PROLOG
Langit Desa Awan Biru tidak pernah benar-benar biru. Itulah
ironi yang melekat sejak nenek moyang pertama kali menginjakkan kaki di tanah
ini pada abad ke-17. Warna birunya bukan biru cerah seperti langit di pesisir
Selatan, melainkan biru pucat memutih, seolah-olah warna itu luntur tercampur
embun pagi yang tak pernah kering. Di siang hari yang paling terang sekalipun,
selalu ada selimut kabut tipis yang bergelayut di ubun-ubun desa, turun dari
lereng-lereng bukit di selatan, seperti nafas panjang yang tak pernah selesai
dihembuskan.
Konon, saat itu rombongan leluhur yang dipimpin oleh Eyang
Jayabaya tiba di dataran tinggi ini setelah berminggu-minggu berkelana. Mereka
menemukan sebuah lembah subur yang dikelilingi barisan bukit, dengan air yang
jernih mengalir dari celah-celah batu. Namun, keanehan langsung terasa. Eyang
Jayabaya, yang dikenal memiliki wirid tinggi, merasakan
getaran berbeda di telapak kakinya. Bumi di lembah itu berdenyut, seperti
jantung raksasa yang tertidur. Para tetua percaya bahwa kabut bukan sekadar uap
air biasa. Kabut adalah napas para leluhur yang masih menjaga desa. Ada pula
yang mengatakan bahwa di balik kabut itu terdapat gerbang menuju dunia lain,
tempat roh-roh penjaga bersemayam menanti keturunan mereka yang terpilih. Sejak
saat itu, desa ini dinamai Awan Biru, dan larangan tertinggi pun dibuat: tidak
boleh ada yang membangun rumah lebih tinggi dari pohon beringin tua di tengah
desa, karena itu akan mengganggu keseimbangan antara dunia manusia dan dunia
gaib.
Malam ketika Amat Junior lahir, desa itu seperti tertahan
nafas. Kabut yang biasanya hanya setinggi lutut itu berubah menjadi pusaran
raksasa yang menjulang hingga langit, berputar pelan namun dinamis, seperti air
dalam baskom raksasa yang sedang dikocok. Hujan turun bukan dari langit, tetapi
seolah-olah dari segala arah, membasahi bumi dengan air yang terasa lebih
hangat dari biasanya, membuat daun-daun pisang di kebun belakang rumah
bergemerincing tidak karuan. Pohon beringin tua yang berusia lebih dari tiga
ratus tahun itu bergoyang hebat meskipun tidak ada angin. Ranting-rantingnya
yang besar berderak seperti tulang-tulang tua yang meregang. Akar-akar napasnya
yang menjalar di permukaan tanah seperti ular-ular purba yang bangun dari
tidur.
Di bawah pohon beringin itu, tiga tetua desa, Mbah Karta,
Mbah Jayeng, dan Mbah Ratih, berdiri dengan pakaian adat lengkap. Mereka adalah
generasi terakhir yang masih mengingat mantra-mantra pengendali keseimbangan.
Mbah Karta, yang wajahnya penuh kerutan seperti peta sungai yang kering,
memimpin doa dengan lantunan bahasa Jawa kuno yang hanya sesekali terdengar di
desa itu saat upacara ruwatan besar. Suaranya yang parau beradu dengan desiran
angin.
Mbah Jayeng berdiri di sampingnya, matanya yang rabun
tetapi tetap tajam dalam membaca tanda-tanda gaib, sesekali menaburkan beras
kuning dan kelopak bunga ke udara. “Ini bukan pertanda biasa, Karta,” seru Mbah
Jayeng, berusaha mengalahkan suara angin yang mulai menderu. “Ini seperti...
seperti ketika Leluhur pertama kali membuka lahan ini. Detaknya sama. Nafas
bumi ini sedang memanggil.”
Mbah Ratih, satu-satunya tetua perempuan yang masih
tersisa, hanya tersenyum kecil sambil memegang erat sebuah benda di sakunya.
Tangannya yang gemetar karena usia memegang sebuah benda pusaka yang sudah
disimpannya selama bertahun-tahun, menunggu pemilik yang tepat. Benda itu
adalah sebentuk liontin batu akik biru yang konon berasal dari langit yang
jatuh ke bumi saat leluhur pertama tiba di desa ini. Liontin itu terasa hangat
di genggamannya, sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam tiga puluh tahun
terakhir.
Di tengah pusaran kabut dan hujan yang membasahi bumi
dengan cara yang ganjil itu, di dalam rumah papan sederhana berukuran enam kali
delapan meter di ujung Gang Mawar, seorang bayi laki-laki lahir dari rahim
Sumirah. Sumirah adalah seorang janda muda berusia dua puluh tiga tahun, dengan
kulit sawo matang dan rambut hitam panjang yang kini basah oleh keringat. Dua
tahun sudah ia ditinggal suaminya, Amat Senior, yang pergi merantau ke kota untuk
mencari modal membuka warung dan tak pernah kembali. Kabar terakhir yang
diterima adalah suaminya tertimpa pohon di sebuah proyek reklamasi pantai,
jenazahnya tak pernah ditemukan.
Bayi itu lahir dengan mata terbuka lebar, tidak menangis
seperti bayi normal. Ia terdiam sejenak, matanya yang biru,tidak biasa untuk
anak orang Jawa pada umumnya, menatap langit-langit anyaman bambu yang
berlubang di beberapa tempat. Bibir mungilnya bergetar, lalu ia mengeluarkan
suara yang anehnya tidak terdengar seperti tangisan biasa. Suaranya adalah
sebuah gema yang dalam, panjang, dan bergelombang, seperti suara klakson kapal
di tengah kabut tebal, atau seperti suara kyai yang sedang
melantunkan ayat-ayat suci di masjid tua. Suara itu memantul dari gunung ke
gunung, dari lembah ke lembah, menyentuh setiap sudut Desa Awan Biru. Ayam-ayam
jantan mulai berkokok serentak meskipun waktu masih menunjukkan pukul sebelas
malam. Anjing-anjing di setiap rumah ikut melolong, menciptakan simfoni aneh
yang belum pernah terdengar seumur hidup warga desa.
Para tetua desa yang masih berada di bawah beringin saling
berpandangan. Di wajah mereka yang keriput itu terpancar perasaan campur aduk:
gelisah, takut, tetapi juga penuh harapan. Mbah Karta mengusap air matanya yang
mengalir deras membasahi pipinya yang penuh kerutan. Dengan suara parau yang
nyaris tak terdengar di atas deru angin yang mulai mereda, ia berkata:
“Inilah pertanda yang dinanti-nanti. Setelah tiga ratus
tahun, garis keturunan penjaga akhirnya lahir kembali di desa ini.” Ia berhenti
sejenak, mendengarkan keheningan yang aneh setelah gemuruh suara bayi itu
sirna. “Tapi aku khawatir, beban yang akan dipikulnya tidak akan ringan. Dunia
sedang berubah, dan keseimbangan yang dijaga leluhur kita selama berabad-abad
mulai terganggu.”
Mbah Jayeng menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. “Kita
tidak akan hidup cukup lama untuk melihatnya tumbuh, Karta. Kita hanya bisa
berdoa agar dia mendapatkan orang-orang yang tepat di sekelilingnya. Seorang
penjaga tidak bisa berjuang sendirian.”
Mbah Ratih tersenyum kecil. “Jangan khawatir. Takdir sudah
mengatur semuanya. Dia tidak akan sendirian. Ada yang akan menjadi penopang
kekuatannya, ada yang akan menjadi penerang jalannya, dan ada yang akan menjadi
pelindungnya saat dia rapuh. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menjaga
agar api pengetahuan ini tidak padam sebelum waktunya tiba.”
Hujan reda seketika setelah bayi itu lahir. Kabut yang
berputar-putar perlahan-lahan mengendap ke tanah, membasahi rumput dan dedaunan
dengan embun yang berkilauan di bawah cahaya bulan yang mulai muncul dari balik
awan. Suasana yang tadinya mencekam berubah menjadi sunyi yang damai,
seolah-olah alam sendiri sedang beristirahat setelah melahirkan sesuatu yang
penting.
Di dalam rumah dinding papan yang sederhana itu, Sumirah
menggendong bayinya dengan tangan gemetar. Air matanya bercampur dengan
keringat yang masih membasahi wajahnya. Ia seorang perempuan sederhana, lulusan
SMP yang bekerja serabutan mencuci pakaian warga, tidak terlalu paham dengan
tanda-tanda gaib dan ramalan para tetua. Yang ia tahu, anak laki-lakinya ini
lahir dengan selamat di tengah badai yang luar biasa, dan itu sudah cukup
menjadi alasan untuk bersyukur.
Ia menatap wajah bayinya yang mungil. Matanya yang biru
terbuka lebar dan menatap langit-langit rumah, seolah-olah melihat sesuatu yang
tidak bisa dilihat oleh orang lain. Bayi itu tidak menangis lagi. Ia hanya
diam, mendengarkan suara-suara yang mungkin hanya bisa didengar oleh telinga
yang masih suci.
“Amat,” bisik Sumirah lembut, memberi nama pada anaknya.
“Amat Junior. Karena ayahmu dulu juga bernama Amat, meskipun dia tidak pernah
sempat melihat wajahmu. Semoga kau tumbuh menjadi anak yang kuat, nak. Semoga
kau bisa melewati semua yang sudah ditakdirkan untukmu.”
Pintu rumah yang terbuat dari kayu jati tua itu terbuka
perlahan. Seorang pria muda berusia dua puluh tahun masuk dengan tergesa-gesa,
jaket kulitnya masih basah oleh embun. Wajahnya mirip dengan Sumirah, dengan
hidung mancung dan alis tebal yang kini menyatu karena cemas. Dialah Amat, adik
kandung Sumirah, yang akrab dipanggil Si Amat oleh warga desa karena ia adalah
satu-satunya pemuda yang bekerja sebagai operator komputer dan pengelola
administrasi di Kantor Desa. Belakangan ini ia lebih sering dipanggil “Si Amat”
karena jabatan barunya sebagai Admin Desa, meskipun usianya masih terhitung
muda.
“Mbakyu! Aku dengar dari Pak Sugeng yang lewat depan
kantor. Katanya... ada suara aneh. Semua lampu desa mati. Bahkan genset kantor
ikut mati. Aku lari sepanjang jalan sini.” Ia berhenti ketika melihat bayi di
gendongan Sumirah. Matanya membelalak. “Ini... anakmu sudah lahir? Mengapa
tidak memanggilku? Mengapa tidak memanggil bidan?”
“Tiba-tiba saja, Le,” jawab Sumirah lemah. “Aku tidak
menduga... kontraksinya baru terasa sore, tapi langsung... langsung seperti
ini. Tidak ada waktu untuk memanggil siapa-siapa. Aku sendiri tidak mengerti.”
Si Amat mendekati kakaknya. Ia mengamati keponakannya yang
baru lahir dengan seksama, matanya yang awam terhadap hal-hal mistis namun
cukup cerdas untuk melihat keanehan, tertuju pada warna biru di iris mata bayi
itu. “Matanya biru, Mbak. Seperti... seperti batu akik yang dipakai Mbah
Ratih.”
“Itu anugerah,” kata Sumirah cepat, seolah-olah menepis
kemungkinan interpretasi negatif. “Ayahnya juga punya mata yang terang. Mungkin
ini turunannya.”
Si Amat tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang,
lalu duduk di kursi bambu di samping dipan. Sebagai Admin Desa, ia terbiasa
mengolah data, fakta, dan angka. Namun malam itu, semua logikanya seolah
digerogoti oleh kejadian-kejadian aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Ia ingat
saat Pak Kades Iwan memintanya untuk tidak panik dan segera mengecek keadaan
warga. Ia ingat suara Bu Lulu yang histeris di telepon karena komputer di ruang
keuangan tiba-tiba menyala sendiri dan menampilkan angka-angka yang tidak
pernah ia input. Ia ingat Pak Eko, Kaur Perencanaan yang biasanya sangat
rasional, tiba-tiba membaca buku silsilah desa yang sudah berdebu di lemari
arsip.
Di luar rumah, kerumunan warga mulai berdatangan. Mereka
datang dengan senter dan obor, karena listrik di seluruh desa mati total. Tidak
hanya mati, tetapi aki-aki mobil pun ikut tekor, tidak ada yang bisa menyala.
Suasana mencekam namun penasaran itu membuat semua orang ingin melihat sendiri
sumber dari gema aneh yang mengguncang desa mereka.
Di antara kerumunan itu, Pak Sugeng, seorang tokoh
masyarakat yang juga ketua RT setempat, muncul dengan langkah mantap. Beliau
adalah pensiunan pegawai negeri yang tubuhnya masih bugar meski rambutnya sudah
memutih di pelipis. Beliau dikenal sebagai penengah yang bijak, sering dimintai
pendapat untuk menyelesaikan masalah warga yang rumit. Di sampingnya, Pak
Santoso, tokoh masyarakat lainnya yang lebih muda, dengan kumis tebal dan perut
buncit khas pengusaha mebel, ikut mengawal.
“Mari, mari, jangan berdesak-desakan,” seru Pak Sugeng,
tangannya yang kekar mengatur arus orang. “Ibu dan bayinya butuh istirahat.
Kita cukup tahu bahwa semuanya selamat. Ini yang terpenting.”
Seorang pria bertubuh tegap dengan kumis khas yang selalu terawat
rapi mendorong kerumunan dengan lembut namun berwibawa. Ia mengenakan kemeja
batik lengan panjang meskipun larut malam, sebuah kebiasaan yang tidak pernah
ia tinggalkan sejak menjabat. Dialah Pak Iwan, Kepala Desa Awan Biru. Di
belakangnya, beberapa perangkat desa mengikuti seperti bayangan.
“Permisi, permisi,” ujar Pak Iwan dengan suara yang tenang
namun otoritatif. Matanya yang teduh namun tajam menyapu kerumunan sejenak
sebelum akhirnya masuk ke rumah kecil itu bersama dua orang perangkatnya.
Di dalam, Pak Iwan langsung menghampiri Sumirah yang masih
terbaring lemah. “Sumirah, bagaimana keadaannya? Apakah kamu baik-baik saja?
Saya sudah memerintahkan Bu Endang untuk menjemput bidan desa. Sebentar lagi
datang.”
Bu Endang, Kasi Pelayanan yang berperawakan kecil dengan
rambut sebahu dan selalu membawa tas anyaman dari plastik daur ulang, langsung
menghambur ke samping Sumirah. “Iya, Bu. Saya sudah telpon Bu Bidan tadi.
Untung sinyal HP masih ada meskipun listrik mati. Beliau sedang dalam
perjalanan dari rumahnya di ujung desa.”
Pak Iwan mengangguk, lalu menoleh pada Si Amat yang masih
duduk dengan wajah pucat. “Amat, kau sudah melakukan yang benar dengan segera
ke sini. Tapi mulai sekarang, aku minta kau fokus membantu warga. Listrik padam
total. Tidak ada satu pun mesin yang bisa menyala. Kita harus memastikan tidak
ada kepanikan.”
“Tapi Pak Kades, keanehan tidak berhenti di situ,” potong
seorang perempuan dengan kacamata tebal yang baru saja masuk, menyusul Pak
Iwan. Ia adalah Bu Lulu, Kaur Keuangan. Wajahnya yang biasanya kalem kini
tampak gamang. “Di kantor desa, komputer saya tiba-tiba menyala. Padahal tidak
ada aliran listrik. Saya sumpal colotannya, tapi tetap menyala. Dan di layarnya
muncul peta-peta tua, bukan file yang biasa saya buka. Saya tidak tahu dari
mana asalnya.”
Semua orang di ruangan itu terdiam. Pak Eko, Kaur
Perencanaan yang bertubuh kurus dengan kumis tipis dan selalu membawa buku
catatan kecil di saku kemejanya, mengangguk pelan. “Saya juga mengalami hal
serupa. Saya coba buka arsip perencanaan pembangunan desa tahun 1980-an, tapi
yang muncul malah sketsa-sketsa kuno tentang tata letak desa. Ada gambar pohon
beringin besar dengan akar yang menjalar sampai ke... sepertinya sampai ke
sumber mata air di Selatan.”
Pak Iwan mengangkat tangan, menghentikan semua laporan.
Wajahnya yang biasanya penuh senyum kini terlihat serius, garis-garis di
keningnya tampak lebih dalam. “Ini bukan pembicaraan yang tepat dilakukan di
sini. Sumirah dan bayinya butuh ketenangan. Kita akan bahas ini nanti di kantor.
Saya akan panggil rapat darurat besok pagi. Bu Yuni, tolong catat dan
koordinasikan.”
Bu Yuni, Sekretaris Desa yang berperawakan langsing dengan
rambut disanggul rapi, mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik. “Siap, Pak
Kades. Saya akan hubungi semua perangkat desa dan tokoh masyarakat. Untuk
lokasi rapat, apakah di balai desa atau di pendopo?”
“Di pendopo saja,” jawab Pak Iwan sambil melirik ke luar
jendela. “Lampu-lampu di balai desa mati total. Setidaknya pendopo masih bisa
pakai lampu teplok dan lentera.”
Kerumunan di luar perlahan mulai bubar setelah Pak Sugeng
dan Pak Santoso membujuk mereka untuk pulang. Pak Santoso, yang terkenal dengan
logat Jawanya yang kental dan sering memberikan bantuan material untuk
pembangunan desa, berkelakar dengan suara keras. “Wis, wis, pada bubar. Iki
mung bayi lahir, dudu wayangan semalam suntuk. Sesuk esok pada sekolah, pada
nyambut gawe. Aja pada kepo kaya preman pasar.”
Tawa kecil pecah di antara kerumunan, meredakan sedikit
ketegangan. Di sela-sela kepulangan warga, seorang pria bertubuh tambun dengan
kaus oblong bergambar tengkorak dan celana jins robek di bagian lutut, tampak
asyik berbincang dengan beberapa pemuda. Dialah Anto, sopir truk perusahaan
pengangkut hasil bumi yang terkenal suka meramal. Meskipun hanya lulusan SMA,
Anto memiliki bakat untuk membaca garis tangan, kartu tarot, dan yang paling
terkenal adalah meramal dari ampas kopi. Banyak ibu-ibu desa yang datang
kepadanya untuk bertanya tentang jodoh atau rezeki.
“Ku lihat ini sudah dari kemarin,” kata Anto dengan suara
berat, matanya yang sipit menyipit semakin tajam. “Kemarin sore, waktu aku bawa
truk lewat jalan belakang dekat makam desa, Trukku mati tiga kali. Padahal
bensin penuh. Dan waktu aku lihat kaca spion, ada bayangan pohon beringin tua
yang terbalik. Bayangan itu... bergerak. Aku tidak sedang bergurau.”
Seorang pemuda bernama Joko yang masih kerabat dekat
keluarga Sumirah bergidik. “Lalu, itu artinya apa, To?”
Anto mengangkat bahu, namun matanya serius. “Entahlah. Tapi
satu yang aku tahu, bayi yang lahir malam ini bukan bayi biasa. Dan kita semua
akan melihat sesuatu yang belum pernah kita lihat seumur hidup kita dalam
beberapa minggu ke depan. Lebih baik kalian pada nyiapin diri. Bawa
barang-barang yang sering kalian pakai. Jangan tidur terlalu nyenyak.”
Kerumunan kecil itu mulai membubarkan diri dengan perasaan
was-was. Anto berjalan perlahan ke arah truknya yang terparkir di tepi jalan,
tetapi tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah rumah Sumirah sekali lagi, lalu
matanya beralih ke arah timur, tempat di mana pohon beringin tua berdiri megah.
Kabut tipis mulai merayap naik lagi, membalut batang-batang pohon dan atap-atap
rumah.
Sementara itu, tak jauh dari keramaian, warung kopi milik
Mbah Karo, yang sudah berusia tujuh puluh tahun namun masih lincah seperti
orang lima puluhan, masih tetap buka. Warung itu adalah tempat nongkrong
favorit warga desa, terutama para bapak-bapak dan pemuda yang ingin
menghabiskan malam dengan kopi tubruk dan rokok kretek. Malam itu, meskipun
listrik mati, beberapa lentera minyak tanah masih menyala terang di atas
meja-meja kayu yang sudah hitam oleh usia.
Mbah Karo, dengan rambut yang disanggul sederhana dan
memakai kebaya lusuh, sedang sibuk menyeduh kopi menggunakan ceret tembaga tua.
Wajahnya yang keriput tidak menunjukkan ekspresi takut atau cemas seperti warga
lainnya. Malah, ia tersenyum-senyum kecil setiap kali ada yang bertanya tentang
peristiwa malam itu.
“Mbah Karo, kok tenang banget sih? Apa Mbah nggak dengar
suara gemanya tadi?” tanya seorang pemuda bernama Dani, yang sedang duduk
bersila di bangku bambu.
Mbah Karyo terkekeh, suaranya serak namun merdu seperti
suara orang yang sudah terbiasa bernyanyi tembang dolanan. “Anak-anak muda,
kalian itu kebanyakan nonton sinetron horor. Desa ini sudah tiga ratus tahun
lebih berdiri. Berapa banyak bayi yang lahir di sini? Berapa banyak badai yang
sudah lewat? Yang penting tetap tenang dan tidak bikin onar.”
Seorang bapak paruh baya dengan kumis tebal, Pak Edi, Kaur
Kesra yang baru saja datang setelah membantu Pak Sugeng mengatur kerumunan, menimpali.
“Mbah Karyo, ini beda. Saya sendiri yang ngurus administrasi kependudukan di
desa. Tiga puluh tahun saya jadi perangkat desa, belum pernah lihat bayi lahir
dengan mata biru dan suara gemanya sampai ke seluruh desa. Belum lagi listrik
mati total. Ini tidak normal.”
“Tidak normal, tidak biasa, iya,” Mbah Karyo meletakkan
cangkir kopi panas di depan Pak Edi. “Tapi tidak berarti buruk. Kalian tahu
tidak, dulu, ketika pohon beringin itu pertama kali ditanam, konon ada tujuh
kali petir menyambar dalam satu malam. Warga dulu juga panik. Sekarang, pohon
itu jadi ikon desa.”
Pak Edi mengambil kopinya, meniup-niup uap panasnya. “Tapi
Mbah Karo, sekarang beda. Dulu belum ada listrik, belum ada HP. Sekarang
semuanya mati. Ini mengganggu kehidupan kita.”
“Kehidupan kalian terlalu tergantung pada benda-benda itu,
Edi,” Mbah Karyo balik melayani pembeli lain. “Mungkin ini saatnya kita
diingatkan bahwa kita hidup di tanah ini, di desa ini, dengan segala yang
menjaga dan mengujinya. Bayi itu... dia akan mengingatkan kita semua tentang
itu.”
Pembicaraan di warung Mbah Karyo terus berlangsung hingga
larut malam. Sementara itu, di rumah Sumirah, suasana mulai tenang setelah
bidan desa datang dan memeriksa kondisi ibu dan bayi. Semuanya sehat, meskipun
bidan itu sendiri mengakui bahwa ia belum pernah menangani persalinan dengan
kondisi seaneh itu.
Si Amat, yang sejak tadi duduk diam di sudut ruangan,
akhirnya bangkit. Ia menghampiri kakaknya yang mulai terlelap karena kelelahan.
Dengan hati-hati, ia menatap wajah keponakannya yang sedang tidur pulas di
samping ibunya. Di bawah cahaya lampu minyak, warna biru di mata bayi itu
tampak berkilau, seperti potongan langit malam yang jatuh ke bumi.
“Kau akan tumbuh besar di desa yang aneh ini, Le,” bisik Si
Amat. “Dan aku akan ada di sini. Akan kujaga kau sekuat yang aku bisa. Sebagai
pamammu. Sebagai keluarga yang masih tersisa.”
Ia meraih tangan mungil bayi itu, merasakan hangat yang
aneh, seperti ada denyut lembut yang mengalir dari kulit bayi itu ke ujung
jarinya. Untuk sesaat, Si Amat merasakan keheningan yang sempurna, seperti
ketika ia pertama kali menginstal sistem operasi baru di komputer kantor, bersih,
penuh potensi, dan menunggu untuk diisi.
Di luar, di bawah pohon beringin tua, tiga tetua desa sudah
tiada. Mereka telah kembali ke rumah masing-masing setelah memastikan keadaan.
Namun di pucuk pohon itu, di antara dedaunan yang lebat, seekor burung hantu
besar bertengger diam. Matanya yang bulat dan bersinar dalam gelap menatap ke
arah rumah kecil di Gang Mawar. Ia tidak bergerak, seperti patung yang
ditempatkan di sana untuk menjaga. Beberapa warga yang masih melintas mengaku
melihatnya, tetapi tidak ada yang berani mendekat.
Mbah Ratih, sebelum beranjak pulang, sempat berhenti di
depan rumah Sumirah. Ia tidak masuk. Hanya berdiri sejenak di depan pintu, lalu
dengan tangannya yang gemetar, ia mengeluarkan liontin batu akik biru dari
sakunya. Ia menggenggamnya erat, membisikkan sesuatu yang tidak terdengar oleh
siapa pun, lalu memasukkannya kembali.
“Nanti,” bisiknya pada dirinya sendiri sambil berjalan
perlahan menembus kabut yang mulai menebal. “Waktunya belum sekarang. Tapi
cepat atau lambat, dia harus tahu. Dia harus siap.”
Kabut malam itu merayap naik lebih tinggi, membalut seluruh
Desa Awan Biru dalam selimut dingin yang sunyi. Burung hantu di puncak beringin
akhirnya mengepakkan sayapnya, terbang melesat ke arah selatan, ke arah bukit
tempat kabut berasal.
Langit Awan Biru perlahan-lahan memperlihatkan warna biru
palanya yang khas, seolah-olah memberi selamat datang pada sang penjaga yang
baru lahir ke dunia. Namun warna biru kali ini terasa berbeda. Lebih pekat.
Lebih dalam. Seperti mata yang baru terbuka setelah tidur panjang, menatap
dunia yang akan dijaganya.
Di dalam rumah kecil itu, Amat Junior terbangun sejenak.
Matanya yang biru terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit rumah. Ia tidak
menangis. Ia hanya diam, mendengarkan suara-suara yang mungkin hanya bisa
didengar oleh telinga yang masih suci: bisikan angin yang membawa pesan dari
puncak beringin, gumam tanah yang berdenyut di bawah fondasi rumah, dan gema
dari masa lalu yang panjang, yang kini harus ia emban sebagai takdir yang baru
saja dimulai.
Langit
Awan Biru tidak pernah benar-benar biru. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya
dalam tiga ratus tahun, warna biru itu terasa hidup.
BAB 1: Lahir di Bawah Hujan Awan Biru
Rumah tempat Amat Junior dilahirkan berdiri di ujung utara
Desa Awan Biru, tepat di kaki sebuah bukit kecil yang oleh penduduk setempat
disebut sebagai Bukit Pangasih. Nama itu bukan sekadar nama; ia menyimpan kisah
turun-temurun yang diceritakan dari generasi ke generasi, dari bibir nenek
kepada cucu, dari tetua kepada anak muda yang masih mau mendengarkan. Konon, di
bukit itulah para leluhur pertama kali menginjakkan kaki setelah pengembaraan
panjang yang memakan waktu berhari-hari melewati hutan lebat dan pegunungan
terjal. Di bukit itulah mereka berhenti, menatap lembah di bawah yang subur dan
hijau, lalu memutuskan bahwa tanah inilah yang akan mereka tempati, yang akan
mereka jaga, yang akan mereka wariskan kepada keturunan mereka sampai ribuan
tahun ke depan. Dan dari bukit itulah mereka memberikan pangasih,
berkah, pada tanah di bawahnya, mendoakan agar tanah ini subur, agar airnya tak
pernah kering, agar penduduknya hidup rukun dan damai hingga akhir zaman.
Rumah itu bukan rumah yang besar, bukan juga rumah yang
megah. Ia hanyalah sebuah bangunan sederhana dengan ukuran tidak lebih dari dua
puluh meter persegi untuk bangunan utamanya, ditambah dengan dapur kecil di
bagian belakang yang ukurannya hanya separuh dari bangunan utama. Atapnya
terbuat dari seng gelombang yang sudah berusia lebih dari lima belas tahun, dan
itu terlihat jelas dari warna merah kecoklatan karat yang mulai memakan
pinggiran-pinggiran seng, terutama di bagian selatan yang selalu terkena angin
dan hujan. Di beberapa tempat, karat itu sudah menembus seng hingga menciptakan
lubang-lubang kecil yang jika hujan turun deras akan menjadi titik-titik air
yang jatuh ke lantai rumah, memaksa penghuninya menyiapkan ember-ember bekas
cat untuk menampungnya.
Namun meskipun sederhana, rumah itu memiliki karakter yang
kuat. Bentuknya adalah limasan tradisional Jawa, dengan struktur utama empat
tiang penyangga di tengah yang disebut saka guru, yang menurut
kepercayaan Jawa merupakan tiang-tiang penopang tidak hanya bangunan fisik
tetapi juga penopang keselamatan penghuninya. Tiang-tiang itu terbuat dari kayu
jati tua yang sudah berwarna coklat kehitaman, kayu yang diambil dari hutan
jati di selatan desa yang sekarang sudah menjadi kawasan lindung karena usianya
yang sudah ratusan tahun. Konon, kayu-kayu itu berasal dari pohon jati yang
sama dengan pohon beringin tua di tengah desa, ditebang pada masa yang sama
ketika desa ini pertama kali dibangun. Jika diperhatikan dengan saksama, di
permukaan kayu-kayu itu masih terlihat ukiran-ukiran sederhana yang sudah
hampir terkikis oleh waktu: gambar-gambar sulur tanaman, bunga teratai, dan di
salah satu tiang, samar-samar masih terlihat bentuk manusia dengan tangan
terbuka seperti sedang memberi berkah.
Dinding rumah terbuat dari papan kayu albasia yang dipasang
secara vertikal, dengan celah-celah di antara papan-papan yang sengaja
dibiarkan agar udara bisa masuk dan keluar, mengatur suhu di dalam rumah agar
tidak terlalu pengap. Namun seiring berjalannya waktu, kayu albasia itu
menyusut karena panas dan hujan, membuat celah-celah yang tadinya hanya selebar
ujung jari itu menjadi selebar telapak tangan di beberapa tempat. Akibatnya,
angin malam yang dingin dari lereng selatan dengan leluasa masuk melalui
celah-celah itu, membawa kabut tipis yang kadang-kadang membuat ruang tamu
berubah menjadi ruangan berkabut di pagi hari. Di musim penghujan, celah-celah
itu menjadi pintu masuk bagi nyamuk-nyamuk dan serangga-serangga lain yang
mencari tempat berteduh dari derasnya air hujan.
Lantai rumah tidak seluruhnya terbuat dari semen atau ubin
seperti rumah-rumah baru yang mulai bermunculan di desa itu. Hanya bagian ruang
tamu yang dilapisi dengan acian semen tipis yang sudah retak-retak di
sana-sini. Sisanya, termasuk kamar tidur dan dapur, masih berupa tanah yang
dipadatkan, kemudian dilapisi dengan anyaman bambu yang disebut gedek.
Setiap beberapa tahun sekali, anyaman bambu itu harus diganti karena dimakan
rayap atau karena sudah terlalu tipis karena gesekan kaki yang terus-menerus
berjalan di atasnya. Anyaman itu tidak hanya berfungsi sebagai alas, tetapi
juga sebagai pengatur suhu: di siang hari yang panas, tanah di bawah anyaman
akan menyerap panas sehingga ruangan terasa sejuk; di malam hari, tanah akan
melepaskan panas yang diserapnya, sehingga ruangan terasa hangat.
Halaman depan rumah tidak berpagar. Tidak seperti
kebanyakan rumah di desa yang dipagari dengan tembok atau bambu untuk menandai
batas kepemilikan, halaman rumah ini terbuka, seolah-olah tidak ada batas
antara miliknya dan milik orang lain. Batasnya hanya berupa sederet tanaman
pagar dari pohon kaca piring yang tumbuh tinggi dan rimbun, dengan bunga-bunga
putih kecil yang bermekaran di musim kemarau. Tanaman ini dipilih oleh mertua
Sumirah, ibu dari suaminya yang dulu sangat mempercayai filosofi Jawa tentang
tanaman pagar. Kaca piring, menurut kepercayaannya, adalah tanaman yang bisa
menangkal energi negatif dari luar, sekaligus menjadi simbol keterbukaan:
meskipun ada pagar, orang tetap bisa melihat ke dalam, dan yang di dalam bisa
melihat ke luar.
Di tengah halaman itu, tepat di antara pintu masuk dan
tanaman pagar, terdapat sebuah sumur tua yang menjadi sumber air utama bagi
keluarga ini. Sumur itu berdiameter sekitar satu setengah meter, dengan dinding
dari batu bata merah yang disusun melingkar, naik sekitar setengah meter di
atas permukaan tanah. Batu bata itu sudah berlumut tebal, berwarna hijau tua di
bagian yang selalu basah, dan berubah menjadi coklat kehitaman di bagian yang
terkena sinar matahari. Lumut itu tidak pernah dibersihkan, karena Sumirah
percaya, diajarkan oleh mertuanya dulu, bahwa lumut di sumur adalah tanda bahwa
air di dalamnya masih hidup, masih memiliki energi yang baik.
Air sumur itu memang istimewa. Berbeda dengan sumur-sumur
lain di desa yang airnya terasa sejuk tetapi biasa, air dari sumur ini selalu
terasa lebih dingin, dinginnya seperti air yang diambil dari kedalaman gunung.
Pada pagi hari, uap air akan terlihat naik dari permukaannya, menciptakan kabut
tipis yang menggelantung di atas bibir sumur. Beberapa tetangga percaya bahwa
sumur ini memiliki hubungan dengan mata air bawah tanah yang mengalir dari
hutan larangan di selatan, mata air yang konon dijaga oleh roh-roh leluhur.
Tidak ada yang pernah membuktikan kebenaran kepercayaan ini, tetapi juga tidak
ada yang berani menyangkalnya, karena setiap kali ada yang mencoba merusak
sumur atau mengubahnya menjadi sumur pompa, selalu terjadi hal-hal yang tidak
menyenangkan: ternak mereka sakit, tanaman mereka gagal panen, atau anak mereka
jatuh sakit tanpa sebab yang jelas.
Di samping sumur, tumbuh pohon jambu air yang sudah sangat
tua. Usianya mungkin sama dengan usia rumah ini, atau bahkan lebih tua lagi.
Batangnya besar dan bengkok, seperti tubuh orang tua yang sudah membungkuk
karena usia. Di batang itu, tumbuh benalu-benalu yang rimbun, dengan daun-daun
hijau yang lebat sehingga dari kejauhan orang akan mengira pohon jambu itu
memiliki dua jenis daun yang berbeda. Akar-akarnya muncul ke permukaan tanah,
menjalar sejauh beberapa meter dari batang, seperti urat-urat nadi yang
menancap kuat ke dalam bumi.
Meskipun tidak pernah dipupuk, tidak pernah disiram di
musim kemarau, tidak pernah dirawat dengan cara-cara pertanian modern, pohon
jambu air ini tetap berbuah lebat setiap musim. Buahnya kecil-kecil, tidak
sebesar jambu air yang dijual di pasar, tetapi rasanya manis dengan sedikit
sepat yang khas, seperti rasa jambu air zaman dulu yang sudah mulai langka
ditemukan. Setiap kali berbuah, Sumirah akan membagikan hasilnya kepada
tetangga-tetangga sekitar. Ia tidak pernah menjualnya, meskipun uang sangat
dibutuhkan keluarganya. Itu adalah bentuk pangasih, berkah yang
harus diteruskan kepada orang lain.
Di dalam rumah, tata letaknya sangat sederhana,
mencerminkan kehidupan sederhana penghuninya. Begitu masuk melalui pintu depan
yang terbuat dari kayu jati tua dengan engsel besi yang selalu berdecit setiap
kali dibuka atau ditutup, pengunjung akan langsung berada di ruang tamu. Ruang
ini berukuran sekitar tiga kali empat meter, tidak luas tetapi cukup untuk
menerima tamu yang datang. Lantainya dari acian semen yang sudah retak-retak,
dengan pola retakan yang oleh Mbah Ratih, satu-satunya tetua perempuan yang
masih hidup, dikatakan membentuk peta gaib yang hanya bisa dibaca oleh
orang-orang tertentu.
Di ruang tamu itu hanya ada beberapa perabot sederhana.
Satu set kursi bambu anyaman yang sudah usang, warnanya berubah dari coklat
muda menjadi coklat tua kehitaman, dengan anyaman di bagian dudukan yang sudah
mulai kendur karena sering diduduki. Di atas kursi-kursi itu, selalu terhampar
sarung atau kain batik tua yang berfungsi sebagai alas duduk, karena anyaman
bambu yang sudah kendur bisa menjepit kulit jika diduduki langsung. Sebuah
lemari kaca kecil berdiri di sudut ruangan, isinya piring-piring dan
gelas-gelas untuk tamu yang jumlahnya tidak lebih dari setengah lusin. Lemari
itu adalah satu-satunya barang yang mungkin bisa dianggap mewah di rumah ini,
hadiah dari mertua Sumirah untuk pernikahannya dengan Amat Senior dulu.
Di dinding ruang tamu, tergantung sebuah poster besar
bergambar pemandangan alam: pegunungan hijau dengan air terjun yang jatuh ke
telaga biru, dipanah sinar matahari yang menembus awan putih. Poster itu sudah
sangat tua, pinggirannya sudah menguning dan robek di beberapa tempat. Sumirah
tidak pernah menggantinya, mungkin karena tidak punya uang untuk membeli poster
baru, atau mungkin karena poster itu adalah satu-satunya hiasan yang membuat
rumah ini terasa seperti rumah. Di bawah poster itu, di dinding yang sama,
tergantung beberapa foto hitam putih dalam bingkai kayu sederhana. Foto-foto
itu adalah foto mertua Sumirah yang sudah meninggal, foto suaminya ketika masih
kecil, dan satu foto pernikahan Sumirah dengan Amat Senior yang sudah mulai
pudar warnanya.
Di dinding belakang ruang tamu, terdapat dua pintu. Pintu
yang di sebelah kiri menuju kamar tidur, pintu yang di sebelah kanan menuju
dapur yang juga berfungsi sebagai ruang makan. Kedua pintu itu tidak memiliki
daun pintu, hanya diberi tirai dari kain perca yang dijahit menjadi satu,
warna-warninya sudah pudar karena sering dicuci. Tirai itu tidak hanya
berfungsi sebagai pembatas ruangan, tetapi juga sebagai penyaring angin: ketika
angin masuk dari celah-celah dinding, tirai itu akan bergerak-gerak,
menciptakan pola yang aneh seperti ada sesuatu yang hidup di antara
ruangan-ruangan itu.
Kamar tidur adalah ruangan yang paling pribadi di rumah
ini. Ukurannya hanya sekitar dua setengah kali tiga meter, cukup untuk sebuah
tempat tidur kayu berukuran satu setengah kali dua meter, sebuah lemari pakaian
sederhana dari kayu albasia yang tidak lebih besar dari lemari di ruang tamu,
dan sebuah meja kecil yang berfungsi sebagai tempat rias sekaligus tempat
menyimpan barang-barang berharga. Tempat tidur itu bukan tempat tidur modern
dengan kasur busa tebal, melainkan tempat tidur tradisional dengan alas anyaman
bambu yang disebut kloso, di atasnya diberi tumpukan kain bekas
yang dilapisi seprai tipis. Bantal dan gulingnya dari bahan yang sama, diisi
dengan kapuk yang sudah lama tidak diganti sehingga terasa pipih dan padat.
Di sudut kamar, tergantung sebuah lampu minyak tanah yang
sudah lama tidak digunakan, sejak listrik masuk ke desa ini sekitar sepuluh
tahun yang lalu. Namun lampu itu masih disimpan, mungkin sebagai cadangan jika
listrik padam. Dan di desa Awan Biru, listrik padam adalah kejadian yang biasa,
terutama di musim hujan ketika angin kencang sering menjatuhkan pohon ke kabel
listrik.
Dapur adalah bagian rumah yang paling hangat, bukan hanya
karena selalu ada api yang menyala di tungku dari bata merah, tetapi juga
karena di sanalah kehidupan sehari-hari Sumirah dan keluarganya berpusat. Di
sinilah Sumirah memasak nasi di pagi hari, menyeduh kopi untuk tamu yang
datang, menghangatkan air untuk mandi di sore hari, dan di sinilah ia
menghabiskan sebagian besar waktunya ketika tidak sedang bekerja di kebun atau
mencuci pakaian di sungai.
Tungku dari bata merah itu berdiri di sudut dapur, dengan
lubang di bagian bawah untuk memasukkan kayu bakar. Di atasnya, ada dua lubang
bundar tempat diletakkannya periuk dan wajan. Asap dari tungku tidak memiliki
cerobong, sehingga akan mengepul di dalam ruangan sebelum akhirnya keluar
melalui celah-celah dinding dan atap. Akibatnya, dinding dapur yang terbuat
dari papan albasia itu berwarna hitam kecoklatan karena jelaga, dan di beberapa
tempat, jelaga itu sudah menebal seperti lapisan tipis arang.
Di rak bambu yang tergantung di dinding, tersimpan
piring-piring, mangkuk-mangkuk, dan peralatan masak lainnya. Tidak banyak,
hanya secukupnya untuk keperluan sehari-hari. Di rak lain, tergantung beberapa
bungkusan plastik berisi bumbu dapur yang dikeringkan: bawang merah, bawang
putih, cabai, kemiri, ketumbar, dan kunyit. Bumbu-bumbu itu bukan dibeli di
pasar, melainkan hasil dari kebun kecil di belakang rumah, tempat Sumirah
menanam sayur-sayuran dan bumbu dapur untuk keperluan sehari-hari.
Lantai dapur berbeda dengan lantai ruang tamu dan kamar
tidur. Di sini, lantai hanya berupa tanah yang dipadatkan, tanpa acian semen
atau anyaman bambu. Di musim kemarau, tanah itu akan mengeras dan retak-retak.
Di musim penghujan, ia akan menjadi lembab, kadang-kadang berlumpur jika air
masuk dari halaman. Namun Sumirah lebih memilih lantai tanah daripada semen, karena
ia percaya bahwa lantai tanah lebih sehat: air yang tumpah akan segera meresap,
dan di malam hari, tanah akan mengeluarkan kehangatan alami yang membuat dapur
terasa nyaman meskipun tidak ada api yang menyala.
Rumah itu bukan milik Sumirah sepenuhnya. Sebenarnya, rumah
itu adalah warisan dari mertuanya, orang tua dari suaminya yang bernama Amat
Senior. Mertua Sumirah, yang oleh warga desa dikenal sebagai Mbah Jayeng, bukan
nama aslinya, tetapi nama panggilan yang diberikan karena kebijaksanaannya, adalah
seorang petani yang cukup dihormati di desa ini. Mbah Jayeng memiliki dua anak:
yang sulung bernama Siti, yang menikah dengan pria dari desa tetangga dan
pindah ke sana, dan yang bungsu bernama Amat Senior, suami Sumirah.
Ketika Amat Senior memutuskan untuk menikahi Sumirah,
seorang perempuan dari desa sebelah yang tidak memiliki harta dan hanya lulusan
SMP, Mbah Jayeng tidak keberatan. Ia justru memberikan rumah ini kepada
pasangan muda itu sebagai tempat tinggal, sementara ia sendiri pindah ke rumah
yang lebih kecil di dekat kantor desa.
Mbah Jayeng adalah orang yang sangat menghargai kesederhanaan dan ketulusan. Ia
melihat dalam diri Sumirah, seorang gadis desa yang tidak banyak bicara tetapi
rajin dan bertanggung jawab, kualitas yang menurutnya lebih penting daripada
kekayaan.
Namun kebahagiaan perkawinan itu tidak berlangsung lama.
Sekitar enam bulan setelah pernikahan, ketika Sumirah sedang hamil muda, Amat
Senior memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Ada banyak alasan yang
dikemukakannya: ia ingin mencari pekerjaan yang lebih baik, ingin mengumpulkan
uang untuk membuka warung sendiri, ingin memberikan kehidupan yang lebih layak
bagi calon anaknya. Sumirah tidak bisa melarang, meskipun hatinya berat. Ia
hanya bisa memeluk suaminya erat-erat di pagi hari ketika Amat Senior berangkat
naik truk Anto menuju kota kecamatan, untuk kemudian melanjutkan perjalanan
dengan bus ke ibu kota.
Amat Senior tidak pernah kembali.
Kabar pertama yang sampai adalah bahwa ia bekerja di sebuah
proyek konstruksi di pinggiran Jakarta. Kabar kedua, ia sudah menjadi mandor di
proyek yang sama. Kabar ketiga, proyek itu terkena musibah: sebuah tiang
pancang ambruk dan menimpa beberapa pekerja, termasuk Amat Senior. Kabar
keempat, jenazahnya tidak pernah ditemukan karena tertimbun material bangunan
dan mungkin sudah dibawa ke rumah sakit. Dan setelah itu, tidak ada kabar lagi.
Sumirah menunggu. Ia menunggu selama berbulan-bulan,
bertahun-tahun. Setiap kali ada yang datang dari Jakarta, ia bertanya. Setiap
kali Anto pulang mengantar truk, ia bertanya. Setiap kali ada yang membawa
kabar, ia mendengarkan dengan penuh harap. Namun tidak ada kabar yang jelas.
Kabar itu hanya kabar, tidak lebih. Tidak ada kepastian. Amat Senior tidak
pernah kembali, dan tidak ada yang tahu apakah ia masih hidup atau sudah
meninggal.
Mbah Jayeng meninggal dua tahun setelah kepergian putranya.
Sebelum meninggal, ia memanggil Sumirah ke sisinya. Dengan suara yang sudah
sangat lemah, ia berkata: "Rumah itu untukmu, Nduk. Untukmu dan anakmu.
Jangan pergi dari sini. Desa ini akan membutuhkan keturunanmu suatu hari
nanti."
Sumirah tidak mengerti maksud perkataan itu. Ia hanya
mengangguk sambil menangis. Ia tidak pergi dari desa itu, meskipun banyak yang
menyarankannya untuk kembali ke kampung halamannya atau menikah lagi dengan
pria lain. Ia tetap tinggal di rumah itu, seorang diri, bergantung pada hasil
kebun kecil di belakang rumah dan bantuan dari tetangga yang baik hati. Ia
menunggu, meskipun tidak jelas apa yang ditunggunya. Mungkin ia menunggu
kepastian tentang suaminya. Mungkin ia menunggu sesuatu yang lain, sesuatu yang
bahkan tidak diketahuinya.
Dan pada suatu malam, ketika hujan turun dengan cara yang
aneh dan kabut berputar seperti pusaran air, Sumirah melahirkan seorang bayi
laki-laki di rumah itu. Bayi yang lahir dengan mata biru terbuka lebar, dengan
suara tangisan yang bergema dari gunung ke gunung, dari lembah ke lembah. Bayi
yang kemudian diberinya nama Amat Junior, sebagai pengingat bahwa ia adalah
putra dari Amat Senior yang tak pernah kembali itu. Bayi yang, tanpa
sepengetahuannya, adalah benih takdir yang akan tumbuh menjadi penjaga leluhur
Desa Awan Biru.
Matahari baru saja muncul dari balik Bukit Pangasih ketika
Sumirah terbangun dari tidurnya yang singkat dan tidak nyenyak. Sinar matahari
pagi yang masih kemerahan menembus celah-celah dinding kayu, menciptakan
garis-garis cahaya yang jatuh di lantai tanah kamar tidur. Ia membuka matanya
perlahan, masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di bagian perut
yang terasa seperti diremas-remas oleh tangan raksasa.
Di sampingnya, terbaring seorang bayi laki-laki yang masih
terlelap. Wajahnya mungil, kulitnya kemerahan seperti bayi pada umumnya, tetapi
ada sesuatu yang berbeda yang langsung terlihat oleh Sumirah ketika ia menatap
anaknya: di bawah kelopak mata yang tipis itu, ada warna biru yang samar-samar
terlihat, seperti langit pagi yang tertangkap di dua bulatan kecil.
"Amat," bisik Sumirah dengan suara serak. Ia
mengulurkan tangan kanannya yang masih lemah, menyentuh pipi bayi itu dengan
ujung jarinya. "Amat Junior. Anakku."
Bayi itu tidak bergerak. Ia terus tidur dengan tenang,
dadanya naik turun perlahan, irama napasnya yang teratur seperti musik yang
paling menenangkan di dunia. Sumirah tidak bisa berhenti menatapnya. Dalam
kelelahan dan rasa sakit yang masih menyisakan sisa-sisa di tubuhnya, ada
kebahagiaan yang begitu besar, begitu dalam, sehingga ia hampir tidak percaya
bahwa kebahagiaan itu nyata.
Namun di balik kebahagiaan itu, ada kegelisahan yang mulai
merayap di benaknya. Ia masih ingat dengan jelas apa yang terjadi tadi malam.
Ia masih ingat bagaimana lampu-lampu padam bersamaan. Ia masih ingat bagaimana
kabut berputar seperti pusaran air di atas rumahnya. Ia masih ingat bagaimana
air hujan yang jatuh terasa hangat, tidak dingin seperti biasanya. Dan ia masih
ingat bagaimana tangisan bayinya bergema begitu keras, begitu jauh, seperti
suara yang datang bukan dari mulut mungil seorang bayi, tetapi dari sesuatu
yang jauh lebih besar dan lebih tua.
Semua keanehan itu membuatnya takut. Bukan takut pada
hal-hal gaib atau takhayul, tetapi takut pada apa yang mungkin akan dikatakan
orang tentang anaknya. Ia sudah mendengar cerita-cerita dari tetangga tentang
Mbah Karta yang berkumpul di bawah pohon beringin bersama dua tetua lainnya
tadi malam. Ia sudah mendengar bisik-bisik Mak Darmi dengan Bu Tarno tentang
tanda-tanda yang aneh selama proses persalinan. Ia tahu bahwa di desa yang
masih sangat menjunjung tinggi kepercayaan-kepercayaan lama ini, kelahiran
anaknya tidak akan dianggap sebagai kelahiran biasa.
Pikiran-pikiran itu membuatnya gelisah. Namun kemudian ia
menatap lagi bayi di sampingnya, melihat ketenangan yang terpancar dari wajah
mungil itu, dan kegelisahannya sedikit demi sedikit mereda. Apa pun
yang terjadi, aku akan melindungimu, pikirnya dalam hati. Aku tidak
tahu apa maksud semua ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu di masa
depan, tetapi aku akan selalu ada untukmu. Aku janji.
Tiba-tiba, dari kejauhan, ia mendengar suara-suara orang
berbicara. Suara itu semakin lama semakin keras, seperti ada kerumunan yang
sedang mendekati rumahnya. Sumirah menghela napas panjang. Ia sudah menduga ini
akan terjadi. Tentu saja orang-orang akan datang. Mereka ingin tahu, ingin
melihat, ingin memastikan dengan mata kepala sendiri tentang bayi yang lahir
dengan keanehan-keanehan tadi malam.
Dan benar saja. Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki
mulai terdengar di halaman depan, diikuti oleh suara-suara sapa dan tanya yang
bersahutan. Sumirah mendengar suara Bu Tarno yang berusaha menahan kerumunan,
suara Pak Tarno yang meminta orang-orang untuk tidak berdesakan, dan di antara
semua suara itu, ia mendengar suara laki-laki yang tegas dan berwibawa yang
langsung ia kenali sebagai suara Pak Iwan, Kepala Desa Awan Biru.
"Bu Tarno, bagaimana keadaan Ibu Sumirah?" tanya
Pak Iwan dengan suara yang tidak terlalu keras tetapi jelas terdengar hingga ke
dalam rumah.
"Alhamdulillah, Pak Kades, sepertinya sehat,"
jawab Bu Tarno. "Tadi malam Mak Darmi sudah memeriksanya. Katanya tidak
ada masalah. Bayinya juga sehat."
"Bagus. Saya ingin melihat beliau, ingin memastikan
sendiri. Apakah beliau sudah bangun?"
"Sepertinya sudah, Pak. Tadi saya lihat lampu di
kamarnya sudah menyala."
"Baik, kalau begitu saya akan masuk. Bu Tarno, tolong
temani saya."
Sumirah mendengar langkah kaki yang mendekat. Ia mencoba
duduk, tetapi rasa sakit di perutnya masih terasa menusuk. Ia memutuskan untuk
tetap berbaring, menunggu dengan perasaan campur aduk: ada rasa terima kasih
karena kepala desa sendiri yang datang menjenguk, tetapi juga ada rasa takut
karena ia tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Pak Iwan tentang anaknya.
Tirai kamar terbuka. Pak Iwan masuk dengan langkah
perlahan, diikuti oleh Bu Tarno dan Bu Yuni, sekretaris desa. Pak Iwan
mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan motif parang rusak, celana kain
hitam, dan sandal kulit. Rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis disisir
rapi, kumisnya yang tebal terawat sempurna. Ia adalah tipe pria yang selalu
tampil rapi, bahkan di pagi buta sekalipun, sebuah kebiasaan yang diwarisinya
dari ayahnya yang dulu juga seorang kepala desa.
"Selamat pagi, Sumirah," sapa Pak Iwan dengan
suara lembut, berbeda dengan suara tegasnya ketika berbicara dengan kerumunan
di luar tadi. "Maaf saya datang pagi-pagi sekali. Saya hanya ingin
memastikan keadaanmu dan bayimu baik-baik saja. Bagaimana perasaanmu?"
Sumirah berusaha tersenyum. "Alhamdulillah, Pak Kades,
saya baik-baik saja. Hanya masih terasa sakit di bagian perut, tapi Mak Darmi
bilang itu wajar."
"Syukurlah." Pak Iwan mengangguk. Matanya
kemudian beralih ke bayi yang masih tidur di samping Sumirah. Ia mengamati
dengan saksama, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. "Ini dia, ya,
anakmu? Laki-laki?"
"Iya, Pak. Laki-laki."
"Sudah diberi nama?"
"Sudah, Pak. Amat Junior. Saya panggil Amat
saja."
"Amat Junior," Pak Iwan mengulangi nama itu
perlahan, seolah-olah sedang mencicipi setiap suku katanya. "Nama yang
bagus. Mengambil nama ayahnya, ya?"
Sumirah hanya mengangguk. Ada getir yang tiba-tiba
menyergap hatinya ketika mendengar nama suaminya disebut. Ia sudah hampir dua
tahun tidak mendengar kabar tentang Amat Senior, dan meskipun ia sudah mulai
menerima kenyataan bahwa suaminya mungkin tidak akan pernah kembali, rasa sakit
karena ditinggalkan masih terasa setiap kali ia mengingatnya.
Pak Iwan sepertinya merasakan kesedihan itu. Ia tidak
melanjutkan pertanyaan tentang Amat Senior. Sebaliknya, ia berbalik ke arah Bu
Yuni yang berdiri di belakangnya.
"Bu Yuni, tolong catat. Ibu Sumirah dan anaknya butuh
bantuan. Koordinasikan dengan Pak Edi untuk memberikan bantuan sembako. Juga
minta Bu Endang untuk mengurus jaminan kesehatan Ibu Sumirah kalau belum punya.
Dan..." Ia berhenti sejenak, berpikir. "Tolong siapkan juga bantuan
untuk keperluan bayi. Popok, bedak, minyak telon, apa saja yang diperlukan.
Gunakan dana darurat desa kalau perlu."
"Baik, Pak Kades," jawab Bu Yuni sambil mencatat
di buku catatan kecil yang selalu dibawanya.
Bu Tarno yang sejak tadi berdiri di samping pintu tersenyum
lega. "Terima kasih, Pak Kades. Ibu Sumirah pasti sangat terbantu dengan
bantuan ini."
Pak Iwan mengangguk. Ia kemudian menatap Sumirah lagi.
"Sumirah, saya ingin bertanya sesuatu. Maaf jika pertanyaan ini terlalu
pribadi, tetapi sebagai kepala desa, saya perlu tahu. Tadi malam, ada kejadian-kejadian
yang tidak biasa di sekitar rumah ini. Lampu mati bersamaan, kabut yang
berputar-putar, dan... suara tangisan bayimu yang terdengar sampai ke seluruh
desa. Apakah kamu merasakan atau melihat sesuatu yang tidak biasa?"
Sumirah terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba
mengingat apa yang terjadi tadi malam. "Saya... saya tidak tahu, Pak
Kades. Saya terlalu sakit untuk memperhatikan apa-apa. Yang saya ingat, Mak
Darmi bilang posisi bayi saya melintang, dan saya kehilangan banyak darah. Saya
hampir pingsan. Dan setelah itu... setelah bayi saya lahir, semuanya kembali
normal."
Pak Iwan mengamati wajah Sumirah dengan saksama. Sebagai
kepala desa yang sudah berpengalaman, ia bisa membaca apakah seseorang sedang
jujur atau berbohong. Dan dari wajah Sumirah, ia melihat kejujuran. Perempuan
ini benar-benar tidak tahu apa yang terjadi tadi malam, atau setidaknya tidak
sepenuhnya menyadari keanehan yang terjadi di sekitarnya.
"Baiklah," kata Pak Iwan akhirnya. "Saya
tidak akan memaksa kamu untuk mengingat. Yang penting kamu dan bayimu sehat.
Untuk masalah-masalah lain, biar kami yang mengurusnya."
Ia kemudian berbalik hendak keluar, tetapi tiba-tiba
berhenti. Matanya kembali tertuju pada bayi yang masih tidur di samping
Sumirah. Ada sesuatu dalam tatapannya, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan,
seperti campuran antara keheranan, kekaguman, dan sedikit ketakutan.
"Sumirah," katanya perlahan, tanpa menoleh.
"Anakmu ini... jagalah dia baik-baik. Saya tidak tahu apa maksud semua
kejadian tadi malam, tetapi satu hal yang saya tahu: anak ini tidak biasa.
Mungkin itu adalah anugerah. Mungkin juga itu adalah cobaan. Yang pasti, kamu
harus lebih kuat ke depannya, bukan hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga
untuk anakmu."
Tanpa menunggu jawaban, Pak Iwan melangkah keluar dari
kamar. Bu Yuni mengikuti di belakangnya, sementara Bu Tarno masih tinggal
beberapa saat untuk memastikan Sumirah baik-baik saja.
"Bu Sum, kamu jangan khawatir ya dengan omongan Pak
Kades," kata Bu Tarno dengan suara lembut. "Beliau hanya sedang khawatir
dengan keadaan desa. Tadi malam benar-benar kejadian yang aneh. Saya sendiri
yang membantu Mak Darmi merasakan getaran aneh ketika bayi ini lahir. Tapi
percayalah, semua akan baik-baik saja. Anak ini akan tumbuh menjadi anak yang
baik. Saya yakin."
Sumirah hanya bisa mengangguk lemah. Matanya berkaca-kaca,
tetapi ia menahan diri untuk tidak menangis. Ia harus kuat. Ia harus kuat untuk
anaknya.
Di luar rumah, kerumunan yang tadinya hanya beberapa orang
kini sudah membengkak menjadi puluhan orang. Mereka datang dari berbagai
penjuru desa, ada yang berjalan kaki, ada yang mengendarai sepeda motor, ada
juga yang membawa serta anak-anak mereka yang masih kecil. Berita tentang
kelahiran Amat Junior dan kejadian-kejadian aneh yang menyertainya sudah menyebar
dengan kecepatan yang luar biasa, lebih cepat dari apapun yang pernah terjadi
di desa ini.
Pak Sugeng, tokoh masyarakat yang juga ketua RT setempat,
berdiri di depan rumah dengan tangan disilangkan di dada. Wajahnya yang
biasanya ramah dan penuh senyum kini tampak serius, matanya mengawasi kerumunan
dengan waspada. Ia sudah puluhan tahun menjadi ketua RT, sudah berpengalaman
menangani berbagai macam situasi, dari banjir hingga tanah longsor, dari
konflik antar warga hingga masalah-masalah keluarga. Namun situasi seperti ini,
kerumunan yang datang karena penasaran dengan bayi yang lahir dengan keanehan,
adalah sesuatu yang baru baginya.
"Warga, warga, dengarkan saya," seru Pak Sugeng
dengan suara lantang. "Saya minta semuanya untuk bersabar. Ibu Sumirah dan
bayinya butuh istirahat. Mereka baru saja melalui malam yang melelahkan. Kita
tidak boleh mengganggu mereka. Jadi saya minta, bagi yang tidak ada keperluan,
silakan pulang. Besok atau lusa, kalau Ibu Sumirah sudah lebih kuat, kalian
bisa datang lagi untuk menjenguk."
Seorang ibu-ibu paruh baya yang berdiri di barisan depan
menjawab dengan suara yang tidak kalah lantang. "Pak Sugeng, kami hanya
ingin melihat bayinya. Hanya sebentar. Kami sudah datang dari jauh. Masa
disuruh pulang begitu saja?"
Ibu-ibu lain di sekitarnya mengangguk-angguk setuju.
"Iya, Pak Sugeng. Kami hanya ingin lihat. Kata orang, bayinya punya mata
biru. Apakah benar?"
"Kami juga dengar tadi malam suara tangisannya bergema
sampai ke dusun sebelah. Apakah itu benar?"
"Dan kabut yang berputar-putar di atas rumah ini. Apa
itu pertanda apa?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berhamburan seperti hujan deras.
Pak Sugeng mengangkat kedua tangannya, mencoba menenangkan kerumunan.
"Warga, warga, satu per satu. Saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan
kalian. Yang jelas, Ibu Sumirah dan bayinya dalam keadaan sehat. Tidak ada yang
perlu dikhawatirkan. Untuk masalah-masalah lain, biar kami dari perangkat desa
yang akan mengurusnya. Sekali lagi saya minta, pulanglah dulu. Besok kalian
bisa datang lagi."
Tapi kerumunan tidak bergeming. Mereka tetap berdiri di
tempatnya, ada yang sambil bersandar di pohon jambu air, ada yang duduk di atas
batu-batu besar di pinggir jalan, ada juga yang membuka payung untuk melindungi
diri dari sinar matahari pagi yang mulai terik. Mereka datang dengan tekad yang
kuat: mereka ingin melihat bayi itu dengan mata kepala sendiri, sebelum cerita
tentangnya berubah menjadi legenda yang sulit dipercaya.
Pak Santoso, tokoh masyarakat lainnya yang lebih muda dan
dikenal sebagai pengusaha mebel yang sukses, berdiri di samping Pak Sugeng. Ia
adalah pria bertubuh tambun dengan perut buncit yang terbungkus kemeja
kotak-kotak lengan pendek, rambutnya yang mulai menipis disisir ke belakang,
dan di jari manisnya terlihat cincin emas besar yang berkilauan. Ia bukan hanya
tokoh masyarakat, tetapi juga donatur utama untuk berbagai kegiatan desa.
Ketika ada pembangunan masjid, ia menyumbang kayu jati untuk kubahnya. Ketika
ada perbaikan jalan desa, ia menyumbang pasir dan batu. Ketika ada warga yang kesulitan
biaya pengobatan, ia sering memberikan bantuan tanpa diminta. Karena itulah ia
dihormati oleh warga, meskipun kadang-kadang sifatnya yang blak-blakan dan suka
berkelakar membuat orang tersinggung.
"Wah, ini ramai sekali," kata Pak Santoso dengan
logat Jawanya yang kental, suaranya bergema di antara kerumunan. "Pada
antri apa ini? Mau beli tiket wayangan apa mau lihat bayi?"
Beberapa warga tertawa mendengar kelakar Pak Santoso. Tapi
ada juga yang tidak terhibur, terutama ibu-ibu yang sejak tadi sudah tidak
sabar ingin melihat bayi itu.
"Pak Santoso, ini serius," kata seorang ibu
dengan nada sedikit kesal. "Kami hanya ingin melihat bayi Bu Sumirah. Apa
salahnya?"
"Tidak ada yang salah, Bu," jawab Pak Santoso
sambil tersenyum lebar. "Tapi coba dipikir, Ibu Sumirah baru saja
melahirkan tadi malam. Badannya masih sakit, masih capek. Bayinya juga baru
lahir, masih sangat kecil. Kalau kita semua masuk, nanti ganggu istirahat
mereka. Bukannya dapat berkah, malah jadi gangguan. Setuju tidak?"
Warga mulai mengangguk-angguk, meskipun masih ada yang
terlihat enggan untuk pergi.
"Jadi, saya usul," lanjut Pak Santoso. "Kita
pulang dulu. Besok, atau lusa, setelah Ibu Sumirah lebih kuat, kita bisa datang
lagi untuk menjenguk. Nanti saya sendiri yang akan mengatur jadwalnya, biar
tidak berdesak-desakan. Bagaimana?"
"Tapi Pak Santoso, kami hanya ingin lihat
sebentar," kata seorang pemuda yang berdiri di belakang. "Kata orang,
bayinya punya mata biru. Apakah benar?"
Pak Santoso menghela napas. Ia menoleh ke arah Pak Sugeng,
lalu ke arah Bu Tarno yang baru saja keluar dari rumah. "Bu Tarno,
bagaimana? Mungkin Ibu Sumirah mengizinkan kita melihat bayinya sebentar? Dari
luar saja? Tidak usah masuk?"
Bu Tarno tampak ragu. Ia masuk ke dalam rumah sebentar,
lalu keluar lagi dengan ekspresi yang lega. "Ibu Sumirah mengizinkan. Tapi
hanya sebentar, dan tidak semua masuk. Mungkin cukup perwakilan saja."
Pak Sugeng dan Pak Santoso saling berpandangan. Kemudian
Pak Sugeng mengambil alih. "Baik. Kita akan pilih perwakilan. Bu RT, Pak RT,
perwakilan dari PKK, perwakilan dari karang taruna, dan perwakilan dari tokoh
masyarakat. Yang lain silakan pulang dulu. Nanti hasilnya akan kami
sampaikan."
Kerumunan mulai bergerak. Ada yang patuh dan segera
berbalik pulang, ada yang masih menunggu di kejauhan dengan harapan bisa
melihat dari jauh, dan ada juga yang bergerombol di pinggir jalan sambil
berbisik-bisik membicarakan kejadian tadi malam.
Di tempat lain, sekitar lima ratus meter dari rumah
Sumirah, warung kopi milik Mbah Karyo sudah mulai ramai sejak subuh. Warung ini
adalah tempat nongkrong favorit warga Desa Awan Biru, terutama para bapak-bapak
dan pemuda yang ingin menghabiskan pagi atau sore dengan kopi tubruk, rokok
kretek, dan obrolan ringan tentang apa saja. Warungnya sederhana: hanya
bangunan semi-permanen dari papan kayu dengan atap seng, berisi beberapa meja
kayu panjang dan bangku-bangku bambu yang sudah hitam karena usia dan pantat
yang terus-menerus duduk di atasnya.
Mbah Karyo sendiri adalah seorang perempuan tua berusia
sekitar tujuh puluh tahun, meskipun tidak ada yang tahu pasti usianya. Ia sudah
menjanda sejak muda, suaminya meninggal ketika anak-anaknya masih kecil, dan
untuk menghidupi keluarganya ia membuka warung kopi kecil-kecilan. Kini
anak-anaknya sudah dewasa dan bekerja di kota, tetapi Mbah Karyo tetap membuka
warungnya setiap hari, dari subuh hingga malam, karena katanya ia tidak bisa
hidup tanpa mendengar suara orang-orang bercerita dan tertawa.
Pagi itu, warung Mbah Karyo lebih ramai dari biasanya.
Beberapa warga yang tidak bisa tidur nyenyak karena kejadian tadi malam memilih
untuk pergi ke warung, mencari kehangatan dari secangkir kopi panas dan
penjelasan dari orang-orang yang mungkin lebih tahu tentang apa yang sebenarnya
terjadi.
Anto, sopir truk perusahaan pengangkut hasil bumi yang
terkenal suka meramal, sudah duduk di warung sejak subuh. Ia memesan kopi hitam
pekat dan sepiring pisang goreng, lalu duduk di sudut warung dengan posisi yang
memungkinkannya melihat semua orang yang masuk dan keluar. Anto adalah pria
bertubuh tambun dengan rambut panjang sebahu yang selalu diikat karet gelang,
kumis tebal yang melintang di bibir atasnya, dan mata sipit yang terlihat
selalu menyipit meskipun sedang tidak memicingkan mata. Ia dikenal sebagai
peramal handal: ia bisa membaca garis tangan, meramal dari kartu tarot, dan
yang paling terkenal adalah meramal dari ampas kopi. Banyak ibu-ibu desa yang
datang kepadanya untuk bertanya tentang jodoh atau rezeki, dan beberapa kali
ramalannya terbukti benar, entah itu kebetulan atau memang ia memiliki bakat
khusus.
"Mbah Karyo, kopinya enak pagi ini," kata Anto
sambil menyeruput kopinya. "Ada apa? Kopinya dibumbui sesuatu?"
Mbah Karyo yang sedang membersihkan meja di sebelahnya
tertawa kecil. "Ah, Mas Anto ini. Kopi ya kopi. Tidak ada bumbu apa-apa.
Mungkin karena airnya yang masih bagus pagi ini. Air sumur saya sedang
bagus-bagusnya setelah hujan tadi malam."
"Hujan," Anto mengulang kata itu sambil menatap
langit-langit warung yang terbuat dari seng. "Hujan yang aneh tadi malam,
Mbah. Airnya hangat. Saya sudah puluhan tahun jadi sopir truk, sudah ke
mana-mana, baru kali ini merasakan air hujan hangat. Itu tidak normal."
"Tidak normal, tidak biasa, iya," Mbah Karyo
meletakkan kain lap yang digunakannya di bahu. "Tapi tidak berarti buruk.
Kadang-kadang alam ingin menunjukkan sesuatu. Kita hanya perlu melihat dan
mendengarkan."
Seorang bapak paruh baya yang duduk di meja sebelah ikut
nimbrung. "Mbah Karyo, apa pendapat Mbah tentang bayi yang lahir tadi
malam? Kata orang, matanya biru dan tangisannya bergema sampai ke seluruh desa.
Apa itu pertanda apa?"
Mbah Karyo duduk di bangku kosong di samping meja Anto. Ia
mengambil sebuah rokok kretek dari bungkusnya, menyalakannya, lalu menghisap
dalam-dalam sebelum menjawab. "Dengar, ya, saya ini orang tua yang tidak
sekolah tinggi. Saya tidak bisa menjelaskan fenomena-fenomena aneh dengan ilmu
pengetahuan modern seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah. Tapi saya sudah
hidup tujuh puluh tahun di desa ini. Saya sudah melihat banyak hal. Dan satu hal
yang saya pelajari: tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa sebab. Setiap
kejadian, sekecil apapun, selalu ada maknanya."
"Lalu apa makna dari kejadian tadi malam, Mbah?"
tanya bapak itu lagi.
Mbah Karyo menghela napas, asap rokok mengepul dari hidungnya.
"Tahukah kamu cerita tentang penjaga desa? Tentang leluhur yang menjaga
keseimbangan antara dunia manusia dan dunia gaib?"
Bapak itu menggeleng. "Saya hanya dengar cerita dari
orang tua dulu, tapi tidak terlalu paham."
"Jadi begini," Mbah Karyo mulai bercerita,
suaranya menjadi lebih pelan dan dalam, seperti orang yang sedang menceritakan
sesuatu yang sangat penting. "Dahulu, ketika leluhur kita pertama kali
datang ke desa ini, mereka tidak hanya membawa fisik mereka. Mereka juga
membawa ilmu, pengetahuan, dan yang paling penting, mereka membawa janji. Janji
untuk menjaga keseimbangan. Desa ini, seperti yang kamu lihat, dikelilingi oleh
bukit-bukit. Di selatan ada hutan larangan yang tidak boleh dimasuki
sembarangan. Di utara ada Bukit Pangasih tempat leluhur pertama memberikan
berkah. Di timur ada mata air yang tidak pernah kering. Dan di barat ada pohon
beringin tua yang menjadi pusat dari segalanya."
"Pohon beringin tua di tengah desa itu?"
"Iya. Pohon itu bukan sekadar pohon. Ia adalah simbol
dari akar yang menghubungkan kita dengan leluhur. Dan kabut yang selalu turun
dari selatan itu bukan sekadar kabut. Itu adalah napas para leluhur yang masih
menjaga desa. Mereka belum pergi. Mereka masih di sini, di antara kita, dalam
bentuk yang mungkin tidak bisa kita lihat dengan mata biasa."
Mendengar penjelasan Mbah Karyo, beberapa orang yang
tadinya hanya diam-diam mendengarkan mulai mendekat. Anto yang sejak tadi asyik
menyeruput kopinya juga ikut mendengarkan dengan saksama.
"Lalu apa hubungannya dengan bayi itu, Mbah?"
tanya seorang pemuda yang duduk di bangku paling belakang.
Mbah Karyo menghabiskan rokoknya, membuang puntungnya ke
kaleng bekas yang disediakan di samping meja. "Tiga ratus tahun yang lalu,
ketika desa ini pertama kali dibangun, leluhur kita membuat sebuah ramalan.
Mereka mengatakan bahwa suatu hari nanti, ketika keseimbangan mulai terganggu,
akan lahir seorang anak yang membawa tanda-tanda alam. Anak itu akan menjadi
penjaga baru, penerus leluhur yang akan menjaga keseimbangan antara dunia
manusia dan dunia gaib. Anak itu akan lahir dengan tanda yang jelas: mata biru
seperti langit Awan Biru, dan tangisannya akan bergema dari gunung ke
gunung."
Warung itu tiba-tiba menjadi sunyi. Tidak ada yang
berbicara. Hanya suara ayam berkokok dari kejauhan dan suara air mendidih di
atas tungku yang memecah keheningan.
"Jadi... maksud Mbah, bayi itu...?" bapak paruh
baya itu tidak berani melanjutkan kalimatnya.
Mbah Karyo tersenyum. "Saya tidak mengatakan itu
adalah dia. Saya hanya mengatakan bahwa kejadian tadi malam sangat mirip dengan
apa yang diceritakan dalam ramalan. Apakah itu benar atau tidak, hanya waktu
yang bisa menjawab. Yang pasti, kita tidak boleh terburu-buru mengambil
kesimpulan. Kita hanya perlu melihat, mendengarkan, dan bersikap bijak."
Anto yang sejak tadi diam tiba-tiba berbicara. "Mbah
Karyo, saya setuju dengan Mbah. Tapi saya juga ingin menambahkan sesuatu. Tadi
malam, sebelum hujan turun, saya melihat sesuatu yang aneh di jalan belakang
dekat makam desa."
Semua orang menoleh ke arah Anto.
"Saya sedang membawa truk pulang dari kecamatan,"
lanjut Anto. "Ketika saya melewati jalan belakang dekat makam, tiba-tiba
truk saya mati. Padahal bensin penuh, dan mesin dalam keadaan baik. Saya turun
untuk memeriksa, dan ketika saya melihat ke kaca spion, saya melihat bayangan
pohon beringin tua yang terbalik. Bayangan itu bergerak, seperti ada sesuatu
yang hidup di dalamnya. Saya tidak sedang bergurau."
"Lalu?" tanya seorang pemuda dengan suara
bergetar.
"Lalu, setelah beberapa menit, truk saya bisa menyala
lagi. Saya langsung tancap gas pulang ke rumah. Dan beberapa jam kemudian, saya
mendengar kabar tentang kelahiran bayi itu."
Mbah Karyo mengangguk perlahan. "Itu adalah tanda, Mas
Anto. Tanda bahwa dunia kita sedang bergeser. Sesuatu yang baru akan lahir, dan
yang lama harus memberi jalan. Tapi proses pergeseran itu tidak pernah mudah.
Selalu ada gejolak, selalu ada keanehan, selalu ada hal-hal yang tidak bisa
dijelaskan. Itu wajar."
"Tapi apakah itu berbahaya, Mbah?" tanya bapak
paruh baya itu dengan wajah cemas.
"Berbahaya atau tidak, tergantung bagaimana kita
menyikapinya," jawab Mbah Karyo. "Jika kita panik dan membuat
kekacauan, ya pasti berbahaya. Tapi jika kita tenang dan bijak, insya Allah
semua akan baik-baik saja. Desa ini sudah berumur tiga ratus tahun. Banyak hal
sudah dilaluinya. Ini hanya satu episode lagi dalam perjalanan panjang desa
ini."
Percakapan di warung Mbah Karyo berlangsung hingga matahari
meninggi. Topik pembicaraan berganti-ganti dari ramalan leluhur hingga
kejadian-kejadian aneh yang pernah dialami masing-masing orang. Ada yang
menceritakan tentang pengalamannya melihat sosok-sosok aneh di hutan larangan,
ada yang menceritakan tentang suara-suara misterius yang terdengar dari pohon
beringin di malam hari, ada juga yang menceritakan tentang mimpi-mimpi aneh
yang dialaminya beberapa hari sebelum kelahiran Amat Junior.
Dan di tengah semua pembicaraan itu, Mbah Karyo hanya
tersenyum sambil terus menyeduh kopi untuk para pelanggannya. Ia tahu bahwa apa
yang terjadi tadi malam hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Ia tahu
bahwa anak yang lahir di rumah sederhana di kaki Bukit Pangasih itu akan
membawa perubahan besar bagi desa ini. Tapi ia juga tahu bahwa tidak ada
gunanya mengatakan semua itu sekarang. Lebih baik membiarkan waktu yang
berbicara, membiarkan takdir yang berjalan, sambil sesekali memberikan petunjuk
kecil kepada mereka yang mau mendengar.
Sementara percakapan di warung Mbah Karyo masih
berlangsung, di kantor desa yang terletak di tengah desa, sekitar satu kilometer
dari rumah Sumirah, suasana juga tidak kalah ramainya. Kantor desa adalah
bangunan permanen berukuran sedang, dengan dinding bata putih dan atap genteng
merah, yang dibangun pada masa Pak Iwan menjabat sebagai kepala desa periode
pertama, sekitar lima belas tahun yang lalu. Sebelumnya, kantor desa hanya
berupa pendopo terbuka yang digunakan untuk berbagai macam kegiatan, dari rapat
warga hingga pentas seni.
Pak Iwan mengadakan rapat darurat dengan perangkat desa
untuk membahas situasi yang berkembang pasca-kelahiran Amat Junior. Rapat itu
dimulai pukul delapan pagi, setelah Pak Iwan kembali dari menjenguk Sumirah.
Ruang rapat kantor desa yang berukuran sekitar lima kali tujuh meter itu diisi
oleh meja panjang berbentuk persegi panjang, dikelilingi oleh kursi-kursi
plastik merah yang sudah mulai pudar warnanya. Di dinding ruangan, tergantung
foto-foto kepala desa dari masa ke masa, dari yang pertama hingga yang
sekarang, semuanya dalam bingkai kayu sederhana.
Hadir dalam rapat itu: Bu Yuni, Sekretaris Desa, seorang
perempuan berusia empat puluh tahun dengan rambut disanggul rapi dan kacamata
baca yang selalu tergantung di lehernya; Bu Lulu, Kaur Keuangan, perempuan muda
berusia sekitar tiga puluh tahun dengan kacamata tebal dan gaya bicara yang
cepat dan tegas; Bu Endang, Kasi Pelayanan, perempuan berperawakan kecil dengan
rambut sebahu dan selalu membawa tas anyaman dari plastik daur ulang; Pak Edi,
Kasi Kesejahteraan, pria paruh baya dengan kumis tipis dan perut yang mulai
buncit; Pak Eko, Kaur Perencanaan, pria kurus dengan kumis tipis yang selalu
membawa buku catatan kecil di saku kemejanya; Pak Sugeng, yang juga menjabat
sebagai ketua RT setempat; dan Si Amat, Admin Desa, adik kandung Sumirah yang
baru beberapa bulan lalu diangkat menjadi perangkat desa sebagi Kasi
Pemerintahan untuk mengelola administrasi dan komputerisasi.
Si Amat duduk di ujung meja, di kursi yang paling dekat
dengan pintu. Wajahnya pucat, matanya sembab karena semalaman tidak tidur. Ia
masih belum bisa melupakan kejadian tadi malam, ketika ia berlari dari kantor
desa ke rumah kakaknya, melewati jalan-jalan yang gelap dan dipenuhi kabut,
mendengar suara gemuruh yang tidak jelas sumbernya, dan kemudian melihat
keponakannya yang baru lahir dengan mata biru yang aneh itu. Sebagai admin desa
yang terbiasa bekerja dengan data dan fakta, ia merasa dunianya berguncang.
Hal-hal yang selama ini ia anggap sebagai takhayul atau cerita orang tua-tua
kini menjadi nyata di hadapannya.
"Baik, kita mulai rapatnya," kata Pak Iwan
setelah semua hadir. Ia duduk di kursi paling ujung meja, menghadap ke semua
peserta rapat. Di depannya, terdapat buku catatan, pulpen, dan segelas air
putih. "Saya akan langsung ke pokok masalah. Seperti yang kita semua
ketahui, tadi malam terjadi kejadian-kejadian yang tidak biasa di rumah Ibu
Sumirah. Lampu padam total di seluruh desa. Genset kantor juga tidak bisa
menyala. Ada kabut yang berputar-putar di atas rumah itu. Dan yang paling
mencolok, suara tangisan bayi yang lahir di rumah itu terdengar sampai ke
seluruh desa, bahkan mungkin sampai ke desa tetangga."
Pak Iwan berhenti sejenak, memandang satu per satu peserta
rapat. "Saya sudah berbicara dengan Ibu Sumirah. Dari pembicaraan saya,
beliau tidak tahu banyak tentang kejadian-kejadian aneh itu. Beliau terlalu
sakit untuk memperhatikan apa pun. Jadi kita tidak bisa mendapatkan informasi
lebih dari sana."
Bu Lulu, Kaur Keuangan, mengangkat tangan. "Pak Kades,
saya punya informasi yang mungkin relevan. Tadi malam, ketika listrik padam,
saya berada di kantor desa untuk menyelesaikan laporan keuangan. Tiba-tiba
komputer saya menyala dengan sendirinya. Padahal listrik padam total. Saya
sudah mencabut kabelnya, tetapi tetap menyala. Dan yang lebih aneh lagi, di
layar komputer itu muncul peta-peta tua, bukan file yang biasa saya buka. Saya
tidak tahu dari mana asalnya."
"Peta tua seperti apa?" tanya Pak Iwan.
"Peta desa, Pak. Tapi peta yang sangat tua. Tata
letaknya berbeda dengan desa sekarang. Ada sungai yang tidak ada di desa kita
sekarang, ada hutan yang sudah berubah menjadi pemukiman, dan ada..." Bu
Lulu berhenti, ragu-ragu.
"Ada apa?"
"Ada gambar pohon beringin besar dengan akar yang
menjalar sampai ke... sepertinya sampai ke sumber mata air di selatan.
Akar-akar itu seperti urat nadi yang menghubungkan pohon itu dengan seluruh
desa."
Ruangan menjadi sunyi. Pak Eko, Kaur Perencanaan, yang
duduk di samping Bu Lulu, mengangguk-angguk. "Saya juga mengalami hal
serupa, Pak. Saya coba buka arsip perencanaan pembangunan desa tahun 1980-an,
tapi yang muncul malah sketsa-sketsa kuno tentang tata letak desa. Ada
gambar-gambar yang tidak saya mengerti, simbol-simbol aneh yang tidak pernah
saya lihat sebelumnya. Saya mencetaknya, ini."
Pak Eko mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas
kerjanya dan meletakkannya di atas meja. Pak Iwan mengambil kertas-kertas itu,
memeriksanya dengan saksama. Di kertas itu, tergambar sketsa-sketsa yang rumit:
garis-garis yang membentuk pola seperti labirin, lingkaran-lingkaran yang
saling terkait, dan di tengah-tengah semua itu, gambar pohon beringin besar
dengan akar-akar yang menjalar ke segala arah.
"Menarik," kata Pak Iwan sambil terus memeriksa
gambar-gambar itu. "Apakah ini asli muncul dari komputer atau ada yang
mengutak-atik?"
"Tidak mungkin ada yang mengutak-atik, Pak,"
jawab Pak Eko. "Saya sendiri yang membuka file-nya. Dan ketika file itu
terbuka, komputer saya seperti tidak bisa dikendalikan. Saya sudah mencoba
mematikannya dengan menekan tombol power, tapi tidak mempan. Baru setelah suara
tangisan bayi itu mereda, komputer kembali normal."
Pak Iwan menghela napas panjang. Ia meletakkan
kertas-kertas itu di atas meja, lalu menatap semua peserta rapat. "Saya
tidak akan mencoba menjelaskan fenomena ini dengan akal sehat. Kadang-kadang,
ada hal-hal yang memang tidak bisa dijelaskan. Tugas kita bukan mencari
penjelasan, tetapi mengelola dampaknya. Kita harus memastikan bahwa desa ini
tetap tenang, tidak ada kepanikan, tidak ada kekacauan. Itu prioritas utama
kita."
Bu Yuni, Sekretaris Desa, yang sejak tadi diam
mendengarkan, akhirnya berbicara. "Pak Kades, saya setuju dengan Bapak.
Tapi saya juga ingin mengingatkan bahwa kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa
banyak warga yang percaya bahwa kejadian ini berkaitan dengan ramalan leluhur
tentang penjaga desa. Mungkin kita perlu mengakomodasi kepercayaan itu, bukan
menolaknya secara mentah-mentah."
"Apa maksud Ibu Sekdes?" tanya Pak Iwan.
"Kita bisa mengundang para tetua desa, Mbah Karta,
Mbah Jayeng, Mbah Ratih, untuk memberikan penjelasan kepada warga tentang makna
kejadian ini dari perspektif tradisi. Dengan begitu, warga tidak akan
mencari-cari informasi sendiri yang belum tentu benar. Kita juga bisa
mengadakan doa bersama atau selamatan untuk keselamatan Ibu Sumirah dan
bayinya. Itu akan membantu menenangkan warga."
Pak Iwan berpikir sejenak. "Usul yang bagus, Bu
Sekdes. Saya setuju. Tolong koordinasikan dengan para tetua desa. Juga dengan
takmir masjid untuk doa bersama. Kita lakukan secepatnya, mungkin besok malam
setelah salat Isya."
Pak Sugeng, mengangkat tangan. "Pak Kades, saya juga
ingin melaporkan bahwa tadi pagi sudah ada kerumunan warga di rumah Ibu
Sumirah. Mereka ingin melihat bayinya. Saya bersama Pak Santoso sudah
membubarkan mereka, tapi saya khawatir besok atau lusa akan datang lagi,
mungkin lebih banyak."
"Kita tidak bisa melarang warga untuk menjenguk,"
kata Pak Iwan. "Tapi kita bisa mengatur. Buat jadwal kunjungan. Mungkin
cukup perwakilan dari setiap RT. Dan pastikan yang datang tidak mengganggu
istirahat Ibu Sumirah dan bayinya. Pak Sugeng, tolong atur itu."
"Baik, Pak Kades."
Pak Iwan kemudian menoleh ke arah Si Amat yang sejak tadi
duduk diam di ujung meja. Wajah pemuda itu masih pucat, matanya merah. Pak Iwan
tahu bahwa ini bukan rapat yang mudah bagi Si Amat. Bayi yang menjadi pusat
perhatian itu adalah keponakannya sendiri, anak dari kakak kandungnya. Dan di
balik semua kejadian aneh itu, Si Amat mungkin sedang berusaha memahami apa
yang sebenarnya terjadi dalam keluarganya.
"Amat," panggil Pak Iwan dengan suara lebih
lembut. "Apa kabar? Kamu baik-baik saja?"
Si Amat mengangkat wajahnya. "Saya baik-baik saja,
Pak. Hanya sedikit lelah karena semalaman tidak tidur."
"Kamu sudah ke rumah kakakmu pagi ini?"
"Sudah, Pak. Saya ke sana setelah subuh. Ibu Sumirah
sehat, bayinya juga sehat. Saya sudah bicara sebentar dengan kakak saya."
"Bagaimana perasaannya?"
Si Amat berpikir sejenak. "Dia... dia terlihat tenang,
Pak. Mungkin lebih tenang dari saya. Saya bertanya tentang kejadian tadi malam,
tapi dia hanya bilang dia tidak ingat banyak. Yang dia ingat hanyalah rasa
sakit, dan setelah itu bayinya lahir. Dia lebih khawatir tentang bagaimana
orang-orang akan memperlakukan anaknya ke depannya."
Pak Iwan mengangguk. "Itu kekhawatiran yang wajar.
Kita harus pastikan bahwa anak ini tumbuh normal seperti anak-anak lainnya.
Tidak ada perlakuan khusus yang bisa merugikannya. Itu tanggung jawab kita
semua sebagai aparatur desa."
"Terima kasih, Pak Kades," kata Si Amat dengan
suara sedikit bergetar.
Rapat berlanjut dengan pembahasan hal-hal teknis lainnya:
koordinasi dengan puskesmas untuk memantau kesehatan ibu dan bayi, persiapan
bantuan sosial yang akan diberikan, pengaturan jadwal kunjungan warga, dan
persiapan doa bersama yang akan diadakan besok malam. Setelah sekitar dua jam,
rapat pun selesai. Perangkat desa mulai meninggalkan ruangan satu per satu,
meninggalkan Pak Iwan yang masih duduk di kursinya sambil memandangi
sketsa-sketsa kuno yang dibawa Pak Eko.
Ketika semua sudah keluar, Pak Iwan mengambil salah satu
kertas itu, memperhatikan gambar pohon beringin dengan akar-akar yang menjalar
ke seluruh desa. Ia teringat pada cerita-cerita yang didengarnya dari ayahnya
dulu, tentang penjaga desa, tentang ramalan leluhur, tentang keseimbangan yang
harus dijaga. Dulu ia menganggap semua itu hanya cerita pengantar tidur, tidak
lebih. Tapi sekarang, setelah melihat sendiri apa yang terjadi tadi malam, ia
mulai bertanya-tanya.
"Jadi ini awal dari semuanya, ya?" gumamnya pada
diri sendiri. "Apa kau sudah siap, Nak Amat? Apa desa ini sudah siap
menerima apa yang akan terjadi?"
Tidak ada yang menjawab. Hanya angin pagi yang masuk
melalui jendela kantor, membawa kabut tipis dari lereng selatan, menyelimuti
ruangan dengan dingin yang menusuk tulang.
Sore harinya, setelah semua keramaian mereda dan warga
mulai kembali ke aktivitasnya masing-masing, Sumirah meminta Amat, adiknya yang
sedari tadi setia menemaninya, untuk membawanya ke halaman belakang rumah. Ia
ingin melihat matahari terbenam dari balik Bukit Pangasih, seperti yang selalu
dilakukannya setiap hari sebelum hamil besar. Amat awalnya keberatan, karena
kakaknya masih lemah dan seharusnya istirahat total. Tapi Sumirah memaksa,
dengan alasan bahwa udara segar akan membantunya memulihkan tenaga. Akhirnya
Amat mengalah. Ia memapah kakaknya keluar rumah, berjalan perlahan menembus
halaman belakang yang ditumbuhi rumput ilalang dan beberapa pohon pisang yang
mulai berbuah.
Di belakang rumah, tanah mulai meninggi membentuk lereng
kecil yang merupakan kaki dari Bukit Pangasih. Tidak ada bangunan di sini,
hanya hamparan rumput liar yang sesekali ditumbuhi semak-semak dan pohon-pohon
kecil. Dari sini, pemandangan desa Awan Biru terbentang luas: rumah-rumah
dengan atap seng dan genteng yang tersebar tidak beraturan, sawah-sawah yang
mulai menguning karena akan panen, sungai kecil yang berkelok-kelok seperti
ular, dan di kejauhan, pohon beringin tua yang menjulang tinggi di tengah desa,
dengan kanopinya yang lebar seperti payung raksasa yang melindungi seluruh
desa.
Matahari mulai condong ke barat, warnanya berubah dari
putih menyilaukan menjadi jingga keemasan, kemudian perlahan-lahan menjadi
merah seperti darah. Awan-awan di langit ikut berubah warna, dari putih bersih
menjadi merah muda, lalu ungu, lalu abu-abu gelap menjelang malam. Di ufuk
barat, barisan gunung-gunung yang membatasi desa ini tampak seperti siluet
hitam yang megah, dengan puncak-puncaknya yang menjulang dan lembah-lembahnya
yang dalam.
Sumirah duduk di atas sebuah batu besar yang sudah lama
menjadi tempat favoritnya untuk bermeditasi. Batu itu tidak terlalu besar,
hanya sekitar setengah meter tingginya dan satu meter lebarnya, cukup untuk
satu orang duduk dengan nyaman. Permukaannya yang rata dan halus menunjukkan
bahwa batu ini sering diduduki, mungkin sudah bertahun-tahun, bahkan puluhan
tahun. Di beberapa tempat, permukaan batu itu ditumbuhi lumut tipis yang
berwarna hijau keabuan, membuatnya terasa lembut ketika disentuh.
"Amat," panggil Sumirah lembut. "Duduklah di
sini. Aku ingin bicara denganmu."
Amat duduk di tanah di samping batu, bersandar pada sebuah
pohon pisang yang batangnya basah dan licin. "Ada apa, Mbak?"
Sumirah tidak langsung menjawab. Ia memandangi langit senja
yang mulai gelap, matanya menerawang jauh, seolah-olah sedang melihat sesuatu
yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Angin sore bertiup lembut dari arah
selatan, membawa bau tanah basah dan dedaunan yang khas, bau yang selalu
mengingatkannya pada masa kecilnya di desa ini.
"Amat, aku ingin kamu tahu sesuatu," kata Sumirah
akhirnya, suaranya pelan tetapi jelas. "Tadi malam, ketika aku melahirkan
Amat Junior, aku melihat sesuatu."
Amat menegakkan badannya. "Melihat apa, Mbak?"
"Aku melihat... leluhur kita. Bukan satu atau dua,
tetapi banyak. Mereka berdiri di sekelilingku, membentuk lingkaran. Aku tidak
bisa melihat wajah mereka dengan jelas, karena mereka bercahaya, seperti...
seperti lampu neon yang redup. Tapi aku bisa merasakan kehadiran mereka.
Mereka... mereka sedang menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu anak ini lahir." Sumirah menunjuk ke
arah rumah, tempat Amat Junior terbaring di kamar tidur, dijaga oleh Bu Tarno
yang dengan senang hati menawarkan diri untuk menjaga bayi itu sementara
Sumirah beristirahat. "Aku tidak tahu mengapa, aku tidak tahu untuk apa.
Tapi aku yakin, mereka datang untuk menyambut kelahiran anak ini. Dan itu
membuatku... takut."
Amat menggigit bibir bawahnya. "Mbak, mungkin itu
hanya halusinasi karena Mbak kesakitan dan kelelahan. Itu wajar, kan? Orang
yang melahirkan kadang-kadang mengalami hal-hal yang tidak biasa karena tekanan
fisik dan mental."
Sumirah tersenyum, tapi senyumnya pahit. "Aku juga
berpikir seperti itu awalnya. Tapi kemudian aku ingat perkataan Mbah buyut Jayeng
sebelum beliau meninggal. Beliau bilang, 'Rumah itu untukmu, Nduk. Untukmu dan
anakmu. Jangan pergi dari sini. Desa ini akan membutuhkan keturunanmu suatu
hari nanti.' Aku tidak mengerti waktu itu. Tapi sekarang, aku mulai
mengerti."
Amat tidak bisa membantah. Ia juga ingat perkataan Mbah
Jayeng. Ia juga ingat bagaimana Mbah Jayeng selalu bersikap aneh setiap kali
melihat Sumirah hamil, bagaimana matanya yang keriput itu selalu memandangi
perut kakaknya dengan ekspresi yang sulit diartikan: ada harapan, ada
kekhawatiran, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
"Mbak," kata Amat pelan. "Apa Mbak percaya
dengan ramalan tentang penjaga desa?"
Sumirah menghela napas. "Aku tidak tahu, Le. Aku bukan
orang yang mengerti hal-hal seperti itu. Aku hanya perempuan desa yang tidak
sekolah tinggi. Tapi setelah apa yang terjadi tadi malam, setelah apa yang aku
lihat, aku mulai bertanya-tanya: mungkin ada benarnya juga cerita-cerita orang
tua itu. Mungkin tidak semua cerita itu hanya dongeng pengantar tidur."
"Mbak takut?"
"Takut? Iya, aku takut. Bukan takut pada hal-hal gaib,
tapi takut pada apa yang akan terjadi pada anakku. Kalau benar dia adalah...
penjaga yang dimaksud, apa yang akan terjadi padanya? Apakah dia akan selamat?
Apakah dia akan bahagia? Apakah dia akan bisa menjalani kehidupan normal
seperti anak-anak lain?"
Amat tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa diam, mendengarkan
angin sore yang berdesir di antara dedaunan pohon pisang.
"Mbak," kata Amat setelah beberapa saat.
"Aku janji, aku akan selalu menjaga Amat Junior. Sebagai pamannya, sebagai
keluarganya. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkannya. Aku akan
melindunginya sekuat yang aku bisa."
Sumirah menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, Le. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu. Sejak kecil, kamu
selalu menjadi penyemangatku. Bahkan setelah bapak dan ibu meninggal, kamu yang
selalu ada untukku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami berdua tanpa
kamu."
"Mbak jangan bicara seperti itu. Kita keluarga.
Keluarga harus saling menjaga."
Matahari akhirnya tenggelam sempurna di balik barisan
gunung. Langit berubah warna dari merah menjadi ungu tua, lalu biru gelap yang
perlahan-lahan dipenuhi bintang-bintang. Di timur, bulan sabit tipis mulai
muncul, memberikan cahaya peraknya yang lembut ke seluruh desa.
Dari kejauhan, terdengar suara azan magrib berkumandang
dari masjid desa. Suaranya mengalun lembut, menembus kabut tipis yang mulai
turun dari lereng bukit, membawa kedamaian yang aneh tetapi menenangkan.
"Ayo, Le," kata Sumirah sambil berusaha berdiri.
"Kita harus pulang. Amat Junior pasti sudah bangun dan menangis minta
disusui."
Amat segera membantu kakaknya berdiri. Dengan perlahan,
mereka berjalan kembali menuju rumah, melewati halaman belakang yang mulai
gelap, melewati pohon jambu air yang daunnya bergemerisik ditiup angin,
melewati sumur tua yang airnya berkilauan di bawah cahaya bulan.
Ketika mereka masuk ke dalam rumah, mereka mendengar suara
tangisan Amat Junior dari kamar tidur. Tapi tangisan kali ini tidak seperti
tadi malam. Tidak bergema, tidak mengguncang. Tangisan ini adalah tangisan bayi
biasa, tangisan yang meminta perhatian, meminta kehangatan, meminta kasih
sayang dari ibunya.
Sumirah tersenyum mendengarnya. Ia berjalan cepat menuju
kamar, menggendong anaknya, dan mendekapnya erat-erat. Dalam pelukannya,
tangisan itu berangsur-angsur mereda, digantikan oleh suara dengkuran kecil
yang menunjukkan bahwa bayi itu sudah kembali tidur.
Amat berdiri di pintu kamar, memandangi kakak dan
keponakannya dengan perasaan campur aduk. Di dalam hatinya, ia berjanji pada
dirinya sendiri: apapun yang terjadi, apapun takdir yang menanti anak ini, ia
akan selalu ada. Ia akan menjadi pamannya, temannya, pelindungnya. Ia akan
memastikan bahwa Amat Junior tumbuh menjadi anak yang baik, anak yang kuat,
anak yang siap menghadapi apapun yang akan dihadapinya.
Malam itu, ketika desa Awan Biru kembali diselimuti kabut
tipis dari lereng selatan, ketika pohon beringin tua di tengah desa bergoyang
pelan ditiup angin malam, ketika bintang-bintang berkerlip di langit yang biru
pucat, seorang bayi laki-laki bernama Amat Junior tertidur pulas dalam dekapan
ibunya, tidak menyadari bahwa hidupnya telah dimulai dengan kejadian-kejadian
yang akan membentuknya menjadi apa yang ditakdirkan sejak tiga ratus tahun yang
lalu.
Langit Awan Biru tidak pernah benar-benar biru. Tapi pada
malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah desa ini, warna biru itu terasa
lebih dalam, lebih pekat, lebih hidup. Seperti mata yang baru terbuka, menatap
dunia yang akan dijaganya.
Dan di kejauhan, di bawah pohon beringin tua, Mbah Ratih
berdiri sendirian. Di tangannya yang gemetar, ia memegang liontin batu akik
biru yang konon berasal dari langit yang jatuh ke bumi saat leluhur pertama
tiba di desa ini. Batu itu terasa hangat di genggamannya, lebih hangat dari
biasanya.
"Tumbuhlah, Nak," bisiknya pada angin malam.
"Tumbuhlah menjadi penjaga yang kuat. Desa ini menantimu. Leluhurmu
menantimu. Dan ketika waktunya tiba, aku akan memberimu ini. Aku akan
memberitahumu siapa dirimu sebenarnya."
Ia menutup tangannya, menyimpan liontin itu kembali ke
dalam sakunya. Kemudian ia berjalan perlahan meninggalkan pohon beringin,
menghilang ke dalam kabut malam yang mulai menebal.
Di rumah kecil di kaki Bukit Pangasih, Amat Junior
terbangun sejenak. Matanya yang biru terbuka, menatap langit-langit rumah yang
gelap. Ia tidak menangis. Ia hanya diam, mendengarkan suara-suara yang mungkin
hanya bisa didengar oleh telinga yang masih suci: detak jantung ibunya yang
berirama lembut, bisikan angin yang membawa pesan dari puncak beringin, dan
gema dari masa lalu yang panjang, yang kini harus ia emban sebagai takdir yang
baru saja dimulai.
Kemudian, dengan senyum kecil di bibir mungilnya, senyum
yang tidak mungkin dimengerti oleh orang dewasa karena tidak mungkin seorang
bayi yang baru lahir sudah bisa tersenyum, Amat Junior menutup matanya dan
kembali tidur.
Ia tidur nyenyak, tanpa mimpi, tanpa ketakutan.
Ia hanya tidur, dengan keyakinan bahwa ketika ia bangun
nanti, ia akan tumbuh sedikit lebih besar, sedikit lebih kuat, dan sedikit
lebih siap untuk menjadi apa yang ditakdirkan untuknya.
BAB 2: Tangisan yang Menggema di Malam Sunyi
Empat bulan pertama kehidupan Amat Junior berjalan dengan
ritme yang lambat dan tenang, seperti aliran sungai kecil di musim kemarau yang
mengalir tanpa riak berarti. Di permukaan, semuanya tampak normal. Amat tumbuh
seperti bayi kebanyakan di Desa Awan Biru: berat badannya naik sesuai dengan garis-garis
grafik di Kartu Menuju Sehat yang ditempel di dinding dekat tempat tidurnya, sebuah
kartu yang diberikan oleh bidan desa dan diisi setiap bulan dengan tulisan
tangan Bu Endang yang rapi namun agak miring ke kanan. Pada usia dua bulan, ia
sudah mulai bisa tersenyum, meskipun senyumnya itu tidak pernah terlihat
seperti senyum bayi pada umumnya yang spontan dan tanpa makna. Senyum Amat
selalu muncul pada saat-saat tertentu, seolah-olah ia sedang merespons sesuatu
yang dilihat atau didengarnya, sesuatu yang tidak kasat mata oleh orang dewasa
di sekelilingnya. Pada usia tiga bulan, ia sudah mulai bisa mengangkat
kepalanya sendiri ketika tengkurap, sebuah pencapaian yang membuat Sumirah
sangat bangga. Ia akan memangku anaknya di teras rumah di pagi hari, membiarkan
sinar matahari yang masih lembut menyinari wajah mungil Amat, sambil sesekali
mencium keningnya yang hangat.
Namun di balik kewajaran yang tampak di permukaan itu, ada
beberapa hal yang secara halus namun pasti membedakan Amat dari bayi-bayi lain
di desa itu. Perbedaan-perbedaan ini tidak selalu tampak oleh mata awam, tetapi
bagi mereka yang tinggal dekat dan memperhatikan dengan saksama,
keanehan-keanehan kecil itu mulai terasa seperti benang-benang tipis yang
ditenun menjadi pola yang belum jelas bentuknya.
Pertama, dan yang paling mencolok bagi Sumirah sebagai
ibunya, Amat jarang menangis. Bukan hanya jarang, ia hampir tidak pernah
menangis seperti bayi normal pada umumnya. Tidak seperti bayi-bayi lain di desa
yang setiap beberapa jam akan memecah kesunyian malam dengan tangisan keras
menuntut perhatian, meminta disusui, diganti popoknya, atau sekadar digendong,
Amat lebih sering memilih diam. Ia akan terbangun dari tidurnya dengan mata
terbuka lebar, kedua bola matanya yang berwarna biru pucat itu menatap
langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu dan seng berkarat, atau
kadang-kadang menatap ke arah dinding, ke arah pojok-pojok ruangan yang gelap,
ke arah celah-celah di antara papan kayu tempat sinar matahari masuk membentuk
garis-garis cahaya yang berdebu. Tatapannya tidak seperti tatapan bayi biasa
yang kosong dan belum fokus; tatapan Amat terasa intens, seperti tatapan
seseorang yang sedang mencoba memahami sesuatu yang sangat rumit, atau seperti
tatapan seorang pengelana yang baru pertama kali melihat pemandangan yang asing
namun entah mengapa terasa akrab.
Ketika ia lapar, ketika perut mungilnya yang masih sebesar
kepalan tangan orang dewasa itu mulai keroncongan dan membutuhkan asupan air
susu ibunya, Amat tidak menangis. Ia hanya akan mengeluarkan suara mendengkur
pelan, sebuah suara yang unik dan khas, seperti dengkuran kucing kecil yang
sedang tidur di dekat tungku dapur yang hangat. Suara itu sangat pelan, hampir
tidak terdengar jika tidak diperhatikan dengan saksama. Hanya telinga Sumirah
yang sudah terlatih selama berbulan-bulan yang bisa menangkapnya dari kejauhan.
Ketika ia mendengar suara itu, di pagi buta atau di tengah malam yang sunyi,
Sumirah akan segera bangun, menggendong anaknya, dan menyusui dengan penuh
kasih sayang sambil sesekali membisikkan nama anaknya, Amat, Amat Junior,
anakku, seolah-olah ia ingin memastikan bahwa anaknya tahu bahwa ia selalu ada
di sana, selalu siap memberinya apa yang ia butuhkan.
Kedua, dan ini adalah keanehan yang lebih mengganggu bagi
sebagian orang, ketika Amat menangis, yang hanya terjadi beberapa kali dalam
seminggu, tidak seperti bayi normal yang bisa menangis puluhan kali dalam
sehari, tangisannya selalu disertai dengan sesuatu yang tidak biasa. Bukan
hanya suaranya yang terdengar lebih keras dari yang seharusnya untuk ukuran
bayi seusianya, tetapi juga ada perubahan-perubahan kecil di lingkungan
sekitarnya yang terjadi bersamaan dengan tangisan itu, seperti sebuah orkestra
yang dimainkan oleh kekuatan yang tidak terlihat.
Kadang-kadang, tepat pada saat mulut mungil Amat terbuka
dan suara tangisannya mulai terdengar, angin yang tadinya tenang akan tiba-tiba
bertiup lebih kencang. Angin itu akan masuk melalui celah-celah dinding kayu
yang tidak rapat, membuat tirai dari kain perca yang menggantung di ambang
pintu bergerak-gerak seperti ada tangan tak kasat mata yang menggerakkannya.
Daun-daun pisang di kebun belakang rumah akan bergemerisik, suaranya seperti
ribuan tangan yang bertepuk pelan. Di musim kemarau, angin itu akan membawa
debu-debu halus dari jalan setapak di depan rumah, membuat udara menjadi keruh
untuk beberapa saat sebelum kembali jernih.
Kadang-kadang, tangisan Amat akan diikuti oleh keheningan
yang tiba-tiba dan aneh dari alam sekitarnya. Suara jangkrik yang biasanya
mengisi malam dengan irama yang konstan akan berhenti seketika, seolah-olah
semua makhluk kecil di sekitar rumah itu sedang menahan napas, mendengarkan.
Suara katak dari sawah di sebelah utara yang biasanya bergemuruh di malam hari
setelah hujan akan tiba-tiba padam, meninggalkan keheningan yang begitu pekat
sehingga Sumirah bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ayam-ayam jantan yang
biasanya tidur dengan tenang di kandang-kandang sederhana di belakang
rumah-rumah warga akan mulai berkokok di tengah malam, membangunkan sebagian
warga yang tidurnya tidak terlalu nyenyak.
Kadang-kadang, yang lebih aneh lagi, lampu minyak yang
menyala di dalam rumah akan tiba-tiba berkedip-kedip. Nyala api yang tadinya
stabil, dengan sumbu yang terbakar merata dan terang, akan mulai
bergoyang-goyang seolah-olah ditiup angin, padahal tidak ada angin yang masuk.
Kadang nyala itu akan mengecil, hampir padam, lalu membesar lagi, menciptakan
pola cahaya yang berubah-ubah di dinding-dinding rumah yang terbuat dari papan
kayu. Sumirah sudah terbiasa dengan ini; ia hanya akan menenangkan anaknya,
membiarkannya menyusu sampai kenyang, dan setelah Amat berhenti menangis,
semuanya akan kembali normal. Lampu akan menyala stabil lagi, jangkrik akan
mulai berbunyi lagi, dan angin akan kembali bertiup seperti biasa.
Sumirah, sebagai seorang ibu yang sederhana dan tidak
terlalu paham dengan hal-hal gaib di luar pengetahuannya, memilih untuk tidak
terlalu memikirkan keanehan-keanehan ini. Ia bukan orang yang mudah percaya
pada cerita-cerita mistis, meskipun ia tumbuh besar di desa yang penuh dengan
kisah-kisah tentang leluhur, tentang roh penjaga, tentang keseimbangan antara
dunia kasat mata dan dunia yang tidak kasat mata. Ia lebih memilih untuk
berpikir praktis, seperti yang diajarkan oleh ibunya dulu sebelum meninggal:
"Nduk, hidup itu sederhana. Makan kalau lapar, tidur kalau capek, dan
jangan terlalu banyak mikir yang aneh-aneh. Nanti pusing."
Baginya, yang terpenting adalah anaknya sehat. Berat
badannya naik setiap bulan. Ia sudah bisa tersenyum. Ia sudah bisa mengangkat
kepalanya. Ia tidak sering sakit, tidak pernah demam yang terlalu tinggi, tidak
pernah mengalami diare yang berkepanjangan seperti beberapa bayi lain di desa
yang ibunya harus bolak-balik ke posyandu. Ia jarang menangis, dan itu membuat
Sumirah bisa beristirahat lebih banyak, bisa mengerjakan pekerjaan rumah tanpa
harus terus-menerus menggendong anaknya. Keanehan-keanehan kecil yang menyertai
tangisan Amat, ia anggap sebagai bagian dari keistimewaan anaknya, mungkin
warisan dari ayahnya yang dulu juga dikenal sebagai anak yang sedikit berbeda
dari teman-teman sebayanya.
"Anakmu kok diem banget, Bu Sum?" tanya Bu Tarno
suatu siang ketika mampir ke rumah Sumirah untuk meminjam gula. Ia berdiri di
ambang pintu dapur, matanya mengamati Amat yang sedang tidur di ayunan bambu
yang digantung di langit-langit ruang tamu. Ayunan itu adalah pemberian Pak
Tarno, dibuat khusus dari bambu pilihan yang dihaluskan dan diikat dengan tali
plastik yang kuat, bergerak perlahan karena dorongan angin yang masuk dari
celah-celah dinding.
Sumirah tersenyum sambil mengambil gula dari toples plastik
di rak dapur. "Iya, Bu. Dari kecil memang begitu. Jarang nangis. Mungkin
karena kenyang terus, kali ya."
"Nggak kayak anak saya dulu," Bu Tarno tertawa
kecil, mengenang masa-masa ketika anak-anaknya masih bayi. "Dulu anak saya
nomor dua itu, hampir tiap jam nangis. Siang nangis, malem nangis. Sampai saya
sama Pak Tarno bergantian gendong, nggak bisa tidur. Rasanya pengen saya lempar
kali ya, hahaha."
"Masa, Bu. Masak tega."
"Ya cuma kiasan, Bu Sum. Masa iya saya lempar anak
sendiri." Bu Tarno tertawa lagi, kemudian matanya kembali tertuju pada
Amat. "Tapi beneran, anak Ibu ini tenang banget. Kadang saya lihat matanya
terbuka, nggak nangis, cuma lihat-lihat ke atas kayak ada yang dilihat. Apa
nggak bikin Ibu merinding?"
Sumirah menghela napas. Ini bukan pertama kalinya ia
mendengar pertanyaan seperti itu. "Awal-awal sih iya, Bu. Tapi lama-lama
biasa. Saya pikir mungkin dia lagi lihat lalat atau nyamuk di langit-langit."
"Liat lalat, masak matanya biru gitu," Bu Tarno
bergumam pelan, hampir tidak terdengar. Tapi Sumirah mendengarnya.
Ia memilih untuk tidak menanggapi. Ia menuangkan gula ke
dalam kantong plastik yang dibawa Bu Tarno, lalu menyerahkannya. "Ini, Bu.
