada
ibunya, dan tanggung jawab pada desanya.
Dan perjalanan panjangnya untuk menantang takdir baru saja
dimulai.
BAGIAN III
Pagi itu langit Desa Sumber Langit terlihat cerah, tidak
seperti hari-hari sebelumnya. Matahari bersinar hangat, seolah memberi restu
pada perjalanan yang akan ditempuh. Burung-burung berkicau riang di
pohon-pohon, menambah semarak suasana.
Tapi hati Arga terasa berat.
Di depan rumah bambu yang telah menjadi saksi bisu masa
kecilnya, Arga berdiri dengan tas besar di punggungnya. Tas itu berisi beberapa
pakaian, buku-buku kesayangan, foto ayahnya, dan segenggam tanah dari halaman
rumah yang ia bawa sebagai kenangan.
Bu Ratri berdiri di depan pintu rumah sambil menahan air
mata. Rambutnya yang semakin memutih tertiup angin pagi. Wajahnya yang mulai
keriput menunjukkan perjuangan dan kesedihan yang tak terucap.
"Apakah kamu harus pergi sejauh itu, Nak?"
tanyanya dengan suara lirih, hampir berbisik.
Arga menggenggam tangan ibunya. Tangan yang telah
membesarkannya. Tangan yang telah bekerja keras sepanjang hidup. Tangan yang
kini mulai keriput dan lemah.
"Arga harus belajar lebih banyak, Bu. Arga harus
sekolah yang tinggi, seperti pesan Ayah. Kalau Arga tetap di sini, Arga tidak
akan bisa mengubah apa-apa."
Bu Ratri mengangguk pelan, meskipun hatinya terasa berat.
Ia tahu anaknya benar. Ia tahu anaknya harus pergi. Tapi sebagai ibu, melepas
anak pergi jauh adalah salah satu hal tersulit di dunia.
"Jaga diri baik-baik, Nak." Pesannya. "Makan
yang teratur. Jangan lupa ibadah. Jangan mudah putus asa. Dan ingat, Ibu selalu
mendoakanmu."
Arga memeluk ibunya erat-erat. Tubuh ibunya yang kurus
terasa begitu rapuh dalam pelukannya.
"Ibu juga jaga kesehatan. Jangan terlalu berat
bekerja. Arga akan kirim uang setiap bulan, meskipun sedikit."
Bu Ratri tersenyum haru. "Jangan khawatirkan Ibu. Ibu
sudah biasa hidup susah. Yang penting kamu sukses di sana."
Bus kecil yang akan membawa Arga ke kota sudah menunggu di
ujung jalan desa. Beberapa warga desa ikut mengantar kepergiannya. Ada Pak Darma
yang tersenyum bangga. Ada Bima yang memeluknya erat. Ada Joko dan teman-teman
lainnya yang melambai dari kejauhan.
"Jaga diri, Ga!" teriak Bima. "Kalau sukses,
jangan lupa teman-teman lama!"
Arga tersenyum dan mengangguk. "Pasti!"
Ia melangkah menuju bus. Setiap langkah terasa begitu
berat. Ketika bus mulai berjalan meninggalkan desa, Arga menatap keluar
jendela. Ia melihat sawah-sawah yang hijau terbentang, rumah-rumah sederhana
yang mulai menjauh, dan ibunya yang masih berdiri di depan rumah, melambai
dengan sapu tangan putih.
Ia melihat bukit kecil tempat ia sering merenung. Ia
melihat sekolah dasarnya yang sederhana. Ia melihat makam ayahnya di kejauhan.
Air mata mengalir di pipinya. Tapi di dalam hatinya ia
berjanji:
"Aku akan kembali. Dan suatu hari nanti, desa ini akan
berubah."
Beberapa jam kemudian, bus memasuki kota.
Pemandangan berubah drastis. Gedung-gedung tinggi berdiri
di mana-mana, menjulang seolah ingin menyentuh langit. Jalan raya dipenuhi
kendaraan yang bergerak tanpa henti. Lampu-lampu lalu lintas berwarna-warni.
Orang-orang berjalan dengan cepat, seolah selalu dikejar waktu.
Arga menatap semua itu dengan kagum sekaligus bingung.
Selama lima belas tahun hidup di desa, ia tidak pernah melihat pemandangan
seperti ini. Semua terasa asing. Semua terasa baru.
"Jadi... inilah dunia di luar desa," gumamnya
pelan.
Bus berhenti di terminal. Arga turun dengan tas besar di
punggungnya. Ia berdiri di tengah hiruk-pikuk terminal, bingung harus ke mana.
Orang-orang berlalu-lalang tanpa peduli. Sopir angkutan kota berteriak-teriak
menawarkan jasa. Pedagang asongan menawarkan dagangan.
"Mas, mau ke mana?" tawar seorang sopir angkutan
kota.
"Um... saya mau ke daerah Kampung Baru." jawab
Arga sesuai alamat kos yang diberikan Pak Darma.
"Naik, Mas. Saya lewat sana."
Arga naik ke angkutan kota yang penuh sesak. Ia duduk di
pojok, memeluk tasnya erat-erat. Di sekelilingnya, orang-orang sibuk dengan
dunianya masing-masing. Ada yang main HP, ada yang tidur, ada yang membaca
koran. Semua terasa asing.
Ketika sampai di Kampung Baru, Arga turun. Ia mencari-cari
alamat yang diberikan. Jalanan sempit, padat penduduk. Rumah-rumah berdesakan,
tidak seperti di desa yang luas dengan halaman dan sawah.
Akhirnya ia menemukan rumah kos sederhana. Sebuah rumah
petak dengan beberapa kamar kecil. Pemiliknya, seorang ibu paruh baya bernama
Bu Lastri, menyambutnya dengan ramah.
"Kamu Arga? Dari desa Sumber Langit?"
"Iya, Bu."
"Silakan masuk. Kamarnya sudah siap. Kecil, tapi
mudah-mudahan betah."
Kamar itu memang kecil. Hanya cukup untuk satu tempat tidur
tipis, satu meja belajar kecil, dan lemari pakaian mini. Jendelanya menghadap
ke tembok tetangga, sehingga tidak banyak cahaya masuk. Tapi bagi Arga, itu
sudah cukup.
"Murah, Bu?" tanyanya hati-hati.
Bu Lastri tersenyum. "Dua ratus ribu sebulan, sudah
termasuk listrik dan air. Tapi kalau kamu anak baik dan rajin, bisa saya
kurangin sedikit."
Arga menghela napas lega. Uang bekal dari ibunya dan
tabungan hasil bekerja selama liburan, cukup untuk beberapa bulan ke depan.
Malam harinya, untuk pertama kalinya Arga merasakan
kesunyian yang berbeda. Di desa, malam diiringi suara jangkrik, suara kodok,
dan sesekali suara burung hantu. Di sini, malam diiringi suara kendaraan, suara
tetangga yang menonton TV, dan suara musik dari warung-warung.
Ia duduk di tepi tempat tidur, membuka foto ayahnya yang
selalu ia bawa. Air mata mengalir lagi.
"Pak... Arga sudah sampai di kota. Arga akan berusaha
sekuat tenaga."
Kota terasa sangat besar dan asing. Tapi di tempat asing
itulah perjalanan hidupnya akan benar-benar dimulai.
Hari-hari pertama di kota tidak mudah bagi Arga. Segalanya
baru. Segalanya asing. Ia harus belajar beradaptasi dengan cepat.
Setelah mendaftar di sebuah SMA negeri yang cukup terkenal,
Arga mulai menjalani rutinitas barunya. Pagi hingga siang ia sekolah. Sore
hingga malam ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pekerjaan pertamanya adalah sebagai pelayan di sebuah
warung makan sederhana tidak jauh dari kosnya. Warung itu milik Pak Hasan,
seorang pria paruh baya yang baik hati tapi tegas.
Pekerjaan Arga cukup sederhana: mencuci piring,
membersihkan meja, sesekali melayani pembeli. Upahnya kecil, hanya cukup untuk
makan dan membayar kos. Tapi ia bersyukur masih bisa mendapatkan pekerjaan.
Hari pertama bekerja, Arga hampir pingsan karena kelelahan.
Sepulang sekolah ia langsung ke warung, bekerja hingga pukul sepuluh malam
tanpa istirahat. Kakinya pegal, tangannya lecet karena terkena sabun cuci
piring.
Pak Hasan yang memperhatikan keadaannya, memanggil Arga di
sela-sela kesibukan.
"Kamu, sini sebentar."
Arga mendekat, agak takut. "Ada apa, Pak?"
Pak Hasan menuangkan segelas teh manis dan menyodorkannya
pada Arga. "Minum dulu. Istirahat sebentar."
Arga menerima teh itu ragu-ragu. "Tapi pekerjaan masih
banyak, Pak..."
"Sudah, tidak apa-apa. Nanti bisa dikerjakan. Kamu
kelihatan capek sekali."
Arga duduk di kursi belakang warung, meminum teh manis
hangat itu. Rasanya luar biasa. Mungkin karena ia sangat lelah, atau mungkin
karena kebaikan Pak Hasan, teh itu terasa lebih manis dari biasanya.
"Kamu sekolah sambil kerja?" tanya Pak Hasan.
Arga mengangguk. "Iya, Pak. Orang tua saya tidak
mampu. Saya harus biaya sendiri."
Pak Hasan mengangguk-angguk. "Saya tahu perasaan itu.
Dulu saya juga begitu. Merantau dari kampung, sekolah sambil kerja. Capek?
Pasti. Tapi percayalah, semua ini akan terbayar suatu hari nanti."
Arga tersenyum. "Terima kasih, Pak."
"Pokoknya kalau ada apa-apa, bilang sama saya. Jangan
sungkan. Kita sama-sama perantau di sini."
Sejak hari itu, hubungan Arga dan Pak Hasan semakin akrab.
Pak Hasan sering memberinya makanan ekstra, atau mengizinkannya pulang lebih
awal jika ada ujian. Kebaikan-kebaikan kecil yang sangat berarti bagi Arga.
Namun hidup di kota tidak selalu baik. Ada kalanya Arga
menghadapi kesulitan yang membuatnya hampir menyerah.
Suatu malam, setelah bekerja lembur, Arga pulang ke kos
dengan badan letih. Ketika sampai di kamar, ia mendapati pintu kamarnya
terbuka. Jantungnya berdegup kencang. Ia masuk dan melihat kamarnya berantakan.
Semua barangnya diacak-acak.
Maling!
Arga memeriksa barang-barangnya. Uang tabungan yang ia
simpan di bawah kasur, raib. Beberapa pakaian yang masih lumayan, hilang. Hanya
buku-buku dan foto ayahnya yang masih ada, mungkin karena tidak berharga bagi
pencuri.
Arga duduk lemas di lantai. Uang itu adalah tabungannya
selama tiga bulan bekerja. Uang untuk membayar SPP bulan depan dan membeli
buku. Kini semuanya lenyap.
