DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari
Edisi III: Misteri di Balik Senja
EPISODE 4: CEMBURU DI ANTARA SAHABAT
Seminggu telah berlalu sejak penyelamatan Kiano. Para
pemburu itu sudah ditangkap polisi berkat laporan Pak Jarwo. Bos Gito dan
sindikatnya kini mendekam di tahanan, menunggu proses hukum. Hutan Manoreh
kembali aman. Kiano pulih sepenuhnya dan sudah kembali memimpin kawanannya
dengan bijaksana.
Tapi di markas Tim Detektif Remaja, suasana terasa berbeda.
Raka duduk di kursi kayu dekat jendela, memandangi hutan
tanpa benar-benar melihat. Pikirannya melayang entah ke mana. Di meja,
secangkir kopinya sudah dingin sejak setengah jam lalu.
Wati datang dengan langkah gembira, membawa nampan berisi
pisang goreng buatan ibunya. "Ra, sarapan! Ini pisang goreng kesukaan lo.
Baru matang, masih anget."
Raka menoleh, tersenyum tipis. "Makasih, Ti. Taruh aja
di meja."
Wati mengerutkan kening. Biasanya Raka langsung melahap
pisang goreng dengan lahap. Tapi hari ini? Dingin. Acuh.
"Lo sakit, Ra?" tanya Wati sambil mendekat.
"Nggak. Gue sehat."
"Terus kenapa diem aja?"
"Nggak apa-apa. Capek aja."
Wati menghela napas. Ia tahu Raka sedang tidak jujur. Tapi
ia tidak ingin memaksa. Ia meletakkan pisang goreng itu di meja, lalu duduk di
kursi sebelahnya.
Bejo masuk dengan heboh seperti biasa. "Gue datang!
Ada gorengan? Lapar nih!"
Begitu melihat pisang goreng di meja, ia langsung
meraihnya. "Wah, pisang goreng! Makasih, Ti!"
"Iya, Jo. Makan aja."
Bejo melahap pisang goreng itu dengan lahap, tidak
menyadari suasana canggung di sekitarnya. "Enak banget! Lo harus cobain,
Ra!"
Raka hanya mengangguk, tidak bergerak.
Bejo berhenti mengunyah. Ia menatap Raka, lalu Wati, lalu
Raka lagi. "Eh, ada apa? Kok berdua diem aja?"
Wati mengangkat bahu. "Nggak tahu. Tanya Raka."
Bejo menelan pisangnya. "Ra, lo kenapa? Kok kayak
orang bingung?"
Raka akhirnya berbicara. "Nggak apa-apa, Jo. Gue cuma
mikir."
"Pikir apa?"
"Banyak."
Wati dan Bejo saling pandang. Ini tidak biasa. Raka yang
biasanya ceria dan terbuka, sekarang tertutup dan dingin.
Sore harinya, mereka bertiga pergi ke hutan untuk memeriksa
bak-bak air dan kondisi kawanan kancil. Ini rutinitas mingguan yang tidak
pernah mereka lewatkan.
Kiano sudah menunggu di titik Beringin. Begitu melihat
mereka, ia berlari mendekat, menyapa satu per satu dengan menjilati tangan
mereka.
Raka mengelus kepala Kiano dengan lembut. "Hai, Kiano.
Sehat, ya?"
Kiano menggerakkan telinganya, menjawab dengan bahasa
tubuhnya.
Wati mendekat, ikut mengelus Kiano. "Dia kangen lo,
Ra. Lihat, matanya berbinar-binar."
Tanpa sengaja, tangan Wati menyentuh tangan Raka yang
sedang mengelus Kiano. Sentuhan itu hanya sesaat, tapi cukup membuat Raka
tersentak.
Ia menarik tangannya cepat, terlalu cepat. Wajahnya
memerah.
Wati bingung. "Ra? Kenapa?"
"Nggak... nggak apa-apa."
Bejo yang melihat kejadian itu dari kejauhan, ikut
mendekat. "Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, Jo. Ayo kita cek bak air."
Raka berjalan cepat meninggalkan mereka. Wati dan Bejo
hanya bisa saling pandang dengan tatapan bingung.
Malam harinya, Raka tidak bisa tidur. Ia duduk di teras
rumahnya, memandangi bulan yang bersinar terang. Pikirannya kacau.
Sentuhan tadi siang masih terasa di tangannya. Hangat.
Lembut. Dan itu membuat jantungnya berdebar seperti mau copot.
"Gue kenapa, sih?" gumamnya sendiri.
Ia teringat Wati. Wati yang selalu ada untuknya. Wati yang
berani, yang cerdas, yang setia. Selama ini ia menganggap Wati sebagai sahabat
terbaik. Tapi belakangan ini, ada perasaan lain yang tumbuh. Perasaan yang
tidak ia mengerti.
