Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 18 Maret 2026

Detektif Remaja Bojong Sari Episode 8: Perasaan yang Tak Terungkapkan

 

DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI

Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari

Edisi III: Misteri di Balik Senja


EPISODE 8: PERASAAN YANG TAK TERUNGKAPKAN

Pagi itu, Raka terbangun dengan perasaan aneh. Ia duduk di tepi tempat tidur, mencoba mengingat mimpinya semalam. Wajah Wati muncul dalam ingatannya. Wati tersenyum, memandangnya dengan hangat. Raka menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan bayangan itu.

"Gue kenapa, sih?" gumamnya.

Ia turun ke bawah untuk sarapan. Bu Tani sudah menyiapkan nasi goreng kesukaannya. Tapi Raka tidak berselera. Makannya hanya setengah piring.

"Ra, kamu sakit?" tanya Bu Tani khawatir.

"Nggak, Bu. Cuma... nggak lapar."

Bu Tani mengamati anaknya. Sebagai ibu, ia tahu ada yang tidak beres. Tapi ia tidak ingin memaksa.

"Kalau ada masalah, cerita sama Ibu, ya."

Raka mengangguk, tapi tidak menjawab.

Di markas, Wati juga merasakan hal yang sama. Ia duduk termenung memandangi buku catatannya, tapi pikirannya melayang ke Raka.

"Ti, lo kenapa?" Bejo datang dengan sepiring pisang goreng. "Dari tadi diem aja."

"Nggak apa-apa, Jo."

" Bohong. Lo nggak pernah diem kalau nggak ada masalah."

Wati menghela napas. "Gue... gue mikirin Raka."

Bejo berhenti mengunyah. "Raka? Kenapa?"

"Nggak tahu. Akhir-akhir ini dia aneh. Jarang ngomong. Kalau diajak ketawa, cuma senyum tipis."

Bejo diam. Ia juga merasakan perubahan pada Raka. Tapi ia tidak ingin berpikir macam-macam.

"Mungkin dia lagi banyak pikiran, Ti. Biasa, tugas banyak."

"Mungkin. Tapi rasanya beda."

Mereka bertiga pergi ke hutan seperti biasa. Ronda rutin ke titik-titik air dan memeriksa kondisi kawanan kancil. Tapi suasana berbeda. Tidak ada canda tawa. Tidak ada obrolan ringan. Mereka berjalan dalam keheningan yang canggung.

Kiano menyambut mereka di titik Beringin. Ia mengendus-endus Raka, lalu Wati, lalu Bejo. Matanya tampak bertanya-tanya.

"Hei, Kiano," sapa Raka datar.

Kiano menjilati tangan Raka, lalu menatapnya lama. Seperti membaca sesuatu.

"Kiano ngapain diem-diem gitu?" tanya Bejo.

"Dia kayak... ngerti ada yang nggak beres," kata Wati.

Kiano mendekati Wati, lalu kembali ke Raka. Ia bergerak di antara mereka, seperti mencoba menyatukan.

"Kiano, lo mau apa?" tanya Raka.

Kiano hanya diam, menatap mereka bergantian.

Sore harinya, mereka bertiga duduk di tepi sungai Lembah Harapan. Suasana sunyi. Hanya suara air mengalir dan kicauan burung yang terdengar.

Raka memandangi Wati diam-diam. Wati yang sedang memandangi sungai, tidak sadar diperhatikan. Cahaya matahari sore menyinari wajahnya, membuatnya tampak bersinar.

Jantung Raka berdebar. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahnya terasa kelu.

Bejo melihat itu. Ia tahu. Ia tahu perasaan Raka. Dan ia juga tahu perasaannya sendiri. Tapi ia tidak ingin merusak persahabatan mereka.

"Gue... gue mau ngomong sesuatu," Raka akhirnya membuka suara.

Wati menoleh. "Apa, Ra?"

Raka menarik napas dalam-dalam. "Gue... gue..."

"Ra, jangan," potong Bejo tiba-tiba.

Mereka berdua menatap Bejo.

"Jo, lo kenapa?" tanya Wati.

Bejo menggeleng. "Nggak. Gue... gue aja yang ngomong. Ti, Ra... gue suka sama Wati. Udah lama."

Wati terkejut. Raka terdiam.

"Gue tahu Raka juga suka sama Wati," lanjut Bejo. "Tapi gue nggak mau perasaan ini rusak persahabatan kita. Jadi... gue mundur."

