DETEKTIF CILIK BOJONG SARI
Serial Misteri Kancil Bukit Manoreh
EPISODE 8: KAI SAKIT
Oleh: Slamet Riyadi
Pagi itu, Raka bangun dengan perasaan tidak enak. Ia tidak
tahu kenapa, tapi hatinya terasa gelisah. Udara panas seperti biasa, matahari
bersinar terik, tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang hilang.
Ia duduk di tepi tempat tidurnya, mencoba meraih perasaan
itu. Lalu ia sadar.
Suara kancil. Biasanya, setiap pagi ia selalu mendengar
suara lengkingan kancil dari arah hutan. Suara Kai, mungkin, atau kancil
lainnya. Tapi pagi ini, sunyi. Hening.
Raka segera bangkit dan berlari ke luar. Ia memanggil Wati
dan Bejo melalui handy talkie sederhana yang mereka pinjam dari kantor desa.
"Ti, Jo, cepat kumpul di markas! Ada yang tidak beres!"
Sepuluh menit kemudian, mereka bertiga sudah berkumpul di
markas. Wajah mereka tegang.
"Apa yang terjadi, Ra?" tanya Wati.
"Aku nggak dengar suara kancil pagi ini. Biasanya
selalu ada."
"Mungkin mereka lagi di tempat lain," kata Bejo
mencoba menenangkan.
"Tapi aku punya firasat buruk. Kita harus ke hutan.
Sekarang."
Tanpa banyak bicara, mereka bertiga segera berjalan menuju
hutan. Langkah mereka cepat, hampir berlari. Perasaan cemas mencekik dada
mereka masing-masing.
Sesampainya di titik Beringin, mereka melihat pemandangan
yang aneh. Bak air masih terisi, tapi tidak ada seekor kancil pun di
sekitarnya. Padahal biasanya, di jam segini, selalu ada beberapa kancil yang
minum.
"Mereka di mana?" tanya Wati cemas.
"Entah. Ayo kita cari."
Mereka berjalan lebih dalam ke hutan. Melewati mata air
utama—sepi. Melewati sungai kering—sepi. Melewati padang rumput tempat Kai
biasa berkumpul dengan kawanannya—sepi.
Tidak ada seekor kancil pun yang terlihat.
"Ra, aku takut," kata Bejo.
"Aku juga. Tapi kita harus terus cari."
Raka berpikir keras. Ke mana biasanya Kai pergi kalau
sedang tidak di tempat-tempat ini? Lalu ia teringat sesuatu.
"Gua! Mungkin mereka di gua tempat persembunyian
dulu!"
Mereka berlari menuju gua di balik air terjun kering.
Perjalanan terasa lebih berat dari biasanya, karena mereka sudah lelah dan
cemas.
Sesampainya di mulut gua, mereka berhenti. Dari dalam,
terdengar suara lengkingan pelan. Suara sedih. Suara ratapan.
Mereka masuk ke dalam gua. Dan apa yang mereka lihat
membuat hati mereka hancur.
Di dalam gua, puluhan kancil berkumpul melingkar. Di tengah
lingkaran itu, terbaring Kai. Ia tergeletak lemas di atas tumpukan daun kering.
Napasnya tersengal-sengal. Matanya setengah tertutup.
Kawanan kancil itu menatap mereka dengan mata sedih.
Beberapa kancil betina menjilati kepala Kai, seperti berusaha memberinya
semangat.
"KAI!" Raka berlari dan berlutut di samping
sahabatnya.
Kai membuka mata sedikit. Begitu melihat Raka, matanya
berbinar, meski redup. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi tak mampu. Hanya
ekornya yang bergerak lemah.
"Kai, kenapa kamu? Kenapa?" Raka menahan tangis.
Kai tak bisa menjawab. Hanya napasnya yang berat terdengar.
Tubuhnya sangat kurus. Tulang rusuknya terlihat jelas di balik bulu yang kusam.
Matanya cekung.
Wati dan Bejo ikut berlutut di samping Raka. Mereka tak
kuasa menahan tangis.
"Dia... dia kelaparan," bisik Wati.
"Tapi kan kita kasih makan? Bak air juga ada?"
"Ini bukan cuma soal makan. Mungkin... mungkin dia
sudah tua. Mungkin usianya sudah sampai."
Raka menggeleng keras. "Tidak! Kai tidak boleh mati!
Dia harus kuat!"
