ANAK
DESA YANG MENANTANG TAKDIR
Novel
Perjuangan Seorang Anak Desa Melawan Keterbatasan Hidup dan Membawa Perubahan
bagi Tanah Kelahirannya
Oleh: Slamet Riyadi
Pagi baru saja membuka matanya di sebuah desa kecil yang
terletak jauh dari hiruk-pikuk kota. Matahari perlahan naik dari balik
perbukitan hijau, menyinari hamparan sawah yang luas seperti permadani alam
yang tak bertepi. Embun masih menempel di ujung-ujung daun padi, memantulkan
cahaya yang lembut seperti butiran mutiara kecil yang berkilauan diterpa sinar
mentari pagi. Burung-burung pipit terbang berkelompok dari satu pohon ke pohon
lainnya, menyambut hari baru dengan kicauan riang yang menghiasi kesunyian
desa. Ayam jantan berkokok bersahutan dari satu rumah ke rumah lainnya, seolah
menjadi penanda bahwa kehidupan baru akan segera dimulai.
Desa itu bernama Sumber Langit.
Nama yang terdengar indah, seolah-olah desa itu adalah
tempat di mana langit menurunkan segala berkahnya. Namun kenyataannya tidak
selalu demikian. Di balik keindahan alamnya yang mempesona, desa itu menyimpan
kisah panjang tentang keterbatasan, kemiskinan, dan perjuangan hidup yang tak
pernah kenal lelah. Hamparan sawah yang hijau itu tidak selalu menjamin perut
kenyang bagi para petani yang menggarapnya. Pemandangan bukit yang elok itu
tidak bisa mengusir rasa cemas ketika musim paceklik tiba. Sungai yang mengalir
jernih itu tidak bisa menghapus rasa khawatir ketika anak-anak harus
menyeberangi jembatan rapuh setiap hari untuk pergi ke sekolah.
Jalan utama desa masih berupa tanah merah yang keras dan
berdebu ketika kemarau, tetapi berubah menjadi lumpur licin yang membahayakan
ketika hujan turun. Setiap kali musim hujan tiba, warga harus ekstra hati-hati
melangkah. Banyak anak yang terjatuh dalam perjalanan ke sekolah. Banyak ibu-ibu
yang mengeluh karena hasil kebunnya sulit dijual ke pasar akibat jalan yang
becek dan licin. Sepeda motor pun jarang yang berani melintas, takut terpeleset
atau terperosok ke dalam lubang yang tertutup genangan air. Bahkan sesekali
terdengar kabar mobil pengangkut hasil pertanian terguling karena jalan yang
rusak parah.
Rumah-rumah penduduk berdiri sederhana, sebagian besar
terbuat dari kayu dan bambu yang sudah mulai rapuh dimakan usia. Atap-atap seng
yang telah berkarat berbunyi nyaring setiap kali angin kencang bertiup, seperti
genderang perang yang tak pernah berhenti memukul. Di malam hari, lampu minyak
tanah masih menjadi penerang utama di banyak rumah karena listrik sering padam
berjam-jam tanpa pemberitahuan. Sinyal telepon nyaris tak pernah stabil. Jika
ingin menelepon atau mengirim pesan, warga harus berjalan ke tempat yang lebih
tinggi, mencari titik di mana jaringan bisa ditangkap. Kadang mereka harus
memanjat pohon atau naik ke bukit kecil hanya untuk mendapatkan satu atau dua
batang sinyal.
Sekolah hanya sampai tingkat dasar.
Sekolah Menengah Pertama yang terdekat berada di kecamatan,
berjarak belasan kilometer dari desa. Setiap pagi, beberapa anak yang beruntung
harus naik sepeda ontel atau berjalan kaki berjam-jam untuk bisa mengenyam
pendidikan. Mereka berangkat pagi-pagi buta, ketika ayam baru mulai berkokok,
dan pulang ketika matahari sudah condong ke barat. Perjalanan yang melelahkan,
tapi harus ditempuh jika ingin melanjutkan sekolah. Sisanya, kebanyakan memilih
berhenti sekolah setelah lulus SD. Bukan karena tidak ingin melanjutkan, tetapi
karena ongkos dan jarak menjadi penghalang yang terlalu berat. Belum lagi biaya
seragam, buku, dan kebutuhan sekolah lainnya yang tidak bisa dijangkau oleh
kantong orang tua mereka yang pas-pasan.
Banyak anak desa yang akhirnya memilih meninggalkan tempat
itu ketika mereka dewasa.
Mereka pergi ke kota.
Mencari pekerjaan.
Mencari kehidupan yang lebih baik.
Mencari mimpi yang tak bisa mereka raih di desa.
Dan jarang sekali ada yang kembali.
Setiap kali ada perantau yang pulang, hanya untuk beberapa
hari saat lebaran atau ketika ada keluarga yang meninggal. Mereka datang dengan
pakaian yang lebih bagus, dengan logat bicara yang sedikit berubah, dengan
cerita tentang gemerlapnya kota. Tapi setelah itu, mereka pergi lagi.
Meninggalkan desa yang tetap sama seperti dulu. Meninggalkan sawah-sawah yang
tetap hijau namun tak cukup memberi harapan. Meninggalkan orangtua yang menua
sendirian di rumah-rumah bambu yang semakin lapuk.
Desa Sumber Langit perlahan menjadi desa yang sunyi. Sunyi
bukan karena tak ada orang, tetapi karena tak ada masa depan. Orang-orang muda
pergi, yang tinggal hanya yang tua-tua dan anak-anak kecil. Rumah-rumah kosong
mulai banyak, ditumbuhi rumput liar. Sawah-sawah mulai terbengkalai karena
tidak ada yang menggarap. Sekolah dasar kehilangan murid karena anak-anak ikut
orang tua merantau.
Namun di tengah sunyinya desa itu, masih ada yang percaya
pada mimpi.
Di sebuah rumah kecil yang berdiri di pinggir sawah,
kehidupan berjalan dengan kesederhanaan yang nyaris tanpa pilihan. Rumah itu
tidak besar, tidak megah, bahkan bisa dibilang sangat sederhana. Dindingnya
terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai kusam dimakan waktu dan cuaca.
Beberapa bagian anyaman sudah longgar, membuat angin malam masuk tanpa permisi.
Atapnya dari seng tua yang berbunyi keras setiap kali hujan turun, seperti
genderang perang yang tak pernah berhenti memukul.
Lantainya masih tanah yang dipadatkan, dilapisi tikar bambu
di beberapa sudut. Di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang
keluarga, hanya ada sebuah dipan bambu tua yang digunakan untuk duduk-duduk dan
menerima tamu. Di dinding, tergantung beberapa gambar usang: foto pernikahan
yang sudah menguning, kalender tahun lalu yang tidak diganti, dan ijazah SD Arga
yang dibingkai dengan kayu sederhana. Di sudut ruangan, ada sebuah lemari
pakaian dari kayu lapis yang catnya sudah mengelupas, pintunya miring karena
engselnya longgar.
Dapur rumah itu sangat sederhana. Hanya ada tungku kayu
bakar, beberapa periuk tanah, dan piring-piring beling yang sudah pecak di
beberapa bagian. Persediaan makanan tidak pernah banyak: beberapa kilogram
beras dalam wadah bambu, cabe kering yang digantung, bawang putih dan bawang
merah dalam keranjang kecil, serta tempe dan tahu yang dibeli seperlunya.
Namun di rumah itulah sebuah kisah besar akan dimulai.
Kisah tentang seorang anak kecil yang berani bermimpi di
tengah keterbatasan.
Kisah tentang perjuangan melawan keadaan yang sudah dianggap takdir.
Kisah tentang keberanian untuk tidak menerima begitu saja apa yang diberikan
hidup.
Kisah tentang cinta pada tanah kelahiran yang tak pernah padam.
Kisah tentang perjalanan panjang seorang anak desa yang ingin mengubah
dunianya.
Di dalam rumah itu tinggal seorang petani bernama Pak
Wiryo, istrinya Bu Ratri, dan seorang anak laki-laki kecil berusia tujuh tahun
bernama Arga.
Pak Wiryo adalah lelaki sederhana dengan kulit yang legam
terbakar matahari selama bertahun-tahun membajak sawah. Wajahnya diukir oleh
garis-garis kerutan yang dalam, peta perjalanan hidup yang penuh perjuangan.
Tangannya kasar oleh kapalan dan retak-retak akibat kerja keras bertahun-tahun
menggenggam cangkul dan sabit. Namun di balik fisiknya yang keras, tersimpan
hati yang lembut dan penuh kasih. Matanya selalu bersinar ketika memandang
anaknya, dan suaranya selalu lembut ketika berbicara pada istrinya.
Setiap hari ia pergi ke sawah sejak matahari belum
sepenuhnya terbit, ketika ayam jantan baru saja mulai berkokok bergantian dari
satu rumah ke rumah lainnya. Ia akan pulang ketika matahari sudah condong ke
barat, dengan tubuh letih namun tetap menyempatkan diri bercanda dengan Arga
sebelum beristirahat. Di sawah, ia bekerja sendiri, mencangkul, menanam,
merawat, hingga panen. Tidak pernah sekali pun ia mengeluh, meskipun hasil
panen sering tidak menentu.
Sementara Bu Ratri adalah perempuan yang lembut tetapi
tangguh. Tubuhnya kecil namun penuh energi. Ia membantu ekonomi keluarga dengan
menjual sayur di pasar desa setiap pagi. Setiap pukul tiga dini hari, ia sudah
bangun untuk memetik sayur dari kebun kecil di belakang rumah, membersihkannya,
mengikatnya rapi-rapi, lalu berjalan kaki ke pasar yang berjarak lima
kilometer. Ia baru pulang menjelang siang, dengan sisa sayur yang tak terjual
atau kadang hanya membawa uang pas-pasan.
Namun tak pernah sekalipun ia mengeluh. Setiap kali Arga
bertanya apakah ibunya lelah, Bu Ratri hanya tersenyum dan berkata, "Ibu
tidak lelah, Nak. Ibu bahagia bisa bekerja untukmu." Di sela-sela
kesibukannya, ia masih sempat menjahit baju tetangga untuk tambahan
penghasilan, menambal baju Arga yang sobek, dan memasak untuk keluarganya.
Mereka bukan orang kaya. Bahkan sering kali mereka harus
menghitung setiap rupiah yang mereka miliki. Setiap pembelian harus dipikirkan
matang-matang. Gula, kopi, minyak goring, semua diukur dengan cermat agar cukup
sampai akhir minggu. Daging hanya muncul di meja makan sekali atau dua kali
setahun, saat Idul Fitri atau Idul Adha. Hari-hari biasa, mereka hanya makan
nasi dengan sayur dari kebun dan sedikit tempe atau tahu. Ikan asin menjadi
lauk mewah yang hanya ada jika Bu Ratri dapat rezeki lebih.
Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga dari
harta benda.
Mereka memiliki kasih sayang yang tulus. Mereka memiliki keyakinan bahwa kerja
keras akan membuahkan hasil. Mereka memiliki harapan. Harapan bahwa suatu hari
nanti, kehidupan akan lebih baik. Harapan bahwa anak mereka tidak akan
mengalami pahitnya hidup seperti mereka.
Harapan bahwa dari desa kecil ini, akan lahir sesuatu yang besar.
****
Pagi di Desa Sumber Langit selalu datang dengan cara yang
sederhana namun indah. Matahari muncul perlahan dari balik perbukitan,
memancarkan cahaya hangat berwarna keemasan yang menyentuh hamparan sawah yang
luas. Embun masih menempel di daun-daun padi, berkilauan seperti berlian kecil
ketika terkena sinar matahari. Kabut tipis masih menyelimuti beberapa bagian
desa, menambah kesan misterius dan damai pada pemandangan pagi itu. Angin pagi
membawa aroma tanah basah yang menenangkan, bercampur dengan wangi bunga-bunga
liar yang tumbuh di pinggir-pinggir sawah.
Burung-burung pipit beterbangan dari satu pohon ke pohon
lainnya, menyambut hari baru dengan kicauan riang yang berpadu dengan kokok
ayam yang bersahutan dari berbagai penjuru desa. Ayam jantan milik Pak Karsono
berkokok paling keras, seolah ingin menunjukkan siapa yang paling berkuasa di
antara para ayam. Dari kandang milik Parto, terdengar lenguhan kerbau yang
mulai gelisah ingin segera digembalakan ke sawah. Sesekali terdengar suara
orang-orang yang mulai beraktivitas di dapur masing-masing, bunyi periuk dan
wajan, suara kayu bakar yang dinyalakan. Asap mengepul dari cerobong-cerobong
dapur sederhana, pertanda bahwa ibu-ibu sudah mulai memasak untuk sarapan
keluarga. Aroma masakan sederhana mulai tercium: nasi, sambal, dan kadang ikan
asin yang digoreng.
Di pinggir sawah itulah berdiri sebuah rumah kecil yang
terbuat dari bambu.
Rumah itu tidak besar, bahkan bisa dibilang sangat
sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai pudar
warnanya dimakan usia dan cuaca. Beberapa bagian anyaman sudah mulai longgar,
meninggalkan celah-celah kecil yang menjadi jalan masuk angin di malam hari. Di
musim hujan, angin dingin masuk tanpa ampun, membuat penghuninya harus
meringkuk di bawah selimut tipis. Atap sengnya tampak kusam dan berkarat di
beberapa bagian, dengan beberapa lubang kecil yang telah ditambal dengan
potongan seng bekas atau bahkan daun rumbia. Setiap kali hujan, Bunyi air
menetes di ember-ember dan panci yang sengaja diletakkan di titik-titik bocor
menjadi irama yang tak pernah berhenti.
Di depan rumah, ada beranda kecil yang juga terbuat dari
bambu. Di beranda itulah keluarga kecil ini biasa duduk-duduk di sore hari,
menikmati angin sepoi-sepoi sambil memandangi hamparan sawah yang terbentang
luas. Beberapa pot tanaman sederhana—bunga-bunga liar yang ditanam Bu Ratri
dalam kaleng bekas susu—menghiasi sudut beranda, memberi sedikit warna pada
kesederhanaan rumah itu. Ada bunga matahari, beberapa jenis mawar lokal, dan
tanaman obat seperti jahe dan kunyit yang ditanam di karung bekas.
Lantai rumah masih berupa tanah yang dipadatkan, namun
ditutupi tikar pandan di beberapa ruangan. Tikar-tikar itu sudah mulai aus,
beberapa bagian sudah robek, tapi masih sering dicuci dan dijemur sehingga
tetap bersih. Perabotan di dalamnya sangat sederhana: beberapa dipan bambu
untuk duduk dan tidur, sebuah meja kayu kecil yang sudah usang dengan kaki yang
tidak sama panjang (digenjot dengan potongan kayu), lemari pakaian dari kayu
lapis yang catnya sudah mengelupas, serta peralatan dapur seadanya yang
tersusun rapi di sudut dapur. Lemari pakaian itu pintunya miring dan sulit
ditutup, sehingga sering ditahan dengan kursi di malam hari.
Namun rumah itu selalu dipenuhi kehangatan.
Bukan kehangatan dari selimut tebal atau pakaian bagus,
melainkan kehangatan dari kasih sayang yang mengalir di antara penghuninya. Di
rumah itulah tawa Arga kecil selalu terdengar setiap kali ayahnya bercanda atau
ibunya menyanyikan lagu-lagu sederhana. Di rumah itulah cerita-cerita tentang
masa lalu diceritakan berulang-ulang, tentang bagaimana Pak Wiryo dan Bu Ratri
muda dulu berjuang membangun kehidupan dari nol. Di rumah itulah doa-doa
dipanjatkan setiap malam, memohon perlindungan dan rezeki yang berkah.
Di rumah itulah tinggal Arga, seorang anak laki-laki
berusia tujuh tahun, bersama kedua orang tuanya: Pak Wiryo dan Bu Ratri.
Pak Wiryo sudah bangun sejak subuh, seperti biasa. Sebagai
petani, ia tidak mengenal hari libur. Sawah tidak mengenal minggu atau hari
raya. Padi harus dirawat setiap hari, air harus diatur, rumput liar harus
dibersihkan, hama harus diusir. Semua itu tidak bisa ditunda-tunda. Bahkan
ketika hujan turun lebat, ia tetap ke sawah untuk memeriksa saluran air agar
tidak banjir.
Ia berdiri di depan rumah sambil mengikatkan kain di kepalanya—sebuah
cara sederhana untuk menahan terik matahari yang sebentar lagi akan memanggang
sawah. Kain itu sudah lusuh dan kusam, peninggalan almarhum ayahnya. Tangannya
memegang cangkul yang sudah lama menemaninya bekerja, dengan gagang kayu yang
sudah halus karena bertahun-tahun digenggam, dan mata cangkul yang sudah
menipis karena sering diasah. Di pinggangnya terselip sabit untuk memotong
rumput atau ranting yang mengganggu.
Di sampingnya, tergeletak keranjang anyaman bambu yang akan
digunakan untuk membawa hasil panen atau rumput untuk pakan ternak. Pak Wiryo
memang tidak punya kerbau atau sapi, tapi ia memelihara beberapa ekor kambing
di kandang kecil di belakang rumah. Kambing-kambing itu adalah tabungan
hidupnya, yang akan dijual jika ada kebutuhan mendesak.
Arga keluar dari rumah sambil mengucek-ngucek matanya yang
masih berat. Rambutnya masih awut-awutan, belum disisir. Bajunya kusut dan
sedikit basah karena bekas keringat tidur. Ia berjalan tertatih menuju ayahnya,
lalu duduk di tangga bambu sambil menguap lebar, memperlihatkan deretan gigi
susunya yang masih lengkap.
"Bapak sudah mau ke sawah?" tanyanya dengan suara
masih serak karena baru bangun tidur.
Pak Wiryo menoleh dan tersenyum melihat anaknya yang masih
setengah mengantuk. Di matanya, tidak ada yang lebih indah dari pemandangan
ini: anaknya yang sehat, rumahnya yang sederhana namun hangat, dan hari baru
yang menanti.
"Iya, Le. Padi tidak akan tumbuh kalau Bapak hanya
tidur di rumah." Jawabnya sambil mengikat tali celana. "Padi itu
seperti anak kecil, harus dirawat setiap hari. Kalau ditinggal, nanti rumputnya
tumbuh subur, padinya kalah."
Arga tertawa kecil dengan suara khas anak-anak. Ia
menggeliat, mencoba mengusir rasa kantuk yang masih tersisa. Matanya mulai
terbuka lebar, menangkap pemandangan sawah yang luas di depannya. Beberapa
petani sudah mulai kelihatan di kejauhan, mungkin sudah bekerja sejak subuh.
"Bapak tidak capek bekerja setiap hari?" tanya
Arga lagi. Pertanyaan itu sudah sering ia lontarkan, namun ia selalu penasaran
dengan jawaban ayahnya. Bagaimana bisa seseorang bekerja dari pagi hingga sore
tanpa lelah?
Pak Wiryo berhenti sejenak dari aktivitasnya. Ia meletakkan
cangkul, lalu berjalan mendekati Arga. Ia duduk di samping anaknya di tangga
bambu itu, merasakan kayu yang sedikit lembab karena embun pagi. Ia menghela
napas, memandangi hamparan sawah yang kelak akan diwariskan pada anaknya.
"Capek itu biasa, Nak." Jawabnya pelan, dengan
suara yang dalam dan penuh makna. "Tapi kalau kita bekerja untuk keluarga,
capek itu terasa ringan. Bapak capek, tapi Bapak tahu kalau hasil dari kerja
Bapak bisa buat kamu makan, bisa buat kamu sekolah. Itu yang membuat capek
Bapak jadi hilang."
Arga mengangguk pelan, meskipun mungkin belum sepenuhnya
mengerti filosofi di balik kata-kata ayahnya. Tapi ia mengerti satu hal:
ayahnya bekerja keras untuk keluarganya. Ia melihat bagaimana ayahnya pulang
dengan tubuh letih, tapi tetap tersenyum dan meluangkan waktu bermain
dengannya.
Tak lama kemudian Bu Ratri keluar dari dapur sambil membawa
nasi hangat dan sayur sederhana di atas nampan bambu. Rambutnya disanggul
sederhana, dan sarung yang ia kenakan masih bersih meskipun sudah lusuh dimakan
usia. Wajahnya masih segar meskipun ia sudah bangun sejak pukul tiga pagi untuk
memasak dan menyiapkan dagangan sayurnya. Keringat tipis membasahi dahinya,
tapi ia tetap tersenyum.
"Wiryo, makan dulu sebelum ke sawah." Katanya
lembut sambil meletakkan nampan di lantai beranda.
Pak Wiryo bangkit dan duduk di dekat nampan. Arga ikut
duduk di sampingnya. Mereka makan bersama dengan sederhana. Tidak ada lauk
mewah di atas meja: hanya nasi putih hangat, sayur bayam bening dengan sedikit
jagung pipilan, dan beberapa potong ikan asin yang digoreng garing. Sambal
terasi di mangkuk kecil melengkapi hidangan sederhana itu. Di piring kecil,
terong goreng yang dipotong bulat-bulat menambah variasi.
Namun mereka makan dengan rasa syukur yang besar.
"Ini enak sekali, Bu." Puji Pak Wiryo sambil
menyendok sayur bayam ke mulutnya. "Wah, bayamnya masih kres-kres gini,
enak."
Bu Ratri tersenyum senang mendengar pujian suaminya.
"Syukurlah kalau Bapak suka. Ini bayamnya baru petik dari kebun tadi pagi.
Masih segar. Sama jagungnya juga baru, manis."
"Ibu, ikan asinnya yang ini buat Arga ya?" tanya
Arga sambil menunjuk ikan asin yang paling besar di piring. Ikan itu utuh,
masih dengan kepala dan ekornya.
Bu Ratri dan Pak Wiryo saling pandang, lalu tersenyum.
Mereka terharu melihat anaknya yang sudah berpikir untuk membagi makanan.
"Iya, Le. Makan yang banyak biar cepat besar. Biar
pintar." Kata Bu Ratri sambil menambahkan nasi ke piring Arga.
Arga makan dengan lahap, sesekali mencelupkan ikan asin ke
sambal meskipun lidahnya kepedasan. Matanya langsung berkaca-kaca, mukanya
memerah.
"Awas, pedas!" teriaknya sambil megap-megap.
Melihat itu, Bu Ratri segera mengambil air minum dari kendi
tanah liat. "Pelan-pelan, Le. Nanti kepedasan."
Arga menerima air itu dan meminumnya dengan tergesa-gesa,
hingga air tumpah membasahi dagunya. "Ih, pedasnya nendang, Bu!"
katanya sambil menjulurkan lidah dan mengibas-ngibaskan tangan.
Mereka tertawa bersama. Tawa yang hangat di pagi yang
cerah. Tawa yang membuat rumah bambu itu terasa lebih luas dari istana manapun.
Bagi keluarga kecil itu, kebersamaan jauh lebih penting
daripada kemewahan. Mereka tidak punya banyak harta, tapi mereka punya satu
sama lain. Mereka tidak punya meja makan besar, tapi mereka punya tikar
sederhana yang bisa digunakan untuk makan bersama. Mereka tidak punya piring
mahal, tapi mereka punya nasi hangat yang bisa mengenyangkan perut.
Di tengah kesederhanaan itulah Arga tumbuh.
Ia tidak memiliki banyak mainan seperti anak-anak kota.
Tidak ada robot-robotan, tidak ada mobil-mobilan, tidak ada boneka mahal. Tapi
ia memiliki alam sebagai tempat bermainnya. Sungai dengan air jernihnya, sawah dengan
lumpurnya, pohon-pohon dengan buah-buah liar yang bisa dipetik. Ia bisa
berlarian sepuasnya tanpa takut kotor, karena ibunya akan mencuci bajunya
dengan sabar.
Ia tidak memiliki pakaian bagus seperti yang dijual di
toko-toko kota. Kebanyakan pakaiannya adalah pemberian dari tetangga atau
kerabat, yang sudah dipakai berkali-kali dan diwariskan. Tapi ibunya selalu
menjahitkan tambalan di bagian yang sobek, mencuci hingga bersih, dan
menyetrikanya dengan rapi. Baju-baju itu tidak bagus, tapi bersih dan wangi.
Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak anak
lain: kasih sayang orang tua yang tulus dan semangat untuk belajar yang tak
pernah padam. Ia memiliki orang tua yang selalu punya waktu untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaannya yang tak ada habisnya. Ia memiliki orang tua yang
selalu mendukungnya, meskipun dalam keterbatasan.
Setelah sarapan, Pak Wiryo berangkat ke sawah. Arga
melambai dari beranda, melihat ayahnya berjalan menyusuri pematang dengan
langkah tegap meskipun tubuhnya sudah mulai renta. Pematang sawah itu sempit,
hanya cukup untuk satu orang berjalan. Di kanan kiri, hamparan padi yang mulai
menguning bergoyang lembut ditiup angin.
"Bapak, pulangnya jangan sore-sore!" teriak Arga.
"Iya, Le!" jawab Pak Wiryo sambil tetap berjalan
tanpa menoleh.
Arga kemudian membantu ibunya membereskan piring-piring
kotor. Meskipun hanya membawa piring ke dapur, ia melakukannya dengan senang
hati. Bu Ratri selalu mengajarinya untuk membantu pekerjaan rumah sejak kecil.
Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil atau terlalu rendah. Semua dilakukan
dengan senang hati.
"Nak, nanti kamu mandi ya. Terus siap-siap ke sekolah.
Ibu mau ke pasar dulu." Kata Bu Ratri sambil mengemas sayur-mayur ke dalam
keranjang besar. Sayur-mayur itu hasil kebun di belakang rumah: bayam,
kangkung, sawi, beberapa terong, dan cabe rawit. Semua diikat rapi dan ditata
cantik agar menarik pembeli.
"Iya, Bu. Arga nanti mandi sendiri." Arga selalu
bangga bisa mandi sendiri tanpa dibantu. Ia sudah besar, katanya.
Bu Ratri mencium kening anaknya sebelum pergi.
"Hati-hati di sekolah. Jangan nakal ya. Dengerin kata guru."
"Arga nggak nakal, Bu. Arga anak baik." jawabnya
polos.
Bu Ratri tersenyum dan segera berangkat ke pasar dengan
keranjang sayur di tangannya. Ia harus berjalan kaki sejauh lima kilometer ke
pasar desa, tempat ia biasa menjual sayur dari kebunnya. Jika beruntung,
dagangannya akan laku sebelum siang. Jika tidak, ia harus pulang dengan sisa
sayur dan uang yang pas-pasan. Perjalanan pulang pergi sepuluh kilometer itu
harus ditempuh setiap hari, dalam panas atau hujan.
Arga duduk sendirian di beranda setelah ibunya pergi. Ia
memandangi sawah yang luas di depannya. Angin pagi masih bertiup sepoi-sepoi,
membuat bulir-bulir padi bergoyang lembut. Di kejauhan, ia bisa melihat
beberapa petani yang sudah mulai bekerja. Ada yang mencangkul, ada yang
membersihkan rumput, ada pula yang mengatur air di pematang sawah. Ia mengenali
mereka: ada Pak Karsono dengan topi capingnya, ada Wakijan yang bertelanjang
dada meskipun pagi, ada juga Parto dengan kerbau-kerbaunya.
Dalam benak Arga yang masih kecil, pemandangan itu biasa
saja. Ia belum mengerti bahwa dari pemandangan sederhana inilah, dari rumah
bambu di pinggir sawah inilah, sebuah perjalanan panjang akan dimulai.
Perjalanan yang akan membawanya ke tempat-tempat yang jauh, ke dunia yang tak
pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia belum tahu bahwa kelak ia akan merindukan pemandangan
ini ketika berada jauh di perantauan. Ia akan merindukan suara burung pipit di
pagi hari, aroma tanah basah setelah hujan, dan hamparan sawah yang hijau
terbentang luas. Ia akan merindukan rumah bambu sederhana ini lebih dari apa
pun di dunia. Ia akan merindukan suara ayahnya yang memanggil, dan senyum
ibunya yang menenangkan.
Tapi itu semua masih jauh di masa depan.
Saat ini, Arga hanyalah seorang anak kecil yang harus
bersiap-siap ke sekolah. Ia bangkit, masuk ke dalam rumah, mengambil handuk dan
gayung, lalu menuju ke sumur di belakang rumah untuk mandi. Sumur itu dangkal,
airnya kadang surut di musim kemarau. Tapi pagi ini airnya cukup banyak. Ia
menimba dengan hati-hati, mengguyur tubuhnya yang kecil. Air dingin membuatnya
menggigil, tapi ia tetap semangat.
****
Sekolah dasar di Desa Sumber Langit bernama SD Negeri
Sumber Langit. Sekolah itu terletak hampir tiga kilometer dari rumah Arga, di
ujung desa dekat perbatasan dengan desa tetangga. Bangunannya sederhana, hanya
beberapa ruang kelas dari papan kayu dengan atap genting yang sudah banyak
berlumut. Halamannya luas, dengan dua pohon besar yang memberikan keteduhan di
siang hari. Satu pohon asam, satu pohon beringin. Di bawah pohon itulah
murid-murid biasa bermain atau berteduh saat istirahat.
Setiap pagi, Arga harus berjalan kaki melewati pematang
sawah yang sempit, jalan tanah yang berdebu atau becek tergantung musim, dan
sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu tua yang sudah mulai rapuh.
Jembatan itu hanya cukup untuk dilalui pejalan kaki atau sepeda, dengan
papan-papan kayu yang jika diinjak mengeluarkan bunyi "krek-krek"
seperti akan patah. Di bawahnya, sungai mengalir dengan batu-batu besar. Jika
jatuh, bisa celaka.
Hari itu matahari baru saja terbit ketika Arga berangkat
bersama beberapa temannya. Mereka berjalan berkelompok, berbincang dan bercanda
di sepanjang jalan. Ada Bima, anak gemuk yang suka makan dan paling senang
bercerita tentang makanan. Setiap hari ia selalu bercerita tentang makanan enak
yang ia makan kemarin, atau makanan yang ia impikan. Ada Joko, anak yang
pendiam tapi pintar memancing di sungai. Ia jarang bicara, tapi kalau sudah
soal ikan, matanya langsung berbinar. Ada Wati dan Siti, dua perempuan kembar
yang selalu kompak dalam segala hal. Mereka berpakaian sama, berbicara kadang
bergantian kadang bersamaan, dan selalu bersama. Kadang-kadang ada juga
beberapa anak lain yang bergabung, tergantung siapa yang berangkat lebih pagi.
Tas Arga sangat sederhana, terbuat dari kain bekas yang
dijahit oleh ibunya menjadi bentuk tas. Warna aslinya mungkin biru, tapi
sekarang sudah pudar menjadi abu-abu kebiruan. Beberapa bagian sudah ditambal
dengan kain perca berbagai warna: merah, hijau, kuning. Tali tasnya sudah
beberapa kali putus dan disambung, sehingga panjangnya tidak sama. Tapi Arga
tetap menyayanginya, karena itu buatan ibunya.
Di dalam tas itu hanya ada beberapa buku tulis yang sudah
dihapus dan dipakai ulang beberapa kali, sebuah pensil pendek yang sudah sering
diraut hingga hampir habis, sebuah penghapus kecil yang sudah aus dan hampir
tidak bisa menghapus, dan bekal makanan sederhana: nasi dengan sedikit sayur
dan sambal, dibungkus daun pisang. Kadang ada juga telur rebus jika ibunya
punya rezeki lebih.
Di tengah perjalanan, Bima yang paling cerewet mulai
bertanya-tanya.
"Ga, kamu nggak capek jalan jauh setiap hari?"
tanyanya sambil terengah-engah. Badannya yang gemuk membuatnya cepat lelah, apalagi
berjalan di pematang sawah yang naik turun. Keringat sudah membasahi bajunya
meskipun baru berjalan sebentar.
Arga menggeleng dengan mantap. "Nggak capek. Aku malah
senang." Jawabnya sambil melompat-lompat kecil di pematang, menunjukkan
bahwa ia masih penuh energi.
"Senang?" Bima mengerutkan dahi, tidak mengerti.
"Senang apanya? Capek-capek gini, panas-panas gini?"
Arga menunjuk ke arah sekolah yang terlihat kecil di
kejauhan. Di balik gedung sekolah itu, terlihat bukit-bukit hijau yang
menjulang dengan awan-awan putih bergelayut manis di puncaknya. Pemandangan itu
indah sekali, seperti lukisan.
"Karena di sana aku bisa belajar banyak hal. Kata
guru, dengan belajar, kita bisa tahu banyak hal tentang dunia. Tentang luar
negeri, tentang hewan-hewan, tentang bintang-bintang."
Bima tertawa kecil, nada tawanya agak mengejek.
"Belajar itu membosankan. Aku lebih suka main di sungai, mancing, atau
nyari belut di sawah. Itu baru menyenangkan."
Wati dan Siti yang mendengar percakapan itu ikut nimbrung.
Wati, yang sedikit lebih berani dari adiknya, berkata, "Bima, kamu itu
males. Nanti kamu bodoh terus."
Siti menimpali, "Iya, nanti kamu nggak bisa baca. Malu
sama teman-teman."
Bima cemberut. "Biarin. Bapakku juga nggak sekolah,
tapi bisa kaya."
Joko yang dari tadi diam, tiba-tiba bersuara. Suaranya
pelan, tapi semua mendengar. "Bapakmu kaya karena dapat warisan. Kalau
nggak dapat warisan, kamu sudah jadi pengemis kali."
Semua tertawa, termasuk Bima yang akhirnya ikut tertawa
meskipun agak dipaksakan. "Iya juga sih. Tapi tetap, belajar itu bikin
pusing."
Arga tidak ikut mengejek. Ia justru terus berjalan dengan
langkah ringan, sesekali menoleh ke kanan kiri menikmati pemandangan. Baginya,
setiap perjalanan ke sekolah adalah petualangan kecil yang menyenangkan. Ia suka
melihat capung beterbangan di atas sawah, atau burung-burung kecil yang mandi
di genangan air. Ia suka menghitung jenis tanaman yang tumbuh di pinggir jalan,
atau memperhatikan kehidupan semut-semut yang berbaris rapi membawa makanan.
"Lihat itu!" teriak Arga tiba-tiba sambil
menunjuk ke arah sawah.
Semua menoleh. Di tengah sawah, tampak seekor bangau putih
sedang berdiri dengan anggun, mengintai ikan atau kodok di air. Lehernya
panjang, paruhnya runcing. Ia bergerak pelan, lalu tiba-tiba menyambar dengan
cepat.
"Wah, bangau!" seru Bima. "Awas
ikannya!"
Mereka berhenti sejenak untuk menyaksikan burung itu
terbang dengan sesuatu di paruhnya. Mungkin seekor ikan kecil atau kodok.
Burung itu terbang rendah di atas sawah, lalu menghilang di balik pepohonan.
"Untung bangau nggak makan padi." Kata Joko.
"Kalo makan padi, wah, petani pada marah."
Mereka melanjutkan perjalanan. Ketika melewati jembatan
kayu yang biasa mereka lalui, tiba-tiba Wati yang paling penakut berteriak.
"Awas! Papannya goyang!"
Benar saja, salah satu papan kayu di jembatan itu sudah
longgar. Jika diinjak di ujung yang salah, papan itu bisa terbalik dan membuat
orang terjatuh ke sungai di bawahnya. Sungai itu tidak terlalu dalam, tapi
airnya cukup deras dan penuh batu-batu besar. Pernah ada anak yang jatuh dan
kakinya terluka parah karena terbentur batu.
Mereka berhenti, bingung harus bagaimana. Bima yang paling
gemuk mulai panik. Wajahnya pucat.
"Gimana dong? Aku nggak berani lewat. Aku berat, pasti
ambrol."
Joko, yang paling tenang di antara mereka, maju ke depan.
Ia mengamati jembatan itu dengan saksama, mencari tahu bagian mana yang aman
untuk dilewati. Matanya menyipit, memperhatikan setiap papan.
"Kita harus lewat satu-satu. Pegangan erat-erat di
tali bambu ini." Katanya sambil menunjuk tali bambu yang berfungsi sebagai
pegangan di sisi jembatan. "Yang paling ringan duluan."
Siti, yang paling kecil dan ringan, maju duluan. Ia
berjalan perlahan, memegang erat tali bambu. Setiap langkah ia rasakan dengan
hati-hati. Ketika sampai di papan yang goyang, ia melompat kecil melewatinya,
lalu melanjutkan lagi. Semua menarik napas lega ketika ia berhasil sampai di
seberang.
Giliran Wati, kemudian Joko, lalu Bima. Bima hampir
terjatuh karena badannya yang berat membuat papan bergoyang lebih keras. Ia berteriak
histeris, hampir menangis.
"Tolong! Tolong! Aku mau jatuh!"
Joko yang sudah di seberang, kembali setengah jalan untuk
memegangi Bima. "Pelan-pelan, Bim. Jangan panik. Pegang tanganku."
Dengan susah payah, Bima akhirnya berhasil menyeberang. Ia
langsung duduk di rerumputan, mengatur napasnya yang terengah-engah. Wajahnya
pucat pasi.
"Aku hampir jatuh tadi!" katanya sambil memegangi
dadanya. "Aku mau mati rasanya."
Arga, yang menyeberang paling akhir, melakukannya dengan
tenang. Ia sudah biasa melewati jembatan ini setiap hari, meskipun memang agak
menakutkan.
Setelah semua selamat, mereka menghela napas lega.
Kemudian, tiba-tiba, mereka tertawa bersama. Tawa lepas melepaskan ketegangan.
"Untung Joko ada!" kata Wati.
"Iya, Joko pahlawan kita." Siti menimpali.
Joko tersenyum malu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Perjalanan dilanjutkan. Mereka melewati kebun-kebun
penduduk, sawah-sawah yang mulai menguning, dan beberapa rumah penduduk yang
masih sepi karena penghuninya sudah pergi ke sawah atau ke pasar. Anjing-anjing
kampung menggonggong dari kejauhan, tapi tidak berani mendekat karena sudah
kenal dengan anak-anak ini.
Mereka melewati rumah Mbah Joyo, sesepuh desa. Mbah Joyo
sedang duduk di beranda, menghisap pipanya seperti biasa. Melihat anak-anak
lewat, ia melambai.
"Pagi, Mbah!" sapa Arga.
"Pagi, cah ayu." jawab Mbah Joyo dengan suara
parau. "Hati-hati di jalan. Sekolah sing sregep, yo."
"Iya, Mbah."
Mereka juga melewati warung Bu Lastri yang baru buka. Bu
Lastri sedang menata dagangannya: rokok, permen, minuman ringan, dan beberapa
kebutuhan pokok. Melihat anak-anak, ia berteriak, "Mau jajan,
cah-cah?"
Mereka hanya tersenyum dan menggeleng. Uang jajan mereka
terbatas, hanya cukup untuk jajan sekali-sekali. Tapi hari ini bukan hari
jajan.
Ketika mereka sampai di sekolah, bel masuk baru saja
berbunyi. Mereka berlari menuju kelas masing-masing, tidak ingin terlambat. Pak
Dirjo, guru olahraga yang terkenal galak, sudah berdiri di depan gerbang dengan
daftar hadir.
"Kalau terlambat, lari keliling lapangan sepuluh
kali!" teriaknya.
Mereka memacu kaki sekuat tenaga. Arga dan Joko paling
cepat, diikuti Wati dan Siti. Bima tertinggal jauh, terengah-engah. Untunglah
mereka semua sampai tepat waktu, meskipun Bima hampir jatuh tersandung batu.
Sekolah itu sangat sederhana. Bangunannya dari papan kayu
yang catnya sudah mulai pudar. Lantainya dari semen kasar yang di beberapa
tempat sudah retak-retak, bahkan ada yang berlubang kecil. Atapnya dari genting
yang jika hujan turun, sering bocor di beberapa titik. Murid-murid harus
pintar-pintar memilih tempat duduk agar tidak kehujanan saat pelajaran
berlangsung. Beberapa murid bahkan harus bergeser-geser mengikuti arah bocoran
air.
Ruang kelas Arga tidak terlalu besar. Mungkin hanya cukup
untuk dua puluh murid, tapi diisi oleh dua puluh lima sampai tiga puluh anak.
Bangku dan meja dari kayu yang sudah tua, dengan coretan-coretan bekas
murid-murid sebelumnya. Ada ukiran nama, gambar tidak jelas, bahkan lubang
bekas bolpoin yang ditusuk-tusukkan. Papan tulisnya dari papan hitam yang sudah
mulai keputihan di beberapa bagian, kapur tulisnya sering habis dan harus
dibeli sendiri oleh murid.
Namun di tempat itulah banyak mimpi kecil tumbuh. Di tempat
itulah anak-anak desa belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengenal dunia
yang lebih luas melalui buku-buku pelajaran yang terbatas. Di tempat itulah
mereka belajar tentang Indonesia, tentang pahlawan-pahlawan, tentang cita-cita.
Di dalam kelas, Arga selalu duduk di bangku paling depan.
Bukan karena ia murid terkecil, tapi karena ia ingin dekat dengan guru dan
papan tulis. Ia ingin bisa melihat dan mendengar dengan jelas semua yang
diajarkan. Ia tidak ingin melewatkan satu kata pun.
Bu Narti, guru kelasnya selain Pak Darma, sudah siap di
depan kelas dengan buku pegangan di tangannya. Bu Narti adalah guru yang sabar
dan lembut. Rambutnya disanggul rapi, bajunya selalu bersih meskipun sederhana.
Ia mengajar dengan penuh dedikasi, sabar menjelaskan berulang-ulang sampai
murid-muridnya mengerti.
"Hari ini kita akan belajar membaca." Katanya
memulai pelajaran. "Keluarkan buku bacaan kalian."
Murid-murid mengeluarkan buku masing-masing. Buku-buku itu
lusuh, bergantian dipakai dari kakak ke adik. Halamannya sudah banyak yang
robek, ada yang coret-coret. Tapi mereka tetap membacanya dengan semangat.
Arga membuka bukunya. Buku cerita bergambar, judulnya
"Si Kancil dan Buaya". Ia sudah membaca buku ini berkali-kali, tapi
tetap saja seru. Ia suka cerita tentang kancil yang cerdik, yang selalu bisa
mengelabui musuhnya.
"Siapa yang mau membaca nyaring?" tanya Bu Narti.
Beberapa tangan mengacung, termasuk Arga. Bu Narti
menunjuknya.
"Ayo, Arga. Baca dengan suara jelas."
Arga berdiri, membuka buku di halaman yang ditunjuk. Ia
membaca dengan suara lantang, jelas, dan penuh penghayatan. Ketika sampai pada
bagian kancil menipu buaya, ia membaca dengan nada seperti sedang bercerita.
Teman-temannya terpukau.
"Bagus, Arga." Puji Bu Narti setelah ia selesai.
"Kamu membaca dengan baik. Ada yang mau bertanya tentang cerita ini?"
Tangan Wati terangkat. "Bu, kenapa kancil selalu
menang? Padahal dia kecil."
Bu Narti tersenyum. "Karena kancil pintar, Wati. Dia
menggunakan otaknya, bukan kekuatannya. Dia bisa berpikir untuk mencari jalan
keluar dari masalah. Itu pelajaran buat kita: kepintaran lebih penting daripada
kekuatan."
Arga mendengarkan dengan saksama. Kata-kata Bu Narti
meresap dalam hatinya. Kepintaran lebih penting daripada kekuatan. Ia akan
ingat itu.
Ketika pelajaran selesai dan jam istirahat tiba,
murid-murid berhamburan keluar kelas. Mereka membawa bekal masing-masing, duduk
di bawah pohon atau di teras kelas, makan bersama sambil bercanda.
Arga tetap di dalam kelas. Ia membuka buku catatannya,
membaca ulang apa yang baru saja ia tulis. Tulisannya belum rapi, karena pensil
pendeknya sering membuat tangannya pegal. Tapi ia berusaha menulis sebaik
mungkin. Ia ingin semuanya rapi dan jelas, agar mudah dibaca ulang.
Tiba-tiba Bima masuk dengan membawa bekalnya. "Ga, kok
nggak keluar? Makan yuk di bawah pohon. Dingin-dingin gini enak."
Arga tersenyum. "Iya, bentar. Aku mau nulis
dulu."
Bima menggeleng. "Kamu ini... belajar melulu. Nanti
jadi kutu buku."
"Kutu buku itu bagus." jawab Arga. "Kutu
buku itu pintar."
Bima tertawa. "Terserah kamu deh. Aku ke bawah dulu
ya."
Arga melanjutkan menulis sampai Bu Narti masuk ke kelas.
Beliau tersenyum melihat Arga.
"Arga, tidak istirahat?"
"Sebentar lagi, Bu. Saya mau menyelesaikan catatan
ini."
Bu Narti duduk di bangku di depannya. "Kamu anak yang
rajin. Ibu senang melihat semangatmu. Cita-cita kamu apa, Nak?"
Arga berpikir sejenak. Cita-cita? Ia belum pernah
memikirkannya serius. "Saya ingin pintar, Bu. Ingin sekolah tinggi."
"Setelah itu?"
"Setelah itu... saya ingin membantu orang tua. Dan
membantu desa ini."
Bu Narti terharu. "Bagus sekali, Arga. Teruskan
semangat itu. Ibu doakan kamu sukses."
****
Pak Darma bukanlah guru biasa. Ia adalah salah satu guru
yang sudah lama mengajar di desa itu, mungkin lebih dari dua puluh tahun. Ia
datang ke Desa Sumber Langit ketika masih muda, dengan semangat membara untuk
mengabdi. Dan hingga rambutnya memutih, ia masih setia mengajar di sekolah
sederhana itu.
Banyak tawaran pindah ke kota yang datang padanya. Dengan
pengalaman dan kemampuannya, ia pasti bisa mendapatkan posisi yang lebih baik
di sekolah-sekolah kota. Tapi ia selalu menolak. Ia merasa terpanggil untuk
tetap di desa, mengajar anak-anak yang mungkin tidak akan mendapat pendidikan
yang layak jika tidak ada guru seperti dirinya.
"Desa ini membutuhkan guru." Katanya suatu kali
ketika ditanya kenapa tidak pindah. "Anak-anak di sini tidak kalah pintar
dari anak-anak kota. Mereka hanya kurang kesempatan. Tugas sayalah memberi
mereka kesempatan itu."
Pak Darma sering memperhatikan Arga di kelas. Anak itu
selalu duduk paling depan, selalu memperhatikan dengan saksama, selalu mencatat
dengan rapi, dan selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas. Ketika
teman-temannya mengantuk atau melamun, Arga tetap fokus. Ketika teman-temannya
malas mengerjakan PR, Arga selalu mengumpulkan tugas tepat waktu.
Suatu hari setelah pelajaran selesai, Pak Darma memanggil
Arga untuk tetap tinggal sebentar. Murid-murid lain sudah pulang, kelas menjadi
sepi. Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar sayup-sayup.
"Arga, sini sebentar, Nak."
Arga mendekat, agak gugup. Apa mungkin ia melakukan
kesalahan? Tapi wajah Pak Darma tersenyum ramah, tidak menunjukkan tanda-tanda
kemarahan.
"Iya, Pak?"
Pak Darma mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah buku. Bukan
buku biasa, tapi buku yang cukup tebal dengan sampul yang masih bagus. Judulnya
"Kisah-Kisah Inspiratif dari Seluruh Dunia". Sampulnya bergambar
orang-orang dari berbagai negara dengan pakaian tradisional mereka. Ada orang
Afrika dengan pakaian suku, orang India dengan sari, orang Cina dengan
cheongsam, dan orang Indonesia dengan pakaian adat.
"Ini buat kamu." Kata Pak Darma sambil
menyerahkan buku itu.
Arga menerimanya dengan hati-hati, seolah memegang benda
yang sangat berharga. Matanya membelalak melihat buku itu. Kertasnya putih dan
halus, bukan kertas buram seperti buku-buku pelajarannya. Harumnya kertas baru
masih tercium. Ia membuka halaman pertama, membaca kata pengantarnya.
"Ini... ini untuk saya, Pak?" tanyanya tidak
percaya.
"Iya. Bapak dapat dari keponakan di kota. Bapak pikir
kamu akan suka membaca buku ini. Ada banyak cerita tentang orang-orang biasa
yang berhasil meraih mimpi besar."
Arga membuka buku itu perlahan. Halaman pertamanya
bergambar seorang anak miskin dari Afrika yang kemudian menjadi dokter
terkenal. Ia membaca sekilas cerita itu, hatinya berdebar-debar. Ada lagi
cerita tentang seorang anak gembala yang menjadi ilmuwan, tentang seorang
penjual koran yang menjadi pengusaha sukses, tentang seorang anak buta yang
menjadi musisi terkenal.
"Terima kasih, Pak!" ucapnya dengan mata
berkaca-kaca. "Terima kasih banyak. Saya... saya tidak punya apa-apa untuk
membalas kebaikan Bapak."
Pak Darma tersenyum, hatinya hangat melihat antusiasme
murid kesayangannya itu. "Sama-sama, Arga. Kamu anak yang pintar, dan yang
lebih penting, kamu punya rasa ingin tahu yang besar. Itu modal yang sangat
berharga. Bapak tidak perlu imbalan. Lihat saja nanti, kalau kamu sukses, Bapak
sudah senang."
Arga menunduk sedikit, merasa malu dipuji. "Saya hanya
ingin belajar, Pak. Saya ingin tahu banyak hal. Kadang saya bingung, kenapa ada
orang yang malas belajar?"
"Itu pertanyaan bagus." Pak Darma berdiri,
berjalan ke jendela dan memandang keluar. Halaman sekolah mulai sepi. Hanya ada
beberapa anak yang masih bermain di bawah pohon. "Karena mereka belum tahu
manfaat belajar. Mereka belum melihat bahwa dengan belajar, hidup bisa berubah.
Tapi kamu berbeda, Arga. Kamu sudah punya kesadaran itu sejak kecil."
Pak Darma kembali duduk di depan Arga. "Arga, boleh
Bapak tanya sesuatu?"
"Silakan, Pak."
"Kamu punya mimpi? Mimpi tentang masa depanmu?"
Arga terdiam. Pertanyaan itu membuatnya berpikir. Mimpi?
Tentu ia punya mimpi. Tapi apakah mimpi itu masuk akal untuk anak desa
sepertinya? Apakah ia berhak bermimpi besar?
"Saya... saya ingin menjadi orang pintar, Pak. Saya
ingin sekolah setinggi-tingginya." Jawabnya pelan.
Pak Darma mengangguk. "Itu mimpi yang bagus. Tapi
setelah itu? Setelah kamu sekolah tinggi, kamu mau jadi apa?"
Arga memandang ke luar jendela, ke arah sawah yang
terbentang luas di belakang sekolah. Angin sore bertiup pelan, membuat
pohon-pohon di halaman bergoyang lembut. Ia melihat Pak Karsono yang pulang
dari sawah dengan sepeda ontelnya, Wakijan yang berjalan dengan langkah lelah,
Parto dengan kerbau-kerbaunya.
"Saya ingin... membantu desa ini, Pak." Jawabnya
akhirnya, dengan suara yang lebih mantap. "Desa kita ini tertinggal. Jalan
rusak, listrik sering mati, sekolah cuma sampai SD. Anak-anak muda pada pergi
merantau karena di sini tidak ada masa depan. Saya ingin suatu hari nanti desa
ini berubah. Saya ingin anak-anak tidak perlu pergi merantau."
Pak Darma tertegun. Ia tidak menyangka anak sekecil Arga
bisa memiliki pemikiran sebesar itu. Biasanya anak-anak seusianya hanya
memikirkan mainan atau jajan. Tapi anak ini, anak petani dari rumah bambu di
pinggir sawah, memikirkan masa depan desanya. Ada api di matanya, api yang
tidak biasa.
"Kamu ingin mengubah desa ini?"
"Iya, Pak. Tapi saya belum tahu caranya. Saya masih
kecil. Mungkin mimpi saya terlalu besar untuk anak seumur saya."
Pak Darma tersenyum bangga. Ia kembali duduk di depan Arga,
menatap mata anak itu dengan serius.
"Dengarkan Bapak, Arga. Usia tidak menentukan seberapa
besar mimpi seseorang. Banyak orang besar yang bermimpi sejak kecil. Nabi
Muhammad SAW sudah yatim sejak kecil, tapi beliau menjadi pemimpin besar.
Soekarno, presiden kita, juga anak biasa yang bermimpi besar. Yang penting
adalah kemauan untuk belajar dan bekerja keras mewujudkannya."
Arga mengangguk, menyimpan setiap kata Pak Darma dalam
hatinya. Ia merasa bahwa kata-kata ini akan berguna suatu hari nanti.
"Kalau kamu terus belajar, suatu hari nanti kamu bisa
pergi jauh dari desa ini. Kamu bisa sekolah di kota, bahkan mungkin di luar
negeri. Kamu bisa belajar banyak hal yang tidak bisa dipelajari di sini."
Arga terdiam. Pergi dari desa? Meninggalkan tempat
kelahirannya? Ia belum pernah membayangkan itu sebelumnya. Bagaimana dengan
sawah? Bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dengan rumah bambunya? Bagaimana
dengan makam ayahnya nanti?
Tapi Pak Darma sepertinya membaca kegelisahan itu. Ia
melanjutkan, "Pergi bukan berarti melupakan, Arga. Justru dengan pergi,
kamu bisa belajar banyak hal yang nantinya bisa kamu bawa pulang untuk
membangun desa ini. Seperti para perantau yang sukses, mereka pulang dengan
ilmu dan pengalaman baru. Mereka tidak melupakan kampung halaman."
Arga mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak."
"Bapak percaya, suatu hari nanti kamu akan menjadi
orang yang membawa perubahan bagi desa ini. Bapak sudah melihatnya dari caramu
belajar, dari pertanyaan-pertanyaanmu, dari kepedulianmu pada sekitarmu. Kamu
berbeda, Arga. Kamu punya api dalam dirimu."
Mendengar kata-kata itu, Arga merasa terharu. Tidak pernah
ada orang yang mengatakan hal seperti itu padanya. Bahwa ia, anak kecil dari
keluarga miskin, bisa menjadi seseorang yang berarti bagi desanya. Biasanya
orang hanya memandangnya sebagai anak petani biasa, tidak lebih.
"Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha."
Pak Darma berdiri, mengusap kepala Arga dengan lembut.
"Bapak yang berterima kasih, Arga. Karena kamu mengingatkan Bapak mengapa
dulu Bapak memilih menjadi guru. Untuk melihat murid-murid seperti kamu, yang
punya mimpi dan semangat. Itu membuat Bapak tetap bertahan di sini selama dua
puluh tahun."