Bejo berdiri dan pergi meninggalkan mereka.

Wati dan Raka hanya bisa terdiam. Mereka tidak menyangka Bejo akan bertindak seperti itu.

"Ra... ini gila," bisik Wati.

Raka menghela napas panjang. "Ti... gue juga harus jujur. Gue suka sama lo."

Wati menatap Raka. Matanya berkaca-kaca.

"Gue tahu ini mungkin nggak tepat. Kita tim. Kita sahabat. Tapi gue nggak bisa bohong."

Wati diam. Hatinya bergejolak. Selama ini ia juga merasakan sesuatu pada Raka, tapi ia selalu menekannya.

"Ra... gue..."

"Lo nggak usah jawab sekarang, Ti. Gue cuma ingin lo tahu."

Raka berdiri dan pergi ke arah yang berbeda, meninggalkan Wati sendirian di tepi sungai.

Kiano yang sejak tadi mengamati dari kejauhan, mendekati Wati. Ia duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di pundaknya.

"Kiano... gue bingung."

Kiano menjilati tangannya. Matanya berkata, "Ikuti hatimu."

"Tapi hati gue juga bingung. Suka sama Raka, tapi nggak mau sakiti Bejo."

Kiano diam, hanya menemani.

Wati menangis. Menangis di pundak Kiano, sahabatnya yang tak bisa bicara tapi selalu mengerti.

Bejo berjalan tanpa arah. Ia masuk ke dalam hutan, tidak peduli jalur mana yang ia lewati. Kepalanya panas, dadanya sesak.

"Gue bodoh!" teriaknya pada pohon-pohon. "Gue tahu dari awal! Tapi gue diem aja!"

Ia memukul batang pohon dengan tangannya. Sakit. Tapi itu tidak sebanding dengan sakit hatinya.

Tiba-tiba, ia mendengar suara gemerisik. Dari balik semak, muncul seekor kancil. Bukan Kiano, tapi salah satu kawanannya.

Kancil itu mendekat, menatap Bejo dengan mata tenang. Lalu menjilati tangannya yang terluka.

"Lo... lo nggak takut sama gue?"

Kancil itu hanya diam, terus menjilati luka di tangan Bejo.

Bejo tersenyum tipis. "Makasih."

Malam harinya, Raka, Wati, dan Bejo masing-masing di tempat sendiri. Mereka tidak bertemu, tidak berkomunikasi. Handy talkie mereka diam.

Raka duduk di teras rumahnya, memandangi langit malam. Ia memikirkan Wati, memikirkan Bejo. Persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil, kini terancam oleh perasaan yang tak terkendali.

"Gue egois," bisiknya.

Di rumahnya, Wati juga tidak bisa tidur. Ia memandangi batu kecil pemberian Kiano, yang selalu ia simpan di dekat tempat tidurnya.

"Maafin gue, Kiano. Gue bikin semuanya runyam."

Bejo duduk di pos ronda dekat hutan, ditemani beberapa kancil yang setia. Ia mengelus kepala mereka satu per satu.

"Kalian nggak pernah punya masalah kayak gue, ya? Hidup kalian sederhana. Cari makan, jaga keluarga, tidur."

Kancil-kancil itu hanya diam, setia menemani.

Keesokan harinya, mereka bertemu di markas seperti biasa. Tapi suasana sangat canggung. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan.

Wati datang paling awal. Ia membersihkan markas, merapikan buku-buku, meski sudah rapi.

Raka datang berikutnya. Ia hanya duduk di kursi dekat jendela, tidak menatap Wati.

Bejo datang paling akhir. Ia membawa tiga bungkus nasi goreng.

"Ini... sarapan," katanya pelan.

Mereka makan dalam keheningan. Tidak ada yang bicara. Hanya suara sendok yang terdengar.

Kiano datang ke markas bersama Kai Muda. Ini pertama kalinya Kai Muda datang ke desa sejak lama.

Semua terkejut. Kai Muda sudah sangat tua, jarang berjalan jauh. Pasti ada sesuatu yang penting.

Kai Muda duduk di depan mereka. Matanya yang bijaksana menatap satu per satu. Lalu dengan bantuan Kiano, ia mulai berbicara.

"Ayahku ingin bilang," Kiano memulai, "bahwa persahabatan kalian seperti akar pohon beringin. Kuat, dalam, dan saling terhubung. Jangan biarkan angin sesaat merobohkannya."

