DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari
Edisi III: Misteri di Balik Senja
EPISODE 7: KEDATANGAN MANTAN
Pagi itu, desa Bojong Sari dikejutkan oleh kedatangan
sebuah mobil mewah berwarna hitam mengilap. Mobil itu berhenti tepat di depan
balai desa, membuat warga yang sedang beraktivitas berhenti dan memandang
dengan rasa ingin tahu.
Dari dalam mobil, turun seorang pemuda berusia sekitar 18
tahun. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memakai kemeja putih dan celana
bahan mahal. Ia memandangi desa dengan tatapan campuran antara nostalgia dan
sedikit meremehkan.
"Masih begini-begini saja," gumamnya.
Pak Kades yang kebetulan sedang di balai desa, keluar
menyambut. "Selamat pagi, Nak. Ada perlu apa?"
Pemuda itu tersenyum. "Selamat pagi, Pak Kades. Apa
Bapak tidak kenal saya? Saya Doni. Doni Pratama. Anaknya Pak Carik."
Pak Kades terkejut. "Doni?! Yang pindah ke Jakarta
tujuh tahun lalu?"
"Iya, Pak. Saya pulang."
Kabar kepulangan Doni menyebar cepat. Warga mulai
berdatangan ke balai desa, ingin melihat anaknya Pak Carik yang dulu pergi
merantau ke Jakarta.
Pak Carik sendiri—yang kini semakin tua dan rambutnya
hampir seluruhnya putih—berlari terhuyung-huyung begitu mendengar kabar itu. Matanya
berkaca-kaca.
"Doni... Nak... kamu pulang?"
Doni menatap ayahnya dengan senyum tipis. "Iya, Yah.
Saya pulang."
Pak Carik memeluknya erat-erat. "Ayah kangen banget
sama kamu, Nak. Ibu juga. Kenapa lama banget nggak pulang-pulang?"
"Sibuk, Yah. Jakarta sibuk."
Tapi Raka, yang mengamati dari kejauhan, merasakan ada yang
aneh. Pelukan Doni terasa kaku. Matanya tidak menunjukkan kehangatan. Seperti
ia terpaksa pulang.
Sore harinya, Tim Detektif Remaja berkumpul di markas. Raka
masih memikirkan sikap Doni tadi pagi.
"Gue curiga sama dia," kata Raka.
"Curiga? Emangnya kenapa?" tanya Bejo.
"Gue nggak tahu. Tapi matanya... dingin. Nggak seperti
orang yang kangen kampung halaman."
Wati mengangguk. "Aku juga lihat. Dia memandang desa
ini dengan tatapan... meremehkan. Seperti desa kita ini kampungan."
Bejo mengangkat bahu. "Mungkin dia udah kebiasaan
hidup mewah di Jakarta. Wajar kalau lihat desa kita sederhana."
"Bukan itu, Jo. Lebih dari itu. Kayak ada maksud lain
di balik kepulangannya."
Handy talkie mereka berderak. Suara Pak Jarwo terdengar.
"Anak-anak, kalian di markas? Ada yang mau ketemu kalian."
" Siapa, Pak?"
"Doni. Anaknya Pak Carik. Katanya mau kenalan."
Mereka bertiga saling pandang. "Suruh datang ke sini,
Pak."
Doni datang dengan senyum lebarnya. Ia melihat markas
sederhana itu dengan tatapan agak meremehkan.
"Wah, ini markas kalian? Sederhana sekali. Di Jakarta,
markas organisasi biasanya gedung-gedung bertingkat."
Raka tersenyum tipis. "Kami di sini sederhana, Mas
Doni. Tapi cukup untuk kegiatan kami."
Doni duduk di kursi bambu tanpa dipersilakan. "Gue
dengar kalian ini terkenal, ya? Tim Detektif Remaja Bojong Sari. Sering masuk
berita. Sampai di Jakarta juga gue dengar."
"Syukurlah kalau begitu," kata Wati datar.
"Gue juga dengar kalian punya program konservasi
kancil. Keren, ya. Gue pengen lihat langsung. Bisa?"