Sore itu Arga pulang dengan perasaan yang berbeda. Di
tangannya, ia memegang buku pemberian Pak Darma dengan erat, seperti memegang
harta karun. Di dalam hatinya, ia menyimpan kata-kata gurunya dengan dalam,
seperti menanam benih di tanah yang subur.
Ia berjalan menyusuri pematang sawah seperti biasa.
Matahari mulai condong ke barat, membuat bayang-bayangnya memanjang di hamparan
sawah. Angin sore membawa kesejukan yang menenangkan. Burung-burung pipit
beterbangan pulang ke sarangnya. Di kejauhan, ia melihat ibunya yang baru
pulang dari pasar, berjalan dengan keranjang sayur yang mungkin masih berisi
sisa dagangan.
Arga berhenti sejenak di tengah pematang. Ia memandang
desanya dari kejauhan. Rumah-rumah sederhana dengan asap dapur yang mulai
mengepul, pertanda ibu-ibu sedang memasak untuk makan malam. Sawah-sawah hijau
yang bergelombang ditiup angin. Bukit-bukit di kejauhan yang mulai diselimuti
kabut tipis. Sungai yang berkelok-kelok memotong desa.
Desa yang indah. Desa yang damai. Tapi juga desa yang
tertinggal.
Di dalam hatinya, Arga berbisik pelan. "Suatu hari
nanti, aku akan membuat desa ini lebih baik. Aku janji. Untuk Ayah, untuk Ibu,
untuk Pak Darma, dan untuk semua anak desa yang punya mimpi."
Langkahnya kemudian dilanjutkan. Menuju rumah bambu di
pinggir sawah, tempat ibunya menunggu dengan sayur-mayur sisa dagangan dan
pertanyaan tentang bagaimana sekolahnya hari ini.
Ia tidak tahu bahwa kata-kata yang ia ucapkan sore itu akan
menjadi sumpah yang akan menuntun hidupnya bertahun-tahun kemudian. Ia tidak
tahu bahwa perjalanan panjang sedang menanti. Ia tidak tahu bahwa ia akan
melewati banyak ujian, air mata, dan kepahitan sebelum bisa menepati janji itu.
Tapi satu hal yang pasti: benih mimpi itu sudah ditanam.
Dan tidak ada yang bisa mencabutnya.
****
Kehidupan di desa terus berjalan dengan ritmenya sendiri.
Pagi, siang, sore, malam. Berganti tanpa henti. Sawah digarap, padi ditanam,
panen dilakukan, lalu menanam lagi. Siklus yang tidak pernah berubah.
Di sawah milik Pak Karsono, beberapa petani sedang bekerja
bersama. Pak Karsono dikenal sebagai petani sukses yang sawahnya paling luas.
Ia mempekerjakan beberapa buruh tani, termasuk Wakijan dan beberapa warga lain.
Pagi itu, Wakijan sedang mencangkul di pinggir sawah.
Tubuhnya yang kekar bergerak lincah meskipun sudah tidak muda lagi. Keringat
membasahi tubuhnya yang bertelanjang dada. Di sampingnya, Pak Karsono sedang
memeriksa saluran air.
"Jan, lo udah denger kabar tentang anaknya Pak
Wiryo?" tanya Wakijan sambil berhenti sebentar, menyeka keringat dengan
lengan.
"Arga? Belum. Ada apa?" jawab Pak Karsono.
"Katanya pinter banget di sekolah. Gurunya sampe
bilang, dia calon orang sukses."
Pak Karsono tersenyum. "Oh, itu. Iya, saya juga
denger. Anak itu emang beda. Rajin, pinter, sopan. Saya sering lihat dia baca
buku di mana-mana. Di sawah, di jalan, di mana aja."
Wakijan mengangguk setuju. "Ngenes ya, Jan. Anak
sepinter itu, lahir di keluarga miskin. Bapaknya cuma petani kecil, ibunya
jualan sayur. Apa bisa sekolah tinggi?"
Pak Karsono berpikir sejenak. "Bisa kali, Jan. Asal
ada kemauan. Tapi ya... memang berat. Biaya sekolah mahal. Kuliah lebih mahal
lagi. Tapi siapa tahu ada rejeki."
Di sisi lain sawah, Parto sedang menggembalakan kerbaunya.
Ia mendengar percakapan itu dari kejauhan. Dengan suara pelan, ia berkata,
"Kerbaoku dulu juga kecil, sekarang besar. Anak kecil bisa jadi
besar."
Wakijan dan Pak Karsono hanya tersenyum mendengar ucapan
Parto yang khas.
Sementara itu, di warung Bu Lastri, suasana berbeda.
Beberapa warga sedang duduk-duduk sambil minum kopi atau teh. Bu Lastri sibuk
melayani pembeli.
Juminten, tukang gosip desa, sedang asyik bercerita pada
siapa saja yang mau mendengar.
"Tahu nggak, anaknya Pak Wiryo itu, katanya sombong
sekarang." katanya sambil menyeruput kopinya.
Bu Lastri yang sedang menata dagangan, menoleh.
"Sombong? Masa? Arga? Anak itu kan pendiem, sopan."
"Iya, sombong. Katanya di sekolah, dia nggak mau
bergaul sama anak-anak biasa. Maunya sama Bu Guru terus."
Mbah Joyo yang kebetulan sedang duduk di pojok warung,
tertawa kecil. Suara tawanya parau karena usia. "Juminten, kamu itu...
mulutmu jangan sembarangan. Arga itu anak baik. Saya tahu. Dia sering mampir ke
rumah saya, bantu-bantu, dengerin cerita saya."
Juminten cemberut. "Ya sudah, Mbah. Tapi itu kata
orang."
"Kata orang belum tentu benar." timpal Pak
Karsono yang baru datang dari sawah. "Saya lihat sendiri Arga itu anak
baik. Rajin, sopan. Jangan suka fitnah, Juminten. Nanti dosa."
Juminten tidak menjawab, hanya cemberut sambil minum
kopinya.
Di sudut lain warung, Sukri dan teman-temannya sedang main
kartu. Mereka asyik dengan permainannya, tidak peduli dengan percakapan orang
lain.
"Dua!" teriak Sukri sambil membanting kartu.
"Tiga!" sambung temannya.
Asap rokok mengepul di atas meja mereka. Gelas-gelas kopi
kosong berserakan. Mereka sudah main sejak pagi, dan akan terus main sampai
sore.
"Kri, lo nggak kerja?" tanya salah satu temannya.
"Kerja ngapain? Lagi nggak ada." jawab Sukri
malas. "Mending main aja."
"Dasar pemalas." gumam temannya pelan.
Sukri mendengar, tapi pura-pura tidak tahu. Ia melanjutkan
permainannya.
****
Tahun-tahun berlalu seperti aliran sungai yang tenang. Arga
tumbuh menjadi remaja. Ia kini duduk di kelas dua SMP di kecamatan, karena di
desanya hanya ada sekolah dasar. Setiap pagi ia harus naik sepeda ontel sejauh
lima belas kilometer ke sekolah, melewati jalanan yang naik turun, kadang
becek, kadang berdebu.
Sepeda ontelnya adalah sepeda bekas pemberian Pak Darma.
Rangkanya sudah karatan, bannya sudah botak di beberapa bagian, remnya hanya
tinggal nama. Tapi Arga sangat mensyukurinya. Dengan sepeda itu, ia bisa
berangkat lebih cepat daripada berjalan kaki.
Perjalanan itu melelahkan, tapi ia tidak pernah mengeluh.
Ia selalu berangkat pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit. Kadang ia harus
menuntun sepedanya di jalan yang menanjak, kadang ia harus berhati-hati di
jalan yang licin. Tapi semangatnya tidak pernah surut.
Di sekolah, Arga dikenal sebagai siswa yang rajin dan
pintar. Nilainya selalu masuk tiga besar. Guru-gurunya menyukainya karena ia
selalu sopan dan tidak pernah membuat masalah. Beberapa temannya iri, tapi
lebih banyak yang mengaguminya.
Pak Wiryo sudah semakin tua. Tubuhnya mulai renta,
tenaganya mulai berkurang. Tapi ia masih tetap ke sawah setiap hari, meskipun
kini ia hanya mampu mengolah setengah dari sawah yang dulu ia garap. Separuhnya
lagi digarap oleh Tukiman, adiknya, dengan sistem bagi hasil.
Bu Ratri juga semakin renta. Perjalanan ke pasar setiap
hari mulai terasa berat. Tapi ia tetap melakukannya, tidak ingin merepotkan
anaknya. Kadang Arga membantu membawakan sayur sebelum berangkat sekolah.
Suatu malam, Arga duduk di depan rumah bersama ayahnya.
Langit desa sangat cerah malam itu. Tidak ada polusi cahaya dari lampu-lampu
kota, sehingga bintang-bintang terlihat begitu banyak. Galaksi Bimasakti
membentang dari utara ke selatan, seperti sungai susu di langit. Jutaan bintang
berkelap-kelip, seolah sedang memberi isyarat rahasia pada bumi.
Arga bertanya pelan, suaranya lirih di tengah kesunyian
malam.
"Pak, apakah desa kita bisa berubah?"
Pak Wiryo menoleh. Matanya yang mulai rabun masih bisa
melihat wajah anaknya dengan jelas di bawah cahaya bintang. Wajah itu kini
sudah mulai dewasa, tidak lagi bulat seperti dulu. Kumis tipis mulai tumbuh di
atas bibirnya.
"Maksudmu?"
"Supaya jalan tidak rusak lagi. Supaya listrik tidak
sering padam. Supaya sekolah lebih bagus. Supaya anak-anak muda tidak perlu
pergi merantau. Supaya orang-orang seperti kita tidak perlu susah terus."
Pak Wiryo tersenyum kecil. Senyum yang getir, tapi juga
penuh harapan. Ia memandangi langit yang penuh bintang, lalu berkata pelan.
"Perubahan tidak datang begitu saja, Nak."
Jawabnya bijak. "Perubahan butuh perjuangan. Butuh orang-orang yang berani
bermimpi dan berani berjuang. Butuh pengorbanan. Butuh waktu."
"Lalu bagaimana caranya?"
"Harus ada orang yang berani memperjuangkannya. Orang
yang tidak hanya diam melihat keadaan. Orang yang mau mengambil risiko, mau
bekerja keras, mau berkorban. Orang yang tidak takut gagal. Orang yang tidak
mudah menyerah."
Arga memandang langit. Bintang-bintang berkelap-kelip
seolah memberi isyarat. Di langit sana, bintang-bintang itu tidak berubah
posisi. Tapi manusia bisa berubah. Manusia bisa bergerak. Manusia bisa mengubah
dunianya.
"Ayah percaya suatu hari nanti akan ada orang seperti
itu di desa kita?"
Pak Wiryo terdiam cukup lama. Angin malam berhembus,
membawa suara jangkrik yang semakin keras. Lalu ia menatap anaknya dengan
pandangan yang dalam, pandangan yang hanya bisa diberikan seorang ayah pada
anaknya.
"Ayah percaya, Nak. Dan Ayah berharap, orang itu
adalah kamu."
Arga terkejut. Dadanya berdebar keras. "Saya? Tapi
saya hanya anak petani biasa. Saya tidak punya apa-apa. Saya tidak kaya, tidak
punya pengaruh."
"Justru karena kamu anak petani, kamu tahu bagaimana
rasanya hidup susah. Kamu tahu bagaimana rasanya kekurangan. Kamu tahu
bagaimana rasanya dilupakan, diabaikan, dianggap tidak ada. Itu yang akan membuatmu
lebih peduli, lebih berjuang, lebih mengerti apa yang dibutuhkan desa
ini."
Arga terdiam. Kata-kata ayahnya meresap jauh ke dalam
hatinya. Ia memang anak petani. Ia memang hidup dalam keterbatasan. Tapi justru
itulah yang membuatnya tahu persis apa yang salah dengan desanya. Ia tahu rasa
lapar, rasa takut tidak bisa bayar SPP, rasa malu karena baju lusuh, rasa cemas
ketika musim paceklik tiba.
"Kalau Ayah bilang begitu, apa Ayah tidak ingin saya
menjadi orang sukses di kota? Hidup enak, punya rumah besar, mobil bagus, kerja
di kantor? Itu kan impian semua orang."
Pak Wiryo tersenyum. Tersenyum dengan bijak, seperti orang
yang sudah melihat banyak hal dalam hidup.
"Ayah ingin kamu sukses, Nak. Tapi sukses bukan hanya
soal harta. Sukses yang sejati adalah ketika kamu bisa bermanfaat bagi orang
lain, ketika kamu bisa membantu mereka yang membutuhkan. Kalau kamu sukses di
kota, hanya kamu dan keluargamu yang menikmati. Tapi kalau kamu berhasil
membangun desa ini, semua orang akan merasakan manfaatnya. Ribuan orang akan
terbantu. Itu pahala yang terus mengalir."
Arga memikirkan kata-kata itu. Ia membayangkan desanya yang
berubah. Jalan mulus, listrik tidak pernah padam, sekolah bagus, anak-anak muda
tidak perlu merantau. Semua orang tersenyum. Semua orang hidup berkecukupan.
Itu pasti indah sekali.
"Tapi itu berat, Pak. Saya sendiri saja masih kecil,
masih sekolah."
"Iya, berat. Tapi perjalanan seribu mil dimulai dari
satu langkah. Sekarang langkahmu adalah belajar. Belajar yang rajin. Raih ilmu
setinggi-tingginya. Nanti, setelah punya ilmu, kamu bisa kembali dan membangun
desa ini."
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi Arga. Di
bawah langit yang penuh bintang, di depan rumah bambu yang sederhana, diiringi
suara jangkrik yang tak henti, seorang ayah menanamkan mimpi besar pada
anaknya.
Mimpi yang mungkin terlalu besar untuk anak petani
sepertinya. Mimpi yang mungkin akan membuatnya melalui jalan yang panjang dan
berliku, penuh duri dan onak. Tapi mimpi itu sudah ditanam, dan tidak ada yang
bisa mencabutnya.
****
Suatu pagi, ketika Arga libur sekolah, ia memutuskan untuk
ikut ayahnya ke sawah. Bukan sekadar menemani, tapi benar-benar membantu. Ia
ingin merasakan bagaimana beratnya pekerjaan yang dilakukan ayahnya setiap
hari. Ia ingin membuktikan bahwa ia juga bisa bekerja keras.
Mereka berangkat pagi-pagi sekali. Matahari belum muncul,
udara masih dingin menusuk tulang. Kabut tipis masih menyelimuti sawah-sawah,
membuat segalanya tampak misterius dan magis. Di kejauhan, ayam jantan berkokok
bersahutan, seolah memberi semangat pada para petani yang akan memulai hari.
Di sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan Parto yang
sudah menggiring kerbaunya. Kerbau-kerbau itu berjalan lambat, sesekali
melenguh.
"Pagi, Wiryo." sapa Parto pendek.
"Pagi, Parto." balas Pak Wiryo.
Tidak ada percakapan lebih lanjut. Parto memang bukan tipe
orang yang banyak bicara. Ia lebih suka berdiam diri, menikmati hari bersama
kerbau-kerbaunya.
Sesampainya di sawah, Pak Wiryo mulai bekerja. Ia
mencangkul tanah dengan pelan tetapi pasti. Gerakannya terukur, tidak
terburu-buru. Cangkulnya membelah tanah, membalikkannya, lalu memecah
gumpalan-gumpalan besar menjadi lebih halus. Irama cangkulnya teratur: bunyi
cangkul masuk ke tanah, bunyi tanah terbalik, bunyi napas yang teratur.
Arga memperhatikan ayahnya. Melihat keringat yang mulai
membasahi punggung bapaknya, melihat otot-otot tangannya yang menegang setiap
kali mengayunkan cangkul. Ia kagum. Ayahnya sudah tua, tapi masih sekuat itu.
"Pak, kenapa Bapak selalu bekerja keras?" tanya Arga
tiba-tiba.
Pak Wiryo berhenti sejenak. Ia menyandarkan badannya pada
gagang cangkul, lalu menatap sawah di depannya yang terbentang luas. Sawah yang
mungkin sudah ribuan kali ia lalui, yang sudah ia kenal setiap sudutnya. Ia
seperti sedang berbicara dengan sawah itu sendiri.
"Karena hidup tidak akan memberi apa-apa kepada orang
yang malas, Le." Jawabnya pelan. "Lihat sawah ini. Kalau kita diam
saja, tidak pernah mencangkul, tidak pernah menanam, tidak pernah merawat, apa
yang akan terjadi?"
"Ya, tidak akan ada padi yang tumbuh. Pasti ditumbuhi
rumput."
"Betul. Tidak akan ada padi, tidak akan ada panen,
tidak akan ada beras untuk dimakan. Sama seperti hidup. Kalau kita diam saja,
tidak mau berusaha, tidak mau bekerja keras, maka kita tidak akan mendapatkan
apa-apa. Hidup akan berlalu begitu saja."
Pak Wiryo lalu berjalan ke arah Arga dan menepuk bahunya.
Tangannya yang kasar terasa hangat.
"Kalau kamu ingin berhasil, kamu harus bekerja lebih
keras daripada orang lain. Kamu harus rela berkorban, rela capek, rela
berkeringat. Tidak ada kesuksesan yang datang dengan sendirinya. Semua butuh
perjuangan. Lihat pohon besar itu." Ia menunjuk pohon beringin di
kejauhan. "Dulu cuma biji kecil. Tapi karena terus tumbuh, mencari makan,
melawan hama, akhirnya jadi besar."
Arga mengangguk, mencerna kata-kata ayahnya.
"Tapi kerja keras saja tidak cukup, Le." Lanjut
Pak Wiryo. "Harus pintar juga. Harus punya ilmu. Kerbau juga kerja keras,
tapi dia tetap kerbau. Manusia beda karena punya akal. Makanya Ayah selalu
bilang, belajarlah yang rajin. Karena dengan ilmu, kerja kerasmu akan lebih
berarti. Dengan ilmu, kamu bisa bekerja lebih efektif."
Mereka kemudian bekerja bersama. Arga membantu membersihkan
rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela padi. Awalnya ia semangat, tapi
lama-lama tangannya mulai lecet dan pegal. Punggungnya sakit karena terus
membungkuk. Ia ingin berhenti, tapi melihat ayahnya yang terus bekerja tanpa
mengeluh, ia malu untuk menyerah.
Setelah beberapa jam, Arga sudah sangat lelah. Tangannya
melepuh. Punggungnya seperti ditusuk-tusuk jarum. Ia duduk di pematang,
mengatur napas.
"Pak... capek sekali." Akhirnya ia mengaku.
Pak Wiryo tersenyum. Ia berhenti bekerja dan duduk di
samping Arga. "Itulah yang Ayah rasakan setiap hari, Le. Tapi Ayah sudah
terbiasa. Tubuh Ayah sudah kuat."
Mereka beristirahat sejenak sambil minum air yang dibawa
dari rumah. Air dalam botol bambu itu terasa sangat segar.
"Le, Ayah mau kasih tahu sesuatu." Kata Pak Wiryo
tiba-tiba.
"Iya, Pak?"
"Orang kota itu sering memandang rendah petani. Mereka
pikir petani itu pekerjaan rendahan, tidak penting. Tapi mereka lupa, semua
makanan yang mereka makan, berasal dari petani. Beras, sayur, buah, semua dari
kerja keras petani. Tanpa petani, mereka akan mati kelaparan."
Arga mendengarkan dengan saksama.
"Jadi, jangan pernah malu jadi anak petani. Itu bukan
aib. Justru itu kebanggaan. Kita bekerja keras, jujur, dan bermanfaat bagi
banyak orang. Kalau nanti kamu sukses, jangan pernah lupa itu."
Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke barat, mereka
pulang. Badan terasa letih, tapi hati puas. Di perjalanan pulang, mereka
melewati pematang sawah yang sempit. Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa
kesejukan yang menyegarkan setelah seharian bekerja di bawah terik matahari.
Padi-padi bergoyang lembut, seolah memberi hormat pada mereka.
"Le, Ayah mau pesan sesuatu." Kata Pak Wiryo
tiba-tiba.
"Iya, Pak?"
"Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah lupa dari
mana kamu berasal. Jangan pernah malu mengaku anak petani. Karena dari situlah
kamu belajar tentang kehidupan. Dari situlah kamu belajar arti kerja keras,
kejujuran, dan kesederhanaan."
Arga menatap ayahnya. Ada sesuatu dalam nada suara ayahnya
yang membuatnya merasa... haru. Seolah-olah ayahnya sedang menyampaikan pesan
terakhir. Dadanya terasa sesak.
"Ayah kenapa bicara seperti itu?"
Pak Wiryo tersenyum. "Tidak apa-apa. Ayah hanya ingin
kamu ingat. Ayah sudah tua. Kapan saja bisa dipanggil Yang Kuasa. Ayah ingin
kamu siap."
Mereka berjalan dalam diam sampai tiba di rumah. Bu Ratri
sudah menunggu dengan masakan sederhana yang mengepul asapnya. Aroma sayur asem
dan ikan goreng tercium dari dapur.
Malam itu mereka makan bersama dengan hangat. Tidak ada
yang tahu bahwa ini adalah salah satu malam terakhir mereka makan bersama
sebagai keluarga utuh. Tidak ada yang tahu bahwa takdir telah menyiapkan ujian
terbesar yang akan mengubah segalanya.
Arga tidur dengan perasaan damai malam itu. Ia tidak tahu
bahwa ketika ia bangun besok pagi, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Ia tidak tahu bahwa pelajaran dari ayahnya hari itu akan
menjadi warisan terakhir yang ia terima.
*****
Musim hujan datang lebih lama dari biasanya di Desa Sumber
Langit tahun itu. Langit hampir setiap hari tertutup awan kelabu yang tebal,
seperti kapas kotor yang membentang tak bertepi. Angin bertiup kencang membawa
udara dingin yang menusuk kulit, bahkan hingga ke tulang. Hujan turun hampir
setiap hari, kadang gerimis, kadang deras disertai petir yang menggelegar dan
kilat yang menyambar-nyambar.
Sawah-sawah yang dulu hijau kini terlihat seperti lautan
air yang keruh. Padi-padi yang hampir panen terendam, hanya menyisakan
ujung-ujungnya saja yang masih terlihat di atas permukaan air. Air berwarna
coklat karena tanah yang teraduk, membuat pemandangan semakin suram.
Petani-petani berdiri di pinggir sawah dengan wajah murung, tidak bisa berbuat
banyak menghadapi amukan alam.
Pak Wiryo berdiri di pinggir sawah miliknya sambil menatap
tanaman padi yang mulai menguning sebelum waktunya. Padahal seharusnya panen
masih dua minggu lagi. Tapi karena terlalu banyak air, akar-akarnya mulai
membusuk. Daun-daunnya menguning, lalu layu, kemudian mati.
Pak Karsono juga berdiri tidak jauh dari sana, memandangi
sawahnya yang bernasib sama. Sawahnya yang luas, yang biasanya menjadi
kebanggaan, kini hanya hamparan air dan padi yang sekarat.
"Wiryo, ini parah." Kata Pak Karsono dengan suara
berat. "Ini yang terparah dalam sepuluh tahun terakhir."
Pak Wiryo menghela napas panjang. Napas yang berat, seperti
membawa seluruh beban kehidupan di pundaknya. "Iya, Karsono. Ini ujian
berat buat kita semua."
Arga berdiri di samping ayahnya, ikut memandangi
pemandangan yang menyedihkan itu. Hujan gerimis turun, membuat mereka basah
kuyup. Tapi sepertinya tidak ada yang peduli. Mereka terlalu sibuk dengan
kesedihan masing-masing.
"Pak, kenapa padi kita seperti itu?" tanya Arga
dengan cemas. Ia sudah cukup besar untuk mengerti arti gagal panen bagi
keluarganya.
Pak Wiryo menatap anaknya. "Karena terlalu banyak air,
Le. Akarnya tidak kuat. Padinya busuk sebelum sempat dipanen. Lihat itu, airnya
sudah terlalu tinggi, menenggelamkan batang padi."
Beberapa petani lain juga berdiri di pematang sawah
masing-masing. Wajah mereka terlihat murung, lesu, tanpa semangat. Sebagian
mencoba menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan, memotong padi-padi yang masih
hijau untuk dijadikan pakan ternak. Sebagian lagi hanya diam, pasrah pada
keadaan.
Di kejauhan, Wakijan berdiri dengan cangkul di tangannya.
Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai buruh tani, ia bergantung pada upah
dari petani. Jika petani gagal panen, ia tidak akan mendapat pekerjaan.
"Kalau begini terus, panen kita gagal total."
Kata salah seorang petani dengan suara parau. "Hutang di toko pupuk belum
lunas, ini malah gagal panen. Gimana nasib keluarga saya?"
Petani lain menimpali, "Iya. Saya juga masih punya
utang untuk beli bibit. Pinjam di koperasi juga belum lunas. Gimana mau bayar
kalau begini jadinya?"
Pak Karsono menghela napas. Ia adalah petani terkaya di
desa, tapi sawahnya juga terendam. Kekayaannya tidak bisa menyelamatkan padinya
dari air.
"Kita harus lapor ke pemerintah." Katanya.
"Minta bantuan. Ini bencana."
Beberapa petani setuju. Tapi yang lain pesimis.
"Pemerintah? Laporan sudah sering, tapi bantuan jarang datang."
Pak Wiryo tidak menjawab. Ia hanya menatap hamparan sawah
yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarganya. Sawah yang diwariskan
turun-temurun dari kakeknya. Sawah yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan
hidup keluarganya. Kini tinggal genangan air dan padi-padi yang membusuk.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Hujan tidak
berhenti. Sebagian padi benar-benar membusuk sebelum sempat dipanen. Yang bisa
diselamatkan hanya sedikit, itu pun kualitasnya jelek, tidak laku dijual dengan
harga bagus.
Pendapatan keluarga Pak Wiryo hampir tidak ada. Uang
tabungan yang disimpan untuk biaya sekolah Arga mulai terkuras untuk kebutuhan
sehari-hari. Mereka harus berhemat lebih ketat dari biasanya.
Di rumah, Bu Ratri mulai menghitung uang yang tersisa. Ia
duduk di dekat lampu minyak, menghitung lembar demi lembar uang receh dengan
tangan gemetar. Cahaya lampu yang temaram membuat matanya harus bekerja ekstra
keras.
"Wiryo..." panggilnya pelan dengan suara hampir
berbisik, takut didengar Arga.
Pak Wiryo yang sedang berbaring karena kelelahan menoleh.
"Iya, Bu?"
"Uang kita tinggal sedikit." Kata Bu Ratri dengan
suara bergetar. "Mungkin hanya cukup untuk makan seminggu. Itu pun harus
diirit. Setelah itu, entah bagaimana."
Pak Wiryo hanya terdiam. Ia tahu apa artinya itu.
Kesulitan. Keterbatasan yang lebih parah dari sebelumnya. Musim kemarau panjang
tahun lalu, disusul musim hujan yang terlalu deras tahun ini. Nasib petani
memang selalu bergantung pada alam. Dan alam sedang tidak bersahabat.
"Bagaimana dengan sekolah Arga?" tanya Bu Ratri
lagi. "SPP-nya bulan depan harus dibayar. Belum lagi buku dan kebutuhan
lainnya."
Pak Wiryo memejamkan mata. "Kita lihat nanti, Bu.
Mungkin ada jalan."
Beberapa hari kemudian, untuk pertama kalinya dalam
hidupnya, Arga merasakan lapar yang sesungguhnya. Bukan lapar biasa setelah
bermain, tapi lapar karena perut kosong dan tidak ada makanan.
Di dapur, persediaan beras tinggal sedikit. Bu Ratri
terpaksa mencampur nasi dengan singkong agar lebih awet. Lauk hanya garam dan
sambal. Kadang hanya nasi dengan kuah air panas diberi garam. Itu pun porsinya
dikurangi.
Arga tidak mengeluh. Ia melihat sendiri bagaimana orang
tuanya berjuang. Ibunya bahkan sering tidak makan, mengaku sudah kenyang,
padahal sebenarnya hanya menyisakan makanan untuknya.
Suatu malam, Arga terbangun karena haus. Saat berjalan ke
dapur untuk mengambil air, ia melihat ibunya duduk sendirian di ruang tamu,
menangis dalam diam. Air matanya jatuh membasahi pipi yang mulai kurus.
Tubuhnya gemetar menahan isak tangis.
Arga ingin menghampiri, ingin memeluk ibunya. Tapi ia tahu
ibunya pasti malu jika tahu ia menangis dilihat anaknya. Maka ia diam-diam
kembali ke kamar, berbaring, dan menangis dalam hati.
Malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri: suatu hari
nanti, ia akan membuat ibunya tidak perlu menangis lagi karena kekurangan.
Suatu hari nanti, ia akan membuat keluarganya hidup berkecukupan. Tidak perlu
kaya raya, cukup bisa makan tiga kali sehari tanpa khawatir.
****
Beberapa minggu kemudian, kehidupan keluarga Arga mulai
terasa lebih berat. Kondisi ekonomi semakin parah. Pak Wiryo terpaksa menjual
kambing satu-satunya untuk membeli beras dan membayar hutang di warung Bu
Lastri. Kambing itu adalah tabungan mereka, yang rencananya akan dijual jika
Arga mau melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Tapi kebutuhan mendesak
tidak bisa ditunda.
Bu Ratri harus bekerja lebih keras. Selain berjualan sayur,
ia juga menerima cucian dari tetangga. Setiap malam ia mencuci baju orang
sampai larut, tangannya mulai kasar karena terus-menerus terkena sabun. Kadang
ia juga menerima jahitan, meskipun hasilnya tidak seberapa.
Arga masih tetap bersekolah. Tapi kadang perutnya
keroncongan di kelas, membuatnya sulit berkonsentrasi. Kepalanya sering pusing,
badannya lemas. Ia harus menahan kantuk dan lapar saat pelajaran berlangsung.
Beberapa kali ia hampir pingsan di kelas.
Suatu pagi Arga bersiap pergi ke sekolah seperti biasa. Ia
memasukkan buku ke dalam tasnya yang semakin lusuh. Beberapa buku sudah mulai
robek, tapi masih ia perbaiki dengan lakban seadanya. Pensilnya sudah hampir
habis, hanya tinggal sependek jari kelingking. Penghapusnya sudah aus dan
hampir tidak bisa menghapus.
Bu Ratri memanggilnya dari dapur. "Arga, makan
dulu."
Arga datang ke dapur. Di atas meja hanya ada sepiring nasi
dan sedikit sayur. Nasi itu tidak banyak, mungkin hanya setengah porsi untuk
ukuran anak seusianya. Sayurnya hanya bayam rebus tanpa lauk.
Arga memandang ibunya. "Ibu sudah makan?"
Bu Ratri tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan, senyum
yang menyembunyikan lapar dan lelah. "Ibu nanti saja. Ibu belum terlalu
lapar. Ibu mau beres-beres dulu."
Arga tahu ibunya berbohong. Ia tahu ibunya selalu
mengorbankan diri untuknya. Ia tahu ibunya akan mengatakan sudah kenyang
meskipun sebenarnya belum makan seharian.
Arga mengambil sedikit nasi, hanya beberapa sendok. "Arga
tidak terlalu lapar, Bu. Ini saja cukup. Arga mau cepat berangkat, takut
terlambat."
Bu Ratri menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu
Arga juga berbohong. Anaknya itu pasti lapar, tapi ia sengaja makan sedikit
agar ibunya bisa makan lebih banyak.
Tak ada yang berkata apa-apa. Mereka hanya saling memandang
dengan perasaan yang sama: cinta dan pengorbanan. Dalam diam, mereka saling
memahami.
Arga berjalan menuju sekolah seperti biasa. Ia mengayuh
sepeda ontelnya dengan perlahan, menghemat tenaga. Di tengah perjalanan, ia
bertemu Bima yang juga sedang dalam perjalanan ke sekolah dengan sepeda
bututnya.
"Ga, kamu sudah sarapan?" tanya Bima.
Arga mengangguk. "Udah, lah. Masa belum."
Namun sebenarnya perutnya masih kosong. Hanya beberapa
sendok nasi yang ia makan pagi itu, itu pun sudah dua jam yang lalu. Perutnya
mulai keroncongan, tapi ia berusaha mengabaikannya.
Di sekolah, pelajaran pertama adalah matematika. Guru
matematika mereka, Pak Suryanto, adalah guru yang tegas dan disiplin. Ia tidak
suka murid yang mengantuk atau tidak memperhatikan. Murid-murid agak takut
padanya.
Arga berusaha tetap fokus pada pelajaran. Ia mencatat,
memperhatikan rumus-rumus yang dijelaskan di papan tulis. Tapi rasa lapar
membuat kepalanya terasa ringan, pandangannya kadang berkunang-kunang. Tulisan
di papan tulis seolah berputar-putar.
"Arga, coba kerjakan soal nomor tiga." panggil
Pak Suryanto tiba-tiba.
Arga berdiri, berjalan menuju papan tulis. Ia mengambil
kapur, tapi tangannya gemetar. Soal di papan tulis seperti berputar-putar di
depannya. Angka-angka bercampur aduk, tidak bisa ia baca dengan jelas.
Tiba-tiba pandangannya gelap. Ia merasakan dunia berputar
cepat, lalu ia tidak tahu apa-apa lagi.
"Arga! Arga!" Suara-suara terdengar jauh, seperti
dari dalam sumur.
Ketika Arga membuka mata, ia sudah berada di ruang UKS.
Tempat tidur kayu sederhana dengan bantal keras yang berbau apek. Pak Darma
duduk di sampingnya, wajahnya tampak khawatir. Di belakangnya, Bu Narti juga
terlihat cemas.
"Arga, kamu sadar?" tanya Pak Darma lega.
Arga mencoba duduk. Kepalanya masih pusing, seperti ada
yang berputar di dalamnya. "Saya... saya kenapa, Pak?"
"Kamu pingsan di kelas. Kata teman-temanmu, kamu jatuh
waktu mengerjakan soal di papan tulis. Kamu jatuh dan tidak sadarkan
diri."
Arga mengingat kejadian itu samar-samar. Ya, ia ingat
tiba-tiba gelap, lalu tidak tahu apa-apa lagi. Sekarang ia di sini, di ruang
UKS yang pengap.
"Arga, jujur pada Bapak. Kamu sudah makan?" tanya
Pak Darma dengan suara lembut tapi tegas.
Arga terdiam. Beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan,
tidak berani menatap mata gurunya.
Pak Darma menghela napas. Ia mengerti. Kemiskinan,
kelaparan, perjuangan hidup. Itu semua bukan hal asing baginya di desa ini. Ia
sudah puluhan tahun mengajar di sini, sudah melihat banyak murid yang mengalami
hal serupa.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan bekal makanan yang
dibawanya dari rumah. Sepiring nasi dengan lauk sederhana: telur dadar dan
sambal, tapi masih hangat. Aromanya menggugah selera.
"Ini, makan dulu."
Arga menolak. "Tapi itu makanan Bapak... Bapak nanti
makan apa?"
Pak Darma tersenyum. "Bapak masih bisa makan nanti.
Bapak punya lebih. Kamu yang lebih membutuhkan sekarang. Makanlah, biar cepat
pulih. Kamu harus sehat untuk belajar."
Arga menerima makanan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia
makan perlahan, menahan air mata yang ingin tumpah. Bukan karena lapar, tapi
karena tersentuh dengan kebaikan gurunya. Setiap suap terasa begitu berarti.
"Terima kasih, Pak." Ucapnya lirih.
"Tidak usah berterima kasih, Arga. Bapak hanya melakukan
kewajiban. Tapi kamu harus janji sama Bapak."
"Janji apa, Pak?"
"Janji bahwa kamu akan tetap semangat. Jangan biarkan
keadaan membuatmu putus asa. Teruslah berjuang. Ini baru awal, masih panjang
perjalananmu."
Arga mengangguk mantap. "Saya janji, Pak. Saya tidak
akan menyerah."
Bu Narti yang sejak tadi diam, ikut berkata. "Arga,
kalau kamu butuh apa-apa, bilang sama Ibu. Ibu juga bisa bantu."
Hari itu ia belajar satu hal penting: bahwa kebaikan bisa
datang dari siapa saja. Bahwa di tengah kesulitan, selalu ada tangan-tangan
yang siap menolong. Bahwa ia tidak sendiri dalam perjuangan ini. Ada
orang-orang baik di sekelilingnya.
****
Beberapa bulan kemudian, masalah baru muncul. Biaya sekolah
Arga di SMP mulai terasa semakin berat bagi keluarganya. Setiap bulan harus
membayar SPP, membeli buku, membeli seragam, membeli alat tulis, membayar uang
gedung, dan berbagai keperluan lainnya. Semua itu membutuhkan uang yang tidak
sedikit.
Pak Wiryo sudah tidak bisa bekerja keras seperti dulu.
Kesehatannya mulai menurun drastis. Batuk-batuk yang dulu hanya kadang-kadang,
kini menjadi lebih sering dan lebih parah. Badannya semakin kurus, tenaganya
semakin berkurang. Wajahnya pucat, matanya cekung.
Dokter di puskesmas bilang ia terkena infeksi paru-paru
karena terlalu lama bekerja di sawah dalam kondisi hujan. Tapi obat-obatan
mahal, dan mereka tidak punya uang. Pak Wiryo hanya minum obat tradisional
seadanya.
Suatu malam, ketika Arga sedang belajar di kamarnya yang
sempit dengan lampu minyak temaram, ia tidak sengaja mendengar percakapan orang
tuanya di dapur. Dinding bambu yang tipis membuat suara dari dapur terdengar
jelas.
"Bagaimana kita membayar kebutuhan sekolah Arga?"
tanya Bu Ratri dengan suara cemas. "SPP bulan depan sudah harus dibayar.
Dia juga butuh sepatu baru, yang lama sudah bolong. Bukunya juga banyak yang
harus dibeli. Kata gurunya, ada buku paket baru yang harus dibeli."
Pak Wiryo terdiam lama. Suara batuknya terdengar, batuk
kering yang panjang. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya berat, penuh beban.
"Saya tidak tahu, Bu. Hasil panen kemarin hanya cukup
buat bayar utang di warung Bu Lastri dan koperasi. Kambing sudah habis terjual.
Apa lagi yang bisa kita jual? Kita tidak punya apa-apa lagi."
"Mungkin kita bisa pinjam ke tetangga? Ke Pak Karsono?
Beliau kan baik."
"Siapa yang mau pinjami kita? Kita sudah punya utang
di mana-mana. Warung Bu Lastri, toko Pak Karjo, koperasi desa, bahkan ke sanak
saudara juga sudah. Pak Karsono mungkin mau, tapi saya malu. Sudah sering
dibantu."
Keheningan yang panjang. Hanya suara jangkrik dari luar
yang terdengar. Lalu suara Pak Wiryo lagi, pelan tapi terdengar jelas, seperti
palu yang menghantam jantung Arga.
"Kalau keadaan tidak membaik... mungkin Arga harus
berhenti sekolah sementara."
Jantung Arga seperti berhenti berdetak mendengar kata-kata
itu.
Berhenti sekolah?
Itu adalah hal yang paling ia takutkan. Sekolah adalah
satu-satunya harapannya. Satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan.
Satu-satunya cara untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Jika ia harus berhenti, lalu
bagaimana dengan semua impian itu? Bagaimana dengan janjinya pada ayahnya?
Bagaimana dengan cita-citanya membangun desa?
Ia mendengar ibunya menangis tersedu-sedu. Tangis yang
ditahan, tapi tetap terdara jelas di malam yang sunyi.
"Tidak, Wiryo. Jangan. Jangan lakukan itu. Arga anak
yang pintar. Dia punya masa depan. Jangan sampai kita yang merusak masa
depannya hanya karena tidak punya uang. Nanti kita menyesal seumur hidup."
"Lalu bagaimana, Bu? Saya juga tidak tega. Tapi apa
daya kita? Perut harus diisi. Hidup harus jalan. Kalau terus begini, kita semua
bisa mati kelaparan. Arga juga tidak akan bisa sekolah karena kita semua sakit
atau mati."
Percakapan itu berakhir dengan tangis. Tangis keputusasaan.
Tangis ketidakberdayaan. Tangis dua orang tua yang tidak sanggup memberi yang
terbaik untuk anaknya.
Arga tidak bisa tidur malam itu. Ia hanya terbaring di
dipan bambunya, menatap langit-langit gelap, memikirkan masa depannya yang
tiba-tiba terasa suram. Air mata mengalir tanpa suara. Tangisnya diam-diam,
tidak ingin didengar orang tuanya.
Ia berdoa dalam hati. "Ya Allah, tolonglah hamba.
Berilah jalan keluar. Jangan biarkan hamba berhenti sekolah. Hamba ingin
membahagiakan orang tua. Hamba ingin membangun desa ini."
Keesokan harinya, Arga tetap pergi ke sekolah. Namun
pikirannya penuh kegelisahan. Di kelas, ia tidak bisa konsentrasi. Kata-kata
guru seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Nilainya mulai menurun,
tapi ia tidak bisa berbuat banyak.
Setelah pelajaran selesai, ia duduk sendirian di bangku kelas
yang sudah kosong. Kelas itu sunyi. Hanya ada suara jangkrik dari luar dan
gemerisik daun tertiup angin sore. Sinar matahari sore masuk melalui jendela,
membuat debu-debu kecil terlihat menari-nari di udara.
Pak Darma, yang kebetulan masih ada di sekolah, melihat
Arga duduk sendiri di kelas. Ia masuk dan duduk di bangku di depannya, seperti
dulu ketika Arga masih kecil.
"Kamu kelihatan murung hari ini. Ada masalah?"
tanyanya lembut.
Arga terdiam. Ia ragu untuk bercerita. Tapi melihat wajah
ramah Pak Darma yang sudah seperti bapaknya sendiri, ia akhirnya berkata pelan.
"Pak... mungkin saya harus berhenti sekolah."
Pak Darma terkejut. Meskipun ia sudah menduga ada masalah,
tapi mendengar langsung dari mulut Arga tetap saja mengejutkan. Alisnya
terangkat tinggi.
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Orang tua saya tidak punya uang. SPP belum dibayar.
Bapak saya sakit-sakitan, tidak bisa bekerja. Sawah gagal panen. Mungkin saya
harus bekerja membantu orang tua, cari uang."
Pak Darma memandang Arga dengan serius. Matanya yang bijak
menatap dalam-dalam anak di depannya. Ia bisa melihat keputusasaan di mata itu,
tapi juga secercah harapan yang masih tersisa.
"Dengarkan Bapak, Arga."
Arga menatap gurunya.
"Kamu tidak boleh menyerah hanya karena keadaan sulit.
Hidup ini memang penuh ujian. Orang yang berhasil adalah mereka yang bisa
bertahan di tengah badai. Mereka yang tidak mudah menyerah. Mereka yang terus
berjuang meskipun semua terlihat mustahil."
"Tapi bagaimana caranya, Pak? Saya tidak mau membebani
orang tua. Mereka sudah susah."
"Biarkan Bapak yang memikirkan caranya." Pak
Darma berdiri, berjalan ke jendela. Ia memandang keluar, ke arah lapangan
sekolah yang mulai sepi. "Ada beberapa program bantuan untuk siswa
berprestasi dari pemerintah. Beasiswa untuk anak tidak mampu. Bapak akan coba
daftarkan kamu. Tapi kamu harus janji tidak akan menyerah dulu."
Arga mengangguk. "Saya janji, Pak."
"Bagus. Sekarang pulanglah. Istirahat yang cukup.
Jangan terlalu banyak berpikir. Serahkan semuanya pada Tuhan. Tuhan tidak akan
menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya."
Arga pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang. Tapi di
dalam hatinya, kekhawatiran masih bersemayam. Ia tahu perjuangan belum selesai.
Bahkan mungkin baru dimulai.
****
Beberapa hari kemudian, seperti yang dijanjikan, Pak Darma
datang ke rumah Arga. Ia datang dengan sepeda tuanya yang sudah berkarat di
sana-sini, mengenakan kemeja lusuh yang biasa ia pakai sehari-hari. Di
tangannya, ia membawa sebuah tas usang berisi dokumen-dokumen.
Pak Wiryo yang sedang terbaring karena sakit, mencoba
bangkit menyambut tamu. Wajahnya pucat, napasnya tersengal. Ia agak canggung
menerima guru di rumahnya yang sangat sederhana.
"Maaf, Pak Guru. Maaf, rumah kami sangat sederhana.
Tidak pantas untuk menerima tamu." Katanya dengan suara lemah,
terbata-bata.
Pak Darma tersenyum. Ia duduk di dipan bambu yang
ditawarkan Bu Ratri, tidak canggung sama sekali. "Tidak apa-apa, Pak
Wiryo. Rumah Bapak bersih dan rapi. Saya datang bukan untuk melihat rumah. Saya
datang untuk bicara tentang Arga."
Bu Ratri yang sejak tadi cemas, segera mendekat. "Ada
apa dengan Arga, Pak Guru? Apa dia bermasalah di sekolah? Apa nilainya jelek?
Jangan-jangan dia nakal?"
"Tidak, tidak. Justru sebaliknya." Pak Darma
tersenyum meyakinkan. "Arga adalah murid yang pintar dan rajin. Nilainya
selalu bagus, masuk tiga besar di kelasnya. Saya datang untuk membicarakan masa
depannya. Ini tentang kabar baik."
Pak Darma lalu menjelaskan bahwa ada program bantuan
pendidikan dari pemerintah untuk siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Program itu mencakup beasiswa SPP, bantuan buku, dan uang saku setiap bulan.
"Arga memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa ini.
Nilainya bagus, perilakunya baik, dan keluarganya memang kurang mampu secara
ekonomi. Saya sudah mengajukan berkasnya. Dan kabar baiknya, dia
diterima." Jelas Pak Darma.
Pak Wiryo menatap Arga dengan mata berbinar. Wajahnya yang
pucat karena sakit terlihat berseri-seri, seolah penyakitnya berkurang separuh.
"Apakah benar begitu, Le?"
Arga hanya menunduk malu. Tapi dalam hatinya, ia bersyukur
Pak Darma datang. Rasanya seperti ada beban berat yang terangkat dari
pundaknya.
Pak Darma melanjutkan, "Jika Arga mendapatkan bantuan
ini, ia bisa melanjutkan sekolah tanpa membebani orang tua. Bahkan nanti kalau
nilainya terus bagus, bisa lanjut sampai SMA bahkan kuliah. Saya yakin Arga
mampu."
Bu Ratri menutup mulutnya, menahan tangis haru. Air matanya
jatuh membasahi pipi yang kurus. "Terima kasih, Pak Guru. Terima kasih
banyak." Katanya berulang-ulang sambil menangis.
Pak Darma mengangguk. "Sama-sama, Bu. Tugas saya
memang membantu murid-murid. Apalagi yang punya semangat seperti Arga. Ini
investasi untuk masa depan desa kita."
Setelah Pak Darma pulang, suasana rumah berubah. Ada
kehangatan baru. Ada harapan yang mulai tumbuh lagi. Arga melihat ibunya
tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ia melihat ayahnya yang
meskipun sakit, matanya berbinar-binar seperti ada cahaya baru.
"Le, kamu harus belajar lebih giat lagi." Kata
Pak Wiryo. "Ini kesempatan besar. Jangan sia-siakan. Tuhan sudah memberi
jalan."
"Iya, Pak. Arga akan berusaha. Arga tidak akan
mengecewakan Bapak, Ibu, dan Pak Darma."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu,
keluarga kecil itu makan malam dengan perasaan lebih tenang. Bukan karena
makanan lebih banyak, tapi karena ada harapan di hati. Harapan bahwa masa depan
masih bisa diperjuangkan. Harapan bahwa di tengah kesulitan, selalu ada
pertolongan. Harapan bahwa mimpi-mimpi itu tidak harus mati.
****
Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Beberapa minggu setelah Pak Darma datang dengan kabar gembira itu, kondisi Pak
Wiryo semakin memburuk.
Penyakit yang dulu hanya batuk-batuk biasa, ternyata
berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Pak Wiryo semakin kurus, semakin lemah.
Ia tidak lagi bisa bangun dari tempat tidur. Hanya terbaring di dipan bambu,
kadang batuk-batuk hebat hingga mengeluarkan darah. Wajahnya semakin pucat,
nyaris seperti kertas.
Bu Ratri membawanya ke puskesmas kecamatan. Dokter
memeriksa dengan saksama, lalu menghela napas panjang. Wajahnya serius.
"Maaf, Bu. Bapak menderita TBC yang sudah parah.
Infeksinya sudah menyebar. Harus segera dirawat di rumah sakit." Kata
dokter.
"Tapi... tapi kami tidak punya biaya, Dok." Bu
Ratri hampir menangis.
Dokter menghela napas lagi. "Saya bisa bantu dengan
obat generik, tapi untuk perawatan intensif, memang butuh biaya. Coba hubungi
keluarga, minta bantuan. Ini darurat."
Bu Ratri pulang dengan hati hancur. Obat-obatan mahal, dan
mereka tidak punya uang. Tabungan sudah habis. Hutang di mana-mana.
Arga duduk di samping tempat tidur ayahnya setiap hari. Ia
memegang tangan ayahnya yang semakin kurus, yang dulu begitu kuat menggenggam
cangkul, kini hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Tangannya dingin, lemah.
"Pak, Bapak harus cepat sembuh." Katanya dengan
suara bergetar. "Arga belum siap kalau Bapak... Arga belum bisa
apa-apa."
Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Air mata mengalir
deras membasahi pipi.
Pak Wiryo tersenyum lemah. Tangannya yang lemah meraih
tangan Arga, menggenggamnya sekuat tenaga. Genggaman yang lemah, tapi penuh
cinta.
"Hidup ini seperti musim, Nak." Katanya lirih,
suaranya hampir tidak terdengar. "Ada masa baik, ada masa sulit. Ada masa
tanam, ada masa panen. Ada masa sehat, ada masa sakit. Semua harus dijalani
dengan ikhlas. Jangan melawan takdir, tapi jalani dengan sabar."
Arga mengangguk, meskipun hatinya hancur berkeping-keping.
"Tapi ingat pesan Ayah." Lanjut Pak Wiryo.
"Jangan pernah berhenti berjuang. Jangan pernah berhenti sekolah. Itu
satu-satunya warisan yang bisa Ayah berikan padamu. Bukan harta, bukan tanah,
tapi mimpi dan semangat."
"Iya, Pak. Arga ingat. Arga akan terus sekolah. Arga
akan raih mimpi."
Beberapa hari kemudian, kondisi Pak Wiryo semakin memburuk.
Ia tidak bisa bangun sama sekali. Napasnya tersengal-sengal, kadang seperti
akan berhenti. Kadang ia bicara tidak jelas, seolah berada di antara sadar dan
tidak sadar. Demamnya naik turun.
Suatu malam, di tengah kesunyian yang hanya dipecahkan
suara jangkrik, ia memanggil Arga mendekat. Cahaya lampu minyak yang temaram
membuat ruangan terasa begitu sunyi dan sakral. Bayangan-bayangan menari di
dinding bambu.
"Arga... mendekatlah."
Arga mendekat, menggenggam tangan ayahnya yang dingin. Ia
bisa merasakan hidup perlahan meninggalkan tubuh ayahnya. Air matanya tidak
bisa ia tahan lagi.
"Jangan pernah berhenti sekolah." Kata Pak Wiryo
pelan, terbata-bata. "Sekolah setinggi-tingginya. Raih mimpimu. Jadilah
orang yang berguna."
"Arga janji, Pak."
"Dan jangan lupakan desa ini." Lanjut Pak Wiryo.
"Desa ini tanah kelahiranmu. Di sini kamu lahir, di sini kamu dibesarkan.
Suatu hari nanti, kalau kamu sudah sukses, ingatlah untuk kembali dan
membangunnya. Jangan seperti anak-anak muda lain yang lupa pada kampung
halaman."
Arga menangis tersedu-sedu. "Arga janji, Pak. Arga
tidak akan lupa. Arga akan kembali."
Pak Wiryo tersenyum. Senyum terakhir yang akan selalu
terkenang dalam hati Arga. Senyum yang penuh cinta, penuh harapan, penuh pesan.
Lalu ia menutup matanya untuk terakhir kalinya.
"Pak? Pak!" teriak Arga histeris. Tangannya
mengguncang-guncang tubuh ayahnya yang mulai dingin. "Pak, jangan
tinggalkan Arga! Pak! Jangan pergi! Arga belum siap! Arga masih butuh
Bapak!"
Bu Ratri yang mendengar teriakan itu berlari masuk. Ia
melihat suaminya telah tiada. Tubuhnya ambruk di samping suaminya, menangis
sejadi-jadinya. Tangisnya memecah kesunyian malam.
"Wiryo... Wiryo... jangan tinggalkan aku..."
isaknya.
Arga memeluk ibunya. Mereka berdua menangis bersama di
samping jenazah Pak Wiryo. Malam itu menjadi malam terkelam dalam hidup mereka.
Pagi harinya, kabar kematian Pak Wiryo menyebar cepat ke
seluruh desa. Warga berdatangan ke rumah duka, membawa takziah, membantu
memandikan dan mengkafani jenazah. Mbah Joyo memimpin doa. Pak Karsono datang
dengan beras dan lauk pauk. Bu Lastri membawa gula dan kopi. Wakijan membantu
menggali kubur.
Arga berdiri di samping jenazah ayahnya, tidak bisa
berkata-kata. Matanya bengkak, merah. Ia hanya diam, memandangi wajah ayahnya
yang terlihat tenang, seolah hanya tidur.
Pak Darma datang dan memeluknya. "Sabar, Arga. Ikhlas.
Almarhus sudah tenang di sisi-Nya."
"Iya, Pak." jawab Arga lirih.
Pemakaman berlangsung sederhana. Langit mendung, seolah
ikut berduka. Tidak hujan, tapi suram. Warga desa berjalan beriringan menuju
pemakaman umum di pinggir desa.
Arga berdiri di samping makam ayahnya, melihat tanah merah
menutup liang lahat. Tanah itu jatuh satu per satu, menimbun jasad orang yang
paling ia cintai. Di dalam hatinya, ia berkata pelan,
"Pak... Arga akan menepati janji Arga. Arga akan
sekolah setinggi-tingginya. Arga akan meraih mimpi-mimpi kita. Dan suatu hari
nanti, Arga akan kembali untuk membangun desa ini. Doakan Arga dari sana,
Pak."