Raka, Wati, dan Bejo diam.

"Ayahku juga bilang, cinta itu seperti air sungai. Mengalir, kadang deras, kadang tenang. Tapi sungai tidak pernah marah pada anak sungainya. Mereka tetap bersama menuju laut."

Kai Muda menatap mereka bergantian. Matanya berkata, "Kalian lebih kuat dari ini."

Setelah Kai Muda dan Kiano pergi, mereka bertiga duduk diam cukup lama. Hening. Tapi kali bukan hening yang canggung, tapi hening yang merenung.

Raka akhirnya membuka suara. "Gue mau minta maaf. Gue udah egois."

Bejo menggeleng. "Bukan salah lo, Ra. Gue juga."

Wati menatap mereka berdua. "Gue juga salah. Harusnya dari dulu gue bilang."

"Bilang apa?" tanya Raka.

Wati menarik napas panjang. "Gue juga suka sama Raka. Tapi gue nggak mau sakiti Bejo. Jadi gue diem aja."

Bejo tersenyum pahit. "Gue tahu, Ti. Gue tahu dari awal."

Mereka bertiga diam lagi.

"Jadi... kita gimana?" tanya Raka.

Bejo berpikir. "Kita tetap sahabat. Seperti dulu. Perasaan itu... biar waktu yang jawab."

Wati mengangguk. "Setuju."

Raka tersenyum. "Makasih, Jo. Makasih, Ti."

Mereka bertiga berpelukan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, suasana hangat kembali.

Sore harinya, mereka pergi ke Lembah Harapan. Kiano dan Kai Muda sudah menunggu.

"Kalian baikan?" tanya Kiano dengan bahasa tubuh.

Raka mengangguk. "Iya. Makasih, Kiano. Makasih, Kai Muda."

Kai Muda menggerakkan telinganya, puas.

Mereka duduk bersama di tepi sungai, ditemani kawanan kancil. Suasana damai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Bejo tiba-tiba tertawa. "Gila, kita hampir bubar gara-gara perasaan."

Wati ikut tertawa. "Iya. Padahal masalahnya kecil."

Raka memandang mereka. "Karena kita terlalu memikirkan diri sendiri. Lupa kalau kita punya tanggung jawab besar di sini."

Mereka memandang ke arah hutan yang luas. Hutan Manoreh, rumah bagi ribuan makhluk, tempat mereka mengabdi.

"Ke depan, kita harus lebih dewasa," kata Wati.

"Setuju. Perasaan boleh ada, tapi jangan sampai ganggu misi," tambah Bejo.

Raka tersenyum. "Dan kita akan selalu bersama. Apapun yang terjadi."

Kiano mendekat, menyandarkan kepalanya di tengah-tengah mereka. Empat sahabat, berbeda spesies, tapi satu hati.

Malam itu, dalam perjalanan pulang, mereka bertiga berjalan dalam keheningan yang damai. Bukan keheningan yang canggung, tapi keheningan yang menenangkan.

"Gue belajar sesuatu hari ini," kata Raka.

"Apa?" tanya Wati.

"Cinta itu seperti hutan. Kalau kita serakah, kita akan merusaknya. Tapi kalau kita bijak, dia akan memberi kehidupan."

Bejo mengangguk. "Gue juga belajar. Bahwa sahabat itu lebih berharga dari apapun."

Wati tersenyum. "Gue belajar, kadang diam lebih baik daripada bicara. Tapi kadang bicara lebih baik daripada diam."

Mereka tertawa bersama. Di bawah sinar bulan, tiga sahabat berjalan pulang, dengan hati yang lebih ringan.

Keesokan paginya, mereka kembali ke Lembah Harapan. Kai Muda sedang duduk di tepi sungai, memandangi air yang mengalir.

Mereka duduk di sampingnya.

"Kai Muda, makasih sudah mengingatkan kami," kata Raka.

Kai Muda menatapnya. Matanya berkata, "Kalian adalah keluarga bagiku. Aku hanya ingin kalian bahagia."

Wati mengelus kepala Kai Muda. "Kami akan selalu bersama. Janji."

Kiano datang bergabung. Ia duduk di samping ayahnya.

Mereka semua diam, menikmati pagi yang damai. Hutan Manoreh tenang, kawanan kancil bermain di kejauhan, dan persahabatan mereka semakin kuat.