Raka, Wati, dan Bejo saling pandang. Ada sesuatu di nada
suara Doni yang membuat mereka tidak nyaman. Tapi bagaimana bisa menolak
anaknya Pak Carik?
"Boleh," kata Raka akhirnya. "Besok pagi
kami ke hutan. Mas Doni bisa ikut."
Keesokan paginya, mereka bertemu di titik Beringin. Doni
datang dengan pakaian hiking mahal dan sepatu gunung bermerek. Di pinggangnya,
terselip pisau lipat yang tampak mahal.
"Wah, perlengkapan Mas Doni lengkap," komentar
Bejo.
"Biasa. Di Jakarta gue sering ikut ekspedisi. Gue
anggota pecinta alam di kampus."
Raka mengerutkan kening. "Mas Doni kuliah di
mana?"
"UI. Jurusan Biologi. Ambil konsentrasi
konservasi."
Tim Detektif Remaja terkejut. Doni ternyata punya latar
belakang yang relevan. Tapi kenapa selama ini tidak pernah pulang?
Sepanjang perjalanan di hutan, Doni menunjukkan
pengetahuannya yang luas. Ia bisa menyebut nama-nama ilmiah tumbuhan, mengenali
jejak hewan, bahkan menemukan tanaman langka yang selama ini luput dari
perhatian mereka.
"Ini Anggrek Hitam," katanya sambil menunjuk
sekuntum bunga. "Langka. Dilindungi. Kalian tahu?"
Mereka menggeleng. Jujur, mereka tidak tahu.
Sesampainya di Lembah Harapan, Kiano dan beberapa kancil
lain menyambut mereka. Tapi reaksi Kiano terhadap Doni berbeda.
Kiano mendekat, mengendus-endus Doni dengan waspada. Bulu
di punggungnya sedikit berdiri. Matanya tajam, tidak ramah seperti biasanya
saat bertemu manusia.
"Hei, kancilnya galak, ya?" komentar Doni sambil
mundur selangkah.
"Kiano biasanya ramah," kata Wati heran.
"Kiano, kenapa?"
Kiano menatap Wati, lalu kembali menatap Doni dengan
curiga. Ia menggeram pelan—hal yang tidak pernah dilakukan kancil.
"Maaf, Mas Doni. Mungkin Kiano belum kenal," kata
Raka sambil menenangkan Kiano.
Tapi Raka tahu, insting Kiano tidak pernah salah. Ada
sesuatu tentang Doni yang membuat Kiano tidak percaya.
Saat Doni asyik memotret pemandangan Lembah Harapan dengan
kamera canggihnya, Wati menarik Raka dan Bejo ke samping.
"Lo lihat reaksi Kiano?" bisik Wati.
"Iya. Aneh banget."
"Kiano nggak pernah begitu sama orang baru. Bahkan
sama Pak Jarwo dulu, langsung akrab."
Bejo menambahkan, "Gue curiga. Jangan-jangan
Doni..."
Tapi mereka tidak bisa melanjutkan karena Doni sudah
kembali.
"Tempat ini indah sekali," kata Doni dengan
senyum lebar. "Kalian hebat bisa menjaga tempat seperti ini."
Malam harinya, Tim Detektif Remaja mengadakan rapat di
markas. Mereka membahas Doni dan keanehan-keanehan yang mereka lihat.
"Pertama, kenapa dia baru pulang sekarang, setelah
tujuh tahun?" buka Raka.
"Kedua, reaksi Kiano," tambah Wati. "Hewan
punya insting. Kiano tidak suka sama dia."
"Ketiga," Bejo ikut bicara, "dia terlalu
pintar. Terlalu tahu banyak tentang hutan. Kayak... udah pernah ke sini
sebelumnya."
Raka diam. Itu poin yang menarik. Doni hafal betul
jalur-jalur di hutan, padahal katanya baru pertama kali pulang setelah tujuh
tahun.
"Gue punya firasat buruk," kata Raka akhirnya.
"Kita harus awasi dia."
Keesokan harinya, Pak Carik datang ke markas dengan wajah
bingung. Di tangannya, ia memegang sebuah map cokelat.