Ia ingin menangis, tapi air mata sepertinya sudah kering.
Ia hanya duduk terpaku, memandangi kekacauan di kamarnya.
Ketika Bu Lastri tahu kejadian itu, ia segera datang.
"Ya ampun, Arga! Maafkan Ibu, Ibu tidak tahu ada
maling masuk. Kamu tidak apa-apa?"
Arga menggeleng lemas. "Saya tidak apa-apa, Bu. Tapi
uang tabungan saya... habis."
Bu Lastri menghela napas. "Ibu turut berduka. Tapi
kamu harus tetap semangat, Nak. Jangan sampai kejadian ini membuatmu putus
asa."
Malam itu Arga tidur tanpa selimut dan bantal, karena semua
sudah dicuri. Ia hanya memeluk foto ayahnya, berusaha mencari kekuatan.
Keesokan harinya, Pak Hasan mendengar kabar itu dari Bu
Lastri. Ia memanggil Arga ke warung.
"Saya dengar kamu kemalingan." Katanya.
Arga mengangguk lesu. "Iya, Pak. Uang tabungan saya
habis."
Pak Hasan menghela napas. Lalu ia merogoh sakunya dan
mengeluarkan selembar uang.
"Ini, untuk kamu."
Arga terkejut. "Pak, tidak usah. Saya tidak bisa
menerima..."
"Ambil saja. Anggap pinjaman. Nanti kamu bisa bayar
dengan potong gaji sedikit-sedikit."
Arga menatap uang itu, lalu menatap Pak Hasan. Matanya
berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Tidak usah berkata apa-apa. Yang penting kamu tetap
semangat sekolah. Jangan menyerah."
Kejadian itu membuat Arga belajar satu hal: di tengah
kerasnya hidup di kota, masih ada orang-orang baik yang rela membantu. Ia tidak
sendiri. Ia punya orang-orang yang peduli.
Malam di kota terasa berbeda dengan malam di desa. Di desa,
malam gelap dan sunyi, hanya diiringi suara jangkrik dan sesekali suara burung
hantu. Di kota, malam terang benderang oleh lampu-lampu jalan dan neon-neon
toko. Suara kendaraan tidak pernah benar-benar berhenti. Musik dari kafe-kafe
dan warung-warung sayup-sayup terdengar.
Namun bagi Arga, di tengah keramaian kota itu, ia justru
merasa lebih sepi.
Suatu malam, ketika tidak ada pekerjaan di warung, ia duduk
sendirian di atap rumah kos. Atap itu adalah tempat favoritnya untuk melarikan
diri dari hiruk-pikuk kota. Dari sana ia bisa melihat langit malam yang tidak
lagi penuh bintang karena polusi cahaya. Hanya bulan dan beberapa bintang
paling terang yang masih bisa dilihat.
Ia menatap langit itu, merindukan langit desanya yang penuh
bintang. Merindukan suara jangkrik dan kodok. Merindukan rumah bambunya.
Merindukan ibunya.
Temannya sekamar, seorang mahasiswa bernama Doni, datang
menghampiri. Doni adalah anak kota yang kuliah di universitas ternama. Ia cukup
baik pada Arga, meskipun kadang ada jarak karena perbedaan latar belakang.
"Kamu sering sendirian di sini." Kata Doni sambil
duduk di samping Arga.
Arga tersenyum tipis. "Aku sedang memikirkan
rumah."
"Rindu desa?"
Arga mengangguk. "Di desa, malam terasa damai.
Udaranya sejuk. Langitnya penuh bintang. Di sini... semuanya ramai, tapi
anehnya aku merasa lebih sepi."
Doni mengangguk mengerti. "Itu biasa bagi perantau,
apalagi yang baru pertama kali jauh dari rumah. Aku juga dulu begitu, waktu
pertama kali kuliah di sini. Tapi lama-lama terbiasa."
"Kamu juga perantau?"
"Iya. Orang tuaku di Sumatra. Jauh juga. Tapi sudah
beberapa tahun, jadi sudah agak terbiasa."
Mereka diam sejenak, menikmati angin malam yang berhembus.
"Kamu anak desa, ya?" tanya Doni kemudian.
Arga mengangguk. "Iya. Dari desa kecil yang mungkin
tidak pernah kamu dengar namanya."
"Terus kenapa kamu ke kota? Mau sekolah?"
"Kuliah nanti. Sekarang masih SMA dulu. Tapi iya, saya
ke sini untuk sekolah. Di desa saya, sekolah cuma sampai SD. Kalau mau lanjut,
harus ke kota."
Doni mengangguk-angguk. "Berat ya. Sekolah sambil
kerja."
"Alhamdulillah masih bisa bertahan."
Mereka berbincang cukup lama malam itu. Doni banyak
bercerita tentang pengalamannya sebagai perantau, tentang suka duka hidup di
kota, tentang bagaimana ia bertahan dan berhasil. Cerita-cerita itu memberi
semangat baru bagi Arga.
"Pokoknya kamu harus kuat." Kata Doni di akhir
perbincangan. "Kota ini keras. Banyak godaan. Banyak orang jahat. Tapi
kalau kamu punya tujuan yang jelas, kamu akan selamat."
"Tujuan apa?"
"Mimpi. Cita-cita. Alasan kenapa kamu di sini. Itu
yang akan menuntunmu ketika kamu mulai tersesat."
Arga merenungkan kata-kata itu. Mimpinya. Cita-citanya.
Alasan ia berada di kota yang asing ini.
Ia ingat ayahnya. Ia ingat pesan-pesannya. Ia ingat desanya
yang tertinggal. Ia ingat janjinya untuk kembali dan membangun desa.
Itulah tujuannya. Itulah yang akan menuntunnya.
"Terima kasih, Doni." Katanya tulus.
"Sama-sama. Sekarang turunlah. Sudah malam, besok kamu
sekolah."
Mereka turun dari atap. Malam itu Arga tidur dengan
perasaan sedikit lebih tenang. Kesepian masih ada, kerinduan masih terasa. Tapi
ia tahu, ia tidak sendiri. Ada teman-teman baik di sekitarnya.
Hidup di kota bagaikan naik turunnya ombak. Kadang di atas,
kadang di bawah. Setelah kejadian kemalingan, Arga mulai bangkit perlahan. Ia
bekerja lebih keras, menabung lebih rajin, dan lebih berhati-hati.
Namun ujian kembali datang.
Suatu hari, Arga menerima kabar buruk. Ia gagal dalam ujian
akhir semester. Nilai matematikanya jeblok, di bawah standar kelulusan. Hasil
itu membuatnya sangat terpukul.
Di kamar kos yang sempit, ia duduk diam sambil menatap
kertas hasil ujian yang dibagikan gurunya. Angka merah besar tertera di sana:
45. Nilai terendah sepanjang sejarah sekolahnya.
Doni yang baru pulang kuliah melihat Arga murung.
"Kenapa, Ga? Kok lesu?"
Arga menunjukkan kertas itu tanpa berkata apa-apa.
Doni melihatnya, lalu menghela napas. "Ya ampun, Ga.
Ini parah. Tapi jangan terlalu dipikirkan. Masih ada ujian perbaikan,
kan?"
"Tidak semua orang bisa berhasil di kota." Gumam
Arga pelan. "Mungkin aku memang tidak cukup baik."
Doni duduk di sampingnya. "Jangan bicara seperti itu.
Satu kegagalan bukan akhir segalanya."
Tapi Arga sudah terlanjur putus asa. Nilai jelek itu
seperti pukulan terakhir setelah sekian lama ia berjuang. Ia merasa semua
usahanya sia-sia. Ia merasa tidak akan pernah bisa bersaing dengan anak-anak
kota yang lebih pintar, lebih kaya, lebih segalanya.
Malam itu ia hampir memutuskan untuk pulang ke desa. Ia
berpikir bahwa mungkin takdirnya memang hanya menjadi petani seperti ayahnya.
Mungkin ia tidak ditakdirkan untuk sekolah tinggi. Mungkin mimpinya terlalu
besar untuk anak desa sepertinya.
Ia membuka lemari, mengeluarkan tasnya, mulai memasukkan
pakaian-pakaiannya. Ia akan pulang besok pagi. Menyerah. Kembali ke desa.
Membantu ibunya di sawah. Melupakan semua mimpi besarnya.
Namun sebelum tidur, ia membuka kembali buku catatan lama
yang selalu ia bawa dari desa. Buku usang dengan sampul lusuh, pemberian Pak
Darma. Di halaman pertama, ada kalimat yang ditulis tangan:
"Jangan pernah berhenti berjuang. Kegagalan bukan
akhir, tapi awal dari perjuangan yang lebih keras. Ingat, anak petani bisa
meraih mimpi."
Itu tulisan Pak Darma. Diberikan ketika Arga pamit pergi
merantau.
Arga membaca kalimat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh
membasahi halaman buku. Ia menutup buku itu perlahan.
Ia ingat ayahnya. Ia ingat pesan-pesannya. Ia ingat ibunya
yang menunggu di desa. Ia ingat Pak Darma yang begitu percaya padanya. Ia ingat
semua orang yang telah membantunya.
Apakah ia akan mengecewakan mereka semua hanya karena satu
kegagalan?
Tidak. Ia tidak bisa.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan kembali pakaian-pakaian
yang sudah dimasukkan. Ia akan tetap di sini. Ia akan berjuang lebih keras. Ia
akan membuktikan bahwa anak petani dari desa kecil bisa berhasil.
Kekuatan baru muncul di dalam hatinya. Bukan kekuatan yang
arogan, tapi kekuatan yang tenang dan mantap. Kekuatan yang lahir dari
kesadaran bahwa menyerah bukan pilihan.
Malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan
pernah menyerah lagi. Apapun yang terjadi, ia akan terus berjuang.
Beberapa hari setelah kegagalannya, Arga dipanggil oleh Pak
Rahmat, guru matematika sekaligus wali kelasnya. Arga masuk ke ruang guru
dengan perasaan cemas. Apa lagi yang salah? Apakah ia akan dikeluarkan?
"Silakan duduk, Arga." Kata Pak Rahmat ramah.
Arga duduk di kursi di depan meja Pak Rahmat. Ia menunduk,
tidak berani menatap gurunya.
"Saya melihat nilai kamu menurun drastis." Kata
Pak Rahmat membuka percakapan.
Arga menunduk lebih dalam. "Saya minta maaf, Pak. Saya
janji akan belajar lebih giat."
Pak Rahmat tidak langsung menjawab. Ia memandang Arga
dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu ia berkata, "Saya tahu kamu
bekerja sambil kuliah."
Arga terkejut. Ia mendongak. "Bagaimana Bapak
tahu?"
Pak Rahmat tersenyum. "Saya memperhatikan mahasiswa
saya. Terutama yang nilainya tiba-tiba turun drastis. Biasanya ada masalah.
