DETEKTIF
CILIK BOJONG SARI
Serial
Misteri Kancil Bukit Manoreh
EPISODE
1: SERBUAN KANCIL DARI BUKIT MANOREH
Oleh: Slamet Riyadi
Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika pekikan
keras memecah kesunyian Desa Bojong Sari.
"YA ALLAH! MENTIMUN KITA! HANCUR SEMUA!"
Bu Tani berlari keluar rumah dengan wajah pucat pasi.
Tangannya gemetar menunjuk ke arah ladang di belakang rumah. Pak Tani yang
sedang mengambil air di sumur langsung menjatuhkan embernya dan berlari.
Raka, bocah lelaki 11 tahun dengan mata cokelat yang selalu
awas, terbangun dari tidurnya. Ia langsung melompat dari tempat tidur dan
berlari ke belakang rumah. Apa yang dilihatnya membuatnya terpaku.
Ladang mentimun ayahnya—yang kemarin masih hijau dan ranum
dengan buah-buah segar bergelantungan—kini porak-poranda. Puluhan mentimun
berserakan di tanah. Ada yang hanya tergigit separuh, ada yang penuh lubang
gigitan kecil, dan banyak pula yang terinjak-injak hingga hancur.
Tanaman-tanaman cabai dan tomat di pinggir ladang juga tak luput dari amukan.
"Astagfirullah..." gumam Pak Tani sambil berlutut
di tanah. Tangannya yang kasar dan penuh kapalan memegang sisa-sisa mentimun
yang hancur. "Ini... ini buah dari keringat kita selama
berbulan-bulan..."
Bu Tani menangis tersedu-sedu. Mentimun-mentimun itu adalah
harapan mereka. Setelah panen padi beberapa minggu lalu yang hasilnya
pas-pasan, mentimun adalah tumpuan untuk biaya sekolah Raka dan kebutuhan
sehari-hari. Sekarang, semuanya sirna dalam semalam.
Raka berdiri membeku. Ia melihat ayahnya yang biasanya
tegar, kini tampak begitu rapuh. Garis-garis lelah di wajah Pak Tani semakin
dalam. Matanya yang sayu menatap kosong ke ladang yang hancur.
"Sudah, Pak... sudahlah..." Bu Tani mencoba
menenangkan suaminya, meski suaranya bergetar.
Pak Tani hanya diam. Air mata pria itu akhirnya jatuh juga.
Kabar tentang ladang Pak Tani yang porak-poranda segera
menyebar seperti api. Dalam hitungan menit, puluhan warga sudah berkumpul di
sekitar ladang. Mereka berbisik-bisik, ada yang menggelengkan kepala, ada pula
yang ikut menangis melihat kesedihan keluarga Pak Tani.
"Kasihan sekali, Bu Tani. Mentimunnya tinggal
setengah."
"Iya, padahal tahun ini panennya bagus-bagus."
"Ini pasti ulah babi hutan dari hutan!"
"Babi hutan? Mana ada jejak babi hutan? Lihat,
jejaknya kecil-kecil!"
Warga mulai berdebat. Masing-masing punya teori sendiri
tentang pelaku perusakan ini.
Pak Carik—nama aslinya Carik Sumarto, perangkat desa yang
bertugas mengurus administrasi—datang dengan tergesa-gesa. Rambutnya masih
awut-awutan, sarungnya belum sempat diganti dengan celana. "Ada apa? Ada
apa?" tanyanya sambil mengatur napas.
Begitu melihat ladang Pak Tani, ia langsung terdiam. Lalu
perlahan berkata, "Astagfirullah... parah sekali."
Tak lama kemudian, Pak Kades datang bersama beberapa
perangkat desa. Dengan gaya sok polisi, ia memasang tali rafia mengelilingi
ladang. "Jangan ada yang masuk! Ini TKP!"
"TKP itu apa, Pak?" tanya Bejo, bocah gembul yang
ikut nonton dari pinggir.
"Tempat Kejadian Perkara, Nak. Istilahnya
polisi."
"Wah, Pak Kades jadi polisi?"
"Bukan! Pokoknya jangan masuk dulu!"
Semua orang tertawa meski suasana sebenarnya sedang tegang.
Di tengah kerumunan orang dewasa yang sibuk dengan
kegaduhan mereka, Raka justru menarik diri ke pinggir ladang. Ia berjongkok, mengamati
tanah dengan saksama. Matanya yang awas langsung menangkap detail-detail kecil
yang terlewat oleh orang lain.
