DETEKTIF
CILIK BOJONG SARI
Serial
Misteri Kancil Bukit Manoreh
EPISODE
3: ANCAMAN DARI WARGA DESA
Oleh: Slamet Riyadi
Matahari baru saja menampakkan diri di ufuk timur ketika
Raka terbangun dengan perasaan aneh. Semalam, operasi rahasia pemberian makan berjalan
lancar. Kai dan kawanannya makan dengan lahap. Tapi ada sesuatu yang mengganggu
pikirannya sejak subuh.
Suara ramai dari luar rumah membuatnya segera bangkit dan
berlari ke jendela. Di depan rumah Pak Joko, puluhan warga berkumpul. Mereka
berbicara dengan suara keras, beberapa di antaranya mengacung-acungkan golok
dan tombak.
"Ada apa, Yah?" tanya Raka pada Pak Tani yang
baru pulang dari sawah.
Pak Tani menghela napas panjang. Wajahnya tampak lelah dan
cemas. "Warga mau mengadakan pertemuan besar. Mereka sudah tidak sabar.
Ladang-ladang makin parah, katanya semalam ada yang diserang lagi."
Raka terkejut. Semalam? Tapi semalam kancil-kancil sedang
makan di pinggir hutan, bukan di ladang. Kecuali...
"Ladang siapa yang diserang, Yah?"
"Ladangnya Pak Joko. Katanya lebih parah dari
sebelumnya. Tanaman hancur total."
Raka berpikir cepat. Jika kancil sedang makan di tempat
mereka, berarti yang menyerang ladang Pak Joko bukan kancil. Atau mungkin
kancil lain dari kelompok berbeda? Atau mungkin... ada yang sengaja
memprovokasi?
"Aku harus ke sana," kata Raka.
"Raka, jangan ikut campur. Orang dewasa sedang
emosi."
"Tapi Yah, aku harus lihat."
Tanpa menunggu jawaban ayahnya, Raka berlari menuju rumah
Pak Joko.
Di depan rumah Pak Joko, suasana sudah seperti pasar.
Puluhan warga berkumpul, berdiskusi dengan suara keras. Di tengah kerumunan,
Pak Joko berdiri dengan wajah merah padam. Di tangannya, ia memegang sebatang
golok.
"Sudah cukup! Saya sudah tidak tahan!" teriaknya.
"Ladang saya hancur! Mentimun saya habis! Traktor impian saya melayang!
Ini semua karena ulah kancil-kancil keparat itu!"
"Benar! Kita harus bertindak!" teriak beberapa
warga mendukung.
"Jangan cuma teriak, Pak Joko! Apa yang mau kita
lakukan?" tanya Guntur.
Pak Joko mengacungkan goloknya. "Kita masuk hutan!
Kita buru mereka! Kita basmi satu per satu!"
Beberapa warga bersorak. Tapi sebagian lain terlihat ragu.
"Tapi Pak Joko, kancil itu hewan dilindungi,"
protes Pak Carik yang baru datang. "Nanti kita bisa kena masalah sama
polisi."
"Polisi? Polisi mana yang mau peduli sama desa
terpencil seperti kita? Mereka sibuk di kota!" balas Pak Joko sengit.
"Tapi tetap saja, membunuh hewan dilindungi itu
salah."
"Lalu kita biarkan ladang kita hancur? Kita biarkan
anak istri kita kelaparan?"
Perdebatan semakin memanas. Raka yang menyaksikan dari
pinggir, merasakan dadanya sesak. Ia harus melakukan sesuatu, tapi apa? Jika ia
bicara sekarang, belum tentu didengar. Orang dewasa sedang emosi.
Saat perdebatan mencapai puncaknya, seseorang muncul dari
balik kerumunan. Mbah Kromo, sesepuh desa berusia 90 tahun, berjalan pelan
dengan tongkatnya. Semua orang memberi jalan.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanyanya dengan suara
parau.
"Mbah Kromo, tolong nasihati mereka," pinta Pak
Carik lega.
Pak Joko maju menghadap Mbah Kromo. "Mbah, kita mau
mengusir kancil-kancil itu. Ladang kita hancur! Kita harus bertindak!"
Mbah Kromo diam beberapa saat. Matanya yang sayu menatap
satu per satu wajah warga. Lalu ia berbicara dengan suara lirih, tapi cukup
jelas didengar semua orang.
