DETEKTIF CILIK BOJONG SARI
Serial Misteri Kancil Bukit Manoreh
EPISODE 13: PEMBURU DARI DESA SEBERANG
Oleh: Slamet Riyadi
Seminggu telah berlalu sejak penemuan Harimau Putih. Tim
Penyelidik Cilik menjaga rahasia itu dengan ketat. Hanya warga Bojong Sari yang
tahu. Mereka bersumpah untuk tidak membocorkannya ke luar desa.
Tapi kabar buruk datang dari perbatasan.
Pagi itu, Pak Carik datang tergesa-gesa ke rumah Raka.
Wajahnya pucat.
"Nak Raka! Cepat ke balai desa! Ada masalah!"
Raka yang sedang sarapan langsung berhenti. "Ada apa,
Pak?"
"Pemburu! Pemburu dari desa seberang! Mereka dengar
kabar tentang harimau!"
Jantung Raka berdebar kencang. "Tapi kan kita jaga
rahasia?"
"Entah bagaimana bocornya. Mungkin ada warga yang
ngomong tidak sengaja. Yang jelas, mereka sudah di perbatasan. Mau masuk
hutan!"
Raka segera memanggil Wati dan Bejo via handy talkie.
Mereka bertiga berlari ke balai desa.
Di sana, suasana sudah tegang. Pak Kades, Pak Carik, Pak
Tani, Pak Joko, Guntur, dan beberapa warga lain berkumpul. Di hadapan mereka,
berdiri tiga orang berpakaian lusuh dengan peralatan berburu: senapan angin,
jerat, tombak, dan berbagai perangkap.
"Ini urusan kami, Pak Kades," kata salah satu
dari mereka, yang paling tua, berkumis tebal. "Kami dengar di sini ada
harimau. Kami mau menangkapnya."
"Harimau? Tidak ada harimau di sini," kata Pak
Kades tegas.
"Jangan bohong, Pak. Informasi kami akurat."
"Siapa yang kasih informasi?"
"Itu urusan kami. Yang jelas, kami akan masuk hutan.
Mau izin atau tidak."
Pak Kades berdiri tegak. Wajahnya berubah garang.
"Saudara, ini desa kami. Hutan ini milik kami. Dan kami tidak mengizinkan
siapa pun masuk untuk berburu, apalagi menangkap harimau."
Pemburu berkumis tebal itu tersenyum sinis. "Pak
Kades, kami ini pemburu profesional. Kami sudah berpengalaman. Harimau itu
berbahaya. Bisa makan warga. Kami justru membantu."
"Harimau itu tidak mengganggu kami. Dia bagian dari
hutan. Dia penjaga."
"Penjaga? Ah, dongeng anak kecil."
"Itu bukan dongeng. Itu kepercayaan kami."
Pemburu itu tertawa. "Terserah. Yang jelas kami akan
masuk. Kalau Pak Kades tidak izin, kami masuk diam-diam. Hutan ini luas. Mana
mungkin Bapak jaga semua sudut."
Pak Kades mengepalkan tangan. Tapi ia tahu, pemburu itu
benar. Hutan Manoreh luas. Tidak mungkin dijaga 24 jam.
Raka, yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Pak, biar saya bicara."
Semua menoleh. Raka maju ke depan menghadapi para pemburu.
Raka menatap mata pemburu berkumis tebal itu tanpa takut.
"Pak, saya Raka. Saya yang paling sering masuk hutan. Saya tahu setiap
sudutnya. Dan saya bisa pastikan, tidak ada harimau di sana."
Pemburu itu menatap Raka dengan tatapan meremehkan.
"Anak kecil tahu apa? Kamu pasti belum lihat jejaknya."
"Saya justru sudah lihat jejaknya. Dan saya tahu itu
bukan harimau."
"Lalu apa?"
"Harimau itu sudah tidak ada. Yang ada hanya
jejak-jejak lama. Mungkin 10-20 tahun lalu. Itu pun sudah hampir punah."
Pemburu itu mengernyitkan dahi. "Kamu yakin?"
"Saya yakin. Saya sudah menjelajahi seluruh hutan.
Tidak ada tanda-tanda harimau hidup. Mungkin yang kalian dengar itu hanya
rumor."
Para pemburu itu mulai ragu. Mereka saling pandang.
"Tapi informasi kami kuat," kata pemburu lainnya.
"Informasi dari siapa? Orang yang tidak pernah masuk
hutan? Orang yang hanya dengar-dengar? Kami yang setiap hari di hutan, kami
yang tahu."
Pemburu berkumis tebal itu diam beberapa saat. Lalu
berkata, "Baiklah. Tapi kami tetap mau masuk. Bukan cari harimau, tapi
cari hewan lain. Babi hutan, kijang, apa saja."
