CINTA SEGI TIGA
Novelet Kisah Tentang Cinta, Persahabatan, dan Pengorbanan yang Mengubah
Tiga Hati
Oleh: Slamet Riyadi
"Kadang hidup tidak memberi kita pilihan yang mudah,
tapi ia selalu memberi kita pelajaran yang berharga."
Hujan turun perlahan di kota itu.
Bukan gerimis biasa, tetapi hujan yang membawa
bisikan-bisikan misterius dari langit malam. Lampu-lampu jalan memantulkan
cahaya kuning temaram di genangan air yang berkilau seperti pecahan kaca yang
berserakan. Di kejauhan, suara kendaraan malam terdengar sayup, berbaur dengan
rintik air yang menari-nari di atas daun-daun tanaman di taman kota.
Di taman itulah Alya berdiri sendirian.
Rambutnya yang sebahu dibiarkan basah terkena air hujan.
Gaun putih polos yang dikenakannya mulai menyerap air, membuatnya terlihat
seperti sosok yang baru keluar dari lukisan, cantik, tetapi sendu. Tangannya
menggenggam ponsel erat-erat, namun ia tidak tahu harus menghubungi siapa.
Layar ponselnya menyala, menampilkan dua nama yang sudah tidak asing lagi.
Mahesa dan Irfan.
Dua nama yang sama-sama hadir dalam hidupnya.
Dua orang yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Dua sahabat yang kini terancam hancur karena dirinya.
Alya menarik napas dalam-dalam. Udara malam yang dingin
masuk ke paru-parunya, tapi tidak bisa mendinginkan kepalanya yang panas. Ia
menatap layar ponsel itu lama, jari-jarinya bergerak-gerak seolah ingin
mengetik, tapi lagi-lagi urung.
"Apa yang harus aku tulis? 'Mahesa, aku bingung?' Atau
'Irfan, kenapa kau hadir di hidupku?'"
"Lya..."
Sebuah suara memecah lamunan. Alya menoleh. Di bangku taman
yang agak teduh di bawah pohon besar, duduk seorang perempuan dengan rambut
dikuncir ekor kuda, memakai jas hujan plastik warna merah muda yang sudah bolong
di beberapa bagian. Rina, sahabatnya sejak SMA, satu-satunya orang yang tahu
segala isi hati Alya.
"Kamu masih belum pulang?" tanya Rina sambil
menghampiri, membuka payung dan menaunginya.
Alya menggeleng pelan. Air matanya nyaris jatuh, tapi ia
tahan. Bibirnya bergetar menahan tangis.
"Aku takut membuat keputusan, Rin."
"Takut kenapa?" Rina meraih tangan sahabatnya.
Tangan itu dingin. "Kamu demam? Lya, kamu basah kuyup!"
Alya menatap langit yang gelap. Hujan semakin deras, tapi
ia seakan tidak peduli. Matanya kosong menatap titik entah di kejauhan.
"Karena apa pun pilihanku... seseorang pasti akan
terluka." Suaranya bergetar, pecah di tengah jalan. "Dan aku tidak
bisa hidup dengan rasa bersalah itu, Rin. Aku nggak sanggup."
Rina menatapnya lama. Ia tahu betapa berat beban yang
dipikul sahabatnya ini. Selama setahun terakhir, ia menyaksikan bagaimana Alya
terombang-ambing di antara dua hati yang sama-sama tulus. Ia melihat bagaimana
mata Alya berbinar saat bersama Mahesa, pria tenang yang selalu membuatnya
merasa aman. Tapi ia juga melihat kedamaian di wajahnya ketika bersama Irfan, pria
ceria yang bisa membuatnya tertawa lepas.
"Lya," Rina meraih kedua bahu sahabatnya,
memaksanya menatap matanya. "Dengar. Kadang hidup memang tidak memberi
kita pilihan yang mudah. Tapi kamu harus ingat satu hal..."
Alya menatapnya, menunggu.
"Kebahagiaanmu juga penting. Jangan hanya memikirkan
perasaan mereka, tapi pikirkan juga dirimu sendiri. Kamu berhak bahagia, Lya.
Kamu berhak memilih."
Alya tersenyum getir. Air matanya akhirnya jatuh, bercampur
dengan air hujan di pipinya.
"Seandainya semudah itu, Rin. Seandainya hati ini
tidak terbelah dua. Seandainya aku bisa memilih tanpa harus kehilangan salah
satu dari mereka."
Dari kejauhan, sebuah mobil melintas perlahan. Di dalamnya,
dua orang pria duduk berdampingan dalam diam. Mereka baru saja selesai
berbicara panjang lebar di kafe langganan mereka, pembicaraan yang mengubah
segalanya.
Mahesa, dengan wajah tirus dan sorot mata yang selalu
teduh, menatap ke luar jendela. Hujan mengaburkan pandangannya, tapi tidak bisa
mengaburkan ingatannya tentang pertama kali ia bertemu Alya. Senyumnya.
Tawanya. Cara matanya berbinar saat membaca puisi.
Irfan, dengan rambut agak panjang dan senyum yang biasanya
merekah, kini diam membisu. Tangannya menggenggam setir, tapi pikirannya
melayang jauh, ke masa lalu yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Ke
malam hujan 15 tahun lalu, ketika ia menggendong seorang gadis kecil keluar
dari mobil ringsek.
"Mahesa," panggil Irfan pelan. Suaranya serak.
Mahesa menoleh. "Hm?"
"Apa kita melakukan hal yang benar? Dengan memberikan
waktu pada Alya untuk memilih... apa ini benar?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan pekat
seperti awan hitam di langit malam.
Mahesa menghela napas panjang. Tangannya meremas setir
mobil, buku-buku jarinya memutih.
"Aku tidak tahu, Fan. Aku benar-benar tidak tahu. Yang
aku tahu... kita tidak bisa terus seperti ini. Kita tidak bisa memaksanya. Kita
harus membiarkan Alya yang memilih, meskipun..."
Ia tidak melanjutkan. Tapi Irfan tahu. Meskipun salah satu
dari mereka akan hancur.
Irfan tertawa kecil, tertawa yang pahit, tertawa yang tidak
mengandung kegembiraan sama sekali.
"Dan apa pun pilihannya, salah satu dari kita akan
hancur. Mungkin bahkan kita berdua."
Mobil terus melaju, meninggalkan taman kota tempat Alya
masih berdiri bersama Rina. Hujan belum reda. Malam semakin larut.
Dan tiga hati itu masih bergulat dengan cinta,
persahabatan, dan pengorbanan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
BAGIAN I
"Beberapa pertemuan memang terlihat biasa saja. Tapi
tanpa kita sadari, di sanalah takdir sedang bekerja."
Perpustakaan Daerah itu selalu sepi di hari Rabu sore.
Mahesa menyukai hari Rabu. Tidak banyak pengunjung, tidak
banyak suara. Hanya ia, ribuan buku, dan aroma kertas tua yang menenangkan. Sebagai
arsiparis, ia sudah hafal setiap sudut perpustakaan ini, mulai dari rak buku
sejarah di lantai dasar hingga koleksi naskah kuno di ruang khusus.
Hari itu, Mahesa sedang merapikan koleksi buku sastra
Indonesia. Tumpukan buku berserakan di meja kerjanya. Ia tenggelam dalam
dunianya sendiri, sesekali membaca sampul belakang buku-buku yang ia temui.
"Hmm... Puisi Chairil Anwar edisi lama," gumamnya pelan. Matanya berbinar melihat sampul buku
yang sudah lusuh itu. "Edisi pertama tahun 1959? Wah, ini langka."
Ia mengulurkan tangan untuk mengambil buku di rak paling
atas. Namun karena terlalu fokus pada buku lain dan posisi tubuhnya yang tidak
seimbang, ia tidak sadar bahwa tumpukan buku di sampingnya mulai goyah.
Krak! Brak! Bruk!
Buku-buku itu jatuh berserakan seperti air terjun kertas.
Beberapa membentur kepalanya. Mahesa mengaduh pelan sambil memegang ubun-ubun.
"Brengsek," umpatnya pelan sambil mengusap
kepala. "Ceroboh sekali."
Ia segera membungkuk untuk mengambil buku-buku itu. Satu
per satu ia kumpulkan dengan gerakan cepat. Matanya menyapu lantai mencari
buku-buku yang mungkin tercecer di bawah rak.
"Buku puisi Taufik Ismail... Buku kumpulan cerpen...
Buku novelnya Pram..."
Tangannya meraih buku terakhir, sebuah buku antologi puisi.
Namun ketika jari-jarinya menyentuh sampul buku itu, ia melihat jari-jari
lentik yang juga memegang buku yang sama.
Mahesa mendongak.
Dan di situlah ia melihatnya untuk pertama kali.
Seorang perempuan dengan rambut sebahu, mata bulat berwarna
cokelat hangat yang jernih seperti danau di pegunungan, dan senyum yang...
entahlah, Mahesa tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata. Ia hanya
merasa dadanya tiba-tiba berdebar lebih kencang. Jantungnya seperti mau
melompat keluar dari rongga dada.
"Maaf... buku kamu jatuh," kata perempuan itu
sambil mengambil buku yang dimaksud. Suaranya lembut, seperti alunan musik
klasik di sore hari.
Mahesa tersenyum gugup. Kacamatanya bergeser miring, ia
buru-buru menyesuaikannya kembali dengan tangan sedikit gemetar. Refleks yang
selalu muncul ketika ia grogi. Biasanya ia bisa mengontrolnya, tapi kali ini
tangannya benar-benar tidak kooperatif.
"Terima kasih... aku memang ceroboh," jawabnya.
Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri, lebih tinggi dari biasanya.
Perempuan itu tertawa kecil. Tawanya lembut, seperti suara
lonceng angin di sore hari yang sepoi. Mahesa merasa tawa itu menghangatkan
sesuatu di dalam dadanya.
"Boleh bantu?" tanya perempuan itu sambil
berlutut di lantai, tanpa peduli rok yang ia kenakan.
"Eh, nggak usah, nggak usah. Saya bisa sendiri,"
Mahesa buru-buru menolak, panik. "Ini tugas saya, masa merepotkan
pengunjung."
Tapi perempuan itu sudah mengambil beberapa buku dan
menatapnya dengan alis terangkat.
"Bersama lebih cepat, kan? Lagipula, bukankah ini juga
sebagian salah saya?"
"Salah Anda? Maksudnya?"
Perempuan itu tersenyum tipis. "Saya yang membuat Anda
terkejut sampai menjatuhkan buku."
Mahesa membelalak. "I-itu... bukan salah Anda. Saya
yang... maksudnya..."
Perempuan itu tertawa lagi. "Bercanda. Dasar gampang panik."
Mereka merapikan buku-buku itu bersama. Beberapa kali
tangan mereka hampir bersentuhan. Setiap kali itu terjadi, Mahesa merasakan
sengatan listrik halus menjalar dari ujung jarinya. Ia berusaha tenang, tapi
jantungnya seperti mau meledak.
"Ini buku puisi?" tiba-tiba perempuan itu
bertanya sambil memegang salah satu buku, antologi puisi yang tadi membuat
Mahesa bersemangat.
"Iya, antologi puisi penyair Indonesia," jawab
Mahesa, berusaha terdengar normal. "Edisi lama. Tahun 1959."
Perempuan itu membuka buku tersebut, membaca satu halaman
dengan seksama. Matanya bergerak perlahan mengikuti baris demi baris puisi.
Mahesa memperhatikannya diam-diam. Ada sesuatu yang berbeda dari perempuan ini.
Ia tidak hanya sekadar melihat buku, ia seperti meresapi kata-kata di dalamnya.
Bibirnya bergerak-gerak kecil, membaca dalam hati. Wajahnya berubah-ubah
ekspresi mengikuti isi puisi, kadang tersenyum, kadang mengernyit, kadang
tampak terharu.
"Aku suka puisi," kata perempuan itu, masih
membaca. "Sejak SMA. Menurutku puisi itu seperti... potongan jiwa yang
diabadikan dalam kata-kata. Setiap penyair menuliskan sebagian jiwanya di sana,
dan pembaca yang baik akan menemukan jiwanya sendiri di dalamnya."
Mahesa tersenyum. Ini pertama kalinya ia bertemu seseorang
yang bisa mendefinisikan puisi seindah itu.
"Itu definisi yang indah," katanya tulus.
"Kamu... mahasiswa sastra?"
Perempuan itu mendongak. Untuk pertama kalinya, mata mereka
bertemu langsung, tanpa penghalang. Dan pada saat itu, Mahesa merasa waktu
seperti berhenti. Dunia di sekelilingnya memudar. Yang tersisa hanyalah mata
cokelat hangat itu, yang seolah bisa menenggelamkannya.
Perempuan itu tersenyum. "Bukan. Aku dosennya."
Mahesa terkesiap. "D-dosen?"
"Iya. Dosen sastra di Universitas Negeri. Lagi nyari
bahan ajar." Ia mengulurkan tangan. "Maaf, kenalin, aku Alya."
Mahesa menjabatnya perlahan. Tangannya lembut, hangat, dan
sedikit basah karena keringat—mungkin grogi juga. Genggamannya tidak terlalu
erat, tapi terasa tulus.
"Mahesa."
"Apa kamu bekerja di sini?" tanya Alya melihat
seragam Mahesa, kemeja putih dengan logo perpustakaan.
"Iya, sebagai arsiparis. Sudah tiga tahun."
"Wah, berarti kamu tahu banyak tentang koleksi buku di
sini dong?"
"Alhamdulillah, lumayan. Perpustakaan ini seperti
rumah kedua saya."
Alya tersenyum lebar. Senyum yang membuat seisi ruangan
terasa lebih terang.
"Kalau begitu, aku boleh minta bantuanmu? Untuk
rekomendasi buku-buku sastra yang bagus buat bahan ajar?"
Mahesa mengangguk, mungkin terlalu cepat. "Tentu saja.
Dengan senang hati. Kapan pun kamu butuh, aku siap bantu."
"Makasih. Senang kenal kamu, Mahesa."
"Senang kenal kamu juga, Alya."
Di sudut lain perpustakaan, Damar yang sedari tadi memperhatikan
adegan itu dari kejauhan, ia datang untuk mengembalikan buku, langsung
menghampiri Mahesa begitu Alya pergi menuju rak lain.
Damar menyeringai lebar, matanya berbinar nakal.
"Wah... ada malaikat turun dari rak buku," bisiknya dengan nada usil.
"Gue lihat semuanya, bro. Lo salting abis!"
Mahesa menyikutnya. "Diem kamu, Mar. Nggak usah berisik."
"Serius, bro. Cantik banget. Kayak bidadari kesasar.
Lo nggak minta nomornya?" Damar mengangkat kedua alisnya penuh arti.
"Ngaco. Dia cuma pengunjung biasa. Lagipula, dia
dosen. Masa saya..."
"Tapi matanya berbinar-binar pas lihat lo,"
potong Damar. "Gue lihat sendiri. Dia suka sama lo."
"Kamu ini suka nebak-nebak. Dasar tukang ramal
murahan."
"Coba lo perhatiin lagi nanti kalau dia balik ke
sini."
Mahesa menggeleng, berusaha mengabaikan ucapan sahabatnya.
Tapi sejujurnya, ia tidak bisa berhenti memikirkan senyuman Alya.
Senyuman yang entah kenapa terasa begitu akrab.
Seperti ia sudah mengenal senyum itu seumur hidupnya.
Sejak pertemuan di perpustakaan, Alya mulai sering datang.
Awalnya dengan alasan mencari buku. Lalu dengan alasan
mengembalikan buku. Lalu dengan alasan meminta rekomendasi buku. Lalu dengan
alasan mengantar buku yang dipinjam. Lalu dengan alasan... tanpa alasan sama
sekali.
Ia hanya duduk di sudut ruang baca, membaca, sesekali
menatap Mahesa yang sibuk dengan pekerjaannya. Kadang-kadang mata mereka
bertemu, dan keduanya akan buru-buru berpaling dengan pipi bersemu merah.
Mahesa tidak bodoh. Ia tahu Alya datang untuknya. Tapi ia
terlalu malu untuk mengakui harapan itu. Bagaimana mungkin perempuan secantik,
sepintar, sehangat Alya tertarik padanya, seorang arsiparis kutu buku yang
lebih akrab dengan debu buku daripada dengan manusia?
Hingga suatu sore, dua minggu setelah pertemuan pertama,
Alya menghampiri meja kerjanya dengan langkah mantap.
"Hei," sapa Alya. Suaranya sedikit bergetar, tidak
seperti biasanya.
Mahesa mendongak dari tumpukan dokumen yang sedang ia
sortir. Jantungnya langsung berlomba. "Hei juga."
Alya menarik napas dalam-dalam. Tangannya memainkan ujung
baju, gugup. "Aku mau ngomong sesuatu."
Mahesa meletakkan pulpennya. Matanya menatap Alya penuh
perhatian. "Tentang?"
Alya menunduk, lalu menatapnya lagi. Matanya penuh tekad,
meski pipinya merona merah. "Mahesa, aku... apa kamu punya pacar?"
Mahesa terkesiap. Pertanyaan langsung seperti itu.
Jantungnya berhenti berdetak sedetik, lalu berlari kencang. Kacamatanya
langsung bergeser, refleks gugup yang tidak bisa ia kendalikan.
"Eh? Nggak... nggak punya," jawabnya
terbata-bata. "Aku... sendiri aja. Udah lama."
