Novelet
RAHASIA RUMAH TUA DI UJUNG DESA
Novelet Misteri Remaja tentang Keberanian, Persahabatan, dan Rahasia yang
Terkubur Puluhan Tahun
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Desa
Tanah Lenyap, 12 September 1985
Hujan turun sejak sore. Bukan hujan biasa, tapi hujan yang
oleh orang-orang tua di desa disebut sebagai hujan peringatan—derasnya
seperti ribuan batu kecil dijatuhkan dari langit, anginnya melolong seperti
tangisan yang tak pernah reda. Di ujung desa, di atas bukit kecil yang
dikelilingi pohon-pohon beringin tua, sebuah rumah panggung kayu jati berdiri
sendirian. Lampu minyak di teras depan berkedip-kedip, hampir padam, lalu
menyala kembali—seperti jantung yang berdebar tak karuan.
Pak Surya, guru yang baru dua tahun mengajar di Sekolah
Dasar Desa Tanah Lenyap, duduk di beranda rumah itu. Di tangannya ada secangkir
kopi yang sudah dingin sejak satu jam lalu. Matanya menatap ke arah desa di
bawah, ke rumah-rumah yang lampunya mulai padam satu per satu. Penduduk desa
sudah tidur lebih awal malam itu, seperti ada firasat buruk yang merayap di
udara.
"Pak, sudah malam. Istirahatlah."
Suara lembut istrinya, Bu Rina, terdengar dari dalam. Pak
Surya menoleh sekilas, tersenyum tipis, tapi matanya kembali ke arah gelap di
luar.
"Nanti, Rin. Udara malam ini... aneh."
"Memangnya kenapa?"
Pak Surya menggeleng pelan. Dia sendiri tidak bisa
menjelaskan. Tapi sejak sore, ada sesuatu yang mengganggunya. Seperti ada
bisikan di telinga kirinya, suara yang tak bisa dia dengar dengan jelas tapi
terus-menerus ada di sana, seperti dengung nyamuk yang tak kunjung pergi.
"Pak, jangan bikin saya khawatir," kata Bu Rina
dari dalam.
"Iya, sebentar lagi." Pak Surya meneguk kopinya
yang dingin. Rasanya pahit sekali. Tapi sebelum dia sempat meletakkan cangkir
itu kembali ke meja, dia mendengarnya. Suara langkah kaki. Bukan langkah biasa.
Langkah itu berat, seperti orang membawa beban besar di punggung.
Pak Surya menajamkan pendengarannya. Dari mana asalnya?
Dari bawah rumah? Dari halaman depan?
"Cak... cak... cak..."
Suara itu semakin dekat. Pak Surya berdiri, cangkir di
tangannya hampir jatuh. Dia menatap ke arah tangga rumahnya, ke arah lorong
gelap di antara pohon-pohon beringin.
Tidak ada siapa-siapa.
"Pak?" Suara Bu Rina dari dalam terdengar cemas.
"Pak, ada apa?"
Pak Surya tidak menjawab. Matanya terpaku pada sesuatu di
bawah tangga. Sebuah bayangan. Tapi bayangan apa? Di sana gelap, tidak ada
lampu, tapi dia yakin melihat sesuatu bergerak.
"Rin," panggilnya lirih. "Jangan
keluar."
"Kenapa, Pak?"
"Lakukan saja apa kukata—"
Teriakan itu mengagetkan seluruh desa.
Bukan satu teriakan, tapi tiga teriakan berturut-turut.
Yang pertama panjang dan melengking, seperti seseorang yang melihat kematian di
depannya. Yang kedua pendek, terpotong, seperti teriakan yang dicekik di tengah
jalan. Yang ketiga adalah suara pintu kayu dibanting dengan keras sekali,
sampai gema suaranya memantul di antara bukit-bukit.
Penduduk desa keluar dari rumah mereka. Ada yang membawa
senter, ada yang hanya membawa lilin. Mereka berkumpul di bawah balai desa,
saling bertanya apa yang terjadi. Tapi tidak ada yang berani naik ke atas
bukit.
Tidak sampai pagi.
Pagi harinya, ketika matahari mulai naik dan kabut tipis
masih menyelimuti desa, beberapa orang pria dewasa naik ke rumah Pak Surya.
Mereka dipimpin oleh Pak Lurah, ditemani Pak RT dan beberapa pemuda desa yang
membawa parang dan golok.
Rumah itu sunyi.
Pintu depan terbuka setengah. Di teras, sebuah cangkir kopi
tergeletak pecah, kopinya sudah mengering di lantai kayu. Tidak ada tanda-tanda
perkelahian, tidak ada darah, tidak ada kekacauan. Tapi Pak Surya dan istrinya
tidak ada di mana-mana. Mereka mencari di setiap sudut rumah. Di dapur, mereka
menemukan panci berisi sayur yang masih utuh di atas tungku, kayu bakarnya
sudah habis terbakar jadi abu. Di kamar tidur, tempat tidur masih rapi, tidak
seperti baru dipakai tidur. Di ruang tengah, sebuah buku pelajaran terbuka di
meja, seolah Pak Surya baru saja membacanya.
Tapi manusia yang punya rumah itu hilang.
"Ada jejak di bawah rumah," kata salah satu
pemuda.
Semua orang turun dan mengikuti arah telunjuk pemuda itu.
Di tanah lembap di bawah rumah panggung, ada jejak kaki. Banyak jejak kaki.
Tapi yang paling aneh adalah jejak kaki yang paling besar—ukuran sepatu 43 atau
44—yang berjalan mundur dari bawah rumah menuju ke arah hutan di belakang.
"Kenapa jejaknya mundur?" bisik salah satu warga.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Mereka mengikuti jejak itu sampai ke tepi hutan, lalu
jejaknya menghilang. Di tempat jejak itu berakhir, ada lingkaran tanah hangus
selebar satu meter, seperti bekas terbakar. Tapi tidak ada api di sekitarnya,
tidak ada ranting atau daun yang terbakar.
Sejak hari itu, rumah di ujung desa itu tidak pernah
ditinggali lagi. Semua warga sepakat—ada sesuatu di rumah itu. Sesuatu yang
menyeramkan. Sesuatu yang membuat seorang guru dan istrinya lenyap tanpa jejak
di malam hujan deras.
Rumah itu dibiarkan kosong. Puluhan tahun.
Dan rahasia tentang malam itu tidak pernah diceritakan
lagi.
Tidak pernah, sampai sekarang.
BAGIAN I
DESA DAN RUMAH YANG DILUPAKAN
Matahari baru saja naik setinggi pohon kelapa ketika mobil
travel tua berwarna biru memasuki jalan desa yang berbatu. Di dalamnya, duduk
seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun dengan mata yang masih sayu karena
perjalanan delapan jam dari Jakarta. Raka, nama remaja itu, menempelkan
wajahnya ke kaca jendela mobil, mencoba melihat desa yang akan menjadi rumahnya
untuk waktu yang tidak dia ketahui berapa lama.
"Raka, kita sudah sampai," kata ibunya dari kursi
depan. Bu Sari, wanita berusia 42 tahun dengan rambut yang mulai banyak uban,
menoleh ke belakang dan tersenyum lelah.
Raka hanya mengangguk. Dia tidak punya semangat untuk
tersenyum. Bagaimana bisa semangat? Dua minggu lalu dia masih duduk di kelas 10
SMA favorit di Jakarta. Dia punya teman-teman, punya tim futsal, punya gadis
yang diam-diam dia sukai di kelas sebelah. Sekarang? Sekarang dia akan tinggal
di desa yang bahkan tidak pernah dia dengar namanya: Desa Tanah Lenyap.
"Nama desanya aneh banget, Ma," gumam Raka.
"Tanah Lenyap. Kayak judul film horor."
"Ibu juga baru tahu namanya kemarin," jawab Bu
Sari sambil mengatur tasnya. "Tapi ini desa kelahiran nenek kamu.
Seharusnya kamu bangga bisa pulang ke kampung halaman."
"Bangga apanya? Semua teman-teman aku di Jakarta main
Playstation, nonton bioskop, nongkrong di mal. Di sini paling nongkrong di
sawah."
Bu Sari ingin menjawab, tapi mobil travel berhenti
mendadak. Supirnya, seorang bapak-bapak paruh baya dengan kumis tebal, menengok
ke belakang.
"Nek, Pak, ini sudah sampai di perbatasan desa,"
katanya dengan logat Jawa yang kental. "Mobil saya nggak bisa masuk ke
dalam. Jalanannya terlalu kecil. Kalau Bapak-Ibu mau, bisa jalan kaki atau cari
ojek."
Raka membuka pintu mobil dan melompat turun. Matanya
langsung menyipit kena sinar matahari pagi yang cukup terik. Dia melihat
sekeliling: di depan mereka ada papan kayu besar yang bertuliskan "SELAMAT
DATANG DI DESA TANAH LENYAP" dengan cat yang sudah mengelupas di
sana-sini. Di bawah tulisan itu, ada tulisan kecil yang hampir tidak terbaca:
"Dengan Segenap Hati Menerima Tamu, Dengan Segenap Ingatan Menjaga
Rahasia".
"Itu tulisan apa, Ma?" tanya Raka, menunjuk papan
itu.
Bu Sari membaca tulisan kecil itu, lalu mengernyitkan dahi.
"Ibu juga tidak tahu. Mungkin motto desa."
Supir travel membantu menurunkan dua koper besar dari
bagasi. Dia melihat ke arah papan itu sebentar, lalu berkata pelan,
"Hati-hati ya, Nek, Pak. Desa ini... desa yang aneh."
"Maksudnya?" tanya Bu Sari cepat.
Supir itu mengangkat bahu. "Saya cuma sopir. Tapi
setiap kali saya antar orang ke sini, saya nggak pernah masuk. Penumpang saya
selalu minta diturunkan di sini. Katanya, warga desa nggak suka ada mobil asing
masuk." Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan,
"Apalisi malam hari. Kata orang, di desa ini, yang hidup dan yang mati jalannya
sama-sama."
Raka merasa bulu kuduknya meremang. Dia menoleh ke arah
jalan desa yang membentang di depan mereka. Jalan itu hanya selebar dua meter,
tanah merah dengan kerikil-kerikil kecil, diapit oleh sawah di kiri dan kanan.
Di kejauhan, terlihat atap-atap rumah penduduk yang masih beratapkan genteng
tanah liat. Di ujung jalan, di atas bukit kecil, samar-samar terlihat sebuah
bangunan besar yang menjulang di antara pepohonan.
"Itu apa?" tanya Raka sambil menunjuk ke arah
bukit.
Supir travel mengikuti arah jari Raka. Wajahnya berubah.
"Itu? Itu rumah tua. Rumah yang nggak pernah ditinggali orang sejak...
sejak lama."
"Kenapa?"
"Raka, jangan tanya terus," potong Bu Sari.
"Ayo kita jalan. Lihat, di sana ada ojek."
Raka tidak segera bergerak. Matanya masih tertuju pada
rumah di atas bukit itu. Dari kejauhan, rumah itu terlihat besar dan gelap,
meskipun matahari bersinar terang. Dinding kayunya yang dulunya mungkin
berwarna cokelat tua sekarang hampir hitam dimakan usia. Jendela-jendelanya
seperti mata-mata yang kosong, menatap ke arah desa tanpa berkedip. Di
sekeliling rumah itu, pohon-pohon beringin tua tumbuh rapat, akar-akarnya yang
besar menjuntai ke bawah seperti tangan-tangan yang siap mencengkeram.
"Mas!" panggil Bu Sari. "Mas Raka!
Ayo!"
Raka mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju ibunya
yang sudah berbicara dengan dua orang tukang ojek. Tapi di dalam hatinya, ada
rasa penasaran yang mulai tumbuh. Rumah di atas bukit itu—kenapa terlihat
begitu menakutkan tapi sekaligus menarik perhatian?
Perjalanan menuju rumah neneknya hanya memakan waktu
sepuluh menit dengan ojek. Sepanjang jalan, Raka melihat penduduk desa yang
sedang beraktivitas: petani yang membawa cangkul, ibu-ibu yang menjemur padi di
halaman, anak-anak kecil yang bermain di pinggir sawah. Mereka semua berhenti
dan menatap ketika Raka lewat.
Bukan tatapan biasa. Tatapan itu panjang, seperti orang
yang baru pertama kali melihat alien. Beberapa dari mereka bahkan
berbisik-bisik satu sama lain, menutup mulut dengan tangan.
"Mereka kok pada liatin kita, Ma?" bisik Raka
dari belakang ibunya.
Bu Sari, yang duduk di ojek di depan Raka, menoleh setengah
badan. "Mungkin mereka heran lihat orang baru. Di desa kecil begini, semua
orang pasti tahu kalau ada pendatang."
Tapi Raka tidak yakin. Ada sesuatu di tatapan mereka yang
membuatnya tidak nyaman. Seperti mereka sedang menilai, atau... seperti mereka
tahu sesuatu yang tidak dia ketahui. Ojek berhenti di depan sebuah rumah
panggung kayu yang tidak terlalu besar tapi terlihat cukup terawat.
Di halaman depannya, ada pohon mangga besar yang sedang
berbuah. Di bawah pohon itu, duduk seorang nenek tua di kursi rotan, sedang
mengupas singkong.
"Nek!" seru Bu Sari, buru-buru turun dari ojek
dan berlari memeluk nenek itu.
Nenek itu—nenek Raka—tersenyum lebar, memperlihatkan
giginya yang tinggal beberapa. "Sari! Akhire kowe teka!" (Sari!
Akhirnya kamu datang!)
Raka turun dari ojek dan mendekat dengan langkah ragu.
Neneknya menoleh dan memandangnya dengan mata yang masih tajam meskipun usianya
sudah 78 tahun. Matanya berbinar.
"Lha iki Raka? Wis gedhe tenan!" (Ini Raka? Sudah
besar sekali!)
Raka tersenyum canggung. "Iya, Nek."
Neneknya menarik tangannya dan menuntunnya masuk ke dalam
rumah. Di dalam, rumah itu sederhana: ruang tamu dengan beberapa kursi bambu,
ruang tengah dengan meja makan kecil, dan tiga kamar tidur. Dindingnya dari
papan kayu, lantainya dari semen yang diplester halus. Di dinding ruang tamu,
ada foto hitam putih besar seorang pria tua dengan kumis tebal—kakek Raka yang
sudah meninggal sepuluh tahun lalu.
"Nek, kenapa nama desa ini Tanah Lenyap?" tanya
Raka tiba-tiba.
Neneknya yang sedang menuang air teh berhenti sejenak. Dia
tidak menoleh, tetap fokus pada teko di tangannya, tapi Raka bisa melihat
bahunya menegang.
"Jeneng desa iki wis ana wiwit jaman biyen,"
jawab neneknya akhirnya, suaranya datar. "Ceritane wis lali." (Nama
desa ini sudah ada sejak zaman dulu. Ceritanya sudah lupa.)
"Tapi kata temen-temen di Jakarta, desa ini
angker," desak Raka. "Itu rumah di atas bukit, kenapa nggak dipake?"
Tangan neneknya sedikit gemetar saat meletakkan teko. Dia
menoleh perlahan, menatap Raka dengan mata yang tiba-tiba menjadi serius.
"Omah kuwi... omah sing ora kena dicedhaki."
(Rumah itu... rumah yang tidak boleh didekati.)
"Kenapa, Nek?"
Neneknya menarik napas panjang. Dia duduk di kursi bambu,
mengambil gelas teh untuk dirinya sendiri, lalu berkata, "Sue, ana wong
ilang ing omah kuwi. Wong pinter, guru. Bareng bojone. Ilang tanpa tilas. Ora
ketemu nganti saiki." (Dulu, ada orang hilang di rumah itu. Orang pintar,
guru. Bersama istrinya. Hilang tanpa bekas. Tidak ketemu sampai sekarang.)
"Polisinya nggak nyari, Nek?"
"Nggoleki. Nanging ora ketemu." (Mencari. Tapi
tidak ketemu.)
"Terus kenapa rumahnya nggak dibongkar aja?"
Neneknya diam lama sekali. Matanya menatap ke luar jendela,
ke arah bukit di ujung desa yang sekarang mulai tertutup kabut tipis.
"Amarga... saben wengi, ana cahya saka omah
kuwi." (Karena... setiap malam, ada cahaya dari rumah itu.)
Raka merasa jantungnya berdetak lebih cepat. "Cahaya?"
"Cahya cilik. Ing jendela ndhuwur. Wong-wong nyebut...
lampune wong ilang." (Cahaya kecil. Di jendela atas. Orang-orang
menyebut... lampunya orang hilang.)
"Tapi Nek, itu pasti cuma lampu dari orang yang lewat
atau—"
"Cahya kuwi wis ana pirang-pirang puluh taun. Ora tau
mati. Ora tau owah." (Cahaya itu sudah ada puluhan tahun. Tidak pernah
mati. Tidak pernah berubah.)
Udara di ruangan itu terasa tiba-tiba dingin. Raka ingin
bertanya lebih banyak, tapi Bu Sari masuk dari dapur dengan sepiring gorengan.
"Raka, kamu bikin Nek repot. Nek, jangan didengerin
omongannya. Anak kota, banyak tanya."
Neneknya tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
"Bocah kuwi pinter. Kudu ngerti bab desane dhewe." (Anak itu pintar.
Harus tahu tentang desanya sendiri.)
Malam itu, Raka tidur di kamar yang dulu dipakai ibunya
waktu kecil. Kamar itu kecil, hanya cukup untuk satu tempat tidur dan satu
lemari kayu. Tapi ada satu hal yang membuat Raka tidak bisa tidur: dari jendela
kamarnya, dia bisa melihat langsung ke arah bukit di ujung desa.
Rumah tua itu terlihat jelas di bawah sinar bulan.
Dan di jendela atas rumah itu, ada cahaya kecil yang
berkedip-kedip.
Pagi di desa ternyata lebih berisik daripada di kota. Bukan
karena suara kendaraan atau musik dari kafe, tapi karena suara ayam berkokok,
burung-burung yang bernyanyi, dan yang paling keras: suara neneknya yang sudah
mulai menumbuk bumbu dapur sejak jam lima pagi.
Raka menggeliat di tempat tidurnya. Dia membuka mata dan
langsung menoleh ke jendela. Di luar, matahari baru saja naik. Kabut tipis
masih menyelimuti sawah-sawah. Dan di kejauhan, rumah tua itu masih berdiri
dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa tadi malam.
Cahaya di jendelanya sudah tidak ada.
"Mungkin mimpi," gumam Raka pada dirinya sendiri.
Tapi dia tahu itu bukan mimpi. Dia memang melihat cahaya itu. Sekecil lampu
senter, berkedip-kedip seperti ada yang memberi kode.
"Raka! Tangi! Wis jam nem!" (Raka! Bangun! Sudah
jam enam!) teriak neneknya dari dapur.
Raka bangun dengan malas, mandi dengan air sumur yang dinginnya
minta ampun, lalu sarapan nasi pecel buatan neneknya yang enaknya luar biasa.
Sambil makan, dia memperhatikan neneknya yang sibuk di dapur.
"Nek, tadi malam aku lihat cahaya dari rumah tua
itu," katanya santai, mencoba tidak terdengar terlalu serius.
Neneknya berhenti mencuci piring. Tapi hanya sebentar, lalu
melanjutkan lagi.
"Wis biyasa. Wong-wong kene wis ora nggatekake."
(Sudah biasa. Orang sini sudah tidak memperhatikan.)
"Tapi Nek, kalau cahaya itu sudah ada puluhan tahun,
berarti di sana ada orang, dong? Mungkin ada orang tinggal di sana?"
"Ora ana wong edan sing arep manggon ing omah
kuwi." (Tidak ada orang gila yang mau tinggal di rumah itu.)
"Nek sendiri pernah ke sana?"
Neneknya tidak menjawab. Tangan kirinya yang memegang
piring sedikit gemetar. Piring itu hampir jatuh tapi dia berhasil menahannya.
"Nek?"
"Wis, Raka. Aja takon-takon bab omah kuwi."
(Sudah, Raka. Jangan tanya-tanya soal rumah itu.) Neneknya berbalik, matanya
tiba-tiba berkaca-kaca. "Omah kuwi... mung nekakake kasusahan." (Rumah
itu... hanya membawa kesusahan.)
Raka ingin mendesak, tapi melihat neneknya seperti itu, dia
memilih diam. Dia menghabiskan sarapannya dalam hati yang tidak tenang.
Setelah sarapan, Raka memutuskan untuk jalan-jalan keliling
desa. Ibunya sedang membantu neneknya membereskan rumah, jadi dia bebas keluar.
Dia berjalan menyusuri jalan setapak di antara sawah, mengamati kehidupan desa
yang damai. Petani dengan topi capingnya sedang mencangkul, anak-anak kecil
bermain layangan di lapangan, ibu-ibu mencuci di sungai.
Semua terlihat normal.
Tapi di mana-mana, rumah tua di atas bukit selalu terlihat.
Dari mana pun dia berdiri di desa itu, bukit dengan rumah tuanya selalu ada di
ujung pandangan, seperti pengawas diam yang tidak pernah tidur.
Di tengah perjalanannya, Raka bertemu dengan seorang anak
laki-laki seumurannya yang sedang duduk di pinggir sawah sambil memancing. Anak
itu berkulit sawo matang, rambutnya ikal, matanya sipit. Dia memakai kaos
oblong lusuh dan celana pendek yang sudah sobek di lutut.
"Hei," sapa Raka.
Anak itu menoleh, matanya membelalak melihat Raka.
"Lho, wong anyar!" katanya kaget. "Kowe saka ngendi?" (Kamu
dari mana?)
"Jakarta. Namaku Raka. Kamu siapa?"
"Joko. Wong kene asli." (Joko. Orang sini asli.)
Joko mematikan pancingannya dan berdiri. Dia mengamati Raka dari ujung rambut
sampai ujung kaki. "Jakarta? Adoh tenan. Kowe nginep neng endi?"
(Jakarta? Jauh sekali. Kamu nginep di mana?)
"Nggak nginep, tinggal. Di rumah nenekku, Mbah
Wati."
Wajah Joko berubah. "Mbah Wati? Kuwi sing duwe warung
kopi neng pinggir kali?" (Itu yang punya warung kopi di pinggir kali?)
"Iya. Kamu kenal?"
"Sapa wong kene sing ora kenal Mbah Wati?" (Siapa
orang sini yang tidak kenal Mbah Wati?) Joko mendekat, suaranya menurun.
"Mbah Wati kuwi... sakwise ditinggal bojone, dheweke dadi rada... mbuh ya.
Wong kene ngomong, Mbah Wati tau weruh soko ing omah tua." (Mbah Wati
itu... setelah ditinggal suaminya, dia jadi agak... entahlah. Orang sini
bilang, Mbah Wati pernah melihat sesuatu di rumah tua.)
Raka merasa bulu kuduknya berdiri. "Melihat apa?"
Joko menggeleng. "Ora ono sing ngerti. Mbah Wati ora
tau crita. Tapi sakwise kuwi, dheweke ora tau gelem nyedhak omah tua
maneh." (Tidak ada yang tahu. Mbah Wati tidak pernah cerita. Tapi setelah
itu, dia tidak pernah mau mendekati rumah tua lagi.)
Raka ingin bertanya lebih banyak, tapi tiba-tiba dia
teringat sesuatu. "Joko, malam-malam, kamu pernah lihat cahaya di rumah
tua itu?" Untuk beberapa detik, Joko tidak menjawab. Matanya menatap ke
arah bukit. Lalu dia mengangguk pelan.
"Kabeh wong kene tau weruh." (Semua orang sini
pernah lihat.)
"Terus? Kalian nggak penasaran?"
Joko tertawa, tapi tawanya getir. "Penasaran?
Wong-wong sing penasaran karo omah kuwi... ilang. Kaya guru biyen."
(Penasaran? Orang-orang yang penasaran dengan rumah itu... hilang. Seperti guru
dulu.)
"Ilang gimana maksudmu?"
"Ilang. Ora ono. Kaya ditelen bumi." (Hilang.
Tidak ada. Seperti ditelan bumi.)
Raka merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia melihat ke
arah rumah tua itu lagi. Di bawah sinar matahari pagi, rumah itu tidak terlihat
menyeramkan. Hanya tua dan kosong. Tapi kenapa semua orang ketakutan?
"Joko," kata Raka tiba-tiba. "Kamu berani
nggak kalau diajak ke sana?"
Joko menatapnya tidak percaya. "Kowe edan? Omah kuwi
angker!"
"Aku nggak percaya hal-hal kayak gitu. Pasti ada
penjelasan logis untuk semua ini."
"Logis piye? Wong ilang tanpa tilas? Cahya sing urip
pirang-pirang puluh taun?" (Logis gimana? Orang hilang tanpa bekas? Cahaya
yang hidup puluhan tahun?) Joko menggeleng keras. "Aku ora gelem. Aku
wedi." (Aku tidak mau. Aku takut.)
Raka tersenyum. "Ya sudah. Nanti aku cari teman
lain."
Dia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Joko yang
masih terpaku di tempatnya. Tapi baru beberapa langkah, dia mendengar suara
Joko memanggil.
"Raka!"
Raka menoleh.
Joko berjalan mendekat, raut mukanya berubah. "Kowe
tenanan arep nyedhak omah kuwi?" (Kamu serius mau mendekati rumah itu?)
"Iya. Kenapa?"
Joko menghela napas panjang. "Yen kowe arep... aku
melu." (Kalau kamu mau... aku ikut.)
Raka terkejut. "Tadi kamu bilang takut."
"Takut iya. Tapi... aku wis bosen ndelok cahya kuwi
saben wengi tanpa ngerti apa sebabe." (Aku sudah bosan lihat cahaya itu
setiap malam tanpa tahu apa sebabnya.) Matanya berbinar. "Lan wong Jakarta
kaya kowe wani, mosok wong kene kalah?" (Dan orang Jakarta seperti kamu
berani, masa orang sini kalah?)
Raka tertawa. "Oke. Tapi jangan sekarang. Kita perlu
rencana."
"Rencana piye?"
"Kita perlu tahu dulu sejarah rumah itu. Siapa yang
punya, kenapa ditinggal, cerita hilangnya guru itu. Baru setelah itu kita cari
jalan masuk."
Joko mengangguk-angguk. "Bener uga." (Bener
juga.)
Mereka berdua berjalan pulang bersama, melewati pematang
sawah yang sempit. Raka merasa senang—dia baru satu hari di desa, sudah punya
teman yang mau ikut petualangan gilanya. Tapi di balik rasa senang itu, ada
juga rasa takut yang dia pendam dalam-dalam.
Apa yang sebenarnya ada di rumah tua itu?
Dan kenapa cahaya di jendelanya selalu menyala setiap
malam?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergelayut di pikirannya
sepanjang perjalanan pulang.
Hari kedua di desa, Raka memutuskan untuk mencari informasi
sebanyak mungkin tentang rumah tua itu. Setelah sarapan, dia berpamitan pada
neneknya dengan alasan mau kenalan dengan anak-anak desa. Neneknya hanya
mengangguk, tapi matanya memperhatikan Raka dengan tajam seolah bisa membaca
pikirannya.
"Ati-ati, Raka. Desa iki... akeh rahasiane."
(Hati-hati, Raka. Desa ini... banyak rahasianya.)
Raka mengangguk cepat lalu bergegas keluar. Dia menemui
Joko di rumahnya yang ternyata hanya berjarak tiga rumah dari rumah neneknya.
Rumah Joko lebih sederhana, dinding anyaman bambu, lantai tanah yang
dipadatkan. Tapi halamannya bersih dan penuh dengan tanaman sayur.
"Joko! Ayo!" teriak Raka dari luar pagar.
Joko keluar dengan mulut masih mengunyah. "Wis?
Ayo!" (Sudah? Ayo!)
Mereka berjalan ke arah timur desa, ke sebuah lapangan
kecil di mana biasanya anak-anak desa bermain bola. Di sana sudah berkumpul
sekitar sepuluh anak laki-laki, usia sekitar 12 sampai 17 tahun. Mereka sedang
bermain sepak bola dengan bola plastik yang sudah tambal di sana-sini.
"Joko! Melu!" teriak salah satu dari mereka. Joko
melambaikan tangan. "Iki kancaku anyar! Raka saka Jakarta!" (Ini
teman baruku! Raka dari Jakarta!)
Semua anak berhenti bermain. Mereka mengelilingi Raka dan
Joko dengan rasa ingin tahu yang besar. Raka memperhatikan wajah-wajah
mereka—ada yang ramah, ada yang curiga, ada yang tertawa mengejek.
"Jakarta? Wah, wong kota!" kata seorang anak
gendut dengan rambut cepak. "Kok iso tekan kene?" (Kok bisa sampai
sini?)
"Pindah ikut ibu," jawab Raka singkat.
"Ngomong-ngomong, kalian main bola? Boleh ikut?"
"Mesti wae!" (Tentu saja!) sahut anak-anak itu
serempak.
Mereka bermain bola selama sekitar satu jam. Raka lumayan
bisa mengimbangi permainan mereka, meskipun lapangannya becek dan bolanya tidak
bundar sempurna. Setelah kelelahan, mereka duduk-duduk di bawah pohon beringin
besar di pinggir lapangan sambil minum air kelapa yang dibeli dari pedagang
keliling.
Suasana santai itu dimanfaatkan Raka untuk mulai bertanya.
"Temen-temen," katanya dengan suara santai.
"Aku denger ada rumah tua di ujung desa. Rumah yang katanya angker. Itu
benar?"
Suasana langsung berubah. Anak-anak yang tadi tertawa riang
sekarang diam seribu bahasa. Mereka saling pandang, seperti takut menjadi orang
pertama yang berbicara.
"Lho, kenapa?" tanya Raka pura-pura bodoh.
"Aku cuma tanya."
Joko, yang duduk di samping Raka, mendorong punggungnya
pelan. "Tak kira kowe arep takon." (Sudah kuduga kamu mau tanya.)
Anak gendut tadi—namanya Bejo—mendesis pelan. "Omah
tua kuwi... aja dicedhaki, Raka." (Rumah tua itu... jangan didekati.)
"Kenapa? Ada hantunya?"
Bejo menggeleng. "Hantu? Hantu isih lumrah. Sing neng
omah kuwi... dudu hantu." (Hantu? Hantu masih biasa. Yang di rumah itu...
bukan hantu.)
Raka mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"
Bejo menurunkan suaranya sampai hampir berbisik.
"Bapakku tau crita. Sakdurunge guru ilang, omah kuwi tau ditinggali wong
sugih. Wong sugih sing aneh." (Bapakku pernah cerita. Sebelum guru hilang,
rumah itu pernah ditinggali orang kaya. Orang kaya yang aneh.)
"Aneh gimana?" "Aneh... dheweke ora tau metu
wayang awan. Mung metu wayang wengi. Lan... saben bengi purnama, saka omah kuwi
keprungu swara... kaya wong nangis, nanging ora jelas." (Aneh... dia tidak
pernah keluar waktu siang. Hanya keluar waktu malam. Dan... setiap malam
purnama, dari rumah itu terdengar suara... seperti orang menangis, tapi tidak
jelas.)
Bulu kuduk Raka meremang. "Terus orang kaya itu
sekarang di mana?"
"Ilang. Ujug-ujug ilang. Sakdurunge guru ilang."
(Hilang. Tiba-tiba hilang. Sebelum guru hilang.)
"Andi, kowe ngerti crita kuwi saka ngendi?" tanya
seorang anak kurus dengan kacamata tebal. "Aku tau krungu versi
liya." (Andi, kamu tahu cerita itu dari mana? Aku pernah dengar versi
lain.)
Semua mata menoleh ke anak berkacamata itu. Namanya Pras,
dia dikenal sebagai anak paling pintar di desa. Orang tuanya punya toko
kelontong, jadi dia punya akses ke koran dan buku-buku bekas.
"Versi piye, Pras?" tanya Joko.
Pras menggeser kacamatanya. "Menurut koran lawas sing
tau tak waca, guru sing ilang kuwi... ora mung guru biasa. Dheweke lagi
nggoleki soko. Soko sing ana gandhengane karo omah tua." (Menurut koran
lawas yang pernah kubaca, guru yang hilang itu... bukan hanya guru biasa. Dia
sedang mencari sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan rumah tua.)
"Nggoleki apa?" tanya Raka cepat.
Pras menggeleng. "Ora dijelaske. Tapi sing jelas...
sakdurunge ilang, guru kuwi tau ketemu karo lurah desa. Wong-wong krungu padha
bantah-bantahan." (Tidak dijelaskan. Tapi yang jelas... sebelum hilang,
guru itu pernah bertemu dengan lurah desa. Orang-orang dengar mereka
bertengkar.)
Suasana semakin mencekam. Bahkan angin yang bertiup terasa
lebih dingin dari sebelumnya.
"Pak Lurah?" ulang Joko tidak percaya.
"Lurah saiki?"
"Iya. Lurah sing saiki isih njabat. Bapake Pras."
(Iya. Lurah yang sekarang masih menjabat. Bapaknya Pras.)
Semua orang terkesiap. Mereka tahu Pak Lurah adalah ayah
Pras. Tapi Pras sendiri yang mengatakan itu berarti dia tahu sesuatu.
"Pras, kowe ngomong apa iki?" tanya Bejo dengan
suara gemetar. "Bapakmu... karo guru sing ilang?"
Pras menunduk. "Aku... aku ora ngerti crita jangkep.
Tapi bapak tau ngomong setengah sadar wayah mbengi. Dheweke ngomong, 'Surya,
aku ora sengaja. Aku ora sengaja.' Terus tangi lan kaget weruh aku ngrungokake."
(Aku... aku tidak tahu cerita lengkap. Tapi bapak pernah bicara setengah sadar
waktu malam. Dia bilang, 'Surya, aku tidak sengaja. Aku tidak sengaja.' Lalu
bangun dan kaget lihat aku mendengarkan.)
Raka merasa kepalanya pusing. Ini terlalu banyak informasi.
Ada guru bernama Surya yang hilang. Ada orang kaya misterius sebelumnya. Ada
Pak Lurah yang mungkin terlibat. Dan semua berpusat pada rumah tua di ujung
desa.
"Pras," kata Raka perlahan. "Kamu tahu
nggak, nama lengkap guru yang hilang itu?"
Pras mengangguk. "Pak Surya. Pak Surya Pratama. Bojone
Bu Rina. Wong loro kuwi ilang bareng." (Pak Surya. Pak Surya Pratama.
Istrinya Bu Rina. Mereka berdua hilang bersama.)
Di luar lapangan, tiba-tiba terdengar suara orang
memanggil.
"Pras! Pras! Mulih!" (Pulang!)
Seorang wanita paruh baya berdiri di pinggir lapangan,
melambaikan tangan. Itu ibu Pras.
Pras berdiri, wajahnya pucat. "Aku tak mulih dhisik.
Ibu ngundang." (Aku pulang dulu. Ibu memanggil.) Dia berlari meninggalkan
lapangan, tidak menoleh ke belakang sedikit pun.
Anak-anak yang lain juga mulai gelisah. Satu per satu
mereka pamit pulang. Tinggal Raka dan Joko di bawah pohon beringin.
"Joko," kata Raka setelah semua pergi. "Kamu
percaya cerita Pras?"
Joko menghela napas panjang. "Aku... ora ngerti. Pras
kuwi bocah jujur. Ora tau goroh." (Aku... tidak tahu. Pras itu anak jujur.
Tidak pernah bohong.)
"Tapi kalau benar Pak Lurah terlibat, berarti ini
kasus besar."
"Iya. Kasus sing ditutup-tutupi puluhan taun."
(Kasus yang ditutup-tutupi puluhan tahun.)
Raka menatap ke arah bukit. Rumah tua itu terlihat
samar-samar di balik kabut sore yang mulai turun. Untuk pertama kalinya, dia
merasa ada sesuatu yang sangat gelap di balik dinding-dinding kayu yang lapuk
itu.
Sesuatu yang mungkin seharusnya tidak pernah ditemukan.
Tapi justru karena itu, dia semakin yakin harus mencari
tahu.
"Joko, besok kita mulai," katanya tegas.
"Kita kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Dari orang tua-tua di desa,
dari siapa pun yang mau bicara."
"Lan yen ora ana sing gelem ngomong?" (Dan kalau
tidak ada yang mau bicara?) "Kita cari cara lain. Pasti ada."
Malam itu, ketika Raka pulang ke rumah neneknya, dia
melihat neneknya duduk sendirian di teras, menatap ke arah bukit. Wajahnya
muram, seperti sedang mengingat sesuatu yang sangat menyakitkan.
"Nek," panggil Raka pelan.
Neneknya menoleh. "Wis mulih, Rak?"
Raka duduk di samping neneknya. Dia ingin bertanya, ingin
tahu apa yang neneknya lihat di rumah tua itu dulu. Tapi melihat raut wajah
neneknya, dia urung.
Mereka duduk bersama dalam diam. Angin malam berhembus
sejuk, membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kebun tetangga. Di
kejauhan, jangkrik-jangkrik mulai bernyanyi.
"Nek," kata Raka akhirnya. "Nek, apa Nek
pernah ke rumah tua itu?"
Lama neneknya tidak menjawab. Raka mengira neneknya tidak
akan menjawab. Tapi tiba-tiba, neneknya berkata dengan suara lirih.
"Pernah."
Raka menahan napas. "Kapan?"
"Sakdurunge bojomu ilang. Sakdurunge guru ilang."
(Sebelum suamimu hilang. Sebelum guru hilang.)
"Nek... Nek melihat apa di sana?" Neneknya
menoleh, menatap Raka dengan mata yang tiba-tiba basah. "Aku... weruh soko
sing ora kudune weruh. Soko sing... nganti saiki isih ngganggu impenku."
(Aku... melihat sesuatu yang tidak seharusnya kulihat. Sesuatu yang... sampai
sekarang masih mengganggu mimpiku.)
"Apa itu, Nek?"
Neneknya menggenggam tangan Raka erat-erat. Tangannya
keriput tapi kuat. "Raka, janji karo Nek. Aja nyedhak omah kuwi. Apa wae
sing mbok krungu, apa wae sing mbok weruh... aja nyedhak." (Raka, janji
sama Nek. Jangan mendekati rumah itu. Apa pun yang kamu dengar, apa pun yang
kamu lihat... jangan mendekat.)
Tapi Raka tidak bisa menjawab. Karena di dalam hatinya, dia
sudah memutuskan.
Dia akan mendekati rumah itu.
Dia akan mencari tahu rahasianya.
Apa pun risikonya. Malam ketiga di desa, Raka tidak bisa
tidur. Bukan karena suara jangkrik atau kodok yang ribut di sawah. Bukan karena
tempat tidurnya yang keras atau bantalnya yang terlalu tinggi. Tapi karena
cahaya itu.
Dari jendela kamarnya, dia melihat cahaya di rumah tua itu
lebih terang dari biasanya. Biasanya hanya titik kecil yang berkedip-kedip,
seperti lampu senter yang kehabisan baterai. Tapi malam ini, cahayanya stabil,
terang, seperti bola lampu 40 watt.
Dan warnanya... aneh. Bukan kuning seperti lampu minyak,
bukan putih seperti lampu listrik. Tapi merah kekuningan, seperti warna api.
Raka duduk di tepi tempat tidurnya, jantungnya berdegup
kencang. Dia ingin membangunkan neneknya atau ibunya. Tapi untuk apa? Mereka
pasti akan menyuruhnya tidur dan tidak peduli.
Atau... mungkinkah mereka juga melihatnya? Mungkinkah
mereka juga gelisah?
Raka memutuskan untuk keluar.
Dia mengenakan jaket tipisnya, membuka pintu kamar
pelan-pelan, dan melangkah ke ruang tengah. Rumah neneknya gelap gulita, hanya
diterangi cahaya bulan yang masuk lewat jendela. Dia bisa mendengar dengkuran
halus ibunya dari kamar sebelah, dan dari kamar neneknya, tidak ada suara sama
sekali.
Sesampainya di teras depan, Raka berdiri mematung.
Cahaya di rumah tua itu sekarang lebih jelas. Bukan hanya
satu titik, tapi beberapa titik. Ada di jendela lantai dua, ada di jendela
lantai satu, dan satu lagi di... apa itu? Di halaman? Cahaya itu bergerak
perlahan, seperti seseorang berjalan dengan lentera.
Raka merasakan jantungnya hampir melompat keluar dari dada.
Ada orang di sana. Benar-benar ada orang.
Tanpa berpikir panjang, Raka melangkah turun dari teras.
Dia berjalan melewati halaman neneknya, melewati pagar bambu yang reyot, dan
mulai menyusuri jalan setapak menuju bukit.
"Raka!"
Suara bisikan keras menghentikannya.
Raka menoleh. Di balik pohon mangga di halaman tetangga,
sesosok bayangan melambai-lambai. Raka memicingkan mata. Sosok itu keluar dari
balik pohon—ternyata Joko.
"Kowe arep ngendi?" bisik Joko, matanya
membelalak.
Raka menunjuk ke arah bukit. "Ke sana. Lihat cahaya
itu."
Joko memegang lengan Raka erat-erat. "Kowe edan!
Wengi-wengi kaya ngene?" (Kamu gila! Malam-malam begini?)
"Cahayanya beda dari biasanya, Jok. Lihat sendiri. Ada
yang bergerak di halaman."
Joko menatap ke arah bukit. Matanya membelalak lebih lebar.
"Astaga... kuwi... kuwi wong?" (Astaga... itu... itu orang?)
"Aku nggak tahu. Makanya aku mau lihat."
"Raka, aja. Iki mbebayani." (Raka, jangan. Ini
berbahaya.)
"Berbahaya gimana? Kalau ada orang di sana, berarti
rumah itu tidak kosong. Berarti selama ini ada yang tinggal di sana diam-diam.
Kita harus tahu siapa."
Joko menggeleng keras. "Yen kuwi dudu wong? Yen
kuwi... memedi?" (Kalau itu bukan orang? Kalau itu... hantu?)
Raka tertawa kecil, meskipun sebenarnya dia juga takut.
"Hantu nggak bawa lampu, Jok. Hantu kan nggak butuh cahaya."
Logika Raka memang masuk akal, tapi Joko tetap tidak yakin.
Dia memandang ke arah rumah tua itu lagi, lalu ke arah Raka, lalu kembali ke
rumah tua.
"Aku... aku melu," katanya akhirnya dengan suara
bergetar.
"Beneran?"
"Iya. Nanging yen ana apa-apa, kowe sing tanggung
jawab." (Tapi kalau ada apa-apa, kamu yang tanggung jawab.)
"Deal."
Mereka berdua mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang
menanjak. Jalan itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang kadang tertutup
awan. Rumah-rumah penduduk yang mereka lewati sudah gelap semua, hanya sesekali
terdengar suara anjing menggonggong dari kejauhan.
Semakin dekat mereka ke bukit, semakin terasa udara dingin.
Bukan dingin biasa, tapi dingin yang menusuk sampai ke tulang, seperti masuk ke
ruang ber-AC setelah kepanasan. Raka menggigil, jaket tipisnya tidak cukup
menahan dingin.
"Raka... aku wedi tenan," bisik Joko, giginya
gemeletuk. (Raka... aku takut sekali.)
"Ssst... lihat." Mereka berhenti di balik
semak-semak besar, sekitar 50 meter dari pagar rumah tua. Dari sini, mereka
bisa melihat halaman depan dengan jelas.
Dan benar saja, ada seseorang di sana.
Sosok itu berjalan pelan di halaman, memegang sesuatu yang
bercahaya—mungkin lentera atau obor. Sosok itu tinggi kurus, berpakaian serba
hitam, dengan topi lebar yang menutupi wajahnya. Dia berjalan mondar-mandir di
halaman, seperti sedang mencari sesuatu.
"Kuwi wong tuwa apa enom?" bisik Joko.
"Entahlah. Nggak kelihatan."
Tiba-tiba, sosok itu berhenti. Dia menegakkan badannya,
lalu perlahan... perlahan... menoleh ke arah mereka.
Raka menahan napas. Joko memegang lengannya erat-erat
sampai sakit.
Wajah sosok itu tidak terlihat jelas karena topinya yang
lebar. Tapi di bawah topi itu, Raka bisa melihat dua titik cahaya—matanya—yang
bersinar merah redup di kegelapan.
Sosok itu menatap ke arah semak-semak tempat mereka
bersembunyi selama beberapa detik. Lalu, tanpa suara, dia berbalik dan masuk ke
dalam rumah. Pintu depan rumah tua itu terbuka dengan sendirinya, lalu tertutup
dengan bunyi "kletek" yang terdengar sampai ke tempat mereka.
Cahaya-cahaya di jendela padam satu per satu.
Gelap total.
Raka dan Joko tidak bergerak untuk waktu yang lama. Mereka
hanya duduk bersembunyi di balik semak, jantung berdegup kencang, napas
tertahan. Ketika akhirnya Raka berani bergerak, dia merasa kakinya lemas.
"Jok... kita... kita lihat itu, kan?" bisiknya.
Joko tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi di bawah sinar
bulan.
"Jok!"
Joko tersentak. "Ya... ya... aku weruh." (Aku
lihat.)
"Mata itu... merah... kamu lihat?"
Joko mengangguk pelan. "Mata kuwi... dudu mata
manungsa." (Mata itu... bukan mata manusia.)
Mereka berdua terdiam. Angin malam bertiup lebih kencang,
membuat dedaunan di sekitar mereka bergemerisik seperti bisikan-bisikan
rahasia. Dari arah rumah tua, terdengar suara pintu dibuka lagi, lalu dibanting
keras.
Raka dan Joko spontan bangkit dan berlari
sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu. Mereka berlari menuruni bukit,
melewati jalan setapak yang gelap, melewati rumah-rumah penduduk yang tenang,
sampai akhirnya sampai di depan rumah nenek Raka.
"Raka... sesuk... sesuk aku arep crita nang
bapakku," kata Joko terengah-engah. "Iki wis keterlaluan."
(Besok... besok aku mau cerita sama bapakku. Ini sudah keterlaluan.)
"Jok, jangan dulu."
"Lho kok?"
"Kita belum tahu apa-apa. Kalau cerita ke orang tua,
mereka pasti akan melarang kita mendekat lagi. Padahal... kita harus cari
tahu."
Joko menatap Raka dengan pandangan tidak percaya.
"Kowe isih arep bali mrene? Sawise weruh kuwi?" (Kamu masih mau balik
ke sini? Setelah lihat itu?)
Raka menghela napas. Dia sendiri tidak tahu harus menjawab
apa. Di satu sisi, dia ketakutan setengah mati. Di sisi lain, rasa penasarannya
justru semakin besar.
