NOVEL TENDA BIRU
Kisah Cinta yang Terkubur di Bawah Tenda Pernikahan
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Ketika
Hujan Membawa Kabar yang Tak Terduga
Hujan deras mengguyur ibu kota sejak pukul tiga pagi. Bukan
hujan gerimis yang romantis seperti di novel-novel yang biasa Maya sunting,
tapi hujan tropis yang ganas—dengan gemuruh air yang mengalir deras di
selokan-selokan sempit, dedaunan yang beterbangan tertiup angin kencang, dan
sesekali kilat menyambar disertai guntur menggelegar yang membuat kaca jendela
bergetar seperti ingin pecah.
Maya terbangun pukul setengah enam, seperti biasa, meskipun
hari itu adalah hari libur. Kebiasaan bangun pagi sudah mendarah daging sejak
SMA, ketika ibunya selalu membangunkannya pukul setengah lima untuk membantu
membereskan rumah sebelum berangkat sekolah. "Bangun, Nduk! Mataharinya
udah ngantri mau nyinarin bumi, masa lo masih molor!" begitu selalu teriak
ibunya. Kebiasaan itu terus terbawa hingga kini, bahkan di hari Minggu
sekalipun.
Kontrakan di kawasan Pondok Gede itu sudah ditempatinya
selama lima tahun. Rumah petak berukuran 6x9 meter dengan satu kamar tidur,
ruang tamu merangkap ruang makan, dapur sempit di belakang, dan kamar mandi di
pojok. Dindingnya mulai pudar, catnya mengelupas di sana-sini membentuk pola
abstrak yang—kalau dipaksakan—mirip lukisan modern seharga miliaran. Pintu
kamar mandi sudah miring sehingga susah ditutup rapat, dan kulkas dua pintu
bekas bunyinya "ngik-ngik... ngik-ngik..." setiap dua jam sekali
seperti detak jantung orang tua yang mulai bermasalah. Tukang servis bilang itu
normal, tapi Maya curiga kulkasnya cuma akting biar diganti baru.
Tapi Maya tidak pernah protes. Buat apa? Ia tinggal
sendiri. Yang penting atapnya tidak bocor, meskipun sebenarnya bocor juga di
dua titik—tepat di atas tempat tidur dan di atas meja kerja—tapi sudah ditambal
dengan ember dan baskom yang diletakkan strategis di sudut ruangan. "Feng
shui air," katanya suatu kali pada Sari. "Mendatangkan rezeki."
Sari cuma bisa geleng-geleng kepala.
Pagi itu, Maya bergegas ke dapur untuk membuat kopi
susu—minuman wajib sebelum memulai hari, resep warisan dari almarhum ayahnya
yang dulu setiap pagi selalu membuatkan kopi untuk ibunya dengan penuh cinta.
"Rahasia pernikahan langgeng, Nduk," kata ayahnya dulu. "Bikin
kopi buat istri, nggak perlu mahal-mahal, yang penting rutin." Sayangnya
Maya belum kesampaian mempraktekkan teori itu karena belum punya suami.
Sambil menunggu air mendidih di kompor gas kecil yang sudah
berusia 15 tahun—kompor warisan dari ibu yang sudah bolak-balik diperbaiki—Maya
membuka jendela dapur yang menghadap ke gang sempit selebar satu setengah
meter. Cukup untuk dua motor papasan kalau keduanya sama-sama maju pelan-pelan
dan kompak seperti penari tradisional.
Di seberang gang, Bu RT—Ibu Tuti namanya—sedang menjemur pakaian
meskipun hujan belum reda sama sekali. Wanita paruh baya berusia 58 tahun itu
dengan cekatan menjemur kain-kain basah di tali plastik yang membentang dari
teras ke tiang listrik. Hujan mengguyur tubuhnya yang hanya dilindungi jas
hujan plastik tipis warna biru lusuh. Jas hujan itu sudah bolong di beberapa
titik, tapi Bu Tuti bilang itu "ventilasi alami".
"Bu RT! Nanti kebasahan, lho!" teriak Maya dari
jendela dapur.
Bu Tuti menoleh, tersenyum lebar memperlihatkan gigi yang
ompong karena faktor usia—dua di depan sudah copot, katanya dulu karena
kebanyakan makan gula merah waktu kecil. "Ah, sebentar lagi reda, Neng.
Ibu udah hafal sama hujan Jakarta. Pura-pura reda bentar, turun lagi. Pura-pura
mau terang, malah makin deras. Kayak mantan Ibu dulu—janji mau balik, eh malah
kawin lagi sama orang lain. Hujan juga sama, janji mau berhenti, eh malah
tambah deres."
Maya tertawa kecil mendengar celotehan Bu RT. "Tapi
Bu, nanti masuk angin, lho!"
Bu RT melambai cuek. "Masuk angin mah obatnya gampang,
Neng. Kerok, kerok, kerok. Tapi cucian kering? Susah! Lo lihat ini—baju seragam
sekolah si Rendi, besok udah harus dipake. Masa iya dia sekolah pake baju
basah? Nanti dikira ngompol."
Maya menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum. Di
kontrakan ini, ia akrab dengan semua tetangga. Mereka adalah keluarga barunya
setelah merantau ke Jakarta lima tahun lalu. Bu RT yang cerewet tapi baik hati,
Pak Karto yang pendiam tapi suka bagi-bagi ikan hasil pancingan, Bu Sri yang
suka bergosip ria, Mas Bejo tukang bakso langganan, dan Mpok Ijah tukang sayur
yang katanya dulu juragan butik.
Telepon genggam Maya bergetar di atas meja dapur. Sebuah
pesan masuk dari Sari—sahabatnya sejak SMA, yang sekarang juga kerja di Jakarta
sebagai bankir, meskipun setiap hari ngeluh pengin resign tapi sampai sekarang
masih bertahan karena "uangnya halal, May, halal!"
Sari: May, udah bangun?
Maya: Udah. Lagi buat kopi. Lo kenapa pagi-pagi udah nge-DM? Jam
segini biasanya lo masih jadi kuntilanak.
Sari: Kuntilanak apaan?
Maya: Makhluk halus yang muncul malem dan ilang pagi. Lo kan pulang
kerja jam 10 malem, terus tidur. Bangun siang. Ya kayak kuntilanak.
Sari: Hahaha. Bego lo. Ada yang mau gue kasih tahu.
Penting. Super penting. Gawat darurat. Genting.
Maya: Genting apaan? Genteng rumah lo bocor?
Sari: Bukan genteng! Genting! Darurat! Keadaan
memprihatinkan! Level waspada bencana nasional!
Maya: Ya udah, apaan? Cepetan, gue mau mandi.
Sari: Gue telpon ya. Jangan diangkat—maksudnya diangkat,
angkat!
Maya menggelengkan kepala membaca pesan Sari yang kacau
balau. Sari tidak pernah berubah sejak SMA—selalu heboh, selalu tidak terduga,
selalu bikin pusing, tapi selalu ada saat dibutuhkan. Semacam obat generik:
pahit tapi manjur.
Dua detik kemudian, telepon Sari masuk. Begitu Maya
mengangkat, suara Sari sudah meledak-ledak dari seberang seperti petasan di
bulan puasa.
"MAY! LO DI RUMAH AJA KAN HARI INI? JANGAN
KEMANA-MANA! GUE DATENG!"
Maya menjauhkan ponsel dari telinga, kaget dengan suara
Sari yang memekik seperti orang kesurupan. "Iya, iya, di rumah. Libur kan.
Lo kenapa sih? Kayak kebakaran jenggot. Suara lo bisa memecah kaca. Nanti
tetangga gue pada lapor polisi, kirain ada pembunuhan."
"Gue mau ke sana nanti siang. Ada yang mau gue
sampaikan langsung. Nggak enak lewat telepon. Nggak etis. Nggak sopan. Nggak
manusiawi. Nggak beradab."
Maya mengerutkan kening. "Serius amat, Sar. Lo mau
ngasih kabar apa? Lo hamil? Lo kawin lari? Lo dapat warisan? Lo jadi artis? Lo
terpilih jadi duta PBB?"
"Bukan tolol! Lo aja yang hamil! Eh, lo nggak hamil
kan?"
"Loh, gue kan nggak punya suami. Hamil dari mana? Dari
angin? Dari roket?"
"Nah itu dia masalah lo. Makanya cepet cari pacar!
Udah 5 tahun di Jakarta, masa jomblo mulu. Nanti kesambet lho jomblo akut.
Penyakit langka, cuma ada di Indonesia."
Maya tertawa. "Oke-oke, gue tunggu. Jam berapa?"
"Antara jam 11 atau jam 3 atau jam 5 atau jam 8 malem.
Pokoknya gue dateng. Pokoknya hari ini. Pokoknya nggak bisa batal."
"Lo ini plin plan. Kayak rambut lo yang modelnya ganti
tiap minggu. Minggu lalu warnanya merah, sekarang udah balik hitam."
"Emang gue cewek. Cewek boleh plin plan. Itu hak
asasi. Hak Asasi Manusia. Hak Asasi Cewek. Hak Asasi Makhluk Berkromosom XX. Ya
ampun May, lo baru kenal gue? Udah 15 tahun, baru protes sekarang?"
Telepon ditutup. Maya geleng-geleng kepala sambil
tersenyum. Sari memang tidak pernah berubah. Dan mungkin itulah yang membuat
Maya tetap bertahan dengannya—konsistensi dalam kekacauan.
Maya melanjutkan aktivitas paginya. Setelah kopi
habis—dengan ritual menyeruput perlahan sambil memandangi hujan, seperti iklan
kopi di televisi—ia membereskan dapur, mencuci piring kotor bekas makan malam
kemarin, menyapu lantai ruang tamu yang berdebu, dan merapikan tumpukan naskah
di meja kerjanya. Ia editor di sebuah penerbitan, jadi pekerjaannya bisa
dilakukan dari rumah saat akhir pekan. Enak, tapi kadang bikin lupa hari libur
karena naskah selalu menumpuk seperti utang negara.
Pukul setengah sembilan, Maya memutuskan untuk mandi. Ia
baru saja masuk kamar mandi ketika mendengar suara motor berhenti di depan
pagar. Suara knalpot yang khas—suara motor butut Pak Pos yang sudah 10 tahun
setia mengantar surat keliling kompleks. Suaranya seperti traktor yang mau
meledak, dicampur dengan suara blender rusak.
"Maya! Bu Maya! Ada surat!" teriak Pak Pos dari
luar.
Maya membuka pintu kamar mandi, masih dengan handuk di
kepala, setengah basah, setengah kering. Rambutnya kusut seperti selesai
disetrum. "Sebentar, Pak!"
Ia berlari kecil ke pintu, hampir terpeleset di lantai yang
licin karena tadi pagi kesiram air hujan dari ventilasi yang bocor. Untung
refleksnya masih bagus—hasil latihan jatuh bangun waktu kecil.
Membuka pintu, seorang pria paruh baya dengan seragam
oranye lusuh—warnanya sudah memudar jadi oranye kusam seperti wortel
busuk—berdiri di sana, basah kuyup karena hujan. Di tangannya, sebuah amplop
putih dilindungi plastik bening agar tidak basah. Wajahnya penuh keriput, tapi
matanya masih tajam.
"Selamat pagi, Bu Maya. Ada surat. Penting katanya,
soalnya pake plastik. Biasanya mah kagak pake plastik." Kata Pak Pos
sambil tersenyum memperlihatkan gigi kuning karena kebiasaan nginang—campuran
sirih, pinang, kapur yang bikin mulutnya merah kalau lagi nginang aktif.
Maya menerima amplop itu. "Makasih, Pak. Udah
basah-basah nganter surat."
"Ya, Bu. Hati-hati, Bu. Jangan lupa makan. Jangan lupa
ibadah. Jangan lupa bayar listrik. Jangan lupa bayar air. Jangan lupa bayar
iuran RT. Jangan lupa bayar iuran keamanan. Jangan lupa bayar iuran sampah.
Jangan lupa bayar iuran kematian. Jangan lupa..."
Maya tersenyum. Pak Pos ini memang suka memberi nasihat
panjang lebar. "Iya, Pak. Makasih. Bapak juga jaga kesehatan."
"Ah, Bapak mah kebal, Bu. 20 tahun nganter surat,
hujan-hujanan, panas-panasan, nggak pernah sakit. Kata orang, badan Bapak udah
campur formalin kali ya."
Maya tertawa. "Mudah-mudahan bukan, Pak."
"Ya udah, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pak Pos pergi dengan sepeda motor bututnya yang berasap
tipis-tipis seperti mau meledak. Maya menutup pintu, memandangi amplop putih di
tangannya. Agak tebal. Kemasannya bagus—kertas dof dengan tekstur timbul,
amplop model undangan pernikahan premium, pikirnya.
Ia meletakkan amplop itu di meja makan, di samping tumpukan
naskah yang belum selesai dibaca. Ia akan membukanya nanti, setelah mandi dan
selesai membaca bab yang sedang direvisi. Tapi entah kenapa, matanya terus
melirik amplop itu. Ada firasat aneh di dadanya. Jantungnya berdebar tidak
karuan, padahal ia belum melakukan aktivitas berat—bahkan belum lari-lari atau
naik turun tangga.
Maya menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan firasat itu.
"Udah, mandi dulu. Itu cuma undangan biasa. Mungkin temen kantor yang
nikah. Atau temen SMA yang nikah lagi. Atau Sari yang iseng bikin undangan
palsu."
Setelah mandi—dengan air hangat karena cuaca dingin—Maya
duduk di meja makan dengan rambut masih setengah basah, handuk masih melingkar
di leher. Rambutnya ikal bergelombang alami, sekarang makin kacau karena baru
dikeringkan asal-asalan. Ia memandangi amplop putih itu. Amplop itu seperti
memanggil-manggilnya, memaksa untuk segera dibuka.
"Jangan lebay," gumamnya sendiri. "Amplop
nggak bisa manggil. Lo kebanyakan baca novel horor."
Tapi tangannya sudah bergerak mengambil amplop itu.
Tangannya sedikit gemetar—entah karena dingin, entah karena firasat. Dengan
hati-hati, ia membuka perekatnya, kebiasaan editor, selalu memperlakukan kertas
dengan penuh hormat. Tidak boleh rusak, tidak boleh robek. Kertas adalah
sahabat, musuh, dan sumber pendapatan sekaligus.
Dari dalam amplop, ia mengeluarkan kartu undangan berwarna
putih gading dengan hiasan bunga-bunga kecil di pinggirnya. Indah. Elegan.
Mahal. Dicetak dengan tinta emas yang berkilauan. Jelas ini bukan undangan
kaleng-kaleng.
"Dengan memohon rahmat dan ridho Allah Subhanahu wa
Ta'ala, kami bermaksud menyelenggarakan resepsi pernikahan putra-putri kami:"
Mata Maya langsung mencari bagian paling penting: nama
pengantin. Ini selalu bagian pertama yang dilihat orang dari undangan
pernikahan—siapa yang menikah, siapa yang akan di-"santet" tamu
undangan.
Arif
Pramana Putra
Putra pertama Bapak H. Sumarjo & Ibu Hj. Siti Aminah
Dunia
Maya serasa berhenti.
Rina
Andriani
Putri pertama Bapak H. Ahmad Dahlan & Ibu Hj. Maryam
Maya jatuh terduduk di kursi. Amplop itu jatuh dari
tangannya, berhamburan di lantai bersama isi lainnya—mungkin ada kartu nama,
mungkin ada peta lokasi, mungkin ada amplop balasan. Kartu undangan ikut jatuh,
tergeletak di lantai semen dengan gambar tenda biru menghadap ke atas.
Tenda biru.
Di sudut kiri bawah undangan, tercetak ilustrasi tenda
pernikahan—tenda biru muda dengan hiasan bunga-bunga putih bergelantungan di
sekelilingnya, dihiasi lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip. Tenda megah
dengan ornamen yang indah, seperti dari majalah pernikahan.
Maya memunguti undangan itu. Jari-jarinya gemetar saat
mengelus gambar tenda biru. Air matanya jatuh tanpa ia sadari, membasahi kertas
undangan yang mahal itu. Tinta emas di nama Arif mulai luntur terkena air mata.
Tenda
biru.
Janji lama yang tak pernah ditepati.
"May, gue janji. Suatu hari, kita akan nikah di bawah
tenda biru. Tenda kita sendiri."
"Janji?"
"Janji."
Dan sekarang, Arif akan menikah dengan perempuan lain di
bawah tenda biru yang megah. Tenda biru yang seharusnya menjadi milik mereka
berdua, tapi kini menjadi saksi pernikahannya dengan orang lain.
Maya tidak tahu berapa lama ia terduduk di sana, mematung
seperti patung lilin di museum lilin Jakarta. Mungkin 5 menit, mungkin 30
menit, mungkin 2 jam. Yang jelas, air matanya sudah menggenang di lantai
membentuk kolam kecil.
Pikirannya melayang 15 tahun ke belakang. Ke masa ketika ia
masih SMA, ketika ia pertama kali bertemu Arif, ketika mereka berjanji di bawah
hujan, ketika Arif memberinya gelang biru buatan sendiri yang jelek tapi
bermakna.
Pukul setengah dua belas, saat Maya masih duduk termenung
di kursi dengan mata sembab, hidung merah, dan rambut masih basah setengah
kering, pintu kontrakannya diketuk orang. Kali ini bukan ketukan sopan, tapi
ketukan khas Sari—keras, tidak sabaran, dan disertai teriakan yang bisa
membangunkan seluruh kompleks.
"TOK TOK TOK TOK TOK! MAY! BUKA! INI GUE! CEPETAN! GUE
BASAH! LO LAMA BANGET! MAY! MAY! GUE MASUKIN MUKA GUE KE LUBANG KUNCI, LO BUKA!
GUE UDAH SIAPIN MUKA GUE YANG CANTIK INI BUAT DIPAKSA MASUK LUBANG KUNCI!"
Maya berjalan lunglai ke pintu. Kakinya berat seperti diisi
timah. Ia membuka pintu dengan wajah kusut, mata sembab seperti habis nonton
film sedih semalaman, hidung merah, rambut masih basah dan acak-acakan—mirip
orang baru selamat dari banjir bandang. Sari langsung melihat keadaan itu.
"Udah tahu ya?" Sari masuk sambil menutup pintu.
Jaketnya basah, rambutnya basah, tasnya juga basah. Ia membawa serta aroma
hujan dan bau jalanan Jakarta—campuran aspal basah, asap kendaraan, dan bau
gorengan dari pinggir jalan.
Maya mengangguk. Suaranya serak, seperti habis berteriak di
konser rock. "Iya. Udah."
Sari meletakkan tas, jaket, dan segala bawaannya di
kursi—dengan gaya khasnya yang berantakan—lalu memeluk Maya erat. Pelukan
hangat yang membuat Maya hampir menangis lagi. Sari memang selalu seperti
ini—datang, memeluk, dan semua masalah terasa sedikit lebih ringan.
"Maaf, May. Gue baru dapet undangan seminggu lalu. Bu
Siti sendiri yang nyari gue ke rumah. Lo tahu sendiri, Bu Siti baik banget, dia
bilang dia ingin lo tahu secara resmi, bukan dari mulut ke mulut. Katanya,
'Sari, tolong sampaikan ke Maya. Ibu pengen dia tahu dari sumber resmi, bukan
dari gosip. Jangan sampai dia denger dari orang lain yang nggak bertanggung
jawab. Ibu sayang Maya seperti anak sendiri.'"
Maya diam dalam pelukan Sari. Dadanya bergetar menahan
tangis.
Sari melanjutkan, "Gue bingung mau ngomong kapan. Udah
seminggu gue mikir. Sampe gue diare mikirin ini. Serius, May, gue sampe
bolak-balik kamar mandi. Kata dokter, itu tanda stres akut. Tapi gue rasa itu
juga gara-gara gue kebanyakan makan risol."
Maya tersenyum tipis di tengah tangis. Sari memang selalu
berpikir seperti itu—mencampur adukkan masalah serius dengan hal-hal konyol.
"Takut lo kenapa-napa. Takut lo stres. Takut lo
depresi. Takut lo makan nggak mau. Takut lo kurus. Lo kan udah kurus, nanti
tambah kurus kayak lidi. Nggak lucu. Cowok suka yang ada isinya dikit."
Maya terisak di pelukan Sari.
"Akhirnya gue putusin harus langsung ke sini. Daripada
gue telepon, lo matiin. Daripada gue WA, lo read aja. Daripada gue kirim surat,
lo bakar. Daripada gue datengin dukun, lo santet gue. Daripada gue..."
"Sar," potong Maya lemah.
"Iya, iya. Pokoknya gue datang. Mau lo marah, mau lo
nangis, mau lo lempar piring, mau lo lempar gelas, mau lo lempar kompor
gas—tapi jangan lempar kompor gas, nanti meledak—gue terima. Yang penting lo nggak
sendiri."
Dua jam kemudian
Maya dan Sari duduk di ruang tamu kontrakan yang sempit.
Maya sudah lebih tenang, meskipun matanya masih sembab dan hidungnya masih
merah seperti badut sirkus. Sari sudah membuatkan teh manis—karena teh manis
adalah obat segala penyakit menurut Sari—dan menyuapi Maya beberapa potong roti
tawar yang ditemukan di lemari es. Roti itu sudah agak keras, tapi Sari bilang
"masih aman, belum ada jamur".
"Lo tahu nggak, teh manis itu penenang jiwa,"
kata Sari sambil menuang teh ke gelas kedua. "Gue selalu minum teh manis
kalau stres. Pas ujian, teh manis. Pas putus sama pacar, teh manis. Pas
diomelin bos, teh manis. Pas lo nangis, ya teh manis juga. Pas gue diare, teh
manis. Pas gue jatuh dari motor, teh manis. Pokoknya teh manis solusi segala
masalah."
Maya tersenyum tipis. "Dasar lo. Nanti kena
diabetes."
"Daripada stres, mending diabetes. Diabetes masih bisa
diobatin. Stres bisa bikin gila. Lo lihat orang gila di jalanan, kebanyakan
gara-gara stres, bukan gara-gara gula."
Maya terpaksa setuju dengan logika Sari yang kacau.
Sari mengambil undangan yang tergeletak di meja—sudah agak
kusut karena dipegang Maya berkali-kali—membacanya dengan saksama. Matanya
menyusuri setiap baris, setiap huruf, setiap tanda baca.
"Sabtu, 12 Oktober 2024, pukul 10.00 WIB, di rumah
mempelai pria, Jl. Kenanga No. 45, Solo." Sari menghela napas.
"Berarti dua minggu lagi."
"Iya."
Sari meletakkan undangan, menatap Maya serius. Matanya yang
biasanya penuh canda, kini berubah tajam. "May, lo harus datang."
Maya menatap Sari tajam. Matanya yang tadinya sayu, kini
melebar seperti kaget. "Apa? Nggak. Nggak mungkin. Gue nggak kuat. Gue
nggak sanggup. Gue nggak siap. Gue nggak bisa."
"Lo harus datang. Bukan buat Arif. Bukan buat pamer.
Bukan buat bikin dia nyesel. Bukan buat nunjukin kalau lo masih cantik—meskipun
lo emang masih cantik. Tapi buat nutup semuanya."
"Nggak, Sar. Nggak."
"Lo kuat, May. Lo selalu kuat." Sari menggenggam
tangan Maya. Tangannya hangat, sedikit berkeringat karena tegang. "Lo
ingat waktu Arif pergi ke Kalimantan? Lo kuat. Lo ingat waktu lo tahu Arif
dijodohin sama Rina? Lo kuat. Lo ingat waktu mereka nikah, yang pertama dan lo
nggak diundang? Lo kuat. Lo ingat waktu lo pindah ke Jakarta sendirian, nggak
kenal siapa-siapa, mulai dari nol, tidur di kost sempit, makan indomie tiap
hari? Lo kuat banget."
Maya diam. Air matanya jatuh lagi. Sari menyekanya dengan
tisu—tisu yang sudah disiapkan sebelumnya, satu pak penuh.
Sari melanjutkan, suaranya lembut tapi tegas. "Tapi lo
tahu nggak, May? Lo nggak pernah benar-benar lihat akhir dari cerita lo sama
Arif. Lo cuma denger kabar dari orang, lo cuma denger dia nikah, lo cuma
nangis, lo lari ke Jakarta, lo tutup diri, lo jadi kuper, lo jadi anti-sosial,
lo jadi..."
"Sar, lebay."
"Iya lebay. Tapi bener kan? Lo nggak pernah
benar-benar mengakhiri. Lo nggak pernah melihat dengan mata kepala sendiri
bahwa semuanya sudah selesai. Lo cuma bayangin. Bayangin itu nggak cukup, May.
Bayangin bisa salah. Lo bisa aja bayangin dia bahagia padahal dia sengsara. Lo
bisa aja bayangin dia lupa sama lo padahal dia inget terus."
Maya terisak. "Gue nggak kuat lihat dia nikah, Sar.
Gue nggak kuat lihat dia bahagia sama orang lain. Gue nggak kuat."
Sari memegang bahu Maya. "Acara ini adalah kesempatan
lo. Lo datang, lo lihat dia, lo lihat dia bahagia sama orang lain—atau mungkin
nggak bahagia, lo lihat dia sah jadi milik orang lain. Dan setelah itu, lo
sadar bahwa lo juga bisa bahagia tanpa dia. Bahwa lo juga berhak punya masa
depan. Bahwa lo nggak perlu terkurung di masa lalu selamanya."
"Lo pikir gue bakal bisa?"
"Gue tahu lo bisa." Sari menatap mata Maya.
"Lo adalah Maya Andriani yang gue kenal—cewek kuat yang nggak pernah
nyerah, yang selalu bangkit setelah jatuh, yang selalu tersenyum meskipun
hatinya hancur berkeping-keping. Lo ingat waktu SMA? Lo pernah jatuh pingsan
pas upacara, tapi besoknya lo udah senyum-senyum lagi. Lo ingat waktu nilai
ulangan lo jelek, tapi lo belajar lebih giat dan dapat nilai bagus? Lo ingat
waktu lo lomba puisi dan kalah, tapi lo bilang 'yang penting sudah mencoba'? Lo
ingat waktu lo jatuh cinta sama Arif dan dia ninggalin lo? Lo masih hidup sampe
sekarang."
Maya tersenyum tipis. "Lo ingat semua?"
"Gue ingat semua, May. Karena gue sahabat lo. Tugas
gue mengingatkan lo kalau lo lupa sama diri lo sendiri. Kalau lo lupa kalau lo
hebat. Kalau lo lupa kalau lo kuat. Kalau lo lupa kalau lo cantik. Kalau lo
lupa kalau lo..."
"Sar, nanti panjang lagi."
"Iya, iya."
Maya terdiam lama. Teh di tangannya sudah dingin—sudah
berganti warna dari cokelat pekat jadi cokelat pucat. Di luar, hujan mulai
turun lagi—deras, seperti ingin menenggelamkan kota Jakarta. Bunyi gemericik
air di selokan terdengar jelas, bercampur dengan suara knalpot motor yang
sesekali lewat.
Sari menambahkan, "Lo datang, lo lihat, lo pulang.
Selesai. Lo nggak perlu ngobrol sama dia kalau nggak mau. Lo nggak perlu kasih
selamat kalau nggak siap. Lo nggak perlu foto bareng. Lo nggak perlu makan di
sana. Lo cukup duduk di pojok, lihat, dan pergi. Tapi lo harus melihat. Lo
harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri."