Alya tersenyum lega. Beban yang sejak tadi menggantung di
pundaknya sepertinya berkurang separuh. "Syukurlah. Soalnya..." Ia
berhenti, mengambil napas lagi. "Soalnya aku suka sama kamu, Mahesa."
Kali ini Mahesa benar-benar tidak bisa berkata-kata.
Kacamatanya jatuh dari hidung, lagi. Ia sibuk mengambilnya
dengan tangan gemetar, tapi malah menjatuhkannya lagi. Wajahnya memerah seperti
kepiting rebus. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan, tapi tidak ada
suara yang keluar.
Alya menatapnya cemas. "Maaf, apa aku terlalu
langsung? Terlalu lancang? Biasanya aku memang nggak kayak gini, tapi aku pikir
lebih baik jujur daripada muter-muter dan kamu nggak nangkep sinyal. Soalnya
aku sudah kasih kode dua minggu dan kamu..."
"NGGAK!"
Alya terkejut dengan teriakan Mahesa yang tiba-tiba.
Beberapa pengunjung perpustakaan menoleh.
"Nggak... maksudku..." Mahesa menurunkan volume
suaranya, masih tergagap. "Nggak terlalu langsung. Maksudku... aku suka.
Maksudku... aku juga suka sama kamu, Alya. Dari pertama kali lihat kamu."
Alya membelalak. Wajahnya berseri-seri.
"Beneran?"
Mahesa mengangguk bersemangat, kacamatanya goyah lagi.
"Beneran. Cuma aku nggak berani ngomong. Soalnya kamu... kamu dosen,
cantik, pintar. Masa aku..."
Alya tertawa. Bukan tawa mengejek, tapi tawa bahagia.
"Mahesa, kamu ini... bodoh ya?"
"Iya, mungkin."
"Kamu itu baik. Pintar. Perhatian. Dan kamu suka
puisi. Buatku, itu lebih dari cukup."
Mahesa tersipu. Tidak pernah ada yang memujanya seperti
itu.
Dan sejak hari itu, dunia mereka berubah.
Damar mengajak Mahesa dan Alya ke kedai kopi miliknya, "Senja",
sebuah kafe kecil dengan nuansa vintage di sudut kota. Lampu-lampu temaram,
musik jazz pelan, dinding-dinding bata ekspos, dan aroma kopi yang khas menguar
dari setiap sudut.
"Ini tempat nongkrong favorit kita," kata Damar
sambil menyodorkan menu yang terbuat dari kayu. "Kopi tubruknya enak. Pak
Yusuf, pemilik aslinya, punya resep rahasia turun-temurun. Gue cuma bantu
ngelola."
Mereka bertiga duduk di meja dekat jendela besar yang
menghadap ke taman kecil. Alya tampak menikmati suasana. Matanya berkeliling,
mengamati setiap detail.
"Tempatnya cozy banget," puji Alya. "Ada
perpustakaan kecil juga?"
"Iya, itu ide gue," Damar bangga. "Biar
orang baca sambil ngopi. Cocok buat lo berdua yang hobi buku."
"Keren banget."
"Tapi yang paling keren itu bukan tempatnya,"
goda Damar sambil menyengir. "Tapi couple yang lagi kasmaran di depan
gue."
Mahesa menyenggol Damar keras-keras. "Diem lo,
Mar."
Alya tertawa. Tawanya ringan, menghangatkan suasana.
"Biarkan dia bercanda, Sa. Emang dasarnya dia usil."
Mereka berbincang tentang banyak hal, pekerjaan, kuliah,
masa kecil, mimpi-mimpi. Obrolan ringan yang terasa begitu berarti. Alya
bercerita tentang mahasiswanya yang lucu-lucu. Mahesa bercerita tentang
buku-buku langka yang ia temukan. Damar sesekali menyelipkan komentar usil yang
membuat mereka tertawa.
"Eh, ngomong-ngomong, Mahesa," Alya tiba-tiba
teringat sesuatu. "Kamu kan kenal Irfan Hakim?"
Mahesa mengangguk. "Kenal. Sahabat gue dari SMP.
Kenapa emangnya?"
"Dia jurnalis, kan? Yang sering nulis artikel
traveling?"
"Iya. Dia freelance, suka nulis artikel tentang
desa-desa terpencil di Indonesia. Sekarang lagi di Papua, liputan suku
pedalaman."
"Aku baca artikelnya tentang Suku Baduy. Bagus banget
tulisannya. Dalam, tapi ringan dibaca. Fotonya juga keren."
Mahesa tersenyum bangga. Tawanya mengandung kehangatan
persahabatan. "Irfan emang jago. Dari dulu dia suka nulis dan motret. Dulu
kita sering main bareng, bolos bareng, ngerjain PR bareng."
"Kok sekarang jarang?"
Mahesa menghela napas. "Dia sibuk. Sering keluar kota.
Kadang berbulan-bulan nggak ada kabar. Tapi pas ketemu, rasanya kayak nggak
pernah pisah. Ya gitulah sahabat."
"Harusnya lo kenalin Alya ke Irfan," usul Damar.
"Siapa tahu mereka cocok jadi teman diskusi. Sama-sama suka nulis.
Sama-sama suka buku."
Mahesa mengangguk setuju. "Ide bagus. Nanti kalau
Irfan pulang, kita kumpul bareng."
Ia tidak tahu bahwa usulan itu akan mengubah segalanya.
Dua bulan kemudian.
Di kafe Senja yang sama, sore yang gerimis.
Irfan baru saja tiba di kota setelah dua bulan berada di
pedalaman Papua. Kulitnya lebih gelap beberapa tingkat, rambutnya lebih panjang
dan sedikit kusut, tapi senyum lebarnya yang khas masih sama. Ia membawa dua
koper besar, satu berisi pakaian, satu lagi berisi peralatan kamera dan
oleh-oleh.
"Mahesa!" seru Irfan begitu melihat sahabatnya
duduk di meja favorit mereka.
Mahesa berdiri, wajahnya berseri-seri. "Irfan!"
Mereka berpelukan erat. Sangat erat. Dua sahabat yang
terpisah jarak dan waktu, tapi tetap terhubung. Mereka berpelukan lama, saling
menepuk punggung.
"Lo kurusan," kata Mahesa sambil melepas pelukan,
menatap wajah sahabatnya.
"Lo tambah tua," balas Irfan sambil tertawa.
"Udah mulai ubanan."
"Gila lo. Masih aja becanda."
Mereka duduk, memesan kopi, kopi tubruk andalan Damar, dan
mulai berbincang tentang banyak hal. Irfan bercerita tentang pengalamannya di
Papua. Tentang suku-suku pedalaman yang masih memegang teguh adat. Tentau
ritual-ritual unik yang ia abadikan. Tentang tantangan liputan di tengah hutan
belantara.
"Gue pernah hampir dimakan babi hutan, tahu nggak?"
cerita Irfan antusias. "Pas lagi motret, tiba-tiba dari semak-semak muncul
babi segede gaban. Matanya merah. Untung gue naik pohon."
Mahesa tertawa. "Masih aja lo, suka celaka."
"Udah risiko pekerjaan. Tapi hasilnya sepadan. Lo
harus lihat foto-foto gue, Sa. Bagus-bagus."
"Pasti. Lo emang jago."
Mereka berbincang lama, bernostalgia tentang masa-masa
sekolah. Kenangan bolos bersama, kenangan ngerjain PR di warung sate, kenangan
pertama kali jatuh cinta.
"Gue kangen masa-masa kita bolos bareng, main Playstation
sampai lupa waktu," kenang Irfan sambil tertawa.
"Bodoh amat kita dulu," Mahesa tertawa mengikuti.
"Untung kita nggak ketahuan sering-sering."
"Untung juga nilai kita nggak anjlok."
Mereka tertawa bersama. Hangat.
"Eh, ngomong-ngomong, gue dengar lo sekarang dekat
sama seseorang?" Irfan menaikkan alisnya, matanya berbinar penuh arti.
"Damar update terus lewat WhatsApp. Katanya lo udah punya gebetan?"
Mahesa tersipu. Wajahnya memerah. "Dasar mulut ember.
Dia cerita aja."
"Jadi beneran? Ada yang spesial?"
Mahesa mengangguk pelan, senyum kecil mengembang di
bibirnya. "Iya. Namanya Alya."
Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa berubah.
Irfan yang tadinya tersenyum lebar dan santai, kini
terdiam. Wajahnya berubah drastis. Senyumnya memudar, digantikan oleh ekspresi
yang sulit diartikan, campuran antara kaget, tidak percaya, dan sesuatu yang
lebih dalam.
"Alya?" ulangnya pelan, nyaris berbisik.
"Alya Rahman?"
Mahesa mengangguk, sedikit heran melihat perubahan ekspresi
sahabatnya. "Lo kenal?"
Irfan menatap kosong ke luar jendela. Hujan gerimis di
luar. Tangannya yang tadi memegang cangkir kopi kini diam membeku. Jantungnya
berdebar kencang, tidak percaya.
Alya. Nama yang tidak pernah bisa ia lupakan selama 15
tahun terakhir.
Alya. Gadis kecil yang ia selamatkan dalam kecelakaan malam
itu.
Alya. Wajah yang selalu muncul dalam mimpinya, dalam
doanya, dalam harapan rahasianya.
Alya. Kini menjadi pacar sahabatnya sendiri.
"Fan? Lo kenal Alya?" tanya Mahesa lagi, nada
suaranya mulai cemas. "Lo kenal ya?"
Irfan tersentak dari lamunan. Ia memaksakan senyum,
berusaha terlihat biasa meski hatinya hancur berkeping-keping.
"Nggak... nggak kenal," jawabnya, suaranya
terdengar serak. "Cuma... namanya familiar. Mungkin pernah baca tulisannya
atau sesuatu."
"Oh, mungkin lo pernah baca tulisannya di jurnal
kampus. Dia dosen sastra, suka nulis juga. Puisi-puisi bagus."
Irfan mengangguk. "Mungkin."
Tapi di dalam hatinya, badai sedang berkecamuk. Dunia ini
benar-benar terlalu kecil. Atau mungkin Tuhan sedang mengujinya dengan cara
yang paling kejam.
Mahesa tersenyum tanpa curiga sama sekali. Ia terlalu
bahagia melihat sahabatnya kembali.
"Nanti gue kenalin. Lo pasti suka sama dia. Dia baik
banget, Fan. Pintar, hangat, dan... dan dia suka puisi juga."
Irfan hanya bisa tersenyum getir. Senyum yang tidak sampai
ke mata.
"Iya... pasti."
Pastinya aku akan suka, pikirnya
dalam hati. Karena dia adalah alasan aku bisa tidur nyenyak selama 15
tahun terakhir. Karena dia adalah doa yang tak pernah aku panjatkan dengan
lantang.
Alya tidak tahu mengapa jantungnya berdebar begitu kencang
hari itu.
Mahesa mengajaknya bertemu dengan sahabat lamanya, Irfan, di
kedai kopi Senja. Kata Mahesa, mereka bertiga akan makan malam bersama,
sekaligus memperkenalkan Alya pada sahabat terbaiknya.
Aneh, pikir Alya sambil
berdiri di depan cermin kosnya, mencoba beberapa baju. Kenapa aku
grogi? Ini cuma ketemu temannya Mahesa.
Mungkin karena ia membaca tulisan-tulisan Irfan dan
mengaguminya secara diam-diam. Gaya menulis Irfan punya keunikan tersendiri, dalam,
puitis, tapi tetap membumi. Atau mungkin karena ada firasat aneh yang tidak
bisa ia jelaskan sejak Mahesa menyebut nama itu.
Irfan.
Nama yang terasa... akrab.
Akhirnya ia memilih gaun panjang warna biru muda, warna
favoritnya, dan sedikit memoles wajahnya. Cukup, pikirnya. Nggak
usah berlebihan.
Ketika ia tiba di kafe Senja, gerimis tipis menemani
langkahnya. Dari balik pintu kaca, ia sudah bisa melihat Mahesa duduk di meja
favorit mereka. Di sampingnya duduk seorang pria dengan rambut agak panjang,
kulit sawo matang hasil terik matahari Papua, dan senyum yang...
Alya berhenti melangkah.
Senyum itu.
Di mana ia pernah melihat senyum itu?
Senyum yang hangat, tapi matanya... matanya menyimpan
kedalaman yang sulit dijelaskan. Seperti lautan yang menyimpan seribu rahasia.
"Hei, Alya, sini!" Mahesa melambai dari dalam,
memecah lamunannya.
Alya mendekat, masih setengah melamun. Rasanya kakinya
ringan tapi berat, seperti berjalan dalam mimpi. Mahesa berdiri, meraih
tangannya dan mencium pipinya, sapaan yang sudah biasa mereka lakukan.
"Alya, kenalin, ini Irfan. Sahabat gue dari SMP. Yang
gue ceritain."
Irfan berdiri.
Perlahan.
Untuk pertama kalinya, mata mereka bertemu.
Dan pada saat itu, bagi Alya, dunia seakan berputar mundur
15 tahun ke belakang.
Ke malam hujan itu.
Ke lampu-lampu jalan yang basah dan berkilau.
Ke suara benturan keras, kaca pecah, teriakan orang-orang.
Ke sosok seorang remaja dengan mata teduh yang
menggendongnya keluar dari mobil yang ringsek.
Ke bisikan lembut yang menenangkannya di tengah ketakutan.
"Tenang, aku di sini. Kamu akan selamat."
Ke mata yang sama persis dengan mata yang kini menatapnya.
Apa mungkin? pikir
Alya, jantungnya berhenti berdetak. Tidak... tidak mungkin. Ini pasti
kebetulan.
Irfan mengulurkan tangan. Senyumnya hangat, persis seperti
yang ia ingat dari 15 tahun lalu, hanya saja kini lebih dewasa, lebih berat.
Tapi matanya... matanya menyimpan sesuatu yang dalam. Sesuatu yang sepertinya
ingin ia katakan tapi tidak bisa.
"Senang bertemu denganmu, Alya," katanya.
Suaranya.
Suara itu juga sama.
Persis seperti suara yang membisikkan kata-kata penghiburan
di tengah malam kelam itu.
Alya menjabat tangannya perlahan. Tangannya gemetar hebat.
Telapak tangan itu hangat, persis seperti kenangan yang terkubur di alam bawah
sadarnya.
"Senang bertemu kamu juga," jawabnya lirih,
nyaris tidak terdengar.
Mahesa tersenyum bahagia melihat dua orang terpenting dalam
hidupnya bertemu. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Alya, menariknya duduk
di sampingnya.
"Aku udah cerita banyak tentang lo ke Irfan, Lya. Dia
pengen banget kenalan."
Alya hanya bisa mengangguk kaku.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik
pertemuan itu.
Tapi Damar, yang sedari tadi memperhatikan dari balik
konter, dengan mata jurnalistiknya yang tajam, merasa ada yang aneh.
"Kenapa tatapan Irfan ke Alya seperti... seperti
melihat hantu? Atau seperti melihat seseorang yang selama ini ia cari?" gumamnya.
Makan malam itu berlangsung canggung, setidaknya bagi Alya
dan Irfan.
Mahesa, dengan kebahagiaannya yang polos, mengajak mereka
mengobrol tentang berbagai hal. Ia bercerita tentang pengalaman lucu Irfan di
Papua. Alya tertawa, tapi tawanya dipaksakan. Irfan menimpali dengan
cerita-cerita seru, tapi matanya selalu kembali ke Alya.
Alya berusaha terlibat dalam percakapan, tertawa ketika
Mahesa bercanda, menjawab ketika Irfan bertanya. Tapi pikirannya tidak pernah
benar-benar ada di sana. Pikirannya melayang ke masa lalu, mencoba menyusun
puzzle yang berantakan.
Matanya selalu tertuju pada Irfan. Pada caranya memotong
steak dengan gerakan yang rapi. Pada caranya tertawa, tawa yang hangat dan menular.
Pada caranya menatap balik, dengan tatapan yang sama intensnya. Tatapan yang
seolah berkata, "Aku tahu sesuatu yang kau tidak tahu."
Di akhir makan malam, ketika Mahesa pergi ke kamar kecil,
mereka berdua duduk berdua untuk pertama kalinya.
Hening.
Suasana terasa kaku. Alya memainkan ujung taplak meja.
Irfan menatap gelasnya.
"Alya," panggil Irfan pelan, akhirnya memecah
keheningan.
"Ya?"
Irfan menatapnya lama. Lama sekali. Matanya bergerak,
memindai wajah Alya, alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya, seperti sedang
mengingat sesuatu yang sangat berharga.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Alya
tiba-tiba, mendahului apa yang ingin Irfan katakan. "Maaf, ini mungkin
terdengar aneh. Tapi... kamu terasa familiar. Aku rasa aku pernah lihat kamu di
suatu tempat. Tapi aku tidak tahu di mana."
Irfan tersenyum. Senyum yang aneh, antara senang, sedih,
dan pilu. Senyum seseorang yang menyimpan rahasia besar.
"Mungkin di mimpi," jawabnya.
Alya tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
"Puitis sekali. Jurnalis emang puitis ya?"
"Gue jurnalis. Harus puitis dikit lah. Biar tulisannya
enak dibaca."
Mereka berdua tertawa. Dan untuk sesaat, ketegangan di
antara mereka mencair.
Tapi di balik tawa itu, Alya tahu, ia tidak salah. Ia
pernah bertemu Irfan. Dan ia harus mencari tahu di mana dan kapan.
Sementara Irfan, di balik tawanya, berdoa dalam hati.
