DETEKTIF CILIK BOJONG SARI
Serial Misteri Kancil Bukit Manoreh
EPISODE 7: KEMARAU PANJANG DAN KEKERINGAN
Oleh: Slamet Riyadi
Matahari pagi sudah meninggi, tapi tak ada setitik awan pun
di langit Bojong Sari. Udara terasa panas dan kering, bahkan sejak jam tujuh
pagi. Debu beterbangan di setiap langkah kaki. Sawah-sawah yang biasanya hijau,
kini berubah menjadi tanah kering retak-retak.
Ini adalah bulan keempat musim kemarau. Terpanjang dalam
sejarah Bojong Sari.
Raka duduk di teras rumahnya, memandangi sawah ayahnya yang
kosong melompong. Tak ada setitik tanaman pun yang bisa tumbuh. Semua
mengering. Pak Tani sudah pasrah. Ia kini bekerja serabutan, kadang jadi buruh
bangunan, kadang mencari kayu bakar di hutan untuk dijual.
"Ra, sarapan dulu," panggil Bu Tani dari dalam.
Raka bangkit dan masuk. Di meja makan, hanya ada nasi putih
dan sambal. Tak ada lauk. Tak ada sayur. Semua sudah habis. Uang tabungan
keluarga semakin menipis.
"Maaf, Ra. Cuma ini yang ada," kata Bu Tani
dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak papa, Bu. Ini masih enak."
Raka makan dengan lahap, meski sebenarnya ia tahu ibunya
menyembunyikan kesedihan. Ia juga tahu, ibunya sering tidak makan agar jatahnya
bisa untuk Raka dan ayahnya.
Sepulang sekolah nanti, ia harus ke hutan. Bukan hanya
untuk memeriksa Kai, tapi juga untuk mencari umbi-umbian atau buah-buahan liar
yang bisa dimakan. Hidup harus terus berjalan.
Di sekolah, suasana juga berubah. Banyak teman Raka yang
tidak masuk. Bejo tidak hadir tiga hari berturut-turut. Wati hanya masuk dua
kali seminggu. Bu Guru Siti tampak lelah dan murung.
"Anak-anak," kata Bu Guru Siti di akhir
pelajaran. "Ibu tahu keadaan sedang sulit. Tapi Ibu minta kalian tetap
semangat belajar. Jangan putus sekolah. Pendidikan adalah masa depan
kalian."
Semua murid diam. Mereka tahu apa yang tidak dikatakan Bu
Guru: banyak orang tua yang sudah tidak mampu membayar SPP. Beberapa anak sudah
berhenti. Yang lain terancam putus sekolah.
Pulang sekolah, Raka mampir ke rumah Bejo. Rumah Bejo kecil
dan sederhana, berdinding anyaman bambu yang sudah bolong di beberapa tempat.
Di halaman, ibu Bejo sedang menjemur singkong.
"Bu, Bejo di mana?" tanya Raka.
"Bejo lagi tidur, Nak. Dia nggak enak badan. Kurang
gizi, mungkin."
Raka masuk ke dalam. Bejo terbaring lemah di atas dipan
bambu. Badannya yang dulu gembul, kini mulai kurus. Matanya sayu melihat Raka.
"Ra, lo dateng."
"Iya, Jo. Sakit ya?"
"Lapar aja. Tapi udah biasa."
Raka duduk di samping Bejo. Ia mengeluarkan bekal makan
siangnya—nasi dan sambal—yang tidak dimakannya tadi.
"Ini, Jo. Makan."
Bejo menatap Raka. "Lo nggak makan?"
"Aku udah kenyang. Makan aja."
Bejo menerima nasi itu dengan tangan gemetar. Ia makan
perlahan, menikmati setiap butirnya. Raka menahan tangis melihat sahabatnya
dalam kondisi seperti ini.
Dari rumah Bejo, Raka melanjutkan perjalanan ke rumah Wati.
Rumah Wati tidak jauh dari pasar. Ayah Wati adalah buruh tani yang sekarang
menganggur karena sawah-sawah kering. Ibunya jualan gorengan keliling, tapi
penghasilan sangat minim.
Wati sedang membantu ibunya membuat gorengan. Tangan
lincahnya membentuk adonan, lalu menggorengnya dalam minyak panas. Melihat Raka
datang, ia tersenyum.
"Ra, sini. Makan gorengan."
