MISTERI
RUMAH TUA DI UJUNG DESA
Novel Misteri Remaja tentang Keberanian, Persahabatan, dan Rahasia yang Terkubur Puluhan Tahun
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Desa Tanah Lenyap, 12 September 1985
Hujan turun sejak sore. Bukan hujan biasa, tapi hujan yang
oleh orang-orang tua di desa disebut sebagai hujan peringatan—derasnya
seperti ribuan batu kecil dijatuhkan dari langit, anginnya melolong seperti
tangisan yang tak pernah reda. Di ujung desa, di atas bukit kecil yang
dikelilingi pohon-pohon beringin tua, sebuah rumah panggung kayu jati berdiri
sendirian. Lampu minyak di teras depan berkedip-kedip, hampir padam, lalu
menyala kembali—seperti jantung yang berdebar tak karuan.
Pak Surya, guru yang baru dua tahun mengajar di Sekolah
Dasar Desa Tanah Lenyap, duduk di beranda rumah itu. Di tangannya ada secangkir
kopi yang sudah dingin sejak satu jam lalu. Matanya menatap ke arah desa di
bawah, ke rumah-rumah yang lampunya mulai padam satu per satu. Penduduk desa
sudah tidur lebih awal malam itu, seperti ada firasat buruk yang merayap di
udara.
"Pak, sudah malam. Istirahatlah."
Suara lembut istrinya, Bu Rina, terdengar dari dalam. Pak
Surya menoleh sekilas, tersenyum tipis, tapi matanya kembali ke arah gelap di
luar.
"Nanti, Rin. Udara malam ini... aneh."
"Memangnya kenapa?"
Pak Surya menggeleng pelan. Dia sendiri tidak bisa
menjelaskan. Tapi sejak sore, ada sesuatu yang mengganggunya. Seperti ada
bisikan di telinga kirinya, suara yang tak bisa dia dengar dengan jelas tapi
terus-menerus ada di sana, seperti dengung nyamuk yang tak kunjung pergi.
"Pak, jangan buat saya khawatir," kata Bu Rina
dari dalam.
"Iya, sebentar lagi."
1. Mesteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Pak Surya meneguk kopinya yang dingin. Rasanya pahit sekali.
Tapi sebelum dia sempat meletakkan cangkir itu kembali ke meja, dia
mendengarnya.
Suara langkah kaki.
Bukan langkah biasa. Langkah itu berat, seperti orang
membawa beban besar di punggung. Pak Surya menajamkan pendengarannya. Dari mana
asalnya? Dari bawah rumah? Dari halaman depan?
"Buk... buk... buk..."
Suara itu semakin dekat. Pak Surya berdiri, cangkir di
tangannya hampir jatuh. Dia menatap ke arah tangga rumahnya, ke arah lorong
gelap di antara pohon-pohon beringin.
Tidak ada siapa-siapa.
"Pak?" Suara Bu Rina dari dalam terdengar cemas.
"Pak, ada apa?"
Pak Surya tidak menjawab. Matanya terpaku pada sesuatu di
bawah tangga. Sebuah bayangan. Tapi bayangan apa? Di sana gelap, tidak ada
lampu, tapi dia yakin melihat sesuatu bergerak.
"Rin," panggilnya lirih. "Jangan
keluar."
"Kenapa, Pak?"
"Lakukan saja apa kukata—"
Teriakan itu mengagetkan seluruh desa.
Bukan satu teriakan, tapi tiga teriakan berturut-turut.
Yang pertama panjang dan melengking, seperti seseorang yang melihat kematian di
depannya. Yang kedua pendek, terpotong, seperti teriakan yang dicekik di tengah
jalan. Yang ketiga adalah suara pintu kayu dibanting dengan keras sekali,
sampai gema suaranya memantul di antara bukit-bukit.
Penduduk desa keluar dari rumah mereka. Ada yang membawa
senter, ada yang hanya membawa lilin. Mereka berkumpul di bawah balai desa,
saling bertanya apa yang terjadi. Tapi tidak ada yang berani naik ke atas
bukit.
Tidak sampai pagi.
Pagi harinya, ketika matahari mulai naik dan kabut tipis
masih menyelimuti desa, beberapa orang pria dewasa naik ke rumah Pak Surya.
Mereka dipimpin oleh Pak Lurah, ditemani Pak RT dan beberapa pemuda desa yang
membawa parang dan golok.
2.
Misteri Rumah Tua di Ujung
Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi,
Rumah itu sunyi.
Pintu depan terbuka setengah. Di teras, sebuah cangkir kopi
tergeletak pecah, kopinya sudah mengering di lantai kayu. Tidak ada tanda-tanda
perkelahian, tidak ada darah, tidak ada kekacauan.
Tapi Pak Surya dan istrinya tidak ada di mana-mana.
Mereka mencari di setiap sudut rumah. Di dapur, mereka
menemukan panci berisi sayur yang masih utuh di atas tungku, kayu bakarnya
sudah habis terbakar jadi abu. Di kamar tidur, tempat tidur masih rapi, tidak
seperti baru dipakai tidur. Di ruang tengah, sebuah buku pelajaran terbuka di
meja, seolah Pak Surya baru saja membacanya.
Tapi manusia yang punya rumah itu hilang.
"Ada jejak di bawah rumah," kata salah satu
pemuda.
Semua orang turun dan mengikuti arah telunjuk pemuda itu.
Di tanah lembap di bawah rumah panggung, ada jejak kaki. Banyak jejak kaki.
Tapi yang paling aneh adalah jejak kaki yang paling besar—ukuran sepatu 43 atau
44—yang berjalan mundur dari bawah rumah menuju ke arah hutan di belakang.
"Kenapa jejaknya mundur?" bisik salah satu warga.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Mereka mengikuti jejak itu sampai ke tepi hutan, lalu
jejaknya menghilang. Di tempat jejak itu berakhir, ada lingkaran tanah hangus
selebar satu meter, seperti bekas terbakar. Tapi tidak ada api di sekitarnya,
tidak ada ranting atau daun yang terbakar.
Sejak hari itu, rumah di ujung desa itu tidak pernah
ditinggali lagi. Semua warga sepakat—ada sesuatu di rumah itu. Sesuatu yang
menyeramkan. Sesuatu yang membuat seorang guru dan istrinya lenyap tanpa jejak
di malam hujan deras.
Rumah itu dibiarkan kosong. Puluhan tahun.
Dan rahasia tentang malam itu tidak pernah diceritakan
lagi.
Tidak pernah, sampai sekarang.
3.
Mesteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan
Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
BAGIAN I
DESA DAN RUMAH YANG DILUPAKAN
Matahari baru saja naik setinggi pohon kelapa ketika mobil
travel tua berwarna biru memasuki jalan desa yang berbatu. Di dalamnya, duduk
seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun dengan mata yang masih sayu karena
perjalanan delapan jam dari Jakarta. Raka, nama remaja itu, menempelkan
wajahnya ke kaca jendela mobil, mencoba melihat desa yang akan menjadi rumahnya
untuk waktu yang tidak dia ketahui berapa lama.
"Raka, kita sudah sampai," kata ibunya dari kursi
depan. Bu Sari, wanita berusia 42 tahun dengan rambut yang mulai banyak uban,
menoleh ke belakang dan tersenyum lelah.
Raka hanya mengangguk. Dia tidak punya semangat untuk
tersenyum. Bagaimana bisa semangat? Dua minggu lalu dia masih duduk di kelas 10
SMA favorit di Jakarta. Dia punya teman-teman, punya tim futsal, punya gadis
yang diam-diam dia sukai di kelas sebelah. Sekarang? Sekarang dia akan tinggal
di desa yang bahkan tidak pernah dia dengar namanya: Desa Tanah Lenyap.
"Nama desanya aneh banget, Ma," gumam Raka.
"Tanah Lenyap. Kayak judul film horor."
"Ibu juga baru tahu namanya kemarin," jawab Bu
Sari sambil mengatur tasnya. "Tapi ini desa kelahiran nenek kamu.
Seharusnya kamu bangga bisa pulang ke kampung halaman."
"Bangga apanya? Semua teman-teman aku di Jakarta main
Playstation, nonton bioskop, nongkrong di mal. Di sini paling nongkrong di
sawah."
Bu Sari ingin menjawab, tapi mobil travel berhenti
mendadak. Supirnya, seorang bapak-bapak paruh baya dengan kumis tebal, menengok
ke belakang.
"Nek, Pak, ini sudah sampai di perbatasan desa,"
katanya dengan logat Jawa yang kental. "Mobil saya nggak bisa masuk ke
dalam. Jalanannya terlalu kecil. Kalau Bapak-Ibu mau, bisa jalan kaki atau cari
ojek."
Raka membuka pintu mobil dan melompat turun. Matanya
langsung menyipit kena sinar matahari pagi yang cukup terik. Dia melihat
sekeliling: di depan mereka ada papan kayu besar yang bertuliskan "SELAMAT
DATANG DI DESA TANAH LENYAP" dengan cat yang sudah mengelupas di
sana-sini. Di bawah tulisan itu, ada tulisan kecil yang hampir tidak terbaca:
"Dengan Segenap Hati Menerima Tamu, Dengan Segenap Ingatan Menjaga
Rahasia".
"Itu tulisan apa, Ma?" tanya Raka, menunjuk papan
itu.
4. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Bu Sari membaca tulisan kecil itu, lalu mengernyitkan dahi.
"Ibu juga tidak tahu. Mungkin motto desa."
Supir travel membantu menurunkan dua koper besar dari
bagasi. Dia melihat ke arah papan itu sebentar, lalu berkata pelan,
"Hati-hati ya, Nek, Pak. Desa ini... desa yang aneh."
"Maksudnya?" tanya Bu Sari cepat.
Supir itu mengangkat bahu. "Saya cuma sopir. Tapi
setiap kali saya antar orang ke sini, saya nggak pernah masuk. Penumpang saya
selalu minta diturunkan di sini. Katanya, warga desa nggak suka ada mobil asing
masuk." Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan,
"Apalagi malam hari. Kata orang, di desa ini, yang hidup dan yang mati
jalannya sama-sama."
Raka merasa bulu kuduknya meremang. Dia menoleh ke arah
jalan desa yang membentang di depan mereka. Jalan itu hanya selebar dua meter,
tanah merah dengan kerikil-kerikil kecil, diapit oleh sawah di kiri dan kanan.
Di kejauhan, terlihat atap-atap rumah penduduk yang masih beratapkan genteng
tanah liat. Di ujung jalan, di atas bukit kecil, samar-samar terlihat sebuah
bangunan besar yang menjulang di antara pepohonan.
"Itu apa?" tanya Raka sambil menunjuk ke arah
bukit.
Supir travel mengikuti arah jari Raka. Wajahnya berubah.
"Itu? Itu rumah tua. Rumah yang nggak pernah ditinggali orang sejak...
sejak lama."
"Kenapa?"
"Raka, jangan tanya terus," potong Bu Sari.
"Ayo kita jalan. Lihat, di sana ada ojek."
Raka tidak segera bergerak. Matanya masih tertuju pada
rumah di atas bukit itu. Dari kejauhan, rumah itu terlihat besar dan gelap,
meskipun matahari bersinar terang. Dinding kayunya yang dulunya mungkin berwarna
cokelat tua sekarang hampir hitam dimakan usia. Jendela-jendelanya seperti
mata-mata yang kosong, menatap ke arah desa tanpa berkedip. Di sekeliling rumah
itu, pohon-pohon beringin tua tumbuh rapat, akar-akarnya yang besar menjuntai
ke bawah seperti tangan-tangan yang siap mencengkeram.
"Mas!" panggil Bu Sari. "Mas Raka!
Ayo!"
Raka mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju ibunya
yang sudah berbicara dengan dua orang tukang ojek. Tapi di dalam hatinya, ada
rasa penasaran yang mulai tumbuh. Rumah di atas bukit itu—kenapa terlihat
begitu menakutkan tapi sekaligus menarik perhatian?
5. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Perjalanan menuju rumah neneknya hanya memakan waktu
sepuluh menit dengan ojek. Sepanjang jalan, Raka melihat penduduk desa yang
sedang beraktivitas: petani yang membawa cangkul, ibu-ibu yang menjemur padi di
halaman, anak-anak kecil yang bermain di pinggir sawah. Mereka semua berhenti
dan menatap ketika Raka lewat.
Bukan tatapan biasa. Tatapan itu panjang, seperti orang
yang baru pertama kali melihat alien. Beberapa dari mereka bahkan
berbisik-bisik satu sama lain, menutup mulut dengan tangan.
"Mereka kok pada liatin kita, Ma?" bisik Raka
dari belakang ibunya.
Bu Sari, yang duduk di ojek di depan Raka, menoleh setengah
badan. "Mungkin mereka heran lihat orang baru. Di desa kecil begini, semua
orang pasti tahu kalau ada pendatang."
Tapi Raka tidak yakin. Ada sesuatu di tatapan mereka yang
membuatnya tidak nyaman. Seperti mereka sedang menilai, atau... seperti mereka
tahu sesuatu yang tidak dia ketahui.
Ojek berhenti di depan sebuah rumah panggung kayu yang
tidak terlalu besar tapi terlihat cukup terawat. Di halaman depannya, ada pohon
mangga besar yang sedang berbuah. Di bawah pohon itu, duduk seorang nenek tua
di kursi rotan, sedang mengupas singkong.
"Nek!" seru Bu Sari, buru-buru turun dari ojek
dan berlari memeluk nenek itu.
Nenek itu—nenek Raka—tersenyum lebar, memperlihatkan
giginya yang tinggal beberapa. "Sari! Akhire kowe teka!" (Sari! Akhirnya
kamu datang!)
Raka turun dari ojek dan mendekat dengan langkah ragu.
Neneknya menoleh dan memandangnya dengan mata yang masih tajam meskipun usianya
sudah 78 tahun. Matanya berbinar.
"Lha iki Raka? Wis gedhe tenan!" (Ini Raka? Sudah
besar sekali!)
Raka tersenyum canggung. "Iya, Nek."
Neneknya menarik tangannya dan menuntunnya masuk ke dalam
rumah. Di dalam, rumah itu sederhana: ruang tamu dengan beberapa kursi bambu,
ruang tengah dengan meja makan kecil, dan tiga kamar tidur. Dindingnya dari
papan kayu, lantainya dari semen yang diplester halus. Di dinding ruang tamu,
ada foto hitam putih besar seorang pria tua dengan kumis tebal—kakek Raka yang
sudah meninggal sepuluh tahun lalu.
"Nek, kenapa nama desa ini Tanah Lenyap?" tanya
Raka tiba-tiba.
6. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Neneknya yang sedang menuang air teh berhenti sejenak. Dia
tidak menoleh, tetap fokus pada teko di tangannya, tapi Raka bisa melihat
bahunya menegang.
"Jeneng desa iki wis ana wiwit jaman biyen,"
jawab neneknya akhirnya, suaranya datar. "Ceritane wis lali." (Nama
desa ini sudah ada sejak zaman dulu. Ceritanya sudah lupa.)
"Tapi kata teman-teman di Jakarta, desa ini
angker," desak Raka. "Itu rumah di atas bukit, kenapa nggak
dipake?"
Tangan neneknya sedikit gemetar saat meletakkan teko. Dia
menoleh perlahan, menatap Raka dengan mata yang tiba-tiba menjadi serius.
"Omah kuwi... omah sing ora kena dicedhaki."
(Rumah itu... rumah yang tidak boleh didekati.)
"Kenapa, Nek?"
Neneknya menarik napas panjang. Dia duduk di kursi bambu,
mengambil gelas teh untuk dirinya sendiri, lalu berkata, "Mbiyen, ana wong
ilang ing omah kuwi. Wong pinter, guru. Bareng bojone. Ilang tanpa tilas. Ora
ketemu nganti saiki." (Dulu, ada orang hilang di rumah itu. Orang pintar,
guru. Bersama istrinya. Hilang tanpa bekas. Tidak ketemu sampai sekarang.)
"Polisinya nggak nyari, Nek?"
"Nggoleki. Nanging ora ketemu." (Mencari. Tapi
tidak ketemu.)
"Terus kenapa rumahnya nggak dibongkar aja?"
Neneknya diam lama sekali. Matanya menatap ke luar jendela,
ke arah bukit di ujung desa yang sekarang mulai tertutup kabut tipis.
"Amarga... saben wengi, ana cahya saka omah
kuwi." (Karena... setiap malam, ada cahaya dari rumah itu.)
Raka merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
"Cahaya?"
"Cahya cilik. Ing jendela ndhuwur. Wong-wong nyebut...
lampune wong ilang." (Cahaya kecil. Di jendela atas. Orang-orang
menyebut... lampunya orang hilang.)
"Tapi Nek, itu pasti cuma lampu dari orang yang lewat
atau—"
"Cahya kuwi wis ana pirang-pirang puluh taun. Ora tau
mati. Ora tau owah." (Cahaya itu sudah ada puluhan tahun. Tidak pernah
mati. Tidak pernah berubah.)
7. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Udara di ruangan itu terasa tiba-tiba dingin. Raka ingin bertanya
lebih banyak, tapi Bu Sari masuk dari dapur dengan sepiring gorengan.
"Raka, kamu bikin Nek repot. Nek, jangan didengerin
omongannya. Anak kota, banyak tanya."
Neneknya tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
"Bocah kuwi pinter. Kudu ngerti bab desane dhewe." (Anak itu pintar.
Harus tahu tentang desanya sendiri.)
Malam itu, Raka tidur di kamar yang dulu dipakai ibunya
waktu kecil. Kamar itu kecil, hanya cukup untuk satu tempat tidur dan satu
lemari kayu. Tapi ada satu hal yang membuat Raka tidak bisa tidur: dari jendela
kamarnya, dia bisa melihat langsung ke arah bukit di ujung desa.
Rumah tua itu terlihat jelas di bawah sinar bulan.
Dan di jendela atas rumah itu, ada cahaya kecil yang
berkedip-kedip.
Pagi di desa ternyata lebih berisik daripada di kota. Bukan
karena suara kendaraan atau musik dari kafe, tapi karena suara ayam berkokok,
burung-burung yang bernyanyi, dan yang paling keras: suara neneknya yang sudah
mulai menumbuk bumbu dapur sejak jam lima pagi.
Raka menggeliat di tempat tidurnya. Dia membuka mata dan
langsung menoleh ke jendela. Di luar, matahari baru saja naik. Kabut tipis
masih menyelimuti sawah-sawah. Dan di kejauhan, rumah tua itu masih berdiri
dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa tadi malam.
Cahaya di jendelanya sudah tidak ada.
"Mungkin mimpi," gumam Raka pada dirinya sendiri.
Tapi dia tahu itu bukan mimpi. Dia memang melihat cahaya itu. Sekecil lampu
senter, berkedip-kedip seperti ada yang memberi kode.
"Raka! Tangi! Wis jam nem!" (Raka! Bangun! Sudah
jam enam!) teriak neneknya dari dapur.
Raka bangun dengan malas, mandi dengan air sumur yang
dinginnya minta ampun, lalu sarapan nasi pecel buatan neneknya yang enaknya
luar biasa. Sambil makan, dia memperhatikan neneknya yang sibuk di dapur.
"Nek, tadi malam aku lihat cahaya dari rumah tua
itu," katanya santai, mencoba tidak terdengar terlalu serius.
Neneknya berhenti mencuci piring. Tapi hanya sebentar, lalu
melanjutkan lagi.
"Wis biyasa. Wong-wong kene wis ora nggatekake."
(Sudah biasa. Orang sini sudah tidak memperhatikan.)
8. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Tapi Nek, kalau cahaya itu sudah ada puluhan tahun,
berarti di sana ada orang, dong? Mungkin ada orang tinggal di sana?"
"Ora ana wong edan sing arep manggon ing omah
kuwi." (Tidak ada orang gila yang mau tinggal di rumah itu.)
"Nek sendiri pernah ke sana?"
Neneknya tidak menjawab. Tangan kirinya yang memegang
piring sedikit gemetar. Piring itu hampir jatuh tapi dia berhasil menahannya.
"Nek?"
"Wis, Raka. Aja takon-takon bab omah kuwi."
(Sudah, Raka. Jangan tanya-tanya soal rumah itu.) Neneknya berbalik, matanya
tiba-tiba berkaca-kaca. "Omah kuwi... mung nekakake kasusahan."
(Rumah itu... hanya membawa kesusahan.)
Raka ingin mendesak, tapi melihat neneknya seperti itu, dia
memilih diam. Dia menghabiskan sarapannya dalam hati yang tidak tenang.
Setelah sarapan, Raka memutuskan untuk jalan-jalan keliling
desa. Ibunya sedang membantu neneknya membereskan rumah, jadi dia bebas keluar.
Dia berjalan menyusuri jalan setapak di antara sawah, mengamati kehidupan desa
yang damai. Petani dengan topi capingnya sedang mencangkul, anak-anak kecil
bermain layangan di lapangan, ibu-ibu mencuci di sungai.
Semua terlihat normal.
Tapi di mana-mana, rumah tua di atas bukit selalu terlihat.
Dari mana pun dia berdiri di desa itu, bukit dengan rumah tuanya selalu ada di
ujung pandangan, seperti pengawas diam yang tidak pernah tidur.
Di tengah perjalanannya, Raka bertemu dengan seorang anak
laki-laki seumurannya yang sedang duduk di pinggir sawah sambil memancing. Anak
itu berkulit sawo matang, rambutnya ikal, matanya sipit. Dia memakai kaos
oblong lusuh dan celana pendek yang sudah sobek di lutut.
"Hei," sapa Raka.
Anak itu menoleh, matanya membelalak melihat Raka.
"Lho, wong anyar!" katanya kaget. "Kowe saka ngendi?" (Kamu
dari mana?)
"Jakarta. Namaku Raka. Kamu siapa?"
9. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Joko. Wong kene asli." (Joko. Orang sini asli.)
Joko mematikan pancingannya dan berdiri. Dia mengamati Raka dari ujung rambut
sampai ujung kaki. "Jakarta? Adoh tenan. Kowe nginep neng endi?"
(Jakarta? Jauh sekali. Kamu nginep di mana?)
"Nggak nginep, tinggal. Di rumah nenekku, Mbah
Wati."
Wajah Joko berubah. "Mbah Wati? Kuwi sing duwe warung
kopi neng pinggir kali?" (Itu yang punya warung kopi di pinggir kali?)
"Iya. Kamu kenal?"
"Sapa wong kene sing ora kenal Mbah Wati?" (Siapa
orang sini yang tidak kenal Mbah Wati?) Joko mendekat, suaranya menurun.
"Mbah Wati kuwi... sakwise ditinggal bojone, dheweke dadi rada... mbuh ya.
Wong kene ngomong, Mbah Wati tau weruh soko ing omah tua." (Mbah Wati
itu... setelah ditinggal suaminya, dia jadi agak... entahlah. Orang sini
bilang, Mbah Wati pernah melihat sesuatu di rumah tua.)
Raka merasa bulu kuduknya berdiri. "Melihat apa?"
Joko menggeleng. "Ora ono sing ngerti. Mbah Wati ora
tau crita. Tapi sakwise kuwi, dheweke ora tau gelem nyedhak omah tua
maneh." (Tidak ada yang tahu. Mbah Wati tidak pernah cerita. Tapi setelah
itu, dia tidak pernah mau mendekati rumah tua lagi.)
Raka ingin bertanya lebih banyak, tapi tiba-tiba dia
teringat sesuatu. "Joko, malam-malam, kamu pernah lihat cahaya di rumah
tua itu?"
Untuk beberapa detik, Joko tidak menjawab. Matanya menatap
ke arah bukit. Lalu dia mengangguk pelan.
"Kabeh wong kene tau weruh." (Semua orang sini
pernah lihat.)
"Terus? Kalian nggak penasaran?"
Joko tertawa, tapi tawanya getir. "Penasaran?
Wong-wong sing penasaran karo omah kuwi... ilang. Kaya guru biyen."
(Penasaran? Orang-orang yang penasaran dengan rumah itu... hilang. Seperti guru
dulu.)
"Ilang gimana maksudmu?"
"Ilang. Ora ono. Kaya ditelen bumi." (Hilang.
Tidak ada. Seperti ditelan bumi.)
Raka merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia melihat ke
arah rumah tua itu lagi.
10. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Di bawah sinar matahari pagi, rumah itu tidak terlihat
menyeramkan. Hanya tua dan kosong. Tapi kenapa semua orang ketakutan?
"Joko," kata Raka tiba-tiba. "Kamu berani
nggak kalau diajak ke sana?"
Joko menatapnya tidak percaya. "Kowe edan? Omah kuwi
angker!"
"Aku nggak percaya hal-hal kayak gitu. Pasti ada
penjelasan logis untuk semua ini."
"Logis piye? Wong ilang tanpa tilas? Cahya sing urip
pirang-pirang puluh taun?" (Logis gimana? Orang hilang tanpa bekas? Cahaya
yang hidup puluhan tahun?) Joko menggeleng keras. "Aku ora gelem. Aku
wedi." (Aku tidak mau. Aku takut.)
Raka tersenyum. "Ya sudah. Nanti aku cari teman
lain."
Dia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Joko yang
masih terpaku di tempatnya. Tapi baru beberapa langkah, dia mendengar suara
Joko memanggil.
"Raka!"
Raka menoleh.
Joko berjalan mendekat, raut mukanya berubah. "Kowe
tenanan arep nyedhak omah kuwi?" (Kamu serius mau mendekati rumah itu?)
"Iya. Kenapa?"
Joko menghela napas panjang. "Yen kowe arep... aku
melu." (Kalau kamu mau... aku ikut.)
Raka terkejut. "Tadi kamu bilang takut."
"Takut iya. Tapi... aku wis bosen ndelok cahya kuwi
saben wengi tanpa ngerti apa sebabe." (Aku sudah bosan lihat cahaya itu
setiap malam tanpa tahu apa sebabnya.) Matanya berbinar. "Lan wong Jakarta
kaya kowe wani, mosok wong kene kalah?" (Dan orang Jakarta seperti kamu
berani, masa orang sini kalah?)
Raka tertawa. "Oke. Tapi jangan sekarang. Kita perlu
rencana."
"Rencana piye?"
"Kita perlu tahu dulu sejarah rumah itu. Siapa yang
punya, kenapa ditinggal, cerita hilangnya guru itu. Baru setelah itu kita cari
jalan masuk."
Joko mengangguk-angguk. "Bener uga." (Bener
juga.)
11. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Mereka berdua berjalan pulang bersama, melewati pematang
sawah yang sempit. Raka merasa senang—dia baru satu hari di desa, sudah punya
teman yang mau ikut petualangan gilanya. Tapi di balik rasa senang itu, ada
juga rasa takut yang dia pendam dalam-dalam.
Apa yang sebenarnya ada di rumah tua itu?
Dan kenapa cahaya di jendelanya selalu menyala setiap
malam?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergelayut di pikirannya
sepanjang perjalanan pulang.
Hari kedua di desa, Raka memutuskan untuk mencari informasi
sebanyak mungkin tentang rumah tua itu. Setelah sarapan, dia berpamitan pada
neneknya dengan alasan mau kenalan dengan anak-anak desa. Neneknya hanya
mengangguk, tapi matanya memperhatikan Raka dengan tajam seolah bisa membaca
pikirannya.
"Ati-ati, Raka. Desa iki... akeh rahasiane."
(Hati-hati, Raka. Desa ini... banyak rahasianya.)
Raka mengangguk cepat lalu bergegas keluar. Dia menemui
Joko di rumahnya yang ternyata hanya berjarak tiga rumah dari rumah neneknya.
Rumah Joko lebih sederhana, dinding anyaman bambu, lantai tanah yang
dipadatkan. Tapi halamannya bersih dan penuh dengan tanaman sayur.
"Joko! Ayo!" teriak Raka dari luar pagar.
Joko keluar dengan mulut masih mengunyah. "Wis?
Ayo!" (Sudah? Ayo!)
Mereka berjalan ke arah timur desa, ke sebuah lapangan
kecil di mana biasanya anak-anak desa bermain bola. Di sana sudah berkumpul
sekitar sepuluh anak laki-laki, usia sekitar 12 sampai 17 tahun. Mereka sedang
bermain sepak bola dengan bola plastik yang sudah tambal di sana-sini.
"Joko! Melu!" teriak salah satu dari mereka.
Joko melambaikan tangan. "Iki kancaku anyar! Raka saka
Jakarta!" (Ini teman baruku! Raka dari Jakarta!)
Semua anak berhenti bermain. Mereka mengelilingi Raka dan
Joko dengan rasa ingin tahu yang besar. Raka memperhatikan wajah-wajah
mereka—ada yang ramah, ada yang curiga, ada yang tertawa mengejek.
"Jakarta? Wah, wong kota!" kata seorang anak
gendut dengan rambut cepak. "Kok iso tekan kene?" (Kok bisa sampai
sini?)
"Pindah ikut ibu," jawab Raka singkat.
"Ngomong-ngomong, kalian main bola? Boleh ikut?"
12. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Mesti wae!" (Tentu saja!) sahut anak-anak itu
serempak.
Mereka bermain bola selama sekitar satu jam. Raka lumayan
bisa mengimbangi permainan mereka, meskipun lapangannya becek dan bolanya tidak
bundar sempurna. Setelah kelelahan, mereka duduk-duduk di bawah pohon beringin
besar di pinggir lapangan sambil minum air kelapa yang dibeli dari pedagang
keliling.
Suasana santai itu dimanfaatkan Raka untuk mulai bertanya.
"Teman-teman," katanya dengan suara santai.
"Aku dengar ada rumah tua di ujung desa. Rumah yang katanya angker. Itu
benar?"
Suasana langsung berubah. Anak-anak yang tadi tertawa riang
sekarang diam seribu bahasa. Mereka saling pandang, seperti takut menjadi orang
pertama yang berbicara.
"Lho, kenapa?" tanya Raka pura-pura bodoh.
"Aku cuma tanya."
Joko, yang duduk di samping Raka, mendorong punggungnya
pelan. "Tak kira kowe arep takon." (Sudah kuduga kamu mau tanya.)
Anak gendut tadi—namanya Bejo—mendesis pelan. "Omah
tua kuwi... aja dicedhaki, Raka." (Rumah tua itu... jangan didekati.)
"Kenapa? Ada hantunya?"
Bejo menggeleng. "Hantu? Hantu isih lumrah. Sing neng
omah kuwi... dudu hantu." (Hantu? Hantu masih biasa. Yang di rumah itu...
bukan hantu.)
Raka mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"
Bejo menurunkan suaranya sampai hampir berbisik.
"Bapakku tau crita. Sakdurunge guru ilang, omah kuwi tau ditinggali wong
sugih. Wong sugih sing aneh." (Bapakku pernah cerita. Sebelum guru hilang,
rumah itu pernah ditinggali orang kaya. Orang kaya yang aneh.)
"Aneh gimana?"
"Aneh... dheweke ora tau metu wayang awan. Mung metu
wayang wengi. Lan... saben bengi purnama, saka omah kuwi keprungu swara... kaya
wong nangis, nanging ora jelas." (Aneh... dia tidak pernah keluar waktu
siang. Hanya keluar waktu malam. Dan... setiap malam purnama, dari rumah itu
terdengar suara... seperti orang menangis, tapi tidak jelas.)