Siapa orang itu?
Apa yang dia cari di halaman rumah tua?
Dan yang paling penting... kenapa matanya merah menyala?
"Jok, besok kita cari informasi dulu. Kita cari tahu
siapa saja yang pernah tinggal di rumah itu. Mungkin ada hubungannya dengan
orang yang kita lihat tadi."
Joko menggeleng pasrah. "Kowe ki... wong edan
tenan." (Kamu ini... orang gila sekali.)
Mereka berpisah dengan perasaan tidak tenang. Raka masuk ke
rumah neneknya dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkan siapa pun. Dia
merebahkan diri di tempat tidur, tapi matanya tidak bisa terpejam.
Dari jendela kamarnya, dia melihat ke arah bukit. Rumah tua
itu sekarang gelap total, menyatu dengan kegelapan malam. Tapi di dalam
pikirannya, gambar mata merah menyala itu terus berulang.
Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini?
Dan kenapa semua orang sepertinya menyembunyikan sesuatu?
Keesokan paginya, Raka dibangunkan oleh suara ibunya yang
berteriak dari ruang tengah.
"Raka! Bangun! Ada tamu!"
Raka menggeliat malas. Matanya perih karena semalam
begadang. Dia baru tidur jam 3 pagi, itu pun tidak nyenyak karena terus-menerus
bermimpi aneh tentang mata merah dan rumah tua.
Setelah memakai kaos seadanya, dia keluar kamar dan
terkejut melihat siapa tamu itu. Di ruang tengah, duduk Joko dengan orang
tuanya—seorang bapak bertubuh kekar dengan kumis tebal yang pasti adalah
bapaknya Joko, dan seorang ibu yang mukanya mirip Joko.
Di samping mereka, duduk Pak Lurah—ayahnya Pras—dengan
seragam dinasnya. Pak Lurah adalah pria berusia sekitar 50 tahun, agak gemuk,
dengan mata yang tajam dan senyum yang selalu terkembang meskipun tidak sampai
ke mata.
"Selamat pagi, Raka," sapa Pak Lurah ramah.
Raka membalas salam dengan hati-hati. Dia langsung curiga.
Ada apa ini semua?
"Raka, Bapak Lurah mau bicara sama kamu," kata
ibunya dengan nada aneh—antara khawatir dan marah. Pak Lurah tersenyum.
"Santai saja, Bu. Saya hanya ingin kenalan dengan anak baru di desa
kita." Dia menoleh ke Raka. "Kamu Raka, ya? Anaknya Bu Sari, cucunya
Mbah Wati. Selamat datang di desa kami."
"Terima kasih, Pak Lurah."
"Bagaimana? Betah di sini?"
Raka mengangkat bahu. "Betah, Pak. Desa nyaman."
Pak Lurah mengangguk puas. "Bagus, bagus. Saya senang
dengar itu. Kamu pasti sudah punya teman baru, ya? Joko ini, misalnya?"
Raka melirik Joko. Joko hanya menunduk, tidak berani
menatapnya.
"Iya, Pak. Joko teman baik saya."
"Bagus. Tapi..." Pak Lurah berhenti sebentar,
senyumnya sedikit memudar. "Saya dengar dari orang tua Joko, kalian berdua
semalam... pergi ke suatu tempat?"
Raka merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Jadi ini
masalahnya. Joko sudah cerita.
"Nggak, Pak. Kami cuma jalan-jalan."
Pak Lurah terkekeh. "Jalan-jalan jam 12 malam? Ke arah
bukit?" Matanya sekarang tajam menusuk. "Raka, saya sudah jadi lurah
di desa ini selama 20 tahun. Tidak ada yang terjadi di desa ini tanpa saya
tahu."
Raka diam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Raka," bapaknya Joko angkat bicara, suaranya
berat. "Joko crita, kowe ngajak dheweke nyedhak omah tua. Kuwi
mbebayani." (Raka, Joko cerita, kamu ajak dia mendekati rumah tua. Itu
berbahaya.)
"Maaf, Pak. Tapi saya hanya penasaran. Saya lihat ada
cahaya—"
"Cahaya kuwi wis ana puluhan taun," potong Pak
Lurah. "Ora ana sing ngerti saka ngendi asale. Wong-wong kene wis biasa.
Sing penting, aja nyedhak." (Cahaya itu sudah ada puluhan tahun. Tidak ada
yang tahu dari mana asalnya. Orang-orang sini sudah biasa. Yang penting, jangan
mendekat.)
"Tapi kenapa, Pak? Kenapa tidak boleh?"
Pak Lurah dan bapaknya Joko saling pandang. Ibunya Raka
yang dari tadi diam, sekarang berkata, "Raka, jangan membantah. Kalau
Bapak Lurah bilang tidak boleh, ya tidak boleh."
"Tapi aku cuma mau tahu—"
"Raka!" suara ibunya keras. "Cukup!"
Suasana hening. Raka merasa kesal sekaligus malu dimarahi
di depan orang banyak. Dia memilih diam, tapi di dalam hatinya, api penasaran
justru semakin berkobar.
Pak Lurah berdiri, merapikan seragamnya. "Sudahlah, Bu
Sari. Mungkin Raka belum tahu adat di desa kita. Anak muda memang penasaran,
itu wajar. Tapi tolong diingatkan, Raka: rumah tua itu bukan tempat main-main.
Banyak orang sudah jadi korban karena terlalu penasaran." Dia menatap Raka
lekat-lekat. "Jangan sampai kamu jadi korban berikutnya."
Setelah Pak Lurah dan keluarga Joko pergi, Raka duduk di
ruang tengah dengan perasaan kesal. Ibunya duduk di depannya, menatapnya dengan
mata kecewa.
"Raka, Ibu pindah ke sini supaya kamu punya hidup yang
lebih tenang. Jauh dari pergaulan jelek di Jakarta. Tapi kamu malah cari
masalah."
"Aku nggak cari masalah, Ma. Aku cuma penasaran."
"Penasaran apa? Sama rumah tua? Itu rumah angker, Nak.
Banyak cerita seram tentang itu."
"Cerita apa? Cerita orang hilang? Cerita cahaya
misterius? Itu semua pasti ada penjelasan logisnya."
Bu Sari menghela napas panjang. "Kadang... nggak semua
hal perlu dijelaskan secara logis, Raka. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan
saja."
"Seperti rahasia yang ditutup-tutupi puluhan
tahun?"
Ibunya menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"
Raka diam. Dia hampir mengatakan tentang keterlibatan Pak
Lurah, tentang guru yang hilang, tentang semua yang dia dengar dari Pras dan
Joko. Tapi sesuatu menahannya.
"Nggak, Ma. Lupakan."
Raka bangkit dan masuk ke kamarnya. Dia merebahkan diri di
tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu.
Dia tahu ibunya hanya ingin melindunginya. Tapi justru
perlindungan itulah yang membuatnya semakin penasaran. Kalau tidak ada yang
berbahaya di rumah tua itu, kenapa semua orang berusaha keras menjauhkannya
dari sana?
Sore harinya, Joko datang ke rumah nenek Raka dengan wajah
bersalah.
"Raka, maaf, ya. Aku... aku wedi, terus crita nang
bapakku. Ora nyangka bapakku langsung lapor lurah." (Raka, maaf, ya.
Aku... aku takut, terus cerita sama bapakku. Tidak nyangka bapakku langsung
lapor lurah.)
Raka mengangkat bahu. "Nggak apa-apa. Emang seharusnya
kamu cerita."
"Kowe... nesu?" (Kamu marah?)
"Jengkel, sih. Tapi sama orang tuaku, bukan sama
kamu."
Joko duduk di samping Raka di teras. Mereka berdua menatap
langit sore yang mulai jingga.
"Raka, piye saiki? Isih arep nerusake?" (Raka,
bagaimana sekarang? Masih mau nerusin?)
Raka tidak segera menjawab. Dia memikirkan kata-kata Pak
Lurah tadi pagi, kata-kata ibunya, dan juga ketakutan di mata Joko semalam.
"Aku... nggak tahu, Jok. Di satu sisi, aku takut. Di
sisi lain, aku nggak bisa berhenti mikirin apa yang kita lihat semalam. Mata
merah itu... bukan efek cahaya, kan? Beneran merah?"
Joko menggigil. "Aku... aku ora ngerti. Sing tak
ngerteni, mripat kuwi mandeng langsung marang kita." (Aku... aku tidak
tahu. Yang aku tahu, mata itu menatap langsung ke kita.)
"Terus? Dia cuma masuk ke rumah dan nggak
ngapa-ngapain kita?"
"Iya. Aneh, ya?"
Raka mengangguk. Itu yang paling aneh. Kalau sosok itu
ingin menangkap mereka atau menakuti mereka, dia pasti sudah melakukannya
semalam. Tapi dia hanya menatap, lalu masuk ke rumah, lalu memadamkan lampu.
Seperti... dia tidak ingin diganggu, tapi juga tidak ingin
menyakiti.
Atau mungkin, dia sedang menunggu sesuatu?
Menunggu mereka kembali?
"Jok, kita harus cari tahu lebih banyak," kata
Raka tiba-tiba.
Joko menatapnya dengan pandangan
"aku-tahu-kamu-bakal-bilang-gitu". "Piye carane? Wong saiki wae
bapak-bapak wis padha ngerti lan ngawasi." (Bagaimana caranya? Orang
sekarang saja bapak-bapak sudah tahu dan mengawasi.)
"Kita cari cara lain. Kita cari orang yang tahu banyak
tentang rumah itu tapi mau bicara."
"Sapa? Kabeh wong kene wedi." (Siapa? Semua orang
sini takut.)
Raka berpikir keras. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Nenekku."
"Mbah Wati?"
"Iya. Kemarin dia bilang pernah ke rumah itu. Dia
melihat sesuatu di sana. Mungkin dia mau cerita kalau kita minta
baik-baik."
Joko ragu. "Mbah Wati kuwi... wong tuwa sing pendiem.
Ora tau crita bab omah tua. Nek bapakku wae ngomong, Mbah Wati kuwi wong sing
paling ngerti nanging paling ora gelem crita." (Mbah Wati itu... orang tua
yang pendiam. Tidak pernah cerita soal rumah tua. Kata bapakku, Mbah Wati itu
orang yang paling tahu tapi paling tidak mau cerita.)
"Coba dulu. Nggak ada salahnya."
Malam itu, setelah makan malam, Raka mendekati neneknya
yang sedang duduk di teras sambil menikmati angin malam.
"Nek, aku boleh duduk di sini?"
Neneknya menepuk kursi di sampingnya. "Lungguh,
Rak." (Duduk, Rak.)
Mereka duduk bersama dalam diam untuk beberapa saat. Raka
memperhatikan neneknya yang menatap ke arah bukit, ke rumah tua yang sekarang
mulai terlihat samar-samar di bawah sinar bulan sabit.
"Nek," Raka memulai dengan hati-hati. "Aku
mau tanya sesuatu."
"Takon apa?"
"Tentang rumah tua itu. Nek bilang pernah ke sana. Nek
lihat sesuatu. Apa yang Nek lihat?"
Lama neneknya tidak menjawab. Raka mengira neneknya akan
marah atau menyuruhnya diam. Tapi tidak. Neneknya justru menarik napas panjang,
lalu berkata dengan suara lirih.
"Kowe tenanan arep krungu critaku?" (Kamu sungguh
mau dengar ceritaku?)
"Tenan, Nek."
Neneknya menoleh, menatap Raka dengan mata yang dalam.
"Yen wis krungu... kowe ora bakal iso turu kepenak maneh." (Kalau
sudah dengar... kamu tidak akan bisa tidur nyenyak lagi.)
"Aku siap, Nek."
Neneknya tersenyum tipis. Senyum yang sedih. Lalu dia mulai
bercerita.
"35 taun kepungkur... bojoku, kakungmu, isih urip.
Wektu kuwi aku isih enom, umur 43 taun, sak umure ibu saiki." (35 tahun
yang lalu... suamiku, kakekmu, masih hidup. Waktu itu aku masih muda, umur 43
tahun, seumur ibumu sekarang.)
Raka mendengarkan dengan saksama.
"Kakungmu kuwi... sopo ngerti, dheweke uga penasaran
karo omah tua. Ora percaya omah kuwi angker. Dheweke kerep ngomong, 'Omah kuwi
mung omah. Sing nggawe angker kuwi wong'e dhewe.'" (Kakekmu itu... siapa
sangka, dia juga penasaran dengan rumah tua. Tidak percaya rumah itu angker.
Dia sering bilang, 'Rumah itu hanya rumah. Yang bikin angker itu orangnya sendiri.')
"Terus?"
"Suatu bengi, kakungmu ngajak aku mlebu omah kuwi.
Dheweke ngomong arep mbuktekake nang aku yen omah kuwi ora ana apa-apane."
(Suatu malam, kakekmu mengajak aku masuk rumah itu. Dia bilang mau membuktikan
ke aku kalau rumah itu tidak ada apa-apanya.)
Neneknya berhenti, matanya menerawang ke masa lalu.
"Aku wedi, nanging kakungmu nggandeng tanganku lan
ngomong, 'Aja wedi, aku nang kene.'" (Aku takut, tapi kakekmu menggandeng
tanganku dan bilang, 'Jangan takut, aku di sini.')
Raka merasa dadanya sesak. Dia bisa membayangkan kakeknya
yang tidak pernah dia kenal itu—pemberani, penuh percaya diri.
"Kita mlaku munggah menyang omah kuwi. Lawange ora
dikunci. Mbukak mung kudu didorong rada kenceng. Nalika mlebu... ambune anyir.
Ora anyir bangkai, nanging anyir kaya... kaya woh sing wis bosok nanging
dicampur kembang." (Kami berjalan naik ke rumah itu. Pintunya tidak dikunci.
Membuka hanya harus didorong agak keras. Ketika masuk... baunya anyir. Bukan
anyir bangkai, tapi anyir seperti... seperti buah yang sudah busuk tapi
dicampur bunga.)
Raka membayangkan bau itu dan hampir mual.
"Kakungmu nguripake senter. Kita mlebu ruang tamu,
ruang tengah, nganti tekan kamar-kamar. Ora ana apa-apa. Mung perabot lawas
sing wis ditutupi kain putih. Aku wiwit rada tenang." (Kakekmu menyalakan
senter. Kami masuk ruang tamu, ruang tengah, sampai ke kamar-kamar. Tidak ada
apa-apa. Hanya perabot lawas yang sudah ditutupi kain putih. Aku mulai agak
tenang.)
"Terus?"
"Terus... kakungmu arep munggah tangga menyang lantai
ndhuwur. Nalika dheweke mlaku munggah... aku krungu swara." (Terus...
kakekmu mau naik tangga ke lantai atas. Ketika dia berjalan naik... aku dengar
suara.)
"Swara apa?" bisik Raka.
"Swara tangis. Tangis bayi. Saka lantai ndhuwur."
(Suara tangis. Tangis bayi. Dari lantai atas.)
Bulu kuduk Raka meremang. Dia merinding.
"Aku kandhani kakungku. Dheweke mandheg, ngrungokake.
Tangis kuwi isih ana. Terus... mandheg. Banjur swara liyane: swara uwong mlaku
alon-alon ing lantai ndhuwur." (Aku beri tahu kakekmu. Dia berhenti,
mendengarkan. Tangis itu masih ada. Lalu... berhenti. Lalu suara lain: suara
orang berjalan pelan-pelan di lantai atas.)
"Kakek... apa yang beliau lakukan?"
"Kakungku... dheweke tetep munggah. Ora wedi. Aku
nangis, njaluk mudhun. Nanging dheweke tetep mlebu." (Kakekmu... dia tetap
naik. Tidak takut. Aku menangis, minta turun. Tapi dia tetap naik.)
Neneknya berhenti. Tangannya gemetar. Raka memegang tangan
neneknya, mencoba menenangkan.
"Dheweke mlebu kamar sing swarane saka kono. Aku
ngenteni ing ngisor, ora wani munggah. Krungu dheweke mbukak lawang...
banjur... meneng. Sepi banget." (Dia masuk kamar yang suaranya dari sana.
Aku menunggu di bawah, tidak berani naik. Dengar dia buka pintu... lalu...
diam. Sepi sekali.)
"Kakek?" "Sawise sawetara wektu, aku krungu
dheweke ngomong, 'Sapa kowe?' Banjur swara liyane. Swara wong lanang sing
serak, ngomong, 'Kowe sing kudu lunga.' Banjur... teriakan kakungku. Lan aku
mlayu metu." (Setelah beberapa waktu, aku dengar dia bilang, 'Kamu siapa?'
Lalu suara lain. Suara laki-laki yang serak, bilang, 'Kamu yang harus pergi.'
Lalu... teriakan kakekku. Dan aku lari keluar.)
Raka merasa jantungnya berhenti berdetak. "Kakek...
meninggal?"
Neneknya menggeleng pelan. "Ora. Dheweke metu saka
omah kuwi kira-kira 10 menit sakwise aku mlayu. Metu karo mlayu, langsung
diglandeng aku mulih. Ora tau crita apa sing dideleng ing ndhuwur."
(Tidak. Dia keluar dari rumah itu kira-kira 10 menit setelah aku lari. Keluar
sambil lari, langsung aku gandeng pulang. Tidak pernah cerita apa yang dilihat
di atas.)
"Sampe nggak pernah nanya?"
"Nate. Nanging dheweke mung meneng lan mripate dadi
kosong. Ora gelem ngomong bab kuwi nganti seda." (Pernah. Tapi dia hanya
diam dan matanya jadi kosong. Tidak mau bicara soal itu sampai meninggal.) Raka
terdiam, mencerna semua informasi itu. Jadi kakeknya juga pernah mengalami
kejadian aneh di rumah tua itu. Dan sampai meninggal, dia tidak pernah mau
menceritakannya.
"Nek, Nek percaya omah kuwi angker?"
Neneknya menatap Raka lama. "Aku ora ngerti angker apa
ora. Sing tak ngerteni, omah kuwi... ana sing njaga. Ana sing manggon ing kono,
senajan ora katon." (Aku tidak tahu angker atau tidak. Yang aku tahu,
rumah itu... ada yang menjaga. Ada yang tinggal di sana, meskipun tidak
terlihat.)
"Penjaga?"
"Iya. Penjaga rahasia. Rahasia sing nganti saiki
durung ana sing nemokake." (Penjaga rahasia. Rahasia yang sampai sekarang
belum ada yang menemukan.)
Malam itu, Raka tidur dengan pikiran penuh. Dia
membayangkan kakeknya yang pemberani, naik ke lantai atas rumah tua itu,
membuka pintu, dan melihat sesuatu—atau seseorang—yang membuatnya tidak pernah
mau bicara lagi sampai akhir hayat.
Apa yang dilihat kakeknya?
Dan siapa penjaga rahasia yang dimaksud neneknya?
Apakah penjaga itu adalah sosok bermata merah yang mereka
lihat semalam?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya
sampai akhirnya dia tertidur menjelang subuh.
Dua hari setelah kejadian malam itu, Raka dan Joko
memutuskan untuk mencari informasi dari sumber lain. Kalau orang dewasa tidak
mau bicara, mungkin anak-anak muda yang lebih terbuka. Atau setidaknya, mereka
bisa mencari petunjuk dari benda-benda peninggalan.
Pras, si anak berkacamata yang ayahnya adalah Pak Lurah,
menjadi target pertama mereka.
"Pras, kita perlu ngomong," kata Raka ketika
mereka bertemu di toko kelontong milik orang tua Pras.
Pras yang sedang membantu ibunya melayani pembeli, menoleh
dengan ragu. "Ngomong apa?"
"Tentang yang kamu ceritakan kemarin. Tentang
bapakmu."
Mata Pras langsung berubah waspada. "Wis, lali wae.
Aku ora ngerti apa-apa." (Sudah, lupakan. Aku tidak tahu apa-apa.)
"Pras, please. Ini penting."
Ibunya Pras, Bu RT (karena suaminya lurah, dia otomatis
jadi ketua RT), mengamati mereka dari balik etalase. "Pras,
kanca-kancamu?" (Pras, teman-temanmu?)
"Iya, Bu."
"Ajak mlebu, ngombe dhisik." (Ajak masuk, minum
dulu.)
Mereka bertiga masuk ke bagian belakang toko yang sekaligus
menjadi ruang keluarga. Bu RT menyuguhkan es teh manis dan pisang goreng. Dia
duduk bersama mereka, tersenyum ramah.
"Kowe Raka, ya? Anake Bu Sari?" (Kamu Raka, ya?
Anaknya Bu Sari?)
"Iya, Bu."
"Wis betah neng kene?" (Sudah betah di sini?)
"Betah, Bu."
Bu RT mengangguk puas. "Bagus. Desa kita cilik, tapi
tentrem. Wong-wonge apik." (Bagus. Desa kita kecil, tapi tentram.
Orang-orangnya baik.)
Raka melihat kesempatan. "Bu, saya dengar di desa ini
ada rumah tua yang angker. Itu benar?"
Senyum Bu RT langsung menghilang. Matanya beralih ke Pras,
lalu kembali ke Raka. "Sapa sing ngomong?"
"Teman-teman. Kata mereka di sana ada penjaga atau
sesuatu." Bu RT diam lama. Tangannya yang tadi memegang gelas es teh,
sekarang diletakkan di atas meja. "Raka, omah kuwi... aja diceletuki. Wong
tuwamu mesthi wis ngomong." (Raka, rumah itu... jangan dibicarakan. Orang
tuamu pasti sudah bilang.)
"Iya, Bu. Tapi saya cuma penasaran."
"Penasaran kuwi wajar. Nanging kadang, penasaran iso
ndadekake cilaka." (Penasaran itu wajar. Tapi kadang, penasaran bisa bikin
celaka.)
Bu RT berdiri. "Aku tak menyang pawon dhisik. Pras,
ngomonga sing apik karo kancamu." (Aku ke dapur dulu. Pras, bicara yang
baik dengan temanmu.)
Setelah ibunya pergi, Pras menatap Raka dengan tatapan
campuran antara takut dan kesal. "Kok kowe takon-takon kaya ngono nang
ibuku? Dheweke mesthi nesu." (Kok kamu tanya-tanya begitu sama ibuku? Dia
pasti marah.)
"Aku butuh informasi. Ibumu mungkin tahu banyak."
Pras menghela napas. "Ibuku ora ngerti apa-apa. Sing
ngerti mung bapakku. Lan bapakku ora gelem crita." (Ibuku tidak tahu
apa-apa. Yang tahu hanya bapakku. Dan bapakku tidak mau cerita.)
"Kenapa?"
"Amarga... bapakku melu nggoleki guru sing ilang
biyen. Dheweke sing mimpin wong-wong nggoleki. Lan ora nemu apa-apa."
(Karena... bapakku ikut mencari guru yang hilang dulu. Dia yang memimpin
orang-orang mencari. Dan tidak menemukan apa-apa.)
Raka dan Joko saling pandang. Ini informasi baru.
"Bapakmu ikut mencari? Terus, apa yang dia lihat di
sana?"
Pras menggeleng. "Ora ono. Rumah kuwi kosong. Ora ana
wong, ora ana mayit, ora ana apa-apa. Kaya-kaya wong loro kuwi... ngilang babar
pisan." (Tidak ada. Rumah itu kosong. Tidak ada orang, tidak ada mayat,
tidak ada apa-apa. Seperti mereka berdua... hilang sama sekali.)
Hening sejenak. Raka mencerna informasi itu.
"Pras, kemarin kamu bilang bapakmu ngomong setengah
sadar, 'Surya, aku ora sengaja.' Itu benar?"
Pras mengangguk pelan. "Aku tau krungu bapakku ngomong
kuwi. Ora mung sepisan, nanging kaping pindho. Sing kapindho... bapakku tangi
lan ndeleng aku karo mripate wedi tenan." (Aku pernah dengar bapakku
bicara itu. Tidak hanya sekali, tapi dua kali. Yang kedua... bapakku bangun dan
melihat aku dengan matanya takut sekali.)
"Takut kenapa?"
"Dheweke takon, 'Kowe krungu aku ngomong apa?' Aku
jujur, krungu jeneng Pak Surya. Bapakku langsung pucet lan ngomong, 'Aja kandha
sapa-sapa.'" (Dia tanya, 'Kamu dengar aku bicara apa?' Aku jujur, dengar
nama Pak Surya. Bapakku langsung pucat dan bilang, 'Jangan bilang
siapa-siapa.')
Joko bersiul pelan. "Iki serius tenan." (Ini
serius sekali.)
"Pras, menurutmu... apa bapakmu tahu sesuatu tentang
hilangnya Pak Surya?" tanya Raka hati-hati.
Pras menunduk. Tangannya menggenggam gelas es teh sampai
buku-buku jarinya memutih.
"Aku... ora ngerti. Aku wedi mikir." (Aku...
tidak tahu. Aku takut mikir.)
Dari kejauhan, terdengar suara orang berteriak. Suara itu
datang dari arah luar desa, dari dekat bukit. "Woy! Ana geni! Geni!"
(Woy! Ada api! Api!) Mereka bertiga spontan berdiri dan lari keluar toko. Di
luar, beberapa warga sudah berlarian ke arah bukit. Kepulan asap hitam terlihat
dari balik pepohonan, tepat di lokasi rumah tua.
"Omah tua kobong!" teriak seseorang.
Raka, Joko, dan Pras ikut berlari bersama warga yang lain.
Mereka menaiki jalan setapak menuju bukit, jantung berdegup kencang. Di benak
Raka, hanya satu pikiran: siapa yang membakar rumah itu? Dan apakah sosok
bermata merah itu masih di dalam?
Sesampainya di halaman rumah tua, mereka melihat api sudah
cukup besar di bagian belakang rumah. Tapi anehnya, api itu hanya membakar
tumpukan sampah dan kayu-kayu tua di halaman belakang, bukan rumahnya sendiri.
Warga dengan cepat memadamkan api dengan air dari sumur dan tanah.
"Geni iki sengaja diurubake," kata seorang warga
tua. "Iki dudu kobongan." (Api ini sengaja dinyalakan. Ini bukan
kebakaran.)
Pak Lurah datang dengan tergopoh-gopoh, wajahnya merah
karena berlari. "Ana apa? Sapa sing ngurubake geni?" (Ada apa? Siapa
yang menyalakan api?)
Tidak ada yang menjawab. Semua orang saling pandang.
Raka mengamati sekeliling. Halaman rumah tua itu penuh
dengan ilalang kering dan sampah-sampah yang dibuang warga secara diam-diam.
Tapi di tengah-tengah tumpukan sampah yang terbakar, dia melihat sesuatu. Sebuah
buku. Buku itu setengah terbakar, halaman-halamannya hangus di bagian tepi.
Tapi masih utuh di bagian tengah. Raka mendekat, mengambil buku itu dengan
hati-hati.
"Raka, aja!" teriak Joko. "Mbebayani!"
(Berbahaya!)
Tapi Raka sudah memegangnya. Buku itu panas, tapi masih
bisa dipegang. Sampulnya dari kulit berwarna cokelat tua, dengan tulisan yang
hampir tidak terbaca: "Catatan Pribadi - Surya Pratama".
Darah Raka seolah membeku.
Ini buku harian Pak Surya, guru yang hilang puluhan tahun
lalu.
"Raka!" suara keras Pak Lurah membuatnya
tersentak. "Kowe nemu apa kuwi?" (Kamu nemu apa itu?)
Raka buru-buru menyembunyikan buku itu di balik
punggungnya. "Nggak... nggak apa-apa, Pak. Cuma sampah."
Pak Lurah memicingkan mata. "Sampah? Ayo ndelok."
(Sampah? Ayo lihat.)
Raka mundur selangkah. Joko dan Pras, meskipun takut,
berdiri di samping Raka seolah melindunginya.
"Pak Lurah," kata Pras tiba-tiba. "Iki geni
wis mati. Kula lan konco-konco arep nulung ngresiki." (Pak Lurah, ini api
sudah mati. Saya dan teman-teman mau bantu membersihkan.)
Pak Lurah menatap mereka bertiga bergantian. Matanya tajam,
curiga. Tapi akhirnya dia mengangguk. "Ya wis. Resik-en sing apik. Aja
nganti geni murub maneh." (Ya sudah. Bersihkan yang baik. Jangan sampai
api menyala lagi.)
Setelah Pak Lurah pergi, Raka menunjukkan buku itu pada
Joko dan Pras. Mata mereka membelalak.
"Iki... iki bukune Pak Surya?" bisik Joko tidak
percaya.
"Sepertinya iya."
"Tapi... sapa sing ngurubake geni iki? Lan kenapa bukune
ditinggal nang kene?" (Tapi... siapa yang menyalakan api ini? Dan kenapa
bukunya ditinggal di sini?)
Raka mengamati buku itu lebih dekat. Sampulnya hangus, tapi
isinya masih bisa dibaca di beberapa bagian. Dia membuka halaman pertama.
"Desa Tanah Lenyap, 1 Agustus 1985. Hari pertama kami
tiba di desa ini. Rina bilang desa ini indah. Tapi aku merasakan sesuatu yang
aneh sejak kaki menginjak tanah ini. Seperti ada yang mengawasi dari balik
pepohonan. Mungkin hanya perasaanku saja."
Raka membaca dalam hati, jantungnya berdegup kencang. Ini
adalah dokumen asli dari masa lalu. Ini bisa menjadi kunci untuk memecahkan
misteri.
"Kita harus bawa ini pulang dan baca," katanya.
Namu ketika mereka hendak pergi, Raka melihat sesuatu di
balik pepohonan di belakang rumah tua. Sesosok bayangan hitam berdiri di sana,
memperhatikan mereka.
Sosok yang sama dengan malam itu.
Tapi kali ini, tidak ada topi yang menutupi wajahnya. Raka
bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Wajah itu... familiar.
"Pak... Pak Surya?" bisik Raka tidak percaya.
Sosok itu tersenyum tipis, lalu berbalik dan menghilang di
balik pepohonan.
"Raka? Raka! Kowe ndeleng apa?" (Kamu lihat apa?)
tanya Joko cemas.
Raka tidak bisa menjawab. Dia hanya terpaku, jantungnya
berdegup kencang, keringat dingin membasahi punggungnya.
Pak Surya. Guru yang hilang 35 tahun lalu. Masih hidup?
Atau... itu hanya hantu?
Mereka berlari turun dari bukit tanpa menoleh ke belakang.
Joko dan Pras tidak tahu apa yang dilihat Raka, tapi melihat ekspresi wajahnya,
mereka tahu itu sesuatu yang mengerikan.
Sesampainya di rumah nenek Raka, mereka bertiga duduk di
teras depan, masih terengah-engah. Raka memegang erat buku harian Pak Surya di
tangannya.
"Raka, kowe weruh apa mau?" tanya Joko setelah
napasnya agak stabil. (Raka, kamu lihat apa tadi?)
Raka menelan ludah. "Pak Surya."
"Apa?"
"Aku... aku melihat Pak Surya. Guru yang hilang
itu."
Joko dan Pras saling pandang. Wajah mereka pucat.
"Maksudmu... mayitnya?" tanya Pras dengan suara
gemetar.
"Bukan. Dia berdiri, melihat kita, lalu tersenyum,
lalu pergi."
"Hidup?"
"Aku... aku tidak tahu. Wajahnya... tua, tentu saja.
Tapi dia terlihat... nyata. Bukan hantu."
Joko menggeleng keras. "Ora mungkin. Pak Surya ilang
35 taun kepungkur. Umure saiki mestine wis 70 taun luwih. Wong kuwi ora mungkin
isih urip ing alas tanpa ketahuan wong." (Tidak mungkin. Pak Surya hilang
35 tahun lalu. Umurnya sekarang pasti sudah 70 tahun lebih. Orang itu tidak
mungkin masih hidup di hutan tanpa ketahuan orang.)
"Tapi aku melihatnya, Jok. Aku melihatnya dengan
jelas."
Pras, yang paling tenang di antara mereka, berkata,
"Bisa uga kowe weruh memedi. Omah kuwi angker, wong-wong ngerti
kuwi." (Bisa jadi kamu lihat hantu. Rumah itu angker, orang-orang tahu
itu.)
"Bukan hantu. Hantu nggak perlu bakar sampah. Hantu
nggak perlu meninggalkan buku harian. Pasti ada yang tinggal di sana. Selama
ini ada yang tinggal di sana."
Joko bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir di teras.
"Iki edan. Kabeh iki edan. Kita kudu lapor polisi." (Ini gila. Semua
ini gila. Kita harus lapor polisi.)
"Lapor apa? 'Pak Polisi, saya lihat hantu guru yang
hilang 35 tahun lalu'?" Raka menggeleng. "Polisi nggak akan
percaya."
"Terus piye? Dijarke wae?" (Terus gimana?
Dibiarkan saja?)
Raka membuka buku harian itu. Halaman pertama sudah dia
baca. Dia membuka halaman berikutnya.
"5 Agustus 1985. Warga desa ramah, tapi ada yang aneh.
Setiap kali aku bertanya tentang sejarah desa, mereka selalu mengalihkan
pembicaraan. Terutama kalau aku tanya tentang rumah di ujung desa. Rumah itu,
kata mereka, sudah kosong sejak lama. Tapi tadi malam, aku melihat cahaya di
jendelanya."
Raka membaca dengan saksama. Joko dan Pras mendekat, ikut
membaca.
*"7 Agustus 1985. Aku memutuskan untuk menyelidiki
rumah itu. Rina melarang, tapi aku tetap pergi. Aku masuk ke halaman, lalu ke
dalam rumah. Tidak ada siapa-siapa. Tapi di lantai atas, aku menemukan sesuatu.Sebuah
ruangan yang terkunci. Aku coba membukanya, tapi tidak bisa. Ada tulisan di pintu: 'WISSUP, RASAKO'—mungkin
'Wis suwé ora ketemu, rasakno?' (Sudah lama tidak bertemu, rasakan?) Ini aneh.
Sangat aneh."*
"Wis suwé ora ketemu, rasakno?" ulang Joko.
"Kuwi tulisan sing ditemokake Pak Surya?" (Itu tulisan yang ditemukan
Pak Surya?)
"Iya. Mungkin maksudnya peringatan. 'Sudah lama tidak
bertemu, sekarang rasakan'."
Pras membaca terus. "10 Agustus 1985. Aku
bertemu dengan lurah desa, Pak Karta. Aku tanya tentang rumah itu. Wajahnya
berubah. Dia bilang, 'Pak Surya, lupakan rumah itu. Itu bukan urusan Bapak.'
Tapi aku tidak bisa lupa. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak beres."
"Pak Karta... kuwi bapakku," bisik Pras. (Pak
Karta... itu bapakku.)
Raka menatap Pras. "Bapakmu tahu sesuatu, Pras."
Pras menunduk. Tangannya gemetar. "Aku... aku ora
ngerti apa sing dikarepake Pak Surya." (Aku... aku tidak tahu apa yang
dimaksud Pak Surya.)
Raka membalik halaman berikutnya. "15 Agustus
1985. Aku menemukan peta desa lama di perpustakaan sekolah. Ternyata, di bawah
rumah tua itu ada lorong bawah tanah. Lorong yang menghubungkan rumah itu
dengan... aku tidak tahu dengan apa. Petanya rusak di bagian itu."
Mereka bertiga terkesiap. "Lorong bawah tanah?"
ulang Joko.
"20 Agustus 1985. Seseorang memperingatkanku. Lewat
surat kaleng. Isinya: 'Hentikan penyelidikanmu atau kau akan menyesal.' Aku
tunjukkan surat itu pada Rina. Dia menangis, minta aku berhenti. Tapi aku tidak
bisa. Ini terlalu besar. Ini bukan hanya tentang rumah tua. Ini tentang
keadilan."
Halaman berikutnya tertulis tanggal 25 Agustus 1985. "Aku
menemukan jalan masuk ke lorong bawah tanah. Di balik lemari di ruang tamu. Aku
turun dengan senter. Lorongnya gelap, panjang, dan bau. Aku berjalan cukup lama
sampai tiba di sebuah ruangan. Di ruangan itu, aku menemukan... (tulisan ini
tidak terbaca karena halamannya sobek)."
Raka mengutuk dalam hati. Halaman yang paling penting
justru sobek.
"1 September 1985. Aku harus memberitahu seseorang.
Aku tidak bisa menyimpan ini sendiri. Besok aku akan menemui Pak Lurah lagi.
Kali ini aku akan memaksanya bicara. Aku tahu dia tahu sesuatu."
Halaman terakhir. "11 September 1985. Rina
bilang kita harus pergi dari desa ini. Tapi aku tidak mau. Aku hampir menemukan
kebenaran. Besok malam, aku akan turun ke lorong itu lagi. Aku akan membawa
kamera. Apa pun yang aku temukan, akan aku abadikan. Untuk Rina. Untuk
keadilan. Untuk—"
Tulisan itu berhenti di tengah kalimat. Halaman berikutnya
kosong.
"Itu tanggal 11 September," bisik Raka. "Dia
hilang tanggal 12 September."
"Berarti... dheweke turun ke lorong itu malem Selasa,
11 September. Esuke, dheweke ilang," kata Joko. (Berarti... dia turun ke
lorong itu malam Selasa, 11 September. Besoknya, dia hilang.)
"Dia menemukan sesuatu di lorong itu. Sesuatu yang
membuatnya hilang," kata Pras.
Raka menutup buku itu. Pikirannya kacau. Ada lorong bawah
tanah di bawah rumah tua itu. Pak Surya menemukannya. Dan setelah itu, dia
hilang.
"Sekarang, buku ini tiba-tiba muncul di tumpukan
sampah yang dibakar," kata Raka pelan. "Siapa yang membakarnya? Dan
kenapa?"
"Mungkin Pak Surya sendiri?" tebak Joko.
"Atau orang yang selama ini menjaga rumah itu. Orang
yang kita lihat dengan mata merah."
Pras gemetar. "Aku wedi, Raka. Aku arep mulih."
(Aku takut, Raka. Aku mau pulang.)
"Pras, tunggu dulu—"
Namu Pras sudah berlari meninggalkan teras. Raka ingin
memanggilnya, tapi Joko memegang lengannya.
"Biarkan dulu, Raka. Dheweke wedi. Bapake dhewe
mungkin melu-melu ing kasus iki." (Biarkan dulu, Raka. Dia takut. Bapaknya
sendiri mungkin terlibat dalam kasus ini.)
Raka menghela napas. Dia mengerti. Kalau ayahnya sendiri
yang menjadi lurah saat kejadian itu, dan sekarang dicurigai terlibat, pasti
sangat berat bagi Pras.
"Jok, kita harus ke rumah tua itu lagi."
Joko menatapnya dengan pandangan
'aku-tahu-kamu-bakal-bilang-gitu'. "Mlebu? Mlebu omah kuwi? Sawise kabeh
iki?" (Masuk? Masuk rumah itu? Setelah semua ini?)
"Ada lorong bawah tanah, Jok. Pak Surya menemukan
sesuatu di sana. Mungkin itu sebabnya dia hilang. Mungkin juga itu sebabnya
dia... masih di sana."
"Kowe mikir Pak Surya isih urip lan manggon ing lorong
kuwi?" (Kamu pikir Pak Surya masih hidup dan tinggal di lorong itu?)
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencari tahu."
Joko diam lama. Matanya menatap ke arah bukit, ke rumah tua
yang mulai tertutup kabut sore. Lalu dia berkata lirih, "Kapan?"
"Besok pagi. Saat matahari terbit. Kita butuh
cahaya."
"Lan apa maneh?" (Dan apa lagi?)
"Senter, tali, air minum, dan... keberanian."
Joko tersenyum pahit. "Keberanian... kuwi sing paling
angel dituku." (Keberanian... itu yang paling susah dibeli.)
Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Dia membaca buku harian
Pak Surya berulang kali, mencari petunjuk yang mungkin terlewat. Di sela-sela
halaman, dia menemukan selembar kertas kecil yang tadinya tidak dia lihat.
Kertas itu dilipat empat, sudah menguning.
Dia membukanya dengan hati-hati.
Di atas kertas itu, ada tulisan tangan dengan tinta yang
sudah pudar:
"Jika kau menemukan ini, berarti kau sudah dekat
dengan kebenaran. Tapi hati-hati: kebenaran tidak selalu membebaskan. Kadang,
kebenaran justru mengurungmu dalam ketakutan yang lebih dalam. Jangan turun ke
lorong itu sendirian. Jangan percaya siapa pun. Dan jika kau melihatku...
jangan dekati aku. Aku bukan lagi orang yang dulu."
Ttd,
Surya Pratama
Raka membaca surat itu berulang kali, jantungnya berdegup
kencang. Ini seperti pesan dari masa lalu, pesan peringatan dari Pak Surya
sendiri.
Tapi terlambat. Dia sudah memutuskan.
Besok, dia akan turun ke lorong itu. Apa pun risikonya.
Pagi itu, Raka bangun sebelum matahari terbit. Dia sudah
menyiapkan ransel kecil berisi senter, air minum, tali nilon, pisau lipat
(diam-diam dia ambil dari dapur neneknya), dan yang paling penting: buku harian
Pak Surya.
Dia keluar rumah dengan hati-hati, tidak ingin membangunkan
ibunya atau neneknya. Di luar, kabut masih tebal. Udara dingin menusuk tulang.
Joko sudah menunggu di bawah pohon mangga di halaman tetangga, bergidik dalam jaket
tipisnya.
"Raka, aku isih ora yakin iki apik," katanya
begitu Raka mendekat. (Raka, aku masih tidak yakin ini baik.)
"Aku juga nggak yakin. Tapi kita harus lakukan."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju bukit. Kabut
membuat jarak pandang terbatas, hanya sekitar 10 meter. Suara-suara pagi—ayam
berkokok, burung berkicau, anjing menggonggong—terdengar sayup-sayup dari desa
di bawah.
Semakin dekat ke rumah tua, semakin tebal kabutnya. Raka
bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Tangannya memegang erat buku harian
di dalam ransel.
"Aku wedi tenan, Raka," bisik Joko, giginya
gemeletuk. (Aku takut sekali.)
"Ssst... kita hampir sampai."
Mereka tiba di halaman rumah tua. Pagar kayunya sudah
lapuk, beberapa bagian roboh. Di belakang rumah, bekas pembakaran sampah
kemarin masih terlihat—tumpukan abu hitam dengan sisa-sisa kayu hangus.
Raka mendekati pintu depan. Pintu itu dari kayu jati tebal,
dengan gagang besi berkarat. Dia mendorongnya pelan. Pintu itu terbuka dengan
suara derit panjang yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Masuk, yuk."
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Bau apak dan debu
menyambut mereka. Cahaya pagi yang temaram masuk lewat celah-celah jendela,
menciptakan garis-garis cahaya di ruangan yang gelap.
Ruang tamu rumah itu cukup besar. Ada sofa-sofa tua yang
ditutupi kain putih pudar, meja kayu dengan kaki patah, dan lemari buku kosong
di sudut. Di dinding, tergantung beberapa lukisan pemandangan yang catnya sudah
mengelupas.
"Jok, kita cari lemari."
"Lemari?"
"Iya. Kata Pak Surya, pintu masuk lorong itu di balik
lemari di ruang tamu."
Mereka mencari di setiap sudut ruang tamu. Ada dua lemari:
satu lemari kecil di dekat pintu, satu lemari besar di dinding belakang. Raka
mendekati lemari besar itu. Ukurannya sekitar dua meter, terbuat dari kayu jati
gelap, dengan ukiran-ukiran rumit di pintunya.
"Bantu aku mendorong."
Mereka berdua mendorong lemari itu. Awalnya berat sekali,
tapi setelah beberapa kali dorongan, lemari itu bergeser. Di belakangnya,
tersembunyi di dinding kayu, ada sebuah pintu kecil setinggi satu setengah
meter.
"Masya Allah..." bisik Joko.
Pintu itu tidak bergagang, hanya ada lubang kecil untuk
memasukkan jari. Raka memasukkan jarinya dan menarik. Pintu itu terbuka dengan
suara derit yang lebih panjang dan lebih menyeramkan dari pintu depan.
Di balik pintu itu, ada kegelapan total. Dan bau yang
keluar dari sana—bau tanah basah, bau apak, bau sesuatu yang sudah lama tidak
terkena udara segar.
"Raka... aku wedi," kata Joko, suaranya bergetar.
(Aku takut.)
Raka menyalakan senternya. Cahaya putih menerangi lorong di
depan mereka. Anak tangga pertama terlihat, terbuat dari batu bata yang sudah
ditumbuhi lumut. Lorong itu turun ke bawah, entah seberapa dalam.
"Kita turun," kata Raka tegas. Mereka mulai
menuruni anak tangga satu per satu. Udara semakin dingin dan lembab. Dinding
lorong dari tanah liat yang diperkuat batu bata. Di beberapa tempat, akar-akar
pohon menjuntai dari langit-langit.
Setelah turun sekitar 20 anak tangga, mereka sampai di
dasar. Lorong di depan mereka lurus, gelap, tidak terlihat ujungnya.
"Pak Surya nulis, dheweke mlaku cukup suwe," kata
Joko mengingatkan. (Pak Surya nulis, dia jalan cukup lama.)
"Ayo."
Mereka berjalan perlahan. Senter Raka hanya mampu menerangi
beberapa meter ke depan. Di kiri kanan lorong, sesekali mereka melihat
pintu-pintu kayu kecil yang sudah lapuk. Raka penasaran, tapi dia memutuskan
untuk terus maju dulu.
Setelah berjalan sekitar 10 menit, lorong itu bercabang.
Dua arah: kiri dan kanan.
"Piye iki?" tanya Joko. (Gimana ini?)
Raka membuka buku harian Pak Surya. Dia mencari keterangan
tentang lorong ini, tapi tidak ada. Halaman yang sobek itu mungkin berisi
petunjuk arah.
"Entahlah. Kita coba kanan dulu."
Mereka mengambil lorong kanan. Setelah beberapa langkah,
Raka melihat sesuatu di dinding. Tulisan. Tulisan yang sama dengan yang disebut
Pak Surya di buku hariannya.
"WISSUP, RASAKO."
Tulisan itu diukir di dinding tanah liat, sudah pudar tapi
masih terbaca.
"Ini dia," bisik Raka. "Tulisan ini yang
ditemukan Pak Surya."
"Tapi apa artinya?" tanya Joko.
"Mungkin peringatan. 'Sudah lama tidak bertemu,
sekarang rasakan'. Rasakan apa?"