Ya Allah, beri aku kekuatan. Jangan biarkan aku jatuh cinta
padanya lagi. Atau jika aku harus jatuh cinta, lindungi hati sahabatku.
BAGIAN II
"Beberapa persahabatan bertahan meski waktu dan jarak
memisahkan. Tapi cinta... cinta bisa merenggangkan yang paling erat
sekalipun."
Seminggu setelah pertemuan di kafe Senja, Irfan dan Mahesa
memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama, seperti masa lalu.
Mereka pergi ke tempat favorit mereka waktu SMP, sebuah
warung sate di pinggir kota yang masih buka sampai sekarang. Warung sederhana
dengan tenda plastik biru, kursi-kursi plastik, dan aroma sate bakar yang
menguar menggoda.
Pemiliknya, Pak Karto, masih ingat mereka. Rambutnya
sekarang lebih putih, kumisnya lebih tebal, tapi senyumnya masih sama.
"Wah, anak-anak nakal balik lagi!" seru Pak Karto
dari balik panggangan. Matanya berbinar melihat mereka.
Irfan tertawa lebar. "Kita nggak nakal, Pak. Cuma
kreatif."
"Masa bolos sekolah disebut kreatif?" Pak Karto
tertawa, memperlihatkan deretan gigi yang tinggal setengah. "Masih aja lo,
Fan. Mahesa, gimana kabarnya? Jadi apa sekarang?"
Mahesa tersenyum sopan. "Baik, Pak. Saya kerja di
perpustakaan."
"Wah, cocok. Lo emang dari dulu suka baca. Kalo
Irfan?"
"Jurnalis, Pak. Suka keliling Indonesia."
"Bagus-bagus. Kalian sukses semua. Gembira saya
lihatnya."
Mereka bertiga, termasuk Damar yang ikut, duduk di kursi
plastik favorit mereka. Meja yang sama, kursi yang sama, bahkan sate yang sama.
Pak Karto langsung mengirimkan pesanan mereka tanpa perlu ditanya: 30 tusuk
sate kambing, lontong, dan sambal kecap.
"Kangen masa-masa itu," kata Damar sambil
mengunyah sate dengan lahap. "Lo berdua kompak banget. Kemana-mana bareng.
Kayak kembar siam."
Irfan menatap Mahesa dengan hangat. "Masih kok,
kompak. Walaupun sekarang jarang ketemu."
Mahesa mengangguk setuju. "Iya. Tiap ketemu, rasanya
kayak nggak pernah pisah."
Tapi Damar tidak bodoh. Matanya yang jeli melihat ada yang
berbeda pada Irfan. Sejak pertemuan di kafe Senja minggu lalu, Irfan jadi lebih
pendiam. Lebih sering melamun. Dan setiap kali nama Alya disebut, entah oleh
Mahesa atau olehnya, ada sesuatu yang berubah di wajah Irfan. Seperti bayangan
awan yang melintas di hari yang cerah.
"Fan, lo baik-baik aja?" tanya Damar akhirnya,
ketika Mahesa sedang memesan minum.
Irfan tersentak dari lamunannya. "Hah? Iya,
baik."
"Lo kok kurusan? Makan nggak teratur ya? Atau ada
masalah?"
"Biasalah, kerjaan. Sering begadang ngedit."
"Yakin?"
Irfan menatap Damar. Sahabatnya ini memang usil, tapi punya
intuisi tajam. Ia tahu Damar tidak percaya.
"Yakin, Mar. Tenang aja."
Mereka berbincang lagi, tapi Damar tidak sepenuhnya
percaya. Ada sesuatu yang Irfan sembunyikan. Dan ia bertekad mencari tahu apa
itu.
Tapi untuk sekarang, biarlah, pikirnya. Semua orang berhak punya rahasia.
Malam itu, Irfan tidak bisa tidur.
Ia duduk di atap rumah kosnya yang sederhana, sebuah
bangunan tua di pinggir kota dengan pemandangan langit Jakarta yang jarang
terlihat bintangnya. Hanya lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan, seperti
kunang-kunang raksasa.
Pikirannya penuh dengan Alya.
Kenapa harus dia? batinnya. Dari
sekian juta perempuan di dunia ini, kenapa harus dia yang jadi pacar sahabatku?
Ia ingat malam 15 tahun lalu dengan jelas. Setiap detail
terpatri di memorinya seperti rekaman yang diputar berulang.
Malam hujan deras. Jalanan licin. Ia pulang dari les
tambahan, mengendarai motor butut pemberian ayahnya yang sudah direparasi
berkali-kali. Di tikungan dekat lampu merah, ia melihat sesuatu yang membuat
jantungnya berhenti.
Kecelakaan.
Sebuah mobil sedan ringsek menabrak tiang listrik. Kap
mobilnya penyok parah. Kaca depan pecah berantakan. Asap mengepul dari kap
mesin. Orang-orang sudah mulai berkerumun, tapi tidak ada yang berani mendekat
karena takut mobil meledak.
Tanpa berpikir panjang, Irfan berhenti. Menepikan motor.
Berlari mendekati mobil itu.
"Mas, jangan! Nanti meledak!" teriak seseorang.
Tapi Irfan tidak peduli.
Ia mendekati mobil itu. Melihat seorang pria dan wanita
pingsan di depan, berlumuran darah. Napas mereka tersengal-sengal. Di kursi
belakang, seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun menangis ketakutan.
Wajahnya pucat pasi. Matanya merah.
"Tolong... tolong aku..."
Mata gadis kecil itu, mata yang sama dengan mata Alya yang
ia lihat di kafe Senja, menatapnya penuh harap. Di tengah ketakutan dan
kepanikan, mata itu seperti sepasang bintang yang bersinar.
Irfan berusaha membuka pintu mobil yang penyok. Susah
sekali. Tangannya terluka terkena pecahan kaca, tapi ia tidak merasakan sakit.
Adrenalinnya memuncak. Ia terus berusaha, mengerahkan seluruh tenaganya. Berdoa
dalam hati.
Akhirnya, krekk! Pintu terbuka.
Ia segera meraih gadis kecil itu, menggendongnya keluar
dari mobil yang ringsek.
"Aku takut..." bisik
gadis itu, suaranya bergetar. Tangannya memegang erat baju Irfan.
"Tenang, aku di sini. Kamu akan selamat."
Ia menggendong gadis itu menjauh dari mobil. Jalanan licin,
ia hampir tergelincir beberapa kali. Tapi ia terus berjalan, melindungi gadis
itu dari hujan dengan tubuhnya.
Saat itu, ambulans datang dengan sirine meraung-raung. Tim
medis turun, mengambil alih gadis itu dari tangannya. Irfan ingin pergi, tapi
tangan gadis itu meraih bajunya, menahannya.
"Siapa namamu?" tanya
gadis itu, matanya yang basah menatapnya.
Irfan tersenyum. Hujan membasahi wajahnya, bercampur dengan
air mata yang tidak tahu dari mana asalnya.
"Nggak penting. Yang penting kamu selamat. Kamu harus
kuat, ya?"
"Tapi..."
"Nanti kita ketemu lagi. Janji."
Dan ia pergi, meninggalkan gadis kecil itu yang terus
menatapnya dengan mata penuh pertanyaan dan harapan.
Ia tidak tahu bahwa janji itu akan terwujud 15 tahun
kemudian.
Dengan cara yang paling tidak terduga.
Selama 15 tahun, Irfan mencari kabar tentang gadis itu. Ia
membaca koran-koran keesokan harinya, mencari berita tentang kecelakaan. Yang
ia temukan, kedua orang tua gadis itu selamat setelah dirawat intensif, dan
gadis itu juga selamat dengan luka ringan. Tapi namanya tidak disebutkan.
Identitasnya disembunyikan demi privasi keluarga.
Irfan mencoba mencari ke rumah sakit, tapi tidak
mendapatkan informasi. Ia mencoba mencari berdasarkan plat nomor mobil, tapi
pemilik mobil itu, ayah gadis itu, pindah rumah tidak lama setelah kejadian.
Hingga akhirnya, ia menyerah.
Ia hanya bisa berdoa. Berdoa agar gadis kecil itu tumbuh
dengan bahagia. Berdoa agar ia selalu dilindungi Tuhan. Berdoa agar suatu saat
mereka dipertemukan kembali.
Dan doanya terkabul.
Hanya saja, takdir punya rencana lain.
Gadis kecil itu, kini sudah tumbuh menjadi perempuan
cantik, cerdas, dan hangat. Dan ia adalah pacar sahabatnya sendiri.
Ini pasti ujian, pikir
Irfan malam itu, di atap kosnya yang gelap. Tuhan sedang mengujiku.
Menguji kesabaran, keikhlasan, dan persahabatanku.
Tapi kenapa harus seberat ini?
Beberapa hari kemudian, Alya dipanggil oleh Bu Ratna,
kepala program studinya, ke ruangannya yang rapi dengan meja penuh tumpukan
makalah.
"Lya, ada proyek kolaborasi dengan majalah," kata
Bu Ratna sambil menyerahkan sebuah berkas tebal. "Mereka mau bikin edisi
khusus tentang sastra dan budaya Indonesia. Butuh narasumber dan kontributor
dari kampus kita."
Alya membaca berkas itu. Matanya membelalak ketika melihat
nama media yang bekerja sama.
Majalah Jelajah — Pemimpin Redaksi Pelaksana: Irfan Hakim
"Ini... ini majalah tempat Irfan bekerja?"
gumamnya, tidak percaya.
Bu Ratna mengangguk, memasangkan kacamatanya yang bergaya
kutu buku. "Kamu kenal dengan pemimpin redaksinya?"
"Kenal... sebentar. Dia temannya pacar saya. Teman
dekat, malah."
"Bagus dong. Jadi kalian nggak perlu canggung. Nah,
saya tugaskan kamu jadi koordinator dari pihak kampus. Temui mereka besok untuk
rapat perdana. Bawa proposal dan daftar narasumber yang bisa kita ajukan."
Alya mengangguk, meski hatinya berkecamuk. Kenapa
harus dia? Kenapa harus proyek ini?
Tapi sebagai profesional, ia tidak bisa menolak.
Rapat itu diadakan di kafe Senja, atas usul Damar yang
tiba-tiba jadi "tuan rumah" untuk semua kegiatan mereka. Alasannya, biar
irit dan suasana santai.
"Kafe gue lagi naik daun nih," canda Damar sambil
mengelap gelas. "Jadi tempat strategis buat meeting."
Alya tiba lebih awal. Ia duduk di meja yang sudah dipesan,
memesan teh hangat, dan mencoba menenangkan diri. Tangannya sedikit gemetar
saat menuang gula.
Ini cuma rapat, pikirnya. Biasa
aja. Anggap aja partner kerja biasa.
Tapi ketika Irfan datang, dengan kamera di leher, seperti
biasa, dan tumpukan kertas di tangan, jantung Alya tetap berdebar tidak karuan.
Tidak bisa dibohongi.
"Hei," sapa Irfan sambil duduk di hadapannya.
Suaranya tenang, tapi matanya menunjukkan kegugupan yang sama.
"Hei," balas Alya, sama canggungnya.
Mereka berdua diam beberapa saat. Suasana hening, hanya
terdengar suara mesin kopi dan obrolan samar pengunjung lain. Canggung. Sangat
canggung.
"Jadi, kita rapat?" tanya Irfan akhirnya,
memecahkan keheningan.
"Iya, rapat."
Mereka membuka laptop dan berkas masing-masing. Membahas
konsep majalah. Topik-topik yang akan diangkat, sastra modern, budaya pop,
kearifan lokal. Narasumber yang akan diwawancarai, sastrawan, budayawan,
akademisi. Jadwal pengerjaan, deadline, revisi, cetak. Semua berjalan
profesional.
Sampai tiba saat istirahat.
Irfan memesan dua cangkir kopi dan segelas teh hangat untuk
Alya, ia ingat Alya tidak suka kopi. Alya menerimanya dengan ucapan terima
kasih. Jari mereka hampir bersentuhan saat menyerahkan gelas.
"Lo kenapa milih jadi dosen sastra?" tanya Irfan
tiba-tiba, matanya menatap Alya dengan rasa ingin tahu yang tulus.
Alya menatapnya balik. "Karena aku suka cerita. Suka
kata-kata. Dan suka membantu orang memahami perasaan mereka lewat karya sastra.
Menurutku, sastra itu cermin jiwa. Dengan membaca karya orang, kita bisa
mengerti apa yang mereka rasakan. Dan dengan menulis, kita bisa mengungkapkan
apa yang tidak bisa kita katakan."
Irfan tersenyum. Bukan senyum basa-basi, tapi senyum yang
tulus. "Cita-cita yang mulia. Dunia butuh lebih banyak orang seperti
lo."
"Lo sendiri? Kenapa milih jadi jurnalis? Kenapa nggak
jadi penulis aja, atau fotografer?"
Irfan berpikir sejenak, matanya menerawang ke luar jendela.
"Karena aku ingin... menceritakan kisah orang lain.
Yang tidak bisa bercerita sendiri. Masyarakat terpencil, suku pedalaman,
orang-orang yang terpinggirkan. Mereka punya cerita, tapi nggak punya suara.
Jurnalisme, buatku, adalah cara memberi mereka suara."
Ada nada sendu dalam suaranya. Alya merasakannya. Ia bisa
melihat bahwa di balik senyum ceria Irfan, ada kedalaman yang tidak banyak
orang tahu.
"Lo punya kisah sendiri yang ingin diceritakan?"
tanyanya pelan.
Irfan menatapnya. Lama. Matanya bergerak, memindai wajah
Alya seperti sedang mencari sesuatu. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang
sudah lama terpendam.
Detik-detik berlalu dalam keheningan.
Alya menunggu, jantungnya berdebar.
Tapi akhirnya Irfan menggeleng pelan. Senyum tipis
mengembang di bibirnya, senyum yang pahit.
"Nggak ada yang penting."
Pembicaraan mereka terputus ketika Mahesa datang. Ia
tersenyum lebar melihat mereka.
"Hei, katanya lo rapat di sini?" sapa Mahesa
sambil mencium pipi Alya, sesuatu yang sudah biasa ia lakukan.
"Iya, lagi istirahat. Udah setengah jalan nih."
Mahesa duduk di samping Alya, meraih tangannya dan
menggenggamnya. Irfan melihatnya. Melihat bagaimana jari-jari Mahesa menganyam
di sela jari Alya. Melihat bagaimana Alya tersenyum manis pada Mahesa.
Dadanya sesak.
"Rapatnya gimana? Lancar?" tanya Mahesa polos.
"Lancar," jawab Irfan cepat, terlalu cepat.
Berusaha terdengar normal. "Alya orangnya profesional banget. Kerja keras.
Idamanlah buat partner."
Alya tersipu, pipinya merona. "Irfan juga. Kita cocok
kerja sama. Ide-idenya bagus."
Mahesa tersenyum bangga. Ia mengelus puncak kepala Alya
dengan lembut.
"Bagus dong. Aku seneng dua orang terpenting dalam
hidupku bisa akur. Nggak sabar kalo kalian berdua udah akrab banget."
Irfan tersenyum, tapi di dalam hatinya ia menjerit.
Dua orang terpenting. Iya, kalau saja lo tahu, Sa... kalau
saja lo tahu.
Proyek majalah itu berjalan intensif.
Alya dan Irfan sering bertemu untuk diskusi, wawancara narasumber,
dan proses editing. Terkadang di kampus, terkadang di kafe Senja, terkadang di
perpustakaan tempat Mahesa bekerja, tempat yang netral dan tenang.
Suatu malam, mereka bekerja lembur di perpustakaan.
Menjelang deadline, masih banyak yang harus diselesaikan. Mahesa sedang lembur
juga, ada inventarisasi koleksi baru, jadi ia menemani mereka dari kejauhan,
sesekali mengintip dan tersenyum melihat mereka bekerja.
"Lo mau kopi?" tanya Irfan pada Alya, melihatnya
mengucek mata lelah.
"Iya, boleh. Tapi nggak usah repot-repot. Aku bisa
ambil sendiri."
"Santai. Gue ambilin."
Irfan pergi ke mesin kopi di sudut ruangan. Alya menatap
punggungnya diam-diam. Setiap hari bersama Irfan, ia semakin yakin bahwa ia
pernah bertemu pria ini sebelumnya. Bukan sekadar kenal, tapi ada ikatan yang
lebih dalam.
Tapi di mana?
Ia mencoba mengingat, tapi ingatannya seperti kabut, samar
dan sulit ditangkap.
Sementara itu, Irfan menuang kopi ke dua gelas. Tangannya
gemetar sedikit. Ia sadar perasaannya pada Alya semakin dalam. Setiap hari
bersama Alya, ia semakin jatuh. Bukan hanya karena masa lalu, tapi karena Alya
sekarang, kepintarannya, kehangatannya, tawanya, cara ia menulis dengan kening
berkerut lucu.
Dan itu berbahaya.
Ia kembali dengan dua gelas kopi. Satu untuk dirinya, satu
untuk Alya.
"Ini," katanya sambil menyodorkan satu gelas.
"Makasih."
Tangan mereka hampir bersentuhan. Untuk sesaat, mata mereka
bertemu. Dan pada saat itu, sesuatu yang tidak terucap melayang di antara
mereka. Sesuatu yang hangat, tapi juga menyakitkan.
"Lya, Fan, gue duluan ya," panggil Mahesa dari
kejauhan, muncul dari balik rak buku. "Ada dokumen yang harus gue beresin
di ruang arsip. Mungkin lama."
"Iya, Sa," jawab Alya.
