DETEKTIF REMAJA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Cilik Bojong Sari
Edisi III: Misteri di Balik Senja
EPISODE 8: PERASAAN YANG TAK TERUNGKAPKAN
Pagi itu, Raka terbangun dengan perasaan aneh. Ia duduk di
tepi tempat tidur, mencoba mengingat mimpinya semalam. Wajah Wati muncul dalam
ingatannya. Wati tersenyum, memandangnya dengan hangat. Raka menggelengkan
kepala, berusaha menghilangkan bayangan itu.
"Gue kenapa, sih?" gumamnya.
Ia turun ke bawah untuk sarapan. Bu Tani sudah menyiapkan
nasi goreng kesukaannya. Tapi Raka tidak berselera. Makannya hanya setengah
piring.
"Ra, kamu sakit?" tanya Bu Tani khawatir.
"Nggak, Bu. Cuma... nggak lapar."
Bu Tani mengamati anaknya. Sebagai ibu, ia tahu ada yang
tidak beres. Tapi ia tidak ingin memaksa.
"Kalau ada masalah, cerita sama Ibu, ya."
Raka mengangguk, tapi tidak menjawab.
Di markas, Wati juga merasakan hal yang sama. Ia duduk
termenung memandangi buku catatannya, tapi pikirannya melayang ke Raka.
"Ti, lo kenapa?" Bejo datang dengan sepiring
pisang goreng. "Dari tadi diem aja."
"Nggak apa-apa, Jo."
" Bohong. Lo nggak pernah diem kalau nggak ada
masalah."
Wati menghela napas. "Gue... gue mikirin Raka."
Bejo berhenti mengunyah. "Raka? Kenapa?"
"Nggak tahu. Akhir-akhir ini dia aneh. Jarang ngomong.
Kalau diajak ketawa, cuma senyum tipis."
Bejo diam. Ia juga merasakan perubahan pada Raka. Tapi ia
tidak ingin berpikir macam-macam.
"Mungkin dia lagi banyak pikiran, Ti. Biasa, tugas
banyak."
"Mungkin. Tapi rasanya beda."
Mereka bertiga pergi ke hutan seperti biasa. Ronda rutin ke
titik-titik air dan memeriksa kondisi kawanan kancil. Tapi suasana berbeda.
Tidak ada canda tawa. Tidak ada obrolan ringan. Mereka berjalan dalam
keheningan yang canggung.
Kiano menyambut mereka di titik Beringin. Ia
mengendus-endus Raka, lalu Wati, lalu Bejo. Matanya tampak bertanya-tanya.
"Hei, Kiano," sapa Raka datar.
Kiano menjilati tangan Raka, lalu menatapnya lama. Seperti
membaca sesuatu.
"Kiano ngapain diem-diem gitu?" tanya Bejo.
"Dia kayak... ngerti ada yang nggak beres," kata
Wati.
Kiano mendekati Wati, lalu kembali ke Raka. Ia bergerak di
antara mereka, seperti mencoba menyatukan.
"Kiano, lo mau apa?" tanya Raka.
Kiano hanya diam, menatap mereka bergantian.
Sore harinya, mereka bertiga duduk di tepi sungai Lembah
Harapan. Suasana sunyi. Hanya suara air mengalir dan kicauan burung yang
terdengar.
Raka memandangi Wati diam-diam. Wati yang sedang memandangi
sungai, tidak sadar diperhatikan. Cahaya matahari sore menyinari wajahnya,
membuatnya tampak bersinar.
Jantung Raka berdebar. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi
lidahnya terasa kelu.
Bejo melihat itu. Ia tahu. Ia tahu perasaan Raka. Dan ia
juga tahu perasaannya sendiri. Tapi ia tidak ingin merusak persahabatan mereka.
"Gue... gue mau ngomong sesuatu," Raka akhirnya
membuka suara.
Wati menoleh. "Apa, Ra?"
Raka menarik napas dalam-dalam. "Gue... gue..."
"Ra, jangan," potong Bejo tiba-tiba.
Mereka berdua menatap Bejo.
"Jo, lo kenapa?" tanya Wati.
Bejo menggeleng. "Nggak. Gue... gue aja yang ngomong.
Ti, Ra... gue suka sama Wati. Udah lama."
Wati terkejut. Raka terdiam.
"Gue tahu Raka juga suka sama Wati," lanjut Bejo.
"Tapi gue nggak mau perasaan ini rusak persahabatan kita. Jadi... gue
mundur."
Bejo berdiri dan pergi meninggalkan mereka.
Wati dan Raka hanya bisa terdiam. Mereka tidak menyangka
Bejo akan bertindak seperti itu.
"Ra... ini gila," bisik Wati.
Raka menghela napas panjang. "Ti... gue juga harus
jujur. Gue suka sama lo."
Wati menatap Raka. Matanya berkaca-kaca.
"Gue tahu ini mungkin nggak tepat. Kita tim. Kita
sahabat. Tapi gue nggak bisa bohong."