Minggu-minggu berikutnya, hubungan mereka kembali normal. Bahkan lebih baik dari sebelumnya. Mereka lebih terbuka, lebih saling memahami, dan lebih dewasa dalam menyikapi perasaan.

Raka dan Wati tetap dekat, tapi tidak memaksa. Bejo tetap ceria seperti biasa, tidak ada lagi beban di hatinya.

Kiano dan Kai Muda sering menemani mereka. Hutan Manoreh terjaga dengan baik. Program konservasi berjalan lancar. Desa Bojong Sari semakin maju.

Suatu sore, di titik Beringin, mereka bertiga duduk bersama Kiano.

"Kita sudah melalui banyak hal," kata Wati.

"Iya. Dari kecil sampai sekarang."

"Dan masih banyak yang harus kita lakukan."

Raka memandang ke arah hutan. "Hutan ini masih punya banyak rahasia. Dan kita akan terus menjaganya."

Kiano menggerakkan telinganya setuju.

Bejo tiba-tiba berdiri. "Gue lapar. Makan yuk!"

Mereka tertawa. Bejo tetap Bejo, tidak berubah.

Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan terus bersemi. Tantangan datang silih berganti, tapi mereka selalu siap. Karena mereka adalah Detektif Remaja Bojong Sari—penjaga hutan, pelindung satwa, dan sahabat alam selamanya.


BERSAMBUNG KE EPISODE 9: BENCANA DI MUSIM HUJAN

 


Detektif Remaja Bojong Sari Episode 7: Kedatangan Mantan

 

DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI

Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari

Edisi III: Misteri di Balik Senja


EPISODE 7: KEDATANGAN MANTAN

Pagi itu, desa Bojong Sari dikejutkan oleh kedatangan sebuah mobil mewah berwarna hitam mengilap. Mobil itu berhenti tepat di depan balai desa, membuat warga yang sedang beraktivitas berhenti dan memandang dengan rasa ingin tahu.

Dari dalam mobil, turun seorang pemuda berusia sekitar 18 tahun. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memakai kemeja putih dan celana bahan mahal. Ia memandangi desa dengan tatapan campuran antara nostalgia dan sedikit meremehkan.

"Masih begini-begini saja," gumamnya.

Pak Kades yang kebetulan sedang di balai desa, keluar menyambut. "Selamat pagi, Nak. Ada perlu apa?"

Pemuda itu tersenyum. "Selamat pagi, Pak Kades. Apa Bapak tidak kenal saya? Saya Doni. Doni Pratama. Anaknya Pak Carik."

Pak Kades terkejut. "Doni?! Yang pindah ke Jakarta tujuh tahun lalu?"

"Iya, Pak. Saya pulang."

Kabar kepulangan Doni menyebar cepat. Warga mulai berdatangan ke balai desa, ingin melihat anaknya Pak Carik yang dulu pergi merantau ke Jakarta.

Pak Carik sendiri—yang kini semakin tua dan rambutnya hampir seluruhnya putih—berlari terhuyung-huyung begitu mendengar kabar itu. Matanya berkaca-kaca.

"Doni... Nak... kamu pulang?"

Doni menatap ayahnya dengan senyum tipis. "Iya, Yah. Saya pulang."

Pak Carik memeluknya erat-erat. "Ayah kangen banget sama kamu, Nak. Ibu juga. Kenapa lama banget nggak pulang-pulang?"

"Sibuk, Yah. Jakarta sibuk."

Tapi Raka, yang mengamati dari kejauhan, merasakan ada yang aneh. Pelukan Doni terasa kaku. Matanya tidak menunjukkan kehangatan. Seperti ia terpaksa pulang.

Sore harinya, Tim Detektif Remaja berkumpul di markas. Raka masih memikirkan sikap Doni tadi pagi.

"Gue curiga sama dia," kata Raka.

"Curiga? Emangnya kenapa?" tanya Bejo.

"Gue nggak tahu. Tapi matanya... dingin. Nggak seperti orang yang kangen kampung halaman."

Wati mengangguk. "Aku juga lihat. Dia memandang desa ini dengan tatapan... meremehkan. Seperti desa kita ini kampungan."

Bejo mengangkat bahu. "Mungkin dia udah kebiasaan hidup mewah di Jakarta. Wajar kalau lihat desa kita sederhana."

"Bukan itu, Jo. Lebih dari itu. Kayak ada maksud lain di balik kepulangannya."

