Malam itu hujan turun deras di jalan lintas kota Sampit.
Bukan gerimis biasa yang hanya membasahi dedaunan, tetapi
hujan lebat yang mengguyur dengan kemarahan langit yang tak terbendung.
Butir-butir air sebesar jagung jatuh bergantian, memecah aspal jalan raya,
menciptakan genangan-genangan yang memantulkan cahaya lampu kendaraan yang
lalu-lalang.
Jalan lintas Kalimantan membentang basah dan licin. Di
kanan-kiri jalan, pohon-pohon kelapa sawit berbaris seperti prajurit yang tak
berkedip menyaksikan tragedi yang akan terjadi. Kabut tipis menggantung rendah,
menyelimuti aspal hitam yang berkilau diterpa lampu mobil-mobil yang melintas.
Pukul sebelas malam lewat dua puluh menit.
Jam digital di dashboard mobil bus antar kota itu
menunjukkan angka yang tak berarti bagi Aji Wungkal. Yang berarti baginya hanyalah
jarak yang harus ditempuh, tiga puluh kilometer lagi menuju Desa Jelapat, tiga
puluh kilometer lagi menuju kampung halaman, menuju ibunya yang menanti, menuju
Yulia dan Purnomo yang besok akan datang.
Aji duduk di kursi dekat jendela. Tubuhnya pegal, wajahnya
lebam bekas siksaan anak buah Liong, matanya sayu menahan kantuk dan sakit.
Bajunya kusut, kotor, dan basah kena air hujan yang merembes dari jendela yang
tak tertutup rapat.
Namun di balik semua kepayahan itu, ada secercah harapan di
hatinya.
Besok, ia akan bertemu Yulia. Besok, ia akan memeluk
Purnomo. Besok, ia akan memulai hidup baru. Ia sudah lepas dari Rubiah, perempuan
itu telah meninggal, meski dengan cara yang tragis. Ia sudah lepas dari Liong, ia
baru saja kabur dari penyekapan, meski sekarang dikejar-kejar anak buahnya.
Yang penting, ia selamat. Yang penting, ia bisa pulang.
"Bu... Yul... Purnomo... tunggu Aji," bisiknya
lirih.
Bus melaju kencang. Sopirnya, seorang lelaki paruh baya,
mencoba mengejar waktu. Jalanan licin, tapi ia tak peduli. Ia sudah biasa
melewati jalan ini ribuan kali.
Aji memejamkan mata. Pikirannya melayang ke masa lalu. Ke
ayahnya yang sudah tiada. Ke ibunya yang setia menanti. Ke Yulia yang masih
memberinya kesempatan. Ke Purnomo yang baru mulai mengenalnya.
"Aji janji... Aji akan jadi anak baik... jadi suami
baik... jadi bapak baik..."
Tiba-tiba, dari kursi belakang, seseorang bangkit. Seorang
lelaki bertubuh besar dengan tato di leher. Matanya tajam menatap Aji.
Aji tak menyadarinya. Ia terlalu lelah, terlalu larut dalam
pikirannya.
Lelaki itu mendekat. Diam-diam. Hingga ia berdiri tepat di
samping kursi Aji.
"Lo Aji Wungkal?" bisiknya.
Aji tersentak. Ia menoleh dan melihat wajah itu. Wajah yang
dikenalnya. Salah satu anak buah Liong yang menyiksanya di gudang.
"Lo... lo—"
"Diem!" Pisau menekan pinggang Aji. "Lo
pikir bisa kabur dari Bos? Lo pikir gue nggak ada di bus ini? Dari terminal gue
udah ngikutin lo. Sekarang lo ikut gue turun, atau lo mati di sini."
Aji membeku. Dadanya berdebar kencang. Pikirannya kacau. Ia
sudah hampir sampai. Ia sudah hampir pulang. Dan sekarang... sekarang...
"Turun! Sekarang!"
Aji tak punya pilihan. Ia berdiri perlahan. Penumpang lain
tidur atau asyik dengan ponselnya, tak ada yang memperhatikan.
Mereka berjalan ke pintu belakang. Preman itu membuka pintu
darurat.
"Lompat!"
Aji memandang ke luar. Jalanan basah, gelap, dan di
belakang sana, lampu truk besar mulai terlihat.
"LOMPAT! ATAU GUE TUSUK!"
Aji mengambil napas dalam-dalam. Ia ingat ibunya. Ia ingat
Yulia. Ia ingat Purnomo.
"Maafin Aji... Aji gagal lagi..."
Ia melompat.
Tubuhnya jatuh di aspal basah.
Guling-guling, membentur aspal, terseret beberapa meter.
Kulitnya terkoyak, darah mengalir, rasa sakit menjalar di sekujur tubuh. Namun ia
masih hidup. Ia mencoba bangkit.
Di depannya, lampu truk menyilaukan.
Suara klakson panjang, memekakkan telinga.
Suara rem berdecit, melengking, menyayat hati.
Aji menoleh ke arah datangnya truk. Matanya membelalak.
Waktu seakan berhenti.
Ia melihat bayangan truk kontainer raksasa itu melaju tak
terkendali di jalan licin. Sopirnya mencoba mengerem, tapi ban truk kehilangan
traksi di aspal basah. Truk oleng. Oleng ke kanan. Ke kiri. Dan kemudian... ke
arahnya.
"AJI!"
Teriakan itu datang dari preman di atas bus. Bukan teriakan
marah, tapi terlakan ngeri.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Benturan.
Bukan sekadar benturan, tetapi tabrakan dahsyat yang
mengguncang malam.
Logam bertabrakan dengan daging. Tulang remuk. Darah
memercik. Tubuh Aji terpental, terlempar, jatuh di pinggir jalan.
Bus ikut terdampak. Preman itu jatuh dari pintu yang
terbuka, terlindas roda belakang.
Jeritan penumpang. Jeritan sopir truk. Jeritan malam yang
hancur.
Beberapa menit kemudian, sirene ambulans meraung-raung dari
kejauhan. Lampu merah dan biru berkelap-kelip di tengah gelapnya malam.
Petugas-petugas dengan seragam loreng berlarian ke lokasi kejadian.
"Ada korban! Cepat!"
"Dua orang! Satu di pinggir jalan, satu di bawah
bus!"
"Panggil tim rescue!"
"Bawa tandu!"
Di pinggir jalan, Aji terbaring dengan mata setengah
terbuka. Tubuhnya hancur, darah menggenang di sekelilingnya. Napasnya
tersengal-sengal, dadanya sesak.
Pikirannya melayang.
Ia melihat Ibu Jayanti. Ibunya yang setia berdoa untuknya
setiap malam.
Ia melihat Pak Sudiro. Ayahnya yang sudah tiada, tersenyum
padanya.
Ia melihat Yulia. Istri yang ia khianati, namun masih mau
memberi kesempatan.
Ia melihat Purnomo. Anaknya yang lucu, yang baru mulai
mengenalnya.
"Ma... Pa... Yul... Purnomo... maaf... maafin
Aji..."
Napasnya tersengal. Pandangannya mulai gelap.
"Aji gagal lagi... gagal jadi anak baik... gagal jadi
suami... gagal jadi bapak..."
Matanya terpejam.
Tangannya yang berlumuran darah terkulai lemas.
Di kejauhan, ambulans masih meraung. Petugas medis berlari
menghampiri. Tapi Aji tak lagi merasakan apa-apa.
Malam itu, di jalan lintas kota yang basah dan licin,
seorang anak durhaka menghembuskan napas terakhirnya.
Tak ada yang menyangka bahwa kecelakaan itu akan menjadi
akhir dari perjalanan hidup seorang anak tunggal yang pernah menjadi harapan
besar keluarga kaya di Desa Jelapat.
Namun jauh sebelum kecelakaan itu terjadi...
Jauh sebelum Aji melompat dari bus malam itu...
Jauh sebelum tubuhnya hancur diterjang truk...
Sebuah kesalahan demi kesalahan, sebuah pilihan demi
pilihan yang salah, telah membawa Aji Wungkal menuju kehancurannya sendiri.
Dan kisah itu, kisah tentang seorang anak durhaka yang
kehilangan jalan pulang, akan terungkap mulai dari awal...
Dari Desa Jelapat yang subur...
Dari keluarga Sudiro yang kaya raya...
Dari seorang anak tunggal yang lahir di tengah limpahan
harta, namun mati dalam penyesalan yang tak sempat terucap.
BAGIAN I
AKAR KEHIDUPAN DI DESA JELAPAT
Desa Jelapat
Nama itu mungkin tak banyak dikenal orang. Tak tercatat
dalam peta-peta besar yang dijual di toko buku. Tak disebut dalam berita-berita
nasional di televisi. Namun bagi mereka yang lahir dan besar di sana, Desa
Jelapat adalah dunia. Adalah segalanya. Adalah tempat di mana napas pertama
dihirup dan napas terakhir dihembuskan.
Desa itu terletak di tepi sungai yang membelah pedalaman
Kalimantan. Sungai Jelapat namanya. Airnya coklat kehitaman, khas sungai-sungai
di tanah Borneo yang kaya akan gambut. Di musim kemarau, air sungai surut,
memperlihatkan akar-akar pohon yang menjulur ke air seperti jari-jari raksasa
yang meminta. Di musim hujan, sungai meluap, membawa kayu-kayu gelondongan dan
dedaunan kering dari hulu.
Namun yang membuat Desa Jelapat istimewa bukan sungainya.
Bukan pula udaranya yang sejuk atau penduduknya yang ramah.
Yang membuat desa ini istimewa adalah tanahnya.
Tanah di Desa Jelapat subur. Luar biasa subur. Orang-orang
tua di sana punya pepatah: "Tancep tebu, dadi gulo. Tancep kayu, dadi
omah." Tancapkan tebu, jadilah gula. Tancapkan kayu, jadilah rumah.
Artinya, apa pun yang ditanam di tanah Jelapat akan tumbuh dengan subur, seolah
tanah itu sendiri bernyawa, memberi kehidupan pada setiap bibit yang jatuh ke
pangkuannya.
Maka tak heran jika di desa itu, kebun sawit dan karet
membentang sejauh mata memandang. Pepohonan sawit berbaris rapi, pelepahnya
yang lebar menaungi tandan-tandan buah yang siap panen. Pohon-pohon karet
berdiri tegak, dengan bekas-bekas sadapan di batangnya yang mengering, menunggu
sentuhan pisau penyadap keesokan harinya.
Pagi itu, matahari baru saja merekah di ufuk timur.
Semburat jingga kemerahan melukis langit, menerobos
sela-sela dedaunan sawit yang membentang luas. Embun masih menggantung di
ujung-ujung daun, berkilau seperti mutiara saat terkena sinar mentari pagi.
Udara segar bercampur aroma tanah basah dan getah karet mengisi penciuman siapa
pun yang melintas di desa itu.
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan utama
desa, beberapa orang lelaki paruh baya duduk bersila di atas bangku kayu
panjang. Warung itu milik Bu Marni, seorang janda berusia lima puluhan yang
terkenal dengan kopi tubruknya yang kental dan pisang gorengnya yang renyah.
"Pagi, Pak Karto. Duduk sini," sapa Pak Wahyudi,
Ketua RT setempat, kepada seorang lelaki tua yang baru datang.
Pak Karto mengangguk, lalu duduk di bangku yang disediakan.
Usianya sudah enam puluh lima tahun, namun tubuhnya masih tegap. Wajahnya
keriput oleh usia dan terik matahari, namun matanya masih tajam. Ia salah satu
petani karet tertua di Desa Jelapat.
"Kopi satu, Bu Marni. Yang pait," pinta Pak
Karto.
"Pait terus, Pak Karto. Nanti encoknya kambuh,"
goda Bu Marni sambil menuang kopi panas ke cangkir keramik putih yang sudah
retak di bagian pinggirnya.
"Encok mah urusan nanti. Yang penting perut hangat
sekarang," jawab Pak Karto, tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang
tinggal separuh.
Suasana warung mulai ramai. Pak Samin, Kepala Dusun Barat,
datang dengan sepeda onthel tuanya. Bel masuk sekolah berbunyi dari kejauhan,
mengingatkan bahwa anak-anak desa sudah mulai berangkat sekolah. Burung-burung
pipit beterbangan dari satu pohon ke pohon lain, mencari makan di sela-sela
rumput.
"Wah, rame juga pagi ini," ucap Pak Samin sambil
memarkir sepedanya.
"Lagi pada nggak ke kebun kali, Pak," jawab Pak
Wahyudi. "Musim karet lagi sepi. Lagi nunggu daun gugur dulu baru sadap
lagi."
"Iya, bener itu," sahut Pak Karto. "Sekarang
lagi istirahat. Kasihan pohonnya kalau terus disadap. Nanti getahnya sedikit,
pohonnya juga cepet rusak."
Pembicaraan mengalir dari masalah karet ke sawit, dari
sawit ke kabar desa, dari kabar desa ke rencana pemilihan kepala desa yang akan
datang. Namun tiba-tiba Pak Samin mengubah topik.
"Eh, ngomong-ngomong soal pemilihan, gimana kabar Pak
Sudiro?" tanyanya.
Suasana warung mendadak hening.
Pak Karto meletakkan cangkir kopinya perlahan. Matanya menerawang
jauh, seperti melihat sesuatu yang tak terlihat orang lain. Pak Wahyudi
menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala. Bu Marni yang sedang
menggoreng pisang di dapur ikut terdiam, hanya suara pisang yang berdesis di
minyak panas yang terdengar.
"Sudiro... ya ampun, Sudiro..." gumam Pak Karto
pelan.
Pak Sudiro.
Nama itu. Hanya dengan menyebutnya, aura pembicaraan
berubah. Dari ringan dan penuh canda, menjadi berat dan sendu. Dari topik
biasa, menjadi perbincangan tentang tragedi.
"Kasian dia," kata Pak Samin lirih. "Dulu
orang terkaya di desa ini. Punya kebun sawit dua puluh hektar. Kebun karet
sepuluh hektar. Bengkel mobil di pinggir jalan raya. Rumahnya yang besar di
ujung desa itu, satu-satunya rumah yang pakai marmer di Jelapat. Tapi sekarang..."
"Sekarang?" desak Pak Wahyudi, meski ia
sebenarnya sudah tahu.
"Sudah jual semuanya," jawab Pak Samin.
"Tanah sawit habis. Kebun karet tinggal tiga hektar yang nggak jadi dijual
karena ada masalah sertifikat. Bengkel sudah ditutup setahun lalu. Rumahnya
yang besar... itu pun sudah digadaikan ke bank. Sekarang tinggal rumah
kontrakan di belakang pasar."
Bu Marni menyodorkan piring berisi pisang goreng ke meja.
Tangannya gemetar sedikit. "Dulu Ibu Jayanti sering belanja ke warung
saya. Beli daging ayam, beli ikan segar, beli sayur mayur. Nggak pernah nawar.
Sekarang... kadang beli tempe aja utang dulu."
"Karena anak," desis Pak Karto dengan nada getir.
"Karena anak itu. Aji Wungkal."
Nama itu seperti kutukan.
Semua orang di warung itu diam. Mereka semua tahu cerita
Aji Wungkal. Semua tahu bagaimana anak tunggal Pak Sudiro dan Ibu Jayanti itu
menjadi duri dalam daging keluarganya sendiri. Semua tahu bagaimana judi dan
perempuan menghancurkan hidup seorang pemuda yang dulu penuh harapan.
"Dulu waktu kecil, Aji itu anak baik," kenang Pak
Karto. Rambutnya yang putih tertiup angin pagi. "Saya ingat, waktu umur
lima tahun, dia sering main ke kebun karet saya. Saya kasih karet gelondongan
bekas sadapan, dia buat mainan. Senyumnya lebar banget. Saya bilang ke Sudiro,
'Bang, anakmu ini kelak jadi orang hebat.'"
Pak Karto berhenti. Matanya berkaca-kaca.
"Siapa sangka... siapa sangka..."
"Siapa sangka dia jadi begini," sambung Pak
Samin. "Sudah dua tahun lalu kejadiannya. Waktu dia pulang ke desa, minta
uang orang tuanya. Nggak dikasih, dia ngamuk. Sampai lapor polisi. Sampai
mediasi di Polsek. Sampai Pak Sudiro ngasih dia hak ngelola kebun sawit. Tapi
itu pun nggak cukup."
"Kabarnya sekarang dia di kota," kata Pak
Wahyudi. "Judi lagi katanya. Dan yang lebih parah..."
"Iya, saya tahu," potong Pak Karto. "Dia
bawa Rubiah, istri sirinya itu. Katanya mereka berdua yang habiskan semua harta
Sudiro."
Bu Marni menghela napas. "Padahal Aji itu sudah punya
istri baik. Yulia. Anaknya sopan, rajin, sabar. Punya anak laki-laki, Purnomo,
sekarang sudah remaja. Tapi ditinggal begitu saja, kawin siri sama perempuan
kota."
"Perempuan ambisius itu," tambah Pak Samin.
"Saya lihat sekali waktu dia ikut Aji ke desa. Jalannya gaya, omongannya
tinggi. Ngomong sama warga sini pakai bahasa Indonesia melulu, padahal orang
sini kan biasa pakai bahasa Banjar. Sok kota banget."
"Yang rugi ya keluarga Sudiro," Pak Wahyudi
menggeleng. "Sudiro sendiri sekarang sakit-sakitan. Jatuh tempo pas Aji
minta uang, dia marah besar. Sampai sumpahi anaknya sendiri."
"Sumpah apa?" tanya Bu Marni, meski ia sudah
pernah mendengar cerita itu.
Pak Karto menatap lurus ke depan. Matanya tajam.
"Sudiro bilang: 'Aji, kau anak durhaka. Hidupmu akan hancur seperti kertas
yang kau bakar untuk judi itu. Dan kau akan mati dalam penyesalan, tanpa sempat
minta maaf sama ibu bapakmu.'"
Udara pagi yang sejuk terasa dingin tiba-tiba.
Semua orang di warung itu merinding.
"Mudah-mudahan... mudah-mudahan nggak terjadi,"
ucap Bu Marni lirih.
Namun di dalam hatinya, ia tahu.
Doanya mungkin sudah terlambat.
Dua puluh kilometer dari warung Bu Marni, di sebuah rumah
kontrakan sederhana di belakang pasar, Pak Sudiro terbangun dari tidurnya.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Napasnya
tersengal-sengal. Ia duduk di tepi ranjang, memegangi dada kirinya yang
berdebar tidak karuan. Jantungnya berdetak cepat, seperti mau keluar dari
rongga dada.
"Sudiro... Sudiro, kenapa?" Ibu Jayanti
terbangun, langsung memegangi suaminya.
Pak Sudiro tak menjawab. Matanya menerawang menatap dinding
kamar yang lembab. Catnya sudah mengelupas di sana-sini. Langit-langitnya
rendah, membuat ruangan terasa sempit dan sesak. Jauh berbeda dari rumah besar
mereka dulu, dengan kamar tidur ber-AC dan tempat tidur ukuran king size.
"Aku mimpi," ucap Pak Sudiro akhirnya. Suaranya
parau. "Mimpi buruk."
"Mimpi apa?"
Pak Sudiro menoleh pada istrinya. Di usianya yang enam
puluh tiga tahun, Ibu Jayanti masih terlihat cantik. Wajahnya yang bulat,
rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis, matanya yang lembut, semua
masih seperti dulu, saat pertama kali mereka menikah empat puluh tahun lalu.
Namun sekarang, di mata itu ada kesedihan yang tak terucap. Kesedihan yang sama
yang ia rasakan setiap hari.
"Aku mimpi Aji," bisik Pak Sudiro.
Ibu Jayanti tersentak. Tangannya refleks memegang dada.
"Aji? Mimpi apa?"
Pak Sudiro menunduk. Air matanya jatuh perlahan, membasahi
sarung lusuh yang ia pakai. Lelaki yang dulu gagah perkasa, yang dulu disegani
di seluruh Desa Jelapat, yang dulu punya segalanya, sekarang duduk lemah di
tepi ranjang, menangis seperti anak kecil.
"Aji kecelakaan," katanya lirih. "Mobilnya
tabrakan sama truk. Di jalan lintas, dekat perbatasan kota. Aku lihat dia...
dia..."
"Apa? Dia apa, Sudiro?" Ibu Jayanti mengguncang
lengan suaminya.
Pak Sudiro mengangkat wajahnya. Matanya merah, basah.
"Dia minta maaf sama kita, Jay. Dia minta maaf."
Ibu Jayanti tertegun.
Dan kemudian ia pun menangis.
Keduanya berpelukan di ruang sempit itu, menangis dalam
diam, menangis untuk anak yang mereka cintai namun telah menyakiti mereka
begitu dalam. Menangis untuk anak yang dulu mereka banggakan, namun kini
menjadi aib keluarga. Menangis untuk anak tunggal yang entah di mana berada,
entah dalam keadaan bagaimana.
Mereka tak tahu bahwa saat itu juga, di jalan lintas kota
yang basah oleh hujan, mobil yang ditumpangi anak mereka telah hancur
berkeping-keping.
Mereka tak tahu bahwa anak mereka sedang sekarat.
Mereka tak tahu bahwa takdir telah berbicara.
Dan sumpah Pak Sudiro, sumpah yang diucapkan dalam amarah, sedang
digenapi.
Lima puluh tahun lalu, nama Sudiro belum dikenal di Desa
Jelapat.
Ia datang dari Jawa, tepatnya dari sebuah desa kecil di
lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Waktu itu usianya baru
tiga belas tahun. Ikut orang tuanya yang transmigran, yang mendapat jatah tanah
dua hektar dari pemerintah.
Sudiro kecil tak punya apa-apa. Baju yang ia pakai lusuh,
bolong di siku. Celananya pendek, tak sampai mata kaki. Sandal jepit yang ia
pakai sudah putus talinya, diganti dengan tali rafia. Namun di matanya ada api.
Api yang tak pernah padam. Api untuk mengubah nasib.
"Suro, ayo makan," panggil ibunya, seorang
perempuan Jawa sederhana dengan kebaya lusuh dan rambut disanggul rapi.
Sudiro, waktu itu masih dipanggil Suro, mendekat. Ia
melihat meja makan yang hanya beralas daun pisang. Nasi secukupnya, lauk tempe
goreng dan sambal terasi. Ia duduk bersila, makan dengan lahap. Tak ada protes,
tak ada keluhan. Ia tahu, inilah yang ada. Inilah yang bisa diberikan orang
tuanya.
"Bapakmu lagi di kebun," kata ibunya. "Karet
mulai bisa disadap katanya. Bulan depan kita mungkin bisa beli lauk ayam."
Mata Suro berbinar. "Ayam, Bu? Betulan?"
Ibu tersenyum, mengusap kepala anaknya. "Betulan, Le.
Asal kamu rajin bantu Bapak di kebun."
Suro mengangguk semangat.
Sejak hari itu, ia rajin membantu ayahnya. Bangun pukul
empat pagi, berjalan kaki tiga kilometer ke kebun karet, menyadap pohon demi
pohon hingga matahari terbit. Pulang ke rumah, mandi, lalu berangkat ke
sekolah. Sore harinya, kembali ke kebun, membantu mengolah getah karet menjadi
lembaran-lembaran yang siap jual.
Hidup keras, namun Suro tak pernah mengeluh.
Tahun berganti tahun.
Sudiro tumbuh menjadi pemuda. Tubuhnya tegap, wajahnya
tampan dengan rahang tegas dan mata tajam. Ia dikenal sebagai pemuda rajin,
jujur, dan tak pernah main-main. Di desa, semua orang menyukainya. Para orang
tua menjadikannya contoh untuk anak-anak mereka. Para pemuda sebayanya
menjadikannya teman yang baik. Para gadis desa... mereka semua diam-diam
menaruh hati.
Namun Sudiro hanya punya satu fokus: sukses.
Usai lulus SMP, ia tak melanjutkan ke SMA. Bukan karena tak
mampu secara akademis, nilainya selalu bagus. Tapi karena ekonomi keluarga tak
memungkinkan. Ayahnya mulai sakit-sakitan, terkena penyakit paru-paru akibat
terlalu lama bekerja di kebun tanpa pelindung. Ibu Sudiro pun mulai renta, tak
mampu lagi bekerja berat.
Sudiro mengambil alih semua tanggung jawab keluarga.
Ia bekerja lebih keras. Selain mengurus kebun karet warisan
orang tuanya, ia juga bekerja serabutan. Jadi kuli bangunan, jadi buruh angkut
di pasar, jadi tukang ojek kalau ada yang butuh. Tak ada pekerjaan yang ia
tolak. Tak ada waktu yang ia sia-siakan.
"Kau ini kayak kerbau, Suro," goda
teman-temannya. "Kerja terus, nggak kenal lelah."
Sudiro hanya tersenyum. "Kerbau itu binatang, aku
manusia. Manusia harus kerja biar hidup."
Pada usia dua puluh tahun, Sudiro mulai merintis usaha
sendiri. Ia membuka bengkel kecil di pinggir jalan. Modal seadanya: beberapa
kunci pas, obeng, dongkrak bekas, dan kompresor tua yang ia beli dari hasil
menabung bertahun-tahun. Tempatnya pun cuma gubuk reyot beratap rumbia.
Namun perlahan, usahanya berkembang.
Orang-orang mulai percaya pada keahliannya. Ia terkenal bisa
memperbaiki mesin apa saja, dari sepeda motor tua sampai traktor sawit yang rusak.
Harga yang ia pasang murah, tapi kualitas kerjanya bagus. Tak pernah ada
komplain, tak pernah ada yang kecewa.
"Kalau Suro yang betulin, awet," begitu kata
orang-orang.
Dari situ, bengkelnya mulai ramai. Dari gubuk reyot, ia
bisa membangun bengkel semi permanen. Dari hanya memperbaiki motor, ia mulai
bisa memperbaiki mobil. Dan dari situ, rezeki mulai mengalir deras.
Di usia dua puluh tiga tahun, Sudiro menikah.
Jayanti namanya. Gadis asli Desa Jelapat, anak seorang
petani karet biasa. Cantiknya tak perlu diragukan: kulit kuning langsat, rambut
panjang hitam berkilau, senyum manis yang mampu meluluhkan hati siapa pun.
Namun yang paling membuat Sudiro jatuh cinta bukan kecantikannya, melainkan
kebaikan hatinya.
Mereka bertemu di kebun karet. Waktu itu Jayanti sedang
membantu orang tuanya menyadap karet. Sudiro kebetulan lewat, melihat Jayanti
kesulitan mengangkat ember getah yang penuh. Tanpa pikir panjang, ia turun
membantu.
"Terima kasih, Mas," ucap Jayanti malu-malu.
"Sama-sama, Mbak. Nama saya Sudiro," jawabnya
sambil mengulurkan tangan.
Sejak itu, mereka sering bertemu. Kadang di kebun, kadang
di pasar, kadang di acara-acara desa. Dan dari situ, benih cinta mulai tumbuh.
Setahun kemudian, mereka menikah. Pernikahan sederhana,
hanya dihadiri keluarga dan tetangga dekat. Tak ada resepsi mewah, tak ada
pesta berlebihan. Namun kebahagiaan terpancar dari wajah kedua mempelai.
"Semoga langgeng, Mas," doa orang-orang.
"Semoga cepat punya momongan," doa yang lain.
Dan doa itu terkabul.
Setahun setelah menikah, Jayanti hamil.
Kabar itu membuat Sudiro bahagia bukan kepalang. Ia bekerja
lebih giat lagi, menabung lebih banyak lagi, mempersiapkan segala sesuatu untuk
kelahiran anak pertamanya.
"Kita harus punya rumah yang layak untuk anak
kita," katanya pada Jayanti.
Ia mulai membangun rumah. Bukan rumah biasa, tetapi rumah
besar di ujung desa. Dua lantai, dengan halaman luas, pagar besi kokoh, dan yang
paling membuat orang desa terkesima, lantai marmer. Ya, lantai marmer. Barang
mewah yang tak pernah terpikirkan oleh warga desa biasa.
"Wah, Pak Sudiro, rumahnya bagus sekali!" puji
tetangga-tetangga.
Sudiro hanya tersenyum rendah hati. "Alhamdulillah,
rezeki dari Allah."
Sembilan bulan berlalu.
Dan pada suatu malam, di tengah hujan deras yang mengguyur
Desa Jelapat, Jayanti melahirkan.
Bayi laki-laki.
Sehat, sempurna, dengan tangisan keras yang menggema di
seluruh ruangan.
Sudiro menerima bayinya dengan tangan bergetar. Air matanya
jatuh membasahi pipi. Ia tak bisa berkata-kata. Hanya bisa menatap wajah mungil
itu dengan penuh cinta.
"Ini dia, Jay. Anak kita," bisiknya.
Jayanti tersenyum lemah. "Kasih nama apa, Mas?"
Sudiro menatap bayinya. Di wajah mungil itu, ia melihat
masa depan. Ia melihat harapan. Ia melihat semua perjuangan kerasnya selama ini
menemukan makna.
"Aji Wungkal," katanya. "Aji, artinya
berharga. Wungkal, artinya asah. Kita akan asah dia menjadi orang yang
berharga."
"Aji Wungkal... cantik sekali namanya," ucap
Jayanti lirih.
Dan sejak saat itu, Aji Wungkal menjadi pusat dunia
keluarga Sudiro.
Tahun-tahun pertama kehidupan Aji penuh dengan limpahan
kasih sayang.
Sebagai anak tunggal, ia mendapat perhatian penuh dari
kedua orang tuanya. Segala yang ia minta dituruti. Segala yang ia inginkan
diberikan. Tak ada kata tidak untuk Aji kecil.
"Mama, beliin mainan mobil-mobilan," pinta Aji
suatu hari.
"Ya, Nak. Nanti Papa belikan yang besar," jawab
Jayanti.
"Papa, aku mau es krim," pinta lain waktu.
"Ya, Le. Nanti Papa ambilkan," jawab Sudiro.
"Beli sepeda, beli sepeda!" rengek Aji.
"Ya, ya. Besok Papa belikan sepeda baru."
Begitulah setiap hari. Aji tumbuh dalam limpahan materi.
Kamarnya dipenuhi mainan mahal dari kota. Pakaiannya selalu baru, tak pernah
bekas. Makanannya selalu yang terbaik, tak pernah sekadar nasi tempe seperti
masa kecil Sudiro dulu.
Pak Karto, tetangga dekat yang sering melihat langsung,
kadang merasa prihatin.
"Pak Sudiro, maaf ya, saya cuma numpang ngomong,"
katanya suatu hari. "Anak itu, kalau terlalu dimanja, nggak baik. Nanti
susah."
Sudiro tersenyum. Ia menghargai niat baik tetangganya itu.
Tapi dalam hati, ia berpikir berbeda. "Pak Karto, saya dulu susah. Saya
tahu rasanya hidup kekurangan. Sekarang saya punya rezeki lebih, masa saya
nggak kasih yang terbaik buat anak saya?"
"Saya ngerti, Pak. Tapi, "
"Sudah, Pak. Terima kasih sarannya. Tapi biarlah saya
yang tahu cara mendidik anak saya sendiri."
Pak Karto menghela napas. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi.
Ia hanya bisa berharap, semoga anak itu baik-baik saja.
Namun harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan.
Aji tumbuh menjadi anak yang manja.
Di sekolah, ia dikenal sebagai anak orang kaya.
Teman-temannya segan, bahkan takut. Gurunya pun agak segan, karena tahu orang
tuanya adalah penyumbang terbesar untuk pembangunan sekolah.
"Aji, kenapa PR-nya nggak dikerjakan?" tanya Bu Guru
suatu hari.
"Ah, Bu, PR itu buat anak kampung. Saya nggak
perlu," jawab Aji sombong.
Bu Guru terkejut. Ia tak menyangka anak sekecil itu bisa
bicara begitu.
"Kamu jangan sombong, Aji. Siapa pun harus kerja.
Nggak ada yang—"
"Papa saya kaya," potong Aji. "Saya nggak
perlu kerja. Papa yang kerja buat saya."
Kelas menjadi hening. Semua murid menatap Aji dengan
campuran kekaguman dan iri. Bu Guru hanya bisa menggeleng-geleng kepala, tak
tahu harus berkata apa.
Sore harinya, Bu Guru mengunjungi rumah Sudiro. Ia
menceritakan kejadian di sekolah.
Sudiro mendengarkan dengan wajah tegang. Jayanti yang ada
di sampingnya terlihat cemas.
"Maaf, Pak, Bu. Saya nggak bermaksud ikut campur. Tapi
sebagai guru, saya berkewajiban menyampaikan ini. Aji itu anak pintar, potensinya
besar. Tapi sikapnya... maaf, mulai agak bermasalah. Terlalu sombong, suka
meremehkan teman, dan nggak mau kerja keras."
Sudiro mengangguk. "Terima kasih, Bu Guru. Saya akan
bicara dengan Aji."
Namun setelah Bu Guru pergi, Sudiro tak melakukan apa-apa.
Ia terlalu sibuk dengan bengkelnya, dengan kebun-kebunnya, dengan usahanya yang
terus berkembang. Jayanti pun sibuk dengan kegiatan sosialnya di desa. Tak ada
waktu untuk benar-benar duduk dan mendidik Aji dengan serius.
Hingga suatu hari...
Aji berusia dua belas tahun.
Sudiro pulang dari perjalanan bisnis. Ia membawa oleh-oleh
untuk Aji: sepeda gunung merek terkenal, harga jutaan. Ia berharap anaknya akan
senang.
Tapi saat tiba di rumah, ia melihat pemandangan yang tak
pernah ia bayangkan.
Aji sedang bertengkar dengan Jayanti.
"NGGAK MAU! Aku nggak mau!" teriak Aji.
"Tapi, Nak, itu sudah aturan sekolah. Semua murid
harus pakai seragam putih merah. Kamu nggak boleh pakai baju bebas ke
sekolah," jelas Jayanti sabar.
"BODO! Aku nggak suka! Bajunya jelek! Mending aku
nggak sekolah!"
Sudiro melangkah masuk. "Ada apa ini?"
Aji menoleh. Begitu melihat ayahnya, ia langsung lari dan
memeluknya.
"Pa, Mama jahat! Mama nyuruh Aji pake baju
jelek!"
Sudiro menatap istrinya. Jayanti menghela napas.
"Mas, ini soal seragam sekolah. Aji nggak mau pakai
seragam putih merah. Katanya jelek. Dia mau beli seragam baru model lain."
Sudiro tertawa. Ia mengusap kepala Aji. "Ya sudah,
kalau begitu besok Papa belikan yang bagus. Nggak usah pakai seragam sekolah.
Papa yang bikinin seragam sendiri."
Jayanti terbelalak. "Mas?! Itu nggak boleh! Nanti
Aji—"
"Nanti Aji gimana? Anak kita ini istimewa, Jay. Masa
harus pakai seragam kayak anak-anak lain? Biar saja. Yang penting dia mau
sekolah."
Aji tersenyum puas. Ia menatap ibunya dengan kemenangan.
Dan sejak hari itu, Aji menjadi satu-satunya murid di Desa
Jelapat yang tak pernah pakai seragam sekolah. Ia datang dengan kemeja mahal,
celana bahan, sepatu kulit mengkilap. Sementara teman-temannya memakai seragam
putih merah lusuh.
Tak heran jika ia semakin dijauhi.
Tak heran jika ia semakin sombong.
Tak heran jika benih-benih kehancuran mulai tertanam dalam
dirinya.
Di usianya yang keenam belas, Aji Wungkal adalah permata
Desa Jelapat.
Setidaknya, di mata orang tuanya.
Pak Sudiro tak pernah lelah memuji anaknya di depan siapa
pun. Setiap ada tamu yang datang ke rumah, ia akan menunjukkan prestasi-prestasi
Aji. Nilai rapor yang bagus, meski sebenarnya Aji sering menyuruh temannya
mengerjakan PR. Piala-piala lomba—meski sebenarnya ayahnya yang menyumbang dana
besar ke panitia. Foto-foto kegiatan, meski sebenarnya Aji lebih sering
nongkrong daripada ikut kegiatan.
"Lihat ini, Pak Karto. Foto Aji waktu jadi juara
kelas. Dia anak paling pintar di sekolahnya," ujar Sudiro bangga.
