Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Senin, 16 Maret 2026

Novel Tenda Biru: Kisah Cinta yang terkubur di Bawah Tenda Pernikahan

 


NOVEL TENDA BIRU

Kisah Cinta yang Terkubur di Bawah Tenda Pernikahan

 

Oleh: Slamet Riyadi

PROLOG

Ketika Hujan Membawa Kabar yang Tak Terduga

Hujan deras mengguyur ibu kota sejak pukul tiga pagi. Bukan hujan gerimis yang romantis seperti di novel-novel yang biasa Maya sunting, tapi hujan tropis yang ganas—dengan gemuruh air yang mengalir deras di selokan-selokan sempit, dedaunan yang beterbangan tertiup angin kencang, dan sesekali kilat menyambar disertai guntur menggelegar yang membuat kaca jendela bergetar seperti ingin pecah.

Maya terbangun pukul setengah enam, seperti biasa, meskipun hari itu adalah hari libur. Kebiasaan bangun pagi sudah mendarah daging sejak SMA, ketika ibunya selalu membangunkannya pukul setengah lima untuk membantu membereskan rumah sebelum berangkat sekolah. "Bangun, Nduk! Mataharinya udah ngantri mau nyinarin bumi, masa lo masih molor!" begitu selalu teriak ibunya. Kebiasaan itu terus terbawa hingga kini, bahkan di hari Minggu sekalipun.

Kontrakan di kawasan Pondok Gede itu sudah ditempatinya selama lima tahun. Rumah petak berukuran 6x9 meter dengan satu kamar tidur, ruang tamu merangkap ruang makan, dapur sempit di belakang, dan kamar mandi di pojok. Dindingnya mulai pudar, catnya mengelupas di sana-sini membentuk pola abstrak yang—kalau dipaksakan—mirip lukisan modern seharga miliaran. Pintu kamar mandi sudah miring sehingga susah ditutup rapat, dan kulkas dua pintu bekas bunyinya "ngik-ngik... ngik-ngik..." setiap dua jam sekali seperti detak jantung orang tua yang mulai bermasalah. Tukang servis bilang itu normal, tapi Maya curiga kulkasnya cuma akting biar diganti baru.

Tapi Maya tidak pernah protes. Buat apa? Ia tinggal sendiri. Yang penting atapnya tidak bocor, meskipun sebenarnya bocor juga di dua titik—tepat di atas tempat tidur dan di atas meja kerja—tapi sudah ditambal dengan ember dan baskom yang diletakkan strategis di sudut ruangan. "Feng shui air," katanya suatu kali pada Sari. "Mendatangkan rezeki." Sari cuma bisa geleng-geleng kepala.

Pagi itu, Maya bergegas ke dapur untuk membuat kopi susu—minuman wajib sebelum memulai hari, resep warisan dari almarhum ayahnya yang dulu setiap pagi selalu membuatkan kopi untuk ibunya dengan penuh cinta. "Rahasia pernikahan langgeng, Nduk," kata ayahnya dulu. "Bikin kopi buat istri, nggak perlu mahal-mahal, yang penting rutin." Sayangnya Maya belum kesampaian mempraktekkan teori itu karena belum punya suami.

Sambil menunggu air mendidih di kompor gas kecil yang sudah berusia 15 tahun—kompor warisan dari ibu yang sudah bolak-balik diperbaiki—Maya membuka jendela dapur yang menghadap ke gang sempit selebar satu setengah meter. Cukup untuk dua motor papasan kalau keduanya sama-sama maju pelan-pelan dan kompak seperti penari tradisional.

Di seberang gang, Bu RT—Ibu Tuti namanya—sedang menjemur pakaian meskipun hujan belum reda sama sekali. Wanita paruh baya berusia 58 tahun itu dengan cekatan menjemur kain-kain basah di tali plastik yang membentang dari teras ke tiang listrik. Hujan mengguyur tubuhnya yang hanya dilindungi jas hujan plastik tipis warna biru lusuh. Jas hujan itu sudah bolong di beberapa titik, tapi Bu Tuti bilang itu "ventilasi alami".

"Bu RT! Nanti kebasahan, lho!" teriak Maya dari jendela dapur.

Bu Tuti menoleh, tersenyum lebar memperlihatkan gigi yang ompong karena faktor usia—dua di depan sudah copot, katanya dulu karena kebanyakan makan gula merah waktu kecil. "Ah, sebentar lagi reda, Neng. Ibu udah hafal sama hujan Jakarta. Pura-pura reda bentar, turun lagi. Pura-pura mau terang, malah makin deras. Kayak mantan Ibu dulu—janji mau balik, eh malah kawin lagi sama orang lain. Hujan juga sama, janji mau berhenti, eh malah tambah deres."

Maya tertawa kecil mendengar celotehan Bu RT. "Tapi Bu, nanti masuk angin, lho!"

Bu RT melambai cuek. "Masuk angin mah obatnya gampang, Neng. Kerok, kerok, kerok. Tapi cucian kering? Susah! Lo lihat ini—baju seragam sekolah si Rendi, besok udah harus dipake. Masa iya dia sekolah pake baju basah? Nanti dikira ngompol."

Maya menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum. Di kontrakan ini, ia akrab dengan semua tetangga. Mereka adalah keluarga barunya setelah merantau ke Jakarta lima tahun lalu. Bu RT yang cerewet tapi baik hati, Pak Karto yang pendiam tapi suka bagi-bagi ikan hasil pancingan, Bu Sri yang suka bergosip ria, Mas Bejo tukang bakso langganan, dan Mpok Ijah tukang sayur yang katanya dulu juragan butik.

Telepon genggam Maya bergetar di atas meja dapur. Sebuah pesan masuk dari Sari—sahabatnya sejak SMA, yang sekarang juga kerja di Jakarta sebagai bankir, meskipun setiap hari ngeluh pengin resign tapi sampai sekarang masih bertahan karena "uangnya halal, May, halal!"

Sari: May, udah bangun?
Maya: Udah. Lagi buat kopi. Lo kenapa pagi-pagi udah nge-DM? Jam segini biasanya lo masih jadi kuntilanak.

Sari: Kuntilanak apaan?
Maya: Makhluk halus yang muncul malem dan ilang pagi. Lo kan pulang kerja jam 10 malem, terus tidur. Bangun siang. Ya kayak kuntilanak.

Sari: Hahaha. Bego lo. Ada yang mau gue kasih tahu. Penting. Super penting. Gawat darurat. Genting.

Maya: Genting apaan? Genteng rumah lo bocor?

Sari: Bukan genteng! Genting! Darurat! Keadaan memprihatinkan! Level waspada bencana nasional!

Maya: Ya udah, apaan? Cepetan, gue mau mandi.

Sari: Gue telpon ya. Jangan diangkat—maksudnya diangkat, angkat!

Maya menggelengkan kepala membaca pesan Sari yang kacau balau. Sari tidak pernah berubah sejak SMA—selalu heboh, selalu tidak terduga, selalu bikin pusing, tapi selalu ada saat dibutuhkan. Semacam obat generik: pahit tapi manjur.

Dua detik kemudian, telepon Sari masuk. Begitu Maya mengangkat, suara Sari sudah meledak-ledak dari seberang seperti petasan di bulan puasa.

"MAY! LO DI RUMAH AJA KAN HARI INI? JANGAN KEMANA-MANA! GUE DATENG!"

Maya menjauhkan ponsel dari telinga, kaget dengan suara Sari yang memekik seperti orang kesurupan. "Iya, iya, di rumah. Libur kan. Lo kenapa sih? Kayak kebakaran jenggot. Suara lo bisa memecah kaca. Nanti tetangga gue pada lapor polisi, kirain ada pembunuhan."

"Gue mau ke sana nanti siang. Ada yang mau gue sampaikan langsung. Nggak enak lewat telepon. Nggak etis. Nggak sopan. Nggak manusiawi. Nggak beradab."

Maya mengerutkan kening. "Serius amat, Sar. Lo mau ngasih kabar apa? Lo hamil? Lo kawin lari? Lo dapat warisan? Lo jadi artis? Lo terpilih jadi duta PBB?"

"Bukan tolol! Lo aja yang hamil! Eh, lo nggak hamil kan?"

"Loh, gue kan nggak punya suami. Hamil dari mana? Dari angin? Dari roket?"

"Nah itu dia masalah lo. Makanya cepet cari pacar! Udah 5 tahun di Jakarta, masa jomblo mulu. Nanti kesambet lho jomblo akut. Penyakit langka, cuma ada di Indonesia."

Maya tertawa. "Oke-oke, gue tunggu. Jam berapa?"

"Antara jam 11 atau jam 3 atau jam 5 atau jam 8 malem. Pokoknya gue dateng. Pokoknya hari ini. Pokoknya nggak bisa batal."

"Lo ini plin plan. Kayak rambut lo yang modelnya ganti tiap minggu. Minggu lalu warnanya merah, sekarang udah balik hitam."

"Emang gue cewek. Cewek boleh plin plan. Itu hak asasi. Hak Asasi Manusia. Hak Asasi Cewek. Hak Asasi Makhluk Berkromosom XX. Ya ampun May, lo baru kenal gue? Udah 15 tahun, baru protes sekarang?"

Telepon ditutup. Maya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Sari memang tidak pernah berubah. Dan mungkin itulah yang membuat Maya tetap bertahan dengannya—konsistensi dalam kekacauan.

Maya melanjutkan aktivitas paginya. Setelah kopi habis—dengan ritual menyeruput perlahan sambil memandangi hujan, seperti iklan kopi di televisi—ia membereskan dapur, mencuci piring kotor bekas makan malam kemarin, menyapu lantai ruang tamu yang berdebu, dan merapikan tumpukan naskah di meja kerjanya. Ia editor di sebuah penerbitan, jadi pekerjaannya bisa dilakukan dari rumah saat akhir pekan. Enak, tapi kadang bikin lupa hari libur karena naskah selalu menumpuk seperti utang negara.

Pukul setengah sembilan, Maya memutuskan untuk mandi. Ia baru saja masuk kamar mandi ketika mendengar suara motor berhenti di depan pagar. Suara knalpot yang khas—suara motor butut Pak Pos yang sudah 10 tahun setia mengantar surat keliling kompleks. Suaranya seperti traktor yang mau meledak, dicampur dengan suara blender rusak.

"Maya! Bu Maya! Ada surat!" teriak Pak Pos dari luar.

Maya membuka pintu kamar mandi, masih dengan handuk di kepala, setengah basah, setengah kering. Rambutnya kusut seperti selesai disetrum. "Sebentar, Pak!"

Ia berlari kecil ke pintu, hampir terpeleset di lantai yang licin karena tadi pagi kesiram air hujan dari ventilasi yang bocor. Untung refleksnya masih bagus—hasil latihan jatuh bangun waktu kecil.

Membuka pintu, seorang pria paruh baya dengan seragam oranye lusuh—warnanya sudah memudar jadi oranye kusam seperti wortel busuk—berdiri di sana, basah kuyup karena hujan. Di tangannya, sebuah amplop putih dilindungi plastik bening agar tidak basah. Wajahnya penuh keriput, tapi matanya masih tajam.

"Selamat pagi, Bu Maya. Ada surat. Penting katanya, soalnya pake plastik. Biasanya mah kagak pake plastik." Kata Pak Pos sambil tersenyum memperlihatkan gigi kuning karena kebiasaan nginang—campuran sirih, pinang, kapur yang bikin mulutnya merah kalau lagi nginang aktif.

Maya menerima amplop itu. "Makasih, Pak. Udah basah-basah nganter surat."

"Ya, Bu. Hati-hati, Bu. Jangan lupa makan. Jangan lupa ibadah. Jangan lupa bayar listrik. Jangan lupa bayar air. Jangan lupa bayar iuran RT. Jangan lupa bayar iuran keamanan. Jangan lupa bayar iuran sampah. Jangan lupa bayar iuran kematian. Jangan lupa..."

Maya tersenyum. Pak Pos ini memang suka memberi nasihat panjang lebar. "Iya, Pak. Makasih. Bapak juga jaga kesehatan."

"Ah, Bapak mah kebal, Bu. 20 tahun nganter surat, hujan-hujanan, panas-panasan, nggak pernah sakit. Kata orang, badan Bapak udah campur formalin kali ya."

Maya tertawa. "Mudah-mudahan bukan, Pak."

"Ya udah, Bu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Pak Pos pergi dengan sepeda motor bututnya yang berasap tipis-tipis seperti mau meledak. Maya menutup pintu, memandangi amplop putih di tangannya. Agak tebal. Kemasannya bagus—kertas dof dengan tekstur timbul, amplop model undangan pernikahan premium, pikirnya.

Ia meletakkan amplop itu di meja makan, di samping tumpukan naskah yang belum selesai dibaca. Ia akan membukanya nanti, setelah mandi dan selesai membaca bab yang sedang direvisi. Tapi entah kenapa, matanya terus melirik amplop itu. Ada firasat aneh di dadanya. Jantungnya berdebar tidak karuan, padahal ia belum melakukan aktivitas berat—bahkan belum lari-lari atau naik turun tangga.

Maya menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan firasat itu. "Udah, mandi dulu. Itu cuma undangan biasa. Mungkin temen kantor yang nikah. Atau temen SMA yang nikah lagi. Atau Sari yang iseng bikin undangan palsu."

Setelah mandi—dengan air hangat karena cuaca dingin—Maya duduk di meja makan dengan rambut masih setengah basah, handuk masih melingkar di leher. Rambutnya ikal bergelombang alami, sekarang makin kacau karena baru dikeringkan asal-asalan. Ia memandangi amplop putih itu. Amplop itu seperti memanggil-manggilnya, memaksa untuk segera dibuka.

"Jangan lebay," gumamnya sendiri. "Amplop nggak bisa manggil. Lo kebanyakan baca novel horor."

Tapi tangannya sudah bergerak mengambil amplop itu. Tangannya sedikit gemetar—entah karena dingin, entah karena firasat. Dengan hati-hati, ia membuka perekatnya, kebiasaan editor, selalu memperlakukan kertas dengan penuh hormat. Tidak boleh rusak, tidak boleh robek. Kertas adalah sahabat, musuh, dan sumber pendapatan sekaligus.

Dari dalam amplop, ia mengeluarkan kartu undangan berwarna putih gading dengan hiasan bunga-bunga kecil di pinggirnya. Indah. Elegan. Mahal. Dicetak dengan tinta emas yang berkilauan. Jelas ini bukan undangan kaleng-kaleng.

"Dengan memohon rahmat dan ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala, kami bermaksud menyelenggarakan resepsi pernikahan putra-putri kami:"

Mata Maya langsung mencari bagian paling penting: nama pengantin. Ini selalu bagian pertama yang dilihat orang dari undangan pernikahan—siapa yang menikah, siapa yang akan di-"santet" tamu undangan.

Arif Pramana Putra
Putra pertama Bapak H. Sumarjo & Ibu Hj. Siti Aminah

Dunia Maya serasa berhenti.

Rina Andriani
Putri pertama Bapak H. Ahmad Dahlan & Ibu Hj. Maryam

Maya jatuh terduduk di kursi. Amplop itu jatuh dari tangannya, berhamburan di lantai bersama isi lainnya—mungkin ada kartu nama, mungkin ada peta lokasi, mungkin ada amplop balasan. Kartu undangan ikut jatuh, tergeletak di lantai semen dengan gambar tenda biru menghadap ke atas.

Tenda biru.

Di sudut kiri bawah undangan, tercetak ilustrasi tenda pernikahan—tenda biru muda dengan hiasan bunga-bunga putih bergelantungan di sekelilingnya, dihiasi lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip. Tenda megah dengan ornamen yang indah, seperti dari majalah pernikahan.

Maya memunguti undangan itu. Jari-jarinya gemetar saat mengelus gambar tenda biru. Air matanya jatuh tanpa ia sadari, membasahi kertas undangan yang mahal itu. Tinta emas di nama Arif mulai luntur terkena air mata.

Tenda biru.
Janji lama yang tak pernah ditepati.

"May, gue janji. Suatu hari, kita akan nikah di bawah tenda biru. Tenda kita sendiri."
"Janji?"
"Janji."

Dan sekarang, Arif akan menikah dengan perempuan lain di bawah tenda biru yang megah. Tenda biru yang seharusnya menjadi milik mereka berdua, tapi kini menjadi saksi pernikahannya dengan orang lain.

Maya tidak tahu berapa lama ia terduduk di sana, mematung seperti patung lilin di museum lilin Jakarta. Mungkin 5 menit, mungkin 30 menit, mungkin 2 jam. Yang jelas, air matanya sudah menggenang di lantai membentuk kolam kecil.

Pikirannya melayang 15 tahun ke belakang. Ke masa ketika ia masih SMA, ketika ia pertama kali bertemu Arif, ketika mereka berjanji di bawah hujan, ketika Arif memberinya gelang biru buatan sendiri yang jelek tapi bermakna.

Pukul setengah dua belas, saat Maya masih duduk termenung di kursi dengan mata sembab, hidung merah, dan rambut masih basah setengah kering, pintu kontrakannya diketuk orang. Kali ini bukan ketukan sopan, tapi ketukan khas Sari—keras, tidak sabaran, dan disertai teriakan yang bisa membangunkan seluruh kompleks.

"TOK TOK TOK TOK TOK! MAY! BUKA! INI GUE! CEPETAN! GUE BASAH! LO LAMA BANGET! MAY! MAY! GUE MASUKIN MUKA GUE KE LUBANG KUNCI, LO BUKA! GUE UDAH SIAPIN MUKA GUE YANG CANTIK INI BUAT DIPAKSA MASUK LUBANG KUNCI!"

Maya berjalan lunglai ke pintu. Kakinya berat seperti diisi timah. Ia membuka pintu dengan wajah kusut, mata sembab seperti habis nonton film sedih semalaman, hidung merah, rambut masih basah dan acak-acakan—mirip orang baru selamat dari banjir bandang. Sari langsung melihat keadaan itu.

"Udah tahu ya?" Sari masuk sambil menutup pintu. Jaketnya basah, rambutnya basah, tasnya juga basah. Ia membawa serta aroma hujan dan bau jalanan Jakarta—campuran aspal basah, asap kendaraan, dan bau gorengan dari pinggir jalan.

Maya mengangguk. Suaranya serak, seperti habis berteriak di konser rock. "Iya. Udah."

Sari meletakkan tas, jaket, dan segala bawaannya di kursi—dengan gaya khasnya yang berantakan—lalu memeluk Maya erat. Pelukan hangat yang membuat Maya hampir menangis lagi. Sari memang selalu seperti ini—datang, memeluk, dan semua masalah terasa sedikit lebih ringan.

"Maaf, May. Gue baru dapet undangan seminggu lalu. Bu Siti sendiri yang nyari gue ke rumah. Lo tahu sendiri, Bu Siti baik banget, dia bilang dia ingin lo tahu secara resmi, bukan dari mulut ke mulut. Katanya, 'Sari, tolong sampaikan ke Maya. Ibu pengen dia tahu dari sumber resmi, bukan dari gosip. Jangan sampai dia denger dari orang lain yang nggak bertanggung jawab. Ibu sayang Maya seperti anak sendiri.'"

Maya diam dalam pelukan Sari. Dadanya bergetar menahan tangis.

Sari melanjutkan, "Gue bingung mau ngomong kapan. Udah seminggu gue mikir. Sampe gue diare mikirin ini. Serius, May, gue sampe bolak-balik kamar mandi. Kata dokter, itu tanda stres akut. Tapi gue rasa itu juga gara-gara gue kebanyakan makan risol."

Maya tersenyum tipis di tengah tangis. Sari memang selalu berpikir seperti itu—mencampur adukkan masalah serius dengan hal-hal konyol.

"Takut lo kenapa-napa. Takut lo stres. Takut lo depresi. Takut lo makan nggak mau. Takut lo kurus. Lo kan udah kurus, nanti tambah kurus kayak lidi. Nggak lucu. Cowok suka yang ada isinya dikit."

Maya terisak di pelukan Sari.

"Akhirnya gue putusin harus langsung ke sini. Daripada gue telepon, lo matiin. Daripada gue WA, lo read aja. Daripada gue kirim surat, lo bakar. Daripada gue datengin dukun, lo santet gue. Daripada gue..."

"Sar," potong Maya lemah.

"Iya, iya. Pokoknya gue datang. Mau lo marah, mau lo nangis, mau lo lempar piring, mau lo lempar gelas, mau lo lempar kompor gas—tapi jangan lempar kompor gas, nanti meledak—gue terima. Yang penting lo nggak sendiri."

Dua jam kemudian

Maya dan Sari duduk di ruang tamu kontrakan yang sempit. Maya sudah lebih tenang, meskipun matanya masih sembab dan hidungnya masih merah seperti badut sirkus. Sari sudah membuatkan teh manis—karena teh manis adalah obat segala penyakit menurut Sari—dan menyuapi Maya beberapa potong roti tawar yang ditemukan di lemari es. Roti itu sudah agak keras, tapi Sari bilang "masih aman, belum ada jamur".

"Lo tahu nggak, teh manis itu penenang jiwa," kata Sari sambil menuang teh ke gelas kedua. "Gue selalu minum teh manis kalau stres. Pas ujian, teh manis. Pas putus sama pacar, teh manis. Pas diomelin bos, teh manis. Pas lo nangis, ya teh manis juga. Pas gue diare, teh manis. Pas gue jatuh dari motor, teh manis. Pokoknya teh manis solusi segala masalah."

Maya tersenyum tipis. "Dasar lo. Nanti kena diabetes."

"Daripada stres, mending diabetes. Diabetes masih bisa diobatin. Stres bisa bikin gila. Lo lihat orang gila di jalanan, kebanyakan gara-gara stres, bukan gara-gara gula."

Maya terpaksa setuju dengan logika Sari yang kacau.

Sari mengambil undangan yang tergeletak di meja—sudah agak kusut karena dipegang Maya berkali-kali—membacanya dengan saksama. Matanya menyusuri setiap baris, setiap huruf, setiap tanda baca.

"Sabtu, 12 Oktober 2024, pukul 10.00 WIB, di rumah mempelai pria, Jl. Kenanga No. 45, Solo." Sari menghela napas. "Berarti dua minggu lagi."

"Iya."

Sari meletakkan undangan, menatap Maya serius. Matanya yang biasanya penuh canda, kini berubah tajam. "May, lo harus datang."

Maya menatap Sari tajam. Matanya yang tadinya sayu, kini melebar seperti kaget. "Apa? Nggak. Nggak mungkin. Gue nggak kuat. Gue nggak sanggup. Gue nggak siap. Gue nggak bisa."

"Lo harus datang. Bukan buat Arif. Bukan buat pamer. Bukan buat bikin dia nyesel. Bukan buat nunjukin kalau lo masih cantik—meskipun lo emang masih cantik. Tapi buat nutup semuanya."

"Nggak, Sar. Nggak."

"Lo kuat, May. Lo selalu kuat." Sari menggenggam tangan Maya. Tangannya hangat, sedikit berkeringat karena tegang. "Lo ingat waktu Arif pergi ke Kalimantan? Lo kuat. Lo ingat waktu lo tahu Arif dijodohin sama Rina? Lo kuat. Lo ingat waktu mereka nikah, yang pertama dan lo nggak diundang? Lo kuat. Lo ingat waktu lo pindah ke Jakarta sendirian, nggak kenal siapa-siapa, mulai dari nol, tidur di kost sempit, makan indomie tiap hari? Lo kuat banget."

Maya diam. Air matanya jatuh lagi. Sari menyekanya dengan tisu—tisu yang sudah disiapkan sebelumnya, satu pak penuh.

Sari melanjutkan, suaranya lembut tapi tegas. "Tapi lo tahu nggak, May? Lo nggak pernah benar-benar lihat akhir dari cerita lo sama Arif. Lo cuma denger kabar dari orang, lo cuma denger dia nikah, lo cuma nangis, lo lari ke Jakarta, lo tutup diri, lo jadi kuper, lo jadi anti-sosial, lo jadi..."

"Sar, lebay."

"Iya lebay. Tapi bener kan? Lo nggak pernah benar-benar mengakhiri. Lo nggak pernah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa semuanya sudah selesai. Lo cuma bayangin. Bayangin itu nggak cukup, May. Bayangin bisa salah. Lo bisa aja bayangin dia bahagia padahal dia sengsara. Lo bisa aja bayangin dia lupa sama lo padahal dia inget terus."

Maya terisak. "Gue nggak kuat lihat dia nikah, Sar. Gue nggak kuat lihat dia bahagia sama orang lain. Gue nggak kuat."

Sari memegang bahu Maya. "Acara ini adalah kesempatan lo. Lo datang, lo lihat dia, lo lihat dia bahagia sama orang lain—atau mungkin nggak bahagia, lo lihat dia sah jadi milik orang lain. Dan setelah itu, lo sadar bahwa lo juga bisa bahagia tanpa dia. Bahwa lo juga berhak punya masa depan. Bahwa lo nggak perlu terkurung di masa lalu selamanya."

"Lo pikir gue bakal bisa?"

"Gue tahu lo bisa." Sari menatap mata Maya. "Lo adalah Maya Andriani yang gue kenal—cewek kuat yang nggak pernah nyerah, yang selalu bangkit setelah jatuh, yang selalu tersenyum meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Lo ingat waktu SMA? Lo pernah jatuh pingsan pas upacara, tapi besoknya lo udah senyum-senyum lagi. Lo ingat waktu nilai ulangan lo jelek, tapi lo belajar lebih giat dan dapat nilai bagus? Lo ingat waktu lo lomba puisi dan kalah, tapi lo bilang 'yang penting sudah mencoba'? Lo ingat waktu lo jatuh cinta sama Arif dan dia ninggalin lo? Lo masih hidup sampe sekarang."

Maya tersenyum tipis. "Lo ingat semua?"

"Gue ingat semua, May. Karena gue sahabat lo. Tugas gue mengingatkan lo kalau lo lupa sama diri lo sendiri. Kalau lo lupa kalau lo hebat. Kalau lo lupa kalau lo kuat. Kalau lo lupa kalau lo cantik. Kalau lo lupa kalau lo..."

"Sar, nanti panjang lagi."

"Iya, iya."

Maya terdiam lama. Teh di tangannya sudah dingin—sudah berganti warna dari cokelat pekat jadi cokelat pucat. Di luar, hujan mulai turun lagi—deras, seperti ingin menenggelamkan kota Jakarta. Bunyi gemericik air di selokan terdengar jelas, bercampur dengan suara knalpot motor yang sesekali lewat.

Sari menambahkan, "Lo datang, lo lihat, lo pulang. Selesai. Lo nggak perlu ngobrol sama dia kalau nggak mau. Lo nggak perlu kasih selamat kalau nggak siap. Lo nggak perlu foto bareng. Lo nggak perlu makan di sana. Lo cukup duduk di pojok, lihat, dan pergi. Tapi lo harus melihat. Lo harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri."