"Kenapa harus lihat? Kenapa nggak cukup dengan
denger?"
"Karena selama ini lo cuma bayangin. Lo bayangin dia
nikah, lo bayangin dia bahagia, lo bayangin dia bersama Rina. Tapi bayangan itu
nggak pernah jelas. Kabur. Kayak foto yang nggak fokus. Dan karena kabur, lo
terus-terusan penasaran. Lo terus-terusan bertanya-tanya, 'Andai aku di sana,
apa yang terjadi?' 'Andai aku yang jadi pengantin, gimana rasanya?' Dengan
melihat langsung, bayangan itu jadi jelas. Dan setelah jelas, lo bisa terima."
Maya merenungkan kata-kata Sari. Ada kebenaran di sana.
Selama 11 tahun, ia hanya membayangkan. Membayangkan pernikahan Arif,
membayangkan kehidupan Arif, membayangkan kebahagiaan Arif. Dan bayangan itu
selalu mengganggunya, selalu muncul di saat-saat tidak terduga—saat mau tidur,
saat bangun tidur, saat makan, saat kerja, saat hujan turun seperti ini.
"Mungkin lo benar," kata Maya pelan.
"Tentu gue benar. Gue kan sahabat lo. Sahabat itu
selalu benar. Itu kode etik sahabat. Kalau salah, ya kita pura-pura lupa."
Maya tersenyum. "Tapi gue takut, Sar."
"Takut apa? Takut lo liat dia ganteng? Takut lo liat
dia makin tampan? Takut lo liat dia sukses? Takut lo liat dia bahagia?"
"Itu juga. Tapi lebih dari itu, takut gue nggak kuat.
Takut gue nangis di depan semua orang. Takut gue jadi bahan tertawaan. Takut
gue malu. Takut gue histeris. Takut gue lempar sepatu ke pengantin. Takut gue
bawa golok."
Sari tertawa. "Nah, yang terakhir itu ide bagus.
Lempar sepatu ke Arif. Biar dia kapok. Tapi jangan bawa golok, nanti lo
ditangkap polisi. Kasian nanti Dimas—eh, lo kan belum punya Dimas."
Maya ikut tertawa, meskipun air mata masih mengalir.
"Dasar lo."
"May, lo nggak sendiri. Gue temenin lo datang. Kita
berangkat bareng dari Jakarta. Kita duduk di pojok. Kalau lo mau pulang sebelum
resepsi selesai, kita pulang. Kalau lo nangis, gue siapin tisu satu kardus.
Kalau lo mau marah, gue siapin orang yang bisa lo marahin—tapi jangan marahin
tamu ya, nanti lo diusir. Kalau lo mau lempar sepatu, gue siapin sepatu
cadangan."
Maya tertawa lebih keras. "Lo ini."
"Tapi lo harus datang, May. Setidaknya untuk diri lo
sendiri. Bukan buat Arif. Bukan buat Rina. Bukan buat Bu Siti. Bukan buat gue.
Tapi buat lo. Biar lo bisa tidur nyenyak setelah 11 tahun."
Maya memandangi undangan di meja. Nama Arif tercetak indah
dengan tinta emas yang mulai luntur terkena air matanya. Tenda biru tercetak di
pojok. Janji lama yang menjadi milik orang lain.
"Apa dia tahu gue diundang?" tanya Maya akhirnya.
"Pasti tahu. Bu Siti yang ngirim. Berarti Arif tahu. Mungkin
dia sendiri yang minta ibunya ngirim. Mungkin dia pengen lo datang. Mungkin dia
mau minta maaf. Mungkin dia mau..."
"Atau mungkin dia cuma pengen pamer kalau dia sekarang
sukses dan punya istri cantik."
"Bisa jadi." Sari menghela napas. "Tapi lo
tahu, May? Manusia itu sederhana. Nggak serumit yang lo bayangin. Mungkin dia
cuma pengen lo datang sebagai teman lama. Mungkin dia pengen nutup buku juga.
Mungkin dia juga punya luka yang sama."
Maya terdiam lagi. Ia memandang ke luar jendela. Hujan
mulai reda. Sinar matahari menyelinap dari sela-sela awan, menerangi gang
sempit dengan cahaya keemasan. Genangan air di jalan berkilauan.
"Gue datang, Sar."
Sari tersenyum lebar. "That's my girl! That's the Maya
I know! That's the Maya yang pernah gue kenal!"
"Tapi lo harus temenin gue. Janji?"
"Janji, tolol. Lo pikir gue bakal lepas lo sendirian
di medan perang? Lo pikir gue bakal tinggal lo di tengah hutan belantara masa
lalu? Gue siap, May. Gue siap jadi bodyguard lo. Gue siap jadi penghibur lo.
Gue siap jadi tisu berjalan lo. Gue siap jadi apa aja asal lo mau datang. Gue
siap jadi sopir, jadi asisten, jadi psikolog, jadi pendeta—eh lo kan Islam—jadi
ustadzah dadakan."
Maya tersenyum. "Makasih, Sar."
"Sama-sama. Sekarang kita persiapan. Lo butuh baju
baru."
"Buat apa?"
Sari berdiri, bersemangat, matanya berbinar-binar seperti
anak kecil yang dapat permen. "Buat tampil cantik. Buat bikin Arif nyesel.
Buat bikin semua orang terkesima. Buat bikin semua tamu bertanya-tanya, 'Wah,
siapa cewek cantik itu?' 'Wah, kok ada artis?' 'Wah, itu Maya kan? Kok masih
secantik dulu?' Buat bikin foto-foto pernikahan mereka, lo jadi background yang
bikin orang salah fokus. 'Eh, yang di pojok itu cantik ya, kok nggak jadi
pengantin?'"
Maya tertawa. "Lo ini nggak pernah berubah ya."
"Emang. Gue kan cewek. Cewek boleh berubah-ubah—ubah
rambut, ubah warna baju, ubah model jilbab—tapi satu yang tetap: gue selalu
dukung lo."
Sari duduk lagi, mengambil ponsel. "Besok kita hunting
baju. Gue udah cari referensi. Ada beberapa model yang cocok buat lo. Lo harus
tampil elegan, tapi nggak berlebihan. Cantik, tapi nggak kayak mau nikah juga.
Anggun, tapi nggak kaku. Sederhana, tapi berkelas. Pokoknya perfect! Lo harus
jadi pusat perhatian yang sopan. Lo harus bikin semua orang lupa sama pengantin."
"Ajak juga Mpok Ijah," tambah Sari. "Dia
jago milih baju."
Maya mengerutkan kening. "Mpok Ijah? Tukang
sayur?"
"Iya. Dia dulu juragan butik di kampungnya, katanya.
Sebelum bangkrut karena krisis moneter tahun 98. Sekarang jualan sayur, tapi
selera bajunya masih tinggi. Dia sering cerita soal koleksi bajunya dulu.
Katanya pernah punya baju seharga 5 juta di tahun 90-an. Itu setara rumah
kontrakan setahun."
Maya setengah percaya. "Lo tahu dari mana?"
"Dari Bu RT. Bu RT cerita minggu lalu. Katanya Mpok
Ijah dulu terkenal di kampungnya. Suka pamer baju ganti tiap hari. Sampai
dijuluki 'Ratu Butik' sama tetangganya. Tapi karena krisis, tokonya tutup,
suaminya sakit-sakitan, akhirnya jualan sayur."
Maya tersenyum. "Ratu Butik sekarang jualan sayur
keliling. Hidup memang penuh misteri."
"Hidup memang penuh misteri, May. Yang penting Mpok
Ijah jago milih baju. Kita ajak aja. Lumayan, sekalian beli sayur buat
stock."
"Oke. Terserah lo."
Malam harinya,
setelah Sari pulang—dengan janji akan kembali besok pagi untuk hunting
baju—Maya duduk sendirian di kamar. Suasana hening, hanya terdengar suara
kulkas tua yang sesekali mengeluarkan suara "ngik-ngik" dan suara
jangkrik dari luar.
Ia membuka lemari, mengeluarkan sebuah kotak sepatu bekas
yang sudah menguning. Kotak yang sama yang ia bawa dari Solo lima tahun lalu,
yang tidak pernah ia buka selama di Jakarta. Selama lima tahun, kotak itu hanya
menjadi hiasan di sudut lemari, debu-debu menempel di permukaannya.
Di tutupnya, tertulis dalam spidol hitam: "JANGAN
DI BUKA." Tulisan itu ia buat sendiri, malam sebelum berangkat ke
Jakarta, sebagai pengingat untuk tidak pernah mengganggu masa lalu.
Maya membuka kotak itu. Debu beterbangan, membuatnya bersin
tiga kali. Isinya: foto-foto usang yang sudah mulai menguning, surat-surat yang
dikirim Arif saat ia merantau di Kalimantan, sebuah gelang dari tali kur warna
biru yang sudah lusuh—talinya mulai putus di beberapa bagian, manik-maniknya
sudah buram—dan sebuah cincin dari akar bahar yang Arif berikan saat mereka
lulus SMA.
Maya mengambil salah satu surat. Tanggalnya 15 Agustus
2012, bulan pertama Arif di Kalimantan. Kertasnya sudah rapuh, lipatannya mulai
sobek di beberapa bagian.
"May,
Gue nulis surat ini di kosan jam 2 pagi. Abis shift malem.
Capek banget, tapi kangen lo lebih capek.
Lo tahu nggak, tadi gue lihat tenda biru di pinggir jalan.
Ada nikahan orang kampung. Sederhana banget—cuma tenda biasa, kursi plastik,
dekorasi bunga kertas—tapi meriah banget. Orang-orang pada senyum. Kayak yang
dulu kita lihat waktu hujan-hujan di halte. Gue jadi inget omongan lo. Lo tanya
gue mau nikah di mana.
Gue masih inget jawaban gue: sederhana aja, asal halal dan
berkah. Tapi sekarang gue tambahin: yang penting lo ada di samping gue. Lo dan
tenda biru kita. Nggak perlu mewah, nggak perlu banyak tamu, yang penting kita
berdua.
Sabaran ya, May. Bentar lagi gue kumpulin duit. Bentar lagi
kita nikah. Gue janji, kita bakal punya tenda biru kita sendiri. Gue udah
ngitung, 2 tahun lagi cukup. Asal lo sabar.
Kangen
banget,
Arif"
Maya
membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh, membasahi kertas yang
sudah rapuh itu. Tinta biru Arif mulai luntur, tapi kata-katanya masih jelas.
Janji.
Tenda biru.
Dua tahun.
Dan kini, 11 tahun kemudian, Arif akan menikah dengan
perempuan lain di bawah tenda biru yang megah. Tenda biru yang seharusnya
menjadi milik mereka berdua, tapi kini menjadi saksi pengkhianatan. Tenda biru
yang dulu mereka impikan sederhana, kini terwujud mewah—tapi dengan perempuan
lain.
Maya melipat surat itu kembali dengan hati-hati, seperti
merawat benda pusaka. Ia memasukkan semua isi kotak ke tempatnya semula, lalu
menutup kotak itu rapat-rapat. Tapi ia tidak mengembalikannya ke lemari. Ia
meletakkannya di atas meja, di samping undangan pernikahan Arif.
Dua benda yang saling bertentangan. Janji dan
pengkhianatan. Masa lalu dan masa depan. Cinta dan kehilangan.
Maya memandangi gelang biru di tangannya—gelang yang sama
yang diberikan Arif 15 tahun lalu, yang tidak pernah ia lepas. Gelang itu sudah
lusuh, warnanya memudar dari biru terang jadi biru pucat, talinya mulai putus
di beberapa bagian. Tapi ia tetap memakainya. Selama 15 tahun, gelang itu hanya
lepas saat mandi atau saat ada acara formal yang mengharuskan melepas
aksesoris.
"Harusnya aku lepas," bisiknya pada diri sendiri.
"Harusnya aku sudah lepas 11 tahun lalu."
Tapi ia tidak bisa.
Maya mengambil ponsel, membuka percakapan dengan Sari. Ia
mengetik pelan-pelan, setiap huruf terasa berat.
Maya: Sar, gue mau tanya.
Sari: Apa, May? Jam 11 malem nanya. Lo nggak tidur?
Maya: Nggak bisa tidur.
Sari: Mikirin undangan?
Maya: Iya.
Sari: Mau nanya apa?
Maya: Lo yakin gue harus datang?
Sari: Yakin banget. Lo ragu lagi?
Maya: Iya. Gue takut.
Sari: Takut itu wajar. Takut itu manusiawi. Takut itu tanda lo
masih punya perasaan. Tapi jangan biarin rasa takut mengendalikan lo. Lo yang
harus mengendalikan rasa takut. Lo harus jadi bos atas rasa takut lo.
Maya: Kata-kata bijak dari mana tuh? Mario Teguh?
Sari: Dari status WA gue. Hahaha. Dari kutipan motivasi yang gue
baca di IG. Tapi lupa siapa yang ngomong. Yang penting ngena.
Maya: Iya ngena.
Sari: May, lo pasti bisa. Gue yakin. Lo udah 11 tahun bertahan. Lo
udah 5 tahun hidup sendiri di Jakarta. Lo udah jadi editor sukses. Lo udah beli
kontrakan sendiri—meskipun kontrakan, tapi lo yang milih. Lo udah hebat banget.
Maya: Makasih, Sar.
Sari: Sama-sama. Sekarang tidur. Besok kita hunting baju. Jangan
lupa, kita mau buat Arif nyesel. Bukan nyesel milih Rina, tapi nyesel karena
sadar dia udah kehilangan berlian dan dapat kerikil.
Maya: Lo ini kejam.
Sari: Iya, gue kejam. Tapi kejamnya buat kebaikan. Love you,
bestie!
Maya: Love you too.
Maya meletakkan ponsel. Ia memandangi undangan itu sekali
lagi, membaca nama Arif dengan tinta emas yang mulai luntur, menelusuri gambar
tenda biru dengan jarinya.
Sabtu, 12 Oktober 2024.
Tanggal itu sekarang tertanam di kepalanya, terukir di
hatinya, terpatri di jiwanya. Tanggal di mana ia akan menyaksikan cinta
pertamanya menikah dengan perempuan lain di bawah tenda biru. Tanggal di mana
semua kenangan indah akan terkubur. Tanggal di mana ia harus benar-benar
melepaskan.
Maya berdiri dan berjalan ke jendela. Ia membukanya
lebar-lebar, membiarkan udara malam masuk. Udara Jakarta yang lembab dan panas,
bercampur bau polusi dan sesekali aroma gorengan dari warung malam. Tapi anehnya,
terasa segar di wajahnya yang basah oleh air mata.
Di luar, suara jangkrik terdengar sayup-sayup bersahutan
dengan suara kodok di selokan. Lampu-lampu gang masih menyala—lampu 5 watt yang
redup tapi cukup menerangi jalan setapak. Beberapa tetangga masih duduk-duduk
di teras, mengobrol ringan sambil minum kopi.
Maya tersenyum. Besok, ia akan memulai perjalanan. Bukan
hanya perjalanan fisik ke Solo, tapi perjalanan batin untuk melepaskan.
Perjalanan yang mungkin akan menyakitkan, tapi harus ditempuh.
"Iya, Ar," bisiknya pada angin malam. "Aku
akan datang. Aku akan melihatmu menikah. Dan setelah itu, aku akan benar-benar
melepaskanmu. Janji."
BAGIAN I
AWAL SEBUAH CINTA
Matahari pagi bersinar cerah di atas Kota Solo, seolah ikut
merayakan hari pertama masuk sekolah. SMA Negeri 5 Solo tampak berbeda dari
biasanya—lebih ramai, lebih hidup, lebih berwarna. Gerbang depan yang biasanya
sepi—hanya dijaga pak Satpam yang suka tidur—kini dipenuhi orang tua dan siswa
baru. Spanduk "MASA ORIENTASI SISWA 2009/2010" terbentang di atas
pintu masuk, dengan hiasan balon warna-warni yang sudah mulai kempis karena
panas matahari. Beberapa balon sudah meletus, meninggalkan sisa-sisa karet yang
bergelantungan.
Maya berdiri di pinggir lapangan upacara, menggenggam map
biru yang berisi berkas pendaftaran ulang. Jilbab merah mudanya—warna kesukaan
yang dulu selalu diprotes ibunya karena terlalu mencolok, "Jilbab
merah muda? Kayak es campur, Nduk!"—terasa agak ketat di leher. Ia
gugup. Bukan hanya karena hari pertama, tapi juga karena di sekolah ini tidak
ada satu pun teman SMP-nya yang masuk. Maya sendirian. Sendirian di tengah
ribuan siswa.
"May! May!"
Maya menoleh. Seorang cewek dengan rambut sebahu—sebahu
sebenernya, poni hampir menutupi mata—jilbab gaul model setengah jadi yang masih
memperlihatkan poni, berlari ke arahnya. Tas ranselnya yang besar
berguncang-guncang di punggung seperti mau lepas. Wajahnya bulat, pipinya
chubby, matanya sipit tapi berbinar.
"Lo Maya kan?" cewek itu terengah-engah, napasnya
ngos-ngosan seperti habis lari maraton.
"Iya. Gue Maya. Lo siapa?"
"Gue Sari! Duduk di sebelah lo pas tes kemarin.
Lupa?"
Maya mengingat-ingat. Tes masuk SMA seminggu lalu. Ia duduk
di deretan paling belakang—tepat di sebelah jendela—dan di sebelahnya ada cewek
yang terus-terusan makan risol selama tes berlangsung. Bukan satu atau dua,
tapi setumpuk. Dan dia tetap bisa ngerjain soal sambil ngunyah. Bakat luar
biasa.
"Oh... lo yang makan risol pas tes?"
Sari tersipu. "Iya. Maaf ya. Gue nggak sempat sarapan.
Tapi risol itu bukan camilan, May. Itu asupan otak. Tanpa risol, otak gue nggak
bisa mikir."
Maya tertawa kecil. "Nggak apa. Lo keterima?"
"Alhamdulillah, IPA 1. Lo?"
"IPA 1."
"Wah, sama kelas. Tapi kita bisa temenan kan? Gue
butuh temen. Di sini gue juga nggak kenal siapa-siapa. Bapak gue baru pindah
tugas ke Solo, jadi gue anak baru total. Nggak punya temen sama sekali.
Sendirian. Kesepian. Terlantar."
Maya mengangguk. "Boleh banget."
Sari menarik tangan Maya. "Yuk, kita cari kelas dulu.
Katanya IPA 1 di gedung belakang. Dekat kantin katanya. Enak, kalau laper
tinggal lari."
Maya terseret-seret oleh Sari yang energik. "Lo ini
kayak ditarik kuda."
"Hahaha, gue emang energik. Orang bilang gue
kebanyakan makan risol. Tapi kata dokter, itu karena gue punya metabolisme
cepat. Makan banyak tapi nggak gendut-gendut."
"Lo nggak gendut?"
"Iya, ini mah bukan gendut. Ini berisi. Proporsional.
Ideal. Pas. Seksi."
Maya tertawa. "Oke, oke."
Di sisi lain lapangan, seorang cowok dengan seragam putih
abu yang masih kusut dan tidak disetrika rapi—bahkan terlihat seperti baru
diambil dari tumpukan cucian—baru saja mengalami musibah. Ia jatuh dari sepeda
ontel biru kesayangannya, pemberian kakeknya yang sudah pensiun naik sepeda.
Buku-bukunya berserakan di rumput yang masih basah embun. Beberapa siswa
menertawakannya.
"Woy, hati-hati tolol! Sepedanya mabok kali!"
"Yang naik yang mabok, bukan sepedanya!"
"Udah tua kali sepedanya, remnya blong! Ganti sepeda,
jangan ganti cewek!"
"Lo itu naik sepeda atau naik kuda? Kok bisa
jatoh?"
Cowok itu, Arif namanya, mengibaskan daun-daun kering yang
menempel di rambutnya. "Bajingan," gerutunya pelan. Tapi ia tersenyum
juga—lebih baik tertawa daripada marah. Itu prinsip hidupnya. "Yang
penting gue nggak patah tulang."
Seorang cewek berjilbab merah muda mendekat. "Lo nggak
apa-apa?"
Arif menoleh. Sejenak ia terpaku. Cantik, pikirnya. Cakep.
Matanya bulat—bening, bersih, seperti mata air—hidungnya mancung, jilbabnya
merah muda yang mencolok, tapi entah kenapa cocok di wajahnya. Seperti es krim
stroberi yang menggoda.
"Eh? Nggak... nggak apa-apa." Arif buru-buru
berdiri, mengucek siku yang lecet berdarah sedikit. "Cuma lecet dikit.
Biasa."
Cewek itu membantunya mengumpulkan buku-buku yang
berserakan. "Sepedanya kenapa? Remnya blong?"
"Bukan. Sepeda ini udah tua. Suka ngambek kalau
dipaksa belok tajam. Kayak pacar."
Cewek itu tertawa. Tawanya ringan, bersih, seperti suara
lonceng kecil. "Sepeda ngambek? Atau yang naikin yang ngambek?"
Arif tersenyum. "Gue sih nggak ngambek. Cuma agak
gugup aja. Hari pertama."
"Gue juga." Cewek itu menyerahkan tumpukan buku.
"Lo kelas berapa?"
"Sepuluh IPA 1. Lo?"
"Sepuluh IPA 3."
"Wah, beda kelas." Arif mengulurkan tangan—masih
sedikit gemetar karena gugup, atau mungkin karena jatuh tadi. "Gue Arif.
Salam kenal."
Cewek itu menjabat tangannya sebentar. Tangannya lembut,
hangat. "Maya."
"Makasih ya, May. Udah nolongin. Lo malaikat penolong
gue hari ini."
Maya tersipu. "Iya, sama-sama. Tapi lain kali
hati-hati. Sepedanya diperbaiki dulu."
"Beres, May. Gue janji. Besok gue bawa ke tukang
las—eh, bengkel sepeda maksudnya."
Di kejauhan, Sari berteriak, "May! Ke mana lo? Udah
ketemu kelas gue! Cepetan! Nanti kita ketinggalan! Lo mau gue sendirian? Lo
tega?"
Maya melambai. "Gue duluan ya, Ar. Selamat menjalani
masa putih abu-abu."
Arif mengangguk. "Iya. Lo juga. Semoga banyak kejutan
menyenangkan."
Ia melihat Maya berlari kecil menuju temannya. Jilbab merah
mudanya berkibar-kibar ditiup angin, seperti bendera kecil yang menari. Arif
tersenyum sendiri.
"Arif, lo melamun!" Doni tiba-tiba muncul dari
belakang, memukul pundak Arif keras-keras. Badannya besar, bayangannya langsung
menutupi Arif.
"Woy, Gendut! Sakit tahu! Kagetin aja! Jangan kagetin
orang habis jatuh!"
"Jangan panggil gue gendut, tolol!" Doni
merengut, kedua tangan di pinggang. Badannya memang gendut—bulat seperti bola,
pipinya chubby, perutnya buncit—tapi ia selalu protes kalau dipanggil gendut.
"Gue cuma berisi. Gue lagi masa pertumbuhan. Pertumbuhan ke segala
arah."
"Iya, pertumbuhan ke samping."
Mereka tertawa. Doni adalah teman satu SMP Arif. Mereka
berdua masuk IPA 1 bersama—beruntung masih satu sekolah. Doni sejak SD sudah
dipanggil Gendut, dan ia sudah pasrah meskipun setiap hari protes.
"Lo dari tadi ngeliatin siapa?" tanya Doni
penasaran, matanya yang sipit di balik kacamata tebal—minusnya udah 5—mencoba
mengikuti arah pandang Arif.
"Nggak ada."
"Bohong. Gue lihat lo ngeliatin cewek jilbab pink.
Yang nolongin lo."
"Merah muda, Gendut! Bukan pink! Pink itu lebih
terang, lebih mencolok. Ini lebih... merah muda. Rose gitu. Kayak bunga mawar
muda."
"Ya itu pink. Lo pikir gue buta warna? Merah muda ya
pink lah, tolol. Sama aja. Lo sok-sok an gaya."
Arif menghela napas. "Udah, yuk cari kelas. Gue dengar
IPA 1 di gedung belakang. Dekat kantin katanya. Enak."
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong sekolah yang penuh
siswa baru. Doni masih penasaran. Penasaran setengah mati.
"Cantik ya?"
"Apa?"
"Cewek tadi. Cantik kan?"
Arif tersipu. "Ya... lumayan."
"Lumayan? Lo bilang lumayan? Itu mah cantik, Ar.
Cantik banget. Kayak artis. Kayak bintang iklan. Kayak putri keraton."
"Emang lo liat muka dia?"
"Liat dong. Tadi pas lo jatuh, gue lihat dari jauh.
Cakep. Bersih. Matanya bening. Lo harus kejar."
Arif memukul lengan Doni. "Diem lo. Baru pertama
ketemu. Masa baru ketemu langsung ngejar? Gue bukan pemburu."
"Itu bukan alasan. Cinta bisa datang kapan aja. Bahkan
saat lo jatuh dari sepeda."
Arif geleng-geleng kepala. "Dasar Gendut. Lo
kebanyakan nonton sinetron."
Bu Widi, wali kelas IPA 1, berdiri di depan kelas dengan
senyum ramah. Wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan
berkacamata—model jadul, bingkai hitam tebal—itu sudah 20 tahun mengajar di SMA
5. Ia terkenal sebagai wali kelas yang tegas tapi penyayang. Murid-murid
memanggilnya "Bu Widi the Killer" karena kalau marah, suaranya bisa
memecahkan kaca.
"Selamat pagi, anak-anak. Selamat datang di SMA Negeri
5 Solo. Saya Bu Widi, wali kelas kalian selama tiga tahun ke depan. Kalian akan
menjalani masa putih abu-abu di sini. Manfaatkan sebaik-baiknya. Jangan
sia-siakan. Karena tiga tahun itu cepat."
Para siswa diam, masih canggung. Beberapa melihat ke
kiri-kanan, mencari wajah yang dikenal. Beberapa main HP diam-diam di bawah
meja.
"Sebelum kita mulai, perkenalan dulu ya. Sebutkan
nama, asal SMP, dan satu hal unik tentang kalian. Mulai dari sini." Bu
Widi menunjuk siswa paling depan, seorang cowok kurus dengan kacamata
tebal—minusnya 6—dan rambut disisir rapi seperti taplak meja. Siswanya tegang
setengah mati.
Siswa itu berdiri dengan gugup, kakinya gemetar. "E...
nama saya Bambang. Dari SMP 4. Hal unik... saya bisa tidur sambil
berdiri."
Kelas tertawa. Bambang merah padam, muka merah seperti
tomat, duduk lagi.
"Beneran bisa tidur sambil berdiri?" tanya
seorang siswa dari belakang.
"Beneran. Saya punya penyakit tidur berjalan. Tapi
versi berdiri. Jadi kalau lagi tidur, saya bisa jalan sambil tidur. Atau tidur
sambil jalan. Susah dibedain."
Tawa makin keras.
Giliran berikutnya bergulir. Ada yang bilang bisa makan 10
bakso dalam sekali duduk, bisa main rubik 3x3 dalam 1 menit, bisa bernyanyi
lagu India dengan suara mirip aslinya—lalu dia demo, dan ternyata mirip banget,
bahkan getarannya sama—bisa mengingat semua nomor plat kendaraan guru-guru di
sekolah, bisa main gitar sambil jongkok, bisa ngetik 10 jari buta.
