Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Senin, 09 Maret 2026

Novel Catatan Kecil Sang Arjuna

 

Novel

CATATAN KECIL SANG ARJUNA

"Dari desa yang sunyi, lahir pemimpin sejati, bukan karena ramalan, tapi karena cinta yang tak pernah padam pada tanah kelahirannya."

Oleh: Slamet Riyadi

Sore itu langit Desa Awan Biru berwarna keemasan. Matahari mulai turun perlahan di balik hamparan kebun sawit yang membentang luas, meninggalkan bayang-bayang panjang di jalan tanah yang berdebu. Udara terasa hangat, bercampur aroma tanah kering dan dedaunan yang terbakar sinar matahari seharian.

Di pinggir jalan utama desa, sebuah truk besar milik perusahaan sawit berhenti dengan suara rem yang menggerit. Truk itu baru saja kembali dari perkebunan di ujung desa, membawa muatan penuh tandan buah segar. Debu beterbangan ketika pintu truk terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan wajah lelah namun ramah turun dari kendaraannya.

Itu adalah Anto, sopir truk yang sudah belasan tahun melewati jalan-jalan Desa Awan Biru. Setiap kali melewati desa ini, ia selalu singgah di warung kecil milik Mbah Karyo. Bukan hanya untuk melepas lelah, tetapi juga untuk menikmati teh panas dan percakapan hangat dengan warga desa.

Warung Mbah Karyo berdiri sederhana di pinggir jalan. Bangunannya terbuat dari kayu tua dengan atap seng yang sudah berkarat di beberapa bagian. Di depan warung terdapat bangku panjang dari papan, tempat para pelanggan duduk sambil menikmati pesanan mereka. Meski sederhana, warung ini adalah jantung kehidupan sosial Desa Awan Biru. Di sinilah berita-berita desa pertama kali terdengar, di sinilah masalah-masalah desa didiskusikan, dan di sinilah kadang keputusan-keputusan penting lahir dari percakapan santai.

Anto mengusap wajahnya yang penuh debu dengan tangan lelah. Ia berjalan memasuki warung sambil mengibas-ngibaskan bajunya.

"Teh panas satu, Mbah," katanya sambil duduk di bangku panjang.

Mbah Karyo, pemilik warung yang usianya sudah sekitar enam puluhan, mengangguk ramah dari balik etalase kaca tempat ia menyimpan jajanan dan rokok. "Sebentar, Nak. Masih panas ini airnya."

Di warung itu sudah duduk beberapa orang penting desa. Mereka sedang asyik berbincang tentang berbagai hal, mulai dari harga sawit yang turun hingga rencana pembangunan jalan desa.

Pak Iwan, Kepala Desa Awan Biru yang sudah menjabat dua periode, duduk di ujung bangku dengan tangan bersedekap. Wajahnya yang khas dengan kumis tebal selalu terlihat serius, tapi matanya memancarkan kewibawaan seorang pemimpin.

Di sampingnya duduk Pak Eko, Kaur Perencanaan yang terkenal teliti hingga ke hal-hal kecil. Ia selalu membawa buku catatan ke mana pun ia pergi, dan sore itu buku catatannya terbuka di pangkuannya.

Yuni, Sekretaris Desa yang masih muda dan energik, duduk dengan laptop di depannya, pemandangan yang agak jarang di warung sederhana ini. Ia terkenal sebagai perempuan yang sangat terorganisir dan selalu membawa buku catatan ke mana pun ia pergi.

Lulu, Kaur Keuangan, duduk dengan wajah sedikit pusing seperti biasa. Urusan anggaran desa memang selalu membuat keningnya berkerut. Endang, Kasi Pelayanan, duduk di sampingnya dengan senyum sabar yang menjadi ciri khasnya.

Ada juga Didit, Ketua BPD yang dikenal tegas dan vokal dalam setiap rapat desa. Ia tidak segan-segan memotong pembicaraan jika ada yang tidak sesuai dengan aturan.

Santoso, tokoh masyarakat yang dihormati, duduk agak menjauh sambil mengisap rokoknya perlahan. Ia jarang berbicara, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu berbobot.

Dan tentu saja Sugeng, warga biasa yang selalu punya komentar lucu tentang apa saja. Kehadirannya selalu membuat suasana warung lebih hidup.

Saat Anto baru saja menyeruput teh panasnya, seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi, meski sederhana, berjalan mendekati warung. Itu Amat, admin desa yang terkenal disiplin dan sangat menjaga data desa. Ia baru saja pulang dari kantor desa dan mampir untuk berbincang sebentar.

"Wah, Pak Amat datang," sapa Sugeng dengan nada bercanda. "Pasti baru selesai merapikan data lagi ya?"

Amat tersenyum sambil duduk di bangku kosong. "Iya, data penduduk harus selalu diperbarui. Ada beberapa warga yang baru pindah."

"Kerjaannya cuma data terus," goda Sugeng. "Kapan mau santainya?"

Semua orang tertawa kecil. Amat hanya menggeleng sambil memesan kopi hitam pada Mbah Karyo. Suasana warung sore itu hangat seperti biasa. Mereka membicarakan berbagai hal,tentang harga pupuk yang naik, tentang bantuan pemerintah yang akan turun, tentang rencana perbaikan irigasi desa.

Amat sedang bercerita tentang pekerjaan kantor desa ketika Anto tiba-tiba ikut nimbrung dalam percakapan. Matanya tampak berbinar, seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang penting.

"Eh, kalian sudah dengar belum?" kata Anto sambil menyeruput teh panasnya lagi.

Semua orang menoleh ke arahnya. Sugeng, yang paling cepat bereaksi, langsung bertanya, "Dengar apa, To?"

Anto menatap mereka satu per satu dengan tatapan misterius. Kemudian matanya berhenti pada Amat.

"Anakmu, Anita… katanya lagi hamil ya?" tanya Anto dengan nada yang tidak bisa ditebak apakah serius atau bercanda ke Si Amat.

Amat tersenyum bangga. Wajahnya yang biasanya serius berubah cerah membicarakan anak semata wayangnya. "Iya. Baru beberapa bulan. Dokter bilang semuanya sehat."

"Wah, selamat ya, Pak Amat!" seru Yuni dari seberang.

"Sugeng langsung berseloroh dengan nada khasnya, "Wah, berarti Amat sudah siap jadi kakek nih. Siap-siap gendong cucu!"

Semua orang tertawa kecil. Amat sendiri ikut tertawa meski ada rona malu di wajahnya.

Namun Anto tidak ikut tertawa. Ia justru menatap Amat dengan tatapan yang berbeda, tatapan seseorang yang sedang melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

"Anak yang sedang dikandung Anita itu…" Anto berhenti sejenak, seolah mengumpulkan kata-kata yang tepat.

Semua orang diam, menunggu kelanjutan kalimat Anto.

"…kelak akan jadi kepala desa di sini."

Warung itu tiba-tiba sunyi.

Senyum di wajah Amat mengeras. Sugeng yang sedari tadi siap melontarkan candaan berikutnya membeku dengan mulut setengah terbuka. Bahkan Pak Iwan yang biasanya tenang mengerutkan kening.

Hening selama beberapa detik.

Lalu Sugeng meledak tertawa. Tawanya keras hingga membuat beberapa warga yang lewat di depan warung menoleh.

"Anto… Anto… kamu ini kebanyakan kena debu sawit!" teriak Sugeng sambil menepuk-nepuk meja. "Ramalan macam apa itu?"

Pak Iwan hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Sudah-sudah, jangan bikin gaduh. Anto hanya bercanda."

Tapi Anto menggeleng pelan. Wajahnya serius. "Entahlah. Saya cuma merasa begitu. Kadang-kadang kalau saya sudah capek nyetir, saya suka dapat firasat. Dan firasat saya kali ini kuat sekali."

Santoso yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. Suaranya dalam dan tenang. "Firasat itu kadang benar, kadang tidak. Yang jelas, anak itu akan lahir dengan doa kita semua."

Amat mengangguk, berusaha mengembalikan suasana normal. "Iya, yang penting sehat saja. Mau jadi apa nanti terserah dia."

Namun di sudut hatinya, Amat menyimpan kata-kata Anto. Bukan karena ia percaya pada ramalan, tapi karena ada sesuatu dalam cara Anto mengatakannya yang membuatnya merasa... berbeda.

Tak lama kemudian matahari benar-benar tenggelam. Langit keemasan berubah menjadi jingga, lalu perlahan menjadi gelap. Warga desa satu per satu pamit pulang. Lampu-lampu mulai menyala di rumah-rumah penduduk.

Tak seorang pun tahu bahwa ramalan di pinggir jalan sore itu, yang dianggap semua orang sebagai candaan belaka, kelak benar-benar terjadi.

Dan desa kecil itu akan menjadi saksi perjalanan seorang anak yang lahir di tengah ramalan sederhana, tumbuh dengan mimpi-mimpi besar, dan akhirnya memimpin desa tempat ia dibesarkan.

*****

Beberapa bulan setelah percakapan di warung Mbah Karyo, langit Desa Awan Biru berubah menjadi kelabu. Hujan turun deras sejak subuh, mengguyur atap-atap rumah dengan suara gemericik yang terus-menerus. Jalan-jalan desa berubah menjadi lumpur, dan para petani memilih tinggal di rumah menunggu hujan reda.

Di rumah sederhana milik dr. Erlangga dan Anita, suasana sangat berbeda. Di dalam kamar yang hangat, Anita terbaring di tempat tidur dengan wajah pucat bercampur peluh. Ia menahan sakit yang datang bergelombang, tangannya menggenggam erat tangan suaminya.

"Aaaaa... Sakit sekali, Mas," rintih Anita di antara napas tersengal.

Erlangga, seorang dokter muda yang biasa menangani pasien dengan tenang, kini ikut gelisah. Tangannya yang biasanya mantap saat memegang alat medis kini sedikit gemetar. Ini berbeda. Ini bukan pasien. Ini istrinya sendiri yang sedang berjuang melahirkan anak pertama mereka.

Bidan Desa Amelia sibuk di antara kedua kaki Anita. Wajahnya fokus, tangannya cekatan memeriksa perkembangan persalinan. Ia sudah menangani puluhan kelahiran di desa ini, tapi setiap proses persalinan selalu membuatnya tegang.

"Bu Anita, ibu harus kuat. Terus tarik napas panjang," ucap Bidan Amelia dengan suara tegas namun menenangkan.

Di ruang depan, Amat berjalan mondar-mandir tak menentu. Ia sudah bolak-balik dari ruang tamu ke teras, dari teras ke ruang tamu lagi. Rokok di tangannya sudah hampir habis, tapi ia tetap memegangnya tanpa benar-benar mengisap.

"Aduh… kenapa lama sekali," gumamnya dengan suara cemas.

Dari dapur, istrinya, Sumi, sedang menyiapkan air hangat dan handuk bersih. Ia sesekali melongok ke ruang tamu melihat suaminya yang gelisah.

"Pak, duduklah yang tenang. Ini sudah ditangani bidan," kata Sumi.

Amat menggeleng. "Mana bisa tenang, Bu. Ini cucu pertama kita."

Ia melanjutkan mondar-mandirnya, kali ini dengan langkah lebih cepat.

Dari kamar, terdengar lagi teriakan Anita yang memecah keheningan. Amat hampir saja menerobos masuk, tapi ia sadar itu bukan tempatnya. Ia hanya bisa berdoa dalam hati, memohon keselamatan bagi anak dan cucunya.

Erlangga mencoba tetap tenang meski hatinya berdegup kencang. Ia mengusap keringat di dahi Anita dengan lembut.

"Sayang, kamu kuat. Aku di sini," bisiknya.

Anita hanya bisa mengangguk lemah di antara rasa sakit yang terus mengalir.

Sementara itu, di luar rumah, hujan masih turun deras. Namun entah mengapa, di tengah gemuruh hujan itu, beberapa warga desa merasa ada sesuatu yang berbeda. Sugeng yang kebetulan lewat di depan rumah Erlangga berhenti sejenak. Ia memandangi rumah itu, lalu menggeleng-geleng sendiri.

"Kayaknya ada yang lahir hari ini," gumamnya.

Ia lalu melanjutkan perjalanan, basah kuyup karena tidak membawa payung.

Di dalam kamar, perjuangan Anita mencapai puncaknya.

"Sekarang, Bu Anita! Sekarang!" perintah Bidan Amelia dengan suara lantang.

Anita mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Erlangga menggenggam tangannya erat-erat, ikut merasakan setiap sakit yang dialami istrinya.

Dan kemudian...

"Waaaa... waaaa... waaaaa!"

Tangisan bayi memecahkan ketegangan yang menggantung di ruangan itu. Tangisan itu keras. Sangat keras. Bahkan mungkin terdengar hingga ke ruang depan tempat Amat mondar-mandir.

Bidan Amelia tersenyum lebar. Ia mengangkat bayi mungil yang masih berlumuran darah dan lendir itu. "Selamat, Bu. Bayinya laki-laki."

Anita menangis haru. Semua rasa sakit yang barusan ia rasakan sirna seketika saat melihat bayinya. Erlangga mencium kening istrinya dengan mata basah.

"Kamu hebat, Sayang," bisiknya.

Di ruang depan, Amat yang mendengar tangisan itu hampir melonjak kegirangan. "Cucu saya! Saya punya cucu!"

Sumi keluar dari dapur dengan wajah bahagia. "Alhamdulillah, Pak. Selamat."

Amat ingin segera masuk, tapi ia masih menahan diri. Ia hanya bisa menunggu dengan hati berbunga-bunga.

Beberapa menit kemudian, Bidan Amelia keluar dari kamar sambil menggendong bayi yang sudah dibersihkan dan dibedong rapi. Bayi itu tenang dalam pelukan, matanya masih terpejam.

"Selamat, Pak Amat. Cucu Bapak laki-laki," kata Bidan Amelia sambil menyerahkan bayi itu.

Amat menerima gendongan itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia menatap wajah mungil cucunya dengan takjub. Bayi itu tidur pulas, tidak terganggu oleh keributan di sekitarnya.

"Cucu saya," bisik Amat dengan suara bergetar. "Cucu saya."

Erlangga keluar dari kamar, wajahnya lelah tapi bahagia. Ia menghampiri Amat dan menatap bayinya. "Ayah, maaf sudah merepotkan."

Amat menggeleng. "Tidak apa-apa, Le. Ini kebahagiaan."

"Mari kita doakan dia jadi anak yang baik," kata Erlangga.

Amat mengangguk. "Sudah dapat nama?"

Erlangga tersenyum. "Kami sudah memikirkannya sejak lama. Kalau laki-laki, kami ingin memberi nama Arjuna."

Amat mengulang nama itu dalam hati. "Arjuna... nama yang bagus."

Ia kembali menatap cucunya. Bayi mungil yang masih merah itu tiba-tiba menggerakkan tangannya sedikit, seolah memberi isyarat bahwa ia tahu sedang dibicarakan.

"Arjuna," panggil Amat lembut. "Selamat datang di Desa Awan Biru."

Di luar rumah, hujan mulai reda. Awan kelabu perlahan bergeser, memberi jalan pada sinar matahari yang menyelinap di sela-selanya. Seberkas cahaya masuk melalui jendela kamar, tepat mengenai wajah bayi yang baru lahir itu.

Tak ada yang menyadari bahwa bayi kecil itu kelak akan menjalani perjalanan panjang bersama Desa Awan Biru. Perjalanan yang akan mengubah banyak hal, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi seluruh warga desa.

****

Arjuna tumbuh menjadi anak yang lincah dan penuh rasa ingin tahu. Sejak bisa berjalan, ia sudah sering diajak kakeknya, Amat, ke kantor desa. Amat yang bekerja sebagai admin desa tidak tega meninggalkan cucunya sendirian di rumah, apalagi setelah Sumi, neneknya, meninggal dua tahun lalu karena sakit.

"Kakek kerja dulu ya, Jun," kata Amat setiap pagi sambil menggendong Arjuna yang masih berusia tiga tahun. "Kamu main yang baik di kantor."

Arjuna kecil hanya mengangguk dengan mata bulatnya yang penasaran. Ia suka sekali pergi ke kantor desa. Di sana ada banyak orang, banyak benda baru, dan banyak hal yang bisa diamati.

Bagi Arjuna kecil, kantor desa adalah tempat bermain yang paling menyenangkan.

Di kantor desa, ia mengenal semua orang. Pak Eko yang selalu serius dengan berkas-berkasnya, jarang tersenyum tapi baik hati. Jika Arjuna mendekat, Pak Eko akan mengelus kepalanya pelan sambil berkata, "Jun, jangan ganggu Kakek Amat bekerja ya."

Yuni, Sekretaris Desa yang masih muda dan cantik, sering memberinya permen. Setiap kali melihat Arjuna, Yuni akan merogoh tasnya dan mengeluarkan permen rasa buah.

"Jun, ini buat kamu," katanya sambil tersenyum. "Duduk yang manis ya."

Lulu, Kaur Keuangan, adalah kebalikan dari Yuni. Ia selalu sibuk dengan angka-angka dan sering mengeluh soal laporan keuangan yang tidak pernah selesai. "Jun, kamu kalau besar jangan jadi bendahara ya. Pusing," katanya suatu hari sambil mengacak-acak rambut Arjuna.

Endang, Kasi Pelayanan, adalah orang paling sabar di kantor itu. Setiap kali ada warga yang datang dengan berbagai masalah, Endang selalu melayani dengan senyum. Arjuna suka memperhatikan bagaimana Endang berbicara dengan lembut pada setiap orang, bahkan pada warga yang marah-marah sekalipun.

Suatu hari, ketika Arjuna berusia empat tahun, terjadi peristiwa yang tidak akan ia lupakan.

Sore itu kantor desa sedang sepi. Amat sedang sibuk mengetik di komputernya, benda ajaib yang selalu membuat Arjuna penasaran. Yuni sedang mengarsip surat. Lulu sibuk dengan kalkulatornya. Pak Eko sedang membaca proposal pembangunan.

Arjuna, yang bosan bermain sendiri, berjalan-jalan mengelilingi kantor. Ia melihat-lihat ruangan satu per satu. Dan kemudian matanya tertuju pada satu kursi besar di ruangan paling depan.

Kursi Kepala Desa.

Kursi itu besar, terbuat dari kayu mahoni dengan sandaran tinggi. Di atas meja di depannya ada bendera merah putih, lambang desa, dan tumpukan berkas yang rapi. Arjuna selalu penasaran dengan kursi itu. Mengapa hanya Pak Iwan yang boleh duduk di sana?

Perlahan, Arjuna mendekati kursi itu. Ia melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada orang. Dengan hati-hati, ia memanjat kursi itu. Tubuh mungilnya berjuang naik, tangannya meraih sandaran kursi, kakinya mengais mencari pijakan.

Akhirnya, ia berhasil duduk di kursi besar itu.

Waw. Dari sini pemandangannya berbeda. Arjuna bisa melihat seluruh ruangan. Ia merasa tinggi, besar, penting.

"Wah... sudah latihan jadi kepala desa ya?"

Arjuna menoleh. Pak Iwan berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar. Beliau baru saja pulang dari pertemuan di kecamatan Kabut Merah dan melihat pemandangan lucu: seorang bocah empat tahun duduk di kursinya dengan wajah serius.

Arjuna langsung panik. Ia berusaha turun, tapi kakinya terlalu pendek untuk mencapai lantai. Tubuhnya goyang.

"Aduh!" pekiknya.

Pak Iwan tertawa. Dengan cepat ia mendekat dan mengangkat Arjuna dari kursi. "Hati-hati, Nak. Bisa jatuh."

Arjuna menunduk malu. "Maaf, Pak."

Pak Iwan mengelus kepala Arjuna. "Tidak apa-apa. Kamu mau jadi kepala desa ya?"

Arjuna menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Hanya lihat-lihat."

Pak Iwan tertawa lagi. Ia kemudian memangku Arjuna dan duduk di kursinya. "Nak, jadi kepala desa itu tidak mudah. Banyak tanggung jawab. Harus melayani warga, harus mengurus desa."

Arjuna mendengarkan dengan serius.

"Tapi kalau kamu belajar sungguh-sungguh, siapa tahu suatu hari nanti kamu benar-benar duduk di kursi ini," lanjut Pak Iwan.

Arjuna tidak mengerti sepenuhnya apa yang dikatakan Pak Iwan. Ia hanya tersenyum polos.

Di ambang pintu, Amat dan beberapa pegawai lain sudah berkumpul, menyaksikan adegan itu dengan senyum. Yuni bahkan mengabadikan momen itu dengan ponselnya.

"FOTO!" teriak Sugeng yang entah sejak kapan ikut nonton. "Ini bakal jadi sejarah!"

Semua orang tertawa. Arjuna ikut tertawa meski tidak tahu apa yang lucu.

Tak seorang pun mengingat ramalan Anto saat itu. Tapi bagi yang melihat Arjuna duduk di kursi kepala desa sore itu, ada perasaan aneh yang muncul. Seperti melihat sesuatu yang mungkin saja terjadi di masa depan.

****

Ketika Arjuna mulai besar, memasuki usia enam tahun, Amat sering mengajaknya ke warung Mbah Karyo. Bukan hanya untuk membeli jajanan, tapi juga untuk mendengar cerita-cerita.

Warung Mbah Karyo adalah tempat berkumpulnya warga desa. Di sana orang-orang berbincang tentang segala hal: politik desa, harga sawah, musim tanam, hingga gosip terbaru. Arjuna suka duduk di bangku panjang sambil mendengarkan percakapan orang dewasa.

"Jun, kamu mau es teh atau es campur?" tanya Amat suatu sore.

"Es teh aja, Kek," jawab Arjuna sopan.

Amat memesan minuman untuk mereka berdua. Mbah Karyo mengangguk sambil menyiapkan es teh dalam gelas kaca tebal dengan es batu yang berderak.

Di warung itu, Arjuna mendengar banyak cerita. Santoso, tokoh masyarakat yang dihormati, sering bercerita tentang masa lalu desa. Tentang bagaimana Desa Awan Biru dulu hanya hutan kecil dengan beberapa rumah panggung. Tentang bagaimana warga bergotong royong membangun jalan pertama yang menghubungkan desa dengan kecamatan Kabut Merah. Tentang perjuangan mendirikan sekolah desa yang sekarang menjadi tempat Arjuna belajar.

"Dulu, sebelum ada jalan aspal, kami harus berjalan kaki berjam-jam ke kecamatan Kabut Merah," cerita Santoso suatu hari. "Bawa hasil bumi di pikulan. Capek, tapi itulah hidup."

Arjuna membayangkan itu. Berjalan berjam-jam di tengah hutan, membawa beban berat. "Kenapa tidak naik mobil, Pak Santoso?" tanyanya polos.

Santoso tertawa. "Mobil? Dulu mobil belum masuk ke desa, Nak. Jalanannya masih tanah, berlumpur kalau hujan. Mobil malah bisa terperosok."

Sugeng yang sedang minum kopi di samping mereka ikut nimbrung. "Jun, jaman dulu itu susah. Listrik saja belum ada. Malam-malam gelap gulita, cuma pakai lampu minyak."

"Masa, Pak?" Arjuna tidak bisa membayangkan hidup tanpa listrik.

"Iya. Jadi kamu harus bersyukur sekarang sudah ada listrik, ada televisi, ada kulkas," kata Sugeng.

Arjuna mengangguk. Ia mulai memahami bahwa desa ini telah melalui perjalanan panjang untuk menjadi seperti sekarang.

Suatu sore, ketika Arjuna duduk di warung sendirian (Amat sedang mengurus surat di kantor), Santoso duduk di sampingnya. Lelaki tua itu menatap Arjuna dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Jun," katanya pelan.

"Iya, Pak?"

"Kamu tahu kenapa orang tua suka berkumpul di warung?"

Arjuna menggeleng. "Tidak tahu, Pak."

Santoso tersenyum. "Bukan hanya untuk minum kopi atau ngobrol. Tapi untuk saling menguatkan. Untuk berbagi cerita. Untuk memastikan bahwa kita tidak sendiri."

Arjuna mendengarkan dengan serius. Kata-kata Santoso terasa dalam, meski ia belum sepenuhnya mengerti.

"Suatu hari nanti, kalau kamu besar, desa ini akan jadi milik kamu dan teman-temanmu," lanjut Santoso. "Jaga baik-baik. Jangan sampai desa ini kehilangan semangat gotong royongnya."

Arjuna mengangguk mantap, meski tidak sepenuhnya paham apa itu gotong royong.

Sugeng yang entah sejak kapan mendengarkan kembali berseloroh. "Iya, Jun. Jangan cuma jadi tukang nongkrong di warung Mbah Karyo kayak kami ini!"

Semua orang tertawa. Arjuna ikut tertawa.

Namun kata-kata Santoso sore itu diam-diam ia simpan dalam ingatan. Sesuatu tentang desa, tentang tanggung jawab, tentang menjaga sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Mbah Karyo yang sejak tadi sibuk melayani pelanggan berhenti sejenak. Ia menatap Arjuna. " anak itu punya mata yang berbeda."

"Berbeda bagaimana, Mbah?" tanya Sugeng.

"Matanya... seperti melihat sesuatu yang tidak kita lihat," jawab Mbah Karyo pelan.

Sugeng mengangkat alis, tapi tidak berkata apa-apa.

Arjuna tidak mendengar percakapan itu. Ia sedang asyik menyeruput es tehnya, menikmati sore yang tenang di warung desa.

****

Pagi di Desa Awan Biru selalu dimulai dengan cara yang sama. Ayam berkokok bersahutan dari berbagai penjuru. Kabut tipis masih menyelimuti sawah-sawah. Udara dingin menusuk kulit, bercampur aroma tanah basah dari kebun yang masih dipenuhi embun.

Matahari belum sepenuhnya naik ketika Arjuna kecil sudah duduk di teras rumahnya. Usianya sekarang tujuh tahun, dan ia sudah duduk di bangku kelas satu SD. Di tangannya ada sebuah buku bergambar yang sedikit kusam. Sampulnya sudah lecet di sana-sini, tapi itu tidak mengurangi rasa ingin tahunya.

Ia belum sepenuhnya lancar membaca saat itu, baru bisa mengeja kata demi kata dengan terbata-bata. Namun ia sudah terbiasa membuka halaman demi halaman dengan rasa ingin tahu yang besar. Jarinya yang mungil menunjuk setiap kata, bibirnya bergerak-gerak mengeja.

"Jun, kamu baca apa lagi pagi-pagi begitu?" tanya Anita dari dapur. Ibunya sedang memasak sarapan, dan aroma nasi goreng mulai tercium.

Arjuna mengangkat buku itu tinggi-tinggi. "Ini buku tentang planet, Bu."

Anita mengelap tangan di celemek, lalu keluar ke teras. Ia duduk di samping Arjuna dan melihat buku itu. "Wah, bagus sekali. Dari mana kamu dapat?"

"Pinjam dari perpustakaan sekolah."

"Memangnya kamu sudah mengerti?" tanya Anita sambil mengelus rambut Arjuna.

Arjuna menggeleng pelan. "Belum semuanya, Bu. Tapi menarik. Lihat ini." Ia menunjuk gambar planet Saturnus dengan cincinnya yang indah. "Yang ini ada gelangnya. Yang lain tidak punya."

Anita tersenyum. Anaknya memang berbeda. Sejak kecil, Arjuna lebih suka duduk membaca buku daripada bermain terlalu lama di luar rumah. Bukan berarti ia tidak suka bermain, ia tetap bergaul dengan teman-temannya. Tapi ada saat-saat di mana ia memilih sendiri, memegang buku, dan tenggelam dalam dunia yang ia baca.

Buku-buku itu sebagian milik ayahnya, dr. Erlangga, yang memang gemar membaca. Erlangga sering membawa pulang buku dari kota, buku kesehatan, buku pengetahuan umum, kadang novel. Tanpa disadari, kebiasaan itu menular kepada anaknya.

Suatu sore, ketika Arjuna berusia delapan tahun, ia menemukan sesuatu yang menarik di meja kerja ayahnya. Sebuah buku tebal dengan gambar-gambar anatomi manusia. Hatinya berdebar. Dengan hati-hati ia membuka halaman demi halaman.

Erlangga yang baru pulang dari klinik melihat anaknya sedang asyik membaca buku medis miliknya. Ia tersenyum, lalu duduk diam di kursi, memperhatikan.

Arjuna begitu fokus sehingga tidak menyadari kehadiran ayahnya. Matanya terpaku pada gambar jantung manusia. Jarinya menelusuri bentuknya.

Beberapa menit kemudian, Erlangga berkata pelan, "Jun... itu buku orang dewasa."

Arjuna tersentak. Buku itu hampir jatuh, tapi ia berhasil menangkapnya. "Ayah! Kaget saja."

Erlangga tertawa. "Maaf. Kamu serius sekali bacanya."

Arjuna menunjukkan gambar jantung. "Ini tentang tubuh manusia ya, Ay? Ini jantung?"

Erlangga mengangguk. "Betul. Itu jantung. Organ paling penting dalam tubuh kita."

"Kenapa jantung berdetak?" tanya Arjuna dengan mata berbinar.

Pertanyaan itu membuat Erlangga berpikir sejenak. Anak itu masih sangat kecil, tapi rasa ingin tahunya begitu besar. Ia duduk di samping Arjuna.

"Karena jantung memompa darah ke seluruh tubuh kita," jelas Erlangga. "Bayangkan sebuah pompa air. Setiap detak, jantung mendorong darah untuk mengalir ke seluruh tubuh, membawa oksigen dan makanan ke setiap sel."

Arjuna mengangguk-angguk serius seolah benar-benar memahami. "Jadi kalau jantung berhenti, kita mati?"

"Betul sekali."

Arjuna kembali menatap gambar itu dengan takjub. "Ajaib sekali, ya."

Erlangga tersenyum. Ia sadar bahwa anaknya memiliki kecerdasan yang berbeda. Bukan hanya pintar, tapi punya rasa ingin tahu yang tidak biasa.

Namun bukan hanya buku yang menarik perhatian Arjuna. Suatu hari, ketika ia berusia sembilan tahun, Erlangga membawa pulang sesuatu yang akan mengubah hidupnya.

Sebuah komputer.

Bukan komputer baru, tentu saja. Itu komputer lama dari klinik, yang sudah diganti dengan yang lebih baru. Tapi bagi Arjuna, benda itu seperti alien dari planet lain.

"Ayah... ini apa?" tanyanya dengan mata terbelalak.

"Komputer."

"Bisa buat apa?"

"Banyak."

Erlangga menyalakan komputer itu. Layar menyala perlahan, menampilkan tulisan-tulisan aneh yang belum pernah Arjuna lihat. Lampu monitor berkedip, lalu stabil.

Arjuna duduk sangat dekat, memperhatikan setiap detail. Bagi anak desa seperti Arjuna, komputer adalah benda yang hampir seperti sihir. Di sekolah, mereka punya satu komputer tua di ruang guru, tapi murid-murid tidak boleh menyentuhnya. Dan sekarang, di rumahnya sendiri, ada komputer.

"Ini bisa buat main game?" tanyanya penuh harap.

Erlangga tertawa. "Bisa. Tapi lebih dari itu, bisa buat belajar. Bisa buat mengetik, menghitung, bahkan menggambar."

Arjuna tidak sabar. "Ajarin, Ay! Ajarin!"

Sejak saat itu, Arjuna menghabiskan banyak waktu dengan komputer. Awalnya ia hanya belajar mengetik, menekan tombol-tombol tanpa tujuan, hanya untuk melihat huruf-huruf muncul di layar. Tapi lama-kelamaan ia mulai memahami cara menggunakannya.

Suatu hari Amat datang berkunjung. Ia melihat cucunya duduk serius di depan komputer, mengetik sesuatu dengan konsentrasi tinggi. Jari-jari Arjuna sudah mulai lincah di atas keyboard.

"Kamu lagi ngapain, Jun?" tanya Amat.

Arjuna menjawab tanpa menoleh. "Belajar, Kek."

"Belajar apa?"

"Belajar komputer."

Amat tertawa. Ia duduk di kursi dekat Arjuna. "Masih kecil sudah sok serius."

Erlangga yang berdiri di belakang mereka berkata pelan, "Biarkan saja, Pak. Rasa ingin tahu itu bagus. Siapa tahu nanti berguna."

Amat mengangguk, meski ia tidak sepenuhnya mengerti apa gunanya komputer untuk anak sekecil Arjuna.

Namun seiring waktu, Amat mulai melihat bahwa cucunya bukan sekadar bermain. Arjuna benar-benar belajar. Ia mencoba mengetik cerita kecil, cerita tentang petualangan di desa, tentang teman-temannya, tentang hal-hal sederhana di sekitarnya. Ia mencari gambar-gambar di internet (meski koneksi lambat dan sering putus). Dan yang mengejutkan, ia mencoba membuat tabel sederhana.

Suatu hari Amat membawanya ke kantor desa. Di sana, Arjuna melihat komputer lain di meja Amat. Komputer itu digunakan untuk mencatat data warga desa.

Arjuna mendekat. "Kakek... ini buat apa?"

Amat menjelaskan sambil menunjuk layar. "Ini untuk menyimpan data warga. Nama, alamat, tanggal lahir, pekerjaan. Semua ada di sini."

Arjuna berpikir sejenak. "Kalau pakai komputer... data desa jadi lebih rapi ya, Kek? Lebih cepat dicarinya."

Amat menatap cucunya dengan heran. Anak sekecil itu sudah mulai memikirkan sistem.

"Iya... kira-kira begitu."

"Terus, kalau ada warga yang pindah atau lahir, tinggal diperbarui di komputer?"

"Betul."

Arjuna mengangguk puas. "Canggih."

Sore hari itu Pak Eko datang ke kantor desa membawa berkas perencanaan pembangunan. Ia melihat Arjuna duduk di kursi depan komputer, memperhatikan layar dengan serius.

"Jun, kamu suka komputer ya?" tanya Pak Eko sambil meletakkan berkasnya.

Arjuna mengangguk. "Iya, Pak. Asyik."

Pak Eko tersenyum. "Bagus. Desa kita nanti butuh orang pintar yang mengerti teknologi."

Sugeng yang kebetulan lewat di depan kantor desa mendengar percakapan itu. Ia masuk dan duduk di kursi tamu.

"Wah, Jun jadi anak pintar sekarang," godanya. "Yang penting jangan cuma pintar main game, ya!"

Semua orang di ruangan itu tertawa.

Namun dalam hati Amat, muncul perasaan aneh. Ia tiba-tiba teringat sesuatu yang pernah dikatakan seseorang dulu di warung Mbah Karyo. Sebuah kalimat yang saat itu dianggap hanya candaan.

"Anak yang sedang dikandung Anita itu... kelak akan jadi kepala desa."

Amat menggeleng kecil. "Ah... mana mungkin," gumamnya pelan.

Tapi ia menatap Arjuna yang masih serius di depan layar komputer. Ada sesuatu dalam cara anak itu berpikir. Sesuatu yang berbeda dari anak-anak seusianya.

Sore di Desa Awan Biru perlahan berubah menjadi senja. Langit berwarna jingga kemerahan. Di kantor desa yang mulai sepi, Arjuna masih duduk di kursi depan komputer, menekan tombol-tombol dengan penuh rasa ingin tahu.

Tak ada yang tahu bahwa dari rasa ingin tahu sederhana itulah, kelak akan lahir banyak perubahan bagi Desa Awan Biru.

****

Hari-hari di Desa Awan Biru bagi anak-anak selalu terasa panjang dan penuh petualangan. Sawah yang luas terbentang hijau, kebun sawit yang berjajar seperti tembok hijau, serta jalan tanah yang berkelok menjadi dunia bermain mereka. Setiap sudut desa menyimpan cerita dan misteri yang siap dijelajahi.

Arjuna mulai memasuki usia sekolah dasar ketika ia mulai memiliki lingkaran pertemanan yang kelak akan sangat berpengaruh dalam hidupnya. Teman-teman sebayanya adalah anak-anak yang tumbuh di desa yang sama, dengan cerita keluarga yang saling terhubung satu sama lain.