Raka berpikir cepat. Mereka butuh pertolongan. Tapi siapa
yang bisa membantu kancil sakit? Dokter hewan? Di desa tidak ada. Paling tidak,
mereka butuh orang yang tahu banyak tentang hewan.
"Mbah Kromo!" seru Raka. "Kita harus bawa
Mbah Kromo ke sini!"
"Tapi Mbah Kromo sudah tua. Masa dia bisa ke
sini?"
"Kita coba! Kalau tidak, kita gendong Kai ke
luar!"
Raka menatap Kai. "Kai, tunggu aku. Aku akan cari
pertolongan. Janji."
Kai menatapnya. Matanya berkata, "Aku
tunggu."
Raka, Wati, dan Bejo berlari sekencang-kencangnya
meninggalkan gua. Mereka berlari melewati hutan, melewati sungai kering,
melewati titik Beringin, sampai akhirnya sampai di desa.
Tanpa berhenti, mereka langsung menuju rumah Mbah Kromo.
Mbah Kromo sedang duduk di teras rumahnya, memandangi
langit yang cerah. Melihat tiga bocah itu datang tergesa-gesa dengan wajah
panik, ia langsung tahu ada yang tidak beres.
"Ada apa, cah bagus? Kok pada buru-buru?"
tanyanya.
"Mbah! Kai sakit! Kancil tua itu! Dia terbaring lemah
di gua! Tolong, Mbah!" Raka hampir menangis.
Mbah Kromo menghela napas panjang. Ia berdiri perlahan,
meraih tongkatnya. "Ayo, antar Mbah ke sana."
"Mbah, tapi Mbah sudah tua. Apa kuat jalan ke
hutan?"
Mbah Kromo tersenyum tipis. "Mbah memang tua, tapi
kaki Mbah masih kuat. Lagipula, ini untuk Kai. Untuk sahabat kalian. Mbah harus
datang."
Perjalanan ke hutan kali ini terasa berat. Mbah Kromo
berjalan pelan, sesekali berhenti untuk mengatur napas. Tapi matanya tetap
tajam, mengamati lingkungan sekitar.
Sesampainya di gua, Mbah Kromo langsung mendekati Kai. Ia
berlutut di samping kancil tua itu, memeriksa tubuhnya dengan teliti. Matanya
yang rabun menyipit, tangannya yang keriput meraba-raba tubuh Kai dengan
lembut.
"Ini... ini bukan cuma kelaparan," gumam Mbah
Kromo.
"Apa maksud Mbah?"
"Tubuhnya lemah karena kurang makan, itu benar. Tapi
ada yang lain. Lihat matanya, sayu tapi masih tajam. Napasnya berat, tapi
teratur. Ini... ini seperti orang tua yang sedang sakit biasa."
"Jadi, Kai sakit karena tua?"
Mbah Kromo mengangguk pelan. "Usianya sudah sangat
tua. Untuk ukuran kancil, dia sudah seperti manusia berusia 90 tahun. Wajar
kalau tubuhnya mulai melemah. Apalagi ditambah musim kemarau yang
panjang."
Raka memandang Kai dengan mata berkaca-kaca. "Jadi,
Kai akan...?"
"Belum tentu, Nak. Hewan tua seperti dia punya
semangat hidup yang kuat. Tapi dia butuh perawatan. Butuh makanan bergizi.
Butuh air bersih. Dan yang paling penting, butuh kasih sayang."
Mbah Kromo memberi instruksi. Kai harus dibawa ke desa, ke
rumah Raka, agar bisa dirawat dengan baik. Tapi bagaimana cara membawa kancil
sebesar itu melewati hutan?
"Kita buat tandu," kata Mbah Kromo. "Dari
bambu dan kain. Kalian cari bambu kecil yang kuat. Ibu-ibu di desa pasti punya
kain bekas."
Raka, Wati, dan Bejo segera berlari ke desa. Mereka
mengumpulkan warga, menjelaskan situasinya. Dalam hitungan menit, puluhan orang
sudah berkumpul dengan membawa bambu dan kain.
Pak Joko datang dengan pick-up-nya. "Kita bawa tandu
ke hutan! Cepat!"
Mereka berangkat ke hutan dengan membawa tandu darurat.
Sesampainya di gua, Pak Joko dan beberapa pemuda mengangkat Kai dengan
hati-hati ke atas tandu. Kai hanya diam, tak melawan. Ia terlalu lemah.