Bu Ratri berdiri di sampingnya, tubuhnya lemas, disangga
oleh Bu Lastri dan Bu Narti.
"Kamu harus kuat, Nak." Katanya lembut.
Arga mengangguk. Ia mengusap air matanya dengan lengan
baju.
"Ibu, Arga janji. Arga tidak akan mengecewakan Ayah.
Arga akan membuat Ayah bangga dari atas sana."
Angin sore bertiup pelan, seolah membawa pesan dari alam
lain. Daun-daun kering beterbangan, jatuh di sekitar makam baru itu.
Hari itu Arga memahami satu hal: hidup tidak selalu memberi
jalan yang mudah. Kadang ia memberi ujian yang begitu berat, begitu
menyakitkan, hingga rasanya ingin menyerah saja. Tapi justru dari kesulitan
itulah manusia belajar menjadi kuat. Justru dari air mata itulah manusia
belajar tentang arti perjuangan.
Di bawah langit desa yang mulai gelap, seorang anak petani
berdiri dengan tekad baru. Ia tidak lagi hanya memiliki mimpi. Kini ia juga
memiliki alasan yang lebih kuat untuk berjuang: janji pada ayahnya, cinta pada
ibunya, dan tanggung jawab pada desanya.
Dan perjalanan panjangnya untuk menantang takdir baru saja
dimulai.
Enam bulan telah berlalu sejak kepergian Pak Wiryo. Hidup
berjalan pahit bagi keluarga kecil itu, namun waktu terus bergulir tanpa pernah
menunggu kesedihan usai. Arga menyelesaikan SMP-nya dengan nilai
****
gemilang, menjadi lulusan terbaik di sekolahnya. Ijazah itu
ia letakkan di samping makam ayahnya, sebagai bukti bahwa ia menepati janji.
Namun kini ia menghadapi persoalan baru: masa depan setelah
SMP. Di desanya tidak ada SMA. Satu-satunya SMA negeri berada di kota
kabupaten, berjarak hampir seratus kilometer dari Desa Sumber Langit. Jika
ingin melanjutkan, ia harus merantau.
Malam itu, Arga duduk di beranda rumah bersama ibunya.
Lampu minyak temaram menerangi wajah mereka yang letih. Bulan bersinar terang
di langit, tapi tidak cukup terang untuk menerangi masa depan yang gelap.
"Bu, Arga sudah memikirkan matang-matang." Buka
Arga pelan.
Bu Ratri menatap anaknya. "Memikirkan apa, Le?"
"Sekolah. Arga harus melanjutkan SMA."
Bu Ratri menghela napas. Ia tahu ini akan datang. Anaknya
yang pintar pasti ingin sekolah setinggi-tingginya. Tapi bagaimana dengan
biaya? Bagaimana dengan hidup mereka?
"Tapi, Le... kita tidak punya uang. Ibu cuma jualan
sayur, penghasilan pas-pasan. Sawah ayahmu sekarang digarap pamanmu, hasilnya
hanya cukup untuk kita makan."
Arga memegang tangan ibunya. Tangan yang kasar karena kerja
keras, tapi hangat dengan cinta.
"Arga sudah berpikir, Bu. Arga akan merantau. Sekolah
sambil bekerja. Banyak cerita orang sukses yang merantau dan bekerja sambil
sekolah. Arga yakin bisa."
Bu Ratri terkejut. "Merantau? Sendirian? Ke kota? Kamu
masih lima belas tahun, Le."
"Tahun depan Arga enam belas, Bu. Cukup umur untuk
bekerja. Teman-teman Arga banyak yang sudah merantau. Bima sudah di Jakarta,
Joko di Surabaya. Mereka kerja jadi kuli bangunan, jadi buruh pabrik. Arga juga
bisa."
"Ibu tidak tega, Le. Kamu anak manis, anak pintar. Ibu
takut kamu kenapa-napa di sana."
Arga tersenyum. "Arga akan jaga diri, Bu. Arga janji.
Ini demi masa depan Arga. Demi pesan Ayah."
Nama ayahnya seperti palu yang menghantam hati Bu Ratri. Ia
ingat pesan suaminya: jangan halangi anak sekolah. Ia ingat bagaimana suaminya
selalu bangga pada Arga.
"Ibu tidak bisa melarangmu, Le." Akhirnya Bu
Ratri berkata lirih. "Tapi Ibu cemas."
"Arga akan sering kirim kabar, Bu. Nanti kalau sudah
punya uang, Arga kirim buat Ibu."
Bu Ratri menangis. Tangis haru, tangis cemas, tangis
bangga. Anaknya, anak semata wayangnya, akan pergi merantau. Ia hanya bisa
mendoakan.
Malam itu, mereka berdua berdiskusi panjang. Arga
memaparkan rencananya dengan matang. Ia sudah mencari informasi tentang SMA di
kota, tentang kemungkinan bekerja sambil sekolah, tentang tempat tinggal yang
murah. Ia tidak asal nekat.
Keesokan harinya, Arga menemui Pak Darma. Guru tua itu
sedang duduk di beranda rumahnya, membaca koran bekas. Melihat Arga datang, ia
tersenyum.
"Arga, ada perlu apa pagi-pagi?"
Arga duduk di kursi kayu di samping Pak Darma. "Pak,
saya mau minta pendapat Bapak."
"Iya, tentang apa?"
"Saya mau merantau. Mau sekolah SMA sambil bekerja di
kota."
Pak Darma menghela napas. Ia sudah menduga ini akan
terjadi. Anak sepintar Arga tidak mungkin berhenti di SMP. Tapi ia juga tahu
beratnya hidup di kota.
"Kamu sudah pikirkan matang-matang?"
"Sudah, Pak. Saya sudah cari informasi. Ada SMA negeri
di kota yang menerima siswa dari luar daerah. Saya juga sudah cari info tentang
kerja. Banyak lowongan untuk anak SMA, jadi pelayan toko, jadi cuci piring di
warung, apa saja."
Pak Darma mengangguk-angguk. "Kamu anak tangguh, Arga.
Bapak tahu itu. Tapi hidup di kota keras. Kamu akan sendirian, tidak ada
keluarga, tidak ada teman. Siap?"
Arga mengangguk mantap. "Siap, Pak. Saya tidak
takut."
Pak Darma tersenyum bangga. "Bagus. Bapak punya
kenalan di kota. Namanya Pak Rahmat, dosen di universitas negeri. Beliau punya
kontrakan murah untuk mahasiswa. Mungkin kamu bisa tinggal di sana."
Mata Arga berbinar. "Benarkah, Pak?"
"Iya. Nanti Bapak kasih alamatnya. Kamu juga bisa
minta bantuan beliau kalau ada masalah."
Arga memegang tangan Pak Darma. "Terima kasih, Pak.
Terima kasih banyak. Saya tidak tahu harus membalas apa."
Pak Darma tertawa. "Balas dengan jadi orang sukses.
Itu hadiah terbaik buat Bapak."
Kabar kepergian Arga menyebar cepat di desa. Berbagai
reaksi muncul.
Di warung Bu Lastri, Juminten mulai bergosip seperti biasa.
"Katanya Arga mau merantau. Anaknya baru gede, udah berani pergi ninggalin
ibu."
Bu Lastri membela. "Dia mau sekolah, Juminten. Jangan
asal ngomong."
"Sekolah? Bilang aja mau cari kerja. Anak orang misik
ya gitu, ujung-ujungnya jadi kuli."
Mbah Joyo yang sedang duduk di pojok, mengetuk-ngetukkan
tongkatnya. "Juminten, tutup mulutmu. Arga anak baik. Dia mau sekolah
tinggi, bukan jadi kuli. Jangan fitnah."
Juminten cemberut, tapi diam.
Di rumah Pak Karsono, percakapan berbeda terjadi. Pak
Karsono memanggil Ratmi, putrinya.
"Mi, kamu dengar Arga mau merantau?"
Ratmi mengangguk. "Iya, Pak. Sedih ya."
"Kamu harusnya mencontoh dia. Rajin belajar, punya
mimpi. Jangan seperti anak-anak sekarang, main HP terus."
Ratmi tersenyum. "Ratmi tahu, Pak. Ratmi juga mau
sekolah tinggi."
"Bagus. Nanti kalau Arga sudah di kota, kamu bisa
minta info sekolah darinya. Kalian kan sebaya."
Ratmi tersipu. Ia diam-diam mengagumi Arga. Tapi tidak
pernah berani mengungkapkan.
Di rumah Tukiman, suasana berbeda. Tukiman, adik Pak Wiryo,
sedang berbincang dengan istrinya, Darsih.
"Wiryo, keponakanmu mau merantau." kata Darsih
sinis.
Tukiman menghela napas. "Iya. Dia mau sekolah."
"Sekolah? Sudah lupa kali sama ibunya. Ditinggal
sendiri. Nanti sawahnya kita yang ngurus."
Tukiman diam. Ia tahu istrinya iri pada Arga. Anaknya
sendiri, Gito, malas sekolah dan suka nongkrong.
Gito yang sedang duduk di sudut ruangan, main game di HP,
hanya mendengus. "Biarin aja, Pa. Mau ke kota? Sana. Nanti juga pulang
kalau susah di sana."
"Mana kayak kamu, di rumah terus." hardik
Tukiman.
Gito tidak peduli. Ia lanjut main game.
****
Pagi itu langit Desa Sumber Langit terlihat cerah, tidak
seperti hari-hari sebelumnya. Matahari bersinar hangat, seolah memberi restu
pada perjalanan yang akan ditempuh. Burung-burung berkicau riang di
pohon-pohon, menambah semarak suasana.
Tapi hati Arga terasa berat.
Di depan rumah bambu yang telah menjadi saksi bisu masa
kecilnya, Arga berdiri dengan tas besar di punggungnya. Tas itu berisi beberapa
pakaian, buku-buku kesayangan pemberian Pak Darma, foto ayahnya dalam bingkai
kayu sederhana, dan segenggam tanah dari halaman rumah yang ia bawa sebagai
kenangan. Ia juga membawa bekal makanan dari ibunya: nasi bungkus dan beberapa
gorengan.
Bu Ratri berdiri di depan pintu rumah sambil menahan air
mata. Rambutnya yang semakin memutih tertiup angin pagi. Wajahnya yang mulai
keriput menunjukkan perjuangan dan kesedihan yang tak terucap. Tubuhnya yang
kurus terlihat rapuh di balik kain sarungnya.
"Apakah kamu harus pergi sejauh itu, Nak?"
tanyanya dengan suara lirih, hampir berbisik.
Arga menggenggam tangan ibunya. Tangan yang telah
membesarkannya. Tangan yang telah bekerja keras sepanjang hidup. Tangan yang
kini mulai keriput dan lemah, namun tetap hangat.
"Arga harus belajar lebih banyak, Bu. Arga harus
sekolah yang tinggi, seperti pesan Ayah. Kalau Arga tetap di sini, Arga tidak
akan bisa mengubah apa-apa. Arga akan jadi seperti anak muda lain, putus
sekolah, kerja serabutan, atau merantau jadi kuli."
Bu Ratri mengangguk pelan, meskipun hatinya terasa berat.
Ia tahu anaknya benar. Ia tahu anaknya harus pergi. Tapi sebagai ibu, melepas
anak pergi jauh adalah salah satu hal tersulit di dunia. Rasanya seperti ada
yang tercabut dari hatinya.
"Jaga diri baik-baik, Nak." Pesannya dengan suara
bergetar. "Makan yang teratur. Jangan lupa ibadah. Jangan mudah putus asa.
Dan ingat, Ibu selalu mendoakanmu setiap malam. Dimana pun kamu berada, doa Ibu
akan selalu menyertaimu."
Arga memeluk ibunya erat-erat. Tubuh ibunya yang kurus
terasa begitu rapuh dalam pelukannya. Ia bisa merasakan tulang-tulang di
punggung ibunya. Ia mencium aroma khas ibunya, campuran minyak kayu putih dan
asap dapur.
"Ibu juga jaga kesehatan. Jangan terlalu berat
bekerja. Arga akan kirim uang setiap bulan, meskipun sedikit. Nanti kalau sudah
punya uang banyak, Arga jemput Ibu ke kota."
Bu Ratri tersenyum haru. "Jangan khawatirkan Ibu. Ibu
sudah biasa hidup susah. Yang penting kamu sukses di sana. Ibu cuma bisa bangga
punya anak sepertimu."
Bus kecil yang akan membawa Arga ke kota sudah menunggu di
ujung jalan desa, di dekat warung Bu Lastri. Sopirnya, Pak Karwo, sudah menekan
klakson beberapa kali. Beberapa warga desa ikut mengantar kepergiannya.
Ada Pak Darma yang tersenyum bangga meskipun matanya
berkaca-kaca. Ada Bima (yang kebetulan pulang kampung) yang memeluknya erat.
Ada Joko yang diam-diam mengusap air mata. Ada Ratmi yang melambai dari
kejauhan, tidak berani mendekat.
Pak Karsono datang membawa amplop. "Ini, Nak. Sedikit
bekal dari saya. Gunakan untuk ongkos atau beli buku."
Arga menolak. "Pak, tidak usah. Saya sudah
merepotkan."
"Ambil. Anggap saja sedekah. Kamu anak baik, saya
yakin kamu akan sukses."
Arga menerima amplop itu dengan haru. Ia membungkukkan
badan, memberi hormat pada semua yang hadir.
"Terima kasih, semuanya. Terima kasih atas kebaikan
selama ini. Doakan saya ya."
Mbah Joyo, yang ikut hadir meskipun jalannya lambat,
meletakkan tangan di kepala Arga. "Le, muga-muga slamat nggon perjalanan.
Dadio wong sukses, bali nggo mbangun desa iki." (Nak, semoga selamat di
perjalanan. Jadilah orang sukses, pulang untuk membangun desa ini.)
"Iya, Mbah. Doakan Arga."
Bus mulai bergerak. Arga melambai dari jendela. Ia melihat
ibunya yang masih berdiri di depan rumah, melambai dengan sapu tangan putih. Ia
melihat Pak Darma yang mengusap mata. Ia melihat teman-teman yang melambai
riuh. Ia melihat desanya perlahan menjauh.
Air mata mengalir di pipinya. Tapi di dalam hatinya ia
berjanji:
"Aku akan kembali. Dan suatu hari nanti, desa ini akan
berubah."
Beberapa jam kemudian, bus memasuki kota.
Pemandangan berubah drastis. Gedung-gedung tinggi berdiri di
mana-mana, menjulang seolah ingin menyentuh langit. Jalan raya dipenuhi
kendaraan yang bergerak tanpa henti, saling bersahutan klakson. Lampu-lampu
lalu lintas berwarna-warni. Orang-orang berjalan dengan cepat, seolah selalu
dikejar waktu. Papan reklame besar-besar menghiasi sisi jalan. Toko-toko modern
dengan etalase gemerlap berjejer.
Arga menatap semua itu dengan kagum sekaligus bingung.
Selama lima belas tahun hidup di desa, ia tidak pernah melihat pemandangan
seperti ini. Semua terasa asing. Semua terasa baru. Bahkan udaranya berbeda:
panas, pengap, dan berbau asap.
"Jadi... inilah dunia di luar desa," gumamnya
pelan.
Bus berhenti di terminal. Arga turun dengan tas besar di
punggungnya. Ia berdiri di tengah hiruk-pikuk terminal, bingung harus ke mana.
Orang-orang berlalu-lalang tanpa peduli. Sopir angkutan kota berteriak-teriak
menawarkan jasa. Pedagang asongan menawarkan dagangan. Calo-calo tiket berebut
penumpang.
"Mas, mau ke mana? Saya antar!" teriak seorang
sopir angkot.
"Mas, titip barang, Mas!" teriak calo lain.
Arga merasa pusing. Ia mencoba mengingat-ingat alamat yang
diberikan Pak Darma. Dari kertas usang di sakunya, ia membaca: "Jl.
Kenanga No. 45, Kampung Baru, Kecamatan...".
"Um... saya mau ke daerah Kampung Baru." jawab
Arga pada sopir angkot yang paling ramah wajahnya.
"Naik, Mas. Saya lewat sana. Rp 5.000 saja."
Arga naik ke angkutan kota yang penuh sesak. Ia duduk di
pojok, memeluk tasnya erat-erat seperti memeluk harta karun. Di sekelilingnya,
orang-orang sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada yang main HP, ada yang
tidur, ada yang membaca koran, ada yang melamun. Semua terasa asing dan dingin.
Angkot berjalan lambat di tengah kemacetan. Arga melihat
pemandangan kota dari jendela. Gedung-gedung tinggi, mal-mal besar, restoran
cepat saji, lampu-lampu warna-warni. Semua terasa seperti dunia lain.
Ketika sampai di Kampung Baru, Arga turun. Ia mencari-cari
alamat yang diberikan. Jalanan sempit, padat penduduk. Rumah-rumah berdesakan,
tidak seperti di desa yang luas dengan halaman dan sawah. Bau selokan bercampur
bau masakan dari rumah-rumah penduduk.
Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya ia menemukan rumah
kos sederhana. Sebuah rumah petak berlantai dua dengan beberapa kamar kecil.
Catnya kusam, pagarnya berkarat. Di depannya ada warung kecil.
Pemiliknya, seorang ibu paruh baya bernama Bu Lastri
(panggil saja Bu Lastri kos, beda dengan Bu Lastri di desa), menyambutnya
dengan ramah. Beliau gemuk, ramah, dengan senyum lebar.
"Kamu Arga? Dari desa Sumber Langit, titipan Pak
Darma?"
"Iya, Bu."
"Silakan masuk. Kamarnya sudah siap. Kecil, tapi
mudah-mudahan betah. Pak Darma sudah telepon saya kemarin. Bilang kamu anak
baik."
Kamar itu memang kecil. Hanya cukup untuk satu tempat tidur
tipis, satu meja belajar kecil dari kayu lapis, dan lemari pakaian mini yang
pintunya miring. Jendelanya menghadap ke tembok tetangga, sehingga tidak banyak
cahaya masuk. Di sudut kamar, ada kipas angin kecil yang sudah berdebu.
Tapi bagi Arga, itu sudah cukup. Bahkan mewah dibanding
rumahnya di desa.
"Murah, Bu?" tanyanya hati-hati, sambil
menghitung uang di sakunya.
Bu Lastri tersenyum. "Dua ratus ribu sebulan, sudah
termasuk listrik dan air. Tapi kalau kamu anak baik dan rajin, bisa saya
kurangin sedikit. Pak Darma bilang kamu mau sekolah sambil kerja. Saya bisa carikan
kerja, kenal banyak orang."
Arga menghela napas lega. Uang bekal dari ibunya, tabungan
hasil membantu tetangga, dan amplop dari Pak Karsono, cukup untuk beberapa
bulan ke depan. Ia akan mencari kerja secepatnya.
Malam harinya, untuk pertama kalinya Arga merasakan
kesunyian yang berbeda. Di desa, malam diiringi suara jangkrik, suara kodok,
dan sesekali suara burung hantu. Di sini, malam diiringi suara kendaraan, suara
tetangga yang menonton TV, suara musik dari warung-warung, suara orang
mengobrol, dan suara anjing menggonggong.
Ia duduk di tepi tempat tidur, membuka foto ayahnya yang
selalu ia bawa. Air mata mengalir lagi. Kerinduan yang amat sangat.
"Pak... Arga sudah sampai di kota. Arga akan berusaha
sekuat tenaga. Doakan Arga."
Kota terasa sangat besar dan asing. Tapi di tempat asing
itulah perjalanan hidupnya akan benar-benar dimulai.
****
Hari-hari pertama di kota tidak mudah bagi Arga. Segalanya
baru. Segalanya asing. Ia harus belajar beradaptasi dengan cepat.
Setelah mendaftar di sebuah SMA negeri yang cukup terkenal
dengan bantuan Pak Rahmat (kenalan Pak Darma), Arga mulai menjalani rutinitas
barunya. Pagi hingga siang ia sekolah. Sore hingga malam ia harus mencari
pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Hari pertama mencari kerja, Arga berkeliling kompleks
pertokoan tidak jauh dari kosnya. Ia memasuki satu per satu toko, menawarkan
diri.
"Maaf, Pak, ada lowongan kerja?" tanyanya di
sebuah toko kelontong.
Pemilik toko, seorang pria paruh baya berkumis,
memandangnya dari atas ke bawah. "Kamu dari mana? Umur berapa?"
"Saya dari desa, Pak. Enam belas tahun. Butuh kerja
sambil sekolah."
Pemilik toko menggeleng. "Maaf, belum ada. Lagian kamu
masih kecil, sekolah dulu aja."
Arga tidak menyerah. Ia coba toko lain, lalu toko lain
lagi. Jawabannya hampir sama. Ada yang menolak halus, ada yang kasar. Beberapa
pemilik toko bahkan tidak mau mendengar, langsung mengusir.
Setelah lima toko, Arga mulai putus asa. Ia duduk di
pinggir jalan, memandangi lalu lintas yang padat. Debu beterbangan, asap
kendaraan memenuhi hidungnya.
"Mungkin aku tidak akan dapat kerja." gumamnya
sedih.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya menghampirinya. Pria itu
memakai celemek, rambutnya agak gondrong, wajahnya ramah.
"Mas, lagi cari kerja?" tanyanya.
Arga menoleh. "Iya, Pak."
Pria itu tersenyum. "Saya punya warung makan tidak
jauh dari sini. Butuh pelayan. Tapi gajinya kecil. Kamu mau?"
Mata Arga berbinar. "Mau, Pak! Saya mau!"
Pria itu adalah Pak Hasan, pemilik warung makan "Sedap
Rasa". Warungnya sederhana, hanya beberapa meja dan kursi plastik, tapi
cukup ramai pembeli. Menu andalannya adalah nasi goreng, mie goreng, dan
berbagai lauk sederhana.
"Gajinya 500 ribu sebulan. Kerja dari jam 4 sore
sampai jam 10 malam. Kadang lebih kalau lagi ramai. Kamu dapat makan gratis
sekali sehari. Mau?"
Arga menghitung cepat. 500 ribu cukup untuk bayar kos dan
sedikit kebutuhan lain. Ia bisa hemat.
"Mau, Pak. Saya mau."
"Kamu sekolah?" tanya Pak Hasan lagi.
"Iya, Pak. SMA. Pagi sampai siang."
"Berarti bisa. Kerja sore sampai malam. Tapi kamu
harus kuat. Capek sekolah terus kerja."
"Arga sudah biasa capek, Pak. Di desa, Arga biasa
bantu orang tua di sawah."
Pak Hasan mengangguk puas. "Bagus. Besok mulai ya. Jam
4 sore sudah di sini."
Hari itu Arga pulang dengan perasaan senang. Akhirnya ia
mendapat pekerjaan. Ia tidak akan kelaparan di kota.
Hari pertama bekerja, Arga hampir pingsan karena kelelahan.
Sepulang sekolah ia langsung ke warung, bekerja hingga pukul sepuluh malam
tanpa istirahat. Kakinya pegal, tangannya lecet karena terkena sabun cuci piring.
Ia harus mencuci piring kotor bertumpuk-tumpuk, mengelap meja, melayani
pembeli, mengantar pesanan.
Pak Hasan yang memperhatikan keadaannya, memanggil Arga di
sela-sela kesibukan.
"Kamu, sini sebentar."
Arga mendekat, agak takut. Apa ia melakukan kesalahan?
"Ada apa, Pak?"
Pak Hasan menuangkan segelas teh manis dan menyodorkannya
pada Arga. "Minum dulu. Istirahat sebentar. Muka kamu pucat."
Arga menerima teh itu ragu-ragu. "Tapi pekerjaan masih
banyak, Pak. Piring masih numpuk."
"Sudah, tidak apa-apa. Nanti bisa dikerjakan. Kamu
kelihatan capek sekali. Kerja jangan memaksakan diri. Istirahat itu
penting."
Arga duduk di kursi belakang warung, meminum teh manis
hangat itu. Rasanya luar biasa. Mungkin karena ia sangat lelah, atau mungkin
karena kebaikan Pak Hasan, teh itu terasa lebih manis dari biasanya. Hangatnya
menjalar ke seluruh tubuh.
"Kamu sekolah sambil kerja?" tanya Pak Hasan
sambil duduk di sampingnya.
Arga mengangguk. "Iya, Pak. Orang tua saya tidak mampu
di desa. Saya harus biaya sendiri. Bapak saya sudah meninggal. Ibu saya jualan
sayur."
Pak Hasan mengangguk-angguk. Wajahnya berubah iba.
"Saya tahu perasaan itu. Dulu saya juga begitu. Merantau dari kampung,
sekolah sambil kerja. Capek? Pasti. Tapi percayalah, semua ini akan terbayar
suatu hari nanti. Yang penting jangan putus asa."
"Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah mau menerima
saya."
"Pokoknya kalau ada apa-apa, bilang sama saya. Jangan
sungkan. Kita sama-sama perantau di sini. Saya dari Jawa Timur, kamu dari Jawa
Tengah. Sama-sama jauh dari kampung."
Sejak hari itu, hubungan Arga dan Pak Hasan semakin akrab.
Pak Hasan sering memberinya makanan ekstra, atau mengizinkannya pulang lebih
awal jika ada ujian. Kebaikan-kebaikan kecil yang sangat berarti bagi Arga.
Kadang Pak Hasan juga memberi nasihat tentang hidup di kota, tentang cara
menghemat uang, tentang bergaul dengan orang yang tepat.
Namun hidup di kota tidak selalu baik. Ada kalanya Arga
menghadapi kesulitan yang membuatnya hampir menyerah.
****
Suatu malam, setelah bekerja lembur karena warung sedang
ramai, Arga pulang ke kos dengan badan letih. Jam sudah menunjukkan pukul
setengah dua belas malam. Jalanan mulai sepi, hanya sesekali ada kendaraan
lewat. Lampu jalan temaram, menimbulkan bayangan-bayangan menyeramkan.
Arga berjalan cepat, ingin segera sampai di kos dan tidur.
Ketika sampai di kamar, ia mendapati pintu kamarnya terbuka. Jantungnya
berdegup kencang. Ia ingat pagi tadi ia mengunci pintu. Pasti ada yang masuk.
Ia masuk dengan hati-hati dan melihat kamarnya berantakan.
Semua barangnya diacak-acak. Baju-baju berhamburan di lantai. Kasurnya
terbalik. Lemari terbuka dengan pintu miring.
Maling!
Arga memeriksa barang-barangnya. Uang tabungan yang ia
simpan di bawah kasur, raib. Tabungan satu bulan bekerja, sekitar 400 ribu
(setelah dipotong untuk bayar kos dan kebutuhan lain), lenyap begitu saja.
Beberapa pakaian yang masih lumayan, hilang. Hanya buku-buku dan foto ayahnya
yang masih ada, mungkin karena tidak berharga bagi pencuri.
Arga duduk lemas di lantai. Uang itu adalah tabungannya
selama satu bulan bekerja. Uang untuk membayar SPP bulan depan, untuk membeli
buku, dan untuk cadangan hidup. Kini semuanya lenyap dalam sekejap.
Ia ingin menangis, tapi air mata sepertinya sudah kering.
Ia hanya duduk terpaku, memandangi kekacauan di kamarnya. Pikirannya kosong.
Tubuhnya lemas.
Ketika Bu Lastri, pemilik kos, tahu kejadian itu, ia segera
datang dengan wajah cemas.
"Ya ampun, Arga! Maafkan Ibu, Ibu tidak tahu ada
maling masuk. Kamu tidak apa-apa? Lukai tidak?"
Arga menggeleng lemas. "Saya tidak apa-apa, Bu. Tapi
uang tabungan saya... habis. Semua."
Bu Lastri menghela napas panjang. "Ibu turut berduka.
Tapi kamu harus tetap semangat, Nak. Jangan sampai kejadian ini membuatmu putus
asa. Masih ada rejeki lain."
"Iya, Bu." jawab Arga lirih.
Malam itu Arga tidur tanpa selimut dan bantal, karena semua
sudah dicuri. Ia hanya memeluk foto ayahnya, berusaha mencari kekuatan.
Tubuhnya menggigil kedinginan karena hanya beralas kasur tipis tanpa selimut.
Keesokan harinya, ia masuk sekolah dengan mata sembab.
Teman-temannya bertanya, tapi ia hanya diam. Di kelas, ia tidak bisa
konsentrasi. Pikirannya melayang pada uang yang hilang, pada SPP yang harus
dibayar, pada masa depan yang tiba-tiba terasa suram lagi.
Sepulang sekolah, ia ke warung Pak Hasan dengan langkah
gontai. Pak Hasan yang melihat wajahnya langsung curiga.
"Arga, kamu kenapa? Kok muka lesu?"
Arga bercerita tentang kejadian maling itu dengan suara
bergetar. Pak Hasan mendengarkan dengan saksama, wajahnya berubah serius.
"Sabar, Arga. Itu cobaan." Katanya setelah Arga
selesai bercerita. "Tapi kamu jangan putus asa."
Pak Hasan lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar
uang lima ratus ribu. "Ini, untuk kamu."
Arga terkejut. "Pak, tidak usah. Saya tidak bisa
menerima... ini terlalu banyak."
"Ambil saja. Anggap pinjaman. Nanti kamu bisa bayar
dengan potong gaji sedikit-sedikit. Lima puluh ribu per bulan. Atau kamu bantu
saya kerja lebih keras."
Arga menatap uang itu, lalu menatap Pak Hasan. Matanya
berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus berkata apa. Bapak
sudah seperti ayah saya sendiri di sini."
"Tidak usah berkata apa-apa. Yang penting kamu tetap
semangat sekolah. Jangan menyerah. Ingat, orang sukses adalah mereka yang
bangkit setiap kali jatuh."
Kejadian itu membuat Arga belajar satu hal: di tengah
kerasnya hidup di kota, masih ada orang-orang baik yang rela membantu. Ia tidak
sendiri. Ia punya orang-orang yang peduli. Ia harus lebih berhati-hati ke
depannya.
Sejak hari itu, Arga menabung uangnya di bank, tidak lagi
menyimpan di kamar. Ia juga membeli gembok baru yang lebih kuat. Pengalaman
pahit itu menjadi pelajaran berharga.
****
Malam di kota terasa berbeda dengan malam di desa. Di desa,
malam gelap dan sunyi, hanya diiringi suara jangkrik dan sesekali suara burung
hantu. Udara dingin menusuk, tapi damai. Di kota, malam terang benderang oleh
lampu-lampu jalan dan neon-neon toko yang gemerlap. Suara kendaraan tidak
pernah benar-benar berhenti, bahkan hingga larut malam. Musik dari kafe-kafe
dan warung-warung sayup-sayup terdengar.
Namun bagi Arga, di tengah keramaian kota itu, ia justru
merasa lebih sepi.
Suatu malam minggu, ketika tidak ada pekerjaan di warung,
ia duduk sendirian di atap rumah kos. Atap itu adalah tempat favoritnya untuk
melarikan diri dari hiruk-pikuk kota. Dari sana ia bisa melihat langit malam
yang tidak lagi penuh bintang karena polusi cahaya. Hanya bulan dan beberapa
bintang paling terang yang masih bisa dilihat. Sisanya, langit kelabu oleh
cahaya kota.
Ia menatap langit itu, merindukan langit desanya yang penuh
bintang. Merindukan suara jangkrik dan kodok. Merindukan rumah bambunya.
Merindukan ibunya. Merindukan masakan ibunya. Merindukan suara ayahnya meskipun
sudah tiada.
Temannya sekamar, seorang mahasiswa bernama Doni, datang
menghampiri. Doni adalah anak kota yang kuliah di universitas ternama. Ia cukup
baik pada Arga, meskipun kadang ada jarak karena perbedaan latar belakang.
Kamar mereka berdua, berbagi tempat sempit.
"Kamu sering sendirian di sini." Kata Doni sambil
duduk di samping Arga. "Aku perhatikan, hampir tiap malam minggu kamu di
sini."
Arga tersenyum tipis. "Aku sedang memikirkan rumah.
Kangen."
"Rindu desa?"
Arga mengangguk. "Di desa, malam terasa damai.
Udaranya sejuk. Langitnya penuh bintang. Suara jangkrik di mana-mana. Di
sini... semuanya ramai, tapi anehnya aku merasa lebih sepi. Sepi di tengah
keramaian."
Doni mengangguk mengerti. "Itu biasa bagi perantau,
apalagi yang baru pertama kali jauh dari rumah. Aku juga dulu begitu, waktu
pertama kali kuliah di sini. Tapi lama-lama terbiasa. Nanti juga kamu
terbiasa."
"Kamu juga perantau?"
"Iya. Orang tuaku di Sumatra. Jauh juga. Aku ke sini
kuliah ambil teknik. Sudah tiga tahun, jadi sudah agak terbiasa. Tapi kadang
masih kangen juga."
Mereka diam sejenak, menikmati angin malam yang berhembus.
Angin di atap terasa lebih kencang, membawa sedikit kesejukan di tengah
panasnya kota.
"Kamu anak desa, ya?" tanya Doni kemudian.
Arga mengangguk. "Iya. Dari desa kecil yang mungkin
tidak pernah kamu dengar namanya. Sumber Langit. Di kaki gunung, jauh dari
kota."
"Terus kenapa kamu ke kota? Mau sekolah?"
"Kuliah nanti. Sekarang masih SMA dulu. Tapi iya, saya
ke sini untuk sekolah. Di desa saya, sekolah cuma sampai SD. Kalau mau lanjut,
harus ke kota. SMP saja saya harus ke kecamatan, naik sepeda 15 kilometer."
Doni mengangguk-angguk kagum. "Berat ya. Sekolah
sambil kerja. Aku saja yang full dari orang tua kadang malas."
"Alhamdulillah masih bisa bertahan. Tadi malah baru
kemalingan, uang habis. Tapi untung ada Pak Hasan yang bantu."
"Wah, parah. Tapi kamu kuat ya. Aku kagum."
Arga tersenyum malu. Mereka berbincang cukup lama malam
itu. Doni banyak bercerita tentang pengalamannya sebagai perantau, tentang suka
duka hidup di kota, tentang bagaimana ia bertahan dan berhasil sampai semester
akhir. Cerita-cerita itu memberi semangat baru bagi Arga.
"Pokoknya kamu harus kuat." Kata Doni di akhir
perbincangan. "Kota ini keras. Banyak godaan. Banyak orang jahat. Tapi
kalau kamu punya tujuan yang jelas, kamu akan selamat. Ingat terus kenapa kamu
di sini."
"Tujuan apa?"
"Mimpi. Cita-cita. Alasan kenapa kamu di sini. Itu
yang akan menuntunmu ketika kamu mulai tersesat. Itu yang akan membuatmu
bertahan ketika semua terasa sulit."
Arga merenungkan kata-kata itu. Mimpinya. Cita-citanya.
Alasan ia berada di kota yang asing ini.
Ia ingat ayahnya. Ia ingat pesan-pesannya. Ia ingat desanya
yang tertinggal. Ia ingat janjinya untuk kembali dan membangun desa.
Itulah tujuannya. Itulah yang akan menuntunnya.
"Terima kasih, Doni." Katanya tulus.
"Sama-sama. Sekarang turunlah. Sudah malam, besok kamu
sekolah. Aku juga ada kuliah pagi."
Mereka turun dari atap. Malam itu Arga tidur dengan
perasaan sedikit lebih tenang. Kesepian masih ada, kerinduan masih terasa. Tapi
ia tahu, ia tidak sendiri. Ada teman-teman baik di sekitarnya. Ada orang-orang
yang peduli.
****
Di sekolah, Arga mulai mendapat teman-teman baru. Awalnya
ia pendiam dan pemalu. Suaranya yang medok dan pakaiannya yang sederhana
membuatnya kurang percaya diri. Tapi perlahan, ia mulai membuka diri.
Teman pertamanya adalah Rudi, anak kota biasa yang ramah
dan suka membantu. Rudi duduk sebangku dengannya. Hari pertama, Rudi menyapa.
"Hai, lo anak baru ya? Namanya siapa?"
"Arga." jawabnya pendek.
"Arga? Nama keren. Dari mana?"
"Sumber Langit. Desa."
Rudi mengangguk. "Oh, desa. Jauh ya. Tinggal di
kos?"
"Iya."
"Gue Rudi. Salam kenal."
Sejak itu, mereka mulai akrab. Rudi sering membantu Arga
jika kesulitan dengan pelajaran. Ia juga mengajak Arga bergaul dengan
teman-teman lain.
Teman lain adalah Siska, anak perempuan populer di kelas.
Awalnya Siska cuek pada Arga, menganggapnya anak desa biasa. Tapi setelah
melihat Arga pintar dan rajin, ia mulai respek.
"Arga, lo pinter banget ya." Kata Siska suatu
hari. "Nilai matematika lo selalu tinggi."
"Biasa aja." jawab Arga malu.
"Jangan rendah diri. Lo pinter, gue nilai."
Siska kemudian sering meminta tolong Arga untuk
mengajarinya matematika. Arga tidak pernah menolak. Ia senang bisa membantu.
Ada juga Hendra, anak terkaya di kelas. Hendra sering pamer
barang-barang mahal: sepatu branded, jam tangan mahal, HP terbaru. Ia awalnya
memandang rendah Arga.
"Lo anak desa ya?" tanyanya suatu hari dengan
nada meremehkan. "Bajunya lusuh, sepatunya bolong."
Arga tersenyum sabar. "Iya, aku anak desa."
Hendra tertawa kecil. Tapi lama-lama ia mulai respect
setelah melihat Arga tidak pernah malu, selalu tersenyum, dan pintar di kelas.
Suatu hari, Hendra meminjamkan buku catatannya pada Arga yang bukunya rusak.
"Pinjem aja. Nanti balikin." katanya singkat.
Arga menerima dengan senang. Sejak itu, hubungan mereka
membaik.
Di warung Pak Hasan, Arga juga punya teman-teman baru. Ada
Mas Budi, juru masak di warung, yang suka bercanda dan memberi nasihat. Ada
Mbak Yuni, pelayan lain, yang baik hati dan sering berbagi makanan.
"Ga, lo kuat nggak sih sekolah sambil kerja?"
tanya Mas Budi suatu hari.
"Alhamdulillah kuat, Mas. Udah biasa." jawab
Arga.
"Lo hebat. Gue jaman dulu nggak sanggup. Putus
sekolah."
"Arga nggak mau putus sekolah, Mas. Itu pesan
Bapak."
Mas Budi mengangguk. "Bagus. Terus sekolah. Jangan
kayak gue, nyesel sekarang."
Mbak Yuni juga sering memberi semangat. "Dik Arga,
adek itu anak baik. Rajin, sopan. Pasti sukses nanti."
"Terima kasih, Mbak."
****
Hidup di kota bagaikan naik turunnya ombak. Kadang di atas,
kadang di bawah. Setelah kejadian kemalingan, Arga mulai bangkit perlahan. Ia
bekerja lebih keras, menabung lebih rajin, dan lebih berhati-hati.
Namun ujian kembali datang.
Suatu hari, Arga menerima kabar buruk. Ia gagal dalam ujian
akhir semester. Nilai matematikanya jeblok, di bawah standar kelulusan. Hasil
itu membuatnya sangat terpukul.
Di kamar kos yang sempit, ia duduk diam sambil menatap
kertas hasil ujian yang dibagikan gurunya. Angka merah besar tertera di sana:
45. Nilai terendah sepanjang sejarah sekolahnya. Kertas itu seolah menari-nari
di depannya.
Doni yang baru pulang kuliah melihat Arga murung.
"Kenapa, Ga? Kok lesu? Muka lo pucat."
Arga menunjukkan kertas itu tanpa berkata apa-apa.
Doni melihatnya, lalu menghela napas panjang. "Ya
ampun, Ga. Ini parah. 45? Lo yang biasanya 80-90, kok bisa?"
Arga menggeleng lemas. "Nggak tahu. Mungkin karena
kecapekan. Atau... mungkin aku memang bodoh."
"Jangan bilang gitu. Satu kegagalan bukan akhir
segalanya. Masih ada ujian perbaikan, kan?"
Arga tidak menjawab. Pikirannya kacau.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Arga merasa benar-benar
putus asa. Nilai jelek itu seperti pukulan terakhir setelah sekian lama ia
berjuang. Ia merasa semua usahanya sia-sia. Ia merasa tidak akan pernah bisa
bersaing dengan anak-anak kota yang lebih pintar, lebih kaya, lebih segalanya.
Ia duduk di atap kos, menatap langit yang suram. Hatinya
berkecamuk.
"Mungkin aku memang tidak cukup baik." gumamnya
pelan. "Mungkin mimpiku terlalu besar untuk anak desa sepertiku."
Ia teringat ayahnya. "Pak... maafkan Arga. Arga
mungkin mengecewakan Bapak."
Ia teringat ibunya di desa. "Bu... maaf, anakmu
mungkin gagal."
Ia teringat Pak Darma. "Pak... maaf, saya tidak bisa
memenuhi harapan Bapak."
Malam itu ia hampir memutuskan untuk pulang ke desa. Ia
berpikir bahwa mungkin takdirnya memang hanya menjadi petani seperti ayahnya.
Mungkin ia tidak ditakdirkan untuk sekolah tinggi. Mungkin mimpinya terlalu
besar untuk anak desa sepertinya.
Ia membuka lemari, mengeluarkan tasnya, mulai memasukkan
pakaian-pakaiannya. Ia akan pulang besok pagi. Menyerah. Kembali ke desa.
Membantu ibunya di sawah. Melupakan semua mimpi besarnya.
Namun sebelum tidur, ia membuka kembali buku catatan lama
yang selalu ia bawa dari desa. Buku usang dengan sampul lusuh, pemberian Pak
Darma. Di halaman pertama, ada kalimat yang ditulis tangan:
"Jangan pernah berhenti berjuang. Kegagalan bukan
akhir, tapi awal dari perjuangan yang lebih keras. Ingat, anak petani bisa
meraih mimpi."
Itu tulisan Pak Darma. Diberikan ketika Arga pamit pergi
merantau.
Arga membaca kalimat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh
membasahi halaman buku. Ia menutup buku itu perlahan.
Ia ingat ayahnya. Ia ingat pesan-pesannya. Ia ingat ibunya
yang menunggu di desa. Ia ingat Pak Darma yang begitu percaya padanya. Ia ingat
semua orang yang telah membantunya. Ia ingat Pak Hasan yang meminjaminya uang.
Ia ingat Doni yang memberi semangat. Ia ingat Rudi, Siska, dan teman-teman
lain.
Apakah ia akan mengecewakan mereka semua hanya karena satu
kegagalan?
Tidak. Ia tidak bisa.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan kembali pakaian-pakaian
yang sudah dimasukkan. Ia akan tetap di sini. Ia akan berjuang lebih keras. Ia
akan membuktikan bahwa anak petani dari desa kecil bisa berhasil.
Kekuatan baru muncul di dalam hatinya. Bukan kekuatan yang
arogan, tapi kekuatan yang tenang dan mantap. Kekuatan yang lahir dari
kesadaran bahwa menyerah bukan pilihan.
Malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan
pernah menyerah lagi. Apapun yang terjadi, ia akan terus berjuang.
****
Beberapa hari setelah kegagalannya, Arga dipanggil oleh Pak
Rahmat, guru matematika sekaligus wali kelasnya. Pak Rahmat adalah dosen yang
juga mengajar di SMA (program kerjasama). Beliau yang dulu dikenalkan Pak
Darma. Arga masuk ke ruang guru dengan perasaan cemas. Apa lagi yang salah?
Apakah ia akan dikeluarkan?
"Silakan duduk, Arga." Kata Pak Rahmat ramah
sambil menunjuk kursi di depannya.
Arga duduk di kursi di depan meja Pak Rahmat. Ia menunduk,
tidak berani menatap gurunya. Tangan nya gemetar di atas paha.
"Saya melihat nilai kamu menurun drastis." Kata
Pak Rahmat membuka percakapan. "Dari 85, 90, tiba-tiba 45. Ada apa?"
Arga menunduk lebih dalam. "Saya minta maaf, Pak. Saya
janji akan belajar lebih giat. Saya akan ikut ujian perbaikan."
Pak Rahmat tidak langsung menjawab. Ia memandang Arga
dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu ia berkata, "Saya tahu kamu
bekerja sambil sekolah."
Arga terkejut. Ia mendongak. "Bagaimana Bapak
tahu?"
Pak Rahmat tersenyum. "Saya memperhatikan murid-murid
saya. Terutama yang nilainya tiba-tiba turun drastis. Biasanya ada masalah.
Saya cari tahu, dan ternyata kamu bekerja setiap sore sampai malam di warung
makan. Saya juga tanya pada Pak Darma, beliau cerita."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Saya juga tahu kamu tinggal di kos sempit, jauh dari
keluarga, dan mengirim uang untuk ibumu di desa." Lanjut Pak Rahmat.
"Saya tahu kamu korban kemalingan beberapa waktu lalu. Saya tahu kamu
berjuang sendirian di sini."
Air mata Arga mulai menggenang. Bukan karena sedih, tapi
karena tersentuh. Selama ini ia merasa berjuang sendiri. Ia merasa tidak ada
yang peduli dengan perjuangannya. Tapi ternyata ada yang memperhatikan. Ada
yang peduli.
"Orang yang berasal dari kesulitan biasanya memiliki
ketahanan yang lebih kuat." Kata Pak Rahmat. "Mereka lebih tangguh,
lebih pekerja keras, lebih tahu arti perjuangan. Kamu punya potensi itu, Arga.
Jangan sia-siakan."
Arga mengangguk, masih menahan tangis.
"Kegagalan ini bukan akhir." Lanjut Pak Rahmat.
"Ini pelajaran. Kamu harus belajar mengatur waktu lebih baik. Belajar dan
bekerja harus seimbang. Kalau perlu, cari pekerjaan yang lebih ringan atau
minta keringanan waktu."
"Tapi, Pak..."
"Saya akan bicara dengan Pak Hasan, pemilik warung
tempat kamu bekerja. Saya kenal beliau. Mungkin kita bisa mengatur jadwal yang
lebih baik untukmu. Saya juga akan memberikan les tambahan gratis untukmu,
setiap Sabtu sore."
Arga tidak bisa menahan air matanya lagi. Kali ini bukan
air mata kesedihan, tapi air mata haru. Ia tidak menyangka akan mendapat
perhatian sebesar ini dari gurunya.
"Terima kasih, Pak." Isaknya. "Terima kasih
banyak. Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Tidak perlu berterima kasih, Arga. Kamu berhak
mendapat kesempatan yang sama seperti siswa lain. Jangan pernah ragu untuk
meminta bantuan. Itu bukan tanda kelemahan, tapi tanda kedewasaan."
Kata-kata itu seperti cahaya kecil di tengah kegelapan.
Arga merasa kembali memiliki harapan. Ia tidak sendiri. Ada guru yang peduli,
ada orang-orang baik di sekitarnya. Ia hanya perlu terus berjuang.
Sejak hari itu, dengan bantuan Pak Rahmat, kehidupan Arga
mulai membaik. Pak Hasan memberinya jadwal kerja yang lebih fleksibel,
memungkinkannya untuk belajar lebih banyak. Arga hanya bekerja tiga jam sehari,
dari jam 5 sampai 8 malam, dengan gaji yang sama. Pak Hasan baik hati.
Pak Rahmat juga memberikan les tambahan gratis untuk Arga
dan beberapa siswa lain yang membutuhkan. Setiap Sabtu sore, mereka berkumpul
di rumah Pak Rahmat, belajar matematika dan fisika dengan tekun.
Arga mulai bekerja lebih keras, tapi juga lebih cerdas. Ia
membagi waktunya dengan lebih disiplin. Pagi belajar di sekolah. Sore belajar
kelompok atau les tambahan. Malam bekerja di warung, lalu belajar lagi setelah
pulang hingga larut.
Tidurnya hanya empat sampai lima jam sehari. Tapi ia tidak
pernah mengeluh. Ia punya tujuan. Ia punya mimpi. Ia punya orang-orang yang
mendukung.
****
Beberapa bulan kemudian, hasil kerjanya mulai terlihat.
Nilai-nilainya membaik. Matematika yang dulu menjadi momok, kini mulai ia
kuasai dengan bantuan les dari Pak Rahmat. Ia bahkan mulai suka pada matematika.
Suatu hari, Pak Rahmat mengumumkan di kelas.
"Lihat teman-teman, Arga dulu nilainya jeblok 45. Tapi
lihat sekarang, ia bisa dapat nilai 92 di ulangan kemarin. Ini bukti bahwa
kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Ini bukti bahwa kegagalan bukan
akhir."
Tepuk tangan riuh dari teman-teman sekelas. Arga tersipu
malu, tapi hatinya berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ia merasa bangga pada dirinya sendiri.
Rudi menepuk pundaknya. "Keren, Ga! Lo hebat."
Siska tersenyum. "Mantap, Arga. Gue aja 80."
Bahkan Hendra mengacungkan jempol. "Lo pinter banget,
Ga. Aku respect."
Arga tersenyum bahagia.
Ia juga mendapatkan kesempatan mengikuti program penelitian
kecil dari sekolah. Program itu memungkinkan siswa untuk melakukan penelitian
sederhana tentang lingkungan sekitar. Arga memilih topik tentang potensi
desanya, tentang bagaimana mengembangkan desa tertinggal.
Ia meneliti tentang pertanian organik, tentang pengolahan
hasil pertanian, tentang pariwisata desa. Ia membaca banyak buku, browsing di
warnet (meskipon mahal), dan menulis proposal dengan tekun.
Pak Rahmat terkesan dengan proposalnya. "Arga, ini
bagus sekali. Kamu serius ingin membangun desamu?"
"Sangat serius, Pak. Itu mimpi saya sejak kecil. Saya
ingin desa saya tidak lagi tertinggal."
"Bagus. Teruslah bermimpi. Tapi ingat, mimpi saja
tidak cukup. Harus ada tindakan nyata. Harus ada perjuangan. Tapi kamu sudah
memulainya dengan belajar."
Proposal Arga mendapat penghargaan dari sekolah. Ia
diundang untuk presentasi di depan guru-guru dan beberapa pejabat dinas
pendidikan. Meskipun gugup, ia tampil dengan baik.
"Desa saya, Sumber Langit, memiliki potensi
besar." Jelasnya di depan audiens. "Sawah yang luas, udara sejuk,
pemandangan indah. Tapi semua itu belum tergarap maksimal karena kurangnya
sumber daya manusia dan perhatian pemerintah. Saya ingin, suatu hari nanti,
desa saya bisa maju seperti desa-desa lain."
Tepuk tangan memenuhi ruangan. Beberapa guru terharu. Pak
Rahmat tersenyum bangga.
Malam itu, setelah sekian lama, Arga kembali duduk di atap
rumah kos. Namun kali ini perasaannya berbeda. Ia tidak lagi merasa putus asa.
Ia tidak lagi merasa sendirian.
Ia memandang langit kota yang samar. Hanya beberapa bintang
yang terlihat. Tapi ia tahu, di balik polusi cahaya itu, bintang-bintang tetap
ada. Sama seperti harapan. Kadang tidak terlihat, tapi selalu ada. Sama seperti
mimpinya. Kadang terasa mustahil, tapi selalu mungkin jika diperjuangkan.
"Ayah... aku tidak akan menyerah." Bisiknya
pelan. "Aku akan terus berjuang. Untukmu, untuk Ibu, untuk desa kita.
Doakan aku."
Ia menutup mata sejenak. Di dalam bayangannya muncul
kembali desa kecilnya. Sawah yang luas. Rumah bambu. Ibunya yang selalu
menunggu kepulangannya. Makam ayahnya di bawah pohon besar.
Semua itu memberinya kekuatan. Semua itu menjadi alasan
untuk terus maju.
Di dalam hatinya Arga tahu satu hal: semua perjuangan ini
bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk desa yang suatu hari ingin ia
ubah. Untuk mimpi yang dulu hampir mati. Untuk janji yang pernah ia ucapkan di
makam ayahnya.
Perjalanan panjangnya masih jauh dari selesai. Masih banyak
rintangan yang harus ia hadapi. Masih banyak air mata yang mungkin harus ia
tumpahkan.
Namun mimpi yang hampir padam kini telah hidup kembali. Dan
seorang anak desa yang pernah hampir menyerah kini kembali berdiri untuk
menantang takdirnya.
Tiga tahun berlalu cepat. Arga lulus SMA dengan nilai
gemilang. Ia diterima di universitas negeri favorit di kota yang sama, jurusan
pertanian. Selama kuliah, ia tetap bekerja di warung Pak Hasan, tetap tinggal
di kos Bu Lastri, tetap berjuang seperti biasa.
*****
Empat tahun kuliah juga berlalu. Arga lulus dengan predikat
cumlaude. Ia adalah sarjana pertanian terbaik di angkatannya. Skripsinya
tentang pengembangan desa tertinggal mendapat penghargaan dari fakultas.
Hari kelulusannya adalah hari yang membahagiakan sekaligus
mengharukan. Ia mengenakan toga, berdiri di antara ratusan mahasiswa lain,
menerima ijazah dari rektor. Ibunya tidak bisa hadir karena sakit dan tidak
mampu membayar ongkos ke kota. Tapi Arga tahu, doa ibunya selalu menyertainya.
Pak Darma juga tidak bisa hadir. Tapi ia mengirim surat
yang dibacakan Arga berulang-ulang:
"Selamat, Arga. Kamu telah membuktikan bahwa anak desa
bisa meraih mimpi. Bapak bangga padamu. Sekarang saatnya pulang dan wujudkan
mimpi yang lebih besar: membangun desa kita. Ingat pesan ayahmu."
Setelah wisuda, Arga menghadapi dilema. Banyak tawaran
pekerjaan datang. Perusahaan-perusahaan besar menawarkan gaji tinggi, posisi
bagus, jenjang karir menjanjikan. Ada juga tawaran untuk melanjutkan studi S2
dengan beasiswa ke luar negeri.
Namun di dalam hatinya, hanya satu yang ia inginkan:
pulang.
Pak Hasan, majikannya selama tujuh tahun (dari SMA hingga
kuliah), memanggilnya untuk bicara.
"Jadi, kamu mau pulang?" tanyanya.
Arga mengangguk mantap. "Iya, Pak. Desa saya butuh
saya. Saya sudah janji sama ayah. Saya sudah janji sama Pak Darma. Saya tidak
bisa ingkar."
Pak Hasan tersenyum. "Saya sudah menduga itu. Kamu
berbeda dari anak-anak muda lain. Kamu punya ikatan kuat dengan tanah
kelahiranmu. Itu bagus. Langka."
