Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Rabu, 18 Maret 2026

Detektif Remaja Bojong Sari Episode 5: Pemburu Liar Bertopeng

 

DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI

Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari

Edisi III: Misteri di Balik Senja


EPISODE 5: PEMBURU LIAR BERTOPENG

Pagi itu, suasana markas Tim Detektif Remaja sedang santai. Raka membaca buku tentang konservasi hutan, Wati menulis jurnal pengamatan satwa, dan Bejo—seperti biasa—sedang melahap sepiring nasi goreng buatan sendiri.

Handy talkie mereka tiba-tiba berderak. Suara Pak Jarwo terdengar, agak terburu-buru.

"Raka, Wati, Bejo, cepat ke pos perbatasan! Ada sesuatu yang harus kalian lihat!"

Raka langsung berdiri. "Ada apa, Pak?"

"Jangan tanya dulu! Cepat datang!"

Mereka bertiga segera berlari meninggalkan markas. Pos perbatasan terletak di pinggir desa, dekat dengan jalan masuk utama ke hutan. Biasanya dijaga oleh dua orang warga secara bergiliran.

Sesampainya di sana, mereka melihat Pak Jarwo sedang berdiri di depan sebuah papan pengumuman. Wajahnya tegang. Di tangannya, ia memegang selembar kertas.

"Pak, ada apa?" tanya Raka sambil terengah-engah.

Pak Jarwo menyerahkan kertas itu. "Lihat sendiri."

Raka membaca kertas itu. Matanya membelalak. Wati dan Bejo ikut membaca di sampingnya.

Isinya singkat, tapi mengerikan:

"Kami akan datang. Kancil-kancil kalian akan kami ambil. Jangan coba-coba menghalangi."

Tanda tangannya bukan nama, tapi gambar topeng.

"Ini... ini ancaman," bisik Wati.

"Iya. Dan lihat, ini ditempel di pos perbatasan. Berarti mereka sudah masuk ke wilayah kita."

Bejo menggigit bibir. "Gue merinding."

Pak Kades segera mengumpulkan warga untuk rapat darurat. Balai desa penuh sesak dalam hitungan menit. Wajah-wajah tegang menghiasi ruangan.

Pak Kades berdiri di depan dengan mikrofon. "Saudara-saudara, kita menerima ancaman serius. Ada orang atau kelompok yang mengincar kancil-kancil kita. Mereka meninggalkan surat ancaman di pos perbatasan."

Warga mulai berbisik-bisik. Suasana semakin mencekam.

Pak Jarwo maju ke depan. "Saya punya pengalaman dengan pemburu liar. Mereka biasanya tidak akan kasih ancaman dulu. Mereka langsung beraksi. Tapi yang ini beda. Mereka kasih ancaman dulu. Berarti mereka percaya diri. Atau mungkin... mereka ingin menakut-nakuti kita."

"Maksud Pak Jarwo?" tanya Guntur yang kini sudah beristri dan punya anak.

"Mungkin mereka ingin kita panik. Kalau kita panik, kita bisa membuat kesalahan. Dan mereka bisa memanfaatkan kesalahan itu."

Raka, yang duduk di barisan depan, mengangkat tangan. "Pak, kami punya usul."

Semua menoleh. Raka, Wati, dan Bejo maju ke depan.

"Biarkan kami yang menangani ini," kata Raka tegas.

"Kalian? Anak-anak?" seseorang berkomentar.

"Kami bukan anak-anak lagi. Kami sudah remaja. Dan kami yang paling tahu hutan. Kami yang paling dekat dengan kawanan kancil. Biarkan kami yang menyelidiki."

Pak Kades diam beberapa saat. Lalu menatap Pak Jarwo. "Menurutmu, Jarwo?"

Pak Jarwo mengangguk. "Mereka sudah berkali-kali membuktikan diri. Saya percaya mereka."

