Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Minggu, 15 Maret 2026

Novel Balada Aji Wungkal: Tragedi Anak Tunggal yang Kehilangan Jalan Pulang

 

 


Malam itu hujan turun deras di jalan lintas kota Sampit.

Bukan gerimis biasa yang hanya membasahi dedaunan, tetapi hujan lebat yang mengguyur dengan kemarahan langit yang tak terbendung. Butir-butir air sebesar jagung jatuh bergantian, memecah aspal jalan raya, menciptakan genangan-genangan yang memantulkan cahaya lampu kendaraan yang lalu-lalang.

Jalan lintas Kalimantan membentang basah dan licin. Di kanan-kiri jalan, pohon-pohon kelapa sawit berbaris seperti prajurit yang tak berkedip menyaksikan tragedi yang akan terjadi. Kabut tipis menggantung rendah, menyelimuti aspal hitam yang berkilau diterpa lampu mobil-mobil yang melintas.

Pukul sebelas malam lewat dua puluh menit.

Jam digital di dashboard mobil bus antar kota itu menunjukkan angka yang tak berarti bagi Aji Wungkal. Yang berarti baginya hanyalah jarak yang harus ditempuh, tiga puluh kilometer lagi menuju Desa Jelapat, tiga puluh kilometer lagi menuju kampung halaman, menuju ibunya yang menanti, menuju Yulia dan Purnomo yang besok akan datang.

Aji duduk di kursi dekat jendela. Tubuhnya pegal, wajahnya lebam bekas siksaan anak buah Liong, matanya sayu menahan kantuk dan sakit. Bajunya kusut, kotor, dan basah kena air hujan yang merembes dari jendela yang tak tertutup rapat.

Namun di balik semua kepayahan itu, ada secercah harapan di hatinya.

Besok, ia akan bertemu Yulia. Besok, ia akan memeluk Purnomo. Besok, ia akan memulai hidup baru. Ia sudah lepas dari Rubiah, perempuan itu telah meninggal, meski dengan cara yang tragis. Ia sudah lepas dari Liong, ia baru saja kabur dari penyekapan, meski sekarang dikejar-kejar anak buahnya. Yang penting, ia selamat. Yang penting, ia bisa pulang.

"Bu... Yul... Purnomo... tunggu Aji," bisiknya lirih.

Bus melaju kencang. Sopirnya, seorang lelaki paruh baya, mencoba mengejar waktu. Jalanan licin, tapi ia tak peduli. Ia sudah biasa melewati jalan ini ribuan kali.

Aji memejamkan mata. Pikirannya melayang ke masa lalu. Ke ayahnya yang sudah tiada. Ke ibunya yang setia menanti. Ke Yulia yang masih memberinya kesempatan. Ke Purnomo yang baru mulai mengenalnya.

"Aji janji... Aji akan jadi anak baik... jadi suami baik... jadi bapak baik..."

Tiba-tiba, dari kursi belakang, seseorang bangkit. Seorang lelaki bertubuh besar dengan tato di leher. Matanya tajam menatap Aji.

Aji tak menyadarinya. Ia terlalu lelah, terlalu larut dalam pikirannya.

Lelaki itu mendekat. Diam-diam. Hingga ia berdiri tepat di samping kursi Aji.

"Lo Aji Wungkal?" bisiknya.

Aji tersentak. Ia menoleh dan melihat wajah itu. Wajah yang dikenalnya. Salah satu anak buah Liong yang menyiksanya di gudang.

"Lo... lo—"

"Diem!" Pisau menekan pinggang Aji. "Lo pikir bisa kabur dari Bos? Lo pikir gue nggak ada di bus ini? Dari terminal gue udah ngikutin lo. Sekarang lo ikut gue turun, atau lo mati di sini."

Aji membeku. Dadanya berdebar kencang. Pikirannya kacau. Ia sudah hampir sampai. Ia sudah hampir pulang. Dan sekarang... sekarang...

"Turun! Sekarang!"

Aji tak punya pilihan. Ia berdiri perlahan. Penumpang lain tidur atau asyik dengan ponselnya, tak ada yang memperhatikan.

Mereka berjalan ke pintu belakang. Preman itu membuka pintu darurat.

"Lompat!"

Aji memandang ke luar. Jalanan basah, gelap, dan di belakang sana, lampu truk besar mulai terlihat.

"LOMPAT! ATAU GUE TUSUK!"

Aji mengambil napas dalam-dalam. Ia ingat ibunya. Ia ingat Yulia. Ia ingat Purnomo.

"Maafin Aji... Aji gagal lagi..."

Ia melompat.

Tubuhnya jatuh di aspal basah.

Guling-guling, membentur aspal, terseret beberapa meter. Kulitnya terkoyak, darah mengalir, rasa sakit menjalar di sekujur tubuh. Namun ia masih hidup. Ia mencoba bangkit.

Di depannya, lampu truk menyilaukan.

Suara klakson panjang, memekakkan telinga.

Suara rem berdecit, melengking, menyayat hati.

Aji menoleh ke arah datangnya truk. Matanya membelalak. Waktu seakan berhenti.

Ia melihat bayangan truk kontainer raksasa itu melaju tak terkendali di jalan licin. Sopirnya mencoba mengerem, tapi ban truk kehilangan traksi di aspal basah. Truk oleng. Oleng ke kanan. Ke kiri. Dan kemudian... ke arahnya.

"AJI!"

Teriakan itu datang dari preman di atas bus. Bukan teriakan marah, tapi terlakan ngeri.

Tapi semuanya sudah terlambat.

Benturan.

Bukan sekadar benturan, tetapi tabrakan dahsyat yang mengguncang malam.

Logam bertabrakan dengan daging. Tulang remuk. Darah memercik. Tubuh Aji terpental, terlempar, jatuh di pinggir jalan.

Bus ikut terdampak. Preman itu jatuh dari pintu yang terbuka, terlindas roda belakang.

Jeritan penumpang. Jeritan sopir truk. Jeritan malam yang hancur.

Beberapa menit kemudian, sirene ambulans meraung-raung dari kejauhan. Lampu merah dan biru berkelap-kelip di tengah gelapnya malam. Petugas-petugas dengan seragam loreng berlarian ke lokasi kejadian.

"Ada korban! Cepat!"

"Dua orang! Satu di pinggir jalan, satu di bawah bus!"

"Panggil tim rescue!"

"Bawa tandu!"

Di pinggir jalan, Aji terbaring dengan mata setengah terbuka. Tubuhnya hancur, darah menggenang di sekelilingnya. Napasnya tersengal-sengal, dadanya sesak.

Pikirannya melayang.

Ia melihat Ibu Jayanti. Ibunya yang setia berdoa untuknya setiap malam.

Ia melihat Pak Sudiro. Ayahnya yang sudah tiada, tersenyum padanya.

Ia melihat Yulia. Istri yang ia khianati, namun masih mau memberi kesempatan.

Ia melihat Purnomo. Anaknya yang lucu, yang baru mulai mengenalnya.

"Ma... Pa... Yul... Purnomo... maaf... maafin Aji..."

Napasnya tersengal. Pandangannya mulai gelap.

"Aji gagal lagi... gagal jadi anak baik... gagal jadi suami... gagal jadi bapak..."

Matanya terpejam.

Tangannya yang berlumuran darah terkulai lemas.

Di kejauhan, ambulans masih meraung. Petugas medis berlari menghampiri. Tapi Aji tak lagi merasakan apa-apa.

Malam itu, di jalan lintas kota yang basah dan licin, seorang anak durhaka menghembuskan napas terakhirnya.

Tak ada yang menyangka bahwa kecelakaan itu akan menjadi akhir dari perjalanan hidup seorang anak tunggal yang pernah menjadi harapan besar keluarga kaya di Desa Jelapat.

Namun jauh sebelum kecelakaan itu terjadi...

Jauh sebelum Aji melompat dari bus malam itu...

Jauh sebelum tubuhnya hancur diterjang truk...

Sebuah kesalahan demi kesalahan, sebuah pilihan demi pilihan yang salah, telah membawa Aji Wungkal menuju kehancurannya sendiri.

Dan kisah itu, kisah tentang seorang anak durhaka yang kehilangan jalan pulang, akan terungkap mulai dari awal...

Dari Desa Jelapat yang subur...

Dari keluarga Sudiro yang kaya raya...

Dari seorang anak tunggal yang lahir di tengah limpahan harta, namun mati dalam penyesalan yang tak sempat terucap.

BAGIAN I

AKAR KEHIDUPAN DI DESA JELAPAT

Desa Jelapat

Nama itu mungkin tak banyak dikenal orang. Tak tercatat dalam peta-peta besar yang dijual di toko buku. Tak disebut dalam berita-berita nasional di televisi. Namun bagi mereka yang lahir dan besar di sana, Desa Jelapat adalah dunia. Adalah segalanya. Adalah tempat di mana napas pertama dihirup dan napas terakhir dihembuskan.

Desa itu terletak di tepi sungai yang membelah pedalaman Kalimantan. Sungai Jelapat namanya. Airnya coklat kehitaman, khas sungai-sungai di tanah Borneo yang kaya akan gambut. Di musim kemarau, air sungai surut, memperlihatkan akar-akar pohon yang menjulur ke air seperti jari-jari raksasa yang meminta. Di musim hujan, sungai meluap, membawa kayu-kayu gelondongan dan dedaunan kering dari hulu.

Namun yang membuat Desa Jelapat istimewa bukan sungainya.

Bukan pula udaranya yang sejuk atau penduduknya yang ramah.

Yang membuat desa ini istimewa adalah tanahnya.

Tanah di Desa Jelapat subur. Luar biasa subur. Orang-orang tua di sana punya pepatah: "Tancep tebu, dadi gulo. Tancep kayu, dadi omah." Tancapkan tebu, jadilah gula. Tancapkan kayu, jadilah rumah. Artinya, apa pun yang ditanam di tanah Jelapat akan tumbuh dengan subur, seolah tanah itu sendiri bernyawa, memberi kehidupan pada setiap bibit yang jatuh ke pangkuannya.

Maka tak heran jika di desa itu, kebun sawit dan karet membentang sejauh mata memandang. Pepohonan sawit berbaris rapi, pelepahnya yang lebar menaungi tandan-tandan buah yang siap panen. Pohon-pohon karet berdiri tegak, dengan bekas-bekas sadapan di batangnya yang mengering, menunggu sentuhan pisau penyadap keesokan harinya.

Pagi itu, matahari baru saja merekah di ufuk timur.

Semburat jingga kemerahan melukis langit, menerobos sela-sela dedaunan sawit yang membentang luas. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun, berkilau seperti mutiara saat terkena sinar mentari pagi. Udara segar bercampur aroma tanah basah dan getah karet mengisi penciuman siapa pun yang melintas di desa itu.

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan utama desa, beberapa orang lelaki paruh baya duduk bersila di atas bangku kayu panjang. Warung itu milik Bu Marni, seorang janda berusia lima puluhan yang terkenal dengan kopi tubruknya yang kental dan pisang gorengnya yang renyah.

"Pagi, Pak Karto. Duduk sini," sapa Pak Wahyudi, Ketua RT setempat, kepada seorang lelaki tua yang baru datang.

Pak Karto mengangguk, lalu duduk di bangku yang disediakan. Usianya sudah enam puluh lima tahun, namun tubuhnya masih tegap. Wajahnya keriput oleh usia dan terik matahari, namun matanya masih tajam. Ia salah satu petani karet tertua di Desa Jelapat.

"Kopi satu, Bu Marni. Yang pait," pinta Pak Karto.

"Pait terus, Pak Karto. Nanti encoknya kambuh," goda Bu Marni sambil menuang kopi panas ke cangkir keramik putih yang sudah retak di bagian pinggirnya.

"Encok mah urusan nanti. Yang penting perut hangat sekarang," jawab Pak Karto, tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang tinggal separuh.

Suasana warung mulai ramai. Pak Samin, Kepala Dusun Barat, datang dengan sepeda onthel tuanya. Bel masuk sekolah berbunyi dari kejauhan, mengingatkan bahwa anak-anak desa sudah mulai berangkat sekolah. Burung-burung pipit beterbangan dari satu pohon ke pohon lain, mencari makan di sela-sela rumput.

"Wah, rame juga pagi ini," ucap Pak Samin sambil memarkir sepedanya.

"Lagi pada nggak ke kebun kali, Pak," jawab Pak Wahyudi. "Musim karet lagi sepi. Lagi nunggu daun gugur dulu baru sadap lagi."

"Iya, bener itu," sahut Pak Karto. "Sekarang lagi istirahat. Kasihan pohonnya kalau terus disadap. Nanti getahnya sedikit, pohonnya juga cepet rusak."

Pembicaraan mengalir dari masalah karet ke sawit, dari sawit ke kabar desa, dari kabar desa ke rencana pemilihan kepala desa yang akan datang. Namun tiba-tiba Pak Samin mengubah topik.

"Eh, ngomong-ngomong soal pemilihan, gimana kabar Pak Sudiro?" tanyanya.

Suasana warung mendadak hening.

Pak Karto meletakkan cangkir kopinya perlahan. Matanya menerawang jauh, seperti melihat sesuatu yang tak terlihat orang lain. Pak Wahyudi menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala. Bu Marni yang sedang menggoreng pisang di dapur ikut terdiam, hanya suara pisang yang berdesis di minyak panas yang terdengar.

"Sudiro... ya ampun, Sudiro..." gumam Pak Karto pelan.

Pak Sudiro.

Nama itu. Hanya dengan menyebutnya, aura pembicaraan berubah. Dari ringan dan penuh canda, menjadi berat dan sendu. Dari topik biasa, menjadi perbincangan tentang tragedi.

"Kasian dia," kata Pak Samin lirih. "Dulu orang terkaya di desa ini. Punya kebun sawit dua puluh hektar. Kebun karet sepuluh hektar. Bengkel mobil di pinggir jalan raya. Rumahnya yang besar di ujung desa itu, satu-satunya rumah yang pakai marmer di Jelapat. Tapi sekarang..."

"Sekarang?" desak Pak Wahyudi, meski ia sebenarnya sudah tahu.

"Sudah jual semuanya," jawab Pak Samin. "Tanah sawit habis. Kebun karet tinggal tiga hektar yang nggak jadi dijual karena ada masalah sertifikat. Bengkel sudah ditutup setahun lalu. Rumahnya yang besar... itu pun sudah digadaikan ke bank. Sekarang tinggal rumah kontrakan di belakang pasar."

Bu Marni menyodorkan piring berisi pisang goreng ke meja. Tangannya gemetar sedikit. "Dulu Ibu Jayanti sering belanja ke warung saya. Beli daging ayam, beli ikan segar, beli sayur mayur. Nggak pernah nawar. Sekarang... kadang beli tempe aja utang dulu."

"Karena anak," desis Pak Karto dengan nada getir. "Karena anak itu. Aji Wungkal."

Nama itu seperti kutukan.

Semua orang di warung itu diam. Mereka semua tahu cerita Aji Wungkal. Semua tahu bagaimana anak tunggal Pak Sudiro dan Ibu Jayanti itu menjadi duri dalam daging keluarganya sendiri. Semua tahu bagaimana judi dan perempuan menghancurkan hidup seorang pemuda yang dulu penuh harapan.

"Dulu waktu kecil, Aji itu anak baik," kenang Pak Karto. Rambutnya yang putih tertiup angin pagi. "Saya ingat, waktu umur lima tahun, dia sering main ke kebun karet saya. Saya kasih karet gelondongan bekas sadapan, dia buat mainan. Senyumnya lebar banget. Saya bilang ke Sudiro, 'Bang, anakmu ini kelak jadi orang hebat.'"

Pak Karto berhenti. Matanya berkaca-kaca.

"Siapa sangka... siapa sangka..."

"Siapa sangka dia jadi begini," sambung Pak Samin. "Sudah dua tahun lalu kejadiannya. Waktu dia pulang ke desa, minta uang orang tuanya. Nggak dikasih, dia ngamuk. Sampai lapor polisi. Sampai mediasi di Polsek. Sampai Pak Sudiro ngasih dia hak ngelola kebun sawit. Tapi itu pun nggak cukup."

"Kabarnya sekarang dia di kota," kata Pak Wahyudi. "Judi lagi katanya. Dan yang lebih parah..."

"Iya, saya tahu," potong Pak Karto. "Dia bawa Rubiah, istri sirinya itu. Katanya mereka berdua yang habiskan semua harta Sudiro."

Bu Marni menghela napas. "Padahal Aji itu sudah punya istri baik. Yulia. Anaknya sopan, rajin, sabar. Punya anak laki-laki, Purnomo, sekarang sudah remaja. Tapi ditinggal begitu saja, kawin siri sama perempuan kota."

"Perempuan ambisius itu," tambah Pak Samin. "Saya lihat sekali waktu dia ikut Aji ke desa. Jalannya gaya, omongannya tinggi. Ngomong sama warga sini pakai bahasa Indonesia melulu, padahal orang sini kan biasa pakai bahasa Banjar. Sok kota banget."

"Yang rugi ya keluarga Sudiro," Pak Wahyudi menggeleng. "Sudiro sendiri sekarang sakit-sakitan. Jatuh tempo pas Aji minta uang, dia marah besar. Sampai sumpahi anaknya sendiri."

"Sumpah apa?" tanya Bu Marni, meski ia sudah pernah mendengar cerita itu.

Pak Karto menatap lurus ke depan. Matanya tajam. "Sudiro bilang: 'Aji, kau anak durhaka. Hidupmu akan hancur seperti kertas yang kau bakar untuk judi itu. Dan kau akan mati dalam penyesalan, tanpa sempat minta maaf sama ibu bapakmu.'"

Udara pagi yang sejuk terasa dingin tiba-tiba.

Semua orang di warung itu merinding.

"Mudah-mudahan... mudah-mudahan nggak terjadi," ucap Bu Marni lirih.

Namun di dalam hatinya, ia tahu.

Doanya mungkin sudah terlambat.

Dua puluh kilometer dari warung Bu Marni, di sebuah rumah kontrakan sederhana di belakang pasar, Pak Sudiro terbangun dari tidurnya.

Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Napasnya tersengal-sengal. Ia duduk di tepi ranjang, memegangi dada kirinya yang berdebar tidak karuan. Jantungnya berdetak cepat, seperti mau keluar dari rongga dada.

"Sudiro... Sudiro, kenapa?" Ibu Jayanti terbangun, langsung memegangi suaminya.

Pak Sudiro tak menjawab. Matanya menerawang menatap dinding kamar yang lembab. Catnya sudah mengelupas di sana-sini. Langit-langitnya rendah, membuat ruangan terasa sempit dan sesak. Jauh berbeda dari rumah besar mereka dulu, dengan kamar tidur ber-AC dan tempat tidur ukuran king size.

"Aku mimpi," ucap Pak Sudiro akhirnya. Suaranya parau. "Mimpi buruk."

"Mimpi apa?"

Pak Sudiro menoleh pada istrinya. Di usianya yang enam puluh tiga tahun, Ibu Jayanti masih terlihat cantik. Wajahnya yang bulat, rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis, matanya yang lembut, semua masih seperti dulu, saat pertama kali mereka menikah empat puluh tahun lalu. Namun sekarang, di mata itu ada kesedihan yang tak terucap. Kesedihan yang sama yang ia rasakan setiap hari.

"Aku mimpi Aji," bisik Pak Sudiro.

Ibu Jayanti tersentak. Tangannya refleks memegang dada.

"Aji? Mimpi apa?"

Pak Sudiro menunduk. Air matanya jatuh perlahan, membasahi sarung lusuh yang ia pakai. Lelaki yang dulu gagah perkasa, yang dulu disegani di seluruh Desa Jelapat, yang dulu punya segalanya, sekarang duduk lemah di tepi ranjang, menangis seperti anak kecil.

"Aji kecelakaan," katanya lirih. "Mobilnya tabrakan sama truk. Di jalan lintas, dekat perbatasan kota. Aku lihat dia... dia..."

"Apa? Dia apa, Sudiro?" Ibu Jayanti mengguncang lengan suaminya.

Pak Sudiro mengangkat wajahnya. Matanya merah, basah.

"Dia minta maaf sama kita, Jay. Dia minta maaf."

Ibu Jayanti tertegun.

Dan kemudian ia pun menangis.

Keduanya berpelukan di ruang sempit itu, menangis dalam diam, menangis untuk anak yang mereka cintai namun telah menyakiti mereka begitu dalam. Menangis untuk anak yang dulu mereka banggakan, namun kini menjadi aib keluarga. Menangis untuk anak tunggal yang entah di mana berada, entah dalam keadaan bagaimana.

Mereka tak tahu bahwa saat itu juga, di jalan lintas kota yang basah oleh hujan, mobil yang ditumpangi anak mereka telah hancur berkeping-keping.

Mereka tak tahu bahwa anak mereka sedang sekarat.

Mereka tak tahu bahwa takdir telah berbicara.

Dan sumpah Pak Sudiro, sumpah yang diucapkan dalam amarah, sedang digenapi.

Lima puluh tahun lalu, nama Sudiro belum dikenal di Desa Jelapat.

Ia datang dari Jawa, tepatnya dari sebuah desa kecil di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Waktu itu usianya baru tiga belas tahun. Ikut orang tuanya yang transmigran, yang mendapat jatah tanah dua hektar dari pemerintah.

Sudiro kecil tak punya apa-apa. Baju yang ia pakai lusuh, bolong di siku. Celananya pendek, tak sampai mata kaki. Sandal jepit yang ia pakai sudah putus talinya, diganti dengan tali rafia. Namun di matanya ada api. Api yang tak pernah padam. Api untuk mengubah nasib.

"Suro, ayo makan," panggil ibunya, seorang perempuan Jawa sederhana dengan kebaya lusuh dan rambut disanggul rapi.

Sudiro, waktu itu masih dipanggil Suro, mendekat. Ia melihat meja makan yang hanya beralas daun pisang. Nasi secukupnya, lauk tempe goreng dan sambal terasi. Ia duduk bersila, makan dengan lahap. Tak ada protes, tak ada keluhan. Ia tahu, inilah yang ada. Inilah yang bisa diberikan orang tuanya.

"Bapakmu lagi di kebun," kata ibunya. "Karet mulai bisa disadap katanya. Bulan depan kita mungkin bisa beli lauk ayam."

Mata Suro berbinar. "Ayam, Bu? Betulan?"

Ibu tersenyum, mengusap kepala anaknya. "Betulan, Le. Asal kamu rajin bantu Bapak di kebun."

Suro mengangguk semangat.

Sejak hari itu, ia rajin membantu ayahnya. Bangun pukul empat pagi, berjalan kaki tiga kilometer ke kebun karet, menyadap pohon demi pohon hingga matahari terbit. Pulang ke rumah, mandi, lalu berangkat ke sekolah. Sore harinya, kembali ke kebun, membantu mengolah getah karet menjadi lembaran-lembaran yang siap jual.

Hidup keras, namun Suro tak pernah mengeluh.

Tahun berganti tahun.

Sudiro tumbuh menjadi pemuda. Tubuhnya tegap, wajahnya tampan dengan rahang tegas dan mata tajam. Ia dikenal sebagai pemuda rajin, jujur, dan tak pernah main-main. Di desa, semua orang menyukainya. Para orang tua menjadikannya contoh untuk anak-anak mereka. Para pemuda sebayanya menjadikannya teman yang baik. Para gadis desa... mereka semua diam-diam menaruh hati.

Namun Sudiro hanya punya satu fokus: sukses.

Usai lulus SMP, ia tak melanjutkan ke SMA. Bukan karena tak mampu secara akademis, nilainya selalu bagus. Tapi karena ekonomi keluarga tak memungkinkan. Ayahnya mulai sakit-sakitan, terkena penyakit paru-paru akibat terlalu lama bekerja di kebun tanpa pelindung. Ibu Sudiro pun mulai renta, tak mampu lagi bekerja berat.

Sudiro mengambil alih semua tanggung jawab keluarga.

Ia bekerja lebih keras. Selain mengurus kebun karet warisan orang tuanya, ia juga bekerja serabutan. Jadi kuli bangunan, jadi buruh angkut di pasar, jadi tukang ojek kalau ada yang butuh. Tak ada pekerjaan yang ia tolak. Tak ada waktu yang ia sia-siakan.

"Kau ini kayak kerbau, Suro," goda teman-temannya. "Kerja terus, nggak kenal lelah."

Sudiro hanya tersenyum. "Kerbau itu binatang, aku manusia. Manusia harus kerja biar hidup."

Pada usia dua puluh tahun, Sudiro mulai merintis usaha sendiri. Ia membuka bengkel kecil di pinggir jalan. Modal seadanya: beberapa kunci pas, obeng, dongkrak bekas, dan kompresor tua yang ia beli dari hasil menabung bertahun-tahun. Tempatnya pun cuma gubuk reyot beratap rumbia.

Namun perlahan, usahanya berkembang.

Orang-orang mulai percaya pada keahliannya. Ia terkenal bisa memperbaiki mesin apa saja, dari sepeda motor tua sampai traktor sawit yang rusak. Harga yang ia pasang murah, tapi kualitas kerjanya bagus. Tak pernah ada komplain, tak pernah ada yang kecewa.

"Kalau Suro yang betulin, awet," begitu kata orang-orang.

Dari situ, bengkelnya mulai ramai. Dari gubuk reyot, ia bisa membangun bengkel semi permanen. Dari hanya memperbaiki motor, ia mulai bisa memperbaiki mobil. Dan dari situ, rezeki mulai mengalir deras.

Di usia dua puluh tiga tahun, Sudiro menikah.

Jayanti namanya. Gadis asli Desa Jelapat, anak seorang petani karet biasa. Cantiknya tak perlu diragukan: kulit kuning langsat, rambut panjang hitam berkilau, senyum manis yang mampu meluluhkan hati siapa pun. Namun yang paling membuat Sudiro jatuh cinta bukan kecantikannya, melainkan kebaikan hatinya.

Mereka bertemu di kebun karet. Waktu itu Jayanti sedang membantu orang tuanya menyadap karet. Sudiro kebetulan lewat, melihat Jayanti kesulitan mengangkat ember getah yang penuh. Tanpa pikir panjang, ia turun membantu.

"Terima kasih, Mas," ucap Jayanti malu-malu.

"Sama-sama, Mbak. Nama saya Sudiro," jawabnya sambil mengulurkan tangan.

Sejak itu, mereka sering bertemu. Kadang di kebun, kadang di pasar, kadang di acara-acara desa. Dan dari situ, benih cinta mulai tumbuh.

Setahun kemudian, mereka menikah. Pernikahan sederhana, hanya dihadiri keluarga dan tetangga dekat. Tak ada resepsi mewah, tak ada pesta berlebihan. Namun kebahagiaan terpancar dari wajah kedua mempelai.

"Semoga langgeng, Mas," doa orang-orang.

"Semoga cepat punya momongan," doa yang lain.

Dan doa itu terkabul.

Setahun setelah menikah, Jayanti hamil.

Kabar itu membuat Sudiro bahagia bukan kepalang. Ia bekerja lebih giat lagi, menabung lebih banyak lagi, mempersiapkan segala sesuatu untuk kelahiran anak pertamanya.

"Kita harus punya rumah yang layak untuk anak kita," katanya pada Jayanti.

Ia mulai membangun rumah. Bukan rumah biasa, tetapi rumah besar di ujung desa. Dua lantai, dengan halaman luas, pagar besi kokoh, dan yang paling membuat orang desa terkesima, lantai marmer. Ya, lantai marmer. Barang mewah yang tak pernah terpikirkan oleh warga desa biasa.

"Wah, Pak Sudiro, rumahnya bagus sekali!" puji tetangga-tetangga.

Sudiro hanya tersenyum rendah hati. "Alhamdulillah, rezeki dari Allah."

Sembilan bulan berlalu.

Dan pada suatu malam, di tengah hujan deras yang mengguyur Desa Jelapat, Jayanti melahirkan.

Bayi laki-laki.

Sehat, sempurna, dengan tangisan keras yang menggema di seluruh ruangan.

Sudiro menerima bayinya dengan tangan bergetar. Air matanya jatuh membasahi pipi. Ia tak bisa berkata-kata. Hanya bisa menatap wajah mungil itu dengan penuh cinta.

"Ini dia, Jay. Anak kita," bisiknya.

Jayanti tersenyum lemah. "Kasih nama apa, Mas?"

Sudiro menatap bayinya. Di wajah mungil itu, ia melihat masa depan. Ia melihat harapan. Ia melihat semua perjuangan kerasnya selama ini menemukan makna.

"Aji Wungkal," katanya. "Aji, artinya berharga. Wungkal, artinya asah. Kita akan asah dia menjadi orang yang berharga."

"Aji Wungkal... cantik sekali namanya," ucap Jayanti lirih.

Dan sejak saat itu, Aji Wungkal menjadi pusat dunia keluarga Sudiro.

Tahun-tahun pertama kehidupan Aji penuh dengan limpahan kasih sayang.

Sebagai anak tunggal, ia mendapat perhatian penuh dari kedua orang tuanya. Segala yang ia minta dituruti. Segala yang ia inginkan diberikan. Tak ada kata tidak untuk Aji kecil.

"Mama, beliin mainan mobil-mobilan," pinta Aji suatu hari.

"Ya, Nak. Nanti Papa belikan yang besar," jawab Jayanti.

"Papa, aku mau es krim," pinta lain waktu.

"Ya, Le. Nanti Papa ambilkan," jawab Sudiro.

"Beli sepeda, beli sepeda!" rengek Aji.

"Ya, ya. Besok Papa belikan sepeda baru."

Begitulah setiap hari. Aji tumbuh dalam limpahan materi. Kamarnya dipenuhi mainan mahal dari kota. Pakaiannya selalu baru, tak pernah bekas. Makanannya selalu yang terbaik, tak pernah sekadar nasi tempe seperti masa kecil Sudiro dulu.

Pak Karto, tetangga dekat yang sering melihat langsung, kadang merasa prihatin.

"Pak Sudiro, maaf ya, saya cuma numpang ngomong," katanya suatu hari. "Anak itu, kalau terlalu dimanja, nggak baik. Nanti susah."

Sudiro tersenyum. Ia menghargai niat baik tetangganya itu. Tapi dalam hati, ia berpikir berbeda. "Pak Karto, saya dulu susah. Saya tahu rasanya hidup kekurangan. Sekarang saya punya rezeki lebih, masa saya nggak kasih yang terbaik buat anak saya?"

"Saya ngerti, Pak. Tapi, "

"Sudah, Pak. Terima kasih sarannya. Tapi biarlah saya yang tahu cara mendidik anak saya sendiri."

Pak Karto menghela napas. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa berharap, semoga anak itu baik-baik saja.

Namun harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan.

Aji tumbuh menjadi anak yang manja.

Di sekolah, ia dikenal sebagai anak orang kaya. Teman-temannya segan, bahkan takut. Gurunya pun agak segan, karena tahu orang tuanya adalah penyumbang terbesar untuk pembangunan sekolah.

"Aji, kenapa PR-nya nggak dikerjakan?" tanya Bu Guru suatu hari.

"Ah, Bu, PR itu buat anak kampung. Saya nggak perlu," jawab Aji sombong.

Bu Guru terkejut. Ia tak menyangka anak sekecil itu bisa bicara begitu.

"Kamu jangan sombong, Aji. Siapa pun harus kerja. Nggak ada yang—"

"Papa saya kaya," potong Aji. "Saya nggak perlu kerja. Papa yang kerja buat saya."

Kelas menjadi hening. Semua murid menatap Aji dengan campuran kekaguman dan iri. Bu Guru hanya bisa menggeleng-geleng kepala, tak tahu harus berkata apa.

Sore harinya, Bu Guru mengunjungi rumah Sudiro. Ia menceritakan kejadian di sekolah.

Sudiro mendengarkan dengan wajah tegang. Jayanti yang ada di sampingnya terlihat cemas.

"Maaf, Pak, Bu. Saya nggak bermaksud ikut campur. Tapi sebagai guru, saya berkewajiban menyampaikan ini. Aji itu anak pintar, potensinya besar. Tapi sikapnya... maaf, mulai agak bermasalah. Terlalu sombong, suka meremehkan teman, dan nggak mau kerja keras."

Sudiro mengangguk. "Terima kasih, Bu Guru. Saya akan bicara dengan Aji."

Namun setelah Bu Guru pergi, Sudiro tak melakukan apa-apa. Ia terlalu sibuk dengan bengkelnya, dengan kebun-kebunnya, dengan usahanya yang terus berkembang. Jayanti pun sibuk dengan kegiatan sosialnya di desa. Tak ada waktu untuk benar-benar duduk dan mendidik Aji dengan serius.

Hingga suatu hari...

Aji berusia dua belas tahun.

Sudiro pulang dari perjalanan bisnis. Ia membawa oleh-oleh untuk Aji: sepeda gunung merek terkenal, harga jutaan. Ia berharap anaknya akan senang.

Tapi saat tiba di rumah, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan.

Aji sedang bertengkar dengan Jayanti.

"NGGAK MAU! Aku nggak mau!" teriak Aji.

"Tapi, Nak, itu sudah aturan sekolah. Semua murid harus pakai seragam putih merah. Kamu nggak boleh pakai baju bebas ke sekolah," jelas Jayanti sabar.

"BODO! Aku nggak suka! Bajunya jelek! Mending aku nggak sekolah!"

Sudiro melangkah masuk. "Ada apa ini?"

Aji menoleh. Begitu melihat ayahnya, ia langsung lari dan memeluknya.

"Pa, Mama jahat! Mama nyuruh Aji pake baju jelek!"

Sudiro menatap istrinya. Jayanti menghela napas.

"Mas, ini soal seragam sekolah. Aji nggak mau pakai seragam putih merah. Katanya jelek. Dia mau beli seragam baru model lain."

Sudiro tertawa. Ia mengusap kepala Aji. "Ya sudah, kalau begitu besok Papa belikan yang bagus. Nggak usah pakai seragam sekolah. Papa yang bikinin seragam sendiri."

Jayanti terbelalak. "Mas?! Itu nggak boleh! Nanti Aji—"

"Nanti Aji gimana? Anak kita ini istimewa, Jay. Masa harus pakai seragam kayak anak-anak lain? Biar saja. Yang penting dia mau sekolah."

Aji tersenyum puas. Ia menatap ibunya dengan kemenangan.

Dan sejak hari itu, Aji menjadi satu-satunya murid di Desa Jelapat yang tak pernah pakai seragam sekolah. Ia datang dengan kemeja mahal, celana bahan, sepatu kulit mengkilap. Sementara teman-temannya memakai seragam putih merah lusuh.

Tak heran jika ia semakin dijauhi.

Tak heran jika ia semakin sombong.

Tak heran jika benih-benih kehancuran mulai tertanam dalam dirinya.

Di usianya yang keenam belas, Aji Wungkal adalah permata Desa Jelapat.

Setidaknya, di mata orang tuanya.

Pak Sudiro tak pernah lelah memuji anaknya di depan siapa pun. Setiap ada tamu yang datang ke rumah, ia akan menunjukkan prestasi-prestasi Aji. Nilai rapor yang bagus, meski sebenarnya Aji sering menyuruh temannya mengerjakan PR. Piala-piala lomba—meski sebenarnya ayahnya yang menyumbang dana besar ke panitia. Foto-foto kegiatan, meski sebenarnya Aji lebih sering nongkrong daripada ikut kegiatan.

