DETEKTIF CILIK BOJONG SARI
Serial Misteri Kancil Bukit Manoreh
EPISODE 12: JEJAK DI TEBING CEMARA
Oleh: Slamet Riyadi
Pagi itu, Bejo berlari tergesa-gesa menuju markas. Wajahnya
merah, napasnya tersengal-sengal. Di tangannya, ia membawa sesuatu yang
dibungkus daun pisang.
Raka dan Wati sudah menunggu di markas. Mereka sedang
menyusun jadwal ronda mingguan untuk memeriksa bak-bak air.
"Jo, lo kenapa? Keliatan buru-buru banget?" tanya
Wati.
"Ra... Ti... aku... aku nemu... sesuatu..." Bejo
terengah-engah.
"Jo, napas dulu. Baru ngomong."
Bejo duduk, menarik napas panjang beberapa kali. Lalu
membuka bungkusan daun pisangnya.
Di dalamnya ada... sehelai bulu. Besar. Jauh lebih besar
dari bulu kancil. Warnanya cokelat tua dengan corak hitam di ujungnya.
"Ini bulu apa?" tanya Raka sambil mengambil dan
mengamatinya.
"Aku nemu di pinggir hutan, dekat tebing cemara. Pas
aku mau cari kayu bakar sama bapak."
"Tebing Cemara? Itu kan daerah yang jarang dimasukin
orang."
"Iya. Makanya aku curiga."
Raka mengamati bulu itu dengan saksama. Ia membandingkan
dengan buku panduan satwa yang selalu ia bawa. Matanya membelalak.
"Ini... ini bulu harimau!"
"HARIMAU?!" Wati dan Bejo berteriak bersamaan.
"Ssst! Jangan keras-keras!"
"Tapi Ra, di sini nggak ada harimau. Nggak pernah ada
cerita harimau di Hutan Manoreh."
"Itu yang bikin aneh. Harimau jawa kan hampir punah.
Mungkin ini harimau liar yang kabur dari kebun binatang? Atau... ada yang
sengaja lepasin?"
Tim Penyelidik Cilik memutuskan untuk segera melapor ke
Mbah Kromo. Siapa lagi yang lebih tahu tentang hewan-hewan di Hutan Manoreh
selain Mbah Kromo? Meski usianya sudah 91 tahun, ingatannya masih tajam.
Mereka bertiga berjalan menuju rumah Mbah Kromo. Rumah tua
itu tampak sepi. Mbah Kromo sedang duduk di teras, memandangi langit seperti
biasa.
"Mbah, maaf mengganggu," sapa Raka.
"O, cah bagus-bagus. Pada tumbuh gede ya. Mbah udah
kangen sama kalian."
Kai, Wati, dan Bejo tersenyum. Setahun berlalu, mereka
memang sudah lebih besar. Bejo bahkan sudah tidak segembul dulu, badannya mulai
tinggi menjangkung.
"Mbah, kami nemu ini." Raka menunjukkan bulu
harimau itu.
Mbah Kromo mengambil bulu itu, mendekatkannya ke mata.
Matanya yang rabun menyipit. Wajahnya berubah serius.
"Ini... ini bulu harimau. Harimau jawa."
"Tapi Mbah, katanya harimau jawa udah punah?"
Mbah Kromo diam lama. Matanya menerawang, seperti mengenang
masa lalu.
"Dulu, waktu Mbah masih kecil, ada harimau di hutan
ini. Tapi sudah lama sekali. Sekitar 70 tahun lalu. Terakhir dilihat, terus
hilang. Orang-orang bilang sudah punah."
"Terus ini?"
"Ini artinya... mungkin harimau itu tidak punah.
Mungkin dia bersembunyi. Atau mungkin... ini keturunannya."
Mbah Kromo kemudian bercerita panjang lebar. Tentang
Harimau Putih, legenda penjaga hutan yang konon berwujud harimau raksasa.
Tentang larangan leluhur untuk tidak masuk ke wilayah tertentu di hutan.
Tentang tanda-tanda yang muncul sebelum harimau itu muncul.
"Kalau kalian nemu bulu ini, berarti harimau itu sudah
keluar dari persembunyiannya. Dan itu bisa berbahaya."
Berita tentang temuan bulu harimau menyebar cepat di
kalangan warga. Dalam hitungan jam, semua orang sudah membicarakannya.
Di warung RASA, diskusi memanas.
"Harimau? Masa sih? Di sini nggak pernah ada
harimau."
"Ini bulu asli. Mbah Kromo aja yang bilang."
"Kalau bener ada harimau, kita harus hati-hati. Hewan
itu bisa makan manusia."