Handy talkie mereka berderak. Suara Pak Jarwo terdengar. "Anak-anak, kalian di markas? Ada yang mau ketemu kalian."

" Siapa, Pak?"

"Doni. Anaknya Pak Carik. Katanya mau kenalan."

Mereka bertiga saling pandang. "Suruh datang ke sini, Pak."

Doni datang dengan senyum lebarnya. Ia melihat markas sederhana itu dengan tatapan agak meremehkan.

"Wah, ini markas kalian? Sederhana sekali. Di Jakarta, markas organisasi biasanya gedung-gedung bertingkat."

Raka tersenyum tipis. "Kami di sini sederhana, Mas Doni. Tapi cukup untuk kegiatan kami."

Doni duduk di kursi bambu tanpa dipersilakan. "Gue dengar kalian ini terkenal, ya? Tim Detektif Remaja Bojong Sari. Sering masuk berita. Sampai di Jakarta juga gue dengar."

"Syukurlah kalau begitu," kata Wati datar.

"Gue juga dengar kalian punya program konservasi kancil. Keren, ya. Gue pengen lihat langsung. Bisa?"

Raka, Wati, dan Bejo saling pandang. Ada sesuatu di nada suara Doni yang membuat mereka tidak nyaman. Tapi bagaimana bisa menolak anaknya Pak Carik?

"Boleh," kata Raka akhirnya. "Besok pagi kami ke hutan. Mas Doni bisa ikut."

Keesokan paginya, mereka bertemu di titik Beringin. Doni datang dengan pakaian hiking mahal dan sepatu gunung bermerek. Di pinggangnya, terselip pisau lipat yang tampak mahal.

"Wah, perlengkapan Mas Doni lengkap," komentar Bejo.

"Biasa. Di Jakarta gue sering ikut ekspedisi. Gue anggota pecinta alam di kampus."

Raka mengerutkan kening. "Mas Doni kuliah di mana?"

"UI. Jurusan Biologi. Ambil konsentrasi konservasi."

Tim Detektif Remaja terkejut. Doni ternyata punya latar belakang yang relevan. Tapi kenapa selama ini tidak pernah pulang?

Sepanjang perjalanan di hutan, Doni menunjukkan pengetahuannya yang luas. Ia bisa menyebut nama-nama ilmiah tumbuhan, mengenali jejak hewan, bahkan menemukan tanaman langka yang selama ini luput dari perhatian mereka.

"Ini Anggrek Hitam," katanya sambil menunjuk sekuntum bunga. "Langka. Dilindungi. Kalian tahu?"

Mereka menggeleng. Jujur, mereka tidak tahu.

Sesampainya di Lembah Harapan, Kiano dan beberapa kancil lain menyambut mereka. Tapi reaksi Kiano terhadap Doni berbeda.

Kiano mendekat, mengendus-endus Doni dengan waspada. Bulu di punggungnya sedikit berdiri. Matanya tajam, tidak ramah seperti biasanya saat bertemu manusia.

"Hei, kancilnya galak, ya?" komentar Doni sambil mundur selangkah.

"Kiano biasanya ramah," kata Wati heran. "Kiano, kenapa?"

Kiano menatap Wati, lalu kembali menatap Doni dengan curiga. Ia menggeram pelan—hal yang tidak pernah dilakukan kancil.

"Maaf, Mas Doni. Mungkin Kiano belum kenal," kata Raka sambil menenangkan Kiano.

Tapi Raka tahu, insting Kiano tidak pernah salah. Ada sesuatu tentang Doni yang membuat Kiano tidak percaya.

Saat Doni asyik memotret pemandangan Lembah Harapan dengan kamera canggihnya, Wati menarik Raka dan Bejo ke samping.

"Lo lihat reaksi Kiano?" bisik Wati.

"Iya. Aneh banget."

"Kiano nggak pernah begitu sama orang baru. Bahkan sama Pak Jarwo dulu, langsung akrab."

Bejo menambahkan, "Gue curiga. Jangan-jangan Doni..."

Tapi mereka tidak bisa melanjutkan karena Doni sudah kembali.

"Tempat ini indah sekali," kata Doni dengan senyum lebar. "Kalian hebat bisa menjaga tempat seperti ini."

Malam harinya, Tim Detektif Remaja mengadakan rapat di markas. Mereka membahas Doni dan keanehan-keanehan yang mereka lihat.

