DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari
Edisi III: Misteri di Balik Senja
EPISODE 3: KIANO DALAM BAHAYA
Pagi itu, Raka terbangun dengan perasaan tidak enak. Ia
duduk di tepi tempat tidur, mencoba meraih firasat yang mengganggunya. Udara
pagi terasa biasa, burung-burung berkicau seperti biasanya, tapi ada sesuatu
yang hilang.
Suara Kiano. Biasanya, setiap pagi Kiano datang ke belakang
rumah Raka dan bersuara pelan, seperti menyapa. Tapi pagi ini tidak ada.
Raka segera mengambil handy talkie-nya. "Wati, Bejo,
kalian dengar suara Kiano pagi ini?"
Beberapa saat kemudian, suara Wati terdengar, agak cemas.
"Nggak, Ra. Aku juga nggak dengar. Biasanya dia lewat sini jam setengah
enam."
"Aku juga nggak dengar," suara Bejo menyusul.
"Gue udah di markas, Kiano nggak kelihatan."
Raka merasa dadanya berdebar. "Cepat kumpul di titik
Beringin. Gue firasat ada yang nggak beres."
Sepuluh menit kemudian, mereka bertiga sudah berkumpul di
bawah pohon beringin. Kiano tidak ada. Beberapa kancil lain terlihat, tapi
mereka tampak gelisah. Berlarian tak menentu, sesekali memandang ke arah dalam
hutan dengan ekspresi cemas.
"Ini aneh," kata Wati sambil mengamati
kancil-kancil itu. "Mereka panik. Lihat, ekornya bergerak-gerak terus. Itu
tanda stres."
Bejo yang sudah tidak segembul dulu, kini tampak tegang.
"Jangan-jangan Kiano kenapa-napa, Ra. Dia kan sekarang pemimpin. Kalau
sampai kenapa, kacau kawanannya."
Raka tidak menjawab. Ia sudah berlari ke arah dalam hutan,
diikuti Wati dan Bejo.
Mereka menyusuri hutan dengan cepat, mencari tanda-tanda
keberadaan Kiano. Raka yang paling ahli melacak jejak, memimpin di depan.
Matanya awas mengamati setiap inci tanah.
Setelah setengah jam berlari, ia menemukan sesuatu.
"Berhenti!" teriaknya.
Di tanah basah dekat sungai kecil, tercetak jejak-jejak
kaki. Jejak kancil, tapi tidak sendiri. Ada jejak lain. Jejak sepatu. Bukan
sepatu warga, tapi sepatu boot dengan pola khas.
"Ini jejak Kiano," kata Raka sambil menunjuk.
"Lihat, bentuk kukunya khas. Tapi di sampingnya ada jejak sepatu. Dua
orang, mungkin lebih."
Wati berjongkok mengamati. "Jejaknya masih baru.
Mungkin beberapa jam yang lalu."
Bejo menunjuk ke arah timur. "Lihat, jejaknya ke arah
sana. Tapi itu bukan jalur biasa. Itu ke arah tebing cemara."
Raka bangkit. Wajahnya tegang. "Ada orang asing di
hutan kita. Dan mereka mungkin membawa Kiano."
"Pemburu?" tanya Bejo.
"Bisa jadi. Atau penangkap hewan liar. Ingat, kancil
sekarang langka dan berharga. Banyak orang mau beli dengan harga mahal."
Wati menggigit bibir. "Kita harus cepat. Kalau mereka
sudah keluar dari hutan, kita akan kehilangan jejak."
Mereka bertiga berlari mengikuti jejak itu. Raka terus
memantau, memastikan tidak salah arah.
Jejak itu membawa mereka ke sebuah tempat yang belum pernah
mereka kunjungi sebelumnya. Sebuah padang rumput kecil di balik bukit,
tersembunyi dari pandangan. Di sana, mereka menemukan perkemahan liar.
Sebuah tenda besar berwarna hijau tua dipasang di bawah
pohon besar. Di sekitarnya, berbagai peralatan bertebaran: sangkar besi, jerat,
tali, dan yang paling mengerikan... senapan angin.
"Ini perkemahan pemburu," bisik Pak Jarwo yang
tiba-tiba muncul dari balik semak.
Raka terkejut. "Pak Jarwo?! Bapak dari mana?"