Ambil saja. Nggak usah dikembalikan."
"Wah, matur nuwun, Bu Sum. Besok saya ganti."
"Nggak usah, Bu. Kan cuma sedikit."
Bu Tarno pamit pulang, tetapi sebelum melangkah keluar, ia
berhenti sejenak dan menoleh. "Bu Sum, maaf ya kalau saya kepo. Tapi apa
Ibu nggak penasaran? Anak Ibu ini kan lahir dengan keanehan-keanehan. Kata
orang, itu pertanda. Mbah Ratih juga pernah bilang..."
Sumirah memotong dengan suara yang lembut tapi tegas.
"Bu Tarno, saya cuma ibu biasa. Anak saya juga anak biasa. Saya nggak mau
dia dikasih label aneh-aneh. Biarkan dia tumbuh seperti anak-anak lain. Saya
cuma mau dia sehat dan bahagia."
Bu Tarno mengangguk, memahami. "Iya, Bu Sum. Maaf ya
kalau saya kepanjangan. Saya cuma... ya sudahlah. Saya pamit dulu."
Setelah Bu Tarno pergi, Sumirah berdiri di ambang pintu
beberapa saat, menatap jalan setapak yang berlubang-lubang di depan rumahnya.
Ia tahu bahwa kekhawatiran Bu Tarno bukan tanpa alasan. Ia juga tahu bahwa
banyak tetangga lain yang mungkin memiliki perasaan yang sama, hanya tidak berani
mengatakannya secara langsung. Tapi ia sudah bertekad: ia akan melindungi
anaknya dari segala macam label dan prasangka. Biarlah orang-orang berpikir apa
pun tentang Amat, baginya Amat adalah anaknya, darah dagingnya, dan ia akan
mencintainya apa adanya.
Malam-malam di Desa Awan Biru memiliki suasana yang khas,
terutama di sekitar rumah Sumirah yang terletak di ujung utara desa, dekat
dengan kaki Bukit Pangasih. Ketika matahari tenggelam di balik barisan gunung
di barat, meninggalkan sisa-sisa cahaya jingga yang perlahan-lahan ditelan oleh
gelapnya malam, kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit di
selatan. Kabut itu bergerak perlahan, seperti pasukan hantu yang berjalan tanpa
suara, menyelimuti desa dengan selimut putih yang dingin dan lembab. Pada pukul
tujuh atau delapan malam, hampir semua warga sudah berada di dalam rumah.
Lampu-lampu minyak atau lampu listrik yang redup mulai menyala satu per satu,
menciptakan titik-titik cahaya kecil yang tersebar tidak beraturan di lembah
yang gelap.
Rumah Sumirah, dengan dinding kayunya yang sudah lapuk dan
atap sengnya yang berkarat, terlihat seperti titik cahaya paling redup di
antara titik-titik lainnya. Lampu minyak yang digantung di ruang tamu hanya
memberikan cahaya yang cukup untuk menerangi ruangan berukuran tiga kali empat
meter itu, menciptakan bayangan-bayangan yang bergoyang di dinding setiap kali
ada angin yang masuk. Di dalam rumah itu, suara-suara malam terdengar lebih
jelas: suara jangkrik yang tak pernah lelah memainkan iramanya, suara katak
dari sawah yang bergemuruh seperti paduan suara yang tidak pernah berhenti,
suara angin yang berdesir di antara dedaunan pohon jambu air di halaman, suara
ayam-ayam yang sesekali berkokok di tengah malam karena alasan yang tidak
pernah dipahami manusia.
Dan di tengah semua suara alam itu, kadang-kadang terdengar
suara lain: suara tangisan Amat Junior.
Malam pertama ketika tangisan Amat terdengar dengan
keanehannya yang paling jelas adalah sekitar dua minggu setelah kelahirannya.
Sumirah sedang menyusui anaknya di kamar tidur, dengan lampu minyak yang
menyala redup di sudut ruangan. Amat menyusu dengan lahap, matanya terpejam,
tangannya yang mungil mengepal-ngepal seperti sedang memegang sesuatu yang
sangat berharga. Sumirah membelai rambut anaknya yang masih halus, sesekali
mencium kepalanya yang berbau khas bayi, campuran susu, keringat, dan bedak
yang harum.
Tiba-tiba, tanpa sebab yang jelas, Amat berhenti menyusu.
Ia melepaskan puting susu ibunya, memiringkan kepalanya, dan membuka matanya
lebar-lebar. Matanya yang biru itu menatap ke sudut ruangan yang gelap, ke arah
di mana lampu minyak tidak menjangkau. Tatapannya intens, seperti sedang
melihat sesuatu yang sangat menarik, atau sesuatu yang sangat menakutkan.
"Amat, Nak, kenapa?" bisik Sumirah, merasakan
kegelisahan yang tiba-tiba menyergap hatinya.
Amat tidak menjawab, tentu saja tidak, ia baru berusia dua
minggu, belum bisa bicara. Tapi responnya tidak kalah mengagetkan. Mulut
mungilnya terbuka, dan dari dalam dadanya yang kecil itu keluar suara tangisan
yang bukan tangisan biasa.
Tangisan itu keras. Sangat keras. Jauh lebih keras dari
yang seharusnya bisa dihasilkan oleh paru-paru sebesar telur puyuh. Suaranya
bergema di dalam ruangan kecil itu, memantul dari dinding ke dinding, dari
lantai ke langit-langit, menciptakan efek seperti suara yang datang dari segala
arah sekaligus. Sumirah merasa telinganya berdengung, merasakan getaran aneh di
dadanya, seperti ada gelombang suara yang menembus tubuhnya dan menjalar ke
tulang-tulangnya.
Dan kemudian, di luar rumah, hal-hal aneh mulai terjadi.
Suara jangkrik yang sedari tadi memenuhi malam dengan
iramanya yang konstan tiba-tiba berhenti. Semua jangkrik di sekitar rumah itu
diam seketika, seolah-olah ada komando tak terlihat yang memerintahkan mereka
untuk tutup mulut. Keheningan yang tiba-tiba itu begitu pekat sehingga Sumirah
bisa mendengar detak jantungnya sendiri, bisa mendengar suara darah yang
mengalir di pelipisnya.
Tidak hanya jangkrik. Suara katak dari sawah di sebelah
utara, yang biasanya bergemuruh seperti paduan suara yang tidak pernah lelah,
juga tiba-tiba padam. Keheningan itu menyebar seperti riak air yang meluas,
dari rumah Sumirah ke rumah-rumah di sekitarnya, dari Gang Mawar ke Gang
Melati, dari dukuh utara ke dukuh tengah. Ayam-ayam jantan yang biasanya tidur
dengan tenang di kandang-kandang sederhana di belakang rumah-rumah warga mulai
berkokok. Bukan hanya satu atau dua ekor, tetapi puluhan, mungkin ratusan ekor,
serentak di seluruh desa. Suara kokok ayam di tengah malam itu memecah
keheningan dengan cara yang aneh, seperti alarm yang membangunkan desa dari
tidurnya.
Di rumah Pak Tarno yang persis di seberang jalan setapak,
lampu minyak yang tadinya sudah padam karena waktu sudah menunjukkan pukul
sembilan malam tiba-tiba menyala kembali. Bu Tarno yang sedang berbaring di
tempat tidur, mencoba untuk tidur setelah seharian bekerja di dapur dan
mengurus anak-anak, terlonjak kaget.
"Pak, Pak Tarno!" bisiknya dengan suara panik,
mengguncang bahu suaminya yang sudah setengah tertidur. "Itu suara apa?
Kenapa ayam-ayam pada berkokok?"
Pak Tarno yang masih setengah sadar menggeliat malas.
"Ah, Ibu kebanyakan mimpi. Ayam mana yang kokok tengah malam begini?"
"Bukan mimpi, Pak! Dengar sendiri!"
Pak Tarno akhirnya membuka matanya. Ia mendengar suara
kokok ayam yang bersahutan dari berbagai arah, tidak hanya dari kandang ayam
mereka di belakang rumah, tetapi juga dari rumah-rumah tetangga di sekitarnya.
Dan di antara suara kokok ayam itu, ia mendengar sesuatu yang lain: suara
tangisan bayi yang aneh, yang terdengar seperti bergema dari kejauhan tetapi
juga seperti berasal dari dekat sekali.
"Itu... dari rumah Bu Sum, ya?" tanya Pak Tarno
sambil duduk di tempat tidur.
"Iya, kayaknya dari sana," jawab Bu Tarno,
suaranya bergetar. "Pak, saya takut. Anak Bu Sum itu... kenapa sih selalu
ada keanehan kalau dia nangis?"
Pak Tarno tidak menjawab. Ia hanya duduk diam,
mendengarkan. Setelah beberapa menit, tangisan itu berangsur-angsur mereda, dan
perlahan-lahan suara jangkrik mulai terdengar lagi, suara katak mulai
bergemuruh lagi, dan ayam-ayam jantan berhenti berkokok satu per satu,
seolah-olah semuanya kembali normal.
"Besok pagi saya coba ke rumah Bu Sum," kata Pak
Tarno akhirnya. "Lihat-lihat keadaannya. Mungkin ada yang bisa
dibantu."
Bu Tarno menghela napas, masih belum sepenuhnya tenang.
"Pak, jujur saya jadi nggak nyaman tinggal di sini. Setiap kali anak Bu
Sum nangis, selalu ada keanehan. Kadang angin kencang, kadang lampu
kedip-kedip, kadang ayam-ayam pada berkokok tengah malam. Saya takut ada apa-apa."
"Ah, Ibu kebanyakan pikiran," Pak Tarno berbaring
lagi, mencoba melanjutkan tidurnya. "Itu cuma kebetulan. Anak kecil biasa
nangis, angin biasa bertiup, ayam biasa berkokok. Nggak ada hubungannya."
"Tapi kenapa selalu bersamaan, Pak? Kenapa nggak pernah
sendiri-sendiri?"
Pak Tarno tidak menjawab. Mungkin ia juga tidak punya
jawaban. Atau mungkin ia punya jawaban tetapi tidak ingin mengatakannya, karena
ia tahu istrinya akan semakin takut.
Di rumah lain yang sedikit lebih jauh, sekitar dua ratus
meter dari rumah Sumirah, Mbah Kartijo, petani tua yang sawahnya terletak di lereng
selatan, juga terbangun oleh suara kokok ayam yang bersahutan. Namun tidak
seperti Pak Tarno yang masih muda dan cenderung meremehkan, Mbah Kartijo yang
sudah berusia di atas enam puluh tahun ini langsung tahu bahwa ini bukan
kejadian biasa.
Ia duduk di tempat tidurnya yang terbuat dari kayu jati
tua, meraih lampu minyak di sampingnya, dan menyalakannya dengan gerakan tangan
yang lambat karena rematik yang mulai menyerang di usianya yang senja. Cahaya
lampu yang redup menerangi wajahnya yang keriput, dengan kulit yang sudah
mengendur di pipi dan dagu, rambut yang sudah memutih semua, dan mata yang
meskipun sudah rabun tetapi masih tajam dalam membaca tanda-tanda.
"Ini dia lagi," gumamnya pada diri sendiri.
"Anak itu nangis lagi."
Ia berjalan ke luar rumah dengan langkah pelan, kakinya
yang telanjang merasakan dinginnya tanah yang masih basah oleh embun. Dari
teras rumahnya, ia bisa melihat ke arah utara, ke arah rumah Sumirah yang berada
di kaki Bukit Pangasih. Dalam kegelapan malam, rumah itu hanya terlihat sebagai
titik gelap dengan satu titik cahaya kecil dari lampu minyak. Tapi Mbah Kartijo
tidak perlu melihat dengan mata kepalanya untuk tahu apa yang terjadi.
Ia sudah puluhan tahun tinggal di desa ini. Ia sudah
melihat banyak hal. Ia sudah mendengar cerita-cerita dari orang tuanya, dari
kakek-neneknya, dari tetua-tetua desa yang sudah meninggal. Ia tahu tentang
ramalan leluhur. Ia tahu tentang penjaga desa yang akan lahir ketika
keseimbangan mulai terganggu. Dan sejak malam kelahiran Amat Junior, ia sudah
yakin bahwa anak itulah yang dimaksud.
"Tumbuhlah, Nak," bisiknya pada angin malam yang
mulai bertiup lagi setelah sempat berhenti saat tangisan Amat terdengar.
"Desa ini butuh kamu. Tapi jangan terburu-buru. Nikmati masa kecilmu dulu.
Karena nanti, ketika kamu dewasa, beban yang akan kamu pikul tidak akan
ringan."
Ia berdiri di teras rumahnya beberapa saat, menatap langit
malam yang gelap dengan bintang-bintang yang berkerlip samar-samar di balik
kabut tipis. Kemudian ia kembali masuk ke dalam rumah, mematikan lampu, dan
mencoba tidur lagi. Tapi tidurnya tidak nyenyak malam itu. Pikirannya terus
melayang ke masa depan, membayangkan seperti apa jadinya desa ini ketika anak
itu tumbuh besar.
Sekitar dua minggu setelah malam-malam awal yang penuh
keanehan itu, tepatnya ketika Amat berusia satu bulan lebih beberapa hari,
ketiga tetua desa datang ke rumah Sumirah. Mereka datang pada suatu sore ketika
matahari mulai condong ke barat, saat udara di Desa Awan Biru mulai terasa
sejuk dan kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit di selatan.
Kedatangan mereka tidak diumumkan, tidak ada yang memberitahu Sumirah
sebelumnya. Mereka datang begitu saja, tiga sosok tua yang sudah jarang
terlihat berkeliaran di desa karena usia dan kondisi fisik mereka yang semakin
menurun, tiba-tiba muncul di depan rumah sederhana di kaki Bukit Pangasih itu.
Sumirah yang sedang duduk-duduk di teras rumah dengan Amat
di gendongannya, menikmati angin sore yang sejuk setelah seharian terkurung di
dalam rumah karena cuaca yang panas, kaget bukan kepalang ketika melihat ketiga
tetua itu muncul di ujung jalan setapak. Mbah Karta berjalan paling depan
dengan tongkatnya yang terbuat dari kayu nangka tua, langkahnya lambat tapi
mantap. Di belakangnya, Mbah Jayeng berjalan dengan sedikit tertatih karena
kakinya yang mulai bermasalah, sementara Mbah Ratih, satu-satunya tetua
perempuan yang masih hidup, berjalan di sampingnya sambil sesekali memegang
lengan Mbah Jayeng untuk membantunya menjaga keseimbangan.
"Mbah... ada apa gerangan?" tanya Sumirah dengan
suara sedikit gugup. Ia segera berdiri dari kursi bambunya, memberikan hormat
dengan cara membungkukkan badan sedikit, seperti yang diajarkan oleh orang
tuanya dulu ketika bertemu dengan orang yang lebih tua atau yang dihormati.
Amat yang sedang tidur di gendongannya sedikit bergerak, merasakan perubahan
posisi, tetapi tidak terbangun.
"Tenang, Nduk," kata Mbah Ratih dengan suara
lembut yang kontras dengan penampilannya yang keriput dan renta. "Kami
hanya ingin melihat anakmu. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kami bukan mau
apa-apa, hanya ingin melihat. Sudah lama kami belum lihat dia. Sejak malam dia
lahir, kami belum sempat menjenguk."
Sumirah mempersilakan mereka masuk. Dengan langkah
hati-hati, ketiga tetua itu memasuki ruang tamu yang sempit dan duduk di kursi
bambu yang disediakan. Sumirah duduk di hadapan mereka dengan Amat masih di
gendongannya. Bayi itu tertidur pulas, dengan kedua tangannya mengepal kecil di
samping kepalanya, napasnya teratur dan tenang, tidak terganggu oleh kehadiran
tiga orang tua yang duduk di sekelilingnya.
Mbah Karta menatap Amat lama sekali. Matanya yang sudah
rabun karena usia, dengan selaput tipis yang mulai menutupi permukaan bola
matanya, bergerak-gerak perlahan, mengamati bayi itu dari ujung rambut yang
masih halus dan jarang hingga ujung kaki yang mungil dengan jari-jari yang
masih mengepal. Setelah beberapa lama, ia menghela napas panjang, napas yang
terdengar seperti desahan angin yang keluar dari paru-paru yang sudah tua dan
kering.
"Sudah benar," katanya akhirnya, suaranya berat
dan dalam, seperti suara yang keluar dari perut bumi. "Tanda-tandanya ada
semua. Mata biru itu bukan warna biasa, Nduk. Itu adalah warna langit Awan Biru
pada saat-saat tertentu, saat kabut tipis menutupi matahari dan langit berwarna
biru pucat seperti susu yang dicampur air. Warna yang hanya bisa dilihat oleh
mereka yang memiliki hubungan khusus dengan desa ini, yang mungkin tidak pernah
dilihat oleh orang lain meskipun setiap hari memandang ke langit yang
sama."
Mbah Jayeng yang duduk di sampingnya mengangguk-angguk,
setuju dengan apa yang dikatakan Mbah Karta. Matanya yang mulai rabun tetapi
konon masih bisa melihat hal-hal yang tidak kasat mata itu terpejam sejenak,
seperti sedang merasakan sesuatu dengan indera yang bukan penglihatan.
"Saya juga bisa merasakannya," katanya setelah beberapa saat, membuka
matanya kembali. "Energinya berbeda dari anak-anak biasa. Ada getaran
yang... bagaimana ya mengatakannya... seperti aliran air dari mata air yang
dalam. Tenang tapi kuat. Seperti sungai bawah tanah yang mengalir di bawah kaki
kita, tidak terlihat tetapi selalu ada, selalu bergerak."
Mbah Ratih tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk diam,
menatap Amat dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kelembutan di matanya,
seperti seorang nenek yang melihat cucunya. Tapi ada juga sesuatu yang lain,
sesuatu yang lebih dalam, seperti pengakuan dari seseorang yang sudah lama
menunggu dan akhirnya apa yang ditunggu itu datang.
Sumirah mendengarkan semua itu dengan perasaan campur aduk.
Sebagai ibu, ia tentu bangga mendengar bahwa anaknya istimewa, bahwa anaknya
memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain. Tapi sebagai orang
yang hidup sederhana, yang tidak pernah bercita-cita lebih dari sekadar bisa
menghidupi dirinya dan anaknya dengan layak, ia juga khawatir. Keistimewaan
sering kali membawa beban yang berat. Ia sudah cukup menderita ditinggal suami,
hidup sendiri dengan penghasilan yang pas-pasan. Ia tidak tahu apakah ia kuat
memikul beban tambahan jika memang anaknya ditakdirkan untuk sesuatu yang
besar.
"Mbah," katanya dengan suara sedikit bergetar,
"apa yang harus saya lakukan? Saya hanya ibu biasa. Saya lulusan SMP,
tidak sekolah tinggi. Saya tidak mengerti hal-hal seperti ini. Saya tidak tahu
harus merawat anak istimewa seperti apa. Saya takut salah."
Mbah Ratih meraih tangan Sumirah yang sedang memegang
tangan Amat. Tangannya yang keriput, dengan urat-urat biru yang menonjol di
permukaan kulit yang sudah menipis, menggenggam tangan Sumirah dengan lembut
namun mantap. "Tidak ada yang perlu kamu lakukan sekarang, Nduk, selain
merawatnya dengan baik. Biarkan dia tumbuh seperti anak-anak lainnya. Beri dia
kasih sayang, didik dia dengan baik. Ajari dia sopan santun, ajari dia
menghormati orang tua, ajari dia membedakan mana yang benar dan mana yang
salah. Hal-hal dasar yang diajarkan setiap ibu kepada anaknya. Tidak perlu ada
perlakuan khusus. Tidak perlu dia diberi tahu bahwa dia istimewa. Biarkan dia menemukannya
sendiri ketika waktunya tiba."
"Tapi Mbah, kapan waktunya tiba?" tanya Sumirah.
Mbah Ratih tersenyum, senyum yang membuat keriput di
wajahnya semakin dalam. "Tidak ada yang tahu, Nduk. Bukan saya, bukan Mbah
Karta, bukan Mbah Jayeng, bukan siapa pun. Hanya Tuhan yang tahu. Yang bisa
kita lakukan hanyalah mempersiapkan diri, mempersiapkan dia, sebaik mungkin.
Dan kemudian ketika waktunya tiba, kita harus percaya bahwa dia sudah
siap."
Mbah Karta yang sejak tadi diam mendengarkan tiba-tiba
berbicara lagi. "Nduk, saya punya satu pesan. Mungkin ini terdengar aneh,
tapi tolong dengarkan."
"Iya, Mbah, saya dengar."
"Anakmu ini akan melalui jalan yang tidak biasa. Dia
akan bertemu dengan orang-orang yang akan menjadi bagian dari perjalanannya.
Dia akan punya teman-teman yang akan menemaninya, yang akan menjadi penopangnya
ketika dia lemah, yang akan menjadi penerang jalannya ketika gelap. Biarkan dia
berteman dengan siapa saja. Jangan melarang dia bergaul dengan anak-anak lain.
Jangan mengurungnya di rumah karena kamu takut sesuatu terjadi. Dari pergaulan
itulah dia akan belajar banyak hal. Dari pergaulan itulah dia akan menemukan
siapa dirinya sebenarnya."
Sumirah mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya mengerti.
Baru bertahun-tahun kemudian ia akan memahami bahwa itu adalah pesan tentang
Raka dan Camelia, dua sahabat yang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari
perjalanan hidup anaknya. Dua anak yang akan tumbuh bersama Amat, bermain
bersama Amat, belajar bersama Amat, dan pada akhirnya berdiri di samping Amat
ketika badai kehidupan datang menerpa.
Setelah percakapan itu, Mbah Ratih tiba-tiba mengeluarkan
sesuatu dari balik bajunya. Tangannya yang gemetar karena usia merogoh saku
dalam yang tersembunyi di lipatan kain kebaya yang dikenakannya. Keluarlah sebuah
benda kecil yang terbungkus kain beludru biru tua yang sudah pudar warnanya.
Dengan hati-hati, ia membuka bungkusan itu, memperlihatkan isinya.
Sebuah liontin.
Liontin itu berbentuk sederhana: sebuah batu akik berwarna
biru, sebesar kelereng anak-anak, dibentuk bulat lonjong seperti telur burung
pipit, digantung pada tali kulit yang sudah tua, berwarna coklat kehitaman
karena usia dan sering disentuh. Batu itu tidak dipotong dengan sempurna, masih
memiliki tekstur alami dengan goresan-goresan halus di permukaannya. Namun
ketika sinar matahari sore yang masuk melalui celah-celah dinding mengenai batu
itu, warnanya berubah menjadi biru yang lebih terang, biru yang sama persis
dengan warna mata Amat Junior. Dan ada sesuatu yang aneh: batu itu seolah-olah memancarkan
cahaya dari dalam, bukan memantulkan cahaya dari luar. Cahaya itu samar,
seperti cahaya bulan yang terpantul di permukaan air di malam hari, tetapi
jelas ada.
"Ini untuknya," kata Mbah Ratih, memberikan
liontin itu kepada Sumirah. "Simpanlah dulu. Jangan diberikan sekarang.
Berikan ketika dia sudah cukup besar untuk memahaminya. Berikan ketika dia
sudah mulai bertanya tentang asal-usulnya, tentang keanehan-keanehan yang
menyertainya sejak lahir. Batu ini adalah pusaka dari leluhur, Nduk. Konon, batu
ini berasal dari langit yang jatuh ke bumi ketika leluhur pertama kita tiba di
desa ini. Dan konon juga, batu ini akan bersinar terang ketika pemiliknya yang
sejati sudah siap."
Sumirah menerima liontin itu dengan tangan gemetar. Batu
itu terasa hangat di telapak tangannya, hangat seperti air susu yang baru
diperah dari sapi, hangat seperti pelukan ibunya dulu ketika ia masih kecil dan
sedang ketakutan. Padahal baru saja dikeluarkan dari balik baju Mbah Ratih yang
pastinya sudah dingin karena udara sore. Kehangatan itu aneh, tetapi juga
menenangkan, seperti ada sesuatu yang baik dan kuat yang tersimpan di dalam
batu kecil itu.
"Siapa... siapa pemiliknya yang sejati, Mbah?"
tanya Sumirah, meskipun sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
Mbah Ratih tersenyum lagi, menatap Amat yang masih tertidur
pulas di gendongan Sumirah, tidak terganggu oleh percakapan orang dewasa di
sekelilingnya. "Dia. Tapi jangan berikan sekarang. Berikan ketika dia
sudah cukup umur untuk memahami arti menjaga. Ketika dia sudah mengerti bahwa
desa ini bukan hanya tempat tinggal, bukan hanya tempat ia dilahirkan dan
dibesarkan, tetapi juga warisan yang harus dijaga, seperti leluhur kita
menjaganya selama tiga ratus tahun sebelum dia lahir."
Setelah itu, ketiga tetua desa berpamitan pulang. Mereka
tidak banyak bicara lagi, hanya berpesan kepada Sumirah untuk selalu menjaga
Amat dan tidak perlu khawatir berlebihan. Mbah Karta, sebelum berjalan keluar
dari rumah, sempat menatap Sumirah dengan tatapan yang dalam, tatapan yang
terasa seperti sinar X yang menembus kulit dan daging hingga ke tulang, hingga
ke pikiran, hingga ke jiwa.
"Nduk," katanya, "satu pesan terakhir. Kamu
harus kuat. Bukan hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk anakmu. Jalan
yang akan kamu lalui tidak akan mudah. Akan ada saat-saat ketika kamu merasa
putus asa, ketika kamu merasa tidak mampu, ketika kamu ingin menyerah. Tapi
ingatlah selalu: kamu tidak sendirian. Ada leluhur yang menjaga, ada desa yang
mendukung, ada anak-anak yang akan tumbuh bersama anakmu dan menjadi keluarganya.
Dan yang paling penting, ada Tuhan yang tidak pernah tidur."
Sumirah hanya bisa mengangguk, tidak sepenuhnya mengerti
apa yang dimaksud oleh Mbah Karta. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia
menangis bukan karena takut, tetapi karena merasa terharu. Untuk pertama
kalinya setelah sekian lama hidup sendiri dengan beban yang berat, ia merasa
bahwa ada orang-orang yang peduli padanya, yang peduli pada anaknya. Ia merasa
bahwa meskipun suaminya pergi dan tidak pernah kembali, meskipun ia harus membesarkan
anaknya sendirian dengan segala keterbatasannya, ia tidak benar-benar
sendirian.
Setelah ketiga tetua itu pergi, menghilang di balik kabut
sore yang mulai menebal, Sumirah berdiri di ambang pintu beberapa saat,
memandangi jalan setapak yang kosong. Di tangannya, liontin batu akik biru itu
masih terasa hangat. Ia menatap batu itu lama, kemudian menatap anaknya yang
masih tidur di gendongannya.
"Amat," bisiknya, "kamu istimewa, Nak. Kamu
anak yang istimewa. Dan aku akan melakukan yang terbaik untuk menjagamu, untuk
melindungimu, untuk mempersiapkanmu menjadi apa pun yang ditakdirkan untukmu.
Janji."
Ia mencium kening Amat yang hangat, kemudian masuk ke dalam
rumah. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia menggantungkan liontin itu di tali
yang kuat dan menyimpannya di dalam lemari kecil di kamar tidurnya, di antara
pakaian-pakaiannya yang paling berharga. Ia tidak tahu kapan waktunya tiba
untuk memberikannya kepada Amat. Tapi ia yakin, ketika waktunya tiba, ia akan
tahu.
Di antara warga yang paling konsisten memperhatikan
perkembangan Amat adalah Mbah Kartijo, petani tua yang sawahnya terletak tidak
jauh dari rumah Sumirah. Setiap pagi, sebelum matahari terlalu tinggi dan
sinarnya terlalu menyengat, Mbah Kartijo akan berangkat ke sawahnya dengan langkah
pelan, membawa cangkul di pundak kiri dan bungkusan nasi di tangan kanan.
Rutenya selalu melewati jalan setapak di depan rumah Sumirah, dan hampir setiap
hari ia akan mampir, meskipun hanya sebentar.
Kedatangannya selalu membawa sesuatu. Kadang pisang, kadang
singkong, kadang ubi jalar, kadang sayur-sayuran seperti kangkung atau bayam
yang baru dipetik dari kebun di belakang rumahnya. Ia tidak pernah datang
dengan tangan kosong, dan ia tidak pernah meminta imbalan apa pun. "Ini
hasil kebun, Nduk. Kebanyakan, saya sendiri tidak bisa habis. Anak-anak sudah
pada di kota, tidak ada yang makan. Mending dibagi-bagi daripada busuk,"
begitu katanya setiap kali Sumirah berusaha menolak pemberiannya.
Suatu pagi, ketika Amat sudah berusia sekitar empat bulan,
Mbah Kartijo datang dengan membawa seikat pisang raja yang sudah mulai
menguning. Sumirah sedang duduk di teras rumah dengan Amat di pangkuannya. Bayi
itu terbangun dan dalam keadaan segar, matanya yang biru terbuka lebar, menatap
ke arah pepohonan di halaman depan dengan ekspresi yang anehnya serius untuk
bayi seusianya.
Mbah Kartijo duduk di kursi bambu yang disediakan Sumirah,
meletakkan pisang di meja kecil di sampingnya, dan kemudian menatap Amat dengan
saksama. Matanya yang keriput itu bergerak dari ujung rambut Amat yang mulai
tumbuh lebat hingga ke ujung kakinya yang mungil dengan kuku-kuku kecil yang
masih tipis dan bening.
"Nduk Sum, anakmu ini istimewa," kata Mbah
Kartijo setelah beberapa saat, suaranya pelan tapi tegas. "Matanya itu
tidak biasa. Saya sudah puluhan tahun hidup di desa ini, sudah melihat ratusan
bayi lahir dan tumbuh besar, baru kali ini melihat bayi dengan mata biru
seperti langit Awan Biru."
Sumirah tersenyum, meskipun sedikit canggung. Ia sudah
sering mendengar pernyataan serupa dari berbagai orang, dan meskipun ia sudah
terbiasa, tetap saja ada rasa tidak nyaman setiap kali mendengarnya. Seperti
ada sorotan yang terus menerus tertuju pada anaknya, dan sorotan itu kadang
terasa seperti belaian lembut, kadang seperti sengatan.
"Mungkin karena faktor keturunan, Mbah. Ayahnya dulu
juga punya mata yang sedikit kebiruan," jawab Sumirah, seperti biasa
mencoba menormalisasi keistimewaan anaknya. "Katanya, ada darah Belanda
dari neneknya. Mungkin itu sebabnya."
Mbah Kartijo menggeleng pelan, tidak yakin dengan
penjelasan itu. "Bukan itu, Nduk. Mata biru karena keturunan itu berbeda.
Kalau karena keturunan, warnanya pekat, seperti langit malam sebelum hujan.
Atau seperti warna biru pada baju batik yang dicelup berulang-ulang. Tapi mata
anakmu ini warnanya terang, seperti langit pagi hari setelah hujan, ketika
kabut tipis mulai terurai dan sinar matahari pertama menembus awan. Itu bukan
warna biasa, Nduk. Itu warna yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki
hubungan khusus dengan desa ini."
Sumirah tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk
dan berterima kasih atas perhatian Mbah Kartijo. "Terima kasih, Mbah,
sudah selalu memperhatikan kami. Dan terima kasih juga untuk pisangnya. Amat
suka pisang, Mbah. Kalau saya lumatkan, dia makannya lahap."
Mbah Kartijo tersenyum, wajahnya yang keriput berkerut
semakin dalam. "Suka pisang, ya? Bagus. Nanti kalau pohon pisang di
belakang rumah saya berbuah lagi, saya bawakan lagi. Biar anakmu tumbuh sehat.
Pisang raja itu bagus untuk bayi, banyak vitaminnya."
Setelah itu, Mbah Kartijo masih duduk beberapa saat,
menikmati angin pagi yang sejuk sambil sesekali melirik ke arah Amat yang mulai
merengek minta disusui. Sebelum pamit, ia berkata sesuatu yang membuat Sumirah
berpikir lama.
"Nduk, saya sudah tua. Mungkin tidak akan hidup lama
lagi. Tapi sebelum saya mati, saya ingin melihat anak ini tumbuh. Bukan karena
penasaran, tapi karena... saya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Desa
ini akan membutuhkannya suatu hari nanti. Dan saya ingin, ketika hari itu tiba,
saya masih ada di sini untuk melihatnya."
Sumirah tidak bisa menahan air matanya mendengar kata-kata
itu. Bukan karena sedih, tetapi karena terharu. Mbah Kartijo adalah orang yang
tidak memiliki hubungan keluarga dengan mereka, tidak memiliki kewajiban apa
pun untuk memperhatikan mereka. Tapi ia datang setiap hari, membawa hasil
kebunnya, duduk-duduk sebentar, berbicara tentang ini dan itu, dan selalu
menyisipkan perhatian untuk Amat. Itu adalah bentuk kasih sayang yang tulus,
kasih sayang yang tidak mengharapkan imbalan apa pun.
"Mbah, jangan bicara begitu," kata Sumirah sambil
menyeka air matanya. "Mbah masih panjang umur. Masih bisa lihat Amat
besar, lihat dia sekolah, lihat dia bekerja nanti."
Mbah Kartijo tertawa kecil. "Ah, Nduk, umur itu urusan
Tuhan. Saya hanya pasrah. Yang penting saya sudah melakukan yang terbaik.
Memberi apa yang bisa saya beri. Itu sudah cukup."
Ia berdiri, mengambil tongkatnya yang bersandar di kursi,
dan bersiap untuk pergi ke sawah. Sebelum melangkah, ia menoleh sekali lagi ke
arah Amat yang sekarang sudah menyusu dengan lahap di pangkuan Sumirah.
"Jaga dia baik-baik, Nduk. Dunia ini keras. Tapi anak
ini punya sesuatu yang akan membuatnya kuat. Kita hanya perlu memastikan bahwa
ketika saatnya tiba, dia siap."
Dan dengan langkah pelan karena kakinya yang mulai rapuh,
Mbah Kartijo berjalan meninggalkan rumah Sumirah, menuju sawahnya di lereng
selatan, di mana padi-padi mulai menguning dan siap panen.
Selain Mbah Kartijo, ada satu orang lagi yang tidak bisa
melupakan pengalamannya terkait kelahiran Amat Junior: Mak Darmi, bidan desa
yang membantu kelahiran Amat. Mak Darmi adalah seorang perempuan berusia
sekitar lima puluh tahun, dengan tubuh kecil namun energik, rambut hitam yang
mulai diselingi uban, dan wajah yang selalu tersenyum. Ia sudah menjadi bidan
desa selama lebih dari dua puluh tahun, sejak ia mengikuti pelatihan bidan desa
dari puskesmas kecamatan setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan
kesehatan. Dalam dua puluh tahun itu, ia sudah membantu ratusan kelahiran, dari
yang paling mudah hingga yang paling sulit, dari yang berlangsung lancar hingga
yang nyaris merenggut nyawa ibu dan bayi.
Namun dari semua pengalaman itu, tidak ada satu pun yang
seaneh kelahiran Amat Junior.
Bukan hanya karena posisi bayi yang melintang dan harus
diputar dengan cara yang hampir mustahil. Bukan hanya karena Sumirah kehilangan
banyak darah dan nyaris meninggal. Bukan hanya karena cuaca yang buruk dan
kabut tebal yang menghalangi jalan ke puskesmas. Tapi karena sesuatu yang lain,
sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu kebidanan yang ia pelajari selama
pelatihan, sesuatu yang tidak pernah diajarkan di buku-buku atau
seminar-seminar yang pernah ia ikuti.
Mak Darmi masih ingat dengan jelas bagaimana lampu minyak
yang menerangi ruangan padam bersamaan pada saat yang kritis. Bukan satu lampu
yang padam karena kehabisan minyak atau sumbunya bermasalah, tetapi semua lampu
di ruangan itu padam dalam waktu yang bersamaan, seolah-olah ada tangan tak
kasat mata yang meniup semua nyala api itu sekaligus. Ruangan menjadi gelap
gulita, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah
dinding, cahaya yang redup dan kebiruan, membuat bayangan-bayangan di dinding
tampak menari-nari dengan cara yang aneh.
Dan kemudian, setelah beberapa detik, yang terasa seperti
berjam-jam bagi Mak Darmi, semua lampu menyala kembali secara bersamaan. Tidak
ada yang menyalakannya ulang, tidak ada yang mengutak-atik sumbu atau
menambahkan minyak. Api itu muncul kembali dengan sendirinya, seolah-olah tidak
pernah padam. Dan ketika Mak Darmi memeriksa perut Sumirah sekali lagi, posisi
bayi yang tadinya melintang sudah berubah menjadi normal. Seperti ada kekuatan
tak terlihat yang memutar bayi itu ke posisi yang benar, menyelamatkannya dari
kematian.
"Saya sudah membantu ratusan kelahiran," kata Mak
Darmi kepada suaminya suatu malam, ketika mereka sedang berbaring di tempat
tidur setelah seharian bekerja. Suaminya, seorang petani bernama Pak Darma,
sudah hampir tertidur, tetapi Mak Darmi masih terjaga, pikirannya terus
melayang ke kejadian beberapa bulan lalu yang tidak bisa dilupakannya.
"Tapi belum pernah mengalami kejadian seperti itu. Lampu padam dan menyala
sendiri, posisi bayi berubah sendiri. Itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan
dengan ilmu kebidanan."
Pak Darma menggeliat malas, mencoba mempertahankan
kesadarannya yang mulai kabur karena kantuk. "Mungkin itu pertolongan dari
Tuhan, Bu. Atau mungkin karena faktor medis yang tidak kamu pahami. Yang
penting ibu dan anak selamat. Itu saja yang perlu kita syukuri."
"Iya, saya bersyukur kok," kata Mak Darmi.
"Tapi saya juga penasaran. Bagaimana nanti kalau dia sudah besar? Apakah
dia akan menjadi orang biasa, atau..."
"Atau apa?"
Mak Darmi tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit
rumahnya yang gelap, membayangkan masa depan yang mungkin menanti anak yang
lahir dengan tanda-tanda keanehan itu. Ia membayangkan Amat tumbuh menjadi anak
laki-laki dengan mata biru yang aneh itu, dengan keanehan-keanehan yang
menyertainya setiap kali ia menangis. Ia membayangkan bagaimana warga desa akan
memperlakukannya, apakah mereka akan menerimanya sebagai bagian dari
masyarakat, ataukah mereka akan menjauhinya karena takut pada hal-hal yang
tidak mereka pahami.
"Pak," kata Mak Darmi setelah beberapa saat, "saya
ingin terus memantau perkembangan anak itu. Bukan karena penasaran, tapi
karena... saya merasa memiliki tanggung jawab. Saya yang membantu
melahirkannya. Saya yang melihat langsung keanehan-keanehan itu. Mungkin ada
alasan mengapa saya di sana malam itu, mengapa saya yang ditakdirkan untuk
menolongnya lahir ke dunia."
Pak Darma sudah tidak menjawab. Ia sudah tertidur,
dengkurannya yang pelan mulai terdengar di malam yang sunyi. Mak Darmi
tersenyum melihat suaminya yang sudah lelah, lalu mematikan lampu minyak di
samping tempat tidur. Dalam kegelapan, ia masih terjaga beberapa saat,
pikirannya terus melayang ke masa depan, membayangkan bagaimana kehidupan anak
yang lahir di bawah hujan Awan Biru itu akan berjalan.
Keesokan harinya, Mak Darmi memang datang ke rumah Sumirah.
Bukan untuk memeriksa kesehatan Amat, itu sudah dilakukan oleh bidan baru yang
ditugaskan dari puskesmas, bidan Amelia, yang lebih muda dan lebih terlatih, tetapi
untuk sekadar melihat, berbicara, dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
Ia duduk di ruang tamu rumah Sumirah, menggendong Amat yang sedang terbangun,
dan menatap wajah bayi itu dengan penuh kelembutan.
"Nduk Sum," katanya, "anakmu ini istimewa.
Saya sudah bilang sejak dia lahir. Dan saya yakin, suatu hari nanti, dia akan
melakukan hal-hal besar. Tapi untuk sekarang, biarkan dia tumbuh seperti
anak-anak lain. Jangan pernah membuatnya merasa berbeda. Karena perasaan
berbeda itulah yang paling menyakitkan."
Sumirah mengangguk, mengusap air mata yang mulai menggenang
di pelupuk matanya. "Terima kasih, Mak. Saya tidak akan pernah bisa
membalas kebaikan Mak malam itu. Jika tidak ada Mak, mungkin saya dan anak saya
sudah..."
"Jangan bicara begitu, Nduk," Mak Darmi memotong
dengan lembut. "Itu sudah tugas saya. Saya bersyukur bisa membantu. Dan
saya juga bersyukur karena bisa melihat anak ini lahir dengan selamat."
Mereka berbincang beberapa saat lagi, tentang Amat, tentang
desa, tentang kehidupan. Mak Darmi bercerita tentang pengalamannya membantu
kelahiran di desa-desa terpencil lainnya, tentang suka duka menjadi bidan desa
di daerah pegunungan yang sulit dijangkau. Sumirah mendengarkan dengan saksama,
sesekali tertawa, sesekali terharu. Ketika Mak Darmi pamit pulang, matahari
sudah mulai condong ke barat, dan kabut tipis mulai merayap turun dari
lereng-lereng bukit.
"Jaga anakmu baik-baik, Nduk," pesan Mak Darmi
sebelum berjalan keluar. "Dunia ini butuh orang-orang seperti dia.
Orang-orang yang berbeda, orang-orang yang istimewa. Karena dari perbedaan
itulah perubahan lahir."
Sumirah berdiri di ambang pintu, menggendong Amat yang
sudah mulai mengantuk, menatap Mak Darmi yang berjalan perlahan menyusuri jalan
setapak yang berlubang-lubang. Di tangannya, Amat mulai merengek pelan, suara
mendengkur khas yang hanya bisa didengar oleh telinga ibunya.
"Kamu istimewa, Nak," bisik Sumirah pada anaknya.
"Dan aku akan selalu ada untukmu. Apa pun yang terjadi."
Seiring berjalannya waktu, keanehan-keanehan seputar Amat
Junior mulai mereda. Atau lebih tepatnya, warga mulai terbiasa. Kehidupan desa
yang penuh dengan rutinitas harian, pergi ke sawah, berjualan di pasar,
mengikuti pengajian, menghadiri arisan, mengurus anak dan cucu, secara perlahan
menggeser perhatian warga dari kejadian-kejadian luar biasa di malam kelahiran
Amat. Kabut yang berputar-putar, lampu yang padam dan menyala sendiri,
ayam-ayam yang berkokok di tengah malam, semua itu mulai menjadi cerita lama
yang kadang-kadang diceritakan kembali di warung kopi atau di emperan toko
ketika tidak ada topik lain yang lebih menarik.
Namun bukan berarti semua orang melupakan. Ada beberapa
warga yang tetap memperhatikan perkembangan Amat dengan saksama, meskipun tidak
terlalu menampakkannya. Mereka ini adalah orang-orang yang percaya bahwa Amat
adalah bagian dari ramalan leluhur, dan mereka ingin melihat bagaimana anak itu
tumbuh, bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungannya, apakah ia akan
menunjukkan tanda-tanda lain yang membenarkan keyakinan mereka.
Di antara mereka adalah Mbah Karyo, pemilik warung kopi
yang selalu ramai di pagi dan sore hari. Mbah Karyo adalah perempuan tua
berusia sekitar tujuh puluh tahun yang sudah menjanda sejak muda. Ia membuka
warung kopi di rumahnya sejak anak-anaknya masih kecil untuk menghidupi
keluarga, dan kini meskipun anak-anaknya sudah dewasa dan bekerja di kota, ia
tetap membuka warungnya setiap hari. Baginya, warung kopi bukan hanya sumber
penghasilan, tetapi juga tempat untuk bertemu orang-orang, mendengar
cerita-cerita, dan merasakan denyut nadi desa yang terus berdetak.
Setiap kali Sumirah datang ke warung Mbah Karyo untuk
membeli kopi atau gula, Mbah Karyo selalu menyempatkan diri untuk melihat Amat.
Ia akan menggendong bayi itu sebentar, mengajaknya bicara dengan suara lembut
yang anehnya membuat Amat selalu tenang, tidak pernah rewel atau menangis ketika
berada di gendongan Mbah Karyo.
"Nduk Sum, anakmu ini baik," kata Mbah Karyo
suatu sore ketika Sumirah mampir ke warungnya untuk membeli telur. Amat sedang
digendong oleh Mbah Karyo, matanya yang biru terbuka lebar menatap wajah tua
yang keriput di hadapannya, dan anehnya, ia tersenyum. Senyum yang tidak biasa
untuk bayi seusianya, senyum yang terasa seperti senyum pemahaman, senyum yang
mengatakan bahwa ia tahu bahwa orang yang menggendongnya ini adalah orang baik.
"Lihat, dia tersenyum," Mbah Karyo tertawa kecil.
"Anak-anak biasanya menangis kalau digendong orang yang tidak dikenal.
Tapi dia malah tersenyum. Ini pertanda baik."
Sumirah tersenyum lega. "Iya, Mbah. Amat memang jarang
rewel kalau digendong orang. Asalkan orang itu tenang, dia juga tenang."
"Dia bisa merasakan energi orang," kata Mbah Karyo
dengan nada setengah bercanda, setengah serius. "Bayi itu punya indra yang
lebih tajam daripada orang dewasa. Mereka bisa merasakan siapa yang baik dan
siapa yang tidak. Dan anakmu ini... indranya lebih tajam dari bayi kebanyakan.
Itu sebabnya dia jarang menangis. Dia sudah tahu bahwa dunia ini aman, bahwa
ibunya akan selalu menjaganya."
Sumirah tidak tahu harus merespons apa. Ia hanya mengangguk
dan mengambil telur yang sudah dibungkus oleh Mbah Karyo.
Di luar Mbah Karyo, ada juga warga-warga lain yang memiliki
perhatian khusus pada Amat, meskipun tidak selalu positif. Bu Yuni, sekretaris
desa yang juga merupakan salah satu tokoh perempuan di desa, beberapa kali
menyampaikan kekhawatirannya kepada Pak Iwan tentang "pengistimewaan"
yang diberikan kepada Amat oleh sebagian warga.
"Pak Kades, saya khawatir kalau warga terlalu terfokus
pada anak itu," kata Bu Yuni dalam salah satu rapat perangkat desa.
"Dia cuma anak kecil biasa. Memberinya label istimewa hanya akan membebani
dia, dan juga bisa menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat."
Pak Iwan menghela napas. Ia sudah memikirkan hal ini sejak
lama. "Saya setuju, Bu Yuni. Tapi kita juga tidak bisa memaksa warga untuk
berhenti membicarakan sesuatu yang memang menjadi perhatian mereka. Yang bisa
kita lakukan adalah memastikan bahwa pembicaraan itu tidak berlebihan, tidak
merugikan anak itu, dan tidak mengganggu ketertiban desa."
"Tapi Pak Kades, bagaimana caranya?"
"Kita lakukan pendekatan personal. Bicaralah dengan
tokoh-tokoh masyarakat yang sering membicarakan hal ini. Minta mereka untuk
tidak terlalu mengistimewakan anak itu. Ingatkan bahwa dia adalah anak biasa
yang perlu tumbuh dengan normal. Dan yang paling penting, kita harus memastikan
bahwa Ibu Sumirah dan anaknya mendapatkan perlakuan yang sama seperti warga
lainnya, tidak lebih dan tidak kurang."
Bu Yuni mengangguk, meskipun di dalam hatinya ia ragu
apakah pendekatan itu akan berhasil. Keyakinan warga tentang hal-hal gaib tidak
bisa dihilangkan hanya dengan pendekatan personal atau imbauan. Keyakinan itu
sudah tertanam selama berabad-abad, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,
menjadi cara mereka memahami dunia dan tempat mereka di dalamnya.
Dan di tengah semua perhatian, kekhawatiran, dan keyakinan
yang beragam itu, Amat Junior terus tumbuh. Perlahan tapi pasti. Dari bayi yang
hanya bisa berbaring dan menangis, ia mulai bisa tengkurap, bisa duduk dengan
bantuan, bisa merangkak, dan kemudian, pada waktunya, bisa berjalan. Matanya
yang biru tetap sama, tidak berubah seiring bertambahnya usia. Dan
keanehan-keanehan yang menyertai tangisannya juga tetap ada, meskipun tidak
lagi sekuat ketika ia masih bayi.
Kadang-kadang, ketika malam sunyi dan Amat menangis dalam
tidurnya, angin akan bertiup lebih kencang, atau lampu akan berkedip-kedip,
atau ayam-ayam akan berkokok di tengah malam. Sumirah sudah terbiasa. Ia hanya
akan membangunkan anaknya, menenangkannya, memberinya ASI, dan setelah Amat
tenang, semuanya akan kembali normal. Ia tidak lagi takut, tidak lagi khawatir
berlebihan. Ia hanya melakukan yang terbaik sebagai seorang ibu: melindungi,
merawat, dan mencintai anaknya apa adanya.
Karena baginya, apa pun yang dikatakan orang tentang
anaknya, apa pun keanehan yang menyertai pertumbuhannya, Amat tetaplah anaknya.
Darah dagingnya. Buah hatinya. Satu-satunya hal yang tersisa dari suaminya yang
pergi dan tidak pernah kembali. Dan ia akan melakukan apa pun untuk
melindunginya, untuk membesarkannya menjadi anak yang baik, anak yang kuat,
anak yang siap menghadapi apa pun yang akan dihadapinya di masa depan.
Bahkan jika masa depan itu telah ditakdirkan sejak tiga
ratus tahun yang lalu, sejak leluhur pertama menginjakkan kaki di tanah ini,
sejak ramalan dibuat tentang seorang penjaga yang akan lahir ketika
keseimbangan mulai terganggu.
Amat Junior tidak tahu semua itu. Ia hanya seorang bayi
yang sedang tumbuh, yang mulai belajar tentang dunia di sekelilingnya: tentang
hangatnya pelukan ibunya, tentang segarnya air susu yang mengalir di
tenggorokannya, tentang sinar matahari pagi yang masuk melalui celah-celah
dinding, tentang suara jangkrik di malam hari yang menjadi musik pengantar
tidurnya. Ia tidak tahu bahwa ia adalah benih takdir yang akan tumbuh menjadi
penjaga leluhur Desa Awan Biru. Ia tidak tahu bahwa hidupnya akan diwarnai oleh
keanehan-keanehan yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat. Ia tidak tahu
bahwa ia akan bertemu dengan dua sahabat yang akan menjadi bagian tak
terpisahkan dari perjalanannya.
Yang ia tahu hanyalah bahwa ia dicintai. Dan untuk seorang
bayi seusianya, itu sudah cukup.
BAB 3: Rumah Tua di Pinggir Desa
Rumah tempat tinggal Sumirah dan Amat Junior berdiri di
ujung utara Desa Awan Biru, tepat di kaki Bukit Pangasih, seolah-olah ia adalah
pos terdepan antara dunia manusia dan alam liar yang membentang di atas bukit
itu. Dari halaman depannya yang tidak berpagar, jika seseorang menatap ke
utara, yang terlihat hanyalah lereng bukit yang menjulang dengan tanaman
ilalang yang bergoyang-goyang ditiup angin, semak belukar yang lebat, dan di
kejauhan, pepohonan besar yang menutupi puncak bukit seperti mahkota hijau yang
megah. Tidak ada rumah lain di arah itu, hanya alam yang masih perawan, yang
belum sepenuhnya dijinakkan oleh tangan manusia.
Rumah ini terisolasi dari keramaian desa, dan isolasi itu
terasa dalam setiap langkah yang diambil untuk mencapainya. Jalan setapak yang
menghubungkan rumah ini dengan pemukiman utama desa hanya selebar satu meter
lebih sedikit, terbuat dari tanah yang dipadatkan, yang di musim hujan akan
berubah menjadi lumpur licin yang membahayakan setiap orang yang nekat
melaluinya. Di sepanjang jalan setapak itu, di sisi kiri dan kanan, tumbuh
ilalang setinggi lutut orang dewasa, dan di beberapa tempat, pohon-pohon pisang
yang daunnya lebar bergemerisik setiap kali angin bertiup. Jarak ke rumah
tetangga terdekat, yaitu rumah keluarga Pak Tarno, sekitar lima puluh meter,
sebuah jarak yang tidak terlalu jauh jika diukur dengan meteran, tetapi terasa
sangat jauh di malam hari ketika kegelapan menyelimuti desa dan kabut mulai
merayap turun dari lereng-lereng bukit. Ke arah utara, tidak ada rumah lain
karena langsung berbatasan dengan lereng bukit yang ditumbuhi semak belukar dan
pohon-pohon kecil yang akar-akarnya menjalar seperti urat-urat nadi yang
menancap kuat ke dalam tanah.
Namun isolasi ini bukan tanpa keuntungan. Udara di sekitar
rumah ini lebih segar daripada di tengah desa, karena angin dari lereng bukit
selalu bertiup membawa kesejukan alami. Di pagi hari, ketika matahari baru saja
muncul dari balik Bukit Pangasih, kabut tipis akan menggantung di halaman
depan, membuat segalanya tampak seperti lukisan yang samar dan misterius.
Burung-burung akan berkicau dari atas pohon jambu air yang tua, memecah
kesunyian pagi dengan nyanyian mereka yang riang. Dan di sore hari, ketika
matahari mulai condong ke barat, cahaya keemasan akan menembus celah-celah
dinding kayu, menciptakan pola-pola cahaya yang indah di lantai tanah rumah.
Tetapi keistimewaan rumah ini bukan terletak pada lokasinya
yang terpencil atau udaranya yang segar. Keistimewaan rumah ini terletak pada
hal-hal yang tidak terlihat oleh mata biasa, pada denyut-denyut halus yang
hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tinggal cukup lama di dalamnya, pada
bisikan-bisikan yang hanya bisa didengar oleh telinga yang peka terhadap dunia
di balik dunia yang kasat mata. Sumirah, yang sudah tinggal di rumah itu selama
bertahun-tahun, sejak ia menikah dengan Amat Senior dan pindah ke sini dari rumah
orang tuanya di tengah desa, sudah sangat terbiasa dengan keanehan-keanehan
yang terjadi. Keanehan-keanehan yang mungkin akan membuat orang lain gelisah
atau bahkan takut, baginya sudah menjadi bagian dari keseharian, seperti air
yang mengalir di sumur atau angin yang bertiup di halaman.
Salah satu keanehan yang paling sering terjadi, yang paling
konsisten dan paling sulit dijelaskan dengan logika sederhana, adalah perubahan
suhu yang tidak wajar. Pada siang hari, ketika matahari terik menyinari desa
dengan panasnya yang kadang-kadang membuat aspal di jalan utama desa meleleh dan
tanaman-tanaman di kebun layu karena kehausan, rumah ini tetap terasa sejuk,
bahkan dingin. Tidak ada AC, tentu saja, karena rumah ini tidak memiliki aliran
listrik yang cukup untuk mengoperasikan perangkat sekecil apapun. Tidak ada
kipas angin, karena Sumirah tidak mampu membelinya dan bahkan jika ia mampu, ia
tidak yakin apakah tegangan listrik di rumah ini yang sering naik turun itu
cukup untuk menghidupkannya. Tidak ada pohon besar yang menaungi rumah ini yang
bisa menghalangi sinar matahari langsung—pohon jambu air di halaman memang tua
dan rindang, tetapi posisinya di samping rumah, bukan di atas atap. Namun entah
mengapa, suhu di dalam rumah bisa beberapa derajat lebih rendah daripada di
luar.
Sumirah sudah beberapa kali mencoba mencari penjelasan rasional
untuk fenomena ini. Pernah suatu ketika, ketika Pak Eko, Kaur Perencanaan desa
yang dikenal sebagai orang yang paling rasional dan tidak mudah percaya pada
hal-hal gaib, datang berkunjung untuk suatu keperluan administrasi
kependudukan. Pak Eko adalah pria kurus dengan kumis tipis yang selalu rapi,
berkacamata dengan lensa tebal yang membuat matanya tampak lebih besar dari
aslinya, dan selalu membawa buku catatan kecil di saku kemejanya. Ia lulusan
sekolah teknik, dan ia bangga dengan rasionalitasnya. Ketika ia masuk ke rumah
Sumirah di siang hari yang terik, ia langsung merasakan perbedaan suhu yang
mencolok.
"Wah, sejuk sekali di sini, Bu Sum," kata Pak Eko
sambil meletakkan tasnya di kursi bambu ruang tamu. Ia mengusap keringat di
dahinya dengan sapu tangan yang selalu dibawanya, lalu melihat ke sekeliling
ruangan dengan tatapan analitis. "Apa Ibu punya kipas angin? Atau ada yang
menanam pohon peneduh di belakang rumah?"
Sumirah tersenyum, sudah menduga pertanyaan seperti ini
akan muncul. Ia sedang menggendong Amat yang baru saja bangun tidur, mata biru
bayi itu terbuka lebar menatap orang baru yang masuk ke rumahnya dengan
ekspresi ingin tahu yang khas. "Tidak ada, Pak Eko. Rumah ini memang dari
dulu sejuk. Mungkin karena posisinya di kaki bukit, jadi angin dari atas selalu
turun ke sini."
Pak Eko menggeleng, tidak sepenuhnya puas dengan penjelasan
itu. "Hmm, mungkin juga karena konstruksi rumahnya. Dinding dari kayu
dengan celah-celah seperti ini memungkinkan sirkulasi udara yang baik. Ditambah
lagi lantai tanah yang menyerap panas. Itu mungkin penyebabnya."
Sumirah hanya mengangguk, tidak ingin berdebat. Ia tahu
bahwa penjelasan rasional Pak Eko mungkin benar secara teknis, tetapi ia juga
tahu bahwa ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan
ilmu bangunan atau fisika sederhana. Karena ia sudah merasakan sendiri bahwa
pada malam hari, ketika suhu di luar turun drastis dan angin dari lereng bukit
bertiup dingin menusuk tulang, rumah ini justru terasa hangat. Seolah-olah ada
sumber panas yang tidak terlihat yang menghangatkan ruangan, sumber panas yang
hanya aktif pada malam hari ketika dingin mulai menyergap.
Sumirah sudah terbiasa dengan fenomena ini. Ia
menganggapnya sebagai berkah, karena dengan begitu ia tidak perlu repot-repot
mencari kayu bakar di hutan untuk menghangatkan diri di malam hari seperti
kebanyakan tetangganya yang tinggal di tengah desa. Kayu bakar semakin sulit
didapatkan sejak hutan larangan di selatan tidak boleh dimasuki dan hutan-hutan
lain di sekitar desa mulai gundul karena ditebang untuk lahan pertanian. Ia
hanya perlu menutup pintu dan jendela dengan rapat—pintu kayu jati tua dengan
engsel besi yang berdecit, dan jendela-jendela kecil yang hanya berukuran
sekitar setengah meter persegi dengan daun jendela dari kayu albasia yang sudah
lapuk di beberapa tempat—dan udara hangat akan tetap tinggal di dalam rumah
sepanjang malam. Ia tidak pernah kedinginan, bahkan di malam-malam paling
dingin sekalipun ketika embun membeku di daun-daun pisang dan kabut tebal menutupi
seluruh desa hingga hampir tidak terlihat dari kejauhan.
Keanehan lain yang sering terjadi, yang mungkin lebih sulit
diabaikan atau dijelaskan dengan akal sehat, adalah suara-suara aneh yang
terdengar di malam hari. Ini bukan suara angin yang berdesir di antara dedaunan
pohon jambu air, bukan juga suara jangkrik yang mengisi malam dengan irama yang
konstan, bukan suara katak dari sawah yang bergemuruh seperti paduan suara yang
tidak pernah lelah. Suara-suara ini berbeda. Suara-suara ini terdengar seperti
bisikan, kadang seperti suara orang sedang membaca doa atau mantra dalam bahasa
yang tidak dikenali, bahasa yang terdengar tua dan berat, dengan kata-kata yang
tidak memiliki arti dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa yang Sumirah kenal.
Kadang-kadang suara itu terdengar seperti beberapa orang
sedang berbicara satu sama lain, suaranya naik turun seperti orang yang sedang
berdiskusi atau bertukar cerita. Tapi tidak pernah jelas kata-katanya, hanya
intonasi dan ritme yang bisa ditangkap, seperti mendengar orang berbicara dari
balik dinding tebal atau dari jarak yang sangat jauh. Kadang-kadang suara itu
terdengar seperti satu orang yang sedang melantunkan sesuatu sendirian, dengan
irama yang teratur dan berulang-ulang, seperti orang yang sedang membaca wirid
atau kitab suci. Kadang-kadang suara itu terdengar seperti dengungan, seperti
suara lebah yang terbang di kejauhan, tetapi lebih dalam dan lebih berat.
Suara-suara ini paling sering terdengar pada malam-malam
tertentu. Malam Jumat Kliwon adalah salah satunya. Pada malam itu, ketika
sebagian besar warga desa sedang melaksanakan ibadah di masjid atau berkumpul
di rumah-rumah untuk pengajian, rumah Sumirah akan dipenuhi oleh suara-suara
bisikan itu. Suara-suara itu akan mulai terdengar sekitar pukul sembilan malam,
setelah sebagian besar aktivitas warga mereda dan desa mulai tertidur, dan akan
berlangsung hingga menjelang subuh, ketika ayam-ayam jantan mulai berkokok dan
kabut mulai menipis di ufuk timur.
Malam-malam ketika bulan purnama juga menjadi waktu yang
istimewa. Pada malam-malam seperti itu, ketika bulan bundar bersinar terang di
langit yang bersih dari awan, menerangi desa dengan cahaya peraknya yang
lembut, suara-suara itu akan terdengar lebih jelas, lebih nyaring, seolah-olah
cahaya bulan memberi mereka energi untuk berbicara lebih keras. Sumirah pernah
beberapa kali mencoba keluar rumah pada malam purnama, berjalan ke halaman
depan dengan langkah hati-hati, mencoba mencari sumber suara-suara itu. Ia
berjalan ke arah sumur tua, ke arah pohon jambu air, ke arah kebun belakang, ke
arah lereng bukit. Tapi tidak peduli ke mana ia pergi, suara-suara itu selalu
terdengar seperti berasal dari kejauhan, dari arah yang tidak bisa ditentukan,
seolah-olah suara itu keluar dari tanah itu sendiri, dari udara di sekitarnya,
dari setiap celah dan pori-pori rumah ini.
Suara-suara ini sudah Sumirah dengar sejak pertama kali ia
tinggal di rumah ini, bahkan sebelum Amat lahir, bahkan sebelum Amat Senior
pergi merantau dan tidak pernah kembali. Awalnya ia merasa takut, sangat takut.
Sebagai seorang pengantin baru yang masih muda, yang baru pertama kali tinggal
jauh dari orang tua dan keluarga, ia merasa sangat rentan. Pada malam-malam
pertama di rumah ini, ketika suara-suara itu mulai terdengar, ia akan
membangunkan suaminya dengan tangan gemetar, suaranya bergetar ketakutan.
"Pak... Pak Amat... ada suara," bisiknya,
mengguncang bahu suaminya yang sudah terlelap. "Suara apa itu?"
Amat Senior akan membuka matanya dengan malas, mendengarkan
sebentar, lalu tertawa kecil. "Itu cuma angin, Nduk. Rumah ini kan banyak
celahnya. Angin masuk lewat celah-celah itu bunyinya aneh-aneh. Tidurlah, tidak
ada apa-apa."
Tapi Sumirah tahu itu bukan angin. Angin tidak berbicara
dengan irama seperti orang membaca doa. Angin tidak memiliki intonasi naik
turun seperti orang yang sedang bercakap-cakap. Tapi ia tidak berdebat. Ia
hanya memeluk suaminya erat-erat, menutup matanya rapat-rapat, dan berusaha
untuk tidur meskipun suara-suara itu terus terdengar hingga subuh.
Setelah Amat Senior pergi, setelah ia ditinggal sendirian
di rumah ini dengan kehamilan yang semakin membesar, ketakutannya semakin
menjadi-jadi. Pada malam-malam awal setelah kepergian suaminya, ia seringkali
begadang sampai subuh karena tidak bisa tidur. Ia akan duduk di ruang tamu
dengan lampu minyak menyala terang, mencoba mengusir rasa takut dengan cahaya,
sambil sesekali melihat ke arah pintu yang terkunci rapat, ke arah jendela yang
ditutup dengan papan kayu, ke arah setiap sudut gelap yang mungkin menjadi
tempat persembunyian sesuatu yang tidak diinginkan.
Tapi seiring waktu, ketakutan itu perlahan-lahan mereda. Ia
mulai menyadari bahwa suara-suara itu tidak pernah mengganggunya secara fisik.
Suara-suara itu tidak pernah mendekat, tidak pernah menjadi lebih keras atau
lebih mengancam. Suara-suara itu hanya ada, seperti suara hujan atau suara
angin, sebagai latar belakang kehidupan malam di rumah ini. Ia bahkan mulai
bisa membedakan nuansa suara-suara itu: kadang-kadang suara-suara itu terdengar
lembut dan menenangkan, seperti lagu pengantar tidur yang dinyanyikan oleh
seorang nenek kepada cucunya; kadang-kadang suara-suara itu terdengar khidmat
dan serius, seperti orang yang sedang melakukan ritual penting; kadang-kadang
suara-suara itu terdengar seperti tawa yang tertahan, seperti orang yang sedang
berbagi lelucon di antara teman-teman lama.
Suatu sore, ketika Mbah Ratih datang berkunjung seperti
yang kadang dilakukannya untuk memeriksa perkembangan Amat, Sumirah
memberanikan diri menceritakan tentang suara-suara itu. Mereka sedang duduk di
ruang tamu, Amat tertidur di ayunan bambu yang digantung di langit-langit,
bergerak perlahan karena dorongan angin sore yang masuk melalui celah-celah
dinding. Mbah Ratih sedang minum kopi yang diseduh Sumirah, kopi hitam pekat
tanpa gula yang menjadi kesukaannya.
"Mbah," kata Sumirah dengan suara pelan, sedikit
ragu-ragu. "Saya mau cerita sesuatu. Mungkin Mbah sudah tahu, tapi saya
ingin cerita saja."
Mbah Ratih menatapnya dengan mata yang tua namun masih
tajam. "Cerita apa, Nduk?"
"Tentang suara-suara di malam hari. Di rumah ini.
Sudah lama, sejak saya pertama kali tinggal di sini. Suara seperti bisikan,
seperti orang membaca doa atau mantra. Saya dengar hampir setiap malam,
terutama pada malam Jumat Kliwon dan malam purnama."
Mbah Ratih tidak terlihat terkejut. Ia hanya tersenyum
kecil, senyum yang membuat keriput di wajahnya semakin dalam. "Oh, itu.
Saya sudah tahu, Nduk. Rumah ini memang seperti itu."
Sumirah lega karena Mbah Ratih tidak menganggapnya gila
atau terlalu takut. "Apa itu, Mbah? Apa saya harus takut?"
Mbah Ratih meletakkan cangkir kopinya di meja kecil di
samping kursinya. Ia menatap Sumirah dengan tatapan yang dalam, tatapan yang
terasa seperti membelai, menenangkan, dan pada saat yang sama penuh dengan
kebijaksanaan yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah hidup sangat lama dan
melihat banyak hal.
"Dengar, Nduk," katanya perlahan. "Mereka
bukan hantu jahat, bukan setan, bukan makhluk yang ingin mencelakaimu. Mereka
adalah... bagaimana ya mengatakannya dalam bahasa yang mudah dimengerti...
penjaga. Penjaga rumah ini, penjaga tempat-tempat tertentu di desa ini. Mungkin
mereka adalah roh para leluhur yang dulu tinggal di sini, atau mungkin mereka
adalah makhluk halus yang ditugaskan untuk menjaga tempat ini. Saya tidak tahu
persis. Yang saya tahu, mereka tidak akan mengganggumu selama kamu tidak
mengganggu mereka."
Sumirah menggigit bibir bawahnya, masih ada rasa penasaran
yang menggelitik. "Tugas apa, Mbah? Menjaga apa?"
Mbah Ratih menghela napas panjang, seperti orang yang sedang
mempertimbangkan berapa banyak yang boleh ia katakan. "Menjaga
keseimbangan," jawabnya akhirnya, singkat, seolah-olah dua kata itu sudah
cukup menjelaskan segalanya.
Tapi Sumirah tidak puas. "Keseimbangan apa,
Mbah?"
Mbah Ratih menatapnya dengan mata yang tiba-tiba menjadi
serius, tidak lagi lembut seperti sebelumnya. "Keseimbangan antara dunia
manusia dan dunia lain, Nduk. Keseimbangan antara yang kasat mata dan yang
tidak. Keseimbangan yang sudah dijaga oleh leluhur kita sejak desa ini
didirikan tiga ratus tahun yang lalu. Dan rumah ini... rumah ini adalah salah
satu titik di mana keseimbangan itu dijaga. Itu sebabnya ada penjaga-penjaga di
sini."
Sumirah tidak pernah benar-benar memahami apa yang dimaksud
dengan "menjaga keseimbangan" pada saat itu. Tapi ia menghormati
penjelasan Mbah Ratih. Ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ia bisa melihat
dari raut wajah Mbah Ratih bahwa tetua desa itu tidak ingin membahasnya lebih
dalam. Mungkin karena Mbah Ratih sendiri tidak tahu semuanya, atau mungkin
karena ada hal-hal yang memang tidak seharusnya diketahui oleh orang yang belum
siap.
Sejak saat itu, Sumirah tidak lagi merasa takut dengan
suara-suara itu. Ia bahkan kadang-kadang merasa tenang mendengarnya, seperti
mendengar lagu pengantar tidur yang menenangkan. Pada malam-malam ketika Amat
rewel dan tidak mau tidur, ia akan duduk di kursi bambu di ruang tamu,
menggendong anaknya, dan membiarkan suara-suara itu mengalun di sekelilingnya.
Anehnya, Amat selalu tenang mendengar suara-suara itu. Matanya yang biru akan
terbuka lebar, menatap ke arah asal suara, seolah-olah ia bisa melihat sesuatu
yang tidak bisa dilihat oleh ibunya. Kadang-kadang ia akan tersenyum, senyum
yang tidak biasa untuk bayi seusianya, senyum yang terasa seperti pengakuan,
seperti sapaan kepada teman lama.
Di malam-malam seperti itu, Sumirah merasakan kedamaian
yang aneh. Di tengah rumah tua yang terpencil, di ujung desa yang sunyi, dengan
suara-suara bisikan yang tidak bisa dijelaskan, ia merasa tidak sendirian. Ada
kehadiran di sekelilingnya, kehadiran yang tidak terlihat tetapi terasa,
kehadiran yang melindungi, yang menjaga, yang membuatnya merasa aman. Dan untuk
seorang janda muda yang ditinggal suami dengan bayi mungil di pangkuannya,
perasaan aman itu adalah sesuatu yang sangat berharga.
Sumirah, ibu dari Amat Junior, adalah seorang perempuan
yang lahir dan besar di Desa Awan Biru. Ia adalah anak bungsu dari lima
bersaudara, putri bungsu dari pasangan Pak Suraji dan Bu Darmi, ya, Mak Darmi
yang sama yang membantu kelahiran Amat Junior, yang menjadi bidan desa selama
puluhan tahun, yang tangannya yang kecil namun kuat itu telah membantu ratusan
bayi lahir ke dunia, termasuk bayi yang menjadi pusat dari semua keanehan ini.
Keluarga mereka tinggal di tengah desa, di sebuah rumah yang tidak jauh dari
balai desa, dengan halaman yang cukup luas untuk menanam sayur-sayuran dan
memelihara beberapa ekor ayam.
Sejak kecil, Sumirah sudah dikenal sebagai anak yang
pendiam dan penurut. Ia tidak seperti kakak-kakaknya yang ramai dan enerjik,
yang selalu berlarian di halaman atau bertengkar berebut mainan. Sumirah lebih
suka duduk di dapur membantu ibunya memasak, atau duduk di bawah pohon
belimbing di halaman belakang sambil membaca buku cerita bergambar yang
dipinjam dari tetangga. Ia jarang bermain dengan teman-temannya, lebih suka
menyendiri dengan pikirannya sendiri. Gurunya di SD pernah mengatakan kepada Bu
Darmi bahwa Sumirah adalah anak yang pintar tetapi terlalu pendiam, dan ia
harus didorong untuk lebih bersosialisasi.
Tapi Bu Darmi tidak terlalu khawatir. "Biarlah, Bu
Guru. Anak itu memang pendiam dari kecil. Tapi hatinya baik, rajin, dan tidak
pernah melawan orang tua. Itu sudah cukup."
Ketika Sumirah berusia dua puluh tahun, sebuah usia yang
dianggap matang untuk menikah di desa pada masa itu, orang tuanya mulai
menerima lamaran dari calon-calon menantu. Beberapa pemuda dari desa Awan Biru
sendiri dan dari desa-desa tetangga datang melamar, tetapi Pak Suraji dan Bu
Darmi belum menemukan calon yang cocok untuk anak bungsu mereka yang pendiam itu.
Hingga suatu hari, datanglah seorang pemuda dari desa
tetangga, Desa Sumbermulyo, yang berjarak sekitar lima kilometer dari Desa Awan
Biru. Namanya Amat, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun dengan tubuh
tegap, kulit sawo matang, dan mata yang tajam. Ia datang bersama orang tuanya,
membawa seserahan yang sederhana tetapi cukup untuk ukuran keluarga petani. Ia
bukan orang kaya, bukan juga orang yang memiliki jabatan atau pendidikan
tinggi. Ia hanya pemuda biasa, anak petani seperti kebanyakan pemuda di
desa-desa sekitarnya.
Tapi ada sesuatu tentang Amat yang membuat Pak Suraji dan
Bu Darmi tertarik. Ia adalah pemuda yang pekerja keras, dikenal sebagai petani
yang rajin dan jujur. Ia juga memiliki impian, sesuatu yang tidak biasa untuk
pemuda desa pada masa itu. Ia ingin merantau ke kota, mencari pekerjaan yang
lebih baik, membangun kehidupan yang lebih layak. Ia tidak ingin menjadi petani
selamanya, meskipun ia menghormati profesinya dan tidak malu mengakui bahwa ia
anak petani.
"Pekerja keras dan punya mimpi," kata Pak Suraji
kepada istrinya setelah pertemuan itu. "Itu yang kita butuhkan untuk
Sumirah. Bukan orang kaya yang mungkin sombong, bukan orang berpangkat yang
mungkin akan merendahkan. Anak petani yang mau bekerja keras, itu yang terbaik."
Perjodohan itu akhirnya disetujui. Sumirah sendiri tidak
banyak protes. Ia sudah diajarkan sejak kecil bahwa dalam urusan pernikahan,
keputusan orang tua adalah yang terbaik. Ia menerima keputusan itu dengan
lapang dada, meskipun di dalam hatinya ada sedikit rasa takut, takut
meninggalkan rumah orang tuanya, takut memulai hidup baru dengan orang yang
belum benar-benar dikenalnya, takut menghadapi kehidupan yang tidak pasti.
Pernikahan mereka dilangsungkan secara sederhana di rumah
Pak Suraji, dengan resepsi yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan
tetangga-tetangga terdekat. Sumirah mengenakan kebaya putih sederhana yang
dipinjam dari saudaranya, sementara Amat mengenakan setelan jas hitam yang
sedikit kebesaran, pinjaman dari temannya yang pernah bekerja di kota. Tidak
ada pesta besar, tidak ada orkes dangdut, tidak ada dekorasi yang mewah. Hanya
doa, hanya restu, hanya dua keluarga yang duduk bersama berbagi makanan
sederhana.
Setelah menikah, mereka tinggal di rumah yang diberikan
oleh orang tua Amat, rumah tua di kaki Bukit Pangasih yang kini menjadi saksi
bisu perjalanan hidup Sumirah dan Amat Junior. Rumah itu sudah ada sejak lama,
dibangun oleh kakek Amat ketika desa ini masih sangat jarang penduduknya dan
hutan masih lebat di mana-mana. Rumah itu bukan rumah mewah, bahkan untuk
ukuran rumah petani sekalipun. Tapi bagi Amat dan Sumirah, itu adalah rumah
pertama mereka, tempat mereka memulai kehidupan bersama.
Pernikahan mereka berjalan biasa saja, tidak ada romansa
besar seperti yang digambarkan dalam novel-novel atau film-film yang
kadang-kadang ditonton Sumirah di televisi tetangga. Amat adalah pria yang
baik, pekerja keras, dan perhatian. Setiap pagi ia pergi ke sawah atau ke
kebun, membantu orang tuanya yang masih bertani meskipun usianya sudah lanjut.
Sore hari ia pulang, mandi, lalu duduk-duduk di teras rumah sambil merokok dan
bercerita tentang kejadian-kejadian di sawah. Malam hari ia tidur lebih awal,
karena keesokan paginya ia harus bangun sebelum matahari terbit.
Tapi Amat juga memiliki sisi lain, sisi yang tidak selalu
terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Ia memiliki impian besar. Ia tidak
puas hanya menjadi petani seperti kebanyakan penduduk desa, tidak puas hanya
menggarap sawah yang hasilnya pas-pasan, tidak puas hanya hidup dari apa yang
diberikan oleh tanah yang kadang-kadang subur kadang-kadang tanduk. Ia ingin
lebih. Ia ingin merantau ke kota, mencari pekerjaan yang lebih baik,
mengumpulkan uang, lalu kembali ke desa untuk membuka usaha, membangun rumah
yang lebih baik, memberikan kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya.
Sumirah tahu tentang impian ini. Amat sering
membicarakannya di malam hari, ketika mereka berbaring di tempat tidur setelah
seharian bekerja. Suaranya penuh semangat, matanya berbinar-binar seperti anak
kecil yang membayangkan hadiah Natal.
"Nduk, nanti kalau aku sudah punya uang, kita akan
bangun rumah baru," katanya suatu malam, tangannya memegang tangan Sumirah
dengan lembut. "Rumah yang lebih besar, dengan dinding bata dan atap
genteng, bukan papan dan seng. Kamu tidak akan kedinginan lagi di malam hari.
Dan kita akan punya kulkas, dan televisi, dan mungkin juga sepeda motor. Kita
akan hidup lebih baik."
Sumirah hanya tersenyum mendengar itu. Ia tidak terlalu
tertarik pada rumah besar atau kulkas atau televisi. Baginya, yang terpenting
adalah mereka bisa hidup bersama, bahagia, saling menjaga. Tapi ia tidak ingin
mematahkan semangat suaminya. Ia hanya mengangguk dan berkata, "Amin, Pak.
Semoga cita-cita Bapak tercapai."
Dan kemudian Sumirah hamil. Kabar itu diterima dengan
sukacita oleh Amat dan keluarganya. Setelah hampir dua tahun menikah tanpa
anak, akhirnya mereka akan memiliki momongan. Amat semakin bersemangat bekerja,
karena sekarang ia tidak hanya bekerja untuk dirinya dan istrinya, tetapi juga
untuk calon anaknya.
Tapi di balik kebahagiaan itu, ada kegelisahan yang mulai
tumbuh di hati Amat. Ia semakin sering berbicara tentang merantau, tentang
mencari pekerjaan di kota. Ia merasa bahwa menjadi petani tidak akan cukup
untuk membiayai kehidupan keluarganya, apalagi dengan seorang anak yang akan
segera lahir. Ia membutuhkan lebih banyak uang, dan satu-satunya cara untuk
mendapatkannya adalah dengan pergi ke kota.
Sumirah mendengar semua itu dengan perasaan campur aduk. Ia
mengerti keinginan suaminya, ia mengerti bahwa Amat ingin memberikan yang
terbaik bagi keluarganya. Tapi di sisi lain, ia takut. Ia takut ditinggal
sendirian, terutama dalam kondisi hamil. Ia takut jika sesuatu terjadi pada
suaminya di kota yang jauh, yang tidak dikenalnya. Ia takut jika suaminya
berubah setelah tinggal di kota, seperti yang terjadi pada beberapa pemuda desa
yang pergi merantau dan kemudian lupa daratan, malu kembali ke desa dengan
status sebagai mantan perantau yang gagal.
Tapi Amat sudah bertekad. Ketika Sumirah memasuki bulan
keenam kehamilannya, ia mulai mempersiapkan kepergiannya. Ia menjual
satu-satunya sapi yang dimilikinya, mengumpulkan uang untuk ongkos dan bekal
selama beberapa bulan pertama di kota. Ia juga menitipkan sawahnya kepada
saudaranya, dengan perjanjian bahwa hasilnya akan dibagi dua untuk biaya hidup
Sumirah selama ia pergi.
Hari keberangkatan itu adalah pagi yang cerah, dengan
langit biru pucat yang khas Desa Awan Biru dan kabut tipis yang mulai menipis
di ufuk timur. Amat berdiri di halaman depan rumah, mengenakan jaket jeans biru
yang sudah lusuh, membawa ransel yang berisi pakaian seadanya. Sumirah berdiri
di ambang pintu, memegang perutnya yang sudah besar, air matanya mengalir deras
tanpa bisa ditahan.
"Aku akan kembali sebelum anak kita lahir," kata Amat,
berusaha tersenyum meskipun matanya juga mulai berkaca-kaca. "Atau paling
lama setelah dia lahir. Aku akan cari uang yang banyak, kita akan bangun rumah
baru, kita akan hidup lebih baik. Janji."
Sumirah hanya bisa mengangguk. Ia tidak sanggup bicara,
karena jika ia membuka mulut, yang keluar pasti hanya isak tangis. Ia memeluk
suaminya erat-erat, merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang, menghirup
aroma tubuhnya yang bercampur sabun murah dan keringat, aroma yang akan terus
ia ingat selama sisa hidupnya.
Amat melepaskan pelukan itu perlahan. Ia mencium kening
Sumirah, lalu menunduk sebentar, meletakkan tangannya di perut istrinya yang
membulat. "Jaga diri, Nak," bisiknya kepada calon anaknya. "Jaga
ibumu. Aku akan segera kembali."
Kemudian ia berbalik, mengambil tasnya, dan mulai berjalan
menyusuri jalan setapak yang menghubungkan rumah mereka dengan desa. Sumirah
berdiri di ambang pintu, menatap punggung suaminya yang semakin lama semakin
kecil, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan di belokkan pohon beringin
besar.
Itu adalah terakhir kalinya Sumirah melihat suaminya.
Beberapa minggu kemudian, ketika Sumirah sedang duduk-duduk
di teras rumah sambil menunggu waktu melahirkan yang semakin dekat, seorang
pemuda mengantarkan surat. Surat itu dari teman Amat yang ikut merantau
bersamanya, seorang pemuda dari desa tetangga yang bernama Maryono. Surat itu
pendek, hanya beberapa baris, tetapi kata-katanya seperti palu yang menghantam
kepala Sumirah berulang-ulang.
Bu Sumirah, saya tulis surat ini untuk memberi kabar duka.
Pak Amat, suami Ibu, mengalami kecelakaan di tempat kerja. Ia terjatuh dari
ketinggian ketika sedang mengerjakan proyek pembangunan gedung di Jakarta. Ia
meninggal seketika. Jenazahnya tidak bisa kami bawa pulang karena...
Sumirah tidak membaca sisa surat itu. Tangannya gemetar,
kertas itu jatuh ke lantai. Ia merasakan dunianya runtuh, hancur
berkeping-keping, seperti kaca yang dihantam batu. Ia tidak menangis. Ia hanya
duduk diam, mematung, matanya kosong menatap kehampaan.
Selama berhari-hari setelah itu, Sumirah tidak bisa berbuat
apa-apa. Ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur, tidak bisa bicara. Ia hanya
duduk di sudut ruangan, memeluk tubuhnya sendiri, bergoyang-goyang kecil
seperti anak kecil yang ketakutan. Ibunya, Mak Darmi, datang setiap hari untuk
menemaninya, membawa makanan, memaksanya untuk makan sedikit-sedikit.
Kakak-kakaknya juga bergantian datang, mencoba menghiburnya dengan kata-kata
yang mungkin mereka sendiri tidak yakin.
"Sudahlah, Nduk, ikhlas," kata Mak Darmi suatu
sore ketika Sumirah masih duduk diam di kursi bambu ruang tamu. "Ini sudah
takdir. Kita tidak bisa melawan takdir."
Tapi Sumirah tidak bisa ikhlas. Tidak secepat itu. Ia masih
marah, masih kecewa, masih tidak bisa menerima bahwa suaminya pergi begitu
saja, tidak pernah kembali, tidak pernah melihat anaknya yang akan segera
lahir. Ia marah pada takdir, pada Tuhan, pada dunia yang tidak adil. Tapi ia
tidak bisa melampiaskan kemarahannya, karena tidak ada yang bisa ia salahkan.
Semua yang terjadi adalah kecelakaan, kebetulan yang tragis, takdir yang tidak
bisa dihindari.
Beberapa bulan kemudian, Sumirah melahirkan Amat Junior di
rumah tua yang dingin itu, dibantu oleh ibunya sendiri, Mak Darmi, yang
meskipun usianya sudah tidak muda lagi tetap sigap membantu proses persalinan.
Air matanya bercampur dengan keringat saat ia mendorong bayinya keluar, tidak
hanya karena sakitnya melahirkan, tetapi juga karena kesedihan yang masih
membekas, karena kesadaran bahwa ia sekarang sendirian, bahwa ia harus membesarkan
anak ini tanpa ayah, bahwa ia harus menjadi ibu dan ayah sekaligus bagi bayi
mungil yang baru saja lahir ke dunia.
Ketika bayinya akhirnya lahir, ketika ia mendengar tangisan
pertama yang bergema aneh itu, ketika ia melihat mata biru yang terbuka lebar
menatap langit-langit rumah, Sumirah merasakan sesuatu yang tidak bisa ia
jelaskan. Ada kehangatan yang tiba-tiba menyebar di dadanya, ada kekuatan yang
tiba-tiba mengalir di nadinya, ada tekad yang tiba-tiba muncul di pikirannya.
Ia akan menjaga anak ini. Ia akan melindunginya. Ia akan membesarkannya menjadi
anak yang baik, anak yang kuat, anak yang bisa membanggakan ayahnya yang tidak
sempat melihatnya tumbuh.
"Amat," bisiknya, memberikan nama pada anaknya.
"Amat Junior. Karena ayahmu dulu juga bernama Amat. Semoga kau tumbuh
menjadi anak yang kuat, Nak. Semoga kau bisa melewati semua yang sudah
ditakdirkan untukmu."
Sejak saat itu, Sumirah hidup hanya untuk anaknya. Ia
bekerja keras, lebih keras dari sebelumnya. Kebun kecil di belakang rumah yang
tadinya hanya ditanami singkong dan sayur-sayuran seadanya, ia perluas dengan
membersihkan semak-semak di sekitarnya. Ia menanam cabai, tomat, terong, kacang
panjang, sayur-sayuran yang laku dijual di pasar. Ia juga mulai menerima
pesanan membuat kue dan jajanan pasar dari tetangga: kue lapis, klepon, getuk,
pisang goring, apa saja yang diminta, ia kerjakan dengan telaten.
Penghasilannya pas-pasan, tidak pernah cukup untuk hidup
mewah. Tapi selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka berdua: beras
untuk nasi, sayur dan tahu tempe untuk lauk, susu untuk Amat, sesekali ikan
atau ayam ketika ada rezeki lebih. Ia tidak pernah membeli baju baru untuk
dirinya sendiri, baju-baju yang ia kenakan adalah pemberian dari tetangga atau
kakak-kakaknya yang sudah tidak muat. Tapi untuk Amat, ia selalu berusaha
memberikan yang terbaik. Ia membelikan baju-baju baru ketika anaknya ulang
tahun, ia membelikan mainan-mainan sederhana ketika ia punya uang lebih, ia
menyisihkan uang setiap bulan untuk tabungan sekolah anaknya.
Meskipun hidupnya sederhana, Sumirah tidak pernah mengeluh.
Ia merasa bersyukur masih memiliki anak yang sehat, masih memiliki rumah untuk
ditinggali, masih memiliki tetangga yang baik hati yang sering membantu ketika
ia kesulitan. Ia bersyukur kepada Mak Darmi yang selalu ada ketika ia
membutuhkan, kepada kakak-kakaknya yang meskipun jarang berkunjung tetapi
selalu memberi perhatian, kepada Mbah Ratih dan tetua-tetua lain yang selalu
mengingatkan bahwa anaknya istimewa dan harus dijaga.
Ia bertekad untuk membesarkan Amat dengan baik, memberikan
pendidikan yang layak meskipun harus mengorbankan banyak hal, dan
membesarkannya menjadi orang yang berguna bagi desa, bagi masyarakat, bagi
orang-orang di sekitarnya. Ia ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat,
tidak hanya secara fisik tetapi juga secara mental, pribadi yang bisa
menghadapi apapun yang akan dihadapinya di masa depan.
Yang membuat Sumirah sedikit khawatir adalah kenyataan
bahwa Amat tumbuh tanpa figur ayah. Ia tahu bahwa anak laki-laki membutuhkan
sosok ayah untuk menjadi panutan, untuk mengajarkan hal-hal yang mungkin tidak
bisa diajarkan oleh seorang ibu. Bagaimana cara memancing ikan? Bagaimana cara
memanjat pohon kelapa? Bagaimana cara menghadapi bully dari teman-teman?
Bagaimana cara menjadi laki-laki yang bertanggung jawab? Ini adalah hal-hal
yang tidak bisa diajarkan oleh seorang ibu, atau setidaknya tidak bisa
diajarkan dengan cara yang sama seperti yang diajarkan oleh seorang ayah.
Keluarganya sendiri tidak terlalu dekat dengannya setelah
ia menikah. Kakak-kakaknya sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang tinggal
di desa tetangga, ada yang merantau ke kota seperti suaminya dulu. Mereka hanya
datang sekali-sekali, untuk acara-acara tertentu seperti Lebaran atau
pernikahan. Mertuanya sudah tidak ada, karena orang tua Amat meninggal beberapa
tahun setelah pernikahan mereka, sebelum Amat pergi merantau. Ia hanya memiliki
adiknya, Si Amat, panggilan untuk adik laki-lakinya yang masih lajang dan
bekerja sebagai admin desa, yang usianya tidak terpaut jauh dan sering datang
menjenguk, tetapi Si Amat sendiri masih muda dan belum memiliki pengalaman
menjadi seorang ayah.
Sumirah hanya bisa berdoa semoga Amat mendapatkan figur
ayah dari orang-orang di sekitarnya. Dari Pak Tarno, tetangga di seberang
jalan, yang meskipun bukan keluarga, selalu bersedia membantu ketika ada yang
perlu diperbaiki di rumah. Dari Pak Iwan, kepala desa yang tegas namun
perhatian, yang kadang-kadang datang berkunjung dan mengajak Amat bicara dengan
cara yang membuat anak itu merasa dihargai. Dari Mbah Kartijo, petani tua yang
setiap pagi mampir membawa hasil kebun, yang suka bercerita tentang masa lalu,
tentang leluhur, tentang desa ini ketika masih berupa hutan lebat.
Doa itu ternyata terkabul, meskipun tidak dalam bentuk yang
ia bayangkan. Figur ayah bagi Amat tidak akan datang dari satu orang, tetapi
dari banyak orang, dari berbagai latar belakang, dari berbagai usia. Mereka
akan memberikan apa yang bisa mereka berikan: Pak Tarno dengan keahliannya
sebagai tukang kayu, mengajarkan Amat cara menggunakan palu dan gergaji, cara
membuat mainan dari potongan kayu sisa. Pak Iwan dengan kebijaksanaannya
sebagai pemimpin desa, mengajarkan Amat tentang tanggung jawab, tentang
kepemimpinan, tentang bagaimana menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.
Mbah Kartijo dengan cerita-ceritanya yang penuh hikmah, mengajarkan Amat
tentang sejarah, tentang asal-usul, tentang hubungan antara manusia dan alam,
antara yang hidup dan yang telah tiada.
Dan yang paling penting, figur ayah bagi Amat akan datang
dari persahabatan dengan Raka dan Camelia, dua anak seusianya yang akan menjadi
sahabat sejatinya, yang akan tumbuh bersamanya, belajar bersamanya, bermain
bersamanya. Melalui mereka, Amat akan belajar tentang arti persahabatan, tentang
kesetiaan, tentang tawa di tengah kesulitan. Melalui keluarga mereka, Amat akan
merasakan kehangatan keluarga yang utuh, dengan ayah dan ibu yang saling
melengkapi, dengan rumah yang ramai oleh tawa dan canda.
Tapi semua itu masih di masa depan. Saat ini, Sumirah hanya
seorang ibu muda yang sedang berjuang membesarkan anaknya seorang diri, di
rumah tua yang dingin dan penuh bisikan, di ujung desa yang sunyi dan
terpencil. Dan meskipun hidupnya keras, meskipun masa depannya tidak pasti, ia
memiliki sesuatu yang membuatnya tetap kuat: cinta untuk anaknya, harapan untuk
masa depan, dan keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, ia tidak sendirian.
Ada leluhur yang menjaga di rumah ini, ada tetangga yang
peduli di sekitarnya, ada desa yang menjadi rumahnya, dan ada anak yang akan
tumbuh menjadi sesuatu yang besar, sesuatu yang penting, sesuatu yang mungkin
akan mengubah segalanya.
Malam di rumah tua di kaki Bukit Pangasih memiliki irama
tersendiri, sebuah irama yang tidak akan ditemukan di rumah-rumah lain di Desa
Awan Biru. Ketika matahari tenggelam di balik barisan gunung di barat dan
langit berubah dari jingga menjadi ungu tua lalu biru gelap yang dipenuhi
bintang-bintang, rumah ini mulai berdenyut dengan kehidupan yang berbeda,
kehidupan yang tidak terlihat oleh mata biasa tetapi terasa oleh mereka yang
tinggal di dalamnya.
Sumirah sudah sangat terbiasa dengan irama ini. Ia tahu
persis kapan suara-suara itu akan mulai terdengar, kapan kehangatan aneh akan
mulai menyebar di dalam rumah, kapan udara akan terasa lebih berat dan lebih
pekat. Ia tahu bahwa pada pukul sembilan malam, ketika sebagian besar warga
desa sudah masuk ke dalam rumah dan lampu-lampu mulai padam satu per satu,
bisikan-bisikan itu akan mulai merambat dari sudut-sudut ruangan, dari
celah-celah dinding, dari balik lemari tua di ruang tamu.
Pada malam-malam biasa, bisikan itu hanya samar-samar,
seperti dengungan lebah di kejauhan, seperti suara air mengalir di bawah tanah.
Sumirah bisa mendengarnya jika ia memperhatikan, tetapi ia juga bisa mengabaikannya
jika ia sibuk dengan aktivitas lain, memasak di dapur, mencuci piring,
menyiapkan keperluan Amat untuk esok hari. Suara-suara itu hadir sebagai latar
belakang, sebagai musik pengiring kehidupan malamnya, tidak mengganggu tetapi
juga tidak bisa dihilangkan.
Tapi pada malam-malam tertentu, bisikan itu menjadi lebih
jelas, lebih nyaring, lebih... nyata. Malam Jumat Kliwon adalah yang paling
intens. Pada malam itu, Sumirah biasanya tidak bisa tidur. Bukan karena takut,
tetapi karena suara-suara itu terlalu jelas untuk diabaikan, seperti orang yang
berbicara di ruangan yang sama, dengan volume yang cukup untuk didengar tetapi
tidak cukup untuk dipahami kata-katanya.
Pada suatu malam Jumat Kliwon, ketika Amat sudah berusia
sekitar tiga bulan dan sudah bisa tidur lebih nyenyak di malam hari, Sumirah
duduk di ruang tamu dengan lampu minyak yang menyala redup. Ia tidak sedang
melakukan apa-apa, hanya duduk di kursi bambu, memandangi nyala api yang
bergoyang-goyang karena angin yang masuk dari celah-celah dinding. Di
pangkuannya, Amat terbaring tidur, dadanya naik turun perlahan, napasnya
teratur dan tenang.
Bisikan itu mulai terdengar sekitar pukul sembilan, seperti
biasa. Tapi malam itu, bisikan itu berbeda. Biasanya, suara-suara itu terdengar
seperti beberapa orang yang berbicara bersamaan, saling tindih, sulit
dipisahkan satu sama lain. Tapi malam itu, Sumirah bisa mendengar dengan lebih
jelas, bisa membedakan satu suara dari yang lain. Ada suara laki-laki yang
berat dan dalam, ada suara perempuan yang lebih tinggi dan lembut, ada juga
suara yang tidak bisa ia tentukan jenis kelaminnya, suara yang terdengar
seperti angin yang berbicara.
Dan untuk pertama kalinya, Sumirah merasa bahwa suara-suara
itu sedang membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan Amat.
Ia tidak bisa memahami kata-katanya, tetapi intonasi dan
ritmenya memberikan petunjuk. Kadang-kadang suara-suara itu terdengar seperti
sedang berdiskusi, dengan nada tanya dan jawab yang bergantian. Kadang-kadang
suara-suara itu terdengar seperti sedang berdebat, dengan intonasi yang naik
turun dengan cepat. Dan di tengah-tengah semua itu, Sumirah mendengar nama
anaknya disebut. "Amat... Amat Junior..." terdengar samar-samar,
seperti bisikan yang sengaja diucapkan agar ia mendengar.
Sumirah menggenggam tangan Amat yang mungil lebih erat.
Dadanya berdebar, tetapi tidak karena takut. Ada perasaan aneh yang menjalar di
sekujur tubuhnya, perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti ada sesuatu
yang besar sedang direncanakan, sesuatu yang melibatkan anaknya, sesuatu yang
akan menentukan nasibnya di masa depan.
"Kalian membicarakan anakku?" bisik Sumirah,
entah kepada siapa. Ia tidak tahu apakah suara-suara itu bisa mendengarnya,
apakah mereka peduli dengan apa yang ia katakan. Tapi ia merasa perlu bicara,
perlu menegaskan bahwa ia adalah ibu dari anak ini, bahwa ia memiliki hak untuk
tahu apa yang sedang terjadi.
Untuk sesaat, bisikan itu berhenti. Keheningan yang
tiba-tiba memenuhi ruangan, keheningan yang begitu pekat sehingga Sumirah bisa
mendengar detak jantungnya sendiri. Dan kemudian, dari arah yang tidak bisa
ditentukan, dari segala arah sekaligus, terdengar suara yang lebih jelas dari
sebelumnya. Suara itu bukan bisikan lagi, tetapi suara yang terdengar seperti
ucapan, seperti kalimat yang diucapkan dengan jelas tetapi dalam bahasa yang
tidak ia mengerti.
Setelah suara itu selesai, bisikan-bisikan itu kembali
terdengar, tetapi dengan nada yang berbeda. Lebih lembut, lebih tenang, seperti
orang yang sudah mencapai kesepakatan setelah berdebat panjang. Sumirah tidak
tahu apa yang baru saja terjadi, tidak tahu apa yang disepakati oleh
makhluk-makhluk tak kasat mata itu. Tapi ia merasa lega, merasa bahwa sesuatu
yang penting telah diputuskan, dan keputusan itu baik untuk anaknya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Sumirah tidak merasa
asing dengan suara-suara itu. Ia merasa seperti mereka adalah teman, tetangga,
keluarga yang sudah lama tinggal bersamanya di rumah ini. Ia merasa bahwa
mereka menjaga rumah ini bukan karena kewajiban, tetapi karena mereka peduli,
karena mereka ingin melindungi, karena mereka ingin memastikan bahwa penghuni
rumah ini, terutama Amat, anak yang lahir dengan tanda-tanda itu, aman dan
terlindungi.
Rumah tua di kaki Bukit Pangasih tidak hanya memiliki
keanehan-keanehan yang tidak bisa dijelaskan. Ia juga memiliki karakter,
kepribadian, cerita yang terukir di setiap sudutnya, di setiap papan kayu yang
membentuk dindingnya, di setiap bilah bambu yang menjadi atapnya. Bagi Sumirah,
rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga saksi bisu perjalanan
hidupnya, dari seorang pengantin baru yang penuh harap, hingga seorang janda
muda yang harus berjuang sendirian.
Ruang tamu, ruangan pertama yang dimasuki oleh setiap tamu
yang datang, adalah ruangan yang paling sering digunakan oleh Sumirah. Inilah tempat
ia menerima tamu, tempat ia duduk-duduk di sore hari sambil menggendong Amat,
tempat ia kadang-kadang bekerja membuat kue atau jajanan pasar ketika dapur
terlalu pengap karena asap. Ruangan ini berukuran sekitar tiga kali empat
meter, dengan lantai dari acian semen yang sudah retak-retak, dinding dari
papan kayu albasia yang sudah tidak rapat, dan langit-langit dari anyaman bambu
yang di beberapa tempat sudah berlubang.
Di ruang tamu ini, terdapat perabot yang sangat sederhana.
Satu set kursi bambu anyaman yang sudah usang, dengan anyaman di bagian dudukan
yang mulai kendur. Sebuah lemari kaca kecil yang berisi piring-piring dan
gelas-gelas untuk tamu, peninggalan dari mertua Sumirah yang dulu. Sebuah
poster besar bergambar pemandangan alam yang sudah menguning dan robek di
beberapa tempat, satu-satunya hiasan di dinding ruangan ini. Dan di sudut
ruangan, tergantung ayunan bambu tempat Amat biasa tidur di siang hari,
bergerak perlahan karena dorongan angin yang masuk.
Tapi ada satu benda di ruang tamu ini yang paling istimewa
bagi Sumirah: sebuah foto pernikahannya dengan Amat Senior, dibingkai dengan
kayu sederhana, diletakkan di atas lemari kaca. Foto itu sudah mulai pudar
warnanya, wajah mereka berdua sudah tidak terlalu jelas, tetapi Sumirah masih bisa
mengingat dengan sempurna bagaimana rasanya berdiri di samping suaminya hari
itu, bagaimana tangannya yang besar menggenggam tangannya yang kecil, bagaimana
senyumnya yang lebar ketika foto diambil.
Setiap malam, sebelum tidur, Sumirah akan menatap foto itu
sebentar. Bukan karena ia masih berharap suaminya kembali, ia sudah menerima
kenyataan bahwa Amat Senior tidak akan pernah kembali. Tapi foto itu adalah
pengingat bahwa ia pernah dicintai, bahwa ia pernah memiliki seseorang yang
bersedia berbagi hidup dengannya, bahwa ia tidak selalu sendirian. Dan foto itu
juga menjadi jembatan bagi Amat Junior untuk mengenal ayahnya yang tidak sempat
ia temui. Ketika Amat cukup besar untuk bertanya, Sumirah akan menunjukkan foto
itu dan berkata, "Ini ayahmu, Nak. Namanya Amat, seperti namamu. Dia orang
baik. Dia sangat menyayangimu, meskipun dia tidak sempat melihatmu
tumbuh."
Dapur adalah ruangan kedua yang paling sering digunakan
Sumirah, dan mungkin ruangan yang paling hangat di rumah ini, baik secara
harfiah maupun kiasan. Dapur ini terletak di belakang rumah, terpisah dari
ruang tamu dan kamar tidur oleh sebuah pintu tanpa daun, hanya diberi tirai
dari kain perca yang sudah pudar warnanya. Ukurannya lebih kecil dari ruang
tamu, hanya sekitar dua setengah kali tiga meter, dengan lantai dari tanah yang
dipadatkan, dinding dari papan kayu yang lebih tipis, dan atap dari seng yang
sudah berkarat di beberapa tempat.
Di dapur ini terdapat tungku dari bata merah yang sudah
menghitam karena jelaga, dengan dua lubang di atasnya untuk meletakkan periuk
dan wajan. Di samping tungku, tumpukan kayu bakar yang dikumpulkan Sumirah dari
hutan di sekitar bukit, dikeringkan di bawah sinar matahari sebelum digunakan.
Di rak bambu yang tergantung di dinding, tersimpan piring-piring,
mangkuk-mangkuk, dan peralatan masak lainnya, semuanya dalam jumlah yang sangat
terbatas. Di rak lain, tergantung bungkusan-bungkusan plastik berisi bumbu
dapur yang dikeringkan: bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, ketumbar,
kunyit.
Dapur ini adalah tempat di mana Sumirah menghabiskan
sebagian besar waktunya. Di sinilah ia memasak nasi di pagi hari, menyeduh kopi
untuk tamu yang datang, menghangatkan air untuk mandi di sore hari, dan membuat
kue-kue untuk dijual. Di sinilah ia sering menggendong Amat sambil mengaduk
sayur di wajan, karena bayinya itu lebih tenang ketika dekat dengan sumber
panas. Di sinilah ia duduk di malam hari, setelah Amat tidur, menikmati
secangkir teh jahe hangat sambil merenungkan hidupnya.
Dan di dapur inilah Sumirah sering merasa paling dekat
dengan suaminya yang telah tiada. Karena di dapur inilah dulu Amat Senior
sering duduk, setelah pulang dari sawah, sambil menikmati kopi yang diseduh
istrinya sambil bercerita tentang kejadian-kejadian di ladang. Sumirah masih
bisa membayangkan suaminya duduk di bangku bambu yang sama, dengan baju kotor
terkena lumpur, rambutnya masih basah karena keringat, matanya berbinar-binar
saat bercerita tentang rencana-rencananya untuk masa depan.
"Pak, kamu lihat anak kita?" bisik Sumirah
kadang-kadang, ketika malam sunyi dan Amat sudah tidur. "Dia tumbuh besar,
Pak. Dia kuat, dia sehat, dia pintar. Dia mirip kamu, Pak. Matanya, senyumnya,
bahkan caranya tidur, miring ke kiri dengan tangan di bawah pipi, seperti kamu
dulu."
Tentu saja tidak ada jawaban. Tapi Sumirah merasa bahwa
suaminya mendengar, bahwa suaminya ada di suatu tempat, menjaga mereka,
melindungi mereka, bangga dengan anak yang tidak sempat ia lihat.
Kamar tidur adalah ruangan yang paling pribadi di rumah
ini, ruangan yang hanya dimasuki oleh Sumirah dan Amat, dan kadang-kadang oleh
Mak Darmi ketika datang memeriksa kesehatan bayinya. Kamar ini terletak di
sebelah kiri ruang tamu, dipisahkan oleh tirai kain perca yang sama dengan yang
memisahkan dapur. Ukurannya sangat kecil, hanya sekitar dua setengah kali tiga
meter, cukup untuk sebuah tempat tidur kayu berukuran satu setengah kali dua
meter, sebuah lemari pakaian sederhana dari kayu albasia, dan sebuah meja kecil
yang berfungsi sebagai tempat rias sekaligus tempat menyimpan barang-barang
berharga.
Tempat tidur itu adalah tempat tidur yang sama yang
digunakan Sumirah dan Amat Senior dulu. Tempat tidur itu bukan tempat tidur
modern dengan kasur busa tebal, tetapi tempat tidur tradisional dengan alas
anyaman bambu yang disebut kloso, di atasnya diberi tumpukan kain bekas yang
dilapisi seprai tipis. Bantal dan gulingnya dari bahan yang sama, diisi dengan
kapuk yang sudah lama tidak diganti sehingga terasa pipih dan padat. Tapi bagi
Sumirah, tempat tidur ini adalah tempat paling nyaman di dunia. Di sinilah ia
tidur setiap malam, memeluk anaknya, mendengarkan napasnya yang teratur,
merasakan kehangatan tubuhnya yang kecil.
Di sudut kamar, tergantung sebuah lampu minyak yang sudah
lama tidak digunakan, sejak listrik masuk ke desa ini. Tapi lampu itu masih
disimpan, mungkin sebagai cadangan jika listrik padam. Dan di Desa Awan Biru,
listrik padam adalah kejadian yang biasa, terutama di musim hujan ketika angin
kencang sering menjatuhkan pohon ke kabel listrik.
Di lemari pakaian, di antara pakaian-pakaian Sumirah yang
sederhana, tersimpan sebuah benda yang paling berharga: liontin batu akik biru
yang diberikan oleh Mbah Ratih. Sumirah membungkusnya dengan kain beludru biru
tua, menyimpannya di dalam kotak kayu kecil yang dulu digunakan untuk menyimpan
perhiasan pernikahannya. Ia tidak pernah membuka bungkusan itu, tidak pernah
melihat batu itu lagi sejak pertama kali menerimanya. Ia hanya menyimpannya,
menunggu waktu yang tepat, waktu yang ditentukan oleh Mbah Ratih, waktu ketika
Amat sudah cukup besar untuk menerimanya.
Kadang-kadang, di malam hari ketika Amat sudah tidur dan
rumah sunyi kecuali bisikan-bisikan yang selalu ada, Sumirah akan membuka
lemari itu, mengeluarkan kotak kayu kecil, dan membuka tutupnya. Ia tidak
membuka bungkusan kain beludru, hanya melihat kotak itu, merasakan kehangatan
yang terpancar dari dalamnya, mengingat kata-kata Mbah Ratih.
"Ini untuknya. Simpanlah dulu. Berikan ketika dia
sudah cukup besar untuk memahaminya."
Suatu hari nanti, Sumirah akan memberikan liontin itu
kepada Amat. Suatu hari nanti, Amat akan tahu tentang asal-usulnya, tentang
ramalan leluhur, tentang tugas yang menantinya. Tapi untuk sekarang, untuk saat
ini, Sumirah hanya ingin menjadi ibu bagi anaknya. Ibu yang melindungi, ibu
yang merawat, ibu yang mencintai. Tidak lebih, tidak kurang.
Karena bagaimanapun juga, apa pun yang dikatakan orang
tentang anaknya, apa pun keanehan yang menyertai pertumbuhannya, apa pun takdir
yang telah ditentukan sejak tiga ratus tahun yang lalu, Amat tetaplah anaknya.
Darah dagingnya. Buah hatinya. Satu-satunya hal yang tersisa dari suaminya yang
pergi dan tidak pernah kembali.
Dan Sumirah akan melakukan apa pun untuk melindunginya,
untuk membesarkannya menjadi anak yang baik, anak yang kuat, anak yang siap
menghadapi apa pun yang akan dihadapinya di masa depan.
Bahkan jika masa depan itu telah ditakdirkan sejak leluhur
pertama menginjakkan kaki di tanah ini.
Bahkan jika masa depan itu berarti melepaskannya ke dunia
yang lebih besar, dunia yang mungkin tidak bisa ia ikuti.
Bahkan jika masa depan itu berarti kehilangan lagi.
BAB 4: Raka, Sahabat yang Tak Pernah Serius
Di sisi timur Desa Awan Biru, sekitar lima belas menit
berjalan kaki dari kantor desa atau sekitar dua puluh menit dari rumah Sumirah
di kaki Bukit Pangasih, berdiri sebuah rumah yang mungkin paling ramai di
seluruh desa. Rumah itu tidak terlalu besar, tidak juga terlalu megah.
Bangunannya sederhana, hanya berukuran sekitar enam kali delapan meter dengan
dinding dari papan kayu yang pernah dicat hijau pudar, warna yang dulu dipilih
oleh Mbah Kinah, nenek buyut Raka, karena katanya warna hijau membawa
ketentraman, tetapi cat itu sudah lama mengelupas, meninggalkan bercak-bercak
hijau pucat yang tersisa di sana-sini seperti peta pulau-pulau kecil di lautan
kayu coklat keabu-abuan. Atapnya dari seng gelombang yang di beberapa tempat
sudah berkarat, tetapi di bagian dapur dan warung, masih menggunakan atap
rumbia yang sudah menghitam karena usia, yang ketika hujan turun akan
mengeluarkan suara gemerisik khas yang tidak bisa ditiru oleh bahan modern
manapun.
Tapi dari dalam rumah itulah selalu terdengar suara riuh
rendah, tawa, dan kadang-kadang suara orang berdebat dengan nada tinggi tetapi
tidak pernah benar-benar serius. Di pagi hari, suara itu dimulai sekitar pukul
setengah enam, ketika Bapak Raka mulai menyalakan tungku dan menggoreng
rempeyek, sementara Ibu Raka memotong sayuran dengan pisau yang berbunyi tak-tak-tak di
atas talenan kayu yang sudah cekung di bagian tengah karena digunakan
bertahun-tahun. Di siang hari, suara itu berganti dengan obrolan para pelanggan
yang duduk di bangku-bangku panjang sambil menikmati pecel dan kopi. Di sore
hari, setelah warung tutup, suara itu berganti dengan tawa Raka dan teman-temannya
yang bermain di halaman atau di dalam rumah, kadang-kadang diselingi oleh suara
Bapak Raka yang menyanyikan tembang-tembang Jawa sambil memainkan gamelan
sederhana yang ia buat sendiri dari kaleng bekas dan kayu.
Itulah rumah keluarga Raka. Rumah yang juga berfungsi
sebagai warung pecel legendaris yang sudah beroperasi sejak zaman nenek buyut
Raka, atau mungkin bahkan lebih lama lagi, karena tidak ada yang benar-benar
ingat kapan tepatnya warung ini pertama kali dibuka. Yang diketahui oleh penduduk
Desa Awan Biru adalah bahwa warung ini sudah ada sebelum mereka lahir, sudah
ada sebelum orang tua mereka lahir, mungkin sudah ada sejak desa ini masih
berupa hamparan ladang dan hutan yang jarang penduduknya.