"Terima kasih untuk semuanya, Pak. Selama tujuh tahun
Bapak sudah seperti keluarga sendiri. Tanpa Bapak, saya tidak akan sampai di
sini."
Pak Hasan mengeluarkan amplop dari sakunya. "Ini
sedikit tanda mata dari saya. Gunakan untuk memulai sesuatu di desamu."
Arga menolak. "Pak, tidak usah. Bapak sudah terlalu
baik. Saya tidak bisa."
"Ambil. Ini bukan uang, ini investasi. Saya investasi
pada mimpi seorang anak muda. Saya yakin kamu akan sukses. Nanti kalau desamu
maju, saya akan bangga pernah bantu."
Arga menerima amplop itu dengan mata berkaca-kaca. Ia
memeluk Pak Hasan erat-erat. "Terima kasih, Pak. Saya tidak akan
mengecewakan."
Bus yang membawa Arga melaju perlahan meninggalkan kota.
Gedung-gedung tinggi yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya mulai
menghilang dari pandangan, bergantian dengan hamparan sawah dan perbukitan
hijau yang semakin lama semakin luas.
Arga menatap keluar jendela dengan perasaan yang sulit
dijelaskan. Ada haru, ada rindu, ada semangat, ada juga sedikit cemas. Tujuh
tahun ia merantau. Tujuh tahun penuh perjuangan. Kini ia kembali.
Di kepalanya terbayang rumah bambu tempat ia dibesarkan.
Jalan tanah yang dulu ia lewati menuju sekolah. Suara ibunya yang selalu
memanggilnya pulang saat senja. Makam ayahnya di bawah pohon besar. Teman-teman
lama. Pak Darma. Semua terbayang jelas.
Ketika bus berhenti di ujung jalan desa, Arga turun dengan
tas di punggungnya. Ia menarik napas dalam-dalam. Udara desa terasa begitu
segar. Angin membawa aroma padi dan tanah basah yang selama ini ia rindukan.
Aroma yang tidak ada di kota.
Desa Sumber Langit masih terlihat sama. Sawah-sawah
terbentang hijau. Bukit-bukit menjulang di kejauhan. Sungai mengalir jernih di
sebelah timur desa.
Namun ada juga sesuatu yang membuat hatinya terasa berat.
Jalan desa masih rusak, bahkan mungkin lebih parah dari sebelumnya. Lubang di
mana-mana. Jalan tanah merah yang dulu dilaluinya, kini semakin parah. Beberapa
rumah tampak lebih tua dan lebih usang dari yang ia ingat. Wajah-wajah penduduk
yang ditemuinya di jalan terlihat lebih tua, lebih lelah. Anak-anak muda jarang
terlihat.
Arga berjalan menuju rumahnya. Setiap langkah terasa begitu
berarti. Ia melewati sawah yang dulu digarap ayahnya. Sekarang sawah itu
digarap oleh pamannya, Tukiman, karena ibunya tidak mampu mengolahnya sendiri.
Di depan rumah bambu itu, Bu Ratri sedang menyapu halaman.
Tubuhnya semakin tua, semakin kurus. Rambutnya nyaris putih semua. Punggungnya
mulai membungkuk. Tapi semangatnya masih sama.
Ketika melihat Arga, sapu itu jatuh dari tangannya.
"Arga?" suaranya bergetar, tidak percaya.
Arga tersenyum. Air mata mengalir di pipinya.
"Ibu..."
Bu Ratri berlari, memeluk anaknya erat-erat. Tubuh kecilnya
bergetar menahan tangis haru. "Anakku... anakku sudah pulang... sudah
tujuh tahun..."
Mereka berpelukan cukup lama, melepas rindu yang terpendam
bertahun-tahun. Warga desa yang lewat ikut tersentuh melihat pemandangan itu.
Ada yang tersenyum, ada yang ikut menangis haru.
"Maafkan Ibu tidak bisa datang ke wisudamu." Isak
Bu Ratri.
"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting Ibu sehat. Ibu lihat,
Arga sudah sarjana sekarang."
Arga menatap rumah itu. Rumah bambu sederhana yang selama
ini ia rindukan. Rumah yang menyimpan jutaan kenangan masa kecil. Rumah yang
menjadi saksi bisu perjuangan keluarganya.
Namun di dalam hatinya ia tahu: kepulangannya bukan hanya
untuk melepas rindu. Ia datang membawa sebuah tekad. Tekad untuk mengubah desa
ini. Tekad yang lahir dari mimpi seorang anak petani, yang kini tumbuh menjadi
pemuda dengan ilmu dan pengalaman.
****
Beberapa hari setelah kepulangannya, Arga mulai berjalan
mengelilingi desa. Ia ingin melihat sendiri bagaimana keadaan desanya setelah
tujuh tahun ia tinggalkan.
Ia melihat banyak hal yang membuatnya berpikir.
Sekolah dasar yang dulu ia tempati masih berdiri di tempat
yang sama. Bangunannya semakin tua, cat temboknya sudah pudar dan mengelupas di
banyak bagian. Beberapa papan kayu di dinding sudah lapuk, bahkan ada yang
bolong. Atap gentingnya bolong di sana-sini, jika hujan pasti bocor.
Halaman sekolah terlihat sepi. Hanya beberapa anak yang
bermain di bawah pohon. Guru-guru yang dulu mengajarnya, kini semakin tua. Pak
Darma masih ada, tapi jalannya sudah lambat dengan tongkat. Pak Dirjo pensiun.
Bu Narti juga sudah pensiun. Digantikan guru-guru baru yang muda, tapi
semangatnya? Arga tidak tahu.
Ia bertemu dengan Pak Darma yang sedang duduk di bangku
kayu di depan kelas, seperti dulu. Rambut Pak Darma kini putih semua.
Kacamatanya semakin tebal. Tubuhnya kurus. Tapi senyumnya masih sama, hangat
dan bijak.
"Arga?" kata Pak Darma dengan wajah terkejut,
matanya berbinar.
Arga tersenyum dan menyalami gurunya. Tangannya yang tua
dan keriput terasa hangat dalam genggaman Arga.
"Pak, saya kembali."
Pak Darma menatapnya dengan bangga, dari ujung rambut
hingga kaki. "Kamu sudah jauh berubah. Sudah dewasa. Sudah sarjana. Bapak
dengar kamu wisuda cumlaude."
Arga tersenyum malu. "Berkat doa Bapak."
Mereka berjalan mengelilingi sekolah. Pak Darma bercerita
tentang perkembangan sekolah, tentang murid-murid baru, tentang tantangan yang
dihadapi. Arga mendengarkan dengan saksama.
"Bagaimana keadaan desa sekarang, Pak?" tanya
Arga.
Pak Darma menghela napas panjang. Napas yang berat, seperti
membawa beban bertahun-tahun. "Tidak banyak berubah, Nak. Bahkan mungkin
makin parah."
"Kenapa? Bukannya ada dana desa dari pemerintah? Saya
dengar setiap desa dapat dana miliaran."
"Ada. Tapi entah ke mana. Jalan masih rusak. Listrik
masih sering padam. Pemuda-pemuda masih pada pergi merantau. Yang tinggal hanya
orang-orang tua dan anak-anak kecil. Dana desa? Katanya habis untuk
proyek-proyek yang tidak jelas."
Arga terdiam. Ia melihat sekelilingnya. Lapangan desa yang
dulu sering digunakan untuk main bola, kini ditumbuhi rumput liar setinggi
lutut. Warung-warung kecil banyak yang tutup. Rumah-rumah kosong karena
ditinggal pergi pemiliknya.
"Karena tidak banyak orang yang mau
memperjuangkannya." Lanjut Pak Darma. "Orang-orang sudah pasrah.
Mereka menganggap ini sudah takdir. Mereka sudah tidak percaya bahwa desa ini
bisa berubah."
"Takdir?" Arga mengulang kata itu dengan nada
getir. "Sejak kapan keterbelakangan disebut takdir? Sejak kapan kemiskinan
disebut takdir? Itu hanya alasan untuk tidak berbuat apa-apa."
Pak Darma menatap Arga tajam. "Itu pertanyaan yang tepat.
Tapi sayangnya, tidak banyak yang berpikir seperti itu. Kamu berbeda, Arga.
Kamu pulang dengan ilmu. Sekarang saatnya buktikan."
Di lapangan desa, Arga juga melihat banyak pemuda yang
menghabiskan waktu tanpa pekerjaan tetap. Mereka duduk-duduk di warung kopi
milik Bu Lastri, main kartu, atau sekadar nongkrong tanpa tujuan. Sebagian dari
mereka bahkan mulai kehilangan harapan, terjerumus pada minuman keras atau judi
kecil-kecilan.
Sukri, yang dulu pengangguran, kini tambah parah. Ia sudah
kecanduan minuman keras. Setiap malam ia mabuk di pinggir jalan. Warga sudah
pasrah.
Gito, sepupu Arga, juga ada di antara mereka. Melihat Arga,
Gito hanya melirik sinis lalu pura-pura tidak kenal.
Ratmi, yang dulu sebaya Arga, kini menjadi guru honorer di
SD. Ia belum menikah. Melihat Arga, ia tersenyum malu-malu.
"Arga, kamu pulang?" sapanya.
"Iya, Mi. Lama nggak ketemu."
"Selamat ya, udah sarjana."
"Terima kasih."
Mereka berbincang sebentar. Ratmi cerita tentang desa,
tentang sekolah, tentang hidupnya. Arga mendengarkan.
Suatu malam, Arga berbicara dengan ibunya di beranda rumah.
Lampu minyak masih menjadi penerang, karena listrik padam seperti biasa. Bulan
bersinar terang, cukup untuk melihat wajah mereka.
"Ibu, desa ini masih tertinggal. Bahkan mungkin lebih
parah dari dulu." Kata Arga.
Bu Ratri mengangguk pelan. "Begitulah kenyataannya,
Nak. Semakin banyak orang pergi, semakin sepi desa ini. Anak-anak muda pada
pergi, yang tinggal ya yang tua-tua dan yang malas."
"Kenapa tidak ada yang berbuat sesuatu? Kenapa warga diam
saja?"
"Orang-orang sudah putus asa, Le. Mereka sudah tidak
percaya bahwa desa ini bisa berubah. Mereka anggap ini sudah suratan takdir.
Lagipula, kepala desa sekarang... ya itu-itu saja. Pak Surya, udah tiga
periode."
Arga menatap keluar jendela. Malam di desa begitu gelap,
hanya diterangi lampu minyak di beberapa rumah. Listrik padam, seperti biasa.
Bintang-bintang bertaburan di langit, indah tapi ironis. Di bawah langit yang
indah itu, desanya terpuruk dalam keterbelakangan.
Namun kali ini ia tidak hanya melihat masalah. Ia juga
mulai memikirkan solusi. Ilmu yang ia dapat di bangku kuliah, pengalaman hidup
di kota, jaringan yang ia miliki, dan tekad yang membara, semuanya akan ia
gunakan.
"Bu, Arga punya rencana."
Bu Ratri menatap anaknya. "Rencana apa?"
"Arga ingin mengajak anak-anak muda desa untuk
bergerak. Arga ingin memulai perubahan dari hal-hal kecil. Membangun desa ini
dari bawah. Arga punya ilmu pertanian, Arga tahu cara mengolah hasil bumi, Arga
punya kenalan di kota untuk pemasaran."
Bu Ratri tersenyum. Senyum bangga seorang ibu pada anaknya.
"Lakukanlah, Nak. Asalkan niatmu baik, Insya Allah akan diberi kemudahan.
Tapi ingat, tidak semua orang akan setuju. Akan ada yang menentang."
"Ibu, Arga tahu. Tapi Arga tidak akan mundur."
****
Suatu sore, Arga kembali berdiri di bukit kecil yang dulu
sering ia kunjungi saat masih kecil. Bukit itu tidak jauh dari rumahnya, hanya
perlu berjalan kaki sekitar setengah jam. Dari puncaknya, ia bisa melihat
seluruh desa Sumber Langit terbentang di bawah.
Pemandangan itu masih sama seperti dulu. Sawah-sawah hijau
membentang luas, dipotong oleh sungai yang berkelok-kelok. Rumah-rumah penduduk
tersebar tidak beraturan. Jalan tanah berwarna merah membelah desa. Di
kejauhan, bukit-bukit lain menjulang, menutupi cakrawala.
Angin sore bertiup pelan, membawa aroma khas pedesaan.
Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan, pertanda matahari akan
segera tenggelam. Burung-burung mulai beterbangan pulang ke sarangnya.
Arga duduk di rerumputan, memandangi desanya dengan
perasaan campur aduk. Ia teringat masa kecilnya. Ia ingat bagaimana dulu ia
sering duduk di sini, bermimpi tentang masa depan. Ia ingat kata-kata ayahnya:
"Harus ada orang yang berani memperjuangkannya."
Ia mengepalkan tangannya. Mimpi yang dulu pernah ia miliki
kini kembali hidup, lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak ingin hanya menjadi
penonton. Ia tidak ingin hanya melihat desanya semakin terpuruk. Ia ingin
menjadi bagian dari perubahan. Ia ingin menjadi orang yang berani
memperjuangkan desanya.
"Ingat pesan Ayah." Gumamnya. "Jangan pernah
lupakan desa ini. Pulanglah dan bangunlah."
Sekembalinya ke rumah, malam itu Arga berbicara dengan
ibunya.
"Bu, Arga ingin memulai dari pemuda-pemuda desa.
Mereka yang masih ada di sini. Arga ingin kumpulkan mereka, ajak diskusi, cari
ide bersama."
"Bagus, Le. Tapi ingat, mereka itu macam-macam. Ada
yang baik, ada yang malas, ada yang suka mabuk. Kamu harus sabar."
"Ibu, Arga tahu. Arga akan coba pendekatan satu per
satu."
Bu Ratri tersenyum. "Kamu sudah dewasa, Le. Ibu
percaya keputusanmu."
****
Langkah pertama Arga adalah mendekati para pemuda desa. Ia
tahu ini bukan tugas mudah. Banyak pemuda yang sudah apatis, sudah kehilangan
harapan, sudah terbiasa dengan kemalasan. Beberapa bahkan sudah terjerumus
minuman keras dan judi.
Namun ia tidak menyerah.
Pertama, ia mendatangi Rudi (bukan Rudi teman SMA-nya, tapi
Rudi lain, pemuda desa yang cukup disegani). Rudi adalah mantan perantau yang
pulang karena gagal di kota. Ia bekerja serabutan, kadang jadi buruh tani,
kadang jadi kuli bangunan. Rumahnya sederhana, di pinggir desa.
"Rud, gue mau ngomong." sapa Arga suatu sore.
Rudi menatapnya curiga. "Lo Arga? Yang baru pulang?
Ngapain?"
"Iya. Gue mau ngajak lo diskusi. Ngumpulin pemuda
desa."
Rudi tertawa sinis. "Ngumpulin buat apa? Buat nganggur
bareng? Udah biasa."
"Buat mikirin masa depan desa. Buat cari solusi. Lo
kan pernah di kota, tahu susahnya jadi perantau. Mungkin kita bisa bikin
sesuatu di sini, biar nggak perlu merantau."
Rudi terdiam. Kata-kata Arga menyentuh sesuatu di hatinya.
Ia memang kapok merantau. Ia ingin punya pekerjaan di desa, tapi tidak ada.
"Maksud lo?"
"Gue mau ngumpulin pemuda, diskusi, cari ide. Apa yang
bisa kita lakukan untuk desa ini. Gue punya ilmu pertanian dari kuliah. Mungkin
bisa dipakai."
Rudi berpikir sejenak. "Oke. Gue ikut. Tapi gue nggak
janji yang lain mau."
Dengan bantuan Rudi, Arga mulai mendatangi pemuda satu per
satu. Ada Joko, teman main dulu, yang sekarang jadi buruh tani. Ada Wati dan
Siti, si kembar yang sudah dewasa dan bekerja serabutan. Ada beberapa pemuda
lain yang masih punya semangat.
Mereka juga mendatangi Sukri yang sedang mabuk. Sukri
awalnya menolak kasar.
"Ngapain lo? Urusin aja urusan lo sendiri!"
bentaknya.
Arga tidak marah. "Kri, gue cuma mau ngajak lo ikut
diskusi. Nggak perlu bayar. Gratis."
Sukri tertawa mabuk. "Diskusi? Buat apa? Hidup gini
aja udah susah."
"Justru itu. Biar kita cari jalan keluar bareng."
Sukri akhirnya mau, meskipun dengan setengah hati.
Gito, sepupu Arga, menolak mentah-mentah. "Nggak ah.
Males. Lo sok-sok an mau bangun desa? Udah ah."
Arga tidak memaksa.
****
Malam itu, di balai desa yang sudah lama tidak terpakai,
sepuluh pemuda berkumpul. Bangunan itu kotor dan berdebu, dengan beberapa kursi
kayu tua berserakan. Arga membersihkannya sebisanya sebelum kedatangan mereka.
Lampu minyak dipasang di beberapa sudut karena listrik padam.
Yang hadir: Rudi, Joko, Wati, Siti, Sukri (setengah sadar),
dan beberapa pemuda lain. Ada juga Ratmi yang datang atas inisiatif sendiri.
Arga berdiri di depan mereka. Ia agak gugup, tapi berusaha
tenang.
"Terima kasih sudah datang, teman-teman."
Mulainya. "Aku tahu, mungkin kalian bertanya-tanya, ngapain Arga ngumpulin
kita?"
"Ya, emang." potong Sukri.
Arga tersenyum. "Aku kumpulin kalian karena aku ingin
ngomong sesuatu. Tentang desa kita."
"Desa kita? Apa yang salah dengan desa kita?"
tanya Joko.
"Banyak yang salah, Jo. Jalan rusak, listrik mati,
anak muda pada pergi merantau. Yang tinggal ya kita-kita ini, yang katanya
tidak punya masa depan."
Beberapa pemuda mengangguk setuju.
"Terus, apa yang bisa kita lakukan?" tanya Rudi.
"Kita kan cuma orang kecil."
"Kita bisa mulai dari hal-hal kecil." jawab Arga.
"Gotong royong bersihkan desa. Perbaiki jalan yang rusak. Buat kegiatan
untuk anak-anak. Kalau kita diam saja, tidak akan ada yang berubah. Pemerintah
tidak akan peduli kalau kita sendiri tidak peduli."
Sukri tertawa sinis. "Ah, lo pikir dengan gotong
royong, desa bisa maju? Butuh uang, butuh proyek."
"Memang butuh. Tapi kalau kita tidak menunjukkan bahwa
kita peduli, mana ada yang mau bantu? Kita harus mulai dari diri sendiri."
Suasana hening. Kata-kata Arga meresap, setidaknya bagi
sebagian dari mereka.
"Jadi lo mau ngapain?" tanya Rudi lagi.
"Aku mau ajak kalian kerja bakti Minggu depan.
Bersihkan jalan desa, perbaiki lubang-lubang yang bisa diperbaiki dengan cara
sederhana. Isi dengan batu dan tanah. Setelah itu, kita pikirkan kegiatan
lain."
"Aku ikut." Tiba-tiba Wati angkat bicara.
"Aku capek lihat desa kumuh."
"Aku juga." sambung Siti.
Satu per satu yang lain mulai setuju. Rudi mengangguk.
"Oke, gue ikut. Tapi gue mau liat, apa lo beneran serius atau cuma omong
doang."
Arga tersenyum lega. "Terima kasih, teman-teman. Kita
buktikan kalau anak muda desa bisa bikin perubahan."
Pertemuan pertama itu berakhir dengan semangat baru.
Sepuluh pemuda desa, dengan berbagai latar belakang, bersedia bergerak. Arga
tahu ini baru awal. Tapi setidaknya, ada benih yang mulai tumbuh.
****
Minggu pagi yang cerah, sepuluh pemuda berkumpul di balai
desa dengan peralatan seadanya. Ada yang membawa cangkul, ada yang membawa
sekop, ada yang membawa gerobak dorong, ada yang membawa karung. Beberapa warga
yang penasaran mulai berdatangan, melihat apa yang dilakukan anak-anak muda
ini.
Arga memimpin dengan semangat. "Kita mulai dari jalan
depan balai desa dulu. Bersihkan rumput-rumput liar, tutup lubang-lubang dengan
batu dan tanah. Yang bawa cangkul, gali. Yang bawa sekop, angkut. Yang bawa
gerobak, siap-siap."
Mereka mulai bekerja. Awalnya agak kikuk, karena kebanyakan
sudah lama tidak melakukan kerja fisik seperti ini. Tapi lama-lama mereka
menemukan ritme. Cangkul menggali, sekop memindah tanah, gerobak mengangkut
batu.
Rudi, dengan postur kekarnya, mampu memindahkan batu-batu
besar yang tidak bisa diangkat orang lain. Keringat membasahi tubuhnya.
"Wah, Rudi kuat juga ya." goda Joko.
Rudi hanya mendengus, tapi sudut bibirnya sedikit
terangkat. Mungkin senang bisa berguna.
Sukri, yang datang dengan kondisi mabuk ringan, hanya duduk
di pinggir. Tapi setelah melihat yang lain bekerja, ia malu dan akhirnya ikut
membantu.
Wati dan Siti membantu mengangkut tanah dengan karung.
Meskipun berat, mereka tetap semangat.
Warga yang lewat mulai berhenti, melihat, lalu ikut
membantu. Seorang bapak-bapak, Pak Karsono, membawa minuman dingin untuk
mereka. Seorang ibu-ibu, Bu Lastri, membawa makanan kecil. Semangat gotong
royong yang selama ini hilang, mulai tumbuh lagi.
Pak Darma datang dengan tongkatnya. Matanya berbinar
melihat pemandangan itu.
"Ini baru pemuda desa." Katanya bangga.
"Sudah lama saya tidak melihat semangat seperti ini. Sejak zaman saya muda
dulu."
Menjelang siang, sebagian jalan di depan balai desa sudah
bersih dan rata. Memang tidak sempurna, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya.
Lubang-lubang besar sudah ditutup. Rumput-rumput liar sudah dibersihkan.
Mereka beristirahat di bawah pohon besar, menikmati minuman
dan makanan yang diberikan warga. Wajah-wajah lelah tapi puas. Ada senyum di
wajah mereka.
"Ga, besok kita kerja lagi?" tanya Joko.
"Besok Minggu depan. Kita lanjut ke bagian jalan yang
lain. Terus setiap Minggu kita kerja bakti di tempat yang berbeda." jawab
Arga.
Rudi yang duduk agak jauh, tiba-tiba bersuara. "Gue
mau bawa lebih banyak orang minggu depan. Biar cepat selesai. Gue punya kenalan
di desa sebelah, mereka juga bisa diajak."
Arga tersenyum. "Bagus, Rud. Makin banyak makin
ringan. Gotong royong itu tradisi kita yang hampir hilang."
Hari itu menjadi awal dari kebangkitan semangat di desa.
Perlahan tapi pasti, pemuda-pemuda desa mulai bergerak. Mereka tidak hanya
kerja bakti, tapi juga mulai memikirkan kegiatan lain: membersihkan saluran
air, memperbaiki jembatan kecil, mengadakan lomba untuk anak-anak.
Desa yang tadinya lesu, mulai menunjukkan tanda-tanda
kehidupan.
****
Kabar tentang kegiatan Arga dan para pemuda menyebar cepat.
Berbagai reaksi muncul.
Pak Karsono, petani kaya, sangat mendukung. Ia bahkan
menyumbang semen dan pasir untuk perbaikan jalan.
"Ini anak baik." Katanya pada istrinya. "Dia
benar-benar ingin membangun desa. Kita harus dukung."
Ratmi, putrinya, ikut senang. Ia sering datang membantu,
terutama untuk kegiatan anak-anak.
Bu Lastri, pemilik warung, juga mendukung. Ia memberi
diskon untuk pemuda yang ikut kerja bakti.
Mbah Joyo, sesepuh desa, memberkati. "Nak Arga iku
anak sholeh. Muga-muga sukses." (Nak Arga itu anak sholeh. Semoga sukses.)
Namun tidak semua orang senang.
Pak Surya, kepala desa yang sudah menjabat tiga periode,
mulai merasa terusik. Kegiatan Arga mulai menarik perhatian warga. Warga mulai
sering menyebut nama Arga. Itu mengancam kekuasaannya.
Di rumahnya yang besar, Pak Surya duduk bersama anak
buahnya. Ada Pak Carik, sekretaris desa yang loyal. Ada beberapa preman
bayaran.
"Pak, Arga itu mulai banyak diperbincangkan."
lapor Pak Carik. "Kegiatannya, kerjanya, disukai warga."
Pak Surya menghela napas. "Aku tahu. Anak itu pulang
bawa ilmu, sekarang sok mau mengubah desa."
"Harus diapain, Pak?"
"Biarin dulu. Tapi awasi. Kalau mulai mengganggu, kita
tindak."
Di warung Bu Lastri, Juminten mulai bergosip.
"Katanya Arga itu mau jadi calon kepala desa." bisiknya
pada beberapa warga.
"Ah, masa? Dia baru pulang." sahut seorang warga.
"Iya, katanya. Sok mau mengubah desa. Padahal anak
kemarin sore."
Bu Lastri membela. "Juminten, kamu itu jangan suka
fitnah. Arga cuma mau bantu desa. Nggak usah dipolitisir."
Juminten cemberut. "Ya sudah, Bu. Tapi itu kata
orang."
Di rumah Tukiman, percakapan berbeda terjadi. Darsih,
istrinya, mengomel pada Tukiman.
"Lihat itu keponakanmu, pamer. Sok mau bangun desa.
Biar dibilang pahlawan."
Tukiman diam. Ia sebenarnya bangga pada Arga, tapi tidak
berani melawan istrinya.
Gito, anaknya, ikut-ikutan. "Iya, Pa. Arga sok sokan.
Nggak usah diurus."
Tukiman hanya menghela napas.
****
Suatu sore, Arga dipanggil ke rumah Pak Surya. Ini bukan
undangan biasa. Arga sudah menduga bahwa ini terkait dengan kegiatannya.
Rumah Pak Surya adalah rumah terbesar di desa. Dinding
tembok, atap genteng bagus, halaman luas dengan beberapa kendaraan terparkir.
Kontras dengan rumah-rumah warga lainnya.
Arga masuk dengan perasaan was-was. Ia sudah menduga bahwa
ini bukan pembicaraan biasa.
Pak Surya duduk di kursi rotan besar, dengan wajah serius.
Di sekelilingnya, Pak Carik dan beberapa anak buah duduk dengan sikap waspada.
Suasana tegang.
"Duduk, Arga." Kata Pak Surya, suaranya berat.
Arga duduk di kursi di hadapannya. Ia berusaha tenang,
meskipun jantungnya berdegup kencang.
"Saya dengar kamu membuat banyak kegiatan akhir-akhir
ini." Buka Pak Surya.
Arga mengangguk. "Iya, Pak. Bersama teman-teman
pemuda, kami kerja bakti. Membersihkan desa, memperbaiki jalan."
"Kamu tidak izin dulu sama saya?"
Arga terkejut. "Izin? Ini kegiatan sosial, Pak. Kerja
bakti. Gotong royong. Tradisi desa. Saya pikir tidak perlu izin. Ini untuk
kebaikan bersama."
Pak Surya tersenyum, tapi senyum yang tidak ramah. Senyum
politikus. "Di desa ini, semua kegiatan harus sepengetahuan saya. Saya
kepala desa di sini. Saya yang bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban.
Jangan ada kegiatan yang tidak saya ketahui."
Arga mulai mengerti. Ini bukan soal izin. Ini soal
kekuasaan. Pak Surya merasa tersaingi. Popularitas Arga mulai mengancam
posisinya.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud melangkahi. Saya
hanya ingin membantu desa. Tanpa pamrih."
"Kamu masih muda. Masih banyak yang tidak kamu
mengerti tentang politik desa." Pak Surya menatapnya tajam. "Jangan
terlalu banyak mengganggu keadaan yang sudah ada. Desa ini sudah puluhan tahun
seperti ini, dan baik-baik saja. Jangan bikin masalah."
Arga menahan diri untuk tidak membantah. Tapi kata-kata itu
terasa begitu tidak masuk akal. Baik-baik saja? Desa yang tertinggal, pemuda
yang menganggur, anak-anak putus sekolah, jalan rusak, listrik padam? Itu
disebut baik-baik saja?
Tapi ia tahu, melawan langsung tidak akan bijak. Ia harus
bermain sabar. Ini baru permulaan.
"Saya mengerti, Pak. Ke depan, saya akan lapor sebelum
melakukan kegiatan." Katanya diplomatis.
Pak Surya mengangguk puas. "Bagus. Kamu anak pintar.
Jangan sampai salah langkah. Masa depanmu masih panjang."
Arga pamit. Di luar, ia menghela napas panjang. Tantangan
baru telah muncul. Kekuasaan lama tidak akan rela melepaskan pengaruhnya dengan
mudah. Tapi ia juga tidak akan mundur.
Malam itu, ia ceritakan pada Rudi dan beberapa pemuda lain.
"Gue sudah duga." Kata Rudi. "Pak Surya itu
penguasa lama. Dia nggak suka kalau ada yang mulai diperhatikan warga. Apalagi
orang muda kayak lo. Dia takut kehilangan kursi."
"Tapi kita tidak bisa berhenti." Arga bergumam.
"Jangan berhenti. Tapi kita harus hati-hati."
Rudi menatap Arga. "Gue kenal Pak Surya. Dia bisa jahat kalau merasa
terancam. Dia punya preman bayaran. Bisa bikin kacau."
Arga mengangguk. Ia tahu risiko ini sudah sejak awal. Tapi
ia juga tahu, perubahan tidak pernah datang tanpa perlawanan.
Beberapa hari setelah pertemuan dengan Pak Surya, masalah
mulai muncul.
****
Suatu malam, ketika Arga sedang tidur, tiba-tiba ia
dikejutkan oleh suara batu mengenai atap rumahnya. Berkali-kali. Bu Ratri
terbangun kaget.
"Arga! Ada apa?"
Arga segera keluar. Di luar gelap, tidak ada siapa pun.
Tapi ia melihat bayangan beberapa orang berlari menjauh.
Pagi harinya, mereka menemukan bekas batu di halaman.
Beberapa genting rumah retak.
"Ibu, jangan khawatir. Mungkin anak-anak nakal."
hibur Arga, meskipun ia tahu ini bukan anak-anak.
Bu Ratri cemas. "Le, hati-hati. Mungkin ada yang tidak
suka dengan kegiatanmu."
"Ibu, Arga tahu. Tapi Arga tidak takut."
Beberapa hari kemudian, Rudi didatangi orang tak dikenal.
"Lo, bilang sama Arga, berhenti. Atau lo kena getahnya
juga." ancam mereka.
Rudi, yang bukan tipe penakut, justru melawan. "Gue
nggak takut! Kalian preman bayaran Pak Surya, ya?"
Mereka hanya pergi setelah mendorong Rudi hingga jatuh.
Sukri yang sedang mabuk, dipukuli orang tak dikenal.
"Bilang sama Arga, berhenti. Atau lo tahu risikonya."
Sukri babak belur. Tapi anehnya, kejadian itu justru
membuatnya sadar. Ia datang ke rumah Arga.
"Ga... gue minta maaf." katanya terbata.
Arga kaget melihat kondisinya. "Kri, kenapa lo? Siapa
yang melakukan?"
"Nggak tahu. Tapi mereka bilang, suruh lo berhenti.
Ga, gue nggak takut. Justru gue sekarang makin ingin ikut lo. Mereka pukul gue,
tapi gue nggak kapok."
Arga terharu. "Kri... lo hebat."
Sejak itu, Sukri berhenti minum. Ia mulai serius ikut
kegiatan.
Teror semakin sering. Alat-alat kerja bakti hilang. Spanduk
kegiatan dirusak. Bahkan ada yang mengancam akan membakar rumah Arga.
Tapi Arga tidak gentar. Ia justru semakin bersemangat.
"Teman-teman, kalau kita mundur sekarang, mereka
menang." Katanya pada pemuda. "Kita harus tetap maju. Tapi kita harus
lebih kompak, lebih hati-hati."
Semangat pemuda justru semakin berkobar. Mereka bergantian
menjaga alat-alat. Mereka bergantian mengantar Arga pulang.
****
Meski menghadapi tekanan dan teror, Arga dan para pemuda
desa terus bekerja. Mereka lebih berhati-hati, tapi tidak berhenti.
Setiap minggu mereka melakukan kerja bakti di tempat yang
berbeda. Jalan-jalan desa mulai terlihat lebih rapi. Saluran air yang tersumbat
mulai mengalir lancar. Sampah-sampah yang berserakan dibersihkan.
Mereka juga mulai membuat program lain. Kelas belajar untuk
anak-anak desa, diadakan di balai desa setiap sore. Arga dan beberapa pemuda
yang masih ingat pelajaran sekolah, bergantian mengajar membaca, menulis, dan
berhitung. Ratmi, sebagai guru, sangat membantu. Anak-anak yang tadinya hanya
bermain di sore hari, kini mulai belajar lagi. Orang tua mereka senang.
Pak Darma, meskipun sudah tua, ikut membantu. Melihat Arga
mengajar, hatinya terharu.
"Dulu kamu yang belajar, sekarang kamu yang
mengajar." Katanya suatu hari. "Hidup memang lingkaran yang
indah."
Arga tersenyum. "Ini semua berkat Bapak. Kalau tidak
ada Bapak dulu, mungkin saya sudah berhenti sekolah."
"Kamu yang memilih untuk tidak menyerah. Bapak hanya
membantu sedikit."
Program lain yang mereka buat adalah kelompok tani. Arga,
dengan ilmu pertaniannya, mulai memberikan penyuluhan sederhana pada petani-petani
desa. Cara menanam yang baik, penggunaan pupuk yang tepat, pengendalian hama
secara alami, sistem irigasi sederhana. Petani-petani tua awalnya skeptis, tapi
setelah melihat hasilnya, mereka mulai tertarik.
Pak Karsono, petani terkaya, menjadi pendukung utama. Ia
bahkan menyediakan lahannya untuk percontohan.
"Hasil panen saya meningkat setelah ikut penyuluhan
Arga." Kata Pak Karsono di warung kopi. "Dia memang pintar, meskipun
masih muda. Ilmunya berguna."
Petani lain mulai mengikuti. Perlahan, pertanian di desa
mulai membaik.
Program pengolahan hasil pertanian juga dimulai. Singkong
diolah menjadi keripik, pisang diolah menjadi sale, mangga diolah menjadi
manisan. Ibu-ibu dilibatkan. Mereka senang mendapat tambahan penghasilan.
Perubahan kecil mulai terlihat di desa. Anak-anak lebih
bersemangat sekolah. Pemuda-pemuda mulai memiliki kegiatan positif.
Petani-petani mulai menerapkan metode baru. Ibu-ibu punya usaha sampingan.
Warga mulai percaya bahwa desa mereka bisa berubah.
Suatu hari, seorang warga tua, Mbah Joyo, berkata pada Arga
dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah lama desa ini tidak memiliki harapan seperti
sekarang, Nak. Dulu saya pikir desa ini akan mati pelan-pelan. Tapi sekarang,
lihat... ada kehidupan lagi."
Arga tersenyum, hatinya hangat. "Harapan itu selalu
ada, Mbah. Kita hanya perlu memperjuangkannya. Dan kita tidak sendiri."
Namun ia tahu, perjalanan masih panjang. Dan tantangan terbesar
mungkin masih menanti.
****
Semakin besar pengaruh Arga, semakin resah Pak Surya. Ia
mulai menggunakan cara-cara kotor.
Isu negatif mulai disebarkan. Bahwa Arga anak PKI. Bahwa
Arga mau menghancurkan desa. Bahwa Arga punya niat jahat. Bahwa Arga hanya cari
popularitas untuk jadi kepala desa.
Juminten, tukang gosip, dengan senang hati menyebarkan
isu-isu itu. Warung Bu Lastri menjadi tempat penyebaran gosip paling subur.
"Katanya Arga itu mau jadi kepala desa." bisik
Juminten pada beberapa warga. "Dia cari muka dulu."
"Iya, katanya dia punya utang ke Cina." sahut
yang lain.
Bu Lastri membela. "Kalian itu... fitnah aja. Arga
anak baik. Dia nggak pernah minta apa-apa."
"Iya, Bu. Tapi kata orang..."
Berita fitnah itu sampai ke telinga Arga. Ia hanya
tersenyum.
"Biarkan, Rud." Katanya pada Rudi. "Yang
benar akan tetap benar. Kita buktikan dengan kerja nyata."
Rudi tidak terima. "Tapi, Ga, ini nggak adil! Mereka
fitnah lo!"
"Fitnah itu sudah biasa untuk orang yang mau berbuat
baik. Jangan lawan dengan fitnah juga. Lawan dengan kebaikan."
Pak Surya juga mempersulit izin kegiatan. Setiap kali Arga
mau mengadakan acara, selalu ada hambatan administrasi. Pak Carik, dengan
segala aturannya, memperlambat proses.
"Maaf, Arga. Izinnya belum bisa keluar. Ada berkas
kurang." katanya berulang kali.
Arga tahu ini rekayasa. Tapi ia sabar. Ia lengkapi semua
berkas, ikuti semua prosedur.
Suatu hari, terjadi insiden. Saat kerja bakti, tiba-tiba
datang sekelompok preman. Mereka mengaku disuruh Pak Surya (meskipon tidak
mengaku) untuk membubarkan kerja bakti.
"Kegiatan ini ilegal! Tidak ada izin!" teriak
mereka.
Arga maju. "Kami punya izin. Ini suratnya."
Preman itu merebut surat, merobeknya. "Sekarang nggak
ada."
Rudi dan yang lain marah. Hampir terjadi bentrok. Arga
menahan mereka.
"Jangan! Kalau kita lawan dengan kekerasan, kita
salah. Biarkan."
Preman itu pergi setelah merusak beberapa alat. Tapi
semangat pemuda tidak luntur. Mereka justru semakin marah pada Pak Surya.
****
Insiden preman itu menjadi titik balik. Warga yang tadinya
diam, mulai marah. Kekerasan pada warga sendiri, pada pemuda yang bekerja untuk
kebaikan bersama, membuat mereka tersinggung.
Pak Karsono, sebagai tokoh masyarakat, angkat bicara. Ia
kumpulkan warga di balai desa (dengan izin yang susah payah).
"Saudara-saudara, kita sudah lihat sendiri. Ada pihak
yang tidak suka dengan perubahan. Ada pihak yang mempertahankan kemiskinan dan
keterbelakangan. Ada pihak yang menggunakan kekerasan untuk mempertahankan
kekuasaan."
Warga mengangguk setuju.
"Saya usul, kita dukung Arga dan pemuda-pemuda ini.
Mereka bekerja untuk kita. Mereka tidak minta imbalan. Mereka ikhlas. Saatnya
kita bersuara."
Mbah Joyo, dengan suara parau, menambahkan. "Aku wis
tua, ngerti akeh. Arga iku anak apik. Ora kaya kepala desa sing saiki."
(Aku sudah tua, tahu banyak. Arga itu anak baik. Tidak seperti kepala desa yang
sekarang.)
Suasana semakin memanas. Warga mulai berani bersuara.
Pak Darma, yang hadir dengan tongkatnya, berkata.
"Saya sudah mengajar di sini puluhan tahun. Saya lihat banyak anak pintar
pergi dan tidak kembali. Tapi Arga berbeda. Dia pulang. Dia ingin membangun.
Ini langka. Jangan sia-siakan."
Malam itu, untuk pertama kalinya, warga berani menyuarakan
ketidakpuasan pada Pak Surya. Mereka muak dengan kemiskinan, muak dengan
keterbelakangan, muak dengan kekuasaan yang tidak membawa perubahan.
****
Beberapa minggu kemudian, pemilihan kepala desa akan
digelar. Pak Surya maju lagi untuk periode keempat.
Para tokoh masyarakat mendatangi Arga.
"Arga, kami ingin kamu maju sebagai calon kepala
desa." kata Pak Karsono mewakili yang lain.
Arga terkejut. "Tapi, Pak... saya belum pengalaman. Saya
masih muda."
"Pengalaman bisa dicari. Yang penting niat. Dan kami
lihat niatmu tulus." jawab Pak Karsono.
Pak Darma menambahkan. "Kamu sudah buktikan dengan
kerja nyata. Bukan hanya janji. Warga percaya padamu."
Arga terdiam. Pikirannya berkecamuk. Ia ingat ayahnya. Ia
ingat janjinya. Ia ingat perjuangannya.
"Ibu... bagaimana menurut Ibu?" tanyanya pada Bu
Ratri.
Bu Ratri tersenyum. "Le, Ibu bangga apa pun
keputusanmu. Tapi kalau kamu mau meneruskan perjuangan ayahmu, ini
saatnya."
Arga menghela napas panjang. Lalu ia mengangguk.
"Baik, saya maju."
Kabar Arga maju sebagai calon kepala desa menyebar cepat.
Dukungan mengalir. Pemuda-pemuda desa siap menjadi tim sukses. Ibu-ibu siap
memasak untuk kampanye. Petani-petani siap menggalang suara.
Namun Pak Surya tidak tinggal diam. Ia menggunakan segala
cara. Uang dibagikan. Sembako disebar. Janji-janji muluk dilontarkan. Fitnah
kembali menyerang Arga.
Tapi Arga punya strategi berbeda. Ia tidak kampanye dengan
uang. Ia kampanye dengan hati. Ia mendatangi warga satu per satu, duduk di
beranda mereka, minum kopi, dan mendengar keluhan mereka.
"Apa yang Bapak/Ibu butuhkan? Saya akan perjuangkan
jika terpilih." Itu selalu kata-katanya.
Warga tersentuh. Tidak ada calon kepala desa yang pernah
melakukan itu.
****
Hari pemilihan tiba. Suasana desa tegang. Dua kubu saling
berhadap-hadapan. Pendukung Pak Surya dengan atribut serba baru dan rapi.
Pendukung Arga dengan atribut sederhana buatan sendiri.
Proses pencoblosan berlangsung lancar. Warga datang satu
per satu, masuk bilik suara, mencoblos, memasukkan ke kotak suara.
Sore harinya, penghitungan suara dimulai. Suasana tegang.
Semua mata tertuju pada papan pengumuman.
Satu per satu suara dibacakan. Nama Arga dan Pak Surya
bersaing ketat. Selisih suara tipis.
Menjelang magrib, penghitungan selesai.
Ketua panitia, seorang pria paruh baya, berdiri di depan
mikrofon. Ia membuka kertas hasil perhitungan dengan tangan sedikit gemetar.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab
warga serempak.
"Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT,
berikut kami sampaikan hasil pemilihan kepala desa Sumber Langit periode
ini."
Hening. Sunyi. Semua menahan napas.
"Calon nomor urut 1, Bapak Surya, memperoleh 987
suara."
Tepuk tangan pendukung Pak Surya. Tapi mereka belum menang.
"Calon nomor urut 2, Sdr. Arga, memperoleh... 1.102
suara."
Sekejap hening. Lalu...
"ARGA MENANG! ARGA MENANG!!" teriak Rudi
histeris.
Sorak-sorai pecah. Pendukung Arga berteriak, berpelukan,
menangis. Spanduk-spanduk sederhana dikibarkan. Tepuk tangan gemuruh.
Arga terdiam. Ia menunduk, air mata mengalir. Ibunya
memeluknya erat.
"Le... kamu menang... anakku menang..."
Arga menatap langit senja yang keemasan. "Ayah... Arga
tidak akan mengecewakan."
Pak Darma mendekat, menepuk pundaknya. "Selamat, Arga.
Perjuanganmu baru saja dimulai."
Di sudut lain, Pak Surya dan pendukungnya meninggalkan
tempat dengan wajah masam. Kekuasaan tiga periode berakhir sudah.
*****
Pelantikan Arga sebagai kepala desa berlangsung sederhana
namun khidmat. Di balai desa yang sudah dibersihkan dan dicat ulang, Arga
dilantik oleh camat. Warga desa memadati halaman. Ada haru, ada bangga.
Bu Ratri menangis haru. Pak Darma tersenyum bangga. Rudi,
Joko, Wati, Siti, Sukri, semua hadir dengan pakaian terbaik mereka. Ratmi,
dengan gaun sederhana, tersenyum malu-malu.
Setelah pelantikan, Arga menyampaikan sambutan singkat.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara sekalian. Saya hanyalah
anak petani biasa. Saya tidak punya banyak uang, tidak punya pengalaman politik.
Tapi saya punya satu hal: tekad untuk membangun desa ini."
Tepuk tangan riuh.
"Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya butuh bantuan
kita semua. Mari kita bangun desa ini bersama-sama. Gotong royong, seperti
dulu. Percayalah, desa kita bisa maju."
Hari itu menjadi awal babak baru bagi Desa Sumber Langit.
****
Hari-hari pertama sebagai kepala desa, Arga sibuk menyusun
program. Ia tidak mau hanya duduk di balai desa. Ia ingin turun langsung.
Program pertamanya: perbaikan infrastruktur. Jalan desa
harus diperbaiki. Ia menggunakan dana desa secara transparan. Setiap rupiah
dipertanggungjawabkan. Warga dilibatkan dalam gotong royong.
Program kedua: pendidikan. Ia merehab sekolah dasar,
menambah fasilitas, mengusahakan guru tambahan. Anak-anak harus sekolah. Tidak
ada lagi putus sekolah karena biaya.
Program ketiga: pertanian. Ia membentuk kelompok tani,
mendatangkan penyuluh, mengusahakan bibit unggul dan pupuk bersubsidi. Hasil
panen meningkat.
Program keempat: ekonomi kreatif. Ia mengembangkan usaha
kecil, pelatihan keterampilan bagi pemuda dan ibu-ibu. Produk-produk desa mulai
dipasarkan ke luar.
Program kelima: kesehatan. Ia mengusahakan posyandu aktif,
pemeriksaan gratis, dan penyuluhan kesehatan.
Semua program dijalankan dengan melibatkan warga. Transparan,
akuntabel, partisipatif.
****
Namun jadi kepala desa tidak mudah. Banyak tantangan.
Pak Surya dan kroninya masih berusaha mengganggu. Mereka
menyebar isu bahwa Arga korupsi. Mereka melaporkan Arga ke polisi dengan
tuduhan palsu. Mereka memprovokasi warga.
Tapi Arga tetap tenang. Ia buktikan dengan transparansi.
Semua laporan keuangan dipajang di papan pengumuman. Warga bisa melihat
langsung.
Pak Carik, yang tadinya loyal pada Pak Surya, lambat laun
luluh. Ia melihat ketulusan Arga. Ia mulai membantu.
Preman-preman yang dulu mengancam, satu per satu dibujuk
Arga. Ia beri mereka pekerjaan, bukan hukuman. Mereka diajak kerja bakti,
diberi penghasilan. Perlahan, mereka berubah.
Sukri, yang dulu pemabuk, sekarang jadi salah satu
pendamping Arga yang paling setia. Ia berhenti minum, rajin bekerja.
Gito, sepupu Arga, masih sinis. Tapi setelah melihat
perkembangan desa, ia mulai malu. Diam-diam ia ikut kerja bakti, meskipun tidak
mau mengaku.
****
Setahun berlalu. Desa Sumber Langit mulai berubah.
Jalan-jalan desa sudah diaspal. Listrik jarang padam.
Sekolah dasar terlihat lebih hidup. Anak-anak berseragam rapi. Pemuda-pemuda
punya kegiatan. Petani tersenyum. Ibu-ibu sibuk dengan usaha kecil mereka.
Di lapangan desa, setiap sore anak-anak bermain bola. Orang
tua duduk di bangku taman yang baru dibuat. Warung-warung buka lagi. Ekonomi
berputar.
Yang paling membanggakan, beberapa pemuda yang merantau
mulai kembali. Mereka membuka usaha di desa. Siklus pergi merantau mulai
terputus.
Pak Darma, yang kini sudah sangat renta, sering duduk di
bangku taman, memandangi perubahan dengan mata berkaca-kaca.
"Arga... kamu sudah buat desa ini hidup lagi."
Katanya suatu hari.
Arga tersenyum. "Ini berkat semua, Pak. Bukan saya
sendiri."
****
Lima tahun kemudian, Arga menyelesaikan masa jabatan
pertamanya. Ia terpilih lagi untuk periode kedua, dengan dukungan lebih besar.
Program-program berlanjut. Desa semakin maju. Sumber Langit
menjadi desa percontohan di kabupaten. Banyak kunjungan dari desa lain untuk
belajar.
Namun yang terpenting, harapan telah hidup kembali.
Anak-anak desa kini bermimpi besar. Mereka tidak lagi merasa bahwa menjadi
orang sukses hanya bisa di kota. Mereka percaya, dari desa pun mereka bisa
meraih mimpi.
Arga sering berkunjung ke sekolah, bercerita pada anak-anak.
"Dulu, Kakek juga sekolah di sini." Katanya pada
murid-murid SD. "Kakek berjalan kaki setiap hari, melewati pematang sawah.
Kakek tidak punya sepatu bagus, tidak punya tas bagus. Tapi Kakek punya
mimpi."
Anak-anak mendengarkan dengan takjub.
"Mimpi itu, kalian juga harus punya. Jangan pernah
takut bermimpi. Jangan pernah menyerah. Karena dari desa kecil ini, kalian bisa
meraih apa saja."
****
Tiga puluh tahun kemudian, Arga telah tua. Rambutnya putih,
jalannya lambat, tapi matanya masih bersinar. Ia telah pensiun sebagai kepala
desa, digantikan oleh generasi yang lebih muda. Rudi, sahabatnya, menjadi
kepala desa sekarang.
Desa Sumber Langit telah berubah total. Jalan aspal mulus.
Listrik stabil. Sekolah dari SD sampai SMA berdiri megah. Ada pasar desa, ada
puskesmas, ada koperasi. Pemuda-pemuda tidak perlu merantau. Banyak yang jadi
petani modern, pengusaha, guru, bahkan ada yang jadi dokter dan insinyur.
Namun yang paling berharga, semangat gotong royong masih
hidup. Warga masih saling membantu. Tradisi itu tidak hilang.
Suatu sore, Arga duduk di bangku taman lapangan desa. Ia
memandangi anak-anak bermain bola, tertawa riang. Angin sore berhembus
sepoi-sepoi, membawa aroma padi dari sawah.
Ratmi, yang kini istrinya, duduk di sampingnya. Mereka
menikah setelah Arga selesai masa jabatan pertama. Kini mereka punya anak dan
cucu.
"Pak, kangen desa dulu?" tanya Ratmi.
Arga tersenyum. "Kangen, Mi. Tapi aku lebih suka lihat
desa sekarang. Ini yang dulu aku impikan."
"Impianmu tercapai, Pak."
"Berkat kita semua. Berkat gotong royong. Berkat doa
orang tua."
Arga memandang langit sore yang jingga. Di kejauhan, bukit
kecil tempat ia dulu sering merenung, masih ada. Tempat ia pertama kali
bermimpi.
"Ayah... Ibu... Pak Darma... mimpi kita sudah jadi
nyata." bisiknya pelan.
Air mata mengalir di pipinya yang keriput. Bukan sedih,
tapi haru.
*****
Matahari sore mulai tenggelam di balik perbukitan. Cahaya
keemasan menyelimuti Desa Sumber Langit, membuat segalanya tampak damai dan
indah. Dari kejauhan terdengar suara azan magrib berkumandang dari masjid desa
yang megah.
Di sebuah bangku kayu di pinggir lapangan, seorang kakek
tua duduk termenung. Ia adalah Arga. Usianya sudah tujuh puluhan, namun matanya
masih bening. Sesekali ia tersenyum melihat anak-anak bermain bola.
Seorang anak kecil, cucunya, berlari mendekat. "Kakek!
Kakek! Lihat, aku bisa bikin gol!"
Arga tertawa. "Bagus, Nak. Kamu hebat."
Anak itu duduk di sampingnya. "Kakek, kata Ibu, dulu
Kakek yang membangun desa ini. Beneran?"
Arga mengusap rambut cucunya. "Bukan Kakek seorang,
Nak. Banyak orang. Seluruh warga. Kakek cuma punya mimpi."
"Mimpi apa, Kek?"
Arga memandang ke kejauhan. Sawah menghijau, jalan aspal
mulus, rumah-rumah bagus berjejer. Anak-anak bermain dengan gembira.
"Mimpi bahwa desa kecil ini bisa maju. Mimpi bahwa
anak-anak desa bisa sekolah tinggi. Mimpi bahwa tidak ada lagi yang perlu
merantau. Mimpi bahwa kita bisa hidup bahagia di tanah kelahiran sendiri."
Cucunya manggut-manggut, meskipun belum sepenuhnya
mengerti.
"Kek, aku juga mau punya mimpi. Aku mau jadi dokter.
Biar bisa obati orang sakit."
Arga tersenyum bangga. "Itu mimpi yang bagus, Nak.
Kejar terus. Jangan pernah menyerah."
Matahari semakin tenggelam. Langit berubah jingga keemasan,
lalu perlahan ungu.
Arga memandangi desa itu dengan hati yang damai. Perjalanan
panjang yang ia mulai dari rumah bambu di pinggir sawah, dari bukit kecil
tempat ia bermimpi, dari rantauan yang penuh air mata, kini telah sampai pada
penghujungnya.
Ia telah menepati janji pada ayahnya.
Ia telah membangun desanya.
Ia telah menantang takdir.
Dan kini, harapan itu hidup di hati generasi baru.
TAMAT
CATATAN PENULIS
Kisah ini terinspirasi dari perjuangan nyata anak-anak desa
di berbagai pelosok negeri yang berani bermimpi di tengah keterbatasan. Setiap
desa memiliki Arga-nya masing-masing, setiap tanah kelahiran memiliki
pejuangnya sendiri. Mereka mungkin tidak terkenal, tidak masuk berita, tidak
diundang ke acara-acara besar. Namun merekalah pahlawan sejati yang membangun
negeri dari akar rumput.
Jika Anda membaca kisah ini dan merasa terinspirasi,
ingatlah bahwa mimpi tidak mengenal batas. Dari mana Anda berasal tidak
menentukan ke mana Anda akan pergi. Yang menentukan adalah keberanian untuk
melangkah dan keteguhan untuk tidak menyerah.
Untuk semua anak desa yang sedang berjuang di perantauan,
untuk semua pemuda yang pulang membangun kampung halaman, untuk semua orang tua
yang tak lelah berdoa dan bekerja—kisah ini untuk kalian.
Teruslah bermimpi.
Teruslah berjuang.
Karena takdir memang bisa ditantang.
