Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Selasa, 10 Maret 2026

ANAK DESA YANG MENANTANG TAKDIR

 

ANAK DESA YANG MENANTANG TAKDIR

Novelet Perjuangan Seorang Anak Desa Melawan Keterbatasan Hidup dan Membawa Perubahan bagi Tanah Kelahirannya

 

Oleh: Slamet Riyadi

PROLOG

Pagi baru saja membuka matanya di sebuah desa kecil yang terletak jauh dari hiruk-pikuk kota. Matahari perlahan naik dari balik perbukitan hijau, menyinari hamparan sawah yang luas seperti permadani alam yang tak bertepi. Embun masih menempel di ujung-ujung daun padi, memantulkan cahaya yang lembut seperti butiran mutiara kecil yang berkilauan diterpa sinar mentari pagi. Burung-burung pipit terbang berkelompok dari satu pohon ke pohon lainnya, menyambut hari baru dengan kicauan riang yang menghiasi kesunyian desa.

Desa itu bernama Sumber Langit.

Nama yang terdengar indah, seolah-olah desa itu adalah tempat di mana langit menurunkan segala berkahnya. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Di balik keindahan alamnya yang memesona, desa itu menyimpan kisah panjang tentang keterbatasan, kemiskinan, dan perjuangan hidup yang tak pernah kenal lelah. Hamparan sawah yang hijau itu tidak selalu menjamin perut kenyang bagi para petani yang menggarapnya. Pemandangan bukit yang elok itu tidak bisa mengusir rasa cemas ketika musim paceklik tiba.

Jalan utama desa masih berupa tanah merah yang keras dan berdebu ketika kemarau, tetapi berubah menjadi lumpur licin yang membahayakan ketika hujan turun. Setiap kali musim hujan tiba, warga harus ekstra hati-hati melangkah. Banyak anak yang terjatuh dalam perjalanan ke sekolah. Banyak ibu-ibu yang mengeluh karena hasil kebunnya sulit dijual ke pasar akibat jalan yang becek dan licin. Sepeda motor pun jarang yang berani melintas, takut terpeleset atau terperosok ke dalam lubang yang tertutup genangan air.

Rumah-rumah penduduk berdiri sederhana, sebagian besar terbuat dari kayu dan bambu yang sudah mulai rapuh dimakan usia. Atap-atap seng yang telah berkarat berbunyi nyaring setiap kali angin kencang bertiup. Di malam hari, lampu minyak tanah masih menjadi penerang utama di banyak rumah karena listrik sering padam berjam-jam tanpa pemberitahuan. Sinyal telepon nyaris tak pernah stabil. Jika ingin menelepon atau mengirim pesan, warga harus berjalan ke tempat yang lebih tinggi, mencari titik di mana jaringan bisa ditangkap.

Sekolah hanya sampai tingkat dasar.

Sekolah Menengah Pertama yang terdekat berada di kecamatan, berjarak belasan kilometer dari desa. Setiap pagi, beberapa anak yang beruntung harus naik sepeda ontel atau berjalan kaki berjam-jam untuk bisa mengenyam pendidikan. Sisanya, kebanyakan memilih berhenti sekolah setelah lulus SD. Bukan karena tidak ingin melanjutkan, tetapi karena ongkos dan jarak menjadi penghalang yang terlalu berat.

Banyak anak desa yang akhirnya memilih meninggalkan tempat itu ketika mereka dewasa.

Mereka pergi ke kota.
Mencari pekerjaan.
Mencari kehidupan yang lebih baik.
Mencari mimpi yang tak bisa mereka raih di desa.

Dan jarang sekali ada yang kembali.

Setiap kali ada perantau yang pulang, hanya untuk beberapa hari saat lebaran atau ketika ada keluarga yang meninggal. Mereka datang dengan pakaian yang lebih bagus, dengan logat bicara yang sedikit berubah, dengan cerita tentang gemerlapnya kota. Tapi setelah itu, mereka pergi lagi. Meninggalkan desa yang tetap sama seperti dulu. Meninggalkan sawah-sawah yang tetap hijau namun tak cukup memberi harapan. Meninggalkan orangtua yang menua sendirian di rumah-rumah bambu yang semakin lapuk.

Desa Sumber Langit perlahan menjadi desa yang sunyi. Sunyi bukan karena tak ada orang, tetapi karena tak ada masa depan.

Namun di tengah sunyinya desa itu, masih ada yang percaya pada mimpi.

Di sebuah rumah kecil yang berdiri di pinggir sawah, kehidupan berjalan dengan kesederhanaan yang nyaris tanpa pilihan. Rumah itu tidak besar, tidak megah, bahkan bisa dibilang sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai kusam dimakan waktu dan cuaca. Beberapa bagian anyaman sudah longgar, membuat angin malam masuk tanpa permisi. Atapnya dari seng tua yang berbunyi keras setiap kali hujan turun, seperti genderang perang yang tak pernah berhenti memukul.

Lantainya masih tanah yang dipadatkan, dilapisi tikar bambu di beberapa sudut. Di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga, hanya ada sebuah dipan bambu tua yang digunakan untuk duduk-duduk dan menerima tamu. Di dinding, tergantung beberapa gambar usang: foto pernikahan yang sudah menguning, kalender tahun lalu yang tidak diganti, dan ijazah SD Arga yang dibingkai dengan kayu sederhana.

Namun di rumah itulah sebuah kisah besar akan dimulai.

Kisah tentang seorang anak kecil yang berani bermimpi di tengah keterbatasan.
Kisah tentang perjuangan melawan keadaan yang sudah dianggap takdir.
Kisah tentang keberanian untuk tidak menerima begitu saja apa yang diberikan hidup.
Kisah tentang cinta pada tanah kelahiran yang tak pernah padam.
Kisah tentang perjalanan panjang seorang anak desa yang ingin mengubah dunianya.

Di dalam rumah itu tinggal seorang petani bernama Pak Wiryo, istrinya Bu Ratri, dan seorang anak laki-laki kecil berusia tujuh tahun bernama Arga.

Pak Wiryo adalah lelaki sederhana dengan kulit yang legam terbakar matahari selama bertahun-tahun membajak sawah. Wajahnya diukir oleh garis-garis kerutan yang dalam, peta perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Tangannya kasar oleh kapalan dan retak-retak akibat kerja keras bertahun-tahun menggenggam cangkul dan sabit. Namun di balik fisiknya yang keras, tersimpan hati yang lembut dan penuh kasih.

Setiap hari ia pergi ke sawah sejak matahari belum sepenuhnya terbit, ketika ayam jantan baru saja mulai berkokok bergantian dari satu rumah ke rumah lainnya. Ia akan pulang ketika matahari sudah condong ke barat, dengan tubuh letih namun tetap menyempatkan diri bercanda dengan Arga sebelum beristirahat.

Sementara Bu Ratri adalah perempuan yang lembut tetapi tangguh. Tubuhnya kecil namun penuh energi. Ia membantu ekonomi keluarga dengan menjual sayur di pasar desa setiap pagi. Setiap pukul tiga dini hari, ia sudah bangun untuk memetik sayur dari kebun kecil di belakang rumah, lalu berjalan kaki ke pasar yang berjarak lima kilometer. Ia baru pulang menjelang siang, dengan sisa sayur yang tak terjual atau kadang hanya membawa uang pas-pasan.

Namun tak pernah sekalipun ia mengeluh. Setiap kali Arga bertanya apakah ibunya lelah, Bu Ratri hanya tersenyum dan berkata, "Ibu tidak lelah, Nak. Ibu bahagia bisa bekerja untukmu."

Mereka bukan orang kaya. Bahkan sering kali mereka harus menghitung setiap rupiah yang mereka miliki. Setiap pembelian harus dipikirkan matang-matang. Gula, kopi, minyak goreng—semua diukur dengan cermat agar cukup sampai akhir minggu. Daging hanya muncul di meja makan sekali atau dua kali setahun, saat Idul Fitri atau Idul Adha. Hari-hari biasa, mereka hanya makan nasi dengan sayur dari kebun dan sedikit tempe atau tahu.

Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga dari harta benda.
Mereka memiliki kasih sayang yang tulus. Mereka memiliki keyakinan bahwa kerja keras akan membuahkan hasil. Mereka memiliki harapan.

Harapan bahwa suatu hari nanti, kehidupan akan lebih baik. Harapan bahwa anak mereka tidak akan mengalami pahitnya hidup seperti mereka. Harapan bahwa dari desa kecil ini, akan lahir sesuatu yang besar.

Suatu pagi, ketika matahari baru saja muncul dari peraduannya, Arga kecil duduk di tangga rumahnya sambil memperhatikan ayahnya yang sedang menyiapkan cangkul dan alat-alat pertanian lainnya. Pak Wiryo membetulkan ikat pinggangnya, memastikan golok kecil di pinggangnya terpasang kuat, lalu mengikatkan topi caping di kepala.

"Pak..." panggil Arga dengan suara polos khas anak seusianya.

Pak Wiryo menoleh. Wajahnya yang sudah mulai keriput itu tersenyum melihat anak semata wayangnya.

"Iya, Le?"

Arga menatap sawah yang terbentang luas di depan rumah mereka, hamparan hijau yang bergelombang tertiup angin pagi. Padi-padi mulai menguning di beberapa bagian, tanda bahwa musim panen akan segera tiba.

"Kenapa kita selalu bekerja di sawah?"

Pak Wiryo berhenti sejenak. Pertanyaan seperti ini jarang keluar dari mulut anak seusia Arga. Ia berjalan mendekati anaknya lalu ikut duduk di tangga bambu, meletakkan cangkul di sampingnya.

"Karena sawah ini yang memberi kita makan, Le." Jawabnya pelan. "Lihat itu padi. Dari situlah kita mendapatkan beras untuk kita makan sehari-hari."

Arga mengangguk, berpikir sejenak. Matanya yang bulat dan bening menatap ayahnya dengan serius.

"Apakah aku juga harus jadi petani seperti Bapak nanti?"

Pertanyaan itu membuat Pak Wiryo terdiam cukup lama. Ia menatap anaknya, melihat sorot mata yang penuh rasa ingin tahu. Di dalam hatinya, ia berharap anaknya tidak mengalami kerasnya hidup sebagai petani seperti dirinya. Namun ia juga tidak ingin anaknya tumbuh dengan perasaan malu pada pekerjaan orang tuanya.

"Kalau kamu mau jadi petani, tidak ada yang salah dengan itu, Le." Katanya akhirnya, dengan suara yang dalam dan bijak. "Menjadi petani itu pekerjaan mulia. Kita memberi makan orang banyak. Tapi..."

Ia berhenti, mencari kata-kata yang tepat.

"Tapi kalau kamu punya mimpi yang lebih besar, kejarlah mimpi itu. Jangan biarkan siapa pun meremehkan mimpimu hanya karena kamu anak petani."

"Mimpi?" tanya Arga, mengernyitkan dahi kecilnya. "Mimpi itu apa, Pak?"

Pak Wiryo tersenyum. Ia menunjuk ke arah langit biru yang luas, di mana beberapa burung terbang melintas dengan bebasnya.

"Dunia ini lebih besar dari desa kita, Le. Jauh lebih besar. Di luar sana ada banyak hal yang tidak pernah kita lihat. Ada gedung-gedung tinggi, ada sekolah-sekolah besar, ada orang-orang pintar yang menciptakan banyak hal. Nah, kalau kamu ingin melihat semua itu suatu hari nanti, itulah mimpi."

Arga menatap langit dengan mata yang tiba-tiba berbinar. Ia membayangkan apa yang dikatakan ayahnya. Gedung-tinggi? Sekolah besar? Semua itu seperti cerita dongeng yang belum pernah ia lihat secara langsung.

"Tapi bagaimana caranya, Pak?"

Pak Wiryo menghela napas. Ia tahu jalan menuju mimpi itu tidak akan mudah untuk anaknya. Tapi ia juga tahu, jika tidak dimulai dari sekarang, mungkin anaknya akan terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sama seperti dirinya.

"Caranya adalah dengan belajar, Le. Belajar yang rajin di sekolah. Baca buku sebanyak-banyaknya. Tanya kalau ada yang tidak mengerti. Karena hanya dengan ilmu, kamu bisa pergi jauh."

Arga mengangguk pelan, meskipun belum sepenuhnya mengerti. Namun kata-kata ayahnya menempel di dalam hatinya seperti benih kecil yang suatu hari akan tumbuh menjadi pohon besar.

Percakapan itu mungkin hanya percakapan biasa antara ayah dan anak. Namun bagi Arga, itu adalah awal dari segalanya. Itu adalah percikan pertama api mimpi yang akan terus menyala sepanjang hidupnya.

Hari-hari berlalu dengan sederhana di Desa Sumber Langit. Arga tumbuh sebagai anak desa biasa. Ia bermain di sungai bersama teman-temannya, berenang di air yang jernih sambil mencari ikan kecil dengan tangan kosong. Ia berlari-lari di pematang sawah, kadang terjatuh dan berlumuran lumpur. Ia membantu ibunya membawa sayur dari kebun, atau sesekali ikut ayahnya ke sawah hanya untuk bersenang-senang di pinggir pematang.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya dibanding anak-anak seusianya.

Ia selalu ingin tahu banyak hal.

Ketika melihat burung terbang, ia bertanya mengapa burung bisa terbang sementara manusia tidak. Ketika melihat air sungai mengalir, ia bertanya dari mana air itu berasal dan ke mana perginya. Ketika malam tiba dan langit penuh bintang, ia bertanya apa sebenarnya bintang-bintang itu dan mengapa ada yang berkelap-kelip.

Pertanyaan-pertanyaan itu sering membuat orang tuanya bingung menjawab. Mereka hanya orang desa dengan pendidikan terbatas. Tapi mereka tidak pernah melarang Arga bertanya. Mereka selalu berusaha menjawab sebisanya, atau menyuruh Arga bertanya pada guru di sekolah.

Dan pertanyaan-pertanyaan itu semakin lama semakin dalam.

Mengapa desa mereka tertinggal?
Mengapa jalan desa rusak dan tidak pernah diperbaiki?
Mengapa listrik sering padam?
Mengapa banyak anak tidak bisa melanjutkan sekolah?
Mengapa pemuda-pemuda desa pergi merantau dan tidak kembali?
Mengapa desa mereka seperti terlupakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul di kepalanya, terutama ketika ia melihat ketimpangan antara desanya dan desa-desa lain yang lebih maju.

Suatu sore, ketika Arga berusia sepuluh tahun, ia berdiri di sebuah bukit kecil di pinggir desa. Dari sana ia bisa melihat hampir seluruh desa Sumber Langit. Rumah-rumah kecil dengan atap seng yang kusam. Sawah yang luas dengan padi yang siap panen. Jalan tanah yang berkelok-kelok seperti ular. Sungai kecil yang membelah desa. Dan anak-anak kecil yang bermain di halaman rumah tanpa memikirkan masa depan mereka.

Angin sore bertiup pelan, membawa aroma khas pedesaan: campuran antara tanah basah, padi, dan asap dapur dari rumah-rumah penduduk yang mulai memasak untuk makan malam.

Arga memandang jauh ke arah cakrawala, di mana matahari perlahan tenggelam di balik bukit.

Di dalam hatinya, tanpa ia sadari, sebuah mimpi mulai lahir. Mimpi yang sederhana.
Namun juga sangat besar.

Ia ingin suatu hari nanti membuat desanya berubah. Ia ingin desa Sumber Langit tidak lagi menjadi desa yang tertinggal dan terlupakan. Ia ingin anak-anak desa memiliki masa depan yang lebih baik, tidak harus merantau ke kota untuk mencari kehidupan. Ia ingin jalan desa mulus, listrik tidak pernah padam, sekolah yang bagus, dan masa depan yang cerah bagi semua orang.

Mimpi itu mungkin terdengar naif untuk anak seusianya. Tapi itulah mimpi yang lahir dari hati seorang anak yang mencintai tanah kelahirannya.

Saat itu Arga masih terlalu kecil untuk memahami betapa panjang dan berat perjalanan yang harus ia tempuh untuk mewujudkan mimpi itu. Ia belum tahu bahwa hidup akan memberinya banyak ujian, cobaan, dan air mata. Ia belum tahu bahwa ia akan kehilangan orang yang paling ia cintai di tengah perjalanan. Ia belum tahu bahwa dunia di luar desa jauh lebih keras dan kejam daripada yang ia bayangkan. Ia belum tahu bahwa akan ada banyak orang yang mencoba menghalanginya, meremehkannya, bahkan menjatuhkannya.

Namun satu hal yang pasti.
Mimpi itu sudah lahir. Dan ia akan berjuang untuk mewujudkannya.

Di desa kecil yang hampir terlupakan oleh dunia itu, seorang anak petani sedang memulai perjalanan hidupnya. Perjalanan panjang yang penuh onak dan duri. Perjalanan yang akan mengubah bukan hanya hidupnya sendiri, tetapi juga nasib seluruh desanya.

Dan dari tempat sederhana itu lahirlah sebuah kisah.
Kisah tentang keberanian.
Kisah tentang mimpi.
Kisah tentang kerja keras.
Kisah tentang pengorbanan.
Kisah tentang cinta pada tanah kelahiran.
Kisah tentang seorang anak desa yang berani menantang takdir.

BAGIAN I

Pagi di Desa Sumber Langit selalu datang dengan cara yang sederhana namun indah. Matahari muncul perlahan dari balik perbukitan, memancarkan cahaya hangat berwarna keemasan yang menyentuh hamparan sawah yang luas. Embun masih menempel di daun-daun padi, berkilauan seperti berlian kecil ketika terkena sinar matahari. Kabut tipis masih menyelimuti beberapa bagian desa, menambah kesan misterius dan damai pada pemandangan pagi itu. Angin pagi membawa aroma tanah basah yang menenangkan, bercampur dengan wangi bunga-bunga liar yang tumbuh di pinggir-pinggir sawah.

Burung-burung pipit beterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya, menyambut hari baru dengan kicauan riang yang berpadu dengan kokok ayam yang bersahutan dari berbagai penjuru desa. Sesekali terdengar suara kerbau yang melenguh dari kandang-kandang petani, atau suara orang-orang yang mulai beraktivitas di dapur masing-masing. Asap mengepul dari cerobong-cerobong dapur sederhana, pertanda bahwa ibu-ibu sudah mulai memasak untuk sarapan keluarga.

Di pinggir sawah itulah berdiri sebuah rumah kecil yang terbuat dari bambu.

Rumah itu tidak besar, bahkan bisa dibilang sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai pudar warnanya dimakan usia dan cuaca. Beberapa bagian anyaman sudah mulai longgar, meninggalkan celah-celah kecil yang menjadi jalan masuk angin di malam hari. Atap sengnya tampak kusam dan berkarat di beberapa bagian, dengan beberapa lubang kecil yang telah ditambal dengan potongan seng bekas atau bahkan daun rumbia.

Di depan rumah, ada beranda kecil yang juga terbuat dari bambu. Di beranda itulah keluarga kecil ini biasa duduk-duduk di sore hari, menikmati angin sepoi-sepoi sambil memandangi hamparan sawah yang terbentang luas. Beberapa pot tanaman sederhana—bunga-bunga liar yang ditanam Bu Ratri dalam kaleng bekas—menghiasi sudut beranda, memberi sedikit warna pada kesederhanaan rumah itu.

Lantai rumah masih berupa tanah yang dipadatkan, namun ditutupi tikar pandan di beberapa ruangan. Perabotan di dalamnya sangat sederhana: beberapa dipan bambu untuk duduk dan tidur, sebuah meja kayu kecil yang sudah usang, lemari pakaian dari kayu lapis yang catnya sudah mengelupas, serta peralatan dapur seadanya yang tersusun rapi di sudut dapur.

Namun rumah itu selalu dipenuhi kehangatan.

Bukan kehangatan dari selimut tebal atau pakaian bagus, melainkan kehangatan dari kasih sayang yang mengalir di antara penghuninya. Di rumah itulah tawa Arga kecil selalu terdengar setiap kali ayahnya bercanda atau ibunya menyanyikan lagu-lagu sederhana. Di rumah itulah cerita-cerita tentang masa lalu diceritakan berulang-ulang, tentang bagaimana Pak Wiryo dan Bu Ratri muda dulu berjuang membangun kehidupan dari nol.

Di rumah itulah tinggal Arga, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, bersama kedua orang tuanya: Pak Wiryo dan Bu Ratri.

Pak Wiryo sudah bangun sejak subuh, seperti biasa. Sebagai petani, ia tidak mengenal hari libur. Sawah tidak mengenal minggu atau hari raya. Padi harus dirawat setiap hari, air harus diatur, rumput liar harus dibersihkan, hama harus diusir. Semua itu tidak bisa ditunda-tunda.

Ia berdiri di depan rumah sambil mengikatkan kain di kepalanya—sebuah cara sederhana untuk menahan terik matahari yang sebentar lagi akan memanggang sawah. Tangannya memegang cangkul yang sudah lama menemaninya bekerja, dengan gagang kayu yang sudah halus karena bertahun-tahun digenggam. Di pinggangnya terselip sabit untuk memotong rumput atau ranting yang mengganggu.

Di sampingnya, tergeletak keranjang anyaman bambu yang akan digunakan untuk membawa hasil panen atau rumput untuk pakan ternak. Pak Wiryo memang tidak punya kerbau atau sapi, tapi ia memelihara beberapa ekor kambing di kandang kecil di belakang rumah.

Arga keluar dari rumah sambil mengucek-ngucek matanya yang masih berat. Rambutnya masih awut-awutan, belum disisir. Ia berjalan tertatih menuju ayahnya, lalu duduk di tangga bambu sambil menguap lebar.

"Bapak sudah mau ke sawah?" tanyanya dengan suara masih serak karena baru bangun tidur.