Mereka adalah:

Hidayat, anak yang terkenal paling berani di antara mereka. Ia tidak pernah takut memanjat pohon kelapa setinggi apa pun, atau menyeberangi sungai kecil yang berada di ujung desa meski arusnya sedang deras. Rambutnya selalu acak-acakan, lututnya penuh luka karena jatuh, tapi ia selalu tersenyum lebar.

"Gue berani apa aja!" begitu selalu ia katakan.

Herman, kebalikan dari Hidayat. Ia yang paling sabar di antara mereka. Jika anak-anak lain mulai bertengkar, Herman yang akan menjadi penengah. Ia tidak suka keributan, lebih suka damai. Matanya selalu tenang, suaranya lembut.

"Udah, jangan bertengkar. Mending main lagi," katanya setiap kali ada perselisihan.

Nadya, gadis yang pintar dan selalu mendapat nilai tinggi di sekolah. Ia anak tunggal, orang tuanya cukup berada, tapi ia tidak sombong. Nadya selalu rapi, rambutnya dikepang dua, bajunya bersih meski setelah seharian bermain. Di kelas, dialah yang biasanya jadi tempat bertanya jika ada yang tidak paham pelajaran.

"Ini lho caranya," katanya sabar menjelaskan pada teman-teman.

Naila, sahabat Nadya yang paling ceria. Jika Nadya serius, Naila justru sering membuat teman-temannya tertawa dengan tingkah lucunya. Ia pandai meniru suara orang, bisa menirukan gaya bicara Pak Guru, suara ayam, bahkan suara motor tua milik Pak RT. Tidak heran ia selalu menjadi pusat perhatian di setiap kumpul anak-anak.

"Eh, dengerin gue kayak Pak Guru lagi marah!" katanya lalu memulai aksinya.

Juana, anak yang paling pendiam. Ia jarang bicara, tapi sangat setia. Jika ada teman yang sedang sedih, Juana akan duduk di sampingnya diam-diam, tidak berkata apa-apa, hanya menemani. Kadang orang mengira ia pemurung, tapi sebenarnya ia hanya terlalu pemalu untuk memulai percakapan.

Dan Dadang, yang paling gemar bermain sepak bola. Ia bisa bermain bola dari pagi sampai sore tanpa kenal lelah. Bola plastik yang sudah penyok pun tetap jadi barang berharga baginya. Dadang bercita-cita jadi pemain bola terkenal, meski lapangan desa mereka jauh dari kata ideal, tanahnya tidak rata, banyak batu, dan kadang becek kalau habis hujan.

Mereka sering berkumpul sepulang sekolah di bawah pohon besar di dekat lapangan desa. Pohon itu sangat tua, dengan akar-akar besar yang menjalar ke permukaan tanah. Di bawahnya teduh, angin sejuk selalu berhembus.

Suatu sore, Hidayat datang berlari sambil membawa bola plastik yang sudah agak penyok. Wajahnya bersemangat.

"Ayo main bola!" teriaknya dari kejauhan.

Dadang yang sedang duduk di bawah pohon langsung berdiri. Matanya berbinar. "Akhirnya! Dari tadi aku tunggu. Kalian pada ke mana saja?"

Arjuna yang sedang asyik membaca buku—sebuah buku cerita bergambar tentang penjelajah antariksa, menutup bukunya perlahan. "Aku ikut."

Naila yang melihat mereka bersiap bermain bola tertawa. "Kalian ini tiap hari main bola. Gak bosen?"

Hidayat menjawab cepat, "Kalau tidak main bola, mau apa? Nonton TV? TV di rumah cuma satu channel, itu juga gambarnya kadang buram."

Nadya mengangkat bahu. "Mungkin belajar. Besok kan ada ulangan."

Mendengar kata "ulangan", beberapa anak langsung mengerutkan dahi.

"Ah, ulangan masih besok," kata Dadang cuek. "Sekarang main dulu."

Belajar adalah kata yang sering mereka dengar dari guru di sekolah, tapi bagi anak-anak desa yang energinya seperti tidak ada habisnya, bermain jauh lebih menarik. Apalagi setelah seharian duduk di kelas.

Mereka pun menuju lapangan desa. Lapangan itu tidak terlalu luas, hanya tanah lapang berumput dengan dua gawang dari kayu yang sudah lapuk. Tapi bagi mereka, itu adalah stadion terbaik di dunia.

Permainan dimulai. Hidayat dan Dadang di tim yang sama, melawan Arjuna, Herman, dan beberapa anak lain. Gadis-gadis memilih menonton dari pinggir lapangan sambil sesekali berteriak memberi semangat.

"Dadang, oper! Oper!" teriak Hidayat.

Dadang menggiring bola melewati Arjuna, lalu mengoper pada Hidayat. Hidayat menendang keras ke arah gawang. Gol!

"YES!" teriak Hidayat sambil berlari keliling lapangan.

Permainan berlangsung seru. Tawa dan teriakan memenuhi lapangan desa. Sampai akhirnya matahari mulai turun, dan mereka harus berhenti karena sudah terlalu gelap.

Mereka duduk di pinggir lapangan, kelelahan tapi bahagia. Keringat membasahi baju mereka, kaki penuh tanah.

Namun di tengah kelelahan itu, ada satu kebiasaan unik yang selalu dilakukan Arjuna. Di sela-sela istirahat, ia sering membuka buku kecil yang selalu ia bawa. Bukan buku pelajaran, tapi buku catatan pribadi.

Suatu hari Dadang bertanya, "Jun, kamu tidak bosan baca terus? Capek kan?"

Arjuna menggeleng. "Tidak."

"Memangnya enak?"

Arjuna berpikir sebentar. Bagaimana menjelaskan perasaannya pada teman-teman? Akhirnya ia berkata, "Buku itu seperti cerita dunia lain."

Hidayat tertawa. "Dunia kita saja belum selesai kamu jelajahi."

"Justru itu," jawab Arjuna. "Dengan membaca, kita bisa menjelajahi dunia yang lebih luas. Bahkan sampai ke luar angkasa."

Teman-temannya hanya menggeleng, tidak sepenuhnya mengerti.

Ucapan Hidayat benar juga. Desa Awan Biru memang seperti dunia kecil bagi anak-anak itu. Ada sungai kecil di ujung desa yang sering mereka jadikan tempat bermain air. Airnya jernih, dasarnya berbatu, dan ikan-ikan kecil kadang terlihat berenang.

Ada kebun pisang milik warga yang kadang mereka masuki diam-diam untuk sekadar berteduh atau mencari jangkrik. Pemilik kebun, Pak Jono, sebenarnya tahu, tapi ia hanya tersenyum dan kadang memberi mereka pisang.

Ada pula jalan tanah menuju hutan kecil yang bagi mereka terasa seperti tempat misterius. Konon katanya, di hutan itu ada pohon besar yang dihuni makhluk halus. Tapi anak-anak tetap berani main di sana, terutama Hidayat yang selalu jadi pelopor.

Suatu hari mereka memutuskan untuk berpetualang ke sungai kecil di ujung desa. Mereka berangkat setelah sholat Ashar, ketika matahari tidak terlalu terik.

Perjalanan ke sungai memakan waktu sekitar setengah jam jalan kaki. Mereka melewati sawah, kebun sawit, lalu masuk ke jalan setapak yang lebih sempit. Sepanjang jalan mereka bernyanyi-nyanyi, tertawa, kadang berhenti untuk melihat capung atau mengejar kupu-kupu.

Sesampainya di sungai, airnya terlihat jernih mengalir tenang. Batu-batu besar dan kecil tersebar di dasar sungai. Pepohonan rindang di tepinya membuat udara terasa sejuk.

Hidayat langsung melepas sandal dan baju, lalu melompat ke dalam air. "Dingin sekali!" teriaknya sambil tertawa.

Dadang tidak mau kalah. Ia juga langsung terjun ke air dengan suara cipratan besar. "Asyik!"

Herman ikut turun, tapi lebih hati-hati. Ia memegangi batu-batu besar agar tidak terpeleset.

Nadya dan Naila memilih duduk di batu besar di tepi sungai. Mereka memasukkan kaki ke air, menikmati dinginnya.

Juana, seperti biasa, hanya duduk diam di tepi, sesekali tersenyum melihat tingkah teman-temannya.

Arjuna tidak langsung ikut. Ia duduk di tepi sungai, memperhatikan aliran air dengan serius. Matanya mengikuti aliran yang berkelok menghindari batu-batu.

Nadya yang duduk di sampingnya bertanya, "Kamu kenapa tidak ikut?"

Arjuna tersenyum. "Aku lagi berpikir."

"Berpikir apa?"

Arjuna menunjuk aliran sungai. "Kalau air ini dibendung sedikit, terus dibuat saluran ke sawah-sawah... mungkin petani tidak perlu khawatir kekeringan pas kemarau."

Nadya menatapnya dengan heran. "Kamu masih anak-anak, tapi pikirannya sudah seperti orang dewasa."

Arjuna hanya tertawa kecil. "Aku cuma kepikiran aja. Kakekku suka cerita kalau musim kemarau, sawah banyak yang kekeringan."

"Memangnya kamu bisa bikin bendungan?" tanya Nadya.

"Belum tahu. Tapi mungkin suatu hari nanti," jawab Arjuna.

Mereka terdiam beberapa saat, menikmati pemandangan sore.

Hidayat tiba-tiba berteriak dari tengah sungai. "Jun! Ayo sini! Airnya enak!"

Arjuna akhirnya melepas baju dan terjun ke sungai. Airnya dingin menyegarkan. Untuk beberapa saat, ia melupakan buku dan pemikirannya, menikmati permainan air bersama teman-teman.

Sore itu mereka pulang ketika matahari mulai tenggelam. Langit Desa Awan Biru berubah menjadi jingga keemasan yang indah. Badan mereka lelah, tapi hati senang.

Di jalan pulang, mereka melewati Warung Mbah Karyo. Sugeng yang sedang duduk di sana bersama Santoso memanggil mereka.

"Eh anak-anak! Dari mana?" tanya Sugeng.

"Dari sungai!" jawab Dadang dengan bangga.

Sugeng mengamati mereka, baju basah, rambut acak-acakan, kaki penuh lumpur. Ia tertawa. "Wah, habis mandi di sungai ya?"

"Iya, Pak Sugeng," jawab Hidayat.

Sugeng melihat Arjuna yang berjalan paling belakang. Anak itu terlihat berbeda dari yang lain. Tidak terlalu ramai, tapi matanya selalu penuh perhatian.

"Jun," panggil Sugeng.

Arjuna mendekat. "Iya, Pak?"

Sugeng berkata bercanda, tapi matanya agak serius, "Jun, kamu nanti jangan lupa ya kalau jadi orang besar."

Arjuna tertawa. "Memangnya saya mau jadi apa, Pak Sugeng?"

Sugeng berpikir sejenak. "Entahlah... tapi kamu ini kelihatannya bakal jadi orang penting. Saya bisa lihat dari matamu."

Santoso yang sedari tadi diam tersenyum kecil. "Sudah, jangan bikin anak itu bingung."

Arjuna hanya tersenyum. Baginya saat itu, masa depan masih terasa sangat jauh. Yang ia tahu hanyalah bermain, belajar, dan menikmati hari-hari di Desa Awan Biru bersama teman-teman.

Anak-anak itu melanjutkan perjalanan pulang, meninggalkan warung dengan tawa dan canda. Sugeng dan Santoso memperhatikan mereka pergi.

"Kamu benar-benar percaya anak itu akan jadi orang penting?" tanya Santoso.

Sugeng mengangkat bahu. "Siapa tahu. Hidup ini penuh kejutan."

"Seperti ramalan Anto dulu?"

Sugeng tertawa. "Ah, Anto itu cuma sopir truk yang kecapekan. Tapi kadang orang sederhana bisa melihat hal yang tidak kita lihat."

Santoso tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menyeruput kopinya yang mulai dingin.

Persahabatan sederhana anak-anak desa itu terus berlanjut. Mereka tumbuh bersama, berbagi suka dan duka, melalui berbagai musim dan peristiwa. Dan dari persahabatan itulah, kelak akan lahir banyak cerita besar.

Persahabatan yang menemani Arjuna sejak kecil, hingga perjalanan hidupnya yang jauh lebih besar di masa depan.

****

Tahun-tahun berlalu di Desa Awan Biru dengan iramanya yang khas. Musim hujan berganti musim kemarau, padi di sawah tumbuh lalu dipanen, anak-anak bertambah besar, dan warung Mbah Karyo tetap menjadi saksi bisu segala peristiwa.

Arjuna kini duduk di kelas empat SD. Ia sudah lebih besar, lebih tinggi, dan lebih banyak tahu. Kebiasaannya membaca dan belajar membuatnya dikenal di sekolah sebagai anak yang pintar. Tapi ia tidak sombong. Ia tetap bermain dengan teman-teman lamanya: Hidayat, Herman, Nadya, Naila, Juana, dan Dadang.

Setiap sore, jika tidak hujan, mereka bisa ditemukan di lapangan desa, di sungai kecil, atau di jalan tanah yang membelah kebun sawit. Namun tanpa disadari, kelompok kecil mereka mulai menarik perhatian anak-anak yang lebih muda.

Anak-anak kecil itu melihat mereka sebagai kakak-kakak keren yang patut ditiru. Mereka mengamati dari kejauhan, kadang berani mendekat, kadang hanya menonton dengan penuh kekaguman.

Di antara anak-anak kecil itu, ada tiga yang paling sering mengikuti mereka.

Joko, anak laki-laki berusia enam tahun dengan rambut ikal dan mata bulat penuh rasa ingin tahu. Ia anak seorang petani, tinggal tidak jauh dari rumah Arjuna. Setiap kali melihat Arjuna lewat, ia akan berlari ke pinggir jalan dan melambaikan tangan.

Titik, gadis kecil berusia tujuh tahun dengan senyum lebar dan suara nyaring. Ia tidak pernah takut bertanya apa pun, meski kadang pertanyaannya membuat orang dewasa bingung menjawab. Cita-citanya jadi guru, seperti Bu Ratna.

Dan yuana kecil—adik dari Juana yang seusia Arjuna. Usianya baru lima tahun, masih duduk di TK, tapi selalu ingin ikut ke mana pun kakaknya pergi. Ia paling kecil di antara mereka, sering tertinggal, tapi selalu berusaha mengejar.

Suatu sore, Arjuna dan teman-temannya sedang bermain bola di lapangan desa. Pertandingan berlangsung seru. Dadang baru saja menendang bola cukup keras hingga bola itu menggelinding keluar lapangan, masuk ke semak-semak di pinggir.

Joko yang sejak tadi menonton dari pinggir langsung berlari mengambilnya. Ia menerobos semak, tidak peduli duri yang mungkin melukai kakinya. Beberapa detik kemudian ia muncul dengan bola di tangan, wajahnya berseri-seri.

"Ini bolanya!" teriaknya dengan semangat, sambil berlari mendekati Dadang.

Dadang tertawa melihat semangat bocah itu. "Terima kasih, Ko!"

Joko tersenyum bangga seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang sangat penting. Ia kembali ke pinggir lapangan dengan dada membusung.

Titik dan Yuana kecil duduk di pinggir lapangan, memperhatikan permainan dengan takjub. Mata mereka mengikuti setiap gerakan pemain, setiap tendangan, setiap teriakan.

"Suatu hari nanti aku juga mau main bola seperti mereka," kata Joko dengan mata berbinar ketika kembali ke tempat duduknya.

Titik menggeleng. "Aku tidak mau main bola. Aku mau jadi guru."

"Guru?" Joko mengernyit. "Guru itu kerjaannya marah-marah terus."

"Tidak juga," bantah Titik. "Bu Ratna baik kok. Dia sabar ngajarin kita."

Yuana kecil menimpali pelan, suaranya hampir tidak terdengar, "Aku mau jadi seperti Kak Arjuna."

Titik menoleh. "Memangnya Kak Arjuna mau jadi apa?"

Juana kecil mengangkat bahu. "Tidak tahu... tapi dia pintar. Baca buku terus. Aku mau pintar kayak dia."

Di lapangan, Arjuna sedang berdiri memperhatikan permainan. Ia memang tidak selalu menjadi pemain paling agresif seperti Hidayat atau Dadang. Tapi ia sering mengatur permainan dengan tenang, memberi umpan tepat, membaca pergerakan lawan, memposisikan diri di tempat yang tepat.

Herman yang melihatnya berkata, "Jun, kamu ini cocok jadi kapten."

Arjuna tertawa kecil. "Kenapa?"

"Karena kamu selalu mikir sebelum bergerak. Kalau Hidayat mah asal lari aja."

Hidayat yang mendengar itu protes. "Heh! Lari juga penting!"

Semua tertawa.

Permainan bola sore itu berlangsung cukup lama hingga matahari mulai turun ke arah barat. Langit mulai berubah jingga. Tanda-tanda mereka harus segera pulang.

Ketika selesai bermain dan mulai membereskan barang, Arjuna melihat Joko, Titik, dan Yuana kecil masih duduk di pinggir lapangan. Mereka seperti patung kecil yang setia menonton.

Arjuna mendekat. "Kenapa kalian belum pulang? Sudah sore."

Joko menjawab cepat, "Kami lihat kalian main bola."

"Seru ya?" tanya Arjuna.

Mereka bertiga mengangguk bersamaan.

Arjuna tersenyum. "Kalian juga harus main, jangan cuma menonton. Nanti kalau sudah besar, kalian bisa main bola juga."

Joko menggeleng. "Kami belum bisa, Kak. Masih kecil."

Dadang yang mendengar itu langsung melempar bola ke arah Joko. "Coba saja dulu. Siapa tahu jago."

Joko menangkap bola itu dengan sedikit gugup. Bola plastik itu terasa besar di tangannya yang mungil.

Arjuna berdiri di depannya. "Coba tendang ke arahku."

Joko menarik napas dalam-dalam. Ia menempatkan bola di tanah, mundur beberapa langkah, lalu berlari kecil dan menendang. Bola itu meluncur pelan dan agak melenceng, tapi cukup untuk membuat Joko tersenyum bangga.

"Lumayan!" kata Hidayat. "Latihan lagi, nanti pasti jago."

Titik ikut berdiri. "Aku juga mau coba."

Ia mengambil bola dari Joko, lalu menendang. Tendangannya lebih kuat dari perkiraan, bola meluncur lurus ke arah Arjuna yang dengan sigap menangkapnya.

"Wah, jago juga Titik!" puji Dadang.

Titik tersenyum lebar, girang dipuji.

Yuana kecil hanya tersenyum dari tempat duduknya. Ia terlalu malu untuk ikut mencoba.

Lapangan kecil itu tiba-tiba berubah menjadi tempat belajar bagi anak-anak yang lebih muda. Arjuna dan teman-temannya mengajari mereka cara menendang, cara mengontrol bola, cara berlari dengan benar. Tawa riang memenuhi lapangan.

Arjuna memperhatikan mereka dengan sabar. Ia tidak menyadari bahwa sikapnya yang sederhana itu membuat anak-anak kecil mulai melihatnya sebagai seseorang yang patut ditiru.

Di pinggir lapangan, Sugeng yang kebetulan lewat berhenti sejenak. Ia baru pulang dari sawah dan melihat kerumunan kecil itu. Dengan tangan di pinggang, ia memperhatikan pemandangan itu sambil tersenyum.

"Kalian lihat anak itu?" katanya kepada Santoso yang juga lewat dari arah berlawanan.

Santoso menoleh. "Yang mana?"

"Arjuna. Yang sedang ngajarin anak-anak kecil."

Santoso memperhatikan sebentar. Arjuna memang sedang membimbing Joko, membetulkan posisi kakinya saat menendang.

Santoso mengangguk pelan. "Anak itu punya jiwa memimpin."

Sugeng tertawa. "Kamu juga mulai meramal seperti Anto dulu?"

Santoso tersenyum tipis. "Bukan meramal... hanya melihat."

Mereka berdua berdiri sejenak, menyaksikan pemandangan sore itu. Di lapangan yang mulai gelap, anak-anak besar dan kecil bermain bersama, tertawa bersama. Ada sesuatu yang hangat dalam pemandangan itu.

Sementara itu, Arjuna dan anak-anak masih asyik di lapangan. Senja semakin dalam, langit berubah menjadi jingga keemasan yang indah. Burung-burung mulai terbang pulang ke sarangnya.

"Ayo, sudah sore. Kalian harus pulang," kata Arjuna akhirnya.

Anak-anak kecil itu mengangguk. Mereka berpamitan dengan wajah bahagia.

"Besok kita ikut mereka lagi ya," kata Joko dalam perjalanan pulang.

Titik mengangguk semangat. "Iya, seru banget. Kak Arjuna baik ya."

Yuana kecil hanya tersenyum sambil berjalan di belakang mereka. Di dalam pikirannya yang polos, Arjuna adalah kakak yang sangat hebat. Ia ingin suatu hari nanti bisa seperti dia.

Di rumahnya, Arjuna disambut Anita yang sedang menyiapkan makan malam.

"Kamu pulang sore sekali, Jun," kata Anita.

"Iya, Bu. Tadi main bola sama teman-teman. Terus ngajarin anak-anak kecil juga."

Anita tersenyum. "Ngajarin apa?"

"Main bola."

"Bagus. Berbagi itu baik."

Malam itu, sebelum tidur, Arjuna membuka buku catatan kecilnya. Ia sudah punya kebiasaan menulis sejak beberapa bulan lalu. Kata-kata sederhana tentang hari-harinya.

Hari ini seru, tulisnya. Ngajarin Joko, Titik, sama Yuana kecil main bola. Mereka senang. Aku juga senang.

Ia berhenti menulis, memandangi jendela kamarnya yang menghadap ke langit malam. Bintang-bintang berkelap-kelip di atas Desa Awan Biru.

Besok mau main lagi, lanjutnya.

Ia menutup buku dan meletakkannya di samping tempat tidur. Tidak lama kemudian, ia tertidur dengan senyum di wajah.

Ia tidak tahu bahwa kelak, anak-anak kecil yang diajarinya main bola sore itu akan menjadi saksi perjalanan hidupnya. Joko, Titik, dan Yuana kecil akan tumbuh bersama desa, bersama cerita Arjuna yang semakin besar.

Dan di antara mereka semua, Arjuna perlahan tumbuh menjadi seseorang yang berbeda. Bukan karena ia ingin memimpin. Tetapi karena ia selalu berpikir tentang sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Tentang desa. Tentang masa depan. Dan tentang tanggung jawab.

****

Pagi itu halaman SD Negeri Desa Awan Biru sudah dipenuhi suara anak-anak yang datang dari berbagai penjuru desa. Ada yang datang berjalan kaki melewati jalan tanah berbatu, ada yang diantar orang tua dengan sepeda motor tua yang suara mesinnya terdengar dari kejauhan. Gerbang sekolah yang terbuat dari besi hijau sudah terbuka lebar, menyambut murid-murid dengan bel yang akan berbunyi setengah jam lagi.

Arjuna datang bersama rombongan teman-temannya: Hidayat, Herman, Nadya, Naila, Juana, dan Dadang. Mereka berjalan beriringan seperti kereta api kecil, dengan Arjuna di tengah-tengah. Seragam putih merah mereka masih rapi, meskipun sepatu sebagian sudah mulai penuh debu jalanan.

"Nanti jam istirahat kita main bola ya," kata Dadang sambil menendang-nendang kerikil di jalan.

"Iya, iya," jawab Hidayat tidak sabar.

Di halaman sekolah, beberapa anak sudah bermain. Dadang dan Hidayat langsung berlari ke lapangan kecil yang biasa dipakai untuk bermain bola. Mereka bergabung dengan anak-anak lain yang sudah memulai permainan lebih awal.

Nadya dan Naila memilih duduk di bangku panjang dekat taman sekolah. Mereka membuka bekal dan mulai sarapan kedua, karena sarapan di rumah biasanya sudah lama dicerna selama perjalanan ke sekolah.

Juana, seperti biasa, duduk di samping mereka dengan diam.

Arjuna tidak ikut bermain bola pagi itu. Ia memilih masuk ke kelas lebih dulu. Kelasnya masih sepi, hanya beberapa anak yang sedang menyapu atau merapikan meja. Arjuna duduk di bangkunya, deretan kedua dari depan, dekat jendela. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku.

Bukan buku pelajaran. Buku cerita tentang penemu-penemu terkenal. Ia pinjam dari perpustakaan sekolah kemarin dan ingin menyelesaikannya sebelum bel masuk berbunyi.

Beberapa menit kemudian Herman masuk kelas. Melihat Arjuna sudah asyik membaca, ia menggeleng-geleng.

"Jun, kamu ini aneh," katanya sambil meletakkan tas di bangku sebelah Arjuna.

Arjuna mengangkat wajah dari bukunya. "Aneh kenapa?"

"Belum masuk kelas, udah baca buku. Capek nanti."

Arjuna tersenyum kecil. "Aku penasaran sama cerita ini. Tinggal sedikit lagi."

Herman duduk sambil mengeluarkan buku pelajaran. "Cerita apa sih?"

"Tentang Thomas Alva Edison. Penemu bola lampu."

"Terus?"

"Dia gagal ribuan kali sebelum akhirnya berhasil." Mata Arjuna berbinar. "Bayangin, Herman. Ribuan kali gagal. Tapi dia nggak menyerah."

Herman mengangguk-angguk, meski tidak terlalu antusias. "Berarti kita juga boleh gagal dong kalau ulangan?"

Arjuna tertawa. "Bukan begitu maksudnya."

Belum sempat Arjuna menjelaskan lebih lanjut, bel masuk berbunyi. Murid-murid mulai berdatangan ke kelas. Suara riuh rendah memenuhi ruangan.

Tak lama kemudian Bu Ratna masuk ke kelas. Guru kelas mereka itu dikenal sabar tapi tegas. Rambutnya disanggul rapi, kacamatanya selalu agak turun di hidung, dan senyumnya selalu menghangatkan hati murid-muridnya.

"Selamat pagi, anak-anak."

"Selamat pagi, Bu Guru!" jawab mereka serempak, beberapa dengan suara mengantuk.

Bu Ratna meletakkan buku pegangan di meja, lalu memandang seluruh kelas. "Hari ini kita akan belajar Ilmu Pengetahuan Alam. Masih ingat minggu lalu kita belajar tentang air?"

"IIINGAT!" jawab murid-murid.

"Bagus. Hari ini kita akan belajar tentang siklus air dan manfaatnya bagi kehidupan."

Bu Ratna mulai menulis di papan tulis. Kapur berdebuk-debuk meninggalkan huruf-huruf putih. Kemudian ia menggambar sebuah gunung, sungai, dan laut.

"Anak-anak, siapa yang tahu dari mana air sungai berasal?"

Beberapa anak langsung mengangkat tangan. Hidayat, yang duduk di barisan belakang, mengangkat tangan paling tinggi sambil setengah berdiri.

"Hidayat, coba jawab."

"Dari hujan, Bu!" jawab Hidayat cepat.

"Betul. Yang lain?"

Nadya mengangkat tangan dengan sopan. "Dari gunung juga, Bu. Air dari gunung mengalir ke sungai."

Bu Ratna mengangguk. "Betul sekali. Air hujan yang turun di pegunungan akan meresap ke tanah, lalu keluar sebagai mata air, dan mengalir menjadi sungai."

Ia menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, membentuk sungai yang akhirnya bermuara di laut. Murid-murid memperhatikan, sebagian dengan antusias, sebagian dengan mata mulai sayu.

Arjuna mendengarkan dengan serius. Matanya mengikuti setiap goresan kapur Bu Ratna di papan tulis. Pikirannya bekerja cepat, menghubungkan pelajaran ini dengan apa yang ia lihat sehari-hari di desa.

Setelah menjelaskan cukup panjang, Bu Ratna memberikan kesempatan bertanya. "Ada yang mau bertanya?"

Beberapa detik hening. Lalu Arjuna mengangkat tangan.

"Ya, Arjuna?"

Arjuna berdiri, seperti biasa jika bertanya. "Bu, tadi Ibu bilang air mengalir dari tempat tinggi ke rendah. Tapi kalau musim kemarau, sungai di desa kami sering kering. Padahal gunungnya masih ada."

Bu Ratna tersenyum. "Pertanyaan bagus. Memang, meskipun ada gunung, kalau musim kemarau panjang, debit air bisa berkurang drastis. Apalagi jika hutan di gunung sudah gundul."

Arjuna mengangguk, tapi pikirannya terus bekerja. Ia mengangkat tangan lagi.

"Ada lagi, Arjuna?"

"Bu, kalau air sungai terlalu banyak saat hujan, itu bisa banjir ya?"

"Betul."

"Kalau begitu... kenapa kita tidak membuat bendungan kecil saja? Supaya airnya bisa disimpan waktu hujan, dan dipakai waktu kemarau."

Seluruh kelas tiba-tiba sunyi.

Beberapa murid saling menatap. Hidayat membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Nadya memandang Arjuna dengan takjub.

Bu Ratna menatap Arjuna dengan agak terkejut. Pertanyaan seperti ini jarang muncul dari murid kelas empat SD. "Kenapa kamu berpikir begitu, Arjuna?"

Arjuna menjawab dengan polos, tanpa merasa bahwa pemikirannya luar biasa. "Di desa kami, kalau musim kemarau, sawah banyak yang kekeringan. Petani susah. Tapi kalau musim hujan, air banyak terbuang ke laut. Sayang, Bu."

Bu Ratna terdiam beberapa saat. Kemudian senyum lebar mengembang di wajahnya. "Arjuna, itu pemikiran yang sangat bagus. Memang itulah gunanya bendungan, untuk menyimpan air saat musim hujan dan mengalirkannya saat musim kemarau. Kamu sudah berpikir seperti seorang insinyur."

Arjuna tersipu. Ia duduk kembali, agak malu karena menjadi pusat perhatian.

Hidayat menepuk bahunya pelan. "Jun, kamu ini kalau bicara seperti orang tua saja."

Arjuna hanya tertawa kecil.

Pelajaran hari itu meninggalkan kesan mendalam bagi Bu Ratna. Saat jam istirahat tiba, ia memanggil Arjuna ke meja guru.

"Arjuna, sini sebentar."

Arjuna mendekat, sedikit gugup. "Iya, Bu?"

Bu Ratna mempersilakannya duduk di kursi di samping mejanya. "Kamu suka membaca ya?"

Arjuna mengangguk. "Iya, Bu."

"Buku apa saja yang biasa kamu baca?"

"Macam-macam, Bu. Ada buku cerita, buku pengetahuan, buku tentang alam. Kadang baca buku punya ayah."

"Ayahmu kerja di mana?"

"Di klinik, Bu. Dokter."

Bu Ratna mengangguk paham. "Pantasan. Kamu punya rasa ingin tahu yang besar. Itu bagus, Arjuna."

Arjuna tersenyum malu.

Bu Ratna melanjutkan, "Kalau begitu teruskan kebiasaan itu. Pengetahuan bisa membawa kamu ke banyak tempat. Siapa tahu suatu hari nanti kamu bisa mewujudkan ide-idemu untuk desa ini."

Arjuna mengangguk mantap. "Terima kasih, Bu."

Di luar kelas, teman-temannya sudah menunggu di bawah pohon. Dadang melambai-lambai dari kejauhan.

"Ayo Jun! Ke warung Mbah Karyo!" teriaknya.

Arjuna berpamitan pada Bu Ratna lalu berlari bergabung dengan teman-temannya. Mereka berjalan menuju warung Mbah Karyo yang tidak jauh dari sekolah. Di sana, seperti biasa, mereka membeli jajanan dengan uang saku pas-pasan.

Sugeng sudah duduk di warung dengan kopi hitamnya. Melihat anak-anak itu datang, ia tersenyum lebar.

"Wah, pasukan sekolah datang," sapanya. "Hari ini beli apa?"

Dadang langsung memesan gorengan. "Tahu isi tiga, Mbah!"

Naila memilih permen. "Yang asam-asam, Mbah."

Arjuna hanya memesan es teh manis kecil. Ia duduk di bangku panjang sambil menikmati minumannya.

Mbah Karyo melayani mereka dengan ramah. Wajah tua itu selalu berseri-seri melihat anak-anak desa ceria.

"Gimana sekolah hari ini?" tanya Mbah Karyo.

"Seru!" jawab Hidayat dengan mulut penuh gorengan.

"Seru apanya?"

"Belajar sungai. Tadi Arjuna bikin Bu Ratna sampe kaget."

Mbah Karyo menatap Arjuna dengan rasa ingin tahu. "Apa yang kamu lakukan, Jun?"

Arjuna tersenyum malu. "Nggak apa-apa, Mbah. Cuma tanya-tanya biasa."

Sugeng, yang sejak tadi mendengarkan, ikut nimbrung. "Jun, kalau kamu terus kepo sama desa, nanti jadi kepala desa lho."

Arjuna tertawa. "Ah, Pak Sugeng suka bercanda."

"Siapa bercanda?" Sugeng berpura-pura tersinggung. "Saya serius."

Semua tertawa. Sugeng memang terkenal suka melontarkan hal-hal lucu. Tapi di balik candaannya, kadang ada kebenaran yang tidak disadari.

Santoso, yang baru datang, duduk di samping Sugeng. Ia memesan kopi lalu menatap Arjuna sebentar. Dalam hati ia merasa anak itu memang memiliki sesuatu yang berbeda. Bukan hanya kecerdasannya, tapi cara ia melihat dunia. Cara ia menghubungkan apa yang dipelajari di sekolah dengan apa yang terjadi di desa.

Sore itu Arjuna pulang ketika matahari mulai turun. Ia berjalan melewati sawah, melihat petani yang mulai pulang setelah seharian bekerja. Di kejauhan, Gunung Lawu tampak biru berkabut.

Di rumah, Amat sudah duduk di teras. Kakeknya itu sedang membaca beberapa berkas desa, pekerjaan yang dibawa pulang karena belum selesai di kantor.

Arjuna duduk di sampingnya. "Kakek."

Amat menoleh dari berkasnya. "Ada apa, Jun?"

"Tadi di sekolah belajar tentang sungai."

"Oh ya?"

Arjuna mengangguk. "Bu Ratna bilang, air dari gunung bisa disimpan di bendungan. Terus dipakai waktu kemarau."

"Iya, benar."

Arjuna menatap sawah di depan rumah. "Kalau desa kita punya bendungan kecil, Kek... mungkin petani nggak akan kekurangan air pas kemarau."

Amat menatap cucunya lama. Anak itu baru saja pulang sekolah, tapi sudah memikirkan masalah desa. Ia tersenyum pelan, bangga bercampur haru.

"Jun, kamu itu baru kelas empat SD."

"Iya, Kek."

"Tapi pikiranmu sudah sampai ke sana."

Arjuna tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

Amat melanjutkan, "Kalau kamu terus berpikir seperti itu... desa ini mungkin akan sangat terbantu suatu hari nanti."

"Memangnya saya bisa bantu apa, Kek?"

"Banyak. Ilmu itu nggak pernah sia-sia. Setiap yang kamu pelajari hari ini, akan berguna di masa depan."

Arjuna mengangguk, meski tidak sepenuhnya paham. Baginya saat ini, hidup masih sederhana. Sekolah. Bermain. Membaca buku. Menemani Kakek di kantor desa.

Tapi bagi orang-orang yang memperhatikannya, perlahan terlihat bahwa anak itu sedang tumbuh menjadi seseorang yang berbeda. Dan perjalanan hidupnya di Desa Awan Biru baru saja dimulai.

****

Siang hari di Desa Awan Biru biasanya terasa tenang. Setelah anak-anak pulang sekolah dan para petani kembali dari sawah untuk istirahat, desa seperti mengambil napas sejenak sebelum sore tiba. Rumah-rumah hening, hanya sesekali terdengar suara ayam atau kambing dari kandang warga.

Hari itu Arjuna berjalan bersama kakeknya, Amat, menuju kantor desa. Ini sudah menjadi rutinitas mereka sejak Arjuna masih kecil. Setiap kali libur sekolah atau sepulang sekolah jika tidak ada kegiatan, Arjuna akan ikut ke kantor desa.