"Dulu, waktu aku masih kecil, kancil-kancil itu tidak
pernah ganggu ladang. Mereka tinggal di hutan, hidup damai dengan manusia. Tapi
kenapa sekarang mereka keluar?"
Semua orang diam.
"Kalian pernah bertanya, apa yang terjadi di hutan?
Apa mereka kekurangan makanan? Apa mata air mereka kering? Atau mungkin...
kalian sendiri yang salah?"
"Kami yang salah, Mbah?" Pak Joko tersinggung.
"Bukan salah dalam arti jahat. Tapi salah karena tidak
mau bertanya. Kalian marah, tapi kalian tidak mencari akar masalah. Kalian hanya
ingin membunuh. Itu bukan jalan orang bijak."
Mbah Kromo kemudian berbalik dan berjalan pergi,
meninggalkan warga yang tercenung. Tapi amarah Pak Joko belum reda.
"Omongan orang tua itu! Kita tidak punya waktu untuk
bertanya-tanya! Yang jelas, ladang kita hancur!"
Pak Joko kemudian mengumumkan rencananya. Malam ini juga,
ia dan beberapa warga akan masuk hutan. Mereka akan memasang perangkap
besar-besaran. Dan jika perlu, mereka akan memburu kancil-kancil itu.
Raka merasa duninya seperti hendak runtuh.
Di markas rahasia, Tim Penyelidik Cilik mengadakan rapat
darurat. Suasana tegang mencekik.
"Kita harus cepat," kata Raka. "Pak Joko dan
warga akan masuk hutan malam ini. Mereka akan memasang perangkap dan mungkin
memburu kancil."
"Tapi bagaimana cara menghentikan mereka?" tanya
Wati cemas.
"Aku sudah punya rencana. Tapi butuh keberanian."
"Apa rencananya, Ra?"
Raka membuka buku catatannya. "Malam ini, kita akan
masuk hutan lebih dulu. Kita cari Kai dan kawanannya. Kita bawa mereka ke
tempat yang lebih aman. Jauh dari perangkap."
"Lebih aman di mana?" tanya Bejo.
"Di gua dekat air terjun itu. Tempatnya tersembunyi.
Kayaknya nggak banyak orang tahu."
"Tapi kita harus cepat. Warga mungkin masuk malam ini
juga."
Raka melihat jam. Pukul 3 sore. Mereka punya waktu beberapa
jam sebelum malam tiba.
"Kita siapkan perbekalan. Air, makanan, senter, dan
tali. Kita juga harus bawa sayuran untuk memancing mereka ikut."
Mereka bertiga segera bergerak. Raka pulang ke rumah untuk
mengambil perbekalan. Wati ke rumah Bu Tini untuk meminta sayuran. Bejo ke
rumahnya untuk mengambil tali dan golok.
Saat Raka sedang membereskan perbekalan di kamarnya, Pak
Tani masuk. Wajahnya serius.
"Ra, ayah perlu bicara."
Raka menoleh. Ada sesuatu di mata ayahnya yang membuatnya
cemas.
"Iya, Yah?"
"Kamu tahu soal rencana warga malam ini?"
Raka mengangguk pelan.
"Kamu pasti punya rencana sendiri, ya? Kamu dan
teman-temanmu?"
Raka terkejut. Apakah ayahnya tahu?
"Ayah... ayah tahu?"
Pak Tani tersenyum tipis. "Ayah tahu kamu sering pergi
malam-malam. Ayah tahu kamu dan Wati, Bejo, sering ke pinggir hutan. Ayah juga
tahu, kamu menyembunyikan sesuatu."
Raka diam. Jantungnya berdebar.
"Tapi ayah tidak akan melarang. Ayah percaya kamu
melakukan sesuatu yang benar. Hanya satu pesan ayah: hati-hati. Jangan nekat.
Kalau ada bahaya, segera pulang."
Raka terharu. Ia memeluk ayahnya. "Makasih, Yah."
"Dan satu lagi." Pak Tani mengeluarkan sebuah
benda dari sakunya. Sebuah peluit kecil. "Ini peluit. Kalau dalam bahaya,
tiup sekencang-kencangnya. Ayah akan datang."
Raka menerima peluit itu dengan tangan gemetar.
"Makasih, Yah. Aku janji akan hati-hati."
Matahari mulai condong ke barat ketika Tim Penyelidik Cilik
berkumpul di markas. Mereka membawa perbekalan lengkap: air, makanan, sayuran,
senter, tali, golok, dan peluit pemberian Pak Tani.
