Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Rabu, 18 Maret 2026

Detektif Remaja Bojong Sari Episode 4: Cemburu di Antara Sahabat

 

DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI

Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari

Edisi III: Misteri di Balik Senja


EPISODE 4: CEMBURU DI ANTARA SAHABAT

Seminggu telah berlalu sejak penyelamatan Kiano. Para pemburu itu sudah ditangkap polisi berkat laporan Pak Jarwo. Bos Gito dan sindikatnya kini mendekam di tahanan, menunggu proses hukum. Hutan Manoreh kembali aman. Kiano pulih sepenuhnya dan sudah kembali memimpin kawanannya dengan bijaksana.

Tapi di markas Tim Detektif Remaja, suasana terasa berbeda.

Raka duduk di kursi kayu dekat jendela, memandangi hutan tanpa benar-benar melihat. Pikirannya melayang entah ke mana. Di meja, secangkir kopinya sudah dingin sejak setengah jam lalu.

Wati datang dengan langkah gembira, membawa nampan berisi pisang goreng buatan ibunya. "Ra, sarapan! Ini pisang goreng kesukaan lo. Baru matang, masih anget."

Raka menoleh, tersenyum tipis. "Makasih, Ti. Taruh aja di meja."

Wati mengerutkan kening. Biasanya Raka langsung melahap pisang goreng dengan lahap. Tapi hari ini? Dingin. Acuh.

"Lo sakit, Ra?" tanya Wati sambil mendekat.

"Nggak. Gue sehat."

"Terus kenapa diem aja?"

"Nggak apa-apa. Capek aja."

Wati menghela napas. Ia tahu Raka sedang tidak jujur. Tapi ia tidak ingin memaksa. Ia meletakkan pisang goreng itu di meja, lalu duduk di kursi sebelahnya.

Bejo masuk dengan heboh seperti biasa. "Gue datang! Ada gorengan? Lapar nih!"

Begitu melihat pisang goreng di meja, ia langsung meraihnya. "Wah, pisang goreng! Makasih, Ti!"

"Iya, Jo. Makan aja."

Bejo melahap pisang goreng itu dengan lahap, tidak menyadari suasana canggung di sekitarnya. "Enak banget! Lo harus cobain, Ra!"

Raka hanya mengangguk, tidak bergerak.

Bejo berhenti mengunyah. Ia menatap Raka, lalu Wati, lalu Raka lagi. "Eh, ada apa? Kok berdua diem aja?"

Wati mengangkat bahu. "Nggak tahu. Tanya Raka."

Bejo menelan pisangnya. "Ra, lo kenapa? Kok kayak orang bingung?"

Raka akhirnya berbicara. "Nggak apa-apa, Jo. Gue cuma mikir."

"Pikir apa?"

"Banyak."

Wati dan Bejo saling pandang. Ini tidak biasa. Raka yang biasanya ceria dan terbuka, sekarang tertutup dan dingin.

Sore harinya, mereka bertiga pergi ke hutan untuk memeriksa bak-bak air dan kondisi kawanan kancil. Ini rutinitas mingguan yang tidak pernah mereka lewatkan.

Kiano sudah menunggu di titik Beringin. Begitu melihat mereka, ia berlari mendekat, menyapa satu per satu dengan menjilati tangan mereka.

Raka mengelus kepala Kiano dengan lembut. "Hai, Kiano. Sehat, ya?"

Kiano menggerakkan telinganya, menjawab dengan bahasa tubuhnya.

Wati mendekat, ikut mengelus Kiano. "Dia kangen lo, Ra. Lihat, matanya berbinar-binar."

Tanpa sengaja, tangan Wati menyentuh tangan Raka yang sedang mengelus Kiano. Sentuhan itu hanya sesaat, tapi cukup membuat Raka tersentak.

Ia menarik tangannya cepat, terlalu cepat. Wajahnya memerah.

Wati bingung. "Ra? Kenapa?"

"Nggak... nggak apa-apa."

Bejo yang melihat kejadian itu dari kejauhan, ikut mendekat. "Ada apa?"

"Nggak ada apa-apa, Jo. Ayo kita cek bak air."

Raka berjalan cepat meninggalkan mereka. Wati dan Bejo hanya bisa saling pandang dengan tatapan bingung.

Malam harinya, Raka tidak bisa tidur. Ia duduk di teras rumahnya, memandangi bulan yang bersinar terang. Pikirannya kacau.

Sentuhan tadi siang masih terasa di tangannya. Hangat. Lembut. Dan itu membuat jantungnya berdebar seperti mau copot.

"Gue kenapa, sih?" gumamnya sendiri.