"Lo lagi mikirin Wati, ya?"
Raka tersentak. Bejo tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Jo?! Lo dari mana?"
"Dari rumah. Nggak bisa tidur. Lihat lo di sini, gue
dateng."
Raka diam. Bejo juga diam beberapa saat.
"Ra, gue tahu," kata Bejo akhirnya.
"Tahu apa?"
"Tahu lo suka sama Wati."
Raka terkejut. "Jo, lo ngomong apa?"
"Gue lihat cara lo lihat Wati belakangan ini. Beda.
Gue juga lihat cara lo bereaksi tadi siang. Lo suka sama dia, Ra. Nggak usah
dipungkiri."
Raka diam. Tidak bisa membantah.
"Gue... gue nggak tahu, Jo. Gue bingung."
Bejo menghela napas panjang. "Lo tahu nggak, Ra? Gue
juga suka sama Wati."
Raka menoleh cepat. "Apa?"
"Iya. Gue suka sama dia. Udah lama. Sejak kita masih
kecil, mungkin. Tapi gue nggak pernah bilang."
Mereka berdua diam. Suasana yang tadinya hangat, kini
berubah dingin. Canggung. Tidak nyaman.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya suara
jangkrik yang terdengar di kegelapan malam.
"Jadi... kita sekarang saingan?" tanya Raka
pelan.
"Gue nggak tahu, Ra. Yang gue tahu, Wati adalah
sahabat kita. Yang paling penting buat kita. Gue nggak mau kehilangan dia hanya
karena perasaan ini."
"Gue juga nggak mau. Tapi gimana caranya?"
Bejo menghela napas. "Gue nggak tahu. Tapi yang pasti,
kita nggak boleh biarin ini rusak persahabatan kita."
Mereka berdua diam lagi. Rasanya aneh. Setelah
bertahun-tahan bersahabat, tiba-tiba ada jarak yang memisahkan.
"Gue pulang dulu," kata Bejo akhirnya.
"Jo..."
Bejo berhenti, tidak menoleh.
"Gue nggak mau kehilangan lo. Apapun yang
terjadi."
Bejo diam beberapa saat. Lalu berkata, "Gue juga,
Ra."
Ia pergi, meninggalkan Raka yang duduk termenung di teras.
Keesokan harinya, di markas, Wati merasakan keanehan. Raka
dan Bejo datang bersama, tapi mereka tidak duduk bersebelahan seperti biasa.
Mereka duduk terpisah, jarang bicara, dan ketika bicara pun hanya sepatah dua
patah kata.
"Ra, Jo, kalian kenapa?" tanya Wati akhirnya.
"Nggak apa-apa," jawab mereka hampir bersamaan.
"Bohong. Pasti ada apa-apa. Cerita sama gue."
Raka dan Bejo saling pandang. Tidak ada yang mau memulai.
Wati menghela napas. "Baiklah. Kalau kalian nggak mau
cerita, gue nggak bisa maksa. Tapi ingat, kita ini tim. Kita ini sahabat.
Apapun masalahnya, kita harus hadapi bersama."
Ia berdiri dan pergi meninggalkan markas. Raka dan Bejo
hanya bisa diam.
Beberapa hari kemudian, mereka mendapat tugas dari Pak
Kades. Ada laporan tentang jejak-jejak aneh di dekat Lembah Terlarang. Mungkin
ada wisatawan yang masuk tanpa izin. Mereka harus menyelidiki.
Perjalanan ke Lembah Terlarang biasanya selalu seru. Mereka
bertiga akan bercanda, tertawa, sesekali berdebat tentang arah yang benar. Tapi
kali ini, suasana berbeda. Sunyi. Canggung. Tidak nyaman.
"Ra, menurut lo ini jejak apa?" tanya Wati sambil
menunjuk jejak di tanah.
Raka mendekat, mengamati. "Kayaknya jejak sepatu
gunung. Mungkin pendaki."
"Atau pemburu lagi?" tanya Bejo.
"Bisa jadi. Tapi... tunggu." Raka berjongkok,
mengamati lebih teliti. "Ini aneh. Jejaknya bolak-balik. Seperti orang
yang mondar-mandir di sini."
"Mungkin mereka bingung arah," kata Wati.
"Atau mungkin mereka menunggu sesuatu."
Mereka bertiga mengikuti jejak itu. Semakin ke dalam,
semakin banyak jejak yang ditemukan. Bukan hanya satu orang, tapi beberapa.