Bulu kuduk Raka meremang. "Terus orang kaya itu
sekarang di mana?"
13. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Ilang. Ujug-ujug ilang. Sakdurunge guru ilang."
(Hilang. Tiba-tiba hilang. Sebelum guru hilang.)
"Andi, kowe ngerti crita kuwi saka ngendi?" tanya
seorang anak kurus dengan kacamata tebal. "Aku tau krungu versi
liya." (Andi, kamu tahu cerita itu dari mana? Aku pernah dengar versi
lain.)
Semua mata menoleh ke anak berkacamata itu. Namanya Pras,
dia dikenal sebagai anak paling pintar di desa. Orang tuanya punya toko
kelontong, jadi dia punya akses ke koran dan buku-buku bekas.
"Versi piye, Pras?" tanya Joko.
Pras menggeser kacamatanya. "Menurut koran lawas sing
tau tak waca, guru sing ilang kuwi... ora mung guru biasa. Dheweke lagi
nggoleki soko. Soko sing ana gandhengane karo omah tua." (Menurut koran
lawas yang pernah kubaca, guru yang hilang itu... bukan hanya guru biasa. Dia
sedang mencari sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan rumah tua.)
"Nggoleki apa?" tanya Raka cepat.
Pras menggeleng. "Ora dijelaske. Tapi sing jelas...
sakdurunge ilang, guru kuwi tau ketemu karo lurah desa. Wong-wong krungu padha
bantah-bantahan." (Tidak dijelaskan. Tapi yang jelas... sebelum hilang,
guru itu pernah bertemu dengan lurah desa. Orang-orang dengar mereka
bertengkar.)
Suasana semakin mencekam. Bahkan angin yang bertiup terasa
lebih dingin dari sebelumnya.
"Pak Lurah?" ulang Joko tidak percaya.
"Lurah saiki?"
"Iya. Lurah sing saiki isih njabat. Bapake Pras."
(Iya. Lurah yang sekarang masih menjabat. Bapaknya Pras.)
Semua orang terkesiap. Mereka tahu Pak Lurah adalah ayah
Pras. Tapi Pras sendiri yang mengatakan itu berarti dia tahu sesuatu.
"Pras, kowe ngomong apa iki?" tanya Bejo dengan
suara gemetar. "Bapakmu... karo guru sing ilang?"
Pras menunduk. "Aku... aku ora ngerti crita jangkep.
Tapi bapak tau ngomong setengah sadar wayah mbengi. Dheweke ngomong, 'Surya,
aku ora sengaja. Aku ora sengaja.' Terus tangi lan kaget weruh aku
ngrungokake." (Aku... aku tidak tahu cerita lengkap. Tapi bapak pernah
bicara setengah sadar waktu malam. Dia bilang, 'Surya, aku tidak sengaja. Aku
tidak sengaja.' Lalu bangun dan kaget lihat aku mendengarkan.)
14. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Raka merasa kepalanya pusing. Ini terlalu banyak informasi.
Ada guru bernama Surya yang hilang. Ada orang kaya misterius sebelumnya. Ada
Pak Lurah yang mungkin terlibat. Dan semua berpusat pada rumah tua di ujung
desa.
"Pras," kata Raka perlahan. "Kamu tahu
nggak, nama lengkap guru yang hilang itu?"
Pras mengangguk. "Pak Surya. Pak Surya Pratama. Bojone
Bu Rina. Wong loro kuwi ilang bareng." (Pak Surya. Pak Surya Pratama.
Istrinya Bu Rina. Mereka berdua hilang bersama.)
Di luar lapangan, tiba-tiba terdengar suara orang
memanggil.
"Pras! Pras! Mulih!" (Pulang!)
Seorang wanita paruh baya berdiri di pinggir lapangan,
melambaikan tangan. Itu ibu Pras.
Pras berdiri, wajahnya pucat. "Aku tak mulih dhisik.
Ibu ngundang." (Aku pulang dulu. Ibu memanggil.) Dia berlari meninggalkan
lapangan, tidak menoleh ke belakang sedikit pun.
Anak-anak yang lain juga mulai gelisah. Satu per satu
mereka pamit pulang. Tinggal Raka dan Joko di bawah pohon beringin.
"Joko," kata Raka setelah semua pergi. "Kamu
percaya cerita Pras?"
Joko menghela napas panjang. "Aku... ora ngerti. Pras
kuwi bocah jujur. Ora tau goroh." (Aku... tidak tahu. Pras itu anak jujur.
Tidak pernah bohong.)
"Tapi kalau benar Pak Lurah terlibat, berarti ini
kasus besar."
"Iya. Kasus sing ditutup-tutupi puluhan taun."
(Kasus yang ditutup-tutupi puluhan tahun.)
Raka menatap ke arah bukit. Rumah tua itu terlihat
samar-samar di balik kabut sore yang mulai turun. Untuk pertama kalinya, dia
merasa ada sesuatu yang sangat gelap di balik dinding-dinding kayu yang lapuk
itu.
Sesuatu yang mungkin seharusnya tidak pernah ditemukan.
Tapi justru karena itu, dia semakin yakin harus mencari
tahu.
"Joko, besok kita mulai," katanya tegas.
"Kita kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Dari orang tua-tua di desa,
dari siapa pun yang mau bicara."
"Lan yen ora ana sing gelem ngomong?" (Dan kalau
tidak ada yang mau bicara?)
"Kita cari cara lain. Pasti ada."
15. Misteri Rumah Tua
di Ujng Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Malam itu, ketika Raka pulang ke rumah neneknya, dia
melihat neneknya duduk sendirian di teras, menatap ke arah bukit. Wajahnya
muram, seperti sedang mengingat sesuatu yang sangat menyakitkan.
"Nek," panggil Raka pelan.
Neneknya menoleh. "Wis mulih, Rak?"
Raka duduk di samping neneknya. Dia ingin bertanya, ingin
tahu apa yang neneknya lihat di rumah tua itu dulu. Tapi melihat raut wajah
neneknya, dia urung.
Mereka duduk bersama dalam diam. Angin malam berhembus
sejuk, membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kebun tetangga. Di
kejauhan, jangkrik-jangkrik mulai bernyanyi.
"Nek," kata Raka akhirnya. "Nek, apa Nek
pernah ke rumah tua itu?"
Lama neneknya tidak menjawab. Raka mengira neneknya tidak
akan menjawab. Tapi tiba-tiba, neneknya berkata dengan suara lirih.
"Pernah."
Raka menahan napas. "Kapan?"
"Sakdurunge bojomu ilang. Sakdurunge guru ilang."
(Sebelum suamimu hilang. Sebelum guru hilang.)
"Nek... Nek melihat apa di sana?"
Neneknya menoleh, menatap Raka dengan mata yang tiba-tiba
basah. "Aku... weruh soko sing ora kudune weruh. Soko sing... nganti saiki
isih ngganggu impenku." (Aku... melihat sesuatu yang tidak seharusnya
kulihat. Sesuatu yang... sampai sekarang masih mengganggu mimpiku.)
"Apa itu, Nek?"
Neneknya menggenggam tangan Raka erat-erat. Tangannya
keriput tapi kuat. "Raka, janji karo Nek. Aja nyedhak omah kuwi. Apa wae
sing mbok krungu, apa wae sing mbok weruh... aja nyedhak." (Raka, janji
sama Nek. Jangan mendekati rumah itu. Apa pun yang kamu dengar, apa pun yang
kamu lihat... jangan mendekat.)
Tapi Raka tidak bisa menjawab. Karena di dalam hatinya, dia
sudah memutuskan.
Dia akan mendekati rumah itu.
Dia akan mencari tahu rahasianya. Apa pun risikonya.
16. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Malam ketiga di desa, Raka tidak bisa tidur.
Bukan karena suara jangkrik atau kodok yang ribut di sawah.
Bukan karena tempat tidurnya yang keras atau bantalnya yang terlalu tinggi.
Tapi karena cahaya itu.
Dari jendela kamarnya, dia melihat cahaya di rumah tua itu
lebih terang dari biasanya. Biasanya hanya titik kecil yang berkedip-kedip,
seperti lampu senter yang kehabisan baterai. Tapi malam ini, cahayanya stabil,
terang, seperti bola lampu 40 watt.
Dan warnanya... aneh. Bukan kuning seperti lampu minyak,
bukan putih seperti lampu listrik. Tapi merah kekuningan, seperti warna api.
Raka duduk di tepi tempat tidurnya, jantungnya berdegup
kencang. Dia ingin membangunkan neneknya atau ibunya. Tapi untuk apa? Mereka
pasti akan menyuruhnya tidur dan tidak peduli.
Atau... mungkinkah mereka juga melihatnya? Mungkinkah
mereka juga gelisah?
Raka memutuskan untuk keluar.
Dia mengenakan jaket tipisnya, membuka pintu kamar
pelan-pelan, dan melangkah ke ruang tengah. Rumah neneknya gelap gulita, hanya
diterangi cahaya bulan yang masuk lewat jendela. Dia bisa mendengar dengkuran
halus ibunya dari kamar sebelah, dan dari kamar neneknya, tidak ada suara sama
sekali.
Sesampainya di teras depan, Raka berdiri mematung.
Cahaya di rumah tua itu sekarang lebih jelas. Bukan hanya
satu titik, tapi beberapa titik. Ada di jendela lantai dua, ada di jendela
lantai satu, dan satu lagi di... apa itu? Di halaman? Cahaya itu bergerak
perlahan, seperti seseorang berjalan dengan lentera.
Raka merasakan jantungnya hampir melompat keluar dari dada.
Ada orang di sana. Benar-benar ada orang.
Tanpa berpikir panjang, Raka melangkah turun dari teras.
Dia berjalan melewati halaman neneknya, melewati pagar bambu yang reyot, dan
mulai menyusuri jalan setapak menuju bukit.
"Raka!"
Suara bisikan keras menghentikannya.
Raka menoleh. Di balik pohon mangga di halaman tetangga,
sesosok bayangan melambai-lambai. Raka memicingkan mata. Sosok itu keluar dari
balik pohon—ternyata Joko.
17. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Kowe arep ngendi?" bisik Joko, matanya
membelalak.
Raka menunjuk ke arah bukit. "Ke sana. Lihat cahaya
itu."
Joko memegang lengan Raka erat-erat. "Kowe edan!
Wengi-wengi kaya ngene?" (Kamu gila! Malam-malam begini?)
"Cahayanya beda dari biasanya, Jok. Lihat sendiri. Ada
yang bergerak di halaman."
Joko menatap ke arah bukit. Matanya membelalak lebih lebar.
"Astaga... kuwi... kuwi wong?" (Astaga... itu... itu orang?)
"Aku nggak tahu. Makanya aku mau lihat."
"Raka, aja. Iki mbebayani." (Raka, jangan. Ini
berbahaya.)
"Berbahaya gimana? Kalau ada orang di sana, berarti
rumah itu tidak kosong. Berarti selama ini ada yang tinggal di sana diam-diam.
Kita harus tahu siapa."
Joko menggeleng keras. "Yen kuwi dudu wong? Yen
kuwi... memedi?" (Kalau itu bukan orang? Kalau itu... hantu?)
Raka tertawa kecil, meskipun sebenarnya dia juga takut.
"Hantu nggak bawa lampu, Jok. Hantu kan nggak butuh cahaya."
Logika Raka memang masuk akal, tapi Joko tetap tidak yakin.
Dia memandang ke arah rumah tua itu lagi, lalu ke arah Raka, lalu kembali ke
rumah tua.
"Aku... aku melu," katanya akhirnya dengan suara
bergetar.
"Beneran?"
"Iya. Nanging yen ana apa-apa, kowe sing tanggung
jawab." (Tapi kalau ada apa-apa, kamu yang tanggung jawab.)
"Deal."
Mereka berdua mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang
menanjak. Jalan itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang kadang tertutup
awan. Rumah-rumah penduduk yang mereka lewati sudah gelap semua, hanya sesekali
terdengar suara anjing menggonggong dari kejauhan.
Semakin dekat mereka ke bukit, semakin terasa udara dingin.
Bukan dingin biasa, tapi dingin yang menusuk sampai ke tulang, seperti masuk ke
ruang ber-AC setelah kepanasan. Raka menggigil, jaket tipisnya tidak cukup
menahan dingin.
18. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Raka... aku wedi tenan," bisik Joko, giginya
gemeletuk. (Raka... aku takut sekali.)
"Ssst... lihat."
Mereka berhenti di balik semak-semak besar, sekitar 50
meter dari pagar rumah tua. Dari sini, mereka bisa melihat halaman depan dengan
jelas.
Dan benar saja, ada seseorang di sana.
Sosok itu berjalan pelan di halaman, memegang sesuatu yang
bercahaya—mungkin lentera atau obor. Sosok itu tinggi kurus, berpakaian serba
hitam, dengan topi lebar yang menutupi wajahnya. Dia berjalan mondar-mandir di
halaman, seperti sedang mencari sesuatu.
"Kuwi wong tuwa apa enom?" bisik Joko.
"Entahlah. Nggak kelihatan."
Tiba-tiba, sosok itu berhenti. Dia menegakkan badannya,
lalu perlahan... perlahan... menoleh ke arah mereka.
Raka menahan napas. Joko memegang lengannya erat-erat
sampai sakit.
Wajah sosok itu tidak terlihat jelas karena topinya yang
lebar. Tapi di bawah topi itu, Raka bisa melihat dua titik cahaya—matanya—yang
bersinar merah redup di kegelapan.
Sosok itu menatap ke arah semak-semak tempat mereka
bersembunyi selama beberapa detik. Lalu, tanpa suara, dia berbalik dan masuk ke
dalam rumah. Pintu depan rumah tua itu terbuka dengan sendirinya, lalu tertutup
dengan bunyi "kletek" yang terdengar sampai ke tempat mereka.
Cahaya-cahaya di jendela padam satu per satu.
Gelap total.
Raka dan Joko tidak bergerak untuk waktu yang lama. Mereka
hanya duduk bersembunyi di balik semak, jantung berdegup kencang, napas
tertahan. Ketika akhirnya Raka berani bergerak, dia merasa kakinya lemas.
"Jok... kita... kita lihat itu, kan?" bisiknya.
Joko tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi di bawah sinar
bulan.
"Jok!"
19. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Joko tersentak. "Ya... ya... aku weruh." (Aku
lihat.)
"Mata itu... merah... kamu lihat?"
Joko mengangguk pelan. "Mata kuwi... dudu mata
manungsa." (Mata itu... bukan mata manusia.)
Mereka berdua terdiam. Angin malam bertiup lebih kencang,
membuat dedaunan di sekitar mereka bergemerisik seperti bisikan-bisikan
rahasia. Dari arah rumah tua, terdengar suara pintu dibuka lagi, lalu dibanting
keras.
Raka dan Joko spontan bangkit dan berlari
sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu. Mereka berlari menuruni bukit, melewati
jalan setapak yang gelap, melewati rumah-rumah penduduk yang tenang, sampai
akhirnya sampai di depan rumah nenek Raka.
"Raka... sesuk... sesuk aku arep crita nang
bapakku," kata Joko terengah-engah. "Iki wis keterlaluan."
(Besok... besok aku mau cerita sama bapakku. Ini sudah keterlaluan.)
"Jok, jangan dulu."
"Lho kok?"
"Kita belum tahu apa-apa. Kalau cerita ke orang tua,
mereka pasti akan melarang kita mendekat lagi. Padahal... kita harus cari
tahu."
Joko menatap Raka dengan pandangan tidak percaya.
"Kowe isih arep bali mrene? Sawise weruh kuwi?" (Kamu masih mau balik
ke sini? Setelah lihat itu?)
Raka menghela napas. Dia sendiri tidak tahu harus menjawab
apa. Di satu sisi, dia ketakutan setengah mati. Di sisi lain, rasa penasarannya
justru semakin besar.
Siapa orang itu?
Apa yang dia cari di halaman rumah tua?
Dan yang paling penting... kenapa matanya merah menyala?
"Jok, besok kita cari informasi dulu. Kita cari tahu
siapa saja yang pernah tinggal di rumah itu. Mungkin ada hubungannya dengan
orang yang kita lihat tadi."
Joko menggeleng pasrah. "Kowe ki... wong edan
tenan." (Kamu ini... orang gila sekali.)
Mereka berpisah dengan perasaan tidak tenang. Raka masuk ke
rumah neneknya dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkan siapa pun. Dia
merebahkan diri di tempat tidur, tapi matanya tidak bisa terpejam.
20. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Dari jendela kamarnya, dia melihat ke arah bukit. Rumah tua
itu sekarang gelap total, menyatu dengan kegelapan malam. Tapi di dalam
pikirannya, gambar mata merah menyala itu terus berulang.
Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini?
Dan kenapa semua orang sepertinya menyembunyikan sesuatu?
Keesokan paginya, Raka dibangunkan oleh suara ibunya yang
berteriak dari ruang tengah.
"Raka! Bangun! Ada tamu!"
Raka menggeliat malas. Matanya perih karena semalam
begadang. Dia baru tidur jam 3 pagi, itu pun tidak nyenyak karena terus-menerus
bermimpi aneh tentang mata merah dan rumah tua.
Setelah memakai kaos seadanya, dia keluar kamar dan
terkejut melihat siapa tamu itu. Di ruang tengah, duduk Joko dengan orang
tuanya—seorang bapak bertubuh kekar dengan kumis tebal yang pasti adalah
bapaknya Joko, dan seorang ibu yang mukanya mirip Joko.
Di samping mereka, duduk Pak Lurah—ayahnya Pras—dengan
seragam dinasnya. Pak Lurah adalah pria berusia sekitar 50 tahun, agak gemuk,
dengan mata yang tajam dan senyum yang selalu terkembang meskipun tidak sampai
ke mata.
"Selamat pagi, Raka," sapa Pak Lurah ramah.
Raka membalas salam dengan hati-hati. Dia langsung curiga.
Ada apa ini semua?
"Raka, Bapak Lurah mau bicara sama kamu," kata
ibunya dengan nada aneh—antara khawatir dan marah.
Pak Lurah tersenyum. "Santai saja, Bu. Saya hanya
ingin kenalan dengan anak baru di desa kita." Dia menoleh ke Raka.
"Kamu Raka, ya? Anaknya Bu Sari, cucunya Mbah Wati. Selamat datang di desa
kami."
"Terima kasih, Pak Lurah."
"Bagaimana? Betah di sini?"
Raka mengangkat bahu. "Betah, Pak. Desa nyaman."
Pak Lurah mengangguk puas. "Bagus, bagus. Saya senang
dengar itu. Kamu pasti sudah punya teman baru, ya? Joko ini, misalnya?"
Raka melirik Joko. Joko hanya menunduk, tidak berani
menatapnya.
21. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Iya, Pak. Joko teman baik saya."
"Bagus. Tapi..." Pak Lurah berhenti sebentar,
senyumnya sedikit memudar. "Saya dengar dari orang tua Joko, kalian berdua
semalam... pergi ke suatu tempat?"
Raka merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Jadi ini
masalahnya. Joko sudah cerita.
"Nggak, Pak. Kami cuma jalan-jalan."
Pak Lurah terkekeh. "Jalan-jalan jam 12 malam? Ke arah
bukit?" Matanya sekarang tajam menusuk. "Raka, saya sudah jadi lurah
di desa ini selama 20 tahun. Tidak ada yang terjadi di desa ini tanpa saya
tahu."
Raka diam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Raka," bapaknya Joko angkat bicara, suaranya
berat. "Joko crita, kowe ngajak dheweke nyedhak omah tua. Kuwi
mbebayani." (Raka, Joko cerita, kamu ajak dia mendekati rumah tua. Itu
berbahaya.)
"Maaf, Pak. Tapi saya hanya penasaran. Saya lihat ada
cahaya—"
"Cahaya kuwi wis ana puluhan taun," potong Pak
Lurah. "Ora ana sing ngerti saka ngendi asale. Wong-wong kene wis biasa.
Sing penting, aja nyedhak." (Cahaya itu sudah ada puluhan tahun. Tidak ada
yang tahu dari mana asalnya. Orang-orang sini sudah biasa. Yang penting, jangan
mendekat.)
"Tapi kenapa, Pak? Kenapa tidak boleh?"
Pak Lurah dan bapaknya Joko saling pandang. Ibunya Raka
yang dari tadi diam, sekarang berkata, "Raka, jangan membantah. Kalau
Bapak Lurah bilang tidak boleh, ya tidak boleh."
"Tapi aku cuma mau tahu—"
"Raka!" suara ibunya keras. "Cukup!"
Suasana hening. Raka merasa kesal sekaligus malu dimarahi
di depan orang banyak. Dia memilih diam, tapi di dalam hatinya, api penasaran
justru semakin berkobar.
Pak Lurah berdiri, merapikan seragamnya. "Sudahlah, Bu
Sari. Mungkin Raka belum tahu adat di desa kita. Anak muda memang penasaran,
itu wajar. Tapi tolong diingatkan, Raka: rumah tua itu bukan tempat main-main.
Banyak orang sudah jadi korban karena terlalu penasaran." Dia menatap Raka
lekat-lekat. "Jangan sampai kamu jadi korban berikutnya."
22. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Setelah Pak Lurah dan keluarga Joko pergi, Raka duduk di
ruang tengah dengan perasaan kesal.
Ibunya duduk di depannya, menatapnya dengan mata kecewa.
"Raka, Ibu pindah ke sini supaya kamu punya hidup yang
lebih tenang. Jauh dari pergaulan jelek di Jakarta. Tapi kamu malah cari
masalah."
"Aku nggak cari masalah, Ma. Aku cuma penasaran."
"Penasaran apa? Sama rumah tua? Itu rumah angker, Nak.
Banyak cerita seram tentang itu."
"Cerita apa? Cerita orang hilang? Cerita cahaya
misterius? Itu semua pasti ada penjelasan logisnya."
Bu Sari menghela napas panjang. "Kadang... nggak semua
hal perlu dijelaskan secara logis, Raka. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan
saja."
"Seperti rahasia yang ditutup-tutupi puluhan
tahun?"
Ibunya menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"
Raka diam. Dia hampir mengatakan tentang keterlibatan Pak
Lurah, tentang guru yang hilang, tentang semua yang dia dengar dari Pras dan
Joko. Tapi sesuatu menahannya.
"Nggak, Ma. Lupakan."
Raka bangkit dan masuk ke kamarnya. Dia merebahkan diri di
tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu.
Dia tahu ibunya hanya ingin melindunginya. Tapi justru
perlindungan itulah yang membuatnya semakin penasaran. Kalau tidak ada yang
berbahaya di rumah tua itu, kenapa semua orang berusaha keras menjauhkannya
dari sana?
Sore harinya, Joko datang ke rumah nenek Raka dengan wajah
bersalah.
"Raka, maaf, ya. Aku... aku wedi, terus crita nang
bapakku. Ora nyangka bapakku langsung lapor lurah." (Raka, maaf, ya.
Aku... aku takut, terus cerita sama bapakku. Tidak nyangka bapakku langsung
lapor lurah.)
Raka mengangkat bahu. "Nggak apa-apa. Memang
seharusnya kamu cerita."
"Kowe... nesu?" (Kamu marah?)
"Jengkel, sih. Tapi sama orang tuaku, bukan sama
kamu."
23. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Joko duduk di samping Raka di teras. Mereka berdua menatap
langit sore yang mulai jingga.
"Raka, piye saiki? Isih arep nerusake?" (Raka,
bagaimana sekarang? Masih mau nerusin?)
Raka tidak segera menjawab. Dia memikirkan kata-kata Pak
Lurah tadi pagi, kata-kata ibunya, dan juga ketakutan di mata Joko semalam.
"Aku... nggak tahu, Jok. Di satu sisi, aku takut. Di
sisi lain, aku nggak bisa berhenti mikirin apa yang kita lihat semalam. Mata
merah itu... bukan efek cahaya, kan? Beneran merah?"
Joko menggigil. "Aku... aku ora ngerti. Sing tak
ngerteni, mripat kuwi mandeng langsung marang kita." (Aku... aku tidak
tahu. Yang aku tahu, mata itu menatap langsung ke kita.)
"Terus? Dia cuma masuk ke rumah dan nggak
ngapa-ngapain kita?"
"Iya. Aneh, ya?"
Raka mengangguk. Itu yang paling aneh. Kalau sosok itu
ingin menangkap mereka atau menakuti mereka, dia pasti sudah melakukannya
semalam. Tapi dia hanya menatap, lalu masuk ke rumah, lalu memadamkan lampu.
Seperti... dia tidak ingin diganggu, tapi juga tidak ingin
menyakiti.
Atau mungkin, dia sedang menunggu sesuatu?
Menunggu mereka kembali?
"Jok, kita harus cari tahu lebih banyak," kata
Raka tiba-tiba.
Joko menatapnya dengan pandangan
"aku-tahu-kamu-bakal-bilang-gitu". "Piye carane? Wong saiki wae
bapak-bapak wis padha ngerti lan ngawasi." (Bagaimana caranya? Orang
sekarang saja bapak-bapak sudah tahu dan mengawasi.)
"Kita cari cara lain. Kita cari orang yang tahu banyak
tentang rumah itu tapi mau bicara."
"Sapa? Kabeh wong kene wedi." (Siapa? Semua orang
sini takut.)
Raka berpikir keras. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Nenekku."
"Mbah Wati?"
"Iya. Kemarin dia bilang pernah ke rumah itu. Dia
melihat sesuatu di sana. Mungkin dia mau cerita kalau kita minta
baik-baik."
24. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Joko ragu. "Mbah Wati kuwi... wong tuwa sing pendiem.
Ora tau crita bab omah tua. Nek ba pakku wae ngomong, Mbah Wati kuwi wong sing
paling ngerti nanging paling ora gelem crita." (Mbah Wati itu... orang tua
yang pendiam. Tidak pernah cerita soal rumah tua. Kata bapakku, Mbah Wati itu
orang yang paling tahu tapi paling tidak mau cerita.)
"Coba dulu. Nggak ada salahnya."
Malam itu, setelah makan malam, Raka mendekati neneknya
yang sedang duduk di teras sambil menikmati angin malam.
"Nek, aku boleh duduk di sini?"
Neneknya menepuk kursi di sampingnya. "Lungguh, Rak."
(Duduk, Rak.)
Mereka duduk bersama dalam diam untuk beberapa saat. Raka
memperhatikan neneknya yang menatap ke arah bukit, ke rumah tua yang sekarang
mulai terlihat samar-samar di bawah sinar bulan sabit.
"Nek," Raka memulai dengan hati-hati. "Aku
mau tanya sesuatu."
"Takon apa?"
"Tentang rumah tua itu. Nek bilang pernah ke sana. Nek
lihat sesuatu. Apa yang Nek lihat?"
Lama neneknya tidak menjawab. Raka mengira neneknya akan
marah atau menyuruhnya diam. Tapi tidak. Neneknya justru menarik napas panjang,
lalu berkata dengan suara lirih.
"Kowe tenanan arep krungu critaku?" (Kamu sungguh
mau dengar ceritaku?)
"Tenan, Nek."
Neneknya menoleh, menatap Raka dengan mata yang dalam.
"Yen wis krungu... kowe ora bakal iso turu kepenak maneh." (Kalau
sudah dengar... kamu tidak akan bisa tidur nyenyak lagi.)
"Aku siap, Nek."
Neneknya tersenyum tipis. Senyum yang sedih. Lalu dia mulai
bercerita.
"35 taun kepungkur... bojoku, kakungmu, isih urip.
Wektu kuwi aku isih enom, umur 43 taun, sak umure ibu saiki." (35 tahun yang
lalu... suamiku, kakekmu, masih hidup. Waktu itu aku masih muda, umur 43 tahun,
seumur ibumu sekarang.)
Raka mendengarkan dengan saksama.
25. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Kakungmu kuwi... sopo ngerti, dheweke uga penasaran
karo omah tua. Ora percaya omah kuwi angker. Dheweke kerep ngomong, 'Omah kuwi
mung omah. Sing nggawe angker kuwi wong'e dhewe.'" (Kakekmu itu... siapa
sangka, dia juga penasaran dengan rumah tua. Tidak percaya rumah itu angker.
Dia sering bilang, 'Rumah itu hanya rumah. Yang bikin angker itu orangnya
sendiri.')
"Terus?"
"Suatu bengi, kakungmu ngajak aku mlebu omah kuwi.
Dheweke ngomong arep mbuktekake nang aku yen omah kuwi ora ana apa-apane."
(Suatu malam, kakekmu mengajak aku masuk rumah itu. Dia bilang mau membuktikan
ke aku kalau rumah itu tidak ada apa-apanya.)
Neneknya berhenti, matanya menerawang ke masa lalu.
"Aku wedi, nanging kakungmu nggandeng tanganku lan
ngomong, 'Aja wedi, aku nang kene.'" (Aku takut, tapi kakekmu menggandeng
tanganku dan bilang, 'Jangan takut, aku di sini.')
Raka merasa dadanya sesak. Dia bisa membayangkan kakeknya
yang tidak pernah dia kenal itu—pemberani, penuh percaya diri.
"Kita mlaku munggah menyang omah kuwi. Lawange ora
dikunci. Mbukak mung kudu didorong rada kenceng. Nalika mlebu... ambune anyir.
Ora anyir bangkai, nanging anyir kaya... kaya woh sing wis bosok nanging
dicampur kembang." (Kami berjalan naik ke rumah itu. Pintunya tidak
dikunci. Membuka hanya harus didorong agak keras. Ketika masuk... baunya anyir.
Bukan anyir bangkai, tapi anyir seperti... seperti buah yang sudah busuk tapi
dicampur bunga.)
Raka membayangkan bau itu dan hampir mual.
"Kakungmu nguripake senter. Kita mlebu ruang tamu,
ruang tengah, nganti tekan kamar-kamar. Ora ana apa-apa. Mung perabot lawas
sing wis ditutupi kain putih. Aku wiwit rada tenang." (Kakekmu menyalakan
senter. Kami masuk ruang tamu, ruang tengah, sampai ke kamar-kamar. Tidak ada
apa-apa. Hanya perabot lawas yang sudah ditutupi kain putih. Aku mulai agak tenang.)
"Terus?"
"Terus... kakungmu arep munggah tangga menyang lantai
ndhuwur. Nalika dheweke mlaku munggah... aku krungu swara." (Terus...
kakekmu mau naik tangga ke lantai atas. Ketika dia berjalan naik... aku dengar
suara.)
"Swara apa?" bisik Raka.
26. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Swara tangis. Tangis bayi. Saka lantai ndhuwur."
(Suara tangis. Tangis bayi. Dari lantai atas.)
Bulu kuduk Raka meremang. Dia merinding.
"Aku kandhani kakungku. Dheweke mandheg, ngrungokake.
Tangis kuwi isih ana. Terus... mandheg. Banjur swara liyane: swara uwong mlaku
alon-alon ing lantai ndhuwur." (Aku beri tahu kakekmu. Dia berhenti,
mendengarkan. Tangis itu masih ada. Lalu... berhenti. Lalu suara lain: suara
orang berjalan pelan-pelan di lantai atas.)
"Kakek... apa yang beliau lakukan?"
"Kakungku... dheweke tetep munggah. Ora wedi. Aku
nangis, njaluk mudhun. Nanging dheweke tetep mlebu." (Kakekmu... dia tetap
naik. Tidak takut. Aku menangis, minta turun. Tapi dia tetap naik.)