Kantor Desa Awan Biru tidak terlalu besar. Bangunannya sederhana, cat hijau muda di dinding mulai pudar di beberapa tempat. Jendela-jendela lebar selalu terbuka siang hari agar udara segar bisa masuk. Di depan kantor ada pohon ketapang yang sudah sangat tua, dengan batang besar dan daun rindang. Di bawah pohon itu, beberapa bangku kayu disediakan bagi warga yang datang mengurus keperluan.

Begitu memasuki kantor desa, Arjuna langsung melihat meja-meja yang sudah tidak asing baginya. Ruangan utama kantor desa berisi beberapa meja kerja yang tersusun rapi. Di dinding tergantung papan struktur organisasi desa, foto presiden dan wakil presiden, serta lambang desa yang terbuat dari kayu.

Di meja sebelah kiri duduk Pak Eko, Kaur Perencanaan. Pria paruh baya dengan kacamata tebal itu sedang sibuk memeriksa berkas pembangunan jalan desa. Di depannya terbentang peta desa yang sudah usang dengan banyak coretan.

"Selamat siang, Pak Eko," sapa Arjuna sopan.

Pak Eko mengangkat wajah, tersenyum melihat Arjuna. "Oh, Jun. Ikut Kakek lagi?"

"Iya, Pak."

"Kerjain PR dulu sana, biar nggak dimarahin guru."

Arjuna tertawa kecil. "PR sudah selesai, Pak."

Di meja tengah, Yuni, Sekretaris Desa yang energik, sedang sibuk mengetik laporan di komputer. Jemarinya lincah di atas keyboard, matanya fokus pada layar. Di sampingnya, Lulu, Kaur Keuangan, sedang menghitung angka-angka di buku besar dengan kalkulator di tangan. Wajahnya khas, sedikit cemas seperti biasa.

Endang, Kasi Pelayanan, sedang berbicara dengan seorang warga yang datang mengurus surat keterangan tidak mampu. Dengan sabar ia menjelaskan prosedurnya, sesekali menunjuk berkas-berkas yang perlu dilengkapi.

Arjuna sudah sangat akrab dengan suasana ini. Bagi anak-anak lain, kantor desa mungkin tempat yang membosankan. Tapi bagi Arjuna, ini seperti sekolah kedua.

"Jun, duduk di sana dulu," kata Amat sambil menunjuk kursi di dekat mejanya.

Arjuna menurut. Ia meletakkan tasnya di samping kursi, lalu mengamati sekeliling.

Amat membuka komputernya, komputer tua yang selalu berdengung saat dinyalakan. Layar monitornya masih CRT, besar dan berat. Tapi bagi Amat, komputer ini adalah alat paling penting untuk pekerjaannya sebagai admin desa. Di dalamnya tersimpan berbagai data warga Desa Awan Biru: data kependudukan, data kelahiran dan kematian, data perpindahan, data penerima bantuan, dan masih banyak lagi.

Arjuna duduk memperhatikan layar komputer dengan penuh rasa ingin tahu. Jari-jari Amat bergerak lincah di keyboard, mengetikkan perintah-perintah yang bagi Arjuna masih misterius.

"Ini lagi ngapain, Kek?" tanya Arjuna.

Amat menjawab sambil terus mengetik. "Memperbarui data penduduk."

Arjuna mencondongkan tubuh, mencoba melihat lebih jelas. Di layar terlihat banyak nama warga desa yang tersusun rapi dalam tabel. Ada kolom nama, alamat, tanggal lahir, pekerjaan, dan berbagai informasi lain.

"Semua warga desa ada di situ?" tanya Arjuna kagum.

"Iya," jawab Amat. "Semua. Dari bayi sampai yang sudah meninggal."

Arjuna terpesona. "Wah... berarti komputer ini tahu semua orang di desa."

Amat tertawa kecil. "Iya, kira-kira begitu."

Arjuna berpikir sejenak. "Kalau begitu... desa ini seperti punya buku besar ya, Kek. Buku raksasa yang isinya semua warga."

Amat menghentikan ketikannya, menatap cucunya dengan heran. "Kamu ini cara berpikirnya macam-macam saja."

Tak lama kemudian Pak Eko mendekati meja mereka. Ia membawa secangkir kopi dan duduk di kursi kosong.

"Jun, kamu lagi belajar komputer?" tanyanya.

Arjuna mengangguk. "Lihat-lihat aja, Pak."

Pak Eko tersenyum. "Bagus. Desa ini nanti butuh orang yang mengerti teknologi. Kakekmu sudah tua, nanti kalau pensiun siapa yang ganti?"

Amat protes, "Siapa tua? Saya masih kuat!"

Mereka bertiga tertawa.

Sugeng yang kebetulan lewat di depan kantor desa mendengar tawa itu. Ia menyelonong masuk dengan gaya khasnya.

"Pada ketawa apa? Cerita-cerita dong!" serunya sambil duduk di kursi tamu.

Pak Eko menunjuk Arjuna. "Ini, calon ahli komputer desa."

Sugeng menatap Arjuna, lalu tertawa keras. "Yang penting jangan cuma pintar main game, ya Jun!"

Semua orang di ruangan itu ikut tertawa. Tawa mereka mengisi ruangan kantor yang biasanya sunyi.

Namun Arjuna tetap fokus melihat layar komputer. Ia memperhatikan bagaimana Amat mengetik nama, tanggal lahir, alamat, dan berbagai informasi lain. Bagaimana data itu disimpan dalam folder-folder khusus. Bagaimana sistem itu bekerja.

Setelah beberapa saat, Arjuna bertanya lagi. "Kakek..."

"Apa, Jun?"

"Kalau data ini disimpan di komputer... berarti tidak akan hilang ya?"

Amat mengangguk. "Selama komputernya baik dan kita rajin backup."

"Backup?"

"Membuat salinan cadangan. Kalau komputer rusak, datanya masih ada di tempat lain."

Arjuna mengangguk paham. "Pintar juga ya."

Ia kembali mengamati layar. Pikirannya mulai melayang ke hal-hal yang lebih besar. "Kakek, kalau semua pekerjaan desa pakai komputer... pasti lebih cepat ya?"

Yuni yang mendengar itu dari mejanya menyahut, "Wah, Arjuna sudah memikirkan sistem kerja desa."

Endang menimpali sambil tertawa kecil. "Anak kecil kok pikirannya seperti itu. Nanti besar jadi apa?"

Arjuna tersenyum malu.

Namun Pak Eko justru terlihat tertarik. Ia mendekatkan kursinya. "Jun, kamu tahu, ide itu sebenarnya bagus. Pekerjaan desa itu banyak, dan kalau bisa pakai teknologi, pasti lebih efisien."

"Efisien apa, Pak?"

"Lebih cepat, lebih hemat tenaga."

Arjuna mengangguk-angguk. "Berarti nanti kalau warga butuh surat, nggak perlu nunggu lama?"

"Betul sekali."

Sugeng menyela, "Jun, nanti kalau kamu besar, kamu harus bantu desa ini bikin sistem yang lebih baik ya."

Arjuna mengangguk tanpa benar-benar memahami arti kata-kata itu. Tapi di dalam hatinya, ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang berguna.

Sore hari kantor desa mulai sepi. Warga yang tadi datang mengurus surat sudah pulang. Pegawai lain satu per satu pamit pulang. Akhirnya hanya tinggal Amat dan Arjuna.

Amat mengizinkan Arjuna mencoba komputer. "Sebentar saja ya, nanti kita pulang."

Arjuna duduk di kursi Amat dengan hati-hati. Tangannya terasa kecil di atas keyboard. Ia menekan tombol-tombol dengan hati-hati, seperti menyentuh benda berharga.

Di layar, muncul huruf-huruf yang ia ketik.

A-R-J-U-N-A

Arjuna menatap namanya sendiri yang muncul di layar. Ia tersenyum kecil. Bagi anak desa yang baru mengenal komputer, melihat kata-kata muncul di layar terasa seperti sesuatu yang ajaib.

Amat memperhatikan dari belakang dengan senyum bangga. "Bagus, Jun."

Arjuna mengetik lagi. Kali ini kalimat panjang.

DESA AWAN BIRU ADALAH DESAKU.

Amat membaca kalimat itu, lalu mengelus kepala cucunya. "Kamu sayang sama desa ini?"

Arjuna mengangguk. "Iya, Kek. Di sinilah aku besar."

Amat tersenyum. Ada kehangatan di dadanya mendengar jawaban itu.

Di luar kantor desa, matahari mulai turun. Langit berubah menjadi jingga keemasan yang indah. Burung-burung mulai terbang pulang ke sarang.

Sugeng yang berdiri di depan warung Mbah Karyo melihat ke arah kantor desa. Dari kejauhan, ia melihat lampu kantor masih menyala. Melalui jendela, ia melihat siluet Arjuna kecil yang duduk di depan komputer.

Sugeng tersenyum sambil bergumam pelan, "Anak itu..."

Ia teringat sesuatu. Sebuah ucapan lama yang pernah terdengar di warung itu bertahun-tahun lalu. Ucapan seorang sopir truk bernama Anto.

"Anak yang sedang dikandung Anita itu... kelak akan jadi kepala desa."

Sugeng menggeleng kecil. "Ah, mana mungkin."

Tapi ia tetap menatap Arjuna yang masih duduk di depan komputer. Entah mengapa, firasat itu terus mengganggunya.

Mungkin saja... ramalan itu tidak sepenuhnya mustahil.

****

Musim kemarau di Desa Awan Biru selalu membawa suasana yang berbeda. Langit tampak lebih cerah, biru bersih tanpa awan. Jalan tanah menjadi lebih kering, berdebu jika dilalui kendaraan. Angin yang berhembus dari arah kebun sawit terasa hangat, membawa aroma daun kering.

Bagi anak-anak desa, musim kemarau adalah musim petualangan. Sawah yang sudah dipanen berubah menjadi lapangan luas tempat mereka bisa berlarian. Sungai menyusut, meninggalkan batu-batu besar yang bisa dijadikan tempat bermain. Hari lebih panjang, sehingga mereka punya lebih banyak waktu untuk berpetualang.

Setelah pulang sekolah, Arjuna dan teman-temannya hampir selalu berkumpul di tempat yang sama: lapangan kecil di dekat pohon beringin tua di pinggir desa. Pohon itu sangat besar, konon sudah berusia ratusan tahun. Akar-akarnya menjalar ke permukaan tanah, menjadi tempat duduk alami bagi siapa pun yang berteduh.

Sore itu Hidayat datang lebih dulu. Ia membawa sebuah ketapel baru yang baru saja ia buat dari ranting pohon jambu. Ketapelnya sederhana, hanya ranting berbentuk Y, dua karet hitam dari ban dalam bekas, dan tempat peluru dari kulit sepatu tua. Tapi bagi Hidayat, itu adalah senjata terhebat di dunia.

"Lihat ini!" teriaknya bangga begitu tiba di lapangan.

Dadang yang baru datang langsung tertarik. "Wah, bagus sekali! Bikin sendiri?"

"Ya iyalah. Bapakku ngajarin."

Hidayat mengangkat ketapel itu, membidik ke arah pohon. "Bisa buat nembak buah mangga."

Naila yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung mengerutkan dahi. "Kalian jangan nakal. Nanti dimarahin warga."

Hidayat tertawa. "Ini bukan nakal, ini petualangan. Kita kan harus survive."

"Survive apanya?" Naila menggeleng. "Dasar alasan."

Tak lama kemudian Arjuna datang bersama Herman. Arjuna membawa tas kecil di punggungnya, bukan tas sekolah, tapi tas kecil khusus untuk petualangan.

Dadang menunjuk tas itu. "Kamu bawa apa lagi, Jun?"

Arjuna membuka tasnya, memperlihatkan isinya. "Botol air, beberapa roti, sama buku catatan."

Hidayat tertawa keras. "Kita mau petualangan atau piknik? Bawa roti segala."

"Kalau kita pergi jauh, kita harus siap," jawab Arjuna tenang. "Siapa tahu lapar di jalan."

Herman mengangguk setuju. "Arjuna benar. Lebih baik sedia sebelum perlu."

Akhirnya mereka memutuskan tujuan petualangan hari itu: sungai kecil yang berada di ujung kebun sawit. Tempat itu agak jauh dari desa, butuh waktu sekitar empat puluh menit berjalan kaki. Tapi bagi anak-anak, itu bukan masalah.

Mereka berangkat dengan semangat. Hidayat memimpin di depan dengan ketapelnya. Dadang berjalan di sampingnya, sesekali menendang batu kecil di jalan. Nadya dan Naila berjalan sambil bercerita tentang pelajaran sekolah, tentang rumus matematika yang sulit dan PR bahasa Indonesia yang menumpuk.

Juana yang pendiam hanya mengikuti dari belakang. Ia tidak banyak bicara, tapi sesekali tersenyum mendengar tingkah teman-temannya.

Arjuna berjalan di samping Herman, kadang berhenti untuk mengamati tanaman atau serangga yang lewat. Buku catatan kecilnya sudah siap di tangan, siap mencatat apa pun yang menarik.

"Jun, kamu ini kayak ilmuwan," kata Herman.

"Kenapa?"

"Lihat apa saja dicatat."

Arjuna tersenyum. "Siapa tahu berguna nanti."

Mereka melewati kebun sawit yang berjajar rapi. Pohon sawit berbaris teratur, buahnya yang merah-oranye bergelantungan di tandan besar. Sesekali mereka melihat tikus sawit berlarian, membuat Naila berteriak.

Di tengah perjalanan, mereka berhenti di bawah pohon besar untuk minum. Arjuna membagikan roti yang ia bawa. Meski hanya roti tawar isi selai buatan ibunya, semua lahap memakannya.

"Jun, ibumu memang baik," kata Dadang dengan mulut penuh.

"Emang kenapa?"

"Bikinin bekal buat kita semua."

Arjuna hanya tersenyum.

Setelah istirahat, mereka melanjutkan perjalanan. Akhirnya, setelah berjalan cukup jauh, mereka sampai di sungai.

Sungai itu tidak terlalu besar, lebarnya mungkin hanya sekitar lima meter. Airnya jernih mengalir di antara batu-batu besar dan kecil. Pepohonan rindang di tepinya membuat udara terasa sejuk. Di beberapa tempat, air membentuk kolam-kolam kecil yang tidak terlalu dalam.

Hidayat langsung melepas sandal dan baju, lalu melompat ke air. "Asyik! Dingin!"

Dadang mengikuti tanpa pikir panjang. "Awas gue datang!"

Cipratan air beterbangan. Mereka berdua bermain kejar-kejaran di sungai yang dangkal.

Nadya dan Naila lebih hati-hati. Mereka memilih duduk di batu besar, memasukkan kaki ke air sambil tertawa melihat tingkah Hidayat dan Dadang.

Herman ikut turun, tapi tidak se-ekstrim mereka. Ia hanya berendam setengah badan, menikmati segarnya air sungai.

Juana, seperti biasa, hanya duduk di tepi. Tapi kali ini ia ikut memasukkan kakinya ke air, meski masih ragu-ragu.

Arjuna tidak langsung turun. Ia berjalan menyusuri tepi sungai, mengamati aliran air. Di tangannya ada buku catatan, dan ia sibuk menulis sesuatu.

Herman yang melihatnya dari kejauhan berteriak, "Jun, turun sini! Airnya enak!"

"Sebentar!" balas Arjuna.

Ia terus berjalan, mengamati bagaimana air mengalir melewati batu-batu. Di satu titik, ia berhenti. Di sana, sungai membelok, dan di tikungan itu air menggenang agak dalam. Tanah di sekitarnya terlihat lebih basah, ditumbuhi rumput yang lebih hijau.

Arjuna mencatat sesuatu. Lalu ia melihat ke arah hulu, membayangkan dari mana air berasal. Lalu ke hilir, membayangkan ke mana air mengalir.

Setelah puas mengamati, ia akhirnya bergabung dengan teman-temannya. Air sungai terasa dingin menyegarkan di kulit yang panas sehabis berjalan.

"Jun, dari tadi ngapain aja?" tanya Hidayat.

"Lihat-lihat."

"Lihat apa?"

Arjuna menunjuk ke arah tikungan sungai. "Di situ, kalau dibendung sedikit... airnya bisa ditampung."

Nadya yang mendengar itu menggeleng. "Kamu lagi-lagi mikir begitu."

"Memangnya kenapa?" tanya Arjuna.

"Kita lagi main, kok mikir bendungan."

Arjuna tertawa. "Maaf, kebiasaan."

Hidayat tiba-tiba berteriak, "Lihat! Ada ikan!"

Semua langsung menoleh. Di air yang jernih, tampak beberapa ikan kecil berenang. Hidayat langsung bergerak cepat, mencoba menangkapnya dengan tangan. Tapi ikan-ikan itu lincah, selalu lolos.

"Goblok! Cepat banget!" umpat Hidayat kesal.

Semua tertawa.

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di sungai itu. Berenang, mengejar ikan, melompat dari batu, dan tertawa bersama. Hari itu adalah salah satu petualangan terbaik yang pernah mereka lakukan.

Menjelang sore, mereka mulai bersiap pulang. Badan lelah, tapi hati senang. Di perjalanan pulang, mereka melewati kebun jagung milik Pak Karyo. Jagung-jagung itu sudah mulai berbuah, tongkolnya masih muda.

"Enak nih kalau dibakar," kata Dadang sambil menatap jagung dengan mata berbinar.

"Jangan," kata Arjuna cepat. "Itu bukan punya kita."

"Ya tahu. Cuma ngomong doang."

Mereka melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara orang memanggil.

"Hei! Anak-anak!"

Mereka menoleh. Pak Karyo, pemilik kebun jagung, sedang berjalan ke arah mereka dengan wajah tersenyum. Tapi di tangan kanannya, ia membawa golok, alat biasa untuk memotong rumput, tapi bagi anak-anak bisa menakutkan.

"Pak Karyo!" pekik Naila. "Awas, lari!"

Hidayat, Dadang, dan Herman langsung berlari sekencang-kencangnya. Naila dan Nadya juga lari, meski dengan rok yang agak menghambat. Juana kecil merengek ketakutan, hampir menangis.

Tapi Arjuna tidak lari. Ia justru berdiri di tempat, menunggu Pak Karyo mendekat.

"Jun!" teriak Hidayat dari kejauhan. "Lari, goblok!"

Arjuna tetap diam. Pak Karyo semakin dekat. Wajahnya serius, tapi Arjuna melihat ada senyum kecil di sudut bibirnya.

Pak Karyo berhenti di depan Arjuna. "Kamu nggak lari?"

Arjuna menggeleng, meski jantungnya berdegup kencang. "Nggak, Pak. Kami nggak ambil jagung Bapak. Cuma lewat."

Pak Karyo menatap Arjuna lama. Lalu ia tertawa. Tawanya keras dan ramah.

"Anak ini pemberani." Ia menepuk pundak Arjuna. "Kamu lihat teman-temanmu pada lari, tapi kamu diam."

"Kami nggak bersalah, Pak."

"Ya, saya tahu." Pak Karyo menyimpan goloknya di pinggang. "Saya cuma mau ngasih kalian ini."

Ia mengeluarkan sesuatu dari karung kecil yang dibawanya. Jagung. Beberapa tongkol jagung manis, masih segar.

"Buat kalian. Bakar buat makan malam."

Arjuna terkejut. "Tapi, Pak..."

"Saya lihat kalian dari jauh. Main di sungai, terus lewat sini. Saya tahu anak-anak suka jagung bakar." Pak Karyo tersenyum. "Ambil saja."

Arjuna menerima jagung itu dengan tangan sedikit gemetar. "Terima kasih, Pak."

"Sama-sama. Sampaikan pada teman-temanmu yang lari tadi, mereka pengecut semua."

Arjuna tertawa.

Pak Karyo kemudian pergi, meninggalkan Arjuna dengan jagung di tangan. Tak lama kemudian teman-temannya muncul dari balik semak-semak, satu per satu dengan wajah malu.

"Jun... maaf," kata Hidayat.

"Kami lari," tambah Dadang.

Arjuna menunjukkan jagung itu. "Ini dari Pak Karyo. Buat kita."

Mereka semua terkejut. Naila bahkan membuka mulut lebar-lebar.

"Jadi Pak Karyo baik?" tanya Herman.

"Iya. Dia cuma mau kasih jagung."

Hidayat menggaruk kepala yang tidak gatal. "Berarti kita lari buat apa?"

"Buat lucu-lucuan," jawab Dadang, berusaha membela diri.

Semua tertawa. Mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan jagung di tangan. Sore itu mereka belajar sesuatu: bahwa tidak semua yang tampak menakutkan itu jahat. Dan kadang, keberanian untuk tetap diam lebih baik daripada lari ketakutan.

Sesampainya di desa, matahari hampir tenggelam. Langit jingga kemerahan. Mereka berpisah di perempatan desa, masing-masing pulang ke rumah.

Di rumah, Arjuna menunjukkan jagung itu pada ibunya. Anitatersenyum.

"Wah, Pak Karyo baik ya. Besok kita harus berterima kasih."

"Iya, Bu."

Malam itu, mereka makan jagung bakar bersama. Arjuna duduk di teras, menikmati jagung hangat sambil memandang bintang-bintang yang mulai bermunculan.

Ia membuka buku catatannya, menulis dengan sisa cahaya lampu teras:

Hari ini main ke sungai sama teman-teman. Seru sekali. Airnya jernih, ikannya banyak. Tadi sempat liat Pak Karyo bawa golok, tapi ternyata dia baik. Kasih kita jagung. Aku belajar, orang yang kelihatannya seram belum tentu jahat.

Ia menutup buku, tersenyum. Petualangan hari itu akan menjadi salah satu kenangan terindah masa kecilnya.

Tanpa ia sadari, hari-hari sederhana seperti ini sedang membentuk karakternya. Keberaniannya menghadapi Pak Karyo, kemampuannya membaca situasi, dan hatinya yang selalu ingin belajar dari setiap kejadian, semua itu adalah benih-benih yang kelak akan tumbuh menjadi pohon besar.

Pohon bernama kepemimpinan.

****

Hari-hari di SD Negeri Desa Awan Biru terus berjalan. Pelajaran berganti pelajaran, ulangan demi ulangan dilalui. Arjuna dan teman-temannya kini duduk di kelas lima. Mereka semakin besar, semakin tinggi, dan persahabatan mereka semakin dalam.

Tapi seperti kata orang, persahabatan sejati tidak diuji saat semuanya baik-baik saja. Persahabatan sejati diuji saat masalah datang.

Dan masalah itu datang pada suatu sore yang cerah.

Sore itu mereka berkumpul seperti biasa di lapangan desa. Dadang membawa bola, bola yang sudah semakin penyok, tapi masih bisa dipakai. Hidayat datang dengan ketapel barunya. Para gadis duduk di pinggir lapangan sambil mengerjakan PR.

"Ayo main bola!" teriak Dadang seperti biasa.

Hidayat langsung setuju. "Ayo! Gue jadi striker."

"Gue juga striker," kata Dadang.

"Ya udah, kita satu tim."

Mereka mulai memilih tim. Karena jumlah tidak genap, akhirnya Hidayat dan Dadang di tim yang sama, melawan Arjuna, Herman, dan beberapa anak lain.

Permainan dimulai. Bola bergulir dari kaki ke kaki. Teriakan dan tawa memenuhi lapangan.

Pada suatu saat, Dadang menggiring bola dengan cepat. Ia melewati Herman, lalu berusaha melewati Arjuna. Tapi Arjuna sigap, kakinya mengadang bola. Dadang tersandung, jatuh.

"Haduh!" Dadang meringis kesakitan.

Arjuna mengulurkan tangan. "Maaf, Dang. Nggak sengaja."

Dadang menerima uluran tangan itu, bangkit. "Nggak apa-apa."

Permainan dilanjutkan. Beberapa menit kemudian, Dadang mendapat bola lagi. Kali ini ia berada di dekat gawang, siap menendang. Herman berlari mendekat, berusaha merebut bola. Dalam usahanya, kakinya menyapu bola, tapi juga mengenai kaki Dadang.

"AAARGH!" Dadang jatuh lagi, kali ini sambil memegangi kakinya dengan wajah kesakitan.

Herman panik. "Maaf, Dang! Nggak sengaja!"

Dadang berdiri dengan wajah merah. "Kamu nggak bisa main bola, Man? Nendang bola, bukan nendang kaki orang!"

Herman mundur selangkah. "Udah bilang maaf. Nggak sengaja."

"Nggak sengaja mulu!" Dadang mulai meninggi suaranya. "Tadi Arjuna juga nggak sengaja, sekarang kamu juga. Kalian sengaja ngejegal gue!"

Hidayat datang mendekat. "Dang, tenang. Emang nggak sengaja."

"Lo jangan belain dia!"

"Gue nggak belain siapa-siapa. Cuma bilang tenang."

"Udah, lanjut main aja," kata Arjuna mencoba menengahi.

Tapi Dadang sudah terlanjur emosi. "Gue males main sama kalian!"

Ia melempar bola ke tanah, lalu berjalan meninggalkan lapangan.

Suasana hening. Semua saling pandang.

Hidayat memanggil, "Dang! Balik, goblok!"

Dadang tidak menoleh. Ia terus berjalan menjauh.

Herman duduk di tanah dengan wajah sedih. "Gue nggak sengaja, sungguh."

Arjuna duduk di sampingnya. "Gue tahu."

"Tapi dia marah banget."

"Biarkan dia tenang dulu."

Para gadis yang dari tadi menonton akhirnya angkat bicara. Naila berkata, "Dadang emang begitu kalau lagi emosi. Nanti juga reda sendiri."

Nadya menambahkan, "Tapi sebaiknya kalian minta maaf lagi nanti."

Arjuna mengangguk. "Iya."

Mereka tidak melanjutkan permainan. Sore itu berakhir dengan perasaan tidak enak.

Keesokan harinya di sekolah, Dadang datang lebih awal. Ia duduk di bangkunya dengan wajah cemberut, tidak menyapa siapa pun. Biasanya ia selalu menyapa dengan semangat, tapi hari ini berbeda.

Herman dan Arjuna masuk bersama. Melihat Dadang, Herman ragu-ragu mendekat.

"Pagi, Dang," sapanya hati-hati.

Dadang hanya mendengus, tidak menjawab.

Herman duduk di bangkunya, merasa bersalah. Sepanjang pelajaran ia tidak bisa konsentrasi. Beberapa kali ia melirik ke arah Dadang, tapi Dadang pura-pura tidak melihat.

Saat jam istirahat, Arjuna menghampiri Dadang yang sedang duduk sendiri di kantin.

"Dang, boleh ngomong?"

Dadang mengangkat bahu. "Terserah."

Arjuna duduk di depannya. "Lo masih marah sama Herman?"

Dadang diam beberapa saat, lalu berkata, "Bukan marah. Tapi kesel."

"Kesel kenapa?"

"Dia selalu kayak gitu. Main bola, tapi nggak bisa jaga kaki. Gue udah berkali-kali kena."

Arjuna mengangguk. "Iya, gue tahu. Tapi dia nggak sengaja, Dang. Herman bukan tipe orang yang sengaja nyakitin."

"Gue tahu. Tapi tetep aja kesel."

"Lo mau minta dia minta maaf lagi?"

Dadang menghela napas. "Buat apa? Udah minta maaf kemarin."

"Kadang minta maaf perlu diulang," kata Arjuna. "Supaya yang marah percaya kalau yang minta maaf itu sungguh-sungguh."

Dadang menatap Arjuna. "Lo dari tadi bela Herman terus."

"Gue nggak bela siapa-siapa. Gue cuma mau kalian baikan."

"Kenapa peduli?"

Arjuna tersenyum. "Karena lo temen gue. Herman juga. Sayang kalau kalian bertengkar cuma karena masalah kecil."

Dadang terdiam. Ia memikirkan kata-kata Arjuna.

Sementara itu, di sudut lain, Herman duduk bersama Rudi, teman baru mereka yang pindahan dari desa sebelah. Wajahnya murung.

"Kenapa lo?" tanya Rudi.

Herman menceritakan semuanya. Rudi mengangguk-angguk.

"Berarti lo harus minta maaf lagi."

"Udah kemarin."

"Coba lagi. Yang bener."

Herman menghela napas. "Lo pikir dia mau denger?"

"Coba dulu. Kalau nggak dicoba, nggak tahu."

Herman mengangguk. Ia memberanikan diri mendekati Dadang yang sedang bicara dengan Arjuna.

"Dang..." panggilnya pelan.

Dadang menoleh.

Herman berdiri di depannya dengan tangan gemetar. "Dang, gue minta maaf. Sungguh. Bukan maksud gue buat lo jatuh. Kalau lo masih marah, gue terima. Tapi gue harap lo nggak marah terus."

Dadang menatap Herman lama. Suasana hening.

Arjuna memperhatikan dengan harap-harap cemas.

Akhirnya Dadang berkata, "Gue maafin."

Herman hampir tidak percaya. "Bener?"

"Bener. Tapi lo harus janji, kalau main bola lagi, jangan kasar-kasar."

Herman tersenyum lega. "Janji. Gue janji."

Dadang tersenyum. "Udah, sini duduk."

Mereka bertiga duduk bersama. Rudi yang melihat dari kejauhan ikut senang.

Sore itu, sepulang sekolah, mereka berkumpul di lapangan lagi. Dadang membawa bola. Hidayat datang dengan ketapelnya. Para gadis juga ikut.

"Ayo main bola lagi!" teriak Dadang.

Herman ragu-ragu. "Lo yakin mau main sama gue?"

"Yakin. Asal lo inget janji lo."

Herman mengangguk mantap. "Siap!"

Permainan dimulai. Kali ini Herman lebih hati-hati. Dadang juga tidak mudah emosi. Suasana cair kembali.

Tawa dan teriakan riang kembali memenuhi lapangan desa. Persahabatan mereka kembali utuh, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Di pinggir lapangan, Arjuna memperhatikan dengan senyum puas. Ia senang melihat teman-temannya rukun kembali.

Hidayat mendekat. "Jun."

"Apa?"

"Lo itu kayak penengah ya. Kalau ada yang ribut, lo yang jadi damai."

Arjuna tertawa. "Ah, nggak juga."

"Serius. Dari dulu lo selalu gitu. Nggak pernah memihak, cari jalan tengah."

"Emangnya kenapa?"

Hidayat menepuk bahunya. "Nggak apa-apa. Cuma bilang, lo itu cocok jadi pemimpin."

Arjuna menggeleng. "Pemimpin apaan? Main bola aja kalah terus."

Hidayat tertawa keras.

Mereka kembali bermain. Matahari mulai turun, langit berubah jingga. Sore itu menjadi salah satu sore terindah dalam ingatan mereka.

Malamnya, di rumah, Arjuna menulis di buku catatannya:

Hari ini Herman dan Dadang baikan. Aku senang. Kadang persahabatan memang perlu diuji. Yang penting kita bisa saling memaafkan. Aku belajar bahwa menjadi penengah itu tidak mudah. Tapi kalau bisa bikin teman rukun, rasanya senang.

Ia meletakkan buku itu di samping tempat tidur, lalu memejamkan mata dengan senyum di wajah.

Tanpa ia sadari, pelajaran hari itu adalah pelajaran kepemimpinan yang paling berharga. Bahwa pemimpin bukan orang yang paling kuat atau paling pintar. Tapi orang yang bisa menjaga kebersamaan, yang bisa mendamaikan ketika ada konflik, yang bisa membuat orang-orang di sekitarnya tetap bersama meski ada masalah.

Itulah Arjuna.

****

Waktu terus berjalan. Arjuna dan teman-temannya kini duduk di bangku SMP. Seragam putih biru menggantikan putih merah yang dulu mereka kenakan. Sekolah baru, guru baru, tantangan baru.

Namun satu hal tidak berubah: kecintaan Arjuna pada desanya.

Sore itu, seperti biasa, Arjuna berjalan menuju kantor desa setelah pulang sekolah. Ia ingin menemui kakeknya, Amat, seperti rutinitas yang sudah ia lakukan sejak kecil.

Namun ketika melewati balai desa, ia melihat sesuatu yang berbeda. Balai desa yang biasanya sepi sore hari itu ramai. Banyak pemuda berkumpul di sana. Ada yang duduk di kursi, ada yang berdiri, ada yang duduk di lantai.

Arjuna mengintip dari pintu. Di dalam, Hermansyah, Ketua Karang Taruna,sedang memimpin rapat. Hermansyah sudah tidak muda lagi, sekitar akhir dua puluhan, tapi ia masih aktif dalam kegiatan kepemudaan.

"Jadi, kita harus buat program yang bermanfaat untuk warga," suara Hermasyah terdengar tegas. "Bukan cuma kegiatan seremonial."

Arjuna ingin segera lewat, tapi tiba-tiba Hermansyah melihatnya.

"Jun!"

Arjuna berhenti. "Iya, Bang Mansyah?"

Didit melambaikan tangan. "Sini dulu."

Arjuna masuk dengan ragu-ragu. Semua mata di ruangan itu menatapnya. Ia merasa agak malu.

"Jun, kamu sudah SMP kan?" tanya Hermansyah.

"Iya, Bang."

"Bagus. Duduk saja. Dengarkan rapat kami. Nanti kalau besar, kamu bisa ikut Karang Taruna."

Arjuna duduk di kursi kosong paling belakang. Ia memperhatikan sekeliling. Di ruangan itu ada sekitar dua puluh pemuda, dari yang seusia SMA hingga yang sudah bekerja. Ada yang duduk serius, ada yang sambil main ponsel, ada yang sibuk berbisik-bisik.

Rapat berlanjut. Mereka membahas rencana kegiatan kebersihan desa dan perbaikan lapangan olahraga. Suasana cukup hangat, sesekali diselingi canda.

"Masalahnya, kalau kita buat gotong royong, yang datang biasanya cuma sedikit," kata seorang pemuda.

Yang lain menimpali, "Iya. Warga pada sibuk sendiri."

Hermansyah mengangguk. "Itu yang harus kita pikirkan. Bagaimana caranya agar warga mau ikut."

Berbagai usulan muncul. Ada yang usul pakai pengeras suara dari masjid. Ada yang usul door to door. Ada juga yang usul dikasih hadiah.

"Hadiah dari mana?" tanya yang lain. "Karang Taruna kan nggak punya uang."

Suasana riuh rendah. Setiap orang punya pendapat, tapi belum ada titik temu.

Arjuna memperhatikan semua ini dengan serius. Ia tidak ikut bicara, ia merasa masih terlalu muda. Tapi di dalam hatinya, ia memikirkan solusi.

Tak lama kemudian, Sugeng lewat di depan balai desa. Seperti biasa, ia tidak bisa lewat tanpa ikut nimbrung.

"Wah, pada rapat ya?" serunya sambil masuk.

Hermansyah tersenyum. "Iya, Pak Sugeng. Mau ikut?"

"Saya mah cuma lihat-lihat." Sugeng duduk di kursi kosong. "Ngapain ini?"

"Mau bikin gotong royong bersih-bersih desa."

"Bagus itu. Tapi yang datang jangan cuma kalian doang."

"Itu masalahnya, Pak."

Sugeng berpikir sejenak. "Gini aja. Kalian umumkan dari jauh-jauh hari. Jangan H-1. Pakai pengeras suara tiap maghrib. Terus, kalian harus jadi contoh. Datang duluan, pulang terakhir."

Hermansyah mengangguk-angguk. "Usul bagus, Pak."

Sugeng lalu melihat Arjuna yang duduk di belakang. "Jun, ikut rapat?"

Arjuna mengangguk malu-malu.

"Punya pendapat?"

Arjuna terkejut. "Saya, Pak?"

"Iya. Siapa lagi? Coba, boleh usul."

Semua mata kembali tertuju pada Arjuna. Ia gugup, tapi berusaha tenang.

"Mungkin... kalau kita mengajak langsung satu per satu warga, mereka akan lebih semangat," katanya pelan.

"Gimana maksudnya?" tanya Hermansyah.

"Jadi, bukan cuma ngumumin lewat pengeras suara. Tapi kita datangi rumah-rumah. Ajak bicara langsung. Jelaskan manfaatnya. Kalau warga merasa dihargai, mereka akan datang."

Ruangan hening sejenak. Lalu Hermansyah tersenyum.