"Lihat ini, Pak Karto. Foto Aji waktu jadi juara kelas. Dia anak paling pintar di sekolahnya," ujar Sudiro bangga.

Pak Karto hanya tersenyum kecut. Ia tahu persis bagaimana Aji mendapatkan 'juara kelas' itu. Istrinya yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih sekolah sering bercerita: Aji menyuruh teman sekelasnya yang pintar untuk mengerjakan semua PR dan ulangannya. Imbalannya? Uang jajan dan traktir di kantin.

"Pintar... ya, pintar," gumam Pak Karto diplomatis.

Tapi Sudiro tak peduli. Baginya, Aji adalah segalanya. Adalah bukti bahwa perjuangan kerasnya selama ini membuahkan hasil. Adalah warisan yang akan meneruskan nama besar keluarga Sudiro.

"Suatu hari nanti, semua ini akan jadi milik Aji," kata Sudiro pada Jayanti suatu malam. "Kebun sawit, kebun karet, bengkel, rumah. Semua. Dia akan jadi orang terkaya di sini. Mungkin se-Kalimantan Tengah."

Jayanti tersenyum. Namun di dalam hatinya, ada getir yang tak terucap. Ia melihat perubahan pada anaknya. Aji yang dulu manis, kini mulai kasar. Aji yang dulu penurut, kini mulai suka membantah. Aji yang dulu rajin salat, kini lebih sering tidur saat azan berkumandang.

"Mas, aku khawatir sama Aji," ucapnya lirih.

"Khawatir kenapa?"

"Lihat dia akhir-akhir ini. Sering pulang malam. Pergi sama teman-temannya yang—"

"Temannya?" potong Sudiro. "Memangnya kenapa dengan teman-temannya? Mereka baik-baik saja. Anak-anak desa biasa."

"Tapi Mas, aku dengar mereka suka mabuk-mabukan di balai desa. Suka berjudi main kartu. Suka—"

Sudiro tertawa. "Ah, Jay. Itu cuma gosip. Anak muda wajar kalau cari kesenangan. Nanti juga kapok sendiri kalau sudah dewasa. Lagipula, Aji anak baik. Dia nggak akan terjerumus."

Jayanti ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa ia melihat langsung botol-botol miras di kamar Aji. Ingin mengatakan bahwa ia mendengar Aji bicara di telepon tentang utang main kartu. Ingin mengatakan bahwa firasatnya berkata lain.

Tapi ia tak bisa.

Ia terlalu takut mengecewakan suaminya yang begitu bangga pada anak mereka.

Ia terlalu takut dianggap tidak percaya pada anak sendiri.

Maka ia diam.

Dan diamnya menjadi racun yang perlahan-lahan meracuni keluarganya.

Suatu sore, Aji pulang dengan wajah babak belur.

Bibirnya sobek, matanya bengkak, bajunya kotor dan robek. Ia masuk ke rumah diam-diam, berusaha agar tak terdengar orang tuanya. Namun Jayanti yang sedang di dapur mendengar suara langkah kaki yang aneh. Ia keluar dan terkejut setengah mati.

"AJI! Ada apa denganmu?!"

Aji tersentak. Ia menunduk, tak berani menatap ibunya.

"Nggak pa-pa, Ma. Jatuh dari motor."

"Jatuh?! Mana mungkin jatuh dari motor sampai separah ini? Itu lebam di mata, itu sobek di baju, itu—"

"Udah, Ma! Urusanku, urusanku!" bentak Aji.

Ia masuk ke kamar, membanting pintu.

Jayanti berdiri terpaku di ruang tamu. Hatinya hancur. Bukan karena anaknya membentak, tetapi karena ia tahu, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar jatuh dari motor.

Sore itu, saat Sudiro pulang dari kebun, Jayanti menceritakan semuanya.

Sudiro diam. Wajahnya tegang. Ia berjalan menuju kamar Aji, mengetuk pintu.

"Aji, buka pintu. Papa mau bicara."

Tak ada jawaban.

"Aji! Buka pintu!"

Masih diam.

Sudiro menghela napas. Ia kembali ke ruang tamu, duduk di sofa, meremas-remas jemarinya.

"Biarkan dia, Jay. Mungkin dia lagi capek. Besok kita tanya."

Tapi besok tak pernah tiba.

Karena malam itu juga, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Aji pergi dari rumah. Ia kabur. Membawa uang simpanannya, beberapa pakaian, dan tekad untuk merantau ke kota. Ia muak dengan desa. Muak dengan omongan orang. Muak dengan kemunafikan.

Jayanti baru tahu keesokan paginya, saat kamar Aji kosong dan hanya ada secarik kertas di atas meja.

"Ma, Pa.

Aku pergi ke kota. Jangan cari aku. Aku mau buktikan bahwa aku bisa sukses sendiri, tanpa bantuan kalian. Nanti kalau sudah sukses, aku pulang. Maafkan Aji.

—Aji"

Jayanti menjerit. Tubuhnya lemas, jatuh ke lantai.

Sudiro membaca surat itu berulang kali. Air matanya jatuh, membasahi kertas yang mulai kusut.

"Ini salahku, Jay. Salahku," bisiknya. "Aku terlalu sibuk. Aku lupa mendidik dia. Aku lupa jadi ayah."

Mereka berpelukan, menangis bersama.

Anak tunggal mereka, harapan keluarga, telah pergi.

Untuk memahami Aji Wungkal, kita harus kembali ke masa kecilnya.

Ke saat-saat di mana kepribadiannya dibentuk. Ke saat-saat di mana benih-benih keangkuhan dan keegoisan mulai tertanam dalam hatinya. Ke saat-saat di mana cinta orang tua yang tak terkendali justru menjadi racun bagi jiwanya.

Aji lahir di tengah limpahan harta. Pak Sudiro, ayahnya, adalah orang terkaya di Desa Jelapat. Kebun sawitnya luas, kebun karetnya menghasilkan, bengkel mobilnya ramai pelanggan. Uang mengalir deras ke kantong keluarga itu.

Dan Aji adalah satu-satunya anak.

Tak ada saudara yang harus berbagi. Tak ada pesaing yang harus diperhitungkan. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harta, semuanya tercurah hanya untuknya.

Sejak bayi, Aji sudah terbiasa dengan kemewahan.

Tempat tidurnya adalah ranjang ukiran jati, dibeli dari Jepara dengan harga puluhan juta. Mainannya adalah mobil-mobilan dari Jerman, boneka dari Amerika, robot dari Jepang. Pakaiannya adalah merek-merek terkenal yang hanya ada di mal-mal kota besar.

"Jangan main di lumpur, Nak. Nanti kotor," kata Jayanti setiap kali Aji ingin bermain di halaman.

"Jangan main sama anak itu, Nak. Dia anak tukang becak," kata pengasuhnya setiap kali Aji mendekati teman sebayanya.

"Kamu ini istimewa, Aji. Jangan bergaul dengan sembarang orang," kata Pak Sudiro setiap kali melihat Aji bermain dengan anak-anak desa.

Maka Aji tumbuh dalam gelembung. Gelembung yang memisahkannya dari realitas. Gelembung yang membuatnya percaya bahwa ia lebih baik, lebih tinggi, lebih berharga dari orang lain.

Ketika Aji berusia tujuh tahun, terjadi sebuah insiden yang akan dikenang seumur hidup.

Waktu itu, Aji sedang bermain di halaman rumahnya. Seorang anak seusianya lewat, membawa mainan layang-layang dari plastik. Layang-layang itu sederhana, dibuat dari kantong kresek dan bambu bekas sapu.

"Wah, layang-layang!" seru Aji.

Ia berlari mendekati anak itu. "Boleh aku pinjam?"

Anak itu mengangguk ragu. Ia kenal Aji. Semua orang kenal Aji. Anak orang kaya yang suka pamer dan sombong.

Aji mengambil layang-layang itu, lalu mencoba menerbangkannya. Namun karena tak pernah main layang-layang, ia gagal. Layang-layang itu jatuh, tersangkut di pohon rambutan depan rumahnya.

"Layang-layangku!" teriak anak itu.

Aji memandang ke pohon. "Ya sudah, ambil saja."

"Tapi itu tinggi!"

"Ya itu urusanmu. Bukan urusanku."

Anak itu menangis. Ia memanjat pohon rambutan, berusaha mengambil layang-layangnya. Namun dahan yang ia pijak patah, dan ia jatuh. Beruntung, ia hanya luka-luka ringan.

Pak Sudiro yang mendengar keributan keluar rumah. Ia melihat anak itu menangis, melihat Aji berdiri dengan wajah datar.

"Ada apa, Aji?" tanya Sudiro.

"Nggak pa-pa, Pa. Dia jatuh dari pohon. Udah biasa anak kampung."

Sudiro menghela napas. Ia memberi anak itu uang lima puluh ribu sebagai ganti rugi, lalu menyuruhnya pulang.

Malamnya, Jayanti bicara pada Aji.

"Nak, kenapa kamu tega? Dia jatuh karena ambil layang-layang yang kamu pinjam."

Aji mengangkat bahu. "Salah sendiri dia. Masa mainan begitu aja dipermasalahin. Lagian temannya jelek. Temen-temenku di sekolah mainannya bagus-bagus."

Jayanti terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, ia tahu anaknya salah. Di sisi lain, ia terlalu sayang untuk memarahi.

"Ya sudah, lain kali jangan begitu ya," katanya lemah.

Aji tersenyum. Ia tahu ibunya takkan marah. Ia tahu ayahnya takkan menghukum. Ia tahu ia bisa melakukan apa saja dan tetap aman.

Dan itulah yang tertanam dalam dirinya.

Ketika Aji berusia sepuluh tahun, Pak Sudiro membelikannya sepeda motor.

Bukan sepeda motor biasa, melainkan motor trail merek terkenal, dengan harga yang setara dengan gaji buruh setahun. Aji yang belum cukup umur itu langsung girang bukan kepalang.

"Boleh aku bawa ke sekolah, Pa?" tanyanya.

"Boleh saja, asal hati-hati."

Maka sejak hari itu, Aji naik motor ke sekolah. Sementara teman-temannya berjalan kaki atau naik sepeda ontel, ia melenggang dengan motor trail yang menggelegar.

Di kelas, ia semakin disegani. Bukan karena kebaikannya, tetapi karena kekayaannya. Anak-anak takut padanya. Takut kalau Aji marah, takut kalau orang tua Aji marah, takut kalau kehilangan kesempatan untuk numpang kaya.

Guru-guru pun segan. Mereka tahu Pak Sudiro adalah donatur utama pembangunan ruang kelas baru. Mereka tahu Pak Sudiro adalah penyumbang terbesar untuk kegiatan sekolah. Maka mereka tutup mata saat Aji bolos, tutup mata saat Aji tidak mengerjakan PR, tutup mata saat Aji bicara kasar pada teman.

"Aji itu anak baik, cuma agak keras," kata mereka.

Dan Aji tumbuh semakin liar.

Suatu hari, saat Aji berusia tiga belas tahun, ia bertengkar dengan gurunya.

Guru itu, Pak Salim, adalah guru matematika yang tegas. Ia tak peduli siapa pun orang tua murid, ia akan memberi hukuman pada siapa saja yang melanggar aturan.

Aji, yang terbiasa bebas dari hukuman, tak terima saat Pak Salim menghukumnya karena bolos.

"Kamu pikir kamu siapa, berani hukum saya?" bentak Aji.

Pak Salim tenang. "Saya guru kamu. Saya berhak menghukum siapa saja yang melanggar."

"Bapak tahu ayah saya siapa? Ayah saya donatur sekolah ini!"

"Saya tahu. Tapi itu tak ada hubungannya. Di kelas ini, semua murid sama. Tak peduli anak siapa."

Aji marah besar. Ia pulang dan mengadu pada ayahnya. Ia meminta ayahnya untuk melaporkan Pak Salim ke kepala sekolah, bahkan ke dinas pendidikan.

Pak Sudiro, yang buta karena cinta pada anaknya, melakukan apa yang diminta.

Besoknya, Pak Salim dipanggil kepala sekolah. Ia ditegur, diperingatkan, dan diminta untuk lebih 'memahami' kondisi Aji.

Pak Salim hanya tersenyum pahit. Ia tahu, di desa ini, uang bicara lebih keras dari kebenaran.

Sejak hari itu, ia tak pernah lagi menghukum Aji. Tak pernah lagi menegur. Tak pernah lagi mengingatkan. Ia membiarkan Aji melakukan apa saja.

Dan Aji semakin menjadi-jadi.

Di usianya yang kelima belas, Aji sudah terbiasa dengan alkohol dan judi.

Awalnya cuma iseng. Minum-minum bareng teman di balai desa. Main kartu kecil-kecilan. Namun lama-lama menjadi kebiasaan. Menjadi kebutuhan. Menjadi candu.

Pak Sudiro dan Jayanti tak tahu. Atau mungkin mereka tahu tapi memilih tutup mata.

"Ah, anak muda wajar kalau coba-coba. Nanti juga berhenti sendiri," kata Sudiro.

Tapi mereka tak pernah berhenti sendiri. Mereka butuh bantuan untuk berhenti. Dan bantuan itu tak pernah datang dari orang tuanya.

Suatu malam, Aji pulang dalam keadaan mabuk berat. Ia muntah di ruang tamu, mengotori karpet mahal buatan Turki. Jayanti yang melihatnya terkejut, namun ia tak bisa marah. Ia hanya membersihkan muntahan anaknya, membantunya ke kamar, membasuh wajahnya dengan air hangat.

"Aji, Nak, kamu minum?" tanyanya lirih.

Aji setengah sadar. "Iya, Ma. Cuma sedikit."

"Minum itu haram, Nak. Allah nggak suka."

Aji tertawa. Suaranya parau dan menakutkan. "Allah? Mana Allah? Kalau Allah ada, kenapa Dia biarin kita susah? Kenapa Dia nggak kasih kita uang banyak kayak Papa?"

Jayanti terpaku. Ia tak tahu harus menjawab apa.

"Kamu ini... kamu ini..."

"Aku ini apa, Ma? Aku ini anak durhaka?" Aji tertawa lagi. "Iya, Ma. Aku memang durhaka. Tapi Papa yang bikin aku begini. Mama juga yang bikin aku begini. Kalian manjain aku. Kalian kasih semua yang aku mau. Kalian bikin aku nggak tahu artinya susah. Sekarang aku begini, salah siapa?"

Jayanti menangis. Ia memeluk anaknya, meski Aji setengah tak sadar.

"Aji... Aji... Maafin Mama... Maafin Papa..."

Tapi Aji tak mendengar. Ia sudah tertidur, terlelap dalam mabuknya.

Dan Jayanti duduk di sampingnya semalaman, menangis dalam diam.

Ia tak tahu bahwa malam itu adalah awal dari kehancuran.

Ia tak tahu bahwa anaknya sudah kehilangan jalan pulang.

Pagi itu, matahari bersinar terang di Desa Jelapat.

Udara segar, burung-burung berkicau, dan aroma kopi dari warung Bu Marni tercium hingga ke ujung jalan. Namun di rumah besar keluarga Sudiro, suasana berbeda.

Jayanti terbangun dengan kepala pening. Semalaman ia menangis, semalaman ia berdoa. Ia berdoa agar anaknya sadar, agar anaknya kembali ke jalan yang benar. Ia bahkan berjanji pada Tuhan akan menjadi ibu yang lebih baik.

Namun saat ia membuka pintu kamar Aji, kamar itu kosong.

Hanya ada selembar kertas di atas meja.

"Ma, Pa.

Aku pergi ke kota. Jangan cari aku. Aku mau buktikan bahwa aku bisa sukses sendiri, tanpa bantuan kalian. Nanti kalau sudah sukses, aku pulang. Maafkan Aji.

—Aji"

Jayanti menjerit. Tubuhnya lemas, jatuh ke lantai.

Sudiro yang mendengar jeritan itu berlari dari kamar mandi. Ia melihat istrinya tergeletak, melihat kertas di tangannya, dan langsung paham.

"AJI!" teriaknya sekencang-kencangnya.

Ia berlari ke luar rumah. Berlari ke jalan, ke pasar, ke terminal. Namun Aji tak ada. Ia sudah pergi. Mungkin dengan bus malam, mungkin dengan mobil sewaan. Tak ada yang tahu.

Pak Karto yang sedang duduk di warung Bu Marni melihat Sudiro berlari dengan wajah panik. Ia berdiri, menghampiri.

"Ada apa, Pak Sudiro? Kok lari-lari?"

"Aji... Aji pergi, Pak. Kabur ke kota!"

Pak Karto terkejut. "Lho, kabur? Kenapa?"

Sudiro tak menjawab. Ia terus berlari ke terminal. Namun sesampainya di sana, bus malam sudah berangkat dua jam lalu. Ia tak tahu ke mana arahnya.

Dengan tangan kosong, Sudiro kembali ke rumah. Jayanti sudah duduk di ruang tamu, wajahnya pucat pasi.

"Sudah, Mas. Biarkan dia pergi. Mungkin itu yang terbaik," katanya lirih.

"Terbaik bagaimana?! Dia anak kita! Anak tunggal kita!"

"Iya, Mas. Tapi lihatlah. Lihat apa yang terjadi dengan dia di sini. Kita terlalu memanjakannya. Kita membuatnya manja dan sombong. Mungkin di kota, dia akan belajar. Mungkin di kota, hidup akan mengajarinya arti perjuangan."

Sudiro menghela napas panjang. Ia duduk di samping istrinya, memeluknya erat.

"Aku takut, Jay. Takut dia kenapa-napa di sana."

"Aku juga, Mas. Tapi kita harus percaya. Percaya bahwa dia akan baik-baik saja. Dan percaya bahwa suatu hari dia akan pulang."

Mereka berpelukan, menangis bersama.

Di luar, matahari terus bersinar. Burung-burung terus berkicau. Hidup terus berjalan.

Namun di hati Pak Sudiro dan Ibu Jayanti, ada lubang yang tak terisi. Lubang berbentuk anak tunggal mereka yang pergi tanpa pamit.

Sementara itu, di dalam bus malam yang melaju meninggalkan Desa Jelapat, Aji Wungkal duduk di kursi dekat jendela.

Ia memandang ke luar, melihat pepohonan sawit yang berlarian ke belakang. Desa kelahirannya semakin menjauh, semakin kecil, semakin kabur.

Hatinya campur aduk. Ada sedih karena meninggalkan orang tua. Ada marah karena merasa tak dipahami. Ada bangga karena akhirnya bisa mandiri. Ada takut karena tak tahu apa yang akan dihadapi.

"Lo ngapain, Bang, merenung melulu?" tegur penumpang di sampingnya. Seorang lelaki seusianya, dengan rambut gondrong dan tato di lengan.

Aji menoleh. "Nggak, nggak apa-apa."

"Orang Jelapat, ya? Saya lihat lo naik dari sana."

"Iya. Lo juga?"

"Gue orang Sampit. Tapi sering lewat Jelapat. Desa lo indah ya, banyak kebun."

Aji tersenyum getir. "Indah. Tapi gue muak."

"Muak kenapa?"

Gue muak sama semuanya. Sama orang tua yang terlalu protektif. Sama warga desa yang suka gosip. Sama kehidupan yang itu-itu saja. Gue mau ke kota. Mau jadi orang sukses. Mau buktikan bahwa gue bisa."

Lelaki itu tersenyum. "Nama lo siapa?"

"Aji. Aji Wungkal. Lo?"

"Gue Yanto. Panggil aja Yan. Gue juga mau ke kota. Cari kerja. Kabur dari desa karena orang tua gue miskin. Mau buktikan bahwa orang miskin juga bisa sukses."

Mereka berjabat tangan. Dan di dalam bus malam itu, terjalinlah persahabatan yang akan mengubah hidup Aji selamanya.

Yanto bukan orang baik-baik. Ia mantan preman pasar yang beberapa kali masuk penjara. Ia kenal dunia gelap, kenal mafia, kenal segala macam cara cepat kaya. Dan ia akan mengenalkan semua itu pada Aji.

Namun Aji tak tahu.

Ia hanya senang punya teman baru. Teman yang bisa diajak ngobrol, yang tak menilai, yang tak menggurui.

Ia tak tahu bahwa pertemuan ini adalah awal dari kehancuran.

Ia tak tahu bahwa di kota nanti, ia akan bertemu dengan berbagai macam orang. Orang baik, orang jahat. Orang tulus, orang munafik. Orang yang akan menolong, dan orang yang akan menjerumuskan.

Ia tak tahu bahwa di kota nanti, ia akan menikah dengan Yulia, gadis baik-baik yang sabar dan setia. Ia akan punya anak, Purnomo, yang menjadi cahaya matanya.

Ia tak tahu bahwa di kota nanti, ia akan bertemu Rubiah, perempuan ambisius yang akan menghancurkan rumah tangganya.

Ia tak tahu bahwa di kota nanti, ia akan kecanduan judi online, kehilangan segalanya, dan terpaksa kembali ke desa untuk meminta harta orang tuanya.

Ia tak tahu bahwa semua itu akan terjadi.

Saat ini, ia hanya seorang pemuda dua puluh tahun yang duduk di bus malam, menatap ke luar jendela, bermimpi tentang masa depan yang gemilang.

Mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.

Mimpi yang akan berakhir tragis di jalan lintas kota, di bawah guyuran hujan, di dalam mobil hancur bersama perempuan yang dicintainya.

Namun itu semua masih jauh.

Sangat jauh.

Bus malam terus melaju, meninggalkan Desa Jelapat, meninggalkan masa lalu, menuju masa depan yang kelam.

Dan Aji Wungkal, anak tunggal harapan keluarga, tak tahu bahwa ia sedang berjalan menuju jurang kehancuran.

BAGIAN II

KEHIDUPAN BARU DI KOTA

Bus malam itu tiba di kota Sampit pukul lima pagi.

Matahari belum terbit, namun langit timur sudah mulai merekah jingga. Kabut tipis menyelimuti terminal, bercampur asap knalpot bus-bus yang datang dan pergi. Suara mesin menderu, suara calo berteriak, suara burung gereja yang bangun lebih awal—semuanya bercampur menjadi simfoni pagi yang khas terminal.

Aji turun dari bus dengan kaki sempoyongan. Perjalanan delapan jam membuat seluruh tubuhnya pegal. Matanya perih karena kurang tidur. Kepalanya pusing karena selama di bus ia hanya tidur-tidur ayam.

"Ini Sampit?" tanyanya pada Yanto yang turun di belakangnya.

"Iya. Selamat datang di kota tercinta," jawab Yanto sambil menguap lebar. "Lo punya kenalan di sini?"

Aji menggeleng. "Nggak ada. Lo?"

Yanto tersenyum lebar. "Banyak, dong. Gue kan orang sini. Ikut aja sama gue. Nanti gue kenalin sama temen-temen gue."

Aji ragu. Ia tak kenal Yanto. Baru bertemu semalam di bus. Namun di mana lagi ia bisa pergi? Ia tak punya siapa-siapa di kota ini. Maka ia mengangguk.

"Oke. Gue ikut."

Mereka berjalan keluar terminal. Udara pagi Sampit terasa lembab, berbeda dengan udara desa yang sejuk. Aji menarik napas dalam-dalam, mencoba membiasakan diri.

Di luar terminal, Yanto melambai pada seorang tukang ojek.

"Bang, ke Jalan Sembuluh. Gang Mawar. Berapa?"

"Tiga puluh ribu, Bang."

"Mahal amat. Dua puluh aja."

"Ya udah, dua puluh lima. Naik."

Aji dan Yanto naik ke dua ojek berbeda. Motor melaju meninggalkan terminal, memasuki jalan-jalan kota yang mulai ramai. Aji memandang kiri kanan, melihat gedung-gedung, toko-toko, rumah-rumah yang berjejer rapi. Kota Sampit lebih besar dari yang ia bayangkan. Lebih ramai. Lebih hiruk pikuk.

"Kota yang besar," gumamnya.

Ojek berhenti di sebuah gang sempit. Gang Mawar namanya. Di kanan kiri gang, rumah-rumah petak berjejer rapat. Catnya kusam, atapnya banyak yang bocor, namun ada kehidupan di sana. Anak-anak bermain bola di gang, ibu-ibu memasak di dapur terbuka, bapak-bapak duduk-duduk sambil ngopi.

Yanto turun dari ojek, membayar, lalu menepuk pundak Aji.

"Ini tempat tinggal gue. Kontrakan murah meriah. Lo bisa numpang sementara."

Aji memandang rumah petak itu. Kecil, kusam, tapi terlihat hangat. Ia mengangguk.

"Makasih, Yan."

Hari-hari pertama Aji di kota dihabiskan untuk berkeliling mencari kerja.

Ia tak punya keahlian khusus. Lulusan SMA, nilai pas-pasan, pengalaman nol besar. Namun ia punya semangat. Semangat untuk membuktikan bahwa ia bisa sukses.

Yanto memperkenalkannya pada teman-temannya. Ada Joni, sopir truk yang suka mabuk. Ada Alex, kenek truk yang suka judi. Ada Budi, preman pasar yang suka memalak. Ada Heru, tukang ojek yang suka nyabu.

Aji bergaul dengan mereka semua. Bukan karena ia suka, tetapi karena ia butuh koneksi. Ia pikir, dengan kenal banyak orang, akan mudah cari kerja.

Namun kenyataan berkata lain.

Setiap hari ia melamar kerja. Ke toko, ke pabrik, ke bengkel, ke mana saja. Namun selalu ditolak. Entah karena ijazahnya tak cukup, entah karena tampangnya yang seperti anak orang kaya yang manja.

"Maaf, kami cari yang berpengalaman," kata pemilik toko.

"Maaf, kami cari yang lulusan SMK," kata pabrik.

"Maaf, lowongan sudah tutup," kata bengkel.

Aji frustrasi. Uang tabungannya mulai menipis. Ia hanya punya sisa lima ratus ribu rupiah. Cukup untuk makan seminggu, tapi tak cukup untuk sewa kontrakan.

"Gue gagal, Yan," keluhnya suatu malam. "Gue kira di kota gampang cari kerja. Ternyata susah."

Yanto yang sedang merokok di teras hanya tersenyum. "Ya begitulah, Ji. Hidup di kota nggak semudah yang lo bayangkan. Banyak yang lebih pintar, lebih berpengalaman, lebih necis dari lo. Lo harus sabar."

"Tapi uang gue tinggal sedikit. Sebulan lagi habis."

Yanto menghela napas. "Gue ada tawaran, Ji. Tapi lo harus siap mental."

"Apa?"

"Ikut gue jaga malam di pasar. Bayarannya lumayan. Tapi kerjanya agak... keras."

Aji mengerutkan kening. "Maksud lo?"

"Gue jagain lapak-lapak di pasar. Bayaran dari pedagang. Tapi kalau ada yang nakal, gue harus bertindak."

Aji mengerti. Yanto menawarinya pekerjaan sebagai preman. Sebagai penjaga pasar dengan cara-cara kekerasan.

Ia diam beberapa saat. Pikirannya berkecamuk. Ia anak orang kaya. Ia tak pernah bekerja kasar, apalagi jadi preman. Namun apa pilihan lain? Pulang ke desa dengan tangan kosong? Malu. Gengsinya tak mengizinkan.

"Gue terima," katanya akhirnya.

Yanto tersenyum. "Nah, gitu dong. Besok mulai ya."

Hidup Aji berubah sejak malam itu.

Ia jadi preman pasar. Setiap malam, bersama Yanto dan beberapa anak buahnya, ia berkeliling pasar, memastikan semua aman. Kadang ada maling, mereka kejar. Kadang ada preman lain, mereka usir. Kadang ada pedagang yang nunggak setoran, mereka tagih dengan cara keras.

Aji tak bangga dengan pekerjaannya. Tapi ia butuh uang. Dan pekerjaan ini memberinya uang. Lumayan banyak, malah.

Namun di balik semua itu, ada sisi lain Aji yang tak pernah ia tunjukkan. Sisi yang lembut, sisi yang baik, sisi yang ingin berubah.

Sisi itu muncul saat ia bertemu Yulia.

Yulia adalah penjual gorengan di pasar.

Setiap sore, ia datang dengan gerobak kecilnya, menjual pisang goreng, tahu isi, risoles, dan berbagai gorengan lainnya. Usianya baru dua puluh tahun, namun wajahnya sudah menunjukkan ketegaran seorang pejuang hidup. Ia yatim piatu, tinggal dengan neneknya yang sudah renta. Dari jualan gorengan, ia menghidupi mereka berdua.

Aji pertama kali melihat Yulia saat sedang jaga malam. Waktu itu jam sembilan malam, Yulia masih berjualan. Padahal pasar sudah sepi, pembeli tak ada.

"Mbak, kok masih jualan? Udah malem," tegur Aji.

Yulia menoleh. Wajahnya cantik, meski agak kusam karena debu pasar. Senyumnya manis, meski agak lelah.

"Iya, Mas. Masih nunggu pembeli. Nenek lagi sakit, butuh obat."

Aji merasa iba. Ia mengeluarkan uang dua puluh ribu dari sakunya.

"Sini, saya beli semua gorengan yang ada."

Yulia terkejut. "Lho, Mas? Ini banyak, Mas. Nggak habis."

"Nggak apa-apa. Buat teman-teman saya jaga malam. Mereka suka gorengan."

Yulia tersenyum. Senyum yang tulus. "Terima kasih, Mas. Makasih banyak."

Sejak malam itu, Aji sering mampir ke lapak Yulia. Bukan hanya beli gorengan, tapi juga ngobrol. Mereka bicara tentang banyak hal. Tentang kehidupan, tentang mimpi, tentang masa depan.

"Mas Aji asli mana?" tanya Yulia suatu hari.

"Jelapat. Desa kecil di Seruyan."

"Jauh juga. Kok bisa ke Sampit?"

Aji menghela napas. "Ceritanya panjang. Intinya, mau cari hidup baru."

Yulia mengangguk. "Saya ngerti. Saya juga begitu. Ditinggal orang tua, tinggal sama nenek. Harus hidup sendiri."

Aji memandang Yulia dengan rasa hormat. Gadis ini, meski hidup susah, tak pernah mengeluh. Ia selalu tersenyum, selalu semangat, selalu berusaha.

Berbeda dengan dirinya yang manja dan mudah menyerah.

"Lo hebat, Yul," katanya tulus. "Gue kagum sama lo."

Yulia tersipu. "Ah, Mas Aji bercanda."

"Nggak. Gue serius."

Mereka bertatapan. Dan di saat itu, sesuatu tumbuh di antara mereka.

Cinta.

Hubungan Aji dan Yulia berkembang cepat.

Mereka makin sering bertemu. Aji selalu menyempatkan diri mampir ke lapak Yulia, meski hanya untuk lima menit. Yulia selalu menyiapkan gorengan favorit Aji—pisang goreng—tanpa diminta.

Teman-teman Aji mulai menggoda.

"Wah, si Aji lagi kasmaran," ledek Yanto.

"Udah punya calon istri nih kayaknya," goda Joni.

Aji hanya tersenyum. Ia tak peduli. Ia bahagia.

Setahun berlalu. Aji dan Yulia memutuskan untuk menikah.

Pernikahan sederhana. Hanya dihadiri teman-teman Aji dan beberapa tetangga Yulia. Tak ada keluarga dari Aji, karena ia belum berani memberi tahu orang tuanya. Ia masih malu, masih ingin membuktikan diri dulu sebelum pulang.

Namun di hari pernikahannya, Aji menulis surat untuk orang tuanya.

"Ma, Pa.

Saya sudah menikah. Namanya Yulia. Dia baik, dia sabar, dia sayang sama saya. Kami tinggal di Sampit. Saya kerja jaga pasar. Mungkin tidak seperti yang kalian harapkan, tapi setidaknya saya halal. Doakan kami.

Suatu hari saya akan pulang. Membawa istri, dan semoga anak-anak kami. Maafkan saya yang belum bisa jadi anak baik.

—Aji"

Pak Sudiro membaca surat itu berulang kali. Air matanya jatuh. Jayanti menangis di sampingnya.

"Dia menikah, Jay. Anak kita menikah."

"Syukurlah, Mas. Semoga bahagia."

Mereka tak tahu bahwa pernikahan itu akan menjadi awal dari kebahagiaan, namun juga awal dari kehancuran.

Setahun setelah menikah, Yulia hamil.

Kabar itu membuat Aji bahagia bukan kepalang. Ia berlari-lari kecil di kontrakan sempitnya, tertawa, menari, seperti anak kecil yang dapat mainan baru.

"Gue mau jadi bapak! GUE MAU JADI BAPAK!" teriaknya.

Yulia tertawa melihat tingkah suaminya. "Iya, iya. Tapi jangan lari-lari, nanti jatuh."

Aji berhenti, lalu memeluk istrinya erat. "Makasih, Yul. Makasih."

"Makasih buat apa?"

"Makasih udah mau jadi istri gue. Makasih udah mau mengandung anak gue. Makasih udah sabar sama gue."

Yulia tersenyum. Ia membalas pelukan suaminya. "Aku juga makasih, Mas. Makasih udah mau nerima aku apa adanya."

Mereka berpelukan lama, menikmati kebahagiaan yang sederhana namun tulus.

Sembilan bulan berlalu.

Yulia melahirkan di rumah bersalin sederhana di pinggiran Sampit. Prosesnya lama, melelahkan, bahkan sempat hampir fatal karena Yulia kehabisan darah. Namun akhirnya, bayi itu lahir selamat.

Bayi laki-laki.

Sehat, sempurna, dengan tangisan yang keras.

Aji menerima bayinya dengan tangan bergetar. Air matanya jatuh membasahi pipi. Ia tak bisa berkata-kata. Hanya bisa menatap wajah mungil itu dengan penuh cinta.

"Ini dia, Yul. Anak kita," bisiknya.

Yulia tersenyum lemah. Wajahnya pucat, namun matanya berbinar. "Kasih nama apa, Mas?"

Aji memandang bayinya. Di wajah mungil itu, ia melihat masa depan. Ia melihat harapan. Ia melihat kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik.

"Purnomo," katanya. "Artinya cahaya. Dia akan jadi cahaya dalam hidup kita."

"Purnomo... cantik sekali namanya."

Sejak saat itu, Purnomo menjadi pusat dunia Aji dan Yulia.

Hidup Aji berubah setelah kelahiran anaknya.

Ia bekerja lebih giat. Tak hanya jaga malam di pasar, ia juga jadi kuli bangunan kalau ada proyek. Ia jadi tukang ojek kalau sedang lowong. Ia jadi apa saja yang penting halal dan menghasilkan uang.

"Lo kok kerja keras banget, Ji?" tanya Yanto suatu hari.

Aji tersenyum. "Gue punya anak, Yan. Harus cari uang buat susu, buat popok, buat sekolah nanti."

"Tapi lo kerja hampir dua puluh jam sehari. Capek, dong."

"Capek? Ya capek. Tapi lihat anak gue tidur, lihat dia tersenyum, semua capek hilang."

Yanto menggeleng-geleng kepala. "Lo berubah, Ji. Dulu lo manja, males. Sekarang rajin banget."

"Ya namanya juga jadi bapak. Harus bertanggung jawab."

Aji memang berubah. Ia mulai meninggalkan kebiasaan buruknya. Ia berhenti minum-minum, berhenti main kartu, berhenti bergaul dengan preman-preman nakal. Ia hanya fokus pada keluarga.

Yanto kadang heran, kadang iri, tapi ia tetap mendukung sahabatnya.

"Lo hebat, Ji. Gue salut."

