PROLOG
Di samping Kantor Desa Awan Biru, seekor kucing hitam
mengeong panjang, lalu kabur terbirit-birit seperti melihat setan. Atau mungkin
memang melihat setan.
Malam itu, hujan gerimis membuat tanah di sekitar pohon
beringin tua beraroma khas—campuran tanah basah, lumut, dan sesuatu yang…
lapuk. Akar-akarnya yang sebesar lengan orang dewasa menjalar ke mana-mana, tak
hanya mengikat tanah, tapi juga seolah mengikat waktu. Mengunci rahasia di
bawahnya.
Pak Jum, pegawai desa yang bertugas jaga malam, tengah
asyik membuat kopi instan di dapur belakang. Tangannya gemetar bukan karena
takut, tapi karena dingin. Atau karena kopinya sudah kadaluarsa bulan lalu.
Tiba-tiba, lampu teras kantor desa berkedip-kedip. Pak Jum
mengernyit. "Lampu murahan," gerutunya.
Lalu ia mendengarnya. Bukan suara mistis. Bukan jeritan.
Itu suara orang mengunyah. Nyam... nyam... nyam... seperti
seseorang sedang lahap menyantap pecel. Tapi dari arah beringin.
"Makannya pecel, Mbah?" teriak Pak Jum setengah
bercanda, berusaha menutupi debaran jantungnya yang mulai kencang.
Hening. Lalu suara itu berhenti. Pak Jum menghela napas
lega. Tapi kemudian, dari balik jendela, ia melihat bayangan. Bukan bayangan
hantu berambut panjang, melainkan bayangan seorang lelaki tua yang jongkok di
bawah beringin, sedang memunguti sesuatu dari tanah.
Pak Jum menggosok mata. Ia yakin tadi tak ada siapa-siapa.
Ia memberanikan diri membuka pintu. "Pak, wis bengi lho... (Pak, sudah
malam lho...)" sapanya.
Lelaki tua itu menoleh. Wajahnya… bukan wajah biasa. Itu
wajah yang seolah terbuat dari guratan akar—keriput dalam pola yang tak wajar,
seperti pohon yang mencoba menjelma manusia. Tapi yang membuat Pak Jum tersentak
adalah benda di tangan lelaki itu: sebuah arsip desa berlumuran tanah, dengan
stempel merah dari tahun 1985.
Pak Jum menjerit. Bukan jeritan keras, tapi jeritan
tertahan yang keluar seperti desisan ban bocor.
Keesokan paginya, Pak Jum ditemukan pingsan di bawah
beringin, tubuh menggigil, bibir berkomat-kamit. "Dia belum pergi... dia
menunggu... dia suka pecel..." celotehnya setengah sadar.
Sementara di atas, daun beringin bergerak tanpa angin.
Seperti tawa. Atau seperti seseorang yang sedang mengunyah.
Tiga bulan sebelum kejadian Pak Jum, Desa Awan Biru
diguncang musibah yang tak terduga. Angin puting beliung datang tiba-tiba di
siang bolong, merobohkan Kantor Desa peninggalan Belanda yang sudah berdiri
sejak 1920-an. Bangunan tua berarsitektur Eropa dengan tiang-tiang tinggi itu
roboh dalam hitungan menit, menyisakan puing-puing dan sejarah yang sempat
terkubur di bawahnya.
"Untung ora ana korban jiwa," ujar Pak
Dono, Sekretaris Desa yang baru menjabat setahun yang lalu, saat meninjau
reruntuhan. "Tapi arsip-arsip lawas... akeh sing rusak." (Untung
nggak ada korban jiwa. Tapi arsip-arsip lama... banyak yang rusak.)
Warga bergotong-royong membersihkan puing-puing. Namun, ada
satu hal yang membuat mereka tercengang: Pohon Beringin Tua di
samping kantor tetap tegak berdiri. Daunnya tak sehelai pun rontok terkena
angin. Akar-akarnya kokoh, seolah mengejek badai yang baru saja lewat.
"Wit iki... ora mempan angin," gumam Pak
Sabar, petugas kebersihan desa, sambil mengusap keringat. (Pohon ini...
kebal angin.)
"Memang, Sabar. Wit iki wis nduwe penjaga,"
sahut Mbah Sugeng, seorang sesepuh desa berusia 90 tahun yang
datang dengan tongkat bambu. Matanya sayu menatap beringin. "Penjaga sing
wis ngenteni suwe." (Memang, Sabar. Pohon ini sudah punya penjaga. Penjaga
yang sudah menunggu lama.)
Kini, kantor desa yang baru berdiri megah di lokasi yang
sama. Bangunan modern dengan dinding keramik, atap genteng beton, dan halaman
beraspal. Anggaran rehab total datang dari pemerintah kabupaten, hasil
perjuangan Arjuna Putra dr. Erlangga yang saat itu memasuki
periode kedua sebagai kepala desa.
Arjuna, 40 tahun, mantan konsultan Jakarta, pulang kampung
dengan mimpi besar: memodernisasi desa kelahirannya. Istrinya, Kirana,
35 tahun, mantan HRD perusahaan multinasional, mendampinginya dengan setia.
"Mas, kantornya bagus banget," ujar Kirana saat
peresmian. "Tapi pohon itu... kok rasanya..." Ia tak bisa
melanjutkan. Ada getar halus di ulu hatinya setiap kali memandang beringin tua.
"Itu heritage, Sayang. Cagar budaya. Kita akan buat
lampu taman di bawahnya, biar aesthetic buat selfie," jawab Arjuna
optimis.
Mereka belum tahu bahwa di bawah pohon itu, sejarah kelam
sedang menunggu untuk bangkit.
Desa Awan Biru tidak hanya punya sejarah, tapi juga para
penjaga sejarah—mereka yang hidup lebih lama dari era demi era, menyimpan
memori yang tak tercatat dalam arsip.
1. Pak Iwan – Kepala Desa Generasi Pertama (1960-1970)
Pak Iwan kini berusia 92 tahun. Rambutnya putih semua,
jalannya sudah terbungkuk, tapi matanya masih tajam. Ia adalah kepala desa
pertama setelah Indonesia merdeka, memimpin saat desa ini masih berupa hutan
belukar dan ladang berpindah.
"Jaman aku dadi lurah, wit iku wis gedhe,"
kenangnya suatu sore saat ditemui Joko di rumah tuanya. "Wit iku wis ana
sakdurunge desa iki ana." (Jaman aku jadi lurah, pohon itu sudah besar.
Pohon itu sudah ada sebelum desa ini ada.)
Joko, pegawai kantor desa yang rasional dan tak percaya
mistis, datang untuk wawancara sejarah desa. "Pak Iwan, apa bener wit iku
angker?"
Pak Iwan tertawa kecil—suara tua yang serak. "Angker
opo ora, aku ora ngerti. Sing aku ngerti, wit iku... nangis." (Angker atau
nggak, aku nggak tahu. Yang aku tahu, pohon itu... menangis.)
"Nangis? Maksudnya?"
"Taun 1965, pas ana kedadeyan gedhe nang negara iki,
wit iku nangis. Getahé metu kaya eluh. Wong-wong pada wedi." (Tahun 1965,
pas ada kejadian besar di negara ini, pohon itu menangis. Getahnya keluar
seperti air mata. Orang-orang pada takut.)
Joko mencatat, meski hatinya skeptis. Tapi ada sesuatu di
mata Pak Iwan yang membuatnya tak bisa mengabaikan.
2. Si Amat – Kakek Arjuna yang Tak Pernah Bicara
Di pojok desa, di sebuah rumah tua berdinding kayu jati,
tinggal Mbah Amat. Usianya 88 tahun. Ia adalah kakek Arjuna, ayah
dari Anita Ibunya, Admin Desa era Paka Kdes Iwan hingga Tahun 80-an yang kelak
akan terbukti punya peran besar dalam ritual gelap.
Mbah Amat tak pernah bicara. Bukan karena bisu, tapi
karena memilih diam. Sejak tahun 1985, ia berhenti berbicara. Hanya
duduk di teras, memandangi beringin dari kejauhan, kadang menangis tanpa suara.
"Simbah kuwi weruh kabeh," bisik Mbok
Inem, 75 tahun, sahabat Saras yang kini jadi juru masak kantor. "Ning
dheweke milih meneng. Mungkin merga wedi. Utawa merga isin." (Simbah itu
lihat semua. Tapi dia memilih diam. Mungkin karena takut. Atau karena malu.)
Arjuna sendiri jarang mengunjungi Mbah Amat. Ada jarak yang
tak terjelaskan. Tapi belakangan, setelah mendengar bisik-bisik tentang ritual,
ia mulai rajin datang. Mbah Amat hanya menatapnya dengan mata sayu—mata yang
seolah berkata, "Kowe ngerti dhewe, Le." (Kamu tahu sendiri, Nak.)
3. Mbah Anto – Supir Truk yang Suka Meramal (dan Selalu
Benar)
Mbah Anto, 70
tahun, adalah pensiunan sopir truk perusahaan pengangkut sawit. Ia tinggal di
perbatasan desa, rumahnya paling ujung. Tapi Anto terkenal di seluruh desa
karena satu hal: dia suka meramal, dan ramalannya selalu tepat.
"Mbah Anto iku duwe indigo," kata warga. Tapi Mbah
Anto sendiri selalu merendah.
"Aku ora indigo-indigoan. Aku mung... weruh sing ora
kliwat." (Aku nggak indigo-indigoan. Aku cuma... lihat yang nggak
keliatan.)
Suatu malam, di warung Mbokdhe, Mbah Anto duduk santai
sambil minum kopi. Joko dan Titik kebetulan ada di sana.
"Mas Joko, ati-ati," ujar Mbah Anto tiba-tiba.
Joko menoleh. "Ati-ati apa, Mbah?"
Mbah Anto menatapnya lekat. "Kowe saiki lagi golek
bukti. Ning elinga, ora kabeh bukti kudu ditemokake. Ana sing luwih apik
dikubur." (Kamu sekarang lagi cari bukti. Tapi ingat, nggak semua bukti
harus ditemukan. Ada yang lebih baik dikubur.)
Joko merinding. "Maksud Mbah Anto?"
"Wit iku... ora mung wit. Dheweke iku penjaga. Ning
penjaga loro: siji sing nunggu, siji sing njaga. Sing nunggu wis kowe kenal.
Sing njaga... durung." (Pohon itu... bukan cuma pohon. Dia itu penjaga.
Tapi penjaga dua: satu yang menunggu, satu yang menjaga. Yang menunggu sudah
kamu kenal. Yang menjaga... belum.)
Titik, yang sedari tadi diam, angkat bicara. "Mbah
Anto, maksudmu... ada penjaga lain selain Saras?"
Mbah Anto tersenyum misterius. "Saras iku korban.
Dheweke nunggu keadilan. Ning wit iku wis ana sakdurunge Saras lair. Wit iku
dijaga... leluhur. Leluhur desa iki. Sing ora seneng yen rahasia dibukak."
(Saras itu korban. Dia menunggu keadilan. Tapi pohon itu sudah ada sebelum
Saras lahir. Pohon itu dijaga... leluhur. Leluhur desa ini. Yang nggak suka
kalau rahasia dibuka.)
Suasana warung mendadak dingin. Joko dan Titik bertukar
pandang.
4. Warung Mbah Karyo – Pusat Informasi dan Gosip
Mbah Karyo
adalah pemilik warung paling tua di Desa Awan Biru. Usianya 85 tahun, warungnya
sudah berdiri sejak 1970. Warung ini bukan sekadar tempat jualan sembako, tapi
juga pusat informasi dan pengaduan rakyat versi
darurat.
Di sinilah para sesepuh biasa berkumpul. Setiap sore,
kursi-kursi bambu di teras warung selalu penuh.
"Kulo mboten adol sembako mawon, nging adol
cerito," canda Mbah Karyo. (Saya nggak cuma jual sembako, tapi jual
cerita.)
Di warung inilah Joko dan Titik mendapat banyak petunjuk.
Mbah Karyo tahu segalanya—siapa punya utang, siapa selingkuh, siapa yang
terlibat ritual dulu. Tapi ia juga tahu batas.
"Jek, aku mung wong dagang. Aku weruh akeh, ning aku
ora wani ngomong. Sing wani ngomong iku kowe karo Titik. Ning elinga: aja
nganti kowe sing dadi korban sabanjure." (Jek, aku cuma pedagang. Aku
lihat banyak, tapi aku nggak berani ngomong. Yang berani ngomong itu kamu sama
Titik. Tapi ingat: jangan sampai kamu yang jadi korban berikutnya.)
5. Mbah Sugeng – Saksi Hidup Ritual 1960-an
Mbah Sugeng, 90 tahun, adalah saksi hidup ritual tahun
1960-an. Ia dulu menjadi tukang gali kubur—tugasnya menggali lubang
di bawah beringin sebelum korban "dikubur di perkirakan mati suri".
"Sakjane aku ora gelem, Le," ujarnya pada Joko
dengan suara bergetar. "Ning wektu iku, yen ora manut, nyawa
taruhane." (Sebenarnya aku nggak mau, Nak. Tapi waktu itu, kalau nggak nurut,
nyawa taruhannya.)
Mbah Sugeng menceritakan bagaimana ia harus menggali lubang
setiap tahun. Lubang sedalam 2 meter, lebar 1 meter. Cukup untuk satu orang
berdiri.
"Aku tau takon, 'Pak Lurah, iki kanggo opo?' Dheweke
mung mangsuli, 'Kowe cukup nduwur, aja takon ngisor.'" (Aku pernah tanya,
'Pak Lurah, ini buat apa?' Dia cuma jawab, 'Kamu cukup di atas, jangan tanya
bawah.')
Mbah Sugeng menangis. "Ning saiki, aku wis tuwa. Aku
wis ora wedi mati. Aku arep ngomong kabeh." (Tapi sekarang, aku sudah tua.
Aku sudah nggak takut mati. Aku mau bicara semua.)
6. Mbah Santoso – Mantan Dukun Desa yang Bertobat
Mbah Santoso, 87 tahun, adalah mantan dukun desa. Dulu ia
diminta Mbah Joyo untuk "menjaga" ritual—membaca mantra, memanggil
arwah, memastikan "persembahan" diterima.
"Aku ngerti iku salah," akunya. "Ning wektu
iku, aku percaya yen iku kanggo kabecikan desa. Kanggo kemakmuran." (Aku
tahu itu salah. Tapi waktu itu, aku percaya kalau itu untuk kebaikan desa.
Untuk kemakmuran.)
Sekarang, Mbah Santoso hidup dalam penyesalan. Ia tak lagi
mempraktikkan ilmu dukun. Setiap malam Jumat, ia berdoa di mushola kecil dekat
rumahnya.
"Saras... Sumirah... Kasiyem... kabeh... aku njaluk
ngapura. Aku mung piranti. Ning piranti sing salah ya kudu tanggung
jawab." (Saras... Sumirah... Kasiyem... semua... aku minta maaf. Aku cuma
alat. Tapi alat yang salah ya harus tanggung jawab.)
Malam itu, usai rapat di kantor desa, para sesepuh
berkumpul di warung Mbah Karyo. Udara dingin, tapi hati mereka hangat oleh lega
yang tak terucap.
Pak Iwan membuka suara. "Wis, pungkasane. Dosa iki wis
dibayar. Saiki desa iki kudu maju."
Mbah Amat, kakek Arjuna yang tak pernah bicara, tiba-tiba
bersuara. Semua terkejut.
"Saras... wis... tenang," katanya lirih. Suara
pertama dalam 40 tahun.
Mbok Inem menangis. "Mbah Amat... Mbah ngomong
maneh?"
Mbah Amat mengangguk. "Aku milih meneng merga isin.
Ning saiki... wis ora isin. Aku wis ngakoni salahku."
Mbah Sugeng, Mbah Santoso, Mbah Karyo—semua menunduk.
Penyesalan yang sama.
Mbah Anto, sopir truk peramal, tersenyum. "Wis,
Mbah-mbah kabeh. Saiki mung kudu nglakoni urip sing bener. Sing penting, wit
iku saiki mung wit. Ora ana sing nunggu maneh."
Tapi Titik, yang duduk di pojok, menggeleng pelan. Joko
melihatnya.
"Titik? Apa ora?" bisiknya.
Titik menatap Joko. "Mas, Saras dan yang lain sudah
pergi. Tapi penjaga pohon itu... leluhur desa... mereka masih di sana. Mereka
tidak akan pergi. Mereka menjaga."
Joko merinding. "Maksudmu... belum selesai?"
Titik menghela napas. "Belum selesai, Mas. Tapi
mungkin... ini awal yang baik."
Keesokan paginya, Wulan, cucu Mbok Inem, bermain di dekat
beringin. Ia membuat boneka dari daun. Tiba-tiba, ia mendongak. Di depannya,
seorang perempuan tua duduk di akar. Bukan Saras. Lebih tua. Berwibawa.
"Dek, dolanan karo aku?" ajaknya.
Wulan tersenyum. "Gelem, Mbah!"
Mereka bermain sampai senja. Saat pulang, Wulan bilang pada
Mbok Inem.
"Mbok, aku mau dolanan karo mbah-mbah. Rambute putih.
Omongé alus."
Mbok Inem tertegun. "Mbah-mbah? Sapa?"
"Aku lali. Tapi dheweke ngomong: 'Kandhani wong-wong,
aku ora ngalang-alangi. Aku mung njaga. Supaya ora ana sing lali.'"
Mbok Inem menatap beringin. Angin bertiup pelan. Daun-daun
berguguran, menari di udara.
"Leluhur... sing njaga," bisiknya.
Dan di bawah pohon itu, akar-akar tua terus menjalar.
Mengikat tanah. Mengikat waktu. Menjaga rahasia yang tak pernah benar-benar
mati.
Di tahun kedua, periode kedua Kepala Desa Awan Biru mulai
merasakan "gaya baru" kepemimpinan Arjuna. Pagi-pagi buta, pengeras
suara di kantor desa sudah memutarkan lagu "Maju Tak Gentar" versi
karaoke yang suaranya mirip orang tersedak—nada naik turun tak karuan, seperti
ayam terserang cegukan. Itu ide Arjuna untuk membangkitkan semangat warga.
"Biar melek, Pak. Jangan pada molor terus,"
jelasnya pada perangkat desa yang matanya masih belekan.
Pak Dono, Sekretaris Desa yang baru menjabat setahun, hanya menghela napas panjang.
"Pak Kades, semangatnya bagus. Tapi warga sini kalau pagi lagi sibuk
nyapih sapi. Bukan nyapih negara. Sapi pada protes itu, suaranya kaget keganggu
lagu."
Arjuna tertawa lebar. "Ya sudah, nanti kita ganti lagu
yang lebih lembut. Lagu perjuangan versi akustik gitu."
Namun Arjuna tak patah arang. Hari ini, agenda besarnya
adalah rapat evaluasi program kerja bersama jajaran perangkat
desa, ketua RT, RW, dan tokoh pemuda. Ruang rapat utama penuh sesak. Ada yang
duduk di kursi rotan, ada yang lesehan di karpet merah yang sudah pudar
warnanya—karpet peninggalan kantor lama yang berhasil diselamatkan dari
reruntuhan.
Joko duduk di pojok belakang, ditemani laptop hitamnya yang
penuh stiker coding. Di sampingnya, Titik sibuk mencatat dengan buku tulis
bergambar Hello Kitty yang nyentrik—kontras dengan raut wajahnya yang serius.
Sesekali matanya menerawang ke luar jendela, tepat ke arah beringin yang
daunnya bergoyang pelan, seolah pohon itu ikut mendengarkan rapat.
Rapat kali ini dihadiri oleh hampir semua elemen desa.
Selain perangkat inti, hadir pula:
Pak RW 03 – Mantan Tentara Pensiunan. Duduk tegak layaknya masih di barak, Pak RW 03—nama
aslinya Sutarman—adalah mantan sersan dua yang pensiun sepuluh
tahun lalu. Kumis tebal, suara lantang, dan kebiasaan memotong pembicaraan
dengan kata "Siap!" membuatnya jadi figur yang disegani sekaligus
ditakuti.
"Pak RW, tenang, ini rapat, bukan apel," goda
Arjuna.
"Siap, Pak Kades! Tapi kalau ada perintah, saya siap
laksanakan!" jawabnya otomatis.
Pak RT 02 – Kumis Tebal dan Kepala yang Selalu Gatal Pak Dulah namanya. RT 02 wilayah paling padat
penduduk. Kebiasaannya: menggaruk kepala meski tidak gatal, terutama kalau
bingung. Dan hari ini ia bingung setengah mati.
"Digital... e-Voting... HP... Lha wong warga saya
banyak yang gaptek, Pak Kades. Malah ada yang belum bisa baca tulis,"
keluhnya sambil menggaruk kepala.
Pak RT 03 – Paling Santuy Se-Desa. Berbeda dengan Pak RT 02, Pak Yanto ini
terkenal santai. Bahkan saat rapat kritis sekalipun, ia bisa tidur. Tapi kalau
sudah bicara soal ternak, matanya langsung melek.
"Nggak usah ribet-ribet digital, Pak. Yang penting
sapi saya sehat, itu udah bahagia," ujarnya dengan gaya khas.
Di barisan pemuda, duduk perwakilan Karang Taruna yang
terdiri dari tiga orang paling berpengaruh di kalangan anak muda Desa Awan
Biru:
Bowo – Ketua Karang Taruna, 24 Tahun. Bowo adalah lulusan SMK jurusan multimedia yang
menganggur sambil nunggu panggilan kerja. Tapi ia punya mimpi besar: menjadikan
Desa Awan Biru terkenal lewat media sosial. Setiap hari ia buat konten TikTok,
dari joget-joget sampai konten misteri.
"Pak Kades, e-Voting itu bagus! Nanti kita bisa bikin
kontennya. Biar desa kita viral!" serunya antusias.
Catur – Otak Teknis, 23 Tahun. Catur lulusan STM mesin, jago bongkar pasang apa
saja—dari pompa air sampai sound system masjid. Ia ditunjuk jadi koordinator
teknis kalau ada acara desa.
"Yang penting listriknya stabil, Pak. Jangan mati-matian
pas e-Voting. Nanti dituduh kecurangan," timpalnya praktis.
Dimas – Si Pendiam yang Peka, 22 Tahun. Dimas adalah pemuda paling pendiam di desa. Tak banyak
bicara, tapi kalau bicara, selalu berbobot. Ia juga dikenal punya
"kepekaan" terhadap hal-hal gaib, meski jarang dibicarakan.
Sejak tadi, Dimas hanya diam, matanya sesekali melirik ke
luar jendela—ke arah beringin. Joko memperhatikan ini.
Tak hanya pemuda, para sesepuh desa juga hadir—meski tak
semua duduk di kursi rapat. Beberapa memilih duduk di teras kantor, ikut
mendengarkan dari luar.
Mbah Karto (80 tahun) duduk
di kursi rotan usang, mengisap rokok kretek sambil sesekali menggeleng.
"Digital-digital, tapi wit iku dilalekke," gumamnya lirih.
(Digital-digital, tapi pohon itu dilupakan.)
Mbah Sugeng (90 tahun) sudah
setengah tuli, tapi ia tetap datang. Sesekali ia bertanya pada tetangganya,
"Wis rampung durung? Aku kepingin mulih." (Sudah selesai belum? Aku
mau pulang.)
Mbah Santoso (87 tahun) duduk
paling pojok. Matanya sayu menatap Arjuna yang bersemangat. Dalam hati ia
bergumam, "Anake dr. Erlangga... apa kowe bakal padha karo mbahmu? Utawa
beda?" (Anaknya dr. Erlangga... apa kamu akan sama seperti kakekmu? Atau
beda?)
Dan yang paling menarik perhatian: Pak Iwan (92
tahun) , mantan kepala desa generasi pertama, datang dengan kursi roda
didorong cucunya. Semua orang tercengang. Pak Iwan sudah lima tahun tak pernah
keluar rumah.
"Pak Iwan... kulo nderekaken rawuh?" sapa Arjuna
hormat. (Pak Iwan... saya persilakan hadir?)
Pak Iwan mengangguk pelan. "Aku mung pengin ndelok...
kepiye generasi anyar ngatur desa iki." (Aku cuma mau lihat... bagaimana
generasi baru mengatur desa ini.)
Semua diam. Kehadiran Pak Iwan seperti tamu agung yang tak
terduga.
Arjuna membuka rapat dengan sambutan penuh semangat.
"Pokoknya, generasi kita ini adalah generasi perubahan! Kita akan bikin
Desa Awan Biru jadi desa percontohan digital se-kabupaten!"
Pak RT 02 mengangkat tangan. "Maaf, Pak Kades. Digital
itu maksudnya... apa ya? Soalnya warga saya banyak yang buta huruf. Paling
bisanya pegang cangkul sama remote TV."
Arjuna tersenyum lebar. "Nggak masalah, Pak RT. Justru
kita akan beri pelatihan. Nanti ada program e-Voting untuk
pemilihan ketua RT. Biar canggih!"
Bowo bersiut kagum. "Wah, mantap, Pak! Jadi nanti
milihnya pakai HP?"
"Tepat sekali!"
Pak RT 02 menggaruk kepala yang tidak gatal. "Lha,
wong saya HP-nya masih tombol, buat nelpon anak doang. Nggak ada internetnya,
Pak."
Pak RT 03 menimpali santai. "Nggak usah ribet, Pak
Kades. Cukup pakai kertas terus dimasukkan ke kardus bekas, itu sudah
demokrasi."
Ruangan riuh rendah. Arjuna mulai sadar bahwa ambisinya
mungkin perlu sedikit... direm.
Catur angkat bicara. "Pak Kades, kalau mau digital,
infrastrukturnya dulu yang dibenahi. Internet di desa kita lemot. Saya main game
online aja sering putus-putus."
Bowo menimpali, "Iya, Pak. Nggak lucu kalau e-Voting
tapi loading terus. Nanti dibilang sengaja diperlambat."
Arjuna mengangguk-angguk. "Baik, masukan bagus. Kita
akan urut: infrastruktur dulu, baru aplikasi."
Rapat berlanjut ke agenda lain. Pak Yanto (RT 03)
mengusulkan program "Sapi Sehat, Desa Hebat" —program
pemeriksaan kesehatan sapi gratis sebulan sekali.
"Sapi itu aset, Pak Kades. Kalau sapi sehat, warganya
senang. Kalau warganya senang, pembangunan lancar," jelasnya filosofis.
Pak RW 03 menambahkan, "Setuju! Saya dulu di militer,
kuda aja diperiksa rutin, masa sapi nggak?"
Pak Dono mencatat dengan tekun. "Program Sapi Sehat,
disetujui. Selanjutnya?"
Pak RT 04 mengeluhkan
jalan rusak di wilayahnya. "Aspal bolong-bolong, Pak Kades. Kalau malam
gelap, bisa masuk lubang. Minggu lalu bapak-bapak ada yang jatuh dari
motor."
Arjuna mencatat. "Kita usulkan ke kabupaten. Tapi
sambil nunggu, kita gotong royong tambal lubang pakai batu dulu."
Pak RW 02 tiba-tiba
angkat bicara soal isu sensitif. "Pak Kades, ini penting. Warung
remang-remang di pinggir desa mulai marak. Anak-anak muda pada nongkrong di
situ sampai malam."
Suasana sedikit riuh. Bowo, Catur, dan Dimas saling
pandang.
"Itu bukan wilayah kami, Pak RW," kata Bowo cepat.
"Kami Karang Taruna fokus di kegiatan positif."
Pak RW 02 menghela napas. "Ya, saya cuma mengingatkan.
Jangan sampai desa kita jadi terkenal karena hal negatif."
Arjuna mengangguk serius. "Saya catat. Kita akan
koordinasi dengan pihak keamanan."
Di tengah keramaian itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka
pelan. Semua orang menoleh. Masuk seorang perempuan tua, mbok-mbok, dengan
rambut putih tipis dan punggung agak membungkuk. Ia membawa nampan besar berisi
gelas-gelas berisi teh hangat dan sepiring gorengan. Dialah Mbok Inem,
penjaga kantor desa sejak zaman orde baru, tepatnya sejak kantor ini masih
berdinding bambu.
"Inem, Mbok, saya kan sudah bilang, sekarang ada
catering untuk rapat," tegur Arjuna dengan nada ramah.
Mbok Inem tersenyum ompong. "Lha iyo, Ndhuk... eh, Pak
Kades. Tapi iki teh opo-opo. Biar pada adem. Daripada pada ngomong panas-panas
nanti perang." (Lha iya, Nak... eh, Pak Kades. Tapi ini teh hangat. Biar
pada adem. Daripada pada ngomong panas-panas nanti perang.)
Semua tertawa. Tapi saat Mbok Inem meletakkan nampan di
meja, tatapannya sempat tertambat pada jendela yang mengarah ke beringin.
Senyumnya menghilang sejenak. Matanya sayu, seperti melihat sesuatu yang tak
terlihat orang lain.
Lalu ia berbalik, berjalan gontai keluar.
Hanya Titik yang melihat perubahan ekspresi itu. Ia
mengikuti Mbok Inem dengan pandangan, lalu mencatat sesuatu di buku Hello
Kitty-nya. Bukan catatan rapat. Tapi sebuah kalimat: "Mbok Inem
tahu sesuatu."
Pak Iwan, yang duduk di kursi roda, juga memperhatikan.
Matanya yang tua menyipit, lalu ia bergumam pelan pada cucunya, "Wong tuwa
iku ngerti akeh perkara, Le. Aja sepeleke." (Orang tua itu tahu banyak
perkara, Nak. Jangan sepelekan.)
Saat rapat masih berlangsung, di teras kantor, para sesepuh
yang tak ikut rapat mulai berdiskusi sendiri.
Mbah Karto mengisap rokoknya dalam-dalam. "Wit iku...
kok rasane ora ayem wiwit kantor anyar iki dibangun." (Pohon itu... kok
rasanya nggak tenang sejak kantor baru ini dibangun.)
Mbah Sugeng, yang setengah tuli, menjawab dengan suara
keras. "Apa? Wit apa? Siapa yang nangis?" (Apa? Pohon apa? Siapa yang
nangis?)
"Bukan nangis, Seng! Rasane... aneh. Kaya ana sing
nunggu." (Bukan nangis, Seng! Rasanya... aneh. Kayak ada yang nunggu.)
Mbah Santoso menghela napas. "Sing nunggu iku wis suwe,
Karto. Sejak jaman Mbah Joyo." (Yang nunggu itu sudah lama, Karto. Sejak
jaman Mbah Joyo.)
Pak Iwan, yang baru keluar dari ruang rapat karena capai,
mendengar percakapan itu. Ia mengangguk pelan.
"Kalian pada bener," ucapnya lirih. "Aku
ngerti apa sing ana ing kono. Ning aku ora wani ngomong." (Kalian pada
benar. Aku tahu apa yang ada di sana. Tapi aku nggak berani ngomong.)
Mbah Karto menatap Pak Iwan. "Pak, sampean lurah
pertama. Sampean sing mbangun desa iki. Mosok sampeyan ora ngerti?" (Pak,
Bapak lurah pertama. Bapak yang membangun desa ini. Masa Bapak nggak tahu?)
Pak Iwan diam. Matanya menatap beringin yang mulai
diterangi matahari sore.
"Aku ngerti. Ning kadang, ngerti iku luwih abot
tinimbang ora ngerti." (Aku tahu. Tapi kadang, tahu itu lebih berat
daripada tidak tahu.)
Rapat berlangsung dua jam. Hasilnya: program e-Voting
ditunda dulu, diganti dengan program "Sapi Sehat, Desa Hebat" yang
lebih realistis. Juga program gotong royong tambal jalan, dan rencana pembinaan
pemuda agar tak terpengaruh warung remang-remang.
Arjuna lega meskipun agak kecewa. Kirana, yang sedari tadi
diam di sampingnya, menggenggam tangan suaminya.
"Nggak apa-apa, Mas. Pelan-pelan aja. Kita harus
pahami dulu karakternya," bisiknya.
Arjuna mengangguk. "Iya, kamu benar. Aku terlalu
terbawa semangat Jakarta."
Saat warga mulai beranjak pulang, Pak Karyo mendekati
Arjuna. Wajahnya serius.
"Pak Kades, ada satu lagi. Ini tradisi. Setiap kepala
desa baru, ada jagong (kumpul) khusus di kantor desa pada
malam Jumat Kliwon pertama. Hanya perangkat inti dan keluarga. Sebagai... tolak
bala."