Pak Wiryo menoleh dan tersenyum melihat anaknya yang masih setengah mengantuk. Di matanya, tidak ada yang lebih indah dari pemandangan ini: anaknya yang sehat, rumahnya yang sederhana namun hangat, dan hari baru yang menanti.

"Iya, Le. Padi tidak akan tumbuh kalau Bapak hanya tidur di rumah."

Arga tertawa kecil dengan suara khas anak-anak. Ia menggeliat, mencoba mengusir rasa kantuk yang masih tersisa. Matanya mulai terbuka lebar, menangkap pemandangan sawah yang luas di depannya.

"Bapak tidak capek bekerja setiap hari?" tanya Arga lagi. Pertanyaan itu sudah sering ia lontarkan, namun ia selalu penasaran dengan jawaban ayahnya.

Pak Wiryo berhenti sejenak dari aktivitasnya. Ia meletakkan cangkul, lalu berjalan mendekati Arga. Ia duduk di samping anaknya di tangga bambu itu, merasakan kayu yang sedikit lembab karena embun pagi.

"Capek itu biasa, Nak." Jawabnya pelan, dengan suara yang dalam dan penuh makna. "Tapi kalau kita bekerja untuk keluarga, capek itu terasa ringan. Bapak capek, tapi Bapak tahu kalau hasil dari kerja Bapak bisa buat kamu makan, bisa buat kamu sekolah. Itu yang membuat capek Bapak jadi hilang."

Arga mengangguk pelan, meskipun mungkin belum sepenuhnya mengerti filosofi di balik kata-kata ayahnya. Tapi ia mengerti satu hal: ayahnya bekerja keras untuk keluarganya.

Tak lama kemudian Bu Ratri keluar dari dapur sambil membawa nasi hangat dan sayur sederhana di atas nampan bambu. Rambutnya disanggul sederhana, dan sarung yang ia kenakan masih bersih meskipun sudah lusuh dimakan usia. Wajahnya masih segar meskipun ia sudah bangun sejak pukul tiga pagi untuk memasak dan menyiapkan dagangan sayurnya.

"Wiryo, makan dulu sebelum ke sawah." Katanya lembut sambil meletakkan nampan di lantai beranda.

Pak Wiryo bangkit dan duduk di dekat nampan. Arga ikut duduk di sampingnya. Mereka makan bersama dengan sederhana. Tidak ada lauk mewah di atas meja: hanya nasi putih hangat, sayur bayam bening dengan sedikit jagung pipilan, dan beberapa potong ikan asin yang digoreng garing. Sambal terasi di mangkuk kecil melengkapi hidangan sederhana itu.

Namun mereka makan dengan rasa syukur yang besar.

"Ini enak sekali, Bu." Puji Pak Wiryo sambil menyendok sayur bayam ke mulutnya.

Bu Ratri tersenyum senang mendengar pujian suaminya. "Syukurlah kalau Bapak suka. Ini bayamnya baru petik dari kebun tadi pagi. Masih segar."

"Ibu, ikan asinnya yang ini buat Arga ya?" tanya Arga sambil menunjuk ikan asin yang paling besar di piring.

Bu Ratri dan Pak Wiryo saling pandang, lalu tersenyum. "Iya, Le. Makan yang banyak biar cepat besar."

Arga makan dengan lahap, sesekali mencelupkan ikan asin ke sambal meskipon lidahnya kepedasan. Melihat itu, Bu Ratri segera mengambil air minum untuk anaknya.

"Pelan-pelan, Le. Nanti kepedasan."

Arga menerima air itu dan meminumnya dengan tergesa-gesa. "Ih, pedasnya nendang, Bu!" katanya sambil menjulurkan lidah.

Mereka tertawa bersama. Tawa yang hangat di pagi yang cerah.

Bagi keluarga kecil itu, kebersamaan jauh lebih penting daripada kemewahan. Mereka tidak punya banyak harta, tapi mereka punya satu sama lain. Mereka tidak punya meja makan besar, tapi mereka punya tikar sederhana yang bisa digunakan untuk makan bersama. Mereka tidak punya piring mahal, tapi mereka punya nasi hangat yang bisa mengenyangkan perut.

Di tengah kesederhanaan itulah Arga tumbuh.

Ia tidak memiliki banyak mainan seperti anak-anak kota. Tidak ada robot-robotan, tidak ada mobil-mobilan, tidak ada boneka mahal. Tapi ia memiliki alam sebagai tempat bermainnya. Sungai dengan air jernihnya, sawah dengan lumpurnya, pohon-pohon dengan buah-buah liar yang bisa dipetik.

Ia tidak memiliki pakaian bagus seperti yang dijual di toko-toko kota. Kebanyakan pakaiannya adalah pemberian dari tetangga atau kerabat, yang sudah dipakai berkali-kali dan diwariskan. Tapi ibunya selalu menjahitkan tambalan di bagian yang sobek, mencuci hingga bersih, dan menyetrikanya dengan rapi.

Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak anak lain: kasih sayang orang tua yang tulus dan semangat untuk belajar yang tak pernah padam.

Setelah sarapan, Pak Wiryo berangkat ke sawah. Arga melambai dari beranda, melihat ayahnya berjalan menyusuri pematang dengan langkah tegap meskipun tubuhnya sudah mulai renta.

"Bapak, pulangnya jangan sore-sore!" teriak Arga.

"Iya, Le!" jawab Pak Wiryo sambil tetap berjalan.

Arga kemudian membantu ibunya membereskan piring-piring kotor. Meskipun hanya membawa piring ke dapur, ia melakukannya dengan senang hati. Bu Ratri selalu mengajarinya untuk membantu pekerjaan rumah sejak kecil.

"Nak, nanti kamu mandi ya. Terus siap-siap ke sekolah. Ibu mau ke pasar dulu." Kata Bu Ratri sambil mengemas sayur-mayur ke dalam keranjang besar.

"Iya, Bu. Arga nanti mandi sendiri."

Bu Ratri mencium kening anaknya sebelum pergi. "Hati-hati di sekolah. Jangan nakal ya."

"Arga nggak nakal, Bu. Arga anak baik."

Bu Ratri tersenyum dan segera berangkat ke pasar dengan keranjang sayur di tangannya. Ia harus berjalan kaki sejauh lima kilometer ke pasar desa, tempat ia biasa menjual sayur dari kebunnya. Jika beruntung, dagangannya akan laku sebelum siang. Jika tidak, ia harus pulang dengan sisa sayur dan uang yang pas-pasan.

Arga duduk sendirian di beranda setelah ibunya pergi. Ia memandangi sawah yang luas di depannya. Angin pagi masih bertiup sepoi-sepoi, membuat bulir-bulir padi bergoyang lembut. Di kejauhan, ia bisa melihat beberapa petani yang sudah mulai bekerja. Ada yang mencangkul, ada yang membersihkan rumput, ada pula yang mengatur air di pematang sawah.

Dalam benak Arga yang masih kecil, pemandangan itu biasa saja. Ia belum mengerti bahwa dari pemandangan sederhana inilah, dari rumah bambu di pinggir sawah inilah, sebuah perjalanan panjang akan dimulai. Perjalanan yang akan membawanya ke tempat-tempat yang jauh, ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia belum tahu bahwa kelak ia akan merindukan pemandangan ini ketika berada jauh di perantauan. Ia akan merindukan suara burung pipit di pagi hari, aroma tanah basah setelah hujan, dan hamparan sawah yang hijau terbentang luas. Ia akan merindukan rumah bambu sederhana ini lebih dari apa pun di dunia.

Tapi itu semua masih jauh di masa depan.

Saat ini, Arga hanyalah seorang anak kecil yang harus bersiap-siap ke sekolah. Ia bangkit, masuk ke dalam rumah, mengambil handuk dan gayung, lalu menuju ke sumur di belakang rumah untuk mandi.

Sekolah dasar di Desa Sumber Langit bernama SD Negeri Sumber Langit. Sekolah itu terletak hampir tiga kilometer dari rumah Arga, di ujung desa dekat perbatasan dengan desa tetangga. Bangunannya sederhana, hanya beberapa ruang kelas dari papan kayu dengan atap genting yang sudah banyak berlumut. Halamannya luas, dengan dua pohon besar yang memberikan keteduhan di siang hari.

Setiap pagi, Arga harus berjalan kaki melewati pematang sawah yang sempit, jalan tanah yang berdebu atau becek tergantung musim, dan sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu tua yang sudah mulai rapuh. Jembatan itu hanya cukup untuk dilalui pejalan kaki atau sepeda, dengan papan-papan kayu yang jika diinjak mengeluarkan bunyi "krek-krek" seperti akan patah.

Hari itu matahari baru saja terbit ketika Arga berangkat bersama beberapa temannya. Mereka berjalan berkelompok, berbincang dan bercanda di sepanjang jalan. Ada Bima, anak gemuk yang suka makan dan paling senang bercerita tentang makanan. Ada Joko, anak yang pendiam tapi pintar memancing di sungai. Ada Wati dan Siti, dua perempuan kembar yang selalu kompak dalam segala hal. Kadang-kadang ada juga beberapa anak lain yang bergabung, tergantung siapa yang berangkat lebih pagi.

Tas Arga sangat sederhana, terbuat dari kain bekas yang dijahit oleh ibunya menjadi bentuk tas. Warna aslinya mungkin biru, tapi sekarang sudah pudar menjadi abu-abu kebiruan. Beberapa bagian sudah ditambal dengan kain perca berbagai warna. Tali tasnya sudah beberapa kali putus dan disambung, sehingga panjangnya tidak sama.

Di dalam tas itu hanya ada beberapa buku tulis yang sudah dihapus dan dipakai ulang beberapa kali, sebuah pensil pendek yang sudah sering diraut hingga hampir habis, sebuah penghapus kecil yang sudah aus, dan bekal makanan sederhana: nasi dengan sedikit sayur dan sambal, dibungkus daun pisang.

Di tengah perjalanan, Bima yang paling cerewet mulai bertanya-tanya.

"Ga, kamu nggak capek jalan jauh setiap hari?" tanyanya sambil terengah-engah. Badannya yang gemuk membuatnya cepat lelah, apalagi berjalan di pematang sawah yang naik turun.

Arga menggeleng dengan mantap. "Nggak capek. Aku malah senang."

"Senang?" Bima mengerutkan dahi, tidak mengerti. "Senang apanya?"

Arga menunjuk ke arah sekolah yang terlihat kecil di kejauhan. Di balik gedung sekolah itu, terlihat bukit-bukit hijau yang menjulang dengan awan-awan putih bergelayut manis di puncaknya.

"Karena di sana aku bisa belajar banyak hal. Kata guru, dengan belajar, kita bisa tahu banyak hal tentang dunia."

Bima tertawa kecil, nada tawanya agak mengejek. "Belajar itu membosankan. Aku lebih suka main di sungai, mancing, atau nyari belut di sawah."

Beberapa teman yang lain tertawa mendengar celetukan Bima. Mereka kebanyakan setuju dengan Bima. Belajar dianggap membosankan, sementara bermain jauh lebih menyenangkan.

Arga tidak menjawab. Ia justru terus berjalan dengan langkah ringan, sesekali menoleh ke kanan kiri menikmati pemandangan. Baginya, setiap perjalanan ke sekolah adalah petualangan kecil yang menyenangkan. Ia suka melihat capung beterbangan di atas sawah, atau burung-burung kecil yang mandi di genangan air. Ia suka menghitung jenis tanaman yang tumbuh di pinggir jalan, atau memperhatikan kehidupan semut-semut yang berbaris rapi membawa makanan.

Ketika mereka melewati jembatan kayu yang biasa mereka lalui, tiba-tiba Wati yang paling penakut berteriak.

"Awas! Papannya goyang!"

Benar saja, salah satu papan kayu di jembatan itu sudah longgar. Jika diinjak di ujung yang salah, papan itu bisa terbalik dan membuat orang terjatuh ke sungai di bawahnya. Sungai itu tidak terlalu dalam, tapi airnya cukup deras dan penuh batu-batu besar.

Mereka berhenti, bingung harus bagaimana. Bima yang paling gemuk mulai panik.

"Gimana dong? Aku nggak berani lewat."

Joko, yang paling tenang di antara mereka, maju ke depan. Ia mengamati jembatan itu dengan saksama, mencari tahu bagian mana yang aman untuk dilewati.

"Kita harus lewat satu-satu. Pegangan erat-erat di tali bambu ini." Katanya sambil menunjuk tali bambu yang berfungsi sebagai pegangan di sisi jembatan.

Satu per satu mereka menyeberang dengan hati-hati. Joko paling depan, menunjukkan jalan yang aman. Disusul Wati dan Siti yang berpegangan tangan erat. Kemudian Bima, yang hampir terjatuh karena badannya yang berat membuat papan bergoyang lebih keras. Arga paling belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal atau kesulitan.

Setelah semua berhasil menyeberang, mereka menghela napas lega. Bima langsung duduk di rerumputan, mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Aku hampir jatuh tadi!" katanya sambil memegangi dadanya.

Mereka tertawa bersama, melepaskan ketegangan.

Perjalanan dilanjutkan. Mereka melewati kebun-kebun penduduk, sawah-sawah yang mulai menguning, dan beberapa rumah penduduk yang masih sepi karena penghuninya sudah pergi ke sawah atau ke pasar. Anjing-anjing kampung menggonggong dari kejauhan, tapi tidak berani mendekat karena sudah kenal dengan anak-anak ini.

Ketika mereka sampai di sekolah, bel masuk baru saja berbunyi. Mereka berlari menuju kelas masing-masing, tidak ingin terlambat.

Sekolah itu sangat sederhana. Bangunannya dari papan kayu yang catnya sudah mulai pudar. Lantainya dari semen kasar yang di beberapa tempat sudah retak-retak. Atapnya dari genting yang jika hujan turun, sering bocor di beberapa titik. Murid-murid harus pintar-pintar memilih tempat duduk agar tidak kehujanan saat pelajaran berlangsung.

Ruang kelas Arga tidak terlalu besar. Mungkin hanya cukup untuk dua puluh murid, tapi diisi oleh dua puluh lima sampai tiga puluh anak. Bangku dan meja dari kayu yang sudah tua, dengan coretan-coretan bekas murid-murid sebelumnya. Papan tulisnya dari papan hitam yang sudah mulai keputihan di beberapa bagian, kapur tulisnya sering habis dan harus dibeli sendiri oleh murid.

Namun di tempat itulah banyak mimpi kecil tumbuh. Di tempat itulah anak-anak desa belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengenal dunia yang lebih luas melalui buku-buku pelajaran yang terbatas.

Di dalam kelas, Arga selalu duduk di bangku paling depan. Bukan karena ia murid terkecil, tapi karena ia ingin dekat dengan guru dan papan tulis. Ia ingin bisa melihat dan mendengar dengan jelas semua yang diajarkan.

Pak Darma, guru kelasnya, sudah siap di depan kelas dengan buku pegangan di tangannya. Pak Darma adalah guru yang sudah tua, mungkin usianya sudah mendekati lima puluh tahun. Rambutnya sudah mulai memutih di beberapa bagian, dan kacamatanya tebal dengan bingkai hitam yang sudah kusam. Tapi semangatnya mengajar tidak pernah pudar.

"Hari ini kita akan belajar tentang Indonesia." Katanya memulai pelajaran. "Indonesia adalah negara kita. Negara yang luas, dari Sabang sampai Merauke."

Ia lalu membuka peta besar yang digantung di dinding. Peta itu sudah tua dan robek di beberapa bagian, tapi masih bisa dilihat dengan jelas. Pak Darma menunjuk titik-titik di peta, menjelaskan nama-nama pulau, ibu kota provinsi, dan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia.

Arga memperhatikan setiap kata yang diucapkan Pak Darma dengan penuh perhatian. Matanya mengikuti ke mana pun jari Pak Darma menunjuk. Pikirannya membayangkan bagaimana rasanya berada di tempat-tempat yang disebutkan: Jakarta yang katanya penuh gedung pencakar langit, Surabaya dengan kotanya yang sibuk, Bali dengan pantainya yang indah, Papua dengan alamnya yang masih perawan.

Ia begitu terpesona sampai tidak sadar bahwa pelajaran sudah selesai. Pak Darma menutup buku dan berkata, "Itu saja untuk hari ini. Besok kita lanjutkan lagi."

Murid-murid berhamburan keluar kelas untuk istirahat. Mereka membawa bekal masing-masing, duduk di bawah pohon atau di teras kelas, makan bersama sambil bercanda.

Arga tetap di dalam kelas. Ia membuka buku catatannya, membaca ulang apa yang baru saja ia tulis. Tulisannya belum rapi, karena pensil pendeknya sering membuat tangannya pegal. Tapi ia berusaha menulis sebaik mungkin.

Ketika jam istirahat hampir habis, Pak Darma yang baru kembali ke kelas melihat Arga masih duduk sendirian di bangku paling depan. Anak itu sedang membaca buku pinjaman dari perpustakaan kecil sekolah, sebuah buku tentang penjelajahan laut yang sudah lusuh.

"Arga," panggil Pak Darma.

Arga segera berdiri, meletakkan bukunya di atas meja. "Iya, Pak."

"Kenapa kamu tidak istirahat di luar? Teman-temanmu pada bermain."

Arga menjawab dengan polos, dengan nada suara yang mantap meskipun masih kecil. "Saya ingin membaca buku ini, Pak. Pinjamannya hanya boleh seminggu, saya ingin cepat selesai."

Pak Darma tersenyum. Ia mendekati Arga dan duduk di bangku di depannya. "Buku apa itu?"

"Buku tentang pelaut, Pak. Cerita orang-orang yang berlayar ke pulau-pulau jauh."

"Kamu suka membaca?"

"Suka sekali, Pak. Tapi bukunya sedikit di perpustakaan."

Pak Darma mengangguk mengerti. Perpustakaan sekolah memang sangat sederhana. Hanya satu rak buku kecil dengan koleksi yang terbatas. Kebanyakan buku-buku sumbangan yang sudah tua dan lusuh.

"Kamu anak yang rajin, Arga. Bapak senang melihat semangat belajarmu." Pak Darma menepuk pundak Arga dengan lembut. "Teruskan semangat itu. Dengan belajar, kamu bisa meraih apa pun yang kamu inginkan."

Arga tersenyum lebar, senang mendapat pujian dari gurunya. "Terima kasih, Pak."

Pak Darma beranjak pergi, tapi beberapa langkah kemudian ia berhenti dan menoleh. "Arga, nanti sore kamu ke rumah Bapak ya. Bapak punya beberapa buku bekas dari keponakan Bapak di kota. Mungkin kamu suka."

Mata Arga berbinar-binar. "Sungguh, Pak?"

"Sungguh. Tapi kamu harus tetap rajin belajar."

"Iya, Pak. Arga janji."

Hari itu Arga tidak sabar menunggu waktu pulang sekolah. Ia terus membayangkan buku-buku apa yang akan ia dapat dari Pak Darma. Mungkin buku cerita? Atau buku pengetahuan? Atau mungkin buku pelajaran yang lebih lengkap?

Apapun itu, ia sudah sangat bersyukur. Di desa yang serba terbatas ini, sebuah buku adalah harta yang tak ternilai.

Pak Darma bukanlah guru biasa. Ia adalah salah satu guru yang sudah lama mengajar di desa itu, mungkin lebih dari dua puluh tahun. Ia datang ke Desa Sumber Langit ketika masih muda, dengan semangat membara untuk mengabdi. Dan hingga rambutnya memutih, ia masih setia mengajar di sekolah sederhana itu.

Banyak tawaran pindah ke kota yang datang padanya. Dengan pengalaman dan kemampuannya, ia pasti bisa mendapatkan posisi yang lebih baik di sekolah-sekolah kota. Tapi ia selalu menolak. Ia merasa terpanggil untuk tetap di desa, mengajar anak-anak yang mungkin tidak akan mendapat pendidikan yang layak jika tidak ada guru seperti dirinya.

"Desa ini membutuhkan guru." Katanya suatu kali ketika ditanya kenapa tidak pindah. "Anak-anak di sini tidak kalah pintar dari anak-anak kota. Mereka hanya kurang kesempatan. Tugas sayalah memberi mereka kesempatan itu."

Pak Darma sering memperhatikan Arga di kelas. Anak itu selalu duduk paling depan, selalu memperhatikan dengan saksama, selalu mencatat dengan rapi, dan selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas. Ketika teman-temannya mengantuk atau melamun, Arga tetap fokus. Ketika teman-temannya malas mengerjakan PR, Arga selalu mengumpulkan tugas tepat waktu.

Suatu hari setelah pelajaran selesai, Pak Darma memanggil Arga untuk tetap tinggal sebentar. Murid-murid lain sudah pulang, kelas menjadi sepi.

"Arga, sini sebentar, Nak."

Arga mendekat, agak gugup. Apa mungkin ia melakukan kesalahan? Tapi wajah Pak Darma tersenyum ramah, tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan.

"Iya, Pak?"

Pak Darma mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah buku. Bukan buku biasa, tapi buku yang cukup tebal dengan sampul yang masih bagus. Judulnya "Kisah-Kisah Inspiratif dari Seluruh Dunia".

"Ini buat kamu." Kata Pak Darma sambil menyerahkan buku itu.

Arga menerimanya dengan hati-hati, seolah memegang benda yang sangat berharga. Matanya membelalak melihat buku itu. Sampulnya bergambar orang-orang dari berbagai negara dengan pakaian tradisional mereka. Kertasnya putih dan halus, bukan kertas buram seperti buku-buku pelajarannya.

"Ini... ini untuk saya, Pak?" tanyanya tidak percaya.