Neneknya berhenti. Tangannya gemetar. Raka memegang tangan
neneknya, mencoba menenangkan.
"Dheweke mlebu kamar sing swarane saka kono. Aku
ngenteni ing ngisor, ora wani munggah. Krungu dheweke mbukak lawang...
banjur... meneng. Sepi banget." (Dia masuk kamar yang suaranya dari sana.
Aku menunggu di bawah, tidak berani naik. Dengar dia buka pintu... lalu...
diam. Sepi sekali.)
"Kakek?"
"Sawise sawetara wektu, aku krungu dheweke ngomong,
'Sapa kowe?' Banjur swara liyane. Swara wong lanang sing serak, ngomong, 'Kowe
sing kudu lunga.' Banjur... teriakan kakungku. Lan aku mlayu metu."
(Setelah beberapa waktu, aku dengar dia bilang, 'Kamu siapa?' Lalu suara lain.
Suara laki-laki yang serak, bilang, 'Kamu yang harus pergi.' Lalu... teriakan
kakekku. Dan aku lari keluar.)
Raka merasa jantungnya berhenti berdetak. "Kakek...
meninggal?"
Neneknya menggeleng pelan. "Ora. Dheweke metu saka
omah kuwi kira-kira 10 menit sakwise aku mlayu. Metu karo mlayu, langsung
diglandeng aku mulih. Ora tau crita apa sing dideleng ing ndhuwur."
(Tidak. Dia keluar dari rumah itu kira-kira 10 menit setelah aku lari. Keluar
sambil lari, langsung aku gandeng pulang. Tidak pernah cerita apa yang dilihat
di atas.)
"Sampe nggak pernah nanya?"
"Nate. Nanging dheweke mung meneng lan mripate dadi
kosong. Ora gelem ngomong bab kuwi nganti seda."
27. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
(Pernah. Tapi dia hanya diam dan matanya jadi kosong. Tidak
mau bicara soal itu sampai meninggal.)
Raka terdiam, mencerna semua informasi itu. Jadi kakeknya
juga pernah mengalami kejadian aneh di rumah tua itu. Dan sampai meninggal, dia
tidak pernah mau menceritakannya.
"Nek, Nek percaya omah kuwi angker?"
Neneknya menatap Raka lama. "Aku ora ngerti angker apa
ora. Sing tak ngerteni, omah kuwi... ana sing njaga. Ana sing manggon ing kono,
senajan ora katon." (Aku tidak tahu angker atau tidak. Yang aku tahu,
rumah itu... ada yang menjaga. Ada yang tinggal di sana, meskipun tidak
terlihat.)
"Penjaga?"
"Iya. Penjaga rahasia. Rahasia sing nganti saiki
durung ana sing nemokake." (Penjaga rahasia. Rahasia yang sampai sekarang
belum ada yang menemukan.)
Malam itu, Raka tidur dengan pikiran penuh. Dia
membayangkan kakeknya yang pemberani, naik ke lantai atas rumah tua itu,
membuka pintu, dan melihat sesuatu—atau seseorang—yang membuatnya tidak pernah
mau bicara lagi sampai akhir hayat.
Apa yang dilihat kakeknya?
Dan siapa penjaga rahasia yang dimaksud neneknya?
Apakah penjaga itu adalah sosok bermata merah yang mereka
lihat semalam?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya
sampai akhirnya dia tertidur menjelang subuh.
Dua hari setelah kejadian malam itu, Raka dan Joko
memutuskan untuk mencari informasi dari sumber lain. Kalau orang dewasa tidak
mau bicara, mungkin anak-anak muda yang lebih terbuka. Atau setidaknya, mereka
bisa mencari petunjuk dari benda-benda peninggalan.
Pras, si anak berkacamata yang ayahnya adalah Pak Lurah,
menjadi target pertama mereka.
"Pras, kita perlu ngomong," kata Raka ketika
mereka bertemu di toko kelontong milik orang tua Pras.
Pras yang sedang membantu ibunya melayani pembeli, menoleh
dengan ragu. "Ngomong apa?"
"Tentang yang kamu ceritakan kemarin. Tentang
bapakmu."
28. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Mata Pras langsung berubah waspada. "Wis, lali wae.
Aku ora ngerti apa-apa." (Sudah, lupakan. Aku tidak tahu apa-apa.)
"Pras, please. Ini penting."
Ibunya Pras, Bu RT (karena suaminya lurah, dia otomatis
jadi ketua RT), mengamati mereka dari balik etalase. "Pras,
kanca-kancamu?" (Pras, teman-temanmu?)
"Iya, Bu."
"Ajak mlebu, ngombe dhisik." (Ajak masuk, minum
dulu.)
Mereka bertiga masuk ke bagian belakang toko yang sekaligus
menjadi ruang keluarga. Bu RT menyuguhkan es teh manis dan pisang goreng. Dia
duduk bersama mereka, tersenyum ramah.
"Kowe Raka, ya? Anake Bu Sari?" (Kamu Raka, ya?
Anaknya Bu Sari?)
"Iya, Bu."
"Wis betah neng kene?" (Sudah betah di sini?)
"Betah, Bu."
Bu RT mengangguk puas. "Bagus. Desa kita cilik, tapi
tentrem. Wong-wonge apik." (Bagus. Desa kita kecil, tapi tentram.
Orang-orangnya baik.)
Raka melihat kesempatan. "Bu, saya dengar di desa ini
ada rumah tua yang angker. Itu benar?"
Senyum Bu RT langsung menghilang. Matanya beralih ke Pras,
lalu kembali ke Raka. "Sapa sing ngomong?"
"Teman-teman. Kata mereka di sana ada penjaga atau
sesuatu."
Bu RT diam lama. Tangannya yang tadi memegang gelas es teh,
sekarang diletakkan di atas meja. "Raka, omah kuwi... aja diceletuki. Wong
tuwamu mesthi wis ngomong." (Raka, rumah itu... jangan dibicarakan. Orang
tuamu pasti sudah bilang.)
"Iya, Bu. Tapi saya cuma penasaran."
"Penasaran kuwi wajar. Nanging kadang, penasaran iso
ndadekake cilaka." (Penasaran itu wajar. Tapi kadang, penasaran bisa bikin
celaka.)
Bu RT berdiri. "Aku tak menyang pawon dhisik. Pras,
ngomonga sing apik karo kancamu." (Aku ke dapur dulu. Pras, bicara yang
baik dengan temanmu.)
29. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Setelah ibunya pergi, Pras menatap Raka dengan tatapan
campuran antara takut dan kesal. "Kok kowe takon-takon kaya ngono nang
ibuku? Dheweke mesthi nesu." (Kok kamu tanya-tanya begitu sama ibuku? Dia
pasti marah.)
"Aku butuh informasi. Ibumu mungkin tahu banyak."
Pras menghela napas. "Ibuku ora ngerti apa-apa. Sing ngerti
mung bapakku. Lan bapakku ora gelem crita." (Ibuku tidak tahu apa-apa.
Yang tahu hanya bapakku. Dan bapakku tidak mau cerita.)
"Kenapa?"
"Amarga... bapakku melu nggoleki guru sing ilang
biyen. Dheweke sing mimpin wong-wong nggoleki. Lan ora nemu apa-apa."
(Karena... bapakku ikut mencari guru yang hilang dulu. Dia yang memimpin
orang-orang mencari. Dan tidak menemukan apa-apa.)
Raka dan Joko saling pandang. Ini informasi baru.
"Bapakmu ikut mencari? Terus, apa yang dia lihat di
sana?"
Pras menggeleng. "Ora ono. Rumah kuwi kosong. Ora ana
wong, ora ana mayit, ora ana apa-apa. Kaya-kaya wong loro kuwi... ngilang babar
pisan." (Tidak ada. Rumah itu kosong. Tidak ada orang, tidak ada mayat,
tidak ada apa-apa. Seperti mereka berdua... hilang sama sekali.)
Hening sejenak. Raka mencerna informasi itu.
"Pras, kemarin kamu bilang bapakmu ngomong setengah
sadar, 'Surya, aku ora sengaja.' Itu benar?"
Pras mengangguk pelan. "Aku tau krungu bapakku ngomong
kuwi. Ora mung sepisan, nanging kaping pindho. Sing kapindho... bapakku tangi
lan ndeleng aku karo mripate wedi tenan." (Aku pernah dengar bapakku
bicara itu. Tidak hanya sekali, tapi dua kali. Yang kedua... bapakku bangun dan
melihat aku dengan matanya takut sekali.)
"Takut kenapa?"
"Dheweke takon, 'Kowe krungu aku ngomong apa?' Aku
jujur, krungu jeneng Pak Surya. Bapakku langsung pucet lan ngomong, 'Aja kandha
sapa-sapa.'" (Dia tanya, 'Kamu dengar aku bicara apa?' Aku jujur, dengar
nama Pak Surya. Bapakku langsung pucat dan bilang, 'Jangan bilang siapa-siapa.')
Joko bersiul pelan. "Iki serius tenan." (Ini
serius sekali.)
30. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Pras, menurutmu... apa bapakmu tahu sesuatu tentang
hilangnya Pak Surya?" tanya Raka hati-hati.
Pras menunduk. Tangannya menggenggam gelas es teh sampai
buku-buku jarinya memutih.
"Aku... ora ngerti. Aku wedi mikir." (Aku...
tidak tahu. Aku takut mikir.)
Dari kejauhan, terdengar suara orang berteriak. Suara itu
datang dari arah luar desa, dari dekat bukit.
"Woy! Ana geni! Geni!" (Woy! Ada api! Api!)
Mereka bertiga spontan berdiri dan lari keluar toko. Di
luar, beberapa warga sudah berlarian ke arah bukit. Kepulan asap hitam terlihat
dari balik pepohonan, tepat di lokasi rumah tua.
"Omah tua kobong!" teriak seseorang.
Raka, Joko, dan Pras ikut berlari bersama warga yang lain.
Mereka menaiki jalan setapak menuju bukit, jantung berdegup kencang. Di benak
Raka, hanya satu pikiran: siapa yang membakar rumah itu? Dan apakah sosok
bermata merah itu masih di dalam?
Sesampainya di halaman rumah tua, mereka melihat api sudah
cukup besar di bagian belakang rumah. Tapi anehnya, api itu hanya membakar
tumpukan sampah dan kayu-kayu tua di halaman belakang, bukan rumahnya sendiri.
Warga dengan cepat memadamkan api dengan air dari sumur dan tanah.
"Geni iki sengaja diurubake," kata seorang warga
tua. "Iki dudu kobongan." (Api ini sengaja dinyalakan. Ini bukan
kebakaran.)
Pak Lurah datang dengan tergopoh-gopoh, wajahnya merah
karena berlari. "Ana apa? Sapa sing ngurubake geni?" (Ada apa? Siapa
yang menyalakan api?)
Tidak ada yang menjawab. Semua orang saling pandang.
Raka mengamati sekeliling. Halaman rumah tua itu penuh
dengan ilalang kering dan sampah-sampah yang dibuang warga secara diam-diam.
Tapi di tengah-tengah tumpukan sampah yang terbakar, dia melihat sesuatu.
Sebuah buku.
Buku itu setengah terbakar, halaman-halamannya hangus di
bagian tepi. Tapi masih utuh di bagian tengah. Raka mendekat, mengambil buku
itu dengan hati-hati.
31. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Raka, aja!" teriak Joko. "Mbebayani!"
(Berbahaya!)
Tapi Raka sudah memegangnya. Buku itu panas, tapi masih
bisa dipegang. Sampulnya dari kulit berwarna cokelat tua, dengan tulisan yang
hampir tidak terbaca: "Catatan Pribadi - Surya Pratama".
Darah Raka seolah membeku.
Ini buku harian Pak Surya, guru yang hilang puluhan tahun
lalu.
"Raka!" suara keras Pak Lurah membuatnya
tersentak. "Kowe nemu apa kuwi?" (Kamu nemu apa itu?)
Raka buru-buru menyembunyikan buku itu di balik punggungnya.
"Nggak... nggak apa-apa, Pak. Cuma sampah."
Pak Lurah memicingkan mata. "Sampah? Ayo ndelok."
(Sampah? Ayo lihat.)
Raka mundur selangkah. Joko dan Pras, meskipun takut,
berdiri di samping Raka seolah melindunginya.
"Pak Lurah," kata Pras tiba-tiba. "Iki geni
wis mati. Kula lan konco-konco arep nulung ngresiki." (Pak Lurah, ini api
sudah mati. Saya dan teman-teman mau bantu membersihkan.)
Pak Lurah menatap mereka bertiga bergantian. Matanya tajam,
curiga. Tapi akhirnya dia mengangguk. "Ya wis. Resik-en sing apik. Aja
nganti geni murub maneh." (Ya sudah. Bersihkan yang baik. Jangan sampai
api menyala lagi.)
Setelah Pak Lurah pergi, Raka menunjukkan buku itu pada
Joko dan Pras. Mata mereka membelalak.
"Iki... iki bukune Pak Surya?" bisik Joko tidak
percaya.
"Sepertinya iya."
"Tapi... sapa sing ngurubake geni iki? Lan kenapa
bukune ditinggal nang kene?" (Tapi... siapa yang menyalakan api ini? Dan
kenapa bukunya ditinggal di sini?)
Raka mengamati buku itu lebih dekat. Sampulnya hangus, tapi
isinya masih bisa dibaca di beberapa bagian. Dia membuka halaman pertama.
"Desa Tanah Lenyap, 1 Agustus 1985. Hari pertama kami
tiba di desa ini. Rina bilang desa ini indah. Tapi aku merasakan sesuatu yang
aneh sejak kaki menginjak tanah ini.
32. Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Seperti ada yang mengawasi dari balik pepohonan. Mungkin
hanya perasaanku saja."
Raka membaca dalam hati, jantungnya berdegup kencang. Ini
adalah dokumen asli dari masa lalu. Ini bisa menjadi kunci untuk memecahkan
misteri.
"Kita harus bawa ini pulang dan baca," katanya.
Namun ketika mereka hendak pergi, Raka melihat sesuatu di
balik pepohonan di belakang rumah tua. Sesosok bayangan hitam berdiri di sana,
memperhatikan mereka.
Sosok yang sama dengan malam itu.
Tapi kali ini, tidak ada topi yang menutupi wajahnya. Raka
bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Wajah itu... familiar.
"Pak... Pak Surya?" bisik Raka tidak percaya.
Sosok itu tersenyum tipis, lalu berbalik dan menghilang di
balik pepohonan.
"Raka? Raka! Kowe ndeleng apa?" (Kamu lihat apa?)
tanya Joko cemas.
Raka tidak bisa menjawab. Dia hanya terpaku, jantungnya
berdegup kencang, keringat dingin membasahi punggungnya.
Pak Surya. Guru yang hilang 35 tahun lalu. Masih hidup?
Atau... itu hanya hantu?
Mereka berlari turun dari bukit tanpa menoleh ke belakang.
Joko dan Pras tidak tahu apa yang dilihat Raka, tapi melihat ekspresi wajahnya,
mereka tahu itu sesuatu yang mengerikan.
Sesampainya di rumah nenek Raka, mereka bertiga duduk di
teras depan, masih terengah-engah. Raka memegang erat buku harian Pak Surya di
tangannya.
"Raka, kowe weruh apa mau?" tanya Joko setelah
napasnya agak stabil. (Raka, kamu lihat apa tadi?)
Raka menelan ludah. "Pak Surya."
"Apa?"
"Aku... aku melihat Pak Surya. Guru yang hilang
itu."
Joko dan Pras saling pandang. Wajah mereka pucat.
33. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Maksudmu... mayitnya?" tanya Pras dengan suara
gemetar.
"Bukan. Dia berdiri, melihat kita, lalu tersenyum, lalu
pergi."
"Hidup?"
"Aku... aku tidak tahu. Wajahnya... tua, tentu saja.
Tapi dia terlihat... nyata. Bukan hantu."
Joko menggeleng keras. "Ora mungkin. Pak Surya ilang
35 taun kepungkur. Umure saiki mestine wis 70 taun luwih. Wong kuwi ora mungkin
isih urip ing alas tanpa ketahuan wong." (Tidak mungkin. Pak Surya hilang
35 tahun lalu. Umurnya sekarang pasti sudah 70 tahun lebih. Orang itu tidak
mungkin masih hidup di hutan tanpa ketahuan orang.)
"Tapi aku melihatnya, Jok. Aku melihatnya dengan
jelas."
Pras, yang paling tenang di antara mereka, berkata,
"Bisa uga kowe weruh memedi. Omah kuwi angker, wong-wong ngerti
kuwi." (Bisa jadi kamu lihat hantu. Rumah itu angker, orang-orang tahu
itu.)
"Bukan hantu. Hantu nggak perlu bakar sampah. Hantu
nggak perlu meninggalkan buku harian. Pasti ada yang tinggal di sana. Selama
ini ada yang tinggal di sana."
Joko bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir di teras.
"Iki edan. Kabeh iki edan. Kita kudu lapor polisi." (Ini gila. Semua
ini gila. Kita harus lapor polisi.)
"Lapor apa? 'Pak Polisi, saya lihat hantu guru yang
hilang 35 tahun lalu'?" Raka menggeleng. "Polisi nggak akan
percaya."
"Terus piye? Dijarke wae?" (Terus gimana?
Dibiarkan saja?)
Raka membuka buku harian itu. Halaman pertama sudah dia
baca. Dia membuka halaman berikutnya.
"5 Agustus 1985. Warga desa ramah, tapi ada yang aneh.
Setiap kali aku bertanya tentang sejarah desa, mereka selalu mengalihkan
pembicaraan. Terutama kalau aku tanya tentang rumah di ujung desa. Rumah itu,
kata mereka, sudah kosong sejak lama. Tapi tadi malam, aku melihat cahaya di
jendelanya." Raka membaca dengan
saksama. Joko dan Pras mendekat, ikut membaca.
*"7 Agustus 1985. Aku memutuskan untuk menyelidiki
rumah itu. Rina melarang, tapi aku tetap pergi. Aku masuk ke halaman, lalu ke dalam
rumah. Tidak ada siapa-siapa. Tapi di lantai atas, aku menemukan sesuatu.
Sebuah ruangan yang terkunci. Aku coba membukanya,tapi tidakbisa.
34. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Ada tulisan di pintu: 'WISSUP, RASAKO'—mungkin 'Wis suwe
ora ketemu, rasakno?' (Sudah lama tidak bertemu, rasakan?) Ini aneh. Sangat
aneh."*
"Wis suwe ora ketemu, rasakno?" ulang Joko.
"Kuwi tulisan sing ditemokake Pak Surya?" (Itu tulisan yang ditemukan
Pak Surya?)
"Iya. Mungkin maksudnya peringatan. 'Sudah lama tidak
bertemu, sekarang rasakan'."
Pras membaca terus. "10 Agustus 1985. Aku
bertemu dengan lurah desa, Pak Karta. Aku tanya tentang rumah itu. Wajahnya
berubah. Dia bilang, 'Pak Surya, lupakan rumah itu. Itu bukan urusan Bapak.'
Tapi aku tidak bisa lupa. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak beres."
"Pak Karta... kuwi bapakku," bisik Pras. (Pak
Karta... itu bapakku.)
Raka menatap Pras. "Bapakmu tahu sesuatu, Pras."
Pras menunduk. Tangannya gemetar. "Aku... aku ora ngerti
apa sing dikarepake Pak Surya." (Aku... aku tidak tahu apa yang dimaksud
Pak Surya.)
Raka membalik halaman berikutnya. "15 Agustus
1985. Aku menemukan peta desa lama di perpustakaan sekolah. Ternyata, di bawah
rumah tua itu ada lorong bawah tanah. Lorong yang menghubungkan rumah itu
dengan... aku tidak tahu dengan apa. Petanya rusak di bagian itu."
Mereka bertiga terkesiap. "Lorong bawah tanah?"
ulang Joko.
"20 Agustus 1985. Seseorang memperingatkanku. Lewat
surat kaleng. Isinya: 'Hentikan penyelidikanmu atau kau akan menyesal.' Aku
tunjukkan surat itu pada Rina. Dia menangis, minta aku berhenti. Tapi aku tidak
bisa. Ini terlalu besar. Ini bukan hanya tentang rumah tua. Ini tentang
keadilan."
Halaman berikutnya tertulis tanggal 25 Agustus 1985. "Aku
menemukan jalan masuk ke lorong bawah tanah. Di balik lemari di ruang tamu. Aku
turun dengan senter. Lorongnya gelap, panjang, dan bau. Aku berjalan cukup lama
sampai tiba di sebuah ruangan. Di ruangan itu, aku menemukan... (tulisan ini
tidak terbaca karena halamannya sobek)."
Raka mengutuk dalam hati. Halaman yang paling penting
justru sobek.
"1 September 1985. Aku harus memberitahu seseorang.
Aku tidak bisa menyimpan ini sendiri. Besok aku akan menemui Pak Lurah lagi.
Kali ini aku akan memaksanya bicara. Aku tahu dia tahu
sesuatu."
35. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Halaman terakhir. "11 September 1985. Rina
bilang kita harus pergi dari desa ini. Tapi aku tidak mau. Aku hampir menemukan
kebenaran. Besok malam, aku akan turun ke lorong itu lagi. Aku akan membawa
kamera. Apa pun yang aku temukan, akan aku abadikan. Untuk Rina. Untuk
keadilan. Untuk—"
Tulisan itu berhenti di tengah kalimat. Halaman berikutnya
kosong.
"Itu tanggal 11 September," bisik Raka. "Dia
hilang tanggal 12 September."
"Berarti... dheweke turun ke lorong itu malem Selasa,
11 September. Esuke, dheweke ilang," kata Joko. (Berarti... dia turun ke
lorong itu malam Selasa, 11 September. Besoknya, dia hilang.)
"Dia menemukan sesuatu di lorong itu. Sesuatu yang
membuatnya hilang," kata Pras.
Raka menutup buku itu. Pikirannya kacau. Ada lorong bawah
tanah di bawah rumah tua itu. Pak Surya menemukannya. Dan setelah itu, dia
hilang.
"Sekarang, buku ini tiba-tiba muncul di tumpukan
sampah yang dibakar," kata Raka pelan. "Siapa yang membakarnya? Dan
kenapa?"
"Mungkin Pak Surya sendiri?" tebak Joko.
"Atau orang yang selama ini menjaga rumah itu. Orang
yang kita lihat dengan mata merah."
Pras gemetar. "Aku wedi, Raka. Aku arep mulih."
(Aku takut, Raka. Aku mau pulang.)
"Pras, tunggu dulu—"
Namun Pras sudah berlari meninggalkan teras. Raka ingin
memanggilnya, tapi Joko memegang lengannya.
"Biarkan dulu, Raka. Dheweke wedi. Bapake dhewe
mungkin melu-melu ing kasus iki." (Biarkan dulu, Raka. Dia takut. Bapaknya
sendiri mungkin terlibat dalam kasus ini.)
Raka menghela napas. Dia mengerti. Kalau ayahnya sendiri
yang menjadi lurah saat kejadian itu, dan sekarang dicurigai terlibat, pasti
sangat berat bagi Pras.
"Jok, kita harus ke rumah tua itu lagi."
Joko menatapnya dengan pandangan
'aku-tahu-kamu-bakal-bilang-gitu'. "Mlebu? Mlebu omah kuwi? Sawise kabeh
iki?" (Masuk? Masuk rumah itu? Setelah semua ini?)
"Ada lorong bawah tanah, Jok. Pak Surya menemukan
sesuatu di sana. Mungkin itu sebabnya dia hilang. Mungkin juga itu sebabnya
dia... masih di sana."
36. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Kowe mikir Pak Surya isih urip lan manggon ing lorong
kuwi?" (Kamu pikir Pak Surya masih hidup dan tinggal di lorong itu?)
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencari tahu."
Joko diam lama. Matanya menatap ke arah bukit, ke rumah tua
yang mulai tertutup kabut sore. Lalu dia berkata lirih, "Kapan?"
"Besok pagi. Saat matahari terbit. Kita butuh
cahaya."
"Lan apa maneh?" (Dan apa lagi?)
"Senter, tali, air minum, dan... keberanian."
Joko tersenyum pahit. "Keberanian... kuwi sing paling
angel dituku." (Keberanian... itu yang paling susah dibeli.)
Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Dia membaca buku harian
Pak Surya berulang kali, mencari petunjuk yang mungkin terlewat. Di sela-sela
halaman, dia menemukan selembar kertas kecil yang tadinya tidak dia lihat.
Kertas itu dilipat empat, sudah menguning.
Dia membukanya dengan hati-hati.
Di atas kertas itu, ada tulisan tangan dengan tinta yang
sudah pudar:
"Jika kau menemukan ini, berarti kau sudah dekat
dengan kebenaran. Tapi hati-hati: kebenaran tidak selalu membebaskan. Kadang,
kebenaran justru mengurungmu dalam ketakutan yang lebih dalam. Jangan turun ke
lorong itu sendirian. Jangan percaya siapa pun. Dan jika kau melihatku...
jangan dekati aku. Aku bukan lagi orang yang dulu."
Ttd,
Surya Pratama
Raka membaca surat itu berulang kali, jantungnya berdegup
kencang. Ini seperti pesan dari masa lalu, pesan peringatan dari Pak Surya
sendiri.
Tapi terlambat. Dia sudah memutuskan.
Besok, dia akan turun ke lorong itu. Apa pun risikonya.
Pagi itu, Raka bangun sebelum matahari terbit. Dia sudah
menyiapkan ransel kecil berisi senter, air minum, tali nilon, pisau lipat
(diam-diam dia ambil dari dapur neneknya), dan yang paling penting: buku harian
Pak Surya.
37. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Dia keluar rumah dengan hati-hati, tidak ingin membangunkan
ibunya atau neneknya. Di luar, kabut masih tebal. Udara dingin menusuk tulang.
Joko sudah menunggu di bawah pohon mangga di halaman tetangga, bergidik dalam
jaket tipisnya.
"Raka, aku isih ora yakin iki apik," katanya
begitu Raka mendekat. (Raka, aku masih tidak yakin ini baik.)
"Aku juga nggak yakin. Tapi kita harus lakukan."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju bukit. Kabut
membuat jarak pandang terbatas, hanya sekitar 10 meter. Suara-suara pagi—ayam
berkokok, burung berkicau, anjing menggonggong—terdengar sayup-sayup dari desa
di bawah.
Semakin dekat ke rumah tua, semakin tebal kabutnya. Raka
bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Tangannya memegang erat buku harian
di dalam ransel.
"Aku wedi tenan, Raka," bisik Joko, giginya
gemeletuk. (Aku takut sekali.)
"Ssst... kita hampir sampai."
Mereka tiba di halaman rumah tua. Pagar kayunya sudah
lapuk, beberapa bagian roboh. Di belakang rumah, bekas pembakaran sampah
kemarin masih terlihat—tumpukan abu hitam dengan sisa-sisa kayu hangus.
Raka mendekati pintu depan. Pintu itu dari kayu jati tebal,
dengan gagang besi berkarat. Dia mendorongnya pelan. Pintu itu terbuka dengan
suara derit panjang yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Masuk, yuk."
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Bau apak dan debu
menyambut mereka. Cahaya pagi yang temaram masuk lewat celah-celah jendela,
menciptakan garis-garis cahaya di ruangan yang gelap.
Ruang tamu rumah itu cukup besar. Ada sofa-sofa tua yang
ditutupi kain putih pudar, meja kayu dengan kaki patah, dan lemari buku kosong
di sudut. Di dinding, tergantung beberapa lukisan pemandangan yang catnya sudah
mengelupas.
"Jok, kita cari lemari."
"Lemari?"
"Iya. Kata Pak Surya, pintu masuk lorong itu di balik
lemari di ruang tamu."
38. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Mereka mencari di setiap sudut ruang tamu. Ada dua lemari:
satu lemari kecil di dekat pintu, satu lemari besar di dinding belakang. Raka
mendekati lemari besar itu. Ukurannya sekitar dua meter, terbuat dari kayu jati
gelap, dengan ukiran-ukiran rumit di pintunya.
"Bantu aku mendorong."
Mereka berdua mendorong lemari itu. Awalnya berat sekali,
tapi setelah beberapa kali dorongan, lemari itu bergeser. Di belakangnya,
tersembunyi di dinding kayu, ada sebuah pintu kecil setinggi satu setengah
meter.
"Masya Allah..." bisik Joko.
Pintu itu tidak bergagang, hanya ada lubang kecil untuk
memasukkan jari. Raka memasukkan jarinya dan menarik. Pintu itu terbuka dengan
suara derit yang lebih panjang dan lebih menyeramkan dari pintu depan.
Di balik pintu itu, ada kegelapan total. Dan bau yang
keluar dari sana—bau tanah basah, bau apak, bau sesuatu yang sudah lama tidak
terkena udara segar.
"Raka... aku wedi," kata Joko, suaranya bergetar.
(Aku takut.)
Raka menyalakan senternya. Cahaya putih menerangi lorong di
depan mereka. Anak tangga pertama terlihat, terbuat dari batu bata yang sudah
ditumbuhi lumut. Lorong itu turun ke bawah, entah seberapa dalam.
"Kita turun," kata Raka tegas.
Mereka mulai menuruni anak tangga satu per satu. Udara
semakin dingin dan lembab. Dinding lorong dari tanah liat yang diperkuat batu
bata. Di beberapa tempat, akar-akar pohon menjuntai dari langit-langit.
Setelah turun sekitar 20 anak tangga, mereka sampai di
dasar. Lorong di depan mereka lurus, gelap, tidak terlihat ujungnya.
"Pak Surya nulis, dheweke mlaku cukup suwe," kata
Joko mengingatkan. (Pak Surya nulis, dia jalan cukup lama.)
"Ayo."
Mereka berjalan perlahan. Senter Raka hanya mampu menerangi
beberapa meter ke depan. Di kiri kanan lorong, sesekali mereka melihat
pintu-pintu kayu kecil yang sudah lapuk. Raka penasaran, tapi dia memutuskan
untuk terus maju dulu.
39. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Setelah berjalan sekitar 10 menit, lorong itu bercabang.
Dua arah: kiri dan kanan.
"Piye iki?" tanya Joko. (Gimana ini?)
Raka membuka buku harian Pak Surya. Dia mencari keterangan
tentang lorong ini, tapi tidak ada. Halaman yang sobek itu mungkin berisi
petunjuk arah.
"Entahlah. Kita coba kanan dulu."
Mereka mengambil lorong kanan. Setelah beberapa langkah,
Raka melihat sesuatu di dinding. Tulisan. Tulisan yang sama dengan yang disebut
Pak Surya di buku hariannya.
"WISSUP, RASAKO."
Tulisan itu diukir di dinding tanah liat, sudah pudar tapi
masih terbaca.
"Ini dia," bisik Raka. "Tulisan ini yang
ditemukan Pak Surya."
"Tapi apa artinya?" tanya Joko.
"Mungkin peringatan. 'Sudah lama tidak bertemu,
sekarang rasakan'. Rasakan apa?"
Mereka melanjutkan perjalanan. Lorong semakin lebar, dan
tiba-tiba mereka sampai di sebuah ruangan. Ruangan itu cukup besar, sekitar 5x5
meter. Di dalamnya, ada meja kayu tua, kursi roboh, dan di sudut... sesuatu
yang membuat darah Raka membeku.