Pak Karto hanya tersenyum kecut. Ia tahu persis bagaimana
Aji mendapatkan 'juara kelas' itu. Istrinya yang bekerja sebagai tukang
bersih-bersih sekolah sering bercerita: Aji menyuruh teman sekelasnya yang
pintar untuk mengerjakan semua PR dan ulangannya. Imbalannya? Uang jajan dan
traktir di kantin.
"Pintar... ya, pintar," gumam Pak Karto
diplomatis.
Tapi Sudiro tak peduli. Baginya, Aji adalah segalanya.
Adalah bukti bahwa perjuangan kerasnya selama ini membuahkan hasil. Adalah
warisan yang akan meneruskan nama besar keluarga Sudiro.
"Suatu hari nanti, semua ini akan jadi milik
Aji," kata Sudiro pada Jayanti suatu malam. "Kebun sawit, kebun
karet, bengkel, rumah. Semua. Dia akan jadi orang terkaya di sini. Mungkin
se-Kalimantan Tengah."
Jayanti tersenyum. Namun di dalam hatinya, ada getir yang
tak terucap. Ia melihat perubahan pada anaknya. Aji yang dulu manis, kini mulai
kasar. Aji yang dulu penurut, kini mulai suka membantah. Aji yang dulu rajin
salat, kini lebih sering tidur saat azan berkumandang.
"Mas, aku khawatir sama Aji," ucapnya lirih.
"Khawatir kenapa?"
"Lihat dia akhir-akhir ini. Sering pulang malam. Pergi
sama teman-temannya yang—"
"Temannya?" potong Sudiro. "Memangnya kenapa
dengan teman-temannya? Mereka baik-baik saja. Anak-anak desa biasa."
"Tapi Mas, aku dengar mereka suka mabuk-mabukan di
balai desa. Suka berjudi main kartu. Suka—"
Sudiro tertawa. "Ah, Jay. Itu cuma gosip. Anak muda
wajar kalau cari kesenangan. Nanti juga kapok sendiri kalau sudah dewasa.
Lagipula, Aji anak baik. Dia nggak akan terjerumus."
Jayanti ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa ia melihat
langsung botol-botol miras di kamar Aji. Ingin mengatakan bahwa ia mendengar
Aji bicara di telepon tentang utang main kartu. Ingin mengatakan bahwa
firasatnya berkata lain.
Tapi ia tak bisa.
Ia terlalu takut mengecewakan suaminya yang begitu bangga
pada anak mereka.
Ia terlalu takut dianggap tidak percaya pada anak sendiri.
Maka ia diam.
Dan diamnya menjadi racun yang perlahan-lahan meracuni
keluarganya.
Suatu sore, Aji pulang dengan wajah babak belur.
Bibirnya sobek, matanya bengkak, bajunya kotor dan robek.
Ia masuk ke rumah diam-diam, berusaha agar tak terdengar orang tuanya. Namun
Jayanti yang sedang di dapur mendengar suara langkah kaki yang aneh. Ia keluar
dan terkejut setengah mati.
"AJI! Ada apa denganmu?!"
Aji tersentak. Ia menunduk, tak berani menatap ibunya.
"Nggak pa-pa, Ma. Jatuh dari motor."
"Jatuh?! Mana mungkin jatuh dari motor sampai separah
ini? Itu lebam di mata, itu sobek di baju, itu—"
"Udah, Ma! Urusanku, urusanku!" bentak Aji.
Ia masuk ke kamar, membanting pintu.
Jayanti berdiri terpaku di ruang tamu. Hatinya hancur.
Bukan karena anaknya membentak, tetapi karena ia tahu, ada sesuatu yang lebih
dalam dari sekadar jatuh dari motor.
Sore itu, saat Sudiro pulang dari kebun, Jayanti
menceritakan semuanya.
Sudiro diam. Wajahnya tegang. Ia berjalan menuju kamar Aji,
mengetuk pintu.
"Aji, buka pintu. Papa mau bicara."
Tak ada jawaban.
"Aji! Buka pintu!"
Masih diam.
Sudiro menghela napas. Ia kembali ke ruang tamu, duduk di
sofa, meremas-remas jemarinya.
"Biarkan dia, Jay. Mungkin dia lagi capek. Besok kita
tanya."
Tapi besok tak pernah tiba.
Karena malam itu juga, tanpa sepengetahuan orang tuanya,
Aji pergi dari rumah. Ia kabur. Membawa uang simpanannya, beberapa pakaian, dan
tekad untuk merantau ke kota. Ia muak dengan desa. Muak dengan omongan orang.
Muak dengan kemunafikan.
Jayanti baru tahu keesokan paginya, saat kamar Aji kosong
dan hanya ada secarik kertas di atas meja.
"Ma, Pa.
Aku pergi ke kota. Jangan cari aku. Aku mau buktikan bahwa
aku bisa sukses sendiri, tanpa bantuan kalian. Nanti kalau sudah sukses, aku
pulang. Maafkan Aji.
—Aji"
Jayanti menjerit. Tubuhnya lemas, jatuh ke lantai.
Sudiro membaca surat itu berulang kali. Air matanya jatuh,
membasahi kertas yang mulai kusut.
"Ini salahku, Jay. Salahku," bisiknya. "Aku
terlalu sibuk. Aku lupa mendidik dia. Aku lupa jadi ayah."
Mereka berpelukan, menangis bersama.
Anak tunggal mereka, harapan keluarga, telah pergi.
Untuk memahami Aji Wungkal, kita harus kembali ke masa kecilnya.
Ke saat-saat di mana kepribadiannya dibentuk. Ke saat-saat
di mana benih-benih keangkuhan dan keegoisan mulai tertanam dalam hatinya. Ke
saat-saat di mana cinta orang tua yang tak terkendali justru menjadi racun bagi
jiwanya.
Aji lahir di tengah limpahan harta. Pak Sudiro, ayahnya,
adalah orang terkaya di Desa Jelapat. Kebun sawitnya luas, kebun karetnya
menghasilkan, bengkel mobilnya ramai pelanggan. Uang mengalir deras ke kantong
keluarga itu.
Dan Aji adalah satu-satunya anak.
Tak ada saudara yang harus berbagi. Tak ada pesaing yang
harus diperhitungkan. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harta,
semuanya tercurah hanya untuknya.
Sejak bayi, Aji sudah terbiasa dengan kemewahan.
Tempat tidurnya adalah ranjang ukiran jati, dibeli dari
Jepara dengan harga puluhan juta. Mainannya adalah mobil-mobilan dari Jerman,
boneka dari Amerika, robot dari Jepang. Pakaiannya adalah merek-merek terkenal
yang hanya ada di mal-mal kota besar.
"Jangan main di lumpur, Nak. Nanti kotor," kata
Jayanti setiap kali Aji ingin bermain di halaman.
"Jangan main sama anak itu, Nak. Dia anak tukang
becak," kata pengasuhnya setiap kali Aji mendekati teman sebayanya.
"Kamu ini istimewa, Aji. Jangan bergaul dengan
sembarang orang," kata Pak Sudiro setiap kali melihat Aji bermain dengan
anak-anak desa.
Maka Aji tumbuh dalam gelembung. Gelembung yang
memisahkannya dari realitas. Gelembung yang membuatnya percaya bahwa ia lebih
baik, lebih tinggi, lebih berharga dari orang lain.
Ketika Aji berusia tujuh tahun, terjadi sebuah insiden yang
akan dikenang seumur hidup.
Waktu itu, Aji sedang bermain di halaman rumahnya. Seorang
anak seusianya lewat, membawa mainan layang-layang dari plastik. Layang-layang
itu sederhana, dibuat dari kantong kresek dan bambu bekas sapu.
"Wah, layang-layang!" seru Aji.
Ia berlari mendekati anak itu. "Boleh aku
pinjam?"
Anak itu mengangguk ragu. Ia kenal Aji. Semua orang kenal
Aji. Anak orang kaya yang suka pamer dan sombong.
Aji mengambil layang-layang itu, lalu mencoba
menerbangkannya. Namun karena tak pernah main layang-layang, ia gagal.
Layang-layang itu jatuh, tersangkut di pohon rambutan depan rumahnya.
"Layang-layangku!" teriak anak itu.
Aji memandang ke pohon. "Ya sudah, ambil saja."
"Tapi itu tinggi!"
"Ya itu urusanmu. Bukan urusanku."
Anak itu menangis. Ia memanjat pohon rambutan, berusaha
mengambil layang-layangnya. Namun dahan yang ia pijak patah, dan ia jatuh.
Beruntung, ia hanya luka-luka ringan.
Pak Sudiro yang mendengar keributan keluar rumah. Ia
melihat anak itu menangis, melihat Aji berdiri dengan wajah datar.
"Ada apa, Aji?" tanya Sudiro.
"Nggak pa-pa, Pa. Dia jatuh dari pohon. Udah biasa
anak kampung."
Sudiro menghela napas. Ia memberi anak itu uang lima puluh
ribu sebagai ganti rugi, lalu menyuruhnya pulang.
Malamnya, Jayanti bicara pada Aji.
"Nak, kenapa kamu tega? Dia jatuh karena ambil
layang-layang yang kamu pinjam."
Aji mengangkat bahu. "Salah sendiri dia. Masa mainan
begitu aja dipermasalahin. Lagian temannya jelek. Temen-temenku di sekolah
mainannya bagus-bagus."
Jayanti terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa. Di satu
sisi, ia tahu anaknya salah. Di sisi lain, ia terlalu sayang untuk memarahi.
"Ya sudah, lain kali jangan begitu ya," katanya
lemah.
Aji tersenyum. Ia tahu ibunya takkan marah. Ia tahu ayahnya
takkan menghukum. Ia tahu ia bisa melakukan apa saja dan tetap aman.
Dan itulah yang tertanam dalam dirinya.
Ketika Aji berusia sepuluh tahun, Pak Sudiro membelikannya
sepeda motor.
Bukan sepeda motor biasa, melainkan motor trail merek
terkenal, dengan harga yang setara dengan gaji buruh setahun. Aji yang belum
cukup umur itu langsung girang bukan kepalang.
"Boleh aku bawa ke sekolah, Pa?" tanyanya.
"Boleh saja, asal hati-hati."
Maka sejak hari itu, Aji naik motor ke sekolah. Sementara
teman-temannya berjalan kaki atau naik sepeda ontel, ia melenggang dengan motor
trail yang menggelegar.
Di kelas, ia semakin disegani. Bukan karena kebaikannya,
tetapi karena kekayaannya. Anak-anak takut padanya. Takut kalau Aji marah,
takut kalau orang tua Aji marah, takut kalau kehilangan kesempatan untuk
numpang kaya.
Guru-guru pun segan. Mereka tahu Pak Sudiro adalah donatur
utama pembangunan ruang kelas baru. Mereka tahu Pak Sudiro adalah penyumbang
terbesar untuk kegiatan sekolah. Maka mereka tutup mata saat Aji bolos, tutup
mata saat Aji tidak mengerjakan PR, tutup mata saat Aji bicara kasar pada
teman.
"Aji itu anak baik, cuma agak keras," kata
mereka.
Dan Aji tumbuh semakin liar.
Suatu hari, saat Aji berusia tiga belas tahun, ia
bertengkar dengan gurunya.
Guru itu, Pak Salim, adalah guru matematika yang tegas. Ia
tak peduli siapa pun orang tua murid, ia akan memberi hukuman pada siapa saja
yang melanggar aturan.
Aji, yang terbiasa bebas dari hukuman, tak terima saat Pak
Salim menghukumnya karena bolos.
"Kamu pikir kamu siapa, berani hukum saya?"
bentak Aji.
Pak Salim tenang. "Saya guru kamu. Saya berhak
menghukum siapa saja yang melanggar."
"Bapak tahu ayah saya siapa? Ayah saya donatur sekolah
ini!"
"Saya tahu. Tapi itu tak ada hubungannya. Di kelas
ini, semua murid sama. Tak peduli anak siapa."
Aji marah besar. Ia pulang dan mengadu pada ayahnya. Ia
meminta ayahnya untuk melaporkan Pak Salim ke kepala sekolah, bahkan ke dinas
pendidikan.
Pak Sudiro, yang buta karena cinta pada anaknya, melakukan
apa yang diminta.
Besoknya, Pak Salim dipanggil kepala sekolah. Ia ditegur,
diperingatkan, dan diminta untuk lebih 'memahami' kondisi Aji.
Pak Salim hanya tersenyum pahit. Ia tahu, di desa ini, uang
bicara lebih keras dari kebenaran.
Sejak hari itu, ia tak pernah lagi menghukum Aji. Tak
pernah lagi menegur. Tak pernah lagi mengingatkan. Ia membiarkan Aji melakukan
apa saja.
Dan Aji semakin menjadi-jadi.
Di usianya yang kelima belas, Aji sudah terbiasa dengan
alkohol dan judi.
Awalnya cuma iseng. Minum-minum bareng teman di balai desa.
Main kartu kecil-kecilan. Namun lama-lama menjadi kebiasaan. Menjadi kebutuhan.
Menjadi candu.
Pak Sudiro dan Jayanti tak tahu. Atau mungkin mereka tahu
tapi memilih tutup mata.
"Ah, anak muda wajar kalau coba-coba. Nanti juga
berhenti sendiri," kata Sudiro.
Tapi mereka tak pernah berhenti sendiri. Mereka butuh
bantuan untuk berhenti. Dan bantuan itu tak pernah datang dari orang tuanya.
Suatu malam, Aji pulang dalam keadaan mabuk berat. Ia
muntah di ruang tamu, mengotori karpet mahal buatan Turki. Jayanti yang
melihatnya terkejut, namun ia tak bisa marah. Ia hanya membersihkan muntahan
anaknya, membantunya ke kamar, membasuh wajahnya dengan air hangat.
"Aji, Nak, kamu minum?" tanyanya lirih.
Aji setengah sadar. "Iya, Ma. Cuma sedikit."
"Minum itu haram, Nak. Allah nggak suka."
Aji tertawa. Suaranya parau dan menakutkan. "Allah?
Mana Allah? Kalau Allah ada, kenapa Dia biarin kita susah? Kenapa Dia nggak
kasih kita uang banyak kayak Papa?"
Jayanti terpaku. Ia tak tahu harus menjawab apa.
"Kamu ini... kamu ini..."
"Aku ini apa, Ma? Aku ini anak durhaka?" Aji
tertawa lagi. "Iya, Ma. Aku memang durhaka. Tapi Papa yang bikin aku
begini. Mama juga yang bikin aku begini. Kalian manjain aku. Kalian kasih semua
yang aku mau. Kalian bikin aku nggak tahu artinya susah. Sekarang aku begini, salah
siapa?"
Jayanti menangis. Ia memeluk anaknya, meski Aji setengah
tak sadar.
"Aji... Aji... Maafin Mama... Maafin Papa..."
Tapi Aji tak mendengar. Ia sudah tertidur, terlelap dalam
mabuknya.
Dan Jayanti duduk di sampingnya semalaman, menangis dalam
diam.
Ia tak tahu bahwa malam itu adalah awal dari kehancuran.
Ia tak tahu bahwa anaknya sudah kehilangan jalan pulang.
Pagi itu, matahari bersinar terang di Desa Jelapat.
Udara segar, burung-burung berkicau, dan aroma kopi dari
warung Bu Marni tercium hingga ke ujung jalan. Namun di rumah besar keluarga
Sudiro, suasana berbeda.
Jayanti terbangun dengan kepala pening. Semalaman ia
menangis, semalaman ia berdoa. Ia berdoa agar anaknya sadar, agar anaknya
kembali ke jalan yang benar. Ia bahkan berjanji pada Tuhan akan menjadi ibu
yang lebih baik.
Namun saat ia membuka pintu kamar Aji, kamar itu kosong.
Hanya ada selembar kertas di atas meja.
"Ma, Pa.
Aku pergi ke kota. Jangan cari aku. Aku mau buktikan bahwa
aku bisa sukses sendiri, tanpa bantuan kalian. Nanti kalau sudah sukses, aku
pulang. Maafkan Aji.
—Aji"
Jayanti menjerit. Tubuhnya lemas, jatuh ke lantai.
Sudiro yang mendengar jeritan itu berlari dari kamar mandi.
Ia melihat istrinya tergeletak, melihat kertas di tangannya, dan langsung
paham.
"AJI!" teriaknya sekencang-kencangnya.
Ia berlari ke luar rumah. Berlari ke jalan, ke pasar, ke
terminal. Namun Aji tak ada. Ia sudah pergi. Mungkin dengan bus malam, mungkin
dengan mobil sewaan. Tak ada yang tahu.
Pak Karto yang sedang duduk di warung Bu Marni melihat Sudiro
berlari dengan wajah panik. Ia berdiri, menghampiri.
"Ada apa, Pak Sudiro? Kok lari-lari?"
"Aji... Aji pergi, Pak. Kabur ke kota!"
Pak Karto terkejut. "Lho, kabur? Kenapa?"
Sudiro tak menjawab. Ia terus berlari ke terminal. Namun
sesampainya di sana, bus malam sudah berangkat dua jam lalu. Ia tak tahu ke
mana arahnya.
Dengan tangan kosong, Sudiro kembali ke rumah. Jayanti
sudah duduk di ruang tamu, wajahnya pucat pasi.
"Sudah, Mas. Biarkan dia pergi. Mungkin itu yang
terbaik," katanya lirih.
"Terbaik bagaimana?! Dia anak kita! Anak tunggal
kita!"
"Iya, Mas. Tapi lihatlah. Lihat apa yang terjadi
dengan dia di sini. Kita terlalu memanjakannya. Kita membuatnya manja dan
sombong. Mungkin di kota, dia akan belajar. Mungkin di kota, hidup akan
mengajarinya arti perjuangan."
Sudiro menghela napas panjang. Ia duduk di samping
istrinya, memeluknya erat.
"Aku takut, Jay. Takut dia kenapa-napa di sana."
"Aku juga, Mas. Tapi kita harus percaya. Percaya bahwa
dia akan baik-baik saja. Dan percaya bahwa suatu hari dia akan pulang."
Mereka berpelukan, menangis bersama.
Di luar, matahari terus bersinar. Burung-burung terus
berkicau. Hidup terus berjalan.
Namun di hati Pak Sudiro dan Ibu Jayanti, ada lubang yang
tak terisi. Lubang berbentuk anak tunggal mereka yang pergi tanpa pamit.
Sementara itu, di dalam bus malam yang melaju meninggalkan
Desa Jelapat, Aji Wungkal duduk di kursi dekat jendela.
Ia memandang ke luar, melihat pepohonan sawit yang
berlarian ke belakang. Desa kelahirannya semakin menjauh, semakin kecil, semakin
kabur.
Hatinya campur aduk. Ada sedih karena meninggalkan orang
tua. Ada marah karena merasa tak dipahami. Ada bangga karena akhirnya bisa
mandiri. Ada takut karena tak tahu apa yang akan dihadapi.
"Lo ngapain, Bang, merenung melulu?" tegur
penumpang di sampingnya. Seorang lelaki seusianya, dengan rambut gondrong dan
tato di lengan.
Aji menoleh. "Nggak, nggak apa-apa."
"Orang Jelapat, ya? Saya lihat lo naik dari
sana."
"Iya. Lo juga?"
"Gue orang Sampit. Tapi sering lewat Jelapat. Desa lo
indah ya, banyak kebun."
Aji tersenyum getir. "Indah. Tapi gue muak."
"Muak kenapa?"
Gue muak sama semuanya. Sama orang tua yang terlalu
protektif. Sama warga desa yang suka gosip. Sama kehidupan yang itu-itu saja.
Gue mau ke kota. Mau jadi orang sukses. Mau buktikan bahwa gue bisa."
Lelaki itu tersenyum. "Nama lo siapa?"
"Aji. Aji Wungkal. Lo?"
"Gue Yanto. Panggil aja Yan. Gue juga mau ke kota.
Cari kerja. Kabur dari desa karena orang tua gue miskin. Mau buktikan bahwa
orang miskin juga bisa sukses."
Mereka berjabat tangan. Dan di dalam bus malam itu,
terjalinlah persahabatan yang akan mengubah hidup Aji selamanya.
Yanto bukan orang baik-baik. Ia mantan preman pasar yang
beberapa kali masuk penjara. Ia kenal dunia gelap, kenal mafia, kenal segala
macam cara cepat kaya. Dan ia akan mengenalkan semua itu pada Aji.
Namun Aji tak tahu.
Ia hanya senang punya teman baru. Teman yang bisa diajak
ngobrol, yang tak menilai, yang tak menggurui.
Ia tak tahu bahwa pertemuan ini adalah awal dari
kehancuran.
Ia tak tahu bahwa di kota nanti, ia akan bertemu dengan
berbagai macam orang. Orang baik, orang jahat. Orang tulus, orang munafik.
Orang yang akan menolong, dan orang yang akan menjerumuskan.
Ia tak tahu bahwa di kota nanti, ia akan menikah dengan
Yulia, gadis baik-baik yang sabar dan setia. Ia akan punya anak, Purnomo, yang
menjadi cahaya matanya.
Ia tak tahu bahwa di kota nanti, ia akan bertemu Rubiah,
perempuan ambisius yang akan menghancurkan rumah tangganya.
Ia tak tahu bahwa di kota nanti, ia akan kecanduan judi
online, kehilangan segalanya, dan terpaksa kembali ke desa untuk meminta harta
orang tuanya.
Ia tak tahu bahwa semua itu akan terjadi.
Saat ini, ia hanya seorang pemuda dua puluh tahun yang
duduk di bus malam, menatap ke luar jendela, bermimpi tentang masa depan yang
gemilang.
Mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.
Mimpi yang akan berakhir tragis di jalan lintas kota, di
bawah guyuran hujan, di dalam mobil hancur bersama perempuan yang dicintainya.
Namun itu semua masih jauh.
Sangat jauh.
Bus malam terus melaju, meninggalkan Desa Jelapat,
meninggalkan masa lalu, menuju masa depan yang kelam.
Dan Aji Wungkal, anak tunggal harapan keluarga, tak tahu
bahwa ia sedang berjalan menuju jurang kehancuran.
BAGIAN II
KEHIDUPAN BARU DI KOTA
Bus malam itu tiba di kota Sampit pukul lima pagi.
Matahari belum terbit, namun langit timur sudah mulai
merekah jingga. Kabut tipis menyelimuti terminal, bercampur asap knalpot
bus-bus yang datang dan pergi. Suara mesin menderu, suara calo berteriak, suara
burung gereja yang bangun lebih awal—semuanya bercampur menjadi simfoni pagi
yang khas terminal.
Aji turun dari bus dengan kaki sempoyongan. Perjalanan
delapan jam membuat seluruh tubuhnya pegal. Matanya perih karena kurang tidur.
Kepalanya pusing karena selama di bus ia hanya tidur-tidur ayam.
"Ini Sampit?" tanyanya pada Yanto yang turun di
belakangnya.
"Iya. Selamat datang di kota tercinta," jawab
Yanto sambil menguap lebar. "Lo punya kenalan di sini?"
Aji menggeleng. "Nggak ada. Lo?"
Yanto tersenyum lebar. "Banyak, dong. Gue kan orang sini.
Ikut aja sama gue. Nanti gue kenalin sama temen-temen gue."
Aji ragu. Ia tak kenal Yanto. Baru bertemu semalam di bus.
Namun di mana lagi ia bisa pergi? Ia tak punya siapa-siapa di kota ini. Maka ia
mengangguk.
"Oke. Gue ikut."
Mereka berjalan keluar terminal. Udara pagi Sampit terasa
lembab, berbeda dengan udara desa yang sejuk. Aji menarik napas dalam-dalam,
mencoba membiasakan diri.
Di luar terminal, Yanto melambai pada seorang tukang ojek.
"Bang, ke Jalan Sembuluh. Gang Mawar. Berapa?"
"Tiga puluh ribu, Bang."
"Mahal amat. Dua puluh aja."
"Ya udah, dua puluh lima. Naik."
Aji dan Yanto naik ke dua ojek berbeda. Motor melaju
meninggalkan terminal, memasuki jalan-jalan kota yang mulai ramai. Aji
memandang kiri kanan, melihat gedung-gedung, toko-toko, rumah-rumah yang
berjejer rapi. Kota Sampit lebih besar dari yang ia bayangkan. Lebih ramai.
Lebih hiruk pikuk.
"Kota yang besar," gumamnya.
Ojek berhenti di sebuah gang sempit. Gang Mawar namanya. Di
kanan kiri gang, rumah-rumah petak berjejer rapat. Catnya kusam, atapnya banyak
yang bocor, namun ada kehidupan di sana. Anak-anak bermain bola di gang,
ibu-ibu memasak di dapur terbuka, bapak-bapak duduk-duduk sambil ngopi.
Yanto turun dari ojek, membayar, lalu menepuk pundak Aji.
"Ini tempat tinggal gue. Kontrakan murah meriah. Lo
bisa numpang sementara."
Aji memandang rumah petak itu. Kecil, kusam, tapi terlihat
hangat. Ia mengangguk.
"Makasih, Yan."
Hari-hari pertama Aji di kota dihabiskan untuk berkeliling
mencari kerja.
Ia tak punya keahlian khusus. Lulusan SMA, nilai pas-pasan,
pengalaman nol besar. Namun ia punya semangat. Semangat untuk membuktikan bahwa
ia bisa sukses.
Yanto memperkenalkannya pada teman-temannya. Ada Joni,
sopir truk yang suka mabuk. Ada Alex, kenek truk yang suka judi. Ada Budi,
preman pasar yang suka memalak. Ada Heru, tukang ojek yang suka nyabu.
Aji bergaul dengan mereka semua. Bukan karena ia suka,
tetapi karena ia butuh koneksi. Ia pikir, dengan kenal banyak orang, akan mudah
cari kerja.
Namun kenyataan berkata lain.
Setiap hari ia melamar kerja. Ke toko, ke pabrik, ke
bengkel, ke mana saja. Namun selalu ditolak. Entah karena ijazahnya tak cukup,
entah karena tampangnya yang seperti anak orang kaya yang manja.
"Maaf, kami cari yang berpengalaman," kata
pemilik toko.
"Maaf, kami cari yang lulusan SMK," kata pabrik.
"Maaf, lowongan sudah tutup," kata bengkel.
Aji frustrasi. Uang tabungannya mulai menipis. Ia hanya
punya sisa lima ratus ribu rupiah. Cukup untuk makan seminggu, tapi tak cukup
untuk sewa kontrakan.
"Gue gagal, Yan," keluhnya suatu malam. "Gue
kira di kota gampang cari kerja. Ternyata susah."
Yanto yang sedang merokok di teras hanya tersenyum.
"Ya begitulah, Ji. Hidup di kota nggak semudah yang lo bayangkan. Banyak
yang lebih pintar, lebih berpengalaman, lebih necis dari lo. Lo harus
sabar."
"Tapi uang gue tinggal sedikit. Sebulan lagi
habis."
Yanto menghela napas. "Gue ada tawaran, Ji. Tapi lo
harus siap mental."
"Apa?"
"Ikut gue jaga malam di pasar. Bayarannya lumayan.
Tapi kerjanya agak... keras."
Aji mengerutkan kening. "Maksud lo?"
"Gue jagain lapak-lapak di pasar. Bayaran dari
pedagang. Tapi kalau ada yang nakal, gue harus bertindak."
Aji mengerti. Yanto menawarinya pekerjaan sebagai preman.
Sebagai penjaga pasar dengan cara-cara kekerasan.
Ia diam beberapa saat. Pikirannya berkecamuk. Ia anak orang
kaya. Ia tak pernah bekerja kasar, apalagi jadi preman. Namun apa pilihan lain?
Pulang ke desa dengan tangan kosong? Malu. Gengsinya tak mengizinkan.
"Gue terima," katanya akhirnya.
Yanto tersenyum. "Nah, gitu dong. Besok mulai
ya."
Hidup Aji berubah sejak malam itu.
Ia jadi preman pasar. Setiap malam, bersama Yanto dan
beberapa anak buahnya, ia berkeliling pasar, memastikan semua aman. Kadang ada
maling, mereka kejar. Kadang ada preman lain, mereka usir. Kadang ada pedagang
yang nunggak setoran, mereka tagih dengan cara keras.
Aji tak bangga dengan pekerjaannya. Tapi ia butuh uang. Dan
pekerjaan ini memberinya uang. Lumayan banyak, malah.
Namun di balik semua itu, ada sisi lain Aji yang tak pernah
ia tunjukkan. Sisi yang lembut, sisi yang baik, sisi yang ingin berubah.
Sisi itu muncul saat ia bertemu Yulia.
Yulia adalah penjual gorengan di pasar.
Setiap sore, ia datang dengan gerobak kecilnya, menjual
pisang goreng, tahu isi, risoles, dan berbagai gorengan lainnya. Usianya baru
dua puluh tahun, namun wajahnya sudah menunjukkan ketegaran seorang pejuang
hidup. Ia yatim piatu, tinggal dengan neneknya yang sudah renta. Dari jualan
gorengan, ia menghidupi mereka berdua.
Aji pertama kali melihat Yulia saat sedang jaga malam. Waktu
itu jam sembilan malam, Yulia masih berjualan. Padahal pasar sudah sepi,
pembeli tak ada.
"Mbak, kok masih jualan? Udah malem," tegur Aji.
Yulia menoleh. Wajahnya cantik, meski agak kusam karena
debu pasar. Senyumnya manis, meski agak lelah.
"Iya, Mas. Masih nunggu pembeli. Nenek lagi sakit,
butuh obat."
Aji merasa iba. Ia mengeluarkan uang dua puluh ribu dari
sakunya.
"Sini, saya beli semua gorengan yang ada."
Yulia terkejut. "Lho, Mas? Ini banyak, Mas. Nggak
habis."
"Nggak apa-apa. Buat teman-teman saya jaga malam.
Mereka suka gorengan."
Yulia tersenyum. Senyum yang tulus. "Terima kasih,
Mas. Makasih banyak."
Sejak malam itu, Aji sering mampir ke lapak Yulia. Bukan
hanya beli gorengan, tapi juga ngobrol. Mereka bicara tentang banyak hal.
Tentang kehidupan, tentang mimpi, tentang masa depan.
"Mas Aji asli mana?" tanya Yulia suatu hari.
"Jelapat. Desa kecil di Seruyan."
"Jauh juga. Kok bisa ke Sampit?"
Aji menghela napas. "Ceritanya panjang. Intinya, mau
cari hidup baru."
Yulia mengangguk. "Saya ngerti. Saya juga begitu.
Ditinggal orang tua, tinggal sama nenek. Harus hidup sendiri."
Aji memandang Yulia dengan rasa hormat. Gadis ini, meski
hidup susah, tak pernah mengeluh. Ia selalu tersenyum, selalu semangat, selalu
berusaha.
Berbeda dengan dirinya yang manja dan mudah menyerah.
"Lo hebat, Yul," katanya tulus. "Gue kagum
sama lo."
Yulia tersipu. "Ah, Mas Aji bercanda."
"Nggak. Gue serius."
Mereka bertatapan. Dan di saat itu, sesuatu tumbuh di
antara mereka.
Cinta.
Hubungan Aji dan Yulia berkembang cepat.
Mereka makin sering bertemu. Aji selalu menyempatkan diri
mampir ke lapak Yulia, meski hanya untuk lima menit. Yulia selalu menyiapkan
gorengan favorit Aji—pisang goreng—tanpa diminta.
Teman-teman Aji mulai menggoda.
"Wah, si Aji lagi kasmaran," ledek Yanto.
"Udah punya calon istri nih kayaknya," goda Joni.
Aji hanya tersenyum. Ia tak peduli. Ia bahagia.
Setahun berlalu. Aji dan Yulia memutuskan untuk menikah.
Pernikahan sederhana. Hanya dihadiri teman-teman Aji dan
beberapa tetangga Yulia. Tak ada keluarga dari Aji, karena ia belum berani
memberi tahu orang tuanya. Ia masih malu, masih ingin membuktikan diri dulu
sebelum pulang.
Namun di hari pernikahannya, Aji menulis surat untuk orang
tuanya.
"Ma, Pa.
Saya sudah menikah. Namanya Yulia. Dia baik, dia sabar, dia
sayang sama saya. Kami tinggal di Sampit. Saya kerja jaga pasar. Mungkin tidak
seperti yang kalian harapkan, tapi setidaknya saya halal. Doakan kami.
Suatu hari saya akan pulang. Membawa istri, dan semoga
anak-anak kami. Maafkan saya yang belum bisa jadi anak baik.
—Aji"
Pak Sudiro membaca surat itu berulang kali. Air matanya
jatuh. Jayanti menangis di sampingnya.
"Dia menikah, Jay. Anak kita menikah."
"Syukurlah, Mas. Semoga bahagia."
Mereka tak tahu bahwa pernikahan itu akan menjadi awal dari
kebahagiaan, namun juga awal dari kehancuran.
Setahun setelah menikah, Yulia hamil.
Kabar itu membuat Aji bahagia bukan kepalang. Ia
berlari-lari kecil di kontrakan sempitnya, tertawa, menari, seperti anak kecil
yang dapat mainan baru.
"Gue mau jadi bapak! GUE MAU JADI BAPAK!"
teriaknya.
Yulia tertawa melihat tingkah suaminya. "Iya, iya.
Tapi jangan lari-lari, nanti jatuh."
Aji berhenti, lalu memeluk istrinya erat. "Makasih,
Yul. Makasih."
"Makasih buat apa?"
"Makasih udah mau jadi istri gue. Makasih udah mau
mengandung anak gue. Makasih udah sabar sama gue."
Yulia tersenyum. Ia membalas pelukan suaminya. "Aku
juga makasih, Mas. Makasih udah mau nerima aku apa adanya."
Mereka berpelukan lama, menikmati kebahagiaan yang
sederhana namun tulus.
Sembilan bulan berlalu.
Yulia melahirkan di rumah bersalin sederhana di pinggiran
Sampit. Prosesnya lama, melelahkan, bahkan sempat hampir fatal karena Yulia
kehabisan darah. Namun akhirnya, bayi itu lahir selamat.
Bayi laki-laki.
Sehat, sempurna, dengan tangisan yang keras.
Aji menerima bayinya dengan tangan bergetar. Air matanya
jatuh membasahi pipi. Ia tak bisa berkata-kata. Hanya bisa menatap wajah mungil
itu dengan penuh cinta.
"Ini dia, Yul. Anak kita," bisiknya.
Yulia tersenyum lemah. Wajahnya pucat, namun matanya berbinar.
"Kasih nama apa, Mas?"
Aji memandang bayinya. Di wajah mungil itu, ia melihat masa
depan. Ia melihat harapan. Ia melihat kesempatan kedua untuk menjadi lebih
baik.
"Purnomo," katanya. "Artinya cahaya. Dia
akan jadi cahaya dalam hidup kita."
"Purnomo... cantik sekali namanya."
Sejak saat itu, Purnomo menjadi pusat dunia Aji dan Yulia.
Hidup Aji berubah setelah kelahiran anaknya.
Ia bekerja lebih giat. Tak hanya jaga malam di pasar, ia
juga jadi kuli bangunan kalau ada proyek. Ia jadi tukang ojek kalau sedang
lowong. Ia jadi apa saja yang penting halal dan menghasilkan uang.
"Lo kok kerja keras banget, Ji?" tanya Yanto
suatu hari.
Aji tersenyum. "Gue punya anak, Yan. Harus cari uang
buat susu, buat popok, buat sekolah nanti."
"Tapi lo kerja hampir dua puluh jam sehari. Capek,
dong."
"Capek? Ya capek. Tapi lihat anak gue tidur, lihat dia
tersenyum, semua capek hilang."
Yanto menggeleng-geleng kepala. "Lo berubah, Ji. Dulu
lo manja, males. Sekarang rajin banget."
"Ya namanya juga jadi bapak. Harus bertanggung
jawab."
Aji memang berubah. Ia mulai meninggalkan kebiasaan
buruknya. Ia berhenti minum-minum, berhenti main kartu, berhenti bergaul dengan
preman-preman nakal. Ia hanya fokus pada keluarga.
Yanto kadang heran, kadang iri, tapi ia tetap mendukung sahabatnya.
