DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari
Edisi III: Misteri di Balik Senja
EPISODE 2: RAHASIA LEMBAH TERLARANG
Pagi itu, suasana warung kopi "RASA" lebih ramai
dari biasanya. Pak Darmo sibuk mengangkati gelas dan piring, sementara para
pengunjung asyik berdiskusi dengan suara bersemangat.
Raka, Wati, dan Bejo baru saja tiba. Mereka pesan kopi dan
gorengan seperti biasa, tapi perhatian mereka tertuju pada percakapan di meja
sebelah.
"Serius, Mas? Lo lihat sendiri?" tanya Guntur
yang kini sudah berusia 30-an, masih dengan gaya cueknya.
"Sumpah, Tong! Aku lihat dengan mata kepalaku
sendiri!" jawab Jarwo, keponakan Pak Jarwo yang kini sering mencari kayu
di hutan.
Wajah Jarwo pucat. Tangannya gemetar saat memegang gelas
kopi.
"Gue lagi nyari kayu di bagian utara, dekat tebing
cemara. Biasanya gue nggak pernah ke sana, tapi karena kayu di tempat biasa
mulai habis, gue nekat masuk."
"Terus?" desak Guntur.
"Gue lihat... celah. Di balik tebing itu, ada celah
sempit. Gue penasaran, gue masuk. Dan di sana... ada lembah. Luas banget.
Tapi..." Jarwo berhenti, matanya menerawang.
"Tapi apa, Jo?"
"Suasananya angker, Tong. Seram. Udara dingin banget,
padahal di luar panas. Burung-burung pada diem. Nggak ada suara apa-apa. Gue
cuma masuk beberapa langkah, terus gue dengar suara... suara orang
nangis."
Bejo yang sedang asyik menggigit pisang goreng, tiba-tiba
berhenti. "Suara orang nangis?"
"Iya. Samar-samar, tapi jelas. Kayak anak kecil
nangis. Gue langsung lari tunggang-langgang. Nggak berani balik lagi."
Raka, Wati, dan Bejo saling pandang. Ini menarik.
Setelah Jarwo selesai bercerita, warung kopi ramai oleh
diskusi. Sebagian besar warga percaya itu tempat angker. Mungkin ada
penunggunya. Mungkin lembah terlarang yang selama ini hanya ada dalam cerita
turun-temurun.
Raka mendekati meja Jarwo. "Mas Jarwo, boleh aku
tanya?"
Jarwo menoleh. "Oh, Raka. Iya, tanya aja."
"Lokasi persisnya di mana? Yang Mas lihat itu?"
Jarwo mengerutkan kening. "Nggak jauh dari tebing
cemara. Tepatnya di balik air terjun kecil yang kering. Ada celah sempit di
antara dua batu besar. Kalau nggak teliti, nggak akan kelihatan."
"Mas ingat jalannya?"
"Ingat sih... tapi Raka, jangan coba-coba ke sana.
Angker itu. Percaya sama gue."
Raka tersenyum. "Kami cuma penasaran, Mas. Tapi
tenang, kami hati-hati."
Kembali ke meja mereka, Wati berbisik, "Ra, lo mau ke
sana?"
"Gue penasaran, Ti. Lembah baru di hutan kita. Masa
kita nggak tahu?"
"Tapi kata Mas Jarwo angker," Bejo ikut berbisik,
matanya agak takut.
"Jo, lo ingat dulu? Waktu kita masih kecil, kita juga
takut masuk hutan. Tapi setelah kita masuk, kita temukan Kai, temukan mata air,
temukan Lembah Harapan. Semua tempat yang katanya angker, ternyata indah. Mungkin
ini juga sama."
Wati mengangguk setuju. "Raka benar. Kita harus lihat
sendiri."
Bejo menghela napas panjang. "Oke, oke. Tapi kalau ada
suara nangis-nangis, gue duluan kabur, ya?"
Mereka bertiga tertawa kecil.
Sebelum bertindak, Raka memutuskan untuk lapor ke Pak
Kades. Itu prosedur baru yang mereka terapkan sejak remaja. Tidak boleh
sembarangan masuk hutan tanpa izin.