"Jangan-jangan itu harimau jadi-jadian. Genderuwo yang
menjelma."
"Ah, Mbah Joyo lagi-lagi mistis."
"Mistis atau tidak, kita harus waspada."
Pak Kades segera mengadakan rapat darurat. Warga berkumpul
di balai desa, wajah-wajah tegang menghadapi kemungkinan baru.
Pak Kades membuka rapat. "Saudara-saudara, kita
dihadapkan pada kemungkinan adanya harimau di hutan kita. Ini serius. Kita harus
mencari tahu kebenarannya."
"Caranya, Pak?" tanya seseorang.
"Kita adakan ekspedisi. Cari jejak harimau itu.
Pastikan apakah benar ada atau tidak."
"Siapa yang berani masuk hutan kalau ada
harimau?"
Semua orang diam. Takut. Wajar, harimau adalah predator
puncak. Bisa membunuh manusia.
Raka, Wati, dan Bejo saling pandang. Lalu Raka berdiri.
"Pak Kades, biar kami yang cari."
Semua orang menoleh. "Kalian? Anak-anak?"
"Kami yang paling tahu hutan. Kami sudah setahun lebih
menjelajahinya. Kami tahu setiap sudut. Kalau ada jejak harimau, kami yang
paling mungkin menemukannya."
Pak Tani berdiri. "Aku ikut. Nggak mungkin anakku
sendirian."
"Aku juga," sambung Pak Carik.
"Aku juga," Guntur angkat bicara.
Beberapa pemuda lain juga menyatakan siap. Akhirnya terbentuk
tim ekspedisi: Tim Penyelidik Cilik, Pak Tani, Pak Carik, Guntur, Heri, Budi,
dan beberapa pemuda lainnya.
Keesokan paginya, tim ekspedisi berangkat. Mereka membawa
perlengkapan lengkap: golok, tali, senter, kamera, dan bekal makanan. Bejo
memimpin jalan menuju lokasi ia menemukan bulu itu.
Tebing Cemara berada di bagian utara hutan, daerah yang
jarang dikunjungi. Medannya berat, berbukit-bukit, dengan tebing-tebing curam
yang ditumbuhi pohon cemara. Namanya memang Tebing Cemara, meski pohon cemaranya
sudah tidak sebanyak dulu.
"Ini tempatnya," kata Bejo sambil menunjuk.
Mereka berada di kaki tebing. Tanah di sini lembab, banyak
batu besar berserakan. Bejo menunjukkan titik tepat di mana ia menemukan bulu
itu.
Raka mulai mengamati sekeliling. Matanya yang awas mencari
petunjuk. Dan ia menemukannya.
Di tanah yang lembab, tercetak jelas sebuah jejak kaki.
Besar. Jauh lebih besar dari jejak kancil atau babi hutan. Empat jari dengan
cakar yang jelas. Dan tumit yang lebar.
"Ini... ini jejak harimau!" seru Raka.
Semua orang berkumpul. Mereka mengamati jejak itu dengan
takjub bercampur takut.
"Ini masih baru," kata Pak Tani. "Mungkin
semalam lewat sini."
"Berarti harimau itu benar-benar ada."
Keringat dingin membasahi punggung mereka. Harimau beneran
ada di hutan ini. Dan mereka sedang berada di wilayahnya.
"Kita harus ikuti jejaknya," kata Raka.
"Ra, itu berbahaya," protes Pak Tani.
"Aku tahu, Yah. Tapi kalau nggak kita ikuti, kita
nggak akan tahu ke mana dia pergi. Kita harus tahu wilayah jelajahnya. Biar kita
bisa antisipasi."
Pak Tani ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Baik. Tapi
kita harus sangat hati-hati. Jangan sampai terlalu dekat. Cukup ikuti dari
kejauhan."
Mereka mulai mengikuti jejak harimau itu. Jejaknya
terputus-putus, kadang hilang di tanah keras, kadang muncul lagi di tanah
lembab. Tim Penyelidik Cilik yang paling jago melacak, memimpin di depan.
Jejak itu menuju ke arah dalam hutan, melewati sungai
kecil, naik ke bukit, lalu turun lagi. Semakin jauh, semakin dalam.
Setelah berjalan hampir dua jam, mereka sampai di sebuah
tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Sebuah gua besar di balik
air terjun kecil. Air terjun itu masih mengalir, membentuk tirai air di mulut
gua.
"Jejaknya masuk ke gua itu," bisik Raka.
"Ini... ini sarangnya."
Mereka semua diam. Jantung berdebar kencang. Di dalam gua
itu, mungkin harimau sedang tidur. Atau sedang menunggu mangsa.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Guntur
berbisik.