Ia teringat Wati. Wati yang selalu ada untuknya. Wati yang berani, yang cerdas, yang setia. Selama ini ia menganggap Wati sebagai sahabat terbaik. Tapi belakangan ini, ada perasaan lain yang tumbuh. Perasaan yang tidak ia mengerti.

"Lo lagi mikirin Wati, ya?"

Raka tersentak. Bejo tiba-tiba duduk di sampingnya.

"Jo?! Lo dari mana?"

"Dari rumah. Nggak bisa tidur. Lihat lo di sini, gue dateng."

Raka diam. Bejo juga diam beberapa saat.

"Ra, gue tahu," kata Bejo akhirnya.

"Tahu apa?"

"Tahu lo suka sama Wati."

Raka terkejut. "Jo, lo ngomong apa?"

"Gue lihat cara lo lihat Wati belakangan ini. Beda. Gue juga lihat cara lo bereaksi tadi siang. Lo suka sama dia, Ra. Nggak usah dipungkiri."

Raka diam. Tidak bisa membantah.

"Gue... gue nggak tahu, Jo. Gue bingung."

Bejo menghela napas panjang. "Lo tahu nggak, Ra? Gue juga suka sama Wati."

Raka menoleh cepat. "Apa?"

"Iya. Gue suka sama dia. Udah lama. Sejak kita masih kecil, mungkin. Tapi gue nggak pernah bilang."

Mereka berdua diam. Suasana yang tadinya hangat, kini berubah dingin. Canggung. Tidak nyaman.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya suara jangkrik yang terdengar di kegelapan malam.

"Jadi... kita sekarang saingan?" tanya Raka pelan.

"Gue nggak tahu, Ra. Yang gue tahu, Wati adalah sahabat kita. Yang paling penting buat kita. Gue nggak mau kehilangan dia hanya karena perasaan ini."

"Gue juga nggak mau. Tapi gimana caranya?"

Bejo menghela napas. "Gue nggak tahu. Tapi yang pasti, kita nggak boleh biarin ini rusak persahabatan kita."

Mereka berdua diam lagi. Rasanya aneh. Setelah bertahun-tahan bersahabat, tiba-tiba ada jarak yang memisahkan.

"Gue pulang dulu," kata Bejo akhirnya.

"Jo..."

Bejo berhenti, tidak menoleh.

"Gue nggak mau kehilangan lo. Apapun yang terjadi."

Bejo diam beberapa saat. Lalu berkata, "Gue juga, Ra."

Ia pergi, meninggalkan Raka yang duduk termenung di teras.

Keesokan harinya, di markas, Wati merasakan keanehan. Raka dan Bejo datang bersama, tapi mereka tidak duduk bersebelahan seperti biasa. Mereka duduk terpisah, jarang bicara, dan ketika bicara pun hanya sepatah dua patah kata.

"Ra, Jo, kalian kenapa?" tanya Wati akhirnya.

"Nggak apa-apa," jawab mereka hampir bersamaan.

"Bohong. Pasti ada apa-apa. Cerita sama gue."

Raka dan Bejo saling pandang. Tidak ada yang mau memulai.

Wati menghela napas. "Baiklah. Kalau kalian nggak mau cerita, gue nggak bisa maksa. Tapi ingat, kita ini tim. Kita ini sahabat. Apapun masalahnya, kita harus hadapi bersama."

Ia berdiri dan pergi meninggalkan markas. Raka dan Bejo hanya bisa diam.

Beberapa hari kemudian, mereka mendapat tugas dari Pak Kades. Ada laporan tentang jejak-jejak aneh di dekat Lembah Terlarang. Mungkin ada wisatawan yang masuk tanpa izin. Mereka harus menyelidiki.

Perjalanan ke Lembah Terlarang biasanya selalu seru. Mereka bertiga akan bercanda, tertawa, sesekali berdebat tentang arah yang benar. Tapi kali ini, suasana berbeda. Sunyi. Canggung. Tidak nyaman.

"Ra, menurut lo ini jejak apa?" tanya Wati sambil menunjuk jejak di tanah.

Raka mendekat, mengamati. "Kayaknya jejak sepatu gunung. Mungkin pendaki."

"Atau pemburu lagi?" tanya Bejo.

"Bisa jadi. Tapi... tunggu." Raka berjongkok, mengamati lebih teliti. "Ini aneh. Jejaknya bolak-balik. Seperti orang yang mondar-mandir di sini."

"Mungkin mereka bingung arah," kata Wati.

"Atau mungkin mereka menunggu sesuatu."

Mereka bertiga mengikuti jejak itu. Semakin ke dalam, semakin banyak jejak yang ditemukan. Bukan hanya satu orang, tapi beberapa.