"Iya. Bapak dapat dari keponakan di kota. Bapak pikir kamu akan suka membaca buku ini. Ada banyak cerita tentang orang-orang biasa yang berhasil meraih mimpi besar."

Arga membuka buku itu perlahan. Halaman pertamanya bergambar seorang anak miskin dari Afrika yang kemudian menjadi dokter terkenal. Ia membaca sekilas cerita itu, hatinya berdebar-debar.

"Terima kasih, Pak!" ucapnya dengan mata berkaca-baca. "Terima kasih banyak."

Pak Darma tersenyum, hatinya hangat melihat antusiasme murid kesayangannya itu. "Sama-sama, Arga. Kamu anak yang pintar, dan yang lebih penting, kamu punya rasa ingin tahu yang besar. Itu modal yang sangat berharga."

Arga menunduk sedikit, merasa malu dipuji. "Saya hanya ingin belajar, Pak. Saya ingin tahu banyak hal."

"Itu bagus. Orang yang ingin tahu akan terus belajar sepanjang hidupnya." Pak Darma berdiri, berjalan ke jendela dan memandang keluar. Halaman sekolah mulai sepi. Hanya ada beberapa anak yang masih bermain di bawah pohon.

"Arga, boleh Bapak tanya sesuatu?"

"Silakan, Pak."

"Kamu punya mimpi? Mimpi tentang masa depanmu?"

Arga terdiam. Pertanyaan itu membuatnya berpikir. Mimpi? Tentu ia punya mimpi. Tapi apakah mimpi itu masuk akal untuk anak desa sepertinya?

"Saya... saya ingin menjadi orang pintar, Pak. Saya ingin sekolah setinggi-tingginya." Jawabnya pelan.

Pak Darma mengangguk. "Itu mimpi yang bagus. Tapi setelah itu? Setelah kamu sekolah tinggi, kamu mau jadi apa?"

Arga memandang ke luar jendela, ke arah sawah yang terbentang luas di belakang sekolah. Angin sore bertiup pelan, membuat pohon-pohon di halaman bergoyang lembut.

"Saya ingin... membantu desa ini, Pak." Jawabnya akhirnya, dengan suara yang lebih mantap. "Desa kita ini tertinggal. Jalan rusak, listrik sering mati, sekolah cuma sampai SD. Saya ingin suatu hari nanti desa ini berubah."

Pak Darma tertegun. Ia tidak menyangka anak sekecil Arga bisa memiliki pemikiran sebesar itu. Biasanya anak-anak seusianya hanya memikirkan mainan atau jajan. Tapi anak ini, anak petani dari rumah bambu di pinggir sawah, memikirkan masa depan desanya.

"Kamu ingin mengubah desa ini?"

"Iya, Pak. Tapi saya belum tahu caranya. Saya masih kecil."

Pak Darma tersenyum bangga. Ia kembali duduk di depan Arga, menatap mata anak itu dengan serius.

"Dengarkan Bapak, Arga. Usia tidak menentukan seberapa besar mimpi seseorang. Banyak orang besar yang bermimpi sejak kecil. Yang penting adalah kemauan untuk belajar dan bekerja keras mewujudkannya."

Arga mengangguk, menyimpan setiap kata Pak Darma dalam hatinya.

"Kalau kamu terus belajar, suatu hari nanti kamu bisa pergi jauh dari desa ini. Kamu bisa sekolah di kota, bahkan mungkin di luar negeri. Kamu bisa belajar banyak hal yang tidak bisa dipelajari di sini."

Arga terdiam. Pergi dari desa? Meninggalkan tempat kelahirannya? Ia belum pernah membayangkan itu sebelumnya. Bagaimana dengan sawah? Bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dengan rumah bambunya?

Tapi Pak Darma sepertinya membaca kegelisahan itu. Ia melanjutkan, "Pergi bukan berarti melupakan, Arga. Justru dengan pergi, kamu bisa belajar banyak hal yang nantinya bisa kamu bawa pulang untuk membangun desa ini. Seperti para perantau yang sukses, mereka pulang dengan ilmu dan pengalaman baru."

Arga mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak."

"Bapak percaya, suatu hari nanti kamu akan menjadi orang yang membawa perubahan bagi desa ini. Bapak sudah melihatnya dari caramu belajar, dari pertanyaan-pertanyaanmu, dari kepedulianmu pada sekitarmu."

Mendengar kata-kata itu, Arga merasa terharu. Tidak pernah ada orang yang mengatakan hal seperti itu padanya. Bahwa ia, anak kecil dari keluarga miskin, bisa menjadi seseorang yang berarti bagi desanya.

"Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha."

Pak Darma berdiri, mengusap kepala Arga dengan lembut. "Bapak yang berterima kasih, Arga. Karena kamu mengingatkan Bapak mengapa dulu Bapak memilih menjadi guru. Untuk melihat murid-murid seperti kamu, yang punya mimpi dan semangat."

Sore itu Arga pulang dengan perasaan yang berbeda. Di tangannya, ia memegang buku pemberian Pak Darma dengan erat. Di dalam hatinya, ia menyimpan kata-kata gurunya dengan dalam.

Ia berjalan menyusuri pematang sawah seperti biasa. Matahari mulai condong ke barat, membuat bayang-bayangnya memanjang di hamparan sawah. Angin sore membawa kesejukan yang menenangkan. Burung-burung pipit beterbangan pulang ke sarangnya.

Arga berhenti sejenak di tengah pematang. Ia memandang desanya dari kejauhan. Rumah-rumah sederhana dengan asap dapur yang mulai mengepul. Sawah-sawah hijau yang bergelombang ditiup angin. Bukit-bukit di kejauhan yang mulai diselimuti kabut tipis.

Desa yang indah. Desa yang damai. Tapi juga desa yang tertinggal.

Di dalam hatinya, Arga berbisik pelan. "Suatu hari nanti, aku akan membuat desa ini lebih baik. Aku janji."

Langkahnya kemudian dilanjutkan. Menuju rumah bambu di pinggir sawah, tempat ibunya menunggu dengan sayur-mayur sisa dagangan dan pertanyaan tentang bagaimana sekolahnya hari ini.

Ia tidak tahu bahwa kata-kata yang ia ucapkan sore itu akan menjadi sumpah yang akan menuntun hidupnya bertahun-tahun kemudian. Ia tidak tahu bahwa perjalanan panjang sedang menanti. Ia tidak tahu bahwa ia akan melewati banyak ujian, air mata, dan kepahitan sebelum bisa menepati janji itu.

Tapi satu hal yang pasti: benih mimpi itu sudah ditanam. Dan tidak ada yang bisa mencabutnya.

Seiring bertambahnya usia, Arga mulai melihat banyak hal yang sebelumnya tidak ia sadari. Dunia tidak hanya seindah yang ia bayangkan ketika masih kecil. Ada sisi-sisi gelap yang mulai ia pahami, ada kenyataan-kenyataan pahit yang mulai ia mengerti.

Suatu sore, ketika ia berusia sembilan tahun, ia berjalan melewati jalan desa yang rusak bersama ibunya. Mereka baru pulang dari pasar, tempat Bu Ratri menjual sayur. Hasil hari itu tidak terlalu baik, hanya cukup untuk membeli sedikit beras dan lauk seadanya.

Di tengah jalan, mereka melihat seorang warga yang mengendarai sepeda ontel hampir terjatuh. Sepeda itu oleng setelah masuk ke lubang besar di tengah jalan yang tertutup genangan air. Untung saja warga itu masih bisa menguasai sepedanya, meskipun sempat terhuyung-huyung.

"Awas, Pak!" teriak Bu Ratri refleks.

Warga itu, seorang petani tua, menghentikan sepedanya dan melihat ke belakang. Ia menghela napas lega karena selamat, tapi kemudian menggeleng-geleng melihat lubang di jalan.

"Jalan begini terus, nggak pernah diperbaiki." Gerutunya kesal. "Kalau hujan, makin parah. Lubangnya makin dalam, genangan air di mana-mana."

Arga memperhatikan lubang itu. Lubang besar dengan air keruh di dalamnya, bekas roda kendaraan yang terperosok. Di sekelilingnya, jalan tanah merah becek dan licin.

Ia bertanya kepada ibunya setelah warga itu pergi. "Bu, kenapa jalan desa kita rusak sekali?"

Bu Ratri menghela napas panjang. Pertanyaan anaknya sering kali sulit dijawab, terutama jika menyangkut hal-hal seperti ini. Tapi ia berusaha menjelaskan sebisanya.

"Karena desa kita jarang diperhatikan, Le. Diperhatikan oleh pemerintah, maksudnya."

"Pemerintah? Pemerintah itu apa, Bu?"

Bu Ratri berpikir mencari kata-kata yang mudah dimengerti. "Pemerintah itu... orang-orang yang mengurus negara. Mereka punya uang untuk membangun jalan, sekolah, rumah sakit. Tapi mereka jarang memperhatikan desa-desa kecil seperti kita."

"Kenapa tidak diperhatikan?"

"Mungkin karena desa kita kecil, jauh dari kota. Mungkin juga karena kita tidak punya orang penting yang bisa menyuarakan kepentingan kita."

Arga terdiam. Ia mulai mengerti. Desa mereka kecil, miskin, dan jauh dari pusat kekuasaan. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang memperjuangkan.

Beberapa hari kemudian, pelajaran serupa ia dapatkan dari kejadian lain.

Malam itu listrik padam, seperti biasa. Keluarga Arga harus menggunakan lampu minyak tanah untuk penerangan. Cahaya lampu minyak yang temaram hanya cukup untuk menerangi ruang tamu tempat mereka duduk-duduk.

Arga sedang membaca buku pemberian Pak Darma di bawah cahaya lampu minyak itu. Matanya harus bekerja ekstra keras karena cahaya yang redup. Ia sudah memicingkan mata, mendekatkan buku ke sumber cahaya, tapi tetap saja sulit.

"Ibu, kenapa listrik di desa kita sering padam?" tanyanya.

Bu Ratri yang sedang menjahit baju tetangga untuk tambahan penghasilan, berhenti sejenak. Jarum di tangannya berhenti menusuk kain.

"Konon katanya, listrik kita hanya dapat kiriman dari desa tetangga. Kalau pasokan ke desa tetangga kurang, kita yang dikorbankan." Jawabnya.

"Kenapa kita yang dikorbankan?"

"Karena kita kecil, Le. Karena suara kita tidak didengar."

Arga mengangguk pelan. Pola yang sama. Desa mereka selalu menjadi yang terakhir, yang paling tidak penting.

Beberapa tahun kemudian, ketika Arga duduk di kelas enam SD, ia menyaksikan fenomena lain yang membuatnya semakin paham tentang ketertinggalan desanya.

Pemuda-pemuda desa mulai pergi merantau satu per satu. Mereka pergi ke kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bali. Ada yang jadi buruh pabrik, ada yang jadi pembantu rumah tangga, ada yang jadi kuli bangunan, ada pula yang tidak jelas pekerjaannya.

Satu per satu rumah-rumah di desa mulai ditinggalkan oleh anak-anak mudanya. Yang tinggal hanya orang tua dan anak-anak kecil. Para orang tua menua sendirian di rumah-rumah bambu yang semakin lapuk. Anak-anak tumbuh tanpa sosok kakak atau orang dewasa yang bisa menjadi panutan.

Di lapangan desa, Arga dan Bima yang kini sudah remaja duduk di bawah pohon besar. Mereka melihat beberapa pemuda yang sedang bersiap-siap berangkat ke kota. Ada tangis perpisahan, ada pesan-pesan terakhir, ada pelukan yang lama.

"Lihat itu, Ga." Bima berkata dengan nada getir. "Makin banyak yang pergi. Nanti desa kita tinggal orang-orang tua dan anak-anak."

Arga mengangguk. "Mereka pergi karena di sini tidak ada pekerjaan."

"Iya. Sawah hanya bisa menghidupi petani. Anak-anak muda mana mau jadi petani? Kerja keras, hasil tidak menentu."

"Sebenarnya kalau desa ini maju, mereka tidak perlu pergi." Gumam Arga.

Bima menoleh. "Maksudmu?"

"Maksudku, kalau di sini ada pabrik, atau ada usaha lain selain pertanian, mereka bisa bekerja di sini. Tidak perlu jauh-jauh ke kota."

Bima tertawa getir. "Mimpi, Ga. Desa kita ini sudah dilupakan. Mau sampai kapan pun, nggak akan ada pabrik di sini. Nggak akan ada kemajuan."

Arga tidak menjawab. Tapi dalam hatinya, ia tidak setuju. Ia tidak percaya bahwa desanya akan selamanya terlupakan. Ia percaya bahwa selama masih ada orang yang peduli, selama masih ada orang yang berjuang, perubahan pasti bisa terjadi.

Malam harinya, ketika semua sudah tidur, Arga keluar dari rumah. Ia duduk di beranda bambu, memandangi langit malam yang cerah. Bintang-bintang bertaburan, berkelap-kelip indah. Bulan sabit menggantung di ufuk barat, memberikan cahaya perak yang lembut.

Ia teringat ayahnya. Pak Wiryo sudah mulai renta. Tubuhnya mulai bungkuk, langkahnya mulai lambat. Tapi ia masih tetap ke sawah setiap hari. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta lebih.

"Pak, kenapa kita selalu bekerja di sawah?" tanyanya dulu.

"Karena sawah ini yang memberi kita makan."

"Apakah aku juga harus jadi petani seperti Bapak nanti?"

"Kalau kamu mau jadi petani, tidak ada yang salah. Tapi kalau kamu punya mimpi yang lebih besar, kejarlah mimpi itu."

Arga menarik napas panjang. Ia memandangi desa dalam gelap malam. Rumah-rumah yang hanya diterangi lampu minyak temaram. Sawah yang sunyi. Jalan yang rusak. Semua tampak tenang, tapi juga tampak... sedih.

"Ayah..." bisiknya pelan. "Aku tidak akan membiarkan desa ini terus terlupakan. Aku tidak tahu caranya, tapi aku akan berusaha."

Ia tidak tahu bahwa beberapa tahun kemudian, ujian terbesar dalam hidupnya akan datang. Ia tidak tahu bahwa ia akan kehilangan orang yang paling ia cintai. Tapi tekadnya sudah bulat. Mimpi itu sudah menjadi bagian dari dirinya.

Dan tidak ada yang bisa memadamkannya.

Tahun-tahun berlalu seperti aliran sungai yang tenang. Arga tumbuh menjadi remaja. Ia kini duduk di kelas dua SMP di kecamatan, karena di desanya hanya ada sekolah dasar. Setiap pagi ia harus naik sepeda ontel sejauh lima belas kilometer ke sekolah, melewati jalanan yang naik turun, kadang becek, kadang berdebu.

Perjalanan itu melelahkan, tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia selalu berangkat pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit. Kadang ia harus menuntun sepedanya di jalan yang menanjak, kadang ia harus berhati-hati di jalan yang licin. Tapi semangatnya tidak pernah surut.

Pak Wiryo sudah semakin tua. Tubuhnya mulai renta, tenaganya mulai berkurang. Tapi ia masih tetap ke sawah setiap hari, meskipun kini ia hanya mampu mengolah setengah dari sawah yang dulu ia garap.

Suatu malam, Arga duduk di depan rumah bersama ayahnya. Langit desa sangat cerah malam itu. Tidak ada polusi cahaya dari lampu-lampu kota, sehingga bintang-bintang terlihat begitu banyak. Galaksi Bimasakti membentang dari utara ke selatan, seperti sungai susu di langit.

Arga bertanya pelan, suaranya lirih di tengah kesunyian malam.

"Pak, apakah desa kita bisa berubah?"

Pak Wiryo menoleh. Matanya yang mulai rabun masih bisa melihat wajah anaknya dengan jelas di bawah cahaya bintang.

"Maksudmu?"

"Supaya jalan tidak rusak lagi. Supaya listrik tidak sering padam. Supaya sekolah lebih bagus. Supaya anak-anak muda tidak perlu pergi merantau."

Pak Wiryo tersenyum kecil. Senyum yang getir, tapi juga penuh harapan.

"Perubahan tidak datang begitu saja, Nak." Jawabnya bijak. "Perubahan butuh perjuangan. Butuh orang-orang yang berani bermimpi dan berani berjuang."

"Lalu bagaimana caranya?"

"Harus ada orang yang berani memperjuangkannya. Orang yang tidak hanya diam melihat keadaan. Orang yang mau mengambil risiko, mau bekerja keras, mau berkorban."

Arga memandang langit. Bintang-bintang berkelap-kelip seolah memberi isyarat.

"Ayah percaya suatu hari nanti akan ada orang seperti itu di desa kita?"

Pak Wiryo terdiam cukup lama. Lalu ia menatap anaknya dengan pandangan yang dalam.

"Ayah percaya, Nak. Dan Ayah berharap, orang itu adalah kamu."

Arga terkejut. "Saya? Tapi saya hanya anak petani biasa."

"Justru karena kamu anak petani, kamu tahu bagaimana rasanya hidup susah. Kamu tahu bagaimana rasanya kekurangan. Kamu tahu bagaimana rasanya dilupakan. Itu yang akan membuatmu lebih peduli, lebih berjuang, lebih mengerti apa yang dibutuhkan desa ini."

Arga terdiam. Kata-kata ayahnya meresap jauh ke dalam hatinya. Ia memang anak petani. Ia memang hidup dalam keterbatasan. Tapi justru itulah yang membuatnya tahu persis apa yang salah dengan desanya.

"Kalau Ayah bilang begitu, apa Ayah tidak ingin saya menjadi orang sukses di kota? Hidup enak, punya rumah besar, mobil bagus?"

Pak Wiryo tersenyum. Tersenyum dengan bijak.

"Ayah ingin kamu sukses, Nak. Tapi sukses bukan hanya soal harta. Sukses yang sejati adalah ketika kamu bisa bermanfaat bagi orang lain, ketika kamu bisa membantu mereka yang membutuhkan. Kalau kamu sukses di kota, hanya kamu dan keluargamu yang menikmati. Tapi kalau kamu berhasil membangun desa ini, semua orang akan merasakan manfaatnya."

Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi Arga. Di bawah langit yang penuh bintang, di depan rumah bambu yang sederhana, seorang ayah menanamkan mimpi besar pada anaknya.

Mimpi yang mungkin terlalu besar untuk anak petani sepertinya. Mimpi yang mungkin akan membuatnya melalui jalan yang panjang dan berliku. Tapi mimpi itu sudah ditanam, dan tidak ada yang bisa mencabutnya.

Suatu pagi, ketika Arga libur sekolah, ia memutuskan untuk ikut ayahnya ke sawah. Bukan sekadar menemani, tapi benar-benar membantu. Ia ingin merasakan bagaimana beratnya pekerjaan yang dilakukan ayahnya setiap hari.

Mereka berangkat pagi-pagi sekali. Matahari belum muncul, udara masih dingin menusuk. Kabut tipis masih menyelimuti sawah-sawah, membuat segalanya tampak misterius. Di kejauhan, ayam jantan berkokok bersahutan.

Sesampainya di sawah, Pak Wiryo mulai bekerja. Ia mencangkul tanah dengan pelan tetapi pasti. Gerakannya terukur, tidak terburu-buru. Cangkulnya membelah tanah, membalikkannya, lalu memecah gumpalan-gumpalan besar menjadi lebih halus.

Arga memperhatikan ayahnya. Melihat keringat yang mulai membasahi punggung bapaknya, melihat otot-otot tangannya yang menegang setiap kali mengayunkan cangkul.

"Pak, kenapa Bapak selalu bekerja keras?" tanya Arga tiba-tiba.

Pak Wiryo berhenti sejenak. Ia menyandarkan badannya pada gagang cangkul, lalu menatap sawah di depannya yang terbentang luas. Sawah yang mungkin sudah ribuan kali ia lalui, yang sudah ia kenal setiap sudutnya.

"Karena hidup tidak akan memberi apa-apa kepada orang yang malas, Le." Jawabnya pelan. "Lihat sawah ini. Kalau kita diam saja, tidak pernah mencangkul, tidak pernah menanam, tidak pernah merawat, apa yang akan terjadi?"

"Ya, tidak akan ada padi yang tumbuh."

"Betul. Tidak akan ada padi, tidak akan ada panen, tidak akan ada beras untuk dimakan. Sama seperti hidup. Kalau kita diam saja, tidak mau berusaha, tidak mau bekerja keras, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa."

Pak Wiryo lalu berjalan ke arah Arga dan menepuk bahunya.

"Kalau kamu ingin berhasil, kamu harus bekerja lebih keras daripada orang lain. Kamu harus rela berkorban, rela capek, rela berkeringat. Tidak ada kesuksesan yang datang dengan sendirinya. Semua butuh perjuangan."

Arga mengangguk, mencerna kata-kata ayahnya.

"Tapi kerja keras saja tidak cukup, Le." Lanjut Pak Wiryo. "Harus pintar juga. Harus punya ilmu. Makanya Ayah selalu bilang, belajarlah yang rajin. Karena dengan ilmu, kerja kerasmu akan lebih berarti."

Mereka kemudian bekerja bersama. Arga membantu membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela padi. Meskipun tangannya mulai lecet dan pegal, ia terus bekerja. Ia ingin membuktikan pada ayahnya bahwa ia bisa.

Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke barat, mereka pulang. Badan terasa letih, tapi hati puas. Di perjalanan pulang, mereka melewati pematang sawah yang sempit. Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa kesejukan yang menyegarkan setelah seharian bekerja di bawah terik matahari.

"Le, Ayah mau pesan sesuatu." Kata Pak Wiryo tiba-tiba.

"Iya, Pak?"

"Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah lupa dari mana kamu berasal. Jangan pernah malu mengaku anak petani. Karena dari situlah kamu belajar tentang kehidupan. Dari situlah kamu belajar arti kerja keras, kejujuran, dan kesederhanaan."