Arjuna mengernyit. "Tolak bala? Maksudnya?"
Pak Dono menurunkan suaranya. Hampir berbisik.
"Biasanya kita doa bersama. Minta keselamatan desa. Zaman dulu, acaranya
lebih... ribet. Ada sesaji, ada kemenyan. Sekarang sudah sederhana. Tapi tetap
dilakukan."
Joko, yang masih merapikan laptopnya, mendengar percakapan
itu. "Malam Jumat Kliwon pertama? Bukannya itu dua minggu lagi, Pak?"
"Iya, Le. Kebetulan malam Jumat Kliwon pertama di masa
periode kedua jabatan Pak Kades," jawab Pak Karyo.
Arjuna tersenyum. "Wah, menarik. Kita ikuti tradisi.
Saya suka budaya lokal. Nanti kita doa bersama, baca Yasin, yang penting
syukuran."
Pak Karyo mengangguk lega. Namun, di sudut ruangan, Titik
yang juga mendengar, mencatat lagi di bukunya: "Malam Jumat
Kliwon. Jangan lupa."
Mbah Santoso, yang kebetulan masih di teras, mendengar
percakapan itu dari jauh. Ia menggeleng pelan.
"Jumat Kliwon... malam sing mbok tunggu, Saras,"
bisiknya lirih. (Jumat Kliwon... malam yang kamu tunggu, Saras.)
Malam harinya, Joko masih di kantor. Kali ia benar-benar
lembur karena harus menginput data penerima bantuan sapi. Program Sapi Sehat
butuh data akurat, dan Joko ditunjuk jadi koordinator data.
Pak Jum, satpam malam, sudah siap dengan termos kopi dan
biskuit kering—biskuit merek "Hari-hari" yang sudah keras tapi masih
layak makan kalau dicelup kopi.
"Jek, bantuin aku setting HP," pinta Pak Jum
tiba-tiba.
Joko menoleh dari layar laptop. "Setting apaan,
Pak?"
"Ini, aku beli HP bekas. Katanya bisa buat Facebook.
Tapi kok nggak bisa mbukak. Mungkin kena virus."
Joko mengambil HP jadul itu—merk Nokia dengan tombol-tombol
kecil. Ia menekan beberapa tombol. Layar mati.
"Pak, ini HP-nya mati. Baterainya habis."
"Oh... lha terus?"
"Dicharge, Pak."
"Charge? Maksudmu colokin listrik?"
"Iya, Pak."
"Oalah... kirain aku ada tombol khusus buat
Facebook." Pak Jum tertawa renyah. "Dasar orang tua, Jek. Ketinggalan
jaman."
Joko ikut tertawa. Tapi tawanya terhenti.
Dari luar, terdengar suara ranting patah. Kraakk!
Joko dan Pak Jum serentak menoleh ke jendela. Hening. Hanya
suara jangkrik dan suara kodok dari sawah belakang.
"Mungkin tupai," kata Joko, meski hatinya sedikit
tidak tenang.
Pak Jum menghampiri jendela, mengintip ke luar. Halaman
kantor kosong. Lampu penerang di tepi jalan menyala temaram. Beringin tua
tampak hitam, besar, menjulang.
"Jek... beringin itu, kalau malam, emang banyak
ceritanya," bisik Pak Jum.
Joko mencoba tersenyum. "Cerita apa, Pak?"
Pak Jum kembali ke kursinya, mengambil kopi. "Zaman
saya kecil, dulu sering ada orang hilang semalaman di bawah situ. Besoknya
ditemukan lagi, tapi linglung. Nggak ingat apa-apa. Cuma mulutnya komat-kamit,
kayak lagi ngomong sama orang."
Joko mengangkat alis. "Mungkin kesasar, Pak. Atau
mabuk."
"Lha iya, tapi kok bisa linglung? Wong semalam ilang,
besoknya muncul lagi di tempat yang sama. Padahal sudah dicari ke
mana-mana."
Pak Jum menyeruput kopinya. "Ada juga yang bilang,
kalau tengah malam, kadang denger suara orang nangis. Tapi pelan. Kayak orang
nahan sedih. Nggak keras, tapi merinding."
Joko tersenyum tipis. "Mungkin emang orang nangis,
Pak. Masalah rumah tangga. Orang stres."
"Lha iya, tapi kok nangisnya di bawah pohon? Wong
rumahnya di atas bukit." Pak Jum menunjuk arah perbukitan di timur desa.
"Masa orang rumahnya jauh-jauh, tengah malam turun gunung cuma buat nangis
di bawah pohon?"
Joko tak menjawab. Ia kembali menatap layar laptop. Tapi
pikirannya melayang. Suara ranting patah tadi... terlalu keras untuk sekadar
tupai. Dan terlalu dekat.
Sekitar pukul 22.00, motor tua masuk ke halaman kantor.
Suaranya berisik, "cetak-cetak-cetak", seperti mesin jahit kesurupan.
Yang turun adalah Mbah Anto, sopir truk yang suka meramal.
"Wah, Mbah Anto, kok malam-malam ke sini?" sapa
Joko.
Mbah Anto tersenyum misterius, seperti biasa. "Lagi
lewat, lihat lampu kantor nyala. Mampir, sekalian mau nebeng kopi."
Pak Jum langsung menuangkan kopi. "Nggih, Mbah Anto.
Kulo malah seneng ana konco ngobrol." (Iya, Mbah Anto. Saya malah senang
ada teman ngobrol.)
Mbah Anto duduk, menyeruput kopi. Matanya mengamati
ruangan, lalu berhenti di jendela yang mengarah ke beringin.
"Jek, kowe wingi bengi mlaku-mlaku dewean?"
tanyanya tiba-tiba.
Joko kaget. "Hah? Iya, Mbah. Pulang lembur.
Kenapa?"
Mbah Anto menghela napas. "Kowe ora weruh apa-apa pas
mlaku?"
Joko ingat bayangan akar yang bergerak. Tapi ia ragu.
"Nggak... biasa aja. Cuma gelap."
Mbah Anto menatapnya lekat. "Jek, aku arep ngomong.
Nanging aja kaget."
Joko dan Pak Jum tegang. "Apa, Mbah?"
Mbah Anto menunjuk ke arah beringin. "Wit iku... wingi
bengi, pas kowe mlaku, akar-akare pada obah. Ora kaya biasane." (Pohon
itu... kemarin malam, pas kamu jalan, akar-akarnya pada bergerak. Nggak kayak
biasanya.)
Joko merinding. "Maksud Mbah Anto... akarnya
hidup?"
"Hidup atau nggak, aku ora ngerti. Sing jelas, wit iku
nanggepi kehadiranmu. Kaya... pengin ngomong."
Pak Jum mulai gelisah. "Mbah Anto, aja medeni,
yo." (Mbah Anto, jangan menakut-nakuti, ya.)
Anto tersenyum. "Aku ora medeni. Aku mung ngelingake.
Wit iku wis suwe ngenteni. Saiki, ana wong anyar teka. Mungkin iki
wektune."
Joko diam. Pikirannya kacau. Ia ingin menganggap ini
omongan orang gila, tapi Mbah Anto terkenal ramalannya selalu tepat.
Ponsel Joko bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
"Jangan lewat belakang. Dia di situ."
Joko menelan ludah. Siapa ini? Titik? Nomornya tak
tersimpan. Ia mencoba membalas: "Siapa ini?"
Tak ada balasan.
Mbah Anto melihat ekspresi Joko. "Entek pulsa,
Le?" tanyanya bercanda.
Joko tak menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya.
Pukul 23.00, Joko mematikan laptop. Ia pamit pada Pak Jum
dan Mbah Anto.
"Hati-hati, Jek. Lewat depan saja, jangan lewat
samping beringin," pesan Pak Jum.
Mbah Anto menambahkan, "Nek krungu suara wong nangis,
aja dialok. Terus wae mlaku. Ojo noleh." (Kalau dengar suara orang nangis,
jangan dihiraukan. Terus aja jalan. Jangan menoleh.)
Joko mengangguk kaku. "Siap, Mbah. Doakan
selamat."
Ia melangkah keluar. Udara malam dingin menusuk tulang. Ia
sengaja memilih jalan memutar, menjauhi beringin. Namun, jalan memutar itu
justru melewati belakang kantor, yang juga berbatasan dengan akar-akar beringin
yang menjalar hingga ke sana.
Langkahnya terpaku.
Di atas tembok belakang kantor, terlihat bayangan akar yang
menjuntai. Tapi salah satu akar... bergerak. Seperti ular. Atau seperti
jari-jari yang meraba-raba.
Joko menggosok mata. Akar itu diam. Lampu kendaraan
mungkin, pikirnya.
Saat ia hendak melanjutkan langkah, ponselnya bergetar
lagi. Pesan dari nomor yang sama:
"Jangan lewat belakang. Dia di situ."
Joko menelan ludah. Ia melihat sekeliling. Kosong. Hanya
gelap dan suara jangkrik.
Tiba-tiba, dari arah beringin, terdengar suara. Bukan
ranting patah. Bukan suara binatang. Tapi suara perempuan. Menyanyi lirih.
"Kupu kuwi... kupu kuwi... mabur neng taman... ojo
dikejar... ojo dikejar... mengko keweden..." (Kupu itu... kupu itu... terbang di taman... jangan
dikejar... jangan dikejar... nanti takut...)
Joko membeku. Lagu dolanan anak-anak. Tapi dinyanyikan
dengan nada sendu, seperti ratapan.
Ia ingin lari, tapi kakinya seperti terpaku. Dari balik
tembok, bayangan mulai muncul. Bayangan perempuan. Rambut panjang. Berdiri di
antara akar-akar.
"Joko... aja wedi... aku ora arep ngganggu..." bisik suara itu. (Joko... jangan takut... aku nggak
mau ganggu...)
Joko mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Si... siapa
kamu?"
"Aku... sing ngenteni... wis suwe... ngenteni wong
sing wani... kowe... Joko... kowe wani ora?" (Aku... yang menunggu... sudah lama... menunggu orang
yang berani... kamu... Joko... kamu berani nggak?)
Joko tak menjawab. Ia hanya bisa mematung.
Bayangan itu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.
Hampir keluar dari balik tembok.
Joko akhirnya berhasil menggerakkan kakinya. Ia berbalik
dan lari. Lari sekencang-kencangnya. Sandal jepitnya hampir lepas, tapi ia tak
peduli. Yang penting sampai di rumah.
Sesampainya di depan pintu rumah, ia terengah-engah.
Jantungnya berdebar kencang. Ia membuka pintu dengan tangan gemetar, masuk,
lalu menguncinya rapat-rapat.
Ia duduk di lantai, mencoba mengatur napas. Ponselnya
bergetar lagi. Pesan baru dari nomor yang sama:
"Aku Titik. Maaf cuma bisa ngingetin lewat SMS. Pulsa
habis. Jangan lupa baca yasin besok malem."
Joko menghela napas setengah mati. Ia ingin marah, tapi tak
tahu harus marah pada siapa. Campuran rasa lega dan jengkel memenuhi dadanya.
"Titik... kamu ini bikin saya hampir kena serangan
jantung!" gerutunya.
Namun, setelah marah reda, ia mulai berpikir. Titik
mengirim pesan sebelum ia melihat bayangan itu. Berarti Titik
tahu sesuatu. Tapi bagaimana caranya?
Joko menatap ponselnya. Ia ingin menelepon Titik, tapi jam
sudah menunjukkan pukul 23.45. Terlalu malam untuk menelepon perempuan.
Ia bangkit, menuju jendela. Tanpa sadar, ia memandang ke
arah kantor desa yang mulai redup. Dan di antara keremangan itu, ia bersumpah
melihat lampu di kantor desa menyala. Padahal Pak Jum sudah pulang—ia lihat
sendiri motor Pak Jum lewat beberapa menit lalu. Dan kantor sudah dikunci.
Atau... mungkin... ada yang masih di sana.
Menunggu.
Pagi harinya, Joko sampai di kantor lebih awal. Matanya
sembab, kurang tidur. Ia langsung mencari Titik.
Titik sudah duduk di meja administrasi, dengan buku Hello
Kitty di tangannya. Ia tersenyum melihat Joko.
"Selamat pagi, Mas Joko. Tidurnya nyenyak?"
Joko menarik napas. "Titik, kita perlu bicara."
Mereka pergi ke belakang kantor, dekat tempat Joko melihat
bayangan semalam. Joko menunjukkan tembok itu.
"Titik, semalam aku lihat sesuatu. Dan kamu kirim SMS
pas aku di sana. Kamu tahu dari mana?"
Titik diam sejenak. Lalu menjawab pelan, "Mas Joko,
aku nggak bisa jelasin dengan logika. Tapi aku... merasakan.
Semalam, pas aku mau tidur, tiba-tiba aku dengar suara. Suara perempuan. Dia
bilang: 'Joko mlaku nang mburi, kandhani aja cedhak wit.'" (Joko jalan di
belakang, bilangin jangan dekat pohon.)
Joko merinding. "Kamu dengar suara Saras?"
Titik mengangguk. "Aku sudah dengar dia sejak pertama
kali datang ke desa ini. Tapi baru semalam dia bicara jelas."
"Dia mau apa?"
Titik menatap Joko. "Dia mau ditemani. Dia mau
didengar. Dan dia bilang... kamu orangnya."
Joko mundur selangkah. "Aku? Kenapa aku?"
"Karena kamu orang baru. Kamu nggak punya dosa masa
lalu di sini. Kamu nggak terlibat. Kamu bisa melihat dengan mata segar."
Joko diam. Banyak hal berkecamuk di kepalanya. Logikanya
bilang ini gila. Tapi pengalaman semalam bilang sebaliknya.
"Titik... apa yang sebenarnya terjadi di desa
ini?"
Titik menghela napas panjang. "Ceritanya panjang, Mas.
Tapi intinya: dulu, puluhan tahun lalu, ada ritual kejam di bawah pohon itu.
Perempuan-perempuan dikorbankan. Dan salah satunya... Saras... belum tenang.
Dia menunggu keadilan."
Joko menelan ludah. "Dan kita... harus ngapain?"
"Kita harus bantu dia. Tapi nggak sendiri. Kita butuh
Arjuna. Kita butuh warga. Kita butuh semua orang."
Dari kejauhan, suara mobil masuk halaman. Arjuna dan Kirana
datang. Hari baru dimulai. Tapi bagi Joko, hari ini adalah awal dari
petualangan yang tak pernah ia bayangkan.
Di bawah beringin, daun-daun berguguran pelan. Seperti
bisikan. Seperti jawaban.
Pagi itu, Desa Awan Biru diselimuti kabut tipis—kabut dataran
rendah yang biasa muncul di musim pancaroba, membuat segalanya tampak seperti
lukisan cat air yang belum kering. Suasana adem, cocok untuk sarapan bubur atau
sekadar malas-malasan di tempat tidur sambil mendengarkan siaran radio lawas.
Namun, di Kantor Desa, suasana agak berbeda. Ada kerumunan
kecil di depan pintu masuk. Bukan demo, bukan antrean bantuan, tapi kerumunan
warga yang penasaran dengan sesuatu.
Joko datang lebih pagi dari biasanya. Ia masih penasaran
dengan lampu kantor yang menyala semalam—padahal Pak Jum sudah pulang dan pintu
terkunci. Ia juga masih kepikiran bayangan perempuan di balik tembok. Tapi
ketika sampai di halaman kantor, semua pikiran itu buyar digantikan pemandangan
aneh di depan matanya.
Mbok Inem berdiri
dengan tangan di pinggul, pose khas perempuan tua yang sedang kesal. Di
hadapannya, ada Pak Sabar, petugas kebersihan, yang wajahnya pucat
pasi seperti baru melihat hantu. Atau mungkin memang baru melihat hantu.
"Lha, mosok godhong-godhong iki wis tak sapu malem
minggu, saiki wis ana maneh? Aku ra mudeng!" (Lha, masa daun-daun ini
sudah saya sapu semalam, sekarang sudah ada lagi? Saya nggak ngerti!) keluh Pak
Sabar sambil menunjuk ke bawah pohon beringin.
Joko menghampiri, menyelip di antara warga yang mulai
berdatangan. "Ada apa, Pak Sabar?"
Pak Sabar menunjuk ke bawah beringin. Daun-daun kering
berserakan dalam jumlah banyak, padahal tadi pagi—tepatnya jam setengah lima
subuh—ia sudah menyapu bersih. Bahkan, sapu ijuknya masih tergeletak di samping
pohon, persis seperti saat ia tinggalkan.
"Aneh, Jek. Aku nyapu iki jam setengah lima esuk. Isih
peteng. Pas mau subuh. Saiki wis kebak maneh." (Aneh, Jek. Saya nyapu jam
setengah lima pagi. Masih gelap. Pas mau subuh. Sekarang sudah penuh lagi.)
Joko mengamati. Daun-daun itu tersebar dalam pola yang tak
biasa—bentuk melingkar, persis di sekeliling pohon, seperti sengaja ditata oleh
tangan tak kasat mata. Bahkan beberapa ranting kecil tersusun rapi membentuk
garis-garis tertentu.
"Mas Joko, itu pola mandala," bisik Dimas,
pemuda pendiam yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Dimas dikenal suka membaca
buku-buku spiritual dan mistik. "Biasanya dipakai dalam ritual
tertentu."
Joko menoleh. "Ritual? Maksud Dimas?"
Dimas mengangkat bahu. "Aku nggak tahu pasti. Tapi
pola kayak gitu sering dipakai untuk... memanggil."
"Memanggil siapa?"
Dimas tak menjawab. Matanya tertuju pada beringin yang
daunnya bergoyang pelan, meski tak ada angin.
Berita tentang daun-daun misterius menyebar cepat. Dalam
hitungan menit, warga yang biasanya sibuk di sawah mulai berdatangan. Ibu-ibu
yang sedang belanja di warung Mbokdhe ikut nimbrung. Anak-anak sekolah yang
belum masuk ikut nonton.
Pak RT 02 datang
dengan motor tuanya, langsung menggaruk kepala yang tidak gatal. "Lha, iki
opo maneh? Godhong-godhong pada demo?" (Lha, ini apa lagi? Daun-daun pada
demo?)
Pak RT 03 menyusul
dengan santai, sambil membawa kopi dalam botol bekas. "Tenang, tenang.
Mungkin angin kenceng semalem." (Tenang, tenang. Mungkin angin kencang
semalam.)
"Angin opo, Yanto? Iki pola rapi, kaya ditata,"
sahut Pak RW 03 yang datang dengan kumis tebal dan gaya mantan
tentara. "Iki jelas ada maksud sesuatu." (Angin apa, Yanto? Ini pola
rapi, kayak ditata. Ini jelas ada maksud sesuatu.)
Mbah Karto (80
tahun) datang dengan tongkatnya, dituntun cucu. Ia memandangi daun-daun itu
lama. Matanya yang mulai rabun tampak menyipit, lalu ia bergumam, "Iki...
pola sing padha karo jaman mbiyen." (Ini... pola yang sama dengan jaman
dulu.)
Mbah Sugeng (90
tahun) yang setengah tuli ikut nimbrung, meski tak jelas apa yang ia dengar.
"Apa? Ana sing mati? Siapa?" tanyanya keras.
"Ora ana sing mati, Mbah! Iki godhong!"
teriak Pak Dono yang baru keluar dari kantor.
"Oh... godhong... kirain ana sing mati," jawab
Mbah Sugeng kecewa.
Mbah Santoso (87
tahun) duduk di kursi yang dibawanya sendiri. Ia tak banyak bicara, hanya
matanya yang terus menatap beringin dengan ekspresi rumit—campuran antara
takut, bersalah, dan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Pak Iwan (92
tahun) tak datang. Tapi kabarnya, ia hanya tersenyum tipis saat mendengar kabar
ini dari cucunya. "Wis mulai," gumamnya pelan. (Sudah mulai.)
Mbok Inem yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara.
Suaranya lirih tapi tegas. "Sabar, rasah wedi. Kuwi mung pengin
dieling-eling." (Sabar, nggak usah takut. Itu cuma mau diingat-ingat.)
Semua orang menoleh padanya. Mbok Inem—perempuan tua renta
yang setiap hari masak di dapur kantor, yang selalu tersenyum meski giginya
sudah ompong—tiba-tiba jadi pusat perhatian.
"Diingat-ingat apaan, Mbok?" tanya Joko.
Mbok Inem menatap Joko lekat-lekat. Matanya sayu, tapi ada
kilatan tajam di sana. Seperti ia bisa melihat sesuatu yang tak terlihat orang
lain.
"Kowe wong anyar, Jek. Durung ngerti sejarah desa
kene. Tapi sing ati-ati. Yen bengi, aja cedhak-cedhak wit iku. Utamane nek
krungu suwara wong nangis." (Kamu orang baru, Jek. Belum ngerti sejarah
desa sini. Tapi yang hati-hati. Kalau malam, jangan dekat-dekat pohon itu.
Utamanya kalau dengar suara orang nangis.)
Joko tersenyum getir. "Mbok, saya ini orangnya nggak
gampang percaya hal-hal kayak gitu. Saya lebih percaya data dan fakta."
Mbok Inem tersenyum, memperlihatkan gusi tanpa gigi. Senyum
yang entah mengapa membuat bulu kuduk Joko merinding. "Ora percaya ora
popo, Le. Sing penting percaya karo kenyataan. Kenyataan iki godhong terus teka
saben esuk. Kenyataan iki wong-wong pada wedi." (Nggak percaya nggak
apa-apa, Le. Yang penting percaya sama kenyataan. Kenyataan ini daun terus
datang setiap pagi. Kenyataan ini orang-orang pada takut.)
Tanpa bicara lagi, Mbok Inem berjalan gontai masuk ke
kantor, meninggalkan warga yang tercengang.
Pak Sabar menghela napas panjang. Ia lalu duduk di tangga
kantor, merokok kretek dengan wajah muram.
Joko mendekat. "Pak Sabar, bapak sudah 20 tahun di
sini?"
Pak Sabar mengangguk. "Iya, Jek. Aku dadi tukang sapu
wiwit kantor iki isih lawas. Dinding bambu, lantai tanah." (Iya, Jek. Aku
jadi tukang sapu sejak kantor ini masih lama. Dinding bambu, lantai tanah.)
"Selama 20 tahun, pernah nemu kejadian aneh kayak
gini?"
Pak Sabar mengisap rokoknya dalam-dalam. "Ora tau,
Jek. Godhong tiba ya lumrah. Tapi nek tiba saben esuk karo pola-pola ngene...
iki pertama." (Nggak pernah, Jek. Daun jatuh ya biasa. Tapi kalau jatuh
setiap pagi dengan pola-pola gini... ini pertama.)
Ia menunjuk ke arah beringin. "Wit iku, Jek, sakjure
urip. Aku ngerti merga saben dina nyapu nang kono. Tapi sakwise kantor anyar
iki dibangun, wit iku... kaya... nesu." (Pohon itu, Jek, sebenarnya hidup.
Aku tahu karena setiap hari nyapu di sana. Tapi setelah kantor baru ini
dibangun, pohon itu... kayak... marah.)
Joko mengernyit. "Marah? Maksudnya?"
"Getahé metu luwih akeh. Wite kaya... nangis. Ning
getahé abang, kaya getih." (Getahnya keluar lebih banyak. Pohonnya
kayak... nangis. Tapi getahnya merah, kayak darah.)
Joko merinding. Ia ingat buku harian Saras yang menyebut
"darah" dan "rasa sakit".
"Pak Sabar, bapak percaya pohon itu dijaga
sesuatu?"
Pak Sabar menatap Joko. Matanya sayu. "Jek, aku wong
desa. Aku percaya karo sing ora kelihatan. Nanging aku ora tau ganggu, ya ora
tau diganggu. Sing penting, aku ngajeni." (Jek, aku orang desa. Aku
percaya sama yang nggak kelihatan. Tapi aku nggak pernah ganggu, ya nggak
pernah diganggu. Yang penting, aku menghormati.)
Joko memutuskan mengambil sampel daun-daun itu. Ia ambil
beberapa lembar, memasukkannya ke dalam plastik klip yang biasa ia pakai untuk
menyimpan flashdisk. Mungkin bisa dianalisis secara ilmiah. Mungkin ada pola
angin tertentu yang membuat daun jatuh berulang dengan pola melingkar.
Saat ia membungkuk memunguti daun, tangannya meraba sesuatu
yang keras di sela-sela akar. Bukan batu. Bukan kayu. Tapi benda dengan
sudut-sudut tajam.
Joko merogoh lebih dalam. Akar-akar beringin itu besar dan
menjalar, menciptakan celah-celah seperti gua kecil. Di salah satu celah,
terselip sebuah benda warna cokelat tua, hampir menyatu dengan tanah dan lumut.
Sebuah buku saku. Sampulnya lusuh, hampir
robek, dengan noda-noda hitam seperti jamur tua. Joko membersihkannya pelan,
membuka halaman pertama.
Di sana, tulisan tangan feminin yang rapi, dengan tinta biru
yang mulai pudar:
"Catatan Harian Saraswati - 1985"
Jantung Joko berdetak lebih cepat. Ia membuka beberapa
halaman. Tulisan tangan itu indah, penuh lengkungan, seperti seseorang yang
terbiasa menulis dengan perasaan. Tapi beberapa kata tercoret, beberapa halaman
sobek di pinggir.
Satu kalimat di halaman ketiga menarik perhatiannya:
"Malam ini aku dipanggil ke balai desa. Kata Pak
Lurah, aku harus ikut 'ritual'. Katanya untuk kemakmuran desa. Aku takut. Tapi
takut melawan."
Joko menelan ludah. "1970... Saraswati...
ritual..." gumamnya tak percaya.
"Jek! Lagi ngapain?"
Suara Titik tiba-tiba menyergap dari belakang. Joko hampir
menjatuhkan buku itu. Ia menoleh, napas memburu. "Titik! Kamu itu...
jalannya nggak bersuara ya?"
Titik mengerutkan kening. "Aku jalan biasa kok. Mas
Joko yang terlalu fokus. Itu apa?"
Joko menunjukkan buku itu. "Aku nemu di bawah beringin.
Catatan harian. Tahun 1970."
Titik mengambil buku itu, membacanya sekilas. Wajahnya
berubah. Bukan pucat, tapi ada kilatan aneh di matanya. Seperti... mengenali
sesuatu. Atau seseorang.
"Mas Joko, buku ini... harus kita simpan
baik-baik." Titik mengembalikan buku itu. "Dan jangan bilang
siapa-siapa dulu."
"Lho, kenapa?"
Titik menatap Joko serius. "Karena saya rasa,
Saraswati ini... adalah perempuan yang sekarang menjaga beringin itu."
Joko hendak membantah, tapi teringat SMS misterius Titik
semalam. "Titik, kamu kok bisa tahu? Kamu ini siapa sebenarnya?"
Titik tersenyum. Tapi senyumnya aneh. Seperti senyum
seseorang yang tahu lebih dari yang seharusnya. "Aku cuma orang yang...
bisa dengar bisikan, Mas. Bisikan dari mereka yang nggak bisa ngomong
langsung."
Joko merasa merinding. Bukan karena dingin, tapi karena
caranya Titik bicara begitu tenang. Seperti membahas cuaca.
"Titik... jangan bercanda."
"Aku nggak bercanda, Mas. Aku juga nggak mau dianggap
aneh. Tapi ini kenyataan. Dan buku itu... mungkin kuncinya."
Sementara itu, di pinggir kerumunan, Bowo, Catur,
dan Dimas berdiskusi dengan serius—sesuatu yang jarang
terjadi.
"Bro, ini viral," kata Bowo sambil memegang
ponsel. "Aku rekam dari tadi. Nanti aku upload ke TikTok. Biar pada
tahu."
Catur menggeleng. "Jangan, Bow. Nanti malah jadi
tontonan. Bisa-bisa desa kita jadi objek wisata horor."
"Ya bagus dong! Bisa naik kelas desa kita!"
Dimas, yang sedari tadi diam, angkat bicara. "Bow, iki
serius. Iki dudu konten. Iki nyata."
Bowo dan Catur menatap Dimas. Mereka tahu Dimas tak pernah
bercanda soal hal-hal seperti ini.
"Mas Dimas, kamu tahu sesuatu?" tanya Catur.
Dimas mengangguk pelan. "Aku... dari kecil sering
lihat sesuatu di pohon itu. Tapi aku diem aja. Takut dianggap aneh. Tapi
sekarang... kayaknya waktunya sudah dekat."
"Waktunya apa?"
Dimas menatap beringin. "Waktunya kebenaran
keluar."
Suara mesin truk terdengar dari kejauhan. Semua orang menoleh. Mbah
Anto, sopir truk yang suka meramal, datang dengan truk Hino-nya yang
besar. Ia memarkir di pinggir jalan, lalu turun dengan langkah santai.
"Rame-rame, pada ngapain?" tanyanya sambil
menghampiri.
Pak Yanto (RT
03) menjelaskan. "Iki, Mbah Anto, godhong-godhong pada misterius."
Mbah Anto mengamati daun-daun itu. Lalu ia melihat ke arah
beringin. Matanya menyipit, seperti membaca sesuatu.
"Wis 40 taun ora kaya ngene," gumamnya. (Sudah 40
tahun nggak kayak gini.)
Joko, yang baru selesai bicara dengan Titik, menghampiri.
"Mbah Anto, maksudnya?"
Mbah Anto menatap Joko. "Jek, wit iki lagi ngomong.
Kowe krungu ora?"
Joko menggeleng. "Saya nggak dengar apa-apa."
"Iya, kowe ora krungu merga kowe ora percaya. Ning
dheweke ngomong nganggo godhong iki." (Iya, kamu nggak dengar karena kamu
nggak percaya. Tapi dia ngomong pakai daun ini.)
"Maksud Mbah Anto, daun-daun ini pesan?"
Mbah Anto tersenyum misterius. "Pesen sing wis suwe
ditahan. Saiki, wiwit kantor anyar dibangun, wit iki kaya... kepengin
ngomong."
Pak RW 03 mendekat.
"Mbah Anto, sampeyan iki sopir truk, kok tahu soal beginian?"
Mbah Anto tertawa. "Pak RW, sopir truk iki keliling
desa, keliling kota, keliling urip. Aku weruh akeh perkara sing ora kelihatan
wong liya." (Pak RW, sopir truk ini keliling desa, keliling kota, keliling
hidup. Aku lihat banyak perkara yang nggak kelihatan orang lain.)
Sore harinya, setelah kerumunan bubar, Joko duduk di ruang
arsip kantor desa. Ia sengaja menyempatkan diri mencari dokumen lama. Rak-rak
berdebu, beberapa kardus lapuk, dan tumpukan kertas menguning. Ia mencari apa
pun yang berkaitan dengan tahun 1985.
Usaha sia-sia. Semua dokumen sebelum tahun 2000 seolah
raib. Yang ada hanya arsip-arsip baru, setelah era reformasi.
Pak Dono masuk, melihat Joko sibuk. "Lho, Jek, golek
opo?" (cari apa?)
"Pak, dokumen desa tahun 80-an di mana ya?"
Pak Dono menghela napas panjang. Ini bukan pertama kalinya
ia ditanya soal arsip lama. "Oalah, iku... konon, pas taun 2000-an awal,
ana kebakaran cilik. Ruang arsip lawas kobong. Dadi akeh sing ilang."
(Oalah, itu... konon, pas tahun 2000-an awal, ada kebakaran kecil. Ruang arsip
lama kebakar. Jadi banyak yang hilang.)
"Kebakaran?" Joko curiga. "Kebetulan
sekali."
Pak Dono mengangkat bahu. "Wis nasib, Le. Tapi yen
sampeyan butuh arsip lawas, coba takon mbok Inem. Dheweke sing paling lawas.
Mungkin isih ngelingi." (Udah nasib, Le. Tapi kalau sampeyan butuh arsip
lama, coba tanya Mbok Inem. Dia yang paling lama. Mungkin masih ingat.)
Joko mengangguk. Ia tahu ke mana harus bertanya.
Di dapur belakang, Mbok Inem sedang merebus air untuk stok
teh. Api kecil menyala di bawah ceret besar. Aroma kayu bakar dan daun teh
menciptakan suasana hangat, kontras dengan topik yang akan dibicarakan Joko.
Joko menghampiri, duduk di bangku kecil di samping Mbok
Inem. "Mbok, saya mau tanya sesuatu."