Mereka melanjutkan perjalanan. Lorong semakin lebar, dan
tiba-tiba mereka sampai di sebuah ruangan. Ruangan itu cukup besar, sekitar 5x5
meter. Di dalamnya, ada meja kayu tua, kursi roboh, dan di sudut... sesuatu
yang membuat darah Raka membeku.
Kerangka manusia.
Bukan satu, tapi dua kerangka manusia. Satu besar, satu
lebih kecil. Mereka tergeletak di lantai tanah, pakaian mereka sudah lapuk
tinggal sisa-sisa kain.
Joko menjerit. Dia mundur dan hampir jatuh. Raka
memegangnya, meskipun tangannya sendiri gemetar hebat. "Itu... itu Pak
Surya?" bisik Joko.
Raka mendekati kerangka itu dengan hati-hati. Di dekat
kerangka yang besar, dia melihat sesuatu. Sebuah kamera tua, model jadul, sudah
berkarat. Dan di sampingnya, sebuah dompet kulit yang masih utuh.
Raka mengambil dompet itu dengan tangan gemetar. Dia
membukanya. Di dalamnya, ada KTP yang sudah menguning.
Nama: SURYA PRATAMA
*Tempat/Tgl Lahir: Yogyakarta, 5 Mei 1950*
Raka merasa dunia berputar. Ini Pak Surya. Ini benar-benar
Pak Surya. Dia tidak pernah keluar dari lorong ini. Dia mati di sini, 35 tahun
lalu.
Tapi kalau ini Pak Surya... lalu siapa yang dia lihat
kemarin? Sosok di balik pepohonan yang tersenyum padanya?
Joko meraih lengannya. "Raka... ayo ndang metu. Aku
wedi tenan." (Ayo cepat keluar. Aku takut sekali.)
Tapi Raka tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada
kerangka itu. Di tangannya, kerangka itu memegang sesuatu. Selembar kertas,
sudah menguning, tapi masih utuh.
Raka mengambil kertas itu dengan hati-hati. Dia membacanya.
"Jika kau menemukan ini, berarti kau sudah menemukan
kami. Maafkan kami, Rina dan Surya, yang tidak bisa pulang. Tapi kebenaran
harus diketahui. Di balik dinding ruangan ini, ada peti besi. Di dalamnya, ada
semua bukti. Tentang apa yang terjadi di desa ini. Tentang siapa yang
bertanggung jawab. Tentang rahasia yang mereka kubur bersama kami."
-Surya-
Raka menatap dinding ruangan itu. Dinding tanah liat dengan
beberapa batu bata penyangga. Di salah satu bagian, dinding itu terlihat
berbeda—batu batanya lebih baru, lebih rapi.
"Jok, bantu aku."
"Apa?"
"Bantu aku bongkar dinding ini."
Mereka berdua mencongkel batu bata itu dengan pisau lipat
Raka. Satu per satu batu bata lepas. Di baliknya, ada ceruk kecil. Dan di dalam
ceruk itu, ada sebuah peti besi tua berkarat. Peti itu tidak terlalu besar,
kira-kira seukuran koper kabin. Raka mengeluarkannya dengan susah payah. Peti
itu berat. Ada gembok di depannya, tapi gemboknya sudah berkarat dan mudah
dipatahkan.
Dengan jantung berdegup kencang, Raka membuka peti itu.
Isinya: tumpukan kertas-kertas tua, map-map, amplop-amplop
cokelat, dan beberapa gulungan film.
Raka mengambil satu map dan membukanya.
Dokumen-dokumen tanah. Surat-surat perjanjian. Dan di
atasnya, ada stempel dan tanda tangan. Tanda tangan pejabat desa, pejabat
kecamatan, bahkan pejabat kabupaten.
Tapi yang paling mengejutkan adalah sebuah foto hitam
putih. Foto itu memperlihatkan beberapa orang berdiri di depan rumah tua ini.
Wajah-wajah mereka serius. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria muda
dengan kumis tipis.
Pak Lurah Karta. Ayahnya Pras.
Dan di sampingnya, pria lain yang wajahnya familiar bagi
Raka. Pria yang dilihatnya kemarin di balik pepohonan.
Pak Surya. Masih muda, masih hidup.
"Raka... ayo ndang metu," desak Joko, suaranya
panik. "Aku krungu swara." (Aku dengar suara.)
Raka menajamkan pendengarannya. Dari ujung lorong, dari
arah mereka datang, terdengar suara langkah kaki. Langkah kaki yang berat,
perlahan, mendekat.
Joko mematung ketakutan. Raka cepat-cepat memasukkan semua
dokumen kembali ke peti, menutupnya, dan menggendongnya.
"Lari!"
Mereka berlari sekencang-kencangnya meninggalkan ruangan
itu. Lorong di depan mereka gelap, senter Raka bergoyang-goyang menerangi
jalan. Di belakang mereka, suara langkah kaki semakin cepat, semakin dekat.
Mereka melewati percabangan, naik ke anak tangga, mendorong
pintu kayu, dan keluar ke ruang tamu. Tanpa menoleh, mereka terus berlari
keluar rumah, menuruni bukit, meninggalkan rumah tua itu.
Sesampainya di bawah bukit, mereka berhenti di pinggir
sawah, terengah-engah, lutut lemas. Raka menoleh ke belakang. Rumah tua itu
terlihat tenang di bawah sinar matahari pagi yang mulai naik.
Tapi di jendela lantai dua, dia melihat bayangan.
Bayangan itu menatap mereka.
Lalu perlahan, bayangan itu mengangkat tangan, melambai.
Seperti memberi salam perpisahan.
Atau seperti mengatakan: "Sampai jumpa lagi."
Raka dan Joko tidak langsung pulang ke rumah masing-masing.
Mereka bersembunyi di gubuk kosong di pinggir sawah milik salah satu warga yang
sudah lama tidak dipakai. Di sana, dengan napas masih terengah-engah, mereka
membuka peti besi itu.
Isinya lebih banyak dari yang mereka kira. Puluhan dokumen,
foto-foto, surat-surat, dan sebuah buku catatan tebal milik Pak Surya. Buku
catatan itu berbeda dari buku harian yang mereka temukan kemarin—ini lebih
seperti buku investigasi, berisi catatan-catatan detail tentang
penyelidikannya.
Raka membaca beberapa lembar dengan cepat.
"Pak Karta (Lurah) memiliki hubungan bisnis dengan
seorang pengusaha dari kota. Mereka membeli tanah-tanah warga dengan harga
murah, lalu menjualnya dengan harga tinggi. Tapi tidak hanya itu. Tanah-tanah
itu... ternyata di atasnya akan dibangun sesuatu. Sesuatu yang tidak boleh diketahui
warga."
"Saya menemukan dokumen perjanjian antara Pak Karta
dan PT. Bumi Lestari. Isinya: penjualan tanah seluas 50 hektar di sekitar desa,
termasuk tanah di bawah rumah tua ini. Tapi tanah di bawah rumah tua ini...
ternyata menyimpan sesuatu. Sesuatu yang berharga."
"Fosfor. Tanah di bawah desa ini kaya akan fosfor.
Fosfor adalah bahan penting untuk pupuk dan... bom. PT. Bumi Lestari ternyata
adalah perusahaan milik militer. Mereka ingin menambang fosfor di sini. Tapi
warga tidak tahu. Mereka hanya tahu tanah mereka dibeli dengan harga
murah."
Raka membaca dengan mata terbelalak. Jadi ini rahasianya.
Bukan hantu, bukan mistis. Tapi konspirasi tanah, penipuan massal, dan
mungkin... kejahatan yang lebih besar.
"Pak Karta takut rahasia ini terbongkar. Dia sudah
menerima uang muka yang besar. Jika warga tahu, dia bisa masuk penjara. Saya
coba bicara baik-baik, minta dia mengaku dan mengembalikan uang itu. Tapi dia
marah. Dia ancam saya. 'Pak Surya, urusan desa urusan saya. Bapak cuma guru.
Mengajari anak-anak saja sudah cukup.'"
"Tapi saya tidak bisa diam. Saya guru. Tugas saya
bukan hanya mengajar membaca dan menulis, tapi juga mengajari anak-anak tentang
kejujuran dan keadilan. Saya harus membongkar ini semua."
Halaman berikutnya berisi salinan dokumen-dokumen tanah,
lengkap dengan tanda tangan dan stempel. Ada juga surat-surat ancaman yang
dikirim ke Pak Surya, dengan tulisan yang sama persis dengan tulisan di dinding
lorong.
"Jok... ini... ini konspirasi besar," bisik Raka.
"Bapaknya Pras... dia terlibat."
Joko membaca beberapa dokumen. Wajahnya pucat. "Iki...
iki artine... Pak Lurah... nglakoni kejahatan?" (Ini artinya... Pak
Lurah... melakukan kejahatan?)
"Penipuan, korupsi, mungkin juga... pembunuhan."
"Pembunuhan?"
"Pak Surya dan istrinya ditemukan di lorong itu.
Mereka tidak mati sendiri. Mereka dikurung di sana. Atau dibunuh di sana."
Joko gemetar. "Dening sapa?" (Oleh siapa?)
Raka menunjukkan sebuah foto. Foto itu memperlihatkan Pak
Lurah Karta (masih muda) bersama beberapa pria lain, termasuk pria yang dilihat
Raka di balik pepohonan kemarin. Di belakang foto, ada tulisan tangan: "Tim
Keamanan Desa, 1985. Yang berdiri di belakang: Karta, Darman, Suroto, dan...
(nama tercoret)."
"Darman? Suroto?" ulang Joko. "Kuwi... kuwi
bapake Bejo lan bapake Andi!" (Itu... itu bapaknya Bejo dan bapaknya
Andi!)
Raka terkesiap. Jadi ayah dari teman-teman mereka juga
terlibat?
"Aku ora ngerti iki," kata Joko, suaranya
bergetar. "Bapakku... bapakku opo iya melu?" (Bapakku... bapakku apa
iya ikut?)
Raka memegang bahu Joko. "Bapakmu tidak ada di foto
ini, Jok. Tenang."
Tapi Joko tidak tenang. Dia takut. Takut pada apa yang
mereka temukan, takut pada apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Raka... piye iki? Kita nemu bukti kejahatan sing
nglibatake pejabat desa lan mungkin pejabat luwih dhuwur. Apa sing kudu kita
lakoni?" (Raka... gimana ini? Kita nemu bukti kejahatan yang melibatkan
pejabat desa dan mungkin pejabat lebih tinggi. Apa yang harus kita lakukan?) Raka
berpikir keras. Dia ingat kata-kata Pak Surya di pesan terakhirnya: kebenaran
harus diketahui. Tapi dia juga ingat peringatan di surat itu: kebenaran tidak
selalu membebaskan, kadang justru mengurung dalam ketakutan yang lebih dalam.
"Kita harus kasih tahu orang dewasa. Orang yang bisa
dipercaya."
"Sapa? Wong kene kabeh wedi karo lurah." (Siapa?
Orang sini semua takut sama lurah.)
Raka memikirkan neneknya. Tapi neneknya sudah tua, mungkin
tidak akan sanggup menghadapi ini. Ibunya? Dia baru pindah, tidak tahu apa-apa
tentang desa.
Tiba-tiba Raka teringat seseorang. "Pak RT. RT kita.
Dia... dia orangnya gimana?"
Joko berpikir. "Pak RT... wonge jujur. Ora tau
melu-melu urusan lurah. Wong-wong ngajeni dheweke." (Pak RT... orangnya
jujur. Tidak pernah ikut-ikutan urusan lurah. Orang-orang hormati dia.)
"Kita coba temui dia."
Mereka menyembunyikan peti besi itu di gubuk, ditutup
dengan karung-karung bekas. Lalu mereka berjalan menuju rumah Pak RT.
Pak RT, namanya Pak Mulyono, adalah pria berusia 60-an
dengan rambut putih tipis. Dia pensiunan guru SD, tinggal sendirian karena istrinya
sudah meninggal. Rumahnya sederhana, di pinggir desa dekat sungai.
"Lho, Joko, Raka? Ana apa jam semene?" tanyanya
heran ketika mereka datang. (Ada apa jam segini?)
"Pak, kita perlu bicara," kata Raka serius.
"Penting."
Pak Mulyono memandang mereka berdua, lalu mengangguk.
"Mlebu."
Di dalam rumah, setelah mereka duduk, Raka membuka
ranselnya dan mengeluarkan beberapa dokumen dari peti besi. Dia ceritakan
semuanya—dari awal dia melihat cahaya di rumah tua, sampai penemuan kerangka
Pak Surya dan dokumen-dokumen ini.
Pak Mulyono mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah
dari heran menjadi serius, lalu menjadi pucat.
"Kowe... kowe nemu iki kabeh?" tanyanya tidak
percaya. (Kamu... kamu nemu ini semua?)
"Iya, Pak. Ini bukti."
Pak Mulyono membaca dokumen-dokumen itu satu per satu.
Tangannya gemetar. Ketika sampai pada foto tim keamanan desa, dia berhenti
lama.
"Pak Mulyono kenal orang-orang ini?" tanya Raka.
Pak Mulyono menghela napas panjang. "Kenal. Kabeh tak
kenal. Darman, Suroto, Karta... kanca-kancaku biyen. Nanging aku ora ngerti yen
dheweke melu iki." (Kenal. Semua saya kenal. Darman, Suroto, Karta...
teman-teman saya dulu. Tapi saya tidak tahu kalau mereka ikut ini.)
"Pak, Pak Surya dan istrinya ditemukan di lorong itu.
Mereka mati di sana. Mungkin dibunuh. Kita harus lapor polisi."
Pak Mulyono diam lama. Matanya menatap ke luar jendela, ke
arah bukit.
"Raka, Joko... iki ora gampang. Wong-wong sing jenenge
nang dokumen iki... wong-wong sing kuwasa nang desa iki. Yen kowe lapor polisi,
durung mesthi polisi percaya. Malah bisa dadi kowe sing cilaka." (Ini
tidak gampang. Orang-orang yang namanya di dokumen ini... orang-orang yang
berkuasa di desa ini. Kalau kamu lapor polisi, belum tentu polisi percaya.
Malah bisa jadi kamu yang celaka.)
"Tapi Pak, ini bukti nyata!"
"Bukti nyata bisa ilang. Saksi bisa ditindhes. Aku
ngerti iki, Raka. Aku wis suwe urip nang desa iki. Aku weruh piye wong-wong
kuwasa main." (Bukti nyata bisa hilang. Saksi bisa ditindas. Aku tahu ini,
Raka. Aku sudah lama hidup di desa ini. Aku lihat bagaimana orang-orang
berkuasa bermain.)
Joko mulai menangis. "Trus piye, Pak? Wong mati
dibiarake wae?" (Terus gimana, Pak? Orang mati dibiarkan saja?)
Pak Mulyono memegang bahu Joko. "Aja nangis, Le. Aku
ora ngomong kudu dibiarake. Nanging kudu pinter. Kudu ati-ati." (Jangan
nangis, Nak. Aku tidak bilang harus dibiarkan. Tapi harus pintar. Harus
hati-hati.)
Dia menatap Raka. "Raka, kowe wong pinter. Kowé sing
nemu iki. Kowé sing kudu mikir piye carané bongkar iki tanpa ndadekake kowe
cilaka." (Kamu yang nemu ini. Kamu yang harus mikir bagaimana cara
membongkar ini tanpa bikin kamu celaka.)
Raka mengangguk. Pikirannya bekerja cepat.
"Pak, kita butuh bantuan. Orang di luar desa. Mungkin
wartawan, atau LSM, atau polisi dari kota yang tidak kenal dengan pejabat
sini."
Pak Mulyono mengangguk setuju. "Bener. Nanging
sadurunge kuwi... kita kudu mestekake yen bukti-bukti iki aman. Yen wong-wong
kuwi ngerti kowe duwe bukti iki... bisa mbebayani."
Raka menelan ludah. Dia tidak memikirkan itu. Selama ini dia
hanya fokus pada petualangan, pada rasa penasaran. Dia lupa bahwa mereka
bermain dengan api.
"Pak, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Pak Mulyono berpikir keras. "Saiki, kowe kudu bali
menyang omah, kaya ora ana apa-apa. Aja crita marang sapa wae, malah marang
wong tuwamu dhewe. Simpen bukti iki nang panggonan sing aman. Sesuk, aku arep
menyang kutha, ketemu karo kancaku wartawan. Dheweke wong sing bisa
dipercaya." (Sekarang, kamu harus pulang ke rumah, seperti tidak ada
apa-apa. Jangan cerita kepada siapa pun, bahkan kepada orang tuamu sendiri.
Simpan bukti ini di tempat yang aman. Besok, saya mau ke kota, bertemu dengan
teman saya wartawan. Dia orang yang bisa dipercaya.)
Raka mengangguk. "Tapi Pak, hati-hati. Kalau mereka
tahu Bapak ikut campur..."
Pak Mulyono tersenyum getir. "Aku wis tuwa, Raka. Ora
wedi mati. Nanging kowe, Joko, kabeh bocah-bocah kene... kowe kudu urip ing
desa sing resik. Ora kaya saiki." (Aku sudah tua, Raka. Tidak takut mati.
Tapi kamu, Joko, semua anak-anak sini... kamu harus hidup di desa yang bersih.
Tidak seperti sekarang.)
Mereka berpisah dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega
karena akhirnya punya orang dewasa yang bisa dipercaya. Tapi juga ada rasa
takut—takut ketahuan, takut akan apa yang terjadi selanjutnya.
Raka menyembunyikan peti besi itu di loteng rumah neneknya,
di balik tumpukan barang-barang lama yang tidak pernah diurus. Dia berdoa
semoga tidak ada yang menemukannya.
Malam itu, ketika dia duduk di teras, neneknya mendekat dan
duduk di sampingnya.
"Nek, apa Nek tahu tentang Pak Surya?" tanya Raka
tiba-tiba.
Neneknya menatapnya lama. "Kok takon maneh?"
"Aku cuma... penasaran."
Neneknya menarik napas panjang. "Pak Surya kuwi...
guru sing apik. Bocah-bocah seneng karo dheweke. Bojone, Bu Rina, wonge alus,
sabar. Wong loro kuwi ora pantes ilang kaya ngono." (Pak Surya itu... guru
yang baik. Anak-anak suka sama dia. Istrinya, Bu Rina, orangnya halus, sabar.
Mereka berdua tidak pantas hilang seperti itu.)
"Menurut Nek, mereka masih hidup?"
Neneknya menggeleng pelan. "35 taun, Raka. Ora mungkin
isih urip. Yen urip, mesthi wis ketemu." (35 tahun, Raka. Tidak mungkin
masih hidup. Kalau hidup, pasti sudah ketemu.)
Raka ingin bilang, "Mereka sudah ditemukan, Nek. Di
lorong bawah tanah." Tapi dia urung. Janji pada Pak Mulyono untuk tidak
cerita ke siapa pun masih dia pegang.
Malam itu, saat Raka hendak tidur, dia mendengar suara dari
luar. Suara orang berbisik-bisik. Dia mengintip lewat jendela.
Di halaman depan rumahnya, dua bayangan hitam berdiri di
bawah pohon mangga. Mereka berbisik, lalu salah satu dari mereka menunjuk ke
arah rumah neneknya.
Jantung Raka berdegup kencang. Apakah mereka tahu? Apakah
mereka sudah tahu tentang penemuannya?
Dia tidak berani bersuara. Hanya bisa bersembunyi di balik
jendela, berdoa semoga bayangan-bayangan itu pergi.
Setelah beberapa menit, mereka pergi. Tapi Raka tidak bisa
tidur semalaman. Dia terus memikirkan apa yang akan terjadi besok.
Desa yang tenang ini ternyata menyimpan rahasia yang gelap.
Dan sekarang, dia sudah masuk terlalu dalam.
Pagi itu, Raka bangun dengan perasaan tidak enak. Matanya
sembab karena kurang tidur. Pikirannya kacau. Dia mandi, sarapan, lalu pamit
pada ibunya untuk pergi ke rumah Joko.
Di rumah Joko, situasi tidak lebih baik. Joko juga terlihat
pucat dan gelisah.
"Raka, bapakku ngomong wingi bengi," bisik Joko
begitu Raka masuk. "Dheweke ngomong, aja melu-melu urusan omah tua. Aja
kumpul karo kowe." (Bapakku bilang semalam. Dia bilang, jangan ikut-ikutan
urusan rumah tua. Jangan kumpul sama kamu.)
Raka terkejut. "Kenapa?"
"Aku ora ngerti. Mungkin bapakku krungu omongan wong.
Atau mungkin... bapakku wedi." (Aku tidak tahu. Mungkin bapakku dengar
omongan orang. Atau mungkin... bapakku takut.)
"Tapi kamu tetap mau bantuin aku, kan?"
Joko diam. Tangannya memainkan ujung bajunya. Akhirnya dia
mengangguk pelan.
"Aku isih melu. Nanging aku wedi, Raka. Wedi
tenan." (Aku masih ikut. Tapi aku takut, Raka. Takut sekali.)
"Aku juga takut, Jok. Tapi kita sudah sejauh ini.
Nggak mungkin mundur." Mereka berdua pergi ke rumah Pak Mulyono. Pak
Mulyono sudah siap-siap mau pergi ke kota. Dia memakai baju bagus, rambutnya
disisir rapi.
"Wis, aku arep mangkat," katanya. "Kowe
ngenteni nang kene wae. Aja metu-metu. Yen ana apa-apa, ndhelika." (Aku
mau berangkat. Kamu nunggu di sini saja. Jangan keluar-keluar. Kalau ada
apa-apa, sembunyi.)
Setelah Pak Mulyono pergi, Raka dan Joko duduk di ruang
tamu rumahnya, gelisah. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Menunggu adalah
hal paling menyiksa.
Dua jam kemudian, seseorang mengetuk pintu. Bukan ketukan
biasa, tapi ketukan keras, seperti orang marah.
"Pak Mulyono! Bukak lawang!" (Buka pintu!)
Raka dan Joko saling pandang. Itu suara Pak Lurah.
"Mendhelik!" bisik Raka.
Mereka berdua lari ke belakang rumah Pak Mulyono,
bersembunyi di balik tumpukan kayu bakar. Dari sana, mereka bisa mendengar
percakapan.
"Pak Mulyono ora ana, Pak Lurah," kata
seseorang—mungkin tetangga Pak Mulyono. "Wis mangkat esuk."
"Mangkat menyang endi?" (Pergi ke mana?)
"Ora ngerti, Pak. Mungkin menyang kutha."
Suara Pak Lurah menggerutu. Lalu suara lain, suara yang
tidak dikenal. "Pak Lurah, kita harus cepat. Anak-anak itu mungkin sudah
kasih tahu dia."
"Anak-anak? Maksudmu Raka dan Joko?"
"Iya. Mereka yang menemukan buku harian itu. Mereka
juga yang kemarin masuk ke rumah tua. Saya lihat mereka dari kejauhan."
Raka merinding. Siapa orang ini? Bagaimana dia tahu?
"Suroto, kowe yakin?" tanya Pak Lurah.
Suroto! Itu bapaknya Andi, salah satu nama di foto tim
keamanan desa.
"Yakin, Pak. Saya ikuti mereka dari bukit. Mereka
masuk ke rumah tua, lalu keluar dengan membawa peti besi."
Jantung Raka berdegup kencang. Mereka diawasi. Selama ini
mereka diawasi.
"Peti besi?" suara Pak Lurah berubah panik.
"Apa isine?"
"Saya tidak tahu, Pak. Tapi pasti sesuatu yang
penting. Mungkin... dokumen-dokumen Pak Surya."
"Astaga... Suroto, kita harus cari peti itu. Cari di
rumah Mbah Wati, di rumah Joko, di mana pun. Jangan sampai mereka sebarkan
isinya."
"Tapi Pak, bagaimana kalau Pak Mulyono sudah pergi ke
kota untuk..."
"Untuk apa?"
"Untuk menemui wartawan."
Hening beberapa detik. Lalu suara Pak Lurah, dingin seperti
es. "Kejar dia. Bawa beberapa orang. Jangan biarkan dia sampai di
kota."
"Baik, Pak."
Suara langkah kaki menjauh. Setelah itu, sunyi.
Raka dan Joko tidak berani bergerak. Mereka terus bersembunyi
di balik tumpukan kayu, menahan napas, takut ketahuan. Baru setelah setengah
jam, mereka berani keluar.
"Jok... mereka... mereka mau celakain Pak
Mulyono," bisik Raka panik. "Kita harus lakukan sesuatu."
"Apa? Piye carane?" (Apa? Bagaimana caranya?)
Raka berpikir keras. "Kita harus cari bantuan. Orang
yang bisa diandalkan."
"Sapa? Wong kene kabeh wedi karo lurah."
"Polisi. Kita harus lapor polisi."
"Polisi? Polisi sini kenal sama lurah. Mungkin mereka
juga terlibat."
Raka frustrasi. Semua jalan sepertinya buntu. Tiba-tiba dia
teringat sesuatu.
"Pras. Ayahnya Pras terlibat, tapi Pras tidak tahu.
Mungkin Pras bisa bantu kita."
"Pras? Bocah kuwi wedi tenan karo bapake." (Pras?
Anak itu takut sekali sama bapaknya.)
"Tapi kita harus coba. Kita tidak punya pilihan
lain."
Mereka berlari ke rumah Pras. Beruntung, Pras sedang
sendirian di toko kelontongnya. Ibunya sedang pergi ke pasar.
"Pras, kita perlu ngomong," kata Raka tergesa.
Pras melihat wajah mereka yang panik. "Ana apa?"
Raka ceritakan semuanya—penemuan di lorong,
dokumen-dokumen, dan rencana Pak Lurah untuk mengejar Pak Mulyono.
Pras mendengarkan dengan wajah pucat. Tangannya gemetar.
"Bapakku... bapakku tenanan nglakoni kuwi kabeh?"
(Bapakku... bapakku sungguh melakukan itu semua?)
"Maaf, Pras. Tapi buktinya ada."
Pras menunduk lama. Air matanya menetes.
"Aku... aku ora ngerti kudu piye. Bapakku... bapakku
apikan karo aku. Nanging... nanging jebulane..." (Aku tidak tahu harus
bagaimana. Bapakku... bapakku baik sama aku. Tapi... tapi ternyata...)
Raka memegang bahu Pras. "Pras, kamu nggak salah
apa-apa. Tapi sekarang kita butuh bantuanmu. Kamu tahu siapa yang bisa kita
percaya di desa ini?"
Pras mengangkat wajahnya, matanya sembab. "Pak RW. Pak
RW Jaiman. Dheweke wis pensiunan polisi. Ora seneng karo bapakku. Dheweke tau
crita, bapakku kuwi... korup." (Pak RW Jaiman. Dia sudah pensiunan polisi.
Tidak suka sama bapakku. Dia pernah cerita, bapakku itu... korup.)
Raka merasa sedikit lega. "Di mana rumahnya?"
"Lor desa. Omah gedhe karo pagar ijo." (Utara
desa. Rumah besar dengan pagar hijau.)
"Jok, kita ke sana. Sekarang."
Mereka bertiga berlari ke utara desa. Rumah Pak RW memang
mudah dikenali—pagar hijau dengan pohon trembesi besar di depan. Mereka
mengetuk pintu. Seorang pria tua dengan kumis tebal membukakan pintu.
"Ana apa, bocah-bocah?" tanyanya heran.
"Pak RW, kita perlu bicara. Penting. Nyawa orang
taruhannya."
Pak RW memandang mereka bergantian, lalu mengangguk.
"Mlebu."
Di dalam, Raka kembali cerita. Ini cerita ketiga kalinya
hari ini, tapi tidak pernah lebih mudah. Setiap kali, dia harus mengingat lagi
hal-hal mengerikan yang mereka lihat di lorong itu. Pak RW mendengarkan dengan
saksama. Tidak seperti Pak Mulyono yang terkejut, Pak RW justru terlihat
seperti sudah menduga semua ini.
"Dokumen-dokumen kuwi nang endi saiki?" tanyanya.
"Di rumah nenekku. Di loteng."
"Aman?"
"Mudah-mudahan."
Pak RW menghela napas panjang. "Aku wis curiga suwe.
Wiwit jaman Pak Surya ilang. Tapi ora ana bukti. Saiki, kowe nggawa bukti kuwi.
Iki gedhe tenan, bocah-bocah."
"Pak, Pak Mulyono dalam bahaya. Mereka mau tangkap
dia."
Pak RW bangkit berdiri. "Aku kenal kanca-kanca polisi
ing kutha. Aku telpon dheweke. Muga-muga isih bisa nyegat." (Aku kenal
teman-teman polisi di kota. Aku telepon dia. Mudah-mudahan masih bisa mencegat.)
Dia masuk ke kamar, menelepon. Beberapa menit kemudian, dia
keluar.
"Polisi wis budal menyang dalan alternatif. Yen ora
salah, Pak Mulyono arep liwat dalan kono. Muga-muga ketemu." (Polisi sudah
berangkat ke jalan alternatif. Kalau tidak salah, Pak Mulyono mau lewat jalan
sana. Mudah-mudahan ketemu.)
Raka, Joko, dan Pras menghela napas lega. Tapi lega mereka
tidak bertahan lama.
"Saiki, masalah kowe," kata Pak RW. "Kowe
kabeh wis mlebu sarang tawon. Yen wong-wong kuwi ngerti kowe sing nemu bukti
iki... kowe bisa dadi target sabanjure."
Raka menelan ludah. "Tapi Pak, buktinya ada di kami.
Kalau mereka tahu—"
"Ora usah wedi. Saiki kowe nang omahku. Aku sing
njaga. Polisi uga bakal teka kanggo njupuk bukti. Sawise kuwi, kabeh
aman." (Tidak usah takut. Sekarang kamu di rumahku. Aku yang jaga. Polisi
juga akan datang untuk ambil bukti. Setelah itu, semua aman.)
Mereka bertiga duduk di ruang tamu Pak RW, menunggu. Di
luar, matahari mulai condong ke barat. Kabar tentang Pak Mulyono belum ada.
Sekitar pukul 5 sore, sebuah mobil polisi berhenti di depan
rumah Pak RW. Dari dalam, keluar Pak Mulyono dengan wajah lelah, ditemani dua
orang polisi berseragam.
"Pak Mulyono!" teriak Joko, berlari memeluknya. Pak
Mulyono tersenyum, meskipu rautnya capek. "Wis, Le, ora apa-apa. Aku
slamet." (Sudah, Nak, tidak apa-apa. Aku selamat.)
Polisi yang datang, seorang AKP muda bernama Budi, masuk ke
rumah Pak RW. Dia melihat Raka, Joko, dan Pras dengan tatapan serius.
"Kalian yang menemukan dokumen-dokumen itu?"
tanyanya.
"Iya, Pak," jawab Raka.
"Di mana dokumennya?"
"Di rumah nenek saya. Saya ambilkan."
"Jangan sendiri. Saya antar."
Raka, ditemani Pak RW dan polisi, pergi ke rumah neneknya
untuk mengambil peti besi itu. Neneknya terkejut melihat polisi, tapi Raka
hanya bilang ada urusan penting.
Setelah peti besi itu diserahkan ke polisi, Raka merasa
beban berat terangkat dari pundaknya. Tapi sekaligus, ada rasa takut baru.
Apa yang akan terjadi pada Pak Lurah dan kawan-kawannya?
Apa yang akan terjadi pada desa ini? Dan yang paling penting... apa yang akan
terjadi pada sosok misterius di rumah tua itu, yang ternyata adalah Pak
Surya—atau setidaknya, arwahnya?
Malam itu, di rumah Pak RW, mereka bertiga duduk bersama
Pak Mulyono dan Pak RW. Mereka membicarakan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Polisi bakal nyelidiki iki kabeh," kata Pak RW.
"Yen buktine cukup, Pak Lurah lan kanca-kancane bakal ditahan."
"Tapi Pak, bagaimana dengan... Pak Surya?" tanya
Raka hati-hati. "Maksud saya, kerangkanya di lorong itu?"
"Polisi bakal nggoleki. Yen perlu, bakal digali. Lan
dikubur kanthi prayoga." (Polisi akan mencari. Kalau perlu, akan digali.
Dan dikubur dengan layak.)
Raka mengangguk. Tapi di pikirannya, masih ada satu
pertanyaan mengganggu: siapa yang dia lihat di balik pepohonan itu? Siapa yang
melambai dari jendela rumah tua?
Apakah itu benar-benar arwah Pak Surya?
Atau... mungkin ada orang lain yang masih tinggal di rumah
itu?
Dia tidak tahu. Tapi satu hal yang dia yakini: misteri
rumah tua di ujung desa ini belum benar-benar terungkap. Masih ada lapisan lain
yang harus mereka gali.
Dan petualangan mereka, ternyata, baru saja dimulai.
BAGIAN II
PETUALANGAN DIMULAI
Dua minggu setelah penyerahan bukti ke polisi, situasi di
desa berubah drastis. Pak Lurah Karta dan empat orang lainnya—termasuk Suroto
dan Darman—ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokumen-dokumen yang
ditemukan Raka dan kawan-kawan terbukti asli dan cukup kuat untuk menjerat
mereka.
Desa Tanah Lenyap gempar. Warga yang selama ini diam, mulai
berani bersuara. Beberapa mengaku sudah lama curiga. Yang lain menangis karena
ternyata tanah mereka dijual tanpa sepengetahuan mereka. Tapi yang paling
banyak adalah rasa syukur—karena kebenaran akhirnya terungkap.
Pak Mulyono menjadi pahlawan dadakan. Rumahnya selalu ramai
dikunjungi warga yang ingin tahu cerita lengkapnya. Tapi Pak Mulyono selalu
mengarahkan pujian itu ke Raka, Joko, dan Pras.
"Bocah-bocah iki sing pahlawan," katanya setiap
kali. "Aku mung mbantu." (Anak-anak ini yang pahlawan. Aku hanya
bantu.)
Raka, Joko, dan Pras menjadi terkenal. Di sekolah,
teman-teman mereka memandang dengan kagum. Guru-guru memuji keberanian mereka.
Bahkan beberapa wartawan dari kota datang mewawancarai mereka.
Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang masih mengganggu
Raka: sosok misterius di rumah tua itu.
Setelah kejadian itu, dia beberapa kali kembali ke rumah
tua, bersama Joko dan Pras. Mereka menjelajahi setiap sudut, mencari petunjuk
tentang siapa yang selama ini mereka lihat. Tapi rumah itu kosong. Sepi. Tidak
ada tanda-tanda kehidupan.
Hingga suatu sore, ketika mereka duduk-duduk di teras rumah
Pak RW, Pak RW berkata sesuatu yang mengagetkan mereka.
"Pak Surya kuwi... duwe anak." (Pak Surya itu...
punya anak.)
Raka, Joko, dan Pras terkesiap. "Anak?"
"Iya. Anak lanang. Umure wektu kuwi kira-kira 5 taun.
Nalika wong tuwane ilang, bocah kuwi... uga ilang." (Iya. Anak laki-laki.
Umurnya waktu itu kira-kira 5 tahun. Ketika orang tuanya hilang, anak itu...
juga hilang.)
Raka merasa bulu kuduknya berdiri. "Maksud Pak RW,
ikut hilang?"
"Ora ana sing ngerti. Sakwise kedadean kuwi, bocah
kuwi ora katon maneh. Mungkin... digawa wong tuwane pas ilang. Atau mungkin...
dibuwang ning endi." (Tidak ada yang tahu. Setelah kejadian itu, anak itu
tidak terlihat lagi. Mungkin... dibawa orang tuanya pas hilang. Atau mungkin...
dibuang di suatu tempat.)
Joko memucat. "Dibuang?"
"Aku ora ngerti. Nanging sing tak ngerteni, ora ana
sing nggoleki bocah kuwi. Polisi ora nggoleki. Lurah ora nggoleki. Kaya-kaya
bocah kuwi ora tau ana." (Aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu, tidak ada
yang mencari anak itu. Polisi tidak mencari. Lurah tidak mencari. Seperti anak
itu tidak pernah ada.)
Raka teringat sesuatu. Sosok yang dilihatnya di balik
pepohonan itu. Tingginya... tidak terlalu tinggi. Mungkin sekitar 170 cm. Kalau
anak Pak Surya waktu itu umur 5 tahun di tahun 1985, sekarang umurnya sekitar
40 tahun. Tinggi 170 cm masuk akal untuk laki-laki dewasa.
"Pak RW," kata Raka pelan. "Mungkin... anak
Pak Surya masih hidup."
Pak RW menatapnya. "Maksudmu?"
"Mungkin dia yang selama ini tinggal di rumah tua itu.
Mungkin dia yang menjaga rumah itu. Mungkin dia yang membakar sampah dan
meninggalkan buku harian ayahnya untuk kami temukan."
Pak RW diam berpikir. Lalu matanya membelalak.
"Yen kuwi bener... tegese dheweke wis ndhelik neng
kono pirang-pirang puluh taun. Lan ora ana sing ngerti." (Kalau itu
benar... berarti dia sudah bersembunyi di sana puluhan tahun. Dan tidak ada
yang tahu.)
"Kenapa dia bersembunyi, Pak?"
"Wedhi. Wong tuwane mati dibunuh. Dheweke mesthi wedhi
yen bakal dipateni uga." (Takut. Orang tuanya mati dibunuh. Dia pasti
takut kalau akan dibunuh juga.)
Pras, yang dari tadi diam, angkat bicara. "Raka, piye
carane kita nemokake dheweke?" (Raka, bagaimana caranya kita menemukan
dia?)
Raka berpikir keras. "Dia pasti masih di sekitar rumah
tua itu. Mungkin di lorong bawah tanah, atau di hutan di belakangnya. Kita
harus cari."
"Nyari? Piye? Wong kita wis bola-bali nggoleki ora
ketemu." (Mencari? Gimana? Kita sudah berkali-kali mencari tidak ketemu.) "Kita
belum mencari dengan benar. Kita belum pernah masuk ke lorong lebih dalam.
Ingat, Pak Surya bilang di lorong itu ada percabangan. Mungkin lorong yang
satunya lagi menuju ke tempat persembunyian anaknya."
Joko menghela napas. "Raka, kowe arep bali menyang
lorong kuwi maneh?" (Raka, kamu mau balik ke lorong itu lagi?)
"Kita harus. Demi keadilan. Demi Pak Surya. Dan demi
anaknya yang mungkin selama ini hidup sendiri, tidak dikenal siapa pun."
Mereka bertiga saling pandang. Di mata masing-masing,
terlihat campuran antara takut dan tekad.
"Aku melu," kata Pras tegas. "Bapakku wis
nglakoni salah. Aku pengin mbenerake." (Aku ikut. Bapakku sudah melakukan
salah. Aku ingin membetulkan.)
Joko menghela napas panjang. "Yah, melu wae lah. Wong
wis kadung." (Ya, ikutlah. Sudah terlanjur.)
Pak RW tersenyum. "Bocah-bocah iki... pancen
pemberani. Nanging elinga, aja mlaku dhewe-dhewe. Aku melu." (Anak-anak
ini... memang pemberani. Tapi ingat, jangan jalan sendiri-sendiri. Aku ikut.)
Raka terkejut. "Pak RW mau ikut?"
"Aku wis pensiunan polisi. Masih kuat. Lan aku pengin
ndelok dhewe apa sing ana ing lorong kuwi." (Aku sudah pensiunan polisi.
Masih kuat. Dan aku ingin lihat sendiri apa yang ada di lorong itu.)
Maka terbentuklah tim kecil: Raka sebagai pemimpin karena
dialah yang paling tahu ceritanya, Joko sebagai navigator karena hafal medan,
Pras sebagai pencatat karena otaknya encer, dan Pak RW sebagai pelindung karena
pengalaman dan fisiknya.
Mereka sepakat untuk memulai ekspedisi keesokan paginya.
Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Dia memikirkan anak Pak
Surya. Bagaimana rasanya hidup sendirian selama puluhan tahun, bersembunyi di
lorong bawah tanah, takut ketahuan? Bagaimana dia bertahan hidup? Dari mana dia
dapat makan? Dan yang paling penting... kenapa dia tidak pernah mencoba keluar,
mencari pertolongan?
Mungkin dia trauma. Mungkin dia takut orang-orang yang
membunuh orang tuanya masih ada. Mungkin dia menunggu waktu yang tepat untuk
muncul.
Atau mungkin... dia sudah gila karena kesepian.
Pikiran-pikiran itu membuat Raka gelisah. Dia berdoa semoga
besok mereka berhasil menemukannya. Dan semoga... dia masih waras.
Pagi itu, matahari baru saja naik ketika tim kecil mereka
berkumpul di rumah Pak RW. Perlengkapan sudah disiapkan: senter kuat, tali
panjang, air minum, makanan ringan, P3K, dan yang paling penting—sebuah kamera
untuk mendokumentasikan apa pun yang mereka temukan.
Pak RW memeriksa perlengkapan satu per satu dengan teliti,
seperti dulu saat dia masih bertugas.
"Wis, siap. Ayo mangkat."
Mereka berjalan menuju bukit. Suasana pagi di desa masih
sepi, hanya sesekali terdengar suara ayam berkokok dan burung berkicau. Kabut
tipis masih menyelimuti sawah-sawah, membuat segalanya terlihat seperti dalam
mimpi.
Semakin dekat ke rumah tua, jantung Raka semakin berdegup
kencang. Rumah itu terlihat sama seperti biasa—tua, gelap, menyeramkan. Tapi
sekarang, dia tahu ada lebih banyak rahasia di balik dinding-dinding kayunya.
Mereka masuk melalui pintu depan yang masih terbuka
setengah. Debu beterbangan ketika mereka melangkah masuk. Pak RW menyalakan
senter besar, menerangi seluruh ruangan.
"Aku ora mlebu omah iki wis puluhan taun," gumam
Pak RW. "Wiwit jaman Pak Surya ilang." (Aku tidak masuk rumah ini
sudah puluhan tahun. Sejak jaman Pak Surya hilang.)
"Pak RW ikut mencari dulu?" tanya Raka.
"Melu. Nanging ora mlebu nganti jero. Aku mung
ngenteni nang njaba." (Ikut. Tapi tidak masuk sampai dalam. Aku hanya
menunggu di luar.)
Mereka menuju lemari besar di ruang tamu. Raka dan Joko
mendorongnya, memperlihatkan pintu rahasia di baliknya. Pintu itu masih terbuka
seperti terakhir kali mereka tinggalkan.
"Lorong iki?" tanya Pak RW, mengamati kegelapan
di balik pintu.
"Iya, Pak. Turun sekitar 20 anak tangga, lalu lorong
lurus, lalu ada percabangan."
Pak RW mengangguk. "Ayo."
Mereka turun satu per satu. Udara semakin dingin dan
lembab. Bau tanah basah dan apak makin kuat. Pak RW berjalan paling depan,
senternya menyapu dinding-dinding lorong. Sesampainya di dasar, mereka melihat
lorong lurus di depan dan percabangan yang pernah mereka lalui.
"Terakhir kita ke kanan, ketemu ruangan dengan
kerangka Pak Surya dan Bu Rina," kata Raka. "Sekarang kita coba
kiri."
Mereka mengambil lorong kiri. Lorong ini lebih sempit,
dindingnya lebih kasar, dan langit-langitnya lebih rendah. Mereka harus
berjalan membungkuk di beberapa bagian.
Setelah berjalan sekitar 10 menit, lorong mulai menurun.
Semakin dalam, semakin gelap. Senter Pak RW adalah satu-satunya sumber cahaya.
"Ana swara," bisik Joko tiba-tiba. (Ada suara.)
Semua berhenti. Mereka mendengarkan. Dari ujung lorong,
terdengar suara samar—seperti orang bernyanyi. Nyanyian pelan, sendu, seperti
lagu pengantar tidur.
"Itu... suara apa?" bisik Pras.
Pak RW memberi isyarat untuk diam. Mereka melanjutkan
perjalanan lebih hati-hati. Suara nyanyian semakin jelas.
"Nenek moyangku orang pelaut... gemar mengarung luas
samudra..."
Raka merinding. Itu lagu anak-anak. Lagu yang biasa
dinyanyikan di sekolah dasar.
Mereka sampai di ujung lorong. Di depan mereka, ada ruangan
kecil. Di dalam ruangan itu, samar-samar terlihat sesosok manusia duduk di pojok,
membelakangi mereka, bergoyang-goyang perlahan sambil terus bernyanyi.
"Menerjang ombak tiada takut... menempuh badai sudah
biasa..."
Pak RW memberi isyarat pada yang lain untuk tetap diam. Dia
melangkah maju, pelan-pelan, senternya diarahkan ke lantai agar tidak
menyilaukan.
"Hei," panggilnya lembut. "Sapa kowe?"
(Kamu siapa?)
Nyanyian berhenti. Sosok itu diam, tidak bergerak.
"Kita ora arep nyilakani kowe. Kita mung arep
ngomong." (Kami tidak mau mencelakai kamu. Kami hanya mau bicara.)
Perlahan, sosok itu menoleh. Wajahnya... wajah pria paruh
baya dengan jenggot panjang acak-acakan. Kulitnya pucat, matanya merah karena
kurang tidur atau menangis. Tapi di balik semua itu, Raka bisa melihat
kemiripan dengan foto Pak Surya yang pernah dilihatnya.
"Bapak... ibu... mana?" tanya pria itu dengan
suara serak, seperti orang yang jarang bicara.
Pak RW tertegun. "Maksudmu?"
"Mereka... pergi... lama. Aku tunggu... tapi tidak
kembali."
Raka merasa dadanya sesak. Ini dia. Anak Pak Surya. Yang
ditinggal sendirian di lorong ini selama 35 tahun.
"Jenengmu sapa, Le?" tanya Pak RW lembut. (Namamu
siapa, Nak?)
Pria itu menatap mereka dengan mata kosong. "Aku...
aku lupa. Bapak... panggil... 'Nak'. Ibu... panggil... 'Sayang'. Tapi nama...
lupa."
Joko menangis. Pras memegang mulutnya, menahan isak. Raka
merasa air matanya mengalir.
"Kowe wis ngenteni wong tuwamu suwe banget, ya?"
tanya Pak RW. (Kamu sudah menunggu orang tuamu lama sekali, ya?)
Pria itu mengangguk pelan. "Lama. Sangat lama. Mereka
bilang... sebentar. Tapi... tidak kembali. Aku takut... keluar. Orang jahat...
di luar. Bapak bilang... jangan keluar... sebelum dia jemput."
Raka ingat pesan terakhir Pak Surya di buku hariannya: dia
akan turun ke lorong lagi malam itu, membawa kamera. Mungkin dia bilang pada
anaknya untuk menunggu sebentar. Tapi dia tidak pernah kembali.