Arga menatap ayahnya. Ada sesuatu dalam nada suara ayahnya yang membuatnya merasa... haru. Seolah-olah ayahnya sedang menyampaikan pesan terakhir.

"Ayah kenapa bicara seperti itu?"

Pak Wiryo tersenyum. "Tidak apa-apa. Ayah hanya ingin kamu ingat."

Mereka berjalan dalam diam sampai tiba di rumah. Bu Ratri sudah menunggu dengan masakan sederhana yang mengepul asapnya.

Malam itu mereka makan bersama dengan hangat. Tidak ada yang tahu bahwa ini adalah salah satu malam terakhir mereka makan bersama sebagai keluarga utuh. Tidak ada yang tahu bahwa takdir telah menyiapkan ujian terbesar yang akan mengubah segalanya.

Arga tidur dengan perasaan damai malam itu. Ia tidak tahu bahwa ketika ia bangun besok pagi, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Ia tidak tahu bahwa pelajaran dari ayahnya hari itu akan menjadi warisan terakhir yang ia terima.

BAGIAN II

Musim hujan datang lebih lama dari biasanya di Desa Sumber Langit tahun itu. Langit hampir setiap hari tertutup awan kelabu yang tebal. Angin bertiup kencang membawa udara dingin yang menusuk kulit, bahkan hingga ke tulang. Hujan turun hampir setiap hari, kadang gerimis, kadang deras disertai petir yang menggelegar.

Sawah-sawah yang dulu hijau kini terlihat seperti lautan air yang keruh. Padi-padi yang hampir panen terendam, hanya menyisakan ujung-ujungnya saja yang masih terlihat di atas permukaan air. Petani-petani berdiri di pinggir sawah dengan wajah murung, tidak bisa berbuat banyak menghadapi amukan alam.

Pak Wiryo berdiri di pinggir sawah miliknya sambil menatap tanaman padi yang mulai menguning sebelum waktunya. Padahal seharusnya panen masih dua minggu lagi. Tapi karena terlalu banyak air, akar-akarnya mulai membusuk. Daun-daunnya menguning, lalu layu.

Arga berdiri di samping ayahnya, ikut memandangi pemandangan yang menyedihkan itu. Hujan gerimis turun, membuat mereka basah kuyup. Tapi sepertinya tidak ada yang peduli.

"Pak, kenapa padi kita seperti itu?" tanya Arga dengan cemas. Ia sudah cukup besar untuk mengerti arti gagal panen bagi keluarganya.

Pak Wiryo menghela napas panjang. Napas yang berat, seperti membawa seluruh beban kehidupan di pundaknya.

"Karena terlalu banyak air, Le. Akarnya tidak kuat. Padinya busuk sebelum sempat dipanen."

Beberapa petani lain juga berdiri di pematang sawah masing-masing. Wajah mereka terlihat murung, lesu, tanpa semangat. Sebagian mencoba menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan, memotong padi-padi yang masih hijau untuk dijadikan pakan ternak. Sebagian lagi hanya diam, pasrah pada keadaan.

"Kalau begini terus, panen kita gagal." Kata salah seorang petani dengan suara parau. "Hutang di toko pupuk belum lunas, ini malah gagal panen."

Petani lain menimpali, "Iya. Saya juga masih punya utang untuk beli bibit. Gimana mau bayar kalau begini jadinya?"

Pak Wiryo tidak menjawab. Ia hanya menatap hamparan sawah yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarganya. Sawah yang diwariskan turun-temurun dari kakeknya. Sawah yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup keluarganya. Kini hanya tinggal genangan air dan padi-padi yang membusuk.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Hujan tidak berhenti. Sebagian padi benar-benar membusuk sebelum sempat dipanen. Yang bisa diselamatkan hanya sedikit, itu pun kualitasnya jelek, tidak laku dijual dengan harga bagus.

Pendapatan keluarga Pak Wiryo hampir tidak ada. Uang tabungan yang disimpan untuk biaya sekolah Arga mulai terkuras untuk kebutuhan sehari-hari.

Di rumah, Bu Ratri mulai menghitung uang yang tersisa. Ia duduk di dekat lampu minyak, menghitung lembar demi lembar uang receh dengan tangan gemetar.

"Wiryo..." panggilnya pelan dengan suara hampir berbisik, takut didengar Arga.

Pak Wiryo yang sedang berbaring karena kelelahan menoleh. "Iya, Bu?"

"Uang kita tinggal sedikit." Kata Bu Ratri dengan suara bergetar. "Mungkin hanya cukup untuk makan seminggu. Itu pun harus diirit."

Pak Wiryo hanya terdiam. Ia tahu apa artinya itu. Kesulitan. Keterbatasan yang lebih parah dari sebelumnya. Musim kemarau panjang tahun lalu, disusul musim hujan yang terlalu deras tahun ini. Nasib petani memang selalu bergantung pada alam. Dan alam sedang tidak bersahabat.

Beberapa hari kemudian, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arga merasakan lapar yang sesungguhnya. Bukan lapar biasa setelah bermain, tapi lapar karena perut kosong dan tidak ada makanan.

Di dapur, persediaan beras tinggal sedikit. Bu Ratri terpaksa mencampur nasi dengan singkong agar lebih awet. Lauk hanya garam dan sambal. Kadang hanya nasi dengan kuah air panas diberi garam.

Arga tidak mengeluh. Ia melihat sendiri bagaimana orang tuanya berjuang. Ibunya bahkan sering tidak makan, mengaku sudah kenyang, padahal sebenarnya hanya menyisakan makanan untuknya.

Suatu malam, Arga terbangun karena haus. Saat berjalan ke dapur untuk mengambil air, ia melihat ibunya duduk sendirian di ruang tamu, menangis dalam diam. Air matanya jatuh membasahi pipi yang mulai kurus.

Arga ingin menghampiri, ingin memeluk ibunya. Tapi ia tahu ibunya pasti malu jika tahu ia menangis dilihat anaknya. Maka ia diam-diam kembali ke kamar, berbaring, dan menangis dalam hati.

Malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri: suatu hari nanti, ia akan membuat ibunya tidak perlu menangis lagi karena kekurangan.

Beberapa minggu kemudian, kehidupan keluarga Arga mulai terasa lebih berat. Kondisi ekonomi semakin parah. Pak Wiryo terpaksa menjual kambing satu-satunya untuk membeli beras dan membayar hutang di warung. Bu Ratri harus bekerja lebih keras, selain berjualan sayur, ia juga menerima cucian dari tetangga.

Arga masih tetap bersekolah. Tapi kadang perutnya keroncongan di kelas, membuatnya sulit berkonsentrasi. Kepalanya sering pusing, badannya lemas. Ia harus menahan kantuk dan lapar saat pelajaran berlangsung.

Suatu pagi Arga bersiap pergi ke sekolah seperti biasa. Ia memasukkan buku ke dalam tasnya yang semakin lusuh. Pensilnya sudah hampir habis, hanya tinggal sependek jari kelingking.

Bu Ratri memanggilnya dari dapur. "Arga, makan dulu."

Arga datang ke dapur. Di atas meja hanya ada sepiring nasi dan sedikit sayur. Nasi itu tidak banyak, mungkin hanya setengah porsi untuk ukuran anak seusianya.

Arga memandang ibunya. "Ibu sudah makan?"

Bu Ratri tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan, senyum yang menyembunyikan lapar. "Ibu nanti saja. Ibu belum terlalu lapar."

Arga tahu ibunya berbohong. Ia tahu ibunya selalu mengorbankan diri untuknya. Ia tahu ibunya akan mengatakan sudah kenyang meskipun sebenarnya belum makan seharian.

Arga mengambil sedikit nasi, hanya beberapa sendok. "Arga tidak terlalu lapar, Bu. Ini saja cukup."

Bu Ratri menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu Arga juga berbohong. Anaknya itu pasti lapar, tapi ia sengaja makan sedikit agar ibunya bisa makan lebih banyak.

Tak ada yang berkata apa-apa. Mereka hanya saling memandang dengan perasaan yang sama: cinta dan pengorbanan.

Arga berjalan menuju sekolah seperti biasa. Di tengah perjalanan, ia bertemu Bima yang juga sedang dalam perjalanan ke sekolah dengan sepeda bututnya.

"Ga, kamu sudah sarapan?" tanya Bima.

Arga mengangguk. "Udah, lah. Masa belum."

Namun sebenarnya perutnya masih kosong. Hanya beberapa sendok nasi yang ia makan pagi itu, itu pun sudah dua jam yang lalu.

Di sekolah, pelajaran pertama adalah matematika. Guru matematika mereka, Pak Suryanto, adalah guru yang tegas dan disiplin. Ia tidak suka murid yang mengantuk atau tidak memperhatikan.

Arga berusaha tetap fokus pada pelajaran. Ia mencatat, memperhatikan rumus-rumus yang dijelaskan di papan tulis. Tapi rasa lapar membuat kepalanya terasa ringan, pandangannya kadang berkunang-kunang.

"Arga, coba kerjakan soal nomor tiga." panggil Pak Suryanto tiba-tiba.

Arga berdiri, berjalan menuju papan tulis. Ia mengambil kapur, tapi tangannya gemetar. Soal di papan tulis seperti berputar-putar di depannya.

Tiba-tiba pandangannya gelap. Ia merasakan dunia berputar cepat, lalu ia tidak tahu apa-apa lagi.

"Arga! Arga!" Suara-suara terdengar jauh.

Ketika Arga membuka mata, ia sudah berada di ruang UKS. Tempat tidur kayu sederhana dengan bantal keras. Pak Darma duduk di sampingnya, wajahnya tampak khawatir.

"Arga, kamu sadar?" tanya Pak Darma lega.

Arga mencoba duduk. Kepalanya masih pusing. "Saya... saya kenapa, Pak?"

"Kamu pingsan di kelas. Kata teman-temanmu, kamu jatuh waktu mengerjakan soal di papan tulis."

Arga mengingat kejadian itu samar-samar. Ya, ia ingat tiba-tiba gelap, lalu tidak tahu apa-apa lagi.

"Arga, jujur pada Bapak. Kamu sudah makan?" tanya Pak Darma dengan suara lembut tapi tegas.

Arga terdiam. Beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan.

Pak Darma menghela napas. Ia mengerti. Kemiskinan, kelaparan, perjuangan hidup. Itu semua bukan hal asing baginya di desa ini.

Ia membuka tasnya, mengeluarkan bekal makanan yang dibawanya dari rumah. Sepiring nasi dengan lauk sederhana, tapi masih hangat.

"Ini, makan dulu."

Arga menolak. "Tapi itu makanan Bapak..."

Pak Darma tersenyum. "Bapak masih bisa makan nanti. Kamu yang lebih membutuhkan sekarang. Makanlah, biar cepat pulih."

Arga menerima makanan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia makan perlahan, menahan air mata yang ingin tumpah. Bukan karena lapar, tapi karena tersentuh dengan kebaikan gurunya.

"Terima kasih, Pak." Ucapnya lirih.

"Tidak usah berterima kasih, Arga. Bapak hanya melakukan kewajiban. Tapi kamu harus janji sama Bapak."

"Janji apa, Pak?"

"Janji bahwa kamu akan tetap semangat. Jangan biarkan keadaan membuatmu putus asa. Teruslah berjuang."

Arga mengangguk mantap. "Saya janji, Pak."

Hari itu ia belajar satu hal penting: bahwa kebaikan bisa datang dari siapa saja. Bahwa di tengah kesulitan, selalu ada tangan-tangan yang siap menolong. Bahwa ia tidak sendiri dalam perjuangan ini.

Beberapa bulan kemudian, masalah baru muncul. Biaya sekolah Arga di SMP mulai terasa semakin berat bagi keluarganya. Setiap bulan harus membayar SPP, membeli buku, membeli seragam, membeli alat tulis. Semua itu membutuhkan uang yang tidak sedikit.

Pak Wiryo sudah tidak bisa bekerja keras seperti dulu. Kesehatannya mulai menurun. Batuk-batuk yang dulu hanya kadang-kadang, kini menjadi lebih sering. Badannya semakin kurus, tenaganya semakin berkurang.

Suatu malam, ketika Arga sedang belajar di kamarnya yang sempit, ia tidak sengaja mendengar percakapan orang tuanya di dapur. Dinding bambu yang tipis membuat suara dari dapur terdengar jelas.

"Bagaimana kita membayar kebutuhan sekolah Arga?" tanya Bu Ratri dengan suara cemas. "SPP bulan depan sudah harus dibayar. Dia juga butuh sepatu baru, yang lama sudah bolong."

Pak Wiryo terdiam lama. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya berat, penuh beban. "Saya tidak tahu, Bu. Hasil panen kemarin hanya cukup buat bayar utang. Kambing sudah habis terjual. Apa lagi yang bisa kita jual?"

"Mungkin kita bisa pinjam ke tetangga?"

"Siapa yang mau pinjami kita? Kita sudah punya utang di mana-mana. Warung Bu Siti, toko Pak Karjo, bahkan ke sanak saudara juga sudah."

Keheningan yang panjang. Lalu suara Pak Wiryo lagi, pelan tapi terdengar jelas. "Kalau keadaan tidak membaik... mungkin Arga harus berhenti sekolah sementara."

Jantung Arga seperti berhenti berdetak mendengar kata-kata itu.

Berhenti sekolah?

Itu adalah hal yang paling ia takutkan. Sekolah adalah satu-satunya harapannya. Satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan. Satu-satunya cara untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Jika ia harus berhenti, lalu bagaimana dengan semua impian itu? Bagaimana dengan janjinya pada ayahnya? Bagaimana dengan cita-citanya membangun desa?

Ia mendengar ibunya menangis tersedu-sedu. "Tidak, Wiryo. Jangan. Arga anak yang pintar. Dia punya masa depan. Jangan sampai kita yang merusak masa depannya."

"Lalu bagaimana, Bu? Saya juga tidak tega. Tapi apa daya kita? Perut harus diisi. Hidup harus jalan. Kalau terus begini, kita semua bisa mati kelaparan."

Percakapan itu berakhir dengan tangis. Tangis keputusasaan. Tangis ketidakberdayaan.

Arga tidak bisa tidur malam itu. Ia hanya terbaring di dipan bambunya, menatap langit-langit gelap, memikirkan masa depannya yang tiba-tiba terasa suram. Air mata mengalir tanpa suara. Tangisnya diam-diam, tidak ingin didengar orang tuanya.

Keesokan harinya, Arga tetap pergi ke sekolah. Namun pikirannya penuh kegelisahan. Di kelas, ia tidak bisa konsentrasi. Kata-kata guru seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Setelah pelajaran selesai, ia duduk sendirian di bangku kelas yang sudah kosong. Kelas itu sunyi. Hanya ada suara jangkrik dari luar dan gemerisik daun tertiup angin.

Pak Darma, yang kebetulan masih ada di sekolah, melihat Arga duduk sendiri di kelas. Ia masuk dan duduk di bangku di depannya.

"Kamu kelihatan murung hari ini. Ada masalah?"

Arga terdiam. Ia ragu untuk bercerita. Tapi melihat wajah ramah Pak Darma yang sudah seperti bapaknya sendiri, ia akhirnya berkata pelan.

"Pak... mungkin saya harus berhenti sekolah."

Pak Darma terkejut. Meskipun ia sudah menduga ada masalah, tapi mendengar langsung dari mulut Arga tetap saja mengejutkan.

"Kenapa?"

"Orang tua saya tidak punya uang. SPP belum dibayar. Bapak saya sakit-sakitan. Mungkin saya harus bekerja membantu orang tua."

Pak Darma memandang Arga dengan serius. Matanya yang bijak menatap dalam-dalam anak di depannya.

"Dengarkan Bapak, Arga."

Arga menatap gurunya.

"Kamu tidak boleh menyerah hanya karena keadaan sulit. Hidup ini memang penuh ujian. Orang yang berhasil adalah mereka yang bisa bertahan di tengah badai."

"Tapi bagaimana caranya, Pak? Saya tidak mau membebani orang tua."

"Biarkan Bapak yang memikirkan caranya." Pak Darma berdiri, berjalan ke jendela. "Ada beberapa program bantuan untuk siswa berprestasi. Bapak akan coba daftarkan kamu. Tapi kamu harus janji tidak akan menyerah dulu."

Arga mengangguk. "Saya janji, Pak."

"Bagus. Sekarang pulanglah. Istirahat yang cukup. Jangan terlalu banyak berpikir. Serahkan semuanya pada Tuhan."

Arga pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang. Tapi di dalam hatinya, kekhawatiran masih bersemayam. Ia tahu perjuangan belum selesai. Bahkan mungkin baru dimulai.

Beberapa hari kemudian, seperti yang dijanjikan, Pak Darma datang ke rumah Arga. Ia datang dengan sepeda tuanya, mengenakan kemeja lusuh yang biasa ia pakai sehari-hari.

Pak Wiryo yang sedang terbaring karena sakit, mencoba bangkit menyambut tamu. Ia agak canggung menerima guru di rumahnya yang sederhana.

"Maaf, rumah kami sangat sederhana, Pak Guru." Katanya dengan suara lemah.

Pak Darma tersenyum. Ia duduk di dipan bambu yang ditawarkan Bu Ratri.

"Saya datang bukan untuk melihat rumah, Pak Wiryo. Saya datang untuk bicara tentang Arga."

Bu Ratri yang sejak tadi cemas, segera mendekat. "Ada apa dengan Arga, Pak Guru? Apa dia bermasalah di sekolah?"

"Tidak, tidak. Justru sebaliknya. Arga adalah murid yang pintar dan rajin. Nilainya selalu bagus. Saya datang untuk membicarakan masa depannya."

Pak Darma lalu menjelaskan bahwa ada program bantuan pendidikan dari pemerintah untuk siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Program itu mencakup beasiswa SPP, bantuan buku, dan uang saku.

"Arga memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa ini. Nilainya bagus, perilakunya baik, dan keluarganya memang kurang mampu secara ekonomi." Jelas Pak Darma.

Pak Wiryo menatap Arga dengan mata berbinar. Wajahnya yang pucat karena sakit terlihat berseri-seri. "Apakah benar begitu, Le?"

Arga hanya menunduk malu. Tapi dalam hatinya, ia bersyukur Pak Darma datang.

Pak Darma melanjutkan, "Jika Arga mendapatkan bantuan ini, ia bisa melanjutkan sekolah tanpa membebani orang tua. Bahkan nanti kalau nilainya terus bagus, bisa lanjut sampai SMA bahkan kuliah."

Bu Ratri menutup mulutnya, menahan tangis haru. Air matanya jatuh membasahi pipi yang kurus. "Terima kasih, Pak Guru. Terima kasih banyak." Katanya berulang-ulang.

Pak Darma mengangguk. "Sama-sama, Bu. Tugas saya memang membantu murid-murid. Apalagi yang punya semangat seperti Arga."

Setelah Pak Darma pulang, suasana rumah berubah. Ada kehangatan baru. Ada harapan yang mulai tumbuh lagi. Arga melihat ibunya tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ia melihat ayahnya yang meskipun sakit, matanya berbinar-binar.

"Le, kamu harus belajar lebih giat lagi." Kata Pak Wiryo. "Ini kesempatan besar. Jangan sia-siakan."

"Iya, Pak. Arga akan berusaha."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, keluarga kecil itu makan malam dengan perasaan lebih tenang. Bukan karena makanan lebih banyak, tapi karena ada harapan di hati.

Harapan bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan. Harapan bahwa di tengah kesulitan, selalu ada pertolongan. Harapan bahwa mimpi-mimpi itu tidak harus mati.

Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Beberapa minggu setelah Pak Darma datang dengan kabar gembira itu, kondisi Pak Wiryo semakin memburuk.

Penyakit yang dulu hanya batuk-batuk biasa, ternyata berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Pak Wiryo semakin kurus, semakin lemah. Ia tidak lagi bisa pergi ke sawah. Hanya terbaring di dipan bambu, kadang batuk-batuk hebat hingga mengeluarkan darah.

Bu Ratri membawanya ke puskesmas kecamatan. Dokter mengatakan bahwa Pak Wiryo menderita TBC dan harus segera diobati. Tapi obat-obatan mahal, dan mereka tidak punya uang.

Arga duduk di samping tempat tidur ayahnya setiap hari. Ia memegang tangan ayahnya yang semakin kurus, yang dulu begitu kuat menggenggam cangkul, kini hanya tinggal tulang terbungkus kulit.

"Pak, Bapak harus cepat sembuh." Katanya dengan suara bergetar. "Arga belum siap kalau Bapak..."

Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Air mata mengalir deras.

Pak Wiryo tersenyum lemah. Tangannya yang lemah meraih tangan Arga.

"Hidup ini seperti musim, Nak." Katanya lirih. "Ada masa baik, ada masa sulit. Ada masa tanam, ada masa panen. Ada masa sehat, ada masa sakit. Semua harus dijalani dengan ikhlas."

Arga mengangguk, meskipun hatinya hancur.

"Tapi ingat pesan Ayah." Lanjut Pak Wiryo. "Jangan pernah berhenti berjuang. Jangan pernah berhenti sekolah. Itu satu-satunya warisan yang bisa Ayah berikan padamu."

"Iya, Pak. Arga ingat."

Beberapa hari kemudian, kondisi Pak Wiryo semakin memburuk. Ia tidak bisa bangun sama sekali. Napasnya tersengal-sengal. Kadang ia bicara tidak jelas, seolah berada di antara sadar dan tidak sadar.

Suatu malam, ia memanggil Arga mendekat. Cahaya lampu minyak yang temaram membuat ruangan terasa begitu sunyi dan sakral.

"Arga... mendekatlah."

Arga mendekat, menggenggam tangan ayahnya yang dingin. Air matanya tidak bisa ia tahan lagi.