Di tanah yang agak lembab, tercetak jelas jejak-jejak kaki
yang aneh. Jejak itu kecil, dengan dua kuku runcing di depan. Bentuknya seperti
hati terbalik. Ukurannya sekitar 3-4 sentimeter.
Raka mengeluarkan buku catatan kecil dari saku
celananya—benda yang tak pernah lepas darinya. Dengan pensil, ia mulai membuat
sketsa jejak itu dengan teliti. Ia juga mengukur panjang dan lebarnya dengan
jarinya. Nanti di rumah akan ia ukur dengan penggaris.
"Ra, kamu ngapain?"
Raka menoleh. Wati, sahabatnya yang pemberani, sudah
berdiri di sampingnya.
"Ngamatin jejak," jawab Raka singkat.
"Ini jejak apa?"
"Aku belum tahu pasti. Tapi sepertinya... bukan babi hutan."
Raka kemudian mengamati pola kerusakan pada mentimun. Ia
memperhatikan bahwa mentimun yang tergigit hanya sebagian. Seolah pelakunya
hanya ingin mencicipi lalu berpindah ke yang lain. Itu bukan pola hewan yang
kelaparan, melainkan hewan yang sedang mencari makan dengan cara iseng atau
bingung karena terlalu banyak pilihan.
"Lihat ini, Ti," kata Raka sambil menunjuk.
"Mereka nggak makan sampai habis. Satu mentimun cuma digigit beberapa
kali, lalu pindah ke yang lain. Ini aneh."
Wati mengamati. "Iya juga. Kalau babi hutan, biasanya
dihancur-hancurin semua."
"Tepat."
"RAKA! WATI!"
Bejo datang berlari dengan napas terengah-engah. Badannya
yang gembul membuatnya cepat kehabisan napas kalau lari.
"Jo, pelan-pelan! Kenapa?" tegur Wati.
"Aku... aku... dengar dari bapakku..." Bejo
berusaha mengatur napas. "Ladang... ladang lain juga kena! Ladang Pak
Carik, ladang Pak Joko, bahkan ladang Bu Juminten yang kecil itu juga!"
Raka dan Wati terkejut. Berarti ini bukan serangan
sporadis. Ini serangan besar-besaran.
"Ayo kita cek!" seru Raka.
Mereka bertiga berkeliling desa. Benar saja, hampir semua
ladang mentimun di Bojong Sari mengalami nasib yang sama. Di ladang Pak Joko,
kerusakan bahkan lebih parah. Pak Joko yang terkenal sombong itu hampir
menangis melihat ladangnya.
"Ladang saya! Mentimun saya! Traktor saya!"
teriaknya histeris.
"Traktor?" Bejo bingung.
"Traktor impiannya, Jo. Katanya kalau panen mentimun
berhasil, mau beli traktor," jelas Wati.
"Oh... sekarang nggak jadi."
Di ladang Bu Juminten, janda tua yang hidup sendirian,
pemandangan tak kalah memilukan. Bu Juminten hanya duduk di pinggir ladang
sambil menangis pelan. "Ya Allah, hamba cuma punya ini... buat makan
sehari-hari..." isaknya.
Raka merasa hatinya teriris. Ia bertekad, apapun pelakunya,
ia akan menemukannya.
Malam harinya, Pak Kades mengadakan rapat besar di balai
desa. Semua warga diundang. Balai desa yang biasanya sepi, malam itu penuh
sesak. Lampu petromak menyala terang di beberapa sudut, menerangi wajah-wajah
cemas dan marah para petani.
Pak Kades duduk di kursi utama. Di sampingnya ada Pak
Carik, Pak Joko (yang masih memasang muka masam), dan beberapa tokoh pemuda
seperti Guntur, Heri, dan Budi.
"Hadirin sekalian, mari kita buka rapat ini dengan
doa," kata Pak Kades.
"Doa apa, Pak? Yang penting cepet cari solusi!"
potong seseorang dari belakang.
"Sabar, sabar."
Setelah doa singkat, Pak Kades mempersilakan warga
menyampaikan pendapat. Dan seperti gayung bersambut, langsung pecah perdebatan
seru.
"Ini pasti ulah babi hutan dari Hutan Manoreh!" teriak
Pak Slamet, petani dari dusun timur.
"Babi hutan? Jejaknya mana ada sebesar babi
hutan?" bantah Pak Carik. "Jejaknya kecil-kecil. Kayak jejak
kambing."
"Kambing? Masa kambing mau makan mentimun? Kambing kan
makan rumput!"
"Lho, kambing juga suka sayuran. Punyaku dulu pernah
makan sawi di ladang."
"Tapi kok banyak banget? Kambing siapa yang
lepas?"