"Jun, itu ide bagus."

Sugeng tertawa. "Nah, gitu dong. Anak kecil aja bisa mikir."

Arjuna tersipu malu.

Rapat berlanjut dengan semangat baru. Mereka mulai merencanakan pembagian kelompok untuk door to door. Arjuna tetap diam di belakang, tapi ia merasa senang idenya diterima.

Saat rapat selesai, beberapa pemuda mendekati Arjuna.

"Jun, kamu ini pinter ya," kata salah satu.

"Idemu bagus. Nanti kalau ada gotong royong, ikut ya."

Arjuna mengangguk. "Iya, Bang."

Hermansyah juga menghampirinya. "Jun, nanti kalau kamu besar, kamu harus aktif di Karang Taruna. Desa butuh anak muda seperti kamu."

Arjuna tersenyum. "Saya masih kecil, Bang."

"Iya, nanti. Sekarang kamu lihat dulu, belajar. Nanti kalau waktunya tiba, kamu yang jadi penerus."

Kata-kata Hermansyah menggema di hati Arjuna. Penerus. Kata itu terdengar berat.

Sore itu Arjuna berjalan menuju kantor desa. Amat sedang membereskan meja, siap pulang.

"Lama sekali, Jun. Dari mana?"

"Dari balai desa, Kek. Ikut rapat Karang Taruna."

Amat terkejut. "Kamu ikut rapat?"

"Iya. Cuma lihat-lihat."

"Terus ngapain aja?"

Arjuna menceritakan semuanya, tentang usulannya, tentang pujian dari Hermansyah, tentang ajakan untuk aktif nanti.

Amat mendengarkan dengan senyum bangga. Setelah Arjuna selesai bercerita, ia berkata, "Jun, Kakek senang kamu mulai tertarik pada kegiatan desa."

"Emang kenapa, Kek?"

"Karena desa ini butuh anak-anak muda yang peduli. Bukan cuma pintar di sekolah, tapi juga mau turun tangan membantu."

Arjuna mengangguk.

Amat melanjutkan, "Ingat, Jun. Menjadi pemimpin itu bukan soal jabatan. Tapi soal keinginan untuk melayani."

Arjuna merenungkan kata-kata itu.

Malam harinya, ia menulis di buku catatan:

Hari ini aku ikut rapat Karang Taruna. Aku usul sesuatu dan diterima. Bang Didit bilang, suatu hari aku harus aktif di sana. Kakek bilang, pemimpin itu harus mau melayani. Aku masih belum paham benar, tapi aku ingin belajar.

Ia menutup buku itu, memandang langit malam dari jendela kamarnya. Bintang-bintang berkelap-kelip, seperti ribuan mata yang memperhatikan Desa Awan Biru.

Arjuna tidak tahu bahwa langkah kecil sore itu adalah awal dari perjalanan panjang. Perjalanan yang kelak akan membawanya ke tempat-tempat yang belum pernah ia bayangkan.

Tapi ia siap belajar.

Ia siap melayani.

****

Pagi di Desa Awan Biru selalu dimulai dengan cara yang sama. Ayam berkokok, kabut tipis menyelimuti sawah, dan aroma kopi mulai tercium dari dapur-dapur warga.

Arjuna sudah terbiasa bangun pagi. Setelah membantu ibunya, Anita, menyapu halaman dan memberi makan ayam, ia bersiap ke sekolah. Tapi sebelum berangkat, ia selalu menyempatkan diri duduk sebentar di teras, memandangi desa yang mulai hidup.

Pemandangan itu selalu sama, tapi tidak pernah membosankan. Petani berjalan menuju sawah dengan cangkul di pundak. Ibu-ibu pergi ke pasar dengan keranjang di tangan. Anak-anak kecil berlarian ke sekolah dengan tas di punggung.

Desa itu hidup. Dan Arjuna merasa menjadi bagian dari kehidupan itu.

Di sekolah, Arjuna bukan siswa paling pintar. Nilainya bagus, tapi tidak selalu terbaik. Nadya masih lebih unggul di beberapa pelajaran. Tapi ada satu hal yang membedakan Arjuna dari teman-temannya: ia selalu menghubungkan pelajaran di sekolah dengan kehidupan di desa.

Suatu hari, pelajaran IPS membahas tentang pemerintahan desa. Pak Guru menjelaskan struktur pemerintahan desa: kepala desa, sekretaris desa, kepala urusan, dan seterusnya.

Arjuna mendengarkan dengan antusias. Ini bukan hal baru baginya, ia sudah mengenal semua itu dari kakeknya. Tapi tetap menarik mendengarnya dari perspektif yang berbeda.

"Pak Guru," Arjuna mengangkat tangan.

"Iya, Arjuna?"

"Kalau ada warga yang tidak setuju dengan kebijakan kepala desa, bagaimana caranya menyampaikan pendapat?"

Pak Guru tersenyum. "Pertanyaan bagus. Ada beberapa cara. Bisa melalui musyawarah desa, bisa melalui perwakilan di BPD, atau bisa langsung menyampaikan pada kepala desa."

"Tapi kalau kepala desanya tidak mau dengar?"

Beberapa teman Arjuna menoleh. Pertanyaan itu agak menantang.

Pak Guru menjawab dengan bijak, "Kepala desa yang baik pasti mau mendengar. Tapi kalau tidak, warga bisa menggunakan jalur formal melalui kecamatan Kabut Merah. Yang penting, semua harus dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai aturan."

Arjuna mengangguk. Ia puas dengan jawaban itu.

Sepulang sekolah, Arjuna tidak langsung pulang. Ia mampir ke warung Mbah Karyo, tempat favoritnya untuk duduk-duduk sambil menunggu kakeknya pulang kerja.

Di warung itu, seperti biasa, sudah ada beberapa orang: Santoso, Sugeng, dan Pak Karyo sendiri.

"Wah, Jun pulang sekolah?" sapa Sugeng.

"Iya, Pak."

"Mau pesan apa?"

"Es teh, Mbah."

Arjuna duduk di bangku panjang, menikmati es tehnya sambil mendengarkan percakapan orang-orang dewasa.

Mereka sedang membicarakan masalah irigasi. Beberapa petani mengeluh karena air tidak merata. Sawah di ujung desa sering kekeringan, sementara di hulu kelebihan air.

"Masalahnya di saluran air yang mampet," kata Santoso. "Sudah lama tidak dibersihkan."

"Tapi siapa yang mau bersihin?" tanya Sugeng. "Kerja bakti selalu sepi."

"Karena warga sudah sibuk sendiri-sendiri."

Arjuna mendengarkan dengan seksama. Ia teringat pelajaran di sekolah tentang irigasi. Tentang bagaimana air harus dikelola agar merata.

"Pak Santoso," katanya tiba-tiba.

Mereka menoleh.

"Iya, Jun?"

"Kalau saluran airnya dibersihkan bersama-sama, pasti airnya bisa lancar lagi ya?"

"Betul."

"Terus, kenapa warga malas ikut kerja bakti?"

Santoso tersenyum. "Pertanyaan bagus. Kenapa menurutmu?"

Arjuna berpikir. "Mungkin karena mereka tidak merasa punya tanggung jawab. Atau mungkin karena mereka tidak melihat manfaatnya langsung."

"Nah, itu dia masalahnya."

Sugeng menimpali, "Jun, kamu ini pintar juga. Nanti kalau besar, kamu yang bersihin saluran air ya?"

Semua tertawa. Tapi Arjuna tidak tertawa. Ia malah berpikir serius.

"Pak Santoso, kalau saya jadi kepala desa nanti, saya akan buat aturan. Setiap warga wajib ikut kerja bakti. Kalau tidak, kena sanksi."

Santoso terkejut. "Wah, keras sekali."

"Biar adil, Pak. Yang rajin selama ini rugi kalau yang malas diem aja."

Santoso dan Sugeng saling pandang. Ada kekaguman di mata mereka.

"Jun, kamu ini baru SMP, tapi pikirannya sudah sampai sana," kata Santoso.

Arjuna tersenyum malu. "Saya cuma mikir, Pak."

"Nggak apa-apa. Teruskan. Pemimpin yang baik memang harus berpikir seperti itu."

Malam harinya, Arjuna menceritakan percakapan itu pada kakeknya. Amat mendengarkan dengan serius.

"Jun, kamu benar soal sanksi," kata Amat. "Tapi ingat, sanksi itu cara terakhir. Yang pertama harus dilakukan adalah mengajak, memberi contoh, dan menjelaskan manfaatnya."

"Tapi kalau tetap tidak mau, Kek?"

"Baru sanksi. Tapi sanksi juga harus bijak. Jangan terlalu berat, tapi cukup membuat mereka jera."

Arjuna mengangguk. Setiap hari ia belajar hal baru. Bukan hanya dari sekolah, tapi juga dari kehidupan nyata.

Ia mulai menyadari bahwa menjadi pemimpin itu rumit. Harus tegas tapi tidak kejam. Harus adil tapi tidak kaku. Harus dekat dengan rakyat tapi tidak kehilangan wibawa.

Itu adalah pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah. Tapi Arjuna mendapatkannya dari desa, dari warung Mbah Karyo, dari percakapan dengan orang-orang sederhana.

Dan ia bersyukur untuk itu.

****

Pagi itu udara di Desa Awan Biru terasa sedikit berbeda. Matahari baru saja muncul di balik perbukitan, menyinari sawah-sawah dengan cahaya keemasan. Embun masih menempel di daun-daun, berkilau seperti mutiara kecil.

Di rumah sederhana milik keluarga Erlangga, Arjuna sudah bangun sejak subuh. Ia mandi, berpakaian rapi, lalu duduk di meja makan. Di depannya, Anita  menyiapkan sarapan spesial: nasi goreng dengan telur mata sapi, kesukaan Arjuna.

"Hari ini pertama kali masuk SMA, ya?" tanya Anita sambil menuang teh hangat.

Arjuna mengangguk. "Iya, Bu."

"Gugup?"

"Sedikit." Arjuna tersenyum. "Tapi senang juga."

Erlangga yang duduk di seberang meja menatap anaknya dengan bangga. "Kamu sudah besar, Jun. SMA itu gerbang menuju dewasa. Manfaatkan waktumu dengan baik."

"Iya, Yah."

"Jangan lupa, belajar itu penting, tapi berteman juga penting. Jangan jadi kutu buku."

Arjuna tertawa. "Iya, Yah."

Setelah sarapan, Arjuna pamit. Ia naik sepeda ontel tua pemberian kakeknya, sepeda yang sudah puluhan tahun usianya, tapi masih kuat. Dengan lambaian tangan pada orang tuanya, ia mengayuh sepeda menuju sekolah.

Perjalanan ke SMA Desa Awan Biru memakan waktu sekitar dua puluh menit. Melewati jalan desa yang berkelok, sawah yang membentang hijau, dan kebun-kebun warga. Sesekali ia berpapasan dengan teman-teman yang juga berangkat sekolah.

Sesampainya di sekolah, Arjuna memarkir sepeda di tempat yang sudah disediakan. SMA Desa Awan Biru tidak terlalu besar, hanya beberapa ruang kelas, laboratorium sederhana, perpustakaan kecil, dan lapangan upacara yang cukup luas. Tapi bagi Arjuna, sekolah ini terasa megah.

Di halaman, sudah berkumpul ratusan siswa baru. Mereka berkelompok-kelompok, ada yang asyik mengobrol, ada yang diam canggung, ada yang sibuk mencari teman lama.

Arjuna mencari-cari dengan matanya. Di antara kerumunan itu, ia melihat beberapa wajah familiar.

"Jun!"

Arjuna menoleh. Rudi, temannya sejak SMP, melambai-lambai dari kejauhan. Arjuna tersenyum dan berjalan mendekat.

"Untung kita satu sekolah lagi," kata Rudi sambil menepuk bahu Arjuna.

"Iya. Lumayan ada teman."

"Lo lihat belum? Ada anak baru dari kota katanya."

Arjuna mengangkat alis. "Anak baru?"

"Iya. Pindahan. Katanya ayahnya kerja di sini."

Mereka mengobrol sambil menunggu upacara dimulai. Tak lama kemudian, seorang guru meminta semua siswa baru berkumpul di lapangan untuk upacara pembukaan.

"Semua siswa kelas X, harap berbaris! Upacara akan segera dimulai!"

Suasana menjadi agak kacau. Siswa-siswa berusaha mencari barisan yang benar. Ada yang salah baris, ada yang kebingungan, ada yang hanya ikut-ikutan.

Arjuna dan Rudi berdiri di barisan yang cukup rapi. Saat itulah Arjuna melihat seseorang.

Di barisan depan, seorang gadis berdiri dengan tenang. Rambutnya panjang, terikat rapi. Seragamnya rapi, berbeda dengan yang lain yang masih agak kusut karena perjalanan. Wajahnya tenang, matanya memandang sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu.

Arjuna tidak tahu siapa dia. Tapi entah kenapa, pandangannya tertuju padanya cukup lama.

"Jun," bisik Rudi. "Lo lihat apa?"

Arjuna tersentak. "Nggak... nggak lihat apa-apa."

Rudi mengikuti arah pandang Arjuna, lalu tersenyum nakal. "Ooo... yang barisan depan ya? Anak baru itu kali."

Arjuna pura-pura tidak dengar.

Upacara berlangsung sekitar setengah jam. Sambutan kepala sekolah, perkenalan guru-guru, pengumuman tentang tata tertib. Arjuna berusaha mendengarkan, tapi pikirannya kadang melayang ke gadis di barisan depan.

Setelah upacara selesai, para siswa diarahkan ke kelas masing-masing. Arjuna mencari namanya di papan pengumuman.

Kelas X-2. Ruang 03.

Ia berjalan menuju ruang 03, masuk, lalu mencari tempat duduk. Pilihannya jatuh pada bangku di dekat jendela, biasa, agar bisa melihat keluar kalau bosan.

Satu per satu siswa masuk. Rudi masuk dan duduk di sampingnya. Beberapa teman lama dari SMP juga ada di kelas yang sama.

Dan kemudian, gadis itu masuk.

Arjuna terkejut. Ternyata mereka satu kelas. Gadis itu melihat sekeliling, lalu memilih duduk di bangku kosong, tidak jauh dari Arjuna.

Tak lama kemudian, seorang guru masuk. Wanita paruh baya dengan senyum ramah.

"Selamat pagi, anak-anak."

"Selamat pagi, Bu," jawab seluruh kelas.

"Perkenalkan, saya Bu Ratna, wali kelas kalian selama di kelas X."

Bu Ratna kemudian menjelaskan berbagai hal tentang sekolah, aturan, dan kegiatan selama setahun ke depan. Setelah itu, ia meminta setiap siswa memperkenalkan diri satu per satu.

Satu per satu siswa berdiri, menyebutkan nama, asal sekolah, dan hobi. Ada yang grogi, ada yang percaya diri, ada yang lucu.

Ketika giliran Arjuna tiba, ia berdiri dengan tenang.

"Nama saya Arjuna. Saya dari SMP Negeri Desa Awan Biru. Hobi saya membaca dan kadang main bola."

Beberapa siswa tersenyum. Arjuna duduk kembali.

Selanjutnya, giliran gadis itu.

Ia berdiri dengan anggun. Suaranya lembut, tapi jelas.

"Nama saya Kirana. Saya pindahan dari kota. Hobi saya membaca dan bermusik."

Ada keheningan sejenak. Semua mata tertuju padanya. Mungkin karena ia baru, atau mungkin karena caranya bicara yang tenang dan percaya diri.

Kirana duduk kembali. Matanya sempat bertemu dengan Arjuna sesaat, lalu mengalihkan pandangan.

Arjuna merasa ada yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Jam istirahat tiba. Arjuna duduk di kantin bersama Rudi. Mereka memesan nasi pecel dan es teh. Rudi asyik bercerita tentang rencana ikut ekskul basket. Arjuna mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

Tiba-tiba, seseorang berdiri di depan meja mereka.

"Boleh duduk?"

Arjuna dan Rudi menoleh. Kirana berdiri di sana, dengan nampan berisi makanan.

"I-iya, silakan," kata Arjuna sedikit gugup.

Kirana duduk di kursi kosong. Suasana agak canggung.

"Kamu Arjuna, kan?" tanya Kirana.

Arjuna mengangguk. "Iya."

"Kamu dari desa sini?"

"Asli. Lahir dan besar di sini."

Kirana tersenyum. "Berarti kamu tahu banyak tentang desa ini dong."

"Agak-agaklah."

Rudi yang merasa tidak dianggap menyela, "Heh, kenalin dong. Gue Rudi, temennya Arjuna."

Kirana tersenyum. "Halo, Rudi. Aku Kirana."

"Udah denger. Kamu pindahan dari kota?"

"Iya."

"Kenapa pindah ke desa?"

Kirana menjelaskan, "Ayahku dipindah tugaskan ke sini. Jadi ya ikut."

Percakapan mereka mengalir. Kirana ternyata mudah diajak bicara. Ia tidak sombong seperti yang Arjuna kira tentang anak kota. Malah, ia terlihat ingin tahu banyak hal tentang desa.

"Di sini ada tempat wisata?" tanya Kirana.

"Wah, kalau wisata sih nggak ada yang mentereng," jawab Rudi. "Tapi ada pemandangan bagus. Sawah, sungai, kebun."

"Boleh dikunjungi?"

"Tentu. Nanti kalau ada waktu luang, boleh kami antar," kata Arjuna.

Kirana tersenyum. "Terima kasih. Aku terima tawarannya."

Bel berbunyi. Istirahat selesai. Mereka kembali ke kelas dengan perasaan baru, bahwa pertemanan baru telah dimulai.

Sore harinya, Arjuna duduk di kamar. Ia membuka buku catatan kecilnya, buku yang sudah ia miliki sejak SD. Halaman-halamannya sudah banyak terisi. Kisah masa kecil, petualangan bersama teman, pelajaran dari kakek, semua tertulis di sana.

Hari ini, ia membuka halaman baru.

*Hari pertama SMA. Kelas X-2. Ada teman baru namanya Kirana. Pindahan dari kota. Kami ngobrol di kantin. Dia minta diantar keliling desa. Aku bilang iya.*

Arjuna berhenti menulis. Ia memandangi tulisan itu, lalu tersenyum kecil. Entah kenapa, ia menambahkan satu kalimat lagi.

Entah kenapa... aku merasa cerita baru akan dimulai.

Ia menutup buku itu perlahan.

Di luar jendela, langit Desa Awan Biru berubah menjadi lembayung senja. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dari sawah.

Tanpa Arjuna sadari, catatan kecil tentang percintaannya baru saja dimulai.

*****

Waktu berjalan lebih cepat daripada yang disadari siapa pun.

Anak-anak yang dulu berlarian di lapangan desa, bermain petak umpet di antara pohon-pohon sawit, dan mandi di sungai kecil kini mulai tumbuh lebih tinggi. Suara mereka berubah, yang laki-laki mulai pecah, kadang melengking tiba-tiba di tengah percakapan. Yang perempuan mulai lebih memperhatikan penampilan, rambut disisir rapi, dan senyum menjadi lebih sering dihitung.

Arjuna kini sudah duduk di bangku kelas dua SMA. Usianya enam belas tahun. Tubuhnya mulai berisi, bahunya lebih bidang, dan suaranya lebih dalam. Namun matanya masih sama, penuh rasa ingin tahu, selalu memperhatikan, selalu belajar.

Pagi itu, seperti biasa, Arjuna berangkat ke sekolah dengan sepeda ontel pemberian kakeknya. Sepeda itu semakin tua, remnya sudah ditambal karet ban bekas, dan rantainya sering lepas. Tapi Arjuna tetap setia mengayuhnya setiap hari.

Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Rudi yang juga naik sepeda.

"Jun!" teriak Rudi dari kejauhan.

Arjuna mengerem pelan. "Rudi!"

Mereka berdua mengayuh berdampingan. Rudi, seperti biasa, langsung ceplas-ceplos.

"Jun, lo lihat belum Kirana hari ini?"

Arjuna menggeleng. "Belum. Kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa. Gue tanya doang."

"Lo nanyanya aneh."

Rudi tertawa. "Lo yang aneh. Gue tanya biasa aja."

Sejak hari pertama masuk SMA, pertemanan Arjuna dengan Kirana terus berlanjut. Mereka duduk tidak terlalu berjauhan di kelas, sering bertukar catatan, dan kadang ngobrol di kantin. Tapi tidak lebih dari itu. Setidaknya, itu yang Arjuna katakan pada dirinya sendiri.

Sesampainya di sekolah, mereka memarkir sepeda. Halaman sekolah mulai ramai. Beberapa siswa duduk di taman, beberapa berlarian menuju kelas.

Arjuna melangkah menuju kelas. Ketika masuk, ia melihat Kirana sudah duduk di bangkunya. Rambutnya terurai hari itu, tidak diikat seperti biasa. Arjuna berhenti sejenak di pintu, lalu melanjutkan langkah ke bangkunya.

"Pagi," sapanya sambil melewati Kirana.

"Pagi," jawab Kirana dengan senyum.

Rudi yang masuk di belakang Arjuna langsung menyenggolnya. "Jun, lo lihat rambutnya?"

"Diem lo."

Rudi terkekeh.

Belum sempat mereka duduk dengan nyaman, Bu Ratna masuk ke kelas. Wajahnya serius, berbeda dari biasanya.

"Anak-anak, ada pengumuman penting."

Semua siswa menoleh, memperhatikan.

"Sebentar lagi sekolah kita akan mengadakan pemilihan ketua OSIS periode baru. Bagi kalian yang berminat, silakan mendaftar ke ruang OSIS. Pendaftaran dibuka mulai hari ini sampai Jumat."

Suasana kelas langsung riuh. Beberapa siswa berbisik-bisik. Ada yang tertarik, ada yang langsung menggeleng.

"Jun, lo ikut?" bisik Rudi.

"Belum tahu."

"Gue rasa lo cocok."

"Lo aja."

Gue? Mana bisa. Gue ngomong di depan umum aja grogi."

Arjuna hanya tersenyum. Ia memang tidak pernah terpikir untuk ikut pemilihan OSIS. Tugasnya di kelas saja sudah cukup menyita waktu.

Namun saat jam istirahat, ketika Arjuna sedang duduk di kantin, seseorang tiba-tiba duduk di depannya.

Kirana.

"Aku mau tanya sesuatu," katanya langsung.

Arjuna mengangkat alis. "Tanya apa?"

"Kamu ikut pemilihan OSIS nggak?"

Arjuna menggeleng. "Kayaknya nggak."

"Kenapa?"

"Malas. Ribet."

Kirana menatapnya lekat-lekat. "Aku lihat kamu punya potensi."

"Potensi apa?"

"Memimpin."

Arjuna tertawa kecil. "Ah, kamu bercanda."

"Aku serius." Kirana tidak tersenyum. "Dari cara kamu bicara, cara kamu memperhatikan orang, cara kamu menyelesaikan masalah... kamu cocok jadi pemimpin."

Arjuna terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku sendiri akan ikut," lanjut Kirana. "Tapi aku butuh tim yang solid. Kamu mau bantu?"

Arjuna menatap Kirana. Ada sesuatu di matanya, keyakinan, harapan, juga keraguan. Mungkin ia juga sebenarnya takut, tapi berusaha terlihat percaya diri.

Setelah beberapa detik, Arjuna berkata, "Baiklah. Aku bantu."

Kirana tersenyum lebar. "Terima kasih, Arjuna."

Itu adalah pertama kalinya Kirana memanggil namanya dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar teman sekelas, tapi seperti... sesuatu yang lebih.

Sore harinya, sepulang sekolah, Arjuna berjalan menuju kantor desa. Ia ingin bertemu kakeknya, seperti biasa.

Amat sedang duduk di teras rumah, bukan di kantor desa seperti biasanya. Arjuna heran.

"Kakek, kok di rumah?"

Amat tersenyum. "Kakek sudah pensiun, Jun. Sudah dua minggu."

Arjuna terkejut. "Pensiun? Kakek nggak bilang-bilang?"

"Biar kamu fokus sekolah. Lagian, ini bukan hal besar. Yang tua harus memberi jalan pada yang muda."

Arjuna duduk di samping kakeknya. Ia memandangi wajah tua itu, keriput di sana-sini, rambut memutih, tapi matanya masih bersinar.

"Kakek, aku mau cerita."

"Cerita apa?"

Arjuna menceritakan tentang tawaran Kirana, tentang pemilihan OSIS, tentang keraguannya.

Amat mendengarkan dengan saksama. Setelah Arjuna selesai, ia berkata, "Jun, Kakek ingin cerita sesuatu."

"Apa, Kek?"

"Dulu, waktu Kakek pertama kali bekerja di kantor desa, Kakek juga ragu. Kakek cuma lulusan SMP, sementara yang lain banyak yang lebih pintar. Tapi Kakek ingat pesan orang tua Kakek: jangan takut mencoba. Yang kalah bukan yang gagal, tapi yang tidak pernah mencoba."

Arjuna merenungkan kata-kata itu.

"Jun, kamu masih muda. Masih banyak waktu untuk belajar, untuk gagal, untuk bangkit lagi. Kalau ada kesempatan, ambil. Jangan sia-siakan."

"Tapi kalau aku kalah, Kek?"

"Kalah itu biasa. Yang penting kamu sudah berani melangkah. Pengalaman tidak akan pernah mengkhianatimu."

Arjuna mengangguk pelan. Kata-kata kakeknya selalu memberinya kekuatan.

Malam itu, sebelum tidur, Arjuna membuka buku catatannya.

Hari ini Kirana minta aku bantu dia ikut pemilihan OSIS. Aku bilang iya. Entah kenapa. Tapi mungkin ini saatnya aku mencoba hal baru. Kakek bilang, jangan takut gagal. Baiklah, besok aku akan mulai.

Ia menutup buku, memandangi langit malam dari jendela. Bintang-bintang berkelap-kelip, seperti biasa.

Esok adalah hari baru. Dan Arjuna siap melangkah.

****

Hari-hari berikutnya menjadi lebih sibuk bagi Arjuna. Sepulang sekolah, alih-alih langsung pulang atau ke warung Mbah Karyo, ia harus mengikuti rapat tim sukses Kirana di ruang OSIS.

Tim mereka kecil, hanya berisi Kirana, Arjuna, Rudi, dan dua orang lain: Siska, gadis periang yang jago desain, dan Bima, siswa kelas sebelah yang pendiam tapi pintar menulis.

Mereka berkumpul di ruang OSIS yang sederhana. Dindingnya penuh poster kegiatan, meja kayu panjang di tengah, dan beberapa lemari tua berisi arsip.

"Oke, kita harus punya program kerja yang jelas," kata Kirana memimpin rapat. "Kalau hanya janji manis, orang tidak akan percaya."

Siska mengangkat tangan. "Gimana kalau kita fokus pada pengembangan bakat siswa? Banyak di sini yang punya potensi tapi nggak terarah."

"Bisa. Tapi harus lebih spesifik."

Bima menambahkan, "Mungkin kita bisa buat lomba antar kelas. Atau pelatihan-pelatihan."

Rudi, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berseru, "Gue usul! Bikin turnamen futsal!"

Semua tertawa. Kirana menggeleng-geleng.

"Rudi, ini OSIS, bukan club futsal."

"Tapi itu bisa menarik minat banyak orang, lho."

Arjuna yang sejak tadi mendengarkan akhirnya bicara. "Rudi ada benarnya juga."

Semua menoleh.

"Maksudmu?" tanya Kirana.

"Kita perlu program yang menarik minat banyak siswa. Tapi juga harus program yang bermanfaat jangka panjang. Jadi mungkin kita gabung. Ada program seru kayak turnamen atau pentas seni, ada juga program pembinaan kayak pelatihan keterampilan."

Kirana mengangguk-angguk. "Iya, betul. Program jangka pendek buat menarik perhatian, program jangka panjang buat dampak nyata."

Mereka berdiskusi hingga sore. Ide demi ide bermunculan. Ada yang bagus, ada yang mustahil, ada yang lucu. Tapi perlahan, visi mereka mulai terbentuk.

Saat matahari mulai tenggelam, mereka memutuskan untuk pulang.

"Besok kita lanjutkan," kata Kirana. "Makasih ya semuanya."

Satu per satu mereka pamit. Arjuna berjalan keluar bersama Rudi.

"Jun," kata Rudi.

"Apa?"

"Lo serius bantuin Kirana?"

"Serius."

"Bukan karena... sesuatu?"

Arjuna menatap Rudi. "Maksud lo?"

Rudi tersenyum misterius. "Ya... sesuatu. Lo tahu maksud gue."

"Gue nggak tahu."

"Ah, pura-pura."

Mereka berjalan dalam diam beberapa saat. Lalu Rudi berkata lagi, "Jun, hati-hati aja. Kirana itu anak baru, tapi banyak yang suka."

Arjuna mengerutkan dahi. "Maksud lo?"

"Ya, ada beberapa cowok yang mulai mendekatinya. Termasuk anak kelas tiga, ketua OSIS sekarang."

Arjuna terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.

"Gue cuma ngasih tahu," lanjut Rudi. "Biar lo nggak kaget."

Mereka berpisah di perempatan desa. Arjuna melanjutkan perjalanan pulang dengan pikiran campur aduk.

Malam itu, Arjuna sulit tidur. Pikirannya berkecamuk. Ia teringat kata-kata Rudi. Tentang cowok-cowok yang mendekati Kirana. Tentang ketua OSIS.

Kenapa aku peduli? pikirnya. Kirana cuma teman. Teman biasa.

Tapi hatinya berkata lain.

Ia duduk di tepi tempat tidur, membuka jendela. Angin malam berhembus sejuk. Ia memandangi langit gelap, mencari jawaban di antara bintang-bintang.

Tidak ada jawaban. Hanya kesadaran bahwa perasaannya pada Kirana mungkin bukan sekadar pertemanan.

Ah, sudahlah, pikirnya. Yang penting tugas dulu. Bantu Kirana menang. Urusan hati... belakangan.

Ia merebahkan diri, memejamkan mata. Tapi tidurnya tidak nyenyak. Mimpi-mimpi aneh datang silih berganti, tentang Kirana, tentang pemilihan, tentang masa depan.

****

Pekan-pekan berikutnya menjadi minggu-minggu paling sibuk dalam hidup Arjuna. Sepulang sekolah, ia harus mengikuti rapat. Sore harinya, ia harus membantu menyebarkan pamflet dan mengajak siswa-siswa lain mendukung Kirana. Malam harinya, ia harus belajar karena ujian semakin dekat.

Ia jarang punya waktu untuk dirinya sendiri. Bahkan untuk sekadar duduk di warung Mbah Karyo bersama teman-teman lamanya pun ia jarang bisa.

Suatu sore, setelah rapat yang melelahkan, Arjuna duduk sendirian di kantin sekolah. Rapat baru saja selesai, dan semua orang sudah pulang. Ia memesan segelas es teh dan menikmati keheningan.

Tiba-tiba, seseorang duduk di depannya.

Kirana.

"Kok belum pulang?" tanya Arjuna.

"Liat kamu di sini sendirian. Ikut duduk."

Mereka terdiam beberapa saat. Suasana kantin yang sepi membuat percakapan terasa lebih intim.

"Arjuna," kata Kirana pelan.

"Iya?"

"Makasih ya udah bantu aku sejauh ini."

Arjuna tersenyum. "Sama-sama. Aku senang bisa bantu."

"Aku tahu kamu capek. Tapi kamu nggak pernah ngeluh."

"Biasa aja."

Kirana menatapnya lekat-lekat. "Kamu orang yang aneh."

"Aneh kenapa?"

"Banyak orang bantu aku karena... ya, karena aku ini pendatang baru, mungkin kasihan. Atau karena ada maksud lain. Tapi kamu... aku nggak tahu motifmu."

Arjuna terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Karena sejujurnya, ia sendiri tidak tahu motifnya. Atau mungkin ia tahu, tapi takut mengakuinya.

"Mungkin karena aku suka membantu," katanya akhirnya.

Kirana tersenyum. "Terima kasih. Sungguh."

Mereka kembali terdiam. Tapi kali bukan keheningan yang canggung. Justru keheningan yang nyaman.

"Kirana," panggil Arjuna.

"Iya?"

"Aku mau tanya sesuatu."

"Tanya aja."

Arjuna ragu-ragu. Tapi akhirnya ia memberanikan diri. "Apa benar ada yang mendekati kamu? Maksudku, secara spesial?"

Kirana terkejut. Ia menatap Arjuna dengan ekspresi sulit diartikan. Lalu ia tertawa kecil.

"Kok tanya gitu?"

"Maaf kalau kepo. Aku cuma... penasaran."

Kirana menghela napas. "Iya, ada beberapa. Tapi aku nggak terlalu memperhatikan. Aku fokus ke pemilihan dulu."

"Oh."

"Kenapa? Kamu cemburu?"

Arjuna hampir tersedak es tehnya. "Apa? Nggak! Masa sih?"

Kirana tertawa melihat reaksinya. "Canda."

Tapi dari senyumnya, Arjuna tidak yakin itu benar-benar candaan.

Mereka berbincang hingga matahari hampir tenggelam. Tentang banyak hal, tentang masa kecil, tentang mimpi, tentang desa dan kota. Arjuna merasa lebih dekat dengan Kirana dari sebelumnya.

Ketika akhirnya mereka pulang, berjalan berdampingan di jalan desa yang mulai gelap, Arjuna merasakan sesuatu yang hangat di dadanya. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Ah, Kirana...

Malam itu, Arjuna menulis di buku catatannya:

Hari ini aku ngobrol lama dengan Kirana. Sendirian. Rasanya... aneh. Tapi menyenangkan. Dia tanya kenapa aku bantu dia. Aku nggak bisa jawab. Mungkin karena... ah, sudahlah.

Yang penting pemilihan dulu. Urusan hati, belakangan.

Ia menutup buku, tapi pikirannya tidak bisa tenang.

Untuk pertama kalinya, Arjuna menyadari bahwa perasaannya pada Kirana bukan sekadar pertemanan.

Dan itu membuatnya takut sekaligus senang.

****

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

SMA Desa Awan Biru menggelar debat kandidat ketua OSIS di aula sekolah. Seluruh siswa kelas X dan XI diwajibkan hadir. Suasana aula yang biasanya sunyi kini berubah menjadi riuh rendah.

Panggung sederhana didirikan di depan. Lima meja disusun berjajar untuk para kandidat. Spanduk besar bertuliskan "DEBAT KANDIDAT KETUA OSIS" membentang di belakang panggung.

Arjuna duduk di barisan penonton bersama tim sukses lainnya. Jantungnya berdebar kencang. Bukan ia yang maju, tapi rasanya seperti ia juga yang akan berdebat.

Di atas panggung, Kirana duduk dengan tenang. Rambutnya diikat rapi. Seragamnya licin tanpa kerutan. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan rasa gugup sedikit pun.

Di samping kirinya duduk Dimas, kandidat nomor satu, siswa kelas tiga yang juga ketua OSIS saat ini. Ia terkenal populer, pintar bicara, dan punya banyak pendukung. Di samping kanannya, Nadya, kandidat nomor tiga, gadis tomboi yang aktif di berbagai kegiatan.

"Jun, lo tegang?" bisik Rudi.

"Gue nggak yang maju. Lo yang tegang."

"Gue tegang liat lo tegang."

"Diem lo."

Moderator membuka acara. Setelah menjelaskan aturan debat, ia mempersilakan masing-masing kandidat menyampaikan visi dan misi.

Giliran pertama, Dimas. Ia berdiri dengan percaya diri. Suaranya lantang, gesturnya meyakinkan. Ia menjanjikan banyak hal: perbaikan fasilitas sekolah, program unggulan, dan lain-lain.

Penonton bertepuk tangan meriah. Dimas tersenyum puas.

Giliran Nadya. Ia lebih sederhana, tapi jujur. Ia bicara tentang pengalamannya di organisasi, tentang program-program yang realistis. Tepuk tangan juga riuh, tapi tidak sebesar untuk Dimas.

Giliran terakhir, Kirana. Ia berdiri dengan anggun. Suaranya lembut tapi jelas.