Warung ini tidak memiliki nama resmi. Tidak ada papan nama
yang terpampang di depan rumah, tidak ada spanduk yang berkibar ditiup angin,
tidak ada brosur yang dibagikan di pasar. Tetapi semua orang di Desa Awan Biru
dan bahkan desa-desa tetangga di kecamatan yang sama mengenalnya sebagai
"Pecel Mbah Kinah", diambil dari nama nenek buyut Raka yang pertama
kali membuka warung itu puluhan tahun yang lalu. Ada juga yang menyebutnya
"Pecel Pak Gareng", karena Bapak Raka yang bertubuh kecil dan
suaranya yang khas sering dipanggil "Gareng" oleh teman-temannya,
merujuk pada tokoh punakawan dalam pewayangan yang terkenal jenaka dan cerdik.
Tapi nama yang paling sering digunakan tetaplah "Pecel Mbah Kinah",
karena masyarakat desa sangat menghormati Mbah Kinah yang konon adalah
perempuan tangguh yang membuka warung ini sendirian setelah suaminya meninggal
di usia muda.
Warung ini terletak di bagian depan rumah. Sebuah bangunan
sederhana yang menyatu dengan rumah utama, dengan atap dari rumbia yang sudah
menghitam karena usia dan ditumbuhi lumut di beberapa bagian, dinding setengah
tembok dari bata merah yang diplester kasar dan setengah anyaman bambu yang
sudah menguning, dan lantai dari tanah yang dipadatkan, sama seperti kebanyakan
rumah di desa ini. Di sanalah terdapat tiga meja kayu panjang dengan bangku-bangku
sederhana yang selalu penuh pada pagi dan sore hari. Meja-meja itu terbuat dari
kayu jati tua, peninggalan dari zaman Mbah Kinah, dengan permukaan yang sudah
halus karena ribuan siku dan lengan yang bersandar di atasnya selama puluhan
tahun. Di setiap meja, terdapat botol-botol kecap dan sambal yang disusun rapi,
bersama dengan keranjang kecil berisi kerupuk dan rempeyek yang selalu diisi
ulang setiap kali habis.
Aroma khas pecel, campuran bumbu kacang yang gurih dengan
sentuhan kencur yang segar, petis yang memberikan rasa umami yang dalam, dan
daun jeruk yang memberikan aroma khas, tercium dari kejauhan. Aroma itu akan
menyambut siapa saja yang melewati jalan desa itu, bahkan dari jarak seratus
meter sekalipun. Aroma itu akan membuat perut keroncongan, akan membuat langkah
kaki berbelok secara tidak sadar menuju warung itu, akan membuat mulut berair
meskipun baru saja selesai sarapan. Aroma itu adalah aroma yang sudah menjadi
bagian dari identitas Desa Awan Biru, sama seperti aroma tanah basah setelah hujan
atau aroma tembakau dari para petani yang sedang mengeringkan tembakau di musim
kemarau.
Dapur warung ini terletak di bagian belakang, terhubung
langsung dengan dapur rumah tanpa sekat, hanya dibatasi oleh ambang pintu dari
kayu yang sudah aus karena jutaan langkah kaki yang melintas di atasnya. Di
dapur inilah setiap pagi, ketika langit masih gelap dan ayam-ayam belum mulai
berkokok, kehidupan dimulai. Bapak Raka akan bangun lebih dulu, sekitar pukul
tiga tiga puluh, membasuh muka dengan air dari sumur di belakang rumah, lalu
menyalakan tungku dari bata merah yang sudah menghitam karena jelaga. Ia akan
menggoreng rempeyek, rempeyek kacang, rempeyek teri, rempeyek udang, dalam
wajan besar dengan minyak kelapa yang dipanaskan hingga suhu yang tepat, yang
hanya bisa dirasakan oleh tangan yang sudah puluhan tahun melakukan pekerjaan
yang sama.
"Api harus kecil, Ra," ia pernah mengajarkan
kepada Raka ketika anaknya masih kecil dan suka membantu di dapur. "Kalau
api besar, rempeyeknya gosong di luar tapi masih mentah di dalam. Kalau api
terlalu kecil, rempeyeknya berminyak dan tidak renyah. Api yang tepat itu
seperti kehidupan, Ra. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Yang penting
konsisten."
Raka, yang saat itu masih terlalu kecil untuk memahami
filosofi di balik kata-kata ayahnya, hanya mengangguk-angguk sambil memandangi
rempeyek yang mengembang di wajan, melepaskan gelembung-gelembung kecil yang
pecah dengan suara krek-krek-krek yang merdu.
Sementara Bapak Raka sibuk dengan gorengan, Ibu Raka, Bu
Yati, akan bangun sekitar pukul empat. Ia adalah perempuan bertubuh sedang
dengan rambut hitam panjang yang selalu diikat ke belakang, wajahnya bulat
seperti anaknya, tetapi dengan garis-garis halus di sekitar mata yang
menunjukkan bahwa ia sering tersenyum dan sering kelelahan secara bersamaan. Bu
Yati akan duduk di depan dapur, di atas bangku kayu rendah yang selalu sama
sejak ia menikah, lalu mulai memotong sayuran.
Sayuran untuk pecel Mbah Kinah selalu segar. Tidak ada
sayuran beku, tidak ada sayuran yang disimpan semalaman di lemari es. Setiap
pagi, sekitar pukul lima, seorang petani sayur dari desa tetangga akan
mengantarkan sayuran yang baru dipetik dari kebun: kangkung yang masih basah
oleh embun, bayam hijau dengan daun-daun lebar yang segar, kacang panjang yang
masih kaku dan renyah, taoge yang masih putih bersih dengan ekor-ekor kecil
yang belum layu, dan daun kenikir yang aromanya tajam dan khas. Bu Yati akan
membersihkan sayuran itu satu per satu, mencucinya di ember besar yang selalu
tersedia di samping sumur, lalu memotongnya dengan pisau yang sudah diasah
setiap pagi hingga tajam seperti silet.
Bumbu pecel adalah resep turun-temurun yang tidak pernah
diubah sejak zaman Mbah Kinah. Kacang tanah disangrai hingga kecoklatan, lalu
dihaluskan bersama dengan kencur, bawang putih, cabai, gula merah, garam, dan
petis. Perbandingan bahannya adalah rahasia keluarga yang hanya diketahui oleh
Bapak Raka dan Bu Yati, dan suatu hari nanti akan diwariskan kepada Raka jika
ia sudah siap. Bumbu itu diulek dalam cobek batu yang sudah sangat tua, dengan
gerakan memutar yang konstan, hingga teksturnya menjadi halus tetapi masih
sedikit kasar, sehingga ketika disiram air panas, bumbu itu akan mengental
sempurna, tidak terlalu encer dan tidak terlalu pekat.
"Cobek ini umurnya lebih tua dari kamu, Ra," kata
Bapak Raka suatu kali, sambil mengulek bumbu dengan gerakan tangan yang
terlatih. "Mbah Kinah sudah pakai cobek ini sejak perang masih berkecamuk.
Cobek ini sudah melihat lebih banyak sejarah daripada buku-buku sejarah di
sekolahmu."
Raka, yang saat itu sudah mulai bersekolah, tertawa
mendengar perkataan ayahnya. "Masa sih, Pak. Cobek kan cuma batu."
"Batu ini bukan batu biasa, Ra. Ini batu dari lereng
Bukit Pangasih, diambil oleh Mbah Kinah sendiri. Katanya, batu ini punya
energi. Itu sebabnya bumbu pecel kita enak."
Raka tidak tahu apakah itu hanya cerita atau memang benar.
Tapi satu hal yang ia tahu: pecel buatan ayah dan ibunya adalah pecel terenak
yang pernah ia makan, dan semua pelanggan setia warung mereka setuju dengan
itu.
Raka, anak laki-laki satu-satunya dari pasangan Pak Gareng
dan Bu Yati, lahir dan besar di tengah hiruk-pikuk warung pecel yang tak pernah
sepi. Ia tidak lahir di rumah sakit atau puskesmas seperti kebanyakan anak di
desa, tetapi lahir di rumah itu sendiri, di kamar yang sama yang kini menjadi
kamar tidurnya, dibantu oleh Mak Darmi, bidan desa yang juga membantu kelahiran
Amat Junior beberapa tahun kemudian. Ibu Raka sering bercerita bahwa ketika
Raka lahir, ia langsung menangis keras, begitu keras sehingga para pelanggan
yang sedang makan pecel di depan berhenti mengunyah sejenak, terkejut oleh
suara tangisan bayi yang memecah suasana pagi yang tenang.
"Anak ini keras kepalanya, kayak bapaknya," kata
Mak Darmi sambil menggendong Raka yang baru lahir, tangisnya masih terdengar
nyaring meskipun sudah dibedong rapi.
Bapak Raka yang saat itu sedang sibuk menggoreng rempeyek
di dapur, berlari ke kamar mendengar kabar istrinya telah melahirkan. Wajahnya
yang kecil dan kurus itu berseri-seri seperti anak kecil yang baru diberi
mainan baru. Ia mengambil anaknya dari gendongan Mak Darmi, menggendongnya
dengan canggung karena tangannya yang biasa memegang wajan dan cobek belum
terbiasa memegang bayi yang baru lahir.
"Hei, Ra," sapanya pada bayinya, "kamu udah
lahir ya? Bapak kira kamu masih betah di perut ibumu. Kok cepet amat?"
Bayi Raka, yang entah mengapa sepertinya merespons suara
ayahnya, berhenti menangis. Matanya yang masih keruh karena baru lahir itu
terbuka, menatap ke arah suara, dan untuk sesaat, semua orang di ruangan itu
merasakan keanehan: bayi itu tersenyum. Bayi yang baru lahir tidak bisa
tersenyum, itu yang dikatakan buku-buku kesehatan. Tapi Raka tersenyum, senyum
yang membuat seluruh wajahnya yang mungil itu berkerut, senyum yang sama yang
akan ia kenakan selama sisa hidupnya, senyum yang akan membuat orang-orang di
sekitarnya merasa hangat dan nyaman.
"Lihat! Dia senyum!" seru Bapak Raka dengan suara
melengking khasnya. "Anakku senyum! Dia pasti sudah kenal bapaknya!"
Mak Darmi menggeleng-gelengkan kepala, tetapi ia tersenyum
juga. "Ya ampun, Pak Gareng, bayi baru lahir itu belum bisa senyum. Itu
cuma refleks."
"Refleks atau bukan, yang penting dia senyum. Itu
pertanda baik. Anak ini akan tumbuh jadi anak yang ceria, kayak bapaknya."
Dan benar saja. Raka tumbuh menjadi anak yang ceria,
mungkin terlalu ceria menurut ukuran sebagian orang yang lebih menyukai
ketenangan dan keseriusan. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan bakat alaminya
untuk membuat orang tertawa. Ketika ia mulai bisa bicara, sekitar usia satu
setengah tahun, kata pertama yang keluar dari mulutnya bukan "mama"
atau "papa" seperti kebanyakan anak, tetapi "pecel". Ibu
Raka yang mendengarnya hampir pingsan karena tertawa.
"Anak ini, sejak dalam kandungan sudah makan pecel
kali ya," kata Bu Yati kepada suaminya sambil mengusap air mata karena
tertawa. "Baru bisa bicara sudah minta pecel."
Bapak Raka yang mendengar kabar itu merasa sangat bangga.
"Itu anakku! Darah dagingku! Sudah tahu produk unggulan keluarga!"
Seiring bertambahnya usia, bakat Raka untuk membuat orang
tertawa semakin terasah. Ia belajar dari para pelanggan warung yang setiap hari
datang dengan cerita-cerita lucu dan guyonan-guyonan khas pedesaan. Ada Pak
Wagiman, petani yang setiap pagi datang untuk sarapan pecel sebelum ke sawah,
yang selalu memiliki cerita tentang keledainya yang bandel atau tentang
istrinya yang pelit. Ada Mbah Karto, pensiunan guru yang setiap sore duduk di
warung sambil minum kopi, yang suka bercerita tentang masa lalu dengan cara
yang lucu meskipun sebenarnya ceritanya sedih. Ada Anto, sopir truk yang suka
meramal, yang setiap kali datang selalu membawa cerita-cerita aneh dari
perjalanannya yang kadang lucu kadang mengerikan.
Dari mereka semua, Raka belajar bahwa tawa adalah obat yang
paling mujarab. Ia belajar bahwa orang yang paling garang di siang hari bisa
menjadi paling lembut ketika perutnya kenyang dan hatinya hangat oleh canda
tawa. Ia belajar bahwa di balik senyum ramah seorang pelanggan, kadang
tersimpan beban hidup yang berat, tetapi untuk sesaat, ketika mereka duduk di
warung pecel ini, mereka bisa melupakan beban itu. Ia belajar bahwa tertawa itu
gratis, tidak perlu uang, tidak perlu pendidikan tinggi, tidak perlu status
sosial, dan di warung pecel milik keluarganya, tawa selalu tersedia gratis bagi
siapa saja yang membutuhkannya.
Raka sendiri tumbuh menjadi anak yang secara fisik sangat
kontras dengan Amat. Tubuhnya tambun, akibat terlalu banyak mencicipi pecel dan
rempeyek buatan orang tuanya sejak kecil. Wajahnya bulat dengan pipi yang
tembam, kulitnya sawo matang seperti kebanyakan anak desa yang sering bermain
di luar rumah, rambutnya hitam dan agak keriting di ujung-ujungnya. Matanya
sipit, tetapi ketika ia tersenyum, yang hampir selalu ia lakukan, matanya itu
akan menyipit semakin sempit, hampir tertutup, dan di sudut matanya akan muncul
kerutan-kerutan kecil yang membuatnya terlihat seperti bulan sabit yang lucu.
Ia tidak terlalu pintar di sekolah. Nilai-nilainya selalu
pas-pasan, seringkali di urutan bawah kelas. Pelajaran matematika membuat
kepalanya pusing, pelajaran IPA membuatnya bingung dengan rumus-rumus yang
tidak ia mengerti, pelajaran bahasa Inggris membuatnya frustrasi dengan
kata-kata yang tidak bisa ia ucapkan dengan benar. Tapi ia memiliki bakat alami
dalam hal yang mungkin tidak diajarkan di bangku sekolah: kemampuan untuk
membaca situasi, untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, untuk mengetahui
kapan seseorang butuh dihibur dan kapan seseorang butuh didengarkan.
Gurunya di SD, Pak Rahmat, pernah berkata kepada Bapak Raka
ketika orang tua murid dikumpulkan untuk menerima rapor. "Pak, Raka ini
anak yang baik, tapi sayangnya nilai-nilainya kurang memuaskan. Mungkin Bapak
perlu memberikan perhatian lebih pada belajarnya di rumah."
Bapak Raka yang duduk di kursi kayu sempit di ruang kelas
itu, dengan rapor Raka di tangannya, hanya tersenyum. "Pak Guru, saya
hanya lulusan SD, istri saya juga lulusan SD. Kami tidak bisa mengajari Raka
matematika atau IPA seperti yang diajarkan Pak Guru di sekolah. Tapi saya bisa
mengajari dia satu hal: bagaimana menjadi orang yang berguna. Dan saya rasa,
dari rapor ini, nilai untuk 'menjadi orang yang berguna' Raka dapat A."
Pak Rahmat tidak bisa menahan senyum mendengar jawaban
Bapak Raka yang khas. Ia sudah mengenal keluarga ini sejak lama, sudah puluhan
tahun mengajar anak-anak di desa ini, dan ia tahu bahwa meskipun Raka mungkin
tidak akan menjadi insinyur atau dokter, ia akan menjadi seseorang yang disukai
oleh banyak orang, seseorang yang bisa membawa kebahagiaan ke mana pun ia pergi.
Dan itu adalah nilai yang tidak tercantum dalam rapor
manapun.
Pertemuan pertama antara Amat Junior dan Raka terjadi pada
suatu sore di bulan Juni, ketika musim kemarau baru saja mulai menunjukkan
tandanya dengan langit yang lebih biru dari biasanya dan udara yang lebih
kering dari biasanya. Amat saat itu berusia sekitar enam tahun, meskipun postur
tubuhnya yang kurus dan wajahnya yang kecil membuatnya terlihat lebih muda dari
usianya. Ia sedang duduk sendirian di beranda rumahnya, di kursi bambu yang sama
yang digunakan ibunya setiap sore, dengan kedua kakinya menjuntai tidak
menyentuh lantai karena masih terlalu pendek. Matanya yang biru, warna yang
sudah menjadi ciri khasnya sejak lahir, terpaku pada sesuatu di kejauhan: pohon
beringin tua di tengah desa yang menjulang tinggi dengan kanopinya yang lebar
seperti payung raksasa.
Amat sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh
orang lain. Ia sudah terbiasa dengan ini. Sejak ia bisa mengingat dan
ingatannya dimulai sangat awal, lebih awal dari kebanyakan anak, ia selalu bisa
melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Bukan hantu,
setidaknya bukan hantu seperti yang digambarkan dalam cerita-cerita horor di
televisi. Bukan juga makhluk halus dengan wujud menyeramkan yang siap menakuti
siapa saja yang melihatnya. Yang ia lihat adalah sesuatu yang lebih halus,
lebih samar, seperti bayangan di pinggir penglihatan yang menghilang ketika ia
mencoba menatapnya langsung. Sosok-sosok yang bergerak perlahan di antara
akar-akar beringin yang menjalar, sosok-sosok yang tidak memiliki bentuk yang
jelas tetapi terasa memiliki kehadiran yang kuat. Kadang-kadang sosok-sosok itu
seperti orang yang sedang duduk bersila, kadang-kadang seperti orang yang
sedang berjalan berkeliling, kadang-kadang seperti sekelompok orang yang sedang
berbincang-bincang. Amat tidak bisa melihat wajah mereka, tidak bisa mendengar
suara mereka, tetapi ia bisa merasakan emosi mereka: kadang tenang, kadang
gelisah, kadang sedih, kadang gembira.
Ia tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang hal ini,
kecuali ibunya. Ibunya hanya tersenyum dan berkata, "Itu mungkin leluhur
kita, Nak. Mereka menjaga desa ini. Mereka tidak akan mengganggumu." Dan
Amat percaya pada ibunya. Ibunya tidak pernah berbohong kepadanya.
Raka, saat itu juga berusia enam tahun, sedang dalam misi
mengantar pecel pesanan Bu Tarno, tetangga depan rumah Amat. Bu Tarno adalah
pelanggan setia warung pecel Mbah Kinah. Setiap hari Selasa dan Jumat, ia akan
memesan pecel untuk makan malam keluarganya, dan Raka, sebagai anak yang rajin
membantu orang tua, sering ditugasi untuk mengantar pesanan itu. Rumah Bu Tarno
berada di Gang Mawar, tidak jauh dari pasar, dan rute yang biasa dilalui Raka
melewati jalan setapak yang membentang di depan rumah Amat.
Sore itu, Raka berjalan dengan langkah santai, besek
anyaman bambu berisi pecel untuk Bu Tarno di tangan kanannya, sepeda onthel
tuanya dituntun dengan tangan kiri. Sepeda itu adalah sepeda bekas yang dulu
milik ayahnya, sudah berkarat di beberapa tempat, rantainya sering lepas, dan
bannya selalu kempes meskipun sudah dipompa. Tapi bagi Raka, sepeda itu adalah
harta paling berharga, satu-satunya kendaraan yang ia miliki untuk menjelajahi
desa.
Ketika ia melewati rumah Amat, matanya menangkap sosok anak
laki-laki seusianya duduk sendirian di beranda, menatap ke kejauhan dengan
ekspresi yang anehnya serius untuk anak seusianya. Raka tidak pernah melihat
anak itu sebelumnya. Dalam penjelajahannya di desa, ia pikir ia sudah bertemu
dengan semua anak seusianya. Tapi anak ini, dengan mata biru yang mencolok dan
postur kurus yang hampir kurus kering, adalah wajah baru baginya.
Raka berhenti. Ia meletakkan sepedanya bersandar di pohon
kaca piring yang tumbuh di pinggir jalan, lalu mendekati pagar tanaman yang
membatasi halaman rumah Amat. Tanaman kaca piring itu cukup tinggi, mencapai
dada orang dewasa, dengan daun-daun lebar yang berbulu halus dan bunga-bunga
putih kecil yang bermekaran di musim kemarau. Raka harus sedikit berjinjit
untuk bisa melihat ke dalam halaman.
"Hei!" sapa Raka dengan suara keras dan ceria
khasnya, suara yang sudah dikenal oleh setengah penduduk Desa Awan Biru karena
selalu terdengar dari ujung desa ke ujung desa lainnya.
Amat tersentak kaget. Ia tidak mendengar kedatangan Raka
karena terlalu fokus pada apa yang ia lihat di kejauhan. Ia menoleh, matanya
yang biru itu menatap Raka dengan ekspresi campuran antara terkejut dan
waspada. Ia tidak terbiasa disapa oleh orang asing. Sejak kecil, ia lebih
sering berada di rumah, ditemani oleh ibunya atau sendirian. Ia jarang bermain
dengan anak-anak lain karena rumahnya yang terpencil di ujung desa, dan juga
karena ada sesuatu dalam dirinya yang membuat anak-anak lain merasa tidak
nyaman, meskipun mereka tidak bisa menjelaskan apa itu.
Raka tidak peduli dengan ekspresi waspada Amat. Ia bukan
tipe anak yang mudah berkecil hati atau tersinggung. Dengan langkah percaya
diri yang agak menggelinding karena tubuhnya yang tambun, ia mendekati pagar
tanaman itu dan menyandarkan tubuhnya di sana, tidak peduli bahwa daun-daun
kaca piring itu sedikit berduri dan bisa membuat gatal jika terkena kulit.
"Kamu siapa? Aku belum pernah lihat kamu di
desa," kata Raka sambil menyandarkan tubuhnya dengan nyaman, seolah-olah
pagar itu adalah kursi goyang favoritnya di rumah.
Amat menatap Raka dengan tatapan yang aneh, tatapan yang
biasa ia gunakan ketika mencoba memahami sesuatu yang tidak biasa. Ia tidak
terbiasa dengan orang yang begitu ceria dan percaya diri tanpa alasan yang
jelas. "Amat," jawabnya singkat, seperti biasa.
"Amat? Nama keren. Kayak nama wayang. Atau nama
pahlawan. Aku Raka." Ia mengulurkan tangannya melewati pagar, menawarkan
jabat tangan seperti orang dewasa yang baru berkenalan di kantor desa.
"Bapakku jualan pecel. Rumahku di timur, dekat pasar. Kamu suka pecel?
Enak, lo, punya bapakku. Sambelnya nendang sampai kuping bisa berdiri sendiri.
Beneran, aku pernah nyoba sambelnya terlalu banyak, kupingku panas, kayak mau
berdiri."
Amat tidak menjawab. Ia tidak tahu harus merespons apa.
Tidak ada yang pernah berbicara kepadanya dengan cara seperti ini sebelumnya,
begitu bebas, begitu tanpa beban, seolah-olah mereka sudah berteman sejak lama.
Ia hanya mengamati Raka dengan tatapan birunya yang intens, mencoba memahami
apa yang membuat anak tambun ini begitu... berbeda.
Raka tidak merasa terganggu dengan tatapan itu. Sebaliknya,
ia justru semakin bersemangat. Ia sudah terbiasa dengan berbagai macam respons
orang terhadap dirinya, ada yang tertawa, ada yang menggeleng-gelengkan kepala,
ada yang ikut-ikutan bercanda, ada yang diam seperti Amat. Baginya, diam bukan
berarti tidak tertarik, hanya berarti butuh waktu lebih lama untuk terbuka.
"Kamu tadi lihat apa sih?" tanya Raka tiba-tiba,
ikut menatap ke arah yang sama dengan arah tatapan Amat sebelumnya. Matanya
yang sipit menyipit semakin sempit, berusaha melihat sesuatu yang mungkin tidak
terlihat oleh mata biasa. "Dari tadi kamu menatap ke arah pohon beringin
kayak ada hantu. Emangnya ada apa di sana?"
Amat terdiam sejenak. Biasanya ia tidak pernah menjawab
pertanyaan tentang apa yang ia lihat. Pengalaman telah mengajarkannya bahwa
kebanyakan orang tidak akan mengerti. Beberapa orang akan diam canggung, tidak
tahu harus berkata apa. Beberapa orang akan tersenyum dan mengangguk-angguk,
seolah-olah mereka mengerti padahal tidak. Beberapa orang akan menjauh, karena
mereka takut pada hal-hal yang tidak bisa mereka jelaskan. Amat sudah lelah
dengan semua reaksi itu.
Tapi ada sesuatu dalam diri Raka yang membuat Amat merasa
sedikit lebih terbuka. Mungkin karena tatapan Raka tidak menunjukkan rasa takut
atau kecanggungan, hanya rasa ingin tahu yang tulus. Mungkin karena senyum Raka
yang selalu terpampang di wajahnya yang bulat itu membuat segalanya terasa
lebih ringan. Mungkin karena Raka adalah anak pertama seusianya yang tidak
langsung menjauh setelah melihat mata biru Amat atau merasakan keanehan yang
selalu menyertai dirinya.
"Aku melihat... sesuatu," kata Amat perlahan,
matanya kembali beralih ke pohon beringin di kejauhan. "Di antara
akar-akar beringin itu. Ada sosok... bayangan... bergerak perlahan. Seperti
orang yang sedang duduk, lalu berdiri, lalu duduk lagi."
Raka mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap ke arah
beringin dengan lebih saksama. Ia mengernyit, memicingkan mata, bahkan
mencondongkan tubuh ke depan seolah-olah itu akan membantu penglihatannya.
Setelah beberapa detik, ia menghela napas panjang dan menggeleng.
"Nggak lihat apa-apa. Cuma pohon beringin tua yang
akarnya gede-gede kayak ular. Tapi..." Ia berhenti sejenak, lalu tertawa.
Bukan tertawa mengejek, tetapi tertawa tulus yang membuat seluruh wajahnya yang
bulat itu berkerut. "Tapi mungkin kamu benar. Bapakku bilang, pohon
beringin itu memang angker. Katanya banyak leluhur yang suka berkumpul di sana.
Mungkin kamu bisa lihat mereka, ya? Wah, keren! Aku juga pengen bisa lihat hantu.
Tapi sayangnya, mataku cuma bisa lihat pecel sama kerupuk. Hahaha!"
Amat terkejut. Ia tidak menyangka akan mendapat reaksi
seperti itu. Biasanya, ketika ia mengatakan hal-hal seperti itu, orang-orang
akan diam, atau tersenyum canggung, atau bahkan menjauh. Tapi Raka malah
tertawa dan tampak antusias, seolah-olah kemampuan Amat untuk melihat hal-hal
gaib adalah sesuatu yang keren, sesuatu yang patut diacungi jempol, bukan
sesuatu yang ditakuti atau dihindari.
"Kamu tidak takut?" tanya Amat, rasa penasaran
mengalahkan kebiasaannya untuk diam.
"Takut? Buat apa takut sama hantu?" Raka
mendongakkan kepalanya dengan percaya diri, seolah-olah ia sedang memberikan
kuliah tentang kehidupan kepada Amat. "Bapakku bilang, hantu itu
sebenarnya juga makhluk Tuhan. Mereka juga punya urusan sendiri. Mereka juga
punya keluarga, punya rumah, punya hidup, eh, maksudnya, punya alam sendiri.
Selama kita nggak ganggu mereka, mereka juga nggak bakal ganggu kita. Kecuali
kalau hantunya hobi jahilin orang, nah itu baru repot. Tapi kayaknya leluhur
kita bukan hantu jahil, kan? Mereka kan nenek moyang kita. Masa iya nenek
moyang sendiri mau jahilin cicitnya?"
Amat tidak bisa menahan senyum mendengar penjelasan Raka
yang konyol namun anehnya masuk akal. Ia belum pernah mendengar siapa pun
berbicara tentang hal-hal gaib dengan cara sesederhana dan selugas ini.
Biasanya orang-orang berbicara dengan nada berbisik, dengan ekspresi serius,
dengan rasa takut yang terselubung. Tapi Raka berbicara tentang leluhur dan
hantu seperti ia berbicara tentang pecel atau kerupuk: dengan santai, tanpa
beban, seolah-olah itu adalah bagian normal dari kehidupan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Amat merasa diterima
oleh seseorang seusianya. Ia merasa bahwa ia tidak perlu menyembunyikan apa
yang ia lihat, tidak perlu berpura-pura bahwa ia normal seperti anak-anak lain.
Di hadapan Raka, ia bisa menjadi dirinya sendiri.
"Kamu nggak mau makan pecel?" tanya Raka
tiba-tiba, seolah-olah baru ingat bahwa ia sedang dalam misi mengantar pesanan.
"Bentar lagi aku anter ke Bu Tarno, tapi bapak masak banyak. Nanti aku
ambilkan satu porsi buat kamu. Gratis! Sebagai hadiah untuk teman baru."
Amat ragu. Ibunya selalu mengajarkannya untuk tidak
menerima pemberian dari orang lain tanpa memberikan sesuatu sebagai gantinya.
"Tapi aku nggak punya uang," katanya jujur.
"Siapa suruh bayar?" Raka mengibaskan tangannya
seperti mengusir lalat. "Ini traktiran! Aku kan udah punya teman baru,
harusnya aku yang traktir. Bapakku bilang, kalau punya teman baru, harus
traktir pecel biar persahabatannya langgeng. Itu resep rahasia keluarga. Tapi
jangan bilang bapak, ya, nanti dimarahi, soalnya dia nggak tahu kalau aku
bagi-bagi pecel gratis."
Raka bergegas menuju rumah Bu Tarno, berlari kecil dengan
besek di tangannya, tubuh tambunnya bergoyang-goyang seperti boneka beruang
yang lucu. Amat mengawasinya dari kejauhan, masih duduk di kursi bambu, masih
belum sepenuhnya percaya bahwa ada anak seusianya yang begitu ceria dan ramah
tanpa alasan yang jelas.
Beberapa menit kemudian, Raka kembali. Kali ini ia tidak
membawa besek, tetapi sebuah piring besar berisi pecel lengkap dengan sambal
dan kerupuk, ditutup dengan daun pisang agar tetap hangat. Ia memberikan piring
itu kepada Amat melalui pagar, lalu dengan santainya duduk di tanah di depan pagar
itu, bersandar pada pohon kaca piring, seolah-olah itu adalah posisi yang
paling natural di dunia.
"Makannya di sini aja, aku temanin," kata Raka
sambil duduk bersila, kedua tangannya bertumpu di belakang tubuhnya. "Kamu
sendirian terus di rumah ini? Nggak punya teman?"
Amat mengambil piring itu dengan hati-hati, meletakkannya
di pangkuannya. Aroma pecel yang khas langsung menyeruak, membuat perutnya
keroncongan. Ia belum makan siang karena ibunya sedang ke kebun dan ia tidak
mau repot-repot menghangatkan nasi sendiri. "Ibu sering ke kebun. Jadi aku
sering sendiri di rumah," jawabnya di antara suapan pertama.
Rasa pecel itu... enak. Bukan hanya enak, tetapi sangat
enak. Amat belum pernah makan pecel seenak ini. Bumbu kacangnya kental namun
tidak enek, ada rasa manis dari gula merah, gurih dari kacang, pedas dari cabai
yang menyengat tapi tidak berlebihan, dan ada aroma kencur yang segar.
Kerupuknya renyah dan gurih. Sayurannya segar, tidak terlalu matang, masih
terasa krenyes-krenyes di gigi. Amat makan dengan lahap, matanya sesekali
melirik ke arah Raka yang duduk santai di tanah.
"Enak, kan?" Raka tersenyum bangga, meskipun ia
tidak memasak pecel itu. "Bapakku yang masak. Dia sudah masak pecel sejak
aku belum lahir. Kata orang, pecelnya Mbah Kinah, nenek buyutku, itu yang
paling enak se-Indonesia. Tapi aku belum pernah ke Indonesia sih, cuma ke
kecamatan. Tapi di kecamatan juga nggak ada pecel seenak ini. Jadi bisa
dibilang pecel bapakku juara se-kecamatan."
Amat tersenyum kecil mendengar cerita Raka. Ia belum pernah
bertemu dengan orang yang bisa bercerita tentang sesuatu dengan begitu hidup
dan lucu. Bahkan hal yang paling biasa sekalipun, ketika diceritakan oleh Raka,
menjadi menarik dan menghibur.
"Nanti kalau kamu sendiri, main ke rumahku aja,"
lanjut Raka, matanya berbinar-binar. "Di warung bapak seru, lo. Banyak
orang, banyak cerita. Kadang ada wayangan juga kalau malam Jumat. Bapakku jago
main wayang."
"Wayang kulit?" tanya Amat, rasa penasaran mulai
tumbuh.
"Iya! Bapakku bisa jadi dalang dadakan kalau ada
acara. Padahal kerjaannya cuma jualan pecel. Tapi katanya dulu sebelum jualan
pecel, bapak sering ikut rombongan wayang keliling. Keliling dari desa ke desa,
dari kecamatan ke kecamatan. Terus ketemu ibuku, terus berhenti jualan pecel.
Hahaha! Tapi katanya sih nggak menyesal, karena pecel lebih laris daripada
wayang. Masa sih? Wayang kan bagus, banyak cerita, banyak filosofi. Tapi emang
bener, pecel bapak lebih laris. Mungkin karena orang lebih suka makan daripada
nonton wayang."
Amat tersenyum mendengar cerita itu. Ia tidak tahu bahwa
ada orang yang bisa menceritakan sesuatu dengan begitu ceria dan hidup. Semua
yang keluar dari mulut Raka, bahkan hal yang paling biasa sekalipun,
seolah-olah menjadi lucu dan menarik. Cara Raka bercerita, dengan ekspresi
wajah yang berubah-ubah, dengan tangan yang bergerak-gerak mengikuti alur
cerita, dengan tawa yang pecah di tengah-tengah kalimat, membuat Amat merasa
seperti sedang menonton pertunjukan yang menghibur.
"Kamu suka wayang?" tanya Raka tiba-tiba.
Amat menggeleng. "Belum pernah nonton."
"Wah, nanti kalau ada wayangan, kamu harus nonton. Aku
yang akan anter. Bapakku pasti senang kalau ada penonton baru. Apalagi kalau
penontonnya anak kecil, bapak biasanya lebih semangat. Katanya, wayang itu
untuk semua umur, bukan cuma untuk orang tua. Ada cerita tentang perang,
tentang cinta, tentang persahabatan, tentang... ah, banyak lah. Kamu pasti
suka."
Matahari mulai condong ke barat, cahayanya berubah dari
putih menjadi keemasan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menjalar di
tanah. Kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit di selatan,
pertanda bahwa sore akan segera berakhir dan malam akan segera tiba. Raka
berdiri, menepuk-nepuk celananya yang kotor karena duduk di tanah.
"Aku pulang dulu, ya. Nanti ibu marah kalau pulang
malam. Besok aku ke sini lagi, bawain pecel lagi. Kamu jangan kemana-mana,
ya."
Amat mengangguk. "Makasih, Ra. Untuk pecelnya."
"Ah, nggak usah makasih. Teman kok makasih-makasihan.
Besok kita main, ya!"
Raka mengambil sepeda onthelnya yang masih bersandar di
pohon kaca piring, menaikinya dengan gerakan yang agak sulit karena tubuhnya
yang tambun, lalu mengayuh perlahan meninggalkan rumah Amat. Sepeda itu
bersuara berisik setiap kali dikayuh, rantainya yang longgar berbunyi krek-krek-krek yang
khas, dan bannya yang kempes membuat sepeda itu bergoyang-goyang seperti orang
mabuk.
Amat berdiri di beranda rumahnya, memegang piring kosong
yang masih menyisakan sisa bumbu pecel di pinggirannya, menatap punggung Raka
yang semakin lama semakin kecil hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ada sesuatu yang hangat di
dadanya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak tahu nama
perasaan itu, tetapi jika ia bisa memberinya nama, ia akan menyebutnya
"persahabatan".
Sejak sore itu, Raka mulai sering datang ke rumah Amat.
Kadang ia datang sendirian dengan sepeda onthelnya yang berisik, kadang ia
datang bersama ibunya yang sedang mengantar pesanan ke tetangga sekitar. Ia
selalu membawa sesuatu: kadang pecel, kadang kerupuk, kadang jajanan pasar yang
dibuat ibunya seperti klepon atau getuk, kadang hanya segelas es teh manis yang
dibuatnya sendiri. Ia tidak pernah datang dengan tangan kosong, karena katanya
"orang Jawa kalau dolan harus nggowo oleh-oleh, itu sudah aturan dari
dulu".
Sumirah, ibu Amat, awalnya agak khawatir dengan kedatangan
Raka yang sering. Bukan karena Raka anak yang nakal, sebaliknya, Raka adalah
anak yang sopan dan selalu menyapa Sumirah dengan ramah setiap kali bertemu.
Yang membuat Sumirah khawatir adalah karena ia tahu bahwa Amat adalah anak yang
berbeda. Ia takut bahwa perbedaan itu akan membuat Raka atau keluarganya
terganggu. Ia takut bahwa suatu hari nanti Raka akan melihat sesuatu yang aneh
pada Amat dan kemudian menjauh, dan itu akan menyakiti hati anaknya yang sudah
mulai terbuka.
Namun kekhawatiran itu segera sirna ketika ia melihat
betapa Amat mulai berubah sejak berteman dengan Raka. Anaknya yang pendiam dan
sering melamun itu mulai lebih sering tersenyum, bahkan kadang tertawa
mendengar cerita-cerita lucu Raka. Ia mulai lebih sering bicara, meskipun masih
tidak sebanyak anak seusianya, tetapi setidaknya ia tidak lagi hanya diam
ketika diajak bicara. Ia mulai berani keluar rumah, bermain di halaman, bahkan
kadang ikut Raka berkeliling desa dengan sepeda onthel tua itu.
Suatu hari, ketika Raka datang membawa pecel seperti biasa,
Sumirah menyambutnya di pintu dengan senyum lebar. "Raka, kamu makan dulu
di sini, ya. Biar aku masakin nasi hangat."
"Makasih, Bu. Tapi saya sudah makan kok, Bu. Tadi pagi
sama bapak. Bapak masak banyak, jadi saya kenyang terus."
"Ya sudah, setidaknya minum dulu. Aku buatkan es
teh."
Raka duduk di kursi bambu ruang tamu, bersandar dengan
nyaman seolah-olah itu adalah rumahnya sendiri. Amat duduk di sampingnya, dan
kedua anak laki-laki itu mulai berbincang tentang hal-hal yang hanya mereka
berdua yang mengerti.
Sumirah mengamati mereka dari dapur, sambil menyeduh teh
dan memotong-motong singkong rebus untuk camilan. Hatinya terasa hangat melihat
Amat yang kini memiliki teman, sahabat yang menerimanya apa adanya. Ia berdoa
dalam hati semoga persahabatan ini langgeng, semoga Raka tetap menjadi teman
bagi Amat di masa-masa sulit yang mungkin akan datang.
"Makasih ya, Ra, sudah mau berteman dengan Amat,"
kata Sumirah ketika Raka pamit pulang, mengantarkannya sampai ke pagar tanaman
kaca piring.
Raka menoleh, wajah bulatnya berseri-seri seperti biasa.
"Ah, nggak usah makasih, Bu. Amat kan teman saya. Teman harus saling jaga.
Bapak saya bilang, orang yang punya banyak teman itu orang kaya, karena harta
yang paling berharga itu bukan uang, tapi persahabatan."
Sumirah tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Bapakmu
benar, Ra. Bapakmu orang bijak."
"Iya, Bu. Tapi jangan bilang bapak saya tahu, nanti
dia makin sombong. Hahaha!"
Raka tertawa, naik ke sepeda onthelnya, dan mengayuh
perlahan meninggalkan rumah Amat. Sepeda itu bersuara berisik seperti biasa,
rantainya krek-krek-krek, bannya bergoyang-goyang, dan di atasnya
duduk seorang anak tambun dengan senyum lebar yang tidak pernah padam.
Jika Raka adalah api yang membawa kehangatan dan tawa dalam
kehidupan Amat, maka Camelia adalah air yang membawa ketenangan dan kejernihan.
Ia adalah gadis kecil dengan rambut panjang hitam yang selalu diikat rapi dalam
ekor kuda, dengan seragam sekolah yang selalu bersih dan rapi meskipun sudah
dipakai berkali-kali, dengan sepatu yang selalu disemir hitam mengilap, dan
dengan buku catatan yang selalu ia bawa ke mana-mana, buku catatan bergambar
bunga-bunga di sampulnya, yang selalu ia gunakan untuk mencatat segala sesuatu
yang menurutnya penting.
Camelia adalah anak dari Bu Lulu, Kaur Keuangan Desa Awan
Biru yang terkenal disiplin dan teliti. Bu Lulu adalah perempuan muda berusia
sekitar tiga puluh tahun dengan kacamata tebal yang membuat matanya tampak
lebih besar dari aslinya, dan dengan gaya bicara yang cepat dan tegas, seperti
orang yang terbiasa bekerja dengan angka-angka dan tenggat waktu. Ia adalah
salah satu perangkat desa yang paling dihormati karena kejujuran dan
ketelitiannya. Tidak pernah ada satu rupiah pun yang salah dalam laporan
keuangannya, tidak pernah ada satu dokumen pun yang hilang atau salah tempat.
Rumah Bu Lulu berada di tengah desa, tidak jauh dari kantor
desa dan masjid. Rumah itu sederhana, seperti kebanyakan rumah di desa, tetapi
selalu terlihat rapi dan bersih. Halamannya tidak ditumbuhi rumput liar seperti
rumah-rumah lain, tetapi ditanami bunga-bunga yang dirawat dengan baik: mawar
merah, melati putih, kenanga kuning. Bu Lulu memang suka bunga, dan ia
menurunkan kesukaan itu kepada Camelia.
Sejak kecil, Camelia sudah terbiasa dengan suasana
pemerintahan desa. Karena ibunya bekerja dari pagi hingga sore di kantor desa
dan tidak ada yang menjaga di rumah, ayah Camelia bekerja di kecamatan sebagai
staf administrasi dan baru pulang sore hari, Camelia sering dibawa ibunya ke
kantor. Ia akan duduk di sudut ruangan, di meja kecil yang disediakan khusus
untuknya, sambil membaca buku atau mengamati bagaimana orang dewasa bekerja.
Dari sanalah ia belajar banyak tentang administrasi, tentang cara mengelola
data, tentang pentingnya dokumen dan arsip. Sejak usia lima tahun, ia sudah
bisa membedakan antara faktur dan kuitansi, sudah tahu bahwa laporan keuangan
harus ditandatangani oleh tiga orang sebelum bisa disahkan, sudah mengerti
bahwa setiap dokumen harus diberi nomor dan tanggal agar mudah ditemukan
kembali.
Namun Camelia bukan hanya anak Kaur Keuangan desa yang
pintar dan rapi. Ia juga anak yang peduli pada lingkungan sekitarnya. Setiap sore,
setelah pulang sekolah dan membersihkan diri, ia akan pergi ke mushola dekat
rumah untuk membantu ibunya yang menjadi guru ngaji bagi anak-anak kecil di
desa. Bu Lulu memang memiliki banyak peran: selain sebagai Kaur Keuangan desa,
ia juga aktif di PKK, menjadi bendahara pengajian ibu-ibu, dan mengajar ngaji
di mushola setiap hari setelah Ashar. Camelia, meskipun usianya masih kecil,
sudah bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar, bahkan lebih lancar dari beberapa
anak yang lebih tua darinya. Ia sering membantu ibunya mengajari anak-anak yang
masih kesulitan membaca huruf hijaiyah, dengan sabar dan telaten, seperti
ibunya mengajari dia dulu.
Ia juga aktif dalam kegiatan karang taruna meskipun usianya
masih di bawah rata-rata anggota lainnya. Ketua karang taruna, Mas Bowo,
seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang lulusan SMA, awalnya ragu menerima
Camelia sebagai anggota karena usianya yang masih terlalu kecil. Tapi setelah
melihat kecerdasan dan tanggung jawab gadis kecil itu, ia akhirnya mengizinkan.
Camelia sering membantu mengelola administrasi karang taruna, membuat catatan
rapat, mendokumentasikan kegiatan, dan bahkan sesekali memberikan ide-ide yang
cerdas untuk program kerja.
"Anak ini beda," kata Mas Bowo kepada Bu Lulu
suatu hari. "Usianya baru berapa, tapi pikirannya sudah seperti orang
dewasa. Dan dia rapi banget, Bu. Catatannya lebih rapi daripada catatan
saya."
Bu Lulu tersenyum mendengar pujian itu, tetapi ia juga
sedikit khawatir. Ia tahu bahwa kecerdasan dan kedisiplinan putrinya kadang membuatnya
sulit bergaul dengan anak-anak seusianya. Camelia lebih suka membaca buku
daripada bermain lompat tali, lebih suka mencatat hal-hal penting daripada
bercerita tentang mainan baru, lebih suka membantu orang dewasa daripada
bermain dengan teman-temannya. Bu Lulu khawatir putrinya akan tumbuh menjadi
anak yang kesepian, terlalu dewasa untuk usianya, kehilangan masa
kanak-kanaknya.
"Cam, kamu harus punya teman seusiamu," kata Bu
Lulu suatu hari. "Kamu harus bermain, bukan hanya membaca dan mencatat
terus."
Camelia menatap ibunya dengan mata coklatnya yang jernih.
"Aku punya teman, Bu. Banyak."
"Teman main, Cam. Bukan teman di kantor atau di karang
taruna. Teman yang seumuran, yang bisa diajak bermain petak umpet atau lompat
tali."
Camelia tidak menjawab. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Memang benar, ia tidak memiliki teman sebaya yang dekat. Anak-anak seusianya
menganggapnya aneh, terlalu serius, terlalu "dewasa". Mereka lebih
suka bermain dengan anak-anak lain yang bisa tertawa lepas dan berlarian tanpa
aturan. Camelia, dengan buku catatannya, dengan pakaiannya yang selalu rapi,
dengan bicaranya yang kadang terdengar seperti orang dewasa, terasa terlalu
berbeda bagi mereka.
Tapi takdir berkata lain. Camelia akan bertemu dengan dua
orang yang akan menjadi teman sejatinya, yang akan menerimanya apa adanya, yang
akan melengkapinya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Ia akan bertemu
dengan Amat, anak dengan mata biru yang bisa melihat hal-hal yang tidak
terlihat oleh orang lain, yang akan mengajarkannya bahwa ada pengetahuan yang
tidak bisa diperoleh dari buku. Dan ia akan bertemu dengan Raka, anak tambun
dengan senyum lebar yang tidak pernah padam, yang akan mengajarkannya bahwa
tertawa adalah hal yang penting, sama pentingnya dengan membaca dan mencatat.
Pertemuan antara Camelia, Amat, dan Raka terjadi di Sekolah
Dasar Negeri 01 Awan Biru, sebuah bangunan sederhana dengan dua ruang kelas,
satu ruang guru, dan halaman yang cukup luas untuk bermain. Ketiganya berada di
kelas yang sama, kelas satu, dengan wali kelas Ibu Ani, seorang guru muda yang
baru saja ditugaskan di desa itu setelah lulus dari sekolah guru.
Pada hari pertama sekolah, Camelia sudah memperhatikan
Amat. Bukan karena matanya yang biru, itu memang menarik perhatian, tetapi
bukan itu yang membuatnya tertarik. Yang membuatnya tertarik adalah cara Amat
melihat sesuatu. Ketika Ibu Ani menjelaskan pelajaran tentang angka dan huruf
di papan tulis, mata Amat seringkali tidak tertuju pada papan tulis atau buku,
tetapi pada sesuatu di luar jendela, sesuatu yang sepertinya tidak dilihat oleh
orang lain. Kadang matanya tertuju pada pohon mangga di halaman sekolah, kadang
pada langit di kejauhan, kadang pada sudut ruangan yang kosong. Tatapannya
tidak kosong seperti anak yang melamun; tatapannya intens, seperti anak yang
sedang mencoba memahami sesuatu yang sangat rumit.
Awalnya Camelia mengira Amat adalah anak yang tidak fokus
dan mungkin bodoh. Ia sudah mendengar dari teman-teman sekelasnya bahwa Amat
adalah "anak aneh" dengan "mata biru seperti hantu". Ia
mendengar bisik-bisik di belakang kelas, tawa kecil yang disembunyikan di balik
tangan, pandangan-pandangan curiga yang dilontarkan ke arah Amat setiap kali ia
lewat.
Namun suatu hari, Ibu Ani mengadakan kuis dadakan.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan cukup sulit untuk anak seusia mereka,
tentang perkalian sederhana, tentang nama-nama hari dalam bahasa Inggris,
tentang ibu kota provinsi. Sebagian besar anak menjawab dengan terbata-bata,
ada yang salah, ada yang tidak tahu sama sekali. Tapi Amat menjawab hampir
semua dengan tepat. Bahkan untuk beberapa pertanyaan yang jawabannya tidak ada
di buku pelajaran kelas satu, seperti "Siapa nama kepala desa kita?" atau
"Kapan Indonesia merdeka?", Amat menjawab dengan benar.
Camelia, yang duduk tepat di belakang Amat, sangat
terkejut. Ia mengira Amat tidak memperhatikan pelajaran, ternyata ia justru
lebih tahu daripada siapa pun di kelas.
Setelah jam sekolah, ketika anak-anak lain sudah
berhamburan keluar kelas, Camelia menghampiri Amat yang sedang merapikan bukunya.
Raka, yang selalu menjadi yang terakhir keluar kelas karena lambat merapikan
barang-barangnya, juga masih ada di ruangan itu.
"Bagaimana kamu tahu jawabannya?" tanya Camelia
tanpa basa-basi, rasa penasarannya tidak bisa ditahan lagi.
Amat menatap Camelia dengan tatapan birunya yang khas. Ia
belum pernah bicara dengan gadis ini sebelumnya, meskipun mereka sekelas.
Camelia terkenal sebagai anak yang pintar dan rapi, tetapi juga terkenal
sebagai anak yang sedikit sombong dan tidak mau bergaul dengan anak-anak lain.
"Aku membaca buku-buku lama di rumah," jawab Amat
singkat, seperti biasa.
"Buku apa? Di rumahmu ada perpustakaan?"
"Bukan. Buku-buku peninggalan nenek. Ada banyak cerita
tentang desa ini, tentang leluhur, tentang hutan, tentang... banyak hal."
Raka yang dari tadi ikut mendengarkan tiba-tiba menyela.
"Eh, Cam, kamu tahu nggak, Amat itu bisa lihat hantu, lo! Aku serius! Di
pohon beringin dekat rumahnya, katanya ada bayangan-bayangan yang gerak-gerak.
Aku nggak pernah lihat, tapi aku percaya, soalnya bapakku juga bilang pohon
beringin itu angker."
Camelia mengabaikan komentar Raka yang menurutnya tidak
relevan. Yang menarik perhatiannya adalah kata "buku-buku peninggalan
nenek" dan "cerita tentang desa ini". Sebagai anak yang suka
membaca dan mencatat, ia langsung tertarik.
"Boleh aku pinjam? Atau setidaknya aku boleh baca di
rumahmu?" tanya Camelia, matanya berbinar-binar. "Aku suka buku
sejarah. Aku ingin tahu lebih banyak tentang desa kita. Dari mana asalnya,
siapa yang pertama kali membuka lahan ini, bagaimana kehidupan di sini dulu.
Ibu bilang, kita harus tahu sejarah kita sendiri, supaya kita tahu dari mana
kita berasal dan ke mana kita akan pergi."
Amat terdiam sejenak. Buku-buku yang dimaksud bukan buku
biasa. Itu adalah buku-buku tua yang ditulis tangan dengan aksara Jawa dan
kadang-kadang aksara Arab pegon, dengan kertas yang sudah rapuh dan berwarna
kuning kecoklatan karena usia. Buku-buku itu berisi cerita-cerita yang mungkin
tidak bisa diterima oleh akal sehat: tentang leluhur yang berkomunikasi dengan
roh penjaga, tentang keseimbangan antara dunia manusia dan dunia gaib, tentang
ramalan-ramalan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Namun ia melihat
ketulusan di mata Camelia, sama seperti yang ia lihat pada Raka saat pertama
kali bertemu.
"Boleh. Tapi hati-hati, bukunya sangat tua. Halamannya
rapuh. Kamu harus baca dengan sangat hati-hati."
Camelia mengangguk bersemangat. "Aku janji. Aku akan
sangat hati-hati."
Raka yang dari tadi merasa dikesampingkan tiba-tiba angkat
bicara. "Eh, aku juga mau baca! Jangan aku ditinggal. Teman kan harus
bareng-bareng."
Camelia menatap Raka dengan tatapan setengah heran setengah
geli. "Kamu bisa baca aksara Jawa, Ra?"
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Baca
aksara Jawa? Belum bisa. Tapi aku bisa lihat gambarnya! Buku-buku zaman dulu
pasti ada gambar-gambarnya, kan? Peta harta karun, gambar wayang, gambar pohon
beringin. Aku suka lihat gambar."
Camelia menghela napas, tetapi ia tersenyum. "Ya
sudah, kita baca bareng-bareng. Tapi kamu harus duduk diam, jangan bercanda
terus."
"Siapa bilang aku bercanda terus? Aku juga bisa
serius, lo. Cuma... aku serius dengan cara aku sendiri."
Sejak saat itu, ketiganya mulai sering berkumpul di rumah
Amat. Camelia datang dengan buku catatannya yang selalu siap untuk mencatat
hal-hal penting. Raka datang dengan kerupuk atau jajanan pasar yang dibawa dari
warungnya, karena katanya "belajar itu butuh energi, makanya harus banyak
makan". Mereka akan duduk di ruang tamu rumah Amat, di atas tikar anyaman
bambu yang dihamparkan Sumirah di lantai, dengan buku-buku tua terbuka di
hadapan mereka.
Amat akan membacakan teks dalam aksara Jawa,
menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan perlahan, karena beberapa
kata dalam aksara Jawa kuno memiliki arti yang berbeda dengan bahasa Jawa
modern. Camelia akan mencatat dengan rapi di buku catatannya, memberi nomor
pada setiap poin penting, membuat diagram dan peta sederhana untuk memudahkan
pemahaman. Raka akan duduk di samping mereka, sesekali menyelipkan komentar
lucu yang membuat Amat dan Camelia tertawa, kadang-kadang tertidur karena
terlalu banyak makan kerupuk, kadang-kadang bertanya hal-hal yang tidak
terpikirkan oleh Amat dan Camelia karena terlalu sederhana.
"Ra, ini peta desa dari zaman dulu," kata Camelia
suatu hari, menunjukkan sebuah halaman buku yang bergambar peta kuno.
"Lihat, sungainya lebih besar dari sekarang. Dan ada hutan di selatan yang
lebih luas. Lihat juga, ada tanda-tanda tertentu di hutan selatan. Mungkin ini
adalah tempat-tempat yang dianggap keramat oleh leluhur."
Raka mendekatkan wajahnya ke buku itu, lalu mengernyit.
"Kayak peta harta karun, ya. Eh, jangan-jangan di hutan selatan itu ada
harta karun! Harta karun peninggalan leluhur! Kita cari yuk!"
Camelia menghela napas panjang, seperti yang sering ia
lakukan ketika Raka berbicara. "Ini bukan harta karun, Ra. Ini adalah
petunjuk tentang situs-situs spiritual. Tempat-tempat yang dianggap memiliki
energi khusus. Bukan emas atau perak."
"Energi khusus? Maksudnya listrik? Ada pembangkit
listrik di hutan?"
"Bukan listrik! Ya ampun, Ra. Kamu ini... energinya ya
energi, seperti tenaga dalam, seperti chi, seperti prana. Mungkin tempat-tempat
ini adalah tempat para leluhur melakukan ritual."
Raka mengangguk-angguk, meskipun ekspresinya masih
menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya mengerti. "Oke, oke. Bukan harta
karun, tapi tempat ritual. Tapi tetap aja menarik, kan? Mungkin suatu hari kita
bisa ke sana."
Amat yang sejak tadi diam mendengarkan tiba-tiba berbicara.
"Buku itu bilang, tempat-tempat itu dijaga. Tidak boleh sembarangan masuk.
Hanya orang-orang tertentu yang diizinkan."
"Orang tertentu? Maksudnya orang yang bisa lihat hantu
kayak kamu?" tanya Raka.
Amat tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, ke
arah selatan, ke arah hutan larangan yang membentang di balik bukit. Matanya
yang biru itu terlihat lebih dalam dari biasanya, seolah-olah ia sedang melihat
sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Raka dan Camelia.
Camelia yang memperhatikan perubahan ekspresi Amat, dengan
lembut berkata, "Kita tidak perlu ke sana sekarang, Am. Kita masih kecil.
Nanti kalau kita sudah besar, mungkin kita akan tahu apa yang harus kita
lakukan."
Raka mengangguk setuju. "Iya, nanti kalau kita sudah
besar. Sekarang kita fokus belajar dulu. Dan makan pecel. Pecel itu penting untuk
pertumbuhan."
Camelia tertawa. "Semua kamu hubungkan dengan pecel,
Ra."
"Ya iya lah. Pecel kan sumber kehidupan."
Mereka bertiga tertawa bersama. Di ruang tamu rumah tua di
kaki Bukit Pangasih itu, dengan buku-buku tua yang terbuka di hadapan mereka,
dengan kerupuk yang bergerindil di lantai karena Raka terlalu bersemangat,
dengan senja yang mulai turun di luar jendela, tiga anak kecil yang sangat
berbeda itu menemukan tempat mereka. Mereka menemukan persahabatan yang tidak
memandang perbedaan, yang menerima keanehan sebagai keunikan, yang menjadikan
tawa dan belajar sebagai jembatan yang menyatukan mereka.
Sumirah yang mengamati dari dapur, sambil menyeduh teh
untuk mereka bertiga, tersenyum melihat pemandangan itu. Ia teringat pada
ramalan Mbah Karta dulu: "Anakmu ini akan melalui jalan yang tidak biasa.
Dia akan punya teman-teman yang akan menemaninya, yang akan menjadi penopang
kekuatannya ketika dia lemah, yang akan menjadi penerang jalannya ketika
gelap."
Kini ia melihat sendiri bahwa ramalan itu menjadi
kenyataan. Raka, dengan keceriaannya yang tak pernah padam, adalah penopang
tawa di saat Amat terlalu serius. Camelia, dengan kecerdasan dan ketelitiannya,
adalah penerang jalan ketika Amat harus memahami hal-hal yang rumit. Dan Amat,
dengan keunikan dan kemampuannya melihat hal-hal yang tidak terlihat, adalah
pusat dari persahabatan ini, yang menyatukan mereka semua dalam ikatan yang
mungkin akan bertahan seumur hidup.
Malam itu, ketika Raka dan Camelia pulang, disambut oleh
orang tua mereka masing-masing, Amat berdiri di beranda rumahnya, menatap
langit yang mulai dipenuhi bintang-bintang. Di kejauhan, pohon beringin tua
berdiri megah, dengan akar-akarnya yang menjalar seperti urat nadi bumi, dengan
kanopinya yang lebar seperti payung raksasa. Dan di antara akar-akar itu, Amat
melihat bayangan-bayangan itu lagi, bergerak perlahan, seperti orang yang
sedang duduk bersila, lalu berdiri, lalu duduk lagi.
Tapi kali ini, ia tidak merasa takut. Ia merasa bahwa
bayangan-bayangan itu sedang tersenyum padanya, sedang memberkatinya, sedang
mengatakan bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki ibu yang menyayanginya, ia
memiliki teman-teman yang menerimanya, dan ia memiliki leluhur yang menjaganya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Amat merasa bahwa
dunia ini bukan tempat yang menakutkan. Dunia ini adalah tempat yang indah,
penuh dengan keajaiban yang menunggu untuk ditemukan, penuh dengan orang-orang
yang menunggu untuk dicintai.
Ia tersenyum, sebuah senyum kecil yang jarang terlihat di
wajahnya yang biasanya serius itu. Kemudian ia masuk ke dalam rumah, bergabung
dengan ibunya di dapur, membantu menyiapkan makan malam sederhana yang akan
mereka nikmati berdua.
Di luar, kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng
bukit, menyelimuti desa dengan selimut putih yang dingin dan lembab. Dan di
kejauhan, di bawah pohon beringin tua, bayangan-bayangan itu masih bergerak
perlahan, menjaga, melindungi, menunggu.
BAB 5: Dongeng Leluhur dari Sang Nenek
Di tengah Desa Awan Biru, di sebuah tanah yang sedikit
lebih tinggi daripada tanah di sekelilingnya, berdiri sebuah rumah joglo yang
sudah berusia lebih dari seratus tahun. Rumah itu adalah yang tertua di desa,
bukan hanya karena usianya yang mencapai lebih dari satu abad, tetapi juga
karena ia adalah rumah pertama yang dibangun di tempat ini, didirikan oleh
leluhur pertama yang menginjakkan kaki di tanah ini setelah pengembaraan
panjang dari pesisir utara Pulau Jawa. Konon, ketika rombongan yang dipimpin oleh
Eyang Jayabaya itu tiba di lembah subur yang dikelilingi barisan bukit, mereka
tidak langsung membangun pemukiman. Mereka berkeliling terlebih dahulu, mencari
titik yang paling tepat untuk memulai kehidupan baru. Mereka menguji tanah
dengan merasakan denyutnya, menguji air dengan merasakan dinginnya, menguji
angin dengan merasakan arahnya. Dan setelah berhari-hari mencari, mereka
akhirnya memilih tanah yang sedikit lebih tinggi di tengah lembah ini, tempat
di mana energi terasa paling kuat, tempat di mana langit terasa paling dekat
dengan bumi.
Rumah joglo itu berdiri megah meskipun usianya sudah sangat
tua. Dindingnya dari kayu jati tua yang sudah menghitam karena usia dan terkena
panas hujan selama berganti-ganti musim. Kayu jati itu bukan sembarang kayu; ia
diambil dari hutan jati di selatan yang konon sudah berusia ratusan tahun
ketika ditebang, kayu yang sangat keras dan padat sehingga meskipun sudah lebih
dari seratus tahun, tidak ada satu pun papan yang lapuk atau dimakan rayap.
Warna hitam pada kayu itu bukan karena kotor, tetapi karena proses alami yang
terjadi pada kayu jati tua yang terkena udara dan kelembaban selama
bertahun-tahun, sebuah proses yang justru membuat kayu itu semakin kuat dan
tahan terhadap segala cuaca.
Ukiran-ukiran di dinding dan tiang rumah itu masih terlihat
jelas meskipun sudah aus dimakan waktu. Ada ukiran bunga teratai yang
melambangkan kesucian, ada ukiran gunungan yang melambangkan kehidupan, ada
ukiran burung garuda yang melambangkan kekuatan, dan ada ukiran-ukiran geometris
yang rumit yang konon memiliki makna filosofis tentang hubungan antara manusia,
alam, dan Tuhan. Ukiran-ukiran itu dibuat oleh tangan-tangan terampil dari masa
lalu, dengan alat-alat sederhana dari besi dan batu, tetapi dengan ketelitian
dan kesabaran yang mungkin tidak lagi dimiliki oleh manusia masa kini. Setiap
goresan pahat, setiap lengkungan, setiap detail kecil, adalah hasil dari
berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan kerja yang penuh dedikasi.
Atap rumah ini adalah yang paling khas, yang membedakannya
dari rumah-rumah lain di desa. Ia tidak menggunakan seng gelombang seperti
kebanyakan rumah, juga tidak menggunakan genteng tanah liat seperti beberapa
rumah yang lebih baru. Atap rumah joglo ini terbuat dari sirap kayu, yaitu
kepingan-kepingan kayu belah yang disusun rapi seperti sisik ikan, dengan
ujung-ujungnya melengkung ke atas seperti tanduk kerbau. Konon, bentuk lengkung
ke atas itu memiliki makna filosofis: ia adalah simbol dari doa yang terus naik
ke langit, dari harapan yang terus menjulang ke atas, dari hubungan yang tidak
pernah putus antara penghuni rumah ini dengan Sang Pencipta. Sirap kayu itu
sudah berwarna abu-abu kehitaman karena usia, tetapi tidak ada satu pun yang
bergeser dari tempatnya, karena pemasangannya dilakukan dengan teknik yang
sangat presisi, tanpa paku, hanya mengandalkan sistem pasak dan alur yang
saling mengunci.
Pendopo di depan rumah adalah tempat yang paling sering
digunakan oleh Mbah Ratih untuk menerima tamu. Pendopo ini terbuka di semua
sisi, hanya ditopang oleh empat tiang kayu jati besar yang diukir dengan motif
naga dan burung phoenix. Lantainya dari ubin batu alam yang sudah halus karena
ribuan langkah kaki yang melintas di atasnya selama lebih dari seratus tahun.
Di pendopo ini, Mbah Ratih biasa duduk bersila di atas tikar pandan yang
anyamannya sangat rapat, sambil menyesap teh jahe dari cangkir porselen putih
yang sudah retak di pinggirnya tetapi masih ia gunakan karena itu adalah
warisan dari ibunya.
Di pendopo ini pula, Mbah Ratih menyimpan berbagai macam
benda pusaka yang ia warisi dari leluhurnya. Ada keris-keris tua yang disimpan
dalam kotak kayu berlapis kain beludru, ada tombak dengan mata yang masih tajam
meskipun sudah berusia berabad-abad, ada wayang-wayang kulit yang digantung di
dinding dengan tali dari serat nanas, dan ada buku-buku tua yang ditulis tangan
dengan aksara Jawa dan aksara Arab pegon, yang kertasnya sudah rapuh dan
berwarna kuning kecoklatan seperti daun-daun kering di musim kemarau.
Tapi yang paling berharga di antara semua benda pusaka itu,
setidaknya bagi Mbah Ratih, adalah sebuah kotak kayu cendana berukuran tidak
lebih dari sepuluh sentimeter persegi. Kotak itu disimpan di sebuah lemari
kecil di sudut pendopo, lemari yang selalu terkunci dan hanya dibuka oleh Mbah
Ratih pada saat-saat tertentu. Di dalam kotak itu, dibungkus dengan kain sutra
biru tua, tersimpan sebentuk liontin batu akik biru yang konon berasal dari
langit yang jatuh ke bumi ketika leluhur pertama tiba di desa ini. Batu yang
sama yang pernah Mbah Ratih tunjukkan kepada Sumirah ketika Amat masih bayi.
Batu yang kini masih menunggu waktu yang tepat untuk diberikan kepada
pemiliknya yang sejati.
Mbah Ratih, satu-satunya tetua desa yang masih tersisa
setelah Mbah Karta dan Mbah Jayeng meninggal dunia beberapa tahun sebelumnya.
Mbah Karta pergi lebih dulu, sekitar tiga tahun setelah kelahiran Amat. Ia
meninggal dengan tenang di rumahnya, pada suatu pagi ketika matahari baru saja
terbit dan burung-burung mulai berkicau. Sebelum meninggal, ia sempat berpesan
kepada Mbah Ratih untuk menjaga Amat, untuk memastikan bahwa anak itu
mendapatkan pengetahuan yang ia butuhkan ketika waktunya tiba. Mbah Jayeng
menyusul dua tahun kemudian, meninggal di rumah sakit kecamatan karena penyakit
yang sudah lama dideritanya. Ia juga sempat berpesan hal yang kurang lebih
sama: bahwa keseimbangan desa ini tergantung pada anak yang lahir dengan mata
biru itu.
Kini Mbah Ratih sendirian. Ia berusia lebih dari delapan
puluh tahun, meskipun tidak ada yang tahu pasti usianya. Tidak ada catatan kelahiran
pada zaman ketika ia dilahirkan, dan ia sendiri tidak pernah merayakan ulang
tahun. Yang ia tahu, ia sudah hidup sangat lama, lebih lama dari kebanyakan
orang di desa ini. Ia sudah melihat desa ini berubah dari hamparan sawah dan
hutan yang jarang penduduknya menjadi desa yang cukup ramai dengan puluhan
rumah, jalan setapak yang berubah menjadi jalan berbatu, dan listrik yang mulai
masuk ke rumah-rumah warga.
Meskipun usianya sudah sangat lanjut, tubuh Mbah Ratih
masih tegap. Ia tidak membungkuk seperti kebanyakan orang seusianya. Ia masih
bisa berjalan tanpa tongkat, masih bisa duduk bersila di pendopo selama
berjam-jam, masih bisa mengaji dengan suara yang merdu meskipun kadang-kadang
terputus-putus karena napas yang mulai pendek. Wajahnya dipenuhi keriput,
seperti peta yang menggambarkan perjalanan panjang hidupnya, tetapi matanya
masih jernih dan tajam. Matanya adalah bagian yang paling mengesankan dari
dirinya: mata coklat tua yang dalam, yang konon bisa melihat hal-hal yang tidak
terlihat oleh orang biasa, yang bisa menembus lapisan-lapisan realitas yang
tersembunyi.
Ia tinggal sendirian di rumah joglo besar itu. Suaminya,
seorang pria yang sangat dicintainya, meninggal puluhan tahun yang lalu, ketika
anak-anak mereka masih kecil. Mbah Ratih tidak pernah menikah lagi. Ia memilih
untuk membesarkan anak-anaknya sendirian, dengan bantuan dari tetangga dan
keluarga. Anak-anaknya kini telah dewasa dan merantau ke kota. Ada yang di
Jakarta, ada yang di Bandung, ada yang di Surabaya. Mereka jarang pulang, hanya
setahun sekali pada saat Lebaran, itupun kadang-kadang tidak semua bisa datang.
Mbah Ratih tidak pernah mengeluh. Ia memahami bahwa anak-anaknya memiliki
kehidupan mereka sendiri, tanggung jawab mereka sendiri. Ia hanya berdoa semoga
mereka selalu dalam lindungan Tuhan.
Meskipun sendirian, rumah Mbah Ratih tidak pernah sepi.
Setiap sore, setelah matahari mulai condong ke barat dan udara mulai terasa
sejuk, anak-anak desa akan datang ke rumahnya. Mereka datang dengan berbagai
alasan: ada yang ingin belajar mengaji, karena Mbah Ratih adalah salah satu
guru ngaji tertua di desa; ada yang ingin mendengarkan cerita-cerita lama,
karena Mbah Ratih adalah penjaga cerita desa; ada yang hanya ingin duduk-duduk
di pendopo yang sejuk, menikmati teh jahe buatan Mbah Ratih yang terkenal
hangat dan menyegarkan.
Mbah Ratih menyambut semua anak itu dengan senyum yang
sama, dengan kasih sayang yang sama. Ia tidak pernah membeda-bedakan. Bagi Mbah
Ratih, semua anak adalah titipan Tuhan, semua anak berhak mendapatkan perhatian
dan kasih sayang. Ia mengajari mereka mengaji dengan sabar, membetulkan bacaan
mereka dengan lembut, memberi mereka camilan sederhana seperti pisang goreng
atau ubi rebus yang ia siapkan setiap sore.
Dan ketika anak-anak itu meminta cerita, Mbah Ratih akan
duduk bersila di atas tikar pandan, dengan secangkir teh jahe di sampingnya,
dan mulai bercerita. Ia bercerita tentang asal-usul desa ini, tentang leluhur
yang pertama datang, tentang bagaimana mereka membuka lahan dan membangun
pemukiman. Ia bercerita tentang pohon beringin tua yang menjadi pusat desa,
tentang hutan larangan di selatan yang tidak boleh dimasuki sembarangan,
tentang mata air yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang. Ia
bercerita tentang tokoh-tokoh wayang, tentang Rama dan Shinta, tentang Pandawa
dan Kurawa, tentang kebaikan yang selalu menang melawan kejahatan meskipun
kadang-kadang harus melalui perjuangan yang panjang dan melelahkan. Ia
bercerita tentang kehidupan, tentang kematian, tentang cinta, tentang
pengorbanan, tentang arti menjadi manusia.
Anak-anak itu duduk di hadapannya dengan mata terbelalak,
terpikat oleh cerita-cerita yang keluar dari mulut Mbah Ratih. Mereka lupa
bahwa mereka seharusnya pulang sebelum magrib, lupa bahwa ibu mereka mungkin
sudah menyiapkan makan malam, lupa bahwa mereka masih punya pekerjaan rumah
yang belum dikerjakan. Mereka hanya ingin terus mendengar, terus membiarkan
diri mereka terbawa oleh alur cerita yang dibangun oleh Mbah Ratih dengan
suaranya yang parau namun penuh wibawa.
Di antara semua anak itu, Amat adalah yang paling sering
datang. Sejak kecil, ia sudah merasa ada ikatan khusus dengan perempuan tua
itu. Mungkin karena Mbah Ratih adalah satu-satunya orang di desa yang tidak
pernah memandangnya dengan tatapan aneh. Mbah Ratih tidak pernah bertanya-tanya
tentang matanya yang biru, tidak pernah berbisik-bisik dengan tetangga tentang
keanehan-keanehan yang menyertai kelahirannya, tidak pernah menjauh atau merasa
tidak nyaman berada di dekatnya. Mbah Ratih menerimanya apa adanya, seperti ia
menerima semua anak yang datang ke rumahnya. Bahkan, jika Amat memperhatikan
dengan saksama, ia akan melihat bahwa Mbah Ratih memperlakukannya sedikit
berbeda: ada kelembutan ekstra dalam suaranya ketika berbicara dengannya, ada
perhatian lebih dalam tatapannya ketika mengamatinya, ada sesuatu yang terasa
seperti seorang nenek yang menantikan cucunya yang telah lama dinanti.
Suatu sore, ketika Amat masih berusia sekitar delapan
tahun, ia datang ke rumah Mbah Ratih sendirian. Raka sedang membantu ayahnya di
warung, Camelia sedang menemani ibunya ke pasar. Amat duduk di pendopo, di
tempat favoritnya di sudut dekat tiang yang diukir dengan motif burung phoenix.
Mbah Ratih duduk di hadapannya, dengan secangkir teh jahe di tangan kirinya dan
sebuah kipas dari daun pandan di tangan kanannya, yang ia gunakan untuk
mengipasi dirinya meskipun udara sudah cukup sejuk.
"Nak Amat, kamu kelihatan gelisah hari ini," kata
Mbah Ratih setelah beberapa saat mengamati Amat yang duduk diam dengan tatapan
kosong ke arah pohon beringin di kejauhan. "Ada yang mengganggumu?"
Amat tidak menjawab segera. Ia menunduk, memainkan ujung
sarung yang ia kenakan. Kemudian, setelah beberapa lama, ia berbicara dengan
suara pelan, hampir berbisik. "Mbah, kenapa aku berbeda? Kenapa mataku
biru? Kenapa aku bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain? Kenapa
aku... merasa tidak seperti anak-anak lain?"
Mbah Ratih menatap Amat dengan tatapan yang dalam, tatapan
yang terasa seperti membelai, menenangkan, dan pada saat yang sama penuh dengan
kebijaksanaan yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah hidup sangat lama dan
melihat banyak hal. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas nampan bambu di
sampingnya, lalu meraih tangan Amat yang kecil dan menggenggamnya dengan
lembut.
"Nak Amat, suatu hari nanti kamu akan mengerti mengapa
kamu berbeda," katanya perlahan, suaranya parau tetapi penuh kehangatan.
"Tapi jangan terburu-buru. Kamu masih kecil. Masih banyak waktu untuk
mengerti. Nikmati masa kecilmu dulu. Tertawalah bersama teman-temanmu. Berlari-larilah
di halaman. Makan pecel sampai kenyang. Karena ketika waktunya tiba, kamu akan
merindukan masa-masa ketika satu-satunya bebanmu adalah pekerjaan rumah dari
guru."
Amat mengangkat wajahnya, matanya yang biru menatap Mbah
Ratih dengan tatapan yang masih penuh pertanyaan. "Kapan waktunya tiba,
Mbah?"
Mbah Ratih tersenyum, senyum yang membuat keriput di
wajahnya semakin dalam. "Tidak ada yang tahu, Nak. Bukan saya, bukan orang
tua kamu, bukan siapa pun. Hanya Tuhan yang tahu. Yang bisa kita lakukan hanyalah
mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dan untuk sekarang, yang perlu kamu lakukan
hanyalah menjadi anak-anak. Belajar yang rajin. Bermain yang cukup. Berdoa yang
tekun. Jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum waktunya untuk kamu
pikirkan."
Amat mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya puas dengan
jawaban itu. Tapi ia percaya pada Mbah Ratih. Jika Mbah Ratih mengatakan bahwa
waktunya belum tiba, maka ia akan menunggu. Ia akan menjadi anak-anak, seperti
yang dikatakan Mbah Ratih. Ia akan belajar, bermain, tertawa. Dan ketika
waktunya tiba, ia akan siap.
Pada suatu malam Jumat, ketika bulan purnama bersinar
terang di langit Awan Biru, memancarkan cahaya peraknya yang lembut ke seluruh
desa, membuat kabut tipis yang merayap dari lereng bukit berkilauan seperti
tirai dari sutra putih, Mbah Ratih duduk di pendopo rumahnya dengan tiga orang
tamu istimewa: Amat, Raka, dan Camelia. Mereka bertiga duduk bersila di atas
tikar pandan yang anyamannya sangat rapat, dengan sebuah nampan besar di
tengah-tengah mereka berisi pisang goreng buatan Mbah Ratih yang masih hangat,
ubi rebus yang manis legit, dan segelas besar teh jahe yang uapnya masih
mengepul, menyebarkan aroma harum jahe dan serai ke seluruh pendopo.
Beberapa lilin kecil diletakkan di sudut-sudut pendopo,
memberikan cahaya yang hangat dan redup, menciptakan bayangan-bayangan yang
menari-nari di dinding kayu jati tua yang sudah menghitam. Bayangan itu
bergerak mengikuti hembusan angin malam yang masuk melalui sela-sela tiang,
kadang memanjang, kadang memendek, kadang berputar-putar seperti penari yang
sedang melakukan gerakan lambat dan anggun. Di kejauhan, dari arah masjid desa,
terdengar suara azan Isya yang baru saja selesai berkumandang, diikuti oleh
suara sayup-sayup orang yang sedang melaksanakan salat berjamaah.
Malam itu istimewa. Mbah Ratih sudah memberitahu mereka
sebelumnya bahwa ia akan bercerita tentang sesuatu yang penting, sesuatu yang
sudah lama ia simpan untuk waktu yang tepat. "Kalian sudah cukup besar
untuk mendengar cerita ini," katanya ketika mereka datang sore harinya.
"Dan malam ini, dengan bulan purnama, adalah waktu yang tepat. Karena pada
malam bulan purnama, batas antara dunia manusia dan dunia lain menjadi paling
tipis, dan cerita-cerita lama menjadi paling hidup."
Raka, yang seperti biasa datang dengan membawa oleh-oleh
dari warungnya, kali ini sepiring penuh rempeyek kacang yang masih renyah, duduk
dengan posisi paling dekat dengan nampan makanan. Tangannya sudah siap
menjangkau pisang goreng setiap saat. Camelia, dengan buku catatan bergambar
bunga-bunga yang selalu ia bawa ke mana-mana, sudah membuka halaman kosong dan
menyiapkan pena. Amat duduk di antara mereka, matanya yang biru sesekali
menatap ke arah pohon beringin di kejauhan, di mana ia melihat
bayangan-bayangan yang bergerak lebih aktif dari biasanya malam itu,
seolah-olah mereka juga tahu bahwa sesuatu yang penting akan diceritakan.
Mbah Ratih mulai berbicara setelah semua orang duduk dengan
nyaman. Suaranya yang parau namun penuh wibawa itu terdengar jelas di malam
yang sunyi, seperti aliran sungai yang mengalir tenang di tengah hutan, membawa
serta cerita-cerita dari masa lalu yang jauh.
"Anak-anak," katanya, matanya menatap mereka
bergantian, "kalian sudah sering mendengar orang bilang bahwa Desa Awan
Biru ini desa yang angker. Banyak yang bilang hutan larangan di selatan itu
angker, pohon beringin tua di tengah desa itu angker, bahkan sumur tua di
belakang kantor desa itu juga angker. Tapi tahukah kalian mengapa? Apa yang
membuat tempat-tempat itu terasa berbeda dari tempat-tempat lain di desa
ini?"
Raka, yang sedang memasukkan sepotong pisang goreng ke
mulutnya, menjawab dengan cepat seperti biasa, tanpa berpikir panjang.
"Karena banyak hantu, Mbah! Kayak di film-film horor di televisi. Hantu
kuntilanak, hantu pocong, hantu genderuwo. Saya lihat di TV, serem banget. Tapi
saya nggak percaya, soalnya belum pernah lihat langsung."
Mbah Ratih tersenyum, tidak tersinggung dengan jawaban Raka
yang polos itu. "Bukan, Nak. Bukan karena banyak hantu seperti yang kamu
lihat di televisi. Memang benar, ada makhluk-makhluk halus yang tinggal di
tempat-tempat itu. Tapi mereka bukan hantu jahat yang suka mengganggu manusia.
Mereka adalah penjaga. Penjaga yang ditugaskan oleh leluhur kita untuk menjaga
keseimbangan desa ini."
Camelia, yang sudah membuka buku catatannya, menyimak
dengan saksama. "Penjaga apa, Mbah? Maksudnya penjaga seperti apa?"
Mbah Ratih menghela napas panjang, seperti orang yang akan
memulai cerita panjang yang sudah lama tidak diceritakan. "Kalian tahu,
anak-anak, bahwa Desa Awan Biru ini sudah ada sejak tiga ratus tahun yang lalu.
Leluhur kita yang pertama datang ke sini tidak datang sendirian. Mereka datang
dengan membawa pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa.
Pengetahuan tentang alam, tentang energi, tentang keseimbangan. Pengetahuan
yang diwariskan dari generasi ke generasi, dari guru ke murid, dari leluhur ke
keturunan."
Ia berhenti sejenak, menyesap teh jahenya, lalu
melanjutkan. "Ketika mereka tiba di lembah ini, mereka tidak langsung membangun
rumah. Mereka berkeliling terlebih dahulu, berminggu-minggu lamanya, mencari
titik yang paling tepat. Mereka menguji tanah dengan merasakan denyutnya,
menguji air dengan merasakan dinginnya, menguji angin dengan merasakan arahnya.
Dan apa yang mereka temukan? Mereka menemukan bahwa lembah ini berada di tempat
yang istimewa. Di persimpangan antara dunia manusia dan dunia lain. Di tempat
di mana energi dari gunung-gunung di selatan bertemu dengan energi dari laut di
utara. Di tempat di mana langit terasa paling dekat dengan bumi."
Amat, yang sejak tadi diam mendengarkan, tiba-tiba
bertanya. "Mbah, maksudnya dunia lain itu apa? Dunia hantu?"
Mbah Ratih menatap Amat dengan tatapan yang dalam.
"Bukan hanya dunia hantu, Nak. Dunia lain adalah dunia yang tidak terlihat
oleh mata biasa. Dunia tempat roh-roh leluhur bersemayam. Dunia tempat
makhluk-makhluk halus tinggal. Dunia yang paralel dengan dunia kita, yang
kadang-kadang bersinggungan, kadang-kadang terpisah. Leluhur kita menyebutnya
alam gaib. Ada yang menyebutnya dunia spiritual. Tapi apapun namanya, ia nyata.
Sama nyatanya dengan dunia yang kita injak ini."
Raka yang biasanya cerewet tiba-tiba diam. Tangannya yang
tadi siap menjangkau pisang goreng berhenti di udara. Ia menelan ludah, lalu
bertanya dengan suara yang sedikit bergetar. "Mbah, jadi... hantu itu ada?
Beneran ada?"
Mbah Ratih tersenyum lagi. "Ada, Nak. Tapi tidak
seperti yang kamu bayangkan. Mereka bukan makhluk jahat yang suka
menakut-nakuti manusia. Mereka adalah... bagaimana ya mengatakannya... tetangga
kita. Tetangga yang tinggal di dimensi yang berbeda. Mereka juga punya
kehidupan, punya aturan, punya urusan sendiri. Selama kita tidak mengganggu
mereka, mereka juga tidak akan mengganggu kita. Itulah yang disebut
keseimbangan."
Camelia mencatat dengan cepat, pena di tangannya bergerak
lincah di atas kertas. "Keseimbangan, Mbah. Itu kata yang sering Mbah
sebut. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan keseimbangan?"
Mbah Ratih menghela napas lagi. Ini adalah pertanyaan yang
dalam, pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab dalam beberapa kalimat.
"Keseimbangan, Camelia, adalah keadaan di mana semua elemen, manusia, alam,
makhluk halus, roh leluhur, hidup berdampingan dengan harmonis. Tidak ada yang
mendominasi, tidak ada yang terpinggirkan. Manusia mengambil dari alam, tapi
juga menjaga alam. Manusia berinteraksi dengan makhluk halus, tapi juga
menghormati batas-batas mereka. Manusia mengingat leluhur, tapi juga menjalani
kehidupan mereka sendiri. Itulah keseimbangan."
Amat mengangguk perlahan, mencoba memahami. "Dan
leluhur kita yang pertama, Mbah? Apa yang mereka lakukan untuk menjaga
keseimbangan itu?"
Mbah Ratih mengambil sepotong pisang goreng, meskipun ia
hanya menggigitnya kecil-kecil. "Mereka melakukan ritual, Nak. Ritual yang
sangat sakral. Mereka mengidentifikasi titik-titik di desa ini yang memiliki
energi paling kuat. Titik-titik di mana dunia manusia dan dunia lain paling
dekat, paling mudah bersinggungan. Di titik-titik itu, mereka menempatkan
penjaga. Bukan penjaga manusia, tetapi penjaga dari alam lain. Roh-roh leluhur
yang memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan mereka, yang rela tetap tinggal
di desa ini, menjaga keturunannya, menjaga tanah ini, agar tetap aman dan
subur."
Raka yang sudah mulai tenang kembali bertanya. "Seperti
apa penjaga itu, Mbah? Apakah mereka punya wujud? Apakah mereka bisa
dilihat?"
Mbah Ratih menatap Amat sejenak sebelum menjawab.
"Beberapa orang bisa melihat mereka, Nak. Orang-orang yang memiliki indra
yang lebih tajam, yang memiliki hubungan khusus dengan leluhur. Mereka terlihat
seperti bayangan, seperti cahaya samar, seperti gerakan di pinggir penglihatan.
Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tapi mereka ada. Mereka selalu ada."
Amat merasa Mbah Ratih sedang berbicara kepadanya secara
khusus. Ia menunduk, merasakan dadanya berdebar sedikit lebih cepat.
Camelia, yang tidak ingin kehilangan fokus, melanjutkan
pertanyaan. "Lalu kenapa ada pohon beringin yang angker, Mbah? Apa
hubungannya dengan penjaga-penjaga itu?"
Mbah Ratih menunjuk ke arah pohon beringin di kejauhan,
yang di bawah sinar bulan purnama terlihat seperti raksasa yang sedang duduk
bersila, dengan akar-akarnya yang menjalar seperti lengan-lengan yang panjang.
"Pohon beringin itu adalah pusat dari semuanya, Camelia. Di bawah pohon
itu, leluhur pertama melakukan ritual yang paling penting. Ritual untuk
mengikat para penjaga, untuk meminta mereka setia menjaga desa ini.
Akar-akarnya yang menjalar ke segala arah adalah simbol dari hubungan antara
desa ini dengan dunia lain. Setiap akar adalah jalur energi yang menghubungkan
pusat dengan titik-titik penjaga di seluruh desa."
"Jadi kalau ada yang merusak pohon beringin itu,
Mbah?" tanya Raka, tiba-tiba menjadi serius.
Mbah Ratih menggeleng pelan. "Itu yang paling tidak
boleh dilakukan, Nak. Jika pohon beringin itu rusak, jika ia ditebang atau
mati, maka ikatan antara penjaga dan desa ini akan terputus. Para penjaga akan
kehilangan pusat, mereka akan bingung, mereka mungkin akan pergi. Dan jika
penjaga pergi..."
"Keseimbangan akan terganggu," sambung Camelia.
"Iya, Nak. Keseimbangan akan terganggu. Dan jika
keseimbangan terganggu, maka segel-segel yang dulu dibuat oleh leluhur akan
mulai retak."
"Segel?" tanya Amat. Ia belum pernah mendengar
kata itu sebelumnya.
Mbah Ratih menghela napas panjang. Kali ini napasnya lebih
berat, seperti orang yang akan menceritakan sesuatu yang berat, sesuatu yang
bahkan mungkin ia sendiri tidak ingin mengingatnya. "Anak-anak, leluhur
kita tidak hanya menempatkan penjaga. Mereka juga mengurung makhluk-makhluk
yang berbahaya di tempat-tempat tertentu. Makhluk-makhluk yang jika dibiarkan
bebas, akan menghancurkan desa ini. Segel-segel itu terbuat dari energi yang
ditanamkan di tanah, di pohon, di batu, di air. Selama keseimbangan terjaga,
selama para penjaga setia menjalankan tugasnya, segel itu akan tetap kuat. Tapi
jika keseimbangan terganggu..."
"Makhluk-makhluk itu akan bangkit?" tanya Amat,
suaranya bergetar sedikit. Ia teringat pada bayangan-bayangan yang
kadang-kadang tidak hanya bergerak perlahan, tetapi juga bergerak dengan cara
yang aneh, seperti ada sesuatu yang gelisah di baliknya.
Mbah Ratih tidak menjawab. Diamnya sudah menjadi jawaban.
Suasana di pendopo itu menjadi sunyi. Sunyi yang begitu
dalam sehingga mereka bisa mendengar suara jangkrik dari kejauhan, suara angin
yang berdesir di antara daun-daun pohon jambu di halaman, suara detak jantung
mereka sendiri. Raka yang biasanya cerewet juga terdiam, tangannya berhenti di
atas nampan pisang goreng, wajahnya yang biasanya ceria menjadi serius untuk
pertama kalinya malam itu. Camelia berhenti menulis, pena di tangannya
menggantung di udara, tintanya menetes sedikit di kertas, membentuk noda kecil
yang membesar perlahan.
Amat adalah yang pertama memecah keheningan. "Mbah,
apakah segel-segel itu sudah retak? Apakah keseimbangan sudah terganggu?"
Mbah Ratih menatap Amat dengan tatapan yang sulit
diartikan. Ada kekhawatiran di matanya, tetapi juga ada kepercayaan. "Kamu
sudah merasakannya, Nak, bukan? Kamu sudah melihat. Di pohon beringin itu, di
hutan selatan, di sumur tua di belakang kantor desa. Kamu sudah melihat ada
yang tidak beres."
Amat mengangguk pelan. "Bayangan-bayangan itu, Mbah.
Dulu mereka bergerak pelan, tenang, seperti orang yang sedang duduk santai.
Tapi akhir-akhir ini... mereka bergerak lebih cepat. Kadang seperti gelisah.
Kadang seperti... takut."
Raka dan Camelia menatap Amat dengan mata terbelalak.
Mereka tidak bisa melihat apa yang dilihat Amat, tetapi mereka percaya padanya.
Mereka sudah cukup lama berteman untuk tahu bahwa Amat tidak pernah berbohong
tentang hal-hal seperti ini.
Mbah Ratih mengangguk, seperti seorang guru yang puas
dengan jawaban muridnya. "Kamu benar, Nak. Keseimbangan mulai terganggu.
Dunia sedang berubah. Manusia mulai melupakan leluhurnya. Mereka membangun
tanpa memikirkan keseimbangan. Mereka menebang pohon tanpa permisi. Mereka
mencemari sungai tanpa peduli. Dan setiap kali manusia melakukan itu, para
penjaga melemah. Segel-segel mulai retak."
Raka, yang sudah tidak tahan dengan suasana yang terlalu
serius, tiba-tiba berseru. "Tapi Mbah, kalau segelnya retak, kan ada yang
bisa memperbaiki. Masa iya dibiarin aja. Kayak genteng bocor, kalau bocor ya
diperbaiki. Atau kayak ban bocor, ditambal. Masa iya dibiarin aja sampai
kempes."
Mbah Ratih tersenyum mendengar perumpamaan Raka yang khas.
"Benar, Nak. Segel bisa diperbaiki. Tapi tidak semua orang bisa
melakukannya. Perbaikan segel bukan seperti menambal ban atau mengganti genteng
bocor. Perbaikan segel adalah ritual yang rumit, yang membutuhkan pengetahuan
yang hanya dimiliki oleh keturunan dari garis penjaga. Dan yang paling penting,
ritual itu membutuhkan keberanian dan pengorbanan."
Camelia yang sudah siap dengan penanya bertanya cepat.
"Siapa keturunan dari garis penjaga itu, Mbah?"
Mbah Ratih tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya
menatap Amat. Tatapannya tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Semua mata
yang hadir di pendopo itu mengikuti arah tatapan Mbah Ratih, dan semuanya
tertuju pada anak laki-laki dengan mata biru yang sedang duduk di antara
mereka.
Amat menunduk. Dadanya berdebar kencang, begitu kencang
sehingga ia yakin Raka dan Camelia bisa mendengarnya. Ia sudah lama merasakan
bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Sejak ia bisa mengingat dan
ingatannya dimulai sangat awal, lebih awal dari kebanyakan anak, ia sudah tahu
bahwa ia tidak seperti anak-anak lain. Matanya yang biru, keanehan-keanehan
yang menyertai kelahirannya, kemampuannya melihat hal-hal yang tidak terlihat
oleh orang lain, semuanya adalah petunjuk bahwa ia istimewa. Tapi mendengarnya
secara langsung dari Mbah Ratih, mendengar bahwa ia adalah keturunan dari garis
penjaga, mendengar bahwa ia mungkin ditakdirkan untuk memperbaiki segel-segel
yang retak dan menjaga keseimbangan desa ini, terasa sangat nyata, sangat
membebani, sangat... menakutkan.
"Aku tidak bisa, Mbah," katanya pelan, suaranya
hampir tidak terdengar di antara desiran angin malam. "Aku masih kecil.
Aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan takut dengan bayangan yang aku lihat di
pohon beringin itu. Setiap kali aku melihat mereka, aku merasa... dingin. Aku
merasa takut. Aku tidak sekuat leluhur."
Mbah Ratih menggeser duduknya mendekati Amat. Dengan
tangannya yang keriput tetapi masih lembut, ia mengusap rambut Amat dengan
lembut, seperti seorang nenek yang menenangkan cucunya yang ketakutan.
"Tentu saja kamu takut, Nak. Kamu masih kecil. Tidak ada yang menyuruhmu
melakukan apa pun sekarang. Waktumu belum tiba. Masih bertahun-tahun lagi.
Mungkin sampai kamu dewasa, mungkin sampai kamu lulus sekolah, mungkin sampai
kamu bekerja. Tidak ada yang tahu. Yang penting sekarang adalah kamu tahu. Kamu
tahu tentang leluhurmu, tentang desa ini, tentang tanggung jawab yang mungkin
suatu hari nanti akan jatuh ke pundakmu. Tapi untuk saat ini, nikmati masa
kecilmu. Belajar yang rajin. Bermain dengan teman-temanmu. Tertawa
sebanyak-banyaknya. Karena suatu hari nanti, tawa itu akan menjadi senjatamu
yang paling ampuh."
"Tawa?" Raka mengernyit, tidak mengerti.
"Maksudnya senjata? Tawa bisa jadi senjata? Kayak di film-film, senjata
itu pedang, tombak, atau setidaknya panah. Tawa? Tawa bisa buat apa?"
Mbah Ratih tertawa kecil mendengar kebingungan Raka.
"Tawa adalah senjata yang paling ampuh, Nak. Lebih ampuh dari pedang,
lebih tajam dari tombak. Karena tawa bisa menghilangkan rasa takut. Tawa bisa
mengubah keputusasaan menjadi harapan. Tawa bisa menyatukan orang-orang yang
terpecah. Dan ketika kamu harus berhadapan dengan makhluk-makhluk yang gelap,
tawamu akan menjadi cahaya yang paling terang."
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, masih belum
sepenuhnya mengerti. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin suatu hari
nanti ia akan mengerti.
Camelia, yang sejak tadi mencatat dengan rapi, menutup
bukunya. "Mbah, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita masih kecil.
Kita tidak bisa melakukan ritual atau memperbaiki segel."
Mbah Ratih mengangguk. "Kalian tidak perlu melakukan
apa-apa sekarang, Camelia. Yang perlu kalian lakukan adalah belajar. Belajar
dari buku-buku, belajar dari alam, belajar dari orang-orang tua, belajar dari
kehidupan. Amat perlu belajar tentang sejarah leluhurnya, tentang ritual-ritual
yang mungkin suatu hari nanti harus ia lakukan. Raka perlu belajar tentang
kearifan lokal, tentang bagaimana menjaga hubungan dengan alam. Dan kamu,
Camelia, perlu belajar tentang administrasi, tentang catatan, tentang bagaimana
mengelola pengetahuan agar tidak hilang ditelan waktu. Karena kalian bertiga,
bersama-sama, akan menjadi kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh makhluk
gelap apapun."
Malam itu, ketika mereka pulang ke rumah masing-masing,
Raka dan Camelia berjalan berdampingan dengan Amat di tengah. Mereka tidak
banyak bicara, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bulan purnama
bersinar terang di atas kepala mereka, menerangi jalan setapak yang
berlubang-lubang dengan cahaya peraknya yang lembut. Kabut tipis mulai merayap
turun dari lereng-lereng bukit, tetapi malam itu tidak terasa dingin. Ada
kehangatan aneh yang menyelimuti mereka, kehangatan yang terasa seperti pelukan
dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Sampai di perempatan jalan, di mana rumah Raka dan Camelia
berada di arah yang berbeda, Raka tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap
Amat. Wajahnya yang biasanya selalu ceria itu terlihat serius, sesuatu yang
sangat jarang terjadi.
"Mat," katanya, suaranya lebih pelan dari
biasanya, "aku nggak ngerti banyak tentang leluhur, tentang penjaga,
tentang segel, tentang keseimbangan. Tapi satu yang aku tahu: kamu temanku. Dan
apapun yang akan terjadi nanti, aku akan ada untukmu. Kita akan hadapi bersama.
Kamu tidak sendirian."
Camelia yang berdiri di samping Raka mengangguk tegas.
"Aku juga, Mat. Aku akan mencatat semuanya, mendokumentasikan semuanya,
memastikan tidak ada pengetahuan yang hilang. Kita akan belajar bersama. Kita
akan siap bersama."
Amat menatap kedua sahabatnya. Matanya yang biru
berkaca-kaca, bukan karena sedih, tetapi karena terharu. Untuk pertama kalinya
setelah mendengar cerita Mbah Ratih, ia merasa tidak sendirian. Ia merasa bahwa
apapun yang akan terjadi, apapun yang ditakdirkan untuknya, ia tidak akan menghadapinya
sendirian.
"Makasih," katanya pelan. "Makasih sudah
menjadi temanku."
Raka tersenyum lebar, senyum yang membuat seluruh wajahnya
yang bulat itu berkerut. "Ah, nggak usah makasih-makasihan. Teman kan
harus saling jaga. Sekarang, besok kita main lagi ya? Aku bawain pecel
banyak-banyak. Kita makan sambil belajar dari buku-buku tua di rumah Mat.
Setuju?"
"Setuju!" jawab Amat dan Camelia bersamaan.
Mereka bertiga tertawa bersama. Tawa yang riang, tawa yang
bebas, tawa yang membuat kabut malam terasa lebih tipis dan bulan purnama
terasa lebih terang. Tawa yang, seperti yang dikatakan Mbah Ratih, akan menjadi
senjata paling ampuh di masa-masa yang akan datang.
Di kejauhan, di pendopo rumah joglo, Mbah Ratih masih duduk
di atas tikar pandan, menyesap teh jahenya yang mulai dingin, mendengar tawa
tiga anak itu bergema di malam yang sunyi. Ia tersenyum. Di tangannya yang
keriput, ia memegang kotak kayu cendana kecil yang berisi liontin batu akik
biru. Batu itu terasa hangat, lebih hangat dari biasanya, seolah-olah ia
merespons sesuatu, seolah-olah ia tahu bahwa pemiliknya yang sejati sudah mulai
siap.
"Tumbuhlah, Nak," bisiknya pada angin malam.
"Tumbuhlah menjadi penjaga yang kuat. Dan jangan pernah lupa untuk
tertawa. Karena tawa adalah senjata paling ampuh yang pernah dimiliki oleh
leluhurmu."
Ia menutup kotak itu, menyimpannya kembali ke dalam lemari
kecil di sudut pendopo. Kemudian ia berdiri, mengambil lilin-lilin yang masih
menyala, dan masuk ke dalam rumah. Di dalam, ia berdoa sebelum tidur, seperti
yang selalu ia lakukan setiap malam. Ia berdoa untuk desanya, untuk leluhurnya,
untuk tiga anak yang baru saja pulang ke rumah masing-masing. Ia berdoa semoga
mereka dilindungi, semoga mereka siap ketika waktunya tiba, semoga tawa yang
mereka bagi malam itu menjadi cahaya yang akan menuntun mereka melalui
kegelapan yang mungkin akan datang.
Di luar, bulan purnama terus bersinar terang di langit Awan
Biru, menerangi desa dengan cahaya peraknya yang lembut. Kabut tipis merayap
perlahan, menyelimuti rumah-rumah, pohon-pohon, jalan-jalan, dengan selimut
putih yang dingin dan lembab. Dan di kejauhan, di bawah pohon beringin tua,
bayangan-bayangan itu bergerak perlahan, tidak lagi gelisah seperti sebelumnya,
tetapi tenang, damai, seperti orang yang baru saja mendengar kabar baik.
Mereka menunggu. Mereka telah menunggu selama tiga ratus
tahun. Mereka bisa menunggu sedikit lebih lama lagi.
BAB 6: Bayangan di Pohon Beringin Tua
Pohon beringin tua yang berada di tengah Desa Awan Biru
bukanlah pohon biasa. Bahkan sejak pertama kali mata memandangnya dari
kejauhan, ketika seseorang baru memasuki batas desa dari arah utara atau
selatan, timur atau barat, pohon itu sudah mencuri perhatian. Ia menjulang
tinggi di atas semua bangunan di sekitarnya, dengan kanopinya yang lebat
seperti payung raksasa yang membentang melindungi seluruh desa. Pada siang
hari, ketika matahari bersinar terik dan udara terasa panas menyengat, bayangan
pohon ini menjadi tempat berteduh yang paling dicari oleh para petani yang baru
pulang dari sawah, para pedagang yang sedang beristirahat dari aktivitas pasar,
dan anak-anak yang sedang bermain petak umpet.
Tingginya mencapai lebih dari tiga puluh meter, mungkin
tiga puluh lima meter, atau bahkan empat puluh meter, tidak ada yang pernah
mengukurnya secara pasti. Yang jelas, dari puncaknya, seseorang bisa melihat
seluruh Desa Awan Biru terbentang di bawah, dari rumah-rumah dengan atap seng
yang berkarat di utara hingga sawah-sawah yang menguning di selatan, dari
perkebunan kopi di lereng barat hingga sungai kecil yang berkelok-kelok di
timur. Beberapa anak desa yang paling nekat pernah mencoba memanjat pohon ini,
tetapi tidak ada yang berhasil mencapai puncaknya. Batang utamanya terlalu
besar untuk dipeluk, terlalu licin karena lumut yang menempel, dan terlalu
tinggi untuk dinaiki tanpa peralatan khusus. Konon, ada seorang pemuda pada
zaman dulu yang berhasil memanjat hingga setengahnya, tetapi ketika ia turun,
ia tidak bisa bicara selama tiga hari dan tidak pernah mau menceritakan apa
yang ia lihat di sana.
Kanopi pohon ini menaungi area seluas hampir setengah
lapangan sepak bola. Daun-daunnya yang rimbun tersusun rapat, membentuk
lapisan-lapisan yang berlapis-lapis, sehingga di bawah pohon ini, bahkan di
siang hari yang paling terang sekalipun, suasana selalu terasa remang-remang,
seperti senja yang terus-menerus. Cahaya matahari yang berhasil menembus
celah-celah daun akan jatuh ke tanah dalam bentuk titik-titik cahaya kecil yang
bergerak-gerak mengikuti hembusan angin, menciptakan pola-pola yang berubah-ubah
seperti lukisan abstrak yang hidup. Di musim kemarau, ketika daun-daun mulai
berguguran, cahaya matahari akan lebih banyak masuk, tetapi tetap tidak pernah
cukup untuk mengusir suasana teduh yang menjadi ciri khas tempat ini.
Batang utamanya sangat besar, sangat besar sehingga sulit
dibayangkan oleh mereka yang belum pernah melihatnya secara langsung.
Diperkirakan, dibutuhkan setidaknya sepuluh orang dewasa dengan tangan yang
direntangkan untuk bisa melingkarinya. Batang itu tidak lurus sempurna seperti
batang pohon jati atau pohon pinus; ia berkelok-kelok, dengan tonjolan-tonjolan
di sana-sini yang oleh penduduk setempat dianggap memiliki makna tertentu. Ada
tonjolan yang menyerupai wajak orang tua sedang tersenyum, ada yang menyerupai
burung garuda dengan sayap terbentang, ada yang menyerupai ular melingkar.
Beberapa tonjolan itu konon adalah jelmaan dari makhluk-makhluk yang mencoba
merusak pohon ini di masa lalu, yang dikutuk oleh leluhur untuk selamanya
menjadi bagian dari batang pohon.
Kulit batangnya berwarna coklat keabu-abuan, dengan
retakan-retakan dalam yang membentuk pola-pola yang rumit. Di celah-celah
retakan itu, tumbuh lumut-lumut hijau yang lembut, pakis-pakis kecil yang
daunnya menyirip rapi, dan kadang-kadang, jika musim hujan tiba, jamur-jamur
kecil berwarna putih atau kuning akan muncul, menambah kekayaan hayati yang
hidup pada pohon ini. Beberapa jenis burung menjadikan pohon ini sebagai rumah:
burung tekukur yang suaranya merdu di pagi hari, burung jalak yang riuh rendah
di sore hari, burung hantu yang diam-diam keluar pada malam hari. Ada juga
kelelawar yang bergelantungan di dahan-dahan tertinggi, dan jika seseorang
berdiri di bawah pohon ini pada senja hari, ia akan melihat mereka terbang
keluar dalam jumlah yang sangat banyak, seperti awan hitam yang bergerak
melintasi langit kemerahan.
Akar-akarnya yang besar menjalar ke segala arah seperti
ular-ular raksasa yang sedang berjemur di bawah sinar matahari. Ada akar yang
muncul ke permukaan tanah hanya beberapa meter dari batang, lalu masuk kembali
ke dalam tanah, lalu muncul lagi sepuluh meter kemudian, menciptakan
lengkungan-lengkungan alami yang indah. Anak-anak desa sering menggunakan
lengkungan akar ini sebagai tempat bermain petak umpet atau sekadar duduk-duduk
sambil bercerita. Beberapa akar yang lebih besar bahkan bisa digunakan sebagai
bangku alami, dengan permukaannya yang rata karena telah duduk berabad-abad
oleh banyak orang. Akar-akar ini tidak hanya berfungsi sebagai penopang pohon
yang sangat besar ini, tetapi juga sebagai jalur bagi air dan nutrisi yang
diserap dari tanah yang luas, membawa kehidupan dari ujung-ujung akar yang
terjauh ke batang utama, dan dari batang utama ke setiap helai daun di kanopi
yang menjulang.
Di antara akar-akar yang menjalar itu, terdapat beberapa
batu besar yang sudah menghitam karena usia dan lumut. Batu-batu ini konon
diletakkan oleh leluhur pertama sebagai tempat duduk ketika melakukan ritual di
bawah pohon ini. Batu-batu itu disusun membentuk lingkaran tidak sempurna,
dengan satu batu yang lebih besar dari yang lain di sisi timur, menghadap ke
arah matahari terbit. Batu besar itu disebut "Kursi Kyai", karena
konon di sanalah pemimpin ritual duduk, menghadap ke arah datangnya cahaya
pertama, memohon berkah untuk desa yang baru akan dibangun.
Menurut cerita yang beredar turun-temurun di desa, pohon
ini ditanam oleh leluhur pertama yang datang ke Awan Biru sekitar tiga ratus
tahun yang lalu. Leluhur itu, yang namanya tidak lagi diingat oleh siapa pun
tetapi dihormati sebagai pendiri desa, adalah seorang petapa yang memiliki
pengetahuan mendalam tentang alam dan spiritualitas. Ia tidak serta-merta
menanam pohon ini begitu tiba di lembah. Ia berkeliling terlebih dahulu selama
berhari-hari, mencari titik yang paling tepat. Ia mengamati arah angin,
merasakan kelembaban tanah, menguji air dari mata-mata yang muncul di
sana-sini. Ia mencari tempat di mana energi bumi terasa paling kuat, di mana
langit terasa paling dekat, di mana dunia manusia dan dunia lain bersinggungan
paling tipis.
Setelah menemukan titik itu, ia tidak langsung menanam. Ia
melakukan ritual terlebih dahulu, ritual yang berlangsung selama empat puluh
hari empat puluh malam. Selama itu, ia tidak makan kecuali daun-daunan dan
buah-buahan yang jatuh di dekatnya, tidak minum kecuali embun yang menetes dari
dedaunan di pagi hari, tidak tidur kecuali bersandar pada batu besar yang
kemudian dikenal sebagai Kursi Kyai. Ia berpuasa, bermeditasi, berdoa, memohon
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan kepada roh-roh alam yang menghuni tempat itu, agar
diizinkan membuka lahan, agar desa yang akan dibangun dilindungi dari segala
mara bahaya, agar keturunannya kelak hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan.
Pada malam keempat puluh, ketika bulan purnama bersinar
tepat di atas kepalanya dan kabut tipis mulai merayap dari lereng-lereng bukit,
ia mendapat petunjuk. Sebuah suara, entah dari mana asalnya, apakah dari langit
atau dari bumi, apakah dari dalam dirinya atau dari luar dirinya, berkata
kepadanya: "Tanamlah dahan yang kau bawa dari tempat asalmu. Ia akan
tumbuh menjadi pohon yang akan menjadi pusat desamu. Ia akan menjadi tempat
para penjaga bersemayam. Ia akan menjadi pengingat bagi keturunanmu bahwa
mereka tidak sendirian, bahwa ada yang menjaga mereka."
Keesokan paginya, dengan tangan yang gemetar karena lelah
tetapi hati yang penuh keyakinan, ia menancapkan sebatang dahan pohon beringin yang
dibawanya dari tempat asal, dahan yang selama perjalanan panjang ia simpan
dengan hati-hati, dibungkus kain yang selalu dibasahi air agar tidak kering.
Dahan itu tidak lebih besar dari lengan orang dewasa, tidak lebih panjang dari
satu hasta. Ia menancapkannya di tanah di depan batu besar yang selama empat
puluh hari menjadi tempatnya bersandar, di tempat yang selama empat puluh hari
ia rasakan sebagai pusat energi. Ia menyiramnya dengan air dari tujuh mata air
yang ia temukan di lembah itu, dan berdoa agar dahan itu tumbuh, agar desa ini
bertahan, agar keturunannya kelak selalu ingat dari mana mereka berasal.
Dan dahan itu tumbuh. Entah bagaimana, entah mengapa, dahan
kecil yang hanya sebesar lengan orang dewasa itu tumbuh menjadi pohon raksasa
yang menjulang tinggi, dengan akar yang menjalar ke seluruh penjuru desa,
dengan kanopi yang menaungi seluruh pemukiman. Apakah itu mukjizat, apakah itu
karena tanahnya yang subur, apakah itu karena doa dan ritual yang dilakukan
oleh leluhur, tidak ada yang tahu. Yang jelas, pohon itu tumbuh, dan desa itu
tumbuh di sekelilingnya, seperti anak yang berlindung di balik rok ibunya.
Sejak saat itu, pohon beringin ini dianggap sebagai pusat
spiritual desa, jantung yang memompa energi kehidupan ke seluruh penjuru.
Upacara-upacara adat selalu dilakukan di bawah pohon ini. Setiap kali ada warga
yang akan melangsungkan pernikahan, mereka akan datang ke pohon ini terlebih
dahulu, membawa sesaji sederhana berupa bunga, dupa, dan nasi kuning, memohon
restu agar pernikahan mereka langgeng. Setiap kali ada yang akan membangun
rumah baru, mereka akan meminta izin kepada "penunggu" pohon ini,
agar rumah yang dibangun tidak mengganggu keseimbangan. Setiap kali ada yang
sakit parah dan tidak kunjung sembuh, keluarga akan membawa sesaji ke pohon
ini, memohon kesembuhan.
Setiap malam Jumat Kliwon, ketika kalender Jawa menunjukkan
hari yang dianggap sakral, sesaji akan diletakkan di antara akar-akar pohon
ini. Sesaji itu beragam: ada yang membawa kemenyan, ada yang membawa bunga
setaman, ada yang membawa nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya, ada yang
hanya membawa segelas kopi hitam pekat dan sebatang rokok kretek, sesuai dengan
kemampuan masing-masing. Mereka yang meletakkan sesaji biasanya tidak
berlama-lama; mereka akan berdoa sebentar, lalu pergi, meninggalkan sesaji itu
untuk para penjaga yang konon masih setia menjaga desa ini.