Mbok Inem menoleh. Matanya sayu, tapi ada kewaspadaan di
sana. "Tanya opo, Le?"
Joko menghela napas. Ia keluarkan buku harian itu dari
tasnya. "Siapa itu Saraswati?"
Brak!
Sendok yang dipegang Mbok Inem jatuh. Berbunyi nyaring di
lantai semen. Wajah tua itu berubah. Bukan marah, tapi... takut. Takut yang
dalam, yang tersembunyi selama puluhan tahun.
"Saka ngendi kowe krungu jeneng kuwi?" (Dari mana
kamu dengar nama itu?) bisiknya.
Joko menunjukkan buku itu. "Saya nemu ini di bawah
beringin tadi pagi."
Tangan Mbok Inem gemetar saat mengambil buku itu. Ia
membuka halaman pertama, membaca tulisan tangan yang begitu dikenalnya. Air
matanya jatuh, membasahi kertas yang sudah menguning.
"Saras... Saras... jarene kowe wis ilang. Jarene kowe
wis lunga. Tapi nyatane kowe isih ngenteni." (Saras... Saras... katanya
kamu sudah hilang. Katanya kamu sudah pergi. Tapi nyatanya kamu masih
menunggu.)
Joko tertegun. "Mbok... Mbok kenal dengan
Saraswati?"
Mbok Inem mengangguk pelan. Ia memeluk buku itu erat,
seperti memeluk sahabat yang lama hilang.
"Dheweke... kancaku. Kanca cilikku. Wong sing paling
apik atine. Sing ngewangi sapa wae tanpa pamrih." (Dia... temanku. Teman
kecilku. Orang yang paling baik hati. Yang membantu siapa saja tanpa pamrih.)
"Lalu... kenapa dia bisa... meninggal?"
Mbok Inem menggeleng. "Ora mati, Le. Ora ana sing
ngerti. Dadakan dheweke ilang. Wong-wong ngomong dheweke minggat. Tapi aku
ngerti, dheweke ora bakal minggat tanpa pamit." (Nggak mati, Le. Nggak ada
yang tahu. Tiba-tiba dia hilang. Orang-orang bilang dia kabur. Tapi aku tahu,
dia nggak akan kabur tanpa pamit.)
Joko merasa dunianya berputar lebih cepat. "Jadi...
Saraswati itu... hilang? Dan pohon beringin itu..."
Mbok Inem menatap Joko. Matanya kosong, seperti melihat ke
masa lalu yang kelam. "Aku percaya, dheweke ana nang kono. Ngenteni
keadilan. Ngenteni wong sing wani mbukak kasunyatan." (Aku percaya, dia
ada di sana. Menunggu keadilan. Menunggu orang yang berani membuka kenyataan.)
"Tapi kenapa dia nunggu? Kenapa nggak pergi?"
Mbok Inem menghela napas. "Amarga dheweke ora dikubur
kanthi bener, Le. Dheweke dikubur... urip-uripan." (Karena dia nggak
dikubur dengan benar, Le. Dia dikubur... hidup-hidup.)
Joko tersentak. "Dikubur hidup-hidup? Siapa yang
melakukan?"
Mbok Inem menunduk. Tangannya gemetar. "Aku ora wani
ngomong, Le. Wong-wong iku isih ana. Anak putune isih urip." (Aku nggak
berani ngomong, Le. Orang-orang itu masih ada. Anak cucunya masih hidup.)
"Siapa, Mbok? Saya harus tahu."
Mbok Inem menatap Joko. Lama. Lalu berbisik, "Mbah
Joyo. Lurah wektu iku. Lan kanca-kancane." (Mbah Joyo. Lurah waktu itu.
Dan kawan-kawannya.)
Joko terdiam. Mbah Joyo. Kakek buyutnya Arjuna.
Malam semakin larut. Joko di kosnya, duduk di lantai,
membuka buku harian Saraswati halaman demi halaman. Lampu kamar terang
benderang—ia tak mau ambil risiko gelap setelah kejadian semalam.
Ia membaca dengan saksama. Cerita tentang seorang gadis
desa yang ceria, yang suka menari, yang bercita-cita jadi guru. Tentang
bagaimana ia membantu ibunya yang sakit, tentang persahabatannya dengan Mbok
Inem. Dan perlahan, nada tulisannya berubah. Menjadi gelap. Penuh ketakutan.
"10 Maret 1970 - Hari ini aku dipanggil ke balai desa.
Pak Lurah bilang aku terpilih. Aku harus ikut ritual di bawah beringin. Katanya
untuk kemakmuran desa. Tapi kenapa aku? Kenapa harus aku? Aku hanya anak petani
miskin. Ora duwe bapa, mung ibu sing lara."
"15 Maret 1970 - Ibu meninggal. Aku nggak tahu apa ini
kebetulan. Tapi mereka bilang aku nggak usah pulang. Aku harus tinggal di
kantor sampai ritual selesai. Aku dijaga. Aku nggak bisa kabur."
"20 Maret 1970 - Malam ini ritualnya. Aku takut
sekali. Tapi mereka bilang ini tradisi. Harus dilakukan. Ada sesaji, ada
kemenyan, dan... aku tidak bisa menuliskan sisanya. Aku hanya ingat darah.
Banyak darah. Dan rasa sakit. Tapi aku masih hidup."
"25 Maret 1970 - Aku masih hidup. Tapi mereka bilang
aku harus diam. Jangan bilang siapa-siapa. Mereka bilang ini rahasia desa. Aku
takut. Tapi aku juga marah."
Halaman terakhir:
"1 April 1970 - Mereka datang lagi malam ini.
Membawaku ke beringin. Kali ini, aku tahu mereka tidak akan membiarkanku hidup.
Tapi aku sudah siap. Aku akan menjaga pohon ini selamanya. Sampai ada yang
berani mengungkap kebenaran. Sampai anak cucu mereka tahu dosa leluhurnya.
Saras, yang menunggu."
Joko menutup buku itu. Tangannya gemetar. Ia tak tahu harus
percaya atau tidak. Tapi satu hal yang pasti: Saraswati bukan sekadar mitos. Ia
nyata. Dan ia mungkin masih di sana.
Di luar jendela, angin malam berdesir pelan. Joko menatap
ke arah kantor desa yang mulai redup. Dan dari kejauhan, suara perempuan
terdengar samar. Menangis. Atau mungkin tertawa.
Atau mungkin... menyanyi.
"Kupu kuwi... kupu kuwi... mabur neng taman..."
Joko memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
ia berdoa. Bukan karena takwa, tapi karena takut.
"Tuhan... lindungi aku dari kebenaran yang mungkin
terlalu berat."
Namun di luar, di bawah beringin, bayangan-bayangan mulai
berkumpul. Saras dan kawan-kawannya. Mereka menatap ke arah rumah Joko.
"Wis suwe... ngenteni..." bisik angin malam. (Sudah lama... menunggu...)
Dan daun-daun berguguran lagi, membentuk pola yang sama.
Melingkar. Seperti undangan. Atau peringatan.
Tiga hari sejak menemukan buku harian Saraswati, Joko
berusaha keras mengembalikan dirinya ke "mode rasional". Ia memakai
kacamata logika lebih tebal dari biasanya—secara harfiah maupun kiasan.
Kacamata barunya memang tebal, karena minus matanya bertambah, mungkin efek
terlalu banyak begadang. Tapi yang lebih tebal adalah benteng mental yang ia
bangun.
Setiap kali pikirannya melayang ke sosok perempuan di bawah
beringin, ia segera mengalihkannya dengan hitungan rumus Excel, atau debugging
kode program fiktif yang sebenarnya tidak pernah ia tulis. Ia bahkan mencoba
menghafal angka PI sampai 20 digit di belakang koma, hanya untuk mengalihkan
pikiran.
"Joko, kamu ini bukan programmer. Kamu staf
administrasi desa," gumamnya sendiri di depan cermin kosan. "Hantu
itu nggak ada. Yang ada cuma sugesti dan kurang tidur."
Tapi kurang tidur itu nyata. Setiap malam ia terbangun
pukul 03.00 persis, tanpa alarm. Dan setiap kali terbangun, ia selalu mendengar
suara samar dari arah kantor desa. Suara seperti orang menyapu. Padahal Pak
Sabar menyapu subuh, bukan tengah malam. Dan suara itu selalu disertai bisikan
lirih—terlalu samar untuk didengar, tapi cukup jelas untuk membuat bulu
kuduknya berdiri.
Pagi ini, Joko datang ke kantor dengan kantung mata
tebal—lebih tebal dari kacamatanya. Wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan, dan
bajunya kusut karena semalam ia berguling-guling tak bisa tidur.
Titik yang sudah duduk di meja administrasi langsung
menatapnya tajam. "Mas Joko, nggak tidur lagi?"
Joko menguap lebar. "Tidur kok. Cuma... banyak
mikir."
Titik tersenyum tipis. "Mikir buku itu?"
Joko menghela napas. Ia melihat sekeliling, memastikan tak
ada orang lain. Pak Dono belum datang. Pak Jum baru saja ganti shift. Ruangan
masih sepi.
"Titik, aku sudah baca semua. Saraswati... dia
benar-benar ada. Dan ceritanya..."
"...mengerikan," sambung Titik tenang. "Aku
tahu. Aku juga sudah baca."
Joko terkejut. "Kamu sudah baca? Kapan?"
"Semalam. Kamu kirim fotonya lewat WhatsApp, ingat?
Aku baca sebelum tidur."
Joko ingat. Ia memang memfoto beberapa halaman dan
mengirimnya ke Titik, entah kenapa. Mungkin karena ia butuh seseorang yang
percaya.
"Kamu simpan di mana bukunya?" tanya Titik.
"Di rumah. Dalam tas. Dalam lemari. Terkunci. Tiga
lapis pengaman," jawab Joko setengah bercanda.
Titik mengangguk setuju. "Bagus. Jangan sampai hilang.
Itu satu-satunya bukti."
"Bukti buat apa?"
Titik menatap Joko lekat. Matanya sayu tapi tajam, seperti
bisa melihat tembus ke dalam pikiran Joko. "Bukti bahwa desa ini punya
dosa masa lalu yang belum ditebus."
Joko ingin membantah, ingin mengatakan bahwa itu semua bisa
jadi karangan orang gila, atau buku harian fiktif yang sengaja ditinggalkan
untuk menakut-nakuti. Tapi ia tak bisa. Karena tiap kali membantah dalam hati,
ia ingat halaman terakhir: "Sampai anak cucu mereka tahu dosa
leluhurnya."
"Pak Kades Arjuna itu... anak cucu siapa?" tanya
Joko tiba-tiba.
Titik mengangkat alis. "Kok tanya gitu?"
"Di buku itu, Saras bilang dia akan menunggu sampai
anak cucu mereka tahu. Maksudnya, anak cucu orang yang bertanggung jawab
atas... ritual itu."
Titik diam sejenak. Lalu menjawab pelan, "Coba tanya
Pak Dono. Atau Mbok Inem. Tapi hati-hati."
"Hati-hati kenapa?"
"Karena belum tentu semua orang mau kebenaran
terbuka." Titik bangkit, mengambil buku Hello Kitty-nya. "Aku mau ke
dapur bantu Mbok Inem. Nanti kita ngobrol lagi."
Di ruang kerjanya, Arjuna sedang sibuk dengan tumpukan
proposal. Program "Sapi Sehat, Desa Hebat" ternyata butuh banyak
administrasi. Kirana duduk di samping, membantu mengoreksi. Suasana harmonis,
khas pasangan pengantin baru yang masih dalam masa bulan madu, meski sudah menikah
tiga tahun.
"Mas, nanti malam jadi acara jagong di
kantor?" tanya Kirana.
"Iya, Sayang. Malam Jumat Kliwon. Hanya perangkat
inti, kita berdua, dan doa bersama. Nggak sampai larut kok."
Kirana mengangguk, tapi ada kerutan di dahinya.
"Mas... aku tiap malam mimpi yang sama."
Arjuna mengangkat kepala dari proposal. "Mimpi
apa?"
"Perempuan di bawah pohon itu. Rambutnya panjang.
Bajunya putih lusuh. Dia diam saja, cuma menatap."
Arjuna mengusap punggung istri. "Kamu kecapekan.
Banyak adaptasi. Nanti setelah acara, kita liburan sebentar ke kota. Ke Malang,
belanja, makan enak."
"Aku nggak takut, Mas. Tapi... aku merasa dia kenal
aku. Atau kenal kamu."
Arjuna tertawa kecil. "Kenal aku? Aku memang lahir di
sini, tapi besar di luarkota sekolah di Jakarta. Nggak mungkin kenal."
"Iya... tapi di mimpi, dia bilang: 'Kamu mirip kakek
buyutmu'."
Tangan Arjuna berhenti mengusap. Senyumnya mengeras.
"Apa?"
Kirana mengangguk. "Aku serius, Mas. Dan aku nggak
tahu kakekmu seperti apa. Wajahnya, rambutnya, matanya—semuanya asing. Tapi dia
bilang begitu."
Arjuna menelan ludah. Kakek buyutnya, Mbah Joyo,
adalah Kepala Desa Awan Biru periode 1970-1985. Ia tahu itu dari cerita
ayahnya. Tapi ayahnya selalu enggan bercerita detail. Hanya bilang: "Zaman
dulu beda, Nak. Kekuasaan itu keras."
Sekarang, bayangan itu mulai menghantuinya. Dalam arti
harfiah.
"Mas, kamu baik-baik saja?" Kirana memegang
tangannya.
Arjuna memaksa tersenyum. "Iya, Sayang. Mungkin ini
cuma kebetulan. Mimpi nggak selalu berarti."
Tapi di dalam hati, ia tak yakin.
Sore harinya, Joko memutuskan mencari Pak Dono. Ia temukan
sekretaris desa itu di warung kopi "Mbokdhe", sedang asyik main catur
dengan Pak RW 03, pensiunan tentara yang galak tapi baik hati.
Papan catur sudah usang, beberapa buah catur bahkan diganti dengan tutup botol.
"Pak Dono, numpang tanya sebentar," sapa Joko.
"Lho, Jek, dolanan catur?" tawar Pak Dono sambil
menunjuk kursi kosong.
"Hehe, nggak bisa, Pak. Saya main catur kalah terus
sama laptop. Saya mau tanya soal silsilah keluarga Pak Kades."
Pak Dono mengernyit. "Silsilah? Buat apa?"
Joko berpikir cepat. "Ini... untuk data kependudukan.
Biar lengkap. Soalnya kan Pak Kades baru di periode kedua, kami mau buat profil
keluarga inti. Program baru dari kabupaten."
Pak Dono mengangguk-angguk, tak curiga. "Oalah, nggih.
Pak Kades Arjuna iki putune Mbah Buyut Joyo. Mbah Joyo iki lurah
kene taun 80-an. Bapake Pak Kades, Pak Erlangga, ora tau dadi
lurah. Dokter. Kakeknya Si Amat Admin Desa Dulu" (Pak Kades Arjuna ini
cucunya Mbah Buyut Joyo. Mbah Joyo ini lurah sini tahun 80-an. Bapaknya Pak
Kades, Pak Erlangga, nggak pernah jadi lurah. Dokter, .)
Pak RW 03 menimpali, "Mbah Buyut Joyo iku keras, Jek.
Jaman dulu, ora ana wani mbantah. Dheweke kaya raja cilik." (Mbah Buyut Joyo
itu keras, Jek. Jaman dulu, nggak ada yang berani membantah. Dia seperti raja
kecil.)
Joko merasakan dadanya berdebar. "Keras gimana,
Pak?"
Pak RW 03 mengisap rokoknya. "Ya... nek ana wong
nglawan, langsung diproses. Nek arep gawe keputusan, ora perlu rembugan.
Pokok'e dialah sing bener." (Ya... kalau ada yang melawan, langsung
diproses. Kalau mau buat keputusan, nggak perlu musyawarah. Pokoknya dialah
yang benar.)
"Tapi beliau tokoh pembangunan, kan? Kata orang, desa
maju di zamannya."
Pak Dono mengangguk. "Iya, maju. Tapi mbok menawa maju
merga... sesuker." (Iya, maju. Tapi mungkin maju karena... susah.)
Joko mengernyit. "Sesuker, Pak?"
Pak Dono diam. Matanya menatap catur, tapi pikirannya jauh.
"Wis, Jek. Aja takon-takon sing jero-jero. Sing penting saiki desa iki
maju." (Sudah, Jek. Jangan tanya-tanya yang dalam-dalam. Yang penting
sekarang desa ini maju.)
"Pak, Mbah Buyut Joyo itu... masih hidup?"
Pak Dono menggeleng. "Sedoyo. Mbah Buyut Joyo
meninggal taun 2005. Umur 90 tahun. Tenang ning kuburan." (Sudah.
Meninggal tahun 2005.)
"Tenang?" gumam Joko ragu.
"Lho, iya. Wong mati tua. Ora aneh-aneh." (Ya,
iya. Orang mati tua. Nggak aneh-aneh.)
Joko mengangguk, meski pikirannya berkecamuk. Tenang?
Apa mungkin orang yang melakukan ritual kejam bisa mati tenang?
Saat berjalan pulang, Joko berpapasan dengan tiga pemuda
pengangguran langganan warung kopi: Bowo, Catur,
dan Dimas. Mereka sedang nongkrong di pinggir jalan, main HP sambil
sesekali melihat ke arah kantor desa.
"Mas Joko! Kabarnya kantor desa angker ya?" sapa
Bowo, yang paling cerewet. Hari ini ia memakai kaos Distro dengan tulisan
"Mystery Hunter"—entah dari mana dapatnya.
Joko tersenyum canggung. "Angker? Masa sih?"
"Iya, kata orang, bapak satpam sempat kerasukan. Minta
pecel," tambah Catur sambil terkekeh.
"Kerasukan minta pecel? Itu mah laper, bukan
kerasukan," sahut Bowo.
Joko ikut tertawa. "Itu mah kebanyakan micin."
Tapi Dimas, yang paling pendiam di antara mereka, justru
angkat bicara. "Mas Joko, percaya nggak percaya, tapi saya semalam lewat
situ jam 12, lihat lampu kantor nyala. Padahal kan libur."
Joko berhenti. "Kamu lihat sendiri?"
"Iya. Saya dari rumah teman, mau pulang. Lampu di
ruang arsip nyala. Tapi saya lihat jendela, nggak ada orang. Cuma bayangan
duduk."
Joko merinding. Ruang arsip. Tempat ia mencari dokumen. Tempat
yang kosong.
"Ya sudah, mungkin lupa dimatikan," Joko berusaha
tenang.
"Mungkin," kata Dimas, tapi matanya menerawang.
"Tapi bayangan itu... seperti lagi baca buku."
Bowo dan Catur saling pandang. "Wah, serius nih?"
bisik Bowo.
Dimas mengangguk. "Aku nggak bercanda. Bayangan itu
duduk di kursi, membuka buku. Tangannya gerak-gerak seperti membaca. Tapi
kursinya kosong. Cuma bayangan."
Joko pamit cepat. Langkahnya dipercepat menuju Rumah. Ia
perlu membaca ulang buku harian Saras. Mencari petunjuk apa pun.
Bowo berteriak dari belakang, "Mas Joko, kalau butuh
bantuan, panggil kami! Kami tim investigasi dadakan!"
Catur menimpali, "Iya, kami siap jadi saksi mata!
Dengan bayaran secukupnya!"
Malam harinya, Joko duduk di lantai kamar, buku harian di
tangan. Lampu kamar terang benderang. Ia bahkan menyalakan lampu tambahan—lampu
emergency yang biasanya buat jaga-jaga kalau mati lampu. Ia tak mau ambil
risiko gelap.
"10 Maret 1970 - Hari ini aku diajak Pak Lurah ke
kantor desa. Katanya mau ngomong serius. Di kantor, ada beberapa orang. Aku
nggak kenal. Mereka bilang aku harus ikut ritual. Aku nangis. Tapi mereka nggak
peduli. Pak Lurah bilang: 'Kowe kudu rela kanggo desa iki.' (Kamu harus rela
untuk desa ini.)"
"17 Maret 1970 - Aku tahu sekarang. Ritual itu...
mereka butuh darah perawan. Katanya untuk kesuburan tanah. Untuk kemakmuran.
Tapi kenapa aku? Aku hanya anak petani miskin. Ora duwe bapa, mung ibu sing
lara. (Nggak punya bapak, cuma ibu yang sakit.)"
"22 Maret 1970 - Ibu meninggal. Aku nggak tahu apa ini
kebetulan. Tapi mereka bilang aku nggak usah pulang. Aku harus tinggal di
kantor sampai ritual selesai. Aku dijaga. Aku nggak bisa kabur."
Joko menutup buku. Napasnya berat. Ia membayangkan
bagaimana rasanya menjadi Saras, gadis desa tak berdaya, dipaksa, dikurung, dan
akhirnya...
Ponselnya bergetar. Pesan dari Titik.
"Mas Joko, jangan baca buku itu sendirian malam-malam.
Nanti dia datang."
Joko membalas cepat: "Dia? Saras?"
"Iya. Dia tahu kamu punya bukunya. Dia senang. Tapi
dia juga sedih. Dia ingin cerita. Hati-hati."
Joko menelan ludah. Ia melihat sekeliling kamar. Hanya ada
lemari, meja, dan tumpukan pakaian kotor. Tak ada siapa pun. Tapi ia merasa
diawasi.
Dari luar jendela, angin bertiup pelan. Tirai jendela
bergoyang. Dan di sela-sela goyangan itu, untuk sekian detik, Joko melihat
bayangan perempuan berdiri di luar. Rambut panjang. Gaun putih lusuh.
Joko menjerit dalam hati. Ia memejamkan mata kuat-kuat.
Hitung sampai sepuluh. Lalu membuka mata.
Tak ada siapa pun.
"Rasional, Jok, rasional. Itu cuma ilusi optik.
Bayangan pohon. Atau..." ia menatap cermin di dinding. Wajahnya pucat.
"Atau aku mulai gila."
Ia mencoba menenangkan diri dengan minum air putih. Tapi
tangannya gemetar, air tumpah ke meja. Ia melihat ponselnya. Pesan baru dari
Titik:
"Mas, dia di sampingmu sekarang. Tersenyum. Katanya,
'Matur nuwun wis maca bukuku.'"
Joko hampir menjatuhkan ponsel. Ia berbalik cepat. Kosong.
Tak ada siapa-siapa.
Tapi di kaca jendela, untuk sesaat, ia melihat
refleksi—bukan dirinya sendiri, tapi sosok lain di belakangnya. Rambut panjang.
Gaun putih. Tersenyum.
Joko memejamkan mata. Membuka lagi. Refleksi itu hilang.
"Titik... kamu ini..." gumamnya setengah marah,
setengah takut.
Keesokan paginya, Joko sampai di kantor lebih awal dari
siapa pun. Bahkan Pak Sabar belum datang. Ia ingin membersihkan ruang arsip,
siapa tahu ada dokumen terselip. Mungkin ada petunjuk lain yang terlewat.
Namun saat membuka pintu ruang arsip, ia terpaku.
Di lantai, tepat di tengah ruangan, tergeletak sebuah map
cokelat. Bersih, tak berdebu, seolah baru diletakkan semalam. Padahal kemarin
ruangan ini kosong. Joko yakin, karena ia sendiri yang menguncinya.
Joko mengambil map itu. Tangannya gemetar. Ia membuka
pelan-pelan.
Isinya: beberapa lembar dokumen tua, lusuh, tapi masih bisa
dibaca. Halaman pertama bertuliskan:
"Laporan Ritual Tahunan Desa Awan Biru - 1970"
Jantung Joko berhenti sejenak. Ia membuka halaman demi
halaman. Ada daftar nama. Nama-nama perangkat desa tahun 1970. Beberapa nama ia
kenal sebagai kakek-neneknya warga sekarang. Dan di halaman terakhir, ada
stempel merah dan tanda tangan:
"Joyosentiko - Kepala Desa Awan Biru"
Mbah buyut Joyo. Kakek buyut Arjuna.
Di bawahnya, tertulis tangan dengan tinta hitam:
"Korban: Saraswati, 19 tahun. Status: Selesai."
Joko merasa dunianya runtuh. Ia tak tahu harus marah,
takut, atau menangis. Yang jelas, kebenaran mulai terbuka. Dan kebenaran itu
mengerikan.
"Pak Kades... dosa kakekmu... luar biasa,"
bisiknya.
Dari balik pintu, suara Titik terdengar pelan: "Sudah
kubilang, Mas. Desa ini punya dosa. Dan sekarang saatnya ditebus."
Joko menoleh. Titik berdiri di ambang pintu, dengan
ekspresi yang sulit diartikan. Sedih? Marah? Atau... lega?
"Titik, kamu tahu soal ini dari awal?"
Titik menggeleng. "Nggak sedetail ini. Tapi aku...
merasakannya. Saras sering 'bicara' padaku. Semakin hari semakin jelas. Seperti
dia tahu waktunya sudah dekat."
Joko memejamkan mata. "Jadi kamu cenayang?"
"Aku nggak tahu istilahnya. Aku cuma bisa dengar
bisikan orang mati yang punya urusan belum kelar. Ibuku juga begitu. Kata
orang, itu turunan."
"Dan Saras?"
"...ingin keadilan. Tapi bukan balas dendam. Dia ingin
kebenaran diketahui. Agar desa ini berhenti menyembunyikan dosa. Agar arwahnya
bisa tenang."
Joko menghela napas panjang. Di luar, sinar matahari mulai
masuk melalui jendela, tapi tak mampu menghangatkan ruangan itu. Terlalu banyak
dingin dari masa lalu.
Tanpa sepengetahuan Joko, kabar tentang penemuan dokumen
mulai menyebar. Bowo dan Catur yang kebetulan
lewat dan melihat Joko masuk ke ruang arsip, mulai bergosip di warung.
"Mas Joko tadi pagi-pagi ke ruang arsip. Mukanya
pucat," bisik Bowo.
"Jangan-jangan nemu sesuatu," sahut Catur.
Mbah Karto yang
sedang minum kopi di warung, ikut mendengar. "Nemoni opo, Le?" (Nemu
apa, Nak?)
"Entah, Mbah. Tapi kayaknya serius."
Mbah Karto diam. Matanya menerawang ke arah kantor desa.
"Wis 40 taun... mbok menawa wektune wis teka." (Sudah 40 tahun...
mungkin waktunya sudah tiba.)
Siang harinya, Joko memutuskan bertemu Arjuna. Ia harus
memberitahu, setidaknya memberi peringatan. Map cokelat itu ia bawa dalam tas,
dilapisi plastik hitam, seperti membawa barang bukti kejahatan.
Namun saat sampai di ruang kepala desa, ia mendapati Arjuna
sedang menerima tamu: seorang lelaki tua, kurus, dengan mata sayu dan bau
kemenyan yang menyengat. Pakaiannya serba hitam, seperti tokoh wayang.
Pak Dono berbisik, "Itu Mbah Karsono.
Tokoh spiritual desa. Dipanggil Pak Kades untuk mimpin doa jagong bengi
iki. Dulu dia sering diminta Mbah buyut Joyo." (Tokoh spiritual desa.
Dipanggil Pak Kades untuk pimpin doa jagong nanti malam. Dulu dia sering
diminta Mbah buyut Joyo.)
Joko mengamati Mbah Karsono. Lelaki itu duduk tenang, tapi
sesekali matanya melirik ke arah beringin dari jendela. Ekspresinya...
bersalah. Atau takut. Atau keduanya.
Arjuna melihat Joko. "Ada apa, Joko? Masuklah."
Joko ragu, tapi akhirnya masuk. "Ini, Pak... saya mau
lapor, ada dokumen lama yang saya temukan."
"Dokumen apa?"
Joko mengeluarkan map cokelat itu. "Laporan ritual
tahun 1970."
Wajah Arjuna berubah. Kirana di sampingnya ikut tegang.
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin.
Namun sebelum Arjuna sempat bicara, Mbah Karsono berdiri.
Wajahnya pucat pasi, seperti baru melihat hantu. Atau mungkin memang melihat
hantu.
"Pak Kades, kula nyuwun pamit rumiyin. Sampun
cekap." (Pak Kades, saya pamit dulu. Sudah cukup.)
Arjuna kaget. "Lho, Mbah, kan baru datang? Acaranya
nanti malam, kita perlu pimpinan doa."
Mbah Karsono menatap map di tangan Joko. Matanya sayu, tapi
tajam—tajam seperti bisa melihat tembus kertas. "Kula mboten purun
melu-melu urusan mboten rampung. Niki sanes berkah, nanging kutukan. Kulo
ngertos menika. Mbah buyut Joyo mbiyen... kulo ingkang mimpin ritual. Kulo
ngertos sedaya. Nanging kulo boten purun malih." (Saya tidak mau ikut-ikut
urusan nggak rampung. Ini bukan berkah, tapi kutukan. Saya tahu ini. Mbah buyut
Joyo dulu... saya yang pimpin ritual. Saya tahu semua. Tapi saya tidak mau
lagi.)
Ia lalu keluar, meninggalkan semua orang tercengang.
Langkahnya gontai, tapi cepat, seperti ingin segera menjauh.
Arjuna terduduk lemas di kursinya. "Joko... map itu...
isinya apa?"
Joko menyerahkan map. Arjuna membaca pelan. Wajahnya makin
pucat. Kirana ikut membaca, lalu menutup mulut, menahan tangis.
"Ini... kakek buyutku... melakukan ini?" bisik
Arjuna.
"Sepertinya begitu, Pak. Dan ini bukan satu-satunya.
Dari catatan yang saya baca, ritual ini sudah berlangsung bertahun-tahun.
Mungkin banyak korban."
Arjuna menggeleng. "Aku nggak tahu. Aku nggak tahu
sama sekali. Ayahku nggak pernah cerita."
"Mungkin ayah Bapak juga nggak tahu. Atau mungkin
tahu, tapi malu. Atau takut."
Arjuna menatap Joko. "Kita harus apa?"
Joko menghela napas. "Saya nggak tahu, Pak. Tapi satu
hal pasti: malam ini acara jagong. Dan Saras... mungkin akan datang."
Kirana merintih pelan. "Mas... aku takut. Mimpiku...
mungkin bukan mimpi."
Arjuna memeluk istrinya. Untuk pertama kalinya, ia merasa
sebagai kepala desa yang paling tak berdaya di desanya sendiri.
Di luar, angin bertiup kencang. Daun beringin berguguran,
memenuhi halaman kantor seperti hujan hijau. Pak Sabar yang melihat dari
kejauhan hanya menggeleng. Ia sudah menyapu tiga kali hari ini, tapi daun-daun
terus berjatuhan.
"Wis, Le. Dosa biyen bakal mbayar saiki." (Sudah,
Le. Dosa dulu akan bayar sekarang.)
Dari balik jendela kantor, Titik memandangi beringin.
Matanya kosong, bibirnya bergerak-gerak seperti bicara pada seseorang.
"Saras... bengi iki... kowe siap?" bisiknya.
Angin malam berdesir, membawa jawaban yang tak terdengar
telinga biasa. Tapi Titik mengangguk.
"Iya, aku ngerti. Ayo, kanca-kancamu uga."
Malam semakin larut. Desa Awan Biru diselimuti keheningan
yang tak biasa. Biasanya malam Jumat, warung-warung masih ramai. Tapi malam
ini, semua tutup lebih awal. Warga memilih di rumah masing-masing. Hanya kantor
desa yang masih terang.
Di dalam, perangkat desa mulai berkumpul. Pak Dono, Pak RW
03, Pak RT 02, Pak RT 03, dan beberapa tokoh lainnya. Wajah mereka tegang.
Beberapa diam, beberapa berbisik-bisik.
Joko duduk di pojok, bersama Titik. Buku harian Saras ada
di tasnya. Ia tak berani meninggalkannya di rumahnya.
Arjuna dan Kirana duduk di kursi utama. Kirana memegang
tangan suaminya erat-erat.
Pak RW 03 memecah keheningan. "Pak Kades, acaranya
tetap jalan? Atau... ditunda?"
Arjuna menghela napas. "Tetap jalan. Kita nggak bisa
lari dari tradisi. Tapi..." ia menatap Joko, "kita juga nggak bisa
lari dari kebenaran."
Pintu kantor terbuka. Semua menoleh.
Mbok Inem masuk, membawa nampan berisi teh dan jajanan pasar.
Wajahnya tenang, tapi matanya—matanya sayu, seperti habis menangis.