Pak Kades menerima mereka di ruang kerjanya. Ruangan itu
sederhana, tapi penuh dengan piagam penghargaan dan foto-foto dokumentasi
konservasi.
"Nak Raka, ada perlu apa?" sapa Pak Kades ramah.
Raka menjelaskan tentang cerita Jarwo dan rencana mereka
untuk menyelidiki lembah baru itu.
Pak Kades mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah
serius.
"Aku tahu tempat itu," katanya setelah Raka
selesai.
Mereka bertiga terkejut. "Bapak tahu?"
"Iya. Dulu, waktu aku masih kecil, kakekku pernah
cerita. Ada lembah di balik tebing cemara yang dijaga oleh leluhur. Katanya,
itu tempat keramat. Nenek moyang kita dulu melakukan ritual di sana. Tapi
setelah zaman berubah, tempat itu dilupakan. Mungkin itulah yang ditemukan
Jarwo."
"Kenapa disebut terlarang, Pak?"
"Karena ada larangan dari leluhur untuk tidak
sembarangan masuk. Konon, siapa pun yang masuk dengan niat jahat, tidak akan pernah
keluar. Tapi yang masuk dengan niat baik, akan selamat."
Wati bertanya, "Bapak percaya?"
Pak Kades tersenyum tipis. "Aku lebih percaya pada
fakta. Tapi sebagai orang Jawa, aku juga menghormati cerita leluhur. Mungkin di
sana ada sesuatu yang berharga, yang harus kita jaga. Kalian boleh menyelidiki,
tapi dengan satu syarat."
"Apa itu, Pak?"
"Ajak Pak Jarwo. Mantan pemburu itu. Dia tahu banyak
tentang hutan. Dan dia punya pengalaman dengan hal-hal gaib. Biar dia yang
dampingi kalian."
Pak Jarwo sekarang sudah berusia 50-an. Rambutnya mulai
memutih, tapi tubuhnya masih tegap. Ia tinggal di pinggir desa, di rumah
sederhana yang dikelilingi tanaman obat.
Raka, Wati, dan Bejo menemui dia sore harinya. Pak Jarwo
sedang duduk di teras, menikmati kopi.
"Wah, tamu istimewa. Detektif Remaja Bojong
Sari," sapa Pak Jarwo dengan senyum lebar.
"Pak Jarwo, kami mau minta bantuan," kata Raka.
Mereka menjelaskan rencana ekspedisi ke lembah baru itu.
Pak Jarwo mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk.
"Jadi kalian mau ke tempat yang ditemukan Jarwo kecil
itu?"
"Iya, Pak. Pak Kades minta Bapak dampingi kami."
Pak Jarwo diam beberapa saat. Lalu ia tertawa. "Dasar
Pak Kades. Tahu aja gue dulu sering main ke tempat-tempat angker."
"Bapak pernah ke sana?" tanya Bejo penasaran.
"Belum. Tapi dulu, waktu masih jadi pemburu, gue
sering dengar cerita tentang lembah itu. Pemburu-pemburu tua bilang, jangan
pernah ke sana. Tapi gue nggak pernah percaya. Sayangnya, gue juga nggak pernah
nemu jalannya."
Pak Jarwo menatap mereka bertiga. "Baiklah. Gue temani
kalian. Tapi ingat, kita harus siap mental. Mungkin kita akan menemukan sesuatu
yang mengejutkan."
Malam harinya, Tim Detektif Remaja berkumpul di markas
untuk mempersiapkan ekspedisi. Markas mereka kini lebih lengkap: ada peta
topografi, kotak P3K, handy talkie, senter, tali, golok, dan berbagai peralatan
lainnya.
Raka membuka peta. "Ini perkiraan lokasi. Mas Jarwo
bilang, di balik tebing cemara, dekat air terjun kering. Di peta, area ini
belum pernah kita jelajahi."
"Itu wilayah yang memang sengaja kita tutup,"
kata Wati. "Karena medannya berat dan rawan longsor."
"Tapi kalau ada lembah di sana, mungkin itu bagian
dari ekosistem yang belum kita ketahui."
Bejo mengangkat tangan. "Gue punya pertanyaan
penting."
"Apa, Jo?"