Wati diam. Hatinya bergejolak. Selama ini ia juga merasakan
sesuatu pada Raka, tapi ia selalu menekannya.
"Ra... gue..."
"Lo nggak usah jawab sekarang, Ti. Gue cuma ingin lo
tahu."
Raka berdiri dan pergi ke arah yang berbeda, meninggalkan
Wati sendirian di tepi sungai.
Kiano yang sejak tadi mengamati dari kejauhan, mendekati
Wati. Ia duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di pundaknya.
"Kiano... gue bingung."
Kiano menjilati tangannya. Matanya berkata, "Ikuti
hatimu."
"Tapi hati gue juga bingung. Suka sama Raka, tapi
nggak mau sakiti Bejo."
Kiano diam, hanya menemani.
Wati menangis. Menangis di pundak Kiano, sahabatnya yang
tak bisa bicara tapi selalu mengerti.
Bejo berjalan tanpa arah. Ia masuk ke dalam hutan, tidak
peduli jalur mana yang ia lewati. Kepalanya panas, dadanya sesak.
"Gue bodoh!" teriaknya pada pohon-pohon.
"Gue tahu dari awal! Tapi gue diem aja!"
Ia memukul batang pohon dengan tangannya. Sakit. Tapi itu
tidak sebanding dengan sakit hatinya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gemerisik. Dari balik semak,
muncul seekor kancil. Bukan Kiano, tapi salah satu kawanannya.
Kancil itu mendekat, menatap Bejo dengan mata tenang. Lalu
menjilati tangannya yang terluka.
"Lo... lo nggak takut sama gue?"
Kancil itu hanya diam, terus menjilati luka di tangan Bejo.
Bejo tersenyum tipis. "Makasih."
Malam harinya, Raka, Wati, dan Bejo masing-masing di tempat
sendiri. Mereka tidak bertemu, tidak berkomunikasi. Handy talkie mereka diam.
Raka duduk di teras rumahnya, memandangi langit malam. Ia
memikirkan Wati, memikirkan Bejo. Persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil,
kini terancam oleh perasaan yang tak terkendali.
"Gue egois," bisiknya.
Di rumahnya, Wati juga tidak bisa tidur. Ia memandangi batu
kecil pemberian Kiano, yang selalu ia simpan di dekat tempat tidurnya.
"Maafin gue, Kiano. Gue bikin semuanya runyam."
Bejo duduk di pos ronda dekat hutan, ditemani beberapa
kancil yang setia. Ia mengelus kepala mereka satu per satu.
"Kalian nggak pernah punya masalah kayak gue, ya?
Hidup kalian sederhana. Cari makan, jaga keluarga, tidur."
Kancil-kancil itu hanya diam, setia menemani.
Keesokan harinya, mereka bertemu di markas seperti biasa.
Tapi suasana sangat canggung. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan.
Wati datang paling awal. Ia membersihkan markas, merapikan
buku-buku, meski sudah rapi.
Raka datang berikutnya. Ia hanya duduk di kursi dekat
jendela, tidak menatap Wati.
Bejo datang paling akhir. Ia membawa tiga bungkus nasi
goreng.
"Ini... sarapan," katanya pelan.
Mereka makan dalam keheningan. Tidak ada yang bicara. Hanya
suara sendok yang terdengar.
Kiano datang ke markas bersama Kai Muda. Ini pertama
kalinya Kai Muda datang ke desa sejak lama.
Semua terkejut. Kai Muda sudah sangat tua, jarang berjalan
jauh. Pasti ada sesuatu yang penting.
Kai Muda duduk di depan mereka. Matanya yang bijaksana
menatap satu per satu. Lalu dengan bantuan Kiano, ia mulai berbicara.
"Ayahku ingin bilang," Kiano memulai, "bahwa
persahabatan kalian seperti akar pohon beringin. Kuat, dalam, dan saling
terhubung. Jangan biarkan angin sesaat merobohkannya."
Raka, Wati, dan Bejo diam.
"Ayahku juga bilang, cinta itu seperti air sungai.
Mengalir, kadang deras, kadang tenang. Tapi sungai tidak pernah marah pada anak
sungainya. Mereka tetap bersama menuju laut."
Kai Muda menatap mereka bergantian. Matanya berkata, "Kalian
lebih kuat dari ini."
Setelah Kai Muda dan Kiano pergi, mereka bertiga duduk diam
cukup lama. Hening. Tapi kali bukan hening yang canggung, tapi hening yang
merenung.
Raka akhirnya membuka suara. "Gue mau minta maaf. Gue
udah egois."
Bejo menggeleng. "Bukan salah lo, Ra. Gue juga."
Wati menatap mereka berdua. "Gue juga salah. Harusnya
dari dulu gue bilang."
"Bilang apa?" tanya Raka.
Wati menarik napas panjang. "Gue juga suka sama Raka.