"Mbok, nggak usah repot-repot," kata Arjuna.
Mbok Inem tersenyum tipis. "Iki terakhir kaline, Pak
Kades. Sakwise iki, aku ora bakal nyawang kantor iki maneh." (Ini terakhir
kalinya, Pak Kades. Setelah ini, aku nggak akan lihat kantor ini lagi.)
Semua diam. Ada makna lain di balik kata-kata itu.
Mbok Inem meletakkan nampan, lalu berjalan ke jendela. Ia
memandangi beringin yang hitam di kejauhan.
"Saras... bengi iki aku teka. Ora wedi maneh."
(Saras... malam ini aku datang. Nggak takut lagi.)
Titik mendekati Mbok Inem. Mereka berdiri bersebelahan,
memandangi pohon yang sama.
Dan di luar, angin mulai bertiup. Daun-daun berguguran,
membentuk pola-pola yang sama. Pola yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang
percaya.
Pagi itu, Desa Awan Biru bangun dengan kabut lebih tebal
dari biasanya. Udara dingin menusuk, membuat para petani menunda pergi ke
sawah. Di kantor desa, hanya beberapa orang yang datang—sebagian masih syok
dengan kejadian semalam.
Titik duduk di bangku panjang halaman kantor, memandangi
beringin tua dengan tatapan kosong. Ia sudah di sana sejak subuh, setelah tak
bisa tidur. Beringin itu kini tampak berbeda di matanya—bukan lagi pohon biasa,
tapi gerbang antara dua dunia.
Joko menghampirinya, membawa dua gelas kopi dari warung
Mbokdhe. Satu untuknya, satu untuk Titik. Ia juga membawa gorengan—pisang
goreng kesukaan Titik, meski ia tak tahu pasti apakah Titik suka pisang goreng.
Tapi hari ini, ia merasa perlu melakukan sesuatu yang hangat.
"Kamu dari tadi di sini. Nggak masuk?" tanya Joko
sambil duduk di sampingnya. Dinginnya bangku batu merambat ke tubuhnya.
Titik menerima kopi itu tanpa menoleh. Matanya masih
terpaku pada beringin. "Mas Joko, kalau lihat pohon itu, kamu lihat
apa?"
Joko mengamati beringin. Daunnya rimbun, akarnya menjalar,
batangnya besar. Burung-burung pipit beterbangan di dahan-dahannya.
"Pohon. Tua. Rindang. Biasa."
"Kalau aku, lihatnya... perempuan." Suara Titik
lirih, seperti berbicara pada diri sendiri. "Rambut panjang. Baju putih
lusuh. Duduk di akar paling besar, sisiran rambut. Kadang nyanyi kecil. Lagu
dolanan."
Joko merinding. "Kamu serius?"
"Aku nggak pernah bercanda soal ini, Mas." Untuk
pertama kalinya Titik menoleh, menatap Joko. Matanya sayu, tapi ada ketegasan
di sana. "Dulu aku kira aku sakit jiwa. Sering diajak ngobrol sama orang
yang nggak kelihatan. Orang tua ngira aku kesurupan. Tapi ternyata... aku cuma
bisa lihat mereka yang 'nyempil'." (nyempil: menyisip, di sini
berarti dunia lain)
Joko diam. Ia mencerna. Selama ini ia kenal Titik sebagai
staf administrasi pendiam yang suka ngomong nggak nyambung, yang mencatat di
buku Hello Kitty, yang sering melamun. Tapi sekarang, semuanya mulai masuk
akal.
"Jadi... kamu ini indigo?"
Titik mengangkat bahu. "Terserah mau disebut apa. Yang
jelas, Saras sering 'ngomong' sama aku. Dari pertama aku datang ke desa
ini."
"Waktu kamu pindah ke sini sebulan lalu?"
Titik menggeleng. "Bukan. Aku pertama kali ke desa
ini... waktu umur 7 tahun. Diajak ibuku."
Joko menoleh cepat. "Kamu pernah ke sini? Terus kenapa
pindah lagi sekarang?"
Titik menarik napas panjang. Cerita itu, sepertinya berat
untuk diungkap. Tapi ia tahu, Joko perlu tahu. Ia juga perlu seseorang yang
percaya.
"Ibuku... asli Desa Awan Biru." Titik memulai
ceritanya dengan suara pelan. "Dia anak seorang petani miskin. Waktu umur
20-an, dia pergi merantau, nggak pernah balik. Kerja di Jakarta, jadi pembantu,
jadi buruh pabrik. Sampai ketemu bapakku, nikah, lahirkanku."
Joko mendengarkan dengan saksama.
"Waktu aku umur 7, diajak mudik. Katanya mau ziarah ke
makam nenek. Aku seneng, karena belum pernah naik kereta, belum pernah ke
desa." Titik tersenyum tipis, mengenang. "Waktu itu desa ini masih
asri. Sawah ijo, udar seger. Aku seneng banget."
Tapi senyumnya segera memudar.
"Tapi pas di desa, ibuku berubah. Aku nggak ngerti
waktu itu, tapi sekarang aku paham." Titik menunduk. "Dia sering
ngomong sendiri. Nangis sendiri. Kadang tengah malam, dia bangun, keluar rumah,
duduk di pinggir jalan, memandang ke arah beringin."
Joko membayangkan. Seorang ibu muda, dengan anak kecil,
tiba-tiba berubah perilaku.
"Pernah semalem ilang, besoknya ketemu di bawah
beringin ini, linglung. Badannya kedinginan, bajunya basah kena embun. Warga
pada ribut, ada yang bilang kesurupan, ada yang bilang kena sawan."
(sawan: gangguan makhluk halus)
"Terus?"
"Terus kami balik ke kota. Lebih cepat dari rencana.
Bapakku khawatir. Ibuku... masuk rumah sakit jiwa. Setahun kemudian
meninggal."
Titik mengusap matanya. Tak ada tangis, hanya kehampaan
yang dalam.
Joko tertegun. "Titik... maaf... aku nggak tahu."
"Nggak apa-apa. Itu 20 tahun lalu." Titik
menyeruput kopinya, menghangatkan tubuh. "Sekarang aku balik, karena...
ibuku pas sebelum meninggal, sempat bisik sesuatu. Waktu itu aku kecil, nggak
ngerti. Tapi kata-katanya terus terngiang sampai sekarang."
"Bisik apa?"
Titik menatap Joko. Matanya kosong, tapi tegas. "Dia
bilang: 'Lik, kowe kudu balik neng desa. Mbenerke kesalahan mbahmu. Saras
ngenteni.'" (Nak, kamu harus balik ke desa. Membenahi kesalahan
nenekmu. Saras menunggu.)
Joko merinding. "Kesalahan nenekmu? Maksudnya?"
Titik menghela napas panjang. Ini bagian tersulit.
"Nenekku... dulu kerja di kantor desa ini. Mbok Sumi
namanya. Dia juru masak. Tapi juga... salah satu yang 'jaga' Saras. Bukan
pelaku utama, tapi ikut tutup mulut. Ikut diam saat Saras hilang. Bahkan
mungkin... ikut menyiapkan sesaji untuk ritual itu."
Joko terdiam.
"Itu dosa yang diturunkan, Mas. Ibuku kena
kutukannya—mungkin karena dia mewarisi kepekaan, tapi juga mewarisi beban. Dan
sekarang aku yang harus menebus. Itu sebabnya aku balik. Bukan cuma kerja,
tapi... buat mbenerke." (menebus: memperbaiki)
Joko tak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa duduk diam,
merasakan beban yang dipikul Titik. Beban yang bahkan tak pernah ia bayangkan
sebelumnya.
Sementara itu, di dalam kantor, Arjuna duduk lemas di ruang
kerjanya. Map cokelat berisi laporan ritual tahun 1970 ada di depan matanya. Ia
sudah membaca ulang berkali-kali sejak subuh. Nama kakeknya tertera
jelas. Joyosentiko. Tanda tangan kokoh, stempel desa, dan kata
"Selesai" yang dingin seperti pisau.
Kirana masuk, membawakan teh hangat dan sepiring nasi
goreng. "Mas, sudah malam tadi nggak tidur. Istirahat dulu, makan."
"Aku nggak bisa tenang, Ran." Arjuna tak menoleh.
Matanya masih pada map itu. "Ini... ini kejahatan. Kakek buyutku...
melakukan kejahatan. Bukan satu kali, tapi ritual tahunan. Korban berganti
setiap tahun."
"Kamu nggak tahu, Mas. Kamu nggak ikut-ikut. Kamu
bahkan belum lahir waktu itu."
"Tapi ini dosa turunan. Di desa-desa, dosa leluhur
bisa nular ke anak cucu. Aku baca itu di buku-buku budaya." Arjuna
akhirnya menoleh, wajahnya pucat. "Aku takut, Ran. Bukan takut sama hantu.
Tapi takut sama... kutukan. Takut kalau anak kita nanti kena imbasnya."
Kirana duduk di sampingnya, memegang tangannya. "Mas,
kita nggak tahu persis apa yang terjadi. Mungkin ada konteksnya. Mungkin kakek
buyutmu dipaksa atau ditekan oleh orang lain. Jaman dulu, kekuasaan
itu..."
"Atau dia pelaku utamanya," potong Arjuna pahit.
"Lihat ini, Ran. Ritual tahunan. Korban: Saraswati. Tanda tangan dia.
Stempel dia. 'Selesai'. Itu nggak bisa dibela. Nggak ada konteks yang bisa
membenarkan pembunuhan."
Kirana terdiam. Tak ada yang bisa ia katakan.
Dari luar, suara azan maghrib mulai berkumandang. Suara
merdu dari masjid desa, mengingatkan bahwa waktu terus berjalan. Dan malam
Jumat Kliwon semakin dekat—hanya beberapa jam lagi.
Malam itu, pukul 20.00, kantor desa mulai dipersiapkan
untuk acara jagong. Lampu-lampu dinyalakan semua—bukan karena
perlu, tapi karena tak ada yang berani membiarkan sudut gelap. Pak Dono sibuk
mengatur kursi membentuk lingkaran. Pak Sabar menyapu halaman meski sudah
bersih, sekadar menyalurkan kegelisahan.
Mbok Inem di dapur belakang, menyiapkan teh dan jajanan
pasar. Tangannya gemetar saat menuangkan gula ke dalam teko. Beberapa kali ia
berhenti, memejamkan mata, seperti berdoa atau mengingat sesuatu.
Di ruang utama, para undangan mulai berdatangan.
Pak RW 03 datang
paling awal, dengan setelan rapi dan wajah tegang. "Siap, Pak Kades. Kalau
ada apa-apa, saya siap lindungi."
Pak RT 02 datang
sambil menggaruk kepala. "Mudah-mudahan lancar, yo. Aku wis pesen keluarga
ndonga kabeh." (Mudah-mudahan lancar, ya. Aku sudah pesan keluarga berdoa
semua.)
Pak RT 03 datang
dengan santai, tapi matanya awas ke sekeliling. "Tenang, tenang. Yang
penting kita kompak."
Pak Iwan (92
tahun), mantan kepala desa generasi pertama, datang dengan kursi roda didorong
cucunya. Semua orang memberi jalan. Pak Iwan adalah saksi hidup paling tua—ia
yang memulai desa ini, ia juga yang mungkin tahu asal-usul ritual.
Mbah Karto (80
tahun), Mbah Sugeng (90 tahun), dan Mbah Santoso (87
tahun) duduk di kursi yang disediakan khusus. Mereka bertiga adalah saksi-saksi
kunci—mereka yang hidup di era ritual, yang mungkin melihat, mendengar, atau
bahkan terlibat.
Mbah Amat (88
tahun), kakek Arjuna yang tak pernah bicara, juga datang. Ini pertama kalinya
ia keluar rumah dalam setahun terakhir. Semua orang terkejut. Mbah Amat hanya
duduk di pojok, diam, memandangi lantai.
Mbah Anto,
sopir truk yang suka meramal, datang dengan jaket kulit lusuhnya. "Wah,
rame-rame. Iki wayahe." (Wah, rame-rame. Ini waktunya.)
Joko dan Titik datang lebih awal. Mereka duduk di sudut
ruangan, mengamati. Sesekali Titik menatap ke arah beringin yang mulai
diselimuti kabut tipis. Matanya menyipit, seperti membaca sesuatu.
Arjuna dan Kirana tiba pukul 20.30. Arjuna mengenakan batik
lengan panjang putih, Kirana berkebaya sederhana hitam. Wajah mereka tegang,
tapi berusaha tersenyum pada setiap tamu.
Pak RW 03 menghitung kehadiran. "Pak Kades, semua
perangkat hadir. Tokoh masyarakat juga. Kecuali... Mbah Karsono."
Arjuna menghela napas. Mbah Karsono, tokoh spiritual yang
kabur kemarin, tak datang. "Ya sudah. Kita mulai dengan doa sendiri."
Pukul 21.00, acara dimulai. Arjuna berdiri di tengah
lingkaran, memberi sambutan singkat.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, sedulur-sedulur kabeh... Malam
iki kita kumpul ora kanggo rame-rame, tapi kanggo njaga tradisi. Jagong iki
biasane kanggo tolak bala. Nanging bengi iki, aku pengin luwih saka iku. Aku
pengin... mbukak ati."
Semua diam. Mereka tahu Arjuna akan bicara sesuatu yang
berat.
"Aku wis nemu dokumen lawas. Babagan ritual sing
ditindakake jaman Mbah buyut Joyo, kakek buyutku. Ritual sing... ngorbanake
wong wadon. Sara... Saraswati jenenge."
Suasana ruangan hening total. Beberapa orang menahan napas.
"Aku ora ngerti sakjane kedadeyan apa. Tapi aku kudu
ngomong: Aku, atas nama keluarga, njaluk ngapura. Kanggo kabeh sing wis
kelakon."
Pak RW 03 memimpin doa. Surat Yasin dibaca bergantian.
Suasana khusyuk, meski ada getaran aneh di udara.
Di tengah-tengah pembacaan Yasin, tiba-tiba lampu ruangan
berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu padam total.
Semua terdiam. Hening. Hanya suara napas dan debar jantung
yang berdetak kencang.
"Listrik mati lagi," gerutu Pak Dono, mencoba
tenang.
"Tapi lampu luar masih nyala, Pak," kata Joko
menunjuk ke jendela. Benar, lampu teras dan lampu jalan di depan kantor masih
terang benderang.
Semua menoleh ke luar jendela. Dan di bawah beringin, di
tengah kabut tipis yang mulai menebal, terlihat sesosok bayangan berdiri.
Rambut panjang. Gaun putih. Menghadap ke kantor.
Kirana menjerit pelan, memeluk Arjuna erat. Beberapa warga
mulai berbisik, "Sara... Saras..."
Pak RW 03, dengan keberanian mantan tentara, melangkah maju
ke jendela. "Siapa di situ! Keluar! Ini kantor desa!"
Bayangan itu tak bergerak. Hanya diam. Tapi kemudian,
perlahan, ia mengangkat tangan—seperti memberi isyarat.
Titik bangkit dari tempat duduknya. Joko mencoba
menahannya, tapi Titik menepis.
"Aku harus ke sana."
"Kamu gila? Itu..."
"Itu Saras. Dan dia cuma mau ngomong sama orang yang
mau dengerin. Udah 40 taun dia nunggu. Aku nggak bisa nolak."
Titik melangkah keluar. Semua orang terpaku. Joko, tanpa
pikir panjang, mengikutinya. Dari belakang, Dimas, pemuda pendiam
yang peka itu, juga bangkit dan mengikuti. Bowo dan Catur saling
pandang, lalu ikut—meski gemetar.
Di bawah beringin, udara terasa lebih dingin. Jauh lebih
dingin dari suhu malam biasanya. Joko bisa melihat napasnya sendiri berubah
jadi uap tipis. Kabut mengelilingi mereka, tebal, seperti tembok dari kapas.
Titik berdiri di hadapan bayangan itu. Joko di belakangnya,
siap lari kalau terjadi sesuatu. Dimas di samping Joko, matanya terbelalak
melihat sesuatu yang tak terlihat orang lain. Bowo dan Catur memeluk satu sama
lain, bergidik.
"Saras..." panggil Titik lembut. "Aku Titik.
Putu (cucu) dari Sumi. Mbok Sumi, sing mbiyen dadi juru masak nang
kantor." (yang dulu jadi juru masak di kantor.)
Bayangan itu bergerak. Perlahan, kabut di sekitarnya
menipis, menampakkan sosok lebih jelas. Seorang perempuan, muda, cantik dengan
cara yang menyedihkan. Rambut panjang hitam pekat tergerai hingga pinggang.
Bajunya putih lusuh, seperti kain kafan yang sudah puluhan tahun terkubur.
Matanya sayu, tapi ada kilatan luka yang dalam di sana—luka yang tak pernah
sembuh.
"Sumi... kancaku..." bisiknya. Suaranya seperti angin, seperti desiran
daun, seperti sesuatu yang bukan dari dunia ini.
"Iya, Saras. Mbok Sumi wis seda. Tapi aku teka kanggo
dheweke. Kanggo mbenerke salah." (Mbok Sumi sudah meninggal. Tapi aku
datang untuk dia. Untuk membenahi kesalahan.)
Saras tersenyum. Sedih. Tersenyum dengan bibir yang pucat,
dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kowe ora salah, Ndhuk. Sing salah wong-wong
kuwi." (Kamu tidak salah,
Nak. Yang salah orang-orang itu.)
Matanya menatap ke arah kantor, di mana Arjuna dan yang
lain mengintip dari balik jendela. Meski jarak cukup jauh, tatapan itu seolah
menembus dinding.
"Anake Mbah buyut Joyo... saiki dadi lurah." (Anaknya Mbah Joyo... sekarang jadi lurah.)
Arjuna, yang tak bisa mendengar tapi bisa merasakan,
menggenggam tangan Kirana erat-erat. Dadanya seperti ditusuk ribuan jarum.
Titik mengangguk. "Iya. Dheweke Arjuna. Putune Mbah
buyut Joyo. Dheweke ora ngerti apa-apa. Dheweke ora salah." (Dia Arjuna.
Cucunya Mbah Joyo. Dia nggak tahu apa-apa. Dia nggak salah.)
Saras menunduk. Tangannya yang transparan memainkan ujung
rambut.
"Aku ngerti. Bapak iku resik atine. Aku weruh. Tapi
getih Mbah Buyut Joyo mili nang awake." (Aku
tahu. Bapak itu bersih hatinya. Aku lihat. Tapi darah Mbah Buyut Joyo mengalir
di tubuhnya.)
Titik menghela napas. "Apa sing mbok karepke, Saras?
Piye carane kowe bisa tenang?" (Apa yang kamu mau, Saras? Bagaimana
caranya kamu bisa tenang?)
Saras mendongak. Matanya berkaca-kaca. Untuk pertama
kalinya, emosi itu tumpah—bukan marah, bukan dendam, tapi kesedihan yang tak
terperi.
"Aku pengin... wong-wong ngerti. Aku ora mung ilang.
Aku ora mung minggat. Aku... dikorbanke. Kanggo desa sing ora tau ngurmati
aku." (Aku ingin... orang-orang tahu.
Aku nggak cuma hilang. Aku nggak cuma kabur. Aku... dikorbankan. Untuk desa
yang nggak pernah menghargai aku.)
Joko, yang sejak tadi diam, angkat bicara. Suaranya
bergetar, tapi ia paksakan tenang. "Saras... kami sudah menemukan bukti.
Arsip ritual. Buku harianmu. Tapi... apa yang sebenarnya terjadi malam itu?
Siapa yang membunuhmu?"
Saras menoleh ke Joko. Untuk pertama kalinya, senyumnya
menghilang. Berganti ekspresi sakit yang dalam—sakit yang sudah 40 tahun ia
pendam.
"Malam iku... Mbah Buyut Joyo lan kanca-kancane
ngubengi aku. Aku diikat nang wit iki. Dheweke maca mantra-mantra. Dheweke
ngojok-ojoki getihku. Lan... aku dipasrahke marang lemah. Diurip-urip. Dikubur
urip-uripan." (Malam itu... Mbah
Joyo dan kawan-kawannya mengelilingi aku. Aku diikat di pohon ini. Mereka baca
mantra-mantra. Mereka mengalirkan darahku. Dan... aku diserahkan pada tanah.
Dikubur hidup-hidup.)
Titik terisak. Dimas menutup mata, air matanya jatuh. Bowo
dan Catur yang biasanya banyak bicara, hanya bisa diam membeku.
Joko menggenggam tinju, marah yang tak tertahankan memenuhi
dadanya. "Kena ngapa? Apa gunane?" tanya Joko lirih. (Kenapa? Apa
gunanya?)
"Kanggo kemakmuran desa. Miturut kepercayaan biyen,
getih perawan sing dikubur nang ngisor wit iki bakal nggawe tanah subur, nggawe
desa makmur." (Untuk kemakmuran
desa. Menurut kepercayaan dulu, darah perawan yang dikubur di bawah pohon ini
akan bikin tanah subur, bikin desa makmur.)
Joko muak. "Itu... itu biadab."
"Iya. Biadab. Ning suwe-suwe, wong lali. Wong nganggep
aku mitos. Dongeng. Ning aku nyata. Lan getihku isih nelesi lemah iki." (Iya. Biadab. Tapi lama-lama, orang lupa. Orang
anggap aku mitos. Dongeng. Tapi aku nyata. Dan darahku masih membasahi tanah
ini.)
Angin bertiup kencang. Daun-daun berguguran, membentuk
pusaran kecil di sekitar mereka. Saras mulai memudar, tubuhnya seperti kabut
yang ditiup angin.
"Titik... Joko... aku percaya kowe. Tapi elinga: ora
kabeh wong pengin ngerti kasunyatan. Wong-wong kuwi wis nyaman karo dosa sing
dikubur." (Titik... Joko...
aku percaya kalian. Tapi ingat: nggak semua orang ingin tahu kenyataan.
Orang-orang itu sudah nyaman dengan dosa yang dikubur.)
Titik mengangguk mantap. "Aku ngerti. Tapi wektune wis
teka. Dosa ora bisa dikubur terus."
Saras tersenyum. Untuk terakhir kalinya. Lalu perlahan, ia
menghilang seperti kabut terkena matahari. Yang tersisa hanya daun-daun
berguguran dan dingin yang mulai mencair.
Joko dan Titik kembali ke kantor. Dimas, Bowo, dan Catur
mengikuti di belakang, masih dalam keadaan syok. Semua mata di ruangan tertuju
pada mereka.
Arjuna menghampiri, wajah pucat pasi. "Kalian...
ngomong sama dia?"
Joko mengangguk. "Iya, Pak. Dan kami tahu semuanya.
Saras, ritual itu, semuanya."
Arjuna menunduk. "Aku... aku minta maaf. Atas nama
keluargaku. Meski aku nggak tahu, tapi... ini darahku. Ini dosa yang harus
kutanggung."
Titik menatap Arjuna lekat. "Pak Kades, maaf saja
nggak cukup. Saras butuh keadilan. Butuh pengakuan publik. Butuh ritual
pelepasan yang benar. Bukan tolak bala, tapi pelepasan. Melepas arwahnya dari
ikatan pohon ini."
"Iya. Apa pun. Aku akan lakukan. Akan kukumpulkan
semua tokoh. Akan kubuat pengakuan resmi."
Pak RW 03 maju. Ada keraguan di wajahnya. "Tapi iki
mbah-mbah kita sing nindakke. Mosok kita sing nanggung?" (Tapi ini nenek
moyang kita yang melakukan. Masa kita yang nanggung?)
Titik menatapnya tajam. Matanya yang biasanya sayu, kini
seperti baja. "Pak RW, dosa iku kaya utang. Yen mbah-mbah utang,
putu-putune sing mbayar. Saras wis ngenteni 40 taun. Wis cukup." (Pak RW,
dosa itu seperti utang. Kalau nenek moyang utang, cucu-cucunya yang bayar.
Saras sudah nunggu 40 tahun. Sudah cukup.)
Suasana hening. Semua terdiam, mencerna. Sebagian menunduk,
sebagian menatap lantai, sebagian menangis dalam hati.
Dari dapur belakang, Mbok Inem keluar. Wajahnya basah oleh
air mata. Ia berjalan tertatih, tapi langkahnya mantap. Semua orang memberi
jalan.
"Aku... aku saksi." Suaranya serak, tapi jelas.
"Aku weruh kabeh. Aku ingat kabeh. Tapi aku wedi. Aku mung wong cilik. Ora
duwe kuasa. Ora duwe wani." (Aku... aku saksi. Aku lihat semua. Aku ingat
semua. Tapi aku takut. Aku cuma orang kecil. Nggak punya kuasa. Nggak punya
keberanian.)
Ia berhenti, menarik napas.
"Ning saiki... aku wis tuwa. Aku ora wedi mati. Yen
kudu ngaku, aku ngaku. Saras iku kancaku. Kanca sing tak tresnani. Lan aku...
nggak nglawan nalika dheweke digawa menyang wit iku." (Tapi sekarang...
aku sudah tua. Aku nggak takut mati. Kalau harus mengaku, aku mengaku. Saras
itu temanku. Teman yang kucintai. Dan aku... nggak melawan saat dia dibawa ke
pohon itu.)
Tangis Mbok Inem pecah. Ia tersungkur, memeluk lututnya
sendiri. Kirana segera menghampiri, memeluknya erat.
"Wis, Mbok, wis... nggak usah nangis. Mbok sudah
berani ngomong, itu sudah luar biasa."
Arjuna berdiri tegak. Matanya basah, tapi suaranya mantap.
"Mbok, nggak usah nangis. Ini bukan salah Mbok seorang. Ini salah sistem.
Salah tradisi yang kejam. Salah kita semua yang diam selama ini. Tapi sekarang,
kita akan berubah. Kita akan benahi. Saya janji."
Malam itu, tak ada doa-doa aneh. Tak ada ritual tolak bala.
Yang ada adalah pertemuan batin yang mengubah segalanya. Saras telah berbicara.
Rahasia yang terkubur 40 tahun akhirnya terbongkar. Dan desa Awan Biru tak akan
pernah sama lagi.
Saat semua pulang—berjalan gontai, memikul beban
masing-masing—Joko dan Titik duduk di bangku halaman. Beringin tua terlihat
tenang di bawah sinar rembulan. Tak ada bayangan menyeramkan. Hanya pohon. Tapi
mereka tahu, di balik ketenangan itu, ada cerita yang belum selesai.
"Mas Joko, sekarang percaya hantu?" tanya Titik
sambil tersenyum tipis. Senyum pertama malam itu.
Joko menghela napas panjang. "Aku percaya sama
ketidakadilan yang menjelma jadi hantu."
"Itu jawaban diplomatis."
"Iya. Tapi jujur: aku takut. Dan aku juga... sedih.
Untuk Saras. Untuk Mbok Inem. Untuk semua yang diam selama ini."
Titik mengangguk. "Kita akan bantu dia. Bareng-bareng.
Dan bantu desa ini buat sembuh."
Joko menatap Titik. Ada sesuatu yang baru ia sadari.
"Titik, kamu ini... ternyata kuat. Lebih kuat dari yang aku kira."
Titik tersenyum. "Nggak kuat, Mas. Cuma nggak punya
pilihan. Nek aku milih minggat, dosa iki terus ngejar aku. Mending
diadepi."
Di kejauhan, suara azan subuh mulai berkumandang. Merdu,
menenangkan. Fajar menyingsing di ufuk timur, menerangi perlahan desa yang baru
saja melewati malam terpanjang dalam sejarahnya.
Di bawah beringin, daun-daun berguguran pelan, seolah
menandai akhir dari satu babak kelam, dan awal dari babak baru.
Babak di mana kebenaran mulai bicara.
Dan diam-diam, dari balik jendela kantor, Mbah Amat yang
tak pernah bicara, menatap ke arah beringin. Air matanya jatuh. Bibirnya yang
kaku bergerak, berbisik pada dirinya sendiri:
"Wis, Saras... saiki kowe ora dhewekan." (Sudah, Saras... sekarang kamu nggak sendirian.)
Tiga hari setelah malam Jumat Kliwon yang menggetarkan itu,
suasana Desa Awan Biru berubah drastis. Bukan perubahan fisik, tapi perubahan
yang lebih dalam—perubahan di hati warganya.
Warung Kopi "Mbokdhe" yang biasanya ramai dengan
obrolan ringan tentang harga cabai atau gosip artis, kini berubah jadi forum
diskusi sejarah versi darurat. Setiap sore, kursi-kursi bambu selalu
penuh. Topiknya cuma satu: Saras dan ritual gelap masa lalu.
Bowo, pemuda jurnalis
dadakan, kini menjelma jadi content creator misteri. Ia merekam wawancara
dengan para sesepuh, lalu mengeditnya jadi konten TikTok berseri: "Misteri
Desa Awan Biru: Kisah Saras yang Tertimbun 40 Tahun". Videonya
viral—bukan hanya di kalangan warga, tapi sampai ke kabupaten bahkan provinsi.
Catur jadi tim teknis, memasang
lampu-lampu tambahan di sekitar kantor desa atas perintah Arjuna. "Biar
terang, biar nggak ada yang takut," katanya. Tapi diam-diam, ia juga
pasang CCTV—"untuk jaga-jaga kalau ada penampakan, biar ada bukti
ilmiah," katanya bercanda, meski tangannya gemetar saat memasang kamera
menghadap beringin.
Dimas justru makin
pendiam. Ia sering duduk sendirian di bangku halaman kantor, memandangi
beringin dengan tatapan kosong. Kadang bibirnya bergerak-gerak, seperti bicara
dengan seseorang. Warga mulai menganggapnya "penerus" Titik—meski
Dimas sendiri tak pernah mengaku punya kepekaan khusus.
Pagi itu, Joko datang ke kantor lebih awal. Ia ingin
memeriksa ruang arsip sekali lagi, mencari petunjuk lain yang mungkin terlewat.
Tiga hari lalu, setelah penampakan Saras, ia dan Titik menemukan map berisi
laporan ritual 1970. Tapi Joko yakin, masih ada dokumen lain yang tersembunyi.
Saat memasuki halaman kantor, ia melihat sesuatu yang aneh.
Pak Sabar,
petugas kebersihan, sedang berdiri mematung di dekat beringin. Sapu di
tangannya terhenti. Wajahnya pucat.
"Ada apa, Pak Sabar?" tanya Joko menghampiri.
Pak Sabar menunjuk ke arah akar beringin. "Itu, Jek...
getahé... werna abang." (Itu, Jek... getahnya... warna merah.)
Joko mendekat. Di beberapa bagian akar yang besar, memang
keluar getah—tapi bukan getah bening seperti biasa. Getah itu berwarna merah
pekat, mirip darah. Bahkan, di salah satu akar, getah itu menetes perlahan,
membentuk genangan kecil di tanah.
Joko merinding. Ia merogoh tasnya, mengambil ponsel, dan
memfoto. "Ini baru pertama kali, Pak?"
Pak Sabar menggeleng. "Wis kaping telu iki, Jek. Wiwit
malam Jumat Kliwon. Saben esuk, getahé metu maneh. Tambah akeh." (Sudah
tiga kali ini, Jek. Sejak malam Jumat Kliwon. Setiap pagi, getahnya keluar
lagi. Tambah banyak.)
Joko mengamati lebih dekat. Getah merah itu berbau
anyir—sangat mirip darah sungguhan. Ia mengambil sampel dengan plastik, meski
tangannya gemetar.
Dari kejauhan, Mbah Karto yang sedang
berjalan pagi, menghampiri. Ia memandangi getah merah itu lama, lalu menghela
napas.
"Wit iki nangis, Le. Nangis getih. Iki tandha... Saras
lan kanca-kancane wis ora sabar." (Pohon ini menangis, Nak. Menangis
darah. Ini tanda... Saras dan kawan-kawannya sudah tidak sabar.)
"Tidak sabar apa, Mbah?"
Mbah Karto menatap Joko. Matanya sayu, tapi ada kilatan
peringatan. "Dheweke ngenteni tumindak nyata, Le. Ora mung omongan. Ora
mung doa. Tapi... keadilan."
Berita tentang getah merah menyebar cepat. Dalam hitungan
jam, kantor desa kembali dikerumuni warga. Arjuna yang baru tiba, langsung
mengumpulkan rapat darurat.
Ruang rapat utama penuh sesak. Kali ini, bukan hanya
perangkat desa dan tokoh masyarakat, tapi juga para pemuda, ibu-ibu PKK, bahkan
anak-anak sekolah yang penasaran.