"Babi hutan dan kijang juga tidak boleh. Itu hewan dilindungi
di desa kami. Kami punya program konservasi."
"Program konservasi? Di desa kecil?"
"Iya. Dan sudah berjalan setahun. Hasilnya bagus.
Hutan kami pulih. Hewan-hewan berkembang biak."
Suasana semakin memanas. Para pemburu ngotot mau masuk.
Warga Bojong Sari ngotot mau melarang. Hampir terjadi keributan.
Pak Kades akhirnya mengajak berunding. "Begini,
Saudara-saudara. Bagaimana kalau kita cari jalan tengah? Kalian boleh masuk
hutan, tapi ditemani warga kami. Jadi kalian tidak sendirian, dan tidak bisa berbuat
macam-macam."
Pemburu berkumis tebal itu berpikir. "Ditemani? Untuk
apa?"
"Untuk memastikan kalian tidak merusak. Dan untuk
memandu, karena kalian tidak tahu medan."
"Kami bisa cari jalan sendiri."
"Tersesat? Hutan ini luas. Bisa berhari-hari kalian
muter."
Akhirnya, setelah berdiskusi dengan teman-temannya, pemburu
itu setuju. "Baik. Tapi pemandunya harus yang benar-benar tahu
medan."
"Aku!" Raka maju. "Aku yang paling
tahu."
"Kamu? Anak kecil?"
"Jangan remehkan anak kecil. Saya sudah setahun lebih menjelajahi
hutan ini. Setiap sudut saya hafal."
Pemburu itu tertawa. "Ini lucu. Tapi baiklah,
terserah. Asal jangan sampai kami tersesat."
Raka tersenyum tipis. Dalam hati, ia sudah punya rencana.
Malam harinya, Tim Penyelidik Cilik mengadakan rapat di markas.
Wajah mereka tegang.
"Ra, lo yakin mau jadi pemandu mereka?" tanya
Wati.
"Aku harus. Kalau bukan aku, mereka bisa masuk
seenaknya. Kita bisa pantau gerak-gerik mereka."
"Tapi mereka bisa bahaya. Bawa senjata."
"Aku nggak akan bawa mereka ke tempat-tempat penting.
Tempat kita biasa ketemu Kai Muda, tempat Harimau Putih, gua-gua rahasia. Akan
aku bawa ke tempat-tempat yang aman, yang tidak ada hewan langkanya."
Bejo mengangguk. "Lo pinter juga, Ra."
"Tapi ada satu hal yang menggangguku. Informasi mereka
dari mana? Katanya kuat. Pasti ada yang bocor."
Mereka bertiga diam. Siapa yang membocorkan rahasia? Apakah
ada warga yang tidak sengaja ngomong? Atau ada mata-mata?
"Kita harus cari tahu," kata Raka. "Besok,
kalian berdua pantau warga. Lihat siapa yang mencurigakan. Siapa yang sering ke
luar desa. Siapa yang punya hubungan dengan orang luar."
"Siap, Ra!"
Keesokan paginya, Raka bertemu dengan para pemburu di
perbatasan desa. Mereka bertiga: si Kumis Tebal (ternyata namanya Pak Jarwo),
dan dua anak buahnya, Dadang dan Ucup.
"Kamu yakin bisa, Nak?" tanya Pak Jarwo masih
meremehkan.
"Siap, Pak. Ikuti saya."
Mereka masuk hutan. Raka berjalan di depan, tenang dan
percaya diri. Para pemburu mengikuti di belakang, sesekali mengamati sekeliling
dengan mata waspada.
Raka sengaja membawa mereka melewati jalur-jalur yang tidak
penting. Tempat yang tidak ada hewan langkanya. Ia menunjukkan beberapa jejak
babi hutan, kancil biasa, dan monyet.
"Ini babi hutan," katanya. "Banyak di
sini."
"Babi hutan? Boleh ditembak?"
"Nggak boleh. Ini juga dilindungi di desa kami."
Pak Jarwo menggerutu. "Dilindungi melulu. Jadi kami
nggak boleh berburu sama sekali?"
"Di sini tidak. Tapi di luar hutan, di desa lain,
mungkin boleh."
Mereka berjalan terus. Raka sengaja memutar-mutar, membuat mereka
lelah. Tiga jam berlalu, mereka belum sampai ke mana-mana.
Pak Jarwo mulai curiga. "Nak, ini ke mana aja? Kok
muter-muter?"
"Ini jalan pintas, Pak. Sebentar lagi sampai ke tempat
yang kalian cari."
"Tempat yang kami cari? Maksudnya?"
"Tempat yang katanya ada harimau."
Pak Jarwo matanya berbinar. "Kamu tahu
tempatnya?"