Kerangka manusia.
Bukan satu, tapi dua kerangka manusia. Satu besar, satu
lebih kecil. Mereka tergeletak di lantai tanah, pakaian mereka sudah lapuk
tinggal sisa-sisa kain.
Joko menjerit. Dia mundur dan hampir jatuh. Raka
memegangnya, meskipun tangannya sendiri gemetar hebat.
"Itu... itu Pak Surya?" bisik Joko.
Raka mendekati kerangka itu dengan hati-hati. Di dekat
kerangka yang besar, dia melihat sesuatu. Sebuah kamera tua, model jadul, sudah
berkarat. Dan di sampingnya, sebuah dompet kulit yang masih utuh.
Raka mengambil dompet itu dengan tangan gemetar. Dia
membukanya. Di dalamnya, ada KTP yang sudah menguning.
40. Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Nama: SURYA PRATAMA
*Tempat/Tgl Lahir: Yogyakarta, 5 Mei 1950*
Raka merasa dunia berputar. Ini Pak Surya. Ini benar-benar
Pak Surya. Dia tidak pernah keluar dari lorong ini. Dia mati di sini, 35 tahun
lalu.
Tapi kalau ini Pak Surya... lalu siapa yang dia lihat
kemarin? Sosok di balik pepohonan yang tersenyum padanya?
Joko meraih lengannya. "Raka... ayo ndang metu. Aku
wedi tenan." (Ayo cepat keluar. Aku takut sekali.)
Tapi Raka tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada
kerangka itu. Di tangannya, kerangka itu memegang sesuatu. Selembar kertas,
sudah menguning, tapi masih utuh.
Raka mengambil kertas itu dengan hati-hati. Dia membacanya.
"Jika kau menemukan ini, berarti kau sudah menemukan
kami. Maafkan kami, Rina dan Surya, yang tidak bisa pulang. Tapi kebenaran
harus diketahui. Di balik dinding ruangan ini, ada peti besi. Di dalamnya, ada
semua bukti. Tentang apa yang terjadi di desa ini. Tentang siapa yang
bertanggung jawab. Tentang rahasia yang mereka kubur bersama kami."
-Surya-
Raka menatap dinding ruangan itu. Dinding tanah liat dengan
beberapa batu bata penyangga. Di salah satu bagian, dinding itu terlihat
berbeda—batu batanya lebih baru, lebih rapi.
"Jok, bantu aku."
"Apa?"
"Bantu aku bongkar dinding ini."
Mereka berdua mencongkel batu bata itu dengan pisau lipat
Raka. Satu per satu batu bata lepas. Di baliknya, ada ceruk kecil. Dan di dalam
ceruk itu, ada sebuah peti besi tua berkarat.
Peti itu tidak terlalu besar, kira-kira seukuran koper
kabin. Raka mengeluarkannya dengan susah payah. Peti itu berat. Ada gembok di
depannya, tapi gemboknya sudah berkarat dan mudah dipatahkan.
Dengan jantung berdegup kencang, Raka membuka peti itu.
Isinya: tumpukan kertas-kertas tua, map, amplop-amplop
cokelat, dan beberapa gulungan film.
41. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Raka mengambil satu map dan membukanya.
Dokumen-dokumen tanah. Surat-surat perjanjian. Dan di
atasnya, ada stempel dan tanda tangan. Tanda tangan pejabat desa, pejabat
kecamatan, bahkan pejabat kabupaten.
Tapi yang paling mengejutkan adalah sebuah foto hitam
putih. Foto itu memperlihatkan beberapa orang berdiri di depan rumah tua ini.
Wajah-wajah mereka serius. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria muda
dengan kumis tipis.
Pak Lurah Karta. Ayahnya Pras.
Dan di sampingnya, pria lain yang wajahnya familiar bagi
Raka. Pria yang dilihatnya kemarin di balik pepohonan.
Pak Surya. Masih muda, masih hidup.
"Raka... ayo ndang metu," desak Joko, suaranya
panik. "Aku krungu swara." (Aku dengar suara.)
Raka menajamkan pendengarannya. Dari ujung lorong, dari
arah mereka datang, terdengar suara langkah kaki. Langkah kaki yang berat,
perlahan, mendekat.
Joko mematung ketakutan. Raka cepat-cepat memasukkan semua
dokumen kembali ke peti, menutupnya, dan menggendongnya.
"Lari!"
Mereka berlari sekencang-kencangnya meninggalkan ruangan
itu. Lorong di depan mereka gelap, senter Raka bergoyang-goyang menerangi
jalan. Di belakang mereka, suara langkah kaki semakin cepat, semakin dekat.
Mereka melewati percabangan, naik ke anak tangga, mendorong
pintu kayu, dan keluar ke ruang tamu. Tanpa menoleh, mereka terus berlari
keluar rumah, menuruni bukit, meninggalkan rumah tua itu.
Sesampainya di bawah bukit, mereka berhenti di pinggir
sawah, terengah-engah, lutut lemas. Raka menoleh ke belakang. Rumah tua itu
terlihat tenang di bawah sinar matahari pagi yang mulai naik.
Tapi di jendela lantai dua, dia melihat bayangan.
Bayangan itu menatap mereka.
Lalu perlahan, bayangan itu mengangkat tangan, melambai.
42. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Seperti memberi salam perpisahan.
Atau seperti mengatakan: "Sampai jumpa lagi."
Raka dan Joko tidak langsung pulang ke rumah masing-masing.
Mereka bersembunyi di gubuk kosong di pinggir sawah milik salah satu warga yang
sudah lama tidak dipakai. Di sana, dengan napas masih terengah-engah, mereka
membuka peti besi itu.
Isinya lebih banyak dari yang mereka kira. Puluhan dokumen,
foto-foto, surat-surat, dan sebuah buku catatan tebal milik Pak Surya. Buku
catatan itu berbeda dari buku harian yang mereka temukan kemarin—ini lebih
seperti buku investigasi, berisi catatan-catatan detail tentang
penyelidikannya.
Raka membaca beberapa lembar dengan cepat.
"Pak Karta (Lurah) memiliki hubungan bisnis dengan
seorang pengusaha dari kota. Mereka membeli tanah-tanah warga dengan harga
murah, lalu menjualnya dengan harga tinggi. Tapi tidak hanya itu. Tanah-tanah
itu... ternyata di atasnya akan dibangun sesuatu. Sesuatu yang tidak boleh diketahui
warga."
"Saya menemukan dokumen perjanjian antara Pak Karta
dan PT. Bumi Lestari. Isinya: penjualan tanah seluas 50 hektar di sekitar desa,
termasuk tanah di bawah rumah tua ini. Tapi tanah di bawah rumah tua ini...
ternyata menyimpan sesuatu. Sesuatu yang berharga."
"Fosfor. Tanah di bawah desa ini kaya akan fosfor.
Fosfor adalah bahan penting untuk pupuk dan... bom. PT. Bumi Lestari ternyata
adalah perusahaan milik militer. Mereka ingin menambang fosfor di sini. Tapi
warga tidak tahu. Mereka hanya tahu tanah mereka dibeli dengan harga
murah."
Raka membaca dengan mata terbelalak. Jadi ini rahasianya.
Bukan hantu, bukan mistis. Tapi konspirasi tanah, penipuan massal, dan
mungkin... kejahatan yang lebih besar.
"Pak Karta takut rahasia ini terbongkar. Dia sudah
menerima uang muka yang besar. Jika warga tahu, dia bisa masuk penjara. Saya
coba bicara baik-baik, minta dia mengaku dan mengembalikan uang itu. Tapi dia
marah. Dia ancam saya. 'Pak Surya, urusan desa urusan saya. Bapak cuma guru.
Mengajari anak-anak saja sudah cukup.'"
"Tapi saya tidak bisa diam. Saya guru. Tugas saya
bukan hanya mengajar membaca dan menulis, tapi juga mengajari anak-anak tentang
kejujuran dan keadilan. Saya harus membongkar ini semua."
43. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Halaman berikutnya berisi salinan dokumen-dokumen tanah,
lengkap dengan tanda tangan dan stempel. Ada juga surat-surat ancaman yang
dikirim ke Pak Surya, dengan tulisan yang sama persis dengan tulisan di dinding
lorong.
"Jok... ini... ini konspirasi besar," bisik Raka.
"Bapaknya Pras... dia terlibat."
Joko membaca beberapa dokumen. Wajahnya pucat. "Iki...
iki artine... Pak Lurah... nglakoni kejahatan?" (Ini artinya... Pak
Lurah... melakukan kejahatan?)
"Penipuan, korupsi, mungkin juga... pembunuhan."
"Pembunuhan?"
"Pak Surya dan istrinya ditemukan di lorong itu.
Mereka tidak mati sendiri. Mereka dikurung di sana. Atau dibunuh di sana."
Joko gemetar. "Dening sapa?" (Oleh siapa?)
Raka menunjukkan sebuah foto. Foto itu memperlihatkan Pak
Lurah Karta (masih muda) bersama beberapa pria lain, termasuk pria yang dilihat
Raka di balik pepohonan kemarin. Di belakang foto, ada tulisan tangan: "Tim
Keamanan Desa, 1985. Yang berdiri di belakang: Karta, Darman, Suroto, dan...
(nama tercoret)."
"Darman? Suroto?" ulang Joko. "Kuwi... kuwi
bapake Bejo lan bapake Andi!" (Itu... itu bapaknya Bejo dan bapaknya
Andi!)
Raka terkesiap. Jadi ayah dari teman-teman mereka juga
terlibat?
"Aku ora ngerti iki," kata Joko, suaranya
bergetar. "Bapakku... bapakku opo iya melu?" (Bapakku... bapakku apa
iya ikut?)
Raka memegang bahu Joko. "Bapakmu tidak ada di foto
ini, Jok. Tenang."
Tapi Joko tidak tenang. Dia takut. Takut pada apa yang
mereka temukan, takut pada apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Raka... piye iki? Kita nemu bukti kejahatan sing
nglibatake pejabat desa lan mungkin pejabat luwih dhuwur. Apa sing kudu kita
lakoni?" (Raka... gimana ini? Kita nemu bukti kejahatan yang melibatkan
pejabat desa dan mungkin pejabat lebih tinggi. Apa yang harus kita lakukan?)
Raka berpikir keras. Dia ingat kata-kata Pak Surya di pesan
terakhirnya: kebenaran harus diketahui. Tapi dia juga ingat peringatan di surat
itu: kebenaran tidak selalu membebaskan, kadang justru mengurung dalam
ketakutan yang lebih dalam.
44. Misteri Ruah Tua di
Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Kita harus kasih tahu orang dewasa. Orang yang bisa
dipercaya."
"Sapa? Wong kene kabeh wedi karo lurah." (Siapa?
Orang sini semua takut sama lurah.)
Raka memikirkan neneknya. Tapi neneknya sudah tua, mungkin
tidak akan sanggup menghadapi ini. Ibunya? Dia baru pindah, tidak tahu apa-apa
tentang desa.
Tiba-tiba Raka teringat seseorang. "Pak RT. RT kita.
Dia... dia orangnya gimana?"
Joko berpikir. "Pak RT... wonge jujur. Ora tau melu-melu
urusan lurah. Wong-wong ngajeni dheweke." (Pak RT... orangnya jujur. Tidak
pernah ikut-ikutan urusan lurah. Orang-orang hormati dia.)
"Kita coba temui dia."
Mereka menyembunyikan peti besi itu di gubuk, ditutup
dengan karung-karung bekas. Lalu mereka berjalan menuju rumah Pak RT.
Pak RT, namanya Pak Mulyono, adalah pria berusia 60-an
dengan rambut putih tipis. Dia pensiunan guru SD, tinggal sendirian karena
istrinya sudah meninggal. Rumahnya sederhana, di pinggir desa dekat sungai.
"Lho, Joko, Raka? Ana apa jam semene?" tanyanya
heran ketika mereka datang. (Ada apa jam segini?)
"Pak, kita perlu bicara," kata Raka serius.
"Penting."
Pak Mulyono memandang mereka berdua, lalu mengangguk.
"Mlebu."
Di dalam rumah, setelah mereka duduk, Raka membuka
ranselnya dan mengeluarkan beberapa dokumen dari peti besi. Dia ceritakan
semuanya—dari awal dia melihat cahaya di rumah tua, sampai penemuan kerangka
Pak Surya dan dokumen-dokumen ini.
Pak Mulyono mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah
dari heran menjadi serius, lalu menjadi pucat.
"Kowe... kowe nemu iki kabeh?" tanyanya tidak
percaya. (Kamu... kamu nemu ini semua?)
"Iya, Pak. Ini bukti."
Pak Mulyono membaca dokumen-dokumen itu satu per satu.
Tangannya gemetar. Ketika sampai pada foto tim keamanan desa, dia berhenti
lama.
"Pak Mulyono kenal orang-orang ini?" tanya Raka.
45. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Pak Mulyono menghela napas panjang. "Kenal. Kabeh tak
kenal. Darman, Suroto, Karta... kanca-kancaku biyen. Nanging aku ora ngerti yen
dheweke melu iki." (Kenal. Semua saya kenal. Darman, Suroto, Karta...
teman-teman saya dulu. Tapi saya tidak tahu kalau mereka ikut ini.)
"Pak, Pak Surya dan istrinya ditemukan di lorong itu.
Mereka mati di sana. Mungkin dibunuh. Kita harus lapor polisi."
Pak Mulyono diam lama. Matanya menatap ke luar jendela, ke
arah bukit.
"Raka, Joko... iki ora gampang. Wong-wong sing jenenge
nang dokumen iki... wong-wong sing kuwasa nang desa iki. Yen kowe lapor polisi,
durung mesthi polisi percaya. Malah bisa dadi kowe sing cilaka." (Ini
tidak gampang. Orang-orang yang namanya di dokumen ini... orang-orang yang
berkuasa di desa ini. Kalau kamu lapor polisi, belum tentu polisi percaya.
Malah bisa jadi kamu yang celaka.)
"Tapi Pak, ini bukti nyata!"
"Bukti nyata bisa ilang. Saksi bisa ditindhes. Aku
ngerti iki, Raka. Aku wis suwe urip nang desa iki. Aku weruh piye wong-wong
kuwasa main." (Bukti nyata bisa hilang. Saksi bisa ditindas. Aku tahu ini,
Raka. Aku sudah lama hidup di desa ini. Aku lihat bagaimana orang-orang
berkuasa bermain.)
Joko mulai menangis. "Trus piye, Pak? Wong mati
dibiarake wae?" (Terus gimana, Pak? Orang mati dibiarkan saja?)
Pak Mulyono memegang bahu Joko. "Aja nangis, Le. Aku
ora ngomong kudu dibiarake. Nanging kudu pinter. Kudu ati-ati." (Jangan
nangis, Nak. Aku tidak bilang harus dibiarkan. Tapi harus pintar. Harus
hati-hati.)
Dia menatap Raka. "Raka, kowe wong pinter. Kowe sing
nemu iki. Kowe sing kudu mikir piye carané bongkar iki tanpa ndadekake kowe
cilaka." (Kamu yang nemu ini. Kamu yang harus mikir bagaimana cara
membongkar ini tanpa bikin kamu celaka.)
Raka mengangguk. Pikirannya bekerja cepat.
"Pak, kita butuh bantuan. Orang di luar desa. Mungkin
wartawan, atau LSM, atau polisi dari kota yang tidak kenal dengan pejabat
sini."
Pak Mulyono mengangguk setuju. "Bener. Nanging
sadurunge kuwi... kita kudu mestekake yen bukti-bukti iki aman. Yen wong-wong
kuwi ngerti kowe duwe bukti iki... bisa mbebayani."
46. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
(Benar. Tapi sebelum itu... kita harus memastikan bahwa
bukti-bukti ini aman. Jika orang-orang itu tahu kamu punya bukti ini... bisa
berbahaya.)
Raka menelan ludah. Dia tidak memikirkan itu. Selama ini
dia hanya fokus pada petualangan, pada rasa penasaran. Dia lupa bahwa mereka
bermain dengan api.
"Pak, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Pak Mulyono berpikir keras. "Saiki, kowe kudu bali
menyang omah, kaya ora ana apa-apa. Aja crita marang sapa wae, malah marang
wong tuwamu dhewe. Simpen bukti iki nang panggonan sing aman. Sesuk, aku arep
menyang kutha, ketemu karo kancaku wartawan. Dheweke wong sing bisa
dipercaya." (Sekarang, kamu harus pulang ke rumah, seperti tidak ada
apa-apa. Jangan cerita kepada siapa pun, bahkan kepada orang tuamu sendiri.
Simpan bukti ini di tempat yang aman. Besok, saya mau ke kota, bertemu dengan
teman saya wartawan. Dia orang yang bisa dipercaya.)
Raka mengangguk. "Tapi Pak, hati-hati. Kalau mereka
tahu Bapak ikut campur..."
Pak Mulyono tersenyum getir. "Aku wis tuwa, Raka. Ora
wedi mati. Nanging kowe, Joko, kabeh bocah-bocah kene... kowe kudu urip ing
desa sing resik. Ora kaya saiki." (Aku sudah tua, Raka. Tidak takut mati.
Tapi kamu, Joko, semua anak-anak sini... kamu harus hidup di desa yang bersih.
Tidak seperti sekarang.)
Mereka berpisah dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega
karena akhirnya punya orang dewasa yang bisa dipercaya. Tapi juga ada rasa
takut—takut ketahuan, takut akan apa yang terjadi selanjutnya.
Raka menyembunyikan peti besi itu di loteng rumah neneknya,
di balik tumpukan barang-barang lama yang tidak pernah diurus. Dia berdoa
semoga tidak ada yang menemukannya.
Malam itu, ketika dia duduk di teras, neneknya mendekat dan
duduk di sampingnya.
"Nek, apa Nek tahu tentang Pak Surya?" tanya Raka
tiba-tiba.
Neneknya menatapnya lama. "Kok takon maneh?"
"Aku cuma... penasaran."
Neneknya menarik napas panjang. "Pak Surya kuwi...
guru sing apik. Bocah-bocah seneng karo dheweke. Bojone, Bu Rina, wonge alus,
sabar. Wong loro kuwi ora pantes ilang kaya ngono." (Pak Surya itu... guru
yang baik. Anak-anak suka sama dia. Istrinya, Bu Rina, orangnya halus, sabar.
Mereka berdua tidak pantas hilang seperti itu.)
47. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Menurut Nek, mereka masih hidup?"
Neneknya menggeleng pelan. "35 taun, Raka. Ora mungkin
isih urip. Yen urip, mesthi wis ketemu." (35 tahun, Raka. Tidak mungkin
masih hidup. Kalau hidup, pasti sudah ketemu.)
Raka ingin bilang, "Mereka sudah ditemukan, Nek. Di
lorong bawah tanah." Tapi dia urung. Janji pada Pak Mulyono untuk tidak
cerita ke siapa pun masih dia pegang.
Malam itu, saat Raka hendak tidur, dia mendengar suara dari
luar. Suara orang berbisik-bisik. Dia mengintip lewat jendela.
Di halaman depan rumahnya, dua bayangan hitam berdiri di
bawah pohon mangga. Mereka berbisik, lalu salah satu dari mereka menunjuk ke
arah rumah neneknya.
Jantung Raka berdegup kencang. Apakah mereka tahu? Apakah
mereka sudah tahu tentang penemuannya?
Dia tidak berani bersuara. Hanya bisa bersembunyi di balik
jendela, berdoa semoga bayangan-bayangan itu pergi.
Setelah beberapa menit, mereka pergi. Tapi Raka tidak bisa
tidur semalaman. Dia terus memikirkan apa yang akan terjadi besok.
Desa yang tenang ini ternyata menyimpan rahasia yang gelap.
Dan sekarang, dia sudah masuk terlalu dalam.
Pagi itu, Raka bangun dengan perasaan tidak enak. Matanya
sembab karena kurang tidur. Pikirannya kacau. Dia mandi, sarapan, lalu pamit
pada ibunya untuk pergi ke rumah Joko.
Di rumah Joko, situasi tidak lebih baik. Joko juga terlihat
pucat dan gelisah.
"Raka, bapakku ngomong wingi bengi," bisik Joko
begitu Raka masuk. "Dheweke ngomong, aja melu-melu urusan omah tua. Aja
kumpul karo kowe." (Bapakku bilang semalam. Dia bilang, jangan ikut-ikutan
urusan rumah tua. Jangan kumpul sama kamu.)
Raka terkejut. "Kenapa?"
"Aku ora ngerti. Mungkin bapakku krungu omongan wong.
Atau mungkin... bapakku wedi." (Aku tidak tahu. Mungkin bapakku dengar
omongan orang. Atau mungkin... bapakku takut.)
"Tapi kamu tetap mau bantuin aku, kan?"
Joko diam. Tangannya memainkan ujung bajunya. Akhirnya dia
mengangguk pelan.
48. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Aku isih melu. Nanging aku wedi, Raka. Wedi
tenan." (Aku masih ikut. Tapi aku takut, Raka. Takut sekali.)
"Aku juga takut, Jok. Tapi kita sudah sejauh ini.
Nggak mungkin mundur."
Mereka berdua pergi ke rumah Pak Mulyono. Pak Mulyono sudah
siap-siap mau pergi ke kota. Dia memakai baju bagus, rambutnya disisir rapi.
"Wis, aku arep mangkat," katanya. "Kowe
ngenteni nang kene wae. Aja metu-metu. Yen ana apa-apa, ndhelika." (Aku
mau berangkat. Kamu nunggu di sini saja. Jangan keluar-keluar. Kalau ada
apa-apa, sembunyi.)
Setelah Pak Mulyono pergi, Raka dan Joko duduk di ruang
tamu rumahnya, gelisah. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Menunggu adalah
hal paling menyiksa.
Dua jam kemudian, seseorang mengetuk pintu. Bukan ketukan
biasa, tapi ketukan keras, seperti orang marah.
"Pak Mulyono! Bukak lawang!" (Buka pintu!)
Raka dan Joko saling pandang. Itu suara Pak Lurah.
"Mendhelik!" bisik Raka.
Mereka berdua lari ke belakang rumah Pak Mulyono,
bersembunyi di balik tumpukan kayu bakar. Dari sana, mereka bisa mendengar
percakapan.
"Pak Mulyono ora ana, Pak Lurah," kata
seseorang—mungkin tetangga Pak Mulyono. "Wis mangkat esuk."
"Mangkat menyang endi?" (Pergi ke mana?)
"Ora ngerti, Pak. Mungkin menyang kutha."
Suara Pak Lurah menggerutu. Lalu suara lain, suara yang
tidak dikenal. "Pak Lurah, kita harus cepat. Anak-anak itu mungkin sudah
kasih tahu dia."
"Anak-anak? Maksudmu Raka dan Joko?"
"Iya. Mereka yang menemukan buku harian itu. Mereka
juga yang kemarin masuk ke rumah tua. Saya lihat mereka dari kejauhan."
Raka merinding. Siapa orang ini? Bagaimana dia tahu?
49. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Suroto, kowe yakin?" tanya Pak Lurah.
Suroto! Itu bapaknya Andi, salah satu nama di foto tim
keamanan desa.
"Yakin, Pak. Saya ikuti mereka dari bukit. Mereka
masuk ke rumah tua, lalu keluar dengan membawa peti besi."
Jantung Raka berdegup kencang. Mereka diawasi. Selama ini
mereka diawasi.
"Peti besi?" suara Pak Lurah berubah panik.
"Apa isine?"
"Saya tidak tahu, Pak. Tapi pasti sesuatu yang
penting. Mungkin... dokumen-dokumen Pak Surya."
"Astaga... Suroto, kita harus cari peti itu. Cari di
rumah Mbah Wati, di rumah Joko, di mana pun. Jangan sampai mereka sebarkan
isinya."
"Tapi Pak, bagaimana kalau Pak Mulyono sudah pergi ke
kota untuk..."
"Untuk apa?"
"Untuk menemui wartawan."
Hening beberapa detik. Lalu suara Pak Lurah, dingin seperti
es. "Kejar dia. Bawa beberapa orang. Jangan biarkan dia sampai di
kota."
"Baik, Pak."
Suara langkah kaki menjauh. Setelah itu, sunyi.
Raka dan Joko tidak berani bergerak. Mereka terus
bersembunyi di balik tumpukan kayu, menahan napas, takut ketahuan. Baru setelah
setengah jam, mereka berani keluar.
"Jok... mereka... mereka mau celakain Pak
Mulyono," bisik Raka panik. "Kita harus lakukan sesuatu."
"Apa? Piye carane?" (Apa? Bagaimana caranya?)
Raka berpikir keras. "Kita harus cari bantuan. Orang
yang bisa diandalkan."
"Sapa? Wong kene kabeh wedi karo lurah."
"Polisi. Kita harus lapor polisi."
"Polisi? Polisi sini kenal sama lurah. Mungkin mereka
juga terlibat."
50. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Raka frustrasi. Semua jalan sepertinya buntu. Tiba-tiba dia
teringat sesuatu.
"Pras. Ayahnya Pras terlibat, tapi Pras tidak tahu.
Mungkin Pras bisa bantu kita."
"Pras? Bocah kuwi wedi tenan karo bapake." (Pras?
Anak itu takut sekali sama bapaknya.)
"Tapi kita harus coba. Kita tidak punya pilihan
lain."
Mereka berlari ke rumah Pras. Beruntung, Pras sedang
sendirian di toko kelontongnya. Ibunya sedang pergi ke pasar.
"Pras, kita perlu ngomong," kata Raka tergesa.
Pras melihat wajah mereka yang panik. "Ana apa?"
Raka ceritakan semuanya—penemuan di lorong,
dokumen-dokumen, dan rencana Pak Lurah untuk mengejar Pak Mulyono.
Pras mendengarkan dengan wajah pucat. Tangannya gemetar.
"Bapakku... bapakku tenanan nglakoni kuwi kabeh?"
(Bapakku... bapakku sungguh melakukan itu semua?)
"Maaf, Pras. Tapi buktinya ada."
Pras menunduk lama. Air matanya menetes.
"Aku... aku ora ngerti kudu piye. Bapakku... bapakku
apikan karo aku. Nanging... nanging jebulane..." (Aku tidak tahu harus
bagaimana. Bapakku... bapakku baik sama aku. Tapi... tapi ternyata...)
Raka memegang bahu Pras. "Pras, kamu nggak salah
apa-apa. Tapi sekarang kita butuh bantuanmu. Kamu tahu siapa yang bisa kita
percaya di desa ini?"
Pras mengangkat wajahnya, matanya sembab. "Pak RW. Pak
RW Jaiman. Dheweke wis pensiunan polisi. Ora seneng karo bapakku. Dheweke tau
crita, bapakku kuwi... korup." (Pak RW Jaiman. Dia sudah pensiunan polisi.
Tidak suka sama bapakku. Dia pernah cerita, bapakku itu... korup.)
Raka merasa sedikit lega. "Di mana rumahnya?"
"Lor desa. Omah gedhe karo pagar ijo." (Utara
desa. Rumah besar dengan pagar hijau.)
"Jok, kita ke sana. Sekarang."
51. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Mereka bertiga berlari ke utara desa. Rumah Pak RW memang
mudah dikenali—pagar hijau dengan pohon trembesi besar di depan. Mereka
mengetuk pintu. Seorang pria tua dengan kumis tebal membukakan pintu.
"Ana apa, bocah-bocah?" tanyanya heran.
"Pak RW, kita perlu bicara. Penting. Nyawa orang
taruhannya."
Pak RW memandang mereka bergantian, lalu mengangguk.
"Mlebu."
Di dalam, Raka kembali cerita. Ini cerita ketiga kalinya
hari ini, tapi tidak pernah lebih mudah. Setiap kali, dia harus mengingat lagi
hal-hal mengerikan yang mereka lihat di lorong itu.
Pak RW mendengarkan dengan saksama. Tidak seperti Pak
Mulyono yang terkejut, Pak RW justru terlihat seperti sudah menduga semua ini.
"Dokumen-dokumen kuwi nang endi saiki?" tanyanya.
"Di rumah nenekku. Di loteng."
"Aman?"
"Mudah-mudahan."
Pak RW menghela napas panjang. "Aku wis curiga suwe.
Wiwit jaman Pak Surya ilang. Tapi ora ana bukti. Saiki, kowe nggawa bukti kuwi.
Iki gedhe tenan, bocah-bocah."
"Pak, Pak Mulyono dalam bahaya. Mereka mau tangkap
dia."
Pak RW bangkit berdiri. "Aku kenal kanca-kanca polisi
ing kutha. Aku telpon dheweke. Muga-muga isih bisa nyegat." (Aku kenal
teman-teman polisi di kota. Aku telepon dia. Mudah-mudahan masih bisa
mencegat.)
Dia masuk ke kamar, menelepon. Beberapa menit kemudian, dia
keluar.
"Polisi wis budal menyang dalan alternatif. Yen ora
salah, Pak Mulyono arep liwat dalan kono. Muga-muga ketemu." (Polisi sudah
berangkat ke jalan alternatif. Kalau tidak salah, Pak Mulyono mau lewat jalan
sana. Mudah-mudahan ketemu.)
Raka, Joko, dan Pras menghela napas lega. Tapi lega mereka
tidak bertahan lama.
"Saiki, masalah kowe," kata Pak RW. "Kowe
kabeh wis mlebu sarang tawon. Yen wong-wong kuwi ngerti kowe sing nemu bukti
iki... kowe bisa dadi target sabanjure." (Sekarang, masalah kamu.
52. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Kamu semua sudah masuk sarang tawon. Kalau orang-orang itu
tahu kamu yang menemukan bukti ini... kamu bisa jadi target selanjutnya.)
Raka menelan ludah. "Tapi Pak, buktinya ada di kami.
Kalau mereka tahu—"
"Ora usah wedi. Saiki kowe nang omahku. Aku sing
njaga. Polisi uga bakal teka kanggo njupuk bukti. Sawise kuwi, kabeh
aman." (Tidak usah takut. Sekarang kamu di rumahku. Aku yang jaga. Polisi
juga akan datang untuk ambil bukti. Setelah itu, semua aman.)
Mereka bertiga duduk di ruang tamu Pak RW, menunggu. Di
luar, matahari mulai condong ke barat. Kabar tentang Pak Mulyono belum ada.
Sekitar pukul 5 sore, sebuah mobil polisi berhenti di depan
rumah Pak RW. Dari dalam, keluar Pak Mulyono dengan wajah lelah, ditemani dua
orang polisi berseragam.
"Pak Mulyono!" teriak Joko, berlari memeluknya.
Pak Mulyono tersenyum, meskipun rautnya capek. "Wis,
Le, ora apa-apa. Aku slamet." (Sudah, Nak, tidak apa-apa. Aku selamat.)
Polisi yang datang, seorang AKP muda bernama Budi, masuk ke
rumah Pak RW. Dia melihat Raka, Joko, dan Pras dengan tatapan serius.
"Kalian yang menemukan dokumen-dokumen itu?"
tanyanya.
"Iya, Pak," jawab Raka.
"Di mana dokumennya?"
"Di rumah nenek saya. Saya ambilkan."
"Jangan sendiri. Saya antar."