"Kenapa harus lihat? Kenapa nggak cukup dengan denger?"

"Karena selama ini lo cuma bayangin. Lo bayangin dia nikah, lo bayangin dia bahagia, lo bayangin dia bersama Rina. Tapi bayangan itu nggak pernah jelas. Kabur. Kayak foto yang nggak fokus. Dan karena kabur, lo terus-terusan penasaran. Lo terus-terusan bertanya-tanya, 'Andai aku di sana, apa yang terjadi?' 'Andai aku yang jadi pengantin, gimana rasanya?' Dengan melihat langsung, bayangan itu jadi jelas. Dan setelah jelas, lo bisa terima."

Maya merenungkan kata-kata Sari. Ada kebenaran di sana. Selama 11 tahun, ia hanya membayangkan. Membayangkan pernikahan Arif, membayangkan kehidupan Arif, membayangkan kebahagiaan Arif. Dan bayangan itu selalu mengganggunya, selalu muncul di saat-saat tidak terduga—saat mau tidur, saat bangun tidur, saat makan, saat kerja, saat hujan turun seperti ini.

"Mungkin lo benar," kata Maya pelan.

"Tentu gue benar. Gue kan sahabat lo. Sahabat itu selalu benar. Itu kode etik sahabat. Kalau salah, ya kita pura-pura lupa."

Maya tersenyum. "Tapi gue takut, Sar."

"Takut apa? Takut lo liat dia ganteng? Takut lo liat dia makin tampan? Takut lo liat dia sukses? Takut lo liat dia bahagia?"

"Itu juga. Tapi lebih dari itu, takut gue nggak kuat. Takut gue nangis di depan semua orang. Takut gue jadi bahan tertawaan. Takut gue malu. Takut gue histeris. Takut gue lempar sepatu ke pengantin. Takut gue bawa golok."

Sari tertawa. "Nah, yang terakhir itu ide bagus. Lempar sepatu ke Arif. Biar dia kapok. Tapi jangan bawa golok, nanti lo ditangkap polisi. Kasian nanti Dimas—eh, lo kan belum punya Dimas."

Maya ikut tertawa, meskipun air mata masih mengalir. "Dasar lo."

"May, lo nggak sendiri. Gue temenin lo datang. Kita berangkat bareng dari Jakarta. Kita duduk di pojok. Kalau lo mau pulang sebelum resepsi selesai, kita pulang. Kalau lo nangis, gue siapin tisu satu kardus. Kalau lo mau marah, gue siapin orang yang bisa lo marahin—tapi jangan marahin tamu ya, nanti lo diusir. Kalau lo mau lempar sepatu, gue siapin sepatu cadangan."

Maya tertawa lebih keras. "Lo ini."

"Tapi lo harus datang, May. Setidaknya untuk diri lo sendiri. Bukan buat Arif. Bukan buat Rina. Bukan buat Bu Siti. Bukan buat gue. Tapi buat lo. Biar lo bisa tidur nyenyak setelah 11 tahun."

Maya memandangi undangan di meja. Nama Arif tercetak indah dengan tinta emas yang mulai luntur terkena air matanya. Tenda biru tercetak di pojok. Janji lama yang menjadi milik orang lain.

"Apa dia tahu gue diundang?" tanya Maya akhirnya.

"Pasti tahu. Bu Siti yang ngirim. Berarti Arif tahu. Mungkin dia sendiri yang minta ibunya ngirim. Mungkin dia pengen lo datang. Mungkin dia mau minta maaf. Mungkin dia mau..."

"Atau mungkin dia cuma pengen pamer kalau dia sekarang sukses dan punya istri cantik."

"Bisa jadi." Sari menghela napas. "Tapi lo tahu, May? Manusia itu sederhana. Nggak serumit yang lo bayangin. Mungkin dia cuma pengen lo datang sebagai teman lama. Mungkin dia pengen nutup buku juga. Mungkin dia juga punya luka yang sama."

Maya terdiam lagi. Ia memandang ke luar jendela. Hujan mulai reda. Sinar matahari menyelinap dari sela-sela awan, menerangi gang sempit dengan cahaya keemasan. Genangan air di jalan berkilauan.

"Gue datang, Sar."

Sari tersenyum lebar. "That's my girl! That's the Maya I know! That's the Maya yang pernah gue kenal!"

"Tapi lo harus temenin gue. Janji?"

"Janji, tolol. Lo pikir gue bakal lepas lo sendirian di medan perang? Lo pikir gue bakal tinggal lo di tengah hutan belantara masa lalu? Gue siap, May. Gue siap jadi bodyguard lo. Gue siap jadi penghibur lo. Gue siap jadi tisu berjalan lo. Gue siap jadi apa aja asal lo mau datang. Gue siap jadi sopir, jadi asisten, jadi psikolog, jadi pendeta—eh lo kan Islam—jadi ustadzah dadakan."

Maya tersenyum. "Makasih, Sar."

"Sama-sama. Sekarang kita persiapan. Lo butuh baju baru."

"Buat apa?"

Sari berdiri, bersemangat, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang dapat permen. "Buat tampil cantik. Buat bikin Arif nyesel. Buat bikin semua orang terkesima. Buat bikin semua tamu bertanya-tanya, 'Wah, siapa cewek cantik itu?' 'Wah, kok ada artis?' 'Wah, itu Maya kan? Kok masih secantik dulu?' Buat bikin foto-foto pernikahan mereka, lo jadi background yang bikin orang salah fokus. 'Eh, yang di pojok itu cantik ya, kok nggak jadi pengantin?'"

Maya tertawa. "Lo ini nggak pernah berubah ya."

"Emang. Gue kan cewek. Cewek boleh berubah-ubah—ubah rambut, ubah warna baju, ubah model jilbab—tapi satu yang tetap: gue selalu dukung lo."

Sari duduk lagi, mengambil ponsel. "Besok kita hunting baju. Gue udah cari referensi. Ada beberapa model yang cocok buat lo. Lo harus tampil elegan, tapi nggak berlebihan. Cantik, tapi nggak kayak mau nikah juga. Anggun, tapi nggak kaku. Sederhana, tapi berkelas. Pokoknya perfect! Lo harus jadi pusat perhatian yang sopan. Lo harus bikin semua orang lupa sama pengantin."

"Ajak juga Mpok Ijah," tambah Sari. "Dia jago milih baju."

Maya mengerutkan kening. "Mpok Ijah? Tukang sayur?"

"Iya. Dia dulu juragan butik di kampungnya, katanya. Sebelum bangkrut karena krisis moneter tahun 98. Sekarang jualan sayur, tapi selera bajunya masih tinggi. Dia sering cerita soal koleksi bajunya dulu. Katanya pernah punya baju seharga 5 juta di tahun 90-an. Itu setara rumah kontrakan setahun."

Maya setengah percaya. "Lo tahu dari mana?"

"Dari Bu RT. Bu RT cerita minggu lalu. Katanya Mpok Ijah dulu terkenal di kampungnya. Suka pamer baju ganti tiap hari. Sampai dijuluki 'Ratu Butik' sama tetangganya. Tapi karena krisis, tokonya tutup, suaminya sakit-sakitan, akhirnya jualan sayur."

Maya tersenyum. "Ratu Butik sekarang jualan sayur keliling. Hidup memang penuh misteri."

"Hidup memang penuh misteri, May. Yang penting Mpok Ijah jago milih baju. Kita ajak aja. Lumayan, sekalian beli sayur buat stock."

"Oke. Terserah lo."

Malam harinya, setelah Sari pulang—dengan janji akan kembali besok pagi untuk hunting baju—Maya duduk sendirian di kamar. Suasana hening, hanya terdengar suara kulkas tua yang sesekali mengeluarkan suara "ngik-ngik" dan suara jangkrik dari luar.

Ia membuka lemari, mengeluarkan sebuah kotak sepatu bekas yang sudah menguning. Kotak yang sama yang ia bawa dari Solo lima tahun lalu, yang tidak pernah ia buka selama di Jakarta. Selama lima tahun, kotak itu hanya menjadi hiasan di sudut lemari, debu-debu menempel di permukaannya.

Di tutupnya, tertulis dalam spidol hitam: "JANGAN DI BUKA." Tulisan itu ia buat sendiri, malam sebelum berangkat ke Jakarta, sebagai pengingat untuk tidak pernah mengganggu masa lalu.

Maya membuka kotak itu. Debu beterbangan, membuatnya bersin tiga kali. Isinya: foto-foto usang yang sudah mulai menguning, surat-surat yang dikirim Arif saat ia merantau di Kalimantan, sebuah gelang dari tali kur warna biru yang sudah lusuh—talinya mulai putus di beberapa bagian, manik-maniknya sudah buram—dan sebuah cincin dari akar bahar yang Arif berikan saat mereka lulus SMA.

Maya mengambil salah satu surat. Tanggalnya 15 Agustus 2012, bulan pertama Arif di Kalimantan. Kertasnya sudah rapuh, lipatannya mulai sobek di beberapa bagian.

"May,

Gue nulis surat ini di kosan jam 2 pagi. Abis shift malem. Capek banget, tapi kangen lo lebih capek.

Lo tahu nggak, tadi gue lihat tenda biru di pinggir jalan. Ada nikahan orang kampung. Sederhana banget—cuma tenda biasa, kursi plastik, dekorasi bunga kertas—tapi meriah banget. Orang-orang pada senyum. Kayak yang dulu kita lihat waktu hujan-hujan di halte. Gue jadi inget omongan lo. Lo tanya gue mau nikah di mana.

Gue masih inget jawaban gue: sederhana aja, asal halal dan berkah. Tapi sekarang gue tambahin: yang penting lo ada di samping gue. Lo dan tenda biru kita. Nggak perlu mewah, nggak perlu banyak tamu, yang penting kita berdua.

Sabaran ya, May. Bentar lagi gue kumpulin duit. Bentar lagi kita nikah. Gue janji, kita bakal punya tenda biru kita sendiri. Gue udah ngitung, 2 tahun lagi cukup. Asal lo sabar.

Kangen banget,
Arif"

Maya membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh, membasahi kertas yang sudah rapuh itu. Tinta biru Arif mulai luntur, tapi kata-katanya masih jelas.

Janji.
Tenda biru.
Dua tahun.

Dan kini, 11 tahun kemudian, Arif akan menikah dengan perempuan lain di bawah tenda biru yang megah. Tenda biru yang seharusnya menjadi milik mereka berdua, tapi kini menjadi saksi pengkhianatan. Tenda biru yang dulu mereka impikan sederhana, kini terwujud mewah—tapi dengan perempuan lain.

Maya melipat surat itu kembali dengan hati-hati, seperti merawat benda pusaka. Ia memasukkan semua isi kotak ke tempatnya semula, lalu menutup kotak itu rapat-rapat. Tapi ia tidak mengembalikannya ke lemari. Ia meletakkannya di atas meja, di samping undangan pernikahan Arif.

Dua benda yang saling bertentangan. Janji dan pengkhianatan. Masa lalu dan masa depan. Cinta dan kehilangan.

Maya memandangi gelang biru di tangannya—gelang yang sama yang diberikan Arif 15 tahun lalu, yang tidak pernah ia lepas. Gelang itu sudah lusuh, warnanya memudar dari biru terang jadi biru pucat, talinya mulai putus di beberapa bagian. Tapi ia tetap memakainya. Selama 15 tahun, gelang itu hanya lepas saat mandi atau saat ada acara formal yang mengharuskan melepas aksesoris.

"Harusnya aku lepas," bisiknya pada diri sendiri. "Harusnya aku sudah lepas 11 tahun lalu."

Tapi ia tidak bisa.

Maya mengambil ponsel, membuka percakapan dengan Sari. Ia mengetik pelan-pelan, setiap huruf terasa berat.

Maya: Sar, gue mau tanya.
Sari: Apa, May? Jam 11 malem nanya. Lo nggak tidur?
Maya: Nggak bisa tidur.
Sari: Mikirin undangan?
Maya: Iya.
Sari: Mau nanya apa?
Maya: Lo yakin gue harus datang?
Sari: Yakin banget. Lo ragu lagi?
Maya: Iya. Gue takut.
Sari: Takut itu wajar. Takut itu manusiawi. Takut itu tanda lo masih punya perasaan. Tapi jangan biarin rasa takut mengendalikan lo. Lo yang harus mengendalikan rasa takut. Lo harus jadi bos atas rasa takut lo.
Maya: Kata-kata bijak dari mana tuh? Mario Teguh?
Sari: Dari status WA gue. Hahaha. Dari kutipan motivasi yang gue baca di IG. Tapi lupa siapa yang ngomong. Yang penting ngena.
Maya: Iya ngena.
Sari: May, lo pasti bisa. Gue yakin. Lo udah 11 tahun bertahan. Lo udah 5 tahun hidup sendiri di Jakarta. Lo udah jadi editor sukses. Lo udah beli kontrakan sendiri—meskipun kontrakan, tapi lo yang milih. Lo udah hebat banget.
Maya: Makasih, Sar.
Sari: Sama-sama. Sekarang tidur. Besok kita hunting baju. Jangan lupa, kita mau buat Arif nyesel. Bukan nyesel milih Rina, tapi nyesel karena sadar dia udah kehilangan berlian dan dapat kerikil.
Maya: Lo ini kejam.
Sari: Iya, gue kejam. Tapi kejamnya buat kebaikan. Love you, bestie!
Maya: Love you too.

Maya meletakkan ponsel. Ia memandangi undangan itu sekali lagi, membaca nama Arif dengan tinta emas yang mulai luntur, menelusuri gambar tenda biru dengan jarinya.

Sabtu, 12 Oktober 2024.

Tanggal itu sekarang tertanam di kepalanya, terukir di hatinya, terpatri di jiwanya. Tanggal di mana ia akan menyaksikan cinta pertamanya menikah dengan perempuan lain di bawah tenda biru. Tanggal di mana semua kenangan indah akan terkubur. Tanggal di mana ia harus benar-benar melepaskan.

Maya berdiri dan berjalan ke jendela. Ia membukanya lebar-lebar, membiarkan udara malam masuk. Udara Jakarta yang lembab dan panas, bercampur bau polusi dan sesekali aroma gorengan dari warung malam. Tapi anehnya, terasa segar di wajahnya yang basah oleh air mata.

Di luar, suara jangkrik terdengar sayup-sayup bersahutan dengan suara kodok di selokan. Lampu-lampu gang masih menyala—lampu 5 watt yang redup tapi cukup menerangi jalan setapak. Beberapa tetangga masih duduk-duduk di teras, mengobrol ringan sambil minum kopi.

Maya tersenyum. Besok, ia akan memulai perjalanan. Bukan hanya perjalanan fisik ke Solo, tapi perjalanan batin untuk melepaskan. Perjalanan yang mungkin akan menyakitkan, tapi harus ditempuh.

"Iya, Ar," bisiknya pada angin malam. "Aku akan datang. Aku akan melihatmu menikah. Dan setelah itu, aku akan benar-benar melepaskanmu. Janji."

BAGIAN I

AWAL SEBUAH CINTA

Matahari pagi bersinar cerah di atas Kota Solo, seolah ikut merayakan hari pertama masuk sekolah. SMA Negeri 5 Solo tampak berbeda dari biasanya—lebih ramai, lebih hidup, lebih berwarna. Gerbang depan yang biasanya sepi—hanya dijaga pak Satpam yang suka tidur—kini dipenuhi orang tua dan siswa baru. Spanduk "MASA ORIENTASI SISWA 2009/2010" terbentang di atas pintu masuk, dengan hiasan balon warna-warni yang sudah mulai kempis karena panas matahari. Beberapa balon sudah meletus, meninggalkan sisa-sisa karet yang bergelantungan.

Maya berdiri di pinggir lapangan upacara, menggenggam map biru yang berisi berkas pendaftaran ulang. Jilbab merah mudanya—warna kesukaan yang dulu selalu diprotes ibunya karena terlalu mencolok, "Jilbab merah muda? Kayak es campur, Nduk!"—terasa agak ketat di leher. Ia gugup. Bukan hanya karena hari pertama, tapi juga karena di sekolah ini tidak ada satu pun teman SMP-nya yang masuk. Maya sendirian. Sendirian di tengah ribuan siswa.

"May! May!"

Maya menoleh. Seorang cewek dengan rambut sebahu—sebahu sebenernya, poni hampir menutupi mata—jilbab gaul model setengah jadi yang masih memperlihatkan poni, berlari ke arahnya. Tas ranselnya yang besar berguncang-guncang di punggung seperti mau lepas. Wajahnya bulat, pipinya chubby, matanya sipit tapi berbinar.

"Lo Maya kan?" cewek itu terengah-engah, napasnya ngos-ngosan seperti habis lari maraton.

"Iya. Gue Maya. Lo siapa?"

"Gue Sari! Duduk di sebelah lo pas tes kemarin. Lupa?"

Maya mengingat-ingat. Tes masuk SMA seminggu lalu. Ia duduk di deretan paling belakang—tepat di sebelah jendela—dan di sebelahnya ada cewek yang terus-terusan makan risol selama tes berlangsung. Bukan satu atau dua, tapi setumpuk. Dan dia tetap bisa ngerjain soal sambil ngunyah. Bakat luar biasa.

"Oh... lo yang makan risol pas tes?"

Sari tersipu. "Iya. Maaf ya. Gue nggak sempat sarapan. Tapi risol itu bukan camilan, May. Itu asupan otak. Tanpa risol, otak gue nggak bisa mikir."

Maya tertawa kecil. "Nggak apa. Lo keterima?"

"Alhamdulillah, IPA 1. Lo?"

"IPA 1."

"Wah, sama kelas. Tapi kita bisa temenan kan? Gue butuh temen. Di sini gue juga nggak kenal siapa-siapa. Bapak gue baru pindah tugas ke Solo, jadi gue anak baru total. Nggak punya temen sama sekali. Sendirian. Kesepian. Terlantar."

Maya mengangguk. "Boleh banget."

Sari menarik tangan Maya. "Yuk, kita cari kelas dulu. Katanya IPA 1 di gedung belakang. Dekat kantin katanya. Enak, kalau laper tinggal lari."

Maya terseret-seret oleh Sari yang energik. "Lo ini kayak ditarik kuda."

"Hahaha, gue emang energik. Orang bilang gue kebanyakan makan risol. Tapi kata dokter, itu karena gue punya metabolisme cepat. Makan banyak tapi nggak gendut-gendut."

"Lo nggak gendut?"

"Iya, ini mah bukan gendut. Ini berisi. Proporsional. Ideal. Pas. Seksi."

Maya tertawa. "Oke, oke."

Di sisi lain lapangan, seorang cowok dengan seragam putih abu yang masih kusut dan tidak disetrika rapi—bahkan terlihat seperti baru diambil dari tumpukan cucian—baru saja mengalami musibah. Ia jatuh dari sepeda ontel biru kesayangannya, pemberian kakeknya yang sudah pensiun naik sepeda. Buku-bukunya berserakan di rumput yang masih basah embun. Beberapa siswa menertawakannya.

"Woy, hati-hati tolol! Sepedanya mabok kali!"

"Yang naik yang mabok, bukan sepedanya!"

"Udah tua kali sepedanya, remnya blong! Ganti sepeda, jangan ganti cewek!"

"Lo itu naik sepeda atau naik kuda? Kok bisa jatoh?"

Cowok itu, Arif namanya, mengibaskan daun-daun kering yang menempel di rambutnya. "Bajingan," gerutunya pelan. Tapi ia tersenyum juga—lebih baik tertawa daripada marah. Itu prinsip hidupnya. "Yang penting gue nggak patah tulang."

Seorang cewek berjilbab merah muda mendekat. "Lo nggak apa-apa?"

Arif menoleh. Sejenak ia terpaku. Cantik, pikirnya. Cakep. Matanya bulat—bening, bersih, seperti mata air—hidungnya mancung, jilbabnya merah muda yang mencolok, tapi entah kenapa cocok di wajahnya. Seperti es krim stroberi yang menggoda.

"Eh? Nggak... nggak apa-apa." Arif buru-buru berdiri, mengucek siku yang lecet berdarah sedikit. "Cuma lecet dikit. Biasa."

Cewek itu membantunya mengumpulkan buku-buku yang berserakan. "Sepedanya kenapa? Remnya blong?"

"Bukan. Sepeda ini udah tua. Suka ngambek kalau dipaksa belok tajam. Kayak pacar."

Cewek itu tertawa. Tawanya ringan, bersih, seperti suara lonceng kecil. "Sepeda ngambek? Atau yang naikin yang ngambek?"

Arif tersenyum. "Gue sih nggak ngambek. Cuma agak gugup aja. Hari pertama."

"Gue juga." Cewek itu menyerahkan tumpukan buku. "Lo kelas berapa?"

"Sepuluh IPA 1. Lo?"

"Sepuluh IPA 3."

"Wah, beda kelas." Arif mengulurkan tangan—masih sedikit gemetar karena gugup, atau mungkin karena jatuh tadi. "Gue Arif. Salam kenal."

Cewek itu menjabat tangannya sebentar. Tangannya lembut, hangat. "Maya."

"Makasih ya, May. Udah nolongin. Lo malaikat penolong gue hari ini."

Maya tersipu. "Iya, sama-sama. Tapi lain kali hati-hati. Sepedanya diperbaiki dulu."

"Beres, May. Gue janji. Besok gue bawa ke tukang las—eh, bengkel sepeda maksudnya."

Di kejauhan, Sari berteriak, "May! Ke mana lo? Udah ketemu kelas gue! Cepetan! Nanti kita ketinggalan! Lo mau gue sendirian? Lo tega?"

Maya melambai. "Gue duluan ya, Ar. Selamat menjalani masa putih abu-abu."

Arif mengangguk. "Iya. Lo juga. Semoga banyak kejutan menyenangkan."

Ia melihat Maya berlari kecil menuju temannya. Jilbab merah mudanya berkibar-kibar ditiup angin, seperti bendera kecil yang menari. Arif tersenyum sendiri.

"Arif, lo melamun!" Doni tiba-tiba muncul dari belakang, memukul pundak Arif keras-keras. Badannya besar, bayangannya langsung menutupi Arif.

"Woy, Gendut! Sakit tahu! Kagetin aja! Jangan kagetin orang habis jatuh!"

"Jangan panggil gue gendut, tolol!" Doni merengut, kedua tangan di pinggang. Badannya memang gendut—bulat seperti bola, pipinya chubby, perutnya buncit—tapi ia selalu protes kalau dipanggil gendut. "Gue cuma berisi. Gue lagi masa pertumbuhan. Pertumbuhan ke segala arah."

"Iya, pertumbuhan ke samping."

Mereka tertawa. Doni adalah teman satu SMP Arif. Mereka berdua masuk IPA 1 bersama—beruntung masih satu sekolah. Doni sejak SD sudah dipanggil Gendut, dan ia sudah pasrah meskipun setiap hari protes.

"Lo dari tadi ngeliatin siapa?" tanya Doni penasaran, matanya yang sipit di balik kacamata tebal—minusnya udah 5—mencoba mengikuti arah pandang Arif.

"Nggak ada."

"Bohong. Gue lihat lo ngeliatin cewek jilbab pink. Yang nolongin lo."

"Merah muda, Gendut! Bukan pink! Pink itu lebih terang, lebih mencolok. Ini lebih... merah muda. Rose gitu. Kayak bunga mawar muda."

"Ya itu pink. Lo pikir gue buta warna? Merah muda ya pink lah, tolol. Sama aja. Lo sok-sok an gaya."

Arif menghela napas. "Udah, yuk cari kelas. Gue dengar IPA 1 di gedung belakang. Dekat kantin katanya. Enak."

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong sekolah yang penuh siswa baru. Doni masih penasaran. Penasaran setengah mati.

"Cantik ya?"

"Apa?"

"Cewek tadi. Cantik kan?"

Arif tersipu. "Ya... lumayan."

"Lumayan? Lo bilang lumayan? Itu mah cantik, Ar. Cantik banget. Kayak artis. Kayak bintang iklan. Kayak putri keraton."

"Emang lo liat muka dia?"

"Liat dong. Tadi pas lo jatuh, gue lihat dari jauh. Cakep. Bersih. Matanya bening. Lo harus kejar."

Arif memukul lengan Doni. "Diem lo. Baru pertama ketemu. Masa baru ketemu langsung ngejar? Gue bukan pemburu."

"Itu bukan alasan. Cinta bisa datang kapan aja. Bahkan saat lo jatuh dari sepeda."

Arif geleng-geleng kepala. "Dasar Gendut. Lo kebanyakan nonton sinetron."

Bu Widi, wali kelas IPA 1, berdiri di depan kelas dengan senyum ramah. Wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan berkacamata—model jadul, bingkai hitam tebal—itu sudah 20 tahun mengajar di SMA 5. Ia terkenal sebagai wali kelas yang tegas tapi penyayang. Murid-murid memanggilnya "Bu Widi the Killer" karena kalau marah, suaranya bisa memecahkan kaca.

"Selamat pagi, anak-anak. Selamat datang di SMA Negeri 5 Solo. Saya Bu Widi, wali kelas kalian selama tiga tahun ke depan. Kalian akan menjalani masa putih abu-abu di sini. Manfaatkan sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan. Karena tiga tahun itu cepat."

Para siswa diam, masih canggung. Beberapa melihat ke kiri-kanan, mencari wajah yang dikenal. Beberapa main HP diam-diam di bawah meja.

"Sebelum kita mulai, perkenalan dulu ya. Sebutkan nama, asal SMP, dan satu hal unik tentang kalian. Mulai dari sini." Bu Widi menunjuk siswa paling depan, seorang cowok kurus dengan kacamata tebal—minusnya 6—dan rambut disisir rapi seperti taplak meja. Siswanya tegang setengah mati.

Siswa itu berdiri dengan gugup, kakinya gemetar. "E... nama saya Bambang. Dari SMP 4. Hal unik... saya bisa tidur sambil berdiri."

Kelas tertawa. Bambang merah padam, muka merah seperti tomat, duduk lagi.

"Beneran bisa tidur sambil berdiri?" tanya seorang siswa dari belakang.

"Beneran. Saya punya penyakit tidur berjalan. Tapi versi berdiri. Jadi kalau lagi tidur, saya bisa jalan sambil tidur. Atau tidur sambil jalan. Susah dibedain."

Tawa makin keras.

Giliran berikutnya bergulir. Ada yang bilang bisa makan 10 bakso dalam sekali duduk, bisa main rubik 3x3 dalam 1 menit, bisa bernyanyi lagu India dengan suara mirip aslinya—lalu dia demo, dan ternyata mirip banget, bahkan getarannya sama—bisa mengingat semua nomor plat kendaraan guru-guru di sekolah, bisa main gitar sambil jongkok, bisa ngetik 10 jari buta.

Giliran Arif tiba. Ia berdiri, agak gugup. "Nama saya Arif Pramana Putra. Dari SMP 4. Hal unik..." Ia memikirkan sesuatu yang lucu. "Saya punya bakat jatuh dari sepeda. Tadi pagi saya buktikan di halaman sekolah. Gaya kupu-kupu. Nilai 8."

Kelas tertawa terbahak-bahak. Bu Widi tersenyum.

"Terus itu hal unik?" tanya Bambang dari depan.

"Iya. Saya bisa jatuh dengan gaya yang berbeda-beda. Tadi pagi gaya kupu-kupu. Kemarin pas ujian praktek, gaya bintang. Minggu lalu, gaya pesawat jatuh. Bulan lalu, gaya ikan lemas."

Tawa makin keras. Doni di belakang menepuk pundak Arif. "Gila lo, promosi bakat aneh."

Arif duduk dengan senyum puas.

Sementara itu di kelas IPA 3, Maya dan Sari duduk bersebelahan—kebetulan nomor urut mereka berdekatan, 28 dan 29. Sari sudah cerita panjang lebar tentang dirinya selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Dan belum selesai.

"...terus gue pindah ke Solo karena Bapak dipindahtugaskan. Bapak gue pegawai BUMN. Lo tahu BUMN? Badan Usaha Milik Negara. Kerja di sana enak, pensiun dini, duit banyak. Tapi gue nggak mau ikut Bapak, gue mau jadi apa ya? Masak? Model? Artis? Dokter? Arsitek? Pilot? Gue masih bingung. Hidup ini penuh pilihan, May. Dan terlalu banyak pilihan bikin gue pusing."

Maya mendengarkan dengan setengah kaget. "Lo bisa napas nggak sih, kalau ngomong terus?"

Sari tertawa. "Bisa. Gue udah latihan sejak kecil. Kata Ibu gue, gue lahir langsung ngomong, nggak nangis. Dokter bingung. Bayi biasanya nangis, ini malah nanya, 'Ini di mana? Kok ramai?'"

"Berarti lo bayi ajaib."

"Iya. Bayi ajaib yang suka risol."

Bu Dewi, wali kelas IPA 3, masuk kelas. Wanita muda berusia 30-an dengan rambut lurus sebahu dan senyum ramah. Ia baru 5 tahun mengajar, tapi sudah terkenal sabar menghadapi murid. "Selamat pagi, anak-anak. Saya Bu Dewi. Selamat datang di SMA 5. Selamat bergabung di keluarga besar SMA 5."

Perkenalan dimulai. Satu per satu siswa berdiri menyebut nama dan asal sekolah.

Giliran Maya. "Nama saya Maya Andriani. Dari SMP 2. Hal unik..." Ia berpikir sejenak. "Saya bisa memasak mie instan dengan 5 cara berbeda. Direbus, digoreng, disup, dicampur nasi, dibikin omelet."

Kelas tertawa. Seorang cowok di belakang berteriak, "Gue mau cobain! Kapan? Sore ini?"

Maya tersenyum. "Nanti kalau ada acara kelas. Tapi bayar ya. Nggak gratis."

Sari berdiri setelah Maya. "Nama saya Sari Wulandari. Dari Jakarta. Hal unik... saya bisa makan risol 20 biji dalam satu jam. Dan masih lahap makan nasi. Masih bisa nyamil lagi. Masih bisa minum es teh manis."

Kelas heboh. "Nggak mual tuh?" tanya Bu Dewi.

Sari menggeleng bangga. "Risol mah teman. Bukan makanan. Teman itu nggak bikin mual. Teman itu bikin kenyang dan bahagia."

"Terus yang bikin mual apa?" tanya seorang siswa.

"Teman yang ngomongin kita di belakang. Itu baru mual. Bikin muntah."

Kelas tertawa. Bu Dewi geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin, seperti kerumunan semut yang menemukan gula. Maya dan Sari berjalan bersama.

"Lo mau ke kantin?" tanya Sari.

"Iya. Laper."

"Gue juga. Tapi gue selalu laper. Bahkan setelah makan."

Maya tertawa. "Lo ini gawat. Harus diperiksa."

"Udah diperiksa. Kata dokter, ini bawaan lahir. Gue punya metabolisme super cepat. Makanan langsung diproses jadi energi, bukan jadi lemak. Gue harusnya dijadiin objek penelitian."

Kantin SMA 5 ramai oleh siswa yang berebut jajan. Antrean di depan etalase lumpia basah mengular panjang—sampai ke luar kantin. Maya mengantre dengan sabar sementara Sari sudah melesat ke penjual risol.

"May, gue beli risol dulu! Nanti gue susul! Jangan pergi kemana-mana!"

Maya mengangguk. Ia memandangi lumpia basah di etalase. Harumnya menggoda, bau bawang putih dan daging cincang bercampur. "Tiga lumpia, Bu. Yang pedas."

"Siap, Neng. Ditunggu sebentar ya."

Maya menggeser ke samping, memberi jalan untuk pembeli lain. Di sebelahnya, seseorang menggerutu pelan.

"Wah, antrean panjang banget. Gue cuma mau beli es teh doang, tapi harus ngantre lama. Ini teh apa mau jadi pusat perhatian?"

Maya menoleh. Lagi-lagi cowok itu. Arif. Yang jatuh dari sepeda. Kali ini bajunya lebih rapi—agak rapi, setidaknya—rambutnya sudah disisir ke samping meskipun masih ada beberapa helai yang berdiri. Di tangannya ada uang seribuan dan buku catatan bekas.

"Lo lagi, Ar?"

Arif menoleh, matanya membulat. "Maya! Lo di sini?"

"Iya, beli lumpia. Lo beli apa?"

"Es teh." Arif mengacungkan uang seribu rupiah di tangannya. "Tapi ngantre dulu. Es teh aja ngantre. Teh apa ini, teh istana?"

"Yaudah, bareng aja. Gue udah hampir."

Mereka berdiri bersebelahan. Arif memandangi lumpia di etalase dengan mata berbinar. "Enak nggak tuh lumpia?"

"Belum tahu. Baru pertama kali coba."

"Gue sering beli di sini. Waktu ujian masuk kemarin, gue cobain lumpianya, langsung jatuh cinta."

Maya tersenyum. "Jatuh cinta sama lumpia?"

"Jatuh cinta sama lumpia dan..." Arif berhenti, seolah menyadari ia hampir mengatakan sesuatu. "Eeh... nggak jadi."

Maya mengerutkan kening. "Nggak jadi apa?"

"Nggak jadi ngomong. Malu."

Sebelum Maya sempat bertanya lebih lanjut, penjual memanggil. "Neng, lumpianya. Tiga, ya? Delapan ribu."

Maya membayar dan menerima bungkusan plastik. Lumpia itu masih hangat, mengepul, aromanya wangi. "Lo mau cobain satu?" tawarnya pada Arif.

Arif terkejut. "Beneran? Lo nawarin gue?"

"Iya. Lumayan buat ganjal perut sambil nunggu antrean. Lo kan laper."

Arif menerima satu lumpia dengan hati-hati, seolah itu benda berharga. Ia menggigitnya, lalu matanya terpejam menikmati. "Uenak tenan, May. Lo cobain, enak banget."

Maya menggigit lumpianya. Rasanya pedas, gurih, dengan tekstur basah yang unik. "Enak banget!"

"Kan gue bilang." Arif tersenyum puas. "Gue nggak pernah bohong soal makanan."

Maya tertawa. "Ih, sombong."

"Nggak sombong. Cuma percaya diri."

Mereka tertawa bersama, dua orang asing yang tiba-tiba terasa akrab.

Arif akhirnya mendapat es tehnya. Mereka duduk di bangku panjang dekat kantin, di bawah pohon rindang yang daunnya berguguran—pohon beringin tua yang sudah ada sejak sekolah berdiri, mungkin sejak zaman Belanda. Beberapa siswa lain lalu lalang, tapi tidak ada yang mengganggu.

"Lo dari SMP mana?" tanya Arif sambil menyedot es tehnya—sedotan plastik, masih boleh waktu itu.

"SMP 2. Lo?"

"SMP 4. Daerah Manahan."

"Wah, jauh juga." Maya mengunyah lumpia keduanya. "Naik sepeda tiap hari?"

"Iya. Biasanya diantar bapak, tapi bapak kerja pagi. Jadi gue sepedaan. Olahraga pagi gratis."

"Semangat."

"Lo naik apa?"

"Jalan kaki. Rumah gue di belakang pasar. Deket sini. Cuma 10 menit."

Arif mengangguk-angguk. "Enak ya deket. Bisa bangun kesiangan."

Maya tertawa. "Gue juga nggak kesiangan-kesiangan amat. Bangun jam setengah enam. Bantu ibu beres-beres rumah."

"Wah, lebih pagi dari gue. Gue bangun jam setengah enam, jam enam baru berangkat."

"Itu sih namanya mepet."

"Iya, gue suka mepet. Kata ibu gue, gue bakal telat kalau nggak ada yang ngingetin. Tapi gue selalu datang tepat waktu, entah gimana caranya. Mungkin ada malaikat pelindung."

"Berarti lo punya jam biologis yang akurat."

"Mungkin. Atau mungkin malaikat pelindung gue yang baik hati dan sabar."

Maya tersenyum. Ada sesuatu yang menyenangkan dari percakapan ini. Sederhana, ringan, tapi membuatnya nyaman.

"Ar! Lo di sini rupanya!"

Seorang cowok gendut dengan kacamata tebal dan wajah bulat menghampiri mereka. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis lari maraton 10 km. "Gue nyariin lo ke mana-mana. Lo janji mau bantuin gue bawa buku ke kelas, lupa? 5 buku, Ar! 5! Berat!"

Arif menepuk jidat. "Waduh, gue lupa, Don. Maaf, maaf." Ia berdiri, lalu menoleh ke Maya. "May, gue duluan ya. Ini Doni, temen sekelas gue. Panggilannya Gendut, tapi jangan panggil gendut soalnya dia marah. Marahnya lama."

"ARIF!" Doni memukul lengan Arif keras. "Lo bocorin rahasia gue! Gak asik lo! Gue kan udah bilang jangan panggil gendut!"

Maya tertawa. "Halo, Don. Gue Maya."

Doni melambai canggung, mukanya merah. "Halo. Maaf ya, gue ganggu. Lo lagi enak-enak ngobrol."

"Nggak ganggu kok."

"Yaudah, May. Gue duluan." Arif mengambil tasnya. "Makasih ya lumpianya. Besok-besok gue traktir balik. Janji."

"Iya, sama-sama."

Arif dan Doni berjalan menjauh. Doni masih ngomel-ngomel soal julukan Gendut. Arif mencoba menenangkannya. Maya melihat mereka pergi, masih dengan senyum di bibir. Entah kenapa, pertemuan singkat itu meninggalkan kesan.

Sari tiba-tiba muncul dari belakang. "May! Itu cowok yang jatuh tadi? Ngapain lo bareng dia?"

Maya terkejut. "Sari! Kagetin aja! Bisa jatuh jantung gue."

"Gue dari tadi nyari lo. Ternyata lo di sini, ngobrol sama cowok. Cepat banget kenalannya."

"Ya elah, dia temen baru. Namanya Arif."

Sari duduk di samping Maya, matanya berbinar-binar. "Arif? Nama keren. Ganteng juga. Tapi kelihatan culun."

Maya tertawa. "Culun gimana?"

Sari menunjuk ke arah Arif yang masih berjalan dengan Doni. "Liat aja rambutnya. Disisir pakai lem kayu kali, kaku banget. Kayak pakai helm rambut. Terus jalannya, kayak bebek. Dan bajunya, kayak nggak pernah liat setrika."

Maya terpingkal-pingkal. "Lo ini jahat banget."

"Gue jujur. Tapi ganteng kok. Lo suka?"

"SARIII!"

"Wah, merah tuh. Berarti iya."

Maya memukul lengan Sari. "Diem lo!"

Sari tertawa puas. "Yuk balik kelas, May. Nanti telat. Nanti dimarahin Bu Dewi."

Seminggu kemudian

Pak Samsul, guru Fisika yang terkenal killer dengan kumis tebal dan suara menggelegar—mirip komandan pasukan—mengumumkan pembagian kelompok belajar.

"Kelompok belajar ini untuk persiapan ujian tengah semester. Kelompok ditentukan berdasarkan nomor urut absen. Kelompok 1: nomor 1-4, kelompok 2: nomor 5-8, kelompok 3: nomor 9-12, kelompok 4: nomor 13-16, kelompok 5: nomor 17-20, kelompok 6: nomor 21-24, kelompok 7: nomor 25-28. Seterusnya. Kalian akan belajar bersama dengan siswa dari kelas lain. Ini untuk melatih kerjasama antar kelas."

Arif menghitung-hitung dengan jari. Nomor absennya 27. Berarti kelompok 7, bersama nomor 25-28. Siapa saja nomor itu? Ia melihat ke kanan-kiri.

"Nomer 25... Siapa nomor 25?"

Seorang cowok berkacamata tebal—lebih tebal dari kacamata Doni, lensanya kayak dasar botol—mengangkat tangan. "Gue, Budi."

"Nomer 26?"

Seorang cewek bertopi—topi hitam dengan logo band favoritnya, rambutnya panjang sebahu—mengangkat tangan. "Gue, Lina."

"Nomer 27?"

"Gue." Arif mengangkat tangan.

"Nomer 28?"

Seorang cewek dari kelas IPA 3 mengangkat tangan. Jilbab merah muda.

Maya.

Arif terkejut. Maya? Dari IPA 3? Kok bisa? Jantungnya berdegup kencang seperti mau loncat dari dada.

Ternyata, Maya memang satu kelompok dengan Arif, meskipun beda kelas. Pak Samsul mencampur siswa dari kelas berbeda untuk kelompok belajar, dengan alasan "biar kalian nggak hanya bergaul dengan teman sekelas". Tapi semua orang curiga itu karena Pak Samsul malas bikin kelompok sendiri-sendiri.

"Kita belajar di perpustakaan nanti sore ya? Jam 3?" usul Budi, cowok berkacamata tebal yang ternyata cukup supel dan pinter.

"Setuju," kata Lina, cewek bertopi yang pendiam—sejak tadi cuma ngangguk.

Arif dan Maya mengangguk bersamaan. Mata mereka bertemu sekilas. Maya tersenyum. Arif tersipu.

Sore itu di Perpustakaan

Perpustakaan SMA 5 sepi. Hanya beberapa siswa yang duduk membaca di sudut-sudut ruangan. Di pojok ruangan, dekat jendela besar yang menghadap ke lapangan basket, kelompok 7 duduk melingkar. Meja bundar dengan empat kursi, cocok untuk mereka.

Budi, si cowok berkacamata super tebal, ternyata cukup pintar. Ia menjelaskan rumus-rumus Fisika dengan sabar, lengkap dengan contoh soal. "Jadi, rumus gerak lurus berubah beraturan itu begini... Vt = Vo + at. Paham? Vo itu kecepatan awal. a itu percepatan. t itu waktu."

Lina, si cewek bertopi, pendengar yang baik. Ia hanya mengangguk-angguk dan sesekali mencatat.

Arif duduk di samping Maya. Mereka berbagi buku catatan karena Arif lupa membawa buku Fisika. "Lo lupa bawa buku terus," bisik Maya.

"Maaf. Gue pelupa. Otak gue kecil, kapasitasnya terbatas."

"Atau lo sengaja lupa biar bisa pinjam punya gue?"

Arif tersipu. "Ah, nggak lah. Masa sengaja?"

Maya tersenyum misterius. "Bisa aja."

Budi menjelaskan panjang lebar. Arif berusaha memperhatikan, tapi matanya sering melirik ke samping. Maya serius mencatat, keningnya berkerut karena konsentrasi. Jilbab merah mudanya jatuh rapi di bahu. Sesekali ia menggigit ujung pulpen, tanda ia sedang berpikir keras.

"Paham?" tanya Budi setelah menjelaskan satu bab.

Arif menggeleng jujur. "Gue masih bingung sama rumus ini, Don—eh, Bud. Yang Vt = Vo + at itu, Vo nya dapat dari mana? Emang Vo itu beli di mana?"

Budi menjelaskan lagi dengan sabar. Maya menyodorkan catatannya. "Ini, Ar. Gue catet step by step. Mungkin lebih gampang."

Arif membaca catatan Maya. Tulisannya rapi, jelas, dengan warna-warna yang berbeda untuk setiap bagian—merah untuk rumus, biru untuk keterangan, hitam untuk contoh soal. "Wah, rapi banget. Makasih, May."

"Sama-sama."

Di bawah meja, tanpa sengaja, tangan mereka bersentuhan saat Maya mengambil pulpen yang jatuh. Keduanya tersentak. Maya merah padam. Arif berpura-pura batuk.

Budi dan Lina tidak melihat, mereka sedang asyik berdiskusi.

Setelah belajar selama dua jam, mereka memutuskan istirahat di taman sekolah. Budi dan Lina pulang duluan—Budi harus ikut les, Lina harus jaga adik. Tinggal Arif dan Maya di bangku taman, di bawah pohon mangga yang rindang.

"Lo jago Fisika, ya?" tanya Arif.

"Biasa aja. Tapi gue suka nulis rapi. Biar gampang dipelajari ulang."

"Gue suka lihat tulisan rapi. Punya gue kayak ceker ayam. Coba lihat." Arif membuka catatannya.

Maya melihat, lalu tertawa. "Ya ampun, Ar. Ini bacaan alien?"

"Hampir. Adik gue bilang ini bahasa planet Zubair. Katanya cuma ada 3 orang di bumi yang bisa baca."

Maya tertawa lagi. "Lo nggak usah rendah diri. Yang penting paham materi."

"Gue malah nggak paham materi, tulisannya jelek pula."

Maya tertawa lagi. Arif senang melihatnya tertawa. Ada lesung pipit di pipi kanan Maya yang baru ia sadari sekarang. Lucu.

"May, lo mau temenan sama gue?"

Maya menoleh. "Kita kan udah temenan."

"Maksud gue... temenan deket. Sahabat gitu. Bukan cuma kenal biasa."

Maya tersenyum. "Boleh aja. Tapi gue peringatin, gue suka bawel."

"Gue suka bawel."

"Gue suka marah-marah."

"Gue suka orang marah-marah."

"Gue suka ngatur."

"Gue butuh diatur."

Maya tertawa. "Lo aneh."

"Iya, gue aneh. Makanya cocok sama lo."

Maya tersipu. "Dasar!"

Mereka tertawa bersama. Sore itu, di taman sekolah, di bawah pohon mangga yang belum berbuah, persahabatan mereka dimulai.

BAGIAN II

MASA SMA YANG INDAH

Tiga bulan berlalu sejak pertemuan pertama di perpustakaan. Maya dan Arif tidak pernah membayangkan akan menjadi sedekat ini.

Awalnya hanya kebetulan, satu kelompok belajar. Lalu mereka mulai sering bertemu di luar jadwal belajar. Awalnya untuk diskusi tugas, lalu untuk sekadar ngobrol, lalu untuk jalan-jalan bersama.

Kini, di pertengahan semester genap, mereka sudah seperti saudara. Arif sering mampir ke rumah Maya sepulang sekolah, meskipun rumahnya jauh di Manahan. Maya sering meminjamkan catatan pada Arif yang terkenal ceroboh dan sering ketinggalan buku. Mereka menghabiskan jam istirahat di kantin, di perpustakaan, atau di bangku bawah pohon mangga tempat pertama kali mereka duduk bersama.

Suatu hari di kantin

Sari, Doni, Maya, dan Arif duduk di meja favorit mereka, tepat di bawah pohon beringin dekat kantin. Mereka sudah seperti geng tidak resmi. Sari memanggil mereka "Geng Lumpia" karena pertama kali Maya dan Arif bertemu di antrean lumpia.

"Gue dengar lo berdua makin deket," goda Sari sambil mengunyah risol, makanan favoritnya—risol ke-5 hari itu.

Maya yang sedang minum es teh hampir tersedak. "Ya elah, Sari, lo ini. Mulut lo nggak pernah bisa diem."

"Emang. Mulut gue emang nggak bisa diem. Tangan gue juga nggak bisa diem. Makanya gue makan terus." Sari menunjukkan risol di tangannya.

Doni menambahkan, "Iya. Kemarin gue lihat lo berdua jalan bareng sambil pegangan tangan di taman."

Arif hampir tersedak es teh. "PEGANGAN TANGAN? Itu gue nolongin Maya yang keseleo! Keseleo mata kaki, dia hampir jatuh!"

"Keseleo kok tangannya?" Doni tidak percaya.

"Ya gue pegang tangannya biar dia nggak jatuh! Bukan pegangan tangan romantis gitu!"

Sari dan Doni tertawa terbahak-bahak. Maya dan Arif merah padam.

Sari menyenggol Maya. "May, lo suka sama Arif ya?"

Maya memukul lengan Sari. "SARI! DIEM!"

"Iya, iya, gue diem. Tapi muka lo merah, May. Merah banget. Kayak tomat."

Arif mencoba membela. "Udah, Sari. Jangan nge-gossip terus."

Sari menatap Arif. "Lo bela Maya? Wah, tambah curiga nih."

Doni menambahkan, "Iya, tambah curiga. Arif nggak pernah bela gue kalau diganggu."

"Lo mah nggak perlu dibela, Gendut. Lo kuat. Badan lo besar."

"Jangan panggil gendut!"

Di perpustakaan, minggu berikutnya

Maya dan Arif sedang belajar sendirian. Budi dan Lina berhalangan—Budi ikut lomba Fisika tingkat kota, Lina sakit. Suasana hening, hanya terdengar suara kipas angin di sudut ruangan dan kadang suara halaman buku dibalik.

"Ar," Maya memecah keheningan.

"Hm?"

"Lo pernah nggak suka sama orang?"

Arif mengangkat wajah dari buku Fisika yang sejak tadi tidak ia pahami. Pertanyaan itu tiba-tiba, di luar konteks. "Pernah. Tapi cuma satu orang."

"Siapa?"

Arif menatap Maya. Jantungnya berdebar kencang. Ini saatnya, pikirnya. Atau tidak? Atau iya? Atau nanti saja? Atau jangan sekarang?

"Lo," katanya akhirnya.

Maya terpaku. Pulpen di tangannya jatuh ke lantai, tapi ia tidak bergerak mengambilnya. "Apa?"

Arif mengulangi, kali ini lebih mantap. "Gue suka sama lo. Bukan sebagai sahabat. Lebih dari itu. Gue suka lo. Suka banget."

Hening. Suara kipas angin terdengar jelas. Jantung Maya berdebar kencang.

"Ar, lo bercanda kan?" Maya mencoba tersenyum, tapi senyumnya kaku.

"Gue nggak bercanda." Arif mencondongkan tubuh ke depan, siku di meja. "Gue serius, May. Udah lama sebenarnya. Mungkin sejak lo nolongin gue pas jatuh dari sepeda hari pertama. Atau sejak lo nawarin lumpia di kantin. Atau sejak lo minjemin catatan di perpustakaan. Atau sejak lo ngeledekin rambut gue. Gue nggak tahu pasti kapan. Tapi gue tahu, gue suka lo."

Maya menunduk. Tangannya gemetar. Ia tidak tahu harus berkata apa. Selama ini, ia juga menyimpan perasaan yang sama. Tapi mendengarnya diucapkan langsung, rasanya seperti mimpi.

"Lo... kenapa nggak dari dulu ngomong?" tanya Maya pelan.

"Takut. Takut lo nggak ngerasain hal yang sama. Takut persahabatan kita rusak. Takut kehilangan lo."

Maya mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca. "Ar..."

"Lo boleh nolak, May. Gue terima. Tapi gue harus ngomong. Karena kalau gue pendam terus, gue bisa gila. Udah tiga bulan gue pendam, dan gue udah mau gila."

Maya tersenyum. Senyum yang berbeda dari biasanya. Lembut. Penuh arti. "Ar, lo tahu nggak? Gue juga."

Arif membelalak. "Apa?"

"Gue juga suka sama lo. Udah lama."

"Serius?"

Maya mengangguk. Air matanya jatuh, tetesan pertama. "Serius."

Arif tidak bisa menahan senyum lebarnya. Ia ingin berteriak, tapi ingat mereka di perpustakaan. Ia meraih tangan Maya di atas meja. Tangannya hangat, sedikit berkeringat karena gugup. "May, makasih."

"Makasih buat apa?"

"Makasih udah ngerasain hal yang sama. Makasih udah mau jadi sahabat gue. Dan makasih..." Arif berhenti, mencari kata yang tepat. "Makasih udah ada di hidup gue."

Maya tersipu. Tangannya tidak ditarik. "Ih, lebay."

"Bukan lebay. Serius."

Mereka berpegangan tangan di bawah meja, takut ketahuan petugas perpustakaan yang sedang asyik baca koran. Saling menatap dengan perasaan baru yang menggebu.

Dari balik rak buku, Sari mengintip. Ia tersenyum puas, lalu berbisik pada Doni yang ada di sampingnya, "Akhirnya... pada ngaku juga."

Doni mengacungkan jempol. "Misi berhasil."

Ternyata Sari dan Doni sengaja datang ke perpustakaan untuk memata-matai mereka. Dasar sahabat kepo.

Hujan turun deras sepulang sekolah. Maya dan Arif terjebak di halte dekat sekolah. Mereka berteduh bersama di halte kecil yang hanya beratap seng dan berlantai semen. Keduanya basah kuyup, seragam putih abu mereka lekat di tubuh, tas mereka digendong dalam keadaan melindungi kepala dari tetesan air yang menerobos masuk dari sisi halte.

"Ini semua gara-gara lo!" Maya memukul lengan Arif pelan. "Gue bilang bawa payung, lo bilang nggak hujan. Lo bilang, 'May, lihat langit cerah, nggak mungkin hujan.' Nah, ini hujan deras!"

Arif memasang wajah memelas. "Maaf, May. Gue salah baca tanda-tanda alam."

"Lo bukan salah baca tanda alam. Lo cuma malas bawa payung."

"Iya, itu juga benar."

Maya menghela napas dramatis. "Gue bisa masuk angin nanti."

"Gue juga."

"Lo mah kebal. Lo kan tinggal di kost, deket sekolah."

"Tapi gue harus pulang ke kost naik sepeda. Sepeda gue basah. Joknya basah. Gue bakal sampai kost dengan pantat basah."

Maya tertawa. "Pantat basah? Ih, jorok."

"Apa? Itu fakta. Fakta nggak boleh dihindari."

Mereka tertawa bersama. Hujan tidak reda-reda, bahkan makin deras. Angin bertiup kencang, membuat dedaunan beterbangan. Di kejauhan, tenda biru sebuah pernikahan terlihat samar-samar di tengah rintik hujan. Pernikahan kampung dengan tenda sederhana yang dipasang di halaman rumah, di pinggir jalan. Beberapa tamu terlihat berlarian masuk ke dalam tenda untuk berteduh. Lampu-lampu kecil di sekeliling tenda berkelap-kelip meskipun masih sore.

"Lihat tuh, Ar." Maya menunjuk. "Tenda biru. Bagus ya."

Arif mengikuti arah telunjuk Maya. "Iya. Sederhana, tapi kelihatan meriah. Orang-orang pada senang."

"Masa depan lo nanti gimana? Lo mau nikah di gedung megah atau di tenda kampung gitu?"

Arif mengerutkan kening. Pertanyaan itu terlalu dewasa untuk anak kelas satu SMA. Tapi ia mencoba menjawab serius. "Gue sih pengennya yang sederhana aja. Asal halal dan berkah."

"Tenda biru gitu?"

"Boleh juga." Arif menatap tenda biru itu sebentar, lalu menatap Maya. "Lo tahu, May? Gue suka warna biru."

"Iya, gue tahu. Lo selalu pake baju biru. Seragam biru, baju biru, bahkan sepeda lo biru."

"Tapi ada satu warna yang lebih gue suka dari biru."

Maya menoleh. "Apa?"

Arif tersenyum misterius. "Warna jilbab lo yang pink itu."

Maya merona. "Ini merah muda, Ar. Bukan pink."

"Ya itu merah muda. Yang jelas, gue suka."

Maya menunduk, berharap hujan segera reda agar bisa cepat-cepat pulang dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Tapi hujan tidak reda. Dan Arif belum selesai.

"May, gue mau janji sesuatu."

Maya menatapnya. "Janji apa?"

Arif meraih tangan Maya. "Gue janji, suatu hari kita akan nikah. Di bawah tenda biru. Tenda kita sendiri. Mungkin sederhana, tapi milik kita."

Maya tersenyum. "Janji?"

"Janji." Arif menggenggam tangan Maya erat. "Dan gue janji, apapun yang terjadi nanti, gue nggak akan ninggalin lo."

Maya terharu. "Ar, kita baru kelas 10. Masa depan masih panjang. Banyak yang bisa berubah."

"Iya, gue tahu. Tapi gue serius. Gue mau sama lo selamanya."

Maya tertawa kecil. "Selamanya itu lama, Ar. Lo nggak tahu nanti lo ketemu cewek lain yang lebih cantik, lebih pinter, lebih baik dari gue."

"Nggak akan." Arif menggeleng tegas. "Lo udah yang terbaik buat gue. Titik."

"Kata siapa?"

"Kata hati gue."

Maya tersipu. "Dasar."

Tapi Arif belum selesai. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah gelang dari tali kur warna biru, dengan manik-manik kecil di ujungnya. Gelang buatan tangan, sedikit kasar, benangnya ada yang keluar kemana-mana, simpulnya tidak rapi—tapi jelas dibuat dengan hati-hati dan penuh perjuangan.

"Ini buat lo."

Maya menerima gelang itu dengan hati-hati. "Gelang persahabatan?"

"Bukan. Ini gelang janji. Gelang yang ngingetin lo kalau gue selalu ada, meskipun jarak memisahkan. Gue bikin sendiri, meskipun jelek."

Maya memandang Arif. Matanya berkaca-kaca. "Lo buat sendiri?"

"Iya. Semalem sampe jam 12. Jari gue keselip-selip. Ujung-ujung jari gue pada luka semua. Tapi gue pengen ngasih lo sesuatu yang personal. Bukan beli di pasar."

Maya memasang gelang itu di pergelangan tangannya. Ukurannya pas. "Makasih, Ar. Ini berarti banget buat gue."

Arif meraih tangan Maya. Digenggamnya pelan. "May, kita janji ya. Kita akan selalu bersama. Apapun yang terjadi."

"Janji."

Mereka berpelukan di halte, di bawah rintik hujan yang mulai reda. Hujan tidak benar-benar berhenti, tapi setidaknya sudah tidak deras. Di kejauhan, tenda biru itu masih terlihat, dengan lampu-lampu yang mulai menyala karena hari mulai gelap.

Dua tahun berlalu. Maya dan Arif semakin akrab. Mereka sudah seperti pasangan tidak resmi, meskipun tidak pernah mengaku berpacaran secara formal. Semua orang tahu—teman sekelas, kakak kelas, adik kelas, bahkan guru-guru. Tapi tidak ada yang melarang karena nilai mereka tetap bagus dan mereka tidak pernah membuat masalah.

Sekolah mengadakan lomba dalam rangka HUT RI ke-65. Berbagai lomba digelar—balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, panjat pinang, dan lomba-lomba tradisional lainnya.

Sari ikut serta dalam lomba makan kerupuk. Ia menang dengan mudah—ia menghabiskan 5 kerupuk dalam 2 menit, sementara lawan-lawannya masih berjuang dengan kerupuk pertama. Bahkan ada yang belum bisa memakan karena talinya terlalu panjang.

"Itu curang!" protes lawannya. "Dia makan kerupuk kayak kipas angin!"

Sari tersenyum bangga. "Ini bakat alami, Bro. Udah lahir udah bisa makan. Kata Ibu, pas lahir, gue langsung minta risol."

Tapi saat lomba balap karung, Sari jatuh 5 kali. Ia melompat-lompat dalam karung, lalu jatuh, bangun lagi, lompat lagi, jatuh lagi, berguling, bangun, jatuh lagi. Badannya yang mungil membuatnya sulit menjaga keseimbangan.

"Lo tuh kayak bola," ledek Doni sambil tertawa. "Muter-muter nggak jelas."

Sari marah. "Lo aja yang gendut! Coba lo masuk karung, pasti karungnya robek! Lo nggak bisa ikut lomba!"

"Itu namanya gue nggak ikut karena gue mau kasih kesempatan orang lain."

"Alasan!"

Mereka berantem bercanda sementara Maya dan Arif tertawa melihat kelakuan dua sahabat mereka.

Ujian praktek Biologi, mereka harus mengamati katak. Setiap kelompok mendapat satu katak hidup dalam toples kaca. Tugas mereka mengamati pergerakan, perilaku, dan anatomi katak.

Sari yang takut katak, menjerit-jerit setiap kali kataknya melompat. "BUANG! BUANG JAUH-JAUH! JANGAN DEKET-DEKET! GUE TRAUMA! GUE TAKUT!"

Guru Biologi, Pak Hadi, menggeleng-geleng kepala. "Sari, ini katak sudah mati."

"MATI KOK GERAKAN?"

"Itu refleks, Sari. Ototnya masih bisa bergerak meskipun sudah mati."

"REFLEKS SETAN! MASA MATI GERAKAN! INI PASTI ZOMBIE!"

Kelas tertawa terbahak-bahak. Arif hampir menjatuhkan mikroskop karena tertawa. Maya memegangi perutnya yang sakit. Doni terpingkal-pingkal sampai kacamatanya jatuh.

"Sari, lo tahu nggak, lo ini hiburan kelas," kata Pak Hadi.

Sari cemberut. "Gue nggak mau jadi hiburan. Gue mau jadi ilmuwan."

"Ilmuwan takut katak?" tanya Doni.

"Ilmuwan juga manusia, Gendut!"

Saat kelas 11, beredar isu bahwa mereka akan mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata) padahal masih SMA. Isu ini menyebar cepat, membuat banyak siswa panik.

Doni paling panik. "Gimana gue mau KKN? Gue nggak bisa masak! Nggak bisa nyuci! Nggak bisa nyapu! Nggak bisa apa-apa! Nggak bisa nyuci piring! Nggak bisa nyuci baju! Nggak bisa masak nasi!"

"Lo bisa makan," sahut Sari.

"Itu mah semua orang bisa!"

"Lo juga bisa tidur."

"Itu juga semua orang bisa!"

"Berarti lo bisa KKN. Di desa, lo makan dan tidur. Selesai."

Doni memukul meja. "SARI! INI SERIUS!"

Maya mencoba menenangkan. "Don, tenang. Itu cuma isu. Kita masih SMA, mana mungkin KKN."

"Tapi kata kakak kelas, mereka dulu juga KKN pas SMA."

"Kapan?"

"Tahun 2005 katanya."

Arif ikut bicara. "Don, tahun 2005 itu 5 tahun lalu. Kurikulum udah berubah."

Doni mulai ragu. "Jadi ini hoax?"

Sari mengangguk mantap. "Hoax. Hoax besar. Lo kena tipu."

Ternyata benar, itu hanya isu yang disebar kakak kelas untuk menakut-nakuti adik kelas. Doni marah besar dan ingin melaporkan ke guru, tapi dicegah Arif.

Arif sakit gigi parah. Pipinya bengkak sebelah, seperti sedang menyimpan permen di mulut. Maya menyuruhnya ke dokter, tapi Arif takut.

"Gue takut, May."

"Takut apaan? Cuma dicabut. Atau ditambal. Nggak sakit kok."

"Gigi gue bagus-bagus aja. Nggak perlu dicabut."

"Lo lihat pipi lo sendiri. Itu tanda gigi lo bermasalah."

"Pipi gue bengkak karena gue kurang tidur."

"Ar, lo itu nggak bisa bohong. Wajah lo udah jelas-jelas kesakitan."

Akhirnya Maya memaksa Arif ke dokter gigi. Hasilnya, gigi Arif berlubang 5. Harus ditambal semua.

"Lihat, kan? Karena lo nggak pernah sikat gigi malem."

"Siapa bilang? Gue sikat kok. Tiap pagi."

"Malemnya?"

"Malem... tidur."

Maya menghela napas. "Dasar. Mulai sekarang, gue akan ngingetin lo sikat gigi tiap malem."

"Lo mau telepon gue tiap malem?"

"Kalau perlu."

Arif tersenyum meskipun mulutnya masih kebas efek bius. "Boleh juga."

Suatu hari, ada cowok kelas 12 yang mendekati Maya. Namanya Roni, kapten tim basket SMA 5. Ganteng, tinggi (180 cm), populer, dan anak orang kaya. Mobil jemputannya selalu parkir di depan sekolah.

Roni sering "kebetulan" bertemu Maya di kantin, di perpustakaan, di parkiran. Padahal jelas-jelas tidak kebetulan.

Arif cemburu berat. Ia diam saja seharian, tidak mau bicara pada Maya.

"Ar, lo kenapa?" tanya Maya saat jam istirahat.

"Nggak apa."

"Lo dari tadi diem. Nggak ngomong. Bahkan nggak liat gue."

"Gue lagi mikir."

"Mikir apa?"

Arif menatap Maya tajam. "Gue mikir... kenapa orang suka sama orang yang salah."

Maya bingung. "Maksud lo?"

"Lo suka sama Roni?"

Maya terkejut, lalu tertawa. "Apa? Roni? Yang kemarin? Dia cuma minta tolong bawain buku, Ar."

"Bawain buku sambil senyum-senyum."

"Itu namanya sopan. Dia bilang makasih, ya dia senyum."

"Terus dia ngomong apa lagi?"

"Dia bilang, 'makasih, cantik'."

Arif tambah cemberut. Mukanya seperti anak kecil kehilangan permen. Maya tertawa lagi.

"Ar, lo cemburu?"

"Enggak!"

"Lo cemburu."

"Enggak!"

"Iya, lo cemburu."

Akhirnya Arif mengaku. "IYA! GUE CEMBURU! PUAS LO? LO SENANG LIAT GUE CEMBURU?"

Maya tersenyum manis. "Lo nggak usah cemburu. Yang gue suka cuma lo. Roni? Nggak ada apa-apanya dibanding lo."

"Beneran?"

"Beneran."

Arif mereda. "Dia ganteng."

"Tapi lo lebih baik."

"Dia kaya."

"Tapi lo lebih perhatian."

"Dia tinggi."

"Tinggi nggak jaminan. Yang penting hatinya."

Arif tersenyum senang. Maya memegang tangannya. "Lo percaya gue kan?"

"Percaya."

"Jangan cemburu-cemburu lagi ya."

"Janji."

Mereka berpelukan di taman sekolah. Doni yang melihat dari kejauhan hanya geleng-geleng kepala. "Dasar anak SMA, drama mulu."

Suatu sore, Maya mengajak Arif ke rumahnya untuk pertama kalinya. Rumah Maya sederhana, rumah kampung di belakang pasar, dengan halaman sempit dan teras yang dipenuhi pot bunga milik ibunya. Dindingnya bercat hijau pudar, pintunya kayu jati tua, dan lantainya masih tegel motif bunga-bunga.

"Maaf ya, rumah gue kecil," kata Maya malu-malu.

Arif tersenyum. "Nggak apa. Rumah gue juga kecil. Malah lebih kecil dari ini."

"Serius?"

"Iya. Rumah gue di pinggiran Solo, dekat rel kereta. Sempit, tapi nyaman."

Mereka masuk. Di ruang tamu yang berukuran 3x4 meter, Bu Rini sedang menjahit di mesin jahit manualnya. Ia mengangkat wajah, tersenyum melihat Arif.

"Wah, ini tamu pertama Maya di rumah," sapa Bu Rini ramah. "Silakan duduk, Nak. Maya, buatkan minum."

Maya masuk ke dapur. Arif duduk di kursi tamu dengan agak canggung.

"Jadi kamu Arif? Teman sekelas Maya?"

"Iya, Bu. Temen satu kelompok belajar."

Bu Rini mengamati Arif dengan teliti. Matanya yang tajam, warisan untuk Maya, melihat setiap detail—cara duduk Arif yang sopan, cara ia menjawab dengan tenang, cara ia menatap lawan bicara.

"Maya sering cerita tentang kamu."

"O ya? Cerita apa, Bu?"

"Cerita kamu baik. Suka nolongin. Rajin belajar. Tapi suka jatuh dari sepeda."

Arif tersipu. "Maaf, Bu. Gue—eh, saya memang agak ceroboh."

Bu Rini tertawa kecil. "Nggak apa. Yang penting hatinya baik. Ibu lihat kamu baik."

Maya keluar dengan dua gelas es teh. "Ini, Ar. Minum."

"Makasih, May."

Maya duduk di samping Arif. Bu Rini memperhatikan mereka berdua dengan senyum tipis.

"Arif, kamu anak mana?"

"Manahan, Bu. Dekat stasiun."

"Jauh juga. Pulang pergi naik apa?"

"Sepeda, Bu. Tapi kadang diantar bapak kalau bapak nggak kerja."

"Orang tua kerja apa?"

Arif menjawab jujur. "Bapak buruh pabrik, Bu. Ibu jualan gorengan di pasar."

Bu Rini mengangguk. "Kerja keras. Bagus."

Mereka mengobrol ringan tentang sekolah, tentang cita-cita, tentang kehidupan. Arif merasa nyaman—Bu Rini tidak menghakimi, tidak sok tahu, tidak menggurui.

Setelah Arif pulang, Bu Rini duduk di samping Maya.

"Nduk, kamu suka sama Arif?"

Maya tersipu. "Bu..."

"Ibu tahu. Dari cara lo lihat dia. Dari cara lo cerita tentang dia. Dari cara lo siap sedia kalau dia datang."

Maya diam.

"Dia anak baik, Nduk. Sederhana, jujur, sopan. Tapi..."

"Tapi apa, Bu?"

"Kalian masih muda. Masih sekolah. Jangan buru-buru pacaran. Nikmati masa remaja. Berteman yang baik. Kalau memang jodoh, nggak kemana-mana."

Maya mengangguk. "Iya, Bu."

"Tapi kalau memang sayang, jaga perasaan itu. Jaga dengan baik. Jangan sampai kehilangan."

Satu minggu berikutnya, Arif mengajak Maya ke rumahnya untuk pertama kalinya. Rumah Arif di pinggiran Solo, dekat rel kereta. Rumah sederhana, dinding bata tanpa plester, lantai semen, atap genteng yang sudah tua. Tapi halamannya bersih, penuh pot bunga yang dirawat ibunya.

"Maaf ya, rumah gue sederhana," kata Arif malu-malu.

Maya tersenyum. "Nggak apa. Rumah gue juga sederhana. Ini rumah, bukan istana."

Mereka masuk. Di ruang tamu yang sempit, Bu Siti menyambut dengan ramah. "Oh, ini Maya? Cantik sekali. Ibu senang akhirnya bisa bertemu. Arif sering cerita tentang kamu."

Maya tersenyum sopan. "Iya, Bu. Saya juga senang."

Pak Sumarjo duduk di kursi tamu dengan wajah serius. "Duduk, Nak."

Maya duduk dengan canggung. Arif di sampingnya tegang. Dari balik pintu, Rizki, adik Arif yang masih SD, mengintip dengan mata bundar penuh rasa ingin tahu.

"Jadi kamu Maya?" tanya Pak Sumarjo.

"Iya, Pak."

"Arif cerita banyak tentang kamu."

"Mudah-mudahan yang baik-baik, Pak."

Pak Sumarjo tersenyum tipis. "Arif bilang kalian mau serius?"

Maya menatap Arif, lalu kembali ke Pak Sumarjo. "Iya, Pak. InsyaAllah."

"Kamu tahu keadaan keluarga kami? Bapak cuma buruh pabrik. Ibu jualan gorengan. Adik Arif masih kecil. Hidup kami pas-pasan."

Maya mengangguk mantap. "Saya tahu, Pak. Arif cerita. Dan saya nggak masalah."

"Dan kamu tetap mau sama Arif?"

"Saya mau, Pak. Saya sayang Arif. Saya nggak lihat harta. Saya lihat hatinya."

Pak Sumarjo diam sejenak. "Bagus. Tapi ingat, anak muda, cinta saja tidak cukup. Butuh perjuangan. Butuh pengorbanan. Butuh kesabaran."

"Saya siap, Pak."

Setelah Maya pulang, Pak Sumarjo memanggil Arif ke ruang belakang.

"Le, Bapak lihat Maya anak baik."

Arif senang. "Iya, Pak. Dia baik."

"Tapi..."

Arif tegang. "Tapi apa, Pak?"

"Bapak dengar dari teman, keluarganya biasa saja. Ibunya jahit, bapaknya sudah meninggal."

"Iya, Pak. Tapi itu nggak masalah buat aku."

"Buat kamu mungkin nggak masalah. Tapi buat masa depan, kamu butuh dukungan. Kamu butuh koneksi. Kamu butuh modal. Bapak nggak bisa kasih kamu apa-apa, Le."

"Pak, aku cuma butuh restu Bapak. Aku nggak minta yang lain."

Pak Sumarjo menghela napas. "Cinta bisa tumbuh dengan siapa saja, Le. Tapi masa depan tidak bisa ditukar dengan cinta."

Arif diam. Hatinya panas. Tapi ia tidak berani membantah.

Rizki, adik Arif yang masih duduk di kelas 5 SD, sangat suka pada Maya. Setiap Maya datang, ia selalu meminta ditemani main atau diajak ngobrol.

"Mbak Maya, main kelereng yuk!" ajak Rizki suatu hari.

Maya tertawa. "Kelereng? Mbak nggak bisa main kelereng."

"Ajarin! Aku ajarin! Gampang kok!"

Maya pun duduk di lantai bersama Rizki, belajar main kelereng. Arif melihat mereka dari samping, tersenyum.

"Kak, Mbak Maya baik ya," kata Rizki pada Arif nanti malam.

"Iya, baik."

"Aku suka Mbak Maya. Aku mau Mbak Maya jadi kakak iparku."

Arif mengusap kepala adiknya. "Doain ya, Ki. Doain semoga jadi."

Kelas 12, Semester 1

Semester 1 tahun terakhir SMA. Semua sibuk dengan persiapan ujian nasional dan rencana masa depan. Tapi Geng Lumpia—begitu Sari menamai kelompok mereka—tetap kompak.

Suatu hari di kantin, Sari bertanya, "Jadi lo berdua rencananya gimana setelah lulus?"

Maya menjawab, "Gue mau kuliah di UNS. Pendidikan Bahasa Indonesia."

Arif menjawab, "Gue... nggak kuliah dulu. Mau kerja."

Semua diam. Sari dan Doni saling pandang.

"Maksud lo kerja?" tanya Doni.

"Iya. Kerja. Bantu keluarga. Bapak udah nggak kerja. Ibu jualan gorengan nggak cukup. Adik gue masih SD. Gue harus bantu."

Maya menggenggam tangan Arif di bawah meja. "Gue dukung lo, Ar."

"Tapi lo nggak kuliah?" tanya Sari.

"Nanti. Insya Allah nanti. Gue nabung dulu. Kalau udah cukup, gue kuliah sambil kerja."

Doni menghela napas. "Berat ya."

"Iya. Tapi gue harus."

BAGIAN III

CINTA YANG DIUJI

Saat wisuda, topi toga beterbangan di udara, diikuti teriakan gembira para siswa. Tangis haru dan tawa bahagia bercampur jadi satu di halaman SMA 5. Maya, Arif, Sari, dan Doni berfoto bersama di bawah pohon beringin—pohon yang sama yang dulu menjadi saksi bisu pertemuan mereka.

"Kita lulus!" teriak Sari, melempar topi toganya tinggi-tinggi.

"Gila, tiga tahun berlalu cepet banget," Doni mengusap mata.

"Lo nangis, Don?" goda Arif.

"Mata gue kemasukan debu! Banyak debu di sini! Anginnya kencang!"

Semua tertawa. Mereka tahu Doni memang sentimental.

Bu Widi dan Bu Dewi ikut berfoto bersama. "Kalian adalah angkatan yang luar biasa," kata Bu Widi. "Jaga silaturahmi ya."

Bu Dewi menambahkan, "Jangan lupa sama sekolah. Kapan-kapan main ke sini."

Sore harinya di taman kota

Maya dan Arif duduk di bangku favorit mereka—bangku taman dekat air mancur, tempat mereka biasa menghabiskan waktu setelah pulang sekolah. Sore itu cerah, tidak seperti hati Maya yang mendung.

"Jadi lo besok berangkat?" tanya Maya lirih.

"Iya. Kereta jam 7 pagi ke Surabaya, lalu lanjut kapal ke Kalimantan. Perjalanan total dua hari."

Maya menggenggam tangan Arif. "Jaga diri lo di sana. Jangan sakit. Jangan kecelakaan. Jangan lupa makan."

"Lo juga. Kuliah yang bener. Jangan pacaran sama orang lain."

Maya tersenyum getir. "Lo aja yang jangan deket-deket sama cewek Kalimantan."

Arif tertawa. "Gue jamin. Cewek Kalimantan nggak mau sama gue. Gue kan jelek."

"Pembohong."

"Serius."

Mereka berpelukan lama. Tidak ada yang mau melepas. Di sekitar mereka, pengunjung taman lalu lalang, tapi mereka tidak peduli.

"Aku sayang lo, Ar."

"Aku juga sayang lo, May. Lebih dari apapun."

Arif meraih gelang biru di tangan Maya. "Lo masih pake gelang ini?"

"Masih. Nggak pernah lepas."

"Bagus. Itu tanda kalau lo ingat janji kita."

Maya mengangguk. "Janji kita."

Mereka berpisah di stasiun keesokan harinya. Arif naik kereta malam menuju Surabaya. Maya melambaikan tangan sampai kereta menghilang di ujung rel.

Saat itu, Maya tidak tahu bahwa perpisahan ini akan menjadi awal dari keretakan.

Di Kalimantan, Arif bekerja di perusahaan kelapa sawit sebagai buruh lapangan. Pekerjaannya berat, dari pagi sampai sore di bawah terik matahari, memanen buah sawit, memuat ke truk, kadang lembur sampai malam. Tapi ia tetap menyempatkan menulis surat.

"May,

Di sini panas banget. Badan gue hitam kayak arang. Tapi gue nggak capek karena setiap pulang kerja, gue baca surat lo. Itu obat capek gue.

Gue tinggal di kampung pekerja. Kamar kecil, berdua sama temen. Mandinya di sumur. Listrik mati tiap jam 10 malem. Tapi gue nggak masalah. Yang penting bisa kerja dan nabung.

Gimana kuliah lo? Ada temen baru? Ada dosen galak? Cerita dong. Gue kangen banget sama lo. Kangen makan lumpia bareng. Kangen denger lo marah-marah. Kangen semuanya.

Doain gue ya. Semoga cepet dapet bonus biar cepet kumpul duit buat nikah.

Kangen,
Arif"

Maya membaca surat itu berulang-ulang. Ia simpan di kotak khusus, bersama gelang biru dan kenangan lainnya.

Tiga bulan kemudian, surat Arif mulai jarang. Dari seminggu sekali, jadi dua minggu, lalu sebulan sekali. Alasannya selalu sama—sibuk, capek, sinyal susah.

"May,

Maaf jarang nulis. Sibuk banget. Bos gue galak, target gue tinggi. Tiap hari capek banget.

Tapi gue sehat. Lo pasti juga sehat.

Gue masih sayang lo. Jangan ragu.

Arif"

Maya membaca surat itu dengan perasaan aneh. Ada yang berbeda. Arif tidak bercerita seperti dulu. Tidak ada humor. Tidak ada cerita lucu. Hanya kabar singkat.

Enam bulan kemudian, Arif pulang ke Solo untuk libur Lebaran. Maya menjemputnya di stasiun. Ia hampir tidak mengenali Arif—badannya lebih besar, kulitnya lebih hitam, dan matanya... matanya sayu. Ada lingkaran hitam di bawah mata.

"Ar!"

"Maya!"

Mereka berpelukan. Tapi pelukan itu terasa berbeda. Kaku. Seperti dua orang asing yang dipaksa akrab.

"Lo capek?"

"Iya. Perjalanan panjang. Dua hari di kereta dan kapal."

"Yuk pulang. Ibu udah masak."

Di perjalanan, Arif lebih banyak diam. Maya berusaha mencairkan suasana dengan cerita-cerita kuliah, tapi Arif hanya mengangguk-angguk.

Malam harinya, mereka bertemu di taman kota. Arif lebih banyak diam, menatap air mancur dengan pandangan kosong.

"Ar, ada masalah?"

Arif menghela napas panjang. "Gue harus ngomong sesuatu."

Maya tegang. "Apa?"

"Keluarga gue... mereka kenalin gue sama orang. Namanya Rina."

Dunia Maya serasa berhenti.

Keesokan harinya

Rina datang ke rumah Arif bersama orang tuanya. Pertemuan yang diatur oleh Pak Sumarjo dan keluarga Rina. Arif tidak punya pilihan, ia harus menerima mereka.

Rina duduk di ruang tamu dengan anggun. Ia cantik, cantik dengan cara yang berbeda dari Maya. Lebih elegan, lebih kalem, lebih dewasa. Pakaiannya mahal, perhiasannya berkilau.

"Jadi kamu yang kerja di Kalimantan?" tanya Rina.

"Iya."

"Berat ya? Capek?"

"Biasa."

Rina tidak tersinggung dengan jawaban singkat Arif. Ia terus mencoba. "Aku dengar kamu suka baca. Aku juga suka. Mungkin kita bisa tukar buku?"

Arif hanya mengangguk.

Setelah kunjungan, Pak Sumarjo berkata, "Le, bagaimana menurutmu Rina?"

"Maksud Bapak?"

"Mereka tertarik sama kamu. Apalagi Rina. Dia tanya-tanya tentang kamu. Orang tuanya juga setuju. Mereka nggak masalah dengan latar belakang kita."

"Tapi Pak, Maya..."

"Maya nggak bisa bantu kita, Le. Rina bisa. Keluarganya kaya. Mereka punya toko emas. Mereka bisa bantu Bapak buka usaha. Bapak bisa berhenti jadi buruh."

"Pak, tolong..."

"Bapak nggak maksa. Tapi pikir. Pikir baik-baik. Demi masa depanmu. Demi masa depan keluarga kita."

Arif tidak bisa tidur malam itu.

Satu minggu berikutnya, Arif kembali ke Kalimantan. Maya terus mengirim surat, tapi balasan Arif semakin jarang dan singkat. Suatu malam, Maya nekat menelepon, beruntung sinyal sedang bagus.

"Ar."

"Hei, May." Suara Arif sayu.

"Lo kenapa sih? Kok jarang nulis? Udah dua bulan nggak ada kabar."

"Sibuk, May. Maaf."

"Ar, jujur sama gue. Ada masalah?"

Hening panjang. Maya bisa mendengar Arif bernapas di seberang.

"Ar?"

"May... gue bingung."

"Bingung apaan?"

"Keluarga gue... mereka terus desak gue sama Rina. Bapak sakit, butuh biaya. Keluarga Rina tawarin bantuan. Mereka mau biayain pengobatan Bapak kalau gue mau deket sama Rina."

Maya terdiam. Dadanya sesak.

"Lo milih mereka?"

"Nggak, May. Gue nggak milih siapa-siapa. Gue cuma..."

"Cuma apa?"

Hening lagi.

"Ar, lo harus milih. Gue atau mereka."

"May, jangan gitu. Ini nggak adil."

"Nggak adil? Lo yang ninggalin gue, lo yang bilang nggak adil?"

"Aku nggak ninggalin lo."

"Tapi lo ragu! Lo ragu milih gue! Itu sama saja!"

Arif tidak menjawab.

"Oke. Gue tahu jawabannya."

Telepon ditutup. Maya menangis semalaman.

Seminggu kemudian

Arif pulang lagi. Bukan karena Lebaran, tapi karena keadaan darurat—Bapaknya masuk rumah sakit. Serangan jantung ringan.

Maya datang ke rumah sakit. Ia ingin mendukung Arif, ingin menunjukkan bahwa ia ada untuknya. Tapi di sana, di lorong rumah sakit, ia melihat Rina.

Rina duduk di kursi tunggu, di samping Arif. Tangannya memegang tangan Arif. Mereka terlihat seperti pasangan yang sedang menunggu kabar orang tua.

Maya membeku.

Arif melihat Maya. Ia lepaskan tangan Rina, berjalan mendekat dengan wajah panik.

"May..."

Maya tersenyum pahit. "Jadi ini yang lo maksud bingung? Lo udah deket sama dia?"

"May, dengerin..."

"Siapa dia?" Rina mendekat.

Maya menatap Rina. Cantik, elegan, kaya. Semua yang Maya tidak punya.

"Aku Maya," katanya dingin. "Mantan Arif."

Rina tersenyum sopan. "Senang bertemu. Aku Rina."

Maya tidak membalas senyum itu. Ia kembali menatap Arif. "Lo tega, Ar. Lo tega banget."

"May, please..."

"Nggak usah, Ar. Gue lihat sendiri. Gue nggak perlu penjelasan."

Maya pergi. Arif ingin mengejar, tapi Rina memegang lengannya.

"Biarkan dia tenang dulu, Ar. Kejar nanti."

Arif menggeleng. "Lo nggak ngerti."

"Aku tahu. Tapi ini saatnya kamu harus milih."

Malam itu di rumah Maya

Maya duduk di kamarnya, menangis. Air mata tidak berhenti mengalir sejak ia pulang dari rumah sakit. Sari datang setelah mendapat kabar dari Doni.

"May, buka pintu."

Tidak ada jawaban.

"May, gue tahu lo di dalam. Buka."

Pintu terbuka. Wajah Maya kusut, mata bengkak, rambut acak-acakan. Sari memeluknya erat.

"Gue tahu, May. Doni cerita."

Maya terisak di pelukan Sari. "Dia milih dia, Sar. Dia milih Rina."

"Belum tentu, May. Belum ada keputusan resmi."

"Tapi dia udah deket sama dia. Dia pegang tangan dia."

"Itu mungkin karena..."

"Nggak ada mungkin, Sar. Gue lihat sendiri."

Pagi harinya

Arif datang ke rumah Maya. Matanya sembab, wajahnya kusut. Ia tidak tidur semalaman.

"May, buka."

Maya membuka pintu. Matanya dingin.

"Lo mau apa?"

"Gue harus jelasin."

"Jelasin apa? Udah jelas."

"Tolong, May. Dengerin gue."

Maya membuka pintu lebar-lebar. "Silakan."

Di ruang tamu, mereka duduk berhadapan. Bu Rini keluar, memberi mereka privasi.

"May, gue nggak pernah mau ninggalin lo. Tapi keluarga gue... Bapak gue sakit parah. Butuh biaya besar. Keluarga Rina tawarin bantuan. Mereka mau biayain semua asal gue mau deket sama Rina. Bukan nikah, tapi deket dulu."

Maya tertawa pahit. "Jadi lo jual cinta lo buat uang?"

"Bukan gitu. Ini masalah hidup dan mati. Bapak gue..."

"Bapak lo sakit, gue turut sedih. Tapi apa cuma itu jalannya? Lo nggak bisa cari jalan lain? Pinjam bank? Cari donasi? Apa?"

"Udah gue coba. Tapi nggak ada yang mau. Keluarga gue miskin, May. Kita nggak punya koneksi. Sementara keluarga Rina..."

"Jadi lo pilih mereka?"

Arif menunduk. "Gue nggak punya pilihan."

Maya berdiri, matanya menyala. "Lo selalu punya pilihan, Ar! Tapi lo milih yang gampang! Lo milih jalan yang udah diatur! Lo milih ninggalin gue!"

"May, please..."

"Jangan May-May! Lo pikir gue nggak sakit? Lo pikir gue nggak takut masa depan? Lo pikir gue nggak punya masalah? Ibu gue jahit siang malem buat biayain kuliah gue. Tapi gue tetep milih lo! Tetep percaya sama lo! Dan lo balas dengan ini?"

Arif tertunduk. Air matanya jatuh. "Maaf, May."

"Maaf lo nggak cukup." Maya membuka pintu. "Keluar."

"May..."

"KELUAR!"

Arif pergi dengan langkah gontai. Maya jatuh terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya.

BAGIAN IV

PENGKHIANATAN

Sebulan kemudian

Arif memutuskan. Ia akan menerima tawaran keluarga Rina. Bukan karena ia tidak cinta Maya. Tapi karena ia tidak punya pilihan. Atau setidaknya, itulah yang ia yakini.

Ia menulis surat terakhir untuk Maya.

"May,

Maaf. Maaf untuk semuanya.

Gue harus nikah sama Rina. Bukan karena gue nggak sayang lo. Tapi karena keluarga gue butuh. Bapak gue butuh biaya berobat. Keluarga Rina bisa bantu.

Gue tahu lo sakit hati. Gue juga sakit hati. Tapi gue nggak punya pilihan.

Maafkan gue. Dan semoga lo bahagia.

Jangan pernah lupa, gue akan selalu sayang lo.

Arif"

Maya membaca surat itu sampai basah oleh air mata. Ia membacanya berulang kali, berharap ada kata-kata ajaib yang bisa mengubah segalanya. Tapi tidak ada.

Reaksi Ibu Maya

Bu Rini memeluk putrinya. "Nduk, Ibu tahu ini berat. Tapi Ibu bangga sama kamu. Kamu kuat."

"Bu, aku nggak kuat."

"Kamu kuat. Kamu pasti bisa melewati ini."

"Tapi Bu..."

"Dengar, Nduk. Allah punya rencana yang lebih baik. Mungkin Arif bukan jodohmu. Mungkin ada yang lebih baik nanti. Sabar."

Sari marah besar. "ARIF TUH COWOK PENGECUT! GUE NGAKAK!" Ia berteriak di telepon.

"Sar, tenang."

"TENANG BAGAIMANA? DIA NINGGALIN LO! DEMI DUIT! DASAR MATRE!"

"Dia bilang demi keluarga."

"ALASAN! KELUARGA BOLEH, TAPI CARI JALAN LAIN DONG! JANGAN NIKAH SAMA ORANG LAIN!"

"Sar..."

Sari menghela napas. "Maaf, May. Gue marah. Bukan marah sama lo. Marah sama dia."

Sementara, Doni mengirim pesan panjang.

Doni: May, gue tahu lo sakit hati. Gue juga kecewa sama Arif. Tapi lo harus kuat. Lo harus buktikan kalau lo bisa bahagia tanpa dia. Lo hebat. Lo cantik. Lo pinter. Banyak cowok yang lebih baik.
Maya: Makasih, Don.
Doni: Kalau lo butuh temen cerita, gue ada. Siap sedia 24 jam. Gratis. Termasuk nemenin lo makan, nemenin lo nangis, nemenin lo marah-marah.
Maya: Makasih.

Maya lulus kuliah lebih cepat—3,5 tahun. Ia tidak tahan tinggal di Solo, di kota yang penuh kenangan bersama Arif. Setiap sudut kota mengingatkannya pada Arif—kantin, perpustakaan, taman kota, stasiun, halte dekat sekolah.

"Ibu, aku mau pindah ke Jakarta."

Bu Rini menghela napas. "Nduk, kamu yakin? Jakarta keras."

"Aku harus, Bu. Aku nggak bisa di sini. Terus inget dia."

"Ibu tahu. Tapi lari dari masalah nggak akan menyelesaikan apa-apa."

"Aku nggak lari, Bu. Aku cuma... butuh suasana baru. Tempat baru. Orang baru."

Bu Rini memeluk putrinya. "Ibu doain yang terbaik. Jaga diri di sana. Telpon Ibu tiap minggu."

"Janji, Bu."

Maya tiba di Jakarta. Kota yang panas, bising, dan padat. Ia menyewa kontrakan kecil di Pondok Gede, rekomendasi teman kuliah yang sudah lebih dulu merantau.

Hari pertama di kontrakan, Maya duduk di lantai, memandangi kardus-kardus yang belum dibuka. Ia menangis. Sendirian. Di kota orang.

Tapi ia harus bertahan.

BAGIAN V

HIDUP BARU DI JAKARTA

Di Jakarta, Maya melamar kerja di beberapa penerbitan. Beruntung, IPK-nya bagus dan portofolio tulisannya menarik. Ia diterima di Penerbitan Karya Abadi, sebuah penerbit sedang yang fokus pada novel-novel populer.

Hari pertama kerja, Maya diperkenalkan pada rekan-rekan barunya.

"Ini Maya, editor baru kita. Dari Solo, fresh graduate UNS," kata Bu Wati, editor senior yang akan membimbing Maya.

Maya tersenyum sopan. "Selamat pagi, semuanya. Tolong bimbing saya."

"Maya, lo duduk di sini." Mas Yono, desainer grafis berusia 35 tahun, menunjuk meja kosong di pojok ruangan.

"Makasih, Mas."

"Ini kartu nama lo. Ini jadwal lo. Ini buku pedoman. Ini kopi. Lo suka kopi?" Bu Wati cerewet tapi baik.

"Suka, Bu."

"Bagus. Di sini kita hidup dari kopi. Tanpa kopi, naskah nggak kelar."

Rekan-rekan kantor:

Bu Wati, 50 tahun, editor senior yang sudah 25 tahun berkecimpung di dunia penerbitan. Galak tapi baik hati. Setiap Maya salah, ia memarahi dengan suara keras, tapi selalu membimbing dengan sabar.

"Maya, naskah ini harus lo revisi. Koma-komanya masih banyak yang salah. Kata 'di' sama 'ke' masih banyak yang nggak baku. Lo lulusan Sastra kok gini?"

"Maaf, Bu. Saya revisi."

"Nggak cuma revisi. Lo harus belajar. Baca buku EYD lagi. Jangan malas."

"Iya, Bu."

Tapi setelah marah-marah, Bu Wati selalu memberikan makanan ringan. "Ini buat lo. Makan. Lo kurus."

Mas Yono, 35 tahun, desainer grafis yang humoris dan suka bercanda. Ia selalu bisa mencairkan suasana ketika deadline menekan.

"May, lo lihat cover buku ini? Kayak taplak meja ya?"

Maya tertawa. "Iya, Mas. Kasian penulisnya."

"Nanti kita revisi. Gue bikin yang lebih keren. Dijamin best seller."

"Mas, best seller itu karena isi, bukan cover."

"Ah, elah. Isi boleh jelek, cover harus cakep. Pembeli lihat cover dulu, baru lihat sinopsis."

Mbak Diah, 40 tahun, manajer pemasaran yang super sibuk. Teleponnya tidak pernah berhenti berdering. Ia selalu berlari ke sana kemari.

"May, tolong cek naskah ini ya, deadline besok."

"Waduh, Mbak, mepet."

"Ya usaha. Lo kan hebat. Gue percaya lo."

Maya hanya bisa menghela napas. Tapi ia suka tantangan.

Pak Harun, 55 tahun, pemilik penerbitan. Pria paruh baya yang bijaksana dan jarang marah. Setiap ada masalah, ia selalu bilang, "Sudah, sudah. Yang penting selesai. Jangan lupa bahagia."

Di kontrakan, Maya perlahan berkenalan dengan tetangga-tetangganya. Mereka adalah keluarga barunya di Jakarta.

Bu Tuti adalah yang pertama menyapa. "Lo baru ya, Neng? Dari mana? Solo? Jauh amat. Sendirian? Nggak takut? Di sini lo harus hati-hati. Banyak copet. Banyak begal. Tapi tenang, Ibu jagain lo."

Maya tersenyum. "Makasih, Bu."

"Lo kerja di mana? Penerbitan? Wah, keren. Lo nulis buku? Nanti kalo jadi buku, kasih Ibu ya. Ibu mau baca."

Pak Karto lebih pendiam. Ia hanya menyapa "selamat pagi" dan "selamat sore" setiap kali berpapasan. Tapi suatu hari, ia memberi Maya ikan hasil pancingannya.

"Neng, ini ikan. Masih segar. Buat lauk."

Maya terharu. "Makasih, Pak. Tapi saya nggak bisa masak ikan."

"Ya udah, nanti Bu RT yang masakin. Dia jago masak."

Bu Sri langsung curiga. "Lo anak baru ya? Dari mana? Kerja di mana? Punya pacar? Sendirian aja? Kok berani?"

Maya menjawab semua pertanyaan dengan sabar.

Bu Sri mengangguk puas. "Bagus. Lo anak baik. Nanti kalau ada apa-apa, kabarin gue. Gue tahu semua yang terjadi di kompleks ini."

Mas Bejo setiap sore mangkal di ujung gang. Maya jadi pelanggan tetap. Bakso Mas Bejo enak dan harganya bersahabat.

"Neng Maya, porsinya kayak biasa?"

"Iya Mas, bakso urat."

"Lo kurus, Neng. Makan yang banyak. Bakso gue nambah nggak nambah harga."

"Makasih, Mas."

Mpok Ijah lewat setiap pagi. Maya jadi langganan sayurnya. Mpok Ijah selalu memberi bonus—kadang cabai, kadang tomat, kadang bawang.

"Ini bonus, Neng. Biar lo rajin masak. Biar montok. Cowok suka yang montok."

"Makasih, Mpok."

Lima tahun sudah Maya di Jakarta. Ia sudah menjadi editor senior. Gajinya naik, hidupnya lebih mapan. Tapi hatinya? Maya tidak tahu.

Ia pernah beberapa kali mencoba berpacaran. Dengan Mas Yono, tapi hubungan itu hanya bertahan 3 bulan karena mereka terlalu sering bertengkar soal pekerjaan. Dengan penulis bernama Reza, hanya sebulan karena Reza terlalu posesif. Dengan teman kampus yang pindah ke Jakarta, dua minggu karena cowok itu ternyata sudah punya pacar di kampung halaman.

Sari sering menelpon dari Solo. "May, lo kenapa sih? Setiap ada cowok, lo selalu cari alasan buat putus."

"Nggak tahu, Sar. Mungkin gue belum siap."

"Lo masih inget Arif?"

Maya diam.

"May, udah 6 tahun. Lo harus move on."

"Gue tahu. Tapi... susah."

Sari akhirnya menikah dengan Rian, cowok yang dikenalkannya dua tahun lalu. Maya jadi bridesmaid di pernikahan itu. Ia pulang ke Solo untuk pertama kalinya dalam 5 tahun.

Di Solo, Maya bertemu banyak kenalan lama. Doni, yang sekarang sudah kurusan (sedikit) dan sudah punya pacar. Budi dan Lina, yang juga sudah menikah. Guru-guru SMA yang masih mengajar.

"Lo cantik, May," kata Sari sambil memeluk Maya sebelum akad.

"Lo yang cantik. Pengantin."

"Makasih udah selalu ada buat gue."

Maya terharu. "Lo sahabat gue. Pasti."

Di resepsi, Doni mendekat. "May, lo sendiri aja?"

"Iya. Lo tahu sendiri."

Doni menghela napas. "Gue sering ngobrol sama Arif."

Maya tegang. "Oh ya? Dia gimana?"

"Baik. Kerja di Solo sekarang. Punya toko bangunan. Anaknya satu. Usia 3 tahun."

Maya tersenyum getir. "Baguslah."

"Dia sering nanya kabar lo."

"Bilang aja gue baik-baik aja."

Dari Doni, Maya tahu perkembangan Arif.

Setelah menikah dengan Rina, Arif pindah ke Solo. Ia bekerja di toko bangunan milik keluarga Rina. Perlahan, ia belajar mengelola usaha. Sekarang, toko itu berkembang pesat dan Arif menjadi manajer.

Rina melahirkan anak pertama, seorang laki-laki, setahun setelah menikah. Namanya Rafa. Sekarang Rafa sudah 5 tahun.

Pak Sumarjo sudah meninggal, tiga tahun setelah pernikahan Arif. Tapi sebelum meninggal, ia sempat melihat cucu pertamanya.

Bu Siti sehat, tinggal dengan Arif dan Rina. Rizki kuliah di UNS, jurusan Teknik.

"Arif bahagia nggak?" tanya Maya.

Doni menghela napas. "Gue nggak tahu, May. Secara fisik, dia baik-baik aja. Punya usaha, punya anak, punya istri. Tapi matanya... matanya sayu. Kayak orang kehilangan sesuatu."

Maya diam.

"Gue rasa, dia nggak pernah benar-benar melupain lo."

Setelah pernikahan Sari, Maya kembali ke Jakarta. Hatinya campur aduk. Melihat Arif, meskipun hanya dari cerita Doni, membuka luka lama.

Tapi hidup harus jalan. Maya kembali bekerja, kembali ke rutinitas, kembali ke kontrakan dengan tetangga-tetangganya yang lucu.

Bu Tuti menyambutnya, "Neng, lo kurusan! Nggak enak ya di Solo? Di Jakarta aja, di sini Ibu jagain."

Maya tersenyum. "Iya, Bu. Kangen Jakarta."

BAGIAN VI

PERSIAPAN MENUJU SOLO

Pukul setengah sembilan pagi, Maya baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika suara motor butut Pak Pos terdengar dari luar. Suara knalpotnya yang khas—seperti campuran traktor rusak dan blender kelebihan beban—langsung dikenalnya.

"Maya! Bu Maya! Ada surat!" teriak Pak Pos dari luar.

Maya membuka pintu kamar mandi, masih dengan handuk di kepala, rambut basah menetes-netes membasahi lantai. "Sebentar, Pak!"

Ia berlari kecil ke pintu, hampir terpeleset di lantai kamar mandi yang licin. Refleksnya menyelamatkan diri dengan berpegangan pada kusen pintu. "Waduh, hampir aja gue jadi atlet lompat indah."

Membuka pintu, seorang pria paruh baya dengan seragam oranye lusuh—warnanya sudah memudar jadi oranye kusam seperti wortel busuk—berdiri di sana, basah kuyup karena hujan. Di tangannya, sebuah amplop putih dilindungi plastik bening agar tidak basah. Wajahnya penuh keriput, tapi matanya masih tajam.

"Selamat pagi, Bu Maya. Ada surat. Penting katanya, soalnya pake plastik. Biasanya mah kagak pake plastik. Kalo pake plastik, pasti penting." Kata Pak Pos sambil tersenyum memperlihatkan gigi kuning karena kebiasaan nginang—campuran sirih, pinang, kapur yang bikin mulutnya merah kalau lagi nginang aktif.

Maya menerima amplop itu. "Makasih, Pak. Udah basah-basah nganter surat."

"Ya, Bu. Hati-hati, Bu. Jangan lupa makan. Jangan lupa ibadah. Jangan lupa bayar listrik. Jangan lupa bayar air. Jangan lupa bayar iuran RT. Jangan lupa bayar iuran keamanan. Jangan lupa bayar iuran sampah. Jangan lupa bayar iuran kematian. Jangan lupa bayar iuran pembangunan masjid. Jangan lupa..."

Maya tersenyum. Pak Pos ini memang suka memberi nasihat panjang lebar. "Iya, Pak. Makasih. Bapak juga jaga kesehatan."

"Ah, Bapak mah kebal, Bu. 20 tahun nganter surat, hujan-hujanan, panas-panasan, nggak pernah sakit. Kata orang, badan Bapak udah campur formalin kali ya."

Maya tertawa. "Mudah-mudahan bukan, Pak."

"Ya udah, Bu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Pak Pos pergi dengan sepeda motor bututnya yang berasap tipis-tipis seperti mau meledak. Maya menutup pintu, memandangi amplop putih di tangannya. Agak tebal. Kemasannya bagus—kertas dof dengan tekstur timbul, amplop model undangan pernikahan premium, pikirnya.

Ia meletakkan amplop itu di meja makan, di samping tumpukan naskah yang belum selesai dibaca. Ia akan membukanya nanti, setelah mandi dan selesai membaca bab yang sedang direvisi. Tapi entah kenapa, matanya terus melirik amplop itu. Ada firasat aneh di dadanya. Jantungnya berdebar tidak karuan, padahal ia belum melakukan aktivitas berat—bahkan belum lari-lari atau naik turun tangga.

Maya menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan firasat itu. "Udah, mandi dulu. Itu cuma undangan biasa. Mungkin temen kantor yang nikah. Atau temen SMA yang nikah lagi. Atau Sari yang iseng bikin undangan palsu buat ngerjain gue."

Setelah mandi—dengan air hangat karena cuaca dingin, dan sambil bergumam "tenang, tenang, ini cuma undangan biasa"—Maya duduk di meja makan dengan rambut masih setengah basah, handuk masih melingkar di leher. Rambutnya ikal bergelombang alami, sekarang makin kacau karena baru dikeringkan asal-asalan. Ia memandangi amplop putih itu. Amplop itu seperti memanggil-manggilnya, memaksa untuk segera dibuka.

"Jangan lebay," gumamnya sendiri. "Amplop nggak bisa manggil. Lo kebanyakan baca novel horor."

Tapi tangannya sudah bergerak mengambil amplop itu. Tangannya sedikit gemetar—entah karena dingin, entah karena firasat. Dengan hati-hati, ia membuka perekatnya, kebiasaan editor, selalu memperlakukan kertas dengan penuh hormat. Tidak boleh rusak, tidak boleh robek. Kertas adalah sahabat, musuh, dan sumber pendapatan sekaligus.

Dari dalam amplop, ia mengeluarkan kartu undangan berwarna putih gading dengan hiasan bunga-bunga kecil di pinggirnya. Indah. Elegan. Mahal. Dicetak dengan tinta emas yang berkilauan. Jelas ini bukan undangan kaleng-kaleng. Ini undangan kelas kakap.

"Dengan memohon rahmat dan ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala, kami bermaksud menyelenggarakan resepsi pernikahan putra-putri kami:"

Mata Maya langsung mencari bagian paling penting: nama pengantin. Ini selalu bagian pertama yang dilihat orang dari undangan pernikahan—siapa yang menikah, siapa yang akan di-"santet" tamu undangan, siapa yang akan jadi bahan gosip.

Arif Pramana Putra
Putra pertama Bapak H. Sumarjo & Ibu Hj. Siti Aminah

Dunia Maya serasa berhenti.

Rina Andriani
Putri pertama Bapak H. Ahmad Dahlan & Ibu Hj. Maryam

Maya jatuh terduduk di kursi. Amplop itu jatuh dari tangannya, berhamburan di lantai bersama isi lainnya—mungkin ada kartu nama, mungkin ada peta lokasi, mungkin ada amplop balasan. Kartu undangan ikut jatuh, tergeletak di lantai semen dengan gambar tenda biru menghadap ke atas.

Tenda biru.

Di sudut kiri bawah undangan, tercetak ilustrasi tenda pernikahan—tenda biru muda dengan hiasan bunga-bunga putih bergelantungan di sekelilingnya, dihiasi lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip. Tenda megah dengan ornamen yang indah, seperti dari majalah pernikahan.

Maya memunguti undangan itu. Jari-jarinya gemetar saat mengelus gambar tenda biru. Air matanya jatuh tanpa ia sadari, membasahi kertas undangan yang mahal itu. Tinta emas di nama Arif mulai luntur terkena air mata.

Tenda biru.
Janji lama yang tak pernah ditepati.

"May, gue janji. Suatu hari, kita akan nikah di bawah tenda biru. Tenda kita sendiri."
"Janji?"
"Janji."

Dan sekarang, Arif akan menikah dengan perempuan lain di bawah tenda biru yang megah. Tenda biru yang seharusnya menjadi milik mereka berdua, tapi kini menjadi saksi pernikahannya dengan orang lain.

Maya tidak tahu berapa lama ia terduduk di sana, mematung seperti patung lilin di museum lilin Jakarta. Mungkin 5 menit, mungkin 30 menit, mungkin 2 jam. Yang jelas, air matanya sudah menggenang di lantai membentuk kolam kecil.

Pikirannya melayang 15 tahun ke belakang. Ke masa ketika ia masih SMA, ketika ia pertama kali bertemu Arif, ketika mereka berjanji di bawah hujan, ketika Arif memberinya gelang biru buatan sendiri yang jelek tapi bermakna.

Pukul setengah dua belas, saat Maya masih duduk termenung di kursi dengan mata sembab, hidung merah, dan rambut masih basah setengah kering—penampilannya sekarang mirip orang baru selamat dari banjir bandang—pintu kontrakannya diketuk orang. Kali ini bukan ketukan sopan, tapi ketukan khas Sari—keras, tidak sabaran, dan disertai teriakan yang bisa membangunkan seluruh kompleks.

"TOK TOK TOK TOK TOK! MAY! BUKA! INI GUE! CEPETAN! GUE BASAH! LO LAMA BANGET! MAY! MAY! GUE MASUKIN MUKA GUE KE LUBANG KUNCI, LO BUKA! GUE UDAH SIAPIN MUKA GUE YANG CANTIK INI BUAT DIPAKSA MASUK LUBANG KUNCI! LO TAHU LUBANG KUNCI ITU KECIL, TAPI GUE RELA!"

Maya berjalan lunglai ke pintu. Kakinya berat seperti diisi timah. Ia membuka pintu dengan wajah kusut, mata sembab seperti habis nonton film sedih semalaman, hidung merah, rambut masih basah dan acak-acakan. Sari langsung melihat keadaan itu.

"Udah tahu ya?" Sari masuk sambil menutup pintu. Jaketnya basah, rambutnya basah, tasnya juga basah. Ia membawa serta aroma hujan dan bau jalanan Jakarta—campuran aspal basah, asap kendaraan, dan bau gorengan dari pinggir jalan.

Maya mengangguk. Suaranya serak, seperti habis berteriak di konser rock. "Iya. Udah."

Sari meletakkan tas, jaket, dan segala bawaannya di kursi—dengan gaya khasnya yang berantakan—lalu memeluk Maya erat. Pelukan hangat yang membuat Maya hampir menangis lagi. Sari memang selalu seperti ini—datang, memeluk, dan semua masalah terasa sedikit lebih ringan.

"Maaf, May. Gue baru dapet undangan seminggu lalu. Bu Siti sendiri yang nyari gue ke rumah. Lo tahu sendiri, Bu Siti baik banget, dia bilang dia ingin lo tahu secara resmi, bukan dari mulut ke mulut. Katanya, 'Sari, tolong sampaikan ke Maya. Ibu pengen dia tahu dari sumber resmi, bukan dari gosip. Jangan sampai dia denger dari orang lain yang nggak bertanggung jawab. Ibu sayang Maya seperti anak sendiri.'"

Maya diam dalam pelukan Sari. Dadanya bergetar menahan tangis.

Sari melanjutkan, "Gue bingung mau ngomong kapan. Udah seminggu gue mikir. Sampe gue diare mikirin ini. Serius, May, gue sampe bolak-balik kamar mandi. Kata dokter, itu tanda stres akut. Tapi gue rasa itu juga gara-gara gue kebanyakan makan risol."

Maya tersenyum tipis di tengah tangis. Sari memang selalu berpikir seperti itu—mencampur adukkan masalah serius dengan hal-hal konyol.

"Takut lo kenapa-napa. Takut lo stres. Takut lo depresi. Takut lo makan nggak mau. Takut lo kurus. Lo kan udah kurus, nanti tambah kurus kayak lidi. Nggak lucu. Cowok suka yang ada isinya dikit. Lo mau jadi mayang? Mayang itu kurus."

Maya terisak di pelukan Sari.

"Akhirnya gue putusin harus langsung ke sini. Daripada gue telepon, lo matiin. Daripada gue WA, lo read aja. Daripada gue kirim surat, lo bakar. Daripada gue datengin dukun, lo santet gue. Daripada gue..."

"Sar," potong Maya lemah.

"Iya, iya. Pokoknya gue datang. Mau lo marah, mau lo nangis, mau lo lempar piring, mau lo lempar gelas, mau lo lempar kompor gas—tapi jangan lempar kompor gas, nanti meledak—gue terima. Yang penting lo nggak sendiri."

Dua jam kemudian

Maya dan Sari duduk di ruang tamu kontrakan yang sempit. Maya sudah lebih tenang, meskipun matanya masih sembab dan hidungnya masih merah seperti badut sirkus. Sari sudah membuatkan teh manis—karena teh manis adalah obat segala penyakit menurut Sari—dan menyuapi Maya beberapa potong roti tawar yang ditemukan di lemari es. Roti itu sudah agak keras, tapi Sari bilang "masih aman, belum ada jamur, masih layak konsumsi".

"Lo tahu nggak, teh manis itu penenang jiwa," kata Sari sambil menuang teh ke gelas kedua. "Gue selalu minum teh manis kalau stres. Pas ujian, teh manis. Pas putus sama pacar, teh manis. Pas diomelin bos, teh manis. Pas lo nangis, ya teh manis juga. Pas gue diare, teh manis. Pas gue jatuh dari motor, teh manis. Pas gue kehilangan dompet, teh manis. Pas gue ketinggalan kereta, teh manis. Pokoknya teh manis solusi segala masalah."

Maya tersenyum tipis. "Dasar lo. Nanti kena diabetes."

"Daripada stres, mending diabetes. Diabetes masih bisa diobatin. Stres bisa bikin gila. Lo lihat orang gila di jalanan, kebanyakan gara-gara stres, bukan gara-gara gula."

Maya terpaksa setuju dengan logika Sari yang kacau.

Sari mengambil undangan yang tergeletak di meja—sudah agak kusut karena dipegang Maya berkali-kali, dan ada noda air mata di sana-sini—membacanya dengan saksama. Matanya menyusuri setiap baris, setiap huruf, setiap tanda baca.

"Sabtu, 12 Oktober 2024, pukul 10.00 WIB, di rumah mempelai pria, Jl. Kenanga No. 45, Solo." Sari menghela napas. "Berarti dua minggu lagi."

"Iya."

Sari meletakkan undangan, menatap Maya serius. Matanya yang biasanya penuh canda, kini berubah tajam. "May, lo harus datang."

Maya menatap Sari tajam. Matanya yang tadinya sayu, kini melebar seperti kaget. "Apa? Nggak. Nggak mungkin. Gue nggak kuat. Gue nggak sanggup. Gue nggak siap. Gue nggak bisa."

"Lo harus datang. Bukan buat Arif. Bukan buat pamer. Bukan buat bikin dia nyesel. Bukan buat nunjukin kalau lo masih cantik—meskipun lo emang masih cantik. Tapi buat nutup semuanya."

"Nggak, Sar. Nggak."

"Lo kuat, May. Lo selalu kuat." Sari menggenggam tangan Maya. Tangannya hangat, sedikit berkeringat karena tegang. "Lo ingat waktu Arif pergi ke Kalimantan? Lo kuat. Lo ingat waktu lo tahu Arif dijodohin sama Rina? Lo kuat. Lo ingat waktu mereka nikah, yang pertama dan lo nggak diundang? Lo kuat. Lo ingat waktu lo pindah ke Jakarta sendirian, nggak kenal siapa-siapa, mulai dari nol, tidur di kost sempit, makan indomie tiap hari? Lo kuat banget."

Maya diam. Air matanya jatuh lagi. Sari menyekanya dengan tisu—tisu yang sudah disiapkan sebelumnya, satu pak penuh.

Sari melanjutkan, suaranya lembut tapi tegas. "Tapi lo tahu nggak, May? Lo nggak pernah benar-benar lihat akhir dari cerita lo sama Arif. Lo cuma denger kabar dari orang, lo cuma denger dia nikah, lo cuma nangis, lo lari ke Jakarta, lo tutup diri, lo jadi kuper, lo jadi anti-sosial, lo jadi..."

"Sar, lebay."

"Iya lebay. Tapi bener kan? Lo nggak pernah benar-benar mengakhiri. Lo nggak pernah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa semuanya sudah selesai. Lo cuma bayangin. Bayangin itu nggak cukup, May. Bayangin bisa salah. Lo bisa aja bayangin dia bahagia padahal dia sengsara. Lo bisa aja bayangin dia lupa sama lo padahal dia inget terus."

Maya terisak. "Gue nggak kuat lihat dia nikah, Sar. Gue nggak kuat lihat dia bahagia sama orang lain. Gue nggak kuat."

Sari memegang bahu Maya. "Acara ini adalah kesempatan lo. Lo datang, lo lihat dia, lo lihat dia bahagia sama orang lain—atau mungkin nggak bahagia, lo lihat dia sah jadi milik orang lain. Dan setelah itu, lo sadar bahwa lo juga bisa bahagia tanpa dia. Bahwa lo juga berhak punya masa depan. Bahwa lo nggak perlu terkurung di masa lalu selamanya."

"Lo pikir gue bakal bisa?"

"Gue tahu lo bisa." Sari menatap mata Maya. "Lo adalah Maya Andriani yang gue kenal—cewek kuat yang nggak pernah nyerah, yang selalu bangkit setelah jatuh, yang selalu tersenyum meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Lo ingat waktu SMA? Lo pernah jatuh pingsan pas upacara, tapi besoknya lo udah senyum-senyum lagi. Lo ingat waktu nilai ulangan lo jelek, tapi lo belajar lebih giat dan dapat nilai bagus? Lo ingat waktu lo lomba puisi dan kalah, tapi lo bilang 'yang penting sudah mencoba'? Lo ingat waktu lo jatuh cinta sama Arif dan dia ninggalin lo? Lo masih hidup sampe sekarang."

Maya tersenyum tipis. "Lo ingat semua?"

"Gue ingat semua, May. Karena gue sahabat lo. Tugas gue mengingatkan lo kalau lo lupa sama diri lo sendiri. Kalau lo lupa kalau lo hebat. Kalau lo lupa kalau lo kuat. Kalau lo lupa kalau lo cantik. Kalau lo lupa kalau lo..."

"Sar, nanti panjang lagi."

"Iya, iya."

Maya terdiam lama. Teh di tangannya sudah dingin—sudah berganti warna dari cokelat pekat jadi cokelat pucat. Di luar, hujan mulai turun lagi—deras, seperti ingin menenggelamkan kota Jakarta. Bunyi gemericik air di selokan terdengar jelas, bercampur dengan suara knalpot motor yang sesekali lewat.

Sari menambahkan, "Lo datang, lo lihat, lo pulang. Selesai. Lo nggak perlu ngobrol sama dia kalau nggak mau. Lo nggak perlu kasih selamat kalau nggak siap. Lo nggak perlu foto bareng. Lo nggak perlu makan di sana. Lo cukup duduk di pojok, lihat, dan pergi. Tapi lo harus melihat. Lo harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri."

"Kenapa harus lihat? Kenapa nggak cukup dengan denger?"

"Karena selama ini lo cuma bayangin. Lo bayangin dia nikah, lo bayangin dia bahagia, lo bayangin dia bersama Rina. Tapi bayangan itu nggak pernah jelas. Kabur. Kayak foto yang nggak fokus. Dan karena kabur, lo terus-terusan penasaran. Lo terus-terusan bertanya-tanya, 'Andai aku di sana, apa yang terjadi?' 'Andai aku yang jadi pengantin, gimana rasanya?' Dengan melihat langsung, bayangan itu jadi jelas. Dan setelah jelas, lo bisa terima."

Maya merenungkan kata-kata Sari. Ada kebenaran di sana. Selama 11 tahun, ia hanya membayangkan. Membayangkan pernikahan Arif, membayangkan kehidupan Arif, membayangkan kebahagiaan Arif. Dan bayangan itu selalu mengganggunya, selalu muncul di saat-saat tidak terduga—saat mau tidur, saat bangun tidur, saat makan, saat kerja, saat hujan turun seperti ini.

"Mungkin lo benar," kata Maya pelan.

"Tentu gue benar. Gue kan sahabat lo. Sahabat itu selalu benar. Itu kode etik sahabat. Kalau salah, ya kita pura-pura lupa."

Maya tersenyum. "Tapi gue takut, Sar."

"Takut apa? Takut lo liat dia ganteng? Takut lo liat dia makin tampan? Takut lo liat dia sukses? Takut lo liat dia bahagia?"

"Itu juga. Tapi lebih dari itu, takut gue nggak kuat. Takut gue nangis di depan semua orang. Takut gue jadi bahan tertawaan. Takut gue malu. Takut gue histeris. Takut gue lempar sepatu ke pengantin. Takut gue bawa golok."

Sari tertawa. "Nah, yang terakhir itu ide bagus. Lempar sepatu ke Arif. Biar dia kapok. Tapi jangan bawa golok, nanti lo ditangkap polisi. Kasian nanti Dimas—eh, lo kan belum punya Dimas."

Maya ikut tertawa, meskipun air mata masih mengalir. "Dasar lo."

"May, lo nggak sendiri. Gue temenin lo datang. Kita berangkat bareng dari Jakarta. Kita duduk di pojok. Kalau lo mau pulang sebelum resepsi selesai, kita pulang. Kalau lo nangis, gue siapin tisu satu kardus. Kalau lo mau marah, gue siapin orang yang bisa lo marahin—tapi jangan marahin tamu ya, nanti lo diusir. Kalau lo mau lempar sepatu, gue siapin sepatu cadangan."

Maya tertawa lebih keras. "Lo ini."

"Tapi lo harus datang, May. Setidaknya untuk diri lo sendiri. Bukan buat Arif. Bukan buat Rina. Bukan buat Bu Siti. Bukan buat gue. Tapi buat lo. Biar lo bisa tidur nyenyak setelah 11 tahun."

Maya memandangi undangan di meja. Nama Arif tercetak indah dengan tinta emas yang mulai luntur terkena air matanya. Tenda biru tercetak di pojok. Janji lama yang menjadi milik orang lain.

"Apa dia tahu gue diundang?" tanya Maya akhirnya.

"Pasti tahu. Bu Siti yang ngirim. Berarti Arif tahu. Mungkin dia sendiri yang minta ibunya ngirim. Mungkin dia pengen lo datang. Mungkin dia mau minta maaf. Mungkin dia mau..."

"Atau mungkin dia cuma pengen pamer kalau dia sekarang sukses dan punya istri cantik."

"Bisa jadi." Sari menghela napas. "Tapi lo tahu, May? Manusia itu sederhana. Nggak serumit yang lo bayangin. Mungkin dia cuma pengen lo datang sebagai teman lama. Mungkin dia pengen nutup buku juga. Mungkin dia juga punya luka yang sama."

Maya terdiam lagi. Ia memandang ke luar jendela. Hujan mulai reda. Sinar matahari menyelinap dari sela-sela awan, menerangi gang sempit dengan cahaya keemasan. Genangan air di jalan berkilauan.

"Gue datang, Sar."

Sari tersenyum lebar. "That's my girl! That's the Maya I know! That's the Maya yang pernah gue kenal!"

"Tapi lo harus temenin gue. Janji?"

"Janji, tolol. Lo pikir gue bakal lepas lo sendirian di medan perang? Lo pikir gue bakal tinggal lo di tengah hutan belantara masa lalu? Gue siap, May. Gue siap jadi bodyguard lo. Gue siap jadi penghibur lo. Gue siap jadi tisu berjalan lo. Gue siap jadi apa aja asal lo mau datang. Gue siap jadi sopir, jadi asisten, jadi psikolog, jadi pendeta—eh lo kan Islam—jadi ustadzah dadakan."

Maya tersenyum. "Makasih, Sar."

"Sama-sama. Sekarang kita persiapan. Lo butuh baju baru."

"Buat apa?"

Sari berdiri, bersemangat, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang dapat permen. "Buat tampil cantik. Buat bikin Arif nyesel. Buat bikin semua orang terkesima. Buat bikin semua tamu bertanya-tanya, 'Wah, siapa cewek cantik itu?' 'Wah, kok ada artis?' 'Wah, itu Maya kan? Kok masih secantik dulu?' Buat bikin foto-foto pernikahan mereka, lo jadi background yang bikin orang salah fokus. 'Eh, yang di pojok itu cantik ya, kok nggak jadi pengantin?'"

Maya tertawa. "Lo ini nggak pernah berubah ya."

"Emang. Gue kan cewek. Cewek boleh berubah-ubah—ubah rambut, ubah warna baju, ubah model jilbab—tapi satu yang tetap: gue selalu dukung lo."

Sari duduk lagi, mengambil ponsel. "Besok kita hunting baju. Gue udah cari referensi. Ada beberapa model yang cocok buat lo. Lo harus tampil elegan, tapi nggak berlebihan. Cantik, tapi nggak kayak mau nikah juga. Anggun, tapi nggak kaku. Sederhana, tapi berkelas. Pokoknya perfect! Lo harus jadi pusat perhatian yang sopan. Lo harus bikin semua orang lupa sama pengantin."

"Ajak juga Mpok Ijah," tambah Sari. "Dia jago milih baju."

Maya mengerutkan kening. "Mpok Ijah? Tukang sayur?"

"Iya. Dia dulu juragan butik di kampungnya, katanya. Sebelum bangkrut karena krisis moneter tahun 98. Sekarang jualan sayur, tapi selera bajunya masih tinggi. Dia sering cerita soal koleksi bajunya dulu. Katanya pernah punya baju seharga 5 juta di tahun 90-an. Itu setara rumah kontrakan setahun."

Maya setengah percaya. "Lo tahu dari mana?"

"Dari Bu RT. Bu RT cerita minggu lalu. Katanya Mpok Ijah dulu terkenal di kampungnya. Suka pamer baju ganti tiap hari. Sampai dijuluki 'Ratu Butik' sama tetangganya. Tapi karena krisis, tokonya tutup, suaminya sakit-sakitan, akhirnya jualan sayur."

Maya tersenyum. "Ratu Butik sekarang jualan sayur keliling. Hidup memang penuh misteri."

"Hidup memang penuh misteri, May. Yang penting Mpok Ijah jago milih baju. Kita ajak aja. Lumayan, sekalian beli sayur buat stock."

"Oke. Terserah lo."

Malam harinya, setelah Sari pulang—dengan janji akan kembali besok pagi untuk hunting baju, dan pesan terakhir "lo jangan nangis terus, nanti matamu bengkak, susah didandani"—Maya duduk sendirian di kamar. Suasana hening, hanya terdengar suara kulkas tua yang sesekali mengeluarkan suara "ngik-ngik" dan suara jangkrik dari luar.

Ia membuka lemari, mengeluarkan sebuah kotak sepatu bekas yang sudah menguning. Kotak yang sama yang ia bawa dari Solo lima tahun lalu, yang tidak pernah ia buka selama di Jakarta. Selama lima tahun, kotak itu hanya menjadi hiasan di sudut lemari, debu-debu menempel di permukaannya.

Di tutupnya, tertulis dalam spidol hitam: "JANGAN DI BUKA." Tulisan itu ia buat sendiri, malam sebelum berangkat ke Jakarta, sebagai pengingat untuk tidak pernah mengganggu masa lalu.

Maya membuka kotak itu. Debu beterbangan, membuatnya bersin tiga kali. Isinya: foto-foto usang yang sudah mulai menguning, surat-surat yang dikirim Arif saat ia merantau di Kalimantan, sebuah gelang dari tali kur warna biru yang sudah lusuh—talinya mulai putus di beberapa bagian, manik-maniknya sudah buram—dan sebuah cincin dari akar bahar yang Arif berikan saat mereka lulus SMA.

Maya mengambil salah satu surat. Tanggalnya 15 Agustus 2012, bulan pertama Arif di Kalimantan. Kertasnya sudah rapuh, lipatannya mulai sobek di beberapa bagian.

"May,

Gue nulis surat ini di kosan jam 2 pagi. Abis shift malem. Capek banget, tapi kangen lo lebih capek.

Lo tahu nggak, tadi gue lihat tenda biru di pinggir jalan. Ada nikahan orang kampung. Sederhana banget—cuma tenda biasa, kursi plastik, dekorasi bunga kertas—tapi meriah banget. Orang-orang pada senyum. Kayak yang dulu kita lihat waktu hujan-hujan di halte. Gue jadi inget omongan lo. Lo tanya gue mau nikah di mana.

Gue masih inget jawaban gue: sederhana aja, asal halal dan berkah. Tapi sekarang gue tambahin: yang penting lo ada di samping gue. Lo dan tenda biru kita. Nggak perlu mewah, nggak perlu banyak tamu, yang penting kita berdua.

Sabaran ya, May. Bentar lagi gue kumpulin duit. Bentar lagi kita nikah. Gue janji, kita bakal punya tenda biru kita sendiri. Gue udah ngitung, 2 tahun lagi cukup. Asal lo sabar.

Kangen banget,
Arif"

Maya membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh, membasahi kertas yang sudah rapuh itu. Tinta biru Arif mulai luntur, tapi kata-katanya masih jelas.

Janji.
Tenda biru.
Dua tahun.

Dan kini, 11 tahun kemudian, Arif akan menikah dengan perempuan lain di bawah tenda biru yang megah. Tenda biru yang seharusnya menjadi milik mereka berdua, tapi kini menjadi saksi pengkhianatan. Tenda biru yang dulu mereka impikan sederhana, kini terwujud mewah—tapi dengan perempuan lain.

Maya melipat surat itu kembali dengan hati-hati, seperti merawat benda pusaka. Ia memasukkan semua isi kotak ke tempatnya semula, lalu menutup kotak itu rapat-rapat. Tapi ia tidak mengembalikannya ke lemari. Ia meletakkannya di atas meja, di samping undangan pernikahan Arif.

Dua benda yang saling bertentangan. Janji dan pengkhianatan. Masa lalu dan masa depan. Cinta dan kehilangan.

Maya memandangi gelang biru di tangannya—gelang yang sama yang diberikan Arif 15 tahun lalu, yang tidak pernah ia lepas. Gelang itu sudah lusuh, warnanya memudar dari biru terang jadi biru pucat, talinya mulai putus di beberapa bagian. Tapi ia tetap memakainya. Selama 15 tahun, gelang itu hanya lepas saat mandi atau saat ada acara formal yang mengharuskan melepas aksesoris.

"Harusnya aku lepas," bisiknya pada diri sendiri. "Harusnya aku sudah lepas 11 tahun lalu."

Tapi ia tidak bisa.

Maya mengambil ponsel, membuka percakapan dengan Sari. Ia mengetik pelan-pelan, setiap huruf terasa berat.

Maya: Sar, gue mau tanya.
Sari: Apa, May? Jam 11 malem nanya. Lo nggak tidur?
Maya: Nggak bisa tidur.
Sari: Mikirin undangan?
Maya: Iya.
Sari: Mau nanya apa?
Maya: Lo yakin gue harus datang?
Sari: Yakin banget. Lo ragu lagi?
Maya: Iya. Gue takut.
Sari: Takut itu wajar. Takut itu manusiawi. Takut itu tanda lo masih punya perasaan. Tapi jangan biarin rasa takut mengendalikan lo. Lo yang harus mengendalikan rasa takut. Lo harus jadi bos atas rasa takut lo.
Maya: Kata-kata bijak dari mana tuh? Mario Teguh?
Sari: Dari status WA gue. Hahaha. Dari kutipan motivasi yang gue baca di IG. Tapi lupa siapa yang ngomong. Yang penting ngena.
Maya: Iya ngena.
Sari: May, lo pasti bisa. Gue yakin. Lo udah 11 tahun bertahan. Lo udah 5 tahun hidup sendiri di Jakarta. Lo udah jadi editor sukses. Lo udah beli kontrakan sendiri—meskipun kontrakan, tapi lo yang milih. Lo udah hebat banget.
Maya: Makasih, Sar.
Sari: Sama-sama. Sekarang tidur. Besok kita hunting baju. Jangan lupa, kita mau buat Arif nyesel. Bukan nyesel milih Rina, tapi nyesel karena sadar dia udah kehilangan berlian dan dapat kerikil.
Maya: Lo ini kejam.
Sari: Iya, gue kejam. Tapi kejamnya buat kebaikan. Love you, bestie!
Maya: Love you too.

Maya meletakkan ponsel. Ia memandangi undangan itu sekali lagi, membaca nama Arif dengan tinta emas yang mulai luntur, menelusuri gambar tenda biru dengan jarinya.

Sabtu, 12 Oktober 2024.

Tanggal itu sekarang tertanam di kepalanya, terukir di hatinya, terpatri di jiwanya. Tanggal di mana ia akan menyaksikan cinta pertamanya menikah dengan perempuan lain di bawah tenda biru. Tanggal di mana semua kenangan indah akan terkubur. Tanggal di mana ia harus benar-benar melepaskan.

Maya berdiri dan berjalan ke jendela. Ia membukanya lebar-lebar, membiarkan udara malam masuk. Udara Jakarta yang lembab dan panas, bercampur bau polusi dan sesekali aroma gorengan dari warung malam. Tapi anehnya, terasa segar di wajahnya yang basah oleh air mata.

Di luar, suara jangkrik terdengar sayup-sayup bersahutan dengan suara kodok di selokan. Lampu-lampu gang masih menyala—lampu 5 watt yang redup tapi cukup menerangi jalan setapak. Beberapa tetangga masih duduk-duduk di teras, mengobrol ringan sambil minum kopi.

Maya tersenyum. Besok, ia akan memulai perjalanan. Bukan hanya perjalanan fisik ke Solo, tapi perjalanan batin untuk melepaskan. Perjalanan yang mungkin akan menyakitkan, tapi harus ditempuh.

"Iya, Ar," bisiknya pada angin malam. "Aku akan datang. Aku akan melihatmu menikah. Dan setelah itu, aku akan benar-benar melepaskanmu. Janji."

Keesokan paginya

Sari datang jam 8 pagi dengan semangat membara. Bajunya sudah rapi, tasnya penuh dengan peralatan make up, dan matanya berbinar-binar seperti orang mau perang.

"May! Siap! Kita hunting baju! Aku udah janjian sama Mpok Ijah jam 9 di mal!"

Maya yang baru bangun tidur—mata masih sembab, rambut acak-acakan—hanya bisa menggerutu. "Lo datang pagi-pagi banget. Ini hari Sabtu, Sar. Hari libur."

"Ini bukan libur, May! Ini misi! Misi penutupan bab! Misi sejarah! Misi yang akan menentukan sisa hidup lo!"

"Lebay."

"Nggak lebay! Ayo mandi! Cepetan! Nanti Mpok Ijah marah. Lo tahu sendiri, Mpok Ijah kalau marah suka ngomel panjang lebar sambil ngacungin golok—maksudnya, sambil ngacungin sayur."

Maya menggeleng-geleng kepala sambil beranjak ke kamar mandi.

Di mal

Mpok Ijah sudah menunggu di depan pintu masuk mal dengan gerobak sayurnya—yang sekarang dititipkan ke penjaga parkir. Ia memakai baju terbaiknya—kain batik tulis, kebaya modern, dan sandal hak rendah. Rambutnya disanggul rapi.

"Neng Maya! Neng Sari! Sini-sini!" sambutnya antusias.

Maya dan Sari menghampiri.

"Maaf, Mpok, kita telat dikit," kata Sari.

"Ah, nggak apa. Mpok juga baru sampe. Lagi ngobrol sama tukang parkir. Ternyata dia kenalan sama sepupu Mpok. Dunia kecil."

Mpok Ijah memandangi Maya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Neng Maya, lo kurusan. Nggak boleh. Cowok suka yang montok. Nanti kita cari baju yang bikin lo keliatan berisi."

Maya tersenyum canggung. "Iya, Mpok."

Mereka bertiga masuk ke mal. Mpok Ijah langsung mengambil alih komando.

"Pertama, kita cari warna biru muda. Biar serasi sama tema tenda biru. Tapi jangan terlalu biru, nanti lo nyamar sama tenda. Kedua, modelnya harus sederhana tapi elegan. Nggak perlu banyak renda-renda. Ketiga, panjangnya harus pas. Jangan terlalu pendek, nanti dikira mau saingan sama pengantin. Jangan terlalu panjang, nanti kesandung-sandung."

Maya dan Sari hanya bisa mengangguk-angguk.

Mereka masuk ke beberapa butik. Maya mencoba berbagai dress. Mpok Ijah mengkritik setiap kali Maya keluar dari fitting room dengan komentar-komentar yang jujur—sangat jujur.

"Yang itu jelek. Kekecilan. Kelihatan lo kurus banget. Kayak orang kurang gizi."

"Yang ini muat, tapi warnanya kusam. Kayak kain lap."

"Wah, yang ini bagus! Lo cantik banget, Neng! Tapi mahal. Mpok liat harganya—2 juta?! Mending beli sayur 2 juta, bisa buat jualan sebulan."

"Yang ini modelnya jadul. Kayak baju ibu-ibu arisan."

"Yang ini terlalu terbuka. Nanti lo digosipin."

Maya mulai frustrasi. "Mpok, gue udah coba 10 baju. Belum ada yang cocok."

"Sabar, Neng. Mencari baju itu seperti mencari jodoh. Butuh proses. Butuh kesabaran. Butuh trial and error."

Akhirnya, di butik ke-5, mereka menemukannya.

Sebuah dress biru muda—tepatnya biru langit pagi—dengan potongan A-line sederhana, lengan panjang berbahan sifon transparan, dan detail renda halus di bagian pinggang. Panjangnya sampai mata kaki. Sederhana, elegan, sempurna.

"Ini dia!" Sari bertepuk tangan.

Mpok Ijah mengangguk puas. Matanya berkaca-kaca. "Nah, ini baru bener. Lo ingat, Neng, Mpok dulu punya butik. Mpok tahu baju bagus. Ini baju lo. Lo bakal jadi pusat perhatian, Neng. Tapi pusat perhatian yang sopan. Orang akan bilang, 'Wah, siapa cewek itu? Cantik banget, tapi nggak norak.'"

Maya memandangi dirinya di cermin. Dress itu pas di tubuhnya. Membuatnya terlihat anggun, dewasa, percaya diri. Ia tersenyum.

"Gue suka, Mpok."

"Syukurlah. Itu harga 1,5 juta. Masih bisa ditawar? Mpok tadi denger penjualnya bilang bisa kurang."

Sari langsung maju. "Biar gue yang nawar. Gue jago nawar. Dulu waktu beli sepatu, gue bisa nawar dari 500 jadi 300."

Mpok Ijah menggeleng. "Nggak usah, Neng. Biar Mpok. Mpok dulu juragan butik, tahu triknya."

Mpok Ijah maju ke kasir, berdiri tegak dengan gaya seorang pebisnis ulung. "Dek, ini bagus, tapi 1,5 juta kemahalan. 1,2 aja. Cash."

Penjualnya—gadis muda sekitar 20 tahun—terkejut. "Maaf, Bu, ini udah harga pas."

"Ah, masa? Mpok jualan baju 20 tahun. Tahu harga pasar. Bahan ini nggak mungkin sampe 1,5. Paling 800 ribu modalnya. Lo untung 400 ribu. Lumayan."

Penjualnya bingung. "Tapi Bu..."

"1,25. Deal? Lo untung, Mpok untung, Neng Maya untung. Win-win solution."

Penjualnya menyerah. "Baiklah, Bu. 1,25 juta."

Mpok Ijah tersenyum puas. "Nah, gitu dong."

Sari dan Maya hanya bisa terpana.

Malam harinya

Maya menelepon ibunya di Solo.

"Bu."

"Nduk, ada apa? Kok nelpon malem-malem? Biasanya lo nelpon hari Minggu."

"Aku mau ke Solo minggu depan, Bu."

"O, mau pulang? Ibu kangen. Kapan? Ibu masakin kesukaan lo. Ayam goreng, tahu telor, lodeh."

"Iya, Bu. Tapi aku ada acara."

"Acara apa?"

Maya diam sebentar. "Nikahan Arif. Resepsinya."

Hening di ujung telepon. Bu Rini tidak bersuara selama beberapa detik.

"Nduk... kamu yakin mau datang?"

"Ibu tahu dari mana?"

"Doni cerita sama Sari, Sari cerita sama Ibu. Ibu punya jaringan intelijen."

Maya tersenyum. "Ibu punya mata-mata ya."

"Ibu cuma khawatir. Kamu kuat?"

"InsyaAllah, Bu."

Bu Rini menghela napas panjang. "Nduk, Ibu mau bilang sesuatu. Kamu harus dengar."

"Iya, Bu."

"Arif itu bukan jodohmu. Kalau dia jodohmu, dia nggak akan pergi. Tapi dia pergi. Itu tanda bahwa Allah punya rencana lain. Rencana yang lebih baik. Mungkin sekarang lo belum lihat, tapi nanti."

"Aku tahu, Bu."

"Datanglah. Tersenyumlah. Beri mereka doa terbaik. Dan setelah itu, tutup buku. Mulai lembaran baru. Jangan terus-terusan di masa lalu."

Maya menangis. "Iya, Bu."

"Ibu bangga sama kamu, Nduk. Kamu hebat. Kamu kuat. Kamu bisa melewati ini."

"Makasih, Bu."

"Jaga diri di sana. Jangan lupa ibadah. Jangan lupa makan. Jangan lupa..."

"Iya, Bu. Aku sayang Ibu."

"Ibu juga sayang kamu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Dua hari sebelum berangkat

Maya mendapat pesan dari Doni.

Doni: May, gue dengar lo akan datang?
Maya: Iya. Siapa yang bilang?
Doni: Sari. Mulut ember. Lo nggak apa?
Maya: Gue baik-baik aja. Kok pada khawatir?
Doni: Wajar. Lo mantan. Datang ke nikahan mantan. Itu berat.
Maya: Gue harus nutup buku.
Doni: Gue dukung. Tapi lo tahu nggak, Arif minta gue bilang sesuatu?
Maya: (deg) Apa?
Doni: Dia minta maaf. Berkali-kali. Dan dia bilang, makasih lo mau datang.
Maya: Udah, nggak usah dibahas.
Doni: Oke. Tapi ingat, lo hebat. Lo kuat. Lo cantik. Dan lo pantas bahagia. Jangan pernah lupa itu.
Maya: Makasih, Don. Lo sahabat baik.
Doni: Sama-sama. Kalo butuh apa-apa di Solo, kabarin gue. Gue siap jadi supir, jadi bodyguard, jadi apa aja.
Maya: Siap.

Hari keberangkatan

Maya dan Sari naik kereta api pagi dari Stasiun Gambir. Perjalanan Jakarta-Solo sekitar 8 jam. Cukup lama untuk merenung, untuk mengingat, untuk mempersiapkan diri.

Di kereta, Maya banyak diam. Sari sesekali menggodanya, tapi tahu kapan harus diam. Ia bawa bekal risol 10 biji—untuk dimakan sepanjang perjalanan.

"Lo dari tadi diem aja. Mikirin apa?" tanya Sari akhirnya, sambil mengunyah risol ke-3.

"Mikirin masa lalu."

"Masih sakit?"

Maya menghela napas. "Udah nggak sesakit dulu. Tapi masih ada bekasnya. Kayak luka yang udah sembuh, tapi bekasnya masih kelihatan."

"Itu wajar. Lo sama dia 4 tahun. Masa 11 tahun kemudian lo masih sakit terus? Udah ah, move on."

"Lo ini nggak punya perasaan."

"Gue punya perasaan. Tapi gue juga realistis. Hidup harus jalan. Lo harus maju. Nggak bisa terus-terusan lihat ke belakang."

Maya tersenyum. Sari benar. Hidup harus jalan.

Sari menawarkan risol. "Mau?"

Maya mengambil satu. "Makasih."

"Nah, gitu dong. Makan risol, lupakan mantan."

Maya tertawa. "Bukan resep dokter."

"Resep Sari. Lebih manjur."

Tiba di Solo

Stasiun Solo Balapan ramai seperti biasa. Maya turun dari kereta, menghirup udara Solo yang berbeda dari Jakarta—lebih sejuk, lebih segar, lebih... nostalgia. Bau kopi dari warung stasiun, bau keringat para calo, bau rokok dari para perokok.

Di pintu keluar, seseorang melambai.

"Maya!"

Bu Rini. Ibu Maya. Meskipun sudah 65 tahun, ia masih energik. Rambutnya sudah memutih, jalannya sedikit membungkuk, tapi semangatnya masih seperti remaja.

"Ibu!" Maya memeluk ibunya erat. Mencium punggung tangan ibunya, seperti biasa.

Sari juga memeluk Bu Rini. "Bu, sehat?"

"Alhamdulillah, sehat. Yuk, pulang. Ibu masakin kesukaan kalian. Ayam goreng, tahu telor, lodeh."

"Asyik!" Sari berjingkrak. "Gue kangen masakan Ibu."

Di taksi menuju rumah, Maya memandangi kota Solo yang berlalu. Jalanan yang sama, bangunan yang sama—beberapa berubah, beberapa tetap. Kenangan-kenangan lama muncul silih berganti.

"Tenang, Nduk," bisik Bu Rini, memegang tangan Maya.

Maya tersenyum. "Aku tenang, Bu."

Rumah Maya, malam harinya

Maya duduk di kamar lamanya. Kamar ini tidak banyak berubah, masih sama seperti 12 tahun lalu. Ranjang, meja belajar, lemari, dan jendela yang menghadap ke belakang rumah. Dindingnya masih bercat hijau pudar, sama seperti dulu. Poster-poster lama masih menempel—beberapa sudah menguning.

Ia membuka laci meja belajar. Di dalamnya, ada kotak sepatu bekas yang sudah menguning. Kotak yang sama yang ia bawa ke Jakarta, lalu ia bawa pulang lagi.

Isinya: surat-surat Arif, foto-foto mereka, gelang biru yang sudah lusuh, dan sebuah cincin akar bahar.

Maya mengambil satu surat, membacanya. Surat pertama dari Kalimantan.

"May,

Di sini panas banget. Badan gue hitam kayak arang. Tapi gue nggak capek karena setiap pulang kerja, gue baca surat lo. Itu obat capek gue.

Gue kangen banget sama lo. Kangen makan lumpia bareng. Kangen denger lo marah-marah. Kangen semuanya.

Kangen,
Arif"

Maya tersenyum getir. Surat itu usianya 11 tahun. Rasanya baru kemarin.

Bu Rini masuk tanpa mengetuk—kebiasaan lama.

"Masih baca surat-surat itu?"

Maya mengangguk.

"Nduk, besok lo akan lihat dia. Siap?"

"InsyaAllah siap, Bu."

Bu Rini duduk di samping Maya. "Ibu bangga sama kamu. Kamu kuat. Kamu hebat. Ibu nggak tahu apa yang akan Ibu lakukan kalau di posisi lo."

"Aku nggak kuat, Bu. Aku cuma bertahan."

"Itu juga bentuk kekuatan. Bertahan di saat semua ingin menyerah."

Mereka berpelukan. Di luar, angin malam Solo berhembus pelan, membawa aroma bunga melati dari halaman tetangga.

BAGIAN VII

DI BAWAH TENDA BIRU

Maya bangun pukul 5 pagi. Ia tidak bisa tidur semalaman. Berguling-guling, memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Sesekali tertidur—mungkin 15 menit—lalu terbangun lagi dengan jantung berdebar seperti mau copot.

Pukul 7, Sari datang dengan tas besar berisi peralatan make up. Wajahnya segar, matanya berbinar. "Ayo, May! Kita dandan! Rias pengantin versi Maya! Kita bikin semua orang terpana!"

"Lo bawa make up segala? Ini berat, Sar."

"Ya iyalah. Masa lo mau datang polos-polos? Lo harus tampil beda. Ini panggung lo! Ini malam final lo! Ini oscar-nya lo!"

"Bukan malam, Sar. Pagi."

"Iya, pagi. Pagi final."

Sari merias Maya dengan telaten. Foundation, bedak, eyeshadow, eyeliner, maskara, lipstik—semua lengkap. Sari memang jago make up, hobinya sejak SMA. Dulu sering dimintai tolong teman-teman untuk acara wisuda.

"Selesai!" Sari memandang hasil karyanya dengan puas. "Cantik banget! Lo lihat sendiri."

Maya bercermin. Ia cantik. Make up Sari memang sempurna—natural, tidak menor, tapi membuat fitur wajahnya lebih menonjol. Tapi hatinya masih berdebar. Di cermin, ia melihat bayangan dirinya 15 tahun lalu, gadis SMA dengan jilbab merah muda yang jatuh cinta pada cowok culun di hari pertama sekolah.

"Lo siap?" tanya Sari.

Maya menarik napas dalam. "Siap."

Pukul 9.30

Maya, Sari, dan Bu Rini berangkat ke rumah Arif. Naik taksi karena Bu Rini tidak mau repot bawa motor. "Ibu mau lo tampil prima, Nduk. Nggak mau lo kusut di perjalanan."

Di perjalanan, Maya diam. Tangannya berkeringat. Ia memegang gelang biru di tangan kirinya—gelang yang dulu diberikan Arif, yang tidak pernah ia lepas selama 15 tahun.

Bu Rini menggenggam tangan putrinya. "Tenang, Nduk. Ibu di sini."

Di kejauhan, tenda biru mulai terlihat. Megah. Besar. Dengan ornamen bunga putih dan lampu-lampu gantung. Tenda itu memenuhi halaman rumah Arif yang dulu sederhana. Sekarang rumah itu sudah berubah—lebih besar, lebih megah, seperti rumah orang kaya.

Tenda biru.

Maya menarik napas dalam.

Mereka tiba di lokasi. Rumah Arif sudah berubah total. Halaman depan yang dulu sempit dan sederhana—cukup untuk parkir 2 motor—kini luas, sepertinya mereka membeli tanah tetangga untuk perluasan. Tenda biru megah berdiri di sana, mampu menampung ratusan tamu.

Lampu-lampu kristal bergantungan di langit-langit tenda. Bunga-bunga segar menghiasi setiap tiang—mawar putih, lily, dan baby breath. Kursi-kursi tamu tertata rapi, berlapis kain biru muda. Panggung pelaminan dihias mewah dengan gaya Jawa modern, memadukan ukiran kayu dan lampu-lampu temaram. Ada ornamen burung merak di sana-sini.

Maya berdiri di pintu masuk, memandangi semua itu. Tenda biru. Janji lama yang diwujudkan, tapi dengan perempuan lain.

"Masuk, yuk." Sari menggandengnya.

Mereka berjalan masuk. Para tamu sudah banyak yang datang. Maya melihat beberapa wajah kenalan—tetangga Arif, teman SMA, kerabat, beberapa guru SMA.

"Selamat datang, Bu Rini!" Bu Siti menyambut dengan hangat. Ia memeluk Bu Rini erat.

"Selamat ya, Siti. Bahagia sekali rasanya."

Bu Siti menoleh ke Maya. Matanya langsung berkaca-kaca. "Maya, Nak... kamu datang."

Maya tersenyum. "Iya, Bu. Selamat ya."

Bu Siti memeluk Maya. Pelukan hangat seorang ibu yang kehilangan menantu impian. "Maafin kami, Nak. Maafin Ibu."

Maya diam. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Pak Sumarjo tidak ada, ia sudah meninggal. Tapi Rizki, adik Arif, menghampiri. "Mbak Maya!"

Rizki sudah dewasa. Usianya 22 tahun, baru lulus kuliah. Tinggi, mirip Arif tapi lebih segar. Pakai kemeja batik, rambut disisir rapi.

"Rizki, gede banget! Terakhir lihat lo masih SD, sekarang udah gede."

"Iya, Mbak. Udah 11 tahun."

"Kuliah di mana?"

"UNS, Mbak. Teknik."

"Wah, pinter. Kerja di mana?"

"Di Jakarta, Mbak. Baru mulai. Kerja di perusahaan konstruksi."

Maya tersenyum. "Jakarta? Kita bisa ketemu di sana."

Rizki tersenyum lebar. "Mau dong, Mbak. Sekalian minta tolong dicariin kost. Saya butuh kost yang murah tapi bersih."

Banyak kenalan lain yang menyapa Maya. Teman-teman SMA—Budi, Lina, dan lainnya. Tetangga Arif yang dulu sering melihat Maya main ke rumah. Bahkan beberapa guru SMA yang diundang—Bu Widi dan Bu Dewi.

"May, lo cantik banget!" Budi memuji.

"Lo juga, Bud—eh, ganteng. Kurusan ya?"

Budi tertawa. "Gue mah gini-gini aja. Tambah tua, tambah botak. Udah mulai tipis rambut."

Lina menimpali, "Iya, May. Lo beda. Lebih dewasa. Lebih anggun."

"Makasih, Lin. Lo juga cantik."

Pukul 10.00, acara dimulai. Pembawa acara—selebriti lokal yang disewa mahal, dengan suara merdu dan gaya khas MC kondang—membacakan susunan acara.

"Bismillahirrahmanirrahim, acara akad nikah putra-putri kami akan segera dimulai. Mohon para tamu untuk mengambil tempat duduk masing-masing dan mematikan telepon genggam."

Para tamu hening, menanti pengantin.

Dan kemudian, Arif muncul.

Maya menarik napas. Jantungnya berhenti berdetak.

Arif berjalan perlahan menuju panggung, ditemani ibunya, Bu Siti, dan adiknya, Rizki. Ia mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih dan peci hitam. Wajahnya tampan, lebih matang dari 11 tahun lalu. Kumis dan jenggot tipis rapi. Badannya tegap, tidak lagi kurus seperti dulu. Matanya sayu, tapi tegar.

Matanya... matanya mencari.

Arif menatap kerumunan tamu. Matanya menyapu barisan kursi, mencari satu wajah yang ia tahu akan datang.

Dan ketika matanya bertemu dengan Maya, dunia serasa berhenti.

Di antara ratusan tamu, di bawah tenda biru yang megah, diiringi suara musik yang lembut, mereka saling bertatapan.

Ada ribuan kata yang tak terucap dalam tatapan itu. Ada penyesalan, ada cinta yang masih tersisa, ada rasa sakit yang tak terobati, ada harapan yang sudah mati.

Arif tersenyum tipis. Senyum yang sama seperti 15 tahun lalu, saat pertama kali mereka bertemu di halte.

Maya membalas senyum itu. Senyum yang mengatakan, "Aku ikhlas."

Hanya sesaat.

Lalu Arif melanjutkan langkah menuju panggung. Maya menunduk, menahan air mata yang menggenang.

"Lo kuat, May," bisik Sari.

Rina muncul. Cantik sekali. Gaun putihnya mewah—desainer terkenal, kata orang-orang—dengan hiasan payet dan kristal yang berkilauan. Riasannya sempurna, mahkota di kepalanya berkilau. Ia berjalan anggun, dituntun ayahnya menuju Arif.

Maya memandangi Rina. Wanita yang "merebut" Arif darinya. Ibu dari anak Arif. Istri sah Arif.

Tapi anehnya, Maya tidak benci.

Rina tersenyum pada para tamu. Senyum yang tulus. Ia melambaikan tangan kecil pada seseorang di kerumunan, mungkin anaknya, Rafa, yang duduk di barisan depan bersama pengasuhnya. Rafa melambai balik dengan semangat.

Akad nikah dimulai. Penghulu membacakan ijab kabul dengan suara lantang.

"Saya terima nikah dan kawinnya Rina Andriani binti Ahmad Dahlan dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan emas 20 gram dibayar tunai."

Arif mengucapkan kalimat itu dengan jelas. Mantap. Tidak ada ragu.

Maya menutup mata. Air matanya jatuh.

Sah. Arif sah menjadi suami Rina. Bukan milik Maya. Bukan untuk Maya.

Para tamu bertepuk tangan meriah. Ucapan selamat membanjir. Keluarga Arif dan Rina berpelukan bahagia.

Maya membuka mata. Ia tersenyum. Bukan senyum bahagia, tapi senyum pasrah. Senyum yang mengatakan, "Inilah akhirnya."

Setelah akad, acara dilanjutkan dengan resepsi. Para tamu dipersilakan memberi selamat kepada pengantin. Maya dan Sari tetap duduk di kursi mereka, tidak berniat mengantre. Bu Rini sedang ngobrol dengan Bu Siti.

Tapi tiba-tiba, seseorang mendekat. Rina. Ia berjalan langsung ke arah Maya dengan senyum ramah, meninggalkan Arif yang sedang melayani tamu.

"Maya?" Rina mengulurkan tangan.

Maya terkejut, tapi ia menjabat tangan itu. "Iya. Selamat ya."

"Makasih udah datang. Arif senang banget."

Maya tersenyum kaku. "Oh ya?"

"Iya. Dia cerita banyak tentang kamu. Aku tahu kalian dulu dekat. Maksudku, sangat dekat."

Maya tidak tahu harus berkata apa.

Rina melanjutkan, "Aku minta maaf. Bukan maksudku merebut atau apa. Tapi keadaan..."

"Nggak usah minta maaf." Maya memotong. "Ini takdir. Aku ikhlas. Sungguh."

Rina tersenyum. "Kamu kuat. Aku kagum. Kalau aku di posisi kamu, aku nggak tahu bisa sekuat ini."

Maya balas tersenyum. "Kamu juga kuat. Kamu bertahan dengan suami yang mungkin masih menyimpan rasa untuk orang lain."

Rina terkejut, lalu tersenyum getir. "Kamu tahu?"

"Aku tahu. Tapi aku juga tahu, kamu istri yang baik. Kamu ibu yang baik. Kamu berhak bahagia. Dan aku percaya, seiring waktu, Arif akan benar-benar mencintaimu dengan tulus."

"Makasih, Maya."

"Sama-sama. Jaga dia ya. Dia orang baik, hanya pernah membuat pilihan yang salah. Tapi sekarang, dia pilihanmu. Bahagiakan dia."

Rina mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku janji."

Tiba-tiba, Arif muncul di samping Rina. Ia memegang tangan istrinya, lalu menatap Maya.

"May, bisa ngobrol sebentar? Sendirian?"

Maya ragu. Rina tersenyum. "Aku tunggu di sana. Nggak apa-apa."

Arif dan Maya berjalan ke sisi tenda, agak jauh dari keramaian. Di bawah pohon mangga—pohon yang sama yang dulu menjadi saksi persahabatan mereka? Mungkin. Pohon itu sudah besar, rindang, berbuah lebat.

"Makasih udah datang."

"Iya."

"Lo cantik. Lebih cantik dari yang gue bayangkan."

Maya tersenyum getir. "Lo juga ganteng. Om udah gede."

Hening.

"Maaf, May. Untuk semuanya."

"Udah, Ar. Nggak usah minta maaf terus."

"Tapi..."

"Aku ikhlas. Sungguh. Mungkin butuh waktu 11 tahun, tapi akhirnya aku ikhlas."

Arif menatapnya. Matanya berkaca-kaca. "Aku nggak akan pernah lupa lo. Kamu bagian terindah dalam hidupku."

"Aku juga. Tapi kita harus lanjut hidup. Lo punya keluarga. Aku juga harus punya masa depan."

Arif mengangguk. "Lo bahagia?"

Maya memikirkan pertanyaan itu. Bahagia? Ia tidak tahu. Tapi ia baik-baik saja.

"Aku baik-baik aja, Ar. Itu cukup."

"May, aku mau bilang sesuatu."

"Apa?"

Arif merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sesuatu. Gelang biru. Gelang yang dulu ia berikan pada Maya, yang Maya lemparkan saat mereka putus.

"Lo masih simpan ini?"

Arif mengangguk. "Gue ambil waktu itu. Lo lempar, gue pungut. Gue simpan selama 11 tahun."

Maya terharu. "Ar..."

"Aku nggak pernah bisa buang ini. Ini pengingat bahwa aku pernah punya cinta sejati. Bahwa aku pernah bahagia."

Maya mengambil gelang itu. Dipandanginya lama. "Aku juga simpan punyaku. Nggak pernah lepas."

Arif tersenyum. "Kita sama-sama sentimental."

Maya tertawa kecil. "Iya."

"Mau gue balikin?"

Maya menggeleng. "Simpan aja. Biar lo ingat, dulu lo pernah mencintai dengan tulus."

"Tapi..."

"Simpan, Ar. Itu milik lo sekarang. Tapi aku mau minta satu hal."

"Apa?"

"Mulai hari ini, cintai Rina dengan sepenuh hati. Dia istri yang baik. Dia berhak mendapatkan cinta utuh darimu, bukan sisa-sisa cinta untukku."

Arif tertegun. "May..."

"Aku serius, Ar. Jangan biarkan masa lalu menghantuimu. Hidupmu sekarang bersama Rina dan Rafa. Beri mereka yang terbaik."

Arif mengangguk pelan. "Gue usahakan."

"Bukan diusahakan. Lakukan."

Arif tersenyum. "Lo masih suka ngatur."

"Kebiasaan lama."

Mereka tertawa kecil. Lalu hening.

"May, ada yang mau gue tanya."

"Apa?"

"Waktu itu... waktu gue milih Rina, apa lo benci sama gue?"

Maya diam sejenak, lalu menjawab jujur. "Benci? Iya, awalnya. Tapi lama-lama, gue sadar. Lo bukan jahat, Ar. Lo cuma takut. Takut kehilangan keluarga. Takut nggak bisa jadi anak yang berbakti. Takut gagal."

"Tapi gue gagal jadi pacar yang baik buat lo."

"Lo gagal jadi pacar, tapi lo berhasil jadi anak yang berbakti. Itu nggak salah. Cuma pilihan."

Arif menunduk. "Gue tetap salah."

"Mungkin. Tapi gue udah maafin. Dan yang lebih penting, lo harus maafin diri lo sendiri."

Arif mengangkat wajah. Air matanya jatuh. "Makasih, May."

Mereka berpelukan singkat. Bukan pelukan kekasih, tapi pelukan dua orang yang pernah saling memiliki dan kini harus melepaskan.

"Jaga dirimu, May."

"Lo juga. Bahagiakan keluargamu."

"Janji."

Maya berbalik dan berjalan meninggalkan Arif. Di tengah langkah, ia berhenti. Ia melepas gelang biru di tangannya—gelang yang selama 15 tahun tidak pernah ia lepas.

Ia kembali ke Arif, meraih tangan mantan kekasihnya, dan meletakkan gelang itu di telapak tangan Arif.

"Ini juga buat lo. Biar lo ingat, ada dua orang yang pernah saling mencinta. Dan biar lo nggak lupa, cinta pertama itu bukan untuk diratapi, tapi untuk dikenang sebagai pelajaran."

Arif menggenggam erat gelang itu. "Makasih."

Maya tersenyum. "Sekarang, balik ke istri lo. Dia nunggu."

Maya kembali ke kursinya. Sari dan Bu Rini menatapnya dengan cemas.

"Lo nggak apa-apa?" tanya Sari.

Maya tersenyum. Kali ini senyum tulus. "Gue baik-baik aja, Sar. Bahkan, gue merasa lebih baik dari sebelumnya."

Sari memeluknya. "Gue bangga sama lo, May."

Bu Rini mengusap punggung putrinya. "Nduk, Ibu bangga. Kamu hebat."

Maya memutuskan pulang sebelum acara selesai. Ia sudah cukup. Ia sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Ia sudah melihat akhir dari ceritanya dengan Arif.

Di pintu keluar, Maya menoleh sekali lagi. Memandangi tenda biru itu. Tenda megah dengan ribuan lampu dan bunga. Tenda yang menjadi simbol janji mereka 15 tahun lalu.

Tenda biru. Simbol harapan. Simbol janji. Simbol kehancuran. Dan kini, simbol pelepasan.

"Selamat tinggal, Arif. Selamat tinggal, masa lalu."

Mereka naik taksi menuju rumah. Di dalam taksi, Maya menangis. Bukan tangis histeris, tapi tangis lega. Tangis terakhir untuk Arif.

"Gue nangis yang terakhir, Sar. Habis ini, gue berhenti."

Sari memeluknya. "Iya, May. Habis ini lo mulai hidup baru."

BAGIAN VIII

BABAK BARU

Di kamarnya, malam harinya, Maya duduk sendirian. Tidak ada air mata. Tidak ada sesak. Hanya kelegaan yang aneh.

Ia mengambil kotak sepatu berisi kenangan. Surat-surat Arif. Foto-foto mereka. Cincin akar bahar.

Ia membaca satu per satu surat Arif. Surat pertama, surat kedua, surat terakhir. Ia tertawa membaca surat-surat lucu, ia tersenyum membaca surat-surat romantis.

"May,

Gue lagi di kebun. Panas banget. Tapi gue senyum-senyum sendiri inget lo. Lo tahu nggak, di sini ada pohon pisang. Gue jadi inget waktu lo cerita lo suka pisang goreng buatan Ibu lo. Kapan-kapan gue harus cobain.

Kangen.
Arif"

Maya tersenyum. "Makasih, Ar. Untuk semuanya."

Lalu, satu per satu, ia memasukkan kembali semua ke dalam kotak. Tapi kali ini, ada yang berbeda.

Ia mengambil spidol merah, menulis di tutup kotak:

"KENANGAN. TERIMA KASIH. TELAH DITUTUP."

Kotak itu ia letakkan di lemari, tidak lagi disembunyikan di bawah tumpukan baju. Ia biarkan terlihat, sebagai pengingat bahwa masa lalu tidak perlu dilupakan, hanya perlu diikhlaskan.

Maya kembali ke Jakarta naik kereta. Sendirian. Sari memilih tinggal seminggu di Solo untuk urusan keluarga—katanya mau bantu ibunya yang sedang sakit, tapi Maya curiga Sari cuma mau liburan.

Di kereta, Maya memandangi sawah-sawah yang berlalu. Pikirannya tenang. Dadanya ringan. Beban yang selama 11 tahun dipikulnya, hilang begitu saja.

Pesan masuk dari Sari.

Sari: May, lo gimana?
Maya: Baik. Tenang. Lega.
Sari: Nangis?
Maya: Udah. Sekarang nggak.
Sari: Bagus! Lo akhirnya move on!
Maya: Iya. Akhirnya. 11 tahun.
Sari: Better late than never. Love you, bestie!
Maya: Love you too.

Seminggu kemudian

Maya kembali ke rutinitasnya. Bekerja, pulang, tidur. Tapi ada yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Lebih bersemangat. Lebih hidup.

Di kantor, Mas Yono berkomentar, "May, lo beda. Lebih ceria. Ada angin apa?"

Maya tersenyum. "Nggak ada, Mas. Cuma lagi good mood."

"Good mood terus dong. Enak lihatnya."

Bu Wati menambahkan, "Iya, Maya. Lo cantik kalau senyum. Jangan suka murung."

"Iya, Bu."

Mbak Diah menyela, "May, lo lagi jatuh cinta ya?"

Maya tertawa. "Nggak, Mbak."

"Bohong. Orang jatuh cinta itu biasanya kelihatan dari senyumnya."

"Berarti saya lagi jatuh cinta sama hidup, Mbak."

Semua tertawa.

Suatu sore, pintu kontrakannya diketuk.

"Maya?" suara laki-laki di luar.

Maya membuka pintu. Seorang pria berdiri di sana. Tinggi, sekitar 175 cm, berkacamata, wajah ramah dengan senyum yang menawan. Usia sekitar 30-an. Pakai kemeja flanel, celana jeans, dan sepatu kets.

"Mas Dimas?"

Dimas adalah penulis yang naskahnya pernah Maya sunting setahun lalu. Mereka beberapa kali bertemu untuk diskusi naskah, lalu kehilangan kontak.

"Hei, May. Lama nggak jumpa."

"Iya, Mas. Lama. Kok bisa ke sini? Tahu alamat?"

"Sari yang kasih. Aku ketemu dia minggu lalu di Solo, katanya lo udah balik."

Maya mengerutkan kening. "Sari? Lo kenal Sari?"

"Dia temen SMA-ku juga. Satu angkatan, beda kelas. Tapi kenal. Kami satu ekskul dulu—ekskul teater."

Maya tertawa. "Dunia kecil ya."

"Iya." Dimas menunjukkan sebuah buku. "Ini, novel terbaruku. Udah terbit. Makasih ya atas editingnya dulu. Lo hebat banget."

Maya menerima buku itu. "Wah, makasih, Mas. Keren banget covernya. Masuk nominasi award?"

"Belum tahu. Masih berdoa."

"Masuk sini dulu."

Dimas masuk. Mereka mengobrol lama. Tentang buku, tentang kehidupan, tentang Jakarta. Dimas ternyata orangnya asyik, humoris, pintar, dan rendah hati. Ia juga jago bercerita.

"May, aku dengar lo habis dari Solo? Ada acara?"

Maya menghela napas. "Iya. Nikahan mantan."

"Oh... berat ya?"

"Udah. Udah lewat. Sekarang lega."

"Bagus. Berarti lo udah siap buka lembaran baru?"

Maya menatap Dimas. "Maksud Mas?"

Dimas tersipu. "Maksudku... kalau lo mau, kita bisa lebih sering ketemu. Nggak cuma urusan naskah. Mungkin... ngopi bareng? Makan bareng? Jalan-jalan? Nonton?"

Maya tersenyum. "Mas... ini PDKT?"

Dimas tertawa. "Iya, kalau lo mau. Aku nggak mau buru-buru. Tapi aku tertarik sama lo. Udah lama sebenarnya. Dari pertama kali lo edit naskahku."

Maya diam, mempertimbangkan.

"Lo nggak usah jawab sekarang," sambung Dimas. "Pikir dulu. Aku sabar. Aku bisa nunggu."

Hari-hari berikutnya, Dimas dan Maya makin dekat. Mereka sering bertemu untuk makan malam, nonton film, atau sekadar jalan-jalan di akhir pekan. Dimas orangnya sabar, pengertian, dan tidak pernah memaksa.

Dimas juga perhatian. Ia selalu mengingatkan Maya makan, selalu mengantar pulang, selalu ada saat Maya butuh teman curhat. Ia juga lucu—bisa membuat Maya tertawa dengan cerita-cerita konyolnya tentang dunia penulisan.

Sari tentu saja heboh.

"GILA, MAY! LO AKHIRNYA MAU PACARAN LAGI!" teriak Sari di telepon.

"Siapa bilang pacaran? Kita masih PDKT."

"Ya udah, PDKT. Tapi jelas-jelas lo suka sama dia. Gue lihat dari foto-foto lo di IG. Lo senyum-senyum sendiri."

"Biasa aja."

"Bohong! Lo senyum lebay! Kayak orang kesemsem!"

Maya tertawa. Sari tidak pernah berubah.

Reaksi Bu Rini

"Ibu, aku punya kabar."

"Apa, Nduk?"

"Aku... lagi deket sama orang. Namanya Dimas. Penulis."

Bu Rini di ujung telepon diam sejenak, lalu berteriak, "ALHAMDULILLAH! AKHIRNYA! Ibu kapan lihat? Kapan ke Solo? Kapan nikah?"

Maya tertawa. "Bu, baru PDKT. Jangan buru-buru."

"Ibu udah nunggu 11 tahun, Nduk. Ini nggak buru-buru. Ini sudah lama sekali."

Reaksi Mpok Ijah

Suatu pagi, Mpok Ijah lewat seperti biasa. Maya sedang di teras, menyiram tanaman.

"Neng, lo keliatan beda. Lebih cerah. Ada cowok ya?"

Maya tersipu. "Iya, Mpok. Lagi deket sama orang."

Mpok Ijah menghentikan gerobaknya. "Orang sini?"

"Bukan. Penulis. Namanya Dimas."

Mpok Ijah mengangguk-angguk. "Ganteng nggak?"

"Ganteng, Mpok."

"Kaya?"

"Biasa aja. Tapi baik. Dan rendah hati."

Mpok Ijah tersenyum puas. "Nah, itu yang penting. Baik. Hatinya baik. Jangan kayak yang dulu. Yang penting hatinya, bukan duitnya."

Maya tersenyum. "Iya, Mpok."

"Tapi Mpok tetap pantau. Kalau dia nakal, Mpok hajar pakai gayung. Atau pakai singkong."

Maya tertawa. "Siap, Mpok."

Suatu malam di kafe

Dimas dan Maya duduk di kafe langganan mereka di Kemang. Suasana romantis—lampu temaram, musik jazz pelan, aroma kopi yang wangi. Di luar, hujan gerimis.

"May, aku mau tanya sesuatu."

"Apa, Mas?"

"Lo udah siap buat serius?"

Maya diam.

"Aku serius sama lo. Bukan coba-coba. Bukan iseng. Kalau lo belum siap, aku tunggu. Tapi kalau lo siap, aku mau minta lo jadi pacar aku."

Maya tersentuh. "Mas..."

"Aku tahu lo punya masa lalu. Aku juga punya masa lalu. Tapi masa lalu nggak perlu jadi penghalang, kan?"

Maya menggenggam tangan Dimas. "Mas, aku siap. Tapi pelan-pelan ya. Jangan buru-buru."

Dimas tersenyum lebar. "Tentu. Aku jamin. Pelan-pelan, santai, nikmati proses."

Setahun kemudian

Dimas mengajak Maya ke sebuah restoran romantis di puncak gedung, dengan pemandangan Jakarta di malam hari. Lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang jatuh.

Maya sudah curiga. Dimas minta ia berdandan cantik. Sari datang membantu, dengan senyum misterius.

Di restoran, meja mereka dihiasi kelopak mawar merah. Lilin-lilin kecil menerangi suasana. Ada biola yang dimainkan seseorang di pojok ruangan.

Setelah makan malam yang lezat, Dimas meraih tangan Maya.

"May, aku mau tanya sesuatu."

Maya tahu ini saatnya. Jantungnya berdebar.

Dimas berlutut. Satu lutut. Di tangannya, sebuah kotak kecil terbuka, memperlihatkan cincin emas putih dengan berlian kecil.

"Maya Andriani, kamu mau nggak jadi pendamping hidupku? Menikah denganku? Menjalani sisa hidup bersama?"

Maya menangis. Air mata bahagia.

"Mau, Mas. Gue mau."

Dimas memakaikan cincin itu di jari manis Maya. Ukurannya pas. Para pengunjung restoran bertepuk tangan. Sari yang ternyata sudah bersembunyi di balik pilar, keluar sambil merekam dengan ponsel.

"YES! AKHIRNYA!" teriak Sari.

Maya dan Dimas menikah. Pernikahan sederhana di sebuah gedung pertemuan di Jakarta. Tidak megah, tapi hangat. Hanya dihadiri keluarga dan sahabat terdekat.

Dari Solo datang: Bu Rini (tentu saja), Sari dan suaminya Rian, Doni dan pacarnya—sekarang tunangannya, Budi dan Lina, bahkan Bu Siti dan Rizki.

Bu Siti memeluk Maya. "Selamat, Nak. Ibu bahagia lihat lo."

Maya tersenyum. "Makasih, Bu. Makasih udah datang."

"Arif titip salam. Dia nggak bisa datang, ada urusan. Tapi dia doain lo. Dia bilang, lo pantas bahagia."

Maya mengangguk. "Sampaikan makasih. Sampaikan juga, aku bahagia."

Bu Siti tersenyum haru. "Pasti, Nak."

Rizki juga datang. "Mbak Maya, cantik banget! Jadi pengantin."

"Makasih, Ki. Lo udah dapet kost di Jakarta?"

"Udah, Mbak. Deket kantor. Makasih rekomendasinya."

"Bagus. Nanti main ke rumah."

Dari Jakarta: Bu Tuti, Pak Karto, Bu Sri, Mas Bejo, Mpok Ijah, dan rekan-rekan kantor.

Mpok Ijah menangis. "Neng, lo bahagia ya. Mpok ikut bahagia."

Maya memeluknya. "Makasih, Mpok. Makasih udah jagain Maya selama ini."

Bu Tuti juga menangis. "Neng, lo kayak anak Ibu sendiri. Ibu bangga."

Pak Karto memberikan ikan hasil pancingannya—2 ekor gurame besar. "Ini, Neng. Buat lauk."

Mas Bejo memberi bakso 50 biji. "Buat stock, Neng."

Bu Sri memberi nasihat panjang lebar tentang bagaimana menjadi istri yang baik.

EPILOG

Langit Setelah Tenda Biru

Setahun kemudian

Maya dan Dimas duduk di balkon apartemen mereka di Jakarta Selatan. Apartemen kecil, tapi cukup untuk mereka bertiga. Ya, mereka bertiga.

Maya menggendong bayi perempuan mereka yang baru berusia 3 bulan. Namanya Arunika—fajar, cahaya pagi. Karena ia lahir saat matahari terbit, dan karena ia adalah cahaya baru dalam hidup Maya.

Arunika sedang tidur pulas di gendongan Maya. Wajahnya bulat, lucu, dengan rambut tipis ikal.

"Sayang, lo lihat langit?" Maya menunjuk ke barat, di mana langit senja mulai jingga. Matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung tinggi.

Dimas menoleh. "Iya. Cantik."

"Aku dulu pernah berjanji dengan seseorang di bawah tenda biru. Janji yang tidak pernah ditepati."

Dimas menggenggam tangannya. "Sekarang, kita punya janji baru."

Maya menatap suaminya. "Janji apa?"

Dimas mengecup keningnya, lalu mengecup kening Arunika. "Janji untuk selalu bersama. Sampai tua. Sampai rambut kita putih semua. Sampai anak kita punya anak. Sampai kita nggak bisa jalan, tapi masih bisa bergandengan tangan."

Maya tersenyum. "Janji."

Mereka berpelukan di bawah langit sore. Di kejauhan, di atas gedung-gedung tinggi, terlihat layang-layang mainan anak-anak.

Ponsel Maya bergetar. Pesan dari Sari.

Sari: May, lo lagi apa?
Maya: Lagi di balkon. Nikmatin senja.
Sari: Romantis amat. Sama Dimas?
Maya: Iya. Sama Arunika juga.
Sari: Masa kecil Arunika? Udah bisa lihat senja?
Maya: Dia lagi tidur sih. Tapi tetap, dia ikut menikmati.
Sari: Hahaha. May, gue mau ngasih tahu sesuatu.
Maya: Apa?
Sari: Rina hamil lagi. Anak kedua.
Maya: Oh ya? Bagus dong.
Sari: Lo nggak apa?
Maya: Sari, udah 2 tahun. Masa gue masih kepikiran? Gue punya suami yang luar biasa, anak yang lucu, hidup yang bahagia. Masa lalu udah lewat.
Sari: Iya, iya. Gue cuma ngecek.
Maya: Lo ini.
Sari: Oke, oke. Love you, bestie!
Maya: Love you too.

Maya meletakkan ponsel. Dimas menatapnya.

"Sari lagi?"

"Iya. Kasih kabar kalau Rina hamil lagi."

Dimas tersenyum. "Lo nggak apa?"

Maya menatap suaminya. "Mas, pertanyaan itu nggak perlu ditanya lagi. Masa laluku bersama Arif udah selesai. Sekarang, hidupku bersama lo dan Arunika."

Dimas tersenyum lega. "Makasih, Sayang."

"Makasih buat apa?"

"Makasih udah milih aku. Makasih udah mau membuka hati lagi. Makasih udah memberiku keluarga kecil yang indah."

Maya terharu. "Aku juga makasih, Mas. Lo adalah jawaban dari doa-doa yang selama ini aku panjatkan. Lo adalah bukti bahwa Allah selalu punya rencana yang lebih baik."

Mereka berpelukan. Arunika terbangun, mulai rewel. Maya tersenyum, menggendongnya lebih erat.

"Udah, udah, Nak. Ibu di sini."

Malam harinya, setelah Arunika tidur, Maya duduk di ruang tamu sendirian. Dimas sedang di dapur, membuatkan susu hangat untuknya.

Maya membuka lemari, mengeluarkan kotak sepatu lama dengan tulisan "KENANGAN. TERIMA KASIH. TELAH DITUTUP."

Ia membuka kotak itu. Surat-surat Arif, foto-foto mereka, cincin akar bahar. Semua masih ada.

Maya membaca satu surat terakhir, surat perpisahan Arif.

"May,

Maaf. Maaf untuk semuanya.

Gue harus nikah sama Rina. Bukan karena gue nggak sayang lo. Tapi karena keluarga gue butuh. Bapak gue butuh biaya berobat. Keluarga Rina bisa bantu.

Gue tahu lo sakit hati. Gue juga sakit hati. Tapi gue nggak punya pilihan.

Maafkan gue. Dan semoga lo bahagia.

Jangan pernah lupa, gue akan selalu sayang lo.

Arif"

Sekarang, membaca surat itu, Maya tidak lagi sakit hati. Ia hanya tersenyum.

"Makasih, Ar. Untuk semua kenangan indah. Untuk semua pelajaran berharga. Tanpa lo, mungkin aku nggak akan jadi aku yang sekarang. Tanpa lo, mungkin aku nggak akan menemukan Dimas. Tanpa lo, mungkin aku nggak akan sekuat ini."

Ia menutup kotak itu, mengembalikannya ke lemari.

Dimas masuk dengan dua gelas susu hangat. "Lagi ngapain, Sayang?"

"Lagi ngobrol sama masa lalu."

Dimas tersenyum. "Udah selesai?"

"Udah. Sekarang, aku mau ngobrol sama masa depan."

Dimas duduk di sampingnya, memberikan satu gelas susu. "Masa depan? Ngobrol tentang apa?"

Maya meminum susunya, lalu menatap suaminya. "Tentang kita. Tentang Arunika. Tentang anak kita yang kedua nanti. Tentang rumah yang lebih besar. Tentang liburan keluarga. Tentang..."

Dimas memotongnya dengan ciuman. "Pelan-pelan, Sayang. Kita punya waktu."

Maya tersenyum. "Iya. Kita punya waktu."

Pagi harinya

Maya bangun lebih awal. Dimas dan Arunika masih tidur nyenyak. Ia berjalan ke balkon, menikmati udara pagi.

Matahari terbit di ufuk timur. Jingga keemasan menyapa Jakarta yang mulai bangun.

Maya teringat tenda biru. Tenda yang menjadi saksi perpisahannya dengan Arif. Tenda yang menjadi penutup bab cinta pertamanya.

Sekarang, tenda itu hanya kenangan. Tidak menyakitkan lagi.

Ia memandangi cincin di jari manisnya. Cincin dari Dimas. Simbol cinta baru. Simbol masa depan.

Ia tersenyum.

Di bawah tenda biru yang runtuh, Maya menemukan langit baru yang lebih luas.

Dua tahun kemudian

Maya dan Dimas sekarang tinggal di rumah sederhana di pinggiran Jakarta. Rumah dengan halaman kecil tempat Arunika bermain. Rumah dengan dua kamar tidur, satu untuk mereka, satu untuk Arunika dan adiknya yang baru lahir—Arjuna, laki-laki kecil yang lahir seminggu lalu.

Suatu sore, Sari datang berkunjung. Ia membawa mainan untuk Arunika dan Arjuna—boneka untuk Arunika, mobil-mobilan untuk Arjuna.

"Wah, rumah lo makin betah aja," kata Sari, duduk di teras.

"Iya. Pelan-pelan, kita benahi."

"Anak lo dua. Suami lo baik. Pekerjaan lo mapan. Lo udah sampai, May."

Maya tersenyum. "Sampai? Hidup nggak pernah sampai, Sar. Hidup terus berjalan. Terus belajar. Terus tumbuh."

"Filosofis amat."

"Bukan filosofis. Cuma... sadar. Dulu, aku kira hidup berhenti setelah Arif ninggalin aku. Tapi ternyata, itu cuma awal."

Sari menggenggam tangan sahabatnya. "Gue bangga sama lo, May."

"Makasih, Sar. Lo juga. Kita sama-sama berjuang."

Mereka berpelukan. Di dalam rumah, Dimas sedang membuat kue untuk mereka—ia belajar baking sejak punya anak. Arunika berlarian dengan anjing peliharaan mereka—seekor golden retriever bernama Coklat. Arjuna tidur nyenyak di boksnya.

Maya tersenyum memandangi semua itu.

Hidup, pikirnya, seperti langit. Kadang mendung, kadang cerah, kadang hujan, kadang panas. Tapi selalu ada keindahan di balik semua itu.

Dan tenda biru? Ah, itu hanya kenangan. Kenangan yang pernah membuatnya menangis, tapi kini hanya membuatnya tersenyum.

Karena di balik setiap tenda biru yang runtuh, selalu ada langit baru yang menanti.

Beberapa bulan kemudian

Maya mendapat undangan pernikahan. Bukan dari Arif—itu sudah lewat. Tapi dari Doni. Doni akhirnya menikah dengan pacarnya yang sudah 5 tahun berpacaran.

Di pernikahan Doni, Maya bertemu banyak teman lama. Termasuk Arif dan Rina—yang datang bersama anak kedua mereka, seorang perempuan berusia 1 tahun.

Maya dan Arif bertemu di meja bufet.

"Hei, May." Arif tersenyum.

"Hei, Ar."

"Lo kelihatan bahagia."

"Aku memang bahagia. Lo?"

Arif menatap Rina yang sedang menggendong anak mereka, bercanda dengan Sari. "Aku juga bahagia. Akhirnya."

"Bagus."

"Makasih untuk omongan lo waktu itu. Tentang mencintai Rina sepenuh hati."

Maya tersenyum. "Sama-sama."

Mereka mengobrol sebentar tentang pekerjaan, tentang anak, tentang kehidupan. Lalu Maya pamit kembali ke meja, di mana Dimas sedang menunggu dengan Arunika di pangkuan.

"Kenalan lama?" tanya Dimas.

"Iya. Arif."

Dimas mengangguk. "Dia tampak baik."

"Dia memang baik."

Mereka tersenyum. Tidak ada cemburu. Tidak ada rasa sakit. Hanya penerimaan.

Malam harinya, di rumah, Maya duduk di teras sambil menikmati kopi. Dimas di sampingnya, memegang tangannya.

"Sayang," Maya memulai.

"Hm?"

"Aku mau bilang sesuatu."

"Apa?"

"Makasih udah menerima masa laluku. Makasih udah nggak cemburu. Makasih udah membuatku percaya lagi pada cinta."

Dimas mengecup keningnya. "Sayang, masa lalumu adalah bagian dari dirimu. Tanpa masa lalumu, kamu nggak akan jadi kamu yang sekarang. Dan aku mencintai kamu yang sekarang."

Maya tersenyum. Air matanya jatuh—tapi kali ini air mata bahagia.

"Aku juga mencintaimu, Mas."

Di langit, bintang-bintang bertaburan. Di kejauhan, terdengar suara azan Isya dari masjid dekat rumah.

Maya memejamkan mata, bersyukur.

Tenda biru telah runtuh. Tapi langit baru telah terbuka. Dan di langit itu, ia menemukan cinta yang sesungguhnya.

TAMAT

CATATAN PENULIS

Novel ini terinspirasi dari lagu "Tenda Biru" yang dipopulerkan oleh Desy Ratnasari. Lagu yang bercerita tentang cinta, janji, dan pernikahan yang tak kesampaian. Mendengarkan lagu itu, saya membayangkan seorang perempuan yang harus menyaksikan cinta pertamanya menikah dengan orang lain di bawah tenda biru—tenda yang dulu menjadi simbol janji mereka.

Dalam proses penulisan, saya mencoba menghidupkan tidak hanya tokoh utama, tapi juga tokoh-tokoh pembantu yang mewarnai kehidupan Maya dan Arif. Karena dalam kehidupan nyata, cinta tidak hanya tentang dua orang, tapi juga tentang keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, dan orang-orang di sekitar kita. Merekalah yang membuat hidup kita kaya, yang menghibur saat kita sedih, yang membuat kita tertawa saat kita butuh hiburan.

Saya juga ingin menunjukkan bahwa patah hati bukan akhir dari segalanya. Maya mengalami patah hati yang sangat dalam, tapi ia bangkit. Ia pindah ke kota baru, membangun karir, berteman dengan orang-orang baru, dan pada akhirnya menemukan cinta sejatinya. Butuh waktu 11 tahun, tapi ia berhasil.

Untuk semua yang pernah kehilangan cinta, untuk semua yang pernah dikecewakan janji, untuk semua yang pernah menangis di bawah tenda biru—kalian tidak sendiri. Teruslah berjalan. Suatu hari, kalian akan menemukan tenda biru kalian sendiri, atau mungkin langit baru yang lebih luas.

Terima kasih untuk semua yang telah membaca. Semoga novel ini menghibur sekaligus memberikan pelajaran tentang cinta, keikhlasan, dan kekuatan untuk melepaskan.

Salam hangat,

Slamet Riyadi
Sriwidadi, 17 Maret 2026

 

0 komentar:

Posting Komentar