Dan anak itu menunggu. Menunggu. Menunggu. Selama 35 tahun.
"Le, wong tuwamu... wis ora bakal bali," kata Pak
RW dengan suara berat. "Dheweke... wis seda." (Nak, orang tuamu...
sudah tidak akan kembali. Dia... sudah meninggal.)
Pria itu diam lama. Lalu, untuk pertama kalinya, ekspresi
di wajahnya berubah. Dari kosong menjadi... sedih. Sangat sedih.
"Deda?" ulangnya, lidahnya cadel mengucapkan kata
itu. "Mati?"
"Iya, Le. Dheweke dipateni wong jahat. Nanging saiki,
wong jahat kuwi wis dicekel polisi." (Iya, Nak. Dia dibunuh orang jahat.
Tapi sekarang, orang jahat itu sudah ditangkap polisi.)
Pria itu menangis. Tangisan yang aneh—seperti bayi yang
baru belajar menangis, canggung, tersendat-sendat. Mungkin karena 35 tahun
tidak menangis, atau lupa caranya.
Raka mendekat, duduk di sampingnya. Dia meletakkan tangan
di bahu pria itu.
"Aku Raka. Ini Joko, ini Pras, ini Pak RW. Kami akan
bantu kamu. Kamu nggak akan sendirian lagi."
Pria itu menatap Raka dengan mata basah. "Janji?"
"Janji."
Untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, pria itu tersenyum.
Membawa pria itu keluar dari lorong ternyata tidak mudah.
Selama puluhan tahun tinggal di bawah tanah, matanya tidak tahan terhadap
cahaya matahari. Pak RW harus meminjam kacamata hitam dari salah satu warga
untuk melindungi matanya.
Pria itu juga tidak bisa berjalan normal. Kakinya kaku,
otot-ototnya lemah karena jarang bergerak. Mereka harus memapahnya
perlahan-lahan, berhenti setiap beberapa langkah.
Warga desa yang melihat mereka keluar dari rumah tua itu
gempar. Mereka berkerumun di bawah bukit, berbisik-bisik, bertanya-tanya.
"Sapa kuwi?"
"Wong apa kuwi?"
"Kok metu saka omah tua?"
Pak RW mengangkat tangan, meminta perhatian. "Warga
desa Tanah Lenyap! Iki... iki anake Pak Surya, guru sing ilang 35 taun
kepungkur. Dheweke slamet, nanging ndhelik ing ngisor lemah kabeh wektu
iki." (Ini... ini anaknya Pak Surya, guru yang hilang 35 tahun lalu. Dia
selamat, tapi bersembunyi di bawah tanah selama ini.)
Warga terperanjat. Suara gemuruh memenuhi udara. Ada yang
menangis, ada yang berteriak kaget, ada yang langsung bersujud syukur.
Pria itu—yang kemudian diketahui bernama asli Satria,
panggilan "Aria"—hanya bisa menatap bingung pada kerumunan orang.
Selama 35 tahun, dia hanya melihat dua orang: ayah dan ibunya. Sekarang,
puluhan orang asing menatapnya.
"Aria, iki desamu," kata Raka lembut. "Iki
wong-wong apik. Ora usah wedi." (Ini desamu. Ini orang-orang baik. Tidak
usah takut.)
Aria mengangguk, meskipun matanya masih menunjukkan
ketakutan.
Mereka membawanya ke rumah Pak RW, tempat yang paling aman
untuk sementara. Di sana, Aria dimandikan (untuk pertama kalinya dalam 35 tahun
dengan air hangat), dipotong rambut dan jenggotnya yang panjang, dan diberi
pakaian bersih.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, semua orang terkesiap.
Tanpa jenggot dan rambut gondrong, wajah Aria sangat mirip dengan Pak Surya.
Hidung mancung, mata tajam, bentuk wajah yang sama persis.
"Dheweke... dheweke persis kaya Pak Surya," bisik
salah satu warga yang datang menjenguk.
Aria duduk di kursi, menerima semangkuk bubur hangat.
Tangannya gemetar saat memegang sendok—mungkin karena pertama kali memegang
sendok dalam 35 tahun, atau karena emosi.
"Aria, kowe isih kelingan apa wae bab wong
tuwamu?" tanya Pak RW hati-hati. (Kamu masih ingat apa pun tentang orang
tuamu?)
Aria mengunyah perlahan. Matanya menerawang.
"Ayah... suka ngajar. Ibu... suka masak. Mereka...
sayang aku." Dia berhenti, air matanya jatuh. "Malam itu... Ayah
bilang... tunggu. Dia... mau ambil kamera. Ibu... ikut. Mereka... tidak
kembali."
"Apa kowe krungu swara apa wae wektu kuwi?" (Apa
kamu dengar suara apa pun waktu itu?)
Aria mengangguk. "Suara... ribut. Orang marah. Ayah...
teriak. Ibu... menangis. Lalu... diam. Aku... takut. Aku... sembunyi. Tidak
berani... keluar."
"Suara sapa kuwi? Kowe kenal?" (Suara siapa itu?
Kamu kenal?)
"Tidak... tidak kenal. Tapi... satu suara... sering
dengar. Di desa... orang panggil... 'Pak Lurah'."
Semua yang hadir di ruangan itu tersentak. Pak Lurah. Jadi
benar, Pak Lurah ada di lokasi kejadian malam itu.
Pak RW menghela napas panjang. "Iki bukti liyane. Aria
kudu menehi kesaksian nang pengadilan." (Ini bukti lain. Aria harus
memberi kesaksian di pengadilan.)
Tapi Aria menggeleng ketakutan. "Tidak... tidak mau
keluar. Orang jahat... masih ada. Mereka... bunuh aku."
Raka memegang tangan Aria. "Aria, orang jahat itu
sudah ditangkap. Mereka di penjara. Tidak bisa ke sini. Kamu aman."
"Yakin?"
"Yakin. Aku janji."
Aria menatap Raka lama. Lalu perlahan, dia mengangguk.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, Aria tidur
di tempat tidur yang empuk, dengan selimut hangat, dan ditemani orang-orang
yang peduli padanya.
Tapi di tengah malam, Raka terbangun oleh suara pintu
kamarnya yang berderit pelan. Dia membuka mata dan melihat Aria berdiri di
ambang pintu, menatapnya dengan mata kosong.
"Raka," bisik Aria. "Ada... orang... di
luar. Mengawasi."
Raka langsung bangkit. Dia melongok ke jendela. Di luar, di
bawah pohon mangga di halaman Pak RW, dia melihat bayangan hitam berdiri
mematung.
Bayangan yang sama dengan yang dilihatnya malam itu.
Bayangan yang mengawasi mereka dari balik pepohonan.
Tapi kalau Aria ada di sini... siapa bayangan itu?
Raka tidak berani keluar sendirian. Dia membangunkan Pak
RW, yang langsung bangun dengan refleks polisi.
"Ana apa?" tanya Pak RW, matanya langsung
waspada.
"Ada orang di luar, Pak. Di bawah pohon mangga."
Pak RW mengambil senter dan pistol—koleksi pribadinya dari
masa dinas dulu. Dia membuka pintu pelan-pelan dan menyorotkan senter ke arah
pohon mangga.
Tidak ada siapa-siapa.
"Kowe yakin weruh?" tanya Pak RW.
Raka mengangguk yakin. "Yakin, Pak. Aria juga
lihat."
Pak RW memeriksa sekeliling rumah. Tidak ada jejak kaki,
tidak ada tanda-tanda keberadaan orang. Tapi di bawah pohon mangga, dia
menemukan sesuatu: selembar kertas yang ditusuk ranting.
Dia mengambilnya dan membaca di bawah cahaya senter.
"Kalian sudah menemukannya. Tapi jangan berpikir ini
sudah berakhir. Masih ada yang harus kalian ketahui. Datanglah ke rumah tua
besok malam. Sendirian. Atau kalian akan menyesal."
Tidak ada tanda tangan. Hanya tulisan tangan dengan huruf
kapal yang aneh.
Pak RW mengerutkan dahi. "Iki... peringatan? Atau
undangan?"
Raka membaca surat itu. Pikirannya bekerja cepat. Siapa
yang menulis ini? Apakah kaki tangan Pak Lurah yang belum tertangkap? Atau...
ada orang lain yang terlibat dalam misteri ini?
"Pak, kita harus pergi besok malam." Pak RW
menggeleng. "Ora. Iki mbebayani. Bisa jebakan." (Tidak. Ini
berbahaya. Bisa jebakan.) "Tapi kalau tidak, mereka bisa celakain kita.
Lihat, mereka tahu kita di sini. Mereka tahu Aria ada di sini."
Pak RW diam. Raka benar. Orang itu tahu persis di mana
mereka berada. Mungkin dia mengawasi dari jauh. Mungkin dia salah satu warga
desa yang selama ini pura-pura tidak tahu.
"Kita kudu lapor polisi," kata Pak RW akhirnya.
"Polisi? Pak, ini desa. Polisi di kota jauh. Sementara
kita, malam ini juga mungkin diserang."
Pak RW menghela napas. Dia tahu Raka benar. Polisi tidak
akan bisa datang cepat. Sementara ancaman ini nyata dan dekat.
"Kita kudu ati-ati. Yen arep menyang kono, aja
dhewekan. Aku melu." (Kita harus hati-hati. Kalau mau ke sana, jangan
sendirian. Aku ikut.)
Pagi harinya, mereka mengadakan pertemuan kecil. Joko,
Pras, Pak RW, Raka, dan Aria (yang sekarang sudah lebih tenang setelah
sarapan). Raka menunjukkan surat itu.
"Ini ancaman atau undangan, kita tidak tahu. Tapi kita
harus pergi. Siapa pun yang menulis ini, dia tahu sesuatu. Mungkin dia punya
informasi yang belum kita ketahui."
"Aku melu," kata Joko tegas. Kali ini tidak ada
keraguan di matanya.
"Aku juga," sambung Pras.
Pak RW mengangguk. "Aku uga. Nanging Aria kudu nang
kene. Dijaga." (Aku juga. Tapi Aria harus di sini. Dijaga.)
Aria menggeleng. "Aku... ikut. Aku... tidak mau...
ditinggal."
Raka memandang Aria. Di matanya, dia melihat ketakutan yang
dalam—ketakutan akan ditinggal lagi, seperti ayah dan ibunya dulu.
"Aria, ini bisa berbahaya."
"Aku... sudah 35 tahun... di tempat berbahaya. Aku...
bisa jaga diri."
Pak RW menghela napas. "Wis, melu wae. Nanging kowe
kudu manut omonganku." (Sudah, ikut saja. Tapi kamu harus ikut kataku.)
Aria mengangguk.
Malam itu, tepat pukul 9, mereka berangkat menuju rumah
tua. Bulan bersinar terang, tapi awan tebal sesekali menutupinya, membuat
suasana berganti-ganti antara terang dan gelap.
Rumah tua itu terlihat menyeramkan di bawah sinar bulan.
Jendela-jendelanya seperti mata kosong yang menatap mereka. Angin malam
berhembus, membuat dedaunan bergemerisik seperti bisikan.
Mereka masuk melalui pintu depan. Rumah itu sama seperti
biasa—gelap, berdebu, sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Cahaya.
Dari lantai atas, cahaya lampu minyak berkedip-kedip.
"Ana wong," bisik Joko. (Ada orang.)
Perlahan, mereka naik tangga. Tangga kayu tua itu berderit
di setiap langkah. Raka bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Di
belakangnya, Aria memegang erat bajunya.
Sesampainya di lantai atas, mereka melihat pintu kamar
terbuka setengah. Cahaya datang dari dalam.
Pak RW melangkah maju, pistol di tangan. Dia mendorong
pintu pelan-pelan.
Di dalam kamar, duduk seorang pria tua di kursi. Pria itu
sangat tua, mungkin umur 80-an, dengan rambut putih tipis dan kulit keriput. Di
tangannya, dia memegang lampu minyak. Di pangkuannya, sebuah buku tua.
"Wis suwé ora ketemu, Mulyono," kata pria tua itu
dengan suara serak. (Lama tidak bertemu, Mulyono.)
Pak RW tertegun. Matanya membelalak. "Pak... Pak
Karta?"
Raka terkesiap. Pak Karta? Itu nama Pak Lurah yang ditahan.
Tapi pria ini terlalu tua untuk menjadi Pak Lurah.
Pria tua itu tersenyum getir. "Ora. Aku dudu Karta.
Aku... sedulure Karta. Kembarane." (Bukan. Aku bukan Karta. Aku...
saudaranya Karta. Kembarannya.)
Semua orang terperanjat. Kembaran? Pak Lurah punya saudara
kembar?
"Jenengku Karman. Sedulur kembar Karta. Nanging wong
kene ora ana sing ngerti anane aku." (Namaku Karman. Saudara kembar Karta.
Tapi orang sini tidak ada yang tahu keberadaan aku.)
"Lho kok iso?" tanya Pak RW tidak percaya. (Kok
bisa?)
Karman menarik napas panjang. "Cerita iki dawa.
Lungguha. Tak critakke kabeh." (Cerita ini panjang. Duduklah. Aku
ceritakan semua.)
Mereka duduk di lantai kamar yang berdebu, mengelilingi
Karman. Aria duduk paling dekat, matanya menatap pria tua itu dengan rasa ingin
tahu. "Aku lan Karta lair neng desa iki 75 taun kepungkur. Bapak ibu kita
wong miskin. Nalika umur 5 taun, ana wong sugih saka kutha arep ngadopsi salah
siji saka kita. Wong kuwi milih Karta. Aku ditinggal." (Aku dan Karta
lahir di desa ini 75 tahun lalu. Bapak ibu kita orang miskin. Ketika umur 5
tahun, ada orang kaya dari kota mau mengadopsi salah satu dari kita. Orang itu
memilih Karta. Aku ditinggal.)
"Karta urip nang kutha, sekolah dhuwur, dadi wong
pinter. Aku urip nang kene, dadi wong cilik. Nanging nalika umur 25 taun, Karta
bali. Dheweke wis dadi pengusaha. Ngajak aku melu bisnise." (Karta hidup
di kota, sekolah tinggi, jadi orang pintar. Aku hidup di sini, jadi orang
kecil. Tapi ketika umur 25 tahun, Karta kembali. Dia sudah jadi pengusaha. Ajak
aku ikut bisnisnya.)
"Bisnis apa?" tanya Raka.
Karman tersenyum pahit. "Bisnis peteng. Mbeli tanah
wong kanthi murah, banjur didol karo pengembang. Aku melu. Aku dipercaya dadi
wong sing... ngurus masalah." (Bisnis gelap. Membeli tanah orang dengan
murah, lalu dijual ke pengembang. Aku ikut. Aku dipercaya jadi orang yang... mengurus
masalah.)
"Maksud Pak, mengurus masalah?"
"Wong-wong sing nglawan. Wong-wong sing ora gelem
didol tanahe. Wong-wong sing ngerti rahasia kita. Kayata... Pak Surya."
Nama Pak Surya membuat semua orang tegang. Aria gemetar.
"Kowe... kowe sing mateni bapakku?" tanya Aria,
suaranya bergetar.
Karman menunduk. "Ora dhewekan. Aku, Karta, Darman,
Suroto. Wektu kuwi aku isih kuwat. Dadi eksekutor." (Tidak sendiri. Aku,
Karta, Darman, Suroto. Waktu itu aku masih kuat. Jadi eksekutor.)
Aria bangkit, matanya merah. Tangannya mengepal. Raka cepat
memegangnya.
"Aria, tenang. Dengerin dulu."
Karman meneteskan air mata. "Aku ngerti, kowe nesu.
Kowe bener nesu. Aku wis nglakoni dosa gedhe. Nanging saiki, awakku wis tuwa,
arep mati. Aku pengin ngakoni kabeh sadurunge mati."
"Terus, kenapa baru ngaku sekarang?" tanya Raka.
"Amarga... aku weruh kowe nemokake Aria. Aku weruh
kowe mbongkar rahasia iki. Aku rumangsa, iki tandane wektuku wis entek."
(Karena... aku lihat kamu menemukan Aria. Aku lihat kamu membongkar rahasia
ini. Aku merasa, ini tandanya waktuku sudah habis.)
"Pak Karman, di mana Bapak selama ini tinggal?"
tanya Pras. Karman menunjuk ke lantai. "Nang ngisor. Nang lorong liyane.
Sing ora mbok temokake. Aku wis manggon nang kono wiwit... wiwit kedadean kuwi.
Wedi metu, wedi ditangkep." (Di bawah. Di lorong lain. Yang tidak kalian
temukan. Aku sudah tinggal di sana sejak... sejak kejadian itu. Takut keluar,
takut ditangkap.)
Jadi itu penjelasannya. Cahaya yang mereka lihat selama
ini—itu Karman. Sosok bermata merah—mungkin efek kurang tidur atau sakit—juga
Karman. Yang membakar sampah dan meninggalkan buku harian—Karman. Yang
mengawasi mereka dari balik pepohonan—Karman.
"Pak Karman, kenapa Bapak tinggalkan buku harian Pak
Surya di tumpukan sampah?" tanya Raka.
Karman tersenyum tipis. "Amarga aku pengin kowe
nemokake. Aku wis tuwa, ora bisa turu, mung mikir dosa-dosaku. Aku pengin
rahasia iki bongkar, nanging aku ora wani metu. Dadi, tak incer kowe. Bocah
anyar sing penasaran. Tak dongkrak rasa penasarammu, tak tuntun kowe nemokake
bukti-bukti." (Karena aku ingin kalian menemukan. Aku sudah tua, tidak
bisa tidur, hanya memikirkan dosa-dosaku. Aku ingin rahasia ini terbongkar,
tapi aku tidak berani keluar. Jadi, aku incar kamu. Anak baru yang penasaran.
Kupancing rasa penasarannya, kutuntun kamu menemukan bukti-bukti.)
Raka merasa merinding. Jadi selama ini, mereka
dimanipulasi. Tapi manipulasi yang akhirnya membawa kebaikan.
"Saiki, aku arep nyerah," kata Karman. "Nang
polisi. Nanging sadurunge kuwi, aku arep njaluk ngapura marang kowe, Aria.
Anakke Pak Surya." (Sekarang, aku mau menyerah. Ke polisi. Tapi sebelum
itu, aku mau minta maaf padamu, Aria. Anaknya Pak Surya.)
Karman berlutut di depan Aria, meskipun dengan susah payah
karena usianya. Dia menunduk, menangis.
"Ngapura... ngapura aku, Le. Aku sing mateni bapak
ibumu. Aku sing nggawe kowe urip dhewekan 35 taun. Aku elek. Aku jahat. Nanging
saiki, aku pengin mertobat. Ngapura aku, yen bisa." (Maafkan... maafkan
aku, Nak. Aku yang membunuh ayah ibumu. Aku yang membuatmu hidup sendirian 35
tahun. Aku jahat. Aku buruk. Tapi sekarang, aku ingin bertobat. Maafkan aku,
kalau bisa.)
Aria menatap Karman lama. Air matanya mengalir. Tangannya
gemetar.
"Bapak... ibuku... mereka... baik. Mereka... sayang
aku. Mereka... tidak pantas... mati."
"Ya, Le. Ora pantes. Kabeh salahku." (Ya, Nak.
Tidak pantas. Semua salahku.)
Aria diam lama. Lalu, perlahan, dia mengulurkan tangan dan
menyentuh kepala Karman.
"Aku... maafkan. Tapi... Tuhan... yang tentukan...
dosamu."
Karman menangis tersedu-sedu. Semua orang di ruangan itu
menangis. Bahkan Pak RW, pensiunan polisi yang sudah banyak melihat kejahatan,
ikut meneteskan air mata.
Malam itu, mereka turun dari rumah tua dengan membawa
Karman. Dia berjalan tertatih, ditopang oleh Raka dan Joko. Di bawah bukit,
polisi sudah menunggu—dipanggil Pak RW lewat telepon seluler.
Saat Karman masuk ke mobil polisi, dia menoleh ke arah
mereka.
"Matur nuwun, bocah-bocah. Saiki, aku iso mati kanthi
tenang." (Terima kasih, anak-anak. Sekarang, aku bisa mati dengan tenang.)
Mobil polisi melaju, membawa Karman ke kota. Meninggalkan
Raka, Joko, Pras, Aria, dan Pak RW di pinggir jalan, di bawah sinar bulan yang
kini bersinar terang tanpa awan.
Rahasia rumah tua di ujung desa akhirnya terungkap
sepenuhnya.
Seminggu kemudian, suasana desa kembali tenang. Karman,
bersama Karta, Darman, dan Suroto, menjalani proses hukum di kota. Berita
tentang pengakuan mereka menjadi headline di koran-koran lokal. Wartawan
berdatangan, mewawancarai siapa pun yang mau bicara.
Tapi Raka dan kawan-kawan memilih untuk tidak banyak bicara
pada wartawan. Mereka cukup terkenal di sekolah, dan itu sudah lebih dari
cukup.
Aria mulai beradaptasi dengan kehidupan normal. Dia tinggal
sementara di rumah Pak RW, belajar berbicara dengan benar, belajar makan dengan
sendok dan garpu, belajar berjalan tanpa terhuyung-huyung. Dokter dari kota
datang memeriksanya dan mengatakan bahwa secara fisik dia sehat, hanya perlu
terapi untuk mengatasi traumanya.
Suatu sore, ketika mereka bertiga (Raka, Joko, Pras)
berkunjung ke rumah Pak RW, Aria menunjukkan sesuatu pada mereka.
"Aku... ingat sesuatu," katanya, bicaranya sudah
jauh lebih baik setelah seminggu latihan. "Di dinding... lorong... ada
gambar. Gambar yang... Ayah buat. Mungkin... penting."
"Gambar apa?" tanya Raka.
"Aku... tidak tahu. Tapi Ayah bilang... 'Nak, kalau
Ayah tidak kembali... lihat gambar ini. Gambar ini... kunci.'"
Mereka saling pandang. Selama ini mereka fokus pada dokumen
dan peti besi, tidak pernah memperhatikan dinding lorong dengan teliti.
"Ayo kita lihat," kata Raka.
Mereka kembali ke rumah tua. Sekarang rumah itu tidak lagi
terasa menyeramkan. Warga sudah mulai membersihkan halamannya, berencana
menjadikannya museum desa atau perpustakaan.
Mereka turun ke lorong, dipimpin Aria yang hafal setiap
sudutnya. Aria membawa mereka melewati lorong utama, melewati percabangan,
sampai ke ruangan tempat dia tinggal selama 35 tahun.
"Di sini," katanya, menunjuk dinding.
Dinding tanah liat itu polos. Tidak ada gambar apa pun.
"Aria, yakin?" tanya Joko.
Aria mengerutkan dahi. Dia mendekati dinding, meraba-raba.
"Dulu... ada. Tapi... mungkin... tertutup."
Pak RW, yang ikut serta, mengeluarkan pisau lipatnya. Dia
mulai mengerik lapisan tanah liat di dinding. Perlahan, di bawah lapisan tipis
tanah, muncul warna.
Warna merah. Warna biru. Warna kuning.
"Masya Allah... ini lukisan," bisik Raka.
Mereka terus mengerik sampai seluruh lukisan terlihat.
Lukisan itu menggambarkan peta. Bukan peta biasa—peta dengan simbol-simbol
aneh, garis-garis yang saling berpotongan, dan di tengahnya, sebuah lingkaran
merah besar.
"Ini... ini peta harta karun?" tebak Joko.
Pak RW menggeleng. "Bukan. Ini... ini peta desa. Tapi
desa jaman dulu. Lihat, ini sungai, ini sawah, ini bukit. Dan ini..." Dia
menunjuk lingkaran merah. "Ini rumah tua."
"Terus, tanda-tanda ini apa?" tanya Pras,
menunjuk simbol-simbol aneh di sekitar peta.
Aria mendekat, mengamati dengan saksama. "Ayah... suka
gambar. Dia bilang... simbol ini... bahasa rahasia. Dia... pelajari dari buku
tua."
"Bahasa rahasia? Apa itu?"
"Aku... tidak tahu. Tapi Ayah bilang... 'Kalau kamu
temukan ini... bawa ke orang pintar. Orang yang... mengerti sejarah.'"
Raka memotret peta itu dengan ponselnya. Dia akan mencari
tahu arti simbol-simbol ini. Mungkin ada hubungannya dengan dokumen-dokumen
yang sudah mereka serahkan ke polisi. Saat mereka hendak pergi, Raka melihat
sesuatu di sudut ruangan. Sebuah lubang kecil di dinding, tersembunyi di balik
akar pohon yang menjuntai.
"Apa itu?"
Dia mendekat dan memasukkan tangannya ke lubang itu.
Jari-jarinya menyentuh sesuatu—sebuah kotak kecil. Dia mengeluarkannya.
Kotak kayu, ukuran 10x10 cm, dengan ukiran yang sama dengan
simbol-simbol di peta.
"Ayah... punya ini," kata Aria. "Dia
bilang... ini pusaka. Dari... buyut."
Raka membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya, ada
sebuah cincin tua dengan batu merah, dan selembar kertas menguning.
Kertas itu bertuliskan:
"Kepada keturunanku yang menemukan ini. Aku,
Jayengrana, buyutmu, adalah penjaga rahasia desa. Rahasia yang lebih tua dari
desa ini sendiri. Di bawah desa ini, ada gua. Di gua itu, ada pusaka leluhur.
Cincin ini adalah kuncinya. Jagalah. Gunakan hanya untuk kebaikan."
Raka membaca surat itu berulang kali. Jadi ini belum
berakhir. Masih ada rahasia lain. Rahasia yang lebih tua. Rahasia yang mungkin
akan mengubah segalanya.
Dia menatap teman-temannya. Di mata mereka, dia melihat
pertanyaan yang sama: apa lagi yang tersembunyi di desa ini?
"Kita harus cari tahu," kata Raka tegas.
Dan petualangan baru pun dimulai.
Minggu berikutnya, mereka menghabiskan waktu untuk meneliti
simbol-simbol di peta. Pak RW mengenalkan mereka pada seorang profesor sejarah
dari universitas di kota, Prof. Hardono, yang tertarik dengan penemuan mereka.
Prof. Hardono datang ke desa dengan dua asistennya. Dia
mempelajari foto peta, cincin, dan surat dari buyut Aria. Matanya
berbinar-binar.
"Ini... ini luar biasa," katanya.
"Simbol-simbol ini adalah aksara kuno Jawa, campuran dengan aksara dari
masa pra-Hindu. Artinya, desa ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Jauh
sebelum kerajaan-kerajaan besar berdiri."
"Terus, Pak Profesor, apa arti simbol-simbol
itu?" tanya Raka. Prof. Hardono menunjukkan foto peta. "Lihat, ini
garis-garisnya membentuk pola tertentu. Ini bukan peta biasa. Ini... ini
petunjuk. Petunjuk menuju sesuatu. Dan lingkaran merah ini... ini
pusatnya."
"Pusat apa, Pak?"
"Itu yang harus kita cari. Mungkin candi, mungkin gua,
mungkin... sesuatu yang lain."
Mereka memutuskan untuk mencari berdasarkan petunjuk peta.
Prof. Hardono membawa alat pendeteksi logam dan GPS. Raka, Joko, Pras, Aria,
dan Pak RW ikut serta.
Peta menunjukkan lokasi di belakang rumah tua, sekitar 500
meter masuk ke hutan. Di sana, menurut peta, ada formasi batu tertentu yang
menjadi penanda.
Mereka berjalan melewati hutan lebat, melewati semak-semak
dan pohon-pohon besar. Aria, meskipun masih kaku jalannya, tampak bersemangat.
Ini pertama kalinya dia menjelajahi hutan di atas tanah.
"Di sini," kata Prof. Hardono, melihat GPS-nya.
"Menurut peta, di sekitar sini."
Mereka mencari. Tidak ada apa pun selain pohon dan semak.
Tapi Aria tiba-tiba berhenti di dekat sebuah pohon besar.
"Ini... pohon ini," katanya. "Ayah... pernah
tunjuk. Dia bilang... 'Ingat pohon ini. Penting.'"
Prof. Hardono mendekati pohon itu. Pohon beringin tua
dengan akar-akar besar menjuntai. Dia memeriksa akar-akarnya, lalu berteriak.
"Di sini! Ada lubang!"
Mereka berkumpul. Di balik akar-akar pohon, tersembunyi
lubang vertikal selebar satu meter. Gelap. Tidak terlihat dasarnya.
"Ini... ini goa," kata Prof. Hardono. "Goa
vertikal. Mungkin turun 10-15 meter."
Pak RW mengeluarkan tali panjang. "Kita harus
turun?"
"Kalau mau tahu apa isinya, iya."
Mereka memasang tali dengan kuat di pohon. Pak RW turun
lebih dulu, membawa senter. Beberapa menit kemudian, suaranya terdengar dari
bawah.
"Ana ruangan! Gedhe! Turun!"
Satu per satu mereka turun. Raka terakhir, dengan perasaan
campur aduk—takut, penasaran, bersemangat.
Di dasar, dia melihat ruangan yang luas. Sekitar 20x20
meter, dengan langit-langit tinggi. Dinding-dindingnya dipenuhi ukiran-ukiran
kuno—gambar dewa, binatang, tumbuhan, dan simbol-simbol yang sama dengan di
peta.
Di tengah ruangan, ada sebuah altar batu. Di atas altar,
sebuah peti batu.
"Ini... ini candi bawah tanah," bisik Prof.
Hardono, matanya berkaca-kaca. "Candi pra-Hindu. Mungkin dari abad ke-4
atau ke-5. Ini penemuan besar!"
Mereka mendekati altar. Peti batu itu tertutup rapat. Di
tutupnya, ada lubang berbentuk cincin.
Raka mengeluarkan cincin dari buyut Aria. Dengan hati-hati,
dia memasukkan cincin itu ke lubang.
Terdengar bunyi "klik". Tutup peti batu itu
terbuka.
Di dalam peti, ada benda-benda bersejarah: perhiasan emas,
keramik kuno, prasasti batu bertulis, dan sebuah mahkota kecil dari emas.
"Ini... ini pusaka kerajaan kuno," kata Prof.
Hardono. "Kerajaan yang tidak tercatat dalam sejarah. Ini akan mengubah
buku-buku sejarah!"
Aria menatap benda-benda itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah... Ayah tahu ini. Ayah... mencari ini."
Raka memegang bahu Aria. "Ayahmu pahlawan, Aria. Dia
mati karena memperjuangkan kebenaran. Dan sekarang, berkat dia, kita menemukan
ini semua. Sejarah desamu akan terkenang selamanya."
Aria tersenyum. Senyum pertama yang benar-benar tulus sejak
ditemukan.
Penemuan candi bawah tanah mengubah segalanya. Desakan
Tanah Lenyap menjadi terkenal. Arkeolog dari berbagai daerah datang. Pemerintah
menetapkan kawasan itu sebagai cagar budaya. Warga desa, yang dulu hidup dalam
ketakutan, kini hidup dalam kebanggaan.
Pak Lurah Karta dan kawan-kawan diadili dan dijatuhi
hukuman penjara. Tanah-tanah warga yang dijual ilegal dikembalikan. Keadilan,
meskipun lambat, akhirnya tiba.
Aria menjadi selebriti kecil. Kisahnya—35 tahun hidup di
bawah tanah—menarik perhatian media nasional. Dia diwawancarai, difoto,
diundang ke acara-acara TV. Tapi dia tetap rendah hati. Rumahnya sekarang di
samping rumah Pak RW, yang dirawat dengan baik oleh warga desa.
Raka, Joko, dan Pras menjadi sahabat sejati. Mereka melalui
petualangan yang mengubah hidup mereka. Raka memutuskan untuk tinggal di desa
selamanya. Jakarta tidak lagi menarik baginya. Di sini, dia punya teman, punya
keluarga baru, punya cerita yang tidak akan pernah dia lupakan. Suatu malam,
ketika mereka bertiga duduk di teras rumah Pak RW, melihat bulan purnama, Raka
teringat sesuatu.
"Jok, Pras, kalian ingat cahaya di rumah tua? Yang
dulu kita lihat pertama kali?"
Joko mengangguk. "Iya. Terus?"
"Sekarang, setelah semua ini... menurut kalian, cahaya
itu apa?"
Mereka diam berpikir. Pras angkat bicara. "Mungkin...
Karman. Yang jaga rumah tua."
"Tapi Karman tinggal di lorong lain. Cahaya itu di
jendela atas."
Aria, yang ikut duduk di teras, berkata pelan,
"Mungkin... Ayah. Atau Ibu. Mereka... menjaga. Menunggu... keadilan."
Raka menatap Aria. Mungkin dia benar. Mungkin arwah Pak
Surya dan Bu Rina masih menjaga rumah itu, menunggu anak mereka ditemukan,
menunggu kebenaran terungkap.
"Apa mereka... sudah tenang sekarang?" tanya
Raka.
Aria tersenyum. "Aku... merasa mereka... tenang.
Aku... tidak sedih lagi. Aku... punya kalian. Punya... keluarga baru."
Raka tersenyum. Dia merasakan hal yang sama. Desa Tanah
Lenyap, yang dulu terasa asing dan menyeramkan, sekarang terasa seperti rumah.
Tiba-tiba, Joko menunjuk ke arah bukit. "Lihat!"
Di jendela atas rumah tua, cahaya kecil berkedip-kedip.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Lalu padam.
Untuk selamanya.
Mereka terdiam, merasakan sesuatu yang hangat di hati.
Seperti perpisahan. Seperti ucapan terima kasih. Seperti... kedamaian.
Beberapa minggu kemudian, saat membersihkan rumah tua untuk
persiapan museum, Raka menemukan sesuatu yang tersembunyi di balik lemari di
kamar tidur utama. Sebuah kotak kayu kecil, sama seperti yang ditemukan di
lorong, tapi ukurannya lebih kecil.
Dia membuka kotak itu. Di dalamnya, ada buku harian lain.
Bukan milik Pak Surya, tapi milik Bu Rina.
Raka membacanya dengan perasaan campur aduk.
"1 September 1985. Surya semakin gelisah. Dia terus
memikirkan rumah tua itu. Aku takut. Tapi aku tidak bisa melarangnya. Dia guru
yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Dia hanya ingin keadilan."
"5 September 1985. Aku bermimpi buruk. Mimpi tentang
Aria, anak kami, menangis sendirian di tempat gelap. Aku bangun dengan perasaan
tidak enak. Surya bilang itu hanya mimpi. Tapi aku tidak yakin."
"10 September 1985. Surya bilang dia hampir menemukan
sesuatu. Sesuatu yang besar. Dia bilang besok malam dia akan turun ke lorong
lagi. Aku bilang aku ikut. Aria kita titipkan pada tetangga dulu. Tapi dia
tidak mau. Dia bilang lebih aman Aria di rumah. Di lorong, tidak tahu apa yang
akan terjadi."
Halaman terakhir. "11 September 1985. Malam
ini. Surya sudah siap. Kamera, senter, buku catatan. Dia cium Aria yang sudah
tidur. Dia cium aku. Dia bilang, 'Tunggu aku. Aku akan kembali.' Aku menunggu.
Hingga sekarang... dia belum kembali. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku
takut. Tapi aku harus kuat. Untuk Aria. Untuk Surya. Untuk—"
Tulisan itu berhenti. Halaman berikutnya kosong. Tapi di
sela-sela halaman, ada selembar kertas yang dilipat rapi.
Raka membukanya.
"Jika kau menemukan ini, berarti aku sudah tiada. Aku
tidak bisa meninggalkan Aria sendirian. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan
Surya sendirian di lorong itu. Aku akan menyusulnya. Doakan kami. Dan tolong...
jaga Aria."
-Rina-
Raka meneteskan air mata. Bu Rina, setelah menunggu
suaminya tidak kembali, akhirnya memutuskan untuk turun ke lorong mencari
suaminya. Dan di sanalah dia menemui ajalnya, bersama suami yang dicintainya.
Kisah cinta yang berakhir tragis. Tapi juga kisah
pengorbanan yang luar biasa.
Raka menutup buku harian itu dan meletakkannya kembali di
kotak. Dia akan menyerahkannya pada Aria. Itu adalah warisan paling berharga
dari orang tuanya.
Pembukaan museum desa di rumah tua berlangsung meriah. Pak
Bupati datang, wartawan datang, warga desa berbondong-bondong. Rumah yang dulu
dianggap angker, kini menjadi kebanggaan. Aria diundang untuk memotong pita.
Dia tampil rapi dengan baju adat Jawa, ditemani Raka, Joko, dan Pras. Wajahnya
berseri-seri.
Di dalam museum, dipajang berbagai benda bersejarah:
foto-foto lama, dokumen-dokumen Pak Surya, buku harian, dan replika lorong
bawah tanah. Juga dipajang pusaka dari candi bawah tanah—setelah melalui proses
penelitian panjang, beberapa benda dikembalikan ke desa untuk dipamerkan.
Di dinding utama museum, ada nama-nama pahlawan desa. Di
antaranya, tertulis: Surya Pratama, Rina Wulandari, dan... Aria Pratama.
Aria menatap namanya sendiri di dinding itu. Air matanya
jatuh.
"Aku... tidak pantas," bisiknya.
"Kamu pantas," kata Raka tegas. "Kamu
berjuang dengan caramu sendiri. Kamu bertahan 35 tahun. Itu lebih dari
cukup."
Aria memeluk Raka. Semua orang yang melihat bertepuk
tangan.
Pak RW, yang berdiri di samping mereka, berkata, "Desa
iki wis suwe kelangan jeneng-jeneng apik. Saiki, jeneng-jeneng kuwi bali. Dadi
kenangan. Dadi inspirasi." (Desa ini sudah lama kehilangan nama-nama baik.
Sekarang, nama-nama itu kembali. Jadi kenangan. Jadi inspirasi.)
Di sudut ruangan, Raka melihat sebuah foto yang tidak
pernah dia lihat sebelumnya. Foto hitam putih seorang pria tua dengan kumis
tebal, duduk di teras rumah ini. Di bawah foto, tertulis: "Pemilik rumah
pertama, Jayengrana, buyut Aria, penemu candi bawah tanah."
Jadi, semuanya berawal dari Jayengrana. Dia yang pertama
kali menemukan candi, lalu mewariskan rahasianya pada keturunannya. Rahasia itu
dijaga turun-temurun, sampai akhirnya ditemukan oleh Aria dan teman-temannya.
"Raka," panggil Joko. "Ayo foto
bareng!"
Raka tersenyum. Dia bergabung dengan teman-temannya. Mereka
berfoto di depan museum, dengan latar belakang rumah tua yang sekarang terang
benderang.
Cahaya. Bukan cahaya misterius yang menakutkan, tapi cahaya
kebahagiaan.
Malam itu, setelah acara pembukaan museum usai, Raka
memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian ke rumah tua. Bukan karena ingin
mencari sesuatu, tapi hanya ingin merasakan suasana malam di tempat yang dulu
sangat menakutkan itu.
Bulan bersinar terang. Rumah tua itu terlihat indah di
bawah sinar bulan—tidak lagi menyeramkan, hanya tua dan bersejarah. Raka duduk
di teras depan, tempat dulu Pak Surya duduk malam itu, minum kopi sebelum
semuanya terjadi. Dia membayangkan bagaimana rasanya duduk di sini 35 tahun
lalu, tidak tahu bahwa malam itu akan mengubah segalanya.
Tiba-tiba, dia mendengar suara.
Suara langkah kaki di lantai atas.
Raka tersentak. Dia menengadah ke atas. Jendela lantai dua
gelap. Tapi suara itu jelas—langkah kaki, pelan, seperti orang berjalan
mondar-mandir.
Jantung Raka berdegup kencang. Apakah mungkin... masih ada
orang di sana?
Dia bangkit, masuk ke dalam rumah. Tangga tua itu berderit
di bawah kakinya. Setiap langkah terasa berat.
Sesampainya di lantai dua, dia menyusuri lorong menuju
kamar yang dulu menjadi tempat Karman duduk. Pintu kamar itu terbuka setengah.
Raka mendorong pintu.
Di dalam, tidak ada siapa-siapa. Hanya meja kursi tua, dan
di atas meja, sebuah lilin menyala.
Raka mendekati meja. Di samping lilin, ada selembar kertas.
Dia membaca:
"Terima kasih, Raka. Terima kasih telah menyelamatkan
desa ini. Terima kasih telah menemukan anakku. Kini kami bisa tenang. Jangan
khawatir, kami hanya mampir sebentar. Untuk berpamitan."
-Surya & Rina-
Raka tersenyum. Air matanya jatuh.
Dia meniup lilin itu. Lalu dia berkata pelan, "Selamat
jalan, Pak Surya, Bu Rina. Tenanglah di sisi-Nya. Aria baik-baik saja. Aku yang
akan menjaganya."
Dari luar jendela, angin malam berhembus lembut, membawa
bau bunga melati. Seperti jawaban. Seperti ucapan terima kasih.
Raka turun dari rumah itu dengan hati ringan. Dia tahu,
mulai malam ini, rumah tua di ujung desa benar-benar tidak lagi angker. Yang
ada di sana hanya kenangan—kenangan indah dan sedih, tapi juga kenangan yang
membawa kedamaian.
Di bawah bukit, Joko dan Pras sudah menunggu.
"Raka! Kok suwe?" teriak Joko.
Raka tersenyum. "Maaf, tadi mampir ngobrol sama
teman."
"Teman? Sapa?"
"Teman lama."
Joko dan Pras saling pandang, bingung. Tapi mereka tidak
bertanya lebih lanjut. Mereka hanya senang teman mereka kembali.
Mereka bertiga berjalan pulang di bawah sinar bulan,
melewati sawah-sawah yang tenang, melewati rumah-rumah penduduk yang mulai
padam lampunya.
Desa Tanah Lenyap. Desa yang dulu penuh rahasia gelap.
Kini, desa yang damai.
Dan di ujung desa, di atas bukit kecil, rumah tua itu
berdiri dengan tenang. Tidak ada lagi cahaya misterius di jendelanya. Tidak ada
lagi suara aneh di malam hari.
Yang ada hanya kenangan—kenangan yang akan diceritakan
turun-temurun, dari generasi ke generasi.
Tentang seorang guru pemberani yang mati memperjuangkan
kebenaran.
Tentang seorang istri setia yang memilih mati bersama suaminya.
Tentang seorang anak yang bertahan 35 tahun sendirian di bawah tanah.
Tentang tiga remaja pemberani yang tidak takut mencari kebenaran.
Dan tentang sebuah desa yang akhirnya terbebas dari rahasia kelamnya.
EPILOG
Rumah yang Tidak Lagi Menakutkan
Desa Tanah Lenyap, 2024
Setahun telah berlalu sejak peristiwa besar itu.
Raka kini duduk di kelas 11 SMA di kota kecamatan, bersama
Joko dan Pras. Mereka naik bis setiap pagi, pulang setiap sore. Persahabatan
mereka semakin erat.
Aria telah menjadi pemandu wisata di museum desa. Dia
bercerita pada pengunjung tentang sejarah rumah tua, tentang orang tuanya,
tentang 35 tahun hidup di bawah tanah. Kisahnya menyentuh hati ribuan orang.
Dia juga mulai menulis buku tentang pengalamannya, dibantu oleh seorang penulis
profesional dari Jakarta.
Pak RW masih sehat dan aktif. Dia menjadi penasihat desa,
sering dimintai pendapat oleh Pak Lurah yang baru—Pak Mulyono, yang terpilih
secara aklamasi setelah Pak Karta dipenjara.
Museum desa ramai dikunjungi wisatawan. Candi bawah tanah
juga telah dibuka untuk umum, dengan pengamanan ketat. Arkeolog masih bekerja
di sana, menemukan lebih banyak artefak.
Dan rumah tua di ujung desa? Rumah itu kini menjadi ikon
desa. Setiap malam, lampu-lampu dipasang di sekelilingnya, membuatnya terlihat
indah dari kejauhan. Warga desa bangga dengan rumah itu. Tidak ada lagi yang
takut.
Suatu malam, Raka duduk di teras rumah neneknya, menatap
rumah tua yang bercahaya. Neneknya duduk di sampingnya, seperti dulu.
"Nek, Nek masih ingat dulu Nek bilang, Nek pernah
lihat sesuatu di rumah tua itu?"
Neneknya tersenyum. "Iya, Le."
"Sekarang, Nek sudah tahu apa yang Nek lihat
dulu?"
Neneknya mengangguk pelan. "Saiki aku ngerti. Sing tak
delok dudu memedi. Kuwi... kuwi Pak Surya. Sing nunggu anake." (Sekarang
aku tahu. Yang aku lihat bukan hantu. Itu... itu Pak Surya. Yang menunggu
anaknya.)
"Menurut Nek, sekarang mereka sudah tenang?"
Neneknya memandang rumah tua itu lama. Lalu dia tersenyum.
"Wis, Le. Wis tenang kabeh." (Sudah, Nak. Sudah
tenang semua.)
Raka tersenyum. Dia merasa hal yang sama.
Dari kejauhan, rumah tua itu bersinar terang. Bukan cahaya
misterius seperti dulu, tapi cahaya lampu listrik yang dipasang warga. Cahaya
yang ramah. Cahaya yang menyambut.
Rahasia rumah tua di ujung desa akhirnya terungkap.
Dan desa Tanah Lenyap, akhirnya, tidak lagi lenyap dari
ingatan.
Sebab kenangan akan terus hidup.
Sebab kebenaran akan selalu menang.
Sebab persahabatan dan keberanian adalah cahaya yang tidak
akan pernah padam.
TAMAT
Terima kasih telah membaca novel "Rahasia Rumah Tua di
Ujung Desa".
Kisah ini didedikasikan untuk semua remaja pemberani yang
tidak takut mencari kebenaran, untuk persahabatan sejati yang melewati segala
rintangan, dan untuk mereka yang percaya bahwa keadilan, meskipun lambat, pasti
akan tiba.
Selalu ada cahaya di ujung kegelapan. Selalu ada harapan di
balik ketakutan. Percayalah.
CATATAN PENULIS
Novel ini terinspirasi dari cerita-cerita rakyat tentang
rumah angker di berbagai desa di Indonesia. Banyak dari cerita itu ternyata
menyimpan rahasia kelam tentang ketidakadilan, korupsi, dan kejahatan yang
ditutup-tutupi. Melalui tokoh Raka, Joko, Pras, dan Aria, penulis ingin
menyampaikan pesan bahwa kebenaran, meskipun terkubur puluhan tahun, pada
akhirnya akan terungkap. Dan generasi mudalah yang sering menjadi ujung tombak
perubahan.