"Jangan pernah berhenti sekolah." Kata Pak Wiryo pelan. "Sekolah setinggi-tingginya. Raih mimpimu."

"Arga janji, Pak."

"Dan jangan lupakan desa ini." Lanjut Pak Wiryo. "Desa ini tanah kelahiranmu. Suatu hari nanti, kalau kamu sudah sukses, ingatlah untuk kembali dan membangunnya."

Arga menangis tersedu-sedu. "Arga janji, Pak. Arga tidak akan lupa."

Pak Wiryo tersenyum. Senyum terakhir yang akan selalu terkenang dalam hati Arga. Lalu ia menutup matanya untuk terakhir kalinya.

"Pak? Pak!" teriak Arga histeris. "Pak, jangan tinggalkan Arga! Pak!"

Bu Ratri yang mendengar teriakan itu berlari masuk. Ia melihat suaminya telah tiada. Tubuhnya ambruk di samping suaminya, menangis sejadi-jadinya.

Malam itu, desa Sumber Langit kehilangan salah satu petaninya. Seorang lelaki sederhana yang telah bekerja keras sepanjang hidupnya untuk keluarga. Seorang ayah yang telah menanamkan mimpi-mimpi besar pada anaknya.

Dan Arga kehilangan sosok yang paling ia kagumi. Sosok yang menjadi panutannya. Sosok yang pertama kali mengajarinya tentang mimpi, tentang perjuangan, tentang cinta pada tanah kelahiran.

Pemakaman Pak Wiryo berlangsung sederhana, sesuai dengan kesederhanaan hidupnya. Warga desa datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Mereka membawa serta makanan, membantu Bu Ratri yang sedang berduka, dan mendoakan almarhum.

Arga berdiri di samping makam ayahnya dengan mata merah. Sepanjang pemakaman, ia tidak banyak bicara. Ia hanya diam, menatap tanah yang baru saja menutup tubuh ayahnya.

Angin sore bertiup pelan, seolah ikut berduka. Daun-daun kering beterbangan, jatuh di sekitar makam baru itu. Langit mendung, tapi tidak hujan. Seperti alam pun ikut merasakan kesedihan.

Setelah semua orang pulang, Arga masih berdiri di sana sendirian. Ia memandang gundukan tanah merah yang menjadi peristirahatan terakhir ayahnya. Di atasnya, bunga-bunga sederhana yang dibawa warga mulai layu.

Di dalam hatinya, Arga berkata pelan, "Pak... Arga akan menepati janji Arga. Arga akan sekolah setinggi-tingginya. Arga akan meraih mimpi-mimpi kita. Dan suatu hari nanti, Arga akan kembali untuk membangun desa ini."

Bu Ratri berdiri di sampingnya. Ia memeluk anaknya dari samping.

"Kamu harus kuat, Nak." Katanya lembut.

Arga mengangguk. Ia mengusap air matanya dengan lengan baju.

"Ibu, Arga janji. Arga tidak akan mengecewakan Ayah. Arga akan membuat Ayah bangga dari atas sana."

Mereka berdua berdiri di bawah langit senja yang mulai memerah, di depan makam yang masih basah. Dua insan yang ditinggalkan, tapi tidak patah. Dua hati yang terluka, tapi masih berdetak dengan harapan.

Hari itu Arga memahami satu hal: hidup tidak selalu memberi jalan yang mudah. Kadang ia memberi ujian yang begitu berat, begitu menyakitkan, hingga rasanya ingin menyerah saja. Tapi justru dari kesulitan itulah manusia belajar menjadi kuat. Justru dari air mata itulah manusia belajar tentang arti perjuangan.

Di bawah langit desa yang mulai gelap, seorang anak petani berdiri dengan tekad baru. Ia tidak lagi hanya memiliki mimpi. Kini ia juga memiliki alasan yang lebih kuat untuk berjuang: janji pada ayahnya, cinta pada ibunya, dan tanggung jawab pada desanya.

Dan perjalanan panjangnya untuk menantang takdir baru saja dimulai.

BAGIAN III

Pagi itu langit Desa Sumber Langit terlihat cerah, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Matahari bersinar hangat, seolah memberi restu pada perjalanan yang akan ditempuh. Burung-burung berkicau riang di pohon-pohon, menambah semarak suasana.

Tapi hati Arga terasa berat.

Di depan rumah bambu yang telah menjadi saksi bisu masa kecilnya, Arga berdiri dengan tas besar di punggungnya. Tas itu berisi beberapa pakaian, buku-buku kesayangan, foto ayahnya, dan segenggam tanah dari halaman rumah yang ia bawa sebagai kenangan.

Bu Ratri berdiri di depan pintu rumah sambil menahan air mata. Rambutnya yang semakin memutih tertiup angin pagi. Wajahnya yang mulai keriput menunjukkan perjuangan dan kesedihan yang tak terucap.

"Apakah kamu harus pergi sejauh itu, Nak?" tanyanya dengan suara lirih, hampir berbisik.

Arga menggenggam tangan ibunya. Tangan yang telah membesarkannya. Tangan yang telah bekerja keras sepanjang hidup. Tangan yang kini mulai keriput dan lemah.

"Arga harus belajar lebih banyak, Bu. Arga harus sekolah yang tinggi, seperti pesan Ayah. Kalau Arga tetap di sini, Arga tidak akan bisa mengubah apa-apa."

Bu Ratri mengangguk pelan, meskipun hatinya terasa berat. Ia tahu anaknya benar. Ia tahu anaknya harus pergi. Tapi sebagai ibu, melepas anak pergi jauh adalah salah satu hal tersulit di dunia.

"Jaga diri baik-baik, Nak." Pesannya. "Makan yang teratur. Jangan lupa ibadah. Jangan mudah putus asa. Dan ingat, Ibu selalu mendoakanmu."

Arga memeluk ibunya erat-erat. Tubuh ibunya yang kurus terasa begitu rapuh dalam pelukannya.

"Ibu juga jaga kesehatan. Jangan terlalu berat bekerja. Arga akan kirim uang setiap bulan, meskipun sedikit."

Bu Ratri tersenyum haru. "Jangan khawatirkan Ibu. Ibu sudah biasa hidup susah. Yang penting kamu sukses di sana."

Bus kecil yang akan membawa Arga ke kota sudah menunggu di ujung jalan desa. Beberapa warga desa ikut mengantar kepergiannya. Ada Pak Darma yang tersenyum bangga. Ada Bima yang memeluknya erat. Ada Joko dan teman-teman lainnya yang melambai dari kejauhan.

"Jaga diri, Ga!" teriak Bima. "Kalau sukses, jangan lupa teman-teman lama!"

Arga tersenyum dan mengangguk. "Pasti!"

Ia melangkah menuju bus. Setiap langkah terasa begitu berat. Ketika bus mulai berjalan meninggalkan desa, Arga menatap keluar jendela. Ia melihat sawah-sawah yang hijau terbentang, rumah-rumah sederhana yang mulai menjauh, dan ibunya yang masih berdiri di depan rumah, melambai dengan sapu tangan putih.

Ia melihat bukit kecil tempat ia sering merenung. Ia melihat sekolah dasarnya yang sederhana. Ia melihat makam ayahnya di kejauhan.

Air mata mengalir di pipinya. Tapi di dalam hatinya ia berjanji:

"Aku akan kembali. Dan suatu hari nanti, desa ini akan berubah."

Beberapa jam kemudian, bus memasuki kota.

Pemandangan berubah drastis. Gedung-gedung tinggi berdiri di mana-mana, menjulang seolah ingin menyentuh langit. Jalan raya dipenuhi kendaraan yang bergerak tanpa henti. Lampu-lampu lalu lintas berwarna-warni. Orang-orang berjalan dengan cepat, seolah selalu dikejar waktu.

Arga menatap semua itu dengan kagum sekaligus bingung. Selama lima belas tahun hidup di desa, ia tidak pernah melihat pemandangan seperti ini. Semua terasa asing. Semua terasa baru.

"Jadi... inilah dunia di luar desa," gumamnya pelan.

Bus berhenti di terminal. Arga turun dengan tas besar di punggungnya. Ia berdiri di tengah hiruk-pikuk terminal, bingung harus ke mana. Orang-orang berlalu-lalang tanpa peduli. Sopir angkutan kota berteriak-teriak menawarkan jasa. Pedagang asongan menawarkan dagangan.

"Mas, mau ke mana?" tawar seorang sopir angkutan kota.

"Um... saya mau ke daerah Kampung Baru." jawab Arga sesuai alamat kos yang diberikan Pak Darma.

"Naik, Mas. Saya lewat sana."

Arga naik ke angkutan kota yang penuh sesak. Ia duduk di pojok, memeluk tasnya erat-erat. Di sekelilingnya, orang-orang sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada yang main HP, ada yang tidur, ada yang membaca koran. Semua terasa asing.

Ketika sampai di Kampung Baru, Arga turun. Ia mencari-cari alamat yang diberikan. Jalanan sempit, padat penduduk. Rumah-rumah berdesakan, tidak seperti di desa yang luas dengan halaman dan sawah.

Akhirnya ia menemukan rumah kos sederhana. Sebuah rumah petak dengan beberapa kamar kecil. Pemiliknya, seorang ibu paruh baya bernama Bu Lastri, menyambutnya dengan ramah.

"Kamu Arga? Dari desa Sumber Langit?"

"Iya, Bu."

"Silakan masuk. Kamarnya sudah siap. Kecil, tapi mudah-mudahan betah."

Kamar itu memang kecil. Hanya cukup untuk satu tempat tidur tipis, satu meja belajar kecil, dan lemari pakaian mini. Jendelanya menghadap ke tembok tetangga, sehingga tidak banyak cahaya masuk. Tapi bagi Arga, itu sudah cukup.

"Murah, Bu?" tanyanya hati-hati.

Bu Lastri tersenyum. "Dua ratus ribu sebulan, sudah termasuk listrik dan air. Tapi kalau kamu anak baik dan rajin, bisa saya kurangin sedikit."

Arga menghela napas lega. Uang bekal dari ibunya dan tabungan hasil bekerja selama liburan, cukup untuk beberapa bulan ke depan.

Malam harinya, untuk pertama kalinya Arga merasakan kesunyian yang berbeda. Di desa, malam diiringi suara jangkrik, suara kodok, dan sesekali suara burung hantu. Di sini, malam diiringi suara kendaraan, suara tetangga yang menonton TV, dan suara musik dari warung-warung.

Ia duduk di tepi tempat tidur, membuka foto ayahnya yang selalu ia bawa. Air mata mengalir lagi.

"Pak... Arga sudah sampai di kota. Arga akan berusaha sekuat tenaga."

Kota terasa sangat besar dan asing. Tapi di tempat asing itulah perjalanan hidupnya akan benar-benar dimulai.

Hari-hari pertama di kota tidak mudah bagi Arga. Segalanya baru. Segalanya asing. Ia harus belajar beradaptasi dengan cepat.

Setelah mendaftar di sebuah SMA negeri yang cukup terkenal, Arga mulai menjalani rutinitas barunya. Pagi hingga siang ia sekolah. Sore hingga malam ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pekerjaan pertamanya adalah sebagai pelayan di sebuah warung makan sederhana tidak jauh dari kosnya. Warung itu milik Pak Hasan, seorang pria paruh baya yang baik hati tapi tegas.

Pekerjaan Arga cukup sederhana: mencuci piring, membersihkan meja, sesekali melayani pembeli. Upahnya kecil, hanya cukup untuk makan dan membayar kos. Tapi ia bersyukur masih bisa mendapatkan pekerjaan.

Hari pertama bekerja, Arga hampir pingsan karena kelelahan. Sepulang sekolah ia langsung ke warung, bekerja hingga pukul sepuluh malam tanpa istirahat. Kakinya pegal, tangannya lecet karena terkena sabun cuci piring.

Pak Hasan yang memperhatikan keadaannya, memanggil Arga di sela-sela kesibukan.

"Kamu, sini sebentar."

Arga mendekat, agak takut. "Ada apa, Pak?"

Pak Hasan menuangkan segelas teh manis dan menyodorkannya pada Arga. "Minum dulu. Istirahat sebentar."

Arga menerima teh itu ragu-ragu. "Tapi pekerjaan masih banyak, Pak..."

"Sudah, tidak apa-apa. Nanti bisa dikerjakan. Kamu kelihatan capek sekali."

Arga duduk di kursi belakang warung, meminum teh manis hangat itu. Rasanya luar biasa. Mungkin karena ia sangat lelah, atau mungkin karena kebaikan Pak Hasan, teh itu terasa lebih manis dari biasanya.

"Kamu sekolah sambil kerja?" tanya Pak Hasan.

Arga mengangguk. "Iya, Pak. Orang tua saya tidak mampu. Saya harus biaya sendiri."

Pak Hasan mengangguk-angguk. "Saya tahu perasaan itu. Dulu saya juga begitu. Merantau dari kampung, sekolah sambil kerja. Capek? Pasti. Tapi percayalah, semua ini akan terbayar suatu hari nanti."

Arga tersenyum. "Terima kasih, Pak."

"Pokoknya kalau ada apa-apa, bilang sama saya. Jangan sungkan. Kita sama-sama perantau di sini."

Sejak hari itu, hubungan Arga dan Pak Hasan semakin akrab. Pak Hasan sering memberinya makanan ekstra, atau mengizinkannya pulang lebih awal jika ada ujian. Kebaikan-kebaikan kecil yang sangat berarti bagi Arga.

Namun hidup di kota tidak selalu baik. Ada kalanya Arga menghadapi kesulitan yang membuatnya hampir menyerah.

Suatu malam, setelah bekerja lembur, Arga pulang ke kos dengan badan letih. Ketika sampai di kamar, ia mendapati pintu kamarnya terbuka. Jantungnya berdegup kencang. Ia masuk dan melihat kamarnya berantakan. Semua barangnya diacak-acak.

Maling!

Arga memeriksa barang-barangnya. Uang tabungan yang ia simpan di bawah kasur, raib. Beberapa pakaian yang masih lumayan, hilang. Hanya buku-buku dan foto ayahnya yang masih ada, mungkin karena tidak berharga bagi pencuri.

Arga duduk lemas di lantai. Uang itu adalah tabungannya selama tiga bulan bekerja. Uang untuk membayar SPP bulan depan dan membeli buku. Kini semuanya lenyap.

Ia ingin menangis, tapi air mata sepertinya sudah kering. Ia hanya duduk terpaku, memandangi kekacauan di kamarnya.

Ketika Bu Lastri tahu kejadian itu, ia segera datang.

"Ya ampun, Arga! Maafkan Ibu, Ibu tidak tahu ada maling masuk. Kamu tidak apa-apa?"

Arga menggeleng lemas. "Saya tidak apa-apa, Bu. Tapi uang tabungan saya... habis."

Bu Lastri menghela napas. "Ibu turut berduka. Tapi kamu harus tetap semangat, Nak. Jangan sampai kejadian ini membuatmu putus asa."

Malam itu Arga tidur tanpa selimut dan bantal, karena semua sudah dicuri. Ia hanya memeluk foto ayahnya, berusaha mencari kekuatan.

Keesokan harinya, Pak Hasan mendengar kabar itu dari Bu Lastri. Ia memanggil Arga ke warung.

"Saya dengar kamu kemalingan." Katanya.

Arga mengangguk lesu. "Iya, Pak. Uang tabungan saya habis."

Pak Hasan menghela napas. Lalu ia merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang.

"Ini, untuk kamu."

Arga terkejut. "Pak, tidak usah. Saya tidak bisa menerima..."

"Ambil saja. Anggap pinjaman. Nanti kamu bisa bayar dengan potong gaji sedikit-sedikit."

Arga menatap uang itu, lalu menatap Pak Hasan. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus berkata apa."

"Tidak usah berkata apa-apa. Yang penting kamu tetap semangat sekolah. Jangan menyerah."

Kejadian itu membuat Arga belajar satu hal: di tengah kerasnya hidup di kota, masih ada orang-orang baik yang rela membantu. Ia tidak sendiri. Ia punya orang-orang yang peduli.

Malam di kota terasa berbeda dengan malam di desa. Di desa, malam gelap dan sunyi, hanya diiringi suara jangkrik dan sesekali suara burung hantu. Di kota, malam terang benderang oleh lampu-lampu jalan dan neon-neon toko. Suara kendaraan tidak pernah benar-benar berhenti. Musik dari kafe-kafe dan warung-warung sayup-sayup terdengar.

Namun bagi Arga, di tengah keramaian kota itu, ia justru merasa lebih sepi.

Suatu malam, ketika tidak ada pekerjaan di warung, ia duduk sendirian di atap rumah kos. Atap itu adalah tempat favoritnya untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk kota. Dari sana ia bisa melihat langit malam yang tidak lagi penuh bintang karena polusi cahaya. Hanya bulan dan beberapa bintang paling terang yang masih bisa dilihat.

Ia menatap langit itu, merindukan langit desanya yang penuh bintang. Merindukan suara jangkrik dan kodok. Merindukan rumah bambunya. Merindukan ibunya.

Temannya sekamar, seorang mahasiswa bernama Doni, datang menghampiri. Doni adalah anak kota yang kuliah di universitas ternama. Ia cukup baik pada Arga, meskipun kadang ada jarak karena perbedaan latar belakang.

"Kamu sering sendirian di sini." Kata Doni sambil duduk di samping Arga.

Arga tersenyum tipis. "Aku sedang memikirkan rumah."

"Rindu desa?"

Arga mengangguk. "Di desa, malam terasa damai. Udaranya sejuk. Langitnya penuh bintang. Di sini... semuanya ramai, tapi anehnya aku merasa lebih sepi."

Doni mengangguk mengerti. "Itu biasa bagi perantau, apalagi yang baru pertama kali jauh dari rumah. Aku juga dulu begitu, waktu pertama kali kuliah di sini. Tapi lama-lama terbiasa."

"Kamu juga perantau?"

"Iya. Orang tuaku di Sumatra. Jauh juga. Tapi sudah beberapa tahun, jadi sudah agak terbiasa."

Mereka diam sejenak, menikmati angin malam yang berhembus.

"Kamu anak desa, ya?" tanya Doni kemudian.

Arga mengangguk. "Iya. Dari desa kecil yang mungkin tidak pernah kamu dengar namanya."

"Terus kenapa kamu ke kota? Mau sekolah?"

"Kuliah nanti. Sekarang masih SMA dulu. Tapi iya, saya ke sini untuk sekolah. Di desa saya, sekolah cuma sampai SD. Kalau mau lanjut, harus ke kota."

Doni mengangguk-angguk. "Berat ya. Sekolah sambil kerja."

"Alhamdulillah masih bisa bertahan."

Mereka berbincang cukup lama malam itu. Doni banyak bercerita tentang pengalamannya sebagai perantau, tentang suka duka hidup di kota, tentang bagaimana ia bertahan dan berhasil. Cerita-cerita itu memberi semangat baru bagi Arga.

"Pokoknya kamu harus kuat." Kata Doni di akhir perbincangan. "Kota ini keras. Banyak godaan. Banyak orang jahat. Tapi kalau kamu punya tujuan yang jelas, kamu akan selamat."

"Tujuan apa?"

"Mimpi. Cita-cita. Alasan kenapa kamu di sini. Itu yang akan menuntunmu ketika kamu mulai tersesat."

Arga merenungkan kata-kata itu. Mimpinya. Cita-citanya. Alasan ia berada di kota yang asing ini.

Ia ingat ayahnya. Ia ingat pesan-pesannya. Ia ingat desanya yang tertinggal. Ia ingat janjinya untuk kembali dan membangun desa.

Itulah tujuannya. Itulah yang akan menuntunnya.

"Terima kasih, Doni." Katanya tulus.

"Sama-sama. Sekarang turunlah. Sudah malam, besok kamu sekolah."

Mereka turun dari atap. Malam itu Arga tidur dengan perasaan sedikit lebih tenang. Kesepian masih ada, kerinduan masih terasa. Tapi ia tahu, ia tidak sendiri. Ada teman-teman baik di sekitarnya.

Hidup di kota bagaikan naik turunnya ombak. Kadang di atas, kadang di bawah. Setelah kejadian kemalingan, Arga mulai bangkit perlahan. Ia bekerja lebih keras, menabung lebih rajin, dan lebih berhati-hati.

Namun ujian kembali datang.

Suatu hari, Arga menerima kabar buruk. Ia gagal dalam ujian akhir semester. Nilai matematikanya jeblok, di bawah standar kelulusan. Hasil itu membuatnya sangat terpukul.

Di kamar kos yang sempit, ia duduk diam sambil menatap kertas hasil ujian yang dibagikan gurunya. Angka merah besar tertera di sana: 45. Nilai terendah sepanjang sejarah sekolahnya.

Doni yang baru pulang kuliah melihat Arga murung. "Kenapa, Ga? Kok lesu?"

Arga menunjukkan kertas itu tanpa berkata apa-apa.

Doni melihatnya, lalu menghela napas. "Ya ampun, Ga. Ini parah. Tapi jangan terlalu dipikirkan. Masih ada ujian perbaikan, kan?"

"Tidak semua orang bisa berhasil di kota." Gumam Arga pelan. "Mungkin aku memang tidak cukup baik."

Doni duduk di sampingnya. "Jangan bicara seperti itu. Satu kegagalan bukan akhir segalanya."

Tapi Arga sudah terlanjur putus asa. Nilai jelek itu seperti pukulan terakhir setelah sekian lama ia berjuang. Ia merasa semua usahanya sia-sia. Ia merasa tidak akan pernah bisa bersaing dengan anak-anak kota yang lebih pintar, lebih kaya, lebih segalanya.