Salam dari penulis,
Slamet Riyadi
Novel
Perjuangan Seorang Anak Desa Melawan Keterbatasan Hidup dan Membawa Perubahan
bagi Tanah Kelahirannya
Oleh: Slamet Riyadi
Pagi baru saja membuka matanya di sebuah desa kecil yang
terletak jauh dari hiruk-pikuk kota. Matahari perlahan naik dari balik
perbukitan hijau, menyinari hamparan sawah yang luas seperti permadani alam
yang tak bertepi. Embun masih menempel di ujung-ujung daun padi, memantulkan
cahaya yang lembut seperti butiran mutiara kecil yang berkilauan diterpa sinar
mentari pagi. Burung-burung pipit terbang berkelompok dari satu pohon ke pohon
lainnya, menyambut hari baru dengan kicauan riang yang menghiasi kesunyian
desa. Ayam jantan berkokok bersahutan dari satu rumah ke rumah lainnya, seolah
menjadi penanda bahwa kehidupan baru akan segera dimulai.
Desa itu bernama Sumber Langit.
Nama yang terdengar indah, seolah-olah desa itu adalah
tempat di mana langit menurunkan segala berkahnya. Namun kenyataannya tidak
selalu demikian. Di balik keindahan alamnya yang mempesona, desa itu menyimpan
kisah panjang tentang keterbatasan, kemiskinan, dan perjuangan hidup yang tak
pernah kenal lelah. Hamparan sawah yang hijau itu tidak selalu menjamin perut
kenyang bagi para petani yang menggarapnya. Pemandangan bukit yang elok itu
tidak bisa mengusir rasa cemas ketika musim paceklik tiba. Sungai yang mengalir
jernih itu tidak bisa menghapus rasa khawatir ketika anak-anak harus
menyeberangi jembatan rapuh setiap hari untuk pergi ke sekolah.
Jalan utama desa masih berupa tanah merah yang keras dan
berdebu ketika kemarau, tetapi berubah menjadi lumpur licin yang membahayakan
ketika hujan turun. Setiap kali musim hujan tiba, warga harus ekstra hati-hati
melangkah. Banyak anak yang terjatuh dalam perjalanan ke sekolah. Banyak ibu-ibu
yang mengeluh karena hasil kebunnya sulit dijual ke pasar akibat jalan yang
becek dan licin. Sepeda motor pun jarang yang berani melintas, takut terpeleset
atau terperosok ke dalam lubang yang tertutup genangan air. Bahkan sesekali
terdengar kabar mobil pengangkut hasil pertanian terguling karena jalan yang
rusak parah.
Rumah-rumah penduduk berdiri sederhana, sebagian besar
terbuat dari kayu dan bambu yang sudah mulai rapuh dimakan usia. Atap-atap seng
yang telah berkarat berbunyi nyaring setiap kali angin kencang bertiup, seperti
genderang perang yang tak pernah berhenti memukul. Di malam hari, lampu minyak
tanah masih menjadi penerang utama di banyak rumah karena listrik sering padam
berjam-jam tanpa pemberitahuan. Sinyal telepon nyaris tak pernah stabil. Jika
ingin menelepon atau mengirim pesan, warga harus berjalan ke tempat yang lebih
tinggi, mencari titik di mana jaringan bisa ditangkap. Kadang mereka harus
memanjat pohon atau naik ke bukit kecil hanya untuk mendapatkan satu atau dua
batang sinyal.
Sekolah hanya sampai tingkat dasar.
Sekolah Menengah Pertama yang terdekat berada di kecamatan,
berjarak belasan kilometer dari desa. Setiap pagi, beberapa anak yang beruntung
harus naik sepeda ontel atau berjalan kaki berjam-jam untuk bisa mengenyam
pendidikan. Mereka berangkat pagi-pagi buta, ketika ayam baru mulai berkokok,
dan pulang ketika matahari sudah condong ke barat. Perjalanan yang melelahkan,
tapi harus ditempuh jika ingin melanjutkan sekolah. Sisanya, kebanyakan memilih
berhenti sekolah setelah lulus SD. Bukan karena tidak ingin melanjutkan, tetapi
karena ongkos dan jarak menjadi penghalang yang terlalu berat. Belum lagi biaya
seragam, buku, dan kebutuhan sekolah lainnya yang tidak bisa dijangkau oleh
kantong orang tua mereka yang pas-pasan.
Banyak anak desa yang akhirnya memilih meninggalkan tempat
itu ketika mereka dewasa.
Mereka pergi ke kota.
Mencari pekerjaan.
Mencari kehidupan yang lebih baik.
Mencari mimpi yang tak bisa mereka raih di desa.
Dan jarang sekali ada yang kembali.
Setiap kali ada perantau yang pulang, hanya untuk beberapa
hari saat lebaran atau ketika ada keluarga yang meninggal. Mereka datang dengan
pakaian yang lebih bagus, dengan logat bicara yang sedikit berubah, dengan
cerita tentang gemerlapnya kota. Tapi setelah itu, mereka pergi lagi.
Meninggalkan desa yang tetap sama seperti dulu. Meninggalkan sawah-sawah yang
tetap hijau namun tak cukup memberi harapan. Meninggalkan orangtua yang menua
sendirian di rumah-rumah bambu yang semakin lapuk.
Desa Sumber Langit perlahan menjadi desa yang sunyi. Sunyi
bukan karena tak ada orang, tetapi karena tak ada masa depan. Orang-orang muda
pergi, yang tinggal hanya yang tua-tua dan anak-anak kecil. Rumah-rumah kosong
mulai banyak, ditumbuhi rumput liar. Sawah-sawah mulai terbengkalai karena
tidak ada yang menggarap. Sekolah dasar kehilangan murid karena anak-anak ikut
orang tua merantau.
Namun di tengah sunyinya desa itu, masih ada yang percaya
pada mimpi.
Di sebuah rumah kecil yang berdiri di pinggir sawah,
kehidupan berjalan dengan kesederhanaan yang nyaris tanpa pilihan. Rumah itu
tidak besar, tidak megah, bahkan bisa dibilang sangat sederhana. Dindingnya
terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai kusam dimakan waktu dan cuaca.
Beberapa bagian anyaman sudah longgar, membuat angin malam masuk tanpa permisi.
Atapnya dari seng tua yang berbunyi keras setiap kali hujan turun, seperti
genderang perang yang tak pernah berhenti memukul.
Lantainya masih tanah yang dipadatkan, dilapisi tikar bambu
di beberapa sudut. Di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang
keluarga, hanya ada sebuah dipan bambu tua yang digunakan untuk duduk-duduk dan
menerima tamu. Di dinding, tergantung beberapa gambar usang: foto pernikahan
yang sudah menguning, kalender tahun lalu yang tidak diganti, dan ijazah SD Arga
yang dibingkai dengan kayu sederhana. Di sudut ruangan, ada sebuah lemari
pakaian dari kayu lapis yang catnya sudah mengelupas, pintunya miring karena
engselnya longgar.
Dapur rumah itu sangat sederhana. Hanya ada tungku kayu
bakar, beberapa periuk tanah, dan piring-piring beling yang sudah pecak di
beberapa bagian. Persediaan makanan tidak pernah banyak: beberapa kilogram
beras dalam wadah bambu, cabe kering yang digantung, bawang putih dan bawang
merah dalam keranjang kecil, serta tempe dan tahu yang dibeli seperlunya.
Namun di rumah itulah sebuah kisah besar akan dimulai.
Kisah tentang seorang anak kecil yang berani bermimpi di
tengah keterbatasan.
Kisah tentang perjuangan melawan keadaan yang sudah dianggap takdir.
Kisah tentang keberanian untuk tidak menerima begitu saja apa yang diberikan
hidup.
Kisah tentang cinta pada tanah kelahiran yang tak pernah padam.
Kisah tentang perjalanan panjang seorang anak desa yang ingin mengubah
dunianya.
Di dalam rumah itu tinggal seorang petani bernama Pak
Wiryo, istrinya Bu Ratri, dan seorang anak laki-laki kecil berusia tujuh tahun
bernama Arga.
Pak Wiryo adalah lelaki sederhana dengan kulit yang legam
terbakar matahari selama bertahun-tahun membajak sawah. Wajahnya diukir oleh
garis-garis kerutan yang dalam, peta perjalanan hidup yang penuh perjuangan.
Tangannya kasar oleh kapalan dan retak-retak akibat kerja keras bertahun-tahun
menggenggam cangkul dan sabit. Namun di balik fisiknya yang keras, tersimpan
hati yang lembut dan penuh kasih. Matanya selalu bersinar ketika memandang
anaknya, dan suaranya selalu lembut ketika berbicara pada istrinya.
Setiap hari ia pergi ke sawah sejak matahari belum
sepenuhnya terbit, ketika ayam jantan baru saja mulai berkokok bergantian dari
satu rumah ke rumah lainnya. Ia akan pulang ketika matahari sudah condong ke
barat, dengan tubuh letih namun tetap menyempatkan diri bercanda dengan Arga
sebelum beristirahat. Di sawah, ia bekerja sendiri, mencangkul, menanam,
merawat, hingga panen. Tidak pernah sekali pun ia mengeluh, meskipun hasil
panen sering tidak menentu.
Sementara Bu Ratri adalah perempuan yang lembut tetapi
tangguh. Tubuhnya kecil namun penuh energi. Ia membantu ekonomi keluarga dengan
menjual sayur di pasar desa setiap pagi. Setiap pukul tiga dini hari, ia sudah
bangun untuk memetik sayur dari kebun kecil di belakang rumah, membersihkannya,
mengikatnya rapi-rapi, lalu berjalan kaki ke pasar yang berjarak lima
kilometer. Ia baru pulang menjelang siang, dengan sisa sayur yang tak terjual
atau kadang hanya membawa uang pas-pasan.
Namun tak pernah sekalipun ia mengeluh. Setiap kali Arga
bertanya apakah ibunya lelah, Bu Ratri hanya tersenyum dan berkata, "Ibu
tidak lelah, Nak. Ibu bahagia bisa bekerja untukmu." Di sela-sela
kesibukannya, ia masih sempat menjahit baju tetangga untuk tambahan
penghasilan, menambal baju Arga yang sobek, dan memasak untuk keluarganya.
Mereka bukan orang kaya. Bahkan sering kali mereka harus
menghitung setiap rupiah yang mereka miliki. Setiap pembelian harus dipikirkan
matang-matang. Gula, kopi, minyak goring, semua diukur dengan cermat agar cukup
sampai akhir minggu. Daging hanya muncul di meja makan sekali atau dua kali
setahun, saat Idul Fitri atau Idul Adha. Hari-hari biasa, mereka hanya makan
nasi dengan sayur dari kebun dan sedikit tempe atau tahu. Ikan asin menjadi
lauk mewah yang hanya ada jika Bu Ratri dapat rezeki lebih.
Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga dari
harta benda.
Mereka memiliki kasih sayang yang tulus. Mereka memiliki keyakinan bahwa kerja
keras akan membuahkan hasil. Mereka memiliki harapan. Harapan bahwa suatu hari
nanti, kehidupan akan lebih baik. Harapan bahwa anak mereka tidak akan
mengalami pahitnya hidup seperti mereka.
Harapan bahwa dari desa kecil ini, akan lahir sesuatu yang besar.
****
Pagi di Desa Sumber Langit selalu datang dengan cara yang
sederhana namun indah. Matahari muncul perlahan dari balik perbukitan,
memancarkan cahaya hangat berwarna keemasan yang menyentuh hamparan sawah yang
luas. Embun masih menempel di daun-daun padi, berkilauan seperti berlian kecil
ketika terkena sinar matahari. Kabut tipis masih menyelimuti beberapa bagian
desa, menambah kesan misterius dan damai pada pemandangan pagi itu. Angin pagi
membawa aroma tanah basah yang menenangkan, bercampur dengan wangi bunga-bunga
liar yang tumbuh di pinggir-pinggir sawah.
Burung-burung pipit beterbangan dari satu pohon ke pohon
lainnya, menyambut hari baru dengan kicauan riang yang berpadu dengan kokok
ayam yang bersahutan dari berbagai penjuru desa. Ayam jantan milik Pak Karsono
berkokok paling keras, seolah ingin menunjukkan siapa yang paling berkuasa di
antara para ayam. Dari kandang milik Parto, terdengar lenguhan kerbau yang
mulai gelisah ingin segera digembalakan ke sawah. Sesekali terdengar suara
orang-orang yang mulai beraktivitas di dapur masing-masing, bunyi periuk dan
wajan, suara kayu bakar yang dinyalakan. Asap mengepul dari cerobong-cerobong
dapur sederhana, pertanda bahwa ibu-ibu sudah mulai memasak untuk sarapan
keluarga. Aroma masakan sederhana mulai tercium: nasi, sambal, dan kadang ikan
asin yang digoreng.
Di pinggir sawah itulah berdiri sebuah rumah kecil yang
terbuat dari bambu.
Rumah itu tidak besar, bahkan bisa dibilang sangat
sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai pudar
warnanya dimakan usia dan cuaca. Beberapa bagian anyaman sudah mulai longgar,
meninggalkan celah-celah kecil yang menjadi jalan masuk angin di malam hari. Di
musim hujan, angin dingin masuk tanpa ampun, membuat penghuninya harus
meringkuk di bawah selimut tipis. Atap sengnya tampak kusam dan berkarat di
beberapa bagian, dengan beberapa lubang kecil yang telah ditambal dengan
potongan seng bekas atau bahkan daun rumbia. Setiap kali hujan, Bunyi air
menetes di ember-ember dan panci yang sengaja diletakkan di titik-titik bocor
menjadi irama yang tak pernah berhenti.
Di depan rumah, ada beranda kecil yang juga terbuat dari
bambu. Di beranda itulah keluarga kecil ini biasa duduk-duduk di sore hari,
menikmati angin sepoi-sepoi sambil memandangi hamparan sawah yang terbentang
luas. Beberapa pot tanaman sederhana—bunga-bunga liar yang ditanam Bu Ratri
dalam kaleng bekas susu—menghiasi sudut beranda, memberi sedikit warna pada
kesederhanaan rumah itu. Ada bunga matahari, beberapa jenis mawar lokal, dan
tanaman obat seperti jahe dan kunyit yang ditanam di karung bekas.
Lantai rumah masih berupa tanah yang dipadatkan, namun
ditutupi tikar pandan di beberapa ruangan. Tikar-tikar itu sudah mulai aus,
beberapa bagian sudah robek, tapi masih sering dicuci dan dijemur sehingga
tetap bersih. Perabotan di dalamnya sangat sederhana: beberapa dipan bambu
untuk duduk dan tidur, sebuah meja kayu kecil yang sudah usang dengan kaki yang
tidak sama panjang (digenjot dengan potongan kayu), lemari pakaian dari kayu
lapis yang catnya sudah mengelupas, serta peralatan dapur seadanya yang
tersusun rapi di sudut dapur. Lemari pakaian itu pintunya miring dan sulit
ditutup, sehingga sering ditahan dengan kursi di malam hari.
Namun rumah itu selalu dipenuhi kehangatan.
Bukan kehangatan dari selimut tebal atau pakaian bagus,
melainkan kehangatan dari kasih sayang yang mengalir di antara penghuninya. Di
rumah itulah tawa Arga kecil selalu terdengar setiap kali ayahnya bercanda atau
ibunya menyanyikan lagu-lagu sederhana. Di rumah itulah cerita-cerita tentang
masa lalu diceritakan berulang-ulang, tentang bagaimana Pak Wiryo dan Bu Ratri
muda dulu berjuang membangun kehidupan dari nol. Di rumah itulah doa-doa
dipanjatkan setiap malam, memohon perlindungan dan rezeki yang berkah.
Di rumah itulah tinggal Arga, seorang anak laki-laki
berusia tujuh tahun, bersama kedua orang tuanya: Pak Wiryo dan Bu Ratri.
Pak Wiryo sudah bangun sejak subuh, seperti biasa. Sebagai
petani, ia tidak mengenal hari libur. Sawah tidak mengenal minggu atau hari
raya. Padi harus dirawat setiap hari, air harus diatur, rumput liar harus
dibersihkan, hama harus diusir. Semua itu tidak bisa ditunda-tunda. Bahkan
ketika hujan turun lebat, ia tetap ke sawah untuk memeriksa saluran air agar
tidak banjir.
Ia berdiri di depan rumah sambil mengikatkan kain di kepalanya—sebuah
cara sederhana untuk menahan terik matahari yang sebentar lagi akan memanggang
sawah. Kain itu sudah lusuh dan kusam, peninggalan almarhum ayahnya. Tangannya
memegang cangkul yang sudah lama menemaninya bekerja, dengan gagang kayu yang
sudah halus karena bertahun-tahun digenggam, dan mata cangkul yang sudah
menipis karena sering diasah. Di pinggangnya terselip sabit untuk memotong
rumput atau ranting yang mengganggu.
Di sampingnya, tergeletak keranjang anyaman bambu yang akan
digunakan untuk membawa hasil panen atau rumput untuk pakan ternak. Pak Wiryo
memang tidak punya kerbau atau sapi, tapi ia memelihara beberapa ekor kambing
di kandang kecil di belakang rumah. Kambing-kambing itu adalah tabungan
hidupnya, yang akan dijual jika ada kebutuhan mendesak.
Arga keluar dari rumah sambil mengucek-ngucek matanya yang
masih berat. Rambutnya masih awut-awutan, belum disisir. Bajunya kusut dan
sedikit basah karena bekas keringat tidur. Ia berjalan tertatih menuju ayahnya,
lalu duduk di tangga bambu sambil menguap lebar, memperlihatkan deretan gigi
susunya yang masih lengkap.
"Bapak sudah mau ke sawah?" tanyanya dengan suara
masih serak karena baru bangun tidur.
Pak Wiryo menoleh dan tersenyum melihat anaknya yang masih
setengah mengantuk. Di matanya, tidak ada yang lebih indah dari pemandangan
ini: anaknya yang sehat, rumahnya yang sederhana namun hangat, dan hari baru
yang menanti.
"Iya, Le. Padi tidak akan tumbuh kalau Bapak hanya
tidur di rumah." Jawabnya sambil mengikat tali celana. "Padi itu
seperti anak kecil, harus dirawat setiap hari. Kalau ditinggal, nanti rumputnya
tumbuh subur, padinya kalah."
Arga tertawa kecil dengan suara khas anak-anak. Ia
menggeliat, mencoba mengusir rasa kantuk yang masih tersisa. Matanya mulai
terbuka lebar, menangkap pemandangan sawah yang luas di depannya. Beberapa
petani sudah mulai kelihatan di kejauhan, mungkin sudah bekerja sejak subuh.
"Bapak tidak capek bekerja setiap hari?" tanya
Arga lagi. Pertanyaan itu sudah sering ia lontarkan, namun ia selalu penasaran
dengan jawaban ayahnya. Bagaimana bisa seseorang bekerja dari pagi hingga sore
tanpa lelah?
Pak Wiryo berhenti sejenak dari aktivitasnya. Ia meletakkan
cangkul, lalu berjalan mendekati Arga. Ia duduk di samping anaknya di tangga
bambu itu, merasakan kayu yang sedikit lembab karena embun pagi. Ia menghela
napas, memandangi hamparan sawah yang kelak akan diwariskan pada anaknya.
"Capek itu biasa, Nak." Jawabnya pelan, dengan
suara yang dalam dan penuh makna. "Tapi kalau kita bekerja untuk keluarga,
capek itu terasa ringan. Bapak capek, tapi Bapak tahu kalau hasil dari kerja
Bapak bisa buat kamu makan, bisa buat kamu sekolah. Itu yang membuat capek
Bapak jadi hilang."
Arga mengangguk pelan, meskipun mungkin belum sepenuhnya
mengerti filosofi di balik kata-kata ayahnya. Tapi ia mengerti satu hal:
ayahnya bekerja keras untuk keluarganya. Ia melihat bagaimana ayahnya pulang
dengan tubuh letih, tapi tetap tersenyum dan meluangkan waktu bermain
dengannya.
Tak lama kemudian Bu Ratri keluar dari dapur sambil membawa
nasi hangat dan sayur sederhana di atas nampan bambu. Rambutnya disanggul
sederhana, dan sarung yang ia kenakan masih bersih meskipun sudah lusuh dimakan
usia. Wajahnya masih segar meskipun ia sudah bangun sejak pukul tiga pagi untuk
memasak dan menyiapkan dagangan sayurnya. Keringat tipis membasahi dahinya,
tapi ia tetap tersenyum.
"Wiryo, makan dulu sebelum ke sawah." Katanya
lembut sambil meletakkan nampan di lantai beranda.
Pak Wiryo bangkit dan duduk di dekat nampan. Arga ikut
duduk di sampingnya. Mereka makan bersama dengan sederhana. Tidak ada lauk
mewah di atas meja: hanya nasi putih hangat, sayur bayam bening dengan sedikit
jagung pipilan, dan beberapa potong ikan asin yang digoreng garing. Sambal
terasi di mangkuk kecil melengkapi hidangan sederhana itu. Di piring kecil,
terong goreng yang dipotong bulat-bulat menambah variasi.
Namun mereka makan dengan rasa syukur yang besar.
"Ini enak sekali, Bu." Puji Pak Wiryo sambil
menyendok sayur bayam ke mulutnya. "Wah, bayamnya masih kres-kres gini,
enak."
Bu Ratri tersenyum senang mendengar pujian suaminya.
"Syukurlah kalau Bapak suka. Ini bayamnya baru petik dari kebun tadi pagi.
Masih segar. Sama jagungnya juga baru, manis."
"Ibu, ikan asinnya yang ini buat Arga ya?" tanya
Arga sambil menunjuk ikan asin yang paling besar di piring. Ikan itu utuh,
masih dengan kepala dan ekornya.
Bu Ratri dan Pak Wiryo saling pandang, lalu tersenyum.
Mereka terharu melihat anaknya yang sudah berpikir untuk membagi makanan.
"Iya, Le. Makan yang banyak biar cepat besar. Biar
pintar." Kata Bu Ratri sambil menambahkan nasi ke piring Arga.
Arga makan dengan lahap, sesekali mencelupkan ikan asin ke
sambal meskipun lidahnya kepedasan. Matanya langsung berkaca-kaca, mukanya
memerah.
"Awas, pedas!" teriaknya sambil megap-megap.
Melihat itu, Bu Ratri segera mengambil air minum dari kendi
tanah liat. "Pelan-pelan, Le. Nanti kepedasan."
Arga menerima air itu dan meminumnya dengan tergesa-gesa,
hingga air tumpah membasahi dagunya. "Ih, pedasnya nendang, Bu!"
katanya sambil menjulurkan lidah dan mengibas-ngibaskan tangan.
Mereka tertawa bersama. Tawa yang hangat di pagi yang
cerah. Tawa yang membuat rumah bambu itu terasa lebih luas dari istana manapun.
Bagi keluarga kecil itu, kebersamaan jauh lebih penting
daripada kemewahan. Mereka tidak punya banyak harta, tapi mereka punya satu
sama lain. Mereka tidak punya meja makan besar, tapi mereka punya tikar
sederhana yang bisa digunakan untuk makan bersama. Mereka tidak punya piring
mahal, tapi mereka punya nasi hangat yang bisa mengenyangkan perut.
Di tengah kesederhanaan itulah Arga tumbuh.
Ia tidak memiliki banyak mainan seperti anak-anak kota.
Tidak ada robot-robotan, tidak ada mobil-mobilan, tidak ada boneka mahal. Tapi
ia memiliki alam sebagai tempat bermainnya. Sungai dengan air jernihnya, sawah dengan
lumpurnya, pohon-pohon dengan buah-buah liar yang bisa dipetik. Ia bisa
berlarian sepuasnya tanpa takut kotor, karena ibunya akan mencuci bajunya
dengan sabar.
Ia tidak memiliki pakaian bagus seperti yang dijual di
toko-toko kota. Kebanyakan pakaiannya adalah pemberian dari tetangga atau
kerabat, yang sudah dipakai berkali-kali dan diwariskan. Tapi ibunya selalu
menjahitkan tambalan di bagian yang sobek, mencuci hingga bersih, dan
menyetrikanya dengan rapi. Baju-baju itu tidak bagus, tapi bersih dan wangi.
Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak anak
lain: kasih sayang orang tua yang tulus dan semangat untuk belajar yang tak
pernah padam. Ia memiliki orang tua yang selalu punya waktu untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaannya yang tak ada habisnya. Ia memiliki orang tua yang
selalu mendukungnya, meskipun dalam keterbatasan.
Setelah sarapan, Pak Wiryo berangkat ke sawah. Arga
melambai dari beranda, melihat ayahnya berjalan menyusuri pematang dengan
langkah tegap meskipun tubuhnya sudah mulai renta. Pematang sawah itu sempit,
hanya cukup untuk satu orang berjalan. Di kanan kiri, hamparan padi yang mulai
menguning bergoyang lembut ditiup angin.
"Bapak, pulangnya jangan sore-sore!" teriak Arga.
"Iya, Le!" jawab Pak Wiryo sambil tetap berjalan
tanpa menoleh.
Arga kemudian membantu ibunya membereskan piring-piring
kotor. Meskipun hanya membawa piring ke dapur, ia melakukannya dengan senang
hati. Bu Ratri selalu mengajarinya untuk membantu pekerjaan rumah sejak kecil.
Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil atau terlalu rendah. Semua dilakukan
dengan senang hati.
"Nak, nanti kamu mandi ya. Terus siap-siap ke sekolah.
Ibu mau ke pasar dulu." Kata Bu Ratri sambil mengemas sayur-mayur ke dalam
keranjang besar. Sayur-mayur itu hasil kebun di belakang rumah: bayam,
kangkung, sawi, beberapa terong, dan cabe rawit. Semua diikat rapi dan ditata
cantik agar menarik pembeli.
"Iya, Bu. Arga nanti mandi sendiri." Arga selalu
bangga bisa mandi sendiri tanpa dibantu. Ia sudah besar, katanya.
Bu Ratri mencium kening anaknya sebelum pergi.
"Hati-hati di sekolah. Jangan nakal ya. Dengerin kata guru."
"Arga nggak nakal, Bu. Arga anak baik." jawabnya
polos.
Bu Ratri tersenyum dan segera berangkat ke pasar dengan
keranjang sayur di tangannya. Ia harus berjalan kaki sejauh lima kilometer ke
pasar desa, tempat ia biasa menjual sayur dari kebunnya. Jika beruntung,
dagangannya akan laku sebelum siang. Jika tidak, ia harus pulang dengan sisa
sayur dan uang yang pas-pasan. Perjalanan pulang pergi sepuluh kilometer itu
harus ditempuh setiap hari, dalam panas atau hujan.
Arga duduk sendirian di beranda setelah ibunya pergi. Ia
memandangi sawah yang luas di depannya. Angin pagi masih bertiup sepoi-sepoi,
membuat bulir-bulir padi bergoyang lembut. Di kejauhan, ia bisa melihat
beberapa petani yang sudah mulai bekerja. Ada yang mencangkul, ada yang
membersihkan rumput, ada pula yang mengatur air di pematang sawah. Ia mengenali
mereka: ada Pak Karsono dengan topi capingnya, ada Wakijan yang bertelanjang
dada meskipun pagi, ada juga Parto dengan kerbau-kerbaunya.
Dalam benak Arga yang masih kecil, pemandangan itu biasa
saja. Ia belum mengerti bahwa dari pemandangan sederhana inilah, dari rumah
bambu di pinggir sawah inilah, sebuah perjalanan panjang akan dimulai.
Perjalanan yang akan membawanya ke tempat-tempat yang jauh, ke dunia yang tak
pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia belum tahu bahwa kelak ia akan merindukan pemandangan
ini ketika berada jauh di perantauan. Ia akan merindukan suara burung pipit di
pagi hari, aroma tanah basah setelah hujan, dan hamparan sawah yang hijau
terbentang luas. Ia akan merindukan rumah bambu sederhana ini lebih dari apa
pun di dunia. Ia akan merindukan suara ayahnya yang memanggil, dan senyum
ibunya yang menenangkan.
Tapi itu semua masih jauh di masa depan.
Saat ini, Arga hanyalah seorang anak kecil yang harus
bersiap-siap ke sekolah. Ia bangkit, masuk ke dalam rumah, mengambil handuk dan
gayung, lalu menuju ke sumur di belakang rumah untuk mandi. Sumur itu dangkal,
airnya kadang surut di musim kemarau. Tapi pagi ini airnya cukup banyak. Ia
menimba dengan hati-hati, mengguyur tubuhnya yang kecil. Air dingin membuatnya
menggigil, tapi ia tetap semangat.
****
Sekolah dasar di Desa Sumber Langit bernama SD Negeri
Sumber Langit. Sekolah itu terletak hampir tiga kilometer dari rumah Arga, di
ujung desa dekat perbatasan dengan desa tetangga. Bangunannya sederhana, hanya
beberapa ruang kelas dari papan kayu dengan atap genting yang sudah banyak
berlumut. Halamannya luas, dengan dua pohon besar yang memberikan keteduhan di
siang hari. Satu pohon asam, satu pohon beringin. Di bawah pohon itulah
murid-murid biasa bermain atau berteduh saat istirahat.
Setiap pagi, Arga harus berjalan kaki melewati pematang
sawah yang sempit, jalan tanah yang berdebu atau becek tergantung musim, dan
sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu tua yang sudah mulai rapuh.
Jembatan itu hanya cukup untuk dilalui pejalan kaki atau sepeda, dengan
papan-papan kayu yang jika diinjak mengeluarkan bunyi "krek-krek"
seperti akan patah. Di bawahnya, sungai mengalir dengan batu-batu besar. Jika
jatuh, bisa celaka.
Hari itu matahari baru saja terbit ketika Arga berangkat
bersama beberapa temannya. Mereka berjalan berkelompok, berbincang dan bercanda
di sepanjang jalan. Ada Bima, anak gemuk yang suka makan dan paling senang
bercerita tentang makanan. Setiap hari ia selalu bercerita tentang makanan enak
yang ia makan kemarin, atau makanan yang ia impikan. Ada Joko, anak yang
pendiam tapi pintar memancing di sungai. Ia jarang bicara, tapi kalau sudah
soal ikan, matanya langsung berbinar. Ada Wati dan Siti, dua perempuan kembar
yang selalu kompak dalam segala hal. Mereka berpakaian sama, berbicara kadang
bergantian kadang bersamaan, dan selalu bersama. Kadang-kadang ada juga
beberapa anak lain yang bergabung, tergantung siapa yang berangkat lebih pagi.
Tas Arga sangat sederhana, terbuat dari kain bekas yang
dijahit oleh ibunya menjadi bentuk tas. Warna aslinya mungkin biru, tapi
sekarang sudah pudar menjadi abu-abu kebiruan. Beberapa bagian sudah ditambal
dengan kain perca berbagai warna: merah, hijau, kuning. Tali tasnya sudah
beberapa kali putus dan disambung, sehingga panjangnya tidak sama. Tapi Arga
tetap menyayanginya, karena itu buatan ibunya.
Di dalam tas itu hanya ada beberapa buku tulis yang sudah
dihapus dan dipakai ulang beberapa kali, sebuah pensil pendek yang sudah sering
diraut hingga hampir habis, sebuah penghapus kecil yang sudah aus dan hampir
tidak bisa menghapus, dan bekal makanan sederhana: nasi dengan sedikit sayur
dan sambal, dibungkus daun pisang. Kadang ada juga telur rebus jika ibunya
punya rezeki lebih.
Di tengah perjalanan, Bima yang paling cerewet mulai
bertanya-tanya.
"Ga, kamu nggak capek jalan jauh setiap hari?"
tanyanya sambil terengah-engah. Badannya yang gemuk membuatnya cepat lelah, apalagi
berjalan di pematang sawah yang naik turun. Keringat sudah membasahi bajunya
meskipun baru berjalan sebentar.
Arga menggeleng dengan mantap. "Nggak capek. Aku malah
senang." Jawabnya sambil melompat-lompat kecil di pematang, menunjukkan
bahwa ia masih penuh energi.
"Senang?" Bima mengerutkan dahi, tidak mengerti.
"Senang apanya? Capek-capek gini, panas-panas gini?"
Arga menunjuk ke arah sekolah yang terlihat kecil di
kejauhan. Di balik gedung sekolah itu, terlihat bukit-bukit hijau yang
menjulang dengan awan-awan putih bergelayut manis di puncaknya. Pemandangan itu
indah sekali, seperti lukisan.
"Karena di sana aku bisa belajar banyak hal. Kata
guru, dengan belajar, kita bisa tahu banyak hal tentang dunia. Tentang luar
negeri, tentang hewan-hewan, tentang bintang-bintang."
Bima tertawa kecil, nada tawanya agak mengejek.
"Belajar itu membosankan. Aku lebih suka main di sungai, mancing, atau
nyari belut di sawah. Itu baru menyenangkan."
Wati dan Siti yang mendengar percakapan itu ikut nimbrung.
Wati, yang sedikit lebih berani dari adiknya, berkata, "Bima, kamu itu
males. Nanti kamu bodoh terus."
Siti menimpali, "Iya, nanti kamu nggak bisa baca. Malu
sama teman-teman."
Bima cemberut. "Biarin. Bapakku juga nggak sekolah,
tapi bisa kaya."
Joko yang dari tadi diam, tiba-tiba bersuara. Suaranya
pelan, tapi semua mendengar. "Bapakmu kaya karena dapat warisan. Kalau
nggak dapat warisan, kamu sudah jadi pengemis kali."
Semua tertawa, termasuk Bima yang akhirnya ikut tertawa
meskipun agak dipaksakan. "Iya juga sih. Tapi tetap, belajar itu bikin
pusing."
Arga tidak ikut mengejek. Ia justru terus berjalan dengan
langkah ringan, sesekali menoleh ke kanan kiri menikmati pemandangan. Baginya,
setiap perjalanan ke sekolah adalah petualangan kecil yang menyenangkan. Ia suka
melihat capung beterbangan di atas sawah, atau burung-burung kecil yang mandi
di genangan air. Ia suka menghitung jenis tanaman yang tumbuh di pinggir jalan,
atau memperhatikan kehidupan semut-semut yang berbaris rapi membawa makanan.
"Lihat itu!" teriak Arga tiba-tiba sambil
menunjuk ke arah sawah.
Semua menoleh. Di tengah sawah, tampak seekor bangau putih
sedang berdiri dengan anggun, mengintai ikan atau kodok di air. Lehernya
panjang, paruhnya runcing. Ia bergerak pelan, lalu tiba-tiba menyambar dengan
cepat.
"Wah, bangau!" seru Bima. "Awas
ikannya!"
Mereka berhenti sejenak untuk menyaksikan burung itu
terbang dengan sesuatu di paruhnya. Mungkin seekor ikan kecil atau kodok.
Burung itu terbang rendah di atas sawah, lalu menghilang di balik pepohonan.
"Untung bangau nggak makan padi." Kata Joko.
"Kalo makan padi, wah, petani pada marah."
Mereka melanjutkan perjalanan. Ketika melewati jembatan
kayu yang biasa mereka lalui, tiba-tiba Wati yang paling penakut berteriak.
"Awas! Papannya goyang!"
Benar saja, salah satu papan kayu di jembatan itu sudah
longgar. Jika diinjak di ujung yang salah, papan itu bisa terbalik dan membuat
orang terjatuh ke sungai di bawahnya. Sungai itu tidak terlalu dalam, tapi
airnya cukup deras dan penuh batu-batu besar. Pernah ada anak yang jatuh dan
kakinya terluka parah karena terbentur batu.
Mereka berhenti, bingung harus bagaimana. Bima yang paling
gemuk mulai panik. Wajahnya pucat.
"Gimana dong? Aku nggak berani lewat. Aku berat, pasti
ambrol."
Joko, yang paling tenang di antara mereka, maju ke depan.
Ia mengamati jembatan itu dengan saksama, mencari tahu bagian mana yang aman
untuk dilewati. Matanya menyipit, memperhatikan setiap papan.
"Kita harus lewat satu-satu. Pegangan erat-erat di
tali bambu ini." Katanya sambil menunjuk tali bambu yang berfungsi sebagai
pegangan di sisi jembatan. "Yang paling ringan duluan."
Siti, yang paling kecil dan ringan, maju duluan. Ia
berjalan perlahan, memegang erat tali bambu. Setiap langkah ia rasakan dengan
hati-hati. Ketika sampai di papan yang goyang, ia melompat kecil melewatinya,
lalu melanjutkan lagi. Semua menarik napas lega ketika ia berhasil sampai di
seberang.
Giliran Wati, kemudian Joko, lalu Bima. Bima hampir
terjatuh karena badannya yang berat membuat papan bergoyang lebih keras. Ia berteriak
histeris, hampir menangis.
"Tolong! Tolong! Aku mau jatuh!"
Joko yang sudah di seberang, kembali setengah jalan untuk
memegangi Bima. "Pelan-pelan, Bim. Jangan panik. Pegang tanganku."
Dengan susah payah, Bima akhirnya berhasil menyeberang. Ia
langsung duduk di rerumputan, mengatur napasnya yang terengah-engah. Wajahnya
pucat pasi.
"Aku hampir jatuh tadi!" katanya sambil memegangi
dadanya. "Aku mau mati rasanya."
Arga, yang menyeberang paling akhir, melakukannya dengan
tenang. Ia sudah biasa melewati jembatan ini setiap hari, meskipun memang agak
menakutkan.
Setelah semua selamat, mereka menghela napas lega.
Kemudian, tiba-tiba, mereka tertawa bersama. Tawa lepas melepaskan ketegangan.
"Untung Joko ada!" kata Wati.
"Iya, Joko pahlawan kita." Siti menimpali.
Joko tersenyum malu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Perjalanan dilanjutkan. Mereka melewati kebun-kebun
penduduk, sawah-sawah yang mulai menguning, dan beberapa rumah penduduk yang
masih sepi karena penghuninya sudah pergi ke sawah atau ke pasar. Anjing-anjing
kampung menggonggong dari kejauhan, tapi tidak berani mendekat karena sudah
kenal dengan anak-anak ini.
Mereka melewati rumah Mbah Joyo, sesepuh desa. Mbah Joyo
sedang duduk di beranda, menghisap pipanya seperti biasa. Melihat anak-anak
lewat, ia melambai.
"Pagi, Mbah!" sapa Arga.
"Pagi, cah ayu." jawab Mbah Joyo dengan suara
parau. "Hati-hati di jalan. Sekolah sing sregep, yo."
"Iya, Mbah."
Mereka juga melewati warung Bu Lastri yang baru buka. Bu
Lastri sedang menata dagangannya: rokok, permen, minuman ringan, dan beberapa
kebutuhan pokok. Melihat anak-anak, ia berteriak, "Mau jajan,
cah-cah?"
Mereka hanya tersenyum dan menggeleng. Uang jajan mereka
terbatas, hanya cukup untuk jajan sekali-sekali. Tapi hari ini bukan hari
jajan.
Ketika mereka sampai di sekolah, bel masuk baru saja
berbunyi. Mereka berlari menuju kelas masing-masing, tidak ingin terlambat. Pak
Dirjo, guru olahraga yang terkenal galak, sudah berdiri di depan gerbang dengan
daftar hadir.
"Kalau terlambat, lari keliling lapangan sepuluh
kali!" teriaknya.
Mereka memacu kaki sekuat tenaga. Arga dan Joko paling
cepat, diikuti Wati dan Siti. Bima tertinggal jauh, terengah-engah. Untunglah
mereka semua sampai tepat waktu, meskipun Bima hampir jatuh tersandung batu.
Sekolah itu sangat sederhana. Bangunannya dari papan kayu
yang catnya sudah mulai pudar. Lantainya dari semen kasar yang di beberapa
tempat sudah retak-retak, bahkan ada yang berlubang kecil. Atapnya dari genting
yang jika hujan turun, sering bocor di beberapa titik. Murid-murid harus
pintar-pintar memilih tempat duduk agar tidak kehujanan saat pelajaran
berlangsung. Beberapa murid bahkan harus bergeser-geser mengikuti arah bocoran
air.
Ruang kelas Arga tidak terlalu besar. Mungkin hanya cukup
untuk dua puluh murid, tapi diisi oleh dua puluh lima sampai tiga puluh anak.
Bangku dan meja dari kayu yang sudah tua, dengan coretan-coretan bekas
murid-murid sebelumnya. Ada ukiran nama, gambar tidak jelas, bahkan lubang
bekas bolpoin yang ditusuk-tusukkan. Papan tulisnya dari papan hitam yang sudah
mulai keputihan di beberapa bagian, kapur tulisnya sering habis dan harus
dibeli sendiri oleh murid.
Namun di tempat itulah banyak mimpi kecil tumbuh. Di tempat
itulah anak-anak desa belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengenal dunia
yang lebih luas melalui buku-buku pelajaran yang terbatas. Di tempat itulah
mereka belajar tentang Indonesia, tentang pahlawan-pahlawan, tentang cita-cita.
Di dalam kelas, Arga selalu duduk di bangku paling depan.
Bukan karena ia murid terkecil, tapi karena ia ingin dekat dengan guru dan
papan tulis. Ia ingin bisa melihat dan mendengar dengan jelas semua yang
diajarkan. Ia tidak ingin melewatkan satu kata pun.
Bu Narti, guru kelasnya selain Pak Darma, sudah siap di
depan kelas dengan buku pegangan di tangannya. Bu Narti adalah guru yang sabar
dan lembut. Rambutnya disanggul rapi, bajunya selalu bersih meskipun sederhana.
Ia mengajar dengan penuh dedikasi, sabar menjelaskan berulang-ulang sampai
murid-muridnya mengerti.
"Hari ini kita akan belajar membaca." Katanya
memulai pelajaran. "Keluarkan buku bacaan kalian."
Murid-murid mengeluarkan buku masing-masing. Buku-buku itu
lusuh, bergantian dipakai dari kakak ke adik. Halamannya sudah banyak yang
robek, ada yang coret-coret. Tapi mereka tetap membacanya dengan semangat.
Arga membuka bukunya. Buku cerita bergambar, judulnya
"Si Kancil dan Buaya". Ia sudah membaca buku ini berkali-kali, tapi
tetap saja seru. Ia suka cerita tentang kancil yang cerdik, yang selalu bisa
mengelabui musuhnya.
"Siapa yang mau membaca nyaring?" tanya Bu Narti.
Beberapa tangan mengacung, termasuk Arga. Bu Narti
menunjuknya.
"Ayo, Arga. Baca dengan suara jelas."
Arga berdiri, membuka buku di halaman yang ditunjuk. Ia
membaca dengan suara lantang, jelas, dan penuh penghayatan. Ketika sampai pada
bagian kancil menipu buaya, ia membaca dengan nada seperti sedang bercerita.
Teman-temannya terpukau.
"Bagus, Arga." Puji Bu Narti setelah ia selesai.
"Kamu membaca dengan baik. Ada yang mau bertanya tentang cerita ini?"
Tangan Wati terangkat. "Bu, kenapa kancil selalu
menang? Padahal dia kecil."
Bu Narti tersenyum. "Karena kancil pintar, Wati. Dia
menggunakan otaknya, bukan kekuatannya. Dia bisa berpikir untuk mencari jalan
keluar dari masalah. Itu pelajaran buat kita: kepintaran lebih penting daripada
kekuatan."
Arga mendengarkan dengan saksama. Kata-kata Bu Narti
meresap dalam hatinya. Kepintaran lebih penting daripada kekuatan. Ia akan
ingat itu.
Ketika pelajaran selesai dan jam istirahat tiba,
murid-murid berhamburan keluar kelas. Mereka membawa bekal masing-masing, duduk
di bawah pohon atau di teras kelas, makan bersama sambil bercanda.
Arga tetap di dalam kelas. Ia membuka buku catatannya,
membaca ulang apa yang baru saja ia tulis. Tulisannya belum rapi, karena pensil
pendeknya sering membuat tangannya pegal. Tapi ia berusaha menulis sebaik
mungkin. Ia ingin semuanya rapi dan jelas, agar mudah dibaca ulang.
Tiba-tiba Bima masuk dengan membawa bekalnya. "Ga, kok
nggak keluar? Makan yuk di bawah pohon. Dingin-dingin gini enak."
Arga tersenyum. "Iya, bentar. Aku mau nulis
dulu."
Bima menggeleng. "Kamu ini... belajar melulu. Nanti
jadi kutu buku."
"Kutu buku itu bagus." jawab Arga. "Kutu
buku itu pintar."
Bima tertawa. "Terserah kamu deh. Aku ke bawah dulu
ya."
Arga melanjutkan menulis sampai Bu Narti masuk ke kelas.
Beliau tersenyum melihat Arga.
"Arga, tidak istirahat?"
"Sebentar lagi, Bu. Saya mau menyelesaikan catatan
ini."
Bu Narti duduk di bangku di depannya. "Kamu anak yang
rajin. Ibu senang melihat semangatmu. Cita-cita kamu apa, Nak?"
Arga berpikir sejenak. Cita-cita? Ia belum pernah
memikirkannya serius. "Saya ingin pintar, Bu. Ingin sekolah tinggi."
"Setelah itu?"
"Setelah itu... saya ingin membantu orang tua. Dan
membantu desa ini."
Bu Narti terharu. "Bagus sekali, Arga. Teruskan
semangat itu. Ibu doakan kamu sukses."
****
Pak Darma bukanlah guru biasa. Ia adalah salah satu guru
yang sudah lama mengajar di desa itu, mungkin lebih dari dua puluh tahun. Ia
datang ke Desa Sumber Langit ketika masih muda, dengan semangat membara untuk
mengabdi. Dan hingga rambutnya memutih, ia masih setia mengajar di sekolah
sederhana itu.
Banyak tawaran pindah ke kota yang datang padanya. Dengan
pengalaman dan kemampuannya, ia pasti bisa mendapatkan posisi yang lebih baik
di sekolah-sekolah kota. Tapi ia selalu menolak. Ia merasa terpanggil untuk
tetap di desa, mengajar anak-anak yang mungkin tidak akan mendapat pendidikan
yang layak jika tidak ada guru seperti dirinya.
"Desa ini membutuhkan guru." Katanya suatu kali
ketika ditanya kenapa tidak pindah. "Anak-anak di sini tidak kalah pintar
dari anak-anak kota. Mereka hanya kurang kesempatan. Tugas sayalah memberi
mereka kesempatan itu."
Pak Darma sering memperhatikan Arga di kelas. Anak itu
selalu duduk paling depan, selalu memperhatikan dengan saksama, selalu mencatat
dengan rapi, dan selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas. Ketika
teman-temannya mengantuk atau melamun, Arga tetap fokus. Ketika teman-temannya
malas mengerjakan PR, Arga selalu mengumpulkan tugas tepat waktu.
Suatu hari setelah pelajaran selesai, Pak Darma memanggil
Arga untuk tetap tinggal sebentar. Murid-murid lain sudah pulang, kelas menjadi
sepi. Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar sayup-sayup.
"Arga, sini sebentar, Nak."
Arga mendekat, agak gugup. Apa mungkin ia melakukan
kesalahan? Tapi wajah Pak Darma tersenyum ramah, tidak menunjukkan tanda-tanda
kemarahan.
"Iya, Pak?"
Pak Darma mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah buku. Bukan
buku biasa, tapi buku yang cukup tebal dengan sampul yang masih bagus. Judulnya
"Kisah-Kisah Inspiratif dari Seluruh Dunia". Sampulnya bergambar
orang-orang dari berbagai negara dengan pakaian tradisional mereka. Ada orang
Afrika dengan pakaian suku, orang India dengan sari, orang Cina dengan
cheongsam, dan orang Indonesia dengan pakaian adat.
"Ini buat kamu." Kata Pak Darma sambil
menyerahkan buku itu.
Arga menerimanya dengan hati-hati, seolah memegang benda
yang sangat berharga. Matanya membelalak melihat buku itu. Kertasnya putih dan
halus, bukan kertas buram seperti buku-buku pelajarannya. Harumnya kertas baru
masih tercium. Ia membuka halaman pertama, membaca kata pengantarnya.
"Ini... ini untuk saya, Pak?" tanyanya tidak
percaya.
"Iya. Bapak dapat dari keponakan di kota. Bapak pikir
kamu akan suka membaca buku ini. Ada banyak cerita tentang orang-orang biasa
yang berhasil meraih mimpi besar."
Arga membuka buku itu perlahan. Halaman pertamanya
bergambar seorang anak miskin dari Afrika yang kemudian menjadi dokter
terkenal. Ia membaca sekilas cerita itu, hatinya berdebar-debar. Ada lagi
cerita tentang seorang anak gembala yang menjadi ilmuwan, tentang seorang
penjual koran yang menjadi pengusaha sukses, tentang seorang anak buta yang
menjadi musisi terkenal.
"Terima kasih, Pak!" ucapnya dengan mata
berkaca-kaca. "Terima kasih banyak. Saya... saya tidak punya apa-apa untuk
membalas kebaikan Bapak."
Pak Darma tersenyum, hatinya hangat melihat antusiasme
murid kesayangannya itu. "Sama-sama, Arga. Kamu anak yang pintar, dan yang
lebih penting, kamu punya rasa ingin tahu yang besar. Itu modal yang sangat
berharga. Bapak tidak perlu imbalan. Lihat saja nanti, kalau kamu sukses, Bapak
sudah senang."
Arga menunduk sedikit, merasa malu dipuji. "Saya hanya
ingin belajar, Pak. Saya ingin tahu banyak hal. Kadang saya bingung, kenapa ada
orang yang malas belajar?"
"Itu pertanyaan bagus." Pak Darma berdiri,
berjalan ke jendela dan memandang keluar. Halaman sekolah mulai sepi. Hanya ada
beberapa anak yang masih bermain di bawah pohon. "Karena mereka belum tahu
manfaat belajar. Mereka belum melihat bahwa dengan belajar, hidup bisa berubah.
Tapi kamu berbeda, Arga. Kamu sudah punya kesadaran itu sejak kecil."
Pak Darma kembali duduk di depan Arga. "Arga, boleh
Bapak tanya sesuatu?"
"Silakan, Pak."
"Kamu punya mimpi? Mimpi tentang masa depanmu?"
Arga terdiam. Pertanyaan itu membuatnya berpikir. Mimpi?
Tentu ia punya mimpi. Tapi apakah mimpi itu masuk akal untuk anak desa
sepertinya? Apakah ia berhak bermimpi besar?
"Saya... saya ingin menjadi orang pintar, Pak. Saya
ingin sekolah setinggi-tingginya." Jawabnya pelan.
Pak Darma mengangguk. "Itu mimpi yang bagus. Tapi
setelah itu? Setelah kamu sekolah tinggi, kamu mau jadi apa?"
Arga memandang ke luar jendela, ke arah sawah yang
terbentang luas di belakang sekolah. Angin sore bertiup pelan, membuat
pohon-pohon di halaman bergoyang lembut. Ia melihat Pak Karsono yang pulang
dari sawah dengan sepeda ontelnya, Wakijan yang berjalan dengan langkah lelah,
Parto dengan kerbau-kerbaunya.
"Saya ingin... membantu desa ini, Pak." Jawabnya
akhirnya, dengan suara yang lebih mantap. "Desa kita ini tertinggal. Jalan
rusak, listrik sering mati, sekolah cuma sampai SD. Anak-anak muda pada pergi
merantau karena di sini tidak ada masa depan. Saya ingin suatu hari nanti desa
ini berubah. Saya ingin anak-anak tidak perlu pergi merantau."
Pak Darma tertegun. Ia tidak menyangka anak sekecil Arga
bisa memiliki pemikiran sebesar itu. Biasanya anak-anak seusianya hanya
memikirkan mainan atau jajan. Tapi anak ini, anak petani dari rumah bambu di
pinggir sawah, memikirkan masa depan desanya. Ada api di matanya, api yang
tidak biasa.
"Kamu ingin mengubah desa ini?"
"Iya, Pak. Tapi saya belum tahu caranya. Saya masih
kecil. Mungkin mimpi saya terlalu besar untuk anak seumur saya."
Pak Darma tersenyum bangga. Ia kembali duduk di depan Arga,
menatap mata anak itu dengan serius.
"Dengarkan Bapak, Arga. Usia tidak menentukan seberapa
besar mimpi seseorang. Banyak orang besar yang bermimpi sejak kecil. Nabi
Muhammad SAW sudah yatim sejak kecil, tapi beliau menjadi pemimpin besar.
Soekarno, presiden kita, juga anak biasa yang bermimpi besar. Yang penting
adalah kemauan untuk belajar dan bekerja keras mewujudkannya."
Arga mengangguk, menyimpan setiap kata Pak Darma dalam
hatinya. Ia merasa bahwa kata-kata ini akan berguna suatu hari nanti.
"Kalau kamu terus belajar, suatu hari nanti kamu bisa
pergi jauh dari desa ini. Kamu bisa sekolah di kota, bahkan mungkin di luar
negeri. Kamu bisa belajar banyak hal yang tidak bisa dipelajari di sini."
Arga terdiam. Pergi dari desa? Meninggalkan tempat
kelahirannya? Ia belum pernah membayangkan itu sebelumnya. Bagaimana dengan
sawah? Bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dengan rumah bambunya? Bagaimana
dengan makam ayahnya nanti?
Tapi Pak Darma sepertinya membaca kegelisahan itu. Ia
melanjutkan, "Pergi bukan berarti melupakan, Arga. Justru dengan pergi,
kamu bisa belajar banyak hal yang nantinya bisa kamu bawa pulang untuk
membangun desa ini. Seperti para perantau yang sukses, mereka pulang dengan
ilmu dan pengalaman baru. Mereka tidak melupakan kampung halaman."
Arga mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak."
"Bapak percaya, suatu hari nanti kamu akan menjadi
orang yang membawa perubahan bagi desa ini. Bapak sudah melihatnya dari caramu
belajar, dari pertanyaan-pertanyaanmu, dari kepedulianmu pada sekitarmu. Kamu
berbeda, Arga. Kamu punya api dalam dirimu."
Mendengar kata-kata itu, Arga merasa terharu. Tidak pernah
ada orang yang mengatakan hal seperti itu padanya. Bahwa ia, anak kecil dari
keluarga miskin, bisa menjadi seseorang yang berarti bagi desanya. Biasanya
orang hanya memandangnya sebagai anak petani biasa, tidak lebih.
"Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha."
Pak Darma berdiri, mengusap kepala Arga dengan lembut.
"Bapak yang berterima kasih, Arga. Karena kamu mengingatkan Bapak mengapa
dulu Bapak memilih menjadi guru. Untuk melihat murid-murid seperti kamu, yang
punya mimpi dan semangat. Itu membuat Bapak tetap bertahan di sini selama dua
puluh tahun."