Selamat membaca, dan semoga terinspirasi.
Novelet Misteri Remaja tentang Keberanian, Persahabatan, dan Rahasia yang
Terkubur Puluhan Tahun
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Desa
Tanah Lenyap, 12 September 1985
Hujan turun sejak sore. Bukan hujan biasa, tapi hujan yang
oleh orang-orang tua di desa disebut sebagai hujan peringatan—derasnya
seperti ribuan batu kecil dijatuhkan dari langit, anginnya melolong seperti
tangisan yang tak pernah reda. Di ujung desa, di atas bukit kecil yang
dikelilingi pohon-pohon beringin tua, sebuah rumah panggung kayu jati berdiri
sendirian. Lampu minyak di teras depan berkedip-kedip, hampir padam, lalu
menyala kembali—seperti jantung yang berdebar tak karuan.
Pak Surya, guru yang baru dua tahun mengajar di Sekolah
Dasar Desa Tanah Lenyap, duduk di beranda rumah itu. Di tangannya ada secangkir
kopi yang sudah dingin sejak satu jam lalu. Matanya menatap ke arah desa di
bawah, ke rumah-rumah yang lampunya mulai padam satu per satu. Penduduk desa
sudah tidur lebih awal malam itu, seperti ada firasat buruk yang merayap di
udara.
"Pak, sudah malam. Istirahatlah."
Suara lembut istrinya, Bu Rina, terdengar dari dalam. Pak
Surya menoleh sekilas, tersenyum tipis, tapi matanya kembali ke arah gelap di
luar.
"Nanti, Rin. Udara malam ini... aneh."
"Memangnya kenapa?"
Pak Surya menggeleng pelan. Dia sendiri tidak bisa
menjelaskan. Tapi sejak sore, ada sesuatu yang mengganggunya. Seperti ada
bisikan di telinga kirinya, suara yang tak bisa dia dengar dengan jelas tapi
terus-menerus ada di sana, seperti dengung nyamuk yang tak kunjung pergi.
"Pak, jangan bikin saya khawatir," kata Bu Rina
dari dalam.
"Iya, sebentar lagi." Pak Surya meneguk kopinya
yang dingin. Rasanya pahit sekali. Tapi sebelum dia sempat meletakkan cangkir
itu kembali ke meja, dia mendengarnya. Suara langkah kaki. Bukan langkah biasa.
Langkah itu berat, seperti orang membawa beban besar di punggung.
Pak Surya menajamkan pendengarannya. Dari mana asalnya?
Dari bawah rumah? Dari halaman depan?
"Cak... cak... cak..."
Suara itu semakin dekat. Pak Surya berdiri, cangkir di
tangannya hampir jatuh. Dia menatap ke arah tangga rumahnya, ke arah lorong
gelap di antara pohon-pohon beringin.
Tidak ada siapa-siapa.
"Pak?" Suara Bu Rina dari dalam terdengar cemas.
"Pak, ada apa?"
Pak Surya tidak menjawab. Matanya terpaku pada sesuatu di
bawah tangga. Sebuah bayangan. Tapi bayangan apa? Di sana gelap, tidak ada
lampu, tapi dia yakin melihat sesuatu bergerak.
"Rin," panggilnya lirih. "Jangan
keluar."
"Kenapa, Pak?"
"Lakukan saja apa kukata—"
Teriakan itu mengagetkan seluruh desa.
Bukan satu teriakan, tapi tiga teriakan berturut-turut.
Yang pertama panjang dan melengking, seperti seseorang yang melihat kematian di
depannya. Yang kedua pendek, terpotong, seperti teriakan yang dicekik di tengah
jalan. Yang ketiga adalah suara pintu kayu dibanting dengan keras sekali,
sampai gema suaranya memantul di antara bukit-bukit.
Penduduk desa keluar dari rumah mereka. Ada yang membawa
senter, ada yang hanya membawa lilin. Mereka berkumpul di bawah balai desa,
saling bertanya apa yang terjadi. Tapi tidak ada yang berani naik ke atas
bukit.
Tidak sampai pagi.
Pagi harinya, ketika matahari mulai naik dan kabut tipis
masih menyelimuti desa, beberapa orang pria dewasa naik ke rumah Pak Surya.
Mereka dipimpin oleh Pak Lurah, ditemani Pak RT dan beberapa pemuda desa yang
membawa parang dan golok.
Rumah itu sunyi.
Pintu depan terbuka setengah. Di teras, sebuah cangkir kopi
tergeletak pecah, kopinya sudah mengering di lantai kayu. Tidak ada tanda-tanda
perkelahian, tidak ada darah, tidak ada kekacauan. Tapi Pak Surya dan istrinya
tidak ada di mana-mana. Mereka mencari di setiap sudut rumah. Di dapur, mereka
menemukan panci berisi sayur yang masih utuh di atas tungku, kayu bakarnya
sudah habis terbakar jadi abu. Di kamar tidur, tempat tidur masih rapi, tidak
seperti baru dipakai tidur. Di ruang tengah, sebuah buku pelajaran terbuka di
meja, seolah Pak Surya baru saja membacanya.
Tapi manusia yang punya rumah itu hilang.
"Ada jejak di bawah rumah," kata salah satu
pemuda.
Semua orang turun dan mengikuti arah telunjuk pemuda itu.
Di tanah lembap di bawah rumah panggung, ada jejak kaki. Banyak jejak kaki.
Tapi yang paling aneh adalah jejak kaki yang paling besar—ukuran sepatu 43 atau
44—yang berjalan mundur dari bawah rumah menuju ke arah hutan di belakang.
"Kenapa jejaknya mundur?" bisik salah satu warga.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Mereka mengikuti jejak itu sampai ke tepi hutan, lalu
jejaknya menghilang. Di tempat jejak itu berakhir, ada lingkaran tanah hangus
selebar satu meter, seperti bekas terbakar. Tapi tidak ada api di sekitarnya,
tidak ada ranting atau daun yang terbakar.
Sejak hari itu, rumah di ujung desa itu tidak pernah
ditinggali lagi. Semua warga sepakat—ada sesuatu di rumah itu. Sesuatu yang
menyeramkan. Sesuatu yang membuat seorang guru dan istrinya lenyap tanpa jejak
di malam hujan deras.
Rumah itu dibiarkan kosong. Puluhan tahun.
Dan rahasia tentang malam itu tidak pernah diceritakan
lagi.
Tidak pernah, sampai sekarang.
BAGIAN I
DESA DAN RUMAH YANG DILUPAKAN
Matahari baru saja naik setinggi pohon kelapa ketika mobil
travel tua berwarna biru memasuki jalan desa yang berbatu. Di dalamnya, duduk
seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun dengan mata yang masih sayu karena
perjalanan delapan jam dari Jakarta. Raka, nama remaja itu, menempelkan
wajahnya ke kaca jendela mobil, mencoba melihat desa yang akan menjadi rumahnya
untuk waktu yang tidak dia ketahui berapa lama.
"Raka, kita sudah sampai," kata ibunya dari kursi
depan. Bu Sari, wanita berusia 42 tahun dengan rambut yang mulai banyak uban,
menoleh ke belakang dan tersenyum lelah.
Raka hanya mengangguk. Dia tidak punya semangat untuk
tersenyum. Bagaimana bisa semangat? Dua minggu lalu dia masih duduk di kelas 10
SMA favorit di Jakarta. Dia punya teman-teman, punya tim futsal, punya gadis
yang diam-diam dia sukai di kelas sebelah. Sekarang? Sekarang dia akan tinggal
di desa yang bahkan tidak pernah dia dengar namanya: Desa Tanah Lenyap.
"Nama desanya aneh banget, Ma," gumam Raka.
"Tanah Lenyap. Kayak judul film horor."
"Ibu juga baru tahu namanya kemarin," jawab Bu
Sari sambil mengatur tasnya. "Tapi ini desa kelahiran nenek kamu.
Seharusnya kamu bangga bisa pulang ke kampung halaman."
"Bangga apanya? Semua teman-teman aku di Jakarta main
Playstation, nonton bioskop, nongkrong di mal. Di sini paling nongkrong di
sawah."
Bu Sari ingin menjawab, tapi mobil travel berhenti
mendadak. Supirnya, seorang bapak-bapak paruh baya dengan kumis tebal, menengok
ke belakang.
"Nek, Pak, ini sudah sampai di perbatasan desa,"
katanya dengan logat Jawa yang kental. "Mobil saya nggak bisa masuk ke
dalam. Jalanannya terlalu kecil. Kalau Bapak-Ibu mau, bisa jalan kaki atau cari
ojek."
Raka membuka pintu mobil dan melompat turun. Matanya
langsung menyipit kena sinar matahari pagi yang cukup terik. Dia melihat
sekeliling: di depan mereka ada papan kayu besar yang bertuliskan "SELAMAT
DATANG DI DESA TANAH LENYAP" dengan cat yang sudah mengelupas di
sana-sini. Di bawah tulisan itu, ada tulisan kecil yang hampir tidak terbaca:
"Dengan Segenap Hati Menerima Tamu, Dengan Segenap Ingatan Menjaga
Rahasia".
"Itu tulisan apa, Ma?" tanya Raka, menunjuk papan
itu.
Bu Sari membaca tulisan kecil itu, lalu mengernyitkan dahi.
"Ibu juga tidak tahu. Mungkin motto desa."
Supir travel membantu menurunkan dua koper besar dari
bagasi. Dia melihat ke arah papan itu sebentar, lalu berkata pelan,
"Hati-hati ya, Nek, Pak. Desa ini... desa yang aneh."
"Maksudnya?" tanya Bu Sari cepat.
Supir itu mengangkat bahu. "Saya cuma sopir. Tapi
setiap kali saya antar orang ke sini, saya nggak pernah masuk. Penumpang saya
selalu minta diturunkan di sini. Katanya, warga desa nggak suka ada mobil asing
masuk." Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan,
"Apalisi malam hari. Kata orang, di desa ini, yang hidup dan yang mati jalannya
sama-sama."
Raka merasa bulu kuduknya meremang. Dia menoleh ke arah
jalan desa yang membentang di depan mereka. Jalan itu hanya selebar dua meter,
tanah merah dengan kerikil-kerikil kecil, diapit oleh sawah di kiri dan kanan.
Di kejauhan, terlihat atap-atap rumah penduduk yang masih beratapkan genteng
tanah liat. Di ujung jalan, di atas bukit kecil, samar-samar terlihat sebuah
bangunan besar yang menjulang di antara pepohonan.
"Itu apa?" tanya Raka sambil menunjuk ke arah
bukit.
Supir travel mengikuti arah jari Raka. Wajahnya berubah.
"Itu? Itu rumah tua. Rumah yang nggak pernah ditinggali orang sejak...
sejak lama."
"Kenapa?"
"Raka, jangan tanya terus," potong Bu Sari.
"Ayo kita jalan. Lihat, di sana ada ojek."
Raka tidak segera bergerak. Matanya masih tertuju pada
rumah di atas bukit itu. Dari kejauhan, rumah itu terlihat besar dan gelap,
meskipun matahari bersinar terang. Dinding kayunya yang dulunya mungkin
berwarna cokelat tua sekarang hampir hitam dimakan usia. Jendela-jendelanya
seperti mata-mata yang kosong, menatap ke arah desa tanpa berkedip. Di
sekeliling rumah itu, pohon-pohon beringin tua tumbuh rapat, akar-akarnya yang
besar menjuntai ke bawah seperti tangan-tangan yang siap mencengkeram.
"Mas!" panggil Bu Sari. "Mas Raka!
Ayo!"
Raka mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju ibunya
yang sudah berbicara dengan dua orang tukang ojek. Tapi di dalam hatinya, ada
rasa penasaran yang mulai tumbuh. Rumah di atas bukit itu—kenapa terlihat
begitu menakutkan tapi sekaligus menarik perhatian?
Perjalanan menuju rumah neneknya hanya memakan waktu
sepuluh menit dengan ojek. Sepanjang jalan, Raka melihat penduduk desa yang
sedang beraktivitas: petani yang membawa cangkul, ibu-ibu yang menjemur padi di
halaman, anak-anak kecil yang bermain di pinggir sawah. Mereka semua berhenti
dan menatap ketika Raka lewat.
Bukan tatapan biasa. Tatapan itu panjang, seperti orang
yang baru pertama kali melihat alien. Beberapa dari mereka bahkan
berbisik-bisik satu sama lain, menutup mulut dengan tangan.
"Mereka kok pada liatin kita, Ma?" bisik Raka
dari belakang ibunya.
Bu Sari, yang duduk di ojek di depan Raka, menoleh setengah
badan. "Mungkin mereka heran lihat orang baru. Di desa kecil begini, semua
orang pasti tahu kalau ada pendatang."
Tapi Raka tidak yakin. Ada sesuatu di tatapan mereka yang
membuatnya tidak nyaman. Seperti mereka sedang menilai, atau... seperti mereka
tahu sesuatu yang tidak dia ketahui. Ojek berhenti di depan sebuah rumah
panggung kayu yang tidak terlalu besar tapi terlihat cukup terawat.
Di halaman depannya, ada pohon mangga besar yang sedang
berbuah. Di bawah pohon itu, duduk seorang nenek tua di kursi rotan, sedang
mengupas singkong.
"Nek!" seru Bu Sari, buru-buru turun dari ojek
dan berlari memeluk nenek itu.
Nenek itu—nenek Raka—tersenyum lebar, memperlihatkan
giginya yang tinggal beberapa. "Sari! Akhire kowe teka!" (Sari!
Akhirnya kamu datang!)
Raka turun dari ojek dan mendekat dengan langkah ragu.
Neneknya menoleh dan memandangnya dengan mata yang masih tajam meskipun usianya
sudah 78 tahun. Matanya berbinar.
"Lha iki Raka? Wis gedhe tenan!" (Ini Raka? Sudah
besar sekali!)
Raka tersenyum canggung. "Iya, Nek."
Neneknya menarik tangannya dan menuntunnya masuk ke dalam
rumah. Di dalam, rumah itu sederhana: ruang tamu dengan beberapa kursi bambu,
ruang tengah dengan meja makan kecil, dan tiga kamar tidur. Dindingnya dari
papan kayu, lantainya dari semen yang diplester halus. Di dinding ruang tamu,
ada foto hitam putih besar seorang pria tua dengan kumis tebal—kakek Raka yang
sudah meninggal sepuluh tahun lalu.
"Nek, kenapa nama desa ini Tanah Lenyap?" tanya
Raka tiba-tiba.
Neneknya yang sedang menuang air teh berhenti sejenak. Dia
tidak menoleh, tetap fokus pada teko di tangannya, tapi Raka bisa melihat
bahunya menegang.
"Jeneng desa iki wis ana wiwit jaman biyen,"
jawab neneknya akhirnya, suaranya datar. "Ceritane wis lali." (Nama
desa ini sudah ada sejak zaman dulu. Ceritanya sudah lupa.)
"Tapi kata temen-temen di Jakarta, desa ini
angker," desak Raka. "Itu rumah di atas bukit, kenapa nggak dipake?"
Tangan neneknya sedikit gemetar saat meletakkan teko. Dia
menoleh perlahan, menatap Raka dengan mata yang tiba-tiba menjadi serius.
"Omah kuwi... omah sing ora kena dicedhaki."
(Rumah itu... rumah yang tidak boleh didekati.)
"Kenapa, Nek?"
Neneknya menarik napas panjang. Dia duduk di kursi bambu,
mengambil gelas teh untuk dirinya sendiri, lalu berkata, "Sue, ana wong
ilang ing omah kuwi. Wong pinter, guru. Bareng bojone. Ilang tanpa tilas. Ora
ketemu nganti saiki." (Dulu, ada orang hilang di rumah itu. Orang pintar,
guru. Bersama istrinya. Hilang tanpa bekas. Tidak ketemu sampai sekarang.)
"Polisinya nggak nyari, Nek?"
"Nggoleki. Nanging ora ketemu." (Mencari. Tapi
tidak ketemu.)
"Terus kenapa rumahnya nggak dibongkar aja?"
Neneknya diam lama sekali. Matanya menatap ke luar jendela,
ke arah bukit di ujung desa yang sekarang mulai tertutup kabut tipis.
"Amarga... saben wengi, ana cahya saka omah
kuwi." (Karena... setiap malam, ada cahaya dari rumah itu.)
Raka merasa jantungnya berdetak lebih cepat. "Cahaya?"
"Cahya cilik. Ing jendela ndhuwur. Wong-wong nyebut...
lampune wong ilang." (Cahaya kecil. Di jendela atas. Orang-orang
menyebut... lampunya orang hilang.)
"Tapi Nek, itu pasti cuma lampu dari orang yang lewat
atau—"
"Cahya kuwi wis ana pirang-pirang puluh taun. Ora tau
mati. Ora tau owah." (Cahaya itu sudah ada puluhan tahun. Tidak pernah
mati. Tidak pernah berubah.)
Udara di ruangan itu terasa tiba-tiba dingin. Raka ingin
bertanya lebih banyak, tapi Bu Sari masuk dari dapur dengan sepiring gorengan.
"Raka, kamu bikin Nek repot. Nek, jangan didengerin
omongannya. Anak kota, banyak tanya."
Neneknya tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
"Bocah kuwi pinter. Kudu ngerti bab desane dhewe." (Anak itu pintar.
Harus tahu tentang desanya sendiri.)
Malam itu, Raka tidur di kamar yang dulu dipakai ibunya
waktu kecil. Kamar itu kecil, hanya cukup untuk satu tempat tidur dan satu
lemari kayu. Tapi ada satu hal yang membuat Raka tidak bisa tidur: dari jendela
kamarnya, dia bisa melihat langsung ke arah bukit di ujung desa.
Rumah tua itu terlihat jelas di bawah sinar bulan.
Dan di jendela atas rumah itu, ada cahaya kecil yang
berkedip-kedip.
Pagi di desa ternyata lebih berisik daripada di kota. Bukan
karena suara kendaraan atau musik dari kafe, tapi karena suara ayam berkokok,
burung-burung yang bernyanyi, dan yang paling keras: suara neneknya yang sudah
mulai menumbuk bumbu dapur sejak jam lima pagi.
Raka menggeliat di tempat tidurnya. Dia membuka mata dan
langsung menoleh ke jendela. Di luar, matahari baru saja naik. Kabut tipis
masih menyelimuti sawah-sawah. Dan di kejauhan, rumah tua itu masih berdiri
dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa tadi malam.
Cahaya di jendelanya sudah tidak ada.
"Mungkin mimpi," gumam Raka pada dirinya sendiri.
Tapi dia tahu itu bukan mimpi. Dia memang melihat cahaya itu. Sekecil lampu
senter, berkedip-kedip seperti ada yang memberi kode.
"Raka! Tangi! Wis jam nem!" (Raka! Bangun! Sudah
jam enam!) teriak neneknya dari dapur.
Raka bangun dengan malas, mandi dengan air sumur yang dinginnya
minta ampun, lalu sarapan nasi pecel buatan neneknya yang enaknya luar biasa.
Sambil makan, dia memperhatikan neneknya yang sibuk di dapur.
"Nek, tadi malam aku lihat cahaya dari rumah tua
itu," katanya santai, mencoba tidak terdengar terlalu serius.
Neneknya berhenti mencuci piring. Tapi hanya sebentar, lalu
melanjutkan lagi.
"Wis biyasa. Wong-wong kene wis ora nggatekake."
(Sudah biasa. Orang sini sudah tidak memperhatikan.)
"Tapi Nek, kalau cahaya itu sudah ada puluhan tahun,
berarti di sana ada orang, dong? Mungkin ada orang tinggal di sana?"
"Ora ana wong edan sing arep manggon ing omah
kuwi." (Tidak ada orang gila yang mau tinggal di rumah itu.)
"Nek sendiri pernah ke sana?"
Neneknya tidak menjawab. Tangan kirinya yang memegang
piring sedikit gemetar. Piring itu hampir jatuh tapi dia berhasil menahannya.
"Nek?"
"Wis, Raka. Aja takon-takon bab omah kuwi."
(Sudah, Raka. Jangan tanya-tanya soal rumah itu.) Neneknya berbalik, matanya
tiba-tiba berkaca-kaca. "Omah kuwi... mung nekakake kasusahan." (Rumah
itu... hanya membawa kesusahan.)
Raka ingin mendesak, tapi melihat neneknya seperti itu, dia
memilih diam. Dia menghabiskan sarapannya dalam hati yang tidak tenang.
Setelah sarapan, Raka memutuskan untuk jalan-jalan keliling
desa. Ibunya sedang membantu neneknya membereskan rumah, jadi dia bebas keluar.
Dia berjalan menyusuri jalan setapak di antara sawah, mengamati kehidupan desa
yang damai. Petani dengan topi capingnya sedang mencangkul, anak-anak kecil
bermain layangan di lapangan, ibu-ibu mencuci di sungai.
Semua terlihat normal.
Tapi di mana-mana, rumah tua di atas bukit selalu terlihat.
Dari mana pun dia berdiri di desa itu, bukit dengan rumah tuanya selalu ada di
ujung pandangan, seperti pengawas diam yang tidak pernah tidur.
Di tengah perjalanannya, Raka bertemu dengan seorang anak
laki-laki seumurannya yang sedang duduk di pinggir sawah sambil memancing. Anak
itu berkulit sawo matang, rambutnya ikal, matanya sipit. Dia memakai kaos
oblong lusuh dan celana pendek yang sudah sobek di lutut.
"Hei," sapa Raka.
Anak itu menoleh, matanya membelalak melihat Raka.
"Lho, wong anyar!" katanya kaget. "Kowe saka ngendi?" (Kamu
dari mana?)
"Jakarta. Namaku Raka. Kamu siapa?"
"Joko. Wong kene asli." (Joko. Orang sini asli.)
Joko mematikan pancingannya dan berdiri. Dia mengamati Raka dari ujung rambut
sampai ujung kaki. "Jakarta? Adoh tenan. Kowe nginep neng endi?"
(Jakarta? Jauh sekali. Kamu nginep di mana?)
"Nggak nginep, tinggal. Di rumah nenekku, Mbah
Wati."
Wajah Joko berubah. "Mbah Wati? Kuwi sing duwe warung
kopi neng pinggir kali?" (Itu yang punya warung kopi di pinggir kali?)
"Iya. Kamu kenal?"
"Sapa wong kene sing ora kenal Mbah Wati?" (Siapa
orang sini yang tidak kenal Mbah Wati?) Joko mendekat, suaranya menurun.
"Mbah Wati kuwi... sakwise ditinggal bojone, dheweke dadi rada... mbuh ya.
Wong kene ngomong, Mbah Wati tau weruh soko ing omah tua." (Mbah Wati
itu... setelah ditinggal suaminya, dia jadi agak... entahlah. Orang sini
bilang, Mbah Wati pernah melihat sesuatu di rumah tua.)
Raka merasa bulu kuduknya berdiri. "Melihat apa?"
Joko menggeleng. "Ora ono sing ngerti. Mbah Wati ora
tau crita. Tapi sakwise kuwi, dheweke ora tau gelem nyedhak omah tua
maneh." (Tidak ada yang tahu. Mbah Wati tidak pernah cerita. Tapi setelah
itu, dia tidak pernah mau mendekati rumah tua lagi.)
Raka ingin bertanya lebih banyak, tapi tiba-tiba dia
teringat sesuatu. "Joko, malam-malam, kamu pernah lihat cahaya di rumah
tua itu?" Untuk beberapa detik, Joko tidak menjawab. Matanya menatap ke
arah bukit. Lalu dia mengangguk pelan.
"Kabeh wong kene tau weruh." (Semua orang sini
pernah lihat.)
"Terus? Kalian nggak penasaran?"
Joko tertawa, tapi tawanya getir. "Penasaran?
Wong-wong sing penasaran karo omah kuwi... ilang. Kaya guru biyen."
(Penasaran? Orang-orang yang penasaran dengan rumah itu... hilang. Seperti guru
dulu.)
"Ilang gimana maksudmu?"
"Ilang. Ora ono. Kaya ditelen bumi." (Hilang.
Tidak ada. Seperti ditelan bumi.)
Raka merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia melihat ke
arah rumah tua itu lagi. Di bawah sinar matahari pagi, rumah itu tidak terlihat
menyeramkan. Hanya tua dan kosong. Tapi kenapa semua orang ketakutan?
"Joko," kata Raka tiba-tiba. "Kamu berani
nggak kalau diajak ke sana?"
Joko menatapnya tidak percaya. "Kowe edan? Omah kuwi
angker!"
"Aku nggak percaya hal-hal kayak gitu. Pasti ada
penjelasan logis untuk semua ini."
"Logis piye? Wong ilang tanpa tilas? Cahya sing urip
pirang-pirang puluh taun?" (Logis gimana? Orang hilang tanpa bekas? Cahaya
yang hidup puluhan tahun?) Joko menggeleng keras. "Aku ora gelem. Aku
wedi." (Aku tidak mau. Aku takut.)
Raka tersenyum. "Ya sudah. Nanti aku cari teman
lain."
Dia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Joko yang
masih terpaku di tempatnya. Tapi baru beberapa langkah, dia mendengar suara
Joko memanggil.
"Raka!"
Raka menoleh.
Joko berjalan mendekat, raut mukanya berubah. "Kowe
tenanan arep nyedhak omah kuwi?" (Kamu serius mau mendekati rumah itu?)
"Iya. Kenapa?"
Joko menghela napas panjang. "Yen kowe arep... aku
melu." (Kalau kamu mau... aku ikut.)
Raka terkejut. "Tadi kamu bilang takut."
"Takut iya. Tapi... aku wis bosen ndelok cahya kuwi
saben wengi tanpa ngerti apa sebabe." (Aku sudah bosan lihat cahaya itu
setiap malam tanpa tahu apa sebabnya.) Matanya berbinar. "Lan wong Jakarta
kaya kowe wani, mosok wong kene kalah?" (Dan orang Jakarta seperti kamu
berani, masa orang sini kalah?)
Raka tertawa. "Oke. Tapi jangan sekarang. Kita perlu
rencana."
"Rencana piye?"
"Kita perlu tahu dulu sejarah rumah itu. Siapa yang
punya, kenapa ditinggal, cerita hilangnya guru itu. Baru setelah itu kita cari
jalan masuk."
Joko mengangguk-angguk. "Bener uga." (Bener
juga.)
Mereka berdua berjalan pulang bersama, melewati pematang
sawah yang sempit. Raka merasa senang—dia baru satu hari di desa, sudah punya
teman yang mau ikut petualangan gilanya. Tapi di balik rasa senang itu, ada
juga rasa takut yang dia pendam dalam-dalam.
Apa yang sebenarnya ada di rumah tua itu?
Dan kenapa cahaya di jendelanya selalu menyala setiap
malam?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergelayut di pikirannya
sepanjang perjalanan pulang.
Hari kedua di desa, Raka memutuskan untuk mencari informasi
sebanyak mungkin tentang rumah tua itu. Setelah sarapan, dia berpamitan pada
neneknya dengan alasan mau kenalan dengan anak-anak desa. Neneknya hanya
mengangguk, tapi matanya memperhatikan Raka dengan tajam seolah bisa membaca
pikirannya.
"Ati-ati, Raka. Desa iki... akeh rahasiane."
(Hati-hati, Raka. Desa ini... banyak rahasianya.)
Raka mengangguk cepat lalu bergegas keluar. Dia menemui
Joko di rumahnya yang ternyata hanya berjarak tiga rumah dari rumah neneknya.
Rumah Joko lebih sederhana, dinding anyaman bambu, lantai tanah yang
dipadatkan. Tapi halamannya bersih dan penuh dengan tanaman sayur.
"Joko! Ayo!" teriak Raka dari luar pagar.
Joko keluar dengan mulut masih mengunyah. "Wis?
Ayo!" (Sudah? Ayo!)
Mereka berjalan ke arah timur desa, ke sebuah lapangan
kecil di mana biasanya anak-anak desa bermain bola. Di sana sudah berkumpul
sekitar sepuluh anak laki-laki, usia sekitar 12 sampai 17 tahun. Mereka sedang
bermain sepak bola dengan bola plastik yang sudah tambal di sana-sini.
"Joko! Melu!" teriak salah satu dari mereka. Joko
melambaikan tangan. "Iki kancaku anyar! Raka saka Jakarta!" (Ini
teman baruku! Raka dari Jakarta!)
Semua anak berhenti bermain. Mereka mengelilingi Raka dan
Joko dengan rasa ingin tahu yang besar. Raka memperhatikan wajah-wajah
mereka—ada yang ramah, ada yang curiga, ada yang tertawa mengejek.
"Jakarta? Wah, wong kota!" kata seorang anak
gendut dengan rambut cepak. "Kok iso tekan kene?" (Kok bisa sampai
sini?)
"Pindah ikut ibu," jawab Raka singkat.
"Ngomong-ngomong, kalian main bola? Boleh ikut?"
"Mesti wae!" (Tentu saja!) sahut anak-anak itu
serempak.
Mereka bermain bola selama sekitar satu jam. Raka lumayan
bisa mengimbangi permainan mereka, meskipun lapangannya becek dan bolanya tidak
bundar sempurna. Setelah kelelahan, mereka duduk-duduk di bawah pohon beringin
besar di pinggir lapangan sambil minum air kelapa yang dibeli dari pedagang
keliling.
Suasana santai itu dimanfaatkan Raka untuk mulai bertanya.
"Temen-temen," katanya dengan suara santai.
"Aku denger ada rumah tua di ujung desa. Rumah yang katanya angker. Itu
benar?"
Suasana langsung berubah. Anak-anak yang tadi tertawa riang
sekarang diam seribu bahasa. Mereka saling pandang, seperti takut menjadi orang
pertama yang berbicara.
"Lho, kenapa?" tanya Raka pura-pura bodoh.
"Aku cuma tanya."
Joko, yang duduk di samping Raka, mendorong punggungnya
pelan. "Tak kira kowe arep takon." (Sudah kuduga kamu mau tanya.)
Anak gendut tadi—namanya Bejo—mendesis pelan. "Omah
tua kuwi... aja dicedhaki, Raka." (Rumah tua itu... jangan didekati.)
"Kenapa? Ada hantunya?"
Bejo menggeleng. "Hantu? Hantu isih lumrah. Sing neng
omah kuwi... dudu hantu." (Hantu? Hantu masih biasa. Yang di rumah itu...
bukan hantu.)
Raka mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"
Bejo menurunkan suaranya sampai hampir berbisik.
"Bapakku tau crita. Sakdurunge guru ilang, omah kuwi tau ditinggali wong
sugih. Wong sugih sing aneh." (Bapakku pernah cerita. Sebelum guru hilang,
rumah itu pernah ditinggali orang kaya. Orang kaya yang aneh.)
"Aneh gimana?" "Aneh... dheweke ora tau metu
wayang awan. Mung metu wayang wengi. Lan... saben bengi purnama, saka omah kuwi
keprungu swara... kaya wong nangis, nanging ora jelas." (Aneh... dia tidak
pernah keluar waktu siang. Hanya keluar waktu malam. Dan... setiap malam
purnama, dari rumah itu terdengar suara... seperti orang menangis, tapi tidak
jelas.)
Bulu kuduk Raka meremang. "Terus orang kaya itu
sekarang di mana?"
"Ilang. Ujug-ujug ilang. Sakdurunge guru ilang."
(Hilang. Tiba-tiba hilang. Sebelum guru hilang.)
"Andi, kowe ngerti crita kuwi saka ngendi?" tanya
seorang anak kurus dengan kacamata tebal. "Aku tau krungu versi
liya." (Andi, kamu tahu cerita itu dari mana? Aku pernah dengar versi
lain.)
Semua mata menoleh ke anak berkacamata itu. Namanya Pras,
dia dikenal sebagai anak paling pintar di desa. Orang tuanya punya toko
kelontong, jadi dia punya akses ke koran dan buku-buku bekas.
"Versi piye, Pras?" tanya Joko.
Pras menggeser kacamatanya. "Menurut koran lawas sing
tau tak waca, guru sing ilang kuwi... ora mung guru biasa. Dheweke lagi
nggoleki soko. Soko sing ana gandhengane karo omah tua." (Menurut koran
lawas yang pernah kubaca, guru yang hilang itu... bukan hanya guru biasa. Dia
sedang mencari sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan rumah tua.)
"Nggoleki apa?" tanya Raka cepat.
Pras menggeleng. "Ora dijelaske. Tapi sing jelas...
sakdurunge ilang, guru kuwi tau ketemu karo lurah desa. Wong-wong krungu padha
bantah-bantahan." (Tidak dijelaskan. Tapi yang jelas... sebelum hilang,
guru itu pernah bertemu dengan lurah desa. Orang-orang dengar mereka
bertengkar.)
Suasana semakin mencekam. Bahkan angin yang bertiup terasa
lebih dingin dari sebelumnya.
"Pak Lurah?" ulang Joko tidak percaya.
"Lurah saiki?"
"Iya. Lurah sing saiki isih njabat. Bapake Pras."
(Iya. Lurah yang sekarang masih menjabat. Bapaknya Pras.)
Semua orang terkesiap. Mereka tahu Pak Lurah adalah ayah
Pras. Tapi Pras sendiri yang mengatakan itu berarti dia tahu sesuatu.
"Pras, kowe ngomong apa iki?" tanya Bejo dengan
suara gemetar. "Bapakmu... karo guru sing ilang?"
Pras menunduk. "Aku... aku ora ngerti crita jangkep.
Tapi bapak tau ngomong setengah sadar wayah mbengi. Dheweke ngomong, 'Surya,
aku ora sengaja. Aku ora sengaja.' Terus tangi lan kaget weruh aku ngrungokake."
(Aku... aku tidak tahu cerita lengkap. Tapi bapak pernah bicara setengah sadar
waktu malam. Dia bilang, 'Surya, aku tidak sengaja. Aku tidak sengaja.' Lalu
bangun dan kaget lihat aku mendengarkan.)
Raka merasa kepalanya pusing. Ini terlalu banyak informasi.
Ada guru bernama Surya yang hilang. Ada orang kaya misterius sebelumnya. Ada
Pak Lurah yang mungkin terlibat. Dan semua berpusat pada rumah tua di ujung
desa.
"Pras," kata Raka perlahan. "Kamu tahu
nggak, nama lengkap guru yang hilang itu?"
Pras mengangguk. "Pak Surya. Pak Surya Pratama. Bojone
Bu Rina. Wong loro kuwi ilang bareng." (Pak Surya. Pak Surya Pratama.
Istrinya Bu Rina. Mereka berdua hilang bersama.)
Di luar lapangan, tiba-tiba terdengar suara orang
memanggil.
"Pras! Pras! Mulih!" (Pulang!)
Seorang wanita paruh baya berdiri di pinggir lapangan,
melambaikan tangan. Itu ibu Pras.
Pras berdiri, wajahnya pucat. "Aku tak mulih dhisik.
Ibu ngundang." (Aku pulang dulu. Ibu memanggil.) Dia berlari meninggalkan
lapangan, tidak menoleh ke belakang sedikit pun.
Anak-anak yang lain juga mulai gelisah. Satu per satu
mereka pamit pulang. Tinggal Raka dan Joko di bawah pohon beringin.
"Joko," kata Raka setelah semua pergi. "Kamu
percaya cerita Pras?"
Joko menghela napas panjang. "Aku... ora ngerti. Pras
kuwi bocah jujur. Ora tau goroh." (Aku... tidak tahu. Pras itu anak jujur.
Tidak pernah bohong.)
"Tapi kalau benar Pak Lurah terlibat, berarti ini
kasus besar."
"Iya. Kasus sing ditutup-tutupi puluhan taun."
(Kasus yang ditutup-tutupi puluhan tahun.)
Raka menatap ke arah bukit. Rumah tua itu terlihat
samar-samar di balik kabut sore yang mulai turun. Untuk pertama kalinya, dia
merasa ada sesuatu yang sangat gelap di balik dinding-dinding kayu yang lapuk
itu.
Sesuatu yang mungkin seharusnya tidak pernah ditemukan.
Tapi justru karena itu, dia semakin yakin harus mencari
tahu.
"Joko, besok kita mulai," katanya tegas.
"Kita kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Dari orang tua-tua di desa,
dari siapa pun yang mau bicara."
"Lan yen ora ana sing gelem ngomong?" (Dan kalau
tidak ada yang mau bicara?) "Kita cari cara lain. Pasti ada."
Malam itu, ketika Raka pulang ke rumah neneknya, dia
melihat neneknya duduk sendirian di teras, menatap ke arah bukit. Wajahnya
muram, seperti sedang mengingat sesuatu yang sangat menyakitkan.
"Nek," panggil Raka pelan.
Neneknya menoleh. "Wis mulih, Rak?"
Raka duduk di samping neneknya. Dia ingin bertanya, ingin
tahu apa yang neneknya lihat di rumah tua itu dulu. Tapi melihat raut wajah
neneknya, dia urung.
Mereka duduk bersama dalam diam. Angin malam berhembus
sejuk, membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kebun tetangga. Di
kejauhan, jangkrik-jangkrik mulai bernyanyi.
"Nek," kata Raka akhirnya. "Nek, apa Nek
pernah ke rumah tua itu?"
Lama neneknya tidak menjawab. Raka mengira neneknya tidak
akan menjawab. Tapi tiba-tiba, neneknya berkata dengan suara lirih.
"Pernah."
Raka menahan napas. "Kapan?"
"Sakdurunge bojomu ilang. Sakdurunge guru ilang."
(Sebelum suamimu hilang. Sebelum guru hilang.)
"Nek... Nek melihat apa di sana?" Neneknya
menoleh, menatap Raka dengan mata yang tiba-tiba basah. "Aku... weruh soko
sing ora kudune weruh. Soko sing... nganti saiki isih ngganggu impenku."
(Aku... melihat sesuatu yang tidak seharusnya kulihat. Sesuatu yang... sampai
sekarang masih mengganggu mimpiku.)
"Apa itu, Nek?"
Neneknya menggenggam tangan Raka erat-erat. Tangannya
keriput tapi kuat. "Raka, janji karo Nek. Aja nyedhak omah kuwi. Apa wae
sing mbok krungu, apa wae sing mbok weruh... aja nyedhak." (Raka, janji
sama Nek. Jangan mendekati rumah itu. Apa pun yang kamu dengar, apa pun yang
kamu lihat... jangan mendekat.)
Tapi Raka tidak bisa menjawab. Karena di dalam hatinya, dia
sudah memutuskan.
Dia akan mendekati rumah itu.
Dia akan mencari tahu rahasianya.
Apa pun risikonya. Malam ketiga di desa, Raka tidak bisa
tidur. Bukan karena suara jangkrik atau kodok yang ribut di sawah. Bukan karena
tempat tidurnya yang keras atau bantalnya yang terlalu tinggi. Tapi karena
cahaya itu.
Dari jendela kamarnya, dia melihat cahaya di rumah tua itu
lebih terang dari biasanya. Biasanya hanya titik kecil yang berkedip-kedip,
seperti lampu senter yang kehabisan baterai. Tapi malam ini, cahayanya stabil,
terang, seperti bola lampu 40 watt.
Dan warnanya... aneh. Bukan kuning seperti lampu minyak,
bukan putih seperti lampu listrik. Tapi merah kekuningan, seperti warna api.
Raka duduk di tepi tempat tidurnya, jantungnya berdegup
kencang. Dia ingin membangunkan neneknya atau ibunya. Tapi untuk apa? Mereka
pasti akan menyuruhnya tidur dan tidak peduli.
Atau... mungkinkah mereka juga melihatnya? Mungkinkah
mereka juga gelisah?
Raka memutuskan untuk keluar.
Dia mengenakan jaket tipisnya, membuka pintu kamar
pelan-pelan, dan melangkah ke ruang tengah. Rumah neneknya gelap gulita, hanya
diterangi cahaya bulan yang masuk lewat jendela. Dia bisa mendengar dengkuran
halus ibunya dari kamar sebelah, dan dari kamar neneknya, tidak ada suara sama
sekali.
Sesampainya di teras depan, Raka berdiri mematung.
Cahaya di rumah tua itu sekarang lebih jelas. Bukan hanya
satu titik, tapi beberapa titik. Ada di jendela lantai dua, ada di jendela
lantai satu, dan satu lagi di... apa itu? Di halaman? Cahaya itu bergerak
perlahan, seperti seseorang berjalan dengan lentera.
Raka merasakan jantungnya hampir melompat keluar dari dada.
Ada orang di sana. Benar-benar ada orang.
Tanpa berpikir panjang, Raka melangkah turun dari teras.
Dia berjalan melewati halaman neneknya, melewati pagar bambu yang reyot, dan
mulai menyusuri jalan setapak menuju bukit.
"Raka!"
Suara bisikan keras menghentikannya.
Raka menoleh. Di balik pohon mangga di halaman tetangga,
sesosok bayangan melambai-lambai. Raka memicingkan mata. Sosok itu keluar dari
balik pohon—ternyata Joko.
"Kowe arep ngendi?" bisik Joko, matanya
membelalak.
Raka menunjuk ke arah bukit. "Ke sana. Lihat cahaya
itu."
Joko memegang lengan Raka erat-erat. "Kowe edan!
Wengi-wengi kaya ngene?" (Kamu gila! Malam-malam begini?)
"Cahayanya beda dari biasanya, Jok. Lihat sendiri. Ada
yang bergerak di halaman."
Joko menatap ke arah bukit. Matanya membelalak lebih lebar.
"Astaga... kuwi... kuwi wong?" (Astaga... itu... itu orang?)
"Aku nggak tahu. Makanya aku mau lihat."
"Raka, aja. Iki mbebayani." (Raka, jangan. Ini
berbahaya.)
"Berbahaya gimana? Kalau ada orang di sana, berarti
rumah itu tidak kosong. Berarti selama ini ada yang tinggal di sana diam-diam.
Kita harus tahu siapa."
Joko menggeleng keras. "Yen kuwi dudu wong? Yen
kuwi... memedi?" (Kalau itu bukan orang? Kalau itu... hantu?)
Raka tertawa kecil, meskipun sebenarnya dia juga takut.
"Hantu nggak bawa lampu, Jok. Hantu kan nggak butuh cahaya."
Logika Raka memang masuk akal, tapi Joko tetap tidak yakin.
Dia memandang ke arah rumah tua itu lagi, lalu ke arah Raka, lalu kembali ke
rumah tua.
"Aku... aku melu," katanya akhirnya dengan suara
bergetar.
"Beneran?"
"Iya. Nanging yen ana apa-apa, kowe sing tanggung
jawab." (Tapi kalau ada apa-apa, kamu yang tanggung jawab.)
"Deal."
Mereka berdua mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang
menanjak. Jalan itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang kadang tertutup
awan. Rumah-rumah penduduk yang mereka lewati sudah gelap semua, hanya sesekali
terdengar suara anjing menggonggong dari kejauhan.
Semakin dekat mereka ke bukit, semakin terasa udara dingin.
Bukan dingin biasa, tapi dingin yang menusuk sampai ke tulang, seperti masuk ke
ruang ber-AC setelah kepanasan. Raka menggigil, jaket tipisnya tidak cukup
menahan dingin.
"Raka... aku wedi tenan," bisik Joko, giginya
gemeletuk. (Raka... aku takut sekali.)
"Ssst... lihat." Mereka berhenti di balik
semak-semak besar, sekitar 50 meter dari pagar rumah tua. Dari sini, mereka
bisa melihat halaman depan dengan jelas.
Dan benar saja, ada seseorang di sana.
Sosok itu berjalan pelan di halaman, memegang sesuatu yang
bercahaya—mungkin lentera atau obor. Sosok itu tinggi kurus, berpakaian serba
hitam, dengan topi lebar yang menutupi wajahnya. Dia berjalan mondar-mandir di
halaman, seperti sedang mencari sesuatu.
"Kuwi wong tuwa apa enom?" bisik Joko.
"Entahlah. Nggak kelihatan."
Tiba-tiba, sosok itu berhenti. Dia menegakkan badannya,
lalu perlahan... perlahan... menoleh ke arah mereka.
Raka menahan napas. Joko memegang lengannya erat-erat
sampai sakit.
Wajah sosok itu tidak terlihat jelas karena topinya yang
lebar. Tapi di bawah topi itu, Raka bisa melihat dua titik cahaya—matanya—yang
bersinar merah redup di kegelapan.
Sosok itu menatap ke arah semak-semak tempat mereka
bersembunyi selama beberapa detik. Lalu, tanpa suara, dia berbalik dan masuk ke
dalam rumah. Pintu depan rumah tua itu terbuka dengan sendirinya, lalu tertutup
dengan bunyi "kletek" yang terdengar sampai ke tempat mereka.
Cahaya-cahaya di jendela padam satu per satu.
Gelap total.
Raka dan Joko tidak bergerak untuk waktu yang lama. Mereka
hanya duduk bersembunyi di balik semak, jantung berdegup kencang, napas
tertahan. Ketika akhirnya Raka berani bergerak, dia merasa kakinya lemas.
"Jok... kita... kita lihat itu, kan?" bisiknya.
Joko tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi di bawah sinar
bulan.
"Jok!"
Joko tersentak. "Ya... ya... aku weruh." (Aku
lihat.)
"Mata itu... merah... kamu lihat?"
Joko mengangguk pelan. "Mata kuwi... dudu mata
manungsa." (Mata itu... bukan mata manusia.)
Mereka berdua terdiam. Angin malam bertiup lebih kencang,
membuat dedaunan di sekitar mereka bergemerisik seperti bisikan-bisikan
rahasia. Dari arah rumah tua, terdengar suara pintu dibuka lagi, lalu dibanting
keras.
Raka dan Joko spontan bangkit dan berlari
sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu. Mereka berlari menuruni bukit,
melewati jalan setapak yang gelap, melewati rumah-rumah penduduk yang tenang,
sampai akhirnya sampai di depan rumah nenek Raka.
"Raka... sesuk... sesuk aku arep crita nang
bapakku," kata Joko terengah-engah. "Iki wis keterlaluan."
(Besok... besok aku mau cerita sama bapakku. Ini sudah keterlaluan.)
"Jok, jangan dulu."
"Lho kok?"
"Kita belum tahu apa-apa. Kalau cerita ke orang tua,
mereka pasti akan melarang kita mendekat lagi. Padahal... kita harus cari
tahu."
Joko menatap Raka dengan pandangan tidak percaya.
"Kowe isih arep bali mrene? Sawise weruh kuwi?" (Kamu masih mau balik
ke sini? Setelah lihat itu?)
Raka menghela napas. Dia sendiri tidak tahu harus menjawab
apa. Di satu sisi, dia ketakutan setengah mati. Di sisi lain, rasa penasarannya
justru semakin besar.