Purnomo tumbuh menjadi anak yang cerdas dan lucu.

Di usia satu tahun, ia sudah bisa berjalan. Di usia dua tahun, ia sudah bisa bicara banyak kata. Di usia tiga tahun, ia sudah hafal doa-doa pendek yang diajarkan ibunya.

Aji sangat sayang pada Purnomo. Setiap pulang kerja, ia selalu mengajaknya bermain. Main cilukba, main petak umpet, main mobil-mobilan dari kardus bekas. Tak perlu mainan mahal, yang penting kebersamaan.

"Pa, Purnomo mau es krim," pinta Purnomo suatu sore.

Aji tersenyum. "Iya, Nak. Nanti Papa belikan."

"Beli yang coklat, Pa. Yang pake toping."

"Iya, iya."

Aji menggendong anaknya, lalu berjalan ke warung es krim di ujung gang. Di sana, ia membelikan es krim coklat dengan toping meses warna-warni. Purnomo makan dengan lahap, wajahnya belepotan coklat.

"Enak, Pa!" serunya.

Aji tertawa. Ia mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih.

"Iya, Nak. Makan yang banyak, biar besar."

Malam harinya, saat Purnomo sudah tidur, Aji bicara pada Yulia.

"Yul, gue pengin pulang kampung."

Yulia mengerutkan kening. "Pulang? Ke Jelapat?"

"Iya. Gue pengin kenalin Purnomo sama kakek neneknya. Mereka belum pernah lihat cucu. Kasihan."

Yulia diam. Ia tahu hubungan Aji dengan orang tuanya rumit. Tapi ia juga tahu, Aji butuh berdamai dengan masa lalunya.

"Terserah Mas. Aku ikut aja."

"Tapi bukan sekarang, Yul. Masih belum cukup uangnya. Nanti kalau sudah lebih mapan, kita pulang. Janji."

Yulia mengangguk. "Iya, Mas. Aku tunggu."

Namun janji itu tak pernah ditepati.

Karena sebelum Aji sempat pulang, Rubiah masuk dalam hidupnya.

Dan segalanya hancur.

Tahun kelima Aji di Sampit adalah tahun yang menentukan.

Usahanya mulai maju. Dari jaga pasar, ia sekarang punya kios kecil di pasar yang sama. Ia jualan sembako, kebutuhan pokok, barang-barang sehari-hari. Yulia yang mengurus kios, sementara Aji masih jaga malam untuk tambahan penghasilan.

Purnomo, yang kini berusia empat tahun, mulai sekolah di TK dekat rumah. Ia anak yang cerdas, disayang guru, dan punya banyak teman.

Hidup mereka sederhana, tapi bahagia.

Namun di balik kebahagiaan itu, ada Aji yang mulai gelisah. Ia merasa jenuh. Rutinitas yang itu-itu saja membuatnya bosan. Ia ingin lebih. Lebih kaya, lebih sukses, lebih diakui.

Dan di saat itulah ia bertemu kembali dengan Yanto.

Yanto, sahabat lamanya, sudah berubah. Ia sekarang jadi pengusaha. Punya mobil mewah, pakaian mahal, dan banyak teman berduit. Ia sering mengajak Aji keluar, makan di restoran mahal, nongkrong di kafe elit.

"Lo kaya raya, Yan?" tanya Aji suatu hari.

Yanto tertawa. "Ya lumayanlah, Ji. Lo juga bisa, kok. Asal mau."

"Mau apa?"

Yanto merendahkan suaranya. "Investasi. Gue punya banyak kenalan di kalangan atas. Ada yang punya bisnis properti, ada yang punya tambang, ada yang punya judi."

Aji mengernyit. "Judi? Judi online?"

"Online, offline, semua ada. Lo tahu, Ji, judi itu bisnis paling menguntungkan. Yang main bisa kaya, yang punya bandar lebih kaya lagi. Lo mau ikut? Gue kenalin sama bosnya."

Aji ragu. Ia ingat janjinya pada Yulia. Ia ingat sumpahnya untuk berhenti judi. Tapi di sisi lain, godaan itu besar. Ia lihat Yanto yang kaya raya, sementara ia masih hidup pas-pasan.

"Aku pikirin dulu, Yan."

"Ya udah. Tapi jangan lama-lama, Ji. Kesempatan nggak datang dua kali."

Malam itu, Aji pulang dengan pikiran kacau.

Ia memandangi kontrakannya yang sempit. Memandangi Yulia yang sedang menjahit baju Purnomo yang sobek. Memandangi Purnomo yang tidur pulas di dipan bambu.

"Kenapa, Mas?" tanya Yulia melihat raut wajah suaminya yang berubah.

"Nggak, nggak apa-apa."

"Mas, aku tahu kamu ada masalah. Cerita aja."

Aji menghela napas. "Yul, kalau ada kesempatan buat kita lebih kaya, lo mau?"

Yulia mengerutkan kening. "Maksud Mas?"

"Investasi. Temen gue, Yanto, nawarin ikut bisnis. Katanya bisa bikin kita kaya."

Yulia diam sebentar. "Bisnis apa, Mas?"

"Bisnis... properti. Dan lain-lain."

Yulia tak bodoh. Ia tahu maksud Aji. Ia tahu Yanto dan kawanannya bukan pengusaha properti, tapi bandar judi.

"Mas, jangan. Aku nggak mau Mas ikut-ikut bisnis kayak gitu. Kita sudah cukup. Nggak usah kaya raya, yang penting halal."

Aji kesal. "Lo pikir cukup? Lihat kontrakan kita, Yul. Lihat baju Purnomo yang lo jahit itu. Lihat hidup kita. Ini cukup menurut lo?"

Yulia terkejut. Aji jarang bicara keras padanya.

"Maaf, Mas. Aku hanya—"

"Udah, lo istirahat aja. Gue mau keluar bentar."

Aji pergi, meninggalkan Yulia dengan hati hancur.

Seminggu kemudian, Aji menemui Yanto.

"Gue setuju, Yan. Gue ikut."

Yanto tersenyum lebar. "Nah, gitu dong. Besok gue kenalin sama bosnya."

Malam itu, di sebuah rumah mewah di pinggiran Sampit, Aji bertemu dengan bos judi online terbesar di Kalimantan Tengah.

Namanya Liong. Orang Tionghoa-Indonesia, usia lima puluhan, tubuh gempal, wajah ramah namun matanya tajam. Ia duduk di sofa kulit mewah, dikelilingi oleh anak buahnya yang bertato.

"Jadi, ini Aji? Temennya Yanto?" sapa Liong ramah.

Aji mengangguk. "Iya, Bos."

"Duduk, duduk. Santai aja. Yanto udah cerita banyak tentang lo. Lo anak baik, katanya. Rajin, setia, dan lagi butuh duit."

Aji duduk di sofa. Gugup, tapi berusaha tenang.

"Gue suka orang butuh duit. Orang butuh duit itu gampang diatur. Asal lo mau kerja keras, lo bisa kaya raya di sini."

"Kerja apa, Bos?"

Liong tersenyum. "Lo ikut gue, lo jadi agen judi online. Lo cari pemain, lo dapat komisi. Gampang. Pemain menang, lo untung. Pemain kalah, lo untung juga."

Aji mengerti. Ia akan jadi calo judi. Menjaring orang-orang untuk bermain di situs Liong.

"Gue setuju, Bos."

"Bagus. Besok mulai."

Aji terjun ke dunia baru.

Setiap hari, ia mencari pemain. Ke pasar, ke warung, ke kafe, ke mana saja. Ia menawarkan judi online pada siapa pun yang ditemui. Ada yang tertarik, ada yang menolak. Tapi seiring waktu, jaringan Aji semakin besar.

Yulia tahu, tapi ia diam. Ia takut. Takut kehilangan suaminya. Takut ditinggal seperti istri-istri lain yang suaminya terjerumus judi.

Aji berubah. Ia pulang makin malam, bahkan kadang tak pulang sama sekali. Ia jarang bicara dengan Yulia. Ia jarang main dengan Purnomo. Uangnya memang banyak, tapi kebahagiaan keluarganya hilang.

"Pa, Purnomo kangen," rengek Purnomo suatu malam saat Aji pulang.

Aji, yang lelah dan pusing, mengabaikannya. "Pa lagi capek, Nak. Tidur sana."

Purnomo menangis. Yulia menenangkannya, tapi hatinya perih.

Malam itu, Yulia berdoa. Berdoa agar suaminya sadar. Berdoa agar keluarganya kembali utuh.

Tapi doanya tak dijawab.

Karena makin lama, Aji makin dalam terjerumus.

Dan di saat itulah Rubiah muncul.

Tahun pertama Aji jadi agen judi online berjalan lancar.

Ia mendapat komisi besar dari setiap pemain yang ia bawa. Uang mengalir deras ke kantongnya. Ia bisa menyewa rumah yang lebih layak, membeli mobil bekas, menyekolahkan Purnomo di TK yang lebih bagus.

Yulia mulai menerima. Meski tak suka dengan pekerjaan suaminya, ia tak bisa memungkiri bahwa kehidupan mereka membaik.

"Mas, ini rezeki nggak berkah," katanya suatu hari.

Aji tertawa. "Berkah atau nggak, yang penting kita bisa makan enak, bisa tidur nyenyak. Lo mau balik ke kontrakan sempit, jualan gorengan?"

Yulia diam. Ia tak mau. Tapi hatinya tak tenang.

"Mas, janji sama aku. Jangan main judi. Jangan sampai terjerumus. Cukup jadi agen aja."

Aji mengangguk. "Iya, iya. Gue janji."

Namun janji itu mudah diucapkan, sulit ditepati.

Semua berawal dari rasa penasaran.

Suatu malam, Aji sedang menunggui pemainnya yang sedang judi online di situs Liong. Pemain itu, seorang pedagang kaya, main dengan taruhan besar. Dalam satu jam, ia menang puluhan juta.

"Gila, gampang banget," gumam pemain itu.

Aji, yang melihat dari dekat, mulai tertarik. Ia membayangkan kalau ia yang main, ia bisa menang lebih banyak. Ia bisa kaya dalam semalam. Ia bisa membeli rumah mewah, mobil baru, segala yang ia inginkan.

"Mau coba, Ji?" tanya pemain itu.

Aji ragu. "Gue... gue nggak punya modal."

"Ah, modal kecil aja. Sepuluh ribu aja bisa. Coba dulu."

Aji tergoda. Ia mengeluarkan uang sepuluh ribu dari sakunya, lalu memasang taruhan.

Ia menang.

Langsung dapat dua puluh ribu.

Aji tersenyum. "Wah, gampang juga."

Ia pasang lagi. Menang lagi. Pasang lagi. Menang lagi.

Dalam waktu setengah jam, Aji mengantongi dua ratus ribu dari modal sepuluh ribu.

"Gila!" serunya.

Sejak malam itu, Aji mulai main judi. Awalnya kecil-kecilan, hanya saat ada waktu luang. Namun lama-lama, ia makin ketagihan. Makin besar taruhannya. Makin sering ia main.

Yulia mulai curiga saat melihat suaminya sering begadang di depan laptop. Saat uang belanja mulai berkurang. Saat tabungan mereka mulai terkuras.

"Mas, Mas main judi?" tanyanya suatu malam.

Aji tersentak. Laptopnya hampir jatuh. "Apa? Nggak, nggak kok."

"Jangan bohong, Mas. Aku lihat sendiri."

Aji menghela napas. Ia tahu tak bisa berbohong lagi.

"Iya, Yul. Gue main. Tapi cuma kecil-kecilan. Nggak apa-apa."

Yulia menangis. "Mas, Mas janji sama aku! Mas bilang cuma jadi agen, nggak main!"

"Iya, tapi—"

"Tapi apa?! Judi itu haram, Mas! Nggak ada berkahnya!"

Aji marah. "Lo pikir gue nggak tahu? Gue tahu! Tapi lo lihat, kita bisa punya rumah bagus, mobil, sekolah bagus buat Purnomo, semua dari judi!"

"ITU HARAM, MAS! Haram!"

Mereka bertengkar hebat malam itu. Yulia menangis sejadi-jadinya. Purnomo terbangun dan ikut menangis. Aji keluar rumah, menginap di tempat Yanto.

Namun esok harinya, Aji kembali main judi.

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Kecanduan tak bisa dihentikan dengan omelan. Kecanduan butuh pertolongan. Tapi Aji tak mau ditolong. Ia merasa bisa mengendalikan diri. Ia merasa akan berhenti kalau sudah menang besar.

Tapi penjudi tak pernah menang besar. Mereka hanya terus kalah, terus mengejar kekalahan, terus terjerumus makin dalam.

Setahun kemudian, Aji sudah kehilangan banyak uang.

Tabungannya habis. Rumah yang ia sewa terancam diusir karena tak bayar kontrakan. Mobilnya sudah dijual untuk menutup utang. Purnomo terpaksa pindah ke sekolah yang lebih murah.

Yulia sudah tak kuat lagi. Setiap hari ia menangis. Setiap hari ia berdoa. Namun Aji tak juga sadar.

"Mas, kita harus ngomong serius," katanya suatu malam.

Aji, yang lagi sibuk main judi di laptop, tak menoleh. "Ngobrol nanti. Ini lagi seru."

Yulia mematikan laptop.

"HEI! Apa-apaan lo?!"

"Ini serius, Mas. Aku nggak kuat lagi."

Aji terkejut melihat raut wajah istrinya. Yulia terlihat lelah, pucat, matanya sembab.

"Mas, aku hamil lagi."

Aji terbelalak. "Hamil?!"

"Iya. Tapi aku nggak tahu harus senang atau sedih. Dengan keadaan kita begini, dengan Mas terus main judi, aku nggak tahu anak ini bisa hidup atau nggak."

Aji terdiam. Ia memeluk Yulia erat.

"Maafin gue, Yul. Maafin gue. Gue janji, gue akan berhenti."

Yulia menangis di pelukannya. "Beneran, Mas?"

"Beneran. Demi anak kita."

Namun janji itu lagi-lagi tak ditepati.

Seminggu kemudian, Aji sudah main judi lagi.

Dan kali ini, ia kalah lebih besar dari sebelumnya.

Rubiah lahir dari keluarga miskin di sebuah desa terpencil di Kalimantan Selatan.

Ayahnya buruh tani, ibunya pembantu rumah tangga. Ia anak kelima dari enam bersaudara. Hidupnya keras sejak kecil. Tak pernah merasakan kemewahan, tak pernah punya mainan bagus, tak pernah makan di restoran.

Namun Rubiah punya satu kelebihan: ia cantik. Cantik sekali. Kulit putih, rambut panjang hitam berkilau, mata besar dengan bulu mata lentik, tubuh proporsional. Kecantikannya membuat banyak lelaki tergila-gila.

Sejak remaja, Rubiah sudah bermimpi untuk hidup mewah. Ia tak mau jadi orang miskin seperti orang tuanya. Ia ingin kaya, ingin punya rumah besar, mobil mewah, perhiasan mahal. Dan ia yakin, kecantikannya adalah tiket menuju impian itu.

"Mbak Rubiah cantik, cocok jadi artis," puji teman-temannya.

"Cantik doang, tapi miskin," sindir yang lain.

Rubiah tak peduli. Ia terus berusaha. Setelah lulus SMA, ia merantau ke Sampit. Mencari kerja, mencari peluang, mencari lelaki kaya yang bisa mengubah nasibnya.

Ia kerja jadi SPG di mal, jadi pramuniaga di butik, jadi resepsionis di hotel. Di setiap tempat, ia selalu mencari perhatian lelaki. Tapi lelaki yang datang kebanyakan kelas menengah, tak cukup kaya untuk memenuhi impiannya.

Hingga suatu hari, ia bertemu Yanto di sebuah kafe.

"Lo cantik, Mbak. Mau kenalan?" goda Yanto.

Rubiah memandang Yanto. Lelaki ini pakai baju mahal, jam tangan mewah, sepatu branded. Pasti orang kaya, pikirnya.

"Boleh. Siapa nama?" jawabnya manis.

"Gue Yanto. Lo?"

"Rubiah."

Sejak itu, mereka sering bertemu. Yanto mengenalkan Rubiah pada teman-temannya. Dan di sanalah Rubiah melihat Aji.

Aji pertama kali melihat Rubiah di sebuah pesta di rumah Liong.

Waktu itu Aji sedang sibuk mengurus pemain judi online yang baru menang besar. Ia tak sengaja menabrak Rubiah yang sedang membawa minuman. Gaun merah Rubiah basah kena jus jambu.

"Awas! Mata lo di mana?!" sentak Rubiah.

Aji menoleh. Dan waktu seakan berhenti.

Perempuan di depannya begitu cantik. Cantik yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Lebih cantik dari artis-artis di TV. Lebih cantik dari bintang iklan.

"Maaf... maaf, Mbak. Gue nggak sengaja," ucap Aji gugup.

Rubiah mendelik. "Nggak sengaja? Mata lo pake buat apa? Gue lagi nggak gerak, lo nabrak gue!"

Aji tersenyum kaku. "Gue ganti, Mbak. Gue beliin baju baru."

Rubiah melirik Aji. Dari pakaiannya, ia tahu Aji bukan orang sembarangan. Baju batik mahal, sepatu kulit mengkilap, jam tangan seharga puluhan juta. Orang kaya, pikirnya.

"Bener? Lo ganti?"

"Iya. Besok gue anter ke butik. Lo pilih sendiri."

Rubiah tersenyum. Senyum yang tiba-tiba berubah dari marah menjadi manis.

"Oke deh. Ini nomor gue. Hubungi besok."

Aji menyimpan nomor itu dengan hati berdebar.

Ia tak tahu bahwa pertemuan singkat itu akan menghancurkan hidupnya.

Pertemuan kedua terjadi seminggu kemudian.

Aji menepati janjinya. Ia mengantar Rubiah ke butik termahal di Sampit. Rubiah memilih gaun seharga tiga juta, dan Aji membayarnya tanpa banyak bicara.

"Makan yuk, sebagai ganti rugi tambahan," ajak Rubiah.

Aji mengangguk. Mereka makan di restoran mewah. Ngobrol, tertawa, saling bercerita. Aji merasa nyaman dengan Rubiah. Perempuan ini berbeda dari Yulia. Lebih modern, lebih gaul, lebih bisa diajak bicara tentang hal-hal yang Aji suka: uang, bisnis, mobil mewah, kehidupan glamor.

"Lo udah nikah, Ji?" tanya Rubiah.

Aji ragu sejenak. "Udah."

Rubiah tak terkejut. Ia sudah menduga. Lelaki kaya sepertinya pasti sudah beristri.

"Bahagia?"

Aji menghela napas. "Biasa aja."

"Maksudnya?"

"Gue... gue ngerasa istri gue nggak ngerti gue. Dia terlalu alim, terlalu kolot. Nggak ngerti dunia gue sekarang."

Rubiah tersenyum. Ia paham maksud Aji. Ia sering melihat lelaki seperti ini: lelah dengan istri yang 'membosankan', mencari pelarian pada perempuan lain.

"Mungkin lo butuh teman ngobrol. Teman yang ngerti lo."

Aji menatap Rubiah. "Lo mau jadi teman gue?"

Rubiah tersenyum genit. "Mau aja."

Sejak saat itu, hubungan mereka makin dekat. Sering bertemu, sering ngobrol, sering jalan bersama. Aji merasa hidupnya berwarna lagi. Rubiah memberinya gairah yang hilang setelah bertahun-tahun menikah.

Namun di balik semua itu, Rubiah punya rencana.

Ia tak hanya ingin jadi teman Aji. Ia ingin lebih. Ia ingin menikah dengan Aji. Ingin jadi istri orang kaya. Ingin hidup mewah seperti yang selalu diimpikannya.

Dan ia akan melakukan apa saja untuk mencapai impian itu.

Suatu malam, di sebuah hotel berbintang, Aji dan Rubiah bermesraan.

"Ji, lo sayang nggak sama gue?" bisik Rubiah.

Aji mengelus rambutnya. "Sayang banget."

"Kalau gitu, lo nikahin gue."

Aji terkesiap. "Nikah? Tapi gue udah punya istri."

"Lo cerai aja. Atau nikah siri. Yang penting gue jadi istri lo."

Aji diam. Ia berpikir. Pikirannya kacau. Ia sayang Yulia, tapi ia juga sayang Rubiah. Ia tak mau menyakiti Yulia, tapi ia juga tak mau kehilangan Rubiah.

"Gue pikirin dulu, Rul."

Rubiah cemberut. "Pikirin apaan? Lo nggak sayang gue?"

"Bukan gitu. Tapi—"

"Tapi apa? Lo pilih gue atau dia?"

Aji tak bisa menjawab.

Rubiah menangis. Pura-pura menangis. Tapi Aji tak tahu. Ia hanya melihat Rubiah yang terisak-isak, merasa iba, merasa bersalah.

"Udah, udah. Jangan nangis. Gue janji, gue akan nikahin lo."

Rubiah berhenti menangis. Wajahnya berbinar. "Beneran?"

"Beneran. Tapi kasih gue waktu."

Rubiah memeluk Aji erat. Di dalam hatinya, ia tersenyum puas.

Rencananya berjalan lancar.

Dua minggu kemudian, Aji menikahi Rubiah secara siri.

Tak ada saksi kecuali Yanto dan beberapa teman dekat. Tak ada resepsi, tak ada pesta. Hanya ijab kabul singkat di rumah Liong, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang dua puluh juta.

Aji pulang ke rumah dengan perasaan bersalah. Ia tahu ia telah menyakiti Yulia. Ia tahu ia telah mengkhianati pernikahan mereka. Tapi ia tak bisa menolak Rubiah. Ia terlalu tergila-gila.

Yulia, yang tak tahu apa-apa, menyambutnya dengan senyum.

"Mas, pulang? Aku masak kesukaan Mas. Ayam goreng."

Aji tersenyum getir. "Makasih, Yul."

Malam itu, Aji makan dengan Yulia dan Purnomo. Mereka tertawa bersama, seperti dulu. Namun di hati Aji, ada beban yang tak terucap.

Beban tentang rahasia yang ia sembunyikan.

Rahasia yang akan segera terbongkar.

Dan saat terbongkar nanti, segalanya akan hancur.

BAGIAN III

AWAL KONFLIK

Tiga bulan setelah pernikahan siri Aji dengan Rubiah, rahasia itu mulai menunjukkan celah-celahnya.

Aji semakin sering pulang larut malam. Bahkan kadang tak pulang sama sekali. Yulia yang sabar mulai gelisah. Ia tahu suaminya sedang menyembunyikan sesuatu. Perempuan punya insting yang tajam dalam hal seperti ini.

"Mas, kamu ada masalah?" tanya Yulia suatu malam saat Aji baru pulang pukul dua dini hari.

Aji yang setengah mabuk hanya melengos. "Nggak ada."

"Jangan bohong, Mas. Aku tahu kamu berbohong. Sudah tiga bulan ini kamu berubah."

Aji melepas bajunya dengan kasar. "Lo nggak usah banyak tanya. Urusan gue urusan gue."

Yulia menahan air mata. Ia tak ingin bertengkar di depan Purnomo yang sedang tidur. Tapi hatinya perih. Sangat perih.

"Mas, aku ini istrimu. Apa pun masalahmu, aku harus tahu. Kita harus hadapi bersama."

Aji menatap istrinya. Untuk sesaat, ia merasa iba. Yulia begitu tulus, begitu setia. Sementara ia mengkhianatinya di belakang.

"Gue capek, Yul. Gue mau tidur."

Ia masuk kamar dan membanting pintu.

Yulia duduk di ruang tamu sendirian. Air matanya jatuh perlahan.

Keesokan harinya, Yulia memutuskan untuk menyelidiki.

Ia membuka ponsel Aji yang tertinggal di meja. Biasanya Aji tak pernah lupa membawa ponselnya. Tapi pagi ini, entah kenapa, ia lupa.

Yulia membuka pesan-pesan singkat di ponsel itu.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Pesan-pesan mesra dari seorang perempuan.

"Sayang, kapan ketemu lagi? Aku kangen."

"Tadi malam enak banget. Kamu hebat, Ji."

"Jangan lupa transfer bulanan buat aku, ya. Udah mau habis nih."

"Kapan kamu ceraiin istri kampungmu itu?"

Yulia membaca semua pesan itu dengan tangan gemetar. Dadanya sesak, seolah ditindih beban berton-ton. Matanya panas, tapi air mata tak keluar. Ia terlalu terkejut untuk menangis.

"Ya Allah... ya Allah..."

Ia terus membaca. Menelusuri percakapan demi percakapan. Menemukan foto-foto mesra. Menemukan bukti-bukti perselingkuhan yang tak terbantahkan.

Dan di sanalah ia melihat nama perempuan itu.

Rubiah.

Aji pulang siang itu dengan perasaan was-was.

Ia baru ingat kalau ponselnya tertinggal di rumah. Ia berharap Yulia tak membukanya. Tapi begitu melangkah masuk, ia langsung tahu: Yulia tahu.

Istrinya duduk di ruang tamu dengan wajah pucat. Di tangannya ada ponsel Aji. Di matanya ada luka yang begitu dalam.

"Yul..." bisik Aji.

Yulia mengangkat wajahnya. Matanya merah, sembab. Tapi ia tak menangis. Mungkin air matanya sudah habis.

"Aji," panggilnya dengan nama, bukan 'Mas' seperti biasa. "Duduk."

Aji duduk di hadapannya, seperti murid yang ketahuan berbuat salah.

"Ini apa?" Yulia menunjukkan ponsel itu.

Aji diam.

"Ini apa, Aji? Perempuan ini siapa?"

Masih diam.

"JAWAB!" bentak Yulia, untuk pertama kalinya dalam hidupnya membentak suami.

Aji tersentak. Ia tak pernah melihat Yulia marah seperti ini. Istrinya yang lembut, yang sabar, yang selalu tersenyum, kini berubah menjadi perempuan yang matanya menyala-nyala.

"Rubiah," jawab Aji lirih. "Namanya Rubiah."

Yulia menarik napas panjang. "Rubiah. Cantik ya? Lebih cantik dari aku?"

Aji tak menjawab.

"Kamu selingkuh, Aji. Kamu punya perempuan lain. Berapa lama?"

"Tiga... tiga bulan."

Yulia tertawa pahit. "Tiga bulan. Tiga bulan aku di rumah, masak, bersihin baju, jaga anak, sementara kamu mesra-mesraan dengan perempuan lain."

"Yul, denger—"

"DIAM!" bentak Yulia lagi. "Jangan bicara! Sekarang aku yang bicara!"

Aji membungkam.

"Aku tahu aku cuma istri kampung. Aku tahu aku nggak cantik kayak artis. Aku tahu aku nggak bisa ngasih kamu kemewahan. Tapi aku setia, Aji. Aku nggak pernah selingkuh. Aku nggak pernah main di belakang kamu. Aku nggak pernah ngelakuin hal yang bakal nyakitin kamu."

Air mata Yulia akhirnya jatuh juga.

"Tapi kamu... kamu tega. Kamu tega sama aku. Kamu tega sama Purnomo."

Aji menunduk dalam-dalam. Rasa bersalah menghantamnya.

"Aku minta maaf, Yul. Sungguh, aku minta maaf."

"Maaf?" Yulia tertawa getir. "Kamu pikir maaf bisa memperbaiki semua ini? Kamu pikir dengan bilang maaf, semua luka ini hilang?"

"Aku... aku nggak tahu harus ngomong apa."

Yulia menghela napas. Ia mencoba menenangkan diri.

"Siapa dia?"

"Rubiah."

"Kerja apa?"

"Dia... nggak kerja."

"Kamu kasih dia uang?"

Aji diam. Keheningan itu adalah jawaban.

Yulia mengangguk-angguk. "Jadi, uang yang kamu bilang buat modal usaha, buat investasi, itu semua buat dia?"

"Sebagian... sebagian buat dia."

"Sebagian? Berapa?"

Aji ragu. "Mungkin... tiga puluh juta."

Yulia terhenyak. Tiga puluh juta. Uang yang mereka kumpulkan bertahun-tahun. Uang hasil jerih payahnya jualan gorengan, hasil kerja keras Aji jaga malam. Semua habis untuk perempuan lain.

"Kamu... kamu..."

Yulia tak sanggup melanjutkan. Ia menangis tersedu-sedu.

Aji ingin memeluknya, tapi Yulia menepis.

"Jangan sentuh aku! Jangan!"

Pertengkaran itu berlangsung berjam-jam.

Aji akhirnya mengaku semua. Tentang pertemuannya dengan Rubiah, tentang pernikahan siri, tentang uang yang sudah dikeluarkan. Ia mengaku dengan setengah terpaksa, setengah lega karena akhirnya tak perlu berbohong lagi.

Yulia mendengarkan semua dengan hati hancur.

"Jadi kamu nikah siri sama dia?"

"Iya."

"Di mana?"

"Di rumah temen. Disaksikan temen-temen."

"Saksi dari pihak perempuan?"

"Nggak ada. Cuma temen-temen aja."

Yulia tertawa pahit. "Nikah siri tanpa wali? Itu nggak sah, Aji. Itu zina namanya!"

Aji tersentak. Ia tak pernah berpikir sampai ke situ. Ia pikir, selama ada ijab kabul dan saksi, itu sudah sah.

"Tapi... tapi—"

"Tapi apa?! Kamu pikir agama itu mainan? Kamu pikir Tuhan nggak lihat?"

Aji tak bisa menjawab.

Yulia berdiri. Ia berjalan ke kamar Purnomo. Anaknya masih tidur, tak tahu apa-apa tentang kekacauan yang terjadi.

"Aku mau pisah, Aji."

Aji terkejut. "Apa?!"

"Aku minta cerai. Aku nggak bisa hidup dengan lelaki yang mengkhianati aku."

"Yul, jangan! Demi Purnomo!"

Yulia menatap tajam. "Kamu pikir aku belum mikirin Purnomo? Justru demi Purnomo, aku harus pisah dari kamu. Aku nggak mau anakku tumbuh dengan melihat bapaknya yang suka selingkuh dan menghabiskan uang untuk perempuan lain."

Aji terdiam. Ia tak punya argumen untuk membantah.

"Besok kita ke Kantor Urusan Agama. Aku minta cerai."

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Aji tidur di ruang tamu. Sendirian. Dengan hati yang hancur.

Esok harinya, mereka pergi ke KUA.

Namun proses perceraian tak semudah yang dibayangkan. Ada banyak berkas yang harus dilengkapi. Ada masa tunggu. Ada mediasi yang harus dijalani.

"Kami akan panggil suami istri untuk mediasi minggu depan," kata petugas KUA. "Mudah-mudahan masih bisa didamaikan."

Yulia menggeleng. "Nggak usah didamaikan, Pak. Saya sudah bulat."

Petugas itu menghela napas. "Kami akan proses sesuai prosedur."

Mereka keluar dari KUA dengan perasaan masing-masing. Yulia lega karena akhirnya ada jalan keluar. Aji hancur karena akan kehilangan keluarga.

Di perjalanan pulang, mereka bertemu Purnomo yang baru pulang sekolah.

"Pa! Ma!" seru Purnomo riang. Ia berlari menghampiri orang tuanya.

Yulia menahan air mata. Ia memeluk anaknya erat.

"Pulang, yuk. Mama masak kesukaan Purnomo."

"Hore! Purnomo mau makan ayam!"

Aji memandangi anaknya dengan hati perih. Purnomo tak tahu apa-apa. Purnomo tak tahu bahwa keluarganya akan segera hancur.

Malam itu, Aji tak bisa tidur.

Ia terus memikirkan apa yang sudah ia lakukan. Betapa bodohnya ia. Betapa hancurnya hidupnya.

Namun di saat yang sama, ponselnya berdering. Pesan dari Rubiah.

"Sayang, kapan ke sini? Aku kangen. Jangan lupa bawain uang bulanan, ya. Udah mau habis."

Aji membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk.

Di satu sisi, ia sayang Rubiah. Di sisi lain, ia tahu Rubiah adalah sumber masalahnya.

Namun apa daya? Ia sudah terlanjur jatuh.

Ia tak bisa keluar.

Mediasi di KUA gagal total.

Yulia tetap pada pendiriannya: ingin cerai. Aji yang mulanya memohon-mohon, akhirnya pasrah. Ia tahu, tak ada gunanya mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur.

"Baiklah, kalau memang sudah bulat, kami akan proses," kata petugas KUA. "Tapi kalian harus datang lagi minggu depan untuk penandatanganan."

Yulia mengangguk. "Siap, Pak."

Mereka keluar dari KUA. Di luar, matahari bersinar terik. Namun hati Aji terasa dingin.

"Yul, apa benar ini yang kamu mau?" tanyanya untuk terakhir kali.

Yulia menatapnya. Matanya teduh, tapi tegas.

"Ini yang terbaik, Aji. Untuk aku, untuk kamu, dan untuk Purnomo."

"Tapi Purnomo butuh bapak."

"Purnomo butuh contoh yang baik. Bukan bapak yang suka selingkuh dan main judi."

Aji tertohok. Ia tak bisa membantah.

"Purnomo ikut aku. Aku nggak mau dia tinggal sama kamu. Nggak mau dia lihat kehidupanmu yang kacau."

Aji ingin protes, tapi ia tahu Yulia benar. Ia tak pantas jadi ayah. Ia tak pantas punya anak seperti Purnomo.

"Iya. Terserah kamu."

Mereka berpisah di depan KUA. Yulia naik angkot pulang. Aji berdiri di pinggir jalan, memandangi angkot itu menjauh, membawa pergi istri dan anaknya.

Hatinya hancur berkeping-keping.

Dua minggu kemudian, perceraian mereka resmi.

Aji menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar. Ia melihat Yulia di seberang meja, menandatangani dengan tenang. Seolah ini hanya urusan administrasi biasa, bukan perpisahan setelah tujuh tahun menikah.

"Selamat berpisah, Aji. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu," ucap Yulia dingin.

Aji ingin berkata sesuatu, tapi lidahnya kelu.

Yulia pergi, meninggalkan Aji sendirian di ruangan itu.

Ia baru sadar: ia telah kehilangan segalanya.

Rubiah menyambut Aji dengan gembira.

"Akhirnya kamu bebas, Ji! Sekarang kita bisa hidup bersama!"

Aji tersenyum getir. "Iya."

Rubiah sudah menyiapkan rumah kontrakan baru, lebih besar dari kontrakan Aji dulu. Perabotnya baru, dindingnya dicat warna cerah. Ada AC di kamar, TV layar datar di ruang tamu, kulkas dua pintu di dapur.

"Gimana? Bagus kan?" tanya Rubiah bangga.

Aji memandang sekeliling. "Bagus. Tapi ini semua pakai uang siapa?"

Rubiah cemberut. "Uang kamu, dong. Masa uang aku. Aku kan nggak kerja."

Aji menghela napas. Ia ingat tabungannya sudah habis. Uang hasil jual mobil juga sudah ludes. Ia hampir tak punya apa-apa lagi.

"Rub, gue hampir nggak punya uang."

Rubiah terkejut. "Apa?! Masa sih? Kamu kan agen judi, dapat komisi gede tiap bulan."

"Komisi gue habis buat bayar kontrakan ini, beli perabot, dan... dan buat kamu."

Rubiah mendelik. "Maksud kamu, aku yang habisin uang kamu?"

"Bukan gitu—"

"Terus gimana?!" potong Rubiah. "Lo pikir gue mau hidup miskin? Lo pikir gue mau tinggal di kontrakan jelek kayak mantan lo dulu?!"