Sore itu Arga pulang dengan perasaan yang berbeda. Di
tangannya, ia memegang buku pemberian Pak Darma dengan erat, seperti memegang
harta karun. Di dalam hatinya, ia menyimpan kata-kata gurunya dengan dalam,
seperti menanam benih di tanah yang subur.
Ia berjalan menyusuri pematang sawah seperti biasa.
Matahari mulai condong ke barat, membuat bayang-bayangnya memanjang di hamparan
sawah. Angin sore membawa kesejukan yang menenangkan. Burung-burung pipit
beterbangan pulang ke sarangnya. Di kejauhan, ia melihat ibunya yang baru
pulang dari pasar, berjalan dengan keranjang sayur yang mungkin masih berisi
sisa dagangan.
Arga berhenti sejenak di tengah pematang. Ia memandang
desanya dari kejauhan. Rumah-rumah sederhana dengan asap dapur yang mulai
mengepul, pertanda ibu-ibu sedang memasak untuk makan malam. Sawah-sawah hijau
yang bergelombang ditiup angin. Bukit-bukit di kejauhan yang mulai diselimuti
kabut tipis. Sungai yang berkelok-kelok memotong desa.
Desa yang indah. Desa yang damai. Tapi juga desa yang
tertinggal.
Di dalam hatinya, Arga berbisik pelan. "Suatu hari
nanti, aku akan membuat desa ini lebih baik. Aku janji. Untuk Ayah, untuk Ibu,
untuk Pak Darma, dan untuk semua anak desa yang punya mimpi."
Langkahnya kemudian dilanjutkan. Menuju rumah bambu di
pinggir sawah, tempat ibunya menunggu dengan sayur-mayur sisa dagangan dan
pertanyaan tentang bagaimana sekolahnya hari ini.
Ia tidak tahu bahwa kata-kata yang ia ucapkan sore itu akan
menjadi sumpah yang akan menuntun hidupnya bertahun-tahun kemudian. Ia tidak
tahu bahwa perjalanan panjang sedang menanti. Ia tidak tahu bahwa ia akan
melewati banyak ujian, air mata, dan kepahitan sebelum bisa menepati janji itu.
Tapi satu hal yang pasti: benih mimpi itu sudah ditanam.
Dan tidak ada yang bisa mencabutnya.
****
Kehidupan di desa terus berjalan dengan ritmenya sendiri.
Pagi, siang, sore, malam. Berganti tanpa henti. Sawah digarap, padi ditanam,
panen dilakukan, lalu menanam lagi. Siklus yang tidak pernah berubah.
Di sawah milik Pak Karsono, beberapa petani sedang bekerja
bersama. Pak Karsono dikenal sebagai petani sukses yang sawahnya paling luas.
Ia mempekerjakan beberapa buruh tani, termasuk Wakijan dan beberapa warga lain.
Pagi itu, Wakijan sedang mencangkul di pinggir sawah.
Tubuhnya yang kekar bergerak lincah meskipun sudah tidak muda lagi. Keringat
membasahi tubuhnya yang bertelanjang dada. Di sampingnya, Pak Karsono sedang
memeriksa saluran air.
"Jan, lo udah denger kabar tentang anaknya Pak
Wiryo?" tanya Wakijan sambil berhenti sebentar, menyeka keringat dengan
lengan.
"Arga? Belum. Ada apa?" jawab Pak Karsono.
"Katanya pinter banget di sekolah. Gurunya sampe
bilang, dia calon orang sukses."
Pak Karsono tersenyum. "Oh, itu. Iya, saya juga
denger. Anak itu emang beda. Rajin, pinter, sopan. Saya sering lihat dia baca
buku di mana-mana. Di sawah, di jalan, di mana aja."
Wakijan mengangguk setuju. "Ngenes ya, Jan. Anak
sepinter itu, lahir di keluarga miskin. Bapaknya cuma petani kecil, ibunya
jualan sayur. Apa bisa sekolah tinggi?"
Pak Karsono berpikir sejenak. "Bisa kali, Jan. Asal
ada kemauan. Tapi ya... memang berat. Biaya sekolah mahal. Kuliah lebih mahal
lagi. Tapi siapa tahu ada rejeki."
Di sisi lain sawah, Parto sedang menggembalakan kerbaunya.
Ia mendengar percakapan itu dari kejauhan. Dengan suara pelan, ia berkata,
"Kerbaoku dulu juga kecil, sekarang besar. Anak kecil bisa jadi
besar."
Wakijan dan Pak Karsono hanya tersenyum mendengar ucapan
Parto yang khas.
Sementara itu, di warung Bu Lastri, suasana berbeda.
Beberapa warga sedang duduk-duduk sambil minum kopi atau teh. Bu Lastri sibuk
melayani pembeli.
Juminten, tukang gosip desa, sedang asyik bercerita pada
siapa saja yang mau mendengar.
"Tahu nggak, anaknya Pak Wiryo itu, katanya sombong
sekarang." katanya sambil menyeruput kopinya.
Bu Lastri yang sedang menata dagangan, menoleh.
"Sombong? Masa? Arga? Anak itu kan pendiem, sopan."
"Iya, sombong. Katanya di sekolah, dia nggak mau
bergaul sama anak-anak biasa. Maunya sama Bu Guru terus."
Mbah Joyo yang kebetulan sedang duduk di pojok warung,
tertawa kecil. Suara tawanya parau karena usia. "Juminten, kamu itu...
mulutmu jangan sembarangan. Arga itu anak baik. Saya tahu. Dia sering mampir ke
rumah saya, bantu-bantu, dengerin cerita saya."
Juminten cemberut. "Ya sudah, Mbah. Tapi itu kata
orang."
"Kata orang belum tentu benar." timpal Pak
Karsono yang baru datang dari sawah. "Saya lihat sendiri Arga itu anak
baik. Rajin, sopan. Jangan suka fitnah, Juminten. Nanti dosa."
Juminten tidak menjawab, hanya cemberut sambil minum
kopinya.
Di sudut lain warung, Sukri dan teman-temannya sedang main
kartu. Mereka asyik dengan permainannya, tidak peduli dengan percakapan orang
lain.
"Dua!" teriak Sukri sambil membanting kartu.
"Tiga!" sambung temannya.
Asap rokok mengepul di atas meja mereka. Gelas-gelas kopi
kosong berserakan. Mereka sudah main sejak pagi, dan akan terus main sampai
sore.
"Kri, lo nggak kerja?" tanya salah satu temannya.
"Kerja ngapain? Lagi nggak ada." jawab Sukri
malas. "Mending main aja."
"Dasar pemalas." gumam temannya pelan.
Sukri mendengar, tapi pura-pura tidak tahu. Ia melanjutkan
permainannya.
****
Tahun-tahun berlalu seperti aliran sungai yang tenang. Arga
tumbuh menjadi remaja. Ia kini duduk di kelas dua SMP di kecamatan, karena di
desanya hanya ada sekolah dasar. Setiap pagi ia harus naik sepeda ontel sejauh
lima belas kilometer ke sekolah, melewati jalanan yang naik turun, kadang
becek, kadang berdebu.
Sepeda ontelnya adalah sepeda bekas pemberian Pak Darma.
Rangkanya sudah karatan, bannya sudah botak di beberapa bagian, remnya hanya
tinggal nama. Tapi Arga sangat mensyukurinya. Dengan sepeda itu, ia bisa
berangkat lebih cepat daripada berjalan kaki.
Perjalanan itu melelahkan, tapi ia tidak pernah mengeluh.
Ia selalu berangkat pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit. Kadang ia harus
menuntun sepedanya di jalan yang menanjak, kadang ia harus berhati-hati di
jalan yang licin. Tapi semangatnya tidak pernah surut.
Di sekolah, Arga dikenal sebagai siswa yang rajin dan
pintar. Nilainya selalu masuk tiga besar. Guru-gurunya menyukainya karena ia
selalu sopan dan tidak pernah membuat masalah. Beberapa temannya iri, tapi
lebih banyak yang mengaguminya.
Pak Wiryo sudah semakin tua. Tubuhnya mulai renta,
tenaganya mulai berkurang. Tapi ia masih tetap ke sawah setiap hari, meskipun
kini ia hanya mampu mengolah setengah dari sawah yang dulu ia garap. Separuhnya
lagi digarap oleh Tukiman, adiknya, dengan sistem bagi hasil.
Bu Ratri juga semakin renta. Perjalanan ke pasar setiap
hari mulai terasa berat. Tapi ia tetap melakukannya, tidak ingin merepotkan
anaknya. Kadang Arga membantu membawakan sayur sebelum berangkat sekolah.
Suatu malam, Arga duduk di depan rumah bersama ayahnya.
Langit desa sangat cerah malam itu. Tidak ada polusi cahaya dari lampu-lampu
kota, sehingga bintang-bintang terlihat begitu banyak. Galaksi Bimasakti
membentang dari utara ke selatan, seperti sungai susu di langit. Jutaan bintang
berkelap-kelip, seolah sedang memberi isyarat rahasia pada bumi.
Arga bertanya pelan, suaranya lirih di tengah kesunyian
malam.
"Pak, apakah desa kita bisa berubah?"
Pak Wiryo menoleh. Matanya yang mulai rabun masih bisa
melihat wajah anaknya dengan jelas di bawah cahaya bintang. Wajah itu kini
sudah mulai dewasa, tidak lagi bulat seperti dulu. Kumis tipis mulai tumbuh di
atas bibirnya.
"Maksudmu?"
"Supaya jalan tidak rusak lagi. Supaya listrik tidak
sering padam. Supaya sekolah lebih bagus. Supaya anak-anak muda tidak perlu
pergi merantau. Supaya orang-orang seperti kita tidak perlu susah terus."
Pak Wiryo tersenyum kecil. Senyum yang getir, tapi juga
penuh harapan. Ia memandangi langit yang penuh bintang, lalu berkata pelan.
"Perubahan tidak datang begitu saja, Nak."
Jawabnya bijak. "Perubahan butuh perjuangan. Butuh orang-orang yang berani
bermimpi dan berani berjuang. Butuh pengorbanan. Butuh waktu."
"Lalu bagaimana caranya?"
"Harus ada orang yang berani memperjuangkannya. Orang
yang tidak hanya diam melihat keadaan. Orang yang mau mengambil risiko, mau
bekerja keras, mau berkorban. Orang yang tidak takut gagal. Orang yang tidak
mudah menyerah."
Arga memandang langit. Bintang-bintang berkelap-kelip
seolah memberi isyarat. Di langit sana, bintang-bintang itu tidak berubah
posisi. Tapi manusia bisa berubah. Manusia bisa bergerak. Manusia bisa mengubah
dunianya.
"Ayah percaya suatu hari nanti akan ada orang seperti
itu di desa kita?"
Pak Wiryo terdiam cukup lama. Angin malam berhembus,
membawa suara jangkrik yang semakin keras. Lalu ia menatap anaknya dengan
pandangan yang dalam, pandangan yang hanya bisa diberikan seorang ayah pada
anaknya.
"Ayah percaya, Nak. Dan Ayah berharap, orang itu
adalah kamu."
Arga terkejut. Dadanya berdebar keras. "Saya? Tapi
saya hanya anak petani biasa. Saya tidak punya apa-apa. Saya tidak kaya, tidak
punya pengaruh."
"Justru karena kamu anak petani, kamu tahu bagaimana
rasanya hidup susah. Kamu tahu bagaimana rasanya kekurangan. Kamu tahu
bagaimana rasanya dilupakan, diabaikan, dianggap tidak ada. Itu yang akan membuatmu
lebih peduli, lebih berjuang, lebih mengerti apa yang dibutuhkan desa
ini."
Arga terdiam. Kata-kata ayahnya meresap jauh ke dalam
hatinya. Ia memang anak petani. Ia memang hidup dalam keterbatasan. Tapi justru
itulah yang membuatnya tahu persis apa yang salah dengan desanya. Ia tahu rasa
lapar, rasa takut tidak bisa bayar SPP, rasa malu karena baju lusuh, rasa cemas
ketika musim paceklik tiba.
"Kalau Ayah bilang begitu, apa Ayah tidak ingin saya
menjadi orang sukses di kota? Hidup enak, punya rumah besar, mobil bagus, kerja
di kantor? Itu kan impian semua orang."
Pak Wiryo tersenyum. Tersenyum dengan bijak, seperti orang
yang sudah melihat banyak hal dalam hidup.
"Ayah ingin kamu sukses, Nak. Tapi sukses bukan hanya
soal harta. Sukses yang sejati adalah ketika kamu bisa bermanfaat bagi orang
lain, ketika kamu bisa membantu mereka yang membutuhkan. Kalau kamu sukses di
kota, hanya kamu dan keluargamu yang menikmati. Tapi kalau kamu berhasil
membangun desa ini, semua orang akan merasakan manfaatnya. Ribuan orang akan
terbantu. Itu pahala yang terus mengalir."
Arga memikirkan kata-kata itu. Ia membayangkan desanya yang
berubah. Jalan mulus, listrik tidak pernah padam, sekolah bagus, anak-anak muda
tidak perlu merantau. Semua orang tersenyum. Semua orang hidup berkecukupan.
Itu pasti indah sekali.
"Tapi itu berat, Pak. Saya sendiri saja masih kecil,
masih sekolah."
"Iya, berat. Tapi perjalanan seribu mil dimulai dari
satu langkah. Sekarang langkahmu adalah belajar. Belajar yang rajin. Raih ilmu
setinggi-tingginya. Nanti, setelah punya ilmu, kamu bisa kembali dan membangun
desa ini."
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi Arga. Di
bawah langit yang penuh bintang, di depan rumah bambu yang sederhana, diiringi
suara jangkrik yang tak henti, seorang ayah menanamkan mimpi besar pada
anaknya.
Mimpi yang mungkin terlalu besar untuk anak petani
sepertinya. Mimpi yang mungkin akan membuatnya melalui jalan yang panjang dan
berliku, penuh duri dan onak. Tapi mimpi itu sudah ditanam, dan tidak ada yang
bisa mencabutnya.
****
Suatu pagi, ketika Arga libur sekolah, ia memutuskan untuk
ikut ayahnya ke sawah. Bukan sekadar menemani, tapi benar-benar membantu. Ia
ingin merasakan bagaimana beratnya pekerjaan yang dilakukan ayahnya setiap
hari. Ia ingin membuktikan bahwa ia juga bisa bekerja keras.
Mereka berangkat pagi-pagi sekali. Matahari belum muncul,
udara masih dingin menusuk tulang. Kabut tipis masih menyelimuti sawah-sawah,
membuat segalanya tampak misterius dan magis. Di kejauhan, ayam jantan berkokok
bersahutan, seolah memberi semangat pada para petani yang akan memulai hari.
Di sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan Parto yang
sudah menggiring kerbaunya. Kerbau-kerbau itu berjalan lambat, sesekali
melenguh.
"Pagi, Wiryo." sapa Parto pendek.
"Pagi, Parto." balas Pak Wiryo.
Tidak ada percakapan lebih lanjut. Parto memang bukan tipe
orang yang banyak bicara. Ia lebih suka berdiam diri, menikmati hari bersama
kerbau-kerbaunya.
Sesampainya di sawah, Pak Wiryo mulai bekerja. Ia
mencangkul tanah dengan pelan tetapi pasti. Gerakannya terukur, tidak
terburu-buru. Cangkulnya membelah tanah, membalikkannya, lalu memecah
gumpalan-gumpalan besar menjadi lebih halus. Irama cangkulnya teratur: bunyi
cangkul masuk ke tanah, bunyi tanah terbalik, bunyi napas yang teratur.
Arga memperhatikan ayahnya. Melihat keringat yang mulai
membasahi punggung bapaknya, melihat otot-otot tangannya yang menegang setiap
kali mengayunkan cangkul. Ia kagum. Ayahnya sudah tua, tapi masih sekuat itu.
"Pak, kenapa Bapak selalu bekerja keras?" tanya Arga
tiba-tiba.
Pak Wiryo berhenti sejenak. Ia menyandarkan badannya pada
gagang cangkul, lalu menatap sawah di depannya yang terbentang luas. Sawah yang
mungkin sudah ribuan kali ia lalui, yang sudah ia kenal setiap sudutnya. Ia
seperti sedang berbicara dengan sawah itu sendiri.
"Karena hidup tidak akan memberi apa-apa kepada orang
yang malas, Le." Jawabnya pelan. "Lihat sawah ini. Kalau kita diam
saja, tidak pernah mencangkul, tidak pernah menanam, tidak pernah merawat, apa
yang akan terjadi?"
"Ya, tidak akan ada padi yang tumbuh. Pasti ditumbuhi
rumput."
"Betul. Tidak akan ada padi, tidak akan ada panen,
tidak akan ada beras untuk dimakan. Sama seperti hidup. Kalau kita diam saja,
tidak mau berusaha, tidak mau bekerja keras, maka kita tidak akan mendapatkan
apa-apa. Hidup akan berlalu begitu saja."
Pak Wiryo lalu berjalan ke arah Arga dan menepuk bahunya.
Tangannya yang kasar terasa hangat.
"Kalau kamu ingin berhasil, kamu harus bekerja lebih
keras daripada orang lain. Kamu harus rela berkorban, rela capek, rela
berkeringat. Tidak ada kesuksesan yang datang dengan sendirinya. Semua butuh
perjuangan. Lihat pohon besar itu." Ia menunjuk pohon beringin di
kejauhan. "Dulu cuma biji kecil. Tapi karena terus tumbuh, mencari makan,
melawan hama, akhirnya jadi besar."
Arga mengangguk, mencerna kata-kata ayahnya.
"Tapi kerja keras saja tidak cukup, Le." Lanjut
Pak Wiryo. "Harus pintar juga. Harus punya ilmu. Kerbau juga kerja keras,
tapi dia tetap kerbau. Manusia beda karena punya akal. Makanya Ayah selalu
bilang, belajarlah yang rajin. Karena dengan ilmu, kerja kerasmu akan lebih
berarti. Dengan ilmu, kamu bisa bekerja lebih efektif."
Mereka kemudian bekerja bersama. Arga membantu membersihkan
rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela padi. Awalnya ia semangat, tapi
lama-lama tangannya mulai lecet dan pegal. Punggungnya sakit karena terus
membungkuk. Ia ingin berhenti, tapi melihat ayahnya yang terus bekerja tanpa
mengeluh, ia malu untuk menyerah.
Setelah beberapa jam, Arga sudah sangat lelah. Tangannya
melepuh. Punggungnya seperti ditusuk-tusuk jarum. Ia duduk di pematang,
mengatur napas.
"Pak... capek sekali." Akhirnya ia mengaku.
Pak Wiryo tersenyum. Ia berhenti bekerja dan duduk di
samping Arga. "Itulah yang Ayah rasakan setiap hari, Le. Tapi Ayah sudah
terbiasa. Tubuh Ayah sudah kuat."
Mereka beristirahat sejenak sambil minum air yang dibawa
dari rumah. Air dalam botol bambu itu terasa sangat segar.
"Le, Ayah mau kasih tahu sesuatu." Kata Pak Wiryo
tiba-tiba.
"Iya, Pak?"
"Orang kota itu sering memandang rendah petani. Mereka
pikir petani itu pekerjaan rendahan, tidak penting. Tapi mereka lupa, semua
makanan yang mereka makan, berasal dari petani. Beras, sayur, buah, semua dari
kerja keras petani. Tanpa petani, mereka akan mati kelaparan."
Arga mendengarkan dengan saksama.
"Jadi, jangan pernah malu jadi anak petani. Itu bukan
aib. Justru itu kebanggaan. Kita bekerja keras, jujur, dan bermanfaat bagi
banyak orang. Kalau nanti kamu sukses, jangan pernah lupa itu."
Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke barat, mereka
pulang. Badan terasa letih, tapi hati puas. Di perjalanan pulang, mereka
melewati pematang sawah yang sempit. Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa
kesejukan yang menyegarkan setelah seharian bekerja di bawah terik matahari.
Padi-padi bergoyang lembut, seolah memberi hormat pada mereka.
"Le, Ayah mau pesan sesuatu." Kata Pak Wiryo
tiba-tiba.
"Iya, Pak?"
"Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah lupa dari
mana kamu berasal. Jangan pernah malu mengaku anak petani. Karena dari situlah
kamu belajar tentang kehidupan. Dari situlah kamu belajar arti kerja keras,
kejujuran, dan kesederhanaan."
Arga menatap ayahnya. Ada sesuatu dalam nada suara ayahnya
yang membuatnya merasa... haru. Seolah-olah ayahnya sedang menyampaikan pesan
terakhir. Dadanya terasa sesak.
"Ayah kenapa bicara seperti itu?"
Pak Wiryo tersenyum. "Tidak apa-apa. Ayah hanya ingin
kamu ingat. Ayah sudah tua. Kapan saja bisa dipanggil Yang Kuasa. Ayah ingin
kamu siap."
Mereka berjalan dalam diam sampai tiba di rumah. Bu Ratri
sudah menunggu dengan masakan sederhana yang mengepul asapnya. Aroma sayur asem
dan ikan goreng tercium dari dapur.
Malam itu mereka makan bersama dengan hangat. Tidak ada
yang tahu bahwa ini adalah salah satu malam terakhir mereka makan bersama
sebagai keluarga utuh. Tidak ada yang tahu bahwa takdir telah menyiapkan ujian
terbesar yang akan mengubah segalanya.
Arga tidur dengan perasaan damai malam itu. Ia tidak tahu
bahwa ketika ia bangun besok pagi, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Ia tidak tahu bahwa pelajaran dari ayahnya hari itu akan
menjadi warisan terakhir yang ia terima.
*****
Musim hujan datang lebih lama dari biasanya di Desa Sumber
Langit tahun itu. Langit hampir setiap hari tertutup awan kelabu yang tebal,
seperti kapas kotor yang membentang tak bertepi. Angin bertiup kencang membawa
udara dingin yang menusuk kulit, bahkan hingga ke tulang. Hujan turun hampir
setiap hari, kadang gerimis, kadang deras disertai petir yang menggelegar dan
kilat yang menyambar-nyambar.
Sawah-sawah yang dulu hijau kini terlihat seperti lautan
air yang keruh. Padi-padi yang hampir panen terendam, hanya menyisakan
ujung-ujungnya saja yang masih terlihat di atas permukaan air. Air berwarna
coklat karena tanah yang teraduk, membuat pemandangan semakin suram.
Petani-petani berdiri di pinggir sawah dengan wajah murung, tidak bisa berbuat
banyak menghadapi amukan alam.
Pak Wiryo berdiri di pinggir sawah miliknya sambil menatap
tanaman padi yang mulai menguning sebelum waktunya. Padahal seharusnya panen
masih dua minggu lagi. Tapi karena terlalu banyak air, akar-akarnya mulai
membusuk. Daun-daunnya menguning, lalu layu, kemudian mati.
Pak Karsono juga berdiri tidak jauh dari sana, memandangi
sawahnya yang bernasib sama. Sawahnya yang luas, yang biasanya menjadi
kebanggaan, kini hanya hamparan air dan padi yang sekarat.
"Wiryo, ini parah." Kata Pak Karsono dengan suara
berat. "Ini yang terparah dalam sepuluh tahun terakhir."
Pak Wiryo menghela napas panjang. Napas yang berat, seperti
membawa seluruh beban kehidupan di pundaknya. "Iya, Karsono. Ini ujian
berat buat kita semua."
Arga berdiri di samping ayahnya, ikut memandangi
pemandangan yang menyedihkan itu. Hujan gerimis turun, membuat mereka basah
kuyup. Tapi sepertinya tidak ada yang peduli. Mereka terlalu sibuk dengan
kesedihan masing-masing.
"Pak, kenapa padi kita seperti itu?" tanya Arga
dengan cemas. Ia sudah cukup besar untuk mengerti arti gagal panen bagi
keluarganya.
Pak Wiryo menatap anaknya. "Karena terlalu banyak air,
Le. Akarnya tidak kuat. Padinya busuk sebelum sempat dipanen. Lihat itu, airnya
sudah terlalu tinggi, menenggelamkan batang padi."
Beberapa petani lain juga berdiri di pematang sawah
masing-masing. Wajah mereka terlihat murung, lesu, tanpa semangat. Sebagian
mencoba menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan, memotong padi-padi yang masih
hijau untuk dijadikan pakan ternak. Sebagian lagi hanya diam, pasrah pada
keadaan.
Di kejauhan, Wakijan berdiri dengan cangkul di tangannya.
Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai buruh tani, ia bergantung pada upah
dari petani. Jika petani gagal panen, ia tidak akan mendapat pekerjaan.
"Kalau begini terus, panen kita gagal total."
Kata salah seorang petani dengan suara parau. "Hutang di toko pupuk belum
lunas, ini malah gagal panen. Gimana nasib keluarga saya?"
Petani lain menimpali, "Iya. Saya juga masih punya
utang untuk beli bibit. Pinjam di koperasi juga belum lunas. Gimana mau bayar
kalau begini jadinya?"
Pak Karsono menghela napas. Ia adalah petani terkaya di
desa, tapi sawahnya juga terendam. Kekayaannya tidak bisa menyelamatkan padinya
dari air.
"Kita harus lapor ke pemerintah." Katanya.
"Minta bantuan. Ini bencana."
Beberapa petani setuju. Tapi yang lain pesimis.
"Pemerintah? Laporan sudah sering, tapi bantuan jarang datang."
Pak Wiryo tidak menjawab. Ia hanya menatap hamparan sawah
yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarganya. Sawah yang diwariskan
turun-temurun dari kakeknya. Sawah yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan
hidup keluarganya. Kini tinggal genangan air dan padi-padi yang membusuk.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Hujan tidak
berhenti. Sebagian padi benar-benar membusuk sebelum sempat dipanen. Yang bisa
diselamatkan hanya sedikit, itu pun kualitasnya jelek, tidak laku dijual dengan
harga bagus.
Pendapatan keluarga Pak Wiryo hampir tidak ada. Uang
tabungan yang disimpan untuk biaya sekolah Arga mulai terkuras untuk kebutuhan
sehari-hari. Mereka harus berhemat lebih ketat dari biasanya.
Di rumah, Bu Ratri mulai menghitung uang yang tersisa. Ia
duduk di dekat lampu minyak, menghitung lembar demi lembar uang receh dengan
tangan gemetar. Cahaya lampu yang temaram membuat matanya harus bekerja ekstra
keras.
"Wiryo..." panggilnya pelan dengan suara hampir
berbisik, takut didengar Arga.
Pak Wiryo yang sedang berbaring karena kelelahan menoleh.
"Iya, Bu?"
"Uang kita tinggal sedikit." Kata Bu Ratri dengan
suara bergetar. "Mungkin hanya cukup untuk makan seminggu. Itu pun harus
diirit. Setelah itu, entah bagaimana."
Pak Wiryo hanya terdiam. Ia tahu apa artinya itu.
Kesulitan. Keterbatasan yang lebih parah dari sebelumnya. Musim kemarau panjang
tahun lalu, disusul musim hujan yang terlalu deras tahun ini. Nasib petani
memang selalu bergantung pada alam. Dan alam sedang tidak bersahabat.
"Bagaimana dengan sekolah Arga?" tanya Bu Ratri
lagi. "SPP-nya bulan depan harus dibayar. Belum lagi buku dan kebutuhan
lainnya."
Pak Wiryo memejamkan mata. "Kita lihat nanti, Bu.
Mungkin ada jalan."
Beberapa hari kemudian, untuk pertama kalinya dalam
hidupnya, Arga merasakan lapar yang sesungguhnya. Bukan lapar biasa setelah
bermain, tapi lapar karena perut kosong dan tidak ada makanan.
Di dapur, persediaan beras tinggal sedikit. Bu Ratri
terpaksa mencampur nasi dengan singkong agar lebih awet. Lauk hanya garam dan
sambal. Kadang hanya nasi dengan kuah air panas diberi garam. Itu pun porsinya
dikurangi.
Arga tidak mengeluh. Ia melihat sendiri bagaimana orang
tuanya berjuang. Ibunya bahkan sering tidak makan, mengaku sudah kenyang,
padahal sebenarnya hanya menyisakan makanan untuknya.
Suatu malam, Arga terbangun karena haus. Saat berjalan ke
dapur untuk mengambil air, ia melihat ibunya duduk sendirian di ruang tamu,
menangis dalam diam. Air matanya jatuh membasahi pipi yang mulai kurus.
Tubuhnya gemetar menahan isak tangis.
Arga ingin menghampiri, ingin memeluk ibunya. Tapi ia tahu
ibunya pasti malu jika tahu ia menangis dilihat anaknya. Maka ia diam-diam
kembali ke kamar, berbaring, dan menangis dalam hati.
Malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri: suatu hari
nanti, ia akan membuat ibunya tidak perlu menangis lagi karena kekurangan.
Suatu hari nanti, ia akan membuat keluarganya hidup berkecukupan. Tidak perlu
kaya raya, cukup bisa makan tiga kali sehari tanpa khawatir.
****
Beberapa minggu kemudian, kehidupan keluarga Arga mulai
terasa lebih berat. Kondisi ekonomi semakin parah. Pak Wiryo terpaksa menjual
kambing satu-satunya untuk membeli beras dan membayar hutang di warung Bu
Lastri. Kambing itu adalah tabungan mereka, yang rencananya akan dijual jika
Arga mau melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Tapi kebutuhan mendesak
tidak bisa ditunda.
Bu Ratri harus bekerja lebih keras. Selain berjualan sayur,
ia juga menerima cucian dari tetangga. Setiap malam ia mencuci baju orang
sampai larut, tangannya mulai kasar karena terus-menerus terkena sabun. Kadang
ia juga menerima jahitan, meskipun hasilnya tidak seberapa.
Arga masih tetap bersekolah. Tapi kadang perutnya
keroncongan di kelas, membuatnya sulit berkonsentrasi. Kepalanya sering pusing,
badannya lemas. Ia harus menahan kantuk dan lapar saat pelajaran berlangsung.
Beberapa kali ia hampir pingsan di kelas.
Suatu pagi Arga bersiap pergi ke sekolah seperti biasa. Ia
memasukkan buku ke dalam tasnya yang semakin lusuh. Beberapa buku sudah mulai
robek, tapi masih ia perbaiki dengan lakban seadanya. Pensilnya sudah hampir
habis, hanya tinggal sependek jari kelingking. Penghapusnya sudah aus dan
hampir tidak bisa menghapus.
Bu Ratri memanggilnya dari dapur. "Arga, makan
dulu."
Arga datang ke dapur. Di atas meja hanya ada sepiring nasi
dan sedikit sayur. Nasi itu tidak banyak, mungkin hanya setengah porsi untuk
ukuran anak seusianya. Sayurnya hanya bayam rebus tanpa lauk.
Arga memandang ibunya. "Ibu sudah makan?"
Bu Ratri tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan, senyum
yang menyembunyikan lapar dan lelah. "Ibu nanti saja. Ibu belum terlalu
lapar. Ibu mau beres-beres dulu."
Arga tahu ibunya berbohong. Ia tahu ibunya selalu
mengorbankan diri untuknya. Ia tahu ibunya akan mengatakan sudah kenyang
meskipun sebenarnya belum makan seharian.
Arga mengambil sedikit nasi, hanya beberapa sendok. "Arga
tidak terlalu lapar, Bu. Ini saja cukup. Arga mau cepat berangkat, takut
terlambat."
Bu Ratri menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu
Arga juga berbohong. Anaknya itu pasti lapar, tapi ia sengaja makan sedikit
agar ibunya bisa makan lebih banyak.
Tak ada yang berkata apa-apa. Mereka hanya saling memandang
dengan perasaan yang sama: cinta dan pengorbanan. Dalam diam, mereka saling
memahami.
Arga berjalan menuju sekolah seperti biasa. Ia mengayuh
sepeda ontelnya dengan perlahan, menghemat tenaga. Di tengah perjalanan, ia
bertemu Bima yang juga sedang dalam perjalanan ke sekolah dengan sepeda
bututnya.
"Ga, kamu sudah sarapan?" tanya Bima.
Arga mengangguk. "Udah, lah. Masa belum."
Namun sebenarnya perutnya masih kosong. Hanya beberapa
sendok nasi yang ia makan pagi itu, itu pun sudah dua jam yang lalu. Perutnya
mulai keroncongan, tapi ia berusaha mengabaikannya.
Di sekolah, pelajaran pertama adalah matematika. Guru
matematika mereka, Pak Suryanto, adalah guru yang tegas dan disiplin. Ia tidak
suka murid yang mengantuk atau tidak memperhatikan. Murid-murid agak takut
padanya.
Arga berusaha tetap fokus pada pelajaran. Ia mencatat,
memperhatikan rumus-rumus yang dijelaskan di papan tulis. Tapi rasa lapar
membuat kepalanya terasa ringan, pandangannya kadang berkunang-kunang. Tulisan
di papan tulis seolah berputar-putar.
"Arga, coba kerjakan soal nomor tiga." panggil
Pak Suryanto tiba-tiba.
Arga berdiri, berjalan menuju papan tulis. Ia mengambil
kapur, tapi tangannya gemetar. Soal di papan tulis seperti berputar-putar di
depannya. Angka-angka bercampur aduk, tidak bisa ia baca dengan jelas.
Tiba-tiba pandangannya gelap. Ia merasakan dunia berputar
cepat, lalu ia tidak tahu apa-apa lagi.
"Arga! Arga!" Suara-suara terdengar jauh, seperti
dari dalam sumur.
Ketika Arga membuka mata, ia sudah berada di ruang UKS.
Tempat tidur kayu sederhana dengan bantal keras yang berbau apek. Pak Darma
duduk di sampingnya, wajahnya tampak khawatir. Di belakangnya, Bu Narti juga
terlihat cemas.
"Arga, kamu sadar?" tanya Pak Darma lega.
Arga mencoba duduk. Kepalanya masih pusing, seperti ada
yang berputar di dalamnya. "Saya... saya kenapa, Pak?"
"Kamu pingsan di kelas. Kata teman-temanmu, kamu jatuh
waktu mengerjakan soal di papan tulis. Kamu jatuh dan tidak sadarkan
diri."
Arga mengingat kejadian itu samar-samar. Ya, ia ingat
tiba-tiba gelap, lalu tidak tahu apa-apa lagi. Sekarang ia di sini, di ruang
UKS yang pengap.
"Arga, jujur pada Bapak. Kamu sudah makan?" tanya
Pak Darma dengan suara lembut tapi tegas.
Arga terdiam. Beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan,
tidak berani menatap mata gurunya.
Pak Darma menghela napas. Ia mengerti. Kemiskinan,
kelaparan, perjuangan hidup. Itu semua bukan hal asing baginya di desa ini. Ia
sudah puluhan tahun mengajar di sini, sudah melihat banyak murid yang mengalami
hal serupa.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan bekal makanan yang
dibawanya dari rumah. Sepiring nasi dengan lauk sederhana: telur dadar dan
sambal, tapi masih hangat. Aromanya menggugah selera.
"Ini, makan dulu."
Arga menolak. "Tapi itu makanan Bapak... Bapak nanti
makan apa?"
Pak Darma tersenyum. "Bapak masih bisa makan nanti.
Bapak punya lebih. Kamu yang lebih membutuhkan sekarang. Makanlah, biar cepat
pulih. Kamu harus sehat untuk belajar."
Arga menerima makanan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia
makan perlahan, menahan air mata yang ingin tumpah. Bukan karena lapar, tapi
karena tersentuh dengan kebaikan gurunya. Setiap suap terasa begitu berarti.
"Terima kasih, Pak." Ucapnya lirih.
"Tidak usah berterima kasih, Arga. Bapak hanya melakukan
kewajiban. Tapi kamu harus janji sama Bapak."
"Janji apa, Pak?"
"Janji bahwa kamu akan tetap semangat. Jangan biarkan
keadaan membuatmu putus asa. Teruslah berjuang. Ini baru awal, masih panjang
perjalananmu."
Arga mengangguk mantap. "Saya janji, Pak. Saya tidak
akan menyerah."
Bu Narti yang sejak tadi diam, ikut berkata. "Arga,
kalau kamu butuh apa-apa, bilang sama Ibu. Ibu juga bisa bantu."
Hari itu ia belajar satu hal penting: bahwa kebaikan bisa
datang dari siapa saja. Bahwa di tengah kesulitan, selalu ada tangan-tangan
yang siap menolong. Bahwa ia tidak sendiri dalam perjuangan ini. Ada
orang-orang baik di sekelilingnya.
****
Beberapa bulan kemudian, masalah baru muncul. Biaya sekolah
Arga di SMP mulai terasa semakin berat bagi keluarganya. Setiap bulan harus
membayar SPP, membeli buku, membeli seragam, membeli alat tulis, membayar uang
gedung, dan berbagai keperluan lainnya. Semua itu membutuhkan uang yang tidak
sedikit.
Pak Wiryo sudah tidak bisa bekerja keras seperti dulu.
Kesehatannya mulai menurun drastis. Batuk-batuk yang dulu hanya kadang-kadang,
kini menjadi lebih sering dan lebih parah. Badannya semakin kurus, tenaganya
semakin berkurang. Wajahnya pucat, matanya cekung.
Dokter di puskesmas bilang ia terkena infeksi paru-paru
karena terlalu lama bekerja di sawah dalam kondisi hujan. Tapi obat-obatan
mahal, dan mereka tidak punya uang. Pak Wiryo hanya minum obat tradisional
seadanya.
Suatu malam, ketika Arga sedang belajar di kamarnya yang
sempit dengan lampu minyak temaram, ia tidak sengaja mendengar percakapan orang
tuanya di dapur. Dinding bambu yang tipis membuat suara dari dapur terdengar
jelas.
"Bagaimana kita membayar kebutuhan sekolah Arga?"
tanya Bu Ratri dengan suara cemas. "SPP bulan depan sudah harus dibayar.
Dia juga butuh sepatu baru, yang lama sudah bolong. Bukunya juga banyak yang
harus dibeli. Kata gurunya, ada buku paket baru yang harus dibeli."
Pak Wiryo terdiam lama. Suara batuknya terdengar, batuk
kering yang panjang. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya berat, penuh beban.
"Saya tidak tahu, Bu. Hasil panen kemarin hanya cukup
buat bayar utang di warung Bu Lastri dan koperasi. Kambing sudah habis terjual.
Apa lagi yang bisa kita jual? Kita tidak punya apa-apa lagi."
"Mungkin kita bisa pinjam ke tetangga? Ke Pak Karsono?
Beliau kan baik."
"Siapa yang mau pinjami kita? Kita sudah punya utang
di mana-mana. Warung Bu Lastri, toko Pak Karjo, koperasi desa, bahkan ke sanak
saudara juga sudah. Pak Karsono mungkin mau, tapi saya malu. Sudah sering
dibantu."
Keheningan yang panjang. Hanya suara jangkrik dari luar
yang terdengar. Lalu suara Pak Wiryo lagi, pelan tapi terdengar jelas, seperti
palu yang menghantam jantung Arga.
"Kalau keadaan tidak membaik... mungkin Arga harus
berhenti sekolah sementara."
Jantung Arga seperti berhenti berdetak mendengar kata-kata
itu.
Berhenti sekolah?
Itu adalah hal yang paling ia takutkan. Sekolah adalah
satu-satunya harapannya. Satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan.
Satu-satunya cara untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Jika ia harus berhenti, lalu
bagaimana dengan semua impian itu? Bagaimana dengan janjinya pada ayahnya?
Bagaimana dengan cita-citanya membangun desa?
Ia mendengar ibunya menangis tersedu-sedu. Tangis yang
ditahan, tapi tetap terdara jelas di malam yang sunyi.
"Tidak, Wiryo. Jangan. Jangan lakukan itu. Arga anak
yang pintar. Dia punya masa depan. Jangan sampai kita yang merusak masa
depannya hanya karena tidak punya uang. Nanti kita menyesal seumur hidup."
"Lalu bagaimana, Bu? Saya juga tidak tega. Tapi apa
daya kita? Perut harus diisi. Hidup harus jalan. Kalau terus begini, kita semua
bisa mati kelaparan. Arga juga tidak akan bisa sekolah karena kita semua sakit
atau mati."
Percakapan itu berakhir dengan tangis. Tangis keputusasaan.
Tangis ketidakberdayaan. Tangis dua orang tua yang tidak sanggup memberi yang
terbaik untuk anaknya.
Arga tidak bisa tidur malam itu. Ia hanya terbaring di
dipan bambunya, menatap langit-langit gelap, memikirkan masa depannya yang
tiba-tiba terasa suram. Air mata mengalir tanpa suara. Tangisnya diam-diam,
tidak ingin didengar orang tuanya.
Ia berdoa dalam hati. "Ya Allah, tolonglah hamba.
Berilah jalan keluar. Jangan biarkan hamba berhenti sekolah. Hamba ingin
membahagiakan orang tua. Hamba ingin membangun desa ini."
Keesokan harinya, Arga tetap pergi ke sekolah. Namun
pikirannya penuh kegelisahan. Di kelas, ia tidak bisa konsentrasi. Kata-kata
guru seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Nilainya mulai menurun,
tapi ia tidak bisa berbuat banyak.
Setelah pelajaran selesai, ia duduk sendirian di bangku kelas
yang sudah kosong. Kelas itu sunyi. Hanya ada suara jangkrik dari luar dan
gemerisik daun tertiup angin sore. Sinar matahari sore masuk melalui jendela,
membuat debu-debu kecil terlihat menari-nari di udara.
Pak Darma, yang kebetulan masih ada di sekolah, melihat
Arga duduk sendiri di kelas. Ia masuk dan duduk di bangku di depannya, seperti
dulu ketika Arga masih kecil.
"Kamu kelihatan murung hari ini. Ada masalah?"
tanyanya lembut.
Arga terdiam. Ia ragu untuk bercerita. Tapi melihat wajah
ramah Pak Darma yang sudah seperti bapaknya sendiri, ia akhirnya berkata pelan.
"Pak... mungkin saya harus berhenti sekolah."
Pak Darma terkejut. Meskipun ia sudah menduga ada masalah,
tapi mendengar langsung dari mulut Arga tetap saja mengejutkan. Alisnya
terangkat tinggi.
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Orang tua saya tidak punya uang. SPP belum dibayar.
Bapak saya sakit-sakitan, tidak bisa bekerja. Sawah gagal panen. Mungkin saya
harus bekerja membantu orang tua, cari uang."
Pak Darma memandang Arga dengan serius. Matanya yang bijak
menatap dalam-dalam anak di depannya. Ia bisa melihat keputusasaan di mata itu,
tapi juga secercah harapan yang masih tersisa.
"Dengarkan Bapak, Arga."
Arga menatap gurunya.
"Kamu tidak boleh menyerah hanya karena keadaan sulit.
Hidup ini memang penuh ujian. Orang yang berhasil adalah mereka yang bisa
bertahan di tengah badai. Mereka yang tidak mudah menyerah. Mereka yang terus
berjuang meskipun semua terlihat mustahil."
"Tapi bagaimana caranya, Pak? Saya tidak mau membebani
orang tua. Mereka sudah susah."
"Biarkan Bapak yang memikirkan caranya." Pak
Darma berdiri, berjalan ke jendela. Ia memandang keluar, ke arah lapangan
sekolah yang mulai sepi. "Ada beberapa program bantuan untuk siswa
berprestasi dari pemerintah. Beasiswa untuk anak tidak mampu. Bapak akan coba
daftarkan kamu. Tapi kamu harus janji tidak akan menyerah dulu."
Arga mengangguk. "Saya janji, Pak."
"Bagus. Sekarang pulanglah. Istirahat yang cukup.
Jangan terlalu banyak berpikir. Serahkan semuanya pada Tuhan. Tuhan tidak akan
menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya."
Arga pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang. Tapi di
dalam hatinya, kekhawatiran masih bersemayam. Ia tahu perjuangan belum selesai.
Bahkan mungkin baru dimulai.
****
Beberapa hari kemudian, seperti yang dijanjikan, Pak Darma
datang ke rumah Arga. Ia datang dengan sepeda tuanya yang sudah berkarat di
sana-sini, mengenakan kemeja lusuh yang biasa ia pakai sehari-hari. Di
tangannya, ia membawa sebuah tas usang berisi dokumen-dokumen.
Pak Wiryo yang sedang terbaring karena sakit, mencoba
bangkit menyambut tamu. Wajahnya pucat, napasnya tersengal. Ia agak canggung
menerima guru di rumahnya yang sangat sederhana.
"Maaf, Pak Guru. Maaf, rumah kami sangat sederhana.
Tidak pantas untuk menerima tamu." Katanya dengan suara lemah,
terbata-bata.
Pak Darma tersenyum. Ia duduk di dipan bambu yang
ditawarkan Bu Ratri, tidak canggung sama sekali. "Tidak apa-apa, Pak
Wiryo. Rumah Bapak bersih dan rapi. Saya datang bukan untuk melihat rumah. Saya
datang untuk bicara tentang Arga."
Bu Ratri yang sejak tadi cemas, segera mendekat. "Ada
apa dengan Arga, Pak Guru? Apa dia bermasalah di sekolah? Apa nilainya jelek?
Jangan-jangan dia nakal?"
"Tidak, tidak. Justru sebaliknya." Pak Darma
tersenyum meyakinkan. "Arga adalah murid yang pintar dan rajin. Nilainya
selalu bagus, masuk tiga besar di kelasnya. Saya datang untuk membicarakan masa
depannya. Ini tentang kabar baik."
Pak Darma lalu menjelaskan bahwa ada program bantuan
pendidikan dari pemerintah untuk siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Program itu mencakup beasiswa SPP, bantuan buku, dan uang saku setiap bulan.
"Arga memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa ini.
Nilainya bagus, perilakunya baik, dan keluarganya memang kurang mampu secara
ekonomi. Saya sudah mengajukan berkasnya. Dan kabar baiknya, dia
diterima." Jelas Pak Darma.
Pak Wiryo menatap Arga dengan mata berbinar. Wajahnya yang
pucat karena sakit terlihat berseri-seri, seolah penyakitnya berkurang separuh.
"Apakah benar begitu, Le?"
Arga hanya menunduk malu. Tapi dalam hatinya, ia bersyukur
Pak Darma datang. Rasanya seperti ada beban berat yang terangkat dari
pundaknya.
Pak Darma melanjutkan, "Jika Arga mendapatkan bantuan
ini, ia bisa melanjutkan sekolah tanpa membebani orang tua. Bahkan nanti kalau
nilainya terus bagus, bisa lanjut sampai SMA bahkan kuliah. Saya yakin Arga
mampu."
Bu Ratri menutup mulutnya, menahan tangis haru. Air matanya
jatuh membasahi pipi yang kurus. "Terima kasih, Pak Guru. Terima kasih
banyak." Katanya berulang-ulang sambil menangis.
Pak Darma mengangguk. "Sama-sama, Bu. Tugas saya
memang membantu murid-murid. Apalagi yang punya semangat seperti Arga. Ini
investasi untuk masa depan desa kita."
Setelah Pak Darma pulang, suasana rumah berubah. Ada
kehangatan baru. Ada harapan yang mulai tumbuh lagi. Arga melihat ibunya
tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ia melihat ayahnya yang
meskipun sakit, matanya berbinar-binar seperti ada cahaya baru.
"Le, kamu harus belajar lebih giat lagi." Kata
Pak Wiryo. "Ini kesempatan besar. Jangan sia-siakan. Tuhan sudah memberi
jalan."
"Iya, Pak. Arga akan berusaha. Arga tidak akan
mengecewakan Bapak, Ibu, dan Pak Darma."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu,
keluarga kecil itu makan malam dengan perasaan lebih tenang. Bukan karena
makanan lebih banyak, tapi karena ada harapan di hati. Harapan bahwa masa depan
masih bisa diperjuangkan. Harapan bahwa di tengah kesulitan, selalu ada
pertolongan. Harapan bahwa mimpi-mimpi itu tidak harus mati.
****
Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Beberapa minggu setelah Pak Darma datang dengan kabar gembira itu, kondisi Pak
Wiryo semakin memburuk.
Penyakit yang dulu hanya batuk-batuk biasa, ternyata
berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Pak Wiryo semakin kurus, semakin lemah.
Ia tidak lagi bisa bangun dari tempat tidur. Hanya terbaring di dipan bambu,
kadang batuk-batuk hebat hingga mengeluarkan darah. Wajahnya semakin pucat,
nyaris seperti kertas.
Bu Ratri membawanya ke puskesmas kecamatan. Dokter
memeriksa dengan saksama, lalu menghela napas panjang. Wajahnya serius.
"Maaf, Bu. Bapak menderita TBC yang sudah parah.
Infeksinya sudah menyebar. Harus segera dirawat di rumah sakit." Kata
dokter.
"Tapi... tapi kami tidak punya biaya, Dok." Bu
Ratri hampir menangis.
Dokter menghela napas lagi. "Saya bisa bantu dengan
obat generik, tapi untuk perawatan intensif, memang butuh biaya. Coba hubungi
keluarga, minta bantuan. Ini darurat."
Bu Ratri pulang dengan hati hancur. Obat-obatan mahal, dan
mereka tidak punya uang. Tabungan sudah habis. Hutang di mana-mana.
Arga duduk di samping tempat tidur ayahnya setiap hari. Ia
memegang tangan ayahnya yang semakin kurus, yang dulu begitu kuat menggenggam
cangkul, kini hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Tangannya dingin, lemah.
"Pak, Bapak harus cepat sembuh." Katanya dengan
suara bergetar. "Arga belum siap kalau Bapak... Arga belum bisa
apa-apa."
Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Air mata mengalir
deras membasahi pipi.
Pak Wiryo tersenyum lemah. Tangannya yang lemah meraih
tangan Arga, menggenggamnya sekuat tenaga. Genggaman yang lemah, tapi penuh
cinta.
"Hidup ini seperti musim, Nak." Katanya lirih,
suaranya hampir tidak terdengar. "Ada masa baik, ada masa sulit. Ada masa
tanam, ada masa panen. Ada masa sehat, ada masa sakit. Semua harus dijalani
dengan ikhlas. Jangan melawan takdir, tapi jalani dengan sabar."
Arga mengangguk, meskipun hatinya hancur berkeping-keping.
"Tapi ingat pesan Ayah." Lanjut Pak Wiryo.
"Jangan pernah berhenti berjuang. Jangan pernah berhenti sekolah. Itu
satu-satunya warisan yang bisa Ayah berikan padamu. Bukan harta, bukan tanah,
tapi mimpi dan semangat."
"Iya, Pak. Arga ingat. Arga akan terus sekolah. Arga
akan raih mimpi."
Beberapa hari kemudian, kondisi Pak Wiryo semakin memburuk.
Ia tidak bisa bangun sama sekali. Napasnya tersengal-sengal, kadang seperti
akan berhenti. Kadang ia bicara tidak jelas, seolah berada di antara sadar dan
tidak sadar. Demamnya naik turun.
Suatu malam, di tengah kesunyian yang hanya dipecahkan
suara jangkrik, ia memanggil Arga mendekat. Cahaya lampu minyak yang temaram
membuat ruangan terasa begitu sunyi dan sakral. Bayangan-bayangan menari di
dinding bambu.
"Arga... mendekatlah."
Arga mendekat, menggenggam tangan ayahnya yang dingin. Ia
bisa merasakan hidup perlahan meninggalkan tubuh ayahnya. Air matanya tidak
bisa ia tahan lagi.
"Jangan pernah berhenti sekolah." Kata Pak Wiryo
pelan, terbata-bata. "Sekolah setinggi-tingginya. Raih mimpimu. Jadilah
orang yang berguna."
"Arga janji, Pak."
"Dan jangan lupakan desa ini." Lanjut Pak Wiryo.
"Desa ini tanah kelahiranmu. Di sini kamu lahir, di sini kamu dibesarkan.
Suatu hari nanti, kalau kamu sudah sukses, ingatlah untuk kembali dan
membangunnya. Jangan seperti anak-anak muda lain yang lupa pada kampung
halaman."
Arga menangis tersedu-sedu. "Arga janji, Pak. Arga
tidak akan lupa. Arga akan kembali."
Pak Wiryo tersenyum. Senyum terakhir yang akan selalu
terkenang dalam hati Arga. Senyum yang penuh cinta, penuh harapan, penuh pesan.
Lalu ia menutup matanya untuk terakhir kalinya.
"Pak? Pak!" teriak Arga histeris. Tangannya
mengguncang-guncang tubuh ayahnya yang mulai dingin. "Pak, jangan
tinggalkan Arga! Pak! Jangan pergi! Arga belum siap! Arga masih butuh
Bapak!"
Bu Ratri yang mendengar teriakan itu berlari masuk. Ia
melihat suaminya telah tiada. Tubuhnya ambruk di samping suaminya, menangis
sejadi-jadinya. Tangisnya memecah kesunyian malam.
"Wiryo... Wiryo... jangan tinggalkan aku..."
isaknya.
Arga memeluk ibunya. Mereka berdua menangis bersama di
samping jenazah Pak Wiryo. Malam itu menjadi malam terkelam dalam hidup mereka.
Pagi harinya, kabar kematian Pak Wiryo menyebar cepat ke
seluruh desa. Warga berdatangan ke rumah duka, membawa takziah, membantu
memandikan dan mengkafani jenazah. Mbah Joyo memimpin doa. Pak Karsono datang
dengan beras dan lauk pauk. Bu Lastri membawa gula dan kopi. Wakijan membantu
menggali kubur.
Arga berdiri di samping jenazah ayahnya, tidak bisa
berkata-kata. Matanya bengkak, merah. Ia hanya diam, memandangi wajah ayahnya
yang terlihat tenang, seolah hanya tidur.
Pak Darma datang dan memeluknya. "Sabar, Arga. Ikhlas.
Almarhus sudah tenang di sisi-Nya."
"Iya, Pak." jawab Arga lirih.
Pemakaman berlangsung sederhana. Langit mendung, seolah
ikut berduka. Tidak hujan, tapi suram. Warga desa berjalan beriringan menuju
pemakaman umum di pinggir desa.
Arga berdiri di samping makam ayahnya, melihat tanah merah
menutup liang lahat. Tanah itu jatuh satu per satu, menimbun jasad orang yang
paling ia cintai. Di dalam hatinya, ia berkata pelan,
"Pak... Arga akan menepati janji Arga. Arga akan
sekolah setinggi-tingginya. Arga akan meraih mimpi-mimpi kita. Dan suatu hari
nanti, Arga akan kembali untuk membangun desa ini. Doakan Arga dari sana,
Pak."
Bu Ratri berdiri di sampingnya, tubuhnya lemas, disangga
oleh Bu Lastri dan Bu Narti.