Giliran Arif tiba. Ia berdiri, agak gugup. "Nama saya
Arif Pramana Putra. Dari SMP 4. Hal unik..." Ia memikirkan sesuatu yang
lucu. "Saya punya bakat jatuh dari sepeda. Tadi pagi saya buktikan di
halaman sekolah. Gaya kupu-kupu. Nilai 8."
Kelas tertawa terbahak-bahak. Bu Widi tersenyum.
"Terus itu hal unik?" tanya Bambang dari depan.
"Iya. Saya bisa jatuh dengan gaya yang berbeda-beda.
Tadi pagi gaya kupu-kupu. Kemarin pas ujian praktek, gaya bintang. Minggu lalu,
gaya pesawat jatuh. Bulan lalu, gaya ikan lemas."
Tawa makin keras. Doni di belakang menepuk pundak Arif.
"Gila lo, promosi bakat aneh."
Arif duduk dengan senyum puas.
Sementara itu di kelas IPA 3, Maya dan Sari duduk
bersebelahan—kebetulan nomor urut mereka berdekatan, 28 dan 29. Sari sudah
cerita panjang lebar tentang dirinya selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
Dan belum selesai.
"...terus gue pindah ke Solo karena Bapak
dipindahtugaskan. Bapak gue pegawai BUMN. Lo tahu BUMN? Badan Usaha Milik
Negara. Kerja di sana enak, pensiun dini, duit banyak. Tapi gue nggak mau ikut
Bapak, gue mau jadi apa ya? Masak? Model? Artis? Dokter? Arsitek? Pilot? Gue
masih bingung. Hidup ini penuh pilihan, May. Dan terlalu banyak pilihan bikin
gue pusing."
Maya mendengarkan dengan setengah kaget. "Lo bisa
napas nggak sih, kalau ngomong terus?"
Sari tertawa. "Bisa. Gue udah latihan sejak kecil.
Kata Ibu gue, gue lahir langsung ngomong, nggak nangis. Dokter bingung. Bayi
biasanya nangis, ini malah nanya, 'Ini di mana? Kok ramai?'"
"Berarti lo bayi ajaib."
"Iya. Bayi ajaib yang suka risol."
Bu Dewi, wali kelas IPA 3, masuk kelas. Wanita muda berusia
30-an dengan rambut lurus sebahu dan senyum ramah. Ia baru 5 tahun mengajar,
tapi sudah terkenal sabar menghadapi murid. "Selamat pagi, anak-anak. Saya
Bu Dewi. Selamat datang di SMA 5. Selamat bergabung di keluarga besar SMA
5."
Perkenalan dimulai. Satu per satu siswa berdiri menyebut
nama dan asal sekolah.
Giliran Maya. "Nama saya Maya Andriani. Dari SMP 2.
Hal unik..." Ia berpikir sejenak. "Saya bisa memasak mie instan
dengan 5 cara berbeda. Direbus, digoreng, disup, dicampur nasi, dibikin
omelet."
Kelas tertawa. Seorang cowok di belakang berteriak,
"Gue mau cobain! Kapan? Sore ini?"
Maya tersenyum. "Nanti kalau ada acara kelas. Tapi
bayar ya. Nggak gratis."
Sari berdiri setelah Maya. "Nama saya Sari Wulandari. Dari
Jakarta. Hal unik... saya bisa makan risol 20 biji dalam satu jam. Dan masih
lahap makan nasi. Masih bisa nyamil lagi. Masih bisa minum es teh manis."
Kelas heboh. "Nggak mual tuh?" tanya Bu Dewi.
Sari menggeleng bangga. "Risol mah teman. Bukan makanan.
Teman itu nggak bikin mual. Teman itu bikin kenyang dan bahagia."
"Terus yang bikin mual apa?" tanya seorang siswa.
"Teman yang ngomongin kita di belakang. Itu baru mual.
Bikin muntah."
Kelas tertawa. Bu Dewi geleng-geleng kepala sambil
tersenyum.
Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa berhamburan keluar
kelas menuju kantin, seperti kerumunan semut yang menemukan gula. Maya dan Sari
berjalan bersama.
"Lo mau ke kantin?" tanya Sari.
"Iya. Laper."
"Gue juga. Tapi gue selalu laper. Bahkan setelah
makan."
Maya tertawa. "Lo ini gawat. Harus diperiksa."
"Udah diperiksa. Kata dokter, ini bawaan lahir. Gue
punya metabolisme super cepat. Makanan langsung diproses jadi energi, bukan
jadi lemak. Gue harusnya dijadiin objek penelitian."
Kantin SMA 5 ramai oleh siswa yang berebut jajan. Antrean
di depan etalase lumpia basah mengular panjang—sampai ke luar kantin. Maya
mengantre dengan sabar sementara Sari sudah melesat ke penjual risol.
"May, gue beli risol dulu! Nanti gue susul! Jangan
pergi kemana-mana!"
Maya mengangguk. Ia memandangi lumpia basah di etalase.
Harumnya menggoda, bau bawang putih dan daging cincang bercampur. "Tiga
lumpia, Bu. Yang pedas."
"Siap, Neng. Ditunggu sebentar ya."
Maya menggeser ke samping, memberi jalan untuk pembeli
lain. Di sebelahnya, seseorang menggerutu pelan.
"Wah, antrean panjang banget. Gue cuma mau beli es teh
doang, tapi harus ngantre lama. Ini teh apa mau jadi pusat perhatian?"
Maya menoleh. Lagi-lagi cowok itu. Arif. Yang jatuh dari
sepeda. Kali ini bajunya lebih rapi—agak rapi, setidaknya—rambutnya sudah
disisir ke samping meskipun masih ada beberapa helai yang berdiri. Di tangannya
ada uang seribuan dan buku catatan bekas.
"Lo lagi, Ar?"
Arif menoleh, matanya membulat. "Maya! Lo di
sini?"
"Iya, beli lumpia. Lo beli apa?"
"Es teh." Arif mengacungkan uang seribu rupiah di
tangannya. "Tapi ngantre dulu. Es teh aja ngantre. Teh apa ini, teh
istana?"
"Yaudah, bareng aja. Gue udah hampir."
Mereka berdiri bersebelahan. Arif memandangi lumpia di
etalase dengan mata berbinar. "Enak nggak tuh lumpia?"
"Belum tahu. Baru pertama kali coba."
"Gue sering beli di sini. Waktu ujian masuk kemarin,
gue cobain lumpianya, langsung jatuh cinta."
Maya tersenyum. "Jatuh cinta sama lumpia?"
"Jatuh cinta sama lumpia dan..." Arif berhenti,
seolah menyadari ia hampir mengatakan sesuatu. "Eeh... nggak jadi."
Maya mengerutkan kening. "Nggak jadi apa?"
"Nggak jadi ngomong. Malu."
Sebelum Maya sempat bertanya lebih lanjut, penjual
memanggil. "Neng, lumpianya. Tiga, ya? Delapan ribu."
Maya membayar dan menerima bungkusan plastik. Lumpia itu
masih hangat, mengepul, aromanya wangi. "Lo mau cobain satu?"
tawarnya pada Arif.
Arif terkejut. "Beneran? Lo nawarin gue?"
"Iya. Lumayan buat ganjal perut sambil nunggu antrean.
Lo kan laper."
Arif menerima satu lumpia dengan hati-hati, seolah itu
benda berharga. Ia menggigitnya, lalu matanya terpejam menikmati. "Uenak
tenan, May. Lo cobain, enak banget."
Maya menggigit lumpianya. Rasanya pedas, gurih, dengan
tekstur basah yang unik. "Enak banget!"
"Kan gue bilang." Arif tersenyum puas. "Gue
nggak pernah bohong soal makanan."
Maya tertawa. "Ih, sombong."
"Nggak sombong. Cuma percaya diri."
Mereka tertawa bersama, dua orang asing yang tiba-tiba
terasa akrab.
Arif akhirnya mendapat es tehnya. Mereka duduk di bangku
panjang dekat kantin, di bawah pohon rindang yang daunnya berguguran—pohon
beringin tua yang sudah ada sejak sekolah berdiri, mungkin sejak zaman Belanda.
Beberapa siswa lain lalu lalang, tapi tidak ada yang mengganggu.
"Lo dari SMP mana?" tanya Arif sambil menyedot es
tehnya—sedotan plastik, masih boleh waktu itu.
"SMP 2. Lo?"
"SMP 4. Daerah Manahan."
"Wah, jauh juga." Maya mengunyah lumpia keduanya.
"Naik sepeda tiap hari?"
"Iya. Biasanya diantar bapak, tapi bapak kerja pagi.
Jadi gue sepedaan. Olahraga pagi gratis."
"Semangat."
"Lo naik apa?"
"Jalan kaki. Rumah gue di belakang pasar. Deket sini.
Cuma 10 menit."
Arif mengangguk-angguk. "Enak ya deket. Bisa bangun
kesiangan."
Maya tertawa. "Gue juga nggak kesiangan-kesiangan
amat. Bangun jam setengah enam. Bantu ibu beres-beres rumah."
"Wah, lebih pagi dari gue. Gue bangun jam setengah
enam, jam enam baru berangkat."
"Itu sih namanya mepet."
"Iya, gue suka mepet. Kata ibu gue, gue bakal telat
kalau nggak ada yang ngingetin. Tapi gue selalu datang tepat waktu, entah
gimana caranya. Mungkin ada malaikat pelindung."
"Berarti lo punya jam biologis yang akurat."
"Mungkin. Atau mungkin malaikat pelindung gue yang
baik hati dan sabar."
Maya tersenyum. Ada sesuatu yang menyenangkan dari
percakapan ini. Sederhana, ringan, tapi membuatnya nyaman.
"Ar! Lo di sini rupanya!"
Seorang cowok gendut dengan kacamata tebal dan wajah bulat
menghampiri mereka. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis lari maraton 10 km.
"Gue nyariin lo ke mana-mana. Lo janji mau bantuin gue bawa buku ke kelas,
lupa? 5 buku, Ar! 5! Berat!"
Arif menepuk jidat. "Waduh, gue lupa, Don. Maaf,
maaf." Ia berdiri, lalu menoleh ke Maya. "May, gue duluan ya. Ini
Doni, temen sekelas gue. Panggilannya Gendut, tapi jangan panggil gendut
soalnya dia marah. Marahnya lama."
"ARIF!" Doni memukul lengan Arif keras. "Lo
bocorin rahasia gue! Gak asik lo! Gue kan udah bilang jangan panggil
gendut!"
Maya tertawa. "Halo, Don. Gue Maya."
Doni melambai canggung, mukanya merah. "Halo. Maaf ya,
gue ganggu. Lo lagi enak-enak ngobrol."
"Nggak ganggu kok."
"Yaudah, May. Gue duluan." Arif mengambil tasnya.
"Makasih ya lumpianya. Besok-besok gue traktir balik. Janji."
"Iya, sama-sama."
Arif dan Doni berjalan menjauh. Doni masih ngomel-ngomel
soal julukan Gendut. Arif mencoba menenangkannya. Maya melihat mereka pergi,
masih dengan senyum di bibir. Entah kenapa, pertemuan singkat itu meninggalkan
kesan.
Sari tiba-tiba muncul dari belakang. "May! Itu cowok
yang jatuh tadi? Ngapain lo bareng dia?"
Maya terkejut. "Sari! Kagetin aja! Bisa jatuh jantung
gue."
"Gue dari tadi nyari lo. Ternyata lo di sini, ngobrol
sama cowok. Cepat banget kenalannya."
"Ya elah, dia temen baru. Namanya Arif."
Sari duduk di samping Maya, matanya berbinar-binar.
"Arif? Nama keren. Ganteng juga. Tapi kelihatan culun."
Maya tertawa. "Culun gimana?"
Sari menunjuk ke arah Arif yang masih berjalan dengan Doni.
"Liat aja rambutnya. Disisir pakai lem kayu kali, kaku banget. Kayak pakai
helm rambut. Terus jalannya, kayak bebek. Dan bajunya, kayak nggak pernah liat
setrika."
Maya terpingkal-pingkal. "Lo ini jahat banget."
"Gue jujur. Tapi ganteng kok. Lo suka?"
"SARIII!"
"Wah, merah tuh. Berarti iya."
Maya memukul lengan Sari. "Diem lo!"
Sari tertawa puas. "Yuk balik kelas, May. Nanti telat.
Nanti dimarahin Bu Dewi."
Seminggu kemudian
Pak Samsul, guru Fisika yang terkenal killer dengan kumis
tebal dan suara menggelegar—mirip komandan pasukan—mengumumkan pembagian
kelompok belajar.
"Kelompok belajar ini untuk persiapan ujian tengah
semester. Kelompok ditentukan berdasarkan nomor urut absen. Kelompok 1: nomor
1-4, kelompok 2: nomor 5-8, kelompok 3: nomor 9-12, kelompok 4: nomor 13-16,
kelompok 5: nomor 17-20, kelompok 6: nomor 21-24, kelompok 7: nomor 25-28.
Seterusnya. Kalian akan belajar bersama dengan siswa dari kelas lain. Ini untuk
melatih kerjasama antar kelas."
Arif menghitung-hitung dengan jari. Nomor absennya 27.
Berarti kelompok 7, bersama nomor 25-28. Siapa saja nomor itu? Ia melihat ke
kanan-kiri.
"Nomer 25... Siapa nomor 25?"
Seorang cowok berkacamata tebal—lebih tebal dari kacamata
Doni, lensanya kayak dasar botol—mengangkat tangan. "Gue, Budi."
"Nomer 26?"
Seorang cewek bertopi—topi hitam dengan logo band
favoritnya, rambutnya panjang sebahu—mengangkat tangan. "Gue, Lina."
"Nomer 27?"
"Gue." Arif mengangkat tangan.
"Nomer 28?"
Seorang cewek dari kelas IPA 3 mengangkat tangan. Jilbab
merah muda.
Maya.
Arif terkejut. Maya? Dari IPA 3? Kok bisa? Jantungnya
berdegup kencang seperti mau loncat dari dada.
Ternyata, Maya memang satu kelompok dengan Arif, meskipun
beda kelas. Pak Samsul mencampur siswa dari kelas berbeda untuk kelompok
belajar, dengan alasan "biar kalian nggak hanya bergaul dengan teman
sekelas". Tapi semua orang curiga itu karena Pak Samsul malas bikin
kelompok sendiri-sendiri.
"Kita belajar di perpustakaan nanti sore ya? Jam 3?"
usul Budi, cowok berkacamata tebal yang ternyata cukup supel dan pinter.
"Setuju," kata Lina, cewek bertopi yang
pendiam—sejak tadi cuma ngangguk.
Arif dan Maya mengangguk bersamaan. Mata mereka bertemu
sekilas. Maya tersenyum. Arif tersipu.
Sore itu di Perpustakaan
Perpustakaan SMA 5 sepi. Hanya beberapa siswa yang duduk
membaca di sudut-sudut ruangan. Di pojok ruangan, dekat jendela besar yang
menghadap ke lapangan basket, kelompok 7 duduk melingkar. Meja bundar dengan
empat kursi, cocok untuk mereka.
Budi, si cowok berkacamata super tebal, ternyata cukup
pintar. Ia menjelaskan rumus-rumus Fisika dengan sabar, lengkap dengan contoh
soal. "Jadi, rumus gerak lurus berubah beraturan itu begini... Vt = Vo +
at. Paham? Vo itu kecepatan awal. a itu percepatan. t itu waktu."
Lina, si cewek bertopi, pendengar yang baik. Ia hanya
mengangguk-angguk dan sesekali mencatat.
Arif duduk di samping Maya. Mereka berbagi buku catatan
karena Arif lupa membawa buku Fisika. "Lo lupa bawa buku terus,"
bisik Maya.
"Maaf. Gue pelupa. Otak gue kecil, kapasitasnya
terbatas."
"Atau lo sengaja lupa biar bisa pinjam punya
gue?"
Arif tersipu. "Ah, nggak lah. Masa sengaja?"
Maya tersenyum misterius. "Bisa aja."
Budi menjelaskan panjang lebar. Arif berusaha
memperhatikan, tapi matanya sering melirik ke samping. Maya serius mencatat,
keningnya berkerut karena konsentrasi. Jilbab merah mudanya jatuh rapi di bahu.
Sesekali ia menggigit ujung pulpen, tanda ia sedang berpikir keras.
"Paham?" tanya Budi setelah menjelaskan satu bab.
Arif menggeleng jujur. "Gue masih bingung sama rumus
ini, Don—eh, Bud. Yang Vt = Vo + at itu, Vo nya dapat dari mana? Emang Vo itu
beli di mana?"
Budi menjelaskan lagi dengan sabar. Maya menyodorkan
catatannya. "Ini, Ar. Gue catet step by step. Mungkin lebih gampang."
Arif membaca catatan Maya. Tulisannya rapi, jelas, dengan
warna-warna yang berbeda untuk setiap bagian—merah untuk rumus, biru untuk
keterangan, hitam untuk contoh soal. "Wah, rapi banget. Makasih,
May."
"Sama-sama."
Di bawah meja, tanpa sengaja, tangan mereka bersentuhan
saat Maya mengambil pulpen yang jatuh. Keduanya tersentak. Maya merah padam.
Arif berpura-pura batuk.
Budi dan Lina tidak melihat, mereka sedang asyik
berdiskusi.
Setelah belajar selama dua jam, mereka memutuskan istirahat
di taman sekolah. Budi dan Lina pulang duluan—Budi harus ikut les, Lina harus
jaga adik. Tinggal Arif dan Maya di bangku taman, di bawah pohon mangga yang
rindang.
"Lo jago Fisika, ya?" tanya Arif.
"Biasa aja. Tapi gue suka nulis rapi. Biar gampang
dipelajari ulang."
"Gue suka lihat tulisan rapi. Punya gue kayak ceker
ayam. Coba lihat." Arif membuka catatannya.
Maya melihat, lalu tertawa. "Ya ampun, Ar. Ini bacaan
alien?"
"Hampir. Adik gue bilang ini bahasa planet Zubair.
Katanya cuma ada 3 orang di bumi yang bisa baca."
Maya tertawa lagi. "Lo nggak usah rendah diri. Yang
penting paham materi."
"Gue malah nggak paham materi, tulisannya jelek
pula."
Maya tertawa lagi. Arif senang melihatnya tertawa. Ada
lesung pipit di pipi kanan Maya yang baru ia sadari sekarang. Lucu.
"May, lo mau temenan sama gue?"
Maya menoleh. "Kita kan udah temenan."
"Maksud gue... temenan deket. Sahabat gitu. Bukan cuma
kenal biasa."
Maya tersenyum. "Boleh aja. Tapi gue peringatin, gue
suka bawel."
"Gue suka bawel."
"Gue suka marah-marah."
"Gue suka orang marah-marah."
"Gue suka ngatur."
"Gue butuh diatur."
Maya tertawa. "Lo aneh."
"Iya, gue aneh. Makanya cocok sama lo."
Maya tersipu. "Dasar!"
Mereka tertawa bersama. Sore itu, di taman sekolah, di
bawah pohon mangga yang belum berbuah, persahabatan mereka dimulai.
BAGIAN II
MASA SMA YANG INDAH
Tiga bulan berlalu sejak pertemuan pertama di perpustakaan.
Maya dan Arif tidak pernah membayangkan akan menjadi sedekat ini.
Awalnya hanya kebetulan, satu kelompok belajar. Lalu mereka
mulai sering bertemu di luar jadwal belajar. Awalnya untuk diskusi tugas, lalu
untuk sekadar ngobrol, lalu untuk jalan-jalan bersama.
Kini, di pertengahan semester genap, mereka sudah seperti
saudara. Arif sering mampir ke rumah Maya sepulang sekolah, meskipun rumahnya
jauh di Manahan. Maya sering meminjamkan catatan pada Arif yang terkenal
ceroboh dan sering ketinggalan buku. Mereka menghabiskan jam istirahat di
kantin, di perpustakaan, atau di bangku bawah pohon mangga tempat pertama kali
mereka duduk bersama.
Suatu hari di kantin
Sari, Doni, Maya, dan Arif duduk di meja favorit mereka,
tepat di bawah pohon beringin dekat kantin. Mereka sudah seperti geng tidak
resmi. Sari memanggil mereka "Geng Lumpia" karena pertama kali Maya
dan Arif bertemu di antrean lumpia.
"Gue dengar lo berdua makin deket," goda Sari
sambil mengunyah risol, makanan favoritnya—risol ke-5 hari itu.
Maya yang sedang minum es teh hampir tersedak. "Ya
elah, Sari, lo ini. Mulut lo nggak pernah bisa diem."
"Emang. Mulut gue emang nggak bisa diem. Tangan gue
juga nggak bisa diem. Makanya gue makan terus." Sari menunjukkan risol di
tangannya.
Doni menambahkan, "Iya. Kemarin gue lihat lo berdua
jalan bareng sambil pegangan tangan di taman."
Arif hampir tersedak es teh. "PEGANGAN TANGAN? Itu gue
nolongin Maya yang keseleo! Keseleo mata kaki, dia hampir jatuh!"
"Keseleo kok tangannya?" Doni tidak percaya.
"Ya gue pegang tangannya biar dia nggak jatuh! Bukan
pegangan tangan romantis gitu!"
Sari dan Doni tertawa terbahak-bahak. Maya dan Arif merah
padam.
Sari menyenggol Maya. "May, lo suka sama Arif
ya?"
Maya memukul lengan Sari. "SARI! DIEM!"
"Iya, iya, gue diem. Tapi muka lo merah, May. Merah
banget. Kayak tomat."
Arif mencoba membela. "Udah, Sari. Jangan nge-gossip
terus."
Sari menatap Arif. "Lo bela Maya? Wah, tambah curiga
nih."
Doni menambahkan, "Iya, tambah curiga. Arif nggak
pernah bela gue kalau diganggu."
"Lo mah nggak perlu dibela, Gendut. Lo kuat. Badan lo
besar."
"Jangan panggil gendut!"
Di perpustakaan, minggu berikutnya
Maya dan Arif sedang belajar sendirian. Budi dan Lina
berhalangan—Budi ikut lomba Fisika tingkat kota, Lina sakit. Suasana hening,
hanya terdengar suara kipas angin di sudut ruangan dan kadang suara halaman
buku dibalik.
"Ar," Maya memecah keheningan.
"Hm?"
"Lo pernah nggak suka sama orang?"
Arif mengangkat wajah dari buku Fisika yang sejak tadi
tidak ia pahami. Pertanyaan itu tiba-tiba, di luar konteks. "Pernah. Tapi
cuma satu orang."
"Siapa?"
Arif menatap Maya. Jantungnya berdebar kencang. Ini
saatnya, pikirnya. Atau tidak? Atau iya? Atau nanti saja? Atau jangan sekarang?
"Lo," katanya akhirnya.
Maya terpaku. Pulpen di tangannya jatuh ke lantai, tapi ia
tidak bergerak mengambilnya. "Apa?"
Arif mengulangi, kali ini lebih mantap. "Gue suka sama
lo. Bukan sebagai sahabat. Lebih dari itu. Gue suka lo. Suka banget."
Hening. Suara kipas angin terdengar jelas. Jantung Maya
berdebar kencang.
"Ar, lo bercanda kan?" Maya mencoba tersenyum,
tapi senyumnya kaku.
"Gue nggak bercanda." Arif mencondongkan tubuh ke
depan, siku di meja. "Gue serius, May. Udah lama sebenarnya. Mungkin sejak
lo nolongin gue pas jatuh dari sepeda hari pertama. Atau sejak lo nawarin
lumpia di kantin. Atau sejak lo minjemin catatan di perpustakaan. Atau sejak lo
ngeledekin rambut gue. Gue nggak tahu pasti kapan. Tapi gue tahu, gue suka
lo."
Maya menunduk. Tangannya gemetar. Ia tidak tahu harus
berkata apa. Selama ini, ia juga menyimpan perasaan yang sama. Tapi
mendengarnya diucapkan langsung, rasanya seperti mimpi.
"Lo... kenapa nggak dari dulu ngomong?" tanya
Maya pelan.
"Takut. Takut lo nggak ngerasain hal yang sama. Takut
persahabatan kita rusak. Takut kehilangan lo."
Maya mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca.
"Ar..."
"Lo boleh nolak, May. Gue terima. Tapi gue harus
ngomong. Karena kalau gue pendam terus, gue bisa gila. Udah tiga bulan gue
pendam, dan gue udah mau gila."
Maya tersenyum. Senyum yang berbeda dari biasanya. Lembut.
Penuh arti. "Ar, lo tahu nggak? Gue juga."
Arif membelalak. "Apa?"
"Gue juga suka sama lo. Udah lama."
"Serius?"
Maya mengangguk. Air matanya jatuh, tetesan pertama.
"Serius."
Arif tidak bisa menahan senyum lebarnya. Ia ingin
berteriak, tapi ingat mereka di perpustakaan. Ia meraih tangan Maya di atas
meja. Tangannya hangat, sedikit berkeringat karena gugup. "May,
makasih."
"Makasih buat apa?"
"Makasih udah ngerasain hal yang sama. Makasih udah
mau jadi sahabat gue. Dan makasih..." Arif berhenti, mencari kata yang
tepat. "Makasih udah ada di hidup gue."
Maya tersipu. Tangannya tidak ditarik. "Ih,
lebay."
"Bukan lebay. Serius."
Mereka berpegangan tangan di bawah meja, takut ketahuan
petugas perpustakaan yang sedang asyik baca koran. Saling menatap dengan
perasaan baru yang menggebu.
Dari balik rak buku, Sari mengintip. Ia tersenyum puas,
lalu berbisik pada Doni yang ada di sampingnya, "Akhirnya... pada ngaku
juga."
Doni mengacungkan jempol. "Misi berhasil."
Ternyata Sari dan Doni sengaja datang ke perpustakaan untuk
memata-matai mereka. Dasar sahabat kepo.
Hujan turun deras sepulang sekolah. Maya dan Arif terjebak
di halte dekat sekolah. Mereka berteduh bersama di halte kecil yang hanya
beratap seng dan berlantai semen. Keduanya basah kuyup, seragam putih abu
mereka lekat di tubuh, tas mereka digendong dalam keadaan melindungi kepala
dari tetesan air yang menerobos masuk dari sisi halte.
"Ini semua gara-gara lo!" Maya memukul lengan
Arif pelan. "Gue bilang bawa payung, lo bilang nggak hujan. Lo bilang,
'May, lihat langit cerah, nggak mungkin hujan.' Nah, ini hujan deras!"
Arif memasang wajah memelas. "Maaf, May. Gue salah
baca tanda-tanda alam."
"Lo bukan salah baca tanda alam. Lo cuma malas bawa
payung."
"Iya, itu juga benar."
Maya menghela napas dramatis. "Gue bisa masuk angin
nanti."
"Gue juga."
"Lo mah kebal. Lo kan tinggal di kost, deket
sekolah."
"Tapi gue harus pulang ke kost naik sepeda. Sepeda gue
basah. Joknya basah. Gue bakal sampai kost dengan pantat basah."
Maya tertawa. "Pantat basah? Ih, jorok."
"Apa? Itu fakta. Fakta nggak boleh dihindari."