Tapi gue nggak mau sakiti Bejo. Jadi gue diem aja."
Bejo tersenyum pahit. "Gue tahu, Ti. Gue tahu dari
awal."
Mereka bertiga diam lagi.
"Jadi... kita gimana?" tanya Raka.
Bejo berpikir. "Kita tetap sahabat. Seperti dulu.
Perasaan itu... biar waktu yang jawab."
Wati mengangguk. "Setuju."
Raka tersenyum. "Makasih, Jo. Makasih, Ti."
Mereka bertiga berpelukan. Untuk pertama kalinya dalam
beberapa hari, suasana hangat kembali.
Sore harinya, mereka pergi ke Lembah Harapan. Kiano dan Kai
Muda sudah menunggu.
"Kalian baikan?" tanya Kiano dengan bahasa tubuh.
Raka mengangguk. "Iya. Makasih, Kiano. Makasih, Kai
Muda."
Kai Muda menggerakkan telinganya, puas.
Mereka duduk bersama di tepi sungai, ditemani kawanan
kancil. Suasana damai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Bejo tiba-tiba tertawa. "Gila, kita hampir bubar
gara-gara perasaan."
Wati ikut tertawa. "Iya. Padahal masalahnya
kecil."
Raka memandang mereka. "Karena kita terlalu memikirkan
diri sendiri. Lupa kalau kita punya tanggung jawab besar di sini."
Mereka memandang ke arah hutan yang luas. Hutan Manoreh,
rumah bagi ribuan makhluk, tempat mereka mengabdi.
"Ke depan, kita harus lebih dewasa," kata Wati.
"Setuju. Perasaan boleh ada, tapi jangan sampai ganggu
misi," tambah Bejo.
Raka tersenyum. "Dan kita akan selalu bersama. Apapun
yang terjadi."
Kiano mendekat, menyandarkan kepalanya di tengah-tengah
mereka. Empat sahabat, berbeda spesies, tapi satu hati.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, mereka bertiga berjalan
dalam keheningan yang damai. Bukan keheningan yang canggung, tapi keheningan
yang menenangkan.
"Gue belajar sesuatu hari ini," kata Raka.
"Apa?" tanya Wati.
"Cinta itu seperti hutan. Kalau kita serakah, kita
akan merusaknya. Tapi kalau kita bijak, dia akan memberi kehidupan."
Bejo mengangguk. "Gue juga belajar. Bahwa sahabat itu
lebih berharga dari apapun."
Wati tersenyum. "Gue belajar, kadang diam lebih baik
daripada bicara. Tapi kadang bicara lebih baik daripada diam."
Mereka tertawa bersama. Di bawah sinar bulan, tiga sahabat
berjalan pulang, dengan hati yang lebih ringan.
Keesokan paginya, mereka kembali ke Lembah Harapan. Kai
Muda sedang duduk di tepi sungai, memandangi air yang mengalir.
Mereka duduk di sampingnya.
"Kai Muda, makasih sudah mengingatkan kami," kata
Raka.
Kai Muda menatapnya. Matanya berkata, "Kalian
adalah keluarga bagiku. Aku hanya ingin kalian bahagia."
Wati mengelus kepala Kai Muda. "Kami akan selalu
bersama. Janji."
Kiano datang bergabung. Ia duduk di samping ayahnya.
Mereka semua diam, menikmati pagi yang damai. Hutan Manoreh
tenang, kawanan kancil bermain di kejauhan, dan persahabatan mereka semakin
kuat.
Minggu-minggu berikutnya, hubungan mereka kembali normal.
Bahkan lebih baik dari sebelumnya. Mereka lebih terbuka, lebih saling memahami,
dan lebih dewasa dalam menyikapi perasaan.
Raka dan Wati tetap dekat, tapi tidak memaksa. Bejo tetap
ceria seperti biasa, tidak ada lagi beban di hatinya.
Kiano dan Kai Muda sering menemani mereka. Hutan Manoreh
terjaga dengan baik. Program konservasi berjalan lancar. Desa Bojong Sari
semakin maju.
Suatu sore, di titik Beringin, mereka bertiga duduk bersama
Kiano.
"Kita sudah melalui banyak hal," kata Wati.
"Iya. Dari kecil sampai sekarang."
"Dan masih banyak yang harus kita lakukan."
Raka memandang ke arah hutan. "Hutan ini masih punya
banyak rahasia. Dan kita akan terus menjaganya."
Kiano menggerakkan telinganya setuju.
Bejo tiba-tiba berdiri. "Gue lapar. Makan yuk!"
Mereka tertawa. Bejo tetap Bejo, tidak berubah.
Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan terus bersemi.
Tantangan datang silih berganti, tapi mereka selalu siap. Karena mereka adalah
Detektif Remaja Bojong Sari—penjaga hutan, pelindung satwa, dan sahabat alam
selamanya.
BERSAMBUNG KE EPISODE 9:
BENCANA DI MUSIM HUJAN