"Lo hebat, Ji. Gue salut."
Purnomo tumbuh menjadi anak yang cerdas dan lucu.
Di usia satu tahun, ia sudah bisa berjalan. Di usia dua
tahun, ia sudah bisa bicara banyak kata. Di usia tiga tahun, ia sudah hafal
doa-doa pendek yang diajarkan ibunya.
Aji sangat sayang pada Purnomo. Setiap pulang kerja, ia
selalu mengajaknya bermain. Main cilukba, main petak umpet, main mobil-mobilan
dari kardus bekas. Tak perlu mainan mahal, yang penting kebersamaan.
"Pa, Purnomo mau es krim," pinta Purnomo suatu
sore.
Aji tersenyum. "Iya, Nak. Nanti Papa belikan."
"Beli yang coklat, Pa. Yang pake toping."
"Iya, iya."
Aji menggendong anaknya, lalu berjalan ke warung es krim di
ujung gang. Di sana, ia membelikan es krim coklat dengan toping meses
warna-warni. Purnomo makan dengan lahap, wajahnya belepotan coklat.
"Enak, Pa!" serunya.
Aji tertawa. Ia mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih.
"Iya, Nak. Makan yang banyak, biar besar."
Malam harinya, saat Purnomo sudah tidur, Aji bicara pada
Yulia.
"Yul, gue pengin pulang kampung."
Yulia mengerutkan kening. "Pulang? Ke Jelapat?"
"Iya. Gue pengin kenalin Purnomo sama kakek neneknya.
Mereka belum pernah lihat cucu. Kasihan."
Yulia diam. Ia tahu hubungan Aji dengan orang tuanya rumit.
Tapi ia juga tahu, Aji butuh berdamai dengan masa lalunya.
"Terserah Mas. Aku ikut aja."
"Tapi bukan sekarang, Yul. Masih belum cukup uangnya.
Nanti kalau sudah lebih mapan, kita pulang. Janji."
Yulia mengangguk. "Iya, Mas. Aku tunggu."
Namun janji itu tak pernah ditepati.
Karena sebelum Aji sempat pulang, Rubiah masuk dalam
hidupnya.
Dan segalanya hancur.
Tahun kelima Aji di Sampit adalah tahun yang menentukan.
Usahanya mulai maju. Dari jaga pasar, ia sekarang punya
kios kecil di pasar yang sama. Ia jualan sembako, kebutuhan pokok, barang-barang
sehari-hari. Yulia yang mengurus kios, sementara Aji masih jaga malam untuk
tambahan penghasilan.
Purnomo, yang kini berusia empat tahun, mulai sekolah di TK
dekat rumah. Ia anak yang cerdas, disayang guru, dan punya banyak teman.
Hidup mereka sederhana, tapi bahagia.
Namun di balik kebahagiaan itu, ada Aji yang mulai gelisah.
Ia merasa jenuh. Rutinitas yang itu-itu saja membuatnya bosan. Ia ingin lebih.
Lebih kaya, lebih sukses, lebih diakui.
Dan di saat itulah ia bertemu kembali dengan Yanto.
Yanto, sahabat lamanya, sudah berubah. Ia sekarang jadi
pengusaha. Punya mobil mewah, pakaian mahal, dan banyak teman berduit. Ia
sering mengajak Aji keluar, makan di restoran mahal, nongkrong di kafe elit.
"Lo kaya raya, Yan?" tanya Aji suatu hari.
Yanto tertawa. "Ya lumayanlah, Ji. Lo juga bisa, kok.
Asal mau."
"Mau apa?"
Yanto merendahkan suaranya. "Investasi. Gue punya
banyak kenalan di kalangan atas. Ada yang punya bisnis properti, ada yang punya
tambang, ada yang punya judi."
Aji mengernyit. "Judi? Judi online?"
"Online, offline, semua ada. Lo tahu, Ji, judi itu
bisnis paling menguntungkan. Yang main bisa kaya, yang punya bandar lebih kaya
lagi. Lo mau ikut? Gue kenalin sama bosnya."
Aji ragu. Ia ingat janjinya pada Yulia. Ia ingat sumpahnya
untuk berhenti judi. Tapi di sisi lain, godaan itu besar. Ia lihat Yanto yang
kaya raya, sementara ia masih hidup pas-pasan.
"Aku pikirin dulu, Yan."
"Ya udah. Tapi jangan lama-lama, Ji. Kesempatan nggak
datang dua kali."
Malam itu, Aji pulang dengan pikiran kacau.
Ia memandangi kontrakannya yang sempit. Memandangi Yulia
yang sedang menjahit baju Purnomo yang sobek. Memandangi Purnomo yang tidur
pulas di dipan bambu.
"Kenapa, Mas?" tanya Yulia melihat raut wajah
suaminya yang berubah.
"Nggak, nggak apa-apa."
"Mas, aku tahu kamu ada masalah. Cerita aja."
Aji menghela napas. "Yul, kalau ada kesempatan buat
kita lebih kaya, lo mau?"
Yulia mengerutkan kening. "Maksud Mas?"
"Investasi. Temen gue, Yanto, nawarin ikut bisnis.
Katanya bisa bikin kita kaya."
Yulia diam sebentar. "Bisnis apa, Mas?"
"Bisnis... properti. Dan lain-lain."
Yulia tak bodoh. Ia tahu maksud Aji. Ia tahu Yanto dan
kawanannya bukan pengusaha properti, tapi bandar judi.
"Mas, jangan. Aku nggak mau Mas ikut-ikut bisnis kayak
gitu. Kita sudah cukup. Nggak usah kaya raya, yang penting halal."
Aji kesal. "Lo pikir cukup? Lihat kontrakan kita, Yul.
Lihat baju Purnomo yang lo jahit itu. Lihat hidup kita. Ini cukup menurut
lo?"
Yulia terkejut. Aji jarang bicara keras padanya.
"Maaf, Mas. Aku hanya—"
"Udah, lo istirahat aja. Gue mau keluar bentar."
Aji pergi, meninggalkan Yulia dengan hati hancur.
Seminggu kemudian, Aji menemui Yanto.
"Gue setuju, Yan. Gue ikut."
Yanto tersenyum lebar. "Nah, gitu dong. Besok gue
kenalin sama bosnya."
Malam itu, di sebuah rumah mewah di pinggiran Sampit, Aji
bertemu dengan bos judi online terbesar di Kalimantan Tengah.
Namanya Liong. Orang Tionghoa-Indonesia, usia lima puluhan,
tubuh gempal, wajah ramah namun matanya tajam. Ia duduk di sofa kulit mewah,
dikelilingi oleh anak buahnya yang bertato.
"Jadi, ini Aji? Temennya Yanto?" sapa Liong
ramah.
Aji mengangguk. "Iya, Bos."
"Duduk, duduk. Santai aja. Yanto udah cerita banyak
tentang lo. Lo anak baik, katanya. Rajin, setia, dan lagi butuh duit."
Aji duduk di sofa. Gugup, tapi berusaha tenang.
"Gue suka orang butuh duit. Orang butuh duit itu
gampang diatur. Asal lo mau kerja keras, lo bisa kaya raya di sini."
"Kerja apa, Bos?"
Liong tersenyum. "Lo ikut gue, lo jadi agen judi
online. Lo cari pemain, lo dapat komisi. Gampang. Pemain menang, lo untung.
Pemain kalah, lo untung juga."
Aji mengerti. Ia akan jadi calo judi. Menjaring orang-orang
untuk bermain di situs Liong.
"Gue setuju, Bos."
"Bagus. Besok mulai."
Aji terjun ke dunia baru.
Setiap hari, ia mencari pemain. Ke pasar, ke warung, ke
kafe, ke mana saja. Ia menawarkan judi online pada siapa pun yang ditemui. Ada
yang tertarik, ada yang menolak. Tapi seiring waktu, jaringan Aji semakin
besar.
Yulia tahu, tapi ia diam. Ia takut. Takut kehilangan
suaminya. Takut ditinggal seperti istri-istri lain yang suaminya terjerumus
judi.
Aji berubah. Ia pulang makin malam, bahkan kadang tak
pulang sama sekali. Ia jarang bicara dengan Yulia. Ia jarang main dengan
Purnomo. Uangnya memang banyak, tapi kebahagiaan keluarganya hilang.
"Pa, Purnomo kangen," rengek Purnomo suatu malam
saat Aji pulang.
Aji, yang lelah dan pusing, mengabaikannya. "Pa lagi
capek, Nak. Tidur sana."
Purnomo menangis. Yulia menenangkannya, tapi hatinya perih.
Malam itu, Yulia berdoa. Berdoa agar suaminya sadar. Berdoa
agar keluarganya kembali utuh.
Tapi doanya tak dijawab.
Karena makin lama, Aji makin dalam terjerumus.
Dan di saat itulah Rubiah muncul.
Tahun pertama Aji jadi agen judi online berjalan lancar.
Ia mendapat komisi besar dari setiap pemain yang ia bawa.
Uang mengalir deras ke kantongnya. Ia bisa menyewa rumah yang lebih layak,
membeli mobil bekas, menyekolahkan Purnomo di TK yang lebih bagus.
Yulia mulai menerima. Meski tak suka dengan pekerjaan
suaminya, ia tak bisa memungkiri bahwa kehidupan mereka membaik.
"Mas, ini rezeki nggak berkah," katanya suatu
hari.
Aji tertawa. "Berkah atau nggak, yang penting kita
bisa makan enak, bisa tidur nyenyak. Lo mau balik ke kontrakan sempit, jualan
gorengan?"
Yulia diam. Ia tak mau. Tapi hatinya tak tenang.
"Mas, janji sama aku. Jangan main judi. Jangan sampai
terjerumus. Cukup jadi agen aja."
Aji mengangguk. "Iya, iya. Gue janji."
Namun janji itu mudah diucapkan, sulit ditepati.
Semua berawal dari rasa penasaran.
Suatu malam, Aji sedang menunggui pemainnya yang sedang
judi online di situs Liong. Pemain itu, seorang pedagang kaya, main dengan
taruhan besar. Dalam satu jam, ia menang puluhan juta.
"Gila, gampang banget," gumam pemain itu.
Aji, yang melihat dari dekat, mulai tertarik. Ia
membayangkan kalau ia yang main, ia bisa menang lebih banyak. Ia bisa kaya
dalam semalam. Ia bisa membeli rumah mewah, mobil baru, segala yang ia
inginkan.
"Mau coba, Ji?" tanya pemain itu.
Aji ragu. "Gue... gue nggak punya modal."
"Ah, modal kecil aja. Sepuluh ribu aja bisa. Coba
dulu."
Aji tergoda. Ia mengeluarkan uang sepuluh ribu dari
sakunya, lalu memasang taruhan.
Ia menang.
Langsung dapat dua puluh ribu.
Aji tersenyum. "Wah, gampang juga."
Ia pasang lagi. Menang lagi. Pasang lagi. Menang lagi.
Dalam waktu setengah jam, Aji mengantongi dua ratus ribu
dari modal sepuluh ribu.
"Gila!" serunya.
Sejak malam itu, Aji mulai main judi. Awalnya
kecil-kecilan, hanya saat ada waktu luang. Namun lama-lama, ia makin ketagihan.
Makin besar taruhannya. Makin sering ia main.
Yulia mulai curiga saat melihat suaminya sering begadang di
depan laptop. Saat uang belanja mulai berkurang. Saat tabungan mereka mulai
terkuras.
"Mas, Mas main judi?" tanyanya suatu malam.
Aji tersentak. Laptopnya hampir jatuh. "Apa? Nggak,
nggak kok."
"Jangan bohong, Mas. Aku lihat sendiri."
Aji menghela napas. Ia tahu tak bisa berbohong lagi.
"Iya, Yul. Gue main. Tapi cuma kecil-kecilan. Nggak
apa-apa."
Yulia menangis. "Mas, Mas janji sama aku! Mas bilang
cuma jadi agen, nggak main!"
"Iya, tapi—"
"Tapi apa?! Judi itu haram, Mas! Nggak ada
berkahnya!"
Aji marah. "Lo pikir gue nggak tahu? Gue tahu! Tapi lo
lihat, kita bisa punya rumah bagus, mobil, sekolah bagus buat Purnomo, semua
dari judi!"
"ITU HARAM, MAS! Haram!"
Mereka bertengkar hebat malam itu. Yulia menangis
sejadi-jadinya. Purnomo terbangun dan ikut menangis. Aji keluar rumah, menginap
di tempat Yanto.
Namun esok harinya, Aji kembali main judi.
Dan seterusnya, dan seterusnya.
Kecanduan tak bisa dihentikan dengan omelan. Kecanduan
butuh pertolongan. Tapi Aji tak mau ditolong. Ia merasa bisa mengendalikan
diri. Ia merasa akan berhenti kalau sudah menang besar.
Tapi penjudi tak pernah menang besar. Mereka hanya terus
kalah, terus mengejar kekalahan, terus terjerumus makin dalam.
Setahun kemudian, Aji sudah kehilangan banyak uang.
Tabungannya habis. Rumah yang ia sewa terancam diusir
karena tak bayar kontrakan. Mobilnya sudah dijual untuk menutup utang. Purnomo
terpaksa pindah ke sekolah yang lebih murah.
Yulia sudah tak kuat lagi. Setiap hari ia menangis. Setiap
hari ia berdoa. Namun Aji tak juga sadar.
"Mas, kita harus ngomong serius," katanya suatu
malam.
Aji, yang lagi sibuk main judi di laptop, tak menoleh.
"Ngobrol nanti. Ini lagi seru."
Yulia mematikan laptop.
"HEI! Apa-apaan lo?!"
"Ini serius, Mas. Aku nggak kuat lagi."
Aji terkejut melihat raut wajah istrinya. Yulia terlihat
lelah, pucat, matanya sembab.
"Mas, aku hamil lagi."
Aji terbelalak. "Hamil?!"
"Iya. Tapi aku nggak tahu harus senang atau sedih.
Dengan keadaan kita begini, dengan Mas terus main judi, aku nggak tahu anak ini
bisa hidup atau nggak."
Aji terdiam. Ia memeluk Yulia erat.
"Maafin gue, Yul. Maafin gue. Gue janji, gue akan
berhenti."
Yulia menangis di pelukannya. "Beneran, Mas?"
"Beneran. Demi anak kita."
Namun janji itu lagi-lagi tak ditepati.
Seminggu kemudian, Aji sudah main judi lagi.
Dan kali ini, ia kalah lebih besar dari sebelumnya.
Rubiah lahir dari keluarga miskin di sebuah desa terpencil
di Kalimantan Selatan.
Ayahnya buruh tani, ibunya pembantu rumah tangga. Ia anak
kelima dari enam bersaudara. Hidupnya keras sejak kecil. Tak pernah merasakan
kemewahan, tak pernah punya mainan bagus, tak pernah makan di restoran.
Namun Rubiah punya satu kelebihan: ia cantik. Cantik
sekali. Kulit putih, rambut panjang hitam berkilau, mata besar dengan bulu mata
lentik, tubuh proporsional. Kecantikannya membuat banyak lelaki tergila-gila.
Sejak remaja, Rubiah sudah bermimpi untuk hidup mewah. Ia
tak mau jadi orang miskin seperti orang tuanya. Ia ingin kaya, ingin punya
rumah besar, mobil mewah, perhiasan mahal. Dan ia yakin, kecantikannya adalah
tiket menuju impian itu.
"Mbak Rubiah cantik, cocok jadi artis," puji
teman-temannya.
"Cantik doang, tapi miskin," sindir yang lain.
Rubiah tak peduli. Ia terus berusaha. Setelah lulus SMA, ia
merantau ke Sampit. Mencari kerja, mencari peluang, mencari lelaki kaya yang
bisa mengubah nasibnya.
Ia kerja jadi SPG di mal, jadi pramuniaga di butik, jadi
resepsionis di hotel. Di setiap tempat, ia selalu mencari perhatian lelaki.
Tapi lelaki yang datang kebanyakan kelas menengah, tak cukup kaya untuk
memenuhi impiannya.
Hingga suatu hari, ia bertemu Yanto di sebuah kafe.
"Lo cantik, Mbak. Mau kenalan?" goda Yanto.
Rubiah memandang Yanto. Lelaki ini pakai baju mahal, jam
tangan mewah, sepatu branded. Pasti orang kaya, pikirnya.
"Boleh. Siapa nama?" jawabnya manis.
"Gue Yanto. Lo?"
"Rubiah."
Sejak itu, mereka sering bertemu. Yanto mengenalkan Rubiah
pada teman-temannya. Dan di sanalah Rubiah melihat Aji.
Aji pertama kali melihat Rubiah di sebuah pesta di rumah
Liong.
Waktu itu Aji sedang sibuk mengurus pemain judi online yang
baru menang besar. Ia tak sengaja menabrak Rubiah yang sedang membawa minuman.
Gaun merah Rubiah basah kena jus jambu.
"Awas! Mata lo di mana?!" sentak Rubiah.
Aji menoleh. Dan waktu seakan berhenti.
Perempuan di depannya begitu cantik. Cantik yang tak pernah
ia lihat sebelumnya. Lebih cantik dari artis-artis di TV. Lebih cantik dari
bintang iklan.
"Maaf... maaf, Mbak. Gue nggak sengaja," ucap Aji
gugup.
Rubiah mendelik. "Nggak sengaja? Mata lo pake buat
apa? Gue lagi nggak gerak, lo nabrak gue!"
Aji tersenyum kaku. "Gue ganti, Mbak. Gue beliin baju
baru."
Rubiah melirik Aji. Dari pakaiannya, ia tahu Aji bukan
orang sembarangan. Baju batik mahal, sepatu kulit mengkilap, jam tangan seharga
puluhan juta. Orang kaya, pikirnya.
"Bener? Lo ganti?"
"Iya. Besok gue anter ke butik. Lo pilih
sendiri."
Rubiah tersenyum. Senyum yang tiba-tiba berubah dari marah
menjadi manis.
"Oke deh. Ini nomor gue. Hubungi besok."
Aji menyimpan nomor itu dengan hati berdebar.
Ia tak tahu bahwa pertemuan singkat itu akan menghancurkan
hidupnya.
Pertemuan kedua terjadi seminggu kemudian.
Aji menepati janjinya. Ia mengantar Rubiah ke butik
termahal di Sampit. Rubiah memilih gaun seharga tiga juta, dan Aji membayarnya
tanpa banyak bicara.
"Makan yuk, sebagai ganti rugi tambahan," ajak
Rubiah.
Aji mengangguk. Mereka makan di restoran mewah. Ngobrol,
tertawa, saling bercerita. Aji merasa nyaman dengan Rubiah. Perempuan ini
berbeda dari Yulia. Lebih modern, lebih gaul, lebih bisa diajak bicara tentang
hal-hal yang Aji suka: uang, bisnis, mobil mewah, kehidupan glamor.
"Lo udah nikah, Ji?" tanya Rubiah.
Aji ragu sejenak. "Udah."
Rubiah tak terkejut. Ia sudah menduga. Lelaki kaya
sepertinya pasti sudah beristri.
"Bahagia?"
Aji menghela napas. "Biasa aja."
"Maksudnya?"
"Gue... gue ngerasa istri gue nggak ngerti gue. Dia
terlalu alim, terlalu kolot. Nggak ngerti dunia gue sekarang."
Rubiah tersenyum. Ia paham maksud Aji. Ia sering melihat
lelaki seperti ini: lelah dengan istri yang 'membosankan', mencari pelarian
pada perempuan lain.
"Mungkin lo butuh teman ngobrol. Teman yang ngerti
lo."
Aji menatap Rubiah. "Lo mau jadi teman gue?"
Rubiah tersenyum genit. "Mau aja."
Sejak saat itu, hubungan mereka makin dekat. Sering
bertemu, sering ngobrol, sering jalan bersama. Aji merasa hidupnya berwarna
lagi. Rubiah memberinya gairah yang hilang setelah bertahun-tahun menikah.
Namun di balik semua itu, Rubiah punya rencana.
Ia tak hanya ingin jadi teman Aji. Ia ingin lebih. Ia ingin
menikah dengan Aji. Ingin jadi istri orang kaya. Ingin hidup mewah seperti yang
selalu diimpikannya.
Dan ia akan melakukan apa saja untuk mencapai impian itu.
Suatu malam, di sebuah hotel berbintang, Aji dan Rubiah
bermesraan.
"Ji, lo sayang nggak sama gue?" bisik Rubiah.
Aji mengelus rambutnya. "Sayang banget."
"Kalau gitu, lo nikahin gue."
Aji terkesiap. "Nikah? Tapi gue udah punya
istri."
"Lo cerai aja. Atau nikah siri. Yang penting gue jadi
istri lo."
Aji diam. Ia berpikir. Pikirannya kacau. Ia sayang Yulia,
tapi ia juga sayang Rubiah. Ia tak mau menyakiti Yulia, tapi ia juga tak mau
kehilangan Rubiah.
"Gue pikirin dulu, Rul."
Rubiah cemberut. "Pikirin apaan? Lo nggak sayang
gue?"
"Bukan gitu. Tapi—"
"Tapi apa? Lo pilih gue atau dia?"
Aji tak bisa menjawab.
Rubiah menangis. Pura-pura menangis. Tapi Aji tak tahu. Ia
hanya melihat Rubiah yang terisak-isak, merasa iba, merasa bersalah.
"Udah, udah. Jangan nangis. Gue janji, gue akan
nikahin lo."
Rubiah berhenti menangis. Wajahnya berbinar.
"Beneran?"
"Beneran. Tapi kasih gue waktu."
Rubiah memeluk Aji erat. Di dalam hatinya, ia tersenyum
puas.
Rencananya berjalan lancar.
Dua minggu kemudian, Aji menikahi Rubiah secara siri.
Tak ada saksi kecuali Yanto dan beberapa teman dekat. Tak
ada resepsi, tak ada pesta. Hanya ijab kabul singkat di rumah Liong, dengan mas
kawin seperangkat alat salat dan uang dua puluh juta.
Aji pulang ke rumah dengan perasaan bersalah. Ia tahu ia
telah menyakiti Yulia. Ia tahu ia telah mengkhianati pernikahan mereka. Tapi ia
tak bisa menolak Rubiah. Ia terlalu tergila-gila.
Yulia, yang tak tahu apa-apa, menyambutnya dengan senyum.
"Mas, pulang? Aku masak kesukaan Mas. Ayam
goreng."
Aji tersenyum getir. "Makasih, Yul."
Malam itu, Aji makan dengan Yulia dan Purnomo. Mereka
tertawa bersama, seperti dulu. Namun di hati Aji, ada beban yang tak terucap.
Beban tentang rahasia yang ia sembunyikan.
Rahasia yang akan segera terbongkar.
Dan saat terbongkar nanti, segalanya akan hancur.
BAGIAN III
AWAL KONFLIK
Tiga bulan setelah pernikahan siri Aji dengan Rubiah,
rahasia itu mulai menunjukkan celah-celahnya.
Aji semakin sering pulang larut malam. Bahkan kadang tak
pulang sama sekali. Yulia yang sabar mulai gelisah. Ia tahu suaminya sedang
menyembunyikan sesuatu. Perempuan punya insting yang tajam dalam hal seperti
ini.
"Mas, kamu ada masalah?" tanya Yulia suatu malam
saat Aji baru pulang pukul dua dini hari.
Aji yang setengah mabuk hanya melengos. "Nggak
ada."
"Jangan bohong, Mas. Aku tahu kamu berbohong. Sudah
tiga bulan ini kamu berubah."
Aji melepas bajunya dengan kasar. "Lo nggak usah
banyak tanya. Urusan gue urusan gue."
Yulia menahan air mata. Ia tak ingin bertengkar di depan
Purnomo yang sedang tidur. Tapi hatinya perih. Sangat perih.
"Mas, aku ini istrimu. Apa pun masalahmu, aku harus
tahu. Kita harus hadapi bersama."
Aji menatap istrinya. Untuk sesaat, ia merasa iba. Yulia
begitu tulus, begitu setia. Sementara ia mengkhianatinya di belakang.
"Gue capek, Yul. Gue mau tidur."
Ia masuk kamar dan membanting pintu.
Yulia duduk di ruang tamu sendirian. Air matanya jatuh
perlahan.
Keesokan harinya, Yulia memutuskan untuk menyelidiki.
Ia membuka ponsel Aji yang tertinggal di meja. Biasanya Aji
tak pernah lupa membawa ponselnya. Tapi pagi ini, entah kenapa, ia lupa.
Yulia membuka pesan-pesan singkat di ponsel itu.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Pesan-pesan mesra dari seorang perempuan.
"Sayang, kapan ketemu lagi? Aku kangen."
"Tadi malam enak banget. Kamu hebat, Ji."
"Jangan lupa transfer bulanan buat aku, ya. Udah mau
habis nih."
"Kapan kamu ceraiin istri kampungmu itu?"
Yulia membaca semua pesan itu dengan tangan gemetar.
Dadanya sesak, seolah ditindih beban berton-ton. Matanya panas, tapi air mata
tak keluar. Ia terlalu terkejut untuk menangis.
"Ya Allah... ya Allah..."
Ia terus membaca. Menelusuri percakapan demi percakapan.
Menemukan foto-foto mesra. Menemukan bukti-bukti perselingkuhan yang tak
terbantahkan.
Dan di sanalah ia melihat nama perempuan itu.
Rubiah.
Aji pulang siang itu dengan perasaan was-was.
Ia baru ingat kalau ponselnya tertinggal di rumah. Ia
berharap Yulia tak membukanya. Tapi begitu melangkah masuk, ia langsung tahu:
Yulia tahu.
Istrinya duduk di ruang tamu dengan wajah pucat. Di
tangannya ada ponsel Aji. Di matanya ada luka yang begitu dalam.
"Yul..." bisik Aji.
Yulia mengangkat wajahnya. Matanya merah, sembab. Tapi ia
tak menangis. Mungkin air matanya sudah habis.
"Aji," panggilnya dengan nama, bukan 'Mas'
seperti biasa. "Duduk."
Aji duduk di hadapannya, seperti murid yang ketahuan
berbuat salah.
"Ini apa?" Yulia menunjukkan ponsel itu.
Aji diam.
"Ini apa, Aji? Perempuan ini siapa?"
Masih diam.
"JAWAB!" bentak Yulia, untuk pertama kalinya
dalam hidupnya membentak suami.
Aji tersentak. Ia tak pernah melihat Yulia marah seperti
ini. Istrinya yang lembut, yang sabar, yang selalu tersenyum, kini berubah
menjadi perempuan yang matanya menyala-nyala.
"Rubiah," jawab Aji lirih. "Namanya
Rubiah."
Yulia menarik napas panjang. "Rubiah. Cantik ya? Lebih
cantik dari aku?"
Aji tak menjawab.
"Kamu selingkuh, Aji. Kamu punya perempuan lain.
Berapa lama?"
"Tiga... tiga bulan."
Yulia tertawa pahit. "Tiga bulan. Tiga bulan aku di
rumah, masak, bersihin baju, jaga anak, sementara kamu mesra-mesraan dengan
perempuan lain."
"Yul, denger—"
"DIAM!" bentak Yulia lagi. "Jangan bicara!
Sekarang aku yang bicara!"
Aji membungkam.
"Aku tahu aku cuma istri kampung. Aku tahu aku nggak
cantik kayak artis. Aku tahu aku nggak bisa ngasih kamu kemewahan. Tapi aku
setia, Aji. Aku nggak pernah selingkuh. Aku nggak pernah main di belakang kamu.
Aku nggak pernah ngelakuin hal yang bakal nyakitin kamu."
Air mata Yulia akhirnya jatuh juga.
"Tapi kamu... kamu tega. Kamu tega sama aku. Kamu tega
sama Purnomo."
Aji menunduk dalam-dalam. Rasa bersalah menghantamnya.
"Aku minta maaf, Yul. Sungguh, aku minta maaf."
"Maaf?" Yulia tertawa getir. "Kamu pikir
maaf bisa memperbaiki semua ini? Kamu pikir dengan bilang maaf, semua luka ini
hilang?"
"Aku... aku nggak tahu harus ngomong apa."
Yulia menghela napas. Ia mencoba menenangkan diri.
"Siapa dia?"
"Rubiah."
"Kerja apa?"
"Dia... nggak kerja."
"Kamu kasih dia uang?"
Aji diam. Keheningan itu adalah jawaban.
Yulia mengangguk-angguk. "Jadi, uang yang kamu bilang
buat modal usaha, buat investasi, itu semua buat dia?"
"Sebagian... sebagian buat dia."
"Sebagian? Berapa?"
Aji ragu. "Mungkin... tiga puluh juta."
Yulia terhenyak. Tiga puluh juta. Uang yang mereka
kumpulkan bertahun-tahun. Uang hasil jerih payahnya jualan gorengan, hasil
kerja keras Aji jaga malam. Semua habis untuk perempuan lain.
"Kamu... kamu..."
Yulia tak sanggup melanjutkan. Ia menangis tersedu-sedu.
Aji ingin memeluknya, tapi Yulia menepis.
"Jangan sentuh aku! Jangan!"
Pertengkaran itu berlangsung berjam-jam.
Aji akhirnya mengaku semua. Tentang pertemuannya dengan
Rubiah, tentang pernikahan siri, tentang uang yang sudah dikeluarkan. Ia
mengaku dengan setengah terpaksa, setengah lega karena akhirnya tak perlu
berbohong lagi.
Yulia mendengarkan semua dengan hati hancur.
"Jadi kamu nikah siri sama dia?"
"Iya."
"Di mana?"
"Di rumah temen. Disaksikan temen-temen."
"Saksi dari pihak perempuan?"
"Nggak ada. Cuma temen-temen aja."
Yulia tertawa pahit. "Nikah siri tanpa wali? Itu nggak
sah, Aji. Itu zina namanya!"
Aji tersentak. Ia tak pernah berpikir sampai ke situ. Ia
pikir, selama ada ijab kabul dan saksi, itu sudah sah.
"Tapi... tapi—"
"Tapi apa?! Kamu pikir agama itu mainan? Kamu pikir
Tuhan nggak lihat?"
Aji tak bisa menjawab.
Yulia berdiri. Ia berjalan ke kamar Purnomo. Anaknya masih
tidur, tak tahu apa-apa tentang kekacauan yang terjadi.
"Aku mau pisah, Aji."
Aji terkejut. "Apa?!"
"Aku minta cerai. Aku nggak bisa hidup dengan lelaki
yang mengkhianati aku."
"Yul, jangan! Demi Purnomo!"
Yulia menatap tajam. "Kamu pikir aku belum mikirin
Purnomo? Justru demi Purnomo, aku harus pisah dari kamu. Aku nggak mau anakku
tumbuh dengan melihat bapaknya yang suka selingkuh dan menghabiskan uang untuk
perempuan lain."
Aji terdiam. Ia tak punya argumen untuk membantah.
"Besok kita ke Kantor Urusan Agama. Aku minta
cerai."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka,
Aji tidur di ruang tamu. Sendirian. Dengan hati yang hancur.
Esok harinya, mereka pergi ke KUA.
Namun proses perceraian tak semudah yang dibayangkan. Ada
banyak berkas yang harus dilengkapi. Ada masa tunggu. Ada mediasi yang harus
dijalani.
"Kami akan panggil suami istri untuk mediasi minggu
depan," kata petugas KUA. "Mudah-mudahan masih bisa didamaikan."
Yulia menggeleng. "Nggak usah didamaikan, Pak. Saya
sudah bulat."
Petugas itu menghela napas. "Kami akan proses sesuai
prosedur."
Mereka keluar dari KUA dengan perasaan masing-masing. Yulia
lega karena akhirnya ada jalan keluar. Aji hancur karena akan kehilangan
keluarga.
Di perjalanan pulang, mereka bertemu Purnomo yang baru
pulang sekolah.
"Pa! Ma!" seru Purnomo riang. Ia berlari
menghampiri orang tuanya.
Yulia menahan air mata. Ia memeluk anaknya erat.
"Pulang, yuk. Mama masak kesukaan Purnomo."
"Hore! Purnomo mau makan ayam!"
Aji memandangi anaknya dengan hati perih. Purnomo tak tahu
apa-apa. Purnomo tak tahu bahwa keluarganya akan segera hancur.
Malam itu, Aji tak bisa tidur.
Ia terus memikirkan apa yang sudah ia lakukan. Betapa
bodohnya ia. Betapa hancurnya hidupnya.
Namun di saat yang sama, ponselnya berdering. Pesan dari
Rubiah.
"Sayang, kapan ke sini? Aku kangen. Jangan lupa bawain
uang bulanan, ya. Udah mau habis."
Aji membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk.
Di satu sisi, ia sayang Rubiah. Di sisi lain, ia tahu
Rubiah adalah sumber masalahnya.
Namun apa daya? Ia sudah terlanjur jatuh.
Ia tak bisa keluar.
Mediasi di KUA gagal total.
Yulia tetap pada pendiriannya: ingin cerai. Aji yang mulanya
memohon-mohon, akhirnya pasrah. Ia tahu, tak ada gunanya mempertahankan rumah
tangga yang sudah hancur.
"Baiklah, kalau memang sudah bulat, kami akan
proses," kata petugas KUA. "Tapi kalian harus datang lagi minggu
depan untuk penandatanganan."
Yulia mengangguk. "Siap, Pak."
Mereka keluar dari KUA. Di luar, matahari bersinar terik.
Namun hati Aji terasa dingin.
"Yul, apa benar ini yang kamu mau?" tanyanya
untuk terakhir kali.
Yulia menatapnya. Matanya teduh, tapi tegas.
"Ini yang terbaik, Aji. Untuk aku, untuk kamu, dan
untuk Purnomo."
"Tapi Purnomo butuh bapak."
"Purnomo butuh contoh yang baik. Bukan bapak yang suka
selingkuh dan main judi."
Aji tertohok. Ia tak bisa membantah.
"Purnomo ikut aku. Aku nggak mau dia tinggal sama
kamu. Nggak mau dia lihat kehidupanmu yang kacau."
Aji ingin protes, tapi ia tahu Yulia benar. Ia tak pantas
jadi ayah. Ia tak pantas punya anak seperti Purnomo.
"Iya. Terserah kamu."
Mereka berpisah di depan KUA. Yulia naik angkot pulang. Aji
berdiri di pinggir jalan, memandangi angkot itu menjauh, membawa pergi istri
dan anaknya.
Hatinya hancur berkeping-keping.
Dua minggu kemudian, perceraian mereka resmi.
Aji menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar. Ia
melihat Yulia di seberang meja, menandatangani dengan tenang. Seolah ini hanya
urusan administrasi biasa, bukan perpisahan setelah tujuh tahun menikah.
"Selamat berpisah, Aji. Semoga kamu bahagia dengan
pilihanmu," ucap Yulia dingin.
Aji ingin berkata sesuatu, tapi lidahnya kelu.
Yulia pergi, meninggalkan Aji sendirian di ruangan itu.
Ia baru sadar: ia telah kehilangan segalanya.
Rubiah menyambut Aji dengan gembira.
"Akhirnya kamu bebas, Ji! Sekarang kita bisa hidup
bersama!"
Aji tersenyum getir. "Iya."
Rubiah sudah menyiapkan rumah kontrakan baru, lebih besar
dari kontrakan Aji dulu. Perabotnya baru, dindingnya dicat warna cerah. Ada AC
di kamar, TV layar datar di ruang tamu, kulkas dua pintu di dapur.
"Gimana? Bagus kan?" tanya Rubiah bangga.
Aji memandang sekeliling. "Bagus. Tapi ini semua pakai
uang siapa?"
Rubiah cemberut. "Uang kamu, dong. Masa uang aku. Aku
kan nggak kerja."
Aji menghela napas. Ia ingat tabungannya sudah habis. Uang
hasil jual mobil juga sudah ludes. Ia hampir tak punya apa-apa lagi.
"Rub, gue hampir nggak punya uang."
Rubiah terkejut. "Apa?! Masa sih? Kamu kan agen judi,
dapat komisi gede tiap bulan."
"Komisi gue habis buat bayar kontrakan ini, beli
perabot, dan... dan buat kamu."
Rubiah mendelik. "Maksud kamu, aku yang habisin uang
kamu?"