"Lo nggak apa-apa sendiri?" tanya Mahesa pada
Alya.
"Di sini kan ada Irfan. Aman."
Mahesa tersenyum. "Iya. Fan, jagain Alya ya."
Irfan mengangguk. "Siap, bos."
Mahesa pergi. Langkahnya menjauh, menghilang di balik
rak-rak buku.
Mereka berdua tinggal sendirian.
Suasana hening. Hanya suara hujan di luar, deras malam ini,
dan deru mesin pendingin ruangan yang terdengar.
Alya kembali menatap layar laptopnya, berusaha fokus pada
artikel yang sedang diedit. Tapi pikirannya melayang. Ia bisa merasakan
kehadiran Irfan di sampingnya. Bisa merasakan tatapan Irfan sesekali menoleh ke
arahnya.
"Lya..." panggil Irfan pelan, setelah setengah
jam berlalu dalam keheningan.
"Hm?"
Irfan menatapnya. Lampu meja yang temaram membuat bayangan
di wajahnya, tapi matanya bersinar.
"Lo pernah ngerasa... pernah ketemu seseorang
sebelumnya, tapi nggak inget di mana? Rasanya familiar, tapi nggak bisa
dijelaskan?"
Alya terkejut. Jantungnya berdegup kencang. "Lo... lo
juga ngerasa itu?"
Irfan mengangguk perlahan.
"Setiap lihat lo," katanya. "Aku ngerasa...
kayak udah kenal lo lama banget. Seumur hidup, mungkin. Tapi aku nggak tahu
dari mana."
Alya tidak bisa berkata-kata. Matanya berkaca-kaca.
Perasaan yang selama ini ia pendam, yang selama ini ia anggap hanya perasaannya
sendiri, ternyata juga dirasakan Irfan.
"Kira-kira kita pernah ketemu di mana ya?"
bisiknya, hampir tidak terdengar.
Irfan ingin mengatakan semuanya saat itu juga. Tentang
kecelakaan. Tentang malam hujan itu. Tentang 15 tahun ia mencari wajahnya.
Tentang doa-doa yang ia panjatkan agar mereka bertemu lagi.
Tapi ia tidak bisa.
Karena di luar, di ruang arsip yang sunyi, Mahesa sedang
bekerja. Sahabatnya. Orang yang paling ia sayangi setelah orang tuanya. Orang
yang selalu ada untuknya di saat susah dan senang.
"Nggak tahu," jawab Irfan akhirnya, suaranya
bergetar. "Mungkin di mimpi."
Alya tersenyum. Senyum yang getir.
"Lo bilang gitu waktu pertama ketemu."
"Iya. Dan sampai sekarang, aku masih ngerasa mimpi itu
belum usai."
Mereka berdua diam.
Hujan di luar semakin deras.
Dan di dalam perpustakaan yang sunyi, dua hati sedang
bergulat dengan perasaan yang tidak seharusnya ada.
BAGIAN III
"Cinta itu seperti benih. Ia tumbuh perlahan, kadang
tanpa kita sadari, hingga suatu hari kita tersentak, akarnya sudah begitu
dalam."
Waktu berlalu.
Tiga bulan sejak proyek majalah dimulai. Tiga bulan sejak
Irfan kembali ke kota. Tiga bulan sejak pertemuan di perpustakaan yang mengubah
segalanya.
Hubungan Mahesa dan Alya semakin serius. Mereka sering menghabiskan
waktu bersama, makan malam, menonton film, atau sekadar jalan-jalan di akhir
pekan. Mahesa bahkan sudah mulai sering berkunjung ke rumah Alya, dekat dengan
keluarganya. Pak Adnan dan Bu Naila menyukai Mahesa, pria yang tenang, sopan,
dan bertanggung jawab.
Tapi di sela-sela itu, Alya juga semakin dekat dengan
Irfan.
Bukan secara fisik, tapi secara emosional.
Setiap diskusi tentang majalah, setiap percakapan panjang
di kafe Senja, setiap tawa yang mereka bagi, setiap tatapan yang tanpa sengaja
bertemu, semuanya terasa... berbeda.
Alya tidak mau mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri.
Tapi ia mulai menyadari sesuatu.
Ia menanti-nanti pertemuan dengan Irfan.
Bukan dengan semangat bekerja, tapi dengan semangat... yang
lain.
Ketika ada pesan dari Irfan di WhatsApp, jantungnya
berdebar lebih cepat. Ketika Irfan tertawa, ia merasa ingin ikut tertawa.
Ketika Irfan sedih atau lelah, ia merasa ingin menghiburnya.
Ini tidak benar, pikirnya
setiap malam sebelum tidur. Aku punya Mahesa. Mahesa baik padaku. Aku
tidak boleh begini. Tapi perasaan tidak pernah bisa diperintah.
Suatu malam mereka berkumpul bersama teman-teman di kafe
Senja. Acara kumpul biasa yang sudah menjadi tradisi sebulan sekali. Semua
hadir, Rina, Damar, Santi, Bima, Lala, Fajar, Niko, Rendi, Maya, Tika. Kafe
Senja penuh sesak oleh tawa dan obrolan.
Suasana ramai seperti biasa. Damar sibuk di balik konter membuat
kopi. Santi membantu melayani. Rina asyik bercerita tentang drama terbaru di
kantornya. Bima dan Fajar berdebat tentang politik. Lala sibuk memotret dengan
kamera ponselnya, terutama saat Irfan sedang tidak melihat.
Di tengah obrolan, Rina tiba-tiba mengangkat suaranya,
"Menurut kalian... cinta itu datang karena takdir atau
kebiasaan? Serius nih, gue lagi mikirin ini."
Semua terdiam, memikirkan jawaban.
Damar, dengan gayanya yang khas, langsung menjawab,
"Karena sering ketemu!"
Semua tertawa. Tapi Rina tidak puas.
"Serius, deh. Jangan becanda."
Fajar, yang paling dewasa di antara mereka, angkat bicara.
Suaranya tenang, seperti biasa.
"Menurutku, takdir yang mempertemukan, tapi kebiasaan
yang memperdalam. Kamu bisa bertemu seseorang karena takdir, entah di jalan, di
kantor, di mana pun. Tapi kalau nggak ada kebiasaan untuk saling peduli, untuk
saling menjaga, untuk saling memahami, ya percuma. Cinta itu butuh
proses."
Semua mengangguk setuju.
Bima menambahkan, "Gue setuju. Dulu gue pikir cinta
itu datang tiba-tiba kayak petir. Tapi ternyata nggak. Dia tumbuh pelan-pelan,
dari kebiasaan-kebiasaan kecil."
Irfan yang sejak tadi diam, sesekali menatap Alya yang
duduk di samping Mahesa, tiba-tiba berkata,
"Kalau menurutku... cinta datang ketika seseorang
membuat hidup kita terasa lebih berarti."
Semua menoleh padanya.
Irfan melanjutkan, "Kita bisa bertemu banyak orang.
Tapi hanya sedikit yang bikin kita merasa... 'hidup ini indah karena ada dia'.
Yang bikin hari-hari biasa jadi luar biasa. Yang bikin masalah besar terasa
kecil."
Matanya menatap Alya. Hanya sekejap, setengah detik, tapi
Alya menangkapnya. Jantungnya berdegup.
Mahesa tersenyum, meraih tangan Alya di bawah meja.
"Setuju. Seperti Alya buat hidupku berarti."
Alya tersenyum balik pada Mahesa. Senyum yang hangat,
tulus.
Tapi di hatinya, ia bertanya-tanya.
Kenapa aku juga merasa hidupku berarti saat bersama Irfan?
Kenapa perasaannya sama? Kenapa aku merasa utuh saat dekat dengannya?
Suatu malam, Alya kehujanan dalam perjalanan pulang dari
kampus.
Ia baru saja selesai mengajar kelas malam. Biasanya ia
diantar Mahesa, tapi malam ini Mahesa ada pekerjaan mendadak di perpustakaan.
Ia memutuskan naik ojek online, tapi aplikasinya bermasalah. Sambil menunggu,
hujan turun deras tanpa peringatan.
Alya berlari ke halte bus terdekat, tapi tetap basah kuyup.
Gaunnya lekat di badan. Rambutnya basah. Ia menggigil kedinginan, menahan
tubuhnya yang gemetar.
Ia mencoba menghubungi Mahesa, tapi tidak ada jawaban.
Mungkin sedang sibuk di ruang arsip yang tidak ada sinyal. Ia coba lagi. Tetap
tidak ada.
Ah, gini amat nasibku, pikirnya
getir.
Lima belas menit berlalu. Hujan semakin deras. Halte bus
mulai bocor di beberapa bagian. Alya meringkuk di sudut, berusaha menghindari
tetesan air.
Tiba-tiba, sebuah motor berhenti di depan halte.
"Alya!"
Alya mendongak. Irfan. Dengan jas hujan warna hijau army,
rambut basah, dan kamera yang aman tersimpan di dalam tas kedap air.
"Fan? Lo ngapain di sini?" tanya Alya heran.
"Gue habis liputan di dekat sini. Liputan komunitas
seni. Lihat lo dari kejauhan. Naik, gue antar." Irfan membuka helm dan
menyodorkannya.
"Tapi lo basah juga. Nggak usah, aku nunggu ojek
aja."
"Nggak apa. Gue udah pake jas hujan. Lo malah basah
kuyup. Cepet, hujannya makin deras. Lo bisa sakit."
Alya ragu. Tapi dinginnya malam dan tubuhnya yang menggigil
membuatnya tidak punya pilihan. Ia menerima helm itu dan naik ke boncengan
Irfan.
"Pegangan ya," kata Irfan.
Alya memegang jaket Irfan dengan ragu, hanya mencubit
kainnya. Tapi ketika motor melaju kencang membelah hujan, ia hampir terjatuh.
Tanpa sadar, ia memeluk pinggang Irfan erat-erat.
Bau hujan. Bau tanah basah. Dan bau khas Irfan, campuran
kopi, sedikit keringat, dan sesuatu yang sulit dijelaskan. Mungkin bau
petualangan, pikir Alya.
Di tengah perjalanan, Alya menyadari sesuatu.
Pelukan ini terasa... akrab.
Seperti ia pernah memeluk seseorang seperti ini sebelumnya.
Tapi kapan?
Mereka tiba di kos Alya dengan basah kuyup. Meski Irfan
memakai jas hujan, celana dan sepatunya basah. Alya dari ujung rambut sampai ujung
kaki basah total.
"Makasih, Fan," kata Alya sambil gemetar hebat.
Giginya gemeletuk.
"Sama-sama. Cepet mandi, lo pasti kedinginan banget.
Lo biru udah."
"Lo juga. Mampir dulu, gue kasih handuk. Nggak enak lo
pulang basah-basah."
Irfan ragu. Tapi melihat Alya yang menggigil, ia akhirnya
mengangguk. "Iya, sekalian gue temenin sampe lo baikan."
Di dalam kos, Alya memberikan handuk dan menyuruh Irfan
duduk di ruang tamu kecil. Ia pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Irfan duduk di ruang tamu kecil itu, handuk di pundak,
melihat-lihat koleksi buku Alya. Buku-buku sastra, puisi, novel. Raknya penuh,
tersusun rapi berdasarkan abjad. Ada juga foto-foto Alya bersama keluarga dan
teman-teman.
Matanya tertumbuk pada sebuah foto di dinding. Foto Alya
kecil, bersama orang tuanya. Di foto itu, Alya mungkin berusia 8 atau 9 tahun.
Rambutnya dikepang dua. Tersenyum lebar. Mengenakan baju merah muda.
Dan Irfan langsung teringat.
Malam kecelakaan itu.
Alya kecil memakai baju merah muda.
Wajahnya yang pucat. Tangisnya. Ketakutannya. Tatapan
matanya saat ia menggendongnya.
Ini dia, pikir
Irfan, jantungnya berdegup kencang. Gadis kecil itu. Alya.
Alya keluar dari kamar mandi dengan pakaian hangat, sweater
abu-abu dan celana panjang. Rambutnya masih basah, dibungkus handuk. Wajahnya
sudah sedikit merah, tidak sepucat tadi.
"Udahan lihat-lihat?" godanya, melihat Irfan
terpaku di depan foto.
Irfan tersentak. "Maaf, gue iseng. Nggak tahan lihat
koleksi buku. Lo emang suka baca banget ya?"
"Iya. Dari kecil udah kecanduan."
Mereka duduk berhadapan. Alya membuatkan dua cangkir teh
jahe hangat. Hujan masih deras di luar, suaranya menemani keheningan di dalam.
"Fan," panggil Alya tiba-tiba, setelah menyesap
tehnya.
"Hm?"
"Apa lo pernah mengalami kecelakaan? Kecelakaan
mobil?"
Irfan terkejut. Gemetar menjalari tangannya. "Kenapa
tanya?"
Alya menghela napas. Tangannya memegang cangkir teh
erat-erat.
"Gue nggak tahu. Rasanya... ada yang aneh. Setiap
lihat lo, gue selalu ingat sesuatu. Sesuatu tentang hujan, tentang mobil
ringsek, tentang... tentang seseorang yang nolong gue waktu kecil. Waktu gue
umur 10 tahun. Waktu kecelakaan."
Irfan terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Mulutnya terasa
kering.
"Lo tahu sesuatu?" tanya Alya. Matanya menatap
Irfan tajam, mencari-cari jawaban. "Jujur sama gue, Fan. Apa lo tahu
sesuatu?"
Irfan menatapnya lama.
Ia ingin mengatakan semuanya. Ia sudah lelah menyimpan
rahasia ini selama 15 tahun. Setiap hari ia memikul beban ini sendirian. Setiap
malam ia bertanya-tanya, haruskah ia memberitahu Alya?
Tapi ia juga tahu, mengatakan kebenaran akan mengubah
segalanya.
Mungkin tidak baik.
"Lya," katanya pelan, suaranya serak. "Ada
sesuatu yang harus gue omongin. Sesuatu yang penting. Tapi belum sekarang.
Belum waktunya."
"Kapan?" Alya mendesak. "Kapan waktu yang
tepat? Aku butuh tahu, Fan. Aku butuh tahu kenapa lo selalu terasa familiar.
Kenapa hati ini rasanya..."
Ia tidak melanjutkan. Tapi Irfan tahu.
"Kalau waktunya tepat," jawab Irfan. "Gue
janji, lo akan tahu semuanya. Tapi sekarang... sekarang belum."
Alya menatapnya kecewa, tapi juga penasaran.
"Janji?"
"Janji. Gue nggak pernah ingkar janji."
Mereka berdua diam, ditemani suara hujan.
Di luar, air terus mengalir deras.
Di dalam, air mata Alya jatuh perlahan.
Lala, teman Irfan di organisasi jurnalistik, mulai sering
muncul di kafe Senja.
Lala adalah perempuan yang enerjik, supel, dan tidak pernah
malu-malu. Ia sudah lama naksir Irfan, sejak pertama kali mereka bekerja sama
liputan dua tahun lalu. Dan sekarang, dengan Irfan yang lebih sering di kota,
ia melihat kesempatan.
"Fan, lo mau ditemenin liputan nggak?" tanya Lala
suatu hari, duduk di samping Irfan dengan senyum manis.
Irfan tersenyum sopan, tapi menjaga jarak. "Bisa
sendiri, La. Makasih."
"Ah, masa sih? Kasih dong kesempatan. Gue bisa bantu
bawa peralatan."
"Udah biasa sendiri. Nggak enak merepotkan."
"Repot apa? Justru gue yang mau belajar dari lo."
Irfan hanya tersenyum, tidak menjawab.
Tapi Alya melihat.
Dari meja lain, Alya melihat Lala yang terus mendekati
Irfan. Melihat bagaimana Lala tertawa keras saat Irfan bercanda. Melihat
bagaimana Lala menyentuh lengan Irfan.
Dan Alya... cemburu.
Ia tidak mau mengakuinya. Tapi setiap kali Lala mendekati
Irfan, ada rasa tidak enak di perutnya. Rasa panas yang menjalar dari ulu hati.
Rasa yang membuatnya ingin menarik Irfan menjauh.
Ia jadi diam, kurang semangat, bahkan kadang jutek pada
Mahesa tanpa alasan jelas.
Mahesa bingung. "Lya, lo kenapa? Kok akhir-akhir ini
diem terus?"
"Nggak apa-apa, Sa. Capek aja."
"Kerjaan banyak?"
"Iya, banyak."
Mahesa tidak bertanya lebih lanjut. Ia percaya Alya.
Tapi Rina, sahabatnya, tidak sebodoh itu.
Rina mengamati Alya selama beberapa hari. Melihat bagaimana
pandangan Alya selalu mengikuti Irfan. Melihat bagaimana wajah Alya berubah
setiap Lala muncul. Melihat bagaimana Alya jadi pendiam dan murung.
Suatu sore, saat mereka berdua di kos Alya, Rina angkat
bicara.
"Lya, lo kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Bohong. Lo berubah semenjak Lala ngejar-ngejar
Irfan."
Alya terkesiap. "Apa hubungannya?"
"Itu yang pengen gue tanya. Apa hubungannya?"
Alya diam. Ia menunduk, tidak berani menatap mata
sahabatnya.
Rina menatapnya serius. Matanya tajam, tapi penuh
perhatian.
"Lya, lo jangan bilang..."
"Bilang apa?"
"Lo suka sama Irfan."
Hening.
Alya ingin membantah, ingin tertawa dan berkata
"jangan bercanda". Tapi kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya.
Mulutnya terasa kering. Dadanya sesak.