Raka duduk di samping Wati. Mereka makan gorengan
bersama—makanan mewah di masa sulit ini.
"Bejo sakit," kata Raka.
Wati berhenti mengunyah. "Parah?"
"Kurang gizi. Aku kasih bekal tadi."
Wati diam. Matanya berkaca-kaca. "Ini semua karena
kemarau. Ladang-ladang kosong. Orang tua pada nganggur. Kita semua susah."
"Tapi kita harus bertahan, Ti. Untuk Kai juga."
Wati mengangguk. "Iya. Nanti sore kita ke hutan?"
"Iya. Pastikan Kai dan kawanannya baik-baik
saja."
Sore harinya, Tim Penyelidik Cilik—hanya Raka dan Wati,
karena Bejo masih sakit—berjalan menuju hutan. Perjalanan terasa berat. Udara
panas. Debu beterbangan. Tanah di pinggir hutan retak-retak.
Memasuki hutan, pemandangan yang mereka lihat membuat hati
hancur. Pohon-pohon kecil banyak yang mati. Daun-daun berguguran di luar musim.
Tanah kering dan keras. Tak ada suara burung. Hanya keheningan yang mencekam.
Mereka menuju titik Beringin. Di sana, bak air masih ada
isinya, tapi berkurang drastis. Beberapa kancil terlihat minum, tapi dengan
susah payah. Air di bak itu keruh, karena terlalu sedikit.
Kai datang menyambut mereka. Ia berjalan pelan, tampak
lelah. Bulunya kusam. Matanya sayu.
"Kai," bisik Raka sambil mengelus kepala Kai.
"Kamu kurus sekali."
Kai menjilat tangan Raka. Lalu menariknya pelan ke arah
dalam hutan.
"Mungkin dia mau kasih lihat sesuatu," kata Wati.
Mereka mengikuti Kai. Ia membawa mereka ke mata air
utama—sumber kehidupan hutan. Dan apa yang mereka lihat membuat mereka terpaku.
Mata air itu... hampir kering. Hanya tinggal genangan
kecil, tak lebih dari satu meter persegi. Airnya keruh, penuh lumpur. Di
sekelilingnya, puluhan hewan berkumpul: kancil, kijang, babi hutan, bahkan
beberapa ekor monyet. Semua berebut air yang tersisa.
"Ini... ini mengerikan," bisik Wati.
"Iya. Kalau mata air ini kering, semua hewan akan
mati."
Kai duduk di samping Raka. Matanya menatap mata air yang
sekarat. Raka bisa merasakan kesedihan di mata itu.
Raka teringat lembah rahasia yang mereka temukan beberapa
waktu lalu. "Kai, air dari lembah itu masih ada?"
Kai menoleh. Lalu berjalan ke arah tebing. Mereka
mengikuti.
Setelah setengah jam berjalan, mereka sampai di lembah
rahasia. Pemandangan di sini masih hijau, kontras dengan hutan di luarnya.
Sungai kecil masih mengalir, meski debitnya berkurang drastis.
"Ini masih ada," kata Raka lega.
Tapi Kai tidak ikut turun. Ia duduk di tepi tebing,
memandang ke lembah dengan tatapan aneh. Raka naik kembali mendekatinya.
"Kai, kenapa?"
Kai menatapnya. Matanya berkata, "Air ini
untuk saat terburuk. Tapi kapan saat terburuk itu tiba? Sekarang?"
Raka mengerti. Kai ragu. Air di lembah ini adalah cadangan
terakhir. Jika digunakan sekarang, mungkin akan habis sebelum kemarau berakhir.
Tapi jika tidak digunakan, hewan-hewan di hutan akan mati kehausan sekarang
juga.
Dilema yang berat.
Tim Penyelidik Cilik mengadakan rapat dadakan di tepi
tebing. Raka, Wati, dan—secara simbolis—Kai.
"Kita harus putuskan," kata Raka. "Air di
lembah ini kita alirkan ke mata air utama, atau kita simpan?"
"Kalau tidak dialirkan, hewan-hewan bisa mati
sekarang," kata Wati.
"Tapi kalau dialirkan dan habis sebelum kemarau
selesai, mereka mati nanti. Sama saja."
"Dilema banget."
Mereka diam beberapa saat. Lalu Raka mendapat ide.
"Bagaimana kalau kita tidak mengalirkan semua? Kita
bagi. Sebagian untuk mata air utama, sebagian disimpan di lembah. Dengan
saluran yang bisa kita buka-tutup."