Tiba-tiba, Raka menginjak sesuatu yang licin. Ia hampir jatuh, tapi Wati cepat-cepat menangkapnya.

"Hati-hati, Ra!" seru Wati sambil memegang lengan Raka.

Mereka berhadapan. Berdekatan. Terlalu dekat.

Raka merasa jantungnya mau copot. Wajah Wati hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Ia bisa melihat bulu mata Wati yang panjang, bisa mencium aroma rambutnya yang khas.

"Ra..." bisik Wati.

Raka tersadar. Ia melepaskan diri dengan cepat. "Maaf... maaf..."

Bejo yang melihat dari kejauhan, memalingkan muka. Dadanya terasa sesak.

Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang canggung. Jejak itu membawa mereka ke sebuah gua kecil di balik semak-semak. Di mulut gua, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Perangkap. Banyak perangkap. Jerat-jerat kawat terpasang di berbagai titik. Beberapa umpan diletakkan di dekatnya.

"Ini... ini perangkap pemburu!" seru Wati.

"Iya. Dan masih baru. Berarti mereka masih di sekitar sini."

Mereka mengamati sekeliling dengan waspada. Tiba-tiba, dari balik gua, muncul dua orang. Mereka memakai topeng dan membawa senapan angin.

"Anak-anak nakal! Mau mencuri umpan kami, ya?" teriak salah satu.

"KAMI BUKAN PENCURI! KALIAN YANG SALAH! INI HUTAN LINDUNG!" teriak Raka.

Mereka berusaha lari, tapi tiba-tiba Bejo tersandung akar pohon dan jatuh. Para pemburu itu mendekat.

"Jo!" teriak Wati.

Tanpa berpikir, Raka berbalik dan berlari ke arah Bejo. Ia berdiri di depan sahabatnya, melindunginya.

"Jangan sentuh dia!" teriak Raka.

Para pemburu itu tertawa. "Wah, anak kecil mau jadi pahlawan?"

Mereka mengangkat senapan. Raka memejamkan mata.

Tiba-tiba, dari balik semak, Kiano melompat. Ia menabrak salah satu pemburu hingga terjatuh. Yang lain kaget dan mundur.

"KIANO!" seru Wati.

Dari berbagai arah, kancil-kancil lain mulai bermunculan. Puluhan ekor. Mereka mengelilingi para pemburu itu, memekik dengan suara keras. Para pemburu ketakutan.

"Ini... ini kerajaan kancil!" teriak salah satu.

"MINGGIR! MINGGIR!"

Mereka lari tunggang-langgang meninggalkan senapan dan peralatan mereka.

Raka, Wati, dan Bejo hanya bisa terpaku. Kiano dan kawanannya telah menyelamatkan mereka.

Raka berlutut, memeluk Kiano. "Kiano... makasih. Makasih banyak."

Kiano menjilati wajah Raka. Matanya berkata, "Aku akan selalu melindungi kalian."

Wati dan Bejo ikut berlutut, mengelus Kiano. Kawanan kancil lain berkumpul di sekitar mereka, seperti memberi perlindungan.

Momen itu mengharukan. Tiga sahabat dan kawanan kancil, bersatu di tengah bahaya.

Bejo menatap Raka. "Ra... lo tadi... lo lindungin gue."

Raka mengangguk. "Lo sahabat gue, Jo. Apapun yang terjadi."

Bejo terharu. Ia memeluk Raka erat-erat. "Maafin gue, Ra. Gue... gue cemburu."

"Gue juga minta maaf, Jo. Kita sama-sama salah."

Wati memandang mereka dengan tatapan bingung. "Tunggu... cemburu? Cemburu sama siapa?"

Raka dan Bejo saling pandang. Lalu mereka berdua menatap Wati.

"Ti... kita harus ngomong sama lo."

Setelah memastikan para pemburu itu benar-benar pergi, mereka bertiga duduk di bawah pohon beringin di titik Beringin. Kiano duduk di samping mereka, setia menemani.

Raka membuka suara. "Ti, gue dan Jo... kita... kita sama-sama suka sama lo."

Wati terkejut. "Apa?"

Bejo mengangguk. "Iya, Ti. Gue suka lo. Udah lama. Raka juga."

Wati terdiam. Wajahnya memerah. Ia tidak tahu harus berkata apa.

"Kami nggak mau ini rusak persahabatan kita," sambung Raka. "Tapi kami juga nggak tahu harus gimana."

Wati mengambil napas panjang. Ia menatap mereka berdua bergantian.