Saya cari tahu, dan ternyata kamu bekerja setiap sore sampai malam di warung
makan."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Saya juga tahu kamu tinggal di kos sempit, jauh dari
keluarga, dan mengirim uang untuk ibumu di desa." Lanjut Pak Rahmat.
Air mata Arga mulai menggenang. Bukan karena sedih, tapi
karena tersentuh. Selama ini ia merasa berjuang sendiri. Tapi ternyata ada yang
memperhatikan.
"Orang yang berasal dari kesulitan biasanya memiliki
ketahanan yang lebih kuat." Kata Pak Rahmat. "Mereka lebih tangguh,
lebih pekerja keras, lebih tahu arti perjuangan. Kamu punya potensi itu,
Arga."
Arga mengangguk, masih menahan tangis.
"Kegagalan ini bukan akhir." Lanjut Pak Rahmat.
"Ini pelajaran. Kamu harus belajar mengatur waktu lebih baik. Belajar dan
bekerja harus seimbang. Kalau perlu, cari pekerjaan yang lebih ringan atau
minta keringanan waktu."
"Tapi, Pak..."
"Saya akan bicara dengan Pak Hasan, pemilik warung tempat
kamu bekerja. Saya kenal beliau. Mungkin kita bisa mengatur jadwal yang lebih
baik untukmu."
Arga tidak bisa menahan air matanya lagi. Kali ini bukan
air mata kesedihan, tapi air mata haru. Ia tidak menyangka akan mendapat
perhatian sebesar ini dari gurunya.
"Terima kasih, Pak." Isaknya.
"Tidak perlu berterima kasih, Arga. Kamu berhak
mendapat kesempatan yang sama seperti siswa lain. Jangan pernah ragu untuk
meminta bantuan."
Kata-kata itu seperti cahaya kecil di tengah kegelapan.
Arga merasa kembali memiliki harapan. Ia tidak sendiri. Ada guru yang peduli,
ada orang-orang baik di sekitarnya. Ia hanya perlu terus berjuang.
Sejak hari itu, dengan bantuan Pak Rahmat, kehidupan Arga
mulai membaik. Pak Hasan memberinya jadwal kerja yang lebih fleksibel,
memungkinkannya untuk belajar lebih banyak. Pak Rahmat juga memberikan les
tambahan gratis untuk Arga dan beberapa siswa lain yang membutuhkan.
Arga mulai bekerja lebih keras, tapi juga lebih cerdas. Ia
membagi waktunya dengan lebih disiplin. Pagi belajar di sekolah. Sore belajar
kelompok atau les tambahan. Malam bekerja di warung, lalu belajar lagi setelah
pulang hingga larut.
Tidurnya hanya empat sampai lima jam sehari. Tapi ia tidak
pernah mengeluh. Ia punya tujuan. Ia punya mimpi.
Beberapa bulan kemudian, hasil kerjanya mulai terlihat.
Nilai-nilainya membaik. Matematika yang dulu menjadi momok, kini mulai ia
kuasai. Pak Rahmat memujinya di depan kelas.
"Lihat teman-teman, Arga dulu nilainya jeblok. Tapi
lihat sekarang, ia bisa dapat nilai 85 di ulangan. Ini bukti bahwa kerja keras
tidak pernah mengkhianati hasil."
Tepuk tangan riuh dari teman-teman sekelas. Arga tersipu
malu, tapi hatinya berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ia merasa bangga pada dirinya sendiri.
Ia juga mendapatkan kesempatan mengikuti program penelitian
kecil dari sekolah. Program itu memungkinkan siswa untuk melakukan penelitian
sederhana tentang lingkungan sekitar. Arga memilih topik tentang potensi
desanya, tentang bagaimana mengembangkan desa tertinggal.
Gurunya terkesan dengan proposalnya. "Kamu serius
ingin membangun desamu?"
"Sangat serius, Pak. Itu mimpi saya sejak kecil."
"Bagus. Teruslah bermimpi. Tapi ingat, mimpi saja
tidak cukup. Harus ada tindakan nyata."
Malam itu, setelah sekian lama, Arga kembali duduk di atap
rumah kos. Namun kali ini perasaannya berbeda. Ia tidak lagi merasa putus asa.
Ia tidak lagi merasa sendirian.
Ia memandang langit kota yang samar. Hanya beberapa bintang
yang terlihat. Tapi ia tahu, di balik polusi cahaya itu, bintang-bintang tetap
ada. Sama seperti harapan. Kadang tidak terlihat, tapi selalu ada.
"Ayah... aku tidak akan menyerah." Bisiknya
pelan. "Aku akan terus berjuang. Untukmu, untuk Ibu, untuk desa
kita."
Ia menutup mata sejenak. Di dalam bayangannya muncul
kembali desa kecilnya. Sawah yang luas. Rumah bambu. Ibunya yang selalu
menunggu kepulangannya. Makam ayahnya di bawah pohon besar.
Semua itu memberinya kekuatan. Semua itu menjadi alasan
untuk terus maju.
Di dalam hatinya Arga tahu satu hal: semua perjuangan ini
bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk desa yang suatu hari ingin ia
ubah. Untuk mimpi yang dulu hampir mati. Untuk janji yang pernah ia ucapkan di
makam ayahnya.
Perjalanan panjangnya masih jauh dari selesai. Masih banyak
rintangan yang harus ia hadapi. Masih banyak air mata yang mungkin harus ia
tumpahkan.
Namun mimpi yang hampir padam kini telah hidup kembali. Dan
seorang anak desa yang pernah hampir menyerah kini kembali berdiri untuk
menantang takdirnya.
BAGIAN IV
Enam tahun telah berlalu sejak Arga pertama kali
menginjakkan kaki di kota. Enam tahun perjuangan, air mata, dan kerja keras.
Kini ia telah menyelesaikan pendidikan S1-nya dengan predikat cumlaude. Ia
lulus sebagai sarjana pertanian dari salah satu universitas terbaik di kota.
Hari kelulusannya adalah hari yang membahagiakan sekaligus
mengharukan. Ia mengenakan toga, berdiri di antara ratusan mahasiswa lain,
menerima ijazah dari rektor. Ibunya tidak bisa hadir karena sakit dan tidak
mampu membayar ongkos ke kota. Tapi Arga tahu, doa ibunya selalu menyertainya.
Pak Darma juga tidak bisa hadir. Tapi ia mengirim surat
yang dibacakan Arga berulang-ulang:
"Selamat, Arga. Kamu telah membuktikan bahwa anak desa
bisa meraih mimpi. Bapak bangga padamu. Sekarang saatnya pulang dan wujudkan
mimpi yang lebih besar: membangun desa kita."
Setelah wisuda, Arga menghadapi dilema. Banyak tawaran
pekerjaan datang. Perusahaan-perusahaan besar menawarkan gaji tinggi. Ada juga
tawaran untuk melanjutkan studi S2 dengan beasiswa.
Namun di dalam hatinya, hanya satu yang ia inginkan:
pulang.
Pak Hasan, majikannya selama enam tahun, memanggilnya untuk
bicara.
"Jadi, kamu mau pulang?" tanyanya.
Arga mengangguk mantap. "Iya, Pak. Desa saya butuh
saya."
Pak Hasan tersenyum. "Saya sudah menduga itu. Kamu
berbeda dari anak-anak muda lain. Kamu punya ikatan kuat dengan tanah
kelahiranmu. Itu bagus."
"Terima kasih untuk semuanya, Pak. Selama enam tahun
Bapak sudah seperti keluarga sendiri."
Pak Hasan mengeluarkan amplop dari sakunya. "Ini
sedikit tanda mata dari saya. Gunakan untuk memulai sesuatu di desamu."
Arga menolak. "Pak, tidak usah. Bapak sudah terlalu
baik."
"Ambil. Ini bukan uang, ini investasi. Saya investasi
pada mimpi seorang anak muda. Saya yakin kamu akan sukses."
Arga menerima amplop itu dengan mata berkaca-kaca. Ia
memeluk Pak Hasan erat-erat.
Bus yang membawa Arga melaju perlahan meninggalkan kota.
Gedung-gedung tinggi yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya mulai
menghilang dari pandangan, bergantian dengan hamparan sawah dan perbukitan
hijau yang semakin lama semakin luas.
Arga menatap keluar jendela dengan perasaan yang sulit
dijelaskan. Ada haru, ada rindu, ada semangat, ada juga sedikit cemas. Enam
tahun ia merantau. Kini ia kembali.
Di kepalanya terbayang rumah bambu tempat ia dibesarkan.
Jalan tanah yang dulu ia lewati menuju sekolah. Suara ibunya yang selalu
memanggilnya pulang saat senja. Makam ayahnya di bawah pohon besar.
Ketika bus berhenti di ujung jalan desa, Arga turun dengan
tas di punggungnya. Ia menarik napas dalam-dalam. Udara desa terasa begitu
segar. Angin membawa aroma padi dan tanah basah yang selama ini ia rindukan.
Desa Sumber Langit masih terlihat sama. Sawah-sawah
terbentang hijau. Bukit-bukit menjulang di kejauhan. Sungai mengalir jernih di
sebelah timur desa.
Namun ada juga sesuatu yang membuat hatinya terasa berat.
Jalan desa masih rusak, bahkan mungkin lebih parah dari sebelumnya. Beberapa
rumah tampak lebih tua dan lebih usang dari yang ia ingat. Wajah-wajah penduduk
yang ditemuinya di jalan terlihat lebih tua, lebih lelah.
Arga berjalan menuju rumahnya. Setiap langkah terasa begitu
berarti. Ia melewati sawah yang dulu digarap ayahnya. Sekarang sawah itu
digarap oleh pamannya, karena ibunya tidak mampu mengolahnya sendiri.
Di depan rumah bambu itu, Bu Ratri sedang menyapu halaman.
Tubuhnya semakin tua, semakin kurus. Rambutnya nyaris putih semua. Tapi
semangatnya masih sama.
Ketika melihat Arga, sapu itu jatuh dari tangannya.
"Arga?" suaranya bergetar, tidak percaya.
Arga tersenyum. Air mata mengalir di pipinya.
"Ibu..."
Bu Ratri berlari, memeluk anaknya erat-erat. Tubuh kecilnya
bergetar menahan tangis haru. "Anakku... anakku sudah pulang..."
Mereka berpelukan cukup lama, melepas rindu yang terpendam
bertahun-tahun. Warga desa yang lewat ikut tersentuh melihat pemandangan itu.
Ada yang tersenyum, ada yang ikut menangis haru.
"Maafkan Ibu tidak bisa datang ke wisudamu." Isak
Bu Ratri.
"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting Ibu sehat."
Arga menatap rumah itu. Rumah bambu sederhana yang selama
ini ia rindukan. Rumah yang menyimpan jutaan kenangan masa kecil. Rumah yang
menjadi saksi bisu perjuangan keluarganya.