Pak Kades menghela napas. "Baiklah. Tapi kalian tidak sendirian. Pak Jarwo, kawal mereka. Guntur, kumpulkan beberapa pemuda untuk berjaga. Kita hadapi ini bersama."

Kembali di markas, Tim Detektif Remaja mengadakan rapat kecil. Pak Jarwo ikut bergabung.

"Pertama, kita harus cari tahu siapa mereka," buka Raka. "Pak Jarwo, Bapak punya kenalan di dunia pemburu liar?"

Pak Jarwo tersenyum tipis. "Dulu punya banyak. Tapi setelah saya tobat, saya putus kontak dengan mereka. Tapi saya masih tahu beberapa nama."

"Bisa hubungi mereka? Tanyain apa ada yang tahu soal kelompok bertopeng ini?"

"Saya coba. Tapi kalau mereka masih aktif, mungkin mereka akan curiga."

Wati menambahkan, "Kita juga harus tingkatkan pengamanan di titik-titik rawan. Titik Beringin, Lembah Harapan, dan Lembah Terlarang."

Bejo mengangkat tangan. "Gue bisa jaga malam. Udah biasa begadang."

"Lo? Jaga malam? Nanti ketiduran, Jo."

"Heh! Sekarang gue udah kuat. Nggak kayak dulu."

Mereka tertawa kecil. Ketegangan sedikit reda.

Dua malam kemudian, Bejo yang sedang berjaga di dekat titik Beringin, melihat sesuatu. Awalnya ia kira hanya bayangan. Tapi setelah diamati, bayangan itu bergerak.

"Ra, Ti, Pak Jarwo... ada yang bergerak di dekat titik Beringin," bisik Bejo lewat handy talkie.

"Siapa? Berapa banyak?" tanya Raka.

"Nggak tahu. Tapi keliatannya dua orang. Mereka pakai sesuatu di wajah... seperti topeng!"

Raka merinding. "Jangan bergerak. Kita datang."

Dalam hitungan menit, Raka, Wati, dan Pak Jarwo sudah bergabung dengan Bejo. Dari kejauhan, mereka melihat dua sosok bergerak perlahan di sekitar titik Beringin. Mereka memakai pakaian serba hitam dan topeng hitam yang menutupi seluruh wajah.

"Itu mereka," bisik Pak Jarwo.

"Kita tangkap?" tanya Bejo.

"Tunggu. Lihat dulu apa yang mereka lakukan."

Kedua sosok itu berhenti di dekat bak air. Mereka mengeluarkan sesuatu dari tas. Seperti bubuk. Lalu menaburkannya di sekitar bak.

"Mereka menabur sesuatu," kata Wati cemas.

"Racun?" tanya Raka.

"Mungkin."

Pak Jarwo tidak bisa menahan diri lagi. "SEKARANG!" teriaknya.

Mereka berlari ke arah kedua sosok itu. Tapi para pemburu bertopeng itu sudah siap. Mereka berlari cepat ke arah hutan, menghilang di balik kegelapan.

Pak Jarwo dan Raka mengejar, tapi para pemburu itu terlalu cepat dan tahu betul medan. Mereka berhasil kabur.

Kembali di titik Beringin, mereka mengamati bubuk yang ditaburkan. Warnanya putih keabu-abuan, agak mengkilap.

"Jangan sentuh dulu," peringat Pak Jarwo. "Bisa beracun."

Wati, yang punya pengetahuan tentang bahan kimia dari sekolahnya, mengambil sampel dengan hati-hati menggunakan daun. "Aku bawa ke laboratorium sekolah. Bu Guru Siti punya alat sederhana untuk uji bahan."

Keesokan harinya, Wati pergi ke sekolah menemui Bu Guru Siti—guru mereka dulu yang kini sudah pensiun tapi masih sering ke sekolah untuk membantu. Bu Guru Siti terkejut melihat sampel itu.

"Ini... ini kapur barus," katanya setelah menguji.

"Kapur barus? Buat apa?"

"Kapur barus biasanya untuk mengusir serangga. Tapi dalam dosis besar, bisa berbahaya bagi hewan kecil. Menyebabkan iritasi pernapasan, bahkan kematian."

Wati terkejut. "Berarti mereka mau meracuni kancil-kancil?"

"Bisa jadi. Atau setidaknya membuat mereka lemah, lalu mudah ditangkap."

Kembali di markas, Wati melaporkan temuannya. Semua tegang.

"Ini lebih serius dari yang kita kira," kata Raka. "Mereka tidak main-main. Mereka siap membunuh."

Pak Jarwo mengangguk. "Kita harus lebih pintar dari mereka."

"Aku punya ide," kata Bejo tiba-tiba.

Semua menoleh. Bejo jarang punya ide, jadi kalau dia bicara, pasti menarik.

"Coba dengar, Jo."

"Kita pasang perangkap. Bukan untuk menangkap mereka, tapi untuk mengetahui siapa mereka. Kita pasang kamera tersembunyi di titik-titik strategis. Dan kita pasang umpan palsu."

"Umpan palsu?"

"Iya. Kita buat boneka kancil dari kain dan kayu. Taruh di tempat yang mudah terlihat. Kalau mereka datang, mereka akan tertipu. Kamera kita akan merekam wajah mereka."

Raka, Wati, dan Pak Jarwo saling pandang. Ide Bejo ternyata brillian.

"Jo, lo jenius!" seru Wati.

Bejo tersenyum bangga. "Gue kan memang jenius. Cuma jarang keliatan."

Mereka bekerja seharian membuat boneka kancil. Wati yang jago menjahit, merangkai kain-kain bekas menjadi bentuk kancil. Bejo membuat rangka dari kayu ringan. Raka mewarnainya dengan cat alami agar mirip kancil asli. Pak Jarwo memasang kamera tersembunyi di beberapa titik.

Hasilnya? Boneka kancil yang cukup meyakinkan dari kejauhan. Tidak secantik kancil asli, tapi dalam gelap, mungkin bisa menipu.

Mereka memasang boneka itu di titik Beringin, tempat para pemburu bertopeng sebelumnya menabur racun. Kamera tersembunyi dipasang di beberapa sudut.

"Sekarang kita tunggu," kata Raka.

Malam itu, mereka berjaga dari kejauhan, bersembunyi di balik semak-semak. Handy talkie siap di tangan.

Jam menunjukkan pukul 2 dini hari ketika para pemburu bertopeng itu datang kembali. Kali ini tiga orang. Mereka bergerak lincah, seperti sudah hafal medan.

Begitu melihat boneka kancil, mereka berhenti.

"Itu dia!" bisik salah satu.

"Mudah sekali. Kayaknya mereka nggak jaga malam."

Mereka mendekati boneka itu dengan hati-hati. Salah satu mengeluarkan semacam jaring. Yang lain menyiapkan suntikan.

"Tangkap hidup-hidup. Yang ini kelihatan sehat."

Saat mereka hampir menyentuh boneka itu, Raka memberi kode.

"SEKARANG!"

Dari berbagai arah, puluhan warga dengan obor dan senter keluar dari persembunyian. Pak Jarwo, Guntur, dan para pemuda mengepung mereka.

"JANGAN BERGERAK!" teriak Pak Jarwo.

Para pemburu itu kaget. Mereka mencoba lari, tapi sudah terkepung. Warga semakin mendekat.

"BUKA TOPENG KALIAN!" perintah Pak Kades yang ikut datang.

Dengan tangan gemetar, mereka membuka topeng. Wajah mereka terlihat jelas—wajah biasa, seperti orang kebanyakan.

"Siapa kalian?" tanya Pak Kades tegas.

Di balai desa, ketiga pemburu itu duduk tertunduk. Warga berkumpul di sekitar mereka, menunggu penjelasan.

Pak Kades memimpin interogasi. "Siapa nama kalian?"

"Aku... Aku Joko. Ini Budi dan Tono."

"Dari mana?"

"Dari Jakarta, Pak."

"Jakarta? Jauh sekali. Siapa yang menyuruh kalian?"

Mereka diam. Saling pandang.

"Cepat jawab!" bentak Pak Jarwo.

Joko, yang paling tua, akhirnya bicara. "Bos Gito, Pak."

Raka, Wati, dan Bejo terkejut. Bos Gito? Yang sudah ditangkap?

"Tapi Bos Gito sudah di penjara," kata Raka.

"Iya, Kak. Tapi dia punya jaringan. Dia kasih perintah dari dalam. Kami disuruh ambil kancil. Katanya, satu ekor dihargai 100 juta."

Seratus juta? Warga terkejut. Tidak heran mereka nekat.

"Berapa banyak yang sudah kalian tangkap?" tanya Pak Kades.

"Belum satu pun, Pak. Yang kemarin sempat dapat satu, tapi kabur. Terus yang barusan, ternyata boneka."

Bejo tersenyum bangga.

Interogasi berlanjut. Ternyata jaringan Bos Gito tidak hanya mengincar kancil, tapi juga hewan langka lain dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka punya pembeli dari luar negeri yang rela membayar mahal.

"Ini lebih besar dari yang kita kira," kata Pak Kades.

"Kita harus lapor ke polisi pusat," kata Pak Jarwo. "Biar mereka yang urus jaringan ini."

Raka mengangkat tangan. "Pak, kami ingin ikut membantu. Mungkin kami bisa jadi saksi."

Pak Kades tersenyum. "Tentu, Nak. Kalian pahlawan. Tanpa kalian, mungkin kancil-kancil kita sudah dijual ke luar negeri."

Seminggu kemudian, ketiga pemburu itu sudah diserahkan ke polisi dan proses hukum berjalan. Jaringan Bos Gito mulai diungkap. Berkat informasi dari Tim Detektif Remaja, polisi berhasil menangkap beberapa anggota jaringan lainnya.

Desa Bojong Sari mengadakan syukuran. Bukan hanya karena berhasil menggagalkan pencurian, tapi juga karena kekompakan warga.

Di acara syukuran itu, Pak Kades memberikan penghargaan khusus kepada Tim Detektif Remaja.

"Raka, Wati, Bejo... kalian adalah kebanggaan desa ini. Tanpa kalian, mungkin hutan kita sudah tidak aman. Terima kasih."

Tepuk tangan bergemuruh. Mereka bertiga tersipu malu.

Bejo berbisik pada Wati, "Enak ya, dipuji gini."

"Hush, Jo. Jangan sombong."

Malam harinya, Tim Detektif Remaja duduk di titik Beringin bersama Kiano. Bulan purnama bersinar terang. Suasana damai.

"Kita berhasil lagi," kata Wati.

"Iya. Tapi perang belum selesai," kata Raka. "Masih banyak ancaman di luar sana."

"Tapi kita siap," kata Bejo mantap.

Kiano menggerakkan telinganya, setuju.

Raka memandang ke arah hutan yang tenang. "Selama kita bersama, selama kita menjaga, hutan ini akan aman."

Wati tersenyum. "Lo berdua... meskipun sempat ada masalah, tapi kita selalu bisa kembali bersama."

Bejo mengangguk. "Karena kita sahabat."

Mereka bertiga berpelukan. Kiano merapat, ikut dalam pelukan itu.

Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan terus tumbuh. Ancaman datang silih berganti, tapi mereka selalu siap. Karena mereka adalah Detektif Remaja Bojong Sari—penjaga hutan, pelindung satwa, sahabat alam.


BERSAMBUNG KE EPISODE 6: MIMPI KAI MUDA

 


0 komentar:

Posting Komentar