Raka berpikir keras. Masuk ke gua terlalu berbahaya. Tapi
pulang tanpa informasi juga tidak memuaskan. Mereka perlu tahu kondisi di
dalam.
"Aku punya ide," katanya. "Kita pasang
kamera jebak. Di mulut gua. Biar kamera yang merekam kalau harimau itu
keluar."
"Kamera jebak? Punya kita?"
"Nggak punya. Tapi Pak Kades punya. Dulu waktu ada
proyek konservasi, beliau dapat pinjaman kamera jebak dari Dinas Kehutanan.
Mungkin masih bisa dipakai."
"Setuju. Kita pulang dulu, ambil kamera, besok
pasang."
Mereka mundur perlahan, menjauhi gua. Sepanjang perjalanan
pulang, mereka tak banyak bicara. Pikiran mereka dipenuhi oleh satu hal:
harimau di Hutan Manoreh.
Kembali di desa, Raka segera melapor ke Pak Kades. Pak
Kades setuju dengan rencana pemasangan kamera jebak. Ia mengambil kamera itu
dari gudang—masih bagus, meski sudah setahun tidak dipakai.
"Ini cara kerjanya," jelas Pak Kades.
"Sensor gerak. Kalau ada hewan lewat, otomatis kamera akan merekam. Bisa
untuk foto atau video."
Raka mempelajari cara pakainya dengan saksama. Besok, ia
dan tim akan kembali ke gua untuk memasang kamera itu.
Malam harinya, Raka sulit tidur. Ia memikirkan harimau itu.
Dari mana asalnya? Kenapa baru muncul sekarang? Apakah ia mengancam kawanan
kancil? Apakah ia mengancam warga?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya
hingga larut malam.
Pagi-pagi benar, tim ekspedisi kembali berangkat. Kali ini
tim lebih kecil: Raka, Wati, Bejo, Pak Tani, dan Guntur. Mereka membawa kamera
jebak dan perlengkapan lainnya.
Perjalanan ke gua terasa lebih cepat karena sudah tahu
jalannya. Sesampainya di sana, mereka mengamati situasi. Tidak ada tanda-tanda
harimau keluar sejak kemarin. Mungkin masih di dalam.
Raka memilih lokasi yang strategis untuk memasang kamera:
di balik batu besar, menghadap ke mulut gua. Sudutnya pas, cahaya cukup, dan
sensor bisa menangkap gerakan dari jarak cukup jauh.
"Ini kita pasang. Biarkan selama beberapa hari. Nanti
kita ambil lagi."
Mereka memasang kamera dengan hati-hati. Setelah selesai,
mereka segera meninggalkan tempat itu. Semakin cepat pergi, semakin aman.
Tiga hari berlalu. Tiga hari yang menegangkan bagi Tim
Penyelidik Cilik. Setiap saat mereka membayangkan apa yang mungkin terekam
kamera. Setiap saat mereka khawatir kalau harimau itu keluar dan mengganggu
warga atau kancil.
Kai Muda dan kawanannya tampak gelisah. Mereka lebih sering
berkumpul di tempat terbuka, jarang masuk ke dalam hutan. Seperti mereka tahu
ada bahaya mengancam.
"Kai Muda tahu," kata Raka. "Hewan punya
insting lebih tajam dari manusia."
"Kita harus cepat tahu apa isi kamera itu," kata
Wati.
Hari keempat, mereka kembali ke gua. Dengan jantung
berdebar, mereka mengambil kamera jebak. Semoga ada rekaman. Semoga tidak
rusak.
Mereka langsung pulang dan memeriksa hasil rekaman di rumah
Pak Kades.
Pak Kades menyambungkan kamera ke laptop. Semua orang
berkumpul di sekitarnya: Tim Penyelidik Cilik, Pak Tani, Pak Carik, Guntur, dan
beberapa warga lain.
Pak Kades membuka file rekaman. Ada beberapa video pendek.
Yang pertama: seekor babi hutan lewat di depan gua. Yang kedua: sekelompok
kancil—Kai Muda dan kawanannya—lewat di kejauhan. Yang ketiga: gelap, hanya
suara angin.
Lalu yang keempat...
Semua orang terkesiap.
Di layar, tampak seekor harimau besar keluar dari gua.
Tubuhnya kekar, belang-belang hitam di atas bulu oranye. Matanya tajam menyala.
Ia mengendus-endus udara, lalu berjalan perlahan meninggalkan gua.
"Itu... itu harimau beneran!" seru Guntur.
"Diam! Masih ada!"