Raka, ditemani Pak RW dan polisi, pergi ke rumah neneknya
untuk mengambil peti besi itu. Neneknya terkejut melihat polisi, tapi Raka
hanya bilang ada urusan penting.
Setelah peti besi itu diserahkan ke polisi, Raka merasa
beban berat terangkat dari pundaknya. Tapi sekaligus, ada rasa takut baru.
Apa yang akan terjadi pada Pak Lurah dan kawan-kawannya?
Apa yang akan terjadi pada desa ini? Dan yang paling penting... apa yang akan
terjadi pada sosok misterius di rumah tua itu, yang ternyata adalah Pak
Surya—atau setidaknya, arwahnya?
53. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Malam itu, di rumah Pak RW, mereka bertiga duduk bersama
Pak Mulyono dan Pak RW. Mereka membicarakan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Polisi bakal nyelidiki iki kabeh," kata Pak RW.
"Yen buktine cukup, Pak Lurah lan kanca-kancane bakal ditahan."
"Tapi Pak, bagaimana dengan... Pak Surya?" tanya
Raka hati-hati. "Maksud saya, kerangkanya di lorong itu?"
"Polisi bakal nggoleki. Yen perlu, bakal digali. Lan
dikubur kanthi prayoga." (Polisi akan mencari. Kalau perlu, akan digali.
Dan dikubur dengan layak.)
Raka mengangguk. Tapi di pikirannya, masih ada satu
pertanyaan mengganggu: siapa yang dia lihat di balik pepohonan itu? Siapa yang
melambai dari jendela rumah tua?
Apakah itu benar-benar arwah Pak Surya?
Atau... mungkin ada orang lain yang masih tinggal di rumah
itu?
Dia tidak tahu. Tapi satu hal yang dia yakini: misteri
rumah tua di ujung desa ini belum benar-benar terungkap. Masih ada lapisan lain
yang harus mereka gali.
Dan petualangan mereka, ternyata, baru saja dimulai.
BAGIAN II
PETUALANGAN DIMULAI
Dua minggu setelah penyerahan bukti ke polisi, situasi di
desa berubah drastis. Pak Lurah Karta dan empat orang lainnya—termasuk Suroto
dan Darman—ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokumen-dokumen yang
ditemukan Raka dan kawan-kawan terbukti asli dan cukup kuat untuk menjerat
mereka.
Desa Tanah Lenyap gempar. Warga yang selama ini diam, mulai
berani bersuara. Beberapa mengaku sudah lama curiga. Yang lain menangis karena
ternyata tanah mereka dijual tanpa sepengetahuan mereka. Tapi yang paling
banyak adalah rasa syukur—karena kebenaran akhirnya terungkap.
Pak Mulyono menjadi pahlawan dadakan. Rumahnya selalu ramai
dikunjungi warga yang ingin tahu cerita lengkapnya. Tapi Pak Mulyono selalu
mengarahkan pujian itu ke Raka, Joko, dan Pras.
54. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Bocah-bocah iki sing pahlawan," katanya setiap
kali. "Aku mung mbantu." (Anak-anak ini yang pahlawan. Aku hanya
bantu.)
Raka, Joko, dan Pras menjadi terkenal. Di sekolah,
teman-teman mereka memandang dengan kagum. Guru-guru memuji keberanian mereka.
Bahkan beberapa wartawan dari kota datang mewawancarai mereka.
Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang masih mengganggu
Raka: sosok misterius di rumah tua itu.
Setelah kejadian itu, dia beberapa kali kembali ke rumah
tua, bersama Joko dan Pras. Mereka menjelajahi setiap sudut, mencari petunjuk
tentang siapa yang selama ini mereka lihat. Tapi rumah itu kosong. Sepi. Tidak
ada tanda-tanda kehidupan.
Hingga suatu sore, ketika mereka duduk-duduk di teras rumah
Pak RW, Pak RW berkata sesuatu yang mengagetkan mereka.
"Pak Surya kuwi... duwe anak." (Pak Surya itu...
punya anak.)
Raka, Joko, dan Pras terkesiap. "Anak?"
"Iya. Anak lanang. Umure wektu kuwi kira-kira 5 taun.
Nalika wong tuwane ilang, bocah kuwi... uga ilang." (Iya. Anak laki-laki.
Umurnya waktu itu kira-kira 5 tahun. Ketika orang tuanya hilang, anak itu...
juga hilang.)
Raka merasa bulu kuduknya berdiri. "Maksud Pak RW, ikut
hilang?"
"Ora ana sing ngerti. Sakwise kedadean kuwi, bocah
kuwi ora katon maneh. Mungkin... digawa wong tuwane pas ilang. Atau mungkin...
dibuwang ning endi." (Tidak ada yang tahu. Setelah kejadian itu, anak itu
tidak terlihat lagi. Mungkin... dibawa orang tuanya pas hilang. Atau mungkin...
dibuang di suatu tempat.)
Joko memucat. "Dibuang?"
"Aku ora ngerti. Nanging sing tak ngerteni, ora ana
sing nggoleki bocah kuwi. Polisi ora nggoleki. Lurah ora nggoleki. Kaya-kaya
bocah kuwi ora tau ana." (Aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu, tidak ada
yang mencari anak itu. Polisi tidak mencari. Lurah tidak mencari. Seperti anak
itu tidak pernah ada.)
Raka teringat sesuatu. Sosok yang dilihatnya di balik
pepohonan itu. Tingginya... tidak terlalu tinggi. Mungkin sekitar 170 cm. Kalau
anak Pak Surya waktu itu umur 5 tahun di tahun 1985, sekarang umurnya sekitar
40 tahun. Tinggi 170 cm masuk akal untuk laki-laki dewasa.
55. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Pak RW," kata Raka pelan. "Mungkin... anak
Pak Surya masih hidup."
Pak RW menatapnya. "Maksudmu?"
"Mungkin dia yang selama ini tinggal di rumah tua itu.
Mungkin dia yang menjaga rumah itu. Mungkin dia yang membakar sampah dan
meninggalkan buku harian ayahnya untuk kami temukan."
Pak RW diam berpikir. Lalu matanya membelalak.
"Yen kuwi bener... tegese dheweke wis ndhelik neng
kono pirang-pirang puluh taun. Lan ora ana sing ngerti." (Kalau itu
benar... berarti dia sudah bersembunyi di sana puluhan tahun. Dan tidak ada
yang tahu.)
"Kenapa dia bersembunyi, Pak?"
"Wedi. Wong tuwane mati dibunuh. Dheweke mesthi wedi
yen bakal dipateni uga." (Takut. Orang tuanya mati dibunuh. Dia pasti
takut kalau akan dibunuh juga.)
Pras, yang dari tadi diam, angkat bicara. "Raka, piye
carane kita nemokake dheweke?" (Raka, bagaimana caranya kita menemukan
dia?)
Raka berpikir keras. "Dia pasti masih di sekitar rumah
tua itu. Mungkin di lorong bawah tanah, atau di hutan di belakangnya. Kita
harus cari."
"Nyari? Piye? Wong kita wis bola-bali nggoleki ora
ketemu." (Mencari? Gimana? Kita sudah berkali-kali mencari tidak ketemu.)
"Kita belum mencari dengan benar. Kita belum pernah
masuk ke lorong lebih dalam. Ingat, Pak Surya bilang di lorong itu ada
percabangan. Mungkin lorong yang satunya lagi menuju ke tempat persembunyian
anaknya."
Joko menghela napas. "Raka, kowe arep bali menyang
lorong kuwi maneh?" (Raka, kamu mau balik ke lorong itu lagi?)
"Kita harus. Demi keadilan. Demi Pak Surya. Dan demi
anaknya yang mungkin selama ini hidup sendiri, tidak dikenal siapa pun."
Mereka bertiga saling pandang. Di mata masing-masing,
terlihat campuran antara takut dan tekad.
"Aku melu," kata Pras tegas. "Bapakku wis
nglakoni salah. Aku pengin mbenerake." (Aku ikut. Bapakku sudah melakukan
salah. Aku ingin membetulkan.)
56. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Joko menghela napas panjang. "Yah, melu wae lah. Wong
wis kadung." (Ya, ikutlah. Sudah terlanjur.)
Pak RW tersenyum. "Bocah-bocah iki... pancen
pemberani. Nanging elinga, aja mlaku dhewe-dhewe. Aku melu." (Anak-anak
ini... memang pemberani. Tapi ingat, jangan jalan sendiri-sendiri. Aku ikut.)
Raka terkejut. "Pak RW mau ikut?"
"Aku wis pensiunan polisi. Masih kuat. Lan aku pengin
ndelok dhewe apa sing ana ing lorong kuwi." (Aku sudah pensiunan polisi.
Masih kuat. Dan aku ingin lihat sendiri apa yang ada di lorong itu.)
Maka terbentuklah tim kecil: Raka sebagai pemimpin karena
dialah yang paling tahu ceritanya, Joko sebagai navigator karena hafal medan,
Pras sebagai pencatat karena otaknya encer, dan Pak RW sebagai pelindung karena
pengalaman dan fisiknya.
Mereka sepakat untuk memulai ekspedisi keesokan paginya.
Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Dia memikirkan anak Pak
Surya. Bagaimana rasanya hidup sendirian selama puluhan tahun, bersembunyi di
lorong bawah tanah, takut ketahuan? Bagaimana dia bertahan hidup? Dari mana dia
dapat makan? Dan yang paling penting... kenapa dia tidak pernah mencoba keluar,
mencari pertolongan?
Mungkin dia trauma. Mungkin dia takut orang-orang yang
membunuh orang tuanya masih ada. Mungkin dia menunggu waktu yang tepat untuk
muncul.
Atau mungkin... dia sudah gila karena kesepian.
Pikiran-pikiran itu membuat Raka gelisah. Dia berdoa semoga
besok mereka berhasil menemukannya. Dan semoga... dia masih waras.
Pagi itu, matahari baru saja naik ketika tim kecil mereka
berkumpul di rumah Pak RW. Perlengkapan sudah disiapkan: senter kuat, tali
panjang, air minum, makanan ringan, P3K, dan yang paling penting—sebuah kamera
untuk mendokumentasikan apa pun yang mereka temukan.
Pak RW memeriksa perlengkapan satu per satu dengan teliti,
seperti dulu saat dia masih bertugas.
"Wis, siap. Ayo mangkat."
57. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Mereka berjalan menuju bukit. Suasana pagi di desa masih
sepi, hanya sesekali terdengar suara ayam berkokok dan burung berkicau. Kabut
tipis masih menyelimuti sawah-sawah, membuat segalanya terlihat seperti dalam
mimpi.
Semakin dekat ke rumah tua, jantung Raka semakin berdegup
kencang. Rumah itu terlihat sama seperti biasa—tua, gelap, menyeramkan. Tapi
sekarang, dia tahu ada lebih banyak rahasia di balik dinding-dinding kayunya.
Mereka masuk melalui pintu depan yang masih terbuka
setengah. Debu beterbangan ketika mereka melangkah masuk. Pak RW menyalakan
senter besar, menerangi seluruh ruangan.
"Aku ora mlebu omah iki wis puluhan taun," gumam
Pak RW. "Wiwit jaman Pak Surya ilang." (Aku tidak masuk rumah ini
sudah puluhan tahun. Sejak jaman Pak Surya hilang.)
"Pak RW ikut mencari dulu?" tanya Raka.
"Melu. Nanging ora mlebu nganti jero. Aku mung
ngenteni nang njaba." (Ikut. Tapi tidak masuk sampai dalam. Aku hanya
menunggu di luar.)
Mereka menuju lemari besar di ruang tamu. Raka dan Joko
mendorongnya, memperlihatkan pintu rahasia di baliknya. Pintu itu masih terbuka
seperti terakhir kali mereka tinggalkan.
"Lorong iki?" tanya Pak RW, mengamati kegelapan
di balik pintu.
"Iya, Pak. Turun sekitar 20 anak tangga, lalu lorong
lurus, lalu ada percabangan."
Pak RW mengangguk. "Ayo."
Mereka turun satu per satu. Udara semakin dingin dan
lembab. Bau tanah basah dan apak makin kuat. Pak RW berjalan paling depan,
senternya menyapu dinding-dinding lorong.
Sesampainya di dasar, mereka melihat lorong lurus di depan
dan percabangan yang pernah mereka lalui.
"Terakhir kita ke kanan, ketemu ruangan dengan
kerangka Pak Surya dan Bu Rina," kata Raka. "Sekarang kita coba
kiri."
Mereka mengambil lorong kiri. Lorong ini lebih sempit,
dindingnya lebih kasar, dan langit-langitnya lebih rendah. Mereka harus berjalan
membungkuk di beberapa bagian.
Setelah berjalan sekitar 10 menit, lorong mulai menurun.
Semakin dalam, semakin gelap. Senter Pak RW adalah satu-satunya sumber cahaya.
58. Misteri Rumah Tua
di Ujun Desa, Perpustakaan Desa Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Ana swara," bisik Joko tiba-tiba. (Ada suara.)
Semua berhenti. Mereka mendengarkan. Dari ujung lorong,
terdengar suara samar—seperti orang bernyanyi. Nyanyian pelan, sendu, seperti
lagu pengantar tidur.
"Itu... suara apa?" bisik Pras.
Pak RW memberi isyarat untuk diam. Mereka melanjutkan
perjalanan lebih hati-hati. Suara nyanyian semakin jelas.
"Nenek moyangku orang pelaut... gemar mengarung luas
samudra..."
Raka merinding. Itu lagu anak-anak. Lagu yang biasa
dinyanyikan di sekolah dasar.
Mereka sampai di ujung lorong. Di depan mereka, ada ruangan
kecil. Di dalam ruangan itu, samar-samar terlihat sesosok manusia duduk di
pojok, membelakangi mereka, bergoyang-goyang perlahan sambil terus bernyanyi.
"Menerjang ombak tiada takut... menempuh badai sudah
biasa..."
Pak RW memberi isyarat pada yang lain untuk tetap diam. Dia
melangkah maju, pelan-pelan, senternya diarahkan ke lantai agar tidak
menyilaukan.
"Hei," panggilnya lembut. "Sapa kowe?"
(Kamu siapa?)
Nyanyian berhenti. Sosok itu diam, tidak bergerak.
"Kita ora arep nyilakani kowe. Kita mung arep
ngomong." (Kami tidak mau mencelakai kamu. Kami hanya mau bicara.)
Perlahan, sosok itu menoleh.
Wajahnya... wajah pria paruh baya dengan jenggot panjang
acak-acakan. Kulitnya pucat, matanya merah karena kurang tidur atau menangis.
Tapi di balik semua itu, Raka bisa melihat kemiripan dengan foto Pak Surya yang
pernah dilihatnya.
"Bapak... ibu... mana?" tanya pria itu dengan
suara serak, seperti orang yang jarang bicara.
Pak RW tertegun. "Maksudmu?"
"Mereka... pergi... lama. Aku tunggu... tapi tidak
kembali."
Raka merasa dadanya sesak. Ini dia. Anak Pak Surya. Yang
ditinggal sendirian di lorong ini selama 35 tahun.
59. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Jenengmu sapa, Le?" tanya Pak RW lembut. (Namamu
siapa, Nak?)
Pria itu menatap mereka dengan mata kosong. "Aku...
aku lupa. Bapak... panggil... 'Nak'. Ibu... panggil... 'Sayang'. Tapi nama...
lupa."
Joko menangis. Pras memegang mulutnya, menahan isak. Raka
merasa air matanya mengalir.
"Kowe wis ngenteni wong tuwamu suwe banget, ya?"
tanya Pak RW. (Kamu sudah menunggu orang tuamu lama sekali, ya?)
Pria itu mengangguk pelan. "Lama. Sangat lama. Mereka
bilang... sebentar. Tapi... tidak kembali. Aku takut... keluar. Orang jahat...
di luar. Bapak bilang... jangan keluar... sebelum dia jemput."
Raka ingat pesan terakhir Pak Surya di buku hariannya: dia
akan turun ke lorong lagi malam itu, membawa kamera. Mungkin dia bilang pada
anaknya untuk menunggu sebentar. Tapi dia tidak pernah kembali.
Dan anak itu menunggu. Menunggu. Menunggu. Selama 35 tahun.
"Le, wong tuwamu... wis ora bakal bali," kata Pak
RW dengan suara berat. "Dheweke... wis seda." (Nak, orang tuamu...
sudah tidak akan kembali. Dia... sudah meninggal.)
Pria itu diam lama. Lalu, untuk pertama kalinya, ekspresi
di wajahnya berubah. Dari kosong menjadi... sedih. Sangat sedih.
"Mati?" ulangnya, lidahnya cadel mengucapkan kata
itu. "Mati?"
"Iya, Le. Dheweke dipateni wong jahat. Nanging saiki,
wong jahat kuwi wis dicekel polisi." (Iya, Nak. Dia dibunuh orang jahat.
Tapi sekarang, orang jahat itu sudah ditangkap polisi.)
Pria itu menangis. Tangisan yang aneh—seperti bayi yang
baru belajar menangis, canggung, tersendat-sendat. Mungkin karena 35 tahun
tidak menangis, atau lupa caranya.
Raka mendekat, duduk di sampingnya. Dia meletakkan tangan
di bahu pria itu.
"Aku Raka. Ini Joko, ini Pras, ini Pak RW. Kami akan
bantu kamu. Kamu nggak akan sendirian lagi."
Pria itu menatap Raka dengan mata basah. "Janji?"
"Janji."
Untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, pria itu tersenyum.
60. Misteri Rumah Tua di Ujung Desa,
Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Membawa pria itu keluar dari lorong ternyata tidak mudah.
Selama puluhan tahun tinggal di bawah tanah, matanya tidak tahan terhadap
cahaya matahari. Pak RW harus meminjam kacamata hitam dari salah satu warga
untuk melindungi matanya.
Pria itu juga tidak bisa berjalan normal. Kakinya kaku,
otot-ototnya lemah karena jarang bergerak. Mereka harus memapahnya
perlahan-lahan, berhenti setiap beberapa langkah.
Warga desa yang melihat mereka keluar dari rumah tua itu
gempar. Mereka berkerumun di bawah bukit, berbisik-bisik, bertanya-tanya.
"Sapa kuwi?"
"Wong apa kuwi?"
"Kok metu saka omah tua?"
Pak RW mengangkat tangan, meminta perhatian. "Warga
desa Tanah Lenyap! Iki... iki anake Pak Surya, guru sing ilang 35 taun
kepungkur. Dheweke slamet, nanging ndhelik ing ngisor lemah kabeh wektu
iki." (Ini... ini anaknya Pak Surya, guru yang hilang 35 tahun lalu. Dia
selamat, tapi bersembunyi di bawah tanah selama ini.)
Warga terperanjat. Suara gemuruh memenuhi udara. Ada yang
menangis, ada yang berteriak kaget, ada yang langsung bersujud syukur.
Pria itu—yang kemudian diketahui bernama asli Satria,
panggilan "Aria"—hanya bisa menatap bingung pada kerumunan orang. Selama
35 tahun, dia hanya melihat dua orang: ayah dan ibunya. Sekarang, puluhan orang
asing menatapnya.
"Aria, iki desamu," kata Raka lembut. "Iki
wong-wong apik. Ora usah wedi." (Ini desamu. Ini orang-orang baik. Tidak
usah takut.)
Aria mengangguk, meskipun matanya masih menunjukkan
ketakutan.
Mereka membawanya ke rumah Pak RW, tempat yang paling aman
untuk sementara. Di sana, Aria dimandikan (untuk pertama kalinya dalam 35 tahun
dengan air hangat), dipotong rambut dan jenggotnya yang panjang, dan diberi pakaian
bersih.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, semua orang terkesiap.
Tanpa jenggot dan rambut gondrong, wajah Aria sangat mirip dengan Pak Surya.
Hidung mancung, mata tajam, bentuk wajah yang sama persis.
"Dheweke... dheweke persis kaya Pak Surya," bisik
salah satu warga yang datang menjenguk.
61. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Aria duduk di kursi, menerima semangkuk bubur hangat.
Tangannya gemetar saat memegang sendok—mungkin karena pertama kali memegang
sendok dalam 35 tahun, atau karena emosi.
"Aria, kowe isih kelingan apa wae bab wong
tuwamu?" tanya Pak RW hati-hati. (Kamu masih ingat apa pun tentang orang
tuamu?)
Aria mengunyah perlahan. Matanya menerawang.
"Ayah... suka ngajar. Ibu... suka masak. Mereka...
sayang aku." Dia berhenti, air matanya jatuh. "Malam itu... Ayah
bilang... tunggu. Dia... mau ambil kamera. Ibu... ikut. Mereka... tidak
kembali."
"Apa kowe krungu swara apa wae wektu kuwi?" (Apa
kamu dengar suara apa pun waktu itu?)
Aria mengangguk. "Suara... ribut. Orang marah. Ayah...
teriak. Ibu... menangis. Lalu... diam. Aku... takut. Aku... sembunyi. Tidak
berani... keluar."
"Suara sapa kuwi? Kowe kenal?" (Suara siapa itu?
Kamu kenal?)
"Tidak... tidak kenal. Tapi... satu suara... sering
dengar. Di desa... orang panggil... 'Pak Lurah'."
Semua yang hadir di ruangan itu tersentak. Pak Lurah. Jadi
benar, Pak Lurah ada di lokasi kejadian malam itu.
Pak RW menghela napas panjang. "Iki bukti liyane. Aria
kudu menehi kesaksian nang pengadilan." (Ini bukti lain. Aria harus
memberi kesaksian di pengadilan.)
Tapi Aria menggeleng ketakutan. "Tidak... tidak mau
keluar. Orang jahat... masih ada. Mereka... bunuh aku."
Raka memegang tangan Aria. "Aria, orang jahat itu
sudah ditangkap. Mereka di penjara. Tidak bisa ke sini. Kamu aman."
"Yakin?"
"Yakin. Aku janji."
Aria menatap Raka lama. Lalu perlahan, dia mengangguk.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, Aria tidur
di tempat tidur yang empuk, dengan selimut hangat, dan ditemani orang-orang
yang peduli padanya.
Tapi di tengah malam, Raka terbangun oleh suara pintu
kamarnya yang berderit pelan. Dia membuka mata dan melihat Aria berdiri di
ambang pintu, menatapnya dengan mata kosong.
62. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desaa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Raka," bisik Aria. "Ada... orang... di
luar. Mengawasi."
Raka langsung bangkit. Dia melongok ke jendela. Di luar, di
bawah pohon mangga di halaman Pak RW, dia melihat bayangan hitam berdiri
mematung.
Bayangan yang sama dengan yang dilihatnya malam itu.
Bayangan yang mengawasi mereka dari balik pepohonan.
Tapi kalau Aria ada di sini... siapa bayangan itu?
Raka tidak berani keluar sendirian. Dia membangunkan Pak
RW, yang langsung bangun dengan refleks polisi.
"Ana apa?" tanya Pak RW, matanya langsung
waspada.
"Ada orang di luar, Pak. Di bawah pohon mangga."
Pak RW mengambil senter dan pistol—koleksi pribadinya dari
masa dinas dulu. Dia membuka pintu pelan-pelan dan menyorotkan senter ke arah
pohon mangga.
Tidak ada siapa-siapa.
"Kowe yakin weruh?" tanya Pak RW.
Raka mengangguk yakin. "Yakin, Pak. Aria juga
lihat."
Pak RW memeriksa sekeliling rumah. Tidak ada jejak kaki,
tidak ada tanda-tanda keberadaan orang. Tapi di bawah pohon mangga, dia
menemukan sesuatu: selembar kertas yang ditusuk ranting.
Dia mengambilnya dan membaca di bawah cahaya senter.
"Kalian sudah menemukannya. Tapi jangan berpikir ini
sudah berakhir. Masih ada yang harus kalian ketahui. Datanglah ke rumah tua
besok malam. Sendirian. Atau kalian akan menyesal."
Tidak ada tanda tangan. Hanya tulisan tangan dengan huruf
kapital yang aneh.
Pak RW mengerutkan dahi. "Iki... peringatan? Atau
undangan?"
Raka membaca surat itu. Pikirannya bekerja cepat. Siapa
yang menulis ini? Apakah kaki tangan Pak Lurah yang belum tertangkap? Atau...
ada orang lain yang terlibat dalam misteri ini?
"Pak, kita harus pergi besok malam."
Pak RW menggeleng. "Ora. Iki mbebayani. Bisa
jebakan." (Tidak. Ini berbahaya. Bisa jebakan.)
63. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Tapi kalau tidak, mereka bisa celakain kita. Lihat,
mereka tahu kita di sini. Mereka tahu Aria ada di sini."
Pak RW diam. Raka benar. Orang itu tahu persis di mana
mereka berada. Mungkin dia mengawasi dari jauh. Mungkin dia salah satu warga
desa yang selama ini pura-pura tidak tahu.
"Kita kudu lapor polisi," kata Pak RW akhirnya.
"Polisi? Pak, ini desa. Polisi di kota jauh. Sementara
kita, malam ini juga mungkin diserang."
Pak RW menghela napas. Dia tahu Raka benar. Polisi tidak
akan bisa datang cepat. Sementara ancaman ini nyata dan dekat.
"Kita kudu ati-ati. Yen arep menyang kono, aja
dhewekan. Aku melu." (Kita harus hati-hati. Kalau mau ke sana, jangan
sendirian. Aku ikut.)
Pagi harinya, mereka mengadakan pertemuan kecil. Joko,
Pras, Pak RW, Raka, dan Aria (yang sekarang sudah lebih tenang setelah
sarapan). Raka menunjukkan surat itu.
"Ini ancaman atau undangan, kita tidak tahu. Tapi kita
harus pergi. Siapa pun yang menulis ini, dia tahu sesuatu. Mungkin dia punya
informasi yang belum kita ketahui."
"Aku melu," kata Joko tegas. Kali ini tidak ada
keraguan di matanya.
"Aku juga," sambung Pras.
Pak RW mengangguk. "Aku uga. Nanging Aria kudu nang
kene. Dijaga." (Aku juga. Tapi Aria harus di sini. Dijaga.)
Aria menggeleng. "Aku... ikut. Aku... tidak mau... ditinggal."
Raka memandang Aria. Di matanya, dia melihat ketakutan yang
dalam—ketakutan akan ditinggal lagi, seperti ayah dan ibunya dulu.
"Aria, ini bisa berbahaya."
"Aku... sudah 35 tahun... di tempat berbahaya. Aku...
bisa jaga diri."
Pak RW menghela napas. "Wis, melu wae. Nanging kowe
kudu manut omonganku." (Sudah, ikut saja. Tapi kamu harus ikut kataku.)
Aria mengangguk.
64. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Malam itu, tepat pukul 9, mereka berangkat menuju rumah
tua. Bulan bersinar terang, tapi awan tebal sesekali menutupinya, membuat
suasana berganti-ganti antara terang dan gelap.
Rumah tua itu terlihat menyeramkan di bawah sinar bulan.
Jendela-jendelanya seperti mata kosong yang menatap mereka. Angin malam
berhembus, membuat dedaunan bergemerisik seperti bisikan.
Mereka masuk melalui pintu depan. Rumah itu sama seperti
biasa—gelap, berdebu, sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Cahaya.
Dari lantai atas, cahaya lampu minyak berkedip-kedip.
"Ana wong," bisik Joko. (Ada orang.)
Perlahan, mereka naik tangga. Tangga kayu tua itu berderit
di setiap langkah. Raka bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Di
belakangnya, Aria memegang erat bajunya.
Sesampainya di lantai atas, mereka melihat pintu kamar terbuka
setengah. Cahaya datang dari dalam.
Pak RW melangkah maju, pistol di tangan. Dia mendorong
pintu pelan-pelan.
Di dalam kamar, duduk seorang pria tua di kursi. Pria itu
sangat tua, mungkin umur 80-an, dengan rambut putih tipis dan kulit keriput. Di
tangannya, dia memegang lampu minyak. Di pangkuannya, sebuah buku tua.
"Wis suwe ora ketemu, Mulyono," kata pria tua itu
dengan suara serak. (Lama tidak bertemu, Mulyono.)
Pak RW tertegun. Matanya membelalak. "Pak... Pak
Karta?"
Raka terkesiap. Pak Karta? Itu nama Pak Lurah yang ditahan.
Tapi pria ini terlalu tua untuk menjadi Pak Lurah.
Pria tua itu tersenyum getir. "Ora. Aku dudu Karta.
Aku... sedulure Karta. Kembarane." (Bukan. Aku bukan Karta. Aku...
saudaranya Karta. Kembarannya.)
Semua orang terperanjat. Kembaran? Pak Lurah punya saudara
kembar?
"Jenengku Karman. Sedulur kembar Karta. Nanging wong
kene ora ana sing ngerti anane aku." (Namaku Karman. Saudara kembar Karta.
Tapi orang sini tidak ada yang tahu keberadaan aku.)
65. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Lho kok iso?" tanya Pak RW tidak percaya. (Kok
bisa?)
Karman menarik napas panjang. "Cerita iki dawa.
Lungguha. Tak critakke kabeh." (Cerita ini panjang. Duduklah. Aku
ceritakan semua.)
Mereka duduk di lantai kamar yang berdebu, mengelilingi
Karman. Aria duduk paling dekat, matanya menatap pria tua itu dengan rasa ingin
tahu.
"Aku lan Karta lahir neng desa iki 75 taun kepungkur.
Bapak ibu kita wong miskin. Nalika umur 5 taun, ana wong sugih saka kutha arep
ngadopsi salah siji saka kita. Wong kuwi milih Karta. Aku ditinggal." (Aku
dan Karta lahir di desa ini 75 tahun lalu. Bapak ibu kita orang miskin. Ketika
umur 5 tahun, ada orang kaya dari kota mau mengadopsi salah satu dari kita.
Orang itu memilih Karta. Aku ditinggal.)
"Karta urip nang kutha, sekolah dhuwur, dadi wong
pinter. Aku urip nang kene, dadi wong cilik. Nanging nalika umur 25 taun, Karta
bali. Dheweke wis dadi pengusaha. Ngajak aku melu bisnise." (Karta hidup
di kota, sekolah tinggi, jadi orang pintar. Aku hidup di sini, jadi orang
kecil. Tapi ketika umur 25 tahun, Karta kembali. Dia sudah jadi pengusaha. Ajak
aku ikut bisnisnya.)
"Bisnis apa?" tanya Raka.
Karman tersenyum pahit. "Bisnis peteng. Mbeli tanah
wong kanthi murah, banjur didol karo pengembang. Aku melu. Aku dipercaya dadi
wong sing... ngurus masalah." (Bisnis gelap. Membeli tanah orang dengan
murah, lalu dijual ke pengembang. Aku ikut. Aku dipercaya jadi orang yang...
mengurus masalah.)
"Maksud Pak, mengurus masalah?"
"Wong-wong sing nglawan. Wong-wong sing ora gelem
didol tanahe. Wong-wong sing ngerti rahasia kita. Kayata... Pak Surya."
Nama Pak Surya membuat semua orang tegang. Aria gemetar.
"Kowe... kowe sing mateni bapakku?" tanya Aria,
suaranya bergetar.
Karman menunduk. "Ora dhewekan. Aku, Karta, Darman,
Suroto. Wektu kuwi aku isih kuwat. Dadi eksekutor." (Tidak sendiri. Aku,
Karta, Darman, Suroto. Waktu itu aku masih kuat. Jadi eksekutor.)