Namun di dalam hatinya ia tahu: kepulangannya bukan hanya
untuk melepas rindu. Ia datang membawa sebuah tekad. Tekad untuk mengubah desa
ini. Tekad yang lahir dari mimpi seorang anak petani, yang kini tumbuh menjadi
pemuda dengan ilmu dan pengalaman.
Beberapa hari setelah kepulangannya, Arga mulai berjalan
mengelilingi desa. Ia ingin melihat sendiri bagaimana keadaan desanya setelah
enam tahun ia tinggalkan.
Ia melihat banyak hal yang membuatnya berpikir.
Sekolah dasar yang dulu ia tempati masih berdiri di tempat
yang sama. Bangunannya semakin tua, cat temboknya sudah pudar dan mengelupas di
banyak bagian. Beberapa papan kayu di dinding sudah lapuk. Atap gentingnya
bolong di sana-sini.
Halaman sekolah terlihat sepi. Hanya beberapa anak yang
bermain di bawah pohon. Guru-guru yang dulu mengajarnya, kini semakin tua.
Beberapa di antaranya sudah pensiun, digantikan guru-guru baru yang muda, tapi
semangatnya? Arga tidak tahu.
Ia bertemu dengan Pak Darma yang sedang duduk di bangku
kayu di depan kelas, seperti dulu. Rambut Pak Darma kini putih semua.
Kacamatanya semakin tebal. Tapi senyumnya masih sama.
"Arga?" kata Pak Darma dengan wajah terkejut,
matanya berbinar.
Arga tersenyum dan menyalami gurunya. Tangannya yang tua
dan keriput terasa hangat dalam genggaman Arga.
"Pak, saya kembali."
Pak Darma menatapnya dengan bangga, dari ujung rambut
hingga kaki. "Kamu sudah jauh berubah. Sudah dewasa. Sudah sarjana."
Mereka berjalan mengelilingi sekolah. Pak Darma bercerita
tentang perkembangan sekolah, tentang murid-murid baru, tentang tantangan yang
dihadapi.
"Bagaimana keadaan desa sekarang, Pak?" tanya
Arga.
Pak Darma menghela napas panjang. Napas yang berat, seperti
membawa beban bertahun-tahun. "Tidak banyak berubah, Nak. Bahkan mungkin
makin parah."
"Kenapa? Bukannya ada dana desa dari pemerintah?"
"Ada. Tapi entah ke mana. Jalan masih rusak. Listrik
masih sering padam. Pemuda-pemuda masih pada pergi merantau. Yang tinggal hanya
orang-orang tua dan anak-anak kecil."
Arga terdiam. Ia melihat sekelilingnya. Lapangan desa yang
dulu sering digunakan untuk main bola, kini ditumbuhi rumput liar.
Warung-warung kecil banyak yang tutup. Rumah-rumah kosong karena ditinggal
pergi pemiliknya.
"Karena tidak banyak orang yang mau
memperjuangkannya." Lanjut Pak Darma. "Orang-orang sudah pasrah.
Mereka menganggap ini sudah takdir."
"Takdir?" Arga mengulang kata itu dengan nada
getir. "Sejak kapan keterbelakangan disebut takdir?"
Pak Darma menatap Arga tajam. "Itu pertanyaan yang
tepat. Tapi sayangnya, tidak banyak yang berpikir seperti itu."
Di lapangan desa, Arga juga melihat banyak pemuda yang menghabiskan
waktu tanpa pekerjaan tetap. Mereka duduk-duduk di warung kopi, main kartu,
atau sekadar nongkrong tanpa tujuan. Sebagian dari mereka bahkan mulai
kehilangan harapan, terjerumus pada minuman keras atau judi kecil-kecilan.
Suatu malam, Arga berbicara dengan ibunya.
"Ibu, desa ini masih tertinggal. Bahkan mungkin lebih
parah dari dulu."
Bu Ratri mengangguk pelan. "Begitulah kenyataannya,
Nak. Semakin banyak orang pergi, semakin sepi desa ini."
"Kenapa tidak ada yang berbuat sesuatu?"
"Orang-orang sudah putus asa, Le. Mereka sudah tidak
percaya bahwa desa ini bisa berubah. Mereka anggap ini sudah suratan
takdir."
Arga menatap keluar jendela. Malam di desa begitu gelap,
hanya diterangi lampu minyak di beberapa rumah. Listrik padam, seperti biasa.
Bintang-bintang bertaburan di langit, indah tapi ironis. Di bawah langit yang
indah itu, desanya terpuruk dalam keterbelakangan.
Namun kali ini ia tidak hanya melihat masalah. Ia juga
mulai memikirkan solusi. Ilmu yang ia dapat di bangku kuliah, pengalaman hidup
di kota, dan tekad yang membara, semuanya akan ia gunakan.
"Bu, Arga punya rencana."
Bu Ratri menatap anaknya. "Rencana apa?"
"Arga ingin mengajak anak-anak muda desa untuk
bergerak. Arga ingin memulai perubahan dari hal-hal kecil."
Bu Ratri tersenyum. Senyum bangga seorang ibu pada anaknya.
"Lakukanlah, Nak. Asalkan niatmu baik, Insya Allah akan diberi
kemudahan."
Suatu sore, Arga kembali berdiri di bukit kecil yang dulu
sering ia kunjungi saat masih kecil. Bukit itu tidak jauh dari rumahnya, hanya
perlu berjalan kaki sekitar setengah jam. Dari puncaknya, ia bisa melihat
seluruh desa Sumber Langit terbentang di bawah.
Pemandangan itu masih sama seperti dulu. Sawah-sawah hijau
membentang luas, dipotong oleh sungai yang berkelok-kelok. Rumah-rumah penduduk
tersebar tidak beraturan. Jalan tanah berwarna merah membelah desa. Di
kejauhan, bukit-bukit lain menjulang, menutupi cakrawala.
Angin sore bertiup pelan, membawa aroma khas pedesaan.
Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan, pertanda matahari akan
segera tenggelam.
Arga duduk di rerumputan, memandangi desanya dengan
perasaan campur aduk. Ia teringat masa kecilnya. Ia ingat bagaimana dulu ia
sering duduk di sini, bermimpi tentang masa depan. Ia ingat kata-kata ayahnya:
"Harus ada orang yang berani memperjuangkannya."
Ia mengepalkan tangannya. Mimpi yang dulu pernah ia miliki
kini kembali hidup, lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak ingin hanya menjadi
penonton. Ia tidak ingin hanya melihat desanya semakin terpuruk. Ia ingin
menjadi bagian dari perubahan. Ia ingin menjadi orang yang berani
memperjuangkan desanya.
"Ingat pesan Ayah." Gumamnya. "Jangan pernah
lupakan desa ini."
Malam itu, setelah makan malam sederhana, Arga berbicara
dengan ibunya.
"Bu, Arga ingin melakukan sesuatu untuk desa
ini."
Bu Ratri menatap anaknya dengan lembut. "Apa yang
ingin kamu lakukan?"
"Arga ingin menggerakkan pemuda-pemuda desa. Arga
ingin memulai program-program sederhana. Membersihkan desa, memperbaiki jalan
rusak, membuat kegiatan untuk anak-anak. Dari hal-hal kecil dulu."
Bu Ratri tersenyum bangga. "Itu ide bagus, Nak. Tapi
ingat, tidak semua orang akan setuju. Akan ada yang menentang, akan ada yang
meremehkan."
Arga mengangguk. "Arga tahu, Bu. Tapi Arga tidak akan
menyerah sebelum mencoba."
"Kalau itu mimpimu, lakukanlah dengan hati yang tulus.
Jangan berharap pujian, jangan berharap imbalan. Lakukan karena kamu
peduli."
Kata-kata ibunya menguatkan tekad Arga. Ia tahu perjalanan
ke depan tidak akan mudah. Tapi ia siap.
Langkah pertama Arga adalah mendekati para pemuda desa. Ia
tahu ini bukan tugas mudah. Banyak pemuda yang sudah apatis, sudah kehilangan
harapan, sudah terbiasa dengan kemalasan.
Suatu malam, ia mengumpulkan mereka di balai desa yang sudah
lama tidak terpakai. Bangunan itu kotor dan berdebu, dengan beberapa kursi kayu
tua berserakan. Arga membersihkannya sebisanya sebelum kedatangan mereka.
Beberapa pemuda datang. Tidak banyak, hanya sekitar sepuluh
orang. Sebagian datang dengan rasa penasaran, sebagian lain karena iseng, tidak
ada kerjaan.
Di antara mereka ada Rudi, pemuda berusia dua puluhan yang
terkenal sebagai preman desa. Posturnya tinggi besar, dengan tato di lengan dan
wajah sangar. Arga agak khawatir melihatnya datang.
"Ada apa, Ga? Ngumpulin anak muda mau ngapain?"
tanya Rudi dengan nada sedikit menantang.
Arga mengambil napas dalam-dalam. Ia harus tenang. Ia harus
bisa meyakinkan mereka.
"Terima kasih sudah datang, teman-teman."
Mulainya. "Aku kumpulin kalian karena aku ingin ngomong sesuatu."
"Ngapain formal-formal? Langsung aja." Potong
seorang pemuda lain.
Arga tersenyum. "Oke, langsung. Kita semua tahu desa
ini tertinggal."
Beberapa pemuda saling memandang. Ada yang mengangguk, ada
yang cuek.
"Dan?" tanya Rudi.
"Dan kita tidak bisa hanya mengeluh." Arga
melanjutkan. "Kita lihat sendiri, desa kita makin terpuruk. Jalan rusak,
listrik sering padam, pemuda pada pergi merantau. Yang tinggal ya kita-kita
ini, yang katanya tidak punya masa depan."
"Emang iya." Gumam seorang pemuda. "Di sini
memang nggak ada masa depan."
"Itu yang mau aku ubah." Kata Arga tegas.
Sekarang semua mata tertuju padanya. Rudi mengangkat alis,
tertarik meskipun masih skeptis.
"Kita harus memulai perubahan dari diri sendiri. Dari
hal-hal kecil. Gotong royong bersihkan desa. Perbaiki jalan yang rusak. Buat
kegiatan untuk anak-anak. Kalau kita diam saja, tidak akan ada yang
berubah."
Rudi tertawa kecil. Tawa yang meremehkan. "Perubahan?
Lo pikir dengan gotong royong, desa ini bisa maju? Butuh uang, butuh proyek pemerintah,
butuh orang-orang penting."
"Memang butuh semua itu." Arga tidak terpancing.
"Tapi kalau kita tidak menunjukkan bahwa kita peduli, mana ada orang lain
yang mau peduli? Kalau kita sendiri malas bergerak, siapa yang mau bergerak
untuk kita?"