Video berlanjut. Harimau itu berjalan ke arah sungai,
minum, lalu berbalik dan kembali ke gua. Sebelum masuk, ia menatap lurus ke
arah kamera. Matanya seperti menatap mereka yang menonton.
Semua orang merinding.
"Ini luar biasa," bisik Pak Carik. "Harimau
jawa yang dianggap punah, ternyata hidup di hutan kita."
Mbah Kromo dipanggil untuk melihat rekaman itu. Matanya
yang tua berbinar melihat harimau di layar.
"Ini dia... Harimau Putih," katanya.
"Tapi Mbah, ini harimau biasa, belang oranye. Bukan
putih."
"Putih itu bukan warna bulunya, Nak. Putih itu
julukan. Penjaga hutan. Leluhur kita menyebutnya Harimau Putih karena dia suci,
dia penjaga."
Mbah Kromo kemudian menjelaskan. Menurut cerita
turun-temurun, Harimau Putih adalah penjaga Hutan Manoreh. Ia muncul saat hutan
dalam bahaya. Ia menjaga keseimbangan alam. Dan ia tidak akan mengganggu
manusia selama manusia tidak mengganggunya.
"Mungkin dia muncul karena kemarau panjang kemarin.
Atau mungkin karena kebakaran. Hutan terganggu, dia keluar."
"Terus kita harus apa, Mbah?"
"Biarkan dia. Jangan ganggu. Jangan coba-coba
mendekat. Hormati wilayahnya. Dia akan menjaga hutan ini. Termasuk kawanan
kancil. Dia tidak akan memakan mereka semua, hanya yang sakit atau lemah. Itu
cara alam menjaga keseimbangan."
Rapat warga kembali digelar. Suasana tegang. Ada yang ingin
mengusir harimau, ada yang ingin melaporkan ke pemerintah, ada yang ingin
membiarkan saja.
Raka berdiri dan bicara. "Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya
setuju dengan Mbah Kromo. Biarkan harimau itu. Jangan ganggu. Dia tidak akan
ganggu kita selama kita tidak ganggu dia."
"Tapi kalau dia keluar hutan, masuk desa?" tanya
seseorang.
"Kita jaga. Kita tingkatkan ronda. Kita pastikan tidak
ada yang masuk ke wilayahnya. Dan kita jaga kawanan kancil. Mereka sudah punya
pemimpin baru, Kai Muda. Mereka akan waspada."
Pak Kades mengangguk. "Saya setuju. Kita jaga rahasia
ini. Jangan sebarkan ke luar desa. Kalau pemerintah tahu, mereka bisa datang
dan menangkap harimau itu. Bisa stress, bisa mati. Biarkan dia di sini, di
rumahnya."
Akhirnya, warga sepakat. Harimau Putih akan menjadi rahasia
Bojong Sari. Penjaga hutan yang tak terlihat, yang akan menjaga keseimbangan
alam dari bayang-bayang.
Raka, Wati, dan Bejo pulang dengan perasaan campur aduk.
Senang karena misteri terpecahkan. Takjub karena ada harimau di hutan mereka.
Dan sedikit takut, karena predator puncak itu nyata.
Tapi mereka juga percaya, selama mereka menjaga alam, alam
akan menjaga mereka.
Demikianlah Episode 12 dari Serial Detektif Cilik Bojong
Sari Edisi II: "Jejak di Tebing Cemara".
Misteri bulu harimau membawa Tim Penyelidik Cilik pada
penemuan mengejutkan: Harimau Putih, penjaga hutan yang dianggap punah,
ternyata masih hidup di Hutan Manoreh. Kini, Bojong Sari memiliki rahasia besar
yang harus dijaga.
Namun, tantangan baru akan segera datang. Kabar tentang
harimau mulai bocor ke desa seberang. Dan ada orang-orang yang tidak punya niat
baik.
Bersambung...
Saksikan kelanjutan petualangan Raka, Wati, Bejo, dan Kai
Muda di: Episode 13: Pemburu dari Desa Seberang
CATATAN PENULIS
Episode 12 ini membuka tabir baru dalam misteri Hutan
Manoreh. Harimau Putih, penjaga hutan legendaris, ternyata benar-benar ada. Ini
akan menjadi tantangan baru bagi Tim Penyelidik Cilik: bagaimana menjaga
rahasia ini, sekaligus melindungi keseimbangan alam yang sudah mereka bangun
dengan susah payah.
Saksikan bagaimana mereka menghadapi ancaman dari luar di
episode berikutnya!
Salam hangat dari Bojong Sari,
Slamet Riyadi






0 komentar:
Posting Komentar