"Kamu harus kuat, Nak." Katanya lembut.
Arga mengangguk. Ia mengusap air matanya dengan lengan
baju.
"Ibu, Arga janji. Arga tidak akan mengecewakan Ayah.
Arga akan membuat Ayah bangga dari atas sana."
Angin sore bertiup pelan, seolah membawa pesan dari alam
lain. Daun-daun kering beterbangan, jatuh di sekitar makam baru itu.
Hari itu Arga memahami satu hal: hidup tidak selalu memberi
jalan yang mudah. Kadang ia memberi ujian yang begitu berat, begitu
menyakitkan, hingga rasanya ingin menyerah saja. Tapi justru dari kesulitan
itulah manusia belajar menjadi kuat. Justru dari air mata itulah manusia
belajar tentang arti perjuangan.
Di bawah langit desa yang mulai gelap, seorang anak petani
berdiri dengan tekad baru. Ia tidak lagi hanya memiliki mimpi. Kini ia juga
memiliki alasan yang lebih kuat untuk berjuang: janji pada ayahnya, cinta pada
ibunya, dan tanggung jawab pada desanya.
Dan perjalanan panjangnya untuk menantang takdir baru saja
dimulai.
Enam bulan telah berlalu sejak kepergian Pak Wiryo. Hidup
berjalan pahit bagi keluarga kecil itu, namun waktu terus bergulir tanpa pernah
menunggu kesedihan usai. Arga menyelesaikan SMP-nya dengan nilai
****
gemilang, menjadi lulusan terbaik di sekolahnya. Ijazah itu
ia letakkan di samping makam ayahnya, sebagai bukti bahwa ia menepati janji.
Namun kini ia menghadapi persoalan baru: masa depan setelah
SMP. Di desanya tidak ada SMA. Satu-satunya SMA negeri berada di kota
kabupaten, berjarak hampir seratus kilometer dari Desa Sumber Langit. Jika
ingin melanjutkan, ia harus merantau.
Malam itu, Arga duduk di beranda rumah bersama ibunya.
Lampu minyak temaram menerangi wajah mereka yang letih. Bulan bersinar terang
di langit, tapi tidak cukup terang untuk menerangi masa depan yang gelap.
"Bu, Arga sudah memikirkan matang-matang." Buka
Arga pelan.
Bu Ratri menatap anaknya. "Memikirkan apa, Le?"
"Sekolah. Arga harus melanjutkan SMA."
Bu Ratri menghela napas. Ia tahu ini akan datang. Anaknya
yang pintar pasti ingin sekolah setinggi-tingginya. Tapi bagaimana dengan
biaya? Bagaimana dengan hidup mereka?
"Tapi, Le... kita tidak punya uang. Ibu cuma jualan
sayur, penghasilan pas-pasan. Sawah ayahmu sekarang digarap pamanmu, hasilnya
hanya cukup untuk kita makan."
Arga memegang tangan ibunya. Tangan yang kasar karena kerja
keras, tapi hangat dengan cinta.
"Arga sudah berpikir, Bu. Arga akan merantau. Sekolah
sambil bekerja. Banyak cerita orang sukses yang merantau dan bekerja sambil
sekolah. Arga yakin bisa."
Bu Ratri terkejut. "Merantau? Sendirian? Ke kota? Kamu
masih lima belas tahun, Le."
"Tahun depan Arga enam belas, Bu. Cukup umur untuk
bekerja. Teman-teman Arga banyak yang sudah merantau. Bima sudah di Jakarta,
Joko di Surabaya. Mereka kerja jadi kuli bangunan, jadi buruh pabrik. Arga juga
bisa."
"Ibu tidak tega, Le. Kamu anak manis, anak pintar. Ibu
takut kamu kenapa-napa di sana."
Arga tersenyum. "Arga akan jaga diri, Bu. Arga janji.
Ini demi masa depan Arga. Demi pesan Ayah."
Nama ayahnya seperti palu yang menghantam hati Bu Ratri. Ia
ingat pesan suaminya: jangan halangi anak sekolah. Ia ingat bagaimana suaminya
selalu bangga pada Arga.
"Ibu tidak bisa melarangmu, Le." Akhirnya Bu
Ratri berkata lirih. "Tapi Ibu cemas."
"Arga akan sering kirim kabar, Bu. Nanti kalau sudah
punya uang, Arga kirim buat Ibu."
Bu Ratri menangis. Tangis haru, tangis cemas, tangis
bangga. Anaknya, anak semata wayangnya, akan pergi merantau. Ia hanya bisa
mendoakan.
Malam itu, mereka berdua berdiskusi panjang. Arga
memaparkan rencananya dengan matang. Ia sudah mencari informasi tentang SMA di
kota, tentang kemungkinan bekerja sambil sekolah, tentang tempat tinggal yang
murah. Ia tidak asal nekat.
Keesokan harinya, Arga menemui Pak Darma. Guru tua itu
sedang duduk di beranda rumahnya, membaca koran bekas. Melihat Arga datang, ia
tersenyum.
"Arga, ada perlu apa pagi-pagi?"
Arga duduk di kursi kayu di samping Pak Darma. "Pak,
saya mau minta pendapat Bapak."
"Iya, tentang apa?"
"Saya mau merantau. Mau sekolah SMA sambil bekerja di
kota."
Pak Darma menghela napas. Ia sudah menduga ini akan
terjadi. Anak sepintar Arga tidak mungkin berhenti di SMP. Tapi ia juga tahu
beratnya hidup di kota.
"Kamu sudah pikirkan matang-matang?"
"Sudah, Pak. Saya sudah cari informasi. Ada SMA negeri
di kota yang menerima siswa dari luar daerah. Saya juga sudah cari info tentang
kerja. Banyak lowongan untuk anak SMA, jadi pelayan toko, jadi cuci piring di
warung, apa saja."
Pak Darma mengangguk-angguk. "Kamu anak tangguh, Arga.
Bapak tahu itu. Tapi hidup di kota keras. Kamu akan sendirian, tidak ada
keluarga, tidak ada teman. Siap?"
Arga mengangguk mantap. "Siap, Pak. Saya tidak
takut."
Pak Darma tersenyum bangga. "Bagus. Bapak punya
kenalan di kota. Namanya Pak Rahmat, dosen di universitas negeri. Beliau punya
kontrakan murah untuk mahasiswa. Mungkin kamu bisa tinggal di sana."
Mata Arga berbinar. "Benarkah, Pak?"
"Iya. Nanti Bapak kasih alamatnya. Kamu juga bisa
minta bantuan beliau kalau ada masalah."
Arga memegang tangan Pak Darma. "Terima kasih, Pak.
Terima kasih banyak. Saya tidak tahu harus membalas apa."
Pak Darma tertawa. "Balas dengan jadi orang sukses.
Itu hadiah terbaik buat Bapak."
Kabar kepergian Arga menyebar cepat di desa. Berbagai
reaksi muncul.
Di warung Bu Lastri, Juminten mulai bergosip seperti biasa.
"Katanya Arga mau merantau. Anaknya baru gede, udah berani pergi ninggalin
ibu."
Bu Lastri membela. "Dia mau sekolah, Juminten. Jangan
asal ngomong."
"Sekolah? Bilang aja mau cari kerja. Anak orang misik
ya gitu, ujung-ujungnya jadi kuli."
Mbah Joyo yang sedang duduk di pojok, mengetuk-ngetukkan
tongkatnya. "Juminten, tutup mulutmu. Arga anak baik. Dia mau sekolah
tinggi, bukan jadi kuli. Jangan fitnah."
Juminten cemberut, tapi diam.
Di rumah Pak Karsono, percakapan berbeda terjadi. Pak
Karsono memanggil Ratmi, putrinya.
"Mi, kamu dengar Arga mau merantau?"
Ratmi mengangguk. "Iya, Pak. Sedih ya."
"Kamu harusnya mencontoh dia. Rajin belajar, punya
mimpi. Jangan seperti anak-anak sekarang, main HP terus."
Ratmi tersenyum. "Ratmi tahu, Pak. Ratmi juga mau
sekolah tinggi."
"Bagus. Nanti kalau Arga sudah di kota, kamu bisa
minta info sekolah darinya. Kalian kan sebaya."
Ratmi tersipu. Ia diam-diam mengagumi Arga. Tapi tidak
pernah berani mengungkapkan.
Di rumah Tukiman, suasana berbeda. Tukiman, adik Pak Wiryo,
sedang berbincang dengan istrinya, Darsih.
"Wiryo, keponakanmu mau merantau." kata Darsih
sinis.
Tukiman menghela napas. "Iya. Dia mau sekolah."
"Sekolah? Sudah lupa kali sama ibunya. Ditinggal
sendiri. Nanti sawahnya kita yang ngurus."
Tukiman diam. Ia tahu istrinya iri pada Arga. Anaknya
sendiri, Gito, malas sekolah dan suka nongkrong.
Gito yang sedang duduk di sudut ruangan, main game di HP,
hanya mendengus. "Biarin aja, Pa. Mau ke kota? Sana. Nanti juga pulang
kalau susah di sana."
"Mana kayak kamu, di rumah terus." hardik
Tukiman.
Gito tidak peduli. Ia lanjut main game.
****
Pagi itu langit Desa Sumber Langit terlihat cerah, tidak
seperti hari-hari sebelumnya. Matahari bersinar hangat, seolah memberi restu
pada perjalanan yang akan ditempuh. Burung-burung berkicau riang di
pohon-pohon, menambah semarak suasana.
Tapi hati Arga terasa berat.
Di depan rumah bambu yang telah menjadi saksi bisu masa
kecilnya, Arga berdiri dengan tas besar di punggungnya. Tas itu berisi beberapa
pakaian, buku-buku kesayangan pemberian Pak Darma, foto ayahnya dalam bingkai
kayu sederhana, dan segenggam tanah dari halaman rumah yang ia bawa sebagai
kenangan. Ia juga membawa bekal makanan dari ibunya: nasi bungkus dan beberapa
gorengan.
Bu Ratri berdiri di depan pintu rumah sambil menahan air
mata. Rambutnya yang semakin memutih tertiup angin pagi. Wajahnya yang mulai
keriput menunjukkan perjuangan dan kesedihan yang tak terucap. Tubuhnya yang
kurus terlihat rapuh di balik kain sarungnya.
"Apakah kamu harus pergi sejauh itu, Nak?"
tanyanya dengan suara lirih, hampir berbisik.
Arga menggenggam tangan ibunya. Tangan yang telah
membesarkannya. Tangan yang telah bekerja keras sepanjang hidup. Tangan yang
kini mulai keriput dan lemah, namun tetap hangat.
"Arga harus belajar lebih banyak, Bu. Arga harus
sekolah yang tinggi, seperti pesan Ayah. Kalau Arga tetap di sini, Arga tidak
akan bisa mengubah apa-apa. Arga akan jadi seperti anak muda lain, putus
sekolah, kerja serabutan, atau merantau jadi kuli."
Bu Ratri mengangguk pelan, meskipun hatinya terasa berat.
Ia tahu anaknya benar. Ia tahu anaknya harus pergi. Tapi sebagai ibu, melepas
anak pergi jauh adalah salah satu hal tersulit di dunia. Rasanya seperti ada
yang tercabut dari hatinya.
"Jaga diri baik-baik, Nak." Pesannya dengan suara
bergetar. "Makan yang teratur. Jangan lupa ibadah. Jangan mudah putus asa.
Dan ingat, Ibu selalu mendoakanmu setiap malam. Dimana pun kamu berada, doa Ibu
akan selalu menyertaimu."
Arga memeluk ibunya erat-erat. Tubuh ibunya yang kurus
terasa begitu rapuh dalam pelukannya. Ia bisa merasakan tulang-tulang di
punggung ibunya. Ia mencium aroma khas ibunya, campuran minyak kayu putih dan
asap dapur.
"Ibu juga jaga kesehatan. Jangan terlalu berat
bekerja. Arga akan kirim uang setiap bulan, meskipun sedikit. Nanti kalau sudah
punya uang banyak, Arga jemput Ibu ke kota."
Bu Ratri tersenyum haru. "Jangan khawatirkan Ibu. Ibu
sudah biasa hidup susah. Yang penting kamu sukses di sana. Ibu cuma bisa bangga
punya anak sepertimu."
Bus kecil yang akan membawa Arga ke kota sudah menunggu di
ujung jalan desa, di dekat warung Bu Lastri. Sopirnya, Pak Karwo, sudah menekan
klakson beberapa kali. Beberapa warga desa ikut mengantar kepergiannya.
Ada Pak Darma yang tersenyum bangga meskipun matanya
berkaca-kaca. Ada Bima (yang kebetulan pulang kampung) yang memeluknya erat.
Ada Joko yang diam-diam mengusap air mata. Ada Ratmi yang melambai dari
kejauhan, tidak berani mendekat.
Pak Karsono datang membawa amplop. "Ini, Nak. Sedikit
bekal dari saya. Gunakan untuk ongkos atau beli buku."
Arga menolak. "Pak, tidak usah. Saya sudah
merepotkan."
"Ambil. Anggap saja sedekah. Kamu anak baik, saya
yakin kamu akan sukses."
Arga menerima amplop itu dengan haru. Ia membungkukkan
badan, memberi hormat pada semua yang hadir.
"Terima kasih, semuanya. Terima kasih atas kebaikan
selama ini. Doakan saya ya."
Mbah Joyo, yang ikut hadir meskipun jalannya lambat,
meletakkan tangan di kepala Arga. "Le, muga-muga slamat nggon perjalanan.
Dadio wong sukses, bali nggo mbangun desa iki." (Nak, semoga selamat di
perjalanan. Jadilah orang sukses, pulang untuk membangun desa ini.)
"Iya, Mbah. Doakan Arga."
Bus mulai bergerak. Arga melambai dari jendela. Ia melihat
ibunya yang masih berdiri di depan rumah, melambai dengan sapu tangan putih. Ia
melihat Pak Darma yang mengusap mata. Ia melihat teman-teman yang melambai
riuh. Ia melihat desanya perlahan menjauh.
Air mata mengalir di pipinya. Tapi di dalam hatinya ia
berjanji:
"Aku akan kembali. Dan suatu hari nanti, desa ini akan
berubah."
Beberapa jam kemudian, bus memasuki kota.
Pemandangan berubah drastis. Gedung-gedung tinggi berdiri di
mana-mana, menjulang seolah ingin menyentuh langit. Jalan raya dipenuhi
kendaraan yang bergerak tanpa henti, saling bersahutan klakson. Lampu-lampu
lalu lintas berwarna-warni. Orang-orang berjalan dengan cepat, seolah selalu
dikejar waktu. Papan reklame besar-besar menghiasi sisi jalan. Toko-toko modern
dengan etalase gemerlap berjejer.
Arga menatap semua itu dengan kagum sekaligus bingung.
Selama lima belas tahun hidup di desa, ia tidak pernah melihat pemandangan
seperti ini. Semua terasa asing. Semua terasa baru. Bahkan udaranya berbeda:
panas, pengap, dan berbau asap.
"Jadi... inilah dunia di luar desa," gumamnya
pelan.
Bus berhenti di terminal. Arga turun dengan tas besar di
punggungnya. Ia berdiri di tengah hiruk-pikuk terminal, bingung harus ke mana.
Orang-orang berlalu-lalang tanpa peduli. Sopir angkutan kota berteriak-teriak
menawarkan jasa. Pedagang asongan menawarkan dagangan. Calo-calo tiket berebut
penumpang.
"Mas, mau ke mana? Saya antar!" teriak seorang
sopir angkot.
"Mas, titip barang, Mas!" teriak calo lain.
Arga merasa pusing. Ia mencoba mengingat-ingat alamat yang
diberikan Pak Darma. Dari kertas usang di sakunya, ia membaca: "Jl.
Kenanga No. 45, Kampung Baru, Kecamatan...".
"Um... saya mau ke daerah Kampung Baru." jawab
Arga pada sopir angkot yang paling ramah wajahnya.
"Naik, Mas. Saya lewat sana. Rp 5.000 saja."
Arga naik ke angkutan kota yang penuh sesak. Ia duduk di
pojok, memeluk tasnya erat-erat seperti memeluk harta karun. Di sekelilingnya,
orang-orang sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada yang main HP, ada yang
tidur, ada yang membaca koran, ada yang melamun. Semua terasa asing dan dingin.
Angkot berjalan lambat di tengah kemacetan. Arga melihat
pemandangan kota dari jendela. Gedung-gedung tinggi, mal-mal besar, restoran
cepat saji, lampu-lampu warna-warni. Semua terasa seperti dunia lain.
Ketika sampai di Kampung Baru, Arga turun. Ia mencari-cari
alamat yang diberikan. Jalanan sempit, padat penduduk. Rumah-rumah berdesakan,
tidak seperti di desa yang luas dengan halaman dan sawah. Bau selokan bercampur
bau masakan dari rumah-rumah penduduk.
Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya ia menemukan rumah
kos sederhana. Sebuah rumah petak berlantai dua dengan beberapa kamar kecil.
Catnya kusam, pagarnya berkarat. Di depannya ada warung kecil.
Pemiliknya, seorang ibu paruh baya bernama Bu Lastri
(panggil saja Bu Lastri kos, beda dengan Bu Lastri di desa), menyambutnya
dengan ramah. Beliau gemuk, ramah, dengan senyum lebar.
"Kamu Arga? Dari desa Sumber Langit, titipan Pak
Darma?"
"Iya, Bu."
"Silakan masuk. Kamarnya sudah siap. Kecil, tapi
mudah-mudahan betah. Pak Darma sudah telepon saya kemarin. Bilang kamu anak
baik."
Kamar itu memang kecil. Hanya cukup untuk satu tempat tidur
tipis, satu meja belajar kecil dari kayu lapis, dan lemari pakaian mini yang
pintunya miring. Jendelanya menghadap ke tembok tetangga, sehingga tidak banyak
cahaya masuk. Di sudut kamar, ada kipas angin kecil yang sudah berdebu.
Tapi bagi Arga, itu sudah cukup. Bahkan mewah dibanding
rumahnya di desa.
"Murah, Bu?" tanyanya hati-hati, sambil
menghitung uang di sakunya.
Bu Lastri tersenyum. "Dua ratus ribu sebulan, sudah
termasuk listrik dan air. Tapi kalau kamu anak baik dan rajin, bisa saya
kurangin sedikit. Pak Darma bilang kamu mau sekolah sambil kerja. Saya bisa carikan
kerja, kenal banyak orang."
Arga menghela napas lega. Uang bekal dari ibunya, tabungan
hasil membantu tetangga, dan amplop dari Pak Karsono, cukup untuk beberapa
bulan ke depan. Ia akan mencari kerja secepatnya.
Malam harinya, untuk pertama kalinya Arga merasakan
kesunyian yang berbeda. Di desa, malam diiringi suara jangkrik, suara kodok,
dan sesekali suara burung hantu. Di sini, malam diiringi suara kendaraan, suara
tetangga yang menonton TV, suara musik dari warung-warung, suara orang
mengobrol, dan suara anjing menggonggong.
Ia duduk di tepi tempat tidur, membuka foto ayahnya yang
selalu ia bawa. Air mata mengalir lagi. Kerinduan yang amat sangat.
"Pak... Arga sudah sampai di kota. Arga akan berusaha
sekuat tenaga. Doakan Arga."
Kota terasa sangat besar dan asing. Tapi di tempat asing
itulah perjalanan hidupnya akan benar-benar dimulai.
****
Hari-hari pertama di kota tidak mudah bagi Arga. Segalanya
baru. Segalanya asing. Ia harus belajar beradaptasi dengan cepat.
Setelah mendaftar di sebuah SMA negeri yang cukup terkenal
dengan bantuan Pak Rahmat (kenalan Pak Darma), Arga mulai menjalani rutinitas
barunya. Pagi hingga siang ia sekolah. Sore hingga malam ia harus mencari
pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Hari pertama mencari kerja, Arga berkeliling kompleks
pertokoan tidak jauh dari kosnya. Ia memasuki satu per satu toko, menawarkan
diri.
"Maaf, Pak, ada lowongan kerja?" tanyanya di
sebuah toko kelontong.
Pemilik toko, seorang pria paruh baya berkumis,
memandangnya dari atas ke bawah. "Kamu dari mana? Umur berapa?"
"Saya dari desa, Pak. Enam belas tahun. Butuh kerja
sambil sekolah."
Pemilik toko menggeleng. "Maaf, belum ada. Lagian kamu
masih kecil, sekolah dulu aja."
Arga tidak menyerah. Ia coba toko lain, lalu toko lain
lagi. Jawabannya hampir sama. Ada yang menolak halus, ada yang kasar. Beberapa
pemilik toko bahkan tidak mau mendengar, langsung mengusir.
Setelah lima toko, Arga mulai putus asa. Ia duduk di
pinggir jalan, memandangi lalu lintas yang padat. Debu beterbangan, asap
kendaraan memenuhi hidungnya.
"Mungkin aku tidak akan dapat kerja." gumamnya
sedih.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya menghampirinya. Pria itu
memakai celemek, rambutnya agak gondrong, wajahnya ramah.
"Mas, lagi cari kerja?" tanyanya.
Arga menoleh. "Iya, Pak."
Pria itu tersenyum. "Saya punya warung makan tidak
jauh dari sini. Butuh pelayan. Tapi gajinya kecil. Kamu mau?"
Mata Arga berbinar. "Mau, Pak! Saya mau!"
Pria itu adalah Pak Hasan, pemilik warung makan "Sedap
Rasa". Warungnya sederhana, hanya beberapa meja dan kursi plastik, tapi
cukup ramai pembeli. Menu andalannya adalah nasi goreng, mie goreng, dan
berbagai lauk sederhana.
"Gajinya 500 ribu sebulan. Kerja dari jam 4 sore
sampai jam 10 malam. Kadang lebih kalau lagi ramai. Kamu dapat makan gratis
sekali sehari. Mau?"
Arga menghitung cepat. 500 ribu cukup untuk bayar kos dan
sedikit kebutuhan lain. Ia bisa hemat.
"Mau, Pak. Saya mau."
"Kamu sekolah?" tanya Pak Hasan lagi.
"Iya, Pak. SMA. Pagi sampai siang."
"Berarti bisa. Kerja sore sampai malam. Tapi kamu
harus kuat. Capek sekolah terus kerja."
"Arga sudah biasa capek, Pak. Di desa, Arga biasa
bantu orang tua di sawah."
Pak Hasan mengangguk puas. "Bagus. Besok mulai ya. Jam
4 sore sudah di sini."
Hari itu Arga pulang dengan perasaan senang. Akhirnya ia
mendapat pekerjaan. Ia tidak akan kelaparan di kota.
Hari pertama bekerja, Arga hampir pingsan karena kelelahan.
Sepulang sekolah ia langsung ke warung, bekerja hingga pukul sepuluh malam
tanpa istirahat. Kakinya pegal, tangannya lecet karena terkena sabun cuci piring.
Ia harus mencuci piring kotor bertumpuk-tumpuk, mengelap meja, melayani
pembeli, mengantar pesanan.
Pak Hasan yang memperhatikan keadaannya, memanggil Arga di
sela-sela kesibukan.
"Kamu, sini sebentar."
Arga mendekat, agak takut. Apa ia melakukan kesalahan?
"Ada apa, Pak?"
Pak Hasan menuangkan segelas teh manis dan menyodorkannya
pada Arga. "Minum dulu. Istirahat sebentar. Muka kamu pucat."
Arga menerima teh itu ragu-ragu. "Tapi pekerjaan masih
banyak, Pak. Piring masih numpuk."
"Sudah, tidak apa-apa. Nanti bisa dikerjakan. Kamu
kelihatan capek sekali. Kerja jangan memaksakan diri. Istirahat itu
penting."
Arga duduk di kursi belakang warung, meminum teh manis
hangat itu. Rasanya luar biasa. Mungkin karena ia sangat lelah, atau mungkin
karena kebaikan Pak Hasan, teh itu terasa lebih manis dari biasanya. Hangatnya
menjalar ke seluruh tubuh.
"Kamu sekolah sambil kerja?" tanya Pak Hasan
sambil duduk di sampingnya.
Arga mengangguk. "Iya, Pak. Orang tua saya tidak mampu
di desa. Saya harus biaya sendiri. Bapak saya sudah meninggal. Ibu saya jualan
sayur."
Pak Hasan mengangguk-angguk. Wajahnya berubah iba.
"Saya tahu perasaan itu. Dulu saya juga begitu. Merantau dari kampung,
sekolah sambil kerja. Capek? Pasti. Tapi percayalah, semua ini akan terbayar
suatu hari nanti. Yang penting jangan putus asa."
"Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah mau menerima
saya."
"Pokoknya kalau ada apa-apa, bilang sama saya. Jangan
sungkan. Kita sama-sama perantau di sini. Saya dari Jawa Timur, kamu dari Jawa
Tengah. Sama-sama jauh dari kampung."
Sejak hari itu, hubungan Arga dan Pak Hasan semakin akrab.
Pak Hasan sering memberinya makanan ekstra, atau mengizinkannya pulang lebih
awal jika ada ujian. Kebaikan-kebaikan kecil yang sangat berarti bagi Arga.
Kadang Pak Hasan juga memberi nasihat tentang hidup di kota, tentang cara
menghemat uang, tentang bergaul dengan orang yang tepat.
Namun hidup di kota tidak selalu baik. Ada kalanya Arga
menghadapi kesulitan yang membuatnya hampir menyerah.
****
Suatu malam, setelah bekerja lembur karena warung sedang
ramai, Arga pulang ke kos dengan badan letih. Jam sudah menunjukkan pukul
setengah dua belas malam. Jalanan mulai sepi, hanya sesekali ada kendaraan
lewat. Lampu jalan temaram, menimbulkan bayangan-bayangan menyeramkan.
Arga berjalan cepat, ingin segera sampai di kos dan tidur.
Ketika sampai di kamar, ia mendapati pintu kamarnya terbuka. Jantungnya
berdegup kencang. Ia ingat pagi tadi ia mengunci pintu. Pasti ada yang masuk.
Ia masuk dengan hati-hati dan melihat kamarnya berantakan.
Semua barangnya diacak-acak. Baju-baju berhamburan di lantai. Kasurnya
terbalik. Lemari terbuka dengan pintu miring.
Maling!
Arga memeriksa barang-barangnya. Uang tabungan yang ia
simpan di bawah kasur, raib. Tabungan satu bulan bekerja, sekitar 400 ribu
(setelah dipotong untuk bayar kos dan kebutuhan lain), lenyap begitu saja.
Beberapa pakaian yang masih lumayan, hilang. Hanya buku-buku dan foto ayahnya
yang masih ada, mungkin karena tidak berharga bagi pencuri.
Arga duduk lemas di lantai. Uang itu adalah tabungannya
selama satu bulan bekerja. Uang untuk membayar SPP bulan depan, untuk membeli
buku, dan untuk cadangan hidup. Kini semuanya lenyap dalam sekejap.
Ia ingin menangis, tapi air mata sepertinya sudah kering.
Ia hanya duduk terpaku, memandangi kekacauan di kamarnya. Pikirannya kosong.
Tubuhnya lemas.
Ketika Bu Lastri, pemilik kos, tahu kejadian itu, ia segera
datang dengan wajah cemas.
"Ya ampun, Arga! Maafkan Ibu, Ibu tidak tahu ada
maling masuk. Kamu tidak apa-apa? Lukai tidak?"
Arga menggeleng lemas. "Saya tidak apa-apa, Bu. Tapi
uang tabungan saya... habis. Semua."
Bu Lastri menghela napas panjang. "Ibu turut berduka.
Tapi kamu harus tetap semangat, Nak. Jangan sampai kejadian ini membuatmu putus
asa. Masih ada rejeki lain."
"Iya, Bu." jawab Arga lirih.
Malam itu Arga tidur tanpa selimut dan bantal, karena semua
sudah dicuri. Ia hanya memeluk foto ayahnya, berusaha mencari kekuatan.
Tubuhnya menggigil kedinginan karena hanya beralas kasur tipis tanpa selimut.
Keesokan harinya, ia masuk sekolah dengan mata sembab.
Teman-temannya bertanya, tapi ia hanya diam. Di kelas, ia tidak bisa
konsentrasi. Pikirannya melayang pada uang yang hilang, pada SPP yang harus
dibayar, pada masa depan yang tiba-tiba terasa suram lagi.
Sepulang sekolah, ia ke warung Pak Hasan dengan langkah
gontai. Pak Hasan yang melihat wajahnya langsung curiga.
"Arga, kamu kenapa? Kok muka lesu?"
Arga bercerita tentang kejadian maling itu dengan suara
bergetar. Pak Hasan mendengarkan dengan saksama, wajahnya berubah serius.
"Sabar, Arga. Itu cobaan." Katanya setelah Arga
selesai bercerita. "Tapi kamu jangan putus asa."
Pak Hasan lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar
uang lima ratus ribu. "Ini, untuk kamu."
Arga terkejut. "Pak, tidak usah. Saya tidak bisa
menerima... ini terlalu banyak."
"Ambil saja. Anggap pinjaman. Nanti kamu bisa bayar
dengan potong gaji sedikit-sedikit. Lima puluh ribu per bulan. Atau kamu bantu
saya kerja lebih keras."
Arga menatap uang itu, lalu menatap Pak Hasan. Matanya
berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus berkata apa. Bapak
sudah seperti ayah saya sendiri di sini."
"Tidak usah berkata apa-apa. Yang penting kamu tetap
semangat sekolah. Jangan menyerah. Ingat, orang sukses adalah mereka yang
bangkit setiap kali jatuh."
Kejadian itu membuat Arga belajar satu hal: di tengah
kerasnya hidup di kota, masih ada orang-orang baik yang rela membantu. Ia tidak
sendiri. Ia punya orang-orang yang peduli. Ia harus lebih berhati-hati ke
depannya.
Sejak hari itu, Arga menabung uangnya di bank, tidak lagi
menyimpan di kamar. Ia juga membeli gembok baru yang lebih kuat. Pengalaman
pahit itu menjadi pelajaran berharga.
****
Malam di kota terasa berbeda dengan malam di desa. Di desa,
malam gelap dan sunyi, hanya diiringi suara jangkrik dan sesekali suara burung
hantu. Udara dingin menusuk, tapi damai. Di kota, malam terang benderang oleh
lampu-lampu jalan dan neon-neon toko yang gemerlap. Suara kendaraan tidak
pernah benar-benar berhenti, bahkan hingga larut malam. Musik dari kafe-kafe
dan warung-warung sayup-sayup terdengar.
Namun bagi Arga, di tengah keramaian kota itu, ia justru
merasa lebih sepi.
Suatu malam minggu, ketika tidak ada pekerjaan di warung,
ia duduk sendirian di atap rumah kos. Atap itu adalah tempat favoritnya untuk
melarikan diri dari hiruk-pikuk kota. Dari sana ia bisa melihat langit malam
yang tidak lagi penuh bintang karena polusi cahaya. Hanya bulan dan beberapa
bintang paling terang yang masih bisa dilihat. Sisanya, langit kelabu oleh
cahaya kota.
Ia menatap langit itu, merindukan langit desanya yang penuh
bintang. Merindukan suara jangkrik dan kodok. Merindukan rumah bambunya.
Merindukan ibunya. Merindukan masakan ibunya. Merindukan suara ayahnya meskipun
sudah tiada.
Temannya sekamar, seorang mahasiswa bernama Doni, datang
menghampiri. Doni adalah anak kota yang kuliah di universitas ternama. Ia cukup
baik pada Arga, meskipun kadang ada jarak karena perbedaan latar belakang.
Kamar mereka berdua, berbagi tempat sempit.
"Kamu sering sendirian di sini." Kata Doni sambil
duduk di samping Arga. "Aku perhatikan, hampir tiap malam minggu kamu di
sini."
Arga tersenyum tipis. "Aku sedang memikirkan rumah.
Kangen."
"Rindu desa?"
Arga mengangguk. "Di desa, malam terasa damai.
Udaranya sejuk. Langitnya penuh bintang. Suara jangkrik di mana-mana. Di
sini... semuanya ramai, tapi anehnya aku merasa lebih sepi. Sepi di tengah
keramaian."
Doni mengangguk mengerti. "Itu biasa bagi perantau,
apalagi yang baru pertama kali jauh dari rumah. Aku juga dulu begitu, waktu
pertama kali kuliah di sini. Tapi lama-lama terbiasa. Nanti juga kamu
terbiasa."
"Kamu juga perantau?"
"Iya. Orang tuaku di Sumatra. Jauh juga. Aku ke sini
kuliah ambil teknik. Sudah tiga tahun, jadi sudah agak terbiasa. Tapi kadang
masih kangen juga."
Mereka diam sejenak, menikmati angin malam yang berhembus.
Angin di atap terasa lebih kencang, membawa sedikit kesejukan di tengah
panasnya kota.
"Kamu anak desa, ya?" tanya Doni kemudian.
Arga mengangguk. "Iya. Dari desa kecil yang mungkin
tidak pernah kamu dengar namanya. Sumber Langit. Di kaki gunung, jauh dari
kota."
"Terus kenapa kamu ke kota? Mau sekolah?"
"Kuliah nanti. Sekarang masih SMA dulu. Tapi iya, saya
ke sini untuk sekolah. Di desa saya, sekolah cuma sampai SD. Kalau mau lanjut,
harus ke kota. SMP saja saya harus ke kecamatan, naik sepeda 15 kilometer."
Doni mengangguk-angguk kagum. "Berat ya. Sekolah
sambil kerja. Aku saja yang full dari orang tua kadang malas."
"Alhamdulillah masih bisa bertahan. Tadi malah baru
kemalingan, uang habis. Tapi untung ada Pak Hasan yang bantu."
"Wah, parah. Tapi kamu kuat ya. Aku kagum."
Arga tersenyum malu. Mereka berbincang cukup lama malam
itu. Doni banyak bercerita tentang pengalamannya sebagai perantau, tentang suka
duka hidup di kota, tentang bagaimana ia bertahan dan berhasil sampai semester
akhir. Cerita-cerita itu memberi semangat baru bagi Arga.
"Pokoknya kamu harus kuat." Kata Doni di akhir
perbincangan. "Kota ini keras. Banyak godaan. Banyak orang jahat. Tapi
kalau kamu punya tujuan yang jelas, kamu akan selamat. Ingat terus kenapa kamu
di sini."
"Tujuan apa?"
"Mimpi. Cita-cita. Alasan kenapa kamu di sini. Itu
yang akan menuntunmu ketika kamu mulai tersesat. Itu yang akan membuatmu
bertahan ketika semua terasa sulit."
Arga merenungkan kata-kata itu. Mimpinya. Cita-citanya.
Alasan ia berada di kota yang asing ini.
Ia ingat ayahnya. Ia ingat pesan-pesannya. Ia ingat desanya
yang tertinggal. Ia ingat janjinya untuk kembali dan membangun desa.
Itulah tujuannya. Itulah yang akan menuntunnya.
"Terima kasih, Doni." Katanya tulus.
"Sama-sama. Sekarang turunlah. Sudah malam, besok kamu
sekolah. Aku juga ada kuliah pagi."
Mereka turun dari atap. Malam itu Arga tidur dengan
perasaan sedikit lebih tenang. Kesepian masih ada, kerinduan masih terasa. Tapi
ia tahu, ia tidak sendiri. Ada teman-teman baik di sekitarnya. Ada orang-orang
yang peduli.
****
Di sekolah, Arga mulai mendapat teman-teman baru. Awalnya
ia pendiam dan pemalu. Suaranya yang medok dan pakaiannya yang sederhana
membuatnya kurang percaya diri. Tapi perlahan, ia mulai membuka diri.
Teman pertamanya adalah Rudi, anak kota biasa yang ramah
dan suka membantu. Rudi duduk sebangku dengannya. Hari pertama, Rudi menyapa.
"Hai, lo anak baru ya? Namanya siapa?"
"Arga." jawabnya pendek.
"Arga? Nama keren. Dari mana?"
"Sumber Langit. Desa."
Rudi mengangguk. "Oh, desa. Jauh ya. Tinggal di
kos?"
"Iya."
"Gue Rudi. Salam kenal."
Sejak itu, mereka mulai akrab. Rudi sering membantu Arga
jika kesulitan dengan pelajaran. Ia juga mengajak Arga bergaul dengan
teman-teman lain.
Teman lain adalah Siska, anak perempuan populer di kelas.
Awalnya Siska cuek pada Arga, menganggapnya anak desa biasa. Tapi setelah
melihat Arga pintar dan rajin, ia mulai respek.
"Arga, lo pinter banget ya." Kata Siska suatu
hari. "Nilai matematika lo selalu tinggi."
"Biasa aja." jawab Arga malu.
"Jangan rendah diri. Lo pinter, gue nilai."
Siska kemudian sering meminta tolong Arga untuk
mengajarinya matematika. Arga tidak pernah menolak. Ia senang bisa membantu.
Ada juga Hendra, anak terkaya di kelas. Hendra sering pamer
barang-barang mahal: sepatu branded, jam tangan mahal, HP terbaru. Ia awalnya
memandang rendah Arga.
"Lo anak desa ya?" tanyanya suatu hari dengan
nada meremehkan. "Bajunya lusuh, sepatunya bolong."
Arga tersenyum sabar. "Iya, aku anak desa."
Hendra tertawa kecil. Tapi lama-lama ia mulai respect
setelah melihat Arga tidak pernah malu, selalu tersenyum, dan pintar di kelas.
Suatu hari, Hendra meminjamkan buku catatannya pada Arga yang bukunya rusak.
"Pinjem aja. Nanti balikin." katanya singkat.
Arga menerima dengan senang. Sejak itu, hubungan mereka
membaik.
Di warung Pak Hasan, Arga juga punya teman-teman baru. Ada
Mas Budi, juru masak di warung, yang suka bercanda dan memberi nasihat. Ada
Mbak Yuni, pelayan lain, yang baik hati dan sering berbagi makanan.
"Ga, lo kuat nggak sih sekolah sambil kerja?"
tanya Mas Budi suatu hari.
"Alhamdulillah kuat, Mas. Udah biasa." jawab
Arga.
"Lo hebat. Gue jaman dulu nggak sanggup. Putus
sekolah."
"Arga nggak mau putus sekolah, Mas. Itu pesan
Bapak."
Mas Budi mengangguk. "Bagus. Terus sekolah. Jangan
kayak gue, nyesel sekarang."
Mbak Yuni juga sering memberi semangat. "Dik Arga,
adek itu anak baik. Rajin, sopan. Pasti sukses nanti."
"Terima kasih, Mbak."
****
Hidup di kota bagaikan naik turunnya ombak. Kadang di atas,
kadang di bawah. Setelah kejadian kemalingan, Arga mulai bangkit perlahan. Ia
bekerja lebih keras, menabung lebih rajin, dan lebih berhati-hati.
Namun ujian kembali datang.
Suatu hari, Arga menerima kabar buruk. Ia gagal dalam ujian
akhir semester. Nilai matematikanya jeblok, di bawah standar kelulusan. Hasil
itu membuatnya sangat terpukul.
Di kamar kos yang sempit, ia duduk diam sambil menatap
kertas hasil ujian yang dibagikan gurunya. Angka merah besar tertera di sana:
45. Nilai terendah sepanjang sejarah sekolahnya. Kertas itu seolah menari-nari
di depannya.
Doni yang baru pulang kuliah melihat Arga murung.
"Kenapa, Ga? Kok lesu? Muka lo pucat."
Arga menunjukkan kertas itu tanpa berkata apa-apa.
Doni melihatnya, lalu menghela napas panjang. "Ya
ampun, Ga. Ini parah. 45? Lo yang biasanya 80-90, kok bisa?"
Arga menggeleng lemas. "Nggak tahu. Mungkin karena
kecapekan. Atau... mungkin aku memang bodoh."
"Jangan bilang gitu. Satu kegagalan bukan akhir
segalanya. Masih ada ujian perbaikan, kan?"
Arga tidak menjawab. Pikirannya kacau.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Arga merasa benar-benar
putus asa. Nilai jelek itu seperti pukulan terakhir setelah sekian lama ia
berjuang. Ia merasa semua usahanya sia-sia. Ia merasa tidak akan pernah bisa
bersaing dengan anak-anak kota yang lebih pintar, lebih kaya, lebih segalanya.
Ia duduk di atap kos, menatap langit yang suram. Hatinya
berkecamuk.
"Mungkin aku memang tidak cukup baik." gumamnya
pelan. "Mungkin mimpiku terlalu besar untuk anak desa sepertiku."
Ia teringat ayahnya. "Pak... maafkan Arga. Arga
mungkin mengecewakan Bapak."
Ia teringat ibunya di desa. "Bu... maaf, anakmu
mungkin gagal."
Ia teringat Pak Darma. "Pak... maaf, saya tidak bisa
memenuhi harapan Bapak."
Malam itu ia hampir memutuskan untuk pulang ke desa. Ia
berpikir bahwa mungkin takdirnya memang hanya menjadi petani seperti ayahnya.
Mungkin ia tidak ditakdirkan untuk sekolah tinggi. Mungkin mimpinya terlalu
besar untuk anak desa sepertinya.
Ia membuka lemari, mengeluarkan tasnya, mulai memasukkan
pakaian-pakaiannya. Ia akan pulang besok pagi. Menyerah. Kembali ke desa.
Membantu ibunya di sawah. Melupakan semua mimpi besarnya.
Namun sebelum tidur, ia membuka kembali buku catatan lama
yang selalu ia bawa dari desa. Buku usang dengan sampul lusuh, pemberian Pak
Darma. Di halaman pertama, ada kalimat yang ditulis tangan:
"Jangan pernah berhenti berjuang. Kegagalan bukan
akhir, tapi awal dari perjuangan yang lebih keras. Ingat, anak petani bisa
meraih mimpi."
Itu tulisan Pak Darma. Diberikan ketika Arga pamit pergi
merantau.
Arga membaca kalimat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh
membasahi halaman buku. Ia menutup buku itu perlahan.
Ia ingat ayahnya. Ia ingat pesan-pesannya. Ia ingat ibunya
yang menunggu di desa. Ia ingat Pak Darma yang begitu percaya padanya. Ia ingat
semua orang yang telah membantunya. Ia ingat Pak Hasan yang meminjaminya uang.
Ia ingat Doni yang memberi semangat. Ia ingat Rudi, Siska, dan teman-teman
lain.
Apakah ia akan mengecewakan mereka semua hanya karena satu
kegagalan?
Tidak. Ia tidak bisa.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan kembali pakaian-pakaian
yang sudah dimasukkan. Ia akan tetap di sini. Ia akan berjuang lebih keras. Ia
akan membuktikan bahwa anak petani dari desa kecil bisa berhasil.
Kekuatan baru muncul di dalam hatinya. Bukan kekuatan yang
arogan, tapi kekuatan yang tenang dan mantap. Kekuatan yang lahir dari
kesadaran bahwa menyerah bukan pilihan.
Malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan
pernah menyerah lagi. Apapun yang terjadi, ia akan terus berjuang.
****
Beberapa hari setelah kegagalannya, Arga dipanggil oleh Pak
Rahmat, guru matematika sekaligus wali kelasnya. Pak Rahmat adalah dosen yang
juga mengajar di SMA (program kerjasama). Beliau yang dulu dikenalkan Pak
Darma. Arga masuk ke ruang guru dengan perasaan cemas. Apa lagi yang salah?
Apakah ia akan dikeluarkan?
"Silakan duduk, Arga." Kata Pak Rahmat ramah
sambil menunjuk kursi di depannya.
Arga duduk di kursi di depan meja Pak Rahmat. Ia menunduk,
tidak berani menatap gurunya. Tangan nya gemetar di atas paha.
"Saya melihat nilai kamu menurun drastis." Kata
Pak Rahmat membuka percakapan. "Dari 85, 90, tiba-tiba 45. Ada apa?"
Arga menunduk lebih dalam. "Saya minta maaf, Pak. Saya
janji akan belajar lebih giat. Saya akan ikut ujian perbaikan."
Pak Rahmat tidak langsung menjawab. Ia memandang Arga
dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu ia berkata, "Saya tahu kamu
bekerja sambil sekolah."
Arga terkejut. Ia mendongak. "Bagaimana Bapak
tahu?"
Pak Rahmat tersenyum. "Saya memperhatikan murid-murid
saya. Terutama yang nilainya tiba-tiba turun drastis. Biasanya ada masalah.
Saya cari tahu, dan ternyata kamu bekerja setiap sore sampai malam di warung
makan. Saya juga tanya pada Pak Darma, beliau cerita."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Saya juga tahu kamu tinggal di kos sempit, jauh dari
keluarga, dan mengirim uang untuk ibumu di desa." Lanjut Pak Rahmat.
"Saya tahu kamu korban kemalingan beberapa waktu lalu. Saya tahu kamu
berjuang sendirian di sini."
Air mata Arga mulai menggenang. Bukan karena sedih, tapi
karena tersentuh. Selama ini ia merasa berjuang sendiri. Ia merasa tidak ada
yang peduli dengan perjuangannya. Tapi ternyata ada yang memperhatikan. Ada
yang peduli.
"Orang yang berasal dari kesulitan biasanya memiliki
ketahanan yang lebih kuat." Kata Pak Rahmat. "Mereka lebih tangguh,
lebih pekerja keras, lebih tahu arti perjuangan. Kamu punya potensi itu, Arga.
Jangan sia-siakan."
Arga mengangguk, masih menahan tangis.
"Kegagalan ini bukan akhir." Lanjut Pak Rahmat.
"Ini pelajaran. Kamu harus belajar mengatur waktu lebih baik. Belajar dan
bekerja harus seimbang. Kalau perlu, cari pekerjaan yang lebih ringan atau
minta keringanan waktu."
"Tapi, Pak..."
"Saya akan bicara dengan Pak Hasan, pemilik warung
tempat kamu bekerja. Saya kenal beliau. Mungkin kita bisa mengatur jadwal yang
lebih baik untukmu. Saya juga akan memberikan les tambahan gratis untukmu,
setiap Sabtu sore."
Arga tidak bisa menahan air matanya lagi. Kali ini bukan
air mata kesedihan, tapi air mata haru. Ia tidak menyangka akan mendapat
perhatian sebesar ini dari gurunya.
"Terima kasih, Pak." Isaknya. "Terima kasih
banyak. Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Tidak perlu berterima kasih, Arga. Kamu berhak
mendapat kesempatan yang sama seperti siswa lain. Jangan pernah ragu untuk
meminta bantuan. Itu bukan tanda kelemahan, tapi tanda kedewasaan."
Kata-kata itu seperti cahaya kecil di tengah kegelapan.
Arga merasa kembali memiliki harapan. Ia tidak sendiri. Ada guru yang peduli,
ada orang-orang baik di sekitarnya. Ia hanya perlu terus berjuang.
Sejak hari itu, dengan bantuan Pak Rahmat, kehidupan Arga
mulai membaik. Pak Hasan memberinya jadwal kerja yang lebih fleksibel,
memungkinkannya untuk belajar lebih banyak. Arga hanya bekerja tiga jam sehari,
dari jam 5 sampai 8 malam, dengan gaji yang sama. Pak Hasan baik hati.
Pak Rahmat juga memberikan les tambahan gratis untuk Arga
dan beberapa siswa lain yang membutuhkan. Setiap Sabtu sore, mereka berkumpul
di rumah Pak Rahmat, belajar matematika dan fisika dengan tekun.
Arga mulai bekerja lebih keras, tapi juga lebih cerdas. Ia
membagi waktunya dengan lebih disiplin. Pagi belajar di sekolah. Sore belajar
kelompok atau les tambahan. Malam bekerja di warung, lalu belajar lagi setelah
pulang hingga larut.
Tidurnya hanya empat sampai lima jam sehari. Tapi ia tidak
pernah mengeluh. Ia punya tujuan. Ia punya mimpi. Ia punya orang-orang yang
mendukung.
****
Beberapa bulan kemudian, hasil kerjanya mulai terlihat.
Nilai-nilainya membaik. Matematika yang dulu menjadi momok, kini mulai ia
kuasai dengan bantuan les dari Pak Rahmat. Ia bahkan mulai suka pada matematika.
Suatu hari, Pak Rahmat mengumumkan di kelas.
"Lihat teman-teman, Arga dulu nilainya jeblok 45. Tapi
lihat sekarang, ia bisa dapat nilai 92 di ulangan kemarin. Ini bukti bahwa
kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Ini bukti bahwa kegagalan bukan
akhir."
Tepuk tangan riuh dari teman-teman sekelas. Arga tersipu
malu, tapi hatinya berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ia merasa bangga pada dirinya sendiri.
Rudi menepuk pundaknya. "Keren, Ga! Lo hebat."
Siska tersenyum. "Mantap, Arga. Gue aja 80."
Bahkan Hendra mengacungkan jempol. "Lo pinter banget,
Ga. Aku respect."
Arga tersenyum bahagia.
Ia juga mendapatkan kesempatan mengikuti program penelitian
kecil dari sekolah. Program itu memungkinkan siswa untuk melakukan penelitian
sederhana tentang lingkungan sekitar. Arga memilih topik tentang potensi
desanya, tentang bagaimana mengembangkan desa tertinggal.
Ia meneliti tentang pertanian organik, tentang pengolahan
hasil pertanian, tentang pariwisata desa. Ia membaca banyak buku, browsing di
warnet (meskipon mahal), dan menulis proposal dengan tekun.
Pak Rahmat terkesan dengan proposalnya. "Arga, ini
bagus sekali. Kamu serius ingin membangun desamu?"
"Sangat serius, Pak. Itu mimpi saya sejak kecil. Saya
ingin desa saya tidak lagi tertinggal."
"Bagus. Teruslah bermimpi. Tapi ingat, mimpi saja
tidak cukup. Harus ada tindakan nyata. Harus ada perjuangan. Tapi kamu sudah
memulainya dengan belajar."
Proposal Arga mendapat penghargaan dari sekolah. Ia
diundang untuk presentasi di depan guru-guru dan beberapa pejabat dinas
pendidikan. Meskipun gugup, ia tampil dengan baik.
"Desa saya, Sumber Langit, memiliki potensi
besar." Jelasnya di depan audiens. "Sawah yang luas, udara sejuk,
pemandangan indah. Tapi semua itu belum tergarap maksimal karena kurangnya
sumber daya manusia dan perhatian pemerintah. Saya ingin, suatu hari nanti,
desa saya bisa maju seperti desa-desa lain."
Tepuk tangan memenuhi ruangan. Beberapa guru terharu. Pak
Rahmat tersenyum bangga.
Malam itu, setelah sekian lama, Arga kembali duduk di atap
rumah kos. Namun kali ini perasaannya berbeda. Ia tidak lagi merasa putus asa.
Ia tidak lagi merasa sendirian.
Ia memandang langit kota yang samar. Hanya beberapa bintang
yang terlihat. Tapi ia tahu, di balik polusi cahaya itu, bintang-bintang tetap
ada. Sama seperti harapan. Kadang tidak terlihat, tapi selalu ada. Sama seperti
mimpinya. Kadang terasa mustahil, tapi selalu mungkin jika diperjuangkan.
"Ayah... aku tidak akan menyerah." Bisiknya
pelan. "Aku akan terus berjuang. Untukmu, untuk Ibu, untuk desa kita.
Doakan aku."
Ia menutup mata sejenak. Di dalam bayangannya muncul
kembali desa kecilnya. Sawah yang luas. Rumah bambu. Ibunya yang selalu
menunggu kepulangannya. Makam ayahnya di bawah pohon besar.
Semua itu memberinya kekuatan. Semua itu menjadi alasan
untuk terus maju.
Di dalam hatinya Arga tahu satu hal: semua perjuangan ini
bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk desa yang suatu hari ingin ia
ubah. Untuk mimpi yang dulu hampir mati. Untuk janji yang pernah ia ucapkan di
makam ayahnya.
Perjalanan panjangnya masih jauh dari selesai. Masih banyak
rintangan yang harus ia hadapi. Masih banyak air mata yang mungkin harus ia
tumpahkan.
Namun mimpi yang hampir padam kini telah hidup kembali. Dan
seorang anak desa yang pernah hampir menyerah kini kembali berdiri untuk
menantang takdirnya.
Tiga tahun berlalu cepat. Arga lulus SMA dengan nilai
gemilang. Ia diterima di universitas negeri favorit di kota yang sama, jurusan
pertanian. Selama kuliah, ia tetap bekerja di warung Pak Hasan, tetap tinggal
di kos Bu Lastri, tetap berjuang seperti biasa.
*****
Empat tahun kuliah juga berlalu. Arga lulus dengan predikat
cumlaude. Ia adalah sarjana pertanian terbaik di angkatannya. Skripsinya
tentang pengembangan desa tertinggal mendapat penghargaan dari fakultas.
Hari kelulusannya adalah hari yang membahagiakan sekaligus
mengharukan. Ia mengenakan toga, berdiri di antara ratusan mahasiswa lain,
menerima ijazah dari rektor. Ibunya tidak bisa hadir karena sakit dan tidak
mampu membayar ongkos ke kota. Tapi Arga tahu, doa ibunya selalu menyertainya.
Pak Darma juga tidak bisa hadir. Tapi ia mengirim surat
yang dibacakan Arga berulang-ulang:
"Selamat, Arga. Kamu telah membuktikan bahwa anak desa
bisa meraih mimpi. Bapak bangga padamu. Sekarang saatnya pulang dan wujudkan
mimpi yang lebih besar: membangun desa kita. Ingat pesan ayahmu."
Setelah wisuda, Arga menghadapi dilema. Banyak tawaran
pekerjaan datang. Perusahaan-perusahaan besar menawarkan gaji tinggi, posisi
bagus, jenjang karir menjanjikan. Ada juga tawaran untuk melanjutkan studi S2
dengan beasiswa ke luar negeri.
Namun di dalam hatinya, hanya satu yang ia inginkan:
pulang.
Pak Hasan, majikannya selama tujuh tahun (dari SMA hingga
kuliah), memanggilnya untuk bicara.
"Jadi, kamu mau pulang?" tanyanya.
Arga mengangguk mantap. "Iya, Pak. Desa saya butuh
saya. Saya sudah janji sama ayah. Saya sudah janji sama Pak Darma. Saya tidak
bisa ingkar."
Pak Hasan tersenyum. "Saya sudah menduga itu. Kamu
berbeda dari anak-anak muda lain. Kamu punya ikatan kuat dengan tanah
kelahiranmu. Itu bagus. Langka."
"Terima kasih untuk semuanya, Pak. Selama tujuh tahun
Bapak sudah seperti keluarga sendiri. Tanpa Bapak, saya tidak akan sampai di
sini."