Aji terdiam. Ia tahu Rubiah ambisius. Ia tahu Rubiah ingin hidup mewah. Tapi ia tak punya cara untuk mewujudkannya.

"Gue usahakan, Rul. Yang penting kita bareng-bareng."

Rubiah mendengus. "Bareng-bareng? Lo pikir gue mau susah bareng lo? Gue nikah sama lo karena lo kaya, Ji. Kalau lo miskin, buat apa gue sama lo?"

Aji terpukul. Kata-kata Rubiah seperti pisau yang menusuk jantungnya.

"Jadi... lo nikah sama gue cuma karena uang?"

Rubiah sadar ia keterlaluan. Ia mendekat, memeluk Aji.

"Maaf, Sayang. Aku cuma... aku cuma takut. Takut hidup susah lagi. Aku sudah susah dari kecil. Aku nggak mau balik lagi ke kehidupan kayak gitu."

Aji mengelus rambutnya. "Gue ngerti. Gue juga nggak mau lo susah. Percaya sama gue, ya."

Rubiah mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ia mulai merencanakan sesuatu.

Jika Aji tak bisa memberinya hidup mewah, ia harus mencari jalan lain.

Bulan-bulan berikutnya menjadi masa yang berat bagi Aji.

Tekanan dari Rubiah makin menjadi. Setiap hari ia menuntut ini-itu. Baju baru, tas baru, sepatu baru, perhiasan baru. Makan di restoran mahal, liburan ke tempat eksotis, hangout di kafe-kafe elit.

Aji bekerja mati-matian. Ia cari pemain judi sebanyak-banyaknya. Ia jadi agen paling gila di jaringan Liong. Ia tak kenal lelah, tak kenal waktu. Asalkan dapat komisi, ia lakukan.

Tapi tak pernah cukup.

Penghasilannya selalu habis untuk memenuhi tuntutan Rubiah. Bahkan sering kurang. Ia mulai berutang pada teman-teman. Pada Yanto, pada Joni, pada siapa saja yang mau meminjaminya uang.

Yanto mulai khawatir.

"Ji, lo kenapa? Kok gelagapan gini?" tanyanya suatu malam.

Aji menghela napas. "Gue lagi butuh uang, Yan. Pinjem dulu lima juta."

Yanto mengerutkan kening. "Lima juta? Buat apa?"

"Buat... buat Rubiah."

Yanto menghela napas panjang. Ia sudah menduga.

"Ji, gue harus ngomong. Lo itu sudah keterlaluan sama Rubiah. Dia bukan istri baik-baik. Dia cuma manfaatin lo."

Aji marah. "Lo jangan ngomong gitu! Dia istri gue!"

"Dia istri siri lo yang cuma mau uang lo!" balas Yanto. "Gue tahu dari dulu Rubiah. Dia cuma mau lelaki kaya. Begitu lo mulai miskin, dia akan ninggalin lo."

Aji tak percaya. "Lo cuma iri, Yan."

Yanto tertawa getir. "Iri? Iri sama lo yang hidupnya hancur? Sudah, terserah lo. Tapi gue nggak bisa pinjemin lo uang. Gue nggak mau jadi bagian dari kehancuran lo."

Aji pergi dengan tangan hampa.

Ia harus cari pinjaman lain.

Liong adalah pilihan terakhir.

Aji datang ke rumah mewahnya, memohon pinjaman uang.

"Liong, gue butuh pinjam uang. Dua puluh juta."

Liong mengangkat alis. "Dua puluh juta? Buat apa?"

"Buat... buat kebutuhan rumah tangga."

Liong tersenyum. Ia tahu persis masalah Aji. Semua orang di lingkaran ini tahu.

"Gue bisa kasih lo pinjaman, Ji. Tapi lo harus jamin sesuatu."

Aji ragu. "Jamin apa?"

"Tanah orang tua lo."

Aji terkejut. "Tanah orang tua?"

"Iya. Gue dengar orang tua lo punya tanah luas di Jelapat. Kebun sawit, kebun karet. Lo jamin tanah itu, gue kasih pinjaman. Kalau lo nggak bayar, tanah itu jadi milik gue."

Aji berpikir keras. Tanah orang tuanya adalah satu-satunya harta yang tersisa. Tapi ia butuh uang sekarang. Rubiah sudah mengancam akan pergi kalau tak dituruti keinginannya.

"Setuju. Gue jamin."

Liong tersenyum. "Bagus. Ini uangnya. Dua puluh juta. Jangan lupa, bunga sepuluh persen per bulan."

Aji menerima uang itu dengan tangan gemetar.

Ia tahu ia sedang bermain api. Tapi apa daya? Ia sudah terlanjur masuk ke dalam lingkaran setan ini.

Enam bulan setelah pinjaman pertama, utang Aji kepada Liong membengkak.

Dua puluh juta dengan bunga sepuluh persen per bulan. Dalam enam bulan, bunganya sudah dua belas juta. Total utangnya tiga puluh dua juta. Dan ia belum membayar pokok sama sekali.

Liong mulai menagih.

"Ji, gue perlu uang. Lo kapan bayar utang?" tanyanya suatu hari.

Aji gugup. "Sabaran, Bos. Kasih gue waktu."

"Gue sudah kasih lo waktu enam bulan. Sekarang waktunya habis. Lo bayar, atau tanah orang tua lo gue ambil."

Aji panik. Ia tak punya uang sepeser pun. Penghasilannya sebagai agen judi terus menurun karena ia terlalu stres untuk bekerja maksimal. Rubiah terus menuntut, terus menghabiskan uang.

"Bos, tolong... kasih gue kesempatan."

Liong menghela napas. "Baik, gue kasih lo kesempatan terakhir. Sebulan lagi, lo harus bayar minimal bunganya. Kalau nggak, gue datangi orang tua lo di desa."

Ancaman itu membuat Aji ketakutan. Ia tak mau orang tuanya tahu tentang kekacauan hidupnya. Ia tak mau mereka tahu bahwa ia berutang pada bandar judi.

"Iya, Bos. Gue usahakan."

Aji bekerja lebih gila dari sebelumnya.

Ia jadi agen judi siang malam. Ia cari pemain ke mana-mana. Ia bahkan mulai main judi lagi, dengan harapan bisa menang besar dan melunasi utang.

Namun judi tak pernah menguntungkan.

Dalam seminggu, ia kehilangan lima juta. Uang hasil jerih payahnya habis dalam semalam.

Aji frustrasi. Ia mulai minum alkohol lagi. Ia mulai marah-marah pada Rubiah. Hubungan mereka mulai retak.

"Lo kok jadi gini, Ji?" tanya Rubiah suatu malam. "Lo dulu perhatian, sekarang kasar. Lo dulu royal, sekarang pelit."

"Gue lagi banyak masalah, Rul!"

"Masalah apaan? Cerita dong. Jangan dipendam sendiri."

Aji menghela napas. Ia akhirnya menceritakan semua tentang utangnya pada Liong.

Rubiah terkejut. "Utang berapa?"

"Tiga puluh dua juta. Plus bunga."

"TIGA PULUH DUA JUTA?!" Rubiah menjerit. "Lo gila, Ji?! Ngutang segitu banyak!"

"Gue butuh uang buat lo! Buat hidup lo yang mewah!"

Rubiah tersentak. "Jadi lo salahin aku?"

"Bukan salahin, tapi—"

"Tapi apa?! Lo yang nawarin aku hidup enak! Lo yang bilang mau ngurus aku! Lo yang janji mau ngasih aku kehidupan yang layak! Sekarang lo ngutang, lo salahin aku?!"

Mereka bertengkar hebat malam itu. Rubiah menangis, mengamuk, bahkan melempar barang. Aji hanya bisa diam, tertunduk, merasa jadi lelaki paling gagal di dunia.

Esok harinya, Rubiah pergi.

Ia meninggalkan surat singkat di meja.

"Ji,

Aku pergi dulu. Kembali ke kampung. Aku perlu waktu sendiri buat mikir. Jangan cari aku. Nanti kalau masalahmu selesai, kita bicara lagi.

—Rubiah"

Aji membaca surat itu berulang kali. Hatinya hancur. Ia telah kehilangan Yulia dan Purnomo. Sekarang Rubiah juga pergi.

Ia sendirian.

Benar-benar sendirian.

Dua minggu setelah Rubiah pergi, Aji jatuh sakit.

Demam tinggi, badan lemas, tak bisa bangun dari tempat tidur. Yanto yang mendengar kabar itu menjenguknya.

"Lo kenapa, Ji? Kok kayak mayat hidup?"

Aji tersenyum lemah. "Gue sakit, Yan. Mungkin karena stres."

Yanto menghela napas. Ia duduk di sisi tempat tidur sahabatnya.

"Ji, gue harus ngomong. Lo itu sudah kelewatan. Hidup lo hancur karena lo sendiri. Karena lo nggak bisa ngendalikan diri. Karena lo terlalu tergila-gila sama perempuan."

Aji diam. Ia tak punya tenaga untuk membantah.

"Rubiah itu racun, Ji. Dia bikin lo celaka. Dan lo biarin aja. Lo bahkan rela ngutang ke Liong demi dia. Itu bodoh."

Aji menunduk. Air matanya jatuh.

"Gue tahu, Yan. Gue tahu. Tapi gue sayang dia."

"Sayang?" Yanto tertawa getir. "Itu bukan sayang. Itu gila. Lo gila sama dia."

Mereka diam cukup lama.

"Lo harus bayar utang ke Liong, Ji. Kalau nggak, dia akan kejar lo sampai ke desa. Dia akan tagih ke orang tua lo."

Aji menggeleng. "Gue nggak punya uang, Yan."

"Lo punya tanah orang tua. Itu jaminan lo."

"Itu bukan milik gue. Itu milik orang tua gue."

"Tapi lo yang jamin. Itu artinya, kalau lo nggak bayar, mereka yang tanggung risiko."

Aji terdiam. Ia tak pernah berpikir sejauh itu. Ia pikir, jaminan cuma formalitas. Ia tak pernah membayangkan bahwa Liong benar-benar akan mengambil tanah orang tuanya.

"Gue harus pulang, Yan."

"Pulang?"

"Ke desa. Ke Jelapat. Gue harus minta uang sama orang tua. Satu-satunya cara."

Yanto menghela napas. "Itu pilihan lo. Tapi lo siap? Siap ketemu orang tua lo setelah bertahun-tahun pergi?"

Aji tak yakin. Tapi apa pilihan lain?

"Gue harus coba, Yan. Demi nyawa gue."

Malam itu, Aji tak bisa tidur.

Ia terus memikirkan masa kecilnya di Desa Jelapat. Rumah besar dengan lantai marmer. Kebun sawit yang membentang luas. Kebun karet yang menghasilkan puluhan kilo setiap hari. Bengkel mobil yang selalu ramai pelanggan.

Semua itu milik orang tuanya.

Semua itu akan jadi miliknya suatu hari nanti.

Tapi ia tak mau menunggu. Ia butuh uang sekarang. Sekarang juga.

"Ibu... Bapak... maafin Aji," bisiknya dalam gelap.

Keesokan harinya, Aji bersiap-siap pulang.

Ia mengemas barang-barangnya. Hanya sedikit yang tersisa. Baju-baju lusuh, jaket tipis, sepatu butut. Mobilnya sudah lama dijual. Ia harus naik bus umum.

Yanto datang mengantarnya ke terminal.

"Lo yakin mau pulang, Ji?"

"Yakin, Yan. Nggak ada pilihan lain."

"Gue cuma bisa doain yang terbaik buat lo."

Aji menepuk pundak sahabatnya. "Makasih, Yan. Lo temen baik gue. Maafin gue kalau selama ini banyak salah."

Yanto tersenyum getir. "Udah, jangan lebay. Cepat selesaikan masalah lo, balik lagi ke sini. Kita usaha bareng lagi."

Aji mengangguk. "Insyaallah."

Bus datang. Aji naik, duduk di kursi dekat jendela. Ia melambai pada Yanto yang berdiri di terminal.

Bus melaju perlahan, meninggalkan Sampit, meninggalkan kota yang memberinya banyak kenangan pahit dan manis.

Aji memandang ke luar jendela. Pikirannya melayang ke Desa Jelapat.

Ke rumah orang tuanya.

Ke masa lalu yang indah.

Ke masa depan yang tak menentu.

Perjalanan memakan waktu delapan jam.

Bus melewati perkebunan sawit yang luas, melewati sungai-sungai coklat, melewati desa-desa kecil. Semakin dekat ke Jelapat, semakin rindang pemandangannya. Semakin segar udaranya.

Aji ingat masa kecilnya. Ingat saat ia bermain di kebun karet, saat ia mandi di sungai, saat ia berlarian mengejar layang-layang. Semua kenangan itu kembali, seperti film yang diputar ulang.

Namun ada satu kenangan yang paling kuat: saat ia terakhir kali bertemu orang tuanya.

Waktu itu ia baru lulus SMA. Ia bertengkar hebat dengan ayahnya. Ayahnya ingin ia kuliah, tapi ia ingin merantau. Ayahnya ingin ia jadi sarjana, tapi ia ingin jadi pengusaha.

"Kau ini anak durhaka!" bentak ayahnya saat itu.

"Biar! Aku akan buktikan bahwa aku bisa sukses tanpa kalian!"

Dan ia pergi.

Delapan tahun telah berlalu.

Ia belum pernah pulang.

Ia belum pernah kabari orang tuanya.

Ia bahkan tak tahu apakah mereka masih hidup.

Bus tiba di terminal Jelapat pukul lima sore.

Matahari mulai condong ke barat, menerangi desa dengan cahaya jingga keemasan. Aji turun dari bus dengan perasaan campur aduk. Degup jantungnya cepat, tangannya gemetar, keringat dingin mengalir di punggung.

Terminal Jelapat masih sama seperti delapan tahun lalu. Kecil, kumuh, dengan beberapa warung makan di sekelilingnya. Beberapa tukang ojek duduk-duduk menunggu penumpang.

Aji berjalan keluar terminal. Ia menarik napas dalam-dalam. Udara desa yang segar memenuhi paru-parunya.

"Desa Jelapat... gue pulang," bisiknya.

Ia berjalan kaki menuju rumah orang tuanya. Jalanan masih sama. Beraspal, tapi bolong di sana-sini. Di kanan kiri, kebun sawit membentang, pepohonannya tinggi menjulang.

Beberapa warga desa melihatnya. Mereka mengernyitkan dahi, mencoba mengingat.

"Itu... Aji? Anaknya Pak Sudiro?"

"Iya, itu Aji! Udah pulang ternyata!"

"Wah, gede sekarang. Tapi kok kurus ya?"

Aji mendengar bisikan-bisikan itu. Ia makin cepat berjalan.

Sesampainya di depan rumah orang tuanya, Aji tertegun.

Rumah itu... sudah tak seperti dulu.

Catnya kusam, mengelupas di sana-sini. Pagar besinya berkarat. Halamannya dipenuhi rumput liar. Tak ada mobil-mobil mewah di garasi. Tak ada lampu-lampu terang yang menyala.

Rumah besar yang dulu menjadi kebanggaan desa, kini tampak seperti rumah hantu.

Aji ragu. Apa ini benar rumah orang tuanya? Atau ia salah jalan?

Ia memeriksa lagi. Alamatnya benar. Nomornya benar.

Dengan hati berdebar, ia mengetuk pintu.

Tok tok tok.

Tak ada jawaban.

Tok tok tok. Lebih keras.

Pintu terbuka.

Dan di ambang pintu itu, berdiri seorang perempuan tua dengan rambut putih, wajah keriput, mata sayu. Namun di balik semua kerutan dan keputihan itu, Aji mengenali wajah itu.

Ibunya.

Ibu Jayanti.

"Bu..." bisik Aji.

Perempuan tua itu tertegun. Matanya membelalak. Tangannya gemetar memegang gagang pintu.

"Aji? Aji, Nak? Apa benar ini kamu?"

"Iya, Bu. Ini Aji. Anakmu."

Ibu Jayanti menjerit. Bukan jeritan marah, tapi jeritan haru. Ia memeluk anaknya erat, menangis sejadi-jadinya.

"AJI! NAK! AKHIRNYA KAMU PULANG!"

Aji memeluk ibunya balik. Ia juga menangis. Tangis penyesalan, tangis kerinduan, tangis semua yang tertahan selama delapan tahun.

"Maafin Aji, Bu. Maafin Aji yang durhaka."

Mereka berpelukan lama, tak peduli pada tetangga yang mulai berkumpul melihat kejadian itu.

Pak Sudiro keluar dari dalam rumah. Ia melihat pemandangan itu dan langsung paham.

Aji. Anaknya. Pulang.

Pak Sudiro berdiri di ambang pintu, memandangi anaknya. Hatinya campur aduk. Ada marah, karena delapan tahun tak ada kabar. Ada sedih, karena melihat anaknya kurus dan lusuh. Ada cinta, karena bagaimanapun, itu darah dagingnya.

Aji melepaskan pelukannya dari ibu. Ia menatap ayahnya.

"Pak..." bisiknya.

Pak Sudiro tak menjawab. Ia berjalan mendekat. Berhenti tepat di depan Aji.

Mereka bertatapan.

Dan tanpa berkata apa-apa, Pak Sudiro memeluk anaknya.

Itu adalah pelukan yang berat. Pelukan yang membawa ribuan makna. Pelukan yang mengatakan: "Aku masih sayang kamu, meski kamu sudah menyakiti aku."

Aji menangis di pelukan ayahnya. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia merasa aman. Merasa pulang. Merasa diterima.

"Pulanglah, Nak. Rumah ini tetap rumahmu," bisik Pak Sudiro.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, keluarga Sudiro makan malam bersama.

Namun di balik kebahagiaan itu, ada beban yang Aji sembunyikan.

Ia tak bilang tentang Rubiah.

Ia tak bilang tentang perceraiannya dengan Yulia.

Ia tak bilang tentang utangnya pada Liong.

Ia hanya bilang bahwa ia kangen dan ingin pulang.

Tapi kebohongan tak akan bertahan lama.

Sebentar lagi, semuanya akan terbongkar.

BAGIAN IV

KEPULANGAN YANG MENGUNDANG MASALAH

Kabar kepulangan Aji Wungkal menyebar cepat di Desa Jelapat.

Pagi itu, di warung Bu Marni, topik pembicaraan hanya satu: Aji pulang.

"Beneran itu Aji? Anaknya Pak Sudiro?" tanya Pak Karto sambil menyeruput kopinya.

"Bener, Pak. Saya lihat sendiri semalam. Dia turun dari bus di terminal, lalu jalan kaki ke rumah orang tuanya," jawab Pak Wahyudi, Ketua RT yang kebetulan lewat.

Bu Marni menghela napas. "Delapan tahun. Delapan tahun dia pergi, sekarang pulang. Apa yang dicari?"

"Ya pasti ada maunya," sahut Pak Samin, Kepala Dusun Barat. "Orang pulang setelah sekian lama, pasti ada maksud. Apalagi Aji. Saya dengar kabar dari teman di Sampit, hidupnya kacau di sana. Judi, perempuan, utang."

Pak Karto menggeleng-geleng. "Kasihan Pak Sudiro. Lagi tenang-tenangnya, tiba-tiba anaknya pulang bawa masalah."

"Kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan Aji sudah berubah," kata Pak Wahyudi optimis.

Namun tak ada yang percaya dengan optimisme itu.

Sementara itu, di rumah keluarga Sudiro, suasana pagi terasa berbeda.

Ibu Jayanti memasak dengan semangat. Ia membuat masakan kesukaan Aji: ayam goreng, rendang, sambal terasi, dan sayur asem. Aroma masakan memenuhi seluruh rumah, sesuatu yang sudah lama tak terjadi.

Aji duduk di teras, memandangi halaman rumah yang dulu indah kini mulai tak terawat. Ia melihat rumput liar di mana-mana, pagar yang berkarat, cat yang mengelupas. Hatinya sedih.

"Rumah ini dulu indah," gumamnya.

"Dulu," sahut Pak Sudiro yang tiba-tiba muncul di sampingnya. "Sekarang sudah tak terurus. Bapak sudah tua, tak punya tenaga buat merawat."

Aji menunduk. Ia merasa bersalah. Seharusnya ia yang merawat rumah ini. Seharusnya ia yang menjaga orang tuanya. Tapi selama delapan tahun, ia hanya sibuk dengan egonya sendiri.

"Maafin Aji, Pak."

Pak Sudiro duduk di samping anaknya. Ia memandangi ladang-ladang di kejauhan.

"Ceritalah, Nak. Apa yang terjadi denganmu selama ini?"

Aji ragu. Haruskah ia jujur? Atau ia terus berbohong?

Ia memilih yang kedua.

"Nggak ada yang istimewa, Pak. Biasa saja. Kerja, nikah, punya anak."

Pak Sudiro mengerutkan kening. "Nikah? Anak?"

"Iya, Pak. Aji nikah sama Yulia. Dapat anak laki-laki, namanya Purnomo. Umurnya sekarang tujuh tahun."

Pak Sudiro terkejut. "Kamu punya anak? Berarti kami punya cucu?"

"Iya, Pak."

"Terus mana mereka? Kenapa nggak diajak?"

Aji terdiam. Ia tak siap dengan pertanyaan itu.

"Mereka... mereka masih di Sampit. Yulia jaga toko. Purnomo sekolah. Nanti kalau sudah liburan, Aji ajak."

Pak Sudiro mengamati wajah anaknya. Ia melihat ada yang disembunyikan. Tapi ia tak ingin mendesak.

"Baiklah. Bapak tunggu. Bapak kangen punya cucu."

Aji tersenyum getir. Ia tahu, mungkin tak akan pernah bisa mengajak Purnomo ke sini. Yulia pasti tak akan mengizinkan.

Pagi itu, banyak tetangga yang datang berkunjung.

Pak Karto datang membawa pisang dari kebunnya. Bu Sulastri, sahabat Ibu Jayanti, datang dengan kue buatan sendiri. Pak Hasan, tokoh agama desa, datang memberi salam.

Mereka semua ingin melihat Aji, anak yang dulu menjadi kebanggaan desa, kini kembali setelah sekian lama.

"Wah, Aji gede ya. Dulu masih kecil, sekarang sudah dewasa," sapa Pak Karto.

Aji tersenyum sopan. "Iya, Pak. Makasih sudah datang."

"Kerja di mana sekarang, Ji?" tanya Pak Hasan.

Aji ragu sejenak. "Di Sampit, Pak. Jualan sembako."

"Alhamdulillah. Semoga berkah."

Percakapan mengalir hangat. Aji menjawab sebisanya, berusaha terlihat normal. Namun di dalam hatinya, ia gelisah. Ia tahu, cepat atau lambat, tujuannya pulang akan terbongkar.

Malam harinya, saat orang tuanya sudah tidur, Aji duduk sendirian di ruang tamu.

Ponselnya berdering. Pesan dari Rubiah.

"Ji, gimana? Dapat uang belum? Aku butuh. Kontrakan harus bayar minggu depan."

Aji membaca pesan itu dengan perasaan kesal. Rubiah pergi, tapi tetap menuntut uang. Ia seperti lintah yang tak pernah puas menghisap darahnya.

"Belum. Sabar." balasnya singkat.

"Sabar terus. Aku udah nggak bisa sabar. Cepetan!"

Aji mematikan ponselnya. Ia menatap langit-langit rumah. Pikirannya kacau.

Besok, ia harus bicara dengan orang tuanya. Ia harus minta uang. Tapi bagaimana cara memintanya? Ia tahu orang tuanya tak punya banyak uang. Rumah ini buktinya: dulu megah, kini kusam.

Tapi ia tak punya pilihan. Utangnya pada Liong sudah mendesak. Bunganya terus berjalan. Tanah orang tuanya terancam.

"Ya Allah... beri aku jalan," bisiknya dalam gelap.

Tiga hari setelah kepulangannya, Aji akhirnya memberanikan diri.

Malam itu, setelah makan malam, ia meminta orang tuanya duduk di ruang tamu. Wajahnya serius, tangannya gemetar.

"Pak, Bu... Aji mau ngomong sesuatu."

Pak Sudiro dan Ibu Jayanti saling pandang. Mereka sudah menduga akan ada sesuatu.

"Katakanlah, Nak," kata Ibu Jayanti lembut.

Aji menarik napas panjang. Ini dia. Saat yang menentukan.

"Pak, Bu... Aji minta maaf sebelumnya. Aji pulang bukan cuma karena kangen. Tapi Aji... Aji butuh bantuan."

Pak Sudiro mengerutkan kening. "Bantuan apa?"

Aji menunduk. "Aji butuh uang, Pak. Banyak."

Hening.

Pak Sudiro menatap anaknya dengan tajam. Ibu Jayanti memegang dadanya, seolah menahan sesuatu.

"Berapa?" tanya Pak Sudiro akhirnya.

"Lima... lima puluh juta."

Ibu Jayanti tersentak. "Lima puluh juta?!"

Pak Sudiro diam. Wajahnya berubah, dari awalnya tenang menjadi tegang. Rahangnya mengeras, matanya menyipit.

"Buat apa uang sebanyak itu?"

Aji gugup. "Buat... buat modal usaha, Pak. Aji mau buka usaha di sini. Di desa. Biar bisa dekat sama kalian."

Kebohongan. Ia tak bisa bilang untuk bayar utang judi. Ia tak bisa bilang untuk memenuhi tuntutan Rubiah.

Pak Sudiro mengamati anaknya. Pengalamannya selama puluhan tahun berbisnis membuatnya bisa membaca orang. Dan saat ini, ia membaca kebohongan di mata anaknya.

"Kau bohong, Aji."

Aji tersentak. "Nggak, Pak. Aji—"

"Jangan bohong sama Bapak!" bentak Pak Sudiro. "Bapak bisa lihat matamu! Ada yang kau sembunyikan!"

Ibu Jayanti mencoba menenangkan. "Sudiro, jangan keras-keras. Dengarkan dulu—"

"Sudah, Bu. Biar Bapak yang urus."

Pak Sudiro berdiri. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu.

"Aji, Bapak tanya sekali lagi. Buat apa uang itu?"

Aji diam. Ia tak tahu harus berkata apa.

"Kau main judi, kan? Kecanduan judi online? Itu kan yang Bapak dengar dari orang-orang?"

Aji terkejut. "Bapak tahu?"

"Bapak tahu dari Yanto. Dia menelepon Bapak kemarin. Cerita semua tentangmu."

Aji lemas. Yanto. Sahabatnya sendiri yang mengkhianatinya.

"Dia bilang kau punya utang pada bandar judi. Dua puluh juta, plus bunga. Dia bilang kau nikah siri sama perempuan lain. Cerai sama Yulia. Dan kau tinggalkan anakmu, Purnomo."

Ibu Jayanti menangis. Ia baru tahu semuanya. Cucunya, Purnomo, tak akan pernah bisa ia gendong. Menantunya, Yulia, yang baik itu, sudah diceraikan anaknya.

"AJI! BENAR ITU?!" teriak Ibu Jayanti.

Aji menunduk dalam-dalam. Air matanya jatuh.

"Iya, Bu. Benar. Semua benar."

Ibu Jayanti memukuli dada anaknya. Tangisnya pecah.

"KAU ANAK DURHAKA! KAU TEGA! TEGA SAMA ISTRI, TEGA SAMA ANAK, TEGA SAMA KAMI!"

Aji tak membalas. Ia biarkan ibunya memukuli dia. Ia tahu, itu hak ibunya. Ia memang pantas dipukuli.

Pak Sudiro mengangkat tangan istrinya, menenangkannya.

"Sudah, Bu. Tenang."

Ibu Jayanti terisak-isak. Tubuhnya lemas, hampir jatuh.

Pak Sudiro memandangi anaknya. Matanya sayu, tapi tegas.

"Aji, Bapak sayang kamu. Kamu anak tunggal Bapak. Tapi Bapak nggak bisa bantu uang segitu. Bapak nggak punya."

Aji mengangkat wajahnya. "Maksud Bapak?"

"Lihat rumah ini. Lihat sekelilingmu. Bapak sudah jual hampir semua kebun. Tinggal sedikit yang tersisa. Uang Bapak habis buat biaya hidup, buat obat-obatan Ibu, buat ini itu. Bapak nggak punya uang kontan lima puluh juta."

Aji putus asa. "Tapi, Pak... tanah. Tanah masih ada, kan? Kebun sawit, kebun karet. Itu bisa dijual!"

Pak Sudiro terkejut. "Kau minta Bapak jual tanah? Tanah warisan keluarga?"

"Aji pinjam, Pak. Nanti Aji ganti. Aji janji."

"Janji?" Pak Sudiro tertawa getir. "Janjimu sudah sering kau ingkari. Bapak nggak bisa percaya lagi."

Aji marah. "Jadi Bapak nggak mau bantu? Bapak biarin Aji mati?"

"Bapak nggak bilang begitu. Tapi Bapak nggak bisa jual tanah. Itu satu-satunya yang tersisa. Buat apa kau habiskan semua?"

"BUAT SELAMATIN HIDUP AJI!" teriak Aji.

"ITU BUKAN SELAMAT! ITU KEHANCURAN!"

Mereka bertengkar hebat malam itu. Ibu Jayanti hanya bisa menangis di pojok ruangan. Tetangga mulai berkumpul di luar, mendengar keributan.

Pak Karto, yang rumahnya dekat, segera datang.

"Ada apa, Pak Sudiro? Kenapa ribut-ribut?"

"Ini urusan keluarga, Pak Karto. Tolong jangan ikut campur," jawab Pak Sudiro tegas.

Tapi Aji sudah kalap. Ia berlari ke luar, menghilang dalam gelap malam.

"AJI! NAK!" teriak Ibu Jayanti.

Namun Aji tak menghiraukan. Ia terus berlari, meninggalkan rumah, meninggalkan orang tuanya, meninggalkan semua masalah yang tak bisa ia selesaikan.

Aji menghilang selama dua hari.

Ia tidur di musala tua dekat pasar, tak berani pulang. Ponselnya mati kehabisan baterai. Ia tak bisa dihubungi siapa pun.

Ibu Jayanti gelisah bukan main. Setiap hari ia keliling desa, mencari anaknya. Pak Sudiro melarang, tapi ia tak peduli.

"Biarkan dia, Bu. Dia akan pulang kalau sudah sadar," kata Pak Sudiro.

"Tapi kalau dia kenapa-napa gimana, Mas?"

"Dia sudah dewasa. Bisa jaga diri sendiri."

Namun Ibu Jayanti tak bisa tenang. Ia terus mencari.

Akhirnya, pada hari ketiga, seorang pemuda bernama Rangga menemukan Aji di musala.

"Bang Aji? Beneran Bang Aji?"

Aji mengangkat wajahnya. Mata sembab, wajah kusut, baju lusuh.

"Kamu... Rangga? Anaknya Pak Karto?"

"Iya, Bang. Bapak saya suruh cari Abang. Ibu Jayanti gelisah."

Aji tersenyum getir. "Ibu... masih peduli sama gue?"

"Tentu, Bang. Ibu mana yang tega sama anaknya?"

Aji menghela napas. Ia berdiri, membereskan sajadah yang ia pakai sebagai alas tidur.

"Ayo, antar gue pulang."

Kembali ke rumah orang tuanya, Aji merasa malu.

Ibu Jayanti menyambutnya dengan tangis haru.

"AJI! KEMANA AJA KAMU?! IBU KHAWATIR BANGET!"

Aji memeluk ibunya. "Maafin Aji, Bu. Aji egois."

Pak Sudiro keluar dari dalam. Ia melihat anaknya dengan tatapan campur aduk. Ada marah, tapi ada juga lega.

"Masuklah. Makan dulu. Ibu masak kesukaanmu."

Mereka makan bersama dalam diam. Tak ada yang bicara. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar.

Setelah makan, Pak Sudiro mengajak Aji bicara di ruang tamu.

"Aji, Bapak sudah pikirkan. Tentang permintaanmu kemarin."

Aji menegakkan badan. Ada harapan di matanya.

"Bapak tetap pada pendirian. Bapak nggak akan jual tanah."

Harapan itu padam seketika.

"Tapi Bapak punya usul."

Aji menatap ayahnya.

"Bapak punya kebun sawit yang masih berproduksi. Luasnya sekitar tiga hektar. Bapak izinkan kau kelola kebun itu. Hasilnya, kau bisa pakai buat bayar utang. Setelah utang lunas, kau kembalikan kebun itu ke Bapak."

Aji terkejut. "Maksud Bapak? Bapak percayakan kebun itu ke Aji?"

"Bapak percaya. Tapi dengan syarat."

"Apa syaratnya?"

"Kau harus tinggal di sini. Bekerja sungguh-sungguh. Tinggalkan judi. Tinggalkan perempuan itu. Dan yang terpenting, kau harus minta maaf sama Yulia. Cari cara untuk rujuk. Anakmu, Purnomo, butuh bapak."

Aji terdiam. Syarat itu berat. Ia harus meninggalkan Rubiah. Ia harus minta maaf pada Yulia yang sudah ia sakiti. Ia harus tinggal di desa, jauh dari hingar bingar kota.

"Bapak kasih waktu seminggu buat mikir. Terserah kau mau terima atau nggak."

Pak Sudiro berdiri, meninggalkan Aji yang termenung di ruang tamu.

Malam itu, Aji tak bisa tidur.

Ia memikirkan tawaran ayahnya. Di satu sisi, ini kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki hidup. Di sisi lain, ia harus mengorbankan banyak hal.

Ponselnya ia cas, lalu menyalakannya. Puluhan pesan dari Rubiah masuk.

"Ji, gimana? Dapat uang?"

"Ji, jawab dong!"

"Aji! Lo di mana?!"

"Gue butuh uang sekarang!"

"Kalau lo nggak kirim uang besok, gue cari lelaki lain!"

Aji membaca pesan-pesan itu dengan perasaan hancur. Rubiah, perempuan yang ia cintai, ternyata hanya mencintai uangnya.

Ia membalas satu pesan.

"Rul, gue lagi di desa. Gue mikir serius tentang hubungan kita. Gue mungkin nggak bisa kasih lo hidup mewah. Gue mau perbaiki hidup. Kalau lo mau ikut, ayo ke desa. Tapi kalau lo cuma mau uang, lebih baik kita pisah."

Tak sampai semenit, Rubiah membalas.

"PISAH?! LO GILA?! LO KIRA GUE MAU HIDUP SUSAH DI DESA BERSAMA LO?! SUD-SUD! LO UDAH NIKAH SAMA GUE, JADI LO HARUS TANGGUNG JAWAB! GUE MINTA UANG DUA PULUH JUTA MINGGU INI, ATAU GUE LAPOR LO KE POLISI ATAS PERSELINGKUHAN!"

Aji membaca pesan itu berulang kali. Hatinya hancur.

Rubiah mengancamnya.

Perempuan yang ia cintai, yang ia korbankan pernikahannya dengan Yulia, yang ia rela berutang untuknya, kini mengancam akan melaporkannya ke polisi.

"Ya Allah... apa yang sudah aku perbuat?" bisiknya.

Keesokan harinya, Aji menemui ayahnya.

"Pak, Aji sudah mikir. Aji terima tawaran Bapak."

Pak Sudiro mengangguk lega. "Bagus. Bapak senang kau memilih jalan yang benar."

"Tapi, Pak... Aji ada masalah."

"Masalah apa?"