"Aku... aku nggak tahu, Rin."
"Astaga, Lya. Lo sadar nggak apa yang lo omongin? Lo
punya Mahesa. Lo pacaran sama Mahesa. Orang itu baik banget sama lo. Sayang banget
sama lo. Semua orang tahu."
"AKU TAHU!"
Alya menunduk, menangis pelan. Tangannya menutup wajah.
Bahunya bergetar.
"Aku tahu, Rin. Aku tahu Mahesa baik. Aku tahu dia
sayang aku. Tapi aku nggak bisa bohong. Ada sesuatu tentang Irfan... sesuatu
yang membuatku..."
"Membuat lo?"
Alya mengangkat wajahnya. Matanya basah, merah. Bibirnya
bergetar.
"Membuatku merasa utuh. Seperti ada bagian diriku yang
selama ini hilang, dan tiba-tiba ditemukan saat bersamanya. Seperti... seperti
aku pulang."
Rina tidak bisa berkata-kata.
Di tempat lain, Mahesa dan Irfan juga sedang berbicara.
Mereka duduk di atap rumah Irfan, seperti masa kecil dulu.
Atap rumah tua itu menjadi saksi bisu perjalanan persahabatan mereka, tempat
mereka berbagi rahasia, berbagi mimpi, berbagi tawa dan tangis.
Langit malam cerah, sedikit bintang terlihat. Angin sepoi
membawa kesejukan.
"Sa," panggil Irfan pelan, setelah lama diam.
"Hm?"
"Lo sayang banget sama Alya?"
Mahesa tersenyum. Senyum yang tulus, yang membuat seluruh
wajahnya bersinar.
"Iya. Dia... dia segalanya buat gue. Gue nggak pernah
ngerasa seperti ini sebelumnya. Seperti menemukan rumah, setelah sekian lama
tersesat."
Irfan menunduk, matanya berkaca-kaca. "Bagus. Gue
seneng denger itu."
"Lo kenapa? Kayak ada yang mengganjal."
Irfan menghela napas panjang. Ia ingin bicara. Ingin
mengaku. Tapi takut.
"Aman. Cuma... lo harus jaga dia baik-baik, Sa. Alya
itu... dia spesial. Jangan sampai lo nyakitin dia."
Mahesa menatap sahabatnya. Untuk pertama kalinya, ia
melihat sesuatu yang aneh di mata Irfan. Sesuatu yang tidak bisa ia artikan.
Kesedihan. Kerinduan. Dan... cinta?
"Fan, apa lo..."
Irfan memotong. "Nggak ada apa-apa. Gue cuma... peduli
sama lo berdua. Udah."
Mereka diam lagi.
Mahesa tidak tahu, tapi di dalam hatinya, ia mulai curiga.
Sahabatnya mungkin menyembunyikan sesuatu.
Dan sesuatu itu mungkin berkaitan dengan Alya.
BAGIAN IV
"Persahabatan sejati tidak diuji saat semuanya
baik-baik saja. Ia diuji saat cinta datang di antara dua hati."
Semakin hari, segitiga ini semakin runcing.
Alya sadar dengan perasaannya pada Irfan, tapi ia berusaha
melawannya. Ia mencintai Mahesa. Mahesa baik, perhatian, selalu ada untuknya.
Tidak adil jika ia menyakiti Mahesa hanya karena perasaan yang baru muncul.
Irfan juga berusaha menjauh. Ia mulai mengurangi pertemuan
dengan Alya. Menolak tawaran kerja sama yang melibatkan Alya. Menghindari kafe
Senja jika tahu Alya ada di sana. Bahkan sesekali tidak membalas pesan Alya
dengan sengaja.
Tapi usaha sekeras apa pun tidak cukup, ketika takdir
berkata lain.
Suatu hari, Alya dan Irfan bertemu tidak sengaja di toko
buku langganan mereka, Toko Buku Budi, sebuah toko kecil di pojok kota yang
menjual buku-buku bekas dan langka.
Pak Budi, pemilik toko, sedang memberi diskon besar untuk
buku sastra. Alya datang untuk mencari koleksi puisi lama. Irfan datang untuk
mencari buku referensi.
"Hei," sapa Alya, agak canggung melihat Irfan di
rak yang sama.
"Hei," balas Irfan, sama canggungnya.
"Lo beli buku apa?"
"Ini, novelnya Pram. Edisi lama yang susah dicari.
Lo?"
"Aku juga. Ini, kumpulan puisi Sapardi. Edisi
pertama."
Mereka tersenyum. Kecanggungan sedikit mencair.
Pak Budi, yang mengenal mereka berdua, berkomentar,
"Wah, cocok banget kalian. Sama-sama suka buku, sama-sama suka sastra.
Pacaran ya?"
Mereka berdua tersentak.
"Bukan, Pak," jawab Irfan cepat.
"Temen."
"Temen aja?" Pak Budi tersenyum misterius.
"Ah, masa?"
Mereka hanya bisa tersenyum kikuk.
Setelah membayar, mereka duduk di bangku kecil di depan
toko, menunggu hujan reda. Cuaca mendung, gerimis tipis.
"Lya..." panggil Irfan.
"Hm?"
"Gue... gue mau ngomong sesuatu."
Alya menatapnya, jantung berdebar.
"Lo tahu kenapa gue sering menghindar belakangan
ini?"
Alya mengangguk pelan. "Aku tahu."
"Lo tahu?"
"Iya. Karena lo juga ngerasain apa yang aku
rasain."
Hening.
Irfan tidak bisa berkata-kata. Alya benar.
"Iya," akunya lirih, nyaris berbisik. "Gue
juga ngerasa."
"Dan itu salah," sambung Alya, suaranya bergetar.
"Karena aku punya Mahesa. Dan lo sahabatnya."
"Iya. Gue tahu."
Mereka berdua diam. Di toko buku itu, di antara ribuan
cerita, mereka sedang menjalani cerita mereka sendiri, cerita yang tidak ingin
mereka tulis. Cerita yang menyakitkan.
"Lya," bisik Irfan. "Gue akan pergi."
Alya terkejut. Matanya membelalak. "Maksud lo?"
"Gue akan ambil tugas liputan di luar kota. Lama.
Mungkin di Sumatra, atau Sulawesi. Biar... biar gue bisa lupa. Biar gue nggak
terus-terusan begini."
Alya menunduk. Air matanya jatuh, menetes di buku yang ia
pegang.
"Kalau lo pergi, aku akan kehilangan lo."
"Tapi kalau gue tinggal, lo akan kehilangan
Mahesa."
Alya tidak bisa membantah. Irfan benar.
Mereka berdiri di sana, di depan toko buku yang sunyi,
berbagi kesedihan yang tidak bisa mereka ungkapkan. Hujan gerimis membasahi
mereka, tapi tidak ada yang bergerak.
Irfan tidak jadi pergi.
Bukan karena ia berubah pikiran, tapi karena sebuah
kecelakaan.
Ibunya, Bu Sari, jatuh sakit. Serangan jantung ringan.
Harus dirawat di rumah sakit. Irfan harus tinggal untuk merawatnya.
Alya tahu dari Mahesa, yang mendapat kabar dari Damar.
Hatinya sedih mendengarnya, tapi juga lega, Irfan belum pergi.
Ia memutuskan untuk menjenguk Bu Sari bersama Mahesa,
sebagai bentuk kepedulian.
Rumah Irfan sederhana tapi hangat. Halaman depan dipenuhi
tanaman hidroponik milik Pak Hadi. Di dalam, ruang tamu ditata rapi dengan sofa
nyaman dan rak penuh buku serta pigura foto.
Bu Sari menyambut mereka dengan senyum, meski masih lemas.
Ia duduk di sofa, bersandar pada bantal.
"Wah, ini pasti Alya," sapa Bu Sari, matanya
berbinar melihat Alya. "Cantik sekali. Irfan cerita banyak tentang
kamu."
Alya tersipu, pipinya merona. "Cerita apa, Bu?"
"Kata Irfan, kamu dosen sastra yang pintar. Juga baik
hati. Katanya kamu suka puisi, sama kayak dia dulu."
Mahesa tersenyum bangga. Ia memegang tangan Alya.
Pak Hadi, ayah Irfan, ikut bergabung. Wajahnya teduh,
bicaranya lembut. "Silakan duduk. Mau minum apa? Ada jus jambu, buatan
sendiri."
Mereka berbincang hangat. Alya merasa nyaman di rumah ini.
Ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Mungkin karena keluarganya mirip dengan
keluarganya sendiri—sederhana, hangat, penuh tawa.
Di tengah obrolan, Bu Sari tiba-tiba berkata,
"Alya, kamu anak yang baik. Irfan juga. Kalian cocok
jadi teman. Tapi Ibu lihat... ada yang lebih dari sekadar teman, ya?"
Semua terdiam.
Pak Hadi terbatuk pelan. Irfan memalingkan muka, wajahnya
merah. Alya menunduk, tidak tahu harus berkata apa.
Bu Sari tidak tahu, ia baru saja menyentuh hal yang paling
sensitif.
Saat Mahesa ke kamar mandi, disuruh Pak Hadi yang ingin
menunjukkan koleksi tanamannya, Bu Sari memegang tangan Alya. Tangannya lembut,
hangat, seperti tangan ibunya sendiri.
"Nak, Ibu mau cerita sesuatu."
"Apa, Bu?"
Bu Sari menarik napas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca.
"Irfan itu anak yang pendiam. Susah buka hati. Dari
kecil begitu. Tapi sejak kenal kamu, dia berubah. Lebih sering cerita. Lebih
sering tersenyum. Ibu tahu... dia punya perasaan sama kamu."
Alya terkesiap. "Bu..."
"Ibu nggak salah lihat, Nak. Ibu tahu anak Ibu.
Seorang ibu pasti tahu."
Alya tidak tahu harus berkata apa. Tangannya gemetar di
dalam genggaman Bu Sari.
"Ibu nggak bermaksud apa-apa," lanjut Bu Sari.
"Cuma... tolong jaga hati anak Ibu. Dia sudah cukup terluka di masa
lalu."
Alya menatap Bu Sari bingung. "Masa lalu?"
Bu Sari menatapnya tajam. "Dia belum cerita?"
"Belum."
Bu Sari menghela napas panjang. Pandangannya menerawang,
seperti melihat sesuatu di masa lalu.
"Mungkin memang belum waktunya. Tapi suatu hari, Nak,
kamu akan tahu. Dan semoga saat itu kamu bisa memahami. Bisa menerima."
"Tentang apa, Bu?"
Bu Sari tersenyum. Senyum yang misterius.
"Tentang kenapa dia begitu berarti dalam hidupmu. Dan
kenapa kamu begitu berarti dalam hidupnya."
Mahesa bukan orang bodoh.
Ia mulai menyadari perubahan pada Alya. Cara Alya menatap
Irfan, lama, penuh arti. Cara Alya tersenyum ketika Irfan bercanda, senyum yang
berbeda dari senyumnya untuk Mahesa. Cara Alya mencari-cari alasan untuk
bertemu, untuk sekadar berbincang.
Ia juga menyadari perubahan pada Irfan. Sahabatnya yang
dulu ceria dan mudah bergaul, kini jadi pendiam. Sering menghindar. Sering
menatap kosong. Jika Alya ada, Irfan akan berusaha tidak terlalu dekat, tapi
matanya... matanya selalu mengikuti Alya.
Cemburu mulai merayap.
Tapi Mahesa berusaha dewasa. Ia tidak mau menuduh tanpa
bukti. Ia percaya pada Alya. Ia percaya pada Irfan.
Sampai suatu hari, kepercayaan itu hancur.
Malam itu, Alya dan Irfan ada rapat redaksi dadaan.
Deadline mepet, banyak yang harus didiskusikan. Mahesa seharusnya lembur, tapi
tiba-tiba ada perubahan jadwal. Ia memutuskan untuk menjemput Alya, memberi
kejutan.
Sesampainya di kafe Senja, ia melihat mereka dari kejauhan,
melalui jendela kaca yang buram karena hujan.
Alya dan Irfan duduk berhadapan. Meja mereka penuh kertas
dan laptop. Mereka sedang berbicara serius. Tapi yang membuat Mahesa berhenti
melangkah adalah...
Alya menangis.
Tangannya menutup wajah. Bahunya bergetar.
Dan Irfan... Irfan meraih tangannya. Menggenggamnya erat.
Menghapus air matanya dengan lembut.
Mereka berdua tidak sadar sedang dilihat.
Mahesa mundur perlahan. Jauh dari jendela. Jauh dari pintu.
Jauh dari kafe.
Hatinya hancur berkeping-keping.
Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tidak tahu
konteksnya. Tapi melihat dua orang yang paling ia cintai dalam situasi seperti
itu... rasanya seperti ditusuk belati.
Ia pulang malam itu tanpa memberi kabar. Tanpa menjemput
Alya. Tanpa mengatakan apa pun.
Esok harinya, Mahesa minta bertemu Irfan. Sendirian.
Di kedai sate langganan mereka, dua sahabat itu duduk
berhadapan. Tidak ada sate yang dipesan. Tidak ada senyum. Hanya keheningan
yang berat.
"Kenapa lo nggak bilang dari awal?" tanya Mahesa.
Suaranya dingin, berbeda dari biasanya.
Irfan menunduk. "Bilang apa?"
"Jangan pura-pura bodoh, Fan. Lo tahu maksud
gue."
Irfan diam.
"Kenapa lo nggak bilang kalau lo juga suka sama
Alya?"
Hening panjang. Hanya suara knalpot motor dan obrolan
pengunjung lain yang terdengar samar.
"Karena aku tidak ingin kehilangan sahabatku,"
jawab Irfan lirih, suaranya pecah.
Mahesa menghela napas. Tangannya mengepal di atas meja.
"Tapi sekarang kita justru saling menyakiti."
"Gue nggak ada niat, Sa. Percaya sama gue. Gue nggak
pernah punya niat buat..."
"Tapi kenyataannya? Lo pegang tangan dia. Lo hapus air
matanya. Itu niat apa namanya?"
Irfan tidak bisa menjawab.
"Aku tahu, Fan. Aku lihat semuanya. Tadi malam di
kafe."
Irfan menatap Mahesa, terkejut. "Sa, itu..."
"Nggak usah dijelasin. Aku lihat."
Irfan menunduk lagi. Rasa bersalah menjerat lehernya.
"Aku minta maaf," bisiknya. "Gue minta maaf,
Sa."
Maaf nggak akan mengubah apa-apa.
Mereka diam. Dua sahabat yang dulu berbagi segalanya, kini
berbagi luka.
Setelah konfrontasi itu, semuanya berubah.
Irfan menjauh. Ia benar-benar menjauh kali ini, mengambil
tugas liputan di Kalimantan, tanpa pamit pada Alya. Hanya pesan singkat untuk
Mahesa: "Gue pergi dulu. Jaga diri. Maaf untuk semuanya."
Alya bingung. Irfan tidak membalas pesannya. Tidak menjawab
teleponnya. Ia hilang. Media sosialnya tidak diupdate. Nomornya mati.
Mahesa juga berubah. Ia tetap baik pada Alya, masih
perhatian, masih sayang, tapi ada jarak yang tidak bisa dijelaskan. Ia lebih banyak
diam. Lebih banyak bekerja. Lebih sering lembur.
Alya merasa ada yang salah. Ia tahu Mahesa pasti melihat
sesuatu malam itu di kafe. Tapi ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.
Sampai Rina datang membawa kabar.
"Lya, lo tahu nggak? Irfan pergi."
Alya terkejut. "Pergi ke mana?"
"Liputan di Kalimantan. Katanya lama. Bahkan Damar
nggak tahu detailnya."
"Lama berapa lama?"
"Nggak ada yang tahu. Mungkin sebulan. Maka setahun.
Mungkin lebih."
Alya terduduk lemas di kursinya. Irfan pergi. Tanpa pamit.
Tanpa kabar.
Ia mencoba menghubungi sekali lagi. Tetap tidak ada
jawaban.
Di malam yang sunyi, Alya duduk di kamarnya, menangis.
Ia tidak tahu harus memilih siapa. Atau justru ia sudah
memilih, tapi takut mengakuinya.
Dan sekarang, orang yang mungkin menjadi pilihannya telah
pergi.
BAGIAN V
"Kadang masa lalu datang kembali bukan untuk
menghantui, tapi untuk menyadarkan kita tentang sesuatu yang selama ini tak
kita sadari."
Dua minggu setelah Irfan pergi, Bu Naila, ibu Alya, datang
ke kos putrinya. Ia membawa serta sebuah kotak tua, kotak kayu berukir yang
sudah usang dimakan usia.
"Lya, Ibu nemu ini di gudang. Isinya barang-barang
kamu waktu kecil. Ibu pikir kamu mungkin mau lihat."
Alya membuka kotak itu dengan perasaan campur aduk. Di
dalamnya ada foto-foto lama, mainan, buku-buku cerita bergambar, piala lomba
baca puisi waktu SD, dan... sebuah benda yang membuatnya berhenti.
Sebuah gelang karet berwarna biru. Sudah usang, warnanya
memudar, hampir putus di beberapa bagian.
"Gelang ini..." gumam Alya, memegangnya dengan
hati-hati. "Aku nggak ingat punya gelang ini."
Bu Naila duduk di sampingnya. Wajahnya serius.
"Kamu ingat kecelakaan mobil waktu kamu kecil?"
Alya mengerutkan kening. Ingatan samar-samar muncul di
kepalanya. Potongan-potongan memori yang tidak utuh.