Pak Hasan mengeluarkan amplop dari sakunya. "Ini
sedikit tanda mata dari saya. Gunakan untuk memulai sesuatu di desamu."
Arga menolak. "Pak, tidak usah. Bapak sudah terlalu
baik. Saya tidak bisa."
"Ambil. Ini bukan uang, ini investasi. Saya investasi
pada mimpi seorang anak muda. Saya yakin kamu akan sukses. Nanti kalau desamu
maju, saya akan bangga pernah bantu."
Arga menerima amplop itu dengan mata berkaca-kaca. Ia
memeluk Pak Hasan erat-erat. "Terima kasih, Pak. Saya tidak akan
mengecewakan."
Bus yang membawa Arga melaju perlahan meninggalkan kota.
Gedung-gedung tinggi yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya mulai
menghilang dari pandangan, bergantian dengan hamparan sawah dan perbukitan
hijau yang semakin lama semakin luas.
Arga menatap keluar jendela dengan perasaan yang sulit
dijelaskan. Ada haru, ada rindu, ada semangat, ada juga sedikit cemas. Tujuh
tahun ia merantau. Tujuh tahun penuh perjuangan. Kini ia kembali.
Di kepalanya terbayang rumah bambu tempat ia dibesarkan.
Jalan tanah yang dulu ia lewati menuju sekolah. Suara ibunya yang selalu
memanggilnya pulang saat senja. Makam ayahnya di bawah pohon besar. Teman-teman
lama. Pak Darma. Semua terbayang jelas.
Ketika bus berhenti di ujung jalan desa, Arga turun dengan
tas di punggungnya. Ia menarik napas dalam-dalam. Udara desa terasa begitu
segar. Angin membawa aroma padi dan tanah basah yang selama ini ia rindukan.
Aroma yang tidak ada di kota.
Desa Sumber Langit masih terlihat sama. Sawah-sawah
terbentang hijau. Bukit-bukit menjulang di kejauhan. Sungai mengalir jernih di
sebelah timur desa.
Namun ada juga sesuatu yang membuat hatinya terasa berat.
Jalan desa masih rusak, bahkan mungkin lebih parah dari sebelumnya. Lubang di
mana-mana. Jalan tanah merah yang dulu dilaluinya, kini semakin parah. Beberapa
rumah tampak lebih tua dan lebih usang dari yang ia ingat. Wajah-wajah penduduk
yang ditemuinya di jalan terlihat lebih tua, lebih lelah. Anak-anak muda jarang
terlihat.
Arga berjalan menuju rumahnya. Setiap langkah terasa begitu
berarti. Ia melewati sawah yang dulu digarap ayahnya. Sekarang sawah itu
digarap oleh pamannya, Tukiman, karena ibunya tidak mampu mengolahnya sendiri.
Di depan rumah bambu itu, Bu Ratri sedang menyapu halaman.
Tubuhnya semakin tua, semakin kurus. Rambutnya nyaris putih semua. Punggungnya
mulai membungkuk. Tapi semangatnya masih sama.
Ketika melihat Arga, sapu itu jatuh dari tangannya.
"Arga?" suaranya bergetar, tidak percaya.
Arga tersenyum. Air mata mengalir di pipinya.
"Ibu..."
Bu Ratri berlari, memeluk anaknya erat-erat. Tubuh kecilnya
bergetar menahan tangis haru. "Anakku... anakku sudah pulang... sudah
tujuh tahun..."
Mereka berpelukan cukup lama, melepas rindu yang terpendam
bertahun-tahun. Warga desa yang lewat ikut tersentuh melihat pemandangan itu.
Ada yang tersenyum, ada yang ikut menangis haru.
"Maafkan Ibu tidak bisa datang ke wisudamu." Isak
Bu Ratri.
"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting Ibu sehat. Ibu lihat,
Arga sudah sarjana sekarang."
Arga menatap rumah itu. Rumah bambu sederhana yang selama
ini ia rindukan. Rumah yang menyimpan jutaan kenangan masa kecil. Rumah yang
menjadi saksi bisu perjuangan keluarganya.
Namun di dalam hatinya ia tahu: kepulangannya bukan hanya
untuk melepas rindu. Ia datang membawa sebuah tekad. Tekad untuk mengubah desa
ini. Tekad yang lahir dari mimpi seorang anak petani, yang kini tumbuh menjadi
pemuda dengan ilmu dan pengalaman.
****
Beberapa hari setelah kepulangannya, Arga mulai berjalan
mengelilingi desa. Ia ingin melihat sendiri bagaimana keadaan desanya setelah
tujuh tahun ia tinggalkan.
Ia melihat banyak hal yang membuatnya berpikir.
Sekolah dasar yang dulu ia tempati masih berdiri di tempat
yang sama. Bangunannya semakin tua, cat temboknya sudah pudar dan mengelupas di
banyak bagian. Beberapa papan kayu di dinding sudah lapuk, bahkan ada yang
bolong. Atap gentingnya bolong di sana-sini, jika hujan pasti bocor.
Halaman sekolah terlihat sepi. Hanya beberapa anak yang
bermain di bawah pohon. Guru-guru yang dulu mengajarnya, kini semakin tua. Pak
Darma masih ada, tapi jalannya sudah lambat dengan tongkat. Pak Dirjo pensiun.
Bu Narti juga sudah pensiun. Digantikan guru-guru baru yang muda, tapi
semangatnya? Arga tidak tahu.
Ia bertemu dengan Pak Darma yang sedang duduk di bangku
kayu di depan kelas, seperti dulu. Rambut Pak Darma kini putih semua.
Kacamatanya semakin tebal. Tubuhnya kurus. Tapi senyumnya masih sama, hangat
dan bijak.
"Arga?" kata Pak Darma dengan wajah terkejut,
matanya berbinar.
Arga tersenyum dan menyalami gurunya. Tangannya yang tua
dan keriput terasa hangat dalam genggaman Arga.
"Pak, saya kembali."
Pak Darma menatapnya dengan bangga, dari ujung rambut
hingga kaki. "Kamu sudah jauh berubah. Sudah dewasa. Sudah sarjana. Bapak
dengar kamu wisuda cumlaude."
Arga tersenyum malu. "Berkat doa Bapak."
Mereka berjalan mengelilingi sekolah. Pak Darma bercerita
tentang perkembangan sekolah, tentang murid-murid baru, tentang tantangan yang
dihadapi. Arga mendengarkan dengan saksama.
"Bagaimana keadaan desa sekarang, Pak?" tanya
Arga.
Pak Darma menghela napas panjang. Napas yang berat, seperti
membawa beban bertahun-tahun. "Tidak banyak berubah, Nak. Bahkan mungkin
makin parah."
"Kenapa? Bukannya ada dana desa dari pemerintah? Saya
dengar setiap desa dapat dana miliaran."
"Ada. Tapi entah ke mana. Jalan masih rusak. Listrik
masih sering padam. Pemuda-pemuda masih pada pergi merantau. Yang tinggal hanya
orang-orang tua dan anak-anak kecil. Dana desa? Katanya habis untuk
proyek-proyek yang tidak jelas."
Arga terdiam. Ia melihat sekelilingnya. Lapangan desa yang
dulu sering digunakan untuk main bola, kini ditumbuhi rumput liar setinggi
lutut. Warung-warung kecil banyak yang tutup. Rumah-rumah kosong karena
ditinggal pergi pemiliknya.
"Karena tidak banyak orang yang mau
memperjuangkannya." Lanjut Pak Darma. "Orang-orang sudah pasrah.
Mereka menganggap ini sudah takdir. Mereka sudah tidak percaya bahwa desa ini
bisa berubah."
"Takdir?" Arga mengulang kata itu dengan nada
getir. "Sejak kapan keterbelakangan disebut takdir? Sejak kapan kemiskinan
disebut takdir? Itu hanya alasan untuk tidak berbuat apa-apa."
Pak Darma menatap Arga tajam. "Itu pertanyaan yang tepat.
Tapi sayangnya, tidak banyak yang berpikir seperti itu. Kamu berbeda, Arga.
Kamu pulang dengan ilmu. Sekarang saatnya buktikan."
Di lapangan desa, Arga juga melihat banyak pemuda yang
menghabiskan waktu tanpa pekerjaan tetap. Mereka duduk-duduk di warung kopi
milik Bu Lastri, main kartu, atau sekadar nongkrong tanpa tujuan. Sebagian dari
mereka bahkan mulai kehilangan harapan, terjerumus pada minuman keras atau judi
kecil-kecilan.
Sukri, yang dulu pengangguran, kini tambah parah. Ia sudah
kecanduan minuman keras. Setiap malam ia mabuk di pinggir jalan. Warga sudah
pasrah.
Gito, sepupu Arga, juga ada di antara mereka. Melihat Arga,
Gito hanya melirik sinis lalu pura-pura tidak kenal.
Ratmi, yang dulu sebaya Arga, kini menjadi guru honorer di
SD. Ia belum menikah. Melihat Arga, ia tersenyum malu-malu.
"Arga, kamu pulang?" sapanya.
"Iya, Mi. Lama nggak ketemu."
"Selamat ya, udah sarjana."
"Terima kasih."
Mereka berbincang sebentar. Ratmi cerita tentang desa,
tentang sekolah, tentang hidupnya. Arga mendengarkan.
Suatu malam, Arga berbicara dengan ibunya di beranda rumah.
Lampu minyak masih menjadi penerang, karena listrik padam seperti biasa. Bulan
bersinar terang, cukup untuk melihat wajah mereka.
"Ibu, desa ini masih tertinggal. Bahkan mungkin lebih
parah dari dulu." Kata Arga.
Bu Ratri mengangguk pelan. "Begitulah kenyataannya,
Nak. Semakin banyak orang pergi, semakin sepi desa ini. Anak-anak muda pada
pergi, yang tinggal ya yang tua-tua dan yang malas."
"Kenapa tidak ada yang berbuat sesuatu? Kenapa warga diam
saja?"
"Orang-orang sudah putus asa, Le. Mereka sudah tidak
percaya bahwa desa ini bisa berubah. Mereka anggap ini sudah suratan takdir.
Lagipula, kepala desa sekarang... ya itu-itu saja. Pak Surya, udah tiga
periode."
Arga menatap keluar jendela. Malam di desa begitu gelap,
hanya diterangi lampu minyak di beberapa rumah. Listrik padam, seperti biasa.
Bintang-bintang bertaburan di langit, indah tapi ironis. Di bawah langit yang
indah itu, desanya terpuruk dalam keterbelakangan.
Namun kali ini ia tidak hanya melihat masalah. Ia juga
mulai memikirkan solusi. Ilmu yang ia dapat di bangku kuliah, pengalaman hidup
di kota, jaringan yang ia miliki, dan tekad yang membara, semuanya akan ia
gunakan.
"Bu, Arga punya rencana."
Bu Ratri menatap anaknya. "Rencana apa?"
"Arga ingin mengajak anak-anak muda desa untuk
bergerak. Arga ingin memulai perubahan dari hal-hal kecil. Membangun desa ini
dari bawah. Arga punya ilmu pertanian, Arga tahu cara mengolah hasil bumi, Arga
punya kenalan di kota untuk pemasaran."
Bu Ratri tersenyum. Senyum bangga seorang ibu pada anaknya.
"Lakukanlah, Nak. Asalkan niatmu baik, Insya Allah akan diberi kemudahan.
Tapi ingat, tidak semua orang akan setuju. Akan ada yang menentang."
"Ibu, Arga tahu. Tapi Arga tidak akan mundur."
****
Suatu sore, Arga kembali berdiri di bukit kecil yang dulu
sering ia kunjungi saat masih kecil. Bukit itu tidak jauh dari rumahnya, hanya
perlu berjalan kaki sekitar setengah jam. Dari puncaknya, ia bisa melihat
seluruh desa Sumber Langit terbentang di bawah.
Pemandangan itu masih sama seperti dulu. Sawah-sawah hijau
membentang luas, dipotong oleh sungai yang berkelok-kelok. Rumah-rumah penduduk
tersebar tidak beraturan. Jalan tanah berwarna merah membelah desa. Di
kejauhan, bukit-bukit lain menjulang, menutupi cakrawala.
Angin sore bertiup pelan, membawa aroma khas pedesaan.
Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan, pertanda matahari akan
segera tenggelam. Burung-burung mulai beterbangan pulang ke sarangnya.
Arga duduk di rerumputan, memandangi desanya dengan
perasaan campur aduk. Ia teringat masa kecilnya. Ia ingat bagaimana dulu ia
sering duduk di sini, bermimpi tentang masa depan. Ia ingat kata-kata ayahnya:
"Harus ada orang yang berani memperjuangkannya."
Ia mengepalkan tangannya. Mimpi yang dulu pernah ia miliki
kini kembali hidup, lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak ingin hanya menjadi
penonton. Ia tidak ingin hanya melihat desanya semakin terpuruk. Ia ingin
menjadi bagian dari perubahan. Ia ingin menjadi orang yang berani
memperjuangkan desanya.
"Ingat pesan Ayah." Gumamnya. "Jangan pernah
lupakan desa ini. Pulanglah dan bangunlah."
Sekembalinya ke rumah, malam itu Arga berbicara dengan
ibunya.
"Bu, Arga ingin memulai dari pemuda-pemuda desa.
Mereka yang masih ada di sini. Arga ingin kumpulkan mereka, ajak diskusi, cari
ide bersama."
"Bagus, Le. Tapi ingat, mereka itu macam-macam. Ada
yang baik, ada yang malas, ada yang suka mabuk. Kamu harus sabar."
"Ibu, Arga tahu. Arga akan coba pendekatan satu per
satu."
Bu Ratri tersenyum. "Kamu sudah dewasa, Le. Ibu
percaya keputusanmu."
****
Langkah pertama Arga adalah mendekati para pemuda desa. Ia
tahu ini bukan tugas mudah. Banyak pemuda yang sudah apatis, sudah kehilangan
harapan, sudah terbiasa dengan kemalasan. Beberapa bahkan sudah terjerumus
minuman keras dan judi.
Namun ia tidak menyerah.
Pertama, ia mendatangi Rudi (bukan Rudi teman SMA-nya, tapi
Rudi lain, pemuda desa yang cukup disegani). Rudi adalah mantan perantau yang
pulang karena gagal di kota. Ia bekerja serabutan, kadang jadi buruh tani,
kadang jadi kuli bangunan. Rumahnya sederhana, di pinggir desa.
"Rud, gue mau ngomong." sapa Arga suatu sore.
Rudi menatapnya curiga. "Lo Arga? Yang baru pulang?
Ngapain?"
"Iya. Gue mau ngajak lo diskusi. Ngumpulin pemuda
desa."
Rudi tertawa sinis. "Ngumpulin buat apa? Buat nganggur
bareng? Udah biasa."
"Buat mikirin masa depan desa. Buat cari solusi. Lo
kan pernah di kota, tahu susahnya jadi perantau. Mungkin kita bisa bikin
sesuatu di sini, biar nggak perlu merantau."
Rudi terdiam. Kata-kata Arga menyentuh sesuatu di hatinya.
Ia memang kapok merantau. Ia ingin punya pekerjaan di desa, tapi tidak ada.
"Maksud lo?"
"Gue mau ngumpulin pemuda, diskusi, cari ide. Apa yang
bisa kita lakukan untuk desa ini. Gue punya ilmu pertanian dari kuliah. Mungkin
bisa dipakai."
Rudi berpikir sejenak. "Oke. Gue ikut. Tapi gue nggak
janji yang lain mau."
Dengan bantuan Rudi, Arga mulai mendatangi pemuda satu per
satu. Ada Joko, teman main dulu, yang sekarang jadi buruh tani. Ada Wati dan
Siti, si kembar yang sudah dewasa dan bekerja serabutan. Ada beberapa pemuda
lain yang masih punya semangat.
Mereka juga mendatangi Sukri yang sedang mabuk. Sukri
awalnya menolak kasar.
"Ngapain lo? Urusin aja urusan lo sendiri!"
bentaknya.
Arga tidak marah. "Kri, gue cuma mau ngajak lo ikut
diskusi. Nggak perlu bayar. Gratis."
Sukri tertawa mabuk. "Diskusi? Buat apa? Hidup gini
aja udah susah."
"Justru itu. Biar kita cari jalan keluar bareng."
Sukri akhirnya mau, meskipun dengan setengah hati.
Gito, sepupu Arga, menolak mentah-mentah. "Nggak ah.
Males. Lo sok-sok an mau bangun desa? Udah ah."
Arga tidak memaksa.
****
Malam itu, di balai desa yang sudah lama tidak terpakai,
sepuluh pemuda berkumpul. Bangunan itu kotor dan berdebu, dengan beberapa kursi
kayu tua berserakan. Arga membersihkannya sebisanya sebelum kedatangan mereka.
Lampu minyak dipasang di beberapa sudut karena listrik padam.
Yang hadir: Rudi, Joko, Wati, Siti, Sukri (setengah sadar),
dan beberapa pemuda lain. Ada juga Ratmi yang datang atas inisiatif sendiri.
Arga berdiri di depan mereka. Ia agak gugup, tapi berusaha
tenang.
"Terima kasih sudah datang, teman-teman."
Mulainya. "Aku tahu, mungkin kalian bertanya-tanya, ngapain Arga ngumpulin
kita?"
"Ya, emang." potong Sukri.
Arga tersenyum. "Aku kumpulin kalian karena aku ingin
ngomong sesuatu. Tentang desa kita."
"Desa kita? Apa yang salah dengan desa kita?"
tanya Joko.
"Banyak yang salah, Jo. Jalan rusak, listrik mati,
anak muda pada pergi merantau. Yang tinggal ya kita-kita ini, yang katanya
tidak punya masa depan."
Beberapa pemuda mengangguk setuju.
"Terus, apa yang bisa kita lakukan?" tanya Rudi.
"Kita kan cuma orang kecil."
"Kita bisa mulai dari hal-hal kecil." jawab Arga.
"Gotong royong bersihkan desa. Perbaiki jalan yang rusak. Buat kegiatan
untuk anak-anak. Kalau kita diam saja, tidak akan ada yang berubah. Pemerintah
tidak akan peduli kalau kita sendiri tidak peduli."
Sukri tertawa sinis. "Ah, lo pikir dengan gotong
royong, desa bisa maju? Butuh uang, butuh proyek."
"Memang butuh. Tapi kalau kita tidak menunjukkan bahwa
kita peduli, mana ada yang mau bantu? Kita harus mulai dari diri sendiri."
Suasana hening. Kata-kata Arga meresap, setidaknya bagi
sebagian dari mereka.
"Jadi lo mau ngapain?" tanya Rudi lagi.
"Aku mau ajak kalian kerja bakti Minggu depan.
Bersihkan jalan desa, perbaiki lubang-lubang yang bisa diperbaiki dengan cara
sederhana. Isi dengan batu dan tanah. Setelah itu, kita pikirkan kegiatan
lain."
"Aku ikut." Tiba-tiba Wati angkat bicara.
"Aku capek lihat desa kumuh."
"Aku juga." sambung Siti.
Satu per satu yang lain mulai setuju. Rudi mengangguk.
"Oke, gue ikut. Tapi gue mau liat, apa lo beneran serius atau cuma omong
doang."
Arga tersenyum lega. "Terima kasih, teman-teman. Kita
buktikan kalau anak muda desa bisa bikin perubahan."
Pertemuan pertama itu berakhir dengan semangat baru.
Sepuluh pemuda desa, dengan berbagai latar belakang, bersedia bergerak. Arga
tahu ini baru awal. Tapi setidaknya, ada benih yang mulai tumbuh.
****
Minggu pagi yang cerah, sepuluh pemuda berkumpul di balai
desa dengan peralatan seadanya. Ada yang membawa cangkul, ada yang membawa
sekop, ada yang membawa gerobak dorong, ada yang membawa karung. Beberapa warga
yang penasaran mulai berdatangan, melihat apa yang dilakukan anak-anak muda
ini.
Arga memimpin dengan semangat. "Kita mulai dari jalan
depan balai desa dulu. Bersihkan rumput-rumput liar, tutup lubang-lubang dengan
batu dan tanah. Yang bawa cangkul, gali. Yang bawa sekop, angkut. Yang bawa
gerobak, siap-siap."
Mereka mulai bekerja. Awalnya agak kikuk, karena kebanyakan
sudah lama tidak melakukan kerja fisik seperti ini. Tapi lama-lama mereka
menemukan ritme. Cangkul menggali, sekop memindah tanah, gerobak mengangkut
batu.
Rudi, dengan postur kekarnya, mampu memindahkan batu-batu
besar yang tidak bisa diangkat orang lain. Keringat membasahi tubuhnya.
"Wah, Rudi kuat juga ya." goda Joko.
Rudi hanya mendengus, tapi sudut bibirnya sedikit
terangkat. Mungkin senang bisa berguna.
Sukri, yang datang dengan kondisi mabuk ringan, hanya duduk
di pinggir. Tapi setelah melihat yang lain bekerja, ia malu dan akhirnya ikut
membantu.
Wati dan Siti membantu mengangkut tanah dengan karung.
Meskipun berat, mereka tetap semangat.
Warga yang lewat mulai berhenti, melihat, lalu ikut
membantu. Seorang bapak-bapak, Pak Karsono, membawa minuman dingin untuk
mereka. Seorang ibu-ibu, Bu Lastri, membawa makanan kecil. Semangat gotong
royong yang selama ini hilang, mulai tumbuh lagi.
Pak Darma datang dengan tongkatnya. Matanya berbinar
melihat pemandangan itu.
"Ini baru pemuda desa." Katanya bangga.
"Sudah lama saya tidak melihat semangat seperti ini. Sejak zaman saya muda
dulu."
Menjelang siang, sebagian jalan di depan balai desa sudah
bersih dan rata. Memang tidak sempurna, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya.
Lubang-lubang besar sudah ditutup. Rumput-rumput liar sudah dibersihkan.
Mereka beristirahat di bawah pohon besar, menikmati minuman
dan makanan yang diberikan warga. Wajah-wajah lelah tapi puas. Ada senyum di
wajah mereka.
"Ga, besok kita kerja lagi?" tanya Joko.
"Besok Minggu depan. Kita lanjut ke bagian jalan yang
lain. Terus setiap Minggu kita kerja bakti di tempat yang berbeda." jawab
Arga.
Rudi yang duduk agak jauh, tiba-tiba bersuara. "Gue
mau bawa lebih banyak orang minggu depan. Biar cepat selesai. Gue punya kenalan
di desa sebelah, mereka juga bisa diajak."
Arga tersenyum. "Bagus, Rud. Makin banyak makin
ringan. Gotong royong itu tradisi kita yang hampir hilang."
Hari itu menjadi awal dari kebangkitan semangat di desa.
Perlahan tapi pasti, pemuda-pemuda desa mulai bergerak. Mereka tidak hanya
kerja bakti, tapi juga mulai memikirkan kegiatan lain: membersihkan saluran
air, memperbaiki jembatan kecil, mengadakan lomba untuk anak-anak.
Desa yang tadinya lesu, mulai menunjukkan tanda-tanda
kehidupan.
****
Kabar tentang kegiatan Arga dan para pemuda menyebar cepat.
Berbagai reaksi muncul.
Pak Karsono, petani kaya, sangat mendukung. Ia bahkan
menyumbang semen dan pasir untuk perbaikan jalan.
"Ini anak baik." Katanya pada istrinya. "Dia
benar-benar ingin membangun desa. Kita harus dukung."
Ratmi, putrinya, ikut senang. Ia sering datang membantu,
terutama untuk kegiatan anak-anak.
Bu Lastri, pemilik warung, juga mendukung. Ia memberi
diskon untuk pemuda yang ikut kerja bakti.
Mbah Joyo, sesepuh desa, memberkati. "Nak Arga iku
anak sholeh. Muga-muga sukses." (Nak Arga itu anak sholeh. Semoga sukses.)
Namun tidak semua orang senang.
Pak Surya, kepala desa yang sudah menjabat tiga periode,
mulai merasa terusik. Kegiatan Arga mulai menarik perhatian warga. Warga mulai
sering menyebut nama Arga. Itu mengancam kekuasaannya.
Di rumahnya yang besar, Pak Surya duduk bersama anak
buahnya. Ada Pak Carik, sekretaris desa yang loyal. Ada beberapa preman
bayaran.
"Pak, Arga itu mulai banyak diperbincangkan."
lapor Pak Carik. "Kegiatannya, kerjanya, disukai warga."
Pak Surya menghela napas. "Aku tahu. Anak itu pulang
bawa ilmu, sekarang sok mau mengubah desa."
"Harus diapain, Pak?"
"Biarin dulu. Tapi awasi. Kalau mulai mengganggu, kita
tindak."
Di warung Bu Lastri, Juminten mulai bergosip.
"Katanya Arga itu mau jadi calon kepala desa." bisiknya
pada beberapa warga.
"Ah, masa? Dia baru pulang." sahut seorang warga.
"Iya, katanya. Sok mau mengubah desa. Padahal anak
kemarin sore."
Bu Lastri membela. "Juminten, kamu itu jangan suka
fitnah. Arga cuma mau bantu desa. Nggak usah dipolitisir."
Juminten cemberut. "Ya sudah, Bu. Tapi itu kata
orang."
Di rumah Tukiman, percakapan berbeda terjadi. Darsih,
istrinya, mengomel pada Tukiman.
"Lihat itu keponakanmu, pamer. Sok mau bangun desa.
Biar dibilang pahlawan."
Tukiman diam. Ia sebenarnya bangga pada Arga, tapi tidak
berani melawan istrinya.
Gito, anaknya, ikut-ikutan. "Iya, Pa. Arga sok sokan.
Nggak usah diurus."
Tukiman hanya menghela napas.
****
Suatu sore, Arga dipanggil ke rumah Pak Surya. Ini bukan
undangan biasa. Arga sudah menduga bahwa ini terkait dengan kegiatannya.
Rumah Pak Surya adalah rumah terbesar di desa. Dinding
tembok, atap genteng bagus, halaman luas dengan beberapa kendaraan terparkir.
Kontras dengan rumah-rumah warga lainnya.
Arga masuk dengan perasaan was-was. Ia sudah menduga bahwa
ini bukan pembicaraan biasa.
Pak Surya duduk di kursi rotan besar, dengan wajah serius.
Di sekelilingnya, Pak Carik dan beberapa anak buah duduk dengan sikap waspada.
Suasana tegang.
"Duduk, Arga." Kata Pak Surya, suaranya berat.
Arga duduk di kursi di hadapannya. Ia berusaha tenang,
meskipun jantungnya berdegup kencang.
"Saya dengar kamu membuat banyak kegiatan akhir-akhir
ini." Buka Pak Surya.
Arga mengangguk. "Iya, Pak. Bersama teman-teman
pemuda, kami kerja bakti. Membersihkan desa, memperbaiki jalan."
"Kamu tidak izin dulu sama saya?"
Arga terkejut. "Izin? Ini kegiatan sosial, Pak. Kerja
bakti. Gotong royong. Tradisi desa. Saya pikir tidak perlu izin. Ini untuk
kebaikan bersama."
Pak Surya tersenyum, tapi senyum yang tidak ramah. Senyum
politikus. "Di desa ini, semua kegiatan harus sepengetahuan saya. Saya
kepala desa di sini. Saya yang bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban.
Jangan ada kegiatan yang tidak saya ketahui."
Arga mulai mengerti. Ini bukan soal izin. Ini soal
kekuasaan. Pak Surya merasa tersaingi. Popularitas Arga mulai mengancam
posisinya.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud melangkahi. Saya
hanya ingin membantu desa. Tanpa pamrih."
"Kamu masih muda. Masih banyak yang tidak kamu
mengerti tentang politik desa." Pak Surya menatapnya tajam. "Jangan
terlalu banyak mengganggu keadaan yang sudah ada. Desa ini sudah puluhan tahun
seperti ini, dan baik-baik saja. Jangan bikin masalah."
Arga menahan diri untuk tidak membantah. Tapi kata-kata itu
terasa begitu tidak masuk akal. Baik-baik saja? Desa yang tertinggal, pemuda
yang menganggur, anak-anak putus sekolah, jalan rusak, listrik padam? Itu
disebut baik-baik saja?
Tapi ia tahu, melawan langsung tidak akan bijak. Ia harus
bermain sabar. Ini baru permulaan.
"Saya mengerti, Pak. Ke depan, saya akan lapor sebelum
melakukan kegiatan." Katanya diplomatis.
Pak Surya mengangguk puas. "Bagus. Kamu anak pintar.
Jangan sampai salah langkah. Masa depanmu masih panjang."
Arga pamit. Di luar, ia menghela napas panjang. Tantangan
baru telah muncul. Kekuasaan lama tidak akan rela melepaskan pengaruhnya dengan
mudah. Tapi ia juga tidak akan mundur.
Malam itu, ia ceritakan pada Rudi dan beberapa pemuda lain.
"Gue sudah duga." Kata Rudi. "Pak Surya itu
penguasa lama. Dia nggak suka kalau ada yang mulai diperhatikan warga. Apalagi
orang muda kayak lo. Dia takut kehilangan kursi."
"Tapi kita tidak bisa berhenti." Arga bergumam.
"Jangan berhenti. Tapi kita harus hati-hati."
Rudi menatap Arga. "Gue kenal Pak Surya. Dia bisa jahat kalau merasa
terancam. Dia punya preman bayaran. Bisa bikin kacau."
Arga mengangguk. Ia tahu risiko ini sudah sejak awal. Tapi
ia juga tahu, perubahan tidak pernah datang tanpa perlawanan.
Beberapa hari setelah pertemuan dengan Pak Surya, masalah
mulai muncul.
****
Suatu malam, ketika Arga sedang tidur, tiba-tiba ia
dikejutkan oleh suara batu mengenai atap rumahnya. Berkali-kali. Bu Ratri
terbangun kaget.
"Arga! Ada apa?"
Arga segera keluar. Di luar gelap, tidak ada siapa pun.
Tapi ia melihat bayangan beberapa orang berlari menjauh.
Pagi harinya, mereka menemukan bekas batu di halaman.
Beberapa genting rumah retak.
"Ibu, jangan khawatir. Mungkin anak-anak nakal."
hibur Arga, meskipun ia tahu ini bukan anak-anak.
Bu Ratri cemas. "Le, hati-hati. Mungkin ada yang tidak
suka dengan kegiatanmu."
"Ibu, Arga tahu. Tapi Arga tidak takut."
Beberapa hari kemudian, Rudi didatangi orang tak dikenal.
"Lo, bilang sama Arga, berhenti. Atau lo kena getahnya
juga." ancam mereka.
Rudi, yang bukan tipe penakut, justru melawan. "Gue
nggak takut! Kalian preman bayaran Pak Surya, ya?"
Mereka hanya pergi setelah mendorong Rudi hingga jatuh.
Sukri yang sedang mabuk, dipukuli orang tak dikenal.
"Bilang sama Arga, berhenti. Atau lo tahu risikonya."
Sukri babak belur. Tapi anehnya, kejadian itu justru
membuatnya sadar. Ia datang ke rumah Arga.
"Ga... gue minta maaf." katanya terbata.
Arga kaget melihat kondisinya. "Kri, kenapa lo? Siapa
yang melakukan?"
"Nggak tahu. Tapi mereka bilang, suruh lo berhenti.
Ga, gue nggak takut. Justru gue sekarang makin ingin ikut lo. Mereka pukul gue,
tapi gue nggak kapok."
Arga terharu. "Kri... lo hebat."
Sejak itu, Sukri berhenti minum. Ia mulai serius ikut
kegiatan.
Teror semakin sering. Alat-alat kerja bakti hilang. Spanduk
kegiatan dirusak. Bahkan ada yang mengancam akan membakar rumah Arga.
Tapi Arga tidak gentar. Ia justru semakin bersemangat.
"Teman-teman, kalau kita mundur sekarang, mereka
menang." Katanya pada pemuda. "Kita harus tetap maju. Tapi kita harus
lebih kompak, lebih hati-hati."
Semangat pemuda justru semakin berkobar. Mereka bergantian
menjaga alat-alat. Mereka bergantian mengantar Arga pulang.
****
Meski menghadapi tekanan dan teror, Arga dan para pemuda
desa terus bekerja. Mereka lebih berhati-hati, tapi tidak berhenti.
Setiap minggu mereka melakukan kerja bakti di tempat yang
berbeda. Jalan-jalan desa mulai terlihat lebih rapi. Saluran air yang tersumbat
mulai mengalir lancar. Sampah-sampah yang berserakan dibersihkan.
Mereka juga mulai membuat program lain. Kelas belajar untuk
anak-anak desa, diadakan di balai desa setiap sore. Arga dan beberapa pemuda
yang masih ingat pelajaran sekolah, bergantian mengajar membaca, menulis, dan
berhitung. Ratmi, sebagai guru, sangat membantu. Anak-anak yang tadinya hanya
bermain di sore hari, kini mulai belajar lagi. Orang tua mereka senang.
Pak Darma, meskipun sudah tua, ikut membantu. Melihat Arga
mengajar, hatinya terharu.
"Dulu kamu yang belajar, sekarang kamu yang
mengajar." Katanya suatu hari. "Hidup memang lingkaran yang
indah."
Arga tersenyum. "Ini semua berkat Bapak. Kalau tidak
ada Bapak dulu, mungkin saya sudah berhenti sekolah."
"Kamu yang memilih untuk tidak menyerah. Bapak hanya
membantu sedikit."
Program lain yang mereka buat adalah kelompok tani. Arga,
dengan ilmu pertaniannya, mulai memberikan penyuluhan sederhana pada petani-petani
desa. Cara menanam yang baik, penggunaan pupuk yang tepat, pengendalian hama
secara alami, sistem irigasi sederhana. Petani-petani tua awalnya skeptis, tapi
setelah melihat hasilnya, mereka mulai tertarik.
Pak Karsono, petani terkaya, menjadi pendukung utama. Ia
bahkan menyediakan lahannya untuk percontohan.
"Hasil panen saya meningkat setelah ikut penyuluhan
Arga." Kata Pak Karsono di warung kopi. "Dia memang pintar, meskipun
masih muda. Ilmunya berguna."
Petani lain mulai mengikuti. Perlahan, pertanian di desa
mulai membaik.
Program pengolahan hasil pertanian juga dimulai. Singkong
diolah menjadi keripik, pisang diolah menjadi sale, mangga diolah menjadi
manisan. Ibu-ibu dilibatkan. Mereka senang mendapat tambahan penghasilan.
Perubahan kecil mulai terlihat di desa. Anak-anak lebih
bersemangat sekolah. Pemuda-pemuda mulai memiliki kegiatan positif.
Petani-petani mulai menerapkan metode baru. Ibu-ibu punya usaha sampingan.
Warga mulai percaya bahwa desa mereka bisa berubah.
Suatu hari, seorang warga tua, Mbah Joyo, berkata pada Arga
dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah lama desa ini tidak memiliki harapan seperti
sekarang, Nak. Dulu saya pikir desa ini akan mati pelan-pelan. Tapi sekarang,
lihat... ada kehidupan lagi."
Arga tersenyum, hatinya hangat. "Harapan itu selalu
ada, Mbah. Kita hanya perlu memperjuangkannya. Dan kita tidak sendiri."
Namun ia tahu, perjalanan masih panjang. Dan tantangan terbesar
mungkin masih menanti.
****
Semakin besar pengaruh Arga, semakin resah Pak Surya. Ia
mulai menggunakan cara-cara kotor.
Isu negatif mulai disebarkan. Bahwa Arga anak PKI. Bahwa
Arga mau menghancurkan desa. Bahwa Arga punya niat jahat. Bahwa Arga hanya cari
popularitas untuk jadi kepala desa.
Juminten, tukang gosip, dengan senang hati menyebarkan
isu-isu itu. Warung Bu Lastri menjadi tempat penyebaran gosip paling subur.
"Katanya Arga itu mau jadi kepala desa." bisik
Juminten pada beberapa warga. "Dia cari muka dulu."
"Iya, katanya dia punya utang ke Cina." sahut
yang lain.
Bu Lastri membela. "Kalian itu... fitnah aja. Arga
anak baik. Dia nggak pernah minta apa-apa."
"Iya, Bu. Tapi kata orang..."
Berita fitnah itu sampai ke telinga Arga. Ia hanya
tersenyum.
"Biarkan, Rud." Katanya pada Rudi. "Yang
benar akan tetap benar. Kita buktikan dengan kerja nyata."
Rudi tidak terima. "Tapi, Ga, ini nggak adil! Mereka
fitnah lo!"
"Fitnah itu sudah biasa untuk orang yang mau berbuat
baik. Jangan lawan dengan fitnah juga. Lawan dengan kebaikan."
Pak Surya juga mempersulit izin kegiatan. Setiap kali Arga
mau mengadakan acara, selalu ada hambatan administrasi. Pak Carik, dengan
segala aturannya, memperlambat proses.
"Maaf, Arga. Izinnya belum bisa keluar. Ada berkas
kurang." katanya berulang kali.
Arga tahu ini rekayasa. Tapi ia sabar. Ia lengkapi semua
berkas, ikuti semua prosedur.
Suatu hari, terjadi insiden. Saat kerja bakti, tiba-tiba
datang sekelompok preman. Mereka mengaku disuruh Pak Surya (meskipon tidak
mengaku) untuk membubarkan kerja bakti.
"Kegiatan ini ilegal! Tidak ada izin!" teriak
mereka.
Arga maju. "Kami punya izin. Ini suratnya."
Preman itu merebut surat, merobeknya. "Sekarang nggak
ada."
Rudi dan yang lain marah. Hampir terjadi bentrok. Arga
menahan mereka.
"Jangan! Kalau kita lawan dengan kekerasan, kita
salah. Biarkan."
Preman itu pergi setelah merusak beberapa alat. Tapi
semangat pemuda tidak luntur. Mereka justru semakin marah pada Pak Surya.
****
Insiden preman itu menjadi titik balik. Warga yang tadinya
diam, mulai marah. Kekerasan pada warga sendiri, pada pemuda yang bekerja untuk
kebaikan bersama, membuat mereka tersinggung.
Pak Karsono, sebagai tokoh masyarakat, angkat bicara. Ia
kumpulkan warga di balai desa (dengan izin yang susah payah).
"Saudara-saudara, kita sudah lihat sendiri. Ada pihak
yang tidak suka dengan perubahan. Ada pihak yang mempertahankan kemiskinan dan
keterbelakangan. Ada pihak yang menggunakan kekerasan untuk mempertahankan
kekuasaan."
Warga mengangguk setuju.
"Saya usul, kita dukung Arga dan pemuda-pemuda ini.
Mereka bekerja untuk kita. Mereka tidak minta imbalan. Mereka ikhlas. Saatnya
kita bersuara."
Mbah Joyo, dengan suara parau, menambahkan. "Aku wis
tua, ngerti akeh. Arga iku anak apik. Ora kaya kepala desa sing saiki."
(Aku sudah tua, tahu banyak. Arga itu anak baik. Tidak seperti kepala desa yang
sekarang.)
Suasana semakin memanas. Warga mulai berani bersuara.
Pak Darma, yang hadir dengan tongkatnya, berkata.
"Saya sudah mengajar di sini puluhan tahun. Saya lihat banyak anak pintar
pergi dan tidak kembali. Tapi Arga berbeda. Dia pulang. Dia ingin membangun.
Ini langka. Jangan sia-siakan."
Malam itu, untuk pertama kalinya, warga berani menyuarakan
ketidakpuasan pada Pak Surya. Mereka muak dengan kemiskinan, muak dengan
keterbelakangan, muak dengan kekuasaan yang tidak membawa perubahan.
****
Beberapa minggu kemudian, pemilihan kepala desa akan
digelar. Pak Surya maju lagi untuk periode keempat.
Para tokoh masyarakat mendatangi Arga.
"Arga, kami ingin kamu maju sebagai calon kepala
desa." kata Pak Karsono mewakili yang lain.
Arga terkejut. "Tapi, Pak... saya belum pengalaman. Saya
masih muda."
"Pengalaman bisa dicari. Yang penting niat. Dan kami
lihat niatmu tulus." jawab Pak Karsono.
Pak Darma menambahkan. "Kamu sudah buktikan dengan
kerja nyata. Bukan hanya janji. Warga percaya padamu."
Arga terdiam. Pikirannya berkecamuk. Ia ingat ayahnya. Ia
ingat janjinya. Ia ingat perjuangannya.
"Ibu... bagaimana menurut Ibu?" tanyanya pada Bu
Ratri.
Bu Ratri tersenyum. "Le, Ibu bangga apa pun
keputusanmu. Tapi kalau kamu mau meneruskan perjuangan ayahmu, ini
saatnya."
Arga menghela napas panjang. Lalu ia mengangguk.
"Baik, saya maju."
Kabar Arga maju sebagai calon kepala desa menyebar cepat.
Dukungan mengalir. Pemuda-pemuda desa siap menjadi tim sukses. Ibu-ibu siap
memasak untuk kampanye. Petani-petani siap menggalang suara.
Namun Pak Surya tidak tinggal diam. Ia menggunakan segala
cara. Uang dibagikan. Sembako disebar. Janji-janji muluk dilontarkan. Fitnah
kembali menyerang Arga.
Tapi Arga punya strategi berbeda. Ia tidak kampanye dengan
uang. Ia kampanye dengan hati. Ia mendatangi warga satu per satu, duduk di
beranda mereka, minum kopi, dan mendengar keluhan mereka.
"Apa yang Bapak/Ibu butuhkan? Saya akan perjuangkan
jika terpilih." Itu selalu kata-katanya.
Warga tersentuh. Tidak ada calon kepala desa yang pernah
melakukan itu.
****
Hari pemilihan tiba. Suasana desa tegang. Dua kubu saling
berhadap-hadapan. Pendukung Pak Surya dengan atribut serba baru dan rapi.
Pendukung Arga dengan atribut sederhana buatan sendiri.
Proses pencoblosan berlangsung lancar. Warga datang satu
per satu, masuk bilik suara, mencoblos, memasukkan ke kotak suara.
Sore harinya, penghitungan suara dimulai. Suasana tegang.
Semua mata tertuju pada papan pengumuman.
Satu per satu suara dibacakan. Nama Arga dan Pak Surya
bersaing ketat. Selisih suara tipis.
Menjelang magrib, penghitungan selesai.
Ketua panitia, seorang pria paruh baya, berdiri di depan
mikrofon. Ia membuka kertas hasil perhitungan dengan tangan sedikit gemetar.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab
warga serempak.
"Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT,
berikut kami sampaikan hasil pemilihan kepala desa Sumber Langit periode
ini."
Hening. Sunyi. Semua menahan napas.
"Calon nomor urut 1, Bapak Surya, memperoleh 987
suara."
Tepuk tangan pendukung Pak Surya. Tapi mereka belum menang.
"Calon nomor urut 2, Sdr. Arga, memperoleh... 1.102
suara."
Sekejap hening. Lalu...
"ARGA MENANG! ARGA MENANG!!" teriak Rudi
histeris.
Sorak-sorai pecah. Pendukung Arga berteriak, berpelukan,
menangis. Spanduk-spanduk sederhana dikibarkan. Tepuk tangan gemuruh.
Arga terdiam. Ia menunduk, air mata mengalir. Ibunya
memeluknya erat.
"Le... kamu menang... anakku menang..."
Arga menatap langit senja yang keemasan. "Ayah... Arga
tidak akan mengecewakan."
Pak Darma mendekat, menepuk pundaknya. "Selamat, Arga.
Perjuanganmu baru saja dimulai."
Di sudut lain, Pak Surya dan pendukungnya meninggalkan
tempat dengan wajah masam. Kekuasaan tiga periode berakhir sudah.
*****
Pelantikan Arga sebagai kepala desa berlangsung sederhana
namun khidmat. Di balai desa yang sudah dibersihkan dan dicat ulang, Arga
dilantik oleh camat. Warga desa memadati halaman. Ada haru, ada bangga.
Bu Ratri menangis haru. Pak Darma tersenyum bangga. Rudi,
Joko, Wati, Siti, Sukri, semua hadir dengan pakaian terbaik mereka. Ratmi,
dengan gaun sederhana, tersenyum malu-malu.
Setelah pelantikan, Arga menyampaikan sambutan singkat.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara sekalian. Saya hanyalah
anak petani biasa. Saya tidak punya banyak uang, tidak punya pengalaman politik.
Tapi saya punya satu hal: tekad untuk membangun desa ini."
Tepuk tangan riuh.
"Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya butuh bantuan
kita semua. Mari kita bangun desa ini bersama-sama. Gotong royong, seperti
dulu. Percayalah, desa kita bisa maju."
Hari itu menjadi awal babak baru bagi Desa Sumber Langit.
****
Hari-hari pertama sebagai kepala desa, Arga sibuk menyusun
program. Ia tidak mau hanya duduk di balai desa. Ia ingin turun langsung.
Program pertamanya: perbaikan infrastruktur. Jalan desa
harus diperbaiki. Ia menggunakan dana desa secara transparan. Setiap rupiah
dipertanggungjawabkan. Warga dilibatkan dalam gotong royong.
Program kedua: pendidikan. Ia merehab sekolah dasar,
menambah fasilitas, mengusahakan guru tambahan. Anak-anak harus sekolah. Tidak
ada lagi putus sekolah karena biaya.
Program ketiga: pertanian. Ia membentuk kelompok tani,
mendatangkan penyuluh, mengusahakan bibit unggul dan pupuk bersubsidi. Hasil
panen meningkat.
Program keempat: ekonomi kreatif. Ia mengembangkan usaha
kecil, pelatihan keterampilan bagi pemuda dan ibu-ibu. Produk-produk desa mulai
dipasarkan ke luar.
Program kelima: kesehatan. Ia mengusahakan posyandu aktif,
pemeriksaan gratis, dan penyuluhan kesehatan.
Semua program dijalankan dengan melibatkan warga. Transparan,
akuntabel, partisipatif.
****
Namun jadi kepala desa tidak mudah. Banyak tantangan.
Pak Surya dan kroninya masih berusaha mengganggu. Mereka
menyebar isu bahwa Arga korupsi. Mereka melaporkan Arga ke polisi dengan
tuduhan palsu. Mereka memprovokasi warga.
Tapi Arga tetap tenang. Ia buktikan dengan transparansi.
Semua laporan keuangan dipajang di papan pengumuman. Warga bisa melihat
langsung.
Pak Carik, yang tadinya loyal pada Pak Surya, lambat laun
luluh. Ia melihat ketulusan Arga. Ia mulai membantu.
Preman-preman yang dulu mengancam, satu per satu dibujuk
Arga. Ia beri mereka pekerjaan, bukan hukuman. Mereka diajak kerja bakti,
diberi penghasilan. Perlahan, mereka berubah.
Sukri, yang dulu pemabuk, sekarang jadi salah satu
pendamping Arga yang paling setia. Ia berhenti minum, rajin bekerja.
Gito, sepupu Arga, masih sinis. Tapi setelah melihat
perkembangan desa, ia mulai malu. Diam-diam ia ikut kerja bakti, meskipun tidak
mau mengaku.
****
Setahun berlalu. Desa Sumber Langit mulai berubah.
Jalan-jalan desa sudah diaspal. Listrik jarang padam.
Sekolah dasar terlihat lebih hidup. Anak-anak berseragam rapi. Pemuda-pemuda
punya kegiatan. Petani tersenyum. Ibu-ibu sibuk dengan usaha kecil mereka.
Di lapangan desa, setiap sore anak-anak bermain bola. Orang
tua duduk di bangku taman yang baru dibuat. Warung-warung buka lagi. Ekonomi
berputar.
Yang paling membanggakan, beberapa pemuda yang merantau
mulai kembali. Mereka membuka usaha di desa. Siklus pergi merantau mulai
terputus.
Pak Darma, yang kini sudah sangat renta, sering duduk di
bangku taman, memandangi perubahan dengan mata berkaca-kaca.
"Arga... kamu sudah buat desa ini hidup lagi."
Katanya suatu hari.
Arga tersenyum. "Ini berkat semua, Pak. Bukan saya
sendiri."
****
Lima tahun kemudian, Arga menyelesaikan masa jabatan
pertamanya. Ia terpilih lagi untuk periode kedua, dengan dukungan lebih besar.
Program-program berlanjut. Desa semakin maju. Sumber Langit
menjadi desa percontohan di kabupaten. Banyak kunjungan dari desa lain untuk
belajar.
Namun yang terpenting, harapan telah hidup kembali.
Anak-anak desa kini bermimpi besar. Mereka tidak lagi merasa bahwa menjadi
orang sukses hanya bisa di kota. Mereka percaya, dari desa pun mereka bisa
meraih mimpi.
Arga sering berkunjung ke sekolah, bercerita pada anak-anak.
"Dulu, Kakek juga sekolah di sini." Katanya pada
murid-murid SD. "Kakek berjalan kaki setiap hari, melewati pematang sawah.
Kakek tidak punya sepatu bagus, tidak punya tas bagus. Tapi Kakek punya
mimpi."
Anak-anak mendengarkan dengan takjub.
"Mimpi itu, kalian juga harus punya. Jangan pernah
takut bermimpi. Jangan pernah menyerah. Karena dari desa kecil ini, kalian bisa
meraih apa saja."
****
Tiga puluh tahun kemudian, Arga telah tua. Rambutnya putih,
jalannya lambat, tapi matanya masih bersinar. Ia telah pensiun sebagai kepala
desa, digantikan oleh generasi yang lebih muda. Rudi, sahabatnya, menjadi
kepala desa sekarang.
Desa Sumber Langit telah berubah total. Jalan aspal mulus.
Listrik stabil. Sekolah dari SD sampai SMA berdiri megah. Ada pasar desa, ada
puskesmas, ada koperasi. Pemuda-pemuda tidak perlu merantau. Banyak yang jadi
petani modern, pengusaha, guru, bahkan ada yang jadi dokter dan insinyur.
Namun yang paling berharga, semangat gotong royong masih
hidup. Warga masih saling membantu. Tradisi itu tidak hilang.
Suatu sore, Arga duduk di bangku taman lapangan desa. Ia
memandangi anak-anak bermain bola, tertawa riang. Angin sore berhembus
sepoi-sepoi, membawa aroma padi dari sawah.
Ratmi, yang kini istrinya, duduk di sampingnya. Mereka
menikah setelah Arga selesai masa jabatan pertama. Kini mereka punya anak dan
cucu.
"Pak, kangen desa dulu?" tanya Ratmi.
Arga tersenyum. "Kangen, Mi. Tapi aku lebih suka lihat
desa sekarang. Ini yang dulu aku impikan."
"Impianmu tercapai, Pak."
"Berkat kita semua. Berkat gotong royong. Berkat doa
orang tua."
Arga memandang langit sore yang jingga. Di kejauhan, bukit
kecil tempat ia dulu sering merenung, masih ada. Tempat ia pertama kali
bermimpi.
"Ayah... Ibu... Pak Darma... mimpi kita sudah jadi
nyata." bisiknya pelan.
Air mata mengalir di pipinya yang keriput. Bukan sedih,
tapi haru.
*****
Matahari sore mulai tenggelam di balik perbukitan. Cahaya
keemasan menyelimuti Desa Sumber Langit, membuat segalanya tampak damai dan
indah. Dari kejauhan terdengar suara azan magrib berkumandang dari masjid desa
yang megah.
Di sebuah bangku kayu di pinggir lapangan, seorang kakek
tua duduk termenung. Ia adalah Arga. Usianya sudah tujuh puluhan, namun matanya
masih bening. Sesekali ia tersenyum melihat anak-anak bermain bola.
Seorang anak kecil, cucunya, berlari mendekat. "Kakek!
Kakek! Lihat, aku bisa bikin gol!"
Arga tertawa. "Bagus, Nak. Kamu hebat."
Anak itu duduk di sampingnya. "Kakek, kata Ibu, dulu
Kakek yang membangun desa ini. Beneran?"
Arga mengusap rambut cucunya. "Bukan Kakek seorang,
Nak. Banyak orang. Seluruh warga. Kakek cuma punya mimpi."
"Mimpi apa, Kek?"
Arga memandang ke kejauhan. Sawah menghijau, jalan aspal
mulus, rumah-rumah bagus berjejer. Anak-anak bermain dengan gembira.
"Mimpi bahwa desa kecil ini bisa maju. Mimpi bahwa
anak-anak desa bisa sekolah tinggi. Mimpi bahwa tidak ada lagi yang perlu
merantau. Mimpi bahwa kita bisa hidup bahagia di tanah kelahiran sendiri."
Cucunya manggut-manggut, meskipun belum sepenuhnya
mengerti.
"Kek, aku juga mau punya mimpi. Aku mau jadi dokter.
Biar bisa obati orang sakit."
Arga tersenyum bangga. "Itu mimpi yang bagus, Nak.
Kejar terus. Jangan pernah menyerah."
Matahari semakin tenggelam. Langit berubah jingga keemasan,
lalu perlahan ungu.
Arga memandangi desa itu dengan hati yang damai. Perjalanan
panjang yang ia mulai dari rumah bambu di pinggir sawah, dari bukit kecil
tempat ia bermimpi, dari rantauan yang penuh air mata, kini telah sampai pada
penghujungnya.
Ia telah menepati janji pada ayahnya.
Ia telah membangun desanya.
Ia telah menantang takdir.
Dan kini, harapan itu hidup di hati generasi baru.
TAMAT
CATATAN PENULIS
Kisah ini terinspirasi dari perjuangan nyata anak-anak desa
di berbagai pelosok negeri yang berani bermimpi di tengah keterbatasan. Setiap
desa memiliki Arga-nya masing-masing, setiap tanah kelahiran memiliki
pejuangnya sendiri. Mereka mungkin tidak terkenal, tidak masuk berita, tidak
diundang ke acara-acara besar. Namun merekalah pahlawan sejati yang membangun
negeri dari akar rumput.
Jika Anda membaca kisah ini dan merasa terinspirasi,
ingatlah bahwa mimpi tidak mengenal batas. Dari mana Anda berasal tidak
menentukan ke mana Anda akan pergi. Yang menentukan adalah keberanian untuk
melangkah dan keteguhan untuk tidak menyerah.
Untuk semua anak desa yang sedang berjuang di perantauan,
untuk semua pemuda yang pulang membangun kampung halaman, untuk semua orang tua
yang tak lelah berdoa dan bekerja—kisah ini untuk kalian.
Teruslah bermimpi.
Teruslah berjuang.
Karena takdir memang bisa ditantang.
Salam dari penulis,
Slamet Riyadi







0 komentar:
Posting Komentar