Arjuna berdiri di depan, wajahnya tegang.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, sedulur-sedulur... Kita semua sudah lihat sendiri.
Wit beringin iki ngetokake getah abang. Iki ora lumrah. Iki tandha, kita kudu
cepet tumindak." (Pohon beringin ini mengeluarkan getah merah. Ini tidak
lumrah. Ini tanda, kita harus cepat bertindak.)
Pak RW 03 mengangkat tangan. "Pak Kades, maksud
tumindak apa? Kita wis ngakoni salah, wis ndonga bareng. Apa kurang?"
Titik, yang duduk di pojok, angkat bicara. "Pak RW,
ngakoni salah iku mung langkah pertama. Saras butuh bukti nyata. Dheweke butuh
jenenge diuripake maneh. Butuh ritual pelepasan sing bener." (Pak RW,
mengakui salah itu cuma langkah pertama. Saras butuh bukti nyata. Dia butuh
namanya dihidupkan lagi. Butuh ritual pelepasan yang benar.)
"Ritual piye? Aja nganti kaya mbiyen maneh!" seru
seorang warga.
"Ora, ora. Ritual kanggo nglepasake arwah, dudu ritual
getih. Kita bakal nglakokake upacara adat sing bener, karo tokoh agama lan
tokoh adat. Sing penting, Saras lan kanca-kancane bisa tenang." (Bukan, bukan.
Ritual untuk melepaskan arwah, bukan ritual darah. Kita akan melakukan upacara
adat yang benar, dengan tokoh agama dan tokoh adat. Yang penting, Saras dan
kawan-kawannya bisa tenang.)
Pak Iwan (92
tahun), mantan kepala desa generasi pertama, minta bicara. Cucunya mendorong
kursi rodanya ke tengah ruangan. Semua orang diam, memberi hormat pada sesepuh
paling tua.
"Aku wis urip suwe, nganti 92 taun." Suaranya
serak, tapi masih jelas. "Aku weruh desa iki dibangun saka wiwitan. Aku
weruh wit iku ditandur? Ora. Wit iku wis ana sakdurunge desa iki ana."
(Aku sudah hidup lama, sampai 92 tahun. Aku lihat desa ini dibangun dari awal.
Aku lihat pohon itu ditanam? Tidak. Pohon itu sudah ada sebelum desa ini ada.)
Semua mendengarkan dengan saksama.
"Nalika aku dadi lurah taun 1985, wit iku wis dianggep
keramat. Nanging wektu iku, keramatie isih apik. Wong-wong ngurmati, ora
ngganggu. Tapi sakwise Mbah Buyut Joyo dadi lurah... kabeh berubah." (Saat
aku jadi lurah tahun 1985, pohon itu sudah dianggap keramat. Tapi waktu itu,
keramatnya masih baik. Orang-orang menghormati, tidak mengganggu. Tapi setelah
Mbah Joyo jadi lurah... semua berubah.)
Pak Iwan berhenti, matanya berkaca-kaca.
"Mbah Buyut Joyo iku ponakanku. Anak kandung
sedulurku. Aku ngerti dheweke pinter, ambisius, ning uga... kejem. Dheweke
pengin desa iki maju cepet. Lan dheweke percaya, kemajuan butuh
pengorbanan." (Mbah Buyut Joyo itu
keponakanku. Anak kandung saudaraku. Aku tahu dia pintar, ambisius, tapi
juga... kejam. Dia ingin desa ini maju cepat. Dan dia percaya, kemajuan butuh
pengorbanan.)
"Isih ana sing kudu dikorbanake?" tanya Joko
lirih.
Pak Iwan menggeleng. "Ora, Le. Ora ana maneh. Wis
cukup. Saiki wayahe mbayar." (Tidak, Nak. Tidak ada lagi. Sudah cukup.
Sekarang waktunya membayar.)
Mbah Sugeng (90
tahun), saksi hidup ritual 1970-an, minta bicara. Ia dituntun Mbah
Karto ke depan ruangan.
"Aku sing nduwe tugas ndhudhuk lemah." Suaranya
bergetar. "Saben taun, aku didhawuhi ndhudhuk lemah nang ngisor wit iki.
Lubang gedhe, jerone rong meter, ambane sak meter. Aku ora ngerti kanggo apa,
mung manut." (Aku yang punya tugas menggali tanah. Setiap tahun, aku
disuruh menggali tanah di bawah pohon ini. Lubang besar, dalamnya dua meter,
lebarnya satu meter. Aku tidak tahu untuk apa, cuma nurut.)
Mbah Sugeng berhenti, mengusap air mata.
"Ning taun 1970, sakwise ritual pungkasan, Mbah Joyo
mrentah aku nutup lubang iku. Ora nganggo lemah biasa, ning nganggo watu lan
semen. Dikandani, iki kanggo nutup rahasia." (Tapi tahun 1970, setelah
ritual terakhir, Mbah Joyo menyuruhku menutup lubang itu. Tidak pakai tanah
biasa, tapi pakai batu dan semen. Dibilang, ini untuk menutup rahasia.)
Joko dan Titik bertukar pandang. "Mbah, lubang itu...
di mana persisnya?"
Mbah Sugeng menunjuk ke arah beringin. "Nang ngisor
wit, sisih kulon. Nang kono aku ndhudhuk pungkasan." (Di bawah pohon, sisi
barat. Di situ aku menggali terakhir.)
"Dan sekarang sudah ditutup semen?"
"Wis. Ditutup watu lan semen. Dikira rahasia bakal
mati." (Sudah. Ditutup batu dan semen. Dikira rahasia akan mati.)
Saat rapat masih berlangsung, tiba-tiba Pak Dono yang
duduk paling dekat dengan dinding ruang arsip, mengangkat tangan. "Sst...
denger..."
Semua diam. Dari balik dinding ruang arsip, terdengar
suara. Bukan suara orang ngobrol, tapi suara seperti ketukan. Tok...
tok... tok... teratur, seperti orang mengetik mesin tik jadul.
Joko bangkit. Ia sudah pernah mendengar suara ini—malam
itu, saat ia lembur sendiri. Tapi sekarang, di siang bolong, dengan banyak
orang, suara itu justru lebih jelas.
Tok... tok... tok...
"Dinding ruang arsip," bisik Joko. "Di balik
dinding itu... ada sesuatu."
Arjuna segera memerintahkan semua orang keluar. "Kita
harus buka dinding itu. Sekarang."
Pak RW 03 memprotes. "Pak Kades, iki dinding kantor.
Mbok menawa mung tikus utawa ula." (Pak Kades, ini dinding kantor. Mungkin
cuma tikus atau ular.)
"Tikus ora bisa ngetok swara kaya ngono, Pak RW. Iku
swara sing teratur. Swara sing sengaja digawe." (Tikus tidak bisa mengeluarkan
suara seperti itu. Itu suara yang teratur. Suara yang sengaja dibuat.)
Pak Dul, tukang bangunan
langganan desa, dipanggil. Ia datang dengan peralatan lengkap—linggis, palu,
bor. Wajahnya pucat, tapi ia berusaha tegar.
"Pak Kades, yakin arep mbukak? Iki dinding lawas, mbok
menawa strukture wis rapuh." (Pak Kades, yakin mau membuka? Ini dinding
lawas, mungkin strukturnya sudah rapuh.)
"Bukak, Dul. Aku tanggung jawab."
Semua orang berkumpul di luar ruang arsip. Joko, Titik,
Arjuna, Kirana, Pak RW 03, dan beberapa yang berani, masuk ke dalam. Yang lain
mengintip dari jendela.
Pak Dul mulai membongkar plesteran dinding dengan
hati-hati. Suara brak... brak... brak bergantian dengan
ketukan misterius yang masih terdengar dari balik dinding. Semakin dekat Pak
Dul ke sumber suara, semakin keras ketukan itu.
"Astaghfirullah..." bisik Pak Dul.
Plesteran mulai rontok. Terlihat bata merah di baliknya.
Pak Dul menggeser satu bata. Longgar. Ia menggeser bata kedua, ketiga.
Semua orang menahan napas.
Di balik bata yang terbuka, tampak sebuah ruang kosong.
Gelap. Berbau tanah lembab dan sesuatu yang... lapuk. Pak Dul menyorotkan
senter.
"Ya Allah..." bisiknya.
Di dalam ruang sempit itu, tergeletak beberapa benda: sebuah
peti kayu kecil, beberapa tulang belulang (kecil, mungkin
tulang hewan), dan yang paling mengerikan: sebuah tengkorak manusia.
Kirana menjerit. Arjuna segera memeluknya. Pak RW 03 yang
mantan tentara itupun ikut pucat. Beberapa warga di luar mulai berteriak
histeris.
Joko menelan ludah. "Ini... ini..."
"Ini Saras," bisik Titik lirih, air matanya
jatuh. "Atau setidaknya... sebagian dari dirinya. Mereka menguburnya di
sini. Di dalam dinding."
Mbok Inem, yang ikut mengintip dari belakang, tersungkur.
Tangisnya pecah. "Saras... Saras... mbok Inem njaluk ngapura... mbok Inem
keweden... mbok Inem ora bisa nulung..." (Saras... Saras... mbok Inem
minta maaf... mbok Inem takut... mbok Inem tidak bisa menolong...)
Pak Dul, dengan tangan gemetar, mengeluarkan peti kayu itu.
Peti tidak terkunci. Dengan hati-hati, Joko membukanya.
Di dalam peti: beberapa lembar kertas menguning, sebuah
sisir rambut kayu dengan ukiran bunga, sehelai kain batik lusuh—masih ada noda
hitam di beberapa bagian—dan sebuah buku tulis serupa dengan buku
harian Saras yang ditemukan Joko di bawah beringin.
Joko mengambil buku itu. Halaman pertama bertuliskan: "Catatan
Ritual Desa Awan Biru - 1960-1970"
"Ini... ini catatan lengkap," gumam Joko.
"Semua ritual, semua korban."
Titik mendekat. "Korban? Jadi Saras bukan
satu-satunya?"
Joko membuka halaman demi halaman dengan tangan gemetar.
Ada daftar nama. Tertulis rapi dengan tinta hitam yang mulai pudar:
1960 - Sumirah, 18 tahun
1961 - Kasiyem, 20 tahun
1962 - Supiyah, 19 tahun
1963 - Wagiyem, 21 tahun
1964 - Juminten, 20 tahun
1965 - Lastri, 22 tahun
... dan seterusnya, tahun demi tahun, hingga:
1970 - Saraswati, 19 tahun
Joko menghitung. Dua puluh lima nama. Dua puluh
lima perempuan yang dikorbankan di bawah beringin tua, selama 25 tahun
berturut-turut.
"Ini... ini pembantaian," bisik Arjuna. Wajahnya
pucat pasi. "Kakekku... melakukan ini selama 25 tahun?"
Pak Dono, yang ikut melihat, hampir pingsan. Ia harus
duduk. "Mbah Buyut Joyo... aku ora ngerti... aku ora ngerti..." (Mbah
Joyo... aku tidak tahu... aku tidak tahu...)
Pak RW 03 menggenggam tinju. Matanya merah menahan marah.
"Ini sudah masuk ranah pidana. Kita harus lapor polisi."
"Setuju," kata Arjuna tegas, meski suaranya
bergetar. "Tapi sebelumnya, kita dokumentasi dulu. Jangan sampai ada yang
hilang. Ini bukti sejarah. Bukti dosa yang selama ini dikubur."
Di tengah kekacauan itu, seseorang maju. Mbah Amat (88
tahun), kakek Arjuna yang selama 40 tahun tak pernah bicara, berjalan tertatih
ke depan ruangan. Semua orang terkejut. Mbah Amat tak pernah keluar rumah,
apalagi bicara.
"Mbah... Mbah Amat?" Arjuna menghampiri,
memapahnya.
Mbah Amat menatap peti dan tengkorak itu. Matanya
berkaca-kaca. Lalu, untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, ia bersuara.
"Aku... sing ndhelikke iku." (Aku... yang menyembunyikan itu.)
Semua orang terpaku. Suara tua itu serak, hampir tak
terdengar, tapi jelas.
"Mbah... maksud Mbah?" tanya Arjuna.
Mbah Amat menunjuk peti itu. "Mbah buyut
Joyo... Kakekku... dhawuh aku ndhelikke iki. Sakwise ritual pungkasan, dheweke
kandha, 'le, iki kudu dikubur. Aja ana sing ngerti.' Aku manut. Aku manut wae.
Aku wedi karo Kakekku dhewe." (Mbah Buyut Joyo... Kakekku...
menyuruhku menyembunyikan ini. Setelah ritual terakhir, dia bilang, 'le, ini
harus dikubur. Jangan ada yang tahu.' Aku nurut. Aku cuma nurut. Aku takut sama
Kakekku sendiri.)
Air mata Mbah Amat jatuh. "Ning saiki... aku wis tuwa.
Aku arep mati. Aku ora arep nggawa dosa iki menyang kubur." (Tapi
sekarang... aku sudah tua. Aku mau mati. Aku tidak mau membawa dosa ini ke
kubur.)
Arjuna memeluk kakeknya. Tangisnya pecah. Untuk pertama
kalinya, ia menangis di depan umum. Bukan karena malu, tapi karena haru dan
sesal.
Malam harinya, setelah semua temuan didokumentasi dan
diamankan, Arjuna mengumpulkan rapat lagi. Tapi kali bukan rapat biasa—ini
rapat penentuan.
"Bapak-bapak, ibu-ibu... Kita sudah menemukan bukti.
25 korban. 25 nyawa melayang demi kemakmuran desa. Sekarang, kita harus
putuskan: apa yang akan kita lakukan?"
Suasana hening. Semua menunduk, memikirkan beratnya
tanggung jawab.
Pak RW 03 angkat bicara. "Pak Kades, sebagai mantan
tentara, aku tahu hukum. Ini kasus pidana berat. Tapi pelaku utama sudah
meninggal. Yang bisa kita lakukan: buka semua ini ke publik. Biar desa tahu.
Biar jadi pelajaran."
"Setuju," kata Pak Dono. "Tapi kita juga
harus pikirkan keluarga korban. Mereka berhak tahu. Berhak mendapat keadilan,
meski hanya secara simbolis."
Titik menambahkan, "Dan kita harus adakan ritual
pelepasan. Bukan ritual darah, tapi ritual pengakuan dan penghormatan. Kita
sebut nama mereka satu per satu. Kita doakan. Kita lepaskan arwah mereka."
Arjuna mengangguk. "Semua setuju?"
Semua mengangkat tangan. Bulat.
"Baik. Besok, kita mulai inventarisasi semua keluarga
korban. Kita cari mereka, kita undang ke desa. Dua minggu lagi, kita adakan
upacara pelepasan. Dan kita bangun monumen untuk mereka, di dekat beringin.
Biar tidak ada yang lupa. Biar sejarah tidak terulang."
Usai rapat, Joko dan Titik duduk di bangku halaman kantor.
Malam dingin, tapi hati mereka hangat oleh keputusan yang baru saja diambil.
Beringin tua terlihat tenang di bawah sinar rembulan. Getah
merah sudah berhenti menetes. Mungkin karena lega. Atau mungkin karena
menunggu.
"Mas Joko, kita akhirnya di sini," kata Titik
lirih.
"Di mana?"
"Di titik di mana kita harus memilih: lari atau
hadapi. Dan kita memilih hadapi."
Joko tersenyum. "Kamu bijak, Tit. Lebih bijak dari
yang kamu kira."
Titik tertawa kecil. "Aku cuma menyampaikan apa yang
mereka bisikkan. Mereka bilang, 'Matur nuwun.'"
Joko menatap beringin. "Sama-sama, Saras. Sama-sama,
semuanya. Kita akan bantu kalian. Janji."
Angin malam berdesir lembut, membawa bisikan yang tak
terdengar. Tapi mereka tahu, bisikan itu ada. Bisikan terima kasih. Bisikan
harapan.
Dan di kejauhan, dari balik jendela kantor, Mbah
Amat yang tak pernah bicara, tersenyum. Air matanya jatuh, tapi kali
ini bukan karena sesal—tapi karena lega.
"Wis, Saras... saiki kowe bakal diakoni." (Sudah, Saras... sekarang kamu akan diakui.)
Pagi itu, Desa Awan Biru bangun dengan kabut tipis seperti
biasa. Tapi ada yang berbeda. Warga berjalan dengan kepala tegak. Mereka tahu,
desa mereka sedang dalam proses penyembuhan.
Di kantor desa, tim kecil dibentuk untuk mencari keluarga
para korban. Joko, Titik, Bowo, Catur, dan Dimas jadi tim inti. Mereka akan
menyisir desa, bahkan desa tetangga, untuk menemukan keturunan Sumirah,
Kasiyem, Supiyah, dan semua nama dalam daftar.
Pak Karyo sibuk menyiapkan surat-menyurat. Pak RW 03
mengkoordinir keamanan. Arjuna dan Kirana fokus pada persiapan upacara.
Dan di dapur belakang, Mbok Inem memasak dengan hati lebih
ringan. Sesekali ia menatap ke arah beringin dan tersenyum.
"Saras... aku masak kesukaanmu. Nek wis tenang, mampir
mangan, yo." (Saras... aku masak kesukaanmu. Kalau sudah tenang, mampir
makan, ya.)
Dari luar, angin bertiup pelan. Daun beringin berguguran,
menari di udara. Seperti jawaban. Seperti tawa.
Seminggu setelah pertemuan dengan keluarga korban, Desa
Awan Biru mulai menunjukkan perubahan yang tak terduga. Bukan perubahan fisik
seperti aspal mulus atau gedung baru, tapi perubahan yang lebih dalam—perubahan
cara pandang, cara bicara, cara warga memandang masa lalu mereka.
Warung Kopi "Mbokdhe", yang biasanya hanya jadi
tempat nongkrong santai sambil main catur atau gosip artis, berubah menjadi
semacam pusat dokumentasi sejarah lisan versi darurat. Setiap
sore, kursi-kursi bambu yang sudah lusuh itu penuh sesak oleh warga yang datang
bukan untuk minum kopi, tapi untuk mendengarkan cerita.
Mbokdhe, pemilik warung,
seorang janda berusia 60-an dengan celemek lusuh dan senyum ramah yang selalu
mengembang meski hidupnya pas-pasan, kini kewalahan. Setiap hari ia harus
menambah stok gula dan kopi, karena pengunjung membeludak. Tapi ia tak
keberatan. Malah, ia merasa warungnya mendapat berkah tak terduga.
"Wah, rejeki nomplok ning ora nyangka. Warungku dadi
tempat curhat para sepuh," keluhnya sambil menuang kopi untuk Mbah Karto yang
baru datang. "Mbah, kopine entar maneh? Iki wis kaping telu." (Mbah,
kopinya habis lagi? Ini sudah ketiga kalinya.)
Mbah Karto hanya tersenyum ompong. "Wis, Mbok, sing
penting ceritaku ora entek-entek." (Sudah, Mbok, yang penting ceritaku
nggak habis-habis.)
Mbah Karto (80
tahun), saksi hidup ritual gelap, kini jadi bintang utama di
warung Mbokdhe. Setiap sore ia duduk di kursi favoritnya—kursi rotan yang sudah
bolong di tengah, tapi ia bersikeras itu kursi paling nyaman. Dikelilingi
puluhan warga yang ingin mendengar cerita langsung, ia seperti dosen sejarah
tanpa gelar.
Bowo, pemuda pengangguran yang kini beralih profesi
jadi jurnalis dadakan, selalu duduk paling depan. Modal HP dan rasa
penasaran tinggi, ia merekam setiap kata yang keluar dari mulut Mbah Karto.
Sesekali ia menyelipkan pertanyaan.
"Dadi, Mbah, piye critane sebenere? Aku pengin ngerti
saka wiwitan." (Jadi, Mbah, gimana ceritanya sebenarnya? Aku pengin tahu
dari awal.)
Mbah Karto menghela napas panjang. Cerita ini berat, tapi
ia merasa harus keluar. Sudah 40 tahun ia memendam, dan sekarang waktunya
tumpah.
"Le, jaman mbiyen iku beda. Kekuasaan iku mutlak.
Lurah iku kaya raja cilik. Ora ana sing wani mbantah. Mbah Buyut Joyo...
dheweke pinter, ning uga kejem." (Nak, jaman dulu itu beda. Kekuasaan itu
mutlak. Lurah itu seperti raja kecil. Nggak ada yang berani membantah. Mbah Buyut
Joyo... dia pintar, tapi juga kejam.)
"Kejem piye, Mbah?" tanya Catur yang ikut
nimbrung. Ia sambil memainkan ponsel, tapi telinganya tetap awas.
"Kejem merga... dheweke percaya yen desa mbutuhake
tumbal. Katane, supaya subur, supaya makmur. Wong-wong cilik kaya aku mung
manut. Nyiapake sesaji, masak-masak. Ora ngerti yen nganti mateni." (Kejam
karena... dia percaya kalau desa butuh tumbal. Katanya, biar subur, biar
makmur. Orang-orang kecil seperti saya cuma nurut. Nyiapin sesaji, masak-masak.
Nggak tahu kalau sampai membunuh.)
Beberapa ibu-ibu yang mendengar mulai terisak. Mbah Karto
meneruskan, suaranya mulai bergetar.
"Saras iku sing paling sedhih. Dheweke bocah apik,
pinter nari, seneng nembang. Nalika dipilih dadi tumbal pungkasan, dheweke
nangis ora kendhat. Aku eling, dheweke ngomong: 'Mbah, aku ora salah. Kok aku
sing kudu mati?'" (Saras itu yang paling sedih. Dia anak baik, pintar
menari, suka nyanyi. Saat dipilih jadi tumbal terakhir, dia nangis nggak
berhenti. Aku ingat, dia bilang: 'Mbah, aku nggak salah. Kok aku yang harus
mati?')
Suasana warung hening. Hanya suara angin dan suara TV yang
tak ada yang menonton. Beberapa orang menunduk, beberapa menangis dalam diam.
Pak RT 02, yang ikut duduk di pojok, bertanya lirih.
"Mbah, sakjane ritual iku piye? Ana apa wae?" (Mbah, sebenarnya
ritual itu gimana? Ada apa saja?)
Mbah Karto menutup mata. Kilasan masa lalu muncul seperti
film yang diputar di dalam kepalanya.
"Wong-wong padha ngubengi wit. Mbah Joyo maca
mantra-mantra. Korban diikat. Terus... aku ora weruh persis, merga aku
dipenggalih adoh. Taku krungu jeritan. Jeritan sing ora bakal lali suwur."
(Orang-orang pada ngelilingi pohon. Mbah Joyo baca mantra-mantra. Korban
diikat. Terus... aku nggak lihat persis, karena aku disuruh menjauh. Tapi aku
dengar jeritan. Jeritan yang nggak bakal lupa sampai mati.)
Air mata Mbah Karto jatuh. Ia tak malu menangis di depan
banyak orang.
"Ning sing paling elek, sawise iku kabeh padha meneng.
Ora ana sing ngomong. Kaya ora ana kedadeyan. Saras ilang, dianggep minggat.
Wong-wong percaya, utawa pura-pura percaya." (Tapi yang paling parah,
setelah itu semua pada diam. Nggak ada yang ngomong. Kayak nggak ada kejadian.
Saras hilang, dianggap kabur. Orang-orang percaya, atau pura-pura percaya.)
Tak hanya warga desa, cerita Mbah Karto mulai menarik
perhatian orang dari luar. Beberapa mahasiswa dari universitas di kabupaten
datang, membawa buku catatan dan perekam suara. Mereka sedang melakukan
penelitian tentang "tradisi lisan dan sejarah kelam desa".
Pak Dosen Muda yang
memimpin rombongan, memperkenalkan diri sebagai Mas Hendra,
mahasiswa S2 antropologi. Ia duduk di samping Mbah Karto dengan hormat.
"Mbah, saya izin merekam dan mencatat, ya. Ini sangat
berharga untuk penelitian saya."
Mbah Karto mengangguk. "Silakan, Le. Sing penting
tulisanmu bener lan ora ngapusi." (Silakan, Nak. Yang penting tulisanmu
benar dan nggak bohong.)
Mas Hendra tersenyum. Ia kemudian bertanya pada Mbah Karto
tentang asal-usul ritual, tentang kepercayaan warga dulu, tentang bagaimana
Mbah Joyo bisa memiliki kekuasaan sebesar itu.
Mbah Karto menjawab sebisanya. Kadang ia lupa tahun, kadang
lupa nama. Tapi inti ceritanya selalu sama: ketakutan, ketaatan buta,
dan pengorbanan yang sia-sia.
Di pojok warung, Joko dan Titik duduk diam mendengar. Joko
mencatat di ponselnya, membuat semacam arsip digital dari cerita-cerita yang
keluar. Titik hanya memejamkan mata, seolah mendengar bisikan lain di sela-sela
cerita Mbah Karto.
Tiba-tiba, Titik membuka mata. "Mas, dia di
sini," bisiknya.
Joko menoleh. "Saras?"
Titik mengangguk pelan. "Dia duduk di samping Mbah
Karto. Memeluk lututnya. Nangis."
Joko merinding. Ia tak bisa melihat, tapi ia percaya. Ia
sudah belajar untuk percaya pada hal-hal yang tak kasat mata.
"Bilang padanya, kita di sini. Kita dengerin,"
bisik Joko.
Titik tersenyum. Ia menutup mata lagi, bibirnya bergerak-gerak
seperti bicara pada seseorang. Beberapa saat kemudian, ia membuka mata.
"Dia bilang makasih. Tapi dia juga sedih, karena Mbah
Karto nangis."
"Wajar dia nangis. Ini beban berat yang dipendam 40
tahun."
Tiba-tiba, lampu warung berkedip. Semua orang terdiam.
Percakapan terhenti. Angin dingin bertiup masuk, membuat daun-daun kering
beterbangan di lantai warung.
Mbah Karto membeku. Matanya yang mulai rabun menerawang ke
pojok ruangan, tempat Titik menunjuk tadi.
"Saras... apa kowe neng kene?" bisik Mbah Karto
lirih. (Saras... apa kamu di sini?)
Semua orang menahan napas. Tak ada jawaban. Tapi dari luar,
terdengar suara lirih, seperti angin yang membawa bisikan.
"Mbah... aku ora nesu... aku mung pengin
diakui..." (Mbah... aku nggak
marah... aku cuma mau diakui...)
Beberapa orang menjerit. Yang lain memeluk teman di
sampingnya. Bowo, si jurnalis dadakan, ponselnya jatuh karena tangannya
gemetar. Catur hampir menumpahkan kopi. Dimas justru tersenyum tipis, seperti
baru bertemu teman lama.
Mbah Karto menangis. "Saras... mbah njaluk ngapura...
mbah keweden mbiyen... mbah ora bisa nulung..." (Saras... mbah minta
maaf... mbah takut dulu... mbah nggak bisa menolong...)
"Wis Mbah... saiki wis ora apa-apa... aku seneng
akhire wong-wong pada ngerti..." (Udah
Mbah... sekarang nggak apa-apa... aku seneng akhirnya orang-orang pada tahu...)
Suara itu menghilang. Lampu warung kembali normal. Terang
benderang seperti tak terjadi apa-apa. Tapi semua orang tahu, mereka baru saja
menyaksikan sesuatu yang luar biasa.
Mbokdhe, pemilik warung, keluar dari dapur dengan wajah
pucat. "Wah... warungku... dadi tempat angker," gumamnya setengah
bangga, setengah takut. "Ning angkere apik, ya? Ora nyikiti wong."
Pak RT 02 mengusap keringat di dahi. "Iki... iki
nyata, ta? Aku ora ngimpi?"
Pak RW 03, yang kebetulan datang, menepuk bahunya.
"Ora ngimpi, RT. Iki nyata. Saras lagi ngomong."
Keesokan harinya, berita soal "Saras bersuara
di Warung Mbokdhe" menyebar lebih cepat dari video viral. Dalam
hitungan jam, warung itu penuh sesak. Bukan hanya warga desa, tapi juga
orang-orang dari desa tetangga yang penasaran. Bahkan ada beberapa wartawan
dari media online kabupaten datang dengan kamera besar.
Mbah Karto, yang semalam menjadi pusat perhatian, kini
didampingi Mbok Inem, sahabat Saras yang dulu juga jadi saksi.
Mereka berdua duduk berdampingan di kursi utama, seperti dua pohon tua yang
bertahan dari badai selama puluhan tahun.
Mbok Inem hari ini berbeda. Ia memakai kebaya sederhana berwarna
putih, rambutnya disanggul rapi. Matanya sayu, tapi ada ketegasan di sana.
"Saiki, aku kudu ngomong kabeh," ucap Mbok Inem
tegas. "Aku wis umur 75. Sakwene aku mati, aku kudu mbenerke."
(Sekarang, aku harus bicara semua. Aku sudah umur 75. Sebelum aku mati, aku
harus membenahi.)
Mbok Inem lalu bercerita. Tentang persahabatannya dengan
Saras. Tentang bagaimana Saras selalu membantunya mengambil air di sumur—sumur
tua yang sekarang sudah ditimbun. Tentang tawa Saras yang riang, tentang
mimpi-mimpi Saras yang sederhana: ingin jadi guru, ingin punya rumah kecil di
pinggir sawah.
"Ora ana sing ngerti, sakjane Saras iku wong apik.
Saben dina, yen wis sore, dheweke mesthi dolan nang omahku. Nggawa jajan pasar,
senajan mung sekedhik. Ngomong-ngomong kosong, ngguyu-ngguyu." (Nggak ada
yang tahu, sebenarnya Saras itu orang baik. Setiap hari, kalau sudah sore, dia
pasti main ke rumahku. Bawa jajan pasar, meskipun cuma sedikit. Ngobrol
ngalor-ngidul, ketawa-ketawa.)
Mbok Inem berhenti. Napasnya berat.
"Terus, nalika dheweke dipilih dadi tumbal... aku ora
percaya. Aku takon Mbah Buyut Joyo, 'Pak Lurah, leres Saras ingkang dipilih?'
Dheweke mung mangsuli, 'Iki wis takdire. Aja melu-melu.'" (Terus, saat dia
dipilih jadi tumbal... aku nggak percaya. Aku tanya Mbah Buyut Joyo, 'Pak
Lurah, benar Saras yang dipilih?' Dia cuma jawab, 'Ini sudah takdir. Jangan
ikut campur.')
Mbok Inem terisak, tapi ia paksakan lanjut.
"Aku ndhelik nang mburi wit gedhe. Aku weruh kabeh.
Mbah Joyo lan kanca-kancane ngubengi Saras. Dheweke diikat. Aku pengin
bengok-bengok, nanging swaraku ora metu. Aku mung wong wedok cilik sing ora
duwe daya." (Aku sembunyi di balik pohon besar. Aku lihat semua. Mbah Buyut
Joyo dan kawan-kawannya ngelilingi Saras. Dia diikat. Aku mau berteriak, tapi
suaraku nggak keluar. Aku cuma perempuan kecil yang nggak punya daya.)
Tangis Mbok Inem pecah. Kirana yang kebetulan datang,
segera memeluknya.
"Saras... aku nganti saiki isih krungu jeritanmu. Isih
krungu. Ing bengi sepi, jeritan iku teka maneh. Ngelingake aku, yen aku wis
ngiyanati kancaku dhewe." (Saras... aku sampai sekarang masih dengar
jeritanmu. Masih dengar. Di malam sepi, jeritan itu datang lagi. Mengingatkan
aku, kalau aku sudah mengkhianati temanku sendiri.)
Para pendengar, termasuk beberapa pemuda yang biasanya
cuek, ikut menangis. Cerita ini bukan dongeng. Ini luka nyata yang menganga
selama 40 tahun. Dan sekarang, lukanya mulai diobati.
Di kantor desa, Arjuna mendapat laporan lengkap dari Joko
tentang kejadian di warung. Ia duduk lemas di kursinya, memijit pelipis yang
berdenyut.
"Jadi, Saras sudah mulai 'muncul' di publik. Bicara
langsung pada warga."
"Iya, Pak. Dan menurut Titik, itu pertanda baik. Dia
ingin dikenal. Dia ingin didengar. Selama 40 tahun dia cuma jadi bisikan,
sekarang dia ingin jadi suara."
Kirana, yang sedang menyusun rencana upacara, menambahkan.