Aji menghela napas. "Rubiah. Perempuan itu. Dia... dia mengancam Aji. Minta uang dua puluh juta minggu ini, atau dia akan lapor polisi."

Pak Sudiro terkejut. "Lapor polisi? Atas apa?"

"Aji nikah siri sama dia. Tapi nikahnya nggak sah. Tanpa wali. Kata Yulia, itu zina. Jadi dia bisa lapor Aji."

Pak Sudiro menghela napas panjang. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing.

"Anakku... anakku... Kau ini... kenapa bisa terjerumus sedalam ini?"

"Aji minta maaf, Pak. Tapi sekarang Aji butuh bantuan. Uang dua puluh juta. Untuk damai sama dia."

Pak Sudiro menggeleng. "Bapak nggak punya uang segitu."

"Pinjam, Pak. Ke bank. Atau jual tanah sedikit."

"JUAL TANAH?!" Pak Sudiro meninggikan suaranya. "Kau minta Bapak jual tanah lagi?! Demi perempuan jalang itu?!"

Ibu Jayanti yang mendengar keributan segera keluar.

"Ada apa, ada apa?"

"Ini anakmu! Minta jual tanah buat bayar perempuan simpanannya!"

Ibu Jayanti terkejut. "Aji! Kamu masih berhubungan sama perempuan itu?!"

Aji menunduk. "Maaf, Bu. Tapi Aji terdesak. Dia ancam Aji."

"BIARIN DIA LAPOR!" bentak Pak Sudiro. "Bapak lebih baik kau masuk penjara daripada kau menghabiskan harta keluarga buat perempuan itu!"

Aji marah. "Jadi Bapak lebih pilih Aji masuk penjara?!"

"LEBIH BAIK DARIPADA KAU TERUS MENGHANCURKAN DIRI!"

Mereka bertengkar hebat. Ibu Jayanti berusaha melerai, tapi tak ada yang peduli.

"Bapak itu pelit! Pelit sama anak sendiri!" teriak Aji.

"Bapak pelit?! Bapak sudah kasih kau kebun! Tapi kau minta lebih! KAU TAK PERNAH PUAS!"

"Karena Bapak nggak ngerti! Bapak nggak tahu gimana rasanya dikejar-kejar utang, diancam, ditakut-takuti!"

"ITU SALAHMU SENDIRI! SIAPA SURUH MAIN JUDI! SIAPA SURUH NIKAH SIRI! SIAPA SURUH TINGGALKAN ISTRI DAN ANAK!"

Aji kalap. Ia membanting kursi, memecahkan vas bunga, mengamuk tak terkendali. Ibu Jayanti menjerit ketakutan. Pak Sudiro mencoba menahan anaknya, tapi Aji terlalu kuat.

"LEPAS! LEPAS!" teriak Aji.

Dengan satu dorongan keras, ia membuat Pak Sudiro jatuh. Kepala ayahnya membentur sudut meja.

BUKK!

Darah mengalir dari pelipis Pak Sudiro.

"SUDIRO!" teriak Ibu Jayanti.

Aji tertegun. Ia melihat ayahnya tergeletak dengan wajah berlumuran darah.

"Pak... Pak... Aji nggak sengaja... Aji..."

"AJI! PERGI! PERGI KAU DARI SINI!" teriak Ibu Jayanti.

Aji mundur perlahan. Ia melihat ayahnya, melihat ibunya yang menangis histeris, melihat darah di lantai.

Dengan perasaan hancur, ia berlari keluar rumah.

Malam itu, Pak Sudiro dibawa ke puskesmas oleh tetangga.

Beruntung, lukanya tak terlalu dalam. Hanya luka robek di kepala yang perlu dijahit. Ia diperbolehkan pulang setelah dirawat beberapa jam.

Ibu Jayanti tak henti-hentinya menangis.

"Sudiro... maafin aku... aku gagal jadi ibu... gagal mendidik Aji..."

Pak Sudiro memegang tangan istrinya. "Ini bukan salahmu, Bu. Ini salahku juga. Kita terlalu memanjakannya."

"Tapi dia anak kita... darah daging kita..."

"Iya, Bu. Dia tetap anak kita. Tapi kita harus tegas. Kalau tidak, dia akan terus menghancurkan dirinya sendiri."

Keesokan harinya, kabar tentang pertengkaran itu menyebar ke seluruh desa.

Pak Karto, Pak Samin, Pak Wahyudi, dan beberapa tokoh desa berkumpul di rumah Pak Sudiro.

"Pak Sudiro, kami dengar kejadian semalam. Kami turut prihatin," ucap Pak Karto.

Pak Sudiro yang masih terbaring lemah mengangguk. "Terima kasih, Pak Karto."

"Kami ingin membantu. Apa yang bisa kami lakukan?"

Pak Sudiro menghela napas. "Saya nggak tahu, Pak. Aji... anak saya... dia sudah keterlaluan. Tapi saya tetap sayang dia."

Pak Hasan, tokoh agama, berbicara. "Pak Sudiro, dalam agama, anak durhaka itu dosanya besar. Tapi orang tua juga punya tanggung jawab untuk mendidik. Mungkin ini saatnya kita semua turun tangan. Membantu Aji keluar dari masalahnya."

"Caranya, Pak Hasan?"

"Kita cari Aji dulu. Bawa dia ke sini. Kita bicara baik-baik. Kalau perlu, kita libatkan aparat desa. Buat kesepakatan. Agar dia bisa bertanggung jawab dan keluar dari lingkaran setan ini."

Pak Sudiro setuju. "Baik. Tolong bantu saya, Pak."

Rangga, ketua Karang Taruna Desa Jelapat, mendapat tugas mencari Aji.

Bersama Tono, Jamal, Bima, dan beberapa pemuda lainnya, ia menyusuri desa. Mereka cek musala, cek pasar, cek warung-warung, cek pinggir sungai. Namun Aji tak ditemukan.

"Bang, gimana kalau dia kabur ke kota lagi?" tanya Tono.

"Mungkin. Tapi kita coba dulu semua tempat."

Akhirnya, seorang pemuda bernama Lukman menemukan jejak. Ia melihat seseorang masuk ke kebun karet tua di pinggir desa.

"Bang, mungkin dia di kebun karet. Saya lihat ada orang masuk ke sana tadi pagi."

Rangga dan kawan-kawan segera menuju kebun karet itu. Mereka berjalan di antara pohon-pohon karet yang tua dan tinggi. Bekas-bekas sadapan masih terlihat di batang-batang pohon, meski sekarang kebun itu tak terurus.

Di bawah pohon karet besar, mereka menemukan Aji.

Ia duduk bersandar, wajahnya pucat, matanya kosong. Di sampingnya ada botol miras kosong.

"Bang Aji," sapa Rangga hati-hati.

Aji menoleh. Matanya merah, sayu.

"Rangga? Lo cari gue?"

"Iya, Bang. Kami disuruh nyari Abang. Bapak-bapak di desa mau ngomong sama Abang."

Aji tertawa getir. "Ngomong? Pasti mau marahin gue lagi. Mau ceramahin gue lagi."

"Nggak, Bang. Mereka mau bantu."

Aji memandang Rangga. "Bantu? Bantu gue?"

"Iya, Bang. Ayo pulang. Istirahat dulu. Muka Abang pucat sekali."

Aji terdiam. Air matanya jatuh.

"Rangga... gue orang jahat. Gue udah nyakitin bapak gue. Gue udah nyakitin ibu gue. Gue udah ninggalin anak gue. Gue nggak pantas ditolong."

Rangga duduk di samping Aji. "Bang, semua orang pernah berbuat salah. Tapi yang penting adalah mau berubah. Abang mau berubah nggak?"

Aji menatap Rangga. Di mata pemuda itu, ia melihat ketulusan. Ketulusan yang sudah lama tak ia lihat.

"Gue... gue nggak tahu, Rang. Gue nggak tahu harus mulai dari mana."

"Dari sini, Bang. Dari sekarang. Ayo pulang."

Rangga mengulurkan tangannya. Aji memandang tangan itu, lalu meraihnya.

Ia berdiri, meski tubuhnya limbung.

"Ayo, Bang. Kita pulang."

Aji dibawa ke balai desa.

Di sana, sudah berkumpul para tokoh desa: Pak Heru (Kepala Desa), Pak Ahmad (Sekretaris Desa), Pak Samsul (Ketua BPD), Bu Kartini (Kaur Pemerintahan), Pak Joko (Kadus Timur), Pak Samin (Kadus Barat), Pak Hasan (Tokoh Agama), dan Pak Sudiro yang masih terbaring lemah di kursi.

Aji masuk dengan perasaan malu. Ia menunduk, tak berani menatap siapapun.

"Duduk, Aji," kata Pak Heru ramah.

Aji duduk di kursi yang disediakan.

"Kami sudah dengar semua yang terjadi. Tentang masalahmu di kota. Tentang utangmu. Tentang pertengkaranmu dengan ayahmu."

Aji diam.

"Kami di sini bukan untuk menghakimi. Tapi untuk membantu. Karena kamu bagian dari desa ini. Keluargamu bagian dari kami."

Aji mengangkat wajahnya. Ada harapan di matanya.

"Apa yang bisa kalian lakukan?"

Pak Heru memandang Pak Sudiro. "Terserah ayahmu. Dia yang punya kuasa."

Pak Sudiro menarik napas panjang. "Aji, Bapak tetap pada tawaran Bapak kemarin. Kebun sawit tiga hektar untuk kau kelola. Tapi dengan syarat yang lebih ketat."

"Apa syaratnya?"

"Pertama, kau harus tinggal di sini. Kedua, kau harus berhenti total dari judi. Ketiga, kau harus putus hubungan dengan Rubiah. Keempat, kau harus minta maaf pada Yulia dan berusaha rujuk. Dan kelima, kau harus lapor ke polisi tentang Rubiah yang memerasmu."

Aji terkejut. "Lapor polisi? Tapi dia istri gue."

"Dia bukan istrimu! Nikah siri tanpa wali itu zina!" tegas Pak Hasan. "Dan dia memerasmu. Itu tindak pidana. Kau harus lapor, atau kau akan terus diterornya."

Aji berpikir keras. Melaporkan Rubiah ke polisi berarti mengakhiri hubungan mereka. Tapi mungkin itu yang terbaik.

"Gue... gue setuju."

Pak Sudiro lega. "Bagus. Tapi ingat, Aji. Kalau kau langgar satu saja dari syarat ini, kebun itu akan Bapak ambil kembali. Dan kau harus pergi dari desa ini selamanya."

Aji mengangguk. "Aji janji, Pak."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aji tidur dengan tenang.

Namun di kejauhan, di kota Sampit, Rubiah sedang merencanakan sesuatu. Ia tak akan membiarkan Aji lepas begitu saja. Ia butuh uang. Dan Aji adalah sumber uangnya.

"Lo mau lapor polisi? Lapor aja, Ji. Gue juga punya senjata buat lawan lo," gumamnya sambil memandangi ponsel.

Ia punya bukti-bukti. Bukti tentang perjudian Aji. Bukti tentang transaksi uang haram. Dan ia tak akan ragu menggunakannya.

Pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai.

BAGIAN V

KONFLIK MEMUNCAK

Tiga minggu setelah kesepakatan di balai desa, Aji mulai mengelola kebun sawit pemberian ayahnya.

Setiap pagi, ia bangun pukul empat. Mandi, salat subuh, lalu berangkat ke kebun bersama dua orang pekerja yang dipekerjakan ayahnya dulu. Mereka memanen buah sawit, membersihkan pelepah yang kering, memupuk pohon-pohon yang mulai berkurang produktivitasnya.

Aji bekerja keras. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan bagaimana rasanya bekerja di kebun. Tangannya lecet, punggungnya pegal, tubuhnya letih. Tapi ada kepuasan yang tak bisa dijelaskan. Kepuasan karena melakukan sesuatu yang halal. Kepuasan karena tidak bergantung pada judi atau perempuan.

"Bang Aji, istirahat dulu," ajak salah seorang pekerja, Pak Mahmud, seorang lelaki paruh baya yang sudah bekerja pada Pak Sudiro sejak dua puluh tahun lalu.

Aji mengusap keringat di dahinya. "Sebentar, Pak. Ini tinggal sedikit."

Pak Mahmud tersenyum. Ia melihat perubahan pada Aji. Pemuda yang dulu manja dan sombong itu kini mulai rendah hati. Mungkin ini awal yang baik.

"Bang Aji, saya senang lihat Abang berubah. Pak Sudiro pasti senang."

Aji tersenyum getir. "Semoga, Pak. Saya masih punya banyak utang. Saya masih harus bayar banyak dosa."

"Pelahan-lahan, Bang. Yang penting niatnya baik."

Aji mengangguk. Ia bertekad akan memperbaiki semua kesalahannya. Satu per satu.

Namun Rubiah tak tinggal diam.

Di kota Sampit, ia mulai gelisah. Aji sudah lebih dari sebulan tak mengirim uang. Ia sudah mencoba menghubungi berkali-kali, tapi Aji jarang merespons. Kalau pun merespons, hanya pesan singkat yang isinya menyuruhnya bersabar.

"Bersabar, bersabar. Enak aja. Gue bukan tipe perempuan sabaran," gumamnya kesal.

Ia mulai mencari informasi. Dari teman-temannya, ia tahu Aji sekarang di desa. Mengelola kebun sawit orang tuanya. Dan yang lebih membuatnya marah: Aji berencana rujuk dengan mantan istrinya, Yulia.

"Rujuk? Dengan perempuan kampung itu? Hah! Nggak akan gue biarkan!"

Rubiah mengambil ponselnya. Ia menghubungi Yanto.

"Yan, lo tahu alamat desanya Aji nggak?"

Yanto yang menerima telepon itu menghela napas. Ia sudah menduga Rubiah akan melakukan ini.

"Rub, sudahlah. Lepaskan Aji. Dia sudah memilih jalannya sendiri."

"Itu urusan gue! Jawab aja: lo tahu alamatnya nggak?"

Yanto diam sejenak. Ia tahu memberi alamat itu akan berakibat fatal. Tapi ia juga tak mau terlibat lebih jauh.

"Gue nggak tahu, Rub. Cari sendiri."

"LO BOHONG! Lo sahabatnya! Pasti lo tahu!"

Yanto mematikan telepon. Ia tak mau ambil pusing.

Rubiah mengumpat. Tapi ia tak menyerah. Dengan uang sisa-sisa tabungannya, ia membeli tiket bus ke arah Seruyan. Ia akan mencari Aji sendiri. Ia akan datang ke desa itu. Ia akan mempertemukan Aji dengan keluarganya. Dan ia akan mendapatkan uangnya, atau membuat kehancuran.

Dua hari kemudian, sebuah bus antar kota tiba di terminal Jelapat.

Rubiah turun dengan gaun merah menyala, high heels, dan tas mahal. Penampilannya kontras dengan desa yang sederhana. Semua orang memandangnya.

"Cih, desa," gumamnya sinis.

Ia berjalan ke arah tukang ojek. "Bang, ke rumahnya Pak Sudiro. Tau nggak?"

Tukang ojek itu, Pak Jumali, mengerutkan kening. "Ibu siapa? Kenalan sama Pak Sudiro?"

"Aku istrinya Aji. Istrinya Aji Wungkal."

Pak Jumali terbelalak. "Istri? Tapi kan Aji—"

"Udah, anter aja. Nggak usah banyak tanya."

Pak Jumali mengangguk. Sepanjang perjalanan, ia diam-diam mengamati perempuan ini. Cantik, tapi sombong. Banyak gaya. Tak cocok dengan desa.

Sesampainya di depan rumah Pak Sudiro, Rubiah turun. Ia membayar ojek dengan uang pas, tanpa tip.

"Ini rumahnya? Kecil amat. Kirain rumah orang kaya," komentarnya.

Pak Jumali hanya menggeleng. Ia segera pergi, ingin cepat-cepat memberi tahu warga tentang kedatangan perempuan misterius ini.

Rubiah mengetuk pintu.

Tok tok tok.

Ibu Jayanti yang membuka pintu. Ia terkejut melihat perempuan cantik dengan dandanan menor berdiri di depannya.

"Ibu... ada apa, Nona?"

Rubiah tersenyum manis. "Ibu Jayanti, kan? Saya Rubiah. Istri siri Aji. Senang bertemu, Ibu."

Ibu Jayanti terkesiap. Tangannya gemetar memegangi gagang pintu.

"Ka... kamu... Ru... Rubiah?"

"Iya, Bu. Boleh masuk? Ada yang mau saya bicarakan."

Di dalam rumah, suasana tegang.

Pak Sudiro yang sedang berbaring karena lukanya belum sembuh total, langsung duduk tegap begitu mendengar nama Rubiah. Matanya menyipit, menatap perempuan itu dengan penuh kecurigaan.

"Kamu Rubiah? Perempuan yang menghancurkan anak saya?"

Rubiah tertawa manis. "Wah, Pak Sudiro, tuduhannya berat. Saya hanya mencintai anak Bapak. Apa salahnya?"

"Jangan main-main sama saya, Nona. Saya tahu semua tentang kamu. Kamu yang bikin Aji cerai dari istrinya. Kamu yang bikin Aji utang ke bandar judi. Kamu yang sekarang memerasnya."

Rubiah menghela napas. "Pak, mari kita bicara baik-baik. Saya datang bukan untuk bertengkar. Saya datang untuk meminta hak saya."

"Hak? Hak apa?"

Rubiah mengeluarkan secarik kertas dari tasnya. "Ini surat pernikahan siri saya dengan Aji. Di sini tertulis mas kawinnya dua puluh juta. Itu belum lunas. Saya minta hak saya."

Pak Sudiro membaca surat itu. Matanya memerah.

"Ini surat palsu! Tidak ada tanda tangan penghulu resmi! Ini cuma kertas biasa!"

"Tapi ini bukti, Pak. Aji sudah berjanji. Saya bisa bawa ini ke polisi. Saya bisa laporkan Aji atas penipuan dan ingkar janji."

Ibu Jayanti menangis. "Kamu ini... kamu ini... kenapa tega?"

Rubiah mengabaikan tangisan Ibu Jayanti. Ia fokus pada Pak Sudiro.

"Pak, saya nggak minta banyak. Saya minta uang dua puluh juta. Setelah itu saya pergi. Saya nggak akan ganggu Aji lagi. Saya janji."

Pak Sudiro tertawa getir. "Janji? Janji perempuan sepertimu? Mana bisa dipercaya?"

"Terserah Bapak percaya atau tidak. Tapi kalau Bapak nggak bayar, saya akan lapor polisi. Aji akan masuk penjara. Dan keluarga Bapak akan jadi bahan gunjingan seumur hidup."

Saat itu, pintu depan terbuka.

Aji masuk. Ia baru pulang dari kebun, masih dengan baju lusuh penuh lumpur. Begitu melihat Rubiah, ia tertegun.

"RU... RUBIAH?!"

Rubiah tersenyum lebar. "Sayang! Akhirnya ketemu juga!"

Aji mundur selangkah. Wajahnya berubah.

"Lo... lo ngapain di sini?"

"Jenguk suami, dong. Udah sebulan lebih nggak pulang. Kangen."

Aji menatap Rubiah dengan perasaan campur aduk. Ada marah, ada takut, ada juga sedikit rindu yang tak sempat hilang.

"Rul, kita sudah selesai. Gue sudah bilang. Gue mau perbaiki hidup."

"Perbaiki hidup? Meninggalkan gue?" Rubiah mendekat. "Ji, lo nggak tega. Lo sayang sama gue. Gue tahu."

Aji menggeleng. "Gue dulu sayang lo. Tapi lo cuma manfaatin gue. Lo cuma mau uang gue."

Rubiah berubah. Matanya menyala. "Jadi lo tega? Lo tinggalin gue setelah semua yang gue korbankan buat lo? Lo pikir gue mau hidup susah? Gue mau uang gue, Ji! Dua puluh juta! Atau lo masuk penjara!"

Pak Sudiro bangkit berdiri. Meski tubuhnya masih lemah, matanya tajam.

"Jangan ancam anak saya di depan saya, Nona! Saya nggak takut sama polisi! Saya juga punya kenalan di Polsek! Kalau perlu, kamu yang akan masuk penjara karena memeras!"

Rubiah tertawa. "Memeras? Buktinya mana, Pak? Saya hanya minta hak saya. Ini surat perjanjiannya. Silakan bawa ke polisi. Saya tunggu."

Aji tak bisa mengendalikan emosinya lagi.

"KELUAR! KELUAR DARI RUMAH INI!" teriaknya.

Rubiah terkejut. Aji belum pernah sekeras ini padanya.

"Ji... lo—"

"GUE BILANG KELUAR!"

Aji menarik lengan Rubiah, menyeretnya ke luar rumah. Rubiah menjerit-jerit, memukuli Aji, tapi Aji tak peduli. Begitu sampai di luar, ia mendorong Rubiah hingga jatuh.

"Jangan pernah kembali ke sini! Gue nggak mau lihat muka lo lagi! Urus sendiri hidup lo!"

Rubiah bangkit dengan mata merah. Gaunnya kotor, rambutnya kusut. Ia menatap Aji dengan penuh kebencian.

"Lo akan menyesal, Aji Wungkal! GUE BALAS DENDAM! GUE HANCURIN HIDUP LO!"

Ia pergi dengan langkah terpincang-pincang, meninggalkan Aji yang berdiri dengan napas memburu.

Rubiah tak main-main.

Begitu kembali ke Sampit, ia langsung melapor ke polisi. Ia datang ke Polsek Sampit dengan pakaian rapi, dandanan menor, dan membawa surat pernikahan siri serta bukti-bukti lain yang ia kumpulkan.

"Pak, saya mau lapor. Suami saya meninggalkan saya dan mengancam akan membunuh saya," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Petugas piket, Aiptu Rahman, mengerutkan kening. "Suami? Maksud Ibu?"

"Ini, Pak. Surat nikah siri saya dengan Aji Wungkal. Dia tinggal di desa Jelapat. Dia meninggalkan saya setelah menghabiskan uang saya. Sekarang dia mengancam saya."

Aiptu Rahman membaca surat itu. Ia sudah berpengalaman menangani kasus-kasus seperti ini. Ada yang asli, ada yang palsu. Yang ini... sepertinya palsu.

"Ibu, surat ini tidak ada stempel resmi. Ini cuma kesepakatan di atas materai. Bukan surat nikah yang diakui negara."

Rubiah mendelik. "Tapi ini bukti, Pak! Dia berjanji akan menikahi saya dan memberi nafkah. Itu tidak dipenuhi!"

"Kalau soal janji, itu ranah perdata. Bukan pidana. Ibu bisa gugat secara perdata. Tapi kalau mau laporan pidana, harus ada bukti tindak pidana."

Rubiah mengeluarkan senjata terakhirnya.

"Kalau judi, Pak? Saya punya bukti Aji main judi online. Saya punya screenshot transaksinya. Saya tahu bandarnya. Saya bisa jadi saksi."

Aiptu Rahman terkejut. Ini baru serius.

"Ibu punya buktinya?"

Rubiah mengeluarkan ponselnya. "Ini, Pak. Semua transaksi. Saya tahu pasword akunnya. Saya bisa buka."

Aiptu Rahman memandangi bukti-bukti itu. Jumlahnya puluhan juta. Jaringan judi online besar. Ini bukan kasus kecil.

"Baik, Ibu. Kami akan proses laporan ini. Tapi Ibu harus siap menjadi saksi. Dan ingat, kalau Ibu berbohong, Ibu bisa dipidana."

Rubiah tersenyum puas. "Saya siap, Pak."

Tiga hari kemudian, dua orang polisi dari Polsek Sampit datang ke Desa Jelapat.

Mereka turun dari mobil dinas dengan seragam lengkap. Warga desa yang melihat berkerumun, bertanya-tanya ada apa.

"Polisi? Ada apa ini?"

"Mungkin ada kejahatan."

"Jangan-jangan soal Aji."

Tebakan warga tepat. Polisi itu menuju rumah Pak Sudiro.

Pak Sudiro yang sedang duduk di teras langsung tegang begitu melihat mereka.

"Selamat siang, Pak. Bapak Sudiro?"

"Iya, saya. Ada apa, Pak?"

"Kami dari Polsek Sampit. Ada laporan tentang anak Bapak, Aji Wungkal. Bisa kami bicara dengannya?"

Pak Sudiro menghela napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi.

"Aji... ada di kebun. Saya panggilkan."

Ibu Jayanti yang mendengar dari dalam langsung menangis.

"Ya Allah... anakku... kenapa jadi begini?"

Aji dipanggil pulang. Ia datang dengan perasaan was-was.

Begitu melihat polisi, hatinya langsung jatuh. Ia tahu, Rubiah sudah bertindak.

"Saudara Aji Wungkal?" tanya salah satu polisi.

"Iya, Pak."

"Kami dari Polsek Sampit. Ada laporan dari seorang ibu bernama Rubiah tentang dugaan penipuan, pengancaman, dan perjudian. Kami perlu meminta keterangan Saudara."

Aji lemas. "Pak... saya... saya bisa jelaskan—"

"Nanti di kantor, Saudara. Sekarang, kami minta Saudara ikut kami ke Polsek Danau Sembuluh dulu. Nanti akan diproses lebih lanjut."

Aji menatap orang tuanya. Pak Sudiro diam, wajahnya tegang. Ibu Jayanti menangis tersedu-sedu.

"Pak... Bu... maafin Aji," bisik Aji.

Ia dibawa masuk ke mobil polisi. Mobil itu melaju meninggalkan desa, meninggalkan orang tuanya yang hancur, meninggalkan warga yang bergosip.

Aji ditahan semalam di Polsek Danau Sembuluh.

Sel tahanan sempit, bau, dan pengap. Ia tidur di lantai beralas koran. Sepanjang malam ia tak bisa memejamkan mata. Pikirannya kacau. Ia memikirkan orang tuanya, memikirkan Yulia dan Purnomo, memikirkan Rubiah yang telah menghancurkannya.

"Ya Allah... apa yang sudah aku perbuat?" gumamnya berkali-kali.

Keesokan harinya, Pak Heru, Kepala Desa Jelapat, datang ke Polsek.

Ia ditemani Pak Samsul (Ketua BPD) dan Sertu Budi Santoso (Babinsa). Mereka datang untuk menanyakan perkembangan kasus Aji dan berusaha membantu.

"Pak Kapolsek, kami dari Desa Jelapat. Ingin membicarakan kasus Aji Wungkal," ucap Pak Heru.

Ipda Hendra Saputra, Kapolsek Danau Sembuluh, menerima mereka dengan baik.

"Silakan, Pak Kades. Duduk."

Mereka duduk di ruangan Kapolsek yang sederhana.

"Pak Kapolsek, bagaimana perkembangan kasusnya?" tanya Pak Heru.

"Masih dalam penyelidikan. Ada laporan dari seorang perempuan bernama Rubiah. Tuduhannya penipuan, pengancaman, dan perjudian. Tapi kami sudah koordinasi dengan Polsek Sampit. Ternyata pelapor punya motif pribadi: dia mantan istri siri Aji yang ditinggalkan dan meminta uang."

Pak Heru menghela napas lega. "Jadi... ini kasus pribadi?"

"Bisa dibilang begitu. Tapi masalah perjudian itu serius. Kami temukan bukti Aji terlibat judi online. Itu pidana, meskipun ringan."

"Lalu bagaimana solusinya, Pak?"

Ipda Hendra berpikir. "Mungkin bisa mediasi. Kalau kedua belah pihak bisa damai, kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi soal judi, Aji tetap harus menjalani pembinaan."

Pak Heru mengangguk. "Baik, Pak. Kami usahakan mediasi. Tolong difasilitasi."

Mediasi digelar dua hari kemudian di ruangan Polsek.

Hadir dalam mediasi itu:

1.              Aji Wungkal (terlapor)

2.              Rubiah (pelapor)

3.              Pak Sudiro dan Ibu Jayanti (orang tua Aji)

4.              Pak Heru (Kepala Desa Jelapat)

5.              Sertu Budi Santoso (Babinsa)

6.              Bripka Dedi Prasetyo (Bhabinkamtibmas)

7.              Ipda Hendra Saputra (Kapolsek) sebagai mediator

Rubiah datang dengan dandanan menor dan gaya sok kota. Ia melotot begitu melihat Aji. Aji menunduk, tak berani menatapnya.

"Baik, kita mulai mediasi ini," buka Ipda Hendra. "Tujuan kita adalah mencari solusi terbaik untuk semua pihak. Saya minta semua jujur dan terbuka."

Rubiah langsung angkat bicara. "Saya mau Aji penuhi janjinya! Dua puluh juta! Itu hak saya!"

Pak Sudiro tak tahan. "Hak? Kamya bilang hak? Kamu perempuan jalang yang menghancurkan anak saya! Masih berani minta uang?!"

"Pak Sudiro, tenang," Ipda Hendra melerai. "Biar semua bicara bergantian."

Aji akhirnya bersuara. "Rul, gue sudah bilang. Gue nggak punya uang. Gue lagi berusaha bangkit. Tolong... berhenti ganggu gue."

Rubiah tertawa sinis. "Ganggu? Gue cuma minta hak gue! Lo yang nikahin gue, lo yang janji, lo yang—"

"Tapi nikahnya nggak sah!" potong Sertu Budi. "Kami sudah cek. Tidak ada pencatatan resmi. Tidak ada wali yang sah. Itu bukan nikah, itu zina!"

Rubiah tersentak. "Pa... Pak... ini urusan pribadi saya."

"Di mata hukum, ini urusan pidana kalau Ibu terus memeras," tegas Ipda Hendra. "Saya sudah lihat bukti-bukti. Ibu mengancam Aji akan dilaporkan kalau tidak diberi uang. Itu pemerasan."

Rubiah mulai gelisah. "Tapi... tapi dia memang berutang pada saya!"

"Utang apa? Buktinya mana?"

Rubiah tak bisa menjawab.

Ipda Hendra menghela napas. "Ibu Rubiah, saya sarankan Ibu berdamai. Terima apa adanya. Jangan perpanjang masalah. Kalau Ibu tetap ngotot, justru Ibu yang bisa dipidana karena pemerasan."

Rubiah diam. Ia memandangi semua orang di ruangan itu. Semua memusuhinya. Tak ada yang membela.

Akhirnya, ia mengalah.

"Baik. Saya... saya setuju damai. Tapi dengan syarat."

"Apa syaratnya?" tanya Ipda Hendra.

"Aji harus bayar saya lima juta. Sebagai ganti rugi. Setelah itu, saya pergi. Saya nggak akan ganggu lagi."

Pak Sudiro ingin protes, tapi Aji menahan.

"Setuju, Rub. Gue bayar lima juta. Tapi lo harus tanda tangan surat pernyataan bahwa lo nggak akan ganggu gue lagi."

"Setuju."

Kesepakatan damai ditandatangani.

Aji, dengan bantuan ayahnya yang terpaksa menjual sisa-sisa emas Ibu Jayanti, membayar Rubiah lima juta di depan polisi. Rubiah menerima uang itu dengan senyum puas. Ia tanda tangan surat pernyataan, lalu pergi tanpa menoleh.

Aji menghela napas panjang. Beban berat terangkat dari pundaknya.

"Terima kasih, Pak Kapolsek. Terima kasih, Pak Kades. Terima kasih semua," ucapnya.

Ipda Hendra menepuk pundaknya. "Aji, soal judi, kamu harus ikut pembinaan. Seminggu sekali lapor ke sini, ikut penyuluhan. Setelah tiga bulan, kalau perilakumu baik, kasus ini kami tutup."

Aji mengangguk. "Siap, Pak. Saya janji akan berubah."

Sepulang dari Polsek, Aji dan orang tuanya mengadakan pertemuan keluarga.

Pak Sudiro, meski masih lemah, memanggil anaknya untuk bicara serius.

"Aji, duduk."

Aji duduk di hadapan ayahnya. Ibu Jayanti duduk di samping suaminya, masih dengan mata sembab.

"Aji, Bapak lihat kamu sudah mulai berubah. Tapi perubahan itu harus terus dijaga. Nggak boleh setengah-setengah."

Aji mengangguk. "Iya, Pak."

"Bapak dan Ibu sudah tua. Kami nggak tahu berapa lama lagi bisa mendampingi kamu. Makanya, Bapak mau buat kesepakatan dengan kamu. Kesepakatan tertulis."

Aji mengerutkan kening. "Kesepakatan apa, Pak?"

Pak Sudiro mengeluarkan secarik kertas. "Ini. Bapak tulis sendiri."

Aji membaca kertas itu. Isinya:

KESEPAKATAN DUA TAHUN

1.              Aji Wungkal diberi hak mengelola kebun sawit seluas tiga hektar milik Pak Sudiro selama dua tahun.

2.              Seluruh hasil kebun selama dua tahun menjadi milik Aji, untuk digunakan melunasi utang-utangnya dan modal hidup.

3.              Setelah dua tahun, kebun dikembalikan kepada Pak Sudiro dalam kondisi baik.

4.              Selama dua tahun, Aji wajib:

o                 Tinggal di Desa Jelapat dan merawat orang tuanya.

o                 Tidak bermain judi dalam bentuk apa pun.

o                 Tidak berhubungan dengan Rubiah atau perempuan lain di luar ikatan pernikahan yang sah.

o                 Berusaha memperbaiki hubungan dengan Yulia dan Purnomo.

5.              Jika Aji melanggar satu saja dari ketentuan di atas, hak kelola kebun dicabut dan Aji harus pergi dari Desa Jelapat selamanya.

6.              Kesepakatan ini disaksikan oleh Kepala Desa dan tokoh masyarakat.

Aji membaca berulang kali. Ada perasaan haru dan malu.

"Pak... Aji nggak tahu harus bilang apa. Makasih, Pak. Makasih."

Pak Sudiro memeluk anaknya. "Bapak sayang kamu, Nak. Bapak nggak mau kamu hancur. Tapi Bapak juga harus tegas. Ini kesempatan terakhirmu."

Aji menangis di pelukan ayahnya. "Aji janji, Pak. Aji nggak akan sia-siakan kesempatan ini."

Ibu Jayanti ikut memeluk. Mereka bertiga berpelukan, menangis bersama.

Di luar, matahari mulai terbenam. Langit jingga kemerahan. Seperti harapan baru yang mulai merekah.

Keesokan harinya, Pak Heru mengumpulkan pemuda desa di balai desa.

Hadir dalam pertemuan itu: Rangga (Ketua Karang Taruna), Tono, Jamal, Bima, Lukman, Rizal, dan beberapa pemuda lainnya.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Heru.

"Pagi, Pak Kades," jawab mereka kompak.

Pak Heru memulai pertemuan. "Saya kumpulkan kalian untuk membicarakan Aji Wungkal. Kalian tahu kan kasusnya?"

Mereka mengangguk.

"Pak Sudiro sudah memberi Aji kesempatan. Dua tahun mengelola kebun sawit. Tapi kita semua tahu, Aji punya masalah besar: judi dan perempuan. Bisa-bisa dia kambuh lagi."

Rangga angkat bicara. "Jadi, Pak Kades mau kami memantaunya?"

"Tepat. Saya minta kalian, sebagai pemuda desa, ikut mengawasi Aji. Bukan untuk memusuhinya, tapi untuk membantunya. Kalau dia mulai menunjukkan gejala kambuh, segera laporkan ke saya atau ke Pak Sudiro."

Tono mengernyit. "Maksudnya gejala kambuh, Pak?"