"Pertama, kenapa dia baru pulang sekarang, setelah tujuh tahun?" buka Raka.

"Kedua, reaksi Kiano," tambah Wati. "Hewan punya insting. Kiano tidak suka sama dia."

"Ketiga," Bejo ikut bicara, "dia terlalu pintar. Terlalu tahu banyak tentang hutan. Kayak... udah pernah ke sini sebelumnya."

Raka diam. Itu poin yang menarik. Doni hafal betul jalur-jalur di hutan, padahal katanya baru pertama kali pulang setelah tujuh tahun.

"Gue punya firasat buruk," kata Raka akhirnya. "Kita harus awasi dia."

Keesokan harinya, Pak Carik datang ke markas dengan wajah bingung. Di tangannya, ia memegang sebuah map cokelat.

"Nak Raka, ini aku nemu di kamar Doni. Waktu aku bersih-bersih, map ini jatuh dari tasku."

Raka membuka map itu. Isinya membuatnya terkejut.

Dokumen-dokumen tentang Hutan Manoreh. Peta-peta detail dengan tanda-tanda khusus. Data populasi kancil. Foto-foto Lembah Harapan. Dan yang paling mengerikan... daftar harga jual kancil di pasar gelap.

"Ini... ini dokumen illegal," bisik Raka.

Pak Carik terkejut. "Apa maksudmu, Nak?"

"Pak Carik, maaf saya harus bertanya. Doni... dia kerja apa sebenarnya di Jakarta?"

Pak Carik menghela napas. "Sejujurnya... aku nggak tahu, Nak. Dia jarang cerita. Yang jelas, dia hidup mewah. Punya mobil, punya uang banyak. Katanya kerja di perusahaan konservasi."

Raka, Wati, dan Bejo saling pandang. Perusahaan konservasi? Atau sindikat penjualan hewan langka?

Malam harinya, Tim Detektif Remaja mendatangi rumah Pak Carik. Doni sedang duduk di teras, memandangi langit malam.

"Mas Doni, kami perlu bicara," kata Raka tegas.

Doni menoleh. Senyumnya masih terpasang. "Ada apa, adik-adik?"

Raka menunjukkan map itu. "Ini kami temukan di kamar Mas. Mau jelaskan?"

Wajah Doni berubah. Senyumnya menghilang, berganti ekspresi dingin.

"Kalian bongkar barang-barang gue?"

"Bukan kami. Bapak Mas yang nemu waktu bersih-bersih."

Doni diam. Matanya menyipit.

"Mas Doni, kami tahu ini data tentang hutan kami. Tentang kancil-kancil kami. Dan ini... daftar harga jual. Mas mau jual kancil kami?"

Doni tertawa dingin. "Dasar anak kampung. Lo pikir gue mau jual? Ini buat penelitian."

"Penelitian? Penelitian apa yang butuh daftar harga jual?"

Doni berdiri. Tingginya lebih dari Raka. Ia memandang mereka dengan tatapan meremehkan.

"Denger, ya. Gue nggak perlu jelasin apa-apa ke kalian. Urusan gue urusan gue. Kalian nggak berhak interogasi gue."

Tiba-tiba, Pak Carik keluar dari rumah. "Doni! Jangan kasar sama mereka!"

Doni menatap ayahnya dengan dingin. "Yah, lo juga. Jangan ikut campur. Lo nggak tahu apa-apa tentang hidup gue di Jakarta."

Keesokan harinya, Pak Jarwo datang dengan informasi mengejutkan. Ia baru saja dihubungi kenalan lamanya di Jakarta.

"Anak-anak, gue dapet info. Doni itu bukan pegawai perusahaan konservasi. Dia anggota jaringan Bos Gito."

Raka, Wati, dan Bejo terkejut. Bos Gito? Jaringan yang dulu mencoba mencuri kano?

"Iya. Bos Gito punya banyak anak buah. Doni salah satunya. Dia dikirim ke sini untuk memetakan hutan dan mencari titik-titik strategis untuk penangkapan kancil."

"Berarti kepulangannya ke sini... bukan karena kangen, tapi karena misi?"

"Tepat."

Tim Detektif Remaja merinding. Selama ini mereka hampir tertipu. Doni berpura-pura baik, padahal mata-mata.

Mereka segera melapor ke Pak Kades. Pak Kades memanggil Pak Carik dan Doni ke balai desa. Warga berkumpul, ingin tahu apa yang terjadi.