"Bukan gitu—"
"Terus gimana?!" potong Rubiah. "Lo pikir gue
mau hidup miskin? Lo pikir gue mau tinggal di kontrakan jelek kayak mantan lo
dulu?!"
Aji terdiam. Ia tahu Rubiah ambisius. Ia tahu Rubiah ingin
hidup mewah. Tapi ia tak punya cara untuk mewujudkannya.
"Gue usahakan, Rul. Yang penting kita bareng-bareng."
Rubiah mendengus. "Bareng-bareng? Lo pikir gue mau
susah bareng lo? Gue nikah sama lo karena lo kaya, Ji. Kalau lo miskin, buat
apa gue sama lo?"
Aji terpukul. Kata-kata Rubiah seperti pisau yang menusuk
jantungnya.
"Jadi... lo nikah sama gue cuma karena uang?"
Rubiah sadar ia keterlaluan. Ia mendekat, memeluk Aji.
"Maaf, Sayang. Aku cuma... aku cuma takut. Takut hidup
susah lagi. Aku sudah susah dari kecil. Aku nggak mau balik lagi ke kehidupan
kayak gitu."
Aji mengelus rambutnya. "Gue ngerti. Gue juga nggak
mau lo susah. Percaya sama gue, ya."
Rubiah mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ia mulai
merencanakan sesuatu.
Jika Aji tak bisa memberinya hidup mewah, ia harus mencari
jalan lain.
Bulan-bulan berikutnya menjadi masa yang berat bagi Aji.
Tekanan dari Rubiah makin menjadi. Setiap hari ia menuntut
ini-itu. Baju baru, tas baru, sepatu baru, perhiasan baru. Makan di restoran
mahal, liburan ke tempat eksotis, hangout di kafe-kafe elit.
Aji bekerja mati-matian. Ia cari pemain judi
sebanyak-banyaknya. Ia jadi agen paling gila di jaringan Liong. Ia tak kenal
lelah, tak kenal waktu. Asalkan dapat komisi, ia lakukan.
Tapi tak pernah cukup.
Penghasilannya selalu habis untuk memenuhi tuntutan Rubiah.
Bahkan sering kurang. Ia mulai berutang pada teman-teman. Pada Yanto, pada
Joni, pada siapa saja yang mau meminjaminya uang.
Yanto mulai khawatir.
"Ji, lo kenapa? Kok gelagapan gini?" tanyanya
suatu malam.
Aji menghela napas. "Gue lagi butuh uang, Yan. Pinjem
dulu lima juta."
Yanto mengerutkan kening. "Lima juta? Buat apa?"
"Buat... buat Rubiah."
Yanto menghela napas panjang. Ia sudah menduga.
"Ji, gue harus ngomong. Lo itu sudah keterlaluan sama
Rubiah. Dia bukan istri baik-baik. Dia cuma manfaatin lo."
Aji marah. "Lo jangan ngomong gitu! Dia istri
gue!"
"Dia istri siri lo yang cuma mau uang lo!" balas
Yanto. "Gue tahu dari dulu Rubiah. Dia cuma mau lelaki kaya. Begitu lo
mulai miskin, dia akan ninggalin lo."
Aji tak percaya. "Lo cuma iri, Yan."
Yanto tertawa getir. "Iri? Iri sama lo yang hidupnya
hancur? Sudah, terserah lo. Tapi gue nggak bisa pinjemin lo uang. Gue nggak mau
jadi bagian dari kehancuran lo."
Aji pergi dengan tangan hampa.
Ia harus cari pinjaman lain.
Liong adalah pilihan terakhir.
Aji datang ke rumah mewahnya, memohon pinjaman uang.
"Liong, gue butuh pinjam uang. Dua puluh juta."
Liong mengangkat alis. "Dua puluh juta? Buat
apa?"
"Buat... buat kebutuhan rumah tangga."
Liong tersenyum. Ia tahu persis masalah Aji. Semua orang di
lingkaran ini tahu.
"Gue bisa kasih lo pinjaman, Ji. Tapi lo harus jamin
sesuatu."
Aji ragu. "Jamin apa?"
"Tanah orang tua lo."
Aji terkejut. "Tanah orang tua?"
"Iya. Gue dengar orang tua lo punya tanah luas di
Jelapat. Kebun sawit, kebun karet. Lo jamin tanah itu, gue kasih pinjaman.
Kalau lo nggak bayar, tanah itu jadi milik gue."
Aji berpikir keras. Tanah orang tuanya adalah satu-satunya
harta yang tersisa. Tapi ia butuh uang sekarang. Rubiah sudah mengancam akan
pergi kalau tak dituruti keinginannya.
"Setuju. Gue jamin."
Liong tersenyum. "Bagus. Ini uangnya. Dua puluh juta.
Jangan lupa, bunga sepuluh persen per bulan."
Aji menerima uang itu dengan tangan gemetar.
Ia tahu ia sedang bermain api. Tapi apa daya? Ia sudah
terlanjur masuk ke dalam lingkaran setan ini.
Enam bulan setelah pinjaman pertama, utang Aji kepada Liong
membengkak.
Dua puluh juta dengan bunga sepuluh persen per bulan. Dalam
enam bulan, bunganya sudah dua belas juta. Total utangnya tiga puluh dua juta.
Dan ia belum membayar pokok sama sekali.
Liong mulai menagih.
"Ji, gue perlu uang. Lo kapan bayar utang?"
tanyanya suatu hari.
Aji gugup. "Sabaran, Bos. Kasih gue waktu."
"Gue sudah kasih lo waktu enam bulan. Sekarang
waktunya habis. Lo bayar, atau tanah orang tua lo gue ambil."
Aji panik. Ia tak punya uang sepeser pun. Penghasilannya
sebagai agen judi terus menurun karena ia terlalu stres untuk bekerja maksimal.
Rubiah terus menuntut, terus menghabiskan uang.
"Bos, tolong... kasih gue kesempatan."
Liong menghela napas. "Baik, gue kasih lo kesempatan
terakhir. Sebulan lagi, lo harus bayar minimal bunganya. Kalau nggak, gue
datangi orang tua lo di desa."
Ancaman itu membuat Aji ketakutan. Ia tak mau orang tuanya
tahu tentang kekacauan hidupnya. Ia tak mau mereka tahu bahwa ia berutang pada
bandar judi.
"Iya, Bos. Gue usahakan."
Aji bekerja lebih gila dari sebelumnya.
Ia jadi agen judi siang malam. Ia cari pemain ke mana-mana.
Ia bahkan mulai main judi lagi, dengan harapan bisa menang besar dan melunasi
utang.
Namun judi tak pernah menguntungkan.
Dalam seminggu, ia kehilangan lima juta. Uang hasil jerih
payahnya habis dalam semalam.
Aji frustrasi. Ia mulai minum alkohol lagi. Ia mulai
marah-marah pada Rubiah. Hubungan mereka mulai retak.
"Lo kok jadi gini, Ji?" tanya Rubiah suatu malam.
"Lo dulu perhatian, sekarang kasar. Lo dulu royal, sekarang pelit."
"Gue lagi banyak masalah, Rul!"
"Masalah apaan? Cerita dong. Jangan dipendam
sendiri."
Aji menghela napas. Ia akhirnya menceritakan semua tentang
utangnya pada Liong.
Rubiah terkejut. "Utang berapa?"
"Tiga puluh dua juta. Plus bunga."
"TIGA PULUH DUA JUTA?!" Rubiah menjerit. "Lo
gila, Ji?! Ngutang segitu banyak!"
"Gue butuh uang buat lo! Buat hidup lo yang
mewah!"
Rubiah tersentak. "Jadi lo salahin aku?"
"Bukan salahin, tapi—"
"Tapi apa?! Lo yang nawarin aku hidup enak! Lo yang
bilang mau ngurus aku! Lo yang janji mau ngasih aku kehidupan yang layak!
Sekarang lo ngutang, lo salahin aku?!"
Mereka bertengkar hebat malam itu. Rubiah menangis,
mengamuk, bahkan melempar barang. Aji hanya bisa diam, tertunduk, merasa jadi
lelaki paling gagal di dunia.
Esok harinya, Rubiah pergi.
Ia meninggalkan surat singkat di meja.
"Ji,
Aku pergi dulu. Kembali ke kampung. Aku perlu waktu sendiri
buat mikir. Jangan cari aku. Nanti kalau masalahmu selesai, kita bicara lagi.
—Rubiah"
Aji membaca surat itu berulang kali. Hatinya hancur. Ia telah
kehilangan Yulia dan Purnomo. Sekarang Rubiah juga pergi.
Ia sendirian.
Benar-benar sendirian.
Dua minggu setelah Rubiah pergi, Aji jatuh sakit.
Demam tinggi, badan lemas, tak bisa bangun dari tempat
tidur. Yanto yang mendengar kabar itu menjenguknya.
"Lo kenapa, Ji? Kok kayak mayat hidup?"
Aji tersenyum lemah. "Gue sakit, Yan. Mungkin karena
stres."
Yanto menghela napas. Ia duduk di sisi tempat tidur
sahabatnya.
"Ji, gue harus ngomong. Lo itu sudah kelewatan. Hidup
lo hancur karena lo sendiri. Karena lo nggak bisa ngendalikan diri. Karena lo
terlalu tergila-gila sama perempuan."
Aji diam. Ia tak punya tenaga untuk membantah.
"Rubiah itu racun, Ji. Dia bikin lo celaka. Dan lo
biarin aja. Lo bahkan rela ngutang ke Liong demi dia. Itu bodoh."
Aji menunduk. Air matanya jatuh.
"Gue tahu, Yan. Gue tahu. Tapi gue sayang dia."
"Sayang?" Yanto tertawa getir. "Itu bukan
sayang. Itu gila. Lo gila sama dia."
Mereka diam cukup lama.
"Lo harus bayar utang ke Liong, Ji. Kalau nggak, dia
akan kejar lo sampai ke desa. Dia akan tagih ke orang tua lo."
Aji menggeleng. "Gue nggak punya uang, Yan."
"Lo punya tanah orang tua. Itu jaminan lo."
"Itu bukan milik gue. Itu milik orang tua gue."
"Tapi lo yang jamin. Itu artinya, kalau lo nggak
bayar, mereka yang tanggung risiko."
Aji terdiam. Ia tak pernah berpikir sejauh itu. Ia pikir,
jaminan cuma formalitas. Ia tak pernah membayangkan bahwa Liong benar-benar
akan mengambil tanah orang tuanya.
"Gue harus pulang, Yan."
"Pulang?"
"Ke desa. Ke Jelapat. Gue harus minta uang sama orang tua.
Satu-satunya cara."
Yanto menghela napas. "Itu pilihan lo. Tapi lo siap?
Siap ketemu orang tua lo setelah bertahun-tahun pergi?"
Aji tak yakin. Tapi apa pilihan lain?
"Gue harus coba, Yan. Demi nyawa gue."
Malam itu, Aji tak bisa tidur.
Ia terus memikirkan masa kecilnya di Desa Jelapat. Rumah
besar dengan lantai marmer. Kebun sawit yang membentang luas. Kebun karet yang
menghasilkan puluhan kilo setiap hari. Bengkel mobil yang selalu ramai
pelanggan.
Semua itu milik orang tuanya.
Semua itu akan jadi miliknya suatu hari nanti.
Tapi ia tak mau menunggu. Ia butuh uang sekarang. Sekarang
juga.
"Ibu... Bapak... maafin Aji," bisiknya dalam
gelap.
Keesokan harinya, Aji bersiap-siap pulang.
Ia mengemas barang-barangnya. Hanya sedikit yang tersisa.
Baju-baju lusuh, jaket tipis, sepatu butut. Mobilnya sudah lama dijual. Ia
harus naik bus umum.
Yanto datang mengantarnya ke terminal.
"Lo yakin mau pulang, Ji?"
"Yakin, Yan. Nggak ada pilihan lain."
"Gue cuma bisa doain yang terbaik buat lo."
Aji menepuk pundak sahabatnya. "Makasih, Yan. Lo temen
baik gue. Maafin gue kalau selama ini banyak salah."
Yanto tersenyum getir. "Udah, jangan lebay. Cepat
selesaikan masalah lo, balik lagi ke sini. Kita usaha bareng lagi."
Aji mengangguk. "Insyaallah."
Bus datang. Aji naik, duduk di kursi dekat jendela. Ia
melambai pada Yanto yang berdiri di terminal.
Bus melaju perlahan, meninggalkan Sampit, meninggalkan kota
yang memberinya banyak kenangan pahit dan manis.
Aji memandang ke luar jendela. Pikirannya melayang ke Desa
Jelapat.
Ke rumah orang tuanya.
Ke masa lalu yang indah.
Ke masa depan yang tak menentu.
Perjalanan memakan waktu delapan jam.
Bus melewati perkebunan sawit yang luas, melewati
sungai-sungai coklat, melewati desa-desa kecil. Semakin dekat ke Jelapat,
semakin rindang pemandangannya. Semakin segar udaranya.
Aji ingat masa kecilnya. Ingat saat ia bermain di kebun
karet, saat ia mandi di sungai, saat ia berlarian mengejar layang-layang. Semua
kenangan itu kembali, seperti film yang diputar ulang.
Namun ada satu kenangan yang paling kuat: saat ia terakhir
kali bertemu orang tuanya.
Waktu itu ia baru lulus SMA. Ia bertengkar hebat dengan
ayahnya. Ayahnya ingin ia kuliah, tapi ia ingin merantau. Ayahnya ingin ia jadi
sarjana, tapi ia ingin jadi pengusaha.
"Kau ini anak durhaka!" bentak ayahnya saat itu.
"Biar! Aku akan buktikan bahwa aku bisa sukses tanpa
kalian!"
Dan ia pergi.
Delapan tahun telah berlalu.
Ia belum pernah pulang.
Ia belum pernah kabari orang tuanya.
Ia bahkan tak tahu apakah mereka masih hidup.
Bus tiba di terminal Jelapat pukul lima sore.
Matahari mulai condong ke barat, menerangi desa dengan
cahaya jingga keemasan. Aji turun dari bus dengan perasaan campur aduk. Degup
jantungnya cepat, tangannya gemetar, keringat dingin mengalir di punggung.
Terminal Jelapat masih sama seperti delapan tahun lalu.
Kecil, kumuh, dengan beberapa warung makan di sekelilingnya. Beberapa tukang
ojek duduk-duduk menunggu penumpang.
Aji berjalan keluar terminal. Ia menarik napas dalam-dalam.
Udara desa yang segar memenuhi paru-parunya.
"Desa Jelapat... gue pulang," bisiknya.
Ia berjalan kaki menuju rumah orang tuanya. Jalanan masih
sama. Beraspal, tapi bolong di sana-sini. Di kanan kiri, kebun sawit
membentang, pepohonannya tinggi menjulang.
Beberapa warga desa melihatnya. Mereka mengernyitkan dahi,
mencoba mengingat.
"Itu... Aji? Anaknya Pak Sudiro?"
"Iya, itu Aji! Udah pulang ternyata!"
"Wah, gede sekarang. Tapi kok kurus ya?"
Aji mendengar bisikan-bisikan itu. Ia makin cepat berjalan.
Sesampainya di depan rumah orang tuanya, Aji tertegun.
Rumah itu... sudah tak seperti dulu.
Catnya kusam, mengelupas di sana-sini. Pagar besinya
berkarat. Halamannya dipenuhi rumput liar. Tak ada mobil-mobil mewah di garasi.
Tak ada lampu-lampu terang yang menyala.
Rumah besar yang dulu menjadi kebanggaan desa, kini tampak
seperti rumah hantu.
Aji ragu. Apa ini benar rumah orang tuanya? Atau ia salah
jalan?
Ia memeriksa lagi. Alamatnya benar. Nomornya benar.
Dengan hati berdebar, ia mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Tak ada jawaban.
Tok tok tok. Lebih keras.
Pintu terbuka.
Dan di ambang pintu itu, berdiri seorang perempuan tua
dengan rambut putih, wajah keriput, mata sayu. Namun di balik semua kerutan dan
keputihan itu, Aji mengenali wajah itu.
Ibunya.
Ibu Jayanti.
"Bu..." bisik Aji.
Perempuan tua itu tertegun. Matanya membelalak. Tangannya
gemetar memegang gagang pintu.
"Aji? Aji, Nak? Apa benar ini kamu?"
"Iya, Bu. Ini Aji. Anakmu."
Ibu Jayanti menjerit. Bukan jeritan marah, tapi jeritan
haru. Ia memeluk anaknya erat, menangis sejadi-jadinya.
"AJI! NAK! AKHIRNYA KAMU PULANG!"
Aji memeluk ibunya balik. Ia juga menangis. Tangis
penyesalan, tangis kerinduan, tangis semua yang tertahan selama delapan tahun.
"Maafin Aji, Bu. Maafin Aji yang durhaka."
Mereka berpelukan lama, tak peduli pada tetangga yang mulai
berkumpul melihat kejadian itu.
Pak Sudiro keluar dari dalam rumah. Ia melihat pemandangan
itu dan langsung paham.
Aji. Anaknya. Pulang.
Pak Sudiro berdiri di ambang pintu, memandangi anaknya.
Hatinya campur aduk. Ada marah, karena delapan tahun tak ada kabar. Ada sedih,
karena melihat anaknya kurus dan lusuh. Ada cinta, karena bagaimanapun, itu
darah dagingnya.
Aji melepaskan pelukannya dari ibu. Ia menatap ayahnya.
"Pak..." bisiknya.
Pak Sudiro tak menjawab. Ia berjalan mendekat. Berhenti
tepat di depan Aji.
Mereka bertatapan.
Dan tanpa berkata apa-apa, Pak Sudiro memeluk anaknya.
Itu adalah pelukan yang berat. Pelukan yang membawa ribuan
makna. Pelukan yang mengatakan: "Aku masih sayang kamu, meski kamu sudah
menyakiti aku."
Aji menangis di pelukan ayahnya. Untuk pertama kalinya
dalam delapan tahun, ia merasa aman. Merasa pulang. Merasa diterima.
"Pulanglah, Nak. Rumah ini tetap rumahmu," bisik
Pak Sudiro.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun,
keluarga Sudiro makan malam bersama.
Namun di balik kebahagiaan itu, ada beban yang Aji
sembunyikan.
Ia tak bilang tentang Rubiah.
Ia tak bilang tentang perceraiannya dengan Yulia.
Ia tak bilang tentang utangnya pada Liong.
Ia hanya bilang bahwa ia kangen dan ingin pulang.
Tapi kebohongan tak akan bertahan lama.
Sebentar lagi, semuanya akan terbongkar.
BAGIAN IV
KEPULANGAN YANG MENGUNDANG MASALAH
Kabar kepulangan Aji Wungkal menyebar cepat di Desa
Jelapat.
Pagi itu, di warung Bu Marni, topik pembicaraan hanya satu:
Aji pulang.
"Beneran itu Aji? Anaknya Pak Sudiro?" tanya Pak
Karto sambil menyeruput kopinya.
"Bener, Pak. Saya lihat sendiri semalam. Dia turun
dari bus di terminal, lalu jalan kaki ke rumah orang tuanya," jawab Pak
Wahyudi, Ketua RT yang kebetulan lewat.
Bu Marni menghela napas. "Delapan tahun. Delapan tahun
dia pergi, sekarang pulang. Apa yang dicari?"
"Ya pasti ada maunya," sahut Pak Samin, Kepala
Dusun Barat. "Orang pulang setelah sekian lama, pasti ada maksud. Apalagi
Aji. Saya dengar kabar dari teman di Sampit, hidupnya kacau di sana. Judi,
perempuan, utang."
Pak Karto menggeleng-geleng. "Kasihan Pak Sudiro. Lagi
tenang-tenangnya, tiba-tiba anaknya pulang bawa masalah."
"Kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan Aji sudah
berubah," kata Pak Wahyudi optimis.
Namun tak ada yang percaya dengan optimisme itu.
Sementara itu, di rumah keluarga Sudiro, suasana pagi
terasa berbeda.
Ibu Jayanti memasak dengan semangat. Ia membuat masakan
kesukaan Aji: ayam goreng, rendang, sambal terasi, dan sayur asem. Aroma
masakan memenuhi seluruh rumah, sesuatu yang sudah lama tak terjadi.
Aji duduk di teras, memandangi halaman rumah yang dulu
indah kini mulai tak terawat. Ia melihat rumput liar di mana-mana, pagar yang
berkarat, cat yang mengelupas. Hatinya sedih.
"Rumah ini dulu indah," gumamnya.
"Dulu," sahut Pak Sudiro yang tiba-tiba muncul di
sampingnya. "Sekarang sudah tak terurus. Bapak sudah tua, tak punya tenaga
buat merawat."
Aji menunduk. Ia merasa bersalah. Seharusnya ia yang
merawat rumah ini. Seharusnya ia yang menjaga orang tuanya. Tapi selama delapan
tahun, ia hanya sibuk dengan egonya sendiri.
"Maafin Aji, Pak."
Pak Sudiro duduk di samping anaknya. Ia memandangi
ladang-ladang di kejauhan.
"Ceritalah, Nak. Apa yang terjadi denganmu selama
ini?"
Aji ragu. Haruskah ia jujur? Atau ia terus berbohong?
Ia memilih yang kedua.
"Nggak ada yang istimewa, Pak. Biasa saja. Kerja,
nikah, punya anak."
Pak Sudiro mengerutkan kening. "Nikah? Anak?"
"Iya, Pak. Aji nikah sama Yulia. Dapat anak laki-laki,
namanya Purnomo. Umurnya sekarang tujuh tahun."
Pak Sudiro terkejut. "Kamu punya anak? Berarti kami
punya cucu?"
"Iya, Pak."
"Terus mana mereka? Kenapa nggak diajak?"
Aji terdiam. Ia tak siap dengan pertanyaan itu.
"Mereka... mereka masih di Sampit. Yulia jaga toko.
Purnomo sekolah. Nanti kalau sudah liburan, Aji ajak."
Pak Sudiro mengamati wajah anaknya. Ia melihat ada yang
disembunyikan. Tapi ia tak ingin mendesak.
"Baiklah. Bapak tunggu. Bapak kangen punya cucu."
Aji tersenyum getir. Ia tahu, mungkin tak akan pernah bisa
mengajak Purnomo ke sini. Yulia pasti tak akan mengizinkan.
Pagi itu, banyak tetangga yang datang berkunjung.
Pak Karto datang membawa pisang dari kebunnya. Bu Sulastri,
sahabat Ibu Jayanti, datang dengan kue buatan sendiri. Pak Hasan, tokoh agama
desa, datang memberi salam.
Mereka semua ingin melihat Aji, anak yang dulu menjadi
kebanggaan desa, kini kembali setelah sekian lama.
"Wah, Aji gede ya. Dulu masih kecil, sekarang sudah
dewasa," sapa Pak Karto.
Aji tersenyum sopan. "Iya, Pak. Makasih sudah
datang."
"Kerja di mana sekarang, Ji?" tanya Pak Hasan.
Aji ragu sejenak. "Di Sampit, Pak. Jualan
sembako."
"Alhamdulillah. Semoga berkah."
Percakapan mengalir hangat. Aji menjawab sebisanya,
berusaha terlihat normal. Namun di dalam hatinya, ia gelisah. Ia tahu, cepat
atau lambat, tujuannya pulang akan terbongkar.
Malam harinya, saat orang tuanya sudah tidur, Aji duduk
sendirian di ruang tamu.
Ponselnya berdering. Pesan dari Rubiah.
"Ji, gimana? Dapat uang belum? Aku butuh. Kontrakan
harus bayar minggu depan."
Aji membaca pesan itu dengan perasaan kesal. Rubiah pergi,
tapi tetap menuntut uang. Ia seperti lintah yang tak pernah puas menghisap
darahnya.
"Belum. Sabar." balasnya
singkat.
"Sabar terus. Aku udah nggak bisa sabar.
Cepetan!"
Aji mematikan ponselnya. Ia menatap langit-langit rumah.
Pikirannya kacau.
Besok, ia harus bicara dengan orang tuanya. Ia harus minta
uang. Tapi bagaimana cara memintanya? Ia tahu orang tuanya tak punya banyak
uang. Rumah ini buktinya: dulu megah, kini kusam.
Tapi ia tak punya pilihan. Utangnya pada Liong sudah mendesak.
Bunganya terus berjalan. Tanah orang tuanya terancam.
"Ya Allah... beri aku jalan," bisiknya dalam
gelap.
Tiga hari setelah kepulangannya, Aji akhirnya memberanikan
diri.
Malam itu, setelah makan malam, ia meminta orang tuanya
duduk di ruang tamu. Wajahnya serius, tangannya gemetar.
"Pak, Bu... Aji mau ngomong sesuatu."
Pak Sudiro dan Ibu Jayanti saling pandang. Mereka sudah
menduga akan ada sesuatu.
"Katakanlah, Nak," kata Ibu Jayanti lembut.
Aji menarik napas panjang. Ini dia. Saat yang menentukan.
"Pak, Bu... Aji minta maaf sebelumnya. Aji pulang
bukan cuma karena kangen. Tapi Aji... Aji butuh bantuan."
Pak Sudiro mengerutkan kening. "Bantuan apa?"
Aji menunduk. "Aji butuh uang, Pak. Banyak."
Hening.
Pak Sudiro menatap anaknya dengan tajam. Ibu Jayanti
memegang dadanya, seolah menahan sesuatu.
"Berapa?" tanya Pak Sudiro akhirnya.
"Lima... lima puluh juta."
Ibu Jayanti tersentak. "Lima puluh juta?!"
Pak Sudiro diam. Wajahnya berubah, dari awalnya tenang
menjadi tegang. Rahangnya mengeras, matanya menyipit.
"Buat apa uang sebanyak itu?"
Aji gugup. "Buat... buat modal usaha, Pak. Aji mau
buka usaha di sini. Di desa. Biar bisa dekat sama kalian."
Kebohongan. Ia tak bisa bilang untuk bayar utang judi. Ia
tak bisa bilang untuk memenuhi tuntutan Rubiah.
Pak Sudiro mengamati anaknya. Pengalamannya selama puluhan
tahun berbisnis membuatnya bisa membaca orang. Dan saat ini, ia membaca
kebohongan di mata anaknya.
"Kau bohong, Aji."
Aji tersentak. "Nggak, Pak. Aji—"
"Jangan bohong sama Bapak!" bentak Pak Sudiro.
"Bapak bisa lihat matamu! Ada yang kau sembunyikan!"
Ibu Jayanti mencoba menenangkan. "Sudiro, jangan
keras-keras. Dengarkan dulu—"
"Sudah, Bu. Biar Bapak yang urus."
Pak Sudiro berdiri. Ia berjalan mondar-mandir di ruang
tamu.
"Aji, Bapak tanya sekali lagi. Buat apa uang
itu?"
Aji diam. Ia tak tahu harus berkata apa.
"Kau main judi, kan? Kecanduan judi online? Itu kan
yang Bapak dengar dari orang-orang?"
Aji terkejut. "Bapak tahu?"
"Bapak tahu dari Yanto. Dia menelepon Bapak kemarin.
Cerita semua tentangmu."
Aji lemas. Yanto. Sahabatnya sendiri yang mengkhianatinya.
"Dia bilang kau punya utang pada bandar judi. Dua
puluh juta, plus bunga. Dia bilang kau nikah siri sama perempuan lain. Cerai
sama Yulia. Dan kau tinggalkan anakmu, Purnomo."
Ibu Jayanti menangis. Ia baru tahu semuanya. Cucunya,
Purnomo, tak akan pernah bisa ia gendong. Menantunya, Yulia, yang baik itu,
sudah diceraikan anaknya.
"AJI! BENAR ITU?!" teriak Ibu Jayanti.
Aji menunduk dalam-dalam. Air matanya jatuh.
"Iya, Bu. Benar. Semua benar."
Ibu Jayanti memukuli dada anaknya. Tangisnya pecah.
"KAU ANAK DURHAKA! KAU TEGA! TEGA SAMA ISTRI, TEGA
SAMA ANAK, TEGA SAMA KAMI!"
Aji tak membalas. Ia biarkan ibunya memukuli dia. Ia tahu,
itu hak ibunya. Ia memang pantas dipukuli.
Pak Sudiro mengangkat tangan istrinya, menenangkannya.
"Sudah, Bu. Tenang."
Ibu Jayanti terisak-isak. Tubuhnya lemas, hampir jatuh.
Pak Sudiro memandangi anaknya. Matanya sayu, tapi tegas.
"Aji, Bapak sayang kamu. Kamu anak tunggal Bapak. Tapi
Bapak nggak bisa bantu uang segitu. Bapak nggak punya."
Aji mengangkat wajahnya. "Maksud Bapak?"
"Lihat rumah ini. Lihat sekelilingmu. Bapak sudah jual
hampir semua kebun. Tinggal sedikit yang tersisa. Uang Bapak habis buat biaya
hidup, buat obat-obatan Ibu, buat ini itu. Bapak nggak punya uang kontan lima
puluh juta."
Aji putus asa. "Tapi, Pak... tanah. Tanah masih ada,
kan? Kebun sawit, kebun karet. Itu bisa dijual!"
Pak Sudiro terkejut. "Kau minta Bapak jual tanah?
Tanah warisan keluarga?"
"Aji pinjam, Pak. Nanti Aji ganti. Aji janji."
"Janji?" Pak Sudiro tertawa getir. "Janjimu
sudah sering kau ingkari. Bapak nggak bisa percaya lagi."
Aji marah. "Jadi Bapak nggak mau bantu? Bapak biarin
Aji mati?"
"Bapak nggak bilang begitu. Tapi Bapak nggak bisa jual
tanah. Itu satu-satunya yang tersisa. Buat apa kau habiskan semua?"
"BUAT SELAMATIN HIDUP AJI!" teriak Aji.
"ITU BUKAN SELAMAT! ITU KEHANCURAN!"
Mereka bertengkar hebat malam itu. Ibu Jayanti hanya bisa
menangis di pojok ruangan. Tetangga mulai berkumpul di luar, mendengar
keributan.
Pak Karto, yang rumahnya dekat, segera datang.
"Ada apa, Pak Sudiro? Kenapa ribut-ribut?"
"Ini urusan keluarga, Pak Karto. Tolong jangan ikut
campur," jawab Pak Sudiro tegas.
Tapi Aji sudah kalap. Ia berlari ke luar, menghilang dalam
gelap malam.
"AJI! NAK!" teriak Ibu Jayanti.
Namun Aji tak menghiraukan. Ia terus berlari, meninggalkan
rumah, meninggalkan orang tuanya, meninggalkan semua masalah yang tak bisa ia
selesaikan.
Aji menghilang selama dua hari.
Ia tidur di musala tua dekat pasar, tak berani pulang.
Ponselnya mati kehabisan baterai. Ia tak bisa dihubungi siapa pun.
Ibu Jayanti gelisah bukan main. Setiap hari ia keliling
desa, mencari anaknya. Pak Sudiro melarang, tapi ia tak peduli.
"Biarkan dia, Bu. Dia akan pulang kalau sudah
sadar," kata Pak Sudiro.
"Tapi kalau dia kenapa-napa gimana, Mas?"
"Dia sudah dewasa. Bisa jaga diri sendiri."
Namun Ibu Jayanti tak bisa tenang. Ia terus mencari.
Akhirnya, pada hari ketiga, seorang pemuda bernama Rangga
menemukan Aji di musala.
"Bang Aji? Beneran Bang Aji?"
Aji mengangkat wajahnya. Mata sembab, wajah kusut, baju
lusuh.
"Kamu... Rangga? Anaknya Pak Karto?"
"Iya, Bang. Bapak saya suruh cari Abang. Ibu Jayanti
gelisah."
Aji tersenyum getir. "Ibu... masih peduli sama
gue?"
"Tentu, Bang. Ibu mana yang tega sama anaknya?"
Aji menghela napas. Ia berdiri, membereskan sajadah yang ia
pakai sebagai alas tidur.
"Ayo, antar gue pulang."
Kembali ke rumah orang tuanya, Aji merasa malu.
Ibu Jayanti menyambutnya dengan tangis haru.
"AJI! KEMANA AJA KAMU?! IBU KHAWATIR BANGET!"
Aji memeluk ibunya. "Maafin Aji, Bu. Aji egois."
Pak Sudiro keluar dari dalam. Ia melihat anaknya dengan
tatapan campur aduk. Ada marah, tapi ada juga lega.
"Masuklah. Makan dulu. Ibu masak kesukaanmu."
Mereka makan bersama dalam diam. Tak ada yang bicara. Hanya
suara sendok dan piring yang terdengar.
Setelah makan, Pak Sudiro mengajak Aji bicara di ruang
tamu.
"Aji, Bapak sudah pikirkan. Tentang permintaanmu
kemarin."
Aji menegakkan badan. Ada harapan di matanya.
"Bapak tetap pada pendirian. Bapak nggak akan jual
tanah."
Harapan itu padam seketika.
"Tapi Bapak punya usul."
Aji menatap ayahnya.
"Bapak punya kebun sawit yang masih berproduksi.
Luasnya sekitar tiga hektar. Bapak izinkan kau kelola kebun itu. Hasilnya, kau
bisa pakai buat bayar utang. Setelah utang lunas, kau kembalikan kebun itu ke
Bapak."
Aji terkejut. "Maksud Bapak? Bapak percayakan kebun
itu ke Aji?"
"Bapak percaya. Tapi dengan syarat."
"Apa syaratnya?"
"Kau harus tinggal di sini. Bekerja sungguh-sungguh.
Tinggalkan judi. Tinggalkan perempuan itu. Dan yang terpenting, kau harus minta
maaf sama Yulia. Cari cara untuk rujuk. Anakmu, Purnomo, butuh bapak."
Aji terdiam. Syarat itu berat. Ia harus meninggalkan
Rubiah. Ia harus minta maaf pada Yulia yang sudah ia sakiti. Ia harus tinggal
di desa, jauh dari hingar bingar kota.
"Bapak kasih waktu seminggu buat mikir. Terserah kau
mau terima atau nggak."
Pak Sudiro berdiri, meninggalkan Aji yang termenung di
ruang tamu.
Malam itu, Aji tak bisa tidur.
Ia memikirkan tawaran ayahnya. Di satu sisi, ini kesempatan.
Kesempatan untuk memperbaiki hidup. Di sisi lain, ia harus mengorbankan banyak
hal.
Ponselnya ia cas, lalu menyalakannya. Puluhan pesan dari
Rubiah masuk.
"Ji, gimana? Dapat uang?"
"Ji, jawab dong!"
"Aji! Lo di mana?!"
"Gue butuh uang sekarang!"
"Kalau lo nggak kirim uang besok, gue cari lelaki
lain!"
Aji membaca pesan-pesan itu dengan perasaan hancur. Rubiah,
perempuan yang ia cintai, ternyata hanya mencintai uangnya.
Ia membalas satu pesan.
"Rul, gue lagi di desa. Gue mikir serius tentang
hubungan kita. Gue mungkin nggak bisa kasih lo hidup mewah. Gue mau perbaiki
hidup. Kalau lo mau ikut, ayo ke desa. Tapi kalau lo cuma mau uang, lebih baik
kita pisah."
Tak sampai semenit, Rubiah membalas.
"PISAH?! LO GILA?! LO KIRA GUE MAU HIDUP SUSAH DI DESA
BERSAMA LO?! SUD-SUD! LO UDAH NIKAH SAMA GUE, JADI LO HARUS TANGGUNG JAWAB! GUE
MINTA UANG DUA PULUH JUTA MINGGU INI, ATAU GUE LAPOR LO KE POLISI ATAS
PERSELINGKUHAN!"
Aji membaca pesan itu berulang kali. Hatinya hancur.
Rubiah mengancamnya.
Perempuan yang ia cintai, yang ia korbankan pernikahannya
dengan Yulia, yang ia rela berutang untuknya, kini mengancam akan melaporkannya
ke polisi.
"Ya Allah... apa yang sudah aku perbuat?"
bisiknya.
Keesokan harinya, Aji menemui ayahnya.
"Pak, Aji sudah mikir. Aji terima tawaran Bapak."
Pak Sudiro mengangguk lega. "Bagus. Bapak senang kau
memilih jalan yang benar."