Mereka tertawa bersama. Hujan tidak reda-reda, bahkan makin
deras. Angin bertiup kencang, membuat dedaunan beterbangan. Di kejauhan, tenda
biru sebuah pernikahan terlihat samar-samar di tengah rintik hujan. Pernikahan
kampung dengan tenda sederhana yang dipasang di halaman rumah, di pinggir
jalan. Beberapa tamu terlihat berlarian masuk ke dalam tenda untuk berteduh. Lampu-lampu
kecil di sekeliling tenda berkelap-kelip meskipun masih sore.
"Lihat tuh, Ar." Maya menunjuk. "Tenda biru.
Bagus ya."
Arif mengikuti arah telunjuk Maya. "Iya. Sederhana,
tapi kelihatan meriah. Orang-orang pada senang."
"Masa depan lo nanti gimana? Lo mau nikah di gedung
megah atau di tenda kampung gitu?"
Arif mengerutkan kening. Pertanyaan itu terlalu dewasa
untuk anak kelas satu SMA. Tapi ia mencoba menjawab serius. "Gue sih
pengennya yang sederhana aja. Asal halal dan berkah."
"Tenda biru gitu?"
"Boleh juga." Arif menatap tenda biru itu
sebentar, lalu menatap Maya. "Lo tahu, May? Gue suka warna biru."
"Iya, gue tahu. Lo selalu pake baju biru. Seragam
biru, baju biru, bahkan sepeda lo biru."
"Tapi ada satu warna yang lebih gue suka dari
biru."
Maya menoleh. "Apa?"
Arif tersenyum misterius. "Warna jilbab lo yang pink
itu."
Maya merona. "Ini merah muda, Ar. Bukan pink."
"Ya itu merah muda. Yang jelas, gue suka."
Maya menunduk, berharap hujan segera reda agar bisa
cepat-cepat pulang dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Tapi hujan tidak reda. Dan Arif belum selesai.
"May, gue mau janji sesuatu."
Maya menatapnya. "Janji apa?"
Arif meraih tangan Maya. "Gue janji, suatu hari kita
akan nikah. Di bawah tenda biru. Tenda kita sendiri. Mungkin sederhana, tapi
milik kita."
Maya tersenyum. "Janji?"
"Janji." Arif menggenggam tangan Maya erat.
"Dan gue janji, apapun yang terjadi nanti, gue nggak akan ninggalin
lo."
Maya terharu. "Ar, kita baru kelas 10. Masa depan
masih panjang. Banyak yang bisa berubah."
"Iya, gue tahu. Tapi gue serius. Gue mau sama lo
selamanya."
Maya tertawa kecil. "Selamanya itu lama, Ar. Lo nggak
tahu nanti lo ketemu cewek lain yang lebih cantik, lebih pinter, lebih baik
dari gue."
"Nggak akan." Arif menggeleng tegas. "Lo
udah yang terbaik buat gue. Titik."
"Kata siapa?"
"Kata hati gue."
Maya tersipu. "Dasar."
Tapi Arif belum selesai. Ia merogoh saku celananya dan
mengeluarkan sesuatu. Sebuah gelang dari tali kur warna biru, dengan
manik-manik kecil di ujungnya. Gelang buatan tangan, sedikit kasar, benangnya
ada yang keluar kemana-mana, simpulnya tidak rapi—tapi jelas dibuat dengan
hati-hati dan penuh perjuangan.
"Ini buat lo."
Maya menerima gelang itu dengan hati-hati. "Gelang
persahabatan?"
"Bukan. Ini gelang janji. Gelang yang ngingetin lo
kalau gue selalu ada, meskipun jarak memisahkan. Gue bikin sendiri, meskipun
jelek."
Maya memandang Arif. Matanya berkaca-kaca. "Lo buat
sendiri?"
"Iya. Semalem sampe jam 12. Jari gue keselip-selip.
Ujung-ujung jari gue pada luka semua. Tapi gue pengen ngasih lo sesuatu yang
personal. Bukan beli di pasar."
Maya memasang gelang itu di pergelangan tangannya.
Ukurannya pas. "Makasih, Ar. Ini berarti banget buat gue."
Arif meraih tangan Maya. Digenggamnya pelan. "May,
kita janji ya. Kita akan selalu bersama. Apapun yang terjadi."
"Janji."
Mereka berpelukan di halte, di bawah rintik hujan yang
mulai reda. Hujan tidak benar-benar berhenti, tapi setidaknya sudah tidak
deras. Di kejauhan, tenda biru itu masih terlihat, dengan lampu-lampu yang
mulai menyala karena hari mulai gelap.
Dua tahun berlalu. Maya dan Arif semakin akrab. Mereka
sudah seperti pasangan tidak resmi, meskipun tidak pernah mengaku berpacaran
secara formal. Semua orang tahu—teman sekelas, kakak kelas, adik kelas, bahkan
guru-guru. Tapi tidak ada yang melarang karena nilai mereka tetap bagus dan
mereka tidak pernah membuat masalah.
Sekolah mengadakan lomba dalam rangka HUT RI ke-65.
Berbagai lomba digelar—balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, panjat
pinang, dan lomba-lomba tradisional lainnya.
Sari ikut serta dalam lomba makan kerupuk. Ia menang dengan
mudah—ia menghabiskan 5 kerupuk dalam 2 menit, sementara lawan-lawannya masih
berjuang dengan kerupuk pertama. Bahkan ada yang belum bisa memakan karena
talinya terlalu panjang.
"Itu curang!" protes lawannya. "Dia makan
kerupuk kayak kipas angin!"
Sari tersenyum bangga. "Ini bakat alami, Bro. Udah
lahir udah bisa makan. Kata Ibu, pas lahir, gue langsung minta risol."
Tapi saat lomba balap karung, Sari jatuh 5 kali. Ia
melompat-lompat dalam karung, lalu jatuh, bangun lagi, lompat lagi, jatuh lagi,
berguling, bangun, jatuh lagi. Badannya yang mungil membuatnya sulit menjaga
keseimbangan.
"Lo tuh kayak bola," ledek Doni sambil tertawa.
"Muter-muter nggak jelas."
Sari marah. "Lo aja yang gendut! Coba lo masuk karung,
pasti karungnya robek! Lo nggak bisa ikut lomba!"
"Itu namanya gue nggak ikut karena gue mau kasih
kesempatan orang lain."
"Alasan!"
Mereka berantem bercanda sementara Maya dan Arif tertawa
melihat kelakuan dua sahabat mereka.
Ujian praktek Biologi, mereka harus mengamati katak. Setiap
kelompok mendapat satu katak hidup dalam toples kaca. Tugas mereka mengamati
pergerakan, perilaku, dan anatomi katak.
Sari yang takut katak, menjerit-jerit setiap kali kataknya
melompat. "BUANG! BUANG JAUH-JAUH! JANGAN DEKET-DEKET! GUE TRAUMA! GUE
TAKUT!"
Guru Biologi, Pak Hadi, menggeleng-geleng kepala.
"Sari, ini katak sudah mati."
"MATI KOK GERAKAN?"
"Itu refleks, Sari. Ototnya masih bisa bergerak
meskipun sudah mati."
"REFLEKS SETAN! MASA MATI GERAKAN! INI PASTI
ZOMBIE!"
Kelas tertawa terbahak-bahak. Arif hampir menjatuhkan
mikroskop karena tertawa. Maya memegangi perutnya yang sakit. Doni
terpingkal-pingkal sampai kacamatanya jatuh.
"Sari, lo tahu nggak, lo ini hiburan kelas," kata
Pak Hadi.
Sari cemberut. "Gue nggak mau jadi hiburan. Gue mau
jadi ilmuwan."
"Ilmuwan takut katak?" tanya Doni.
"Ilmuwan juga manusia, Gendut!"
Saat kelas 11, beredar isu bahwa mereka akan mengikuti KKN
(Kuliah Kerja Nyata) padahal masih SMA. Isu ini menyebar cepat, membuat banyak
siswa panik.
Doni paling panik. "Gimana gue mau KKN? Gue nggak bisa
masak! Nggak bisa nyuci! Nggak bisa nyapu! Nggak bisa apa-apa! Nggak bisa nyuci
piring! Nggak bisa nyuci baju! Nggak bisa masak nasi!"
"Lo bisa makan," sahut Sari.
"Itu mah semua orang bisa!"
"Lo juga bisa tidur."
"Itu juga semua orang bisa!"
"Berarti lo bisa KKN. Di desa, lo makan dan tidur.
Selesai."
Doni memukul meja. "SARI! INI SERIUS!"
Maya mencoba menenangkan. "Don, tenang. Itu cuma isu.
Kita masih SMA, mana mungkin KKN."
"Tapi kata kakak kelas, mereka dulu juga KKN pas
SMA."
"Kapan?"
"Tahun 2005 katanya."
Arif ikut bicara. "Don, tahun 2005 itu 5 tahun lalu.
Kurikulum udah berubah."
Doni mulai ragu. "Jadi ini hoax?"
Sari mengangguk mantap. "Hoax. Hoax besar. Lo kena
tipu."
Ternyata benar, itu hanya isu yang disebar kakak kelas
untuk menakut-nakuti adik kelas. Doni marah besar dan ingin melaporkan ke guru,
tapi dicegah Arif.
Arif sakit gigi parah. Pipinya bengkak sebelah, seperti
sedang menyimpan permen di mulut. Maya menyuruhnya ke dokter, tapi Arif takut.
"Gue takut, May."
"Takut apaan? Cuma dicabut. Atau ditambal. Nggak sakit
kok."
"Gigi gue bagus-bagus aja. Nggak perlu dicabut."
"Lo lihat pipi lo sendiri. Itu tanda gigi lo
bermasalah."
"Pipi gue bengkak karena gue kurang tidur."
"Ar, lo itu nggak bisa bohong. Wajah lo udah
jelas-jelas kesakitan."
Akhirnya Maya memaksa Arif ke dokter gigi. Hasilnya, gigi
Arif berlubang 5. Harus ditambal semua.
"Lihat, kan? Karena lo nggak pernah sikat gigi
malem."
"Siapa bilang? Gue sikat kok. Tiap pagi."
"Malemnya?"
"Malem... tidur."
Maya menghela napas. "Dasar. Mulai sekarang, gue akan
ngingetin lo sikat gigi tiap malem."
"Lo mau telepon gue tiap malem?"
"Kalau perlu."
Arif tersenyum meskipun mulutnya masih kebas efek bius.
"Boleh juga."
Suatu hari, ada cowok kelas 12 yang mendekati Maya. Namanya
Roni, kapten tim basket SMA 5. Ganteng, tinggi (180 cm), populer, dan anak
orang kaya. Mobil jemputannya selalu parkir di depan sekolah.
Roni sering "kebetulan" bertemu Maya di kantin,
di perpustakaan, di parkiran. Padahal jelas-jelas tidak kebetulan.
Arif cemburu berat. Ia diam saja seharian, tidak mau bicara
pada Maya.
"Ar, lo kenapa?" tanya Maya saat jam istirahat.
"Nggak apa."
"Lo dari tadi diem. Nggak ngomong. Bahkan nggak liat
gue."
"Gue lagi mikir."
"Mikir apa?"
Arif menatap Maya tajam. "Gue mikir... kenapa orang
suka sama orang yang salah."
Maya bingung. "Maksud lo?"
"Lo suka sama Roni?"
Maya terkejut, lalu tertawa. "Apa? Roni? Yang kemarin?
Dia cuma minta tolong bawain buku, Ar."
"Bawain buku sambil senyum-senyum."
"Itu namanya sopan. Dia bilang makasih, ya dia
senyum."
"Terus dia ngomong apa lagi?"
"Dia bilang, 'makasih, cantik'."
Arif tambah cemberut. Mukanya seperti anak kecil kehilangan
permen. Maya tertawa lagi.
"Ar, lo cemburu?"
"Enggak!"
"Lo cemburu."
"Enggak!"
"Iya, lo cemburu."
Akhirnya Arif mengaku. "IYA! GUE CEMBURU! PUAS LO? LO
SENANG LIAT GUE CEMBURU?"
Maya tersenyum manis. "Lo nggak usah cemburu. Yang gue
suka cuma lo. Roni? Nggak ada apa-apanya dibanding lo."
"Beneran?"
"Beneran."
Arif mereda. "Dia ganteng."
"Tapi lo lebih baik."
"Dia kaya."
"Tapi lo lebih perhatian."
"Dia tinggi."
"Tinggi nggak jaminan. Yang penting hatinya."
Arif tersenyum senang. Maya memegang tangannya. "Lo
percaya gue kan?"
"Percaya."
"Jangan cemburu-cemburu lagi ya."
"Janji."
Mereka berpelukan di taman sekolah. Doni yang melihat dari
kejauhan hanya geleng-geleng kepala. "Dasar anak SMA, drama mulu."
Suatu sore, Maya mengajak Arif ke rumahnya untuk pertama
kalinya. Rumah Maya sederhana, rumah kampung di belakang pasar, dengan halaman
sempit dan teras yang dipenuhi pot bunga milik ibunya. Dindingnya bercat hijau
pudar, pintunya kayu jati tua, dan lantainya masih tegel motif bunga-bunga.
"Maaf ya, rumah gue kecil," kata Maya malu-malu.
Arif tersenyum. "Nggak apa. Rumah gue juga kecil.
Malah lebih kecil dari ini."
"Serius?"
"Iya. Rumah gue di pinggiran Solo, dekat rel kereta.
Sempit, tapi nyaman."
Mereka masuk. Di ruang tamu yang berukuran 3x4 meter, Bu
Rini sedang menjahit di mesin jahit manualnya. Ia mengangkat wajah, tersenyum
melihat Arif.
"Wah, ini tamu pertama Maya di rumah," sapa Bu
Rini ramah. "Silakan duduk, Nak. Maya, buatkan minum."
Maya masuk ke dapur. Arif duduk di kursi tamu dengan agak
canggung.
"Jadi kamu Arif? Teman sekelas Maya?"
"Iya, Bu. Temen satu kelompok belajar."
Bu Rini mengamati Arif dengan teliti. Matanya yang tajam,
warisan untuk Maya, melihat setiap detail—cara duduk Arif yang sopan, cara ia
menjawab dengan tenang, cara ia menatap lawan bicara.
"Maya sering cerita tentang kamu."
"O ya? Cerita apa, Bu?"
"Cerita kamu baik. Suka nolongin. Rajin belajar. Tapi
suka jatuh dari sepeda."
Arif tersipu. "Maaf, Bu. Gue—eh, saya memang agak
ceroboh."
Bu Rini tertawa kecil. "Nggak apa. Yang penting
hatinya baik. Ibu lihat kamu baik."
Maya keluar dengan dua gelas es teh. "Ini, Ar.
Minum."
"Makasih, May."
Maya duduk di samping Arif. Bu Rini memperhatikan mereka
berdua dengan senyum tipis.
"Arif, kamu anak mana?"
"Manahan, Bu. Dekat stasiun."
"Jauh juga. Pulang pergi naik apa?"
"Sepeda, Bu. Tapi kadang diantar bapak kalau bapak
nggak kerja."
"Orang tua kerja apa?"
Arif menjawab jujur. "Bapak buruh pabrik, Bu. Ibu
jualan gorengan di pasar."
Bu Rini mengangguk. "Kerja keras. Bagus."
Mereka mengobrol ringan tentang sekolah, tentang cita-cita,
tentang kehidupan. Arif merasa nyaman—Bu Rini tidak menghakimi, tidak sok tahu,
tidak menggurui.
Setelah Arif pulang, Bu Rini duduk di samping Maya.
"Nduk, kamu suka sama Arif?"
Maya tersipu. "Bu..."
"Ibu tahu. Dari cara lo lihat dia. Dari cara lo cerita
tentang dia. Dari cara lo siap sedia kalau dia datang."
Maya diam.
"Dia anak baik, Nduk. Sederhana, jujur, sopan.
Tapi..."
"Tapi apa, Bu?"
"Kalian masih muda. Masih sekolah. Jangan buru-buru
pacaran. Nikmati masa remaja. Berteman yang baik. Kalau memang jodoh, nggak
kemana-mana."
Maya mengangguk. "Iya, Bu."
"Tapi kalau memang sayang, jaga perasaan itu. Jaga
dengan baik. Jangan sampai kehilangan."
Satu minggu berikutnya, Arif mengajak Maya ke rumahnya
untuk pertama kalinya. Rumah Arif di pinggiran Solo, dekat rel kereta. Rumah
sederhana, dinding bata tanpa plester, lantai semen, atap genteng yang sudah
tua. Tapi halamannya bersih, penuh pot bunga yang dirawat ibunya.
"Maaf ya, rumah gue sederhana," kata Arif
malu-malu.
Maya tersenyum. "Nggak apa. Rumah gue juga sederhana.
Ini rumah, bukan istana."
Mereka masuk. Di ruang tamu yang sempit, Bu Siti menyambut
dengan ramah. "Oh, ini Maya? Cantik sekali. Ibu senang akhirnya bisa
bertemu. Arif sering cerita tentang kamu."
Maya tersenyum sopan. "Iya, Bu. Saya juga
senang."
Pak Sumarjo duduk di kursi tamu dengan wajah serius.
"Duduk, Nak."
Maya duduk dengan canggung. Arif di sampingnya tegang. Dari
balik pintu, Rizki, adik Arif yang masih SD, mengintip dengan mata bundar penuh
rasa ingin tahu.
"Jadi kamu Maya?" tanya Pak Sumarjo.
"Iya, Pak."
"Arif cerita banyak tentang kamu."
"Mudah-mudahan yang baik-baik, Pak."
Pak Sumarjo tersenyum tipis. "Arif bilang kalian mau
serius?"
Maya menatap Arif, lalu kembali ke Pak Sumarjo. "Iya,
Pak. InsyaAllah."
"Kamu tahu keadaan keluarga kami? Bapak cuma buruh pabrik.
Ibu jualan gorengan. Adik Arif masih kecil. Hidup kami pas-pasan."
Maya mengangguk mantap. "Saya tahu, Pak. Arif cerita.
Dan saya nggak masalah."
"Dan kamu tetap mau sama Arif?"
"Saya mau, Pak. Saya sayang Arif. Saya nggak lihat
harta. Saya lihat hatinya."
Pak Sumarjo diam sejenak. "Bagus. Tapi ingat, anak
muda, cinta saja tidak cukup. Butuh perjuangan. Butuh pengorbanan. Butuh
kesabaran."
"Saya siap, Pak."
Setelah Maya pulang, Pak Sumarjo memanggil Arif ke ruang
belakang.
"Le, Bapak lihat Maya anak baik."
Arif senang. "Iya, Pak. Dia baik."
"Tapi..."
Arif tegang. "Tapi apa, Pak?"
"Bapak dengar dari teman, keluarganya biasa saja.
Ibunya jahit, bapaknya sudah meninggal."
"Iya, Pak. Tapi itu nggak masalah buat aku."
"Buat kamu mungkin nggak masalah. Tapi buat masa
depan, kamu butuh dukungan. Kamu butuh koneksi. Kamu butuh modal. Bapak nggak
bisa kasih kamu apa-apa, Le."
"Pak, aku cuma butuh restu Bapak. Aku nggak minta yang
lain."
Pak Sumarjo menghela napas. "Cinta bisa tumbuh dengan
siapa saja, Le. Tapi masa depan tidak bisa ditukar dengan cinta."
Arif diam. Hatinya panas. Tapi ia tidak berani membantah.
Rizki, adik Arif yang masih duduk di kelas 5 SD, sangat
suka pada Maya. Setiap Maya datang, ia selalu meminta ditemani main atau diajak
ngobrol.
"Mbak Maya, main kelereng yuk!" ajak Rizki suatu
hari.
Maya tertawa. "Kelereng? Mbak nggak bisa main
kelereng."
"Ajarin! Aku ajarin! Gampang kok!"
Maya pun duduk di lantai bersama Rizki, belajar main
kelereng. Arif melihat mereka dari samping, tersenyum.
"Kak, Mbak Maya baik ya," kata Rizki pada Arif
nanti malam.
"Iya, baik."
"Aku suka Mbak Maya. Aku mau Mbak Maya jadi kakak
iparku."
Arif mengusap kepala adiknya. "Doain ya, Ki. Doain
semoga jadi."
Kelas 12, Semester 1
Semester 1 tahun terakhir SMA. Semua sibuk dengan persiapan
ujian nasional dan rencana masa depan. Tapi Geng Lumpia—begitu Sari menamai
kelompok mereka—tetap kompak.
Suatu hari di kantin, Sari bertanya, "Jadi lo berdua
rencananya gimana setelah lulus?"
Maya menjawab, "Gue mau kuliah di UNS. Pendidikan
Bahasa Indonesia."
Arif menjawab, "Gue... nggak kuliah dulu. Mau
kerja."
Semua diam. Sari dan Doni saling pandang.
"Maksud lo kerja?" tanya Doni.
"Iya. Kerja. Bantu keluarga. Bapak udah nggak kerja.
Ibu jualan gorengan nggak cukup. Adik gue masih SD. Gue harus bantu."
Maya menggenggam tangan Arif di bawah meja. "Gue
dukung lo, Ar."
"Tapi lo nggak kuliah?" tanya Sari.
"Nanti. Insya Allah nanti. Gue nabung dulu. Kalau udah
cukup, gue kuliah sambil kerja."
Doni menghela napas. "Berat ya."
"Iya. Tapi gue harus."
BAGIAN III
CINTA YANG DIUJI
Saat wisuda, topi toga beterbangan di udara, diikuti
teriakan gembira para siswa. Tangis haru dan tawa bahagia bercampur jadi satu
di halaman SMA 5. Maya, Arif, Sari, dan Doni berfoto bersama di bawah pohon
beringin—pohon yang sama yang dulu menjadi saksi bisu pertemuan mereka.
"Kita lulus!" teriak Sari, melempar topi toganya
tinggi-tinggi.
"Gila, tiga tahun berlalu cepet banget," Doni
mengusap mata.
"Lo nangis, Don?" goda Arif.
"Mata gue kemasukan debu! Banyak debu di sini! Anginnya
kencang!"
Semua tertawa. Mereka tahu Doni memang sentimental.
Bu Widi dan Bu Dewi ikut berfoto bersama. "Kalian
adalah angkatan yang luar biasa," kata Bu Widi. "Jaga silaturahmi
ya."
Bu Dewi menambahkan, "Jangan lupa sama sekolah.
Kapan-kapan main ke sini."
Sore harinya di taman kota
Maya dan Arif duduk di bangku favorit mereka—bangku taman
dekat air mancur, tempat mereka biasa menghabiskan waktu setelah pulang
sekolah. Sore itu cerah, tidak seperti hati Maya yang mendung.
"Jadi lo besok berangkat?" tanya Maya lirih.
"Iya. Kereta jam 7 pagi ke Surabaya, lalu lanjut kapal
ke Kalimantan. Perjalanan total dua hari."
Maya menggenggam tangan Arif. "Jaga diri lo di sana.
Jangan sakit. Jangan kecelakaan. Jangan lupa makan."
"Lo juga. Kuliah yang bener. Jangan pacaran sama orang
lain."
Maya tersenyum getir. "Lo aja yang jangan deket-deket
sama cewek Kalimantan."
Arif tertawa. "Gue jamin. Cewek Kalimantan nggak mau
sama gue. Gue kan jelek."
"Pembohong."
"Serius."
Mereka berpelukan lama. Tidak ada yang mau melepas. Di
sekitar mereka, pengunjung taman lalu lalang, tapi mereka tidak peduli.
"Aku sayang lo, Ar."
"Aku juga sayang lo, May. Lebih dari apapun."
Arif meraih gelang biru di tangan Maya. "Lo masih pake
gelang ini?"
"Masih. Nggak pernah lepas."
"Bagus. Itu tanda kalau lo ingat janji kita."
Maya mengangguk. "Janji kita."
Mereka berpisah di stasiun keesokan harinya. Arif naik
kereta malam menuju Surabaya. Maya melambaikan tangan sampai kereta menghilang
di ujung rel.
Saat itu, Maya tidak tahu bahwa perpisahan ini akan menjadi
awal dari keretakan.
Di Kalimantan, Arif bekerja di perusahaan kelapa sawit
sebagai buruh lapangan. Pekerjaannya berat, dari pagi sampai sore di bawah
terik matahari, memanen buah sawit, memuat ke truk, kadang lembur sampai malam.
Tapi ia tetap menyempatkan menulis surat.
"May,
Di sini panas banget. Badan gue hitam kayak arang. Tapi gue
nggak capek karena setiap pulang kerja, gue baca surat lo. Itu obat capek gue.
Gue tinggal di kampung pekerja. Kamar kecil, berdua sama
temen. Mandinya di sumur. Listrik mati tiap jam 10 malem. Tapi gue nggak
masalah. Yang penting bisa kerja dan nabung.
Gimana kuliah lo? Ada temen baru? Ada dosen galak? Cerita
dong. Gue kangen banget sama lo. Kangen makan lumpia bareng. Kangen denger lo
marah-marah. Kangen semuanya.
Doain gue ya. Semoga cepet dapet bonus biar cepet kumpul
duit buat nikah.
Kangen,
Arif"
Maya membaca surat itu berulang-ulang. Ia simpan di kotak
khusus, bersama gelang biru dan kenangan lainnya.
Tiga bulan kemudian,
surat Arif mulai jarang. Dari seminggu sekali, jadi dua minggu, lalu sebulan
sekali. Alasannya selalu sama—sibuk, capek, sinyal susah.
"May,
Maaf jarang nulis. Sibuk banget. Bos gue galak, target gue
tinggi. Tiap hari capek banget.
Tapi gue sehat. Lo pasti juga sehat.
Gue masih sayang lo. Jangan ragu.
Arif"
Maya membaca surat itu dengan perasaan aneh. Ada yang
berbeda. Arif tidak bercerita seperti dulu. Tidak ada humor. Tidak ada cerita
lucu. Hanya kabar singkat.
Enam bulan kemudian, Arif
pulang ke Solo untuk libur Lebaran. Maya menjemputnya di stasiun. Ia hampir
tidak mengenali Arif—badannya lebih besar, kulitnya lebih hitam, dan matanya...
matanya sayu. Ada lingkaran hitam di bawah mata.
"Ar!"
"Maya!"
Mereka berpelukan. Tapi pelukan itu terasa berbeda. Kaku.
Seperti dua orang asing yang dipaksa akrab.
"Lo capek?"
"Iya. Perjalanan panjang. Dua hari di kereta dan
kapal."
"Yuk pulang. Ibu udah masak."
Di perjalanan, Arif lebih banyak diam. Maya berusaha
mencairkan suasana dengan cerita-cerita kuliah, tapi Arif hanya
mengangguk-angguk.
Malam harinya, mereka bertemu di taman kota. Arif lebih
banyak diam, menatap air mancur dengan pandangan kosong.
"Ar, ada masalah?"
Arif menghela napas panjang. "Gue harus ngomong
sesuatu."
Maya tegang. "Apa?"
"Keluarga gue... mereka kenalin gue sama orang. Namanya
Rina."
Dunia Maya serasa berhenti.
Keesokan harinya
Rina datang ke rumah Arif bersama orang tuanya. Pertemuan
yang diatur oleh Pak Sumarjo dan keluarga Rina. Arif tidak punya pilihan, ia
harus menerima mereka.
Rina duduk di ruang tamu dengan anggun. Ia cantik, cantik
dengan cara yang berbeda dari Maya. Lebih elegan, lebih kalem, lebih dewasa.
Pakaiannya mahal, perhiasannya berkilau.
"Jadi kamu yang kerja di Kalimantan?" tanya Rina.
"Iya."