"Maksudnya?"
"Kita buat saluran dari lembah ke mata air utama. Tapi
kita pasang pintu air sederhana dari bambu. Kalau mata air utama kering, kita
buka pintunya, air mengalir. Kalau sudah cukup, kita tutup. Jadi air di lembah
tidak habis sekaligus."
Wati matanya berbinar. "Ide bagus! Tapi butuh kerja
sama warga."
"Aku akan bicara dengan Pak Kades besok."
Kai mendengarkan dengan saksama. Meski tak mengerti
kata-kata mereka, ia seolah mengerti maksudnya. Ia mendekat dan menyandarkan
kepala di pundak Raka.
Kembali ke desa, Raka melihat pemandangan yang
memprihatinkan. Beberapa warung tutup karena tak ada pembeli. Warga duduk
termenung di teras rumah masing-masing. Anak-anak bermain lesu, tanpa semangat.
Di rumah Pak Joko, situasi berbeda. Pak Joko justru sibuk
membagikan sembako pada warga. Ia menggunakan uang tabungannya untuk membeli
beras, mie instan, dan kebutuhan pokok lainnya.
"Ini, Bu Juminten, untuk seminggu. Sabar ya, Bu. Ini
ujian."
"Makasih, Pak Joko. Bapak baik sekali."
Pak Joko tersenyum. "Saya dulu sombong. Sekarang
saatnya berbagi."
Raka mendekat. "Pak Joko, saya perlu bicara."
"Ada apa, Nak?"
Raka menjelaskan rencana saluran air dari lembah rahasia.
Pak Joko mendengarkan dengan serius.
"Bagus. Ini akan menyelamatkan hewan-hewan. Tapi
bagaimana dengan manusia? Kita juga butuh air."
"Itu yang jadi masalah, Pak. Air sumur kita mulai
kering."
Pak Joko menghela napas. "Ini cobaan berat. Tapi kita
harus tetap berusaha."
Malam harinya, Pak Kades mengadakan rapat warga. Suasana
berbeda dari rapat-rapat sebelumnya. Warga datang dengan wajah lesu, lesu, tapi
masih ada secercah harapan.
Pak Kades membuka rapat. "Saudara-saudara, kita sedang
menghadapi ujian berat. Kemarau terpanjang dalam sejarah. Tapi kita tidak boleh
menyerah. Kita harus tetap bersatu."
Raka kemudian mempresentasikan rencananya. Warga
mendengarkan dengan saksama.
"Jadi, kita akan buat saluran dari lembah rahasia ke
mata air utama. Dengan pintu air yang bisa diatur. Air di lembah tidak akan
habis sekaligus, tapi bisa bertahan lama."
"Tapi itu untuk hewan. Bagaimana dengan kita?"
tanya seseorang.
"Air di lembah itu juga bisa untuk kita. Tapi kita
harus bijak. Kita ambil secukupnya. Sisanya untuk hewan."
Pak Carik angkat bicara. "Raka benar. Kita harus
berbagi. Manusia dan hewan sama-sama butuh air."
Setelah diskusi panjang, warga sepakat. Mereka akan mulai
bekerja besok pagi.
Pagi harinya, warga berkumpul di pinggir hutan. Meski
kondisi ekonomi sulit, semangat gotong royong tetap menyala. Mereka membawa
bambu, peralatan, dan bekal seadanya.
Tim Penyelidik Cilik—kali ini Bejo ikut meski masih
lemas—memimpin perjalanan ke lembah rahasia. Perjalanan berat, tapi semua tetap
semangat.
Sesampainya di lembah, warga takjub melihat pemandangan
hijau di tengah hutan kering.
"Ini surga," gumam Bu Tini.
"Kita harus jaga tempat ini," kata Pak Carik.
Pekerjaan dimulai. Mereka membuat saluran bambu dari sungai
kecil ke luar lembah. Di pintu keluar lembah, mereka membuat pintu air
sederhana dari bambu yang bisa dibuka-tutup.
"Ini akan mengalirkan air ke mata air utama,"
jelas Raka. "Kita bisa atur berapa banyak air yang keluar."
Setelah dua hari bekerja, saluran selesai. Air mulai
mengalir dari lembah menuju mata air utama. Warga bersorak gembira.
Keesokan harinya, mata air utama mulai terisi kembali.
Airnya jernih, segar. Hewan-hewan hutan berdatangan, minum dengan tenang.