"Kita bawa bekal apa? Soalnya gue udah laper."
Wati melempar bantal ke arah Bejo. "Jo! Serius
dong!"
"Gue serius! Ekspedisi butuh energi!"
Mereka tertawa. Ketegangan sedikit reda.
Pagi-pagi buta, mereka sudah berkumpul di pos jaga hutan.
Pak Jarwo datang dengan ransel besar dan sebilah golok tua yang tampak
bersejarah.
"Itu golok sakti, Pak?" tanya Bejo.
"Sakti? Biasa aja. Tapi ini golok warisan bapak gue.
Udah menemani gue puluhan tahun. Nggak pernah tumpul."
Mereka memulai perjalanan. Raka memimpin di depan, diikuti
Wati, Bejo, dan Pak Jarwo di belakang. Mereka melewati titik Beringin, lalu
masuk ke jalur yang tidak biasa. Semakin dalam, semakin lebat hutannya.
"Jaraknya lumayan," kata Pak Jarwo. "Mungkin
2-3 jam perjalanan."
"Kita istirahat setiap jam," kata Raka.
"Jangan memaksakan diri."
Sepanjang jalan, mereka menemukan berbagai jejak hewan.
Jejak kancil, jejak babi hutan, bahkan jejak ajag. Tapi semua tampak normal.
Tidak ada yang aneh.
Setelah dua jam berjalan, mereka sampai di sebuah tebing.
Di depannya, ada air terjun yang sudah kering. Batu-batu hitam dan licin, bekas
aliran air yang sudah lama mati.
"Ini dia," kata Pak Jarwo. "Air terjun
kering. Kata Jarwo kecil, di balik ini ada celah."
Mereka mencari-cari. Raka yang paling teliti menemukan
sesuatu. "Lihat! Di sini!"
Di balik dua batu besar yang nyaris menyatu, ada celah
sempit. Hanya cukup untuk satu orang masuk dengan merapatkan badan.
"Ini jalannya," kata Raka.
"Celah ini sengaja disembunyikan," kata Pak
Jarwo. "Atau mungkin tertutup longsor, lalu terbuka lagi."
"Kita masuk?"
"Masuk. Tapi hati-hati. Dan jangan lupa, kita harus
kompak. Kalau ada apa-apa, segera mundur."
Mereka masuk satu per satu. Raka pertama, lalu Wati, Bejo,
dan Pak Jarwo di belakang. Celah itu gelap dan sempit. Dindingnya dingin dan
basah.
Setelah merangkak sekitar 5 menit, celah mulai melebar. Dan
tiba-tiba...
Mereka keluar di sebuah lembah yang luas. Udara dingin
langsung menyergap. Kabut tipis menyelimuti pepohonan. Suasana sunyi, sangat
sunyi. Tidak ada suara burung, tidak ada suara serangga. Hanya keheningan yang
mencekam.
"Ini..." Wati tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Lembah itu indah, tapi aneh. Pepohonan tinggi menjulang, tapi
daunnya tidak hijau segar. Agak pucat. Bunga-bunga bermekaran, tapi warnanya
pudar. Ada sungai mengalir, tapi airnya hitam pekat.
"Pak Jarwo... ini tempat apa?" bisik Bejo.
Pak Jarwo mengamati sekeliling dengan mata tajam. "Aku
nggak tahu. Tapi ini... ini tidak normal."
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara. Samar-samar.
Seperti tangisan anak kecil.
Semua orang merinding. Bejo langsung merapat ke Pak Jarwo.
"Itu... itu suara yang dikatakan Mas Jarwo,"
bisik Raka.
"Iya. Itu suaranya."
Raka mencoba tetap tenang. "Kita harus cari sumber
suara itu. Mungkin ada yang butuh pertolongan."
"Ra, ini angker!" kata Bejo hampir menangis.
"Jo, ingat pelajaran Kai dulu. Jangan pernah menilai
sesuatu dari ketakutan. Hadapi dulu, baru kita tahu."
Pak Jarwo mengangguk setuju. "Anak ini benar. Ayo kita
cari."