Perdebatan berlangsung seru. Masing-masing punya teori
sendiri. Ada yang bilang ulah kijang, ada yang bilang ulah monyet, ada yang
bilang ulah landak.
"Jangan-jangan ini ulah genderuwo!" kata Mbah
Joyo, salah satu sesepuh desa. "Genderuwo kan suka ngganggu tanaman."
"Ah, Mbah Joyo ini, genderuwo kok doyan mentimun.
Mending pecel," ledek Guntur.
"Eh, jangan mentertawakan hal-hal gaib. Banyak
kejadian aneh di desa kita akhir-akhir ini. Burung-burung pada pergi, jangkrik
pada diam, perkutut Mbah Kromo mati. Itu semua pertanda."
Suasana mulai meredup. Warga mulai merasa merinding.
Di tengah keramaian, Raka, Wati, dan Bejo duduk di sudut
ruangan. Mereka tak banyak bicara, hanya mendengarkan. Raka mencatat poin-poin
penting di bukunya.
"Mereka pada takut," bisik Wati.
"Iya. Apalagi setelah dengar soal genderuwo."
"Kamu percaya, Ra?"
Raka menggeleng. "Nggak. Ini pasti hewan beneran.
Jejaknya jelas. Gendruwo mana punya jejak?"
Bejo yang sedari tadi diam, tiba-tiba berkata,
"Tapi... kalau beneran ada genderuwo gimana?"
"Jo, lo itu gampang banget ketakutan."
"Bukan takut, cuma waspada."
Mereka bertiga nyengir. Di tengah ketegangan, candaan kecil
seperti ini lumayan untuk mengurangi stres.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya diputuskan dua
strategi sekaligus: ronda malam dan pemasangan perangkap. Warga akan bergiliran
berjaga setiap malam.
Rapat berakhir sekitar jam 10 malam. Warga pulang dengan
perasaan campur aduk. Raka berjalan pulang bersama ayahnya. Sepanjang jalan,
Pak Tani diam saja.
"Yah, sabar ya," kata Raka pelan sambil
menggandeng tangan ayahnya.
Pak Tani menepuk pundak anaknya. "Iya, Nak. Ayah coba
sabar."
Mereka berjalan dalam keheningan malam. Di kejauhan, dari
arah hutan, terdengar suara aneh. Seperti lengkingan pelan. Raka menajamkan
telinga. Suara apa itu?
Malam itu, Raka tak bisa tidur. Ia terus memikirkan
jejak-jejak di ladang. Bentuknya, ukurannya, polanya. Ia juga memikirkan suara
aneh dari hutan tadi. Apakah itu suara hewan? Atau suara lain?
Pukul setengah satu malam, Raka masih terjaga. Ia duduk di
dekat jendela kamarnya yang menghadap ke ladang. Bulan bersinar terang,
menerangi ladang yang masih porak-poranda.
Tiba-tiba, dari arah timur—dari arah Hutan Manoreh—ia
melihat gerakan. Samar-samar, bayangan-bayangan kecil bergerak lincah mendekati
ladang.
Jantung Raka berdebar kencang. Ia mengintip lebih dekat.
Bayangan-bayangan itu mulai masuk ke ladang. Mereka bergerak lincah, waspada.
Kadang berhenti, mendongak, mengendus udara. Lalu kembali bergerak.
"Mereka kembali," bisik Raka.
Dengan jantung berdebar, ia mengamati dari balik jendela.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat wujud mereka dengan jelas di bawah sinar
rembulan: tubuh ramping, kaki jenjang, telinga lebar, dan ekor pendek.
Kancil! Itu kancil!
Pelaku misterius itu adalah sekawanan kancil!
Raka hampir berteriak, tapi ia tahan. Ia terus mengamati.
Kancil-kancil itu makan dengan lahap. Tapi tidak sebanyak yang ia kira. Mereka
hanya makan beberapa, lalu pergi. Seperti mereka hanya ingin mencicipi.
Yang paling menarik perhatian Raka adalah seekor kancil
yang lebih besar dari yang lain. Ia tidak ikut makan. Ia hanya duduk di pinggir
ladang, mengawasi. Seperti pemimpin yang menjaga anak buahnya.
Setelah sekitar 30 menit, kawanan itu pergi. Mereka kembali
ke arah hutan, menghilang di balik kegelapan.
Raka menghela napas panjang. Ia baru saja menyaksikan
sesuatu yang penting. Sesuatu yang mungkin tidak dilihat oleh siapa pun.
Keesokan harinya, Raka menghadapi dilema besar. Ia tahu
pelaku perusakan ladang. Tapi apa yang harus ia lakukan?