"Tapi, Pak... Aji ada masalah."
"Masalah apa?"
Aji menghela napas. "Rubiah. Perempuan itu. Dia... dia
mengancam Aji. Minta uang dua puluh juta minggu ini, atau dia akan lapor
polisi."
Pak Sudiro terkejut. "Lapor polisi? Atas apa?"
"Aji nikah siri sama dia. Tapi nikahnya nggak sah.
Tanpa wali. Kata Yulia, itu zina. Jadi dia bisa lapor Aji."
Pak Sudiro menghela napas panjang. Ia memegang kepalanya
yang tiba-tiba pusing.
"Anakku... anakku... Kau ini... kenapa bisa terjerumus
sedalam ini?"
"Aji minta maaf, Pak. Tapi sekarang Aji butuh bantuan.
Uang dua puluh juta. Untuk damai sama dia."
Pak Sudiro menggeleng. "Bapak nggak punya uang
segitu."
"Pinjam, Pak. Ke bank. Atau jual tanah sedikit."
"JUAL TANAH?!" Pak Sudiro meninggikan suaranya.
"Kau minta Bapak jual tanah lagi?! Demi perempuan jalang itu?!"
Ibu Jayanti yang mendengar keributan segera keluar.
"Ada apa, ada apa?"
"Ini anakmu! Minta jual tanah buat bayar perempuan
simpanannya!"
Ibu Jayanti terkejut. "Aji! Kamu masih berhubungan
sama perempuan itu?!"
Aji menunduk. "Maaf, Bu. Tapi Aji terdesak. Dia ancam
Aji."
"BIARIN DIA LAPOR!" bentak Pak Sudiro.
"Bapak lebih baik kau masuk penjara daripada kau menghabiskan harta
keluarga buat perempuan itu!"
Aji marah. "Jadi Bapak lebih pilih Aji masuk
penjara?!"
"LEBIH BAIK DARIPADA KAU TERUS MENGHANCURKAN
DIRI!"
Mereka bertengkar hebat. Ibu Jayanti berusaha melerai, tapi
tak ada yang peduli.
"Bapak itu pelit! Pelit sama anak sendiri!"
teriak Aji.
"Bapak pelit?! Bapak sudah kasih kau kebun! Tapi kau
minta lebih! KAU TAK PERNAH PUAS!"
"Karena Bapak nggak ngerti! Bapak nggak tahu gimana
rasanya dikejar-kejar utang, diancam, ditakut-takuti!"
"ITU SALAHMU SENDIRI! SIAPA SURUH MAIN JUDI! SIAPA
SURUH NIKAH SIRI! SIAPA SURUH TINGGALKAN ISTRI DAN ANAK!"
Aji kalap. Ia membanting kursi, memecahkan vas bunga,
mengamuk tak terkendali. Ibu Jayanti menjerit ketakutan. Pak Sudiro mencoba
menahan anaknya, tapi Aji terlalu kuat.
"LEPAS! LEPAS!" teriak Aji.
Dengan satu dorongan keras, ia membuat Pak Sudiro jatuh.
Kepala ayahnya membentur sudut meja.
BUKK!
Darah mengalir dari pelipis Pak Sudiro.
"SUDIRO!" teriak Ibu Jayanti.
Aji tertegun. Ia melihat ayahnya tergeletak dengan wajah
berlumuran darah.
"Pak... Pak... Aji nggak sengaja... Aji..."
"AJI! PERGI! PERGI KAU DARI SINI!" teriak Ibu
Jayanti.
Aji mundur perlahan. Ia melihat ayahnya, melihat ibunya
yang menangis histeris, melihat darah di lantai.
Dengan perasaan hancur, ia berlari keluar rumah.
Malam itu, Pak Sudiro dibawa ke puskesmas oleh tetangga.
Beruntung, lukanya tak terlalu dalam. Hanya luka robek di
kepala yang perlu dijahit. Ia diperbolehkan pulang setelah dirawat beberapa
jam.
Ibu Jayanti tak henti-hentinya menangis.
"Sudiro... maafin aku... aku gagal jadi ibu... gagal
mendidik Aji..."
Pak Sudiro memegang tangan istrinya. "Ini bukan
salahmu, Bu. Ini salahku juga. Kita terlalu memanjakannya."
"Tapi dia anak kita... darah daging kita..."
"Iya, Bu. Dia tetap anak kita. Tapi kita harus tegas.
Kalau tidak, dia akan terus menghancurkan dirinya sendiri."
Keesokan harinya, kabar tentang pertengkaran itu menyebar
ke seluruh desa.
Pak Karto, Pak Samin, Pak Wahyudi, dan beberapa tokoh desa
berkumpul di rumah Pak Sudiro.
"Pak Sudiro, kami dengar kejadian semalam. Kami turut
prihatin," ucap Pak Karto.
Pak Sudiro yang masih terbaring lemah mengangguk.
"Terima kasih, Pak Karto."
"Kami ingin membantu. Apa yang bisa kami
lakukan?"
Pak Sudiro menghela napas. "Saya nggak tahu, Pak.
Aji... anak saya... dia sudah keterlaluan. Tapi saya tetap sayang dia."
Pak Hasan, tokoh agama, berbicara. "Pak Sudiro, dalam
agama, anak durhaka itu dosanya besar. Tapi orang tua juga punya tanggung jawab
untuk mendidik. Mungkin ini saatnya kita semua turun tangan. Membantu Aji
keluar dari masalahnya."
"Caranya, Pak Hasan?"
"Kita cari Aji dulu. Bawa dia ke sini. Kita bicara
baik-baik. Kalau perlu, kita libatkan aparat desa. Buat kesepakatan. Agar dia
bisa bertanggung jawab dan keluar dari lingkaran setan ini."
Pak Sudiro setuju. "Baik. Tolong bantu saya,
Pak."
Rangga, ketua Karang Taruna Desa Jelapat, mendapat tugas
mencari Aji.
Bersama Tono, Jamal, Bima, dan beberapa pemuda lainnya, ia
menyusuri desa. Mereka cek musala, cek pasar, cek warung-warung, cek pinggir
sungai. Namun Aji tak ditemukan.
"Bang, gimana kalau dia kabur ke kota lagi?"
tanya Tono.
"Mungkin. Tapi kita coba dulu semua tempat."
Akhirnya, seorang pemuda bernama Lukman menemukan jejak. Ia
melihat seseorang masuk ke kebun karet tua di pinggir desa.
"Bang, mungkin dia di kebun karet. Saya lihat ada
orang masuk ke sana tadi pagi."
Rangga dan kawan-kawan segera menuju kebun karet itu.
Mereka berjalan di antara pohon-pohon karet yang tua dan tinggi. Bekas-bekas
sadapan masih terlihat di batang-batang pohon, meski sekarang kebun itu tak
terurus.
Di bawah pohon karet besar, mereka menemukan Aji.
Ia duduk bersandar, wajahnya pucat, matanya kosong. Di
sampingnya ada botol miras kosong.
"Bang Aji," sapa Rangga hati-hati.
Aji menoleh. Matanya merah, sayu.
"Rangga? Lo cari gue?"
"Iya, Bang. Kami disuruh nyari Abang. Bapak-bapak di
desa mau ngomong sama Abang."
Aji tertawa getir. "Ngomong? Pasti mau marahin gue
lagi. Mau ceramahin gue lagi."
"Nggak, Bang. Mereka mau bantu."
Aji memandang Rangga. "Bantu? Bantu gue?"
"Iya, Bang. Ayo pulang. Istirahat dulu. Muka Abang
pucat sekali."
Aji terdiam. Air matanya jatuh.
"Rangga... gue orang jahat. Gue udah nyakitin bapak
gue. Gue udah nyakitin ibu gue. Gue udah ninggalin anak gue. Gue nggak pantas
ditolong."
Rangga duduk di samping Aji. "Bang, semua orang pernah
berbuat salah. Tapi yang penting adalah mau berubah. Abang mau berubah
nggak?"
Aji menatap Rangga. Di mata pemuda itu, ia melihat
ketulusan. Ketulusan yang sudah lama tak ia lihat.
"Gue... gue nggak tahu, Rang. Gue nggak tahu harus
mulai dari mana."
"Dari sini, Bang. Dari sekarang. Ayo pulang."
Rangga mengulurkan tangannya. Aji memandang tangan itu,
lalu meraihnya.
Ia berdiri, meski tubuhnya limbung.
"Ayo, Bang. Kita pulang."
Aji dibawa ke balai desa.
Di sana, sudah berkumpul para tokoh desa: Pak Heru (Kepala
Desa), Pak Ahmad (Sekretaris Desa), Pak Samsul (Ketua BPD), Bu Kartini (Kaur
Pemerintahan), Pak Joko (Kadus Timur), Pak Samin (Kadus Barat), Pak Hasan
(Tokoh Agama), dan Pak Sudiro yang masih terbaring lemah di kursi.
Aji masuk dengan perasaan malu. Ia menunduk, tak berani
menatap siapapun.
"Duduk, Aji," kata Pak Heru ramah.
Aji duduk di kursi yang disediakan.
"Kami sudah dengar semua yang terjadi. Tentang
masalahmu di kota. Tentang utangmu. Tentang pertengkaranmu dengan ayahmu."
Aji diam.
"Kami di sini bukan untuk menghakimi. Tapi untuk
membantu. Karena kamu bagian dari desa ini. Keluargamu bagian dari kami."
Aji mengangkat wajahnya. Ada harapan di matanya.
"Apa yang bisa kalian lakukan?"
Pak Heru memandang Pak Sudiro. "Terserah ayahmu. Dia
yang punya kuasa."
Pak Sudiro menarik napas panjang. "Aji, Bapak tetap
pada tawaran Bapak kemarin. Kebun sawit tiga hektar untuk kau kelola. Tapi
dengan syarat yang lebih ketat."
"Apa syaratnya?"
"Pertama, kau harus tinggal di sini. Kedua, kau harus
berhenti total dari judi. Ketiga, kau harus putus hubungan dengan Rubiah.
Keempat, kau harus minta maaf pada Yulia dan berusaha rujuk. Dan kelima, kau
harus lapor ke polisi tentang Rubiah yang memerasmu."
Aji terkejut. "Lapor polisi? Tapi dia istri gue."
"Dia bukan istrimu! Nikah siri tanpa wali itu
zina!" tegas Pak Hasan. "Dan dia memerasmu. Itu tindak pidana. Kau
harus lapor, atau kau akan terus diterornya."
Aji berpikir keras. Melaporkan Rubiah ke polisi berarti
mengakhiri hubungan mereka. Tapi mungkin itu yang terbaik.
"Gue... gue setuju."
Pak Sudiro lega. "Bagus. Tapi ingat, Aji. Kalau kau
langgar satu saja dari syarat ini, kebun itu akan Bapak ambil kembali. Dan kau
harus pergi dari desa ini selamanya."
Aji mengangguk. "Aji janji, Pak."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aji
tidur dengan tenang.
Namun di kejauhan, di kota Sampit, Rubiah sedang
merencanakan sesuatu. Ia tak akan membiarkan Aji lepas begitu saja. Ia butuh
uang. Dan Aji adalah sumber uangnya.
"Lo mau lapor polisi? Lapor aja, Ji. Gue juga punya
senjata buat lawan lo," gumamnya sambil memandangi ponsel.
Ia punya bukti-bukti. Bukti tentang perjudian Aji. Bukti
tentang transaksi uang haram. Dan ia tak akan ragu menggunakannya.
Pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai.
BAGIAN V
KONFLIK MEMUNCAK
Tiga minggu setelah kesepakatan di balai desa, Aji mulai
mengelola kebun sawit pemberian ayahnya.
Setiap pagi, ia bangun pukul empat. Mandi, salat subuh,
lalu berangkat ke kebun bersama dua orang pekerja yang dipekerjakan ayahnya
dulu. Mereka memanen buah sawit, membersihkan pelepah yang kering, memupuk
pohon-pohon yang mulai berkurang produktivitasnya.
Aji bekerja keras. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia
merasakan bagaimana rasanya bekerja di kebun. Tangannya lecet, punggungnya
pegal, tubuhnya letih. Tapi ada kepuasan yang tak bisa dijelaskan. Kepuasan
karena melakukan sesuatu yang halal. Kepuasan karena tidak bergantung pada judi
atau perempuan.
"Bang Aji, istirahat dulu," ajak salah seorang
pekerja, Pak Mahmud, seorang lelaki paruh baya yang sudah bekerja pada Pak
Sudiro sejak dua puluh tahun lalu.
Aji mengusap keringat di dahinya. "Sebentar, Pak. Ini
tinggal sedikit."
Pak Mahmud tersenyum. Ia melihat perubahan pada Aji. Pemuda
yang dulu manja dan sombong itu kini mulai rendah hati. Mungkin ini awal yang
baik.
"Bang Aji, saya senang lihat Abang berubah. Pak Sudiro
pasti senang."
Aji tersenyum getir. "Semoga, Pak. Saya masih punya
banyak utang. Saya masih harus bayar banyak dosa."
"Pelahan-lahan, Bang. Yang penting niatnya baik."
Aji mengangguk. Ia bertekad akan memperbaiki semua
kesalahannya. Satu per satu.
Namun Rubiah tak tinggal diam.
Di kota Sampit, ia mulai gelisah. Aji sudah lebih dari
sebulan tak mengirim uang. Ia sudah mencoba menghubungi berkali-kali, tapi Aji
jarang merespons. Kalau pun merespons, hanya pesan singkat yang isinya
menyuruhnya bersabar.
"Bersabar, bersabar. Enak aja. Gue bukan tipe
perempuan sabaran," gumamnya kesal.
Ia mulai mencari informasi. Dari teman-temannya, ia tahu
Aji sekarang di desa. Mengelola kebun sawit orang tuanya. Dan yang lebih
membuatnya marah: Aji berencana rujuk dengan mantan istrinya, Yulia.
"Rujuk? Dengan perempuan kampung itu? Hah! Nggak akan
gue biarkan!"
Rubiah mengambil ponselnya. Ia menghubungi Yanto.
"Yan, lo tahu alamat desanya Aji nggak?"
Yanto yang menerima telepon itu menghela napas. Ia sudah
menduga Rubiah akan melakukan ini.
"Rub, sudahlah. Lepaskan Aji. Dia sudah memilih
jalannya sendiri."
"Itu urusan gue! Jawab aja: lo tahu alamatnya
nggak?"
Yanto diam sejenak. Ia tahu memberi alamat itu akan
berakibat fatal. Tapi ia juga tak mau terlibat lebih jauh.
"Gue nggak tahu, Rub. Cari sendiri."
"LO BOHONG! Lo sahabatnya! Pasti lo tahu!"
Yanto mematikan telepon. Ia tak mau ambil pusing.
Rubiah mengumpat. Tapi ia tak menyerah. Dengan uang
sisa-sisa tabungannya, ia membeli tiket bus ke arah Seruyan. Ia akan mencari
Aji sendiri. Ia akan datang ke desa itu. Ia akan mempertemukan Aji dengan
keluarganya. Dan ia akan mendapatkan uangnya, atau membuat kehancuran.
Dua hari kemudian, sebuah bus antar kota tiba di terminal
Jelapat.
Rubiah turun dengan gaun merah menyala, high heels, dan tas
mahal. Penampilannya kontras dengan desa yang sederhana. Semua orang
memandangnya.
"Cih, desa," gumamnya sinis.
Ia berjalan ke arah tukang ojek. "Bang, ke rumahnya
Pak Sudiro. Tau nggak?"
Tukang ojek itu, Pak Jumali, mengerutkan kening. "Ibu
siapa? Kenalan sama Pak Sudiro?"
"Aku istrinya Aji. Istrinya Aji Wungkal."
Pak Jumali terbelalak. "Istri? Tapi kan Aji—"
"Udah, anter aja. Nggak usah banyak tanya."
Pak Jumali mengangguk. Sepanjang perjalanan, ia diam-diam
mengamati perempuan ini. Cantik, tapi sombong. Banyak gaya. Tak cocok dengan
desa.
Sesampainya di depan rumah Pak Sudiro, Rubiah turun. Ia
membayar ojek dengan uang pas, tanpa tip.
"Ini rumahnya? Kecil amat. Kirain rumah orang
kaya," komentarnya.
Pak Jumali hanya menggeleng. Ia segera pergi, ingin
cepat-cepat memberi tahu warga tentang kedatangan perempuan misterius ini.
Rubiah mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Ibu Jayanti yang membuka pintu. Ia terkejut melihat
perempuan cantik dengan dandanan menor berdiri di depannya.
"Ibu... ada apa, Nona?"
Rubiah tersenyum manis. "Ibu Jayanti, kan? Saya
Rubiah. Istri siri Aji. Senang bertemu, Ibu."
Ibu Jayanti terkesiap. Tangannya gemetar memegangi gagang
pintu.
"Ka... kamu... Ru... Rubiah?"
"Iya, Bu. Boleh masuk? Ada yang mau saya
bicarakan."
Di dalam rumah, suasana tegang.
Pak Sudiro yang sedang berbaring karena lukanya belum
sembuh total, langsung duduk tegap begitu mendengar nama Rubiah. Matanya
menyipit, menatap perempuan itu dengan penuh kecurigaan.
"Kamu Rubiah? Perempuan yang menghancurkan anak
saya?"
Rubiah tertawa manis. "Wah, Pak Sudiro, tuduhannya
berat. Saya hanya mencintai anak Bapak. Apa salahnya?"
"Jangan main-main sama saya, Nona. Saya tahu semua
tentang kamu. Kamu yang bikin Aji cerai dari istrinya. Kamu yang bikin Aji
utang ke bandar judi. Kamu yang sekarang memerasnya."
Rubiah menghela napas. "Pak, mari kita bicara
baik-baik. Saya datang bukan untuk bertengkar. Saya datang untuk meminta hak
saya."
"Hak? Hak apa?"
Rubiah mengeluarkan secarik kertas dari tasnya. "Ini
surat pernikahan siri saya dengan Aji. Di sini tertulis mas kawinnya dua puluh
juta. Itu belum lunas. Saya minta hak saya."
Pak Sudiro membaca surat itu. Matanya memerah.
"Ini surat palsu! Tidak ada tanda tangan penghulu
resmi! Ini cuma kertas biasa!"
"Tapi ini bukti, Pak. Aji sudah berjanji. Saya bisa
bawa ini ke polisi. Saya bisa laporkan Aji atas penipuan dan ingkar
janji."
Ibu Jayanti menangis. "Kamu ini... kamu ini... kenapa
tega?"
Rubiah mengabaikan tangisan Ibu Jayanti. Ia fokus pada Pak
Sudiro.
"Pak, saya nggak minta banyak. Saya minta uang dua
puluh juta. Setelah itu saya pergi. Saya nggak akan ganggu Aji lagi. Saya
janji."
Pak Sudiro tertawa getir. "Janji? Janji perempuan
sepertimu? Mana bisa dipercaya?"
"Terserah Bapak percaya atau tidak. Tapi kalau Bapak
nggak bayar, saya akan lapor polisi. Aji akan masuk penjara. Dan keluarga Bapak
akan jadi bahan gunjingan seumur hidup."
Saat itu, pintu depan terbuka.
Aji masuk. Ia baru pulang dari kebun, masih dengan baju
lusuh penuh lumpur. Begitu melihat Rubiah, ia tertegun.
"RU... RUBIAH?!"
Rubiah tersenyum lebar. "Sayang! Akhirnya ketemu
juga!"
Aji mundur selangkah. Wajahnya berubah.
"Lo... lo ngapain di sini?"
"Jenguk suami, dong. Udah sebulan lebih nggak pulang.
Kangen."
Aji menatap Rubiah dengan perasaan campur aduk. Ada marah,
ada takut, ada juga sedikit rindu yang tak sempat hilang.
"Rul, kita sudah selesai. Gue sudah bilang. Gue mau
perbaiki hidup."
"Perbaiki hidup? Meninggalkan gue?" Rubiah
mendekat. "Ji, lo nggak tega. Lo sayang sama gue. Gue tahu."
Aji menggeleng. "Gue dulu sayang lo. Tapi lo cuma
manfaatin gue. Lo cuma mau uang gue."
Rubiah berubah. Matanya menyala. "Jadi lo tega? Lo
tinggalin gue setelah semua yang gue korbankan buat lo? Lo pikir gue mau hidup
susah? Gue mau uang gue, Ji! Dua puluh juta! Atau lo masuk penjara!"
Pak Sudiro bangkit berdiri. Meski tubuhnya masih lemah,
matanya tajam.
"Jangan ancam anak saya di depan saya, Nona! Saya
nggak takut sama polisi! Saya juga punya kenalan di Polsek! Kalau perlu, kamu
yang akan masuk penjara karena memeras!"
Rubiah tertawa. "Memeras? Buktinya mana, Pak? Saya
hanya minta hak saya. Ini surat perjanjiannya. Silakan bawa ke polisi. Saya
tunggu."
Aji tak bisa mengendalikan emosinya lagi.
"KELUAR! KELUAR DARI RUMAH INI!" teriaknya.
Rubiah terkejut. Aji belum pernah sekeras ini padanya.
"Ji... lo—"
"GUE BILANG KELUAR!"
Aji menarik lengan Rubiah, menyeretnya ke luar rumah.
Rubiah menjerit-jerit, memukuli Aji, tapi Aji tak peduli. Begitu sampai di
luar, ia mendorong Rubiah hingga jatuh.
"Jangan pernah kembali ke sini! Gue nggak mau lihat
muka lo lagi! Urus sendiri hidup lo!"
Rubiah bangkit dengan mata merah. Gaunnya kotor, rambutnya
kusut. Ia menatap Aji dengan penuh kebencian.
"Lo akan menyesal, Aji Wungkal! GUE BALAS DENDAM! GUE
HANCURIN HIDUP LO!"
Ia pergi dengan langkah terpincang-pincang, meninggalkan
Aji yang berdiri dengan napas memburu.
Rubiah tak main-main.
Begitu kembali ke Sampit, ia langsung melapor ke polisi. Ia
datang ke Polsek Sampit dengan pakaian rapi, dandanan menor, dan membawa surat
pernikahan siri serta bukti-bukti lain yang ia kumpulkan.
"Pak, saya mau lapor. Suami saya meninggalkan saya dan
mengancam akan membunuh saya," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Petugas piket, Aiptu Rahman, mengerutkan kening.
"Suami? Maksud Ibu?"
"Ini, Pak. Surat nikah siri saya dengan Aji Wungkal.
Dia tinggal di desa Jelapat. Dia meninggalkan saya setelah menghabiskan uang
saya. Sekarang dia mengancam saya."
Aiptu Rahman membaca surat itu. Ia sudah berpengalaman
menangani kasus-kasus seperti ini. Ada yang asli, ada yang palsu. Yang ini...
sepertinya palsu.
"Ibu, surat ini tidak ada stempel resmi. Ini cuma
kesepakatan di atas materai. Bukan surat nikah yang diakui negara."
Rubiah mendelik. "Tapi ini bukti, Pak! Dia berjanji
akan menikahi saya dan memberi nafkah. Itu tidak dipenuhi!"
"Kalau soal janji, itu ranah perdata. Bukan pidana.
Ibu bisa gugat secara perdata. Tapi kalau mau laporan pidana, harus ada bukti
tindak pidana."
Rubiah mengeluarkan senjata terakhirnya.
"Kalau judi, Pak? Saya punya bukti Aji main judi
online. Saya punya screenshot transaksinya. Saya tahu bandarnya. Saya bisa jadi
saksi."
Aiptu Rahman terkejut. Ini baru serius.
"Ibu punya buktinya?"
Rubiah mengeluarkan ponselnya. "Ini, Pak. Semua
transaksi. Saya tahu pasword akunnya. Saya bisa buka."
Aiptu Rahman memandangi bukti-bukti itu. Jumlahnya puluhan
juta. Jaringan judi online besar. Ini bukan kasus kecil.
"Baik, Ibu. Kami akan proses laporan ini. Tapi Ibu
harus siap menjadi saksi. Dan ingat, kalau Ibu berbohong, Ibu bisa
dipidana."
Rubiah tersenyum puas. "Saya siap, Pak."
Tiga hari kemudian, dua orang polisi dari Polsek Sampit
datang ke Desa Jelapat.
Mereka turun dari mobil dinas dengan seragam lengkap. Warga
desa yang melihat berkerumun, bertanya-tanya ada apa.
"Polisi? Ada apa ini?"
"Mungkin ada kejahatan."
"Jangan-jangan soal Aji."
Tebakan warga tepat. Polisi itu menuju rumah Pak Sudiro.
Pak Sudiro yang sedang duduk di teras langsung tegang
begitu melihat mereka.
"Selamat siang, Pak. Bapak Sudiro?"
"Iya, saya. Ada apa, Pak?"
"Kami dari Polsek Sampit. Ada laporan tentang anak
Bapak, Aji Wungkal. Bisa kami bicara dengannya?"
Pak Sudiro menghela napas. Ia sudah menduga ini akan
terjadi.
"Aji... ada di kebun. Saya panggilkan."
Ibu Jayanti yang mendengar dari dalam langsung menangis.
"Ya Allah... anakku... kenapa jadi begini?"
Aji dipanggil pulang. Ia datang dengan perasaan was-was.
Begitu melihat polisi, hatinya langsung jatuh. Ia tahu,
Rubiah sudah bertindak.
"Saudara Aji Wungkal?" tanya salah satu polisi.
"Iya, Pak."
"Kami dari Polsek Sampit. Ada laporan dari seorang ibu
bernama Rubiah tentang dugaan penipuan, pengancaman, dan perjudian. Kami perlu
meminta keterangan Saudara."
Aji lemas. "Pak... saya... saya bisa jelaskan—"
"Nanti di kantor, Saudara. Sekarang, kami minta
Saudara ikut kami ke Polsek Danau Sembuluh dulu. Nanti akan diproses lebih
lanjut."
Aji menatap orang tuanya. Pak Sudiro diam, wajahnya tegang.
Ibu Jayanti menangis tersedu-sedu.
"Pak... Bu... maafin Aji," bisik Aji.
Ia dibawa masuk ke mobil polisi. Mobil itu melaju
meninggalkan desa, meninggalkan orang tuanya yang hancur, meninggalkan warga
yang bergosip.
Aji ditahan semalam di Polsek Danau Sembuluh.
Sel tahanan sempit, bau, dan pengap. Ia tidur di lantai
beralas koran. Sepanjang malam ia tak bisa memejamkan mata. Pikirannya kacau.
Ia memikirkan orang tuanya, memikirkan Yulia dan Purnomo, memikirkan Rubiah
yang telah menghancurkannya.
"Ya Allah... apa yang sudah aku perbuat?"
gumamnya berkali-kali.
Keesokan harinya, Pak Heru, Kepala Desa Jelapat, datang ke
Polsek.
Ia ditemani Pak Samsul (Ketua BPD) dan Sertu Budi Santoso
(Babinsa). Mereka datang untuk menanyakan perkembangan kasus Aji dan berusaha
membantu.
"Pak Kapolsek, kami dari Desa Jelapat. Ingin membicarakan
kasus Aji Wungkal," ucap Pak Heru.
Ipda Hendra Saputra, Kapolsek Danau Sembuluh, menerima
mereka dengan baik.
"Silakan, Pak Kades. Duduk."
Mereka duduk di ruangan Kapolsek yang sederhana.
"Pak Kapolsek, bagaimana perkembangan kasusnya?"
tanya Pak Heru.
"Masih dalam penyelidikan. Ada laporan dari seorang
perempuan bernama Rubiah. Tuduhannya penipuan, pengancaman, dan perjudian. Tapi
kami sudah koordinasi dengan Polsek Sampit. Ternyata pelapor punya motif
pribadi: dia mantan istri siri Aji yang ditinggalkan dan meminta uang."
Pak Heru menghela napas lega. "Jadi... ini kasus
pribadi?"
"Bisa dibilang begitu. Tapi masalah perjudian itu
serius. Kami temukan bukti Aji terlibat judi online. Itu pidana, meskipun
ringan."
"Lalu bagaimana solusinya, Pak?"
Ipda Hendra berpikir. "Mungkin bisa mediasi. Kalau
kedua belah pihak bisa damai, kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
Tapi soal judi, Aji tetap harus menjalani pembinaan."
Pak Heru mengangguk. "Baik, Pak. Kami usahakan
mediasi. Tolong difasilitasi."
Mediasi digelar dua hari kemudian di ruangan Polsek.
Hadir dalam mediasi itu:
1.
Aji Wungkal (terlapor)
2.
Rubiah (pelapor)
3.
Pak Sudiro dan Ibu
Jayanti (orang tua Aji)
4.
Pak Heru (Kepala Desa
Jelapat)
5.
Sertu Budi Santoso
(Babinsa)
6.
Bripka Dedi Prasetyo (Bhabinkamtibmas)
7.
Ipda Hendra Saputra
(Kapolsek) sebagai mediator
Rubiah datang dengan dandanan menor dan gaya sok kota. Ia
melotot begitu melihat Aji. Aji menunduk, tak berani menatapnya.
"Baik, kita mulai mediasi ini," buka Ipda Hendra.
"Tujuan kita adalah mencari solusi terbaik untuk semua pihak. Saya minta
semua jujur dan terbuka."
Rubiah langsung angkat bicara. "Saya mau Aji penuhi
janjinya! Dua puluh juta! Itu hak saya!"
Pak Sudiro tak tahan. "Hak? Kamya bilang hak? Kamu
perempuan jalang yang menghancurkan anak saya! Masih berani minta uang?!"
"Pak Sudiro, tenang," Ipda Hendra melerai.
"Biar semua bicara bergantian."
Aji akhirnya bersuara. "Rul, gue sudah bilang. Gue
nggak punya uang. Gue lagi berusaha bangkit. Tolong... berhenti ganggu
gue."
Rubiah tertawa sinis. "Ganggu? Gue cuma minta hak gue!
Lo yang nikahin gue, lo yang janji, lo yang—"
"Tapi nikahnya nggak sah!" potong Sertu Budi.
"Kami sudah cek. Tidak ada pencatatan resmi. Tidak ada wali yang sah. Itu
bukan nikah, itu zina!"
Rubiah tersentak. "Pa... Pak... ini urusan pribadi
saya."
"Di mata hukum, ini urusan pidana kalau Ibu terus
memeras," tegas Ipda Hendra. "Saya sudah lihat bukti-bukti. Ibu
mengancam Aji akan dilaporkan kalau tidak diberi uang. Itu pemerasan."
Rubiah mulai gelisah. "Tapi... tapi dia memang
berutang pada saya!"
"Utang apa? Buktinya mana?"
Rubiah tak bisa menjawab.
Ipda Hendra menghela napas. "Ibu Rubiah, saya sarankan
Ibu berdamai. Terima apa adanya. Jangan perpanjang masalah. Kalau Ibu tetap
ngotot, justru Ibu yang bisa dipidana karena pemerasan."
Rubiah diam. Ia memandangi semua orang di ruangan itu.
Semua memusuhinya. Tak ada yang membela.
Akhirnya, ia mengalah.
"Baik. Saya... saya setuju damai. Tapi dengan
syarat."
"Apa syaratnya?" tanya Ipda Hendra.
"Aji harus bayar saya lima juta. Sebagai ganti rugi.
Setelah itu, saya pergi. Saya nggak akan ganggu lagi."
Pak Sudiro ingin protes, tapi Aji menahan.
"Setuju, Rub. Gue bayar lima juta. Tapi lo harus tanda
tangan surat pernyataan bahwa lo nggak akan ganggu gue lagi."
"Setuju."
Kesepakatan damai ditandatangani.
Aji, dengan bantuan ayahnya yang terpaksa menjual sisa-sisa
emas Ibu Jayanti, membayar Rubiah lima juta di depan polisi. Rubiah menerima
uang itu dengan senyum puas. Ia tanda tangan surat pernyataan, lalu pergi tanpa
menoleh.
Aji menghela napas panjang. Beban berat terangkat dari
pundaknya.
"Terima kasih, Pak Kapolsek. Terima kasih, Pak Kades.
Terima kasih semua," ucapnya.
Ipda Hendra menepuk pundaknya. "Aji, soal judi, kamu
harus ikut pembinaan. Seminggu sekali lapor ke sini, ikut penyuluhan. Setelah
tiga bulan, kalau perilakumu baik, kasus ini kami tutup."
Aji mengangguk. "Siap, Pak. Saya janji akan
berubah."
Sepulang dari Polsek, Aji dan orang tuanya mengadakan
pertemuan keluarga.
Pak Sudiro, meski masih lemah, memanggil anaknya untuk
bicara serius.
"Aji, duduk."
Aji duduk di hadapan ayahnya. Ibu Jayanti duduk di samping
suaminya, masih dengan mata sembab.
"Aji, Bapak lihat kamu sudah mulai berubah. Tapi
perubahan itu harus terus dijaga. Nggak boleh setengah-setengah."
Aji mengangguk. "Iya, Pak."
"Bapak dan Ibu sudah tua. Kami nggak tahu berapa lama
lagi bisa mendampingi kamu. Makanya, Bapak mau buat kesepakatan dengan kamu.
Kesepakatan tertulis."
Aji mengerutkan kening. "Kesepakatan apa, Pak?"
Pak Sudiro mengeluarkan secarik kertas. "Ini. Bapak
tulis sendiri."
Aji membaca kertas itu. Isinya:
KESEPAKATAN DUA TAHUN
1.
Aji Wungkal diberi hak
mengelola kebun sawit seluas tiga hektar milik Pak Sudiro selama dua tahun.
2.
Seluruh hasil kebun
selama dua tahun menjadi milik Aji, untuk digunakan melunasi utang-utangnya dan
modal hidup.
3.
Setelah dua tahun, kebun
dikembalikan kepada Pak Sudiro dalam kondisi baik.
4.
Selama dua tahun, Aji
wajib:
o
Tinggal di Desa Jelapat
dan merawat orang tuanya.
o
Tidak bermain judi dalam
bentuk apa pun.
o
Tidak berhubungan dengan
Rubiah atau perempuan lain di luar ikatan pernikahan yang sah.
o
Berusaha memperbaiki
hubungan dengan Yulia dan Purnomo.
5.
Jika Aji melanggar satu
saja dari ketentuan di atas, hak kelola kebun dicabut dan Aji harus pergi dari
Desa Jelapat selamanya.
6.
Kesepakatan ini
disaksikan oleh Kepala Desa dan tokoh masyarakat.
Aji membaca berulang kali. Ada perasaan haru dan malu.
"Pak... Aji nggak tahu harus bilang apa. Makasih, Pak.
Makasih."
Pak Sudiro memeluk anaknya. "Bapak sayang kamu, Nak.
Bapak nggak mau kamu hancur. Tapi Bapak juga harus tegas. Ini kesempatan
terakhirmu."
Aji menangis di pelukan ayahnya. "Aji janji, Pak. Aji
nggak akan sia-siakan kesempatan ini."
Ibu Jayanti ikut memeluk. Mereka bertiga berpelukan,
menangis bersama.
Di luar, matahari mulai terbenam. Langit jingga kemerahan.
Seperti harapan baru yang mulai merekah.
Keesokan harinya, Pak Heru mengumpulkan pemuda desa di
balai desa.
Hadir dalam pertemuan itu: Rangga (Ketua Karang Taruna),
Tono, Jamal, Bima, Lukman, Rizal, dan beberapa pemuda lainnya.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Heru.
"Pagi, Pak Kades," jawab mereka kompak.
Pak Heru memulai pertemuan. "Saya kumpulkan kalian
untuk membicarakan Aji Wungkal. Kalian tahu kan kasusnya?"
Mereka mengangguk.
"Pak Sudiro sudah memberi Aji kesempatan. Dua tahun
mengelola kebun sawit. Tapi kita semua tahu, Aji punya masalah besar: judi dan
perempuan. Bisa-bisa dia kambuh lagi."
Rangga angkat bicara. "Jadi, Pak Kades mau kami
memantaunya?"
"Tepat. Saya minta kalian, sebagai pemuda desa, ikut
mengawasi Aji. Bukan untuk memusuhinya, tapi untuk membantunya. Kalau dia mulai
menunjukkan gejala kambuh, segera laporkan ke saya atau ke Pak Sudiro."