"Mas, aku mikir, mungkin kita bisa buat monumen kecil untuk
para korban. Bukan makam mewah, tapi tempat untuk mengenang. Di dekat beringin,
tapi bukan di bawahnya. Biar mereka tahu kita menghormati."
Arjuna tersenyum. Idenya bagus. "Setuju. Tapi kita
harus minta izin warga dulu. Dan pastikan nggak ada yang keberatan."
"Pasti ada yang keberatan, Pak," kata Joko
realistis. "Apalagi keluarga Mbah Buyut Joyo masih ada. Mereka mungkin malu,
atau takut nama baiknya rusak."
Arjuna menghela napas. Keluarganya sendiri. "Aku yang
akan bicara dengan mereka. Aku harus tegas. Ini bukan soal nama baik, ini soal
keadilan."
Sore harinya, Arjuna pergi ke rumah pamannya, Pak Sastro,
anak bungsu Mbah Buyut Joyo yang masih hidup. Pak Sastro tinggal di pinggir
desa, rumah sederhana berdinding kayu jati, hidup dari bertani dan beternak
kambing.
Arjuna datang dengan Kirana. Mereka disambut
tantenya, Bu Sastro, dengan wajah cemas. Wanita tua itu tahu pasti
ini bukan kunjungan biasa.
"Ndhuk, Arjuna... ana perlu apa?" tanya Bu
Sastro.
"Kula badhe matur kaliyan Paklik Sastro, Bulik.
Penting." (Saya mau bicara dengan Paklik Sastro, Tante. Penting.)
Pak Sastro keluar dari dalam. Wajahnya mirip Mbah Buyut
Joyo: tegas, berwibawa, dengan rahang kuat dan mata tajam. Meski usianya sudah
65 tahun, posturnya masih tegap.
"Arjuna... aku wis ngerti. Kowe arep ngomong soal
bapakku." (Arjuna... aku sudah tahu. Kamu mau bicara soal bapakku.)
Arjuna mengangguk. "Inggih, Paklik. Kula badhe mbukak
kasunyatan. Lan mbangun monumen kangge para korban. Kula nyuwun pangestu lan
pangertene." (Iya, Paklik. Saya mau membuka kenyataan. Dan membangun
monumen untuk para korban. Saya minta restu dan pengertian.)
Pak Sastro diam lama. Matanya menatap ke langit-langit
rumah, seolah mencari jawaban dari arwah bapaknya yang sudah tiada. Suasana
hening, hanya suara jangkrik dari luar.
"Arjuna... aku ngerti bapakku salah. Nanging dheweke
tetep bapakku. Aku isin. Nanging aku uga ngerti, dosa kudu diakoni."
(Arjuna... aku tahu bapakku salah. Tapi dia tetap bapakku. Aku malu. Tapi aku
juga tahu, dosa harus diakui.)
Ia menatap Arjuna lekat.
"Kowe luwih wani tinimbang aku. Terusna. Aku ora bakal
ngalang-alangi. Malah, aku arep melu nyumbang kanggo monumen iku." (Kamu
lebih berani dari aku. Teruskan. Aku nggak bakal menghalangi. Malah, aku mau
ikut nyumbang untuk monumen itu.)
Arjuna terharu. "Matur nuwun, Paklik."
Pak Sastro mengangguk, meski matanya basah. Ia lalu masuk
ke dalam, mengambil sesuatu. Sebuah amplop cokelat.
"Iki, kanggo wiwitan. Dhuwit saka hasil dodolan
kambing. Aku ora sugih, tapi aku pengin melu." (Ini, untuk awal. Uang dari
hasil jual kambing. Aku nggak kaya, tapi aku mau ikut.)
Arjuna menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Bukan
karena uangnya, tapi karena maknanya.
Malam harinya, Joko dan Titik duduk di bangku halaman
kantor. Beringin tua terlihat tenang di bawah sinar rembulan. Tak ada bayangan
menyeramkan, hanya pohon biasa. Tapi mereka tahu, di balik ketenangan itu, ada
25 arwah yang menanti.
"Mas Joko, dua minggu lagi upacara. Apa kita
siap?" tanya Titik.
Joko menghela napas. "Siap atau nggak, kita harus
jalan. Ini bukan pilihan. Ini keharusan."
"Kamu percaya mereka akan tenang setelah upacara?"
"Menurutmu?"
Titik diam sejenak, merasakan bisikan yang tak terdengar.
"Aku rasa, mereka akan tenang kalau kita tulus. Kalau kita cuma
formalitas, mereka akan tahu. Dan mungkin... akan lebih marah. Atau lebih
sedih."
Joko mengangguk. "Makanya kita harus serius. Bukan
cuma upacara, tapi juga perubahan nyata. Desa ini harus berhenti menyembunyikan
dosa. Harus berhenti berpura-pura."
Dari kejauhan, terdengar suara kidung. Lirih, merdu. Lagu
dolanan yang dulu sering dinyanyikan Saras.
"Kupu kuwi... kupu kuwi... mabur neng taman... ojo
dikejar... ojo dikejar... mengko keweden..."
Joko dan Titik tersenyum. Bukan takut, tapi haru.
"Kita akan bantu kamu terbang, Saras," bisik
Titik. "Seperti kupu-kupu. Bebas."
Angin malam berdesir, membawa jutaan daun beringin yang
berguguran. Di antara gemerisik daun itu, untuk sesaat, mereka seperti melihat
bayangan-bayangan—perempuan-perempuan dengan gaun putih—menari di bawah pohon.
Menari dengan gembira, seperti saat mereka masih hidup.
Lalu, satu per satu, bayangan itu memudar. Meninggalkan
keheningan yang damai.
Suatu siang, saat Pak Dono sedang istirahat minum kopi di
teras belakang, Joko mendekatinya. "Pak Karyo, apa bener semua arsip lama
habis terbakar tahun 2000?"
Pak Karyo menghela napas panjang. Ini pertanyaan yang sudah
sering ia dengar, tapi kali ini nada Joko berbeda—lebih dalam, lebih serius.
"Jek, kowe ki kaya detektif wae." (Jek, kamu kayak
detektif aja.) Pak Dono tersenyum tipis, tapi matanya tak ikut tersenyum.
"Iya, kobong. Tapi saiki aku mikir, kobong kuwi... mungkin
disengaja." (Iya, kebakar. Tapi sekarang aku mikir, kebakar itu... mungkin
disengaja.)
Joko mengerutkan kening. "Disengaja? Maksud Pak Dono?"
"Ya... mbokmenawa ana sing sengaja ngobong arsip
supaya rahasia desa ora kebukak. Jaman Mbah Joyo isa wae wis ngatur."
(Ya... mungkin ada yang sengaja membakar arsip biar rahasia desa nggak kebuka.
Jaman Mbah Buyut Joyo mungkin sudah diatur.)
Joko berpikir cepat. "Tapi Pak Dono kan waktu itu
Belum bekerja? Mungkin ingat sesuatu?"
Pak Dono menggeleng. "Aku mulai kerja taun 2005, Le.
Sakwise Mbah Buyut Joyo seda. Kobong iku taun 2000, pas lurah ganti saka Mbah
Joyo menyang Pak Iwan. Aku mung krungu crita saka wong tuwa-tuwa." (Aku
mulai kerja tahun 2005, Le. Setelah Mbah Joyo meninggal. Kebakar itu tahun
2000, pas lurah ganti dari Mbah Joyo ke Pak Iwan. Aku cuma dengar cerita dari
orang tua-tua.)
"Jadi Pak Iwan yang jadi lurah waktu kebakaran?"
"Iya. Pak Iwan saiki isih urip. Mungkin sampeyan kudu takon
karo dheweke." (Iya. Pak Iwan sekarang masih hidup. Mungkin kamu harus
tanya sama dia.)
Joko mencatat dalam ponselnya. Pak Iwan, lurah
2000-2010. Tapi sebelum sempat merencanakan kunjungan, tiba-tiba Pak
Sabar, petugas kebersihan, muncul dengan wajah pucat pasi—lebih pucat dari
biasanya, lebih pucat dari kertas HVS.
"Jek... Jek... ana sing aneh nang loteng!"
(Jek... Jek... ada yang aneh di loteng!)
Joko dan Pak Dono bertukar pandang. Loteng kantor? Selama
ini loteng tak pernah dibuka. Pintunya selalu terkunci, kuncinya hilang entah
ke mana. Katanya cuma tempat penyimpanan barang bekas—kursi rusak, meja lapuk,
dan mungkin sarang tikus.
"Ana apa, Pak Sabar? Kok mlayu-mlayu?" tanya
Joko.
Pak Sabar mengatur napas. "Aku mau golek sapu lidi
sing lawas, sing biasane digawe nyapu halaman. Tak kira ana neng loteng. Terus
aku golek kunci, ketemu neng laci Pak Dono sing wis rusak." (Aku mau cari
sapu lidi yang lama, yang biasa dipakai nyapu halaman. Kukira ada di loteng.
Terus aku cari kunci, ketemu di laci Pak Dono yang sudah rusak.)
"Terus?" Pak Dono mulai penasaran.
"Aku buka loteng, munggah tangga. Peteng banget. Tak
senter nganggo HP. Terus aku weruh... kardus gedhe. Isine... arsip-arsip lawas.
Aku wedi ndemek." (Aku buka loteng, naik tangga. Gelap banget. Kusenter
pakai HP. Terus aku lihat... kardus besar. Isinya... arsip-arsip lama. Aku
takut pegang.)
Joko dan Pak Dono segera bangkit. "Ayo, Pak, kita
lihat."
Tangga kayu menuju loteng berderit protes setiap kali
diinjak. Debu beterbangan, membuat Joko bersin-bersin. Loteng gelap, hanya
diterangi senter ponsel mereka. Udara di sini pengap, bau lapuk dan kertas tua
bercampur jadi satu.
Di pojok ruangan, benar ada kardus besar, tertutup plastik hitam
yang sudah robek di beberapa bagian. Pak Dono membuka plastik itu perlahan,
seperti membuka tabung berisi rahasia nuklir.
Di dalamnya: tumpukan map-map tua, beberapa buku catatan
tebal, dan amplop-amplop cokelat yang sudah menguning dimakan usia. Semua
tersusun rapi, seolah sengaja disimpan—bukan dibuang.
"Ini... ini arsip yang katanya terbakar?" gumam
Pak Dono tak percaya. Tangannya gemetar menyentuh map paling atas.
Joko mengambil satu map. Tertulis dengan tinta hitam yang
mulai pudar: "Laporan Keuangan Desa 1965-1970". Map
lain: "Surat-surat Keputusan Lurah 1965-1970". Dan yang
paling menarik perhatian: sebuah buku tebal bersampul cokelat dengan tulisan
tangan: "Catatan Khusus - Ritual Tahunan 1960-1970".
Joko hampir menjatuhkan buku itu. "Pak... ini... ini
bukti kalau ritual sudah berlangsung jauh sebelum 1970."
Pak Karyo ikut pucat. "Berarti... korban bisa lebih
dari lima? Saras dudu siji-sijine?" (Berarti... korban bisa lebih dari
lima? Saras bukan satu-satunya?)
Dengan tangan gemetar, Joko membuka catatan itu. Tulisannya
rapi, dengan tinta biru yang mulai pudar tapi masih terbaca. Halaman pertama:
"Tahun 1960 - Korban: Sumirah, 18 tahun. Asal: Dukuh
Krajan. Hasil: Sawah subur, panen melimpah. Catatan: Ritual berjalan
lancar."
Halaman kedua:
"Tahun 1961 - Korban: Kasiyem, 20 tahun. Asal: Dukuh
Wetan. Hasil: Ternak sehat, warga makmur. Catatan: Tidak ada hambatan."
Halaman ketiga:
"Tahun 1962 - Korban: Supiyah, 19 tahun. Asal: Dukuh
Kidul. Hasil: Hujan turun tepat waktu. Catatan: Korban meronta-ronta, tapi
akhirnya tenang."
Dan seterusnya. Tahun demi tahun. Nama demi nama. Semua
perempuan. Semua berusia muda, antara 17 sampai 23 tahun. Semua
"dipersembahkan" untuk kemakmuran desa, dengan catatan singkat yang
dingin dan tanpa emosi.
Joko menghitung cepat. Dari 1945 sampai 1970, ada 25
nama. Dua puluh lima perempuan yang dikorbankan di bawah beringin tua. Dua
puluh lima nyawa melayang demi keyakinan buta.
"Ya Tuhan..." bisik Joko. "Ini... ini
pembantaian. Bukan ritual, ini pembantaian sistematis."
Pak Dono terduduk lemas di lantai loteng yang berdebu, tak
peduli celana hitamnya kotor. "Kita... kita nduweni dosa gedhe, Jek. Desa
iki... dibangun nganggo getih. Sawah-sawah iki... dipupuk nganggo balung."
(Kita... kita punya dosa besar, Jek. Desa ini... dibangun pakai darah.
Sawah-sawah ini... dipupuk pakai tulang.)
Mereka membawa semua arsip itu ke ruang rapat—butuh tiga
kali bolak-balik karena kardusnya besar dan berat. Berita tentang penemuan ini
menyebar cepat. Dalam hitungan menit, ruang rapat penuh sesak.
Arjuna datang dengan wajah tegang. Kirana di belakangnya,
membawa buku catatan. Titik menyusul, matanya sudah berkaca-kaca seolah ia
sudah tahu sebelumnya. Pak RW 03 datang dengan langkah tegap, Pak RT 02 dan 03
ikut, begitu juga beberapa pemuda karang taruna.
Joko meletakkan tumpukan arsip di meja panjang. "Ini,
Pak. Arsip lengkap ritual tahunan dari 1945 sampai 1970."
Arjuna membuka satu per satu. Wajahnya berubah dari tegang
menjadi pucat, dari pucat menjadi abu-abu. "25... 25 korban?"
suaranya hampir tak terdengar.
"Iya, Pak. Termasuk Saras dan empat lainnya yang kita
temukan di dinding. Tapi ini... ini lebih lengkap. Ada catatan detail setiap
tahun."
Ruangan hening total. Kirana menutup mulut, menahan tangis.
Titik memejamkan mata, air matanya jatuh tanpa suara. Ia bisa mendengar bisikan
puluhan arwah di sekitarnya—bukan satu atau dua, tapi puluhan, berdesakan,
berbisik dengan nada yang berbeda-beda: ada yang sedih, ada yang marah, ada
yang lelah.
Arjuna membuka halaman demi halaman. Nama-nama itu asing,
tapi juga familiar. Sumirah, Kasiyem, Supiyah, Wagiyem, Juminten, Lastri,
Kartini, Sri... dan Saraswati. Beberapa marga masih ada di desa. Beberapa
mungkin sudah punah, keluarganya pindah atau mati tanpa meninggalkan keturunan.
"Pak Kades... ini bukan cuma dosa keluarga Mbah Buyut Joyo.
Ini dosa kolektif." Joko angkat bicara, suaranya tegas. "Semua orang
yang diam. Semua orang yang pura-pura tidak tahu. Semua orang yang menikmati
hasil ritual tanpa bertanya dari mana asalnya."
Pak RW 03, yang sedari tadi menggenggam tinju, maju
selangkah. "Kita harus buka semua ini. Biar warga tahu. Biar tidak ada
lagi rahasia. Biar sejarah nggak diulang."
"Tapi iki bakal gawe wirang desa," protes salah
satu perangkat—Pak Lurah, staf administrasi yang jarang bicara.
"Mosok desa kita dikenal sebagai desa pembunuh?" (Tapi ini akan bikin
malu desa. Masa desa kita dikenal sebagai desa pembunuh?)
Pak RW 03 menatapnya tajam. "Wirang opo? Sing wirang
iku wong sing nindakake, dudu wong sing mbukak kasunyatan. Wong sing mateni,
dudu wong sing ngakoni." (Malu apa? Yang malu itu orang yang melakukan,
bukan orang yang membuka kenyataan. Orang yang membunuh, bukan orang yang
mengakui.)
Arjuna akhirnya angkat bicara. Suaranya berat, tapi mantap.
"Kita akan buka. Tapi dengan cara yang bijak. Upacara pelepasan nanti,
kita akan sebut semua nama. Kita akan doakan mereka satu per satu. Dan kita
akan buat monumen dengan 25 nama itu—bukan hanya lima."
Semua setuju. Tak ada lagi yang berani protes. Bahkan Pak
Lurah yang tadi protes, hanya menunduk.
Malam harinya, Joko dan Titik duduk di ruang arsip, mendata
semua nama korban. Meja dipenuhi kertas-kertas tua, buku catatan, dan map-map
cokelat. Mereka bekerja dalam diam, hanya sesekali suara kertas dibalik dan
derit kursi tua.
Titik menulis dengan tangan di buku Hello Kitty-nya—entah
kenapa ia tetap setia pada buku itu, meski isinya sekarang daftar korban
ritual. Sesekali ia berhenti, mendongak, seolah mendengar sesuatu.
"Mas, mereka semua di sini," bisik Titik
tiba-tiba.
Joko menoleh dari tumpukan arsip. "Maksudmu?"
Titik menunjuk ke arah beringin dari jendela. "Di
bawah pohon itu. Mereka berdiri. Berjajar. Menatap ke sini."
Joko merinding. Rambut di tengkuknya berdiri. "Ada
25?"
"Iya. Semua. Ada yang masih muda, ada yang sudah
tua... maksudnya arwahnya tua. Ada yang pakai kebaya, ada yang pakai kain
lusuh. Mereka berjajar rapi, seperti barisan penghormatan."
Joko memejamkan mata. Ia tak bisa melihat, tapi ia bisa
merasakan. Udara di ruangan terasa lebih dingin. Jauh lebih dingin dari AC.
Napasnya mulai membentuk uap tipis.
"Titik... bilang sama mereka, kita akan bantu. Minggu
depan, mereka akan dilepas. Dapat tempat yang layak. Dikenang sebagai korban,
bukan sebagai mitos."
Titik mengangguk. Ia bangkit, menghadap ke jendela.
Bibirnya bergerak-gerak, seperti bicara tanpa suara. Joko melihat bayangan
Titik di kaca jendela—dan di belakang bayangan itu, untuk sesaat, ia melihat
barisan bayangan lain. Samar, tapi nyata.
Beberapa saat kemudian, Titik kembali duduk. Napasnya lega.
"Mereka senang. Tapi Saras bilang, waspada. Ada yang tidak setuju."
Joko mengernyit. "Tidak setuju? Siapa?"
"Saras tidak bilang nama. Hanya bilang: 'wong sing
isih duwe getih Mbah Buyut Joyo nanging ora kaya Arjuna'." (orang yang
masih punya darah Mbah Joyo tapi tidak seperti Arjuna.)
Joko berpikir. Keluarga Mbah Joyo selain Arjuna dan Pak
Sastro. Mungkin anak-anak Mbah Buyut Joyo yang lain? Atau cucu-cucu yang lain?
Ia ingat Pak Hartono, yang disebut-sebut sebagai anak Mbah Joyo yang sukses di
Jakarta.
"Kita harus hati-hati," gumam Joko. "Ancaman
bisa datang dari mana saja."
Keesokan harinya, kecurigaan Joko terbukti.
Pagi-pagi, sekitar pukul 08.00, sebuah mobil mewah berwarna
hitam mengkilap terparkir di depan kantor desa. Semua warga yang lewat menoleh.
Mobil seperti itu hanya muncul setahun sekali—punya bupati atau pejabat tinggi.
Tapi kali ini, yang turun adalah seorang lelaki usia sekitar 50-an, berpakaian
rapi dengan setelan batik mahal dan sepatu pantofel mengkilap. Wajahnya tegas,
mirip sekali dengan foto Mbah Joyo yang terpajang di kantor desa.
Pak Hartono—anak
ketiga Mbah Buyut Joyo, paman Arjuna yang tinggal di Jakarta. Ia datang tanpa
pemberitahuan, tanpa telepon, tanpa pesan.
Arjuna yang baru tiba dan sedang menyiapkan agenda rapat,
langsung tegang. "Paklik Hartono... kaget kula. Kok teka tanpa
kabar?" (Paman Hartono... kaget saya. Kok datang tanpa kabar?)
Pak Hartono tersenyum, tapi senyumnya dingin—dingin seperti
es di kutub. "Aku krungu kabar, Arjuna. Kowe arep mbukak aib keluarga.
Bener?" (Aku dengar kabar, Arjuna. Kamu mau membuka aib keluarga. Benar?)
Arjuna menghela napas. Ini saat yang sudah ia tunggu—dan
takuti. "Paklik, mangga mlebet rumiyin. Kula badhe njelasake."
(Paman, silakan masuk dulu. Saya akan menjelaskan.)
Mereka masuk ke ruang kerja Arjuna. Kirana ikut, duduk di
samping suaminya. Pak Hartono duduk tanpa dipersilakan, langsung merebahkan
diri di kursi tamu.
"Arjuna, aku ora basa-basi. Omongane wong-wong iku
bener? Kowe arep ngumumke neng publik yen bapakku, mbah Buyutmu dhewe, iku
tukang mateni? Pembantai?" (Arjuna, aku nggak basa-basi. Omongan
orang-orang itu benar? Kamu mau mengumumkan ke publik kalau bapakku, kakek
Buyutmu sendiri, itu tukang bunuh? Pembantai?)
Arjuna tetap tenang. "Paklik, kula badhe mbukak kasunyatan.
Bapak (Mbah Buyut Joyo) nindakake kesalahan gedhe. 25 wong wadon dadi korban
ritual ing jamane. Iku kudu diakoni. Ora bisa ditutupi terus." (Paman,
saya mau membuka kenyataan. Bapak (Mbah Buyut Joyo) melakukan kesalahan besar.
25 orang perempuan jadi korban ritual di zamannya. Itu harus diakui. Nggak bisa
ditutupi terus.)
Pak Hartono membanting meja. Brak! Wajahnya
merah padam. "Ora! Kowe ra tau ngajeni bapak Buyutmu dhewe! Dheweke wis
seda, kowe arep ngrusak jenenge! Jeneng sing wis dibangun puluhan taun!"
(Nggak! Kamu nggak pernah menghargai bapak Buyutmu sendiri! Dia sudah
meninggal, kamu mau merusak namanya! Nama yang sudah dibangun puluhan tahun!)
Arjuna tak bergeming. "Paklik, jenenge wis rusak
dhewe. Korbane wis ngenteni 40 taun. Saiki wayahe mbenerke, dudu nutupi."
(Paman, namanya sudah rusak sendiri. Korbannya sudah nunggu 40 tahun. Sekarang
waktunya membenahi, bukan menutupi.)
"Mbenerke opo? Kowe arep ngomong neng wong akeh yen
bapak Buyutmu dadi tukang mateni? Kowe arep gawe wirang keluarga? Kowe arep
nggawe anak-anakmu dadi anak turune pembunuh?" (Membenahi apa? Kamu mau
bilang ke orang banyak kalau bapak Buyutmu jadi tukang bunuh? Kamu mau bikin
malu keluarga? Kamu mau bikin anak-anakmu jadi keturunan pembunuh?)
"Paklik, sing gawe wirang iku tumindake, dudu sing
mbukak. Dosa iku kaya utang. Utang kudu dibayar, meski sing utang wis
mati."
Pak Hartono berdiri, wajahnya merah padam seperti tomat.
"Yen kowe terusne, aku bakal gugat. Aku duwe duit, duwe kuasa. Aku bisa
nggawe kowe mandheg. Aku bisa nggawe proyek-proyekmu mandeg. Aku bisa nggawe
kowe kelangan jabatan!"
Arjuna tersenyum tipis. Tenang, tapi mantap. "Paklik,
kula saiki Kades. Dipilih rakyat. Dudu diangkat Bapak. Kula ora wedi karo
ancaman. Yen kula mundur merga wedi, dosa iki bakal ngejar kula nganti
mati."
Pak Hartono keluar dengan menggebrak pintu. Kaca jendela
kecil di pintu itu hampir pecah. Kirana yang dari tadi diam, segera menghampiri
suaminya.
"Mas... aman?"
Arjuna mengangguk, meski hatinya tak tenang. Tangannya
sedikit gemetar, tapi ia berusaha keras menyembunyikannya. "Aman, Sayang.
Tapi kita harus siap. Ini baru awal. Mungkin baru pemanasan."
Berita kedatangan Pak Hartono menyebar lebih cepat dari api
membakar ilalang kering. Sore harinya, warung Mbokdhe kembali ramai dengan diskusi
panas. Kursi-kursi penuh, bahkan beberapa warga terpaksa berdiri.
"Lah, iku anak e Mbah Buyut Joyo sing sugih. Jarene
arep nglarang upacara. Jarene arep nuntut Arjuna," kata Pak Tukiyo,
petani tembakau yang suka bercerita.
"Wah, bisa ribut iki. Wong sugih nglawan wong
akeh," timpal Pak RT 02 sambil menggaruk kepala.
"Tapi Arjuna kuwi Kadese, yo? Dipilih rakyat. Mosok
kalah karo duit?" tanya salah satu warga.
Pak RW 03, yang
ikut nongkrong, menjawab tegas. "Ora gampang, Le. Duit iku bisa tuku wong,
bisa tuku pengacara, bisa tuku media. Tapi duit ora bisa tuku kasunyatan.
Kasunyatan iku ya iki—25 korban, bukti, saksi."
Mbah Karto yang
duduk di kursi favoritnya, hanya menggeleng. "Wis, wis. Aku wis tau ndelok
wong sugih nglawan wong cilik. Biasane menang sing sugih. Nanging iki beda. Iki
urusane wong mati. Wong mati ora peduli karo duit."
Bowo, pemuda jurnalis
dadakan, langsung mengabari Joko lewat WhatsApp. Joko membaca pesan itu sambil
menghela napas panjang. Ia sedang di ruang arsip, bersama Titik.
"Titik, tebakanmu benar. Ada yang nggak setuju. Dan
orangnya lebih kuat dari yang kita kira."
Titik, yang sedang menyortir arsip, hanya mengangguk tanpa
menoleh. "Saras sudah bilang. Tapi dia juga bilang, jangan takut.
Kebenaran pasti menang."
Joko tersenyum. "Kamu ini optimis banget. Padahal kita
menghadapi orang kaya raya yang bisa membeli apa saja."
"Bukan optimis, Mas. Tapi aku dengar bisikan mereka.
Dan mereka yakin, kali ini berbeda. Karena ada Arjuna. Karena ada kita. Karena
ada warga yang mulai sadar." Titik akhirnya menoleh, matanya sayu tapi
mantap. "Dosa sing dikubur 40 taun, saiki wis metu. Ora bisa dikubur
maneh."
Joko mengangguk. "Iya, kamu benar."
Malam harinya, Joko tak bisa tidur. Ia duduk di teras kos,
memandang langit berbintang. Pikiran tentang ancaman Pak Hartono, tentang 25
arwah yang menunggu, tentang upacara yang tinggal seminggu lagi—semua berputar
di kepalanya seperti pusaran air.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
"Joko, hentikan. Ini peringatan terakhir."
Joko membalas cepat: "Siapa ini?"
Tak ada jawaban. Ia mencoba menelepon, nomor tak aktif.
Mungkin kartu sekali pakai. Mungkin suruhan Pak Hartono.
Joko merinding. Ancaman sudah mulai datang. Tapi ia tak
akan mundur. Ia menatap ke arah kantor desa, ke beringin yang samar-samar
terlihat dalam gelap. Pohon itu berdiri tegak, seperti penjaga yang setia.
"Saras... kowe, Sumirah, Kasiyem, Supiyah, Wagiyem,
Juminten, Lastri, Kartini, Sri... kabeh... aku janji. Nggak akan mundur. Ora
wedi karo ancaman." (Saras... kamu, Sumirah, Kasiyem, Supiyah, Wagiyem,
Juminten, Lastri, Kartini, Sri... semua... aku janji. Nggak akan mundur. Nggak
takut sama ancaman.)
Angin malam bertiup, membawa bisikan lembut. Bukan suara
menyeramkan, tapi suara yang menenangkan.
"Matur nuwun, Joko..." (Terima kasih, Joko...)
Joko tersenyum. Ia tahu, ia tak sendirian. Ada 25 arwah
yang mendukungnya. Ada Titik, Arjuna, Kirana, Pak RW 03, Mbah Karto, Mbok Inem,
dan warga yang mulai sadar. Dan yang paling penting, ada kebenaran yang harus
ditegakkan.
Keesokan harinya, Joko dan Titik memulai misi baru: mencari
keluarga semua korban. Mereka membentuk tim kecil bersama Bowo, Catur, dan
Dimas. Bowo jadi dokumentator, Catur jadi navigator (karena punya aplikasi peta
di HP), Dimas jadi "sensor kepekaan" (kata Titik, untuk merasakan
apakah arwah korban mendampingi atau tidak).
Mereka menyisir desa, mendatangi rumah-rumah tua, bertanya
pada warga sepuh, mencocokkan nama-nama dari catatan ritual. Hasilnya memilukan.
Sumirah (1960) -
Keluarganya sudah punah. Adiknya meninggal 10 tahun lalu tanpa anak.
Kasiyem (1961) - Punya keponakan, tapi sudah pindah ke Sumatra. Tak
ada kontak.
Supiyah (1962) - Keluarganya masih ada: seorang cucu, Mbok
Tuminah, 65 tahun, tinggal di ujung desa.
Wagiyem (1963) - Keluarganya pindah ke Jawa Timur. Tak ada yang
tahu alamat.
Juminten (1964) - Keluarganya sudah pindah ke luar Jawa. Tak ada
yang tahu.
Lastri (1965) - Tak punya keluarga tersisa. Hidup sebatang kara,
meninggal 20 tahun lalu.
Kartini (1966) - Adiknya, Mbok Darmi, 70 tahun, masih
hidup. Mereka sudah temui minggu lalu.
... dan seterusnya.
Dari 25 nama, mereka berhasil menemukan 12 keluarga yang
masih ada dan bisa dihubungi. Sisanya punah, pindah, atau tak diketahui rimbanya.
"Ini lebih baik dari yang kita kira," kata Joko
saat melapor ke Arjuna. "Setidaknya 12 keluarga akan hadir. Mereka berhak
tahu."
Arjuna mengangguk. "Undang mereka semua. Kita sediakan
transportasi kalau perlu. Ini acara untuk mereka."
Tiga hari sebelum upacara, suasana desa semakin tegang. Pak
Hartono tak muncul lagi, tapi bayang-bayangnya terasa. Beberapa warga mulai
ragu—mungkin karena diancam, mungkin karena dibayar. Tapi mayoritas tetap
teguh.
Di kantor desa, persiapan akhir dilakukan. Kirana dan
karang taruna menyelesaikan monumen: 25 batu nisan kecil dari batu alam,
tersusun melingkar di dekat beringin—tapi tidak terlalu dekat, sebagai tanda
penghormatan tanpa mengganggu "wilayah" para arwah. Setiap batu
diukir nama dan tahun. Di tengah lingkaran, sebuah prasasti utama bertuliskan:
"Kepada 25 putri desa yang dikorbankan demi
kemakmuran. Kami akui keberadaanmu. Kami minta maaf. Semoga damai di alam
sana."
Mbah Karto dan Mbok Inem sering datang ke taman itu, duduk
berjam-jam, kadang menangis, kadang tersenyum. Mereka merasa, akhirnya, beban
yang dipikul selama 40 tahun mulai terangkat.
Malam harinya, Joko dan Titik duduk di bangku halaman
kantor. Beringin terlihat tenang. Tak ada bayangan. Tapi mereka tahu, 25 arwah
sedang menanti.
"Mas Joko, kita berhasil," bisik Titik.
"Belum, Tit. Upacaranya belum dimulai. Tapi
setidaknya, kita sudah sampai sejauh ini."
Dari kejauhan, terdengar suara kidung. Lagu dolanan. Lagu
yang dulu sering dinyanyikan Saras.
"Kupu kuwi... kupu kuwi... mabur neng taman... ojo
dikejar... ojo dikejar... mengko keweden..."
Joko dan Titik tersenyum. Kali ini, mereka tak takut.
Mereka hanya merasa... damai.
"Kita akan bantu kamu terbang, Saras," bisik
Titik. "Kamu dan kawan-kawanmu. Seperti kupu-kupu."
Angin malam berdesir, membawa jutaan daun beringin yang
berguguran. Di antara gemerisik daun itu, untuk sesaat, mereka melihat
bayangan-bayangan—perempuan-perempuan dengan gaun putih—menari di bawah pohon.
Menari dengan gembira, seperti saat mereka masih hidup.