Aria bangkit, matanya merah. Tangannya mengepal. Raka cepat
memegangnya.
66. Misteri Rumah tua
di ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Aria, tenang. Dengerin dulu."
Karman meneteskan air mata. "Aku ngerti, kowe nesu.
Kowe bener nesu. Aku wis nglakoni dosa gedhe. Nanging saiki, awakku wis tuwa,
arep mati. Aku pengin ngakoni kabeh sadurunge mati."
"Terus, kenapa baru ngaku sekarang?" tanya Raka.
"Amarga... aku weruh kowe nemokake Aria. Aku weruh
kowe mbongkar rahasia iki. Aku rumangsa, iki tandane wektuku wis entek."
(Karena... aku lihat kamu menemukan Aria. Aku lihat kamu membongkar rahasia
ini. Aku merasa, ini tandanya waktuku sudah habis.)
"Pak Karman, di mana Bapak selama ini tinggal?"
tanya Pras.
Karman menunjuk ke lantai. "Nang ngisor. Nang lorong
liyane. Sing ora mbok temokake. Aku wis manggon nang kono wiwit... wiwit kedadean
kuwi. Wedi metu, wedi ditangkep." (Di bawah. Di lorong lain. Yang tidak
kalian temukan. Aku sudah tinggal di sana sejak... sejak kejadian itu. Takut
keluar, takut ditangkap.)
Jadi itu penjelasannya. Cahaya yang mereka lihat selama
ini—itu Karman. Sosok bermata merah—mungkin efek kurang tidur atau sakit—juga
Karman. Yang membakar sampah dan meninggalkan buku harian—Karman. Yang
mengawasi mereka dari balik pepohonan—Karman.
"Pak Karman, kenapa Bapak tinggalkan buku harian Pak
Surya di tumpukan sampah?" tanya Raka.
Karman tersenyum tipis. "Amarga aku pengin kowe
nemokake. Aku wis tuwa, ora bisa turu, mung mikir dosa-dosaku. Aku pengin
rahasia iki bongkar, nanging aku ora wani metu. Dadi, tak incer kowe. Bocah
anyar sing penasaran. Tak dongkrak rasa penasarammu, tak tuntun kowe nemokake
bukti-bukti." (Karena aku ingin kalian menemukan. Aku sudah tua, tidak
bisa tidur, hanya memikirkan dosa-dosaku. Aku ingin rahasia ini terbongkar,
tapi aku tidak berani keluar. Jadi, aku incar kamu. Anak baru yang penasaran.
Kupancing rasa penasarannya, kutuntun kamu menemukan bukti-bukti.)
Raka merasa merinding. Jadi selama ini, mereka
dimanipulasi. Tapi manipulasi yang akhirnya membawa kebaikan.
"Saiki, aku arep nyerah," kata Karman. "Nang
polisi. Nanging sadurunge kuwi, aku arep njaluk ngapura marang kowe, Aria.
Anakke Pak Surya." (Sekarang, aku mau menyerah. Ke polisi. Tapi sebelum
itu, aku mau minta maaf padamu, Aria. Anaknya Pak Surya.)
67. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Karman berlutut di depan Aria, meskipun dengan susah payah
karena usianya. Dia menunduk, menangis.
"Ngapura... ngapura aku, Le. Aku sing mateni bapak
ibumu. Aku sing nggawe kowe urip dhewekan 35 taun. Aku elek. Aku jahat. Nanging
saiki, aku pengin mertobat. Ngapura aku, yen bisa." (Maafkan... maafkan
aku, Nak. Aku yang membunuh ayah ibumu. Aku yang membuatmu hidup sendirian 35
tahun. Aku jahat. Aku buruk. Tapi sekarang, aku ingin bertobat. Maafkan aku,
kalau bisa.)
Aria menatap Karman lama. Air matanya mengalir. Tangannya
gemetar.
"Bapak... ibuku... mereka... baik. Mereka... sayang
aku. Mereka... tidak pantas... mati."
"Ya, Le. Ora pantes. Kabeh salahku." (Ya, Nak.
Tidak pantas. Semua salahku.)
Aria diam lama. Lalu, perlahan, dia mengulurkan tangan dan
menyentuh kepala Karman.
"Aku... maafkan. Tapi... Tuhan... yang tentukan...
dosamu."
Karman menangis tersedu-sedu. Semua orang di ruangan itu
menangis. Bahkan Pak RW, pensiunan polisi yang sudah banyak melihat kejahatan,
ikut meneteskan air mata.
Malam itu, mereka turun dari rumah tua dengan membawa
Karman. Dia berjalan tertatih, ditopang oleh Raka dan Joko. Di bawah bukit,
polisi sudah menunggu—dipanggil Pak RW lewat telepon seluler.
Saat Karman masuk ke mobil polisi, dia menoleh ke arah
mereka.
"Matur nuwun, bocah-bocah. Saiki, aku iso mati kanthi
tenang." (Terima kasih, anak-anak. Sekarang, aku bisa mati dengan tenang.)
Mobil polisi melaju, membawa Karman ke kota. Meninggalkan
Raka, Joko, Pras, Aria, dan Pak RW di pinggir jalan, di bawah sinar bulan yang
kini bersinar terang tanpa awan.
Rahasia rumah tua di ujung desa akhirnya terungkap
sepenuhnya.
68. Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa
Sriwidadi
BAGIAN III
RAHASIA MULAI TERUNGKAP
Seminggu kemudian, setelah Karman menyerahkan diri dan
semua pelaku kejahatan berada dalam tahanan, desa mulai memasuki babak baru.
Pak Mulyono ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Lurah menggantikan Pak Karta
yang kini mendekam di sel tahanan kota.
Raka, Joko, Pras, dan Aria menjadi sahabat karib. Setiap
pulang sekolah, mereka selalu berkumpul, entah di rumah Pak RW, di rumah nenek
Raka, atau di museum desa yang mulai dirintis di rumah tua.
Suatu sore, ketika mereka sedang membersihkan ruangan di
lantai dua rumah tua untuk persiapan museum, Aria tiba-tiba berhenti di depan
salah satu dinding.
"Raka... lihat ini," katanya, suaranya bergetar.
Raka mendekat. Di dinding kayu yang kusam, di balik lapisan
debu tebal, terlihat goresan-goresan. Goresan itu membentuk gambar—bukan gambar
biasa, tapi gambar yang rumit, penuh simbol.
"Ini... ini gambar apa?" tanya Joko, ikut
mendekat.
Pras, dengan kacamata tebalnya, mengamati lebih dekat.
"Ini... ini seperti peta. Tapi bukan peta biasa. Lihat, ada simbol-simbol
aneh di sini."
Aria mengusap debu dari dinding dengan tangannya. Perlahan,
gambar itu semakin jelas. Ada lingkaran-lingkaran, garis-garis yang saling
berpotongan, dan di tengahnya, sebuah bintang dengan lima sudut.
"Ini... ini gambar Ayah," bisik Aria.
"Dia... sering gambar ini. Di lantai, di dinding... waktu aku kecil."
"Pak Surya yang menggambar ini?" tanya Raka.
Aria mengangguk. "Dia bilang... ini warisan. Dari
buyut. Rahasia... yang dijaga turun-temurun."
Pak RW, yang ikut membantu, mendekat. Matanya yang sudah
berpengalaman mengamati gambar itu dengan saksama.
"Ini aksara kuno," katanya. "Aksara Jawa
kuno, campuran dengan simbol-simbol yang lebih tua. Saya pernah lihat di
museum."
69. Misteri Rumah Tua
diUjung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Artinya apa, Pak?"
Pak RW menggeleng. "Saya tidak bisa baca. Tapi saya
kenal seseorang yang bisa. Profesor Hardono dari universitas. Dia ahli
epigrafi—ilmu tentang tulisan kuno."
Raka segera mengambil foto gambar itu dengan ponselnya.
"Kita harus hubungi beliau. Mungkin ini petunjuk penting."
Mereka membersihkan seluruh dinding itu. Ternyata,
gambarnya cukup besar—hampir memenuhi satu dinding kamar. Ada puluhan simbol,
beberapa di antaranya berbentuk seperti binatang: ular, burung, harimau. Ada
juga simbol matahari dan bulan.
"Rumit sekali," gumam Pras. "Ini bukan
gambar sembarangan. Ini peta. Peta menuju sesuatu."
"Tapi menuju ke mana?" tanya Joko.
Aria menatap gambar itu lama. Lalu dia berkata pelan,
"Mungkin... ke tempat Ayah dan Ibu... sebelum mereka... pergi."
Raka memegang bahu Aria. "Kita akan cari tahu, Aria.
Janji."
Profesor Hardono datang dua hari kemudian. Dia seorang pria
tua berusia 70-an dengan rambut putih tipis dan kacamata tebal. Matanya
berbinar ketika melihat foto-foto yang dikirim Raka.
"Ini luar biasa!" serunya begitu tiba di rumah
tua. "Ini... ini peta gua bawah tanah. Gua yang menyimpan artefak-artefak
kuno. Lihat simbol ini—ini adalah simbol perlindungan. Biasanya digunakan untuk
menandai tempat-tempat suci atau tempat penyimpanan benda-benda pusaka."
"Artinya, di bawah desa ini ada gua?" tanya Raka.
"Bukan hanya gua. Mungkin candi. Atau petilasan. Lihat
garis-garis ini—ini menunjukkan aliran sungai bawah tanah. Dan lingkaran
ini—ini ruangan besar. Mungkin ruang utama."
Mereka semua tegang. Jadi selama ini, di bawah desa mereka,
tersembunyi sesuatu yang luar biasa. Dan Pak Surya tahu tentang itu. Mungkin
itu sebabnya dia menyelidiki—bukan hanya kasus korupsi tanah, tapi juga misteri
yang lebih tua.
"Pak Profesor, di mana lokasi tepatnya?" tanya
Pras.
Profesor Hardono menunjukkan gambar itu. "Menurut peta
ini, pintu masuknya ada di... tunggu... di belakang rumah ini. Di bawah pohon
beringin besar."
70. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa , Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Mereka semua berlari ke belakang rumah. Di sana, memang ada
pohon beringin raksasa, usianya mungkin ratusan tahun. Akar-akarnya menjuntai
ke tanah, membentuk tirai alami.
"Di sini," kata Profesor Hardono, menunjuk ke
arah akar-akar yang paling tebal. "Menurut peta, di balik akar ini."
Pak RW mengambil parang dan mulai memotong akar-akar kecil
yang menghalangi. Raka, Joko, dan Pras membantu. Aria hanya menonton, matanya
berkaca-kaca—mungkin teringat ayahnya yang dulu mungkin juga melakukan hal yang
sama.
Setelah satu jam bekerja keras, mereka menemukannya. Sebuah
lubang vertikal, selebar satu meter, gelap, tidak terlihat dasarnya.
"Ini... ini sumur tua?" tanya Joko.
"Bukan sumur. Ini jalan masuk ke gua," kata
Profesor Hardono. "Lihat, dindingnya buatan manusia. Ada ukiran di
sini."
Mereka menyalakan senter dan menyorot ke dalam. Di dinding
lubang, terlihat ukiran-ukiran samar—sama seperti simbol di dinding kamar.
"Kita harus turun," kata Raka.
Kali ini tidak ada yang keberatan. Rasa penasaran sudah
mengalahkan rasa takut.
Pak RW memasang tali panjang yang kuat. Dia turun lebih
dulu, diikuti Profesor Hardono, lalu Raka, Joko, Pras, dan terakhir Aria yang
memaksakan diri meskipun ketakutan.
Turunnya sekitar 15 meter. Di dasar, mereka menemukan
lorong horizontal. Lorong itu cukup lebar, sekitar dua meter, dengan langit-langit
setinggi tiga meter. Dindingnya penuh ukiran—gambar dewa-dewi, binatang
mitologi, dan pemandangan alam.
"Ini... ini candi," bisik Profesor Hardono,
suaranya bergetar. "Candi bawah tanah. Dari abad ke-8 atau ke-9 Masehi.
Sama tua dengan Candi Borobudur."
Mereka berjalan menyusuri lorong. Udara dingin dan lembab,
tapi tidak pengap—mungkin ada ventilasi alami. Setelah berjalan sekitar 100
meter, lorong itu melebar menjadi ruangan besar.
Dan di ruangan itu... mereka berhenti, terpana.
Di depan mereka, berdiri sebuah altar batu. Di atas altar,
sebuah peti batu berukir. Di sekeliling altar, puluhan patung batu—patung
dewa-dewi, patung penjaga, patung manusia sedang bersemedi.
71. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desaa Sriwidadi
"Ini... ini ruang utama," kata Profesor Hardono.
"Tempat penyimpanan pusaka."
Pak RW mendekati altar dengan hati-hati. "Apa kita
boleh buka?"
"Sebagai arkeolog, saya harus bilang tidak. Tapi
sebagai manusia, saya penasaran," Profesor Hardono tersenyum. "Tapi
demi penelitian, kita buka. Dengan hati-hati."
Mereka mengelilingi altar. Tutup peti batu itu sangat
berat. Butuh usaha bersama untuk menggesernya. Ketika terbuka, mereka semua
menarik napas.
Di dalam peti, ada benda-benda emas. Mahkota, gelang, kalung,
cincin—semuanya dari emas murni. Juga ada prasasti batu bertulis,
keramik-keramik kuno, dan sebuah kotak kayu cendana yang masih utuh.
"Masya Allah..." bisik Joko. "Ini harta
karun."
"Bukan harta karun biasa," kata Profesor Hardono.
"Ini pusaka kerajaan. Kerajaan Medang atau Kahuripan mungkin. Ini penemuan
besar. Sangat besar."
Raka mengambil kotak kayu cendana itu. Dia membukanya
dengan hati-hati. Di dalamnya, ada gulungan daun lontar, bertuliskan aksara
kuno.
"Bisa Baca, Pak?" tanya Raka.
Profesor Hardono mengambil kaca pembesar dari sakunya. Dia
membaca perlahan, matanya menyipit.
"Ini... ini silsilah. Silsilah keluarga raja. Dan di
akhir... ada nama. Nama yang sama dengan... Pak Surya. Surya Pratama."
Semua orang terkesiap. "Apa?"
"Ini silsilah keluarga. Dari raja-raja kuno hingga...
hingga Pak Surya. Berarti... Pak Surya adalah keturunan raja. Darah biru."
Aria menangis. Dia tidak tahu bahwa ayahnya adalah
keturunan bangsawan. Mungkin Pak Surya sendiri tidak tahu. Atau mungkin dia
tahu, dan itu sebabnya dia tertarik pada misteri ini.
"Dan ini," Profesor Hardono melanjutkan,
"ada catatan tentang 'penjaga rahasia'. Penjaga yang ditugaskan menjaga
tempat ini. Dari generasi ke generasi."
Mata semua orang tertuju pada Aria.
72. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Penjaga rahasia..." ulang Raka pelan.
"Mungkin itu tugas keluarga kalian, Aria. Menjaga tempat ini. Menjaga
pusaka leluhur."
Aria menggeleng, menangis. "Aku... aku tidak tahu.
Ayah... tidak pernah bilang."
"Mungkin dia tidak sempat bilang," kata Pak RW
lembut. "Dia terlalu sibuk membongkar kejahatan Karta dan
kawan-kawan."
Malam itu, mereka naik ke atas dengan perasaan campur aduk.
Kagum, takjub, sedih, dan bangga. Mereka telah menemukan sesuatu yang luar
biasa—sesuatu yang akan mengubah sejarah desa, bahkan mungkin sejarah
Indonesia.
Berita tentang penemuan candi bawah tanah dan pusaka kuno
menyebar cepat. Wartawan berdatangan dari berbagai kota. Arkeolog dari
universitas-universitas besar datang untuk meneliti. Pemerintah mengirim tim
untuk mengamankan lokasi.
Desa Tanah Lenyap yang dulu sunyi, kini ramai seperti
pasar. Warga desa membuka warung, menyewakan kamar, menjadi pemandu wisata
dadakan. Ekonomi desa meningkat drastis.
Tapi di tengah keramaian itu, ada satu hal yang mengganggu
Raka.
Sejak malam di rumah tua ketika mereka bertemu Karman, Raka
sering merasa diawasi. Bukan oleh Karman—Karman sudah di penjara. Tapi oleh
seseorang yang lain. Sesosok bayangan yang kadang terlihat di balik jendela
rumah tua, di balik pepohonan, di pinggir hutan.
Dia ceritakan pada Joko dan Pras.
"Mungkin hanya perasaanmu," kata Joko. "Kita
sudah terlalu lama dalam ketegangan."
"Atau mungkin wartawan yang iseng motret-motret,"
tambah Pras.
Tapi Raka tidak yakin. Tatapan itu berbeda. Tatapan itu
tajam, menusuk, seperti seseorang yang sedang mengamati dengan tujuan tertentu.
Suatu malam, ketika Raka sedang duduk di teras rumah
neneknya, dia melihat bayangan itu lagi. Di bawah pohon mangga di seberang
jalan, sesosok orang berdiri, menatap ke arahnya.
Raka bangkit, berniat mengejar. Tapi bayangan itu sudah
menghilang, seperti ditelan gelap.
Dia memutuskan untuk mencari tahu.
Besoknya, dia pergi ke rumah Pak RW dan menceritakan
semuanya.
73. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Pak RW, saya yakin ada seseorang yang mengawasi kita.
Bukan Karman—dia sudah di penjara. Tapi orang lain."
Pak RW mengerutkan dahi. "Orang lain? Siapa?"
"Saya tidak tahu. Tapi dia muncul setiap malam. Menatap
dari kejauhan."
Pak RW diam berpikir. Lalu dia berkata, "Mungkin...
mungkin ada pelaku lain yang belum tertangkap. Mungkin kaki tangan Karta yang
masih berkeliaran."
"Tapi untuk apa mereka mengawasi kita? Bukti sudah
diserahkan ke polisi. Pelaku sudah ditahan."
"Untuk memastikan. Atau untuk... mencari
sesuatu."
"Mencari apa?"
Pak RW menatap Raka serius. "Pusaka itu. Mungkin
mereka tahu tentang pusaka itu. Mungkin mereka ingin mengambilnya."
Raka merinding. Dia tidak memikirkan itu. Selama ini mereka
sibut dengan kebahagiaan menemukan candi, lupa bahwa harta karun itu bisa
menarik perhatian orang-orang jahat.
"Pak, kita harus jaga tempat itu."
"Polisi sudah menjaganya. Tapi mungkin... kita perlu
waspada. Jangan jalan sendirian malam-malam."
Raka mengangguk. Tapi di dalam hatinya, dia bertekad untuk
mencari tahu siapa bayangan itu.
Malam berikutnya, dia bersiap. Dia memakai baju gelap,
membawa senter kecil, dan bersembunyi di balik semak-semak dekat pohon mangga.
Dia menunggu.
Jam 9 malam. Sepi.
Jam 10. Hanya suara jangkrik.
Jam 11. Raka hampir menyerah.
Tapi kemudian, dia melihatnya. Bayangan itu muncul dari
balik pohon, berjalan pelan, menatap ke arah rumah nenek Raka.
Raka menahan napas. Bayangan itu berhenti, seperti
mendengar sesuatu. Lalu perlahan, bayangan itu berbalik.
74. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa , Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Wajahnya... wajahnya familiar. Wajah yang pernah Raka lihat
di foto-foto lama.
Pak Surya? Bukan. Pak Surya sudah meninggal, kerangkanya
sudah ditemukan.
Tapi siapa?
Bayangan itu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan
tempat itu. Raka mengikutinya dari jarak aman. Bayangan itu masuk ke hutan di
belakang desa. Raka terus mengikuti, meskipun takut.
Di tengah hutan, bayangan itu berhenti. Dia berdiri di
bawah pohon besar, membelakangi Raka.
Raka mendekat pelan-pelan. Jantungnya berdegup kencang.
"Siapa kamu?" tanyanya, suaranya bergetar.
Bayangan itu menoleh perlahan.
Dan Raka melihat wajah yang sama persis dengan wajah Aria.
Tapi lebih tua. Lebih tua 20 tahun.
"Siapa... siapa kamu?" ulang Raka.
Pria itu tersenyum sedih. "Aku... pamannya Aria.
Adiknya Pak Surya."
Raka terkesiap. "Apa?"
"Dengar, Raka. Waktuku singkat. Mereka akan
mengejarku. Tapi kau harus tahu: rahasia ini belum selesai. Masih ada yang
lebih dalam. Di bawah candi itu, ada ruangan lain. Ruangan yang lebih tua. Di
sanalah kebenaran sesungguhnya."
"Tapi—"
Pria itu menggeleng. "Tidak ada waktu. Aku akan
hubungi kau lagi. Jaga Aria. Jaga pusaka itu. Mereka akan datang. Mereka selalu
datang."
Pria itu berbalik dan menghilang di balik pepohonan,
meninggalkan Raka yang terpaku, jantung berdegup kencang.
Adiknya Pak Surya? Pamannya Aria?
Tapi kenapa dia bersembunyi? Kenapa tidak pernah muncul
sebelumnya?
Raka berlari pulang, pikirannya kacau. Dia harus cerita
pada yang lain. Besok.
75. Misteri Rumah Tua di Ujung Desa,
Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Pagi harinya, Raka langsung menemui Pak RW, Joko, Pras, dan
Aria. Dia ceritakan semua yang terjadi semalam.
Aria pucat pasi. "Paman? Aku... aku punya paman?"
Pak RW mengerutkan dahi. "Pak Surya memang punya adik.
Namanya... tunggu... Suryanto. Tapi dia dikabarkan meninggal waktu kecil.
Tenggelam di sungai."
"Tapi pria itu bilang dia adik Pak Surya. Dia bilang
mereka akan mengejarnya."
"Mereka? Siapa mereka?"
Raka menggeleng. "Tidak tahu. Dia bilang masih ada
ruangan di bawah candi. Ruangan yang lebih tua."
Pak RW berdiri. "Kita harus cari tahu. Ayo ke
candi."
Mereka kembali ke gua bawah tanah, kali ini dengan
perlengkapan lebih lengkap. Pak RW membawa linggis dan palu. Profesor Hardono,
yang masih tinggal di desa, ikut serta.
Mereka menuruni lubang, melewati lorong, sampai ke ruangan
altar. Profesor Hardono memeriksa dinding-dinding dengan teliti.
"Kata pria itu, di bawah candi ini ada ruangan lain,"
kata Raka.
Profesor Hardono mengamati lantai ruangan. "Mungkin...
mungkin ada pintu rahasia. Di candi-candi kuno, sering ada ruangan bawah tanah.
Tempat penyimpanan benda-benda paling suci."
Mereka mulai memeriksa setiap sudut. Joko mengetuk-ngetuk
lantai dengan palu, mencari bagian yang berongga. Pras memeriksa ukiran-ukiran
di dinding, mencari yang tidak biasa.
Tiba-tiba, Aria berteriak. "Di sini! Ada
tulisan!"
Semua berkumpul. Di dinding belakang altar, hampir tidak
terlihat karena tertutup lumut, ada ukiran aksara kuno.
Profesor Hardono membaca dengan susah payah. "'Jika
kau mencari kebenaran sejati, bukalah pintu di bawah kakimu. Tapi ingat:
kebenaran sejati tidak selalu membebaskan. Kadang, ia mengurungmu dalam
pengetahuan yang lebih berat.'"
"Misterius sekali," gumam Pras.
Mereka memeriksa lantai di bawah tulisan itu. Raka
mengetuknya. Terdengar bunyi agak berbeda—berongga.
76. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Di sini!"
Pak RW menggunakan linggis untuk mencongkel lantai batu.
Perlahan, sebuah batu besar terangkat. Di bawahnya, ada lubang gelap.
Lubang itu lebih sempit dari lubang masuk pertama. Hanya
cukup untuk satu orang.
"Aku turun," kata Raka tegas.
"Aku ikut," sambung Aria.
Pak RW menghela napas. "Hati-hati. Kalau ada apa-apa,
teriak."
Raka turun lebih dulu, diikuti Aria. Lubang itu curam, tapi
ada celah-celah untuk berpijak. Setelah turun sekitar 10 meter, mereka sampai
di ruangan lain.
Ruangan ini lebih kecil, hanya sekitar 3x3 meter. Di
tengahnya, ada sebuah peti batu, lebih kecil dari yang di atas. Tapi yang
membuat Raka merinding adalah apa yang ada di dinding.
Lukisan. Lukisan dinding yang menggambarkan adegan-adegan
mengerikan. Orang-orang diikat, orang-orang dipenggal, orang-orang dibakar. Dan
di tengah semua itu, seorang raja duduk di singgasana, tersenyum.
"Ini... ini ruangan apa?" bisik Aria.
Raka mendekati peti batu. Dia membukanya dengan hati-hati.
Di dalam peti, bukan emas atau perhiasan. Tapi buku-buku.
Puluhan buku, ditulis tangan, dengan sampul kulit.
Raka mengambil satu dan membukanya. Bahasa Indonesia, tapi
dengan ejaan lama.
"Catatan ini aku tulis sebagai saksi. Saksi atas
kekejaman yang terjadi di desa ini. Bukan sekarang, tapi ratusan tahun lalu.
Kerajaan ini, kerajaan yang konon 'adil dan makmur', ternyata menyimpan rahasia
kelam. Setiap tahun, mereka mengorbankan manusia untuk dewa-dewa mereka. Dan
tempat pengorbanan itu... ada di bawah candi ini."
Raka membacakan dengan suara gemetar. Aria memegang
lengannya erat-erat.
"Aku, Jayengrana, juru tulis kerajaan, menulis ini
sebagai peringatan. Jangan pernah percaya pada kekuasaan yang tidak transparan.
Jangan pernah biarkan rahasia dikubur begitu saja. Karena rahasia, seberapa
dalam pun dikubur, pada akhirnya akan muncul juga."
Jayengrana. Nama yang sama dengan buyut Aria yang disebut
dalam surat di lorong.
77. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Raka mengambil buku-buku itu. Ada puluhan catatan, dari
berbagai masa. Catatan tentang praktik pengorbanan manusia, tentang konspirasi
istana, tentang pembunuhan raja-raja, tentang pengkhianatan para bangsawan.
Dan di buku paling bawah, ada catatan modern—dengan tinta
ballpoint, bukan tinta kuno.
"Aku, Surya Pratama, menemukan ini. Aku tidak menyangka
bahwa keluargaku, keturunan Jayengrana, adalah penjaga rahasia ini. Rahasia
yang lebih gelap dari yang kubayangkan. Tapi aku harus memberitahu dunia.
Meskipun aku tahu, mereka akan membungkamku."
Raka menangis. Pak Surya tahu semua ini. Dia tahu sejarah
kelam keluarganya. Dan dia memilih untuk membongkarnya, meskipun tahu
risikonya.
"Ayah..." bisik Aria, air matanya jatuh.
"Ayah tahu... Ayah tahu semuanya."
Mereka berdua duduk di ruangan itu, di antara buku-buku tua
dan lukisan-lukisan mengerikan, menangis untuk Pak Surya. Untuk keberaniannya.
Untuk pengorbanannya.
Mereka membawa semua buku itu ke atas. Profesor Hardono
hampir pingsan melihatnya.
"Ini... ini perpustakaan bawah tanah," katanya.
"Catatan sejarah dari abad ke-8 hingga abad ke-20. Ini tidak ternilai
harganya."
Tapi Raka tidak bisa melupakan kata-kata pria misterius
itu: "Mereka akan datang. Mereka selalu datang."
Siapa "mereka"? Mungkin keturunan para bangsawan
yang namanya tercatat dalam buku-buku itu? Mungkin mereka tidak ingin rahasia
kelam leluhur mereka terbongkar?
Malam itu, Raka, Joko, Pras, dan Aria berkumpul di rumah
Pak RW. Mereka memutuskan untuk merahasiakan penemuan buku-buku itu untuk
sementara, hanya memberi tahu polisi dan Profesor Hardono.
"Kita harus jaga ini baik-baik," kata Pak RW.
"Ini bukan mainan. Ini bisa mengancam nyawa banyak orang."
Tiba-tiba, telepon Pak RW berdering. Dia mengangkat,
wajahnya berubah.
"Apa? Kapan? Baik, saya segera ke sana."
Dia menutup telepon, menatap mereka dengan wajah pucat.
"Karman... meninggal. Di penjara. Diduga
diracun."
78. Misteri RumahTua di
Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Semua orang terkesiap. Karman meninggal? Padahal dia baru
saja menyerahkan diri, baru saja mengaku.
"Ini... ini bukan kebetulan," bisik Raka.
"Mereka... mereka menutup mulutnya."
Pak RW mengangguk pelan. "Kita harus lebih hati-hati.
Mereka bisa melakukan apa saja."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Raka benar-benar merasa
takut. Bukan takut pada hantu atau hal-hal mistis. Tapi takut pada manusia. Manusia
yang rela membunuh untuk menjaga rahasia.
Dari jendela kamarnya, dia melihat ke arah rumah tua.
Cahaya di jendelanya sudah tidak ada. Tapi di balik kegelapan itu, dia tahu ada
rahasia yang masih tersembunyi.
Dan dia tahu, perjuangan mereka belum selesai.
Keesokan harinya, berita kematian Karman menyebar cepat.
Polisi mengatakan itu serangan jantung, tapi semua orang tahu itu tidak masuk
akal. Karman sehat ketika masuk penjara. Terlalu cepat untuk sakit jantung.
Pemakaman Karman digelar sederhana, dihadiri beberapa warga
yang iba. Raka dan kawan-kawan datang, bukan karena simpati pada Karman—dia
tetap pembunuh orang tua Aria—tapi karena ingin melihat siapa saja yang hadir.
Di pemakaman, mereka melihat beberapa orang asing.
Pria-pria berpakaian rapi, berdiri agak jauh, tidak ikut mendoakan. Mereka
hanya mengamati.
"Siapa mereka?" bisik Joko.
Raka menggeleng. "Tidak tahu. Tapi mereka... mereka
mencurigakan."
Setelah pemakaman, Raka mendekati Pak RW. "Pak, lihat
orang-orang itu?"
Pak RW mengamati. "Aku tidak kenal mereka. Bukan warga
sini."
"Saya curiga mereka yang... melakukan itu."
"Bisa jadi. Tapi kita tidak punya bukti."
Malam harinya, Raka memutuskan untuk menjaga rumah tua. Dia
punya firasat buruk. Mungkin orang-orang itu akan datang ke sana.
Dia meminta Joko dan Pras ikut. Aria juga ingin ikut, tapi
Raka melarangnya—terlalu berbahaya.
Mereka bertiga bersembunyi di semak-semak dekat rumah tua,
menunggu. Jam 10,11, 12. Sepi.
79. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu, Desa Sriwidadi
"Raka, mungkin mereka tidak jadi datang," bisik
Joko.
"Ssst... tunggu."
Jam 1 dini hari. Bulan tertutup awan. Gelap total.
Tiba-tiba, mereka melihat cahaya senter dari arah bawah
bukit. Beberapa orang berjalan naik, diam-diam.
"Ada," bisik Raka.
Mereka mengamati. Tiga orang, semuanya pria, berpakaian
hitam. Mereka masuk ke rumah tua melalui pintu depan.