Malam itu ia hampir memutuskan untuk pulang ke desa. Ia berpikir bahwa mungkin takdirnya memang hanya menjadi petani seperti ayahnya. Mungkin ia tidak ditakdirkan untuk sekolah tinggi. Mungkin mimpinya terlalu besar untuk anak desa sepertinya.

Ia membuka lemari, mengeluarkan tasnya, mulai memasukkan pakaian-pakaiannya. Ia akan pulang besok pagi. Menyerah. Kembali ke desa. Membantu ibunya di sawah. Melupakan semua mimpi besarnya.

Namun sebelum tidur, ia membuka kembali buku catatan lama yang selalu ia bawa dari desa. Buku usang dengan sampul lusuh, pemberian Pak Darma. Di halaman pertama, ada kalimat yang ditulis tangan:

"Jangan pernah berhenti berjuang. Kegagalan bukan akhir, tapi awal dari perjuangan yang lebih keras. Ingat, anak petani bisa meraih mimpi."

Itu tulisan Pak Darma. Diberikan ketika Arga pamit pergi merantau.

Arga membaca kalimat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh membasahi halaman buku. Ia menutup buku itu perlahan.

Ia ingat ayahnya. Ia ingat pesan-pesannya. Ia ingat ibunya yang menunggu di desa. Ia ingat Pak Darma yang begitu percaya padanya. Ia ingat semua orang yang telah membantunya.

Apakah ia akan mengecewakan mereka semua hanya karena satu kegagalan?

Tidak. Ia tidak bisa.

Ia membuka tasnya, mengeluarkan kembali pakaian-pakaian yang sudah dimasukkan. Ia akan tetap di sini. Ia akan berjuang lebih keras. Ia akan membuktikan bahwa anak petani dari desa kecil bisa berhasil.

Kekuatan baru muncul di dalam hatinya. Bukan kekuatan yang arogan, tapi kekuatan yang tenang dan mantap. Kekuatan yang lahir dari kesadaran bahwa menyerah bukan pilihan.

Malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan pernah menyerah lagi. Apapun yang terjadi, ia akan terus berjuang.

Beberapa hari setelah kegagalannya, Arga dipanggil oleh Pak Rahmat, guru matematika sekaligus wali kelasnya. Arga masuk ke ruang guru dengan perasaan cemas. Apa lagi yang salah? Apakah ia akan dikeluarkan?

"Silakan duduk, Arga." Kata Pak Rahmat ramah.

Arga duduk di kursi di depan meja Pak Rahmat. Ia menunduk, tidak berani menatap gurunya.

"Saya melihat nilai kamu menurun drastis." Kata Pak Rahmat membuka percakapan.

Arga menunduk lebih dalam. "Saya minta maaf, Pak. Saya janji akan belajar lebih giat."

Pak Rahmat tidak langsung menjawab. Ia memandang Arga dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu ia berkata, "Saya tahu kamu bekerja sambil kuliah."

Arga terkejut. Ia mendongak. "Bagaimana Bapak tahu?"

Pak Rahmat tersenyum. "Saya memperhatikan mahasiswa saya. Terutama yang nilainya tiba-tiba turun drastis. Biasanya ada masalah. Saya cari tahu, dan ternyata kamu bekerja setiap sore sampai malam di warung makan."

Arga terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.

"Saya juga tahu kamu tinggal di kos sempit, jauh dari keluarga, dan mengirim uang untuk ibumu di desa." Lanjut Pak Rahmat.

Air mata Arga mulai menggenang. Bukan karena sedih, tapi karena tersentuh. Selama ini ia merasa berjuang sendiri. Tapi ternyata ada yang memperhatikan.

"Orang yang berasal dari kesulitan biasanya memiliki ketahanan yang lebih kuat." Kata Pak Rahmat. "Mereka lebih tangguh, lebih pekerja keras, lebih tahu arti perjuangan. Kamu punya potensi itu, Arga."

Arga mengangguk, masih menahan tangis.

"Kegagalan ini bukan akhir." Lanjut Pak Rahmat. "Ini pelajaran. Kamu harus belajar mengatur waktu lebih baik. Belajar dan bekerja harus seimbang. Kalau perlu, cari pekerjaan yang lebih ringan atau minta keringanan waktu."

"Tapi, Pak..."

"Saya akan bicara dengan Pak Hasan, pemilik warung tempat kamu bekerja. Saya kenal beliau. Mungkin kita bisa mengatur jadwal yang lebih baik untukmu."

Arga tidak bisa menahan air matanya lagi. Kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata haru. Ia tidak menyangka akan mendapat perhatian sebesar ini dari gurunya.

"Terima kasih, Pak." Isaknya.

"Tidak perlu berterima kasih, Arga. Kamu berhak mendapat kesempatan yang sama seperti siswa lain. Jangan pernah ragu untuk meminta bantuan."

Kata-kata itu seperti cahaya kecil di tengah kegelapan. Arga merasa kembali memiliki harapan. Ia tidak sendiri. Ada guru yang peduli, ada orang-orang baik di sekitarnya. Ia hanya perlu terus berjuang.

Sejak hari itu, dengan bantuan Pak Rahmat, kehidupan Arga mulai membaik. Pak Hasan memberinya jadwal kerja yang lebih fleksibel, memungkinkannya untuk belajar lebih banyak. Pak Rahmat juga memberikan les tambahan gratis untuk Arga dan beberapa siswa lain yang membutuhkan.

Arga mulai bekerja lebih keras, tapi juga lebih cerdas. Ia membagi waktunya dengan lebih disiplin. Pagi belajar di sekolah. Sore belajar kelompok atau les tambahan. Malam bekerja di warung, lalu belajar lagi setelah pulang hingga larut.

Tidurnya hanya empat sampai lima jam sehari. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia punya tujuan. Ia punya mimpi.

Beberapa bulan kemudian, hasil kerjanya mulai terlihat. Nilai-nilainya membaik. Matematika yang dulu menjadi momok, kini mulai ia kuasai. Pak Rahmat memujinya di depan kelas.

"Lihat teman-teman, Arga dulu nilainya jeblok. Tapi lihat sekarang, ia bisa dapat nilai 85 di ulangan. Ini bukti bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil."

Tepuk tangan riuh dari teman-teman sekelas. Arga tersipu malu, tapi hatinya berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bangga pada dirinya sendiri.

Ia juga mendapatkan kesempatan mengikuti program penelitian kecil dari sekolah. Program itu memungkinkan siswa untuk melakukan penelitian sederhana tentang lingkungan sekitar. Arga memilih topik tentang potensi desanya, tentang bagaimana mengembangkan desa tertinggal.

Gurunya terkesan dengan proposalnya. "Kamu serius ingin membangun desamu?"

"Sangat serius, Pak. Itu mimpi saya sejak kecil."

"Bagus. Teruslah bermimpi. Tapi ingat, mimpi saja tidak cukup. Harus ada tindakan nyata."

Malam itu, setelah sekian lama, Arga kembali duduk di atap rumah kos. Namun kali ini perasaannya berbeda. Ia tidak lagi merasa putus asa. Ia tidak lagi merasa sendirian.

Ia memandang langit kota yang samar. Hanya beberapa bintang yang terlihat. Tapi ia tahu, di balik polusi cahaya itu, bintang-bintang tetap ada. Sama seperti harapan. Kadang tidak terlihat, tapi selalu ada.

"Ayah... aku tidak akan menyerah." Bisiknya pelan. "Aku akan terus berjuang. Untukmu, untuk Ibu, untuk desa kita."

Ia menutup mata sejenak. Di dalam bayangannya muncul kembali desa kecilnya. Sawah yang luas. Rumah bambu. Ibunya yang selalu menunggu kepulangannya. Makam ayahnya di bawah pohon besar.

Semua itu memberinya kekuatan. Semua itu menjadi alasan untuk terus maju.

Di dalam hatinya Arga tahu satu hal: semua perjuangan ini bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk desa yang suatu hari ingin ia ubah. Untuk mimpi yang dulu hampir mati. Untuk janji yang pernah ia ucapkan di makam ayahnya.

Perjalanan panjangnya masih jauh dari selesai. Masih banyak rintangan yang harus ia hadapi. Masih banyak air mata yang mungkin harus ia tumpahkan.

Namun mimpi yang hampir padam kini telah hidup kembali. Dan seorang anak desa yang pernah hampir menyerah kini kembali berdiri untuk menantang takdirnya.

BAGIAN IV

Enam tahun telah berlalu sejak Arga pertama kali menginjakkan kaki di kota. Enam tahun perjuangan, air mata, dan kerja keras. Kini ia telah menyelesaikan pendidikan S1-nya dengan predikat cumlaude. Ia lulus sebagai sarjana pertanian dari salah satu universitas terbaik di kota.

Hari kelulusannya adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Ia mengenakan toga, berdiri di antara ratusan mahasiswa lain, menerima ijazah dari rektor. Ibunya tidak bisa hadir karena sakit dan tidak mampu membayar ongkos ke kota. Tapi Arga tahu, doa ibunya selalu menyertainya.

Pak Darma juga tidak bisa hadir. Tapi ia mengirim surat yang dibacakan Arga berulang-ulang:

"Selamat, Arga. Kamu telah membuktikan bahwa anak desa bisa meraih mimpi. Bapak bangga padamu. Sekarang saatnya pulang dan wujudkan mimpi yang lebih besar: membangun desa kita."

Setelah wisuda, Arga menghadapi dilema. Banyak tawaran pekerjaan datang. Perusahaan-perusahaan besar menawarkan gaji tinggi. Ada juga tawaran untuk melanjutkan studi S2 dengan beasiswa.

Namun di dalam hatinya, hanya satu yang ia inginkan: pulang.

Pak Hasan, majikannya selama enam tahun, memanggilnya untuk bicara.

"Jadi, kamu mau pulang?" tanyanya.

Arga mengangguk mantap. "Iya, Pak. Desa saya butuh saya."

Pak Hasan tersenyum. "Saya sudah menduga itu. Kamu berbeda dari anak-anak muda lain. Kamu punya ikatan kuat dengan tanah kelahiranmu. Itu bagus."

"Terima kasih untuk semuanya, Pak. Selama enam tahun Bapak sudah seperti keluarga sendiri."

Pak Hasan mengeluarkan amplop dari sakunya. "Ini sedikit tanda mata dari saya. Gunakan untuk memulai sesuatu di desamu."

Arga menolak. "Pak, tidak usah. Bapak sudah terlalu baik."

"Ambil. Ini bukan uang, ini investasi. Saya investasi pada mimpi seorang anak muda. Saya yakin kamu akan sukses."

Arga menerima amplop itu dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk Pak Hasan erat-erat.

Bus yang membawa Arga melaju perlahan meninggalkan kota. Gedung-gedung tinggi yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya mulai menghilang dari pandangan, bergantian dengan hamparan sawah dan perbukitan hijau yang semakin lama semakin luas.

Arga menatap keluar jendela dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada haru, ada rindu, ada semangat, ada juga sedikit cemas. Enam tahun ia merantau. Kini ia kembali.

Di kepalanya terbayang rumah bambu tempat ia dibesarkan. Jalan tanah yang dulu ia lewati menuju sekolah. Suara ibunya yang selalu memanggilnya pulang saat senja. Makam ayahnya di bawah pohon besar.

Ketika bus berhenti di ujung jalan desa, Arga turun dengan tas di punggungnya. Ia menarik napas dalam-dalam. Udara desa terasa begitu segar. Angin membawa aroma padi dan tanah basah yang selama ini ia rindukan.

Desa Sumber Langit masih terlihat sama. Sawah-sawah terbentang hijau. Bukit-bukit menjulang di kejauhan. Sungai mengalir jernih di sebelah timur desa.

Namun ada juga sesuatu yang membuat hatinya terasa berat. Jalan desa masih rusak, bahkan mungkin lebih parah dari sebelumnya. Beberapa rumah tampak lebih tua dan lebih usang dari yang ia ingat. Wajah-wajah penduduk yang ditemuinya di jalan terlihat lebih tua, lebih lelah.

Arga berjalan menuju rumahnya. Setiap langkah terasa begitu berarti. Ia melewati sawah yang dulu digarap ayahnya. Sekarang sawah itu digarap oleh pamannya, karena ibunya tidak mampu mengolahnya sendiri.

Di depan rumah bambu itu, Bu Ratri sedang menyapu halaman. Tubuhnya semakin tua, semakin kurus. Rambutnya nyaris putih semua. Tapi semangatnya masih sama.

Ketika melihat Arga, sapu itu jatuh dari tangannya.

"Arga?" suaranya bergetar, tidak percaya.

Arga tersenyum. Air mata mengalir di pipinya. "Ibu..."

Bu Ratri berlari, memeluk anaknya erat-erat. Tubuh kecilnya bergetar menahan tangis haru. "Anakku... anakku sudah pulang..."

Mereka berpelukan cukup lama, melepas rindu yang terpendam bertahun-tahun. Warga desa yang lewat ikut tersentuh melihat pemandangan itu. Ada yang tersenyum, ada yang ikut menangis haru.

"Maafkan Ibu tidak bisa datang ke wisudamu." Isak Bu Ratri.

"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting Ibu sehat."

Arga menatap rumah itu. Rumah bambu sederhana yang selama ini ia rindukan. Rumah yang menyimpan jutaan kenangan masa kecil. Rumah yang menjadi saksi bisu perjuangan keluarganya.

Namun di dalam hatinya ia tahu: kepulangannya bukan hanya untuk melepas rindu. Ia datang membawa sebuah tekad. Tekad untuk mengubah desa ini. Tekad yang lahir dari mimpi seorang anak petani, yang kini tumbuh menjadi pemuda dengan ilmu dan pengalaman.

Beberapa hari setelah kepulangannya, Arga mulai berjalan mengelilingi desa. Ia ingin melihat sendiri bagaimana keadaan desanya setelah enam tahun ia tinggalkan.

Ia melihat banyak hal yang membuatnya berpikir.

Sekolah dasar yang dulu ia tempati masih berdiri di tempat yang sama. Bangunannya semakin tua, cat temboknya sudah pudar dan mengelupas di banyak bagian. Beberapa papan kayu di dinding sudah lapuk. Atap gentingnya bolong di sana-sini.

Halaman sekolah terlihat sepi. Hanya beberapa anak yang bermain di bawah pohon. Guru-guru yang dulu mengajarnya, kini semakin tua. Beberapa di antaranya sudah pensiun, digantikan guru-guru baru yang muda, tapi semangatnya? Arga tidak tahu.

Ia bertemu dengan Pak Darma yang sedang duduk di bangku kayu di depan kelas, seperti dulu. Rambut Pak Darma kini putih semua. Kacamatanya semakin tebal. Tapi senyumnya masih sama.

"Arga?" kata Pak Darma dengan wajah terkejut, matanya berbinar.

Arga tersenyum dan menyalami gurunya. Tangannya yang tua dan keriput terasa hangat dalam genggaman Arga.

"Pak, saya kembali."

Pak Darma menatapnya dengan bangga, dari ujung rambut hingga kaki. "Kamu sudah jauh berubah. Sudah dewasa. Sudah sarjana."

Mereka berjalan mengelilingi sekolah. Pak Darma bercerita tentang perkembangan sekolah, tentang murid-murid baru, tentang tantangan yang dihadapi.

"Bagaimana keadaan desa sekarang, Pak?" tanya Arga.

Pak Darma menghela napas panjang. Napas yang berat, seperti membawa beban bertahun-tahun. "Tidak banyak berubah, Nak. Bahkan mungkin makin parah."

"Kenapa? Bukannya ada dana desa dari pemerintah?"

"Ada. Tapi entah ke mana. Jalan masih rusak. Listrik masih sering padam. Pemuda-pemuda masih pada pergi merantau. Yang tinggal hanya orang-orang tua dan anak-anak kecil."

Arga terdiam. Ia melihat sekelilingnya. Lapangan desa yang dulu sering digunakan untuk main bola, kini ditumbuhi rumput liar. Warung-warung kecil banyak yang tutup. Rumah-rumah kosong karena ditinggal pergi pemiliknya.

"Karena tidak banyak orang yang mau memperjuangkannya." Lanjut Pak Darma. "Orang-orang sudah pasrah. Mereka menganggap ini sudah takdir."

"Takdir?" Arga mengulang kata itu dengan nada getir. "Sejak kapan keterbelakangan disebut takdir?"

Pak Darma menatap Arga tajam. "Itu pertanyaan yang tepat. Tapi sayangnya, tidak banyak yang berpikir seperti itu."

Di lapangan desa, Arga juga melihat banyak pemuda yang menghabiskan waktu tanpa pekerjaan tetap. Mereka duduk-duduk di warung kopi, main kartu, atau sekadar nongkrong tanpa tujuan. Sebagian dari mereka bahkan mulai kehilangan harapan, terjerumus pada minuman keras atau judi kecil-kecilan.

Suatu malam, Arga berbicara dengan ibunya.

"Ibu, desa ini masih tertinggal. Bahkan mungkin lebih parah dari dulu."

Bu Ratri mengangguk pelan. "Begitulah kenyataannya, Nak. Semakin banyak orang pergi, semakin sepi desa ini."

"Kenapa tidak ada yang berbuat sesuatu?"

"Orang-orang sudah putus asa, Le. Mereka sudah tidak percaya bahwa desa ini bisa berubah. Mereka anggap ini sudah suratan takdir."

Arga menatap keluar jendela. Malam di desa begitu gelap, hanya diterangi lampu minyak di beberapa rumah. Listrik padam, seperti biasa. Bintang-bintang bertaburan di langit, indah tapi ironis. Di bawah langit yang indah itu, desanya terpuruk dalam keterbelakangan.

Namun kali ini ia tidak hanya melihat masalah. Ia juga mulai memikirkan solusi. Ilmu yang ia dapat di bangku kuliah, pengalaman hidup di kota, dan tekad yang membara, semuanya akan ia gunakan.

"Bu, Arga punya rencana."

Bu Ratri menatap anaknya. "Rencana apa?"

"Arga ingin mengajak anak-anak muda desa untuk bergerak. Arga ingin memulai perubahan dari hal-hal kecil."

Bu Ratri tersenyum. Senyum bangga seorang ibu pada anaknya. "Lakukanlah, Nak. Asalkan niatmu baik, Insya Allah akan diberi kemudahan."

Suatu sore, Arga kembali berdiri di bukit kecil yang dulu sering ia kunjungi saat masih kecil. Bukit itu tidak jauh dari rumahnya, hanya perlu berjalan kaki sekitar setengah jam. Dari puncaknya, ia bisa melihat seluruh desa Sumber Langit terbentang di bawah.

Pemandangan itu masih sama seperti dulu. Sawah-sawah hijau membentang luas, dipotong oleh sungai yang berkelok-kelok. Rumah-rumah penduduk tersebar tidak beraturan. Jalan tanah berwarna merah membelah desa. Di kejauhan, bukit-bukit lain menjulang, menutupi cakrawala.

Angin sore bertiup pelan, membawa aroma khas pedesaan. Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan, pertanda matahari akan segera tenggelam.

Arga duduk di rerumputan, memandangi desanya dengan perasaan campur aduk. Ia teringat masa kecilnya. Ia ingat bagaimana dulu ia sering duduk di sini, bermimpi tentang masa depan. Ia ingat kata-kata ayahnya:

"Harus ada orang yang berani memperjuangkannya."

Ia mengepalkan tangannya. Mimpi yang dulu pernah ia miliki kini kembali hidup, lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak ingin hanya menjadi penonton. Ia tidak ingin hanya melihat desanya semakin terpuruk. Ia ingin menjadi bagian dari perubahan. Ia ingin menjadi orang yang berani memperjuangkan desanya.

"Ingat pesan Ayah." Gumamnya. "Jangan pernah lupakan desa ini."

Malam itu, setelah makan malam sederhana, Arga berbicara dengan ibunya.

"Bu, Arga ingin melakukan sesuatu untuk desa ini."

Bu Ratri menatap anaknya dengan lembut. "Apa yang ingin kamu lakukan?"

"Arga ingin menggerakkan pemuda-pemuda desa. Arga ingin memulai program-program sederhana. Membersihkan desa, memperbaiki jalan rusak, membuat kegiatan untuk anak-anak. Dari hal-hal kecil dulu."

Bu Ratri tersenyum bangga. "Itu ide bagus, Nak. Tapi ingat, tidak semua orang akan setuju. Akan ada yang menentang, akan ada yang meremehkan."

Arga mengangguk. "Arga tahu, Bu. Tapi Arga tidak akan menyerah sebelum mencoba."

"Kalau itu mimpimu, lakukanlah dengan hati yang tulus. Jangan berharap pujian, jangan berharap imbalan. Lakukan karena kamu peduli."

Kata-kata ibunya menguatkan tekad Arga. Ia tahu perjalanan ke depan tidak akan mudah. Tapi ia siap.

Langkah pertama Arga adalah mendekati para pemuda desa. Ia tahu ini bukan tugas mudah. Banyak pemuda yang sudah apatis, sudah kehilangan harapan, sudah terbiasa dengan kemalasan.

Suatu malam, ia mengumpulkan mereka di balai desa yang sudah lama tidak terpakai. Bangunan itu kotor dan berdebu, dengan beberapa kursi kayu tua berserakan. Arga membersihkannya sebisanya sebelum kedatangan mereka.

Beberapa pemuda datang. Tidak banyak, hanya sekitar sepuluh orang. Sebagian datang dengan rasa penasaran, sebagian lain karena iseng, tidak ada kerjaan.

Di antara mereka ada Rudi, pemuda berusia dua puluhan yang terkenal sebagai preman desa. Posturnya tinggi besar, dengan tato di lengan dan wajah sangar. Arga agak khawatir melihatnya datang.

"Ada apa, Ga? Ngumpulin anak muda mau ngapain?" tanya Rudi dengan nada sedikit menantang.