"Nak Raka, ini aku nemu di kamar Doni. Waktu aku
bersih-bersih, map ini jatuh dari tasku."
Raka membuka map itu. Isinya membuatnya terkejut.
Dokumen-dokumen tentang Hutan Manoreh. Peta-peta detail
dengan tanda-tanda khusus. Data populasi kancil. Foto-foto Lembah Harapan. Dan
yang paling mengerikan... daftar harga jual kancil di pasar gelap.
"Ini... ini dokumen illegal," bisik Raka.
Pak Carik terkejut. "Apa maksudmu, Nak?"
"Pak Carik, maaf saya harus bertanya. Doni... dia
kerja apa sebenarnya di Jakarta?"
Pak Carik menghela napas. "Sejujurnya... aku nggak
tahu, Nak. Dia jarang cerita. Yang jelas, dia hidup mewah. Punya mobil, punya
uang banyak. Katanya kerja di perusahaan konservasi."
Raka, Wati, dan Bejo saling pandang. Perusahaan konservasi?
Atau sindikat penjualan hewan langka?
Malam harinya, Tim Detektif Remaja mendatangi rumah Pak
Carik. Doni sedang duduk di teras, memandangi langit malam.
"Mas Doni, kami perlu bicara," kata Raka tegas.
Doni menoleh. Senyumnya masih terpasang. "Ada apa,
adik-adik?"
Raka menunjukkan map itu. "Ini kami temukan di kamar
Mas. Mau jelaskan?"
Wajah Doni berubah. Senyumnya menghilang, berganti ekspresi
dingin.
"Kalian bongkar barang-barang gue?"
"Bukan kami. Bapak Mas yang nemu waktu
bersih-bersih."
Doni diam. Matanya menyipit.
"Mas Doni, kami tahu ini data tentang hutan kami.
Tentang kancil-kancil kami. Dan ini... daftar harga jual. Mas mau jual kancil
kami?"
Doni tertawa dingin. "Dasar anak kampung. Lo pikir gue
mau jual? Ini buat penelitian."
"Penelitian? Penelitian apa yang butuh daftar harga
jual?"
Doni berdiri. Tingginya lebih dari Raka. Ia memandang
mereka dengan tatapan meremehkan.
"Denger, ya. Gue nggak perlu jelasin apa-apa ke
kalian. Urusan gue urusan gue. Kalian nggak berhak interogasi gue."
Tiba-tiba, Pak Carik keluar dari rumah. "Doni! Jangan
kasar sama mereka!"
Doni menatap ayahnya dengan dingin. "Yah, lo juga.
Jangan ikut campur. Lo nggak tahu apa-apa tentang hidup gue di Jakarta."
Keesokan harinya, Pak Jarwo datang dengan informasi
mengejutkan. Ia baru saja dihubungi kenalan lamanya di Jakarta.
"Anak-anak, gue dapet info. Doni itu bukan pegawai
perusahaan konservasi. Dia anggota jaringan Bos Gito."
Raka, Wati, dan Bejo terkejut. Bos Gito? Jaringan yang dulu
mencoba mencuri kano?
"Iya. Bos Gito punya banyak anak buah. Doni salah
satunya. Dia dikirim ke sini untuk memetakan hutan dan mencari titik-titik
strategis untuk penangkapan kancil."
"Berarti kepulangannya ke sini... bukan karena kangen,
tapi karena misi?"
"Tepat."
Tim Detektif Remaja merinding. Selama ini mereka hampir
tertipu. Doni berpura-pura baik, padahal mata-mata.
Mereka segera melapor ke Pak Kades. Pak Kades memanggil Pak
Carik dan Doni ke balai desa. Warga berkumpul, ingin tahu apa yang terjadi.
Doni datang dengan wajah dingin. Ia sudah tahu semuanya
terbongkar.
"Doni, apa benar kamu anggota jaringan Bos Gito?"
tanya Pak Kades tegas.
Doni diam. Lalu tersenyum sinis. "Iya. Memangnya
kenapa?"
Pak Carik terkejut. "Doni! Kamu... kamu..."