"Kita masuk sekarang," kata Raka. "Semakin
cepat, semakin baik."
Mereka berjalan menyusuri pinggir hutan. Udara mulai gelap.
Burung-burung mulai kembali ke sarangnya. Suasana sunyi, hanya suara jangkrik
yang mulai terdengar.
Sesampainya di titik biasa mereka memberi makan, Raka
mengeluarkan sayuran dan menyebarnya. "Kai biasanya datang ke sini saat
maghrib. Kita tunggu."
Tak lama, muncullah beberapa kancil. Mereka mulai memakan
sayuran. Tapi Kai tak terlihat.
"Kai di mana?" cemas Wati.
Tiba-tiba, dari balik semak, Kai muncul. Ia berjalan pelan
ke arah mereka. Matanya tampak waspada, seperti tahu ada yang tidak beres.
Raka mendekati Kai. Ia berlutut, menatap matanya.
"Kai, dengar. Malam ini, manusia akan masuk hutan. Mereka mau pasang
perangkap. Mereka mau buru kawananmu. Kamu harus bawa mereka ke tempat aman. Ke
gua di balik air terjun itu."
Kai menatapnya lama. Matanya seolah mengerti.
"Kami akan bantu. Kami akan pancing kawananmu ikut
kami. Tapi kamu harus pimpin mereka."
Kai menggerakkan telinganya. Lalu berbalik dan berlari
kecil ke arah hutan. Beberapa kali ia menoleh, seperti menyuruh mereka ikut.
"Ayo ikut!" seru Raka.
Mereka bertiga berlari mengikuti Kai.
Kai membawa mereka ke tempat berkumpul kawanan di bawah
pohon beringin. Puluhan kancil terlihat di sana, ada yang sedang beristirahat,
ada yang bermain.
"Banyak sekali," desis Bejo.
"Kita harus cepat. Sebentar lagi gelap."
Raka mengeluarkan sayuran dari tasnya. Ia menyebar di
tanah, membentuk garis menuju ke arah gua. "Mudah-mudahan mereka
ikut."
Kai memulai. Ia berjalan ke arah garis sayuran, memakannya,
lalu berjalan lagi ke arah gua. Beberapa kancil mengikuti. Tapi sebagian besar
masih ragu.
Wati dan Bejo ikut membantu. Mereka menyebar sayuran lebih
jauh, sambil berjalan pelan ke arah gua. Kancil-kancil mulai mengikuti, satu
per satu.
"Ini kerja keras," keluh Bejo sambil terus
menyebar sayuran.
"Iya, tapi harus."
Saat mereka hampir sampai di gua, tiba-tiba terdengar suara
dari kejauhan. Suara manusia. Banyak.
"Mereka datang!" panik Wati.
"CEPAT! KITA HARUS CEPAT!"
Mereka berlari lebih kencang, menyebar sayuran tanpa henti.
Kancil-kancil mulai panik, tapi Kai tetap tenang. Ia berdiri di pintu gua,
memanggil kawanannya dengan suara lengkingan pelan.
Satu per satu, kancil masuk ke gua. Yang terakhir adalah
anak-anak kancil yang berjalan lambat. Wati dan Bejo menggendong beberapa anak
kancil yang lemah dan memasukkannya ke gua.
Saat anak kancil terakhir masuk, suara manusia sudah sangat
dekat.
"MASUK! CEPET!" teriak Raka.
Mereka bertiga masuk ke gua, bersembunyi di balik batu
besar di mulut gua. Dari celah batu, mereka bisa melihat ke luar.
Pak Joko datang dengan membawa obor. Di belakangnya,
sekitar 15 orang warga dengan berbagai senjata: golok, tombak, panah, bahkan
ada yang membawa senapan angin.
"Mereka di mana? Tadi saya lihat banyak kancil di
sini!" teriak Pak Joko.
"Mungkin kabur, Pak. Mereka lari ke dalam," jawab
Guntur.
"Cari! Periksa setiap sudut!"
Para warga mulai menyebar. Beberapa mendekati gua. Raka,
Wati, dan Bejo menahan napas.
"Ini... ini panas," bisik Bejo.
"Diam!"
Langkah kaki semakin dekat. Senter menyorot ke berbagai
arah. Tiba-tiba, sorotan senter mengarah ke mulut gua.
"Itu gua! Mungkin mereka di dalam!" teriak
seseorang.