Namun seiring berjalannya waktu, ketika generasi muda mulai
banyak yang merantau ke kota dan pengaruh budaya modern masuk ke desa,
ritual-ritual ini mulai ditinggalkan. Bukan karena sengaja dilupakan, tetapi
karena perubahan zaman yang tak terelakkan. Anak-anak muda yang pulang ke desa
saat Lebaran lebih sibuk dengan ponsel mereka daripada dengan ritual adat. Para
orang tua yang masih menjalankan ritual mulai berkurang satu per satu,
meninggal karena usia tua, dan tidak ada yang menggantikan mereka. Sesaji yang
dulu selalu ada setiap malam Jumat Kliwon kini hanya kadang-kadang, itupun dari
orang-orang tua yang masih setia menjalankan tradisi. Upacara-upacara adat yang
dulu selalu melibatkan pohon ini kini mulai dilupakan, digantikan oleh
upacara-upacara modern yang lebih praktis dan tidak membutuhkan waktu lama.
Dan ketika ritual-ritual itu ditinggalkan, sesuatu mulai
berubah. Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti apa yang berubah, tetapi
warga yang paling peka mulai merasakannya. Pohon beringin yang dulu terasa
teduh dan damai kini kadang terasa... berbeda. Ada getaran aneh yang terpancar
dari akar-akarnya, seperti ada sesuatu yang gelisah di kedalaman tanah.
Daun-daunnya yang dulu selalu hijau sepanjang tahun kini mulai menguning di
beberapa bagian, meskipun tidak ada musim kemarau yang berkepanjangan. Burung-burung
yang dulu ramai bersarang di kanopinya mulai berkurang jumlahnya, dan kelelawar
yang dulu terbang keluar dalam jumlah ribuan setiap senja kini hanya beberapa
ratus.
Para tetua desa, yang masih ingat cerita-cerita lama, mulai
khawatir. Mereka tahu bahwa pohon ini bukan sekadar pohon. Mereka tahu bahwa
pohon ini adalah pusat dari keseimbangan yang selama tiga ratus tahun terjaga.
Dan mereka tahu bahwa ketika keseimbangan itu terganggu, sesuatu yang tidak
diinginkan akan terjadi.
Mbah Karta, sebelum meninggal, pernah berkata kepada Mbah
Ratih: "Awan di langit mulai berubah bentuknya. Angin bertiup dari arah
yang salah. Air di sumur terasa lebih asin dari biasanya. Tanda-tanda itu tidak
bisa diabaikan, Ratih. Keseimbangan mulai terganggu. Dan jika tidak ada yang
memperbaikinya, jika tidak ada yang mengingatkan manusia bahwa mereka bukan
satu-satunya penghuni dunia ini, maka yang terjadi bukan hanya pohon ini yang
mati, tetapi desa ini yang akan hancur."
Mbah Ratih, yang kini menjadi satu-satunya tetua yang masih
hidup, terus melakukan ritual-ritual yang diajarkan oleh leluhur. Setiap malam
Jumat Kliwon, meskipun sendirian, ia akan datang ke pohon ini membawa sesaji
sederhana. Ia akan duduk di Kursi Kyai, menghadap ke timur, menunggu matahari
terbit. Ia akan membakar kemenyan, membiarkan asapnya naik ke atas, membawa
doa-doanya ke langit. Ia akan berdoa dalam bahasa Jawa kuno, bahasa yang hampir
tidak ada yang mengerti lagi di desa ini, memohon kepada para penjaga agar
tetap setia, memohon kepada leluhur agar memberi petunjuk, memohon kepada Tuhan
agar keseimbangan ini tidak sepenuhnya hancur.
Dan di tengah kekhawatiran dan doa-doa yang terus
dipanjatkan itu, seorang anak laki-laki dengan mata biru mulai sering datang ke
pohon ini. Seorang anak yang lahir di tengah badai aneh, yang tangisannya
bergema dari gunung ke gunung, yang bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat
oleh orang lain. Seorang anak yang, tanpa sepengetahuannya, adalah keturunan
dari garis penjaga, yang ditakdirkan untuk memperbaiki apa yang rusak, untuk
mengingatkan apa yang dilupakan, untuk menjaga apa yang hampir hancur.
Pohon beringin tua menunggunya. Para penjaga menunggunya.
Leluhur yang telah tiga ratus tahun menjaga desa ini menunggunya. Dan suatu
hari nanti, anak itu akan datang, dan pohon ini akan berbisik kepadanya, dan ia
akan mendengar.
Amat pertama kali melihat sosok di pohon beringin itu
ketika ia berusia sekitar tujuh tahun. Usia di mana anak-anak lain di desa
sibuk bermain layang-layang di sawah atau berkejaran di halaman sekolah,
sementara Amat lebih sering menghabiskan waktunya sendirian, membaca buku-buku tua
di rumah, atau duduk di beranda menatap ke kejauhan, melihat hal-hal yang tidak
terlihat oleh orang lain.
Saat itu adalah sore hari, ketika matahari sudah mulai
condong ke barat dan cahayanya berubah dari putih menyilaukan menjadi jingga
keemasan yang lembut. Amat baru saja pulang dari rumah Mbah Ratih, di mana ia
menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan cerita tentang leluhur dan sejarah
desa. Ibunya, Sumirah, berjalan di sampingnya, sesekali mengingatkan Amat untuk
melihat ke jalan karena banyak lubang di jalan setapak yang mereka lewati.
Mereka mengambil jalan memutar yang biasa mereka lewati,
melewati pasar yang sudah sepi, melewati masjid yang baru saja selesai adzan
Ashar, dan kemudian menyusuri jalan setapak yang membentang di sisi utara
lapangan desa. Di ujung jalan setapak itu, di mana lapangan berakhir dan
pemukiman mulai, pohon beringin tua berdiri megah, dengan kanopinya yang rimbun
menaungi area di sekitarnya dengan bayangan yang dalam dan teduh.
Saat mereka melewati pohon beringin, jaraknya hanya sekitar
sepuluh meter dari tepi jalan setapak. Biasanya, Amat hanya akan melirik
sekilas ke arah pohon itu, melihat bayangan-bayangan yang bergerak di antara
akar-akarnya, lalu melanjutkan perjalanan. Tapi sore itu, sesuatu berbeda. Ada
getaran aneh di udara, seperti sebelum badai datang, tetapi langit masih cerah
dan tidak ada tanda-tanda hujan. Ada keheningan yang tiba-tiba menyelimuti area
sekitar pohon itu, seolah-olah semua suara, suara jangkrik, suara burung, suara
angin—berhenti seketika, menunggu sesuatu.
Dan kemudian Amat melihatnya.
Di antara akar-akar besar yang menjalar seperti ular-ular
raksasa, di bawah lengkungan alami yang terbentuk dari akar yang muncul ke
permukaan lalu masuk kembali ke tanah, berdiri seorang sosok. Tinggi, sangat tinggi,
jauh lebih tinggi dari manusia biasa. Kurus, dengan bahu yang sedikit
membungkuk seperti orang tua yang sudah lama memikul beban berat. Mengenakan
pakaian serba hitam kuno, jenis pakaian yang tidak pernah Amat lihat di
buku-buku sejarah atau di film-film di televisi. Ada blangkon di kepalanya,
blangkon dengan bentuk yang berbeda dari blangkon yang biasa dikenakan oleh
para orang tua di desa. Dan di pinggangnya, terselip sebilah keris dengan
ukiran yang rumit, yang meskipun tidak jelas detailnya, Amat bisa merasakan
bahwa keris itu bukan keris biasa.
Wajah sosok itu tidak jelas. Tidak seperti bayangan yang
pernah ia lihat sebelumnya, yang selalu samar seperti gambar yang dihapus
setengahnya, kali ini Amat bisa melihat lebih banyak detail. Ia bisa melihat
kerutan-kerutan dalam di dahi dan pipi, kerutan yang terbentuk bukan hanya
karena usia tetapi juga karena pengalaman panjang yang tidak bisa diungkapkan
dengan kata-kata. Ia bisa melihat mata yang teduh tetapi tajam, mata yang sudah
melihat tiga ratus tahun sejarah desa ini, mata yang telah menyaksikan
kelahiran dan kematian, suka dan duka, damai dan konflik. Ia bisa melihat bibir
yang tipis yang tidak tersenyum tetapi juga tidak cemberut, bibir yang tampak
seperti siap berbicara tetapi memilih untuk diam.
Dan Amat bisa merasakan bahwa sosok itu sedang menatapnya.
Menatap langsung ke arahnya, seolah-olah tidak ada orang lain di dunia ini
selain mereka berdua.
Amat menghentikan langkahnya. Kakinya terasa berat, seperti
terpaku di tanah. Tangannya secara refleks menggenggam erat tangan ibunya yang
hangat, mencari perlindungan, mencari kepastian bahwa ia tidak sendirian di
hadapan makhluk yang tidak ia mengerti ini.
"Ibu, ada orang di bawah pohon beringin,"
bisiknya, suaranya bergetar sedikit. Ia tidak berani berbicara keras, takut
jika sosok itu mendengar, takut jika kata-katanya akan mengganggu keheningan
yang aneh itu.
Sumirah menoleh ke arah yang ditunjuk Amat. Ia mengerjapkan
matanya beberapa kali, menajamkan pandangannya, berusaha melihat apa yang
dilihat anaknya. Tapi ia tidak melihat apa-apa selain akar-akar pohon yang
gelap, ilalang yang tumbuh di sekitarnya, dan bayangan-bayangan yang terbentuk
dari daun-daun yang bergerak ditiup angin. Tidak ada sosok tinggi dengan
pakaian hitam, tidak ada blangkon, tidak ada keris. Hanya pohon beringin tua
yang sudah ia lihat ribuan kali sejak ia masih kecil.
"Nggak ada siapa-siapa, Nak," kata Sumirah dengan
lembut, meskipun suaranya sedikit tegang karena mulai khawatir melihat anaknya
yang tiba-tiba membeku di tempat. "Mungkin kamu capek, matamu ngantuk. Ayo
cepat pulang, nanti Ibu buatkan teh hangat. Kamu belum makan, kan? Ibu
gorengkan tempe kesukaanmu."
Tapi Amat tidak bergerak. Matanya masih terpaku pada sosok
itu. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya, seolah-olah ada magnet yang
menarik matanya ke arah pohon itu. Sosok itu masih berdiri di tempat yang sama,
tidak bergerak, tidak berubah posisi. Tapi Amat bisa merasakan bahwa tatapannya
menjadi lebih intens, seperti ada beban yang ingin disampaikan, seperti ada pesan
yang ingin disampaikan tetapi tidak tahu bagaimana caranya.
Dan kemudian, sosok itu bergerak.
Perlahan, sangat perlahan, seperti gerakan dalam mimpi yang
terasa lambat meskipun sebenarnya cepat, sosok itu mengangkat tangan kanannya.
Tangannya panjang dan kurus, dengan jari-jari yang lentik seperti jari-jari
penari. Telapak tangannya menghadap ke Amat, terbuka, tidak mengepal, tidak
menunjuk, tidak memberi isyarat yang mengancam. Dan kemudian, dengan gerakan
yang lembut, ia melambai. Seperti orang yang memanggil teman lama yang sudah
lama tidak bertemu. Seperti kakek yang memanggil cucunya untuk mendekat.
Seperti seseorang yang sudah menunggu sangat lama, dan akhirnya apa yang
ditunggu datang.
Amat menarik napas dalam-dalam. Hampir semua nalurinya
berteriak untuk lari sejauh mungkin, menarik tangan ibunya, berlari tanpa
melihat ke belakang, pulang ke rumah, bersembunyi di bawah selimut, dan tidak
pernah kembali ke tempat ini lagi. Tapi ada sesuatu dalam diri Amat, sesuatu
yang lebih dalam dari naluri bertahan hidup, sesuatu yang tidak bisa ia
jelaskan dengan kata-kata, yang membuatnya tetap berdiri di tempat. Ia merasa
bahwa sosok itu bukanlah ancaman. Ia merasa bahwa sosok itu tidak ingin
mencelakakannya. Ia merasa bahwa sosok itu hanya ingin... dilihat. Diakui
keberadaannya. Dihormati. Dikenang. Setelah sekian lama dilupakan oleh
manusia-manusia yang ia jaga, akhirnya ada seorang anak yang masih bisa
melihatnya, dan itu sudah cukup.
"Amat!" suara Sumirah agak meninggi, mulai panik.
Tangannya yang menggenggam tangan Amat menarik lebih keras. "Ayo, Nak!
Jangan berdiri di situ saja! Ada apa?"
Amat akhirnya mengalihkan pandangannya dari sosok itu. Ia
menatap wajah ibunya yang mulai tampak khawatir, dengan kerutan di dahi yang
biasanya tidak ada. Ia ingin berkata, "Ibu, aku melihat sesuatu. Aku
melihat seseorang di bawah pohon itu. Dia tinggi, kurus, berpakaian hitam, dan
dia memanggilku." Tapi ia tahu ibunya tidak akan melihat apa yang ia
lihat. Ia tahu ibunya hanya akan semakin khawatir. Ia tahu ibunya mungkin akan
melarangnya mendekati pohon itu lagi, dan ia tidak ingin itu terjadi. Karena
ada sesuatu dalam dirinya yang ingin kembali, yang ingin tahu lebih banyak,
yang ingin memahami siapa sosok itu dan apa yang ia inginkan.
"Nggak apa-apa, Bu," katanya akhirnya, suaranya
terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. "Aku cuma... lihat ada kucing
lewat. Kucing hitam. Tadi di bawah pohon. Sekarang sudah lari."
Sumirah menghela napas lega. "Kucing hitam? Astaga,
Nak, kamu membuat Ibu khawatir. Ayo, cepat pulang. Nanti Ibu buatkan teh hangat
dan goreng tempe."
Amat membiarkan ibunya menarik tangannya menjauh dari pohon
beringin. Sebelum benar-benar berbalik, ia sempat melirik sekali lagi ke arah
pohon itu. Sosok itu masih berdiri di tempat yang sama, di antara akar-akar
besar yang menjalar. Tangannya masih terangkat, masih memberi isyarat untuk
mendekat. Dan di wajahnya yang samar-samar itu, Amat melihat sesuatu yang tidak
pernah ia duga: senyum. Bukan senyum yang menakutkan, bukan senyum yang aneh,
tetapi senyum yang hangat, senyum yang penuh pengertian, senyum yang berkata,
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu belum siap sekarang. Tapi suatu hari nanti, kamu
akan kembali. Dan aku akan menunggumu."
Sepanjang perjalanan pulang, Amat tidak banyak bicara.
Ibunya sesekali melontarkan pertanyaan tentang kegiatan di rumah Mbah Ratih,
tentang apa yang ia pelajari, tentang apakah ia sudah makan atau belum. Amat
menjawab seperlunya, dengan suara yang datar, pikirannya masih penuh dengan
sosok di bawah pohon beringin itu. Ia merenungkan apa yang baru saja
dilihatnya. Ia sudah sering mendengar cerita tentang penunggu pohon beringin,
tentang Kyai Beringin yang konon menjadi penjaga utama desa ini. Mbah Ratih
sering menceritakannya, Mbah Kartijo juga, bahkan Pak Iwan kadang-kadang
menyebutnya dalam rapat desa ketika membahas tentang pelestarian adat dan
tradisi. Tapi Amat tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan
melihatnya secara langsung, berdiri di hadapannya, menatap matanya, memberi
isyarat untuk mendekat.
Malam itu, Amat sulit tidur. Ia berbaring di tempat
tidurnya yang sempit, di samping ibunya yang sudah terlelap dengan napas yang
teratur dan tenang. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap langit-langit
anyaman bambu yang samar-samar terlihat karena cahaya bulan yang masuk melalui
celah-celah dinding. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat sosok itu lagi.
Bukan dengan rasa takut, tetapi dengan rasa penasaran yang mendalam, rasa ingin
tahu yang menggerogoti pikirannya seperti air yang terus menetes di batu.
Siapa dia? Apakah benar dia Kyai Beringin, penjaga yang
ditugaskan oleh leluhur pertama tiga ratus tahun yang lalu? Apa yang ia
inginkan? Mengapa ia memanggil Amat? Apakah karena Amat bisa melihatnya,
sementara orang lain tidak? Apakah karena Amat adalah keturunan dari garis
penjaga, seperti yang dikatakan Mbah Ratih? Dan apa yang akan terjadi jika ia
mendekat? Apakah ia akan mendapatkan jawaban, atau justru lebih banyak
pertanyaan?
Di luar rumah, angin malam bertiup pelan, membawa
suara-suara dari kejauhan: suara jangkrik yang tak pernah lelah, suara katak
dari sawah yang bergemuruh, suara ayam-ayam yang sesekali berkokok tanpa sebab
yang jelas. Dan di antara semua suara itu, Amat merasa mendengar sesuatu yang
lain: suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar, seperti bisikan yang
datang dari jarak yang sangat jauh. Ia tidak bisa mendengar kata-katanya,
tetapi ia bisa merasakan maknanya: "Kembalilah. Aku akan menunggumu."
Beberapa hari kemudian, ketika ibunya pergi ke pasar untuk
berbelanja keperluan dapur dan mengatakan bahwa ia akan pulang agak siang
karena harus bertemu dengan Bu Lulu di kantor desa untuk mengurus sesuatu, Amat
melihat kesempatan. Ia pamit kepada ibunya bahwa ia akan pergi ke rumah Raka
untuk belajar bersama, seperti yang sering ia lakukan. Sumirah tidak mencurigai
apa pun. Ia hanya berpesan agar Amat berhati-hati di jalan dan pulang sebelum
magrib.
Tapi Amat tidak pergi ke rumah Raka. Ia mengambil jalan
yang berbeda. Ia berjalan melewati pasar yang pagi itu masih ramai dengan
pedagang dan pembeli, melewati masjid yang sedang sibuk dengan persiapan
pengajian ibu-ibu, melewati lapangan desa yang sepi karena anak-anak masih
sekolah. Dan kemudian ia sampai di pohon beringin tua.
Ia datang sendirian. Tidak ada ibunya yang menarik
tangannya, tidak ada Raka yang bercerita lucu, tidak ada Camelia yang mencatat
dengan rapi. Hanya Amat dan pohon beringin tua, di siang hari ketika matahari
sedang terik-teriknya, ketika kebanyakan orang sedang beristirahat di dalam
rumah atau bekerja di sawah, ketika desa ini terasa seperti tempat yang sunyi
dan sepi.
Amat berdiri di tepi jalan setapak, sekitar sepuluh meter
dari pohon itu. Ia ragu. Kakinya terasa berat, seperti tertanam di tanah.
Hampir semua nalurinya masih berteriak untuk berbalik, pulang, dan melupakan
semua ini. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat dari naluri itu, sesuatu yang
mendorongnya maju, sesuatu yang berkata bahwa ia harus tahu, bahwa ia harus
mengerti.
Ia mengambil langkah pertama. Kemudian langkah kedua.
Kemudian langkah ketiga. Tanah di bawah pohon itu terasa berbeda dari tanah di
sekitarnya: lebih lembut, lebih basah, seperti ada air yang mengalir di bawah
permukaan. Udara di bawah kanopi pohon itu terasa lebih dingin, beberapa
derajat lebih rendah dari udara di luar, seperti memasuki ruangan ber-AC yang
dingin. Dan ada bau yang khas: bau tanah basah, bau lumut, bau daun-daun yang
berguguran dan membusuk, tetapi juga bau sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak
bisa ia identifikasi, seperti bau kemenyan yang sudah terbakar lama, atau bau bunga
yang sudah layu tetapi masih menyisakan aromanya.
Ia berjalan perlahan, melewati akar-akar besar yang
menjalar di tanah, menuju ke area di mana ia melihat sosok itu beberapa hari
yang lalu. Ia tidak tahu persis di mana ia harus berdiri, tetapi ia merasa
bahwa tempat yang tepat akan muncul dengan sendirinya.
Ia berhenti di dekat Kursi Kyai, batu besar yang konon
digunakan oleh leluhur pertama untuk duduk ketika melakukan ritual. Batu itu
terasa hangat ketika ia meletakkan tangannya di atasnya, meskipun tidak ada
sinar matahari yang menyentuhnya karena tertutup kanopi pohon yang lebat.
Ia duduk. Di atas batu yang hangat itu, di bawah pohon
beringin yang rimbun, di tengah desa yang sunyi di siang hari. Ia menunggu. Ia
tidak tahu apa yang ia tunggu, tetapi ia merasa perlu berada di sana, merasa
bahwa jika ia cukup sabar, sesuatu akan terjadi.
Tidak butuh waktu lama.
Begitu matanya terbiasa dengan permainan cahaya dan
bayangan di bawah pohon itu, ia mulai melihat gerakan-gerakan kecil di pinggir
penglihatannya. Tidak seperti bayangan-bayangan yang biasa ia lihat, yang
selalu samar dan sulit ditangkap, kali ini gerakan-gerakan itu lebih jelas,
lebih nyata. Dan kemudian, dari balik salah satu akar besar yang menjalar,
sosok itu muncul.
Kali ini sosok itu berdiri lebih dekat, hanya sekitar lima
meter dari Amat. Wajahnya masih samar, tetapi Amat bisa melihat lebih jelas
daripada sebelumnya. Wajah tua dengan kerutan-kerutan dalam yang terbentuk
seperti peta sungai yang mengering. Kulit yang kecoklatan, mengendur di pipi
dan dagu, seperti kulit orang yang sudah sangat tua tetapi masih tegap. Mata
yang teduh namun tajam, mata yang sudah melihat tiga ratus tahun sejarah, yang
telah menyaksikan ribuan manusia lahir dan mati, yang telah melihat desa ini
berubah dari hamparan hutan dan ladang menjadi pemukiman yang ramai. Hidung
yang mancung, bibir yang tipis, dan di dagu, jenggot putih yang panjang,
menjuntai hingga ke dada, seperti jenggot para petapa dalam cerita-cerita
wayang.
"Kamu bisa melihatku," kata sosok itu. Suaranya
tidak terdengar dengan telinga, tetapi langsung masuk ke dalam pikiran Amat,
seperti air yang meresap ke dalam tanah. Dalam, berat, bergema seperti suara
dari dalam gua yang dalam, seperti suara dari dasar sumur tua. Tapi di balik
beratnya suara itu, ada kelembutan, ada kehangatan, ada sesuatu yang membuat
Amat merasa aman meskipun ia sedang sendirian di bawah pohon yang dianggap
angker oleh sebagian besar penduduk desa.
Amat mengangguk. Mulutnya terasa kering, lidahnya terasa
berat, tetapi ia berhasil mengucapkan satu kata. "Iya."
"Sudah lama tidak ada yang bisa melihatku,"
lanjut sosok itu, dan Amat bisa merasakan nada rindu dalam suaranya, rindu yang
sudah bertahun-tahun, mungkin puluhan tahun, mungkin ratusan tahun.
"Sejak... ah, aku lupa sudah berapa lama. Puluhan tahun, mungkin. Sejak
manusia mulai sibuk dengan urusan mereka sendiri, sejak mereka mulai melupakan
leluhur, sejak mereka mulai berpikir bahwa hanya mereka yang ada di dunia ini.
Mereka hanya melihat dengan mata, tidak dengan hati. Mereka hanya mendengar
dengan telinga, tidak dengan jiwa. Mereka lupa bahwa ada yang menjaga mereka,
ada yang melindungi mereka, ada yang mengorbankan segalanya untuk mereka."
Amat mendengarkan dengan saksama. Ia tidak sepenuhnya
mengerti apa yang dimaksud oleh sosok itu, tetapi ia bisa merasakan kesedihan
dalam suaranya, kesedihan yang begitu dalam sehingga hampir membekas di udara.
"Siapa... siapa kamu?" tanyanya, suaranya parau, seperti suara orang
yang baru bangun tidur.
"Aku adalah penjaga yang ditugaskan di sini. Aku yang
menjaga desa ini sejak leluhurmu pertama kali menancapkan kakinya di tanah ini,
sejak dahan kecil yang ia tanam tumbuh menjadi pohon besar ini, sejak desa ini
masih berupa beberapa gubuk di tengah hutan. Aku adalah Kyai Beringin. Namaku
tidak penting. Yang penting adalah tugas yang aku emban: menjaga keseimbangan,
menjaga desa ini, menjaga keturunan leluhur yang menugaskanku di sini."
"Kenapa aku bisa melihatmu?" tanya Amat lagi. Ini
adalah pertanyaan yang sudah mengganggu pikirannya sejak hari pertama ia
melihat sosok ini. Mengapa ia? Mengapa bukan orang lain? Mengapa seorang anak
laki-laki berusia tujuh tahun dengan mata biru yang aneh?
Kyai Beringin tersenyum. Senyum yang hangat, senyum yang
membuat kerutan-kerutan di wajahnya semakin dalam, senyum yang menunjukkan
bahwa ia sudah lama menantikan pertanyaan ini. "Karena darahmu, Nak.
Karena kau adalah keturunan dari garis yang sama dengan orang yang menugaskanku
di sini tiga ratus tahun yang lalu. Karena kau adalah penjaga yang akan datang.
Karena kau adalah satu-satunya yang masih bisa melihat, yang masih ingat, yang
masih mau mendengar."
Amat teringat pada cerita Mbah Ratih tentang keturunan
penjaga, tentang tanggung jawab yang mungkin suatu hari akan jatuh ke
pundaknya. Ia teringat pada kata-kata Mbah Ratih bahwa waktunya belum tiba,
bahwa ia masih harus belajar, bahwa ia masih harus menikmati masa kecilnya.
Tapi di hadapan Kyai Beringin, dengan suara yang langsung masuk ke dalam
pikirannya, dengan mata yang sudah melihat tiga ratus tahun sejarah, semua
kata-kata itu terasa begitu jauh, begitu tidak nyata.
"Aku... aku belum siap," katanya, suaranya
bergetar. Ia merasa kecil, sangat kecil, di hadapan sosok yang begitu agung,
begitu tua, begitu penuh dengan kebijaksanaan yang tidak bisa ia pahami.
Kyai Beringin mengangguk perlahan. "Belum. Kau masih
anak-anak. Masih banyak yang harus kau pelajari. Masih banyak yang harus kau
alami. Masih banyak yang harus kau rasakan. Tapi suatu hari nanti, kau akan
kembali ke sini. Dan ketika itu terjadi, kau tidak akan sendiri. Kau akan
memiliki teman-teman yang akan menemanimu. Kau akan memiliki pengetahuan yang
akan membantumu. Kau akan memiliki keberanian yang akan membuatmu kuat."
"Dan apa yang harus aku lakukan ketika aku
kembali?"
Kyai Beringin tidak menjawab segera. Ia menatap Amat dengan
tatapan yang dalam, tatapan yang seolah-olah menembus kulit dan daging,
menembus tulang dan sumsum, menembus pikiran dan jiwa, sampai ke inti dari
siapa Amat sebenarnya. "Kau akan tahu ketika waktunya tiba. Tidak perlu
terburu-buru. Waktu masih panjang. Nikmati masa kecilmu, Nak. Belajar yang
rajin. Bermain dengan teman-temanmu. Tertawa sebanyak mungkin. Karena tawa
adalah senjata yang paling ampuh. Tawa adalah cahaya yang paling terang. Tawa
adalah doa yang paling didengar oleh leluhur."
Dengan kata-kata itu, Kyai Beringin perlahan-lahan mulai
memudar. Seperti kabut yang terkena sinar matahari, seperti mimpi yang sirna
ketika bangun tidur, seperti bayangan yang menghilang ketika lampu dinyalakan.
Wajahnya yang tadinya samar-samar menjadi semakin samar, semakin transparan,
semakin tidak berbentuk. Dalam sekejap, ia sudah tidak ada lagi. Yang tersisa
hanyalah akar-akar besar yang menjalar, ilalang yang tumbuh di sekitarnya, dan
seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang duduk sendirian di atas batu
besar, dengan pikiran yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum
terjawab, dengan perasaan yang campur aduk antara takut dan kagum, antara
bingung dan paham, antara kecil dan besar.
Amat duduk di Kursi Kyai cukup lama setelah Kyai Beringin
menghilang. Matahari bergerak perlahan di atas kanopi pohon, mengubah pola
cahaya yang jatuh di tanah, menciptakan titik-titik cahaya baru yang
bergerak-gerak mengikuti hembusan angin. Beberapa ekor burung tekukur datang
dan pergi, membuat sarang di dahan-dahan yang tinggi. Seekor tupai melompat
dari satu akar ke akar lain, sesekali berhenti untuk menatap Amat dengan rasa
ingin tahu sebelum melanjutkan perjalanannya.
Akhirnya, ketika bayang-bayang mulai memanjang dan matahari
mulai condong ke barat, Amat berdiri. Lututnya terasa sedikit kaku karena
terlalu lama duduk, tetapi ada kehangatan aneh yang menyebar di dadanya,
kehangatan yang membuatnya merasa bahwa apa yang baru saja terjadi bukanlah
mimpi, bukan khayalan, bukan halusinasi anak kecil yang terlalu banyak
mendengar cerita. Itu nyata. Kyai Beringin nyata. Dan pesan yang ia sampaikan
nyata.
Ia berjalan keluar dari bawah kanopi pohon beringin,
melewati akar-akar besar yang menjalar, melewati ilalang yang mulai mengering
karena musim kemarau, kembali ke jalan setapak yang membentang di sisi lapangan
desa. Di sana, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Pohon beringin tua
berdiri megah di bawah sinar matahari sore, dengan kanopinya yang rimbun,
dengan batangnya yang besar, dengan akar-akarnya yang menjalar. Dari luar,
tidak ada yang istimewa. Hanya pohon beringin tua seperti ribuan pohon beringin
tua di desa-desa lain di Jawa. Tapi Amat tahu sekarang, bahwa di balik
penampilan luarnya yang biasa, ada sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang
jauh lebih tua, sesuatu yang jauh lebih penting.
"Aku akan kembali," bisiknya, setengah kepada
dirinya sendiri, setengah kepada pohon itu, setengah kepada sosok yang mungkin
masih ada di sana, menunggu, menjaga. "Aku tidak tahu kapan, tapi aku akan
kembali. Dan ketika aku kembali, aku akan siap."
Ia berbalik dan mulai berjalan pulang. Di kejauhan, dari
arah masjid desa, suara adzan Ashar mulai berkumandang, mengalun lembut di
udara sore, membawa ketenangan yang aneh tetapi menenangkan. Amat mempercepat
langkahnya. Ibunya pasti sudah pulang dari pasar, dan akan marah jika ia tidak
ada di rumah.
Tapi sepanjang perjalanan pulang, di dalam pikirannya, Kyai
Beringin masih ada. Kata-katanya masih bergema: "Kau akan kembali ke sini.
Dan ketika itu terjadi, kau tidak akan sendiri."
Amat tersenyum. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa
depan, tidak tahu apa yang ditakdirkan untuknya, tidak tahu bagaimana rasanya
menjadi penjaga desa seperti yang dikatakan Mbah Ratih dan Kyai Beringin. Tapi
ia tahu satu hal: ia memiliki Raka dan Camelia. Ia memiliki ibunya. Ia memiliki
Mbah Ratih. Ia tidak sendirian. Dan untuk seorang anak laki-laki berusia tujuh
tahun yang baru saja bertemu dengan penjaga berusia tiga ratus tahun, itu sudah
cukup.
Setelah pertemuan pertamanya dengan Kyai Beringin, Amat
mulai sering datang ke pohon beringin tua. Tidak setiap hari, tetapi cukup
sering sehingga ia mulai hafal setiap akar yang menjalar, setiap batu yang
tersusun, setiap celah di mana cahaya matahari masuk di antara dedaunan. Ia
datang di pagi hari ketika kabut masih tipis dan burung-burung baru mulai
berkicau, di siang hari ketika matahari terik dan pohon ini menawarkan
keteduhan yang paling nyaman, di sore hari ketika cahaya jingga membuat
segalanya terlihat seperti lukisan, kadang-kadang bahkan di malam hari ketika
bulan purnama bersinar terang dan ia berani meminta izin ibunya untuk pergi ke
rumah Mbah Ratih, tetapi kemudian mampir ke pohon ini terlebih dahulu.
Setiap kali ia datang, Kyai Beringin selalu ada. Tidak
selalu muncul, tidak selalu berbicara, tetapi Amat bisa merasakan kehadirannya.
Kadang-kadang ia hanya duduk di Kursi Kyai, merasakan kehangatan batu itu,
mendengarkan suara angin yang berdesir di antara dedaunan, dan ia tahu bahwa
Kyai Beringin ada di sana, di balik salah satu akar besar, menatapnya dengan
mata yang teduh, menjaga.
Kadang-kadang Kyai Beringin muncul dan berbicara. Ia
bercerita tentang banyak hal: tentang sejarah desa ini, tentang leluhur yang
pertama datang, tentang bagaimana mereka membuka lahan dan membangun pemukiman.
Ia bercerita tentang hutan selatan yang dulu lebat dan angker, tentang
sungai-sungai yang dulu besar dan dalam, tentang mata air yang tidak pernah
kering meskipun musim kemarau panjang. Ia bercerita tentang makhluk-makhluk
yang tinggal di dunia lain, tentang roh-roh yang menjaga desa ini, tentang
keseimbangan yang harus selalu dijaga.
Kyai Beringin juga mengajari Amat banyak hal. Ia mengajari
Amat tentang tanaman-tanaman obat yang tumbuh di hutan, tentang khasiat daun
ini dan akar itu. Ia mengajari Amat tentang arah angin dan artinya, tentang
cara membaca tanda-tanda alam sebelum badai datang, tentang cara mengetahui
apakah musim kemarau akan panjang atau pendek. Ia mengajari Amat tentang
mantra-mantra sederhana untuk meminta izin ketika masuk ke hutan, untuk memohon
perlindungan ketika berada di tempat yang dianggap keramat, untuk mengucap
syukur ketika mendapatkan hasil panen yang baik.
"Kau harus tahu, Nak," kata Kyai Beringin suatu
sore, ketika Amat duduk di Kursi Kyai dan ia berdiri di hadapannya, "bahwa
menjadi penjaga bukan berarti kau yang paling kuat. Menjadi penjaga berarti kau
yang paling bertanggung jawab. Kau tidak harus melawan makhluk-makhluk gelap
dengan kekuatan fisik. Kau tidak harus menakuti mereka dengan ilmu-ilmu yang
hebat. Menjadi penjaga berarti kau yang mengingatkan manusia bahwa mereka tidak
sendirian. Bahwa ada yang menjaga mereka. Bahwa mereka harus menjaga
keseimbangan."
"Dan bagaimana caranya mengingatkan mereka?"
tanya Amat. "Mereka tidak bisa melihatmu seperti aku. Mereka tidak percaya
pada hal-hal seperti ini."
Kyai Beringin tersenyum. "Kau tidak perlu mengingatkan
mereka dengan kata-kata, Nak. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Kau cukup
menjadi anak yang baik, yang menghormati orang tua, yang menyayangi teman, yang
peduli pada lingkungan. Ketika mereka melihatmu, mereka akan bertanya: mengapa
anak ini berbeda? Mengapa ia begitu tenang? Mengapa ia begitu peduli? Dan dari
pertanyaan-pertanyaan itu, perlahan-lahan, mereka akan mulai ingat."
Amat tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ia mengangguk. Ia
akan mencoba. Ia akan menjadi dirinya sendiri. Ia akan menjadi anak yang baik,
yang menghormati orang tua, yang menyayangi teman, yang peduli pada lingkungan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, orang-orang akan mulai ingat.
Suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang dan Amat
datang ke pohon beringin dengan membawa segelas kopi hitam pekat dan sebatang
rokok kretek yang ia minta dari Raka, "Untuk sesaji," katanya kepada
Raka yang kebingungan tetapi tetap memberikannya karena ia adalah teman baik, Kyai
Beringin muncul dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya. Ada kegelisahan di
matanya, ada kekhawatiran di kerutan-kerutan di dahinya.
"Ada yang tidak beres, Nak," katanya, suaranya
lebih berat dari biasanya. "Aku merasakannya. Di selatan, di hutan
larangan, ada yang bergerak. Segel yang dulu dibuat oleh leluhur mulai
retak."
Amat merasakan dadanya berdebar lebih cepat. "Apa yang
harus aku lakukan?"
"Belum sekarang, Nak. Masih ada waktu. Tapi kau harus
bersiap. Belajar lebih giat. Tanyakan pada Mbah Ratih tentang ritual-ritual
yang dulu dilakukan. Bacalah buku-buku tua yang ada di rumahmu. Dan yang paling
penting, jangan pernah sendirian. Bersama teman-temanmu, kau akan lebih
kuat."
Amat mengangguk. Ia akan belajar lebih giat. Ia akan
bertanya pada Mbah Ratih. Ia akan membaca buku-buku tua. Dan ia tidak akan
sendirian. Ia memiliki Raka dan Camelia.
"Kyai," katanya sebelum pulang, "aku akan
kembali. Aku tidak tahu kapan, tapi aku akan kembali. Dan ketika aku kembali,
aku akan membawa teman-temanku. Mereka tidak bisa melihatmu, tapi mereka bisa
mendengarmu. Mereka bisa merasakan kehadiranmu. Mereka akan membantu."
Kyai Beringin tersenyum. Senyum yang hangat, senyum yang
penuh harapan, senyum yang sudah lama tidak terlihat di wajahnya. "Aku
akan menunggumu, Nak. Aku sudah menunggu tiga ratus tahun. Aku bisa menunggu
sedikit lebih lama lagi."
Amat berjalan pulang di bawah sinar bulan purnama. Di
belakangnya, pohon beringin tua berdiri megah, dengan kanopinya yang rimbun,
dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan penjaganya yang setia menunggu. Dan
di dadanya, ada tekad yang baru tumbuh. Ia akan belajar. Ia akan mempersiapkan
diri. Ia akan menjadi penjaga yang baik, seperti yang diharapkan oleh leluhur,
seperti yang diharapkan oleh Kyai Beringin, seperti yang diharapkan oleh desa
ini.
Ia masih kecil. Masih banyak yang harus ia pelajari. Masih
banyak yang harus ia alami. Tapi ia tidak takut. Karena ia tidak sendirian. Ia
memiliki ibu yang menyayanginya, teman-teman yang mendukungnya, Mbah Ratih yang
membimbingnya, dan Kyai Beringin yang menjaganya.
Dan suatu hari nanti, ketika waktunya tiba, ia akan siap.
BAB 7: Sekolah dan Kekacauan Kecil
Sekolah Dasar Negeri 01 Awan Biru adalah satu-satunya
sekolah dasar di desa itu. Bangunannya tidak megah, tidak juga baru. Tiga ruang
kelas dari tembok bata yang dicat putih berdiri berjajar menghadap ke utara,
dengan cat yang sudah mulai mengelupas di sana-sini, memperlihatkan warna
abu-abu bata di bawahnya. Atapnya dari seng gelombang yang jika hujan turun
akan berbunyi keras, memekakkan telinga, membuat guru harus berteriak untuk
didengar oleh murid-muridnya. Di musim kemarau, seng itu akan memuai karena
panas, mengeluarkan bunyi krek-krek-krek yang aneh, seperti
orang tua yang sedang menggerutu sendirian.
Lantai ruang kelas dari semen yang diplester kasar, dengan
retakan-retakan yang membentuk pola-pola tidak beraturan. Di beberapa tempat,
retakan itu cukup lebar sehingga pensil atau penghapus kecil bisa masuk ke
dalamnya, dan murid-murid sering kehilangan alat tulis karena terjatuh ke dalam
celah-celah itu. Jendela-jendela dari kayu dengan kaca-kaca kecil yang beberapa
di antaranya sudah retak atau bahkan hilang, diganti dengan papan triplek tipis
yang dipaku asal. Pintunya dari kayu jati tua yang sudah berdecit setiap kali
dibuka atau ditutup, suara yang sudah menjadi ciri khas sekolah ini, yang akan
langsung dikenali oleh siapa saja yang pernah bersekolah di sana, bahkan
setelah bertahun-tahun meninggalkannya.
Di sisi selatan bangunan utama, terdapat satu ruang guru
yang lebih kecil dari ruang kelas, dengan meja-meja kayu yang disusun berjajar
untuk para guru yang jumlahnya tidak pernah lebih dari tujuh orang. Di dinding
ruang guru, tergantung papan absen, jadwal pelajaran yang sudah menguning, dan
foto-foto para kepala sekolah dari masa ke masa, dari yang pertama hingga yang
sekarang. Foto-foto itu hitam putih di awal, kemudian berwarna tetapi pudar,
menunjukkan perjalanan waktu yang tidak bisa dihentikan oleh siapa pun.
Di sebelah ruang guru, terdapat perpustakaan kecil yang
koleksi bukunya lebih banyak dihitung daripada dibaca. Rak-rak kayu sederhana
berisi buku-buku pelajaran yang sudah ketinggalan zaman, beberapa buku cerita
anak yang sampulnya sudah robek, dan ensiklopedia-ensiklopedia tua yang
disumbangkan oleh donatur dari kota. Sebagian besar murid lebih memilih bermain
di lapangan daripada membaca di perpustakaan, sehingga perpustakaan itu sering
kosong, hanya sesekali dikunjungi oleh Camelia yang setia, atau Amat yang kadang-kadang
datang untuk mencari buku-buku tentang ilmu pengetahuan alam atau sejarah.
Halaman sekolah cukup luas, ditanami pohon mangga dan pohon
rambutan yang sudah berusia puluhan tahun. Pohon-pohon itu memberikan keteduhan
di jam-jam istirahat, ketika murid-murid berhamburan keluar kelas untuk bermain
kejar-kejaran, bermain kelereng, atau sekadar duduk-duduk di bawah pohon sambil
makan bekal yang dibawa dari rumah. Di sudut halaman, ada satu pohon jambu biji
yang selalu menjadi rebutan pada musim buahnya, meskipun buahnya kecil-kecil
dan banyak ulatnya. Tidak ada yang tahu mengapa pohon itu selalu menjadi
rebutan; mungkin karena rasanya yang manis, mungkin karena kesempatan untuk
memanjat pohon, mungkin hanya karena itu adalah satu-satunya pohon jambu biji
di halaman sekolah.
Di sinilah Amat, Raka, dan Camelia menghabiskan sebagian
besar masa kecil mereka, dari usia tujuh hingga dua belas tahun. Di sinilah
mereka belajar membaca, menulis, berhitung, dan berbagai mata pelajaran lain
yang ditentukan oleh kurikulum nasional. Tapi lebih dari itu, di sinilah mereka
belajar tentang persahabatan, tentang kerja sama, tentang saling menerima
kekurangan dan kelebihan masing-masing. Di sinilah mereka membangun fondasi
yang akan menopang mereka di masa-masa sulit yang akan datang, meskipun mereka
tidak menyadarinya saat itu.
Amat, sejak hari pertama masuk sekolah, sudah menjadi pusat
perhatian—bukan karena ia ingin menjadi pusat perhatian, tetapi karena matanya
yang biru. Warna biru yang tidak biasa itu menjadi bahan bisik-bisik di antara
murid-murid dan bahkan di antara orang tua murid. Beberapa anak menghindarinya,
takut pada hal yang tidak mereka mengerti. Beberapa anak mengejeknya,
memanggilnya "Amat Mata Hantu" atau "Amat Mata Kucing".
Namun ada juga yang penasaran, ingin tahu lebih banyak tentang anak laki-laki
pendiam dengan mata biru yang aneh itu.
Amat tidak pernah membalas ejekan-ejekan itu. Ia hanya
diam, duduk di bangkunya, membaca buku, atau menatap ke luar jendela ke arah
pohon beringin tua yang terlihat dari kejauhan. Ia sudah terbiasa. Sejak kecil,
ia sudah belajar bahwa tidak semua orang akan menerimanya, dan itu tidak
masalah. Yang penting adalah orang-orang yang benar-benar peduli padanya:
ibunya, Mbah Ratih, dan kemudian Raka dan Camelia.
Guru-guru di sekolah ini, meskipun tidak sepenuhnya
mengerti tentang keunikan Amat, memperlakukannya dengan baik. Mereka melihat
bahwa Amat adalah anak yang pintar, meskipun pendiam, dan mereka menghargainya.
Pak Dedi, guru kelas mereka yang bertubuh kurus dengan kumis tipis dan kacamata
bulat bergagang hitam, sering terkejut dengan jawaban-jawaban Amat yang
kadang-kadang di luar ekspektasi.
Suatu hari, ketika pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tentang
gerhana matahari, Pak Dedi menjelaskan dengan sederhana tentang posisi matahari,
bulan, dan bumi yang berada dalam satu garis lurus. Ia menunjukkan
gambar-gambar di buku paket yang sudah usang, dengan diagram yang agak sulit
dipahami oleh anak-anak kelas empat.
"Amat, apakah kamu mengerti penjelasan Bapak?"
tanya Pak Dedi, melihat Amat yang duduk diam dengan tatapan ke luar jendela.
Amat menoleh, matanya yang biru menatap Pak Dedi dengan
tenang. "Mengerti, Pak."
"Coba jelaskan dengan kata-katamu sendiri."
Amat berdiri. Ia tidak langsung menjawab, tetapi mengambil
kapur di papan tulis dan mulai menggambar. Ia menggambar lingkaran besar di
tengah, lingkaran yang lebih kecil di sekelilingnya, dan lingkaran yang sangat
kecil di antara keduanya. Murid-murid lain memperhatikan dengan rasa ingin
tahu.
"Gerhana matahari terjadi ketika bulan berada di
antara matahari dan bumi," mulai Amat, sambil menunjuk gambar-gambarnya.
"Tapi dalam kepercayaan Jawa, Pak, gerhana matahari disebut 'Grahana
Surya'. Konon, gerhana terjadi karena Buto, raksasa yang sangat besar, mencoba
memakan matahari. Untuk mengusir Buto, orang-orang Jawa zaman dulu akan keluar
rumah sambil memukul kentongan, membunyikan segala macam benda,
berteriak-teriak. Mereka percaya bahwa suara bising akan membuat Buto ketakutan
dan memuntahkan matahari kembali."
Pak Dedi mengangkat alisnya, terkejut. Ia tidak menyangka
seorang anak kelas empat akan memiliki pengetahuan seperti itu. "Itu...
mitologi, Amat. Mitologi Jawa. Tapi dalam pelajaran IPA, kita belajar tentang
penjelasan ilmiahnya."
"Iya, Pak, saya tahu. Tapi menurut saya, mitologi itu
juga penting. Mitologi adalah cara orang zaman dulu memahami alam. Mungkin
mereka tidak punya teleskop atau ilmu fisika seperti sekarang, tapi mereka
punya cara mereka sendiri untuk mengerti dunia. Dan cara itu tidak kalah
indahnya."
Pak Dedi terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Amat.
"Kamu membaca buku apa di rumah, Amat?"
"Buku-buku lama peninggalan nenek, Pak. Ada yang
tentang astronomi Jawa, tentang primbon, tentang ramalan-ramalan. Juga
buku-buku tentang sejarah desa ini."
Pak Dedi hanya mengangguk, tidak terlalu memikirkan jawaban
itu. Ia sudah terbiasa dengan keunikan Amat. Ia sudah mendengar cerita tentang
kelahiran Amat, tentang keanehan-keanehan yang menyertainya. Tapi sebagai
seorang guru yang rasional, ia memilih untuk fokus pada potensi akademik anak
itu, bukan pada cerita-cerita di luar nalar. "Bagus, Amat. Teruslah
membaca. Tapi jangan lupa dengan pelajaran di sekolah juga, ya."
Amat mengangguk dan duduk kembali. Raka, yang duduk di
bangku sebelahnya, menyenggol sikunya dan berbisik, "Keren, Am! Kayak
profesor! Aku nggak ngerti apa-apa yang kamu jelaskan tadi, tapi keren!"
Amat tersenyum kecil. "Itu cuma cerita, Ra. Cerita
dari buku-buku lama."
"Ya tetap keren. Aku kalau disuruh ngomong di depan
kelas, pasti cuma bisa bikin lelucon. Itu juga keren, tapi kerennya beda."
Camelia, yang duduk di bangku depan mereka, menoleh dan
memasang ekspresi "kalian ini" yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Diam, kalian. Pak Dedi masih ngomong."
Raka terkekeh pelan, menutup mulutnya dengan tangan. Amat
kembali fokus ke papan tulis, tetapi senyum kecil masih tersisa di bibirnya.
Jika Amat adalah bintang di kelas karena kepintarannya yang
luar biasa, maka Raka adalah bintang karena kemampuannya yang tidak kalah luar
biasa: membuat semua orang tertawa, bahkan di saat yang paling tidak tepat
sekalipun. Tidak ada hari yang benar-benar sunyi di SDN 01 Awan Biru selama
Raka menjadi murid di sana. Setidaknya satu kali dalam seminggu, Raka pasti
terlibat dalam sesuatu yang membuat guru menghela napas panjang dan
teman-temannya terbahak-bahak hingga perut sakit.
Suatu hari, ketika pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tentang
sistem pernapasan manusia, Bu Ani, guru matematika yang juga mengajar IPA
karena kekurangan guru, berdiri di depan kelas dengan buku paket di tangan,
menjelaskan dengan suara yang tegas dan tanpa basa-basi, seperti yang selalu ia
lakukan.
"Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang sistem
pernapasan manusia," kata Bu Ani, membuka buku paket di halaman yang sudah
ditandai dengan klip kertas. "Paru-paru adalah organ yang sangat penting.
Tanpa paru-paru, manusia tidak bisa bernapas. Coba tebak, apa yang terjadi jika
paru-paru kita tidak berfungsi?"
Kelas hening sejenak. Murid-murid saling berpandangan, ada
yang mengangkat tangan, ada yang menunduk menghindari kontak mata dengan Bu
Ani. Raka, yang duduk di bangku paling belakang dekat jendela, mengangkat
tangan dengan semangat yang tidak biasa. Tangannya terangkat tinggi, hampir
mengenai langit-langit kelas, badannya bergoyang-goyang seperti anak kecil yang
ingin sekali dipanggil.
Bu Ani, yang sudah waspada dengan ulah Raka sejak hari
pertama sekolah, ragu-ragu untuk menunjuknya. Ia sudah terlalu sering terjebak
oleh jawaban-jawaban Raka yang tidak terduga. Tapi tidak ada siswa lain yang
mengangkat tangan. Semua murid tampak lebih tertarik melihat apa yang akan
dilakukan Raka daripada menjawab pertanyaan Bu Ani.
"Baik, Raka. Coba jawab," kata Bu Ani akhirnya,
dengan nada yang sudah siap untuk apa pun yang akan keluar dari mulut muridnya
yang paling nyentrik itu.
Raka berdiri dengan penuh percaya diri, seperti seorang
pesulap yang akan mempertontonkan trik terhebatnya. Wajahnya yang bulat itu
berseri-seri, matanya yang sipit menyipit semakin sempit karena senyum lebar
yang tidak bisa ia tahan. Ia menghela napas panjang, mungkin untuk menunjukkan
bahwa paru-parunya masih berfungsi dengan baik, lalu berkata dengan suara yang
lantang dan jelas.
"Jika paru-paru tidak berfungsi, Bu, maka kita tidak
bisa menikmati aroma pecel buatan Bapak saya."
Seluruh kelas pecah dalam tawa. Bahkan murid-murid yang
biasanya pendiam ikut terbahak-bahak. Ada yang memukul-mukul meja, ada yang
menutup perut karena sakit, ada yang sampai menangis karena terlalu banyak
tertawa. Suasana kelas yang tadinya serius dan tegang berubah menjadi pesta
tawa yang tidak terkendali.
Bu Ani menutup wajahnya dengan tangan, berusaha menahan
tawa yang mulai menggelitik tenggorokannya. Ia menggigit bibir bawahnya,
memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengingat bahwa ia adalah seorang guru
yang harus menjaga wibawa di depan murid-muridnya. Tapi usahanya sia-sia.
Setelah beberapa detik berjuang, tawa itu pecah juga, keluar dari mulutnya
dalam bentuk suara yang setengah tertahan, seperti orang yang batuk sambil
tertawa.
"Raka... kamu ini..." Bu Ani berkata di antara
tawanya, suaranya terputus-putus karena masih berusaha mengendalikan diri.
"Kamu itu... bisa nggak sih serius sebentar? Ini pelajaran penting, bukan
waktu untuk bercanda."
Raka memasang ekspresi polos, seolah-olah ia benar-benar
tidak mengerti mengapa semua orang tertawa. "Saya serius, Bu. Benaran.
Bapak saya jualan pecel, dan aroma pecel itu enak banget. Kalau paru-paru saya
nggak berfungsi, saya nggak bisa menikmati aroma itu. Itu kan kerugian
besar."
Bu Ani menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala
sambil tersenyum. Ia sudah menyerah. "Ya sudah, terima kasih Raka. Silakan
duduk. Ada yang bisa memberi jawaban yang lebih... ilmiah?"
Camelia, yang duduk di bangku paling depan, mengangkat
tangan. Bu Ani langsung menunjuknya, lega karena akhirnya ada yang bisa
mengembalikan kelas ke jalurnya.
"Paru-paru yang tidak berfungsi akan menyebabkan tubuh
kekurangan oksigen, Bu. Sel-sel dalam tubuh tidak bisa melakukan metabolisme
dengan baik. Akibatnya, pusing, lemas, dan jika tidak segera ditangani, bisa
menyebabkan kematian," jelas Camelia dengan suara tenang dan jelas,
seperti membaca dari buku catatannya yang rapi.
"Bagus, Camelia. Itu jawaban yang tepat," kata Bu
Ani, mengangguk puas. Ia kemudian menatap Raka dengan tatapan setengah serius
setengah bercanda. "Dengar, Ra? Itu jawaban yang benar. Bukan soal
pecel."
Raka mengangguk-angguk dengan wajah yang masih polos.
"Iya, Bu. Tapi kalau saya mati karena paru-paru nggak berfungsi, saya juga
nggak bisa makan pecel. Jadi sama saja, Bu."
Bu Ani menghela napas lagi. "Raka, fokus!"
"Iya, Bu. Fokus. Saya fokus."
Amat, yang duduk di samping Raka, menutup mulutnya dengan
tangan, berusaha menahan tawa. Raka menyenggol sikunya dan berbisik,
"Nggak salah, kan, yang aku bilang? Pecel itu penting."
Amat mengangguk cepat, tidak berani bicara karena takut
tertawa.
Di lain kesempatan, ketika pelajaran olahraga dengan Pak
Heru, guru olahraga yang bertubuh tegap dengan suara lantang seperti komandan
militer, Raka kembali menunjukkan kejenakaannya. Pak Heru adalah guru yang
paling disegani di sekolah itu. Tubuhnya yang kekar, kumis tebal yang melintang
di bibir atasnya, dan suaranya yang bergema di seluruh lapangan membuat
murid-murid biasanya tidak berani berbuat macam-macam di hadapannya. Tapi Raka
adalah Raka. Tidak ada guru yang bisa membuatnya seratus persen serius.
"Anak-anak, hari ini kita akan berlari mengelilingi
lapangan sebanyak lima putaran!" perintah Pak Heru dengan suara lantang,
berdiri di tengah lapangan dengan tangan disilangkan di dada. "Kalian harus
berlari sekuat tenaga. Yang tidak mampu menyelesaikan lima putaran, tidak boleh
istirahat sebelum selesai!"
Murid-murid mulai berlari. Ada yang berlari cepat di awal,
ada yang mempertahankan kecepatan konstan, ada yang sudah kehabisan napas di
putaran pertama. Raka, yang fisiknya tidak sekencang teman-temannya, tubuhnya
tambun, kakinya pendek, dan napasnya cepat habis, berlari dengan gaya yang
unik: langkahnya tidak teratur, tangannya bergoyang-goyang seperti orang yang
sedang berenang di darat, dan suara napasnya yang tersengal-sengal bisa
didengar dari kejauhan.
Setelah dua putaran, Raka berhenti. Ia berjalan ke pinggir
lapangan, duduk bersila di bawah pohon mangga, dan mulai mengatur napas dengan
wajah yang pucat karena kelelahan. Pak Heru yang melihat dari kejauhan langsung
berteriak.
"Raka! Kenapa berhenti? Ayo lanjutkan!"
Raka tidak bergerak. Ia tetap duduk di bawah pohon mangga,
mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Pak Heru seolah-olah mengatakan bahwa ia
tidak bisa melanjutkan. Pak Heru berjalan mendekat, langkahnya tegap dan cepat,
matanya menyala-nyala seperti bara api.
"Raka, saya bilang berlari lima putaran. Kamu baru dua
putaran. Ayo, berdiri dan lanjutkan!"
Raka mengangkat wajahnya yang masih merah karena kelelahan.
Matanya yang sipit menatap Pak Heru dengan ekspresi yang sulit diartikan:
apakah itu kepolosan, kekerasan kepala, atau hanya usil seperti biasa.
"Pak, saya sudah lari dua putaran. Itu sudah cukup."
"Sudah cukup? Siapa bilang cukup? Saya bilang lima
putaran!"
"Tapi Pak, dua putaran sama dengan seribu langkah.
Seribu langkah sama dengan satu kilometer. Satu kilometer sama dengan seratus
persen. Berarti saya sudah seratus persen melakukan tugas, Pak."
Pak Heru terdiam, matanya berkedip-kedip beberapa kali,
mencoba memahami logika Raka yang aneh itu. "Itu... logikanya dari
mana?"
Raka tersenyum lebar, senyum yang membuat seluruh wajahnya
yang bulat itu berkerut. "Dari Bapak saya, Pak. Beliau bilang, dalam
berdagang, yang penting bukan seberapa banyak barang yang dijual, tapi seberapa
banyak yang laku. Saya sudah lari dua putaran dan itu sudah maksimal untuk
kemampuan saya. Jadi saya sudah melakukan yang terbaik."
Pak Heru tidak tahu harus marah atau tertawa. Ia
menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mengingat-ingat apakah dalam seluruh kariernya
sebagai guru olahraga ia pernah menemukan murid seperti Raka. "Kamu ini,
Ra... dasar anak pecel. Segala sesuatu dihubungkan dengan dagang bapakmu."
"Ya iya lah, Pak. Pecel kan sumber kehidupan. Kalau
nggak ada pecel, saya nggak punya energi untuk lari."
Pak Heru akhirnya tertawa, meskipun ia berusaha
menyembunyikannya dengan berpaling ke arah lain. "Ya sudah, kamu istirahat
di sini. Tapi lain kali harus latihan lebih keras, ya. Nanti kamu sakit-sakitan
kalau nggak pernah olahraga."
"Iya, Pak. Besok saya latihan. Saya janji. Tapi besok
bapak saya jualan pecel spesial, sambelnya extra pedas. Saya harus bantu di
warung, jadi mungkin nggak sempat latihan. Lusa deh, Pak. Lusa saya
latihan."
Pak Heru menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan
kepala, dan berjalan kembali ke tengah lapangan. Raka tetap duduk di bawah
pohon mangga, tersenyum puas, sambil sesekali melambaikan tangan ke arah
teman-temannya yang masih berlari, memberi semangat dengan caranya sendiri.
Di kejauhan, Amat yang sedang berlari dengan kecepatan
sedang, menoleh ke arah Raka dan tersenyum. Camelia yang berlari di depannya
juga menoleh, menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi "sudah kuduga"
yang menjadi ciri khasnya.
Di tengah kekacauan yang sering diciptakan Raka dan
keheningan Amat yang kadang membuat guru khawatir, apakah anak ini terlalu
pendiam? Apakah ia tidak memiliki masalah? Apakah ia tidak perlu dibawa ke
konselor?, Camelia hadir sebagai penyeimbang. Ia adalah siswa yang selalu
mengembalikan suasana kelas ke jalurnya ketika mulai terlalu kacau. Ia adalah
suara yang tenang di tengah kebisingan, tangan yang merapikan ketika semuanya
berantakan, dan pikiran yang jernih ketika orang lain mulai bingung.
Suatu siang, ketika jam istirahat dan mereka bertiga duduk
di bawah pohon mangga di halaman sekolah, Raka bercerita tentang rencananya
untuk menjadi pelawak. Camelia, dengan buku catatan yang selalu ia bawa ke
mana-mana, baru saja selesai mencatat materi pelajaran yang akan diujikan
besok. Amat duduk bersila di sampingnya, membaca buku cerita bergambar yang
dipinjam dari perpustakaan.
"Ra, kamu jangan bercanda terus di kelas," kata
Camelia, suaranya tegas tetapi tidak marah. Ia meletakkan buku catatannya di
pangkuan, menatap Raka dengan mata coklatnya yang jernih. "Nanti guru-guru
marah. Bu Ani sudah beberapa kali mengeluh tentang kamu. Katanya kamu terlalu
sering bercanda dan mengganggu konsentrasi."
Raka, yang sedang mengunyah rempeyek yang dibawanya dari
rumah, mengangkat bahu dengan santai. "Ah, guru-guru juga suka kok sama candaan
aku. Coba lihat Bu Ani tadi, beliau kan ikut ketawa. Kalau beliau beneran
marah, pasti sudah melapor ke Pak Kepsek. Beliau kan terkenal galak, tapi aku
bisa bikin beliau ketawa. Itu kan bakat."
"Itu bukan bakat, Ra, itu keberuntungan. Suatu hari
nanti kamu akan ketemu guru yang tidak suka bercanda, dan kamu akan kena
masalah besar."
"Ya sudah, nanti aku hadapi. Yang penting aku nggak
bikin orang sakit hati. Candaku kan nggak pernah jahat. Cuma iseng-iseng."
Camelia menghela napas. Ia sudah terlalu sering mendengar
alasan serupa dari Raka. "Tapi kamu juga harus belajar yang rajin, Ra.
Kamu nggak bisa jadi pelawak terus. Pelajaran itu penting. Nanti kalau kamu
tidak naik kelas, kamu akan tinggal kelas sendirian. Aku dan Amat tidak bisa
menemanimu selamanya."
Raka terdiam sejenak. Ia mengunyah rempeyeknya lebih
lambat, memikirkan kata-kata Camelia. "Kenapa tidak? Kita kan teman. Teman
harus bareng-bareng."
"Teman memang harus bareng-bareng, tapi bukan berarti
kita harus mengorbankan masa depan kita untuk selalu bersama. Kamu harus punya
masa depan sendiri, Ra. Kamu harus punya cita-cita."
"Kenapa tidak? Pelawak kan juga profesi," kata
Raka, mengubah topik pembicaraan ke arah yang lebih ringan. "Pakde ku dulu
jadi pelawak keliling, hasilnya bisa bangun rumah lho. Tapi sekarang sudah
pensiun, jualan sate. Katanya capek keliling terus."
Amat yang sejak tadi diam membaca, mendongak. "Jadi
kamu mau jadi pelawak?" tanyanya, ikut tertarik.
Raka menghela napas dramatis, meletakkan sisa rempeyek di
atas daun pisang yang dijadikan pembungkus. "Sebenarnya aku belum tahu.
Yang penting sekarang aku bahagia. Bapak dan Ibu juga tidak pernah memaksa aku
harus jadi apa. Mereka bilang, yang penting jadi orang baik. Nilai bagus itu
bonus. Kalau nggak dapat nilai bagus, ya nggak apa-apa, yang penting nggak jadi
penjahat."
Camelia tersenyum mendengar kata-kata Raka. Ada
kebijaksanaan sederhana dalam cara orang tuanya membesarkannya. "Ya sudah,
tapi minimal kamu harus naik kelas, Ra. Aku nggak mau ditinggal sendirian di
kelas ini. Nanti aku bosan."
"Tenang, Mel. Aku pasti naik kelas. Ada kalian berdua
kan yang bisa ngajarin aku. Amat kan jenius, kamu kan rajin. Aku tinggal
numpang. Kalau ada yang nggak aku mengerti, aku tanya kalian. Mudah kan?"
"Tidak semudah itu, Ra," kata Camelia, meskipun
ia tersenyum. "Kamu juga harus berusaha sendiri. Nggak bisa terus-terusan
numpang."
"Ya, aku akan berusaha. Tapi dengan catatan, kalian
harus traktir aku pecel setiap kali nilai aku bagus."
"Deal!" kata Amat cepat, sebelum Camelia sempat
menjawab.
Camelia menatap Amat dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu ini, Am, jangan-jadi orang gampang. Nanti Raka makin manja."
"Ah, nggak apa-apa, Mel. Pecel kan murah. Lagian Raka
juga sering kasih kita pecel gratis."
"Itu beda. Dia kasih kita pecel gratis karena kita
temannya. Kalau kita traktir dia karena nilai bagus, itu jadi semacam
suap."
"Bukan suap, Mel. Itu hadiah. Hadiah untuk teman yang
sudah berusaha," bantah Amat.
Raka mengangguk-angguk setuju. "Hadiah. Kata yang
bagus. Aku suka kata itu."
Camelia menggeleng-gelengkan kepala, tetapi senyumnya tidak
bisa disembunyikan. "Ya sudah, terserah kalian. Tapi minimal kamu harus
naik kelas, Ra. Itu syarat utamanya."
"OK, Bos!" Raka mengacungkan jempol. "Nilai
matematika aku yang terakhir dapat enam puluh, Bu Ani bilang masih kurang. Tapi
aku janji, besok ulangan aku akan dapat tujuh puluh. Kalau dapat tujuh puluh,
kalian traktir aku pecel. Setuju?"
"Setuju!" kata Amat dan Camelia bersamaan.
Dan memang seperti itulah dinamika mereka bertiga. Amat
memberikan pengetahuan dengan caranya yang tenang dan dalam. Ketika Raka
kesulitan memahami rumus matematika, Amat akan menjelaskan dengan
analogi-analogi yang aneh tetapi mudah diingat. "Rumus luas persegi
panjang itu kayak bikin pecel, Ra. Panjang kali lebar. Panjang itu banyaknya
kacang, lebar itu banyaknya sayur. Kalau kacangnya banyak dan sayurnya juga
banyak, luasnya ya besar. Kalau salah satu kurang, ya kecil."
Camelia memberikan struktur dan disiplin. Ia membuat jadwal
belajar untuk mereka bertiga, menentukan hari-hari tertentu untuk belajar
bersama di rumahnya atau di rumah Amat. Ia memeriksa pekerjaan rumah Raka,
mengoreksi kesalahan-kesalahannya dengan sabar, memberikan catatan-catatan
tambahan yang rapi dan mudah dipahami. Ia juga yang mengingatkan Raka untuk tidak
terlalu banyak bercanda di kelas, meskipun sering kali Raka mengabaikan
peringatannya.
Dan Raka memberikan tawa dan kebahagiaan. Di saat Amat
terlalu serius dengan buku-bukunya dan Camelia terlalu sibuk dengan
catatan-catatannya, Raka hadir dengan candaan yang membuat mereka tertawa. Ia
adalah lem yang menyatukan mereka, api yang menghangatkan persahabatan mereka.
Tanpa Raka, Amat dan Camelia mungkin hanya akan menjadi dua anak pintar yang
tidak pernah benar-benar terhubung. Dengan Raka, mereka menjadi tim.
Salah satu perubahan paling signifikan yang terjadi pada
Amat selama masa sekolahnya adalah ia mulai lebih banyak berbicara. Bukan
berarti ia menjadi cerewet seperti Raka, tetapi ia tidak lagi hanya diam
seperti patung ketika diajak bicara. Ia mulai merespons, memberi komentar,
bahkan kadang-kadang memulai percakapan sendiri.
Perubahan ini tidak terjadi secara instan. Ia terjadi
perlahan, seperti air yang meresap ke dalam tanah, tidak terlihat tetapi pasti.
Dan akar dari perubahan ini adalah persahabatannya dengan Raka dan Camelia.
Raka, dengan sifatnya yang tidak pernah menyerah,
terus-menerus mengajak Amat berbicara. Setiap hari, setiap jam istirahat,
setiap kali mereka bertemu, Raka selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan. Ia
tidak pernah merasa terganggu dengan keheningan Amat; ia justru menganggapnya
sebagai tantangan.
"Mat, kamu tahu nggak, kemarin aku mimpi aneh,"
kata Raka suatu hari, ketika mereka duduk di bawah pohon mangga. Camelia sedang
ke kantin membeli es kelapa muda.
Amat menatap Raka dengan rasa ingin tahu. "Mimpi
apa?"
"Mimpi tentang pohon beringin. Pohon beringin tua di
tengah desa itu. Dalam mimpiku, pohon itu bisa bicara. Suaranya berat, kayak
suara Mbah Ratih pas lagi ngaji. Dan pohon itu memanggil namamu. Bukan namaku,
tapi namamu. 'Amat... Amat...' berkali-kali. Aku bangun keringetan."
Amat terdiam. Dadanya berdebar sedikit lebih cepat.
"Kamu yakin? Pohon itu memanggil namaku?"
"Yakin. Aku dengar jelas. Suaranya kayak dari dalam
tanah, dari bawah akar-akar pohon itu. Aku cuma nggak ngerti kenapa aku yang
dengar, padahal yang dipanggil kamu. Mungkin karena aku terlalu banyak makan
rempeyek sebelum tidur."
Amat tersenyum. "Mungkin. Tapi... mungkin juga
bukan."
"Lho, maksudnya?"
Amat ragu-ragu. Ia belum pernah menceritakan tentang Kyai
Beringin kepada Raka dan Camelia. Bukan karena ia tidak percaya pada mereka,
tetapi karena ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. "Aku... sering ke
pohon beringin itu, Ra. Sendirian. Aku melihat sesuatu di sana. Sesuatu yang
tidak dilihat orang lain."
Raka tidak terkejut. Matanya yang sipit terbuka lebar,
penuh rasa ingin tahu. "Apa yang kamu lihat? Hantu? Genderuwo?
Kuntilanak?"
"Bukan. Bukan hantu jahat. Dia... penjaga. Namanya
Kyai Beringin. Dia menjaga desa ini sejak zaman leluhur. Dia... bicara padaku.
Mengajari banyak hal."
Raka terdiam. Ini adalah pertama kalinya Amat menceritakan
sesuatu yang begitu pribadi, begitu dalam. Dan Raka, dengan instingnya yang
tajam, tahu bahwa ini bukan saatnya untuk bercanda. "Serius, Am? Kamu bisa
bicara sama penjaga pohon beringin?"
"Bisa. Dia muncul ketika aku sendirian di sana. Aku
bisa melihatnya, mendengar suaranya. Dia bilang, aku adalah keturunan dari
garis penjaga. Suatu hari nanti, aku harus menjaga keseimbangan desa ini."
Raka mengangguk perlahan. Ia tidak mengerti sepenuhnya,
tetapi ia percaya pada Amat. "Keren, Mat. Jadi kamu kayak pahlawan super
gitu? Kayak di film-film? Punya kekuatan khusus?"
Amat tertawa kecil. "Bukan. Aku cuma... bisa melihat
hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Itu saja."
"Itu sudah keren, Mat. Aku aja cuma bisa lihat pecel.
Nggak ada yang spesial."
"Kamu spesial, Ra. Kamu bisa membuat orang tertawa.
Itu juga kekuatan. Mbah Ratih bilang, tawa adalah senjata yang paling
ampuh."
Raka tersenyum lebar. "Mbah Ratih bilang begitu? Berarti
aku juga punya kekuatan dong. Kita semua punya kekuatan masing-masing."
Ketika Camelia kembali dari kantin dengan tiga gelas es
kelapa muda, ia melihat Raka dan Amat sedang berbincang dengan serius. Ia tidak
menyela, hanya duduk di samping mereka dan memberikan satu gelas kepada
masing-masing. "Kalian ngomongin apa? Kok serius amat?"
Raka menatap Camelia, lalu menatap Amat, seolah meminta
izin untuk berbagi. Amat mengangguk pelan. "Am lagi cerita tentang pohon
beringin," kata Raka. "Katanya dia bisa lihat penjaganya. Namanya
Kyai Beringin. Keren, kan?"
Camelia tidak terkejut. Sebagai anak yang suka membaca dan
mencatat, ia sudah lama menduga bahwa Amat memiliki hubungan khusus dengan desa
ini. "Cerita lebih lanjut, Mat. Aku mau catat."
Amat tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa nyaman
menceritakan tentang apa yang ia lihat dan alami. "Suatu hari nanti,
kalian mungkin tidak akan percaya. Tapi aku akan cerita."
"Kami percaya, Mat," kata Camelia dengan tulus.
"Kami sudah berteman denganmu sejak kecil. Kami tahu kamu tidak pernah
berbohong."
"Iya, Mat. Aku percaya seratus persen," tambah
Raka. "Tapi jangan cerita semuanya sekarang. Nanti aku nggak bisa tidur
mikirinnya."
Mereka bertiga tertawa. Di bawah pohon mangga di halaman
SDN 01 Awan Biru, di tengah teriknya matahari siang, tiga anak kecil dengan
karakter yang sangat berbeda itu tertawa bersama. Tawa yang riang, tawa yang
bebas, tawa yang menjadi fondasi dari persahabatan yang akan bertahan melampaui
masa sekolah, melampaui masa kecil, melampaui segala ujian yang akan mereka
hadapi di masa depan.
Di luar pelajaran-pelajaran formal yang diajarkan di kelas,
matematika, IPA, bahasa Indonesia, IPS, dan sebagainya, Amat, Raka, dan Camelia
belajar banyak hal di sekolah yang tidak tercantum dalam kurikulum. Mereka
belajar tentang kerja sama, tentang saling menghargai perbedaan, tentang
bagaimana kekuatan yang berbeda bisa bersatu menjadi sesuatu yang lebih besar
dari jumlah bagian-bagiannya.
Amat belajar bahwa menjadi pintar tidak cukup jika ia tidak
bisa berkomunikasi dengan orang lain. Ia belajar bahwa ada nilai dalam tawa dan
kegembiraan, bahwa hidup tidak hanya tentang buku dan pengetahuan, tetapi juga
tentang hubungan dengan sesama manusia. Raka mengajarinya bahwa kadang-kadang,
jawaban yang paling sederhana adalah yang paling benar, dan bahwa tertawa
adalah obat untuk banyak penyakit.
Raka belajar bahwa ada nilai dalam disiplin dan ketekunan.
Ia belajar bahwa bercanda tidak selalu menjadi solusi untuk semua masalah, dan
bahwa kadang-kadang ia harus serius untuk mencapai sesuatu. Camelia
mengajarinya bahwa catatan yang rapi dan jadwal yang teratur dapat membantu
meraih impian, dan bahwa kerja keras pada akhirnya akan membuahkan hasil.
Camelia belajar bahwa tidak semua hal bisa dicatat dan
diatur. Ia belajar bahwa ada misteri dalam hidup yang tidak bisa dijelaskan
oleh buku atau logika, dan bahwa kadang-kadang, hal yang paling indah adalah
yang paling tidak terduga. Amat mengajarinya bahwa dunia ini lebih luas dari
apa yang tertulis di buku, dan bahwa ada hal-hal yang hanya bisa dirasakan,
bukan dijelaskan.
Mereka juga belajar bahwa persahabatan sejati bukan tentang
selalu bersama, tetapi tentang saling mendukung bahkan ketika jarak memisahkan.
Mereka belajar bahwa perbedaan bukan penghalang, tetapi kekuatan. Mereka
belajar bahwa mereka lebih kuat bersama daripada sendirian.
Pak Dedi, guru kelas mereka yang bijaksana, sering
mengamati dinamika ketiga muridnya ini. Ia melihat bagaimana Amat yang pendiam
mulai terbuka, bagaimana Raka yang kacau mulai belajar untuk lebih disiplin,
bagaimana Camelia yang terlalu serius mulai belajar untuk tertawa. Ia melihat
bahwa mereka saling melengkapi, saling mengisi kekosongan yang ada pada
masing-masing.
Suatu hari, setelah jam sekolah usai, Pak Dedi memanggil
mereka bertiga ke ruang guru. Bukan untuk dimarahi, tetapi untuk memberikan
sesuatu.
"Kalian bertiga," katanya sambil tersenyum,
"adalah murid-murid yang paling unik yang pernah saya ajar. Amat, kamu
pintar sekali, tetapi kamu terlalu pendiam. Raka, kamu lucu, tetapi kamu
terlalu malas. Camelia, kamu rajin sekali, tetapi kamu terlalu kaku. Tapi
ketika kalian bersama, kalian menjadi sempurna. Kalian saling melengkapi."
Mereka bertiga tersenyum malu.
"Pertahankan persahabatan ini," lanjut Pak Dedi.
"Suatu hari nanti, kalian akan lulus dari sekolah ini. Kalian akan
melanjutkan ke sekolah yang berbeda, mungkin ke kota, mungkin ke tempat yang
jauh. Tapi jangan pernah lupa bahwa kalian memiliki teman yang selalu mendukung
kalian. Persahabatan seperti ini tidak mudah ditemukan."
"Kami tidak akan lupa, Pak," kata Camelia
mewakili mereka bertiga.
"Bagus. Sekarang, pulanglah. Dan Raka, jangan lupa
belajar untuk ulangan besok. Jangan hanya mengandalkan Amat dan Camelia."
Raka menggaruk kepalanya. "Iya, Pak. Saya akan
belajar. Tapi Pak Dedi tahu nggak, belajar itu lebih enak kalau sambil makan
pecel. Otak saya lebih encer kalau perut kenyang."
Pak Dedi tertawa. "Dasar anak pecel. Ya sudah, kalau
itu yang kamu yakini, silakan. Tapi jangan sampai kenyangnya kebanyakan, nanti
malah ngantuk."
"Iya, Pak. Saya atur sendiri."
Mereka bertiga keluar dari ruang guru, berjalan melewati
lapangan sekolah yang mulai sepi. Matahari sudah mulai condong ke barat,
cahayanya berubah dari putih menjadi jingga keemasan. Bayangan mereka memanjang
di tanah, tiga bayangan yang menyatu di ujung-ujungnya.
"Pak Dedi baik ya," kata Amat tiba-tiba.
"Iya. Dia guru favorit aku," jawab Raka.
"Dia nggak pernah marah-marah. Kalau ada murid yang salah, dia jelasin
dengan sabar. Beda sama Bu Ani yang kalau marah suara sampe ke kecamatan."
"Bu Ani juga baik, Ra. Cuma tegas aja," Camelia
membela.
"Iya, baik. Tapi tegasnya kebangetan. Sampai-sampai
aku nggak berani bercanda di kelasnya. Padahal aku punya materi bercanda yang
bagus banget untuk pelajaran matematika."
"Jangan, Ra. Nanti kamu kena teguran lagi," kata
Amat.
"Ya sudah, aku simpan untuk lain kali. Nanti kalau
sudah lulus, aku akan kembali ke sekolah ini dan bercanda sama Bu Ani. Katanya,
'Bu, dulu aku nggak berani bercanda sama Ibu. Sekarang aku sudah lulus, boleh dong
bercanda sedikit.'"
Camelia tertawa. "Nanti Bu Ani marah lagi."
"Ah, nggak mungkin. Bu Ani pasti sudah rindu dengan
candaan aku. Siapa lagi yang bisa bikin beliau tertawa di kelas?"
Mereka bertiga tertawa bersama, berjalan menyusuri jalan
setapak yang menghubungkan sekolah dengan desa. Di kejauhan, pohon beringin tua
berdiri megah, dengan kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang menjalar,
dengan penjaganya yang setia menunggu.
Amat menatap pohon itu sejenak. Ia melihat Kyai Beringin
berdiri di antara akar-akar besar, menatapnya dengan mata yang teduh. Kyai
Beringin mengangkat tangannya, memberi isyarat seperti biasa, tetapi kali ini
tidak memanggil. Ia hanya memberi hormat, memberi restu, memberi semangat.
Amat tersenyum. Ia mengangkat tangannya dan melambai balik.
Raka dan Camelia yang melihatnya tidak bertanya. Mereka hanya tersenyum, tahu
bahwa teman mereka sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak bisa mereka
lihat. Dan itu tidak masalah. Karena mereka percaya, dan kepercayaan itu sudah
cukup.
BAB 8: Mimpi yang Terus Menghantui
Mimpi pertama yang benar-benar membekas dalam ingatan Amat
terjadi ketika ia berusia sembilan tahun. Tepatnya pada malam Jumat Kliwon,
ketika bulan sedang bersinar purnama dan kabut dari lereng bukit selatan lebih tebal
dari biasanya. Hari itu, Amat dan Raka bermain kejar-kejaran di sawah yang baru
saja dipanen, mengejar belalang dan menangkap capung yang terbang rendah di
atas sisa-sisa jerami. Camelia bergabung di sore hari, mengajak mereka
mengumpulkan dedaunan untuk herbarium sekolah, tugas yang sebenarnya sudah
diberikan seminggu yang lalu tetapi baru dikerjakan oleh Camelia karena Raka
selalu menunda dan Amat tidak terlalu tertarik.
Mereka berlarian di pematang sawah yang sempit, tertawa
terbahak-bahak ketika Raka terperosok ke dalam lumpur karena kakinya terpeleset
di tanah yang licin. Wajah Raka yang bulat itu penuh dengan bercak-bercak
lumpur, membuatnya terlihat seperti badut yang baru selesai pertunjukan. Amat
tertawa sampai perutnya sakit, sementara Camelia menggeleng-gelengkan kepala
sambil tersenyum, membiarkan Raka yang masih meratapi celananya yang kotor.
Matahari mulai condong ke barat ketika mereka bertiga
berjalan pulang. Langit berubah warna dari biru terang menjadi jingga keemasan,
dan kemudian perlahan-lahan ungu di ufuk timur. Kabut tipis mulai merayap turun
dari lereng-lereng bukit di selatan, menyelimuti desa dengan selimut putih yang
dingin dan lembab. Amat berjalan paling belakang, matanya sesekali tertuju pada
pohon beringin tua di tengah desa yang mulai tertutup kabut. Ia melihat
bayangan-bayangan bergerak di antara akar-akar pohon itu, lebih banyak dari
biasanya, dan bergerak lebih cepat. Seolah-olah ada sesuatu yang membuat mereka
gelisah.
Malam itu, setelah makan malam bersama ibunya—nasi hangat
dengan tempe goreng dan sayur bening yang masih mengepul—Amat jatuh tertidur
lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya lelah karena seharian bermain, tetapi
pikirannya justru melayang ke tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Ia terbaring di tempat tidurnya yang sempit, dengan selimut tipis menutupi
tubuhnya, dan perlahan-lahan kesadarannya mulai kabur, seperti air yang meresap
ke dalam tanah, tenggelam ke dalam lapisan-lapisan mimpi yang semakin dalam.
Dalam mimpinya, Amat berdiri di tengah hutan yang sangat
lebat. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sana. Satu saat ia masih
berbaring di tempat tidurnya, di rumahnya yang sederhana di kaki Bukit
Pangasih, dan saat berikutnya ia sudah berdiri di antara pepohonan raksasa yang
menjulang tinggi hingga langit. Tidak ada transisi, tidak ada perasaan terbang
atau jatuh seperti yang sering digambarkan dalam cerita-cerita tentang mimpi.
Ia hanya... ada. Seperti hutan ini telah menantinya, dan ia telah tiba.
Pepohonan di sekitarnya jauh lebih besar dari pohon
beringin tua di desanya. Jauh, jauh lebih besar. Batang-batangnya sebesar
rumah-rumah warga, mungkin bahkan lebih besar. Diameternya bisa mencapai
sepuluh meter, dua puluh meter, sehingga ketika Amat berdiri di dekatnya, ia
merasa seperti semut yang merayap di kaki raksasa. Kulit batangnya tidak
seperti kulit pohon biasa; ia berwarna coklat keabu-abuan dengan
retakan-retakan dalam yang membentuk pola-pola rumit seperti peta kuno, dan
dari retakan-retakan itu tumbuh lumut-lumut hijau yang lembut dan pakis-pakis
kecil yang daunnya menyirip rapi. Akar-akar pohon itu tidak hanya menjalar di
tanah seperti akar pohon beringin, tetapi juga menjulang tinggi ke atas,
membentuk lengkungan-lengkungan alami yang bisa dilalui oleh orang dewasa tanpa
membungkuk. Beberapa akar bahkan mencapai ketinggian beberapa meter, seperti
tiang-tiang penyangga yang menopang pohon-pohon raksasa itu.
Kanopi di atasnya sangat rapat sehingga sinar matahari
hampir tidak bisa menembus. Yang tersisa hanyalah cahaya remang-remang kehijauan
yang jatuh dari sela-sela dedaunan yang berlapis-lapis, seperti cahaya yang
masuk ke dasar laut melalui air yang dalam. Cahaya itu tidak statis; ia
bergerak perlahan mengikuti hembusan angin yang berdesir di puncak-puncak
pohon, menciptakan pola-pola cahaya dan bayangan yang berubah-ubah di tanah
yang ditutupi oleh serasah daun yang tebal. Suasananya seperti berada di dalam
akuarium raksasa, atau di dalam katedral kuno dengan kaca-kaca patri yang
menyaring cahaya matahari menjadi warna-warna yang lembut dan misterius.
Udara di hutan itu dingin dan lembab, jauh lebih dingin
dari udara di Desa Awan Biru pada malam hari. Dinginnya menusuk hingga ke
tulang, tetapi anehnya Amat tidak merasa menggigil. Ia merasakan dingin itu
sebagai sensasi, bukan sebagai ketidaknyamanan. Udara itu beraroma tanah basah,
aroma yang familiar baginya karena ia sering menciumnya di kebun ibunya setelah
hujan. Tapi ada aroma lain yang bercampur di dalamnya: aroma lumut yang segar,
aroma daun-daun yang berguguran dan membusuk, aroma sesuatu yang lebih tua,
lebih dalam, lebih... kuno. Aroma yang tidak bisa ia kenali, tetapi terasa
sangat familiar, seperti aroma yang pernah ia cium di dalam mimpi lain, atau
mungkin dalam kehidupan lain yang tidak ia ingat. Aroma itu adalah aroma zaman
yang sudah lama berlalu, aroma ketika hutan ini masih perawan, ketika belum ada
manusia yang menginjakkan kaki di tempat ini.
Amat berdiri diam di tempatnya, mencoba menyesuaikan
matanya dengan cahaya remang-remang itu. Di sekelilingnya, pepohonan itu berdiri
seperti para penjaga yang diam, menatapnya dengan mata yang tidak terlihat
tetapi terasa. Ia tidak merasa takut, meskipun ia sendirian di tempat yang
asing. Ada perasaan aneh yang menyelimutinya: rasa familiar, rasa seperti ia
pernah berada di tempat ini sebelumnya, meskipun ia tahu ia belum pernah.
Seperti déjà vu, tetapi lebih kuat, lebih nyata. Seperti ingatan yang bukan
ingatannya sendiri, tetapi diwariskan kepadanya melalui darah dan tulang,
melalui daging dan jiwa.
Dari kejauhan, di antara batang-batang pohon raksasa yang
menjulang, di balik tirai lumut yang bergelantungan dari dahan-dahan, terdengar
suara. Bukan suara manusia, bukan suara binatang, bukan suara angin, bukan
suara air mengalir. Suara itu adalah sesuatu di antaranya, sesuatu yang tidak
bisa dikategorikan oleh indra manusia. Suara itu bergetar, bergema di antara
pepohonan, memantul dari batang ke batang, dari akar ke akar, dari daun ke
daun, seolah-olah hutan itu sendiri yang berbicara, seolah-olah setiap pohon,
setiap batu, setiap helai lumut memiliki suara yang bersatu menjadi satu paduan
suara yang agung dan menakutkan.
Suara itu memanggil namanya.
Amat... Amat Junior...
Suara itu tidak keras. Tidak seperti teriakan, tidak
seperti guntur. Ia lembut, hampir seperti bisikan, tetapi jelas, sangat jelas,
seperti suara yang berbicara langsung di dalam kepalanya, di dalam hatinya, di
dalam jiwanya. Amat merasa panggilan itu bukan datang dari luar, tetapi dari
dalam dirinya sendiri. Seperti ada sesuatu di kedalaman hatinya yang selama ini
tertidur, dan sekarang mulai terbangun, merespons panggilan dari sesuatu yang
serupa di luar dirinya.
Amat... Amat Junior... kemarilah...
Ia tidak bisa menolak. Bukan karena ada kekuatan yang
memaksanya, tetapi karena ia tidak ingin menolak. Ada rasa ingin tahu yang
menggelitik di dadanya, rasa ingin tahu yang lebih kuat dari rasa takut, lebih
kuat dari naluri untuk berlari. Ia ingin tahu siapa yang memanggilnya, apa yang
mereka inginkan, mengapa mereka memanggil namanya di tempat yang tidak pernah
ia kunjungi ini.
Ia mulai berjalan. Kakinya melangkah tanpa rasa takut,
meskipun tanah di bawahnya tidak rata, penuh dengan akar-akar yang menjalar dan
batu-batu yang tertutup lumut. Ia melewati akar-akar yang menjulang setinggi
tubuhnya, menembus semak-semak yang lebat dengan daun-daun lebar yang basah
oleh embun, melangkahi aliran-aliran kecil yang airnya sebening kristal, begitu
jernih sehingga ia bisa melihat dasar sungai yang tertutup pasir putih dan
kerikil-kerikil berwarna-warni. Setiap kali ia melangkah, aroma tanah basah dan
lumut semakin kuat, dan suara panggilan itu semakin jelas.
Semakin jauh ia melangkah, semakin terang cahaya kehijauan
di sekitarnya. Awalnya ia mengira itu karena matanya yang mulai terbiasa dengan
kegelapan, tetapi kemudian ia menyadari bahwa cahaya itu memang semakin terang.
Daun-daun di atasnya mulai bersinar samar-samar, seperti lampu-lampu kecil yang
menyala di langit-langit gua. Lumut-lumut di batang-batang pohon juga ikut
bersinar, memancarkan cahaya kehijauan yang lembut. Seluruh hutan itu
seolah-olah hidup, seolah-olah setiap makhluk di dalamnya berkontribusi pada
cahaya yang menerangi jalannya.
Setelah berjalan beberapa lama, ia tidak tahu berapa lama,
karena waktu terasa berbeda di dalam mimpi, seperti sirup yang mengalir lambat
atau seperti air terjun yang jatuh terlalu cepat, ia tidak bisa
mengukurnya—Amat tiba di sebuah tempat terbuka. Di tengah hutan yang lebat itu,
tiba-tiba ada sebuah lapangan berbentuk lingkaran sempurna. Tidak ada satu pun
pohon yang tumbuh di dalam lingkaran itu, tidak ada semak, tidak ada rumput,
tidak ada lumut. Tanahnya gundul, berwarna hitam pekat, seperti arang atau batu
bara, dan terasa hangat ketika Amat menginjaknya. Tidak panas seperti api,
tetapi hangat seperti tanah yang terkena sinar matahari sepanjang hari.
Lingkaran itu tidak besar, mungkin berdiameter sekitar dua
puluh meter. Di sekelilingnya, pohon-pohon raksasa berdiri seperti tembok yang
mengelilingi sebuah ruangan terbuka, dengan akar-akarnya yang menjulang
membentuk gerbang-gerbang alami yang menuju ke pusat lingkaran. Amat berdiri di
tepi lingkaran, ragu-ragu untuk melangkah lebih jauh. Tanah hitam itu terasa
berbeda, terasa... hidup. Seperti ada sesuatu yang bergerak di bawah
permukaannya, sesuatu yang besar dan dalam, sesuatu yang menunggu.
Di tengah lingkaran itu, ada sebuah batu besar. Batu itu
tidak seperti batu biasa yang pernah ia lihat di sungai atau di tebing-tebing
di sekitar desa. Batu itu berwarna hitam mengkilap, seperti obsidian atau batu
akik yang sudah dipoles, tetapi dengan kilau yang lebih dalam, lebih gelap,
seperti permukaan air di telaga yang dalam di malam hari. Di permukaannya, ada
urat-urat putih yang berkelok-kelok membentuk pola yang anehnya menyerupai
peta, peta yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, tetapi terasa familiar,
seperti peta dari desa ini, dari hutan ini, dari tempat-tempat yang ia kenali
dalam tidurnya tetapi tidak pernah ia kunjungi dalam kehidupan nyata.
Batu itu berdiri tegak setinggi orang dewasa, dengan bentuk
yang tidak beraturan tetapi simetris, seperti dibuat oleh tangan-tangan yang
sangat terampil ribuan tahun yang lalu. Permukaannya halus, sangat halus,
seperti telah dipoles selama berabad-abad oleh angin dan hujan, atau oleh
tangan-tangan yang tidak terlihat. Ketika Amat mendekat, ia bisa melihat
pantulan dirinya di permukaan batu itu: seorang anak laki-laki kurus dengan
mata biru yang menyala di kegelapan, rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat
karena dingin atau karena takut, ia tidak tahu.
Dan di atas batu itu, duduk sesosok makhluk.
Amat tidak bisa melihatnya dengan jelas. Bentuknya tidak
pernah stabil, selalu berubah. Kadang ia terlihat seperti manusia tua dengan
jubah hitam panjang, rambut putih panjang yang menjuntai hingga ke tanah,
wajahnya keriput seperti kulit pohon yang sudah tua. Kadang ia terlihat seperti
seekor burung besar dengan sayap terbentang, bulu-bulunya hitam legam, matanya
merah menyala, cakarnya mencengkeram puncak batu. Kadang ia terlihat hanya
seperti bayangan, seperti gumpalan asap hitam yang bergerak-gerak tanpa bentuk
pasti, yang kadang membesar, kadang mengecil, kadang berputar-putar seperti
pusaran air.
Tetapi ada satu bagian yang selalu jelas, yang tidak pernah
berubah: matanya. Dua titik cahaya merah yang menatap Amat dari balik
kegelapan, dari balik asap, dari balik wajah tua atau bulu burung atau bayangan
yang bergerak. Dua titik cahaya yang tidak berkedip, yang tidak pernah
mengalihkan pandangan, yang terus menatap Amat dengan intensitas yang membuat
bulu kuduknya berdiri meskipun ia tidak merasa takut.
Akhirnya kau datang, kata
makhluk itu. Suaranya seperti gemuruh yang berasal dari perut bumi, dari
kedalaman yang tidak pernah tersentuh oleh cahaya matahari, dari tempat di mana
batu-batu meleleh dan logam-logam mencair. Suaranya membuat tanah di bawah kaki
Amat bergetar sedikit, membuat udara di sekitarnya berdenyut seperti detak
jantung raksasa. Kami sudah menunggumu sejak lama. Sangat lama. Lebih
lama dari yang bisa kau bayangkan. Lebih lama dari umur pohon-pohon ini. Lebih
lama dari sungai-sungai ini mengalir. Kami menunggu, dan menunggu, dan
menunggu, dan akhirnya kau datang.
"Siapa kamu?" tanya Amat. Ia terkejut mendengar
suaranya sendiri yang terdengar begitu kecil di tempat itu, seperti suara anak
tikus yang mencicit di hadapan singa. Suaranya bergema sebentar di antara
pohon-pohon raksasa, lalu ditelan oleh keheningan yang lebih besar.
Aku adalah yang dijaga. Aku adalah yang dikurung. Aku
adalah yang menunggu, jawab makhluk itu.
Suaranya berubah menjadi tawa, rendah dan panjang, yang membuat udara di sekitarnya
bergetar, membuat tanah di bawah kaki Amat berguncang sedikit, membuat
urat-urat putih di permukaan batu berdenyut seperti urat nadi. Dan kau,
anak kecil, kau adalah kunci dari segalanya. Kau adalah yang membuka atau yang
menutup. Kau adalah yang membebaskan atau yang mengurung. Kau adalah yang
menentukan nasib desa di atas sana, di mana manusia-manusia kecil sibuk dengan
urusan mereka yang tidak penting.
"Aku tidak mengerti," kata Amat, jujur. Ia tidak
mengerti apa-apa. Ia tidak mengerti siapa makhluk ini, apa yang dimaksud dengan
"dijaga" dan "dikurung", mengapa ia disebut
"kunci", apa yang harus ia buka atau tutup. Yang ia tahu hanyalah
bahwa ia berada di tempat yang asing, berbicara dengan makhluk yang tidak ia
kenal, dan ada sesuatu yang berat di udara, sesuatu yang membuatnya sulit
bernapas.
Kau akan mengerti, kata
makhluk itu, dan kali ini suaranya lebih lembut, hampir seperti bisikan. Suatu
saat nanti, ketika segel mulai retak, ketika langit Awan Biru berubah menjadi
abu-abu, ketika desamu mulai dilanda ketakutan dan kepanikan, kau akan mengerti
siapa dirimu. Kau akan mengerti mengapa kau lahir dengan mata biru, mengapa kau
bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain, mengapa leluhurmu
memilihmu. Dan ketika itu tiba, kau harus memilih.
"Memilih apa?" tanya Amat cepat, sebelum makhluk
itu sempat melanjutkan.
Makhluk itu terdiam sejenak. Matanya yang merah itu
berkedip sekali, dua kali, seperti lampu yang menyala dan padam. Ketika ia
berbicara lagi, suaranya lebih dalam, lebih berat, seperti beban yang sangat
besar sedang ditumpuk di atas kata-katanya.
Memilih untuk membiarkan semuanya hancur, atau mengorbankan
sesuatu yang sangat kau cintai untuk menyelamatkan yang lainnya. Memilih untuk
mengikuti jejak leluhurmu yang mengurungku di sini, atau membiarkan aku bebas
dan melihat apa yang terjadi pada desa di atas sana. Memilih untuk menjadi
penjaga, atau menjadi... yang lain.
Amat ingin bertanya lebih banyak. Ia ingin bertanya tentang
segel, tentang leluhur, tentang desa, tentang apa yang harus ia korbankan,
tentang apa artinya menjadi "yang lain". Tetapi sebelum ia sempat
membuka mulut, tanah di bawah kakinya berguncang. Bukan goncangan kecil seperti
gempa biasa, tetapi goncangan yang kuat, yang membuat ia kehilangan
keseimbangan dan jatuh terduduk di tanah hitam yang hangat itu.
Retakan-retakan muncul di permukaan tanah hitam itu. Dari
dalam retakan, cahaya merah menyembur ke atas, seperti darah yang keluar dari
luka. Cahaya itu panas, sangat panas, membuat udara di sekitarnya bergelombang
seperti di atas api unggun. Batu besar di tengah lapangan mulai bergetar,
bergoyang-goyang seperti pohon yang akan tumbang. Urat-urat putih di
permukaannya berubah menjadi merah menyala, berdenyut-denyut seperti pembuluh
darah yang akan pecah.
Makhluk di atas batu itu tertawa. Tertawanya bergema
bergantian dengan gemuruh tanah yang berguncang, menciptakan simfoni kekacauan
yang memekakkan telinga. Sosoknya berubah-ubah lebih cepat dari sebelumnya,
seperti gambar yang diputar dalam kecepatan tinggi: manusia tua, burung hitam,
asap, bayangan, manusia tua lagi, burung lagi, asap lagi, semuanya bercampur
menjadi satu pusaran kegelapan yang bergerak semakin cepat.
Awas, penjaga cilik! Awas! Waktuku akan datang! Tidak lama
lagi! Segel ini tidak akan kuat selamanya! Dan ketika segel ini retak, aku akan
keluar! Aku akan menghancurkan segalanya! Aku akan...
Amat tidak mendengar sisanya. Ia berteriak. Ia membalikkan
badan dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu. Kakinya yang
kecil berpacu di atas tanah hitam yang retak-retak, melompati celah-celah yang
memancarkan cahaya merah, menghindari semburan-semburan udara panas yang keluar
dari dalam bumi. Pepohonan yang tadinya terasa familiar dan ramah kini berubah
menjadi monster-monster raksasa yang menghadang jalannya. Batang-batangnya yang
tadinya menjadi tempat berteduh kini menjadi tembok yang tidak bisa ditembus.
Akar-akar yang menjulang tadinya seperti lengkungan-lengkungan indah kini
seperti tangan-tangan yang mencoba menyergapnya.
Amat terus berlari, berlari, dan berlari. Ia tidak tahu ke
mana ia berlari, tidak tahu apakah ia berlari ke arah yang benar atau semakin
jauh dari tempat yang aman. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia harus menjauh dari
tempat itu, dari makhluk itu, dari cahaya merah yang menyala-nyala di
belakangnya. Ia berlari melewati aliran-aliran kecil yang airnya kini berwarna
merah seperti darah, melewati semak-semak yang daunnya berguguran karena panas,
melewati batang-batang pohon yang retak-retak seperti tanah di belakangnya.
Dan kemudian, tiba-tiba, tanah di bawah kakinya menghilang.
Ia menginjak kehampaan, merasakan udara dingin menyambut tubuhnya dari segala
arah, dan ia terjatuh. Jatuh ke dalam lubang yang gelap tanpa dasar, di mana
tidak ada cahaya, tidak ada suara, tidak ada apa pun selain kegelapan yang tak
berujung dan rasa jatuh yang tidak pernah berakhir.
Amat terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh
tubuhnya. Bukan hanya keringat biasa, tetapi keringat dingin yang membuat
pakaiannya basah seperti baru saja direndam air. Dadanya berdebar kencang,
begitu kencang sehingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri di dalam
kepalanya, seperti genderang yang dipukul berulang-ulang. Napasnya
terengah-engah, seperti baru saja berlari maraton dari ujung desa ke ujung desa
lainnya. Ia duduk di tempat tidurnya dengan tiba-tiba, matanya terbuka lebar,
menatap ke dalam kegelapan kamarnya yang familiar, mencoba membedakan antara
mimpi dan kenyataan.
Dinding-dinding kamar yang terbuat dari papan kayu albasia
berdiri di sekelilingnya, tidak bergerak, tidak bernapas. Langit-langit anyaman
bambu yang terlihat samar-samar karena cahaya bulan yang masuk melalui
celah-celah dinding. Lemari kayu sederhana di sudut kamar, tempat
pakaian-pakaiannya disimpan. Meja kecil di samping tempat tidur, dengan lampu
minyak yang sudah padam karena minyaknya habis. Semua benda itu ada di
tempatnya, tidak berubah, tidak bergerak. Ia ada di rumahnya. Ia aman.
Di luar, langit masih gelap. Bulan purnama yang tadi malam
ia lihat sebelum tidur kini telah bergeser ke ufuk barat, tinggal setengah
lingkaran yang redup karena kabut mulai menutupinya. Ayam jago belum berkokok.
Tengah malam masih jauh. Desa Awan Biru tertidur dalam kesunyian yang hanya
dipecahkan oleh suara jangkrik dan suara katak dari sawah di kejauhan. Semuanya
normal. Semuanya seperti biasa.
Tapi Amat tidak merasa normal. Ia masih merasakan getaran
tanah di bawah kakinya, meskipun sekarang ia duduk di tempat tidur yang tidak
bergerak. Ia masih merasakan panas dari cahaya merah yang menyembur dari
retakan-retakan tanah, meskipun sekarang ia berada di ruangan yang dingin. Ia
masih mendengar tawa makhluk itu bergema di kepalanya, meskipun tidak ada suara
apa pun di sekelilingnya selain suara jangkrik yang monoton.
"Amat? Kamu kenapa, Nak?" suara Sumirah dari
kamar sebelah. Ia pasti mendengar teriakan Amat dalam tidurnya, atau mungkin
mendengar suara Amat yang terjatuh dari tempat tidur, ia tidak ingat apakah ia
jatuh atau tidak, tetapi lututnya terasa sedikit sakit, mungkin karena
terbentur lantai ketika ia terbangun.
"Tidak apa-apa, Bu," jawab Amat, berusaha membuat
suaranya terdengar normal, meskipun ia tahu ia gagal. Suaranya serak, seperti
suara orang yang baru saja menangis atau berteriak terlalu keras. "Aku
hanya mimpi buruk. Tidak apa-apa."
Ia mendengar langkah kaki ibunya di ruang tamu, diikuti
oleh suara pintu yang berdecit, dan kemudian Sumirah masuk ke kamarnya. Sumirah
membawa lampu minyak kecil yang masih menyala, cahayanya yang redup menerangi
wajahnya yang tampak khawatir. Ia melihat anaknya duduk di tempat tidur dengan
wajah pucat, rambut basah oleh keringat, baju tidurnya basah di bagian dada dan
punggung.
Sumirah duduk di tepi tempat tidur, meletakkan lampu minyak
di meja kecil, lalu mengusap keringat di dahi Amat dengan lembut, dengan
telapak tangannya yang hangat dan kasar karena bekerja di kebun. "Mimpi
apa, Nak? Cerita sama Ibu."
Amat terdiam sejenak. Ia mempertimbangkan apakah ia harus
menceritakan semuanya atau tidak. Ada begitu banyak yang terjadi dalam
mimpinya: hutan lebat, pohon-pohon raksasa, cahaya kehijauan, lingkaran hitam,
batu besar, makhluk dengan mata merah, gemuruh tanah, retakan yang memancarkan
cahaya, dan tawa yang mengerikan itu. Ia tidak tahu bagaimana menceritakannya
dengan kata-kata yang bisa dimengerti oleh ibunya. Ia juga tidak ingin membuat
ibunya khawatir lebih dari yang sudah ia lihat di wajah Sumirah saat ini.
"Aku mimpi berada di hutan," katanya akhirnya,
memilih untuk hanya mengatakan sebagian. "Hutan yang sangat lebat.
Pepohonannya besar-besar, lebih besar dari pohon beringin di desa. Ada... ada
sesuatu di sana. Sesuatu yang bicara padaku. Aku tidak mengerti apa yang ia
katakan. Aku hanya... takut."
Sumirah tidak bertanya lebih lanjut. Ia tahu anaknya tidak
mudah ketakutan. Sejak kecil, Amat sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak
biasa, dengan suara-suara di malam hari, dengan bayangan-bayangan yang hanya ia
lihat. Jika ia sampai ketakutan sampai berteriak dalam tidurnya, pasti ada
sesuatu yang sangat mengganggunya. Tapi sebagai ibu yang tidak terlalu paham
tentang hal-hal gaib, ia tidak tahu harus berkata apa selain menenangkan.
"Besok pagi kita ke rumah Mbah Ratih, ya,"
katanya, sambil terus mengelus rambut Amat. "Mungkin beliau bisa membantu
menjelaskan. Beliau lebih tahu tentang mimpi-mimpi seperti ini."
Amat mengangguk. Ia membaringkan tubuhnya kembali,
sementara Sumirah masih duduk di sampingnya, mengelus-elus rambutnya dengan
lembut, sesekali menyeka keringat yang masih mengalir di dahi dan pipinya. Di
luar, angin malam bertiup pelan, membawa suara-suara dari kejauhan. Dan
perlahan-lahan, dengan kehangatan tangan ibunya di kepalanya, Amat akhirnya
tertidur kembali.
Tapi tidurnya kali ini tidak nyenyak. Ia terus
bergerak-gerak, sesekali menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, sesekali
tangannya mengepal seperti sedang memegang sesuatu yang ingin ia lepaskan. Dan
di dalam pikirannya, bayangan hutan lebat dan makhluk dengan mata merah terus
berputar, seperti rekaman yang diputar berulang-ulang, tidak mau berhenti.
Setelah mimpi pertama itu, Amat mulai sering mengalami
mimpi serupa. Tidak setiap malam, tetapi cukup sering, seminggu sekali, dua
minggu sekali, kadang tiga kali dalam seminggu jika ada sesuatu yang mengganggu
keseimbangan desa, meskipun ia tidak tahu apa itu, sehingga ia mulai merasa
bahwa mimpi-mimpi itu bukan sekadar kebetulan atau bunga tidur biasa. Ada pola
di dalamnya, ada pesan yang berulang, ada sesuatu yang ingin disampaikan
kepadanya oleh makhluk-makhluk yang tidak terlihat oleh orang lain.
Kadang ia bermimpi berada di hutan yang sama, dengan
pohon-pohon raksasa yang menjulang dan cahaya kehijauan yang remang-remang.
Kadang ia bermimpi berada di tempat yang berbeda: di tepi sungai dengan air
yang berwarna hitam pekat seperti tinta, yang tidak mengalir tetapi diam, dan
ketika ia menatapnya terlalu lama, ia melihat bayangan-bayangan bergerak di
bawah permukaannya, sesuatu yang mencoba naik ke atas tetapi selalu tertahan.
Kadang ia bermimpi berada di gua yang gelap, dengan dinding-dinding bercahaya
karena ada kristal-kristal yang tertanam di dalamnya, memancarkan cahaya biru
dan ungu yang aneh, dan dari kedalaman gua itu terdengar suara-suara yang tidak
bisa ia pahami, seperti orang-orang yang berbicara dalam bahasa yang sudah mati
ribuan tahun yang lalu. Kadang ia bermimpi berada di puncak gunung yang
diselimuti kabut, dengan angin yang bertiup kencang, dan dari balik kabut itu
ia melihat bayangan-bayangan besar bergerak, seperti gunung-gunung yang
berjalan, seperti awan-awan yang turun ke bumi.
Namun ada satu benang merah yang menghubungkan semua mimpi
itu, satu kesamaan yang tidak pernah absen: selalu ada suara yang memanggilnya.
Suara yang sama, dengan nada yang sama, dengan kata-kata yang sama, memanggil
namanya dari kejauhan. Amat... Amat Junior... Suara itu tidak
pernah marah, tidak pernah mengancam, tetapi selalu ada, selalu mengikuti,
selalu membuatnya merasa bahwa ia sedang dicari, sedang ditunggu, sedang
dipersiapkan untuk sesuatu yang besar.
Dan selalu ada makhluk itu. Kadang ia muncul di tengah
hutan, kadang di tepi sungai hitam, kadang di kedalaman gua, kadang di puncak
gunung. Bentuknya selalu berubah, tetapi matanya tidak pernah berubah: dua
titik cahaya merah yang menatap Amat dengan intensitas yang tidak pernah
berkurang. Dan ia selalu berbicara hal yang sama: tentang segel yang mulai
retak, tentang waktu yang semakin dekat, tentang pilihan yang harus dibuat
Amat.
Suatu malam, setelah bermimpi untuk kelima kalinya, atau
mungkin keenam, atau ketujuh, ia sudah kehilangan hitungan, Amat memutuskan
untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Setiap kali sebelumnya, ia selalu lari
ketika makhluk itu mulai tertawa dan tanah mulai berguncang. Ia selalu berlari
sekencang-kencangnya, melewati pepohonan, melewati sungai, melewati gua, sampai
ia jatuh ke dalam lubang tanpa dasar dan terbangun di tempat tidurnya dengan
keringat dingin. Tetapi malam itu, ia memutuskan untuk tidak lari. Ia mencoba
untuk tetap berada di dalam mimpi itu, mencoba untuk menjelajahi lebih jauh,
mencoba untuk mengendalikan ketakutannya. Ia ingin tahu apa sebenarnya yang
terjadi, siapa sebenarnya yang memanggilnya, dan apa yang sebenarnya diinginkan
oleh makhluk di atas batu itu.
Ia berdiri diam di tengah hutan. Pohon-pohon raksasa
mengelilinginya seperti tembok yang hidup, dengan akar-akar yang menjulang
seperti pilar-pilar katedral. Cahaya kehijauan yang remang-remang jatuh dari
kanopi yang rapat, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak perlahan di
tanah yang tertutup serasah daun. Udara dingin dan lembab, beraroma tanah basah
dan sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang lebih dalam.
Dari kejauhan, suara itu mulai terdengar. Amat...
Amat Junior...
Amat mengambil napas dalam-dalam. Dadanya berdebar, tetapi
ia tidak bergerak. Ia tetap berdiri di tempatnya, menatap ke arah sumber suara
itu. Kemudian, dengan sengaja, ia melangkah maju. Satu langkah, dua langkah,
tiga langkah. Kakinya terasa berat, seperti berjalan di dalam air, tetapi ia
terus melangkah. Ia melewati akar-akar yang menjulang, melewati semak-semak
yang lebat, melewati aliran-aliran kecil yang airnya sebening kristal. Semakin
jauh ia melangkah, semakin terang cahaya di sekitarnya, dan semakin jelas suara
panggilan itu.
Ketika ia tiba di lingkaran tanah hitam, makhluk itu sudah
menunggunya. Ia duduk di atas batu hitam seperti biasa, dengan bentuk yang
berubah-ubah, dengan mata merah yang menyala. Tapi kali ini, makhluk itu tidak
langsung berbicara. Ia hanya menatap Amat dengan tatapan yang aneh, seperti
seorang guru yang mengamati muridnya yang sedang mengerjakan ujian.
Kau tidak takut? tanya
makhluk itu akhirnya. Suaranya kali ini berbeda. Tidak seperti gemuruh, tidak
seperti guntur. Lebih lembut, hampir seperti bisikan, tetapi masih dalam, masih
berat, masih bergema di antara pohon-pohon. Anak-anak seusiamu biasanya
lari. Mereka berteriak, menangis, terbangun dengan keringat dingin. Mereka
tidak pernah kembali. Tapi kau... kau kembali. Dan sekarang kau tidak lari.
"Aku takut," jawab Amat jujur. Tangannya gemetar
di samping tubuhnya, tetapi ia tidak menyembunyikannya. "Aku sangat takut.
Jantungku berdebar kencang. Kakiku terasa seperti mau lari. Tapi aku juga ingin
tahu. Aku ingin tahu siapa kamu. Aku ingin tahu apa yang kamu inginkan. Aku
ingin tahu mengapa kamu terus memanggilku."