Tono mengernyit. "Maksudnya gejala kambuh, Pak?"
"Misalnya, dia mulai sering ke luar desa tanpa alasan jelas.
Atau ketemu orang asing. Atau tiba-tiba punya uang banyak. Atau mulai malas
kerja. Atau yang paling parah: mulai main judi online lagi."
Para pemuda mengangguk paham.
"Pak Kades, saya setuju," kata Rangga. "Tapi
kita harus hati-hati. Jangan sampai Aji merasa dikucilkan. Nanti dia malah
tambah stres."
"Benar. Makanya, pendekatannya harus baik. Ajak dia
ngobrol, ajak dia kerja bareng, libatkan dia di kegiatan pemuda. Dengan begitu,
dia merasa diterima, bukan diawasi."
Lukman, yang dikenal sebagai aktivis pemuda, bertanya.
"Pak, kalau soal hubungan dia dengan Rubiah, gimana? Perempuan itu bisa
datang lagi kapan saja."
Pak Heru menghela napas. "Itu yang paling saya
khawatirkan. Tapi kita sudah punya perjanjian damai di polisi. Kalau Rubiah
datang lagi, kita bisa lapor polisi. Tapi kalau Aji yang mencari dia... itu
lain soal."
"Berarti kita harus pastikan Aji nggak cari-cari
dia," kata Bima.
"Tepat."
Pertemuan ditutup dengan kesepakatan: para pemuda akan
bergantian 'memantau' Aji dengan cara yang halus dan bersahabat.
Sejak hari itu, Aji mulai sering diajak pemuda desa.
Mereka ajak dia kerja bakti, ajak dia olahraga, ajak dia
ngopi di warung Bu Marni. Aji awalnya kaku, tapi lama-lama mulai terbuka.
"Bang Aji, ikut kita mancing yuk," ajak Tono
suatu sore.
"Mancing? Di mana?"
"Di sungai belakang. Biasanya kami mancing sambil
bakar ikan."
Aji tersenyum. "Boleh. Gue ikut."
Mereka pergi ke sungai. Di sana, Aji duduk di tepi sungai,
memancing bersama pemuda-pemuda desa. Sambil menunggu ikan, mereka ngobrol
ngalor-ngidul.
"Bang, gimana rasanya hidup di kota?" tanya Jamal
penasaran.
Aji menghela napas. "Kota? Sibuk, ramai, keras. Gue
dulu kira kota itu surga. Ternyata... neraka."
"Kok neraka?"
"Karena di kota, gue kehilangan diri gue sendiri.
Kehilangan keluarga. Kehilangan segalanya."
Para pemuda diam. Mereka tak menyangka Aji sejujur itu.
"Tapi sekarang, di desa, gue mulai menemukan lagi.
Berkat kalian, berkat orang tua gue, berkat desa ini."
Rangga menepuk pundak Aji. "Kita semua punya masa
lalu, Bang. Yang penting adalah masa depan."
Aji tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa punya
teman. Teman sejati, bukan teman yang cari keuntungan.
Di rumah Pak Sudiro, Ibu Jayanti berdoa setiap malam.
"Ya Allah, lindungi anakku. Jauhkan dia dari godaan
setan. Beri dia kekuatan untuk berubah. Kembalikan dia ke jalan yang
benar."
Pak Sudiro, yang mendengar doa istrinya, ikut mengamini.
"Semoga Aji benar-benar berubah, Bu. Bapak sudah tua.
Bapak nggak kuat lagi kalau harus lihat dia hancur."
"Mudah-mudahan, Mas. Mudah-mudahan."
Mereka berpegangan tangan, memandang langit-langit rumah
yang mulai bocor.
Hidup mereka memang sudah tak mewah seperti dulu. Tapi
setidaknya, ada harapan. Harapan bahwa anak mereka bisa berubah. Harapan bahwa
keluarga mereka bisa utuh kembali.
Namun mereka tak tahu, di kejauhan, badai masih mengintai.
Rubiah, meski sudah menerima uang, tak akan tinggal diam.
Ia sakit hati. Dan orang sakit hati bisa melakukan apa saja.
Selain itu, utang Aji pada Liong belum lunas. Bunganya
terus berjalan. Liong bukan tipe bandar yang mudah lupa. Ia akan datang. Cepat
atau lambat.
Dan yang paling berat: Yulia. Aji belum memberanikan diri
untuk menemuinya. Ia belum tahu bagaimana reaksi Yulia. Apakah Yulia mau
menerimanya kembali? Atau sudah terlanjur sakit hati?
Konflik sesungguhnya masih akan datang.
Dan Aji harus siap menghadapinya.
BAGIAN VI
KESERAKAHAN YANG TAK TERPUASKAN
Enam bulan telah berlalu sejak Aji memulai babak baru dalam
hidupnya di Desa Jelapat.
Setiap hari ia bangun sebelum subuh. Mandi, salat, lalu berangkat
ke kebun. Ia bekerja bersama Pak Mahmud dan dua pekerja lainnya, memanen buah
sawit, membersihkan pelepah, memupuk pohon-pohon yang mulai berkurang
produktivitasnya.
Kebun sawit tiga hektar itu kini tampak berbeda. Dari yang
semula agak terlantar, kini rapi terawat. Pelepah-pelepah kering sudah
dibersihkan. Parit-parit drainase sudah digali. Rumput-rumput liar yang
menyaingi pohon sawit sudah ditebas.
"Bang Aji, kebun ini jadi subur lagi," puji Pak
Mahmud suatu hari.
Aji tersenyum. "Alhamdulillah, Pak. Berkat kerja keras
kita semua."
"Pantesan Pak Sudiro percaya sama Abang. Abang memang
punya bakat jadi petani."
Aji tertawa. "Dulu saya kira jadi petani itu pekerjaan
rendah. Sekarang saya baru sadar, dari petani lah semua orang makan. Petani itu
mulia."
Pak Mahmud tersenyum bangga. Ia senang melihat perubahan
Aji. Pemuda yang dulu sombong dan manja itu kini menjadi pribadi yang rendah
hati dan pekerja keras.
Namun di balik kesuksesan mengelola kebun, ada masalah yang
mengintai: keuangan.
Aji menghitung-hitung penghasilan dari kebun sawit. Sekali
panen, ia bisa mendapat sekitar 2-3 ton buah sawit. Dengan harga Rp 2.000 per
kilogram, pendapatannya sekitar 4-6 juta rupiah per panen. Dalam sebulan, ia
bisa panen dua kali. Jadi pendapatan kotornya sekitar 8-12 juta per bulan.
Tapi itu belum dipotong biaya operasional. Upah pekerja,
pupuk, obat-obatan, transportasi. Setelah dipotong semua, bersihnya hanya
sekitar 5-7 juta per bulan.
Aji membagi uang itu untuk beberapa keperluan:
·
2 juta untuk orang
tuanya (biaya hidup dan obat-obatan Ibu Jayanti)
·
1 juta untuk tabungan
(ia ingin menabung untuk modal rujuk dengan Yulia)
·
1 juta untuk biaya hidup
sehari-hari
·
Sisanya, sekitar 1-3
juta, untuk mencicil utang.
Masalahnya, utangnya pada Liong bukan utang kecil. Pokok pinjaman
20 juta dengan bunga 10% per bulan. Selama enam bulan ia tak membayar, bunganya
sudah 12 juta. Total utangnya 32 juta. Dan bunga terus berjalan setiap bulan.
Dengan cicilan 1-3 juta per bulan, butuh waktu
bertahun-tahun untuk melunasinya. Belum lagi bunga yang terus menumpuk.
Aji mulai pusing.
Suatu malam, ia menghitung utangnya dengan cermat.
"32 juta plus bunga bulan ini 3,2 juta, total 35,2
juta. Bulan depan tambah bunga lagi 3,52 juta, jadi 38,72 juta. Bulan
berikutnya tambah 3,87 juta, jadi 42,59 juta. Kalau terus begini, dalam setahun
utangku bisa 70 juta lebih!"
Ia memegangi kepalanya. Pusing. Stress. Ingin marah, tapi
tak tahu pada siapa.
"Ya Allah... bagaimana ini? Aku sudah bekerja keras,
tapi utangku makin besar. Bunganya mencekik."
Ia mencoba berpikir jernih. Mencari solusi. Mungkin ia bisa
pinjam uang ke bank untuk melunasi utang ke Liong. Bunga bank lebih rendah.
Tapi bank butuh agunan. Apa agunannya? Kebun ini bukan miliknya, hanya hak
kelola. Rumah orang tuanya sudah digadaikan. Tak ada yang bisa dijaminkan.
Mungkin ia bisa bicara baik-baik dengan Liong. Minta
keringanan bunga. Minta rescheduling. Tapi apa Liong mau? Bandar judi mana yang
mau rugi?
Aji putus asa. Ia mulai merokok lagi, kebiasaan yang sudah
ia tinggalkan selama enam bulan.
Keesokan harinya, Aji memutuskan untuk bicara dengan
ayahnya.
"Pak, Aji mau ngomong."
Pak Sudiro yang sedang minum kopi di teras menoleh.
"Ada apa, Nak?"
Aji duduk di samping ayahnya. Wajahnya muram.
"Pak, utang Aji ke Liong makin besar. Bunganya mencekik.
Aji takut... takut nggak bisa bayar."
Pak Sudiro menghela napas. Ia sudah menduga ini akan
terjadi.
"Berapa sekarang utangmu?"
"Tiga puluh lima juta, Pak. Bulan depan bisa empat
puluh."
Pak Sudiro diam. Ia memandangi kebun di kejauhan.
Pikirannya berkecamuk.
"Nak, Bapak sudah bilang. Bapak nggak punya uang.
Semua sudah habis. Yang tersisa hanya kebun ini, dan itu pun Bapak kasih kau
kelola."
"Tapi, Pak... kalau Aji nggak bayar, Liong bisa ambil
tanah ini. Tanah ini kan jaminan."
Pak Sudiro terkejut. "JAMINAN? Kau jadikan tanah ini
jaminan utang?"
Aji menunduk. "Maaf, Pak. Waktu itu Aji terdesak. Aji
pikir bisa bayar. Tapi ternyata nggak."
Pak Sudiro bangkit berdiri. Wajahnya merah.
"KAU GILA! TANAH INI SATU-SATUNYA YANG TERSISA! KAU
JADIKAN JAMINAN UTANG KEPADA BANDAR JUDI?!"
Aji diam. Ia tak bisa membela diri.
"Bapak sudah capek, Aji. Capek dengan ulahmu. Setiap
kali Bapak kasih kesempatan, kau selalu hancurkan. Kapan kau mau berubah?
Kapan?"
"Pak, Aji minta maaf. Tapi Aji butuh bantuan. Aji
nggak tahu harus gimana."
Pak Sudiro duduk lagi. Tubuhnya lemas. Ibu Jayanti yang
mendengar keributan keluar dan ikut duduk di samping suaminya.
"Sudiro... tenang. Jangan marah-marah, nanti
sakit."
Pak Sudiro menghela napas panjang. "Aji, Bapak nggak
bisa bantu uang. Tapi Bapak bisa bantu pikiran. Coba kau datangi Liong. Bicara
baik-baik. Minta keringanan. Jelaskan situasimu. Siapa tahu dia mau
mengerti."
Aji ragu. "Tapi, Pak... Liong itu bandar. Masa bandar
mau mengerti?"
"Coba dulu. Nggak ada salahnya. Kalau dia nggak mau,
kita pikirkan cara lain."
Aji mengangguk. "Baik, Pak. Aji coba."
Di kota Sampit, Rubiah mulai gelisah lagi.
Uang 5 juta dari Aji sudah habis dalam dua bulan. Ia memang
boros. Setiap hari beli baju baru, tas baru, sepatu baru. Makan di restoran
mahal. Hangout di kafe-kafe elit. Uang cepat habis, tapi gaya hidup tak bisa
turun.
Sekarang ia kembali kekurangan uang. Kontrakan sudah nagih.
Listrik mau diputus. Dan ia tak punya siapa-siapa. Teman-temannya mulai menjauh
karena ia selalu pinjam uang tak bayar.
"Sialan," umpatnya sambil merokok di kamar
kontrakannya yang mulai berantakan.
Ia membuka ponsel, melihat nomor Aji. Sudah lama tak
dihubungi. Mungkin Aji pikir semuanya sudah beres. Mungkin Aji pikir ia sudah
pergi selamanya.
"Pikir lo gue bakal diem aja? Enak aja."
Ia menekan nomor Aji.
"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif."
Rubiah mengumpat lagi. Aji ganti nomor. Tentu saja. Biar
susah dihubungi.
Tapi Rubiah bukan perempuan bodoh. Ia punya cara. Ia
hubungi Yanto.
"Yan, gue butuh nomor baru Aji."
Yanto yang menerima telepon itu menghela napas. "Rul,
udahlah. Lepasin Aji. Dia sudah punya hidup baru."
"Gue nggak peduli hidup baru atau lama. Dia masih
punya utang ke gue."
"Utang apa? Bukannya udah damai di polisi?"
"Damai 5 juta? Itu mah cuma obat kutu. Gue butuh
lebih."
Yanto diam. Ia muak dengan Rubiah. Tapi ia juga tak mau
terlibat lebih jauh.
"Gue nggak tahu nomornya, Rul. Cari sendiri."
"Yan, jangan pelit. Lo pasti tahu."
"Gue bilang nggak tahu!"
Yanto mematikan telepon. Rubiah mengumpat panjang.
Tapi Rubiah pantang menyerah.
Ia mulai mencari informasi dari kenalan-kenalannya. Dari
teman Aji yang dulu, dari pedagang pasar, dari sopir truk yang sering ke
Seruyan. Akhirnya, seorang kenalan memberinya nomor baru Aji.
"Ini nomornya. Tapi jangan bilang-bilang ya, gue
dikasih."
Rubiah tersenyum puas. Ia segera menekan nomor itu.
"Halo?" suara
Aji di ujung sana.
Rubiah tersenyum manis, meski Aji tak melihatnya.
"Sayang... kangen nggak sama gue?"
Hening di ujung sana. Aji jelas terkejut.
"Ru... Rubiah? Lo dari mana dapat nomor gue?"
"Rahasia, dong. Yang penting gue bisa hubungi lo.
Gimana kabar? Baik?"
Aji menghela napas. "Rul, kita sudah selesai. Udah
damai di polisi. Lo sudah terima uang. Jangan ganggu gue lagi."
"Ganggu? Enak aja. Gue kangen, masa dibilang
ganggu."
"Rub, gue serius. Gue lagi berusaha memperbaiki hidup.
Jangan hancurin lagi."
Rubiah berubah. Suaranya dingin. "Lo pikir gue bakal
diem aja? Lo tinggalin gue setelah semua yang gue korbankan? Lo pikir 5 juta
cukup?"
Aji diam. Ia sudah menduga ini akan terjadi.
"Lo mau apa lagi, Rul?"
"Gue mau 20 juta. Dalam waktu sebulan. Kalau nggak,
gue datang lagi ke desa lo. Gue bikin onar. Gue kasih tahu istri lo yang dulu
tentang semua perbuatan lo. Gue hancurin hidup lo."
Aji mengepalkan tangannya. Ia ingin marah, tapi ia tahan.
"Rub, lo nggak punya hati."
"Hati? Buat apa? Hidup ini keras, Ji. Yang kuat yang
menang. Lo sudah menang, lo dapat hidup baru. Sekarang giliran gue yang menang.
20 juta. Sebulan."
Rubiah mematikan telepon.
Aji memandangi ponselnya dengan perasaan hancur. Ia baru
saja mulai tenang, sekarang badai datang lagi.
Malam itu, Aji tak bisa tidur.
Ia memikirkan Rubiah. Perempuan itu seperti lintah. Tak
pernah puas. Makin diberi makin minta. Kalau diberi 20 juta, nanti minta 50 juta
lagi. Tak akan ada habisnya.
Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tak punya uang. Ia masih
punya utang ke Liong yang menggunung. Sekarang Rubiah datang lagi.
Ia mencoba menghubungi Yanto. Mencari saran.
"Yan, gue lagi masalah."
"Masalah apa, Ji?"
"Rubiah. Dia minta 20 juta. Ancang-ancang mau datang
ke desa."
Yanto menghela napas panjang. "Gue sudah bilang dari
dulu. Perempuan itu racun. Sekarang lo rasain sendiri."
"Gue harus gimana, Yan?"
"Lapor polisi aja. Itu pemerasan. Udah ada bukti
ancaman."
"Tapi gue nggak punya bukti rekaman. Cuma lewat
telepon."
"Kalau dia telepon lagi, rekam. Terus lapor. Itu cara
satu-satunya. Kalau lo kasih uang, dia akan terus-terusan minta."
Aji mengangguk, meski Yanto tak melihat. "Baik, Yan.
Makasih."
"Ji, lo harus kuat. Ini ujian. Kalau lo bisa lewati,
lo akan jadi pribadi yang lebih baik. Kalau lo kalah, lo akan hancur
selamanya."
Aji menghela napas. "Gue akan coba, Yan.
Makasih."
Seminggu kemudian, Aji kedatangan tamu tak diundang di
kebunnya.
Saat sedang memanen bersama Pak Mahmud, tiba-tiba dua orang
lelaki besar masuk ke kebun. Mereka berpakaian preman, bertato, dan berwajah
garang.
"Kamu Aji Wungkal?" tanya salah satu.
Aji menegang. "Iya. Siapa?"
"Utusan Bos Liong. Bos minta ketemu. Sekarang."
Aji menghela napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi.
"Ada perlu apa?"
"Lo tanya perlu apa? Utang lo sudah 40 juta. Bunga
jalan terus. Bos minta bayaran."
Aji memegangi dahinya. 40 juta. Dalam sebulan bunganya
bertambah 4 juta. Utangnya makin membengkak.
"Saya... saya belum punya uang, Pak. Tolong sampaikan
ke Bos, saya minta waktu. Saya akan bayar."
Preman itu tersenyum sinis. "Minta waktu? Lo pikir ini
bank? Ini utang ke Bos. Kalau nggak bayar, ada konsekuensinya."
"Konsekuensi apa?"
Preman itu memandangi kebun sawit di sekelilingnya.
"Kebun ini lumayan luas. Bos bisa ambil alih. Atau..." ia memandang
Pak Mahmud yang ketakutan, "... orang-orang yang lo sayang bisa
celaka."
Aji marah. "Jangan ancam! Ini urusan saya sama Bos!
Nggak usah libatkan orang lain!"
"Terserah lo. Pokoknya minggu depan, lo harus bayar
minimal bunganya. 4 juta. Kalau nggak, kami datang lagi. Dan kali ini nggak
cuma ngomong."
Kedua preman itu pergi, meninggalkan Aji dengan hati
berdebar.
Pak Mahmud mendekati Aji dengan wajah pucat.
"Bang Aji... itu... itu preman ya? Ada urusan apa sama
Abang?"
Aji menghela napas. "Urusan utang, Pak. Maaf, Bapak
lihat itu."
"Abang utang sama mereka?"
"Iya. Saya punya masalah di kota dulu. Sekarang mereka
tagih."
Pak Mahmud menggeleng-geleng. "Abang harus hati-hati.
Mereka orang-orang jahat. Bisa celaka."
Aji mengangguk. "Saya tahu, Pak. Saya akan
selesaikan."
Namun di dalam hatinya, ia tak tahu harus bagaimana. 4 juta
dalam seminggu. Dari mana ia bisa dapat uang sebanyak itu? Hasil kebun bulan
ini sudah habis buat biaya operasional dan cicilan utang ke rentenir lain. Ia
tak punya tabungan.
Malam harinya, Aji kembali bicara dengan ayahnya.
"Pak, Aji ditagih preman Liong. Minta 4 juta minggu
depan."
Pak Sudiro menghela napas. Ia sudah terlalu sering
mendengar kabar buruk dari anaknya.
"Aji, Bapak sudah nggak punya apa-apa. Uang Bapak
habis buat biaya hidup dan obat Ibu. Satu-satunya yang Bapak punya adalah kebun
itu, dan itu sudah Bapak kasih kau kelola."
"Tapi, Pak, Aji butuh bantuan. Kalau nggak dibayar,
mereka bisa celakai Aji. Atau celakai orang-orang sekitar."
Pak Sudiro diam. Ia berpikir keras.
"Aji, bagaimana kalau kau jual saja hak kelola kebun
ini? Cari orang yang mau beli. Uangnya bisa buat bayar utang."
Aji terkejut. "Jual hak kelola? Tapi itu tanah
Bapak."
"Bukan tanahnya, tapi hak kelolanya. Selama dua tahun.
Itu bisa dijual. Mungkin ada yang mau beli, petani lain yang butuh lahan."
Aji berpikir. Itu ide. Tapi konsekuensinya besar. Ia akan
kehilangan sumber penghasilan. Ia akan kembali menganggur. Tapi mungkin itu lebih
baik daripada dikejar-kejar preman.
"Tapi, Pak... setelah itu Aji kerja apa?"
"Kau bisa cari kerja lain. Jadi buruh tani, jadi kuli
bangunan, apa saja. Yang penting halal. Yang penting kau jauh dari utang."
Aji mengangguk pelan. "Baik, Pak. Aji coba cari
pembeli."
Dua hari kemudian, Aji bertemu dengan calon pembeli hak
kelola kebun.
Namanya Pak Darmawan, seorang petani kaya dari desa
tetangga. Ia tertarik dengan kebun sawit Pak Sudiro yang subur dan produktif.
"Berapa Abang mau jual hak kelolanya?" tanya Pak
Darmawan.
Aji ragu. Ia tak tahu harga pasaran. "Berapa Bapak mau
beli?"
Pak Darmawan berpikir. "Kebun ini luasnya 3 hektar.
Produktif. Kalau hak kelola 2 tahun, biasanya laku 30-40 juta. Tapi tergantung
negosiasi."
Aji terkejut. 30-40 juta. Itu cukup untuk bayar utang ke
Liong dan Rubiah, bahkan masih sisa.
"Kalau 35 juta, gimana, Pak?"
Pak Darmawan mengangguk. "Boleh. Tapi saya lihat dulu
kondisi kebunnya, surat-suratnya, dan saya harus bicara dengan pemilik tanah
langsung, yaitu Pak Sudiro."
Aji mengangguk. "Baik, Pak. Besok saya antar ke
rumah."
Keesokan harinya, Pak Darmawan datang ke rumah Pak Sudiro.
Pak Sudiro menerimanya dengan baik. Mereka bicara panjang
lebar tentang kebun, tentang harga, tentang kesepakatan.
"Pak Sudiro, saya tertarik beli hak kelola kebun Bapak
selama 2 tahun. Harga 35 juta. Tapi saya perlu kepastian, apakah Bapak
setuju?"
Pak Sudiro memandang Aji. Anaknya tampak tegang.
"Saya setuju, Pak. Tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya, Pak?"
"Uangnya jangan langsung diberikan ke Aji. Berikan ke
saya. Saya yang akan mengatur pembayaran utang-utangnya. Saya takut kalau Aji
pegang uang sebanyak itu, malah dipakai judi lagi."
Aji tersentak. "Pak! Aji nggak akan—"
"Bapak tahu kau nggak akan. Tapi Bapak ingin
jaga-jaga. Setelah pengalaman kemarin, Bapak nggak bisa percaya begitu
saja."
Pak Darmawan mengangguk. "Itu bijaksana, Pak. Saya
setuju."
Aji diam. Ia kecewa, tapi ia tahu ayahnya benar. Ia memang
punya riwayat buruk dengan uang.
Kesepakatan ditandatangani. Pak Darmawan membayar 35 juta
tunai kepada Pak Sudiro.
Pak Sudiro menerima uang itu dengan tangan gemetar. Uang
sebanyak ini dulu biasa baginya. Sekarang, setelah jatuh miskin, uang ini
terasa sangat berarti.
"Aji, Bapak akan atur pembayaran utangmu. Utang ke
Liong 40 juta, utang ke Rubiah katanya 20 juta, total 60 juta. Uang ini cuma 35
juta. Masih kurang 25 juta. Kita harus cari cara lain."
Aji lemas. Ia pikir dengan 35 juta semua utangnya lunas.
Ternyata masih kurang banyak.
"Bagaimana ini, Pak?"
Pak Sudiro menghela napas. "Kita bayar yang paling
mendesak dulu. Liong. Utangnya 40 juta, bunganya terus jalan. Kita bayar 35
juta, masih kurang 5 juta. Minta keringanan, minta hapus bunganya."
"Kalau Rubiah?"
"Rubiah... kita lihat nanti. Mungkin setelah Liong
lunas, kita bisa cicil."
Pak Sudiro mengatur pertemuan dengan Liong.
Liong setuju bertemu di sebuah kafe di Sampit. Aji dan Pak
Sudiro datang bersama. Liong datang dengan dua preman besarnya.
"Pak Sudiro, senang bertemu," sapa Liong dengan
senyum ramah, meski matanya tajam.
Pak Sudiro tak banyak bicara. Ia langsung mengeluarkan uang
35 juta dari tasnya.
"Liong, ini uang 35 juta. Buat bayar utang anak saya.
Total utangnya 40 juta, kami bayar 35 juta. Minta keringanan 5 juta dan hapus
semua bunga."
Liong tertawa. "Pak Sudiro, bisnis itu
hitung-hitungan. Utang 20 juta, bunga 10% per bulan, selama setahun jadi 40
juta lebih. Itu hitungan matematika. Saya nggak bisa hapus begitu saja."
"Tapi anak saya sudah jual hak kelola kebun untuk
bayar utang ini. Itu satu-satunya harta yang tersisa. Tolong, beri
keringanan."
Liong diam. Ia memandangi uang 35 juta di depannya. Lalu
memandang Aji yang tertunduk.
"Aji, lo lihat orang tuamu. Dia rela datang jauh-jauh,
bawa uang, buat selametin lo. Lo beruntung punya ortu kayak gini."
Aji mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.
"Iya, Bos. Aji sadar."
Liong menghela napas. "Baik. Saya terima 35 juta ini.
Utang lo saya anggap lunas. Tapi ingat, kalau lo main judi lagi di tempat saya,
atau di tempat lain, saya nggak akan segan-segan. Saya akan cari lo. Saya akan
hancurin lo."
Aji mengangguk. "Saya janji, Bos. Nggak akan main judi
lagi."
Liong menerima uang itu, lalu pergi bersama preman-preman
nya.
Aji dan Pak Sudiro menghela napas lega. Utang paling berat
sudah lunas.
Sesampainya di rumah, Pak Sudiro jatuh sakit.
Perjalanan ke Sampit, stres, dan tekanan batin membuat
kesehatannya drop. Ia demam tinggi, badannya lemas, tak bisa bangun.
Ibu Jayanti panik. Aji segera memanggil mantri desa.
"Pak Sudiro harus istirahat total. Jangan banyak
pikiran. Jangan stres," kata mantri.
Aji duduk di samping ayahnya. Ia memegang tangan ayahnya
yang lemah.
"Pak... maafin Aji. Ini semua salah Aji."
Pak Sudiro membuka matanya. Dengan suara lemah, ia berkata,
"Aji... Bapak sayang kamu. Tapi Bapak capek. Bapak
sudah tua. Bapak nggak kuat lagi kalau harus terus-terusan bersihin masalahmu.
Kali ini Bapak bantu. Tapi kalau kamu jatuh lagi, Bapak nggak akan bisa bantu.
Bapak sumpah... demi Allah... Bapak nggak akan peduli lagi kalau kamu
hancur."
Aji menangis. Ia memeluk ayahnya.
"Pak... Aji janji. Aji akan berubah. Sungguh. Aji
nggak akan buat Bapak kecewa lagi."
Pak Sudiro mengelus kepala anaknya.
"Bapak harap begitu, Nak. Bapak harap begitu."
Kabar tentang Pak Sudiro yang sakit menyebar cepat di Desa
Jelapat.
Warga desa berbondong-bondong datang menjenguk. Mereka
membawa buah tangan: pisang, jeruk, susu, bubur ayam. Semua ingin menunjukkan
rasa prihatin mereka.
Pak Karto datang dengan istrinya, Bu Karto. Mereka duduk di
samping tempat tidur Pak Sudiro.
"Pak Sudiro, cepat sembuh ya. Jangan banyak
pikiran," ucap Pak Karto.
Pak Sudiro tersenyum lemah. "Terima kasih, Pak
Karto."
"Anak-anak sudah pada dewasa. Biarkan mereka urus
hidupnya masing-masing. Bapak fokus sama kesehatan."
Pak Sudiro mengangguk. "Iya, Pak. Saya sudah
pasrah."
Pak Hasan, tokoh agama, juga datang. Ia membacakan doa-doa
kesembuhan.
"Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu ini. Angkatlah
penyakitnya. Berikanlah kesehatan dan kekuatan. Amin."
Semua mengamini.
Setelah doa, Pak Hasan bicara pada Aji yang duduk di pojok ruangan.
"Aji, nak, mari sebentar."
Aji mendekat. "Iya, Pak Hasan."
"Aji, masyarakat prihatin dengan keadaan keluargamu.
Dulu kalian orang terkaya di desa. Sekarang... maaf, nyaris miskin. Ini semua
karena ulahmu."
Aji menunduk. Ia tak bisa membantah.
"Tapi kami nggak memusuhimu. Kami masih menerimamu
sebagai warga desa. Karena kami percaya, setiap orang punya kesempatan untuk
berubah. Dan kami lihat kamu sudah berubah."
Aji mengangkat wajahnya. Ada harapan di matanya.
"Tapi ingat, Aji. Perubahan itu harus konsisten.
Jangan setengah-setengah. Jangan kambuh lagi. Masyarakat akan terus mengawasi.
Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mendukung."
Aji mengangguk. "Terima kasih, Pak Hasan. Terima kasih
semuanya."
Di luar rumah, para tetangga bergosip.
"Kasihan Pak Sudiro. Dulu kaya raya, sekarang jatuh
miskin gara-gara anak," kata Bu Marni.
"Iya, anak itu memang durhaka. Tapi sekarang katanya
sudah berubah," sahut Bu Sulastri.
"Berubah? Ah, masa sih? Serigala tetap serigala. Nanti
juga kambuh."
"Ya kita lihat saja. Semoga benar-benar berubah."
Rangga dan pemuda desa lainnya ikut prihatin. Mereka
berjanji akan terus memantau Aji, membantu jika perlu, mengingatkan jika mulai
salah.
"Pokoknya kita jaga terus. Jangan sampai Aji
terjerumus lagi. Kasihan orang tuanya," kata Rangga pada teman-temannya.
Sementara itu, Aji duduk di kamar Purnomo.
Ya, kamar yang disiapkan Ibu Jayanti untuk cucunya yang
belum pernah datang. Ada tempat tidur kecil, meja belajar, dan mainan-mainan
bekas yang dikumpulkan dari tetangga.
Aji memegang bantal kecil di tempat tidur itu. Ia
membayangkan Purnomo tidur di sini. Ia membayangkan bisa menggendong anaknya,
mengajaknya main, membacakan cerita.
"Purnomo... Nak... Bapak janji. Bapak akan jemput
kamu. Bapak akan minta maaf sama Ibumu. Bapak akan jadi bapak yang baik buat
kamu."
Air matanya jatuh.
"Tapi sebelum itu, Bapak harus selesaikan dulu semua
masalah. Bapak harus lunasi utang ke Rubiah. Bapak harus punya pekerjaan tetap.
Bapak harus punya rumah layak buat kalian."
Ia memandang langit-langit kamar.
"Ya Allah, beri aku kekuatan. Beri aku jalan. Aku
ingin pulang. Pulang ke keluarga yang dulu aku tinggalkan. Pulang ke anak yang
dulu aku abaikan. Pulang ke istri yang dulu aku khianati."
Doa Aji malam itu adalah doa yang paling tulus dalam
hidupnya.
Namun ia tak tahu, Rubiah masih mengintai di kejauhan.
Dan Liong, meski sudah menerima uang, belum tentu
benar-benar melepaskannya.
Badai belum berlalu. Mungkin baru akan datang.
BAGIAN VII
KEHANCURAN KELUARGA
Tiga bulan telah berlalu sejak Pak Sudiro jatuh sakit.
Kesehatan Pak Sudiro naik turun. Kadang membaik, bisa duduk
dan berjalan pelan. Kadang kambuh, demam tinggi dan lemas tak berdaya. Ibu
Jayanti setia merawatnya, meski tubuhnya sendiri mulai renta.
Aji bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pagi-pagi ia jadi kuli bangunan di proyek rumah warga. Siangnya ia bantu-bantu
di kebun milik Pak Darmawan (sekarang hak kelolanya sudah dijual). Malamnya
kadang jadi tukang ojek kalau ada yang butuh.
Penghasilannya pas-pasan. Cukup untuk makan sehari-hari dan
beli obat untuk ayahnya. Tak cukup untuk menabung, apalagi membayar utang ke
Rubiah yang masih 20 juta.
Rubiah terus menerornya. Setiap minggu pasti menelepon,
mengirim SMS, bahkan kadang mengirim foto-foto lama mereka berdua sebagai
pengingat.
"Ji, kapan bayar utang? Aku butuh uang."
"Ji, jangan lupa 20 juta. Aku tunggu."
"Ji, kalau nggak bayar, aku datang ke desa. Aku bawa
semua bukti. Aku kasih tahu istrimu yang dulu semua tentang lo."
Aji membaca pesan-pesan itu dengan perasaan campur aduk.
Marah, takut, putus asa. Tapi apa daya, ia tak punya uang.
Suatu sore, Ibu Jayanti memanggil Aji.
"Nak, Ibu mau bicara."
Aji duduk di hadapan ibunya. Wajah Ibu Jayanti terlihat
lebih tua dari usianya. Rambutnya makin putih, kerut di wajahnya makin dalam.
"Iya, Bu. Ada apa?"
Ibu Jayanti menghela napas. "Nak, Ibu tahu kamu masih
punya utang ke Rubiah. 20 juta, kan?"
Aji terkejut. "Bu tahu?"
"Ibu tahu dari ayahmu. Dia cerita sebelum sakitnya
parah."
Aji menunduk. "Maaf, Bu. Aji belum bisa bayar."
Ibu Jayanti meraih tangan anaknya. "Nak, Ibu nggak
punya uang. Semua sudah habis. Tapi Ibu masih punya sesuatu."
"Apa, Bu?"
Ibu Jayanti berdiri, berjalan ke lemari tua di sudut
ruangan. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil, berukir indah. Ia membukanya,
memperlihatkan isinya: perhiasan. Gelang emas, kalung, cincin, anting-anting.
Semua berkilau meski sudah lama tak dipakai.
"Ini, Nak. Perhiasan Ibu. Mas kawin dari ayahmu dulu.
Dan beberapa hadiah dari nenek buyutmu."
Aji terbelalak. "Bu... ini... ini kenapa Ibu
simpan?"
"Ibu simpan untuk jaga-jaga. Ibu pikir, jangan-jangan
suatu hari kita butuh. Nah, sekarang waktunya."
Aji menggeleng. "Nggak, Bu. Ibu nggak boleh jual ini.
Ini kenang-kenangan."
"Nak, kenang-kenangan bisa dicari lagi. Tapi nyawa
anak Ibu, masa depan anak Ibu, itu nggak bisa dicari. Ibu rela jual semua ini
asal kamu bisa lepas dari Rubiah."
Aji menangis. Ia memeluk ibunya.
"Bu... Aji jahat. Aji durhaka. Aji bikin susah
Ibu."
Ibu Jayanti mengelus kepala anaknya. "Sudah, Nak.
Jangan nangis. Ibu ikhlas. Asal kamu benar-benar berubah."
Keesokan harinya, Aji pergi ke kota untuk menjual perhiasan
ibunya.
Ia masuk ke toko emas langganan keluarga dulu. Toko emas
"Sinar Jaya" di Pasar Sampit, tempat biasa ia diajak ibunya saat
kecil.
"Wah, Aji? Udah gede," sapa pemilik toko, Pak
Tan, seorang Tionghoa paruh baya yang ramah.
"Iya, Pak. Lama nggak ketemu."
"Apa kabar? Mau beli emas?"
Aji menghela napas. "Mau jual, Pak. Perhiasan ibu
saya."