Raka memberi isyarat pada Joko dan Pras untuk mendekat.
Mereka merayap pelan-pelan, bersembunyi di balik jendela.
Dari dalam, terdengar suara. Suara orang berbicara,
meskipun tidak jelas. Lalu suara langkah kaki di lantai atas—suara yang sama
yang didengar Raka malam itu.
"Mereka mencari sesuatu," bisik Pras.
"Apa yang mereka cari?"
"Mungkin buku-buku itu. Atau mungkin pusaka."
Raka berpikir cepat. Dia harus melakukan sesuatu. Tapi apa?
Mereka bertiga, hanya remaja, melawan tiga pria dewasa.
Tiba-tiba, terdengar suara dari dalam—teriakan. Lalu suara
perkelahian. Lalu... suara tembakan.
"Astaga!" Joko hampir berteriak.
Mereka melihat tiga orang itu keluar dari rumah tua,
berlari kencang. Satu dari mereka terlihat pincang, memegang lengannya yang
berdarah.
Setelah mereka pergi, Raka dan kawan-kawan berani masuk. Di
lantai atas, di kamar tempat mereka menemukan Karman dulu, mereka melihat
pemandangan mengerikan.
Seorang pria tergeletak di lantai, berlumuran darah.
Wajahnya... wajah yang sama dengan pria yang ditemui Raka di hutan.
Paman Aria. Suryanto.
"Pak Suryanto!" teriak Raka, berlari mendekat.
80. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Pria itu masih hidup, meskipun napasnya lemah. Dia membuka
mata, melihat Raka.
"Raka... kau... kau datang," bisiknya.
"Pak, tenang. Saya panggil ambulan."
"Tidak... tidak ada waktu. Dengar... aku... aku jaga
tempat ini... selama ini. Aku... adik Surya. Aku... tahu mereka akan
datang."
"Siapa mereka, Pak?"
"Keturunan... keturunan bangsawan... yang namanya
tercatat... di buku-buku itu. Mereka... tidak ingin rahasia terbongkar.
Mereka... sudah lama cari... buku-buku itu."
"Tapi kenapa Bapak tidak bilang dari dulu?"
"Aku... takut. Mereka... kuat. Mereka... punya uang...
punya kuasa. Tapi setelah kau temukan Aria... setelah kau bongkar kejahatan
Karta... aku tahu... kau berbeda. Kau berani."
Pak Suryanto tersenyum lemah. "Jaga... jaga Aria.
Dia... satu-satunya keluarga... yang tersisa. Jaga... buku-buku itu. Dan...
hati-hati... mereka tidak akan... berhenti."
"Pak, siapa nama mereka? Siapa?"
Pak Suryanto meraih tangan Raka. Dengan susah payah, dia
menulis sesuatu di telapak tangan Raka.
Sebuah nama.
Lalu tangannya lemas. Matanya tertutup.
Pak Suryanto meninggal.
Raka menangis. Joko dan Pras menangis. Mereka tidak kenal
pria ini lama, tapi dia telah berkorban untuk mereka. Dia telah menjaga rahasia
ini sendirian selama puluhan tahun.
Polisi datang, ambulan datang. Tapi sudah terlambat. Pak
Suryanto pergi, bergabung dengan kakaknya di alam baka.
Raka melihat telapak tangannya. Di sana, tertulis nama yang
ditulis Pak Suryanto dengan darahnya sendiri.
"Prabu Suryowijaya"
81. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Siapa itu? Nama Jawa kuno. Mungkin salah satu keturunan
bangsawan yang disebut dalam buku-buku itu.
Malam itu, saat mereka pulang dengan perasaan hancur, Raka
berjanji pada dirinya sendiri: dia akan membongkar semuanya. Sampai ke
akar-akarnya. Sampai ke nama-nama yang selama ini bersembunyi di balik
kekuasaan.
Demi Pak Surya. Demi Bu Rina. Demi Pak Suryanto. Demi Aria.
Dan demi kebenaran.
BAGIAN IV
MISTERI TERBESAR
Pemakaman Pak Suryanto digelar tiga hari kemudian. Aria
menangis sepanjang acara—dia baru tahu punya paman, dan kehilangannya dalam
waktu singkat. Tapi di balik kesedihan, ada tekad yang tumbuh. Dia ingin tahu
lebih banyak tentang keluarganya, tentang rahasia yang mereka jaga.
Raka menunjukkan nama yang ditulis Pak Suryanto di telapak
tangannya. Profesor Hardono, yang masih di desa, langsung mengenalinya.
"Prabu Suryowijaya? Itu nama raja dari abad ke-14.
Raja terakhir kerajaan ini sebelum ditaklukkan Majapahit. Catatannya... ada di
buku-buku yang kalian temukan."
Mereka membuka buku-buku itu. Profesor Hardono membaca
dengan saksama.
"Di sini... ada catatan tentang Prabu Suryowijaya. Dia
digambarkan sebagai raja yang kejam. Suka mengorbankan manusia. Tapi juga
cerdas, pandai diplomasi. Dia berhasil mempertahankan kerajaannya dari serangan
Majapahit selama 20 tahun."
"Terus, hubungannya dengan sekarang?" tanya Raka.
"Lihat di sini. Ada daftar keturunannya. Nama-nama
modern. Pengusaha, politisi, pejabat. Mereka semua adalah keturunan langsung
Prabu Suryowijaya."
Raka membaca daftar itu. Beberapa nama terkenal—pengusaha
besar, anggota DPR, bahkan mantan menteri.
"Ini... ini mereka. Orang-orang yang tidak ingin
rahasia ini terbongkar. Karena kalau terbongkar, nama baik leluhur mereka
hancur. Karier mereka hancur."
"Dan mereka rela membunuh untuk menjaganya,"
tambah Pak RW muram.
82. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Joko gemetar. "Kita... kita berhadapan dengan
orang-orang kuat. Lebih kuat dari Pak Lurah."
"Tapi kita punya bukti," kata Raka tegas.
"Kita punya buku-buku ini. Dan kita punya kebenaran."
"Kebenaran tidak cukup kalau tidak ada yang mau
mendengar," kata Pras pelan. "Mereka punya uang, punya kuasa, punya
media. Mereka bisa membungkam kita."
Raka diam. Pras benar. Ini bukan lagi soal hantu atau
misteri desa. Ini soal kekuasaan, uang, dan pengaruh.
Tapi dia tidak menyerah. Dia ingat Pak Surya, yang rela
mati demi kebenaran. Dia ingat Pak Suryanto, yang menjaga rahasia ini sendirian
puluhan tahun. Mereka tidak menyerah. Kenapa dia harus?
"Kita harus cari cara. Kita harus publikasi ini. Tapi
dengan cara yang aman. Melalui orang yang tidak bisa mereka kendalikan."
Pak RW mengangguk. "Wartawan nasional. Yang
independen. Atau LSM. Atau mungkin... media internasional."
"Tapi sebelum itu, kita harus pastikan buku-buku ini
aman. Mereka pasti akan coba mengambilnya."
Malam itu, mereka memindahkan buku-buku itu ke tempat
rahasia. Hanya mereka berlima yang tahu: Raka, Joko, Pras, Aria, dan Pak RW.
Bahkan Profesor Hardono tidak diberitahu, untuk melindunginya.
Tempat persembunyiannya? Di rumah nenek Raka. Di bawah
kolong tempat tidur, di balik tumpukan kasur lama. Tidak ada yang akan curiga.
Seminggu kemudian, keadaan relatif tenang. Polisi masih
menyelidiki kematian Pak Suryanto, tapi tidak ada perkembangan berarti.
Orang-orang asing itu tidak muncul lagi.
Tapi Raka tahu mereka hanya menunggu waktu.
Suatu sore, ketika Raka dan Aria sedang membersihkan rumah
tua untuk persiapan museum, Aria menemukan sesuatu.
Di balik lemari di kamar tidur utama lantai dua—lemari yang
sama yang pernah menjadi tempat duduk Karman malam itu—ada pintu kecil. Pintu
itu tersembunyi di balik panel kayu yang longgar.
"Raka, lihat ini!"
83. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa , Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Mereka membuka panel itu. Di belakangnya, ada pintu kayu
kecil dengan gagang besi berkarat. Raka mencoba membukanya—terkunci.
"Kita perlu kunci."
Mereka mencari di seluruh kamar. Di laci meja, di bawah
kasur, di balik lukisan. Tidak ada.
Aria tiba-tiba teringat sesuatu. "Cincin. Cincin
buyut. Mungkin itu kuncinya."
Cincin dengan batu merah yang mereka temukan di lorong
dulu. Raka mengambilnya dari rumah neneknya.
Dia mencoba memasukkan batu cincin itu ke lubang kunci.
Tidak cocok. Tapi ketika dia memutar cincin itu, terdengar bunyi
"klik". Pintu terbuka.
Di balik pintu, ada tangga sempit menanjak. Ke loteng.
Mereka naik. Loteng rumah tua itu gelap dan berdebu. Tapi
di sana, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Sebuah ruangan kecil, penuh dengan benda-benda. Foto-foto,
pakaian, mainan anak-anak, dan sebuah tempat tidur kecil.
"Ini... ini kamarku?" bisik Aria, matanya
berkaca-kaca. "Ini... ini kamar waktu aku kecil."
Dia mengambil sebuah boneka usang. "Ini... ini
bonekaku. Dulu... Ibu yang buatkan."
Raka melihat sekeliling. Ada foto-foto keluarga di dinding.
Pak Surya dan Bu Rina muda, sedang menggendong Aria bayi. Mereka tersenyum
bahagia.
Di meja kecil, ada sebuah buku. Buku harian lain. Tapi
bukan milik Pak Surya atau Bu Rina. Milik... Aria kecil.
Aria membukanya dengan tangan gemetar.
*"3 Agustus 1985. Hari ini Ayah ajarin aku nulis. Aku
sudah bisa nulis nama sendiri: A-R-I-A. Ayah bilang aku pinter."*
"20 Agustus 1985. Ibu masak bubur ayam. Enak banget.
Aku minta tambah. Ibu senyum."
"5 September 1985. Ayah cerita tentang kakek buyut.
Jayengrana. Ayah bilang kita keturunan penjaga rahasia. Aku nanya rahasia apa.
Ayah bilang nanti kalau aku besar."
84. Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lintera Ilmu Desa
Sriwidadi
"10 September 1985. Malam ini Ayah dan Ibu mau ke
bawah. Aku dilarang ikut. Ayah bilang tunggu di sini. Dia janji balik bawa
cerita. Aku tunggu. Aku tunggu. Tapi... mereka tidak balik."
Tulisan itu berhenti di tanggal 11 September. Halaman berikutnya
kosong. Tapi di halaman terakhir, ada tulisan tangan orang dewasa—tulisan Pak
Surya.
"Jika suatu hari Aria kembali ke sini, ketahuilah Nak:
Ayah dan Ibu sangat mencintaimu. Kami pergi bukan karena meninggalkanmu, tapi
karena kami harus mencari keadilan. Maafkan kami. Jagalah dirimu. Dan ingatlah:
kau adalah keturunan penjaga rahasia. Banggalah."
Aria menangis tersedu-sedu. Raka memeluknya, ikut menangis.
"Ini kamarmu, Aria. Kamu pulang."
Aria mengangguk, tersenyum di sela air mata. "Ya. Aku
pulang."
Penemuan kamar Aria di loteng mengubah segalanya. Rumah tua
itu bukan lagi tempat angker, tapi rumah keluarga. Rumah tempat Aria lahir dan
besar, tempat kenangan indah sebelum tragedi itu terjadi.
Aria memutuskan untuk tinggal di rumah itu. Pak RW setuju,
asalkan ada yang menemani. Raka dan Joko bergantian menjaga.
Suatu malam, ketika mereka bertiga (Raka, Joko, Aria)
sedang duduk-duduk di ruang tamu, mereka mendengar suara aneh. Suara ketukan
dari bawah lantai.
Bukan ketukan biasa—ketukan berirama, seperti kode.
"Ada apa itu?" bisik Joko.
Aria menajamkan pendengaran. "Itu... itu kode. Ayah...
pernah ajari. Dulu, kalau main petak umpet."
Ketukan itu berulang. Tiga kali cepat, dua kali lambat,
tiga kali cepat.
"Itu kode minta tolong," kata Aria.
Mereka mencari sumber suara. Suara itu datang dari bawah
lantai ruang tamu. Tapi lantai ruang tamu adalah semen, tidak ada pintu.
"Di bawah rumah," kata Raka.
Mereka turun ke kolong rumah. Rumah panggung itu memiliki
kolong setinggi satu meter. Dengan senter, mereka merayap di bawah.
85. Misteri Rumah Tua di
Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentea Ilmu Desa Sriwidadi
Di pojok kolong, di balik tumpukan kayu, mereka menemukan
sebuah lubang di tanah. Lubang itu tertutup anyaman bambu.
Raka membuka anyaman itu. Di bawahnya, ada lorong. Lorong
lain—yang tidak mereka ketahui selama ini.
"Astaga... berapa banyak lorong di bawah sini?"
gumam Joko.
Mereka turun. Lorong ini lebih kecil, hanya cukup untuk
merangkak. Mereka merangkak sekitar 20 meter, sampai tiba di sebuah ruangan
kecil.
Di ruangan itu, duduk seorang pria. Pria tua, kurus, dengan
rambut putih panjang. Tangannya terikat, mulutnya disumpal.
Raka buru-buru melepaskan sumpalan itu.
Pria itu terbatuk-batuk. Lalu dia menatap mereka dengan
mata lega.
"Terima kasih... terima kasih sudah datang,"
bisiknya.
"Siapa Bapak?" tanya Raka.
Pria itu menatap Aria lama. Matanya berkaca-kaca.
"Aria... kau... kau sudah besar."
Aria terkesiap. "Bapak kenal saya?"
Pria itu tersenyum sedih. "Aku... aku kakekmu.
Bapaknya Surya."
Semua orang terperanjat. Kakeknya Aria? Berarti mertuanya
Pak Surya? Tapi dia dikabarkan meninggal 40 tahun lalu.
"Bapak... Bapak dikabarkan meninggal," kata Raka.
"Meninggal? Tidak. Aku... diculik. 40 tahun lalu,
ketika Surya masih kecil. Mereka—orang-orang itu—menculikku. Mengurungku di
sini. Mereka ingin tahu... di mana pusaka itu."
"Pusaka?"
"Pusaka keluarga. Yang diwariskan turun-temurun. Bukan
emas atau perhiasan, tapi... pengetahuan. Pengetahuan tentang rahasia kelam
para bangsawan. Aku tidak mau memberitahu mereka. Jadi aku dikurung. 40
tahun."
86. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Aria menangis. Kakeknya hidup dalam kurungan 40 tahun.
Sementara keluarganya mengira dia sudah mati.
"Tapi... tapi kenapa baru sekarang Bapak bisa minta
tolong?"
"Mereka... mereka lalai. Setelah kematian Karman,
mereka sibuk. Penjagaku berkurang. Aku bisa melepas ikatan dan mengetuk kode.
Kode yang dulu kuajarkan pada Surya waktu kecil. Aku tahu... suatu hari...
seseorang akan datang."
Raka memotong tali yang mengikat kakek Aria. Pria tua itu
lemah, tidak bisa berjalan. Mereka bergantian memapahnya keluar dari lorong,
melewati kolong, naik ke rumah.
Di rumah, Pak RW yang kebetulan datang terkejut setengah
mati.
"Ini... ini Mbah Marto? Yang hilang 40 tahun
lalu?"
Kakek Aria mengangguk lemah. "Mulyono... kowe isih
urip."
"Aku kira Bapak sudah meninggal!"
"Mereka ingin aku mati. Tapi aku tidak kasih. Aku
tunggu. Aku tunggu sampai kebenaran terungkap."
Malam itu, kakek Aria—Mbah Marto—bercerita. Dia bercerita
tentang masa mudanya, tentang bagaimana dia menjadi penjaga rahasia keluarga,
tentang penculikannya 40 tahun lalu.
"Mereka datang malam itu. Lima orang. Mereka bongkar
rumahku, cari pusaka. Tidak ketemu. Mereka marah. Mereka bawa aku ke sini. Ke
lorong bawah tanah ini. Mereka tanya terus, di mana pusaka. Aku bilang tidak
tahu. Mereka pukul aku. Berkali-kali. Tapi aku tetap diam."
"Pusaka itu... apa sebenarnya, Kek?" tanya Aria.
Mbah Marto tersenyum. "Kau tahu, Nak. Pusaka itu... bukan
benda. Tapi pengetahuan. Pengetahuan tentang silsilah, tentang rahasia-rahasia
para bangsawan. Itu yang paling ditakuti mereka. Karena dengan pengetahuan itu,
mereka bisa dihancurkan."
"Jadi buku-buku itu... itu pusaka?"
"Buku-buku? Apa itu?"
Raka menjelaskan tentang penemuan buku-buku di ruangan
bawah candi.
87. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa , Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Mbah Marto terkejut. "Kalian... kalian menemukannya?
Setelah sekian lama... kalian menemukannya?" Dia menangis. "Itu...
itu yang mereka cari selama ini. Selama 40 tahun. Itu yang Surya cari, dan
membuatnya mati. Dan kalian... kalian menemukannya."
"Maaf, Kek. Mungkin kalau kami tahu—"
"Tidak, Nak. Jangan minta maaf. Ini takdir. Kalian
memang ditakdirkan menemukannya. Dan sekarang... tugas kalian: menjaga dan
menyebarkannya. Agar rahasia kelam ini tidak terulang lagi. Agar generasi
mendatang tahu, bahwa kekuasaan tanpa keadilan hanya akan melahirkan
kejahatan."
Dua minggu kemudian, Mbah Marto dirawat di rumah sakit
kota. Kondisinya berangsur pulih, meskipun secara psikologis dia masih trauma.
Aria menjenguknya setiap hari, membangun kembali hubungan kakek-cucu yang
hilang 40 tahun.
Raka dan kawan-kawan sibuk mengorganisir dokumen-dokumen.
Dengan bantuan Profesor Hardono, mereka mulai menyalin dan mendigitalisasi
buku-buku kuno itu. Mereka juga menghubungi beberapa wartawan investigasi yang
mereka percaya.
Tapi di balik semua itu, ancaman masih mengintai.
Suatu malam, ketika Raka sedang sendiri di rumah tua (Aria
di rumah sakit, Joko dan Pras pulang), dia mendengar suara orang masuk.
Dia bersembunyi di balik lemari di ruang tamu. Dari situ,
dia melihat tiga orang masuk. Mereka menyenteri setiap sudut, mencari sesuatu.
"Mana buku-bukunya?" bisik salah satu.
"Tidak ada. Mungkin sudah dipindah."
"Cari di lantai atas."
Raka menahan napas. Mereka naik ke lantai atas. Raka
mendengar mereka membongkar kamar-kamar.
Setelah beberapa menit, mereka turun. Wajah mereka kesal.
"Tidak ada. Anak-anak itu pasti sudah sembunyikan."
"Kita harus cari mereka. Paksa mereka bicara."
Raka gemetar. Mereka akan mencari dia dan teman-temannya.
88. Misteri
Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Tapi sebelum mereka keluar, salah satu dari mereka menulis
sesuatu di dinding dengan spidol hitam.
Lalu mereka pergi.
Setelah yakin mereka benar-benar pergi, Raka keluar dari
persembunyian. Dia mendekati dinding. Di sana, tertulis:
"KALIAN PIKIR BISA SEMBUNYIKAN RAHASIA INI? KAMI AKAN
MENEMUKANNYA. DAN KALIAN AKAN MENYESAL. INI PERINGATAN TERAKHIR."
Raka memotret tulisan itu. Lalu dia lari ke rumah Pak RW,
menceritakan semuanya.
Pak RW langsung mengambil tindakan. Dia menelepon polisi,
melaporkan kejadian itu. Polisi datang, mengambil sidik jari, memasang kamera pengawas
di sekitar rumah tua.
Tapi Raka tahu, itu tidak cukup. Orang-orang itu
profesional. Mereka tidak akan mudah ditangkap.
"Kita harus mempercepat rencana kita," katanya
pada Pak RW. "Kita harus segera publikasi ini. Sebelum mereka menyerang
kita."
Pak RW mengangguk. "Wartawan dari Jakarta sudah saya
hubungi. Mereka akan datang besok."
"Besok? Tapi malam ini—"
"Kita jaga. Kita semua jaga. Aku, kau, Joko, Pras, dan
beberapa warga yang bisa dipercaya. Mereka tidak akan berani menyerang kalau
banyak orang."
Raka menghela napas. Semoga saja.
Malam itu, mereka bergantian jaga. Raka jaga dari jam 8
sampai 12, ditemani Joko. Mereka duduk di teras rumah Pak RW, mengamati
sekitar.
Jam 11, mereka melihat mobil hitam melintas pelan di depan
rumah. Mobil itu berhenti sebentar, lalu jalan lagi.
"Itu mereka," bisik Joko.
Raka mengangguk. Dia merasakan jantungnya berdegup kencang.
Mereka sedang diintai. Mereka sedang diburu.
Tapi dia tidak takut. Dia ingat Pak Surya, Bu Rina, Pak
Suryanto, dan sekarang Mbah Marto. Mereka semua berkorban. Dia tidak akan
sia-siakan pengorbanan mereka.
89. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Jok, apa pun yang terjadi besok, kita harus
kuat."
Joko mengangguk. "Aku ora wedi maneh, Raka. Aku wis ndelok
cukup akeh. Wong mati, wong dikurung, wong diculik. Aku ora pengin kuwi
kedadeyan maneh." (Aku tidak takut lagi, Raka. Aku sudah lihat cukup
banyak. Orang mati, orang dikurung, orang diculik. Aku tidak ingin itu terjadi
lagi.)
Mereka berjabat tangan. Persahabatan mereka, yang dimulai
dari rasa penasaran, kini telah menjadi ikatan yang lebih kuat. Ikatan untuk
memperjuangkan kebenaran.
Keesokan harinya, wartawan dari Jakarta datang. Namanya Ibu
Lestari, jurnalis investigasi terkenal yang sudah banyak membongkar kasus-kasus
besar. Dia datang dengan timnya—kamerawan dan asisten.
Raka dan kawan-kawan menerimanya di rumah Pak RW. Mereka
menunjukkan foto-foto, dokumen-dokumen, dan buku-buku kuno. Ibu Lestari membaca
dengan saksama, matanya melebar.
"Ini... ini bom waktu," katanya. "Kalau ini
terbit, bisa mengguncang banyak pihak. Keturunan bangsawan yang sekarang jadi
pengusaha dan politisi... mereka bisa jatuh."
"Tapi ini kebenaran, Bu," kata Raka tegas.
"Mereka tidak boleh lolos."
Ibu Lestari tersenyum. "Kamu anak muda pemberani. Saya
suka. Tapi kalian harus siap dengan konsekuensinya. Mereka tidak akan diam.
Mereka akan serang balik."
"Kami siap, Bu."
Ibu Lestari mengangguk. "Baik. Saya akan tulis ini.
Tapi saya perlu wawancara dengan semua saksi. Termasuk Aria dan kakeknya."
Aria, yang hadir di situ, mengangguk. "Saya siap,
Bu."
Mereka melakukan wawancara seharian. Aria bercerita tentang
35 tahun hidup di bawah tanah. Mbah Marto bercerita tentang 40 tahun dikurung.
Raka, Joko, Pras bercerita tentang petualangan mereka menemukan bukti.
Ibu Lestari mencatat semuanya. Matanya berkaca-kaca
beberapa kali.
"Ini luar biasa," katanya. "Ini bukan
sekadar berita. Ini epik. Ini kisah perjuangan melawan kegelapan."
90. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Malam harinya, Ibu Lestari dan timnya menginap di desa.
Mereka dijaga ketat oleh warga yang sudah tahu situasinya.
Tapi tengah malam, tembakan terdengar.
Semua orang bangun. Raka berlari keluar. Di halaman rumah
Pak RW, dua orang tergeletak—anggota tim Ibu Lestari? Tidak, mereka orang
asing. Dan di samping mereka, Pak RW berdiri dengan pistol di tangan.
"Mereka mau masuk," kata Pak RW tenang. "Aku
tembak kakinya."
Ternyata, dua orang itu adalah penyusup. Mereka datang untuk
menculik Ibu Lestari atau mengambil dokumen.
Polisi datang, menangkap mereka. Tapi Ibu Lestari tahu, ini
baru awal. Mereka tidak akan berhenti.
"Kita harus percepat," katanya. "Saya akan
tulis malam ini juga. Besok pagi saya kirim ke redaksi. Besok sore, berita ini
sudah online."
Mereka bekerja sepanjang malam. Raka membantu mengetik,
Joko mengurutkan foto, Pras memeriksa fakta. Aria dan Mbah Marto beristirahat,
dijaga ketat.
Pagi buta, artikel selesai. Judulnya: "Rahasia Kelam
Keturunan Bangsawan: Pembunuhan, Penculikan, dan Konspirasi Selama 40
Tahun."
Ibu Lestari mengirimkannya ke redaksi. Satu jam kemudian,
balasan datang: "Tayang jam 10 pagi. Siap-siap."
Mereka menunggu dengan tegang. Jam 10 pagi, artikel itu
muncul. Dalam hitungan menit, komentar membanjiri. Media-media lain mengutip.
Televisi mulai menelepon.
Dan yang paling penting: polisi bergerak. Nama-nama yang
disebut dalam artikel itu mulai diperiksa. Beberapa langsung ditahan untuk
dimintai keterangan.
Kebenaran akhirnya terungkap.
Tiga hari setelah artikel itu terbit, situasi berubah
drastis. Beberapa tokoh yang disebut mengundurkan diri dari jabatannya. Polisi
membuka penyelidikan formal. Publik marah, menuntut keadilan.
Di desa, suasana campuran antara lega dan tegang. Lega
karena kebenaran terungkap. Tapi juga tegang karena mereka tahu, masih ada yang
tidak terima.
91. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Suatu malam, Raka mendapat telepon dari Ibu Lestari.
"Raka, hati-hati. Saya dapat informasi, mereka akan
coba menghancurkan bukti-bukti di desa. Mungkin membakar rumah tua atau
sesuatu. Jaga baik-baik."
Raka langsung memberi tahu Pak RW. Mereka berjaga malam
itu.
Dan benar saja, tengah malam, mereka melihat api di
kejauhan. Rumah tua terbakar.
Mereka berlari ke sana bersama warga. Tapi api sudah
membesar. Rumah tua yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun itu hangus dalam
waktu singkat.
Aria menangis melihat rumah masa kecilnya ludes. Tapi Raka
menenangkannya.
"Tenang, Aria. Bukti-bukti penting sudah kita
pindahkan. Yang terbakar hanya bangunan."
Itu benar. Buku-buku, dokumen, foto-foto—semua sudah
disimpan di tempat aman. Yang terbakar hanya rumah tua itu sendiri.
Polisi datang, memadamkan api. Mereka menemukan bekas
bensin di beberapa tempat. Jelas ini pembakaran sengaja.
Tapi para pelaku sudah kabur. Mungkin mereka pikir dengan
membakar rumah, bukti-bukti akan musnah. Mereka tidak tahu, bukti-bukti itu
sudah ribuan kilometer dari sana, di brankas kantor Ibu Lestari di Jakarta.
Pagi harinya, saat matahari terbit, Raka dan kawan-kawan
berdiri di depan puing-puing rumah tua. Rumah yang dulu menakutkan, yang
menyimpan begitu banyak rahasia, kini tinggal abu.
Tapi di balik abu itu, ada harapan baru. Harapan bahwa masa
depan akan lebih baik.
"Raka, lihat," kata Joko, menunjuk.
Di tengah puing-puing, sesuatu berkilau. Raka mendekat. Itu
sebuah foto—foto lama yang terbakar setengah. Tapi bagian yang tersisa masih
jelas.
Foto itu memperlihatkan Pak Surya dan Bu Rina, sedang
menggendong Aria kecil. Mereka tersenyum bahagia. Aria mengambil foto itu
dengan hati-hati. Air matanya jatuh.
"Ini... ini foto terakhir mereka," bisiknya.
"Mungkin mereka mengirim pesan," kata Raka.
"Bahkan dalam api, mereka ingin kau tahu: mereka selalu bersamamu." Aria
tersenyum. Dia memeluk foto itu erat-erat.
92. Misteri Rumah Tua di Ujung Desa,
Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Beberapa minggu setelah kebakaran, keadaan mulai tenang.
Para pelaku kejahatan—baik yang lama (kasus Pak Surya) maupun yang baru (kasus pembakaran)—ditangkap
satu per satu. Berkat bukti-bukti yang diawetkan dan kesaksian para saksi,
mereka dijatuhi hukuman berat.
Aria dan Mbah Marto tinggal di rumah Pak RW, sambil
menunggu rumah baru dibangun di bekas rumah tua. Warga desa bergotong royong
membangunkan mereka rumah sederhana tapi layak.
Suatu sore, ketika Raka sedang berjalan-jalan di hutan
dekat desa, dia melihat seseorang. Seorang pria paruh baya, duduk di bawah
pohon, memandang ke arah desa.
Raka mendekat. Pria itu menoleh.
"Apa kau Raka?" tanyanya.
"Iya. Bapak siapa?"
Pria itu tersenyum. "Aku... aku salah satu dari
mereka. Salah satu keturunan bangsawan itu."
Raka langsung siaga. "Mau apa Bapak ke sini?"
"Tenang. Aku tidak akan mencelakaimu. Aku justru...
mau berterima kasih."
"Berterima kasih? Kenapa?"
Pria itu menarik napas panjang. "Karena kau membongkar
semuanya. Keluargaku, selama ini hidup dalam kebohongan. Kami bangga dengan
leluhur kami, tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Setelah artikel
itu, kami tahu. Kami malu. Tapi kami juga lega. Akhirnya tahu kebenaran."
"Maaf... tapi Bapak..."
"Aku tidak terlibat dalam kejahatan itu. Aku tidak
tahu. Ayahku, pamanku, mereka yang terlibat. Mereka sekarang di penjara. Tapi
aku... aku ingin memulai hidup baru. Dengan kebenaran. Dengan kejujuran."
Raka diam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Aku ke sini untuk minta maaf. Atas nama keluargaku.
Dan untuk berterima kasih. Karena kalian, kami bisa membebaskan diri dari dosa
warisan."
Pria itu berdiri, memberi hormat pada Raka, lalu berjalan
pergi meninggalkan hutan.
93. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Raka menatapnya pergi. Dia tidak tahu harus merasa apa.
Marah? Sedih? Lega? Tapi satu hal yang dia tahu: kebenaran memang membebaskan.
Bahkan bagi mereka yang selama ini hidup dalam kebohongan.
Tiga bulan setelah peristiwa besar itu, desa Tanah Lenyap
akhirnya benar-benar tenang. Rumah baru Aria dan Mbah Marto selesai dibangun,
tidak jauh dari bekas rumah tua. Di bekas rumah tua, didirikan tugu peringatan
untuk Pak Surya, Bu Rina, dan Pak Suryanto.
Raka, Joko, Pras, dan Aria menjadi sahabat sejati. Mereka
lulus SMP bersama, lalu melanjutkan ke SMA yang sama di kota. Setiap akhir
pekan, mereka pulang ke desa, membantu warga atau sekadar berkumpul.