"Sedikit... aku ingat hujan, ingat gelap, ingat suara
orang teriak-teriak, ingat kaca pecah. Tapi sisanya... kabur."
"Setelah kecelakaan itu, kamu diselamatkan oleh
seseorang. Seorang anak laki-laki remaja, mungkin seusia SMA. Ia menggendong kamu
keluar dari mobil, menunggu ambulans datang, lalu pergi begitu saja tanpa
meninggalkan nama."
Alya membelalak. Matanya membesar.
"Aku nggak tahu itu."
"Kamu waktu itu kecil, mungkin lupa. Tapi Ibu tidak
pernah lupa. Ibu selalu mencari anak itu, ingin berterima kasih. Tapi tidak
pernah ketemu. Namanya tidak ada. Identitasnya tidak ada. Ia seperti
hantu."
Alya memegang gelang biru itu. Tangannya gemetar.
"Ini gelangnya?"
"Iya. Waktu di ambulans, gelang itu ada di tangan
kamu. Mungkin anak itu yang memberi. Atau mungkin gelangnya tertinggal saat ia
menggendong kamu. Ibu menyimpannya, berharap suatu hari bisa mengembalikan pada
pemiliknya. Atau setidaknya tahu siapa dia."
Alya menatap gelang itu. Matanya menerawang.
Tiba-tiba, seperti ada petir yang menyambar di otaknya.
Gelang biru.
Malam hujan.
Sosok remaja dengan mata teduh.
Bisikan lembut: "Tenang, aku di sini."
Dan... di pergelangan tangan remaja itu, ada gelang biru.
Gelang yang sama persis dengan yang ia pegang sekarang.
Irfan.
Semua potongan puzzle tiba-tiba menyatu dengan kecepatan
yang memusingkan.
Kenapa ia merasa begitu akrab dengan Irfan. Kenapa tatapan
Irfan selalu terasa seperti tatapan yang ia kenal. Kenapa Irfan bilang
"Mungkin di mimpi" ketika ditanya apakah mereka pernah bertemu.
Bukan mimpi.
Itu nyata.
Irfan adalah penyelamatnya 15 tahun lalu.
Alya tidak bisa diam. Ia harus mencari tahu.
Ia menghubungi Damar.
"Damar, lo tahu kontak Irfan di Kalimantan? Nomor
darurat atau apa gitu?"
Damar heran. "Ada, kenapa? Lo butuh?"
"Aku harus bicara sama dia. Penting. Banget."
"Kenapa emangnya?"
"Nanti aku cerita. Tolong, Mar."
Damar mengirim nomor kontak darurat Irfan, nomor satelit
yang hanya aktif di kondisi tertentu. Alya segera menelepon.
Tidak diangkat.
Ia coba lagi. Lagi. Lagi. Lima kali. Sepuluh kali.
Akhirnya, setelah percobaan kelima belas, suara itu
terdengar. Tersendat, penuh derau, tapi jelas.
"Halo?"
"Irfan!"
"Hei... Lya?" Suara Irfan terdengar lelah, tapi
juga terkejut. "Kenapa nelpon? Ada apa?"
Alya menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar memegang
ponsel.
"Fan, aku tahu."
Hening di ujung telepon. Sangat lama. Hanya suara derau dan
angin yang terdengar.
"Tahu apa?" suara Irfan akhirnya muncul,
hati-hati.
"Aku tahu tentang kecelakaan 15 tahun lalu. Kamu...
kamu yang menyelamatkan aku."
Hening lagi. Lebih lama.
"Fan?" suara Alya bergetar. "Kamu di
sana?"
Suara Irfan terdengar serak, seperti menahan tangis.
"Lo tahu dari mana?"
"Ibuku. Dia nyimpen gelang biru yang kamu kasih, atau
mungkin tertinggal. Aku ingat sekarang, Fan. Aku ingat semuanya. Matamu.
Suaramu. Cara kamu menggendongku. Aku ingat."
Hening.
"Kenapa nggak bilang dari awal?" tanya Alya.
Suaranya pecah. "Kenapa kamu rahasiain? Selama ini kamu tahu, tapi diam
saja? Kenapa, Fan?"
Kali ini Irfan menjawab. Suaranya bergetar, penuh emosi
yang tertahan selama 15 tahun.
"Karena gue nggak mau lo merasa berhutang. Gue nggak
mau lo lihat gue sebagai pahlawan, sebagai penyelamat. Gue cuma... mau lo lihat
gue sebagai Irfan. Seseorang yang mungkin lo bisa... sayang. Dengan tulus,
bukan karena merasa berhutang budi."
Alya menangis. Tangisnya pecah.
"Irfan..."
"Apa yang terjadi malam itu... gue cuma nolong karena
gue harus. Nggak ada pamrih. Nggak ada maunya. Gue lihat lo di dalam mobil itu,
lo nangis, lo ketakutan, dan gue cuma... nggak bisa tinggal diam. Gue nggak
pernah minta imbalan. Dan gue nggak pernah nyangka 15 tahun kemudian, gue
ketemu lo lagi. Dan lo... lo jadi pacar sahabat gue sendiri."
"Fan..."
"Alya, gue sayang lo. Gue udah sayang lo sejak pertama
kali lihat lo di perpustakaan itu, bahkan sebelum gue tahu kalau lo adalah
gadis kecil yang dulu gue selametin. Tapi gue juga sayang Mahesa. Dia sahabat
gue. Saudara gue. Dan gue nggak mau hancurin persahabatan gue demi ego gue
sendiri."
Alya tidak bisa berkata-kata. Air matanya terus mengalir.
"Maafin gue kalau selama ini gue bikin lo bingung. Gue
udah berusaha jaga jarak. Tapi tiap kali lihat lo... rasanya..." Irfan
berhenti, menghela napas panjang. "Rasanya kayu dihujani seribu
kenangan."
"Fan, aku..."
"Udah, Lya. Lupakan gue. Bahagiain sama Mahesa. Dia
orang baik. Dia pantas dapet lo. Dia sayang lo dengan tulus. Gue... gue akan
baik-baik aja di sini."
"Tapi..."
"Gue harus tutup, Lya. Baterai hampir habis. Jaga diri
baik-baik."
"Irfan!"
Tut... tut... tut...
Telepon terputus.
Alya menangis tersedu-sedu, memeluk ponselnya erat-erat.
Rina datang begitu menerima pesan panik dari Alya. Ia
langsung meluncur ke kos Alya, menerobos hujan tanpa peduli.
Ia duduk di samping sahabatnya di lantai, mendengar seluruh
cerita dengan sabar. Alya bercerita tentang kecelakaan, tentang Irfan, tentang
gelang biru, tentang pengakuan Irfan di telepon.
"Jadi selama ini... orang yang menolong kamu itu
Irfan?" tanya Rina pelan, setelah Alya selesai bercerita.
Alya mengangguk, masih terisak. Wajahnya sembab.
"Dan kamu baru tahu sekarang?"
"Iya. Ibuku baru cerita hari ini."
Rina menghela napas panjang. Ia merebahkan diri di lantai,
menatap langit-langit.
"Ini rumit, Lya. Bener-bener rumit. Kayak sinetron
tapi nyata."
"Aku harus gimana, Rin?"
Rina bangkit, menatap sahabatnya. Matanya serius.
"Lo mau jawaban jujur?"
"Iya."
"Lo harus pilih. Tapi bukan pilih antara Mahesa dan
Irfan. Lo harus pilih antara hati nurani dan perasaan."
Alya bingung. "Maksud lo?"
Rina menarik napas, mengatur kata-katanya.
"Lo punya Mahesa. Lo pacaran sama dia. Ada komitmen.
Ada tanggung jawab. Ada sejarah. Dia sayang lo, lo sayang dia, setidaknya itu
yang lo rasa selama ini. Tapi di sisi lain, lo punya Irfan. Pria yang selama 15
tahun lalu nyari lo tanpa lo tahu. Pria yang rela ngalah, rela pergi, demi
sahabatnya. Pria yang lo rasa... 'membuat lo utuh'."
Alya diam.
"Cinta itu nggak selalu tentang milih yang paling
bikin lo bahagia. Kadang, lo harus milih yang paling bikin lo tenang. Paling
nggak nyakitin orang lain. Paling bisa lo pertanggungjawabkan."
"Tapi kalau aku milih Mahesa, aku nyakitin Irfan.
Kalau aku milih Irfan, aku nyakitin Mahesa. Aku juga nyakitin diri
sendiri."
Rina mengangguk. "Itu risiko yang harus lo ambil.
Nggak ada pilihan yang sempurna, Lya. Nggak ada."
Alya terdiam lama.
"Tapi," lanjut Rina, "lo juga harus inget
satu hal."
"Apa?"
"Lo nggak wajib milih karena merasa berhutang. Irfan
nyelesain lo bukan supaya lo balas budi. Dia nyelesain lo karena... itu udah
takdirnya. Itu udah kebaikan hatinya. Lo nggak harus membalas dengan cinta.
Cinta nggak bisa dipaksakan."
Alya menangis lagi.
Berita tentang Irfan dan kecelakaan masa lalu akhirnya
sampai ke Mahesa.
Damar yang cerita, tanpa sengaja. Ia tidak tahu bahwa
Mahesa belum tahu. Dalam obrolan santai di kafe Senja, Damar berkata,
"Heh, Sa, lo tahu nggak ternyata Irfan itu pahlawan
masa kecilnya Alya?"
Mahesa mengerutkan kening. "Apa maksud lo?"
"Lo nggak tahu? 15 tahun lalu, Irfan nyelametin Alya
dari kecelakaan mobil. Alya baru tahu beberapa hari lalu, dari ibunya atau
gimana. Itu sebabnya dia bingung milih antara lo berdua. Bayangin, selama ini
Irfan nyembunyiin rahasia itu."
Mahesa terdiam.
Jadi itu sebabnya. Jadi itu sebabnya Irfan selalu terlihat
berbeda saat bersama Alya. Bukan cuma karena jatuh cinta, tapi karena ada ikatan
masa lalu yang tak terputus. Ikatan yang lebih dalam dari sekadar pertemuan
biasa.
Mahesa tidak marah. Ia justru merasa... kasihan.
Pada Irfan, yang selama ini menyimpan rahasia sendirian,
menanggung beban yang berat.
Pada Alya, yang tiba-tiba harus menghadapi kenyataan ini,
harus memilih di antara dua hati.
Dan pada dirinya sendiri, yang terjebak di antara cinta dan
persahabatan.
Malam harinya, Mahesa memutuskan bicara dengan Alya.
Mereka bertemu di taman kota, tempat pertama kali mereka
berbicara serius tentang hubungan. Tempat di mana mereka duduk berjam-jam,
berbagi mimpi dan harapan.
"Lya," panggil Mahesa pelan. Suaranya tenang,
seperti biasa.
"Hm?"
"Gue tahu semuanya."
Alya menatapnya, jantungnya berdebar. "Tahu apa?"
"Tentang Irfan. Tentang kecelakaan 15 tahun lalu.
Tentang dia yang nyelametin lo."
Alya menunduk. Tangannya gemetar.
"Maaf, Sa. Gue harusnya cerita dari awal. Gue nggak
bermaksud..."
"Gue nggak nyalahin lo." Mahesa memotong lembut.
"Gue cuma... sedih."
"Sedih kenapa?"
Mahesa menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca, tapi ia
berusaha tegar.
"Sedih karena gue baru sadar. Mungkin... mungkin
selama ini lo punya ikatan sama Irfan yang lebih kuat dari hubungan lo sama
gue. Mungkin kalian memang ditakdirkan bertemu lagi."
"Mahesa, jangan gitu..."
"Biarin gue ngomong, Lya. Gue butuh ngomong."
Alya diam.
"Gue cinta lo. Lo tahu itu. Tapi gue juga cinta Irfan.
Dia sahabat gue. Saudara gue. Gue nggak mau lihat dia terluka. Dan gue juga
nggak mau lihat lo terluka."
Alya menangis.
"Tapi gue juga manusia. Gue punya perasaan. Dan
perasaan gue sakit, Lya. Sakit banget. Kayak ditusuk-tusuk."
"Aku minta maaf..."
"Gue nggak minta maaf. Gue minta lo jujur. Sama diri
lo sendiri. Lo cinta siapa? Sebenarnya?"
Alya tidak bisa menjawab. Mulutnya terasa kering.
"Lo nggak usah jawab sekarang. Tapi suatu hari, lo
harus milih. Dan apa pun pilihan lo... gue akan terima. Meskipun sakit, gue
akan terima."
Mahesa berdiri. Ia menatap Alya untuk terakhir kalinya
malam itu.
"Jaga diri baik-baik, Lya."
Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Alya yang menangis di
bangku taman.
BAGIAN VI
"Memilih di antara dua hati yang tulus adalah
keputusan tersulit. Karena apa pun pilihannya, akan ada luka yang
tertinggal."
Tiga bulan kemudian.
Irfan kembali dari Kalimantan.
Kabarnya menyebar cepat di antara teman-teman. Damar yang
pertama tahu, Irfan meneleponnya dari bandara. Lalu kabar menyebar ke yang
lain.
Kulitnya lebih gelap, terbakar matahari Kalimantan.
Rambutnya lebih panjang, dikuncir kecil di belakang. Jenggot tipis menghiasi
dagunya. Tapi matanya... matanya sama. Mata yang menyimpan seribu cerita.
"Selamat datang di rumah, kawan," sapa Damar
hangat saat menjemputnya di bandara.
Irfan tersenyum. "Kangen kota ini, Mar. Kangen kafe
lo."
Di mobil, mereka berbincang tentang banyak hal, tugas Irfan
selama tiga bulan di pedalaman, kehidupan suku Dayak, tantangan liputan. Tapi
Damar tahu, ada satu hal yang tidak Irfan tanyakan, tapi pasti ada di
pikirannya.
"Mahesa gimana?" tanya Irfan akhirnya, setelah
setengah perjalanan.
Damar menghela napas. "Baik. Tapi ya gitu... masih
banyak diem. Kerja terus. Jarang kumpul."
Irfan menghela napas. "Alya?"
"Juga baik. Tapi dia sering nanyain lo. Ke gue, ke
Rina, ke Santi."
Irfan tidak menjawab.
"Fan, lo harus selesaikan ini. Nggak bisa diemin
terus."
"Iya, gue tahu."
Malam harinya, Damar mengadakan acara "Selamat
Datang" untuk Irfan di kafe Senja. Semua teman diundang, Rina, Santi,
Bima, Lala, Fajar, Niko, Rendi, Maya, Tika.
Dan Alya.
Kafe Senja penuh sesak. Tawa dan obrolan memenuhi ruangan.
Lampu-lampu temaram menciptakan suasana hangat.
Ketika Irfan masuk, semua bersorak. Satu per satu teman
menyambutnya, memeluknya, menanyakan kabar.
Dan kemudian, mata Irfan bertemu dengan mata Alya.
Dari seberang ruangan.
Waktu seperti berhenti.
Alya berdiri di dekat jendela, gaun panjang sederhana,
rambut terurai. Matanya basah. Bibirnya bergetar.
Irfan tersenyum tipis. Senyum yang hangat, tapi juga getir.
Alya membalas dengan senyum yang sama.
Tidak ada kata-kata yang terucap, tapi semua orang bisa
merasakan ketegangan di antara mereka. Semua orang tahu. Semua orang mengerti.
Acara selesai. Satu per satu teman pulang, pamit dengan
salam hangat.
Tinggal Alya dan Irfan yang masih duduk di kafe. Damar
sengaja tidak mengusir, malah menyuruh mereka santai. Ia dan Santi sibuk di
dapur, memberi mereka privasi.
Hujan turun di luar. Deras.
"Lo mau pulang?" tanya Irfan.
"Nggak. Lo?"
"Nggak."
Mereka diam. Hujan semakin deras, suaranya mengisi
keheningan.
"Fan," panggil Alya.
"Hm."
"Kenapa lo pergi tanpa pamit? Tanpa
bilang-bilang?"
Irfan menunduk. Tangannya memainkan gelas.
"Gue nggak tahu harus bilang apa. Waktu itu... gue
bingung. Takut."
"Takut sama apa?"
"Takut kalau gue ngomong, semuanya hancur. Takut kalau
gue lihat lo, gue nggak bisa pergi."
Alya menangis. Diam-diam, air matanya jatuh.
"Lo tahu nggak, aku nyari lo? Nelfon lo berkali-kali?
Nanyain lo ke Damar, ke Rina, ke semua orang?"
Irfan menatapnya. Matanya berkaca-kaca.
"Maaf. Gue minta maaf."
"Aku nggak butuh maaf lo. Aku butuh lo."
Hening.
"Gue juga butuh lo, Lya. Tapi gue nggak bisa."
"Kenapa?"
Irfan menghela napas panjang. Berat.
"Karena Mahesa. Karena persahabatan. Karena gue nggak
mau jadi perusak. Karena gue nggak mau lihat lo terluka karena gue."
Alya menangis keras. Tangis yang lama tertahan.
"Tapi aku sakit, Fan. Sakit nahan perasaan ini. Setiap
hari, setiap malam, aku mikirin lo. Aku nanya ke diri sendiri, apa ini salah?
Apa aku boleh ngerasain ini? Tapi perasaan nggak pernah salah, Fan. Yang salah
tuh tindakan."
Irfan meraih tangannya. Digenggamnya erat.
"Lya... gue juga sakit. Tiap hari, tiap malam. Tapi
kadang, cinta nggak cukup."
"Apa maksud lo?"