"Misalnya, dia mulai sering ke luar desa tanpa alasan jelas. Atau ketemu orang asing. Atau tiba-tiba punya uang banyak. Atau mulai malas kerja. Atau yang paling parah: mulai main judi online lagi."

Para pemuda mengangguk paham.

"Pak Kades, saya setuju," kata Rangga. "Tapi kita harus hati-hati. Jangan sampai Aji merasa dikucilkan. Nanti dia malah tambah stres."

"Benar. Makanya, pendekatannya harus baik. Ajak dia ngobrol, ajak dia kerja bareng, libatkan dia di kegiatan pemuda. Dengan begitu, dia merasa diterima, bukan diawasi."

Lukman, yang dikenal sebagai aktivis pemuda, bertanya. "Pak, kalau soal hubungan dia dengan Rubiah, gimana? Perempuan itu bisa datang lagi kapan saja."

Pak Heru menghela napas. "Itu yang paling saya khawatirkan. Tapi kita sudah punya perjanjian damai di polisi. Kalau Rubiah datang lagi, kita bisa lapor polisi. Tapi kalau Aji yang mencari dia... itu lain soal."

"Berarti kita harus pastikan Aji nggak cari-cari dia," kata Bima.

"Tepat."

Pertemuan ditutup dengan kesepakatan: para pemuda akan bergantian 'memantau' Aji dengan cara yang halus dan bersahabat.

Sejak hari itu, Aji mulai sering diajak pemuda desa.

Mereka ajak dia kerja bakti, ajak dia olahraga, ajak dia ngopi di warung Bu Marni. Aji awalnya kaku, tapi lama-lama mulai terbuka.

"Bang Aji, ikut kita mancing yuk," ajak Tono suatu sore.

"Mancing? Di mana?"

"Di sungai belakang. Biasanya kami mancing sambil bakar ikan."

Aji tersenyum. "Boleh. Gue ikut."

Mereka pergi ke sungai. Di sana, Aji duduk di tepi sungai, memancing bersama pemuda-pemuda desa. Sambil menunggu ikan, mereka ngobrol ngalor-ngidul.

"Bang, gimana rasanya hidup di kota?" tanya Jamal penasaran.

Aji menghela napas. "Kota? Sibuk, ramai, keras. Gue dulu kira kota itu surga. Ternyata... neraka."

"Kok neraka?"

"Karena di kota, gue kehilangan diri gue sendiri. Kehilangan keluarga. Kehilangan segalanya."

Para pemuda diam. Mereka tak menyangka Aji sejujur itu.

"Tapi sekarang, di desa, gue mulai menemukan lagi. Berkat kalian, berkat orang tua gue, berkat desa ini."

Rangga menepuk pundak Aji. "Kita semua punya masa lalu, Bang. Yang penting adalah masa depan."

Aji tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa punya teman. Teman sejati, bukan teman yang cari keuntungan.

Di rumah Pak Sudiro, Ibu Jayanti berdoa setiap malam.

"Ya Allah, lindungi anakku. Jauhkan dia dari godaan setan. Beri dia kekuatan untuk berubah. Kembalikan dia ke jalan yang benar."

Pak Sudiro, yang mendengar doa istrinya, ikut mengamini.

"Semoga Aji benar-benar berubah, Bu. Bapak sudah tua. Bapak nggak kuat lagi kalau harus lihat dia hancur."

"Mudah-mudahan, Mas. Mudah-mudahan."

Mereka berpegangan tangan, memandang langit-langit rumah yang mulai bocor.

Hidup mereka memang sudah tak mewah seperti dulu. Tapi setidaknya, ada harapan. Harapan bahwa anak mereka bisa berubah. Harapan bahwa keluarga mereka bisa utuh kembali.

Namun mereka tak tahu, di kejauhan, badai masih mengintai.

Rubiah, meski sudah menerima uang, tak akan tinggal diam. Ia sakit hati. Dan orang sakit hati bisa melakukan apa saja.

Selain itu, utang Aji pada Liong belum lunas. Bunganya terus berjalan. Liong bukan tipe bandar yang mudah lupa. Ia akan datang. Cepat atau lambat.

Dan yang paling berat: Yulia. Aji belum memberanikan diri untuk menemuinya. Ia belum tahu bagaimana reaksi Yulia. Apakah Yulia mau menerimanya kembali? Atau sudah terlanjur sakit hati?

Konflik sesungguhnya masih akan datang.

Dan Aji harus siap menghadapinya.

BAGIAN VI

KESERAKAHAN YANG TAK TERPUASKAN

Enam bulan telah berlalu sejak Aji memulai babak baru dalam hidupnya di Desa Jelapat.

Setiap hari ia bangun sebelum subuh. Mandi, salat, lalu berangkat ke kebun. Ia bekerja bersama Pak Mahmud dan dua pekerja lainnya, memanen buah sawit, membersihkan pelepah, memupuk pohon-pohon yang mulai berkurang produktivitasnya.

Kebun sawit tiga hektar itu kini tampak berbeda. Dari yang semula agak terlantar, kini rapi terawat. Pelepah-pelepah kering sudah dibersihkan. Parit-parit drainase sudah digali. Rumput-rumput liar yang menyaingi pohon sawit sudah ditebas.

"Bang Aji, kebun ini jadi subur lagi," puji Pak Mahmud suatu hari.

Aji tersenyum. "Alhamdulillah, Pak. Berkat kerja keras kita semua."

"Pantesan Pak Sudiro percaya sama Abang. Abang memang punya bakat jadi petani."

Aji tertawa. "Dulu saya kira jadi petani itu pekerjaan rendah. Sekarang saya baru sadar, dari petani lah semua orang makan. Petani itu mulia."

Pak Mahmud tersenyum bangga. Ia senang melihat perubahan Aji. Pemuda yang dulu sombong dan manja itu kini menjadi pribadi yang rendah hati dan pekerja keras.

Namun di balik kesuksesan mengelola kebun, ada masalah yang mengintai: keuangan.

Aji menghitung-hitung penghasilan dari kebun sawit. Sekali panen, ia bisa mendapat sekitar 2-3 ton buah sawit. Dengan harga Rp 2.000 per kilogram, pendapatannya sekitar 4-6 juta rupiah per panen. Dalam sebulan, ia bisa panen dua kali. Jadi pendapatan kotornya sekitar 8-12 juta per bulan.

Tapi itu belum dipotong biaya operasional. Upah pekerja, pupuk, obat-obatan, transportasi. Setelah dipotong semua, bersihnya hanya sekitar 5-7 juta per bulan.

Aji membagi uang itu untuk beberapa keperluan:

·                2 juta untuk orang tuanya (biaya hidup dan obat-obatan Ibu Jayanti)

·                1 juta untuk tabungan (ia ingin menabung untuk modal rujuk dengan Yulia)

·                1 juta untuk biaya hidup sehari-hari

·                Sisanya, sekitar 1-3 juta, untuk mencicil utang.

Masalahnya, utangnya pada Liong bukan utang kecil. Pokok pinjaman 20 juta dengan bunga 10% per bulan. Selama enam bulan ia tak membayar, bunganya sudah 12 juta. Total utangnya 32 juta. Dan bunga terus berjalan setiap bulan.

Dengan cicilan 1-3 juta per bulan, butuh waktu bertahun-tahun untuk melunasinya. Belum lagi bunga yang terus menumpuk.

Aji mulai pusing.

Suatu malam, ia menghitung utangnya dengan cermat.

"32 juta plus bunga bulan ini 3,2 juta, total 35,2 juta. Bulan depan tambah bunga lagi 3,52 juta, jadi 38,72 juta. Bulan berikutnya tambah 3,87 juta, jadi 42,59 juta. Kalau terus begini, dalam setahun utangku bisa 70 juta lebih!"

Ia memegangi kepalanya. Pusing. Stress. Ingin marah, tapi tak tahu pada siapa.

"Ya Allah... bagaimana ini? Aku sudah bekerja keras, tapi utangku makin besar. Bunganya mencekik."

Ia mencoba berpikir jernih. Mencari solusi. Mungkin ia bisa pinjam uang ke bank untuk melunasi utang ke Liong. Bunga bank lebih rendah. Tapi bank butuh agunan. Apa agunannya? Kebun ini bukan miliknya, hanya hak kelola. Rumah orang tuanya sudah digadaikan. Tak ada yang bisa dijaminkan.

Mungkin ia bisa bicara baik-baik dengan Liong. Minta keringanan bunga. Minta rescheduling. Tapi apa Liong mau? Bandar judi mana yang mau rugi?

Aji putus asa. Ia mulai merokok lagi, kebiasaan yang sudah ia tinggalkan selama enam bulan.

Keesokan harinya, Aji memutuskan untuk bicara dengan ayahnya.

"Pak, Aji mau ngomong."

Pak Sudiro yang sedang minum kopi di teras menoleh. "Ada apa, Nak?"

Aji duduk di samping ayahnya. Wajahnya muram.

"Pak, utang Aji ke Liong makin besar. Bunganya mencekik. Aji takut... takut nggak bisa bayar."

Pak Sudiro menghela napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi.

"Berapa sekarang utangmu?"

"Tiga puluh lima juta, Pak. Bulan depan bisa empat puluh."

Pak Sudiro diam. Ia memandangi kebun di kejauhan. Pikirannya berkecamuk.

"Nak, Bapak sudah bilang. Bapak nggak punya uang. Semua sudah habis. Yang tersisa hanya kebun ini, dan itu pun Bapak kasih kau kelola."

"Tapi, Pak... kalau Aji nggak bayar, Liong bisa ambil tanah ini. Tanah ini kan jaminan."

Pak Sudiro terkejut. "JAMINAN? Kau jadikan tanah ini jaminan utang?"

Aji menunduk. "Maaf, Pak. Waktu itu Aji terdesak. Aji pikir bisa bayar. Tapi ternyata nggak."

Pak Sudiro bangkit berdiri. Wajahnya merah.

"KAU GILA! TANAH INI SATU-SATUNYA YANG TERSISA! KAU JADIKAN JAMINAN UTANG KEPADA BANDAR JUDI?!"

Aji diam. Ia tak bisa membela diri.

"Bapak sudah capek, Aji. Capek dengan ulahmu. Setiap kali Bapak kasih kesempatan, kau selalu hancurkan. Kapan kau mau berubah? Kapan?"

"Pak, Aji minta maaf. Tapi Aji butuh bantuan. Aji nggak tahu harus gimana."

Pak Sudiro duduk lagi. Tubuhnya lemas. Ibu Jayanti yang mendengar keributan keluar dan ikut duduk di samping suaminya.

"Sudiro... tenang. Jangan marah-marah, nanti sakit."

Pak Sudiro menghela napas panjang. "Aji, Bapak nggak bisa bantu uang. Tapi Bapak bisa bantu pikiran. Coba kau datangi Liong. Bicara baik-baik. Minta keringanan. Jelaskan situasimu. Siapa tahu dia mau mengerti."

Aji ragu. "Tapi, Pak... Liong itu bandar. Masa bandar mau mengerti?"

"Coba dulu. Nggak ada salahnya. Kalau dia nggak mau, kita pikirkan cara lain."

Aji mengangguk. "Baik, Pak. Aji coba."

Di kota Sampit, Rubiah mulai gelisah lagi.

Uang 5 juta dari Aji sudah habis dalam dua bulan. Ia memang boros. Setiap hari beli baju baru, tas baru, sepatu baru. Makan di restoran mahal. Hangout di kafe-kafe elit. Uang cepat habis, tapi gaya hidup tak bisa turun.

Sekarang ia kembali kekurangan uang. Kontrakan sudah nagih. Listrik mau diputus. Dan ia tak punya siapa-siapa. Teman-temannya mulai menjauh karena ia selalu pinjam uang tak bayar.

"Sialan," umpatnya sambil merokok di kamar kontrakannya yang mulai berantakan.

Ia membuka ponsel, melihat nomor Aji. Sudah lama tak dihubungi. Mungkin Aji pikir semuanya sudah beres. Mungkin Aji pikir ia sudah pergi selamanya.

"Pikir lo gue bakal diem aja? Enak aja."

Ia menekan nomor Aji.

"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif."

Rubiah mengumpat lagi. Aji ganti nomor. Tentu saja. Biar susah dihubungi.

Tapi Rubiah bukan perempuan bodoh. Ia punya cara. Ia hubungi Yanto.

"Yan, gue butuh nomor baru Aji."

Yanto yang menerima telepon itu menghela napas. "Rul, udahlah. Lepasin Aji. Dia sudah punya hidup baru."

"Gue nggak peduli hidup baru atau lama. Dia masih punya utang ke gue."

"Utang apa? Bukannya udah damai di polisi?"

"Damai 5 juta? Itu mah cuma obat kutu. Gue butuh lebih."

Yanto diam. Ia muak dengan Rubiah. Tapi ia juga tak mau terlibat lebih jauh.

"Gue nggak tahu nomornya, Rul. Cari sendiri."

"Yan, jangan pelit. Lo pasti tahu."

"Gue bilang nggak tahu!"

Yanto mematikan telepon. Rubiah mengumpat panjang.

Tapi Rubiah pantang menyerah.

Ia mulai mencari informasi dari kenalan-kenalannya. Dari teman Aji yang dulu, dari pedagang pasar, dari sopir truk yang sering ke Seruyan. Akhirnya, seorang kenalan memberinya nomor baru Aji.

"Ini nomornya. Tapi jangan bilang-bilang ya, gue dikasih."

Rubiah tersenyum puas. Ia segera menekan nomor itu.

"Halo?" suara Aji di ujung sana.

Rubiah tersenyum manis, meski Aji tak melihatnya. "Sayang... kangen nggak sama gue?"

Hening di ujung sana. Aji jelas terkejut.

"Ru... Rubiah? Lo dari mana dapat nomor gue?"

"Rahasia, dong. Yang penting gue bisa hubungi lo. Gimana kabar? Baik?"

Aji menghela napas. "Rul, kita sudah selesai. Udah damai di polisi. Lo sudah terima uang. Jangan ganggu gue lagi."

"Ganggu? Enak aja. Gue kangen, masa dibilang ganggu."

"Rub, gue serius. Gue lagi berusaha memperbaiki hidup. Jangan hancurin lagi."

Rubiah berubah. Suaranya dingin. "Lo pikir gue bakal diem aja? Lo tinggalin gue setelah semua yang gue korbankan? Lo pikir 5 juta cukup?"

Aji diam. Ia sudah menduga ini akan terjadi.

"Lo mau apa lagi, Rul?"

"Gue mau 20 juta. Dalam waktu sebulan. Kalau nggak, gue datang lagi ke desa lo. Gue bikin onar. Gue kasih tahu istri lo yang dulu tentang semua perbuatan lo. Gue hancurin hidup lo."

Aji mengepalkan tangannya. Ia ingin marah, tapi ia tahan.

"Rub, lo nggak punya hati."

"Hati? Buat apa? Hidup ini keras, Ji. Yang kuat yang menang. Lo sudah menang, lo dapat hidup baru. Sekarang giliran gue yang menang. 20 juta. Sebulan."

Rubiah mematikan telepon.

Aji memandangi ponselnya dengan perasaan hancur. Ia baru saja mulai tenang, sekarang badai datang lagi.

Malam itu, Aji tak bisa tidur.

Ia memikirkan Rubiah. Perempuan itu seperti lintah. Tak pernah puas. Makin diberi makin minta. Kalau diberi 20 juta, nanti minta 50 juta lagi. Tak akan ada habisnya.

Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tak punya uang. Ia masih punya utang ke Liong yang menggunung. Sekarang Rubiah datang lagi.

Ia mencoba menghubungi Yanto. Mencari saran.

"Yan, gue lagi masalah."

"Masalah apa, Ji?"

"Rubiah. Dia minta 20 juta. Ancang-ancang mau datang ke desa."

Yanto menghela napas panjang. "Gue sudah bilang dari dulu. Perempuan itu racun. Sekarang lo rasain sendiri."

"Gue harus gimana, Yan?"

"Lapor polisi aja. Itu pemerasan. Udah ada bukti ancaman."

"Tapi gue nggak punya bukti rekaman. Cuma lewat telepon."

"Kalau dia telepon lagi, rekam. Terus lapor. Itu cara satu-satunya. Kalau lo kasih uang, dia akan terus-terusan minta."

Aji mengangguk, meski Yanto tak melihat. "Baik, Yan. Makasih."

"Ji, lo harus kuat. Ini ujian. Kalau lo bisa lewati, lo akan jadi pribadi yang lebih baik. Kalau lo kalah, lo akan hancur selamanya."

Aji menghela napas. "Gue akan coba, Yan. Makasih."

Seminggu kemudian, Aji kedatangan tamu tak diundang di kebunnya.

Saat sedang memanen bersama Pak Mahmud, tiba-tiba dua orang lelaki besar masuk ke kebun. Mereka berpakaian preman, bertato, dan berwajah garang.

"Kamu Aji Wungkal?" tanya salah satu.

Aji menegang. "Iya. Siapa?"

"Utusan Bos Liong. Bos minta ketemu. Sekarang."

Aji menghela napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi.

"Ada perlu apa?"

"Lo tanya perlu apa? Utang lo sudah 40 juta. Bunga jalan terus. Bos minta bayaran."

Aji memegangi dahinya. 40 juta. Dalam sebulan bunganya bertambah 4 juta. Utangnya makin membengkak.

"Saya... saya belum punya uang, Pak. Tolong sampaikan ke Bos, saya minta waktu. Saya akan bayar."

Preman itu tersenyum sinis. "Minta waktu? Lo pikir ini bank? Ini utang ke Bos. Kalau nggak bayar, ada konsekuensinya."

"Konsekuensi apa?"

Preman itu memandangi kebun sawit di sekelilingnya. "Kebun ini lumayan luas. Bos bisa ambil alih. Atau..." ia memandang Pak Mahmud yang ketakutan, "... orang-orang yang lo sayang bisa celaka."

Aji marah. "Jangan ancam! Ini urusan saya sama Bos! Nggak usah libatkan orang lain!"

"Terserah lo. Pokoknya minggu depan, lo harus bayar minimal bunganya. 4 juta. Kalau nggak, kami datang lagi. Dan kali ini nggak cuma ngomong."

Kedua preman itu pergi, meninggalkan Aji dengan hati berdebar.

Pak Mahmud mendekati Aji dengan wajah pucat.

"Bang Aji... itu... itu preman ya? Ada urusan apa sama Abang?"

Aji menghela napas. "Urusan utang, Pak. Maaf, Bapak lihat itu."

"Abang utang sama mereka?"

"Iya. Saya punya masalah di kota dulu. Sekarang mereka tagih."

Pak Mahmud menggeleng-geleng. "Abang harus hati-hati. Mereka orang-orang jahat. Bisa celaka."

Aji mengangguk. "Saya tahu, Pak. Saya akan selesaikan."

Namun di dalam hatinya, ia tak tahu harus bagaimana. 4 juta dalam seminggu. Dari mana ia bisa dapat uang sebanyak itu? Hasil kebun bulan ini sudah habis buat biaya operasional dan cicilan utang ke rentenir lain. Ia tak punya tabungan.

Malam harinya, Aji kembali bicara dengan ayahnya.

"Pak, Aji ditagih preman Liong. Minta 4 juta minggu depan."

Pak Sudiro menghela napas. Ia sudah terlalu sering mendengar kabar buruk dari anaknya.

"Aji, Bapak sudah nggak punya apa-apa. Uang Bapak habis buat biaya hidup dan obat Ibu. Satu-satunya yang Bapak punya adalah kebun itu, dan itu sudah Bapak kasih kau kelola."

"Tapi, Pak, Aji butuh bantuan. Kalau nggak dibayar, mereka bisa celakai Aji. Atau celakai orang-orang sekitar."

Pak Sudiro diam. Ia berpikir keras.

"Aji, bagaimana kalau kau jual saja hak kelola kebun ini? Cari orang yang mau beli. Uangnya bisa buat bayar utang."

Aji terkejut. "Jual hak kelola? Tapi itu tanah Bapak."

"Bukan tanahnya, tapi hak kelolanya. Selama dua tahun. Itu bisa dijual. Mungkin ada yang mau beli, petani lain yang butuh lahan."

Aji berpikir. Itu ide. Tapi konsekuensinya besar. Ia akan kehilangan sumber penghasilan. Ia akan kembali menganggur. Tapi mungkin itu lebih baik daripada dikejar-kejar preman.

"Tapi, Pak... setelah itu Aji kerja apa?"

"Kau bisa cari kerja lain. Jadi buruh tani, jadi kuli bangunan, apa saja. Yang penting halal. Yang penting kau jauh dari utang."

Aji mengangguk pelan. "Baik, Pak. Aji coba cari pembeli."

Dua hari kemudian, Aji bertemu dengan calon pembeli hak kelola kebun.

Namanya Pak Darmawan, seorang petani kaya dari desa tetangga. Ia tertarik dengan kebun sawit Pak Sudiro yang subur dan produktif.

"Berapa Abang mau jual hak kelolanya?" tanya Pak Darmawan.

Aji ragu. Ia tak tahu harga pasaran. "Berapa Bapak mau beli?"

Pak Darmawan berpikir. "Kebun ini luasnya 3 hektar. Produktif. Kalau hak kelola 2 tahun, biasanya laku 30-40 juta. Tapi tergantung negosiasi."

Aji terkejut. 30-40 juta. Itu cukup untuk bayar utang ke Liong dan Rubiah, bahkan masih sisa.

"Kalau 35 juta, gimana, Pak?"

Pak Darmawan mengangguk. "Boleh. Tapi saya lihat dulu kondisi kebunnya, surat-suratnya, dan saya harus bicara dengan pemilik tanah langsung, yaitu Pak Sudiro."

Aji mengangguk. "Baik, Pak. Besok saya antar ke rumah."

Keesokan harinya, Pak Darmawan datang ke rumah Pak Sudiro.

Pak Sudiro menerimanya dengan baik. Mereka bicara panjang lebar tentang kebun, tentang harga, tentang kesepakatan.

"Pak Sudiro, saya tertarik beli hak kelola kebun Bapak selama 2 tahun. Harga 35 juta. Tapi saya perlu kepastian, apakah Bapak setuju?"

Pak Sudiro memandang Aji. Anaknya tampak tegang.

"Saya setuju, Pak. Tapi dengan satu syarat."

"Apa syaratnya, Pak?"

"Uangnya jangan langsung diberikan ke Aji. Berikan ke saya. Saya yang akan mengatur pembayaran utang-utangnya. Saya takut kalau Aji pegang uang sebanyak itu, malah dipakai judi lagi."

Aji tersentak. "Pak! Aji nggak akan—"

"Bapak tahu kau nggak akan. Tapi Bapak ingin jaga-jaga. Setelah pengalaman kemarin, Bapak nggak bisa percaya begitu saja."

Pak Darmawan mengangguk. "Itu bijaksana, Pak. Saya setuju."

Aji diam. Ia kecewa, tapi ia tahu ayahnya benar. Ia memang punya riwayat buruk dengan uang.

Kesepakatan ditandatangani. Pak Darmawan membayar 35 juta tunai kepada Pak Sudiro.

Pak Sudiro menerima uang itu dengan tangan gemetar. Uang sebanyak ini dulu biasa baginya. Sekarang, setelah jatuh miskin, uang ini terasa sangat berarti.

"Aji, Bapak akan atur pembayaran utangmu. Utang ke Liong 40 juta, utang ke Rubiah katanya 20 juta, total 60 juta. Uang ini cuma 35 juta. Masih kurang 25 juta. Kita harus cari cara lain."

Aji lemas. Ia pikir dengan 35 juta semua utangnya lunas. Ternyata masih kurang banyak.

"Bagaimana ini, Pak?"

Pak Sudiro menghela napas. "Kita bayar yang paling mendesak dulu. Liong. Utangnya 40 juta, bunganya terus jalan. Kita bayar 35 juta, masih kurang 5 juta. Minta keringanan, minta hapus bunganya."

"Kalau Rubiah?"

"Rubiah... kita lihat nanti. Mungkin setelah Liong lunas, kita bisa cicil."

Pak Sudiro mengatur pertemuan dengan Liong.

Liong setuju bertemu di sebuah kafe di Sampit. Aji dan Pak Sudiro datang bersama. Liong datang dengan dua preman besarnya.

"Pak Sudiro, senang bertemu," sapa Liong dengan senyum ramah, meski matanya tajam.

Pak Sudiro tak banyak bicara. Ia langsung mengeluarkan uang 35 juta dari tasnya.

"Liong, ini uang 35 juta. Buat bayar utang anak saya. Total utangnya 40 juta, kami bayar 35 juta. Minta keringanan 5 juta dan hapus semua bunga."

Liong tertawa. "Pak Sudiro, bisnis itu hitung-hitungan. Utang 20 juta, bunga 10% per bulan, selama setahun jadi 40 juta lebih. Itu hitungan matematika. Saya nggak bisa hapus begitu saja."

"Tapi anak saya sudah jual hak kelola kebun untuk bayar utang ini. Itu satu-satunya harta yang tersisa. Tolong, beri keringanan."

Liong diam. Ia memandangi uang 35 juta di depannya. Lalu memandang Aji yang tertunduk.

"Aji, lo lihat orang tuamu. Dia rela datang jauh-jauh, bawa uang, buat selametin lo. Lo beruntung punya ortu kayak gini."

Aji mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.

"Iya, Bos. Aji sadar."

Liong menghela napas. "Baik. Saya terima 35 juta ini. Utang lo saya anggap lunas. Tapi ingat, kalau lo main judi lagi di tempat saya, atau di tempat lain, saya nggak akan segan-segan. Saya akan cari lo. Saya akan hancurin lo."

Aji mengangguk. "Saya janji, Bos. Nggak akan main judi lagi."

Liong menerima uang itu, lalu pergi bersama preman-preman nya.

Aji dan Pak Sudiro menghela napas lega. Utang paling berat sudah lunas.

Sesampainya di rumah, Pak Sudiro jatuh sakit.

Perjalanan ke Sampit, stres, dan tekanan batin membuat kesehatannya drop. Ia demam tinggi, badannya lemas, tak bisa bangun.

Ibu Jayanti panik. Aji segera memanggil mantri desa.

"Pak Sudiro harus istirahat total. Jangan banyak pikiran. Jangan stres," kata mantri.

Aji duduk di samping ayahnya. Ia memegang tangan ayahnya yang lemah.

"Pak... maafin Aji. Ini semua salah Aji."

Pak Sudiro membuka matanya. Dengan suara lemah, ia berkata,

"Aji... Bapak sayang kamu. Tapi Bapak capek. Bapak sudah tua. Bapak nggak kuat lagi kalau harus terus-terusan bersihin masalahmu. Kali ini Bapak bantu. Tapi kalau kamu jatuh lagi, Bapak nggak akan bisa bantu. Bapak sumpah... demi Allah... Bapak nggak akan peduli lagi kalau kamu hancur."

Aji menangis. Ia memeluk ayahnya.

"Pak... Aji janji. Aji akan berubah. Sungguh. Aji nggak akan buat Bapak kecewa lagi."

Pak Sudiro mengelus kepala anaknya.

"Bapak harap begitu, Nak. Bapak harap begitu."

Kabar tentang Pak Sudiro yang sakit menyebar cepat di Desa Jelapat.

Warga desa berbondong-bondong datang menjenguk. Mereka membawa buah tangan: pisang, jeruk, susu, bubur ayam. Semua ingin menunjukkan rasa prihatin mereka.

Pak Karto datang dengan istrinya, Bu Karto. Mereka duduk di samping tempat tidur Pak Sudiro.

"Pak Sudiro, cepat sembuh ya. Jangan banyak pikiran," ucap Pak Karto.

Pak Sudiro tersenyum lemah. "Terima kasih, Pak Karto."

"Anak-anak sudah pada dewasa. Biarkan mereka urus hidupnya masing-masing. Bapak fokus sama kesehatan."

Pak Sudiro mengangguk. "Iya, Pak. Saya sudah pasrah."

Pak Hasan, tokoh agama, juga datang. Ia membacakan doa-doa kesembuhan.

"Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu ini. Angkatlah penyakitnya. Berikanlah kesehatan dan kekuatan. Amin."

Semua mengamini.

Setelah doa, Pak Hasan bicara pada Aji yang duduk di pojok ruangan.

"Aji, nak, mari sebentar."

Aji mendekat. "Iya, Pak Hasan."

"Aji, masyarakat prihatin dengan keadaan keluargamu. Dulu kalian orang terkaya di desa. Sekarang... maaf, nyaris miskin. Ini semua karena ulahmu."

Aji menunduk. Ia tak bisa membantah.

"Tapi kami nggak memusuhimu. Kami masih menerimamu sebagai warga desa. Karena kami percaya, setiap orang punya kesempatan untuk berubah. Dan kami lihat kamu sudah berubah."

Aji mengangkat wajahnya. Ada harapan di matanya.

"Tapi ingat, Aji. Perubahan itu harus konsisten. Jangan setengah-setengah. Jangan kambuh lagi. Masyarakat akan terus mengawasi. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mendukung."

Aji mengangguk. "Terima kasih, Pak Hasan. Terima kasih semuanya."

Di luar rumah, para tetangga bergosip.

"Kasihan Pak Sudiro. Dulu kaya raya, sekarang jatuh miskin gara-gara anak," kata Bu Marni.

"Iya, anak itu memang durhaka. Tapi sekarang katanya sudah berubah," sahut Bu Sulastri.

"Berubah? Ah, masa sih? Serigala tetap serigala. Nanti juga kambuh."

"Ya kita lihat saja. Semoga benar-benar berubah."

Rangga dan pemuda desa lainnya ikut prihatin. Mereka berjanji akan terus memantau Aji, membantu jika perlu, mengingatkan jika mulai salah.

"Pokoknya kita jaga terus. Jangan sampai Aji terjerumus lagi. Kasihan orang tuanya," kata Rangga pada teman-temannya.

Sementara itu, Aji duduk di kamar Purnomo.

Ya, kamar yang disiapkan Ibu Jayanti untuk cucunya yang belum pernah datang. Ada tempat tidur kecil, meja belajar, dan mainan-mainan bekas yang dikumpulkan dari tetangga.

Aji memegang bantal kecil di tempat tidur itu. Ia membayangkan Purnomo tidur di sini. Ia membayangkan bisa menggendong anaknya, mengajaknya main, membacakan cerita.

"Purnomo... Nak... Bapak janji. Bapak akan jemput kamu. Bapak akan minta maaf sama Ibumu. Bapak akan jadi bapak yang baik buat kamu."

Air matanya jatuh.

"Tapi sebelum itu, Bapak harus selesaikan dulu semua masalah. Bapak harus lunasi utang ke Rubiah. Bapak harus punya pekerjaan tetap. Bapak harus punya rumah layak buat kalian."

Ia memandang langit-langit kamar.

"Ya Allah, beri aku kekuatan. Beri aku jalan. Aku ingin pulang. Pulang ke keluarga yang dulu aku tinggalkan. Pulang ke anak yang dulu aku abaikan. Pulang ke istri yang dulu aku khianati."

Doa Aji malam itu adalah doa yang paling tulus dalam hidupnya.

Namun ia tak tahu, Rubiah masih mengintai di kejauhan.

Dan Liong, meski sudah menerima uang, belum tentu benar-benar melepaskannya.

Badai belum berlalu. Mungkin baru akan datang.

BAGIAN VII

KEHANCURAN KELUARGA

Tiga bulan telah berlalu sejak Pak Sudiro jatuh sakit.

Kesehatan Pak Sudiro naik turun. Kadang membaik, bisa duduk dan berjalan pelan. Kadang kambuh, demam tinggi dan lemas tak berdaya. Ibu Jayanti setia merawatnya, meski tubuhnya sendiri mulai renta.

Aji bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pagi-pagi ia jadi kuli bangunan di proyek rumah warga. Siangnya ia bantu-bantu di kebun milik Pak Darmawan (sekarang hak kelolanya sudah dijual). Malamnya kadang jadi tukang ojek kalau ada yang butuh.

Penghasilannya pas-pasan. Cukup untuk makan sehari-hari dan beli obat untuk ayahnya. Tak cukup untuk menabung, apalagi membayar utang ke Rubiah yang masih 20 juta.

Rubiah terus menerornya. Setiap minggu pasti menelepon, mengirim SMS, bahkan kadang mengirim foto-foto lama mereka berdua sebagai pengingat.

"Ji, kapan bayar utang? Aku butuh uang."

"Ji, jangan lupa 20 juta. Aku tunggu."

"Ji, kalau nggak bayar, aku datang ke desa. Aku bawa semua bukti. Aku kasih tahu istrimu yang dulu semua tentang lo."

Aji membaca pesan-pesan itu dengan perasaan campur aduk. Marah, takut, putus asa. Tapi apa daya, ia tak punya uang.

Suatu sore, Ibu Jayanti memanggil Aji.

"Nak, Ibu mau bicara."

Aji duduk di hadapan ibunya. Wajah Ibu Jayanti terlihat lebih tua dari usianya. Rambutnya makin putih, kerut di wajahnya makin dalam.

"Iya, Bu. Ada apa?"

Ibu Jayanti menghela napas. "Nak, Ibu tahu kamu masih punya utang ke Rubiah. 20 juta, kan?"

Aji terkejut. "Bu tahu?"

"Ibu tahu dari ayahmu. Dia cerita sebelum sakitnya parah."

Aji menunduk. "Maaf, Bu. Aji belum bisa bayar."

Ibu Jayanti meraih tangan anaknya. "Nak, Ibu nggak punya uang. Semua sudah habis. Tapi Ibu masih punya sesuatu."

"Apa, Bu?"

Ibu Jayanti berdiri, berjalan ke lemari tua di sudut ruangan. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil, berukir indah. Ia membukanya, memperlihatkan isinya: perhiasan. Gelang emas, kalung, cincin, anting-anting. Semua berkilau meski sudah lama tak dipakai.

"Ini, Nak. Perhiasan Ibu. Mas kawin dari ayahmu dulu. Dan beberapa hadiah dari nenek buyutmu."

Aji terbelalak. "Bu... ini... ini kenapa Ibu simpan?"

"Ibu simpan untuk jaga-jaga. Ibu pikir, jangan-jangan suatu hari kita butuh. Nah, sekarang waktunya."

Aji menggeleng. "Nggak, Bu. Ibu nggak boleh jual ini. Ini kenang-kenangan."

"Nak, kenang-kenangan bisa dicari lagi. Tapi nyawa anak Ibu, masa depan anak Ibu, itu nggak bisa dicari. Ibu rela jual semua ini asal kamu bisa lepas dari Rubiah."

Aji menangis. Ia memeluk ibunya.

"Bu... Aji jahat. Aji durhaka. Aji bikin susah Ibu."

Ibu Jayanti mengelus kepala anaknya. "Sudah, Nak. Jangan nangis. Ibu ikhlas. Asal kamu benar-benar berubah."

Keesokan harinya, Aji pergi ke kota untuk menjual perhiasan ibunya.

Ia masuk ke toko emas langganan keluarga dulu. Toko emas "Sinar Jaya" di Pasar Sampit, tempat biasa ia diajak ibunya saat kecil.

"Wah, Aji? Udah gede," sapa pemilik toko, Pak Tan, seorang Tionghoa paruh baya yang ramah.

"Iya, Pak. Lama nggak ketemu."

"Apa kabar? Mau beli emas?"

Aji menghela napas. "Mau jual, Pak. Perhiasan ibu saya."

Pak Tan menerima perhiasan itu, memeriksanya dengan kaca pembesar. Ia menimbang satu per satu.