Siapa orang itu?
Apa yang dia cari di halaman rumah tua?
Dan yang paling penting... kenapa matanya merah menyala?
"Jok, besok kita cari informasi dulu. Kita cari tahu
siapa saja yang pernah tinggal di rumah itu. Mungkin ada hubungannya dengan
orang yang kita lihat tadi."
Joko menggeleng pasrah. "Kowe ki... wong edan
tenan." (Kamu ini... orang gila sekali.)
Mereka berpisah dengan perasaan tidak tenang. Raka masuk ke
rumah neneknya dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkan siapa pun. Dia
merebahkan diri di tempat tidur, tapi matanya tidak bisa terpejam.
Dari jendela kamarnya, dia melihat ke arah bukit. Rumah tua
itu sekarang gelap total, menyatu dengan kegelapan malam. Tapi di dalam
pikirannya, gambar mata merah menyala itu terus berulang.
Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini?
Dan kenapa semua orang sepertinya menyembunyikan sesuatu?
Keesokan paginya, Raka dibangunkan oleh suara ibunya yang
berteriak dari ruang tengah.
"Raka! Bangun! Ada tamu!"
Raka menggeliat malas. Matanya perih karena semalam
begadang. Dia baru tidur jam 3 pagi, itu pun tidak nyenyak karena terus-menerus
bermimpi aneh tentang mata merah dan rumah tua.
Setelah memakai kaos seadanya, dia keluar kamar dan
terkejut melihat siapa tamu itu. Di ruang tengah, duduk Joko dengan orang
tuanya—seorang bapak bertubuh kekar dengan kumis tebal yang pasti adalah
bapaknya Joko, dan seorang ibu yang mukanya mirip Joko.
Di samping mereka, duduk Pak Lurah—ayahnya Pras—dengan
seragam dinasnya. Pak Lurah adalah pria berusia sekitar 50 tahun, agak gemuk,
dengan mata yang tajam dan senyum yang selalu terkembang meskipun tidak sampai
ke mata.
"Selamat pagi, Raka," sapa Pak Lurah ramah.
Raka membalas salam dengan hati-hati. Dia langsung curiga.
Ada apa ini semua?
"Raka, Bapak Lurah mau bicara sama kamu," kata
ibunya dengan nada aneh—antara khawatir dan marah. Pak Lurah tersenyum.
"Santai saja, Bu. Saya hanya ingin kenalan dengan anak baru di desa
kita." Dia menoleh ke Raka. "Kamu Raka, ya? Anaknya Bu Sari, cucunya
Mbah Wati. Selamat datang di desa kami."
"Terima kasih, Pak Lurah."
"Bagaimana? Betah di sini?"
Raka mengangkat bahu. "Betah, Pak. Desa nyaman."
Pak Lurah mengangguk puas. "Bagus, bagus. Saya senang
dengar itu. Kamu pasti sudah punya teman baru, ya? Joko ini, misalnya?"
Raka melirik Joko. Joko hanya menunduk, tidak berani
menatapnya.
"Iya, Pak. Joko teman baik saya."
"Bagus. Tapi..." Pak Lurah berhenti sebentar,
senyumnya sedikit memudar. "Saya dengar dari orang tua Joko, kalian berdua
semalam... pergi ke suatu tempat?"
Raka merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Jadi ini
masalahnya. Joko sudah cerita.
"Nggak, Pak. Kami cuma jalan-jalan."
Pak Lurah terkekeh. "Jalan-jalan jam 12 malam? Ke arah
bukit?" Matanya sekarang tajam menusuk. "Raka, saya sudah jadi lurah
di desa ini selama 20 tahun. Tidak ada yang terjadi di desa ini tanpa saya
tahu."
Raka diam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Raka," bapaknya Joko angkat bicara, suaranya
berat. "Joko crita, kowe ngajak dheweke nyedhak omah tua. Kuwi
mbebayani." (Raka, Joko cerita, kamu ajak dia mendekati rumah tua. Itu
berbahaya.)
"Maaf, Pak. Tapi saya hanya penasaran. Saya lihat ada
cahaya—"
"Cahaya kuwi wis ana puluhan taun," potong Pak
Lurah. "Ora ana sing ngerti saka ngendi asale. Wong-wong kene wis biasa.
Sing penting, aja nyedhak." (Cahaya itu sudah ada puluhan tahun. Tidak ada
yang tahu dari mana asalnya. Orang-orang sini sudah biasa. Yang penting, jangan
mendekat.)
"Tapi kenapa, Pak? Kenapa tidak boleh?"
Pak Lurah dan bapaknya Joko saling pandang. Ibunya Raka
yang dari tadi diam, sekarang berkata, "Raka, jangan membantah. Kalau
Bapak Lurah bilang tidak boleh, ya tidak boleh."
"Tapi aku cuma mau tahu—"
"Raka!" suara ibunya keras. "Cukup!"
Suasana hening. Raka merasa kesal sekaligus malu dimarahi
di depan orang banyak. Dia memilih diam, tapi di dalam hatinya, api penasaran
justru semakin berkobar.
Pak Lurah berdiri, merapikan seragamnya. "Sudahlah, Bu
Sari. Mungkin Raka belum tahu adat di desa kita. Anak muda memang penasaran,
itu wajar. Tapi tolong diingatkan, Raka: rumah tua itu bukan tempat main-main.
Banyak orang sudah jadi korban karena terlalu penasaran." Dia menatap Raka
lekat-lekat. "Jangan sampai kamu jadi korban berikutnya."
Setelah Pak Lurah dan keluarga Joko pergi, Raka duduk di
ruang tengah dengan perasaan kesal. Ibunya duduk di depannya, menatapnya dengan
mata kecewa.
"Raka, Ibu pindah ke sini supaya kamu punya hidup yang
lebih tenang. Jauh dari pergaulan jelek di Jakarta. Tapi kamu malah cari
masalah."
"Aku nggak cari masalah, Ma. Aku cuma penasaran."
"Penasaran apa? Sama rumah tua? Itu rumah angker, Nak.
Banyak cerita seram tentang itu."
"Cerita apa? Cerita orang hilang? Cerita cahaya
misterius? Itu semua pasti ada penjelasan logisnya."
Bu Sari menghela napas panjang. "Kadang... nggak semua
hal perlu dijelaskan secara logis, Raka. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan
saja."
"Seperti rahasia yang ditutup-tutupi puluhan
tahun?"
Ibunya menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"
Raka diam. Dia hampir mengatakan tentang keterlibatan Pak
Lurah, tentang guru yang hilang, tentang semua yang dia dengar dari Pras dan
Joko. Tapi sesuatu menahannya.
"Nggak, Ma. Lupakan."
Raka bangkit dan masuk ke kamarnya. Dia merebahkan diri di
tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu.
Dia tahu ibunya hanya ingin melindunginya. Tapi justru
perlindungan itulah yang membuatnya semakin penasaran. Kalau tidak ada yang
berbahaya di rumah tua itu, kenapa semua orang berusaha keras menjauhkannya
dari sana?
Sore harinya, Joko datang ke rumah nenek Raka dengan wajah
bersalah.
"Raka, maaf, ya. Aku... aku wedi, terus crita nang
bapakku. Ora nyangka bapakku langsung lapor lurah." (Raka, maaf, ya.
Aku... aku takut, terus cerita sama bapakku. Tidak nyangka bapakku langsung
lapor lurah.)
Raka mengangkat bahu. "Nggak apa-apa. Emang seharusnya
kamu cerita."
"Kowe... nesu?" (Kamu marah?)
"Jengkel, sih. Tapi sama orang tuaku, bukan sama
kamu."
Joko duduk di samping Raka di teras. Mereka berdua menatap
langit sore yang mulai jingga.
"Raka, piye saiki? Isih arep nerusake?" (Raka,
bagaimana sekarang? Masih mau nerusin?)
Raka tidak segera menjawab. Dia memikirkan kata-kata Pak
Lurah tadi pagi, kata-kata ibunya, dan juga ketakutan di mata Joko semalam.
"Aku... nggak tahu, Jok. Di satu sisi, aku takut. Di
sisi lain, aku nggak bisa berhenti mikirin apa yang kita lihat semalam. Mata
merah itu... bukan efek cahaya, kan? Beneran merah?"
Joko menggigil. "Aku... aku ora ngerti. Sing tak
ngerteni, mripat kuwi mandeng langsung marang kita." (Aku... aku tidak
tahu. Yang aku tahu, mata itu menatap langsung ke kita.)
"Terus? Dia cuma masuk ke rumah dan nggak
ngapa-ngapain kita?"
"Iya. Aneh, ya?"
Raka mengangguk. Itu yang paling aneh. Kalau sosok itu
ingin menangkap mereka atau menakuti mereka, dia pasti sudah melakukannya
semalam. Tapi dia hanya menatap, lalu masuk ke rumah, lalu memadamkan lampu.
Seperti... dia tidak ingin diganggu, tapi juga tidak ingin
menyakiti.
Atau mungkin, dia sedang menunggu sesuatu?
Menunggu mereka kembali?
"Jok, kita harus cari tahu lebih banyak," kata
Raka tiba-tiba.
Joko menatapnya dengan pandangan
"aku-tahu-kamu-bakal-bilang-gitu". "Piye carane? Wong saiki wae
bapak-bapak wis padha ngerti lan ngawasi." (Bagaimana caranya? Orang
sekarang saja bapak-bapak sudah tahu dan mengawasi.)
"Kita cari cara lain. Kita cari orang yang tahu banyak
tentang rumah itu tapi mau bicara."
"Sapa? Kabeh wong kene wedi." (Siapa? Semua orang
sini takut.)
Raka berpikir keras. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Nenekku."
"Mbah Wati?"
"Iya. Kemarin dia bilang pernah ke rumah itu. Dia
melihat sesuatu di sana. Mungkin dia mau cerita kalau kita minta
baik-baik."
Joko ragu. "Mbah Wati kuwi... wong tuwa sing pendiem.
Ora tau crita bab omah tua. Nek bapakku wae ngomong, Mbah Wati kuwi wong sing
paling ngerti nanging paling ora gelem crita." (Mbah Wati itu... orang tua
yang pendiam. Tidak pernah cerita soal rumah tua. Kata bapakku, Mbah Wati itu
orang yang paling tahu tapi paling tidak mau cerita.)
"Coba dulu. Nggak ada salahnya."
Malam itu, setelah makan malam, Raka mendekati neneknya
yang sedang duduk di teras sambil menikmati angin malam.
"Nek, aku boleh duduk di sini?"
Neneknya menepuk kursi di sampingnya. "Lungguh,
Rak." (Duduk, Rak.)
Mereka duduk bersama dalam diam untuk beberapa saat. Raka
memperhatikan neneknya yang menatap ke arah bukit, ke rumah tua yang sekarang
mulai terlihat samar-samar di bawah sinar bulan sabit.
"Nek," Raka memulai dengan hati-hati. "Aku
mau tanya sesuatu."
"Takon apa?"
"Tentang rumah tua itu. Nek bilang pernah ke sana. Nek
lihat sesuatu. Apa yang Nek lihat?"
Lama neneknya tidak menjawab. Raka mengira neneknya akan
marah atau menyuruhnya diam. Tapi tidak. Neneknya justru menarik napas panjang,
lalu berkata dengan suara lirih.
"Kowe tenanan arep krungu critaku?" (Kamu sungguh
mau dengar ceritaku?)
"Tenan, Nek."
Neneknya menoleh, menatap Raka dengan mata yang dalam.
"Yen wis krungu... kowe ora bakal iso turu kepenak maneh." (Kalau
sudah dengar... kamu tidak akan bisa tidur nyenyak lagi.)
"Aku siap, Nek."
Neneknya tersenyum tipis. Senyum yang sedih. Lalu dia mulai
bercerita.
"35 taun kepungkur... bojoku, kakungmu, isih urip.
Wektu kuwi aku isih enom, umur 43 taun, sak umure ibu saiki." (35 tahun
yang lalu... suamiku, kakekmu, masih hidup. Waktu itu aku masih muda, umur 43
tahun, seumur ibumu sekarang.)
Raka mendengarkan dengan saksama.
"Kakungmu kuwi... sopo ngerti, dheweke uga penasaran
karo omah tua. Ora percaya omah kuwi angker. Dheweke kerep ngomong, 'Omah kuwi
mung omah. Sing nggawe angker kuwi wong'e dhewe.'" (Kakekmu itu... siapa
sangka, dia juga penasaran dengan rumah tua. Tidak percaya rumah itu angker.
Dia sering bilang, 'Rumah itu hanya rumah. Yang bikin angker itu orangnya sendiri.')
"Terus?"
"Suatu bengi, kakungmu ngajak aku mlebu omah kuwi.
Dheweke ngomong arep mbuktekake nang aku yen omah kuwi ora ana apa-apane."
(Suatu malam, kakekmu mengajak aku masuk rumah itu. Dia bilang mau membuktikan
ke aku kalau rumah itu tidak ada apa-apanya.)
Neneknya berhenti, matanya menerawang ke masa lalu.
"Aku wedi, nanging kakungmu nggandeng tanganku lan
ngomong, 'Aja wedi, aku nang kene.'" (Aku takut, tapi kakekmu menggandeng
tanganku dan bilang, 'Jangan takut, aku di sini.')
Raka merasa dadanya sesak. Dia bisa membayangkan kakeknya
yang tidak pernah dia kenal itu—pemberani, penuh percaya diri.
"Kita mlaku munggah menyang omah kuwi. Lawange ora
dikunci. Mbukak mung kudu didorong rada kenceng. Nalika mlebu... ambune anyir.
Ora anyir bangkai, nanging anyir kaya... kaya woh sing wis bosok nanging
dicampur kembang." (Kami berjalan naik ke rumah itu. Pintunya tidak dikunci.
Membuka hanya harus didorong agak keras. Ketika masuk... baunya anyir. Bukan
anyir bangkai, tapi anyir seperti... seperti buah yang sudah busuk tapi
dicampur bunga.)
Raka membayangkan bau itu dan hampir mual.
"Kakungmu nguripake senter. Kita mlebu ruang tamu,
ruang tengah, nganti tekan kamar-kamar. Ora ana apa-apa. Mung perabot lawas
sing wis ditutupi kain putih. Aku wiwit rada tenang." (Kakekmu menyalakan
senter. Kami masuk ruang tamu, ruang tengah, sampai ke kamar-kamar. Tidak ada
apa-apa. Hanya perabot lawas yang sudah ditutupi kain putih. Aku mulai agak
tenang.)
"Terus?"
"Terus... kakungmu arep munggah tangga menyang lantai
ndhuwur. Nalika dheweke mlaku munggah... aku krungu swara." (Terus...
kakekmu mau naik tangga ke lantai atas. Ketika dia berjalan naik... aku dengar
suara.)
"Swara apa?" bisik Raka.
"Swara tangis. Tangis bayi. Saka lantai ndhuwur."
(Suara tangis. Tangis bayi. Dari lantai atas.)
Bulu kuduk Raka meremang. Dia merinding.
"Aku kandhani kakungku. Dheweke mandheg, ngrungokake.
Tangis kuwi isih ana. Terus... mandheg. Banjur swara liyane: swara uwong mlaku
alon-alon ing lantai ndhuwur." (Aku beri tahu kakekmu. Dia berhenti,
mendengarkan. Tangis itu masih ada. Lalu... berhenti. Lalu suara lain: suara
orang berjalan pelan-pelan di lantai atas.)
"Kakek... apa yang beliau lakukan?"
"Kakungku... dheweke tetep munggah. Ora wedi. Aku
nangis, njaluk mudhun. Nanging dheweke tetep mlebu." (Kakekmu... dia tetap
naik. Tidak takut. Aku menangis, minta turun. Tapi dia tetap naik.)
Neneknya berhenti. Tangannya gemetar. Raka memegang tangan
neneknya, mencoba menenangkan.
"Dheweke mlebu kamar sing swarane saka kono. Aku
ngenteni ing ngisor, ora wani munggah. Krungu dheweke mbukak lawang...
banjur... meneng. Sepi banget." (Dia masuk kamar yang suaranya dari sana.
Aku menunggu di bawah, tidak berani naik. Dengar dia buka pintu... lalu...
diam. Sepi sekali.)
"Kakek?" "Sawise sawetara wektu, aku krungu
dheweke ngomong, 'Sapa kowe?' Banjur swara liyane. Swara wong lanang sing
serak, ngomong, 'Kowe sing kudu lunga.' Banjur... teriakan kakungku. Lan aku
mlayu metu." (Setelah beberapa waktu, aku dengar dia bilang, 'Kamu siapa?'
Lalu suara lain. Suara laki-laki yang serak, bilang, 'Kamu yang harus pergi.'
Lalu... teriakan kakekku. Dan aku lari keluar.)
Raka merasa jantungnya berhenti berdetak. "Kakek...
meninggal?"
Neneknya menggeleng pelan. "Ora. Dheweke metu saka
omah kuwi kira-kira 10 menit sakwise aku mlayu. Metu karo mlayu, langsung
diglandeng aku mulih. Ora tau crita apa sing dideleng ing ndhuwur."
(Tidak. Dia keluar dari rumah itu kira-kira 10 menit setelah aku lari. Keluar
sambil lari, langsung aku gandeng pulang. Tidak pernah cerita apa yang dilihat
di atas.)
"Sampe nggak pernah nanya?"
"Nate. Nanging dheweke mung meneng lan mripate dadi
kosong. Ora gelem ngomong bab kuwi nganti seda." (Pernah. Tapi dia hanya
diam dan matanya jadi kosong. Tidak mau bicara soal itu sampai meninggal.) Raka
terdiam, mencerna semua informasi itu. Jadi kakeknya juga pernah mengalami
kejadian aneh di rumah tua itu. Dan sampai meninggal, dia tidak pernah mau
menceritakannya.
"Nek, Nek percaya omah kuwi angker?"
Neneknya menatap Raka lama. "Aku ora ngerti angker apa
ora. Sing tak ngerteni, omah kuwi... ana sing njaga. Ana sing manggon ing kono,
senajan ora katon." (Aku tidak tahu angker atau tidak. Yang aku tahu,
rumah itu... ada yang menjaga. Ada yang tinggal di sana, meskipun tidak
terlihat.)
"Penjaga?"
"Iya. Penjaga rahasia. Rahasia sing nganti saiki
durung ana sing nemokake." (Penjaga rahasia. Rahasia yang sampai sekarang
belum ada yang menemukan.)
Malam itu, Raka tidur dengan pikiran penuh. Dia
membayangkan kakeknya yang pemberani, naik ke lantai atas rumah tua itu,
membuka pintu, dan melihat sesuatu—atau seseorang—yang membuatnya tidak pernah
mau bicara lagi sampai akhir hayat.
Apa yang dilihat kakeknya?
Dan siapa penjaga rahasia yang dimaksud neneknya?
Apakah penjaga itu adalah sosok bermata merah yang mereka
lihat semalam?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya
sampai akhirnya dia tertidur menjelang subuh.
Dua hari setelah kejadian malam itu, Raka dan Joko
memutuskan untuk mencari informasi dari sumber lain. Kalau orang dewasa tidak
mau bicara, mungkin anak-anak muda yang lebih terbuka. Atau setidaknya, mereka
bisa mencari petunjuk dari benda-benda peninggalan.
Pras, si anak berkacamata yang ayahnya adalah Pak Lurah,
menjadi target pertama mereka.
"Pras, kita perlu ngomong," kata Raka ketika
mereka bertemu di toko kelontong milik orang tua Pras.
Pras yang sedang membantu ibunya melayani pembeli, menoleh
dengan ragu. "Ngomong apa?"
"Tentang yang kamu ceritakan kemarin. Tentang
bapakmu."
Mata Pras langsung berubah waspada. "Wis, lali wae.
Aku ora ngerti apa-apa." (Sudah, lupakan. Aku tidak tahu apa-apa.)
"Pras, please. Ini penting."
Ibunya Pras, Bu RT (karena suaminya lurah, dia otomatis
jadi ketua RT), mengamati mereka dari balik etalase. "Pras,
kanca-kancamu?" (Pras, teman-temanmu?)
"Iya, Bu."
"Ajak mlebu, ngombe dhisik." (Ajak masuk, minum
dulu.)
Mereka bertiga masuk ke bagian belakang toko yang sekaligus
menjadi ruang keluarga. Bu RT menyuguhkan es teh manis dan pisang goreng. Dia
duduk bersama mereka, tersenyum ramah.
"Kowe Raka, ya? Anake Bu Sari?" (Kamu Raka, ya?
Anaknya Bu Sari?)
"Iya, Bu."
"Wis betah neng kene?" (Sudah betah di sini?)
"Betah, Bu."
Bu RT mengangguk puas. "Bagus. Desa kita cilik, tapi
tentrem. Wong-wonge apik." (Bagus. Desa kita kecil, tapi tentram.
Orang-orangnya baik.)
Raka melihat kesempatan. "Bu, saya dengar di desa ini
ada rumah tua yang angker. Itu benar?"
Senyum Bu RT langsung menghilang. Matanya beralih ke Pras,
lalu kembali ke Raka. "Sapa sing ngomong?"
"Teman-teman. Kata mereka di sana ada penjaga atau
sesuatu." Bu RT diam lama. Tangannya yang tadi memegang gelas es teh,
sekarang diletakkan di atas meja. "Raka, omah kuwi... aja diceletuki. Wong
tuwamu mesthi wis ngomong." (Raka, rumah itu... jangan dibicarakan. Orang
tuamu pasti sudah bilang.)
"Iya, Bu. Tapi saya cuma penasaran."
"Penasaran kuwi wajar. Nanging kadang, penasaran iso
ndadekake cilaka." (Penasaran itu wajar. Tapi kadang, penasaran bisa bikin
celaka.)
Bu RT berdiri. "Aku tak menyang pawon dhisik. Pras,
ngomonga sing apik karo kancamu." (Aku ke dapur dulu. Pras, bicara yang
baik dengan temanmu.)
Setelah ibunya pergi, Pras menatap Raka dengan tatapan
campuran antara takut dan kesal. "Kok kowe takon-takon kaya ngono nang
ibuku? Dheweke mesthi nesu." (Kok kamu tanya-tanya begitu sama ibuku? Dia
pasti marah.)
"Aku butuh informasi. Ibumu mungkin tahu banyak."
Pras menghela napas. "Ibuku ora ngerti apa-apa. Sing
ngerti mung bapakku. Lan bapakku ora gelem crita." (Ibuku tidak tahu
apa-apa. Yang tahu hanya bapakku. Dan bapakku tidak mau cerita.)
"Kenapa?"
"Amarga... bapakku melu nggoleki guru sing ilang
biyen. Dheweke sing mimpin wong-wong nggoleki. Lan ora nemu apa-apa."
(Karena... bapakku ikut mencari guru yang hilang dulu. Dia yang memimpin
orang-orang mencari. Dan tidak menemukan apa-apa.)
Raka dan Joko saling pandang. Ini informasi baru.
"Bapakmu ikut mencari? Terus, apa yang dia lihat di
sana?"
Pras menggeleng. "Ora ono. Rumah kuwi kosong. Ora ana
wong, ora ana mayit, ora ana apa-apa. Kaya-kaya wong loro kuwi... ngilang babar
pisan." (Tidak ada. Rumah itu kosong. Tidak ada orang, tidak ada mayat,
tidak ada apa-apa. Seperti mereka berdua... hilang sama sekali.)
Hening sejenak. Raka mencerna informasi itu.
"Pras, kemarin kamu bilang bapakmu ngomong setengah
sadar, 'Surya, aku ora sengaja.' Itu benar?"
Pras mengangguk pelan. "Aku tau krungu bapakku ngomong
kuwi. Ora mung sepisan, nanging kaping pindho. Sing kapindho... bapakku tangi
lan ndeleng aku karo mripate wedi tenan." (Aku pernah dengar bapakku
bicara itu. Tidak hanya sekali, tapi dua kali. Yang kedua... bapakku bangun dan
melihat aku dengan matanya takut sekali.)
"Takut kenapa?"
"Dheweke takon, 'Kowe krungu aku ngomong apa?' Aku
jujur, krungu jeneng Pak Surya. Bapakku langsung pucet lan ngomong, 'Aja kandha
sapa-sapa.'" (Dia tanya, 'Kamu dengar aku bicara apa?' Aku jujur, dengar
nama Pak Surya. Bapakku langsung pucat dan bilang, 'Jangan bilang
siapa-siapa.')
Joko bersiul pelan. "Iki serius tenan." (Ini
serius sekali.)
"Pras, menurutmu... apa bapakmu tahu sesuatu tentang
hilangnya Pak Surya?" tanya Raka hati-hati.
Pras menunduk. Tangannya menggenggam gelas es teh sampai
buku-buku jarinya memutih.
"Aku... ora ngerti. Aku wedi mikir." (Aku...
tidak tahu. Aku takut mikir.)
Dari kejauhan, terdengar suara orang berteriak. Suara itu
datang dari arah luar desa, dari dekat bukit. "Woy! Ana geni! Geni!"
(Woy! Ada api! Api!) Mereka bertiga spontan berdiri dan lari keluar toko. Di
luar, beberapa warga sudah berlarian ke arah bukit. Kepulan asap hitam terlihat
dari balik pepohonan, tepat di lokasi rumah tua.
"Omah tua kobong!" teriak seseorang.
Raka, Joko, dan Pras ikut berlari bersama warga yang lain.
Mereka menaiki jalan setapak menuju bukit, jantung berdegup kencang. Di benak
Raka, hanya satu pikiran: siapa yang membakar rumah itu? Dan apakah sosok
bermata merah itu masih di dalam?
Sesampainya di halaman rumah tua, mereka melihat api sudah
cukup besar di bagian belakang rumah. Tapi anehnya, api itu hanya membakar
tumpukan sampah dan kayu-kayu tua di halaman belakang, bukan rumahnya sendiri.
Warga dengan cepat memadamkan api dengan air dari sumur dan tanah.
"Geni iki sengaja diurubake," kata seorang warga
tua. "Iki dudu kobongan." (Api ini sengaja dinyalakan. Ini bukan
kebakaran.)
Pak Lurah datang dengan tergopoh-gopoh, wajahnya merah
karena berlari. "Ana apa? Sapa sing ngurubake geni?" (Ada apa? Siapa
yang menyalakan api?)
Tidak ada yang menjawab. Semua orang saling pandang.
Raka mengamati sekeliling. Halaman rumah tua itu penuh
dengan ilalang kering dan sampah-sampah yang dibuang warga secara diam-diam.
Tapi di tengah-tengah tumpukan sampah yang terbakar, dia melihat sesuatu. Sebuah
buku. Buku itu setengah terbakar, halaman-halamannya hangus di bagian tepi.
Tapi masih utuh di bagian tengah. Raka mendekat, mengambil buku itu dengan
hati-hati.
"Raka, aja!" teriak Joko. "Mbebayani!"
(Berbahaya!)
Tapi Raka sudah memegangnya. Buku itu panas, tapi masih
bisa dipegang. Sampulnya dari kulit berwarna cokelat tua, dengan tulisan yang
hampir tidak terbaca: "Catatan Pribadi - Surya Pratama".
Darah Raka seolah membeku.
Ini buku harian Pak Surya, guru yang hilang puluhan tahun
lalu.
"Raka!" suara keras Pak Lurah membuatnya
tersentak. "Kowe nemu apa kuwi?" (Kamu nemu apa itu?)
Raka buru-buru menyembunyikan buku itu di balik
punggungnya. "Nggak... nggak apa-apa, Pak. Cuma sampah."
Pak Lurah memicingkan mata. "Sampah? Ayo ndelok."
(Sampah? Ayo lihat.)
Raka mundur selangkah. Joko dan Pras, meskipun takut,
berdiri di samping Raka seolah melindunginya.
"Pak Lurah," kata Pras tiba-tiba. "Iki geni
wis mati. Kula lan konco-konco arep nulung ngresiki." (Pak Lurah, ini api
sudah mati. Saya dan teman-teman mau bantu membersihkan.)
Pak Lurah menatap mereka bertiga bergantian. Matanya tajam,
curiga. Tapi akhirnya dia mengangguk. "Ya wis. Resik-en sing apik. Aja
nganti geni murub maneh." (Ya sudah. Bersihkan yang baik. Jangan sampai
api menyala lagi.)
Setelah Pak Lurah pergi, Raka menunjukkan buku itu pada
Joko dan Pras. Mata mereka membelalak.
"Iki... iki bukune Pak Surya?" bisik Joko tidak
percaya.
"Sepertinya iya."
"Tapi... sapa sing ngurubake geni iki? Lan kenapa bukune
ditinggal nang kene?" (Tapi... siapa yang menyalakan api ini? Dan kenapa
bukunya ditinggal di sini?)
Raka mengamati buku itu lebih dekat. Sampulnya hangus, tapi
isinya masih bisa dibaca di beberapa bagian. Dia membuka halaman pertama.
"Desa Tanah Lenyap, 1 Agustus 1985. Hari pertama kami
tiba di desa ini. Rina bilang desa ini indah. Tapi aku merasakan sesuatu yang
aneh sejak kaki menginjak tanah ini. Seperti ada yang mengawasi dari balik
pepohonan. Mungkin hanya perasaanku saja."
Raka membaca dalam hati, jantungnya berdegup kencang. Ini
adalah dokumen asli dari masa lalu. Ini bisa menjadi kunci untuk memecahkan
misteri.
"Kita harus bawa ini pulang dan baca," katanya.
Namu ketika mereka hendak pergi, Raka melihat sesuatu di
balik pepohonan di belakang rumah tua. Sesosok bayangan hitam berdiri di sana,
memperhatikan mereka.
Sosok yang sama dengan malam itu.
Tapi kali ini, tidak ada topi yang menutupi wajahnya. Raka
bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Wajah itu... familiar.
"Pak... Pak Surya?" bisik Raka tidak percaya.
Sosok itu tersenyum tipis, lalu berbalik dan menghilang di
balik pepohonan.
"Raka? Raka! Kowe ndeleng apa?" (Kamu lihat apa?)
tanya Joko cemas.
Raka tidak bisa menjawab. Dia hanya terpaku, jantungnya
berdegup kencang, keringat dingin membasahi punggungnya.
Pak Surya. Guru yang hilang 35 tahun lalu. Masih hidup?
Atau... itu hanya hantu?
Mereka berlari turun dari bukit tanpa menoleh ke belakang.
Joko dan Pras tidak tahu apa yang dilihat Raka, tapi melihat ekspresi wajahnya,
mereka tahu itu sesuatu yang mengerikan.
Sesampainya di rumah nenek Raka, mereka bertiga duduk di
teras depan, masih terengah-engah. Raka memegang erat buku harian Pak Surya di
tangannya.
"Raka, kowe weruh apa mau?" tanya Joko setelah
napasnya agak stabil. (Raka, kamu lihat apa tadi?)
Raka menelan ludah. "Pak Surya."
"Apa?"
"Aku... aku melihat Pak Surya. Guru yang hilang
itu."
Joko dan Pras saling pandang. Wajah mereka pucat.
"Maksudmu... mayitnya?" tanya Pras dengan suara
gemetar.
"Bukan. Dia berdiri, melihat kita, lalu tersenyum,
lalu pergi."
"Hidup?"
"Aku... aku tidak tahu. Wajahnya... tua, tentu saja.
Tapi dia terlihat... nyata. Bukan hantu."
Joko menggeleng keras. "Ora mungkin. Pak Surya ilang
35 taun kepungkur. Umure saiki mestine wis 70 taun luwih. Wong kuwi ora mungkin
isih urip ing alas tanpa ketahuan wong." (Tidak mungkin. Pak Surya hilang
35 tahun lalu. Umurnya sekarang pasti sudah 70 tahun lebih. Orang itu tidak
mungkin masih hidup di hutan tanpa ketahuan orang.)
"Tapi aku melihatnya, Jok. Aku melihatnya dengan
jelas."
Pras, yang paling tenang di antara mereka, berkata,
"Bisa uga kowe weruh memedi. Omah kuwi angker, wong-wong ngerti
kuwi." (Bisa jadi kamu lihat hantu. Rumah itu angker, orang-orang tahu
itu.)
"Bukan hantu. Hantu nggak perlu bakar sampah. Hantu
nggak perlu meninggalkan buku harian. Pasti ada yang tinggal di sana. Selama
ini ada yang tinggal di sana."
Joko bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir di teras.
"Iki edan. Kabeh iki edan. Kita kudu lapor polisi." (Ini gila. Semua
ini gila. Kita harus lapor polisi.)
"Lapor apa? 'Pak Polisi, saya lihat hantu guru yang
hilang 35 tahun lalu'?" Raka menggeleng. "Polisi nggak akan
percaya."
"Terus piye? Dijarke wae?" (Terus gimana?
Dibiarkan saja?)
Raka membuka buku harian itu. Halaman pertama sudah dia
baca. Dia membuka halaman berikutnya.
"5 Agustus 1985. Warga desa ramah, tapi ada yang aneh.
Setiap kali aku bertanya tentang sejarah desa, mereka selalu mengalihkan
pembicaraan. Terutama kalau aku tanya tentang rumah di ujung desa. Rumah itu,
kata mereka, sudah kosong sejak lama. Tapi tadi malam, aku melihat cahaya di
jendelanya."
Raka membaca dengan saksama. Joko dan Pras mendekat, ikut
membaca.
*"7 Agustus 1985. Aku memutuskan untuk menyelidiki
rumah itu. Rina melarang, tapi aku tetap pergi. Aku masuk ke halaman, lalu ke
dalam rumah. Tidak ada siapa-siapa. Tapi di lantai atas, aku menemukan sesuatu.Sebuah
ruangan yang terkunci. Aku coba membukanya, tapi tidak bisa. Ada tulisan di pintu: 'WISSUP, RASAKO'—mungkin
'Wis suwé ora ketemu, rasakno?' (Sudah lama tidak bertemu, rasakan?) Ini aneh.
Sangat aneh."*
"Wis suwé ora ketemu, rasakno?" ulang Joko.
"Kuwi tulisan sing ditemokake Pak Surya?" (Itu tulisan yang ditemukan
Pak Surya?)
"Iya. Mungkin maksudnya peringatan. 'Sudah lama tidak
bertemu, sekarang rasakan'."
Pras membaca terus. "10 Agustus 1985. Aku
bertemu dengan lurah desa, Pak Karta. Aku tanya tentang rumah itu. Wajahnya
berubah. Dia bilang, 'Pak Surya, lupakan rumah itu. Itu bukan urusan Bapak.'
Tapi aku tidak bisa lupa. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak beres."
"Pak Karta... kuwi bapakku," bisik Pras. (Pak
Karta... itu bapakku.)
Raka menatap Pras. "Bapakmu tahu sesuatu, Pras."
Pras menunduk. Tangannya gemetar. "Aku... aku ora
ngerti apa sing dikarepake Pak Surya." (Aku... aku tidak tahu apa yang
dimaksud Pak Surya.)
Raka membalik halaman berikutnya. "15 Agustus
1985. Aku menemukan peta desa lama di perpustakaan sekolah. Ternyata, di bawah
rumah tua itu ada lorong bawah tanah. Lorong yang menghubungkan rumah itu
dengan... aku tidak tahu dengan apa. Petanya rusak di bagian itu."
Mereka bertiga terkesiap. "Lorong bawah tanah?"
ulang Joko.
"20 Agustus 1985. Seseorang memperingatkanku. Lewat
surat kaleng. Isinya: 'Hentikan penyelidikanmu atau kau akan menyesal.' Aku
tunjukkan surat itu pada Rina. Dia menangis, minta aku berhenti. Tapi aku tidak
bisa. Ini terlalu besar. Ini bukan hanya tentang rumah tua. Ini tentang
keadilan."
Halaman berikutnya tertulis tanggal 25 Agustus 1985. "Aku
menemukan jalan masuk ke lorong bawah tanah. Di balik lemari di ruang tamu. Aku
turun dengan senter. Lorongnya gelap, panjang, dan bau. Aku berjalan cukup lama
sampai tiba di sebuah ruangan. Di ruangan itu, aku menemukan... (tulisan ini
tidak terbaca karena halamannya sobek)."
Raka mengutuk dalam hati. Halaman yang paling penting
justru sobek.
"1 September 1985. Aku harus memberitahu seseorang.
Aku tidak bisa menyimpan ini sendiri. Besok aku akan menemui Pak Lurah lagi.
Kali ini aku akan memaksanya bicara. Aku tahu dia tahu sesuatu."
Halaman terakhir. "11 September 1985. Rina
bilang kita harus pergi dari desa ini. Tapi aku tidak mau. Aku hampir menemukan
kebenaran. Besok malam, aku akan turun ke lorong itu lagi. Aku akan membawa
kamera. Apa pun yang aku temukan, akan aku abadikan. Untuk Rina. Untuk
keadilan. Untuk—"
Tulisan itu berhenti di tengah kalimat. Halaman berikutnya
kosong.
"Itu tanggal 11 September," bisik Raka. "Dia
hilang tanggal 12 September."
"Berarti... dheweke turun ke lorong itu malem Selasa,
11 September. Esuke, dheweke ilang," kata Joko. (Berarti... dia turun ke
lorong itu malam Selasa, 11 September. Besoknya, dia hilang.)
"Dia menemukan sesuatu di lorong itu. Sesuatu yang
membuatnya hilang," kata Pras.
Raka menutup buku itu. Pikirannya kacau. Ada lorong bawah
tanah di bawah rumah tua itu. Pak Surya menemukannya. Dan setelah itu, dia
hilang.
"Sekarang, buku ini tiba-tiba muncul di tumpukan
sampah yang dibakar," kata Raka pelan. "Siapa yang membakarnya? Dan
kenapa?"
"Mungkin Pak Surya sendiri?" tebak Joko.
"Atau orang yang selama ini menjaga rumah itu. Orang
yang kita lihat dengan mata merah."
Pras gemetar. "Aku wedi, Raka. Aku arep mulih."
(Aku takut, Raka. Aku mau pulang.)
"Pras, tunggu dulu—"
Namu Pras sudah berlari meninggalkan teras. Raka ingin
memanggilnya, tapi Joko memegang lengannya.
"Biarkan dulu, Raka. Dheweke wedi. Bapake dhewe
mungkin melu-melu ing kasus iki." (Biarkan dulu, Raka. Dia takut. Bapaknya
sendiri mungkin terlibat dalam kasus ini.)
Raka menghela napas. Dia mengerti. Kalau ayahnya sendiri
yang menjadi lurah saat kejadian itu, dan sekarang dicurigai terlibat, pasti
sangat berat bagi Pras.
"Jok, kita harus ke rumah tua itu lagi."
Joko menatapnya dengan pandangan
'aku-tahu-kamu-bakal-bilang-gitu'. "Mlebu? Mlebu omah kuwi? Sawise kabeh
iki?" (Masuk? Masuk rumah itu? Setelah semua ini?)
"Ada lorong bawah tanah, Jok. Pak Surya menemukan
sesuatu di sana. Mungkin itu sebabnya dia hilang. Mungkin juga itu sebabnya
dia... masih di sana."
"Kowe mikir Pak Surya isih urip lan manggon ing lorong
kuwi?" (Kamu pikir Pak Surya masih hidup dan tinggal di lorong itu?)
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencari tahu."
Joko diam lama. Matanya menatap ke arah bukit, ke rumah tua
yang mulai tertutup kabut sore. Lalu dia berkata lirih, "Kapan?"
"Besok pagi. Saat matahari terbit. Kita butuh
cahaya."
"Lan apa maneh?" (Dan apa lagi?)
"Senter, tali, air minum, dan... keberanian."
Joko tersenyum pahit. "Keberanian... kuwi sing paling
angel dituku." (Keberanian... itu yang paling susah dibeli.)
Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Dia membaca buku harian
Pak Surya berulang kali, mencari petunjuk yang mungkin terlewat. Di sela-sela
halaman, dia menemukan selembar kertas kecil yang tadinya tidak dia lihat.
Kertas itu dilipat empat, sudah menguning.
Dia membukanya dengan hati-hati.
Di atas kertas itu, ada tulisan tangan dengan tinta yang
sudah pudar:
"Jika kau menemukan ini, berarti kau sudah dekat
dengan kebenaran. Tapi hati-hati: kebenaran tidak selalu membebaskan. Kadang,
kebenaran justru mengurungmu dalam ketakutan yang lebih dalam. Jangan turun ke
lorong itu sendirian. Jangan percaya siapa pun. Dan jika kau melihatku...
jangan dekati aku. Aku bukan lagi orang yang dulu."
Ttd,
Surya Pratama
Raka membaca surat itu berulang kali, jantungnya berdegup
kencang. Ini seperti pesan dari masa lalu, pesan peringatan dari Pak Surya
sendiri.
Tapi terlambat. Dia sudah memutuskan.
Besok, dia akan turun ke lorong itu. Apa pun risikonya.
Pagi itu, Raka bangun sebelum matahari terbit. Dia sudah
menyiapkan ransel kecil berisi senter, air minum, tali nilon, pisau lipat
(diam-diam dia ambil dari dapur neneknya), dan yang paling penting: buku harian
Pak Surya.
Dia keluar rumah dengan hati-hati, tidak ingin membangunkan
ibunya atau neneknya. Di luar, kabut masih tebal. Udara dingin menusuk tulang.
Joko sudah menunggu di bawah pohon mangga di halaman tetangga, bergidik dalam jaket
tipisnya.
"Raka, aku isih ora yakin iki apik," katanya
begitu Raka mendekat. (Raka, aku masih tidak yakin ini baik.)
"Aku juga nggak yakin. Tapi kita harus lakukan."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju bukit. Kabut
membuat jarak pandang terbatas, hanya sekitar 10 meter. Suara-suara pagi—ayam
berkokok, burung berkicau, anjing menggonggong—terdengar sayup-sayup dari desa
di bawah.
Semakin dekat ke rumah tua, semakin tebal kabutnya. Raka
bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Tangannya memegang erat buku harian
di dalam ransel.
"Aku wedi tenan, Raka," bisik Joko, giginya
gemeletuk. (Aku takut sekali.)
"Ssst... kita hampir sampai."
Mereka tiba di halaman rumah tua. Pagar kayunya sudah
lapuk, beberapa bagian roboh. Di belakang rumah, bekas pembakaran sampah
kemarin masih terlihat—tumpukan abu hitam dengan sisa-sisa kayu hangus.
Raka mendekati pintu depan. Pintu itu dari kayu jati tebal,
dengan gagang besi berkarat. Dia mendorongnya pelan. Pintu itu terbuka dengan
suara derit panjang yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Masuk, yuk."
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Bau apak dan debu
menyambut mereka. Cahaya pagi yang temaram masuk lewat celah-celah jendela,
menciptakan garis-garis cahaya di ruangan yang gelap.
Ruang tamu rumah itu cukup besar. Ada sofa-sofa tua yang
ditutupi kain putih pudar, meja kayu dengan kaki patah, dan lemari buku kosong
di sudut. Di dinding, tergantung beberapa lukisan pemandangan yang catnya sudah
mengelupas.
"Jok, kita cari lemari."
"Lemari?"
"Iya. Kata Pak Surya, pintu masuk lorong itu di balik
lemari di ruang tamu."
Mereka mencari di setiap sudut ruang tamu. Ada dua lemari:
satu lemari kecil di dekat pintu, satu lemari besar di dinding belakang. Raka
mendekati lemari besar itu. Ukurannya sekitar dua meter, terbuat dari kayu jati
gelap, dengan ukiran-ukiran rumit di pintunya.
"Bantu aku mendorong."
Mereka berdua mendorong lemari itu. Awalnya berat sekali,
tapi setelah beberapa kali dorongan, lemari itu bergeser. Di belakangnya,
tersembunyi di dinding kayu, ada sebuah pintu kecil setinggi satu setengah
meter.
"Masya Allah..." bisik Joko.
Pintu itu tidak bergagang, hanya ada lubang kecil untuk
memasukkan jari. Raka memasukkan jarinya dan menarik. Pintu itu terbuka dengan
suara derit yang lebih panjang dan lebih menyeramkan dari pintu depan.
Di balik pintu itu, ada kegelapan total. Dan bau yang
keluar dari sana—bau tanah basah, bau apak, bau sesuatu yang sudah lama tidak
terkena udara segar.
"Raka... aku wedi," kata Joko, suaranya bergetar.
(Aku takut.)
Raka menyalakan senternya. Cahaya putih menerangi lorong di
depan mereka. Anak tangga pertama terlihat, terbuat dari batu bata yang sudah
ditumbuhi lumut. Lorong itu turun ke bawah, entah seberapa dalam.
"Kita turun," kata Raka tegas. Mereka mulai
menuruni anak tangga satu per satu. Udara semakin dingin dan lembab. Dinding
lorong dari tanah liat yang diperkuat batu bata. Di beberapa tempat, akar-akar
pohon menjuntai dari langit-langit.
Setelah turun sekitar 20 anak tangga, mereka sampai di
dasar. Lorong di depan mereka lurus, gelap, tidak terlihat ujungnya.
"Pak Surya nulis, dheweke mlaku cukup suwe," kata
Joko mengingatkan. (Pak Surya nulis, dia jalan cukup lama.)
"Ayo."
Mereka berjalan perlahan. Senter Raka hanya mampu menerangi
beberapa meter ke depan. Di kiri kanan lorong, sesekali mereka melihat
pintu-pintu kayu kecil yang sudah lapuk. Raka penasaran, tapi dia memutuskan
untuk terus maju dulu.
Setelah berjalan sekitar 10 menit, lorong itu bercabang.
Dua arah: kiri dan kanan.
"Piye iki?" tanya Joko. (Gimana ini?)
Raka membuka buku harian Pak Surya. Dia mencari keterangan
tentang lorong ini, tapi tidak ada. Halaman yang sobek itu mungkin berisi
petunjuk arah.
"Entahlah. Kita coba kanan dulu."
Mereka mengambil lorong kanan. Setelah beberapa langkah,
Raka melihat sesuatu di dinding. Tulisan. Tulisan yang sama dengan yang disebut
Pak Surya di buku hariannya.
"WISSUP, RASAKO."
Tulisan itu diukir di dinding tanah liat, sudah pudar tapi
masih terbaca.
"Ini dia," bisik Raka. "Tulisan ini yang
ditemukan Pak Surya."
"Tapi apa artinya?" tanya Joko.
"Mungkin peringatan. 'Sudah lama tidak bertemu,
sekarang rasakan'. Rasakan apa?"