Jika ia memberi tahu ayah dan warga, mereka pasti akan
marah dan berusaha menangkap atau mengusir kancil-kancil itu. Tapi Raka tak
tega. Dari pengamatannya, kancil-kancil itu tak makan dengan rakus. Mereka
hanya makan beberapa mentimun, lalu pergi. Mereka tak merusak dengan sengaja.
Mereka hanya... mencari makan.
"Pasti ada alasan kenapa mereka keluar hutan,"
pikir Raka. "Kancil itu hewan pemalu. Mereka pasti terpaksa."
Raka memutuskan untuk menyimpan rahasia ini dulu. Ia akan
menyelidiki lebih lanjut. Ia harus tahu alasan di balik perilaku aneh
kancil-kancil itu.
Di sekolah, saat jam istirahat, Raka memanggil Wati dan
Bejo.
"Aku mau ngomong sesuatu. Penting."
Mereka bertiga duduk di bawah pohon mangga di belakang
sekolah.
"Aku tahu pelakunya," kata Raka pelan.
"Pelaku apaan?" tanya Bejo.
"Perusak ladang. Yang kemarin."
Wati dan Bejo terbelalak. "Serius? Siapa?"
Raka melihat kiri kanan, memastikan tak ada yang mendengar.
Lalu berbisik, "Kancil."
"KANCIL?!" Bejo hampir berteriak. Wati
cepat-cepat menutup mulutnya.
"Ssst! Jo, jangan keras-keras!"
"Maaf-maaf. Tapi kancil? Serius?"
"Aku lihat sendiri semalem. Mereka datang ke ladang.
Puluhan ekor."
Wati mengerutkan kening. "Tapi kenapa kancil keluar
hutan? Mereka kan hewan pemalu."
"Itulah yang mau aku selidiki. Pasti ada
sebabnya."
Raka kemudian memaparkan rencananya. Ia butuh bantuan Wati
dan Bejo. Mereka akan menyelidiki sendiri, mencari tahu kenapa kancil-kancil
itu berani keluar hutan.
"Kita harus masuk ke hutan," kata Raka mantap.
"HUTAN?!" Bejo kembali hampir berteriak.
"Jo, loe kalo bisa diemin dikit!"
"Tapi... hutan... serem..."
"Kita hadapi bareng-bareng, Jo," Wati menepuk
pundak Bejo. "Janji?"
Bejo ragu-ragu. Ia memang paling penakut di antara mereka
bertiga. Tapi melihat tekad Raka dan semangat Wati, ia akhirnya mengangguk.
"Janji."
"Oke. Mulai sekarang, kita adalah Tim Penyelidik Cilik
Bojong Sari," kata Raka dengan gaya serius.
"Wah, keren!" seru Wati.
"TPCBS! Gitu ya?" Bejo mulai semangat.
"Iya. Tugas kita: mengungkap misteri di balik serangan
kancil. Dan kita harus melakukannya diam-diam. Jangan sampai orang tua
tahu."
Mereka bertiga berjabat tangan. Sebuah tim kecil yang tak
resmi, tapi penuh semangat, lahir di bawah pohon mangga sekolah. Tim yang akan
mengubah segalanya.
Malam harinya, Tim Penyelidik Cilik berkumpul di markas
rahasia mereka—sebuah gubuk kosong di pinggir desa yang tak terpakai. Raka
membawa senter, buku catatan, dan bekal. Wati membawa golok kecil pinjaman dari
ayahnya. Bejo membawa... makanan ringan.
"Jo, ini buat apa?" tanya Wati heran.
"Buat jaga-jaga kalau lapar. Pengintaian kan butuh
energi."
Wati menggeleng-geleng. Tapi akhirnya mereka tetap membawa
makanan itu.
Malam itu, mereka bersembunyi di balik semak-semak dekat
ladang Pak Tani. Raka memastikan posisi mereka aman dan tak terlihat.
Jam menunjukkan pukul 12 malam. Bulan bersinar terang.
Suasana sunyi, hanya suara jangkrik yang kadang terdengar.
Tiba-tiba, dari arah hutan, muncul gerakan. Samar-samar,
bayangan-bayangan kecil mulai bermunculan.
"Itu dia," bisik Raka.
Kawanan kancil mulai masuk ke ladang. Kali ini Raka bisa
mengamati lebih dekat. Ia menghitung jumlah mereka: sekitar 15-20 ekor. Terdiri
dari yang besar dan kecil. Mereka bergerak dengan sangat hati-hati.