"Visi saya adalah menjadikan OSIS sebagai wadah pengembangan potensi siswa. Bukan hanya untuk siswa yang aktif, tapi untuk semua. Saya ingin program-program yang inklusif, yang bisa diikuti siapa saja, terlepas dari bakat atau latar belakang mereka."

Ia melanjutkan dengan memaparkan program-programnya: pelatihan keterampilan, lomba antar kelas, bakti sosial, dan program mentoring untuk siswa kelas X.

Penonton terdiam sejenak. Lalu tepuk tangan bergemuruh.

Arjuna tersenyum bangga. Kirana tampil sempurna.

Sesi berikutnya adalah sesi tanya jawab antar kandidat. Di sinilah ketegangan dimulai.

Dimas mendapat pertanyaan pertama dari Nadya. Lalu Nadya dari Kirana. Lalu Kirana dari Dimas.

Semua berjalan lancar sampai Dimas melontarkan pertanyaan yang agak menusuk pada Kirana.

"Saudari Kirana, Anda baru satu tahun di sekolah ini. Bagaimana Anda bisa memahami kebutuhan siswa jika Anda sendiri masih baru?"

Suasana aula hening. Semua mata tertuju pada Kirana.

Arjuna menahan napas.

Kirana tersenyum tenang. "Memang benar saya baru satu tahun di sekolah ini. Tapi justru karena saya baru, saya bisa melihat hal-hal yang mungkin terlewatkan oleh mereka yang sudah terlalu lama di sini. Saya datang dengan perspektif baru, dengan ide-ide segar. Dan dalam setahun ini, saya sudah cukup banyak berinteraksi dengan berbagai kalangan siswa. Saya rasa itu lebih dari cukup."

Tepuk tangan pecah. Beberapa siswa bersorak.

Dimas terlihat sedikit kehilangan muka. Tapi ia cepat tersenyum, bertepuk tangan juga.

Sesi demi sesi berlalu. Debat berlangsung sengit tapi tetap dalam batas wajar.

Ketika acara selesai dan penonton mulai meninggalkan aula, Arjuna berlari menghampiri Kirana.

"Kamu hebat!" serunya.

Kirana tersenyum lelah. "Makasih. Aku tadi gugup banget."

"Nggak keliatan sama sekali."

"Bohong."

"Serius. Kamu keren."

Mereka berjalan keluar aula bersama. Rudi menyusul dari belakang dengan dua botol air mineral.

"Ini buat kalian. Capek kan?"

"Makasih, Rud," kata Kirana.

Mereka duduk di taman sekolah, menikmati sore yang mulai teduh.

"Besok pengumuman," kata Kirana. "Aku deg-degan."

"Tenang aja. Kamu sudah melakukan yang terbaik."

"Tapi lawanku berat. Dimas sudah punya banyak pendukung."

"Jangan pikirin itu. Yang penting kamu sudah berusaha."

Kirana menatap Arjuna. "Kamu selalu bilang gitu. Nggak pernah ragu sama aku."

"Iya. Karena aku percaya sama kamu."

Ada keheningan sejenak. Lalu Kirana tersenyum, senyum yang berbeda dari biasanya. Lebih hangat, lebih personal.

"Arjuna," katanya pelan.

"Iya?"

"Makasih."

"Udah, makasih mulu."

"Bukan cuma buat bantu aku di pemilihan ini. Tapi buat semuanya. Buat jadi teman yang baik."

Arjuna tersenyum. "Sama-sama."

Mereka duduk di taman hingga matahari benar-benar tenggelam. Membicarakan banyak hal, tentang masa depan, tentang mimpi, tentang hal-hal kecil yang tidak penting tapi terasa penting saat itu.

Dan di antara percakapan itu, Arjuna merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat, yang membuatnya ingin terus berada di dekat Kirana.

Ah, Kirana...

****

Pagi itu, SMA Desa Awan Biru terasa berbeda. Biasanya siswa-siswa masuk kelas dengan santai, bercanda di lorong, atau sarapan di kantin. Tapi hari ini, semua mata tertuju pada papan pengumuman di depan ruang guru.

Hasil pemilihan ketua OSIS akan diumumkan hari ini.

Arjuna datang lebih awal dari biasanya. Ia langsung menuju papan pengumuman, tapi masih kosong. Belum ditempel.

Rudi datang beberapa menit kemudian, setengah berlari.

"Udah keluar?" tanyanya napas tersengal.

"Belum."

Mereka berdiri di sana, menunggu. Satu per satu siswa berdatangan. Kerumunan semakin besar.

Kirana muncul di antara kerumunan. Ia berjalan tenang, tapi Arjuna bisa melihat kegugupan di matanya.

"Selamat pagi," sapanya.

"Pagi," jawab Arjuna dan Rudi hampir bersamaan.

Mereka berdiri bertiga, menunggu dengan perasaan campur aduk.

Tak lama kemudian, Pak Guru Wali Kelas XI keluar dari ruang guru membawa selembar kertas. Kerumunan langsung merapat.

"Mundur, mundur. Jangan berdesakan," kata Pak Guru.

Kertas itu ditempel di papan pengumuman. Sekejap, semua orang berusaha melihat.

Arjuna berusaha menerobos, tapi terlalu banyak orang. Ia hanya bisa melihat dari celah-celah kecil.

Tiba-tiba, terdengar teriakan dari seseorang di depan.

"KIRANA! KIRANA MENANG!"

Arjuna hampir tidak percaya. Ia berusaha lebih keras melihat. Dan benar, di kertas itu, nama Kirana tertulis di urutan pertama dengan perolehan suara 45%, unggul tipis dari Dimas yang 43%.

"KIRANA!" teriak Rudi. "LO MENANG!"

Kirana hanya diam, mulutnya terbuka, matanya berkaca-kaca.

Arjuna menoleh padanya. "Selamat," katanya dengan suara bergetar.

Kirana menatapnya. Dan tanpa diduga, ia langsung memeluk Arjuna.

"Terima kasih," bisiknya di telinga Arjuna. "Terima kasih."

Arjuna kaku. Tangannya tidak tahu harus ke mana. Tapi dadanya terasa meledak—bahagia, terkejut, dan sesuatu yang lain.

Pelukan itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi bagi Arjuna rasanya seperti selamanya.

Ketika Kirana melepaskan pelukannya, pipinya merah. Ia tersenyum malu.

"Maaf, aku terbawa perasaan."

"Nggak apa-apa," jawab Arjuna, berusaha terlihat tenang meski jantungnya berdebar kencang.

Rudi menyaksikan semua itu dengan senyum lebar. "Wah, wah, wah..."

"Diem lo," kata Arjuna.

"Gue nggak ngomong apa-apa."

Kerumunan mulai membubarkan diri. Beberapa teman menghampiri Kirana, memberi selamat. Dimas juga mendekat, menjabat tangan Kirana dengan sportif.

"Selamat, Kirana. Kamu memang layak menang."

"Terima kasih, Mas Dimas. Sportif sekali."

"Kalah itu biasa. Yang penting kita tetap berteman."

Pemandangan itu mengharukan. Arjuna menyaksikan dari kejauhan, merasa bangga pada Kirana dan juga pada Dimas yang dewasa menerima kekalahan.

Sore harinya, tim sukses Kirana berkumpul di rumah Rudi untuk merayakan. Siska membawa kue buatan ibunya. Bima membawa minuman. Rudi menyiapkan makanan ringan.

Suasana sangat meriah. Mereka tertawa, bercerita, mengenang perjuangan selama berminggu-minggu.

"Pokoknya ini kemenangan kita semua!" seru Rudi.

"Iya, tanpa kalian aku nggak bisa apa-apa," kata Kirana.

Arjuna duduk di sudut ruangan, tersenyum melihat mereka. Ia senang, tapi ada yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan.

Saat acara hampir selesai, Kirana mendekatinya.

"Jun, kok diem aja?"

"Lagi lihat kalian semua."

"Kamu bagian dari semua ini, tahu. Jangan merasa di luar."

Arjuna tersenyum. "Aku tahu. Aku cuma... mikir."

"Pikirin apa?"

Arjuna ragu-ragu. Tapi akhirnya ia berkata, "Aku mikir, sekarang kamu ketua OSIS, pasti sibuk banget. Mungkin kita nggak bisa sering ngobrol kayak dulu."

Kirana terdiam. Matanya menerawang.

"Mungkin iya," katanya pelan. "Tapi kita tetap bisa kok ketemu. Di sekolah, di kantin, atau..."

Ia tidak melanjutkan.

Atau?

Arjuna tidak berani bertanya.

Mereka terdiam beberapa saat. Suasana pesta di belakang mereka terasa jauh.

"Arjuna," panggil Kirana.

"Iya?"

"Ada yang mau aku omongin."

"Apa?"

Kirana menatapnya lekat-lekat. Matanya serius, tapi juga ada keraguan.

"Aku..."

"Kirana! Sini foto bareng!" teriak Siska dari kejauhan.

Kirana tersentak. "Sebentar, Sis!"

Ia kembali menatap Arjuna. "Nanti kita bicara, ya. Janji."

Arjuna mengangguk. "Iya."

Kirana berlari bergabung dengan yang lain. Arjuna melihatnya dari kejauhan, di antara tawa dan sorak-sorai.

Ia tidak tahu apa yang ingin dikatakan Kirana. Tapi ada firasat di hatinya, bahwa sesuatu akan berubah. Sesuatu yang penting.

Malam itu, Arjuna tidak bisa tidur. Ia bolak-balik di tempat tidur, memikirkan apa yang hampir diucapkan Kirana.

Ada yang mau aku omongin.

Apa itu?

Ia membuka buku catatannya, menulis dengan tangan sedikit gemetar.

Hari ini Kirana menang pemilihan OSIS. Aku senang, bangga, tapi juga sedih. Entah kenapa. Mungkin karena aku takut kehilangan dia. Takut dia terlalu sibuk dan kita nggak bisa dekat lagi.

Tadi dia mau bilang sesuatu. Tapi belum sempat. Besok mungkin. Atau lusa. Aku tunggu.

Tapi aku juga takut. Takut kalau yang mau dia bilang adalah sesuatu yang... ah, sudahlah.

Ia menutup buku, memandangi langit-langit kamar.

Kirana...

****

Hari-hari setelah kemenangan Kirana terasa berbeda. Ia memang sibuk, rapat OSIS, koordinasi dengan guru, menyusun program kerja. Tapi ia tetap menyempatkan diri untuk bertemu Arjuna, meski hanya sebentar di kantin atau sepulang sekolah.

Suatu sore, sepulang sekolah, Kirana mengajak Arjuna ke taman. Di bawah pohon trembesi yang rindang, mereka duduk di bangku kayu.

"Aku ingat janjiku," kata Kirana. "Mau bicara sesuatu."

Arjuna mengangguk, berusaha tenang meski jantungnya berdebar.

"Aku mau minta maaf."

Arjuna terkejut. "Minta maaf? Buat apa?"

"Karena selama ini... mungkin aku terlalu bergantung padamu. Terlalu sering minta bantuan. Dan setelah menang, aku malah sibuk sendiri."

"Ah, nggak apa-apa. Itu wajar."

"Tapi aku nggak mau hubungan kita berubah. Maksudku... aku tetap mau kita berteman. Tapi bukan cuma teman biasa."

Arjuna menatapnya, tidak mengerti. "Maksudnya?"

Kirana menarik napas dalam. "Arjuna, aku suka sama kamu."

Dunia seolah berhenti berputar.

Arjuna tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menatap Kirana, mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara keluar.

Kirana tersenyum melihat reaksinya. "Kok diem aja?"

"I-itu... serius?"

"Serius."

"Tapi... kenapa?"

"Kenapa apa?"

"Kenapa suka sama aku? Aku orang biasa. Nggak populer, nggak kaya, nggak..."

Kirana meletakkan jarinya di bibir Arjuna, membuatnya diam.

"Kamu itu aneh. Nggak sadar kalau kamu spesial."

Arjuna masih terkejut. Rasanya seperti mimpi.

"Jadi... kamu mau nggak jadi pacarku?" tanya Kirana dengan suara pelan.

Arjuna menatapnya lama. Gadis di depannya ini, cantik, pintar, populer, baru saja terpilih jadi ketua OSIS, menyatakan suka padanya. Pada Arjuna, anak desa biasa yang hobinya baca buku dan nongkrong di warung Mbah Karyo.

"Mau banget," jawabnya akhirnya, suaranya bergetar.

Kirana tersenyum lebar. "Beneran?"

"Iya. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Aku nggak tahu harus ngapain. Aku belum pernah pacaran."

Kirana tertawa. "Aku juga belum pernah. Kita belajar bareng."

Mereka tertawa bersama. Suasana yang tadinya tegang berubah hangat.

"Tapi ada satu syarat," kata Kirana.

"Apa?"

"Kamu harus tetap jadi Arjuna yang aku kenal. Yang baik, yang perhatian, yang suka bantu orang. Jangan berubah."

Arjuna mengangguk. "Janji."

Mereka duduk di bawah pohon trembesi hingga matahari benar-benar tenggelam. Membicarakan banyak hal, tentang masa depan, tentang mimpi, tentang bagaimana mereka akan menjalani hubungan ini.

Saat pulang, mereka berjalan berdampingan. Tangan mereka hampir bersentuhan beberapa kali, tapi belum berani saling menggenggam.

Di perempatan desa, mereka berpisah. Kirana masuk ke Gang Kenanga, Arjuna ke Gang Melati.

"Sampai ketemu besok," kata Kirana.

"Iya. Sampai ketemu."

Arjuna berjalan pulang dengan senyum yang tidak bisa ia hapus dari wajahnya. Rasanya seperti melayang di awan.

Malam itu, Arjuna menulis di buku catatannya. Tangannya gemetar, tapi tulisannya jelas.

Hari ini, di bawah pohon trembesi, Kirana bilang dia suka sama aku. Dan dia minta aku jadi pacarnya. Aku bilang iya.

Rasanya... nggak nyata. Seperti mimpi.

Aku takut. Takut salah langkah. Takut nggak bisa jadi pacar yang baik. Tapi Kirana bilang kita belajar bareng.

Ya, kita belajar bareng.

Ia menutup buku, memandang langit malam dari jendela. Bintang-bintang seperti tersenyum padanya.

Kirana...

Sekarang kamu jadi pacarku.

****

Pagi itu, Arjuna berangkat ke sekolah dengan perasaan berbeda. Langkahnya ringan, hatinya berbunga-bunga. Sepeda ontelnya seperti tidak terasa berat.

Di sekolah, ia bertemu Rudi di pintu gerbang.

"Pagi, Jun!" sapa Rudi ceria. "Lo kenapa? Senyum-senyum sendiri?"

Arjuna berusaha terlihat biasa. "Ah, nggak apa-apa."

"Bohong. Lo kayak orang habis menang lotre."

Arjuna hanya tersenyum.

Di kelas, ia melihat Kirana sudah duduk. Mereka bertukar pandang, lalu tersenyum malu-malu. Diam-diam, Kirana mengirim pesan singkat lewat kertas yang dilipat kecil.

Pagi, pacarku.

Arjuna membaca kertas itu, hatinya meleleh. Ia membalas,

Pagi. Aku seneng banget.

Rudi, yang duduk di samping Arjuna, melihat gelagat aneh itu. Ia menyenggol sikut Arjuna.

"Jun, lo lagi ngapain? Sms-an sama siapa?"

"Bukan sms-an. Ini cuma... catatan."

"Catatan pake kertas lipat? Jaman batu lo."

Arjuna hanya mengangkat bahu.

Sepanjang pagi, mereka bertukar pesan kecil. Kadang hanya "lagi ngapain?" atau "senyum dong" atau "nanti istirahat ketemu di kantin ya". Hal-hal kecil yang membuat hari terasa indah.

Saat istirahat tiba, mereka bertiga, Arjuna, Kirana, dan Rudi, duduk di kantin seperti biasa. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Arjuna dan Kirana duduk berhadapan, sesekali bertukar senyum, sesekali saling memandang dengan cara yang berbeda.

Rudi memperhatikan semua itu. Matanya menyipit curiga.

"Jun, lo mau minum?" tanya Rudi tiba-tiba.

"Nggak, makasih."

"Kirana?"

"Udah, ini masih."

Rudi mengangguk-angguk. Lalu tiba-tiba ia berkata, "Kalian berdua... ada yang beda ya?"

Arjuna dan Kirana saling pandang.

"Maksud lo?" tanya Arjuna berusaha tenang.

"Ya... vibes-nya. Kayak... ah, gue nggak tahu. Tapi ada yang beda."

Kirana tersenyum. "Mungkin karena aku baru jadi ketua OSIS. Jadi ada aura baru."

"Bukan. Bukan itu."

Rudi terus mengamati mereka. Matanya bergerak dari Arjuna ke Kirana, lalu kembali lagi.

"Ooh..." katanya tiba-tiba.

"Apa?" tanya Arjuna.

"Gue tahu."

"Tahu apa?"

Rudi tersenyum misterius. "Kalian... jadian ya?"

Arjuna hampir tersedak es tehnya. Kirana memerah.

"Apa? Nggak!" kata Arjuna cepat.

"Ah, bohong. Lo merah."

"Gue nggak merah."

"Lo iya merah. Kirana juga merah. Jadi beneran ya?"

Arjuna dan Kirana saling pandang. Mereka tidak tahu harus menjawab apa.

Rudi tertawa. "Tenang, gue nggak akan kasih tahu siapa-siapa. Rahasia ini aman sama gue."

"Rud, tolong jangan bilang siapa-siapa dulu," pinta Kirana. "Kami masih... baru."

"Iya, iya. Gue paham." Rudi mengangkat tangan. "Mulut gue terkunci rapat."

"Makasih, Rud."

"Tapi lo harus traktir gue."

Arjuna menghela napas. "Ya ampun, lo."

"Gue serius. Lo dapat pacar secantik Kirana, masa nggak traktir?"

Kirana tertawa. "Nanti aku yang traktir."

"Wah, mantap!" Rudi berseru. "Pokoknya gue tunggu."

Mereka tertawa bersama. Rahasia itu aman bersama Rudi, setidaknya untuk sementara.

Sore harinya, Arjuna dan Kirana berjalan pulang bersama. Mereka sengaja mengambil jalan memutar, melewati sawah yang mulai menguning. Padi-padi bergoyang lembut ditiup angin.

"Rudi tahu," kata Kirana.

"Iya. Aku kaget banget tadi."

"Tapi untung dia baik. Nggak akan kasih tahu."

"Semoga."

Mereka berjalan dalam diam beberapa saat. Lalu Kirana meraih tangan Arjuna. Tangan mereka bergandengan untuk pertama kalinya.

Rasanya hangat.

"Jun," kata Kirana.

"Iya?"

"Aku senang."

"Senang apa?"

"Senang bisa sama kamu."

Arjuna tersenyum. Ia menggenggam tangan Kirana lebih erat.

"Aku juga senang."

Mereka berjalan menyusuri pematang sawah, tangan bergandengan, hati berbunga-bunga. Dua remaja yang baru menemukan cinta, di desa kecil yang tenang, di bawah langit sore yang jingga.

****

Hari-hari indah Arjuna dan Kirana terus berjalan. Mereka semakin dekat, semakin saling mengenal. Kirana tahu bahwa Arjuna suka membaca buku sebelum tidur dan selalu membantu ibunya di pagi hari. Arjuna tahu bahwa Kirana suka menulis puisi dan tidak bisa tidur tanpa mendengarkan musik.

Namun, tidak semua orang senang dengan hubungan mereka.

Suatu siang, sepulang sekolah, Arjuna dihampiri oleh seorang siswa kelas tiga. Namanya Gerry, kakak kelas yang terkenal populer, tampan, dan anak orang kaya. Ia juga salah satu yang pernah mendekati Kirana sebelum pemilihan OSIS.

"Jun, boleh ngomong?" tanyanya.

Arjuna agak curiga. "Iya, Kak. Ada apa?"

Gerry membawanya ke sudut halaman sekolah yang agak sepi. Ekspresinya serius, tidak seperti biasanya yang selalu santai.

"Aku mau bicara soal Kirana."

Arjuna langsung siaga. "Kenapa dengan Kirana?"

"Aku tahu kalian dekat. Bahkan mungkin lebih dari dekat." Gerry menatap Arjuna tajam. "Tapi aku mau kasih tahu sesuatu."

"Apa?"

"Kirana itu bukan anak sembarangan. Ayahnya pejabat di kabupaten. Mereka punya uang, punya pengaruh."

Arjuna diam. Ia memang tahu Kirana anak pejabat, tapi tidak pernah memikirkannya terlalu dalam.

"Aku cuma mau kasih tahu," lanjut Gerry, "jangan sampai kamu terlalu berharap. Orang tuanya mungkin tidak akan setuju dengan anak orang biasa seperti kamu."

Kata-kata itu seperti pukulan di ulu hati. Arjuna merasa darahnya mendidih, tapi ia berusaha tenang.

"Makasih infonya, Kak," katanya sedatar mungkin.

"Aku nggak bermaksud jahat. Cuma realistis."

"Iya, aku paham."

Gerry pergi, meninggalkan Arjuna dengan pikiran kacau.

Sore itu, Arjuna tidak bertemu Kirana seperti biasa. Ia pulang langsung ke rumah, masuk kamar, dan merebahkan diri di tempat tidur.

Pikirannya berkecamuk.

Anak pejabat. Orang kaya. Sedangkan aku? Anak petani biasa. Rumah kecil. Hidup sederhana.

Mungkin Gerry benar. Mungkin aku memang tidak pantas.

Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Tapi kata-kata Gerry terus terngiang.

Jangan terlalu berharap.

Malam harinya, Kirana mengirim pesan.

Jun, kok tadi nggak pulang bareng? Aku nungguin lo, tapi lo nggak keluar.

Arjuna membaca pesan itu berulang kali. Ia ingin menjawab, tapi tidak tahu harus berkata apa.

Akhirnya, ia hanya membalas singkat:

Maaf, tadi ada urusan. Capek. Istirahat dulu ya.

Kirana membalas dengan emotikon sedih. Oh, iya. Istirahat yang baik. Besok ketemu ya.

Iya.

Arjuna meletakkan ponselnya, memandangi langit-langit kamar.

Kirana...

****

Keesokan harinya, Arjuna datang ke sekolah dengan perasaan berat. Ia bertemu Kirana di pintu gerbang. Kirana langsung menghampirinya dengan wajah cemas.

"Jun, lo sakit?"

"Enggak. Cuma kurang tidur."

"Mata lo sembab. Nangis?"

Arjuna tidak menjawab.

Kirana menariknya ke sudut yang agak sepi. "Jun, ada apa? Cerita sama aku."

Arjuna ragu-ragu. Tapi melihat wajah Kirana yang penuh perhatian, ia akhirnya menceritakan semuanya, tentang Gerry, tentang kata-katanya, tentang keraguannya.

Kirana mendengarkan dengan serius. Wajahnya berubah-ubah, dari kaget, kecewa, lalu marah.

"Gerry bilang gitu?" tanyanya setelah Arjuna selesai.

"Iya."

"Dan lo percaya?"

Arjuna menghela napas. "Aku nggak tahu. Mungkin ada benarnya."

"Jun, lihat aku."

Arjuna menatapnya.

Kirana meraih kedua tangannya. "Aku nggak peduli lo anak siapa. Aku nggak peduli lo kaya atau miskin. Aku suka lo karena lo itu lo. Arjuna yang baik, yang perhatian, yang selalu ada buat aku. Bukan karena jabatan atau uang."

Arjuna terharu. Matanya berkaca-kaca.

"Tapi orang tuamu..."

"Biarkan aku yang urus orang tuaku. Mereka baik, Jun. Mereka nggak akan menilai orang dari latar belakang."

Arjuna diam. Kirana melanjutkan, "Yang penting kita saling percaya, saling dukung. Yang lain, kita hadapi bareng-bareng."

"Kamu yakin?"

"Aku yakin."

Arjuna tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, hatinya terasa ringan.

"Makasih, Kirana."

"Untuk apa?"

"Untuk percaya sama aku."

Kirana tersenyum, lalu menggandeng tangannya. "Ayo masuk. Nanti terlambat."

Mereka berjalan menuju kelas, tangan masih bergandengan. Di depan pintu, mereka melepaskannya. Belum siap untuk diketahui semua orang.

Tapi di dalam hati, mereka sudah saling menguatkan.

Saat istirahat, tanpa diduga, Kirana menghampiri Gerry yang sedang duduk di kantin.

"Kak Gerry, boleh bicara sebentar?"

Gerry agak terkejut, tapi mengangguk. "Iya, silakan."

Mereka bicara di sudut kantin, cukup jauh sehingga tidak terdengar orang lain. Arjuna melihat dari kejauhan dengan jantung berdebar.

Beberapa menit kemudian, Kirana kembali. Wajahnya datar, tidak bisa dibaca.

"Lo ngomong apa?" tanya Arjuna.

"Biarin. Yang penting dia nggak akan ganggu kita lagi."

"Maksud lo?"

Kirana tersenyum misterius. "Aku cuma ngasih tahu, kalau dia berani ngomongin lo lagi, aku akan lapor ke guru. Dan aku juga bilang, aku pacaran sama lo karena aku mau. Bukan karena terpaksa."

Arjuna terkejut. "Lo bilang gitu?"

"Iya. Biar dia tahu kalau aku nggak takut."

Arjuna tersenyum, bangga sekaligus terharu.

"Kirana..."

"Apa?"

"Lo hebat."

Kirana tertawa. "Ya iyalah. Masa pacar lo nggak hebat."

Mereka tertawa bersama. Masalah yang sempat mengganggu hilang sudah. Hubungan mereka justru semakin kuat setelah melewati ujian pertama.

****

Bulan-bulan berlalu. Kirana sibuk dengan tugas-tugas OSIS-nya, Arjuna sibuk dengan pelajaran dan kegiatan desa. Tapi mereka selalu menyempatkan waktu untuk bertemu, meski hanya sebentar.

Suatu hari, OSIS mengadakan acara besar: Pentas Seni Malam Tahun Baru. Acara ini sudah direncanakan berbulan-bulan, dan Kirana sebagai ketua OSIS bertanggung jawab penuh.

H-3 acara, Kirana terlihat sangat sibuk. Ia bolak-balik ke sekolah, mengkoordinasi panitia, mengecek perlengkapan. Arjuna ikut membantu semampunya.

"Jun, tolong cek sound system di panggung," pinta Kirana suatu sore.

"Siap."

Arjuna berlari ke panggung, memeriksa speaker, mikrofon, dan semua peralatan audio. Ia bukan ahlinya, tapi setidaknya bisa memastikan semuanya berfungsi.

Malam acara tiba. Halaman sekolah berubah menjadi panggung besar. Lampu-lampu warna-warni dipasang di sekeliling. Ratusan kursi disusun rapi untuk penonton. Spanduk besar bertuliskan "PENTAS SENI MALAM TAHUN BARU" membentang di belakang panggung.

Arjuna sibuk membantu di belakang panggung. Ia mengatur properti, memastikan setiap penampil siap, dan kadang menjadi kurir yang bolak-balik membawa makanan dan minuman untuk panitia.

Kirana sibuk di sana-sini. Suaranya serak karena terlalu banyak bicara dan berteriak. Tapi ia tetap semangat.

Acara berlangsung meriah. Ada tarian tradisional, pembacaan puisi, band sekolah, dan drama musikal. Penonton bertepuk tangan meriah setiap kali penampilan selesai.

Puncak acara adalah penampilan band yang digawangi oleh siswa-siswa kelas tiga. Mereka memainkan lagu-lagu pop yang sedang hits. Penonton ikut bernyanyi, suasana semakin hangat.

Di sela-sela penampilan band, tiba-tiba Kirana naik ke panggung. Ia mengambil mikrofon, dan semua orang diam.

"Selamat malam semuanya," sapanya.

"MALAM!" jawab penonton serempak.

"Terima kasih sudah hadir di acara Pentas Seni Malam Tahun Baru. Ini acara pertama yang saya selenggarakan sebagai ketua OSIS. Semoga kalian semua terhibur."

Tepuk tangan bergemuruh.

"Tapi malam ini, saya mau sedikit curhat."

Penonton mulai berbisik-bisik. Ada apa?

"Selama beberapa bulan terakhir, saya banyak dibantu oleh seseorang. Seseorang yang selalu ada, selalu mendukung, selalu percaya sama saya meski saya sendiri ragu. Tanpa dia, mungkin saya nggak akan bisa sampai di sini."

Arjuna, yang sedang berada di belakang panggung, merasakan jantungnya berdegup kencang.

"Dia ada di sini malam ini. Dan saya mau bilang... terima kasih. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup saya."

Semua penonton berusaha mencari siapa yang dimaksud. Lampu sorot bergerak ke sana kemari.

Kirana tersenyum. "Arjuna, naik ke panggung."

Arjuna kaku. Semua mata tertuju padanya. Dengan langkah gugup, ia naik ke panggung.

Kirana meraih tangannya. Mereka berdiri di tengah panggung, di bawah lampu sorot, di depan ratusan pasang mata.

"Aku mau semua orang tahu," kata Kirana lantang, "kalau Arjuna adalah pacarku."

Penonton bersorak. Beberapa bertepuk tangan, beberapa bersiul. Rudi, yang ada di barisan depan, berteriak paling keras.

"CIUM! CIUM! CIUM!" teriaknya, diikuti oleh yang lain.

Kirana dan Arjuna tersipu. Wajah mereka merah padam.

"Ayo, cium!" teriak yang lain.

Kirana menatap Arjuna. Lalu, dengan cepat, ia mengecup pipi Arjuna.

Penonton histeris. Sorakan pecah di mana-mana.

Arjuna hanya bisa diam, tersipu, tapi hatinya meledak bahagia.

Malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah mereka lupakan.

****

Waktu terus berjalan tanpa terasa. Tiba-tiba, Arjuna dan Kirana sudah duduk di bangku kelas tiga SMA. Ujian akhir semakin dekat. Suasana sekolah berubah, lebih serius, lebih tegang. Siswa-siswa sibuk dengan try out, bimbingan belajar, dan persiapan melanjutkan pendidikan.

Arjuna dan Kirana juga sibuk. Mereka jarang bertemu seperti dulu. Waktu luang lebih banyak dihabiskan untuk belajar. Tapi setiap ada kesempatan, mereka selalu menyempatkan diri.

Suatu sore sepulang try out, mereka duduk di taman sekolah, di bawah pohon trembesi yang sama, di bangku yang sama, tempat mereka pertama kali menyatakan cinta.

"Jun, kamu sudah tahu mau kuliah di mana?" tanya Kirana.

"Belum pasti. Masih mikir-mikir."

"Kamu kan pintar. Pasti diterima di mana saja."

Arjuna tersenyum. "Kamu juga pintar."

"Aku pengen di universitas negeri. Di kota."

"Jauh dari sini?"

"Iya. Tapi belum tahu di kota mana."

Mereka terdiam. Di depan mereka, masa depan terbentang luas. Tapi juga penuh ketidakpastian.

"Jun," panggil Kirana.

"Iya?"

"Aku takut."

"Takut apa?"

"Takut kalau nanti kita pisah. Kuliah di tempat berbeda. Jarak jauh."

Arjuna meraih tangan Kirana. "Kita pasti bisa."

"Lo yakin?"

"Aku yakin."

Kirana tersenyum, meski matanya berkaca-kaca.

"Janji ya," katanya.

"Janji apa?"

"Janji kita akan tetap bersama. Apa pun yang terjadi."

Arjuna menatapnya dalam-dalam. Lalu mengangguk mantap.

"Janji."

Mereka berpelukan di bawah pohon trembesi, di sore yang mulai senja. Dua remaja yang sedang berjuang menghadapi masa depan, berusaha menggenggam cinta di tengah ketidakpastian.

****

Hari ujian akhir tiba. SMA Desa Awan Biru berubah menjadi benteng konsentrasi. Suasana tegang menyelimuti setiap sudut sekolah. Siswa-siswa datang lebih pagi, duduk di bangku masing-masing dengan wajah tegang.

Arjuna duduk di ruang ujian nomor 3. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Di luar, ia sempat melihat Kirana yang juga sedang bersiap memasuki ruang ujian. Mereka bertukar pandang, saling menguatkan.

"Semangat," bisik Arjuna.

Kirana mengangguk. "Semangat."

Bel berbunyi. Lembar soal dibagikan. Ujian dimulai.

Hari pertama: Bahasa Indonesia. Arjuna mengerjakan dengan tenang. Soal-soal bacaan, memahami teks, menulis esai. Semua terasa akrab.

Hari kedua: Matematika. Ini yang paling ditakuti banyak orang. Tapi Arjuna sudah belajar keras. Rumus-rumus berputar di kepalanya. Satu per satu soal ia taklukkan.

Hari ketiga: Bahasa Inggris. Arjuna cukup percaya diri. Bacaan demi bacaan ia pahami. Soal grammar ia jawab dengan yakin.

Hari keempat dan kelima: Mata pelajaran pilihan. Arjuna mengambil IPS, jadi ia diuji dengan Ekonomi, Sosiologi, Geografi. Semua terasa menyenangkan karena berhubungan dengan kehidupan nyata, dengan desa, dengan masyarakat, dengan hal-hal yang ia amati sehari-hari.

Ketika ujian terakhir selesai, seluruh siswa kelas tiga berkumpul di lapangan. Ada yang berteriak lega, ada yang nangis, ada yang tertawa histeris.

Arjuna mencari Kirana. Ia menemukannya di dekat pohon trembesi, duduk sendiri.

"Kirana!"

Kirana menoleh. Wajahnya lelah, tapi tersenyum.

"Selesai sudah," katanya.

"Iya. Selesai."

Mereka duduk berdampingan, menikmati sore yang tenang.

"Jun, menurutmu gimana?" tanya Kirana.

"Lumayan. Tapi kita lihat aja nanti hasilnya."

"Aku deg-degan."

"Udah, santai. Yang penting kita sudah berusaha maksimal."

Kirana menyandarkan kepala di bahu Arjuna. "Makasih, Jun."

"Makasih apa?"

"Makasih udah nemani aku selama ini. Makasih udah jadi penyemangat."

Arjuna tersenyum, mengecup puncak kepala Kirana.

"Sama-sama."

Mereka duduk di sana hingga matahari tenggelam, menikmati saat-saat terakhir sebagai siswa SMA. Esok, mereka akan memasuki babak baru dalam hidup. Tapi hari ini, mereka masih bersama.

****

Bulan-bulan setelah ujian berlalu dalam penantian. Arjuna dan Kirana sibuk dengan masing-masing, mempersiapkan pendaftaran kuliah, mengurus berkas, dan tentu saja, menunggu pengumuman kelulusan.

Hari pengumuman tiba.

Pagi itu, Arjuna datang ke sekolah lebih awal. Halaman sekolah sudah dipenuhi siswa dan orang tua. Suasana campur aduk antara harap dan cemas.

Arjuna mencari Kirana di antara kerumunan. Tak lama kemudian, ia melihatnya di dekat papan pengumuman, berdiri bersama orang tuanya.

"Kirana!" panggilnya.

Kirana menoleh, melambai. Arjuna menghampiri.

"Deg-degan nggak?" tanyanya.

"Banget."

Mereka berdiri bersama, menunggu. Pak Kepala Sekolah akhirnya keluar dengan membawa selembar kertas besar. Semua orang merapat.

"Anak-anak, sebentar lagi kalian akan melihat hasil perjuangan kalian selama tiga tahun," katanya. "Tapi ingat, kelulusan bukan akhir. Ini adalah awal."

Kertas itu ditempel di papan pengumuman. Sekejap, semua orang berdesakan ingin melihat.

Arjuna berusaha menerobos, tapi terlalu padat. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan.

Tiba-tiba, seseorang berteriak, "LULUS! GUE LULUS!"

Teriakan susul-menyusul. Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang berpelukan.

Arjuna akhirnya berhasil melihat papan itu. Matanya menyusuri daftar nama. Arjuna... Arjuna... di mana?

Di sana! Nama Arjuna tercantum di urutan ke-17.

LULUS.

Arjuna menghela napas lega. Ia mencari nama Kirana. Di atas namanya, ada Kirana. Juga lulus.