Makhluk itu terdiam sejenak. Matanya yang merah itu
berkedip perlahan, seperti lampu yang redup lalu terang kembali. Keberanian
yang langka untuk anak seusiamu. Kebanyakan manusia, bahkan yang sudah dewasa,
lari ketika mendengar suaraku. Mereka lebih memilih tidak tahu. Mereka lebih
memilih hidup dalam ketidakpedulian daripada menghadapi kebenaran yang mungkin
menakutkan. Tapi kau... kau berbeda.
"Kenapa aku berbeda?" tanya Amat.
Karena darahmu. Karena leluhurmu. Karena kau adalah
keturunan dari garis yang sama dengan orang yang mengurungku di sini tiga ratus
tahun yang lalu. Karena kau memiliki mata yang bisa melihat apa yang tidak
dilihat orang lain. Dan karena... karena kau memiliki hati yang tidak mudah
menyerah pada ketakutan.
Amat tidak tahu apakah itu benar. Ia tidak merasa berani.
Ia merasa takut, sangat takut. Tapi mungkin keberanian bukan tentang tidak
merasa takut, melainkan tentang terus melangkah meskipun takut. Dan malam itu,
ia memilih untuk terus melangkah.
"Apa yang akan terjadi jika segel ini rusak?"
tanyanya, memberanikan diri untuk bertanya tentang hal yang selama ini ia
hindari.
Makhluk itu tidak menjawab segera. Ia menatap Amat dengan
tatapan yang sulit diartikan. Apakah itu kesedihan? Atau kegembiraan? Atau
hanya rasa ingin tahu? Akhirnya, ia berbicara, dan suaranya lebih lembut dari
sebelumnya.
Kau benar-benar ingin tahu? Meskipun jawabannya mungkin
membuatmu tidak bisa tidur di malam-malam berikutnya?
"Aku lebih baik tahu daripada tidak tahu. Lebih baik
takut karena tahu daripada takut karena tidak tahu."
Makhluk itu tertawa. Tawa yang rendah, panjang, tetapi kali
ini tidak menakutkan. Hanya... tua. Sangat tua. Seperti tawa dari zaman yang
sudah lama berlalu.
Kau memang berbeda, Amat Junior. Baiklah. Aku akan
memberitahumu. Tapi ingat, ini hanya satu sisi dari cerita. Nanti, ketika kau
bertanya kepada penjagamu, kau akan mendengar sisi yang lain. Dan kemudian kau
harus memutuskan sendiri mana yang benar.
Amat duduk di tanah hitam itu, tidak peduli dengan hangat
yang terpancar dari dalam bumi. Ia menatap makhluk itu, menunggu.
Desa di atas sana, desa yang kau tinggali, didirikan oleh
leluhurmu tiga ratus tahun yang lalu. Tapi sebelum mereka datang, tempat ini
sudah dihuni. Bukan oleh manusia, tetapi oleh kami. Makhluk-makhluk yang lahir
dari alam itu sendiri. Kami hidup di hutan-hutan ini, di sungai-sungai ini, di
gunung-gunung ini, sejak sebelum manusia ada. Kami adalah penjaga alam, sama
seperti leluhurmu menjadi penjaga desa.
Kemudian manusia datang. Mereka membuka lahan, menebang
pohon, membangun pemukiman. Mereka tidak meminta izin. Mereka tidak
menghormati. Mereka hanya mengambil. Kami marah. Kami melawan. Dan dalam
peperangan itu, banyak yang mati. Dari pihak kami, dari pihak manusia. Hingga
akhirnya, seorang manusia, leluhurmu, yang memiliki kekuatan paling besar, berhasil
mengalahkan kami. Ia mengurung kami di bawah tanah. Ia memasang segel-segel di
berbagai tempat. Dan ia menugaskan penjaga-penjaga untuk memastikan kami tidak
pernah keluar.
Dan selama tiga ratus tahun, kami di sini. Di bawah tanah.
Dalam kegelapan. Menunggu. Menunggu segel ini melemah. Menunggu penjaga-penjaga
itu lengah. Menunggu manusia melupakan tugas mereka. Dan sekarang... sekarang
waktunya semakin dekat.
Makhluk itu berhenti. Matanya yang merah itu tidak lagi
menyala terang; redup, seperti api yang hampir padam. Itu cerita dari
sisiku, Amat Junior. Sekarang kau boleh bertanya pada penjagamu. Kyai Beringin,
kau memanggilnya. Tanyakan padanya apakah yang kukatakan ini benar. Dan
kemudian kau putuskan sendiri.
Amat duduk diam, mencerna semua yang baru saja ia dengar.
Ada begitu banyak informasi, begitu banyak hal baru yang tidak pernah ia
bayangkan sebelumnya. Ia selalu mengira bahwa makhluk-makhluk yang dikurung di
bawah tanah itu adalah makhluk jahat, musuh yang harus dilawan. Tapi makhluk
ini... ia tidak terlihat jahat. Ia terlihat... tua. Lelah. Kesepian. Mungkin
marah, tetapi marah dengan alasan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya akhirnya.
Makhluk itu menatapnya lama. Itu yang harus kau
putuskan sendiri. Aku tidak bisa memberitahumu. Penjagamu juga tidak bisa
memberitahumu. Hanya kau yang bisa memutuskan. Karena kau adalah keturunan dari
garis penjaga. Kau adalah satu-satunya yang bisa memperbaiki segel ini. Dan kau
adalah satu-satunya yang bisa membukanya. Pilihan ada di tanganmu.
Amat terbangun dengan perasaan yang berbeda dari
mimpi-mimpi sebelumnya. Tidak ada ketakutan, tidak ada keringat dingin, tidak
ada jantung berdebar kencang. Yang ada hanyalah perasaan tenang, seperti
setelah mendengar nasihat dari orang tua yang bijaksana, atau setelah membaca
buku yang memberikan pencerahan baru. Di luar jendela, langit mulai terang.
Ufuk timur berwarna jingga keemasan, tanda bahwa matahari akan segera terbit.
Ayam-ayam sudah mulai berkokok bersahutan, membangunkan desa dari tidurnya.
Amat duduk di tepi tempat tidurnya, menatap telapak
tangannya yang kecil. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang berubah. Ia tidak bisa
menjelaskannya, tetapi ia merasa bahwa sejak malam itu, ia tidak lagi sama. Ada
kesadaran baru yang tumbuh di dalam dirinya: bahwa ia bukan anak biasa, bahwa
ada tanggung jawab yang menantinya di masa depan, bahwa ia harus mempersiapkan
diri untuk itu. Dan yang lebih penting, ia menyadari bahwa dunia ini tidak
hitam putih. Tidak ada yang sepenuhnya jahat, tidak ada yang sepenuhnya baik.
Semua memiliki cerita, semua memiliki alasan, semua memiliki sisi yang berbeda
tergantung dari mana kita melihatnya.
Keesokan paginya, setelah sarapan sederhana dengan nasi dan
telur dadar yang dimasak ibunya, Amat pamit untuk pergi ke rumah Mbah Ratih. Ia
tidak memberi tahu ibunya secara detail tentang mimpinya, hanya mengatakan
bahwa ia ingin berkonsultasi dengan Mbah Ratih tentang sesuatu yang mengganggu
pikirannya. Sumirah tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk dan
berpesan agar Amat berhati-hati di jalan.
Rumah Mbah Ratih tidak jauh dari rumah Amat, sekitar lima
belas menit berjalan kaki jika jalan setapak tidak terlalu becek. Amat memilih
jalan memutar yang melewati lapangan desa, bukan karena lebih dekat, tetapi
karena ia ingin melihat pohon beringin tua. Pagi itu, kabut masih tipis di
sekitar pohon itu, dan bayangan-bayangan yang biasa ia lihat tampak lebih
tenang dari biasanya. Mereka bergerak perlahan, seperti orang-orang yang sedang
berjalan santai, tidak terburu-buru, tidak gelisah. Amat berdiri sejenak di
pinggir jalan, menatap pohon itu, dan untuk sesaat ia merasa bahwa Kyai
Beringin berdiri di antara akar-akar besar, menatapnya dengan mata yang teduh.
Ia mengangkat tangannya, memberi hormat, lalu melanjutkan perjalanan.
Mbah Ratih sedang duduk di pendopo ketika Amat tiba. Ia
sedang meronce bunga melati, benang putih di tangannya yang keriput bergerak
lincah menusuk setiap kuntum bunga, merangkainya menjadi kalung yang akan
digunakan untuk sesaji di pura kecil di belakang rumahnya. Bunga-bunga melati
itu putih bersih, dengan aroma yang harum semerbak, menyebar ke seluruh
pendopo, bercampur dengan aroma teh jahe yang selalu diseduhnya setiap pagi.
Ketika melihat Amat datang dengan wajah yang lebih serius
dari biasanya, bukan wajah sedih, bukan wajah takut, tetapi wajah orang yang
sedang memikirkan sesuatu yang berat, yang terlalu berat untuk anak seusianya, Mbah
Ratih langsung tahu bahwa anak itu datang bukan untuk bermain atau mendengarkan
dongeng biasa. Ada sesuatu yang ingin diceritakannya, sesuatu yang mengganggu
pikirannya, sesuatu yang mungkin berhubungan dengan mimpi-mimpi yang ia alami.
"Duduklah, Nak," kata Mbah Ratih sambil menepuk
lantai kayu di sampingnya. Lantai kayu jati tua itu sudah halus karena usia dan
gesekan, berwarna coklat tua dengan serat-serat yang masih terlihat jelas.
"Ibu sudah membuatkan teh jahe. Masih hangat. Aku lihat kamu perlu sesuatu
yang hangat untuk menenangkan pikiran."
Amat duduk di samping Mbah Ratih, mengambil cangkir teh
yang sudah disediakan. Cangkir itu dari porselen putih, sudah retak di
pinggirnya tetapi masih digunakan karena itu adalah warisan dari ibunya. Teh
jahe di dalamnya berwarna kuning kecoklatan, dengan potongan jahe kecil
mengapung di permukaannya. Amat meminumnya perlahan, merasakan hangatnya jahe
merambat di tenggorokannya, menyebar ke dada, ke perut, ke seluruh tubuh. Rasa
hangat itu membuatnya sedikit lebih tenang, sedikit lebih siap untuk
menceritakan apa yang selama ini ia simpan.
"Mbah, aku ingin bercerita tentang mimpiku,"
katanya setelah beberapa teguk, meletakkan cangkir di lantai di sampingnya.
"Ceritakan," kata Mbah Ratih. Ia tidak berhenti
meronce bunga, tetapi telinganya terbuka lebar, mendengarkan dengan saksama.
Tangannya yang keriput terus bergerak, menusuk setiap kuntum melati dengan
benang putih, tetapi matanya sesekali menatap Amat, mengamati ekspresi
wajahnya.
Amat menceritakan semuanya. Mimpi pertama di hutan lebat,
pohon-pohon raksasa, cahaya kehijauan, lingkaran tanah hitam, batu besar dengan
urat-urat putih. Makhluk dengan mata merah, bentuknya yang selalu berubah,
suaranya yang bergema seperti gemuruh dari dalam bumi. Ia menceritakan tentang
rasa takutnya, tentang bagaimana ia berlari setiap kali tanah mulai berguncang
dan cahaya merah mulai menyembur dari retakan-retakan. Ia menceritakan tentang
mimpi-mimpi berikutnya, tentang sungai hitam, tentang gua bercahaya, tentang
puncak gunung berkabut. Dan yang terakhir, ia menceritakan tentang mimpinya
yang paling baru, di mana ia memutuskan untuk tidak lari, untuk tetap berdiri,
untuk bertanya.
"Aku bertanya siapa dia, Mbah. Aku bertanya apa yang
akan terjadi jika segel ini rusak. Dan dia... dia menjawab. Dia bercerita
tentang asal-usul desa ini, tentang leluhur yang mengurung mereka, tentang tiga
ratus tahun di bawah tanah, tentang menunggu. Dia bilang, ada sisi lain dari
cerita ini. Dia bilang, aku harus bertanya pada penjaga. Pada Kyai Beringin.
Dan kemudian aku harus memutuskan sendiri."
Amat berhenti. Tangannya yang memegang cangkir teh bergetar
sedikit, bukan karena dingin, tetapi karena emosi yang masih menggelora di
dalam dirinya. Ia menatap Mbah Ratih, menunggu respons.
Mbah Ratih terdiam lama. Tangannya yang meronce bunga
berhenti bergerak. Bunga melati yang setengah jadi tergeletak di pangkuannya,
beberapa kuntum terlepas dari benang, jatuh ke lantai kayu. Ia menatap Amat dengan
mata yang tua, mata yang sudah melihat delapan puluh tahun kehidupan desa ini,
mata yang sudah menyaksikan banyak hal, baik yang indah maupun yang
menyakitkan.
"Nak Amat," katanya akhirnya, suaranya pelan
tetapi jelas, "apa yang kau alami bukan sekadar mimpi. Itu adalah
panggilan. Panggilan dari leluhur yang menjaga desa ini, dan mungkin juga dari
makhluk-makhluk yang dikurung di bawah tanah. Mereka sedang mempersiapkanmu.
Mereka sedang menguji kesiapanmu. Mereka ingin kau tahu bahwa kau adalah yang ditunggu-tunggu."
"Mempersiapkanku untuk apa, Mbah?"
"Untuk menjadi penjaga. Seperti yang sudah kukatakan
sebelumnya. Tapi sekarang, sepertinya waktunya lebih cepat dari yang
kuperkirakan." Mbah Ratih menghela napas panjang, napas yang keluar dari
paru-paru yang sudah tua, membawa serta beban yang sudah dipikulnya selama
puluhan tahun. "Biasanya, panggilan seperti ini baru muncul ketika
seseorang sudah dewasa, ketika ia sudah cukup matang untuk memahami tanggung
jawab yang akan dipikulnya. Tapi kau masih anak-anak, dan panggilan itu sudah
datang. Itu berarti keseimbangan desa ini sedang terganggu lebih cepat dari
perkiraan kita. Lebih cepat dari yang kukira. Lebih cepat dari yang diramalkan
oleh Mbah Karta sebelum ia meninggal."
"Makhluk di atas batu itu... siapa dia, Mbah? Apakah
yang ia katakan itu benar?"
Mbah Ratih tidak menjawab segera. Ia meletakkan rangkaian
bunga melati yang setengah jadi di atas nampan bambu di sampingnya, lalu
mengambil cangkir teh jahe yang sudah mulai dingin. Ia meminumnya perlahan, merasakan
hangatnya jahe yang masih tersisa, seolah-olah membutuhkan waktu untuk
mengumpulkan kata-kata yang tepat.
"Apa yang ia katakan itu benar, Nak. Tapi tidak
sepenuhnya benar. Itu hanya satu sisi dari cerita, seperti yang ia katakan
sendiri." Mbah Ratih meletakkan cangkirnya, menatap Amat dengan mata yang
teduh tetapi serius. "Benar bahwa sebelum leluhur kita datang, tempat ini
dihuni oleh makhluk-makhluk yang lahir dari alam. Benar bahwa mereka hidup di
hutan-hutan ini, di sungai-sungai ini, di gunung-gunung ini, sejak sebelum
manusia ada. Benar bahwa mereka adalah penjaga alam, dalam cara mereka
sendiri."
"Tapi?"
Mbah Ratih tersenyum. "Kau pintar, Nak. Kau tahu ada
'tapi'."
"Ada selalu 'tapi', Mbah. Tidak ada cerita yang hanya
satu sisi."
Mbah Ratih mengangguk, bangga dengan kecerdasan anak ini.
"Benar, Nak. 'Tapi'-nya adalah: mereka bukan sekadar penjaga alam. Mereka
adalah makhluk yang tidak bisa hidup berdampingan dengan manusia. Mereka
menyerang siapa saja yang memasuki wilayah mereka, tanpa pandang bulu. Mereka
tidak mau berbagi. Mereka tidak mau berkompromi. Ketika leluhur kita datang,
mereka tidak hanya mempertahankan wilayah mereka, tetapi juga berusaha
memusnahkan manusia-manusia yang baru tiba itu. Bukan hanya leluhur kita,
tetapi juga keluarga mereka, anak-anak mereka, yang belum tahu apa-apa."
Amat mendengarkan dengan saksama, mencoba membayangkan
seperti apa zaman itu.
"Leluhur kita tidak punya pilihan," lanjut Mbah
Ratih. "Mereka harus melindungi diri mereka sendiri, melindungi keluarga
mereka, melindungi anak-anak yang tidak bersalah. Peperangan itu terjadi, dan
banyak yang mati. Di pihak kita, di pihak mereka. Sampai akhirnya, leluhur yang
paling kuat, yang konon memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam
semesta, berhasil mengalahkan makhluk-makhluk itu. Tapi ia tidak membunuh
mereka. Ia tidak memusnahkan mereka. Ia mengurung mereka di bawah tanah,
memasang segel-segel yang akan menjaga mereka tetap di sana, dan menugaskan
penjaga-penjaga untuk memastikan segel itu tidak rusak."
"Kenapa tidak dibunuh saja, Mbah?"
Mbah Ratih menghela napas. "Pertanyaan yang bagus,
Nak. Mungkin karena leluhur kita tahu bahwa makhluk-makhluk itu juga punya hak
untuk hidup. Mungkin karena mereka adalah bagian dari alam ini, dan memusnahkan
mereka akan merusak keseimbangan yang lebih besar. Mungkin karena leluhur kita
berharap, suatu hari nanti, ketika manusia sudah lebih bijaksana, segel itu
bisa dibuka dan manusia serta makhluk-makhluk itu bisa hidup berdampingan. Tapi
sayangnya, manusia tidak menjadi lebih bijaksana. Mereka justru menjadi lebih
lalai. Mereka melupakan ritual-ritual yang memperkuat segel. Mereka melupakan
leluhur yang telah berkorban. Dan sekarang, segel itu mulai retak."
Amat mengangguk, mencoba mencerna semua informasi itu.
"Jadi tidak ada yang sepenuhnya salah? Leluhur kita tidak salah mengurung
mereka, dan mereka tidak salah jika marah karena dikurung?"
"Tepat sekali, Nak. Tidak ada yang sepenuhnya benar,
tidak ada yang sepenuhnya salah. Yang ada hanyalah pilihan dan konsekuensi. Leluhur
kita memilih untuk melindungi manusia, dan konsekuensinya adalah
makhluk-makhluk itu terkurung. Makhluk-makhluk itu memilih untuk mempertahankan
wilayah mereka, dan konsekuensinya adalah mereka dikalahkan. Dan sekarang, kau
yang harus memilih."
"Memilih apa, Mbah?"
Mbah Ratih menatap Amat dengan tatapan yang dalam, tatapan
yang seolah-olah menembus kulit dan daging, menembus tulang dan sumsum, sampai
ke inti dari siapa Amat sebenarnya. "Memilih untuk memperbaiki segel,
melanjutkan apa yang dilakukan leluhurmu, menjaga makhluk-makhluk itu tetap
terkurung. Atau memilih untuk membuka segel, membebaskan mereka, dan berharap
bahwa kali ini manusia dan makhluk-makhluk itu bisa hidup berdampingan."
"Dan jika aku salah memilih?"
Mbah Ratih tersenyum. Senyum yang lembut, senyum yang penuh
kasih, tetapi juga senyum yang sedikit sedih. "Itu risiko yang harus kau
ambil, Nak. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika segel dibuka.
Mungkin makhluk-makhluk itu akan damai. Mungkin mereka akan menyerang lagi.
Mungkin mereka sudah berubah selama tiga ratus tahun di bawah tanah. Mungkin
juga tidak. Tidak ada yang tahu. Itu sebabnya pilihan ini sangat berat."
Amat terdiam. Beban di pundaknya terasa semakin berat,
seperti gunung yang ditumpukkan di atas bahu seorang anak kecil. Tapi di dalam
dadanya, ada tekad yang mulai terbentuk. Ia tidak tahu apa yang akan ia pilih,
tetapi ia tahu bahwa ia harus mempersiapkan diri. Ia harus belajar, harus tahu
lebih banyak, harus siap ketika waktunya tiba.
"Bisakah aku memperbaikinya sekarang, Mbah?
Segelnya?"
Mbah Ratih menggeleng. "Belum, Nak. Kau masih terlalu
kecil. Masih terlalu banyak yang harus kau pelajari. Dan segelnya belum selemah
itu. Masih ada waktu. Beberapa tahun, mungkin. Atau bahkan lebih, jika kita
semua berusaha memperkuatnya. Yang penting sekarang adalah kau mempersiapkan
dirimu."
"Bagaimana caranya, Mbah?"
"Belajar. Belajar tentang desa ini. Belajar tentang
leluhur. Belajar tentang alam. Belajar tentang manusia. Belajar tentang
makhluk-makhluk itu. Belajar tentang keseimbangan. Dan yang terpenting, belajar
tentang dirimu sendiri. Kenali kekuatanmu, kenali kelemahanmu. Karena ketika
waktunya tiba, kau harus menjadi penjaga yang tidak hanya kuat, tetapi juga
bijaksana. Penjaga yang tidak hanya melindungi, tetapi juga mengerti."
Amat mengangguk. Ia merasa sedikit lega mengetahui bahwa
masih ada waktu, tetapi juga merasa beban yang semakin berat di pundaknya. Ia
menatap Mbah Ratih dengan mata yang penuh pertanyaan.
"Mbah, bolehkah aku menceritakan ini kepada Raka dan
Camelia?"
Mbah Ratih berpikir sejenak. Tangannya kembali meronce
bunga melati, memunguti kuntum-kuntum yang jatuh di lantai, menusuknya dengan
benang putih. "Boleh. Mereka adalah teman-temanmu. Dan kau akan
membutuhkan mereka di perjalananmu nanti. Tapi ingat, jangan sampai membuat
mereka takut. Ceritakan dengan cara yang baik. Ceritakan dengan tenang. Dan
jangan pernah memaksa mereka untuk terlibat jika mereka tidak siap. Menjadi
penjaga adalah pilihan, bukan paksaan. Baik untukmu, maupun untuk orang-orang di
sekitarmu."
Amat tersenyum. Ia merasa sedikit lebih ringan setelah
menceritakan semuanya kepada Mbah Ratih. Beban di pundaknya masih ada, tetapi
tidak lagi terasa seperti gunung yang akan menghancurkannya. Mungkin karena ia
tahu bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki Mbah Ratih yang membimbingnya,
memiliki ibu yang menyayanginya, dan memiliki Raka dan Camelia yang akan selalu
ada untuknya.
"Mbah," katanya sebelum pamit pulang,
"terima kasih sudah mendengarkan. Aku... aku akan berusaha. Aku akan
belajar. Aku akan mempersiapkan diri. Dan suatu hari nanti, ketika waktunya
tiba, aku akan siap."
Mbah Ratih mengusap rambut Amat dengan lembut, seperti yang
selalu ia lakukan sejak Amat masih bayi. "Aku tahu, Nak. Aku tahu kau akan
siap. Karena kau adalah keturunan dari garis penjaga. Karena kau memiliki hati
yang baik dan pikiran yang jernih. Dan karena kau tidak sendirian. Ingat itu
selalu, Nak. Kau tidak sendirian."
Amat berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan dari
ketika ia datang. Di dalam dadanya, ada tekad yang baru tumbuh, tekad untuk
belajar, untuk mempersiapkan diri, untuk menjadi penjaga yang baik. Ia tidak
tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tidak tahu pilihan apa yang akan ia
buat, tidak tahu apakah ia akan berhasil atau gagal. Tapi ia tahu satu hal: ia
akan berusaha. Ia akan melakukan yang terbaik. Dan ketika waktunya tiba, ia
akan siap.
Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri megah di bawah
sinar matahari pagi, dengan kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang
menjalar, dengan penjaganya yang setia menunggu. Amat menatap pohon itu
sejenak, dan untuk sesaat, ia melihat Kyai Beringin berdiri di antara akar-akar
besar, menatapnya dengan mata yang teduh. Kyai Beringin mengangkat tangannya,
memberi hormat, memberi restu, memberi semangat.
Amat tersenyum. Ia mengangkat tangannya dan melambai balik.
Kemudian ia berbalik dan melanjutkan perjalanan pulang, dengan langkah yang
mantap, dengan hati yang tenang, dengan tekad yang kuat. Ia masih kecil. Masih
banyak yang harus ia pelajari. Tapi ia tidak takut. Karena ia tahu, ia tidak
sendirian.
BAB 9: Rahasia Sumur Tua Desa
Di belakang Kantor Desa Awan Biru, tepat di samping dapur
umum yang sudah tidak digunakan lagi sejak lima belas tahun yang lalu, sejak
peralatan masaknya dipindahkan ke balai pertemuan yang baru dibangun di sisi
selatan lapangan desa, terdapat sebuah sumur tua yang sudah tidak difungsikan
selama puluhan tahun. Dapur umum itu sendiri sekarang hanya berupa bangunan
kosong dengan dinding bata yang mulai retak, atap seng yang berkarat di
beberapa tempat, dan tungku-tungku besar yang sudah ditumbuhi lumut. Meja-meja
panjang dari kayu jati yang dulu digunakan untuk menyiapkan hidangan untuk
hajatan besar desa kini sudah lapuk, beberapa sudah roboh, dan menjadi sarang
tikus dan kecoa. Daun-daun kering menumpuk di sudut-sudut ruangan, dan angin
yang masuk melalui jendela-jendela yang kacanya pecah menciptakan suara-suara
aneh yang kadang-kadang membuat warga yang lewat di malam hari bergidik ngeri.
Sumur itu berdiameter sekitar dua meter, mungkin dua
setengah meter, sebuah ukuran yang tidak biasa untuk sumur biasa di desa-desa
Jawa pada umumnya. Biasanya, sumur untuk keperluan sehari-hari hanya
berdiameter satu meter atau bahkan kurang, cukup untuk menurunkan ember dan
menariknya kembali ke permukaan. Tapi sumur ini besar, sangat besar, seperti
mulut raksasa yang menganga ke arah langit. Dindingnya terbuat dari batu bata
merah yang disusun dengan rapi, menggunakan teknik kuno yang tidak lagi
digunakan oleh tukang-tukang batu masa kini, dengan adukan dari kapur dan pasir
yang sudah mengeras seperti batu. Batu bata itu berwarna merah tua, hampir
coklat kehitaman, dengan lumut tebal berwarna hijau tua menutupi hampir seluruh
permukaannya, tumbuh subur di celah-celah antara bata yang sudah melebar karena
usia. Lumut itu terasa lembut ketika disentuh, basah dan dingin, dan ketika
digosok akan mengeluarkan aroma tanah yang khas, aroma yang mengingatkan pada
hutan di musim hujan atau pada gua-gua yang jarang dimasuki manusia.
Bibir sumur terbuat dari batu andesit yang dihaluskan, batu
vulkanik berwarna abu-abu gelap yang diambil dari lereng Gunung Merbabu yang
berjarak puluhan kilometer dari desa ini. Batu itu dipotong dan dibentuk dengan
sangat presisi, membentuk lingkaran sempurna dengan permukaan yang halus,
licin, dan mengkilap. Tidak ada yang tahu bagaimana leluhur desa ini, dengan
teknologi yang sangat terbatas pada masa itu, bisa membawa batu seberat itu
dari gunung yang jauh, apalagi membentuknya dengan tingkat kehalusan yang
bahkan sulit ditiru oleh tukang batu modern dengan peralatan listrik sekalipun.
Beberapa orang percaya bahwa batu itu bukan diangkut dengan tenaga manusia,
tetapi diantar oleh makhluk halus yang menjadi pelayan leluhur. Yang lain
percaya bahwa batu itu memang sudah ada di tempat itu sejak sebelum desa ini
didirikan, dan leluhur hanya membangun sumur di sekelilingnya. Tidak ada yang
tahu pasti, dan mungkin tidak ada yang akan pernah tahu.
Di atas sumur, sejak sekitar tiga puluh tahun yang lalu,
terdapat sebuah tutup dari kayu jati tebal yang dipasang oleh pemerintah desa.
Kayu jati itu setebal sepuluh sentimeter, dipotong dengan ukuran yang lebih
besar dari diameter sumur, dan diberi engsel besi yang besar dan kuat agar bisa
dibuka jika diperlukan. Tapi sejauh ingatan warga, tutup itu tidak pernah
dibuka. Engselnya sudah berkarat, berwarna coklat kemerahan, dengan lapisan
karat yang tebal sehingga hampir tidak bisa digerakkan. Permukaan kayunya sudah
lapuk di beberapa bagian, berwarna abu-abu kehitaman, dengan serat-serat kayu
yang mulai terkelupas karena dimakan usia dan cuaca. Di beberapa tempat, lumut
juga tumbuh di permukaan kayu, menciptakan bercak-bercak hijau yang kontras
dengan warna gelap kayu yang lapuk.
Alasan pemasangan tutup ini, menurut versi resmi yang
selalu disebutkan oleh perangkat desa ketika ada warga yang bertanya, adalah
karena sekitar tiga puluh tahun yang lalu ada seorang anak kecil yang
dikabarkan jatuh ke dalam sumur itu dan tidak pernah ditemukan jasadnya. Versi
ini diceritakan berulang-ulang, diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi
semacam peringatan bagi anak-anak desa untuk tidak bermain di dekat sumur tua
itu. Anak itu, konon, sedang mengejar belalang di padang ilalang di belakang
kantor desa, tidak melihat bahwa ia sudah terlalu dekat dengan bibir sumur yang
tidak bertembok, dan dalam sekejap ia sudah menghilang ke dalam kegelapan.
Tidak ada yang mendengar teriakannya, tidak ada yang melihat ia jatuh. Ia baru
diketahui hilang ketika ibunya mulai mencarinya menjelang magrib. Pencarian
dilakukan selama berhari-hari, sumur itu dikuras airnya, tetapi jenazah anak
itu tidak pernah ditemukan. Hanya sandalnya yang mengapung di permukaan air,
itupun setelah tiga hari pencarian.
Tapi versi resmi itu, seperti banyak hal di Desa Awan Biru,
hanyalah satu lapisan dari cerita yang lebih dalam. Di balik pintu-pintu
tertutup, di dapur-dapur ketika anak-anak sudah tidur, di warung-warung kopi
ketika malam sudah larut dan hanya orang-orang tua yang masih duduk-duduk,
beredar versi yang berbeda. Versi yang diceritakan dengan suara berbisik,
dengan mata yang waspada ke sekeliling, dengan tangan yang sesekali membuat
isyarat untuk menangkal hal-hal yang tidak diinginkan.
Versi itu mengatakan bahwa anak itu tidak jatuh. Ia
ditarik. Ditarik oleh sesuatu dari dalam sumur. Sesuatu yang telah lama
terkubur di dasar sumur itu, menunggu waktu yang tepat untuk keluar. Sesuatu
yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa, tetapi bisa dirasakan oleh mereka yang
memiliki indra yang lebih tajam. Sesuatu yang, selama tiga puluh tahun
terakhir, terus meronta di bawah tutup kayu jati yang tebal itu, berusaha
mencari celah, berusaha mencari jalan keluar.
Mbah Ratih, dalam salah satu ceritanya kepada Amat ketika
ia masih kecil, pernah menyebut sumur ini dengan nada yang berbeda dari tempat-tempat
keramat lainnya. Tidak seperti pohon beringin yang ia ceritakan dengan hangat,
atau hutan larangan yang ia ceritakan dengan hormat, sumur ini ia ceritakan
dengan nada hati-hati, dengan pilihan kata yang sengaja dijaga, seolah-olah ada
batas-batas tertentu yang tidak boleh dilanggar.
"Sumur itu, Nak," katanya suatu sore ketika Amat
bertanya tentang tempat-tempat angker di desa, "bukan sembarang sumur. Ia
adalah salah satu dari tiga titik penjagaan utama di desa ini. Pohon beringin
di tengah desa adalah yang pertama. Sumur di belakang kantor desa adalah yang
kedua. Dan yang ketiga... ah, itu belum saatnya kau tahu."
"Kenapa sumur itu dijaga, Mbah?" tanya Amat, rasa
ingin tahunya tergelitik.
"Karena di dalamnya ada sumber air yang menjadi
kehidupan desa ini. Bukan hanya air untuk minum dan mandi, tetapi air yang
menyuburkan tanah, yang membuat sawah-sawah kita hijau, yang membuat
pohon-pohon di kebun berbuah lebat. Air itu dijaga oleh penjaga yang telah
ditugaskan oleh leluhur sejak desa ini didirikan. Dan penjaga itu... ia lelah,
Nak. Sangat lelah. Karena manusia mulai tidak menghormatinya."
"Manusia mulai tidak menghormati? Maksudnya?"
Mbah Ratih menghela napas. "Mereka membuang sampah ke
sungai. Mereka menggunakan air secara berlebihan. Mereka menebang pohon-pohon
di sekitar mata air. Mereka tidak lagi melakukan ritual-ritual yang dulu
dilakukan setiap tahun untuk memberi penghormatan pada air. Dan semua itu
membuat penjaga air semakin lemah. Jika suatu hari ia mati, atau pergi, maka
sumber air desa ini akan kering. Sawah-sawah akan mati. Desa ini akan menjadi
gurun."
Amat ingat betapa seriusnya wajah Mbah Ratih ketika
mengatakan itu. Bukan seperti ketika ia bercerita tentang dongeng-dongeng
biasa, dengan senyum dan tawa di sela-sela cerita. Kali ini wajahnya serius,
garis-garis di dahinya dalam, matanya yang tua itu menatap Amat dengan
intensitas yang jarang ia tunjukkan.
"Kau akan mengerti suatu hari nanti, Nak," kata
Mbah Ratih, mengakhiri ceritanya. "Kau akan melihat sendiri sumur itu. Dan
ketika itu terjadi, ingatlah kata-kataku: air adalah kehidupan. Jaga air, dan
air akan menjagamu."
Penemuan petunjuk tentang sumur tua ini bermula dari rasa
penasaran Camelia yang tidak pernah puas, sebuah sifat yang kadang-kadang
membuat Raka mengeluh tetapi justru membuat Amat merasa nyaman karena ada
seseorang yang setara dalam hal rasa ingin tahu. Setelah berminggu-minggu
membaca buku-buku kuno peninggalan nenek Amat, buku-buku yang ditulis tangan
dengan aksara Jawa dan aksara Arab pegon, dengan kertas yang sudah rapuh dan
berwarna kuning kecoklatan seperti daun-daun kering di musim kemarau, Camelia
menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Itu terjadi pada suatu sore ketika hujan gerimis turun di
luar rumah, membuat mereka bertiga terpaksa mengurung diri di ruang tamu rumah
Amat. Tikar anyaman bambu dihamparkan di lantai, dengan bantal-bantal kecil
yang sudah pipih karena usia sebagai sandaran. Raka membawa sepiring penuh
rempeyek buatan ibunya yang masih renyah, dan Camelia membawa buku catatan dan
pensilnya yang selalu rapi. Amat, seperti biasa, duduk di sudut dekat jendela,
sesekali menatap ke luar ke arah kabut tipis yang merayap turun dari lereng
Bukit Pangasih, sebelum kembali fokus pada buku yang sedang ia baca.
Camelia sedang membolak-balik sebuah buku yang paling tua
di antara koleksi buku-buku itu. Sampulnya terbuat dari kulit kayu yang sudah
menghitam dan mengeras, dengan tali pengikat dari serat nanas yang sudah rapuh.
Di beberapa tempat, kulit kayu itu sudah terkelupas, memperlihatkan lembaran-lembaran
kertas di dalamnya yang juga tidak kalah rapuhnya. Setiap kali ia membalik
halaman, ia melakukannya dengan sangat hati-hati, hampir seperti seorang ahli
konservasi di museum, karena ia tahu bahwa kertas-kertas ini tidak akan
bertahan lama jika diperlakukan dengan kasar.
"Amat, lihat ini," kata Camelia tiba-tiba,
suaranya meninggi sedikit karena kegembiraan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia
menggeser badannya mendekati Amat, membawa buku itu dengan kedua tangan,
seperti membawa benda yang sangat berharga. "Lihat gambar ini."
Amat menutup buku yang sedang ia baca, sebuah buku tentang
primbon Jawa yang ia pinjam dari Mbah Ratih dan mendekat ke arah Camelia. Raka,
yang sejak tadi asyik mengunyah rempeyek sambil sesekali melirik buku-buku itu
tanpa minat, ikut mendekat. Ia tidak terlalu paham dengan aksara-aksara kuno
itu, tetapi gambar-gambarnya selalu menarik perhatiannya.
Di halaman yang terbuka itu, terdapat sebuah gambar yang
dibuat dengan tinta hitam yang sudah memudar menjadi coklat kemerahan. Gambarnya
sederhana tetapi detail: sebuah lingkaran besar yang mewakili bibir sumur,
dengan garis-garis vertikal di dalamnya yang mewakili dinding sumur yang
terbuat dari batu bata. Di sekeliling lingkaran itu, terdapat simbol-simbol
aneh yang tidak dikenali oleh Camelia: lingkaran-lingkaran kecil dengan titik
di tengahnya, garis-garis spiral yang berputar searah jarum jam, dan pola-pola
geometris yang rumit seperti labirin. Di bagian bawah gambar, terdapat deretan
aksara Jawa yang ditulis dengan tangan yang sangat rapi, menunjukkan bahwa
orang yang menulisnya adalah seorang yang terlatih dalam hal tulis-menulis,
mungkin seorang pujangga atau petapa.
Camelia sudah menyalin simbol-simbol itu di buku
catatannya, dengan ketelitian yang luar biasa, mencoba menggambar ulang setiap
garis dan lengkungan persis seperti yang ada di buku asli. "Aku sudah
periksa simbol-simbol ini," katanya, suaranya penuh dengan semangat yang
hanya muncul ketika ia sedang membahas sesuatu yang benar-benar menarik
minatnya. "Simbol-simbol ini sama persis dengan yang ada di batu nisan di
pemakaman tua desa. Ingat tidak, waktu kita ke sana dulu untuk tugas sekolah
tentang sejarah lokal? Aku sempat foto beberapa batu nisan dengan ponselnya
Ibu. Tadi aku cek fotonya lagi, dan simbolnya sama. Persis sama."
Raka mengernyit, berusaha mengingat. "Batu nisan yang
di pemakaman tua itu? Yang katanya angker dan tidak boleh dikunjungi
malam-malam?"
"Iya, yang itu," Camelia mengangguk. "Tapi
bukan itu yang penting. Yang penting adalah bahwa simbol-simbol ini pasti
memiliki makna. Mereka tidak diletakkan di sana tanpa alasan. Di pemakaman tua,
simbol-simbol ini ada di batu nisan orang-orang yang dianggap sebagai leluhur
desa. Di buku ini, simbol-simbol ini ada di sekitar gambar sumur. Artinya,
sumur ini memiliki hubungan dengan leluhur, mungkin dengan ritual-ritual yang
mereka lakukan."
Amat mengamati gambar itu dengan saksama. Matanya yang biru
itu bergerak perlahan mengikuti garis-garis spiral, lingkaran-lingkaran, dan
pola-pola geometris yang rumit. Ada sesuatu yang familiar dari gambar itu,
sesuatu yang ia rasakan pernah ia lihat sebelumnya, bukan di buku, tetapi di
dunia nyata.
"Aku pernah melihat sumur ini," katanya
tiba-tiba, setelah beberapa saat terdiam. "Di belakang kantor desa, kan?
Yang ditutup kayu besar itu. Waktu aku kecil, Ibu pernah membawaku ke kantor
desa untuk mengurus administrasi kependudukan. Aku main-main di belakang dan
melihat sumur itu. Ada papan peringatan di depannya. 'Dilarang Mendekat'."
"Iya!" Camelia bersemangat. "Itu sumur tua
yang katanya angker. Aku juga pernah lihat. Ibu selalu melarangku mendekat.
Katanya ada anak yang jatuh ke dalam sumur itu dulu dan tidak pernah ditemukan.
Tapi menurut buku ini, sumur itu bukan sekadar sumur biasa. Itu adalah..."
Ia membaca aksara Jawa di bawah gambar itu, membunyikannya perlahan, berusaha
menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. "'Pa... pu... se... rat...
e... ne... rgi... de... sa...' Aku kurang yakin, tapi sepertinya ini berbunyi:
'Pusat energi desa. Tempat bersemayamnya penjaga air. Jaga selalu, karena air
adalah kehidupan.'"
Raka yang sejak tadi diam mendengarkan, tiba-tiba
bersemangat. Matanya yang sipit terbuka lebar, rempeyek yang sedang ia kunyah
tertahan di mulutnya. "Jadi maksudnya di sumur itu ada penjaganya? Kayak
di pohon beringin? Wah, seru! Kita lihat yuk! Aku penasaran, penjaga air itu
bentuknya kayak apa. Apakah seperti ikan besar? Atau ular? Atau mungkin...
katak? Yang punya mahkota kayak raja katak di cerita?"
"Raka, itu sumur angker!" Camelia memprotes,
meskipun ia sendiri juga penasaran. "Kata orang-orang, siapa pun yang
mendekati sumur itu akan diganggu oleh penunggunya. Bisa kena sial, bisa sakit,
bisa..."
"Ah, masa sih," Raka memotong dengan santai,
mengambil rempeyek lagi dan menggigitnya dengan keras, bunyi kresek-kresek mengisi
ruangan. "Kita kan cuma mau lihat-lihat. Nggak bakal ganggu. Lagian, kata
Mbah Ratih, penunggu itu sebenarnya bukan hantu jahat. Mereka cuma menjalankan
tugas. Mungkin penjaga air itu orang baik. Mungkin dia hanya kesepian karena
nggak pernah ada yang datang mengunjungi. Kayak kakek-kakek yang duduk
sendirian di teras rumah, seneng kalau ada yang main ke rumahnya."
Amat tersenyum mendengar perumpamaan Raka yang khas.
"Kamu benar, Ra. Mungkin penjaga air itu hanya kesepian. Tapi kita harus
hati-hati. Kita tidak boleh sembarangan membuka sumur itu. Bisa
berbahaya."
"Kita lihat dulu dari luar," usul Camelia, yang
sebenarnya sudah tidak sabar. "Kita lihat ukiran-ukiran di tutup sumurnya.
Mungkin ada petunjuk lain. Kita tidak perlu membuka sumurnya. Cukup lihat dari
luar."
Mereka bertiga sepakat. Mereka akan pergi ke sumur tua itu
keesokan harinya, sepulang sekolah, ketika balai desa sedang sepi karena jam
istirahat siang. Camelia akan membawa buku catatan dan kameranya, ponsel ibunya
yang dipinjam tanpa sepengetahuan Bu Lulu. Raka akan membawa bekal rempeyek dan
air minum, untuk berjaga-jaga jika mereka kehausan atau kelaparan. Amat akan
membawa buku-buku tua yang berisi gambar sumur itu, untuk dibandingkan dengan
ukiran asli di tempat.
Keesokan harinya, tepat pukul satu siang, mereka bertiga
berkumpul di depan balai desa. Matahari sedang terik-teriknya, tepat di atas
kepala, membuat bayangan mereka nyaris tidak ada, hanya lingkaran hitam kecil
di bawah kaki masing-masing. Langit berwarna biru pucat, seperti biasa di Desa
Awan Biru, dengan beberapa gumpalan awan putih yang bergerak perlahan ditiup
angin dari arah selatan. Udara masih terasa sejuk meskipun matahari bersinar
terang, karena ketinggian desa yang mencapai delapan ratus meter di atas permukaan
laut membuat suhu tidak pernah terlalu panas, bahkan di tengah hari sekalipun.
Kantor desa tampak sepi. Tidak ada warga yang sedang
mengurus administrasi, tidak ada rapat yang sedang berlangsung. Mobil dinas Pak
Iwan, sebuah Toyota Kijang kapsul berwarna hijau tua yang sudah usang, tidak
terparkir di halaman, pertanda bahwa kepala desa sedang tidak di tempat. Bu
Lulu, Kaur Keuangan desa sekaligus Ibu Camelia, sedang pulang ke rumah untuk
istirahat, karena Camelia sendiri yang memberitahukan bahwa ibunya selalu
pulang pada jam istirahat untuk makan siang dan tidur sebentar. Pak Eko, Kaur
Perencanaan, sedang ada di kecamatan untuk mengurus proposal pembangunan jalan
desa. Pak Edi, Kaur Kesra, sedang menghadiri pengajian di rumah salah satu
warga. Bu Endang, Kasi Pelayanan, juga sedang tidak terlihat. Hanya ada Si
Amat, Admin Desa, yang mungkin sedang tidur siang di ruang belakang, seperti
kebiasaannya setiap hari setelah makan siang.
Mereka bertiga berjalan perlahan menyusuri sisi samping
kantor desa, melewati lorong sempit antara tembok kantor dan pagar bambu yang
membatasi halaman kantor dengan kebun warga. Lorong itu hanya selebar satu
meter, dengan lantai dari tanah yang becek karena tidak pernah terkena sinar
matahari. Di beberapa tempat, terdapat genangan air kecil yang sudah ditumbuhi
lumut hijau, membuat jalan itu licin dan berbahaya. Raka, dengan tubuhnya yang
paling tambun di antara mereka bertiga, harus berjalan dengan sangat hati-hati,
tangannya sesekali menyentuh tembok kantor yang lembab untuk menjaga
keseimbangan.
Setelah melewati lorong itu, mereka tiba di halaman
belakang kantor desa. Halaman ini lebih luas dari yang mereka bayangkan. Rumput
ilalang tumbuh di mana-mana, setinggi pinggang orang dewasa, berwarna hijau
kekuningan karena musim kemarau yang baru saja berlalu. Di beberapa tempat,
rumput itu sudah mengering dan roboh, membentuk tumpukan-tumpukan kecil yang
menjadi tempat bersembunyinya belalang-belalang hijau yang melompat ke sana
kemari ketika mereka lewat. Pohon-pohon pisang tumbuh di sudut-sudut halaman,
dengan daun-daun lebar yang sudah menguning di ujung-ujungnya, dan
tandan-tandan pisang yang masih hijau menggantung di antara pelepahnya.
Di tengah halaman ini, di samping dapur umum yang sudah
tidak terpakai, sumur tua itu berdiri.
Sumur itu terlihat lebih besar dari yang dibayangkan Amat.
Jauh lebih besar. Dari kejauhan, ia hanya terlihat seperti gundukan gelap di
tengah lautan rumput ilalang. Tapi ketika mereka mendekat, ukurannya yang
sesungguhnya mulai terlihat. Bibir sumur yang terbuat dari batu andesit itu
menonjol sekitar setengah meter dari permukaan tanah, dengan diameter yang
mencapai dua meter lebih. Tutup kayu jati yang menutupinya sudah lapuk di
beberapa bagian, berwarna abu-abu kehitaman, dengan serat-serat kayu yang
terkelupas di permukaan. Di beberapa tempat, lumut tumbuh subur, menciptakan
bercak-bercak hijau yang kontras dengan warna gelap kayu.
Di sekeliling sumur, tumbuh rumput ilalang yang lebih
tinggi dari di tempat lain, mencapai dada orang dewasa. Rumput-rumput itu
tumbuh sangat rapat, seolah-olah membentuk pagar alami yang melindungi sumur
dari gangguan manusia. Mereka harus berjalan dengan susah payah menembus
rumput-rumput itu, tangan mereka menangkis daun-daun ilalang yang tajam, kaki
mereka waspada terhadap batu-batu dan akar-akar yang tersembunyi di balik
rumput.
"Wah, serem juga," bisik Raka, untuk pertama
kalinya dalam hidupnya terlihat sedikit ragu. Suaranya yang biasanya lantang
dan penuh percaya diri itu mengecil menjadi setengah berbisik, seolah-olah ia
takut mengganggu sesuatu. Wajahnya yang bulat itu sedikit pucat, matanya yang
sipit menyipit semakin sempit, seperti sedang berusaha melihat sesuatu di balik
kegelapan sumur itu. "Kayak tempat persembunyian kuntilanak. Atau
genderuwo. Atau... apa lagi namanya? Yang suka tinggal di pohon besar?"
"Jangan bicara begitu," Camelia memperingatkan,
suaranya juga tidak sepenuhnya stabil. Ia memegang erat buku catatannya di
dada, seolah-olah buku itu bisa melindunginya dari hal-hal yang tidak
diinginkan. "Nanti beneran datang. Aku nggak mau. Ibu bilang, kalau kita
memanggil makhluk halus dengan menyebut namanya, mereka bisa datang."
"Iya, Ra," tambah Amat, suaranya lebih tenang
dari keduanya, meskipun ia juga merasakan kegelisahan yang sama. "Kita
hormati tempat ini. Jangan bicara sembarangan."
Mereka bertiga berdiri di tepi sumur, sekitar satu meter
dari bibirnya. Amat yang paling depan, diikuti oleh Camelia yang sedikit di
belakangnya, dan Raka yang paling belakang, masih agak ragu untuk terlalu
dekat. Angin bertiup pelan dari arah selatan, membawa kabut tipis yang mulai
merayap turun dari lereng-lereng bukit, meskipun waktu masih menunjukkan pukul
satu siang. Kabut itu aneh; biasanya kabut baru turun sore hari, ketika
matahari mulai condong ke barat. Tapi hari itu, kabut sudah mulai terlihat
sejak siang, seolah-olah sesuatu di desa ini sedang memanggilnya.
Amat mendekati sumur itu dengan langkah hati-hati. Ia
merasakan sesuatu yang tidak biasa segera setelah kakinya menginjak tanah di
sekitar sumur. Tanah di sini terasa berbeda dari tanah di tempat lain. Lebih
lembut, lebih basah, seperti tanah di tepi sungai atau di dekat mata air. Dan
ada getaran aneh yang merambat dari tanah ke telapak kakinya, seperti aliran
listrik lembut yang tidak berbahaya tetapi terasa jelas. Getaran itu naik dari
telapak kaki ke betis, ke lutut, ke paha, ke perut, ke dada, hingga akhirnya ia
bisa merasakannya di seluruh tubuhnya. Getaran itu tidak terasa sakit, tidak
juga tidak nyaman; ia terasa seperti... seperti detak jantung. Detak jantung
yang sangat lambat, sangat dalam, seperti detak jantung raksasa yang tertidur
di bawah tanah.
Ia juga merasakan udara di sekitar sumur itu lebih dingin
daripada tempat lain di sekitarnya. Dinginnya tidak seperti dinginnya angin
pegunungan yang menusuk tulang, tetapi dingin yang lembab, dingin yang keluar
dari dalam tanah, seperti udara di dalam gua atau di ruang bawah tanah yang
tidak pernah tersentuh sinar matahari. Dingin itu membawa bau yang aneh: bau
tanah basah yang sangat kuat, bau air yang menggenang lama, bau lumut dan
jamur, dan di balik semua itu, ada bau lain yang tidak bisa ia identifikasi.
Bau itu bukan bau yang tidak sedap, tetapi juga bukan bau yang harum. Ia adalah
bau yang sangat tua, sangat dalam, seperti bau yang keluar dari bumi yang belum
pernah disentuh oleh manusia.
"Kalian merasakan itu?" tanyanya pelan, tanpa
menoleh ke belakang. Matanya masih terpaku pada sumur itu, pada tutup kayu yang
lapuk, pada ukiran-ukiran yang samar-samar terlihat di permukaannya.
"Rasakan apa?" tanya Raka dari belakang. Suaranya
masih setengah berbisik, dan Amat bisa mendengar bahwa Raka menggigit
rempeyeknya dengan lebih lambat dari biasanya, mungkin karena ia tidak yakin
apakah boleh makan di tempat seperti ini.
"Udara dingin. Dan getaran dari tanah. Seperti ada
sesuatu yang bergerak di bawah."
Camelia menggeleng. Ia mencondongkan tubuh ke depan,
mencoba merasakan apa yang dirasakan Amat. Tapi ia tidak merasakan apa-apa
selain udara biasa dan tanah yang biasa. "Aku nggak merasakan apa-apa,
Mat. Mungkin cuma kamu yang bisa merasakannya. Karena kamu... kamu
istimewa."
Amat mengangguk. Mungkin benar. Mungkin karena ia adalah
keturunan dari garis penjaga, ia bisa merasakan hal-hal yang tidak dirasakan
orang lain. Mungkin karena matanya yang biru, yang bisa melihat apa yang tidak
terlihat oleh orang lain, juga bisa merasakan apa yang tidak terasa oleh orang
lain.
Ia mengamati tutup sumur itu lebih dekat. Dengan hati-hati,
ia menyibak ilalang yang tumbuh di sekeliling sumur, membersihkan lumut dan
kotoran yang menempel di permukaan kayu. Dan di sanalah, di bawah lapisan lumut
tebal yang berwarna hijau tua dan kotoran yang menumpuk selama puluhan tahun,
ia melihat ukiran-ukiran. Ukiran-ukiran itu halus, sangat halus, nyaris tidak
terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama. Garis-garisnya tipis, seperti
digores dengan alat yang sangat tajam, mungkin dengan pahat besi yang diasah
hingga setipis jarum. Ukiran itu membentuk pola-pola yang rumit:
lingkaran-lingkaran konsentris, garis-garis spiral yang berputar searah jarum
jam, pola-pola geometris yang menyerupai labirin, dan di tengah-tengah semua
itu, sebuah titik yang lebih dalam dari ukiran lainnya, seolah-olah itu adalah
pusat dari semuanya.
"Lihat ini," kata Amat, menunjuk ukiran-ukiran
itu. Ia menyuruh Raka dan Camelia untuk mendekat. Raka, yang sejak tadi berdiri
agak jauh, akhirnya memberanikan diri untuk mendekat. Camelia sudah berdiri di
samping Amat, mengamati ukiran-ukiran itu dengan mata yang penuh rasa ingin
tahu.
Camelia mengeluarkan buku catatannya, membandingkan gambar
yang ia salin dari buku tua dengan ukiran di tutup sumur. Matanya membelalak,
mulutnya terbuka sedikit karena takjub. "Sama persis!" serunya,
suaranya sedikit meninggi karena kegembiraan. Ia segera menutup mulutnya dengan
tangan, sadar bahwa mereka sedang berada di tempat yang seharusnya tidak boleh
dikunjungi. "Ini simbol yang sama. Lingkaran dengan garis-garis spiral.
Dan di tengahnya ada titik. Itu simbol untuk... pusat? Atau sumber? Mungkin
sumber air? Sumber kehidupan?"
"Air," kata Amat tiba-tiba. Kata itu keluar dari
mulutnya tanpa ia sadari, seperti ada yang membisikkannya dari dalam. "Air
adalah sumber kehidupan. Mungkin itu maksudnya."
Raka yang sejak tadi sudah tidak sabar, merasa bahwa mereka
sudah terlalu lama hanya melihat-lihat tanpa melakukan sesuatu yang lebih seru.
Dengan tubuhnya yang tambun, ia mendorong tutup sumur itu dengan bahunya.
"Coba kita buka, lihat isinya. Penasaran, di dalamnya ada apa."
"Raka! Jangan!" teriak Camelia, tetapi sudah
terlambat.
Dengan suara berderit yang panjang, suara yang terdengar
seperti keluhan dari kayu tua yang sudah puluhan tahun tidak digerakkan, tutup
kayu itu bergeser. Engsel besi yang berkarat itu mengeluarkan suara krek-krek-krek yang
memekakkan telinga, seperti tulang-tulang tua yang patah. Tutup itu tidak
terbuka sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuat celah selebar setengah meter,
sebuah lubang hitam yang menganga di permukaan sumur, seperti mulut yang
terbuka lebar untuk menarik napas setelah ditahan terlalu lama.
Dari dalam sumur, terpancar udara dingin yang sangat kuat,
begitu kuat sehingga mereka bertiga merasakan dingin itu menusuk hingga ke
tulang. Udara dingin itu membawa bau yang sangat tajam, bau tanah basah yang
bercampur dengan air yang menggenang lama, bau lumut dan jamur yang tumbuh
subur di tempat yang tidak pernah tersentuh sinar matahari, dan di balik semua
itu, ada bau lain yang tidak bisa mereka identifikasi, bau yang membuat bulu
kuduk mereka berdiri, bau yang terasa seperti sesuatu yang sangat tua, sangat dalam,
sangat besar, hidup di bawah tanah sejak sebelum manusia ada.
Dan kemudian, mereka mendengar suara.
Suara itu seperti bisikan, tetapi terlalu samar untuk bisa
dimengerti. Seperti suara orang berbicara di dalam gua, bergema dan bergetar,
memantul dari dinding-dinding bata yang basah, naik ke permukaan, dan keluar
melalui celah sempit di antara tutup kayu yang terbuka. Suara itu tidak keras,
tetapi jelas, sangat jelas, seperti suara yang berbicara langsung di dalam
kepala mereka, di dalam hati mereka, di dalam jiwa mereka.
Suara itu naik dari dalam sumur, perlahan, seperti napas
panjang yang dikeluarkan setelah ditahan terlalu lama. Seperti napas seseorang
yang baru sadar dari tidur panjang yang berlangsung berabad-abad. Seperti napas
bumi itu sendiri, yang akhirnya berani dikeluarkan setelah berabad-abad menahan
diri.
Amat merasakan getaran yang lebih kuat di kakinya. Getaran
itu naik ke seluruh tubuhnya, mengalir melalui tulang-tulangnya, melalui
otot-ototnya, melalui darah yang mengalir di pembuluh-pembuluhnya. Getaran itu
membuatnya merasa bahwa ia terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari
dirinya, sesuatu yang telah ada jauh sebelum ia lahir, sesuatu yang akan tetap
ada jauh setelah ia mati.
Ia menatap ke dalam sumur. Di dalam kegelapan yang pekat,
di kedalaman yang tidak bisa diukur dengan mata, ia melihat sesuatu. Dua titik
cahaya. Kecil, redup, tetapi jelas. Dua titik cahaya biru yang berkedip-kedip
seperti mata, seperti mata yang baru terbuka setelah tidur panjang, seperti
mata yang sedang menatapnya dari dasar sumur yang dalam.
"Ada sesuatu di dalam," bisik Amat, suaranya
bergetar sedikit, tidak karena takut, tetapi karena emosi yang tidak bisa ia
jelaskan. Ia merasakan kesedihan yang luar biasa dari dua titik cahaya itu,
kesedihan yang begitu dalam sehingga hampir membekas di udara. Kesedihan karena
ditinggalkan, kesedihan karena dilupakan, kesedihan karena sendirian terlalu
lama.
Raka dan Camelia menekuri sumur itu, berusaha melihat apa
yang dilihat Amat. Tapi mereka tidak melihat apa-apa selain kegelapan.
Kegelapan yang pekat, yang tidak bisa ditembus oleh mata manusia biasa.
Kegelapan yang terasa hidup, bergerak, bernapas.
"Aku nggak lihat apa-apa, Mat," kata Raka,
suaranya setengah berbisik. Untuk pertama kalinya, tidak ada nada bercanda
dalam suaranya. Hanya rasa ingin tahu yang tulus, dan mungkin sedikit rasa
takut yang tidak ingin ia akui.
"Aku juga," tambah Camelia. "Tapi aku
mendengar suara. Suara seperti bisikan. Aku nggak bisa mengerti kata-katanya,
tapi aku mendengar sesuatu."
Tiba-tiba, suara bisikan itu menjadi lebih jelas. Lebih
keras. Lebih dekat. Seperti orang yang tadinya berbicara dari kejauhan, kini
mendekat, berdiri tepat di depan mereka, berbicara langsung ke telinga mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Amat bisa mendengar apa yang dikatakan suara itu.
Penjaga... akhirnya kau datang...
Suara itu tidak keluar dari mulut, tidak keluar dari
tenggorokan. Suara itu adalah getaran yang langsung menggetarkan gendang
telinga, langsung merambat ke saraf-saraf pendengaran, langsung diterjemahkan
oleh otak menjadi kata-kata. Suara itu adalah suara yang tidak bisa dihasilkan
oleh pita suara manusia, suara yang tidak memiliki nada, tidak memiliki
intonasi, tetapi anehnya memiliki emosi. Emosi yang sangat kuat. Emosi yang
sudah terkubur selama puluhan, mungkin ratusan tahun, dan akhirnya menemukan
jalan keluar.
Sudah lama... sudah terlalu lama... tidak ada yang
datang... tidak ada yang mendengar... tidak ada yang peduli...
Amat merasakan getaran di kakinya semakin kuat. Getaran itu
naik ke lututnya, ke pahanya, ke perutnya, ke dadanya. Getaran itu terasa
seperti detak jantung yang sangat lambat, sangat dalam, seperti detak jantung
raksasa yang tertidur di dasar sumur. Detak jantung yang semakin cepat, semakin
keras, semakin kuat, seolah-olah raksasa itu mulai terbangun dari tidurnya.
Airku mulai surut... segelku mulai rapuh... kekuatanku
mulai habis... aku tidak bisa bertahan lama... tolong... tolong...
Amat merasakan kesedihan yang luar biasa dari suara itu.
Bukan kesedihan yang membuat marah atau dendam, bukan kesedihan yang ingin
membalas atau menghancurkan. Kesedihan yang tulus, kesedihan yang murni,
seperti seorang yang ditinggalkan sendirian terlalu lama, menunggu seseorang
yang tidak kunjung datang. Seorang kakek yang duduk sendirian di teras
rumahnya, menunggu anak-anaknya pulang, tetapi anak-anaknya sibuk dengan urusan
mereka sendiri dan lupa bahwa ada orang tua yang menunggu. Seorang penjaga yang
setia pada tugasnya, tetapi tugas itu dilupakan oleh orang-orang yang
seharusnya ia jaga.
"Siapa kamu?" tanya Amat dengan suara pelan,
nyaris tidak terdengar. Ia tidak tahu mengapa ia bertanya, tidak tahu apakah
suara itu bisa mendengarnya, tidak tahu apakah suara itu akan menjawab. Tapi ia
merasa perlu bertanya. Ia merasa bahwa suara itu perlu tahu bahwa ada yang
mendengarkan, ada yang peduli, ada yang datang.
Untuk sesaat, keheningan. Suara bisikan itu berhenti.
Getaran di kaki Amat berhenti. Udara dingin yang keluar dari sumur berhenti.
Semua berhenti, seolah-olah suara itu sedang memproses pertanyaan Amat,
seolah-olah suara itu tidak percaya bahwa akhirnya ada yang bertanya, setelah
sekian lama hanya diabaikan, hanya dilupakan.
Kemudian, suara itu kembali. Lebih jelas, lebih kuat, lebih
dekat. Dan untuk pertama kalinya, suara itu terdengar seperti suara yang nyata,
suara yang bisa didengar oleh telinga manusia biasa, bukan hanya oleh Amat.
Aku penjaga air... aku yang menjaga sumber kehidupan desa
ini... aku yang menjaga agar sungai-sungai tidak pernah kering... aku yang
menjaga agar sawah-sawah tetap hijau... aku yang menjaga agar mata air di
lereng-lereng bukit tidak pernah berhenti mengalir...
Suara itu bergetar, bergema di dinding-dinding sumur, naik
ke permukaan, menyebar ke udara. Raka dan Camelia mendengarnya dengan jelas
sekarang. Mereka tidak perlu bertanya pada Amat apa yang dikatakan suara itu,
karena mereka bisa mendengarnya sendiri. Wajah Raka yang biasanya ceria itu
berubah menjadi serius, mulutnya yang biasanya selalu bergerak mengunyah
rempeyek kini diam, rempeyek di tangannya setengah jalan menuju mulut,
terhenti. Camelia memegang buku catatannya dengan tangan gemetar, tidak
mencatat, hanya mendengarkan.
Tapi manusia mulai tidak peduli... mereka membuang sampah
ke sungai... mereka menggunakan air secara berlebihan... mereka menebang
pohon-pohon di sekitar mata air... mereka tidak lagi melakukan ritual-ritual
yang dulu dilakukan setiap tahun untuk memberi penghormatan pada air... mereka
lupa bahwa air adalah kehidupan... mereka lupa bahwa tanpa air, desa ini akan
mati...
Amat merasakan getaran di kakinya lagi, tetapi kali ini
lebih lemah. Getaran itu seperti napas yang tersengal, seperti detak jantung
yang mulai melemah, seperti kehidupan yang perlahan-lahan meninggalkan tubuh.
Ia merasakan bahwa penjaga air itu semakin lemah, semakin rapuh, semakin dekat
dengan kehancuran.
"Kami tidak lupa," kata Amat, suaranya lebih
tegas sekarang, meskipun ia tahu itu tidak sepenuhnya benar. Ia tahu bahwa
banyak warga desa yang sudah mulai melupakan ritual-ritual lama. Ia tahu bahwa
sungai-sungai di desa ini tidak sebersih dulu. Ia tahu bahwa beberapa mata air
di lereng bukit sudah mulai mengering. Tapi ia juga tahu bahwa ia harus
mengatakan sesuatu, harus memberi harapan, harus meyakinkan penjaga air bahwa
tidak semua manusia lupa.
Tapi mereka lupa... dan aku semakin lemah... setiap hari
kekuatanku berkurang... setiap hari airku semakin surut... setiap hari segelku
semakin rapuh... jika aku mati, sumber air desa ini akan kering...
sungai-sungai akan berubah menjadi parit kering... sawah-sawah akan mati...
pohon-pohon akan layu... desa ini akan menjadi gurun...
Amat merasakan beban yang semakin berat di pundaknya. Beban
itu bukan beban fisik, tetapi beban yang lebih berat dari apapun yang pernah ia
rasakan. Beban tanggung jawab. Beban harapan. Beban untuk menyelamatkan sesuatu
yang jauh lebih besar dari dirinya. Ini bukan hanya tentang makhluk di hutan
larangan, bukan hanya tentang segel yang retak, bukan hanya tentang mimpi-mimpi
yang menghantui tidurnya. Ini juga tentang hal-hal yang lebih sederhana, lebih
dekat, lebih nyata: air, sungai, sawah, kehidupan sehari-hari warga. Semua itu
terhubung, semua itu adalah bagian dari keseimbangan yang harus dijaga.
"Apa yang bisa kami lakukan?" tanya Amat,
suaranya lebih tegas sekarang. Ia tidak lagi merasa takut. Yang ia rasakan
hanyalah tekad, tekad untuk melakukan sesuatu, untuk tidak hanya berdiam diri,
untuk menjadi penjaga yang diharapkan oleh leluhurnya.
Suara itu terdiam sejenak. Dua titik cahaya biru di dasar
sumur itu berkedip lebih cepat, seperti orang yang sedang berpikir, seperti
orang yang sedang mempertimbangkan apakah ia boleh meminta bantuan kepada anak
sekecil itu.
Katakan pada mereka... katakan pada orang-orang desa...
bahwa air adalah kehidupan... bahwa sungai bukan tempat sampah... bahwa mata
air harus dijaga... bahwa ritual-ritual lama harus dilakukan kembali... lakukan
itu... dan aku akan tetap kuat... untuk sementara waktu...
"Kami akan melakukannya," kata Amat, tanpa ragu.
"Aku akan bilang pada mereka. Aku akan bilang pada Pak Iwan, pada Bu Yuni,
pada semua orang. Aku akan minta mereka membersihkan sungai, menjaga mata air,
melakukan ritual lagi. Aku janji."
Terima kasih, penjaga cilik... aku akan menunggumu...
sampai kau dewasa... sampai kau siap... jangan lupakan aku... jangan lupakan
air... jangan lupakan bahwa tanpa air, tidak ada kehidupan...
Dua titik cahaya biru itu perlahan-lahan memudar, seperti
mata yang perlahan-lahan tertutup, seperti lampu yang perlahan-lahan
diredupkan. Udara dingin yang keluar dari sumur perlahan-lahan menghangat, bau
aneh itu perlahan-lahan menghilang, getaran di kaki Amat perlahan-lahan
berhenti. Suasana kembali normal, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Matahari masih bersinar di atas kepala, kabut tipis masih merayap dari lereng
bukit, ilalang masih bergoyang ditiup angin.
Amat menarik napas panjang, kemudian menutup kembali tutup
sumur itu dengan bantuan Raka. Suara derit kayu dan engsel besi itu terdengar
lagi, tetapi kali tidak sekeras sebelumnya, seolah-olah sumur itu sudah lebih
tenang, sudah lebih damai, setelah sekian lama akhirnya ada yang datang.
Mereka bertiga berdiri di sana, terdiam, masing-masing
memproses apa yang baru saja terjadi. Raka yang biasanya cerewet itu diam,
rempeyek di tangannya masih utuh, tidak dimakan. Camelia yang biasanya sibuk
mencatat itu juga diam, buku catatannya masih tertutup di tangannya. Amat
berdiri di antara mereka, menatap sumur itu dengan mata yang teduh, dengan hati
yang tenang, dengan tekad yang kuat.
Raka yang pertama kali bicara. Suaranya serak, sedikit bergetar,
tidak seperti biasanya. "Mat, lo tadi ngomong sama siapa? Kita cuma denger
suara-suara aneh, nggak jelas. Tapi lo kayak ngobrol sama orang. Kayak lo bisa
ngerti apa yang dia bilang."
Amat menatap kedua sahabatnya. Mereka adalah dua orang yang
paling ia percaya di dunia ini, setelah ibunya dan Mbah Ratih. Mereka berdua
tidak pernah mengejeknya, tidak pernah menjauhinya, tidak pernah takut padanya.
Mereka menerimanya apa adanya, dengan mata birunya, dengan keanehannya, dengan
kemampuannya melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang lain.
"Ada sesuatu di dalam sumur itu," katanya
perlahan, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Dia bilang dia penjaga air.
Dia yang menjaga sungai-sungai dan mata air di desa ini. Tapi dia lemah. Sangat
lemah. Karena warga sudah tidak menjaga sungai dan mata air. Mereka membuang
sampah ke sungai. Mereka menggunakan air terlalu banyak. Mereka menebang pohon
di sekitar mata air. Dan semua itu membuat penjaga air semakin lemah."
Camelia membuka buku catatannya, mulai menulis dengan
cepat. Tangannya yang gemetar tadi sudah tenang sekarang, kembali menjadi
tangan yang rapi dan metodis seperti biasanya. "Dia minta apa, Mat? Apa
yang bisa kita lakukan?"
"Dia minta kita membantu. Dia minta kita memberitahu
warga desa bahwa air adalah kehidupan. Bahwa sungai bukan tempat sampah. Bahwa
mata air harus dijaga. Dia bilang, jika kita melakukan itu, dia akan tetap
kuat. Untuk sementara waktu."
Raka mengangguk-angguk, wajahnya yang tadinya serius
perlahan-lahan kembali ke ekspresi ceria seperti biasanya. "Jadi gimana?
Kita mau jadi apa? Juru kampanye kebersihan sungai? Kayak di televisi,
orang-orang yang pakai rompi orange, membersihkan sampah di sungai?"
Amat tersenyum. Senyum yang jarang muncul di wajahnya yang
biasanya serius itu membuat wajahnya terlihat lebih muda, lebih ringan.
"Mungkin. Itu bagian dari tugas penjaga desa, kan? Menjaga keseimbangan,
termasuk menjaga alam. Termasuk menjaga air."
"Tapi kita masih kecil, Mat," Camelia
mengingatkan, meskipun ia juga sudah bersemangat. "Siapa yang mau dengar
kata-kata anak kecil? Apalagi masalah sebesar ini. Kita butuh orang dewasa.
Kita butuh Pak Iwan, Bu Yuni, Mbah Ratih. Kita tidak bisa sendiri."
"Kita tidak sendiri, Mel," kata Amat, suaranya
tenang tetapi penuh keyakinan. "Kita punya Mbah Ratih yang akan membantu.
Kita punya Pak Iwan yang peduli pada desa ini. Kita punya orang tua kita. Dan
kita punya satu sama lain. Kita tidak sendiri."
Mereka bertiga berjalan meninggalkan sumur tua itu dengan
perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Langkah mereka lebih mantap, lebih
pasti. Ada kesadaran baru yang tumbuh di dalam diri mereka: bahwa desa mereka
bukan sekadar kumpulan rumah dan sawah, bukan sekadar jalan-jalan setapak dan
pohon-pohon beringin. Ada lapisan-lapisan lain yang tidak terlihat, yang selama
ini dijaga oleh makhluk-makhluk yang dilupakan manusia. Ada keseimbangan yang
rapuh, yang harus dijaga oleh manusia-manusia yang masih ingat. Dan Amat, anak
laki-laki dengan mata biru itu, adalah satu-satunya yang bisa menjadi jembatan
antara dua dunia itu. Tapi ia tidak sendirian. Ada Raka yang akan membuat orang
tertawa, ada Camelia yang akan mencatat dan mengingatkan. Bersama, mereka akan
menjadi kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Di kejauhan, dari arah kantor desa, terdengar suara Si Amat
yang baru bangun tidur, menguap keras, lalu berteriak memanggil seseorang yang
tidak ia temukan. Mereka bertiga mempercepat langkah, berjalan mengitari kantor
desa dari arah yang berbeda, menghindari ketahuan. Tawa kecil pecah di antara
mereka, tawa yang riang, tawa yang bebas, tawa yang menjadi senjata paling
ampuh mereka.
Di belakang mereka, sumur tua itu berdiri sunyi di tengah
ilalang yang bergoyang. Tutup kayunya masih tertutup rapat, engsel besinya
masih berkarat, ukiran-ukurannya masih samar. Tapi ada yang berbeda sekarang.
Sumur itu tidak lagi terasa angker. Ia terasa... damai. Seperti seseorang yang
akhirnya didengarkan, akhirnya diperhatikan, akhirnya tidak sendirian.
Dan di dalam sumur itu, di kedalaman yang tidak bisa
dijangkau oleh mata manusia, dua titik cahaya biru masih menyala. Redup, tetapi
tidak padam. Menunggu. Menunggu anak-anak kecil itu kembali. Menunggu
janji-janji mereka ditepati. Menunggu desa ini kembali mengingat bahwa air
adalah kehidupan.
BAB 10: Janji Tiga Sahabat di Bawah Langit Biru
Bukit Pangasih, begitu penduduk setempat menyebutnya selama
bergenerasi-generasi, sejak zaman ketika leluhur pertama masih berjalan di
tanah ini, ketika nama-nama belum diukir di papan-papan kayu dan dicatat dalam
buku-buku administrasi desa, adalah bukit kecil di ujung utara Desa Awan Biru,
tepat di belakang rumah Amat. Dari rumah yang sederhana dengan dinding papan
albasia dan atap seng berkarat itu, jika seseorang berjalan melewati kebun
belakang yang ditanami singkong dan sayur-sayuran, melewati pohon pisang yang
daunnya lebar bergemerisik ditiup angin, melewati semak-semak ilalang yang
tingginya mencapai pinggang, maka setelah sekitar dua ratus meter ia akan
sampai di kaki bukit. Dari sana, setapak tanah yang sempit dan licin, terutama
di musim hujan ketika air mengalir membawa lumpur dari puncak—membelok ke kanan
dan ke kiri bergantian, menembus rumpun bambu yang tumbuh di lereng bawah, lalu
naik semakin curam hingga akhirnya mencapai puncak yang datar.
Tingginya hanya sekitar seratus meter di atas permukaan
desa, bukan bukit yang menjulang seperti gunung-gunung di selatan yang
puncaknya selalu tertutup kabut, bukan juga tebing terjal yang berbahaya
seperti lereng-lereng batu di timur yang konon menjadi sarang burung elang.
Bukit ini adalah bukit yang ramah, bukit yang lembut, seperti punggung seorang
kakek yang membungkuk ramah menyambut cucu-cucunya. Kemiringannya tidak terlalu
curam, tanahnya tidak terlalu berbatu, dan setapak yang menuju ke puncaknya
tidak terlalu sulit untuk dilalui bahkan oleh anak-anak seusia Amat, Raka, dan
Camelia. Namun karena letaknya yang berada di paling utara, dari puncaknya
seseorang bisa melihat seluruh Desa Awan Biru terbentang seperti hamparan
permadani hijau yang disulam dengan benang-benang coklat dari jalan-jalan setapak
dan benang-benang putih dari asap dapur yang mengepul di pagi dan sore hari.
Dari kejauhan, desa itu tampak seperti mainan yang
diletakkan dengan rapi di atas meja besar berwarna hijau. Rumah-rumah dengan
atap seng dan genteng tampak seperti balok-balok kecil yang tersusun tidak
beraturan, ada yang berkelompok membentuk perkampungan, ada yang terpisah
sendirian seperti rumah Amat yang berada di ujung utara, tepat di bawah bukit
tempat mereka berdiri. Sawah-sawah yang baru saja dipanen tampak seperti
kotak-kotak kosong berwarna coklat kekuningan, menunggu untuk ditanami kembali.
Sungai kecil yang berkelok-kelok dari selatan ke utara tampak seperti ular
perak yang sedang tidur, airnya mengkilap di bawah sinar matahari, dan di
beberapa tempat, air itu berbelok tajam, menciptakan tikungan-tikungan yang
dalam yang konon menjadi tempat pemandian para bidadari yang turun dari
kahyangan pada malam bulan purnama. Di kejauhan, di selatan, hutan larangan
tampak seperti gumpalan hijau gelap yang lebat, dengan pohon-pohonnya yang
menjulang tinggi, lebih tinggi dari pohon beringin tua di tengah desa, lebih
tinggi dari rumah-rumah warga, lebih tinggi dari apapun yang ada di desa ini.
Kabut tipis selalu menggantung di atas hutan itu, bahkan di siang hari yang
paling terang sekalipun, seperti selubung yang menutupi rahasia-rahasia yang
tidak boleh diketahui oleh manusia biasa.
Di puncak bukit ini, rumput ilalang tumbuh subur, bergoyang
lembut ditiup angin yang selalu bertiup dari arah selatan, angin yang membawa
kesejukan dari lereng-lereng gunung, angin yang sama yang setiap sore merayap
turun membawa kabut ke seluruh desa. Rumput ilalang itu tingginya bervariasi,
ada yang hanya setinggi mata kaki, ada yang mencapai lutut, ada yang di
beberapa tempat, terutama di dekat batu-batu besar yang menghalangi angina, tumbuh
setinggi pinggang orang dewasa. Bulir-bulirnya yang berwarna coklat keemasan
bergoyang-goyang seperti ribuan lonceng kecil yang tidak bersuara, menciptakan
gelombang-gelombang yang bergerak dari selatan ke utara, seperti ombak di
lautan yang tenang.
Di sini tidak ada pohon besar, hanya beberapa semak kecil
yang tumbuh di sela-sela batu, dengan daun-daun kecil yang keras dan berbulu
halus, tanaman yang biasa disebut songgom oleh penduduk desa,
yang konon bisa digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan luka. Daunnya yang
hijau keabu-abuan itu jika diremas akan mengeluarkan aroma yang tajam, aroma
yang tidak disukai oleh nyamuk dan serangga, sehingga tempat ini relatif bebas
dari gangguan serangga meskipun rumputnya lebat. Batu-batu besar berserakan di
puncak bukit, ada yang berbentuk bulat seperti telur raksasa, ada yang pipih
seperti meja, ada yang menjulang seperti kursi. Batu-batu ini konon adalah
peninggalan dari zaman ketika gunung-gunung di selatan masih aktif, ketika
lahar panas mengalir dari puncak hingga ke lembah-lembah di bawah, membeku dan
membentuk batu-batu andesit yang keras. Beberapa batu memiliki permukaan yang
rata dan halus, seperti telah dipoles oleh ribuan tahun angin dan hujan, dan di
sinilah biasanya Amat, Raka, dan Camelia duduk ketika mereka datang ke bukit
ini.
Konon, di masa lalu, jauh sebelum Desa Awan Biru menjadi
seperti sekarang, ketika jumlah penduduk masih sedikit dan rumah-rumah masih
berupa gubuk-gubuk sederhana dari bambu dan kayu, bukit ini adalah tempat para
leluhur melakukan ritual untuk memohon kesuburan tanah. Pada malam-malam
tertentu, ketika bulan purnama bersinar terang dan kabut dari selatan lebih
tebal dari biasanya, mereka akan naik ke puncak bukit ini dengan membawa sesaji
berupa bunga, dupa, dan nasi tumpeng yang disusun tujuh tingkat. Mereka akan
duduk melingkar di sekitar batu besar yang paling datar, berdoa dengan suara
yang bergema di antara ilalang yang bergoyang, memohon kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa dan kepada roh-roh yang menjaga alam agar tanah ini subur, agar air tidak
pernah kering, agar desa ini makmur selama-lamanya. Ritual itu sudah tidak
dilakukan lagi sekarang, dilupakan oleh generasi-generasi yang lebih sibuk
dengan urusan duniawi, tetapi bekas-bekasnya masih bisa dilihat jika seseorang
tahu di mana harus melihat: batu-batu yang disusun membentuk lingkaran tidak
sempurna di sisi timur puncak, dan di salah satu batu, goresan-goresan samar
yang mungkin adalah aksara Jawa kuno yang sudah tidak bisa dibaca lagi karena
aus dimakan waktu.
Bukit ini juga menjadi tempat persembunyian warga ketika
terjadi konflik dengan desa tetangga di masa penjajahan, ketika Belanda masih
menguasai tanah Jawa dan sering melakukan penyerangan ke desa-desa yang
dianggap membangkang. Konon, pada suatu malam ketika serdadu-serdadu Belanda
datang dengan senjata api dan obor, seluruh penduduk desa, laki, perempuan,
tua, muda, bahkan bayi yang masih dalam gendongan, naik ke bukit ini dalam
keheningan yang mencekam, tidak berani menyalakan lampu, tidak berani
berbicara, hanya berbisik-bisik dan menahan napas setiap kali mereka mendengar
suara langkah kaki serdadu di bawah. Mereka bersembunyi di balik batu-batu
besar, di antara ilalang yang tinggi, di dalam rumpun bambu di lereng bawah,
dan mereka selamat. Serdadu-serdadu itu tidak menemukan mereka, pulang dengan
tangan kosong, dan desa ini tetap aman untuk satu malam lagi. Sejak saat itu,
Bukit Pangasih tidak hanya menjadi tempat ritual, tetapi juga menjadi simbol
perlawanan, simbol bahwa warga Desa Awan Biru tidak akan menyerah, bahwa mereka
akan melindungi desa ini dengan cara apa pun.
Bagi Amat, Raka, dan Camelia, Bukit Pangasih bukan tempat
ritual, bukan tempat persembunyian, bukan tempat bersejarah yang perlu
dipelajari untuk tugas sekolah. Bukit Pangasih adalah tempat perlindungan.
Tempat di mana mereka bisa duduk bersama tanpa gangguan orang dewasa, tanpa
pertanyaan-pertanyaan dari tetangga, tanpa tatapan-tatapan aneh yang
kadang-kadang masih dilontarkan pada Amat ketika ia berjalan di pasar. Di
sinilah mereka bisa berbicara tentang apa pun yang mereka pikirkan, dari yang
paling serius hingga yang paling konyol, dari yang paling rahasia hingga yang
paling biasa. Di sinilah mereka bisa berbagi rahasia yang tidak bisa mereka
bagikan kepada orang lain, bisa menangis tanpa malu, bisa tertawa sekencang
mungkin tanpa takut mengganggu siapa pun.
Di sinilah mereka bisa menjadi diri mereka sendiri,
seutuhnya, tanpa topeng, tanpa penyangkalan, tanpa rasa takut.
Dari sinilah mereka bisa melihat desa mereka dengan
perspektif yang berbeda: dari atas, melihat rumah-rumah yang tampak kecil
seperti mainan, sawah-sawah yang tersusun rapi seperti kotak-kotak pada papan
catur, sungai yang berkelok-kelok seperti ular yang sedang tidur, dan di
kejauhan, kabut tipis yang selalu menyelimuti lereng selatan, kabut yang sama
yang menjadi ciri khas desa ini, yang memberi nama pada desa ini, yang menjadi
napas para leluhur yang masih menjaga. Dari sinilah mereka menyadari bahwa desa
mereka kecil, sangat kecil, hanya setitik di tengah hamparan alam yang luas.
Tetapi dari sinilah mereka juga menyadari bahwa desa kecil ini adalah rumah
mereka, satu-satunya rumah yang mereka miliki, tempat di mana mereka
dilahirkan, dibesarkan, dan akan mati suatu hari nanti.
Malam itu, bulan purnama bersinar sangat terang. Langit
Awan Biru cerah tanpa awan, sesuatu yang jarang terjadi di desa yang selalu
diselimuti kabut ini, memperlihatkan jutaan bintang yang bertaburan seperti
debu berlian di atas kain beludru hitam. Bintang-bintang itu berkerlip-kerlip,
ada yang terang, ada yang redup, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang
tampak diam dan ada yang seolah-olah bergerak perlahan melintasi langit. Bulan
purnama yang bundar sempurna itu berada tepat di atas kepala, memancarkan
cahaya peraknya yang lembut ke seluruh desa, membuat kabut tipis yang merayap
dari lereng selatan berkilauan seperti tirai dari sutra putih, membuat ilalang
di puncak bukit bergoyang dengan warna keperakan, membuat batu-batu besar yang
berserakan tampak seperti patung-patung perak yang diletakkan di atas hamparan
karpet putih.
Amat, Raka, dan Camelia duduk di puncak Bukit Pangasih, di
tempat favorit mereka: sebuah batu datar yang besar di sisi timur puncak,
menghadap ke arah desa. Batu ini berbentuk hampir bundar, dengan diameter
sekitar dua meter, permukaannya rata dan halus seperti telah dipoles oleh
ribuan tahun angin dan hujan. Di beberapa tempat, ada lekukan-lekukan kecil
yang mungkin bekas tempat duduk orang-orang yang datang ke sini ratusan tahun
yang lalu. Batu ini cukup besar untuk mereka bertiga duduk bersila dengan
nyaman, dengan sedikit ruang di tengah untuk meletakkan bekal yang mereka bawa.
Dari sini, mereka bisa melihat seluruh Desa Awan Biru terbentang di bawah,
rumah-rumah yang tampak gelap karena sebagian besar warga sudah tidur, hanya
beberapa titik lampu minyak yang masih menyala di sana-sini seperti
kunang-kunang yang berkedip di malam hari.
Mereka membawa selimut untuk menghangatkan diri dari udara
malam yang dingin. Camelia membawa selimut wol tebal berwarna biru tua yang
diberikan oleh ibunya, Bu Lulu, yang selalu khawatir putrinya akan masuk angin
jika keluar malam. Raka membawa selimut katun tipis bergambar tokoh kartun yang
sudah pudar warnanya, selimut yang sama yang ia gunakan sejak kecil, yang
selalu ia bawa ke mana-mana meskipun sudah banyak tambalannya. Amat membawa
selimut tua dari rumahnya, selimut yang dulu digunakan oleh ayahnya, Amat
Senior, sebelum ia pergi merantau dan tidak pernah kembali. Selimut itu terbuat
dari kain katun tebal, berwarna coklat tua, dengan beberapa bagian yang sudah
tipis karena sering dicuci. Amat tidak tahu mengapa ia membawa selimut itu
malam itu. Mungkin karena ia membutuhkan kehangatan yang lebih dari sekadar
fisik. Mungkin karena ia membutuhkan kehadiran ayahnya, meskipun hanya dalam
bentuk selimut tua yang masih menyisakan aroma sabun murah dan keringat.
Mereka baru saja kembali dari sumur tua beberapa jam
sebelumnya, dan pikiran mereka masih penuh dengan apa yang terjadi. Camelia
membawa buku catatannya yang sudah mulai menebal, buku yang ia beli dari
koperasi sekolah dengan uang tabungannya sendiri, berisi puluhan halaman yang
dipenuhi dengan tulisan rapi dan gambar-gambar simbol kuno yang ia salin dari
buku-buku peninggalan nenek Amat. Buku itu sudah mulai kumal karena sering
dibawa ke mana-mana, sampulnya sedikit robek di sudut-sudutnya, tetapi Camelia
tetap menjaganya dengan hati-hati, karena baginya buku itu adalah harta paling
berharga yang ia miliki, kumpulan pengetahuan yang ia kumpulkan sedikit demi
sedikit sejak ia berteman dengan Amat.
Raka membawa besek anyaman bambu berisi pecel dan kerupuk
buatan ayahnya. Besek itu masih hangat karena baru saja dibungkus, dan aroma
bumbu kacang yang gurih bercampur dengan aroma kerupuk yang renyah menyebar di puncak
bukit, mengundang selera siapa pun yang menciumnya. Raka tidak pernah lupa
membawa makanan ke mana pun ia pergi. Baginya, tidak ada pertemuan penting yang
layak tanpa makanan. Apalagi malam itu, setelah apa yang mereka alami di sumur
tua, ia merasa bahwa mereka semua membutuhkan sesuatu yang hangat dan
mengenyangkan, sesuatu yang mengingatkan mereka bahwa di tengah semua keanehan
dan misteri, masih ada hal-hal sederhana yang bisa dinikmati: pecel buatan
ayahnya, kerupuk yang renyah, dan persahabatan yang hangat.
Amat membawa liontin batu biru pemberian Mbah Ratih. Untuk
pertama kalinya, sejak Mbah Ratih memberikannya kepada ibunya ketika ia masih
bayi, liontin itu ia kenakan di lehernya. Ia mengambilnya dari lemari kecil di
kamar tidurnya, dari kotak kayu cendana tempat ibunya menyimpannya selama
bertahun-tahun. Ketika ia membuka kotak itu, ia merasakan kehangatan yang
keluar dari dalam, kehangatan yang sama yang ia rasakan ketika pertama kali
ibunya menunjukkan liontin itu kepadanya beberapa tahun yang lalu. Batu akik
biru itu berdenyut pelan di telapak tangannya, seperti ada jantung kecil yang
berdetak di dalamnya, seperti ada kehidupan yang terjaga setelah tidur panjang.
Ia menggantungkannya di lehernya dengan tali kulit yang sudah tua, dan sejak saat
itu ia merasakan sesuatu yang berbeda: ada ketenangan yang menyebar di dadanya,
ada keyakinan yang tumbuh di hatinya, ada kekuatan yang mengalir di nadinya.
Suasana di puncak bukit itu sunyi, hanya ditemani suara
angin yang bertiup pelan dari arah selatan, membawa kesejukan dari
lereng-lereng gunung dan kabut tipis yang mulai merayap naik ke puncak. Rumput
ilalang bergoyang lembut, menciptakan suara gemerisik yang menenangkan, seperti
orang yang berbisik-bisik dengan suara yang sangat pelan, seperti doa-doa yang
dipanjatkan oleh para leluhur di masa lalu. Sesekali terdengar suara jangkrik
dari kejauhan, suara yang konstan dan tidak pernah lelah, seperti mesin yang
terus bekerja tanpa kenal lelah. Kadang-kadang, dari arah desa, terdengar suara
ayam jantan yang berkokok di tengah malam tanpa sebab yang jelas, suara yang
aneh tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan malam di desa ini.
"Aku tidak tahu harus berkata apa," kata Amat
memecah keheningan. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar di atas suara angin,
tetapi Raka dan Camelia yang sudah terbiasa dengan suaranya yang lembut bisa
mendengarnya dengan jelas. Matanya menatap langit malam yang luas, menatap
bintang-bintang yang berkerlip, menatap bulan purnama yang bundar sempurna,
tetapi pikirannya masih berada di sumur tua itu, masih berada di dalam
kegelapan yang dingin, masih bersama dua titik cahaya biru yang berkedip-kedip
memanggil namanya. "Sejak kecil, aku sudah merasa berbeda. Aku sudah
melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Aku sudah mendengar suara-suara
yang tidak didengar orang lain. Aku sudah merasa bahwa ada sesuatu yang besar
yang menantiku, sesuatu yang tidak bisa aku hindari. Tapi hari ini... hari ini
semuanya terasa nyata. Sangat nyata. Lebih nyata dari apapun yang pernah aku
alami. Penjaga air itu... dia nyata. Kesedihannya nyata. Ketakutannya nyata.
Dan aku... aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."
Camelia yang duduk di sampingnya mengangguk. Tangannya yang
memegang buku catatan itu bergetar sedikit, bukan karena dingin, tetapi karena
emosi yang masih menggelora di dalam dirinya. Ia tidak bisa mendengar
suara-suara itu seperti yang didengar Amat, tidak bisa melihat cahaya biru di
dasar sumur, tidak bisa merasakan getaran dari dalam tanah. Tapi ia merasakan
sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Getaran, mungkin. Atau energi. Atau hanya perasaan bahwa ada sesuatu yang besar
sedang terjadi, sesuatu yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
"Aku juga merasakannya, Mat," katanya, suaranya
tenang tetapi penuh keyakinan. "Aku tidak bisa mendengar suara-suara itu
seperti yang kau dengar, tapi aku merasakan... sesuatu. Getaran, mungkin. Atau
energi. Aku tidak tahu apa namanya, tapi itu nyata. Aku merasakannya di telapak
kakiku, di tanganku, di dadaku. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam
tanah, seperti ada sesuatu yang bernapas di bawah kita. Dan suara itu...
meskipun aku tidak bisa mengerti kata-katanya, aku bisa merasakan emosinya.
Kesedihan yang sangat dalam. Kesepian yang sangat panjang. Dan harapan yang
sangat tipis, tetapi masih ada."
Raka yang sedang mengunyah kerupuk dengan lahap, tiba-tiba
berhenti. Kerupuk yang setengah ia kunyah itu tertahan di mulutnya, dan untuk
sesaat ia hanya diam, matanya yang sipit menatap ke kejauhan, ke arah desa yang
gelap di bawah bukit. Kemudian ia menelan kerupuk itu dengan susah payah,
mengelap bibirnya dengan punggung tangan, dan berkata dengan suara yang lebih
serius dari biasanya. "Yang aku rasakan adalah perutku keroncongan. Tapi
serius, Mat. Aku juga percaya sama yang kau alami. Mungkin aku nggak bisa lihat
dan dengar kayak kamu, tapi aku percaya. Soalnya, Bapakku dulu juga sering
cerita tentang hal-hal kayak gini. Kata beliau, dulu waktu masih kecil, beliau
juga sering lihat hal-hal aneh. Kayak bayangan di pohon beringin, suara-suara
di sumur tua, cahaya-cahaya di hutan larangan. Tapi setelah besar, ilang
sendiri. Mungkin karena beliau sibuk jualan pecel."
Raka tertawa kecil dengan candaannya sendiri, tetapi kali
ini tawanya tidak seperti biasanya. Ada nada yang berbeda, nada yang
menunjukkan bahwa meskipun ia mencoba membuat suasana menjadi lebih ringan, ia
juga merasakan beratnya malam itu.
Camelia tersenyum, meskipun senyumnya tipis. "Mungkin
karena Bapakmu sudah tidak peka lagi. Mungkin kepekaan itu bisa hilang jika
tidak dilatih. Atau jika seseorang memilih untuk mengabaikannya. Atau jika
seseorang lebih memilih sibuk dengan urusan duniawi. Mungkin juga karena
Bapakmu tidak memiliki darah penjaga seperti Amat."
"Atau karena Bapakku lebih memilih sibuk jualan
pecel," canda Raka lagi, dan kali ini mereka bertiga tertawa kecil. Tawa
itu melepaskan sedikit ketegangan yang selama ini menggelayut di antara mereka,
seperti udara yang keluar dari balon yang terlalu kencang. Tawa itu membuat
mereka merasa bahwa meskipun dunia di sekitar mereka penuh dengan misteri dan
keanehan, mereka masih bisa tertawa. Mereka masih bisa menjadi anak-anak.
Mereka masih bisa menikmati hal-hal sederhana seperti pecel dan kerupuk dan
persahabatan yang hangat.
Amat merasa bersyukur memiliki teman-teman seperti Raka dan
Camelia. Di saat ia paling bingung dan takut, mereka ada di sana. Bukan untuk
memberikan solusi ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah, bukan untuk
mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja tanpa bukti, tetapi untuk sekadar
berada di sampingnya, mendengarkannya, dan tetap tertawa bersama. Mereka tidak
menuntutnya untuk menjadi pahlawan. Mereka tidak membebaninya dengan
harapan-harapan yang terlalu berat. Mereka hanya menerimanya apa adanya, dengan
mata birunya, dengan keanehannya, dengan takdir yang menantinya. Dan itu sudah
cukup. Lebih dari cukup.
"Aku takut," kata Amat jujur. Suaranya pelan,
nyaris tak terdengar di atas suara angin yang berdesir di antara ilalang,
tetapi Raka dan Camelia yang sudah terbiasa dengan suaranya yang lembut bisa
mendengarnya dengan jelas. Mereka bisa mendengar getaran di suaranya, getaran
yang menunjukkan bahwa anak laki-laki yang duduk di antara mereka itu sedang
berusaha keras untuk tidak menangis. "Aku takut tidak bisa memenuhi apa
yang diharapkan oleh Mbah Ratih, oleh leluhur, oleh penjaga-penjaga itu. Aku
masih kecil. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak bisa melihat masa depan. Aku
tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku takut salah memilih. Aku takut
mengecewakan mereka. Aku takut... aku takut kehilangan kalian."
Camelia meraih tangan Amat. Tangannya kecil dan dingin
karena udara malam yang dingin, tetapi genggamannya kuat, kuat seperti ia
memegang buku catatannya ketika ia sedang menulis sesuatu yang sangat penting.
"Kau tidak sendirian, Mat. Kita di sini. Kita akan membantumu. Apapun yang
terjadi, kita akan bersama. Kita tidak akan meninggalkanmu. Janji."
"Aku juga," kata Raka, ikut meraih tangan Amat
yang lain. Tangannya hangat dan agak berminyak karena bekas pecel dan kerupuk
yang ia makan, tetapi genggamannya kuat, kuat seperti ia memegang besek anyaman
bambu ketika ia mengantar pesanan ke rumah-rumah warga. "Memangnya apa sih
yang bisa aku bantu? Paling cuma bawa pecel dan bikin ketawa. Tapi kalau itu
berguna, kalau itu bisa membuatmu sedikit lebih tenang, kalau itu bisa
membuatmu ingat bahwa di tengah semua keanehan ini masih ada yang normal, aku
akan lakukan. Aku akan bawa pecel setiap kali kita bertemu. Aku akan bikin
lelucon setiap kali kamu terlalu serius. Aku akan membuatmu tertawa, bahkan di
saat yang paling sulit sekalipun."
Amat menatap kedua sahabatnya. Di bawah sinar bulan yang
terang, wajah mereka tampak berseri. Wajah Camelia yang serius tetapi penuh
ketulusan, dengan mata coklatnya yang jernih dan alisnya yang sedikit mengernyit
karena konsentrasi. Wajah Raka yang bulat dengan senyum khasnya yang selalu
mengundang tawa, dengan pipi tembam yang membuatnya terlihat seperti boneka
beruang yang lucu. Dua orang yang sangat berbeda, tetapi sama-sama ia sayangi.
Dua orang yang telah menerimanya apa adanya sejak hari pertama mereka bertemu.
Dua orang yang tidak pernah takut padanya, tidak pernah menjauh darinya, tidak
pernah memperlakukannya seperti orang asing.
"Kenapa kalian mau membantu?" tanya Amat,
suaranya bergetar sedikit. "Ini bukan urusan kalian. Ini urusanku. Urusan
keluarga. Urusan takdirku. Kalian tidak harus terlibat. Kalian bisa pergi,
hidup normal, tidak perlu repot dengan semua ini. Kenapa kalian mau?"
Camelia menatap Amat dengan tatapan yang tulus, tatapan
yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. "Karena kita sahabat,"
jawabnya sederhana, seperti itu adalah hal yang paling alami di dunia.
"Sahabat tidak memilih-milih urusan. Sahabat tidak memilih-milih waktu.
Sahabat tidak memilih-milih tempat. Kalau kamu susah, kita susah. Kalau kamu
senang, kita senang. Kalau kamu takut, kita takut. Tapi kita akan menghadapinya
bersama. Itu sudah cukup alasan. Tidak perlu alasan lain."
"Dan karena desa ini juga desa kita," tambah
Raka, dan untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar serius. Senyum
khasnya yang selalu terpampang menghilang, digantikan oleh ekspresi yang jarang
terlihat di wajahnya yang bulat itu. Ekspresi seorang anak yang tiba-tiba
menyadari bahwa ada hal-hal yang lebih besar dari dirinya, yang lebih besar
dari pecel dan kerupuk dan lelucon-leluconnya. "Aku lahir di sini, besar
di sini. Bapakku jualan pecel di sini. Makam nenekku di sini. Tanah yang aku
injak setiap hari adalah tanah yang sama yang diinjak oleh kakek-nenekku, oleh
buyut-buyutku, oleh leluhur yang tidak aku kenal. Kalau desa ini kenapa-kenapa,
kita semua yang kena. Bukan cuma kamu, Mat. Bukan cuma keluargamu. Tapi semua
orang. Bapakku, ibuku, Mbah Ratih, Pak Iwan, Bu Lulu, semua tetangga, semua
teman. Jadi, ini bukan cuma urusan kamu. Ini urusan kita semua. Dan kita harus
melindunginya. Bersama."
Amat menunduk. Air matanya menetes, membasahi ilalang di
bawahnya, membasahi selimut tua yang ia bawa, membasahi tangannya yang masih
digenggam oleh Raka dan Camelia. Ia tidak tahu persis mengapa ia menangis.
Mungkin karena lega, karena beban yang selama ini ia pikul sendirian, beban
yang tidak pernah ia minta, beban yang diturunkan kepadanya sejak ia lahir,
beban yang selama ini ia rasakan sebagai sesuatu yang berat dan menyakitkan, mulai
terasa lebih ringan. Mungkin karena bahagia, karena ternyata ia tidak
sendirian, karena di tengah semua ketidakpastian, ada dua orang yang bersedia
berdiri di sampingnya, apa pun yang terjadi. Atau mungkin karena haru, karena
sahabat-sahabatnya bersedia menerima takdir yang bahkan belum ia pahami
sepenuhnya, takdir yang mungkin akan membawa mereka ke tempat-tempat yang gelap
dan menakutkan, takdir yang mungkin akan menguji persahabatan mereka dengan
cara yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
"Baiklah," kata Amat akhirnya, setelah beberapa
saat menangis dalam diam. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan,
mengambil napas dalam-dalam, dan menatap kedua sahabatnya dengan mata yang
merah tetapi tegas. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak tahu
seberapa berat perjalanan ini nanti. Aku tidak tahu apakah kita akan berhasil
atau gagal. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak akan sendirian. Dan itu sudah
cukup. Itu lebih dari cukup."
Camelia membuka buku catatannya. Di bawah sinar bulan yang
terang, halaman-halaman buku itu tampak bercahaya, tulisan-tulisannya yang rapi
dengan tinta biru terlihat jelas, gambar-gambar simbol kuno yang ia salin
dengan susah payah dari buku-buku peninggalan nenek Amat terlihat detail. Ia
membalik halaman demi halaman, mencari bagian yang ia tandai dengan klip kertas
kecil, sampai akhirnya ia menemukan halaman yang ia cari.
"Aku sudah membuat daftar," katanya, suaranya
penuh semangat. Semangat yang selalu muncul ketika ia sedang membahas sesuatu
yang benar-benar menarik minatnya, ketika ia merasa bahwa semua catatan yang ia
kumpulkan selama ini akhirnya berguna untuk sesuatu yang nyata. "Aku sudah
menulis semua yang kita ketahui sejauh ini. Dari buku-buku peninggalan nenek
Amat, dari cerita Mbah Ratih, dari pengalaman kita di sumur tua tadi. Aku sudah
coba menyusunnya secara sistematis, supaya kita tahu apa yang harus kita
lakukan."
Raka yang sejak tadi asyik mengambil kerupuk dari besek,
tiba-tiba berhenti dan mendekat. "Wah, Cam, kamu ini kayak detektif.
Serius banget. Aku aja yang cuma bawa pecel ngerasa minder."
Camelia tersenyum. "Kamu jangan minder, Ra. Setiap
orang punya peran masing-masing. Peranku adalah mencatat, mengingat, menyusun
informasi. Peran Amat adalah menjadi penjaga, berkomunikasi dengan
makhluk-makhluk itu. Dan peranmu adalah... ya, membawa pecel dan membuat kita
tertawa. Itu juga penting. Sangat penting."
"Benarkah?" Raka terlihat ragu. "Aku nggak
yakin tertawa bisa membantu memperbaiki segel atau mengalahkan makhluk
jahat."
"Mbah Ratih bilang, tawa adalah senjata yang paling
ampuh," kata Amat. "Dia bilang, tawa bisa menghilangkan rasa takut.
Tawa bisa mengubah keputusasaan menjadi harapan. Tawa bisa menyatukan
orang-orang yang terpecah. Dan ketika kita harus berhadapan dengan makhluk-makhluk
yang gelap, tawa kita akan menjadi cahaya yang paling terang. Jadi, peranmu
sangat penting, Ra. Jangan pernah meremehkan kekuatan tawa."
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tersenyum malu.
"Ya udah kalau begitu. Aku akan berusaha bikin kalian tertawa, sekalipun
dunia mau kiamat."
Camelia kembali fokus pada buku catatannya. "Jadi, ini
daftar yang aku buat. Pertama, kita harus belajar sebanyak mungkin tentang
sejarah desa, tentang leluhur, tentang penjaga-penjaga dan makhluk-makhluk yang
dijaga. Kita sudah punya beberapa sumber: buku-buku peninggalan nenek Amat,
cerita-cerita Mbah Ratih, dan mungkin juga dari warga desa yang lebih tua yang
masih ingat cerita-cerita lama. Kedua, kita harus mulai memperhatikan
tanda-tanda di sekitar kita. Seperti yang terjadi di sumur tadi. Atau seperti
yang Amat lihat di pohon beringin. Atau seperti perubahan-perubahan kecil di
desa ini yang mungkin tidak disadari oleh orang lain. Ketiga, kita harus
mempersiapkan diri."
"Mempersiapkan diri gimana?" tanya Raka.
"Kayak latihan bela diri? Atau puasa? Atau ritual-ritual gitu?"
Camelia berpikir sejenak. "Secara fisik, mental, dan
spiritual. Secara fisik, kita harus menjaga kesehatan. Kita tidak tahu apa yang
akan kita hadapi nanti, tapi kita harus dalam kondisi prima. Secara mental, kita
harus memperkuat keyakinan kita. Kita harus percaya bahwa kita bisa melakukan
ini, bahwa kita tidak akan menyerah. Dan secara spiritual..." Ia berhenti,
mencari kata-kata yang tepat. "Secara spiritual, kita harus memperkuat
ikatan kita dengan desa ini. Dengan tanah ini. Dengan leluhur yang menjaga.
Mungkin kita perlu melakukan ritual-ritual sederhana. Mungkin kita perlu lebih
sering ke tempat-tempat seperti sumur tua itu, seperti pohon beringin, untuk
belajar mendengarkan. Mungkin kita perlu berdoa. Aku belum tahu detailnya, tapi
kita akan cari tahu."
Raka mengangguk-angguk, meskipun setengah paham. Ia tidak
pernah terlalu memikirkan hal-hal seperti ritual atau spiritualitas. Baginya,
hidup itu sederhana: bangun pagi, membantu ayahnya di warung, pergi ke sekolah,
bermain dengan teman-teman, pulang ke rumah, makan, tidur. Tapi malam itu,
setelah apa yang mereka alami di sumur tua, ia merasa bahwa hidup mungkin tidak
sesederhana yang ia kira. Mungkin ada lapisan-lapisan lain yang selama ini ia
abaikan. Mungkin ada dunia lain yang selama ini ia tolak untuk dilihat.
"Ya udah, aku siap," katanya akhirnya. "Tapi
satu syarat."
"Syarat apa?" tanya Camelia, setengah waspada. Ia
sudah mengenal Raka cukup lama untuk tahu bahwa setiap kali Raka mengajukan
syarat, biasanya sesuatu yang berhubungan dengan makanan.
"Jangan lupa makan. Orang lapar gampang stres. Orang
stres gampang panik. Orang panik gampang kalah. Jadi, mulai sekarang, setiap
kali kita rapat, setiap kali kita ada kegiatan, setiap kali kita butuh tenaga
ekstra, aku yang nyediain pecel. Deal?"
Amat dan Camelia tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas,
tawa yang membuat udara malam terasa lebih hangat. "Deal," kata
mereka bersamaan.
Mereka bertiga berdiri di puncak Bukit Pangasih. Angin
malam bertiup lebih kencang dari sebelumnya, membuat ilalang bergoyang-goyang
seperti ombak di lautan, membuat selimut yang mereka bawa berkibar-kibar
seperti bendera, membuat rambut mereka berantakan ditiup angin. Di bawah
mereka, Desa Awan Biru terbentang dalam keheningan malam. Rumah-rumah tampak
gelap, hanya beberapa titik lampu minyak yang masih menyala di sana-sini,
seperti kunang-kunang yang berkedip di malam hari. Sawah-sawah bergelombang
pelan ditiup angin, seperti lautan yang tenang di bawah cahaya bulan. Sungai
kecil yang berkelok-kelok tampak seperti pita perak yang diletakkan di atas
hamparan beludru hijau. Dan di kejauhan, di selatan, hutan larangan tampak
seperti gumpalan gelap yang memisahkan desa mereka dari dunia luar, gumpalan
gelap yang menyimpan rahasia-rahasia yang belum terungkap.
"Kita perlu berjanji," kata Amat tiba-tiba.
Suaranya terdengar jelas di atas suara angin, terdengar tegas dan mantap, tidak
lagi seperti suara anak kecil yang ragu-ragu. Ada nada baru dalam suaranya,
nada yang belum pernah terdengar sebelumnya. Nada tekad. Nada keyakinan. Nada
seorang penjaga yang mulai menerima takdirnya.
"Janji apa?" tanya Camelia, meskipun sebenarnya
ia sudah tahu. Ia bisa membaca di mata Amat apa yang akan dikatakan anak itu.
Di mata biru yang aneh itu, yang selama ini sering ia lihat penuh dengan
keraguan dan ketakutan, kini ada cahaya baru. Cahaya yang sama seperti yang ia
lihat di mata penjaga air di dasar sumur tua. Cahaya harapan.
"Janji untuk menjaga desa ini. Janji untuk tidak
meninggalkan satu sama lain. Janji untuk melakukan yang terbaik, apa pun yang
terjadi. Janji bahwa kita akan bersama, sampai akhir."
Raka mengangkat tangan kanannya. Wajahnya yang bulat itu
berseri-seri di bawah sinar bulan, senyum khasnya yang selalu mengundang tawa
terpampang lebar. "Aku bersumpah demi pecel bapakku yang paling enak
se-Awan Biru, demi kerupuk yang renyah, demi sambel yang nendang, aku akan
menjaga desa ini dan tidak akan meninggalkan kalian berdua. Apapun yang
terjadi. Seberat apapun. Sejauh apapun. Aku akan ada. Janji."
Camelia mengangkat tangannya juga. Tangannya yang kecil dan
dingin itu gemetar sedikit, bukan karena dingin, tetapi karena emosi yang
membanjiri hatinya. Ia menatap kedua sahabatnya bergantian, kemudian menatap
desa di bawah, desa yang selama ini ia cintai dengan diam-diam, desa yang
sekarang membutuhkan mereka. "Aku bersumpah demi ilmu yang aku pelajari
dan yang akan aku pelajari, demi buku catatan yang selalu aku bawa, demi semua
pengetahuan yang telah diturunkan oleh leluhur, aku akan menggunakan pengetahuanku
untuk membantu menjaga desa ini dan untuk selalu bersama kalian. Aku akan
mencatat semua yang perlu dicatat. Aku akan mengingat semua yang perlu diingat.
Aku tidak akan membiarkan satu pun pengetahuan hilang. Janji."
Amat mengangkat tangan terakhir. Liontin batu biru di
lehernya berkilauan di bawah sinar bulan, memancarkan cahaya kebiruan yang
lembut, seperti langit Awan Biru di pagi hari. Ia menatap kedua sahabatnya
dengan mata yang jernih, mata yang sudah tidak lagi dipenuhi keraguan. "Aku
bersumpah demi leluhur yang darahnya mengalir dalam tubuhku, demi Kyai Beringin
yang menjaga desa ini sejak tiga ratus tahun yang lalu, demi penjaga air yang
menunggu di dasar sumur, demi semua makhluk yang telah dijaga dan yang akan
kami jaga, aku akan menerima takdirku sebagai penjaga desa ini. Aku akan
belajar apa yang perlu aku pelajari. Aku akan melakukan apa yang perlu aku
lakukan. Dan aku bersumpah, aku tidak akan pernah melupakan sahabat-sahabatku
yang telah berdiri di sampingku sejak awal, yang telah menerimaku apa adanya,
yang telah membuatku tidak sendirian."
Mereka bertiga mengepalkan tangan, menyatukannya di tengah
lingkaran. Tiga kepalan kecil di bawah langit malam yang luas, di atas bukit
yang sunyi, dengan desa yang terhampar di bawah mereka sebagai saksi. Tiga
kepalan yang mewakili tiga tekad yang berbeda, tetapi bersatu dalam satu
tujuan. Tiga hati yang berdetak dengan irama yang sama, tiga jiwa yang terikat
oleh ikatan yang lebih kuat dari darah, ikatan yang lebih tua dari sejarah,
ikatan yang akan bertahan melampaui apapun yang akan mereka hadapi nanti.
"Untuk Desa Awan Biru," kata Amat.
"Untuk Desa Awan Biru," ulang Camelia.
"Untuk Desa Awan Biru dan pecel!" tambah Raka,
membuat mereka tertawa lagi.