Tiba-tiba, Raka menginjak sesuatu yang licin. Ia hampir
jatuh, tapi Wati cepat-cepat menangkapnya.
"Hati-hati, Ra!" seru Wati sambil memegang lengan
Raka.
Mereka berhadapan. Berdekatan. Terlalu dekat.
Raka merasa jantungnya mau copot. Wajah Wati hanya beberapa
sentimeter dari wajahnya. Ia bisa melihat bulu mata Wati yang panjang, bisa
mencium aroma rambutnya yang khas.
"Ra..." bisik Wati.
Raka tersadar. Ia melepaskan diri dengan cepat.
"Maaf... maaf..."
Bejo yang melihat dari kejauhan, memalingkan muka. Dadanya
terasa sesak.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang
canggung. Jejak itu membawa mereka ke sebuah gua kecil di balik semak-semak. Di
mulut gua, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Perangkap. Banyak perangkap. Jerat-jerat kawat terpasang di
berbagai titik. Beberapa umpan diletakkan di dekatnya.
"Ini... ini perangkap pemburu!" seru Wati.
"Iya. Dan masih baru. Berarti mereka masih di sekitar
sini."
Mereka mengamati sekeliling dengan waspada. Tiba-tiba, dari
balik gua, muncul dua orang. Mereka memakai topeng dan membawa senapan angin.
"Anak-anak nakal! Mau mencuri umpan kami, ya?"
teriak salah satu.
"KAMI BUKAN PENCURI! KALIAN YANG SALAH! INI HUTAN
LINDUNG!" teriak Raka.
Mereka berusaha lari, tapi tiba-tiba Bejo tersandung akar
pohon dan jatuh. Para pemburu itu mendekat.
"Jo!" teriak Wati.
Tanpa berpikir, Raka berbalik dan berlari ke arah Bejo. Ia
berdiri di depan sahabatnya, melindunginya.
"Jangan sentuh dia!" teriak Raka.
Para pemburu itu tertawa. "Wah, anak kecil mau jadi
pahlawan?"
Mereka mengangkat senapan. Raka memejamkan mata.
Tiba-tiba, dari balik semak, Kiano melompat. Ia menabrak
salah satu pemburu hingga terjatuh. Yang lain kaget dan mundur.
"KIANO!" seru Wati.
Dari berbagai arah, kancil-kancil lain mulai bermunculan.
Puluhan ekor. Mereka mengelilingi para pemburu itu, memekik dengan suara keras.
Para pemburu ketakutan.
"Ini... ini kerajaan kancil!" teriak salah satu.
"MINGGIR! MINGGIR!"
Mereka lari tunggang-langgang meninggalkan senapan dan
peralatan mereka.
Raka, Wati, dan Bejo hanya bisa terpaku. Kiano dan
kawanannya telah menyelamatkan mereka.
Raka berlutut, memeluk Kiano. "Kiano... makasih.
Makasih banyak."
Kiano menjilati wajah Raka. Matanya berkata, "Aku
akan selalu melindungi kalian."
Wati dan Bejo ikut berlutut, mengelus Kiano. Kawanan kancil
lain berkumpul di sekitar mereka, seperti memberi perlindungan.
Momen itu mengharukan. Tiga sahabat dan kawanan kancil,
bersatu di tengah bahaya.
Bejo menatap Raka. "Ra... lo tadi... lo lindungin
gue."
Raka mengangguk. "Lo sahabat gue, Jo. Apapun yang
terjadi."
Bejo terharu. Ia memeluk Raka erat-erat. "Maafin gue,
Ra. Gue... gue cemburu."
"Gue juga minta maaf, Jo. Kita sama-sama salah."
Wati memandang mereka dengan tatapan bingung.
"Tunggu... cemburu? Cemburu sama siapa?"
Raka dan Bejo saling pandang. Lalu mereka berdua menatap
Wati.
"Ti... kita harus ngomong sama lo."
Setelah memastikan para pemburu itu benar-benar pergi,
mereka bertiga duduk di bawah pohon beringin di titik Beringin. Kiano duduk di
samping mereka, setia menemani.
Raka membuka suara. "Ti, gue dan Jo... kita... kita
sama-sama suka sama lo."
Wati terkejut. "Apa?"
Bejo mengangguk. "Iya, Ti. Gue suka lo. Udah lama.
Raka juga."
Wati terdiam. Wajahnya memerah. Ia tidak tahu harus berkata
apa.
"Kami nggak mau ini rusak persahabatan kita,"
sambung Raka. "Tapi kami juga nggak tahu harus gimana."
Wati mengambil napas panjang. Ia menatap mereka berdua
bergantian.
"Ra, Jo... kalian sahabat terbaik yang pernah gue
punya. Kalian selalu ada buat gue. Tapi... gue belum siap untuk hubungan
seperti itu. Gue masih mau fokus sama konservasi, sama kuliah, sama masa depan."
Raka dan Bejo diam mendengarkan.
"Tapi yang paling penting, gue nggak mau kehilangan
kalian. Gue nggak mau tim ini bubar hanya karena perasaan yang belum
jelas."
Bejo bertanya, "Jadi... kita harus gimana?"
Wati tersenyum. "Kita tetap bersahabat. Seperti dulu.
Kalau memang jodoh, nanti akan ketemu jalannya sendiri. Tapi sekarang, kita
masih punya banyak misi. Banyak yang harus kita lakukan. Kiano dan kawanannya
masih butuh kita."
Raka dan Bejo saling pandang. Lalu mereka tersenyum.
"Oke. Setuju," kata Raka.
"Gue setuju," kata Bejo.
Mereka bertiga berpelukan. Kiano ikut merapat, menyandarkan
kepalanya di tengah-tengah mereka.
Sepulang dari hutan, suasana di antara mereka terasa lebih
ringan. Beban yang selama ini mengganjal, akhirnya lepas.
Mereka tertawa dan bercanda seperti dulu. Bejo meledek Raka
yang kaku waktu pegangan tangan dengan Wati. Wati memukul-mukul Bejo dengan
buku catatan. Raka tertawa melihat tingkah mereka.
"Makan yuk! Gue traktir!" seru Bejo.
"Lo nggak punya uang, Jo."
"Ini ada. Hasil jualan katering gue kemarin."
Mereka pergi ke warung RASA. Pesan makanan dan minuman.
Duduk seperti biasa. Tertawa seperti biasa. Persahabatan mereka kembali utuh.
Pak Darmo, pemilik warung, tersenyum melihat mereka.
"Wah, anak-anak udah akur lagi?"
"Kami selalu akur, Pak," jawab Wati.
"Tapi tadi sempat ribut, ya?"
"Itu mah diskusi, Pak. Bukan ribut."
Semua tertawa.
Malam harinya, Raka sendirian ke Lembah Harapan. Ia ingin
bertemu Kiano, mengucapkan terima kasih sekali lagi.
Kiano sudah menunggu di tepi sungai. Begitu melihat Raka,
ia berlari mendekat.
"Kiano, makasih buat hari ini. Lo selamatkan
kami."
Kiano menjilati tangannya. Matanya hangat.
"Lo tahu nggak, Kiano? Gue dan Jo sempat bermasalah.
Karena Wati. Tapi sekarang udah baikan."
Kiano menggerakkan telinganya.
"Lo pasti nggak ngerti, ya? Atau mungkin lo ngerti?
Soal perasaan?"
Kiano mendekat, menyandarkan kepalanya di pangkuan Raka.
Seperti Kai dulu. Seperti Kai Muda dulu.
"Kai... Kai Muda... mereka pasti bangga sama lo."
Mereka duduk bersama cukup lama, menikmati malam di Lembah
Harapan. Raka merasa tenang. Persahabatan yang sempat goyah, kini kembali
kokoh. Dan ia bersyukur.
Keesokan harinya, Tim Detektif Remaja berkumpul di markas.
Mereka membahas laporan tentang para pemburu itu dan rencana untuk meningkatkan
keamanan hutan.
"Kita harus pasang lebih banyak kamera jebak,"
kata Raka.
"Dan patroli harus lebih sering," tambah Wati.
"Gue siap jaga malam!" seru Bejo.
"Lo? Jaga malam? Nanti ketiduran."
"Heh! Gue udah berubah! Nggak kayak dulu."
Mereka tertawa. Suasana hangat kembali.
Kiano datang berkunjung. Ia duduk di pintu markas, seperti
anggota kehormatan.
Wati menatap Raka dan Bejo. "Lo berdua udah baikan
beneran?"
"Udah, Ti. Kami sadar, persahabatan lebih penting dari
apapun," jawab Raka.
Bejo mengangguk. "Iya. Siapa yang dapat Wati nanti,
itu urusan nanti. Sekarang kita fokus dulu jadi tim."
Wati tersenyum. "Makasih, kawan."
Mereka bertiga berjabat tangan. Kiano mendekat, ikut
meletakkan kepalanya di atas tangan mereka. Empat sahabat, berbeda spesies,
tapi satu hati.
Di luar, matahari bersinar cerah. Hutan Manoreh hijau dan
damai. Petualangan masih panjang, tapi mereka siap menghadapinya bersama.
BERSAMBUNG KE EPISODE 5:
PEMBURU LIAR BERTOPENG






0 komentar:
Posting Komentar