Mereka berjalan perlahan mengikuti arah suara. Semakin
dekat, semakin jelas. Tangisan itu bukan tangisan sedih, tapi lebih seperti...
isak tangis tertahan.
Mereka sampai di sebuah pohon besar, lapuk, dengan lubang
di batangnya. Dari lubang itulah suara itu berasal.
"Di dalam pohon," bisik Wati.
Raka menyorotkan senter ke dalam lubang. Di sana, dua
pasang mata kecil bersinar. Bukan mata manusia. Mata hewan. Mata ketakutan.
"Anak ajag!" seru Raka.
Dua ekor anak ajag terjebak di dalam lubang pohon. Mereka
kurus, lemah, dan ketakutan. Tangisan mereka terdengar seperti tangisan anak
manusia.
"Ini sumber suara mistis itu," kata Pak Jarwo
lega. "Bukan hantu, tapi anak ajag."
Raka tanpa pikir panjang meraih kedua anak ajag itu. Mereka
menggigit-gigit, tapi terlalu lemah untuk melukai.
"Bagaimana mereka bisa di sini?" tanya Wati.
"Mungkin terpisah dari induknya. Atau induknya
mati," kata Pak Jarwo.
"Kita harus bawa mereka keluar. Kasihan."
Mereka membawa anak ajag itu keluar dari lembah. Perjalanan
pulang terasa lebih cepat meski harus ekstra hati-hati dengan anak ajag dalam
gendongan.
Sesampainya di luar lembah, mereka langsung mencari tempat
aman. Pak Jarwo membuat kandang darurat dari ranting dan daun.
"Mereka butuh susu. Dan perawatan," katanya.
"Aku bisa bantu rawat," kata Wati yang memang
punya pengalaman merawat hewan.
Setelah anak ajag itu tenang, mereka kembali ke desa dan
melapor pada Pak Kades. Pak Kades mendengarkan dengan saksama.
"Jadi, yang disebut angker itu sebenarnya anak ajag
yang terperangkap?"
"Iya, Pak. Mereka terjebak di lubang pohon. Suara
tangisan mereka mirip tangisan anak kecil."
Pak Kades tersenyum. "Lihat, lagi-lagi ketakutan membuat
kita salah sangka. Dulu dengan kancil, sekarang dengan ajag."
"Tapi Pak, lembah itu sendiri aneh. Udaranya dingin,
pepohonan pucat, air sungai hitam," kata Raka.
Pak Kades menghela napas. "Mungkin itu efek dari
lingkungan. Bisa jadi tanah di sana mengandung mineral tertentu yang
mempengaruhi warna air dan tanaman. Nanti kita kirim tim peneliti ke
sana."
Pak Jarwo menambahkan, "Yang penting, kita sudah
selamatkan dua makhluk hidup. Itu yang utama."
Kabar tentang penyelamatan dua anak ajag menyebar cepat.
Warga yang tadinya takut, kini kagum pada Tim Detektif Remaja.
Dua anak ajag itu diberi nama Jaya dan Kecil. Mereka
dirawat oleh Wati dan tim konservasi sampai cukup umur untuk dilepasliarkan.
Suatu sore, Raka, Wati, dan Bejo duduk di titik Beringin
bersama Kiano. Jaya dan Kecil ada di dekat mereka, bermain dengan lucunya.
"Lihat mereka," kata Wati. "Dulu kita takut
sama ajag. Sekarang kita rawat anak-anaknya."
"Hidup memang penuh kejutan," kata Bejo.
Raka tersenyum. "Lembah Terlarang ternyata tidak
terlarang. Hanya belum kita kenal."
Kiano menggerakkan telinganya, setuju.
Pak Jarwo datang bergabung, duduk di samping mereka.
"Kalian anak-anak hebat. Dulu aku pemburu, sekarang aku penjaga. Dan
kalian... kalian pahlawan."
"Bukan pahlawan, Pak. Hanya orang yang tidak mudah
takut."
Mereka tertawa bersama. Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan
terus tumbuh. Lembah baru terbuka, bukan untuk ditakuti, tapi untuk dipelajari
dan dijaga.
BERSAMBUNG KE EPISODE 3:
KIANO DALAM BAHAYA






0 komentar:
Posting Komentar