Suasana hening. Kata-kata Arga meresap, setidaknya bagi
sebagian dari mereka.
"Jadi lo mau ngapain?" tanya Rudi lagi, nadanya
sedikit lebih lunak.
"Aku mau ajak kalian kerja bakti Minggu depan.
Bersihkan jalan desa, perbaiki lubang-lubang yang bisa diperbaiki. Setelah itu,
kita pikirkan kegiatan lain."
Beberapa pemuda mulai berbisik-bisik. Ada yang tertarik,
ada yang masih ragu. Rudi diam, berpikir.
"Aku ikut." Tiba-tiba seorang pemuda bernama Joko
angkat bicara. Joko adalah pemuda pendiam yang jarang bergaul. Tapi ia dikenal
pekerja keras. "Daripada nganggur, mending kerja bermanfaat."
Satu per satu yang lain mulai setuju. Akhirnya Rudi pun
mengangguk. "Oke, gue ikut juga. Tapi gue mau liat, apa lo beneran serius
atau cuma omdo (omong doang)."
Arga tersenyum lega. "Terima kasih, teman-teman. Kita
buktikan kalau anak muda desa bisa bikin perubahan."
Malam itu, langkah kecil telah dimulai. Sepuluh pemuda
desa, dengan berbagai latar belakang, bersedia bergerak. Arga tahu ini baru
awal. Tapi setidaknya, ada benih yang mulai tumbuh.
Minggu pagi yang cerah, sepuluh pemuda berkumpul di balai
desa dengan peralatan seadanya. Ada yang membawa cangkul, ada yang membawa
sekop, ada yang membawa gerobak dorong. Beberapa warga yang penasaran mulai
berdatangan, melihat apa yang dilakukan anak-anak muda ini.
Arga memimpin dengan semangat. "Kita mulai dari jalan
depan balai desa dulu. Bersihkan rumput-rumput liar, tutup lubang-lubang dengan
batu dan tanah."
Mereka mulai bekerja. Awalnya agak kikuk, karena kebanyakan
sudah lama tidak melakukan kerja fisik seperti ini. Tapi lama-lama mereka
menemukan ritme. Cangkul menggali, sekop memindah tanah, gerobak mengangkut
batu.
Rudi, yang awalnya hanya berdiri memandang, akhirnya ikut
turun tangan. Dengan postur besarnya, ia mampu memindahkan batu-batu besar yang
tidak bisa diangkat orang lain.
"Wah, Rudi kuat juga ya." goda Joko.
Rudi hanya mendengus, tapi sudut bibirnya sedikit
terangkat. Mungkin senang bisa berguna.
Warga yang lewat mulai berhenti, melihat, lalu ikut
membantu. Seorang bapak-bapak membawa minuman dingin untuk mereka. Seorang
ibu-ibu membawa makanan kecil. Semangat gotong royong yang selama ini hilang,
mulai tumbuh lagi.
Pak Darma datang dengan tongkatnya. Matanya berbinar
melihat pemandangan itu.
"Ini baru pemuda desa." Katanya bangga.
"Sudah lama saya tidak melihat semangat seperti ini."
Menjelang siang, sebagian jalan di depan balai desa sudah
bersih dan rata. Memang tidak sempurna, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya.
Mereka beristirahat di bawah pohon besar, menikmati minuman
dan makanan yang diberikan warga. Wajah-wajah lelah tapi puas.
"Ga, besok kita kerja lagi?" tanya Joko.
"Besok Minggu depan." jawab Arga. "Kita
lanjut ke bagian jalan yang lain. Terus setiap Minggu kita kerja bakti di
tempat yang berbeda."
Rudi yang duduk agak jauh, tiba-tiba bersuara. "Gue
mau bawa lebih banyak orang minggu depan. Biar cepat selesai."
Arga tersenyum. "Bagus, Rud. Makin banyak makin
ringan."
Hari itu menjadi awal dari kebangkitan semangat di desa.
Perlahan tapi pasti, pemuda-pemuda desa mulai bergerak. Mereka tidak hanya
kerja bakti, tapi juga mulai memikirkan kegiatan lain: membersihkan saluran
air, memperbaiki jembatan kecil, mengadakan lomba untuk anak-anak.
Desa yang tadinya lesu, mulai menunjukkan tanda-tanda
kehidupan.
Namun tidak semua orang menyukai perubahan. Semakin banyak
kegiatan yang dilakukan Arga dan para pemuda, semakin banyak pula yang mulai
memperhatikan mereka. Tidak semuanya positif.
Pak Surya adalah salah satu tokoh desa yang paling
berpengaruh. Ia adalah kepala desa yang sudah menjabat selama tiga periode.
Kekuasaannya sudah mengakar kuat. Ia memiliki bisnis toko kelontong, punya
sawah luas, dan banyak warga yang berutang padanya.
Selama ini, Pak Surya terbiasa menjadi pusat kekuasaan.
Semua keputusan harus melalui dirinya. Semua bantuan pemerintah harus melewati
tangannya. Dan ia tidak suka ada orang lain yang mulai mendapatkan perhatian
warga.
Suatu hari, Arga dipanggil ke rumah Pak Surya. Rumah besar
di tengah desa, satu-satunya rumah dengan dinding tembok dan atap genting
bagus. Halamannya luas, dengan beberapa kendaraan terparkir.
Arga masuk dengan perasaan was-was. Ia sudah menduga bahwa
ini bukan undangan biasa.
Pak Surya duduk di kursi rotan besar, dengan wajah serius.
Di sekelilingnya, beberapa orang yang merupakan anak buahnya duduk dengan sikap
waspada.
"Duduk, Arga." Kata Pak Surya, suaranya berat.
Arga duduk di kursi di hadapannya. Ia berusaha tenang.
"Saya dengar kamu membuat banyak kegiatan akhir-akhir
ini." Buka Pak Surya.
Arga mengangguk. "Iya, Pak. Bersama teman-teman
pemuda, kami kerja bakti. Membersihkan desa, memperbaiki jalan."
"Kamu tidak izin dulu sama saya?"
Arga terkejut. "Izin? Ini kegiatan sosial, Pak. Kerja
bakti. Saya pikir tidak perlu izin."
Pak Surya tersenyum, tapi senyum yang tidak ramah. "Di
desa ini, semua kegiatan harus sepengetahuan saya. Saya kepala desa di sini.
Saya yang bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban."
Arga mulai mengerti. Ini bukan soal izin. Ini soal
kekuasaan. Pak Surya merasa tersaingi.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud melangkahi. Saya
hanya ingin membantu desa."
"Kamu masih muda. Masih banyak yang tidak kamu
mengerti." Pak Surya menatapnya tajam. "Jangan terlalu banyak
mengganggu keadaan yang sudah ada. Desa ini sudah puluhan tahun seperti ini,
dan baik-baik saja."
Arga menahan diri untuk tidak membantah. Tapi kata-kata itu
terasa begitu tidak masuk akal. Baik-baik saja? Desa yang tertinggal, pemuda
yang menganggur, anak-anak putus sekolah? Itu disebut baik-baik saja?
Tapi ia tahu, melawan langsung tidak akan bijak. Ia harus
bermain sabar.
"Saya mengerti, Pak. Ke depan, saya akan lapor sebelum
melakukan kegiatan." Katanya diplomatis.
Pak Surya mengangguk puas. "Bagus. Kamu anak pintar.
Jangan sampai salah langkah."
Arga pulang dengan perasaan campur aduk. Ia tahu
perjuangannya tidak akan mudah. Kekuatan lama tidak akan rela melepaskan
pengaruhnya. Tapi ia juga tidak akan mundur.
Malam itu, ia ceritakan pada Rudi dan beberapa pemuda lain.
"Gue sudah duga." Kata Rudi. "Pak Surya itu
penguasa lama. Dia nggak suka kalau ada yang mulai diperhatikan warga. Apalagi
orang muda kayak lo."
"Tapi kita tidak bisa berhenti." Arga bergumam.
"Jangan berhenti. Tapi kita harus hati-hati."
Rudi menatap Arga. "Gue kenal Pak Surya. Dia bisa jahat kalau merasa
terancam."
Arga mengangguk. Ia tahu risiko ini sudah sejak awal. Tapi
ia juga tahu, perubahan tidak pernah datang tanpa perlawanan.
Meski menghadapi tekanan dari Pak Surya, Arga dan para
pemuda desa terus bekerja. Mereka lebih berhati-hati, tapi tidak berhenti.
Setiap minggu mereka melakukan kerja bakti di tempat yang
berbeda. Jalan-jalan desa mulai terlihat lebih rapi. Saluran air yang tersumbat
mulai mengalir lancar. Sampah-sampah yang berserakan dibersihkan.
Mereka juga mulai membuat program lain. Kelas belajar untuk
anak-anak desa, diadakan di balai desa setiap sore. Arga dan beberapa pemuda
yang masih ingat pelajaran sekolah, bergantian mengajar membaca, menulis, dan
berhitung. Anak-anak yang tadinya hanya bermain, kini mulai belajar lagi.
Pak Darma, meskipun sudah tua, ikut membantu. Melihat Arga
mengajar, hatinya terharu.
"Dulu kamu yang belajar, sekarang kamu yang
mengajar." Katanya suatu hari. "Hidup memang lingkaran yang
indah."
Arga tersenyum. "Ini semua berkat Bapak. Kalau tidak
ada Bapak dulu, mungkin saya sudah berhenti sekolah."
"Kamu yang memilih untuk tidak menyerah. Bapak hanya
membantu sedikit."
Program lain yang mereka buat adalah kelompok tani. Arga,
dengan ilmu pertaniannya, mulai memberikan penyuluhan sederhana pada
petani-petani desa. Cara menanam yang baik, penggunaan pupuk yang tepat,
pengendalian hama secara alami. Petani-petani tua awalnya skeptis, tapi setelah
melihat hasilnya, mereka mulai tertarik.
"Hasil panen saya meningkat setelah ikut penyuluhan
Arga." Kata seorang petani di warung kopi. "Dia memang pintar,
meskipun masih muda."
Perubahan kecil mulai terlihat di desa. Anak-anak lebih
bersemangat sekolah. Pemuda-pemuda mulai memiliki kegiatan positif.
Petani-petani mulai menerapkan metode baru. Warga mulai percaya bahwa desa
mereka bisa berubah.
Suatu hari, seorang warga tua berkata pada Arga,
"Sudah lama desa ini tidak memiliki harapan seperti sekarang. Terima
kasih, Nak."
Arga tersenyum. "Harapan itu selalu ada, Pak. Kita
hanya perlu memperjuangkannya."
Namun ia tahu, perjalanan masih panjang. Dan tantangan terbesar
mungkin masih menanti.