"Maaf, Yah. Hidup di Jakarta keras. Butuh uang. Banyak
uang. Dan jaringan ini bayar mahal."
Raka maju. "Mas Doni, Mas tahu nggak apa yang
diperbuat jaringan ini? Mereka jual hewan langka ke luar negeri. Mereka bikin
punah satwa Indonesia."
Doni tertawa. "Itu urusan mereka. Gue cari uang."
Wati tidak bisa menahan emosi. "Dasar nggak punya
hati! Pak Carik baik banget sama Mas, tapi Mas tega ngelakuin ini!"
Doni menatap Wati dengan dingin. "Diam, lo. Anak
kampung."
Pak Kades berdiri. "Doni, kamu harus pergi dari desa
ini. Sekarang juga. Kami tidak mau ada mata-mata di sini."
Pak Carik menangis. "Doni... Nak... maafkan Ayah. Ayah
gagal mendidik kamu."
Doni memandang ayahnya sebentar. Lalu berbalik dan pergi
tanpa pamit.
Setelah kepergian Doni, suasana desa kembali tenang. Tapi
ada luka yang tersisa, terutama di hati Pak Carik. Ia merasa gagal sebagai
ayah.
Raka, Wati, dan Bejo sering menjenguk Pak Carik. Mereka
mencoba menghiburnya.
"Pak, ini bukan salah Bapak," kata Raka.
"Doni sudah dewasa. Dia punya pilihan sendiri."
"Tapi sebagai ayah, aku seharusnya..."
"Pak, yang penting sekarang Bapak fokus sama diri
Bapak. Jaga kesehatan. Jangan terlalu dipikirin."
Pak Carik tersenyum tipis. "Kalian baik banget, Nak.
Makasih."
Sore harinya, Tim Detektif Remaja pergi ke Lembah Harapan.
Kiano menyambut mereka dengan hangat.
"Kiano, lo tahu, kan? Orang itu jahat," kata Raka
sambil mengelus kepala Kiano.
Kiano menggerakkan telinganya. Matanya berkata, "Aku
tahu dari awal. Aku bisa mencium niat jahatnya."
"Makasih, Kiano. Lo yang buat kami curiga."
Mereka duduk bersama di tepi sungai, menikmati sore yang
damai. Kawanan kancil bermain di sekitar mereka.
Wati memandang Kiano. "Hewan itu punya insting yang
lebih tajam dari manusia. Mereka bisa merasakan siapa yang baik dan siapa yang jahat."
Bejo mengangguk. "Makanya kita harus belajar dari
mereka."
Raka tersenyum. "Persahabatan kita dengan Kiano dan
kawanannya bukan hanya soal menjaga hutan. Tapi juga saling melindungi."
Minggu-minggu berikutnya, kehidupan di Bojong Sari kembali
normal. Tidak ada lagi mata-mata. Tidak ada lagi ancaman dari dalam. Warga
semakin kompak menjaga desa dan hutan mereka.
Pak Carik perlahan pulih dari kesedihannya. Ia lebih sering
ikut kegiatan konservasi, seolah menebus dosa anaknya.
Tim Detektif Remaja terus menjalankan tugas mereka. Kiano
tetap setia menemani. Kai Muda, meski semakin tua, masih sesekali ikut
memantau.
Suatu sore, di titik Beringin, mereka bertiga duduk bersama
Kiano. Matahari senja memancarkan cahaya keemasan.
"Kita sudah melalui banyak hal," kata Wati.
"Iya. Dari kecil sampai sekarang."
"Dan kita masih bersama."
Bejo tersenyum lebar. "Karena kita sahabat. Sahabat
sejati nggak akan pernah pisah."
Kiano menggerakkan telinganya setuju.
Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan terus bersemi.
Tantangan datang silih berganti, tapi mereka selalu siap. Karena mereka adalah
Detektif Remaja Bojong Sari—penjaga hutan, pelindung satwa, dan sahabat alam
selamanya.
BERSAMBUNG KE EPISODE 8:
PERASAAN YANG TAK TERUNGKAPKAN






0 komentar:
Posting Komentar