Lalu, satu per satu, bayangan itu memudar. Meninggalkan
keheningan yang damai.
Dua hari setelah ancaman dari Pak Hartono, suasana Desa
Awan Biru seperti panci presto yang siap meledak. Uapnya mendesis, katup
pengamannya bergetar, dan semua orang tahu—tinggal menunggu waktu sebelum
sesuatu yang besar terjadi.
Dua kubu mulai terbentuk dengan jelas. Kubu
pendukung dipimpin secara tidak langsung oleh Arjuna, Joko, Titik, dan
para tokoh masyarakat seperti Pak RW 03, Mbah Karto, dan Mbok Inem. Mereka
berkumpul di warung Mbokdhe setiap sore, merencanakan strategi, menyebarkan
kesadaran, dan menguatkan warga yang mulai ragu.
Kubu penentang...
lebih senyap. Tapi senyap itu justru lebih menakutkan. Mereka tidak muncul di
publik, tidak berdebat di warung, tidak teriak-teriak di jalan. Tapi
bisik-bisik mulai terdengar di setiap sudut desa—di pasar, di sawah, di masjid,
di poskamling.
"Ajining diri saka leluhur," kata mereka. "Mosok anak mbah Buyut Joyo
malah ngrusak jeneng mbah e dhewe?" (Harga diri dari leluhur.
Masa anak Mbah Buyut Joyo malah merusak nama mbahnya sendiri?)
"Wong tuwa iku ora salah. Jaman mbiyen beda," bisik yang lain. (Orang tua itu tidak salah. Jaman
dulu beda.)
"Iki urusan keluarga. Aja melu-melu," timpal yang lain. (Ini urusan keluarga. Jangan ikut
campur.)
Pak Hartono, meski tinggal di Jakarta, punya jaringan kuat
di desa. Ia menyebar uang, menyebar pengaruh, menyebar janji-janji. Beberapa
warga yang tadinya mendukung upacara pelepasan mulai ragu. Beberapa bahkan
berbalik arah.
Pagi itu, Joko berpapasan dengan Pak Dul,
tukang bangunan yang biasa diajak kerja bakti. Wajah Pak Dul murung, tak
seperti biasanya.
"Jek, aku krungu yen upacara iki malah gawe seret
rejeki," kata Pak Dul pelan. "Konco-konco kandha, nek ana ritual
pelepasan, desa bakal kena kutukan. Wong-wong sing wis mati ora seneng
diganggu."
Joko menghela napas panjang. "Pak Dul, iku omongane
wong sing ora gelem ngerti. Wong sing wis diping-pingi duit karo Pak
Hartono." (Pak Dul, itu omongannya orang yang nggak mau tahu. Orang yang
sudah dikasih uang sama Pak Hartono.)
Pak Dul menggaruk kepala yang tidak gatal. "Lha iya,
Jek. Tapi piye... wong akeh wedi. Aku yo wedi, sesok-sesok gawean saya
sepi."
Joko menatapnya lekat. "Pak Dul, wedi kuwi wajar. Tapi
aja wedi karo wong sugih. Wedi karo Gusti. Rejeki saka Gusti, dudu saka nutupi
dosa."
Pak Dul diam. Ia tampak bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Pak Dul, elinga, 25 wong wadon wis mati. Keluargane
nangis 40 taun. Saiki wayahe kita ngakoni. Ora kanggo wong liya, kanggo awake
dhewe. Supaya dosa iki rampung." (Pak Dul, ingat, 25 orang perempuan sudah
mati. Keluarganya nangis 40 tahun. Sekarang waktunya kita mengakui. Bukan untuk
orang lain, untuk diri kita sendiri. Biar dosa ini selesai.)
Pak Dul menghela napas. "Ya wis, Jek. Aku percoyo
kowe. Aku tetep melu."
Di kantor desa, Arjuna menerima laporan intelijen
dari Pak RW 03 yang mantan tentara itu. Pak RW 03 punya jaringan
informan di seluruh desa—kebiasaan lama dari masa dinasnya.
"Pak Kades, ini laporannya." Pak RW 03 meletakkan
secarik kertas di meja Arjuna. "Pak Hartono sudah mengirim utusan ke 12
tokoh masyarakat. Ada yang ditawari uang, ada yang dijanjikan proyek, ada yang
diancam. Targetnya: menarik dukungan untuk upacara, atau setidaknya membuat
mereka diam."
Arjuna membaca daftar nama. Beberapa di antaranya adalah
tokoh yang selama ini vokal mendukung. "Ini sudah masuk ranah politik
uang, Pak."
"Iya, Pak. Tapi kita nggak bisa buktikan. Uangnya
cash, tidak ada bukti transfer. Ancaman juga lisan, tidak ada rekaman."
Arjuna mengangguk. "Yang penting, kita tetap jalan.
Dukungan warga biasa lebih penting daripada tokoh-tokoh yang bisa dibeli. Warga
biasa itu akar rumput. Kalau mereka tetap teguh, tokoh-tokoh itu akan
ikut."
Pak RW 03 tersenyum. "Pak Kades, sampeyan beda. Ora
kaya lurah-lurah liyane." (Pak Kades, Anda berbeda. Nggak kayak
lurah-lurah lain.)
Arjuna tersenyum tipis. "Aku cuma pengin bener, Pak.
Sekalian nebusi dosa keluarga. Mbah Buyutku salah, aku sing mbenerke."
Sementara itu, Joko dan Titik mendapat tugas baru: Masih
mencari keluarga semua korban. Dari 25 nama, baru beberapa yang
teridentifikasi. Sisanya? Nama-nama itu seperti hilang ditelan waktu. Tak ada
yang mengenal, tak ada yang mengaku.
Titik, dengan kepekaannya, mencoba
"berkomunikasi" dengan arwah para korban. Setiap malam ia duduk di
bangku halaman kantor, memejamkan mata, membiarkan bisikan-bisikan itu masuk.
Joko kadang menemani, kadang sibuk dengan arsip.
Suatu malam, Titik tiba-tiba membuka mata. "Mas Joko,
aku tahu di mana keluarga Sumirah."
Joko yang sedang mengetik laporan, menoleh cepat.
"Korban pertama tahun 1960? Keluarganya masih ada?"
"Ada. Tapi... mereka pindah ke desa sebelah. Ganti
nama. Ganti identitas. Malu, mungkin. Atau trauma."
"Desa sebelah? Desa Genting?"
"Iya. Sumirah punya adik, Mbah Karsih,
umur 80 tahun. Masih hidup. Tinggal sendiri di pinggir sungai."
Joko bersemangat. "Besok kita ke sana.
Pagi-pagi."
Esok harinya, Joko dan Titik pergi ke Desa Genting, naik
ojek langganan Pak Dirjo, warga Awan Biru yang juga ikut mendukung
upacara. Pak Dirjo adalah tukang ojek langganan—ia sudah kenal semua jalan di
wilayah ini.
Desa Genting lebih kecil, lebih terpencil. Jalannya
berbatu, menanjak, dan di beberapa tempat hanya setapak. Rumah Mbok Karsih di
ujung jalan, dekat sungai yang airnya cokelat keruh. Rumah panggung bambu,
sudah miring, seolah siap roboh kapan saja.
Seorang perempuan tua duduk di teras, menjemur gaplek di
atas anyaman bambu. Tubuhnya kurus, punggungnya bungkuk, tapi tangannya masih
cekatan membolak-balik gaplek.
"Mbok Karsih?" sapa Titik lembut.
Perempuan itu menoleh. Matanya rabun—katarak mungkin—tapi
telinganya masih tajam. "Sinten niki?" (Siapa ini?)
"Kula Titik, niki kanca kula Joko. Saking Desa Awan
Biru. Kula badhe matur babagan... Mbok Sumirah." (Saya Titik, ini teman
saya Joko. Dari Desa Awan Biru. Saya mau ngomong soal... Mbok Sumirah.)
Mbok Karsih tertegun. Tangannya berhenti membolak-balik
gaplek. Nama itu—sudah 60 tahun tak pernah disebut oleh siapa pun. Bahkan ia
sendiri jarang mengucapkannya, hanya dalam doa di malam sepi.
"Sumirah... mbakku... kowe ngerti apa babagan
dheweke?" (Sumirah... kakakku... kamu tahu apa tentang dia?)
Joko maju selangkah. "Mbok, kita nemu catatan lawas.
Mbok Sumirah... dadi korban ritual desa taun 1960. Dheweke dikubur urip-uripan
nang ngisor wit beringin." (Mbok, kami nemu catatan lama. Mbok Sumirah...
jadi korban ritual desa tahun 1960. Dia dikubur hidup-hidup di bawah pohon
beringin.)
Mbok Karsih diam. Wajahnya seperti topeng—tak ada ekspresi.
Tapi kemudian, perlahan, tangisnya pecah. Bukan histeris, bukan meledak-ledak.
Tapi tangis tua yang keluar dari lubuk hati paling dalam, tangis yang sudah
dipendam 60 tahun.
"Aku ngerti... aku wis ngerti suwe." Suaranya
bergetar. "Ning wong tuwaku mbiyen ngomong, aja bali neng desa. Aja
nggoleki. Sumirah wis ilang, lali wae." (Aku tahu... aku sudah tahu lama.
Tapi orang tuaku dulu bilang, jangan balik ke desa. Jangan cari. Sumirah sudah
hilang, lupakan saja.)
"Tapi Mbok nggak lupa, kan?" tanya Titik lembut.
Ia duduk di samping Mbok Karsih, memegang tangannya yang keriput.
Mbok Karsih menggeleng kuat. "Ora iso lali. Dheweke
mbakku. Ngrawat aku nalika wong tuwa seda. Dheweke sing nyekolahke aku senajan
mung sedhela. Dheweke apik." (Nggak bisa lupa. Dia kakakku. Merawat aku
saat orang tua meninggal. Dia yang menyekolahkan aku meski cuma sebentar. Dia
baik.)
Joko menghela napas. "Mbok, minggu depan kita akan
adakan upacara pelepasan untuk semua korban. Mbok Sumirah termasuk. Kita akan
sebut namanya di depan umum. Kita akan doakan. Mbok Karsih... apa Mbok mau
datang?"
Mbok Karsih menatap Joko. Matanya sayu, tapi ada kilatan
harap yang tak bisa disembunyikan. "Aku... iso teka? Ora ana sing
nglarang? Ora ana sing ngusir?"
"Ora ana sing bisa nglarang, Mbok. Iki tanah kelairane
Mbok Sumirah. Dheweke duwe hak diakoni. Mbok juga duwe hak hadir."
Mbok Karsih mengangguk pelan. "Aku teka. Senajan
mlaku, aku teka. Wis 60 taun aku ngenteni iki."
Dari rumah Mbok Karsih, mereka melanjutkan
perjalanan. Kasiyem (1961) ternyata punya keponakan di Desa
Tegalsari—seorang pedagang sayur keliling bernama Pak Karto (bukan
Mbah Karto yang di warung). Pak Karto kaget saat mendengar nama tantenya
disebut.
"Kasiyem? Tante saya? Saya dulu dengar cerita, dia
hilang waktu muda. Keluarga bilang pergi merantau. Tapi saya curiga, karena
nggak pernah kirim kabar."
Joko menunjukkan catatan ritual. Pak Karto membaca,
wajahnya berubah. "Dikubur hidup-hidup? Ya Allah..."
Ia menangis. "Saya pikir dia hidup bahagia di kota.
Ternyata... ternyata..."
Titik memeluknya. "Pak Karto, minggu depan kita adakan
upacara. Tante Kasiyem akan didoakan. Datang, ya."
Pak Karto mengangguk meski tangisnya belum reda.
Supiyah (1962) punya
keluarga yang masih utuh. Anaknya, Bu Lastri, 60 tahun, tinggal di
Desa Awan Biru—tak jauh dari kantor desa. Selama ini ia tak tahu siapa ibunya.
Ibunya meninggal saat ia masih bayi, dan ayahnya tak pernah cerita.
"Jadi... ibu saya... dibunuh?" bisik Bu Lastri,
wajahnya pucat.
Joko tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan.
Bu Lastri terdiam lama. Lalu ia berkata, "Saya ikut
upacara. Saya ingin lihat makamnya—meski hanya monumen."
Wagiyem (1963) keluarganya
sudah pindah ke Jawa Timur. Tak ada yang tahu alamatnya. Mungkin selamanya tak
akan ditemukan.
Juminten (1964)
keluarganya pindah ke luar Jawa—Sumatra, kata orang. Tak ada kontak.
Lastri (1965) tak punya
keluarga tersisa. Hidup sebatang kara, meninggal 20 tahun lalu di panti jompo.
Kartini (1966)
adiknya, Mbok Darmi, 70 tahun, sudah mereka temui minggu lalu. Mbok
Darmi berjanji datang.
Dan seterusnya. Dari 25 nama, mereka berhasil
menemukan 14 keluarga yang masih ada dan bisa dihubungi.
Sisanya punah, pindah, atau tak diketahui rimbanya.
Joko dan Titik pulang dengan hati berat. Tapi juga lega.
Setidaknya, mereka sudah mencoba.
Malam harinya, pukul 23.00, Joko dapat telepon dari Pak
Sabar. Suaranya gemetar, seperti orang kedinginan di tengah padang pasir.
"Jek... Jek... nang ngisor wit ana wong akeh! Aku
wedi!" (Jek... Jek... di bawah pohon ada banyak orang! Aku takut!)
Joko kaget. Ia baru saja hendak tidur setelah seharian
berkeliling. "Wong akeh? Maling? Preman?"
"Ora... wong-wong iku... transparan! Awake bisa
ditembus! Hantu!"
Joko langsung bangkit. Ia meraih jaket dan senter.
"Pak Sabar, mundur dari situ. Jangan dekat-dekat. Saya segera ke
sana."
Ia telepon Titik. "Titik, ke kantor sekarang. Saras
dan yang lain muncul. Kata Pak Sabar banyak."
Titik hanya menjawab singkat, tenang. "Aku sudah tahu.
Aku di jalan."
Sesampainya di kantor, pemandangan di bawah beringin
membuat Joko terpaku. Kakinya seperti membeku di tempat.
Bukan satu atau dua bayangan. Bukan lima atau enam.
Tapi puluhan bayangan—tepatnya 25—berdiri di bawah pohon. Semua
perempuan. Semua berpakaian putih lusuh, model berbeda-beda sesuai zamannya.
Ada yang berkebaya, ada yang berbaju kurung, ada yang hanya pakai kain putih
sederhana.
Mereka diam. Tidak bergerak. Tidak bersuara. Hanya berdiri
berjajar, menatap ke arah kantor. Atau lebih tepatnya, menatap ke arah Titik yang
baru saja turun dari ojek.
Titik melangkah maju. Joko mencoba menahan lengannya, tapi
Titik menepis dengan lembut.
"Aman, Mas. Mereka hanya ingin bicara. Udah 40 taun
mereka nunggu, sekarang waktunya."
Titik berjalan mendekati barisan bayangan itu. Langkahnya
mantap, tak gentar. Joko mengikuti dari belakang, jantungnya berdebar kencang.
Titik berhenti beberapa meter dari barisan. Yang paling
depan, dengan rambut panjang tergerai hingga pinggang, adalah Saras.
Ia tersenyum—bukan senyum menyeramkan, tapi senyum haru, seperti bertemu teman
lama.
"Titik... matur nuwun... kowe wis golek keluarga
kabeh..." bisiknya. Suaranya
seperti angin, seperti desiran daun. (Titik... terima kasih... kamu sudah cari
keluarga semua...)
Titik mengangguk. "Iya, Saras. Aku janji, minggu depan
kalian semua akan diakui. Didolakne. Dilepaskan." (Iya, Saras. Aku janji,
minggu depan kalian semua akan diakui. Didokukan. Dilepaskan.)
Saras tersenyum. Tapi senyumnya berubah jadi sedih. Matanya
yang sayu menatap ke arah kantor, lalu kembali ke Titik.
"Ning ana sing ngalang-alangi... wong sing nduweni
getih Mbah Joyo nanging atine beda karo Arjuna... dheweke arep ngrusak..." (Tapi ada yang menghalangi... orang yang punya darah
Mbah Joyo tapi hatinya beda dengan Arjuna... dia mau merusak...)
Joko maju selangkah. "Pak Hartono?"
Saras mengangguk. Rambut panjangnya bergerak pelan, padahal
tak ada angin.
"Dheweke wis nglumpukake wong-wong sing biyen melu
ritual. Wong sing jaga, sing masak, sing ndhudhuk. Arep nglawan. Arep ngubur
maneh kasunyatan." (Dia sudah
kumpulkan orang-orang yang dulu ikut ritual. Yang jaga, yang masak, yang gali.
Mau melawan. Mau mengubur lagi kenyataan.)
Titik menghela napas. "Kita tahu, Saras. Tapi kita
tidak akan mundur. Janji."
Bayangan-bayangan lain mulai bergerak. Mereka membentuk
setengah lingkaran di sekitar Saras. Beberapa menangis—air mata transparan
mengalir di pipi tembus pandang. Beberapa tersenyum harap.
"Titik... Joko... Arjuna... Kirana... wong-wong sing
percaya... kowe kabeh iki pengarep-arep." (Kalian ini harapan.)
Saras mendekat. Tangannya yang transparan terangkat,
menyentuh pipi Titik. Titik merasakan dingin—bukan dingin yang membekukan, tapi
dingin yang aneh, seperti es krim di lidah. Tapi di balik dingin itu, ada
kehangatan yang tak terjelaskan.
"Jaga awakmu. Wong iku bisa gawe piala." (Jaga dirimu. Orang itu bisa berbuat jahat.)
Titik mengangguk. "Aku janji, Saras. Kita semua akan
jaga."
Saras tersenyum sekali lagi. Lalu, satu per satu, bayangan
itu memudar. Perlahan, seperti kabut terkena sinar matahari. Yang terakhir
menghilang adalah Saras—ia melambai pelan sebelum lenyap.
Tinggal beringin tua yang tegak, daun-daunnya bergoyang
pelan. Dan Joko, Titik, dan Pak Sabar yang masih mematung.
Joko menghela napas lega, meski jantungnya masih berdebar
kencang. "Titik, kamu nggak takut?"
Titik menoleh. Wajahnya tenang—tenang yang aneh untuk
seseorang baru saja bicara dengan 25 arwah. "Takut, Mas. Tapi lebih takut
kalau mereka nggak dapat keadilan. Takut kalau kita mundur, mereka kecewa.
Takut kalau dosa ini terus nggantung."
Joko mengangguk. "Iya, kamu benar."
Pak Sabar yang sedari tadi membeku di belakang mereka,
akhirnya angkat bicara. "Jek... Titik... aku... aku melu upacara. Aku ora
wedi maneh. Aku weruh dhewe, dheweke ora jahat. Dheweke mung... sedih."
(Jek... Titik... aku... aku ikut upacara. Aku nggak takut lagi. Aku lihat
sendiri, mereka nggak jahat. Mereka cuma... sedih.)
Joko tersenyum. "Makasih, Pak Sabar. Kita
bareng-bareng."
Keesokan paginya, Joko melapor ke Arjuna. Termasuk
peringatan dari Saras tentang Pak Hartono.
Arjuna mengangguk serius. "Aku juga dapat info dari
Pak RW 03. Pak Hartono mengumpulkan orang-orang tua yang dulu terlibat ritual.
Bukan pelaku utama, tapi pembantu-pembantu. Tukang masak, tukang sesaji, tukang
gali kubur—kayak Mbah Sugeng. Mereka dikumpulkan di rumahnya di Jakarta,
diancam, mungkin juga dibayar, untuk diam dan tidak memberi kesaksian."
"Keterlaluan," gumam Joko. "Dia mengancam
saksi kunci."
"Tapi kita nggak bisa menyerang balik. Kita harus
tetap fokus pada upacara. Warga harus lihat sendiri bahwa ini benar. Bahwa kita
tulus." Arjuna menatap Joko. "Gimana dengan keluarga korban?"
"14 keluarga berhasil ditemukan. Mereka akan
datang."
"Bagus. Setidaknya, ada yang mewakili."
Kirana, yang sedang menyusun rencana upacara, menambahkan.
"Aku sudah selesai desain monumen. Namanya 'Taman Pengakuan'.
Bukan makam, tapi taman dengan 25 batu nisan kecil, masing-masing ada nama dan
tahun. Tempat orang bisa datang, berdoa, mengenang. Sudah aku konsultasi dengan
arsitek lanskap—teman kuliah dulu."
Joko tersentuh. "Ide bagus, Bu. Nggak cuma formalitas,
tapi ada nilai seninya."
"Tapi harus cepat. Waktu tinggal lima hari."
Lima hari terakhir sebelum upacara terasa seperti lima
tahun. Tekanan dari Pak Hartono makin kuat. Selebaran gelap mulai muncul di
beberapa sudut desa—di pohon, di tiang listrik, di pintu masjid:
"AJA MELU-MELU UPACARA! AJA NGLawan Leluhur! AJA
NGRUSAK DESA!" (Jangan ikut-ikut
upacara! Jangan melawan leluhur! Jangan merusak desa!)
Bowo, Catur, dan Dimas yang menemukan selebaran itu,
langsung melapor ke Joko.
"Ini, Mas Joko. Udah mulai teror." Bowo
menunjukkan foto selebaran di ponselnya.
Joko membaca, menghela napas. "Ini tandanya mereka
panik. Mereka tahu upacara akan sukses, makanya mereka berusaha
mengganggu."
Tapi di sisi lain, dukungan juga menguat. Para pemuda karang
taruna, yang biasanya sibuk main game dan nongkrong, kini sibuk menyebarkan
informasi di media sosial. Bowo, Catur, dan Dimas berubah jadi tim
kreatif dadakan. Mereka membuat poster digital, video pendek, dan
konten-konten viral tentang kebenaran sejarah.
"Mas Joko, kita buat akun TikTok desa! Biar anak muda
pada melek!" seru Bowo antusias. "Kita kasih tagar #KebenaranSaras
#AwanBiruBangkit."
Joko tersenyum. "Boleh, asal kontennya bener. Jangan
lebay. Jangan ditambah-tambah."
"Tenang, Mas. Kita pinter. Wis biasa main medsos. Kita
tahu batas antara fakta dan fiksi."
Catur menambahkan, "Saya siapkan live streaming pas
upacara nanti. Biar yang nggak bisa datang tetap bisa nonton."
Dimas, yang biasanya pendiam, ikut bicara. "Aku... aku
akan bantu dari sisi spiritual. Mungkin aku bisa merasakan sesuatu."
Joko menepuk bahu Dimas. "Bagus, Dim. Kita butuh semua
kemampuan."
H-1 sebelum upacara. Sore harinya, hujan deras mengguyur
Desa Awan Biru. Bukan hujan biasa, tapi hujan yang disertai angin kencang dan
petir sambung-menyambung. Langit hitam pekat seperti tengah malam, padahal baru
jam 4 sore.
Beberapa warga menganggap ini pertanda buruk.
"Larangan dari leluhur," bisik mereka.
Yang lain menganggap ini wajar—musim hujan, memang begini.
Tapi di bawah beringin, Titik melihat
sesuatu. Saras dan ke-24 arwah lainnya berdiri di tengah hujan, namun mereka
tak basah. Tubuh transparan mereka tetap kering, sementara hujan deras
mengguyur di sekeliling. Mereka menengadah ke langit, seolah menyambut air yang
turun.
Titik, yang berdiri di teras kantor, memejamkan mata. Ia
mendengar bisikan Saras, jelas sekali.
"Iki udan pangresik... ngresiki dosa... ngresiki
bumi... sesuk, kabeh bakal anyar." (Ini
hujan pembersih... membersihkan dosa... membersihkan bumi... besok, semua akan
baru.)
Titik menyampaikan itu pada Joko yang baru tiba. Joko hanya
bisa mengangguk, memandangi hujan yang semakin deras.
"Semoga ini pertanda baik," gumamnya.
Malam harinya, hujan reda. Udara segar, bersih. Bau tanah
basah dan dedaunan memenuhi seluruh desa. Langit cerah, bintang-bintang
bertaburan seperti berlian di atas beludru hitam.
Joko dan Titik duduk di bangku halaman kantor, memandangi
beringin yang tenang. Tak ada bayangan, tak ada suara aneh. Hanya pohon biasa.
"Mas Joko, besok hari H," kata Titik.
"Iya. Besok, semua berubah."
"Kamu siap?"
Joko menghela napas. "Siap atau nggak, kita harus
jalan. Ini bukan pilihan. Ini takdir."
Titik tersenyum. "Aku senang, Mas. Senang akhirnya
kita sampai di sini."
Dari kejauhan, suara azan isya berkumandang. Merdu,
menenangkan.
"Titik, kamu percaya mereka akan tenang setelah
upacara?"
"Aku percaya, Mas. Kalau kita tulus. Kalau kita nggak
cuma formalitas." Titik menatap Joko. "Kita harus tulus. Nggak boleh
ada pura-pura."
Joko mengangguk. "Aku akan tulus. Kita semua akan
tulus."
Angin malam berdesir, membawa bisikan terakhir dari bawah
beringin:
"Matur nuwun..."
Joko dan Titik tersenyum. Mereka tahu, besok adalah hari
besar. Hari di mana 25 arwah akan dilepaskan. Hari di mana desa ini akan
berubah selamanya.
Malam Jumat Kliwon tiba. Udara Desa Awan Biru terasa
berbeda—lebih dingin dari biasanya, lebih hening, seolah alam sendiri menahan
napas. Langit cerah tanpa awan, bintang-bintang bertaburan seperti saksi bisu
yang ikut menanti. Bulan purnama menggantung sempurna, menyinari desa dengan
cahaya perak yang magis.
Sejak sore, warga sudah berdatangan ke kantor desa. Mereka
datang berbondong-bondong, tua muda, laki-laki perempuan, bahkan anak-anak
kecil yang digendong orang tuanya. Mereka membawa tikar, makanan, dan lilin.
Bukan pesta, tapi kumpul kebersamaan yang belum pernah terjadi
sebelumnya dalam sejarah Desa Awan Biru.
Taman Pengakuan yang
didesain Kirana sudah selesai tepat waktu. Dengan bantuan para pemuda karang
taruna dan beberapa tukang bangunan yang dipimpin Pak Dul, taman itu berdiri
megah di dekat beringin—tapi tidak terlalu dekat, sekitar 20 meter, sebagai
tanda penghormatan tanpa mengganggu "wilayah" para arwah.
Dua puluh lima batu nisan kecil dari batu alam andesit
tersusun melingkar, masing-masing diukir nama dan tahun dengan tinta emas. Di
tengah lingkaran, sebuah prasasti utama dari batu hitam bertuliskan:
"Kepada 25 putri desa yang dikorbankan demi
kemakmuran. Kami akui keberadaanmu. Kami minta maaf. Semoga damai di alam
sana."
Di sekeliling taman, lampu-lampu minyak dinyalakan,
menciptakan suasana sakral yang hangat. Lilin-lilin kecil di setiap batu nisan
mulai dinyalakan satu per satu oleh keluarga korban.
Mbah Karto dan Mbok Inem duduk di kursi khusus yang
disiapkan di samping panggung. Mereka didampingi oleh keluarga para korban yang
berhasil ditemukan.
Mbok Karsih, adik
Sumirah (korban 1960), datang meski harus dipapah oleh dua orang cucunya.
Usianya 80 tahun, jalannya sudah goyah, tapi matanya berbinar harap. Ia memakai
kebaya sederhana warna putih, rambutnya disanggul rapi—penampilan terbaiknya
setelah puluhan tahun.
"Mbok Karsih, kuwat?" tanya Titik lembut sambil
memegang tangannya.
Mbok Karsih mengangguk. "Kuwat, Ndhuk. Wis 60 taun aku
ngenteni iki. Senajan mati sakwise iki, aku ikhlas." (Kuat, Nak. Sudah 60
tahun aku menunggu ini. Meskipun mati setelah ini, aku ikhlas.)
Bu Lastri, anak
Supiyah (1962), datang dengan suami dan anak-anaknya. Ia membawa foto ibu yang
tidak pernah dikenalnya—foto usang yang ditemukan di album lama. Matanya
sembab, tapi ia berusaha tegar.
Pak Karto,
keponakan Kasiyem (1961), datang dengan baju koko putih. Ia duduk di barisan
keluarga korban dengan wajah khusyuk.
Mbok Darmi, adik
Kartini (1966), datang dengan cucunya. Ia sudah tidak bisa berjalan jauh, jadi
kursi roda disiapkan khusus.
Dan keluarga-keluarga lain—total 14 keluarga yang berhasil
ditemukan, duduk di barisan terdepan. Warga lain mengelilingi mereka, memberi
dukungan diam-diam.
Pak Hartono tak terlihat. Tapi mata-mata Joko—Bowo, Catur,
dan Dimas—melaporkan bahwa beberapa orang suruhannya berkeliaran di
pinggir kerumunan. Mereka berpakaian biasa, tapi gerak-geriknya mencurigakan.
Ada yang membawa tongkat, ada yang duduk di motor sambil mengamati.
Pak RW 03, dengan seragam linmasnya, sudah menyiapkan
barisan pemuda di sekeliling lokasi. "Awasi gerak-gerik mereka. Jangan
sampai mengganggu acara. Kalau ada yang coba-coba masuk, hadang dengan sopan.
Kita tidak mau kekerasan."
Joko mendekat. "Pak RW, perkiraan saya mereka akan
coba ganggu pas pembacaan nama."
Pak RW 03 menganggut. "Siap. Kita sudah siap. Biar
saya yang hadapi kalau perlu."
Arjuna, yang mendengar percakapan itu, menepuk bahu Pak RW
03. "Pak RW, usahakan jangan bentrok fisik. Kita tunjukkan bahwa kita
lebih dewasa."
"Siap, Pak Kades! Diplomasi dulu, fisik
belakangan!"
Pukul 21.00, Arjuna naik ke panggung kecil yang didirikan
di halaman. Ia mengenakan batik putih lengan panjang—sederhana tapi berwibawa.
Kirana di sampingnya, berkebaya hitam dengan selendang putih. Mereka berdiri
bersebelahan, tangan saling menggenggam.
Joko dan Titik berdiri di sisi panggung, siap siaga. Joko
membawa map berisi daftar nama, Titik membawa buku Hello Kitty-nya—entah apa
yang akan dicatat, mungkin bisikan dari alam lain.
Pak Dono bertugas sebagai pembawa acara. Suaranya menggema
melalui pengeras suara.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, sedulur-sedulur kabeh... Malam
iki, kita berkumpul ing Taman Pengakuan, kanggo ngurmati para putri desa sing
wis dadi korban ritual 40 taun kepungkur." (Bapak-bapak, ibu-ibu,
saudara-saudara semua... Malam ini, kita berkumpul di Taman Pengakuan, untuk
menghormati para putri desa yang sudah menjadi korban ritual 40 tahun lalu.)
Semua diam. Ribuan mata tertuju ke panggung.
"Kepareng, Bapak Kepala Desa Arjuna Putra dr.
Erlangga, badhe ngaturaken pangandikan." (Dipersilakan, Bapak Kepala Desa
Arjuna Putra dr. Erlangga, akan menyampaikan sambutan.)
Arjuna maju ke mikrofon. Ia menarik napas dalam-dalam. Ini
saat yang berat.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, sedulur-sedulur kabeh..."
suara Arjuna menggema, mantap meski ada getaran di dalamnya. "Malam iki,
kita kumpul ora kanggo pesta, ora kanggo rame-rame. Tapi kanggo ngakoni
kesalahan."
Suasana hening mencekam.
"Kita duwe sejarah peteng. 40 taun kepungkur, desa iki
nindakake ritual kejem. 25 wong wadon, putri-putri desa iki, dikorbanake ing
ngisor wit beringin iki. Jenenge... wis suwe ora disebut. Saiki, kita sebut
maneh. Siji-siji."
Arjuna membuka gulungan kertas. Suaranya mulai bergetar,
tapi ia paksakan tegar.
Pembacaan Nama
"Sumirah, 1960." Suara Arjuna menggema.
Mbok Karsih menangis. Cucunya memeluknya erat.
"Kasiyem, 1961."
"Supiyah, 1962."
"Wagiyem, 1963."
"Juminten, 1964."
"Lastri, 1965."
"Kartini, 1966."
"Sri, 1967."