"Ini kualitas bagus, Aji. Emas 24 karat. Berat total 50 gram. Kalau harga hari ini Rp 900.000 per gram, totalnya 45 juta. Tapi karena ini jual, saya hargai Rp 850.000 per gram. Total 42,5 juta. Setuju?"

Aji mengangguk. "Setuju, Pak."

Ia menerima uang tunai 42,5 juta. Uang terbesar yang pernah ia pegang dalam hidupnya. Tapi ia tak merasa senang. Yang ia rasakan hanya sedih. Sedih karena ibunya rela menjual kenang-kenangan untuknya.

Aji segera mentransfer 20 juta ke rekening Rubiah.

Tak lama, ponselnya berdering. Rubiah.

"Ji, uangnya udah masuk. 20 juta. Makasih."

Aji menjawab dingin. "Ini terakhir, Rul. Jangan hubungi aku lagi. Kita putus total."

Rubiah tertawa di ujung sana. "Putus? Enak aja. Siapa tahu nanti aku butuh lagi."

"NGGAK AKAN ADA LAGI! Ini terakhir!"

Aji mematikan telepon. Ia memblokir nomor Rubiah. Semua kontak, semua medsos, semua yang bisa dihubungi, ia blokir.

"Semoga kau masuk neraka, Rubiah," gumamnya.

Sisa uang 22,5 juta ia bawa pulang ke desa.

"Ibu, ini sisa uangnya. 22,5 juta. Buat Ibu simpan. Jangan buat Aji. Buat Ibu dan Bapak."

Ibu Jayanti terharu. "Nak, ini uangmu. Ibu nggak—"

"Ini uang Ibu. Dari perhiasan Ibu. Aji nggak berhak. Ibu simpan saja. Buat biaya hidup, buat obat Bapak. Kalau Aji butuh, Aji minta. Tapi jangan kasih kalau Aji minta buat hal buruk."

Ibu Jayanti memeluk anaknya. "Nak... Ibu bangga sama kamu."

Aji tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa tenang. Utang ke Rubiah lunas. Rubiah sudah diblokir. Semoga perempuan itu benar-benar pergi dari hidupnya.

Tapi ia lupa, Rubiah tak pernah menepati janji.

Dua minggu setelah penjualan perhiasan, Pak Sudiro jatuh sakit parah.

Bukan demam biasa. Kali ini, ia terkena stroke ringan. Separuh wajahnya lumpuh, bicaranya pelo, dan ia sulit berjalan.

Aji panik. Ia membawa ayahnya ke rumah sakit di Sampit. Dokter memeriksa dengan serius.

"Pak Sudiro terkena stroke ringan. Ini akibat stres berkepanjangan, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, dan kelelahan. Harus dirawat inap."

Aji lemas. "Berapa lama, Dok?"

"Minimal seminggu. Tergantung perkembangannya. Yang penting, Pak Sudiro harus istirahat total. Tidak boleh stres. Tidak boleh banyak pikiran."

Aji menatap ayahnya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Hatinya hancur. Ia tahu, semua ini akibat ulahnya. Stres karena masalahnya, tekanan batin karena ulahnya, kelelahan karena memikirkan dia.

"Pak... maafin Aji. Aji jahat."

Pak Sudiro membuka matanya. Dengan susah payah, ia berkata, "Aji... Bapak... sayang... kamu."

Aji menangis. Ia memegang tangan ayahnya.

"Pak, Aji janji. Aji akan jaga Ibu. Aji akan jaga keluarga. Aji nggak akan buat Bapak kecewa lagi."

Pak Sudiro tersenyum lemah. Senyum yang membuat Aji makin hancur.

Biaya rumah sakit menguras sisa uang 22,5 juta.

Seminggu dirawat, obat-obatan, dokter spesialis, semuanya habis sekitar 15 juta. Sisa tinggal 7,5 juta.

Aji tak peduli. Yang penting ayahnya sembuh.

Pak Sudiro diperbolehkan pulang setelah sepuluh hari. Ia masih lemah, masih perlu pendampingan, tapi setidaknya sudah bisa bicara lebih jelas dan berjalan pelan-pelan.

Sesampainya di rumah, Ibu Jayanti menyambut dengan tangis haru.

"Sudiro... kamu pulang... Syukurlah."

Pak Sudiro memeluk istrinya. "Iya, Bu. Masih diberi umur sama Allah."

Malam itu, mereka makan malam bersama. Sederhana: nasi, sayur sop, dan telur dadar. Tapi kebersamaan itu terasa begitu hangat.

Aji memandangi orang tuanya. Mereka sudah tua. Sangat tua. Waktu mereka tak lama lagi. Ia harus berbakti, harus menjaga, harus membahagiakan mereka.

"Pak, Bu... Aji minta maaf atas semua yang sudah Aji perbuat. Mulai sekarang, Aji akan jadi anak yang baik. Aji akan kerja keras. Aji akan bahagiain kalian."

Pak Sudiro dan Ibu Jayanti tersenyum. Mereka percaya.

Malam itu, Ibu Jayanti tak bisa tidur.

Ia duduk di kursi dekat jendela, memandangi langit malam yang bertabur bintang. Pikirannya melayang ke masa lalu. Ke masa ketika Aji masih kecil, lucu, dan penurut.

"Ibu, Aji mau ikut Ibu ke pasar," rengek Aji kecil dulu.

"Iya, Nak. Ayo mandi dulu."

"Ibu, Aji mau beli balon."

"Iya, nanti Ibu belikan."

"Ibu, Aji sayang Ibu."

Ibu Jayanti tersenyum sendiri mengingatnya. Dulu, Aji begitu manis. Begitu polos. Sekarang... sudah dewasa, sudah banyak dosa, tapi tetap anaknya.

Ia berlutut di sajadahnya. Menghadap kiblat. Menangis.

"Ya Allah... Ya Rabb... Ampunilah dosa-dosa anakku, Aji. Ampunilah segala kesalahan yang telah ia perbuat. Berilah ia hidayah-Mu. Berilah ia kekuatan untuk berubah. Berilah ia kesempatan untuk menjadi anak yang berbakti."

Ia sujud lama. Air matanya membasahi sajadah.

"Ya Allah, lindungilah anakku dari godaan setan. Jauhkan ia dari judi, dari perempuan jalang, dari segala kemaksiatan. Kembalikan ia ke jalan yang lurus. Jadikan ia anak yang saleh, yang membahagiakan orang tuanya, yang berguna bagi agama dan bangsa."

Ia terus berdoa, memohon, meratap.

"Ya Allah, hamba-Mu ini sudah tua. Hamba sudah lemah. Hamba tak tahu berapa lama lagi hamba bisa mendampingi anakku. Tapi hamba mohon, jangan Engkau biarkan ia tersesat selamanya. Bimbing ia, ya Allah. Bimbing ia."

Di luar kamar, Aji mendengar isak tangis ibunya. Ia menangis. Ia tahu ibunya sedang berdoa untuknya. Untuk anak durhaka yang terus menyakiti hatinya.

Aji membuka pintu kamar ibunya pelan-pelan. Ia melihat ibunya sedang sujud. Ia mendekat, duduk di samping ibunya.

Setelah Ibu Jayanti selesai salat, ia menoleh dan melihat anaknya duduk menangis.

"Nak... kenapa menangis?"

Aji memeluk ibunya. "Bu... Aji dengar Ibu berdoa. Bu... maafin Aji. Aji jahat."

Ibu Jayanti mengelus kepala anaknya. "Sudah, Nak. Jangan nangis. Ibu ikhlas. Ibu selalu sayang kamu."

"Aji janji, Bu. Aji akan berubah. Aji akan jadi anak baik."

Ibu Jayanti tersenyum. "Ibu percaya, Nak. Ibu selalu percaya."

Namun badai belum berlalu.

Seminggu setelah Pak Sudiro pulang dari rumah sakit, mereka kedatangan tamu tak diundang. Seorang lelaki berpakaian rapi, berkacamata, membawa tas kulit mahal. Ia datang dengan mobil mewah.

"Selamat pagi. Saya Ahmad, dari Bank DANA. Ada urusan dengan Bapak Sudiro."

Aji mengerutkan kening. "Bank? Ada apa?"

"Saya dari bagian penagihan. Bapak Sudiro punya pinjaman di bank kami, dengan jaminan sertifikat rumah ini. Pinjaman sudah jatuh tempo 3 bulan dan belum dibayar. Kami datang untuk... menagih."

Aji terkejut. Ia menoleh pada ayahnya yang duduk di kursi roda dengan wajah pucat.

"Pak? Bapak pinjam uang di bank?"

Pak Sudiro menghela napas. "Iya, Nak. Dulu, pas kau minta uang buat bayar utang ke Liong, Bapak nggak punya. Bapak pinjam ke bank. Pakai jaminan rumah ini."

Aji lemas. Jadi, rumah yang mereka tempati sekarang sudah digadaikan.

"Berapa pinjamannya, Pak?"

"50 juta. Sudah jatuh tempo 3 bulan. Dengan denda, totalnya 60 juta."

Aji memegangi kepalanya. 60 juta. Dari mana mereka bisa dapat uang sebanyak itu?

Pak Ahmad dari bank itu melanjutkan, "Kami sudah memberikan surat peringatan tiga kali. Tidak ada tanggapan. Maka hari ini kami datang untuk... mengeksekusi agunan. Rumah ini akan kami lelang."

Ibu Jayanti menjerit. "Jangan! Jangan ambil rumah kami! Kami tinggal di mana?!"

"Maaf, Ibu. Ini prosedur. Kami sudah memberi kesempatan. Tapi tidak ada pembayaran."

Aji mencoba tenang. "Pak, tolong. Beri kami waktu. Kami cari uang."

Pak Ahmad menggeleng. "Sudah lewat. Kami harus laksanakan sesuai aturan. Bapak dan Ibu punya waktu 1 minggu untuk mengosongkan rumah. Setelah itu, kami akan segel."

Mereka pergi, meninggalkan keluarga Sudiro dalam keputusasaan.

Sisa uang 7,5 juta takkan cukup untuk apa-apa. Rumah akan diambil bank.

Aji duduk lemas di teras. Ia memandangi rumah yang dulu megah itu. Lantai marmernya masih mengilap meski mulai kusam. Dinding-dindingnya kokoh meski catnya mengelupas. Rumah ini adalah saksi bisu kejayaan keluarga Sudiro. Dan sebentar lagi, rumah ini akan jadi milik orang lain.

"Gara-gara aku. Semua gara-gara aku," bisiknya.

Ibu Jayanti keluar, duduk di sampingnya.

"Nak, jangan salahkan dirimu terus. Ini sudah takdir."

"Bukan takdir, Bu. Ini akibat kesalahan Aji. Aji yang bikin Bapak stres, bikin Bapak sakit, bikin Bapak pinjam uang. Semua karena Aji."

Ibu Jayanti memegang tangan anaknya. "Nak, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita pikirkan ke depan. Kita cari jalan."

"Apa jalan, Bu? Rumah akan diambil. Kita nggak punya apa-apa lagi."

Ibu Jayanti diam. Ia juga tak tahu.

Malam harinya, keluarga Sudiro berkumpul. Ada Pak Sudiro (di kursi roda), Ibu Jayanti, dan Aji.

Mereka bicara panjang lebar. Mencari solusi. Tapi tak ada jalan keluar.

Pak Sudiro akhirnya angkat bicara. "Aji, Bapak punya satu ide."

"Apa, Pak?"

"Tanah kebun yang sudah kau jual hak kelolanya ke Pak Darmawan... itu sebenarnya masih milik Bapak. Bapak bisa jual tanah itu. Tapi Bapak harus minta izin Pak Darmawan dulu, karena dia masih punya hak kelola 2 tahun."

Aji terkejut. "Jual tanah kebun? Itu satu-satunya yang tersisa!"

"Iya, Nak. Tapi kalau kita nggak jual, rumah ini diambil bank. Kita tinggal di mana? Setidaknya dengan jual tanah, kita bisa bayar utang bank dan rumah selamat."

Aji diam. Ia tahu ayahnya benar. Tapi menjual tanah kebun berarti kehilangan aset terakhir. Mereka benar-benar akan jadi miskin.

"Berapa kira-kira harga tanah itu, Pak?"

"3 hektar, lokasi strategis, dekat jalan raya. Mungkin 150-200 juta. Kalau laku 150 juta, kita bisa bayar utang bank 60 juta, sisa 90 juta. Cukup buat modal hidup."

Aji mengangguk pelan. "Baik, Pak. Aji coba urus."

Esok harinya, Aji menemui Pak Darmawan.

Ia jelaskan situasinya. Pak Darmawan prihatin. Ia setuju untuk mengembalikan hak kelola dan membantu menjual tanah.

"Saya punya kenalan pengusaha sawit yang cari tanah. Mungkin dia mau beli. Saya bantu, Aji."

Aji berterima kasih.

Seminggu kemudian, tanah laku terjual. Harganya 180 juta. Cukup untuk bayar utang bank, sisa 120 juta.

Pak Sudiro menangis saat menerima uang itu. Tanah warisan orang tuanya, yang ia kumpulkan setetes demi setetes selama puluhan tahun, kini sudah tak lagi miliknya.

"Maaf, Bapak... Ibu... maaf," isak Aji.

Pak Sudiro memeluk anaknya. "Sudah, Nak. Ini sudah jalan terbaik. Yang penting kita masih punya rumah. Kita masih bisa hidup."

Mereka bertiga berpelukan, menangis bersama.

Harta habis. Rumah masih tersisa, tapi hanya itu. Kebun, sawit, karet, bengkel, semua sudah tak ada. Mereka kini benar-benar miskin.

Tapi setidaknya, mereka masih punya satu sama lain.

BAGIAN VIII

TAKDIR YANG BERBALIK

Tiga bulan telah berlalu sejak tanah terakhir keluarga Sudiro terjual.

Hidup mereka kini sederhana, bahkan boleh dibilang pas-pasan. Rumah besar dengan lantai marmer itu masih mereka tempati, tapi hanya karena sudah dibayar lunas dari hasil penjualan tanah. Tak ada lagi mobil di garasi. Tak ada lagi perabotan mewah di ruang tamu. Yang tersisa hanya kursi-kursi kayu sederhana dan meja makan yang mulai lapuk.

Aji bekerja sebagai kuli bangunan. Setiap pagi ia berangkat ke proyek-proyek perumahan di kecamatan tetangga. Upahnya Rp 80.000 per hari. Cukup untuk makan sehari-hari dan membeli obat untuk Pak Sudiro yang masih dalam masa pemulihan.

Ibu Jayanti membuka warung kecil di teras rumah. Ia menjual gorengan, kopi, dan kebutuhan pokok sederhana. Warung itu tak seberapa, hanya cukup untuk menambah uang belanja.

Pak Sudiro, meski masih lemah, kadang membantu mengawasi warung sambil duduk di kursi rodanya. Ia tak banyak bicara sejak stroke. Matanya sering kosong, menerawang, mungkin memikirkan masa lalu yang gemilang.

Hidup mereka tenang. Sederhana, tapi tenang.

Namun di dalam hati Aji, ada api yang tak pernah padam. Api penyesalan. Api keinginan untuk memperbaiki semuanya. Api harapan untuk bisa memulihkan nama baik keluarga.

Dan yang terpenting: api kerinduan pada Yulia dan Purnomo.

Suatu sore, saat Aji pulang dari proyek, ia melihat Ibu Jayanti sedang menangis di ruang tamu.

"Bu? Kenapa nangis?" tanya Aji cemas.

Ibu Jayanti mengusap air matanya. "Nggak apa-apa, Nak. Ibu cuma... kangen."

"Kangen sama siapa, Bu?"

Ibu Jayanti menghela napas. "Kangen sama Purnomo. Cucu Ibu. Ibu belum pernah lihat dia. Ibu cuma lihat fotonya di HP-mu dulu. Umurnya sekarang sudah... 8 tahun? Atau 9?"

Aji terdiam. Ia juga kangen. Sangat kangen.

"Iya, Bu. Purnomo sekarang 8 tahun. Sudah kelas 2 SD."

"Seperti apa dia? Mirip siapa?"

Aji tersenyum getir. "Mirip Aji. Tapi matanya seperti Yulia. Lembut, sayu. Dulu, waktu masih bayi, dia suka senyum-senyum sendiri. Kalau tidur, tangannya selalu pegang jari Aji."

Ibu Jayanti makin menangis. "Ibu pengin lihat dia, Nak. Pengin gendong, pengin cium."

Aji memeluk ibunya. "Maaf, Bu. Ini semua salah Aji. Aji yang hancurin keluarga. Aji yang bikin Yulia pergi. Aji yang bikin Purnomo tumbuh tanpa bapak."

Ibu Jayanti mengusap kepala anaknya. "Sudah, Nak. Jangan salahkan diri terus. Yang penting, apa yang bisa kita perbuat sekarang?"

Aji diam. Ia berpikir keras.

"Bu, Aji ingin temu Yulia. Minta maaf. Minta dia kembali. Tapi... Aji takut. Takut dia nggak mau."

"Coba dulu, Nak. Ibu yakin Yulia itu baik. Dia pasti masih sayang sama kamu. Dia cuma sakit hati. Dan sakit hati bisa diobati dengan ketulusan."

Malam itu, Aji memberanikan diri menelepon Yulia.

Nomor itu masih tersimpan di ponselnya, meski sudah bertahun-tahun tak dihubungi. Tangannya gemetar saat menekan tombol panggil.

"Halo?" Suara Yulia di ujung sana. Suara yang sangat ia rindukan.

"Yu... Yul... ini Aji."

Hening. Lama.

"Aji? Kamu... kenapa nelpon?"

Aji menarik napas dalam-dalam. "Yul, Aji minta maaf. Aji tahu, Aji sudah sangat salah sama kamu. Aji tinggalin kamu, Aji selingkuh, Aji hancurin keluarga kita. Aji nggak pantas minta maaf. Tapi Aji... Aji kangen. Kangen sama kamu, kangen sama Purnomo."

Hening lagi. Aji bisa mendengar napas Yulia yang memburu.

"Aji, kamu tahu berapa lama aku nangis karena kamu? Berapa malam aku nggak bisa tidur mikirin kamu? Berapa kali Purnomo nanya, 'Ma, Bapak di mana? Kok nggak pernah pulang?' Kamu tahu rasanya?"

Aji menangis. "Maaf, Yul. Maaf. Aji tahu. Aji nggak bisa membayangkan sakit yang kamu rasakan."

"Sekarang kamu nelpon, bilang kangen. Terus? Mau apa?"

"Aji mau ketemu. Mau lihat Purnomo. Mau minta maaf langsung. Mau... mau minta kamu balik, Yul. Aji janji, Aji udah berubah. Aji ninggalin judi, ninggalin Rubiah, ninggalin semuanya. Aji sekarang kerja kuli bangunan. Hidup sederhana. Tapi Aji tenang. Dan satu-satunya yang kurang adalah kalian."

Lama Yulia tak menjawab. Aji bisa mendengar isak tangis di ujung sana.

"Aji, aku... aku nggak tahu. Aku masih sakit. Aku nggak tahu bisa percaya lagi atau nggak."

"Nggak apa-apa, Yul. Aji nggak maksa. Tapi tolong, kasih Aji kesempatan untuk ketemu. Sekali aja. Biar Aji lihat Purnomo. Biar Purnomo lihat bapaknya."

Yulia berpikir lama. Akhirnya, ia berkata lirih, "Baiklah. Minggu depan aku ke desa. Bawa Purnomo. Tapi ini bukan berarti aku mau balik. Ini cuma... ketemu. Untuk Purnomo."

Aji bersyukur. "Makasih, Yul. Makasih. Aji tunggu."

Aji memberi kabar gembira itu pada orang tuanya.

Ibu Jayanti menangis bahagia. Pak Sudiro tersenyum, pertama kalinya setelah sekian lama.

"Bagus, Nak. Ini kesempatanmu. Jangan sia-siakan."

Aji mengangguk. "Aji janji, Pak. Aji akan buat mereka betah. Aji akan tunjukkan bahwa Aji benar-benar berubah."

Mereka mulai mempersiapkan kedatangan Yulia dan Purnomo. Ibu Jayanti membersihkan kamar yang disiapkan untuk cucunya. Membeli sprei baru, bantal, dan mainan bekas yang masih layak. Aji memperbaiki atap yang bocor, mengecat dinding kamar, membuat rumah tampak layak huni.

Semua dilakukan dengan penuh cinta. Dengan harapan. Dengan doa.

Hari yang ditunggu tiba.

Minggu pagi, Aji sudah siap sejak subuh. Ia mandi, berpakaian rapi—baju koko putih dan celana kain hitam, satu-satunya pakaian bagus yang ia miliki. Ibu Jayanti memasak kesukaan Purnomo: ayam goreng, sambal, dan sayur asem, meski ia tak tahu pasti apa yang disukai cucunya.

Pak Sudiro duduk di teras dengan kursi rodanya. Ia tak sabar ingin melihat cucu. Satu-satunya cucu yang belum pernah ia gendong.

Pukul sepuluh pagi, sebuah mobil angkutan desa berhenti di depan rumah.

Aji deg-degan. Ia melihat Yulia turun dari mobil. Yulia... istri yang dulu ia khianati. Ia terlihat lebih tua, lebih kurus, tapi tetap cantik di mata Aji. Di sampingnya, seorang anak laki-laki berpegangan tangannya. Purnomo.

Purnomo... anaknya. Rambutnya ikal seperti Aji. Matanya sayu seperti Yulia. Ia memandangi rumah itu dengan rasa ingin tahu.

Aji berjalan mendekat. Langkahnya gemetar.

"Yu... Yul."

Yulia menatapnya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia berusaha tegar.

"Aji."

Mereka berhadapan. Ribuan kata ingin diucapkan, tapi semuanya tertahan.

Purnomo mengamati Aji dengan tatapan aneh. Anak itu bertanya pada ibunya, "Ma, ini Bapak?"

Yulia mengangguk. "Iya, Nak. Ini Bapakmu."

Purnomo memandang Aji. "Bapak? Bapak yang dulu pergi?"

Aji hancur. Ia berlutut di depan anaknya.

"Purnomo... Nak... maafin Bapak. Maafin Bapak yang jahat."

Purnomo memandang ibunya, lalu kembali ke Aji. Anak itu tak tahu harus bersikap bagaimana. Selama ini ia tumbuh tanpa sosok bapak. Sekarang tiba-tiba ada lelaki mengaku bapaknya dan minta maaf.

Ibu Jayanti keluar rumah. Begitu melihat Purnomo, ia langsung menangis.

"Cucu Ibu... akhirnya Ibu lihat kamu."

Ia memeluk Purnomo erat. Purnomo kaget, tapi ia tak melawan. Mungkin ia merasakan kehangatan dari nenek yang baru pertama kali dilihatnya.

Pak Sudiro mendekat dengan kursi rodanya. Ia mengulurkan tangan gemetar.

"Purnomo... kakek... kakekmu."

Purnomo memegang tangan kakeknya. "Kakek sakit?"

Pak Sudiro tersenyum. "Iya, Nak. Kakek sakit. Tapi sekarang Kakek senang, karena lihat kamu."

Hari itu menjadi hari paling bahagia bagi keluarga Sudiro setelah sekian lama.

Mereka makan siang bersama. Ibu Jayanti tak henti-hentinya menyuapi Purnomo. Pak Sudiro terus tersenyum memandangi cucunya. Aji dan Yulia duduk bersebelahan, canggung, tapi ada kehangatan yang mulai tumbuh.

Setelah makan, Aji mengajak Purnomo main di halaman. Ia tunjukkan pohon rambutan yang dulu sering ia panjat. Ia ajak Purnomo main layang-layang dari plastik bekas. Sederhana, tapi Purnomo senang.

"Bapak, dulu Bapak main layang-layang juga?" tanya Purnomo.

Aji tersenyum. "Dulu, waktu Bapak kecil, Bapak suka main layang-layang sama teman-teman. Tapi layang-layang Bapak selalu jatuh."

Purnomo tertawa. "Bapak bodoh."

Aji ikut tertawa. "Iya, Bapak bodoh."

Yulia memandangi mereka dari teras. Hatinya meleleh. Ini yang selalu ia impikan: Aji dan Purnomo bermain bersama. Keluarga yang utuh.

Ibu Jayanti duduk di sampingnya. "Yulia, Ibu minta maaf. Atas semua yang Aji perbuat. Ibu gagal mendidik dia."

Yulia menggeleng. "Bukan salah Ibu, Bu. Aji sudah dewasa. Dia yang memilih jalannya sendiri."

"Ibu tahu. Tapi Ibu tetap merasa bersalah. Ibu berharap, kamu bisa memaafkannya. Bukan untuk Aji, tapi untuk Purnomo. Anak butuh bapak."

Yulia diam. Ia melihat Purnomo yang tertawa riang dengan Aji.

"Aku lihat dia sudah berubah, Bu. Tapi aku takut. Takut dia kambuh lagi."

"Ibu juga takut. Tapi kita harus beri kesempatan. Kalau tidak, kita tak akan pernah tahu."

Malam harinya, Yulia dan Purnomo menginap.

Purnomo tidur di kamar yang sudah disiapkan Ibu Jayanti. Ia senang, karena kamarnya penuh mainan. Aji duduk di sampingnya sampai tertidur.

Yulia tidur di kamar tamu. Sendirian. Pikirannya kacau.

Tengah malam, Aji mengetuk pintu kamarnya.

"Yul... bisa bicara sebentar?"

Yulia membuka pintu. Aji masuk, duduk di kursi.

"Yul, Aji tahu Aji sudah sangat salah. Aji nggak pantas minta maaf, apalagi minta kamu balik. Tapi Aji ingin kamu tahu, Aji benar-benar berubah. Aji ninggalin judi, ninggalin Rubiah, ninggalin semua yang dulu."

Yulia diam. Matanya sayu.

"Aji, aku masih sayang kamu. Tapi aku takut. Sangat takut."

"Takut apa?"

"Takut kamu berubah lagi. Takut kamu tinggalin aku lagi. Takut Purnomo kecewa lagi. Aku nggak kuat, Ji. Sekali aja Purnomo kecewa, itu sudah cukup. Nggak bisa kedua kali."

Aji menghela napas. "Aku paham, Yul. Aku nggak maksa. Tapi tolong, kasih aku waktu. Kasih aku kesempatan untuk membuktikan. Pelan-pelan."

Yulia menatap Aji lama. Akhirnya, ia mengangguk.

"Baik. Kita lihat. Tapi aku nggak janji apa-apa."

Itu sudah lebih dari cukup bagi Aji.

Dua minggu setelah kunjungan Yulia dan Purnomo, Rubiah muncul kembali.

Ia datang ke desa dengan taksi. Turun di depan rumah Sudiro dengan dandanan lebih menor dari sebelumnya. Gaun merah menyala, high heels, tas mahal. Kontras sekali dengan kesederhanaan rumah itu.

Aji yang sedang di teras langsung tegang begitu melihatnya.

"RU... RUBIAH?! Lo ngapain ke sini?!"

Rubiah tersenyum manis. "Jenguk suami, dong. Kangen."

Aji berdiri, menghadangnya. "Lo udah dapet 20 juta. Lo udah tanda tangan damai. Jangan ganggu gue lagi!"

Rubiah tertawa. "Damai? Damai mana? Lo kira 20 juta cukup buat gue? Lo tinggalin gue setelah nikah siri, setelah gue korbankan semuanya buat lo. Lo pikir bisa lepas semudah itu?"

Ibu Jayanti keluar. Begitu melihat Rubiah, ia gemetar.

"Kamu... kamu setan! Pergi dari sini!"

Rubiah mengabaikan Ibu Jayanti. Ia fokus pada Aji.

"Ji, gue butuh 50 juta. Dalam seminggu. Kalau nggak, gue kasih tahu mantan istrimu tentang semua perbuatan lo. Gue kasih tahu dia tentang judi lo, tentang utang lo, tentang semua. Dan gue pastikan dia nggak akan mau balik sama lo."

Aji marah. "Itu pemerasan! Gue lapor polisi!"

"Lapor aja. Gue punya bukti-bukti. Semua percakapan kita, semua transaksi. Gue bisa bikin lo masuk penjara. Pilih aja: 50 juta, atau penjara."

Aji kalap. Ia mendorong Rubiah hingga jatuh.

"PERGI! PERGI DARI SINI! GUE NGGAK PUNYA UANG!"

Rubiah bangkit dengan mata merah. "Lo akan menyesal, Aji Wungkal! GUE BALAS DENDAM!"

Ia pergi dengan langkah terpincang-pincang. Naik taksi yang setia menunggu.

Aji lemas. Ia duduk di teras, menangis.

Ibu Jayanti memeluknya. "Nak... tenang... kita cari jalan."

"Apa jalan, Bu? Aji nggak punya uang. Semua sudah habis. Kalau Rubiah kasih tahu Yulia, Yulia pasti pergi. Purnomo... Purnomo..."

Ibu Jayanti juga tak tahu harus berkata apa.

Malam itu, Aji tak bisa tidur. Pikirannya kacau. Ia terus memikirkan ancaman Rubiah. 50 juta. Dari mana bisa dapat uang sebanyak itu dalam seminggu?

Ia ingat Yanto. Sahabatnya yang dulu. Mungkin Yanto bisa pinjami uang.

Ia telepon Yanto. Menjelaskan situasi.

"Ji, gue nggak punya uang 50 juta. Gue juga lagi susah. Tapi gue bisa kasih lo saran."

"Apa, Yan?"

"Liong. Lo ingat Liong? Dia lagi cari agen judi. Katanya butuh orang untuk mengelola judi online di wilayah sini. Lo bisa jadi agen lagi. Dapat komisi besar."

Aji ragu. "Tapi gue udah janji nggak main judi lagi."

"Bukan main, Ji. Jadi agen. Cari pemain. Lo dapat komisi. Halal nggak sih? Ya nggak sepenuhnya, tapi ini darurat. Darurat, Ji. Lo bisa cari uang cepat."

Aji berpikir keras. Ini bertentangan dengan semua janjinya. Tapi apa pilihan lain? Rubiah akan menghancurkan hidupnya. Yulia akan pergi. Purnomo akan kehilangan bapaknya lagi.

"Baik, Yan. Tolong hubungi Liong. Gue setuju."

Keesokan harinya, Aji pergi ke Sampit menemui Liong.

Liong menerimanya dengan senyum ramah. "Aji, senang lo balik. Lo tahu, gue selalu suka sama lo. Lo pekerja keras. Lo punya bakat."

"Bos, gue butuh uang cepat. 50 juta dalam seminggu. Bisa?"

Liong tertawa. "Bisa, dong. Jadi agen lagi. Cari pemain. Komisi lo 20% dari setiap setoran. Kalau lo bisa bawa pemain besar, lo bisa dapat 50 juta dalam seminggu. Tapi lo harus kerja keras."

Aji menganggut. "Gue setuju, Bos."

"Tapi ingat, Aji. Kalau lo main judi sendiri, gue nggak tanggung. Lo pernah bilang, lo mau berubah. Gue dukung. Tapi lo di sini sebagai agen, bukan pemain. Paham?"

"Paham, Bos."

Aji kembali ke desa dengan perasaan berat.

Ia tahu ini salah. Ia tahu ini melanggar semua janjinya pada orang tua dan pada Yulia. Tapi ia merasa tak punya pilihan. Rubiah akan menghancurkan hidupnya kalau tak diberi uang.

Ia mulai bekerja sebagai agen judi online. Diam-diam. Ia cari pemain di warung-warung, di pasar, di kafe-kafe. Ia tawarkan judi online pada siapa saja yang mau. Komisinya mengalir.

Dalam tiga hari, ia sudah mengumpulkan 20 juta. Lumayan. Tapi masih kurang 30 juta.

Aji frustrasi. Ia butuh uang lebih cepat. Ia butuh pemain besar. Dan ia tahu satu-satunya cara: ia harus main judi sendiri. Dengan modal besar, ia bisa menang besar. Tapi risikonya juga besar.

Setelah berpikir keras, Aji mengambil keputusan fatal.

Ia mengambil 20 juta yang sudah ia kumpulkan, lalu memainkannya di judi online. Ia pasang taruhan besar. Berharap menang besar.

Namun judi tak pernah berpihak pada penjudi.

Dalam semalam, 20 juta itu habis. Ludes. Tak bersisa.

Aji panik. Ia bukan saja tak punya uang buat Rubiah, tapi ia juga kehilangan uang komisi yang seharusnya jadi modal. Ia berutang pada Liong? Tidak, karena itu uangnya sendiri. Tapi ia gagal dapat target.

Rubiah menelepon. "Ji, tinggal 4 hari. Mana uang 50 juta?"

Aji putus asa. "Rub, gue nggak punya. Tapi gue usahakan."

"Usahakan? Lo pikir gue mau dengar usahakan? Gue mau uang! Kalau nggak, gue datang ke desa. Gue kasih tahu Yulia. Gue hancurin lo!"

Aji mematikan telepon. Ia menangis. Ia merasa terpojok. Tak ada jalan keluar.

Di saat itulah, ia teringat pada sesuatu. Uang sisa penjualan perhiasan ibunya yang 7,5 juta? Itu masih ada, disimpan Ibu Jayanti. Tapi ia tak tega mengambilnya.

Tapi Rubiah... ancamannya...

Aji mengambil keputusan paling hina dalam hidupnya. Malam itu, saat Ibu Jayanti tidur, ia mengambil uang 7,5 juta dari tempat penyimpanan ibunya. Ia tahu itu salah. Ia tahu itu durhaka. Tapi ia kalap.

Dengan uang itu, ia kembali berjudi. Berharap keberuntungan berpihak.

Namun lagi-lagi, judi menghancurkannya.

7,5 juta habis dalam dua jam.

Aji benar-benar hancur.

Keesokan harinya, Ibu Jayanti menangis histeris saat tahu uangnya hilang.

"Nak... Nak... uang Ibu... uang buat beli obat Bapak... hilang."

Aji menunduk. Tak berani menatap ibunya.

"Bu... maaf... Aji ambil. Aji... Aji main judi."

Ibu Jayanti terhenyak. Ia memandangi anaknya dengan tatapan hancur.

"Kamu... kamu main judi lagi? Setelah semua yang terjadi? Setelah semua pengorbanan Ibu dan Bapak?"

"Maaf, Bu. Tapi Aji terpaksa. Rubiah minta 50 juta. Dia ancam mau kasih tahu Yulia. Aji—"

"RUBIAH LAGI?! KAMU MASIH BERHUBUNGAN DENGAN PEREMPUAN ITU?!"

"Bukan, Bu. Dia yang datang. Dia yang memeras Aji. Aji—"

Ibu Jayanti memukuli dada Aji. Tangisnya pecah.

"KAMU ANAK DURHAKA! KAMU TIDAK PERNAH BELAJAR! KAMU TIDAK PERNAH BERUBAH! KAMU AKAN TERUS MENGHANCURKAN KELUARGA INI!"

Aji tak melawan. Ia biarkan ibunya memukulinya. Ia pantas menerima semua itu.

Pak Sudiro yang mendengar keributan keluar dengan kursi rodanya. Begitu tahu apa yang terjadi, ia diam. Wajahnya pucat, matanya kosong.

"Aji... Bapak sudah bilang. Bapak sudah sumpah. Kalau kau jatuh lagi, Bapak tak akan peduli. Sekarang... pergi. Pergi dari rumah ini. Bapak tak mau lihat muka kau lagi."