"KIRANA!" teriaknya.

Kirana menoleh dari kerumunan lain. Wajahnya berseri-seri. Mereka berpelukan di tengah keramaian, bahagia, lega, haru.

"Kita lulus, Jun!" tangis Kirana.

"Iya. Kita lulus."

Orang tua Kirana tersenyum melihat mereka. Anita dan Erlangga yang juga datang menghampiri, ikut berpelukan.

"Ini baru awal, Nak," kata Erlangga. "Perjalanan masih panjang."

Arjuna mengangguk. Ayahnya benar. Kelulusan ini bukan akhir. Ini adalah pintu menuju dunia yang lebih luas.

****

Setelah euforia kelulusan mereda, kenyataan mulai menghadang. Arjuna dan Kirana harus memutuskan ke mana mereka akan melanjutkan pendidikan.

Suatu malam, Arjuna duduk di teras rumah bersama orang tuanya.

"Jun, kamu sudah punya gambaran mau kuliah di mana?" tanya Erlangga.

"Masih mikir, Yah. Ada beberapa pilihan."

"Kakek dengar, kamu mau ambil jurusan pemerintahan atau pembangunan desa?" tanya Amat yang ikut duduk.

Arjuna mengangguk. "Iya, Kek. Aku tertarik sama itu."

"Bagus. Desa kita butuh anak muda yang paham administrasi dan pembangunan."

"Tapi Kek, kalau aku kuliah di jurusan itu... nanti kerjanya apa?"

Amat tersenyum. "Banyak. Bisa kerja di pemerintahan, bisa jadi konsultan, bisa juga... pulang ke desa dan membangun desa ini."

Arjuna merenungkan kata-kata kakeknya. Pulang ke desa. Membangun desa. Itu selalu ada di pikirannya.

Sementara itu, di rumah Kirana, percakapan serupa terjadi.

"Nak, Ayah mau kamu kuliah di kota besar. Di universitas ternama," kata ayah Kirana.

"Tapi Yah, aku masih ingin dekat dengan..."

"Dengan siapa? Dengan Arjuna?"

Kirana diam.

Ayahnya menghela napas. "Kirana, Ayah tidak melarang kamu pacaran. Tapi masa depan harus dipikirkan. Jangan sampai cinta buta membuatmu salah pilih."

"Aku tidak buta, Yah. Aku tahu apa yang aku mau."

"Apa maumu?"

Kirana menarik napas dalam. "Aku mau kuliah di jurusan pendidikan. Aku mau jadi guru. Dan aku mau... bersama Arjuna."

Ayahnya terdiam lama. Lalu berkata, "Kami tidak akan melarang. Tapi ingat, pilihan ada di tanganmu."

****

Keesokan harinya, Arjuna dan Kirana bertemu di warung Mbah Karyo. Tempat itu sepi sore itu. Mereka duduk di sudut, berbicara serius.

"Jun, aku sudah putuskan mau di mana," kata Kirana.

"Di mana?"

"Universitas Negeri di kota. Jurusan Pendidikan."

Arjuna mengangguk. "Bagus. Kamu cocok jadi guru."

"Kamu sendiri?"

Arjuna menghela napas. "Aku masih bingung. Ada tawaran dari universitas yang sama, jurusan Administrasi Publik. Tapi ada juga tawaran beasiswa dari universitas lain di luar kota."

Kirana terdiam. "Jadi... kamu mungkin tidak satu kota dengan aku?"

"Mungkin iya, mungkin tidak. Aku belum putuskan."

Mereka terdiam. Di depan mereka, masa depan terbentang dengan dua kemungkinan: bersama atau berpisah.

"Jun," panggil Kirana.

"Iya?"

"Apa pun keputusanmu, aku dukung. Tapi ingat janji kita."

"Janji apa?"

"Janji untuk tetap bersama. Apa pun yang terjadi."

Arjuna meraih tangan Kirana. "Aku ingat. Dan aku akan tetap berusaha."

Mereka berpelukan di warung tua itu, di bawah tatapan Mbah Karyo yang tersenyum bijak.

****

Malam terakhir sebelum Arjuna berangkat ke kota untuk kuliah. Besok pagi, ia akan meninggalkan Desa Awan Biru, mungkin untuk waktu yang lama.

Rumah Arjuna dipenuhi sanak saudara dan tetangga yang datang untuk berpamitan. Sugeng datang dengan wajah sedih tapi tetap bercanda.

"Jun, jangan lupa sama kita-kita di sini ya. Jangan mentang-mentang jadi orang kota, lupa sama kampung halaman."

Arjuna tertawa. "Nggak akan, Pak Sugeng. Desa ini rumah saya."

Santoso yang ikut datang berkata, "Jun, ingat pesan saya. Ilmu itu untuk diamalkan. Jangan cuma buat diri sendiri."

"Iya, Pak Santoso. Saya ingat."

Amat memeluk cucunya lama. Matanya basah.

"Kakek bangga sama kamu, Jun."

"Makasih, Kek."

"Jaga diri baik-baik di sana. Jangan lupa sholat, jangan lupa makan, jangan lupa..."

"Kakek, saya sudah besar."

Amat tertawa. "Iya, iya. Tapi buat Kakek, kamu tetap cucu kecil yang dulu ikut Kakek ke kantor desa."

Mereka berpelukan lagi.

Setelah semua tamu pulang, Arjuna duduk di kamarnya. Ia membuka buku catatan lama. Halaman demi halaman ia baca, kenangan masa kecil, petualangan bersama teman, pelajaran dari kakek, dan tentu saja, tentang Kirana.

Di halaman terakhir, ia menulis:

Besok aku akan pergi. Meninggalkan desa ini untuk sementara. Tapi aku tahu, suatu hari aku akan kembali. Desa ini adalah rumahku. Dan di desa ini, ada orang-orang yang kucintai.

Kirana...

Ia memandang foto kecil Kirana yang diselipkan di buku itu.

Besok kita akan berpisah. Tapi ku percaya, ini bukan akhir.

Ia menutup buku, memandang langit malam dari jendela. Bintang-bintang berkelap-kelip, seperti biasa. Seperti malam-malam sebelumnya. Seperti malam-malam yang akan datang.

Desa Awan Biru tenang di bawah cahaya bulan. Dan seorang pemuda bernama Arjuna bersiap melangkah ke dunia yang lebih luas.

*****

Bus malam yang membawa Arjuna meninggalkan terminal kabupaten bergerak perlahan meninggalkan lampu-lampu kota kecil yang mulai redup. Arjuna duduk di dekat jendela, keningnya menempel di kaca dingin, matanya menerawang ke luar. Gelap. Hanya sesekali lampu kendaraan lain yang melintas, atau cahaya temaram dari warung-warung pinggir jalan yang masih buka.

Perasaannya campur aduk.

Di sampingnya, seorang bapak-bapak paruh baya sudah tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Di kursi belakang, suara orang mendengkur bersahutan. Arjuna tidak bisa tidur. Pikirannya melayang ke rumah, ke kakeknya, ke orang tuanya, dan terutama ke Kirana.

Kirana.

Mereka berpisah sore tadi di terminal. Kirana mengantarnya, meski hanya sampai pintu masuk. Orang tuanya melarang Kirana naik bus karena sudah malam. Jadi mereka hanya sempat berpelukan singkat, saling berbisik "jaga diri", lalu Arjuna naik ke dalam bus.

Arjuna merogoh saku jaketnya. Di sana ada selembar kertas lipat, surat dari Kirana yang diberikan diam-diam saat berpamitan. Ia belum membacanya. Ia ingin membacanya nanti, saat sendiri, saat bus sudah jauh dari desa.

Sekarang, pukul sebelas malam, bus sudah berjalan empat jam. Ia mengeluarkan surat itu, membukanya pelan-pelan di bawah cahaya lampu baca yang redup.

Jun,

Kalau kamu baca surat ini, mungkin kita sudah berpisah jauh. Aku nggak bisa nulis panjang-panjang, takut nangis. Tapi aku mau bilang: terima kasih sudah menjadi bagian terindah di hidupku selama ini.

Jaga diri baik-baik di sana. Belajar yang rajin. Jangan lupa makan. Jangan lupa sholat. Jangan lupa sama aku.

Aku akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. Dan aku akan menunggu kabar baik dari kamu.

Sampai ketemu, Jun. Di lain waktu, di lain kesempatan.

I love you.

Kirana

Arjuna membaca surat itu berulang kali. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia cepat-cepat mengusapnya, takut dilihat orang. Tapi dadanya sesak. Rindu sudah menyerang sebelum benar-benar pergi.

Ia menyimpan surat itu kembali di saku jaket, tepat di dekat jantungnya.

Kirana... aku juga sayang kamu.

****

Bus tiba di terminal kota pada pukul lima pagi. Udara dingin menusuk tulang. Arjuna turun dengan koper dan ranselnya, matanya mengamati sekeliling. Terminal ini puluhan kali lebih besar dari terminal di kotanya. Orang-orang berlalu lalang, ada yang tidur di kursi panjang, ada pedagang asongan yang sudah mulai berjualan, ada calo-calo yang menawarkan jasa.

"Mas, mau ke mana? Saya antar, murah!" teriak seorang lelaki mendekatinya.

Arjuna menggeleng. "Nggak, Makasih. Saya sudah dijemput."

Bohong. Ia tidak dijemput siapa-siapa. Tapi ia sudah mencari info di internet: dari terminal, ia harus naik angkot jurusan kampus. Sederhana.

Setelah setengah jam kebingungan, akhirnya ia menemukan angkot yang tepat. Angkot itu penuh sesak, baunya apek, tapi Arjuna bersyukur bisa duduk di dekat jendela.

Kota mulai bangun. Arjuna memandangi gedung-gedung yang menjulang, mal-mal besar, lampu lalu lintas yang berkedip teratur. Semua terasa asing. Di desanya, tidak ada gedung setinggi ini. Di desanya, orang lebih banyak naik sepeda atau motor, bukan angkot yang sesak begini.

Ini kotaku sekarang, pikirnya. Aku harus bisa bertahan.

****

Universitas Negeri di kota itu luas sekali. Arjuna berdiri di depan gerbang utama, mulutnya sedikit terbuka. Gedung-gedung tinggi dengan arsitektur modern berjejer rapi. Mahasiswa berlalu lalang dengan pakaian rapi, laptop di tas, ponsel canggih di tangan. Mereka terlihat percaya diri, seperti sudah lama menjadi bagian dari tempat ini.

Arjuna memandang dirinya sendiri. Baju putih lengan panjang, celana kain hitam, sepatu pantofel yang sudah agak kusam, pakaian terbaik yang ia miliki. Di tangannya, map berisi berkas pendaftaran. Ia merasa kecil.

Kamu bisa, Jun, katanya pada diri sendiri. Kamu bisa.

Ia melangkah masuk, mencari gedung rektorat tempat pendaftaran ulang mahasiswa baru. Setelah bertanya pada beberapa orang, akhirnya ia menemukan gedung itu, sebuah bangunan putih dengan tiang-tiang besar di depannya.

Di dalam, sudah ratusan mahasiswa baru antri. Arjuna mengambil nomor antrian dan duduk di kursi panjang. Di sampingnya, dua orang mahasiswa asyik mengobrol.

"Lo udah tahu belum, jurusan apa?"

"Manajemen. Lo?"

"Kedokteran."

"Wah, berat tuh."

"Ya lumayan. Ortu maksa."

Mereka tertawa. Arjuna hanya diam, mendengarkan. Rasanya seperti di dunia yang berbeda.

Setelah dua jam menunggu, akhirnya nomornya dipanggil. Proses pendaftaran berjalan lancar. Petugasnya ramah, meski sibuk. Setelah semua selesai, Arjuna mendapat kartu mahasiswa, jadwal orientasi, dan peta kampus.

"Selamat bergabung, Mas," kata petugas itu. "Semoga sukses."

Arjuna tersenyum. "Terima kasih, Bu."

Ia keluar dari gedung dengan perasaan sedikit lebih baik. Setidaknya, secara resmi, ia sekarang adalah mahasiswa.

Sore harinya, ia mencari kos. Setelah muter-muter hampir tiga jam, akhirnya ia menemukan kamar kos sederhana di pinggiran kota. Kamarnya kecil, hanya cukup untuk tempat tidur, meja belajar, dan lemari mini. Kamar mandi di luar, berbagi dengan empat kamar lain. Tapi harganya murah, dan itu yang penting.

Malam pertama di kos, Arjuna duduk di lantai (kasurnya belum datang), memandangi langit-langit yang retak di sana-sini. Ia mengeluarkan ponselnya, ponsel jadul pemberian kakeknya, dan mengetik pesan singkat.

Udah sampai. Kos sudah dapat. Semua aman. Kirana, kamu gimana?

Tak lama, balasan masuk.

Alhamdulillah. Aku juga udah sampai. Kos juga udah dapat. Jaga diri ya, Jun.

Arjuna tersenyum. Rasanya seperti ada cahaya di tengah kesepian.

Ia membalas, Kamu juga. Aku kangen.

Kangen juga. Tapi kita harus kuat.

Iya. Buat masa depan.

Mereka berkirim pesan hingga larut malam. Saling bercerita tentang hari pertama, tentang rasa asing di kota baru, tentang harapan dan ketakutan.

Saat akhirnya tidur, Arjuna memegang ponselnya erat-erat. Kirana mungkin jauh, tapi lewat ponsel ini, ia merasa dekat.

****

Hari-hari pertama kuliah terasa berat. Arjuna harus beradaptasi dengan segala hal: sistem perkuliahan yang berbeda dari SMA, dosen-dosen yang kadang killer, teman-teman baru yang kebanyakan dari kota dan berbicara dengan logat yang berbeda.

Di kelasnya, ada sekitar lima puluh mahasiswa. Hanya beberapa yang berasal dari desa seperti dia. Kebanyakan dari kota, dengan gaya bicara percaya diri, pakaian modis, dan gadget terbaru.

Arjuna memilih duduk di pojok belakang, berusaha tidak mencolok. Ia memperhatikan, belajar, dan beradaptasi.

Suatu hari, saat jam istirahat, seorang mahasiswa menghampirinya.

"Lo Arjuna, kan?" tanyanya.

Arjuna mengangguk. "Iya. Kenalan?"

"Gue Fajar." Cowok itu duduk di sampingnya tanpa sungkan. "Lo dari mana? Kok kayaknya diem aja."

"Dari desa, Faj. Jauh dari sini."

"Desa? Seru dong pasti."

Arjuna tersenyum. "Seru sih. Tapi beda banget sama sini."

Fajar tertawa. "Ya pasti. Lo harus adaptasi. Tapi tenang, gue bantu."

Sejak hari itu, Arjuna punya teman. Fajar orangnya ramah, mudah bergaul, dan tidak sombong meski dari kota. Ia memperkenalkan Arjuna pada teman-teman lain, mengajaknya makan siang bersama, dan membantu saat Arjuna kebingungan dengan sistem kampus.

"Lo ini kayak anak ilang," canda Fajar suatu hari. "Untung ketemu gue."

Arjuna tertawa. "Iya, makasih banyak, Faj."

Sementara itu, Kirana juga menjalani hari-harinya di kota yang berbeda. Ia kuliah di jurusan Pendidikan, universitas negeri juga tapi di kota yang berjarak ratusan kilometer dari Arjuna.

Hari-hari pertamanya juga berat, tapi Kirana lebih cepat beradaptasi. Ia aktif, mudah bergaul, dan pembawaannya yang ramah membuat banyak orang suka.

"Kirana, ikut UKM nggak?" tanya teman sekelasnya suatu hari.

"UKM apa?"

"Banyak. Ada teater, paduan suara, debat, banyak deh."

Kirana berpikir. "Mungkin paduan suara. Aku suka nyanyi."

"Wah, cocok! Ayo gabung."

Tak lama, Kirana aktif di berbagai kegiatan kampus. Ia juga mulai dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas dan supel. Nilainya bagus, dosen-dosen suka padanya.

Tapi di tengah kesibukan itu, Kirana selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Arjuna. Setiap malam, sebelum tidur, mereka pasti berkirim pesan. Cerita tentang hari masing-masing, tentang suka duka, tentang rindu yang kadang tak tertahankan.

Suatu malam, Kirana mengirim pesan:

Jun, aku mulai sibuk banget. UKM, tugas, organisasi. Tapi aku selalu ingat kamu. Kamu jangan capek ya di sana.

Arjuna membalas, Iya, Sayang. Aku juga sibuk. Tapi selalu sempetin buat kamu. Semangat ya.

Semangat. Kita pasti bisa.

Mereka menguatkan satu sama lain dari kejauhan. Dua orang yang saling mencintai, berjuang di kota masing-masing, mengejar mimpi masing-masing, tapi hati tetap terikat.

****

Cinta jarak jauh tidak pernah mudah. Arjuna dan Kirana mulai merasakannya.

Masalah pertama: komunikasi. Jaringan internet di kos Arjuna tidak stabil. Kadang video call putus nyambung, kadang pesan tidak terkirim. Kirana sering kesal.

"Jun, kemarin kamu di mana? Aku nungguin video call, tapi kamu nggak online," tulisnya suatu malam.

Arjuna membalas, Maaf, Sayang. Di sini lagi mati lampu. Jaringan mati total.

Tapi kamu bisa kasih kabar dong. Aku khawatir.

Iya, maaf. Aku usahain kalau ada sinyal.

Kesalahpahaman kecil seperti itu sering terjadi. Kadang Kirana cemburu karena melihat Arjuna foto bersama teman perempuan di media sosial. Kadang Arjuna merasa Kirana terlalu sibuk dengan kegiatan kampusnya sampai lupa menghubungi.

Suatu malam, mereka bertengkar hebat lewat telepon.

"Jun, aku lihat di IG lo, lo foto bareng cewek. Siapa tuh?" tanya Kirana dengan nada dingin.

"Itu temen kelompok tugas, Kir. Kerja kelompok."

"Kerja kelompok sampai foto-foto mesra gitu?"

"Mesra? Itu cuma foto biasa. Kami berdiri, tersenyum. Nggak ada yang aneh."

"Tapi lo nggak pernah cerita."

"Aku lupa. Lagian ini bukan hal penting."

"Lo anggap aku nggak penting?"

"Bukan gitu, Kir. Kok lo bawa-bawa."

Suara Kirana mulai tinggi. "Aku yang salah? Lo yang sembunyi-sembunyi, aku yang disalahin?"

"Gue nggak sembunyi-sembunyi! Ini cuma tugas!"

"Tugas yang bikin lo lupa sama pacar lo!"

Mereka berdebat hampir satu jam. Akhirnya, Kirana menutup telepon dengan mata berkaca-kaca. Arjuna diam, frustrasi.

Malam itu, tidak ada kabar dari Kirana. Arjuna tidak bisa tidur. Ia memikirkan apa yang salah, apa yang bisa diperbaiki.

Pagi harinya, ia mengirim pesan panjang:

Kirana, maaf semalam. Aku sadar aku salah nggak kasih tahu soal temen kelompok. Tapi aku janji, nggak ada apa-apa sama dia. Cuma temen biasa, cuma tugas. Aku nggak akan pernah macam-macam sama orang lain, karena aku punya kamu. Maafin aku, ya.

Tak lama, balasan masuk. Aku juga minta maaf. Aku terlalu cemburu. I'm sorry.

Mereka berbaikan. Tapi pertengkaran itu meninggalkan luka kecil. Dan luka kecil, jika dibiarkan, bisa menjadi besar.

****

Fajar ternyata bukan hanya teman baik, tapi juga teman yang suka "membantu" dalam hal yang agak... berisiko.

Suatu sore, Fajar mengajak Arjuna ke sebuah kafe di dekat kampus.

"Jun, lo serius sama pacar lo?" tanya Fajar tiba-tiba.

Arjuna mengerutkan kening. "Iya. Emang kenapa?"

"Serius amat. Masa muda, harusnya lo nikmatin."

"Memangnya nikmatin apa?"

Fajar tersenyum misterius. "Ya... lo tahu lah. Banyak cewek di kampus ini yang cantik-cantik. Dan beberapa ngeliatin lo."

Arjuna kaget. "Maksud lo?"

Fajar menunjuk ke arah meja di pojok. Di sana, tiga orang mahasiswi sedang duduk sambil sesekali melirik ke arah mereka.

"Yang rambut panjang itu, namanya Nadia. Dia nanya-nanya soal lo."

"Nanya apa?"

"Ya... lo dari mana, jurusan apa, punya pacar nggak."

Arjuna diam. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Fajar melanjutkan, "Gue bilang, lo punya pacar. Tapi dia bilang, nggak masalah. Mau kenalan aja."

Arjuna menggeleng. "Faj, gue nggak mau macam-macam."

"Siapa suruh macam-macam? Kenalan doang. Temenan. Nggak ada salahnya."

Arjuna berpikir. Mungkin Fajar benar. Kenalan dengan teman baru tidak salah. Tapi di dalam hatinya, ada perasaan tidak enak.

Beberapa hari kemudian, Nadia menghampirinya di kantin.

"Arjuna, kan?" sapanya ramah.

"I-iya."

"Aku Nadia. Teman sekelas Fajar." Ia duduk tanpa diundang. "Boleh kenalan?"

Arjuna mengangguk canggung. "Iya, boleh."

Mereka ngobrol sebentar. Nadia ternyata ramah dan asyik diajak bicara. Ia juga pintar, aktif di berbagai kegiatan, dan punya banyak cerita menarik.

Sejak hari itu, Nadia sering muncul di sekitar Arjuna. Di kelas, di kantin, di perpustakaan. Kadang mereka belajar bersama, kadang hanya ngobrol santai.

Arjuna tidak merasa ada yang salah. Mereka hanya teman. Tapi diam-diam, ia mulai menikmati perhatian Nadia. Sesuatu yang mungkin mulai kurang ia dapatkan dari Kirana yang semakin sibuk.

****

Bulan-bulan berlalu. Hubungan Arjuna dan Kirana semakin diuji. Frekuensi komunikasi mereka menurun. Dari setiap malam, menjadi dua hari sekali, lalu tiga hari, lalu kadang seminggu sekali.

Bukan karena tidak mau. Tapi kesibukan masing-masing semakin padat. Arjuna sibuk dengan tugas kuliah dan kegiatan organisasi. Kirana sibuk dengan UKM dan persiapan lomba paduan suara.

Suatu malam, Arjuna mencoba menelepon Kirana. Tidak diangkat. Ia coba lagi satu jam kemudian. Masih tidak diangkat. Ia kirim pesan.

Kir, kamu sibuk? Aku kangen.

Balasan masuk dua jam kemudian. Maaf, tadi latihan paduan suara sampe malem. Capek banget. Aku tidur dulu ya. Love you.

Arjuna membaca pesan itu berulang kali. Ia menghela napas.

Di kosnya yang sunyi, ia merasa kesepian. Di dinding, ia menempel foto Kirana, foto mereka waktu pentas seni SMA. Kirana tersenyum di panggung, Arjuna di sampingnya dengan malu-malu.

Ia memandang foto itu lama.

Kirana, aku kangen kamu.

Sementara itu, Nadia semakin sering muncul. Suatu hari, ia mengajak Arjuna nonton konser musik di kampus.

"Jun, ada konser band indie besok malam. Lo ikut yuk. Gue ada tiket lebih."

Arjuna ragu. "Gue harus telepon Kirana dulu."

Nadia mengangkat alis. "Pacar lo? Di kota lain?"

"Iya."

"Jun, lo di sini, dia di sana. Hidup jalan terus. Masa iya lo harus izin dulu buat nonton konser sama temen?"

Arjuna terdiam. Ada benarnya juga. Tapi di dalam hatinya, ada suara kecil yang berkata ini tidak benar.

"Ayo lah, santai aja," bujuk Nadia. "Gue jamin nggak bakal terjadi apa-apa."

Akhirnya, Arjuna setuju.

Malam konser, suasana sangat meriah. Ribuan mahasiswa memadati lapangan kampus. Band-band indie tampil di panggung besar. Lampu warna-warni berkedip, musik menggelegar.

Nadia memegang tangan Arjuna saat mereka berdesak-desakan di tengah keramaian. "Awas, jangan sampe kepisah!"

Arjuna merasa agak tidak enak, tapi sulit menolak. Mereka terus bergandengan selama konser berlangsung.

Setelah konser, Nadia mengajaknya duduk di taman kampus. Suasana sepi, hanya beberapa pasangan yang duduk berdua.

"Jun, seru kan tadi?" tanya Nadia.

"Iya, seru."

"Makasih ya udah mau nemenin."

"Sama-sama."

Nadia menatapnya lekat-lekat. Matanya berbinar di bawah cahaya lampu taman. Tiba-tiba, ia mendekatkan wajahnya.

Arjuna panik. Ia menoleh, menjauh. "Nadia, jangan."

Nadia menghela napas. "Kenapa? Lo nggak suka?"

"Aku punya pacar, Nad. Maaf."

"Pacar lo jauh. Dia nggak akan tahu."

"Aku akan tahu. Dan aku nggak akan bisa memaafkan diriku sendiri."

Nadia diam. Lalu ia tersenyum getir.

"Lo orang baik, Arjuna. Terlalu baik mungkin." Ia berdiri. "Gue pulang dulu. Makasih udah nemenin."

Ia pergi, meninggalkan Arjuna sendiri di taman.

Arjuna duduk lama, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ia hampir tergoda. Tapi ia selamat. Ia ingat janjinya pada Kirana. Ia ingat surat di saku jaketnya. Ia ingat semua kenangan.

Kirana, aku hampir jatuh. Tapi aku ingat kamu. Aku selalu ingat kamu.

****

Beberapa hari setelah kejadian di taman, Arjuna memutuskan untuk jujur pada Kirana. Ia tidak tahan menyembunyikan apa pun. Malam itu, ia menelepon Kirana, kali ini diangkat.

"Halo, Jun?" suara Kirana terdengar lelah.

"Kir, aku mau cerita sesuatu."

"Apa?"

Arjuna menarik napas dalam. "Aku... ada teman dekat di sini. Namanya Nadia."

Suara Kirana berubah. "Teman dekat?"

"Iya. Dia... dia coba mendekat. Dan aku hampir tergoda."

Keheningan di seberang. Lama.

"Kir, kamu masih di sana?"

Masih hening. Lalu suara Kirana terdengar, dingin.

"Maksud lo hampir tergoda? Lo selingkuh?"

"Enggak! Nggak selingkuh. Tapi dia... dia coba cium aku. Dan aku nolak."

"Nolak setelah hampir terima?"

"Bukan gitu, Kir. Aku nolak. Aku ingat kamu."

"Jun, lo tahu nggak, dari jauh aku berusaha percaya sama lo. Setiap malam aku mikir, apa lo baik-baik aja. Apa lo inget aku. Dan lo... lo main api di sana."

"Aku nggak main api. Aku cuma..."

"Cuma apa? Cuma mau coba-coba? Jun, aku capek."

Kata-kata itu seperti pukulan. Arjuna diam.

"Aku capek," ulang Kirana. "Capek cemburu, capek khawatir, capek nggak tahu lo ngapain. Mungkin... mungkin kita perlu istirahat."

"ISTIRAHAT? Maksud lo putus?"

"Aku nggak tahu, Jun. Aku bingung."

"Kir, jangan gitu. Aku mohon."

"Aku harus tidur dulu. Kita bicara besok."

Telepon ditutup. Arjuna memandangi ponselnya dengan mata berkaca-kaca.

Kirana...

Malam itu, Arjuna tidak bisa tidur. Ia menulis panjang di buku catatannya, buku yang selalu ia bawa sejak kecil.

Hari ini aku hampir kehilangan Kirana. Bukan karena dia pergi, tapi karena aku hampir mengkhianati kepercayaannya. Aku sudah jujur, tapi mungkin kejujuran itu datang terlambat.

Aku sayang Kirana. Tapi apakah cinta cukup untuk bertahan dari semua ini? Aku tidak tahu.

Aku hanya tahu, aku tidak mau kehilangan dia.

Ia menutup buku, memandangi langit malam dari jendela kosnya. Kota tidak pernah benar-benar gelap, lampu-lampu selalu menyala di kejauhan. Tapi malam itu, hatinya gelap.

****

Tiga hari setelah telepon itu, Kirana tidak menghubungi Arjuna. Pesan-pesan Arjuna hanya centang biru, tidak dibalas. Teleponnya tidak diangkat.

Arjuna mulai panik. Ia tidak bisa konsentrasi kuliah. Nilainya mulai turun. Fajar khawatir.

"Jun, lo kenapa? Kok kayak mayat hidup?"

Arjuna bercerita semuanya. Tentang Nadia, tentang hampir tergoda, tentang pertengkarannya dengan Kirana.

Fajar menghela napas. "Jun, lo harus ke sana."

"Maksud lo?"

"Temui Kirana. Langsung. Bukan lewat telepon. Bukan lewat pesan. Tapi tatap muka."

"Tapi... jauh."

"Jadi? Lo lebih milih jauh atau kehilangan?"

Arjuna diam. Fajar benar.

Hari itu juga, ia memesan tiket bus malam ke kota Kirana. Ia tidak memberi tahu Kirana. Ia ingin memberikan kejutan, atau mungkin kejutan yang tidak menyenangkan, tergantung hasilnya.

Perjalanan bus memakan waktu sepuluh jam. Arjuna tiba di kota Kirana pukul tujuh pagi. Ia langsung menuju kos Kirana, alamat yang pernah dikirimkan Kirana dulu.

Di depan kos, ia ragu-ragu. Jantungnya berdebar kencang. Ia menelepon Kirana.

"Halo?" suara Kirana masih dingin.

"Kir, aku di depan kos kamu."

"Hah? Maksud lo?"

"Aku di depan. Tolong temui aku."

Beberapa menit kemudian, Kirana muncul. Wajahnya kaget bercampur bingung.

"Jun, lo... gila ya? Jauh-jauh ke sini?"

Arjuna tersenyum tipis. "Aku harus ketemu langsung. Minta maaf langsung."

Mereka duduk di taman dekat kos. Suasana canggung.

"Kir, aku tahu aku salah. Aku nggak seharusnya main api. Tapi aku janji, nggak ada yang terjadi. Dan aku ingin kamu tahu, aku nggak akan pernah tinggalin kamu."

Kirana diam. Matanya berkaca-kaca.

"Aku capek, Jun. Capek mikirin kita."

"Aku juga capek. Tapi aku lebih capek mikirin hidup tanpa kamu."

Kirana menangis. Arjuna meraih tangannya.

"Kir, beri aku kesempatan lagi. Aku janji akan lebih baik. Akan lebih jujur. Akan lebih perhatian. Aku nggak mau kehilangan kamu."

Kirana terisak. "Aku takut, Jun. Takut lo ninggalin aku."

"Gue nggak akan."

"Janji?"

"Janji. Sumpah mati."

Mereka berpelukan lama di taman kota. Orang-orang lalu lalang, ada yang melirik, ada yang tersenyum. Tapi mereka tidak peduli.

Malam harinya, sebelum Arjuna naik bus pulang, mereka makan malam bersama di warung sederhana.

"Jun, lain kali kalau mau surprise, kasih tahu dulu," kata Kirana. "Gue bisa kaget setengah mati."

Arjuna tertawa. "Iya. Tapi ini darurat."

"Lo bayar bus sendiri?"

"Iya."

"Berapa?"

"Rahasia."

Kirana memukul lengan Arjuna pelan. "Dasar."

Mereka tertawa. Hubungan mereka mulai membaik.

Di terminal, sebelum Arjuna naik bus, Kirana mencium pipinya.

"Jaga diri, Jun. Jangan macam-macam lagi."

"Enggak. Janji."

Arjuna naik bus dengan hati ringan. Perjalanan pulang terasa lebih cepat, meski sama lamanya. Karena hatinya sudah tenang.

****

Waktu berlalu cepat. Tanpa terasa, Arjuna sudah memasuki semester akhir kuliahnya. Tiga setengah tahun telah ia lalui di kota. Tiga setengah tahun berjuang, belajar, jatuh bangun, dan terus melangkah.

Skripsi menjadi momok utama. Setiap mahasiswa tingkat akhir pasti mengalaminya: begadang, bimbingan dengan dosen, revisi, revisi lagi, dan revisi lagi.

Arjuna memilih topik yang dekat dengan hatinya: "Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa: Studi Kasus Desa Awan Biru."

Dosen pembimbingnya, Pak Budiman, tertarik dengan topik itu.

"Mas Arjuna, ini topik bagus. Langka. Biasanya mahasiswa ambil topik yang lagi trend, kayak ekonomi digital atau startup. Tapi ini... pembangunan desa. Kok bisa tertarik?"

Arjuna tersenyum. "Saya dari desa, Pak. Saya ingin desa saya maju."

Pak Budiman mengangguk bangga. "Bagus. Mahasiswa harus punya visi seperti ini. Nggak cuma mikir diri sendiri, tapi mikir masyarakat."

Bimbingan skripsi berjalan lancar. Arjuna rajin, disiplin, dan selalu tepat waktu. Pak Budiman senang.

Suatu hari, di sela bimbingan, Pak Budiman bertanya, "Mas Arjuna, setelah lulus mau ke mana? Kerja di perusahaan? Lanjut S2?"

Arjuna berpikir. "Saya ingin pulang ke desa, Pak."

Pak Budiman terkejut. "Pulang? Ke desa? Lulusan sarjana, masa iya pulang kampung?"

"Bukan sekedar pulang kampung, Pak. Saya ingin membangun desa saya. Ikut membangun dari bawah."

Pak Budiman diam. Lalu tersenyum.

"Mas Arjuna, saya salut sama kamu. Generasi muda sekarang, kebanyakan ingin ke kota, kerja di perusahaan bonafid, gaji besar. Tapi kamu... kamu punya idealism."

Arjuna tersenyum. "Bukan idealism, Pak. Hanya... saya sayang sama desa saya."

"Itu idealism. Dan itu langka. Pertahankan."

Sementara itu, Kirana juga sedang menyelesaikan skripsinya. Mereka saling mendukung dari jauh. Setiap malam, mereka video call, saling bertanya perkembangan, saling menguatkan.

"Jun, aku capek banget," keluh Kirana suatu malam. "Bimbingan terus, revisi mulu."

"Sabarlah, Sayang. Ini bentar lagi."

"Kamu sendiri gimana?"

"Alhamdulillah, lancar. Dosenku baik."

Mereka berbincang hingga larut. Tentang skripsi, tentang masa depan, tentang rencana setelah lulus.

"Jun, setelah lulus kamu mau ke mana?" tanya Kirana.

"Pulang ke desa."

"Serius?"

"Serius. Aku mau bangun desa."

Kirana diam. Lalu berkata, "Aku juga mau pulang."

"Pulang ke mana?"

"Ke desa kita. Aku mau jadi guru di sana. Mengajar anak-anak desa."

Arjuna terharu. "Kamu serius?"

"Iya. Aku sudah mikir lama. Di kota, aku cuma satu dari ribuan guru. Di desa, aku bisa lebih berarti."

Arjuna tersenyum. "Kirana, kita punya mimpi yang sama."

"Iya. Kita akan pulang bersama."

****

Hari wisuda tiba. Dua ribu mahasiswa memadati aula universitas. Toga hitam, jas almamater, dan senyum bangga menghiasi wajah-wajah para wisudawan.

Arjuna duduk di barisan ke-17. Jantungnya berdebar kencang. Bukan karena gugup, tapi karena haru. Empat tahun perjuangan, akhirnya membuahkan hasil.

Di antara ribuan orang, ia mencari wajah keluarganya. Di barisan tamu, ia melihat Erlangga, Anita, dan Amat. Kakeknya sudah sangat tua, tapi masih bersemangat datang jauh-jauh dari desa.

Ketika namanya dipanggil, Arjuna berjalan ke panggung. Ia menerima ijazah, berjabat tangan dengan rektor, lalu tersenyum ke arah keluarganya. Anita menangis haru. Amat tersenyum bangga.

Setelah acara selesai, mereka berkumpul di taman kampus.

"Jun, Kakek bangga sama kamu," kata Amat dengan suara bergetar.

"Terima kasih, Kek. Ini semua berkat doa Kakek."

"Dari kecil kamu sudah beda. Rajin, tekun, nggak pernah ngeluh. Kakek tahu kamu akan sukses."

Erlangga memeluknya. "Selamat, Nak. Ayah bangga."

Anita menangis di pelukannya. "Ibu nggak nyangka anak ibu sebesar ini."

Mereka berfoto bersama, tertawa, bahagia.

Malam harinya, Arjuna menelepon Kirana.

"Kir, aku sudah wisuda."

"Selamat, Jun! Aku juga minggu depan."

"Kangen kamu."

"Aku juga. Nanti kita ketemu di desa ya."

"Iya. Janji."

Mereka berbicara lama. Tentang masa depan, tentang rencana pulang, tentang hidup yang akan mereka jalani bersama.

"Jun, aku mau tanya sesuatu," kata Kirana tiba-tiba.

"Apa?"

"Kita... setelah pulang nanti, apa kita akan bersama? Maksudku... serius?"

Arjuna terdiam. Lalu berkata, "Kirana, aku sudah memikirkan ini lama. Aku ingin kita bersama. Bukan hanya sekarang, tapi selamanya."

"Apa maksudmu?"

Arjuna menarik napas dalam. "Maukah kamu... menikah denganku?"

Keheningan di seberang. Lalu suara Kirana bergetar.

"Jun... lo serius?"

"Serius. Aku sudah minta restu orang tuaku. Mereka setuju."

Kirana menangis. "Iya... aku mau. Aku mau banget."

Mereka berjanji di telepon, di malam setelah wisuda Arjuna. Janji untuk bersama, untuk pulang ke desa, untuk membangun masa depan bersama.

****

Bus yang membawa Arjuna memasuki jalan desa. Matanya memandangi pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat. Sawah-sawah terbentang hijau. Padi mulai menguning. Pohon kelapa berjajar di tepi jalan. Burung-burung beterbangan.

Desa Awan Biru.

Rasanya seperti baru kemarin ia pergi. Tapi sudah empat tahun. Empat tahun penuh perjuangan.

Bus berhenti di depan warung Mbah Karyo. Arjuna turun dengan ransel dan koper kecil. Di sana, sudah banyak orang menunggu.

Amat, kakeknya, berdiri di depan dengan tongkat. Di sampingnya, Erlangga dan . Di belakang, Rudi, Herman, Hidayat, Dadang, Naila, Nadya, Juana, dan teman-teman lama lainnya. Juga Joko, Titik, dan Yuana kecil yang kini sudah besar.

"JUN!" teriak Rudi paling keras.

Semua orang tertawa. Arjuna menghampiri mereka satu per satu. Berpelukan, bersalaman, bercanda.

"Jun, gila lo! Pulang-pulang jadi sarjana!" kata Hidayat.

"Lo juga gila, masih kayak dulu."

"Iya dong. Gue nggak berubah."

Amat memeluknya lama. "Selamat datang di rumah, Jun."

"Makasih, Kek."

"Kakek bangga."

Mereka berjalan pulang bersama. Di sepanjang jalan, warga desa menyapa. Ada yang melambai, ada yang berseru "Selamat datang, Mas Arjuna!" Ada yang hanya tersenyum.

Rasanya hangat. Rasanya seperti pulang.

Malam harinya, rumah Arjuna penuh dengan sanak saudara dan tetangga. Mereka mengadakan selamatan kecil untuk syukuran kelulusan. Tumpeng, ayam ingkung, dan berbagai hidangan tradisional tersaji.

Sugeng datang dengan wajah berseri-seri. "Jun, sekarang lo udah sarjana. Besok gantian lo yang jadi kepala desa ya!"

Semua tertawa. Tapi Santoso yang mendengar itu tersenyum bijak.

"Bukan tidak mungkin, Sugeng. Bukan tidak mungkin."

Arjuna hanya tersenyum. Belum ada pikiran untuk menjadi kepala desa. Yang ada di pikirannya hanya satu: Kirana.

Kirana akan pulang minggu depan. Setelah wisudanya. Dan mereka akan memulai babak baru bersama.

****

Stasiun kereta api di kota kabupaten terasa asing bagi Arjuna. Ia jarang ke sini. Tapi hari ini, ia harus ke sini. Kirana akan tiba.

Arjuna sudah datang satu jam lebih awal. Ia tidak bisa diam. Jalan mondar-mandir di peron, sesekali melihat jam, sesekali memandang ke arah rel.

Pukul dua siang, kereta mulai terlihat dari kejauhan. Suara peluit panjang. Roda kereta berdecit di rel. Perlahan, kereta itu berhenti.

Arjuna mencari-cari di antara kerumunan penumpang yang turun. Orang-orang berlalu lalang dengan koper dan tas besar. Ada yang kebingungan, ada yang dijemput keluarga.

Lalu, ia melihatnya.

Kirana turun dari gerbong paling belakang. Rambutnya panjang, terurai. Gaun sederhana warna putih. Di tangannya, koper kecil. Matanya memandang sekeliling, mencari.

Mata mereka bertemu.

Kirana tersenyum. Arjuna berlari mendekat. Mereka berpelukan lama di peron stasiun, di antara orang-orang yang lalu lalang, di bawah terik matahari.

"Kangen," bisik Arjuna.

"Kangen banget."

Mereka berpelukan lagi. Tidak peduli dilihat orang.

Setelah puas, mereka berjalan keluar stasiun. Arjuna membawakan kopernya.

"Akhirnya pulang juga," kata Kirana.

"Iya. Akhirnya."

"Desa masih sama?"

"Masih. Tapi mungkin lebih baik dengan kehadiranmu."

Kirana tersenyum. "Jun, lo jadi gombal."

"Bukan gombal. Fakta."

Mereka naik angkot menuju desa. Selama perjalanan, mereka berbincang tentang banyak hal. Tentang kota, tentang kuliah, tentang teman-teman, tentang masa depan.

Sesampainya di desa, Kirana dijemput orang tuanya di perempatan. Mereka berpisah sementara, tapi janji untuk bertemu malam nanti.

****

Beberapa hari setelah Kirana pulang, sebuah pertemuan besar diadakan. Di rumah Arjuna, dua keluarga berkumpul: keluarga Arjuna dan keluarga Kirana.

Suasananya agak tegang di awal. Orang tua Kirana, Bapak Bambang dan Ibu Diana, adalah orang terpandang di kabupaten. Bapak Bambang  bekerja di dinas pendidikan, sementara Ibu Diana seorang guru. Mereka tinggal di perumahan yang cukup besar, berbeda dengan rumah Arjuna yang sederhana.

Tapi Diana, ibu Arjuna, menyambut mereka dengan hangat.

"Selamat datang, Pak, Bu. Sederhana saja tempat kami."

Ibu Diana tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Kami senang bisa berkunjung."

Mereka duduk di ruang tamu yang sudah disiapkan sebaik mungkin. Makanan dan minuman tersaji di meja.

Erlangga membuka percakapan. "Pak Bambang, Bu Diana, terima kasih sudah mau datang. Kami ingin membicarakan masa depan anak-anak kita."

Bapak Bambang mengangguk. "Iya, Pak. Kirana sudah cerita semuanya pada kami. Tentang Arjuna, tentang rencana mereka."

"Kami sebagai orang tua, hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak," lanjut Erlangga. "Arjuna anak yang baik. Rajin, tanggung jawab, dan sayang sama keluarganya."

Ibu Diana menimpali, "Kami lihat sendiri. Kirana juga selalu cerita kebaikan Arjuna."

Percakapan berlangsung hangat. Mereka membicarakan rencana pernikahan, tempat tinggal, dan masa depan. Tidak ada perdebatan berarti. Semua berjalan lancar.

Di ruang belakang, Arjuna dan Kirana mengintip dari balik tirai.

"Jun, sepertinya lancar ya," bisik Kirana.

"Iya. Kayaknya mereka cocok."

"Alhamdulillah."

Mereka tersenyum lega.

Setelah beberapa jam, pertemuan selesai. Kedua orang tua sepakat untuk merestui hubungan mereka. Bahkan Bapak Bambang menawarkan untuk membantu pernikahan.

"Arjuna, Nak," panggil Bapak Bambang sebelum pulang.

"Iya, Pak."

"Jaga Kirana baik-baik. Dia anak kami satu-satunya."

Arjuna mengangguk mantap. "Saya janji, Pak."

Ibu Diana menambahkan, "Kami percaya padamu, Nak."

Mereka pulang dengan hati senang. Arjuna dan Kirana melambai dari teras.

"Lo dengar nggak?" tanya Kirana. "Mereka setuju."

"Dengar. Rasanya seperti mimpi."

"Ini nyata, Jun. Kita akan bersama."

Mereka berpelukan di teras, di bawah lampu temaram, diiringi suara jangkrik malam.

****

Bulan-bulan berikutnya diisi dengan persiapan pernikahan. Arjuna dan Kirana sibuk mengurus administrasi, mempersiapkan acara, dan tentu saja, memikirkan masa depan.

Mereka memutuskan untuk menikah sederhana. Tidak perlu pesta besar. Cukup undangan keluarga dan sahabat dekat.

"Jun, aku mau resepsi di balai desa aja," kata Kirana suatu hari.

"Di balai desa? Masa?"

"Iya. Biar semua warga bisa datang. Nggak perlu gedung mewah."

Arjuna tersenyum. "Kamu memang berbeda. Banyak pengantin penginnya di gedung, kamu malah di balai desa."

"Kita kan anak desa. Harus bangga dengan desa kita."

Arjuna memeluknya. "Aku sayang kamu."

"Aku juga."

Mereka juga memutuskan untuk tinggal di desa, setidaknya untuk beberapa tahun pertama. Arjuna akan bekerja membantu pemerintahan desa, sementara Kirana akan mengajar di SD Negeri Desa Awan Biru.

"Kita akan bangun desa ini bersama," kata Arjuna.

"Iya. Dari bawah."

****

Tanggal 17 Agustus dipilih sebagai hari pernikahan. Bukan sengaja, tapi karena kebetulan. "Biar gampang ingat," kata Kirana.

Pagi itu, Desa Awan Biru bangun lebih awal. Balai desa dihias dengan janur dan bunga. Kursi-kursi disusun rapi. Sound system dipasang. Warga desa berdatangan dengan pakaian terbaik mereka.

Arjuna duduk di ruang ganti dengan perasaan campur aduk. Rudi, sebagai sahabat, mendampinginya.

"Jun, lo tegang?" tanya Rudi.

"Bisa dibilang gitu."

"Tenang aja. Lo udah latihan."

"Latihan apa?"

"Ya... jadi suami." Rudi tertawa. "Bercanda."

Arjuna tertawa. Makasih, Rud. Udah nemenin."

"Lo temen gue. Harus gitu dong."

Sementara itu, di rumah Kirana, suasana juga sibuk. Ibu Diana membantu putrinya berdandan. Kirana mengenakan gaun pengantin sederhana warna putih, dengan riasan tipis.

"Cantik sekali, Nak," kata Ibu Diana dengan mata berkaca.

"Makasih, Bu."

"Ayah dan Ibu bangga sama kamu."

Kirana memeluk ibunya. "Aku sayang Ibu."

Prosesi akad nikah dilaksanakan di masjid desa. Arjuna hadir lebih awal dengan pakaian putih-putih. Warga desa memadati masjid, ada yang di dalam, ada yang di luar sampai ke halaman.

Kirana datang diantar keluarganya. Wajahnya tertutup kerudung putih, tapi matanya bersinar.

Prosesi berjalan lancar. Arjuna mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang. Saksi-saksi mengesahkan. Mereka resmi menjadi suami istri.

"SAH!" teriak para saksi.

Seluruh undangan mengucapkan hamdalah. Tepuk tangan bergemuruh. Arjuna dan Kirana tersenyum bahagia.

Resepsi di balai desa berlangsung meriah. Warga desa datang berbondong-bondong. Ada yang membawa kado, ada yang hanya memberi doa. Sugeng menjadi pembawa acara dengan gaya khasnya yang lucu.

"Hadirin sekalian, hari ini kita menyaksikan pernikahan anak desa kita, Arjuna, dengan putri dari Bapak Bambang, Kirana. Mudah-mudahan langgeng sampai tua, sampai punya anak banyak, sampai jadi kakek-nenek!"

Semua tertawa.

Santoso memberikan sambutan singkat. "Arjuna, Nak, saya sudah melihatmu sejak kecil. Kamu anak yang baik, pintar, dan rendah hati. Jaga istrimu baik-baik. Bangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah."

Arjuna mengangguk, terharu.

Malam harinya, saat semua tamu pulang, Arjuna dan Kirana duduk di teras rumah mereka—rumah sederhana pemberian orang tua, tidak jauh dari rumah Arjuna dulu.

Langit penuh bintang. Suara jangkrik mengiringi malam.

"Jun," panggil Kirana.

"Iya, Sayang?"

"Akhirnya kita bersama."

Arjuna menggenggam tangannya. "Iya. Setelah perjalanan panjang."

"Kita akan bahagia, ya?"

"Pasti. Bersama-sama."

Mereka berpelukan di bawah langit malam, di desa yang membesarkan mereka, di rumah yang akan menjadi saksi perjalanan hidup mereka selanjutnya.

****

Hari-hari pertama sebagai suami istri dilalui Arjuna dan Kirana dengan penuh kebahagiaan. Mereka menjalani hidup sederhana, saling mendukung, saling menguatkan.

Arjuna mulai aktif di pemerintahan desa. Ia membantu Pak Iwan, kepala desa yang masih menjabat, dalam berbagai program pembangunan. Ilmunya tentang administrasi publik sangat berguna. Ia membantu memperbaiki sistem pencatatan data penduduk, mengusulkan program-program pemberdayaan masyarakat, dan aktif dalam setiap musyawarah desa.

Pak Iwan senang dengan kehadiran Arjuna. "Jun, kamu ini aset desa. Jangan kemana-mana."

Arjuna tersenyum. "Saya tidak akan kemana-mana, Pak. Ini desa saya."

Sementara itu, Kirana mulai mengajar di SD Negeri Desa Awan Biru. Ia menjadi guru kelas 3, mengajar anak-anak dengan penuh kesabaran. Murid-muridnya suka padanya. Kirana tidak hanya mengajar pelajaran, tapi juga nilai-nilai kehidupan.

"Bu Kirana baik banget," kata salah satu muridnya, Titik ya, Titik yang dulu kecil, kini sudah kelas 3 SD.

"Makanya, kamu harus rajin," jawab Kirana.

Suatu hari, sepulang kerja, Arjuna dan Kirana duduk di teras rumah.

"Gimana ngajarnya?" tanya Arjuna.

"Asyik. Anak-anak lucu-lucu."

"Capek?"

"Ya capek. Tapi senang."

Arjuna meraih tangannya. "Kita benar-benar mewujudkan mimpi ya."

"Iya. Kamu bangun desa, aku bangun generasi."

Mereka tersenyum. Hidup sederhana, tapi penuh makna.

****

Setelah setahun menikah, ujian pertama datang. Arjuna ditawari pekerjaan di kota dengan gaji yang sangat besar. Sebuah perusahaan swasta menawarinya posisi manajerial. Gajinya lima kali lipat dari penghasilannya saat ini.

Arjuna bingung. Ia pulang dengan wajah murung.

"Jun, kenapa?" tanya Kirana.

Arjuna menceritakan semuanya. Kirana diam mendengarkan.

"Kamu mau ambil?" tanyanya.

"Aku nggak tahu, Kir. Gajinya besar. Hidup kita bisa lebih baik."

"Tapi kamu harus tinggalkan desa."

Arjuna menghela napas. "Itu masalahnya."

Mereka diam beberapa saat. Lalu Kirana berkata, "Jun, aku tahu kamu bingung. Tapi ingat janji kita. Kita mau bangun desa ini."

"Aku tahu. Tapi kadang... uang itu perlu."

"Memang perlu. Tapi apa kebahagiaan hanya diukur dari uang?"

Arjuna menatap istrinya. Kirana melanjutkan, "Di sini, kita punya keluarga, punya teman, punya masyarakat yang sayang sama kita. Kamu sudah mulai membuat perubahan. Jangan tinggalkan itu."

Arjuna merenung lama. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Pikirannya berkecamuk.

Keesokan harinya, ia pergi ke warung Mbah Karyo. Santoso ada di sana.

"Jun, kok murung?" tanya Santoso.

Arjuna bercerita. Santoso mendengarkan dengan saksama.

"Jun, dulu kamu pernah cerita, kamu ingin bangun desa ini. Ingat?"

"Ingat, Pak."

"Sekarang, desa ini mulai bangun. Kamu bagian dari itu. Kalau kamu pergi, siapa yang lanjutkan?"

Arjuna diam.

Santoso melanjutkan, "Uang itu penting. Tapi bukan segalanya. Kebahagiaan yang sejati adalah saat kamu melihat orang-orang di sekitarmu bahagia karena kamu."

Arjuna mengangguk pelan. Kata-kata Santoso mengena di hatinya.

Sore harinya, ia menelepon perusahaan itu dan menolak tawaran dengan sopan.

Kirana memeluknya. "Makasih, Jun."

"Untuk apa?"

"Untuk memilih kita."

****

Dua tahun setelah menikah, Kirana melahirkan anak pertama mereka. Seorang bayi laki-laki, mungil, dengan tangisan keras.

Arjuna mendampingi istrinya di rumah sakit desa. Saat bayinya lahir, ia menangis haru.

"Selamat, Pak," kata bidan. "Anaknya laki-laki."

Arjuna menggendong bayinya dengan hati-hati. Wajah mungil itu terlihat seperti Kirana, tapi juga ada sorot matanya.

"Kir, lihat," bisiknya. "Anak kita."

Kirana tersenyum lelah tapi bahagia. "Lucu banget."

"Kita kasih nama apa?"

Kirana berpikir. "Bagaimana kalau... Arjuna kecil? Atau... Bima?"

Arjuna tersenyum. "Bima. Nama yang kuat. Seperti tokoh pewayangan."

"Bima Arjuna Putra?"

"Bima Arjuna. Nama yang pas."

Mereka sepakat. Bayi itu diberi nama Bima.

Kabar kelahiran Bima cepat menyebar. Warga desa berdatangan menjenguk. Membawa bingkisan, doa, dan ucapan selamat.

Sugeng datang dengan khasnya. "Jun, lo jadi bapak! Selamat ya. Jangan lupa, kalau anak lo nanya 'Ayah, dari mana asalnya?', lo jangan bilang 'dari kota' ya. Bilang aja 'dari hati Ayah'."

Semua tertawa. Kirana tersipu.

Amat menggendong cicitnya dengan mata berkaca-kaca.

"Cicit Kakek," bisiknya. "Kakek nggak nyangka bisa lihat hari ini."

Bima terbangun, menangis. Tapi begitu digendong Amat, ia diam.

"Dia tahu ini Kakek buyutnya," kata Anita.

Amat tersenyum bahagia.

****

Tiga tahun berlalu sejak kelahiran Bima. Arjuna semakin aktif di desa. Ia dipercaya menjadi Kepala Dusun, lalu naik menjadi Sekretaris Desa. Reputasinya sebagai pemuda cerdas dan pekerja keras semakin dikenal.

Pak Iwan, kepala desa yang sudah menjabat dua periode, akan segera pensiun. Pilkades akan digelar tahun depan.

Suatu malam, beberapa tokoh masyarakat datang ke rumah Arjuna. Santoso, Pak Eko, Didit, dan beberapa pemuda desa.

"Jun, kami mau bicara serius," kata Santoso.

Arjuna agak kaget melihat kedatangan mereka. "Ada apa, Pak?"

Santoso memandang yang lain, lalu berkata, "Kami ingin kamu maju sebagai calon kepala desa."

Arjuna terkejut. "Saya? Tapi saya masih muda, Pak."

"Itu bukan masalah. Yang penting kapasitas, niat, dan dukungan masyarakat."

"Tapi Pak Iwan..."

"Pak Iwan sudah tidak bisa maju lagi. Sudah dua periode. Dan beliau sendiri yang menyarankan kamu."

Arjuna diam. Ia tidak menyangka.

Kirana yang ikut mendengarkan dari samping berkata, "Jun, ini kepercayaan besar."

"Aku tahu. Tapi... apa aku sanggup?"

Santoso tersenyum. "Kami yang bertanya, apa kamu sanggup? Lihat dirimu sendiri, Jun. Selama ini kamu sudah buktikan. Kamu kerja keras, kamu peduli sama masyarakat, kamu punya visi. Itu yang dibutuhkan."

Para pemuda desa yang ikut datang menimpali.

"Kita dukung, Jun!"

"Iya, kita bantu kampanye!"

Arjuna terdiam lama. Semua mata tertuju padanya.

Akhirnya, ia berkata, "Saya perlu waktu untuk berpikir. Ini keputusan besar."

Santoso mengangguk. "Tentu. Pikirkan baik-baik."

Mereka pulang, meninggalkan Arjuna dengan pikirannya yang berkecamuk.

****

Malam itu, Arjuna tidak bisa tidur. Ia duduk di teras, memandangi bintang-bintang.

Kirana keluar, duduk di sampingnya.

"Jun, masih mikirin tawaran itu?"

"Iya."

"Kamu takut?"

Arjuna menghela napas. "Aku takut nggak bisa. Takut mengecewakan."

Kirana meraih tangannya. "Kamu selalu bisa, Jun. Aku tahu itu."

"Tapi ini bukan hal kecil, Kir. Ini tanggung jawab besar. Seluruh desa."

"Aku tahu. Tapi lihat perjalananmu. Dari kecil, kamu sudah belajar. Dari kakekmu, dari pengalaman di desa, dari kuliah, dari semua yang kamu lalui. Semua itu mempersiapkanmu untuk saat ini."

Arjuna menatap istrinya. "Kamu yakin?"

"Aku yakin."

Keesokan harinya, Arjuna pergi ke rumah kakeknya. Amat sudah sangat tua, hampir sembilan puluh tahun. Ia terbaring di tempat tidur, tapi matanya masih bersinar.

"Kek, aku mau minta pendapat."

Amat tersenyum. "Cerita, Nak."

Arjuna menceritakan semuanya. Amat mendengarkan dengan saksama.

"Jun," katanya setelah Arjuna selesai, "Kakek ingat waktu kamu kecil. Kamu sering ikut Kakek ke kantor desa. Kamu lihat Kakek kerja. Kamu tanya ini-itu. Kamu belajar."

Arjuna mengangguk.

"Sekarang, waktunya kamu praktekkin semua pelajaran itu. Kakek tahu kamu bisa."

"Tapi Kek..."

Amat meraih tangan cucunya. "Dengarkan Kakek. Dulu, sebelum kamu lahir, ada orang yang meramal kamu akan jadi kepala desa. Ramalan itu mungkin hanya kebetulan. Tapi yang tidak kebetulan adalah usahamu, kerja kerasmu, niat baikmu. Itu yang membuatmu pantas."

Arjuna terharu. "Makasih, Kek."

"Ambil kesempatan ini, Jun. Jangan sia-siakan."

Malam harinya, Arjuna memanggil para tokoh masyarakat yang datang kemarin.

"Saya terima," katanya. "Saya maju sebagai calon kepala desa."

Mereka semua tersenyum lega.

"Alhamdulillah," kata Santoso. "Perjuangan kita mulai."

****

Pilkades semakin dekat. Tiga calon maju: Arjuna, Pak Surya (pengusaha desa yang berpengaruh), dan Pak Darma (tokoh masyarakat senior).

Kampanye berlangsung seru. Arjuna berkeliling desa, dari dusun ke dusun, dari rumah ke rumah. Ia tidak menjanjikan hal-hal muluk. Ia hanya bicara apa yang bisa ia lakukan.

"Saya ingin desa kita maju. Bukan dengan janji kosong, tapi dengan kerja nyata. Saya sudah membuktikan selama ini. Saya minta kesempatan untuk berbuat lebih."

Warga mendengarkan. Banyak yang percaya. Tapi banyak juga yang ragu, Arjuna masih muda, apa ia cukup berpengalaman?

Pak Surya berkampanye dengan gaya meyakinkan. Ia punya uang, bisa membagikan sembako, bisa menjanjikan proyek-proyek besar.

Pak Darma mengandalkan senioritas dan jaringan lamanya.

Persaingan ketat.

Tapi Arjuna punya senjata rahasia: Kirana. Kirana aktif membantu kampanye. Ia bicara dengan para ibu, dengan pemuda, dengan siapa saja.

"Ibu-ibu, Arjuna suami saya. Saya tahu siapa dia. Dia orang baik, pekerja keras, dan sayang sama masyarakat. Percayakan desa ini padanya."

Rudi, Herman, Hidayat, dan teman-teman lama juga aktif. Mereka membentuk tim relawan, menyebarkan informasi, mengajak warga untuk memilih.

Malam-malam mereka habiskan untuk rapat, menyusun strategi, mempersiapkan segala sesuatu.

****

Hari pemilihan tiba. Sejak pagi, warga desa berduyun-duyun ke tempat pemungutan suara. Suasana tegang tapi tertib.

Arjuna datang bersama Kirana dan Bima kecil. Mereka memberikan suara di TPS dekat balai desa.

Setelah mencoblos, Arjuna keluar dengan tangan bertinta. Wartawan lokal mewawancarainya.

"Bagaimana perasaan Anda, Mas Arjuna?"

"Pasrah. Yang terbaik yang akan terjadi."

"Optimis menang?"

"Saya optimis, apapun hasilnya. Yang penting kita sudah berusaha."

Sementara itu, tim sukses bekerja. Rudi mengawasi penghitungan suara di beberapa TPS. Herman mengkoordinasi relawan. Kirana mengatur konsumsi.

Malam harinya, penghitungan suara dimulai. Warga berkumpul di balai desa, tegang menunggu.

Satu per satu TPS melaporkan hasil. Suara mengalir. Arjuna unggul tipis di beberapa TPS, kalah tipis di TPS lain. Persaingan sangat ketat.

Pukul sebelas malam, semua TPS sudah masuk. Tinggal menunggu rekapitulasi akhir.

Arjuna duduk di kursi, tangannya dingin. Kirana memegang tangannya.

"Apa pun hasilnya, aku bangga sama kamu," bisiknya.

"Iya."

Ketua KPPS desa naik ke panggung. Semua orang diam.

"Hasil rekapitulasi suara Pemilihan Kepala Desa Awan Biru adalah sebagai berikut..."

Ia menyebutkan angka satu per satu. Suara Pak Surya, Pak Darma, dan Arjuna.

"...dengan demikian, perolehan suara terbanyak adalah... ARJUNA!"

Sekejap balai desa bergemuruh. Sorak-sorai pecah. Rudi mengangkat Arjuna, diikuti yang lain. Kirana menangis haru. Bima yang digendongnya ikut-ikutan menangis, tidak tahu apa yang terjadi.

Arjuna akhirnya berdiri di atas panggung. Wajahnya lelah tapi bahagia.

"Warga Desa Awan Biru yang saya hormati," katanya dengan suara bergetar. "Terima kasih atas kepercayaannya. Ini bukan kemenangan saya. Ini kemenangan kita semua. Saya tidak akan bekerja sendiri. Saya akan bekerja bersama kalian semua. Untuk desa yang lebih baik."

Tepuk tangan kembali bergemuruh.

Malam itu, Desa Awan Biru berpesta. Tidak besar-besaran, tapi syukuran sederhana di balai desa. Makan bersama, doa bersama, dan harapan baru.

****

Sepekan setelah pemilihan, Arjuna dilantik sebagai Kepala Desa Awan Biru periode 2010-2016. Pelantikan berlangsung di kantor kecamatan Kabut Merah, dihadiri oleh pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan keluarga.

Arjuna mengenakan Dinas Lengkap, berdiri tegap. Kirana duduk di barisan tamu, tersenyum bangga. Amat hadir di kursi roda, diantar keluarganya. Matanya berkaca-kaca melihat cucunya dilantik.

Setelah sumpah jabatan, Arjuna menandatangani berita acara. Ia resmi menjadi kepala desa.

Selesai acara, keluarga berfoto bersama. Amat memeluk Arjuna.

"Kakek bangga, Jun."

"Terima kasih, Kek. Ini semua karena Kakek."

"Karena kamu sendiri, Nak. Kakek cuma menemani."

Mereka kembali ke desa. Di balai desa, acara syukuran digelar. Warga berdatangan, membawa makanan, mengucapkan selamat.

Sugeng datang dengan khasnya. "Jun, sekarang lo jadi kepala desa. Jangan lupa sama gue ya. Gue mau jadi ajudan."

Semua tertawa.

Santoso berkata, "Arjuna, Nak, amanah ini berat. Tapi kami semua percaya. Jangan pernah lelah mengabdi."

Arjuna mengangguk. "Saya akan berusaha, Pak."

Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Arjuna duduk di teras rumah. Kirana duduk di sampingnya. Bima sudah tidur di dalam.

"Jun," kata Kirana.

"Iya?"

"Gimana rasanya jadi kepala desa?"

Arjuna tersenyum. "Berat. Tapi aku siap."

"Kita siap. Bersama-sama."

Arjuna menggenggam tangan istrinya. "Makasih sudah selalu ada."

"Tugas istri, menemani suami."

Mereka berpelukan di bawah bintang. Malam itu, seorang pemuda desa yang dulu hanya bocah kecil penasaran, kini resmi memimpin desanya.

Perjalanan baru dimulai.

*****

Pagi itu, Arjuna bangun lebih awal dari biasanya. Jam menunjukkan pukul setengah lima ketika ia membuka mata. Di sampingnya, Kirana masih tertidur pulas. Bima, anak mereka yang berusia tiga tahun, tidur di antara mereka dengan posisi seperti bintang laut, tangan dan kaki terentang.

Arjuna tersenyum melihat mereka. Ia bangun perlahan, tidak ingin membangunkan. Setelah shalat subuh, ia duduk di teras rumah, memandangi desa yang mulai bangun.

Langit timur mulai terang. Ayam berkokok bersahutan. Beberapa warga sudah terlihat berjalan menuju sawah. Suara sepeda motor sesekali melintas.

Hari ini adalah hari pertama Arjuna bekerja sebagai Kepala Desa Awan Biru.

Perasaannya campur aduk. Bangga, tentu saja. Tapi juga cemas. Tanggung jawab besar menanti. Lebih dari dua ribu jiwa penduduk desa akan bergantung pada keputusannya.

"Jun, udah bangun?"

Arjuna menoleh. Kirana berdiri di pintu dengan rambut masih acak-acakan, memegang segelas teh hangat.

"Udah dari subuh," jawabnya.

Kirana duduk di sampingnya, memberikan teh itu. "Gugup?"

"Sedikit."

"Wajar. Tapi ingat, kamu nggak sendiri. Aku di sini. Masyarakat juga di belakangmu."

Arjuna menyesap tehnya. "Makasih, Sayang."

Mereka duduk bersama menikmati pagi. Bima tiba-tiba keluar dengan mata masih setengah tertutup, merengek minta digendong. Arjuna menggendongnya, mencium pipi gembulnya.

"Ayah mau kerja," katanya lembut. "Bima sama Mama ya."

"Nggak mau. Bima ikut Ayah."

Arjuna tertawa. "Besok, Nak. Besok Bima boleh ikut."

Setelah sarapan, Arjuna berpakaian rapi. Kemeja putih lengan panjang, celana hitam, sepatu pantofel yang sudah disemir semalam. Ia memandang dirinya di cermin.

Ini dia, Jun. Waktunya bekerja.

Kirana mengantarnya sampai pintu. "Semangat, Pak Kades."

Arjuna tersenyum. "Makasih, Bu Kades."

Mereka berpelukan singkat. Arjuna mencium kening Bima, lalu melangkah keluar.

****

Kantor Desa Awan Biru tidak berubah sejak terakhir Arjuna datang sebagai anak kecil yang ikut kakeknya. Bangunan hijau muda itu masih sama, catnya mulai pudar di sana-sini. Pohon ketapang di depan kantor semakin rindang.

Arjuna berhenti sejenak di depan pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu masuk.

Di dalam, para perangkat desa sudah berkumpul. Ada Yuni, Sekretaris Desa yang kini semakin dewasa, rambutnya digelung rapi. Lulu, Kaur Keuangan, dengan wajah cemas khasnya. Pak Eko, Kaur Perencanaan, dengan tumpukan berkas di meja. Endang, Kasi Pelayanan, yang tersenyum ramah seperti biasa.

Dan ada beberapa wajah baru, staf muda yang direkrut beberapa tahun lalu.

"Selamat pagi, Pak Kades!" sapa mereka serempak.

Arjuna tersenyum. "Selamat pagi. Maaf kalau saya agak kaku. Masih baru."

Yuni tertawa. "Nggak apa-apa, Pak. Nanti juga biasa."

Arjuna berjalan menuju ruangan kepala desa, ruangan yang dulu pernah ia masuki diam-diam saat kecil, tempat ia duduk di kursi besar itu. Kini, kursi itu miliknya.

Ia duduk perlahan, merasakan sandaran kursi yang kokoh. Meja di depannya rapi, dengan bendera merah putih, lambang desa, dan tumpukan berkas yang menunggu ditandatangani.

Pak Eko masuk dengan membawa map tebal. "Pak Kades, ini agenda hari ini. Ada rapat dengan perangkat desa jam sembilan. Terus ada tamu dari kecamatan Kabut Merah jam sepuluh. Siangnya, ada undangan dari kelompok tani."

Arjuna membuka map itu. Jadwalnya padat.

"Baik, Pak Eko. Terima kasih."

Pak Eko mengangguk, lalu keluar. Arjuna memandangi ruangan itu. Di dinding, tergambar struktur organisasi desa, peta wilayah, dan foto-foto kegiatan. Di sudut, ada lemari tua berisi arsip, mungkin peninggalan kakeknya dulu.

Ia tersenyum. Kakek, aku di sini sekarang. Di kursi yang dulu selalu aku lihat.

****

Jam sembilan pagi, semua perangkat desa berkumpul di ruang rapat. Suasana agak tegang, rapat pertama dengan kepala desa baru.

Arjuna duduk di ujung meja. Di sekelilingnya, Yuni, Pak Eko, Lulu, Endang, dan beberapa staf lainnya. Ada juga Didit, Ketua BPD yang sudah lama dikenal Arjuna.

"Selamat pagi semuanya," buka Arjuna. "Ini rapat perdana kita. Saya ingin kita saling terbuka. Saya masih baru, butuh bimbingan dari bapak-ibu semua."

Yuni tersenyum. "Kami juga butuh arahan dari Pak Kades."

Arjuna mengangguk. "Baik. Agenda pertama kita adalah evaluasi program yang sudah berjalan. Pak Eko, tolong paparkan."

Pak Eko membuka berkasnya. "Program pembangunan jalan desa sudah 70 persen. Target kita tahun ini selesai semua. Tapi ada kendala di anggaran."

"Kendala apa?"

"Anggaran terbatas, sementara harga material naik."

Lulu menimpali, "Kita bisa usulkan anggaran tambahan dari dana desa. Tapi harus melalui musyawarah desa dulu."

Arjuna berpikir. "Baik, kita akan bahas di musyawarah nanti. Untuk sementara, kita cari solusi lain. Mungkin gotong royong bisa mengurangi biaya tenaga."

Pak Eko mengangguk setuju. "Ide bagus. Warga biasanya antusias kalau diajak gotong royong."

Rapat berlangsung dua jam. Mereka membahas banyak hal: anggaran, program kerja, permasalahan warga, dan rencana ke depan.

Arjuna merasa seperti menyerap air dari spons. Banyak hal baru yang harus ia pelajari. Tapi ia menikmatinya.

Setelah rapat selesai, Didit mendekatinya.

"Jun, gimana rasanya?"

Arjuna menghela napas. "Berat, Bang. Tapi seru."

Didit tertawa. "Lo pasti bisa. Gue lihat dari dulu."

"Makasih, Bang. Bantu saya ya."

"Pasti."

****

Sore harinya, Arjuna baru pulang ke rumah. Tubuhnya terasa lelah, tapi hatinya senang. Kirana sudah menunggu dengan makan malam.

"Gimana hari pertama?" tanya Kirana sambil menyuapi Bima.

"Padat. Rapat terus. Tapi seru."

"Ada masalah?"

"Belum. Tapi pasti akan ada."

Kirana tersenyum. "Kamu siap?"

"Siap nggak siap, harus siap."

Malam itu, setelah Bima tidur, Arjuna duduk di ruang tamu. Ia membuka buku catatan lamanya, buku yang selalu ia bawa sejak kecil. Ia membaca beberapa halaman, mengenang masa lalu. Lalu ia menulis di halaman baru:

Hari pertama jadi kepala desa. Rasanya aneh, tapi menyenangkan. Banyak yang harus dipelajari. Tapi aku ingat kata Kakek: pemimpin yang baik adalah yang mau melayani. Aku akan berusaha.

Ia menutup buku, lalu memejamkan mata. Esok, tantangan baru menanti.

****

Tiga bulan pertama kepemimpinan Arjuna berjalan cukup lancar. Ia mulai terbiasa dengan rutinitas: rapat pagi, menerima warga, menandatangani surat, inspeksi lapangan, dan berbagai kegiatan lainnya.

Namun, tidak semua berjalan mulus.

Suatu sore, seorang warga datang ke kantor desa dengan wajah marah. Namanya Pak Karso, petani yang sawahnya kekeringan karena saluran irigasi tersumbat.

"Pak Kades, ini gimana? Sawah saya kering! Padahal sebentar lagi panen!" bentaknya.

Arjuna berusaha tenang. "Duduk dulu, Pak. Ceritakan perlahan."

Pak Karso duduk, tapi masih dengan wajah merah. "Saluran air dari bendungan kecil itu mampet. Udah tiga minggu nggak ada air. Saya sudah lapor ke kadus, tapi nggak ada tindakan!"

Arjuna memanggil Pak Eko. "Pak Eko, cek dulu saluran irigasinya. Saya akan ke lapangan besok pagi."

"Baik, Pak."

Pak Karso agak reda. "Tapi Pak Kades, ini udah darurat."

"Saya paham, Pak. Besok saya cek langsung. Saya janji."

Keesokan paginya, Arjuna benar-benar ke lokasi. Ia berjalan kaki menyusuri saluran irigasi sepanjang dua kilometer. Di beberapa titik, saluran tersumbat sampah dan lumpur. Di satu titik, saluran jebol.

Arjuna mencatat semuanya. Sore harinya, ia mengumpulkan perangkat desa dan beberapa tokoh masyarakat.

"Kita harus perbaiki ini. Bukan hanya untuk Pak Karso, tapi untuk semua petani," katanya.

"Tapi anggaran, Pak?" tanya Lulu.

Arjuna berpikir. "Kita gunakan dana darurat. Saya akan koordinasi dengan dinas pengairan juga."

Mereka bergerak cepat. Dua minggu kemudian, saluran irigasi diperbaiki. Air kembali mengalir. Pak Karso datang ke kantor desa, kali dengan wajah tersenyum.

"Pak Kades, terima kasih. Saya minta maaf kalau kemarin kasar."

Arjuna tersenyum. "Nggak apa-apa, Pak. Saya paham. Bapak cemas sama sawah."

Pak Karso menjabat tangannya erat. "Bapak pemimpin yang baik."

Setelah Pak Karso pergi, Arjuna menarik napas lega. Ini baru satu masalah. Masih banyak yang lain.

****

Enam bulan menjabat, Arjuna mulai memikirkan inovasi. Ia ingat pengalamannya di kantor desa dulu, melihat kakeknya bekerja dengan sistem manual yang lambat. Ia ingin mengubahnya.

Suatu hari, ia mengumpulkan seluruh staf.

"Bapak-ibu, saya ingin kita mulai digitalisasi administrasi desa."

Yuni mengernyit. "Digitalisasi, Pak? Maksudnya?"

"Kita akan menggunakan komputer dan software untuk mengelola data penduduk, surat menyurat, dan arsip. Semua yang manual kita ubah ke digital."

Pak Eko ragu. "Tapi warga kita banyak yang tidak paham komputer."

"Itu tugas kita untuk membantu. Kita yang harus menyesuaikan dengan zaman."

Arjuna kemudian memaparkan rencananya. Ia ingin membangun sistem database penduduk yang terintegrasi, memudahkan pembuatan surat, dan mempercepat pelayanan.

Beberapa staf terlihat antusias, beberapa lain ragu. Tapi Arjuna yakin.

Dengan bantuan seorang programmer muda dari desa, lulusan SMK jurusan IT, mereka mulai membangun sistem. Prosesnya tidak mudah. Ada banyak error, banyak revisi. Tapi setelah tiga bulan, sistem itu mulai berjalan.

Warga kini bisa mengurus surat lebih cepat. Data penduduk lebih rapi. Laporan desa lebih mudah dibuat.

Suatu hari, seorang warga tua datang. Ia ingin mengurus surat keterangan tidak mampu.

"Wah, cepat sekali, Mas," katanya setelah dilayani. "Biasanya saya nunggu berhari-hari."

Arjuna tersenyum. "Ini berkat sistem baru, Pak."

Warga itu mengangguk puas. "Pak Kades ini memang pintar."

****

Sementara Arjuna sibuk di kantor, Kirana juga tidak tinggal diam. Sebagai guru, ia melihat banyak potensi pada ibu-ibu desa yang tidak terasah.

Suatu sore, ia berbicara dengan Arjuna.

"Jun, aku punya ide."

"Apa?"

"Aku ingin buat program pemberdayaan perempuan. Pelatihan keterampilan, usaha kecil, kerajinan tangan. Banyak ibu-ibu di sini yang pintar tapi nggak punya wadah."

Arjuna mendukung. "Ide bagus. Apa yang kamu butuhkan?"

"Tempat dan dana kecil untuk pelatihan. Aku bisa cari instruktur sendiri."

Arjuna membantu mengalokasikan dana desa untuk program itu. Kirana mulai bergerak. Ia merekrut beberapa ibu yang sudah punya keterampilan, menjahit, membuat kue, merajut, untuk menjadi pelatih.

Minggu pertama, peserta hanya lima orang. Minggu kedua, sepuluh. Minggu ketiga, dua puluh. Ibu-ibu desa mulai antusias.

Mereka belajar membuat kerajinan anyaman, kue kering untuk dijual, hingga menjahit masker saat pandemi melanda.

Produk-produk mereka mulai dijual di pasar desa, bahkan sampai ke kota. Pendapatan keluarga bertambah. Kepercayaan diri para ibu meningkat.

Suatu hari, seorang ibu berkata pada Kirana, "Bu Kirana, terima kasih. Sekarang saya bisa bantu suami cari uang."

Kirana tersenyum bangga. "Sama-sama, Bu. Ini berkat semangat ibu-ibu semua."

Malamnya, Kirana cerita pada Arjuna. "Jun, aku senang banget."

"Senang apa?"

"Ibu-ibu itu jadi lebih percaya diri. Mereka bilang, sekarang mereka nggak cuma di rumah, tapi juga berkarya."

Arjuna memeluknya. "Kamu hebat, Sayang."

"Kita hebat. Bersama."

****

Tahun kedua kepemimpinan Arjuna diuji dengan bencana. Musim hujan tahun itu sangat ekstrem. Hujan turun selama tiga hari tiga malam tanpa henti.

Desa Awan Biru terendam banjir.

Air setinggi pinggang orang dewasa merendam ratusan rumah. Sawah-sawah tenggelam. Ternak hanyut. Warga panik.

Arjuna tidak tidur selama dua hari. Ia berkeliling desa dengan perahu karet, mengevakuasi warga, mendistribusikan bantuan.

"Pak Kades, rumah saya hanyut!" teriak seorang warga.

"Tenang, Pak. Kita cari solusi. Sementara tinggal di posko dulu."

Di posko pengungsian, Kirana sibuk mengatur dapur umum. Ia memasak bersama ibu-ibu lain, memastikan semua pengungsi mendapat makanan.

Bima ikut di posko, digendong-gendong oleh relawan. Anak itu tidak menangis, meski bingung melihat keramaian.

Malam kedua, Arjuna duduk di pinggir posko, kelelahan. Kirana mendekat dengan segelas teh.

"Jun, istirahat sebentar."

"Nggak bisa, Kir. Masih banyak yang harus dilakukan."

"Kamu nggak bisa bantu orang kalau kamu sendiri jatuh sakit. Istirahat."

Arjuna menurut. Ia merebahkan diri di tikar, memejamkan mata. Tapi pikirannya tidak bisa tenang.

Bagaimana dengan besok? Air masih tinggi. Bantuan belum semua datang. Warga mulai putus asa.

Ia bangkit lagi, menelepon kecamatan, menelepon dinas sosial, menelepon siapa saja yang bisa membantu.

Hari ketiga, air mulai surut. Bantuan mulai berdatangan. Arjuna mengatur distribusi dengan ketat, memastikan semua warga kebagian.

Proses pemulihan pascabanjir memakan waktu berbulan-bulan. Rumah-rumah diperbaiki. Sawah ditanami ulang. Trauma warga dipulihkan dengan gotong royong dan kebersamaan.

Saat semuanya mulai kembali normal, seorang warga tua berkata pada Arjuna, "Pak Kades, kalau nggak ada bapak, mungkin kami sudah putus asa."

Arjuna tersenyum lelah. "Saya cuma melakukan tugas, Pak."

"Tugas yang dilakukan dengan hati."

****

Tidak semua orang senang dengan kepemimpinan Arjuna. Ada beberapa pihak yang iri, yang merasa tersaingi, yang ingin menjatuhkannya.

Suatu hari, isu miring mulai beredar. Arjuna dituduh mengkorupsi dana desa. Isu itu disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Pak Kades, ada kabar nggak enak," kata Yuni suatu pagi dengan wajah cemas.

"Apa?"

"Katanya... bapak korupsi dana bantuan banjir."

Arjuna terkejut. "Apa? Itu fitnah!"

"Iya, kami tahu. Tapi isunya sudah menyebar. Beberapa warga mulai bertanya-tanya."

Arjuna menghela napas. Ini cobaan berat.

Ia segera mengumpulkan perangkat desa. "Kita harus transparan. Buka semua laporan keuangan. Tunjukkan pada warga bahwa semua dana digunakan dengan benar."

Lulu, Kaur Keuangan, membuka semua dokumen. Mereka mengundang warga untuk datang melihat langsung.

"Silakan, bapak-ibu lihat sendiri. Semua tercatat rapi. Tidak ada yang hilang," kata Arjuna di depan warga.

Beberapa warga memeriksa dokumen. Ada yang mengerti, ada yang tidak. Tapi setelah melihat bukti-bukti, mereka percaya.

"Maaf, Pak Kades. Kami termakan isu," kata seorang warga.

Arjuna tersenyum. "Nggak apa-apa. Yang penting sekarang sudah jelas."

Fitnah itu reda. Tapi Arjuna tahu, akan selalu ada orang yang tidak suka padanya. Ia harus siap.

Malamnya, Kirana bertanya, "Jun, kamu nggak marah?"

"Marah? Buat apa? Orang iri itu biasa. Yang penting kita tetap jujur."

Kirana memeluknya. "Aku bangga sama kamu."

****

Memasuki tahun ketiga, Arjuna meluncurkan program unggulan: "Desa Mandiri Pangan". Program ini bertujuan menjadikan Desa Awan Biru swasembada pangan, tidak tergantung pada pasokan dari luar.

Ia bekerja sama dengan kelompok tani, dinas pertanian, dan para pemuda. Lahan-lahan tidur diubah menjadi kebun produktif. Pelatihan pertanian modern digelar. Bibit unggul dibagikan.

"Saya ingin, suatu hari nanti, kita tidak perlu beli beras dari luar. Kita cukup produksi sendiri," kata Arjuna dalam sosialisasi program.

Para petani antusias. Mereka mulai menanam dengan metode baru. Pupuk organik diproduksi sendiri. Irigasi diperbaiki.

Hasilnya mulai terlihat setahun kemudian. Produksi padi naik 30 persen. Jagung, kedelai, dan sayuran juga melimpah. Desa Awan Biru mulai dikenal sebagai desa lumbung pangan.

Suatu hari, Bupati datang berkunjung. Ia kagum dengan program itu.

"Pak Arjuna, ini program hebat. Saya akan jadikan desa ini percontohan untuk desa-desa lain."

Arjuna tersenyum bangga. "Terima kasih, Pak Bupati. Ini berkat kerja sama semua warga."

Bupati menjabat tangannya. "Anda pemimpin muda yang luar biasa."

****

Empat tahun berlalu. Arjuna telah menyelesaikan hampir seluruh program yang dijanjikan. Jalan desa mulus, irigasi lancar, ekonomi warga meningkat, administrasi desa modern.

Pilkades periode kedua semakin dekat. Warga mulai mendesak Arjuna untuk maju lagi.

"Pak Kades, maju lagi dong! Kami mau bapak lanjutkan," kata warga dalam sebuah pertemuan.

Arjuna tersenyum. "Terima kasih, tapi saya harus pikirkan dulu."

Di rumah, ia berdiskusi dengan Kirana.

"Gimana menurutmu?" tanyanya.

Kirana memandang suaminya. "Jun, kamu lihat sendiri. Masyarakat percaya padamu. Program-programmu belum semuanya selesai. Kalau kamu berhenti sekarang, siapa yang lanjutkan?"

"Tapi aku capek, Kir. Empat tahun ini berat."

"Aku tahu. Tapi ingat, kita nggak sendiri. Aku di sini. Masyarakat di belakangmu."

Arjuna merenung. Ia ingat semua perjuangan, semua tantangan, semua kebahagiaan. Ia ingat wajah-wajah warga yang terbantu. Ia ingat janji-janjinya.

Akhirnya, ia memutuskan maju lagi.

Pilkades periode kedua berlangsung lebih mudah. Dukungan untuk Arjuna sangat besar. Ia menang telak, mengalahkan dua calon lainnya.

Malam kemenangan, ia berkata pada Kirana, "Enam tahun lagi, Sayang. Kita harus kuat."

"Kita akan kuat. Bersama."

****

Periode kedua dimulai dengan semangat baru. Arjuna punya visi yang lebih besar: menjadikan Desa Awan Biru sebagai desa wisata.

"Kita punya potensi alam yang indah. Sawah, sungai, perbukitan. Kita bisa kembangkan jadi tempat wisata," katanya dalam rapat.

Beberapa orang ragu. "Tapi kita nggak punya infrastruktur, Pak."

"Kita bangun. Perlahan. Dengan kerja sama semua pihak."

Mereka mulai merintis. Kelompok sadar wisata dibentuk. Pemuda desa dilatih menjadi pemandu wisata. Homestay dirintis di rumah-rumah warga.

Tidak mudah. Tahun pertama, pengunjung hanya puluhan orang. Tapi mereka terus promosi, terus memperbaiki.

Tahun kedua, pengunjung mulai berdatangan dari kota. Mereka tertarik dengan suasana pedesaan yang asri, kuliner khas, dan kerajinan tangan warga.

Tahun ketiga, Desa Awan Biru masuk dalam 10 besar desa wisata terbaik di kabupaten.

Suatu hari, seorang turis asing datang. Ia kagum dengan keindahan desa.

"This is beautiful. Amazing place," katanya dalam bahasa Inggris.

Arjuna, dengan bahasa Inggris pas-pasannya, mencoba berkomunikasi. "Thank you. Welcome to our village."

Turis itu tersenyum. "You are a good leader."

Arjuna tersipu. Tapi hatinya bangga.

****

Di periode kedua ini, peran Kirana semakin besar. Ia tidak hanya dikenal sebagai istri kepala desa, tapi juga sebagai tokoh pemberdayaan masyarakat.

Program-programnya berkembang. Ia mendirikan koperasi wanita, mengelola simpan pinjam, dan memasarkan produk-produk desa secara online.

Ibu-ibu desa memanggilnya "Bu Kades" dengan penuh hormat. Tapi mereka juga memanggilnya "Mbak Kirana" dengan akrab.

Suatu hari, seorang ibu muda mendatanginya. Wajahnya sedih.

"Bu Kirana, saya mau cerita."

"Cerita apa, Mbak?"

Ibu itu curhat tentang masalah rumah tangganya. Suaminya kasar, sering mabuk, dan tidak memberi nafkah.

Kirana mendengarkan dengan sabar. Setelah itu, ia membantu ibu itu melapor ke pihak berwajib, memberikan dukungan psikologis, dan membantunya memulai usaha kecil.

"Bu Kirana, terima kasih. Saya nggak tahu harus ke mana kalau nggak ada ibu."

Kirana memeluknya. "Kamu kuat, Mbak. Jangan menyerah."

Malamnya, Kirana cerita pada Arjuna. "Jun, banyak perempuan di sini yang menderita dalam diam."

Arjuna menghela napas. "Aku tahu. Tapi kita nggak bisa masuk ke semua rumah tangga."

"Tapi kita bisa bantu mereka yang mau keluar dari masalah."

Mereka berdiskusi panjang. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuka layanan konseling dan pendampingan hukum gratis bagi perempuan desa.

Langkah kecil, tapi berarti.

****

Memasuki tahun kelima periode kedua, Arjuna menghadapi tantangan terbesar: pandemi.

Virus corona melanda dunia. Desa Awan Biru tidak luput. Warga sakit, ekonomi lumpuh, pembatasan sosial diberlakukan.

Arjuna bekerja siang malam. Ia mengatur posko Covid-19, mendistribusikan bantuan, mengawasi protokol kesehatan, dan menenangkan warga yang panik.

"Pak Kades, tolong! Bapak saya demam tinggi!" teriak seorang warga malam-malam.

Arjuna segera mengirim ambulans desa ke rumah itu. Ia sendiri ikut, memakai APD seadanya.

Di rumah sakit, bapak itu dinyatakan positif Covid. Keluarganya panik, takut diisolasi.

"Tenang, Pak. Bu. Ini demi kebaikan. Bapak akan dirawat, ibu dan anak-anak isolasi mandiri. Saya akan bantu apa yang kalian butuhkan."

Arjuna mengatur logistik untuk keluarga itu. Setiap hari, ia mengirim makanan dan kebutuhan pokok.

Dua minggu kemudian, bapak itu sembuh dan pulang. Keluarganya menangis haru.

"Pak Kades, kalau nggak ada bapak, mungkin kami sudah putus asa."

Arjuna tersenyum lelah. "Saya cuma melakukan tugas."

Tapi pandemi belum berakhir. Varian baru muncul. Warga semakin banyak yang sakit. Arjuna hampir kehabisan tenaga.

Kirana khawatir. "Jun, kamu harus istirahat. Kalau kamu sakit, gimana?"

"Aku nggak bisa istirahat, Kir. Masih banyak yang butuh bantuan."

Tubuh Arjuna mulai lemah. Suatu malam, ia demam tinggi. Kirana panik. Tes swab dilakukan. Hasilnya positif.

Arjuna harus isolasi. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia berhenti bekerja.

Ia dirawat di ruang isolasi yang didirikan di balai desa. Kirana tidak bisa menjenguk, hanya bisa melihat dari balik jendela.

"Jun, kuat ya," bisiknya, air mata jatuh.

Arjuna mengacungkan jempol dari balik kaca.

Sepuluh hari kemudian, Arjuna sembuh. Ia keluar dari isolasi dengan tubuh kurus, tapi semangat membara.

Langkah pertamanya adalah ke posko, mengecek kondisi warga.

"Pak Kades, sehat ya?" sambut para relawan.

"Alhamdulillah. Sekarang saya kembali."

Perjuangan melawan pandemi terus berlanjut. Tapi Arjuna tidak sendiri. Masyarakat bahu-membahu. Gotong royong kembali menjadi kekuatan desa.

****

Enam tahun periode kedua hampir berakhir. Desa Awan Biru telah berubah drastis.

Jalan-jalan mulus. Ekonomi warga meningkat. Wisata desa berkembang. Administrasi desa modern. Dan yang paling penting, semangat gotong royong warga kembali hidup.

Arjuna duduk di teras rumah, memandangi desa yang mulai senja. Kirana duduk di sampingnya. Bima, yang kini sudah berusia sepuluh tahun, sedang bermain di halaman.

"Jun, nggak terasa ya, dua belas tahun," kata Kirana.

"Iya. Cepat sekali."

"Kamu puas?"

Arjuna berpikir. "Puas? Belum. Masih banyak yang harus dilakukan. Tapi... aku bersyukur. Banyak yang sudah tercapai."

"Kamu mau lanjut lagi?"

Arjuna menggeleng. "Cukup. Dua periode sudah cukup. Saatnya orang lain yang memimpin."

"Kamu nggak khawatir?"

"Sedikit. Tapi aku percaya, siapapun pemimpinnya, warga kita sudah kuat. Mereka tahu cara membangun desa."

Kirana meraih tangannya. "Aku bangga sama kamu, Jun."

"Makasih, Sayang. Tanpa kamu, aku nggak akan bisa."

Mereka berpelukan di teras, di bawah langit senja yang jingga. Bima berlari menghampiri, ikut berpelukan.

"Ayah, Mama, Bima sayang."

Mereka bertiga tertawa. Keluarga kecil yang berjuang bersama, untuk desa yang mereka cintai.

****

Hari serah terima jabatan tiba. Arjuna akan menyerahkan estafet kepemimpinan pada kepala desa baru, Pak Hadi, yang terpilih dalam Pilkades beberapa bulan lalu.

Acara digelar di balai desa. Warga berdatangan, memadati halaman. Ada haru, ada bangga, ada sedih.

Arjuna mengenakan kemeja putih, berdiri di samping Pak Hadi. Kirana duduk di barisan depan bersama Bima.

Sambutan demi sambutan. Lalu tiba giliran Arjuna.

"Warga Desa Awan Biru yang saya hormati," ia memulai, suaranya bergetar. "Dua Belas tahun yang lalu, saya menerima amanah ini dengan tangan gemetar. Dua Belas tahun kemudian, saya kembalikan amanah ini dengan hati penuh syukur."

Matanya berkaca-kaca. "Banyak suka duka yang kita lalui bersama. Banjir, pandemi, dan berbagai tantangan lainnya. Tapi kita bisa melewatinya karena kebersamaan kita."

Ia berhenti, mengatur napas. "Saya bukan siapa-siapa tanpa kalian semua. Terima kasih atas kepercayaan, dukungan, dan doanya. Mohon maaf jika ada salah dan khilaf."

Warga bertepuk tangan, banyak yang menangis. Sugeng, yang duduk di barisan belakang, menyeka matanya dengan lengan baju.

"Jun, lo hebat," bisiknya.

Setelah acara, warga berebut bersalaman dengan Arjuna. Ada yang memeluk, ada yang menangis di bahunya.

"Pak Kades, jangan jauh-jauh ya. Tetap di sini."

"Jangan lupa sama kita."

"Makasih, Pak Kades."

Arjuna hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Hatinya penuh haru.

Malam harinya, di rumah, Arjuna duduk termenung. Kirana membawakan teh hangat.

"Jun, kenapa?"

"Aku nggak tahu, Kir. Rasanya hampa."

"Itu wajar. Dua Belas tahun kamu berdedikasi. Sekarang waktunya istirahat."

"Istirahat? Aku belum tahu mau ngapain."

Kirana tersenyum. "Banyak. Habiskan waktu dengan keluarga. Bantu aku di kebun. Atau... tulis buku."

"Buku?"

"Iya. Catatan kecilmu itu, bisa jadi buku. Cerita perjalanan hidupmu, perjuanganmu. Bisa menginspirasi orang lain."

Arjuna memandang istrinya. "Kamu selalu punya ide."

"Karena aku tahu kamu. Kamu punya banyak cerita yang layak dibagikan."

Arjuna merenung. Mungkin itu ide bagus.

****

Hari-hari pertama purna tugas terasa aneh bagi Arjuna. Bangun pagi, sarapan, lalu... bingung mau ke mana. Selama Dua Belas tahun, ia selalu punya tujuan: ke kantor, ke lapangan, ke rumah warga. Kini, tidak ada.

Ia mencoba membantu Kirana di kebun. Mencangkul, menanam, memanen. Aktivitas fisik yang membuatnya capek, tapi juga menyenangkan.

"Jun, kamu jadi petani?" canda Kirana.

"Kenapa nggak? Dulu ayahku petani. Aku juga harus bisa."

Mereka tertawa bersama. Bima ikut membantu, meski lebih banyak main tanah.

Suatu sore, Rudi datang berkunjung.

"Jun, lo ngapain di kebun? Masa mantan kades jadi kuli?"

Arjuna tertawa. "Bukan kuli, ini terapi. Biar nggak stres."

Rudi duduk di bawah pohon. "Jun, gue mau ngomong."

"Apa?"

"Lo tahu nggak, banyak warga yang kangen sama lo. Mereka minta lo turun tangan lagi. Mungkin jadi penasihat desa, atau apa gitu."

Arjuna menghela napas. "Rud, aku sudah selesai. Saatnya generasi baru."

"Tapi mereka butuh lo."

"Kasi mereka kesempatan. Pak Hadi pemimpin baru. Dia harus belajar sendiri. Kalau aku selalu di belakang, dia nggak akan pernah mandiri."

Rudi mengangguk pelan. "Lo benar juga. Tapi lo nggak akan ninggalin desa kan?"

"Desa ini rumahku. Ke mana lagi aku mau pergi?"

Mereka terdiam, menikmati sore yang tenang.

****

Meski tidak lagi menjabat, Arjuna tetap aktif di masyarakat. Ia sering diundang sebagai pembicara di berbagai acara: pelatihan pemuda, diskusi desa, bahkan sekolah-sekolah.

Suatu hari, ia diundang oleh SMA tempatnya dulu belajar. Ia diminta menjadi pembicara dalam acara "Motivasi Kepemimpinan bagi Generasi Muda".

Arjuna datang dengan pakaian sederhana. Di hadapan ratusan siswa, ia bercerita tentang perjalanan hidupnya.

"Anak-anakku sekalian, saya dulu seperti kalian. Duduk di bangku ini, bingung mau jadi apa. Tapi saya punya satu prinsip: lakukan yang terbaik di mana pun kalian berada."

Ia bercerita tentang masa kecilnya, tentang kakeknya, tentang perjuangan kuliah, tentang menjadi kepala desa.

"Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Kalian lahir di desa? Itu bukan kelemahan. Itu kekuatan. Karena kalian tahu arti perjuangan."

Para siswa mendengarkan dengan takjub. Setelah acara, mereka berebut foto dan bertanya.

"Pak Arjuna, gimana caranya jadi pemimpin baik?"

Arjuna tersenyum. "Jadilah pelayan, bukan penguasa. Itu kuncinya."

Seorang siswi bertanya, "Pak, apa yang paling bapak banggakan selama jadi kepala desa?"

"Saat melihat warga tersenyum. Saat anak-anak bisa sekolah karena ada beasiswa. Saat petani panen melimpah. Itu kebanggaan yang nggak ternilai."

Ia pulang dengan hati ringan. Berbagi pengalaman ternyata menyenangkan.

****

Atas dorongan Kirana, Arjuna mulai menulis. Buku catatan lamanya menjadi bahan utama. Ia menulis ulang, mengembangkan, menambahkan detail.

Setiap malam, setelah Bima tidur, ia duduk di meja kerjanya. Lampu meja menyala, pena bergerak di atas kertas.

Kirana kadang menemani, membaca apa yang sudah ditulis, memberi masukan.

"Jun, ini bagus. Tapi tambahi dialognya biar hidup."

"Jun, bagian ini terlalu panjang, dipotong sedikit."

"Jun, jangan lupa tulis tentang Rudi, tentang teman-temanmu."

Arjuna mengikuti sarannya. Perlahan, buku itu mulai berbentuk. Bukan sekadar catatan, tapi sebuah kisah hidup.

Suatu malam, ia menulis:

Hidup ini seperti sungai. Mengalir dari hulu ke hilir, melewati berbagai medan. Ada yang deras, ada yang tenang. Ada yang jernih, ada yang keruh. Tapi selama ia mengalir, ia akan sampai ke laut.

Demikian pula hidupku. Aku mengalir dari masa kecil yang sederhana, melalui badai dan cobaan, hingga sampai di titik ini. Bukan karena aku hebat. Tapi karena ada tangan-tangan yang selalu menuntun: Kakek, orang tua, Kirana, teman-teman, dan masyarakat desa.

Buku ini adalah persembahanku untuk mereka. Untuk semua yang telah memberiku arti.

Ia menutup buku itu dengan perasaan haru.

****

Tahun-tahun berlalu dalam ketenangan. Arjuna dan Kirana menikmati masa tua dengan sederhana.

Bima tumbuh menjadi remaja, lalu dewasa. Ia kuliah di kota, mengambil jurusan yang sama dengan ayahnya: administrasi publik. Setelah lulus, ia memilih pulang ke desa, ingin mengikuti jejak ayahnya.

Arjuna tidak melarang, tapi juga tidak mendorong. "Ikuti kata hatimu, Nak. Tapi ingat, jadi pemimpin itu berat."

"Aku tahu, Ayah. Aku sudah lihat perjuangan Ayah."

Bima kemudian aktif di karang taruna, lalu menjadi sekretaris desa, lalu... suatu hari, ia juga mencalonkan diri sebagai kepala desa.

Arjuna hanya tersenyum melihatnya. Seperti melihat diriku dulu.

****

Usia Arjuna semakin senja. Rambutnya memutih, langkahnya mulai lambat, tapi matanya masih bersinar. Ia sering duduk di teras rumah, memandangi desa yang dulu dipimpinnya.

Sesekali warga datang berkunjung. Ada yang minta nasihat, ada yang hanya ingin mengobrol.

"Pak Arjuna, sehat?"

"Alhamdulillah, masih bisa jalan."

Mereka tertawa bersama.

Suatu sore, Santoso datang. Usianya sudah sangat tua, hampir seratus tahun. Ia duduk di samping Arjuna, memandangi langit senja.

"Jun," panggilnya pelan.

"Iya, Pak Santoso?"

"Kamu ingat ramalan Anto dulu?"

Arjuna tersenyum. "Masih, Pak. Waktu itu saya belum lahir."

"Ramalan itu benar. Kamu jadi kepala desa. Bahkan lebih dari itu."

"Ramalan atau bukan, saya hanya menjalani hidup."

Santoso mengangguk. "Kamu benar. Hidup ini bukan soal ramalan, tapi soal pilihan. Dan kamu memilih jalan yang benar."

Mereka terdiam, menikmati senja. Warna jingga memenuhi langit, sama seperti puluhan tahun lalu saat Arjuna masih kecil, duduk di warung Mbah Karyo, mendengar cerita orang-orang tua.

Kini ia sendiri yang menjadi orang tua itu.

****

Arjuna meninggal dengan tenang pada usia 77 tahun. Ia berpulang dalam tidurnya, di rumah yang sama tempat ia menghabiskan masa kecilnya.

Kabar duka menyebar cepat. Warga berdatangan, membanjiri rumah duka. Ada yang menangis, ada yang tersenyum mengenang.

Pemakaman dihadiri ribuan orang. Bukan hanya warga desa, tapi juga pejabat dari kabupaten, bahkan mantan bupati yang dulu pernah berkunjung.

Sambutan demi sambutan. Semua memuji jasa-jasanya.

Tapi yang paling mengharukan adalah saat Kirana berbicara.

"Arjuna, suamiku, kau sudah pergi. Tapi aku tahu kau tenang di sana. Kau sudah menyelesaikan tugasmu. Kau sudah menjadi suami yang baik, ayah yang hebat, dan pemimpin yang dicintai."

Ia berhenti, menyeka air mata.

"Selamat jalan, Jun. Sampai jumpa di sisi-Nya."

Tanah merah menutup liang lahat. Arjuna kembali ke tanah, ke desa yang dicintainya, untuk selama-lamanya.

****

Setelah pemakaman, keluarga menemukan buku catatan lama Arjuna. Buku yang selalu ia bawa sejak kecil, yang ia tulis hingga hari-hari terakhirnya.

Di halaman terakhir, ada tulisan tangan yang agak gemetar, mungkin ditulis beberapa hari sebelum ia pergi.

Hari ini aku melihat Bima. Dia sedang memimpin rapat di balai desa. Wajahnya serius, bicaranya tegas. Tapi matanya, matanya lembut. Seperti ibunya.

Aku tersenyum. Anakku kini menjadi pemimpin. Meneruskan apa yang dulu aku perjuangkan.

Hidup ini aneh. Dulu aku duduk di kursi kecil, menonton kakek bekerja. Kini anakku duduk di kursi yang dulu aku duduki. Roda waktu terus berputar.

Aku sudah tua. Mungkin sebentar lagi aku pergi. Tapi aku tidak takut. Aku sudah melakukan yang terbaik. Aku sudah mencintai dengan segenap hati. Aku sudah mengabdi pada desa yang membesarkanku.

Kalau nanti aku tiada, jangan bersedih. Kenanglah aku dengan senyum. Ingatlah semua cerita ini, dan bagikan pada anak cucu.

Sebab hidup ini bukan tentang berapa lama kita bernapas. Tapi tentang berapa banyak kita berarti bagi orang lain.

Selamat tinggal, Desa Awan Biru. Selamat tinggal, orang-orang yang kucintai.

Terima kasih untuk segalanya.

Arjuna.

Keluarga menangis membaca tulisan itu. Tapi mereka juga tersenyum. Arjuna telah pergi dengan damai, meninggalkan warisan yang tak ternilai: kisah hidup, teladan, dan cinta.

****

Tahun-tahun berlalu setelah kepergian Arjuna. Tapi namanya tidak pernah dilupakan.

Balai desa kini diberi nama "Balai Arjuna". Di depannya, didirikan patung kecil Arjuna sedang duduk membaca buku, seperti masa kecilnya dulu.

Setiap tahun, pada hari kelahirannya, warga mengadakan acara "Mengenang Arjuna". Mereka berkumpul di balai desa, mendengarkan kisah-kisah tentangnya, dan mendoakannya.

Bima menjadi kepala desa selama dua periode, meneruskan jejak ayahnya. Ia bahkan lebih maju: desa wisata yang dirintis Arjuna kini berkembang pesat, menjadi destinasi favorit di kabupaten.

Kirana tetap tinggal di rumah mereka, ditemani anak dan cucu. Ia masih aktif membina ibu-ibu desa, meneruskan program pemberdayaan yang dirintisnya dulu.

Suatu sore, cucu Arjuna yang masih kecil bertanya, "Nek, Kakek Arjuna itu orang hebat ya?"

Kirana tersenyum, menggendong cucunya. "Iya, Nak. Kakekmu orang hebat."

"Hebat apanya?"

"Hebat karena dia tidak pernah menyerah. Karena dia selalu berpikir untuk orang lain. Karena dia mencintai desa ini dengan segenap hati."

Cucu itu mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti.

Kirana memandangi langit senja, sama seperti yang selalu dilakukan Arjuna.

"Kakekmu sekarang di surga, Nak. Tapi ia selalu melihat kita. Dari sana, ia tersenyum."

****

Di sebuah sore yang tenang, berpuluh-puluh tahun setelah cerita ini dimulai, seorang anak kecil duduk di teras rumahnya. Di tangannya ada sebuah buku tua, buku catatan milik Arjuna, kakek buyutnya.

Ia membuka halaman demi halaman, membaca tulisan-tulisan usang itu. Meski belum semua ia mengerti, ada sesuatu yang menarik hatinya.

"Kak, lagi baca apa?" tawar adiknya.

"Ini buku catatan Kakek Arjuna."

"Ceritanya tentang apa?"

Tentang desa kita. Tentang perjuangan. Tentang... cinta."

Adiknya duduk di sampingnya. "Seru?"

"Iya. Seru."

Mereka membaca bersama di bawah langit senja. Langit yang sama yang dulu dilihat Arjuna saat masih kecil, saat remaja, saat dewasa, hingga akhir hayatnya.

Desa Awan Biru tetap tenang di bawah langit itu. Sawah-sawah menguning. Burung-burung terbang pulang. Anak-anak bermain di lapangan.

Dan cerita tentang Arjuna terus hidup, dari generasi ke generasi.

TAMAT


0 komentar:

Posting Komentar