Kabar tentang kegiatan Arga bersama para pemuda desa
semakin sering dibicarakan oleh warga. Awalnya hanya berupa kerja bakti kecil:
memperbaiki jalan setapak yang berlumpur ketika musim hujan, membersihkan
saluran irigasi yang tersumbat, serta membuat kelas belajar sederhana untuk
anak-anak desa di balai bambu dekat lapangan.
Namun lambat laun, kegiatan-kegiatan kecil itu mulai
membawa perubahan nyata. Jalan yang dulunya berlubang dan becek, kini lebih
mudah dilewati. Sawah-sawah yang tadinya sering kekeringan atau kebanjiran
karena irigasi tersumbat, kini mendapatkan air yang cukup. Anak-anak yang
sebelumnya bermain tanpa arah di sore hari, kini kembali membawa buku tulis dan
pensil ke kelas belajar.
Desa Sumber Langit yang dulu tampak lesu, perlahan-lahan
mulai bergerak. Ada kehidupan baru di sana. Ada semangat yang mulai tumbuh.
Suatu malam, di balai desa yang sederhana, beberapa tokoh
masyarakat berkumpul. Lampu petromaks menggantung di tengah ruangan, cahayanya
bergetar pelan tertiup angin malam yang masuk melalui celah-celah dinding
bambu. Bayangan-bayangan mereka menari-nari di dinding, menciptakan suasana
yang sakral.
Pak Darma, guru tua yang pernah membimbing Arga sejak
kecil, membuka pembicaraan. Suaranya pelan tapi tegas, penuh wibawa.
"Desa ini membutuhkan pemimpin baru."
Wajah-wajah di ruangan itu tampak serius. Ada Pak Lurah tua
yang sudah pensiun, ada tokoh pemuda, ada beberapa sesepuh desa yang dihormati.
Sebagian mengangguk setuju, sebagian lain masih berpikir, menimbang-nimbang.
"Pemimpin yang benar-benar peduli pada masa depan
desa. Bukan yang hanya memikirkan kekuasaan dan keuntungan pribadi."
Seorang warga, Pak Karsono yang dikenal sebagai petani
sukses, bertanya ragu. Matanya menyipit, mencoba membaca arah pembicaraan.
"Apakah Bapak sedang memikirkan seseorang?"
Pak Darma menatap mereka satu per satu. Tatapannya dalam,
seolah membaca hati masing-masing. Lalu dengan mantap ia berkata,
"Arga."
Nama itu membuat ruangan menjadi hening sejenak. Hening
yang panjang, hanya diiringi suara jangkrik dari luar dan desau angin malam.
Sebagian warga langsung setuju. Mereka telah melihat
sendiri bagaimana Arga bekerja tanpa pamrih. Mereka melihat dedikasinya, kerja
kerasnya, dan hasil nyata yang sudah ia capai.
"Saya setuju." Kata Pak Karsono. "Anak itu
berbeda. Dia punya visi. Dia juga mau turun tangan, tidak hanya bicara."
"Saya juga setuju." Sambung yang lain.
"Lihat saja apa yang sudah ia lakukan dalam beberapa bulan terakhir. Jalan
desa membaik, anak-anak mulai sekolah lagi, petani mulai maju. Padahal ia tidak
punya jabatan apa-apa."
Namun ada pula yang terlihat ragu. Pak Soma, seorang
pedagang kaya yang selama ini dekat dengan Pak Surya, menggeleng pelan.
"Dia masih muda." Katanya ragu. "Baru pulang
merantau. Apa dia cukup pengalaman? Memimpin desa tidak semudah memperbaiki
jalan."
Pak Darma tersenyum tipis. Senyum yang bijak, senyum
seorang guru yang sudah puluhan tahun mengamati murid-muridnya.
"Kadang-kadang perubahan memang datang dari
orang-orang muda yang berani bermimpi. Pengalaman penting, tapi hati yang tulus
lebih penting."
Diskusi berlangsung alot. Ada yang pro, ada yang kontra.
Tapi akhirnya, setelah pertimbangan matang, mereka sepakat untuk memberikan
kesempatan pada Arga.
Keesokan harinya, Arga dipanggil ke balai desa. Ia tidak
tahu apa yang akan terjadi. Pikirannya berkecamuk. Apa mungkin ada masalah
dengan kegiatannya? Apa Pak Surya melaporkannya?
Ketika ia masuk, ia melihat banyak warga telah menunggu.
Bukan hanya tokoh masyarakat, tapi juga pemuda-pemuda yang selama ini bekerja
bersamanya, ibu-ibu yang anaknya ikut kelas belajar, petani-petani yang pernah
ia beri penyuluhan.
Arga merasa bingung. Ada apa ini? Kenapa banyak orang?
"Kenapa saya dipanggil?" tanyanya, mencoba
tenang.
Seorang tetua desa, Mbah Joyo yang sudah berusia sembilan
puluh tahun, berdiri dengan bantuan tongkatnya. Tubuhnya renta, tapi matanya
masih tajam. Suaranya bergetar karena usia, tapi jelas terdengar.
"Arga, kami ingin kamu maju sebagai calon kepala
desa."
Dunia serasa berhenti berputar. Arga terdiam. Kata-kata itu
terasa begitu berat baginya. Ia tidak pernah benar-benar membayangkan hal itu
akan datang secepat ini.
"Maaf... apa?" tanyanya tidak percaya.
Mbah Joyo tersenyum. "Kami, tokoh masyarakat desa,
telah bermusyawarah. Kami melihat kerja kerasmu. Kami melihat perubahan yang
kamu bawa. Kami percaya kamu bisa membawa desa ini ke arah yang lebih
baik."
Arga menoleh ke Pak Darma yang tersenyum bangga. Ia melihat
Rudi dan pemuda-pemuda lain yang mengangguk semangat. Ia melihat ibu-ibu yang
matanya berbinar.
"Apakah saya mampu?" katanya pelan, setengah
bergumam pada diri sendiri.
Pak Darma berjalan mendekat. Ia meletakkan tangan di pundak
Arga, seperti dulu ketika Arga masih kecil dan sedang sedih.
"Kamu tidak harus sempurna untuk memimpin, Arga."
Katanya lembut. "Yang penting kamu punya hati untuk melayani. Itu lebih
berharga dari pengalaman dan kepintaran."
Arga menunduk sejenak. Pikirannya melayang ke masa lalu. Ia
teringat ayahnya. Seorang petani sederhana yang selalu berkata bahwa desa ini
suatu hari harus berubah. Ia ingat ibunya yang selalu mendukung, meskipun dalam
keterbatasan. Ia ingat perjuangannya di kota, jatuh bangun, hampir menyerah
tapi terus bertahan.
Setelah beberapa saat, Arga mengangkat kepalanya. Matanya
bersinar, tidak lagi ragu.
"Jika ini untuk kebaikan desa... saya akan
mencoba."
Sorak-sorai terdengar dari warga yang hadir. Rudi berteriak
"Hore!" dan memeluk Arga. Ibu-ibu bertepuk tangan. Pak Darma
tersenyum bangga, matanya berkaca-kaca.
Malam itu menjadi awal dari jalan baru dalam hidup Arga.
Jalan yang tidak mudah. Jalan yang penuh tantangan. Tapi jalan yang akan
membawanya pada takdirnya.
Namun perjalanan menuju kepemimpinan tidak semudah yang
dibayangkan. Keputusan Arga untuk maju sebagai calon kepala desa tidak diterima
oleh semua pihak. Apalagi setelah Pak Surya, kepala desa petahana, mengumumkan
akan maju kembali untuk periode keempat.
Pak Surya merasa terancam. Selama ini ia terbiasa menang
dengan mudah, karena tidak ada lawan yang berarti. Tapi kali ini, ada Arga.
Seorang anak muda dengan pendidikan tinggi, dengan visi perubahan, dengan
dukungan warga yang cukup besar.
Pertarungan pun dimulai.
Pak Surya menggunakan segala cara untuk menjatuhkan Arga.
Isu-isu negatif mulai disebarkan. Bahwa Arga anak durhaka yang meninggalkan
ibunya. Bahwa Arga selama di kota terlibat pergaulan bebas. Bahwa Arga hanya
ingin kaya dan berkuasa, tidak tulus membantu desa.
Desas-desus itu menyebar cepat dari mulut ke mulut. Di
warung-warung kopi, di pasar, di pertemuan-pertemuan warga, nama Arga disebut
dengan nada berbeda. Sebagian masih percaya, sebagian mulai ragu.
Arga tahu semua itu. Ia mendengar dari Rudi dan
teman-temannya. Tapi ia memilih diam. Ia tidak mau terpancing. Ia percaya
kebenaran akan berbicara sendiri.
Suatu malam, ia duduk sendirian di depan rumah bambunya.
Angin malam berhembus pelan, membawa suara jangkrik dari sawah. Bintang-bintang
bertaburan di langit, seperti biasa.
Ibunya, Bu Ratri, menghampirinya. Ia duduk di samping Arga,
seperti dulu ketika Arga masih kecil dan sedang bersedih.
"Kamu terlihat gelisah, Nak."
Arga mengangguk. "Banyak orang yang tidak menyukai
langkahku, Bu. Banyak fitnah yang beredar."
Bu Ratri diam sejenak. Lalu ia berkata dengan suara lembut,
"Perjalanan menuju kebaikan memang tidak selalu mudah, Le. Orang-orang
jahat akan selalu mencoba menjatuhkan."
"Tapi kenapa harus dengan cara-cara kotor? Kenapa
tidak adu visi dan program saja?"
Bu Ratri tersenyum. "Karena mereka tidak punya visi
dan program yang bagus. Jadi mereka pakai cara lain."
Arga menatap ibunya. "Apa aku harus berhenti,
Bu?"
Ibunya menatapnya tajam. Matanya yang tua tapi masih tajam
itu menusuk hati Arga.
"Jika niatmu benar, jangan berhenti hanya karena
kata-kata orang. Ayahmu dulu juga difitnah orang, tapi ia tetap bekerja di
sawah. Karena ia tahu apa yang benar."
Arga menarik napas panjang. Kata-kata ibunya selalu menjadi
penenang di saat gundah. Ia ingat ayahnya. Ayahnya yang sederhana, yang selalu
jujur, yang selalu bekerja keras meskipun difitnah orang.
"Tapi bagaimana dengan Pak Surya, Bu? Ia punya banyak
uang, banyak pengaruh."
"Ia punya uang, kamu punya hati. Ia punya pengaruh,
kamu punya dukungan dari mereka yang melihat kerja nyatamu. Itu lebih
berharga."
Percakapan malam itu membuat hati Arga lebih tenang. Ia
tahu ujian ini adalah bagian dari perjalanan yang harus ia lalui. Ia harus
tetap teguh pada prinsipnya. Ia harus membuktikan bahwa ia layak dipercaya.
Pendekatan Arga dalam kampanye berbeda dari biasanya. Ia
tidak menggunakan uang, tidak membagi-bagi sembako, tidak menjanjikan
proyek-proyek muluk. Ia memilih pendekatan yang lebih sederhana: mendatangi
warga satu per satu, berbicara dari hati ke hati.