Raka merinding. Kalau sampai mereka masuk, semua akan
ketahuan. Kancil-kancil di dalam gua akan ketakutan, dan bisa terjadi hal
buruk.
Tapi tiba-tiba, dari arah berlawanan, muncul suara ribut.
Beberapa warga berteriak.
"Di sana! Ada yang lari!"
"Kejar! Kejar!"
Ternyata, beberapa kancil yang tidak sempat masuk gua
berlari ke arah lain, menarik perhatian para pemburu. Mereka segera mengejar ke
arah itu.
Raka menghela napas lega. "Kai... itu pasti
akal-akalan Kai. Dia mengorbankan beberapa kawannya untuk menyelamatkan yang
lain."
Mereka bertiga diam, terharu sekaligus cemas. Akankah
kancil-kancil yang jadi umpan itu selamat?
Setelah suara para pemburu menjauh, Raka, Wati, dan Bejo
keluar dari persembunyian. Mereka masuk ke dalam gua. Di sana, puluhan kancil
masih dalam kondisi panik. Tapi Kai sudah mulai menenangkan mereka dengan suara
lengkingan pelan.
"Kai, kamu hebat," bisik Raka.
Kai menatapnya. Matanya berkaca-kaca? Entahlah.
"Mereka yang jadi umpan... apa mereka selamat?"
Kai tak bisa menjawab. Ia hanya menunduk.
Malam itu, Tim Penyelidik Cilik memutuskan untuk tinggal di
dalam gua. Mereka tak berani keluar, takut bertemu para pemburu. Mereka duduk
bersandar di dinding gua, dikelilingi oleh puluhan kancil yang perlahan mulai
tenang.
"Kita harus pulang," kata Bejo. "Orang tua
kita pasti cemas."
"Tapi bagaimana? Mungkin mereka masih di luar."
Raka mengeluarkan peluit pemberian ayahnya. Ia berpikir
keras. Haruskah ia meniupnya?
Tapi tiba-tiba, dari luar gua, terdengar suara. Suara yang
dikenalnya.
"RAKA! RAKA! KAMU DI MANA?"
Pak Tani! Ayahnya datang!
Raka segera berlari ke mulut gua. Di sana, dengan obor di
tangan, Pak Tani berdiri bersama beberapa warga lain: Pak Carik, Guntur, bahkan
Pak Joko.
"RAKA!" Pak Tani berlari memeluknya. "Kamu
membuat ayah khawatir setengah mati!"
"Maaf, Yah. Tapi aku harus..."
Belum sempat Raka menyelesaikan kalimatnya, Pak Joko sudah
mendekat dengan wajah garang. "Jadi ini tempat persembunyian kancil? Di
mana mereka? Saya akan..."
Tapi ia berhenti. Dari dalam gua, Kai keluar dengan tenang.
Ia berdiri di samping Raka, menatap Pak Joko dengan mata tajam. Tak ada rasa
takut. Hanya tatapan yang dalam, seperti bertanya: "Apa maumu?"
Pak Joko terpaku. Ia tak pernah melihat kancil setenang
itu. Seperti manusia. Seperti... pemimpin.
"Jangan, Pak," kata Raka dengan suara mantap.
"Jangan sakiti mereka."
Pak Joko menatap Raka. "Kamu tahu apa yang mereka
lakukan pada ladang kita?"
"Aku tahu, Pak. Tapi aku juga tahu kenapa mereka
melakukannya."
Raka kemudian bercerita. Tentang ekspedisi mereka ke hutan.
Tentang mata air yang kering. Tentang anak-anak kancil yang sekarat kehausan.
Tentang lukisan di dinding gua. Tentang Kai, pemimpin bijaksana yang rela
berkorban untuk kawanannya.
Semua orang diam mendengarkan. Pak Joko, yang tadinya
garang, mulai terlihat ragu.
"Masuk, Pak. Lihat sendiri."
Raka mengajak mereka masuk ke dalam gua. Di sana, puluhan
kancil terbaring lemah. Ada yang masih kecil, ada yang sudah tua. Semua kurus
dan terlihat kelelahan.
"Ini... ini..." Pak Joko tak mampu melanjutkan
kalimatnya.
"Mereka bukan penjahat, Pak. Mereka korban. Korban
kemarau panjang. Mereka keluar dari hutan karena di sini tidak ada makanan.
Mereka hanya ingin bertahan hidup. Sama seperti kita."
Suasana gua hening. Tak ada yang bicara. Hanya suara napas
kancil-kancil yang terdengar berat.