Aji terkejut. "Pak! Jangan usir Aji! Aji minta maaf!"

"Maafmu sudah terlalu sering. Bapak capek. Ibu mu capek. Keluarga ini capek. Pergi!"

Ibu Jayanti menahan suaminya. "Sudiro, jangan—"

"DIAM, BU! Biar Bapak yang urus! Aji, PERGI!"

Aji menangis. Ia berlutut di depan ayahnya.

"Pak... Aji mohon... jangan usir Aji..."

Pak Sudiro menutup matanya. Air matanya jatuh.

"Aji, Bapak sayang kamu. Tapi Bapak sudah tak bisa lagi. Pergilah. Selamatkan dirimu sendiri. Atau hancurlah. Itu pilihanmu."

Aji tahu, ayahnya tak akan berubah pikiran. Dengan hati hancur, ia berjalan keluar rumah. Meninggalkan orang tuanya. Meninggalkan satu-satunya tempat berlindung.

Aji pergi ke Sampit. Ia mencari Rubiah.

Ia ingin mengakhiri semua ini. Dengan cara apa pun.

Rubiah tinggal di kontrakan lama. Begitu melihat Aji, ia tersenyum sinis.

"Nah, datang juga. Mana uang 50 juta?"

Aji diam. Ia memandangi Rubiah dengan tatapan kosong.

"Rub, lo hancurin hidup gue. Semua karena lo. Karena keserakahan lo."

Rubiah tertawa. "Keserakahan? Lo pikir gue yang serakah? Lo sendiri yang main judi, lo sendiri yang utang, lo sendiri yang ninggalin istri. Gue cuma manfaatin kesempatan."

Aji menghela napas. "Lo benar. Gue yang salah. Tapi lo juga salah. Dan sekarang, gue mau akhiri semua."

Rubiah mengerutkan kening. "Maksud lo?"

Aji mengeluarkan ponselnya. Ia memutar rekaman percakapan mereka selama ini. Semua ancaman Rubiah, semua pemerasan, semua terbukti.

"Ini, Rub. Bukti. Gue akan lapor polisi. Lo akan masuk penjara."

Rubiah terkejut. "LO REKAM GUE?!"

"Iya. Sejak lo telepon pertama kali. Semua terekam. Termasuk yang kemarin."

Rubiah kalap. Ia merebut ponsel Aji, membantingnya hingga hancur.

"Sekarang bukti lo hilang! Lo nggak bisa apa-apa!"

Aji tersenyum getir. "Lo pikir cuma itu? Gue udah kirim semua rekaman ke Yanto. Kalau gue kenapa-napa, dia yang akan lapor polisi."

Rubiah terdiam. Ia tak menyangka Aji secerdik itu.

"Rub, ini sudah berakhir. Berhenti. Atau lo akan hancur."

Rubiah menatap Aji dengan tatapan aneh. Lalu tiba-tiba, ia tertawa.

"Lo pikir gue takut? Gue sudah terlanjur. Mau berhenti atau nggak, hidup gue sudah hancur. Tapi lo... lo akan hancur lebih dulu."

Ia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah pisau lipat.

"RUB! JANGAN!" teriak Aji.

Tapi Rubiah sudah kalap. Ia menusukkan pisau itu ke perutnya sendiri.

"RUBAH!"

Rubiah tersungkur. Darah mengalir deras.

Aji panik. Ia menelepon ambulans. Ia coba tekan luka Rubiah dengan bajunya. Tapi darah terus mengalir.

"Rub! Bertahan! Jangan mati!"

Rubiah tersenyum lemah. "Ji... maaf... gue... gue memang jahat."

"DIAM! Jangan bicara!"

"Tapi... lo juga jahat. Lo... lo hancurin... gue."

Matanya terpejam.

Ambulans datang. Rubiah dilarikan ke rumah sakit.

Aji mengikutinya dengan perasaan hancur. Di ruang tunggu IGD, ia duduk lemas. Tangannya penuh darah. Bajunya merah.

Beberapa jam kemudian, dokter keluar.

"Maaf, Saudara. Korban mengalami luka tusuk di perut, mengenai organ dalam. Kami sudah berusaha, tapi nyawanya tak tertolong."

Aji lemas. Rubiah meninggal.

Rubiah, perempuan yang ia cintai sekaligus ia benci, yang menghancurkan hidupnya, yang memerasnya, kini tak ada lagi.

Polisi datang. Mereka memeriksa Aji. Aji menjelaskan semuanya. Ia tunjukkan bukti rekaman yang sudah ia kirim ke Yanto. Polisi menyelidiki.

Hasilnya: Rubiah bunuh diri karena stres dan depresi. Aji tak bersalah.

Tapi beban di hatinya tak berkurang. Ia merasa ikut bertanggung jawab atas kematian Rubiah.

Kabar tentang Rubiah yang meninggal dan Aji yang terlibat menyebar cepat.

Media lokal memberitakannya: "Perempuan Muda Tewas Bunuh Diri di Kontrakan, Diduga Depresi Karena Masalah Asmara."

Nama Aji disebut sebagai 'mantan suami siri' yang diduga jadi pemicu depresi Rubiah.

Berita itu sampai ke Desa Jelapat.

Ibu Jayanti membaca berita di ponsel pinjaman tetangga. Ia menjerit.

"SUDIRO! SUDIRO! AJI... AJI TERLIBAT PEMBUNUHAN!"

Pak Sudiro yang sedang duduk di kursi roda terkejut. "Apa?! Maksud Ibu?!"

Ibu Jayanti membacakan berita itu. Pak Sudiro diam. Wajahnya pucat.

"Anakku... anakku..."

Ia memegangi dadanya. Napasnya tersengal.

"Sudiro! Sudiro, kenapa?!"

Pak Sudiro jatuh dari kursi roda. Ibu Jayanti panik. Ia teriak minta tolong.

Tetangga datang. Mereka membawa Pak Sudiro ke puskesmas. Tapi di perjalanan, Pak Sudiro sudah tak bernapas.

Dokter di puskesmas menyatakan: Pak Sudiro meninggal karena serangan jantung.

Ibu Jayanti histeris. Ia kehilangan suami. Anaknya terlibat kasus. Hidupnya hancur.

Aji tiba di desa keesokan harinya.

Ia belum tahu ayahnya meninggal. Ia datang dengan perasaan hancur karena Rubiah. Begitu melihat rumahnya dipenuhi orang, ia bingung.

"Ada apa?" tanyanya pada tetangga.

"Ji... ayahmu... meninggal."

Aji terpaku. Dunia serasa berhenti.

Ia berlari masuk. Melihat ibunya menangis di samping jenazah ayahnya yang terbujur kaku.

"PAK! PAK!" teriak Aji.

Ia memeluk jasad ayahnya. Menangis sejadi-jadinya.

"Pak... maafin Aji... Pak... ini semua salah Aji... Aji yang bikin Bapak stres... Aji yang bunuh Bapak..."

Ibu Jayanti memeluknya. "Nak... Ibu tahu... Tapi ini sudah takdir. Ibu ikhlas. Kamu harus ikhlas."

Aji tak bisa tenang. Ia terus menangis, memeluk ayahnya, meminta maaf berulang kali.

Pemakaman digelar sore harinya.

Seluruh desa datang. Pak Sudiro, meski jatuh miskin di akhir hayatnya, tetap dihormati sebagai sesepuh desa. Mereka mendoakan, menguburkan dengan layak.

Aji berdiri di samping pusara. Ia melihat tanah menimbun ayahnya. Ayah yang dulu gagah, kaya raya, disegani. Sekarang terbaring di liang lahat, meninggal karena stres akibat ulah anaknya.

"Pak... Aji janji. Aji akan jaga Ibu. Aji akan jadi anak baik. Aji akan buktikan bahwa Aji bisa berubah. Doakan Aji, Pak."

Ia menaburkan bunga di atas pusara.

Seminggu setelah pemakaman Pak Sudiro, Yulia datang ke desa.

Ia mendengar kabar duka itu. Ia merasa harus datang, meski hubungannya dengan Aji masih rumit.

Yulia datang sendirian. Purnomo tak ia bawa. Ia tak ingin anaknya melihat situasi yang kacau.

Aji menyambutnya dengan mata sembab. Seminggu ini ia tak berhenti menangis.

"Yul... makasih sudah datang."

Yulia menghela napas. "Aji, aku dengar semua. Tentang Rubiah, tentang ayahmu. Aku turut berduka."

Mereka duduk di ruang tamu. Ibu Jayanti menyuguhkan teh, lalu masuk ke kamar, memberi mereka ruang.

"Aji, aku harus jujur. Aku masih sayang kamu. Tapi aku takut. Sangat takut. Setiap kali aku mulai percaya, kamu selalu hancurkan."

Aji menunduk. "Aku tahu, Yul. Aku sadar aku bukan lelaki baik. Aku sudah hancurkan hidupku, keluargaku, semuanya. Tapi aku ingin berubah. Sungguh."

"Kamu bilang itu terus. Tapi每次都 kambuh."

"Aku tahu. Tapi kali ini berbeda. Rubiah sudah meninggal. Judi sudah kutinggalkan. Ayahku sudah tiada. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain Ibu dan kamu serta Purnomo."

Yulia diam. Ia melihat ketulusan di mata Aji.

"Aji, aku nggak bisa janji apa-apa. Tapi aku nggak akan menutup pintu. Pelan-pelan, kita coba bangun lagi. Tapi syaratnya: kamu harus benar-benar berubah. Buktikan dengan tindakan, bukan cuma kata-kata."

Aji mengangguk. "Aku janji, Yul. Aku akan buktikan."

Mereka berbincang lama.

Yulia menceritakan kehidupannya selama ini. Betapa beratnya jadi ibu tunggal. Betapa ia berjuang membesarkan Purnomo sendirian. Betapa ia menangis setiap malam memikirkan Aji.

Aji menangis mendengarnya. Ia tak menyangka lukanya sedalam itu.

"Maaf, Yul. Maaf atas semua air mata yang kausebabkan. Mulai sekarang, aku akan jadi lelaki yang membuatmu tersenyum."

Yulia tersenyum getir. "Kita lihat nanti."

Sebelum pergi, Yulia menitipkan pesan.

"Aji, aku akan kembali dua minggu lagi. Bawa Purnomo. Tapi kali ini, aku ingin lihat perubahan nyata. Bukan omongan. Bukan janji. Tapi tindakan."

Aji mengangguk. "Aku tunggu."

Dua minggu kemudian, Aji bersiap menyambut Yulia dan Purnomo.

Ia sudah bekerja keras. Jadi kuli bangunan, jadi tukang ojek, jadi apa saja. Uangnya ditabung. Ia ingin menunjukkan pada Yulia bahwa ia bisa jadi lelaki bertanggung jawab.

Ibu Jayanti juga ikut bersemangat. Ia membersihkan rumah, memasak kesukaan Purnomo, menyiapkan kamar untuk cucunya.

Namun takdir berkata lain.

Hari itu, Aji mendapat telepon dari Yanto.

"Ji, Liong minta ketemu. Katanya ada urusan penting."

Aji ragu. "Urusan apa, Yan? Gue udah nggak main judi lagi."

"Nggak tahu. Tapi katanya penting. Lo harus datang."

Aji berpikir. Mungkin ini tentang kasus Rubiah. Mungkin polisi butuh keterangan tambahan. Ia setuju.

"Yan, gue datang besok. Tapi cepet, ya. Soalnya Yulia mau datang."

"Iya, iya. Cepet kok."

Esok harinya, Aji pamit pada ibunya.

"Bu, Aji ke Sampit bentar. Urusan sama polisi. Sore balik."

Ibu Jayanti khawatir. "Awas, Nak. Hati-hati."

"Iya, Bu. Doain Aji."

Aji berangkat dengan bus umum. Ia tak tahu, ini akan jadi perjalanan terakhirnya.

Di Sampit, Aji bertemu Yanto. Yanto mengantarnya ke tempat yang dimaksud. Bukan kantor polisi, tapi rumah Liong.

"Yan, ini kok ke rumah Liong? Bukan polisi?"

Yanto menghela napas. "Ji, maaf. Gue disuruh Liong bawa lo ke sini. Ada urusan."

Aji curiga, tapi ia sudah terlanjur datang.

Di rumah Liong, suasana tegang. Liong duduk di sofa dengan wajah serius. Di sekelilingnya, preman-preman bertato.

"Duduk, Aji."

Aji duduk. "Ada apa, Bos?"

Liong menghela napas. "Aji, lo tahu Rubiah kan? Perempuan yang mati bunuh diri itu?"

Aji mengangguk. "Iya, Bos. Itu mantan istri siri gue."

"Rubiah itu... keponakan gue."

Aji terkejut. "Apa?!"

"Iya. Adiknya istri gue. Dia tinggal sama gue sejak kecil. Gue yang biayai hidupnya. Dan lo... lo yang bikin dia stres sampai bunuh diri."

Aji panik. "Bos, itu bukan salah gue! Dia yang—"

"DIAM!" bentak Liong. "Gue tahu semuanya. Lo nikah siri sama dia, lo tinggalin, lo bikin dia stres. Sekarang dia mati. Gue harus balas."

"Bos, tolong—"

Liong memberi kode. Preman-preman itu mendekat. Mereka memukuli Aji. Berkali-kali. Aji tak bisa melawan.

"Bawa dia ke gudang. Kasih pelajaran."

Aji disekap di gudang selama dua hari. Disiksa, dipukuli, kelaparan.

Ia hampir mati. Tapi ia tak menyerah. Ia ingat ibunya. Ia ingat Yulia. Ia ingat Purnomo. Ia harus hidup.

Pada hari ketiga, Yanto datang diam-diam. Ia membuka gembok gudang.

"Ji, cepat! Kabur!"

Aji bangkit dengan susah payah. Tubuhnya lemah, tapi ia memaksakan diri.

Mereka berlari. Kejar-kejaran dengan anak buah Liong. Akhirnya, Yanto berhasil membawa Aji ke terminal.

"Ji, lo naik bus. Cepat! Gue akan hadang mereka."

"Yan, lo—"

"GUE BILANG CEPAT!"

Aji naik bus yang kebetulan akan berangkat. Bus melaju meninggalkan terminal.

Aji menghela napas lega. Tapi ia tak tahu, di dalam bus itu, ada seseorang yang diperintah Liong untuk mengawasinya.

Bus melaju di malam hari. Hujan turun deras.

Aji duduk gelisah. Pikirannya kacau. Ia ingin cepat sampai di desa, bertemu ibunya, menyambut Yulia dan Purnomo.

Tiba-tiba, dari belakang, seseorang mendekat. Pisau menekan pinggangnya.

"Diam, atau lo mati."

Aji terkejut. "Lo... lo suruhan Liong?"

"Iya. Bos minta lo balik. Kalau nggak, lo mati di sini."

Aji berpikir cepat. Ia tak bisa mati. Ia harus hidup.

"Tolong... gue bayar. Gue kasih lo uang. Berapa pun."

Preman itu tertawa. "Uang? Lo pikir gue bisa disuap?"

Aji putus asa. Ia lihat ke luar. Hujan deras. Jalan licin. Truk-truk melintas.

Dalam kepanikan, Aji melakukan nekat. Ia membuka pintu darurat bus. Melompat keluar.

Preman itu terkejut. Ia coba menahan, tapi terlambat. Aji sudah melompat ke tengah jalan.

Aji jatuh di aspal basah. Tubuhnya terguling-guling. Di depannya, lampu truk menyilaukan.

Suara rem berdecit.

Benturan.

Aji terpental. Tubuhnya menghantam aspal. Darah di mana-mana.

Orang-orang berteriak. Bus berhenti. Truk berhenti. Semua panik.

Aji terbaring di tengah jalan. Matanya setengah terbuka. Ia melihat langit malam yang gelap, dihiasi rintik hujan.

Pikirannya melayang.

Ia melihat Ibu Jayanti. Ibunya yang setia berdoa untuknya setiap malam.

Ia melihat Pak Sudiro. Ayahnya yang sudah tiada, tersenyum padanya.

Ia melihat Yulia. Istri yang ia khianati, namun masih mau memberi kesempatan.

Ia melihat Purnomo. Anaknya yang lucu, yang baru mulai mengenalnya.

"Ma... Pa... Yul... Purnomo... maaf... maafin Aji..."

Napasnya tersengal. Dadanya sesak. Pandangannya mulai gelap.

"Aji gagal lagi... gagal jadi anak baik... gagal jadi suami... gagal jadi bapak..."

Matanya terpejam.

Jeritan sirene ambulans terdengar dari kejauhan. Tapi Aji tak lagi mendengar.

Jenazah Aji Wungkal tiba di Desa Jelapat pada hari ketiga setelah kecelakaan.

Mobil ambulans dari rumah sakit kota melaju pelan memasuki desa. Di sepanjang jalan, warga berjejer, menatap dengan duka. Mereka melihat ambulans itu, lalu menundukkan kepala, memberi hormat terakhir untuk anak desa yang pernah menjadi kebanggaan, namun akhirnya pulang dalam keadaan yang paling menyedihkan.

Ibu Jayanti sudah menunggu di teras rumah. Ia duduk di kursi kayu, tubuhnya lemah, matanya sembab. Dua hari ini ia tak makan, tak tidur, hanya menangis dan berdoa. Yulia dan Purnomo ada di sampingnya. Yulia memegang tangan ibu mertuanya itu erat, memberikan kekuatan yang ia sendiri tak punya.

Mobil ambulans berhenti. Petugas membuka pintu belakang, mengeluarkan keranda jenazah yang ditutup kain putih.

Ibu Jayanti bangkit. Langkahnya gemetar mendekati keranda itu.

"Aji... Nak... Ibu... Ibu jemput kamu pulang."

Ia membuka sedikit kain penutup wajah. Wajah Aji pucat, dingin, namun tampak tenang. Seolah ia akhirnya menemukan kedamaian setelah sekian lama bergelut dengan badai hidup.

Ibu Jayanti menangis. Ia mencium kening anaknya.

"Nak... Ibu maafin kamu. Ibu sudah lama maafin kamu. Ibu sayang kamu. Ibu selalu sayang."

Yulia mendekat. Ia memandangi wajah Aji untuk terakhir kalinya. Lelaki yang pernah ia cintai, yang pernah ia bangun rumah tangga, yang pernah ia lahirkan anak. Lelaki yang juga mengkhianatinya, meninggalkannya, menghancurkan hatinya. Namun saat melihat wajah pucat itu, semua amarah dan sakit hati lenyap. Yang tersisa hanya cinta dan duka.

"Aji... aku maafin kamu. Aku ikhlas. Tenanglah di sisi Allah."

Purnomo bertanya dengan polos, "Ma, Bapak tidur?"

Yulia memeluk anaknya. "Iya, Nak. Bapak tidur. Tidur panjang. Tapi Bapak sudah tenang. Nggak sakit lagi."

Purnomo memandangi ayahnya yang terbujur kaku. Anak itu tak sepenuhnya mengerti arti kematian. Tapi ia tahu, ayahnya tak akan bisa lagi main layang-layang dengannya.

Pemakaman digelar siang itu juga.

Seluruh desa datang. Mereka membawa bunga, air mawar, dan doa. Pak Heru, Kepala Desa, memimpin prosesi. Sertu Budi dan Bripka Dedi turut hadir, mewakili aparat keamanan. Rangga dan pemuda desa ikut menggotong keranda.

Liang lahat digali di samping makam Pak Sudiro. Ayah dan anak kini akan beristirahat berdampingan. Dalam hidup, mereka sering bertengkar. Dalam mati, mereka bersatu dalam tanah.

Pak Hasan, tokoh agama, memimpin doa.

"Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kesalahan Aji Wungkal. Terimalah amal ibadahnya, meskipun sedikit. Lapangkanlah kuburnya, terangilah dengan cahaya-Mu. Pertemukanlah ia dengan orang tua dan keluarganya yang telah mendahului dalam surga-Mu. Amin."

Warga mengamini. Suara tangis pecah di sana-sini.

Tanah mulai ditimbun. Perlahan, keranda itu tertutup oleh tanah merah. Ibu Jayanti menangis tersedu-sedu, dipapah Yulia. Purnomo memandang dengan mata berkaca-kaca, meski ia tak sepenuhnya mengerti.

Setelah gundukan tanah terbentuk, warga menaburkan bunga. Mawar melati, kenanga, semuanya berwarna-warni di atas tanah coklat.

Ibu Jayanti berlutut di samping makam anaknya. Ia memegang tanah itu, menciumnya.

"Aji... Nak... Ibu titip salam buat Bapak. Bilang Ibu kangen. Bilang Ibu sayang. Doain Ibu, Nak. Doain Ibu cepat menyusul kalian."

Yulia membantunya berdiri. "Bu, ayo pulang. Istirahat."

Ibu Jayanti menggeleng. "Sebentar, Yul. Ibu mau sendiri dulu sama Aji."

Yulia mengerti. Ia membawa Purnomo menjauh, memberi Ibu Jayanti waktu sendiri.

Ibu Jayanti duduk di samping makam. Ia berbicara pada anaknya, seolah Aji masih hidup di sana.

"Aji, Ibu ingat waktu kamu lahir. Kamu bayi mungil, lucu, nangisnya keras. Bapakmu sampai menangis lihat kamu. Beli semua mainan buat kamu. Manja kamu."

Ia tersenyum sendiri mengenang masa lalu.

"Dulu, kamu suka minta gendong terus. Kalau nggak digendong, nangis. Ibu gendong kamu sambil masak, sambil nyapu, sambil apa saja. Tangan Ibu sampai pegal, tapi Ibu bahagia."

Air matanya jatuh.

"Sekarang kamu sudah dewasa. Udah punya anak sendiri. Tapi jalanmu salah, Nak. Ibu sudah berusaha, Bapak sudah berusaha, tapi kita gagal. Maafin Ibu, Nak. Ibu gagal jadi ibu yang baik."

Ia mengusap nisannya yang masih polos, belum diukir.

"Tapi Ibu ikhlas, Nak. Ibu ikhlas kamu pergi duluan. Mungkin ini yang terbaik. Kamu nggak usah susah lagi di dunia. Sekarang kamu di sisi Allah, bersama Bapak. Doain Ibu, Nak. Doain Ibu kuat."

Keesokan harinya, Yulia dan Purnomo pamit pulang.

Ibu Jayanti memeluk mereka erat. "Yul, Ibu titip Purnomo. Jaga dia baik-baik. Dia satu-satunya cucu Ibu. Satu-satunya keturunan keluarga ini."

Yulia mengangguk. "Ibu tenang. Purnomo akan aku jaga. Aku akan besarkan dia jadi anak shaleh."

"Ibu tahu, Yul. Ibu tahu kamu ibu yang baik."

Purnomo memeluk neneknya. "Nek, Purnomo kangen."

Ibu Jayanti menangis. "Nenek juga kangen, Nak. Sering-sering main ke sini, ya?"

"Iya, Nek. Purnomo janji."

Mereka berpisah. Yulia dan Purnomo naik angkutan desa meninggalkan Jelapat. Ibu Jayanti berdiri di teras, melambai sampai mobil itu hilang dari pandangan.

Rumah itu kini benar-benar sunyi.

Hanya ada Ibu Jayanti seorang diri. Di rumah besar yang dulu ramai oleh keluarga, kini hanya tinggal ia dan kenangan.

Sejak hari itu, Ibu Jayanti berubah.

Ia lebih sering ke masjid. Salat berjamaah, ikut pengajian, baca Al-Qur'an. Ia juga sering ke makam suami dan anaknya, membersihkan, menabur bunga, dan mendoakan.

Warga desa sering melihatnya duduk di antara dua makam itu berjam-jam. Ia berbicara pada mereka, bercerita tentang hari-harinya, tentang Purnomo yang tumbuh besar, tentang kabar desa.

"Nak, Purnomo sekarang kelas 3 SD. Pintar, katanya. Mirip kamu waktu kecil. Tapi dia lebih penurut, nggak manja kayak kamu dulu."

Ia tersenyum sendiri.

"Pak, warung Ibu laris. Alhamdulillah, rezeki dari Allah. Ibu bisa hidup dari itu. Nggak usah khawatir."

Ia mengelus nisan mereka.

"Doain Ibu, ya. Ibu sehat-sehat saja. Ibu belum mau nyusul kalian. Ibu mau jaga Purnomo dulu, sampai dia besar. Nanti kalau sudah waktunya, Ibu akan datang."

Warga desa belajar banyak dari tragedi keluarga Sudiro.

Pak Hasan, dalam setiap khutbah Jumat, selalu mengingatkan tentang durhaka kepada orang tua.

"Jamaah rahimakumullah, mari kita renungkan kisah keluarga Sudiro. Dulu mereka orang terkaya di desa kita. Pak Sudiro kaya raya, punya kebun luas, bengkel besar, rumah mewah. Tapi semua hancur karena anak durhaka. Karena judi, karena perempuan, karena keserakahan."

Jamaah mendengarkan dengan khusyuk.

"Allah berfirman dalam Al-Qur'an, 'Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.'"

Ia menghela napas.

"Lihatlah Aji. Ia tega membentak orang tuanya. Ia tega memukul ayahnya sendiri. Akibatnya? Ia kehilangan segalanya. Harta, keluarga, bahkan nyawanya. Ini pelajaran berharga bagi kita semua. Jangan sampai kita terjerumus seperti Aji."

Jamaah mengamini. Banyak yang menangis, teringat pada kesalahan mereka pada orang tua.

Pak Heru, Kepala Desa, mengeluarkan kebijakan baru.

Ia membentuk program "Desa Peduli Keluarga". Program ini bertujuan mendampingi keluarga-keluarga yang bermasalah, terutama yang memiliki anak remaja berisiko. Pemuda desa dilibatkan aktif, dilatih menjadi konselor sebaya.

Rangga diangkat jadi koordinator program. Ia bersama teman-temannya rutin mengunjungi keluarga-keluarga, memberi penyuluhan tentang bahaya judi online dan pergaulan bebas, serta mengajak anak-anak muda ikut kegiatan positif.

"Kita nggak mau ada Aji-Aji baru di desa ini," kata Rangga dalam rapat Karang Taruna. "Kita harus jaga generasi muda kita. Kasih mereka kegiatan, kasih mereka perhatian, kasih mereka cinta. Supaya mereka nggak mencari pelarian ke hal-hal negatif."

Pemuda desa setuju. Mereka mulai bergerak. Mengadakan latihan voli, turnamen futsal, pengajian remaja, pelatihan keterampilan. Semua gratis, terbuka untuk siapa saja.

Orang tua di desa senang. Anak-anak mereka kini punya kegiatan positif. Jarang ada yang nongkrong tak jelas. Jarang ada yang terlibat narkoba atau judi.

Yanto, sahabat Aji, datang ke makamnya setahun setelah kejadian.

Ia duduk di samping nisan, membawa setangkai mawar putih.

"Ji... gue ke sini. Nyari lo. Lo udah pergi setahun, ya? Cepet banget."

Ia meletakkan mawar di atas makam.

"Gue... gue minta maaf, Ji. Karena gue yang kenalin lo sama judi. Karena gue yang kenalin lo sama Rubiah. Karena gue yang bawa lo ke Liong. Gue sadar, gue ikut bertanggung jawab atas kehancuran lo."

Ia menangis.

"Maafin gue, Ji. Gue cuma mau lo tahu, Liong udah ditangkap polisi. Jaringan judinya dibongkar. Dia sekarang di penjara. Mungkin ini balasan buat dia, buat gue, buat kalian semua."

Ia mengusap air matanya.

"Gue sekarang kerja jadi sopir truk. Halal. Nggak main judi lagi. Nggak minum-minum lagi. Gue tobat, Ji. Berkat lo. Berkat kematian lo yang buat gue sadar."

Ia berdiri, menatap makam itu lama.

"Ji, lo tenang di sana. Doain gue. Doain kita semua. Mungkin di akhirat kita ketemu lagi. Dan gue harap, di sana lo udah jadi Aji yang baik, yang diridhoi Allah."

Ia pergi, meninggalkan mawar putih di atas makam.

Dua tahun kemudian.

Ibu Jayanti masih hidup. Usianya sudah 68 tahun, tapi tubuhnya masih kuat. Warungnya makin ramai. Ia jualan nasi uduk, gorengan, dan kopi. Warga desa suka belanja di sana, bukan hanya karena makanannya enak, tapi karena mereka sayang pada Ibu Jayanti.

Purnomo, yang kini berusia 10 tahun, sering datang berkunjung. Ia naik angkutan desa sendiri, ditemani supir yang kenal dengan keluarganya. Ia betah di desa, main dengan teman-teman, membantu neneknya jualan.

"Nek, Purnomo bantu jualan, ya," katanya riang.

"Iya, Nak. Tapi jangan capek-capek."

Purnomo membantu mengambilkan gorengan untuk pembeli, menuangkan kopi, menghitung uang kembalian. Ia lincah dan cekatan. Banyak pembeli yang gemas padanya.

"Ini cucu Ibu Jayanti, ya? Ganteng. Pintar. Mirip siapa?" tanya Bu Marni.

"Mirip bapaknya," jawab Ibu Jayanti lirih. "Tapi lebih baik. Mudah-mudahan nggak seperti bapaknya."

Purnomo mendengar itu. Ia mendekati neneknya.

"Nek, Bapak itu jahat ya?"

Ibu Jayanti terkejut. "Nak... Bapakmu... Bapakmu bukan jahat. Dia salah jalan. Tapi dia sayang kamu. Dia pernah cerita ke Nek, dia kangen banget sama kamu."

Purnomo diam. "Purnomo juga kangen, Nek. Padahal Purnomo nggak pernah lama sama Bapak. Tapi Purnomo kangen."

Ibu Jayanti memeluk cucunya. "Bapakmu sekarang di surga, Nak. Dia bahagia. Dia lihat kamu dari sana. Dia pasti bangga lihat kamu jadi anak baik."

Purnomo tersenyum. "Bener, Nek?"

"Bener. Nenek janji."

Suatu sore, Ibu Jayanti duduk di teras, memandangi dua makam di kejauhan.

Matahari mulai terbenam, langit berwarna jingga keemasan. Burung-burung pulang ke sarangnya. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah.

Ibu Jayanti tersenyum. Entah mengapa, hari ini hatinya terasa tenang. Damai. Seperti ada yang memberinya kekuatan.

Ia memejamkan mata, membayangkan suaminya dan anaknya tersenyum padanya dari alam sana.

"Sudiro... Aji... Ibu ikhlas. Ibu tenang. Purnomo baik-baik saja. Dia jadi anak shaleh. Doakan Ibu, ya. Ibu akan nyusul kalian kalau waktunya tiba."

Malam turun. Bintang-bintang mulai bermunculan. Ibu Jayanti masih duduk di teras, memandangi langit.

Di kejauhan, suara azan Maghrib berkumandang dari masjid desa.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."

Ibu Jayanti bangkit. Ia berjalan ke dalam rumah, mengambil air wudhu, lalu salat. Dalam sujudnya, ia berdoa untuk suami, untuk anak, untuk cucu, dan untuk seluruh warga desa.

"Doa ibu selalu mengalir untuk anak-anaknya, meski mereka telah tiada."

PENUTUP

Balada yang Abadi

Kisah Aji Wungkal menjadi legenda di Desa Jelapat.

Setiap tahun, pada hari kematiannya, warga desa mengadakan doa bersama di makamnya. Mereka mendoakan Aji, Pak Sudiro, dan seluruh keluarga yang telah berpulang. Mereka juga mengadakan pengajian, ceramah, dan kegiatan sosial untuk mengenang tragedi itu dan mengambil pelajaran darinya.

Rangga, yang kini menjadi Kepala Pemuda Desa, selalu bercerita pada generasi muda tentang Aji.

"Kalian tahu Aji Wungkal? Dia dulu anak orang terkaya di desa ini. Tapi karena judi online dan pergaulan bebas, dia hancur. Hartanya habis, keluarganya berantakan, akhirnya mati tragis. Ini pelajaran buat kita semua. Jangan pernah main judi. Jangan pernah durhaka pada orang tua. Karena akibatnya sangat mengerikan."

Anak-anak muda mendengarkan dengan saksama. Banyak yang terinspirasi untuk menjauhi judi dan berbakti pada orang tua.

Ibu Jayanti hidup sampai usia 75 tahun.

Ia meninggal dengan tenang dalam tidurnya, setahun setelah Purnomo lulus SMP. Purnomo yang saat itu berusia 16 tahun menangis sejadi-jadinya. Ia kehilangan nenek yang sangat ia sayangi.

Ibu Jayanti dimakamkan di samping suami dan anaknya. Tiga makam berjejer: Pak Sudiro, Aji Wungkal, dan Ibu Jayanti. Keluarga yang dalam hidupnya penuh konflik, kini bersatu dalam kematian.

Purnomo, di usianya yang masih belia, sudah yatim piatu. Tapi ia punya Yulia, ibunya, yang selalu setia mendampingi. Ia juga punya kenangan tentang neneknya yang penuh kasih. Dan ia punya pelajaran tentang ayahnya: pelajaran tentang bagaimana kehancuran bisa terjadi jika kita salah jalan.

"Aku akan jadi orang baik, Nek. Aku janji. Aku nggak akan kayak Bapak. Aku akan jaga Mama. Aku akan sukses. Doain aku."

Ia menabur bunga di atas tiga makam itu, lalu pergi meninggalkan pemakaman.

Kisah Aji Wungkal bukan sekadar cerita sedih.

Ia adalah balada. Balada tentang anak tunggal yang kehilangan jalan pulang. Balada tentang durhaka yang berujung petaka. Balada tentang cinta orang tua yang tak pernah padam, meski dikhianati berulang kali.

Ia adalah cermin bagi kita semua. Cermin untuk melihat diri sendiri: apakah kita sudah berbakti pada orang tua? Apakah kita sudah menjauhi judi dan maksiat? Apakah kita sudah menjaga keluarga kita?

Karena pada akhirnya, harta bukan segalanya. Rumah megah bukan jaminan. Yang abadi hanya amal dan doa. Yang kekal hanya cinta dan maaf.

Dan jalan pulang... jalan pulang ke keluarga, ke orang tua, ke Tuhan... harus ditemukan sebelum semuanya terlambat.

Aji Wungkal kehilangan jalan pulang.

Semoga kita tidak.

Desa Jelapat, 2026

Di sudut pemakaman desa, di bawah pohon beringin tua, tiga makam berjejer rapi. Nisan-nisannya sederhana, hanya papan kayu dengan tulisan tangan.

*Pak Sudiro bin Karso - 1946-2019*
*Ibu Jayanti binti Sastro - 1951-2026*
*Aji Wungkal bin Sudiro - 1976-2019*

Di bawah nama Aji, ada tulisan tambahan:

"Anakku, maafkan kami yang gagal mendidikmu. Ibu dan Bapak sayang kamu. Tenanglah di sisi Allah."

Di sampingnya, setangkai mawar merah segar. Mawar itu diletakkan oleh Purnomo, cucu satu-satunya, setiap kali ia berkunjung.

Mawar merah itu melambangkan cinta. Cinta yang tak pernah padam, meski kematian memisahkan.

Dan angin sore berbisik lembut, membawa cerita tentang Aji Wungkal, tentang balada anak tunggal yang kehilangan jalan pulang, tentang keluarga yang hancur karena judi dan durhaka, tentang pelajaran berharga yang abadi sepanjang masa.

TAMAT

 

0 komentar:

Posting Komentar