Mereka melanjutkan perjalanan. Lorong semakin lebar, dan
tiba-tiba mereka sampai di sebuah ruangan. Ruangan itu cukup besar, sekitar 5x5
meter. Di dalamnya, ada meja kayu tua, kursi roboh, dan di sudut... sesuatu
yang membuat darah Raka membeku.
Kerangka manusia.
Bukan satu, tapi dua kerangka manusia. Satu besar, satu
lebih kecil. Mereka tergeletak di lantai tanah, pakaian mereka sudah lapuk
tinggal sisa-sisa kain.
Joko menjerit. Dia mundur dan hampir jatuh. Raka
memegangnya, meskipun tangannya sendiri gemetar hebat. "Itu... itu Pak
Surya?" bisik Joko.
Raka mendekati kerangka itu dengan hati-hati. Di dekat
kerangka yang besar, dia melihat sesuatu. Sebuah kamera tua, model jadul, sudah
berkarat. Dan di sampingnya, sebuah dompet kulit yang masih utuh.
Raka mengambil dompet itu dengan tangan gemetar. Dia
membukanya. Di dalamnya, ada KTP yang sudah menguning.
Nama: SURYA PRATAMA
*Tempat/Tgl Lahir: Yogyakarta, 5 Mei 1950*
Raka merasa dunia berputar. Ini Pak Surya. Ini benar-benar
Pak Surya. Dia tidak pernah keluar dari lorong ini. Dia mati di sini, 35 tahun
lalu.
Tapi kalau ini Pak Surya... lalu siapa yang dia lihat
kemarin? Sosok di balik pepohonan yang tersenyum padanya?
Joko meraih lengannya. "Raka... ayo ndang metu. Aku
wedi tenan." (Ayo cepat keluar. Aku takut sekali.)
Tapi Raka tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada
kerangka itu. Di tangannya, kerangka itu memegang sesuatu. Selembar kertas,
sudah menguning, tapi masih utuh.
Raka mengambil kertas itu dengan hati-hati. Dia membacanya.
"Jika kau menemukan ini, berarti kau sudah menemukan
kami. Maafkan kami, Rina dan Surya, yang tidak bisa pulang. Tapi kebenaran
harus diketahui. Di balik dinding ruangan ini, ada peti besi. Di dalamnya, ada
semua bukti. Tentang apa yang terjadi di desa ini. Tentang siapa yang
bertanggung jawab. Tentang rahasia yang mereka kubur bersama kami."
-Surya-
Raka menatap dinding ruangan itu. Dinding tanah liat dengan
beberapa batu bata penyangga. Di salah satu bagian, dinding itu terlihat
berbeda—batu batanya lebih baru, lebih rapi.
"Jok, bantu aku."
"Apa?"
"Bantu aku bongkar dinding ini."
Mereka berdua mencongkel batu bata itu dengan pisau lipat
Raka. Satu per satu batu bata lepas. Di baliknya, ada ceruk kecil. Dan di dalam
ceruk itu, ada sebuah peti besi tua berkarat. Peti itu tidak terlalu besar,
kira-kira seukuran koper kabin. Raka mengeluarkannya dengan susah payah. Peti
itu berat. Ada gembok di depannya, tapi gemboknya sudah berkarat dan mudah
dipatahkan.
Dengan jantung berdegup kencang, Raka membuka peti itu.
Isinya: tumpukan kertas-kertas tua, map-map, amplop-amplop
cokelat, dan beberapa gulungan film.
Raka mengambil satu map dan membukanya.
Dokumen-dokumen tanah. Surat-surat perjanjian. Dan di
atasnya, ada stempel dan tanda tangan. Tanda tangan pejabat desa, pejabat
kecamatan, bahkan pejabat kabupaten.
Tapi yang paling mengejutkan adalah sebuah foto hitam
putih. Foto itu memperlihatkan beberapa orang berdiri di depan rumah tua ini.
Wajah-wajah mereka serius. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria muda
dengan kumis tipis.
Pak Lurah Karta. Ayahnya Pras.
Dan di sampingnya, pria lain yang wajahnya familiar bagi
Raka. Pria yang dilihatnya kemarin di balik pepohonan.
Pak Surya. Masih muda, masih hidup.
"Raka... ayo ndang metu," desak Joko, suaranya
panik. "Aku krungu swara." (Aku dengar suara.)
Raka menajamkan pendengarannya. Dari ujung lorong, dari
arah mereka datang, terdengar suara langkah kaki. Langkah kaki yang berat,
perlahan, mendekat.
Joko mematung ketakutan. Raka cepat-cepat memasukkan semua
dokumen kembali ke peti, menutupnya, dan menggendongnya.
"Lari!"
Mereka berlari sekencang-kencangnya meninggalkan ruangan
itu. Lorong di depan mereka gelap, senter Raka bergoyang-goyang menerangi
jalan. Di belakang mereka, suara langkah kaki semakin cepat, semakin dekat.
Mereka melewati percabangan, naik ke anak tangga, mendorong
pintu kayu, dan keluar ke ruang tamu. Tanpa menoleh, mereka terus berlari
keluar rumah, menuruni bukit, meninggalkan rumah tua itu.
Sesampainya di bawah bukit, mereka berhenti di pinggir
sawah, terengah-engah, lutut lemas. Raka menoleh ke belakang. Rumah tua itu
terlihat tenang di bawah sinar matahari pagi yang mulai naik.
Tapi di jendela lantai dua, dia melihat bayangan.
Bayangan itu menatap mereka.
Lalu perlahan, bayangan itu mengangkat tangan, melambai.
Seperti memberi salam perpisahan.
Atau seperti mengatakan: "Sampai jumpa lagi."
Raka dan Joko tidak langsung pulang ke rumah masing-masing.
Mereka bersembunyi di gubuk kosong di pinggir sawah milik salah satu warga yang
sudah lama tidak dipakai. Di sana, dengan napas masih terengah-engah, mereka
membuka peti besi itu.
Isinya lebih banyak dari yang mereka kira. Puluhan dokumen,
foto-foto, surat-surat, dan sebuah buku catatan tebal milik Pak Surya. Buku
catatan itu berbeda dari buku harian yang mereka temukan kemarin—ini lebih
seperti buku investigasi, berisi catatan-catatan detail tentang
penyelidikannya.
Raka membaca beberapa lembar dengan cepat.
"Pak Karta (Lurah) memiliki hubungan bisnis dengan
seorang pengusaha dari kota. Mereka membeli tanah-tanah warga dengan harga
murah, lalu menjualnya dengan harga tinggi. Tapi tidak hanya itu. Tanah-tanah
itu... ternyata di atasnya akan dibangun sesuatu. Sesuatu yang tidak boleh diketahui
warga."
"Saya menemukan dokumen perjanjian antara Pak Karta
dan PT. Bumi Lestari. Isinya: penjualan tanah seluas 50 hektar di sekitar desa,
termasuk tanah di bawah rumah tua ini. Tapi tanah di bawah rumah tua ini...
ternyata menyimpan sesuatu. Sesuatu yang berharga."
"Fosfor. Tanah di bawah desa ini kaya akan fosfor.
Fosfor adalah bahan penting untuk pupuk dan... bom. PT. Bumi Lestari ternyata
adalah perusahaan milik militer. Mereka ingin menambang fosfor di sini. Tapi
warga tidak tahu. Mereka hanya tahu tanah mereka dibeli dengan harga
murah."
Raka membaca dengan mata terbelalak. Jadi ini rahasianya.
Bukan hantu, bukan mistis. Tapi konspirasi tanah, penipuan massal, dan
mungkin... kejahatan yang lebih besar.
"Pak Karta takut rahasia ini terbongkar. Dia sudah
menerima uang muka yang besar. Jika warga tahu, dia bisa masuk penjara. Saya
coba bicara baik-baik, minta dia mengaku dan mengembalikan uang itu. Tapi dia
marah. Dia ancam saya. 'Pak Surya, urusan desa urusan saya. Bapak cuma guru.
Mengajari anak-anak saja sudah cukup.'"
"Tapi saya tidak bisa diam. Saya guru. Tugas saya
bukan hanya mengajar membaca dan menulis, tapi juga mengajari anak-anak tentang
kejujuran dan keadilan. Saya harus membongkar ini semua."
Halaman berikutnya berisi salinan dokumen-dokumen tanah,
lengkap dengan tanda tangan dan stempel. Ada juga surat-surat ancaman yang
dikirim ke Pak Surya, dengan tulisan yang sama persis dengan tulisan di dinding
lorong.
"Jok... ini... ini konspirasi besar," bisik Raka.
"Bapaknya Pras... dia terlibat."
Joko membaca beberapa dokumen. Wajahnya pucat. "Iki...
iki artine... Pak Lurah... nglakoni kejahatan?" (Ini artinya... Pak
Lurah... melakukan kejahatan?)
"Penipuan, korupsi, mungkin juga... pembunuhan."
"Pembunuhan?"
"Pak Surya dan istrinya ditemukan di lorong itu.
Mereka tidak mati sendiri. Mereka dikurung di sana. Atau dibunuh di sana."
Joko gemetar. "Dening sapa?" (Oleh siapa?)
Raka menunjukkan sebuah foto. Foto itu memperlihatkan Pak
Lurah Karta (masih muda) bersama beberapa pria lain, termasuk pria yang dilihat
Raka di balik pepohonan kemarin. Di belakang foto, ada tulisan tangan: "Tim
Keamanan Desa, 1985. Yang berdiri di belakang: Karta, Darman, Suroto, dan...
(nama tercoret)."
"Darman? Suroto?" ulang Joko. "Kuwi... kuwi
bapake Bejo lan bapake Andi!" (Itu... itu bapaknya Bejo dan bapaknya
Andi!)
Raka terkesiap. Jadi ayah dari teman-teman mereka juga
terlibat?
"Aku ora ngerti iki," kata Joko, suaranya
bergetar. "Bapakku... bapakku opo iya melu?" (Bapakku... bapakku apa
iya ikut?)
Raka memegang bahu Joko. "Bapakmu tidak ada di foto
ini, Jok. Tenang."
Tapi Joko tidak tenang. Dia takut. Takut pada apa yang
mereka temukan, takut pada apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Raka... piye iki? Kita nemu bukti kejahatan sing
nglibatake pejabat desa lan mungkin pejabat luwih dhuwur. Apa sing kudu kita
lakoni?" (Raka... gimana ini? Kita nemu bukti kejahatan yang melibatkan
pejabat desa dan mungkin pejabat lebih tinggi. Apa yang harus kita lakukan?) Raka
berpikir keras. Dia ingat kata-kata Pak Surya di pesan terakhirnya: kebenaran
harus diketahui. Tapi dia juga ingat peringatan di surat itu: kebenaran tidak
selalu membebaskan, kadang justru mengurung dalam ketakutan yang lebih dalam.
"Kita harus kasih tahu orang dewasa. Orang yang bisa
dipercaya."
"Sapa? Wong kene kabeh wedi karo lurah." (Siapa?
Orang sini semua takut sama lurah.)
Raka memikirkan neneknya. Tapi neneknya sudah tua, mungkin
tidak akan sanggup menghadapi ini. Ibunya? Dia baru pindah, tidak tahu apa-apa
tentang desa.
Tiba-tiba Raka teringat seseorang. "Pak RT. RT kita.
Dia... dia orangnya gimana?"
Joko berpikir. "Pak RT... wonge jujur. Ora tau
melu-melu urusan lurah. Wong-wong ngajeni dheweke." (Pak RT... orangnya
jujur. Tidak pernah ikut-ikutan urusan lurah. Orang-orang hormati dia.)
"Kita coba temui dia."
Mereka menyembunyikan peti besi itu di gubuk, ditutup
dengan karung-karung bekas. Lalu mereka berjalan menuju rumah Pak RT.
Pak RT, namanya Pak Mulyono, adalah pria berusia 60-an
dengan rambut putih tipis. Dia pensiunan guru SD, tinggal sendirian karena istrinya
sudah meninggal. Rumahnya sederhana, di pinggir desa dekat sungai.
"Lho, Joko, Raka? Ana apa jam semene?" tanyanya
heran ketika mereka datang. (Ada apa jam segini?)
"Pak, kita perlu bicara," kata Raka serius.
"Penting."
Pak Mulyono memandang mereka berdua, lalu mengangguk.
"Mlebu."
Di dalam rumah, setelah mereka duduk, Raka membuka
ranselnya dan mengeluarkan beberapa dokumen dari peti besi. Dia ceritakan
semuanya—dari awal dia melihat cahaya di rumah tua, sampai penemuan kerangka
Pak Surya dan dokumen-dokumen ini.
Pak Mulyono mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah
dari heran menjadi serius, lalu menjadi pucat.
"Kowe... kowe nemu iki kabeh?" tanyanya tidak
percaya. (Kamu... kamu nemu ini semua?)
"Iya, Pak. Ini bukti."
Pak Mulyono membaca dokumen-dokumen itu satu per satu.
Tangannya gemetar. Ketika sampai pada foto tim keamanan desa, dia berhenti
lama.
"Pak Mulyono kenal orang-orang ini?" tanya Raka.
Pak Mulyono menghela napas panjang. "Kenal. Kabeh tak
kenal. Darman, Suroto, Karta... kanca-kancaku biyen. Nanging aku ora ngerti yen
dheweke melu iki." (Kenal. Semua saya kenal. Darman, Suroto, Karta...
teman-teman saya dulu. Tapi saya tidak tahu kalau mereka ikut ini.)
"Pak, Pak Surya dan istrinya ditemukan di lorong itu.
Mereka mati di sana. Mungkin dibunuh. Kita harus lapor polisi."
Pak Mulyono diam lama. Matanya menatap ke luar jendela, ke
arah bukit.
"Raka, Joko... iki ora gampang. Wong-wong sing jenenge
nang dokumen iki... wong-wong sing kuwasa nang desa iki. Yen kowe lapor polisi,
durung mesthi polisi percaya. Malah bisa dadi kowe sing cilaka." (Ini
tidak gampang. Orang-orang yang namanya di dokumen ini... orang-orang yang
berkuasa di desa ini. Kalau kamu lapor polisi, belum tentu polisi percaya.
Malah bisa jadi kamu yang celaka.)
"Tapi Pak, ini bukti nyata!"
"Bukti nyata bisa ilang. Saksi bisa ditindhes. Aku
ngerti iki, Raka. Aku wis suwe urip nang desa iki. Aku weruh piye wong-wong
kuwasa main." (Bukti nyata bisa hilang. Saksi bisa ditindas. Aku tahu ini,
Raka. Aku sudah lama hidup di desa ini. Aku lihat bagaimana orang-orang
berkuasa bermain.)
Joko mulai menangis. "Trus piye, Pak? Wong mati
dibiarake wae?" (Terus gimana, Pak? Orang mati dibiarkan saja?)
Pak Mulyono memegang bahu Joko. "Aja nangis, Le. Aku
ora ngomong kudu dibiarake. Nanging kudu pinter. Kudu ati-ati." (Jangan
nangis, Nak. Aku tidak bilang harus dibiarkan. Tapi harus pintar. Harus
hati-hati.)
Dia menatap Raka. "Raka, kowe wong pinter. Kowé sing
nemu iki. Kowé sing kudu mikir piye carané bongkar iki tanpa ndadekake kowe
cilaka." (Kamu yang nemu ini. Kamu yang harus mikir bagaimana cara
membongkar ini tanpa bikin kamu celaka.)
Raka mengangguk. Pikirannya bekerja cepat.
"Pak, kita butuh bantuan. Orang di luar desa. Mungkin
wartawan, atau LSM, atau polisi dari kota yang tidak kenal dengan pejabat
sini."
Pak Mulyono mengangguk setuju. "Bener. Nanging
sadurunge kuwi... kita kudu mestekake yen bukti-bukti iki aman. Yen wong-wong
kuwi ngerti kowe duwe bukti iki... bisa mbebayani."
Raka menelan ludah. Dia tidak memikirkan itu. Selama ini dia
hanya fokus pada petualangan, pada rasa penasaran. Dia lupa bahwa mereka
bermain dengan api.
"Pak, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Pak Mulyono berpikir keras. "Saiki, kowe kudu bali
menyang omah, kaya ora ana apa-apa. Aja crita marang sapa wae, malah marang
wong tuwamu dhewe. Simpen bukti iki nang panggonan sing aman. Sesuk, aku arep
menyang kutha, ketemu karo kancaku wartawan. Dheweke wong sing bisa
dipercaya." (Sekarang, kamu harus pulang ke rumah, seperti tidak ada
apa-apa. Jangan cerita kepada siapa pun, bahkan kepada orang tuamu sendiri.
Simpan bukti ini di tempat yang aman. Besok, saya mau ke kota, bertemu dengan
teman saya wartawan. Dia orang yang bisa dipercaya.)
Raka mengangguk. "Tapi Pak, hati-hati. Kalau mereka
tahu Bapak ikut campur..."
Pak Mulyono tersenyum getir. "Aku wis tuwa, Raka. Ora
wedi mati. Nanging kowe, Joko, kabeh bocah-bocah kene... kowe kudu urip ing
desa sing resik. Ora kaya saiki." (Aku sudah tua, Raka. Tidak takut mati.
Tapi kamu, Joko, semua anak-anak sini... kamu harus hidup di desa yang bersih.
Tidak seperti sekarang.)
Mereka berpisah dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega
karena akhirnya punya orang dewasa yang bisa dipercaya. Tapi juga ada rasa
takut—takut ketahuan, takut akan apa yang terjadi selanjutnya.
Raka menyembunyikan peti besi itu di loteng rumah neneknya,
di balik tumpukan barang-barang lama yang tidak pernah diurus. Dia berdoa
semoga tidak ada yang menemukannya.
Malam itu, ketika dia duduk di teras, neneknya mendekat dan
duduk di sampingnya.
"Nek, apa Nek tahu tentang Pak Surya?" tanya Raka
tiba-tiba.
Neneknya menatapnya lama. "Kok takon maneh?"
"Aku cuma... penasaran."
Neneknya menarik napas panjang. "Pak Surya kuwi...
guru sing apik. Bocah-bocah seneng karo dheweke. Bojone, Bu Rina, wonge alus,
sabar. Wong loro kuwi ora pantes ilang kaya ngono." (Pak Surya itu... guru
yang baik. Anak-anak suka sama dia. Istrinya, Bu Rina, orangnya halus, sabar.
Mereka berdua tidak pantas hilang seperti itu.)
"Menurut Nek, mereka masih hidup?"
Neneknya menggeleng pelan. "35 taun, Raka. Ora mungkin
isih urip. Yen urip, mesthi wis ketemu." (35 tahun, Raka. Tidak mungkin
masih hidup. Kalau hidup, pasti sudah ketemu.)
Raka ingin bilang, "Mereka sudah ditemukan, Nek. Di
lorong bawah tanah." Tapi dia urung. Janji pada Pak Mulyono untuk tidak
cerita ke siapa pun masih dia pegang.
Malam itu, saat Raka hendak tidur, dia mendengar suara dari
luar. Suara orang berbisik-bisik. Dia mengintip lewat jendela.
Di halaman depan rumahnya, dua bayangan hitam berdiri di
bawah pohon mangga. Mereka berbisik, lalu salah satu dari mereka menunjuk ke
arah rumah neneknya.
Jantung Raka berdegup kencang. Apakah mereka tahu? Apakah
mereka sudah tahu tentang penemuannya?
Dia tidak berani bersuara. Hanya bisa bersembunyi di balik
jendela, berdoa semoga bayangan-bayangan itu pergi.
Setelah beberapa menit, mereka pergi. Tapi Raka tidak bisa
tidur semalaman. Dia terus memikirkan apa yang akan terjadi besok.
Desa yang tenang ini ternyata menyimpan rahasia yang gelap.
Dan sekarang, dia sudah masuk terlalu dalam.
Pagi itu, Raka bangun dengan perasaan tidak enak. Matanya
sembab karena kurang tidur. Pikirannya kacau. Dia mandi, sarapan, lalu pamit
pada ibunya untuk pergi ke rumah Joko.
Di rumah Joko, situasi tidak lebih baik. Joko juga terlihat
pucat dan gelisah.
"Raka, bapakku ngomong wingi bengi," bisik Joko
begitu Raka masuk. "Dheweke ngomong, aja melu-melu urusan omah tua. Aja
kumpul karo kowe." (Bapakku bilang semalam. Dia bilang, jangan ikut-ikutan
urusan rumah tua. Jangan kumpul sama kamu.)
Raka terkejut. "Kenapa?"
"Aku ora ngerti. Mungkin bapakku krungu omongan wong.
Atau mungkin... bapakku wedi." (Aku tidak tahu. Mungkin bapakku dengar
omongan orang. Atau mungkin... bapakku takut.)
"Tapi kamu tetap mau bantuin aku, kan?"
Joko diam. Tangannya memainkan ujung bajunya. Akhirnya dia
mengangguk pelan.
"Aku isih melu. Nanging aku wedi, Raka. Wedi
tenan." (Aku masih ikut. Tapi aku takut, Raka. Takut sekali.)
"Aku juga takut, Jok. Tapi kita sudah sejauh ini.
Nggak mungkin mundur." Mereka berdua pergi ke rumah Pak Mulyono. Pak
Mulyono sudah siap-siap mau pergi ke kota. Dia memakai baju bagus, rambutnya
disisir rapi.
"Wis, aku arep mangkat," katanya. "Kowe
ngenteni nang kene wae. Aja metu-metu. Yen ana apa-apa, ndhelika." (Aku
mau berangkat. Kamu nunggu di sini saja. Jangan keluar-keluar. Kalau ada
apa-apa, sembunyi.)
Setelah Pak Mulyono pergi, Raka dan Joko duduk di ruang
tamu rumahnya, gelisah. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Menunggu adalah
hal paling menyiksa.
Dua jam kemudian, seseorang mengetuk pintu. Bukan ketukan
biasa, tapi ketukan keras, seperti orang marah.
"Pak Mulyono! Bukak lawang!" (Buka pintu!)
Raka dan Joko saling pandang. Itu suara Pak Lurah.
"Mendhelik!" bisik Raka.
Mereka berdua lari ke belakang rumah Pak Mulyono,
bersembunyi di balik tumpukan kayu bakar. Dari sana, mereka bisa mendengar
percakapan.
"Pak Mulyono ora ana, Pak Lurah," kata
seseorang—mungkin tetangga Pak Mulyono. "Wis mangkat esuk."
"Mangkat menyang endi?" (Pergi ke mana?)
"Ora ngerti, Pak. Mungkin menyang kutha."
Suara Pak Lurah menggerutu. Lalu suara lain, suara yang
tidak dikenal. "Pak Lurah, kita harus cepat. Anak-anak itu mungkin sudah
kasih tahu dia."
"Anak-anak? Maksudmu Raka dan Joko?"
"Iya. Mereka yang menemukan buku harian itu. Mereka
juga yang kemarin masuk ke rumah tua. Saya lihat mereka dari kejauhan."
Raka merinding. Siapa orang ini? Bagaimana dia tahu?
"Suroto, kowe yakin?" tanya Pak Lurah.
Suroto! Itu bapaknya Andi, salah satu nama di foto tim
keamanan desa.
"Yakin, Pak. Saya ikuti mereka dari bukit. Mereka
masuk ke rumah tua, lalu keluar dengan membawa peti besi."
Jantung Raka berdegup kencang. Mereka diawasi. Selama ini
mereka diawasi.
"Peti besi?" suara Pak Lurah berubah panik.
"Apa isine?"
"Saya tidak tahu, Pak. Tapi pasti sesuatu yang
penting. Mungkin... dokumen-dokumen Pak Surya."
"Astaga... Suroto, kita harus cari peti itu. Cari di
rumah Mbah Wati, di rumah Joko, di mana pun. Jangan sampai mereka sebarkan
isinya."
"Tapi Pak, bagaimana kalau Pak Mulyono sudah pergi ke
kota untuk..."
"Untuk apa?"
"Untuk menemui wartawan."
Hening beberapa detik. Lalu suara Pak Lurah, dingin seperti
es. "Kejar dia. Bawa beberapa orang. Jangan biarkan dia sampai di
kota."
"Baik, Pak."
Suara langkah kaki menjauh. Setelah itu, sunyi.
Raka dan Joko tidak berani bergerak. Mereka terus bersembunyi
di balik tumpukan kayu, menahan napas, takut ketahuan. Baru setelah setengah
jam, mereka berani keluar.
"Jok... mereka... mereka mau celakain Pak
Mulyono," bisik Raka panik. "Kita harus lakukan sesuatu."
"Apa? Piye carane?" (Apa? Bagaimana caranya?)
Raka berpikir keras. "Kita harus cari bantuan. Orang
yang bisa diandalkan."
"Sapa? Wong kene kabeh wedi karo lurah."
"Polisi. Kita harus lapor polisi."
"Polisi? Polisi sini kenal sama lurah. Mungkin mereka
juga terlibat."
Raka frustrasi. Semua jalan sepertinya buntu. Tiba-tiba dia
teringat sesuatu.
"Pras. Ayahnya Pras terlibat, tapi Pras tidak tahu.
Mungkin Pras bisa bantu kita."
"Pras? Bocah kuwi wedi tenan karo bapake." (Pras?
Anak itu takut sekali sama bapaknya.)
"Tapi kita harus coba. Kita tidak punya pilihan
lain."
Mereka berlari ke rumah Pras. Beruntung, Pras sedang
sendirian di toko kelontongnya. Ibunya sedang pergi ke pasar.
"Pras, kita perlu ngomong," kata Raka tergesa.
Pras melihat wajah mereka yang panik. "Ana apa?"
Raka ceritakan semuanya—penemuan di lorong,
dokumen-dokumen, dan rencana Pak Lurah untuk mengejar Pak Mulyono.
Pras mendengarkan dengan wajah pucat. Tangannya gemetar.
"Bapakku... bapakku tenanan nglakoni kuwi kabeh?"
(Bapakku... bapakku sungguh melakukan itu semua?)
"Maaf, Pras. Tapi buktinya ada."
Pras menunduk lama. Air matanya menetes.
"Aku... aku ora ngerti kudu piye. Bapakku... bapakku
apikan karo aku. Nanging... nanging jebulane..." (Aku tidak tahu harus
bagaimana. Bapakku... bapakku baik sama aku. Tapi... tapi ternyata...)
Raka memegang bahu Pras. "Pras, kamu nggak salah
apa-apa. Tapi sekarang kita butuh bantuanmu. Kamu tahu siapa yang bisa kita
percaya di desa ini?"
Pras mengangkat wajahnya, matanya sembab. "Pak RW. Pak
RW Jaiman. Dheweke wis pensiunan polisi. Ora seneng karo bapakku. Dheweke tau
crita, bapakku kuwi... korup." (Pak RW Jaiman. Dia sudah pensiunan polisi.
Tidak suka sama bapakku. Dia pernah cerita, bapakku itu... korup.)
Raka merasa sedikit lega. "Di mana rumahnya?"
"Lor desa. Omah gedhe karo pagar ijo." (Utara
desa. Rumah besar dengan pagar hijau.)
"Jok, kita ke sana. Sekarang."
Mereka bertiga berlari ke utara desa. Rumah Pak RW memang
mudah dikenali—pagar hijau dengan pohon trembesi besar di depan. Mereka
mengetuk pintu. Seorang pria tua dengan kumis tebal membukakan pintu.
"Ana apa, bocah-bocah?" tanyanya heran.
"Pak RW, kita perlu bicara. Penting. Nyawa orang
taruhannya."
Pak RW memandang mereka bergantian, lalu mengangguk.
"Mlebu."
Di dalam, Raka kembali cerita. Ini cerita ketiga kalinya
hari ini, tapi tidak pernah lebih mudah. Setiap kali, dia harus mengingat lagi
hal-hal mengerikan yang mereka lihat di lorong itu. Pak RW mendengarkan dengan
saksama. Tidak seperti Pak Mulyono yang terkejut, Pak RW justru terlihat
seperti sudah menduga semua ini.
"Dokumen-dokumen kuwi nang endi saiki?" tanyanya.
"Di rumah nenekku. Di loteng."
"Aman?"
"Mudah-mudahan."
Pak RW menghela napas panjang. "Aku wis curiga suwe.
Wiwit jaman Pak Surya ilang. Tapi ora ana bukti. Saiki, kowe nggawa bukti kuwi.
Iki gedhe tenan, bocah-bocah."
"Pak, Pak Mulyono dalam bahaya. Mereka mau tangkap
dia."
Pak RW bangkit berdiri. "Aku kenal kanca-kanca polisi
ing kutha. Aku telpon dheweke. Muga-muga isih bisa nyegat." (Aku kenal
teman-teman polisi di kota. Aku telepon dia. Mudah-mudahan masih bisa mencegat.)
Dia masuk ke kamar, menelepon. Beberapa menit kemudian, dia
keluar.
"Polisi wis budal menyang dalan alternatif. Yen ora
salah, Pak Mulyono arep liwat dalan kono. Muga-muga ketemu." (Polisi sudah
berangkat ke jalan alternatif. Kalau tidak salah, Pak Mulyono mau lewat jalan
sana. Mudah-mudahan ketemu.)
Raka, Joko, dan Pras menghela napas lega. Tapi lega mereka
tidak bertahan lama.
"Saiki, masalah kowe," kata Pak RW. "Kowe
kabeh wis mlebu sarang tawon. Yen wong-wong kuwi ngerti kowe sing nemu bukti
iki... kowe bisa dadi target sabanjure."
Raka menelan ludah. "Tapi Pak, buktinya ada di kami.
Kalau mereka tahu—"
"Ora usah wedi. Saiki kowe nang omahku. Aku sing
njaga. Polisi uga bakal teka kanggo njupuk bukti. Sawise kuwi, kabeh
aman." (Tidak usah takut. Sekarang kamu di rumahku. Aku yang jaga. Polisi
juga akan datang untuk ambil bukti. Setelah itu, semua aman.)
Mereka bertiga duduk di ruang tamu Pak RW, menunggu. Di
luar, matahari mulai condong ke barat. Kabar tentang Pak Mulyono belum ada.
Sekitar pukul 5 sore, sebuah mobil polisi berhenti di depan
rumah Pak RW. Dari dalam, keluar Pak Mulyono dengan wajah lelah, ditemani dua
orang polisi berseragam.
"Pak Mulyono!" teriak Joko, berlari memeluknya. Pak
Mulyono tersenyum, meskipu rautnya capek. "Wis, Le, ora apa-apa. Aku
slamet." (Sudah, Nak, tidak apa-apa. Aku selamat.)
Polisi yang datang, seorang AKP muda bernama Budi, masuk ke
rumah Pak RW. Dia melihat Raka, Joko, dan Pras dengan tatapan serius.
"Kalian yang menemukan dokumen-dokumen itu?"
tanyanya.
"Iya, Pak," jawab Raka.
"Di mana dokumennya?"
"Di rumah nenek saya. Saya ambilkan."
"Jangan sendiri. Saya antar."
Raka, ditemani Pak RW dan polisi, pergi ke rumah neneknya
untuk mengambil peti besi itu. Neneknya terkejut melihat polisi, tapi Raka
hanya bilang ada urusan penting.
Setelah peti besi itu diserahkan ke polisi, Raka merasa
beban berat terangkat dari pundaknya. Tapi sekaligus, ada rasa takut baru.
Apa yang akan terjadi pada Pak Lurah dan kawan-kawannya?
Apa yang akan terjadi pada desa ini? Dan yang paling penting... apa yang akan
terjadi pada sosok misterius di rumah tua itu, yang ternyata adalah Pak
Surya—atau setidaknya, arwahnya?
Malam itu, di rumah Pak RW, mereka bertiga duduk bersama
Pak Mulyono dan Pak RW. Mereka membicarakan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Polisi bakal nyelidiki iki kabeh," kata Pak RW.
"Yen buktine cukup, Pak Lurah lan kanca-kancane bakal ditahan."
"Tapi Pak, bagaimana dengan... Pak Surya?" tanya
Raka hati-hati. "Maksud saya, kerangkanya di lorong itu?"
"Polisi bakal nggoleki. Yen perlu, bakal digali. Lan
dikubur kanthi prayoga." (Polisi akan mencari. Kalau perlu, akan digali.
Dan dikubur dengan layak.)
Raka mengangguk. Tapi di pikirannya, masih ada satu
pertanyaan mengganggu: siapa yang dia lihat di balik pepohonan itu? Siapa yang
melambai dari jendela rumah tua?
Apakah itu benar-benar arwah Pak Surya?
Atau... mungkin ada orang lain yang masih tinggal di rumah
itu?
Dia tidak tahu. Tapi satu hal yang dia yakini: misteri
rumah tua di ujung desa ini belum benar-benar terungkap. Masih ada lapisan lain
yang harus mereka gali.
Dan petualangan mereka, ternyata, baru saja dimulai.
BAGIAN II
PETUALANGAN DIMULAI
Dua minggu setelah penyerahan bukti ke polisi, situasi di
desa berubah drastis. Pak Lurah Karta dan empat orang lainnya—termasuk Suroto
dan Darman—ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokumen-dokumen yang
ditemukan Raka dan kawan-kawan terbukti asli dan cukup kuat untuk menjerat
mereka.
Desa Tanah Lenyap gempar. Warga yang selama ini diam, mulai
berani bersuara. Beberapa mengaku sudah lama curiga. Yang lain menangis karena
ternyata tanah mereka dijual tanpa sepengetahuan mereka. Tapi yang paling
banyak adalah rasa syukur—karena kebenaran akhirnya terungkap.
Pak Mulyono menjadi pahlawan dadakan. Rumahnya selalu ramai
dikunjungi warga yang ingin tahu cerita lengkapnya. Tapi Pak Mulyono selalu
mengarahkan pujian itu ke Raka, Joko, dan Pras.
"Bocah-bocah iki sing pahlawan," katanya setiap
kali. "Aku mung mbantu." (Anak-anak ini yang pahlawan. Aku hanya
bantu.)
Raka, Joko, dan Pras menjadi terkenal. Di sekolah,
teman-teman mereka memandang dengan kagum. Guru-guru memuji keberanian mereka.
Bahkan beberapa wartawan dari kota datang mewawancarai mereka.
Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang masih mengganggu
Raka: sosok misterius di rumah tua itu.
Setelah kejadian itu, dia beberapa kali kembali ke rumah
tua, bersama Joko dan Pras. Mereka menjelajahi setiap sudut, mencari petunjuk
tentang siapa yang selama ini mereka lihat. Tapi rumah itu kosong. Sepi. Tidak
ada tanda-tanda kehidupan.
Hingga suatu sore, ketika mereka duduk-duduk di teras rumah
Pak RW, Pak RW berkata sesuatu yang mengagetkan mereka.
"Pak Surya kuwi... duwe anak." (Pak Surya itu...
punya anak.)
Raka, Joko, dan Pras terkesiap. "Anak?"
"Iya. Anak lanang. Umure wektu kuwi kira-kira 5 taun.
Nalika wong tuwane ilang, bocah kuwi... uga ilang." (Iya. Anak laki-laki.
Umurnya waktu itu kira-kira 5 tahun. Ketika orang tuanya hilang, anak itu...
juga hilang.)
Raka merasa bulu kuduknya berdiri. "Maksud Pak RW,
ikut hilang?"
"Ora ana sing ngerti. Sakwise kedadean kuwi, bocah
kuwi ora katon maneh. Mungkin... digawa wong tuwane pas ilang. Atau mungkin...
dibuwang ning endi." (Tidak ada yang tahu. Setelah kejadian itu, anak itu
tidak terlihat lagi. Mungkin... dibawa orang tuanya pas hilang. Atau mungkin...
dibuang di suatu tempat.)
Joko memucat. "Dibuang?"
"Aku ora ngerti. Nanging sing tak ngerteni, ora ana
sing nggoleki bocah kuwi. Polisi ora nggoleki. Lurah ora nggoleki. Kaya-kaya
bocah kuwi ora tau ana." (Aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu, tidak ada
yang mencari anak itu. Polisi tidak mencari. Lurah tidak mencari. Seperti anak
itu tidak pernah ada.)
Raka teringat sesuatu. Sosok yang dilihatnya di balik
pepohonan itu. Tingginya... tidak terlalu tinggi. Mungkin sekitar 170 cm. Kalau
anak Pak Surya waktu itu umur 5 tahun di tahun 1985, sekarang umurnya sekitar
40 tahun. Tinggi 170 cm masuk akal untuk laki-laki dewasa.
"Pak RW," kata Raka pelan. "Mungkin... anak
Pak Surya masih hidup."
Pak RW menatapnya. "Maksudmu?"
"Mungkin dia yang selama ini tinggal di rumah tua itu.
Mungkin dia yang menjaga rumah itu. Mungkin dia yang membakar sampah dan
meninggalkan buku harian ayahnya untuk kami temukan."
Pak RW diam berpikir. Lalu matanya membelalak.
"Yen kuwi bener... tegese dheweke wis ndhelik neng
kono pirang-pirang puluh taun. Lan ora ana sing ngerti." (Kalau itu
benar... berarti dia sudah bersembunyi di sana puluhan tahun. Dan tidak ada
yang tahu.)
"Kenapa dia bersembunyi, Pak?"
"Wedhi. Wong tuwane mati dibunuh. Dheweke mesthi wedhi
yen bakal dipateni uga." (Takut. Orang tuanya mati dibunuh. Dia pasti
takut kalau akan dibunuh juga.)
Pras, yang dari tadi diam, angkat bicara. "Raka, piye
carane kita nemokake dheweke?" (Raka, bagaimana caranya kita menemukan
dia?)
Raka berpikir keras. "Dia pasti masih di sekitar rumah
tua itu. Mungkin di lorong bawah tanah, atau di hutan di belakangnya. Kita
harus cari."
"Nyari? Piye? Wong kita wis bola-bali nggoleki ora
ketemu." (Mencari? Gimana? Kita sudah berkali-kali mencari tidak ketemu.) "Kita
belum mencari dengan benar. Kita belum pernah masuk ke lorong lebih dalam.
Ingat, Pak Surya bilang di lorong itu ada percabangan. Mungkin lorong yang
satunya lagi menuju ke tempat persembunyian anaknya."
Joko menghela napas. "Raka, kowe arep bali menyang
lorong kuwi maneh?" (Raka, kamu mau balik ke lorong itu lagi?)
"Kita harus. Demi keadilan. Demi Pak Surya. Dan demi
anaknya yang mungkin selama ini hidup sendiri, tidak dikenal siapa pun."
Mereka bertiga saling pandang. Di mata masing-masing,
terlihat campuran antara takut dan tekad.
"Aku melu," kata Pras tegas. "Bapakku wis
nglakoni salah. Aku pengin mbenerake." (Aku ikut. Bapakku sudah melakukan
salah. Aku ingin membetulkan.)
Joko menghela napas panjang. "Yah, melu wae lah. Wong
wis kadung." (Ya, ikutlah. Sudah terlanjur.)
Pak RW tersenyum. "Bocah-bocah iki... pancen
pemberani. Nanging elinga, aja mlaku dhewe-dhewe. Aku melu." (Anak-anak
ini... memang pemberani. Tapi ingat, jangan jalan sendiri-sendiri. Aku ikut.)
Raka terkejut. "Pak RW mau ikut?"
"Aku wis pensiunan polisi. Masih kuat. Lan aku pengin
ndelok dhewe apa sing ana ing lorong kuwi." (Aku sudah pensiunan polisi.
Masih kuat. Dan aku ingin lihat sendiri apa yang ada di lorong itu.)
Maka terbentuklah tim kecil: Raka sebagai pemimpin karena
dialah yang paling tahu ceritanya, Joko sebagai navigator karena hafal medan,
Pras sebagai pencatat karena otaknya encer, dan Pak RW sebagai pelindung karena
pengalaman dan fisiknya.
Mereka sepakat untuk memulai ekspedisi keesokan paginya.
Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Dia memikirkan anak Pak
Surya. Bagaimana rasanya hidup sendirian selama puluhan tahun, bersembunyi di
lorong bawah tanah, takut ketahuan? Bagaimana dia bertahan hidup? Dari mana dia
dapat makan? Dan yang paling penting... kenapa dia tidak pernah mencoba keluar,
mencari pertolongan?
Mungkin dia trauma. Mungkin dia takut orang-orang yang
membunuh orang tuanya masih ada. Mungkin dia menunggu waktu yang tepat untuk
muncul.
Atau mungkin... dia sudah gila karena kesepian.
Pikiran-pikiran itu membuat Raka gelisah. Dia berdoa semoga
besok mereka berhasil menemukannya. Dan semoga... dia masih waras.
Pagi itu, matahari baru saja naik ketika tim kecil mereka
berkumpul di rumah Pak RW. Perlengkapan sudah disiapkan: senter kuat, tali
panjang, air minum, makanan ringan, P3K, dan yang paling penting—sebuah kamera
untuk mendokumentasikan apa pun yang mereka temukan.
Pak RW memeriksa perlengkapan satu per satu dengan teliti,
seperti dulu saat dia masih bertugas.
"Wis, siap. Ayo mangkat."
Mereka berjalan menuju bukit. Suasana pagi di desa masih
sepi, hanya sesekali terdengar suara ayam berkokok dan burung berkicau. Kabut
tipis masih menyelimuti sawah-sawah, membuat segalanya terlihat seperti dalam
mimpi.
Semakin dekat ke rumah tua, jantung Raka semakin berdegup
kencang. Rumah itu terlihat sama seperti biasa—tua, gelap, menyeramkan. Tapi
sekarang, dia tahu ada lebih banyak rahasia di balik dinding-dinding kayunya.
Mereka masuk melalui pintu depan yang masih terbuka
setengah. Debu beterbangan ketika mereka melangkah masuk. Pak RW menyalakan
senter besar, menerangi seluruh ruangan.
"Aku ora mlebu omah iki wis puluhan taun," gumam
Pak RW. "Wiwit jaman Pak Surya ilang." (Aku tidak masuk rumah ini
sudah puluhan tahun. Sejak jaman Pak Surya hilang.)
"Pak RW ikut mencari dulu?" tanya Raka.
"Melu. Nanging ora mlebu nganti jero. Aku mung
ngenteni nang njaba." (Ikut. Tapi tidak masuk sampai dalam. Aku hanya
menunggu di luar.)
Mereka menuju lemari besar di ruang tamu. Raka dan Joko
mendorongnya, memperlihatkan pintu rahasia di baliknya. Pintu itu masih terbuka
seperti terakhir kali mereka tinggalkan.
"Lorong iki?" tanya Pak RW, mengamati kegelapan
di balik pintu.
"Iya, Pak. Turun sekitar 20 anak tangga, lalu lorong
lurus, lalu ada percabangan."
Pak RW mengangguk. "Ayo."
Mereka turun satu per satu. Udara semakin dingin dan
lembab. Bau tanah basah dan apak makin kuat. Pak RW berjalan paling depan,
senternya menyapu dinding-dinding lorong. Sesampainya di dasar, mereka melihat
lorong lurus di depan dan percabangan yang pernah mereka lalui.
"Terakhir kita ke kanan, ketemu ruangan dengan
kerangka Pak Surya dan Bu Rina," kata Raka. "Sekarang kita coba
kiri."
Mereka mengambil lorong kiri. Lorong ini lebih sempit,
dindingnya lebih kasar, dan langit-langitnya lebih rendah. Mereka harus
berjalan membungkuk di beberapa bagian.
Setelah berjalan sekitar 10 menit, lorong mulai menurun.
Semakin dalam, semakin gelap. Senter Pak RW adalah satu-satunya sumber cahaya.
"Ana swara," bisik Joko tiba-tiba. (Ada suara.)
Semua berhenti. Mereka mendengarkan. Dari ujung lorong,
terdengar suara samar—seperti orang bernyanyi. Nyanyian pelan, sendu, seperti
lagu pengantar tidur.
"Itu... suara apa?" bisik Pras.
Pak RW memberi isyarat untuk diam. Mereka melanjutkan
perjalanan lebih hati-hati. Suara nyanyian semakin jelas.
"Nenek moyangku orang pelaut... gemar mengarung luas
samudra..."
Raka merinding. Itu lagu anak-anak. Lagu yang biasa
dinyanyikan di sekolah dasar.
Mereka sampai di ujung lorong. Di depan mereka, ada ruangan
kecil. Di dalam ruangan itu, samar-samar terlihat sesosok manusia duduk di pojok,
membelakangi mereka, bergoyang-goyang perlahan sambil terus bernyanyi.
"Menerjang ombak tiada takut... menempuh badai sudah
biasa..."
Pak RW memberi isyarat pada yang lain untuk tetap diam. Dia
melangkah maju, pelan-pelan, senternya diarahkan ke lantai agar tidak
menyilaukan.
"Hei," panggilnya lembut. "Sapa kowe?"
(Kamu siapa?)
Nyanyian berhenti. Sosok itu diam, tidak bergerak.
"Kita ora arep nyilakani kowe. Kita mung arep
ngomong." (Kami tidak mau mencelakai kamu. Kami hanya mau bicara.)
Perlahan, sosok itu menoleh. Wajahnya... wajah pria paruh
baya dengan jenggot panjang acak-acakan. Kulitnya pucat, matanya merah karena
kurang tidur atau menangis. Tapi di balik semua itu, Raka bisa melihat
kemiripan dengan foto Pak Surya yang pernah dilihatnya.
"Bapak... ibu... mana?" tanya pria itu dengan
suara serak, seperti orang yang jarang bicara.
Pak RW tertegun. "Maksudmu?"
"Mereka... pergi... lama. Aku tunggu... tapi tidak
kembali."
Raka merasa dadanya sesak. Ini dia. Anak Pak Surya. Yang
ditinggal sendirian di lorong ini selama 35 tahun.
"Jenengmu sapa, Le?" tanya Pak RW lembut. (Namamu
siapa, Nak?)
Pria itu menatap mereka dengan mata kosong. "Aku...
aku lupa. Bapak... panggil... 'Nak'. Ibu... panggil... 'Sayang'. Tapi nama...
lupa."
Joko menangis. Pras memegang mulutnya, menahan isak. Raka
merasa air matanya mengalir.
"Kowe wis ngenteni wong tuwamu suwe banget, ya?"
tanya Pak RW. (Kamu sudah menunggu orang tuamu lama sekali, ya?)
Pria itu mengangguk pelan. "Lama. Sangat lama. Mereka
bilang... sebentar. Tapi... tidak kembali. Aku takut... keluar. Orang jahat...
di luar. Bapak bilang... jangan keluar... sebelum dia jemput."
Raka ingat pesan terakhir Pak Surya di buku hariannya: dia
akan turun ke lorong lagi malam itu, membawa kamera. Mungkin dia bilang pada
anaknya untuk menunggu sebentar. Tapi dia tidak pernah kembali.