Perjalanan pulang terasa berat. Mereka bergantian
mengangkat tandu melewati medan hutan yang sulit. Kai terbaring diam, sesekali
membuka mata dan menatap Raka yang berjalan di sampingnya.
"Kuat, Kai. Kita hampir sampai."
Kai dibawa ke rumah Raka. Pak Tani sudah menyiapkan kandang
darurat di belakang rumah, beralas jerami dan kain bersih. Kai dibaringkan di
sana dengan hati-hati.
Bu Tani keluar membawa air hangat dan makanan.
"Kasihan sekali. Mari Ibu rawat."
Sejak saat itu, Kai dirawat oleh seluruh keluarga Raka. Bu
Tani setiap hari membuatkan bubur sayuran yang lembut. Raka selalu menemani,
berbicara padanya, mengelus kepalanya. Wati dan Bejo bergantian datang membawa
makanan dan obat-obatan tradisional dari Mbah Kromo.
Hari pertama, Kai hanya terbaring lemah. Ia makan sedikit,
minum sedikit. Matanya sayu, tapi selalu terbuka saat Raka datang.
Hari kedua, ia mulai bisa duduk. Ia makan lebih banyak.
Matanya mulai bersinar.
Hari ketiga, ia sudah bisa berdiri meski masih goyah. Ia
mulai mengenali lingkungan sekitarnya.
Warga desa bergantian datang menjenguk. Mereka membawa
berbagai macam makanan: sayuran segar, buah-buahan, bahkan ada yang membawa
susu kambing.
"Ini untuk Kai," kata Bu Juminten sambil
menyerahkan sebotol susu.
"Makasih, Bu."
Kai menjadi pusat perhatian desa. Kancil tua yang dulu
dianggap musuh, kini menjadi sahabat yang harus diselamatkan.
Suatu sore, Mbah Kromo datang menjenguk Kai. Ia duduk di
samping kandang, mengamati kancil tua itu dengan saksama.
"Dia sudah lebih baik," katanya.
"Iya, Mbah. Tapi kapan dia bisa pulang ke hutan?"
Mbah Kromo tersenyum. "Kamu sudah sayang sama dia,
ya?"
Raka mengangguk pelan.
"Itu bagus. Tapi ingat, Nak. Kai bukan hewan
peliharaan. Dia hewan liar, pemimpin kawanannya. Dia punya tanggung jawab di
hutan. Kalau terlalu lama di sini, kawanannya bisa kacau."
"Aku tahu, Mbah. Tapi aku khawatir kalau dia pulang,
dia sakit lagi."
"Itu risiko yang harus diambil. Tapi yang bisa kita
lakukan adalah memastikan hutan aman untuknya. Pastikan ada makanan dan air
yang cukup. Itu lebih baik daripada menahannya di sini."
Raka merenungkan kata-kata Mbah Kromo. Ia benar. Kai bukan
miliknya. Kai milik hutan, milik kawanannya. Tugas Raka hanya membantu, bukan
memiliki.
Suatu malam, saat Raka sedang duduk di samping kandang Kai,
tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari arah hutan. Raka menajamkan telinga.
Itu suara langkah kaki. Banyak.
Dari kegelapan, muncullah puluhan kancil. Mereka berhenti
di pinggir desa, menatap ke arah rumah Raka. Mereka datang menjenguk pemimpin
mereka.
Raka terharu. "Kai, lihat. Kawananmu datang."
Kai mengangkat kepala. Matanya menatap ke arah kawanannya.
Ia menggerakkan telinganya, seperti memberi salam. Beberapa kancil maju
mendekat, menjenguk dari kejauhan.
Mereka diam beberapa saat, saling memandang. Lalu, satu per
satu, mereka mundur dan kembali ke hutan. Mereka sudah melihat pemimpinnya
baik-baik saja. Itu cukup.
Raka mengelus kepala Kai. "Kamu beruntung punya
kawanan yang setia."
Kai menjilat tangannya. Matanya berkata, "Aku
juga beruntung punya kamu."
Seminggu kemudian, Kai sudah benar-benar pulih. Ia kembali
lincah, bahkan kadang melompat-lompat kecil di kandangnya. Bulunya mulai
mengilap lagi. Matanya kembali tajam.
Saatnya Kai pulang.
Raka sedih, tapi tahu ini yang terbaik. Ia melepas Kai di
pinggir hutan, ditemani Wati, Bejo, dan beberapa warga.