Tawa itu bergema di puncak bukit, terbawa angin malam yang
dingin, menyebar ke seluruh penjuru desa. Tawa yang riang, tawa yang bebas,
tawa yang menjadi senjata paling ampuh mereka. Tawa yang akan mereka ingat di
masa-masa sulit yang akan datang, tawa yang akan menjadi pengingat bahwa di
tengah semua kegelapan dan ketakutan, mereka masih bisa tertawa. Mereka masih
bisa bahagia. Mereka masih bisa menjadi anak-anak.
Di kejauhan, di bawah pohon beringin tua, Kyai Beringin
tersenyum. Ia berdiri di antara akar-akar besar yang menjalar, dengan jubah
hitamnya yang berkibar ditiup angin, dengan matanya yang teduh menatap ke arah
Bukit Pangasih. Ia telah menunggu tiga ratus tahun untuk malam ini. Ia telah
melihat banyak generasi lahir dan mati. Ia telah melihat desa ini berubah dari
hamparan hutan dan ladang menjadi pemukiman yang ramai. Ia telah melihat
manusia melupakan leluhur, melupakan ritual, melupakan keseimbangan. Tetapi
malam ini, ia melihat harapan. Tiga anak kecil di puncak bukit, dengan kepalan
tangan yang menyatu, dengan tawa yang bergema. Mungkin, pikirnya, mungkin
inilah yang ditunggu-tunggu. Mungkin inilah awal dari segalanya.
Di dalam sumur tua di belakang kantor desa, penjaga air
merasakan sesuatu. Dua titik cahaya biru di dasar sumur itu berkedip lebih
terang dari biasanya, seperti mata yang terbuka lebar setelah tidur panjang. Ia
merasakan getaran di tanah, getaran yang tidak berasal dari dalam bumi, tetapi
dari atas, dari puncak Bukit Pangasih. Getaran yang membawa harapan, getaran
yang membawa janji. Ia tidak tahu apakah janji itu akan ditepati, apakah
anak-anak kecil itu akan mampu melakukan apa yang mereka janjikan. Tetapi untuk
pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia merasa tidak sendirian. Ada yang
mendengar. Ada yang peduli. Ada yang berjanji. Dan itu sudah cukup. Untuk
sementara waktu, itu sudah cukup.
Di tengah Hutan Larangan di selatan, di tempat yang tidak
pernah tersentuh sinar matahari, di bawah batu hitam yang menjulang dengan
urat-urat putih yang berdenyut, makhluk dengan mata merah itu menggeram. Ia
merasakan getaran yang sama, getaran yang membawa harapan, getaran yang membawa
janji. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa lawan yang akan dihadapinya
nanti tidak akan sendirian. Ada tiga anak kecil di puncak bukit yang berjanji
untuk menjaga desa ini. Ada tiga anak kecil yang mungkin akan menjadi
penghalang antara ia dan kebebasan yang telah ia nantikan selama tiga ratus
tahun. Ia menggeram lebih keras, membuat tanah di sekitarnya bergetar, membuat
burung-burung di hutan terbang berhamburan, membuat kabut di atas hutan berputar-putar
seperti pusaran air. Tapi di balik geramannya, ada sesuatu yang lain. Sesuatu
yang tidak ingin ia akui. Sesuatu yang mirip dengan... kekaguman. Kekaguman
pada tiga anak kecil yang berani berdiri di atas bukit, berani berjanji, berani
melawan.
Mereka bertiga berjalan pulang dari Bukit Pangasih dengan
langkah yang berbeda dari ketika mereka datang. Langkah mereka lebih mantap,
lebih pasti, seperti orang yang tahu ke mana mereka akan pergi, meskipun tujuan
akhirnya masih kabur. Langkah mereka lebih ringan, lebih bebas, seperti orang
yang baru saja melepaskan beban yang selama ini dipikul sendirian. Langkah
mereka beriringan, sejajar, tidak ada yang di depan, tidak ada yang di
belakang. Mereka berjalan turun dari puncak bukit, melewati ilalang yang bergoyang,
melewati semak-semak yang berduri, melewati rumpun bambu yang berdesir,
melewati kebun singkong yang daunnya basah oleh embun, sampai akhirnya tiba di
depan rumah Amat.
Rumah Amat tampak gelap. Sumirah sudah tidur, mungkin sudah
lelah menunggu anaknya yang pulang larut malam. Lampu minyak di ruang tamu
sudah padam, hanya menyisakan bau minyak tanah yang samar. Pintu kayu jati tua
dengan engsel besi yang berdecit itu tertutup rapat, tetapi tidak terkunci.
Sumirah selalu meninggalkan pintu tidak terkunci ketika Amat belum pulang,
karena ia tahu anaknya akan kembali. Ia selalu percaya bahwa anaknya akan
kembali.
Raka adalah yang pertama berpamitan. "Aku pulang dulu,
ya. Besok aku bawain pecel lagi. Kita makan sambil belajar dari buku-buku tua.
Setuju?"
"Setuju," kata Amat dan Camelia bersamaan.
Raka tersenyum lebar, senyum yang membuat seluruh wajahnya
yang bulat itu berkerut. "Bagus. Sekarang, tidur yang nyenyak, ya. Besok
kita mulai. Perjalanan panjang masih menunggu kita. Tapi ingat, jangan lupa
makan. Orang lapar gampang stres. Orang stres gampang kalah. Kita tidak boleh
kalah. Janji?"
"Janji," kata Amat dan Camelia lagi.
Raka melambaikan tangan, lalu berjalan menyusuri jalan
setapak yang gelap menuju rumahnya di timur desa. Sepeda onthel tuanya yang ia
tinggalkan di pagar rumah Amat tidak ia bawa, karena ia berencana mengambilnya
besok. Sepeda itu bersandar di pohon kaca piring, dengan rantainya yang
longgar, dengan bannya yang kempes, dengan suara krek-krek-krek yang
khas. Sepeda yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka, yang telah
mengantar Raka ke mana-mana, yang telah menjadi saksi bisu persahabatan mereka.
Camelia berdiri di samping Amat, menatap kepergian Raka
sampai bayangannya hilang di tikungan jalan. Kemudian ia menoleh pada Amat.
"Aku juga pulang, Mat. Ibu pasti sudah khawatir."
"Makasih, Mel," kata Amat, suaranya pelan tetapi
tulus. "Makasih sudah mau membantu. Makasih sudah mau menjadi temanku.
Makasih sudah... menerima aku apa adanya."
Camelia tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan, senyum
yang membuat wajahnya yang biasanya serius itu menjadi lebih lembut.
"Tidak perlu berterima kasih, Mat. Kita sahabat. Sahabat tidak perlu
berterima kasih. Cukup tahu bahwa kita ada untuk satu sama lain. Itu sudah
cukup."
Ia melambaikan tangan, lalu berjalan menyusuri jalan
setapak yang gelap menuju rumahnya di tengah desa. Langkahnya kecil dan cepat,
seperti biasanya, tetapi malam itu ada sesuatu yang berbeda. Ada keyakinan
dalam langkahnya, keyakinan bahwa apa pun yang akan terjadi, ia tidak akan
sendirian.
Amat berdiri di depan rumahnya, menatap kepergian kedua
sahabatnya sampai mereka benar-benar hilang dalam kegelapan malam. Angin malam
bertiup pelan, membawa kabut tipis dari lereng-lereng bukit, menyelimuti desa
dengan selimut putih yang dingin dan lembab. Di kejauhan, dari arah pohon
beringin tua, ia mendengar suara gemerisik daun yang aneh, seperti ada yang
berbisik. Ia tidak tahu apakah itu Kyai Beringin, atau hanya angin biasa. Tapi
ia tersenyum. Ia mengangkat tangannya, melambai ke arah pohon itu, dan
berbisik, "Aku sudah berjanji. Aku akan menepatinya."
Ia membuka pintu rumahnya yang berdecit, masuk ke dalam,
dan menutupnya kembali dengan pelan. Di dalam, ia berjalan menuju kamar
tidurnya, melewati ruang tamu yang gelap, melewati dapur yang sunyi, melewati
segala kenangan yang terukir di setiap sudut rumah ini. Ia membaringkan
tubuhnya di tempat tidur, merasakan dinginnya anyaman bambu di bawah
punggungnya, merasakan hangatnya selimut tua yang ia bawa dari puncak bukit. Di
lehernya, liontin batu biru itu masih menggantung, masih berdenyut pelan, masih
memberikan kehangatan yang aneh tetapi menenangkan.
Ia menutup matanya. Di dalam pikirannya, ia melihat tiga
kepalan tangan yang menyatu di bawah langit malam. Ia mendengar tiga suara yang
berjanji dengan tulus. Ia merasakan tiga hati yang berdetak dengan irama yang
sama. Dan ia tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa
takut. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, atau lusa, atau tahun depan.
Ia tidak tahu seberapa berat perjalanan yang akan mereka lalui. Ia tidak tahu
apakah mereka akan berhasil atau gagal. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak
sendirian. Dan itu sudah cukup. Lebih dari cukup.
Di luar, langit Awan Biru di atas mereka tetap biru,
meskipun malam. Biru pucat yang tenang, seperti janji bahwa apa pun yang
terjadi, desa ini akan tetap ada, akan terus dijaga, akan terus hidup. Dan di
puncak Bukit Pangasih, angin malam terus bertiup, membawa tawa tiga anak kecil
yang bergema di antara ilalang yang bergoyang, tawa yang akan terus bergema
selama berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, sebagai pengingat bahwa di
tengah semua kegelapan dan ketakutan, masih ada cahaya. Masih ada harapan.
Masih ada janji yang harus ditepati.
BAB 11: Langkah Pertama ke Hutan Larangan
Hutan Larangan, begitu penduduk Desa Awan Biru menyebut
kawasan hutan di sebelah selatan desa selama bergenerasi-generasi, sejak zaman
ketika leluhur pertama masih berjalan di tanah ini, sejak sebelum nama-nama
desa tercatat dalam buku-buku administrasi kolonial Belanda, sejak ketika hutan
ini masih lebat dan perawan, belum tersentuh oleh kapak atau gergaji manusia.
Nama itu bukan sekadar julukan yang diberikan oleh orang-orang tua untuk
menakut-nakuti anak-anak agar tidak bermain terlalu jauh. Ia adalah sebuah
larangan yang telah diwariskan turun-temurun, dari mulut ke mulut, dari
generasi ke generasi, dengan kata-kata yang tidak pernah berubah, dengan nada
yang selalu sama: ora ilok mlebu alas kidul. Tidak boleh masuk ke
hutan selatan. Larangan itu diucapkan pertama kali oleh para leluhur yang
mendirikan desa ini, kemudian diulang oleh anak-anak mereka, kemudian oleh
cucu-cucu mereka, dan seterusnya, hingga menjadi semacam mantra yang melekat
dalam ingatan kolektif setiap penduduk Desa Awan Biru.
Larangan itu bukan tanpa alasan. Bukan sekadar takhayul
yang tidak berdasar, bukan sekadar cerita pengantar tidur yang dibuat-buat
untuk menakut-nakuti anak-anak yang nakal. Konon dan ini diceritakan oleh Mbah
Ratih dengan suara berbisik di pendopo rumah joglo-nya, dengan mata yang
menatap ke kejauhan seolah-olah sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat
oleh orang biasa di dalam hutan itu terdapat makam-makam kuno leluhur pertama,
tempat-tempat di mana mereka dimakamkan setelah pengembaraan panjang yang
membawa mereka ke lembah ini. Makam-makam itu tidak ditandai dengan nisan
seperti makam-makam biasa, tetapi dengan batu-batu besar yang disusun
melingkar, dengan ukiran-ukiran yang sudah aus dimakan waktu, dengan
pohon-pohon tertentu yang tumbuh di sekelilingnya sebagai penanda. Di
makam-makam itulah, konon, roh-roh leluhur masih bersemayam, menjaga keturunan
mereka dari tempat yang tidak terjangkau oleh mata manusia biasa.
Di dalam hutan itu juga terdapat tempat-tempat ritual yang
dulu digunakan oleh leluhur untuk berkomunikasi dengan alam semesta, untuk
memohon kesuburan tanah, untuk meminta perlindungan dari mara bahaya.
Tempat-tempat itu masih menyimpan energi kuat, energi yang tidak bisa dilihat
tetapi bisa dirasakan oleh mereka yang peka, energi yang membuat bulu kuduk
berdiri dan napas terasa berat bagi siapa pun yang tidak diundang. Ada
lingkaran batu di mana para leluhur duduk bermeditasi, dengan batu terbesar di
sisi timur yang menghadap ke arah matahari terbit. Ada telaga kecil dengan air
yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang, air yang konon bisa
menyembuhkan berbagai penyakit jika diminum dengan doa yang tepat. Ada
pohon-pohon tertentu yang dianggap keramat, dengan batang yang diikat kain
putih dan kembang setaman diletakkan di akarnya sebagai sesaji.
Dan yang paling penting, di dalam hutan itu terdapat
segel-segel, tiga segel utama, konon, meskipun tidak ada yang tahu pasti
jumlahnya, yang mengurung makhluk-makhluk yang pernah mengancam desa di masa
lampau. Makhluk-makhluk yang lahir dari alam itu sendiri, yang hidup di
hutan-hutan ini sejak sebelum manusia ada, yang marah ketika manusia datang
membuka lahan dan membangun pemukiman di tempat yang mereka anggap sebagai
wilayah mereka. Makhluk-makhluk yang tidak bisa dimusnahkan, hanya bisa
dikurung, hanya bisa ditenangkan, hanya bisa dijaga agar tidak keluar dan
menghancurkan desa yang telah dibangun dengan susah payah oleh para leluhur.
Hutan itu membentang luas dari lereng selatan Bukit
Pangasih, bukit yang sama yang menjadi tempat berteduh Amat, Raka, dan Camelia,
bukit yang sama yang menjadi saksi janji suci mereka tiga tahun yang lalu, hingga
ke lembah di kaki Gunung Kendeng, gunung yang puncaknya selalu tertutup kabut,
yang konon menjadi tempat bersemayamnya dewa-dewa Jawa kuno. Luasnya tidak
pernah diukur secara pasti, karena tidak ada yang berani masuk terlalu jauh
untuk melakukan pengukuran. Yang jelas, dari kejauhan, hutan itu tampak seperti
dinding hijau pekat yang memisahkan Desa Awan Biru dari desa-desa di selatan,
dari dunia luar, dari segala sesuatu yang berada di luar batas-batas yang telah
ditentukan oleh leluhur.
Dari kejauhan, ketika matahari pagi mulai menyinari
puncak-puncak pohon, hutan itu tampak seperti lautan hijau yang tenang, dengan
gelombang-gelombang yang terbentuk oleh kanopi-kanopi pohon yang bergerak
ditiup angin. Warnanya hijau tua, hampir hitam di beberapa tempat, hijau yang
tidak seperti hijau pada umumnya, hijau yang pekat dan dalam, seperti warna cat
minyak yang diaplikasikan berlapis-lapis oleh tangan seorang pelukis yang
sabar. Di musim kemarau, ketika daun-daun mulai berguguran, hutan itu tampak
lebih terang, dengan bercak-bercak coklat dan kuning di sana-sini, tetapi tetap
saja terasa berat, tetap saja terasa seperti ada sesuatu yang mengintai dari
balik pepohonan.
Pepohonan di dalamnya sangat lebat, sangat lebat sehingga
seseorang yang masuk ke dalamnya akan merasa seperti berjalan di dalam gua yang
gelap, dengan dinding-dinding yang terbuat dari batang-batang pohon dan
langit-langit yang terbuat dari kanopi yang saling bertautan. Batang-batang
pohon itu tumbuh sangat rapat, dengan jarak yang kadang-kadang hanya beberapa
meter, sehingga sinar matahari hampir tidak bisa menembus. Yang tersisa
hanyalah cahaya remang-remang kehijauan yang jatuh dari sela-sela dedaunan yang
berlapis-lapis, cahaya yang sama seperti yang dilihat Amat dalam mimpinya dulu,
cahaya yang membuat segalanya terlihat seperti berada di dalam akuarium
raksasa, atau di dalam katedral kuno dengan kaca-kaca patri yang menyaring sinar
matahari menjadi warna-warna yang lembut dan misterius.
Udara di dalamnya selalu lembab dan dingin, dingin yang
tidak seperti dinginnya angin pegunungan yang menusuk tulang, tetapi dingin
yang lembab, dingin yang keluar dari dalam tanah, seperti udara di dalam gua
atau di ruang bawah tanah yang tidak pernah tersentuh sinar matahari. Dingin
itu membawa bau yang khas: bau tanah basah yang sangat kuat, bau daun-daun yang
berguguran dan membusuk, bau lumut dan jamur yang tumbuh subur di tempat yang
tidak pernah tersentuh sinar matahari, dan di balik semua itu, ada bau lain
yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, bau yang sangat tua, sangat dalam,
seperti bau yang keluar dari bumi yang belum pernah disentuh oleh manusia. Bau
yang sama yang pernah mereka cium di sumur tua di belakang kantor desa, bau
yang membuat bulu kuduk berdiri, bau yang membuat napas terasa berat, bau yang
membuat seseorang merasa bahwa ia sedang berada di tempat yang tidak seharusnya
ia masuki.
Di tepi hutan, tepat di batas antara lahan pertanian warga
dan pepohonan yang mulai lebat, penduduk desa telah memasang sederet bambu
runcing yang diikat dengan tali ijuk. Bambu-bambu itu ditancapkan ke tanah
dengan jarak sekitar satu meter antara satu dengan yang lain, membentuk garis
pembatas yang tidak bisa dilewati tanpa sengaja. Ujung-ujung bambu itu diraut
hingga runcing, seperti tombak-tombak kecil yang siap menusuk siapa pun yang
mencoba melewatinya. Tali ijuk yang mengikatnya sudah tua, warnanya coklat
kehitaman, dengan serat-serat yang mulai terurai di beberapa tempat, tetapi
masih cukup kuat untuk menahan bambu-bambu itu agar tidak roboh tertiup angin.
Pembatas ini bukan pagar, bukan tembok, bukan sesuatu yang
secara fisik tidak bisa dilewati. Seorang anak kecil pun bisa dengan mudah melompati
bambu-bambu itu, atau merayap di bawahnya, atau sekadar mendorongnya hingga
roboh. Tetapi tidak diperlukan pagar atau tembok yang kokoh untuk menjaga
manusia tetap di luar. Rasa takut yang telah ditanamkan sejak kecil, sejak
anak-anak masih dalam gendongan ibu mereka, sejak mereka mulai bisa berjalan
dan bertanya tentang dunia di sekitar mereka, sudah cukup menjadi pagar yang
efektif. Rasa takut yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang diceritakan
dalam dongeng-dongeng sebelum tidur, yang diulang-ulang dalam
peringatan-peringatan orang tua, yang menjadi bagian dari kesadaran kolektif
setiap penduduk Desa Awan Biru.
Namun bagi anak-anak remaja yang sedang berada di masa-masa
penuh rasa ingin tahu, masa-masa di mana dunia terasa terlalu sempit dan
larangan justru menjadi panggilan yang sulit diabaikan, masa-masa di mana
mereka mulai mempertanyakan segala sesuatu yang diajarkan oleh orang dewasa,
rasa takut itu kadang-kadang tidak cukup. Ada dorongan dari dalam untuk
melampaui batas, untuk melihat apa yang ada di balik larangan, untuk
membuktikan bahwa mereka tidak lagi anak-anak yang takut pada cerita-cerita
pengantar tidur. Dan dorongan itu, pada suatu sore ketika matahari mulai
condong ke barat dan cahayanya berubah dari putih menjadi jingga keemasan,
membawa tiga anak remaja, Amat, Raka, dan Camelia, berdiri di tepi Hutan
Larangan, dengan jantung berdebar, dengan napas tertahan, dengan langkah yang
ragu-ragu tetapi penuh tekad.
Tiga tahun telah berlalu sejak janji suci mereka di puncak
Bukit Pangasih, sejak tiga kepalan kecil menyatu di bawah langit malam yang
berbintang, sejak tiga suara bergema di antara ilalang yang bergoyang, berjanji
untuk menjaga desa ini, untuk tidak meninggalkan satu sama lain, untuk
melakukan yang terbaik apa pun yang terjadi. Tiga tahun yang terasa singkat
seperti sekejap mata, tetapi juga terasa panjang seperti perjalanan yang tidak
pernah berakhir.
Amat kini telah berusia empat belas tahun. Tubuhnya yang
dulu kurus kering mulai berisi, meskipun tetap lebih kurus dari kebanyakan anak
seusianya. Matanya yang biru itu masih sama, tidak berubah, tidak memudar,
tetap biru pucat seperti langit Awan Biru di pagi hari setelah hujan. Tingginya
sekarang sedikit di atas rata-rata anak seusianya, dengan bahu yang mulai
melebar, dengan suara yang mulai berubah menjadi lebih berat, lebih dalam,
lebih dewasa. Ia tidak lagi sering duduk sendirian di beranda rumahnya menatap
pohon beringin di kejauhan; ia lebih sering menghabiskan waktunya membaca
buku-buku kuno di rumah Mbah Ratih, atau duduk di bawah pohon beringin
berbicara dengan Kyai Beringin, atau berdiri di tepi sumur tua mendengarkan
bisikan penjaga air. Ia belajar, terus belajar, menyerap setiap kata yang
keluar dari mulut Mbah Ratih, setiap cerita yang diceritakan oleh Kyai Beringin,
setiap pesan yang disampaikan oleh penjaga air. Ia belajar tentang sejarah desa
ini, tentang leluhur yang mendirikannya, tentang makhluk-makhluk yang dikurung
di dalam hutan, tentang segel-segel yang mulai retak, tentang keseimbangan yang
harus dijaga. Ia belajar tentang tanaman-tanaman obat yang tumbuh di hutan,
tentang arah angin dan artinya, tentang cara membaca tanda-tanda alam sebelum
badai datang. Ia belajar tentang mantra-mantra sederhana untuk meminta izin
ketika masuk ke hutan, untuk memohon perlindungan ketika berada di tempat yang
dianggap keramat, untuk mengucap syukur ketika mendapatkan hasil panen yang
baik. Ia belajar menjadi penjaga, meskipun ia masih belum yakin apakah ia siap.
Raka juga telah berubah, meskipun tidak secepat Amat. Tubuhnya
yang tambun dulu kini menjadi lebih tambun, karena ia tidak pernah bisa menolak
godaan pecel buatan ayahnya yang setiap hari tersedia di warung. Wajahnya yang
bulat itu masih sama, dengan pipi tembam yang membuatnya terlihat lebih muda
dari usianya, dengan senyum khasnya yang selalu mengundang tawa, dengan matanya
yang sipit yang menyipit semakin sempit ketika ia tertawa. Tingginya tidak
setinggi Amat, mungkin karena terlalu banyak duduk di warung daripada
berlari-lari di lapangan. Ia tidak pernah menjadi siswa yang pintar,
nilai-nilainya selalu pas-pasan, kadang di bawah rata-rata, tetapi ia memiliki
sesuatu yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain: kemampuan untuk membuat orang
tertawa, bahkan di saat yang paling sulit sekalipun. Ia adalah lem yang menyatukan
mereka bertiga, api yang menghangatkan persahabatan mereka, tawa yang menjadi
senjata paling ampuh mereka. Ketika Amat terlalu serius dengan buku-bukunya dan
Camelia terlalu sibuk dengan catatan-catatannya, Raka hadir dengan candaan yang
membuat mereka tertawa, dengan pecel yang membuat perut mereka kenyang, dengan
kehadirannya yang sederhana tetapi selalu dirindukan.
Camelia, di antara mereka bertiga, mungkin yang paling
banyak berubah. Tubuhnya yang dulu kecil dan kurus kini mulai berkembang, dengan
rambut panjang yang selalu diikat rapi dalam ekor kuda, dengan wajah yang mulai
kehilangan bulat masa kanak-kanak dan mulai memperlihatkan garis-garis
ketegasan yang menandakan kedewasaan. Ia masih sama rajinnya, mungkin lebih
rajin. Buku catatannya yang dulu tipis kini telah menjadi beberapa buku,
masing-masing diberi label dengan rapi: "Sejarah Desa", "Simbol
dan Makna", "Pengalaman di Sumur Tua", "Catatan dari Mbah
Ratih", "Mimpi-mimpi Amat". Ia mencatat semua yang ia dengar,
semua yang ia lihat, semua yang ia pelajari. Ia tidak ingin ada satu pun
pengetahuan yang hilang, tidak ingin ada satu pun detail yang terlewat. Ia
adalah arsip hidup dari semua yang terjadi, ingatan kolektif yang akan
diwariskan kepada generasi berikutnya jika suatu hari nanti mereka
membutuhkannya.
Mereka bertiga telah menghabiskan tiga tahun terakhir
dengan belajar, membaca buku-buku kuno, mendengarkan cerita Mbah Ratih, dan
sesekali mengunjungi sumur tua untuk berbicara dengan penjaga air. Setiap malam
Jumat Kliwon, ketika bulan purnama bersinar terang dan kabut dari lereng bukit
lebih tebal dari biasanya, mereka akan datang ke sumur tua itu, membawa sesaji
sederhana berupa bunga dan dupa yang disiapkan oleh Mbah Ratih. Amat akan duduk
di tepi sumur, memejamkan mata, dan mendengarkan. Kadang-kadang penjaga air
berbicara, kadang-kadang hanya diam, tetapi kehadirannya selalu terasa, selalu
ada, selalu menunggu.
Mereka juga sering datang ke pohon beringin tua di tengah
desa, meskipun tidak pernah pada malam hari karena takut mengganggu warga yang
menganggap tempat itu angker. Mereka datang di pagi hari ketika kabut masih
tipis dan burung-burung baru mulai berkicau, atau di sore hari ketika matahari
mulai condong ke barat dan cahaya jingga membuat bayangan-bayangan menjadi
panjang. Amat akan duduk di Kursi Kyai, batu besar yang konon digunakan oleh
leluhur pertama untuk duduk ketika melakukan ritual, dan berbicara dengan Kyai
Beringin. Raka dan Camelia akan duduk di dekatnya, tidak bisa melihat atau
mendengar Kyai Beringin, tetapi mereka bisa merasakan kehadirannya, bisa
merasakan ketenangan yang menyebar dari pohon itu, bisa merasakan bahwa ada
sesuatu yang menjaga mereka.
Mereka telah belajar banyak. Mereka tahu bahwa desa ini
memiliki tiga titik penjagaan utama: pohon beringin di tengah desa yang dijaga
oleh Kyai Beringin, sumur tua di belakang kantor desa yang dijaga oleh penjaga
air, dan Hutan Larangan di selatan yang dijaga oleh... mereka tidak tahu. Mbah
Ratih tidak pernah memberi tahu siapa penjaga Hutan Larangan, atau apakah Hutan
Larangan sendiri adalah penjaganya. "Itu belum saatnya kau tahu,"
kata Mbah Ratih setiap kali Camelia bertanya. "Nanti, ketika waktunya
tiba, kau akan tahu sendiri."
Mereka juga tahu bahwa segel-segel yang mengurung
makhluk-makhluk di bawah tanah mulai melemah. Mereka bisa melihat
tanda-tandanya: sungai yang mulai surut di musim kemarau, beberapa mata air di
lereng bukit yang mulai mengering, pohon-pohon di tepi Hutan Larangan yang
daunnya menguning tanpa sebab, dan yang paling jelas, mimpi-mimpi Amat yang
semakin sering, semakin intens, semakin mendesak.
Dan sekarang, pada suatu sore ketika matahari mulai condong
ke barat dan cahayanya berubah dari putih menjadi jingga keemasan, mereka
bertiga berdiri di tepi Hutan Larangan. Usia mereka kini telah menginjak empat
belas tahun, usia di mana anak-anak desa biasanya mulai dianggap cukup dewasa
untuk membantu orang tua di sawah, untuk ikut dalam kegiatan karang taruna,
untuk mulai memikirkan masa depan. Usia di mana rasa ingin tahu mencapai
puncaknya, di mana larangan menjadi tantangan yang sulit diabaikan, di mana
batas-batas yang dulu terasa kokoh kini terasa seperti pagar yang bisa
dilompati.
Kali ini, mereka tidak datang untuk sekadar melihat-lihat
dari kejauhan, tidak untuk sekadar berdiri di tepi hutan merasakan angin dingin
yang keluar dari dalam. Ada misi yang lebih serius, lebih mendesak, lebih
berbahaya. Dalam mimpinya beberapa malam yang lalu, Amat kembali mendengar
panggilan dari makhluk di batu hitam itu, makhluk yang sama yang pertama kali
ia temui dalam mimpinya ketika ia berusia sembilan tahun, makhluk yang sama
yang telah muncul dalam mimpi-mimpinya puluhan kali sejak itu. Panggilan kali
ini berbeda. Tidak seperti sebelumnya yang terasa seperti undangan, seperti
ajakan untuk datang ketika ia siap. Kali ini panggilannya mendesak, gelisah,
hampir panik. Suara makhluk itu bergema di dalam kepalanya, tidak mau berhenti,
tidak mau pergi, terus berputar-putar seperti rekaman yang rusak.
Segel mulai retak. Lebih cepat dari yang kuperkirakan.
Energiku mulai keluar. Kau harus datang. Kau harus melihat sendiri. Sekarang.
Jangan tunggu lebih lama lagi.
Amat terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh
tubuhnya, dengan jantung yang berdebar kencang, dengan napas yang
terengah-engah. Ia tahu kali ini ia tidak bisa mengabaikan. Ia harus pergi ke
Hutan Larangan. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang
terjadi.
Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat ketika mereka
bertiga berdiri di tepi Hutan Larangan. Cahaya jingga keemasan masih menyelimuti
desa, membuat bayangan-bayangan memanjang seperti jari-jari raksasa yang
merayap di tanah. Di barat, langit berwarna merah darah, merah yang tidak
biasa, merah yang membuat Camelia bergidik ketika melihatnya. "Langitnya
aneh hari ini," gumamnya, mencatat di buku catatannya dengan tulisan yang
lebih cepat dari biasanya. "Merah seperti... seperti ada yang
terbakar."
Di timur, langit sudah mulai gelap, dengan bintang-bintang
pertama mulai muncul satu per satu, seperti mata-mata kecil yang mengintip dari
balik selubung malam. Kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit
di selatan, kabut yang sama yang setiap sore menyelimuti desa ini, tetapi kali
ini terasa lebih tebal, lebih dingin, lebih... berat. Seolah-olah kabut itu
membawa sesuatu, sesuatu yang tidak bisa dilihat tetapi bisa dirasakan, sesuatu
yang membuat bulu kuduk berdiri, sesuatu yang membuat napas terasa pendek.
Raka membawa ransel besar di punggungnya, ransel yang
biasanya ia gunakan untuk membawa buku-buku sekolah, tetapi kali ini berisi
sesuatu yang berbeda. "Aku bawa bekal cukup untuk tiga hari," katanya
dengan bangga, menepuk-nepuk ranselnya. "Pecel, kerupuk, tahu goreng,
tempe goreng, dan air minum. Juga bawa selimut, senter, dan p3k. Bapakku
bilang, kalau mau masuk hutan, persiapan harus matang. Jangan sampai kelaparan
di tengah jalan."
Camelia menghela napas panjang. "Raka, kita cuma masuk
sebentar. Nggak sampai tiga hari. Mungkin cuma beberapa jam. Lagian, kita nggak
akan masuk terlalu jauh. Cukup sampai di tepi, lihat keadaan, lalu pulang.
Setuju?"
"Setuju," kata Amat.
"Setuju banget," tambah Raka. "Tapi lebih
baik bawa banyak daripada kurang. Bapakku bilang, lebih baik kelebihan daripada
kekurangan. Nanti kalau kita tersesat, setidaknya kita masih punya bekal. Aku
bawa juga kompas, meskipun aku nggak terlalu ngerti cara pakainya. Aku bawa
juga parang kecil, buat jaga-jaga kalau ada ular atau binatang buas."
"Binatang buas?" Camelia memucat. "Raka,
jangan bikin aku tambah takut."
"Ah, nggak ada binatang buas di sini, Mel. Paling cuma
ular, atau biawak, atau monyet. Itu juga nggak bakal ganggu kalau kita nggak
ganggu mereka. Bapakku bilang, binatang hutan itu lebih takut sama manusia
daripada manusia takut sama mereka."
Camelia tidak menjawab. Ia memegang erat buku catatannya,
buku yang sudah mulai menebal, yang berisi puluhan halaman tentang sejarah
desa, simbol-simbol kuno, dan catatan-catatan tentang pengalaman mereka di
sumur tua. Buku itu adalah senjatanya, sama seperti liontin batu biru adalah
senjata Amat, dan pecel adalah senjata Raka. Setiap orang punya senjata
masing-masing.
Amat berdiri paling depan, paling dekat dengan barisan
bambu runcing yang menjadi batas antara desa dan hutan. Ia tidak membawa banyak
barang, hanya liontin batu biru di lehernya dan sebuah belati kecil di
pinggangnya, belati peninggalan ayahnya yang selama ini tersimpan di dalam
lemari, yang ia temukan ketika membersihkan rumah beberapa minggu yang lalu.
Belati itu tidak besar, hanya sepanjang telapak tangan orang dewasa, dengan
gagang dari kayu jati yang sudah hitam karena usia dan sarung dari kulit yang
sudah mengeras. Bilahnya masih tajam, masih mengkilap, seperti baru saja
diasah. Amat tidak tahu mengapa ia membawa belati itu. Mungkin karena ia merasa
perlu membawa sesuatu yang bisa melindunginya secara fisik, meskipun ia tahu
bahwa belati kecil itu tidak akan berguna jika berhadapan dengan apa yang
mungkin mereka temui di dalam hutan. Tapi ada sesuatu dalam belati itu, sesuatu
yang membuatnya merasa aman, merasa bahwa ayahnya ada bersamanya, bahwa ia
tidak sendirian.
"Kita makan dulu sebelum masuk," kata Raka,
membuka ranselnya dan mengeluarkan besek berisi pecel. "Perut yang kenyang
bikin hati tenang. Bapakku selalu bilang, jangan pernah melakukan sesuatu yang
penting dengan perut kosong. Nanti konsentrasinya buyar."
"Raka, ini bukan piknik," Camelia memprotes,
tetapi ia juga mengambil kerupuk dari besek itu. Perutnya memang mulai
keroncongan, dan ia tidak mau masuk ke hutan dengan perut kosong.
"Piknik atau bukan, yang penting kita makan. Lagian, pecel
buatan bapakku ini bisa bikin semangat. Coba, makan dulu, nanti kita lihat
apakah masih takut."
Mereka bertiga duduk di tanah, di antara ilalang yang
bergoyang ditiup angin, di tepi hutan yang mulai gelap, dan makan pecel
bersama. Raka makan dengan lahap seperti biasa, kerupuknya kresek-kresek memecah
kesunyian sore. Camelia makan dengan perlahan, matanya sesekali menatap ke arah
hutan, ke arah barisan bambu runcing yang menjadi batas. Amat makan tanpa
merasakan rasa, pikirannya sudah berada di dalam hutan, sudah berada di tempat
yang pernah ia kunjungi dalam mimpi-mimpinya, tempat di mana pepohonan terbakar
oleh sesuatu yang bukan api.
Setelah selesai makan, mereka membersihkan sisa-sisa
makanan, mengubur sampah di tanah agar tidak mengganggu. Raka memasukkan
kembali besek kosong ke dalam ranselnya, mengecek perlengkapan satu per satu:
senter masih berfungsi, kompas masih berputar, p3k masih lengkap. Camelia
membuka buku catatannya, membaca ulang catatan-catatan yang ia buat tentang
Hutan Larangan, tentang cerita-cerita Mbah Ratih, tentang tanda-tanda yang
harus diperhatikan.
Amat berdiri di depan barisan bambu runcing. Ia menatap ke
dalam hutan, ke arah pepohonan yang semakin gelap, ke arah kabut yang semakin
tebal. Di dadanya, liontin batu biru mulai terasa hangat. Bukan hangat seperti
biasa, hangat yang menenangkan, hangat yang menjadi teman di malam-malam yang
sunyi. Hangat kali ini berbeda. Hangat yang mendesak, hangat yang memanggil,
hangat yang mengatakan bahwa sesuatu sedang terjadi di dalam, sesuatu yang
tidak bisa ditunda lagi.
"Kita masuk," katanya, suaranya tegas, tidak ada
keraguan.
Raka dan Camelia berdiri di sampingnya. Mereka tidak
mengatakan apa-apa, hanya mengangguk.
Mereka bertiga melangkahkan kaki melewati barisan bambu
runcing, masuk ke dalam Hutan Larangan.
Begitu melewati batas bambu runcing, suasana berubah
drastis. Tidak bertahap, tidak perlahan-lahan seperti masuk ke ruangan yang
dingin dari udara yang panas. Perubahan itu tiba-tiba, seperti membuka pintu
dan masuk ke ruangan yang sama sekali berbeda, seperti melangkah dari satu
dunia ke dunia lain. Udara menjadi lebih dingin, dingin yang menusuk hingga ke
tulang, dingin yang membuat mereka bergidik meskipun mereka mengenakan jaket
tebal. Cahaya matahari yang masih tersisa di luar seolah-olah ditelan oleh
kegelapan hutan, ditelan oleh kanopi pepohonan yang lebat, ditelan oleh kabut
yang tebal. Dalam hitungan detik, mereka sudah berada di dalam dunia yang
gelap, lembab, dan sunyi.
Pepohonan di sekitar mereka jauh lebih besar dari yang
terlihat dari luar. Batang-batangnya tidak selebar yang dibayangkan Amat dari
mimpinya, mimpinya dulu lebih besar, lebih dramatis, lebih seperti dunia lain, tetapi
tetap besar, jauh lebih besar dari pohon-pohon di desa. Diameter batangnya
mencapai dua hingga tiga meter, dengan kulit kayu yang berwarna coklat
keabu-abuan, dengan retakan-retakan dalam yang membentuk pola-pola rumit,
dengan lumut hijau tebal yang menutupi hampir setiap permukaan, membuat
batang-batang pohon itu tampak seperti ditutupi oleh selimut beludru hijau yang
lembut.
Akar-akarnya menjulang seperti dinding-dinding kecil, ada
yang setinggi lutut, ada yang setinggi pinggang, ada yang lebih tinggi dari
kepala mereka. Akar-akar itu tidak hanya menjalar di tanah seperti akar pohon
beringin di desa, tetapi juga muncul ke permukaan, membentuk
lengkungan-lengkungan alami, membentuk terowongan-terowongan kecil, membentuk
ruang-ruang tersembunyi yang mungkin menjadi tempat tinggal bagi
makhluk-makhluk hutan. Beberapa akar yang lebih besar bahkan membentuk semacam
dinding yang memisahkan satu area dengan area lainnya, seperti lorong-lorong
dalam sebuah labirin raksasa.
Mereka berjalan perlahan, mengikuti jalan setapak yang
nyaris tidak terlihat. Jalan itu tidak seperti jalan buatan manusia, tidak seperti
jalan yang sengaja dibuat dengan cangkul dan parang. Jalan itu lebih seperti
bekas lintasan hewan hutan: rusa, kijang, babi hutan, atau mungkin sesuatu yang
lain, sesuatu yang tidak mereka kenal. Tanahnya gembur, ditutupi oleh serasah
daun yang tebal, daun-daun kering yang berguguran dari pohon-pohon di atas,
menciptakan lapisan yang lembut di bawah kaki, tetapi juga licin, sangat licin,
seperti berjalan di atas salju yang mencair.
Raka yang biasanya cerewet tiba-tiba menjadi diam. Matanya
yang sipit melotot ke kiri dan ke kanan, seperti sedang mencari sesuatu, atau
seperti sedang mengawasi sesuatu yang mungkin muncul dari balik pepohonan.
Tangannya memegang erat ransel di punggungnya, dan sesekali ia menyentuh parang
kecil yang diselipkan di pinggangnya, seolah-olah memastikan bahwa senjata itu
masih ada jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Camelia terus mencatat setiap detail yang ia lihat,
meskipun tangannya gemetar. Ia menulis dengan cepat, mencatat suhu udara,
tingkat kelembaban, jenis pohon yang mereka lihat, arah jalan yang mereka
ambil. Ia juga menggambar sketsa sederhana dari pohon-pohon yang paling aneh,
dari akar-akar yang paling menjulang, dari pola-pola lumut yang paling menarik.
Ia berusaha untuk tetap fokus, untuk tidak membiarkan ketakutannya menguasai
dirinya. Ia adalah pencatat, ia adalah pengingat, ia adalah arsip. Tugasnya
adalah melihat, mendengar, mencatat, dan mengingat.
Amat berjalan paling depan. Ia tidak membawa senter seperti
Raka, tidak membawa buku catatan seperti Camelia. Ia hanya mengandalkan liontin
batu biru di lehernya, yang kini terasa semakin hangat, semakin terang, seperti
lampu kecil yang menyala di dadanya. Liontin itu tidak memancarkan cahaya yang
bisa dilihat oleh mata biasa, tetapi Amat bisa merasakannya, bisa merasakan hangatnya
yang menuntun jalannya, bisa merasakan bahwa ia sedang menuju ke arah yang
benar.
Di dalam kepalanya, suara-suara mulai terdengar. Bukan
suara yang jelas seperti yang ia dengar dari Kyai Beringin atau dari penjaga
air. Suara-suara ini lebih seperti bisikan, seperti gumaman, seperti suara
orang yang berbicara dari jarak yang sangat jauh. Kadang-kadang ia bisa
menangkap satu-dua kata: hati-hati... jangan ke sana... kembali...
bahaya... Tetapi kebanyakan hanya bisikan yang tidak jelas, yang berbaur
satu sama lain, yang menciptakan semacam paduan suara yang aneh, yang membuat
kepalanya terasa berat, yang membuat matanya terasa ingin terpejam.
Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, tiga puluh menit
yang terasa seperti tiga jam, tiga puluh menit yang penuh dengan kewaspadaan
dan ketegangan, tiga puluh menit yang membuat mereka bertiga berkeringat
meskipun udara dingin, mereka tiba di sebuah tempat yang berbeda. Mereka tidak
perlu diberi tahu bahwa tempat ini berbeda; mereka bisa merasakannya, bisa
melihatnya, bisa menciumnya.
Pepohonan di sini tidak setebal di bagian awal. Kanopinya
tidak serapat sebelumnya, sehingga sedikit cahaya matahari yang tersisa, matahari
di luar sudah hampir tenggelam sepenuhnya, bisa masuk, menciptakan cahaya
remang-remang yang aneh, cahaya yang berwarna kemerahan, seperti cahaya
matahari terbenam yang tersaring oleh kaca berwarna. Tetapi justru di sinilah,
di tempat yang lebih terang ini, suasana menjadi lebih mengerikan. Lebih
mencekam. Lebih... salah.
Batang-batang pohon di sini terlihat terbakar. Tidak
terbakar oleh api, tidak ada bekas api, tidak ada abu, tidak ada arang yang
biasanya tertinggal setelah kebakaran hutan. Terbakar oleh sesuatu yang lain,
sesuatu yang tidak bisa dilihat, sesuatu yang keluar dari dalam tanah, sesuatu
yang merambat naik ke batang-batang pohon, membakar mereka dari dalam. Kulit
pohonnya hitam, hitam pekat seperti arang, tetapi tidak hancur ketika disentuh.
Kulit pohonnya mengelupas, terkelupas dalam lembaran-lembaran besar, seperti
kulit ular yang berganti kulit, tetapi di bawahnya bukan kulit baru yang segar,
melainkan daging yang hitam dan mati. Daun-daunnya berguguran, berguguran
meskipun ini bukan musim kemarau, berguguran meskipun pohon-pohon di sekitarnya
masih hijau. Daun-daun itu menumpuk di tanah, membentuk lapisan yang tebal,
berwarna coklat kehitaman, mengeluarkan bau yang tidak sedap, bau busuk, bau
pembusukan, bau kematian.
Tanah di bawah kaki terasa hangat. Tidak seperti hangatnya
tanah yang terkena sinar matahari, tetapi hangat yang keluar dari dalam bumi,
hangat yang naik dari kedalaman, hangat yang membuat sepatu mereka terasa
seperti berdiri di atas pemanas ruangan. Hangat itu aneh, tidak nyaman, membuat
kaki mereka terasa panas meskipun udara di sekelilingnya dingin. Dan di beberapa
tempat, dari retakan-retakan kecil di tanah, keluar uap tipis, uap putih yang
mengepul seperti air yang mendidih, membawa bau belerang, bau yang menyengat
hidung, bau yang membuat mata perih.
"Ini yang dimaksud dengan segel yang retak," kata
Amat, suaranya berat, suaranya tidak seperti biasanya. Matanya yang biru
menatap pohon-pohon yang terbakar itu, menatap tanah yang hangat itu, menatap
uap yang keluar dari retakan-retakan. Ia mengingat mimpinya, mimpi ketika ia
berusia sembilan tahun, mimpi ketika ia pertama kali melihat makhluk di atas
batu hitam, mimpi ketika tanah berguncang dan retakan-retakan muncul
memancarkan cahaya merah. Itu bukan mimpi. Itu adalah penglihatan. Penglihatan
tentang apa yang akan terjadi jika segel ini rusak. Dan sekarang, penglihatan
itu menjadi kenyataan.
"Energi dari dalam mulai keluar," lanjutnya,
suaranya bergetar sedikit, tetapi ia berusaha mengendalikannya. "Membakar
semuanya dari dalam. Ini baru awal. Jika segel ini hancur, bukan hanya tempat
ini yang akan terbakar. Seluruh desa. Seluruh desa akan seperti ini."
Camelia mencatat dengan cepat, tangannya gemetar, tetapi ia
memaksakan diri untuk tetap menulis. Ia mencatat suhu tanah, jumlah pohon yang
terbakar, intensitas uap yang keluar dari retakan, bau belerang yang menyengat.
Ia mencatat semuanya, setiap detail, setiap angka, setiap pengamatan. Karena
inilah yang harus ia lakukan. Inilah perannya. Inilah sumbangsihnya untuk desa
ini, untuk sahabat-sahabatnya, untuk masa depan yang tidak pasti.
Raka berdiri di belakang Amat, matanya melotot, mulutnya
terbuka sedikit. Ia tidak bercanda. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia
tidak punya lelucon. Yang ia lihat di depannya terlalu nyata, terlalu
mengerikan, terlalu dekat dengan rumahnya, dengan desanya, dengan semua yang ia
cintai. Ia memegang erat parang di pinggangnya, meskipun ia tahu parang itu
tidak akan berguna. Ia memegang erat ransel di punggungnya, meskipun ia tahu
pecel tidak akan menyelamatkan mereka. Ia hanya berdiri di sana, diam, menatap,
berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara. Bukan suara bisikan
seperti sebelumnya, bukan suara yang samar dan tidak jelas. Suara yang jelas,
nyaring, dan menggetarkan. Suara yang membuat udara di sekitarnya bergetar,
membuat dedaunan bergemerisik, membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar
sedikit. Suara yang sama yang pernah Amat dengar dalam mimpinya, suara yang
sama yang telah menemaninya selama bertahun-tahun, suara yang sekarang menjadi
nyata, hadir di depannya, tidak lagi terbatas pada dunia mimpi.
Kau datang, penjaga cilik. Akhirnya.
Amat menoleh ke arah suara itu. Di antara pepohonan yang
terbakar, di antara batang-batang hitam yang mengelupas, di antara kabut yang
tebal dan uap yang mengepul dari tanah, berdiri sosok yang ia kenal dari
mimpi-mimpinya. Tinggi, sangat tinggi, lebih tinggi dari pohon-pohon di
sekitarnya. Kurus, sangat kurus, seperti tiang yang terbuat dari bayangan.
Jubah hitam panjang menjuntai hingga ke tanah, berkibar-kibar ditiup angin yang
tidak terasa oleh mereka. Wajahnya masih samar, masih kabur, seperti wajah yang
dilihat dari balik kaca yang buram, tetapi dua titik cahaya merah di matanya
terlihat jelas, terlihat sangat jelas di tengah kegelapan hutan, di tengah
kabut yang tebal, di tengah uap yang mengepul dari tanah.
Raka dan Camelia tidak bisa melihat sosok itu. Mereka hanya
mendengar suaranya, suara yang menggetarkan tulang mereka, suara yang membuat
bulu kuduk mereka berdiri, suara yang membuat mereka ingin berlari sejauh
mungkin. Tetapi mereka tidak berlari. Mereka berdiri di samping Amat, di
belakang Amat, mendukung Amat, seperti yang mereka janjikan tiga tahun lalu di
puncak Bukit Pangasih.
"Aku datang," kata Amat, suaranya lebih berani
daripada yang ia rasakan. Ia berdiri tegak, menatap dua titik cahaya merah itu,
tidak berkedip, tidak bergeming. Liontin di lehernya terasa sangat hangat,
hampir panas, seperti bara api yang menyala di dadanya. "Apa yang terjadi
di sini? Kau bilang segel mulai retak. Tapi ini... ini lebih parah dari yang
kukira. Ini bukan mulai retak. Ini sudah... hancur."
Makhluk itu terdiam sejenak. Dua titik merah di matanya
berkedip-kedip, seperti lampu yang menyala dan padam, seperti mata yang sedang
berkedip. Ketika ia berbicara lagi, suaranya lebih lembut, lebih dalam,
lebih... sedih.
Segel ini sudah melemah selama bertahun-tahun. Puluhan
tahun. Mungkin ratusan tahun. Setiap kali manusia melupakan leluhur, segel ini
melemah. Setiap kali manusia menebang pohon tanpa permisi, segel ini melemah.
Setiap kali manusia mencemari sungai, segel ini melemah. Dan sekarang, setelah
bertahun-tahun diabaikan, segel ini tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Yang
kau lihat di sini adalah awal dari kehancuran. Jika tidak ada yang dilakukan,
dalam hitungan bulan, mungkin minggu, seluruh hutan ini akan mati. Dan setelah
hutan ini mati, desamu akan mati.
Amat merasakan beban yang sangat berat di pundaknya. Beban
yang tidak pernah ia minta, beban yang diturunkan kepadanya sejak ia lahir,
beban yang selama ini ia rasakan sebagai sesuatu yang berat dan menyakitkan.
Tapi ia tidak bisa lari. Ia tidak akan lari. Ia sudah berjanji.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya, suaranya
tegas, tidak ada keraguan.
Makhluk itu menghela napas. Napas yang panjang, napas yang
berat, napas yang keluar dari paru-paru yang sudah tua, yang membawa serta
beban yang sudah dipikulnya selama tiga ratus tahun.
Kau harus memperbaiki segel ini. Tapi kau belum siap. Masih
ada yang harus kau pelajari. Masih ada yang harus kau cari.
"Mencari apa?"
Peta. Peta kuno yang ditinggalkan oleh leluhurmu. Peta yang
menunjukkan semua titik penjagaan di desa ini. Peta yang menunjukkan
sumber-sumber energi yang menjaga keseimbangan. Peta yang menunjukkan cara
memperkuat segel-segel yang mulai rapuh. Tanpa peta itu, kau tidak akan bisa
melakukan apa pun. Kau akan tersesat. Kau akan gagal. Dan desamu akan hancur.
"Di mana peta itu?"
Makhluk itu terdiam sejenak. Dua titik merah di matanya
berkedip lebih cepat, seperti orang yang sedang berpikir keras, seperti orang
yang sedang mengingat sesuatu yang sudah lama dilupakan.
Di tempat yang paling tidak kau duga. Di tempat yang setiap
hari kau lihat tetapi tidak pernah kau perhatikan. Di tempat yang menjadi pusat
dari segalanya. Carilah, penjaga cilik. Carilah dengan hati, bukan dengan mata.
Karena peta itu tidak akan terlihat oleh mata biasa. Hanya hati yang bersih
yang bisa melihatnya.
"Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak
tahu harus mencari di mana."
Makhluk itu tidak menjawab. Perlahan-lahan, sosoknya mulai
memudar, seperti kabut yang terkena sinar matahari, seperti mimpi yang sirna
ketika bangun tidur. Dua titik merah di matanya menjadi semakin redup, semakin
kecil, semakin jauh, hingga akhirnya menghilang sama sekali. Yang tersisa
hanyalah pepohonan yang terbakar, tanah yang hangat, uap yang mengepul, dan
tiga anak remaja yang berdiri di tengahnya, dengan jantung yang berdebar,
dengan pikiran yang kacau, dengan tekad yang mulai terbentuk.
Mereka bertiga berjalan cepat meninggalkan Hutan Larangan.
Langkah mereka tidak lagi ragu-ragu seperti ketika masuk. Langkah mereka cepat,
terburu-buru, seperti orang yang sedang dikejar oleh sesuatu, meskipun tidak
ada yang mengejar. Raka berjalan paling depan kali ini, membuka jalan dengan
senter yang ia arahkan ke depan, menerangi jalan setapak yang sempit, menerangi
akar-akar yang menjulang, menerangi pepohonan yang gelap. Camelia berjalan di
tengah, masih mencatat, masih menulis, meskipun tangannya gemetar dan tulisannya
menjadi tidak rapi seperti biasanya. Amat berjalan paling belakang, sesekali
menoleh ke belakang, sesekali menatap ke arah di mana makhluk itu menghilang,
sesekali merasakan hangatnya liontin di lehernya yang mulai mereda.
Begitu melewati batas bambu runcing, udara kembali terasa
normal. Tidak lagi dingin menusuk, tidak lagi lembab dan berat. Udara desa yang
familiar, udara yang membawa bau tanah dan tanaman, bau asap dari dapur-dapur
warga, bau kotoran sapi dari kandang di belakang rumah. Matahari telah
sepenuhnya tenggelam, dan langit mulai gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan
satu per satu, seperti lampu-lampu kecil yang dinyalakan di langit. Bulan sabit
tipis muncul di ufuk barat, memberikan cahaya peraknya yang lembut ke seluruh
desa.
Desa Awan Biru tampak damai dari kejauhan. Lampu-lampu
minyak mulai menyala di rumah-rumah warga, menciptakan titik-titik cahaya kecil
yang tersebar tidak beraturan di lembah yang gelap. Dari arah masjid, terdengar
suara adzan magrib yang baru saja selesai, diikuti oleh suara sayup-sayup orang
yang sedang melaksanakan salat berjamaah. Dari arah warung Mbah Karo, terdengar
suara tawa dan obrolan, suara yang familiar, suara yang membuat mereka merasa
bahwa mereka telah kembali ke dunia yang nyata, dunia yang mereka kenal, dunia
yang aman.
Sepanjang perjalanan pulang, mereka tidak banyak bicara.
Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Camelia sibuk mencatat semua
yang mereka lihat dan dengar di dalam hutan, berusaha untuk tidak melewatkan
satu detail pun, karena ia tahu bahwa detail-detail itu penting, detail-detail
itu mungkin menjadi kunci untuk memahami apa yang sedang terjadi. Ia mencatat
suhu tanah yang hangat, pohon-pohon yang terbakar, uap yang keluar dari
retakan, bau belerang yang menyengat. Ia mencatat kata-kata makhluk itu,
kata-kata tentang segel yang retak, tentang peta kuno, tentang tempat yang
paling tidak diduga. Ia mencatat semuanya, dengan harapan bahwa suatu hari
nanti catatan-catatan itu akan berguna.
Raka yang biasanya cerewet hanya diam. Ia tidak bercanda,
tidak membuat lelucon, tidak menawarkan pecel. Ia hanya berjalan, sesekali
menoleh ke belakang seolah-olah takut ada yang mengikuti, sesekali memegang
parang di pinggangnya, sesekali menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
Ia tidak mengerti banyak tentang segel dan penjaga dan peta kuno, tetapi ia
mengerti satu hal: desanya dalam bahaya. Dan ia harus membantu, meskipun ia
tidak tahu caranya.
Amat berjalan paling belakang, menatap langit malam yang
berbintang. Liontin di lehernya masih hangat, meskipun tidak sehangat di dalam
hutan. Di dalam kepalanya, kata-kata makhluk itu terus terngiang,
berputar-putar seperti rekaman yang tidak mau berhenti. Di tempat yang
paling tidak kau duga. Di tempat yang setiap hari kau lihat tetapi tidak pernah
kau perhatikan. Di mana? Di mana peta itu? Di mana tempat yang paling
tidak diduga? Di mana tempat yang setiap hari ia lihat tetapi tidak pernah ia
perhatikan?
Sampai di rumah Amat, Sumirah yang sudah menunggu dengan
cemas di teras rumah langsung berdiri dan memeluk anaknya erat-erat. "Kamu
ke mana saja? Ibu sudah cari ke mana-mana! Dari tadi sore ibu cari, nggak
ketemu. Mbah Ratih juga khawatir! Beliau sampai ke sini tadi, nanya kamu."
Amat memeluk ibunya balik, merasakan kehangatan yang
familiar, kehangatan yang selalu ia cari ketika ia merasa takut atau bingung.
"Maaf, Bu. Kami hanya jalan-jalan. Tidak ada apa-apa."
Sumirah melepaskan pelukannya, menatap wajah Amat dengan
mata yang penuh kekhawatiran. Ia tidak sepenuhnya percaya dengan kata-kata anaknya.
Ia bisa melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda, ada sesuatu yang mengganggu
pikirannya, ada beban yang dipikulnya yang tidak bisa ia ceritakan. Tapi ia
tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengusap rambut Amat dengan lembut, seperti
yang selalu ia lakukan ketika Amat masih kecil, dan berkata, "Ayo, makan
malam dulu. Ibu masak sayur bening dan tempe goreng. Raka, Camelia, kalian juga
makan di sini, ya. Ibu masak banyak."
Raka yang sejak tadi diam tiba-tiba bersemangat lagi.
"Wah, sayur bening buatan Ibu Sumirah? Enak itu! Aku mau, Bu. Tapi aku
sudah janji sama bapak untuk pulang jam tujuh. Bapak pasti sudah
menunggu."
"Aku juga harus pulang," kata Camelia. "Ibu
pasti sudah khawatir."
"Ya sudah, lain kali kalian makan di sini," kata
Sumirah. "Sekarang pulang dulu, biar orang tua kalian tidak khawatir.
Amat, antar teman-temanmu sampai depan jalan."
Amat mengantarkan Raka dan Camelia ke depan pagar tanaman
kaca piring. Di bawah sinar bulan sabit yang tipis, mereka berdiri sejenak,
tidak ada yang bicara. Angin malam bertiup pelan, membawa kabut tipis dari
lereng-lereng bukit, menyelimuti desa dengan selimut putih yang dingin dan
lembab.
"Besok kita cari tahu tentang peta itu," kata
Camelia akhirnya, membuka buku catatannya dan membaca ulang catatan yang ia buat.
"Aku akan cek buku-buku di rumah Mbah Ratih. Mungkin ada petunjuk di
sana."
"Aku akan tanya bapak," kata Raka. "Bapak
kan sering cerita tentang masa lalu. Mungkin beliau tahu sesuatu tentang peta
kuno. Atau tentang tempat-tempat yang dianggap keramat di desa ini. Atau
tentang... aku nggak tahu, apalah. Yang penting aku coba."
Amat mengangguk. "Aku akan ke pohon beringin besok
pagi. Aku akan tanya Kyai Beringin. Mungkin beliau tahu."
Mereka bertiga berdiri diam sejenak, menatap satu sama
lain. Di bawah sinar bulan yang redup, wajah mereka tampak pucat, tetapi mata
mereka bersinar. Ada tekad di sana, tekad yang sama seperti tiga tahun lalu di
puncak Bukit Pangasih, tekad untuk menjaga desa ini, tekad untuk tidak
meninggalkan satu sama lain, tekad untuk melakukan yang terbaik apa pun yang
terjadi.
"Kita bisa," kata Raka, mencoba tersenyum,
meskipun senyumnya terasa dipaksakan. "Kita pasti bisa. Kita kan punya
pecel."
Amat dan Camelia tertawa kecil. Tawa yang tipis, tawa yang
rapuh, tetapi tawa. Dan tawa itu, seperti yang pernah dikatakan Mbah Ratih,
adalah senjata paling ampuh.
Raka melambaikan tangan, lalu berjalan menyusuri jalan
setapak yang gelap menuju rumahnya. Camelia melambaikan tangan, lalu berjalan
ke arah yang berlawanan. Amat berdiri di depan pagar, menatap kepergian kedua
sahabatnya sampai bayangan mereka hilang dalam kegelapan malam.
Kemudian ia masuk ke dalam rumah, duduk di meja makan
bersama ibunya, dan menyantap sayur bening dan tempe goreng yang masih hangat.
Sumirah tidak bertanya tentang ke mana ia pergi. Ia hanya sesekali menatap
anaknya, melihat liontin batu biru yang tergantung di lehernya, melihat
ekspresi wajahnya yang lebih dewasa dari usianya, dan berdoa dalam hati semoga
anaknya dilindungi, semoga apa pun yang menantinya, ia kuat menghadapinya.
Setelah makan malam, Amat membantu ibunya mencuci piring,
kemudian berpamitan untuk beristirahat. Ia masuk ke kamarnya, berganti pakaian,
dan berbaring di tempat tidurnya. Di luar, angin malam bertiup lebih kencang,
membuat dedaunan pohon jambu air bergemerisik, membuat atap seng
berderit-derit, membuat pintu kayu yang tidak terkunci bergoyang pelan.
Amat tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya,
memandangi langit-langit anyaman bambu yang samar-samar terlihat karena cahaya
bulan yang masuk melalui celah-celah dinding. Di dalam kepalanya, kata-kata
makhluk itu terus terngiang, tidak mau berhenti, tidak mau pergi, terus
berputar-putar seperti rekaman yang tidak bisa ia matikan.
Di tempat yang paling tidak kau duga. Di tempat yang setiap
hari kau lihat tetapi tidak pernah kau perhatikan.
Ia memejamkan mata, mencoba mengingat setiap tempat di desa
ini yang ia lihat setiap hari. Rumahnya. Jalan setapak di depan rumah. Pasar.
Masjid. Kantor desa. Sekolah. Pohon beringin. Sumur tua. Bukit Pangasih.
Sawah-sawah. Sungai kecil. Semua tempat itu ia lihat setiap hari, tetapi tidak
pernah ia perhatikan dengan saksama, tidak pernah ia pikirkan bahwa mungkin di
salah satu tempat itu tersembunyi sesuatu yang sangat penting.
Ia membuka matanya, menatap langit-langit kamarnya. Dan
tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Sesuatu yang dikatakan oleh Mbah Ratih
bertahun-tahun yang lalu, ketika ia masih kecil, ketika ia pertama kali
bertanya tentang sejarah desa ini.
"Rahasia terbesar sering kali tersembunyi di tempat
yang paling terbuka, Nak. Di tempat yang setiap hari kau lihat tetapi tidak
pernah kau perhatikan. Karena manusia cenderung mencari hal-hal yang rumit,
yang tersembunyi, yang jauh. Mereka lupa bahwa jawaban sering kali ada di depan
mata."
Amat tersenyum. Ia tidak tahu apakah itu petunjuk, atau
hanya kebetulan. Tapi untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa ada secercah
harapan. Mungkin mereka bisa menemukan peta itu. Mungkin mereka bisa
memperbaiki segel itu. Mungkin mereka bisa menyelamatkan desa ini.
Ia menutup matanya, dan untuk pertama kalinya setelah
berhari-hari, ia tidur dengan nyenyak. Tidak ada mimpi, tidak ada suara, tidak
ada panggilan. Hanya tidur yang dalam dan tenang, tidur yang memberinya
kekuatan untuk hari esok.
Di luar, langit Awan Biru tetap biru meskipun malam. Biru
pucat yang tenang, seperti janji bahwa apa pun yang terjadi, desa ini akan
tetap ada, akan terus dijaga, akan terus hidup. Dan di kejauhan, di tengah
desa, pohon beringin tua bergoyang pelan, seolah-olah memberikan isyarat, seolah-olah
mengatakan bahwa ia tahu di mana peta itu berada, bahwa ia sudah lama menunggu
Amat untuk menanyakannya.
BAB 12: Suara yang Memanggil Amat
Memasuki usia remaja, kehidupan Amat Junior berjalan dengan
rutinitas yang relatif normal, setidaknya di permukaan. Seperti kebanyakan anak
seusianya, ia bangun sebelum matahari terbit, membantu ibunya menyiapkan
sarapan sederhana, mencuci muka dengan air dingin dari sumur tua di halaman,
dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Namun berbeda dengan anak-anak lain
yang bersekolah di desa, Amat harus menempuh perjalanan yang lebih jauh. Ia
bersekolah di SMP Negeri 1 Kecamatan, satu-satunya sekolah menengah pertama di
wilayah itu, yang terletak di ibu kota kecamatan sekitar sepuluh kilometer dari
Desa Awan Biru.
Setiap pagi, ketika langit masih gelap dan bintang-bintang
belum sepenuhnya menghilang, Amat berangkat bersama Raka dan beberapa anak desa
lainnya. Mereka berkumpul di perempatan jalan dekat pasar, tempat di mana truk
tua milik Pak Anto sudah menunggu dengan mesin yang masih hangat, dengan asap
knalpot yang mengepul di udara pagi yang dingin. Truk itu adalah satu-satunya
kendaraan umum yang melayani rute dari Desa Awan Biru ke kecamatan, sebuah truk
terbuka dengan bak yang dilapisi terpal biru yang sudah pudar warnanya, dengan
deretan bangku kayu panjang yang dipaku di kedua sisi bak, dengan lantai yang
berlubang di beberapa tempat sehingga air hujan bisa masuk dan membasahi kaki
penumpang ketika musim penghujan tiba.
Pak Anto, sopir truk itu, adalah sosok yang sudah tidak
asing lagi bagi setiap warga Desa Awan Biru. Ia bukan penduduk asli desa ini, ia
datang dari kota sekitar lima belas tahun yang lalu, dengan truk tua yang sama
yang masih ia kendarai sampai sekarang, tetapi ia telah menjadi bagian tak terpisahkan
dari kehidupan sehari-hari warga. Setiap pagi, suara knalpot truknya yang
menggelegar menjadi alarm bangun pagi bagi warga sekitar. Setiap sore, suara
klaksonnya yang nyaring menjadi tanda bahwa anak-anak sekolah telah kembali
dari kecamatan. Ia adalah sopir yang handal, menguasai jalan-jalan berbatu dan
berliku di daerah pegunungan dengan sangat baik, tahu persis di mana tikungan
tajam yang harus diperlambat, di mana jalan berlubang yang harus dihindari, di
mana sungai kecil yang kadang meluap setelah hujan deras.
Namun Pak Anto bukan hanya sopir. Ia juga seorang peramal, setidaknya
itulah yang dikatakan oleh warga desa. Sejak kedatangannya, ia sudah dikenal
sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak terlihat
oleh orang biasa. Ia bisa membaca garis tangan, meramal dari ampas kopi, dan
yang paling terkenal, meramal dari posisi bintang-bintang di langit malam.
Banyak warga desa yang datang kepadanya untuk bertanya tentang jodoh, tentang
rezeki, tentang nasib. Ia tidak pernah meminta bayaran; cukup secangkir kopi
dan sebatang rokok, dan ia akan duduk berjam-jam bercerita tentang masa depan,
tentang takdir, tentang hal-hal yang mungkin terjadi dan hal-hal yang sebaiknya
dihindari.
"Amat, kamu diam saja. Ada apa? Kurang tidur?" sapa
Pak Anto suatu pagi ketika melihat Amat termenung di pojok bak truk, di tempat
favoritnya di dekat pintu belakang, tempat di mana ia bisa melihat jalan yang
mereka lewati, tempat di mana angin pagi bisa menerpa wajahnya dengan bebas.
Amat tersentak dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Pak Anto
yang duduk di kursi sopir, hanya terpisah oleh kaca belakang kabin yang retak
di satu sudut. Wajah Pak Anto yang kekar dan sawo matang itu tersenyum ramah,
matanya yang tajam menatap Amat dengan tatapan yang anehnya membuat Amat merasa
bahwa sopir tua itu tahu lebih banyak tentang dirinya daripada yang ia kira.
"Tidak apa-apa, Pak. Hanya sedikit pusing," jawab
Amat, berusaha tersenyum. Ia tidak ingin Pak Anto bertanya lebih lanjut. Ia
tidak ingin menjelaskan bahwa pusing yang ia rasakan bukan karena kurang tidur
atau kelelahan, tetapi karena suara-suara di kepalanya yang semakin sering
terdengar akhir-akhir ini. Suara-suara yang muncul tanpa diduga, tanpa
peringatan, seperti air yang tiba-tiba meluap dari dalam tanah.
"Kurang makan kali," kata Pak Anto, sambil
menyalakan sebatang rokok kretek dengan gerakan yang sudah sangat terlatih,
hasil dari puluhan tahun kebiasaan. "Nanti mampir dulu ke warung Mbah
Karyo, beli gorengan. Perut kenyang, pikiran enak. Itu kata orang tua dulu.
Perut dan pikiran itu hubungannya langsung, Nak. Kalau perut kosong, pikiran
kacau. Kalau pikiran kacau, yang didengar bukan suara hati, tapi suara-suara
lain yang seharusnya tidak didengar."
Amat terkejut mendengar kata-kata terakhir itu. Ia menatap
Pak Anto dengan lebih saksama, mencoba membaca apakah sopir tua itu sengaja
mengatakan itu, atau hanya kebetulan. Tapi Pak Anto sudah kembali fokus pada
jalan, tangannya yang besar memegang setir dengan mantap, matanya menatap ke
depan, ke arah jalan berbatu yang berkelok-kelok di antara perkebunan kopi dan
hutan pinus. Tidak ada ekspresi khusus di wajahnya, hanya ekspresi seorang
sopir yang sedang bekerja.
Di samping Amat, Raka yang baru saja selesai mengunyah
rempeyek buatan ibunya, menyenggol sikunya. "Mat, kamu yakin nggak
apa-apa? Wajahmu pucat. Mungkin kamu harus ke Puskesmas. Atau ke Mbah Ratih.
Atau ke Pak Anto. Pak Anto kan bisa ramal. Mungkin beliau bisa kasih obat atau
mantra atau sesuatu."
"Ah, nggak usah," kata Amat, berusaha mengalihkan
pembicaraan. "Cuma kurang tidur. Semalam aku begadang baca buku."
"Buku apa? Buku pelajaran? Atau buku-buku tua punya
nenekmu?"
"Buku pelajaran. Ulangan matematika minggu depan. Aku
belum siap."
Raka mengerang pelan. "Ulangan matematika? Aku juga
belum siap. Tapi daripada pusing, mending kita makan pecel dulu. Aku punya stok
di ransel. Bapakku masak pagi-pagi."
Raka membuka ranselnya yang selalu penuh dengan bekal, pecel,
kerupuk, tahu goreng, tempe goreng, kadang-kadang pisang goreng jika ibunya
sempat membuat dan mengeluarkan besek kecil berisi pecel. Amat tersenyum,
menerima besek itu, dan mulai makan. Raka benar; perut kenyang memang membuat
pikiran lebih tenang. Setidaknya untuk sementara.
Truk terus melaju, melewati perkebunan kopi yang daunnya
hijau segar setelah hujan semalam, melewati hutan pinus yang batang-batangnya
menjulang tinggi seperti tiang-tiang katedral, melewati sungai kecil yang
airnya mengalir deras karena musim hujan. Di kejauhan, puncak Gunung Kendeng
masih tertutup kabut, seperti biasanya. Dan di dalam kepala Amat, suara-suara
itu masih ada, masih berbicara, masih memanggil. Tapi untuk saat ini, dengan
perut yang kenyang dan sahabat di sampingnya, ia bisa mengabaikannya. Untuk
saat ini.
Jam pelajaran terakhir sudah berjalan setengah jam ketika
Amat mulai kehilangan fokus. Hari itu, pelajaran Matematika dengan Pak Burhan,
guru yang terkenal galak dan tidak mentolerir ketidaksiapan murid. Di papan
tulis, Pak Burhan menuliskan rumus-rumus aljabar yang bagi Amat terasa seperti
deretan simbol asing yang tidak mau ia pahami. Angka-angka dan huruf-huruf itu
bergoyang-goyang di depan matanya, berputar-putar seperti air dalam baskom yang
dikocok, dan di antara putaran-putaran itu, suara-suara mulai muncul.
Carilah... carilah peta itu...
Amat menggigit bibir bawahnya, berusaha memusatkan
perhatian pada papan tulis. Di depannya, Pak Burhan sedang menjelaskan tentang
persamaan kuadrat dengan suara yang keras dan tegas, seperti biasa. Di
sampingnya, Raka sudah tertidur dengan mulut terbuka sedikit, kepalanya
bersandar di tumpukan buku. Di depan, Camelia mencatat dengan rapi, sesekali
menoleh ke belakang untuk memastikan Amat masih sadar.
Carilah sebelum terlambat... sebelum semuanya hancur...
Amat memejamkan mata. Suara itu tidak mau berhenti. Suara
itu semakin keras, semakin mendesak, seperti seseorang yang berteriak dari
kejauhan, berusaha didengar di tengah keramaian. Ia membuka matanya, mencoba
membaca rumus di papan tulis, mencoba mendengarkan penjelasan Pak Burhan,
tetapi kata-kata yang keluar dari mulut gurunya itu berbaur dengan suara di
kepalanya, menciptakan kekacauan yang tidak bisa ia pisahkan.
"Amat!" suara Pak Burhan memecah lamunannya.
"Amat, coba kerjakan soal nomor tiga di papan tulis!"
Amat terkejut. Ia berdiri, berjalan ke depan kelas dengan
langkah yang terasa berat, seperti berjalan di dalam air. Di papan tulis,
tertulis sebuah persamaan kuadrat yang rumit, dengan angka-angka dan
huruf-huruf yang seharusnya bisa ia selesaikan dengan mudah jika pikirannya
jernih. Tapi saat itu, dengan suara-suara di kepalanya yang masih terus
berbicara, angka-angka itu bergerak, berubah, tidak mau diam. Ia berdiri di
depan papan tulis, kapur di tangannya menggantung di udara, tidak tahu harus
mulai dari mana.
"Kesulitan, Amat?" tanya Pak Burhan, suaranya
sedikit lebih lembut dari biasanya. Ia tahu bahwa Amat adalah anak yang pintar,
jarang kesulitan dengan pelajaran, jadi keheningan anak itu pasti ada sebabnya.
"Maaf, Pak. Saya... kurang fokus hari ini," jawab
Amat jujur.
Pak Burhan menghela napas. "Duduk kembali. Kerjakan di
rumah. Besok kumpulkan."
Amat kembali ke bangkunya dengan langkah lega. Camelia
menoleh, memberinya senyum tipis yang mengandung banyak pertanyaan. Raka, yang
terbangun oleh suara Pak Burhan, menatapnya dengan pandangan bingung, lalu
berbisik, "Kamu kenapa, Mat? Kayak kesurupan."
Amat tidak menjawab. Ia hanya menggeleng, menunduk, mencoba
mengusir suara-suara itu dengan memejamkan mata. Tapi suara-suara itu tidak mau
pergi. Mereka terus berbicara, terus memanggil, terus mendesak, seperti orang
yang tidak mau diabaikan.
Perjalanan pulang dari kecamatan ke desa biasanya lebih
ramai daripada perjalanan pagi. Anak-anak yang seharian terkekang di dalam
kelas melepaskan penat dengan bercanda, tertawa, kadang bernyanyi dengan suara
sumbang yang membuat Pak Anto menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
Tapi sore itu, Amat tidak ikut dalam keramaian. Ia duduk di pojok bak truk,
tempat favoritnya, dengan lutut ditekuk dan dagu bertumpu di atas lutut.
Matanya menatap ke kejauhan, ke arah pegunungan di selatan yang mulai
diselimuti kabut, ke arah di mana Hutan Larangan berada.
Raka dan Camelia duduk di sampingnya. Mereka tidak bicara,
hanya menemani, sesekali melirik ke arah Amat yang tampak tenggelam dalam
pikirannya sendiri. Raka yang biasanya cerewet menjadi diam, menahan diri untuk
tidak melontarkan lelucon seperti biasa. Ia bisa merasakan bahwa temannya
sedang bergulat dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar nilai matematika
atau pekerjaan rumah.
Pak Anto yang duduk di kursi sopir, sesekali menatap kaca
spion, melihat ke arah Amat. Matanya yang tajam itu mengamati anak laki-laki
dengan mata biru itu, membaca bahasa tubuhnya, merasakan energi yang terpancar
dari dirinya. Ia sudah melihat banyak hal selama hidupnya, dan ia tahu bahwa
anak ini sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata
biasa.
Truk melambat ketika melewati tikungan tajam di dekat
perkebunan kopi. Di luar, langit mulai berubah warna dari biru menjadi jingga
keemasan. Burung-burung mulai pulang ke sarangnya, terbang dalam formasi yang
rapi di atas ladang-ladang yang mulai menguning. Di kejauhan, puncak Gunung
Kendeng masih tertutup kabut, seperti biasa.
"Amat," panggil Pak Anto tiba-tiba, tanpa
menoleh. Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas di dalam bak truk yang sunyi.
"Kamu dengar suara-suara itu, kan?"
Amat terkejut. Ia mengangkat kepalanya, menatap ke arah Pak
Anto yang hanya terlihat punggungnya dari balik kaca belakang kabin.
"Maaf, Pak?"
"Suara-suara itu. Yang memanggil namamu. Yang terus
berkata tentang peta. Yang tidak mau berhenti, siang dan malam. Kamu dengar
itu, kan?"
Raka dan Camelia menatap Amat, lalu menatap Pak Anto,
bergantian. Mereka tidak tahu bagaimana Pak Anto bisa tahu. Mereka tidak pernah
menceritakan tentang Hutan Larangan, tentang makhluk di batu hitam, tentang
peta kuno, kepada siapa pun selain Mbah Ratih. Tapi Pak Anto tahu. Entah
bagaimana, ia tahu.
"Pak Anto... bagaimana Bapak tahu?" tanya Amat,
suaranya bergetar sedikit.
Pak Anto menghela napas panjang. Ia mematikan mesin truk, mereka
sudah sampai di perempatan pasar, tempat anak-anak biasanya turun dan berbalik
menghadap ke arah Amat. Wajahnya yang kekar dan sawo matang itu tampak serius,
matanya yang tajam menatap Amat dengan tatapan yang tidak biasa, tatapan yang
mengandung banyak hal: pengertian, empati, dan mungkin sedikit nostalgia.
"Dulu, waktu aku masih seumuran kamu, aku juga
mendengar suara-suara seperti itu," kata Pak Anto, suaranya pelan, hampir
berbisik. "Bukan suara yang sama, tentu saja. Tapi suara-suara yang
memanggil, yang tidak mau berhenti, yang membuatku tidak bisa fokus pada apa
pun. Aku tahu bagaimana rasanya. Aku tahu betapa melelahkannya. Aku juga tahu
bahwa kau tidak bisa mengabaikannya selamanya."
Anak-anak lain sudah turun dari truk, berjalan pulang ke
rumah masing-masing dengan tas ransel di punggung dan tawa di bibir. Hanya
Amat, Raka, dan Camelia yang masih tinggal. Pak Anto menyalakan sebatang rokok,
menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke udara sore yang mulai
dingin.
"Aku dulu tinggal di desa lain, di lereng Gunung
Merbabu. Desa yang juga memiliki cerita-cerita seperti desa ini. Tentang
leluhur, tentang penjaga, tentang makhluk-makhluk yang hidup di alam lain. Aku
juga dilahirkan dengan kepekaan, seperti kamu. Aku bisa melihat hal-hal yang
tidak dilihat orang lain. Aku bisa mendengar suara-suara yang tidak didengar
orang lain. Dan untuk waktu yang lama, aku pikir itu adalah kutukan."
Pak Anto berhenti sejenak, menatap asap rokoknya yang
mengepul dan menghilang di udara. "Tapi kemudian, seorang tetua desa
mengajariku sesuatu. Ia bilang, kepekaan itu bukan kutukan. Ia adalah anugerah.
Tapi anugerah yang harus dipelajari cara menggunakannya. Seperti pisau yang
tajam: bisa digunakan untuk memotong makanan, atau bisa melukai tangan sendiri.
Tergantung yang memegang."
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Pak?" tanya
Amat, suaranya penuh harap.
Pak Anto tersenyum. "Kau harus belajar mendengarkan.
Bukan hanya mendengar, tapi mendengarkan. Suara-suara itu bukan sekadar suara.
Mereka adalah pesan. Mereka adalah panggilan. Mereka adalah petunjuk. Dan jika
kau bisa mendengarkan dengan benar, kau akan tahu apa yang harus kau
lakukan."
"Tapi suara-suara itu sering kali tidak jelas, Pak.
Kadang bisikan, kadang teriakan, kadang banyak orang berbicara bersamaan. Aku
tidak bisa memisahkan satu dari yang lain."
"Itu karena kau masih mencoba mendengarkan dengan
telinga. Padahal suara-suara itu tidak datang melalui telinga. Mereka datang
melalui hati. Dan hati yang gelisah tidak bisa mendengar dengan jelas. Jadi,
sebelum kau bisa mendengar suara-suara itu, kau harus menenangkan hatimu
terlebih dahulu."
Pak Anto membuang puntung rokoknya ke kaleng bekas yang
selalu ia siapkan di samping kursi sopir, lalu menyalakan mesin truk lagi.
"Sudah, pulang dulu. Besok kita bicara lagi kalau kau mau. Sekarang, kau
harus istirahat. Dan jangan lupa makan. Perut kenyang, hati tenang. Itu resep
dari orang tua dulu."
Amat, Raka, dan Camelia turun dari truk. Mereka berdiri di
pinggir jalan, menatap truk tua itu yang perlahan menjauh, suara knalpotnya
yang menggelegar perlahan menghilang di tikungan.
"Pak Anto tahu banyak, ya," kata Raka, memecah
keheningan. "Aku kira beliau cuma sopir biasa. Ternyata..."
"Ternyata beliau juga seperti aku," kata Amat,
suaranya pelan. "Atau seperti yang dulu. Beliau juga mendengar
suara-suara."
Camelia mencatat semua yang baru saja mereka dengar di buku
catatannya. "Ini penting, Mat. Mungkin Pak Anto bisa membantu kita
menemukan peta itu. Mungkin beliau tahu sesuatu yang tidak diketahui Mbah
Ratih."
Amat mengangguk, tetapi pikirannya sudah melayang ke tempat
lain. Di dalam kepalanya, suara-suara itu masih ada, masih berbicara, masih
memanggil. Tapi kali ini, ia mencoba untuk tidak melawan. Ia mencoba untuk
mendengarkan, seperti yang dikatakan Pak Anto. Ia mencoba menenangkan hatinya,
membiarkan suara-suara itu mengalir, tidak melawannya, tidak menolaknya.
Carilah... carilah peta itu... di tempat yang paling tidak
kau duga...
Kali ini, suara itu tidak terasa mengancam. Ia terasa
seperti... petunjuk. Seperti peta itu sendiri yang sedang berbicara, berusaha
ditemukan.
Sore itu, setelah makan malam sederhana bersama ibunya, nasi
hangat, sayur bening, dan ikan asin yang digoreng kering, Amat berjalan sendiri
menuju Bukit Pangasih. Langit mulai gelap, bintang-bintang mulai bermunculan
satu per satu, dan kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit. Ia
membawa selimut tua yang dulu milik ayahnya, dan liontin batu biru yang selalu
ia kenakan di lehernya.
Raka dan Camelia sudah menunggu di puncak bukit. Mereka
duduk di atas batu datar yang biasa mereka gunakan, dengan Camelia membawa buku
catatan dan Raka membawa besek berisi pecel. Di bawah mereka, Desa Awan Biru
terbentang dalam keheningan malam, lampu-lampu minyak mulai menyala satu per
satu, seperti kunang-kunang yang berkedip di kegelapan.
"Aku ingin cerita sesuatu," kata Amat setelah
mereka duduk. "Akhir-akhir ini, aku mendengar suara-suara. Sering. Bukan
hanya saat tidur, tapi juga saat sadar. Di kelas, di jalan, di rumah.
Suara-suara itu tidak mau berhenti."
Raka dan Camelia saling berpandangan. Mereka sudah menduga
bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Amat akhir-akhir ini. Teman mereka itu
menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun, dan kadang-kadang tiba-tiba menatap
kosong ke arah tertentu, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa
mereka dengar.
"Suara apa, Mat?" tanya Camelia lembut, membuka
buku catatannya di pangkuan.
"Suara dari hutan. Dari makhluk di batu hitam itu. Ia
terus berkata tentang peta. Tentang carilah sebelum terlambat. Tentang tempat
yang paling tidak aku duga. Aku tidak tahu apa maksudnya. Aku tidak tahu harus
mencari apa. Aku tidak tahu di mana harus mencari."
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Peta,
katanya? Peta apa? Peta desa? Peta hutan? Peta harta karun? Kayak di film-film,
peta yang digambar di atas kertas tua, dengan tanda X di tempat harta karun
disembunyikan."
"Aku tidak tahu, Rak. Yang aku tahu, ia bilang peta
itu ada di tempat yang paling tidak aku duga. Di tempat yang setiap hari aku
lihat tetapi tidak pernah aku perhatikan. Aku sudah mencoba memikirkan semua
tempat di desa ini. Rumahku, sekolah, pasar, masjid, kantor desa, pohon
beringin, sumur tua, bukit ini. Semua tempat yang setiap hari aku lihat. Tapi
aku tidak tahu mana yang dimaksud."
Camelia membuka buku catatannya, membolak-balik halaman
yang sudah penuh dengan catatan tentang desa, tentang leluhur, tentang
simbol-simbol kuno. "Aku sudah membaca semua buku peninggalan nenekmu,
Mat. Semuanya. Dari sampul depan sampai sampul belakang. Tidak ada satu pun
yang menyebut tentang peta. Tidak ada gambar peta, tidak ada tulisan tentang
peta. Mungkin bukan di buku-buku itu."
"Atau mungkin kita tidak membaca dengan benar,"
kata Amat. "Mungkin peta itu tidak tergambar di atas kertas. Mungkin peta
itu tergambar di tempat lain. Di kayu, di batu, di dinding, di sesuatu yang
setiap hari kita lihat tetapi tidak pernah kita perhatikan."
Mereka bertiga terdiam, masing-masing berpikir. Angin
bertiup lembut, membawa aroma rumput kering dan tanah basah dari kejauhan. Di
bawah mereka, Desa Awan Biru tampak damai, tidak menyadari kegelisahan yang
sedang dirasakan oleh tiga remaja di puncak bukit itu.
"Aku akan mencari," kata Amat akhirnya, memecah
keheningan. "Aku akan mencari peta itu. Di mana pun itu berada. Di rumah,
di sekolah, di desa. Aku akan perhatikan setiap tempat yang setiap hari aku
lihat. Aku akan cari sampai ketemu."
"Kami akan membantumu," kata Camelia, menutup
buku catatannya. "Aku akan mencatat semua tempat yang kita kunjungi. Aku
akan membuat daftar. Kita akan periksa satu per satu. Mulai besok."
"Tentu saja," tambah Raka, membuka besek pecel
yang dibawanya. "Tapi sebelumnya, kita harus makan dulu. Aku bawa pecel.
Bapakku masak khusus hari ini. Sambelnya extra pedas, katanya untuk menambah
semangat."
Mereka bertiga tertawa. Tawa yang sama seperti tiga tahun
lalu, ketika mereka berjanji di bukit ini. Tawa yang menjadi pengingat bahwa di
tengah segala misteri dan ketakutan, mereka masih punya satu sama lain. Tawa
yang, seperti yang pernah dikatakan Mbah Ratih, adalah senjata paling ampuh.
Mereka makan bersama di puncak bukit, di bawah langit malam
yang berbintang. Raka bercerita tentang rencananya untuk membuat warung pecel
sendiri suatu hari nanti, dengan resep turun-temurun dari ayahnya. Camelia
bercerita tentang cita-citanya untuk kuliah di jurusan sejarah, agar bisa
mempelajari lebih dalam tentang budaya dan tradisi leluhur. Amat mendengarkan,
tersenyum, merasakan kehangatan persahabatan yang selalu menjadi kekuatannya.
Ketika Raka dan Camelia pulang, Amat masih duduk sendirian
di puncak bukit. Ia memandangi desa di bawah, desa yang telah menjadi rumahnya
sejak lahir, desa yang dijaga oleh leluhur sejak tiga ratus tahun yang lalu,
desa yang kini sedang terancam oleh sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.
Di dalam kepalanya, suara-suara itu masih ada, masih
berbicara, masih memanggil. Tapi kali ini, ia tidak merasa terbebani. Ia merasa
bahwa suara-suara itu adalah bagian dari dirinya, bagian dari takdirnya, bagian
dari perjalanan yang harus ia lalui. Ia tidak akan lari. Ia akan menghadapinya.
Bersama sahabat-sahabatnya, bersama orang-orang yang peduli padanya, bersama
leluhur yang menjaga.
Ia berdiri, menatap langit malam yang luas, dan berbisik,
"Aku akan mencari. Aku akan menemukan peta itu. Aku akan memperbaiki segel
itu. Aku akan menjaga desa ini. Aku janji."
Di kejauhan, di tengah desa, pohon beringin tua bergoyang
pelan, seolah-olah menjawab janji itu. Di dalam sumur tua, dua titik cahaya
biru berkedip lebih terang dari biasanya. Di dalam Hutan Larangan, sesuatu
bergerak, sesuatu yang telah lama tertidur mulai terbangun, sesuatu yang
menunggu.
Langit Awan Biru di atas Amat tetap biru, meskipun malam.
Biru pucat yang tenang, seperti janji bahwa apa pun yang terjadi, desa ini akan
tetap ada, akan terus dijaga, akan terus hidup. Dan Amat, anak laki-laki dengan
mata biru itu, akan menjadi bagian dari penjagaan itu, seperti yang telah
ditakdirkan sejak tiga ratus tahun yang lalu.
BAB 13: Penjaga Bayangan Muncul
Beberapa minggu setelah kunjungan ke Hutan Larangan, Desa
Awan Biru yang dulu tenang dan damai mulai diguncang oleh berbagai kejadian
aneh. Keanehan-keanehan itu tidak datang sekaligus, tidak seperti badai yang
tiba-tiba melanda dengan suara gemuruh dan kilat menyambar. Ia datang perlahan,
seperti air yang meresap ke dalam tanah, seperti kabut yang merayap turun dari
lereng bukit, tidak terlihat pada awalnya, tetapi semakin lama semakin terasa,
semakin hari semakin nyata, hingga akhirnya tidak ada yang bisa mengabaikannya
lagi.
Warga mulai melaporkan penampakan sosok-sosok bayangan yang
bergerak cepat di malam hari. Penampakan itu tidak terjadi di satu tempat,
tetapi tersebar di beberapa titik di desa ini. Ada yang melihatnya di sekitar
pohon beringin tua di tengah desa, tempat yang sejak dulu dianggap angker,
tempat di mana Kyai Beringin konon bersemayam. Ada yang melihatnya di sekitar
sumur tua di belakang balai desa, tempat di mana penjaga air menjaga sumber
kehidupan. Ada yang melihatnya di tepi Hutan Larangan, di sepanjang barisan
bambu runcing yang menjadi batas antara desa dan dunia lain. Bahkan ada yang
melihatnya di pemakaman desa, di antara nisan-nisan tua yang sudah usang
dimakan waktu, di bawah pohon-pohon beringin kecil yang tumbuh di sana sebagai
penanda makam-makam leluhur.
Penampakan-penampakan itu selalu terjadi pada malam hari,
ketika desa mulai sunyi dan lampu-lampu minyak mulai padam satu per satu. Tidak
pernah pada siang hari, tidak pernah pada sore hari ketika matahari masih
bersinar. Hanya pada malam hari, ketika kegelapan menyelimuti segalanya dan
kabut mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit. Pada jam-jam seperti itu,
ketika batas antara dunia manusia dan dunia lain menjadi paling tipis, ketika
roh-roh leluhur konon lebih mudah terlihat oleh mata manusia biasa, sosok-sosok
itu mulai muncul.
Para saksi mata menggambarkan sosok-sosok itu dengan cara
yang berbeda-beda, tetapi ada kesamaan dalam deskripsi mereka. Semua sepakat
bahwa sosok-sosok itu adalah bayangan—bukan bayangan biasa yang terbentuk dari
cahaya yang terhalang benda, tetapi bayangan yang bergerak sendiri, bayangan
yang hidup, bayangan yang memiliki kehendaknya sendiri. Tinggi, lebih tinggi
dari manusia biasa, dengan tubuh yang kurus dan ramping, seperti tiang-tiang
yang terbuat dari kegelapan. Gerakannya cepat, sangat cepat, seperti kilat yang
menyambar di langit malam, seperti angin yang berdesir di antara pepohonan.
Mereka muncul di satu tempat, lalu dalam sekejap sudah berada di tempat lain,
berpindah tanpa terlihat melangkah, melayang tanpa menyentuh tanah.
Beberapa saksi yang lebih berani mendekat atau setidaknya
berusaha mendekat sebelum ketakutan menguasai mereka, mengatakan bahwa
sosok-sosok itu tidak memiliki wajah yang jelas. Wajah mereka seperti kabut
yang bergerak, seperti asap yang membubung, seperti air yang beriak.
Kadang-kadang terlihat seperti wajah manusia, dengan mata, hidung, dan mulut,
tetapi sebentar kemudian berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak
bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada yang mengatakan bahwa mereka melihat
senyum di wajah bayangan itu, senyum yang aneh, senyum yang membuat bulu kuduk
mereka berdiri. Ada yang mengatakan bahwa mereka melihat kesedihan yang dalam,
kesedihan yang membuat hati terasa sesak meskipun hanya melihatnya sekilas. Ada
yang mengatakan bahwa mereka tidak melihat apa-apa selain kegelapan, kegelapan
yang bergerak, kegelapan yang hidup.
Yang paling mengerikan bagi sebagian warga bukanlah
penampakan itu sendiri, tetapi suara-suara yang menyertainya. Beberapa orang
mengaku mendengar suara-suara aneh yang berasal dari arah hutan selatan, suara
yang tidak seperti suara binatang atau suara alam biasa. Ada yang mengatakan
suara itu seperti suara orang menangis, tangisan yang pilu, tangisan yang
membuat hati tersayat-sayat mendengarnya. Ada yang mengatakan suara itu seperti
suara orang sedang membaca doa, doa dalam bahasa yang tidak dikenal, bahasa
yang tidak pernah mereka dengar seumur hidup mereka, bahasa yang terdengar tua
dan berat, seperti bahasa yang digunakan oleh leluhur ribuan tahun yang lalu.
Ada yang mengatakan suara itu seperti suara orang sedang marah, marah yang
tertahan, marah yang memendam dendam selama berabad-abad, siap meledak kapan
saja.
Tidak hanya di sekitar hutan. Suara-suara itu juga
terdengar dari arah pohon beringin tua, dari arah sumur tua, bahkan dari arah
pemakaman desa. Kadang-kadang suara itu terdengar seperti bisikan, bisikan yang
tidak bisa dimengerti, bisikan yang membuat orang yang mendengarnya merasa
merinding, merasa bahwa ada yang membisikkan sesuatu di telinga mereka meskipun
tidak ada siapa-siapa di sekitar. Kadang-kadang suara itu terdengar seperti
jeritan, jeritan yang tertahan, jeritan yang keluar dari dalam tanah, dari
dalam sumur, dari dalam makam-makam tua. Kadang-kadang suara itu terdengar
seperti tawa, tawa yang aneh, tawa yang tidak seperti tawa manusia, tawa yang
membuat bulu kuduk berdiri, tawa yang membuat orang yang mendengarnya ingin
lari sejauh mungkin.
Pak Sugeng, yang rumahnya tidak jauh dari pohon beringin,
adalah salah satu yang pertama kali melaporkan kejadian aneh ini. Pak Sugeng
adalah pria yang sudah berusia lebih dari lima puluh tahun, dengan tubuh yang
masih bugar meskipun rambutnya sudah memutih di pelipis. Ia adalah pensiunan
pegawai negeri yang kemudian menjadi perangkat desa, dikenal sebagai sosok yang
rasional dan tidak mudah percaya pada hal-hal gaib. Selama bertahun-tahun
menjadi perangkat desa, ia sudah terbiasa menangani berbagai macam masalah
warga, dari yang sederhana hingga yang rumit, dari yang logis hingga yang aneh.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa ada
hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat.
Suatu malam, ketika ia sedang duduk-duduk di teras rumahnya
seperti biasa, menikmati angin malam yang sejuk setelah seharian bekerja,
matanya tertuju pada pohon beringin tua di kejauhan. Pohon itu berdiri megah di
bawah sinar bulan, dengan kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang
menjalar, dengan bayang-bayang yang terbentuk dari cahaya bulan yang menembus
celah-celah daun. Semuanya tampak biasa, seperti ribuan malam sebelumnya. Namun
kemudian, sesuatu terjadi. Dari balik batang pohon yang besar, dari antara
akar-akar yang menjalar, muncul sesosok bayangan. Tinggi, kurus, bergerak
cepat. Bukan seperti bayangan biasa yang terbentuk dari cahaya dan benda;
bayangan itu bergerak sendiri, melayang di atas tanah, melintas di bawah pohon
beringin dengan kecepatan yang tidak wajar.
Pak Sugeng mengerjapkan matanya, mengira ia hanya
mengantuk, mengira matanya hanya terkecoh oleh permainan cahaya dan bayangan.
Tapi ketika ia membuka mata, bayangan itu masih ada, masih bergerak, masih
melintas di antara akar-akar pohon. Ia berdiri, berjalan ke tepi teras, mencoba
melihat lebih jelas. Bayangan itu berhenti. Seolah-olah ia merasakan bahwa ada
yang mengawasinya. Ia menoleh ke arah Pak Sugeng. Meskipun tidak ada mata yang
terlihat, Pak Sugeng bisa merasakan tatapan itu, tatapan yang membuat bulu
kuduknya berdiri, tatapan yang membuat jantungnya berdebar kencang.
"Saya kira itu orang, Pak," cerita Pak Sugeng
kepada Pak Iwan keesokan harinya, di kantor desa yang masih sepi karena baru
jam delapan pagi. Wajahnya pucat, matanya sembab karena semalaman tidak bisa
tidur, tangannya yang dulu tegap dan mantap kini gemetar sedikit ketika
memegang cangkir kopi yang disajikan Bu Yuni. "Tapi bentuknya aneh. Tinggi
sekali, kurus, dan gerakannya cepat. Tidak seperti manusia berjalan. Lebih
seperti... melayang. Saya panggil, tapi tidak berhenti. Saya teriak, 'Hei,
siapa kamu?', tapi dia malah semakin cepat. Lalu tiba-tiba hilang begitu saja.
Seperti kabut kena sinar matahari. Seperti... seperti tidak pernah ada."
Pak Iwan mendengarkan dengan saksama. Wajahnya yang
biasanya tegas dan tidak mudah terpengaruh itu tampak serius, garis-garis di
keningnya dalam. Sebagai kepala desa, ia tidak ingin terlihat percaya pada
hal-hal gaib. Ia tahu bahwa sebagai pemimpin, ia harus menjadi teladan
rasionalitas bagi warganya. Namun sebagai orang yang lahir dan besar di Awan
Biru, sebagai anak dari seorang ayah yang dulu juga menjadi kepala desa,
sebagai cucu dari leluhur yang ikut membangun desa ini, ia tahu bahwa ada
sesuatu yang tidak beres. Ia sudah mendengar laporan serupa dari warga lain, dari
Pak Tarno, dari Bu Tarno, dari Pak Darmo, dari Bu Darmo, bahkan dari Anto, sopir
truk yang sering mengantar anak-anak sekolah ke kecamatan. Semua laporan itu
memiliki kesamaan: sosok bayangan yang tinggi dan kurus, gerakan yang cepat,
suara-suara aneh dari arah hutan selatan, perasaan bahwa ada sesuatu yang
mengawasi dari balik kegelapan malam.
"Saya akan minta Pak Eko untuk mendata laporan-laporan
ini," kata Pak Iwan akhirnya, setelah beberapa saat terdiam. Suaranya
berusaha tegas, tetapi ada nada lelah di dalamnya, lelah karena harus
menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. "Mungkin ada penjelasan
rasionalnya. Mungkin itu cuma bayangan pohon yang bergerak karena angin. Atau
mungkin ada hewan liar yang masuk ke desa. Atau mungkin... mungkin itu cuma
sugesti. Orang-orang mendengar cerita, lalu mereka membayangkan hal yang sama."
Pak Sugeng menggeleng pelan. Wajahnya yang tua dan penuh
pengalaman itu menunjukkan ekspresi yang jarang ia tunjukkan: ekspresi seorang
yang tidak yakin dengan apa yang ia lihat sendiri. "Saya tidak tahu, Pak
Kades. Saya sudah puluhan tahun tinggal di desa ini. Sejak kecil, saya sudah
tidur di rumah itu, sudah ribuan kali melihat pohon beringin itu dari teras
rumah saya. Saya tahu perbedaan antara bayangan pohon yang bergerak karena
angin dan... sesuatu yang lain. Saya tahu perbedaan antara suara angin dan
suara... sesuatu yang berbicara. Saya tidak tahu apa itu, Pak Kades. Tapi saya
yakin, itu bukan bayangan biasa."
Pak Iwan tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang,
menatap ke arah pohon beringin dari jendela kantornya. Di bawah sinar matahari
pagi yang masih kemerahan, pohon itu tampak biasa saja. Tidak ada bayangan
aneh, tidak ada gerakan mencurigakan. Hanya pohon beringin tua yang telah
berdiri di tempat itu selama tiga ratus tahun, menyaksikan lahir dan matinya
generasi demi generasi, menyaksikan desa ini berubah dari hamparan hutan
menjadi pemukiman yang ramai, menyaksikan manusia melupakan leluhur dan
kemudian mulai mengingat kembali ketika ketakutan melanda.
"Pak Sugeng," kata Pak Iwan akhirnya, suaranya
pelan, hampir berbisik. "Apa Bapak percaya dengan cerita-cerita lama?
Tentang penjaga desa, tentang leluhur yang masih menjaga, tentang
makhluk-makhluk yang dikurung di hutan?"
Pak Sugeng terdiam. Ia tidak menyangka Pak Iwan akan
bertanya seperti itu. Selama ini, Pak Iwan dikenal sebagai kepala desa yang
pragmatis, yang lebih percaya pada pembangunan fisik daripada ritual adat, yang
lebih suka membangun jalan dan jembatan daripada mengadakan upacara-upacara
tradisional. Tapi malam itu, mungkin karena apa yang ia lihat sendiri, mungkin
karena laporan-laporan yang semakin banyak, mungkin karena ketakutannya
sendiri, Pak Sugeng merasa bahwa Pak Iwan mulai mempertanyakan sesuatu yang
selama ini ia tolak.
"Saya tidak tahu, Pak Kades. Saya hanya tahu bahwa
desa ini sudah ada sejak tiga ratus tahun yang lalu. Saya hanya tahu bahwa
leluhur kita memilih tempat ini karena suatu alasan. Saya hanya tahu bahwa ada
ritual-ritual yang dulu selalu dilakukan, tetapi sekarang sudah dilupakan. Saya
tidak tahu apakah cerita-cerita itu benar atau tidak. Tapi saya tahu bahwa
malam ini, saya melihat sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan dengan ilmu
pengetahuan."
Pak Iwan mengangguk pelan. "Baik, Pak Sugeng. Saya
akan pikirkan. Saya akan bicara dengan Mbah Ratih. Mungkin beliau bisa memberi
penjelasan."
Pak Sugeng berdiri, berpamitan, dan berjalan keluar dari
kantor desa dengan langkah yang berat. Di luar, matahari sudah mulai naik,
sinarnya mulai terik, menghalau sisa-sisa kabut yang masih bergelayut di
pepohonan. Desa Awan Biru tampak seperti biasa: para petani berangkat ke sawah,
para pedagang mulai membuka lapak di pasar, anak-anak berlarian menuju sekolah.
Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang aneh. Seolah-olah malam yang penuh
dengan bayangan dan suara-suara aneh itu hanyalah mimpi buruk yang sirna ketika
matahari terbit.
Tapi Pak Sugeng tahu itu bukan mimpi. Dan Pak Iwan juga
tahu.
Di tengah kepanikan yang mulai menyebar di desa, di tengah
laporan-laporan yang semakin banyak tentang penampakan sosok bayangan dan
suara-suara aneh, Amat justru merasa sesuatu yang berbeda. Baginya, sosok-sosok
bayangan itu bukanlah hal yang menakutkan. Mereka adalah kehadiran yang
familiar, kehadiran yang sudah ia lihat sejak kecil, sejak ia pertama kali bisa
melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang lain. Dulu, ketika ia masih
kecil, ketika ia pertama kali menyadari bahwa matanya berbeda, bahwa ia bisa
melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh teman-temannya, sosok-sosok itu selalu
ada di pinggir penglihatannya. Mereka berdiri di antara akar-akar pohon
beringin, di tepi sumur tua, di batas Hutan Larangan. Mereka tidak bergerak,
tidak berbicara, hanya ada. Kehadiran mereka terasa seperti penjaga yang diam,
seperti bayang-bayang yang setia, seperti bagian dari desa ini yang tidak
terlihat tetapi selalu ada.
Namun kali ini, ada yang berbeda. Sosok-sosok itu tidak
lagi hanya diam di tempatnya. Mereka mulai bergerak, mulai mendekati pemukiman,
mulai menunjukkan diri kepada warga yang tidak biasanya bisa melihat mereka.
Mereka gelisah, seperti orang yang sedang menunggu sesuatu, seperti orang yang
sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang besar, seperti orang
yang tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi dan tidak ada yang bisa mereka
lakukan untuk menghentikannya.
Suatu malam, ketika bulan sabit tipis menggantung di langit
dan bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, Amat sedang berjalan
pulang dari rumah Raka. Raka mengajaknya makan malam bersama keluarganya, ayam
goreng dan pecel, menu spesial yang dibuat oleh Bapak Raka untuk merayakan
ulang tahun pernikahan orang tuanya yang ke dua puluh lima. Amat menikmati
makanan itu dengan lahap, tertawa mendengar cerita-cerita lucu Raka tentang
masa kecilnya, merasakan kehangatan keluarga yang jarang ia rasakan sejak
ayahnya pergi dan tidak pernah kembali. Ketika ia berpamitan pulang, langit
sudah gelap, kabut sudah mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit, dan
jalan setapak yang menghubungkan rumah Raka dengan rumahnya sudah sepi, hanya
diterangi oleh cahaya bulan yang redup.
Amat berjalan sendirian. Jalan setapak itu sudah ia lalui
ribuan kali, sejak ia masih kecil, sejak ia pertama kali berteman dengan Raka.
Ia tahu setiap tikungan, setiap lubang, setiap batu yang menonjol. Tapi malam
itu, ada sesuatu yang berbeda. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, lebih
lembab, lebih berat. Kabut lebih tebal dari biasanya, lebih putih, lebih pekat,
seperti susu yang dituangkan ke dalam mangkuk. Dan di antara kabut itu, di
pinggir jalan setapak, tepat di depan rumah Pak Darmo yang sudah gelap karena
semua penghuninya sudah tidur, berdiri sesosok bayangan.
Amat berhenti. Ia tidak terkejut. Ia sudah sering melihat
sosok-sosok seperti ini sejak kecil. Tapi sosok ini berbeda. Sosok ini tidak
seperti Kyai Beringin yang tinggi dan berwibawa, dengan jubah hitamnya yang
berkibar dan matanya yang teduh. Juga tidak seperti penjaga air yang redup dan
penuh kesedihan, dengan dua titik cahaya biru yang berkedip di dasar sumur.
Sosok ini lebih kecil, lebih ramping, lebih cepat gerakannya. Dan ia tampak
gelisah, sangat gelisah, seperti orang yang tidak bisa diam, seperti orang yang
sedang mencari sesuatu, seperti orang yang sedang menunggu sesuatu yang sangat
penting.
Sosok itu bergerak. Tidak berjalan, tidak melangkah, tetapi
melayang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa terlihat melintas.
Sekarang ia di dekat pohon pisang, sekarang di dekat pagar bambu, sekarang di
dekat sumur, sekarang di tengah jalan, tepat di depan Amat. Sosok itu menoleh.
Meskipun tidak ada mata yang terlihat, Amat bisa merasakan tatapan itu, tatapan
yang menusuk, tatapan yang penuh dengan harapan dan ketakutan pada saat yang
sama.
Kamu... kamu bisa melihatku? Suara sosok itu terdengar seperti bisikan angin,
seperti suara yang keluar dari celah-celah dinding, seperti suara yang datang
dari jarak yang sangat jauh. Suara itu tidak masuk melalui telinga, tetapi
langsung masuk ke dalam pikiran Amat, seperti air yang meresap ke dalam tanah.
Suara itu lembut, hampir tidak terdengar, tetapi jelas, sangat jelas.
Amat tidak menjawab segera. Ia menatap sosok itu dengan
saksama, berusaha melihat lebih jelas. Sosok itu adalah seorang perempuan. Ia
bisa melihat bentuk tubuhnya yang ramping, rambut panjang yang tergerai di
bahu, pakaian kuno yang sudah lusuh, seperti pakaian yang dikenakan oleh para
leluhur dalam cerita-cerita Mbah Ratih. Wajahnya... wajahnya tidak jelas.
Seperti wajah yang dilihat dari balik kaca buram, seperti wajah yang tertutup
kabut. Namun Amat bisa melihat luka-luka di wajah itu, luka-luka tua yang sudah
mengering, luka-luka yang mungkin tidak pernah sembuh, luka-luka yang menjadi
saksi bisu dari sesuatu yang terjadi di masa lalu.
"Bisa," jawab Amat akhirnya. Suaranya pelan,
tetapi tegas. Ia tidak merasa takut. Ia merasa bahwa sosok ini bukan ancaman,
bahwa sosok ini membutuhkan bantuannya, bahwa sosok ini adalah bagian dari desa
ini yang selama ini ia kenal, meskipun baru sekarang ia melihatnya secara
langsung.
Sosok itu mendekat. Amat bisa melihat lebih jelas sekarang:
luka-luka di wajahnya, pakaiannya yang robek di beberapa tempat, tangannya yang
transparan, tembus pandang, seperti terbuat dari kaca atau dari air. Dan dari
balik kabut yang menutupi wajahnya, Amat bisa melihat matanya. Mata yang penuh
dengan kesedihan, mata yang penuh dengan kelelahan, mata yang penuh dengan
harapan.
Kau penjaga yang baru? suara
itu bertanya, kali ini lebih jelas, lebih dekat, seperti suara yang berbicara
di dalam ruangan yang sama.
Amat menggeleng. "Aku tidak tahu. Ada yang bilang
begitu. Mbah Ratih bilang aku keturunan dari garis penjaga. Kyai Beringin
bilang aku adalah yang ditunggu. Tapi aku tidak merasa seperti penjaga. Aku
masih kecil. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak bisa melakukan apa-apa."
Sosok itu tersenyum. Senyum yang aneh, antara bahagia dan
sedih, antara lega dan putus asa, antara percaya dan ragu. Senyum yang membuat
luka-luka di wajahnya tampak lebih dalam, lebih menyakitkan. Senyum yang
membuat Amat merasa bahwa perempuan ini telah menunggu lama, sangat lama, dan
sekarang, setelah sekian lama, akhirnya ada yang datang.
Kami sudah menunggumu. Sudah lama. Sejak leluhurmu pergi,
sejak ritual-ritual dilupakan, sejak manusia mulai sibuk dengan urusan mereka
sendiri. Kami di sini sendirian, menjaga, tanpa ada yang melihat kami, tanpa
ada yang mendengar kami, tanpa ada yang tahu bahwa kami masih ada. Kami menjaga
segel-segel ini dengan sisa-sisa kekuatan yang tersisa, berharap suatu hari
nanti akan datang seseorang yang bisa melihat kami, yang bisa mendengar kami,
yang bisa membantu kami.
Amat merasakan kesedihan yang luar biasa dari suara itu.
Kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, kesedihan yang telah
mengendap selama bertahun-tahun, puluhan tahun, mungkin ratusan tahun. Ia
membayangkan bagaimana rasanya menjadi penjaga yang dilupakan, menjadi penjaga
yang tidak ada yang tahu, menjadi penjaga yang sendirian di tengah desa yang
ramai tetapi tidak ada yang melihatnya. Ia membayangkan bagaimana rasanya
menjaga sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak ada yang peduli. Ia
membayangkan bagaimana rasanya menunggu, dan menunggu, dan menunggu, tanpa
kepastian apakah yang ditunggu akan datang.
"Sekarang, segel mulai retak," lanjut Amat,
mengingat apa yang ia lihat di Hutan Larangan, mengingat apa yang dikatakan
oleh makhluk di batu hitam itu. "Makhluk-makhluk yang dikurung mulai
bangun. Kalian tidak bisa bertahan lebih lama lagi."
Sosok itu mengangguk. Gerakannya lambat, berat, seperti
orang yang kelelahan, seperti orang yang sudah tidak punya kekuatan lagi.