Wati dan Bejo terbelalak. Mereka baru pertama kali melihat
kancil sebanyak itu.
"Banyak sekali," bisik Wati.
"Iya. Dan lihat yang paling besar itu," Raka
menunjuk ke arah kancil yang duduk di pinggir ladang, mengawasi. "Itu
pemimpin mereka."
Kancil itu lebih besar dari yang lain. Bulunya cokelat
kemerahan dengan moncong yang mulai memutih. Matanya tajam dan bijaksana. Ia
terus mengamati sekeliling, memastikan kawanannya aman.
Setelah sekitar 30 menit, kawanan itu pergi. Mereka kembali
ke hutan dengan tertib, dipimpin oleh kancil tua itu.
Tim Penyelidik Cilik menghela napas lega.
"Mereka... mereka kayak punya organisasi," kata
Bejo takjub.
"Iya. Dan pemimpinnya sangat cerdik. Lihat cara dia
jaga kawanannya?"
"Ini luar biasa," gumam Wati.
Raka mencatat semua pengamatannya di buku. Jumlah kancil,
perilaku mereka, dan yang paling penting: kancil tua pemimpin mereka.
"Kita harus cari tahu lebih banyak. Kita harus masuk
ke hutan," katanya.
Keesokan harinya, Tim Penyelidik Cilik mengadakan rapat di
markas. Mereka membahas rencana masuk hutan.
"Kita harus siapkan perlengkapan," kata Raka.
"Air minum, makanan, golok, senter, tali, dan yang paling penting: buku
catatan."
"Kapan kita masuk?" tanya Wati.
"Hari Minggu. Kita bilang mau main ke sungai, tapi
kita masuk hutan."
"Aku... masih agak takut," Bejo jujur.
"Wajar, Jo. Aku juga takut. Tapi kita harus lakukan
ini. Demi desa kita, demi orang tua kita."
Bejo mengangguk, berusaha tegar.
Malam harinya, Raka tak bisa tidur. Ia terus memikirkan
kancil tua itu. Ada sesuatu di matanya yang membuat Raka penasaran. Bukan
sekadar kewaspadaan, tapi juga... kesedihan? Kerinduan? Atau mungkin
kepasrahan?
"Besok kita akan cari tahu, Kai," bisik Raka. Ia
belum tahu bahwa "Kai" akan menjadi nama yang melekat selamanya.
Di kejauhan, dari arah hutan, terdengar lengkingan pelan.
Seperti jawaban. Seperti panggilan.
Pagi harinya, Raka terbangun dengan perasaan campur aduk.
Hari ini adalah hari Minggu. Hari yang ditunggu. Hari di mana mereka akan masuk
ke hutan.
Setelah sarapan, ia pamit pada ibunya. "Bu, aku mau
main ke sungai sama Wati dan Bejo."
Ibunya yang sedang mencuci piring hanya mengangguk.
"Iya, Nak. Hati-hati. Jangan berenang terlalu lama."
Raka merasa sedikit bersalah karena berbohong. Tapi ini
demi kebaikan. Ia harus menyakinkan dirinya sendiri.
Di markas, Wati dan Bejo sudah menunggu. Wati terlihat
tegang, Bejo terlihat setengah mengantuk.
"Siap?" tanya Raka.
"Siap!" jawab Wati tegas.
"Aku... siap," Bejo mengucek mata.
Mereka bertiga berjalan menuju timur, ke arah hutan yang
mulai terlihat samar di balik kabut pagi. Mereka tak tahu apa yang akan mereka
temukan di sana. Tapi mereka yakin, petualangan besar akan segera dimulai.
Di batas antara desa dan hutan, mereka berhenti sejenak.
Raka menatap ke dalam hutan yang gelap dan misterius.
"Hutan Manoreh," bisiknya. "Kami datang.
Bukan untuk merusak, tapi untuk mencari kebenaran."
Dan dengan tekad bulat, mereka melangkah masuk.
Bersambung...ke Episode 2
CATATAN PENULIS
Episode 1 ini adalah pengantar dari serial panjang
petualangan Detektif Cilik Bojong Sari. Karakter-karakter yang diperkenalkan di
sini akan berkembang seiring cerita. Raka dengan ketelitiannya, Wati dengan
keberaniannya, Bejo dengan kelucuannya, dan Kai dengan kebijaksanaannya akan
membawa pembaca pada petualangan yang penuh misteri, haru, tawa, dan pelajaran
hidup.
Selamat menikmati petualangan selanjutnya!
Salam dari Bojong Sari,
Slamet Riyadi







0 komentar:
Posting Komentar