Pak Tan menerima perhiasan itu, memeriksanya dengan kaca
pembesar. Ia menimbang satu per satu.
"Ini kualitas bagus, Aji. Emas 24 karat. Berat total
50 gram. Kalau harga hari ini Rp 900.000 per gram, totalnya 45 juta. Tapi
karena ini jual, saya hargai Rp 850.000 per gram. Total 42,5 juta.
Setuju?"
Aji mengangguk. "Setuju, Pak."
Ia menerima uang tunai 42,5 juta. Uang terbesar yang pernah
ia pegang dalam hidupnya. Tapi ia tak merasa senang. Yang ia rasakan hanya
sedih. Sedih karena ibunya rela menjual kenang-kenangan untuknya.
Aji segera mentransfer 20 juta ke rekening Rubiah.
Tak lama, ponselnya berdering. Rubiah.
"Ji, uangnya udah masuk. 20 juta. Makasih."
Aji menjawab dingin. "Ini terakhir, Rul.
Jangan hubungi aku lagi. Kita putus total."
Rubiah tertawa di ujung sana. "Putus? Enak
aja. Siapa tahu nanti aku butuh lagi."
"NGGAK AKAN ADA LAGI! Ini terakhir!"
Aji mematikan telepon. Ia memblokir nomor Rubiah. Semua
kontak, semua medsos, semua yang bisa dihubungi, ia blokir.
"Semoga kau masuk neraka, Rubiah," gumamnya.
Sisa uang 22,5 juta ia bawa pulang ke desa.
"Ibu, ini sisa uangnya. 22,5 juta. Buat Ibu simpan.
Jangan buat Aji. Buat Ibu dan Bapak."
Ibu Jayanti terharu. "Nak, ini uangmu. Ibu
nggak—"
"Ini uang Ibu. Dari perhiasan Ibu. Aji nggak berhak.
Ibu simpan saja. Buat biaya hidup, buat obat Bapak. Kalau Aji butuh, Aji minta.
Tapi jangan kasih kalau Aji minta buat hal buruk."
Ibu Jayanti memeluk anaknya. "Nak... Ibu bangga sama
kamu."
Aji tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia
merasa tenang. Utang ke Rubiah lunas. Rubiah sudah diblokir. Semoga perempuan
itu benar-benar pergi dari hidupnya.
Tapi ia lupa, Rubiah tak pernah menepati janji.
Dua minggu setelah penjualan perhiasan, Pak Sudiro jatuh
sakit parah.
Bukan demam biasa. Kali ini, ia terkena stroke ringan.
Separuh wajahnya lumpuh, bicaranya pelo, dan ia sulit berjalan.
Aji panik. Ia membawa ayahnya ke rumah sakit di Sampit.
Dokter memeriksa dengan serius.
"Pak Sudiro terkena stroke ringan. Ini akibat stres
berkepanjangan, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, dan kelelahan.
Harus dirawat inap."
Aji lemas. "Berapa lama, Dok?"
"Minimal seminggu. Tergantung perkembangannya. Yang
penting, Pak Sudiro harus istirahat total. Tidak boleh stres. Tidak boleh
banyak pikiran."
Aji menatap ayahnya yang terbaring lemah di ranjang rumah
sakit. Hatinya hancur. Ia tahu, semua ini akibat ulahnya. Stres karena
masalahnya, tekanan batin karena ulahnya, kelelahan karena memikirkan dia.
"Pak... maafin Aji. Aji jahat."
Pak Sudiro membuka matanya. Dengan susah payah, ia berkata,
"Aji... Bapak... sayang... kamu."
Aji menangis. Ia memegang tangan ayahnya.
"Pak, Aji janji. Aji akan jaga Ibu. Aji akan jaga
keluarga. Aji nggak akan buat Bapak kecewa lagi."
Pak Sudiro tersenyum lemah. Senyum yang membuat Aji makin
hancur.
Biaya rumah sakit menguras sisa uang 22,5 juta.
Seminggu dirawat, obat-obatan, dokter spesialis, semuanya
habis sekitar 15 juta. Sisa tinggal 7,5 juta.
Aji tak peduli. Yang penting ayahnya sembuh.
Pak Sudiro diperbolehkan pulang setelah sepuluh hari. Ia
masih lemah, masih perlu pendampingan, tapi setidaknya sudah bisa bicara lebih
jelas dan berjalan pelan-pelan.
Sesampainya di rumah, Ibu Jayanti menyambut dengan tangis
haru.
"Sudiro... kamu pulang... Syukurlah."
Pak Sudiro memeluk istrinya. "Iya, Bu. Masih diberi
umur sama Allah."
Malam itu, mereka makan malam bersama. Sederhana: nasi,
sayur sop, dan telur dadar. Tapi kebersamaan itu terasa begitu hangat.
Aji memandangi orang tuanya. Mereka sudah tua. Sangat tua.
Waktu mereka tak lama lagi. Ia harus berbakti, harus menjaga, harus
membahagiakan mereka.
"Pak, Bu... Aji minta maaf atas semua yang sudah Aji
perbuat. Mulai sekarang, Aji akan jadi anak yang baik. Aji akan kerja keras.
Aji akan bahagiain kalian."
Pak Sudiro dan Ibu Jayanti tersenyum. Mereka percaya.
Malam itu, Ibu Jayanti tak bisa tidur.
Ia duduk di kursi dekat jendela, memandangi langit malam
yang bertabur bintang. Pikirannya melayang ke masa lalu. Ke masa ketika Aji
masih kecil, lucu, dan penurut.
"Ibu, Aji mau ikut Ibu ke pasar," rengek Aji
kecil dulu.
"Iya, Nak. Ayo mandi dulu."
"Ibu, Aji mau beli balon."
"Iya, nanti Ibu belikan."
"Ibu, Aji sayang Ibu."
Ibu Jayanti tersenyum sendiri mengingatnya. Dulu, Aji
begitu manis. Begitu polos. Sekarang... sudah dewasa, sudah banyak dosa, tapi
tetap anaknya.
Ia berlutut di sajadahnya. Menghadap kiblat. Menangis.
"Ya Allah... Ya Rabb... Ampunilah dosa-dosa anakku,
Aji. Ampunilah segala kesalahan yang telah ia perbuat. Berilah ia hidayah-Mu.
Berilah ia kekuatan untuk berubah. Berilah ia kesempatan untuk menjadi anak
yang berbakti."
Ia sujud lama. Air matanya membasahi sajadah.
"Ya Allah, lindungilah anakku dari godaan setan.
Jauhkan ia dari judi, dari perempuan jalang, dari segala kemaksiatan.
Kembalikan ia ke jalan yang lurus. Jadikan ia anak yang saleh, yang
membahagiakan orang tuanya, yang berguna bagi agama dan bangsa."
Ia terus berdoa, memohon, meratap.
"Ya Allah, hamba-Mu ini sudah tua. Hamba sudah lemah.
Hamba tak tahu berapa lama lagi hamba bisa mendampingi anakku. Tapi hamba
mohon, jangan Engkau biarkan ia tersesat selamanya. Bimbing ia, ya Allah.
Bimbing ia."
Di luar kamar, Aji mendengar isak tangis ibunya. Ia
menangis. Ia tahu ibunya sedang berdoa untuknya. Untuk anak durhaka yang terus
menyakiti hatinya.
Aji membuka pintu kamar ibunya pelan-pelan. Ia melihat
ibunya sedang sujud. Ia mendekat, duduk di samping ibunya.
Setelah Ibu Jayanti selesai salat, ia menoleh dan melihat
anaknya duduk menangis.
"Nak... kenapa menangis?"
Aji memeluk ibunya. "Bu... Aji dengar Ibu berdoa.
Bu... maafin Aji. Aji jahat."
Ibu Jayanti mengelus kepala anaknya. "Sudah, Nak.
Jangan nangis. Ibu ikhlas. Ibu selalu sayang kamu."
"Aji janji, Bu. Aji akan berubah. Aji akan jadi anak
baik."
Ibu Jayanti tersenyum. "Ibu percaya, Nak. Ibu selalu
percaya."
Namun badai belum berlalu.
Seminggu setelah Pak Sudiro pulang dari rumah sakit, mereka
kedatangan tamu tak diundang. Seorang lelaki berpakaian rapi, berkacamata,
membawa tas kulit mahal. Ia datang dengan mobil mewah.
"Selamat pagi. Saya Ahmad, dari Bank DANA. Ada urusan
dengan Bapak Sudiro."
Aji mengerutkan kening. "Bank? Ada apa?"
"Saya dari bagian penagihan. Bapak Sudiro punya
pinjaman di bank kami, dengan jaminan sertifikat rumah ini. Pinjaman sudah
jatuh tempo 3 bulan dan belum dibayar. Kami datang untuk... menagih."
Aji terkejut. Ia menoleh pada ayahnya yang duduk di kursi
roda dengan wajah pucat.
"Pak? Bapak pinjam uang di bank?"
Pak Sudiro menghela napas. "Iya, Nak. Dulu, pas kau
minta uang buat bayar utang ke Liong, Bapak nggak punya. Bapak pinjam ke bank.
Pakai jaminan rumah ini."
Aji lemas. Jadi, rumah yang mereka tempati sekarang sudah
digadaikan.
"Berapa pinjamannya, Pak?"
"50 juta. Sudah jatuh tempo 3 bulan. Dengan denda,
totalnya 60 juta."
Aji memegangi kepalanya. 60 juta. Dari mana mereka bisa
dapat uang sebanyak itu?
Pak Ahmad dari bank itu melanjutkan, "Kami sudah
memberikan surat peringatan tiga kali. Tidak ada tanggapan. Maka hari ini kami
datang untuk... mengeksekusi agunan. Rumah ini akan kami lelang."
Ibu Jayanti menjerit. "Jangan! Jangan ambil rumah
kami! Kami tinggal di mana?!"
"Maaf, Ibu. Ini prosedur. Kami sudah memberi kesempatan.
Tapi tidak ada pembayaran."
Aji mencoba tenang. "Pak, tolong. Beri kami waktu.
Kami cari uang."
Pak Ahmad menggeleng. "Sudah lewat. Kami harus
laksanakan sesuai aturan. Bapak dan Ibu punya waktu 1 minggu untuk mengosongkan
rumah. Setelah itu, kami akan segel."
Mereka pergi, meninggalkan keluarga Sudiro dalam
keputusasaan.
Sisa uang 7,5 juta takkan cukup untuk apa-apa. Rumah akan
diambil bank.
Aji duduk lemas di teras. Ia memandangi rumah yang dulu
megah itu. Lantai marmernya masih mengilap meski mulai kusam.
Dinding-dindingnya kokoh meski catnya mengelupas. Rumah ini adalah saksi bisu
kejayaan keluarga Sudiro. Dan sebentar lagi, rumah ini akan jadi milik orang
lain.
"Gara-gara aku. Semua gara-gara aku," bisiknya.
Ibu Jayanti keluar, duduk di sampingnya.
"Nak, jangan salahkan dirimu terus. Ini sudah
takdir."
"Bukan takdir, Bu. Ini akibat kesalahan Aji. Aji yang
bikin Bapak stres, bikin Bapak sakit, bikin Bapak pinjam uang. Semua karena
Aji."
Ibu Jayanti memegang tangan anaknya. "Nak, yang lalu
biarlah berlalu. Sekarang kita pikirkan ke depan. Kita cari jalan."
"Apa jalan, Bu? Rumah akan diambil. Kita nggak punya
apa-apa lagi."
Ibu Jayanti diam. Ia juga tak tahu.
Malam harinya, keluarga Sudiro berkumpul. Ada Pak Sudiro
(di kursi roda), Ibu Jayanti, dan Aji.
Mereka bicara panjang lebar. Mencari solusi. Tapi tak ada
jalan keluar.
Pak Sudiro akhirnya angkat bicara. "Aji, Bapak punya
satu ide."
"Apa, Pak?"
"Tanah kebun yang sudah kau jual hak kelolanya ke Pak
Darmawan... itu sebenarnya masih milik Bapak. Bapak bisa jual tanah itu. Tapi
Bapak harus minta izin Pak Darmawan dulu, karena dia masih punya hak kelola 2
tahun."
Aji terkejut. "Jual tanah kebun? Itu satu-satunya yang
tersisa!"
"Iya, Nak. Tapi kalau kita nggak jual, rumah ini
diambil bank. Kita tinggal di mana? Setidaknya dengan jual tanah, kita bisa
bayar utang bank dan rumah selamat."
Aji diam. Ia tahu ayahnya benar. Tapi menjual tanah kebun
berarti kehilangan aset terakhir. Mereka benar-benar akan jadi miskin.
"Berapa kira-kira harga tanah itu, Pak?"
"3 hektar, lokasi strategis, dekat jalan raya. Mungkin
150-200 juta. Kalau laku 150 juta, kita bisa bayar utang bank 60 juta, sisa 90
juta. Cukup buat modal hidup."
Aji mengangguk pelan. "Baik, Pak. Aji coba urus."
Esok harinya, Aji menemui Pak Darmawan.
Ia jelaskan situasinya. Pak Darmawan prihatin. Ia setuju
untuk mengembalikan hak kelola dan membantu menjual tanah.
"Saya punya kenalan pengusaha sawit yang cari tanah.
Mungkin dia mau beli. Saya bantu, Aji."
Aji berterima kasih.
Seminggu kemudian, tanah laku terjual. Harganya 180 juta.
Cukup untuk bayar utang bank, sisa 120 juta.
Pak Sudiro menangis saat menerima uang itu. Tanah warisan
orang tuanya, yang ia kumpulkan setetes demi setetes selama puluhan tahun, kini
sudah tak lagi miliknya.
"Maaf, Bapak... Ibu... maaf," isak Aji.
Pak Sudiro memeluk anaknya. "Sudah, Nak. Ini sudah
jalan terbaik. Yang penting kita masih punya rumah. Kita masih bisa
hidup."
Mereka bertiga berpelukan, menangis bersama.
Harta habis. Rumah masih tersisa, tapi hanya itu. Kebun,
sawit, karet, bengkel, semua sudah tak ada. Mereka kini benar-benar miskin.
Tapi setidaknya, mereka masih punya satu sama lain.
BAGIAN VIII
TAKDIR YANG BERBALIK
Tiga bulan telah berlalu sejak tanah terakhir keluarga
Sudiro terjual.
Hidup mereka kini sederhana, bahkan boleh dibilang
pas-pasan. Rumah besar dengan lantai marmer itu masih mereka tempati, tapi
hanya karena sudah dibayar lunas dari hasil penjualan tanah. Tak ada lagi mobil
di garasi. Tak ada lagi perabotan mewah di ruang tamu. Yang tersisa hanya kursi-kursi
kayu sederhana dan meja makan yang mulai lapuk.
Aji bekerja sebagai kuli bangunan. Setiap pagi ia berangkat
ke proyek-proyek perumahan di kecamatan tetangga. Upahnya Rp 80.000 per hari.
Cukup untuk makan sehari-hari dan membeli obat untuk Pak Sudiro yang masih
dalam masa pemulihan.
Ibu Jayanti membuka warung kecil di teras rumah. Ia menjual
gorengan, kopi, dan kebutuhan pokok sederhana. Warung itu tak seberapa, hanya
cukup untuk menambah uang belanja.
Pak Sudiro, meski masih lemah, kadang membantu mengawasi
warung sambil duduk di kursi rodanya. Ia tak banyak bicara sejak stroke.
Matanya sering kosong, menerawang, mungkin memikirkan masa lalu yang gemilang.
Hidup mereka tenang. Sederhana, tapi tenang.
Namun di dalam hati Aji, ada api yang tak pernah padam. Api
penyesalan. Api keinginan untuk memperbaiki semuanya. Api harapan untuk bisa
memulihkan nama baik keluarga.
Dan yang terpenting: api kerinduan pada Yulia dan Purnomo.
Suatu sore, saat Aji pulang dari proyek, ia melihat Ibu
Jayanti sedang menangis di ruang tamu.
"Bu? Kenapa nangis?" tanya Aji cemas.
Ibu Jayanti mengusap air matanya. "Nggak apa-apa, Nak.
Ibu cuma... kangen."
"Kangen sama siapa, Bu?"
Ibu Jayanti menghela napas. "Kangen sama Purnomo. Cucu
Ibu. Ibu belum pernah lihat dia. Ibu cuma lihat fotonya di HP-mu dulu. Umurnya
sekarang sudah... 8 tahun? Atau 9?"
Aji terdiam. Ia juga kangen. Sangat kangen.
"Iya, Bu. Purnomo sekarang 8 tahun. Sudah kelas 2
SD."
"Seperti apa dia? Mirip siapa?"
Aji tersenyum getir. "Mirip Aji. Tapi matanya seperti
Yulia. Lembut, sayu. Dulu, waktu masih bayi, dia suka senyum-senyum sendiri.
Kalau tidur, tangannya selalu pegang jari Aji."
Ibu Jayanti makin menangis. "Ibu pengin lihat dia,
Nak. Pengin gendong, pengin cium."
Aji memeluk ibunya. "Maaf, Bu. Ini semua salah Aji.
Aji yang hancurin keluarga. Aji yang bikin Yulia pergi. Aji yang bikin Purnomo
tumbuh tanpa bapak."
Ibu Jayanti mengusap kepala anaknya. "Sudah, Nak.
Jangan salahkan diri terus. Yang penting, apa yang bisa kita perbuat
sekarang?"
Aji diam. Ia berpikir keras.
"Bu, Aji ingin temu Yulia. Minta maaf. Minta dia
kembali. Tapi... Aji takut. Takut dia nggak mau."
"Coba dulu, Nak. Ibu yakin Yulia itu baik. Dia pasti
masih sayang sama kamu. Dia cuma sakit hati. Dan sakit hati bisa diobati dengan
ketulusan."
Malam itu, Aji memberanikan diri menelepon Yulia.
Nomor itu masih tersimpan di ponselnya, meski sudah
bertahun-tahun tak dihubungi. Tangannya gemetar saat menekan tombol panggil.
"Halo?" Suara
Yulia di ujung sana. Suara yang sangat ia rindukan.
"Yu... Yul... ini Aji."
Hening. Lama.
"Aji? Kamu... kenapa nelpon?"
Aji menarik napas dalam-dalam. "Yul, Aji minta maaf.
Aji tahu, Aji sudah sangat salah sama kamu. Aji tinggalin kamu, Aji selingkuh,
Aji hancurin keluarga kita. Aji nggak pantas minta maaf. Tapi Aji... Aji
kangen. Kangen sama kamu, kangen sama Purnomo."
Hening lagi. Aji bisa mendengar napas Yulia yang memburu.
"Aji, kamu tahu berapa lama aku nangis karena kamu?
Berapa malam aku nggak bisa tidur mikirin kamu? Berapa kali Purnomo nanya, 'Ma,
Bapak di mana? Kok nggak pernah pulang?' Kamu tahu rasanya?"
Aji menangis. "Maaf, Yul. Maaf. Aji tahu. Aji nggak
bisa membayangkan sakit yang kamu rasakan."
"Sekarang kamu nelpon, bilang kangen. Terus? Mau
apa?"
"Aji mau ketemu. Mau lihat Purnomo. Mau minta maaf
langsung. Mau... mau minta kamu balik, Yul. Aji janji, Aji udah berubah. Aji
ninggalin judi, ninggalin Rubiah, ninggalin semuanya. Aji sekarang kerja kuli
bangunan. Hidup sederhana. Tapi Aji tenang. Dan satu-satunya yang kurang adalah
kalian."
Lama Yulia tak menjawab. Aji bisa mendengar isak tangis di
ujung sana.
"Aji, aku... aku nggak tahu. Aku masih sakit. Aku
nggak tahu bisa percaya lagi atau nggak."
"Nggak apa-apa, Yul. Aji nggak maksa. Tapi tolong,
kasih Aji kesempatan untuk ketemu. Sekali aja. Biar Aji lihat Purnomo. Biar
Purnomo lihat bapaknya."
Yulia berpikir lama. Akhirnya, ia berkata lirih, "Baiklah.
Minggu depan aku ke desa. Bawa Purnomo. Tapi ini bukan berarti aku mau balik.
Ini cuma... ketemu. Untuk Purnomo."
Aji bersyukur. "Makasih, Yul. Makasih. Aji tunggu."
Aji memberi kabar gembira itu pada orang tuanya.
Ibu Jayanti menangis bahagia. Pak Sudiro tersenyum, pertama
kalinya setelah sekian lama.
"Bagus, Nak. Ini kesempatanmu. Jangan
sia-siakan."
Aji mengangguk. "Aji janji, Pak. Aji akan buat mereka
betah. Aji akan tunjukkan bahwa Aji benar-benar berubah."
Mereka mulai mempersiapkan kedatangan Yulia dan Purnomo.
Ibu Jayanti membersihkan kamar yang disiapkan untuk cucunya. Membeli sprei
baru, bantal, dan mainan bekas yang masih layak. Aji memperbaiki atap yang
bocor, mengecat dinding kamar, membuat rumah tampak layak huni.
Semua dilakukan dengan penuh cinta. Dengan harapan. Dengan
doa.
Hari yang ditunggu tiba.
Minggu pagi, Aji sudah siap sejak subuh. Ia mandi,
berpakaian rapi—baju koko putih dan celana kain hitam, satu-satunya pakaian
bagus yang ia miliki. Ibu Jayanti memasak kesukaan Purnomo: ayam goreng,
sambal, dan sayur asem, meski ia tak tahu pasti apa yang disukai cucunya.
Pak Sudiro duduk di teras dengan kursi rodanya. Ia tak
sabar ingin melihat cucu. Satu-satunya cucu yang belum pernah ia gendong.
Pukul sepuluh pagi, sebuah mobil angkutan desa berhenti di
depan rumah.
Aji deg-degan. Ia melihat Yulia turun dari mobil. Yulia...
istri yang dulu ia khianati. Ia terlihat lebih tua, lebih kurus, tapi tetap cantik
di mata Aji. Di sampingnya, seorang anak laki-laki berpegangan tangannya.
Purnomo.
Purnomo... anaknya. Rambutnya ikal seperti Aji. Matanya
sayu seperti Yulia. Ia memandangi rumah itu dengan rasa ingin tahu.
Aji berjalan mendekat. Langkahnya gemetar.
"Yu... Yul."
Yulia menatapnya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia berusaha
tegar.
"Aji."
Mereka berhadapan. Ribuan kata ingin diucapkan, tapi
semuanya tertahan.
Purnomo mengamati Aji dengan tatapan aneh. Anak itu
bertanya pada ibunya, "Ma, ini Bapak?"
Yulia mengangguk. "Iya, Nak. Ini Bapakmu."
Purnomo memandang Aji. "Bapak? Bapak yang dulu
pergi?"
Aji hancur. Ia berlutut di depan anaknya.
"Purnomo... Nak... maafin Bapak. Maafin Bapak yang
jahat."
Purnomo memandang ibunya, lalu kembali ke Aji. Anak itu tak
tahu harus bersikap bagaimana. Selama ini ia tumbuh tanpa sosok bapak. Sekarang
tiba-tiba ada lelaki mengaku bapaknya dan minta maaf.
Ibu Jayanti keluar rumah. Begitu melihat Purnomo, ia
langsung menangis.
"Cucu Ibu... akhirnya Ibu lihat kamu."
Ia memeluk Purnomo erat. Purnomo kaget, tapi ia tak
melawan. Mungkin ia merasakan kehangatan dari nenek yang baru pertama kali
dilihatnya.
Pak Sudiro mendekat dengan kursi rodanya. Ia mengulurkan
tangan gemetar.
"Purnomo... kakek... kakekmu."
Purnomo memegang tangan kakeknya. "Kakek sakit?"
Pak Sudiro tersenyum. "Iya, Nak. Kakek sakit. Tapi
sekarang Kakek senang, karena lihat kamu."
Hari itu menjadi hari paling bahagia bagi keluarga Sudiro
setelah sekian lama.
Mereka makan siang bersama. Ibu Jayanti tak henti-hentinya
menyuapi Purnomo. Pak Sudiro terus tersenyum memandangi cucunya. Aji dan Yulia
duduk bersebelahan, canggung, tapi ada kehangatan yang mulai tumbuh.
Setelah makan, Aji mengajak Purnomo main di halaman. Ia
tunjukkan pohon rambutan yang dulu sering ia panjat. Ia ajak Purnomo main
layang-layang dari plastik bekas. Sederhana, tapi Purnomo senang.
"Bapak, dulu Bapak main layang-layang juga?"
tanya Purnomo.
Aji tersenyum. "Dulu, waktu Bapak kecil, Bapak suka
main layang-layang sama teman-teman. Tapi layang-layang Bapak selalu
jatuh."
Purnomo tertawa. "Bapak bodoh."
Aji ikut tertawa. "Iya, Bapak bodoh."
Yulia memandangi mereka dari teras. Hatinya meleleh. Ini
yang selalu ia impikan: Aji dan Purnomo bermain bersama. Keluarga yang utuh.
Ibu Jayanti duduk di sampingnya. "Yulia, Ibu minta
maaf. Atas semua yang Aji perbuat. Ibu gagal mendidik dia."
Yulia menggeleng. "Bukan salah Ibu, Bu. Aji sudah
dewasa. Dia yang memilih jalannya sendiri."
"Ibu tahu. Tapi Ibu tetap merasa bersalah. Ibu
berharap, kamu bisa memaafkannya. Bukan untuk Aji, tapi untuk Purnomo. Anak
butuh bapak."
Yulia diam. Ia melihat Purnomo yang tertawa riang dengan
Aji.
"Aku lihat dia sudah berubah, Bu. Tapi aku takut.
Takut dia kambuh lagi."
"Ibu juga takut. Tapi kita harus beri kesempatan.
Kalau tidak, kita tak akan pernah tahu."
Malam harinya, Yulia dan Purnomo menginap.
Purnomo tidur di kamar yang sudah disiapkan Ibu Jayanti. Ia
senang, karena kamarnya penuh mainan. Aji duduk di sampingnya sampai tertidur.
Yulia tidur di kamar tamu. Sendirian. Pikirannya kacau.
Tengah malam, Aji mengetuk pintu kamarnya.
"Yul... bisa bicara sebentar?"
Yulia membuka pintu. Aji masuk, duduk di kursi.
"Yul, Aji tahu Aji sudah sangat salah. Aji nggak
pantas minta maaf, apalagi minta kamu balik. Tapi Aji ingin kamu tahu, Aji benar-benar
berubah. Aji ninggalin judi, ninggalin Rubiah, ninggalin semua yang dulu."
Yulia diam. Matanya sayu.
"Aji, aku masih sayang kamu. Tapi aku takut. Sangat
takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu berubah lagi. Takut kamu tinggalin aku
lagi. Takut Purnomo kecewa lagi. Aku nggak kuat, Ji. Sekali aja Purnomo kecewa,
itu sudah cukup. Nggak bisa kedua kali."
Aji menghela napas. "Aku paham, Yul. Aku nggak maksa.
Tapi tolong, kasih aku waktu. Kasih aku kesempatan untuk membuktikan.
Pelan-pelan."
Yulia menatap Aji lama. Akhirnya, ia mengangguk.
"Baik. Kita lihat. Tapi aku nggak janji apa-apa."
Itu sudah lebih dari cukup bagi Aji.
Dua minggu setelah kunjungan Yulia dan Purnomo, Rubiah
muncul kembali.
Ia datang ke desa dengan taksi. Turun di depan rumah Sudiro
dengan dandanan lebih menor dari sebelumnya. Gaun merah menyala, high heels,
tas mahal. Kontras sekali dengan kesederhanaan rumah itu.
Aji yang sedang di teras langsung tegang begitu melihatnya.
"RU... RUBIAH?! Lo ngapain ke sini?!"
Rubiah tersenyum manis. "Jenguk suami, dong.
Kangen."
Aji berdiri, menghadangnya. "Lo udah dapet 20 juta. Lo
udah tanda tangan damai. Jangan ganggu gue lagi!"
Rubiah tertawa. "Damai? Damai mana? Lo kira 20 juta
cukup buat gue? Lo tinggalin gue setelah nikah siri, setelah gue korbankan semuanya
buat lo. Lo pikir bisa lepas semudah itu?"
Ibu Jayanti keluar. Begitu melihat Rubiah, ia gemetar.
"Kamu... kamu setan! Pergi dari sini!"
Rubiah mengabaikan Ibu Jayanti. Ia fokus pada Aji.
"Ji, gue butuh 50 juta. Dalam seminggu. Kalau nggak,
gue kasih tahu mantan istrimu tentang semua perbuatan lo. Gue kasih tahu dia
tentang judi lo, tentang utang lo, tentang semua. Dan gue pastikan dia nggak
akan mau balik sama lo."
Aji marah. "Itu pemerasan! Gue lapor polisi!"
"Lapor aja. Gue punya bukti-bukti. Semua percakapan
kita, semua transaksi. Gue bisa bikin lo masuk penjara. Pilih aja: 50 juta,
atau penjara."
Aji kalap. Ia mendorong Rubiah hingga jatuh.
"PERGI! PERGI DARI SINI! GUE NGGAK PUNYA UANG!"
Rubiah bangkit dengan mata merah. "Lo akan menyesal,
Aji Wungkal! GUE BALAS DENDAM!"
Ia pergi dengan langkah terpincang-pincang. Naik taksi yang
setia menunggu.
Aji lemas. Ia duduk di teras, menangis.
Ibu Jayanti memeluknya. "Nak... tenang... kita cari
jalan."
"Apa jalan, Bu? Aji nggak punya uang. Semua sudah habis.
Kalau Rubiah kasih tahu Yulia, Yulia pasti pergi. Purnomo... Purnomo..."
Ibu Jayanti juga tak tahu harus berkata apa.
Malam itu, Aji tak bisa tidur. Pikirannya kacau. Ia terus
memikirkan ancaman Rubiah. 50 juta. Dari mana bisa dapat uang sebanyak itu dalam
seminggu?
Ia ingat Yanto. Sahabatnya yang dulu. Mungkin Yanto bisa
pinjami uang.
Ia telepon Yanto. Menjelaskan situasi.
"Ji, gue nggak punya uang 50 juta. Gue juga lagi
susah. Tapi gue bisa kasih lo saran."
"Apa, Yan?"
"Liong. Lo ingat Liong? Dia lagi cari agen judi.
Katanya butuh orang untuk mengelola judi online di wilayah sini. Lo bisa jadi
agen lagi. Dapat komisi besar."
Aji ragu. "Tapi gue udah janji nggak main judi
lagi."
"Bukan main, Ji. Jadi agen. Cari pemain. Lo dapat
komisi. Halal nggak sih? Ya nggak sepenuhnya, tapi ini darurat. Darurat, Ji. Lo
bisa cari uang cepat."
Aji berpikir keras. Ini bertentangan dengan semua janjinya.
Tapi apa pilihan lain? Rubiah akan menghancurkan hidupnya. Yulia akan pergi.
Purnomo akan kehilangan bapaknya lagi.
"Baik, Yan. Tolong hubungi Liong. Gue setuju."
Keesokan harinya, Aji pergi ke Sampit menemui Liong.
Liong menerimanya dengan senyum ramah. "Aji, senang lo
balik. Lo tahu, gue selalu suka sama lo. Lo pekerja keras. Lo punya
bakat."
"Bos, gue butuh uang cepat. 50 juta dalam seminggu.
Bisa?"
Liong tertawa. "Bisa, dong. Jadi agen lagi. Cari
pemain. Komisi lo 20% dari setiap setoran. Kalau lo bisa bawa pemain besar, lo
bisa dapat 50 juta dalam seminggu. Tapi lo harus kerja keras."
Aji menganggut. "Gue setuju, Bos."
"Tapi ingat, Aji. Kalau lo main judi sendiri, gue
nggak tanggung. Lo pernah bilang, lo mau berubah. Gue dukung. Tapi lo di sini
sebagai agen, bukan pemain. Paham?"
"Paham, Bos."
Aji kembali ke desa dengan perasaan berat.
Ia tahu ini salah. Ia tahu ini melanggar semua janjinya
pada orang tua dan pada Yulia. Tapi ia merasa tak punya pilihan. Rubiah akan
menghancurkan hidupnya kalau tak diberi uang.
Ia mulai bekerja sebagai agen judi online. Diam-diam. Ia
cari pemain di warung-warung, di pasar, di kafe-kafe. Ia tawarkan judi online
pada siapa saja yang mau. Komisinya mengalir.
Dalam tiga hari, ia sudah mengumpulkan 20 juta. Lumayan.
Tapi masih kurang 30 juta.
Aji frustrasi. Ia butuh uang lebih cepat. Ia butuh pemain
besar. Dan ia tahu satu-satunya cara: ia harus main judi sendiri. Dengan modal
besar, ia bisa menang besar. Tapi risikonya juga besar.
Setelah berpikir keras, Aji mengambil keputusan fatal.
Ia mengambil 20 juta yang sudah ia kumpulkan, lalu
memainkannya di judi online. Ia pasang taruhan besar. Berharap menang besar.
Namun judi tak pernah berpihak pada penjudi.
Dalam semalam, 20 juta itu habis. Ludes. Tak bersisa.
Aji panik. Ia bukan saja tak punya uang buat Rubiah, tapi
ia juga kehilangan uang komisi yang seharusnya jadi modal. Ia berutang pada
Liong? Tidak, karena itu uangnya sendiri. Tapi ia gagal dapat target.
Rubiah menelepon. "Ji, tinggal 4 hari. Mana uang 50
juta?"
Aji putus asa. "Rub, gue nggak punya. Tapi gue
usahakan."
"Usahakan? Lo pikir gue mau dengar usahakan? Gue mau
uang! Kalau nggak, gue datang ke desa. Gue kasih tahu Yulia. Gue hancurin
lo!"
Aji mematikan telepon. Ia menangis. Ia merasa terpojok. Tak
ada jalan keluar.
Di saat itulah, ia teringat pada sesuatu. Uang sisa
penjualan perhiasan ibunya yang 7,5 juta? Itu masih ada, disimpan Ibu Jayanti.
Tapi ia tak tega mengambilnya.
Tapi Rubiah... ancamannya...
Aji mengambil keputusan paling hina dalam hidupnya. Malam
itu, saat Ibu Jayanti tidur, ia mengambil uang 7,5 juta dari tempat penyimpanan
ibunya. Ia tahu itu salah. Ia tahu itu durhaka. Tapi ia kalap.
Dengan uang itu, ia kembali berjudi. Berharap keberuntungan
berpihak.
Namun lagi-lagi, judi menghancurkannya.
7,5 juta habis dalam dua jam.
Aji benar-benar hancur.
Keesokan harinya, Ibu Jayanti menangis histeris saat tahu
uangnya hilang.
"Nak... Nak... uang Ibu... uang buat beli obat
Bapak... hilang."
Aji menunduk. Tak berani menatap ibunya.
"Bu... maaf... Aji ambil. Aji... Aji main judi."
Ibu Jayanti terhenyak. Ia memandangi anaknya dengan tatapan
hancur.
"Kamu... kamu main judi lagi? Setelah semua yang
terjadi? Setelah semua pengorbanan Ibu dan Bapak?"
"Maaf, Bu. Tapi Aji terpaksa. Rubiah minta 50 juta.
Dia ancam mau kasih tahu Yulia. Aji—"
"RUBIAH LAGI?! KAMU MASIH BERHUBUNGAN DENGAN PEREMPUAN
ITU?!"
"Bukan, Bu. Dia yang datang. Dia yang memeras Aji.
Aji—"
Ibu Jayanti memukuli dada Aji. Tangisnya pecah.
"KAMU ANAK DURHAKA! KAMU TIDAK PERNAH BELAJAR! KAMU
TIDAK PERNAH BERUBAH! KAMU AKAN TERUS MENGHANCURKAN KELUARGA INI!"
Aji tak melawan. Ia biarkan ibunya memukulinya. Ia pantas
menerima semua itu.
Pak Sudiro yang mendengar keributan keluar dengan kursi
rodanya. Begitu tahu apa yang terjadi, ia diam. Wajahnya pucat, matanya kosong.
"Aji... Bapak sudah bilang. Bapak sudah sumpah. Kalau
kau jatuh lagi, Bapak tak akan peduli. Sekarang... pergi. Pergi dari rumah ini.