Setiap malam, setelah bekerja di siang hari, Arga
berkeliling desa. Ia mendatangi rumah-rumah warga, duduk di beranda mereka,
minum kopi atau teh, dan berbicara tentang desa.
"Apa yang Bapak/Ibu butuhkan?" Itu selalu
pertanyaan pertamanya.
Warga bercerita tentang berbagai hal. Ada yang butuh
perbaikan irigasi. Ada yang butuh bantuan untuk sekolah anaknya. Ada yang butuh
modal usaha. Ada yang butuh perhatian untuk lansia yang terlantar.
Arga mendengarkan semua dengan sabar. Ia mencatat dalam
buku kecilnya. Tidak ada janji, tidak ada iming-iming. Hanya catatan dan
perhatian.
"Kamu beda, Ga." Kata seorang warga tua.
"Yang lain datang kalau mau pemilihan saja. Kamu sudah lama di sini,
membantu tanpa pamrih."
"Saya anak desa ini, Pak. Saya hanya ingin desa kita
maju."
Di tempat lain, ada juga warga yang sinis. "Kamu masih
muda, tahu apa tentang memimpin desa?"
Arga tidak tersinggung. Ia tersenyum dan menjawab,
"Memang saya masih muda, Pak. Tapi saya punya semangat dan ilmu. Dengan
bantuan Bapak dan warga lain, insya Allah bisa."
Perlahan tapi pasti, dukungan untuk Arga semakin menguat.
Warga melihat ketulusannya. Mereka melihat kerja nyata yang sudah ia lakukan
jauh sebelum kampanye dimulai. Mereka membandingkan dengan Pak Surya yang
jarang muncul, kecuali saat pemilihan.
Suatu hari, Rudi melaporkan, "Ga, dukungan untuk lo
makin banyak. Banyak warga yang sudah muak sama Pak Surya. Mereka bilang, sudah
tiga periode, desa nggak berubah."
Arga mengangguk, tapi ia tidak mau jumawa. "Kita tidak
boleh lengah, Rud. Masih banyak yang harus kita lakukan."
Meskipun menghadapi banyak tekanan dan fitnah, Arga tidak
berhenti bekerja. Ia terus mengajak para pemuda desa untuk bergerak. Kampanye
bukan alasan untuk berhenti berbuat.
Mereka mulai membuat berbagai kegiatan baru. Kelompok tani
dibentuk untuk membantu petani meningkatkan hasil panen. Arga mendatangkan
penyuluh pertanian dari kota, menggunakan ilmunya untuk membantu petani.
Beberapa pemuda belajar mengolah hasil pertanian menjadi
produk yang bisa dijual ke pasar. Singkong diolah menjadi keripik, pisang
diolah menjadi sale, mangga diolah menjadi manisan. Meskipun masih sederhana,
hasilnya mulai ada. Ibu-ibu mendapat tambahan penghasilan.
Arga juga mengajak anak-anak muda membuka kelas belajar
malam bagi anak-anak desa yang kesulitan membaca dan menulis. Yang mengajar
adalah pemuda-pemuda lulusan SMA yang selama ini menganggur. Mereka mendapat
sedikit honor dari sumbangan sukarela warga.
Awalnya hanya beberapa orang yang datang ke kelas belajar.
Namun semakin lama, semakin banyak anak yang ikut. Orang tua mereka senang,
karena anak-anak tidak hanya bermain di malam hari, tapi juga belajar.
Suatu hari, seorang petani tua, Pak Rasiman, berkata pada
Arga dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah lama desa ini tidak memiliki harapan seperti
sekarang, Nak. Dulu anak-anak saya pada pergi merantau, karena di sini tidak
ada masa depan. Tapi sekarang, melihat apa yang kamu lakukan, saya jadi punya
harapan lagi."
Arga tersenyum, hatinya hangat. "Harapan itu selalu
ada, Pak. Kita hanya perlu memperjuangkannya."
Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam. Tidak ada
keajaiban. Tapi perlahan-lahan, seperti tetesan air yang terus-menerus, desa
Sumber Langit mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
Anak-anak kembali bermain di halaman sekolah dengan seragam
bersih. Para pemuda mulai memiliki kegiatan yang lebih positif. Ibu-ibu sibuk
dengan usaha kecil-kecilan mereka. Petani-petani tersenyum melihat hasil panen
yang meningkat.
Dan yang paling penting, masyarakat mulai percaya bahwa
masa depan desa bisa menjadi lebih baik. Kepercayaan itu adalah modal paling
berharga.
Hari pemilihan kepala desa akhirnya tiba. Sejak pagi, warga
telah berdatangan ke balai desa. Sebagian mengenakan pakaian terbaik mereka,
seperti akan pergi ke pesta. Sebagian lagi datang dengan pakaian biasa, namun
dengan semangat yang sama.
Suasana terasa tegang. Dua kubu pendukung hadir dengan
atribut masing-masing. Pendukung Pak Surya datang dengan baju seragam dan
atribut yang rapi, bukti bahwa mereka punya dana besar. Pendukung Arga lebih
sederhana, hanya dengan stiker kecil dan spanduk buatan sendiri.
Arga berdiri di sudut halaman bersama ibunya. Ia terlihat
tenang, meskipun di dalam hatinya banyak perasaan yang bercampur. Debar
jantungnya cepat, tangannya sedikit gemetar.
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi." Katanya
pelan pada ibunya.
Bu Ratri tersenyum. Ia memegang tangan anaknya yang hangat.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Le. Apapun hasilnya, Ibu bangga
padamu."
Pak Darma juga datang, meskipun berjalan lambat dengan
tongkatnya. Ia duduk di bangku yang disediakan panitia, matanya mengawasi
jalannya pemilihan dengan saksama.
Proses pemungutan suara berlangsung hingga sore hari. Warga
datang satu per satu, masuk ke bilik suara, mencoblos, lalu memasukkan surat
suara ke kotak yang dijaga ketat.
Setelah itu, panitia mulai menghitung suara. Suasana tegang
semakin terasa. Masing-masing pendukung berkumpul di kelompoknya,
berbisik-bisik, berdoa dalam hati.
Satu per satu suara dibacakan. Nama Arga sering terdengar.
Namun beberapa suara juga diberikan kepada Pak Surya. Suasana menjadi semakin
tegang. Perhitungan berlangsung lambat, karena panitia harus teliti.
Menjelang magrib, perhitungan selesai.
Ketua panitia, seorang pria paruh baya dengan kacamata
tebal, berdiri di depan mikrofon. Ia membuka kertas hasil perhitungan dengan
tangan sedikit gemetar.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
jawab warga serempak.
Suasana hening. Semua mata tertuju pada ketua panitia.
"Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT,
berikut kami sampaikan hasil pemilihan kepala desa Sumber Langit periode
2020-2026."
Ia membaca satu per satu perolehan suara. Nama-nama calon
disebut, jumlah suara dibacakan.
Ketika sampai pada nama Arga, ia berhenti sejenak. Lalu
dengan suara lantang ia berkata,
"Dengan jumlah suara terbanyak... 1.247 suara... Arga
terpilih sebagai kepala desa Sumber Langit!"
Sorak-sorai langsung terdengar. Pendukung Arga berteriak
kegirangan, berpelukan, menangis haru. Spanduk-spanduk buatan sendiri
dikibarkan. Tepuk tangan gemuruh memecah kesunyian magrib.
Namun Arga justru terdiam. Ia berdiri mematung, tidak
percaya. Air mata mengalir di pipinya. Ia menoleh ke ibunya yang juga menangis,
lalu memeluknya erat.
"Le... kamu berhasil." Isak Bu Ratri.
Arga kemudian menatap langit sore yang berwarna keemasan.
Matahari hampir tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang
indah. Di dalam hatinya ia berkata,
"Ayah... mimpi kita akhirnya menjadi nyata."
Pak Darma mendekat, menepuk pundaknya. "Selamat, Arga.
Bapak tahu kamu bisa."
Rudi dan pemuda-pemuda lain mengerumuninya, mengangkatnya,
merayakan kemenangan. Warga berdatangan memberi selamat.
Di sudut lain, Pak Surya dan pendukungnya meninggalkan
tempat dengan wajah masam. Kekalahan telak ini pasti menyakitkan. Tapi
setidaknya, demokrasi desa telah berjalan.
Malam itu, desa Sumber Langit berpesta. Bukan pesta besar
dengan musik keras, tapi pesta sederhana dengan doa dan syukur. Warga berkumpul
di balai desa, makan bersama, bercerita, dan merayakan harapan baru.
Beberapa bulan setelah pelantikannya, perubahan di desa
semakin terasa. Program-program pembangunan mulai berjalan, tidak lagi hanya
rencana di atas kertas.
Jalan desa mulai diperbaiki, tidak hanya ditambal
lubangnya, tapi diaspal secara bertahap. Saluran irigasi diperluas dan diperkuat,
sehingga sawah-sawah mendapatkan air yang cukup sepanjang tahun. Sekolah
mendapat perhatian khusus: gedung direnovasi, buku-buku baru dibeli, guru-guru
mendapatkan pelatihan.
Kegiatan ekonomi masyarakat mulai berkembang. Kelompok tani
tidak hanya fokus pada pertanian, tapi juga pada pengolahan hasil.
Produk-produk olahan mulai dipasarkan ke luar desa, bahkan ke kota. Ibu-ibu
yang dulu hanya bergantung pada suami, kini punya penghasilan sendiri.
Para pemuda yang dulu menganggur dan putus asa, kini mulai
memiliki pekerjaan. Ada yang menjadi petani modern dengan metode baru, ada yang
mengelola usaha kecil, ada yang menjadi guru sukarela di kelas belajar.
Semangat kewirausahaan mulai tumbuh.
Suatu sore, Arga kembali berdiri di bukit kecil tempat ia
sering merenung sejak kecil. Dari sana ia bisa melihat seluruh desa.
Pemandangan yang dulu membuatnya sedih, kini membuatnya tersenyum.
Desa yang dulu tampak tertinggal, kini perlahan berubah.
Jalan-jalan mulai mulus. Rumah-rumah mulai diperbaiki. Sawah-sawah terlihat
lebih hijau dan terawat. Asap dapur mengepul di senja hari, tanda bahwa warga
bisa memasak dengan tenang.
Pak Darma, yang kini sudah sangat renta, datang
menghampirinya dengan berjalan lambat. Arga segera membantunya duduk di
rerumputan.
"Kamu sudah melakukan banyak hal, Arga." Kata Pak
Darma, suaranya parau karena usia.
Arga menggeleng pelan. "Perjalanan ini masih panjang,
Pak. Baru permulaan."
"Yang penting kamu sudah memulainya. Dan yang lebih
penting, kamu tidak melupakan desa ini."