Dan anak itu menunggu. Menunggu. Menunggu. Selama 35 tahun.
"Le, wong tuwamu... wis ora bakal bali," kata Pak
RW dengan suara berat. "Dheweke... wis seda." (Nak, orang tuamu...
sudah tidak akan kembali. Dia... sudah meninggal.)
Pria itu diam lama. Lalu, untuk pertama kalinya, ekspresi
di wajahnya berubah. Dari kosong menjadi... sedih. Sangat sedih.
"Deda?" ulangnya, lidahnya cadel mengucapkan kata
itu. "Mati?"
"Iya, Le. Dheweke dipateni wong jahat. Nanging saiki,
wong jahat kuwi wis dicekel polisi." (Iya, Nak. Dia dibunuh orang jahat.
Tapi sekarang, orang jahat itu sudah ditangkap polisi.)
Pria itu menangis. Tangisan yang aneh—seperti bayi yang
baru belajar menangis, canggung, tersendat-sendat. Mungkin karena 35 tahun
tidak menangis, atau lupa caranya.
Raka mendekat, duduk di sampingnya. Dia meletakkan tangan
di bahu pria itu.
"Aku Raka. Ini Joko, ini Pras, ini Pak RW. Kami akan
bantu kamu. Kamu nggak akan sendirian lagi."
Pria itu menatap Raka dengan mata basah. "Janji?"
"Janji."
Untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, pria itu tersenyum.
Membawa pria itu keluar dari lorong ternyata tidak mudah.
Selama puluhan tahun tinggal di bawah tanah, matanya tidak tahan terhadap
cahaya matahari. Pak RW harus meminjam kacamata hitam dari salah satu warga
untuk melindungi matanya.
Pria itu juga tidak bisa berjalan normal. Kakinya kaku,
otot-ototnya lemah karena jarang bergerak. Mereka harus memapahnya
perlahan-lahan, berhenti setiap beberapa langkah.
Warga desa yang melihat mereka keluar dari rumah tua itu
gempar. Mereka berkerumun di bawah bukit, berbisik-bisik, bertanya-tanya.
"Sapa kuwi?"
"Wong apa kuwi?"
"Kok metu saka omah tua?"
Pak RW mengangkat tangan, meminta perhatian. "Warga
desa Tanah Lenyap! Iki... iki anake Pak Surya, guru sing ilang 35 taun
kepungkur. Dheweke slamet, nanging ndhelik ing ngisor lemah kabeh wektu
iki." (Ini... ini anaknya Pak Surya, guru yang hilang 35 tahun lalu. Dia
selamat, tapi bersembunyi di bawah tanah selama ini.)
Warga terperanjat. Suara gemuruh memenuhi udara. Ada yang
menangis, ada yang berteriak kaget, ada yang langsung bersujud syukur.
Pria itu—yang kemudian diketahui bernama asli Satria,
panggilan "Aria"—hanya bisa menatap bingung pada kerumunan orang.
Selama 35 tahun, dia hanya melihat dua orang: ayah dan ibunya. Sekarang,
puluhan orang asing menatapnya.
"Aria, iki desamu," kata Raka lembut. "Iki
wong-wong apik. Ora usah wedi." (Ini desamu. Ini orang-orang baik. Tidak
usah takut.)
Aria mengangguk, meskipun matanya masih menunjukkan
ketakutan.
Mereka membawanya ke rumah Pak RW, tempat yang paling aman
untuk sementara. Di sana, Aria dimandikan (untuk pertama kalinya dalam 35 tahun
dengan air hangat), dipotong rambut dan jenggotnya yang panjang, dan diberi
pakaian bersih.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, semua orang terkesiap.
Tanpa jenggot dan rambut gondrong, wajah Aria sangat mirip dengan Pak Surya.
Hidung mancung, mata tajam, bentuk wajah yang sama persis.
"Dheweke... dheweke persis kaya Pak Surya," bisik
salah satu warga yang datang menjenguk.
Aria duduk di kursi, menerima semangkuk bubur hangat.
Tangannya gemetar saat memegang sendok—mungkin karena pertama kali memegang
sendok dalam 35 tahun, atau karena emosi.
"Aria, kowe isih kelingan apa wae bab wong
tuwamu?" tanya Pak RW hati-hati. (Kamu masih ingat apa pun tentang orang
tuamu?)
Aria mengunyah perlahan. Matanya menerawang.
"Ayah... suka ngajar. Ibu... suka masak. Mereka...
sayang aku." Dia berhenti, air matanya jatuh. "Malam itu... Ayah
bilang... tunggu. Dia... mau ambil kamera. Ibu... ikut. Mereka... tidak
kembali."
"Apa kowe krungu swara apa wae wektu kuwi?" (Apa
kamu dengar suara apa pun waktu itu?)
Aria mengangguk. "Suara... ribut. Orang marah. Ayah...
teriak. Ibu... menangis. Lalu... diam. Aku... takut. Aku... sembunyi. Tidak
berani... keluar."
"Suara sapa kuwi? Kowe kenal?" (Suara siapa itu?
Kamu kenal?)
"Tidak... tidak kenal. Tapi... satu suara... sering
dengar. Di desa... orang panggil... 'Pak Lurah'."
Semua yang hadir di ruangan itu tersentak. Pak Lurah. Jadi
benar, Pak Lurah ada di lokasi kejadian malam itu.
Pak RW menghela napas panjang. "Iki bukti liyane. Aria
kudu menehi kesaksian nang pengadilan." (Ini bukti lain. Aria harus
memberi kesaksian di pengadilan.)
Tapi Aria menggeleng ketakutan. "Tidak... tidak mau
keluar. Orang jahat... masih ada. Mereka... bunuh aku."
Raka memegang tangan Aria. "Aria, orang jahat itu
sudah ditangkap. Mereka di penjara. Tidak bisa ke sini. Kamu aman."
"Yakin?"
"Yakin. Aku janji."
Aria menatap Raka lama. Lalu perlahan, dia mengangguk.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, Aria tidur
di tempat tidur yang empuk, dengan selimut hangat, dan ditemani orang-orang
yang peduli padanya.
Tapi di tengah malam, Raka terbangun oleh suara pintu
kamarnya yang berderit pelan. Dia membuka mata dan melihat Aria berdiri di
ambang pintu, menatapnya dengan mata kosong.
"Raka," bisik Aria. "Ada... orang... di
luar. Mengawasi."
Raka langsung bangkit. Dia melongok ke jendela. Di luar, di
bawah pohon mangga di halaman Pak RW, dia melihat bayangan hitam berdiri
mematung.
Bayangan yang sama dengan yang dilihatnya malam itu.
Bayangan yang mengawasi mereka dari balik pepohonan.
Tapi kalau Aria ada di sini... siapa bayangan itu?
Raka tidak berani keluar sendirian. Dia membangunkan Pak
RW, yang langsung bangun dengan refleks polisi.
"Ana apa?" tanya Pak RW, matanya langsung
waspada.
"Ada orang di luar, Pak. Di bawah pohon mangga."
Pak RW mengambil senter dan pistol—koleksi pribadinya dari
masa dinas dulu. Dia membuka pintu pelan-pelan dan menyorotkan senter ke arah
pohon mangga.
Tidak ada siapa-siapa.
"Kowe yakin weruh?" tanya Pak RW.
Raka mengangguk yakin. "Yakin, Pak. Aria juga
lihat."
Pak RW memeriksa sekeliling rumah. Tidak ada jejak kaki,
tidak ada tanda-tanda keberadaan orang. Tapi di bawah pohon mangga, dia
menemukan sesuatu: selembar kertas yang ditusuk ranting.
Dia mengambilnya dan membaca di bawah cahaya senter.
"Kalian sudah menemukannya. Tapi jangan berpikir ini
sudah berakhir. Masih ada yang harus kalian ketahui. Datanglah ke rumah tua
besok malam. Sendirian. Atau kalian akan menyesal."
Tidak ada tanda tangan. Hanya tulisan tangan dengan huruf
kapal yang aneh.
Pak RW mengerutkan dahi. "Iki... peringatan? Atau
undangan?"
Raka membaca surat itu. Pikirannya bekerja cepat. Siapa
yang menulis ini? Apakah kaki tangan Pak Lurah yang belum tertangkap? Atau...
ada orang lain yang terlibat dalam misteri ini?
"Pak, kita harus pergi besok malam." Pak RW
menggeleng. "Ora. Iki mbebayani. Bisa jebakan." (Tidak. Ini
berbahaya. Bisa jebakan.) "Tapi kalau tidak, mereka bisa celakain kita.
Lihat, mereka tahu kita di sini. Mereka tahu Aria ada di sini."
Pak RW diam. Raka benar. Orang itu tahu persis di mana
mereka berada. Mungkin dia mengawasi dari jauh. Mungkin dia salah satu warga
desa yang selama ini pura-pura tidak tahu.
"Kita kudu lapor polisi," kata Pak RW akhirnya.
"Polisi? Pak, ini desa. Polisi di kota jauh. Sementara
kita, malam ini juga mungkin diserang."
Pak RW menghela napas. Dia tahu Raka benar. Polisi tidak
akan bisa datang cepat. Sementara ancaman ini nyata dan dekat.
"Kita kudu ati-ati. Yen arep menyang kono, aja
dhewekan. Aku melu." (Kita harus hati-hati. Kalau mau ke sana, jangan
sendirian. Aku ikut.)
Pagi harinya, mereka mengadakan pertemuan kecil. Joko,
Pras, Pak RW, Raka, dan Aria (yang sekarang sudah lebih tenang setelah
sarapan). Raka menunjukkan surat itu.
"Ini ancaman atau undangan, kita tidak tahu. Tapi kita
harus pergi. Siapa pun yang menulis ini, dia tahu sesuatu. Mungkin dia punya
informasi yang belum kita ketahui."
"Aku melu," kata Joko tegas. Kali ini tidak ada
keraguan di matanya.
"Aku juga," sambung Pras.
Pak RW mengangguk. "Aku uga. Nanging Aria kudu nang
kene. Dijaga." (Aku juga. Tapi Aria harus di sini. Dijaga.)
Aria menggeleng. "Aku... ikut. Aku... tidak mau...
ditinggal."
Raka memandang Aria. Di matanya, dia melihat ketakutan yang
dalam—ketakutan akan ditinggal lagi, seperti ayah dan ibunya dulu.
"Aria, ini bisa berbahaya."
"Aku... sudah 35 tahun... di tempat berbahaya. Aku...
bisa jaga diri."
Pak RW menghela napas. "Wis, melu wae. Nanging kowe
kudu manut omonganku." (Sudah, ikut saja. Tapi kamu harus ikut kataku.)
Aria mengangguk.
Malam itu, tepat pukul 9, mereka berangkat menuju rumah
tua. Bulan bersinar terang, tapi awan tebal sesekali menutupinya, membuat
suasana berganti-ganti antara terang dan gelap.
Rumah tua itu terlihat menyeramkan di bawah sinar bulan.
Jendela-jendelanya seperti mata kosong yang menatap mereka. Angin malam
berhembus, membuat dedaunan bergemerisik seperti bisikan.
Mereka masuk melalui pintu depan. Rumah itu sama seperti
biasa—gelap, berdebu, sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Cahaya.
Dari lantai atas, cahaya lampu minyak berkedip-kedip.
"Ana wong," bisik Joko. (Ada orang.)
Perlahan, mereka naik tangga. Tangga kayu tua itu berderit
di setiap langkah. Raka bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Di
belakangnya, Aria memegang erat bajunya.
Sesampainya di lantai atas, mereka melihat pintu kamar
terbuka setengah. Cahaya datang dari dalam.
Pak RW melangkah maju, pistol di tangan. Dia mendorong
pintu pelan-pelan.
Di dalam kamar, duduk seorang pria tua di kursi. Pria itu
sangat tua, mungkin umur 80-an, dengan rambut putih tipis dan kulit keriput. Di
tangannya, dia memegang lampu minyak. Di pangkuannya, sebuah buku tua.
"Wis suwé ora ketemu, Mulyono," kata pria tua itu
dengan suara serak. (Lama tidak bertemu, Mulyono.)
Pak RW tertegun. Matanya membelalak. "Pak... Pak
Karta?"
Raka terkesiap. Pak Karta? Itu nama Pak Lurah yang ditahan.
Tapi pria ini terlalu tua untuk menjadi Pak Lurah.
Pria tua itu tersenyum getir. "Ora. Aku dudu Karta.
Aku... sedulure Karta. Kembarane." (Bukan. Aku bukan Karta. Aku...
saudaranya Karta. Kembarannya.)
Semua orang terperanjat. Kembaran? Pak Lurah punya saudara
kembar?
"Jenengku Karman. Sedulur kembar Karta. Nanging wong
kene ora ana sing ngerti anane aku." (Namaku Karman. Saudara kembar Karta.
Tapi orang sini tidak ada yang tahu keberadaan aku.)
"Lho kok iso?" tanya Pak RW tidak percaya. (Kok
bisa?)
Karman menarik napas panjang. "Cerita iki dawa.
Lungguha. Tak critakke kabeh." (Cerita ini panjang. Duduklah. Aku
ceritakan semua.)
Mereka duduk di lantai kamar yang berdebu, mengelilingi
Karman. Aria duduk paling dekat, matanya menatap pria tua itu dengan rasa ingin
tahu. "Aku lan Karta lair neng desa iki 75 taun kepungkur. Bapak ibu kita
wong miskin. Nalika umur 5 taun, ana wong sugih saka kutha arep ngadopsi salah
siji saka kita. Wong kuwi milih Karta. Aku ditinggal." (Aku dan Karta
lahir di desa ini 75 tahun lalu. Bapak ibu kita orang miskin. Ketika umur 5
tahun, ada orang kaya dari kota mau mengadopsi salah satu dari kita. Orang itu
memilih Karta. Aku ditinggal.)
"Karta urip nang kutha, sekolah dhuwur, dadi wong
pinter. Aku urip nang kene, dadi wong cilik. Nanging nalika umur 25 taun, Karta
bali. Dheweke wis dadi pengusaha. Ngajak aku melu bisnise." (Karta hidup
di kota, sekolah tinggi, jadi orang pintar. Aku hidup di sini, jadi orang
kecil. Tapi ketika umur 25 tahun, Karta kembali. Dia sudah jadi pengusaha. Ajak
aku ikut bisnisnya.)
"Bisnis apa?" tanya Raka.
Karman tersenyum pahit. "Bisnis peteng. Mbeli tanah
wong kanthi murah, banjur didol karo pengembang. Aku melu. Aku dipercaya dadi
wong sing... ngurus masalah." (Bisnis gelap. Membeli tanah orang dengan
murah, lalu dijual ke pengembang. Aku ikut. Aku dipercaya jadi orang yang... mengurus
masalah.)
"Maksud Pak, mengurus masalah?"
"Wong-wong sing nglawan. Wong-wong sing ora gelem
didol tanahe. Wong-wong sing ngerti rahasia kita. Kayata... Pak Surya."
Nama Pak Surya membuat semua orang tegang. Aria gemetar.
"Kowe... kowe sing mateni bapakku?" tanya Aria,
suaranya bergetar.
Karman menunduk. "Ora dhewekan. Aku, Karta, Darman,
Suroto. Wektu kuwi aku isih kuwat. Dadi eksekutor." (Tidak sendiri. Aku,
Karta, Darman, Suroto. Waktu itu aku masih kuat. Jadi eksekutor.)
Aria bangkit, matanya merah. Tangannya mengepal. Raka cepat
memegangnya.
"Aria, tenang. Dengerin dulu."
Karman meneteskan air mata. "Aku ngerti, kowe nesu.
Kowe bener nesu. Aku wis nglakoni dosa gedhe. Nanging saiki, awakku wis tuwa,
arep mati. Aku pengin ngakoni kabeh sadurunge mati."
"Terus, kenapa baru ngaku sekarang?" tanya Raka.
"Amarga... aku weruh kowe nemokake Aria. Aku weruh
kowe mbongkar rahasia iki. Aku rumangsa, iki tandane wektuku wis entek."
(Karena... aku lihat kamu menemukan Aria. Aku lihat kamu membongkar rahasia
ini. Aku merasa, ini tandanya waktuku sudah habis.)
"Pak Karman, di mana Bapak selama ini tinggal?"
tanya Pras. Karman menunjuk ke lantai. "Nang ngisor. Nang lorong liyane.
Sing ora mbok temokake. Aku wis manggon nang kono wiwit... wiwit kedadean kuwi.
Wedi metu, wedi ditangkep." (Di bawah. Di lorong lain. Yang tidak kalian
temukan. Aku sudah tinggal di sana sejak... sejak kejadian itu. Takut keluar,
takut ditangkap.)
Jadi itu penjelasannya. Cahaya yang mereka lihat selama
ini—itu Karman. Sosok bermata merah—mungkin efek kurang tidur atau sakit—juga
Karman. Yang membakar sampah dan meninggalkan buku harian—Karman. Yang
mengawasi mereka dari balik pepohonan—Karman.
"Pak Karman, kenapa Bapak tinggalkan buku harian Pak
Surya di tumpukan sampah?" tanya Raka.
Karman tersenyum tipis. "Amarga aku pengin kowe
nemokake. Aku wis tuwa, ora bisa turu, mung mikir dosa-dosaku. Aku pengin
rahasia iki bongkar, nanging aku ora wani metu. Dadi, tak incer kowe. Bocah
anyar sing penasaran. Tak dongkrak rasa penasarammu, tak tuntun kowe nemokake
bukti-bukti." (Karena aku ingin kalian menemukan. Aku sudah tua, tidak
bisa tidur, hanya memikirkan dosa-dosaku. Aku ingin rahasia ini terbongkar,
tapi aku tidak berani keluar. Jadi, aku incar kamu. Anak baru yang penasaran.
Kupancing rasa penasarannya, kutuntun kamu menemukan bukti-bukti.)
Raka merasa merinding. Jadi selama ini, mereka
dimanipulasi. Tapi manipulasi yang akhirnya membawa kebaikan.
"Saiki, aku arep nyerah," kata Karman. "Nang
polisi. Nanging sadurunge kuwi, aku arep njaluk ngapura marang kowe, Aria.
Anakke Pak Surya." (Sekarang, aku mau menyerah. Ke polisi. Tapi sebelum
itu, aku mau minta maaf padamu, Aria. Anaknya Pak Surya.)
Karman berlutut di depan Aria, meskipun dengan susah payah
karena usianya. Dia menunduk, menangis.
"Ngapura... ngapura aku, Le. Aku sing mateni bapak
ibumu. Aku sing nggawe kowe urip dhewekan 35 taun. Aku elek. Aku jahat. Nanging
saiki, aku pengin mertobat. Ngapura aku, yen bisa." (Maafkan... maafkan
aku, Nak. Aku yang membunuh ayah ibumu. Aku yang membuatmu hidup sendirian 35
tahun. Aku jahat. Aku buruk. Tapi sekarang, aku ingin bertobat. Maafkan aku,
kalau bisa.)
Aria menatap Karman lama. Air matanya mengalir. Tangannya
gemetar.
"Bapak... ibuku... mereka... baik. Mereka... sayang
aku. Mereka... tidak pantas... mati."
"Ya, Le. Ora pantes. Kabeh salahku." (Ya, Nak.
Tidak pantas. Semua salahku.)
Aria diam lama. Lalu, perlahan, dia mengulurkan tangan dan
menyentuh kepala Karman.
"Aku... maafkan. Tapi... Tuhan... yang tentukan...
dosamu."
Karman menangis tersedu-sedu. Semua orang di ruangan itu
menangis. Bahkan Pak RW, pensiunan polisi yang sudah banyak melihat kejahatan,
ikut meneteskan air mata.
Malam itu, mereka turun dari rumah tua dengan membawa
Karman. Dia berjalan tertatih, ditopang oleh Raka dan Joko. Di bawah bukit,
polisi sudah menunggu—dipanggil Pak RW lewat telepon seluler.
Saat Karman masuk ke mobil polisi, dia menoleh ke arah
mereka.
"Matur nuwun, bocah-bocah. Saiki, aku iso mati kanthi
tenang." (Terima kasih, anak-anak. Sekarang, aku bisa mati dengan tenang.)
Mobil polisi melaju, membawa Karman ke kota. Meninggalkan
Raka, Joko, Pras, Aria, dan Pak RW di pinggir jalan, di bawah sinar bulan yang
kini bersinar terang tanpa awan.
Rahasia rumah tua di ujung desa akhirnya terungkap
sepenuhnya.
Seminggu kemudian, suasana desa kembali tenang. Karman,
bersama Karta, Darman, dan Suroto, menjalani proses hukum di kota. Berita
tentang pengakuan mereka menjadi headline di koran-koran lokal. Wartawan
berdatangan, mewawancarai siapa pun yang mau bicara.
Tapi Raka dan kawan-kawan memilih untuk tidak banyak bicara
pada wartawan. Mereka cukup terkenal di sekolah, dan itu sudah lebih dari
cukup.
Aria mulai beradaptasi dengan kehidupan normal. Dia tinggal
sementara di rumah Pak RW, belajar berbicara dengan benar, belajar makan dengan
sendok dan garpu, belajar berjalan tanpa terhuyung-huyung. Dokter dari kota
datang memeriksanya dan mengatakan bahwa secara fisik dia sehat, hanya perlu
terapi untuk mengatasi traumanya.
Suatu sore, ketika mereka bertiga (Raka, Joko, Pras)
berkunjung ke rumah Pak RW, Aria menunjukkan sesuatu pada mereka.
"Aku... ingat sesuatu," katanya, bicaranya sudah
jauh lebih baik setelah seminggu latihan. "Di dinding... lorong... ada
gambar. Gambar yang... Ayah buat. Mungkin... penting."
"Gambar apa?" tanya Raka.
"Aku... tidak tahu. Tapi Ayah bilang... 'Nak, kalau
Ayah tidak kembali... lihat gambar ini. Gambar ini... kunci.'"
Mereka saling pandang. Selama ini mereka fokus pada dokumen
dan peti besi, tidak pernah memperhatikan dinding lorong dengan teliti.
"Ayo kita lihat," kata Raka.
Mereka kembali ke rumah tua. Sekarang rumah itu tidak lagi
terasa menyeramkan. Warga sudah mulai membersihkan halamannya, berencana
menjadikannya museum desa atau perpustakaan.
Mereka turun ke lorong, dipimpin Aria yang hafal setiap
sudutnya. Aria membawa mereka melewati lorong utama, melewati percabangan,
sampai ke ruangan tempat dia tinggal selama 35 tahun.
"Di sini," katanya, menunjuk dinding.
Dinding tanah liat itu polos. Tidak ada gambar apa pun.
"Aria, yakin?" tanya Joko.
Aria mengerutkan dahi. Dia mendekati dinding, meraba-raba.
"Dulu... ada. Tapi... mungkin... tertutup."
Pak RW, yang ikut serta, mengeluarkan pisau lipatnya. Dia
mulai mengerik lapisan tanah liat di dinding. Perlahan, di bawah lapisan tipis
tanah, muncul warna.
Warna merah. Warna biru. Warna kuning.
"Masya Allah... ini lukisan," bisik Raka.
Mereka terus mengerik sampai seluruh lukisan terlihat.
Lukisan itu menggambarkan peta. Bukan peta biasa—peta dengan simbol-simbol
aneh, garis-garis yang saling berpotongan, dan di tengahnya, sebuah lingkaran
merah besar.
"Ini... ini peta harta karun?" tebak Joko.
Pak RW menggeleng. "Bukan. Ini... ini peta desa. Tapi
desa jaman dulu. Lihat, ini sungai, ini sawah, ini bukit. Dan ini..." Dia
menunjuk lingkaran merah. "Ini rumah tua."
"Terus, tanda-tanda ini apa?" tanya Pras,
menunjuk simbol-simbol aneh di sekitar peta.
Aria mendekat, mengamati dengan saksama. "Ayah... suka
gambar. Dia bilang... simbol ini... bahasa rahasia. Dia... pelajari dari buku
tua."
"Bahasa rahasia? Apa itu?"
"Aku... tidak tahu. Tapi Ayah bilang... 'Kalau kamu
temukan ini... bawa ke orang pintar. Orang yang... mengerti sejarah.'"
Raka memotret peta itu dengan ponselnya. Dia akan mencari
tahu arti simbol-simbol ini. Mungkin ada hubungannya dengan dokumen-dokumen
yang sudah mereka serahkan ke polisi. Saat mereka hendak pergi, Raka melihat
sesuatu di sudut ruangan. Sebuah lubang kecil di dinding, tersembunyi di balik
akar pohon yang menjuntai.
"Apa itu?"
Dia mendekat dan memasukkan tangannya ke lubang itu.
Jari-jarinya menyentuh sesuatu—sebuah kotak kecil. Dia mengeluarkannya.
Kotak kayu, ukuran 10x10 cm, dengan ukiran yang sama dengan
simbol-simbol di peta.
"Ayah... punya ini," kata Aria. "Dia
bilang... ini pusaka. Dari... buyut."
Raka membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya, ada
sebuah cincin tua dengan batu merah, dan selembar kertas menguning.
Kertas itu bertuliskan:
"Kepada keturunanku yang menemukan ini. Aku,
Jayengrana, buyutmu, adalah penjaga rahasia desa. Rahasia yang lebih tua dari
desa ini sendiri. Di bawah desa ini, ada gua. Di gua itu, ada pusaka leluhur.
Cincin ini adalah kuncinya. Jagalah. Gunakan hanya untuk kebaikan."
Raka membaca surat itu berulang kali. Jadi ini belum
berakhir. Masih ada rahasia lain. Rahasia yang lebih tua. Rahasia yang mungkin
akan mengubah segalanya.
Dia menatap teman-temannya. Di mata mereka, dia melihat
pertanyaan yang sama: apa lagi yang tersembunyi di desa ini?
"Kita harus cari tahu," kata Raka tegas.
Dan petualangan baru pun dimulai.
Minggu berikutnya, mereka menghabiskan waktu untuk meneliti
simbol-simbol di peta. Pak RW mengenalkan mereka pada seorang profesor sejarah
dari universitas di kota, Prof. Hardono, yang tertarik dengan penemuan mereka.
Prof. Hardono datang ke desa dengan dua asistennya. Dia
mempelajari foto peta, cincin, dan surat dari buyut Aria. Matanya
berbinar-binar.
"Ini... ini luar biasa," katanya.
"Simbol-simbol ini adalah aksara kuno Jawa, campuran dengan aksara dari
masa pra-Hindu. Artinya, desa ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Jauh
sebelum kerajaan-kerajaan besar berdiri."
"Terus, Pak Profesor, apa arti simbol-simbol
itu?" tanya Raka. Prof. Hardono menunjukkan foto peta. "Lihat, ini
garis-garisnya membentuk pola tertentu. Ini bukan peta biasa. Ini... ini
petunjuk. Petunjuk menuju sesuatu. Dan lingkaran merah ini... ini
pusatnya."
"Pusat apa, Pak?"
"Itu yang harus kita cari. Mungkin candi, mungkin gua,
mungkin... sesuatu yang lain."
Mereka memutuskan untuk mencari berdasarkan petunjuk peta.
Prof. Hardono membawa alat pendeteksi logam dan GPS. Raka, Joko, Pras, Aria,
dan Pak RW ikut serta.
Peta menunjukkan lokasi di belakang rumah tua, sekitar 500
meter masuk ke hutan. Di sana, menurut peta, ada formasi batu tertentu yang
menjadi penanda.
Mereka berjalan melewati hutan lebat, melewati semak-semak
dan pohon-pohon besar. Aria, meskipun masih kaku jalannya, tampak bersemangat.
Ini pertama kalinya dia menjelajahi hutan di atas tanah.
"Di sini," kata Prof. Hardono, melihat GPS-nya.
"Menurut peta, di sekitar sini."
Mereka mencari. Tidak ada apa pun selain pohon dan semak.
Tapi Aria tiba-tiba berhenti di dekat sebuah pohon besar.
"Ini... pohon ini," katanya. "Ayah... pernah
tunjuk. Dia bilang... 'Ingat pohon ini. Penting.'"
Prof. Hardono mendekati pohon itu. Pohon beringin tua
dengan akar-akar besar menjuntai. Dia memeriksa akar-akarnya, lalu berteriak.
"Di sini! Ada lubang!"
Mereka berkumpul. Di balik akar-akar pohon, tersembunyi
lubang vertikal selebar satu meter. Gelap. Tidak terlihat dasarnya.
"Ini... ini goa," kata Prof. Hardono. "Goa
vertikal. Mungkin turun 10-15 meter."
Pak RW mengeluarkan tali panjang. "Kita harus
turun?"
"Kalau mau tahu apa isinya, iya."
Mereka memasang tali dengan kuat di pohon. Pak RW turun
lebih dulu, membawa senter. Beberapa menit kemudian, suaranya terdengar dari
bawah.
"Ana ruangan! Gedhe! Turun!"
Satu per satu mereka turun. Raka terakhir, dengan perasaan
campur aduk—takut, penasaran, bersemangat.
Di dasar, dia melihat ruangan yang luas. Sekitar 20x20
meter, dengan langit-langit tinggi. Dinding-dindingnya dipenuhi ukiran-ukiran
kuno—gambar dewa, binatang, tumbuhan, dan simbol-simbol yang sama dengan di
peta.
Di tengah ruangan, ada sebuah altar batu. Di atas altar,
sebuah peti batu.
"Ini... ini candi bawah tanah," bisik Prof.
Hardono, matanya berkaca-kaca. "Candi pra-Hindu. Mungkin dari abad ke-4
atau ke-5. Ini penemuan besar!"
Mereka mendekati altar. Peti batu itu tertutup rapat. Di
tutupnya, ada lubang berbentuk cincin.
Raka mengeluarkan cincin dari buyut Aria. Dengan hati-hati,
dia memasukkan cincin itu ke lubang.
Terdengar bunyi "klik". Tutup peti batu itu
terbuka.
Di dalam peti, ada benda-benda bersejarah: perhiasan emas,
keramik kuno, prasasti batu bertulis, dan sebuah mahkota kecil dari emas.
"Ini... ini pusaka kerajaan kuno," kata Prof.
Hardono. "Kerajaan yang tidak tercatat dalam sejarah. Ini akan mengubah
buku-buku sejarah!"
Aria menatap benda-benda itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah... Ayah tahu ini. Ayah... mencari ini."
Raka memegang bahu Aria. "Ayahmu pahlawan, Aria. Dia
mati karena memperjuangkan kebenaran. Dan sekarang, berkat dia, kita menemukan
ini semua. Sejarah desamu akan terkenang selamanya."
Aria tersenyum. Senyum pertama yang benar-benar tulus sejak
ditemukan.
Penemuan candi bawah tanah mengubah segalanya. Desakan
Tanah Lenyap menjadi terkenal. Arkeolog dari berbagai daerah datang. Pemerintah
menetapkan kawasan itu sebagai cagar budaya. Warga desa, yang dulu hidup dalam
ketakutan, kini hidup dalam kebanggaan.
Pak Lurah Karta dan kawan-kawan diadili dan dijatuhi
hukuman penjara. Tanah-tanah warga yang dijual ilegal dikembalikan. Keadilan,
meskipun lambat, akhirnya tiba.
Aria menjadi selebriti kecil. Kisahnya—35 tahun hidup di
bawah tanah—menarik perhatian media nasional. Dia diwawancarai, difoto,
diundang ke acara-acara TV. Tapi dia tetap rendah hati. Rumahnya sekarang di
samping rumah Pak RW, yang dirawat dengan baik oleh warga desa.
Raka, Joko, dan Pras menjadi sahabat sejati. Mereka melalui
petualangan yang mengubah hidup mereka. Raka memutuskan untuk tinggal di desa
selamanya. Jakarta tidak lagi menarik baginya. Di sini, dia punya teman, punya
keluarga baru, punya cerita yang tidak akan pernah dia lupakan. Suatu malam,
ketika mereka bertiga duduk di teras rumah Pak RW, melihat bulan purnama, Raka
teringat sesuatu.
"Jok, Pras, kalian ingat cahaya di rumah tua? Yang
dulu kita lihat pertama kali?"
Joko mengangguk. "Iya. Terus?"
"Sekarang, setelah semua ini... menurut kalian, cahaya
itu apa?"
Mereka diam berpikir. Pras angkat bicara. "Mungkin...
Karman. Yang jaga rumah tua."
"Tapi Karman tinggal di lorong lain. Cahaya itu di
jendela atas."
Aria, yang ikut duduk di teras, berkata pelan,
"Mungkin... Ayah. Atau Ibu. Mereka... menjaga. Menunggu... keadilan."
Raka menatap Aria. Mungkin dia benar. Mungkin arwah Pak
Surya dan Bu Rina masih menjaga rumah itu, menunggu anak mereka ditemukan,
menunggu kebenaran terungkap.
"Apa mereka... sudah tenang sekarang?" tanya
Raka.
Aria tersenyum. "Aku... merasa mereka... tenang.
Aku... tidak sedih lagi. Aku... punya kalian. Punya... keluarga baru."
Raka tersenyum. Dia merasakan hal yang sama. Desa Tanah
Lenyap, yang dulu terasa asing dan menyeramkan, sekarang terasa seperti rumah.
Tiba-tiba, Joko menunjuk ke arah bukit. "Lihat!"
Di jendela atas rumah tua, cahaya kecil berkedip-kedip.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Lalu padam.
Untuk selamanya.
Mereka terdiam, merasakan sesuatu yang hangat di hati.
Seperti perpisahan. Seperti ucapan terima kasih. Seperti... kedamaian.
Beberapa minggu kemudian, saat membersihkan rumah tua untuk
persiapan museum, Raka menemukan sesuatu yang tersembunyi di balik lemari di
kamar tidur utama. Sebuah kotak kayu kecil, sama seperti yang ditemukan di
lorong, tapi ukurannya lebih kecil.
Dia membuka kotak itu. Di dalamnya, ada buku harian lain.
Bukan milik Pak Surya, tapi milik Bu Rina.
Raka membacanya dengan perasaan campur aduk.
"1 September 1985. Surya semakin gelisah. Dia terus
memikirkan rumah tua itu. Aku takut. Tapi aku tidak bisa melarangnya. Dia guru
yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Dia hanya ingin keadilan."
"5 September 1985. Aku bermimpi buruk. Mimpi tentang
Aria, anak kami, menangis sendirian di tempat gelap. Aku bangun dengan perasaan
tidak enak. Surya bilang itu hanya mimpi. Tapi aku tidak yakin."
"10 September 1985. Surya bilang dia hampir menemukan
sesuatu. Sesuatu yang besar. Dia bilang besok malam dia akan turun ke lorong
lagi. Aku bilang aku ikut. Aria kita titipkan pada tetangga dulu. Tapi dia
tidak mau. Dia bilang lebih aman Aria di rumah. Di lorong, tidak tahu apa yang
akan terjadi."
Halaman terakhir. "11 September 1985. Malam
ini. Surya sudah siap. Kamera, senter, buku catatan. Dia cium Aria yang sudah
tidur. Dia cium aku. Dia bilang, 'Tunggu aku. Aku akan kembali.' Aku menunggu.
Hingga sekarang... dia belum kembali. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku
takut. Tapi aku harus kuat. Untuk Aria. Untuk Surya. Untuk—"
Tulisan itu berhenti. Halaman berikutnya kosong. Tapi di
sela-sela halaman, ada selembar kertas yang dilipat rapi.
Raka membukanya.
"Jika kau menemukan ini, berarti aku sudah tiada. Aku
tidak bisa meninggalkan Aria sendirian. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan
Surya sendirian di lorong itu. Aku akan menyusulnya. Doakan kami. Dan tolong...
jaga Aria."
-Rina-
Raka meneteskan air mata. Bu Rina, setelah menunggu
suaminya tidak kembali, akhirnya memutuskan untuk turun ke lorong mencari
suaminya. Dan di sanalah dia menemui ajalnya, bersama suami yang dicintainya.
Kisah cinta yang berakhir tragis. Tapi juga kisah
pengorbanan yang luar biasa.
Raka menutup buku harian itu dan meletakkannya kembali di
kotak. Dia akan menyerahkannya pada Aria. Itu adalah warisan paling berharga
dari orang tuanya.
Pembukaan museum desa di rumah tua berlangsung meriah. Pak
Bupati datang, wartawan datang, warga desa berbondong-bondong. Rumah yang dulu
dianggap angker, kini menjadi kebanggaan. Aria diundang untuk memotong pita.
Dia tampil rapi dengan baju adat Jawa, ditemani Raka, Joko, dan Pras. Wajahnya
berseri-seri.
Di dalam museum, dipajang berbagai benda bersejarah:
foto-foto lama, dokumen-dokumen Pak Surya, buku harian, dan replika lorong
bawah tanah. Juga dipajang pusaka dari candi bawah tanah—setelah melalui proses
penelitian panjang, beberapa benda dikembalikan ke desa untuk dipamerkan.
Di dinding utama museum, ada nama-nama pahlawan desa. Di
antaranya, tertulis: Surya Pratama, Rina Wulandari, dan... Aria Pratama.
Aria menatap namanya sendiri di dinding itu. Air matanya
jatuh.
"Aku... tidak pantas," bisiknya.
"Kamu pantas," kata Raka tegas. "Kamu
berjuang dengan caramu sendiri. Kamu bertahan 35 tahun. Itu lebih dari
cukup."
Aria memeluk Raka. Semua orang yang melihat bertepuk
tangan.
Pak RW, yang berdiri di samping mereka, berkata, "Desa
iki wis suwe kelangan jeneng-jeneng apik. Saiki, jeneng-jeneng kuwi bali. Dadi
kenangan. Dadi inspirasi." (Desa ini sudah lama kehilangan nama-nama baik.
Sekarang, nama-nama itu kembali. Jadi kenangan. Jadi inspirasi.)
Di sudut ruangan, Raka melihat sebuah foto yang tidak
pernah dia lihat sebelumnya. Foto hitam putih seorang pria tua dengan kumis
tebal, duduk di teras rumah ini. Di bawah foto, tertulis: "Pemilik rumah
pertama, Jayengrana, buyut Aria, penemu candi bawah tanah."
Jadi, semuanya berawal dari Jayengrana. Dia yang pertama
kali menemukan candi, lalu mewariskan rahasianya pada keturunannya. Rahasia itu
dijaga turun-temurun, sampai akhirnya ditemukan oleh Aria dan teman-temannya.
"Raka," panggil Joko. "Ayo foto
bareng!"
Raka tersenyum. Dia bergabung dengan teman-temannya. Mereka
berfoto di depan museum, dengan latar belakang rumah tua yang sekarang terang
benderang.
Cahaya. Bukan cahaya misterius yang menakutkan, tapi cahaya
kebahagiaan.
Malam itu, setelah acara pembukaan museum usai, Raka
memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian ke rumah tua. Bukan karena ingin
mencari sesuatu, tapi hanya ingin merasakan suasana malam di tempat yang dulu
sangat menakutkan itu.
Bulan bersinar terang. Rumah tua itu terlihat indah di
bawah sinar bulan—tidak lagi menyeramkan, hanya tua dan bersejarah. Raka duduk
di teras depan, tempat dulu Pak Surya duduk malam itu, minum kopi sebelum
semuanya terjadi. Dia membayangkan bagaimana rasanya duduk di sini 35 tahun
lalu, tidak tahu bahwa malam itu akan mengubah segalanya.
Tiba-tiba, dia mendengar suara.
Suara langkah kaki di lantai atas.
Raka tersentak. Dia menengadah ke atas. Jendela lantai dua
gelap. Tapi suara itu jelas—langkah kaki, pelan, seperti orang berjalan
mondar-mandir.
Jantung Raka berdegup kencang. Apakah mungkin... masih ada
orang di sana?
Dia bangkit, masuk ke dalam rumah. Tangga tua itu berderit
di bawah kakinya. Setiap langkah terasa berat.
Sesampainya di lantai dua, dia menyusuri lorong menuju
kamar yang dulu menjadi tempat Karman duduk. Pintu kamar itu terbuka setengah.
Raka mendorong pintu.
Di dalam, tidak ada siapa-siapa. Hanya meja kursi tua, dan
di atas meja, sebuah lilin menyala.
Raka mendekati meja. Di samping lilin, ada selembar kertas.
Dia membaca:
"Terima kasih, Raka. Terima kasih telah menyelamatkan
desa ini. Terima kasih telah menemukan anakku. Kini kami bisa tenang. Jangan
khawatir, kami hanya mampir sebentar. Untuk berpamitan."
-Surya & Rina-
Raka tersenyum. Air matanya jatuh.
Dia meniup lilin itu. Lalu dia berkata pelan, "Selamat
jalan, Pak Surya, Bu Rina. Tenanglah di sisi-Nya. Aria baik-baik saja. Aku yang
akan menjaganya."
Dari luar jendela, angin malam berhembus lembut, membawa
bau bunga melati. Seperti jawaban. Seperti ucapan terima kasih.
Raka turun dari rumah itu dengan hati ringan. Dia tahu,
mulai malam ini, rumah tua di ujung desa benar-benar tidak lagi angker. Yang
ada di sana hanya kenangan—kenangan indah dan sedih, tapi juga kenangan yang
membawa kedamaian.
Di bawah bukit, Joko dan Pras sudah menunggu.
"Raka! Kok suwe?" teriak Joko.
Raka tersenyum. "Maaf, tadi mampir ngobrol sama
teman."
"Teman? Sapa?"
"Teman lama."
Joko dan Pras saling pandang, bingung. Tapi mereka tidak
bertanya lebih lanjut. Mereka hanya senang teman mereka kembali.
Mereka bertiga berjalan pulang di bawah sinar bulan,
melewati sawah-sawah yang tenang, melewati rumah-rumah penduduk yang mulai
padam lampunya.
Desa Tanah Lenyap. Desa yang dulu penuh rahasia gelap.
Kini, desa yang damai.
Dan di ujung desa, di atas bukit kecil, rumah tua itu
berdiri dengan tenang. Tidak ada lagi cahaya misterius di jendelanya. Tidak ada
lagi suara aneh di malam hari.
Yang ada hanya kenangan—kenangan yang akan diceritakan
turun-temurun, dari generasi ke generasi.
Tentang seorang guru pemberani yang mati memperjuangkan
kebenaran.
Tentang seorang istri setia yang memilih mati bersama suaminya.
Tentang seorang anak yang bertahan 35 tahun sendirian di bawah tanah.
Tentang tiga remaja pemberani yang tidak takut mencari kebenaran.
Dan tentang sebuah desa yang akhirnya terbebas dari rahasia kelamnya.
EPILOG
Desa Tanah Lenyap, 2024
Setahun telah berlalu sejak peristiwa besar itu.
Raka kini duduk di kelas 11 SMA di kota kecamatan, bersama
Joko dan Pras. Mereka naik bis setiap pagi, pulang setiap sore. Persahabatan
mereka semakin erat.
Aria telah menjadi pemandu wisata di museum desa. Dia
bercerita pada pengunjung tentang sejarah rumah tua, tentang orang tuanya,
tentang 35 tahun hidup di bawah tanah. Kisahnya menyentuh hati ribuan orang.
Dia juga mulai menulis buku tentang pengalamannya, dibantu oleh seorang penulis
profesional dari Jakarta.
Pak RW masih sehat dan aktif. Dia menjadi penasihat desa,
sering dimintai pendapat oleh Pak Lurah yang baru—Pak Mulyono, yang terpilih
secara aklamasi setelah Pak Karta dipenjara.
Museum desa ramai dikunjungi wisatawan. Candi bawah tanah
juga telah dibuka untuk umum, dengan pengamanan ketat. Arkeolog masih bekerja
di sana, menemukan lebih banyak artefak.
Dan rumah tua di ujung desa? Rumah itu kini menjadi ikon
desa. Setiap malam, lampu-lampu dipasang di sekelilingnya, membuatnya terlihat
indah dari kejauhan. Warga desa bangga dengan rumah itu. Tidak ada lagi yang
takut.
Suatu malam, Raka duduk di teras rumah neneknya, menatap
rumah tua yang bercahaya. Neneknya duduk di sampingnya, seperti dulu.
"Nek, Nek masih ingat dulu Nek bilang, Nek pernah
lihat sesuatu di rumah tua itu?"
Neneknya tersenyum. "Iya, Le."
"Sekarang, Nek sudah tahu apa yang Nek lihat
dulu?"
Neneknya mengangguk pelan. "Saiki aku ngerti. Sing tak
delok dudu memedi. Kuwi... kuwi Pak Surya. Sing nunggu anake." (Sekarang
aku tahu. Yang aku lihat bukan hantu. Itu... itu Pak Surya. Yang menunggu
anaknya.)
"Menurut Nek, sekarang mereka sudah tenang?"
Neneknya memandang rumah tua itu lama. Lalu dia tersenyum.
"Wis, Le. Wis tenang kabeh." (Sudah, Nak. Sudah
tenang semua.)
Raka tersenyum. Dia merasa hal yang sama.
Dari kejauhan, rumah tua itu bersinar terang. Bukan cahaya
misterius seperti dulu, tapi cahaya lampu listrik yang dipasang warga. Cahaya
yang ramah. Cahaya yang menyambut.
Rahasia rumah tua di ujung desa akhirnya terungkap.
Dan desa Tanah Lenyap, akhirnya, tidak lagi lenyap dari
ingatan.
Sebab kenangan akan terus hidup.
Sebab kebenaran akan selalu menang.
Sebab persahabatan dan keberanian adalah cahaya yang tidak
akan pernah padam.
TAMAT
Terima kasih telah membaca novel "Rahasia Rumah Tua di
Ujung Desa".
Kisah ini didedikasikan untuk semua remaja pemberani yang
tidak takut mencari kebenaran, untuk persahabatan sejati yang melewati segala
rintangan, dan untuk mereka yang percaya bahwa keadilan, meskipun lambat, pasti
akan tiba.
Selalu ada cahaya di ujung kegelapan. Selalu ada harapan di
balik ketakutan. Percayalah.
CATATAN PENULIS
Novel ini terinspirasi dari cerita-cerita rakyat tentang
rumah angker di berbagai desa di Indonesia. Banyak dari cerita itu ternyata
menyimpan rahasia kelam tentang ketidakadilan, korupsi, dan kejahatan yang
ditutup-tutupi. Melalui tokoh Raka, Joko, Pras, dan Aria, penulis ingin
menyampaikan pesan bahwa kebenaran, meskipun terkubur puluhan tahun, pada
akhirnya akan terungkap. Dan generasi mudalah yang sering menjadi ujung tombak
perubahan.
Selamat membaca, dan semoga terinspirasi.







0 komentar:
Posting Komentar