Irfan menatapnya dalam-dalam. Hujan di luar semakin deras,
tapi mereka tidak peduli.
"Cinta itu bukan cuma tentang siapa yang kita sayang.
Tapi tentang apa yang rela kita korbankan demi orang yang kita sayang. Dan
gue... gue rela korbankan perasaan gue, demi lo dan Mahesa."
Alya terdiam. Kata-kata Irfan menghantamnya keras.
"Tapi apa itu adil buat kamu? Buat aku?"
"Nggak ada yang adil dalam cinta, Lya."
Mahesa datang ke kafe Senja malam itu.
Ia tidak diundang, tidak tahu ada acara. Ia hanya ingin
mencari Irfan, ingin bicara. Rina bilang Irfan sudah pulang, mungkin di kafe.
Ketika ia melihat mereka dari balik pintu kaca, Alya dan
Irfan duduk berhadapan, berpegangan tangan, menangis, ia mengerti.
Ia berdiri di ambang pintu, tidak tahu harus masuk atau
pergi. Hatinya berperang.
Damar yang melihatnya dari dalam, keluar.
"Sa, lo..."
"Gue tahu, Mar. Nggak apa."
"Lo mau masuk?"
Mahesa menggeleng pelan. "Biarin mereka. Mereka butuh
bicara."
"Lo yakin?"
"Iya. Gue tunggu di luar aja."
Damar menepuk bahu sahabatnya. "Lo kuat, Sa."
Mahesa tersenyum pahit. "Harus."
Tapi Alya melihatnya. Melalui jendela kaca yang buram
karena hujan, ia melihat bayangan Mahesa di luar.
Ia melepas tangannya dari genggaman Irfan. Berlari keluar.
"Mahesa!"
Mahesa berhenti, tapi tidak menoleh. Hujan membasahi
tubuhnya, tapi ia tidak peduli.
"Mahesa, dengerin aku."
"Lya, gue lihat semuanya. Nggak usah dijelasin."
"Bukan gitu..."
Mahesa akhirnya menoleh. Matanya merah, basah, entah karena
hujan atau tangis.
"Lo cinta dia, kan?"
Alya diam.
"Jawab, Lya. Jujur. Lo cinta dia?"
Alya menunduk. Air matanya bercampur hujan.
"Iya."
Hening. Hanya suara hujan yang terdengar.
Mahesa tersenyum. Senyum yang pahit, yang menyayat hati.
"Makasih udah jujur."
"Mahesa..."
"Gue akan pergi, Lya. Bikin lo nyaman sama dia."
"Jangan! Jangan pergi! Gue nggak maksud..."
Mahesa menatapnya lama. Sangat lama.
"Gue cinta lo, Lya. Tapi gue juga cinta Irfan. Dan gue
tahu... dia bisa jagain lo lebih baik dari gue. Dia udah ngebuktiin itu sejak
15 tahun lalu."
Ia berbalik, berjalan pergi meninggalkan Alya yang menangis
di tengah hujan.
Irfan keluar dari kafe, melihat semuanya. Ia ingin mengejar
Mahesa, tapi kakinya seperti terpaku.
"Sa!" teriaknya.
Mahesa berhenti, tapi tidak menoleh.
"Jaga dia baik-baik, Fan. Atau gue akan kembali."
Dan ia terus berjalan. Menghilang dalam gelap dan hujan.
BAGIAN VII
"Cinta sejati bukan tentang memiliki. Ia tentang
merelakan, meski hati hancur berkeping-keping."
Mahesa mengambil cuti panjang. Ia tidak masuk kerja, tidak
membalas pesan, tidak menjawab telepon. Ia mengurung diri di kamar, merenungi
semuanya.
Ibunya, Bu Lestari, sangat khawatir. Setiap hari ia
mengetuk pintu, membawakan makanan, mencoba mengajak bicara.
"Sa, kamu nggak mau cerita sama Ibu?" tanyanya
suatu malam, duduk di samping tempat tidur Mahesa.
Mahesa menggeleng, wajahnya pucat. "Nggak usah, Bu.
Aku baik-baik aja."
"Anak Ibu nggak pernah baik-baik aja kalau diem kayak
gini. Ibu tahu ada yang salah. Ceritalah."
Mahesa akhirnya menceritakan semuanya. Tentang Alya.
Tentang Irfan. Tentang cinta segitiga yang menghancurkan persahabatannya.
Tentang perasaannya yang sakit, tapi juga keikhlasannya.
Bu Lestari mendengar dengan sabar. Tangannya mengelus
punggung Mahesa.
"Sa," katanya pelan, "Ibu tahu ini berat.
Tapi Ibu bangga sama kamu."
Mahesa heran. "Bangga? Kenapa, Bu?"
"Karena kamu rela ngelahirin, padahal kamu sakit. Itu
namanya cinta, Nak. Cinta yang tulus. Cinta yang dewasa. Banyak orang nggak
bisa ngelakuin itu."
Mahesa menangis di pelukan ibunya. Tangis yang selama ini
ia tahan.
Alya juga tidak lebih baik.
Ia terus menangis, terus bingung. Dua pria yang ia cintai,
satu pergi, satu menjauh. Ia merasa seperti berada di pusaran air yang
menariknya ke bawah.
Irfan mencoba menemuinya beberapa kali, tapi Alya menolak.
"Aku butuh waktu, Fan," katanya melalui telepon.
"Sendiri. Buat mikir."
Irfan mengerti. Ia memberi ruang.
Tapi Alya tidak bisa diam terus. Ia harus memutuskan. Tidak
adil bagi semua orang jika ia terus begini.
Suatu sore, ia pergi ke rumah Irfan. Pak Hadi dan Bu Sari
menyambutnya dengan hangat, seperti biasa.
"Irfan di belakang, Nak. Lagi berkebun," kata Bu
Sari.
Alya berjalan ke belakang rumah. Di sana, Irfan sedang menyiram
tanaman hidroponik. Ia tampak tenang, seperti tidak ada beban. Kaus oblong,
celana pendek, rambut diikat asal.
"Hei," sapa Alya.
Irfan menoleh, terkejut. "Lya? Lo... dateng?"
"Iya."
Mereka duduk di bangku taman di samping kebun hidroponik.
Suasana sore cerah, kontras dengan hati mereka yang mendung.
"Fan, aku sudah memutuskan."
Irfan menegang. "Putusin apa?"
Alya menatapnya. Matanya teduh, tapi tegas.
"Aku nggak bisa milih siapa pun."
Irfan bingung. "Maksud lo?"
"Aku cinta Mahesa. Tapi aku juga cinta lo. Dua-duanya
punya tempat di hati aku. Dua-duanya berarti buat aku. Dan aku nggak bisa milih
satu tanpa nyakitin yang lain. Nggak adil."
"Alya..."
"Tapi aku juga nggak bisa terus kayak gini. Nggak adil
buat lo, nggak adil buat Mahesa, nggak adil buat aku."
Alya mengambil napas dalam-dalam.
"Aku milih... sendiri."
Irfan terkejut. "Apa?"
"Aku akan pergi. Ambil program doktoral di luar
negeri. Jauh dari sini. Jauh dari lo berdua. Jauh dari semua ini."
"Lya, jangan..."
"Fan, dengerin aku. Ini yang terbaik. Aku butuh waktu
buat diri aku sendiri. Buat nyembuhin hati aku. Buat... lupain. Buat nemuin
siapa aku sebenarnya, tanpa harus milih."
Irfan terdiam. Air matanya jatuh.
"Lo nggak harus lupain gue," bisiknya. "Gue
akan selalu ada buat lo."
"Tapi aku harus lupain perasaan ini. Kalau nggak, aku
nggak akan pernah bisa hidup tenang. Aku nggak akan pernah bisa bahagia."
Mereka berdua menangis. Berpelukan di bawah sore yang
cerah.
Sebelum pergi, Alya meminta satu hal pada Irfan.
"Temuin Mahesa. Baik-baikin sama dia. Kalian
bersaudara, jangan sampai hancur karena aku."
Irfan mengangguk. "Gue akan coba."
Irfan pergi ke rumah Mahesa. Di depan pintu, ia ragu lama.
Tangannya gemetar saat akan mengetuk. Tapi akhirnya ia memberanikan diri.
Tok tok tok.
Pintu terbuka. Mahesa berdiri di ambang, wajahnya lebih
kurus, lingkaran hitam di bawah mata.
"Fan..." panggilnya pelan.
"Sa..."
Mereka bertatapan. Hening.
"Masuk," kata Mahesa akhirnya.
Mereka duduk di ruang tamu. Suasana kaku. Tidak ada yang
berani memulai bicara.
"Aku minta maaf," akhirnya Irfan berkata.
Suaranya bergetar. "Atas semuanya. Atas semua yang terjadi."
Mahesa diam.
"Gue tahu, gue salah. Gue seharusnya jaga jarak dari
awal. Gue seharusnya cerita dari awal. Tapi gue..."
"Lo cinta dia. Lo nggak bisa bohong."
Irfan menunduk. "Iya."
"Dan lo tahu? Gue juga cinta dia. Tapi gue juga cinta
lo. Sahabat gue."
Irfan terkejut. Ia mendongak, menatap Mahesa.
"Lo marah?"
"Marah? Iya. Tapi lebih dari itu, gue sedih."
"Maaf..."
"Udah, Fan. Nggak usah minta maaf terus. Yang udah,
udah."
Irfan menangis. "Gue kehilangan lo, Sa? Kehilangan
sahabat gue?"
Mahesa menghela napas. "Gue nggak tahu. Tapi yang
pasti, hubungan kita nggak akan pernah sama lagi."
Irfan mengerti. Luka itu akan selalu ada.
Tapi Mahesa melanjutkan, "Tapi gue nggak mau
kehilangan lo sepenuhnya. Lo masih sahabat gue. Lo akan selalu sahabat
gue."
Mereka berpelukan. Dua sahabat yang terluka, berusaha
sembuh bersama.
Hari keberangkatan Alya tiba.
Bandara Soekarno-Hatta ramai seperti biasa. Orang-orang
berlalu lalang dengan koper dan tas. Suara pengumuman penerbangan terdengar
sayup-sayup.
Tapi di sudut bandara, di dekat gate keberangkatan
internasional, suasana berbeda.
Alya berdiri di sana, koper di sampingnya. Gaun panjang
biru muda, warna kesukaannya. Rambut diikat rapi. Wajahnya teduh, meski matanya
sedikit sembab.
Mahesa datang. Irfan datang.
Mereka berdiri di depannya, dua pria yang pernah mengisi
hatinya. Dua sahabat yang kini kembali bersatu, meski luka masih menganga.
"Jaga diri baik-baik, Lya," pesan Mahesa.
Suaranya hangat, seperti biasa.
"Lo akan baik-baik aja di sana," sambung Irfan.
"Gue yakin."
Alya tersenyum. Senyum yang tulus, meski berat.
"Makasih buat semuanya. Makasih udah pernah jadi
bagian hidup aku. Makasih udah ngajarin aku arti cinta, arti persahabatan, arti
keikhlasan."
Mahesa dan Irfan tersenyum. Sama-sama berat, sama-sama
sakit.
"Lya," panggil Irfan.
"Hm?"
"Gelang biru itu... lo bawa?"
Alya mengangguk, menunjukkan pergelangan tangannya. Gelang
biru usang itu melingkar di sana.
"Bawa. Akan selalu aku bawa. Sebagai pengingat bahwa
kebaikan itu nyata."
Irfan tersenyum. "Bagus."
Alya menatap mereka berdua. Untuk terakhir kalinya.
"Sampai jumpa... suatu hari nanti."
Ia berbalik, berjalan menuju gate. Satu langkah, dua
langkah, tiga langkah.
"LYA!"
Mahesa dan Irfan berseru bersamaan.
Alya berbalik.
Mereka berlari, memeluknya bersamaan. Tiga hati yang
terluka, berpelukan di bandara. Air mata jatuh tanpa bisa dibendung.
"Jangan lupa sama kita," bisik Mahesa.
"Pulang, ya. Cepet," bisik Irfan.
Alya tertawa kecil sambil menangis.
"Iya. Aku janji."
Pelepasan terakhir. Alya masuk ke gate. Melambai sekali
lagi. Lalu menghilang di balik pintu.
Mahesa dan Irfan berdiri di sana, menatap kepergiannya.
Dua sahabat yang kini hanya punya satu sama lain.
BAGIAN VIII
"Waktu menyembuhkan luka. Tapi ia juga mengajarkan
kita bahwa beberapa kenangan akan tetap abadi."
Tiga tahun berlalu.
Banyak yang berubah.
Mahesa kini menjadi kepala perpustakaan daerah. Ia lebih
dewasa, lebih tenang. Luka di hatinya perlahan sembuh, meski kadang masih
terasa perih. Tapi ia sudah bisa tersenyum, sudah bisa tertawa, sudah bisa
menjalani hidup.
Irfan kini menjadi jurnalis terkenal. Bukunya tentang
petualangan di Kalimantan bestseller. Ia sering diundang ke seminar, tapi ia
tetap rendah hati seperti dulu. Fotonya dipajang di berbagai media.
Mereka berdua tetap bersahabat. Luka lama tidak sepenuhnya
hilang, tapi mereka belajar untuk memaafkan dan menerima. Setiap minggu mereka
bertemu di kafe Senja, minum kopi, tertawa, bernostalgia.
Kafe Senja masih ramai. Damar kini menikah dengan Santi, kabar
yang mengejutkan semua orang, tapi juga membahagiakan.
"Lo tahu, dulu gue nggak nyangka bakal sama
Santi," kata Damar suatu hari, sambil melayani pelanggan.
Irfan tertawa. "Nggak ada yang nyangka, Mar. Tapi lo
cocok. Santi bisa nahan kebawelan lo."
Santi yang duduk di samping Damar tersenyum malu. "Dia
yang bawel, gue mah nurut aja."
Rina akhirnya putus dari Miftah, pacarnya yang posesif.
Kini ia lebih bahagia, fokus pada karier menulisnya. Dan diam-diam, ia dan
Irfan mulai dekat. Bukan pacaran, tapi lebih dari sekadar teman. Mereka sering
terlihat bersama, pergi liputan, diskusi, makan malam.
"Lebih baik sendiri daripada salah orang,"
katanya filosofis suatu hari. "Tapi kalau dapat yang benar, ya ambil."
Semua teman tumbuh dan berubah. Hidup terus berjalan.
Tapi satu nama masih sering disebut dalam percakapan
mereka.
Alya.
Suatu sore, Mahesa menerima surel dari luar negeri.
Dari Alya.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membukanya.
Hai, Mahesa.
Maaf baru kabar. Tiga tahun ini aku sibuk banget sama
studi. Sekarang udah di tahap disertasi. Aku juga ngajar di sini, jadi dosen
tamu di kampus tempatku kuliah. Hidup di negeri orang... berat, tapi banyak
pelajaran.
Bagaimana kabarmu? Irfan? Teman-teman yang lain? Kafe Senja
masih buka? Damar masih bawel? Rina masih suka ngatur?
Aku kangen kalian semua. Terkadang, di malam-malam sunyi,
aku ingat masa-masa di kafe Senja, di perpustakaan, di taman kota. Semua
kenangan itu masih hangat di hati. Seperti baru kemarin.
Bagaimana dengan persahabatan kalian? Semoga baik-baik
saja. Aku selalu berdoa yang terbaik untuk kalian berdua. Kalian adalah dua
orang terpenting dalam hidupku, meski sekarang jarak memisahkan.
Mungkin suatu hari kita bertemu lagi. Siapa tahu. Tuhan selalu
punya rencana.
Salam hangat dari negeri orang,
Alya
P.S. Gelang biru ini masih aku pakai. Setiap hari.
Mahesa membaca surel itu berulang kali. Hatinya hangat,
tapi juga sedih. Ia segera membalas.
Hai, Lya.
Seneng banget dapet kabar dari lo. Lega rasanya tahu lo
baik-baik aja di sana.
Kita semua baik-baik aja di sini. Irfan jadi jurnalis
terkenal, bukunya bestseller. Damar nikah sama Santi, kaget nggak? Rina juga
udah move on dari mantannya, dan sekarang deket sama Irfan, tapi jangan bilang
siapa-siapa ya, ini masih rahasia (setidaknya dari mereka berdua, haha).
Perpustakaanku sekarang lebih maju. Aku jadi kepala. Kadang
masih ada mahasiswa yang nanya tentang dosen cantik yang dulu sering ke sini.
Aku bilang, "Dia lagi sekolah di luar negeri, bentar lagi pulang."
Aku baik-baik aja, Lya. Luka lama udah sembuh. Yang tersisa
cuma kenangan indah, dan rasa syukur karena pernah mengenal lo.
Lo pasti bisa selesain studi lo. Aku percaya sama lo. Lo
kuat, lo pintar, lo hebat.
Kalau pulang, kabari kita. Kafe Senja selalu buat lo. Meja
favorit lo masih kosong, sengaja gak dipake buat siapa-siapa.
Salam hangat,
Mahesa
Irfan juga mendapat kabar. Bukan surel, tapi sebuah paket
kecil dari luar negeri yang dikirim lewat pos.
Ia membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya ada sebuah
buku. Buku puisi karya penyair asing, edisi pertama, langka. Dan di halaman pertama,
ada tulisan tangan Alya.
Untuk Irfan,
Penyelamatku dulu, kini, dan selamanya.
Gelang biru ini masih aku pakai. Ia mengingatkanku bahwa di
dunia ini pernah ada seseorang yang menyelamatkanku tanpa pamrih, mencintaiku
tanpa pamrih, dan merelakanku tanpa pamrih.