Arga mengambil napas dalam-dalam. Ia harus tenang. Ia harus bisa meyakinkan mereka.

"Terima kasih sudah datang, teman-teman." Mulainya. "Aku kumpulin kalian karena aku ingin ngomong sesuatu."

"Ngapain formal-formal? Langsung aja." Potong seorang pemuda lain.

Arga tersenyum. "Oke, langsung. Kita semua tahu desa ini tertinggal."

Beberapa pemuda saling memandang. Ada yang mengangguk, ada yang cuek.

"Dan?" tanya Rudi.

"Dan kita tidak bisa hanya mengeluh." Arga melanjutkan. "Kita lihat sendiri, desa kita makin terpuruk. Jalan rusak, listrik sering padam, pemuda pada pergi merantau. Yang tinggal ya kita-kita ini, yang katanya tidak punya masa depan."

"Emang iya." Gumam seorang pemuda. "Di sini memang nggak ada masa depan."

"Itu yang mau aku ubah." Kata Arga tegas.

Sekarang semua mata tertuju padanya. Rudi mengangkat alis, tertarik meskipun masih skeptis.

"Kita harus memulai perubahan dari diri sendiri. Dari hal-hal kecil. Gotong royong bersihkan desa. Perbaiki jalan yang rusak. Buat kegiatan untuk anak-anak. Kalau kita diam saja, tidak akan ada yang berubah."

Rudi tertawa kecil. Tawa yang meremehkan. "Perubahan? Lo pikir dengan gotong royong, desa ini bisa maju? Butuh uang, butuh proyek pemerintah, butuh orang-orang penting."

"Memang butuh semua itu." Arga tidak terpancing. "Tapi kalau kita tidak menunjukkan bahwa kita peduli, mana ada orang lain yang mau peduli? Kalau kita sendiri malas bergerak, siapa yang mau bergerak untuk kita?"

Suasana hening. Kata-kata Arga meresap, setidaknya bagi sebagian dari mereka.

"Jadi lo mau ngapain?" tanya Rudi lagi, nadanya sedikit lebih lunak.

"Aku mau ajak kalian kerja bakti Minggu depan. Bersihkan jalan desa, perbaiki lubang-lubang yang bisa diperbaiki. Setelah itu, kita pikirkan kegiatan lain."

Beberapa pemuda mulai berbisik-bisik. Ada yang tertarik, ada yang masih ragu. Rudi diam, berpikir.

"Aku ikut." Tiba-tiba seorang pemuda bernama Joko angkat bicara. Joko adalah pemuda pendiam yang jarang bergaul. Tapi ia dikenal pekerja keras. "Daripada nganggur, mending kerja bermanfaat."

Satu per satu yang lain mulai setuju. Akhirnya Rudi pun mengangguk. "Oke, gue ikut juga. Tapi gue mau liat, apa lo beneran serius atau cuma omdo (omong doang)."

Arga tersenyum lega. "Terima kasih, teman-teman. Kita buktikan kalau anak muda desa bisa bikin perubahan."

Malam itu, langkah kecil telah dimulai. Sepuluh pemuda desa, dengan berbagai latar belakang, bersedia bergerak. Arga tahu ini baru awal. Tapi setidaknya, ada benih yang mulai tumbuh.

Minggu pagi yang cerah, sepuluh pemuda berkumpul di balai desa dengan peralatan seadanya. Ada yang membawa cangkul, ada yang membawa sekop, ada yang membawa gerobak dorong. Beberapa warga yang penasaran mulai berdatangan, melihat apa yang dilakukan anak-anak muda ini.

Arga memimpin dengan semangat. "Kita mulai dari jalan depan balai desa dulu. Bersihkan rumput-rumput liar, tutup lubang-lubang dengan batu dan tanah."

Mereka mulai bekerja. Awalnya agak kikuk, karena kebanyakan sudah lama tidak melakukan kerja fisik seperti ini. Tapi lama-lama mereka menemukan ritme. Cangkul menggali, sekop memindah tanah, gerobak mengangkut batu.

Rudi, yang awalnya hanya berdiri memandang, akhirnya ikut turun tangan. Dengan postur besarnya, ia mampu memindahkan batu-batu besar yang tidak bisa diangkat orang lain.

"Wah, Rudi kuat juga ya." goda Joko.

Rudi hanya mendengus, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Mungkin senang bisa berguna.

Warga yang lewat mulai berhenti, melihat, lalu ikut membantu. Seorang bapak-bapak membawa minuman dingin untuk mereka. Seorang ibu-ibu membawa makanan kecil. Semangat gotong royong yang selama ini hilang, mulai tumbuh lagi.

Pak Darma datang dengan tongkatnya. Matanya berbinar melihat pemandangan itu.

"Ini baru pemuda desa." Katanya bangga. "Sudah lama saya tidak melihat semangat seperti ini."

Menjelang siang, sebagian jalan di depan balai desa sudah bersih dan rata. Memang tidak sempurna, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Mereka beristirahat di bawah pohon besar, menikmati minuman dan makanan yang diberikan warga. Wajah-wajah lelah tapi puas.

"Ga, besok kita kerja lagi?" tanya Joko.

"Besok Minggu depan." jawab Arga. "Kita lanjut ke bagian jalan yang lain. Terus setiap Minggu kita kerja bakti di tempat yang berbeda."

Rudi yang duduk agak jauh, tiba-tiba bersuara. "Gue mau bawa lebih banyak orang minggu depan. Biar cepat selesai."

Arga tersenyum. "Bagus, Rud. Makin banyak makin ringan."

Hari itu menjadi awal dari kebangkitan semangat di desa. Perlahan tapi pasti, pemuda-pemuda desa mulai bergerak. Mereka tidak hanya kerja bakti, tapi juga mulai memikirkan kegiatan lain: membersihkan saluran air, memperbaiki jembatan kecil, mengadakan lomba untuk anak-anak.

Desa yang tadinya lesu, mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Namun tidak semua orang menyukai perubahan. Semakin banyak kegiatan yang dilakukan Arga dan para pemuda, semakin banyak pula yang mulai memperhatikan mereka. Tidak semuanya positif.

Pak Surya adalah salah satu tokoh desa yang paling berpengaruh. Ia adalah kepala desa yang sudah menjabat selama tiga periode. Kekuasaannya sudah mengakar kuat. Ia memiliki bisnis toko kelontong, punya sawah luas, dan banyak warga yang berutang padanya.

Selama ini, Pak Surya terbiasa menjadi pusat kekuasaan. Semua keputusan harus melalui dirinya. Semua bantuan pemerintah harus melewati tangannya. Dan ia tidak suka ada orang lain yang mulai mendapatkan perhatian warga.

Suatu hari, Arga dipanggil ke rumah Pak Surya. Rumah besar di tengah desa, satu-satunya rumah dengan dinding tembok dan atap genting bagus. Halamannya luas, dengan beberapa kendaraan terparkir.

Arga masuk dengan perasaan was-was. Ia sudah menduga bahwa ini bukan undangan biasa.

Pak Surya duduk di kursi rotan besar, dengan wajah serius. Di sekelilingnya, beberapa orang yang merupakan anak buahnya duduk dengan sikap waspada.

"Duduk, Arga." Kata Pak Surya, suaranya berat.

Arga duduk di kursi di hadapannya. Ia berusaha tenang.

"Saya dengar kamu membuat banyak kegiatan akhir-akhir ini." Buka Pak Surya.

Arga mengangguk. "Iya, Pak. Bersama teman-teman pemuda, kami kerja bakti. Membersihkan desa, memperbaiki jalan."

"Kamu tidak izin dulu sama saya?"

Arga terkejut. "Izin? Ini kegiatan sosial, Pak. Kerja bakti. Saya pikir tidak perlu izin."

Pak Surya tersenyum, tapi senyum yang tidak ramah. "Di desa ini, semua kegiatan harus sepengetahuan saya. Saya kepala desa di sini. Saya yang bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban."

Arga mulai mengerti. Ini bukan soal izin. Ini soal kekuasaan. Pak Surya merasa tersaingi.

"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud melangkahi. Saya hanya ingin membantu desa."

"Kamu masih muda. Masih banyak yang tidak kamu mengerti." Pak Surya menatapnya tajam. "Jangan terlalu banyak mengganggu keadaan yang sudah ada. Desa ini sudah puluhan tahun seperti ini, dan baik-baik saja."

Arga menahan diri untuk tidak membantah. Tapi kata-kata itu terasa begitu tidak masuk akal. Baik-baik saja? Desa yang tertinggal, pemuda yang menganggur, anak-anak putus sekolah? Itu disebut baik-baik saja?

Tapi ia tahu, melawan langsung tidak akan bijak. Ia harus bermain sabar.

"Saya mengerti, Pak. Ke depan, saya akan lapor sebelum melakukan kegiatan." Katanya diplomatis.

Pak Surya mengangguk puas. "Bagus. Kamu anak pintar. Jangan sampai salah langkah."

Arga pulang dengan perasaan campur aduk. Ia tahu perjuangannya tidak akan mudah. Kekuatan lama tidak akan rela melepaskan pengaruhnya. Tapi ia juga tidak akan mundur.

Malam itu, ia ceritakan pada Rudi dan beberapa pemuda lain.

"Gue sudah duga." Kata Rudi. "Pak Surya itu penguasa lama. Dia nggak suka kalau ada yang mulai diperhatikan warga. Apalagi orang muda kayak lo."

"Tapi kita tidak bisa berhenti." Arga bergumam.

"Jangan berhenti. Tapi kita harus hati-hati." Rudi menatap Arga. "Gue kenal Pak Surya. Dia bisa jahat kalau merasa terancam."

Arga mengangguk. Ia tahu risiko ini sudah sejak awal. Tapi ia juga tahu, perubahan tidak pernah datang tanpa perlawanan.

Meski menghadapi tekanan dari Pak Surya, Arga dan para pemuda desa terus bekerja. Mereka lebih berhati-hati, tapi tidak berhenti.

Setiap minggu mereka melakukan kerja bakti di tempat yang berbeda. Jalan-jalan desa mulai terlihat lebih rapi. Saluran air yang tersumbat mulai mengalir lancar. Sampah-sampah yang berserakan dibersihkan.

Mereka juga mulai membuat program lain. Kelas belajar untuk anak-anak desa, diadakan di balai desa setiap sore. Arga dan beberapa pemuda yang masih ingat pelajaran sekolah, bergantian mengajar membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak yang tadinya hanya bermain, kini mulai belajar lagi.

Pak Darma, meskipun sudah tua, ikut membantu. Melihat Arga mengajar, hatinya terharu.

"Dulu kamu yang belajar, sekarang kamu yang mengajar." Katanya suatu hari. "Hidup memang lingkaran yang indah."

Arga tersenyum. "Ini semua berkat Bapak. Kalau tidak ada Bapak dulu, mungkin saya sudah berhenti sekolah."

"Kamu yang memilih untuk tidak menyerah. Bapak hanya membantu sedikit."

Program lain yang mereka buat adalah kelompok tani. Arga, dengan ilmu pertaniannya, mulai memberikan penyuluhan sederhana pada petani-petani desa. Cara menanam yang baik, penggunaan pupuk yang tepat, pengendalian hama secara alami. Petani-petani tua awalnya skeptis, tapi setelah melihat hasilnya, mereka mulai tertarik.

"Hasil panen saya meningkat setelah ikut penyuluhan Arga." Kata seorang petani di warung kopi. "Dia memang pintar, meskipun masih muda."

Perubahan kecil mulai terlihat di desa. Anak-anak lebih bersemangat sekolah. Pemuda-pemuda mulai memiliki kegiatan positif. Petani-petani mulai menerapkan metode baru. Warga mulai percaya bahwa desa mereka bisa berubah.

Suatu hari, seorang warga tua berkata pada Arga, "Sudah lama desa ini tidak memiliki harapan seperti sekarang. Terima kasih, Nak."

Arga tersenyum. "Harapan itu selalu ada, Pak. Kita hanya perlu memperjuangkannya."

Namun ia tahu, perjalanan masih panjang. Dan tantangan terbesar mungkin masih menanti.

Kabar tentang kegiatan Arga bersama para pemuda desa semakin sering dibicarakan oleh warga. Awalnya hanya berupa kerja bakti kecil: memperbaiki jalan setapak yang berlumpur ketika musim hujan, membersihkan saluran irigasi yang tersumbat, serta membuat kelas belajar sederhana untuk anak-anak desa di balai bambu dekat lapangan.

Namun lambat laun, kegiatan-kegiatan kecil itu mulai membawa perubahan nyata. Jalan yang dulunya berlubang dan becek, kini lebih mudah dilewati. Sawah-sawah yang tadinya sering kekeringan atau kebanjiran karena irigasi tersumbat, kini mendapatkan air yang cukup. Anak-anak yang sebelumnya bermain tanpa arah di sore hari, kini kembali membawa buku tulis dan pensil ke kelas belajar.

Desa Sumber Langit yang dulu tampak lesu, perlahan-lahan mulai bergerak. Ada kehidupan baru di sana. Ada semangat yang mulai tumbuh.

Suatu malam, di balai desa yang sederhana, beberapa tokoh masyarakat berkumpul. Lampu petromaks menggantung di tengah ruangan, cahayanya bergetar pelan tertiup angin malam yang masuk melalui celah-celah dinding bambu. Bayangan-bayangan mereka menari-nari di dinding, menciptakan suasana yang sakral.

Pak Darma, guru tua yang pernah membimbing Arga sejak kecil, membuka pembicaraan. Suaranya pelan tapi tegas, penuh wibawa.

"Desa ini membutuhkan pemimpin baru."

Wajah-wajah di ruangan itu tampak serius. Ada Pak Lurah tua yang sudah pensiun, ada tokoh pemuda, ada beberapa sesepuh desa yang dihormati. Sebagian mengangguk setuju, sebagian lain masih berpikir, menimbang-nimbang.

"Pemimpin yang benar-benar peduli pada masa depan desa. Bukan yang hanya memikirkan kekuasaan dan keuntungan pribadi."

Seorang warga, Pak Karsono yang dikenal sebagai petani sukses, bertanya ragu. Matanya menyipit, mencoba membaca arah pembicaraan.

"Apakah Bapak sedang memikirkan seseorang?"

Pak Darma menatap mereka satu per satu. Tatapannya dalam, seolah membaca hati masing-masing. Lalu dengan mantap ia berkata,

"Arga."

Nama itu membuat ruangan menjadi hening sejenak. Hening yang panjang, hanya diiringi suara jangkrik dari luar dan desau angin malam.

Sebagian warga langsung setuju. Mereka telah melihat sendiri bagaimana Arga bekerja tanpa pamrih. Mereka melihat dedikasinya, kerja kerasnya, dan hasil nyata yang sudah ia capai.

"Saya setuju." Kata Pak Karsono. "Anak itu berbeda. Dia punya visi. Dia juga mau turun tangan, tidak hanya bicara."

"Saya juga setuju." Sambung yang lain. "Lihat saja apa yang sudah ia lakukan dalam beberapa bulan terakhir. Jalan desa membaik, anak-anak mulai sekolah lagi, petani mulai maju. Padahal ia tidak punya jabatan apa-apa."

Namun ada pula yang terlihat ragu. Pak Soma, seorang pedagang kaya yang selama ini dekat dengan Pak Surya, menggeleng pelan.

"Dia masih muda." Katanya ragu. "Baru pulang merantau. Apa dia cukup pengalaman? Memimpin desa tidak semudah memperbaiki jalan."

Pak Darma tersenyum tipis. Senyum yang bijak, senyum seorang guru yang sudah puluhan tahun mengamati murid-muridnya.

"Kadang-kadang perubahan memang datang dari orang-orang muda yang berani bermimpi. Pengalaman penting, tapi hati yang tulus lebih penting."

Diskusi berlangsung alot. Ada yang pro, ada yang kontra. Tapi akhirnya, setelah pertimbangan matang, mereka sepakat untuk memberikan kesempatan pada Arga.

Keesokan harinya, Arga dipanggil ke balai desa. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Pikirannya berkecamuk. Apa mungkin ada masalah dengan kegiatannya? Apa Pak Surya melaporkannya?

Ketika ia masuk, ia melihat banyak warga telah menunggu. Bukan hanya tokoh masyarakat, tapi juga pemuda-pemuda yang selama ini bekerja bersamanya, ibu-ibu yang anaknya ikut kelas belajar, petani-petani yang pernah ia beri penyuluhan.

Arga merasa bingung. Ada apa ini? Kenapa banyak orang?

"Kenapa saya dipanggil?" tanyanya, mencoba tenang.

Seorang tetua desa, Mbah Joyo yang sudah berusia sembilan puluh tahun, berdiri dengan bantuan tongkatnya. Tubuhnya renta, tapi matanya masih tajam. Suaranya bergetar karena usia, tapi jelas terdengar.

"Arga, kami ingin kamu maju sebagai calon kepala desa."

Dunia serasa berhenti berputar. Arga terdiam. Kata-kata itu terasa begitu berat baginya. Ia tidak pernah benar-benar membayangkan hal itu akan datang secepat ini.

"Maaf... apa?" tanyanya tidak percaya.

Mbah Joyo tersenyum. "Kami, tokoh masyarakat desa, telah bermusyawarah. Kami melihat kerja kerasmu. Kami melihat perubahan yang kamu bawa. Kami percaya kamu bisa membawa desa ini ke arah yang lebih baik."

Arga menoleh ke Pak Darma yang tersenyum bangga. Ia melihat Rudi dan pemuda-pemuda lain yang mengangguk semangat. Ia melihat ibu-ibu yang matanya berbinar.

"Apakah saya mampu?" katanya pelan, setengah bergumam pada diri sendiri.

Pak Darma berjalan mendekat. Ia meletakkan tangan di pundak Arga, seperti dulu ketika Arga masih kecil dan sedang sedih.

"Kamu tidak harus sempurna untuk memimpin, Arga." Katanya lembut. "Yang penting kamu punya hati untuk melayani. Itu lebih berharga dari pengalaman dan kepintaran."

Arga menunduk sejenak. Pikirannya melayang ke masa lalu. Ia teringat ayahnya. Seorang petani sederhana yang selalu berkata bahwa desa ini suatu hari harus berubah. Ia ingat ibunya yang selalu mendukung, meskipun dalam keterbatasan. Ia ingat perjuangannya di kota, jatuh bangun, hampir menyerah tapi terus bertahan.

Setelah beberapa saat, Arga mengangkat kepalanya. Matanya bersinar, tidak lagi ragu.

"Jika ini untuk kebaikan desa... saya akan mencoba."

Sorak-sorai terdengar dari warga yang hadir. Rudi berteriak "Hore!" dan memeluk Arga. Ibu-ibu bertepuk tangan. Pak Darma tersenyum bangga, matanya berkaca-kaca.

Malam itu menjadi awal dari jalan baru dalam hidup Arga. Jalan yang tidak mudah. Jalan yang penuh tantangan. Tapi jalan yang akan membawanya pada takdirnya.

Namun perjalanan menuju kepemimpinan tidak semudah yang dibayangkan. Keputusan Arga untuk maju sebagai calon kepala desa tidak diterima oleh semua pihak. Apalagi setelah Pak Surya, kepala desa petahana, mengumumkan akan maju kembali untuk periode keempat.

Pak Surya merasa terancam. Selama ini ia terbiasa menang dengan mudah, karena tidak ada lawan yang berarti. Tapi kali ini, ada Arga. Seorang anak muda dengan pendidikan tinggi, dengan visi perubahan, dengan dukungan warga yang cukup besar.

Pertarungan pun dimulai.

Pak Surya menggunakan segala cara untuk menjatuhkan Arga. Isu-isu negatif mulai disebarkan. Bahwa Arga anak durhaka yang meninggalkan ibunya. Bahwa Arga selama di kota terlibat pergaulan bebas. Bahwa Arga hanya ingin kaya dan berkuasa, tidak tulus membantu desa.

Desas-desus itu menyebar cepat dari mulut ke mulut. Di warung-warung kopi, di pasar, di pertemuan-pertemuan warga, nama Arga disebut dengan nada berbeda. Sebagian masih percaya, sebagian mulai ragu.

Arga tahu semua itu. Ia mendengar dari Rudi dan teman-temannya. Tapi ia memilih diam. Ia tidak mau terpancing. Ia percaya kebenaran akan berbicara sendiri.

Suatu malam, ia duduk sendirian di depan rumah bambunya. Angin malam berhembus pelan, membawa suara jangkrik dari sawah. Bintang-bintang bertaburan di langit, seperti biasa.

Ibunya, Bu Ratri, menghampirinya. Ia duduk di samping Arga, seperti dulu ketika Arga masih kecil dan sedang bersedih.

"Kamu terlihat gelisah, Nak."

Arga mengangguk. "Banyak orang yang tidak menyukai langkahku, Bu. Banyak fitnah yang beredar."

Bu Ratri diam sejenak. Lalu ia berkata dengan suara lembut, "Perjalanan menuju kebaikan memang tidak selalu mudah, Le. Orang-orang jahat akan selalu mencoba menjatuhkan."

"Tapi kenapa harus dengan cara-cara kotor? Kenapa tidak adu visi dan program saja?"

Bu Ratri tersenyum. "Karena mereka tidak punya visi dan program yang bagus. Jadi mereka pakai cara lain."

Arga menatap ibunya. "Apa aku harus berhenti, Bu?"

Ibunya menatapnya tajam. Matanya yang tua tapi masih tajam itu menusuk hati Arga.

"Jika niatmu benar, jangan berhenti hanya karena kata-kata orang. Ayahmu dulu juga difitnah orang, tapi ia tetap bekerja di sawah. Karena ia tahu apa yang benar."