Benar. Segel mulai retak. Makhluk-makhluk yang dikurung
mulai bangun. Mereka meronta, mereka berusaha keluar, mereka semakin kuat
setiap hari. Dan kami... kami semakin lemah. Setiap hari, kekuatan kami
berkurang. Setiap hari, kami kehilangan satu per satu teman kami. Mereka tidak
bisa bertahan lagi. Mereka pergi, menghilang, meninggalkan kami yang masih
bertahan. Kami tidak tahu berapa lama lagi kami bisa menjaga. Kami tidak tahu
apakah kami masih bisa menahan mereka sampai kau siap.
Sosok itu mengulurkan tangannya. Tangannya transparan,
tembus pandang, seperti terbuat dari air atau dari cahaya. Amat bisa melihat
jalan setapak di belakang tangan itu, rumah Pak Darmo di belakang tangan itu,
bulan sabit di langit di belakang tangan itu. Tangannya dingin, sangat dingin,
ketika hampir menyentuh tangan Amat. Dingin yang menusuk hingga ke tulang,
dingin yang membuat Amat menggigil, dingin yang terasa seperti kematian.
Temukan peta itu, penjaga cilik. Temukan sebelum semuanya
terlambat. Kami tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Jika kau tidak menemukan
peta itu sebelum segel ini hancur, maka semua yang kami jaga selama ini akan
sia-sia. Desa ini akan hancur. Semua yang kau cintai akan lenyap.
Amat merasakan beban yang semakin berat di pundaknya. Beban
yang tidak pernah ia minta, beban yang diturunkan kepadanya sejak ia lahir,
beban yang selama ini ia rasakan sebagai sesuatu yang berat dan menyakitkan.
Tapi ia tidak bisa lari. Ia tidak akan lari. Ia sudah berjanji di Bukit
Pangasih, tiga tahun lalu, bersama Raka dan Camelia. Ia sudah berjanji pada
Kyai Beringin, pada penjaga air, pada makhluk di batu hitam itu. Ia sudah berjanji
untuk menjaga desa ini.
"Aku akan mencarinya," janji Amat, suaranya lebih
tegas dari yang ia rasakan. "Aku sudah berjanji. Aku akan menemukan peta
itu. Aku akan memperbaiki segel itu. Aku akan menjaga desa ini. Tapi aku tidak
tahu di mana peta itu. Aku sudah mencari. Aku sudah melihat semua tempat yang
setiap hari aku lihat. Rumahku, sekolah, pasar, masjid, kantor desa, pohon
beringin, sumur tua, bukit ini. Aku tidak menemukan apa-apa. Aku tidak tahu
lagi harus mencari di mana."
Sosok itu tersenyum lagi. Senyum yang sama, senyum yang
aneh, senyum yang penuh dengan makna yang tidak bisa Amat pahami sepenuhnya.
Kali ini senyum itu terasa lebih hangat, lebih dekat, lebih seperti senyum
seorang ibu kepada anaknya yang sedang kebingungan.
Kau akan tahu, penjaga cilik. Kau akan tahu ketika waktunya
tiba. Ikuti tanda-tandanya. Ikuti bisikan-bisikan itu. Jangan tolak mereka,
jangan lawan mereka. Biarkan mereka membawamu ke tempat yang seharusnya. Dan
percayalah pada sahabat-sahabatmu. Mereka adalah kunci. Mereka adalah
kekuatanmu. Tanpa mereka, kau tidak akan bisa melakukan apa pun.
"Raka dan Camelia? Apa yang bisa mereka lakukan?"
Sosok itu tidak menjawab. Perlahan-lahan, sosok itu mulai
memudar, seperti kabut yang terkena sinar matahari, seperti mimpi yang sirna
ketika bangun tidur. Wajahnya yang tadinya samar-samar menjadi semakin samar,
semakin transparan, semakin tidak berbentuk. Tangannya yang terulur
perlahan-lahan menghilang, dimulai dari ujung jari, kemudian telapak tangan,
kemudian pergelangan, kemudian lengan. Matanya yang penuh kesedihan itu masih
menatap Amat sampai akhir, sampai tidak ada yang tersisa selain senyum, senyum
yang aneh, senyum yang antara bahagia dan sedih, antara lega dan putus asa,
antara percaya dan ragu.
Jangan lupakan kami, penjaga cilik. Jangan lupakan bahwa
kami masih ada. Jangan lupakan bahwa kami menunggumu.
Dengan kata-kata itu, sosok itu menghilang. Amat berdiri di
tengah jalan setapak, sendirian, dengan kabut yang semakin tebal di
sekelilingnya, dengan bulan sabit yang semakin redup di langit, dengan jantung
yang berdebar kencang, dengan pikiran yang kacau, dengan tekad yang baru
terbentuk.
Ia berdiri diam beberapa saat, menatap ke arah di mana
sosok itu menghilang, berusaha mencerna semua yang baru saja ia dengar.
Kemudian ia berjalan pulang, dengan langkah yang mantap, dengan hati yang lebih
tenang, dengan keyakinan bahwa ia tidak sendirian, bahwa ada yang menjaga,
bahwa ada yang menunggu, bahwa ada yang percaya padanya.
Di rumah, Sumirah sudah menunggu dengan cemas. Ia berdiri
di ambang pintu, dengan lampu minyak di tangannya, dengan wajah yang penuh
kekhawatiran. "Amat, kamu ke mana saja? Ibu sudah cari ke mana-mana. Sudah
malam, kamu pulang sendiri. Nanti ada apa-apa."
Amat memeluk ibunya, merasakan kehangatan yang familiar,
kehangatan yang selalu ia cari ketika ia merasa takut atau bingung. "Tidak
apa-apa, Bu. Aku hanya jalan-jalan. Tidak ada apa-apa."
Sumirah tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengusap
rambut Amat dengan lembut, seperti yang selalu ia lakukan ketika Amat masih
kecil, dan berkata, "Ayo, makan dulu. Ibu masak sayur asem. Kamu pasti
lapar."
Amat mengangguk, masuk ke dalam rumah, duduk di meja makan.
Di depan matanya, semangkuk sayur asem mengepulkan uap hangat, dengan aroma
asam segar yang mengundang selera. Ia makan dengan lahap, merasakan hangatnya
sayur itu menyebar di tubuhnya, mengusir sisa-sisa dingin yang masih melekat
dari pertemuan dengan sosok bayangan tadi.
Setelah makan, ia membantu ibunya mencuci piring, lalu
berpamitan untuk beristirahat. Ia masuk ke kamarnya, berganti pakaian, dan
berbaring di tempat tidur. Di luar, angin malam bertiup pelan, membawa kabut
tipis dari lereng-lereng bukit, membuat dedaunan pohon jambu air bergemerisik,
membuat atap seng berderit-derit, membuat pintu kayu yang tidak terkunci
bergoyang pelan.
Amat tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya,
memandangi langit-langit anyaman bambu yang samar-samar terlihat karena cahaya
bulan yang masuk melalui celah-celah dinding. Di dalam kepalanya, kata-kata
sosok bayangan itu terus terngiang, tidak mau berhenti, tidak mau pergi, terus
berputar-putar seperti rekaman yang tidak bisa ia matikan.
Ikuti tanda-tandanya. Ikuti bisikan-bisikan itu. Jangan
tolak mereka, jangan lawan mereka. Biarkan mereka membawamu ke tempat yang seharusnya.
Ia memejamkan mata, mencoba untuk tidak melawan, mencoba
untuk tidak menolak, mencoba untuk membiarkan suara-suara itu mengalir. Dan
untuk pertama kalinya, ia tidak merasa terbebani. Ia merasa bahwa suara-suara
itu adalah bagian dari dirinya, bagian dari takdirnya, bagian dari perjalanan
yang harus ia lalui. Ia merasa bahwa mereka adalah petunjuk, bukan gangguan.
Mereka adalah peta yang berbicara, menuntunnya ke tempat yang seharusnya.
Ia membuka matanya, menatap langit-langit kamarnya. Dan tiba-tiba,
ia teringat sesuatu. Sesuatu yang dikatakan oleh sosok bayangan itu. Sesuatu
yang mungkin menjadi petunjuk.
Percayalah pada sahabat-sahabatmu. Mereka adalah kunci.
Mereka adalah kekuatanmu.
Ia tersenyum. Raka dan Camelia. Dua sahabat yang selalu ada
di sampingnya, yang tidak pernah meninggalkannya, yang selalu membuatnya
tertawa, yang selalu mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian. Mungkin mereka
memang kunci. Mungkin mereka memang kekuatannya. Mungkin bersama mereka, ia
bisa menemukan peta itu. Mungkin bersama mereka, ia bisa memperbaiki segel itu.
Mungkin bersama mereka, ia bisa menyelamatkan desa ini.
Ia menutup matanya, dan untuk pertama kalinya setelah
berhari-hari, ia tidur dengan nyenyak. Tidak ada mimpi, tidak ada suara, tidak
ada panggilan. Hanya tidur yang dalam dan tenang, tidur yang memberinya
kekuatan untuk hari esok.
Di luar, kabut malam semakin tebal, menyelimuti desa dengan
selimut putih yang dingin dan lembab. Di kejauhan, di tengah desa, pohon
beringin tua bergoyang pelan, seolah-olah memberikan isyarat. Di dalam sumur
tua, dua titik cahaya biru berkedip lebih terang dari biasanya. Di tepi Hutan
Larangan, di antara barisan bambu runcing, bayangan-bayangan bergerak, gelisah,
menunggu. Dan di langit, bulan sabit tipis masih menggantung, memberikan cahaya
peraknya yang lembut ke seluruh desa, ke desa yang tidak pernah benar-benar
sunyi, ke desa yang tidak pernah benar-benar aman, ke desa yang dijaga oleh
mereka yang tidak terlihat, ke desa yang sedang menunggu penjaganya yang baru.
BAB 14: Peta Kuno yang Terkubur Waktu
Camelia tidak tinggal diam mendengar cerita Amat tentang
penjaga bayangan. Sejak malam itu, ketika Amat bercerita tentang sosok
perempuan dengan luka di wajahnya yang muncul di pinggir jalan, tentang
pesan-pesan yang disampaikan dengan suara seperti bisikan angin, tentang
peringatan bahwa waktu semakin sempit dan segel semakin rapuh, Camelia merasa
ada api yang menyala di dadanya. Bukan api kemarahan atau ketakutan, tetapi api
rasa ingin tahu yang membara, api yang mendorongnya untuk tidak hanya duduk
diam dan menunggu, tetapi untuk melakukan sesuatu, untuk mencari, untuk
menemukan, untuk menjadi bagian dari solusi, bukan hanya bagian dari masalah.
Dengan semangat yang menggebu, semangat yang membuat Raka
terkejut karena ia belum pernah melihat Camelia sebersemangat ini, bahkan
ketika nilai ujiannya keluar dan ia mendapat sepuluh besar, Camelia mulai
melakukan riset kecil-kecilan. Ia memanfaatkan aksesnya sebagai anak sekretaris
desa, sebuah posisi yang memberinya kebebasan untuk masuk ke kantor desa kapan
saja, bahkan di luar jam kerja, bahkan ketika Pak Iwan sedang tidak ada, bahkan
ketika Bu Yuni sedang sibuk dengan tumpukan laporan keuangan yang harus
diselesaikan sebelum akhir bulan.
"Aku akan periksa arsip-arsip lama di Kantor
desa," kata Camelia kepada Amat dan Raka ketika mereka bertiga duduk di
bawah pohon mangga halaman sekolah, di tempat favorit mereka sejak masih SD, di
mana pohon itu kini sudah lebih besar dan rindang, dengan cabang-cabang yang
menjulang tinggi dan daun-daun yang lebat. "Ibu bilang, ada banyak dokumen
lama yang tidak pernah dibuka sejak puluhan tahun yang lalu. Mungkin di sana
ada sesuatu. Mungkin peta itu tidak hanya disimpan di rumah-rumah, tetapi juga
di kantor desa. Itu masuk akal, kan? Peta tentang desa, tentang penjagaan,
tentang leluhur... pasti ada kaitannya dengan administrasi desa."
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seperti biasa
ketika ia sedang berpikir. "Tapi kan itu arsip rahasia, Mel. Kantor desa,
dokumen-dokumen resmi. Apa kita boleh masuk? Apa nggak akan dilarang? Nanti Pak
Iwan marah, Ibu kamu juga marah. Aku nggak mau kena marah. Bapakku aja kalau
marah cuma teriak-teriak, tapi kalau Ibu marah, diam-diam bawa dampak.
Dampaknya adalah aku nggak dikasih makan pecel selama seminggu. Itu lebih
menakutkan dari hantu mana pun."
Camelia tersenyum mendengar perumpamaan Raka yang khas.
"Tenang, Ra. Aku sudah bicara dengan Ibu. Aku bilang aku ada tugas sekolah
tentang sejarah desa. Aku perlu melihat arsip-arsip lama untuk bahan penelitian.
Ibu mengizinkan. Beliau malah senang, katanya, 'Akhirnya ada anak muda yang
tertarik dengan sejarah desa ini. Biasanya anak-anak sekarang lebih suka main
HP daripada baca dokumen lama.' Jadi, kita aman. Asal kita tidak merusak apa
pun, dan mengembalikan semuanya ke tempatnya."
"Tugas sekolah? Kamu bohong, Mel?" tanya Raka,
matanya membelalak. "Camelia, anak sekretaris desa yang selalu jujur, yang
selalu dapat nilai sepuluh untuk pelajaran agama karena tidak pernah berbohong,
sekarang berbohong pada ibunya sendiri? Wah, dunia kiamat!"
"Aku tidak berbohong," Camelia mempertahankan
diri, meskipus wajahnya sedikit memerah. "Tugas sekolah itu... nanti akan
ada. Aku akan membuatnya. Tentang sejarah desa. Jadi itu bukan bohong. Itu
antisipasi."
"Antisipasi bohong," Raka terkekeh.
"Terserah, deh. Yang penting aku ikut. Tapi jangan lupa, kita harus makan
dulu sebelum mulai. Aku bawa pecel."
Amat yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya berbicara.
"Besok sepulang sekolah. Kita langsung ke kantor desa. Camelia, kamu urus
izinnya. Aku dan Raka akan menunggu di luar sampai kamu selesai bicara dengan
ibumu."
"Setuju," kata Camelia.
"Setuju banget," tambah Raka. "Tapi besok
aku bawa pecel ekstra. Kita butuh energi. Mencari peta kuno itu butuh tenaga,
percayalah."
Keesokan harinya, tepat pukul satu siang ketika matahari
sedang terik-teriknya dan kantor desa mulai sepi karena sebagian besar
perangkat desa pulang untuk istirahat siang, mereka bertiga berkumpul di depan
balai desa. Camelia sudah mendapat izin dari ibunya, Bu Lulu, yang kebetulan
sedang sibuk dengan laporan keuangan bulanan dan tidak bisa menemani.
"Jaga barang-barang di arsip, jangan sampai ada yang hilang atau
rusak," pesan Bu Lulu sebelum Camelia berangkat. "Dan jangan terlalu
lama. Pulang sebelum magrib."
Mereka bertiga masuk ke kantor desa melalui pintu depan,
melewati ruang tamu yang biasa digunakan untuk menerima tamu, melewati ruang
kerja Pak Iwan yang kosong karena Pak Iwan sedang ada acara di kecamatan,
melewati ruang sekretaris di mana Bu Yuni sedang sibuk mengetik di komputer
lamanya yang selalu berisik, sampai akhirnya tiba di ruang arsip di bagian
belakang.
Kantor desa Awan Biru adalah bangunan sederhana berukuran
sekitar lima belas kali dua puluh meter, dengan dinding tembok bercat putih
yang mulai mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan warna abu-abu bata di
bawahnya. Cat itu terakhir kali diperbarui sekitar sepuluh tahun yang lalu,
ketika Pak Iwan baru saja menjabat sebagai kepala desa periode pertama dan
ingin membuat kantor desa terlihat lebih rapi dan modern. Tapi sepuluh tahun
adalah waktu yang lama, dan cat putih itu kini tidak lagi putih, melainkan
putih kusam, dengan bercak-bercak hitam di sudut-sudut ruangan karena lembab.
Atapnya dari seng gelombang yang jika hujan turun akan berbunyi keras,
memekakkan telinga, membuat siapa pun yang sedang bekerja di dalamnya harus
berteriak untuk didengar. Di musim kemarau, seng itu akan memuai karena panas,
mengeluarkan bunyi krek-krek-krek yang aneh, seperti orang tua
yang sedang menggerutu sendirian.
Di dalam balai desa, terdapat beberapa ruangan. Ruang kerja
kepala desa di bagian depan, berukuran paling besar, dengan meja kayu jati yang
besar dan kursi putar yang empuk, dengan foto-foto Pak Iwan bersama
pejabat-pejabat dari kecamatan dan kabupaten terpajang di dinding. Ruang
sekretaris di sampingnya, lebih kecil, dengan dua meja kayu yang dijejali
komputer, printer, dan tumpukan dokumen. Ruang rapat di sebelahnya lagi, dengan
meja panjang dan kursi-kursi plastik merah yang sudah mulai pudar warnanya. Dan
di bagian paling belakang, tersembunyi di balik pintu kayu yang selalu
tertutup, terdapat ruang arsip kecil yang tidak pernah mendapat perhatian dari
siapa pun.
Ruang arsip itu berukuran tidak lebih dari tiga kali empat
meter, sebuah ruangan yang sangat kecil untuk ukuran kantor desa, tetapi cukup
besar untuk menyimpan puluhan tahun sejarah desa ini. Dindingnya dari tembok
bata yang diplester kasar, tidak pernah dicat, berwarna abu-abu kehitaman
karena lembab. Lantainya dari semen yang retak-retak, dengan debu yang menumpuk
di setiap celah. Langit-langitnya dari papan kayu yang sudah lapuk di beberapa
tempat, dan jika dilihat dengan saksama, di sana-sini ada lubang yang mungkin
menjadi jalan masuk bagi tikus atau kecoa. Tidak ada jendela yang cukup besar
untuk memberikan cahaya alami; hanya satu jendela kecil di dinding utara,
berukuran tidak lebih dari setengah meter persegi, dengan kaca yang sudah buram
karena debu dan lumut, sehingga cahaya matahari yang masuk pun hanya sedikit,
remang-remang, seperti cahaya senja yang tersisa setelah matahari tenggelam.
Di dalam ruangan ini, rak-rak besi berkarat berdiri
berjajar, dipenuhi map-map dan dokumen yang tersusun tidak rapi. Rak-rak itu
sudah sangat tua, mungkin sudah ada sejak kantor desa ini pertama kali
dibangun, puluhan tahun yang lalu. Besinya berwarna coklat kemerahan karena
karat, dan di beberapa tempat, karat itu sudah menembus besi, membuat rak itu
rapuh dan tidak stabil. Jika diguncang sedikit, rak itu akan bergoyang,
mengeluarkan suara berderit yang menusuk telinga, dan debu-debu yang menumpuk
di atas map-map akan berhamburan ke udara, membuat siapa pun yang berada di
dekatnya bersin-bersin.
Debu tebal menutupi hampir setiap permukaan di ruangan ini.
Debu di lantai, debu di rak, debu di map-map, debu di langit-langit, debu di
setiap sudut. Debu itu tidak hanya debu biasa; ia adalah debu yang telah
menumpuk selama bertahun-tahun, puluhan tahun, mungkin sejak kantor desa ini
pertama kali dibangun. Debu yang terdiri dari serat-serat kertas yang hancur,
dari potongan-potongan kulit map yang mengelupas, dari butiran-butiran tanah
yang terbawa angin, dari spora-spora jamur yang tumbuh di tempat lembab. Debu
yang membuat udara di ruangan ini terasa berat, membuat napas terasa sesak,
membuat mata perih jika terlalu lama berada di dalamnya.
"Ini ruangan favoritnya laba-laba," kata Raka
sambil mengibas-ngibaskan sarang laba-laba yang menempel di rambutnya. Sarang
laba-laba itu tipis, seperti benang-benang sutra yang terjalin rapi, dan ketika
terkena cahaya yang masuk melalui jendela kecil, ia berkilau seperti perak. Di
sudut-sudut ruangan, laba-laba-laba besar duduk diam di tengah jaringnya,
menunggu mangsa yang tidak pernah datang. "Kok kalian yakin peta itu ada
di sini? Kayaknya lebih mungkin ada di museum, bukan di gudang arsip kayak
gini. Atau di perpustakaan daerah. Atau di rumah Mbah Ratih. Di sini cuma ada
debu dan laba-laba. Dan mungkin tikus. Aku dengar suara tikus tadi, di balik
rak itu."
Camelia yang sudah mulai membuka satu per satu map yang ada
di rak pertama, menjawab tanpa menoleh. "Peta itu ditinggalkan leluhur
kita ratusan tahun yang lalu, Ra. Masa itu mereka simpan di museum? Museum mana
yang ada waktu itu? Perpustakaan daerah juga belum ada. Yang ada hanya kantor
desa. Dan kantor desa inilah yang menjadi pusat administrasi desa sejak zaman
dulu. Jadi, sangat mungkin peta itu disimpan di sini."
"Ya iya juga sih," Raka mengakui, meskipun ia
masih sibuk mengibas-ngibaskan debu dari bajunya. "Tapi kenapa nggak
disimpan di rumahnya Amat? Kan buku-buku peninggalan neneknya Amat ada di sana.
Mungkin peta itu juga ada di sana."
"Buku-buku di rumah Amat sudah aku baca semua,"
kata Camelia, suaranya sedikit frustrasi. "Tidak ada peta. Tidak ada
gambar peta, tidak ada tulisan tentang peta. Yang ada hanya cerita-cerita
tentang leluhur, tentang ritual, tentang makhluk-makhluk yang dikurung. Tapi
tidak ada peta. Jadi, kemungkinan besar peta itu ada di tempat lain. Dan tempat
lain yang paling mungkin adalah di sini, di kantor desa, di ruang arsip yang tidak
pernah dibuka siapa pun selama puluhan tahun."
Amat tidak ikut dalam percakapan mereka. Sejak masuk ke
ruang arsip ini, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ada getaran di udara, getaran
yang tidak bisa dijelaskan, getaran yang membuat bulu kuduknya berdiri, getaran
yang membuat jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Getaran itu bukan dari
debu, bukan dari laba-laba, bukan dari rak-rak besi yang berkarat. Getaran itu
berasal dari sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang lebih
tua, sesuatu yang telah lama terkubur di ruangan ini dan sekarang mulai
merespons kehadirannya.
Matanya tertuju pada satu lemari arsip yang paling tua di
sudut ruangan. Lemari itu tidak seperti lemari-lemari lain yang ada di ruangan
ini. Lemari-lemari lain terbuat dari besi, berkarat, dan tampak seperti
barang-barang industri yang dibeli dari toko peralatan kantor di kecamatan.
Tapi lemari yang satu ini berbeda. Ia terbuat dari kayu jati, kayu yang sangat
keras dan padat, yang tidak mudah lapuk meskipun terkena panas dan hujan selama
bertahun-tahun. Warna kayunya coklat tua, hampir hitam, dengan serat-serat yang
masih terlihat jelas meskipun sudah berusia puluhan, mungkin ratusan tahun.
Ukiran-ukiran halus menghiasi bagian pintunya: pola-pola spiral,
lingkaran-lingkaran konsentris, dan di tengah-tengah, simbol yang sama dengan
yang mereka lihat di sumur tua, di buku-buku peninggalan nenek Amat, di penjaga
bayangan yang muncul di pinggir jalan malam itu.
Amat berjalan mendekati lemari itu. Setiap langkahnya
terasa berat, seperti berjalan di dalam air. Debu-debu di lantai terhisap oleh
langkahnya, membubung ke udara, membuatnya bersin. Ia berhenti di depan lemari
itu, menatap ukiran-ukiran di pintunya. Tangannya terulang, menyentuh kayu jati
yang dingin. Kayu itu terasa halus di bawah telapak tangannya, halus seperti
kulit yang telah dipoles selama bertahun-tahun. Dan ketika telapak tangannya
menyentuh kayu itu, ia merasakan sesuatu. Getaran yang tadi ia rasakan di
udara, sekarang terasa lebih kuat, lebih jelas, seperti ada sesuatu di dalam
lemari itu yang merespons sentuhannya.
Ia membuka pintu lemari itu perlahan. Engsel besinya yang
sudah berkarat mengeluarkan suara berderit panjang, seperti keluhan dari kayu
tua yang sudah lama tidak digerakkan. Di dalam lemari itu, tersimpan map-map
dari kertas tebal yang sudah menguning, tersusun rapi di rak-rak kayu yang juga
dari jati. Tidak seperti map-map di lemari besi yang berdebu dan berantakan,
map-map di lemari kayu ini masih rapi, masih tertata, seolah-olah seseorang
telah merawatnya dengan baik, meskipun tidak ada yang pernah masuk ke ruangan
ini selama puluhan tahun.
Satu per satu Amat mengeluarkan map-map itu. Sebagian besar
berisi dokumen administrasi desa dari puluhan tahun yang lalu: catatan pajak
dari tahun 1960-an, daftar warga yang ditulis dengan mesin tik, surat-surat
tanah yang ditandatangani oleh kepala desa yang sudah meninggal puluhan tahun
yang lalu. Semua dokumen itu penting, tetapi bukan yang ia cari. Ia terus
mencari, membuka satu map demi satu map, meletakkannya di lantai dengan
hati-hati, tidak ingin merusak kertas-kertas yang sudah rapuh.
Di bagian paling bawah lemari, di rak paling bawah yang
hampir menyentuh lantai, ia menemukan sesuatu yang berbeda. Sebuah map yang
tidak seperti map-map lainnya. Map-map lain terbuat dari kertas karton tebal,
berwarna coklat, dengan label yang ditulis dengan tinta atau pensil. Tapi map
ini terbuat dari kulit, kulit yang sudah sangat tua, berwarna coklat kehitaman,
dengan permukaan yang kasar dan retak-retak. Tali pengikatnya dari kulit yang
sama, hampir putus, hanya tersisa beberapa serat yang masih menahan map itu
tetap tertutup. Dan di sampul map itu, terukir sebuah simbol. Simbol yang sama.
Lingkaran dengan garis-garis spiral. Simbol yang telah mereka lihat
berkali-kali, di sumur tua, di buku-buku peninggalan nenek Amat, di penjaga
bayangan yang muncul di pinggir jalan. Simbol yang sekarang terukir di sampul
map kulit tua ini, seolah-olah menunggu untuk ditemukan, seolah-olah menunggu
untuk dibuka.
"Aku menemukan sesuatu," kata Amat, suaranya
bergetar sedikit, tidak karena takut, tetapi karena emosi yang tidak bisa ia
jelaskan. Ia merasakan bahwa benda yang ia pegang ini adalah sesuatu yang
penting, sesuatu yang telah lama dinanti, sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Camelia dan Raka yang sejak tadi sibuk dengan map-map di
rak besi, segera mendekat. Camelia meletakkan map yang sedang ia buka di atas
rak, berjalan cepat ke arah Amat, matanya tertuju pada map kulit di tangan
Amat. Raka mengikuti di belakangnya, dengan debu yang masih menempel di rambut
dan bajunya.
"Ini dia," bisik Camelia, matanya berbinar-binar.
"Ini yang kita cari."
Amat membuka map itu dengan hati-hati, dengan gerakan yang
lambat dan penuh perhitungan, seperti seorang ahli konservasi di museum yang
sedang menangani artefak berusia ratusan tahun. Tali pengikat dari kulit itu
nyaris putus; ia harus menariknya dengan sangat perlahan, dengan kekuatan yang
pas, tidak terlalu keras agar tidak merobek, tidak terlalu lemah agar tidak
membuat tali itu semakin kusut. Setelah beberapa detik berjuang, tali itu
akhirnya terlepas, dan map itu terbuka.
Di dalam map kulit itu, tersimpan beberapa lembaran kertas
yang sudah sangat tua. Kertasnya bukan kertas biasa, bukan kertas HVS putih
seperti yang digunakan sekarang, juga bukan kertas koran yang kasar dan mudah
robek. Kertas ini adalah kertas daluang, kertas tradisional Jawa yang terbuat
dari serat kayu atau bambu, yang diproses dengan cara tradisional, yang telah
digunakan oleh para pujangga dan petapa sejak zaman Majapahit. Warna kertasnya
kuning kecoklatan, seperti warna daun-daun kering di musim kemarau, dengan
serat-serat yang masih terlihat jelas, dengan tekstur yang kasar di satu sisi
dan halus di sisi lain. Tepi-tepinya sudah rapuh, sedikit hancur jika disentuh,
dan di beberapa tempat, ada lubang-lubang kecil yang mungkin disebabkan oleh
rayap atau kutu buku yang sudah lama mati.
Lembaran pertama adalah sebuah surat. Surat itu ditulis
dengan aksara Jawa kuno, aksara yang berbeda dengan aksara Jawa yang diajarkan
di sekolah-sekolah sekarang, aksara yang lebih rumit, dengan lebih banyak tanda
baca dan tanda vokal, aksara yang hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu di
masa lalu. Tintanya sudah memudar, berwarna coklat kemerahan, mungkin tinta
dari getah pohon atau dari campuran jelaga dan minyak. Namun meskipun sudah
memudar, tulisan itu masih terbaca, masih jelas, masih menyampaikan pesan dari
masa lalu yang jauh.
Camelia mengambil surat itu dengan hati-hati, membawanya ke
dekat jendela kecil agar cahaya matahari bisa membantu membacanya. Ia sudah
belajar aksara Jawa dari buku-buku peninggalan nenek Amat, sudah berlatih
membaca naskah-naskah kuno selama berbulan-bulan, dan sekarang, untuk pertama
kalinya, kemampuannya itu akan diuji dengan sesuatu yang nyata, sesuatu yang
penting, sesuatu yang mungkin menjadi kunci dari semuanya.
"Ini... ini surat dari Eyang Jayabaya," katanya
perlahan, matanya bergerak mengikuti baris-baris aksara yang ditulis dengan
tangan yang sangat rapi, tangan seorang yang terlatih dalam hal tulis-menulis,
mungkin seorang pujangga atau petapa. "Leluhur pertama yang mendirikan
desa ini. Yang memimpin rombongan dari pesisir utara, yang berkeliling mencari
tanah yang tepat, yang akhirnya menetap di lembah ini dan menanam pohon
beringin yang menjadi pusat desa."
Raka yang sejak tadi tidak sabar, bertanya, "Isinya
apa, Mel? Jangan baca pelan-pelan. Kita nggak punya banyak waktu. Nanti Bu Yuni
masuk, kita bisa ketahuan."
Camelia mengabaikan Raka. Ia terus membaca, matanya
bergerak dari satu baris ke baris berikutnya, bibirnya bergerak membunyikan
aksara-aksara itu dalam hati, sesekali berhenti untuk memastikan bahwa ia
membaca dengan benar. Wajahnya berubah-ubah ekspresinya: dari konsentrasi,
menjadi terkejut, menjadi kagum, menjadi haru, menjadi tegang.
"Ini... ini surat yang ditulis Eyang Jayabaya sebelum
ia meninggal," katanya akhirnya, suaranya pelan, hampir berbisik. "Ia
menulis surat ini untuk generasi yang akan datang. Untuk kita. Isinya... isinya
tentang peta. Tentang peta yang ia buat sebelum meninggal. Peta yang
menunjukkan semua titik penjagaan di desa ini. Peta yang menunjukkan di mana
segel-segel berada. Peta yang menunjukkan bagaimana cara memperkuat segel-segel
itu. Ia tahu bahwa suatu hari nanti, manusia akan melupakan. Ia tahu bahwa
suatu hari nanti, segel-segel itu akan melemah. Ia tahu bahwa suatu hari nanti,
akan ada seorang keturunan yang harus memperbaikinya. Dan ia membuat peta ini
untuk membantu keturunan itu."
"Di mana petanya?" tanya Raka tidak sabar.
Kakinya bergerak-gerak gelisah, debu-debu di lantai berhamburan setiap kali ia
menggeser kaki.
Camelia tidak menjawab. Ia membuka lembaran kedua. Lembaran
itu lebih besar dari lembaran pertama, dilipat menjadi beberapa bagian agar
muat di dalam map kulit. Dengan hati-hati, ia membuka lipatan itu satu per
satu. Kertas daluang itu terasa rapuh di tangannya, seperti sayap kupu-kupu
yang kering, dan ia takut jika ia bergerak terlalu cepat, kertas itu akan
hancur. Setelah beberapa saat, akhirnya lembaran itu terbuka sempurna,
terbentang di lantai ruang arsip yang berdebu, dan di sana, tergambar sebuah
peta yang sangat detail.
Mereka bertiga menatap peta itu dalam diam. Tidak ada yang
berbicara. Bahkan Raka yang biasanya cerewet, bahkan ketika sedang dalam
situasi yang paling menegangkan sekalipun, terdiam. Matanya terpaku pada peta
itu, pada garis-garis yang digambar dengan tinta hitam yang sudah memudar
menjadi coklat, pada simbol-simbol yang tersebar di seluruh permukaan kertas,
pada tulisan-tulisan kecil yang menerangkan setiap simbol.
Peta itu menggambarkan Desa Awan Biru dengan cara yang
tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Dari kejauhan, jika dilihat sekilas,
peta itu tampak seperti peta desa biasa. Ada sungai yang berkelok-kelok dari
selatan ke utara, ada bukit-bukit yang mengelilingi desa di sebelah utara dan
timur, ada sawah-sawah yang tersusun rapi di lembah, ada pemukiman yang
terkonsentrasi di sekitar pohon beringin di tengah. Tapi jika dilihat lebih
dekat, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak akan terlihat oleh mata biasa,
sesuatu yang hanya akan terlihat oleh mereka yang tahu apa yang harus dicari.
Pohon beringin tua di tengah desa digambar dengan lingkaran
besar, lebih besar dari pohon-pohon lain di peta itu. Di sekeliling lingkaran
itu, ada garis-garis yang memancar ke segala arah, seperti sinar matahari, atau
seperti akar-akar yang menjalar ke seluruh penjuru desa. Di dekat lingkaran
itu, ada tulisan kecil dalam aksara Jawa: "Pusat. Tempat Kyai Beringin
bersemayam. Jaga selalu."
Sumur tua di belakang balai desa digambar dengan simbol
spiral, garis-garis yang berputar ke dalam, seperti pusaran air. Di dekatnya,
ada tulisan: "Penjaga Air. Sumber kehidupan. Jangan cemarkan."
Mata air di timur desa, yang selama ini tidak pernah
dianggap istimewa oleh warga, digambar dengan simbol tetesan air. Di dekatnya,
ada tulisan: "Mata Air Suci. Tempat ritual kesuburan. Jaga
kebersihannya."
Batu besar di barat desa, yang selama ini hanya dianggap
sebagai batu biasa oleh warga, digambar dengan simbol batu dengan garis-garis
di sekelilingnya. Di dekatnya, ada tulisan: "Batu Penjaga. Penahan energi
dari barat. Jangan pindahkan."
Dan di selatan, di Hutan Larangan, ada tiga titik yang
digambar dengan warna merah. Bukan merah biasa, tetapi merah gelap, merah
seperti darah, merah yang bahkan setelah ratusan tahun masih terlihat jelas,
masih terlihat mencolok, masih terlihat mengancam. Tiga titik itu membentuk
segitiga, dengan satu titik di tengah yang lebih besar dari dua titik lainnya.
Di sekitar titik-titik itu, ada garis-garis yang membentuk pola seperti jaring
laba-laba, pola yang menghubungkan ketiga titik itu satu sama lain, dan juga
menghubungkan mereka dengan titik-titik penjagaan lainnya di desa. Di dekat
titik yang paling besar, ada tulisan yang ditulis dengan huruf yang lebih besar
dari yang lain, seolah-olah untuk menekankan pentingnya: "Segel Utama. Di
sinilah yang terkuat dikurung. Jangan pernah buka. Jangan pernah rusak. Jika
segel ini hancur, desa ini akan binasa."
"Ini dia," bisik Camelia, suaranya bergetar
karena emosi. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menahan air matanya. Ia tidak
ingin menangis sekarang. Ia harus fokus. Ia harus mencatat. "Peta kuno
yang kita cari."
Amat duduk bersila di lantai, menatap peta itu dengan
saksama. Matanya yang biru bergerak perlahan mengikuti setiap garis, setiap
simbol, setiap tulisan. Ia melihat pola yang terbentuk dari ketujuh titik
penjagaan itu. Ketujuh titik itu tidak berdiri sendiri-sendiri; mereka saling
terhubung, membentuk pola heksagonal dengan pohon beringin di tengahnya.
Seperti sarang lebah, seperti kristal, seperti sesuatu yang dirancang dengan
sangat teliti oleh seseorang yang memahami sesuatu yang tidak dipahami oleh
manusia biasa.
"Lihat ini," katanya, menunjuk ke arah
garis-garis yang menghubungkan titik-titik itu. "Semua titik penjagaan ini
saling terhubung. Seperti jaring laba-laba. Jika satu titik rusak, yang lain
juga terpengaruh. Itu sebabnya Kyai Beringin bilang keseimbangan terganggu.
Manusia mulai melupakan tempat-tempat ini. Mereka tidak lagi melakukan
ritual-ritual yang memperkuat segel. Mereka membuang sampah di sungai,
mencemari mata air, menebang pohon di sekitar batu besar. Dan sekarang,
semuanya mulai melemah. Satu per satu. Seperti jaring yang mulai putus di satu
sisi, lalu sisi yang lain ikut kendor."
Camelia mengangguk, mencatat semua yang dikatakan Amat di
buku catatannya. "Peta ini juga menunjukkan bahwa ada tujuh titik
penjagaan utama. Tiga di Hutan Larangan, dan empat di luar hutan. Itu artinya,
untuk memperkuat segel, kita tidak hanya harus menjaga Hutan Larangan. Kita
juga harus menjaga tempat-tempat lain. Sumur tua, mata air, batu besar, dan
tentu saja, pohon beringin."
"Empat tempat di luar hutan, tiga di dalam hutan.
Total tujuh," hitung Raka dengan jari-jarinya yang gemuk. "Tapi kalau
menurut peta ini, segel-segel di hutan yang paling penting. Itu yang mengurung
makhluk-makhluk itu. Kalau kita bisa menjaga empat tempat di luar hutan,
mungkin segel-segel di hutan akan tetap kuat. Atau setidaknya tidak cepat
rusak."
"Teorinya begitu," kata Camelia. "Tapi kita
tidak tahu pasti. Peta ini tidak menjelaskan secara detail bagaimana cara
memperkuat segel. Hanya menunjukkan di mana titik-titiknya. Untuk ritual-ritual
yang harus dilakukan, mungkin kita harus bertanya pada Mbah Ratih. Atau pada
Kyai Beringin. Atau pada penjaga-penjaga lain."
Raka yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara. Matanya
yang sipit menyipit semakin sempit, tanda bahwa ia sedang berpikir serius,
sesuatu yang jarang terjadi. "Mat, Mel, aku bukan orang yang pintar soal
hal-hal kayak gini. Aku cuma anak pecel, cuma bisa bikin orang tertawa. Tapi
kalau menurut peta ini, kita punya tujuh titik yang harus dijaga. Itu artinya,
kita nggak bisa jaga semuanya sendirian. Kita bertiga, kita masih kecil, kita
nggak punya kekuatan. Kita butuh bantuan."
Camelia menghela napas. "Bantuan dari siapa, Ra?
Orang-orang desa? Mereka tidak percaya pada hal-hal seperti ini. Mereka akan
menganggap kita gila. Atau mereka akan takut. Atau mereka akan mengabaikan
kita, seperti mereka mengabaikan ritual-ritual leluhur selama ini."
"Bukan dari sembarang orang," kata Raka, suaranya
lebih serius dari biasanya. "Dari orang-orang yang kita percaya. Dari
orang-orang yang mungkin sudah tahu, atau setidaknya bisa diajak bicara. Mbah
Ratih, misalnya. Beliau sudah tahu semuanya. Pak Iwan, mungkin. Beliau kepala
desa, beliau harus tahu. Orang tua kita. Mungkin mereka tidak tahu semuanya,
tapi mereka akan percaya pada kita. Dan Pak Anto. Beliau sopir truk, tapi
beliau juga seperti Amat. Beliau mendengar suara-suara. Beliau tahu."
Amat mengangguk perlahan. "Kamu benar, Rak. Kita tidak
bisa sendiri. Kita butuh bantuan. Tapi kita harus hati-hati. Tidak semua orang
siap menerima kebenaran. Tidak semua orang bisa memahami. Kita harus memilih
dengan siapa kita berbicara, dan bagaimana cara kita berbicara."
"Kita tidak perlu bilang soal makhluk-makhluk dan
segel-segel," kata Camelia, pikirannya bekerja cepat seperti biasanya.
Tangannya yang memegang buku catatan itu bergerak-gerak, menuliskan ide-ide
yang muncul di kepalanya. "Kita bisa bilang bahwa tempat-tempat ini adalah
situs bersejarah yang harus dilestarikan. Pohon beringin, sumur tua, mata air,
batu besar... itu semua adalah bagian dari warisan leluhur. Bukan hal mistis,
tapi sejarah. Kita bisa minta pemerintah desa untuk melindunginya. Membersihkan
area sekitarnya, melarang warga membuang sampah di sungai, melarang penebangan
pohon di sekitar mata air. Itu permintaan yang masuk akal, dan tidak perlu
melibatkan hal-hal mistis."
"Dan Hutan Larangan?" tanya Amat. "Kita
tidak bisa bilang itu situs bersejarah. Orang-orang sudah takut masuk ke sana.
Mereka akan curiga kenapa kita tiba-tiba peduli dengan hutan yang selama ini
mereka hindari."
"Hutan Larangan tetap jadi hutan larangan," kata
Raka. "Tapi setidaknya kita bisa menjaga agar tidak ada yang masuk dan
merusak. Kita bisa minta Pak Iwan untuk memperketat penjagaan di sekitar hutan.
Memasang papan peringatan yang lebih jelas. Melarang warga berburu di sekitar
hutan. Itu sudah cukup, kan? Selama tidak ada yang masuk dan mengganggu,
segel-segel itu mungkin akan tetap aman. Untuk sementara."
Amat mengangguk perlahan. "Baiklah. Kita mulai dari
yang paling dekat dulu. Sumur tua. Kita bisa minta Pak Iwan untuk membersihkan
area sekitar sumur dan melarang warga membuang sampah di sungai. Itu permintaan
yang masuk akal, dan tidak perlu melibatkan hal-hal mistis. Lalu mata air di
timur. Kita bisa minta warga untuk tidak menebang pohon di sekitar mata air.
Lalu batu besar di barat. Kita bisa minta agar tidak ada yang memindahkan batu
itu. Perlahan-lahan, satu per satu."
"Setuju," kata Camelia. "Tapi kita harus
hati-hati. Jangan sampai Pak Iwan curiga ada yang tidak beres. Kita harus
membuat alasan yang masuk akal. Mungkin kita bisa bilang bahwa kita sedang
melakukan penelitian tentang sejarah desa untuk tugas sekolah. Itu alasan yang
bagus, dan tidak akan menimbulkan kecurigaan."
"Kamu pakai alasan itu lagi, Mel," Raka terkekeh.
"Nanti beneran kamu disuruh bikin tugas sama guru."
"Memang aku akan bikin," kata Camelia dengan
wajah serius. "Ini semua akan aku tulis. Sejarah desa, leluhur,
titik-titik penjagaan, semuanya. Biar tidak ada yang hilang. Biar generasi
berikutnya tahu."
Mereka bertiga terdiam, masing-masing tenggelam dalam
pikirannya sendiri. Di luar, matahari mulai condong ke barat, cahayanya berubah
dari putih menjadi jingga keemasan, masuk melalui jendela kecil dan jatuh di
lantai ruang arsip yang berdebu, menciptakan pola-pola cahaya yang bergerak
perlahan. Debu-debu yang berhamburan tadi perlahan-lahan mengendap, kembali
menutupi map-map yang mereka buka, kembali menyelimuti ruangan ini dengan
selimut keheningan yang telah berlangsung puluhan tahun.
"Kita harus segera pulang," kata Camelia, melihat
jam tangannya. "Sebentar lagi magrib. Ibu pasti sudah pulang dari kantor.
Nanti beliau cari kita."
Mereka bertiga mulai merapikan map-map yang mereka buka,
mengembalikannya ke rak-rak dengan hati-hati, berusaha menempatkannya persis
seperti semula agar tidak ada yang curiga bahwa ruang arsip ini telah
dikunjungi. Amat mengambil map kulit yang berisi peta itu, menatapnya sejenak,
merasakan kehangatan yang terpancar dari kertas-kertas tua itu, kehangatan yang
sama seperti yang ia rasakan dari liontin batu biru di lehernya. Kemudian,
dengan hati-hati, ia memasukkan kembali map itu ke dalam lemari kayu jati, di
rak paling bawah, di tempat yang sama di mana ia menemukannya.
"Kita akan kembali," bisiknya pada peta itu, pada
leluhur yang telah menulisnya, pada Eyang Jayabaya yang telah meninggalkan
pesan untuk generasi yang akan datang. "Kita akan melakukan apa yang harus
kita lakukan. Kita akan menjaga desa ini. Janji."
Mereka bertiga berjalan keluar dari ruang arsip, melewati
lorong yang semakin gelap karena matahari mulai tenggelam, melewati ruang
sekretaris yang sudah kosong karena Bu Yuni pulang lebih awal, melewati ruang
kerja Pak Iwan yang masih kosong, sampai akhirnya tiba di pintu depan balai
desa. Di luar, langit mulai berubah warna dari jingga menjadi ungu, dan
bintang-bintang pertama mulai muncul di ufuk timur.
"Besok kita mulai," kata Camelia, membuka buku
catatannya dan membaca ulang catatan yang ia buat. "Aku akan bicara dengan
Ibu, minta tolong untuk mengatur pertemuan dengan Pak Iwan. Kita akan ajukan
proposal untuk pelestarian situs-situs bersejarah di desa ini. Dengan alasan
yang masuk akal, dan dengan data yang kuat, saya yakin Pak Iwan akan
setuju."
"Aku akan bicara dengan bapak," kata Raka.
"Bapak kenal banyak orang. Mungkin beliau bisa membantu. Beliau juga
sering cerita tentang masa lalu. Mungkin beliau tahu sesuatu tentang
tempat-tempat ini."
Amat mengangguk. "Aku akan ke rumah Mbah Ratih. Aku
akan tunjukkan peta ini padanya. Mungkin beliau bisa menjelaskan lebih detail
tentang ritual-ritual yang harus dilakukan. Mungkin beliau juga bisa membantu
kita bicara dengan Pak Iwan."
Mereka bertiga berdiri di depan balai desa, di bawah langit
yang mulai gelap, dengan kabut tipis yang mulai merayap turun dari
lereng-lereng bukit. Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri megah, dengan
kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan penjaganya
yang setia menunggu. Dan di dalam hati mereka masing-masing, ada tekad yang
sama, tekad yang telah mereka buat tiga tahun lalu di puncak Bukit Pangasih,
tekad yang kini semakin kuat, semakin nyata, semakin mendesak.
"Untuk Desa Awan Biru," kata Amat.
"Untuk Desa Awan Biru," ulang Camelia.
"Untuk Desa Awan Biru dan pecel," tambah Raka,
membuat mereka tertawa.
Tawa itu bergema di depan balai desa, terbawa angin sore
yang dingin, menyebar ke seluruh penjuru desa. Tawa yang menjadi pengingat
bahwa di tengah semua kegelapan dan ketakutan, mereka masih punya satu sama
lain. Tawa yang menjadi senjata paling ampuh mereka. Tawa yang akan terus
bergema, selama desa ini masih ada, selama mereka masih bersama, selama janji
itu masih ditepati.
BAB 15: Balai Desa dan Tawa Raka
Kantor Desa Awan Biru bukan hanya pusat pemerintahan desa,
bukan sekadar bangunan tempat kepala desa duduk di balik meja kayu jati yang
besar menandatangani surat-surat dan laporan-laporan yang setiap hari menumpuk
di atas mejanya. Ia adalah jantung dari seluruh aktivitas desa ini, tempat di
mana denyut kehidupan sehari-hari warga terasa paling jelas, tempat di mana
cerita-cerita dari setiap sudut desa berkumpul dan bercampur menjadi satu,
tempat di mana keputusan-keputusan yang mempengaruhi nasib ratusan keluarga
dibuat, didiskusikan, diperdebatkan, dan akhirnya disepakati. Setiap pagi,
ketika matahari baru saja muncul dari balik Bukit Pangasih dan kabut tipis
masih bergelayut di antara pepohonan, balai desa sudah mulai hidup. Pintu
utamanya yang terbuat dari kayu jati dengan engsel besi yang selalu berdecit
itu dibuka oleh Pak Karto, penjaga kantor yang sudah bekerja di sini sejak
zaman kepala desa sebelum Pak Iwan. Lampu-lampu neon yang berkedip-kedip
dinyalakan satu per satu, mengusir sisa-sisa kegelapan malam yang masih enggan
pergi. Kursi-kursi plastik merah yang berjajar di ruang tunggu ditata ulang,
debu-debu yang menumpuk semalam disapu dengan sapu lidi yang sudah lusuh. Air
minum di dispenser diganti, gelas-gelas plastik ditata rapi di atas meja kecil
di sudut ruangan. Dan kemudian, satu per satu, perangkat desa mulai
berdatangan.
Pak Iwan, kepala desa, biasanya yang pertama tiba. Ia
datang dengan sepeda motor Honda Supra tua berwarna hitam yang sudah berusia
lebih dari lima belas tahun, dengan keranjang plastik di bagian belakang yang
selalu berisi map-map dan dokumen-dokumen yang ia bawa pulang ke rumah setiap
malam untuk dipelajari. Ia memarkir sepeda motornya di halaman samping, di
tempat yang sama setiap hari, di bawah pohon mangga yang rindang, lalu berjalan
masuk dengan langkah tegap, kemeja batik lengan panjangnya selalu rapi,
rambutnya yang mulai memutih di pelipis disisir ke belakang, kumis tebalnya
terawat sempurna. Ia akan duduk di kursinya, membuka map pertama dari tumpukan
dokumen di atas meja, dan memulai hari dengan membaca laporan-laporan dari
malam sebelumnya: laporan keamanan dari Pak Sugeng, laporan kegiatan dari Bu
Yuni, laporan keuangan dari Bu Lulu, dan berbagai macam surat masuk yang perlu
segera ditanggapi.
Bu Yuni, Sekretaris Desa yang baru menggantikan Pak Kartono
yang pensiun setelah dua puluh lima tahun mengabdi, biasanya datang sepuluh
menit setelah Pak Iwan. Ia adalah perempuan berusia sekitar empat puluh tahun
dengan rambut pendek sebahu yang selalu ia potong setiap dua bulan sekali di
salon sederhana di kecamatan, dengan kacamata tebal berbingkai hitam yang
membuat matanya tampak lebih besar dari aslinya, dengan pakaian yang selalu
rapi dan bersih, tidak pernah kusut meskipun ia bekerja seharian penuh di balai
desa. Bu Yuni adalah sosok yang sangat teliti dan disiplin, hampir tidak pernah
salah dalam administrasi. Ia adalah lulusan sekolah menengah kejuruan
administrasi perkantoran, dan selama dua puluh tahun bekerja di berbagai kantor
sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke desa dan mengabdi di sini. Ia
adalah orang yang paling tahu tentang seluk-beluk administrasi pemerintahan
desa, tentang format surat yang benar, tentang prosedur pengarsipan yang tepat,
tentang cara mengurus segala macam perizinan yang mungkin dibutuhkan oleh
warga. Warga sering datang kepadanya untuk bertanya tentang persyaratan
pembuatan KTP, tentang cara mengurus akta kelahiran, tentang prosedur pembuatan
surat keterangan tidak mampu untuk mendapatkan bantuan sosial. Bu Yuni melayani
semua dengan sabar, dengan penjelasan yang detail, dengan senyum yang tipis
tetapi tulus.
Pak Eko, Kaur Perencanaan, adalah orang yang paling sibuk
di Kantor desa, tetapi juga yang paling pendiam. Ia adalah pria kurus dengan
kumis tipis yang selalu rapi, dengan kacamata yang sama tebalnya dengan
kacamata Bu Yuni, dengan buku catatan kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana,
bahkan ketika ia sedang makan siang di warung Mbah Karo atau ketika ia sedang
pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Pak Eko adalah lulusan sekolah teknik, dan
ia bangga dengan rasionalitasnya. Ia percaya bahwa segala sesuatu di desa ini
harus direncanakan dengan matang, dihitung dengan cermat, dievaluasi secara
berkala. Ia adalah orang yang bertanggung jawab atas proposal-proposal
pembangunan desa, atas perencanaan anggaran tahunan, atas evaluasi
program-program yang telah berjalan. Setiap pagi, ia akan duduk di meja
kerjanya yang penuh dengan kertas dan buku catatan, membuka laptop tuanya yang
sudah berusia tujuh tahun, dan mulai menghitung angka-angka, membuat grafik,
menulis laporan. Ia jarang sekali berbicara lebih dari yang diperlukan. Ketika
ditanya, ia akan menjawab dengan singkat dan padat. Ketika ada rapat, ia akan
duduk di sudut ruangan, mendengarkan dengan saksama, dan hanya berbicara ketika
ia merasa perlu memberikan masukan. Tapi ketika ia berbicara, semua orang
mendengarkan, karena mereka tahu bahwa kata-kata Pak Eko selalu didasarkan pada
data dan perhitungan yang matang.
Bu Lulu, Kaur Keuangan, adalah wajah baru di Kantor desa.
Ia baru lulus dari akademi pemerintahan desa dua tahun yang lalu, dan langsung
ditempatkan di Awan Biru setelah melalui proses seleksi yang cukup ketat. Ia
adalah perempuan muda berusia sekitar dua puluh lima tahun, dengan rambut
panjang yang selalu diikat dalam ekor kuda, dengan wajah yang selalu ceria,
dengan tawa yang mudah pecah bahkan untuk hal-hal yang paling sepele sekalipun.
Bu Lulu adalah orang yang bertanggung jawab atas keuangan desa, atas
pengelolaan dana desa, atas laporan pertanggungjawaban yang harus disampaikan
ke kecamatan setiap bulan. Meskipun pekerjaannya sangat serius dan penuh dengan
risiko, satu kesalahan kecil dalam laporan keuangan bisa berakibat fatal bagi
seluruh pemerintahan desa, Bu Lulu menjalaninya dengan ringan, dengan senyum,
dengan keyakinan bahwa selama ia jujur dan teliti, tidak ada yang perlu
ditakutkan. Ia adalah anak dari keluarga sederhana, ayahnya petani, ibunya
berjualan sayur di pasar. Ia bangga bisa menjadi bagian dari pemerintahan desa,
dan ia bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi desa yang telah
membesarkannya.
Bu Endang, Kasi Pelayanan, adalah orang yang paling sabar
di Kantor desa. Ia adalah perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahun,
dengan tubuh kecil dan rambut yang sudah mulai memutih di bagian pelipis. Ia
bertugas melayani langsung warga yang datang, dari pagi hingga sore, dari senin
hingga sabtu. Setiap hari, ia akan duduk di meja paling dekat dengan pintu
masuk, sehingga setiap warga yang datang akan langsung bertemu dengannya. Ia
akan mendengarkan keluhan warga, menjelaskan prosedur yang harus diikuti,
membantu mengisi formulir-formulir yang rumit, memberikan petunjuk ke ruangan
mana warga harus pergi untuk mengurus keperluan tertentu. Bu Endang adalah
orang yang mampu menghadapi warga yang paling cerewet sekalipun dengan senyum
yang tetap merekah. Ia tidak pernah terlihat marah, tidak pernah terlihat
frustrasi, bahkan ketika ada warga yang mengeluh dengan nada tinggi karena
surat yang ia tunggu belum selesai atau karena ada persyaratan yang kurang. Bu
Endang akan mendengarkan dengan sabar, menawarkan solusi dengan tenang, dan
jika tidak ada solusi yang bisa diberikan saat itu juga, ia akan menjanjikan
untuk menindaklanjuti dan menghubungi warga tersebut segera setelah ada
kepastian.
Pak Edi, Kaur Kesra, adalah orang yang paling rendah hati
di kantor desa. Ia adalah pria paruh baya dengan perut yang mulai buncit,
dengan kumis tebal yang sama seperti kumis Pak Iwan tetapi tidak serapih Pak
Iwan, dengan senyum yang selalu ramah kepada siapa pun yang ia temui. Pak Edi mengurusi
masalah kesejahteraan masyarakat: data warga miskin, bantuan sosial,
program-program pemberdayaan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan upaya
meningkatkan taraf hidup warga desa. Ia adalah orang yang paling sering keluar
kantor, berkeliling desa, mengunjungi warga yang sakit, mengecek kondisi
rumah-rumah yang tidak layak huni, mendata warga yang berhak menerima bantuan.
Setiap ada warga yang kesusahan, Pak Edi adalah orang pertama yang datang
membantu. Setiap ada warga yang sakit parah, Pak Edi yang akan mengurus rujukan
ke puskesmas atau ke rumah sakit di kecamatan. Setiap ada warga yang meninggal,
Pak Edi yang akan datang melayat, membantu keluarga yang ditinggalkan mengurus
administrasi, memastikan bahwa proses pemakaman berjalan lancar.
Di ruang tunggu kantor desa, selalu ada kursi-kursi panjang
yang penuh dengan warga yang datang bergantian. Kursi-kursi itu terbuat dari
plastik, berwarna merah, dengan sandaran yang tegak dan dudukan yang agak
sempit untuk ukuran orang dewasa. Kursi-kursi itu sudah tua, beberapa sudah
retak di bagian kaki, beberapa sudah pudar warnanya menjadi merah muda, tetapi
masih cukup kuat untuk menampung puluhan warga yang datang setiap hari. Di
sudut ruangan, ada dispenser air minum yang selalu tersedia, dengan galon-galon
air yang diganti setiap pagi oleh Pak Karto, penjaga kantor. Di samping
dispenser, ada meja kecil dengan gelas-gelas plastik yang ditata rapi, dan
kadang-kadang, jika ada warga yang sedang punya hajatan atau baru panen raya,
mereka akan membawa jajanan pasar untuk dimakan bersama di ruang tunggu: getuk,
klepon, cenil, atau kadang-kadang pecel buatan Bapak Raka yang selalu menjadi
favorit.
Suasana di sini hangat dan akrab, seperti keluarga besar
yang sedang berkumpul. Warga yang datang tidak hanya untuk mengurus
administrasi, tetapi juga untuk bertukar kabar, untuk mendengar cerita dari
tetangga, untuk mengetahui perkembangan desa terbaru. Ibu-ibu yang datang untuk
mengurus KTP akan duduk berdampingan dengan bapak-bapak yang datang untuk
melaporkan kelahiran anak mereka, sambil bercerita tentang hasil panen, tentang
harga cabai yang naik, tentang anak-anak mereka yang sekolah di kecamatan.
Pemuda-pemuda yang datang untuk membuat surat lamaran kerja akan bergabung
dengan para petani yang sedang menunggu giliran bertemu Pak Edi, sambil
mendiskusikan rencana pembangunan jalan desa, tentang program pelatihan kerja
yang akan diadakan bulan depan, tentang turnamen voli antar RT yang akan
digelar minggu depan. Perangkat desa yang sedang tidak sibuk akan keluar dari
ruang kerja mereka, duduk di ruang tunggu, ikut mengobrol dengan warga,
mendengarkan aspirasi, menjelaskan program-program yang sedang berjalan, atau
sekadar tertawa bersama mendengar lelucon Pak Karto yang selalu punya cerita
lucu tentang masa lalunya.
Kantor desa ini, dengan segala kesederhanaannya, dengan
dinding-dinding yang catnya mengelupas, dengan lantai yang retak-retak, dengan
kursi-kursi plastik yang sudah tua, dengan dispenser air minum yang
kadang-kadang macet, dengan tumpukan dokumen yang menggunung di setiap meja,
adalah tempat di mana Desa Awan Biru hidup. Ia adalah tempat di mana
masalah-masalah desa dibahas dan diselesaikan, di mana keputusan-keputusan
penting dibuat, di mana hubungan antara warga dan pemerintah desa dibangun dan
dipelihara. Ia adalah tempat di mana cerita-cerita desa ditulis setiap hari, di
mana sejarah desa ini terus berlanjut, di mana masa depan desa ini dirancang,
diskusikan, dan diwujudkan sedikit demi sedikit.
Di tengah kesibukan dan kadang ketegangan yang menyelimuti
kantor desa, ketika Bu Yuni harus mengejar tenggat waktu pelaporan ke kecamatan
yang hanya tinggal dua hari lagi, ketika Pak Eko harus merevisi proposal
pembangunan jalan desa yang ditolak oleh kabupaten karena format yang salah,
ketika Bu Lulu harus membetulkan laporan keuangan yang selisih lima puluh ribu
rupiah dan tidak tahu di mana kesalahannya, Raka hadir sebagai sumber tawa,
sebagai pengingat bahwa di tengah semua keseriusan dan tekanan, masih ada ruang
untuk tertawa, masih ada ruang untuk bersantai, masih ada ruang untuk menikmati
hal-hal sederhana seperti pecel buatan Bapaknya.
Sebagai anak dari pemilik warung pecel langganan perangkat
desa—warung yang sudah beroperasi sejak zaman Mbah Kinah, warung yang menjadi
tempat favorit perangkat desa untuk makan siang ketika mereka terlalu sibuk
untuk pulang ke rumah, Raka akrab dengan semua orang di kantor desa. Ia sudah
mengenal mereka sejak kecil, ketika ia masih duduk di bangku SD, ketika ia
sering menemani Bapaknya mengantar pesanan pecel ke balai desa. Dulu ia hanya
berdiri di belakang Bapaknya, memperhatikan bagaimana orang-orang dewasa itu
berbicara, tertawa, kadang berdebat, tetapi selalu akrab, selalu hangat.
Sekarang, setelah Bapaknya mulai sering sakit-sakitan karena usianya yang
semakin tua dan tekanan darahnya yang kadang naik tanpa sebab yang jelas, Raka
sering diminta untuk mengantar pesanan sendiri, dengan sepeda onthel tuanya
yang masih setia menemaninya, dengan rantai yang masih berbunyi krek-krek-krek setiap
kali dikayuh, dengan ban yang masih kempes meskipun sudah dipompa berkali-kali.
Setiap hari, setelah pulang sekolah, biasanya sekitar pukul
setengah dua siang, ketika matahari mulai condong ke barat dan udara mulai
terasa sedikit lebih sejuk, Raka akan mampir ke warung, mengambil pesanan yang
sudah disiapkan oleh Bapaknya, lalu berangkat ke balai desa. Di dalam ranselnya
yang sudah kumal, ia membawa beberapa besek anyaman bambu berisi pecel lengkap
dengan sambal dan kerupuk, masing-masing diberi label dengan spidol di
tutupnya: "Bu Yuni, Pak Eko, Bu Lulu, Bu Endang, Pak Edi, dan Pak Iwan
yang selalu memesan tanpa sambal karena maag-nya kambuh kalau makan
pedas." Raka hafal semua pesanan itu, hafal selera masing-masing perangkat
desa, hafal siapa yang suka sambal extra pedas, siapa yang tidak suka kerupuk,
siapa yang pesannya selalu ditambah tahu dan tempe.
"Bu Yuni, pesanan pecel Bapak," kata Raka suatu
siang, meletakkan besek di meja Sekretaris Desa yang penuh dengan tumpukan
dokumen. Meja Bu Yuni adalah meja yang paling rapi di balai desa, tetapi hari
itu tampak lebih berantakan dari biasanya. Ada map-map yang terbuka di
sana-sini, ada kertas-kertas yang berserakan, ada pulpen yang tertinggal di
atas keyboard komputer, ada gelas kopi yang setengah kosong di sudut meja
dengan sisa-sisa ampas yang menempel di dinding gelas. Bu Yuni sedang sibuk
mengetik di komputer lamanya yang selalu berisik, dengan kecepatan yang luar
biasa, jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard, matanya fokus pada layar
monitor yang sudah mulai buram di beberapa sudut.
Bu Yuni mengangkat kepalanya dari tumpukan dokumen.
Wajahnya yang biasanya tenang dan selalu terkendali itu tampak sedikit lelah,
ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak biasanya, pertanda bahwa ia
mungkin begadang semalam untuk menyelesaikan laporan. "Terima kasih, Raka.
Nanti saya bayar ya. Kasihan Bapakmu, setiap hari masak banyak. Ini pesanan
untuk kami semua, pasti repot sekali."
Raka menggeleng, tersenyum lebar dengan senyum khasnya yang
membuat seluruh wajahnya yang bulat itu berkerut. "Nggak usah bayar, Bu.
Ini bonus. Soalnya kemarin Bapak saya masak kebanyakan. Ada yang pesan tiga
porsi tapi tidak jadi diambil. Sayang kalau dibuang. Bapak saya bilang, lebih
baik diberikan kepada orang yang membutuhkan daripada dibuang ke tong sampah.
Dan Bu Yuni kan pasti butuh makanan bergizi untuk bekerja."
Bu Yuni tersenyum, senyum yang pertama kali muncul di
wajahnya sejak pagi. "Kamu baik, Ra. Sama seperti Bapakmu. Sama-sama baik
hati. Dulu Bapakmu juga sering ngasih pecel gratis ke warga yang tidak mampu.
Kata beliau, rezeki tidak akan berkurang kalau dibagi."
Raka menggaruk kepalanya, tersenyum malu, pipinya yang
tembam menjadi lebih tembam karena senyumnya. "Ah, biasa saja, Bu. Bapak
saya cuma ngikutin ajaran Mbah Kinah, neneknya. Kata beliau, 'Kuliner iku ora
mung kanggo ngiseni weteng, nanging uga kanggo ngiseni ati.' Makanan itu tidak
hanya untuk mengisi perut, tetapi juga untuk mengisi hati."
Pak Eko yang sedang mencatat sesuatu di buku catatannya,
mendongak mendengar percakapan mereka. Matanya yang di balik kacamata tebal itu
menatap Raka dengan tatapan yang aneh, bukan tatapan curiga, tetapi tatapan
ingin tahu, seperti seorang ilmuwan yang menemukan fenomena menarik yang belum
bisa dijelaskan. "Raka, kabarnya kamu ikut-ikutan Amat dan Camelia ke
mana-mana akhir-akhir ini. Katanya kalian sedang mencari sesuatu. Apa
benar?"
Raka sedikit gugup. Jantungnya berdebar lebih cepat,
tangannya yang tadinya santai di saku celana tiba-tiba mengepal. Ia tidak
menyangka Pak Eko, yang biasanya pendiam dan tidak pernah ikut campur urusan
anak-anak, akan bertanya seperti itu. Mungkin desa ini kecil, dan kabar
menyebar dengan cepat, lebih cepat dari yang mereka duga. Tapi ia segera
menutupi kegugupannya dengan tawa, tawanya yang khas, tawa yang keluar dari perutnya,
tawa yang membuat seluruh ruangan terasa lebih ringan. "Ah, tidak ada,
Pak. Kami hanya jalan-jalan. Namanya juga anak muda, suka keluyuran. Nggak
betah di rumah terus. Apalagi Amat, dia kan sering sendirian di rumah. Ibu nya
sering ke kebun. Jadi kami temani dia."
Pak Eko tidak terlihat sepenuhnya percaya, tetapi ia tidak
bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk, mencatat sesuatu di buku
catatannya, Raka tidak tahu apa yang ia catat, mungkin tentang anak-anak muda
yang suka keluyuran, mungkin tentang Amat yang sering sendirian di rumah,
mungkin tentang sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan, lalu berkata dengan
nada yang lebih serius dari biasanya. "Jangan sampai keluyuran ke tempat
yang tidak boleh, Ra. Hutan selatan itu dilarang, ingat. Itu sudah aturan dari
leluhur. Bukan hanya karena angker, tetapi karena berbahaya. Banyak orang yang
tersesat di sana, tidak pernah kembali. Jangan coba-coba."
Raka mengangguk cepat, terlalu cepat, seperti orang yang
sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Tentu, Pak. Kami tidak berani
ke sana. Hutan larangan kan angker. Kata Mbah Ratih, di sana ada
makhluk-makhluk yang tidak boleh diganggu. Kami hanya jalan-jalan di sekitar
desa, di sawah, di bukit, di tempat-tempat yang aman. Tidak ke hutan. Janji."
Setelah Raka pergi, Bu Yuni dan Pak Eko saling
berpandangan. Mereka tahu bahwa Raka dan teman-temannya sedang melakukan
sesuatu, sesuatu yang mungkin berhubungan dengan desa ini, dengan sejarahnya,
dengan misteri-misteri yang selama ini hanya diceritakan oleh orang-orang tua
di warung kopi. Mereka tidak tahu apa, tetapi sebagai orang dewasa yang sudah
hidup cukup lama di desa ini, mereka memilih untuk tidak terlalu ikut campur,
asalkan tidak membahayakan. Mereka percaya bahwa anak-anak itu cukup pintar untuk
menjaga diri mereka sendiri, dan bahwa mungkin ini adalah bagian dari proses
kedewasaan, bagian dari perjalanan menemukan jati diri, bagian dari kehidupan
di desa yang tidak pernah benar-benar sunyi dari misteri.
"Mereka anak-anak baik," kata Bu Yuni, membuka
besek pecel dan mulai makan dengan lahap. "Raka, Amat, Camelia. Mereka
tidak akan melakukan hal-hal bodoh."
"Semoga," kata Pak Eko, menutup buku catatannya
dan kembali fokus pada proposal pembangunan jalan yang harus segera diselesaikan.
"Semoga."
Suatu hari, ketika matahari sedang terik-teriknya dan balai
desa sedang sepi karena jam istirahat siang, Pak Iwan sedang sendirian di ruang
kerjanya, membaca laporan dari kecamatan tentang alokasi dana desa untuk tahun
berikutnya, Amat, Raka, dan Camelia datang. Mereka bertiga berjalan masuk
dengan langkah yang mantap, tidak ragu-ragu seperti biasanya, karena kali ini
mereka datang dengan misi yang jelas, dengan tekad yang bulat, dengan persiapan
yang matang. Camelia membawa map berisi proposal yang ia tulis dengan rapi
selama beberapa malam, dengan data-data yang ia kumpulkan dari buku-buku
peninggalan nenek Amat, dari wawancara dengan Mbah Ratih, dari pengamatan
langsung di lapangan. Raka membawa besek pecel untuk Pak Iwan, dengan sambal
yang dipisah karena Pak Iwan tidak bisa makan pedas. Amat membawa liontin batu
biru di lehernya, yang hari itu terasa lebih hangat dari biasanya, seolah-olah
memberikan semangat, seolah-olah mengatakan bahwa ia tidak sendirian.
Mereka ingin menyampaikan usulan tentang pelestarian sumur
tua dan sungai di desa. Bukan usulan yang muluk-muluk, bukan usulan yang
membutuhkan dana besar atau teknologi canggih. Usulan sederhana: membersihkan
area sekitar sumur tua di belakang balai desa yang selama bertahun-tahun
terbengkalai, dipenuhi ilalang dan sampah; membuat aturan tentang larangan
membuang sampah di sungai yang selama ini menjadi kebiasaan buruk sebagian
warga; dan melakukan ritual bersih desa setiap tahun di sumur tua dan mata air
sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Usulan yang mereka harap akan
didengar oleh Pak Iwan, yang mereka harap akan disetujui, yang mereka harap
akan menjadi langkah awal untuk memperbaiki keseimbangan yang mulai retak.
Camelia, yang paling berani di antara mereka bertiga, yang
tidak pernah takut berbicara di depan orang dewasa, yang sudah terbiasa
menyampaikan pendapat di rapat karang taruna meskipun usianya paling muda,
ditunjuk sebagai juru bicara. Ia berdiri di depan meja Pak Iwan dengan tegap,
map di tangan kirinya, buku catatan di tangan kanannya, dan mulai berbicara
dengan suara yang jelas, tegas, tidak gemetar sedikit pun.
"Pak Kades, kami punya usulan," kata Camelia,
matanya menatap langsung ke arah Pak Iwan, tidak berkedip, tidak bergeming.
Pak Iwan yang sedang membaca laporan, mengangkat kepalanya.
Ia sedikit terkejut melihat ketiga anak itu berdiri di depan meja kerjanya
dengan ekspresi yang begitu serius, begitu penuh tekad. Biasanya, anak-anak
seusia mereka datang ke balai desa hanya untuk menemani orang tua, atau untuk
mengurus surat keterangan untuk keperluan sekolah, atau sekadar mampir karena
kebetulan lewat. Tidak pernah mereka datang dengan membawa map dan proposal,
tidak pernah mereka meminta waktu untuk berbicara dengan kepala desa secara
serius.
"Usulan apa, Camelia? Bukannya kalian masih sekolah?
Jangan sibuk-sibuk urusan orang dewasa. Fokus belajar dulu. Nanti kalau sudah
besar, baru urus desa." Suara Pak Iwan tidak marah, tetapi ada nada
meremehkan di dalamnya, nada yang mengatakan bahwa urusan desa adalah urusan
orang dewasa, bukan urusan anak-anak yang masih sekolah.
Camelia tidak terintimidasi. Ia sudah mempersiapkan diri
untuk menghadapi reaksi seperti ini. Ia tahu bahwa Pak Iwan adalah kepala desa
yang baik, tetapi ia juga tahu bahwa Pak Iwan, seperti kebanyakan orang dewasa
di desa ini, cenderung menganggap remeh pendapat anak-anak. Ia tidak akan
menyerah. "Ini urusan desa, Pak. Kami juga warga desa, jadi berhak memberi
usulan. Itu hak kami sebagai warga negara. Dalam UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Desa, pasal 68 ayat 1 disebutkan bahwa masyarakat desa berhak untuk
berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan desa. Dan masyarakat desa itu
termasuk kami, warga desa yang belum dewasa sekalipun."
Pak Iwan terkejut. Ia tidak menyangka seorang anak SMP akan
mengutip undang-undang di hadapannya. Ia menatap Camelia dengan saksama,
melihat mata gadis itu yang berbinar-binar, melihat senyum tipis di bibirnya,
melihat keyakinan yang terpancar dari seluruh tubuhnya yang kecil itu. Ia
tersenyum, terkesan dengan keberanian dan kecerdasan Camelia. "Baiklah,
kalau begitu. Coba sampaikan usulan kalian. Saya dengar."
Camelia membuka map yang ia bawa, mengeluarkan beberapa
lembar kertas yang ia susun dengan rapi. "Kami mengusulkan agar pemerintah
desa membersihkan area sekitar sumur tua di belakang balai desa, dan membuat
aturan tentang larangan membuang sampah di sungai. Sumur tua itu adalah
peninggalan leluhur yang harus dilestarikan. Ini bukan hanya soal mistis, Pak,
tapi juga soal sejarah. Sumur itu sudah ada sejak desa ini didirikan, lebih
dari tiga ratus tahun yang lalu. Ia adalah saksi bisu perjalanan desa ini.
Sayang kalau dibiarkan begitu saja, dipenuhi ilalang dan sampah, dilupakan oleh
generasi sekarang."
Camelia berhenti sejenak, menatap Pak Iwan untuk melihat
reaksinya. Pak Iwan hanya mengangguk, menyilakan ia melanjutkan. "Dan
sungai, Pak. Sungai adalah sumber air kita semua. Untuk mandi, mencuci, untuk
irigasi sawah, untuk kehidupan sehari-hari. Tapi sekarang, banyak warga yang
membuang sampah ke sungai. Sampah plastik, sampah rumah tangga, kadang-kadang
bangkai ayam atau kambing. Itu tidak baik. Air sungai menjadi kotor, berbau,
dan bisa menyebabkan penyakit. Selain itu, sungai yang tercemar juga mengganggu
keseimbangan alam. Ikan-ikan mati, tanaman air tidak bisa tumbuh, dan air yang
sampai ke sawah menjadi tidak subur."
Pak Iwan mengamati Camelia dengan saksama. Ia tidak
menyangka seorang anak SMP akan memiliki pemikiran sedalam ini, akan memiliki
kepedulian sebesar ini terhadap desanya. "Usulan yang bagus, Camelia. Tapi
kenapa tiba-tiba kalian peduli dengan sumur tua? Bukannya sumur itu sudah tidak
digunakan lagi? Dan kenapa sekarang? Apa yang membuat kalian tertarik?"
Amat yang sejak tadi diam, merasa bahwa inilah saatnya ia
berbicara. Ia maju selangkah, berdiri di samping Camelia, dan berkata dengan
suara yang tenang tetapi penuh keyakinan. "Karena kami belajar tentang
sejarah desa, Pak. Kami membaca buku-buku peninggalan nenek. Kami mendengar
cerita-cerita Mbah Ratih. Kami belajar bahwa desa ini tidak terbentuk begitu saja.
Ada leluhur yang berjuang, ada ritual-ritual yang dilakukan, ada keseimbangan
yang harus dijaga. Sumur tua itu bukan sekadar sumur biasa, Pak. Ia adalah
salah satu titik penting dalam keseimbangan desa ini. Jika ia diabaikan, jika
sungai-sungai tercemar, jika mata air-mata air tidak dijaga, maka keseimbangan
itu akan terganggu. Dan jika keseimbangan terganggu..."
Amat tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tidak perlu. Pak Iwan
mengerti. Sebagai kepala desa yang lahir dan besar di Awan Biru, sebagai anak
dari seorang ayah yang dulu juga menjadi kepala desa, sebagai cucu dari leluhur
yang ikut membangun desa ini, ia tahu bahwa ada hal-hal di desa ini yang tidak
bisa dijelaskan dengan logika dan ilmu pengetahuan. Ia tahu bahwa ada
kekuatan-kekuatan yang bekerja di balik kehidupan sehari-hari warga, kekuatan
yang harus dihormati, kekuatan yang jika diabaikan akan membawa bencana. Ia
juga tahu bahwa Amat bukan anak biasa. Ia sudah mendengar cerita tentang
kelahiran Amat, tentang badai yang aneh, tentang kabut yang berputar-putar,
tentang tangisan yang bergema dari gunung ke gunung. Ia sudah melihat mata biru
anak itu, mata yang tidak biasa, mata yang melihat hal-hal yang tidak dilihat
orang lain. Ia sudah mendengar dari Mbah Ratih bahwa Amat adalah keturunan dari
garis penjaga, bahwa suatu hari nanti ia akan memikul tanggung jawab yang
besar.
"Baiklah," kata Pak Iwan akhirnya, setelah
beberapa saat terdiam. Suaranya lebih lembut dari biasanya, lebih hangat, lebih
seperti seorang kakek yang berbicara dengan cucunya daripada seorang kepala
desa yang berbicara dengan warganya. "Saya akan mempertimbangkan usulan
kalian. Tapi kalian harus membantu. Ajak teman-teman kalian untuk ikut
membersihkan sumur dan sungai. Libatkan karang taruna. Libatkan pemuda-pemuda
desa. Kalian kan sudah remaja, harus mulai aktif dalam kegiatan sosial. Jangan
hanya sibuk dengan sekolah dan main-main."
"Kami siap, Pak!" kata Raka dengan semangat,
melompat maju dengan antusiasme yang khas. Tangannya terangkat seperti anak SD
yang ingin ditunjuk guru. "Saya sudah bicara dengan bapak. Bapak siap
menyumbang pecel untuk acara bersih-bersih nanti. Katanya, kerja bakti tanpa
makan tidak afdol. Perut kenyang, semangat kerja."
Pak Iwan tertawa. Tawa yang keluar dari perutnya, tawa yang
membuat seluruh ruangan terasa lebih ringan, tawa yang sudah lama tidak ia
rasakan karena kesibukan dan tekanan pekerjaan. "Kamu ini, Ra, sama persis
seperti Bapakmu. Dulu Bapakmu juga selalu bawa pecel ke setiap acara desa.
Katanya, pecel adalah sumber semangat. Kalau perut kenyang, apapun bisa
dikerjakan."
"Bapak saya bilang, Pak Kades, orang yang bekerja
dengan perut lapar hasilnya nggak maksimal. Otak nggak bisa fokus, badan cepat
lelah, dan yang paling parah, mudah marah. Makanya beliau selalu menyediakan
pecel gratis untuk setiap acara kerja bakti. Biar warganya kenyang, biar
kerjanya maksimal, biar desanya maju."
Pak Iwan tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagus. Saya akan bicarakan dengan Pak Eko dan Bu Yuni untuk menganggarkan
dana sedikit. Untuk peralatan bersih-bersih, seperti cangkul, arit, sapu,
karung sampah. Juga untuk konsumsi. Mungkin kita bisa beli nasi kotak untuk
semua peserta. Tapi kalau Bapakmu sudah menyumbang pecel, kita tidak perlu beli
banyak. Cukup nasi putih dan lauk sederhana."
"Bapak saya juga bisa bantu nyariin kayu bakar, Pak.
Kata beliau, masak pecel pake kompor gas nggak enak. Harus pake kayu bakar biar
aromanya keluar. Bapak saya tahu persis di mana ada pohon-pohon kering yang
bisa ditebang untuk kayu bakar. Nggak perlu beli."
"Kamu ini, Ra, kalau urusan pecel memang ahlinya. Tapi
ingat, jangan sampai menebang pohon yang masih hidup. Itu juga bagian dari
menjaga keseimbangan. Bapakmu pasti tahu itu."
"Tentu, Pak. Bapak saya orangnya paling sayang pohon.
Katanya, pohon itu paru-paru desa. Kalau pohon ditebang sembarangan, desa ini
akan panas, air akan susah, dan yang paling parah, pecel jadi nggak enak karena
kacangnya nggak subur."
Pak Iwan tertawa lagi. "Dasar anak pecel. Segala
sesuatu dihubungkan dengan pecel. Tapi kamu benar, Ra. Menjaga pohon sama
pentingnya dengan menjaga sumber air. Semua itu bagian dari keseimbangan."
Pertemuan itu berlangsung lebih lama dari yang mereka kira.
Pak Iwan tidak hanya mendengarkan usulan mereka, tetapi juga memberikan
masukan, mengkritisi poin-poin yang kurang jelas, menambahkan ide-ide yang
mungkin bisa memperkuat usulan mereka. Camelia mencatat semua dengan rapi di
buku catatannya, sesekali bertanya untuk memastikan ia tidak melewatkan detail
penting. Raka menyelipkan lelucon-lelucon di sela-sela diskusi, membuat suasana
tetap santai dan menyenangkan. Amat sesekali memberikan pandangan-pandangannya
yang dalam, yang membuat Pak Iwan terkesan dengan kedewasaan berpikir anak itu.
Ketika mereka pamit pulang, matahari sudah mulai condong ke
barat, cahayanya berubah dari putih menjadi jingga keemasan. Di ruang tunggu
balai desa, beberapa warga masih duduk menunggu giliran, ada yang mengantuk,
ada yang mengobrol santai. Pak Karto, penjaga kantor, sedang menyapu lantai
yang mulai kotor karena jejak kaki seharian.
"Pak Kades," kata Camelia sebelum berbalik,
"terima kasih sudah mau mendengarkan kami. Kami akan siapkan proposal yang
lebih detail. Kami akan libatkan teman-teman di karang taruna. Kami akan
pastikan acara bersih-bersih ini berjalan lancar."
Pak Iwan mengangguk, tersenyum. "Bagus. Saya tunggu.
Dan Camelia, jangan lupa belajar juga. Nilai kamu jangan sampai turun karena
sibuk urusan desa. Kamu kan salah satu siswa terpintar di SMP. Jangan sampai
mengecewakan guru-gurumu."
"Tidak, Pak. Saya tetap belajar. Proposal ini juga
bagian dari belajar. Sejarah desa, administrasi, perencanaan... semua itu
pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah."
"Benar. Pengalaman adalah guru terbaik. Sekarang,
pulanglah. Sebentar lagi magrib. Ibu kalian pasti sudah menunggu."
Mereka bertiga berjalan keluar dari balai desa dengan
langkah yang ringan, dengan hati yang gembira, dengan tekad yang semakin bulat.
Di luar, langit mulai berubah warna dari jingga menjadi ungu, dan
bintang-bintang pertama mulai muncul di ufuk timur. Kabut tipis mulai merayap
turun dari lereng-lereng bukit, menyelimuti desa dengan selimut putih yang
dingin dan lembab. Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri megah, dengan
kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan penjaganya
yang setia menunggu.
"Kita mulai besok," kata Camelia, membuka buku
catatannya dan membaca ulang daftar yang harus mereka lakukan. "Aku akan
buat proposal resmi untuk Pak Iwan. Raka, kamu koordinasi dengan bapakmu untuk
konsumsi. Amat, kamu bicara dengan Mbah Ratih, minta beliau untuk memimpin doa
dan ritual di sumur tua setelah acara bersih-bersih."
"Setuju," kata Amat.
"Setuju banget," tambah Raka. "Tapi satu
syarat."
"Syarat apa?" tanya Camelia, sudah menduga
jawabannya.
"Jangan lupa makan. Acara bersih-bersih itu butuh tenaga.
Orang yang kelaparan gampang stres. Orang yang stres gampang marah. Orang yang
marah gampang bertengkar. Kita tidak mau acara bersih-bersih berubah jadi acara
adu mulut, kan? Jadi, sebelum mulai, kita harus makan dulu. Aku siapkan pecel
untuk semua peserta."
Camelia tertawa. "Kamu ini, Ra, semua ada
pecelnya."
"Ya iya lah. Pecel kan sumber kehidupan. Tanpa pecel,
tidak ada semangat. Tanpa semangat, tidak ada kerja bakti. Tanpa kerja bakti,
sumur tua tetap kotor. Tanpa sumur tua bersih, keseimbangan terganggu. Jadi,
pecel adalah kunci dari semuanya. Setuju?"
"Setuju!" kata Amat dan Camelia bersamaan.
Mereka bertiga tertawa bersama, berjalan menyusuri jalan
setapak yang mulai gelap, menuju rumah masing-masing. Tawa mereka bergema di
antara pepohonan, terbawa angin sore yang dingin, menyebar ke seluruh penjuru
desa. Tawa yang menjadi pengingat bahwa di tengah semua keseriusan dan tanggung
jawab, mereka masih bisa tertawa, masih bisa menjadi anak-anak, masih bisa
menikmati hal-hal sederhana seperti pecel dan persahabatan.
Di kantor desa, Pak Iwan berdiri di jendela ruang kerjanya,
menatap kepergian ketiga anak itu. Di tangannya, ia memegang proposal sederhana
yang ditulis oleh Camelia, proposal tentang pelestarian sumur tua dan sungai.
Ia tersenyum. Ada harapan baru yang tumbuh di hatinya, harapan bahwa generasi
muda desa ini tidak akan melupakan leluhur, tidak akan melupakan sejarah, tidak
akan melupakan keseimbangan yang harus dijaga. Mungkin, dengan anak-anak ini,
desa Awan Biru akan selamat. Mungkin, dengan anak-anak ini, keseimbangan yang
mulai retak bisa diperbaiki. Mungkin, dengan anak-anak ini, masa depan desa ini
akan lebih baik.
Ia menutup jendela, kembali ke mejanya, dan mulai menulis
surat kepada kecamatan tentang rencana kerja bakti bersih desa yang akan
dilaksanakan pekan depan. Di dalam surat itu, ia menyebutkan nama-nama yang
akan terlibat: perangkat desa, karang taruna, pemuda-pemudi desa, dan tiga anak
SMP yang menjadi penggagas utama: Amat Junior, Raka, dan Camelia.
Langit Awan Biru di atas mereka tetap biru, meskipun malam
mulai datang. Biru pucat yang tenang, seperti janji bahwa apa pun yang terjadi,
desa ini akan tetap ada, akan terus dijaga, akan terus hidup. Dan di dalam hati
tiga anak yang berjalan pulang di bawah langit itu, ada keyakinan yang sama:
mereka tidak akan menyerah. Mereka akan menjaga desa ini. Mereka akan menepati
janji yang mereka buat tiga tahun lalu di puncak Bukit Pangasih.
BAB 16: Festival Desa yang Berubah Aneh
Festival Desa Awan Biru adalah acara tahunan yang selalu
dinanti-nantikan oleh seluruh warga, dari anak-anak yang masih berlarian di
sawah hingga kakek-nenek yang sudah duduk di teras rumah sambil menyesap kopi
dan merokok kretek. Biasanya diadakan pada bulan Agustus, bertepatan dengan
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-17, festival ini menjadi ajang bagi
warga untuk berkumpul, melepaskan penat setelah berbulan-bulan bekerja di
sawah, bersenang-senang tanpa memikirkan harga cabai yang naik atau musim
kemarau yang berkepanjangan, dan yang terpenting, melestarikan budaya yang
telah diwariskan oleh leluhur dari generasi ke generasi. Ada berbagai macam
lomba yang selalu memeriahkan festival: lomba balap karung yang membuat
anak-anak terjatuh berguling-guling di tanah, lomba panjat pinang yang menjadi
tontonan paling seru karena pohon pinang yang dilumuri lumpur dan minyak
membuat para peserta tergelincir dan jatuh dengan gaya yang lucu, lomba makan
kerupuk yang membuat wajah-wajah penuh minyak dan remah-remah kerupuk menempel
di hidung dan dagu, serta berbagai lomba tradisional lainnya yang sudah menjadi
bagian tak terpisahkan dari kehidupan desa.
Selain lomba, festival juga dimeriahkan oleh pentas seni
yang menampilkan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang kondang yang
didatangkan dari kecamatan, tari-tarian yang dibawakan oleh anak-anak dan
remaja desa dengan kostum warna-warni yang mereka buat sendiri berbulan-bulan
sebelumnya, musik tradisional seperti gamelan dan angklung yang dimainkan oleh
para pemuda dengan semangat yang membara meskipun kadang-kadang nadanya
meleset, dan yang paling ditunggu-tunggu, pertunjukan kuda lumping yang konon
memiliki kekuatan magis yang bisa menolak bala dan membawa keberkahan bagi
desa.
Tahun ini, persiapan festival lebih meriah dari biasanya.
Pak Iwan, kepala desa yang sudah dua periode memimpin Awan Biru, memiliki visi
besar untuk desanya. Ia ingin menjadikan festival tahunan ini sebagai ajang
promosi desa, untuk menarik wisatawan dari kecamatan tetangga, bahkan mungkin
dari kabupaten. Ia membayangkan suatu hari nanti, Desa Awan Biru akan dikenal
bukan hanya sebagai desa yang diselimuti kabut dan penuh misteri, tetapi juga
sebagai desa wisata budaya yang menawarkan pengalaman autentik tentang
kehidupan pedesaan Jawa yang masih asli, belum tersentuh oleh modernisasi yang
kadang-kadang justru menghilangkan akar budaya.
"Ayo, Pak Eko," kata Pak Iwan dengan semangat
yang membara, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru diberi mainan
baru, tangannya bergerak-gerak di udara menggambarkan panggung megah yang ia bayangkan.
"Tahun ini kita buat festival yang lebih besar. Jangan tanggung-tanggung.
Saya mau desa ini dikenal. Saya mau orang-orang dari kecamatan, dari kabupaten,
bahkan dari provinsi datang ke sini. Saya mau mereka melihat bahwa Awan Biru
bukan hanya desa terpencil di lereng gunung. Ini desa dengan budaya yang kaya,
dengan tradisi yang masih hidup, dengan masyarakat yang ramah dan gotong
royong."
Pak Eko yang duduk di kursi seberang meja Pak Iwan, dengan
buku catatan di tangannya seperti biasa, mengangguk-angguk sambil mencatat. Ia
adalah pria yang paling rasional di balai desa, yang selalu menghitung untung
rugi sebelum memutuskan sesuatu. "Pak Kades, anggaran kita terbatas. Tahun
lalu kita habis sekitar lima belas juta untuk festival. Kalau mau lebih besar,
kita perlu tambahan setidaknya sepuluh juta. Itu belum termasuk dana tak
terduga."
"Jangan khawatir, Pak Eko. Saya sudah bicara dengan
Pak Didit dari BPD. Mereka setuju untuk mengalokasikan dana desa lebih besar
tahun ini. Juga, beberapa pengusaha di desa kita sudah berjanji untuk
memberikan sumbangan. Pak Santoso, Bapaknya Guntur itu, katanya mau menyumbang
lima juta. Bu Yati dari warung pecel juga mau bantu konsumsi. Kita juga bisa
minta sumbangan dari warga. Tidak perlu besar-besar, yang penting partisipasi."
Pak Eko mencatat semua itu dengan rapi, meskipun di dalam
hatinya ia masih ragu apakah anggaran yang tersedia akan cukup. Tapi ia tidak
ingin mematahkan semangat Pak Iwan. "Baik, Pak Kades. Saya akan hitung
lagi. Tapi kita harus mulai persiapan dari sekarang. Hanya tiga minggu
lagi."
"Tiga minggu cukup. Ayo, kita libatkan semua. Karang
taruna, PKK, perangkat desa. Saya ingin semua warga merasa memiliki festival
ini."
Amat, Raka, dan Camelia dilibatkan dalam persiapan
festival. Sebagai anggota karang taruna desa, mereka bergabung sejak kelas 2
SMP, ketika Mas Bowo, ketua karang taruna yang sudah menjabat selama lima
tahun, mengajak mereka untuk ikut aktif dalam kegiatan kepemudaan, mereka
diminta membantu berbagai hal, mulai dari dekorasi yang membutuhkan kreativitas
dan ketelitian, persiapan tempat yang membutuhkan tenaga fisik, hingga menjadi
panitia lomba yang membutuhkan koordinasi dan kesabaran. Mereka juga mengajak
teman-teman seusia mereka untuk ikut serta, membentuk tim kecil yang solid yang
kemudian dikenal sebagai "garda terdepan" karang taruna Awan Biru:
Hermansyah, Guntur, dan Amita , Enjelin.
Hermansyah adalah anak Pak Sugeng, yang terkenal cerewet
dan suka bercerita tentang masa lalunya. Hermansyah sangat berbeda dengan
ayahnya. Ia adalah pemuda yang pendiam dan pemikir, lebih suka menghabiskan
waktu di bengkel kecil di belakang rumahnya daripada berkumpul dengan
teman-teman, lebih suka membaca buku tentang elektronik dan mekanik daripada
bermain bola atau voli seperti kebanyakan pemuda desa. Tubuhnya kurus, dengan
kacamata tebal yang membuat matanya tampak lebih besar dari aslinya, dengan
rambut yang selalu acak-acakan karena ia lupa menyisirnya ketika sedang asyik
merakit sesuatu. Ia memiliki ketertarikan pada hal-hal teknis dan mekanik,
sering dimintai tolong oleh warga untuk memperbaiki peralatan elektronik yang
rusak: televisi yang gambarnya berkedip-kedip, kipas angin yang tidak mau
berputar, setrika yang terlalu panas, bahkan kadang-kadang mesin pompa air yang
mati total. Keahliannya sangat dibutuhkan dalam persiapan festival, terutama
untuk urusan instalasi listrik untuk panggung, sound system yang harus
terdengar jelas hingga ke ujung desa, dan dekorasi lampu yang harus menyala
indah di malam hari.
Guntur adalah kebalikan dari Hermansyah. Ia adalah pemuda
yang energik, selalu bergerak, selalu bersemangat, hampir tidak pernah diam.
Suaranya lantang, tawanya menggelegar, dan kehadirannya selalu terasa di mana
pun ia berada. Ia adalah kapten tim voli desa yang sering mewakili Awan Biru
dalam turnamen antar-desa, dan ia sangat populer di kalangan remaja, terutama
remaja putri, karena posturnya yang atletis, kulitnya yang sawo matang, dan
senyumnya yang selalu terpampang di wajahnya. Ia adalah anak Pak Santoso,
petani sukses yang memiliki lahan sawah terluas di desa. Meskipun ayahnya kaya,
Guntur tidak pernah sombong. Ia justru dikenal sebagai pemuda yang rendah hati,
suka membantu tanpa pamrih, dan selalu bersedia berbagi dengan teman-temannya.
Kekuatan fisik dan energinya sangat membantu dalam pekerjaan yang membutuhkan
tenaga, seperti membangun panggung dari bambu dan kayu, memasang tenda-tenda
besar yang berat dan rumit, mengangkat meja dan kursi yang jumlahnya puluhan,
dan membersihkan lapangan desa dari ilalang dan sampah yang menumpuk.
Amita Enjelin adalah satu-satunya perempuan di antara
mereka selain Camelia. Ia adalah anak dari Pak Didit, Ketua BPD (Badan
Permusyawaratan Desa), seorang pria yang tegas dan disegani di desa. Sejak
kecil, Amita sudah menunjukkan bakat seni yang luar biasa. Ia pandai menari, tarian
Jawa klasik yang membutuhkan kelenturan dan kehalusan gerak, pandai menyanyi
dengan suara merdunya yang bisa membuat siapa pun yang mendengarnya terpukau,
dan pandai melukis dengan kuas yang ia gerakkan dengan penuh perasaan di atas
kanvas. Ia juga memiliki suara yang merdu dan jelas, sering menjadi pembawa
acara dalam berbagai acara desa, dari pernikahan hingga peringatan hari besar
nasional. Dengan rambut panjang hitam yang selalu diikat rapi dalam ekor kuda,
dengan senyum yang manis dan ramah, dengan pakaian yang sederhana tetapi selalu
rapi, Amita adalah gadis yang disukai banyak orang. Ia tidak hanya cantik,
tetapi juga baik hati, pintar, dan tidak pernah sombong meskipun banyak yang
mengaguminya.
Mereka berlima, bersama dengan anggota karang taruna
lainnya yang jumlahnya sekitar dua puluh orang, bekerja sama mempersiapkan
festival. Camelia, dengan kemampuan organisasinya yang luar biasa, ditunjuk
sebagai koordinator logistik. Ia bertugas mengatur semua kebutuhan perlengkapan,
dari yang terbesar seperti panggung dan tenda hingga yang terkecil seperti paku
dan tali rapia. Ia membuat daftar inventaris yang sangat detail, mencatat
setiap barang yang masuk dan keluar, memastikan tidak ada yang terlewat, tidak
ada yang rusak, tidak ada yang hilang. Setiap sore, setelah pulang sekolah, ia
akan duduk di balai desa bersama Amat dan Raka, memeriksa daftar perlengkapan,
mengecek barang-barang yang sudah datang, dan membuat catatan tentang apa yang
masih kurang.
Amat, dengan kemampuannya menulis dan mendokumentasikan,
membantu publikasi festival. Ia membuat poster-poster sederhana dengan spidol
warna-warni di kertas karton yang dibeli di toko alat tulis di kecamatan.
Poster-poster itu ia tempel di papan pengumuman desa, di dinding balai desa, di
pohon-pohon beringin di tepi jalan, di warung-warung kopi, di setiap sudut desa
yang mungkin dilewati oleh warga. Ia menulis dengan rapi: "Festival Desa
Awan Biru, 17 Agustus, meriah, meriah, meriah!" dengan gambar-gambar
sederhana wayang, tarian, dan pecel yang ia gambar dengan tangan yang tidak
terlalu terampil tetapi penuh semangat. Ia juga membantu Camelia
mendokumentasikan proses persiapan, mencatat setiap detail, setiap kendala,
setiap solusi, karena ia merasa bahwa ini adalah bagian dari sejarah desa yang
harus dicatat, yang harus diingat, yang harus diwariskan.
Raka, tentu saja, menjadi koordinator konsumsi. Tidak ada
yang lebih cocok untuk posisi ini selain anak dari pemilik warung pecel
legendaris yang sudah beroperasi sejak zaman Mbah Kinah. Ia memanfaatkan warung
orang tuanya sebagai basis dapur umum, tempat di mana semua makanan untuk para
panitia dan peserta festival disiapkan. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah,
ia sudah membantu Bapaknya menyiapkan bahan-bahan: menggoreng kerupuk hingga
renyah, mengulek bumbu pecel dengan cobek batu tua yang sudah digunakan sejak
zaman Mbah Kinah, memotong sayuran segar yang baru dipetik dari kebun tetangga.
Setelah pulang sekolah, ia akan langsung ke warung, mengambil pesanan, dan
mengantarkannya ke balai desa atau ke lapangan tempat para panitia sedang
bekerja. Ia juga menjadi "petugas penghibur" yang selalu siap
melontarkan lelucon di tengah kepenatan persiapan. Ketika Camelia mulai stres
karena perlengkapan yang tidak kunjung datang, ketika Hermansyah frustrasi
karena kabel yang ia pasang tidak mau berfungsi, ketika Guntur kelelahan karena
harus mengangkat panggung sendirian karena teman-temannya tidak masuk, ketika
Amita pusing mengatur jadwal acara yang terus berubah, Raka akan muncul dengan
senyum lebar, dengan besek pecel di tangan, dengan lelucon yang kadang-kadang
tidak masuk akal tetapi selalu membuat mereka tertawa.
"Cam, jangan stres dulu," kata Raka suatu sore
ketika Camelia hampir menangis karena tenda yang dipesan dari kecamatan belum
juga datang. "Tenda itu pasti datang. Mungkin kena macet di jalan. Atau
mungkin sopirnya tersesat. Atau mungkin truknya mogok. Yang penting kita sudah
pesan, pasti sampai. Sambil nunggu, makan pecel dulu. Perut kenyang, hati
tenang. Nanti kalau tenda datang, kita pasang dengan semangat baru."
"Raka, ini bukan soal perut kenyang atau tidak. Ini
soal waktu. Besok sudah harus dipasang, kalau malam ini belum datang, kita akan
ketinggalan jadwal."
"Tenang, Cam. Aku sudah bicara dengan Pak Anto. Beliau
besok pagi berangkat ke kecamatan, bisa mampir ke toko tenda untuk mengecek
pesanan kita. Kalau belum dikirim, beliau bisa bawa sekaligus dengan truknya.
Pak Anto kan orangnya baik, pasti mau bantu."
Camelia menghela napas, tetapi ia tersenyum. "Kamu
ini, Ra, semua ada solusinya."
"Ya iya lah. Otak ini bukan cuma buat mikirin pecel.
Kadang-kadang juga buat mikirin solusi."
Hermansyah, yang sedang sibuk merangkai kabel untuk
instalasi listrik panggung, tiba-tiba mengangkat kepalanya. Wajahnya yang
biasanya tenang dan tidak mudah terpengaruh itu tampak sedikit tegang, ada
kerutan di dahinya yang tidak biasanya. "Rak, tolong lihat ini.
Lampu-lampu ini aneh."
Raka dan yang lain mendekat. Hermansyah menunjukkan
instalasi lampu yang sudah ia pasang di sekeliling panggung. Lampu-lampu itu,
yang tadinya menyala terang, tiba-tiba mati. Kemudian menyala lagi. Kemudian
mati lagi. Berulang-ulang, seperti orang yang sedang berkedip. Hermansyah sudah
memeriksa semua kabel, semua sakelar, semua stop kontak. Tidak ada yang salah.
Semua terhubung dengan benar. Tapi lampu-lampu itu tetap berkedip-kedip, tidak
mau diam.
"Aneh," kata Hermansyah, suaranya pelan, hampir
berbisik. "Aku sudah periksa semuanya. Tidak ada hubungan pendek. Tidak
ada kabel yang putus. Tidak ada yang salah dengan instalasi. Tapi lampu-lampu
ini mati menyala sendiri. Seperti ada yang memainkannya."
Raka mengamati lampu-lampu itu. Wajahnya yang biasanya
ceria menjadi serius. "Man, kamu percaya sama hal-hal gaib?"
Hermansyah mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Aku lebih
suka hal-hal yang bisa dijelaskan dengan logika. Tapi ini... ini tidak
logis."
Amat yang sejak tadi diam, merasakan sesuatu. Liontin batu
biru di lehernya terasa hangat, lebih hangat dari biasanya. Ia mendekati
panggung, berdiri di samping Hermansyah, dan menatap lampu-lampu yang
berkedip-kedip itu. Ia merasakan getaran di udara, getaran yang sama seperti
yang ia rasakan di sumur tua, di Hutan Larangan, ketika penjaga bayangan muncul
di pinggir jalan malam itu. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang
mencoba berkomunikasi. Ada sesuatu yang gelisah.
"Mat, kamu tahu sesuatu?" tanya Camelia, melihat
ekspresi wajah Amat yang berubah.
Amat tidak menjawab segera. Ia memejamkan mata, mencoba
mendengarkan. Di dalam kepalanya, suara-suara mulai terdengar. Bukan suara yang
jelas, bukan suara yang bisa ia pahami. Hanya bisikan, gumaman, seperti orang
yang berbicara dari jarak yang sangat jauh. Tapi ia bisa merasakan emosi di
balik bisikan itu. Kegelisahan. Ketakutan. Peringatan.
"Ada yang tidak beres," kata Amat akhirnya,
membuka matanya. "Bukan dengan lampunya. Bukan dengan instalasi listrik.
Tapi dengan... keseimbangan. Sesuatu terganggu. Sesuatu mencoba memberitahu
kita."
Hermansyah menatap Amat dengan tatapan aneh. Ia sudah
mendengar cerita tentang Amat, tentang matanya yang biru, tentang
keanehan-keanehan yang menyertai kelahirannya. Ia tidak pernah terlalu percaya
pada hal-hal seperti itu. Tapi sekarang, dengan lampu-lampu yang berkedip-kedip
di depannya tanpa sebab yang jelas, ia mulai mempertanyakan keyakinannya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Guntur yang
sejak tadi ikut memperhatikan. Suaranya yang biasanya lantang itu menjadi
pelan, seperti takut mengganggu sesuatu.
"Kita lanjutkan persiapan," kata Amat. "Tapi
kita harus hati-hati. Kita harus perhatikan tanda-tanda. Dan kita harus
bersiap."
Beberapa hari menjelang festival, kejadian-kejadian aneh
mulai bermunculan di berbagai penjuru desa. Tidak seperti sebelumnya yang hanya
terjadi di malam hari, ketika batas antara dunia manusia dan dunia lain menjadi
paling tipis, ketika kabut lebih tebal dan angin lebih dingin, kini keanehan
mulai terjadi di siang hari, di bawah sinar matahari yang terik, di
tempat-tempat yang ramai oleh aktivitas warga, seolah-olah sesuatu sedang
berusaha menunjukkan diri, seolah-olah sesuatu tidak mau lagi menunggu sampai
malam, seolah-olah sesuatu sedang panik.
Kejadian pertama yang paling mengganggu adalah lampu-lampu
yang dipasang Hermansyah untuk dekorasi panggung. Tidak hanya di panggung
utama, tetapi juga di tenda-tenda, di sekitar lapangan, di sepanjang jalan
menuju balai desa. Lampu-lampu itu menyala dan mati tanpa sebab, kadang-kadang
berkedip cepat seperti lampu disko, kadang-kadang mati total selama berjam-jam
baru menyala lagi. Hermansyah sudah memeriksa semuanya berkali-kali. Ia
mengganti kabel, mengganti sakelar, mengganti stop kontak, bahkan mengganti
lampu-lampu itu dengan yang baru. Tapi tetap sama. Lampu-lampu itu tetap
berkedip-kedip, tidak mau diam, seolah-olah ada kekuatan yang mengendalikannya
dari tempat yang tidak bisa ia jangkau.
"Aku sudah menyerah," kata Hermansyah pada suatu
sore, duduk di tangga panggung dengan wajah lelah. Kacamatanya berkabut karena
keringat, rambutnya lebih acak-acakan dari biasanya, bajunya basah oleh
keringat. "Ini bukan masalah teknis. Aku yakin. Ini sesuatu yang lain.
Sesuatu yang tidak bisa aku perbaiki dengan obeng dan tang."
Kejadian kedua terjadi di dapur umum yang didirikan di
dekat balai desa. Bu Yati, ibu Raka, yang bertanggung jawab menyiapkan konsumsi
untuk para panitia, mengeluh bahwa makanan yang mereka simpan di lemari es
tiba-tiba basi meskipun lemari esnya masih berfungsi normal. Awalnya ia mengira
itu karena suhu yang terlalu panas, atau karena lemari esnya terlalu penuh,
atau karena ada masalah dengan listrik. Tapi setelah memeriksa semuanya, ia
tidak menemukan penyebabnya. Lemari es masih dingin, masih berfungsi dengan
baik, tapi makanan di dalamnya, sayuran segar, lauk-pauk yang baru dimasak, bahkan
kerupuk yang sudah digoreng, semuanya basi, berbau tidak sedap, tidak layak
makan.
"Pecel yang aku buat kemarin," kata Bu Yati
kepada Raka dengan wajah sedih, "rasanya berubah. Aneh. Aku sudah
menggunakan resep yang sama seperti biasa. Kacangnya masih baru, sayurnya
segar, bumbunya pas. Tapi rasanya... aneh. Seperti ada sesuatu yang tidak
beres. Pahit, sedikit. Tidak enak."
Raka mencicipi pecel yang dimaksud ibunya. Wajahnya yang
biasanya ceria berubah muram. "Ibu benar. Ini tidak seperti pecel biasa.
Ada rasa aneh. Seperti... seperti tanah. Atau seperti abu. Aku tidak tahu.
Aneh."
Kejadian ketiga, yang paling mengganggu dan paling membuat
warga desa mulai merasa tidak nyaman, adalah suara-suara aneh yang mulai
terdengar di sekitar balai desa pada malam hari. Bukan hanya warga biasa yang
mendengarnya, tetapi juga perangkat desa yang sedang lembur mempersiapkan
festival. Pak Eko, yang biasanya paling rasional dan paling tidak mudah percaya
pada hal-hal gaib, mengaku mendengar suara seperti orang menangis dari arah
sumur tua. Tangisan itu pelan, sayup-sayup, seperti suara yang datang dari
jarak yang sangat jauh, tetapi jelas, sangat jelas, dan membuat bulu kuduknya
berdiri.
Bu Lulu, yang biasanya ceria dan selalu tersenyum, menjadi
ketakutan. Ia mengaku mendengar suara seperti orang membaca doa dalam bahasa
yang tidak ia kenali, suara yang keluar dari dalam tanah, dari bawah balai
desa, dari tempat yang tidak bisa ia tunjuk tetapi bisa ia rasakan. Ia meminta
izin pulang lebih awal, dan ketika ia pulang, ia berjalan cepat, hampir
berlari, tidak berani menoleh ke belakang.
Pak Edi, Kaur Kesra yang paling sering berkeliling desa dan
paling akrab dengan warga, mengaku melihat bayangan-bayangan bergerak di
pinggir lapangan, di tempat yang tidak ada siapa-siapa. Bayangan itu bergerak
cepat, melesat dari satu sisi ke sisi lain, lalu menghilang. Ia mengira itu
hanya kelelahan, hanya matanya yang mulai kabur karena terlalu lama bekerja.
Tapi ketika ia melihat lagi, bayangan itu masih ada, masih bergerak, masih
melesat, tidak mau berhenti.
Pak Iwan, yang mendengar laporan-laporan ini dari perangkat
desanya, mulai khawatir. Bukan hanya karena kejadian-kejadian aneh yang semakin
sering dan semakin intens, tetapi juga karena festival yang sudah direncanakan
dengan matang, yang sudah menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan biaya,
terancam gagal jika kepanikan menyebar di antara warga. Ia memanggil Pak
Sugeng, Pak Karto, dan perangkat desa lainnya untuk membahas situasi, mencari
solusi, dan menentukan langkah apa yang harus diambil.
Rapat darurat digelar di ruang kerja Pak Iwan, pada malam
hari ketika kantor desa sudah sunyi dan hanya diterangi oleh lampu-lampu yang
masih berkedip-kedip tanpa sebab. Pak Iwan duduk di kursinya, di balik meja
kayu jati yang besar, dengan wajah yang serius. Di sekeliling meja, duduk para
perangkat desa: Bu Yuni dengan kacamatanya yang tebal, Pak Eko dengan buku
catatannya, Bu Lulu yang masih tampak ketakutan, Bu Endang yang berusaha
tenang, Pak Edi yang wajahnya lelah, Pak Sugeng yang biasanya cerewet menjadi
diam. Pak Karto, yang sudah pensiun tetapi masih sering dimintai pendapat
karena pengalamannya, duduk di kursi paling ujung, dengan kopi hitam pekat di
tangannya.
"Saya tidak ingin desa ini panik," kata Pak Iwan,
suaranya tegas, seperti biasa ketika ia sedang memimpin rapat. "Tapi
kejadian-kejadian ini tidak bisa diabaikan. Lampu berkedip, makanan basi,
suara-suara aneh, bayangan-bayangan. Ada yang tahu apa yang sebenarnya
terjadi?"
Keheningan. Para perangkat desa saling berpandangan, tidak
ada yang berani bicara. Mereka semua merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak
beres, tetapi tidak ada yang bisa menjelaskan apa. Akhirnya Pak Kartono yang
angkat bicara. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja, menghela napas
panjang, dan mulai berbicara dengan suara yang berat, suara yang sudah tua
tetapi masih jelas, masih penuh dengan wibawa.
"Pak Kades, maaf saya bicara terus terang. Saya sudah
puluhan tahun tinggal di desa ini, sejak sebelum Bapak lahir. Saya sudah
melihat banyak hal. Saya tahu bahwa desa ini bukan desa biasa. Ada hal-hal di
sini yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Dan kejadian-kejadian ini,
menurut saya, ada hubungannya dengan hal-hal yang dulu dijaga oleh leluhur
kita. Mungkin ada yang tidak beres dengan keseimbangan desa. Mungkin
penjaga-penjaga itu sedang gelisah. Mungkin mereka sedang mencoba memberi tahu
kita sesuatu."