"Tahu. Tapi saya sudah bilang, tidak ada harimau di
sana. Hanya jejak lama."
"Tunjukkan saja."
Raka membawa mereka ke sebuah tempat di pinggir hutan,
dekat dengan desa tetangga. Di sana, ada bekas jejak harimau—jejak lama yang
sengaja ia simpan informasinya untuk jaga-jaga.
"Ini," katanya sambil menunjuk tanah. "Jejak
harimau. Tapi lihat, sudah kering. Tidak ada jejak baru. Berarti sudah
lama."
Para pemburu mengamati jejak itu. Mereka terlihat kecewa.
"Ini jejak kecil. Mungkin bukan harimau dewasa,"
kata Dadang.
"Atau mungkin sudah mati," timpal Ucup.
Pak Jarwo menghela napas. "Kita sudah buang-buang
waktu."
Saat mereka hendak kembali, tiba-tiba terdengar suara
gemerisik dari semak-semak. Semua orang menoleh. Dari balik semak, muncullah
Kai Muda dan beberapa kancil lainnya.
Mereka berhenti, menatap para pemburu dengan waspada.
"Ini kancil!" seru Dadang. "Banyak!"
Insting pemburu mereka muncul. Dadang segera mengangkat
senapan anginnya.
"JANGAN!" teriak Raka sambil melompat dan menahan
laras senapan.
"minggir, Nak! Itu mangsa!"
"TIDAK! Mereka kawanan Kai Muda! Sahabat kami!"
"Apa? Sahabat? Manusia bersahabat dengan kancil?"
"Iya! Di desa kami, kami hidup berdampingan dengan
mereka. Mereka bukan mangsa, mereka keluarga!"
Pak Jarwo menatap Raka dengan tatapan aneh. Lalu ia melihat
kancil-kancil itu. Mereka tidak lari. Mereka hanya diam, menatap balik. Tenang.
Seperti tidak takut pada manusia.
"Ini... ini aneh," gumamnya.
Kai Muda maju selangkah. Ia menatap Pak Jarwo langsung ke
matanya. Lalu, dengan tenang, ia menundukkan kepala. Sekali.
Pak Jarwo tertegun. "Dia... dia memberi hormat?"
"Iya. Itu cara mereka menghormati manusia yang
baik."
Pak Jarwo terdiam lama. Tangannya yang tadi siap mengangkat
senapan, kini turun perlahan.
"Ini... ini pertama kalinya aku lihat kancil sedekat
ini. Mereka tidak takut."
"Karena mereka tahu kami tidak akan menyakiti mereka.
Mereka percaya pada kami."
Pak Jarwo menatap Raka. "Kalian benar-benar aneh.
Tapi... mungkin ini yang benar."
Dia kemudian menurunkan senapannya dan duduk di tanah.
Dadang dan Ucup ikut duduk, bingung.
"Pak, kita jadi berburu?" tanya Dadang.
Pak Jarwo menggeleng. "Tidak. Aku... aku lihat sesuatu
yang berbeda di sini. Di desa ini, di hutan ini. Mungkin selama ini kita
salah."
Raka duduk di sampingnya. "Pak, berburu itu bukan
satu-satunya cara hidup. Di sini, kami belajar bahwa alam akan menjaga kita
kalau kita menjaga alam. Lihat hutan ini. Setahun lalu hampir terbakar. Tapi
sekarang hijau lagi. Kancil-kancil ini sehat. Semua karena kami menjaga."
Pak Jarwo diam. Matanya menerawang.
Sore mulai menjelang. Raka dan para pemburu duduk di bawah
pohon, beristirahat. Pak Jarwo mulai bercerita.
"Dulu, aku juga anak desa. Desa di kaki gunung. Hutan
di sana juga indah, juga banyak hewan. Tapi kemudian datang perusahaan kayu.
Mereka tebang habis hutan. Hewan-hewan lari, mati, punah. Aku dan keluargaku
kehilangan mata pencaharian. Akhirnya aku jadi pemburu liar. Satu-satunya cara
bertahan hidup."
Raka mendengarkan dengan saksama.
"Aku tahu ini salah. Tapi aku tidak punya pilihan.
Anak istriku harus makan. Dan selama ini, tidak ada yang mengajarkan cara lain.
Hutan yang kukenal sudah hancur."
Pak Jarwo menatap Raka. "Tapi di sini, aku lihat
harapan. Kalian menyelamatkan hutan ini. Kalian hidup berdampingan dengan
hewan. Mungkin... mungkin aku bisa belajar."
Raka tersenyum. "Pak, tidak ada kata terlambat untuk
berubah. Kalau Bapak mau, kami bisa ajari. Bagaimana menjaga hutan, bagaimana
hidup berdampingan dengan hewan, bagaimana mendapatkan penghasilan tanpa
merusak alam."