Arga tersenyum. "Bagaimana bisa lupa, Pak? Di sinilah
saya dilahirkan. Di sinilah ayah saya dimakamkan. Di sinilah ibu saya tinggal.
Ini rumah saya."
Angin sore berhembus pelan, membawa kesejukan.
Burung-burung mulai beterbangan pulang ke sarangnya. Langit mulai berubah
jingga, pertanda hari akan berganti malam.
Arga menatap hamparan sawah yang luas. Ia teringat masa
kecilnya. Rumah bambu. Jalan tanah menuju sekolah. Ayahnya yang pergi ke sawah
setiap pagi. Ibunya yang berjualan sayur di pasar. Pak Darma yang memberinya
buku. Perjuangan di kota. Jatuh bangun. Hampir menyerah. Dan akhirnya kembali.
Kini ia mengerti satu hal: Takdir bukanlah sesuatu yang
hanya ditunggu. Takdir bukan garis hidup yang sudah ditetapkan tanpa bisa
diubah. Takdir adalah sesuatu yang bisa diperjuangkan. Takdir adalah hasil dari
pilihan-pilihan, kerja keras, dan keteguhan hati.
Dan seorang anak desa yang dulu hanya bermimpi, yang dulu
dianggap mustahil, yang dulu diremehkan, kini telah membuktikan bahwa
keberanian untuk bermimpi dapat mengubah masa depan.
EPILOG
Waktu berjalan tanpa pernah berhenti. Seperti aliran sungai
yang mengalir deras, tahun demi tahun berlalu meninggalkan jejak-jejaknya. Desa
Sumber Langit yang dahulu dikenal sebagai desa kecil yang tertinggal, kini telah
banyak berubah.
Dua puluh tahun setelah Arga pertama kali kembali ke desa,
Sumber Langit telah menjadi desa percontohan di kabupatennya. Jalan-jalan desa
sudah beraspal rapi, dengan lampu penerangan di sepanjang jalan. Saluran
irigasi mengalirkan air ke sawah-sawah yang hijau subur sepanjang tahun.
Sekolah dasar yang dulu hampir sepi, kini menjadi sekolah favorit dengan
fasilitas lengkap dan guru-guru berkualitas.
Bahkan, sekarang ada SMP dan SMA di desa. Anak-anak tidak
perlu lagi berjalan puluhan kilometer seperti Arga dulu. Mereka bisa sekolah di
desa sendiri, dekat dengan orang tua.
Lapangan desa yang dulu ditumbuhi rumput liar, kini menjadi
pusat kegiatan. Setiap sore, anak-anak bermain bola atau sekedar berlarian di
halaman. Orang tua duduk di bangku-bangku taman, mengawasi anak-anak mereka
sambil berbincang.
Warung-warung kecil tumbuh di mana-mana. Ada kafe, ada toko
kelontong, ada usaha kecil-kecilan yang dikelola warga. Ekonomi desa berputar,
tidak lagi bergantung pada kiriman dari perantau.
Yang paling membanggakan, banyak pemuda desa yang dulu
merantau, kini kembali pulang. Mereka membuka usaha, menjadi petani modern,
atau bekerja di sektor-sektor baru yang tumbuh di desa. Siklus pergi merantau
mulai terputus, digantikan dengan siklus membangun desa.
Di sebuah bangku kayu di pinggir lapangan, seorang pria tua
duduk memperhatikan anak-anak bermain dengan senyum tenang. Rambutnya telah
memutih, tubuhnya mulai renta, namun sorot matanya masih menyimpan semangat
yang sama seperti puluhan tahun yang lalu.
Dia adalah Arga.
Anak petani yang dulu berjalan kaki menyusuri jalan tanah
menuju sekolah. Anak desa yang pernah merantau, jatuh bangun menghadapi
kehidupan, dan kembali untuk memperjuangkan masa depan tanah kelahirannya. Kini
ia tidak lagi memegang jabatan apa pun. Ia telah pensiun sebagai kepala desa
lima tahun lalu, digantikan oleh generasi yang lebih muda.
Namun namanya masih sering disebut oleh warga desa. Bukan
karena kekuasaan, melainkan karena pengabdian. Karena jasa-jasanya. Karena
cintanya pada desa.
Seorang anak kecil berlari mendekatinya sambil membawa
sebuah buku. Wajahnya yang polos dan bersemangat mengingatkan Arga pada dirinya
sendiri dulu.
"Kakek Arga!"
Arga menoleh dan tersenyum. "Ada apa, Nak?"
Anak itu membuka bukunya dengan wajah penuh rasa ingin
tahu. Matanya yang bulat dan bening menatap Arga dengan penuh kekaguman.
"Guru di sekolah bercerita tentang Kakek. Katanya dulu
Kakek yang memulai banyak perubahan di desa ini. Waktu Kakek masih muda, desa
ini sangat tertinggal. Jalan rusak, listrik sering mati, sekolah hanya sampai
SD."
Arga tertawa kecil. Cerita itu memang sudah sering
diceritakan turun-temurun. "Kakek hanya melakukan apa yang seharusnya
dilakukan, Nak."
Anak itu menatapnya dengan mata berbinar. "Tapi guru
bilang, Kakek berani bermimpi. Kakek tidak menyerah meskipun banyak
kesulitan."
Arga mengangguk pelan. "Iya, Nak. Kakek memang tidak
pernah menyerah."
Anak itu berpikir sejenak, lalu bertanya dengan suara
polos, "Apakah orang dari desa kecil bisa menjadi orang besar?"
Pertanyaan itu menghentakkan hati Arga. Ia teringat pada
dirinya sendiri dulu, yang pernah bertanya hal serupa pada ayahnya. Ia teringat
pada Pak Darma, gurunya yang telah tiada. Ia teringat pada perjuangan panjang
yang telah ia lalui.
Ia menatap hamparan sawah di kejauhan. Padi-padi menguning,
siap panen. Angin sore bertiup pelan, membawa aroma khas pedesaan.
Burung-burung pipit beterbangan pulang ke sarang. Langit sore mulai berwarna
jingga keemasan, indah sekali.
Arga kemudian menatap anak itu, cucu dari Rudi sahabatnya,
dan berkata pelan,
"Dengar, Nak. Yang membuat seseorang besar bukan
tempat ia dilahirkan. Bukan kekayaan orang tuanya. Bukan sekolahnya yang
mentereng. Yang membuat seseorang besar adalah keberanian untuk bermimpi dan
bekerja keras mewujudkannya. Itu saja."
Anak itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi
susunya yang ompong di beberapa bagian.
"Kalau begitu, saya juga ingin melakukan sesuatu untuk
desa ini. Saya ingin seperti Kakek."
Arga menepuk bahunya dengan lembut. "Itulah yang
paling penting, Nak. Mimpi itu harus diturunkan. Harapan itu harus
diwariskan."
Anak itu berlari kembali ke lapangan, bergabung dengan
teman-temannya. Arga mendengar mereka bercerita tentang cita-cita: ada yang
ingin jadi dokter, ada yang ingin jadi guru, ada yang ingin jadi insinyur.
Semua bercita-cita tinggi, tidak seperti dulu ketika anak-anak desa hanya
bermimpi menjadi kuli di kota.
Matahari sore mulai tenggelam di balik perbukitan. Cahaya
keemasan menyelimuti desa Sumber Langit, membuat segalanya tampak damai dan
indah. Dari kejauhan terdengar suara azan magrib berkumandang dari masjid desa
yang megah, masjid yang dibangun dari gotong royong warga.
Arga memandang desa itu dengan hati yang tenang. Ia merasa
damai. Ia merasa bahwa hidupnya berarti.
Ia tahu bahwa perjuangannya dahulu bukan hanya tentang
membangun jalan, memperbaiki sekolah, atau menggerakkan masyarakat. Lebih dari
itu, perjuangannya adalah menanamkan harapan. Harapan bahwa desa kecil pun bisa
memiliki masa depan yang besar. Harapan bahwa kemiskinan bukan takdir yang tak
bisa diubah. Harapan bahwa anak-anak desa bisa meraih mimpi setinggi langit.
Dan kini harapan itu hidup di dalam hati generasi baru.
Anak-anak desa kini memiliki mimpi yang lebih besar. Mereka percaya bahwa dari
desa kecil pun seseorang bisa mengubah masa depan. Mereka tidak lagi merasa
rendah diri karena berasal dari desa. Mereka bangga pada tanah kelahirannya.
Arga berdiri perlahan, menopang tubuhnya yang mulai renta.
Ia berjalan menuju makam ayahnya yang tidak jauh dari sana. Di bawah pohon
besar yang rindang, nisan sederhana itu masih terawat baik. Setiap minggu ia
datang ke sini, membersihkan, mendoakan.
Hari ini, seperti biasa, ia duduk di samping makam itu.
Angin berhembus, daun-daun berguguran.
"Pak..." bisiknya pelan. "Arga sudah
menepati janji Arga. Desa kita sudah berubah. Ibu sudah tenang di sisi Bapak.
Anak-anak muda sekarang punya mimpi yang besar. Semua karena Bapak dulu
menanamkan mimpi pada Arga."
Ia berhenti sejenak, menahan haru.
"Terima kasih, Pak. Arga tidak akan pernah melupakan
semua pesan Bapak."
Di kejauhan, terdengar suara anak-anak tertawa riang. Suara
masa depan. Suara harapan.
Dan kisah Arga menjadi bukti bahwa:
Takdir bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Takdir bisa ditantang oleh mereka yang berani bermimpi, berani berjuang, dan
tidak pernah menyerah pada keadaan.
Karena dari sebuah desa kecil, lahir harapan yang mampu menerangi masa
depan.
TAMAT
CATATAN PENULIS
Kisah ini terinspirasi dari perjuangan nyata anak-anak desa
di berbagai pelosok negeri yang berani bermimpi di tengah keterbatasan. Setiap
desa memiliki Arga-nya masing-masing, setiap tanah kelahiran memiliki
pejuangnya sendiri. Mereka mungkin tidak terkenal, tidak masuk berita, tidak
diundang ke acara-acara besar. Namun merekalah pahlawan sejati yang membangun
negeri dari akar rumput.
Jika Anda membaca kisah ini dan merasa terinspirasi,
ingatlah bahwa mimpi tidak mengenal batas. Dari mana Anda berasal tidak
menentukan ke mana Anda akan pergi. Yang menentukan adalah keberanian untuk melangkah
dan keteguhan untuk tidak menyerah.
Untuk semua anak desa yang sedang berjuang di perantauan,
untuk semua pemuda yang pulang membangun kampung halaman, untuk semua orang tua
yang tak lelah berdoa dan bekerja—kisah ini untuk kalian.
Teruslah bermimpi.
Teruslah berjuang.
Karena takdir memang bisa ditantang.
Salam dari penulis,
Slamet Riyadi