Doni datang dengan wajah dingin. Ia sudah tahu semuanya terbongkar.

"Doni, apa benar kamu anggota jaringan Bos Gito?" tanya Pak Kades tegas.

Doni diam. Lalu tersenyum sinis. "Iya. Memangnya kenapa?"

Pak Carik terkejut. "Doni! Kamu... kamu..."

"Maaf, Yah. Hidup di Jakarta keras. Butuh uang. Banyak uang. Dan jaringan ini bayar mahal."

Raka maju. "Mas Doni, Mas tahu nggak apa yang diperbuat jaringan ini? Mereka jual hewan langka ke luar negeri. Mereka bikin punah satwa Indonesia."

Doni tertawa. "Itu urusan mereka. Gue cari uang."

Wati tidak bisa menahan emosi. "Dasar nggak punya hati! Pak Carik baik banget sama Mas, tapi Mas tega ngelakuin ini!"

Doni menatap Wati dengan dingin. "Diam, lo. Anak kampung."

Pak Kades berdiri. "Doni, kamu harus pergi dari desa ini. Sekarang juga. Kami tidak mau ada mata-mata di sini."

Pak Carik menangis. "Doni... Nak... maafkan Ayah. Ayah gagal mendidik kamu."

Doni memandang ayahnya sebentar. Lalu berbalik dan pergi tanpa pamit.

Setelah kepergian Doni, suasana desa kembali tenang. Tapi ada luka yang tersisa, terutama di hati Pak Carik. Ia merasa gagal sebagai ayah.

Raka, Wati, dan Bejo sering menjenguk Pak Carik. Mereka mencoba menghiburnya.

"Pak, ini bukan salah Bapak," kata Raka. "Doni sudah dewasa. Dia punya pilihan sendiri."

"Tapi sebagai ayah, aku seharusnya..."

"Pak, yang penting sekarang Bapak fokus sama diri Bapak. Jaga kesehatan. Jangan terlalu dipikirin."

Pak Carik tersenyum tipis. "Kalian baik banget, Nak. Makasih."

Sore harinya, Tim Detektif Remaja pergi ke Lembah Harapan. Kiano menyambut mereka dengan hangat.

"Kiano, lo tahu, kan? Orang itu jahat," kata Raka sambil mengelus kepala Kiano.

Kiano menggerakkan telinganya. Matanya berkata, "Aku tahu dari awal. Aku bisa mencium niat jahatnya."

"Makasih, Kiano. Lo yang buat kami curiga."

Mereka duduk bersama di tepi sungai, menikmati sore yang damai. Kawanan kancil bermain di sekitar mereka.

Wati memandang Kiano. "Hewan itu punya insting yang lebih tajam dari manusia. Mereka bisa merasakan siapa yang baik dan siapa yang jahat."

Bejo mengangguk. "Makanya kita harus belajar dari mereka."

Raka tersenyum. "Persahabatan kita dengan Kiano dan kawanannya bukan hanya soal menjaga hutan. Tapi juga saling melindungi."

Minggu-minggu berikutnya, kehidupan di Bojong Sari kembali normal. Tidak ada lagi mata-mata. Tidak ada lagi ancaman dari dalam. Warga semakin kompak menjaga desa dan hutan mereka.

Pak Carik perlahan pulih dari kesedihannya. Ia lebih sering ikut kegiatan konservasi, seolah menebus dosa anaknya.

Tim Detektif Remaja terus menjalankan tugas mereka. Kiano tetap setia menemani. Kai Muda, meski semakin tua, masih sesekali ikut memantau.

Suatu sore, di titik Beringin, mereka bertiga duduk bersama Kiano. Matahari senja memancarkan cahaya keemasan.

"Kita sudah melalui banyak hal," kata Wati.

"Iya. Dari kecil sampai sekarang."

"Dan kita masih bersama."

Bejo tersenyum lebar. "Karena kita sahabat. Sahabat sejati nggak akan pernah pisah."

Kiano menggerakkan telinganya setuju.

Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan terus bersemi. Tantangan datang silih berganti, tapi mereka selalu siap. Karena mereka adalah Detektif Remaja Bojong Sari—penjaga hutan, pelindung satwa, dan sahabat alam selamanya.


BERSAMBUNG KE EPISODE 8: PERASAAN YANG TAK TERUNGKAPKAN