... dan seterusnya, tahun demi tahun, nama demi nama. Setiap nama disebut,
keluarga yang hadir menangis. Yang tak punya keluarga, diwakili isak tangis
warga yang tersentuh. Beberapa pemuda yang biasanya cuek, ikut mengusap mata.
Sampai akhirnya, nama terakhir:
"Saraswati, 1970."
Mbok Inem tak kuasa menahan tangis. Ia bangkit dari
kursinya, berjalan tertatih mendekati batu nisan Saras. Ia berlutut di
depannya, memeluk batu itu erat.
"Saras... Saras... mbok Inem njaluk ngapura... mbok
Inem keweden mbiyen... mbok Inem ora bisa nulung... Nanging saiki, kowe wis
diakoni... kowe wis ora dhewekan..." (Saras... Saras... mbok Inem minta
maaf... mbok Inem takut dulu... mbok Inem tidak bisa menolong... Tapi sekarang,
kamu sudah diakui... kamu tidak sendirian...)
Tangisnya memilukan. Beberapa ibu-ibu ikut menangis.
Suasana duka menyelimuti Taman Pengakuan.
Tiba-tiba, angin bertiup kencang. Bukan angin biasa—angin
ini dingin, menusuk tulang, tapi tidak menerbangkan apa pun. Lilin-lilin di
sekitar Taman Pengakuan berkedip, beberapa padam. Warga mulai gaduh, beberapa
menjerit pelan.
"Tenang... tenang..." teriak Pak RW 03.
"Tetep pada tempat masing-masing!"
Titik, yang sejak tadi memejamkan mata, tiba-tiba membuka
matanya lebar-lebar. Ia melihat sesuatu. Joko, yang berdiri di sampingnya,
melihat perubahan ekspresi Titik.
"Titik, apa yang kau lihat?"
Titik menunjuk ke belakang panggung. Di sana, di balik
Arjuna, 25 bayangan kini berdiri berjajar. Mereka semua perempuan, dengan
pakaian putih dari berbagai era. Yang paling depan, dengan rambut panjang
tergerai, adalah Saras. Mereka tersenyum. Menangis. Tersenyum lagi.
"Saras... kabeh... iki kanggo kowe..." bisik
Titik.
Arjuna, yang tidak melihat tapi merasakan kehadiran mereka,
melanjutkan dengan suara bergetar. "Para leluhur, para korban... kami yang
hidup, mohon maaf. Mohon maaf setulus-tulusnya. Semoga kalian damai di alam
sana."
Angin malam berdesir, seperti jawaban.
Upacara berlanjut dengan doa bersama, dipimpin tokoh agama
dari berbagai keyakinan. Seorang kiai memimpin doa Islam, seorang pendeta
memimpin doa Kristen, dan seorang perwakilan kepercayaan Jawa memimpin doa
dengan kemenyan—kemenyan murni, tanpa mantra-mantra sesat. Suasana khusyuk
menyelimuti semua yang hadir.
Namun, di tengah doa, terdengar suara gaduh dari pinggir
kerumunan. Beberapa orang mencoba menerobos masuk. Mereka membawa spanduk kecil
bertuliskan: "Hentikan Penistaan Leluhur!" dan "Leluhurku
Bukan Pembunuh!"
Pak Hartono muncul di belakang mereka. Wajahnya merah
padam, berteriak-teriak dengan suara parau.
"Arjuna! Kowe durjana! Ngrusak jeneng keluarga!
Ngrusak desa! Kowe bakal tanggung jawab!" (Arjuna! Kamu durjana! Merusak
nama keluarga! Merusak desa! Kamu akan tanggung jawab!)
Pengawalnya—lima orang berbadan tebal dengan jaket
hitam—mendorong warga yang mencoba menghalangi. Seorang ibu tua hampir jatuh,
tapi ditangkap oleh pemuda di sampingnya. Suasana mulai kacau. Beberapa warga
berteriak, anak-anak menangis.
Pak RW 03 dan pemuda karang taruna segera membentuk
barisan. Mereka berpegangan tangan, membuat pagar betis. Joko turun dari
panggung, berdiri di depan barisan.
"Pak Hartono, iki acara sakral. Aja diganggu! Iki
kanggo 25 korban sing wis mati!" teriak Joko.
Pak Hartono mencibir. "Kowe sopo? Wong ndesit! Aku
duwe kuasa! Aku duwe duit! Aku bisa nggawe kabeh mandeg! Aku bisa nggawe kowe
kelangan kerjaan!"
Belum selesai bicara, tiba-tiba angin malam yang tadinya
kencang, berubah jadi angin puyuh kecil. Tepat di depan Pak
Hartono. Daun-daun beterbangan, membentuk pusaran yang semakin membesar. Debu
beterbangan, membuat orang-orang menyipitkan mata.
Dan dari pusaran itu, terdengar suara.
Suara perempuan. Banyak. Bersamaan. Seperti paduan suara
dari alam lain.
"Pak Hartono... anak putune Joyosentiko... kowe arep
nglawan?"
Pak Hartono tersentak. Wajahnya yang merah padam mendadak
pucat. Pengawalnya mundur selangkah, lalu dua langkah, lalu berlari
tunggang-langgang meninggalkan majikan mereka.
Pusaran angin itu membesar. Dan di dalamnya,
bayangan-bayangan mulai tampak jelas. 25 perempuan. Mereka menari. Menari
dengan gerakan lembut, seperti tarian Jawa kuno—tari yang dulu sering ditarikan
Saras. Tapi mata mereka—semua tertuju pada Pak Hartono.
"Kowe ngerti sapa aku?" Suara itu lagi. Kali lebih dekat, lebih jelas. "Aku
Sumirah. Dikorban taun 1960. Nalika kowe isih bayi. Nalika kowe durung ngerti
apa-apa."
Pak Hartono gemetar.
"Aku Kasiyem. 1961. Nalika kowe umur setahun. Aku
weruh kowe digendhong ibumu ing upacara."
"Aku Supiyah. 1962."
"Aku Wagiyem. 1963."
"Aku Juminten. 1964."
"Aku Lastri. 1965."
"Aku Kartini. 1966."
"Aku Sri. 1967."
Satu per satu mereka menyebut nama dan tahun. Suara mereka
semakin keras, semakin mendesak. Pusaran angin semakin besar, tapi hanya di
sekitar Pak Hartono—seperti kubah angin yang memenjarakannya.
Pak Hartono mundur. Lutuhnya lemas. Ia jatuh tersungkur di
tanah.
"Kowe arep nglawan aku? Wong sing wis mati 40 taun
kepungkur? Wong sing getihe isih nelesi lemah iki? Kowe arep nutupi kasunyatan
sing wis mbukak?"
"Ampun... ampun..." bisik Pak Hartono. Suaranya
nyaris tak terdengar.
"Aku ora arep nyikiti kowe. Aku mung pengin diakoni.
Lan saiki, wis diakoni. Kabeh wong wis ngerti. Mula, aja ngalang-alangi maneh.
Utawa..." Suara itu berubah
jadi bisikan dingin, seperti embun beku di pagi hari. "Kowe bakal
melu aku. Kowe bakal dadi bagian saka wit iki."
Pak Hartono menjerit. Bukan jeritan marah, tapi jeritan
ketakutan murni. Ia merangkak mundur, lalu bangkit dan lari sekencang-kencangnya.
Sepatu mahalnya tertinggal, satu di sini, satu di sana. Ia terus berlari tanpa
menoleh, menghilang dalam gelap.
Pusaran angin reda. Daun-daun yang beterbangan perlahan
jatuh, membentuk lapisan hijau di tanah. Bayangan-bayangan itu tersenyum pada
Arjuna, pada Titik, pada Joko. Mereka melambai. Lalu perlahan, mereka memudar,
bergabung dengan cahaya bintang.
Suasana hening total. Semua warga tercengang. Beberapa
menangis, beberapa berdoa dalam hati, beberapa hanya bisa terpaku.
Arjuna mengambil mikrofon lagi. Suaranya bergetar, tapi
kali ini bukan karena takut—tapi karena haru.
"Sedulur-sedulur... kowe semua weruk dewe. Iki nyata.
Dosa masa lalu iku nyata. Korban-korban iku nyata. Lan saiki, wis wayahe kita
mbenerke. Ora mung nganggo upacara, ning nganggo tumindak. Aja ana maneh
kekerasan. Aja ana maneh korban. Deso iki kudu dadi deso sing adil lan tentrem.
Kanggo anak putu kita."
Tepuk tangan bergemuruh. Bukan tepuk tangan meriah, tapi
tepuk tangan haru—tepuk tangan yang keluar dari lubuk hati paling dalam.
Beberapa orang berteriak, "Hidup Arjuna! Hidup keadilan!"
Titik mendekati Taman Pengakuan. Ia berlutut di depan batu
nisan Saras, di antara 24 batu lainnya. Air matanya jatuh membasahi tanah.
"Wis, Saras... saiki kowe iso tenang. Kabeh wis
diakoni. Kabeh wis krungu jenengmu. Kowe ora lali."
Dari angin malam, bisikan terakhir terdengar. Lembut,
seperti belaian.
"Matur nuwun, Titik... Joko... Arjuna... Kirana...
kabeh wong sing percaya... aku... ayem... kanca-kancaku uga ayem... saiki..."
Titik tersenyum di tengah air mata. Ia tahu, Saras dan yang
lain akhirnya pergi. Bukan mati, tapi damai.
Upacara usai pukul 01.00 dini hari. Warga pulang satu per
satu, membawa cerita yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.
Anak-anak kecil tertidur dalam gendongan orang tua mereka. Para orang tua
berjalan pelan, merenungi apa yang baru saja terjadi.
Pak Hartono tak pernah lagi muncul di desa. Kabarnya, ia
masuk rumah sakit jiwa seminggu setelah kejadian. Stress akut, kata dokter.
Trauma berat, kata psikiater. Setiap malam ia berteriak, "Ampun...
ampun... aku ora arep nglawan maneh..." (Ampun... ampun... aku tidak akan
melawan lagi...)
Pengawalnya—lima orang itu—juga mengalami hal serupa.
Mereka pindah dari desa, tak ada yang tahu ke mana.
Bulan berikutnya, Desa Awan Biru mulai berubah. Perlahan,
tapi pasti.
Taman Pengakuan menjadi
tujuan ziarah, bukan hanya dari desa sendiri, tapi dari luar daerah. Kisah
Saras dan 24 korban lain menyebar luas melalui media sosial—berkat Bowo, Catur,
dan Dimas yang rajin mengunggah konten. Mereka jadi selebriti lokal dadakan.
Bowo: "Ini bukan cuma konten, ini sejarah. Kita harus
abadikan."
Catur: "Saya sudah siapkan server khusus buat arsip
digital. Biar nggak hilang lagi kayak dulu."
Dimas: "Aku... cuma bisa bantu dari sisi spiritual.
Tapi kalian hebat."
Warga dari luar datang berbondong-bondong. Mereka membawa
bunga, berdoa, menangis di depan monumen. Beberapa wartawan datang meliput.
Desa Awan Biru masuk berita nasional—bukan karena skandal, tapi karena
keberanian mengakui dosa masa lalu.
Program-program desa berjalan lancar. "Sapi Sehat,
Desa Hebat" sukses besar. Jalan-jalan mulai diperbaiki. Internet mulai
lancar—Catur senang bukan main karena bisa main game online tanpa putus.
Tapi yang terpenting: kepercayaan warga kembali.
Mereka tahu, pemimpinnya jujur, berani mengakui kesalahan, dan tak lari dari
masa lalu. Arjuna jadi idola baru. Setiap ada acara desa, ia selalu disambut
hangat.
Joko dan Titik? Mereka tetap bekerja di kantor desa. Tapi
hubungan mereka berkembang lebih dari sekadar rekan kerja. Sering terlihat
nongkrong bareng di warung Mbokdhe, sesekali jalan-jalan ke sawah, nonton
wayang bersama.
Warga mulai menjodoh-jodohkan.
"Wis, Mas Joko, lamar wae. Tik iku cah apik. Kerja
keras, ora neko-neko," goda Bowo suatu sore sambil ngopi.
Joko tersenyum malu. "Ah, Bowo, iku urusan
pribadi."
Titik yang duduk di sampingnya cuma cemberut, tapi pipinya
merona merah. Catur dan Dimas saling pandang, lalu tertawa.
"Mas Joko, Mbak Titik, wis pokok'e cocok. Ditunggu
undangane ya!" ledek Catur.
Joko mengalihkan pembicaraan. "Heh, ngopi-ngopi, bayar
dulu!"
Tapi diam-diam, ia memang mulai memikirkan Titik lebih dari
sekadar rekan kerja.
Mbah Karto dan Mbok Inem jadi "tokoh sejarah"
desa. Setiap ada tamu dari luar, mereka diminta cerita. Mbah Karto bercerita
dengan gaya khasnya—dramatis tapi menyentuh. Mbok Inem selalu menangis di
bagian akhir, tapi sekarang tangisnya bukan duka, melainkan lega.
"Wis, Saras... kowe saiki ayem neng kono.
Kanca-kancamu uga. Aku mung ngenteni wektu melu kowe," bisiknya suatu sore
di depan Taman Pengakuan, sambil menaburkan bunga di batu nisan Saras.
Mbah Karto menepuk pundaknya. "Inem, aja ndang-ndang
mati. Desane isih butuh kowe."
Mbok Inem tersenyum. "Iya, Karto. Aku isih kudu
ndongakake Saras saben dina."
Malam itu, Joko dan Titik duduk di bangku halaman kantor,
memandangi beringin yang tenang. Tak ada bayangan, tak ada suara aneh. Hanya
pohon biasa, dengan daun-daun yang bergoyang pelan ditiup angin.
"Mas Joko, akhirnya selesai," kata Titik.
"Belum selesai, Tit. Ini baru awal. Tapi setidaknya,
awal yang baik."
Titik tersenyum. "Aku senang. Senang bisa kenal kamu.
Senang bisa bantu Saras."
Joko menatap Titik. "Aku juga senang. Kamu... kamu
spesial, Tit. Bukan cuma karena kepekaanmu. Tapi karena hatimu."
Titik menunduk, pipinya merona. "Mas Joko... ngomong
apa sih..."
Dari kejauhan, angin malam berdesir. Dan untuk sesaat,
mereka seperti mendengar bisikan—bukan bisikan sedih, tapi bisikan gembira,
seperti tawa anak-anak yang sedang bermain.
"Kupu kuwi... kupu kuwi... mabur neng taman..."
Joko dan Titik tersenyum. Mereka tahu, Saras dan
kawan-kawannya sudah bahagia. Sudah bebas. Seperti kupu-kupu yang terbang di
taman.
Epilog – Akar yang Masih Hidup
Setahun kemudian.
Desa Awan Biru berubah. Bukan perubahan drastis seperti
gedung pencakar langit atau mal bertebaran—tetap desa dengan sawah menghijau
dan jalan beraspal yang kadang masih bolong. Tapi perubahan yang lebih
dalam: perubahan cara pandang, cara hidup, cara warga memaknai masa
lalu.
Beringin tua masih berdiri tegak di samping kantor desa.
Daunnya rimbun seperti biasa, akarnya menjalar kokoh mengikat tanah. Tapi tak
ada lagi cerita angker yang beredar di warung-warung. Warga sudah biasa lewat
malam-malam, bahkan tanpa senter. Anak-anak kecil bermain di sekitarnya, tanpa
takut, tanpa bisikan-bisikan tentang "penunggu".
Desa Awan Biru kini jadi desa percontohan. Bukan karena
program digitalisasi Arjuna yang sempat tertunda—meski akhirnya berjalan
juga—tapi karena keberaniannya menghadapi masa lalu. Banyak desa
lain datang belajar: bagaimana mengakui kesalahan leluhur, bagaimana membangun
rekonsiliasi, bagaimana menyembuhkan luka kolektif.
Arjuna sering diundang ke seminar-seminar. Ia bercerita
dengan rendah hati. "Kami tidak hebat. Kami hanya berani jujur. Itu
saja."
Wulan dan Teman Barunya
Suatu sore, cuaca cerah dengan sinar matahari yang hangat.
Seekor kupu-kupu kuning terbang meliuk-liuk di antara dedaunan beringin. Wulan,
7 tahun, cucu Mbok Inem, sedang asyik bermain di dekat pohon. Ia membuat boneka
dari daun beringin yang lebar—dilipat-lipat, disemat lidi, jadilah boneka
sederhana dengan gaun hijau.
Wulan senang bermain sendiri. Ia anak yang ceria, tak
pernah takut pada apa pun. Ibunya kadang khawatir, tapi Mbok Inem selalu
bilang, "Biarkan. Wit iku saiki wis bersahabat." (Biarkan. Pohon itu
sekarang sudah bersahabat.)
Tiba-tiba, Wulan mendongak. Di depannya, tidak jauh dari
tempatnya duduk, seorang perempuan muda duduk di atas akar beringin yang besar.
Cantik, dengan rambut panjang hitam pekat tergerai hingga pinggang. Ia memakai
kebaya putih sederhana, tersenyum ramah.
Wulan tidak takut. Ia malah tersenyum lebar. "Mbak
ayu!"
Perempuan itu tertawa kecil. Suaranya lembut, seperti
gemerisik daun. "Dek, dolanan karo aku?" (Dek, main
sama aku?)
"Gelem, Mbak!" jawab Wulan antusias.
Mereka bermain bersama. Perempuan itu mengajarkan Wulan
membuat boneka dari daun dengan cara yang lebih bagus. Ia juga mengajarkan
tarian sederhana—gerakan tangan yang gemulai, seperti tarian Jawa kuno. Wulan
menirunya dengan riang, kadang salah, lalu tertawa bersama.
Sesekali perempuan itu menyanyi. Lagu dolanan yang dulu
sering dinyanyikan anak-anak desa.
"Kupu kuwi... kupu kuwi... mabur neng taman... ojo
dikejar... ojo dikejar... mengko keweden..."
Wulan ikut menyanyi, meski belum hafal semua liriknya.
Mereka bermain sampai matahari mulai condong ke barat,
memberi warna jingga di langit. Saat senja tiba, perempuan itu berdiri,
mengusap kepala Wulan.
"Wis, Dek, aku kudu mulih. Sesuk dolanan maneh,
yo?" (Sudah, Dek, aku harus pulang.
Besok main lagi, ya?)
"Iya, Mbak! Sesuk aku nggawa boneka anyar!"
Perempuan itu tersenyum. Lalu perlahan, ia berjalan ke arah
beringin, dan begitu sampai di batang pohon, ia lenyap. Seperti kabut terkena
matahari.
Wulan hanya mengedip, lalu kembali asyik dengan boneka
daunnnya.
Saat pulang, Wulan berlari-lari kecil menemui Mbok Inem
yang sedang memasak di dapur. "Mbok! Mbok! Aku mau dolanan karo mbak
ayu!"
Mbok Inem menoleh, tersenyum. "Mbak ayu? Sapa, nduk?"
(Mbak ayu? Siapa, Nak?)
"Mbuh, aku lali jenenge. Rambute dawa, ayu banget.
Ngajari aku nari. Ngajari nggawe boneka godhong." (Entah, aku lupa
namanya. Rambutnya panjang, cantik banget. Ngajarin aku nari. Ngajarin bikin
boneka daun.)
Mbok Inem tertegun. Sendok di tangannya berhenti bergerak.
"Dolanan nang endi?" (Main di mana?)
"Nang ngisor wit gedhe. Wit beringin iku, Mbok."
(Di bawah pohon besar. Pohon beringin itu, Mbok.)
Mbok Inem menatap ke arah beringin dari jendela dapur.
Matanya yang tua berkaca-kaca. "Dheweke ngomong apa, nduk?" (Dia
bilang apa, Nak?)
Wulan berpikir. "Ora akeh. Tapi pas arep mulih,
dheweke ngomong, 'Matur nuwun wis diajak dolanan'." (Nggak banyak.
Tapi pas mau pulang, dia bilang, 'Terima kasih sudah diajak main'.)
Mbok Inem tersenyum. Air matanya jatuh, tapi ia segera
mengusapnya. "Saras... kowe isih mrene? Ning saiki... kowe ora ngenteni
maneh, ta? Kowe mung... dolanan?" (Saras... kamu masih ke sini? Tapi
sekarang... kamu tidak menunggu lagi, kan? Kamu cuma... main?)
Angin sore berdesir lembut, masuk melalui jendela dapur,
membelai rambut putih Mbok Inem. Seperti jawaban. Seperti pelukan.
Di Taman Pengakuan, Joko dan Titik duduk di bangku batu
yang menghadap ke beringin. Mereka menikmati senja, sesekali bercanda ringan.
Taman ini sekarang selalu ramai—ada warga yang berdoa, ada turis yang berfoto,
ada anak-anak yang bermain di sekitarnya.
Titik menyeruput kopi bawaannya. "Mas, menurutmu Saras
dan yang lain... beneran pergi?"
Joko berpikir. Setahun lalu, ia mungkin akan menjawab
dengan data dan logika. Tapi sekarang, setelah semua yang ia alami, jawabannya
berbeda.
"Mungkin... mereka pergi dari 'penantian'. Mereka tidak
lagi menunggu keadilan, karena keadilan sudah diberikan. Tapi mungkin juga
mereka tetap di sini, sebagai penjaga." Joko menatap beringin. "Bukan
penunggu yang menuntut, tapi penjaga yang... melindungi. Yang menjaga desa ini
agar tidak mengulangi kesalahan yang sama."
Titik tersenyum. "Indah banget bahasamu, Mas. Dulu
kamu bilang hantu nggak ada, sekarang bisa bilang gitu."
Joko tertawa. "Abis sering dengerin kamu cerita soal
bisikan. Lama-lama keceplosan gaya bicara kamu."
"Iya, gaya bicara orang denger bisikan."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang ringan, tawa orang yang
sudah melalui banyak hal bersama.
Dari kejauhan, Bowo, Catur, dan Dimas melintas.
Bowo melambai. "Mas Joko, Mbak Titik! Dolan neng warung, yo! Aku
traktir!" (Mas Joko, Mbak Titik! Main ke warung, yuk! Aku traktir!)
Catur menimpali, "Iya, lagi dapat rezeki nomplok dari
konten Saras!"
Dimas cuma tersenyum, melambaikan tangan.
Joko dan Titik saling pandang. "Mau?" tanya Joko.
"Mau, ah. Laper." Titik bangkit.
Mereka berjalan bersama menuju warung Mbokdhe yang masih
ramai seperti biasa.
Warung Mbokdhe malam itu ramai. Lampu-lampu tempel menyala
terang, kursi-kursi bambu penuh. Mbokdhe sibuk mondar-mandir membawakan
pesanan, tapi wajahnya sumringah.
"Lha, Joko, Titik, pada mampir! Duduk kene!"
sambutnya.
Mereka duduk di pojok, tempat biasa. Tak lama, Pak
RW 03 datang dengan langkah tegap, langsung memesan kopi pahit. Pak
RT 02 dan 03 sudah lebih dulu duduk, asyik main
catur. Mbah Karto ada di kursi favoritnya, ditemani Mbah
Sugeng yang setengah tuli tapi tetap asyik ngobrol.
Pak Dono datang
dengan motor tuanya, langsung nimbrung. Pak Sabar juga ada,
bercerita pada warga baru tentang "zaman dulu".
Bowo mengeluarkan laptopnya. "Mas Joko, lihat ini.
Channel YouTube kita udah 100 ribu subscriber! Konten Saras paling laris!"
Joko tersenyum. "Bagus, Bow. Tapi ingat, jangan
sensasional. Yang penting edukasi."
"Tenang, Mas. Kita jaga marwah."
Catur menambahkan, "Aku juga lagi bikin aplikasi tur
virtual Taman Pengakuan. Biar orang dari luar bisa lihat."
Dimas, yang biasanya diam, ikut bicara. "Aku... setiap
malam Jumat masih ke taman. Duduk di sana. Rasanya... tenang."
Titik menatap Dimas. "Kamu dengar sesuatu?"
Dimas menggeleng. "Nggak. Justru itu yang membuat
tenang. Nggak ada bisikan. Nggak ada tangisan. Sepi yang damai."
Di kantor desa, lampu masih menyala. Arjuna dan Kirana
sedang menyelesaikan laporan bulanan. Program-program desa berjalan lancar.
"Sapi Sehat, Desa Hebat" kini ditiru desa-desa lain. Digitalisasi
desa akhirnya terwujud—e-Voting untuk pemilihan ketua RT berhasil diujicoba
bulan lalu.
"Mas, capek?" tanya Kirana.
"Sedikit. Tapi capek yang menyenangkan." Arjuna
meregangkan punggung. "Kita ke Taman sebentar, yuk?"
Mereka berjalan ke Taman Pengakuan, berpegangan tangan.
Batu-batu nisan kecil itu bersinar lembut diterangi lampu taman. Arjuna
berhenti di depan batu Saraswati.
"Makasih, Saras," bisiknya. "Kamu sudah
mengajarkan kami banyak hal. Tentang keberanian, tentang kejujuran, tentang
meminta maaf."
Kirana menambahkan, "Dan tentang cinta. Cinta pada
sesama, meski berbeda."
Angin malam berdesir, membawa jutaan daun beringin yang
berguguran. Tapi kali ini, daun-daun itu jatuh begitu saja, tanpa pola, tanpa
makna mistis. Hanya daun jatuh biasa.
Di rumah sederhana di pinggir desa, Mbah Inem duduk
di teras, menatap bintang-bintang. Mbah Amat, kakek Arjuna yang
dulu 40 tahun tak bicara, kini duduk di sampingnya. Mereka bertetangga, sering
nongkrong bareng di malam hari.
"Mbah Amat, apa kowe krungu Saras bengi iki?"
tanya Mbok Inem.
Mbah Amat menggeleng. "Ora. Dheweke wis ayem."
(Nggak. Dia sudah tenang.)
"Kowe sedih?"
Mbah Amat tersenyum—pertama kalinya Mbok Inem melihatnya
tersenyum. "Ora. Aku malah lega. Dosa sing tak pendem 40 taun, saiki wis
rampung." (Nggak. Aku malah lega. Dosa yang kupendam 40 tahun, sekarang
sudah selesai.)
Dari kejauhan, suara Wulan kecil terdengar menyanyi. Lagu
dolanan yang diajarkan "mbak ayu" sore tadi.
"Kupu kuwi... kupu kuwi... mabur neng taman..."
Mbok Inem dan Mbah Amat tersenyum. Mereka tahu, Saras tidak
pergi. Tapi kehadirannya kini berbeda—bukan sebagai penunggu yang menuntut,
tapi sebagai penjaga yang melindungi. Sebagai teman bermain anak-anak. Sebagai
pengingat lembut bahwa masa lalu tak boleh dilupakan, tapi juga tak boleh
membelenggu.
Di warung Mbokdhe, Joko dan Titik masih duduk. Percakapan
mengalir hangat. Tiba-tiba, mbah Anto, sopir truk peramal, masuk
dengan gaya khasnya.
"Wah, rame-rame. Pada ngomongin apa?" sapa Anto.
"Mbah Anto, ramalane gimana? Sesok bakal udan?"
goda Bowo.
Mbah Anto tertawa. "Aku ora mikir udan. Aku mikir,
desa iki saiki wis waras. Ora perlu ramalan."
Joko mengangkat alis. "Kok bisa?"
"Ya, merga dosa wis diakoni. Merga korban wis
dihormati. Merga wong-wong wis ora wedi maneh." Mbah Anto duduk, memesan
kopi. "Desa iki saiki kaya wong mari lara. Isih kudu njaga kesehatan, ning
ora kambuh maneh."
Semua mengangguk. Ada kebijaksanaan dalam kata-kata Anto.
Titik bertanya, "Mbah Anto, Saras masih ada?"
Mbah Anto diam sejenak. Matanya menerawang. "Ana.
Nanging saiki dheweke ora nunggu. Dheweke... njaga. Kaya wit iku dhewe."
(Ada. Tapi sekarang dia tidak menunggu. Dia... menjaga. Seperti pohon itu
sendiri.)
"Berarti wit iku masih angker?" tanya Catur.
Mbah Anto tersenyum misterius. "Angker opo ora, iku
tergantung sing nganggep. Nek kowe nganggep angker, yo angker. Nek kowe
nganggep wit biasa, yo wit biasa. Sing penting, kowe ngajeni." (Angker
atau tidak, itu tergantung yang menganggap. Kalau kamu anggap angker, ya angker.
Kalau kamu anggap pohon biasa, ya pohon biasa. Yang penting, kamu menghormati.)
Malam semakin larut. Warung Mbokdhe mulai sepi. Satu per
satu warga pulang. Joko dan Titik memutuskan berjalan pulang bersama, melewati
beringin.
Mereka berhenti sejenak di bawah pohon itu. Cahaya rembulan
menyinari dedaunan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di tanah.
"Mas Joko, kamu takut?" tanya Titik.
Joko menggeleng. "Nggak. Aneh, ya? Dulu aku takut
setengah mati. Sekarang, aku malah merasa... tenang."
"Itu tandanya kita sudah berdamai."
"Berapa banyak orang yang bisa berdamai dengan masa
lalu?"
Titik tersenyum. "Nggak banyak. Tapi kita
berhasil."
Mereka berdiri diam beberapa saat, menikmati keheningan.
Lalu, dari balik dedaunan, terdengar suara. Bukan suara menyeramkan, tapi suara
tawa kecil. Tawa anak-anak. Tawa riang.
Joko dan Titik saling pandang. Mereka tersenyum.
"Wulan mungkin," kata Joko.
"Atau Saras yang lagi dolanan sama Wulan," balas
Titik.
Mereka tak tahu pasti. Tapi mereka tak perlu tahu. Yang
penting, tawa itu ada. Tawa yang dulu hilang selama 40 tahun, kini kembali.
Keesokan paginya, Desa Awan Biru bangun dengan kabut tipis
seperti biasa. Burung-burung berkicau riang. Anak-anak berangkat sekolah dengan
seragam rapi. Para petani pergi ke sawah dengan cangkul di pundak.
Di Taman Pengakuan, seorang perempuan muda duduk di bangku
batu. Wajahnya tenang, rambutnya panjang tergerai. Saras—atau
mungkin hanya bayangan—tersenyum melihat desa yang dulu menjadi tempat
penderitaannya, kini menjadi tempat kedamaian.
Seekor kupu-kupu kuning hinggap di bahunya. Ia menatap
kupu-kupu itu, lalu tersenyum.
"Matur nuwun," bisiknya.
Kupu-kupu itu terbang, meliuk-liuk di antara batu-batu
nisan, lalu lenyap di balik dedaunan beringin.
Di kejauhan, Wulan berlari-lari kecil
menuju taman, membawa boneka daun baru.
"Mbak Ayu! Mbak Ayu! Ayo dolanan!"
Tapi Mbak Ayu tak ada. Hanya kupu-kupu kuning yang terbang
di sekitarnya.
Wulan tertawa. "Kowe ganti wujud, yo, Mbak? Saiki dadi
kupu?"
Kupu-kupu itu terbang mengelilinginya, lalu hinggap di
ujung hidungnya. Wulan terkikik.
Angin pagi berdesir lembut, membawa bisikan terakhir:
"Iya, Dek... saiki aku wis bebas... kaya kupu... mabur
neng taman..."
TAMAT
Catatan Penulis
Desa Awan Biru ( Fiktif ) adalah cermin dari banyak desa di
negeri ini—yang menyimpan luka masa lalu, yang memendam dosa leluhur, yang diam
karena takut. Tapi seperti Saras, kebenaran tak pernah benar-benar mati. Ia
menunggu. Menunggu keberanian untuk bicara, menunggu keadilan untuk ditegakkan.
Kisah ini bukan tentang hantu. Kisah ini tentang kita.
Tentang bagaimana kita memperlakukan masa lalu. Tentang bagaimana kita
menghadapi dosa—dosa sendiri, dosa keluarga, dosa kolektif. Tentang bagaimana
kita memilih: mengubur atau mengakui, lari atau berdamai.
Beringin tua itu masih berdiri. Akar-akarnya masih
menjalar, mengikat tanah dengan rahasia. Tapi kini, rahasia itu bukan lagi
beban. Ia adalah pelajaran. Pengingat bahwa keadilan, meski tertunda, pada
akhirnya akan bicara.
Dan kupu-kupu kuning itu? Mungkin Saras. Mungkin hanya
kupu-kupu. Tapi yang pasti, ia terbang bebas.
Seperti yang seharusnya.
--- SELESAI ---







0 komentar:
Posting Komentar