"Aku lihat kalian berlari ke sini. Aku curiga ada
apa-apa. Ternyata benar."
Pak Jarwo mengamati perkemahan itu dengan mata tajam.
Pengalamannya sebagai mantan pemburu membuatnya tahu persis apa yang terjadi.
"Mereka profesional," katanya. "Lihat peralatannya.
Sangkar besi khusus untuk kancil. Jerat dari kawat baja. Ini bukan pemburu
biasa. Ini penangkap hewan liar untuk dijual."
"Kiano?" tanya Raka cemas.
Pak Jarwo menunjuk ke arah sangkar. Di dalamnya, kosong.
Tapi ada bulu-bulu kancil berserakan di sekitarnya.
"Mereka sudah menangkap sesuatu. Tapi belum tahu
apakah Kiano atau bukan."
Raka hampir menangis. "Kita harus cari Kiano!"
"Sabar, Nak. Kita harus cari tahu dulu ke mana mereka
pergi. Lihat, jejak roda di sini. Mungkin mereka bawa kendaraan."
Mereka mengamati perkemahan itu lebih teliti. Pak Jarwo
menemukan sesuatu di balik tenda: sebuah peta buatan tangan dengan beberapa
titik ditandai.
"Ini peta hutan kita," katanya. "Lihat,
mereka sudah menandai titik-titik strategis. Titik Beringin, Lembah Harapan,
bahkan Lembah Terlarang."
"Berarti mereka sudah lama mengamati," kata Wati
ngeri.
"Iya. Dan mereka tahu persis di mana kancil-kancil
berkumpul."
Raka menunjuk satu titik di peta. "Ini tanda baru.
Mungkin lokasi mereka sekarang."
Pak Jarwo mengamati. "Itu ke arah utara, dekat jalan
setapak menuju desa seberang. Kalau mereka lewat sana, mereka bisa bawa kancil
keluar dengan mobil."
"Kita kejar!" seru Bejo.
"Tunggu." Pak Jarwo mengangkat tangan. "Kita
harus punya rencana. Mereka bersenjata. Mereka berbahaya. Kita tidak bisa asal
lari."
Raka menarik napas dalam-dalam. "Bapak benar. Kita
harus pintar."
Mereka berdiskusi cepat. Pak Jarwo akan memimpin
penyergapan karena pengalamannya. Raka, Wati, dan Bejo akan memotong jalan dari
arah berbeda. Mereka akan menggunakan handy talkie untuk koordinasi.
Setengah jam kemudian, mereka sudah berada di posisi
masing-masing. Raka bersembunyi di balik semak dekat jalan setapak. Dari
kejauhan, ia melihat dua orang berjalan. Satu membawa sangkar tertutup kain,
satu lagi membawa senapan angin.
Jantung Raka berdebar kencang. Di dalam sangkar itu, pasti
Kiano.
"Pak Jarwo, mereka sudah kelihatan," bisik Raka
lewat handy talkie.
"Siap. Wati, Bejo, kalian di posisi?"
"Siap," jawab Wati dan Bejo hampir bersamaan.
Pak Jarwo memberi kode. "Tunggu sampai mereka dekat.
Begitu aku teriak, kita serbu bareng."
Kedua pemburu itu semakin dekat. Raka bisa melihat wajah
mereka. Satu gemuk dengan kumis tebal, satu kurus dengan mata sipit. Mereka
tertawa-tawa, seperti sedang membicarakan sesuatu yang menyenangkan.
"Lumayan, dapat satu," kata yang gemuk.
"Iya. Sayang cuma satu. Tapi ini kancil muda, pasti
laku mahal."
"Besok kita cari lagi. Tempat ini surganya
kancil."
Raka mengepalkan tangan. Marah, tapi berusaha tenang.
Saat kedua pemburu itu tepat di depan Raka, Pak Jarwo
melompat dari balik pohon.
"BERHENTI!" teriaknya menggelegar.
Kedua pemburu itu kaget. Yang kurus langsung mengangkat
senapannya, tapi Pak Jarwo lebih cepat. Ia melemparkan goloknya tepat mengenai
laras senapan, membuatnya terlepas dari tangan.
"APAAN LO?" teriak yang gemuk.
Dari belakang, Raka, Wati, dan Bejo keluar dari
persembunyian. Mereka mengelilingi kedua pemburu itu.
"Kalian nggak punya hak nangkap kancil di sini!"
teriak Raka.
Pemburu gemuk itu tertawa. "Anak kecil? Ngapain kalian
di sini? Pergi sana!"
"Siapa yang anak kecil? Gue udah 17 tahun!" balas
Bejo dengan gaya sok jagoan.
Yang kurus mencoba mengambil senapannya, tapi Pak Jarwo
sudah lebih dulu menginjaknya.
"Jangan coba-coba. Gue mantan pemburu. Gue tahu semua
trik kalian."
Kedua pemburu itu terkejut. "Mantan pemburu?"
"Iya. Dan sekarang gue penjaga hutan. Jadi, kalian
berdua akan gue bawa ke kantor polisi."
Raka segera membuka kain penutup sangkar. Di dalamnya,
Kiano terbaring lemah. Tubuhnya lecet-lecet, matanya sayu. Tapi begitu melihat
Raka, matanya berbinar.
"Kiano!" Raka membuka sangkar dan mengeluarkan
Kiano dengan hati-hati.
Kiano menjilati tangan Raka. Tubuhnya gemetar, mungkin
ketakutan, mungkin kelelahan.
"Kamu selamat, Kiano. Makasih Tuhan."
Wati segera memeriksa kondisi Kiano. "Luka-luka luar,
tapi tidak parah. Dia selamat."
Bejo mengelus kepala Kiano. "Lo jangan bikin kita
takut lagi, ya."
Kiano menggerakkan telinganya. Seperti mengerti.
Pak Jarwo mengikat kedua pemburu itu dengan tali yang ia
bawa. "Kita bawa mereka ke desa. Serahkan ke polisi."
Kembali di desa, kedua pemburu itu diserahkan ke pos
keamanan. Pak Kades datang bersama beberapa perangkat desa. Polisi dari
kecamatan juga dipanggil.
Di balai desa, interogasi berlangsung. Kedua pemburu
itu—bernama Dulah dan Jali—mengaku disuruh oleh seseorang.
"Siapa dalangnya?" tanya Pak Kades tegas.
Dulah, yang gemuk, menjawab dengan suara gemetar. "Ada
bos di kota. Namanya Bos Gito. Dia yang suruh kami cari kancil. Katanya, ada
pembeli dari luar negeri yang mau bayar mahal."
"Luar negeri?" Pak Kades terkejut.
"Iya. Kancil jawa langka. Banyak kolektor hewan langka
yang mau beli."
Raka, Wati, dan Bejo yang ikut mendengarkan, saling
pandang. Ini lebih besar dari yang mereka kira. Bukan pemburu liar biasa, tapi
sindikat internasional.
Malam harinya, Tim Detektif Remaja mengadakan rapat di
markas. Suasana tegang.
"Ini bukan main-main," kata Raka. "Ada
sindikat yang mengincar kancil kita."
"Kita harus tingkatkan keamanan," kata Wati.
"Jaga hutan 24 jam."
"Tapi kita nggak punya cukup orang," bantah Bejo.
Pak Jarwo yang ikut dalam rapat, angkat bicara. "Kita
bisa minta bantuan warga. Gotong royong seperti dulu."
"Setuju. Tapi kita juga harus cari tahu siapa Bos Gito
itu. Kalau kita tangkap di sini, bisa jadi mereka kirim lagi yang lain,"
kata Raka.
Wati mengangguk. "Kita harus potong sampai ke
akarnya."
Raka diam sejenak. Lalu matanya berbinar. "Gue punya
rencana."
Keesokan harinya, Raka, Wati, dan Bejo pergi ke kota.
Mereka menemui Dulah dan Jali di tahanan polisi. Dengan bantuan polisi, mereka
mendapat informasi lebih banyak tentang Bos Gito.
Ternyata Bos Gito adalah pengusaha kaya yang memiliki toko
hewan langka di Jakarta. Ia sudah lama mencari kancil jawa untuk dijual ke
kolektor luar negeri.
Raka punya ide. Mereka akan menyamar sebagai pembeli.
Dengan bantuan polisi, mereka akan memancing Bos Gito datang ke Bojong Sari,
lalu menangkapnya.
"Ini berbahaya," kata Pak Jarwo.