"Berat ya? Capek?"
"Biasa."
Rina tidak tersinggung dengan jawaban singkat Arif. Ia
terus mencoba. "Aku dengar kamu suka baca. Aku juga suka. Mungkin kita
bisa tukar buku?"
Arif hanya mengangguk.
Setelah kunjungan, Pak Sumarjo berkata, "Le, bagaimana
menurutmu Rina?"
"Maksud Bapak?"
"Mereka tertarik sama kamu. Apalagi Rina. Dia
tanya-tanya tentang kamu. Orang tuanya juga setuju. Mereka nggak masalah dengan
latar belakang kita."
"Tapi Pak, Maya..."
"Maya nggak bisa bantu kita, Le. Rina bisa.
Keluarganya kaya. Mereka punya toko emas. Mereka bisa bantu Bapak buka usaha. Bapak
bisa berhenti jadi buruh."
"Pak, tolong..."
"Bapak nggak maksa. Tapi pikir. Pikir baik-baik. Demi
masa depanmu. Demi masa depan keluarga kita."
Arif tidak bisa tidur malam itu.
Satu minggu berikutnya, Arif
kembali ke Kalimantan. Maya terus mengirim surat, tapi balasan Arif semakin
jarang dan singkat. Suatu malam, Maya nekat menelepon, beruntung sinyal sedang
bagus.
"Ar."
"Hei, May." Suara Arif sayu.
"Lo kenapa sih? Kok jarang nulis? Udah dua bulan nggak
ada kabar."
"Sibuk, May. Maaf."
"Ar, jujur sama gue. Ada masalah?"
Hening panjang. Maya bisa mendengar Arif bernapas di
seberang.
"Ar?"
"May... gue bingung."
"Bingung apaan?"
"Keluarga gue... mereka terus desak gue sama Rina.
Bapak sakit, butuh biaya. Keluarga Rina tawarin bantuan. Mereka mau biayain pengobatan
Bapak kalau gue mau deket sama Rina."
Maya terdiam. Dadanya sesak.
"Lo milih mereka?"
"Nggak, May. Gue nggak milih siapa-siapa. Gue
cuma..."
"Cuma apa?"
Hening lagi.
"Ar, lo harus milih. Gue atau mereka."
"May, jangan gitu. Ini nggak adil."
"Nggak adil? Lo yang ninggalin gue, lo yang bilang
nggak adil?"
"Aku nggak ninggalin lo."
"Tapi lo ragu! Lo ragu milih gue! Itu sama saja!"
Arif tidak menjawab.
"Oke. Gue tahu jawabannya."
Telepon ditutup. Maya menangis semalaman.
Seminggu kemudian
Arif pulang lagi. Bukan karena Lebaran, tapi karena keadaan
darurat—Bapaknya masuk rumah sakit. Serangan jantung ringan.
Maya datang ke rumah sakit. Ia ingin mendukung Arif, ingin
menunjukkan bahwa ia ada untuknya. Tapi di sana, di lorong rumah sakit, ia
melihat Rina.
Rina duduk di kursi tunggu, di samping Arif. Tangannya
memegang tangan Arif. Mereka terlihat seperti pasangan yang sedang menunggu
kabar orang tua.
Maya membeku.
Arif melihat Maya. Ia lepaskan tangan Rina, berjalan
mendekat dengan wajah panik.
"May..."
Maya tersenyum pahit. "Jadi ini yang lo maksud
bingung? Lo udah deket sama dia?"
"May, dengerin..."
"Siapa dia?" Rina mendekat.
Maya menatap Rina. Cantik, elegan, kaya. Semua yang Maya
tidak punya.
"Aku Maya," katanya dingin. "Mantan
Arif."
Rina tersenyum sopan. "Senang bertemu. Aku Rina."
Maya tidak membalas senyum itu. Ia kembali menatap Arif.
"Lo tega, Ar. Lo tega banget."
"May, please..."
"Nggak usah, Ar. Gue lihat sendiri. Gue nggak perlu
penjelasan."
Maya pergi. Arif ingin mengejar, tapi Rina memegang
lengannya.
"Biarkan dia tenang dulu, Ar. Kejar nanti."
Arif menggeleng. "Lo nggak ngerti."
"Aku tahu. Tapi ini saatnya kamu harus milih."
Malam itu di rumah Maya
Maya duduk di kamarnya, menangis. Air mata tidak berhenti
mengalir sejak ia pulang dari rumah sakit. Sari datang setelah mendapat kabar
dari Doni.
"May, buka pintu."
Tidak ada jawaban.
"May, gue tahu lo di dalam. Buka."
Pintu terbuka. Wajah Maya kusut, mata bengkak, rambut
acak-acakan. Sari memeluknya erat.
"Gue tahu, May. Doni cerita."
Maya terisak di pelukan Sari. "Dia milih dia, Sar. Dia
milih Rina."
"Belum tentu, May. Belum ada keputusan resmi."
"Tapi dia udah deket sama dia. Dia pegang tangan
dia."
"Itu mungkin karena..."
"Nggak ada mungkin, Sar. Gue lihat sendiri."
Pagi harinya
Arif datang ke rumah Maya. Matanya sembab, wajahnya kusut.
Ia tidak tidur semalaman.
"May, buka."
Maya membuka pintu. Matanya dingin.
"Lo mau apa?"
"Gue harus jelasin."
"Jelasin apa? Udah jelas."
"Tolong, May. Dengerin gue."
Maya membuka pintu lebar-lebar. "Silakan."
Di ruang tamu, mereka duduk berhadapan. Bu Rini keluar,
memberi mereka privasi.
"May, gue nggak pernah mau ninggalin lo. Tapi keluarga
gue... Bapak gue sakit parah. Butuh biaya besar. Keluarga Rina tawarin bantuan.
Mereka mau biayain semua asal gue mau deket sama Rina. Bukan nikah, tapi deket
dulu."
Maya tertawa pahit. "Jadi lo jual cinta lo buat
uang?"
"Bukan gitu. Ini masalah hidup dan mati. Bapak
gue..."
"Bapak lo sakit, gue turut sedih. Tapi apa cuma itu
jalannya? Lo nggak bisa cari jalan lain? Pinjam bank? Cari donasi? Apa?"
"Udah gue coba. Tapi nggak ada yang mau. Keluarga gue
miskin, May. Kita nggak punya koneksi. Sementara keluarga Rina..."
"Jadi lo pilih mereka?"
Arif menunduk. "Gue nggak punya pilihan."
Maya berdiri, matanya menyala. "Lo selalu punya
pilihan, Ar! Tapi lo milih yang gampang! Lo milih jalan yang udah diatur! Lo
milih ninggalin gue!"
"May, please..."
"Jangan May-May! Lo pikir gue nggak sakit? Lo pikir
gue nggak takut masa depan? Lo pikir gue nggak punya masalah? Ibu gue jahit
siang malem buat biayain kuliah gue. Tapi gue tetep milih lo! Tetep percaya
sama lo! Dan lo balas dengan ini?"
Arif tertunduk. Air matanya jatuh. "Maaf, May."
"Maaf lo nggak cukup." Maya membuka pintu.
"Keluar."
"May..."
"KELUAR!"
Arif pergi dengan langkah gontai. Maya jatuh terduduk di lantai,
menangis sejadi-jadinya.
BAGIAN IV
PENGKHIANATAN
Sebulan kemudian
Arif memutuskan. Ia akan menerima tawaran keluarga Rina.
Bukan karena ia tidak cinta Maya. Tapi karena ia tidak punya pilihan. Atau
setidaknya, itulah yang ia yakini.
Ia menulis surat terakhir untuk Maya.
"May,
Maaf. Maaf untuk semuanya.
Gue harus nikah sama Rina. Bukan karena gue nggak sayang
lo. Tapi karena keluarga gue butuh. Bapak gue butuh biaya berobat. Keluarga
Rina bisa bantu.
Gue tahu lo sakit hati. Gue juga sakit hati. Tapi gue nggak
punya pilihan.
Maafkan gue. Dan semoga lo bahagia.
Jangan pernah lupa, gue akan selalu sayang lo.
Arif"
Maya membaca surat itu sampai basah oleh air mata. Ia
membacanya berulang kali, berharap ada kata-kata ajaib yang bisa mengubah
segalanya. Tapi tidak ada.
Reaksi Ibu Maya
Bu Rini memeluk putrinya. "Nduk, Ibu tahu ini berat.
Tapi Ibu bangga sama kamu. Kamu kuat."
"Bu, aku nggak kuat."
"Kamu kuat. Kamu pasti bisa melewati ini."
"Tapi Bu..."
"Dengar, Nduk. Allah punya rencana yang lebih baik.
Mungkin Arif bukan jodohmu. Mungkin ada yang lebih baik nanti. Sabar."
Sari marah besar. "ARIF TUH COWOK PENGECUT! GUE
NGAKAK!" Ia berteriak di telepon.
"Sar, tenang."
"TENANG BAGAIMANA? DIA NINGGALIN LO! DEMI DUIT! DASAR
MATRE!"
"Dia bilang demi keluarga."
"ALASAN! KELUARGA BOLEH, TAPI CARI JALAN LAIN DONG!
JANGAN NIKAH SAMA ORANG LAIN!"
"Sar..."
Sari menghela napas. "Maaf, May. Gue marah. Bukan
marah sama lo. Marah sama dia."
Sementara, Doni mengirim pesan panjang.
Doni: May, gue tahu lo sakit hati. Gue juga kecewa sama
Arif. Tapi lo harus kuat. Lo harus buktikan kalau lo bisa bahagia tanpa dia. Lo
hebat. Lo cantik. Lo pinter. Banyak cowok yang lebih baik.
Maya: Makasih, Don.
Doni: Kalau lo butuh temen cerita, gue ada. Siap sedia 24 jam.
Gratis. Termasuk nemenin lo makan, nemenin lo nangis, nemenin lo marah-marah.
Maya: Makasih.
Maya lulus kuliah lebih cepat—3,5 tahun. Ia tidak tahan
tinggal di Solo, di kota yang penuh kenangan bersama Arif. Setiap sudut kota
mengingatkannya pada Arif—kantin, perpustakaan, taman kota, stasiun, halte
dekat sekolah.
"Ibu, aku mau pindah ke Jakarta."
Bu Rini menghela napas. "Nduk, kamu yakin? Jakarta
keras."
"Aku harus, Bu. Aku nggak bisa di sini. Terus inget
dia."
"Ibu tahu. Tapi lari dari masalah nggak akan
menyelesaikan apa-apa."
"Aku nggak lari, Bu. Aku cuma... butuh suasana baru.
Tempat baru. Orang baru."
Bu Rini memeluk putrinya. "Ibu doain yang terbaik.
Jaga diri di sana. Telpon Ibu tiap minggu."
"Janji, Bu."
Maya tiba di Jakarta. Kota yang panas, bising, dan padat.
Ia menyewa kontrakan kecil di Pondok Gede, rekomendasi teman kuliah yang sudah
lebih dulu merantau.
Hari pertama di kontrakan, Maya duduk di lantai, memandangi
kardus-kardus yang belum dibuka. Ia menangis. Sendirian. Di kota orang.
Tapi ia harus bertahan.
BAGIAN V
HIDUP BARU DI JAKARTA
Di Jakarta, Maya melamar kerja di beberapa penerbitan.
Beruntung, IPK-nya bagus dan portofolio tulisannya menarik. Ia diterima di
Penerbitan Karya Abadi, sebuah penerbit sedang yang fokus pada novel-novel
populer.
Hari pertama kerja, Maya diperkenalkan pada rekan-rekan
barunya.
"Ini Maya, editor baru kita. Dari Solo, fresh graduate
UNS," kata Bu Wati, editor senior yang akan membimbing Maya.
Maya tersenyum sopan. "Selamat pagi, semuanya. Tolong
bimbing saya."
"Maya, lo duduk di sini." Mas Yono, desainer
grafis berusia 35 tahun, menunjuk meja kosong di pojok ruangan.
"Makasih, Mas."
"Ini kartu nama lo. Ini jadwal lo. Ini buku pedoman.
Ini kopi. Lo suka kopi?" Bu Wati cerewet tapi baik.
"Suka, Bu."
"Bagus. Di sini kita hidup dari kopi. Tanpa kopi,
naskah nggak kelar."
Rekan-rekan kantor:
Bu Wati, 50 tahun, editor
senior yang sudah 25 tahun berkecimpung di dunia penerbitan. Galak tapi baik
hati. Setiap Maya salah, ia memarahi dengan suara keras, tapi selalu membimbing
dengan sabar.
"Maya, naskah ini harus lo revisi. Koma-komanya masih
banyak yang salah. Kata 'di' sama 'ke' masih banyak yang nggak baku. Lo lulusan
Sastra kok gini?"
"Maaf, Bu. Saya revisi."
"Nggak cuma revisi. Lo harus belajar. Baca buku EYD
lagi. Jangan malas."
"Iya, Bu."
Tapi setelah marah-marah, Bu Wati selalu memberikan makanan
ringan. "Ini buat lo. Makan. Lo kurus."
Mas Yono, 35
tahun, desainer grafis yang humoris dan suka bercanda. Ia selalu bisa
mencairkan suasana ketika deadline menekan.
"May, lo lihat cover buku ini? Kayak taplak meja
ya?"
Maya tertawa. "Iya, Mas. Kasian penulisnya."
"Nanti kita revisi. Gue bikin yang lebih keren.
Dijamin best seller."
"Mas, best seller itu karena isi, bukan cover."
"Ah, elah. Isi boleh jelek, cover harus cakep. Pembeli
lihat cover dulu, baru lihat sinopsis."
Mbak Diah, 40
tahun, manajer pemasaran yang super sibuk. Teleponnya tidak pernah berhenti
berdering. Ia selalu berlari ke sana kemari.
"May, tolong cek naskah ini ya, deadline besok."
"Waduh, Mbak, mepet."
"Ya usaha. Lo kan hebat. Gue percaya lo."
Maya hanya bisa menghela napas. Tapi ia suka tantangan.
Pak Harun, 55
tahun, pemilik penerbitan. Pria paruh baya yang bijaksana dan jarang marah.
Setiap ada masalah, ia selalu bilang, "Sudah, sudah. Yang penting selesai.
Jangan lupa bahagia."
Di kontrakan, Maya perlahan berkenalan dengan
tetangga-tetangganya. Mereka adalah keluarga barunya di Jakarta.
Bu Tuti adalah yang
pertama menyapa. "Lo baru ya, Neng? Dari mana? Solo? Jauh amat. Sendirian?
Nggak takut? Di sini lo harus hati-hati. Banyak copet. Banyak begal. Tapi
tenang, Ibu jagain lo."
Maya tersenyum. "Makasih, Bu."
"Lo kerja di mana? Penerbitan? Wah, keren. Lo nulis
buku? Nanti kalo jadi buku, kasih Ibu ya. Ibu mau baca."
Pak Karto lebih
pendiam. Ia hanya menyapa "selamat pagi" dan "selamat sore"
setiap kali berpapasan. Tapi suatu hari, ia memberi Maya ikan hasil
pancingannya.
"Neng, ini ikan. Masih segar. Buat lauk."
Maya terharu. "Makasih, Pak. Tapi saya nggak bisa
masak ikan."
"Ya udah, nanti Bu RT yang masakin. Dia jago
masak."
Bu Sri langsung curiga.
"Lo anak baru ya? Dari mana? Kerja di mana? Punya pacar? Sendirian aja?
Kok berani?"
Maya menjawab semua pertanyaan dengan sabar.
Bu Sri mengangguk puas. "Bagus. Lo anak baik. Nanti
kalau ada apa-apa, kabarin gue. Gue tahu semua yang terjadi di kompleks
ini."
Mas Bejo setiap
sore mangkal di ujung gang. Maya jadi pelanggan tetap. Bakso Mas Bejo enak dan
harganya bersahabat.
"Neng Maya, porsinya kayak biasa?"
"Iya Mas, bakso urat."
"Lo kurus, Neng. Makan yang banyak. Bakso gue nambah
nggak nambah harga."
"Makasih, Mas."
Mpok Ijah lewat
setiap pagi. Maya jadi langganan sayurnya. Mpok Ijah selalu memberi bonus—kadang
cabai, kadang tomat, kadang bawang.
"Ini bonus, Neng. Biar lo rajin masak. Biar montok.
Cowok suka yang montok."
"Makasih, Mpok."
Lima tahun sudah Maya di Jakarta. Ia sudah menjadi editor
senior. Gajinya naik, hidupnya lebih mapan. Tapi hatinya? Maya tidak tahu.
Ia pernah beberapa kali mencoba berpacaran. Dengan Mas
Yono, tapi hubungan itu hanya bertahan 3 bulan karena mereka terlalu sering
bertengkar soal pekerjaan. Dengan penulis bernama Reza, hanya sebulan karena
Reza terlalu posesif. Dengan teman kampus yang pindah ke Jakarta, dua minggu
karena cowok itu ternyata sudah punya pacar di kampung halaman.
Sari sering menelpon dari Solo. "May, lo kenapa sih?
Setiap ada cowok, lo selalu cari alasan buat putus."
"Nggak tahu, Sar. Mungkin gue belum siap."
"Lo masih inget Arif?"
Maya diam.
"May, udah 6 tahun. Lo harus move on."
"Gue tahu. Tapi... susah."
Sari akhirnya menikah dengan Rian, cowok yang dikenalkannya
dua tahun lalu. Maya jadi bridesmaid di pernikahan itu. Ia pulang ke Solo untuk
pertama kalinya dalam 5 tahun.
Di Solo, Maya bertemu banyak kenalan lama. Doni, yang
sekarang sudah kurusan (sedikit) dan sudah punya pacar. Budi dan Lina, yang
juga sudah menikah. Guru-guru SMA yang masih mengajar.
"Lo cantik, May," kata Sari sambil memeluk Maya
sebelum akad.
"Lo yang cantik. Pengantin."
"Makasih udah selalu ada buat gue."
Maya terharu. "Lo sahabat gue. Pasti."
Di resepsi, Doni mendekat. "May, lo sendiri aja?"
"Iya. Lo tahu sendiri."
Doni menghela napas. "Gue sering ngobrol sama
Arif."
Maya tegang. "Oh ya? Dia gimana?"
"Baik. Kerja di Solo sekarang. Punya toko bangunan.
Anaknya satu. Usia 3 tahun."
Maya tersenyum getir. "Baguslah."
"Dia sering nanya kabar lo."
"Bilang aja gue baik-baik aja."
Dari Doni, Maya tahu perkembangan Arif.
Setelah menikah dengan Rina, Arif pindah ke Solo. Ia
bekerja di toko bangunan milik keluarga Rina. Perlahan, ia belajar mengelola
usaha. Sekarang, toko itu berkembang pesat dan Arif menjadi manajer.
Rina melahirkan anak pertama, seorang laki-laki, setahun
setelah menikah. Namanya Rafa. Sekarang Rafa sudah 5 tahun.
Pak Sumarjo sudah meninggal, tiga tahun setelah pernikahan
Arif. Tapi sebelum meninggal, ia sempat melihat cucu pertamanya.
Bu Siti sehat, tinggal dengan Arif dan Rina. Rizki kuliah
di UNS, jurusan Teknik.
"Arif bahagia nggak?" tanya Maya.
Doni menghela napas. "Gue nggak tahu, May. Secara
fisik, dia baik-baik aja. Punya usaha, punya anak, punya istri. Tapi matanya...
matanya sayu. Kayak orang kehilangan sesuatu."
Maya diam.
"Gue rasa, dia nggak pernah benar-benar melupain
lo."
Setelah pernikahan Sari, Maya kembali ke Jakarta. Hatinya
campur aduk. Melihat Arif, meskipun hanya dari cerita Doni, membuka luka lama.
Tapi hidup harus jalan. Maya kembali bekerja, kembali ke
rutinitas, kembali ke kontrakan dengan tetangga-tetangganya yang lucu.
Bu Tuti menyambutnya, "Neng, lo kurusan! Nggak enak ya
di Solo? Di Jakarta aja, di sini Ibu jagain."
Maya tersenyum. "Iya, Bu. Kangen Jakarta."
BAGIAN VI
PERSIAPAN MENUJU SOLO
Pukul setengah sembilan pagi, Maya baru saja selesai mandi
dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika suara motor butut Pak
Pos terdengar dari luar. Suara knalpotnya yang khas—seperti campuran traktor
rusak dan blender kelebihan beban—langsung dikenalnya.
"Maya! Bu Maya! Ada surat!" teriak Pak Pos dari
luar.
Maya membuka pintu kamar mandi, masih dengan handuk di
kepala, rambut basah menetes-netes membasahi lantai. "Sebentar, Pak!"
Ia berlari kecil ke pintu, hampir terpeleset di lantai
kamar mandi yang licin. Refleksnya menyelamatkan diri dengan berpegangan pada
kusen pintu. "Waduh, hampir aja gue jadi atlet lompat indah."
Membuka pintu, seorang pria paruh baya dengan seragam
oranye lusuh—warnanya sudah memudar jadi oranye kusam seperti wortel
busuk—berdiri di sana, basah kuyup karena hujan. Di tangannya, sebuah amplop
putih dilindungi plastik bening agar tidak basah. Wajahnya penuh keriput, tapi
matanya masih tajam.
"Selamat pagi, Bu Maya. Ada surat. Penting katanya,
soalnya pake plastik. Biasanya mah kagak pake plastik. Kalo pake plastik, pasti
penting." Kata Pak Pos sambil tersenyum memperlihatkan gigi kuning karena
kebiasaan nginang—campuran sirih, pinang, kapur yang bikin mulutnya merah kalau
lagi nginang aktif.
Maya menerima amplop itu. "Makasih, Pak. Udah
basah-basah nganter surat."
"Ya, Bu. Hati-hati, Bu. Jangan lupa makan. Jangan lupa
ibadah. Jangan lupa bayar listrik. Jangan lupa bayar air. Jangan lupa bayar
iuran RT. Jangan lupa bayar iuran keamanan. Jangan lupa bayar iuran sampah.
Jangan lupa bayar iuran kematian. Jangan lupa bayar iuran pembangunan masjid.
Jangan lupa..."
Maya tersenyum. Pak Pos ini memang suka memberi nasihat
panjang lebar. "Iya, Pak. Makasih. Bapak juga jaga kesehatan."
"Ah, Bapak mah kebal, Bu. 20 tahun nganter surat,
hujan-hujanan, panas-panasan, nggak pernah sakit. Kata orang, badan Bapak udah
campur formalin kali ya."
Maya tertawa. "Mudah-mudahan bukan, Pak."
"Ya udah, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pak Pos pergi dengan sepeda motor bututnya yang berasap
tipis-tipis seperti mau meledak. Maya menutup pintu, memandangi amplop putih di
tangannya. Agak tebal. Kemasannya bagus—kertas dof dengan tekstur timbul, amplop
model undangan pernikahan premium, pikirnya.
Ia meletakkan amplop itu di meja makan, di samping tumpukan
naskah yang belum selesai dibaca. Ia akan membukanya nanti, setelah mandi dan
selesai membaca bab yang sedang direvisi. Tapi entah kenapa, matanya terus
melirik amplop itu. Ada firasat aneh di dadanya. Jantungnya berdebar tidak
karuan, padahal ia belum melakukan aktivitas berat—bahkan belum lari-lari atau
naik turun tangga.
Maya menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan firasat itu.
"Udah, mandi dulu. Itu cuma undangan biasa. Mungkin temen kantor yang
nikah. Atau temen SMA yang nikah lagi. Atau Sari yang iseng bikin undangan
palsu buat ngerjain gue."
Setelah mandi—dengan air hangat karena cuaca dingin, dan
sambil bergumam "tenang, tenang, ini cuma undangan biasa"—Maya duduk
di meja makan dengan rambut masih setengah basah, handuk masih melingkar di
leher. Rambutnya ikal bergelombang alami, sekarang makin kacau karena baru
dikeringkan asal-asalan. Ia memandangi amplop putih itu. Amplop itu seperti memanggil-manggilnya,
memaksa untuk segera dibuka.
"Jangan lebay," gumamnya sendiri. "Amplop
nggak bisa manggil. Lo kebanyakan baca novel horor."
Tapi tangannya sudah bergerak mengambil amplop itu.
Tangannya sedikit gemetar—entah karena dingin, entah karena firasat. Dengan
hati-hati, ia membuka perekatnya, kebiasaan editor, selalu memperlakukan kertas
dengan penuh hormat. Tidak boleh rusak, tidak boleh robek. Kertas adalah
sahabat, musuh, dan sumber pendapatan sekaligus.
Dari dalam amplop, ia mengeluarkan kartu undangan berwarna
putih gading dengan hiasan bunga-bunga kecil di pinggirnya. Indah. Elegan.
Mahal. Dicetak dengan tinta emas yang berkilauan. Jelas ini bukan undangan
kaleng-kaleng. Ini undangan kelas kakap.
"Dengan memohon rahmat dan ridho Allah Subhanahu wa
Ta'ala, kami bermaksud menyelenggarakan resepsi pernikahan putra-putri
kami:"
Mata Maya langsung mencari bagian paling penting: nama
pengantin. Ini selalu bagian pertama yang dilihat orang dari undangan
pernikahan—siapa yang menikah, siapa yang akan di-"santet" tamu
undangan, siapa yang akan jadi bahan gosip.
Arif
Pramana Putra
Putra pertama Bapak H. Sumarjo & Ibu Hj. Siti Aminah
Dunia
Maya serasa berhenti.
Rina
Andriani
Putri pertama Bapak H. Ahmad Dahlan & Ibu Hj. Maryam
Maya jatuh terduduk di kursi. Amplop itu jatuh dari
tangannya, berhamburan di lantai bersama isi lainnya—mungkin ada kartu nama,
mungkin ada peta lokasi, mungkin ada amplop balasan. Kartu undangan ikut jatuh,
tergeletak di lantai semen dengan gambar tenda biru menghadap ke atas.
Tenda biru.
Di sudut kiri bawah undangan, tercetak ilustrasi tenda
pernikahan—tenda biru muda dengan hiasan bunga-bunga putih bergelantungan di
sekelilingnya, dihiasi lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip. Tenda megah
dengan ornamen yang indah, seperti dari majalah pernikahan.
Maya memunguti undangan itu. Jari-jarinya gemetar saat
mengelus gambar tenda biru. Air matanya jatuh tanpa ia sadari, membasahi kertas
undangan yang mahal itu. Tinta emas di nama Arif mulai luntur terkena air mata.
Tenda
biru.
Janji lama yang tak pernah ditepati.
"May,
gue janji. Suatu hari, kita akan nikah di bawah tenda biru. Tenda kita
sendiri."
"Janji?"
"Janji."
Dan sekarang, Arif akan menikah dengan perempuan lain di
bawah tenda biru yang megah. Tenda biru yang seharusnya menjadi milik mereka
berdua, tapi kini menjadi saksi pernikahannya dengan orang lain.
Maya tidak tahu berapa lama ia terduduk di sana, mematung
seperti patung lilin di museum lilin Jakarta. Mungkin 5 menit, mungkin 30
menit, mungkin 2 jam. Yang jelas, air matanya sudah menggenang di lantai
membentuk kolam kecil.
Pikirannya melayang 15 tahun ke belakang. Ke masa ketika ia
masih SMA, ketika ia pertama kali bertemu Arif, ketika mereka berjanji di bawah
hujan, ketika Arif memberinya gelang biru buatan sendiri yang jelek tapi
bermakna.
Pukul setengah dua belas, saat Maya masih duduk termenung
di kursi dengan mata sembab, hidung merah, dan rambut masih basah setengah
kering—penampilannya sekarang mirip orang baru selamat dari banjir
bandang—pintu kontrakannya diketuk orang. Kali ini bukan ketukan sopan, tapi
ketukan khas Sari—keras, tidak sabaran, dan disertai teriakan yang bisa
membangunkan seluruh kompleks.
"TOK TOK TOK TOK TOK! MAY! BUKA! INI GUE! CEPETAN! GUE
BASAH! LO LAMA BANGET! MAY! MAY! GUE MASUKIN MUKA GUE KE LUBANG KUNCI, LO BUKA!
GUE UDAH SIAPIN MUKA GUE YANG CANTIK INI BUAT DIPAKSA MASUK LUBANG KUNCI! LO
TAHU LUBANG KUNCI ITU KECIL, TAPI GUE RELA!"
Maya berjalan lunglai ke pintu. Kakinya berat seperti diisi
timah. Ia membuka pintu dengan wajah kusut, mata sembab seperti habis nonton
film sedih semalaman, hidung merah, rambut masih basah dan acak-acakan. Sari
langsung melihat keadaan itu.
"Udah tahu ya?" Sari masuk sambil menutup pintu.
Jaketnya basah, rambutnya basah, tasnya juga basah. Ia membawa serta aroma hujan
dan bau jalanan Jakarta—campuran aspal basah, asap kendaraan, dan bau gorengan
dari pinggir jalan.
Maya mengangguk. Suaranya serak, seperti habis berteriak di
konser rock. "Iya. Udah."
Sari meletakkan tas, jaket, dan segala bawaannya di
kursi—dengan gaya khasnya yang berantakan—lalu memeluk Maya erat. Pelukan
hangat yang membuat Maya hampir menangis lagi. Sari memang selalu seperti
ini—datang, memeluk, dan semua masalah terasa sedikit lebih ringan.
"Maaf, May. Gue baru dapet undangan seminggu lalu. Bu
Siti sendiri yang nyari gue ke rumah. Lo tahu sendiri, Bu Siti baik banget, dia
bilang dia ingin lo tahu secara resmi, bukan dari mulut ke mulut. Katanya,
'Sari, tolong sampaikan ke Maya. Ibu pengen dia tahu dari sumber resmi, bukan
dari gosip. Jangan sampai dia denger dari orang lain yang nggak bertanggung
jawab. Ibu sayang Maya seperti anak sendiri.'"
Maya diam dalam pelukan Sari. Dadanya bergetar menahan
tangis.
Sari melanjutkan, "Gue bingung mau ngomong kapan. Udah
seminggu gue mikir. Sampe gue diare mikirin ini. Serius, May, gue sampe
bolak-balik kamar mandi. Kata dokter, itu tanda stres akut. Tapi gue rasa itu
juga gara-gara gue kebanyakan makan risol."
Maya tersenyum tipis di tengah tangis. Sari memang selalu
berpikir seperti itu—mencampur adukkan masalah serius dengan hal-hal konyol.
"Takut lo kenapa-napa. Takut lo stres. Takut lo
depresi. Takut lo makan nggak mau. Takut lo kurus. Lo kan udah kurus, nanti
tambah kurus kayak lidi. Nggak lucu. Cowok suka yang ada isinya dikit. Lo mau
jadi mayang? Mayang itu kurus."
Maya terisak di pelukan Sari.
"Akhirnya gue putusin harus langsung ke sini. Daripada
gue telepon, lo matiin. Daripada gue WA, lo read aja. Daripada gue kirim surat,
lo bakar. Daripada gue datengin dukun, lo santet gue. Daripada gue..."
"Sar," potong Maya lemah.
"Iya, iya. Pokoknya gue datang. Mau lo marah, mau lo
nangis, mau lo lempar piring, mau lo lempar gelas, mau lo lempar kompor
gas—tapi jangan lempar kompor gas, nanti meledak—gue terima. Yang penting lo
nggak sendiri."
Dua jam kemudian
Maya dan Sari duduk di ruang tamu kontrakan yang sempit.
Maya sudah lebih tenang, meskipun matanya masih sembab dan hidungnya masih
merah seperti badut sirkus. Sari sudah membuatkan teh manis—karena teh manis
adalah obat segala penyakit menurut Sari—dan menyuapi Maya beberapa potong roti
tawar yang ditemukan di lemari es. Roti itu sudah agak keras, tapi Sari bilang
"masih aman, belum ada jamur, masih layak konsumsi".
"Lo tahu nggak, teh manis itu penenang jiwa,"
kata Sari sambil menuang teh ke gelas kedua. "Gue selalu minum teh manis
kalau stres. Pas ujian, teh manis. Pas putus sama pacar, teh manis. Pas
diomelin bos, teh manis. Pas lo nangis, ya teh manis juga. Pas gue diare, teh
manis. Pas gue jatuh dari motor, teh manis. Pas gue kehilangan dompet, teh manis.
Pas gue ketinggalan kereta, teh manis. Pokoknya teh manis solusi segala
masalah."
Maya tersenyum tipis. "Dasar lo. Nanti kena
diabetes."
"Daripada stres, mending diabetes. Diabetes masih bisa
diobatin. Stres bisa bikin gila. Lo lihat orang gila di jalanan, kebanyakan
gara-gara stres, bukan gara-gara gula."
Maya terpaksa setuju dengan logika Sari yang kacau.
Sari mengambil undangan yang tergeletak di meja—sudah agak
kusut karena dipegang Maya berkali-kali, dan ada noda air mata di
sana-sini—membacanya dengan saksama. Matanya menyusuri setiap baris, setiap
huruf, setiap tanda baca.
"Sabtu, 12 Oktober 2024, pukul 10.00 WIB, di rumah
mempelai pria, Jl. Kenanga No. 45, Solo." Sari menghela napas.
"Berarti dua minggu lagi."
"Iya."
Sari meletakkan undangan, menatap Maya serius. Matanya yang
biasanya penuh canda, kini berubah tajam. "May, lo harus datang."
Maya menatap Sari tajam. Matanya yang tadinya sayu, kini
melebar seperti kaget. "Apa? Nggak. Nggak mungkin. Gue nggak kuat. Gue
nggak sanggup. Gue nggak siap. Gue nggak bisa."
"Lo harus datang. Bukan buat Arif. Bukan buat pamer.
Bukan buat bikin dia nyesel. Bukan buat nunjukin kalau lo masih cantik—meskipun
lo emang masih cantik. Tapi buat nutup semuanya."
"Nggak, Sar. Nggak."
"Lo kuat, May. Lo selalu kuat." Sari menggenggam
tangan Maya. Tangannya hangat, sedikit berkeringat karena tegang. "Lo
ingat waktu Arif pergi ke Kalimantan? Lo kuat. Lo ingat waktu lo tahu Arif
dijodohin sama Rina? Lo kuat. Lo ingat waktu mereka nikah, yang pertama dan lo
nggak diundang? Lo kuat. Lo ingat waktu lo pindah ke Jakarta sendirian, nggak
kenal siapa-siapa, mulai dari nol, tidur di kost sempit, makan indomie tiap
hari? Lo kuat banget."
Maya diam. Air matanya jatuh lagi. Sari menyekanya dengan
tisu—tisu yang sudah disiapkan sebelumnya, satu pak penuh.
Sari melanjutkan, suaranya lembut tapi tegas. "Tapi lo
tahu nggak, May? Lo nggak pernah benar-benar lihat akhir dari cerita lo sama
Arif. Lo cuma denger kabar dari orang, lo cuma denger dia nikah, lo cuma
nangis, lo lari ke Jakarta, lo tutup diri, lo jadi kuper, lo jadi anti-sosial,
lo jadi..."
"Sar, lebay."
"Iya lebay. Tapi bener kan? Lo nggak pernah
benar-benar mengakhiri. Lo nggak pernah melihat dengan mata kepala sendiri
bahwa semuanya sudah selesai. Lo cuma bayangin. Bayangin itu nggak cukup, May.
Bayangin bisa salah. Lo bisa aja bayangin dia bahagia padahal dia sengsara. Lo
bisa aja bayangin dia lupa sama lo padahal dia inget terus."
Maya terisak. "Gue nggak kuat lihat dia nikah, Sar.
Gue nggak kuat lihat dia bahagia sama orang lain. Gue nggak kuat."
Sari memegang bahu Maya. "Acara ini adalah kesempatan
lo. Lo datang, lo lihat dia, lo lihat dia bahagia sama orang lain—atau mungkin
nggak bahagia, lo lihat dia sah jadi milik orang lain. Dan setelah itu, lo
sadar bahwa lo juga bisa bahagia tanpa dia. Bahwa lo juga berhak punya masa
depan. Bahwa lo nggak perlu terkurung di masa lalu selamanya."
"Lo pikir gue bakal bisa?"
"Gue tahu lo bisa." Sari menatap mata Maya.
"Lo adalah Maya Andriani yang gue kenal—cewek kuat yang nggak pernah nyerah,
yang selalu bangkit setelah jatuh, yang selalu tersenyum meskipun hatinya
hancur berkeping-keping. Lo ingat waktu SMA? Lo pernah jatuh pingsan pas
upacara, tapi besoknya lo udah senyum-senyum lagi. Lo ingat waktu nilai ulangan
lo jelek, tapi lo belajar lebih giat dan dapat nilai bagus? Lo ingat waktu lo
lomba puisi dan kalah, tapi lo bilang 'yang penting sudah mencoba'? Lo ingat
waktu lo jatuh cinta sama Arif dan dia ninggalin lo? Lo masih hidup sampe
sekarang."
Maya tersenyum tipis. "Lo ingat semua?"
"Gue ingat semua, May. Karena gue sahabat lo. Tugas
gue mengingatkan lo kalau lo lupa sama diri lo sendiri. Kalau lo lupa kalau lo
hebat. Kalau lo lupa kalau lo kuat. Kalau lo lupa kalau lo cantik. Kalau lo
lupa kalau lo..."
"Sar, nanti panjang lagi."
"Iya, iya."
Maya terdiam lama. Teh di tangannya sudah dingin—sudah
berganti warna dari cokelat pekat jadi cokelat pucat. Di luar, hujan mulai
turun lagi—deras, seperti ingin menenggelamkan kota Jakarta. Bunyi gemericik
air di selokan terdengar jelas, bercampur dengan suara knalpot motor yang
sesekali lewat.
Sari menambahkan, "Lo datang, lo lihat, lo pulang.
Selesai. Lo nggak perlu ngobrol sama dia kalau nggak mau. Lo nggak perlu kasih
selamat kalau nggak siap. Lo nggak perlu foto bareng. Lo nggak perlu makan di sana.
Lo cukup duduk di pojok, lihat, dan pergi. Tapi lo harus melihat. Lo harus
menyaksikan dengan mata kepala sendiri."
"Kenapa harus lihat? Kenapa nggak cukup dengan
denger?"
"Karena selama ini lo cuma bayangin. Lo bayangin dia
nikah, lo bayangin dia bahagia, lo bayangin dia bersama Rina. Tapi bayangan itu
nggak pernah jelas. Kabur. Kayak foto yang nggak fokus. Dan karena kabur, lo
terus-terusan penasaran. Lo terus-terusan bertanya-tanya, 'Andai aku di sana,
apa yang terjadi?' 'Andai aku yang jadi pengantin, gimana rasanya?' Dengan
melihat langsung, bayangan itu jadi jelas. Dan setelah jelas, lo bisa
terima."
Maya merenungkan kata-kata Sari. Ada kebenaran di sana.
Selama 11 tahun, ia hanya membayangkan. Membayangkan pernikahan Arif,
membayangkan kehidupan Arif, membayangkan kebahagiaan Arif. Dan bayangan itu
selalu mengganggunya, selalu muncul di saat-saat tidak terduga—saat mau tidur,
saat bangun tidur, saat makan, saat kerja, saat hujan turun seperti ini.
"Mungkin lo benar," kata Maya pelan.
"Tentu gue benar. Gue kan sahabat lo. Sahabat itu
selalu benar. Itu kode etik sahabat. Kalau salah, ya kita pura-pura lupa."
Maya tersenyum. "Tapi gue takut, Sar."
"Takut apa? Takut lo liat dia ganteng? Takut lo liat
dia makin tampan? Takut lo liat dia sukses? Takut lo liat dia bahagia?"
"Itu juga. Tapi lebih dari itu, takut gue nggak kuat.
Takut gue nangis di depan semua orang. Takut gue jadi bahan tertawaan. Takut
gue malu. Takut gue histeris. Takut gue lempar sepatu ke pengantin. Takut gue
bawa golok."
Sari tertawa. "Nah, yang terakhir itu ide bagus.
Lempar sepatu ke Arif. Biar dia kapok. Tapi jangan bawa golok, nanti lo
ditangkap polisi. Kasian nanti Dimas—eh, lo kan belum punya Dimas."
Maya ikut tertawa, meskipun air mata masih mengalir.
"Dasar lo."
"May, lo nggak sendiri. Gue temenin lo datang. Kita
berangkat bareng dari Jakarta. Kita duduk di pojok. Kalau lo mau pulang sebelum
resepsi selesai, kita pulang. Kalau lo nangis, gue siapin tisu satu kardus.
Kalau lo mau marah, gue siapin orang yang bisa lo marahin—tapi jangan marahin
tamu ya, nanti lo diusir. Kalau lo mau lempar sepatu, gue siapin sepatu
cadangan."
Maya tertawa lebih keras. "Lo ini."
"Tapi lo harus datang, May. Setidaknya untuk diri lo
sendiri. Bukan buat Arif. Bukan buat Rina. Bukan buat Bu Siti. Bukan buat gue.
Tapi buat lo. Biar lo bisa tidur nyenyak setelah 11 tahun."
Maya memandangi undangan di meja. Nama Arif tercetak indah
dengan tinta emas yang mulai luntur terkena air matanya. Tenda biru tercetak di
pojok. Janji lama yang menjadi milik orang lain.
"Apa dia tahu gue diundang?" tanya Maya akhirnya.
"Pasti tahu. Bu Siti yang ngirim. Berarti Arif tahu.
Mungkin dia sendiri yang minta ibunya ngirim. Mungkin dia pengen lo datang.
Mungkin dia mau minta maaf. Mungkin dia mau..."
"Atau mungkin dia cuma pengen pamer kalau dia sekarang
sukses dan punya istri cantik."
"Bisa jadi." Sari menghela napas. "Tapi lo
tahu, May? Manusia itu sederhana. Nggak serumit yang lo bayangin. Mungkin dia
cuma pengen lo datang sebagai teman lama. Mungkin dia pengen nutup buku juga.
Mungkin dia juga punya luka yang sama."
Maya terdiam lagi. Ia memandang ke luar jendela. Hujan
mulai reda. Sinar matahari menyelinap dari sela-sela awan, menerangi gang
sempit dengan cahaya keemasan. Genangan air di jalan berkilauan.
"Gue datang, Sar."
Sari tersenyum lebar. "That's my girl! That's the Maya
I know! That's the Maya yang pernah gue kenal!"
"Tapi lo harus temenin gue. Janji?"
"Janji, tolol. Lo pikir gue bakal lepas lo sendirian
di medan perang? Lo pikir gue bakal tinggal lo di tengah hutan belantara masa
lalu? Gue siap, May. Gue siap jadi bodyguard lo. Gue siap jadi penghibur lo.
Gue siap jadi tisu berjalan lo. Gue siap jadi apa aja asal lo mau datang. Gue
siap jadi sopir, jadi asisten, jadi psikolog, jadi pendeta—eh lo kan Islam—jadi
ustadzah dadakan."
Maya tersenyum. "Makasih, Sar."
"Sama-sama. Sekarang kita persiapan. Lo butuh baju
baru."
"Buat apa?"
Sari berdiri, bersemangat, matanya berbinar-binar seperti
anak kecil yang dapat permen. "Buat tampil cantik. Buat bikin Arif nyesel.
Buat bikin semua orang terkesima. Buat bikin semua tamu bertanya-tanya, 'Wah,
siapa cewek cantik itu?' 'Wah, kok ada artis?' 'Wah, itu Maya kan? Kok masih
secantik dulu?' Buat bikin foto-foto pernikahan mereka, lo jadi background yang
bikin orang salah fokus. 'Eh, yang di pojok itu cantik ya, kok nggak jadi
pengantin?'"
Maya tertawa. "Lo ini nggak pernah berubah ya."
"Emang. Gue kan cewek. Cewek boleh berubah-ubah—ubah
rambut, ubah warna baju, ubah model jilbab—tapi satu yang tetap: gue selalu
dukung lo."
Sari duduk lagi, mengambil ponsel. "Besok kita hunting
baju. Gue udah cari referensi. Ada beberapa model yang cocok buat lo. Lo harus
tampil elegan, tapi nggak berlebihan. Cantik, tapi nggak kayak mau nikah juga.
Anggun, tapi nggak kaku. Sederhana, tapi berkelas. Pokoknya perfect! Lo harus
jadi pusat perhatian yang sopan. Lo harus bikin semua orang lupa sama
pengantin."
"Ajak juga Mpok Ijah," tambah Sari. "Dia
jago milih baju."
Maya mengerutkan kening. "Mpok Ijah? Tukang
sayur?"
"Iya. Dia dulu juragan butik di kampungnya, katanya.
Sebelum bangkrut karena krisis moneter tahun 98. Sekarang jualan sayur, tapi
selera bajunya masih tinggi. Dia sering cerita soal koleksi bajunya dulu.
Katanya pernah punya baju seharga 5 juta di tahun 90-an. Itu setara rumah
kontrakan setahun."
Maya setengah percaya. "Lo tahu dari mana?"
"Dari Bu RT. Bu RT cerita minggu lalu. Katanya Mpok
Ijah dulu terkenal di kampungnya. Suka pamer baju ganti tiap hari. Sampai
dijuluki 'Ratu Butik' sama tetangganya. Tapi karena krisis, tokonya tutup,
suaminya sakit-sakitan, akhirnya jualan sayur."
Maya tersenyum. "Ratu Butik sekarang jualan sayur
keliling. Hidup memang penuh misteri."
"Hidup memang penuh misteri, May. Yang penting Mpok
Ijah jago milih baju. Kita ajak aja. Lumayan, sekalian beli sayur buat stock."
"Oke. Terserah lo."
Malam harinya,
setelah Sari pulang—dengan janji akan kembali besok pagi untuk hunting baju,
dan pesan terakhir "lo jangan nangis terus, nanti matamu bengkak, susah
didandani"—Maya duduk sendirian di kamar. Suasana hening, hanya terdengar
suara kulkas tua yang sesekali mengeluarkan suara "ngik-ngik" dan
suara jangkrik dari luar.
Ia membuka lemari, mengeluarkan sebuah kotak sepatu bekas
yang sudah menguning. Kotak yang sama yang ia bawa dari Solo lima tahun lalu,
yang tidak pernah ia buka selama di Jakarta. Selama lima tahun, kotak itu hanya
menjadi hiasan di sudut lemari, debu-debu menempel di permukaannya.
Di tutupnya, tertulis dalam spidol hitam: "JANGAN
DI BUKA." Tulisan itu ia buat sendiri, malam sebelum berangkat ke
Jakarta, sebagai pengingat untuk tidak pernah mengganggu masa lalu.
Maya membuka kotak itu. Debu beterbangan, membuatnya bersin
tiga kali. Isinya: foto-foto usang yang sudah mulai menguning, surat-surat yang
dikirim Arif saat ia merantau di Kalimantan, sebuah gelang dari tali kur warna
biru yang sudah lusuh—talinya mulai putus di beberapa bagian, manik-maniknya
sudah buram—dan sebuah cincin dari akar bahar yang Arif berikan saat mereka
lulus SMA.
Maya mengambil salah satu surat. Tanggalnya 15 Agustus
2012, bulan pertama Arif di Kalimantan. Kertasnya sudah rapuh, lipatannya mulai
sobek di beberapa bagian.
"May,
Gue nulis surat ini di kosan jam 2 pagi. Abis shift malem.
Capek banget, tapi kangen lo lebih capek.
Lo tahu nggak, tadi gue lihat tenda biru di pinggir jalan.
Ada nikahan orang kampung. Sederhana banget—cuma tenda biasa, kursi plastik,
dekorasi bunga kertas—tapi meriah banget. Orang-orang pada senyum. Kayak yang
dulu kita lihat waktu hujan-hujan di halte. Gue jadi inget omongan lo. Lo tanya
gue mau nikah di mana.
Gue masih inget jawaban gue: sederhana aja, asal halal dan
berkah. Tapi sekarang gue tambahin: yang penting lo ada di samping gue. Lo dan
tenda biru kita. Nggak perlu mewah, nggak perlu banyak tamu, yang penting kita
berdua.
Sabaran ya, May. Bentar lagi gue kumpulin duit. Bentar lagi
kita nikah. Gue janji, kita bakal punya tenda biru kita sendiri. Gue udah
ngitung, 2 tahun lagi cukup. Asal lo sabar.
Kangen
banget,
Arif"
Maya
membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh, membasahi kertas yang
sudah rapuh itu. Tinta biru Arif mulai luntur, tapi kata-katanya masih jelas.
Janji.
Tenda biru.
Dua tahun.
Dan kini, 11 tahun kemudian, Arif akan menikah dengan
perempuan lain di bawah tenda biru yang megah. Tenda biru yang seharusnya
menjadi milik mereka berdua, tapi kini menjadi saksi pengkhianatan. Tenda biru
yang dulu mereka impikan sederhana, kini terwujud mewah—tapi dengan perempuan
lain.
Maya melipat surat itu kembali dengan hati-hati, seperti
merawat benda pusaka. Ia memasukkan semua isi kotak ke tempatnya semula, lalu
menutup kotak itu rapat-rapat. Tapi ia tidak mengembalikannya ke lemari. Ia
meletakkannya di atas meja, di samping undangan pernikahan Arif.
Dua benda yang saling bertentangan. Janji dan
pengkhianatan. Masa lalu dan masa depan. Cinta dan kehilangan.
Maya memandangi gelang biru di tangannya—gelang yang sama
yang diberikan Arif 15 tahun lalu, yang tidak pernah ia lepas. Gelang itu sudah
lusuh, warnanya memudar dari biru terang jadi biru pucat, talinya mulai putus
di beberapa bagian. Tapi ia tetap memakainya. Selama 15 tahun, gelang itu hanya
lepas saat mandi atau saat ada acara formal yang mengharuskan melepas
aksesoris.
"Harusnya aku lepas," bisiknya pada diri sendiri.
"Harusnya aku sudah lepas 11 tahun lalu."
Tapi ia tidak bisa.
Maya mengambil ponsel, membuka percakapan dengan Sari. Ia
mengetik pelan-pelan, setiap huruf terasa berat.
Maya: Sar, gue mau tanya.
Sari: Apa, May? Jam 11 malem nanya. Lo nggak tidur?
Maya: Nggak bisa tidur.
Sari: Mikirin undangan?
Maya: Iya.
Sari: Mau nanya apa?
Maya: Lo yakin gue harus datang?
Sari: Yakin banget. Lo ragu lagi?
Maya: Iya. Gue takut.
Sari: Takut itu wajar. Takut itu manusiawi. Takut itu tanda lo
masih punya perasaan. Tapi jangan biarin rasa takut mengendalikan lo. Lo yang
harus mengendalikan rasa takut. Lo harus jadi bos atas rasa takut lo.
Maya: Kata-kata bijak dari mana tuh? Mario Teguh?
Sari: Dari status WA gue. Hahaha. Dari kutipan motivasi yang gue
baca di IG. Tapi lupa siapa yang ngomong. Yang penting ngena.
Maya: Iya ngena.
Sari: May, lo pasti bisa. Gue yakin. Lo udah 11 tahun bertahan. Lo
udah 5 tahun hidup sendiri di Jakarta. Lo udah jadi editor sukses. Lo udah beli
kontrakan sendiri—meskipun kontrakan, tapi lo yang milih. Lo udah hebat banget.
Maya: Makasih, Sar.
Sari: Sama-sama. Sekarang tidur. Besok kita hunting baju. Jangan
lupa, kita mau buat Arif nyesel. Bukan nyesel milih Rina, tapi nyesel karena
sadar dia udah kehilangan berlian dan dapat kerikil.
Maya: Lo ini kejam.
Sari: Iya, gue kejam. Tapi kejamnya buat kebaikan. Love you,
bestie!
Maya: Love you too.
Maya meletakkan ponsel. Ia memandangi undangan itu sekali
lagi, membaca nama Arif dengan tinta emas yang mulai luntur, menelusuri gambar
tenda biru dengan jarinya.
Sabtu, 12 Oktober 2024.
Tanggal itu sekarang tertanam di kepalanya, terukir di
hatinya, terpatri di jiwanya. Tanggal di mana ia akan menyaksikan cinta
pertamanya menikah dengan perempuan lain di bawah tenda biru. Tanggal di mana
semua kenangan indah akan terkubur. Tanggal di mana ia harus benar-benar
melepaskan.
Maya berdiri dan berjalan ke jendela. Ia membukanya
lebar-lebar, membiarkan udara malam masuk. Udara Jakarta yang lembab dan panas,
bercampur bau polusi dan sesekali aroma gorengan dari warung malam. Tapi
anehnya, terasa segar di wajahnya yang basah oleh air mata.
Di luar, suara jangkrik terdengar sayup-sayup bersahutan
dengan suara kodok di selokan. Lampu-lampu gang masih menyala—lampu 5 watt yang
redup tapi cukup menerangi jalan setapak. Beberapa tetangga masih duduk-duduk
di teras, mengobrol ringan sambil minum kopi.
Maya tersenyum. Besok, ia akan memulai perjalanan. Bukan
hanya perjalanan fisik ke Solo, tapi perjalanan batin untuk melepaskan.
Perjalanan yang mungkin akan menyakitkan, tapi harus ditempuh.
"Iya, Ar," bisiknya pada angin malam. "Aku
akan datang. Aku akan melihatmu menikah. Dan setelah itu, aku akan benar-benar
melepaskanmu. Janji."
Keesokan paginya
Sari datang jam 8 pagi dengan semangat membara. Bajunya
sudah rapi, tasnya penuh dengan peralatan make up, dan matanya berbinar-binar
seperti orang mau perang.
"May! Siap! Kita hunting baju! Aku udah janjian sama
Mpok Ijah jam 9 di mal!"
Maya yang baru bangun tidur—mata masih sembab, rambut
acak-acakan—hanya bisa menggerutu. "Lo datang pagi-pagi banget. Ini hari
Sabtu, Sar. Hari libur."
"Ini bukan libur, May! Ini misi! Misi penutupan bab!
Misi sejarah! Misi yang akan menentukan sisa hidup lo!"
"Lebay."
"Nggak lebay! Ayo mandi! Cepetan! Nanti Mpok Ijah
marah. Lo tahu sendiri, Mpok Ijah kalau marah suka ngomel panjang lebar sambil
ngacungin golok—maksudnya, sambil ngacungin sayur."
Maya menggeleng-geleng kepala sambil beranjak ke kamar
mandi.
Di mal
Mpok Ijah sudah menunggu di depan pintu masuk mal dengan
gerobak sayurnya—yang sekarang dititipkan ke penjaga parkir. Ia memakai baju
terbaiknya—kain batik tulis, kebaya modern, dan sandal hak rendah. Rambutnya
disanggul rapi.
"Neng Maya! Neng Sari! Sini-sini!" sambutnya
antusias.
Maya dan Sari menghampiri.
"Maaf, Mpok, kita telat dikit," kata Sari.
"Ah, nggak apa. Mpok juga baru sampe. Lagi ngobrol
sama tukang parkir. Ternyata dia kenalan sama sepupu Mpok. Dunia kecil."
Mpok Ijah memandangi Maya dari ujung rambut sampai ujung
kaki. "Neng Maya, lo kurusan. Nggak boleh. Cowok suka yang montok. Nanti
kita cari baju yang bikin lo keliatan berisi."
Maya tersenyum canggung. "Iya, Mpok."
Mereka bertiga masuk ke mal. Mpok Ijah langsung mengambil
alih komando.
"Pertama, kita cari warna biru muda. Biar serasi sama
tema tenda biru. Tapi jangan terlalu biru, nanti lo nyamar sama tenda. Kedua,
modelnya harus sederhana tapi elegan. Nggak perlu banyak renda-renda. Ketiga,
panjangnya harus pas. Jangan terlalu pendek, nanti dikira mau saingan sama
pengantin. Jangan terlalu panjang, nanti kesandung-sandung."
Maya dan Sari hanya bisa mengangguk-angguk.
Mereka masuk ke beberapa butik. Maya mencoba berbagai
dress. Mpok Ijah mengkritik setiap kali Maya keluar dari fitting room dengan
komentar-komentar yang jujur—sangat jujur.
"Yang itu jelek. Kekecilan. Kelihatan lo kurus banget.
Kayak orang kurang gizi."
"Yang ini muat, tapi warnanya kusam. Kayak kain
lap."
"Wah, yang ini bagus! Lo cantik banget, Neng! Tapi
mahal. Mpok liat harganya—2 juta?! Mending beli sayur 2 juta, bisa buat jualan
sebulan."
"Yang ini modelnya jadul. Kayak baju ibu-ibu
arisan."
"Yang ini terlalu terbuka. Nanti lo digosipin."
Maya mulai frustrasi. "Mpok, gue udah coba 10 baju.
Belum ada yang cocok."
"Sabar, Neng. Mencari baju itu seperti mencari jodoh.
Butuh proses. Butuh kesabaran. Butuh trial and error."
Akhirnya, di butik ke-5, mereka menemukannya.
Sebuah dress biru muda—tepatnya biru langit pagi—dengan
potongan A-line sederhana, lengan panjang berbahan sifon transparan, dan detail
renda halus di bagian pinggang. Panjangnya sampai mata kaki. Sederhana, elegan,
sempurna.
"Ini dia!" Sari bertepuk tangan.
Mpok Ijah mengangguk puas. Matanya berkaca-kaca. "Nah,
ini baru bener. Lo ingat, Neng, Mpok dulu punya butik. Mpok tahu baju bagus.
Ini baju lo. Lo bakal jadi pusat perhatian, Neng. Tapi pusat perhatian yang
sopan. Orang akan bilang, 'Wah, siapa cewek itu? Cantik banget, tapi nggak
norak.'"
Maya memandangi dirinya di cermin. Dress itu pas di
tubuhnya. Membuatnya terlihat anggun, dewasa, percaya diri. Ia tersenyum.
"Gue suka, Mpok."
"Syukurlah. Itu harga 1,5 juta. Masih bisa ditawar?
Mpok tadi denger penjualnya bilang bisa kurang."
Sari langsung maju. "Biar gue yang nawar. Gue jago
nawar. Dulu waktu beli sepatu, gue bisa nawar dari 500 jadi 300."
Mpok Ijah menggeleng. "Nggak usah, Neng. Biar Mpok.
Mpok dulu juragan butik, tahu triknya."
Mpok Ijah maju ke kasir, berdiri tegak dengan gaya seorang
pebisnis ulung. "Dek, ini bagus, tapi 1,5 juta kemahalan. 1,2 aja.
Cash."
Penjualnya—gadis muda sekitar 20 tahun—terkejut.
"Maaf, Bu, ini udah harga pas."
"Ah, masa? Mpok jualan baju 20 tahun. Tahu harga
pasar. Bahan ini nggak mungkin sampe 1,5. Paling 800 ribu modalnya. Lo untung
400 ribu. Lumayan."
Penjualnya bingung. "Tapi Bu..."
"1,25. Deal? Lo untung, Mpok untung, Neng Maya untung.
Win-win solution."
Penjualnya menyerah. "Baiklah, Bu. 1,25 juta."
Mpok Ijah tersenyum puas. "Nah, gitu dong."
Sari dan Maya hanya bisa terpana.
Malam harinya
Maya menelepon ibunya di Solo.
"Bu."
"Nduk, ada apa? Kok nelpon malem-malem? Biasanya lo
nelpon hari Minggu."
"Aku mau ke Solo minggu depan, Bu."
"O, mau pulang? Ibu kangen. Kapan? Ibu masakin
kesukaan lo. Ayam goreng, tahu telor, lodeh."
"Iya, Bu. Tapi aku ada acara."
"Acara apa?"
Maya diam sebentar. "Nikahan Arif. Resepsinya."
Hening di ujung telepon. Bu Rini tidak bersuara selama
beberapa detik.
"Nduk... kamu yakin mau datang?"
"Ibu tahu dari mana?"
"Doni cerita sama Sari, Sari cerita sama Ibu. Ibu
punya jaringan intelijen."
Maya tersenyum. "Ibu punya mata-mata ya."
"Ibu cuma khawatir. Kamu kuat?"
"InsyaAllah, Bu."
Bu Rini menghela napas panjang. "Nduk, Ibu mau bilang
sesuatu. Kamu harus dengar."
"Iya, Bu."
"Arif itu bukan jodohmu. Kalau dia jodohmu, dia nggak
akan pergi. Tapi dia pergi. Itu tanda bahwa Allah punya rencana lain. Rencana
yang lebih baik. Mungkin sekarang lo belum lihat, tapi nanti."
"Aku tahu, Bu."
"Datanglah. Tersenyumlah. Beri mereka doa terbaik. Dan
setelah itu, tutup buku. Mulai lembaran baru. Jangan terus-terusan di masa
lalu."
Maya menangis. "Iya, Bu."
"Ibu bangga sama kamu, Nduk. Kamu hebat. Kamu kuat.
Kamu bisa melewati ini."
"Makasih, Bu."
"Jaga diri di sana. Jangan lupa ibadah. Jangan lupa
makan. Jangan lupa..."
"Iya, Bu. Aku sayang Ibu."
"Ibu juga sayang kamu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dua hari sebelum berangkat
Maya mendapat pesan dari Doni.
Doni: May, gue dengar lo akan datang?
Maya: Iya. Siapa yang bilang?
Doni: Sari. Mulut ember. Lo nggak apa?
Maya: Gue baik-baik aja. Kok pada khawatir?
Doni: Wajar. Lo mantan. Datang ke nikahan mantan. Itu berat.
Maya: Gue harus nutup buku.
Doni: Gue dukung. Tapi lo tahu nggak, Arif minta gue bilang
sesuatu?
Maya: (deg) Apa?
Doni: Dia minta maaf. Berkali-kali. Dan dia bilang, makasih lo mau
datang.
Maya: Udah, nggak usah dibahas.
Doni: Oke. Tapi ingat, lo hebat. Lo kuat. Lo cantik. Dan lo pantas
bahagia. Jangan pernah lupa itu.
Maya: Makasih, Don. Lo sahabat baik.
Doni: Sama-sama. Kalo butuh apa-apa di Solo, kabarin gue. Gue siap
jadi supir, jadi bodyguard, jadi apa aja.
Maya: Siap.
Hari keberangkatan
Maya dan Sari naik kereta api pagi dari Stasiun Gambir.
Perjalanan Jakarta-Solo sekitar 8 jam. Cukup lama untuk merenung, untuk mengingat,
untuk mempersiapkan diri.
Di kereta, Maya banyak diam. Sari sesekali menggodanya,
tapi tahu kapan harus diam. Ia bawa bekal risol 10 biji—untuk dimakan sepanjang
perjalanan.
"Lo dari tadi diem aja. Mikirin apa?" tanya Sari
akhirnya, sambil mengunyah risol ke-3.
"Mikirin masa lalu."
"Masih sakit?"
Maya menghela napas. "Udah nggak sesakit dulu. Tapi
masih ada bekasnya. Kayak luka yang udah sembuh, tapi bekasnya masih
kelihatan."
"Itu wajar. Lo sama dia 4 tahun. Masa 11 tahun
kemudian lo masih sakit terus? Udah ah, move on."
"Lo ini nggak punya perasaan."
"Gue punya perasaan. Tapi gue juga realistis. Hidup
harus jalan. Lo harus maju. Nggak bisa terus-terusan lihat ke belakang."
Maya tersenyum. Sari benar. Hidup harus jalan.
Sari menawarkan risol. "Mau?"
Maya mengambil satu. "Makasih."
"Nah, gitu dong. Makan risol, lupakan mantan."
Maya tertawa. "Bukan resep dokter."
"Resep Sari. Lebih manjur."
Tiba di Solo
Stasiun Solo Balapan ramai seperti biasa. Maya turun dari
kereta, menghirup udara Solo yang berbeda dari Jakarta—lebih sejuk, lebih
segar, lebih... nostalgia. Bau kopi dari warung stasiun, bau keringat para
calo, bau rokok dari para perokok.
Di pintu keluar, seseorang melambai.
"Maya!"
Bu Rini. Ibu Maya. Meskipun sudah 65 tahun, ia masih
energik. Rambutnya sudah memutih, jalannya sedikit membungkuk, tapi semangatnya
masih seperti remaja.
"Ibu!" Maya memeluk ibunya erat. Mencium punggung
tangan ibunya, seperti biasa.
Sari juga memeluk Bu Rini. "Bu, sehat?"
"Alhamdulillah, sehat. Yuk, pulang. Ibu masakin
kesukaan kalian. Ayam goreng, tahu telor, lodeh."
"Asyik!" Sari berjingkrak. "Gue kangen
masakan Ibu."
Di taksi menuju rumah, Maya memandangi kota Solo yang
berlalu. Jalanan yang sama, bangunan yang sama—beberapa berubah, beberapa
tetap. Kenangan-kenangan lama muncul silih berganti.
"Tenang, Nduk," bisik Bu Rini, memegang tangan
Maya.
Maya tersenyum. "Aku tenang, Bu."
Rumah Maya, malam harinya
Maya duduk di kamar lamanya. Kamar ini tidak banyak
berubah, masih sama seperti 12 tahun lalu. Ranjang, meja belajar, lemari, dan
jendela yang menghadap ke belakang rumah. Dindingnya masih bercat hijau pudar,
sama seperti dulu. Poster-poster lama masih menempel—beberapa sudah menguning.
Ia membuka laci meja belajar. Di dalamnya, ada kotak sepatu
bekas yang sudah menguning. Kotak yang sama yang ia bawa ke Jakarta, lalu ia
bawa pulang lagi.
Isinya: surat-surat Arif, foto-foto mereka, gelang biru
yang sudah lusuh, dan sebuah cincin akar bahar.
Maya mengambil satu surat, membacanya. Surat pertama dari
Kalimantan.
"May,
Di sini panas banget. Badan gue hitam kayak arang. Tapi gue
nggak capek karena setiap pulang kerja, gue baca surat lo. Itu obat capek gue.
Gue kangen banget sama lo. Kangen makan lumpia bareng.
Kangen denger lo marah-marah. Kangen semuanya.
Kangen,
Arif"
Maya tersenyum getir. Surat itu usianya 11 tahun. Rasanya
baru kemarin.
Bu Rini masuk tanpa mengetuk—kebiasaan lama.
"Masih baca surat-surat itu?"
Maya mengangguk.
"Nduk, besok lo akan lihat dia. Siap?"
"InsyaAllah siap, Bu."
Bu Rini duduk di samping Maya. "Ibu bangga sama kamu.
Kamu kuat. Kamu hebat. Ibu nggak tahu apa yang akan Ibu lakukan kalau di posisi
lo."
"Aku nggak kuat, Bu. Aku cuma bertahan."
"Itu juga bentuk kekuatan. Bertahan di saat semua
ingin menyerah."
Mereka berpelukan. Di luar, angin malam Solo berhembus
pelan, membawa aroma bunga melati dari halaman tetangga.
BAGIAN VII
DI BAWAH TENDA BIRU
Maya bangun pukul 5 pagi. Ia tidak bisa tidur semalaman.
Berguling-guling, memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Sesekali
tertidur—mungkin 15 menit—lalu terbangun lagi dengan jantung berdebar seperti
mau copot.
Pukul 7, Sari datang dengan tas besar berisi peralatan make
up. Wajahnya segar, matanya berbinar. "Ayo, May! Kita dandan! Rias
pengantin versi Maya! Kita bikin semua orang terpana!"
"Lo bawa make up segala? Ini berat, Sar."
"Ya iyalah. Masa lo mau datang polos-polos? Lo harus
tampil beda. Ini panggung lo! Ini malam final lo! Ini oscar-nya lo!"
"Bukan malam, Sar. Pagi."
"Iya, pagi. Pagi final."
Sari merias Maya dengan telaten. Foundation, bedak,
eyeshadow, eyeliner, maskara, lipstik—semua lengkap. Sari memang jago make up,
hobinya sejak SMA. Dulu sering dimintai tolong teman-teman untuk acara wisuda.
"Selesai!" Sari memandang hasil karyanya dengan
puas. "Cantik banget! Lo lihat sendiri."
Maya bercermin. Ia cantik. Make up Sari memang
sempurna—natural, tidak menor, tapi membuat fitur wajahnya lebih menonjol. Tapi
hatinya masih berdebar. Di cermin, ia melihat bayangan dirinya 15 tahun lalu,
gadis SMA dengan jilbab merah muda yang jatuh cinta pada cowok culun di hari
pertama sekolah.
"Lo siap?" tanya Sari.
Maya menarik napas dalam. "Siap."
Pukul 9.30
Maya, Sari, dan Bu Rini berangkat ke rumah Arif. Naik taksi
karena Bu Rini tidak mau repot bawa motor. "Ibu mau lo tampil prima, Nduk.
Nggak mau lo kusut di perjalanan."
Di perjalanan, Maya diam. Tangannya berkeringat. Ia
memegang gelang biru di tangan kirinya—gelang yang dulu diberikan Arif, yang
tidak pernah ia lepas selama 15 tahun.
Bu Rini menggenggam tangan putrinya. "Tenang, Nduk.
Ibu di sini."
Di kejauhan, tenda biru mulai terlihat. Megah. Besar.
Dengan ornamen bunga putih dan lampu-lampu gantung. Tenda itu memenuhi halaman
rumah Arif yang dulu sederhana. Sekarang rumah itu sudah berubah—lebih besar,
lebih megah, seperti rumah orang kaya.
Tenda biru.
Maya menarik napas dalam.
Mereka tiba di lokasi. Rumah Arif sudah berubah total.
Halaman depan yang dulu sempit dan sederhana—cukup untuk parkir 2 motor—kini
luas, sepertinya mereka membeli tanah tetangga untuk perluasan. Tenda biru
megah berdiri di sana, mampu menampung ratusan tamu.
Lampu-lampu kristal bergantungan di langit-langit tenda.
Bunga-bunga segar menghiasi setiap tiang—mawar putih, lily, dan baby breath.
Kursi-kursi tamu tertata rapi, berlapis kain biru muda. Panggung pelaminan
dihias mewah dengan gaya Jawa modern, memadukan ukiran kayu dan lampu-lampu
temaram. Ada ornamen burung merak di sana-sini.
Maya berdiri di pintu masuk, memandangi semua itu. Tenda
biru. Janji lama yang diwujudkan, tapi dengan perempuan lain.
"Masuk, yuk." Sari menggandengnya.
Mereka berjalan masuk. Para tamu sudah banyak yang datang.
Maya melihat beberapa wajah kenalan—tetangga Arif, teman SMA, kerabat, beberapa
guru SMA.
"Selamat datang, Bu Rini!" Bu Siti menyambut dengan
hangat. Ia memeluk Bu Rini erat.
"Selamat ya, Siti. Bahagia sekali rasanya."
Bu Siti menoleh ke Maya. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Maya, Nak... kamu datang."
Maya tersenyum. "Iya, Bu. Selamat ya."
Bu Siti memeluk Maya. Pelukan hangat seorang ibu yang
kehilangan menantu impian. "Maafin kami, Nak. Maafin Ibu."
Maya diam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Pak Sumarjo tidak ada, ia sudah meninggal. Tapi Rizki, adik
Arif, menghampiri. "Mbak Maya!"
Rizki sudah dewasa. Usianya 22 tahun, baru lulus kuliah.
Tinggi, mirip Arif tapi lebih segar. Pakai kemeja batik, rambut disisir rapi.
"Rizki, gede banget! Terakhir lihat lo masih SD,
sekarang udah gede."
"Iya, Mbak. Udah 11 tahun."
"Kuliah di mana?"
"UNS, Mbak. Teknik."
"Wah, pinter. Kerja di mana?"
"Di Jakarta, Mbak. Baru mulai. Kerja di perusahaan
konstruksi."
Maya tersenyum. "Jakarta? Kita bisa ketemu di
sana."
Rizki tersenyum lebar. "Mau dong, Mbak. Sekalian minta
tolong dicariin kost. Saya butuh kost yang murah tapi bersih."
Banyak kenalan lain yang menyapa Maya. Teman-teman
SMA—Budi, Lina, dan lainnya. Tetangga Arif yang dulu sering melihat Maya main
ke rumah. Bahkan beberapa guru SMA yang diundang—Bu Widi dan Bu Dewi.
"May, lo cantik banget!" Budi memuji.
"Lo juga, Bud—eh, ganteng. Kurusan ya?"
Budi tertawa. "Gue mah gini-gini aja. Tambah tua,
tambah botak. Udah mulai tipis rambut."
Lina menimpali, "Iya, May. Lo beda. Lebih dewasa.
Lebih anggun."
"Makasih, Lin. Lo juga cantik."
Pukul 10.00,
acara dimulai. Pembawa acara—selebriti lokal yang disewa mahal, dengan suara
merdu dan gaya khas MC kondang—membacakan susunan acara.
"Bismillahirrahmanirrahim, acara akad nikah
putra-putri kami akan segera dimulai. Mohon para tamu untuk mengambil tempat
duduk masing-masing dan mematikan telepon genggam."
Para tamu hening, menanti pengantin.
Dan kemudian, Arif muncul.
Maya menarik napas. Jantungnya berhenti berdetak.
Arif berjalan perlahan menuju panggung, ditemani ibunya, Bu
Siti, dan adiknya, Rizki. Ia mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih
dan peci hitam. Wajahnya tampan, lebih matang dari 11 tahun lalu. Kumis dan
jenggot tipis rapi. Badannya tegap, tidak lagi kurus seperti dulu. Matanya
sayu, tapi tegar.
Matanya... matanya mencari.
Arif menatap kerumunan tamu. Matanya menyapu barisan kursi,
mencari satu wajah yang ia tahu akan datang.
Dan ketika matanya bertemu dengan Maya, dunia serasa
berhenti.
Di antara ratusan tamu, di bawah tenda biru yang megah,
diiringi suara musik yang lembut, mereka saling bertatapan.
Ada ribuan kata yang tak terucap dalam tatapan itu. Ada
penyesalan, ada cinta yang masih tersisa, ada rasa sakit yang tak terobati, ada
harapan yang sudah mati.
Arif tersenyum tipis. Senyum yang sama seperti 15 tahun
lalu, saat pertama kali mereka bertemu di halte.
Maya membalas senyum itu. Senyum yang mengatakan, "Aku
ikhlas."
Hanya sesaat.
Lalu Arif melanjutkan langkah menuju panggung. Maya
menunduk, menahan air mata yang menggenang.
"Lo kuat, May," bisik Sari.
Rina muncul. Cantik sekali. Gaun putihnya mewah—desainer
terkenal, kata orang-orang—dengan hiasan payet dan kristal yang berkilauan.
Riasannya sempurna, mahkota di kepalanya berkilau. Ia berjalan anggun, dituntun
ayahnya menuju Arif.
Maya memandangi Rina. Wanita yang "merebut" Arif
darinya. Ibu dari anak Arif. Istri sah Arif.
Tapi anehnya, Maya tidak benci.
Rina tersenyum pada para tamu. Senyum yang tulus. Ia
melambaikan tangan kecil pada seseorang di kerumunan, mungkin anaknya, Rafa,
yang duduk di barisan depan bersama pengasuhnya. Rafa melambai balik dengan
semangat.
Akad nikah dimulai. Penghulu membacakan ijab kabul dengan
suara lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rina Andriani binti
Ahmad Dahlan dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan emas 20 gram
dibayar tunai."
Arif mengucapkan kalimat itu dengan jelas. Mantap. Tidak
ada ragu.
Maya menutup mata. Air matanya jatuh.
Sah. Arif sah menjadi suami Rina. Bukan milik Maya. Bukan
untuk Maya.
Para tamu bertepuk tangan meriah. Ucapan selamat membanjir.
Keluarga Arif dan Rina berpelukan bahagia.
Maya membuka mata. Ia tersenyum. Bukan senyum bahagia, tapi
senyum pasrah. Senyum yang mengatakan, "Inilah akhirnya."
Setelah akad,
acara dilanjutkan dengan resepsi. Para tamu dipersilakan memberi selamat kepada
pengantin. Maya dan Sari tetap duduk di kursi mereka, tidak berniat mengantre.
Bu Rini sedang ngobrol dengan Bu Siti.
Tapi tiba-tiba, seseorang mendekat. Rina. Ia berjalan
langsung ke arah Maya dengan senyum ramah, meninggalkan Arif yang sedang
melayani tamu.
"Maya?" Rina mengulurkan tangan.
Maya terkejut, tapi ia menjabat tangan itu. "Iya.
Selamat ya."
"Makasih udah datang. Arif senang banget."
Maya tersenyum kaku. "Oh ya?"
"Iya. Dia cerita banyak tentang kamu. Aku tahu kalian
dulu dekat. Maksudku, sangat dekat."
Maya tidak tahu harus berkata apa.
Rina melanjutkan, "Aku minta maaf. Bukan maksudku
merebut atau apa. Tapi keadaan..."
"Nggak usah minta maaf." Maya memotong. "Ini
takdir. Aku ikhlas. Sungguh."
Rina tersenyum. "Kamu kuat. Aku kagum. Kalau aku di
posisi kamu, aku nggak tahu bisa sekuat ini."
Maya balas tersenyum. "Kamu juga kuat. Kamu bertahan
dengan suami yang mungkin masih menyimpan rasa untuk orang lain."
Rina terkejut, lalu tersenyum getir. "Kamu tahu?"
"Aku tahu. Tapi aku juga tahu, kamu istri yang baik.
Kamu ibu yang baik. Kamu berhak bahagia. Dan aku percaya, seiring waktu, Arif
akan benar-benar mencintaimu dengan tulus."
"Makasih, Maya."
"Sama-sama. Jaga dia ya. Dia orang baik, hanya pernah
membuat pilihan yang salah. Tapi sekarang, dia pilihanmu. Bahagiakan dia."
Rina mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku
janji."
Tiba-tiba, Arif muncul di samping Rina. Ia memegang tangan
istrinya, lalu menatap Maya.
"May, bisa ngobrol sebentar? Sendirian?"
Maya ragu. Rina tersenyum. "Aku tunggu di sana. Nggak
apa-apa."
Arif dan Maya berjalan ke sisi tenda, agak jauh dari
keramaian. Di bawah pohon mangga—pohon yang sama yang dulu menjadi saksi
persahabatan mereka? Mungkin. Pohon itu sudah besar, rindang, berbuah lebat.
"Makasih udah datang."
"Iya."
"Lo cantik. Lebih cantik dari yang gue
bayangkan."
Maya tersenyum getir. "Lo juga ganteng. Om udah
gede."
Hening.
"Maaf, May. Untuk semuanya."
"Udah, Ar. Nggak usah minta maaf terus."
"Tapi..."
"Aku ikhlas. Sungguh. Mungkin butuh waktu 11 tahun,
tapi akhirnya aku ikhlas."
Arif menatapnya. Matanya berkaca-kaca. "Aku nggak akan
pernah lupa lo. Kamu bagian terindah dalam hidupku."
"Aku juga. Tapi kita harus lanjut hidup. Lo punya
keluarga. Aku juga harus punya masa depan."
Arif mengangguk. "Lo bahagia?"
Maya memikirkan pertanyaan itu. Bahagia? Ia tidak tahu.
Tapi ia baik-baik saja.
"Aku baik-baik aja, Ar. Itu cukup."
"May, aku mau bilang sesuatu."
"Apa?"
Arif merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sesuatu. Gelang
biru. Gelang yang dulu ia berikan pada Maya, yang Maya lemparkan saat mereka
putus.
"Lo masih simpan ini?"
Arif mengangguk. "Gue ambil waktu itu. Lo lempar, gue
pungut. Gue simpan selama 11 tahun."
Maya terharu. "Ar..."
"Aku nggak pernah bisa buang ini. Ini pengingat bahwa
aku pernah punya cinta sejati. Bahwa aku pernah bahagia."
Maya mengambil gelang itu. Dipandanginya lama. "Aku
juga simpan punyaku. Nggak pernah lepas."
Arif tersenyum. "Kita sama-sama sentimental."
Maya tertawa kecil. "Iya."
"Mau gue balikin?"
Maya menggeleng. "Simpan aja. Biar lo ingat, dulu lo
pernah mencintai dengan tulus."
"Tapi..."
"Simpan, Ar. Itu milik lo sekarang. Tapi aku mau minta
satu hal."
"Apa?"
"Mulai hari ini, cintai Rina dengan sepenuh hati. Dia
istri yang baik. Dia berhak mendapatkan cinta utuh darimu, bukan sisa-sisa
cinta untukku."
Arif tertegun. "May..."
"Aku serius, Ar. Jangan biarkan masa lalu
menghantuimu. Hidupmu sekarang bersama Rina dan Rafa. Beri mereka yang
terbaik."
Arif mengangguk pelan. "Gue usahakan."
"Bukan diusahakan. Lakukan."
Arif tersenyum. "Lo masih suka ngatur."
"Kebiasaan lama."
Mereka tertawa kecil. Lalu hening.
"May, ada yang mau gue tanya."
"Apa?"
"Waktu itu... waktu gue milih Rina, apa lo benci sama
gue?"
Maya diam sejenak, lalu menjawab jujur. "Benci? Iya,
awalnya. Tapi lama-lama, gue sadar. Lo bukan jahat, Ar. Lo cuma takut. Takut
kehilangan keluarga. Takut nggak bisa jadi anak yang berbakti. Takut
gagal."
"Tapi gue gagal jadi pacar yang baik buat lo."
"Lo gagal jadi pacar, tapi lo berhasil jadi anak yang
berbakti. Itu nggak salah. Cuma pilihan."
Arif menunduk. "Gue tetap salah."
"Mungkin. Tapi gue udah maafin. Dan yang lebih
penting, lo harus maafin diri lo sendiri."
Arif mengangkat wajah. Air matanya jatuh. "Makasih,
May."
Mereka berpelukan singkat. Bukan pelukan kekasih, tapi
pelukan dua orang yang pernah saling memiliki dan kini harus melepaskan.
"Jaga dirimu, May."
"Lo juga. Bahagiakan keluargamu."
"Janji."
Maya berbalik dan berjalan meninggalkan Arif. Di tengah
langkah, ia berhenti. Ia melepas gelang biru di tangannya—gelang yang selama 15
tahun tidak pernah ia lepas.
Ia kembali ke Arif, meraih tangan mantan kekasihnya, dan
meletakkan gelang itu di telapak tangan Arif.
"Ini juga buat lo. Biar lo ingat, ada dua orang yang
pernah saling mencinta. Dan biar lo nggak lupa, cinta pertama itu bukan untuk
diratapi, tapi untuk dikenang sebagai pelajaran."
Arif menggenggam erat gelang itu. "Makasih."
Maya tersenyum. "Sekarang, balik ke istri lo. Dia
nunggu."
Maya kembali ke kursinya. Sari dan Bu Rini menatapnya
dengan cemas.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Sari.
Maya tersenyum. Kali ini senyum tulus. "Gue baik-baik
aja, Sar. Bahkan, gue merasa lebih baik dari sebelumnya."
Sari memeluknya. "Gue bangga sama lo, May."
Bu Rini mengusap punggung putrinya. "Nduk, Ibu bangga.
Kamu hebat."
Maya memutuskan pulang sebelum acara selesai. Ia sudah
cukup. Ia sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Ia sudah melihat akhir dari
ceritanya dengan Arif.
Di pintu keluar, Maya menoleh sekali lagi. Memandangi tenda
biru itu. Tenda megah dengan ribuan lampu dan bunga. Tenda yang menjadi simbol
janji mereka 15 tahun lalu.
Tenda biru. Simbol harapan. Simbol janji. Simbol
kehancuran. Dan kini, simbol pelepasan.
"Selamat tinggal, Arif. Selamat tinggal, masa
lalu."
Mereka naik taksi menuju rumah. Di dalam taksi, Maya
menangis. Bukan tangis histeris, tapi tangis lega. Tangis terakhir untuk Arif.
"Gue nangis yang terakhir, Sar. Habis ini, gue
berhenti."
Sari memeluknya. "Iya, May. Habis ini lo mulai hidup
baru."
BAGIAN VIII
BABAK BARU
Di kamarnya, malam harinya, Maya duduk sendirian. Tidak ada
air mata. Tidak ada sesak. Hanya kelegaan yang aneh.
Ia mengambil kotak sepatu berisi kenangan. Surat-surat
Arif. Foto-foto mereka. Cincin akar bahar.
Ia membaca satu per satu surat Arif. Surat pertama, surat
kedua, surat terakhir. Ia tertawa membaca surat-surat lucu, ia tersenyum
membaca surat-surat romantis.
"May,
Gue lagi di kebun. Panas banget. Tapi gue senyum-senyum
sendiri inget lo. Lo tahu nggak, di sini ada pohon pisang. Gue jadi inget waktu
lo cerita lo suka pisang goreng buatan Ibu lo. Kapan-kapan gue harus cobain.
Kangen.
Arif"
Maya tersenyum. "Makasih, Ar. Untuk semuanya."
Lalu, satu per satu, ia memasukkan kembali semua ke dalam
kotak. Tapi kali ini, ada yang berbeda.
Ia mengambil spidol merah, menulis di tutup kotak:
"KENANGAN. TERIMA KASIH. TELAH DITUTUP."
Kotak itu ia letakkan di lemari, tidak lagi disembunyikan
di bawah tumpukan baju. Ia biarkan terlihat, sebagai pengingat bahwa masa lalu
tidak perlu dilupakan, hanya perlu diikhlaskan.
Maya kembali ke Jakarta naik kereta. Sendirian. Sari
memilih tinggal seminggu di Solo untuk urusan keluarga—katanya mau bantu ibunya
yang sedang sakit, tapi Maya curiga Sari cuma mau liburan.
Di kereta, Maya memandangi sawah-sawah yang berlalu.
Pikirannya tenang. Dadanya ringan. Beban yang selama 11 tahun dipikulnya,
hilang begitu saja.
Pesan masuk dari Sari.
Sari: May, lo gimana?
Maya: Baik. Tenang. Lega.
Sari: Nangis?
Maya: Udah. Sekarang nggak.
Sari: Bagus! Lo akhirnya move on!
Maya: Iya. Akhirnya. 11 tahun.
Sari: Better late than never. Love you, bestie!
Maya: Love you too.
Seminggu kemudian
Maya kembali ke rutinitasnya. Bekerja, pulang, tidur. Tapi
ada yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Lebih bersemangat. Lebih hidup.
Di kantor, Mas Yono berkomentar, "May, lo beda. Lebih
ceria. Ada angin apa?"
Maya tersenyum. "Nggak ada, Mas. Cuma lagi good
mood."
"Good mood terus dong. Enak lihatnya."
Bu Wati menambahkan, "Iya, Maya. Lo cantik kalau
senyum. Jangan suka murung."
"Iya, Bu."
Mbak Diah menyela, "May, lo lagi jatuh cinta ya?"
Maya tertawa. "Nggak, Mbak."
"Bohong. Orang jatuh cinta itu biasanya kelihatan dari
senyumnya."
"Berarti saya lagi jatuh cinta sama hidup, Mbak."
Semua tertawa.
Suatu sore,
pintu kontrakannya diketuk.
"Maya?" suara laki-laki di luar.
Maya membuka pintu. Seorang pria berdiri di sana. Tinggi,
sekitar 175 cm, berkacamata, wajah ramah dengan senyum yang menawan. Usia
sekitar 30-an. Pakai kemeja flanel, celana jeans, dan sepatu kets.
"Mas Dimas?"
Dimas adalah penulis yang naskahnya pernah Maya sunting
setahun lalu. Mereka beberapa kali bertemu untuk diskusi naskah, lalu
kehilangan kontak.
"Hei, May. Lama nggak jumpa."
"Iya, Mas. Lama. Kok bisa ke sini? Tahu alamat?"
"Sari yang kasih. Aku ketemu dia minggu lalu di Solo,
katanya lo udah balik."
Maya mengerutkan kening. "Sari? Lo kenal Sari?"
"Dia temen SMA-ku juga. Satu angkatan, beda kelas.
Tapi kenal. Kami satu ekskul dulu—ekskul teater."
Maya tertawa. "Dunia kecil ya."
"Iya." Dimas menunjukkan sebuah buku. "Ini,
novel terbaruku. Udah terbit. Makasih ya atas editingnya dulu. Lo hebat
banget."
Maya menerima buku itu. "Wah, makasih, Mas. Keren
banget covernya. Masuk nominasi award?"
"Belum tahu. Masih berdoa."
"Masuk sini dulu."
Dimas masuk. Mereka mengobrol lama. Tentang buku, tentang
kehidupan, tentang Jakarta. Dimas ternyata orangnya asyik, humoris, pintar, dan
rendah hati. Ia juga jago bercerita.
"May, aku dengar lo habis dari Solo? Ada acara?"
Maya menghela napas. "Iya. Nikahan mantan."
"Oh... berat ya?"
"Udah. Udah lewat. Sekarang lega."
"Bagus. Berarti lo udah siap buka lembaran baru?"
Maya menatap Dimas. "Maksud Mas?"
Dimas tersipu. "Maksudku... kalau lo mau, kita bisa
lebih sering ketemu. Nggak cuma urusan naskah. Mungkin... ngopi bareng? Makan
bareng? Jalan-jalan? Nonton?"
Maya tersenyum. "Mas... ini PDKT?"
Dimas tertawa. "Iya, kalau lo mau. Aku nggak mau buru-buru.
Tapi aku tertarik sama lo. Udah lama sebenarnya. Dari pertama kali lo edit
naskahku."
Maya diam, mempertimbangkan.
"Lo nggak usah jawab sekarang," sambung Dimas.
"Pikir dulu. Aku sabar. Aku bisa nunggu."
Hari-hari berikutnya,
Dimas dan Maya makin dekat. Mereka sering bertemu untuk makan malam, nonton
film, atau sekadar jalan-jalan di akhir pekan. Dimas orangnya sabar,
pengertian, dan tidak pernah memaksa.
Dimas juga perhatian. Ia selalu mengingatkan Maya makan,
selalu mengantar pulang, selalu ada saat Maya butuh teman curhat. Ia juga
lucu—bisa membuat Maya tertawa dengan cerita-cerita konyolnya tentang dunia
penulisan.
Sari tentu saja heboh.
"GILA, MAY! LO AKHIRNYA MAU PACARAN LAGI!" teriak
Sari di telepon.
"Siapa bilang pacaran? Kita masih PDKT."
"Ya udah, PDKT. Tapi jelas-jelas lo suka sama dia. Gue
lihat dari foto-foto lo di IG. Lo senyum-senyum sendiri."
"Biasa aja."
"Bohong! Lo senyum lebay! Kayak orang kesemsem!"
Maya tertawa. Sari tidak pernah berubah.
Reaksi Bu Rini
"Ibu, aku punya kabar."
"Apa, Nduk?"
"Aku... lagi deket sama orang. Namanya Dimas.
Penulis."
Bu Rini di ujung telepon diam sejenak, lalu berteriak,
"ALHAMDULILLAH! AKHIRNYA! Ibu kapan lihat? Kapan ke Solo? Kapan
nikah?"
Maya tertawa. "Bu, baru PDKT. Jangan buru-buru."
"Ibu udah nunggu 11 tahun, Nduk. Ini nggak buru-buru.
Ini sudah lama sekali."
Reaksi Mpok Ijah
Suatu pagi, Mpok Ijah lewat seperti biasa. Maya sedang di
teras, menyiram tanaman.
"Neng, lo keliatan beda. Lebih cerah. Ada cowok
ya?"
Maya tersipu. "Iya, Mpok. Lagi deket sama orang."
Mpok Ijah menghentikan gerobaknya. "Orang sini?"
"Bukan. Penulis. Namanya Dimas."
Mpok Ijah mengangguk-angguk. "Ganteng nggak?"
"Ganteng, Mpok."
"Kaya?"
"Biasa aja. Tapi baik. Dan rendah hati."
Mpok Ijah tersenyum puas. "Nah, itu yang penting.
Baik. Hatinya baik. Jangan kayak yang dulu. Yang penting hatinya, bukan
duitnya."
Maya tersenyum. "Iya, Mpok."
"Tapi Mpok tetap pantau. Kalau dia nakal, Mpok hajar
pakai gayung. Atau pakai singkong."
Maya tertawa. "Siap, Mpok."
Suatu malam di kafe
Dimas dan Maya duduk di kafe langganan mereka di Kemang.
Suasana romantis—lampu temaram, musik jazz pelan, aroma kopi yang wangi. Di
luar, hujan gerimis.
"May, aku mau tanya sesuatu."
"Apa, Mas?"
"Lo udah siap buat serius?"
Maya diam.
"Aku serius sama lo. Bukan coba-coba. Bukan iseng.
Kalau lo belum siap, aku tunggu. Tapi kalau lo siap, aku mau minta lo jadi
pacar aku."
Maya tersentuh. "Mas..."
"Aku tahu lo punya masa lalu. Aku juga punya masa
lalu. Tapi masa lalu nggak perlu jadi penghalang, kan?"
Maya menggenggam tangan Dimas. "Mas, aku siap. Tapi
pelan-pelan ya. Jangan buru-buru."
Dimas tersenyum lebar. "Tentu. Aku jamin. Pelan-pelan,
santai, nikmati proses."
Setahun kemudian
Dimas mengajak Maya ke sebuah restoran romantis di puncak
gedung, dengan pemandangan Jakarta di malam hari. Lampu-lampu kota
berkelap-kelip seperti bintang jatuh.
Maya sudah curiga. Dimas minta ia berdandan cantik. Sari
datang membantu, dengan senyum misterius.
Di restoran, meja mereka dihiasi kelopak mawar merah.
Lilin-lilin kecil menerangi suasana. Ada biola yang dimainkan seseorang di
pojok ruangan.
Setelah makan malam yang lezat, Dimas meraih tangan Maya.
"May, aku mau tanya sesuatu."
Maya tahu ini saatnya. Jantungnya berdebar.
Dimas berlutut. Satu lutut. Di tangannya, sebuah kotak
kecil terbuka, memperlihatkan cincin emas putih dengan berlian kecil.
"Maya Andriani, kamu mau nggak jadi pendamping
hidupku? Menikah denganku? Menjalani sisa hidup bersama?"
Maya menangis. Air mata bahagia.
"Mau, Mas. Gue mau."
Dimas memakaikan cincin itu di jari manis Maya. Ukurannya
pas. Para pengunjung restoran bertepuk tangan. Sari yang ternyata sudah
bersembunyi di balik pilar, keluar sambil merekam dengan ponsel.
"YES! AKHIRNYA!" teriak Sari.
Maya dan Dimas menikah. Pernikahan sederhana di sebuah gedung
pertemuan di Jakarta. Tidak megah, tapi hangat. Hanya dihadiri keluarga dan
sahabat terdekat.
Dari Solo datang: Bu Rini (tentu saja), Sari dan suaminya
Rian, Doni dan pacarnya—sekarang tunangannya, Budi dan Lina, bahkan Bu Siti dan
Rizki.
Bu Siti memeluk Maya. "Selamat, Nak. Ibu bahagia lihat
lo."
Maya tersenyum. "Makasih, Bu. Makasih udah
datang."
"Arif titip salam. Dia nggak bisa datang, ada urusan.
Tapi dia doain lo. Dia bilang, lo pantas bahagia."
Maya mengangguk. "Sampaikan makasih. Sampaikan juga,
aku bahagia."
Bu Siti tersenyum haru. "Pasti, Nak."
Rizki juga datang. "Mbak Maya, cantik banget! Jadi
pengantin."
"Makasih, Ki. Lo udah dapet kost di Jakarta?"
"Udah, Mbak. Deket kantor. Makasih
rekomendasinya."
"Bagus. Nanti main ke rumah."
Dari Jakarta: Bu Tuti, Pak Karto, Bu Sri, Mas Bejo, Mpok
Ijah, dan rekan-rekan kantor.
Mpok Ijah menangis. "Neng, lo bahagia ya. Mpok ikut
bahagia."
Maya memeluknya. "Makasih, Mpok. Makasih udah jagain
Maya selama ini."
Bu Tuti juga menangis. "Neng, lo kayak anak Ibu
sendiri. Ibu bangga."
Pak Karto memberikan ikan hasil pancingannya—2 ekor gurame
besar. "Ini, Neng. Buat lauk."
Mas Bejo memberi bakso 50 biji. "Buat stock,
Neng."
Bu Sri memberi nasihat panjang lebar tentang bagaimana
menjadi istri yang baik.
EPILOG
Langit
Setelah Tenda Biru
Setahun kemudian
Maya dan Dimas duduk di balkon apartemen mereka di Jakarta
Selatan. Apartemen kecil, tapi cukup untuk mereka bertiga. Ya, mereka bertiga.
Maya menggendong bayi perempuan mereka yang baru berusia 3
bulan. Namanya Arunika—fajar, cahaya pagi. Karena ia lahir saat matahari
terbit, dan karena ia adalah cahaya baru dalam hidup Maya.
Arunika sedang tidur pulas di gendongan Maya. Wajahnya
bulat, lucu, dengan rambut tipis ikal.
"Sayang, lo lihat langit?" Maya menunjuk ke
barat, di mana langit senja mulai jingga. Matahari perlahan tenggelam di balik
gedung-gedung tinggi.
Dimas menoleh. "Iya. Cantik."
"Aku dulu pernah berjanji dengan seseorang di bawah
tenda biru. Janji yang tidak pernah ditepati."
Dimas menggenggam tangannya. "Sekarang, kita punya
janji baru."
Maya menatap suaminya. "Janji apa?"
Dimas mengecup keningnya, lalu mengecup kening Arunika.
"Janji untuk selalu bersama. Sampai tua. Sampai rambut kita putih semua.
Sampai anak kita punya anak. Sampai kita nggak bisa jalan, tapi masih bisa
bergandengan tangan."
Maya tersenyum. "Janji."
Mereka berpelukan di bawah langit sore. Di kejauhan, di
atas gedung-gedung tinggi, terlihat layang-layang mainan anak-anak.
Ponsel Maya bergetar. Pesan dari Sari.
Sari: May, lo lagi apa?
Maya: Lagi di balkon. Nikmatin senja.
Sari: Romantis amat. Sama Dimas?
Maya: Iya. Sama Arunika juga.
Sari: Masa kecil Arunika? Udah bisa lihat senja?
Maya: Dia lagi tidur sih. Tapi tetap, dia ikut menikmati.
Sari: Hahaha. May, gue mau ngasih tahu sesuatu.
Maya: Apa?
Sari: Rina hamil lagi. Anak kedua.
Maya: Oh ya? Bagus dong.
Sari: Lo nggak apa?
Maya: Sari, udah 2 tahun. Masa gue masih kepikiran? Gue punya suami
yang luar biasa, anak yang lucu, hidup yang bahagia. Masa lalu udah lewat.
Sari: Iya, iya. Gue cuma ngecek.
Maya: Lo ini.
Sari: Oke, oke. Love you, bestie!
Maya: Love you too.
Maya
meletakkan ponsel. Dimas menatapnya.
"Sari lagi?"
"Iya. Kasih kabar kalau Rina hamil lagi."
Dimas tersenyum. "Lo nggak apa?"
Maya menatap suaminya. "Mas, pertanyaan itu nggak
perlu ditanya lagi. Masa laluku bersama Arif udah selesai. Sekarang, hidupku
bersama lo dan Arunika."
Dimas tersenyum lega. "Makasih, Sayang."
"Makasih buat apa?"
"Makasih udah milih aku. Makasih udah mau membuka hati
lagi. Makasih udah memberiku keluarga kecil yang indah."
Maya terharu. "Aku juga makasih, Mas. Lo adalah
jawaban dari doa-doa yang selama ini aku panjatkan. Lo adalah bukti bahwa Allah
selalu punya rencana yang lebih baik."
Mereka berpelukan. Arunika terbangun, mulai rewel. Maya
tersenyum, menggendongnya lebih erat.
"Udah, udah, Nak. Ibu di sini."
Malam harinya,
setelah Arunika tidur, Maya duduk di ruang tamu sendirian. Dimas sedang di
dapur, membuatkan susu hangat untuknya.
Maya membuka lemari, mengeluarkan kotak sepatu lama dengan
tulisan "KENANGAN. TERIMA KASIH. TELAH DITUTUP."
Ia membuka kotak itu. Surat-surat Arif, foto-foto mereka,
cincin akar bahar. Semua masih ada.
Maya membaca satu surat terakhir, surat perpisahan Arif.
"May,
Maaf. Maaf untuk semuanya.
Gue harus nikah sama Rina. Bukan karena gue nggak sayang
lo. Tapi karena keluarga gue butuh. Bapak gue butuh biaya berobat. Keluarga
Rina bisa bantu.
Gue tahu lo sakit hati. Gue juga sakit hati. Tapi gue nggak
punya pilihan.
Maafkan gue. Dan semoga lo bahagia.
Jangan pernah lupa, gue akan selalu sayang lo.
Arif"
Sekarang, membaca surat itu, Maya tidak lagi sakit hati. Ia
hanya tersenyum.
"Makasih, Ar. Untuk semua kenangan indah. Untuk semua
pelajaran berharga. Tanpa lo, mungkin aku nggak akan jadi aku yang sekarang.
Tanpa lo, mungkin aku nggak akan menemukan Dimas. Tanpa lo, mungkin aku nggak
akan sekuat ini."
Ia menutup kotak itu, mengembalikannya ke lemari.
Dimas masuk dengan dua gelas susu hangat. "Lagi
ngapain, Sayang?"
"Lagi ngobrol sama masa lalu."
Dimas tersenyum. "Udah selesai?"
"Udah. Sekarang, aku mau ngobrol sama masa
depan."
Dimas duduk di sampingnya, memberikan satu gelas susu.
"Masa depan? Ngobrol tentang apa?"
Maya meminum susunya, lalu menatap suaminya. "Tentang
kita. Tentang Arunika. Tentang anak kita yang kedua nanti. Tentang rumah yang
lebih besar. Tentang liburan keluarga. Tentang..."
Dimas memotongnya dengan ciuman. "Pelan-pelan, Sayang.
Kita punya waktu."
Maya tersenyum. "Iya. Kita punya waktu."
Pagi harinya
Maya bangun lebih awal. Dimas dan Arunika masih tidur
nyenyak. Ia berjalan ke balkon, menikmati udara pagi.
Matahari terbit di ufuk timur. Jingga keemasan menyapa
Jakarta yang mulai bangun.
Maya teringat tenda biru. Tenda yang menjadi saksi
perpisahannya dengan Arif. Tenda yang menjadi penutup bab cinta pertamanya.
Sekarang, tenda itu hanya kenangan. Tidak menyakitkan lagi.
Ia memandangi cincin di jari manisnya. Cincin dari Dimas.
Simbol cinta baru. Simbol masa depan.
Ia tersenyum.
Di bawah tenda biru yang runtuh, Maya menemukan langit baru
yang lebih luas.
Dua tahun kemudian
Maya dan Dimas sekarang tinggal di rumah sederhana di
pinggiran Jakarta. Rumah dengan halaman kecil tempat Arunika bermain. Rumah
dengan dua kamar tidur, satu untuk mereka, satu untuk Arunika dan adiknya yang
baru lahir—Arjuna, laki-laki kecil yang lahir seminggu lalu.
Suatu sore, Sari datang berkunjung. Ia membawa mainan untuk
Arunika dan Arjuna—boneka untuk Arunika, mobil-mobilan untuk Arjuna.
"Wah, rumah lo makin betah aja," kata Sari, duduk
di teras.
"Iya. Pelan-pelan, kita benahi."
"Anak lo dua. Suami lo baik. Pekerjaan lo mapan. Lo
udah sampai, May."
Maya tersenyum. "Sampai? Hidup nggak pernah sampai,
Sar. Hidup terus berjalan. Terus belajar. Terus tumbuh."
"Filosofis amat."
"Bukan filosofis. Cuma... sadar. Dulu, aku kira hidup
berhenti setelah Arif ninggalin aku. Tapi ternyata, itu cuma awal."
Sari menggenggam tangan sahabatnya. "Gue bangga sama
lo, May."
"Makasih, Sar. Lo juga. Kita sama-sama berjuang."
Mereka berpelukan. Di dalam rumah, Dimas sedang membuat kue
untuk mereka—ia belajar baking sejak punya anak. Arunika berlarian dengan
anjing peliharaan mereka—seekor golden retriever bernama Coklat. Arjuna tidur
nyenyak di boksnya.
Maya tersenyum memandangi semua itu.
Hidup, pikirnya, seperti langit. Kadang mendung, kadang
cerah, kadang hujan, kadang panas. Tapi selalu ada keindahan di balik semua
itu.
Dan tenda biru? Ah, itu hanya kenangan. Kenangan yang
pernah membuatnya menangis, tapi kini hanya membuatnya tersenyum.
Karena di balik setiap tenda biru yang runtuh, selalu ada
langit baru yang menanti.
Beberapa bulan kemudian
Maya mendapat undangan pernikahan. Bukan dari Arif—itu
sudah lewat. Tapi dari Doni. Doni akhirnya menikah dengan pacarnya yang sudah 5
tahun berpacaran.
Di pernikahan Doni, Maya bertemu banyak teman lama.
Termasuk Arif dan Rina—yang datang bersama anak kedua mereka, seorang perempuan
berusia 1 tahun.
Maya dan Arif bertemu di meja bufet.
"Hei, May." Arif tersenyum.
"Hei, Ar."
"Lo kelihatan bahagia."
"Aku memang bahagia. Lo?"
Arif menatap Rina yang sedang menggendong anak mereka,
bercanda dengan Sari. "Aku juga bahagia. Akhirnya."
"Bagus."
"Makasih untuk omongan lo waktu itu. Tentang mencintai
Rina sepenuh hati."
Maya tersenyum. "Sama-sama."
Mereka mengobrol sebentar tentang pekerjaan, tentang anak,
tentang kehidupan. Lalu Maya pamit kembali ke meja, di mana Dimas sedang
menunggu dengan Arunika di pangkuan.
"Kenalan lama?" tanya Dimas.
"Iya. Arif."
Dimas mengangguk. "Dia tampak baik."
"Dia memang baik."
Mereka tersenyum. Tidak ada cemburu. Tidak ada rasa sakit.
Hanya penerimaan.
Malam harinya, di rumah, Maya duduk di teras sambil
menikmati kopi. Dimas di sampingnya, memegang tangannya.
"Sayang," Maya memulai.
"Hm?"
"Aku mau bilang sesuatu."
"Apa?"
"Makasih udah menerima masa laluku. Makasih udah nggak
cemburu. Makasih udah membuatku percaya lagi pada cinta."
Dimas mengecup keningnya. "Sayang, masa lalumu adalah
bagian dari dirimu. Tanpa masa lalumu, kamu nggak akan jadi kamu yang sekarang.
Dan aku mencintai kamu yang sekarang."
Maya tersenyum. Air matanya jatuh—tapi kali ini air mata
bahagia.
"Aku juga mencintaimu, Mas."
Di langit, bintang-bintang bertaburan. Di kejauhan,
terdengar suara azan Isya dari masjid dekat rumah.
Maya memejamkan mata, bersyukur.
Tenda biru telah runtuh. Tapi langit baru telah terbuka.
Dan di langit itu, ia menemukan cinta yang sesungguhnya.
TAMAT
CATATAN PENULIS
Novel ini terinspirasi dari lagu "Tenda Biru"
yang dipopulerkan oleh Desy Ratnasari. Lagu yang bercerita tentang cinta, janji,
dan pernikahan yang tak kesampaian. Mendengarkan lagu itu, saya membayangkan
seorang perempuan yang harus menyaksikan cinta pertamanya menikah dengan orang
lain di bawah tenda biru—tenda yang dulu menjadi simbol janji mereka.
Dalam proses penulisan, saya mencoba menghidupkan tidak
hanya tokoh utama, tapi juga tokoh-tokoh pembantu yang mewarnai kehidupan Maya
dan Arif. Karena dalam kehidupan nyata, cinta tidak hanya tentang dua orang,
tapi juga tentang keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, dan orang-orang di
sekitar kita. Merekalah yang membuat hidup kita kaya, yang menghibur saat kita
sedih, yang membuat kita tertawa saat kita butuh hiburan.
Saya juga ingin menunjukkan bahwa patah hati bukan akhir
dari segalanya. Maya mengalami patah hati yang sangat dalam, tapi ia bangkit.
Ia pindah ke kota baru, membangun karir, berteman dengan orang-orang baru, dan
pada akhirnya menemukan cinta sejatinya. Butuh waktu 11 tahun, tapi ia
berhasil.
Untuk semua yang pernah kehilangan cinta, untuk semua yang
pernah dikecewakan janji, untuk semua yang pernah menangis di bawah tenda
biru—kalian tidak sendiri. Teruslah berjalan. Suatu hari, kalian akan menemukan
tenda biru kalian sendiri, atau mungkin langit baru yang lebih luas.
Terima kasih untuk semua yang telah membaca. Semoga novel
ini menghibur sekaligus memberikan pelajaran tentang cinta, keikhlasan, dan
kekuatan untuk melepaskan.
Salam
hangat,
Slamet Riyadi
Sriwidadi, 17 Maret 2026







0 komentar:
Posting Komentar