Arga menarik napas panjang. Kata-kata ibunya selalu menjadi penenang di saat gundah. Ia ingat ayahnya. Ayahnya yang sederhana, yang selalu jujur, yang selalu bekerja keras meskipun difitnah orang.

"Tapi bagaimana dengan Pak Surya, Bu? Ia punya banyak uang, banyak pengaruh."

"Ia punya uang, kamu punya hati. Ia punya pengaruh, kamu punya dukungan dari mereka yang melihat kerja nyatamu. Itu lebih berharga."

Percakapan malam itu membuat hati Arga lebih tenang. Ia tahu ujian ini adalah bagian dari perjalanan yang harus ia lalui. Ia harus tetap teguh pada prinsipnya. Ia harus membuktikan bahwa ia layak dipercaya.

Pendekatan Arga dalam kampanye berbeda dari biasanya. Ia tidak menggunakan uang, tidak membagi-bagi sembako, tidak menjanjikan proyek-proyek muluk. Ia memilih pendekatan yang lebih sederhana: mendatangi warga satu per satu, berbicara dari hati ke hati.

Setiap malam, setelah bekerja di siang hari, Arga berkeliling desa. Ia mendatangi rumah-rumah warga, duduk di beranda mereka, minum kopi atau teh, dan berbicara tentang desa.

"Apa yang Bapak/Ibu butuhkan?" Itu selalu pertanyaan pertamanya.

Warga bercerita tentang berbagai hal. Ada yang butuh perbaikan irigasi. Ada yang butuh bantuan untuk sekolah anaknya. Ada yang butuh modal usaha. Ada yang butuh perhatian untuk lansia yang terlantar.

Arga mendengarkan semua dengan sabar. Ia mencatat dalam buku kecilnya. Tidak ada janji, tidak ada iming-iming. Hanya catatan dan perhatian.

"Kamu beda, Ga." Kata seorang warga tua. "Yang lain datang kalau mau pemilihan saja. Kamu sudah lama di sini, membantu tanpa pamrih."

"Saya anak desa ini, Pak. Saya hanya ingin desa kita maju."

Di tempat lain, ada juga warga yang sinis. "Kamu masih muda, tahu apa tentang memimpin desa?"

Arga tidak tersinggung. Ia tersenyum dan menjawab, "Memang saya masih muda, Pak. Tapi saya punya semangat dan ilmu. Dengan bantuan Bapak dan warga lain, insya Allah bisa."

Perlahan tapi pasti, dukungan untuk Arga semakin menguat. Warga melihat ketulusannya. Mereka melihat kerja nyata yang sudah ia lakukan jauh sebelum kampanye dimulai. Mereka membandingkan dengan Pak Surya yang jarang muncul, kecuali saat pemilihan.

Suatu hari, Rudi melaporkan, "Ga, dukungan untuk lo makin banyak. Banyak warga yang sudah muak sama Pak Surya. Mereka bilang, sudah tiga periode, desa nggak berubah."

Arga mengangguk, tapi ia tidak mau jumawa. "Kita tidak boleh lengah, Rud. Masih banyak yang harus kita lakukan."

Meskipun menghadapi banyak tekanan dan fitnah, Arga tidak berhenti bekerja. Ia terus mengajak para pemuda desa untuk bergerak. Kampanye bukan alasan untuk berhenti berbuat.

Mereka mulai membuat berbagai kegiatan baru. Kelompok tani dibentuk untuk membantu petani meningkatkan hasil panen. Arga mendatangkan penyuluh pertanian dari kota, menggunakan ilmunya untuk membantu petani.

Beberapa pemuda belajar mengolah hasil pertanian menjadi produk yang bisa dijual ke pasar. Singkong diolah menjadi keripik, pisang diolah menjadi sale, mangga diolah menjadi manisan. Meskipun masih sederhana, hasilnya mulai ada. Ibu-ibu mendapat tambahan penghasilan.

Arga juga mengajak anak-anak muda membuka kelas belajar malam bagi anak-anak desa yang kesulitan membaca dan menulis. Yang mengajar adalah pemuda-pemuda lulusan SMA yang selama ini menganggur. Mereka mendapat sedikit honor dari sumbangan sukarela warga.

Awalnya hanya beberapa orang yang datang ke kelas belajar. Namun semakin lama, semakin banyak anak yang ikut. Orang tua mereka senang, karena anak-anak tidak hanya bermain di malam hari, tapi juga belajar.

Suatu hari, seorang petani tua, Pak Rasiman, berkata pada Arga dengan mata berkaca-kaca.

"Sudah lama desa ini tidak memiliki harapan seperti sekarang, Nak. Dulu anak-anak saya pada pergi merantau, karena di sini tidak ada masa depan. Tapi sekarang, melihat apa yang kamu lakukan, saya jadi punya harapan lagi."

Arga tersenyum, hatinya hangat. "Harapan itu selalu ada, Pak. Kita hanya perlu memperjuangkannya."

Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam. Tidak ada keajaiban. Tapi perlahan-lahan, seperti tetesan air yang terus-menerus, desa Sumber Langit mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.

Anak-anak kembali bermain di halaman sekolah dengan seragam bersih. Para pemuda mulai memiliki kegiatan yang lebih positif. Ibu-ibu sibuk dengan usaha kecil-kecilan mereka. Petani-petani tersenyum melihat hasil panen yang meningkat.

Dan yang paling penting, masyarakat mulai percaya bahwa masa depan desa bisa menjadi lebih baik. Kepercayaan itu adalah modal paling berharga.

Hari pemilihan kepala desa akhirnya tiba. Sejak pagi, warga telah berdatangan ke balai desa. Sebagian mengenakan pakaian terbaik mereka, seperti akan pergi ke pesta. Sebagian lagi datang dengan pakaian biasa, namun dengan semangat yang sama.

Suasana terasa tegang. Dua kubu pendukung hadir dengan atribut masing-masing. Pendukung Pak Surya datang dengan baju seragam dan atribut yang rapi, bukti bahwa mereka punya dana besar. Pendukung Arga lebih sederhana, hanya dengan stiker kecil dan spanduk buatan sendiri.

Arga berdiri di sudut halaman bersama ibunya. Ia terlihat tenang, meskipun di dalam hatinya banyak perasaan yang bercampur. Debar jantungnya cepat, tangannya sedikit gemetar.

"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi." Katanya pelan pada ibunya.

Bu Ratri tersenyum. Ia memegang tangan anaknya yang hangat. "Kamu sudah melakukan yang terbaik, Le. Apapun hasilnya, Ibu bangga padamu."

Pak Darma juga datang, meskipun berjalan lambat dengan tongkatnya. Ia duduk di bangku yang disediakan panitia, matanya mengawasi jalannya pemilihan dengan saksama.

Proses pemungutan suara berlangsung hingga sore hari. Warga datang satu per satu, masuk ke bilik suara, mencoblos, lalu memasukkan surat suara ke kotak yang dijaga ketat.

Setelah itu, panitia mulai menghitung suara. Suasana tegang semakin terasa. Masing-masing pendukung berkumpul di kelompoknya, berbisik-bisik, berdoa dalam hati.

Satu per satu suara dibacakan. Nama Arga sering terdengar. Namun beberapa suara juga diberikan kepada Pak Surya. Suasana menjadi semakin tegang. Perhitungan berlangsung lambat, karena panitia harus teliti.

Menjelang magrib, perhitungan selesai.

Ketua panitia, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal, berdiri di depan mikrofon. Ia membuka kertas hasil perhitungan dengan tangan sedikit gemetar.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab warga serempak.

Suasana hening. Semua mata tertuju pada ketua panitia.

"Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, berikut kami sampaikan hasil pemilihan kepala desa Sumber Langit periode 2020-2026."

Ia membaca satu per satu perolehan suara. Nama-nama calon disebut, jumlah suara dibacakan.

Ketika sampai pada nama Arga, ia berhenti sejenak. Lalu dengan suara lantang ia berkata,

"Dengan jumlah suara terbanyak... 1.247 suara... Arga terpilih sebagai kepala desa Sumber Langit!"

Sorak-sorai langsung terdengar. Pendukung Arga berteriak kegirangan, berpelukan, menangis haru. Spanduk-spanduk buatan sendiri dikibarkan. Tepuk tangan gemuruh memecah kesunyian magrib.

Namun Arga justru terdiam. Ia berdiri mematung, tidak percaya. Air mata mengalir di pipinya. Ia menoleh ke ibunya yang juga menangis, lalu memeluknya erat.

"Le... kamu berhasil." Isak Bu Ratri.

Arga kemudian menatap langit sore yang berwarna keemasan. Matahari hampir tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang indah. Di dalam hatinya ia berkata,

"Ayah... mimpi kita akhirnya menjadi nyata."

Pak Darma mendekat, menepuk pundaknya. "Selamat, Arga. Bapak tahu kamu bisa."

Rudi dan pemuda-pemuda lain mengerumuninya, mengangkatnya, merayakan kemenangan. Warga berdatangan memberi selamat.

Di sudut lain, Pak Surya dan pendukungnya meninggalkan tempat dengan wajah masam. Kekalahan telak ini pasti menyakitkan. Tapi setidaknya, demokrasi desa telah berjalan.

Malam itu, desa Sumber Langit berpesta. Bukan pesta besar dengan musik keras, tapi pesta sederhana dengan doa dan syukur. Warga berkumpul di balai desa, makan bersama, bercerita, dan merayakan harapan baru.

Beberapa bulan setelah pelantikannya, perubahan di desa semakin terasa. Program-program pembangunan mulai berjalan, tidak lagi hanya rencana di atas kertas.

Jalan desa mulai diperbaiki, tidak hanya ditambal lubangnya, tapi diaspal secara bertahap. Saluran irigasi diperluas dan diperkuat, sehingga sawah-sawah mendapatkan air yang cukup sepanjang tahun. Sekolah mendapat perhatian khusus: gedung direnovasi, buku-buku baru dibeli, guru-guru mendapatkan pelatihan.

Kegiatan ekonomi masyarakat mulai berkembang. Kelompok tani tidak hanya fokus pada pertanian, tapi juga pada pengolahan hasil. Produk-produk olahan mulai dipasarkan ke luar desa, bahkan ke kota. Ibu-ibu yang dulu hanya bergantung pada suami, kini punya penghasilan sendiri.

Para pemuda yang dulu menganggur dan putus asa, kini mulai memiliki pekerjaan. Ada yang menjadi petani modern dengan metode baru, ada yang mengelola usaha kecil, ada yang menjadi guru sukarela di kelas belajar. Semangat kewirausahaan mulai tumbuh.

Suatu sore, Arga kembali berdiri di bukit kecil tempat ia sering merenung sejak kecil. Dari sana ia bisa melihat seluruh desa. Pemandangan yang dulu membuatnya sedih, kini membuatnya tersenyum.

Desa yang dulu tampak tertinggal, kini perlahan berubah. Jalan-jalan mulai mulus. Rumah-rumah mulai diperbaiki. Sawah-sawah terlihat lebih hijau dan terawat. Asap dapur mengepul di senja hari, tanda bahwa warga bisa memasak dengan tenang.

Pak Darma, yang kini sudah sangat renta, datang menghampirinya dengan berjalan lambat. Arga segera membantunya duduk di rerumputan.

"Kamu sudah melakukan banyak hal, Arga." Kata Pak Darma, suaranya parau karena usia.

Arga menggeleng pelan. "Perjalanan ini masih panjang, Pak. Baru permulaan."

"Yang penting kamu sudah memulainya. Dan yang lebih penting, kamu tidak melupakan desa ini."

Arga tersenyum. "Bagaimana bisa lupa, Pak? Di sinilah saya dilahirkan. Di sinilah ayah saya dimakamkan. Di sinilah ibu saya tinggal. Ini rumah saya."

Angin sore berhembus pelan, membawa kesejukan. Burung-burung mulai beterbangan pulang ke sarangnya. Langit mulai berubah jingga, pertanda hari akan berganti malam.

Arga menatap hamparan sawah yang luas. Ia teringat masa kecilnya. Rumah bambu. Jalan tanah menuju sekolah. Ayahnya yang pergi ke sawah setiap pagi. Ibunya yang berjualan sayur di pasar. Pak Darma yang memberinya buku. Perjuangan di kota. Jatuh bangun. Hampir menyerah. Dan akhirnya kembali.

Kini ia mengerti satu hal: Takdir bukanlah sesuatu yang hanya ditunggu. Takdir bukan garis hidup yang sudah ditetapkan tanpa bisa diubah. Takdir adalah sesuatu yang bisa diperjuangkan. Takdir adalah hasil dari pilihan-pilihan, kerja keras, dan keteguhan hati.

Dan seorang anak desa yang dulu hanya bermimpi, yang dulu dianggap mustahil, yang dulu diremehkan, kini telah membuktikan bahwa keberanian untuk bermimpi dapat mengubah masa depan.

EPILOG

Waktu berjalan tanpa pernah berhenti. Seperti aliran sungai yang mengalir deras, tahun demi tahun berlalu meninggalkan jejak-jejaknya. Desa Sumber Langit yang dahulu dikenal sebagai desa kecil yang tertinggal, kini telah banyak berubah.

Dua puluh tahun setelah Arga pertama kali kembali ke desa, Sumber Langit telah menjadi desa percontohan di kabupatennya. Jalan-jalan desa sudah beraspal rapi, dengan lampu penerangan di sepanjang jalan. Saluran irigasi mengalirkan air ke sawah-sawah yang hijau subur sepanjang tahun. Sekolah dasar yang dulu hampir sepi, kini menjadi sekolah favorit dengan fasilitas lengkap dan guru-guru berkualitas.

Bahkan, sekarang ada SMP dan SMA di desa. Anak-anak tidak perlu lagi berjalan puluhan kilometer seperti Arga dulu. Mereka bisa sekolah di desa sendiri, dekat dengan orang tua.

Lapangan desa yang dulu ditumbuhi rumput liar, kini menjadi pusat kegiatan. Setiap sore, anak-anak bermain bola atau sekedar berlarian di halaman. Orang tua duduk di bangku-bangku taman, mengawasi anak-anak mereka sambil berbincang.

Warung-warung kecil tumbuh di mana-mana. Ada kafe, ada toko kelontong, ada usaha kecil-kecilan yang dikelola warga. Ekonomi desa berputar, tidak lagi bergantung pada kiriman dari perantau.

Yang paling membanggakan, banyak pemuda desa yang dulu merantau, kini kembali pulang. Mereka membuka usaha, menjadi petani modern, atau bekerja di sektor-sektor baru yang tumbuh di desa. Siklus pergi merantau mulai terputus, digantikan dengan siklus membangun desa.

Di sebuah bangku kayu di pinggir lapangan, seorang pria tua duduk memperhatikan anak-anak bermain dengan senyum tenang. Rambutnya telah memutih, tubuhnya mulai renta, namun sorot matanya masih menyimpan semangat yang sama seperti puluhan tahun yang lalu.

Dia adalah Arga.

Anak petani yang dulu berjalan kaki menyusuri jalan tanah menuju sekolah. Anak desa yang pernah merantau, jatuh bangun menghadapi kehidupan, dan kembali untuk memperjuangkan masa depan tanah kelahirannya. Kini ia tidak lagi memegang jabatan apa pun. Ia telah pensiun sebagai kepala desa lima tahun lalu, digantikan oleh generasi yang lebih muda.

Namun namanya masih sering disebut oleh warga desa. Bukan karena kekuasaan, melainkan karena pengabdian. Karena jasa-jasanya. Karena cintanya pada desa.

Seorang anak kecil berlari mendekatinya sambil membawa sebuah buku. Wajahnya yang polos dan bersemangat mengingatkan Arga pada dirinya sendiri dulu.

"Kakek Arga!"

Arga menoleh dan tersenyum. "Ada apa, Nak?"

Anak itu membuka bukunya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Matanya yang bulat dan bening menatap Arga dengan penuh kekaguman.

"Guru di sekolah bercerita tentang Kakek. Katanya dulu Kakek yang memulai banyak perubahan di desa ini. Waktu Kakek masih muda, desa ini sangat tertinggal. Jalan rusak, listrik sering mati, sekolah hanya sampai SD."

Arga tertawa kecil. Cerita itu memang sudah sering diceritakan turun-temurun. "Kakek hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Nak."

Anak itu menatapnya dengan mata berbinar. "Tapi guru bilang, Kakek berani bermimpi. Kakek tidak menyerah meskipun banyak kesulitan."

Arga mengangguk pelan. "Iya, Nak. Kakek memang tidak pernah menyerah."

Anak itu berpikir sejenak, lalu bertanya dengan suara polos, "Apakah orang dari desa kecil bisa menjadi orang besar?"

Pertanyaan itu menghentakkan hati Arga. Ia teringat pada dirinya sendiri dulu, yang pernah bertanya hal serupa pada ayahnya. Ia teringat pada Pak Darma, gurunya yang telah tiada. Ia teringat pada perjuangan panjang yang telah ia lalui.

Ia menatap hamparan sawah di kejauhan. Padi-padi menguning, siap panen. Angin sore bertiup pelan, membawa aroma khas pedesaan. Burung-burung pipit beterbangan pulang ke sarang. Langit sore mulai berwarna jingga keemasan, indah sekali.

Arga kemudian menatap anak itu, cucu dari Rudi sahabatnya, dan berkata pelan,

"Dengar, Nak. Yang membuat seseorang besar bukan tempat ia dilahirkan. Bukan kekayaan orang tuanya. Bukan sekolahnya yang mentereng. Yang membuat seseorang besar adalah keberanian untuk bermimpi dan bekerja keras mewujudkannya. Itu saja."

Anak itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi susunya yang ompong di beberapa bagian.

"Kalau begitu, saya juga ingin melakukan sesuatu untuk desa ini. Saya ingin seperti Kakek."

Arga menepuk bahunya dengan lembut. "Itulah yang paling penting, Nak. Mimpi itu harus diturunkan. Harapan itu harus diwariskan."

Anak itu berlari kembali ke lapangan, bergabung dengan teman-temannya. Arga mendengar mereka bercerita tentang cita-cita: ada yang ingin jadi dokter, ada yang ingin jadi guru, ada yang ingin jadi insinyur. Semua bercita-cita tinggi, tidak seperti dulu ketika anak-anak desa hanya bermimpi menjadi kuli di kota.

Matahari sore mulai tenggelam di balik perbukitan. Cahaya keemasan menyelimuti desa Sumber Langit, membuat segalanya tampak damai dan indah. Dari kejauhan terdengar suara azan magrib berkumandang dari masjid desa yang megah, masjid yang dibangun dari gotong royong warga.

Arga memandang desa itu dengan hati yang tenang. Ia merasa damai. Ia merasa bahwa hidupnya berarti.

Ia tahu bahwa perjuangannya dahulu bukan hanya tentang membangun jalan, memperbaiki sekolah, atau menggerakkan masyarakat. Lebih dari itu, perjuangannya adalah menanamkan harapan. Harapan bahwa desa kecil pun bisa memiliki masa depan yang besar. Harapan bahwa kemiskinan bukan takdir yang tak bisa diubah. Harapan bahwa anak-anak desa bisa meraih mimpi setinggi langit.

Dan kini harapan itu hidup di dalam hati generasi baru. Anak-anak desa kini memiliki mimpi yang lebih besar. Mereka percaya bahwa dari desa kecil pun seseorang bisa mengubah masa depan. Mereka tidak lagi merasa rendah diri karena berasal dari desa. Mereka bangga pada tanah kelahirannya.

Arga berdiri perlahan, menopang tubuhnya yang mulai renta. Ia berjalan menuju makam ayahnya yang tidak jauh dari sana. Di bawah pohon besar yang rindang, nisan sederhana itu masih terawat baik. Setiap minggu ia datang ke sini, membersihkan, mendoakan.

Hari ini, seperti biasa, ia duduk di samping makam itu. Angin berhembus, daun-daun berguguran.

"Pak..." bisiknya pelan. "Arga sudah menepati janji Arga. Desa kita sudah berubah. Ibu sudah tenang di sisi Bapak. Anak-anak muda sekarang punya mimpi yang besar. Semua karena Bapak dulu menanamkan mimpi pada Arga."

Ia berhenti sejenak, menahan haru.

"Terima kasih, Pak. Arga tidak akan pernah melupakan semua pesan Bapak."

Di kejauhan, terdengar suara anak-anak tertawa riang. Suara masa depan. Suara harapan.

Dan kisah Arga menjadi bukti bahwa:

Takdir bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Takdir bisa ditantang oleh mereka yang berani bermimpi, berani berjuang, dan tidak pernah menyerah pada keadaan.
Karena dari sebuah desa kecil, lahir harapan yang mampu menerangi masa depan.

TAMAT

CATATAN PENULIS

Kisah ini terinspirasi dari perjuangan nyata anak-anak desa di berbagai pelosok negeri yang berani bermimpi di tengah keterbatasan. Setiap desa memiliki Arga-nya masing-masing, setiap tanah kelahiran memiliki pejuangnya sendiri. Mereka mungkin tidak terkenal, tidak masuk berita, tidak diundang ke acara-acara besar. Namun merekalah pahlawan sejati yang membangun negeri dari akar rumput.

Jika Anda membaca kisah ini dan merasa terinspirasi, ingatlah bahwa mimpi tidak mengenal batas. Dari mana Anda berasal tidak menentukan ke mana Anda akan pergi. Yang menentukan adalah keberanian untuk melangkah dan keteguhan untuk tidak menyerah.

Untuk semua anak desa yang sedang berjuang di perantauan, untuk semua pemuda yang pulang membangun kampung halaman, untuk semua orang tua yang tak lelah berdoa dan bekerja—kisah ini untuk kalian.

Teruslah bermimpi.
Teruslah berjuang.
Karena takdir memang bisa ditantang.

Salam dari penulis,

Slamet Riyadi

 


0 komentar:

Posting Komentar