Terima kasih untuk semuanya. Untuk malam itu 18 tahun lalu.
Untuk pertemuan kita di perpustakaan. Untuk setiap tawa, setiap air mata,
setiap kejujuran.
Aku tidak tahu kapan kita bertemu lagi. Tapi ketahuilah,
kau selalu punya tempat di hatiku. Bukan sebagai kekasih, tapi sebagai
seseorang yang pernah membuatku merasa utuh.
Dengan cinta dan terima kasih,
Alya
Irfan memegang buku itu erat-erat. Matanya basah. Ia
tersenyum.
Rina, yang duduk di sampingnya, bertanya, "Dari
Alya?"
Irfan mengangguk.
"Lo nggak sedih?"
Irfan menggeleng. "Nggak. Malah bahagia."
"Kenapa?"
"Karena dia baik-baik aja. Karena dia bahagia. Karena
dia ingat kita."
Rina tersenyum, meraih tangannya.
Beberapa bulan kemudian, sebuah kabar mengejutkan datang.
Alya pulang.
Damar yang pertama tahu, Alya mengiriminya pesan. Ia
langsung mengumumkan ke semua teman di grup WhatsApp.
SEMUANYA! MINGGU DEPAN, ALYA PULANG! KITA ADAKAN REUNI DI
KAFE! WAJIB HADIR!
Balasan berderai. Semua heboh. Semua bersemangat.
Mahesa dan Irfan saling bertukar pandang saat membaca pesan
itu. Mereka sedang duduk di kafe Senja, minum kopi seperti biasa.
"Lo siap?" tanya Irfan.
Mahesa tersenyum. "Siap atau nggak, ini harus dihadapi."
"Iya. Gue juga."
Minggu depan tiba.
Kafe Senja penuh sesak. Lampu-lampu dihias. Balon-balon
warna-warni. Spanduk kecil bertuliskan "WELCOME HOME, ALYA!"
digantung di dinding.
Semua teman hadir. Damar dan Santi sibuk di dapur
menyiapkan makanan. Rina sibuk mengatur dekorasi. Bima, Fajar, Niko, Rendi,
Maya, Tika, semua ada. Bahkan Lala datang dengan pacar barunya.
Pukul tujuh malam, pintu kafe terbuka.
Alya masuk.
Rambutnya sekarang lebih panjang, sebahu. Wajahnya lebih
dewasa, lebih tenang. Gaun panjang warna biru, warna kesukaannya. Matanya
berbinar, meski basah.
Semua berteriak kegirangan.
"ALYA!"
Rina langsung berlari, memeluknya erat. "LYA! LO
KEMBALI! AKU KANGEN BANGET!"
Mereka berpelukan, tertawa, menangis. Satu per satu teman
menyapa Alya. Damar dengan istrinya Santi. Lala dengan pacarnya. Bima, Fajar,
Niko, semua.
Hingga tiba saatnya Alya berhadapan dengan dua pria itu.
Mahesa dan Irfan berdiri bersebelahan, seperti dulu. Mereka
tersenyum. Hangat.
"Hei, Lya," sapa Mahesa. Suaranya tenang, tapi
matanya berkaca-kaca.
"Hei," balas Alya. Suaranya bergetar.
Irfan tersenyum. Senyum yang sama seperti pertama kali
mereka bertemu.
"Selamat datang di rumah, Lya."
Alya menangis. "Makasih... makasih sudah menerimaku
kembali."
Mereka berpelukan bertiga. Seperti di bandara tiga tahun
lalu. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada tangis perpisahan. Yang ada adalah
tangis kebahagiaan.
Malam itu, mereka bertiga duduk bersama untuk pertama
kalinya setelah tiga tahun.
Meja favorit mereka. Kopi dan teh hangat. Hujan gerimis di
luar.
Tidak ada canggung. Tidak ada sakit hati. Yang ada hanya
kehangatan.
"Gimana studi lo?" tanya Mahesa.
"Lancar. Tinggal sidang disertasi bulan depan.
Judulnya tentang representasi cinta dalam sastra Indonesia modern."
"Wah, bentar lagi jadi doktor dong," goda Irfan.
Alya tertawa. "Masih lama, Fan. Masih panjang."
Mereka berbincang tentang banyak hal, pekerjaan,
teman-teman, kehidupan. Tiga tahun berpisah, tapi rasanya seperti baru kemarin.
Di akhir malam, ketika teman-teman mulai pulang, Alya
berkata,
"Aku minta maaf."
Mahesa dan Irfan saling pandang.
"Maaf buat semuanya. Maaf udah ninggalin kalian. Maaf
udah bikin kalian sakit. Maaf udah bikin semuanya rumit."
"Lya..." Mahesa meraih tangannya. "Nggak
usah minta maaf. Kita semua dewasa. Kita semua ngerti."
Irfan mengangguk. "Yang lalu biarlah lalu. Sekarang,
kita mulai lagi. Sebagai sahabat."
Alya tersenyum. "Kalian... kalian nggak tahu betapa
aku kangen kalian."
"Kita juga kangen lo," jawab Irfan.
Mereka berpelukan lagi. Tiga hati yang pernah terluka, kini
bersatu dalam ikatan yang lebih kuat, persahabatan.
"Cinta bukan tentang siapa yang memiliki. Cinta adalah
tentang siapa yang rela berkorban, siapa yang tetap bertahan, dan siapa yang
mampu memaafkan."
Dua tahun kemudian.
Sebuah pernikahan sederhana digelar di sebuah gedung
pertemuan yang asri, dihias bunga-bunga segar berwarna putih dan biru, warna
favorit Alya. Bukan pernikahan mewah, tapi penuh kehangatan.
Mahesa dan Alya.
Ya, setelah lima tahun berlalu, setelah berbagai badai dan
air mata, akhirnya mereka memutuskan untuk bersama. Bukan karena takdir
memaksa, tapi karena waktu mengajarkan mereka bahwa cinta sejati adalah cinta
yang bertahan melewati badai. Cinta yang tidak pernah pergi meski jarak
memisahkan.
Alya berdiri di pelaminan, anggun dalam balutan kebaya
putih dengan sentuhan biru di sash-nya. Wajahnya berseri-seri. Rambutnya
disanggul indah, dengan sekuntum bunga melati.
Mahesa di sampingnya, tampan dengan setelan jas biru
dongker. Kacamatanya yang khas masih ada. Senyumnya mengembang, tulus.
Mereka tersenyum bahagia.
Irfan duduk di barisan tamu, tersenyum tulus. Di sampingnya
duduk Rina, yang kini resmi menjadi istrinya, kejutan lain yang tidak pernah
mereka duga. Mereka menikah setahun yang lalu, setelah pacaran cukup lama.
"Bahagia lihat mereka?" bisik Rina.
Irfan mengangguk. "Bahagia banget."
"Masa iya? Nggak ada sedikit pun rasa...?"
Irfan menoleh, menatap istrinya dengan hangat.
"Nggak. Justru sebaliknya. Gue bersyukur."
"Bersyukur?"
"Iya. Bersyukur karena mereka bahagia. Bersyukur
karena gue punya lo. Bersyukur karena semua berakhir baik."
Rina tersenyum, mengecup pipi suaminya.
Mereka berpegangan tangan, menyaksikan dua sahabat mereka
mengucapkan janji suci.
Di acara resepsi, Irfan dan Rina mendekati pengantin.
"Selamat ya," ucap Irfan sambil menjabat tangan
Mahesa. "Akhirnya... setelah sekian lama."
"Makasih, Fan. Makasih udah datang. Makasih udah...
semuanya."
Mereka berpelukan. Dua sahabat yang telah melewati banyak
hal.
"Gue ketinggalan? Masa iya?" goda Irfan sambil tertawa.
Mereka tertawa bersama.
Alya memeluk Rina. "Makasih udah jagain Irfan. Jadi
istri yang baik buat dia."
Rina tersenyum. "Dia yang jagain gue. Tapi makasih,
Lya."
Alya menatap Irfan. Mata mereka bertemu. Bukan lagi dengan
perasaan yang dulu, tapi dengan kehangatan persahabatan.
"Kamu bahagia, Fan?"
Irfan mengangguk. "Bahagia banget."
"Aku juga. Akhirnya... kita semua bahagia."
Mereka tersenyum. Semua luka telah sembuh. Semua maaf telah
terucap. Yang tersisa hanyalah rasa syukur.
Di sudut ruangan, Damar dan Santi duduk bersama teman-teman
yang lain. Mereka mengamati kebahagiaan di depan mata.
"Lo tahu nggak," kata Damar, "dulu gue nggak
pernah nyangka kita semua bakal sampai di sini. Dulu ribut terus, sekarang pada
nikah semua."
Santi mengangguk. "Hidup memang penuh kejutan."
"Tapi satu hal yang pasti," sambung Fajar, yang
duduk di samping mereka. "cinta sejati akan selalu menemukan jalannya.
Mungkin bukan dengan cara yang kita kira, tapi pasti."
Semua tersenyum setuju.
Malam semakin larut. Tamu satu per satu pulang dengan
senyum bahagia.
Irfan dan Rina berjalan di taman tempat dulu Alya pernah
berdiri dalam kebingungan. Tempat di mana prolog cerita ini dimulai. Taman kota
yang sama, dengan lampu-lampu yang sama, dan gemercik air hujan yang sama.
"Fan," panggil Rina.
"Hm?"
"Apa kamu menyesal? Dengan semua yang terjadi?"
Irfan merenung sejenak. Matanya menerawang, mengingat
perjalanan panjang yang telah dilalui.
"Nggak. Sama sekali nggak."
"Kenapa?"
Ia menatap langit malam yang cerah. Bintang-bintang bertaburan,
indah.
"Karena cinta bukan tentang siapa yang memiliki...
tapi tentang siapa yang kita ingin lihat bahagia. Dan hari ini, gue lihat semua
orang yang gue sayang bahagia. Itu lebih dari cukup."
Rina tersenyum. "Kamu bijak banget."
Irfan tertawa. "Bukan bijak. Cuma... sudah cukup umur
buat ngerti."
Mereka berjalan bergandengan tangan, meninggalkan taman
itu.
Di tempat lain, di rumah baru mereka yang sederhana, Mahesa
dan Alya duduk di teras. Malam pengantin pertama. Lampu-lampu taman menciptakan
suasana hangat.
"Sa," panggil Alya.
"Hm?"
"Kamu tahu nggak? Dulu, aku takut banget bikin
keputusan. Takut salah. Takut nyakitin orang."
Mahesa meraih tangannya. "Tapi akhirnya kamu
milih."
"Iya. Dan aku nggak nyesel."
Mereka berpelukan.
"Terima kasih udah sabar sama aku," bisik Alya.
"Terima kasih udah balik ke aku."
Hujan turun perlahan di luar. Seperti malam-malam dulu.
Tapi kali ini tidak ada kesedihan. Yang ada hanya kedamaian.
Beberapa hari setelah pernikahan, Alya menemukan sesuatu di
lemari lamanya, saat membereskan barang-barang untuk dibawa ke rumah baru.
Kotak kenangan.
Ia membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya ada foto-foto
lama, buku catatan kuliah, surat-surat dari teman, dan... gelang biru itu.
Ia memegangnya lama. Ada banyak kenangan tergantung di
gelang sederhana itu. Kenangan tentang malam hujan 20 tahun lalu. Tentang
seorang remaja dengan mata teduh. Tentang pertemuan di perpustakaan. Tentang
cinta yang rumit. Tentang pengorbanan. Tentang keikhlasan.
"Masih inget?" suara Mahesa di belakangnya.
Alya menoleh, tersenyum. "Ingat. Ini gelang pemberian
Irfan."
"Lo masih simpan?"
"Iya. Tapi bukan karena alasan yang dulu."
Mahesa duduk di sampingnya. "Maksud lo?"
Alya menatap gelang itu. Matanya hangat.
"Dulu, gelang ini mengingatkanku pada Irfan. Pada masa
lalu. Pada cinta pertama yang nggak kesampaian. Pada segala 'andaikan' yang
menghantuiku."
"Sekarang?"
"Sekarang, gelang ini mengingatkanku pada sesuatu yang
lebih besar."
"Apa?"
Alya tersenyum. Menatap suaminya.
"Bahwa kebaikan itu nyata. Bahwa ada orang-orang baik
di dunia ini yang menolong tanpa pamrih. Bahwa cinta punya banyak bentuk, bukan
hanya cinta romantis, tapi juga cinta persahabatan, cinta keluarga, cinta
kemanusiaan. Dan bahwa dari semua bentuk cinta itu, yang paling kuat adalah
cinta yang rela berkorban."
Mahesa memeluk istrinya. "Lo bijak."
"Bukan bijak. Cuma... sudah cukup dewasa buat
ngerti."
Mereka tertawa bersama.
Beberapa minggu kemudian, mereka semua berkumpul lagi di
kafe Senja. Seperti masa lalu, tapi berbeda.
Suasana sore yang cerah. Musik jazz pelan. Aroma kopi
menguar.
Damar sibuk di balik konter, membuat kopi untuk pelanggan.
Santi membantu melayani dengan senyum ramah. Rina dan Irfan duduk di meja
favorit mereka, meja dekat jendela. Mahesa dan Alya di meja sebelah. Teman-teman
yang lain tersebar di sana-sini, Bima dan Fajar berdebat ringan, Niko asyik
dengan laptopnya, Rendi bercerita tentang pertandingan renang terbaru.
Suasana ramai seperti biasa.
"Eh, ngomong-ngomong," tiba-tiba Rina berkata,
mengangkat suaranya. "kalian ingat nggak pertanyaan gue dulu?"
Semua menoleh. "Pertanyaan apa?"
"Tentang cinta. Cinta itu datang karena takdir atau
kebiasaan?"
Semua tertawa. Teringat masa-masa itu, masa-masa penuh
drama dan air mata.
"Jadi, sekarang kalian tahu jawabannya?" tanya
Damar usil dari balik konter.
Irfan menjawab pertama. "Menurut gue, cinta itu
campuran. Takdir mempertemukan, tapi kita yang memilih untuk bertahan atau
pergi. Kita yang memilih untuk berkorban atau egois."
Mahesa mengangguk setuju. "Dan kadang, cinta juga berarti
melepaskan. Melepaskan bukan berarti kalah, tapi menang dengan cara yang
berbeda."
Alya menambahkan, "Atau bersabar menunggu waktu yang
tepat. Karena cinta sejati nggak akan pernah benar-benar pergi. Dia akan selalu
ada, mungkin dalam bentuk yang berbeda."
Rina tersenyum. "Jadi, kesimpulannya?"
Mereka semua saling memandang. Tersenyum.
"Cinta adalah tentang perjalanan, bukan tujuan.
Tentang siapa yang menemani kita tumbuh, bukan siapa yang sempurna. Tentang
keikhlasan menerima bahwa beberapa orang datang untuk mengajarkan sesuatu, lalu
pergi. Dan beberapa orang datang untuk tinggal selamanya."
Malam itu, Alya berjalan sendirian di taman kota.
Tempat yang sama di mana prolog cerita ini dimulai. Tempat
yang sama di mana ia berdiri dalam kebingungan 7 tahun lalu, dihujani
pertanyaan tanpa jawaban.
Hujan turun perlahan. Tapi kali ini ia tidak sendirian.
Mahesa datang, membawa payung besar. Ia berdiri di samping
istrinya, menaungi mereka berdua.
"Kangen taman ini?" tanyanya.
Alya mengangguk. "Tempat ini penuh kenangan."
"Kenangan buruk?"
"Semua campur. Buruk, baik, sedih, bahagia. Tapi
semuanya berharga."
Mahesa meraih tangannya. "Tapi sekarang?"
Alya menatap suaminya. Matanya teduh, penuh syukur.
"Sekarang, aku melihatnya sebagai awal. Bukan akhir.
Sebagai tempat di mana aku belajar tentang cinta, tentang persahabatan, tentang
pengorbanan. Dan bersyukur karena semua itu membawaku ke sini, ke kamu."
Mereka tersenyum. Hujan semakin deras, tapi mereka tetap di
sana, berbagi hangat.
Dari kejauhan, sebuah mobil melintas perlahan. Di dalamnya,
Irfan tersenyum melihat mereka. Rina di sampingnya, memegang tangannya.
"Kamu nggak sedih?" tanya Rina.
Irfan menggeleng. "Nggak. Malah bahagia."
"Kenapa?"
"Karena lihat orang yang kita sayang bahagia... itu
juga kebahagiaan. Itu yang dulu gue pelajari dari semua ini."
Rina tersenyum, meraih tangan Irfan. Mobil itu terus
melaju, meninggalkan taman di belakang.
Di taman itu, Alya dan Mahesa masih berdiri.
"Sa," panggil Alya.
"Hm?"
"Terima kasih udah nggak pergi. Terima kasih udah
bertahan."
Mahesa mengecup keningnya. Lembut.
"Terima kasih udah balik. Terima kasih udah
milih." Hujan reda. Langit cerah. Bintang-bintang mulai terlihat,
bertaburan indah.
Dan di kota itu, tiga hati yang pernah terluka kini telah
menemukan kedamaiannya masing-masing. Bukan dalam cinta yang sama, tapi dalam
pemahaman bahwa:
Cinta sejati tidak selalu tentang memiliki.
Ia tentang merelakan, tentang memaafkan, tentang tumbuh.
Dan tentang bersyukur bahwa pernah ada seseorang yang membuat hidup kita
terasa lebih berarti.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar