DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari
Edisi III: Misteri di Balik Senja
EPISODE 6: MIMPI KAI MUDA
Malam itu, Kai Muda tidak bisa tidur.
Bukan karena sakit atau lapar. Tapi karena sesuatu yang
aneh mengganggu pikirannya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang
datang dalam bentuk... mimpi.
Kai Muda terbaring di bawah pohon beringin besar di Lembah
Harapan—tempat favoritnya sejak kecil. Biasanya, ia bisa tidur nyenyak ditemani
suara jangkrik dan gemericik sungai. Tapi malam ini, setiap kali memejamkan
mata, gambaran-gambaran aneh muncul.
Api. Kobaran api besar menjilat pepohonan. Kawanan kancil
berlarian panik. Suara jeritan memilukan. Dan di tengah semua itu, sesosok
bayangan hitam berdiri, tertawa.
Kai Muda terbangun dengan napas tersengal-sengal. Tubuhnya
gemetar. Bulu-bulunya berdiri.
Ia memandang sekeliling. Hutan masih tenang. Api tidak ada.
Kawanannya tidur dengan damai di sekitar lembah. Semua baik-baik saja.
Tapi mengapa mimpi itu terasa begitu nyata?
Pagi harinya, Kiano—anak Kai Muda yang kini semakin dewasa
dan mulai sering menggantikan tugas ayahnya—melihat keganjilan pada sang ayah.
Kai Muda duduk sendirian di tepi sungai, memandangi air
tanpa benar-benar melihat. Matanya sayu, tatapannya kosong. Padahal biasanya di
pagi hari, Kai Muda selalu bersemangat memimpin kawanannya mencari makan.
"Ayah?" Kiano mendekat, menjilati wajah ayahnya.
"Ayah kenapa?"
Kai Muda menoleh. Matanya menerawang. "Kiano... Ayah
bermimpi aneh semalam."
"Mimpi?"
"Iya. Mimpi tentang api. Tentang kematian. Tentang...
bencana."
Kiano mengerutkan kening. Sebagai kancil muda, ia tidak
terlalu percaya pada mimpi. Tapi melihat kegelisahan ayahnya, ia jadi ikut
cemas.
"Mungkin hanya mimpi biasa, Ayah. Lupakan saja."
"Ayam harap begitu. Tapi Kiano... Ayah sudah hidup
lama. Ayah tahu, kadang mimpi adalah peringatan. Dulu, kakekmu Kai pernah
bermimpi sebelum kemarau panjang datang. Dan itu terjadi."
Kiano diam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Ayah ingin kau panggil Raka dan teman-temannya. Ayah
harus bicara dengan mereka."
Raka sedang sarapan ketika Kiano datang ke rumahnya. Kiano
tidak pernah datang ke desa sendirian. Ini pasti ada sesuatu yang penting.
"Kiano? Ada apa?" tanya Raka kaget.
Kiano menarik-narik ujung baju Raka dengan mulutnya,
seperti mengajak pergi.
"Lo mau ajak gue ke hutan?"
Kiano menggerakkan telinganya cepat—tanda setuju.
Raka segera mengambil handy talkie-nya. "Wati, Bejo,
ke markas cepat! Kiano datang ke rumah gue. Sepertinya ada yang darurat."
Sepuluh menit kemudian, mereka bertiga berkumpul di markas.
Kiano sudah lebih dulu sampai, duduk gelisah di depan pintu.
"Ada apa, Kiano?" tanya Wati sambil mengelus
kepalanya.
Kiano bangkit dan berjalan ke arah hutan. Menoleh, mengajak
ikut.
"Ayo. Pasti ada sesuatu."
Mereka mengikuti Kiano masuk ke hutan, melewati titik
Beringin, menyusuri sungai, hingga sampai di Lembah Harapan. Di tepi sungai,
Kai Muda duduk dengan tenang. Tapi begitu melihat mereka, matanya langsung
berbinar.
Raka berlutut di hadapan Kai Muda. "Kai Muda, ada apa?
Kiano menjemput kami dengan tergesa-gesa."
Kai Muda menatap Raka lama. Lalu, dengan bahasa tubuh yang
sudah mereka pahami selama bertahun-tahun, ia mulai bercerita.
"Ayahku bermimpi," terjemah Kiano dengan gerakan
tubuhnya—ia belajar dari ayahnya cara berkomunikasi dengan manusia. "Mimpi
tentang api besar. Tentang hutan terbakar. Tentang kawanan kami mati."
Raka, Wati, dan Bejo saling pandang. Ini serius.
"Api?" tanya Wati. "Tapi musim hujan baru
saja lewat. Tidak mungkin kebakaran."
"Itu yang membuat Ayahku bingung. Api dalam mimpinya
bukan merah, tapi biru. Dan muncul dari dalam tanah."
"Api biru? Dari dalam tanah?" Bejo mengerutkan
kening. "Aneh banget."
Raka diam. Pikirannya bekerja cepat. Api biru... dari dalam
tanah... ia pernah membaca sesuatu tentang itu.
Kembali di desa, Raka tak bisa diam. Ia terus memikirkan
mimpi Kai Muda.
"Aku harus mencari tahu," katanya pada Wati dan
Bejo. "Aku ingat pernah baca sesuatu tentang api biru di buku perpustakaan
sekolah dulu."
Mereka bertiga pergi ke perpustakaan desa—sebuah bangunan
kecil di samping balai desa, berisi buku-buku sumbangan dan koleksi pribadi
warga.
Raka mencari di rak-rak buku. Matanya menyusuri satu per
satu judul. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah buku tua bersampul cokelat
dengan judul: "Fenomena Alam Nusantara".
"Ini dia!" serunya.
Ia membuka halaman demi halaman. Wati dan Bejo ikut membaca
di sampingnya.
"Lihat!" Raka menunjuk sebuah halaman. Di sana
ada foto api berwarna biru yang menyembur dari celah-celah tanah. Judulnya:
"Api Abadi Mrapen—Keajaiban Alam di Jawa Tengah".
Tapi itu bukan yang mereka cari. Raka terus membaca.
Halaman berikutnya membahas tentang fenomena gas alam yang
bisa terbakar. Api biru muncul ketika gas metana dari dalam tanah terbakar.
Bisa terjadi di daerah rawa, bekas tambang, atau daerah dengan aktivitas
vulkanik.
"Tapi hutan kita bukan rawa, bukan bekas tambang, juga
bukan daerah vulkanik," kata Wati.
Raka membaca paragraf terakhir. Matanya membelalak.
"Di daerah dengan kandungan gas alam tinggi, kebocoran
gas bisa menyebabkan api biru muncul dari dalam tanah. Dan gas itu... tidak
berbau, tidak berwarna, tapi bisa mematikan kalau terhirup dalam jumlah
banyak."
Bejo merinding. "Maksud lo, di bawah hutan kita ada
gas?"
"Mungkin. Dan kalau itu benar, dan gasnya bocor... itu
bisa membunuh hewan-hewan."
Mereka segera kembali ke Lembah Harapan menemui Kai Muda. Raka
menjelaskan temuannya dengan bantuan Kiano sebagai penerjemah.
"Kai Muda, dalam mimpi Ayah, di mana persisnya api itu
muncul?"
Kai Muda memejamkan mata, mengingat. Lalu dengan hidungnya,
ia menunjuk ke arah timur laut—ke daerah yang belum pernah mereka jelajahi.
"Di sana. Daerah dekat tebing merah."
"Tebing Merah?" Wati mengerutkan kening.
"Aku pernah dengar nama itu dari Pak Jarwo. Katanya tempat itu angker,
nggak boleh dimasukin."
"Kenapa?"
"Katanya tanahnya panas. Banyak uap panas keluar dari
celah-celah batu."
Raka tersentak. "Uap panas? Itu tanda aktivitas
geothermal! Mungkin benar di bawah tanah ada aktivitas vulkanik."
Mereka memutuskan untuk segera ke Tebing Merah. Tapi Kai
Muda melarang.
"Jangan malam ini," katanya lewat Kiano.
"Hari sudah sore. Kalian akan terjebak gelap di hutan. Besok pagi, Ayah
akan antar kalian."
Pagi-pagi benar, Tim Detektif Remaja sudah siap. Mereka
membawa perlengkapan lengkap: tali, senter, masker (kalau-kalau ada gas), air
minum, makanan, handy talkie, dan tentu saja buku catatan Raka.
Pak Jarwo ikut serta setelah mendengar penjelasan mereka.
"Ini serius," kata Pak Jarwo. "Kalau benar
ada kebocoran gas, kita harus cepat bertindak. Bisa membahayakan seluruh
hutan."
Kai Muda memimpin perjalanan. Meski sudah tua, ia masih
kuat berjalan jauh. Kiano ikut di sampingnya, sesekali membantu ayahnya
melewati medan berat.
Perjalanan ke Tebing Merah memakan waktu hampir tiga jam.
Medannya semakin sulit. Tanah berbatu, banyak jurang, dan udaranya semakin
panas.
"Ini dia," kata Pak Jarwo sambil menunjuk ke
depan.
Di hadapan mereka, terbentang tebing batu besar berwarna
kemerahan. Dari celah-celah batu, terlihat uap-uap putih mengepul. Bau belerang
menyengat hidung.
Mereka mengamati tebing itu dari kejauhan. Raka
mengeluarkan buku catatannya dan mulai menggambar sketsa.
"Lihat, dari celah-celah itu keluar uap,"
katanya. "Itu tanda panas bumi. Tapi yang lebih mengkhawatirkan..."
Ia berhenti, matanya tertuju pada sesuatu di dasar tebing.
Di sana, terlihat beberapa bangkai hewan. Kancil. Mungkin
dua atau tiga ekor. Mereka tergeletak tidak jauh dari celah-celah yang
mengeluarkan uap.
"Ya Tuhan..." bisik Wati.
Mereka mendekat dengan hati-hati. Pak Jarwo memeriksa
bangkai-bangkai itu.
"Mereka mati baru-baru ini. Mungkin beberapa hari
lalu. Tidak ada luka fisik. Kemungkinan besar keracunan gas."
Raka merinding. "Gasnya tidak berbau, tidak berwarna.
Mereka tidak sadar sampai terlambat."
Kai Muda memandangi bangkai kawanannya dengan mata
berkaca-kaca. Ia menundukkan kepala, memberi penghormatan terakhir.
Kiano mendekat, ikut menunduk.
Pak Jarwo mengamati celah-celah tebing dengan saksama.
"Gas ini bisa keluar kapan saja. Mungkin karena tekanan dari dalam bumi.
Ini fenomena alam, bukan karena ulah manusia."
"Tapi ini berbahaya," kata Raka. "Kawanan
kancil bisa mati kalau terus-terusan lewat sini."
"Kita harus menutup akses ke sini," kata Wati.
"Buat pagar atau penghalang. Dan pasang peringatan."
"Tapi hutan ini luas. Kancil bisa lewat mana
saja," bantah Bejo.
Kai Muda tiba-tiba bersuara. Kiano menerjemahkan.
"Ayahku bilang, kawanan kami sudah tahu daerah ini
berbahaya. Mereka sudah lama tidak ke sini. Tapi yang mati ini mungkin kancil
dari kelompok lain, yang tersesat."
"Kelompok lain? Ada kawanan kancil lain di hutan
ini?"
"Sepertinya begitu. Ayah bilang dulu ada kelompok lain
di bagian timur. Tapi mereka menghilang setelah kebakaran besar dulu. Mungkin
ini keturunannya."
Mereka memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut. Mengikuti
jejak kancil-kancil yang mati, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Di balik tebing merah, ada lembah kecil yang tersembunyi.
Dan di lembah itu, hidup sekelompok kancil. Bukan kelompok Kai Muda. Kelompok
lain, dengan ciri fisik sedikit berbeda—lebih kecil, bulunya lebih gelap.
"Itu... kancil!" seru Bejo.
Kelompok kancil itu melihat mereka, tapi tidak lari. Mereka
hanya diam, menatap dengan rasa ingin tahu.
"Mereka tidak takut pada manusia," kata Wati.
"Berarti mereka belum pernah bertemu pemburu."
"Ini penemuan luar biasa," kata Raka.
"Populasi kancil di hutan ini ternyata lebih besar dari yang kita
kira."
Tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Pak Jarwo
menunjuk ke arah tebing di belakang lembah.
Di sana, retakan baru terlihat di dinding tebing. Uap putih
mengepul lebih deras dari tempat lain.
"Itu... retakan baru. Mungkin gas akan keluar lebih
banyak."
Mereka sadar, kelompok kancil itu dalam bahaya besar. Kalau
retakan itu melebar, gas bisa menyebar ke seluruh lembah dan membunuh semua.
Kai Muda segera bertindak. Dengan bantuan Kiano, ia
berkomunikasi dengan kelompok kancil lain itu. Awalnya mereka ragu, tapi
setelah melihat ketegasan Kai Muda, mereka mulai mengikuti.
Tim Detektif Remaja membantu memandu evakuasi. Pak Jarwo
memberi aba-aba. Mereka memindahkan seluruh kelompok—sekitar 20 ekor kancil—ke
tempat yang lebih aman di dekat Lembah Harapan.
Perjalanan panjang dan melelahkan. Tapi akhirnya, semua
selamat.
Sesampainya di Lembah Harapan, kedua kelompok kancil itu
bergabung. Awalnya ada sedikit ketegangan, tapi Kai Muda dengan bijaksana
mempersatukan mereka.
Malam harinya, Tim Detektif Remaja duduk di titik Beringin
bersama Kai Muda, Kiano, dan beberapa kancil dari kelompok baru.
Kai Muda menatap Raka dengan mata penuh syukur.
"Terima kasih," katanya lewat Kiano. "Kau
percaya pada mimpiku. Kau selamatkan mereka."
Raka tersenyum. "Kai Muda, mimpimu adalah peringatan
dari alam. Kita harus selalu mendengarnya."
Wati menambahkan, "Kita akan pantau terus tebing merah
itu. Kalau ada tanda-tanda bahaya, kita akan evakuasi lagi."
Bejo mengelus kepala kancil kecil dari kelompok baru.
"Hei, kecil. Lo punya rumah baru sekarang. Jangan nakal, ya."
Kancil kecil itu menjilati tangan Bejo.
Raka memandang langit malam yang bertabur bintang.
"Alam selalu punya cara untuk memberi peringatan. Kadang lewat mimpi,
kadang lewat tanda-tanda kecil. Kita harus peka."
Kai Muda menggerakkan telinganya setuju.
Malam itu, di Lembah Harapan, dua kelompok kancil hidup
berdampingan. Ancaman dari tebing merah masih ada, tapi untuk sementara, mereka
aman.
Dan Kai Muda... Kai Muda tidur nyenyak untuk pertama
kalinya setelah berminggu-minggu. Mimpinya kali ini bukan tentang api, tapi
tentang padang rumput hijau yang luas, tempat semua kancil bermain dengan
damai.
BERSAMBUNG KE EPISODE 7:
KEDATANGAN MANTAN






0 komentar:
Posting Komentar