"Kai, jaga dirimu baik-baik," kata Raka sambil
memeluk Kai untuk terakhir kalinya.
Kai menjilati wajah Raka. Matanya berkaca-kaca.
"Kalau kamu sakit lagi, kabari aku. Aku akan
datang."
Kai menggerakkan telinganya. Lalu berbalik dan berjalan
pelan masuk ke hutan. Sesekali ia menoleh. Tiga kali menoleh, lalu lenyap di
balik pepohonan.
Raka menangis. Wati dan Bejo memeluknya.
"Dia akan baik-baik saja," kata Wati.
"Iya. Dia kuat," tambah Bejo.
Dari dalam hutan, terdengar suara lengkingan panjang. Suara
Kai. Seperti pamit. Seperti berjanji untuk kembali.
Hari-hari berlalu. Kai sudah kembali ke hutan, memimpin
kawanannya seperti dulu. Sesekali Raka melihatnya di titik Beringin, duduk di
bawah pohon, menatap ke arah desa. Mereka selalu melambai, dan Kai selalu
membalas dengan menggerakkan telinganya.
Musim kemarau masih berlangsung, tapi dengan pengelolaan
air yang baik, hutan masih bisa bertahan. Kawanan kancil sehat-sehat saja.
Ladang-ladang warga mulai ditanami lagi, meski hasilnya belum maksimal.
Tim Penyelidik Cilik tetap aktif. Mereka rutin memeriksa
bak-bak air, memantau kondisi hutan, dan membantu warga yang kesulitan. Mereka
menjadi pahlawan kecil desa.
Pak Joko terus berbagi dengan warga yang membutuhkan. Ia
bahkan mendirikan lumbung desa, tempat menyimpan cadangan pangan untuk
masa-masa sulit.
Pak Tani mulai menanam tanaman yang tahan kekeringan,
seperti singkong dan ubi jalar. Hasilnya lumayan, setidaknya untuk kebutuhan
keluarga sendiri.
Bu Tini tetap berjualan sayur keliling, meski dagangannya
berkurang. Ia selalu menyisihkan sedikit untuk Tim Penyelidik Cilik.
Suatu malam, Raka duduk di bawah pohon beringin, menunggu
Kai. Tak lama, kancil tua itu datang dan duduk di sampingnya.
Mereka diam beberapa saat. Bulan purnama bersinar terang,
menerangi hutan dengan cahaya perak.
"Kai, aku belajar banyak dari kamu," kata Raka
pelan. "Tentang kesabaran. Tentang keteguhan. Tentang memimpin dengan
hati."
Kai menatapnya. Matanya berkata, "Aku juga
belajar banyak darimu. Tentang kebaikan. Tentang persahabatan. Tentang
harapan."
"Kita harus terus menjaga hutan ini. Untuk kamu, untuk
kawananmu, untuk anak cucu kita nanti."
Kai menggerakkan telinganya. Setuju.
Mereka duduk bersama sampai larut malam. Manusia dan
kancil, sahabat sejati, di bawah sinar bulan purnama.
Demikianlah Episode 8 dari Serial Detektif Cilik Bojong
Sari: "Kai Sakit".
Kai jatuh sakit, hampir mati. Tapi berkat perawatan dan
kasih sayang Tim Penyelidik Cilik serta seluruh warga Bojong Sari, ia berhasil
pulih. Kini ia kembali ke hutan, memimpin kawanannya. Persahabatan antara
manusia dan kancil semakin erat.
Namun, musim kemarau masih berlangsung. Ujian terbesar
masih menanti. Akankah hujan segera turun?
Bersambung...
Saksikan kelanjutan petualangan Raka, Wati, dan Bejo di:
Episode 9: Penyelamatan Dramatis
CATATAN PENULIS
Episode 8 ini mengajarkan kita tentang kesetiaan dan
pengorbanan. Raka rela melakukan apa pun untuk menyelamatkan sahabatnya, Kai.
Warga desa bersatu merawat kancil yang dulu mereka musuhi. Dan Kai, meski sudah
pulih, harus kembali ke habitatnya karena itulah tempatnya.
Persahabatan sejati bukan berarti memiliki, tapi melepaskan
dengan ikhlas dan tetap peduli dari jauh.
Saksikan episode-episode final yang penuh kejutan!
Salam dari Bojong Sari,
Slamet Riyadi






0 komentar:
Posting Komentar