"Tapi ini satu-satunya cara. Kalau kita tangkap di
sini, bisnisnya bisa berhenti," kata Raka.
Akhirnya, setelah diskusi panjang, rencana disetujui. Raka
akan berpura-pura menjadi pembeli kaya. Wati dan Bejo akan jadi asistennya. Pak
Jarwo dan polisi akan bersiap di belakang.
Seminggu kemudian, Bos Gito datang ke Bojong Sari. Ia
datang dengan mobil mewah, ditemani dua anak buahnya yang bertubuh besar dan
sangar.
Pertemuan diadakan di sebuah rumah kosong di pinggir
desa—disulap jadi tempat mewah sementara. Raka duduk di kursi utama, memakai
kemeja mahal pinjaman dari Pak Joko. Wati dan Bejo berdiri di sampingnya.
"Jadi, ini yang mau beli kancil?" sapa Bos Gito
dengan logat Jakarta kental.
"Iya, Pak Gito. Saya dengar Bapak punya akses ke
kancil jawa. Saya butuh lima ekor."
Bos Gito tersenyum lebar. "Wah, lima ekor? Itu pesanan
besar. Tapi bisa diatur. Harga satu ekor 50 juta."
Raka pura-pura berpikir. "Mahal juga. Tapi kalau
kualitas bagus, saya ambil."
"Kualitas terjamin. Anak buah saya sudah survei ke
hutan. Di sini banyak kancil."
"Nah, itu masalahnya. Saya juga dengar, di sini ada
tim yang jaga hutan. Katanya anak-anak muda."
Bos Gito tertawa. "Ah, anak-anak itu. Gampang diakali.
Mereka nggak tahu apa-apa."
Raka tersenyum tipis. "Bapak yakin?"
Tiba-tiba, pintu rumah terbuka lebar. Pak Jarwo masuk
bersama beberapa polisi bersenjata. Di belakang mereka, puluhan warga Bojong
Sari dengan wajah garang.
"SALAH SATU, PAK GITO!" teriak Pak Jarwo.
"MEREKA INI YANG JAGA HUTAN KAMI!"
Bos Gito terkejut. Anak buahnya mencoba melawan, tapi kalah
jumlah. Mereka dengan cepat dilumpuhkan polisi.
Raka berdiri, melepas kemeja mahalnya. "Perkenalkan,
Pak Gito. Saya Raka, ketua Tim Detektif Remaja Bojong Sari. Dan kami tahu
persis apa yang Bapak rencanakan."
Bos Gito hanya bisa terpaku. Ia tertipu oleh anak-anak
muda.
Malam harinya, pesta kecil diadakan di balai desa. Bos Gito
dan anak buahnya sudah dibawa polisi ke Jakarta untuk diproses hukum. Hutan
Manoreh aman.
Raka, Wati, dan Bejo duduk di titik Beringin bersama Kiano.
Kiano sudah pulih sepenuhnya, kembali lincah seperti dulu.
"Kita berhasil lagi," kata Wati.
"Iya. Tapi ini peringatan buat kita. Ancaman bisa
datang kapan saja dari mana saja," kata Raka.
Bejo mengelus kepala Kiano. "Makanya kita harus selalu
siap."
Kiano menggerakkan telinganya. Lalu menyandarkan kepala di
pangkuan Raka.
Pak Jarwo datang bergabung. "Kalian hebat. Dulu kalian
anak-anak, sekarang kalian remaja, tapi semangat kalian tetap sama."
"Karena kita punya tujuan, Pak. Melindungi hutan dan
semua yang ada di dalamnya."
Mereka diam bersama, menikmati malam Bojong Sari yang
damai. Bulan purnama bersinar terang. Suara jangkrik terdengar merdu. Dan dari
kejauhan, lolongan ajag—Jaya dan Kecil mungkin—menyapa malam.
Kiano mendongak, membalas dengan lengkingan pelan. Seperti
komunikasi antarspesies. Seperti harmoni yang terus terjaga.
Raka tersenyum. Perjalanan masih panjang. Tapi ia tahu,
dengan sahabat di sisi, tidak ada yang perlu ditakutkan.
BERSAMBUNG KE EPISODE 4:
CEMBURU DI ANTARA SAHABAT






0 komentar:
Posting Komentar