Pak Tani memeluk Raka erat-erat. "Nak, ayah bangga
padamu."
Pak Carik mengusap matanya yang basah. Guntur diam membisu.
Dan Pak Joko... Pak Joko berlutut di tanah, menunduk.
Pak Joko terdiam lama. Tangannya yang tadi memegang golok,
kini gemetar. Ia menatap kancil-kancil itu, lalu menatap Raka.
"Nak Raka... aku... aku minta maaf."
Semua orang terkejut. Pak Joko yang sombong itu minta maaf?
"Aku marah, tapi aku tak pernah berpikir sejauh itu.
Aku pikir kancil itu penjahat, ternyata... ternyata mereka lebih menderita dari
kita."
Ia berdiri dan berjalan ke arah Kai. Kai menatapnya
waspada, tapi tak bergerak.
"Maafkan saya, Kancil. Saya hampir membunuh kalian.
Saya hampir menghancurkan keluarga kalian."
Kai menatapnya lama. Lalu, dengan gerakan lambat, ia
menundukkan kepala. Seperti memberi maaf.
Pak Joko tak kuasa menahan tangis. Pria sombong itu
menangis di depan semua orang.
Raka tersenyum. Ia tahu, ini adalah awal dari perubahan
besar.
Malam itu, di dalam gua, sebuah pertemuan tak resmi
terjadi. Pak Tani, Pak Carik, Guntur, dan Pak Joko duduk bersama Tim Penyelidik
Cilik. Mereka berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka begini terus,"
kata Pak Carik. "Tapi kita juga tidak bisa membiarkan ladang kita
dirusak."
"Bagaimana kalau kita buat program bersama?" usul
Raka. "Kita buat tempat minum buatan di pinggir hutan. Kita tanam tanaman
pakan untuk mereka. Dengan begitu, mereka tidak perlu keluar ke ladang."
"Tapi butuh biaya dan tenaga," kata Guntur.
"Kita bisa gotong royong. Semua warga ikut."
Pak Joko yang sudah reda tangisnya, tiba-tiba angkat
bicara. "Saya akan bantu. Saya sumbang bambu untuk tempat minum. Saya juga
akan ajak warga lain."
Semua menatapnya tak percaya.
"Apa? Saya serius. Saya sudah salah, sekarang saya
ingin memperbaiki."
Pak Tani tersenyum. "Nah, gitu dong, Pak Joko. Itu
baru sikap dermawan sejati."
Mereka semua tertawa. Malam yang tadinya penuh ketegangan,
berakhir dengan kehangatan.
Raka memandang Kai yang duduk di sudut gua. Kai membalas
tatapannya. Dalam diam, mereka saling berkata: "Kita akan selamatkan
mereka bersama."
Demikianlah Episode 3 dari Serial Detektif Cilik Bojong
Sari: "Ancaman dari Warga Desa".
Rencana pemburuan kancil hampir saja terjadi, namun
keberanian Raka dan Tim Penyelidik Cilik berhasil menggagalkannya. Pertemuan
malam di dalam gua menjadi titik balik. Pak Joko, yang paling keras menentang
kancil, justru menjadi orang pertama yang berjanji membantu.
Namun, perjalanan masih panjang. Program konservasi masih
harus dirancang. Warga lain masih perlu diyakinkan. Dan yang terpenting, musim
kemarau belum berakhir. Kawanan kancil masih membutuhkan bantuan.
Akankah Raka dan tim berhasil meyakinkan seluruh warga?
Dapatkah program konservasi berjalan lancar? Dan bagaimana nasib Kai serta
kawanannya di tengah kekeringan yang semakin parah?
Bersambung...
Saksikan kelanjutan petualangan Raka, Wati, dan Bejo di:
Episode 4
CATATAN PENULIS
Episode 3 ini menjadi titik balik dalam serial Detektif
Cilik Bojong Sari. Konflik antara warga dan kancil mulai menemukan titik terang
berkat keberanian Raka mengungkap kebenaran. Karakter Pak Joko yang semula
antagonis, mulai menunjukkan sisi baiknya—mengingatkan kita bahwa setiap orang
bisa berubah jika diberi kesempatan.
Saksikan bagaimana Tim Penyelidik Cilik menghadapi
tantangan berikutnya yang tidak kalah seru!
Salam dari Bojong Sari,
Slamet Riyadi