Bapak tak mau lihat muka kau lagi."
Aji terkejut. "Pak! Jangan usir Aji! Aji minta
maaf!"
"Maafmu sudah terlalu sering. Bapak capek. Ibu mu
capek. Keluarga ini capek. Pergi!"
Ibu Jayanti menahan suaminya. "Sudiro, jangan—"
"DIAM, BU! Biar Bapak yang urus! Aji, PERGI!"
Aji menangis. Ia berlutut di depan ayahnya.
"Pak... Aji mohon... jangan usir Aji..."
Pak Sudiro menutup matanya. Air matanya jatuh.
"Aji, Bapak sayang kamu. Tapi Bapak sudah tak bisa
lagi. Pergilah. Selamatkan dirimu sendiri. Atau hancurlah. Itu pilihanmu."
Aji tahu, ayahnya tak akan berubah pikiran. Dengan hati
hancur, ia berjalan keluar rumah. Meninggalkan orang tuanya. Meninggalkan
satu-satunya tempat berlindung.
Aji pergi ke Sampit. Ia mencari Rubiah.
Ia ingin mengakhiri semua ini. Dengan cara apa pun.
Rubiah tinggal di kontrakan lama. Begitu melihat Aji, ia
tersenyum sinis.
"Nah, datang juga. Mana uang 50 juta?"
Aji diam. Ia memandangi Rubiah dengan tatapan kosong.
"Rub, lo hancurin hidup gue. Semua karena lo. Karena
keserakahan lo."
Rubiah tertawa. "Keserakahan? Lo pikir gue yang
serakah? Lo sendiri yang main judi, lo sendiri yang utang, lo sendiri yang
ninggalin istri. Gue cuma manfaatin kesempatan."
Aji menghela napas. "Lo benar. Gue yang salah. Tapi lo
juga salah. Dan sekarang, gue mau akhiri semua."
Rubiah mengerutkan kening. "Maksud lo?"
Aji mengeluarkan ponselnya. Ia memutar rekaman percakapan
mereka selama ini. Semua ancaman Rubiah, semua pemerasan, semua terbukti.
"Ini, Rub. Bukti. Gue akan lapor polisi. Lo akan masuk
penjara."
Rubiah terkejut. "LO REKAM GUE?!"
"Iya. Sejak lo telepon pertama kali. Semua terekam.
Termasuk yang kemarin."
Rubiah kalap. Ia merebut ponsel Aji, membantingnya hingga
hancur.
"Sekarang bukti lo hilang! Lo nggak bisa
apa-apa!"
Aji tersenyum getir. "Lo pikir cuma itu? Gue udah
kirim semua rekaman ke Yanto. Kalau gue kenapa-napa, dia yang akan lapor
polisi."
Rubiah terdiam. Ia tak menyangka Aji secerdik itu.
"Rub, ini sudah berakhir. Berhenti. Atau lo akan
hancur."
Rubiah menatap Aji dengan tatapan aneh. Lalu tiba-tiba, ia
tertawa.
"Lo pikir gue takut? Gue sudah terlanjur. Mau berhenti
atau nggak, hidup gue sudah hancur. Tapi lo... lo akan hancur lebih dulu."
Ia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah pisau lipat.
"RUB! JANGAN!" teriak Aji.
Tapi Rubiah sudah kalap. Ia menusukkan pisau itu ke
perutnya sendiri.
"RUBAH!"
Rubiah tersungkur. Darah mengalir deras.
Aji panik. Ia menelepon ambulans. Ia coba tekan luka Rubiah
dengan bajunya. Tapi darah terus mengalir.
"Rub! Bertahan! Jangan mati!"
Rubiah tersenyum lemah. "Ji... maaf... gue... gue
memang jahat."
"DIAM! Jangan bicara!"
"Tapi... lo juga jahat. Lo... lo hancurin...
gue."
Matanya terpejam.
Ambulans datang. Rubiah dilarikan ke rumah sakit.
Aji mengikutinya dengan perasaan hancur. Di ruang tunggu
IGD, ia duduk lemas. Tangannya penuh darah. Bajunya merah.
Beberapa jam kemudian, dokter keluar.
"Maaf, Saudara. Korban mengalami luka tusuk di perut,
mengenai organ dalam. Kami sudah berusaha, tapi nyawanya tak tertolong."
Aji lemas. Rubiah meninggal.
Rubiah, perempuan yang ia cintai sekaligus ia benci, yang
menghancurkan hidupnya, yang memerasnya, kini tak ada lagi.
Polisi datang. Mereka memeriksa Aji. Aji menjelaskan
semuanya. Ia tunjukkan bukti rekaman yang sudah ia kirim ke Yanto. Polisi menyelidiki.
Hasilnya: Rubiah bunuh diri karena stres dan depresi. Aji
tak bersalah.
Tapi beban di hatinya tak berkurang. Ia merasa ikut
bertanggung jawab atas kematian Rubiah.
Kabar tentang Rubiah yang meninggal dan Aji yang terlibat
menyebar cepat.
Media lokal memberitakannya: "Perempuan Muda Tewas
Bunuh Diri di Kontrakan, Diduga Depresi Karena Masalah Asmara."
Nama Aji disebut sebagai 'mantan suami siri' yang diduga
jadi pemicu depresi Rubiah.
Berita itu sampai ke Desa Jelapat.
Ibu Jayanti membaca berita di ponsel pinjaman tetangga. Ia
menjerit.
"SUDIRO! SUDIRO! AJI... AJI TERLIBAT PEMBUNUHAN!"
Pak Sudiro yang sedang duduk di kursi roda terkejut.
"Apa?! Maksud Ibu?!"
Ibu Jayanti membacakan berita itu. Pak Sudiro diam.
Wajahnya pucat.
"Anakku... anakku..."
Ia memegangi dadanya. Napasnya tersengal.
"Sudiro! Sudiro, kenapa?!"
Pak Sudiro jatuh dari kursi roda. Ibu Jayanti panik. Ia
teriak minta tolong.
Tetangga datang. Mereka membawa Pak Sudiro ke puskesmas.
Tapi di perjalanan, Pak Sudiro sudah tak bernapas.
Dokter di puskesmas menyatakan: Pak Sudiro meninggal karena
serangan jantung.
Ibu Jayanti histeris. Ia kehilangan suami. Anaknya terlibat
kasus. Hidupnya hancur.
Aji tiba di desa keesokan harinya.
Ia belum tahu ayahnya meninggal. Ia datang dengan perasaan hancur
karena Rubiah. Begitu melihat rumahnya dipenuhi orang, ia bingung.
"Ada apa?" tanyanya pada tetangga.
"Ji... ayahmu... meninggal."
Aji terpaku. Dunia serasa berhenti.
Ia berlari masuk. Melihat ibunya menangis di samping
jenazah ayahnya yang terbujur kaku.
"PAK! PAK!" teriak Aji.
Ia memeluk jasad ayahnya. Menangis sejadi-jadinya.
"Pak... maafin Aji... Pak... ini semua salah Aji...
Aji yang bikin Bapak stres... Aji yang bunuh Bapak..."
Ibu Jayanti memeluknya. "Nak... Ibu tahu... Tapi ini
sudah takdir. Ibu ikhlas. Kamu harus ikhlas."
Aji tak bisa tenang. Ia terus menangis, memeluk ayahnya,
meminta maaf berulang kali.
Pemakaman digelar sore harinya.
Seluruh desa datang. Pak Sudiro, meski jatuh miskin di
akhir hayatnya, tetap dihormati sebagai sesepuh desa. Mereka mendoakan,
menguburkan dengan layak.
Aji berdiri di samping pusara. Ia melihat tanah menimbun
ayahnya. Ayah yang dulu gagah, kaya raya, disegani. Sekarang terbaring di liang
lahat, meninggal karena stres akibat ulah anaknya.
"Pak... Aji janji. Aji akan jaga Ibu. Aji akan jadi
anak baik. Aji akan buktikan bahwa Aji bisa berubah. Doakan Aji, Pak."
Ia menaburkan bunga di atas pusara.
Seminggu setelah pemakaman Pak Sudiro, Yulia datang ke
desa.
Ia mendengar kabar duka itu. Ia merasa harus datang, meski
hubungannya dengan Aji masih rumit.
Yulia datang sendirian. Purnomo tak ia bawa. Ia tak ingin
anaknya melihat situasi yang kacau.
Aji menyambutnya dengan mata sembab. Seminggu ini ia tak
berhenti menangis.
"Yul... makasih sudah datang."
Yulia menghela napas. "Aji, aku dengar semua. Tentang
Rubiah, tentang ayahmu. Aku turut berduka."
Mereka duduk di ruang tamu. Ibu Jayanti menyuguhkan teh,
lalu masuk ke kamar, memberi mereka ruang.
"Aji, aku harus jujur. Aku masih sayang kamu. Tapi aku
takut. Sangat takut. Setiap kali aku mulai percaya, kamu selalu
hancurkan."
Aji menunduk. "Aku tahu, Yul. Aku sadar aku bukan
lelaki baik. Aku sudah hancurkan hidupku, keluargaku, semuanya. Tapi aku ingin
berubah. Sungguh."
"Kamu bilang itu terus. Tapi每次都 kambuh."
"Aku tahu. Tapi kali ini berbeda. Rubiah sudah
meninggal. Judi sudah kutinggalkan. Ayahku sudah tiada. Aku nggak punya
siapa-siapa lagi selain Ibu dan kamu serta Purnomo."
Yulia diam. Ia melihat ketulusan di mata Aji.
"Aji, aku nggak bisa janji apa-apa. Tapi aku nggak
akan menutup pintu. Pelan-pelan, kita coba bangun lagi. Tapi syaratnya: kamu
harus benar-benar berubah. Buktikan dengan tindakan, bukan cuma
kata-kata."
Aji mengangguk. "Aku janji, Yul. Aku akan
buktikan."
Mereka berbincang lama.
Yulia menceritakan kehidupannya selama ini. Betapa beratnya
jadi ibu tunggal. Betapa ia berjuang membesarkan Purnomo sendirian. Betapa ia
menangis setiap malam memikirkan Aji.
Aji menangis mendengarnya. Ia tak menyangka lukanya sedalam
itu.
"Maaf, Yul. Maaf atas semua air mata yang kausebabkan.
Mulai sekarang, aku akan jadi lelaki yang membuatmu tersenyum."
Yulia tersenyum getir. "Kita lihat nanti."
Sebelum pergi, Yulia menitipkan pesan.
"Aji, aku akan kembali dua minggu lagi. Bawa Purnomo.
Tapi kali ini, aku ingin lihat perubahan nyata. Bukan omongan. Bukan janji.
Tapi tindakan."
Aji mengangguk. "Aku tunggu."
Dua minggu kemudian, Aji bersiap menyambut Yulia dan
Purnomo.
Ia sudah bekerja keras. Jadi kuli bangunan, jadi tukang
ojek, jadi apa saja. Uangnya ditabung. Ia ingin menunjukkan pada Yulia bahwa ia
bisa jadi lelaki bertanggung jawab.
Ibu Jayanti juga ikut bersemangat. Ia membersihkan rumah,
memasak kesukaan Purnomo, menyiapkan kamar untuk cucunya.
Namun takdir berkata lain.
Hari itu, Aji mendapat telepon dari Yanto.
"Ji, Liong minta ketemu. Katanya ada urusan
penting."
Aji ragu. "Urusan apa, Yan? Gue udah nggak main judi
lagi."
"Nggak tahu. Tapi katanya penting. Lo harus
datang."
Aji berpikir. Mungkin ini tentang kasus Rubiah. Mungkin
polisi butuh keterangan tambahan. Ia setuju.
"Yan, gue datang besok. Tapi cepet, ya. Soalnya Yulia
mau datang."
"Iya, iya. Cepet kok."
Esok harinya, Aji pamit pada ibunya.
"Bu, Aji ke Sampit bentar. Urusan sama polisi. Sore
balik."
Ibu Jayanti khawatir. "Awas, Nak. Hati-hati."
"Iya, Bu. Doain Aji."
Aji berangkat dengan bus umum. Ia tak tahu, ini akan jadi
perjalanan terakhirnya.
Di Sampit, Aji bertemu Yanto. Yanto mengantarnya ke tempat
yang dimaksud. Bukan kantor polisi, tapi rumah Liong.
"Yan, ini kok ke rumah Liong? Bukan polisi?"
Yanto menghela napas. "Ji, maaf. Gue disuruh Liong
bawa lo ke sini. Ada urusan."
Aji curiga, tapi ia sudah terlanjur datang.
Di rumah Liong, suasana tegang. Liong duduk di sofa dengan
wajah serius. Di sekelilingnya, preman-preman bertato.
"Duduk, Aji."
Aji duduk. "Ada apa, Bos?"
Liong menghela napas. "Aji, lo tahu Rubiah kan?
Perempuan yang mati bunuh diri itu?"
Aji mengangguk. "Iya, Bos. Itu mantan istri siri
gue."
"Rubiah itu... keponakan gue."
Aji terkejut. "Apa?!"
"Iya. Adiknya istri gue. Dia tinggal sama gue sejak kecil.
Gue yang biayai hidupnya. Dan lo... lo yang bikin dia stres sampai bunuh
diri."
Aji panik. "Bos, itu bukan salah gue! Dia yang—"
"DIAM!" bentak Liong. "Gue tahu semuanya. Lo
nikah siri sama dia, lo tinggalin, lo bikin dia stres. Sekarang dia mati. Gue
harus balas."
"Bos, tolong—"
Liong memberi kode. Preman-preman itu mendekat. Mereka
memukuli Aji. Berkali-kali. Aji tak bisa melawan.
"Bawa dia ke gudang. Kasih pelajaran."
Aji disekap di gudang selama dua hari. Disiksa, dipukuli,
kelaparan.
Ia hampir mati. Tapi ia tak menyerah. Ia ingat ibunya. Ia
ingat Yulia. Ia ingat Purnomo. Ia harus hidup.
Pada hari ketiga, Yanto datang diam-diam. Ia membuka gembok
gudang.
"Ji, cepat! Kabur!"
Aji bangkit dengan susah payah. Tubuhnya lemah, tapi ia
memaksakan diri.
Mereka berlari. Kejar-kejaran dengan anak buah Liong.
Akhirnya, Yanto berhasil membawa Aji ke terminal.
"Ji, lo naik bus. Cepat! Gue akan hadang mereka."
"Yan, lo—"
"GUE BILANG CEPAT!"
Aji naik bus yang kebetulan akan berangkat. Bus melaju
meninggalkan terminal.
Aji menghela napas lega. Tapi ia tak tahu, di dalam bus
itu, ada seseorang yang diperintah Liong untuk mengawasinya.
Bus melaju di malam hari. Hujan turun deras.
Aji duduk gelisah. Pikirannya kacau. Ia ingin cepat sampai
di desa, bertemu ibunya, menyambut Yulia dan Purnomo.
Tiba-tiba, dari belakang, seseorang mendekat. Pisau menekan
pinggangnya.
"Diam, atau lo mati."
Aji terkejut. "Lo... lo suruhan Liong?"
"Iya. Bos minta lo balik. Kalau nggak, lo mati di
sini."
Aji berpikir cepat. Ia tak bisa mati. Ia harus hidup.
"Tolong... gue bayar. Gue kasih lo uang. Berapa
pun."
Preman itu tertawa. "Uang? Lo pikir gue bisa
disuap?"
Aji putus asa. Ia lihat ke luar. Hujan deras. Jalan licin.
Truk-truk melintas.
Dalam kepanikan, Aji melakukan nekat. Ia membuka pintu
darurat bus. Melompat keluar.
Preman itu terkejut. Ia coba menahan, tapi terlambat. Aji sudah
melompat ke tengah jalan.
Aji jatuh di aspal basah. Tubuhnya terguling-guling. Di
depannya, lampu truk menyilaukan.
Suara rem berdecit.
Benturan.
Aji terpental. Tubuhnya menghantam aspal. Darah di
mana-mana.
Orang-orang berteriak. Bus berhenti. Truk berhenti. Semua
panik.
Aji terbaring di tengah jalan. Matanya setengah terbuka. Ia
melihat langit malam yang gelap, dihiasi rintik hujan.
Pikirannya melayang.
Ia melihat Ibu Jayanti. Ibunya yang setia berdoa untuknya
setiap malam.
Ia melihat Pak Sudiro. Ayahnya yang sudah tiada, tersenyum
padanya.
Ia melihat Yulia. Istri yang ia khianati, namun masih mau
memberi kesempatan.
Ia melihat Purnomo. Anaknya yang lucu, yang baru mulai
mengenalnya.
"Ma... Pa... Yul... Purnomo... maaf... maafin
Aji..."
Napasnya tersengal. Dadanya sesak. Pandangannya mulai
gelap.
"Aji gagal lagi... gagal jadi anak baik... gagal jadi
suami... gagal jadi bapak..."
Matanya terpejam.
Jeritan sirene ambulans terdengar dari kejauhan. Tapi Aji
tak lagi mendengar.
Jenazah Aji Wungkal tiba di Desa Jelapat pada hari ketiga
setelah kecelakaan.
Mobil ambulans dari rumah sakit kota melaju pelan memasuki
desa. Di sepanjang jalan, warga berjejer, menatap dengan duka. Mereka melihat
ambulans itu, lalu menundukkan kepala, memberi hormat terakhir untuk anak desa
yang pernah menjadi kebanggaan, namun akhirnya pulang dalam keadaan yang paling
menyedihkan.
Ibu Jayanti sudah menunggu di teras rumah. Ia duduk di
kursi kayu, tubuhnya lemah, matanya sembab. Dua hari ini ia tak makan, tak
tidur, hanya menangis dan berdoa. Yulia dan Purnomo ada di sampingnya. Yulia
memegang tangan ibu mertuanya itu erat, memberikan kekuatan yang ia sendiri tak
punya.
Mobil ambulans berhenti. Petugas membuka pintu belakang,
mengeluarkan keranda jenazah yang ditutup kain putih.
Ibu Jayanti bangkit. Langkahnya gemetar mendekati keranda
itu.
"Aji... Nak... Ibu... Ibu jemput kamu pulang."
Ia membuka sedikit kain penutup wajah. Wajah Aji pucat,
dingin, namun tampak tenang. Seolah ia akhirnya menemukan kedamaian setelah
sekian lama bergelut dengan badai hidup.
Ibu Jayanti menangis. Ia mencium kening anaknya.
"Nak... Ibu maafin kamu. Ibu sudah lama maafin kamu.
Ibu sayang kamu. Ibu selalu sayang."
Yulia mendekat. Ia memandangi wajah Aji untuk terakhir
kalinya. Lelaki yang pernah ia cintai, yang pernah ia bangun rumah tangga, yang
pernah ia lahirkan anak. Lelaki yang juga mengkhianatinya, meninggalkannya,
menghancurkan hatinya. Namun saat melihat wajah pucat itu, semua amarah dan
sakit hati lenyap. Yang tersisa hanya cinta dan duka.
"Aji... aku maafin kamu. Aku ikhlas. Tenanglah di sisi
Allah."
Purnomo bertanya dengan polos, "Ma, Bapak tidur?"
Yulia memeluk anaknya. "Iya, Nak. Bapak tidur. Tidur
panjang. Tapi Bapak sudah tenang. Nggak sakit lagi."
Purnomo memandangi ayahnya yang terbujur kaku. Anak itu tak
sepenuhnya mengerti arti kematian. Tapi ia tahu, ayahnya tak akan bisa lagi
main layang-layang dengannya.
Pemakaman digelar siang itu juga.
Seluruh desa datang. Mereka membawa bunga, air mawar, dan
doa. Pak Heru, Kepala Desa, memimpin prosesi. Sertu Budi dan Bripka Dedi turut
hadir, mewakili aparat keamanan. Rangga dan pemuda desa ikut menggotong
keranda.
Liang lahat digali di samping makam Pak Sudiro. Ayah dan
anak kini akan beristirahat berdampingan. Dalam hidup, mereka sering
bertengkar. Dalam mati, mereka bersatu dalam tanah.
Pak Hasan, tokoh agama, memimpin doa.
"Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kesalahan Aji
Wungkal. Terimalah amal ibadahnya, meskipun sedikit. Lapangkanlah kuburnya,
terangilah dengan cahaya-Mu. Pertemukanlah ia dengan orang tua dan keluarganya
yang telah mendahului dalam surga-Mu. Amin."
Warga mengamini. Suara tangis pecah di sana-sini.
Tanah mulai ditimbun. Perlahan, keranda itu tertutup oleh
tanah merah. Ibu Jayanti menangis tersedu-sedu, dipapah Yulia. Purnomo
memandang dengan mata berkaca-kaca, meski ia tak sepenuhnya mengerti.
Setelah gundukan tanah terbentuk, warga menaburkan bunga.
Mawar melati, kenanga, semuanya berwarna-warni di atas tanah coklat.
Ibu Jayanti berlutut di samping makam anaknya. Ia memegang
tanah itu, menciumnya.
"Aji... Nak... Ibu titip salam buat Bapak. Bilang Ibu
kangen. Bilang Ibu sayang. Doain Ibu, Nak. Doain Ibu cepat menyusul
kalian."
Yulia membantunya berdiri. "Bu, ayo pulang.
Istirahat."
Ibu Jayanti menggeleng. "Sebentar, Yul. Ibu mau
sendiri dulu sama Aji."
Yulia mengerti. Ia membawa Purnomo menjauh, memberi Ibu
Jayanti waktu sendiri.
Ibu Jayanti duduk di samping makam. Ia berbicara pada
anaknya, seolah Aji masih hidup di sana.
"Aji, Ibu ingat waktu kamu lahir. Kamu bayi mungil,
lucu, nangisnya keras. Bapakmu sampai menangis lihat kamu. Beli semua mainan
buat kamu. Manja kamu."
Ia tersenyum sendiri mengenang masa lalu.
"Dulu, kamu suka minta gendong terus. Kalau nggak
digendong, nangis. Ibu gendong kamu sambil masak, sambil nyapu, sambil apa
saja. Tangan Ibu sampai pegal, tapi Ibu bahagia."
Air matanya jatuh.
"Sekarang kamu sudah dewasa. Udah punya anak sendiri.
Tapi jalanmu salah, Nak. Ibu sudah berusaha, Bapak sudah berusaha, tapi kita
gagal. Maafin Ibu, Nak. Ibu gagal jadi ibu yang baik."
Ia mengusap nisannya yang masih polos, belum diukir.
"Tapi Ibu ikhlas, Nak. Ibu ikhlas kamu pergi duluan.
Mungkin ini yang terbaik. Kamu nggak usah susah lagi di dunia. Sekarang kamu di
sisi Allah, bersama Bapak. Doain Ibu, Nak. Doain Ibu kuat."
Keesokan harinya, Yulia dan Purnomo pamit pulang.
Ibu Jayanti memeluk mereka erat. "Yul, Ibu titip
Purnomo. Jaga dia baik-baik. Dia satu-satunya cucu Ibu. Satu-satunya keturunan
keluarga ini."
Yulia mengangguk. "Ibu tenang. Purnomo akan aku jaga.
Aku akan besarkan dia jadi anak shaleh."
"Ibu tahu, Yul. Ibu tahu kamu ibu yang baik."
Purnomo memeluk neneknya. "Nek, Purnomo kangen."
Ibu Jayanti menangis. "Nenek juga kangen, Nak.
Sering-sering main ke sini, ya?"
"Iya, Nek. Purnomo janji."
Mereka berpisah. Yulia dan Purnomo naik angkutan desa
meninggalkan Jelapat. Ibu Jayanti berdiri di teras, melambai sampai mobil itu
hilang dari pandangan.
Rumah itu kini benar-benar sunyi.
Hanya ada Ibu Jayanti seorang diri. Di rumah besar yang
dulu ramai oleh keluarga, kini hanya tinggal ia dan kenangan.
Sejak hari itu, Ibu Jayanti berubah.
Ia lebih sering ke masjid. Salat berjamaah, ikut pengajian,
baca Al-Qur'an. Ia juga sering ke makam suami dan anaknya, membersihkan,
menabur bunga, dan mendoakan.
Warga desa sering melihatnya duduk di antara dua makam itu
berjam-jam. Ia berbicara pada mereka, bercerita tentang hari-harinya, tentang
Purnomo yang tumbuh besar, tentang kabar desa.
"Nak, Purnomo sekarang kelas 3 SD. Pintar, katanya.
Mirip kamu waktu kecil. Tapi dia lebih penurut, nggak manja kayak kamu
dulu."
Ia tersenyum sendiri.
"Pak, warung Ibu laris. Alhamdulillah, rezeki dari
Allah. Ibu bisa hidup dari itu. Nggak usah khawatir."
Ia mengelus nisan mereka.
"Doain Ibu, ya. Ibu sehat-sehat saja. Ibu belum mau
nyusul kalian. Ibu mau jaga Purnomo dulu, sampai dia besar. Nanti kalau sudah
waktunya, Ibu akan datang."
Warga desa belajar banyak dari tragedi keluarga Sudiro.
Pak Hasan, dalam setiap khutbah Jumat, selalu mengingatkan
tentang durhaka kepada orang tua.
"Jamaah rahimakumullah, mari kita renungkan kisah
keluarga Sudiro. Dulu mereka orang terkaya di desa kita. Pak Sudiro kaya raya,
punya kebun luas, bengkel besar, rumah mewah. Tapi semua hancur karena anak
durhaka. Karena judi, karena perempuan, karena keserakahan."
Jamaah mendengarkan dengan khusyuk.
"Allah berfirman dalam Al-Qur'an, 'Dan Tuhanmu telah
memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada
ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai
berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka, dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.'"
Ia menghela napas.
"Lihatlah Aji. Ia tega membentak orang tuanya. Ia tega
memukul ayahnya sendiri. Akibatnya? Ia kehilangan segalanya. Harta, keluarga,
bahkan nyawanya. Ini pelajaran berharga bagi kita semua. Jangan sampai kita terjerumus
seperti Aji."
Jamaah mengamini. Banyak yang menangis, teringat pada kesalahan
mereka pada orang tua.
Pak Heru, Kepala Desa, mengeluarkan kebijakan baru.
Ia membentuk program "Desa Peduli Keluarga".
Program ini bertujuan mendampingi keluarga-keluarga yang bermasalah, terutama
yang memiliki anak remaja berisiko. Pemuda desa dilibatkan aktif, dilatih
menjadi konselor sebaya.
Rangga diangkat jadi koordinator program. Ia bersama
teman-temannya rutin mengunjungi keluarga-keluarga, memberi penyuluhan tentang
bahaya judi online dan pergaulan bebas, serta mengajak anak-anak muda ikut
kegiatan positif.
"Kita nggak mau ada Aji-Aji baru di desa ini,"
kata Rangga dalam rapat Karang Taruna. "Kita harus jaga generasi muda
kita. Kasih mereka kegiatan, kasih mereka perhatian, kasih mereka cinta. Supaya
mereka nggak mencari pelarian ke hal-hal negatif."
Pemuda desa setuju. Mereka mulai bergerak. Mengadakan
latihan voli, turnamen futsal, pengajian remaja, pelatihan keterampilan. Semua
gratis, terbuka untuk siapa saja.
Orang tua di desa senang. Anak-anak mereka kini punya
kegiatan positif. Jarang ada yang nongkrong tak jelas. Jarang ada yang terlibat
narkoba atau judi.
Yanto, sahabat Aji, datang ke makamnya setahun setelah
kejadian.
Ia duduk di samping nisan, membawa setangkai mawar putih.
"Ji... gue ke sini. Nyari lo. Lo udah pergi setahun,
ya? Cepet banget."
Ia meletakkan mawar di atas makam.
"Gue... gue minta maaf, Ji. Karena gue yang kenalin lo
sama judi. Karena gue yang kenalin lo sama Rubiah. Karena gue yang bawa lo ke
Liong. Gue sadar, gue ikut bertanggung jawab atas kehancuran lo."
Ia menangis.
"Maafin gue, Ji. Gue cuma mau lo tahu, Liong udah
ditangkap polisi. Jaringan judinya dibongkar. Dia sekarang di penjara. Mungkin
ini balasan buat dia, buat gue, buat kalian semua."
Ia mengusap air matanya.
"Gue sekarang kerja jadi sopir truk. Halal. Nggak main
judi lagi. Nggak minum-minum lagi. Gue tobat, Ji. Berkat lo. Berkat kematian lo
yang buat gue sadar."
Ia berdiri, menatap makam itu lama.
"Ji, lo tenang di sana. Doain gue. Doain kita semua.
Mungkin di akhirat kita ketemu lagi. Dan gue harap, di sana lo udah jadi Aji
yang baik, yang diridhoi Allah."
Ia pergi, meninggalkan mawar putih di atas makam.
Dua tahun kemudian.
Ibu Jayanti masih hidup. Usianya sudah 68 tahun, tapi
tubuhnya masih kuat. Warungnya makin ramai. Ia jualan nasi uduk, gorengan, dan
kopi. Warga desa suka belanja di sana, bukan hanya karena makanannya enak, tapi
karena mereka sayang pada Ibu Jayanti.
Purnomo, yang kini berusia 10 tahun, sering datang berkunjung.
Ia naik angkutan desa sendiri, ditemani supir yang kenal dengan keluarganya. Ia
betah di desa, main dengan teman-teman, membantu neneknya jualan.
"Nek, Purnomo bantu jualan, ya," katanya riang.
"Iya, Nak. Tapi jangan capek-capek."
Purnomo membantu mengambilkan gorengan untuk pembeli,
menuangkan kopi, menghitung uang kembalian. Ia lincah dan cekatan. Banyak
pembeli yang gemas padanya.
"Ini cucu Ibu Jayanti, ya? Ganteng. Pintar. Mirip
siapa?" tanya Bu Marni.
"Mirip bapaknya," jawab Ibu Jayanti lirih.
"Tapi lebih baik. Mudah-mudahan nggak seperti bapaknya."
Purnomo mendengar itu. Ia mendekati neneknya.
"Nek, Bapak itu jahat ya?"
Ibu Jayanti terkejut. "Nak... Bapakmu... Bapakmu bukan
jahat. Dia salah jalan. Tapi dia sayang kamu. Dia pernah cerita ke Nek, dia
kangen banget sama kamu."
Purnomo diam. "Purnomo juga kangen, Nek. Padahal
Purnomo nggak pernah lama sama Bapak. Tapi Purnomo kangen."
Ibu Jayanti memeluk cucunya. "Bapakmu sekarang di
surga, Nak. Dia bahagia. Dia lihat kamu dari sana. Dia pasti bangga lihat kamu
jadi anak baik."
Purnomo tersenyum. "Bener, Nek?"
"Bener. Nenek janji."
Suatu sore, Ibu Jayanti duduk di teras, memandangi dua
makam di kejauhan.
Matahari mulai terbenam, langit berwarna jingga keemasan.
Burung-burung pulang ke sarangnya. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah.
Ibu Jayanti tersenyum. Entah mengapa, hari ini hatinya
terasa tenang. Damai. Seperti ada yang memberinya kekuatan.
Ia memejamkan mata, membayangkan suaminya dan anaknya
tersenyum padanya dari alam sana.
"Sudiro... Aji... Ibu ikhlas. Ibu tenang. Purnomo
baik-baik saja. Dia jadi anak shaleh. Doakan Ibu, ya. Ibu akan nyusul kalian
kalau waktunya tiba."
Malam turun. Bintang-bintang mulai bermunculan. Ibu Jayanti
masih duduk di teras, memandangi langit.
Di kejauhan, suara azan Maghrib berkumandang dari masjid
desa.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Ibu Jayanti bangkit. Ia berjalan ke dalam rumah, mengambil
air wudhu, lalu salat. Dalam sujudnya, ia berdoa untuk suami, untuk anak, untuk
cucu, dan untuk seluruh warga desa.
"Doa ibu selalu mengalir untuk anak-anaknya, meski
mereka telah tiada."
PENUTUP
Balada yang Abadi
Kisah Aji Wungkal menjadi legenda di Desa Jelapat.
Setiap tahun, pada hari kematiannya, warga desa mengadakan
doa bersama di makamnya. Mereka mendoakan Aji, Pak Sudiro, dan seluruh keluarga
yang telah berpulang. Mereka juga mengadakan pengajian, ceramah, dan kegiatan
sosial untuk mengenang tragedi itu dan mengambil pelajaran darinya.
Rangga, yang kini menjadi Kepala Pemuda Desa, selalu
bercerita pada generasi muda tentang Aji.
"Kalian tahu Aji Wungkal? Dia dulu anak orang terkaya
di desa ini. Tapi karena judi online dan pergaulan bebas, dia hancur. Hartanya
habis, keluarganya berantakan, akhirnya mati tragis. Ini pelajaran buat kita
semua. Jangan pernah main judi. Jangan pernah durhaka pada orang tua. Karena
akibatnya sangat mengerikan."
Anak-anak muda mendengarkan dengan saksama. Banyak yang
terinspirasi untuk menjauhi judi dan berbakti pada orang tua.
Ibu Jayanti hidup sampai usia 75 tahun.
Ia meninggal dengan tenang dalam tidurnya, setahun setelah
Purnomo lulus SMP. Purnomo yang saat itu berusia 16 tahun menangis
sejadi-jadinya. Ia kehilangan nenek yang sangat ia sayangi.
Ibu Jayanti dimakamkan di samping suami dan anaknya. Tiga
makam berjejer: Pak Sudiro, Aji Wungkal, dan Ibu Jayanti. Keluarga yang dalam
hidupnya penuh konflik, kini bersatu dalam kematian.
Purnomo, di usianya yang masih belia, sudah yatim piatu.
Tapi ia punya Yulia, ibunya, yang selalu setia mendampingi. Ia juga punya
kenangan tentang neneknya yang penuh kasih. Dan ia punya pelajaran tentang
ayahnya: pelajaran tentang bagaimana kehancuran bisa terjadi jika kita salah
jalan.
"Aku akan jadi orang baik, Nek. Aku janji. Aku nggak
akan kayak Bapak. Aku akan jaga Mama. Aku akan sukses. Doain aku."
Ia menabur bunga di atas tiga makam itu, lalu pergi
meninggalkan pemakaman.
Kisah Aji Wungkal bukan sekadar cerita sedih.
Ia adalah balada. Balada tentang anak tunggal yang
kehilangan jalan pulang. Balada tentang durhaka yang berujung petaka. Balada
tentang cinta orang tua yang tak pernah padam, meski dikhianati berulang kali.
Ia adalah cermin bagi kita semua. Cermin untuk melihat diri
sendiri: apakah kita sudah berbakti pada orang tua? Apakah kita sudah menjauhi
judi dan maksiat? Apakah kita sudah menjaga keluarga kita?
Karena pada akhirnya, harta bukan segalanya. Rumah megah
bukan jaminan. Yang abadi hanya amal dan doa. Yang kekal hanya cinta dan maaf.
Dan jalan pulang... jalan pulang ke keluarga, ke orang tua,
ke Tuhan... harus ditemukan sebelum semuanya terlambat.
Aji Wungkal kehilangan jalan pulang.
Semoga kita tidak.
Desa Jelapat, 2026
Di sudut pemakaman desa, di bawah pohon beringin tua, tiga
makam berjejer rapi. Nisan-nisannya sederhana, hanya papan kayu dengan tulisan
tangan.
*Pak Sudiro bin Karso - 1946-2019*
*Ibu Jayanti binti Sastro - 1951-2026*
*Aji Wungkal bin Sudiro - 1976-2019*
Di bawah nama Aji, ada tulisan tambahan:
"Anakku, maafkan kami yang gagal mendidikmu. Ibu dan
Bapak sayang kamu. Tenanglah di sisi Allah."
Di sampingnya, setangkai mawar merah segar. Mawar itu
diletakkan oleh Purnomo, cucu satu-satunya, setiap kali ia berkunjung.
Mawar merah itu melambangkan cinta. Cinta yang tak pernah
padam, meski kematian memisahkan.
Dan angin sore berbisik lembut, membawa cerita tentang Aji
Wungkal, tentang balada anak tunggal yang kehilangan jalan pulang, tentang
keluarga yang hancur karena judi dan durhaka, tentang pelajaran berharga yang
abadi sepanjang masa.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar