DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari
Edisi III: Misteri di Balik Senja
EPISODE 5: PEMBURU LIAR BERTOPENG
Pagi itu, suasana markas Tim Detektif Remaja sedang santai.
Raka membaca buku tentang konservasi hutan, Wati menulis jurnal pengamatan
satwa, dan Bejo—seperti biasa—sedang melahap sepiring nasi goreng buatan
sendiri.
Handy talkie mereka tiba-tiba berderak. Suara Pak Jarwo
terdengar, agak terburu-buru.
"Raka, Wati, Bejo, cepat ke pos perbatasan! Ada
sesuatu yang harus kalian lihat!"
Raka langsung berdiri. "Ada apa, Pak?"
"Jangan tanya dulu! Cepat datang!"
Mereka bertiga segera berlari meninggalkan markas. Pos
perbatasan terletak di pinggir desa, dekat dengan jalan masuk utama ke hutan.
Biasanya dijaga oleh dua orang warga secara bergiliran.
Sesampainya di sana, mereka melihat Pak Jarwo sedang
berdiri di depan sebuah papan pengumuman. Wajahnya tegang. Di tangannya, ia
memegang selembar kertas.
"Pak, ada apa?" tanya Raka sambil terengah-engah.
Pak Jarwo menyerahkan kertas itu. "Lihat
sendiri."
Raka membaca kertas itu. Matanya membelalak. Wati dan Bejo
ikut membaca di sampingnya.
Isinya singkat, tapi mengerikan:
"Kami akan datang. Kancil-kancil kalian akan kami
ambil. Jangan coba-coba menghalangi."
Tanda tangannya bukan nama, tapi gambar topeng.
"Ini... ini ancaman," bisik Wati.
"Iya. Dan lihat, ini ditempel di pos perbatasan.
Berarti mereka sudah masuk ke wilayah kita."
Bejo menggigit bibir. "Gue merinding."
Pak Kades segera mengumpulkan warga untuk rapat darurat.
Balai desa penuh sesak dalam hitungan menit. Wajah-wajah tegang menghiasi
ruangan.
Pak Kades berdiri di depan dengan mikrofon.
"Saudara-saudara, kita menerima ancaman serius. Ada orang atau kelompok
yang mengincar kancil-kancil kita. Mereka meninggalkan surat ancaman di pos
perbatasan."
Warga mulai berbisik-bisik. Suasana semakin mencekam.
Pak Jarwo maju ke depan. "Saya punya pengalaman dengan
pemburu liar. Mereka biasanya tidak akan kasih ancaman dulu. Mereka langsung
beraksi. Tapi yang ini beda. Mereka kasih ancaman dulu. Berarti mereka percaya
diri. Atau mungkin... mereka ingin menakut-nakuti kita."
"Maksud Pak Jarwo?" tanya Guntur yang kini sudah
beristri dan punya anak.
"Mungkin mereka ingin kita panik. Kalau kita panik,
kita bisa membuat kesalahan. Dan mereka bisa memanfaatkan kesalahan itu."
Raka, yang duduk di barisan depan, mengangkat tangan.
"Pak, kami punya usul."
Semua menoleh. Raka, Wati, dan Bejo maju ke depan.
"Biarkan kami yang menangani ini," kata Raka
tegas.
"Kalian? Anak-anak?" seseorang berkomentar.
"Kami bukan anak-anak lagi. Kami sudah remaja. Dan
kami yang paling tahu hutan. Kami yang paling dekat dengan kawanan kancil.
Biarkan kami yang menyelidiki."
Pak Kades diam beberapa saat. Lalu menatap Pak Jarwo.
"Menurutmu, Jarwo?"
Pak Jarwo mengangguk. "Mereka sudah berkali-kali
membuktikan diri. Saya percaya mereka."
Pak Kades menghela napas. "Baiklah. Tapi kalian tidak
sendirian. Pak Jarwo, kawal mereka. Guntur, kumpulkan beberapa pemuda untuk
berjaga. Kita hadapi ini bersama."
Kembali di markas, Tim Detektif Remaja mengadakan rapat
kecil. Pak Jarwo ikut bergabung.
"Pertama, kita harus cari tahu siapa mereka,"
buka Raka. "Pak Jarwo, Bapak punya kenalan di dunia pemburu liar?"
Pak Jarwo tersenyum tipis. "Dulu punya banyak. Tapi
setelah saya tobat, saya putus kontak dengan mereka. Tapi saya masih tahu
beberapa nama."
"Bisa hubungi mereka? Tanyain apa ada yang tahu soal
kelompok bertopeng ini?"
"Saya coba. Tapi kalau mereka masih aktif, mungkin
mereka akan curiga."
Wati menambahkan, "Kita juga harus tingkatkan
pengamanan di titik-titik rawan. Titik Beringin, Lembah Harapan, dan Lembah
Terlarang."
Bejo mengangkat tangan. "Gue bisa jaga malam. Udah
biasa begadang."
"Lo? Jaga malam? Nanti ketiduran, Jo."
"Heh! Sekarang gue udah kuat. Nggak kayak dulu."
Mereka tertawa kecil. Ketegangan sedikit reda.
Dua malam kemudian, Bejo yang sedang berjaga di dekat titik
Beringin, melihat sesuatu. Awalnya ia kira hanya bayangan. Tapi setelah
diamati, bayangan itu bergerak.
"Ra, Ti, Pak Jarwo... ada yang bergerak di dekat titik
Beringin," bisik Bejo lewat handy talkie.
"Siapa? Berapa banyak?" tanya Raka.
"Nggak tahu. Tapi keliatannya dua orang. Mereka pakai
sesuatu di wajah... seperti topeng!"
Raka merinding. "Jangan bergerak. Kita datang."
Dalam hitungan menit, Raka, Wati, dan Pak Jarwo sudah
bergabung dengan Bejo. Dari kejauhan, mereka melihat dua sosok bergerak
perlahan di sekitar titik Beringin. Mereka memakai pakaian serba hitam dan
topeng hitam yang menutupi seluruh wajah.
"Itu mereka," bisik Pak Jarwo.
"Kita tangkap?" tanya Bejo.
"Tunggu. Lihat dulu apa yang mereka lakukan."
Kedua sosok itu berhenti di dekat bak air. Mereka
mengeluarkan sesuatu dari tas. Seperti bubuk. Lalu menaburkannya di sekitar
bak.
"Mereka menabur sesuatu," kata Wati cemas.
"Racun?" tanya Raka.
"Mungkin."
Pak Jarwo tidak bisa menahan diri lagi.
"SEKARANG!" teriaknya.
Mereka berlari ke arah kedua sosok itu. Tapi para pemburu
bertopeng itu sudah siap. Mereka berlari cepat ke arah hutan, menghilang di
balik kegelapan.
Pak Jarwo dan Raka mengejar, tapi para pemburu itu terlalu
cepat dan tahu betul medan. Mereka berhasil kabur.
Kembali di titik Beringin, mereka mengamati bubuk yang
ditaburkan. Warnanya putih keabu-abuan, agak mengkilap.
"Jangan sentuh dulu," peringat Pak Jarwo.
"Bisa beracun."
Wati, yang punya pengetahuan tentang bahan kimia dari
sekolahnya, mengambil sampel dengan hati-hati menggunakan daun. "Aku bawa
ke laboratorium sekolah. Bu Guru Siti punya alat sederhana untuk uji
bahan."
Keesokan harinya, Wati pergi ke sekolah menemui Bu Guru
Siti—guru mereka dulu yang kini sudah pensiun tapi masih sering ke sekolah
untuk membantu. Bu Guru Siti terkejut melihat sampel itu.
"Ini... ini kapur barus," katanya setelah
menguji.
"Kapur barus? Buat apa?"
"Kapur barus biasanya untuk mengusir serangga. Tapi
dalam dosis besar, bisa berbahaya bagi hewan kecil. Menyebabkan iritasi
pernapasan, bahkan kematian."
Wati terkejut. "Berarti mereka mau meracuni
kancil-kancil?"
"Bisa jadi. Atau setidaknya membuat mereka lemah, lalu
mudah ditangkap."
Kembali di markas, Wati melaporkan temuannya. Semua tegang.
"Ini lebih serius dari yang kita kira," kata
Raka. "Mereka tidak main-main. Mereka siap membunuh."
Pak Jarwo mengangguk. "Kita harus lebih pintar dari
mereka."
"Aku punya ide," kata Bejo tiba-tiba.
Semua menoleh. Bejo jarang punya ide, jadi kalau dia
bicara, pasti menarik.
"Coba dengar, Jo."
"Kita pasang perangkap. Bukan untuk menangkap mereka,
tapi untuk mengetahui siapa mereka. Kita pasang kamera tersembunyi di
titik-titik strategis. Dan kita pasang umpan palsu."
"Umpan palsu?"
"Iya. Kita buat boneka kancil dari kain dan kayu.
Taruh di tempat yang mudah terlihat. Kalau mereka datang, mereka akan tertipu.
Kamera kita akan merekam wajah mereka."
Raka, Wati, dan Pak Jarwo saling pandang. Ide Bejo ternyata
brillian.
"Jo, lo jenius!" seru Wati.
Bejo tersenyum bangga. "Gue kan memang jenius. Cuma
jarang keliatan."
Mereka bekerja seharian membuat boneka kancil. Wati yang
jago menjahit, merangkai kain-kain bekas menjadi bentuk kancil. Bejo membuat
rangka dari kayu ringan. Raka mewarnainya dengan cat alami agar mirip kancil
asli. Pak Jarwo memasang kamera tersembunyi di beberapa titik.
Hasilnya? Boneka kancil yang cukup meyakinkan dari
kejauhan. Tidak secantik kancil asli, tapi dalam gelap, mungkin bisa menipu.
Mereka memasang boneka itu di titik Beringin, tempat para
pemburu bertopeng sebelumnya menabur racun. Kamera tersembunyi dipasang di
beberapa sudut.
"Sekarang kita tunggu," kata Raka.
Malam itu, mereka berjaga dari kejauhan, bersembunyi di
balik semak-semak. Handy talkie siap di tangan.
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari ketika para pemburu
bertopeng itu datang kembali. Kali ini tiga orang. Mereka bergerak lincah,
seperti sudah hafal medan.
Begitu melihat boneka kancil, mereka berhenti.
"Itu dia!" bisik salah satu.
"Mudah sekali. Kayaknya mereka nggak jaga malam."
Mereka mendekati boneka itu dengan hati-hati. Salah satu
mengeluarkan semacam jaring. Yang lain menyiapkan suntikan.
"Tangkap hidup-hidup. Yang ini kelihatan sehat."
Saat mereka hampir menyentuh boneka itu, Raka memberi kode.
"SEKARANG!"
Dari berbagai arah, puluhan warga dengan obor dan senter
keluar dari persembunyian. Pak Jarwo, Guntur, dan para pemuda mengepung mereka.
"JANGAN BERGERAK!" teriak Pak Jarwo.
Para pemburu itu kaget. Mereka mencoba lari, tapi sudah
terkepung. Warga semakin mendekat.
"BUKA TOPENG KALIAN!" perintah Pak Kades yang
ikut datang.
Dengan tangan gemetar, mereka membuka topeng. Wajah mereka
terlihat jelas—wajah biasa, seperti orang kebanyakan.
"Siapa kalian?" tanya Pak Kades tegas.
Di balai desa, ketiga pemburu itu duduk tertunduk. Warga
berkumpul di sekitar mereka, menunggu penjelasan.
Pak Kades memimpin interogasi. "Siapa nama
kalian?"
"Aku... Aku Joko. Ini Budi dan Tono."
"Dari mana?"
"Dari Jakarta, Pak."
"Jakarta? Jauh sekali. Siapa yang menyuruh
kalian?"
Mereka diam. Saling pandang.
"Cepat jawab!" bentak Pak Jarwo.
Joko, yang paling tua, akhirnya bicara. "Bos Gito,
Pak."
Raka, Wati, dan Bejo terkejut. Bos Gito? Yang sudah
ditangkap?
"Tapi Bos Gito sudah di penjara," kata Raka.
"Iya, Kak. Tapi dia punya jaringan. Dia kasih perintah
dari dalam. Kami disuruh ambil kancil. Katanya, satu ekor dihargai 100
juta."
Seratus juta? Warga terkejut. Tidak heran mereka nekat.
"Berapa banyak yang sudah kalian tangkap?" tanya
Pak Kades.
"Belum satu pun, Pak. Yang kemarin sempat dapat satu,
tapi kabur. Terus yang barusan, ternyata boneka."
Bejo tersenyum bangga.
Interogasi berlanjut. Ternyata jaringan Bos Gito tidak
hanya mengincar kancil, tapi juga hewan langka lain dari berbagai daerah di
Indonesia. Mereka punya pembeli dari luar negeri yang rela membayar mahal.
"Ini lebih besar dari yang kita kira," kata Pak
Kades.
"Kita harus lapor ke polisi pusat," kata Pak
Jarwo. "Biar mereka yang urus jaringan ini."
Raka mengangkat tangan. "Pak, kami ingin ikut
membantu. Mungkin kami bisa jadi saksi."
Pak Kades tersenyum. "Tentu, Nak. Kalian pahlawan.
Tanpa kalian, mungkin kancil-kancil kita sudah dijual ke luar negeri."
Seminggu kemudian, ketiga pemburu itu sudah diserahkan ke polisi
dan proses hukum berjalan. Jaringan Bos Gito mulai diungkap. Berkat informasi
dari Tim Detektif Remaja, polisi berhasil menangkap beberapa anggota jaringan
lainnya.
Desa Bojong Sari mengadakan syukuran. Bukan hanya karena
berhasil menggagalkan pencurian, tapi juga karena kekompakan warga.
Di acara syukuran itu, Pak Kades memberikan penghargaan
khusus kepada Tim Detektif Remaja.
"Raka, Wati, Bejo... kalian adalah kebanggaan desa
ini. Tanpa kalian, mungkin hutan kita sudah tidak aman. Terima kasih."
Tepuk tangan bergemuruh. Mereka bertiga tersipu malu.
Bejo berbisik pada Wati, "Enak ya, dipuji gini."
"Hush, Jo. Jangan sombong."
Malam harinya, Tim Detektif Remaja duduk di titik Beringin
bersama Kiano. Bulan purnama bersinar terang. Suasana damai.
"Kita berhasil lagi," kata Wati.
"Iya. Tapi perang belum selesai," kata Raka.
"Masih banyak ancaman di luar sana."
"Tapi kita siap," kata Bejo mantap.
Kiano menggerakkan telinganya, setuju.
Raka memandang ke arah hutan yang tenang. "Selama kita
bersama, selama kita menjaga, hutan ini akan aman."
Wati tersenyum. "Lo berdua... meskipun sempat ada
masalah, tapi kita selalu bisa kembali bersama."
Bejo mengangguk. "Karena kita sahabat."
Mereka bertiga berpelukan. Kiano merapat, ikut dalam pelukan
itu.
Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan terus tumbuh. Ancaman
datang silih berganti, tapi mereka selalu siap. Karena mereka adalah Detektif
Remaja Bojong Sari—penjaga hutan, pelindung satwa, sahabat alam.
BERSAMBUNG KE EPISODE 6:
MIMPI KAI MUDA






0 komentar:
Posting Komentar