Suatu malam, mereka duduk di teras rumah Aria, menatap
langit berbintang. Mbah Marto ada di dalam, sudah tidur.
"Raka, kowe kelingan wektu pertama weruh cahaya omah
tua?" tanya Joko.
Raka tersenyum. "Mana lupa. Waktu itu aku kaget
setengah mati."
"Terus kita ngintip, terus weruh mata abang,"
tambah Pras. "Aku wedi tenan wektu kuwi." (Aku takut sekali waktu
itu.)
"Tapi ternyata, itu cuma Karman. Orang tua yang
ketakutan, bukan hantu."
Aria tersenyum sedih. "Karman... meskipun dia jahat,
aku bisa maafkan. Dia sudah mengaku dan minta maaf."
"Kabar terakhir, yang bunuh Karman di penjara juga
sudah tertangkap," kata Raka. "Mereka orang suruhan salah satu
tersangka. Karma bekerja."
Mereka diam sejenak, merenungkan semua yang telah mereka
lalui. Petualangan yang mengubah hidup mereka.
Tiba-tiba, dari kejauhan, mereka melihat cahaya. Cahaya
kecil, berkedip-kedip, di tempat bekas rumah tua.
"Apa itu?" bisik Joko.
Mereka berdiri, menatap. Cahaya itu muncul sebentar, lalu
padam. Muncul lagi, padam lagi. Seperti kode.
Aria tersenyum. "Itu... itu Ayah. Atau Ibu. Mereka...
pamit."
94. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Pamit?"
"Iya. Mereka sudah tenang. Mereka tahu kita baik-baik
saja. Mereka... pergi."
Cahaya itu muncul sekali lagi—lebih terang dari
sebelumnya—lalu padam. Tidak muncul lagi.
Mereka menunggu lama. Tapi cahaya itu benar-benar pergi.
"Selamat jalan, Pak Surya, Bu Rina," bisik Raka.
"Tenanglah di sisi-Nya."
Angin malam berhembus lembut, membawa bau bunga melati.
Seperti jawaban. Seperti ucapan terima kasih.
Keesokan harinya, ketika mereka sedang membersihkan loteng
rumah Aria (bekas rumah Pak RW yang sekarang jadi tempat tinggal mereka), Raka
menemukan sesuatu.
Di sela-sela buku lama peninggalan Pak Surya, ada sebuah peta.
Bukan peta biasa—peta yang digambar tangan, dengan detail yang rumit.
"Ini peta apa?" tanya Raka.
Aria mendekat. Matanya membelalak. "Ini... ini peta
hutan di belakang desa. Tapi ada tanda-tanda aneh di sini."
Mereka mempelajari peta itu. Ada tanda silang di beberapa
tempat, dengan tulisan kecil di sampingnya: "Gua pertama",
"Candi utama", "Makam leluhur", dan yang paling menarik:
"Pusaka tersembunyi".
"Pusaka tersembunyi? Bukannya pusaka sudah kita
temukan?" tanya Joko.
"Buku-buku itu pusaka. Tapi mungkin masih ada yang
lain."
Pras mengamati peta itu dengan saksama. "Lihat, di
sini ada tanda lain. Bukan silang, tapi bintang. Dan tulisannya: 'Yang
terakhir. Untuk keturunan sejati.'"
Mereka saling pandang. Keturunan sejati? Mungkin Aria?
"Aria, apa kakekmu pernah bilang tentang ini?"
Aria menggeleng. "Tidak pernah. Tapi mungkin...
mungkin dia tahu."
Mereka menemui Mbah Marto, yang sekarang sudah lebih sehat.
Mbah Marto melihat peta itu, matanya berkaca-kaca.
95. Misteri Rumahn Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Ini... ini peta yang dibuat ayahku. Kakek buyutmu,
Aria. Dia yang pertama kali menemukan semua ini. Dia bilang, ada satu tempat
yang paling rahasia. Tempat di mana dia menyimpan... pengetahuannya yang paling
berharga."
"Apa itu, Kek?"
Mbah Marto tersenyum misterius. "Itu bukan benda.
Itu... kearifan. Tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Tentang
bagaimana menjaga keseimbangan alam dan manusia. Tentang bagaimana menggunakan
kekuasaan dengan bijak. Itu yang paling ditakuti oleh para penguasa
jahat—karena itu bisa melawan mereka."
"Jadi... kita harus cari itu?"
"Terserah kalian. Tapi ingat: pengetahuan sejati tidak
perlu dicari. Ia akan menemukanmu, jika kau siap."
Malam itu, mereka memutuskan untuk mencari tempat itu.
Bukan karena ingin mendapat pusaka, tapi karena ingin menyelesaikan petualangan
mereka. Ingin memberi penghormatan terakhir pada leluhur Aria.
Pagi-pagi buta, mereka berangkat. Raka, Joko, Pras, Aria,
dan Pak RW. Mereka membawa perlengkapan lengkap: senter, tali, kompas, air, dan
bekal.
Peta itu menunjukkan lokasi di tengah hutan, sekitar dua
jam perjalanan dari desa. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang semakin
lama semakin hilang ditelan semak.
Setelah satu jam, kabut turun. Tebal sekali, jarak pandang
hanya beberapa meter.
"Hati-hati, jangan terpisah," perintah Pak RW.
Mereka berjalan berpegangan, saling memanggil. Tiba-tiba,
dari balik kabut, terdengar suara langkah kaki. Banyak kaki.
"Ada orang," bisik Raka.
Mereka bersembunyi di balik semak. Dari balik kabut, muncul
sekelompok orang—lima atau enam orang, berpakaian hitam, membawa senjata tajam.
"Mereka... mereka siapa?" bisik Joko.
"Mungkin sisa-sisa komplotan yang belum
tertangkap."
96. Misteri Rumah Tua
ddi Ujung Desa, Perpustaakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Kelompok itu berhenti tidak jauh dari mereka. Mereka
berbicara pelan, tapi Raka bisa mendengar beberapa kata.
"...peta... mereka cari..."
"...kita cegat... jangan sampai..."
"...bunuh saja... biar selesai..."
Raka merinding. Mereka tahu. Mereka tahu tentang peta itu.
Mungkin mereka mengikuti sejak dari desa.
Kelompok itu bergerak menyebar, mencari. Raka dan
kawan-kawan bersembunyi, tidak berani bergerak.
"Kita harus lari," bisik Pak RW. "Tapi
jangan ke arah desa. Mereka pasti jaga. Ke arah sebaliknya, ke dalam
hutan."
Mereka merayap pelan, menjauh. Tapi salah satu dari
kelompok itu menoleh, melihat gerakan.
"Ada di sana! Kejar!"
Mereka berlari. Kabut tebal membuat semuanya sulit. Raka
memegang tangan Aria, Joko memegang Pras, Pak RW di belakang.
"Mereka makin dekat!"
Tiba-tiba, Raka melihat sesuatu di depan. Sebuah dinding
batu. Gua.
"Masuk gua!"
Mereka masuk ke dalam gua. Gelap gulita. Mereka meraba-raba
dinding, mencari jalan. Di belakang, suara pengejar semakin dekat.
"Di mana mereka?"
"Cari! Pasti masuk sini!"
Raka dan kawan-kawan terus merayap lebih dalam. Gua itu
bercabang-cabang. Mereka memilih cabang yang paling sempit, berharap pengejar
tidak menemukan.
Setelah merayap cukup jauh, mereka berhenti. Hanya suara
napas mereka sendiri yang terdengar.
"Apakah... mereka... ikut?" bisik Joko terengah.
Tidak ada suara pengejar. Mungkin mereka tersesat di cabang
lain.
97. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Perlahan, Raka menyalakan senter—dari tadi dia matikan agar
tidak terlihat. Cahaya senter menerangi gua. Dinding-dindingnya penuh
ukiran—sama seperti di candi bawah tanah.
"Ini... ini gua yang sama?" tanya Pras.
"Bukan. Ini lebih dalam. Mungkin terhubung."
Mereka berjalan lebih dalam. Setelah beberapa menit, mereka
sampai di sebuah ruangan. Ruangan itu bundar, dengan langit-langit tinggi. Di
tengah, ada sebuah batu besar, seperti altar.
Dan di altar itu, ada sesuatu. Bukan emas atau perhiasan.
Tapi sebuah buku. Buku besar, bersampul kulit, diletakkan di atas batu.
Raka mendekat, membuka buku itu. Halaman pertama
bertuliskan:
"Kepada keturunanku yang menemukan ini. Aku,
Jayengrana, menuliskan ini di akhir hayatku. Ini bukan tentang harta. Ini
tentang kebijaksanaan. Tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik, tentang
bagaimana menjaga alam, tentang bagaimana memperlakukan sesama. Bacalah.
Resapilah. Dan wariskan pada generasi selanjutnya. Karena hanya dengan
kebijaksanaan, manusia bisa selamat dari kehancuran."
Raka menangis. Bukan karena sedih, tapi karena terharu.
Inilah pusaka sejati. Bukan emas, bukan perhiasan. Tapi pengetahuan. Kearifan.
Warisan leluhur yang sesungguhnya.
Di luar, suara pengejar mulai terdengar lagi. Tapi anehnya,
suara itu diikuti suara lain—suara banyak orang, suara warga desa.
"Raka! Joko! Aria! Pras! Di mana kalian?"
Itu suara Pak Mulyono. Dan suara warga lain.
Mereka keluar dari ruangan, mengikuti suara. Di luar gua,
mereka melihat pemandangan menakjubkan: puluhan warga desa, membawa obor dan
senjata seadanya, mengepung para pengejar.
Para pengejar menyerah. Mereka tidak bisa melawan massa.
Ternyata, Pak Mulyono dan warga khawatir ketika Raka dan
kawan-kawan tidak pulang sampai sore. Mereka membentuk tim pencari dan
mengikuti jejak. Mereka bertemu para pengejar di hutan dan langsung mengepung.
"Kalian selamat?" tanya Pak Mulyono cemas.
98. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera bIlmu Desa Sriwidadi
"Selamat, Pak. Dan kami menemukan... ini."
Raka menunjukkan buku besar itu.
Pak Mulyono membaca judulnya. Matanya berkaca-kaca.
"Ini... ini warisan leluhur. Yang selama ini
dicari-cari. Dan kalian menemukannya."
Aria memeluk Raka. "Terima kasih, Raka. Terima kasih
sudah menemaniku."
Raka tersenyum. "Kita sahabat, Aria. Sahabat sejati.
Selalu bersama."
BAGIAN V
TERUNGKAPNYA RAHASIA
Penemuan buku kebijaksanaan Jayengrana menjadi puncak dari
semua petualangan mereka. Para pengejar ditangkap dan ternyata mereka adalah
sisa-sisa komplotan yang belum tertangkap. Dengan penangkapan itu, seluruh jaringan
kejahatan yang berkaitan dengan rahasia desa akhirnya bersih.
Buku itu diserahkan kepada Mbah Marto dan Aria, sebagai
keturunan sah Jayengrana. Mereka membacanya bersama-sama, mempelajari kearifan
leluhur. Beberapa bagian kemudian dibagikan ke publik, menjadi bahan pelajaran
di sekolah-sekolah desa.
Tapi satu hal masih mengganggu Raka.
Dalam buku itu, ada referensi tentang "terowongan yang
lebih dalam" di bawah gua. Terowongan yang konon menuju ke "pusat
bumi", tempat leluhur bersemedi.
"Apa kita harus cari?" tanya Joko.
"Kenapa tidak? Petualangan terakhir," kata Raka.
Mereka kembali ke gua, ditemani Pak RW dan beberapa warga.
Dengan petunjuk dari buku, mereka menemukan pintu tersembunyi di balik altar.
Di balik pintu itu, ada tangga menurun. Sangat dalam.
Mereka turun dengan hati-hati. Udara semakin panas. Bau belerang tercium.
Setelah turun ratusan anak tangga, mereka sampai di sebuah
ruangan besar. Di tengah ruangan, ada kolam air panas, beruap. Di sekeliling
kolam, batu-batu kristal berkilauan.
99. Misteri Rumah Tua
di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Ini... ini tempat bersemedi," bisik Profesor
Hardono, yang ikut serta. "Tempat para leluhur bermeditasi. Energinya luar
biasa."
100.
Mereka duduk di sekitar kolam, merasakan kedamaian yang
aneh. Di dinding, ada ukiran-ukiran tentang ajaran hidup: tentang keseimbangan,
tentang keadilan, tentang cinta kasih.
"Ini yang mereka cari selama ini," kata Raka
pelan. "Bukan harta. Tapi kedamaian."
Aria mengangguk. "Sekarang aku mengerti, kenapa Ayah
rela mati. Dia ingin kita menemukan ini. Agar kita tahu, bahwa yang paling
berharga dalam hidup bukanlah kekuasaan atau uang, tapi kebijaksanaan dan
kedamaian."
Mereka duduk lama di sana, menikmati ketenangan. Tidak ada
yang bicara. Tidak perlu bicara.
Setelah menemukan kolam air panas, mereka berpikir
petualangan selesai. Tapi ternyata, di sudut ruangan itu, ada pintu lain. Pintu
kayu tua, dengan ukiran rumit, dan... terkunci.
"Ada lagi?" gumam Joko.
Kali ini, kuncinya bukan cincin. Tapi sesuatu yang lain.
Pras, yang paling teliti, melihat ada lubang kecil di pintu itu. Lubang
berbentuk unik.
"Aria, apa kamu punya sesuatu? Mungkin kalung atau
gelang dari ibumu?"
Aria menggeleng. Tapi tiba-tiba dia teringat. "Boneka!
Bonekaku! Di dalam boneka itu, Ibu menyimpan sesuatu."
Mereka pulang, mengambil boneka Aria yang diselamatkan dari
kebakaran. Aria membedah boneka itu. Di dalam kapuk, dia menemukan sebuah
liontin kecil. Liontin perak dengan ukiran yang sama persis dengan lubang di
pintu.
Mereka kembali ke gua, memasukkan liontin itu. Pintu
terbuka.
Di balik pintu, ada ruangan kecil. Di tengahnya, sebuah
peti kayu cendana. Dan di dalam peti, bukan emas atau perhiasan. Tapi
surat-surat. Surat cinta.
Surat-surat dari Pak Surya untuk Bu Rina, dari masa pacaran
mereka. Dan surat balasan dari Bu Rina.
Aria membaca surat-surat itu sambil menangis. Isinya begitu
indah, begitu tulus. Cinta sejati dua insan yang akhirnya mati bersama.
101.
Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital
Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Di surat terakhir, Pak Surya menulis:
"Rina, jika suatu hari kita tidak bersama lagi,
ingatlah: aku selalu mencintaimu. Di mana pun kau berada, di dunia atau di
akhirat, cintaku akan selalu menyertaimu. Untuk anak kita, Aria, ajarkan dia
tentang cinta. Tentang kebaikan. Tentang keberanian. Agar dia tumbuh menjadi
manusia yang berguna bagi sesama."
Aria memeluk surat itu erat-erat. "Ayah... Ibu... aku
akan jadi seperti yang kalian harapkan."
Tidak jauh dari peti surat, ada sebuah kotak besi berdebu.
Lebih besar, lebih berat. Raka membukanya dengan susah payah.
Di dalamnya, ada dokumen-dokumen lain. Bukan tentang tanah
atau kejahatan, tapi tentang silsilah keluarga yang lebih lengkap. Ternyata,
keluarga Aria adalah keturunan langsung dari raja-raja kuno, tapi juga
keturunan dari para pendeta, para pujangga, para guru.
"Ini luar biasa," kata Profesor Hardono.
"Silsilah ini menunjukkan bahwa keluarga kalian bukan hanya bangsawan,
tapi juga intelektual. Mereka adalah penjaga pengetahuan."
Dan di dasar kotak, ada sebuah buku kecil, bersampul merah.
Buku itu bertuliskan: "Untuk Aria, dari Ayah dan Ibu"
Aria membukanya dengan tangan gemetar. Buku itu berisi
pesan-pesan untuknya, ditulis sejak dia masih dalam kandungan.
"Aria, anakku. Hari ini Ibu tahu bahwa kau ada di
dalam kandungan. Ibu menangis bahagia. Ayah juga. Kami akan menjagamu
sebaik-baiknya."
"Aria, umur 1 tahun. Hari ini kau mulai berjalan. Lucu
sekali. Kau jatuh bangun, tapi terus mencoba. Ayah bilang, kau anak yang
gigih."
"Aria, umur 3 tahun. Kau mulai bisa bicara. Pertama
kali kau bilang 'Ayah', Ayah menangis. Pertama kali kau bilang 'Ibu', Ibu
menangis. Kau tahu? Kau adalah kebahagiaan kami."
Dan seterusnya, hingga usia 5 tahun. Lalu setelah itu,
halaman kosong. Karena mereka tidak sempat menulis lagi.
Tapi di halaman terakhir, ada tulisan tambahan, dengan
tinta berbeda—tinta baru, baru saja ditulis.
"Aria, jika kau membaca ini, berarti kau sudah dewasa.
Maafkan kami yang tidak bisa melihatmu tumbuh. Tapi ketahuilah: setiap malam,
kami menjagamu. Setiap kali kau menangis, kami ada di
102. Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa
Sriwidadi
sampingmu. Setiap kali kau tersenyum, kami ikut tersenyum.
Kami tidak pernah benar-benar pergi. Kami selalu ada, di setiap doa, di setiap
kenangan."
Aria menangis sejadi-jadinya. Raka, Joko, Pras, semua ikut
menangis.
Mbah Marto, yang ikut serta, memeluk cucunya. "Mereka
benar, Nak. Mereka tidak pernah pergi. Mereka selalu ada di hatimu."
Setelah menemukan semua itu, mereka merasa petualangan
benar-benar selesai. Semua rahasia telah terungkap. Semua misteri terjawab.
Tapi ada satu hal terakhir yang mereka lakukan: pemakaman
kembali Pak Surya, Bu Rina, dan Pak Suryanto secara layak. Kerangka mereka
diambil dari lorong bawah tanah, dimandikan, dikafani, dan dimakamkan di
pemakaman desa dengan upacara adat.
Seluruh desa hadir. Pak Bupati datang. Wartawan datang. Doa
mengalir, air mata mengalir.
Aria membaca sambutan singkat di depan makam orang tuanya.
"Ayah, Ibu, Paman. Terima kasih atas pengorbanan
kalian. Terima kasih sudah menjaga rahasia ini selama puluhan tahun. Kini
kalian bisa beristirahat dengan tenang. Aku akan menjaga warisan kalian. Aku
akan menjadi seperti yang kalian harapkan. Doakan aku."
Semua orang menangis.
Setelah pemakaman, mereka menanam pohon di sekitar makam.
Pohon-pohon yang rindang, sebagai lambang kehidupan yang terus tumbuh.
Malam harinya, untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, tidak
ada cahaya misterius di rumah tua. Karena rumah tua sudah tidak ada. Yang ada hanya
kenangan.
Tapi di langit, bintang-bintang bersinar terang. Seperti
mata-mata kecil yang tersenyum bahagia.
Seminggu setelah pemakaman, ada kejutan lain. Polisi
menangkap satu orang lagi yang terlibat dalam konspirasi lama. Orang itu
adalah... Pak Carik, sekretaris desa yang selama ini dikenal pendiam dan baik
hati.
Pak Carik ternyata adalah mata-mata kelompok bangsawan di
dalam desa. Dialah yang memberi informasi tentang pergerakan Pak Surya dulu.
Dialah yang memastikan Pak Surya tidak bisa melarikan diri malam itu.
103.
Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital
Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Warga desa marah. Mereka tidak menyangka orang yang selama
ini mereka percaya ternyata pengkhianat.
Pak Carik diadili dan dijatuhi hukuman penjara. Sebelum dibawa,
dia minta bertemu Aria.
"Aria, maafkan aku," katanya dengan air mata.
"Aku hanya takut. Mereka mengancam keluargaku. Aku tidak punya
pilihan."
Aria menatapnya lama. Lalu dia berkata, "Pak Carik,
saya maafkan Bapak. Tapi dosa Bapak kepada Tuhan, urusan Bapak dengan Tuhan.
Saya hanya bisa mendoakan."
Pak Carik menangis. Dia dibawa polisi dengan langkah
gontai.
Raka memegang bahu Aria. "Kamu kuat banget, bisa
maafkan dia."
Aria tersenyum sedih. "Ayahku selalu bilang, dendam
hanya akan membakar dirimu sendiri. Maafkan, tapi jangan lupa. Itu yang
terbaik."
Setelah Pak Carik ditangkap, satu misteri terakhir
terungkap: siapa sebenarnya bayangan yang sering Raka lihat, yang ternyata
bukan Karman?
Ternyata, itu adalah... Pak Carik sendiri.
Pak Carik mengaku bahwa selama ini dia mengawasi mereka
atas perintah kelompok bangsawan. Tapi lama-lama, dia justru simpati pada
perjuangan mereka. Dia ingin membantu, tapi takut.
Suatu malam, dia menulis surat anonim yang ditempel di
pintu rumah Pak RW. Surat itu berisi peringatan tentang rencana pembakaran
rumah tua. Tapi karena takut, dia tidak berani terang-terangan.
Setelah penangkapannya, Pak RW menemukan surat-surat lain
di rumah Pak Carik. Surat-surat yang membuktikan bahwa dia sebenarnya ingin
keluar dari komplotan itu, tapi tidak punya jalan.
"Manusia kompleks," gumam Pak RW. "Ada yang
jahat total, ada yang terjebak situasi."
Raka mengangguk. "Dia sudah menerima hukumannya.
Semoga dia insaf."
Penangkapan Pak Carik menyisakan satu pertanyaan: siapa
dalang di balik semua ini? Siapa yang memerintahkan penculikan Mbah Marto 40
tahun lalu, pembunuhan Pak Surya, dan semua kejahatan lainnya?
104.
Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital
Lenteraa Ilmu Desa Sriwidadi
Jawabannya datang dari pengakuan para tahanan. Seorang
tokoh nasional, pengusaha besar, keturunan langsung Prabu Suryowijaya. Namanya:
Hartono Suryowijaya.
Hartono adalah pemilik konglomerasi yang bergerak di
berbagai bidang. Selama ini dia dikenal sebagai dermawan, sering muncul di TV
dengan kegiatan amalnya. Tapi di balik itu, dia adalah otak dari semua
kejahatan.
Polisi menangkapnya di rumah mewahnya di Jakarta. Saat
digeledah, ditemukan bukti-bukti yang menghubungkannya dengan kasus ini:
dokumen-dokumen, rekaman, dan... foto-foto Pak Surya sebelum meninggal.
Raka dan kawan-kawan diminta menjadi saksi di pengadilan.
Mereka naik ke Jakarta, menghadapi pengacara-pengacara hebat, tapi mereka tetap
teguh.
Hartono dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Kekayaannya
disita negara. Nama baiknya hancur.
Di luar pengadilan, Raka berkata pada Aria, "Ini untuk
Ayah dan Ibumu."
Aria tersenyum. "Terima kasih, Raka. Terima kasih
untuk semuanya."
Setelah persidangan, mereka kembali ke desa. Tapi ternyata,
ada kejutan lain. Pemerintah memutuskan untuk menjadikan desa Tanah Lenyap
sebagai desa wisata sejarah. Candi bawah tanah, gua, dan kolam air panas akan
dikembangkan. Jalan diperbaiki, fasilitas dibangun.
Aria dan Mbah Marto diberi kompensasi atas penemuan mereka.
Mereka tidak menjadi kaya raya, tapi cukup untuk hidup layak.
Yang paling membuat Raka terharu: di bekas rumah tua, akan
dibangun museum kecil. Museum yang menceritakan kisah Pak Surya, perjuangannya,
dan penemuan-penemuan mereka.
"Ada namaku di museum?" tanya Joko bercanda.
"Ada, sebagai penakut nomor satu," ledek Raka.
Mereka tertawa. Persahabatan mereka, yang teruji oleh
bahaya, kini semakin kuat.
Tapi di balik semua kebahagiaan, ada satu kebenaran yang
masih mengganggu Raka. Dalam buku-buku kuno itu, tersirat bahwa praktik-praktik
gelap itu masih berlangsung, di tempat lain, dengan cara yang berbeda.
"Bu Lestari," katanya pada wartawan itu suatu
hari. "Apakah mungkin masih ada yang seperti ini di tempat lain?"
105.
Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital
Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
Bu Lestari menghela napas. "Mungkin. Kekuasaan dan
uang selalu menarik orang untuk berbuat jahat. Tapi yang penting, kita sudah
membongkar satu. Kita sudah memberi contoh bahwa kejahatan, seberapa besar pun,
pada akhirnya akan terbongkar."
"Tapi rasanya... tidak cukup."
"Memang tidak cukup. Tapi kalian sudah melakukan
bagian kalian. Sisanya, serahkan pada orang lain. Pada generasi setelah kalian.
Mereka akan melanjutkan perjuangan."
Raka mengangguk. Dia mengerti. Kebenaran memang
menyeramkan, karena menunjukkan betapa jahatnya manusia. Tapi kebenaran juga
membebaskan, karena menunjukkan bahwa kejahatan tidak akan menang selamanya.
Malam terakhir mereka di desa sebelum kembali ke sekolah,
Raka, Joko, Pras, dan Aria berkumpul di makam Pak Surya dan Bu Rina. Mereka
membawa bunga, membawa doa.
"Pak, Bu, kami pamit," kata Raka. "Besok
kami kembali ke sekolah. Tapi kami tidak akan lupa. Tidak akan lupa perjuangan
kalian."
"Kami akan terus belajar," sambung Joko.
"Belajar jadi orang baik. Seperti kalian."
"Dan kami akan jaga desa ini," kata Pras.
"Jaga dari kejahatan, jaga dari ketidakadilan."
Aria berlutut di depan makam. "Ayah, Ibu, tenanglah.
Aku baik-baik saja. Aku punya teman-teman baik. Aku punya kakek. Aku akan hidup
dengan baik. Doakan aku."
Malam itu, bulan purnama bersinar terang. Tidak ada kabut,
tidak ada angin kencang. Hanya kedamaian.
Saat mereka hendak pulang, Raka menoleh ke belakang. Di
kejauhan, di tempat bekas rumah tua, dia melihat samar-samar tiga bayangan. Dua
besar, satu kecil. Mereka melambai.
Raka tersenyum. Dia melambai balik.
"Selamat jalan, Pak Surya, Bu Rina. Selamat jalan, Pak
Suryanto."
Bayangan itu perlahan menghilang, menyatu dengan cahaya
bulan.
106. Misteri Rumah Tua di Ujung Desa,
Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Srwidadi
EPILOG
Desa Tanah Lenyap, 2025
Satu tahun telah berlalu.
Raka, Joko, dan Pras kini duduk di kelas 12 SMA. Mereka
sebentar lagi lulus, akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Raka ingin jadi
jurnalis seperti Bu Lestari. Joko ingin jadi polisi seperti Pak RW. Pras ingin
jadi arkeolog seperti Profesor Hardono.
Aria, setelah menyelesaikan kejar paket, kini bekerja
sebagai pemandu di museum desa. Dia bercerita pada pengunjung tentang sejarah
desa, tentang orang tuanya, tentang petualangan mereka. Kisahnya menyentuh hati
ribuan orang.
Mbah Marto, di usia 85 tahun, masih sehat. Dia sering duduk
di teras rumahnya, ditemani Aria, menceritakan masa lalu. Kadang wartawan
datang mewawancarainya, dan dia dengan senang hati bercerita.
Pak RW menjadi lurah definitif, menggantikan Pak Mulyono
yang pensiun. Dia memimpin desa dengan bijaksana, selalu ingat pelajaran dari
masa lalu.
Pak Mulyono pensiun dengan tenang. Dia sering memancing di
sungai, ditemani cucu-cucunya.
Dan desa Tanah Lenyap? Desa itu kini ramai. Setiap akhir
pekan, wisatawan datang berbondong-bondong. Mereka mengunjungi museum,
menyusuri lorong bawah tanah (yang sudah direnovasi aman), berendam di kolam
air panas, belajar sejarah di candi.
Warga desa hidup makmur. Warung-warung bermunculan,
homestay buka, pemandu wisata dilatih. Tapi mereka tidak melupakan sejarah.
Setiap tahun, tanggal 12 September, mereka mengadakan upacara peringatan untuk
Pak Surya, Bu Rina, dan Pak Suryanto.
Suatu sore, Raka pulang ke desa. Dia duduk di teras rumah
Aria, menatap ke arah bekas rumah tua. Di sana, sekarang berdiri museum yang
indah. Tidak ada lagi rasa takut.
"Aria, kau tahu? Aku bersyukur waktu itu Ibu
memutuskan pindah ke sini."
Aria tersenyum. "Aku juga bersyukur. Kalau tidak,
mungkin aku masih di bawah tanah."
Mereka tertawa. Di dalam tawa itu, ada kehangatan. Ada
persahabatan. Ada kenangan.
"Raka, terima kasih sudah menjadi sahabatku."
107.
Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital
Lentera Ilmu Desa Sriwidadi
"Terima kasih juga, Aria. Kau sudah mengajarkan aku
banyak hal. Tentang ketabahan, tentang kesabaran, tentang cinta."
Mereka berjabat tangan. Persahabatan yang dimulai dari rasa
penasaran, berubah menjadi petualangan, dan berakhir sebagai ikatan seumur
hidup.
Di kejauhan, matahari terbenam indah. Langit jingga
keemasan. Burung-burung pulang ke sarang.
Dan di atas bukit, museum itu berdiri anggun. Di depannya,
ada patung perunggu Pak Surya, sedang memegang buku, menatap ke masa depan.
Di bawah patung itu, tertulis:
"Kebenaran, seberapa dalam pun dikubur, pada akhirnya
akan muncul juga. Keberanian, seberapa kecil pun, pada akhirnya akan mengubah
dunia."
TAMAT
CATATAN PENULIS
Novel ini adalah kisah fiksi yang terinspirasi dari
berbagai cerita rakyat tentang rumah angker di desa-desa Indonesia. Banyak dari
cerita itu, setelah ditelusuri, ternyata menyimpan rahasia kelam tentang
ketidakadilan, korupsi, dan konspirasi yang ditutup-tutupi.
Melalui tokoh Raka, Joko, Pras, dan Aria, penulis ingin
menyampaikan pesan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membongkar
kebenaran. Mereka adalah agen perubahan, dengan keberanian, rasa ingin tahu,
dan keteguhan hati.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa persahabatan sejati bisa
melewati segala rintangan. Dan bahwa cinta—antara orang tua dan anak, antara
suami dan istri, antara sahabat—adalah kekuatan terbesar di dunia.
Terima kasih telah membaca. Semoga terinspirasi untuk
selalu mencari kebenaran, berani menghadapi ketakutan, dan menghargai
persahabatan.
Salam hangat,
Penulis
Desa Sriwidadi, 10 Maret 2026
108. Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa
Sriwidadi
Rahasia rumah tua di ujung desa akhirnya terungkap.
Desa yang dulu dilupakan, kini menjadi terkenal.
Tapi yang terpenting: keadilan telah ditegakkan.
Dan persahabatan, tetap abadi.
[SELESAI]
Misteri Rumah Tua di Ujung Desa, Perpustakaan Digital Lentera Ilmu Desa Sriwidadi







0 komentar:
Posting Komentar