"Ra, Jo... kalian sahabat terbaik yang pernah gue punya. Kalian selalu ada buat gue. Tapi... gue belum siap untuk hubungan seperti itu. Gue masih mau fokus sama konservasi, sama kuliah, sama masa depan."

Raka dan Bejo diam mendengarkan.

"Tapi yang paling penting, gue nggak mau kehilangan kalian. Gue nggak mau tim ini bubar hanya karena perasaan yang belum jelas."

Bejo bertanya, "Jadi... kita harus gimana?"

Wati tersenyum. "Kita tetap bersahabat. Seperti dulu. Kalau memang jodoh, nanti akan ketemu jalannya sendiri. Tapi sekarang, kita masih punya banyak misi. Banyak yang harus kita lakukan. Kiano dan kawanannya masih butuh kita."

Raka dan Bejo saling pandang. Lalu mereka tersenyum.

"Oke. Setuju," kata Raka.

"Gue setuju," kata Bejo.

Mereka bertiga berpelukan. Kiano ikut merapat, menyandarkan kepalanya di tengah-tengah mereka.

Sepulang dari hutan, suasana di antara mereka terasa lebih ringan. Beban yang selama ini mengganjal, akhirnya lepas.

Mereka tertawa dan bercanda seperti dulu. Bejo meledek Raka yang kaku waktu pegangan tangan dengan Wati. Wati memukul-mukul Bejo dengan buku catatan. Raka tertawa melihat tingkah mereka.

"Makan yuk! Gue traktir!" seru Bejo.

"Lo nggak punya uang, Jo."

"Ini ada. Hasil jualan katering gue kemarin."

Mereka pergi ke warung RASA. Pesan makanan dan minuman. Duduk seperti biasa. Tertawa seperti biasa. Persahabatan mereka kembali utuh.

Pak Darmo, pemilik warung, tersenyum melihat mereka. "Wah, anak-anak udah akur lagi?"

"Kami selalu akur, Pak," jawab Wati.

"Tapi tadi sempat ribut, ya?"

"Itu mah diskusi, Pak. Bukan ribut."

Semua tertawa.

Malam harinya, Raka sendirian ke Lembah Harapan. Ia ingin bertemu Kiano, mengucapkan terima kasih sekali lagi.

Kiano sudah menunggu di tepi sungai. Begitu melihat Raka, ia berlari mendekat.

"Kiano, makasih buat hari ini. Lo selamatkan kami."

Kiano menjilati tangannya. Matanya hangat.

"Lo tahu nggak, Kiano? Gue dan Jo sempat bermasalah. Karena Wati. Tapi sekarang udah baikan."

Kiano menggerakkan telinganya.

"Lo pasti nggak ngerti, ya? Atau mungkin lo ngerti? Soal perasaan?"

Kiano mendekat, menyandarkan kepalanya di pangkuan Raka. Seperti Kai dulu. Seperti Kai Muda dulu.

"Kai... Kai Muda... mereka pasti bangga sama lo."

Mereka duduk bersama cukup lama, menikmati malam di Lembah Harapan. Raka merasa tenang. Persahabatan yang sempat goyah, kini kembali kokoh. Dan ia bersyukur.

Keesokan harinya, Tim Detektif Remaja berkumpul di markas. Mereka membahas laporan tentang para pemburu itu dan rencana untuk meningkatkan keamanan hutan.

"Kita harus pasang lebih banyak kamera jebak," kata Raka.

"Dan patroli harus lebih sering," tambah Wati.

"Gue siap jaga malam!" seru Bejo.

"Lo? Jaga malam? Nanti ketiduran."

"Heh! Gue udah berubah! Nggak kayak dulu."

Mereka tertawa. Suasana hangat kembali.

Kiano datang berkunjung. Ia duduk di pintu markas, seperti anggota kehormatan.

Wati menatap Raka dan Bejo. "Lo berdua udah baikan beneran?"

"Udah, Ti. Kami sadar, persahabatan lebih penting dari apapun," jawab Raka.

Bejo mengangguk. "Iya. Siapa yang dapat Wati nanti, itu urusan nanti. Sekarang kita fokus dulu jadi tim."

Wati tersenyum. "Makasih, kawan."

Mereka bertiga berjabat tangan. Kiano mendekat, ikut meletakkan kepalanya di atas tangan mereka. Empat sahabat, berbeda spesies, tapi satu hati.

Di luar, matahari bersinar cerah. Hutan Manoreh hijau dan damai. Petualangan masih panjang, tapi mereka siap menghadapinya bersama.


BERSAMBUNG KE EPISODE 5: PEMBURU LIAR BERTOPENG

 


0 komentar:

Posting Komentar