Tim Penyelidik Cilik duduk di bawah pohon beringin,
mengamati pemandangan indah itu. Kai duduk di samping Raka, sesekali menjilati
tangannya.
"Lihat, mereka bahagia," kata Wati.
"Iya. Kita berhasil."
Bejo yang masih lemas, tersenyum. "Aku ikut
senang."
Dari kejauhan, warga juga datang. Mereka membawa ember dan
jerigen, mengambil air dari mata air utama untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi
mereka mengambil secukupnya, tidak serakah. Sisanya untuk hewan.
"Ini hidup berdampingan," kata Pak Joko.
"Manusia dan hewan, berbagi air."
Matahari sore menyinari lembah dengan hangat. Meski kemarau
masih panjang, setidaknya ada harapan. Harapan bahwa mereka bisa melewati ini
bersama.
Seminggu kemudian, kondisi Bejo mulai membaik. Ia sudah
bisa makan dengan lahap, meski hanya nasi dan sayur seadanya. Badannya mulai
berisi kembali, meski belum segembul dulu.
"Jo, lo udah kelihatan sehat lagi," kata Raka.
"Iya. Makasih ya, Ra, buat nasi waktu itu. Nyawa
lo."
"Ah, lebay."
"Maksudnya, nasi pemberian lo itu nyawa buat gue.
Kalau nggak, mungkin gue udah mati."
Raka diam. Ia sadar, krisis ini nyata. Bukan hanya soal
kancil, tapi juga soal manusia. Mereka semua sama-sama berjuang untuk bertahan
hidup.
Wati datang dengan membawa gorengan buatan ibunya.
"Ini, Jo. Buat lo. Biar cepet gendut lagi."
Bejo menerima dengan senyum lebar. "Makasih, Ti. Lo
berdua sahabat terbaik."
Mereka bertiga tertawa. Persahabatan yang teruji di masa
sulit.
Malam itu, Raka duduk di teras rumahnya, memandangi langit
bertabur bintang. Tak ada awan. Tak ada tanda-tanda hujan. Tapi ia tetap
berharap.
Bu Tani keluar dan duduk di sampingnya. "Ra, kamu
mikirin apa?"
"Musim hujan, Bu. Kapan datangnya."
Bu Tani menghela napas. "Ibu juga nggak tahu, Nak.
Tapi ibu yakin, sebentar lagi. Alam punya siklusnya sendiri."
"Tapi kalau terlambat?"
"Kita akan tetap bertahan. Seperti kancil-kancil itu.
Mereka bertahan berkat kita. Kita bertahan berkat mereka. Kita saling
membantu."
Raka tersenyum. Ibunya benar. Mereka bukan lagi dua kubu
yang bermusuhan. Mereka adalah satu komunitas: manusia dan hewan, hidup
berdampingan di kaki Bukit Manoreh.
Dari kejauhan, terdengar suara lengkingan kancil. Suara
Kai, mungkin. Seperti bernyanyi. Seperti memberi semangat.
Raka tersenyum. "Iya, Kai. Kita akan bertahan
bersama."
Demikianlah Episode 7 dari Serial Detektif Cilik Bojong
Sari: "Kemarau Panjang dan Kekeringan".
Krisis melanda Bojong Sari. Manusia dan hewan sama-sama
berjuang melawan kekeringan. Tapi di tengah kesulitan, solidaritas justru
tumbuh. Warga berbagi air dengan hewan. Tim Penyelidik Cilik menemukan cara
untuk memanfaatkan sumber air rahasia secara bijak. Persahabatan mereka dengan
Kai semakin erat.
Namun, ujian terbesar belum tiba. Akankah hujan segera
turun? Atau kekeringan akan semakin parah?
Bersambung...
Saksikan kelanjutan petualangan Raka, Wati, dan Bejo di:
Episode 8: Kai Sakit
CATATAN PENULIS
Episode 7 ini menggambarkan realita pahit di musim kemarau.
Bukan hanya hewan yang menderita, manusia juga merasakan dampaknya. Tapi justru
di masa sulit, nilai-nilai kemanusiaan—dan nilai-nilai antarmakhluk
hidup—muncul dengan indah.
Saksikan bagaimana Tim Penyelidik Cilik menghadapi ujian
paling berat di episode-episode berikutnya!
Salam dari Bojong Sari,
Slamet Riyadi







0 komentar:
Posting Komentar