Pak Jarwo menatap Raka lama. Lalu tersenyum. "Kamu
anak yang luar biasa, Nak."
Keesokan harinya, Pak Jarwo dan anak buahnya memutuskan
untuk tidak jadi berburu. Mereka malah minta diajari tentang konservasi.
Raka, Wati, dan Bejo dengan senang hati menunjukkan
program-program mereka: bak air buatan, tanaman pakan, monitoring satwa, dan
lain-lain.
Pak Jarwo takjub. "Ini... ini ilmu yang luar biasa.
Selama ini kami hanya tahu mengambil, tidak pernah tahu cara memberi
kembali."
Pak Kades yang mendengar kabar ini, langsung mengundang Pak
Jarwo dan timnya untuk berbicara.
"Pak Jarwo, kalau bapak serius mau berubah, kami bisa
bantu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa itu, Pak?"
"Bapak harus bantu kami menjaga hutan ini dari
pemburu-pemburu lain. Bapak kan kenal banyak pemburu. Bapak bisa jadi mata-mata
kami, memberi tahu kalau ada yang mau masuk."
Pak Jarwo tersenyum. "Itu bisa. Aku kenal banyak
pemburu. Mereka sering kumpul di warung kopi desa seberang. Aku bisa
pantau."
"Bagus. Dan kalau bapak serius, kami bisa bantu bapak
dan keluarga bapak pindah ke sini. Bapak bisa ikut program konservasi kami.
Jadi penjaga hutan."
Mata Pak Jarwo berkaca-kaca. "Bapak... bapak mau
menerima kami?"
"Tentu. Bojong Sari selalu terbuka untuk orang
baik."
Seminggu kemudian, Pak Jarwo dan keluarganya pindah ke
Bojong Sari. Mereka menempati rumah kosong di pinggir desa, bekas rumah Mbah
Dukun yang sudah tidak ditempati. Pak Jarwo, Dadang, dan Ucup resmi menjadi
anggota tim konservasi desa, bertugas memantau perbatasan dan mencegah pemburu
liar masuk.
Mereka juga diperkenalkan dengan Kai Muda dan kawanan
kancil. Awalnya, Kai Muda waspada. Tapi setelah melihat mereka tidak membawa
senjata dan diperkenalkan oleh Raka, ia mulai percaya.
Kini, setiap sore, Pak Jarwo sering duduk di bawah pohon
beringin bersama Raka, Wati, Bejo, dan Kai Muda. Mereka bercerita, tertawa,
menikmati sore yang damai.
"Ini hidup yang indah," kata Pak Jarwo suatu
sore. "Dulu aku pikir kebahagiaan adalah uang banyak dari hasil berburu.
Ternyata salah. Kebahagiaan adalah punya sahabat, punya keluarga, dan hidup
damai dengan alam."
Raka tersenyum. "Selamat datang di Bojong Sari, Pak
Jarwo."
Kai Muda menggerakkan telinganya, seperti setuju.
Di bawah pohon beringin, di kaki Bukit Manoreh,
persahabatan baru terus tumbuh. Pemburu berubah menjadi penjaga. Musuh berubah
menjadi kawan. Dan hutan tetap aman, dijaga oleh tangan-tangan yang dulu ingin
merusaknya.
Demikianlah Episode 13 dari Serial Detektif Cilik Bojong
Sari Edisi II: "Pemburu dari Desa Seberang".
Ancaman pemburu liar berhasil dihadapi bukan dengan
kekerasan, tapi dengan pendekatan hati. Pak Jarwo dan timnya berubah dari
pemburu menjadi penjaga hutan. Mereka menjadi sahabat baru bagi Tim Penyelidik
Cilik dan Kai Muda.
Bersambung...
Namun, tantangan belum berakhir. Masih ada misteri-misteri
lain yang menanti. Saksikan kelanjutan petualangan Raka, Wati, Bejo, dan Kai
Muda di: Episode 14: Kancil Kecil Tersesat
CATATAN PENULIS
Episode 13 ini mengajarkan kita bahwa setiap orang bisa
berubah. Pak Jarwo, pemburu liar yang keras, akhirnya tersentuh oleh kebaikan
dan kebijaksanaan anak-anak Bojong Sari. Ia belajar bahwa ada cara hidup yang
lebih baik dari sekadar mengambil dari alam.
Kadang, musuh terbesar kita bukanlah orang jahat, tapi
orang yang tidak tahu cara yang benar. Tugas kita adalah menunjukkan jalan,
bukan memusuhi.
Saksikan petualangan seru berikutnya!
Salam hangat dari Bojong Sari,
Slamet Riyadi






0 komentar:
Posting Komentar