"Maksud Bapak?" tanya Pak Iwan, suaranya lebih
pelan, lebih hati-hati.
Pak Kartono menatap Pak Iwan dengan mata yang sudah tua
tetapi masih tajam, mata yang telah melihat banyak hal selama puluhan tahun
hidup di desa ini. "Dulu, sebelum saya pensiun, saya sering melihat
anak-anak muda, Amat, Raka, Camelia, sering ke sumur tua. Mereka juga sering ke
perpustakaan desa, membaca buku-buku lama. Saya tidak tahu apa yang mereka
cari. Tapi saya rasa mereka tahu lebih banyak tentang ini daripada kita.
Mungkin mereka bisa memberi penjelasan."
Pak Iwan mengerutkan dahi. "Amat? Anak Sumirah itu?
Yang lahir di tengah badai dulu?"
"Ya, Pak Kades. Anak yang lahir di bawah pohon
beringin, malam ketika kabut berputar-putar dan hujan turun dari segala arah.
Anak yang matanya biru seperti langit Awan Biru. Anak yang, konon, adalah
keturunan dari garis penjaga."
Pak Iwan terdiam. Ia ingat betul malam kelahiran Amat,
tujuh belas tahun yang lalu. Ia ingat kabut yang berputar-putar, hujan yang
aneh, lampu-lampu yang padam dan menyala sendiri, tangisan bayi yang bergema
dari gunung ke gunung. Ia ingat Mbah Karta, Mbah Jayeng, Mbah Ratih yang
berdiri di bawah pohon beringin dengan pakaian adat lengkap, melakukan ritual
yang sudah tidak pernah dilakukan selama puluhan tahun. Ia ingat kata-kata Mbah
Karta malam itu: "Inilah pertanda yang dinanti-nanti. Setelah tiga ratus
tahun, garis keturunan penjaga akhirnya lahir kembali di desa ini."
Sejak itu, ia selalu mengawasi Amat dari kejauhan. Ia
melihat anak itu tumbuh, melihat matanya yang biru itu, melihat
keanehan-keanehan yang menyertainya. Ia tidak pernah ikut campur, tidak pernah
bertanya, tidak pernah mencoba memahami. Tapi sekarang, dengan
kejadian-kejadian aneh yang semakin sering, dengan keseimbangan yang mulai
terganggu, ia merasa bahwa sudah saatnya ia bicara dengan Amat.
"Panggil Amat besok," kata Pak Iwan akhirnya,
suaranya tegas, tidak ada keraguan. "Saya ingin bicara dengannya. Juga
Raka dan Camelia. Saya rasa mereka tahu lebih banyak tentang ini daripada yang
kita kira. Dan mungkin, mereka bisa membantu.
BAB 17: Raka dan Kekacauan yang Mengundang Tawa
Di tengah meningkatnya ketegangan akibat kejadian-kejadian
aneh yang semakin sering dan semakin intens, lampu-lampu yang berkedip-kedip
tanpa sebab, makanan yang tiba-tiba basi di lemari es, suara-suara aneh yang
terdengar dari arah sumur tua pada malam hari, bayangan-bayangan yang bergerak
di pinggir lapangan, Raka tetap menjadi dirinya sendiri: sumber tawa yang tak
pernah kering, titik terang di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti desa,
pengingat bahwa hidup tidak selalu harus serius, bahwa di tengah semua misteri
dan ketakutan, masih ada ruang untuk tertawa, masih ada ruang untuk bercanda,
masih ada ruang untuk menikmati hal-hal sederhana seperti patung ayam jago dari
kayu yang dicat warna-warni.
Kehadirannya di tengah kesibukan persiapan festival menjadi
pelepas penat bagi semua orang yang terlibat. Ketika Camelia mulai stres karena
perlengkapan yang tidak kunjung datang, ketika Hermansyah frustrasi karena
instalasi listrik yang tidak mau berfungsi dengan benar, ketika Guntur
kelelahan karena harus mengangkat panggung sendirian, ketika Amita pusing
mengatur jadwal acara yang terus berubah karena kejadian-kejadian aneh yang
tidak terduga, Raka akan muncul dengan senyum lebar, dengan besek pecel di
tangan, dengan lelucon yang kadang-kadang tidak masuk akal tetapi selalu
berhasil membuat mereka tertawa, melepaskan ketegangan yang mengendap di pundak
dan dahi, mengingatkan mereka bahwa di balik semua keseriusan, mereka masih
bisa menjadi anak muda yang bersenang-senang.
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan
cahayanya berubah dari putih menjadi jingga keemasan, ketika para pekerja
sedang sibuk menyiapkan panggung utama di lapangan desa, Guntur dan beberapa
pemuda lainnya mengangkat balok-balok kayu yang berat, Hermansyah merangkai
kabel-kabel yang rumit di bawah panggung, Amita melatih para penari di sisi
lapangan dengan gerakan-gerakan yang lembut dan anggun, Camelia mengecek daftar
perlengkapan yang masih kurang, Raka tiba-tiba muncul dengan membawa sesuatu
yang sangat aneh. Ia datang dari arah warung pecel orang tuanya, berjalan
dengan langkah yang penuh percaya diri, seperti seorang pemenang yang akan
memamerkan trofi kemenangannya. Di tangannya, ia membawa sebuah patung ayam
jago dari kayu, patung yang dibuatnya sendiri dengan susah payah semalaman,
dengan cat warna-warni yang tidak karuan: merah di kepala, hijau di leher,
kuning di badan, biru di ekor, dan ungu di kaki. Kombinasi warna yang tidak
pernah ada di alam semesta, warna yang membuat mata silau melihatnya, warna
yang membuat orang yang melihatnya tidak tahu harus tertawa atau menangis.
"Untuk apa itu, Ra?" tanya Camelia, mengangkat
kepalanya dari daftar perlengkapan yang ia pegang. Matanya yang tadinya fokus
pada angka-angka dan barang-barang yang harus didata, kini tertuju pada patung
aneh di tangan Raka. Ekspresinya campuran antara heran dan geli, tidak tahu
harus marah karena Raka menyita waktunya di tengah kesibukan, atau tertawa
karena patung itu sangat lucu.
"Ini maskot festival kita!" kata Raka dengan
bangga, suaranya lantang, penuh semangat, seperti seorang seniman yang baru
saja menyelesaikan karya agungnya dan tidak sabar untuk dipuji. Ia mengangkat
patung itu tinggi-tinggi, memutarnya perlahan agar semua orang bisa melihat
dari berbagai sudut. "Namanya Jago Awan Biru. Dia akan menjadi ikon
festival tahun ini. Setiap festival kan punya maskot, kayak Asian Games punya
Bhin Bhin, Atung, dan Kaka. Olimpiade juga punya maskot, yang lucu-lucu itu.
Nah, ini maskot kita. Jago Awan Biru. Ayam jago yang gagah, yang akan membawa
keberuntungan bagi desa kita."
Guntur yang sedang mengangkat panggung bersama dua pemuda
lainnya, mendengar kata-kata Raka dan melihat patung itu. Ia tertawa
terbahak-bahak, suaranya yang lantang bergema di seluruh lapangan, membuat
beberapa burung di pohon beringin keperakan terbang berhamburan. Tawa itu
keluar dari perutnya, membuat ia harus meletakkan balok kayu yang sedang ia
angkat agar tidak jatuh karena ia tidak bisa berhenti tertawa. "Ra, itu
kayaknya bukan ayam jago, tapi lebih mirip bebek yang kecebur cat! Lihat itu,
kepalanya merah menyala, badannya kuning, ekornya biru. Bebek mana yang kayak
gitu? Ayam jago mana yang kayak gitu? Itu bukan ayam, itu bukan bebek, itu
monster!"
"Itu gaya seni abstrak, Gun!" Raka membela diri,
meskipun ia sendiri tidak bisa menahan tawa melihat reaksi Guntur. Ia
menepuk-nepuk patung itu dengan bangga, seolah-olah itu adalah karya seni
paling berharga di dunia. "Kamu nggak ngerti seni. Seni itu nggak harus
mirip dengan aslinya. Seni itu tentang ekspresi, tentang perasaan, tentang
jiwa. Ini adalah ekspresi jiwaku sebagai anak Awan Biru. Ayam jago ini
melambangkan semangat, keberanian, dan kegigihan warga desa kita. Warnanya yang
mencolok melambangkan semangat kita yang tidak pernah padam. Bentuknya yang...
unik... melambangkan bahwa kita semua unik, tidak ada yang sama, dan itu
indah."
Amita yang sedang melatih para penari di sisi lapangan,
mendekat untuk melihat patung itu. Ia adalah satu-satunya di antara mereka yang
benar-benar mengerti seni, yang tahu perbedaan antara gaya abstrak dan
asal-asalan. Ia mengamati patung itu dengan saksama, memutar kepalanya ke kiri
dan ke kanan, melihat dari berbagai sudut. Wajahnya berubah-ubah ekspresi: dari
heran, menjadi geli, menjadi serius, menjadi tersenyum. "Sebenarnya kalau
dibetulin sedikit, ini bisa bagus, Ra. Warnanya terlalu mencolok, tapi
bentuknya lumayan. Ada potensi di sini. Kamu buat sendiri? Pakai alat apa?"
"Iya, aku buat semalaman. Pakai pisau lipat dan
amplas. Kayunya dari sisa bengkelnya Hermansyah. Aku pikir sayang kalau
dibuang, mending dibuat sesuatu yang berguna." Raka mengelus patung itu
dengan bangga, seperti seorang ayah yang mengelus kepala anaknya. "Aku ukir
semalaman, sampai tangan aku lecet-lecet. Warnanya memang agak... mencolok.
Tapi itu sengaja. Biar kelihatan dari jauh. Biar orang yang lewat desa kita
langsung tahu, 'Oh, ini Desa Awan Biru, desa yang punya ayam jago
warna-warni!'"
Hermansyah yang sedang memeriksa instalasi listrik di bawah
panggung, mendengar namanya disebut. Ia merangkak keluar dari bawah panggung,
dengan wajah yang penuh debu dan rambut yang lebih acak-acakan dari biasanya.
"Itu kayu yang aku simpan untuk membuat rak buku, Ra! Kayu jati asli, aku
dapat dari bapak, katanya sisa pembangunan rumah. Aku simpan berbulan-bulan,
mau kubuat rak buku untuk koleksi bukuku. Itu kayu bagus, Ra. Jati tua. Sayang
kalau dibuat patung ayam."
"Ya udah, nanti aku ganti. Lagian rak buku mu belum
jadi-jadi juga. Kayunya kan cuma disimpan di bengkel, berdebu, nggak kepakai.
Mending aku buat sesuatu yang berguna. Rak buku kamu kapan mau jadi? Udah
berapa bulan? Setahun? Dua tahun? Aku aja yang nggak punya bengkel bisa bikin
patung semalaman. Kamu yang punya bengkel, punya alat lengkap, malah nggak
pernah jadi-jadi."
Hermansyah menggaruk kepalanya, tersenyum malu. "Iya
sih. Aku terlalu sibuk. Tapi rak buku itu tetap akan aku buat suatu hari nanti.
Nanti kalau aku punya waktu."
"Waktu itu harus dibuat, Men, bukan ditunggu. Nanti
kamu tua, rak buku masih belum jadi. Lebih baik sekarang. Aku bantu, kalau kamu
mau. Aku bisa bantu potong kayu, asal kamu yang ngukur. Aku nggak bisa ngukur,
nanti salah potong."
Mereka semua tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas, tawa
yang membuat ketegangan yang selama beberapa hari ini menyelimuti desa
seolah-olah mencair seketika. Di tengah lampu-lampu yang masih berkedip-kedip
tanpa sebab, di tengah makanan yang masih basi di lemari es, di tengah
suara-suara aneh yang masih terdengar dari arah sumur tua, di tengah
bayangan-bayangan yang masih bergerak di pinggir lapangan, tawa mereka bergema,
mengusir sisa-sisa kegelisahan yang masih mengendap di udara. Raka berhasil
melakukan apa yang paling ia kuasai: membuat orang tertawa, membuat mereka
melupakan sejenak ketakutan mereka, membuat mereka merasa bahwa semuanya akan
baik-baik saja.
Bidan Amelia adalah satu-satunya bidan desa yang bertugas
di puskesmas pembantu Desa Awan Biru, sebuah bangunan sederhana berukuran empat
kali enam meter yang terletak di pinggir jalan utama desa, tidak jauh dari
balai desa. Ia adalah seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh delapan
tahun, lulusan akademi kebidanan di kabupaten, yang baru ditempatkan di Awan
Biru sekitar satu tahun yang lalu. Ia menggantikan Mak Darmi, bidan desa
legendaris yang sudah membantu kelahiran ratusan bayi di desa ini selama lebih
dari tiga puluh tahun, yang tangannya yang kecil tetapi kuat itu telah menjadi
saksi bisu dari generasi demi generasi warga Awan Biru, yang kini sudah pensiun
dan tinggal di rumahnya di tengah desa, sesekali masih dimintai tolong oleh
warga yang lebih percaya pada pengalamannya daripada pendidikan formal bidan
baru.
Bidan Amelia adalah sosok yang profesional dan ramah. Ia
selalu datang tepat waktu setiap pagi, membuka puskesmas pukul tujuh, menyapu
lantai, membersihkan meja dan kursi, menata alat-alat kesehatan di rak,
menyiapkan obat-obatan yang mungkin dibutuhkan. Ia melayani warga dengan sabar,
mendengarkan keluhan mereka dengan seksama, memberikan penjelasan yang mudah
dimengerti, dan tidak pernah terlihat marah atau frustrasi meskipun
kadang-kadang warga datang dengan keluhan yang tidak masuk akal atau dengan
permintaan yang tidak bisa ia penuhi. Ia disukai oleh warga karena pelayanannya
yang baik dan sikapnya yang hangat, karena ia selalu tersenyum, selalu menyapa,
selalu mengingat nama setiap pasien yang datang. Namun ia juga dikenal sebagai
sosok yang sangat rasional, tidak mudah percaya pada hal-hal yang tidak bisa
dijelaskan secara medis. Ia adalah lulusan akademi kebidanan, ia percaya pada
ilmu pengetahuan, pada data, pada fakta, pada hal-hal yang bisa diukur dan
dibuktikan. Ketika warga datang dengan keluhan yang menurutnya tidak masuk
akal, ia akan menjelaskan dengan sabar, memberikan penjelasan ilmiah, dan jika
tidak ada penjelasan ilmiah, ia akan mengatakan bahwa ia tidak tahu, tetapi ia
tidak akan pernah mengatakan bahwa itu adalah hal gaib.
Suatu hari, ketika matahari sedang terik-teriknya dan udara
terasa panas meskipun desa ini berada di ketinggian, Bidan Amelia datang ke
balai desa untuk melaporkan sesuatu kepada Pak Iwan. Ia berjalan cepat dari
puskesmas, dengan tas kerjanya yang selalu ia bawa ke mana-mana, dengan wajah
yang sedikit tegang, berbeda dari biasanya yang selalu ceria. Di tengah
perjalanan, ia berpapasan dengan Raka yang sedang membawa besek berisi pecel
untuk para pekerja di lapangan. Raka berjalan dengan langkah santai, besek di
tangan kanan, sepeda onthel di tangan kiri, sesekali bersiul kecil menikmati
sore yang mulai sejuk.
"Selamat siang, Bidan," sapa Raka dengan ceria,
suaranya lantang, senyumnya lebar. Ia menghentikan langkahnya, meletakkan
sepeda onthelnya di pinggir jalan, dan menatap Bidan Amelia dengan rasa ingin
tahu. Wajah Bidan yang sedikit tegang itu membuatnya bertanya-tanya. Biasanya
Bidan Amelia selalu tersenyum, selalu ceria, bahkan ketika sedang sibuk
melayani puluhan pasien.
"Siang, Raka. Kamu sedang apa?" Bidan Amelia
menghentikan langkahnya, berusaha tersenyum meskipun senyumnya terasa dipaksakan.
"Mengantar makan siang untuk para pekerja, Bu. Mereka
sedang sibuk menyiapkan panggung di lapangan. Guntur, Hermansyah, Amita,
semuanya. Bidan ikut makan? Gratis. Pecel buatan Bapak saya, sambelnya nendang,
dijamin Bidan semangat lagi."
Bidan Amelia tersenyum, senyum yang lebih tulus kali ini.
"Terima kasih, Ra. Nanti saja, saya ada urusan dengan Pak Kades dulu. Mau
lapor tentang... kondisi warga akhir-akhir ini."
"Urusan apa, Bu? Ada warga yang sakit? Siapa? Parah?
Apa perlu aku bantu?" Raka bertanya cepat, suaranya penuh perhatian. Ia
teringat pada ibunya yang akhir-akhir ini sering mengeluh tidak bisa tidur,
sering terbangun di tengah malam dengan perasaan gelisah, sering mengatakan
bahwa ia mendengar suara-suara aneh dari arah sumur tua.
Bidan Amelia ragu sejenak. Ia menatap Raka, melihat
ketulusan di mata pemuda itu, melihat kekhawatiran yang tersembunyi di balik
senyum ceria yang selalu ia tunjukkan. Sebagai tenaga medis, ia tidak boleh
membocorkan informasi pasien kepada siapa pun. Tapi Raka bukan siapa-siapa.
Raka adalah warga desa, anak dari salah satu pasiennya, dan mungkin ia bisa
membantu. Akhirnya ia memutuskan untuk bercerita, dengan suara yang pelan,
hampir berbisik, karena ia tidak ingin orang lain mendengar.
"Sebenarnya agak aneh, Ra. Beberapa hari ini, ada
beberapa warga yang datang ke puskesmas dengan keluhan yang sama: mimpi buruk,
gelisah, susah tidur, merasa ada yang mengawasi mereka di malam hari. Saya
sudah periksa semua, tensi normal, suhu normal, tidak ada gejala fisik yang
serius. Saya kasih vitamin dan obat penenang ringan, tapi mereka semua tampak
ketakutan. Bukan takut karena sakit, tapi takut karena... sesuatu yang
lain."
"Warga mana saja, Bu?" tanya Raka, suaranya lebih
pelan, lebih serius dari biasanya.
Bidan Amelia menghela napas. "Bu Tarno, Pak Darmo, Bu
Yati—ibumu juga, Ra. Dan beberapa yang lain. Mereka semua cerita hal yang sama:
mimpi buruk tentang bayangan-bayangan yang mengejar mereka, tentang suara-suara
aneh yang memanggil nama mereka, tentang perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak
beres di desa ini."
Raka terdiam. Ibunya tidak pernah bercerita tentang mimpi
buruk. Ibunya selalu tersenyum, selalu ceria, selalu sibuk dengan warung pecel,
selalu mengeluh tentang Raka yang makan terlalu banyak, tentang Bapaknya yang
terlalu sering sakit-sakitan, tentang harga kacang yang naik terus. Ia tidak
pernah menunjukkan bahwa ia ketakutan, tidak pernah mengeluh tentang mimpi
buruk, tidak pernah mengatakan bahwa ia merasa ada yang mengawasinya. Mungkin
ia tidak ingin membuat Raka khawatir. Mungkin ia ingin melindungi anaknya,
seperti yang selalu ia lakukan sejak Raka kecil.
"Ibu saya tidak bilang apa-apa," kata Raka,
suaranya bergetar sedikit.
"Ya, dia tidak bilang. Mungkin dia tidak ingin kamu
khawatir. Tapi dia datang ke puskesmas kemarin, minta obat tidur. Saya kasih
vitamin dan obat penenang ringan. Tapi sepertinya bukan masalah medis, Ra.
Bukan kekurangan vitamin, bukan gangguan kecemasan biasa. Ada faktor lain. Saya
tidak tahu apa, tapi ini terlalu banyak pasien dengan keluhan yang sama dalam
waktu yang bersamaan. Ini tidak biasa."
Raka mengangguk. Ia teringat pada cerita Amat tentang segel
yang mulai retak, tentang makhluk-makhluk yang mulai bangun di Hutan Larangan,
tentang energi negatif yang mulai merembes ke desa. Mungkin ini adalah
dampaknya. Mungkin energi dari dalam tanah yang mulai keluar, yang membuat
pohon-pohon di Hutan Larangan terbakar dari dalam, yang membuat tanah terasa
hangat di bawah kaki, yang membuat Amat mendengar suara-suara di kepalanya
setiap hari, sekarang mulai mempengaruhi warga desa, terutama yang lebih
sensitif, yang lebih peka terhadap hal-hal yang tidak terlihat.
"Bu, apakah Bidan percaya pada hal-hal gaib?"
tanya Raka tiba-tiba, suaranya lebih tegas dari yang ia rasakan.
Bidan Amelia tersenyum. Senyum yang penuh makna, senyum
yang mengatakan bahwa ia telah memikirkan pertanyaan ini berkali-kali dalam
hidupnya. "Sebagai tenaga medis, saya harus berdasarkan ilmu pengetahuan,
Ra. Saya harus percaya pada data, pada fakta, pada hal-hal yang bisa diukur dan
dibuktikan. Tapi saya juga orang Jawa. Saya lahir dan besar di desa, tidak jauh
dari sini. Saya tahu bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dengan ilmu
kedokteran. Saya tahu bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dilihat
dengan mata telanjang, tidak bisa diukur dengan alat, tidak bisa dibuktikan
dengan eksperimen. Tapi itu tidak berarti mereka tidak ada."
Raka mengangguk, merasa lega bahwa Bidan Amelia tidak
langsung menertawakannya. "Kalau begitu, Bidan harus tahu. Ada yang tidak
beres dengan desa kita akhir-akhir ini. Bukan hanya masalah kesehatan, tapi...
sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih besar. Saya tidak bisa menjelaskan, tapi
Amat, teman saya, dia bisa. Dia melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain.
Dia mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain. Dia tahu apa yang
sebenarnya terjadi."
Bidan Amelia mengamati Raka dengan saksama. Ia tahu bahwa
Raka bukan anak yang suka bercerita omong kosong. Ia sudah mengenal Raka selama
satu tahun ini, sudah sering melihatnya mengantar pecel ke puskesmas, sudah
sering mendengar lelucon-leluconnya yang selalu membuat para pasien tertawa.
Jika Raka mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, mungkin memang ada. Dan jika
ia mengatakan bahwa Amat bisa menjelaskan, mungkin ia harus bicara dengan Amat.
"Baiklah, Ra. Aku akan coba bicara dengan Amat nanti.
Mungkin setelah festival, ketika semuanya sudah lebih tenang. Tapi untuk
sekarang, tolong jaga ibumu. Beri dia makanan bergizi, pastikan dia cukup
istirahat, jangan biarkan dia bekerja terlalu keras. Dan kalau ada yang aneh,
kalau mimpi buruknya semakin parah, kalau ada gejala-gejala lain yang
mengkhawatirkan, segera laporkan ke saya. Janji?"
"Janji, Bu. Saya akan jaga Ibu. Saya tidak akan biarkan
apa pun terjadi pada Ibu."
dr. Erlangga adalah dokter puskesmas kecamatan yang
bertugas di wilayah yang meliputi Desa Awan Biru dan enam desa lainnya di
sekitarnya. Ia adalah seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun, dengan
rambut yang sudah memutih di bagian pelipis, dengan kumis tebal yang selalu ia
rawat dengan rapi, dengan perut yang sedikit buncit karena terlalu banyak duduk
di meja kerja. Ia bertugas di puskesmas kecamatan yang berjarak sepuluh
kilometer dari desa, melewati jalan berbatu yang berliku-liku di antara
perkebunan kopi dan hutan pinus. Tetapi setiap minggu, pada hari Kamis, ia
datang ke puskesmas pembantu di Desa Awan Biru untuk memberikan layanan
kesehatan, memeriksa ibu hamil, memberikan imunisasi pada balita, menangani
pasien-pasien yang membutuhkan perhatian lebih serius.
dr. Erlangga sudah bertugas di daerah pedesaan selama lebih
dari dua puluh tahun. Ia sudah ditempatkan di berbagai desa di kabupaten ini,
dari yang paling dekat dengan kota hingga yang paling terpencil di lereng
gunung. Ia sudah melihat berbagai macam penyakit, dari yang paling umum seperti
demam dan diare hingga yang paling langka seperti penyakit tropis yang hanya
ditemukan di daerah terpencil. Ia sudah menangani pasien dari berbagai latar
belakang, dari petani yang tidak bisa baca tulis hingga guru sekolah yang berpendidikan
tinggi. Dan selama dua puluh tahun itu, ia belajar satu hal: bahwa kesehatan
tidak hanya tentang fisik, tetapi juga tentang mental, spiritual, dan hubungan
manusia dengan lingkungannya.
Pada suatu kesempatan, ketika dr. Erlangga sedang bertugas di
puskesmas pembantu Awan Biru, ia duduk di ruang pemeriksaan, menulis resep
untuk seorang pasien lansia yang mengeluh nyeri sendi, Raka dan Amat datang ke
puskesmas untuk menemui Bidan Amelia. Mereka ingin bertanya tentang kondisi
warga yang mengalami mimpi buruk dan kegelisahan, ingin tahu apakah ada
penjelasan medis untuk gejala-gejala itu, ingin tahu apakah ada yang bisa
mereka lakukan untuk membantu.
dr. Erlangga, yang sedang berada di ruang pemeriksaan dan
melihat mereka masuk dari jendela, memanggil mereka dengan suara yang ramah.
"Kalian anak-anaknya Pak Gareng, ya? Yang jualan pecel di desa ini? Saya
sering makan pecel di warung kalian. Enak. Bumbunya khas, nggak seperti pecel
di tempat lain."
Raka tersenyum bangga. "Benar, Dok. Saya Raka. Ini
teman saya Amat. Makasih sudah suka pecel bapak saya. Nanti saya bawakan
gratis, Dok, kalau Bidan Amelia sudah selesai."
dr. Erlangga tertawa. "Kamu ini, Ra, sama seperti
Bapakmu. Sama-sama suka bagi-bagi. Bapakmu dulu sering kasih pecel gratis ke
pasien-pasien yang sedang sakit. Katanya, makanan berguna untuk menyembuhkan
penyakit. Saya setuju. Gizi yang baik memang penting untuk pemulihan."
Amat yang sejak tadi diam, memberanikan diri bertanya.
"Dok, kami ingin bertanya tentang warga yang datang ke puskesmas dengan
keluhan mimpi buruk dan gelisah. Apakah itu gejala penyakit tertentu? Apa yang
harus kami lakukan?"
dr. Erlangga menghela napas panjang. Napas yang keluar dari
paru-paru yang sudah melihat banyak hal selama dua puluh tahun bertugas di
pedesaan. Ia menatap Amat dengan saksama, melihat mata biru anak itu, mata yang
tidak biasa, mata yang melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Ia sudah
mendengar cerita tentang Amat, tentang kelahirannya yang aneh, tentang
kemampuannya yang tidak biasa. Sebagai dokter yang rasional, ia tidak mudah
percaya pada hal-hal seperti itu. Tapi sebagai manusia yang sudah hidup cukup
lama, ia tahu bahwa dunia ini lebih luas dari apa yang bisa dijelaskan oleh
ilmu kedokteran.
"Secara medis, bisa banyak penyebabnya, Nak,"
katanya akhirnya, suaranya pelan, sabar, seperti seorang guru yang menjelaskan
sesuatu kepada muridnya yang belum mengerti. "Stres, kurang tidur,
kekurangan vitamin B kompleks, atau bisa juga gejala awal dari gangguan
kecemasan. Tapi kalau banyak warga yang mengalami gejala serupa dalam waktu
bersamaan, dan tidak ada faktor pemicu yang jelas seperti bencana alam atau
wabah penyakit, mungkin ada faktor lingkungan. Bisa polusi, bisa suara bising,
bisa perubahan cuaca yang ekstrem, atau bisa juga... hal-hal lain."
"Hal-hal lain maksudnya, Dok?" tanya Amat,
suaranya lebih pelan, lebih hati-hati.
dr. Erlangga tersenyum. Senyum yang penuh makna, senyum
yang mengatakan bahwa ia sudah sering ditanya seperti ini, bahwa ia sudah
sering memikirkan pertanyaan ini, bahwa ia tidak memiliki jawaban yang pasti
tetapi ia tidak akan menutup kemungkinan. "Saya sudah bertugas di daerah
pedesaan selama dua puluh tahun, Nak. Saya sudah ditempatkan di tujuh desa
berbeda, di berbagai kecamatan, di berbagai kabupaten. Saya sudah melihat banyak
hal yang tidak bisa dijelaskan oleh buku kedokteran. Saya sudah melihat pasien
yang sakit parah sembuh setelah didoakan oleh orang tua di desa. Saya sudah
melihat pasien yang sehat tiba-tiba jatuh sakit setelah mengganggu tempat yang
dianggap keramat. Saya tidak mengatakan saya percaya pada hal-hal gaib, karena
sebagai dokter saya harus berdasarkan ilmu pengetahuan. Tapi saya juga tidak
bisa mengabaikan pengalaman saya selama dua puluh tahun."
Raka dan Amat saling berpandangan. Mereka tidak menyangka dr.
Erlangga akan berbicara seperti ini. Biasanya dokter adalah orang yang paling
rasional, yang paling tidak percaya pada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan
secara ilmiah. Tapi dr. Erlangga berbeda. Ia adalah dokter yang sudah tua, yang
sudah banyak pengalaman, yang sudah melihat bahwa dunia ini tidak sesederhana
yang diajarkan di bangku kuliah.
"Apa yang harus kami lakukan, Dok?" tanya Raka,
suaranya penuh harap.
dr. Erlangga berpikir sejenak. "Saran saya, cari tahu
penyebabnya. Kalau itu masalah lingkungan, coba perbaiki. Bersihkan sungai,
jangan buang sampah sembarangan, jangan tebang pohon di sekitar mata air. Itu
akan baik untuk kesehatan warga, apapun penyebabnya. Kalau itu masalah... lain,
coba cari orang yang mengerti. Di desa ini pasti ada sesepuh yang paham tentang
hal-hal seperti ini. Mbah Ratih, misalnya. Beliau sudah tua, sudah banyak
pengalaman, pasti bisa memberi petunjuk."
Amat mengangguk. "Kami akan coba, Dok. Terima
kasih."
dr. Erlangga tersenyum. "Kalian anak-anak yang baik.
Saya sudah lihat kalian membantu persiapan festival, membantu orang tua kalian,
membantu warga desa. Jaga desa kalian. Desa ini istimewa, saya sudah
merasakannya sejak pertama kali bertugas di sini. Ada sesuatu di desa ini yang
tidak ada di desa-desa lain. Sesuatu yang... istimewa. Saya tidak tahu apa,
tapi saya merasakannya. Mungkin suatu hari nanti kalian akan tahu."
Malam itu, setelah seharian membantu persiapan festival,
setelah pertemuan dengan Bidan Amelia dan dr. Erlangga, Raka tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tempat tidurnya yang sempit di kamar belakang warung pecel,
dengan selimut tipis menutupi tubuhnya yang tambun, dengan bantal yang sudah
pipih karena terlalu lama dipakai, dengan langit-langit anyaman bambu yang
samar-samar terlihat karena cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah
dinding. Di luar, angin malam bertiup pelan, membawa kabut tipis dari
lereng-lereng bukit, membuat dedaunan pohon jambu air bergemerisik, membuat
atap seng berderit-derit, membuat pintu kayu yang tidak terkunci bergoyang
pelan.
Ia memikirkan ibunya. Ibunya yang selalu tersenyum, selalu
ceria, selalu sibuk dengan warung pecel, selalu mengeluh tentang Raka yang
makan terlalu banyak, tentang Bapaknya yang terlalu sering sakit-sakitan,
tentang harga kacang yang naik terus. Ibunya yang tidak pernah menunjukkan
bahwa ia ketakutan, tidak pernah mengeluh tentang mimpi buruk, tidak pernah
mengatakan bahwa ia merasa ada yang mengawasinya. Mungkin ia tidak ingin
membuat Raka khawatir. Mungkin ia ingin melindungi anaknya, seperti yang selalu
ia lakukan sejak Raka kecil.
Ia mendengar suara dari kamar sebelah. Kamar orang tuanya.
Suara ibunya yang sedang berbicara dalam tidurnya. Tidak jelas, hanya gumaman,
seperti orang yang sedang berdoa, atau sedang melawan sesuatu dalam mimpi. Raka
bangkit dari tempat tidurnya, berjalan pelan ke kamar orang tuanya. Pintu kamar
itu tidak terkunci, hanya ditutup dengan tirai kain tipis yang sudah pudar
warnanya. Ia mengintip. Ibunya terbaring di tempat tidur, matanya terpejam,
tetapi tubuhnya bergerak-gerak gelisah, tangannya mengepal, keringat membasahi
dahinya. Bapaknya tidur di sampingnya, dengan dengkur yang keras, tidak
terganggu oleh kegelisahan istrinya.
Raka duduk di tepi tempat tidur ibunya. Ia mengambil kain
lap yang tergantung di samping tempat tidur, dan mengusap keringat di dahi
ibunya dengan lembut. Ibunya bergerak sedikit, menggumamkan sesuatu yang tidak
jelas, lalu perlahan-lahan menjadi tenang. Napasnya yang tadinya terengah-engah
menjadi lebih teratur, tangannya yang mengepal perlahan-lahan terbuka.
"Tenang, Bu," bisik Raka, suaranya pelan, lembut,
tidak seperti biasanya yang selalu lantang dan penuh tawa. "Aku di sini.
Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku akan jaga Ibu. Aku tidak akan biarkan apa
pun terjadi pada Ibu."
Ia duduk di samping ibunya cukup lama, sampai ia yakin
ibunya sudah tidur dengan tenang. Kemudian ia kembali ke kamarnya, berbaring di
tempat tidur, dan menatap langit-langit anyaman bambu yang samar-samar
terlihat. Di dalam kepalanya, ia memikirkan Amat, memikirkan Camelia,
memikirkan segel yang mulai retak, memikirkan makhluk-makhluk yang mulai
bangun, memikirkan peta kuno yang mereka temukan di ruang arsip balai desa. Ia
tidak mengerti banyak tentang hal-hal seperti itu. Ia bukan Amat yang bisa
melihat yang tidak terlihat, bukan Camelia yang bisa mencatat dan mengingat
semua detail. Ia hanya Raka, anak penjual pecel, yang keahliannya hanya membuat
orang tertawa. Tapi malam itu, ia bertekad untuk melakukan lebih. Ia tidak akan
hanya menjadi sumber tawa. Ia akan menjadi pelindung. Ia akan menjaga ibunya,
menjaga desanya, menjaga teman-temannya. Dengan caranya sendiri.
Di luar, angin malam bertiup lebih kencang. Di kejauhan,
dari arah sumur tua, terdengar suara-suara aneh, seperti orang menangis,
seperti orang membaca doa dalam bahasa yang tidak dikenal. Tapi Raka tidak
takut. Ia memejamkan mata, dan perlahan-lahan tertidur, dengan keyakinan bahwa
besok ia akan bangun lebih kuat, lebih siap, dan lebih bertekad untuk melakukan
apa pun yang harus ia lakukan.
BAB 18: Malam Tanpa Cahaya
Malam itu, tiga hari sebelum festival dimulai, Desa Awan
Biru diliputi kegelapan yang tidak biasa. Bukan sekadar gelap karena listrik
padam, hal yang sering terjadi di desa ini, terutama di musim hujan ketika
angin kencang sering menjatuhkan pohon ke kabel listrik yang melintang di atas
jalan setapak, atau di musim kemarau ketika pasokan listrik dari kecamatan
dipadamkan bergilir karena beban yang terlalu berat. Bukan juga gelap karena
langit tertutup awan tebal, hal yang biasa terjadi di daerah pegunungan seperti
ini, ketika kabut turun dari lereng-lereng bukit dan menelan cahaya bulan dan
bintang seperti selimut putih yang tebal dan dingin.
Malam itu, kegelapan yang turun adalah kegelapan yang aneh,
kegelapan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya, kegelapan yang membuat
bulu kuduk berdiri dan jantung berdebar kencang tanpa sebab yang jelas.
Kegelapan itu tidak datang perlahan seperti senja yang berangsur-angsur berubah
menjadi malam. Ia datang tiba-tiba, seperti seseorang yang menutup mata dengan
telapak tangan, seperti pintu yang ditutup dengan keras, seperti selimut tebal
yang dijatuhkan dari langit. Dalam sekejap, dunia di luar rumah-rumah warga
menjadi gelap total. Gelap yang begitu pekat sehingga tangan yang didekatkan ke
wajah pun tidak terlihat. Gelap yang begitu dalam sehingga suara-suara yang
biasanya mengisi malam—jangkrik yang bernyanyi, katak yang bergemuruh, ayam
yang sesekali berkokok tanpa sebab—seolah-olah ditelan oleh kehampaan.
Bulan purnama yang sedari tadi bersinar terang, memancarkan
cahaya peraknya yang lembut ke seluruh desa, tiba-tiba menghilang. Tidak ada
awan yang menutupinya, tidak ada kabut yang menghalanginya. Bulan itu masih ada
di langit, tepat di atas kepala, bundar sempurna seperti piring perak. Tapi
cahayanya tidak sampai ke tanah, seolah-olah ada sesuatu yang menyerapnya
sebelum ia bisa menyentuh bumi. Bintang-bintang yang biasanya bertaburan
seperti debu berlian di atas kain beludru hitam juga menghilang. Tidak ada yang
tersisa di langit selain kegelapan pekat, kegelapan yang terasa berat,
kegelapan yang terasa hidup, kegelapan yang terasa seperti ada sesuatu yang
bergerak di dalamnya.
Di rumah-rumah warga, lampu minyak yang biasanya menjadi
andalan ketika listrik padam, yang biasanya mampu menerangi ruangan dengan
cahaya kuningnya yang hangat dan menenangkan, tiba-tiba tidak berguna. Api di
sumbu lampu itu masih menyala, minyaknya masih penuh, tapi cahayanya tidak bisa
menembus kegelapan yang menyelimuti desa. Nyala api itu terlihat redup, seperti
sedang berjuang untuk tetap hidup, seperti sedang melawan sesuatu yang mencoba
memadamkannya. Senter-senter yang biasa digunakan untuk menerangi jalan ketika
berjalan di malam hari, dengan baterai yang masih baru, hanya mampu memancarkan
cahaya yang samar-samar, seperti sinar yang keluar dari ujung lorong yang
sangat panjang, seperti cahaya bulan yang tertahan oleh awan tebal.
Warga mulai panik. Mereka yang tadinya sudah bersiap untuk
tidur, yang sudah mengenakan pakaian tidur dan membaringkan tubuh di atas
kasur, terbangun oleh kegelisahan yang tidak bisa mereka jelaskan. Mereka
keluar dari rumah-rumah mereka, dengan langkah yang ragu-ragu, dengan jantung
yang berdebar kencang, dengan mata yang berusaha menembus kegelapan yang pekat.
Mereka berkumpul di depan rumah masing-masing, membawa obor yang terbuat dari
bambu dan kain yang direndam minyak tanah, membawa senter yang baterainya baru
diganti sore hari, membawa lampu minyak yang biasanya cukup untuk menerangi seluruh
ruang tamu. Tapi semua sumber cahaya itu tampak redup, seperti sedang berjuang
untuk tetap menyala, seperti ada kekuatan yang menekan mereka dari atas,
seperti ada tangan tak kasat mata yang mencoba memadamkannya.
"Aneh," kata Pak Tarno, berdiri di depan rumahnya
dengan obor di tangan, obor yang biasanya bisa menerangi area sejauh sepuluh
meter, kini hanya mampu membuat lingkaran cahaya kecil di sekelilingnya.
"Obor ini baru aku buat sore hari. Kainnya baru, minyaknya penuh. Harusnya
terang. Tapi kenapa kayak mau mati?"
"Listrik padam, Pak," jawab Bu Tarno dari
belakang, suaranya bergetar. "Tapi ini bukan padam biasa. Biasanya kalau
padam, kita masih lihat bulan, masih lihat bintang. Tapi sekarang... gelap
semua. Kayak dunia kiamat."
"Jangan bicara begitu, Bu," Pak Tarno
memperingatkan, meskipun suaranya sendiri tidak stabil. "Ini cuma...
cuaca. Mungkin ada badai di gunung, jadi langit tertutup awan."
"Awan? Mana ada awan? Tadi malam cerah, bulan purnama.
Tiba-tiba gelap. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Ini bukan awan."
Pak Tarno tidak menjawab. Ia hanya berdiri di depan
rumahnya, memandangi kegelapan yang menyelimuti desa, berusaha mencari
penjelasan yang masuk akal, berusaha menenangkan istrinya, berusaha meyakinkan
dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Di kantor desa, Pak Iwan yang sedang mempersiapkan sambutan
untuk pembukaan festival, merasakan kegelapan itu segera setelah listrik padam.
Ia sedang duduk di ruang kerjanya, membaca naskah sambutan yang sudah ia tulis
berulang kali, ketika lampu neon di atas kepalanya mati. Ia mengira itu hanya
pemadaman biasa, seperti yang sering terjadi. Ia mengambil senter dari laci
mejanya, menyalakannya, dan melanjutkan membaca. Tapi ketika ia melihat cahaya
senter yang redup, ketika ia merasakan bahwa kegelapan di luar jendela lebih
pekat dari biasanya, ketika ia mendengar suara-suara aneh dari arah sumur tua, suara
seperti orang menangis, seperti orang membaca doa dalam bahasa yang tidak dikenal,
ia tahu bahwa ini bukan pemadaman biasa.
Ia segera keluar dari ruang kerjanya, berjalan cepat ke
ruang sekretaris di samping, di mana Bu Yuni sedang sibuk dengan
dokumen-dokumen festival. Bu Yuni berdiri di dekat jendela, memandangi
kegelapan di luar dengan ekspresi ketakutan yang jarang terlihat di wajahnya yang
biasanya tenang.
"Bu Yuni, panggil semua perangkat desa. Sekarang juga.
Kita kumpul di sini."
Bu Yuni mengangguk, mengambil ponselnya, dan mulai
menghubungi satu per satu nomor perangkat desa. Sinyal HP masih ada, anehnya,
meskipun cahaya tidak bisa menembus kegelapan. Setelah beberapa menit, satu per
satu perangkat desa mulai berdatangan: Pak Eko dengan buku catatannya, Bu Lulu
yang masih tampak ketakutan, Bu Endang yang berusaha tenang, Pak Edi yang
datang dengan langkah cepat, Pak Sugeng yang sudah setengah jalan ke kantor
desa ketika Bu Yuni menghubunginya.
"Apa yang terjadi, Pak Kades?" tanya Pak Sugeng,
suaranya serak karena terburu-buru. "Saya belum pernah melihat kegelapan
seperti ini. Ini bukan padam biasa."
"Saya juga tidak tahu, Pak Sugeng. Tapi kita harus
bertindak cepat. Saya minta Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu untuk berkeliling desa,
memastikan semua warga aman. Utamakan lansia dan anak-anak. Kerahkan pemuda
desa untuk membantu. Kita tidak tahu berapa lama kegelapan ini akan
berlangsung."
"Bagaimana dengan festival, Pak?" tanya Bu Lulu,
suaranya bergetar. "Kalau kegelapan ini terus berlanjut, festival bisa
batal."
"Jangan pikirkan festival dulu. Keselamatan warga
lebih penting. Kita urus festival nanti, setelah situasi normal."
Para perangkat desa bersiap untuk berangkat. Pak Sugeng
akan ke selatan, Pak Eko ke utara, Pak Edi ke timur, Bu Endang dan Bu Lulu ke
barat, sementara Pak Iwan tetap di balai desa untuk mengoordinasikan. Mereka
mengambil senter dan lampu minyak dari ruang arsip, memeriksa baterai dan
minyak, dan bersiap untuk keluar ke dalam kegelapan yang belum pernah mereka
alami sebelumnya.
Amat, Raka, dan Camelia berada di kantor desa ketika
kegelapan itu datang. Mereka sedang membantu Bu Yuni mempersiapkan
dokumen-dokumen untuk festival, Camelia mengecek daftar perlengkapan yang masih
kurang, Amat menulis ulang jadwal acara yang berubah karena beberapa perubahan
mendadak, Raka mengantarkan kopi dan kue untuk para pekerja yang masih lembur.
Mereka bertiga duduk di meja panjang di ruang rapat, dengan tumpukan kertas di
hadapan mereka, dengan lampu neon di atas kepala yang tiba-tiba mati tanpa
peringatan.
"Listrik padam lagi," kata Raka, menghela napas.
"Sudah biasa. Nanti nyalain senter aja."
Ia mengambil senter dari tasnya, menyalakannya. Cahaya
senter itu redup. Tidak seperti biasanya yang terang menyilaukan. Raka
memutar-mutar senternya, memeriksa baterai, mengira baterainya sudah habis.
Tapi baterai itu baru ia ganti sore hari, setelah membeli di warung dekat
pasar. "Aneh," gumamnya. "Baterai baru, kok redup?"
Camelia menyalakan senternya sendiri. Sama redupnya. Amat
mengambil ponselnya, menyalakan lampu flashlight. Cahayanya juga redup, tidak
seperti biasanya yang bisa menerangi seluruh ruangan. Mereka bertiga saling
berpandangan, merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Camelia berjalan ke jendela, membuka tirai, dan melihat ke
luar. Yang ia lihat adalah kegelapan total. Tidak ada cahaya dari rumah-rumah
warga, tidak ada cahaya bulan, tidak ada cahaya bintang. Hanya kegelapan yang pekat,
yang terasa berat, yang terasa hidup.
"Ada apa, Mel?" tanya Raka, berdiri di
sampingnya.
"Aku tidak tahu, Ra. Tapi ini tidak normal. Lihat,
tidak ada satu pun cahaya di luar. Padahal biasanya kalau listrik padam,
rumah-rumah warga masih punya lampu minyak. Tapi sekarang... gelap semua.
Seperti tidak ada yang bisa menembus kegelapan ini."
Amat yang sejak tadi diam, merasakan sesuatu. Liontin batu
biru di lehernya, yang biasanya hanya terasa hangat ketika ia berada di dekat
tempat-tempat yang dijaga leluhur, tiba-tiba terasa panas. Panas yang tidak
biasa, panas yang mendesak, panas yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah,
sesuatu yang besar, sesuatu yang mengancam. Ia berdiri, berjalan ke jendela,
dan menatap ke luar. Matanya yang biru, yang bisa melihat hal-hal yang tidak
dilihat orang lain, mencoba menembus kegelapan. Dan ia melihat sesuatu. Di
kejauhan, dari arah Hutan Larangan, ada cahaya merah yang menyala-nyala,
seperti api yang membakar langit. Cahaya itu tidak terlihat oleh mata biasa,
tetapi Amat bisa melihatnya dengan jelas. Cahaya itu bergerak, merambat,
mencoba keluar dari hutan, mencoba menyebar ke desa.
"Ini dia," bisiknya, suaranya bergetar.
"Segel mulai retak. Energi dari dalam mulai keluar. Makhluk-makhluk itu
mencoba bangun."
Camelia yang mendengar itu, merasakan jantungnya berdebar
lebih cepat. "Apa yang harus kita lakukan?"
Amat menoleh ke arah Camelia, lalu ke arah Raka. Matanya
yang biru itu, yang biasanya tenang dan dalam, kini memancarkan tekad yang
belum pernah mereka lihat sebelumnya. "Kita harus pergi ke sumur tua. Aku
harus bicara dengan penjaga air. Mungkin dia tahu apa yang terjadi. Mungkin dia
bisa memberitahu kita apa yang harus dilakukan."
"Aku ikut," kata Raka cepat, tanpa ragu.
"Aku juga," kata Camelia.
Mereka bertiga berjalan cepat menuju pintu kantor desa. Di
tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan Pak Iwan dan Pak Eko yang sedang
menuju ke ruang rapat setelah mengoordinasikan perangkat desa. Pak Iwan melihat
mereka, melihat ekspresi wajah Amat yang serius, melihat liontin batu biru di
lehernya yang mulai memancarkan cahaya samar.
"Amat! Kamu ke mana?" teriak Pak Iwan, suaranya
tegas, seperti biasa ketika ia sedang memimpin. Tapi kali ini ada nada
kekhawatiran di dalamnya, kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Ke sumur tua, Pak! Aku harus memeriksa sesuatu!"
jawab Amat, tanpa berhenti.
"Jangan! Itu berbahaya! Kembalilah ke kantor
desa!" Pak Iwan berusaha mengejar mereka, tetapi langkahnya terhambat oleh
kegelapan yang pekat, oleh senter yang redup, oleh usianya yang tidak semuda
dulu.
Tapi Amat sudah berlari, diikuti Raka dan Camelia. Mereka
bertiga melesat ke dalam kegelapan, dengan Amat di depan, dengan liontin batu
biru di lehernya yang mulai memancarkan cahaya kebiruan yang cukup untuk
menerangi jalan setapak di depan mereka. Cahaya itu aneh, tidak seperti cahaya
senter atau lampu minyak. Ia adalah cahaya yang lembut tetapi kuat, cahaya yang
tidak bisa dipadamkan oleh kegelapan, cahaya yang membuat mereka merasa aman
meskipun mereka sedang berlari ke tempat yang mungkin berbahaya.
Pak Iwan berdiri di depan kantor desa, menatap kepergian
mereka. Ia hanya bisa menghela napas, memerintahkan Pak Eko untuk mengikuti
mereka dari belakang, memastikan mereka aman. "Ikuti mereka, Pak Eko.
Jangan sampai mereka kenapa-kenapa. Aku akan koordinasi dengan yang lain."
Pak Eko mengangguk, menyalakan senternya yang redup, dan
mulai berjalan cepat mengikuti arah tiga anak itu. Ia tidak tahu apa yang akan
ia temui di sana, tetapi sebagai perangkat desa, sebagai orang yang bertanggung
jawab atas keselamatan warga, ia harus memastikan bahwa anak-anak itu aman.
Sesampainya di sumur tua, Amat langsung mendekati tutup
sumur yang sudah mereka buka beberapa minggu yang lalu, ketika mereka pertama
kali menemukan penjaga air. Tutup kayu jati yang tebal itu sekarang terbuka
sedikit, tidak seperti sebelumnya yang tertutup rapat. Celahnya tidak lebar,
hanya beberapa sentimeter, tetapi dari celah itu keluar udara dingin yang
sangat kuat, disertai bau yang aneh, bau yang sama seperti yang mereka cium di
Hutan Larangan: bau tanah basah, bau belerang, bau sesuatu yang terbakar dari
dalam.
Udara di sekitar sumur terasa sangat dingin, lebih dingin
dari biasanya, dingin yang menusuk hingga ke tulang, dingin yang membuat mereka
bergidik meskipun mereka mengenakan jaket tebal. Raka menggigil, menggigit
bibirnya untuk menahan dingin. Camelia memeluk tubuhnya sendiri, berusaha
menghangatkan diri. Amat, dengan liontin batu biru yang masih memancarkan
cahaya hangat, merasakan dingin itu tetapi tidak terganggu.
Dari dalam sumur, terdengar suara-suara aneh. Bukan suara
bisikan seperti sebelumnya, bukan suara yang samar dan tidak jelas. Suara itu
lebih keras, lebih nyaring, lebih mendesak. Seperti suara orang menangis,
tangisan yang pilu, tangisan yang membuat hati tersayat-sayat mendengarnya.
Seperti suara orang yang sedang berdoa dengan khusyuk, memohon pertolongan,
memohon kekuatan, memohon agar tidak ditinggalkan sendirian. Seperti suara
angin yang menderu di dalam gua, bergema dari dinding ke dinding, dari dasar ke
permukaan, menciptakan getaran yang membuat tanah di sekitar sumur bergetar.
Amat berlutut di tepi sumur, menutup matanya, mencoba fokus
mendengarkan suara-suara itu. Ia mengabaikan dingin yang menusuk, mengabaikan
bau yang menyengat, mengabaikan getaran yang merambat dari tanah ke lututnya.
Ia hanya fokus pada suara itu, mencoba memisahkan satu suara dari yang lain,
mencoba memahami apa yang dikatakan oleh penjaga air yang selama ini menjaga
sumber kehidupan desa ini.
Liontin batu biru di lehernya terasa semakin panas, semakin
terang. Cahaya kebiruan yang keluar dari batu itu kini tidak hanya menerangi
wajah Amat, tetapi juga menyebar ke sekelilingnya, menciptakan lingkaran cahaya
yang lembut di tengah kegelapan yang pekat. Raka dan Camelia berdiri di dalam
lingkaran cahaya itu, merasa aman untuk pertama kalinya sejak kegelapan turun.
Penjaga... suara
itu terdengar, lemah, hampir putus asa. Suara yang dulu terasa seperti aliran
air yang jernih dan kuat, kini terasa seperti tetesan air yang tersisa di dasar
sumur ketika musim kemarau panjang. Segel di hutan mulai retak. Lebih
cepat dari yang kuperkirakan. Energi kegelapan keluar. Aku tidak bisa
menahannya sendiri. Aku sudah lemah. Sangat lemah. Aku tidak tahu berapa lama
lagi aku bisa bertahan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Amat,
suaranya pelan tetapi jelas, suaranya yang berusaha tenang meskipun hatinya
berdebar kencang.
Pergi ke pohon beringin... Kyai Beringin lebih kuat... dia
bisa membantu... dia adalah pusat dari semuanya... dia bisa memperkuat segel
dari pusat... tapi cepat... sebelum energi ini menyebar ke seluruh desa...
sebelum kegelapan ini menjadi permanen... sebelum makhluk-makhluk itu keluar
dari kurungannya...
Amat berdiri. "Kita harus pergi ke pohon beringin.
Sekarang."
Mereka bertiga berlari meninggalkan sumur tua, kembali ke
jalan setapak yang gelap, menuju pohon beringin di tengah desa. Pak Eko yang
mengikuti mereka dari belakang, melihat cahaya kebiruan dari liontin Amat yang
menerangi jalan, melihat tiga anak itu berlari dengan penuh tekad, dan untuk
pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa ada hal-hal di desa ini yang
tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat. Ia tidak lagi mencoba mengejar mereka;
ia hanya berjalan di belakang, memastikan mereka aman, berdoa dalam hati semoga
mereka sampai dengan selamat.
Ketika mereka tiba di bawah pohon beringin, suasana di sana
berbeda dari biasanya. Pohon beringin tua yang selama ini menjadi pusat desa,
yang menjadi tempat Kyai Beringin bersemayam selama tiga ratus tahun, tampak hidup
dengan cara yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Daun-daunnya yang
biasanya tenang, bergoyang pelan ditiup angin, kini bergerak dengan cepat,
bergemerisik dengan suara yang sangat keras, seperti ribuan tangan yang
bertepuk, seperti angin topan yang melanda hutan. Akar-akarnya yang besar, yang
biasanya diam menjalar di tanah, bergerak-gerak seperti ular-ular raksasa yang
terbangun dari tidur panjang, seperti tangan-tangan yang meraih sesuatu dari
dalam tanah. Batang utamanya yang besar, yang biasanya kokoh dan tidak
bergerak, bergetar, berguncang, seolah-olah ada sesuatu di dalamnya yang
mencoba keluar.
Dan di antara akar-akar yang bergerak itu, Kyai Beringin
berdiri. Sosok penjaga utama itu tampak lebih jelas dari biasanya, mungkin
karena energi gelap yang menyelimuti desa membuat batas antara dunia gaib dan
dunia manusia menjadi lebih tipis, mungkin karena ia sedang menggunakan seluruh
kekuatannya untuk melawan kegelapan yang merembes dari Hutan Larangan. Wajahnya
yang biasanya samar, seperti wajah yang dilihat dari balik kaca buram, kini
terlihat jelas. Wajah tua yang penuh kerutan, kerutan yang terbentuk bukan
hanya karena usia tetapi juga karena pengalaman panjang yang tidak bisa
diungkapkan dengan kata-kata. Mata yang teduh tetapi tajam, mata yang sudah
melihat tiga ratus tahun sejarah desa ini, mata yang telah menyaksikan
kelahiran dan kematian, suka dan duka, damai dan konflik. Rambut putih panjang
yang menjuntai hingga ke dada, seperti rambut para petapa dalam cerita-cerita
wayang. Jubah hitamnya berkibar-kibar ditiup angin yang tidak terasa oleh
mereka, jubah yang terbuat dari kegelapan itu sendiri, jubah yang menjadi satu
dengan malam.
Kau datang, penjaga cilik. Seperti yang kuduga.
Suara Kyai Beringin kali ini tidak seperti biasanya. Tidak seperti
suara yang langsung masuk ke dalam pikiran, tidak seperti suara yang dalam dan
berat seperti gemuruh dari dalam gua. Kali ini suaranya terdengar di telinga
mereka, suara yang nyata, suara yang bisa didengar oleh Raka dan Camelia juga.
Suara itu berat, penuh dengan beban yang sudah dipikulnya selama tiga ratus
tahun, tetapi juga penuh dengan kehangatan, dengan kebijaksanaan, dengan
harapan.
"Apa yang terjadi, Kyai?" tanya Amat, suaranya
tegas meskipun ia lelah. "Mengapa desa diliputi kegelapan? Mengapa penjaga
air tidak bisa menahan? Mengapa ini terjadi sekarang?"
Segel di hutan mulai retak. Lebih cepat dari yang
kuperkirakan. Makhluk yang dikurung di sana, makhluk yang paling kuat, yang paling
tua, yang paling berbahaya, mencoba keluar. Energi kegelapannya merembes ke
desa, meracuni tanah, meracuni air, meracuni udara. Jika tidak segera
dihentikan, desa ini akan diliputi kegelapan permanen. Bukan kegelapan fisik
seperti sekarang, tetapi kegelapan yang lebih dalam: keputusasaan, ketakutan,
kebencian. Desa ini akan hancur dari dalam.
"Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Amat, suaranya
tidak lagi bergetar. Ia berdiri tegak di hadapan Kyai Beringin, matanya yang
biru menatap mata Kyai yang teduh, tidak berkedip, tidak bergeming.
Kau harus memperkuat segel di sini, di pohon beringin.
Pohon ini adalah pusat dari semua penjagaan. Ia adalah akar dari segalanya.
Jika pusatnya kuat, penjagaan yang lain juga akan menguat. Jika pusatnya
runtuh, semuanya akan runtuh. Tapi untuk melakukannya, kau harus fokus. Kau harus
menggunakan energi yang ada dalam dirimu. Energi yang telah diwariskan oleh
leluhurmu, yang mengalir dalam darahmu, yang bersemayam dalam jiwamu.
"Aku tidak tahu caranya. Aku tidak pernah melakukannya
sebelumnya."
Tutup matamu. Rasakan tanah di bawah kakimu. Rasakan
akar-akar pohon ini yang menjalar ke seluruh desa, yang menghubungkan semua
titik penjagaan, yang menjadi jalur energi dari pusat ke seluruh penjuru.
Rasakan energi yang mengalir dari leluhur-leluhurmu, yang masih ada di tanah
ini, di air ini, di udara ini, yang masih menjaga desa ini meskipun manusia
telah melupakan mereka. Biarkan energi itu mengalir ke dalam dirimu, memenuhi
setiap sel dalam tubuhmu, lalu salurkan ke pohon ini. Kau bisa melakukannya,
Amat. Kau adalah keturunan dari garis penjaga. Kau lahir untuk ini.
Amat menutup matanya. Ia berdiri di hadapan pohon beringin,
di hadapan Kyai Beringin, dengan Raka dan Camelia di sampingnya. Ia mencoba
merasakan apa yang dikatakan Kyai Beringin. Pada awalnya, ia tidak merasakan
apa-apa. Hanya dingin, hanya kegelapan, hanya ketakutan yang masih mengendap di
hatinya. Tapi perlahan, ketika ia membiarkan pikirannya tenang, ketika ia
membiarkan hatinya terbuka, ia mulai merasakan sesuatu.
Getaran di telapak kakinya. Getaran yang lembut pada
awalnya, seperti detak jantung yang sangat lambat, seperti aliran air yang
sangat dalam. Getaran itu naik dari telapak kaki ke betisnya, ke lututnya, ke
pahanya, ke perutnya, ke dadanya, hingga akhirnya seluruh tubuhnya bergetar.
Getaran itu hangat, tidak seperti dingin yang menyelimuti desa. Getaran itu
terasa seperti pelukan dari sesuatu yang besar, sesuatu yang tua, sesuatu yang
telah lama menunggunya.
Liontin batu biru di lehernya mulai memancarkan cahaya yang
semakin terang. Cahaya itu tidak lagi samar, tidak lagi redup. Ia terang,
menyilaukan, seperti matahari yang terbit di pagi hari, seperti bulan purnama
yang bersinar di langit yang cerah. Cahaya itu menyebar ke seluruh tubuh Amat,
membuatnya tampak seperti menyala dari dalam, seperti lilin yang dinyalakan di
tengah kegelapan. Raka dan Camelia yang berdiri di sampingnya, melihat teman
mereka berubah, merasa takjub dan bangga pada saat yang sama. Mereka tidak bisa
berkata-kata, tidak bisa bergerak, hanya bisa berdiri di sana, menyaksikan.
Amat membuka matanya. Matanya yang biru itu sekarang
bercahaya, sama seperti cahaya dari liontinnya. Biru yang lebih terang, lebih
dalam, lebih hidup dari sebelumnya. Biru seperti langit Awan Biru di pagi hari
setelah hujan, biru seperti warna yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang
memiliki hubungan khusus dengan desa ini. Ia mengangkat kedua tangannya,
merentangkannya ke arah pohon beringin. Dari telapak tangannya, memancar cahaya
biru yang menyilaukan, cahaya yang lebih terang dari matahari, lebih terang
dari bulan, lebih terang dari apapun yang pernah mereka lihat. Cahaya itu
menyambar batang pohon beringin, masuk ke dalam kayu, mengalir ke setiap serat,
ke setiap sel, ke setiap bagian dari pohon yang telah berdiri di sini selama
tiga ratus tahun.
Pohon beringin itu berguncang. Bukan goncangan kecil
seperti tertiup angin, tetapi goncangan besar, seperti gempa bumi yang
mengguncang seluruh desa. Daun-daunnya bergemerisik dengan suara yang sangat
keras, seperti ribuan orang yang bertepuk tangan, seperti air terjun yang jatuh
dari ketinggian. Akar-akarnya yang besar bergerak-gerak, naik turun, seperti
ular-ular raksasa yang terbangun dari tidur panjang, seperti tangan-tangan yang
meraih sesuatu dari dalam tanah. Batang utamanya yang besar, yang selama ini
kokoh dan tidak bergerak, bergetar, mengeluarkan suara seperti kayu tua yang
ditekan oleh beban yang sangat berat.
Dan dari dalam tanah, dari kedalaman yang tidak bisa
dijangkau oleh mata manusia, terdengar suara gemuruh yang bergema ke seluruh
desa. Suara itu seperti guntur yang datang dari dalam bumi, seperti lahar yang
mengalir di bawah gunung, seperti sesuatu yang besar dan tua yang sedang
bergerak. Suara itu membuat rumah-rumah warga bergetar, membuat jendela-jendela
kaca bergetar, membuat piring-piring di rak bergetar. Suara itu membuat warga
yang masih berada di luar rumah berlarian masuk, membuat anak-anak menangis
ketakutan, membuat orang-orang tua berdoa dengan khusyuk.
Cahaya biru dari tangan Amat menyebar ke seluruh pohon,
menjalar ke setiap dahan, ke setiap ranting, ke setiap daun. Dan dari pohon
itu, cahaya biru itu menyebar ke tanah, merambat melalui akar-akar yang
menjalar ke seluruh desa, sampai ke sumur tua, ke mata air, ke batu besar, dan
ke Hutan Larangan. Di sumur tua, penjaga air merasakan kekuatan baru mengalir
ke dalam dirinya, kekuatan yang membuatnya bisa bertahan lebih lama. Di Hutan
Larangan, makhluk di batu hitam itu menggeram, merasakan bahwa segel yang mulai
retak kembali diperkuat, bahwa kebebasan yang sudah di ujung jari kembali
menjauh.
Kegelapan yang menyelimuti desa perlahan-lahan tersingkir.
Seperti kabut yang terkena sinar matahari, seperti mimpi yang sirna ketika
bangun tidur, seperti bayangan yang menghilang ketika lampu dinyalakan. Cahaya
bulan mulai terlihat lagi, memancarkan sinar peraknya yang lembut ke seluruh
desa. Bintang-bintang mulai berkelap-kelip, seperti mata-mata kecil yang
mengintip dari balik selimut malam. Lampu-lampu minyak di rumah-rumah warga
mulai menyala normal kembali, dengan cahaya kuningnya yang hangat dan
menenangkan. Warga yang tadinya panik dan ketakutan mulai tenang, mulai keluar
dari rumah-rumah mereka, mulai melihat langit yang kembali cerah, mulai
bersyukur bahwa kegelapan telah berlalu.
Amat merasakan gelombang kelelahan yang luar biasa. Cahaya
biru dari tangannya perlahan-lahan meredup, matanya yang bercahaya
perlahan-lahan kembali normal, liontin batu biru di lehernya kembali terasa
hangat seperti biasa. Tubuhnya lemas, seperti orang yang baru saja berlari
sejauh puluhan kilometer, seperti orang yang baru saja mengangkat beban yang
sangat berat. Ia hampir terjatuh sebelum Raka menangkapnya.
"Mat! Kamu baik-baik saja?" tanya Raka panik,
suaranya serak karena terburu-buru. Ia memegang bahu Amat dengan kuat, menahan
temannya agar tidak jatuh.
Amat mengangguk lemah. "Aku... aku hanya lelah. Sangat
lelah. Tapi aku baik-baik saja."
Camelia berdiri di samping mereka, matanya berkaca-kaca,
tetapi ia tersenyum. Senyum yang lega, senyum yang bangga, senyum yang
mengatakan bahwa temannya telah melakukan sesuatu yang luar biasa. "Kamu
berhasil, Mat. Kegelapan sudah pergi. Lihat, bulan sudah keluar lagi."
Amat menatap langit. Bulan purnama bersinar terang di atas
kepala mereka, memancarkan cahaya peraknya yang lembut ke seluruh desa.
Bintang-bintang berkerlip-kerlip, seperti biasa. Tidak ada lagi kegelapan yang
aneh, tidak ada lagi cahaya merah dari Hutan Larangan, tidak ada lagi suara
gemuruh dari dalam tanah. Semuanya kembali normal. Seolah-olah tidak pernah
terjadi apa-apa.
Kyai Beringin berdiri di depan mereka, tersenyum. Untuk
pertama kalinya, wajahnya terlihat jelas, bukan hanya oleh Amat, tetapi juga
oleh Raka dan Camelia. Wajah tua yang penuh kerutan, dengan mata yang teduh dan
penuh kebijaksanaan, dengan senyum yang hangat seperti seorang kakek yang
melihat cucunya melakukan sesuatu yang membanggakan.
Kau telah melakukan dengan baik, penjaga cilik. Untuk
pertama kalinya, kau menggunakan kekuatanmu. Dan kau berhasil. Kau telah
memperkuat segel ini, untuk sementara waktu. Kegelapan telah pergi, desa ini
aman. Tapi ingat, ini hanya sementara. Kau harus belajar lebih banyak. Kau
harus mempersiapkan diri. Karena pertempuran yang sesungguhnya masih akan
datang. Makhluk di Hutan Larangan itu tidak akan menyerah. Ia akan mencoba
lagi. Dan lain kali, ia akan lebih kuat.
"Terima kasih, Kyai," bisik Amat, suaranya lemah
tetapi tulus.
Terima kasih padamu, penjaga cilik. Dan terima kasih pada
sahabat-sahabatmu. Tanpa mereka, kau tidak akan bisa melakukannya. Mereka
adalah kekuatanmu. Mereka adalah cahayamu. Jangan pernah lupakan itu.
Amat menoleh ke Raka dan Camelia. Mereka berdua berdiri di
sampingnya, dengan wajah yang masih pucat karena ketakutan, dengan mata yang
masih basah karena haru, tetapi dengan senyum yang bersinar karena kebanggaan.
Mereka adalah sahabatnya. Mereka adalah orang-orang yang selalu ada untuknya,
sejak hari pertama mereka bertemu, sejak di bawah pohon mangga di halaman
sekolah, sejak di puncak Bukit Pangasih ketika mereka berjanji untuk menjaga
desa ini bersama. Mereka adalah kekuatannya. Mereka adalah cahayanya.
"Aku selalu bilang, kalian itu penting," kata
Raka, berusaha bercanda meskipun suaranya masih bergetar. "Tanpa kalian,
aku cuma anak pecel biasa. Dengan kalian, aku jadi anak pecel yang luar
biasa."
Camelia tertawa kecil, mengusap air matanya dengan punggung
tangan. "Kamu ini, Ra, semua ada pecelnya."
"Ya iya lah. Pecel kan sumber kehidupan. Tanpa pecel,
aku tidak punya energi. Tanpa energi, aku tidak bisa menemani Amat. Tanpa aku,
Amat mungkin tidak bisa. Jadi, pecel adalah kunci dari semuanya."
Mereka bertiga tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas,
tawa yang mengusir sisa-sisa ketakutan yang masih mengendap di hati mereka.
Tawa yang menjadi senjata paling ampuh, seperti yang pernah dikatakan Mbah
Ratih. Tawa yang membuat Kyai Beringin tersenyum lebih lebar, tawa yang membuat
pohon beringin bergoyang pelan, tawa yang bergema di malam yang sunyi, sampai
ke ujung-ujung desa, sampai ke Hutan Larangan, sampai ke tempat di mana makhluk
di batu hitam itu menggeram dengan kesal, menyadari bahwa untuk kali ini, ia
telah kalah.
Keesokan paginya, matahari terbit seperti biasa. Cahaya
keemasan menyinari puncak-puncak pohon, menembus kabut tipis yang masih
bergelayut di antara pepohonan, menghangatkan tanah yang semalam diliputi
kegelapan. Burung-burung berkicau dengan riang, seolah-olah tidak terjadi
apa-apa. Ayam-ayam jantan berkokok bersahutan, membangunkan desa dari tidurnya.
Warga mulai beraktivitas seperti biasa: para petani berangkat ke sawah dengan
cangkul di pundak, para pedagang membuka lapak di pasar dengan dagangan yang
masih segar, anak-anak berlarian menuju sekolah dengan tas di punggung.
Namun di balik kewajaran itu, ada sesuatu yang berubah.
Warga yang semalam merasakan ketakutan yang luar biasa, yang semalam melihat
kegelapan yang tidak bisa dijelaskan, yang semalam mendengar suara gemuruh dari
dalam tanah, kini berkumpul di kantor desa. Mereka datang dengan berbagai macam
ekspresi: ada yang masih ketakutan, ada yang penasaran, ada yang marah, ada
yang bersyukur. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, apakah itu
pertanda buruk, apakah desa ini dalam bahaya, apakah mereka harus melakukan
sesuatu.
Pak Iwan mengadakan rapat darurat di kantor desa. Ruang
rapat yang biasanya hanya digunakan untuk pertemuan perangkat desa dan
perwakilan warga, kini penuh sesak. Kursi-kursi plastik merah yang sudah tua
itu tidak cukup menampung semua warga yang datang; beberapa berdiri di
belakang, beberapa duduk di lantai, beberapa berdesakan di pintu. Udara di
ruangan itu panas dan pengap, bercampur aroma keringat dan parfum murah. Pak
Iwan duduk di kursi paling depan, di belakang meja kayu jati yang besar, dengan
wajah yang serius. Di sampingnya, duduk para perangkat desa: Bu Yuni dengan
kacamatanya yang tebal, Pak Eko dengan buku catatannya, Bu Lulu yang masih
tampak sedikit pucat, Bu Endang yang berusaha tenang, Pak Edi yang wajahnya
lelah, Pak Sugeng yang biasanya cerewet menjadi diam.
Amat, Raka, dan Camelia dipanggil untuk memberikan
kesaksian. Mereka dipanggil karena Pak Iwan tahu bahwa mereka adalah orang yang
paling tahu tentang apa yang terjadi, karena mereka yang pergi ke sumur tua dan
pohon beringin di tengah kegelapan, karena mereka yang berada di pusat
kejadian. Mereka berdiri di depan ruangan, menghadap puluhan pasang mata yang
menatap mereka dengan berbagai macam ekspresi. Amat di tengah, Camelia di
samping kanannya, Raka di samping kirinya. Mereka bertiga saling berpandangan,
saling memberi semangat, saling menguatkan.
"Jadi, kalian bilang bahwa kejadian ini ada
hubungannya dengan sumur tua dan pohon beringin?" tanya Pak Iwan, suaranya
tegas seperti biasa, tetapi matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin
mendengar apa yang akan mereka katakan.
"Ya, Pak," kata Amat, suaranya tenang tetapi
jelas. Ia tidak perlu berteriak; semua warga yang hadir mendengarkannya dengan
saksama. "Sumur tua dan pohon beringin adalah peninggalan leluhur yang
memiliki nilai spiritual. Mereka bukan sekadar tempat angker, tetapi tempat
yang dijaga. Dijaga oleh penjaga-penjaga yang ditugaskan oleh leluhur kita untuk
menjaga keseimbangan desa ini. Jika tidak dirawat, jika tidak dihormati, jika
ritual-ritual yang dulu selalu dilakukan ditinggalkan, maka keseimbangan itu
akan terganggu. Dan gangguan keseimbangan bisa menimbulkan hal-hal seperti yang
terjadi semalam."
Warga yang hadir mulai berbisik-bisik. Ada yang
mengangguk-angguk setuju, ada yang menggeleng tidak percaya, ada yang diam
dengan wajah berpikir. Pak Tarno, yang duduk di barisan depan, mengangkat
tangan. "Amat, saya tidak meragukan apa yang kamu katakan. Tapi kami ini
orang-orang desa, kami tidak terlalu paham dengan hal-hal seperti itu. Apa yang
harus kami lakukan? Apa yang harus pemerintah desa lakukan?"
Amat menoleh ke arah Camelia. Camelia mengangguk, maju
selangkah, dan mulai berbicara dengan suara yang jelas dan terstruktur, seperti
yang selalu ia lakukan ketika presentasi di sekolah. "Kita harus merawat
tempat-tempat itu, Pak Tarno. Membersihkan sumur tua, tidak membuang sampah di
sungai, tidak menebang pohon sembarangan, terutama di sekitar mata air dan di
lereng bukit. Dan yang tidak kalah penting, kita harus melakukan ritual-ritual
tradisional yang selama ini ditinggalkan. Ritual bersih desa, ritual sedekah
bumi, ritual-ritual yang dulu selalu dilakukan oleh leluhur kita untuk menjaga
keseimbangan."
Raka yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara.
"Dan jangan lupa makan pecel bersama, Pak. Acara bersih-bersih desa nggak
afdol kalau nggak ada pecel. Bapak saya siap menyumbang. Gratis."
Seluruh ruangan tertawa. Tawa yang melepaskan ketegangan
yang selama beberapa hari ini menyelimuti desa. Pak Iwan tersenyum,
menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu ini, Ra, semua ada pecelnya."
"Ya iya lah, Pak Kades. Pecel kan sumber kebersamaan.
Orang yang makan bersama, hatinya jadi dekat. Orang yang hatinya dekat, bisa kerja
sama. Orang yang bisa kerja sama, bisa jaga desa. Jadi, pecel adalah kunci dari
semuanya."
Pak Iwan tertawa lagi, lalu berdiri dan berbicara dengan
suara yang tegas, suara seorang pemimpin yang telah mengambil keputusan.
"Baiklah. Saya akan memerintahkan perangkat desa untuk membersihkan sumur
tua dan area sekitarnya dalam minggu ini. Juga akan membuat aturan tentang
larangan membuang sampah di sungai, dengan sanksi tegas bagi yang melanggar.
Untuk ritual-ritual tradisional, kita akan bicarakan dengan sesepuh desa. Mbah
Ratih, Pak Karto, dan yang lainnya. Kita akan lakukan ritual bersih desa
sebelum festival dimulai. Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, dan juga
untuk mencegah kejadian semalam terulang lagi."
Pak Sugeng, yang duduk di samping Pak Iwan, mengangguk
setuju. "Saya setuju, Pak Kades. Saya akan menghubungi Mbah Ratih dan yang
lainnya. Mereka pasti senang kalau ritual-ritual itu dihidupkan kembali."
"Bagus. Laksanakan segera. Kita tidak ingin kejadian
semalam terulang lagi."
Setelah rapat selesai, warga mulai meninggalkan kantor
desa. Mereka kembali ke aktivitas masing-masing, tetapi dengan kesadaran baru
bahwa desa ini tidak hanya terdiri dari rumah-rumah dan sawah-sawah, tetapi
juga ada hal-hal lain yang harus dijaga. Amat, Raka, dan Camelia keluar dari
kantor desa, berdiri di halaman yang mulai ramai. Matahari sudah cukup tinggi,
cahayanya terang dan hangat. Kabut tipis yang semalam menutupi desa sudah
hilang, meninggalkan langit yang biru cerah. Biru seperti langit Awan Biru yang
selalu mereka kenal, biru yang tenang dan damai.
"Kita berhasil," kata Camelia, tersenyum. Senyum
yang lega, senyum yang bangga, senyum yang mengatakan bahwa mereka telah
melakukan sesuatu yang penting.
"Untuk sementara," kata Amat. Suaranya tidak
berat, tidak putus asa. Hanya realistis. "Tapi setidaknya, sekarang warga
dan pemerintah desa mulai peduli. Itu langkah awal yang baik. Langkah yang
sangat penting."
Raka menghela napas panjang, memegang perutnya yang
keroncongan. "Ya, langkah awal. Tapi aku rasa kita perlu makan dulu. Aku
laper. Habis nyalain cahaya biru-biru itu, kayaknya energiku ikut terkuras.
Padahal aku cuma berdiri di samping Amat, nggak ngapa-ngapain. Tapi rasanya
kayak habis lari maraton."
Amat dan Camelia tertawa. "Kamu ini, Ra, semua dikaitkan
dengan makanan."
"Ya iya lah. Makanan itu sumber energi. Kalau aku
nggak makan, aku nggak punya energi. Kalau aku nggak punya energi, aku nggak
bisa menemani kalian. Kalau aku nggak bisa menemani kalian, kalian sendirian.
Kalian sendirian, desa ini bahaya. Jadi, dengan makan, aku menyelamatkan desa.
Pahlawan sejati."
Mereka bertiga tertawa lagi, lalu berjalan menuju warung
pecel keluarga Raka. Di sepanjang jalan, warga yang mereka lewati menyapa
dengan ramah, tersenyum, mengucapkan terima kasih atas apa yang mereka lakukan
semalam. Ada yang tidak percaya bahwa anak-anak muda ini bisa melakukan sesuatu
yang luar biasa, tetapi mereka tetap menghormati. Ada yang merasa bahwa ini
adalah awal dari perubahan, awal dari kebangkitan tradisi yang selama ini terlupakan.
Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak di bawah
sinar matahari pagi. Daun-daunnya bergoyang pelan ditiup angin, seolah-olah
melambai kepada mereka. Akar-akarnya yang besar diam menjalar di tanah, tidak
bergerak, tidak berguncang. Batang utamanya kokoh, tidak bergetar. Semuanya
tenang. Semuanya damai. Dan di bawah pohon itu, Kyai Beringin berdiri,
tersenyum. Penjaga ciliknya telah mulai menunjukkan taringnya. Masih banyak
yang harus dipelajari, masih banyak yang harus dihadapi, tetapi untuk saat ini,
desa ini aman. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Langit Awan Biru di atas mereka tetap biru. Biru pucat yang
tenang, seperti janji bahwa apa pun yang terjadi, desa ini akan tetap ada, akan
terus dijaga, akan terus hidup. Dan di dalam hati tiga anak yang berjalan
menuju warung pecel, ada keyakinan yang sama: mereka tidak akan menyerah.
Mereka akan menjaga desa ini. Mereka akan menepati janji yang mereka buat
bertahun-tahun lalu di puncak Bukit Pangasih. Bersama.
BAB 19: Pesan dari Leluhur yang Terlupakan
Pagi itu, setelah malam kegelapan yang mengguncang desa,
setelah cahaya biru dari tangan Amat menyelamatkan Awan Biru dari selubung
hitam yang nyaris membekapnya, Mbah Ratih mengirimkan pesan. Bukan melalui
telepon atau pesan singkat, beliau tidak pernah menggunakan ponsel, tidak
pernah mau disentuh oleh teknologi modern yang menurutnya hanya akan
mengacaukan energi dan mengganggu komunikasi dengan leluhur. Pesan itu
disampaikan melalui Pak Kartono, mantan sekretaris desa yang sudah pensiun tetapi
masih setia menjalankan tugas-tugas kecil untuk Mbah Ratih, seperti
membelikannya gula di pasar atau mengantarkan kue ke rumah tetangga ketika
beliau sedang tidak enak badan.
"Amat, Mbah Ratih minta kamu datang ke rumahnya. Hari
ini. Juga ajak teman-temanmu. Raka, Camelia. Dan tiga anak yang lain.
Hermansyah, Guntur, Amita. Beliau bilang, ini penting. Sangat penting. Jangan
ada yang tidak datang."
Amat yang sedang sarapan dengan ibunya di dapur, nasi
hangat, sayur bening, dan tempe goreng yang masih mengepul, mengangkat
kepalanya dari piring. Ia melihat Pak Karto berdiri di ambang pintu dapur,
dengan topi petani yang sudah lusuh, dengan baju koko putih yang sudah
menguning di kerahnya, dengan tongkat bambu di tangan kanan yang selalu ia bawa
ke mana-mana sejak jatuh dari sepeda motor dua tahun lalu. Wajahnya yang tua
dan keriput itu tampak serius, lebih serius dari biasanya. Ada sesuatu di
matanya, sesuatu yang mirip dengan ketakutan, atau mungkin kekhawatiran, atau
mungkin kesedihan.
"Ada apa, Pak Karto? Apa Mbah Ratih sakit?" tanya
Sumirah cepat, meletakkan sendoknya. Wajahnya yang biasanya tenang itu berubah
cemas. Ia tahu bahwa Mbah Ratih sudah sangat tua, sudah lebih dari delapan
puluh tahun, dan sudah beberapa kali jatuh sakit dalam setahun terakhir. Ia
juga tahu bahwa Mbah Ratih adalah satu-satunya tetua desa yang masih tersisa,
satu-satunya yang masih mengingat cerita-cerita lama, satu-satunya yang masih
bisa menjadi penuntun bagi Amat.
"Tidak, Bu Sum. Beliau sehat. Lebih sehat dari
biasanya, malah. Tadi pagi beliau sudah bangun sejak subuh, sudah membuat
sesaji, sudah membersihkan pendopo. Beliau bilang, hari ini adalah hari yang
penting. Hari yang sudah lama dinanti. Beliau bilang, sudah waktunya."
"Sudah waktunya untuk apa, Pak?" tanya Amat, suaranya
pelan. Ia sudah menduga jawabannya, tetapi ia tetap bertanya. Ia perlu
mendengarnya dari orang lain, perlu memastikan bahwa firasatnya selama ini
benar.
Pak Karto menatap Amat dengan mata yang sudah tua tetapi
masih tajam. "Untuk mewariskan, Nak. Mbah Ratih ingin mewariskan apa yang
selama ini ia jaga. Kepada kalian. Kepada generasi yang akan datang."
Rumah joglo Mbah Ratih terasa berbeda sore itu. Tidak
seperti biasanya yang sejuk dan tenang, dengan angin yang bertiup lembut di
antara tiang-tiang kayu jati dan aroma teh jahe yang selalu mengepul dari
dapur. Sore itu, rumah itu terasa hangat. Hangat yang aneh, hangat yang tidak
biasa, hangat yang keluar bukan dari perapian atau sinar matahari, tetapi dari
dalam. Dari lantai kayu yang dipoles hingga mengkilap, dari dinding-dinding
yang dipenuhi ukiran-ukiran halus, dari langit-langit yang tinggi dengan
balok-balok kayu yang kokoh. Hangat itu terasa seperti pelukan, seperti
sambutan, seperti ucapan selamat datang dari rumah itu sendiri kepada para tamu
yang akan menerima warisan terakhir dari penghuninya.
Di pendopo, Mbah Ratih telah menyiapkan segalanya. Lantai
kayu yang sudah dipoles hingga mengkilap itu ditutupi dengan tikar pandan
anyaman rapat, tikar yang sama yang selalu ia gunakan untuk menerima tamu sejak
puluhan tahun yang lalu, tikar yang sudah halus dan lembut karena sering
diduduki. Di tengah lingkaran, ia telah meletakkan sesaji lengkap: bunga-bunga
dalam rangkaian yang indah, melati putih yang harum semerbak, kenanga kuning
yang wangi, mawar merah yang segar, ditata dalam bokor tembaga yang sudah tua
tetapi masih mengkilap karena selalu dibersihkan; dupa yang dibakar dalam
perunggu kecil, asapnya mengepul tipis membawa aroma kemenyan yang khas, aroma
yang mengingatkan pada upacara-upacara adat di masa lalu; dan beberapa jenis
makanan tradisional yang disusun rapi di atas piring-piring porselen putih:
nasi tumpeng kecil yang menguning karena kunyit, ayam panggang utuh yang masih
mengepulkan uap, telur asin yang dibelah dua, kerupuk kulit yang renyah, dan
aneka jajan pasar seperti klepon, getuk, dan cenil yang dibuat sendiri oleh
Mbah Ratih pagi itu dengan tangan yang sudah gemetar karena usia tetapi masih
telaten.
Amat datang lebih dulu, diikuti oleh Raka dan Camelia yang
ia jemput di rumah masing-masing. Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan
setapak yang sudah mereka lalui ribuan kali sejak kecil, melewati rumah-rumah
warga yang mulai sibuk dengan aktivitas sore, melewati pohon beringin tua yang
kini tampak tenang setelah malam kegelapan itu, melewati sumur tua yang sudah
mulai dibersihkan oleh warga. Sesampainya di rumah Mbah Ratih, mereka melihat
Hermansyah, Guntur, dan Amita sudah duduk di pendopo, dengan wajah yang masih
dipenuhi rasa penasaran dan sedikit ketakutan setelah kejadian malam itu.
Hermansyah duduk dengan kaku, tangannya memegang erat buku catatan kecil yang
selalu ia bawa untuk mencatat hal-hal teknis, seperti biasanya. Guntur duduk
dengan gelisah, kakinya bergerak-gerak seperti orang yang tidak bisa diam,
matanya melirik ke kiri dan ke kanan, mengamati sesaji yang terlihat mewah.
Amita duduk dengan anggun, seperti biasanya, rambut panjangnya diikat rapi,
pakaiannya rapi, wajahnya tenang meskipun matanya menunjukkan bahwa ia juga
merasa canggung berada di tempat yang biasanya hanya dikunjungi oleh
orang-orang tua.
Pak Karto sudah duduk di sudut pendopo, di kursi bambu yang
biasa ia gunakan ketika berkunjung ke rumah Mbah Ratih. Ia datang lebih awal
untuk membantu mempersiapkan sesaji, untuk memastikan bahwa semua yang
diperlukan sudah tersedia, untuk menemani Mbah Ratih yang mungkin merasa gugup
meskipun ia tidak pernah menunjukkannya. Ia tersenyum ketika melihat Amat,
Raka, dan Camelia masuk, memberi isyarat agar mereka segera duduk di tikar yang
sudah disediakan.
"Silakan duduk, anak-anak. Mbah Ratih sebentar lagi
keluar. Beliau sedang mengambil sesuatu di dalam."
Mereka semua duduk di lantai kayu pendopo, membentuk
lingkaran tidak sempurna di sekitar sesaji. Amat duduk di dekat pintu yang
menghubungkan pendopo dengan bagian dalam rumah, tempat Mbah Ratih biasanya
keluar. Raka duduk di samping Amat, dengan besek pecel yang ia bawa dari rumah,
karena baginya tidak ada pertemuan penting yang layak tanpa pecel, meskipun ia
tidak yakin apakah boleh membawa makanan ke rumah Mbah Ratih ketika sesaji
sudah disiapkan. Camelia duduk di samping Raka, dengan buku catatan yang sudah
terbuka di pangkuannya, pulpen di tangannya, siap mencatat apa pun yang akan
dikatakan oleh Mbah Ratih. Hermansyah, Guntur, dan Amita duduk di seberang
mereka, dengan ekspresi yang berbeda-beda tetapi sama-sama penuh perhatian.
Beberapa saat kemudian, Mbah Ratih keluar dari pintu dalam.
Ia berjalan perlahan, dengan langkah yang mantap meskipun tubuhnya sudah renta,
dengan pakaian adat Jawa lengkap: kebaya putih dengan motif bunga-bunga kecil
yang sudah pudar warnanya karena usia, jarik batik parang rusak yang melilit di
pinggang hingga mata kaki, selendang batik yang disampirkan di bahu kiri, dan
rambut putihnya yang disanggul rapi dengan tusuk konde dari perak. Di tangannya,
ia membawa sebuah kotak kayu kecil. Kotak itu terbuat dari kayu jati, dengan
ukiran-ukiran halus yang sama dengan yang ada di lemari arsip balai desa,
dengan warna coklat tua yang mengkilap karena sering diusap. Kotak itu tidak
besar, hanya seukuran telapak tangan orang dewasa, tetapi ketika Mbah Ratih
membawanya, ia terasa berat, berat dengan makna, berat dengan sejarah, berat
dengan warisan yang akan disampaikan.
Mbah Ratih duduk di tengah lingkaran, tepat di depan
sesaji. Ia meletakkan kotak kayu itu di hadapannya, lalu menatap satu per satu
anak-anak yang duduk di sekelilingnya. Matanya yang tua tetapi masih jernih itu
bergerak dari Amat ke Raka, ke Camelia, ke Hermansyah, ke Guntur, ke Amita,
lalu kembali ke Amat. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang tidak bisa
dijelaskan dengan kata-kata. Kebanggaan? Harapan? Kesedihan? Atau mungkin semua
itu sekaligus.
"Saya sudah tua," kata Mbah Ratih memulai,
suaranya pelan tetapi jelas, terdengar di seluruh pendopo meskipun tidak pernah
meninggi. Suara yang telah delapan puluh tahun hidup di desa ini, suara yang
telah menyaksikan lebih banyak perubahan daripada siapa pun di ruangan ini.
"Sudah delapan puluh tahun saya hidup di desa ini. Mungkin lebih, karena
saya sendiri tidak tahu pasti kapan saya lahir. Tidak ada catatan. Dulu, orang
tidak terlalu peduli dengan tanggal lahir. Yang penting adalah hidup, bekerja,
menjaga keluarga, dan suatu hari nanti mati dengan tenang."
Ia berhenti sejenak, menyesap teh jahe yang sudah disiapkan
di sampingnya, teh yang sama yang selalu ia seduh untuk tamu-tamunya sejak
puluhan tahun yang lalu. "Saya lahir di desa ini, di rumah ini, di kamar
yang sama yang sekarang saya gunakan untuk tidur. Ibu saya melahirkan saya di
kamar itu, di atas tempat tidur yang sama yang sekarang masih saya gunakan. Mak
Darsih, neneknya Mak Darmi yang dulu membantu kelahiran Amat, yang membantu
kelahiran saya. Saya melihat desa ini berubah, dari zaman ketika orang-orang
masih percaya pada leluhur, masih melakukan ritual-ritual setiap musim tanam
dan musim panen, masih menghormati pohon beringin dan sumur tua dan mata air di
lereng bukit. Saya melihat desa ini berubah menjadi zaman ketika orang-orang
mulai sibuk dengan urusan mereka sendiri, mulai melupakan ritual-ritual itu,
mulai menganggap cerita-cerita leluhur hanya sebagai dongeng pengantar tidur.
Dan sekarang, saya melihat bahwa waktu saya tidak lama lagi. Tubuh saya sudah
tua, tenaga saya sudah habis, dan ada yang harus saya wariskan sebelum saya
pergi. Ada yang harus saya titipkan kepada kalian."
Raka yang biasanya cerewet, yang selalu punya lelucon dalam
setiap situasi, kali ini hanya bisa diam. Matanya berkaca-kaca, meskipun ia
berusaha keras untuk tidak menangis. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan
sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Camelia memegang erat buku
catatannya, tetapi ia tidak menulis. Ia hanya mendengarkan, menyerap setiap
kata yang keluar dari mulut Mbah Ratih, takut melewatkan satu pun. Hermansyah,
Guntur, dan Amita duduk dengan kaku, dengan ekspresi yang campur aduk antara terhormat
dan takut, sadar bahwa mereka sedang menjadi saksi dari sesuatu yang sangat
penting, sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi lagi dalam hidup mereka.
Mbah Ratih membuka kotak kayu itu perlahan. Jari-jarinya
yang keriput dan gemetar membuka kunci kecil dari perak yang menahan kotak itu
tetap tertutup. Suara kunci itu berbunyi klik pelan, tetapi
terdengar jelas di keheningan pendopo. Ia mengangkat tutup kotak itu, dan di
dalamnya, terhampar benda-benda yang selama ini ia jaga, yang selama ini ia simpan,
yang selama ini ia tunggu-tunggu pemiliknya yang tepat.
"Ini adalah warisan terakhir dari leluhur kita,"
kata Mbah Ratih, suaranya lebih berat sekarang, lebih dalam, seperti suara yang
keluar dari perut bumi. Ia mengeluarkan benda-benda itu satu per satu,
meletakkannya di atas kain beludru hitam yang telah ia bentangkan di depannya.
"Lontar-lontar ini berisi ajaran-ajaran tentang penjagaan desa. Tentang
ritual-ritual yang harus dilakukan. Tentang mantra-mantra yang harus dibaca.
Tentang cara berkomunikasi dengan penjaga-penjaga yang ditugaskan oleh leluhur.
Ditulis oleh tangan Eyang Jayabaya sendiri, tiga ratus tahun yang lalu. Ditulis
dengan tinta dari getah pohon, di atas daun lontar yang diproses dengan cara
tradisional. Ditulis dengan aksara Jawa kuno, aksara yang hanya dikuasai oleh
sedikit orang sekarang."
Ia mengangkat lembaran lontar yang pertama. Lembaran itu
sudah sangat tua, berwarna coklat kehitaman, dengan serat-serat yang mulai
terurai di tepi-tepinya. Tulisan di atasnya masih terbaca, aksara-aksara yang
ditata dengan rapi, dengan tinta yang sudah memudar menjadi coklat kemerahan.
Amat menerima lontar itu dengan tangan gemetar, merasakan beban sejarah yang
luar biasa di telapak tangannya. Ia tidak perlu membaca untuk tahu bahwa ini
adalah sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang tidak boleh hilang, sesuatu
yang harus dijaga dengan segenap jiwa dan raga.
Mbah Ratih mengeluarkan benda kedua: sebuah keris kecil.
Keris itu tidak lebih panjang dari telapak tangan orang dewasa, dengan bilah yang
berkelok-kelok sebelas, dengan gagang dari kayu cendana yang diukir halus,
dengan warangka dari kayu timoho yang dilapisi emas tipis. Bilahnya masih
mengkilap, masih tajam, meskipun sudah berusia tiga ratus tahun. "Keris
ini adalah pusaka yang harus dipegang oleh penjaga desa. Konon, keris ini
dibuat oleh Mpu Gandring, empu keris legendaris dari zaman Majapahit. Diberikan
oleh leluhur pertama kepada penjaga desa yang ditugaskan menjaga keseimbangan.
Keris ini bukan senjata untuk melukai, tetapi senjata untuk melindungi. Ia
adalah simbol kekuasaan, simbol tanggung jawab, simbol bahwa penjaga desa
memiliki wewenang untuk bertindak atas nama leluhur."
Amat menerima keris itu dengan kedua tangan. Keris itu
terasa hangat di tangannya, hangat yang sama seperti liontin batu biru di
lehernya. Hangat yang tidak biasa, hangat yang terasa seperti ada kehidupan di
dalamnya, seperti ada sesuatu yang terbangun setelah tidur panjang, seperti ada
sesuatu yang mengenalinya sebagai pemilik yang sejati.
Mbah Ratih mengeluarkan benda ketiga, yang terakhir: sebuah
buku catatan yang sudah sangat usang. Buku itu tidak seperti buku-buku pada
umumnya. Sampulnya dari kulit kayu yang sudah menghitam, dengan tulang punggung
dari serat nanas yang sudah rapuh. Halaman-halamannya dari kertas daluang yang
sudah menguning, dengan tulisan tangan yang berbeda-beda, ada yang rapi, ada
yang buruk, ada yang menggunakan aksara Jawa, ada yang menggunakan huruf Latin,
ada yang menggunakan campuran keduanya. "Dan buku ini... buku ini adalah catatan
dari para penjaga sebelumnya. Dari generasi ke generasi. Tentang apa yang
mereka alami. Tentang apa yang mereka pelajari. Tentang kesalahan-kesalahan
yang mereka buat. Tentang kemenangan-kemenangan yang mereka raih. Tentang
bagaimana mereka menjaga desa ini, bagaimana mereka berkomunikasi dengan
penjaga-penjaga, bagaimana mereka menghadapi ancaman-ancaman dari
makhluk-makhluk yang dikurung. Buku ini adalah akumulasi dari tiga ratus tahun
pengalaman, tiga ratus tahun kebijaksanaan, tiga ratus tahun perjuangan. Jangan
pernah kehilangan buku ini. Jangan pernah membiarkannya rusak. Dan yang
terpenting, jangan pernah berhenti menulis di dalamnya. Teruskan catatan ini
untuk generasi yang akan datang."
Mbah Ratih menyerahkan buku itu kepada Amat. Amat
menerimanya dengan tangan yang tidak lagi gemetar. Ia menggenggam buku itu
erat-erat, merasakan beratnya, bukan berat fisik, tetapi berat makna. Ia merasa
bahwa buku itu bukan hanya kumpulan catatan, tetapi juga amanah. Amanah dari
orang-orang yang telah mati, amanah dari orang-orang yang telah berjuang,
amanah dari leluhur yang masih menjaga desa ini dari alam lain.
Setelah memberikan warisan itu, Mbah Ratih meminta mereka
semua untuk duduk lebih dekat. Ia ingin mereka mendengar pesan terakhirnya,
pesan yang tidak akan ia ulang lagi, pesan yang harus mereka ingat seumur
hidup. Ia memandang satu per satu, dengan mata yang teduh tetapi penuh dengan
api, api yang tidak padam meskipun tubuhnya sudah tua, api yang akan terus
menyala dalam diri anak-anak ini.
"Anak-anak, saya sudah tidak punya banyak waktu. Tubuh
saya sudah tua, dan saya merasakan bahwa saya akan segera bergabung dengan
leluhur. Bukan karena sakit, bukan karena lemah, tetapi karena sudah waktunya.
Setiap yang hidup pasti mati. Setiap yang terbit pasti tenggelam. Setiap yang
lahir pasti kembali. Itu adalah hukum alam yang tidak bisa dilawan. Tapi
sebelum saya pergi, ada beberapa pesan yang harus kalian ingat. Pesan ini bukan
dari saya, tetapi dari leluhur yang telah menjaga desa ini selama tiga ratus
tahun. Pesan ini adalah amanah yang harus kalian jaga, yang harus kalian
laksanakan, yang harus kalian wariskan kepada generasi setelah kalian."
Mereka semua duduk dengan khidmat, mendengarkan setiap kata
yang keluar dari mulut Mbah Ratih. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang
berbisik, tidak ada yang berani memecah keheningan. Bahkan Raka, yang biasanya
tidak bisa diam lebih dari lima menit, duduk dengan kaku, matanya terpaku pada
Mbah Ratih, telinganya terbuka lebar.
"Pertama, jangan pernah melupakan akar kalian. Desa
ini didirikan oleh leluhur yang datang dari kejauhan, dari pesisir utara Pulau
Jawa, dari tempat di mana matahari terbit dari balik lautan. Mereka berjalan
berminggu-minggu, melewati hutan dan pegunungan, mencari tanah yang subur,
mencari tempat yang aman, mencari tempat di mana mereka bisa membangun
kehidupan baru. Mereka tidak datang untuk menguasai, tetapi untuk menjaga.
Mereka menjaga tanah ini, menjaga air ini, menjaga hutan ini, agar anak cucu
mereka bisa hidup dengan damai. Itu adalah warisan yang paling berharga. Bukan
emas, bukan perak, bukan harta benda, tetapi amanah untuk menjaga. Jangan
pernah lupa bahwa kalian berdiri di atas tanah yang telah dijaga oleh leluhur
selama tiga ratus tahun. Jangan pernah lupa bahwa kalian bukan pemilik desa ini,
tetapi penjaganya."
"Kedua, jangan pernah takut pada hal-hal yang tidak
kalian pahami. Ketakutan hanya akan membuat kalian lemah. Ketakutan hanya akan
membuat kalian buta. Ketakutan hanya akan membuat kalian kehilangan akal sehat.
Sebaliknya, belajarlah untuk memahami. Dunia ini tidak hanya terdiri dari apa
yang bisa dilihat dan diraba. Ada banyak hal yang berada di luar jangkauan
indra kita, tetapi itu tidak berarti tidak nyata. Belajarlah untuk melihat
dengan hati, bukan hanya dengan mata. Belajarlah untuk mendengar dengan jiwa,
bukan hanya dengan telinga. Belajarlah untuk merasakan dengan inti keberadaan
kalian, bukan hanya dengan kulit. Dan ketika kalian mulai memahami, ketakutan
itu akan berubah menjadi rasa hormat. Dan rasa hormat itu akan menjadi
kekuatan."
"Ketiga, jangan pernah berjuang sendirian. Amat, kamu
adalah penjaga yang ditakdirkan. Kamu memiliki mata yang bisa melihat yang
tidak terlihat, telinga yang bisa mendengar yang tidak terdengar, hati yang
bisa merasakan yang tidak terasa. Tapi kamu tidak bisa menjaga desa ini
sendirian. Tidak ada manusia yang bisa melakukan segalanya sendirian. Kamu
butuh teman-temanmu, kamu butuh warga desa, kamu butuh semua orang yang peduli
pada desa ini. Jangan pernah merasa bahwa beban ini hanya milikmu. Bagilah
dengan orang-orang yang percaya padamu. Bagilah dengan orang-orang yang
bersedia berdiri di sampingmu. Karena ketika banyak orang bersatu, tidak ada
kegelapan yang terlalu pekat untuk ditembus, tidak ada gunung yang terlalu
tinggi untuk didaki, tidak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul."
"Keempat, jangan pernah melupakan tawa. Raka, kamu
mungkin tidak memiliki kekuatan gaib seperti Amat. Kamu mungkin tidak memiliki
kecerdasan seperti Camelia. Kamu mungkin tidak memiliki keahlian teknis seperti
Hermansyah. Kamu mungkin tidak memiliki kekuatan fisik seperti Guntur. Kamu
mungkin tidak memiliki kepekaan seni seperti Amita. Tapi kamu memiliki sesuatu
yang lebih berharga: kemampuan untuk membuat orang tertawa, bahkan di saat yang
paling gelap sekalipun. Jaga itu. Tawa adalah obat yang paling mujarab. Tawa
adalah senjata yang paling ampuh. Tawa adalah cahaya yang paling terang di
tengah kegelapan. Karena ketika orang tertawa, ketakutan mereka hilang. Ketika
orang tertawa, hati mereka terbuka. Ketika orang tertawa, mereka menjadi kuat.
Dan dalam pertempuran yang akan kalian hadapi nanti, tawa adalah senjata yang
tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan apa pun."
Mbah Ratih berhenti sejenak, menatap Raka dengan mata yang
penuh kasih. Raka yang biasanya selalu tersenyum, yang selalu punya lelucon
untuk setiap situasi, kali ini tidak bisa menahan air matanya. Air mata itu
mengalir di pipinya yang bulat, membasahi senyum yang masih berusaha ia
pertahankan. Ia tidak menyangka bahwa Mbah Ratih, tetua desa yang begitu
dihormati, akan mengatakan bahwa ia memiliki sesuatu yang berharga. Selama ini
ia merasa bahwa ia hanya anak pecel, hanya pelawak, hanya pelengkap. Tapi Mbah
Ratih membuka matanya. Ia melihat bahwa tawa adalah senjata. Ia melihat bahwa
ia penting. Ia melihat bahwa ia memiliki peran dalam menjaga desa ini.
"Kelima, dan yang terakhir, jangan pernah menyerah.
Jalan yang akan kalian lalui tidak akan mudah. Akan ada saat-saat ketika kalian
merasa putus asa. Akan ada saat-saat ketika kalian merasa bahwa semua usaha
kalian sia-sia. Akan ada saat-saat ketika kalian merasa bahwa kegelapan terlalu
kuat untuk dilawan. Tapi ingatlah, kegelapan tidak akan pernah bisa mengalahkan
cahaya selama masih ada satu orang yang berani menyalakan lilin. Dan kalian,
anak-anak, adalah lilin-lilin itu. Kalian adalah cahaya yang akan menerangi
desa ini di masa-masa yang gelap. Kalian adalah harapan yang akan menjaga desa
ini tetap hidup. Jangan pernah padam. Jangan pernah redup. Jangan pernah
menyerah."
Mbah Ratih berhenti berbicara. Matanya yang tua menatap
satu per satu anak-anak yang duduk di hadapannya. Ada kebanggaan di matanya,
kebanggaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada harapan di
matanya, harapan bahwa anak-anak ini akan menjadi penjaga yang lebih baik dari
generasi sebelumnya. Ada juga sedikit kesedihan di matanya, kesedihan karena ia
tahu ia tidak akan melihat mereka tumbuh menjadi dewasa, tidak akan melihat
mereka menjadi penjaga yang sesungguhnya, tidak akan melihat desa ini aman
untuk selamanya. Tapi ia percaya. Ia percaya pada Amat, pada Raka, pada
Camelia, pada Hermansyah, pada Guntur, pada Amita. Ia percaya bahwa mereka akan
mampu. Ia percaya bahwa warisan yang ia titipkan tidak akan sia-sia. Ia percaya
bahwa desa ini akan terus hidup.
Mereka semua berpamitan satu per satu. Hermansyah, Guntur,
dan Amita pulang terlebih dahulu, dengan perasaan campur aduk antara bangga dan
khawatir. Hermansyah menggenggam erat buku catatan teknis yang selalu ia bawa,
bertekad untuk mempelajari simbol-simbol dan mekanisme penjagaan yang ada di
lontar-lontar kuno itu. Guntur berjalan dengan langkah yang lebih mantap dari
biasanya, merasakan tanggung jawab baru di pundaknya yang bidang, tanggung
jawab untuk menjadi pelindung fisik desa ini. Amita berjalan dengan anggun,
seperti biasanya, tetapi matanya menunjukkan tekad yang baru, tekad untuk
menggunakan kepekaan seninya untuk menjadi penghubung antara dunia manusia dan
dunia lain, melalui tarian dan nyanyian yang telah ia pelajari sejak kecil.
Raka dan Camelia masih tinggal sebentar, menemani Amat yang
duduk di samping Mbah Ratih. Mereka bertiga duduk di pendopo yang mulai sunyi,
dengan sesaji yang masih utuh di tengah lingkaran, dengan dupa yang masih
mengepulkan asap tipis, dengan aroma kemenyan yang masih menggantung di udara.
Matahari sudah mulai condong ke barat, cahayanya berubah dari putih menjadi
jingga keemasan, masuk melalui celah-celah ukiran kayu, menciptakan pola-pola
cahaya yang indah di lantai pendopo.
"Mbah, aku takut," kata Amat jujur, suaranya
pelan, nyaris tidak terdengar. Ia menggenggam erat kotak kayu yang berisi
warisan leluhur, merasakan beratnya di tangannya. "Aku takut tidak bisa
memenuhi harapan semua orang. Aku takut tidak bisa menjadi penjaga yang baik.
Aku takut mengecewakan leluhur. Aku takut mengecewakan Mbah. Aku takut... aku
takut sendirian."
Mbah Ratih mengusap rambut Amat, sama seperti yang
dilakukannya ketika Amat masih kecil, ketika ia masih sering datang ke rumah
ini untuk mendengarkan cerita-cerita dongeng. Tangannya yang keriput dan
gemetar itu bergerak lembut di rambut Amat yang hitam dan lebat, mengusap,
menenangkan, memberi kekuatan. "Kamu tidak perlu takut, Nak. Kamu sudah
membuktikan bahwa kamu mampu. Malam kemarin, ketika kegelapan menyelimuti desa,
ketika semua orang panik dan ketakutan, kamu tidak lari. Kamu berdiri di sana,
di bawah pohon beringin, dengan cahaya biru dari tanganmu, melindungi desa ini.
Itu sudah lebih dari yang bisa dilakukan oleh kebanyakan orang. Itu sudah lebih
dari yang bisa dilakukan oleh penjaga-penjaga sebelumnya di usiamu. Kamu kuat,
Amat. Lebih kuat dari yang kamu kira."
"Aku hanya melakukan apa yang Kyai Beringin katakan.
Aku hanya mengikuti petunjuknya. Tanpa beliau, aku tidak akan bisa melakukan
apa-apa."
"Dan kamu melakukannya dengan baik. Itu yang penting.
Kyai Beringin hanya memberi petunjuk, tetapi kamu yang melakukannya. Kamu yang
berdiri di sana. Kamu yang menyalurkan energi. Kamu yang mengusir kegelapan.
Percayalah pada dirimu sendiri, Nak. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira. Kamu
lebih mampu dari yang kamu bayangkan."
Mbah Ratih menatap Raka dan Camelia yang duduk di samping
Amat. "Kalian berdua, jaga Amat. Dia akan melalui masa-masa yang sulit.
Akan ada saat-saat ketika dia merasa lemah, ketika dia merasa putus asa, ketika
dia merasa ingin menyerah. Tapi dengan kalian di sisinya, saya yakin dia akan
kuat. Karena tidak ada yang lebih kuat dari persahabatan yang tulus. Tidak ada
yang lebih kokoh dari ikatan yang dibangun di atas kepercayaan dan kasih
sayang."
Camelia menggenggam tangan Amat yang satunya, tangannya
yang kecil dan dingin tetapi kuat, sama seperti ketika mereka masih kecil di
puncak Bukit Pangasih. "Kami akan menjaganya, Mbah. Kami tidak akan
meninggalkannya. Kami akan berdiri di sampingnya, apa pun yang terjadi. Itu
janji kami."
Raka yang biasanya cerewet, yang selalu punya lelucon untuk
setiap situasi, kali ini hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia
tidak bisa berkata-kata. Ia hanya memegang pundak Amat dengan kuat, menunjukkan
bahwa ia ada di sana, bahwa ia tidak akan pergi, bahwa ia akan selalu menjadi
teman yang setia.
Mbah Ratih tersenyum. Senyum yang hangat, senyum yang penuh
dengan kebahagiaan, senyum yang mengatakan bahwa ia tidak khawatir lagi.
"Bagus. Sekarang pulanglah. Hari sudah malam. Besok kalian masih harus
sekolah. Kalian masih harus belajar. Kalian masih harus menjadi anak-anak.
Nikmati masa remaja kalian. Tertawa sebanyak mungkin. Bermain sebanyak mungkin.
Karena suatu hari nanti, ketika tanggung jawab semakin berat, kalian akan
merindukan masa-masa ini."
Mereka bertiga berpamitan, berdiri, dan berjalan keluar
dari pendopo. Amat berjalan paling belakang, sesekali menoleh ke belakang,
menatap Mbah Ratih yang masih duduk di tengah pendopo, dengan sesaji di
depannya, dengan kotak kayu kosong di sampingnya, dengan senyum yang masih merekah
di bibirnya yang keriput.
Setelah mereka semua pergi, Mbah Ratih masih duduk
sendirian di pendopo. Pak Karto yang tadinya duduk di sudut, ikut pulang
setelah membantu membereskan sesaji. Rumah joglo itu kembali sunyi, seperti
biasanya. Hanya ada Mbah Ratih, dan kenangan-kenangan yang menumpuk di setiap
sudut rumah ini.
Ia mengambil sebuah foto dari balik bantalnya. Foto itu
sudah sangat tua, hitam putih, dengan pinggiran yang bergerigi karena sudah
sering dipegang. Di foto itu, terlihat beberapa orang berdiri di depan rumah
joglo ini, berpakaian adat Jawa lengkap. Di tengah, berdiri seorang pria dengan
kumis tebal dan blangkon, dengan keris di pinggang. Itu adalah suaminya, yang
telah meninggal puluhan tahun yang lalu. Di sampingnya, berdiri seorang
perempuan muda dengan kebaya dan jarik, dengan rambut disanggul rapi, dengan
senyum yang ceria. Itu adalah dirinya, ketika masih muda. Di belakang mereka,
berdiri beberapa orang lain: tetua-tetua desa yang telah lama tiada,
penjaga-penjaga yang telah lama pergi, teman-teman yang telah lama
meninggalkannya.
Matanya berkaca-kaca, tetapi senyumnya tetap merekah. Ia
menatap foto itu lama sekali, seolah-olah sedang berbicara dengan orang-orang
di dalamnya, seolah-olah sedang melaporkan bahwa tugasnya telah selesai, bahwa
warisan telah disampaikan, bahwa pengganti telah ditemukan.
"Kita sudah menemukan penggantinya," bisiknya
pada foto itu, suaranya pelan, lembut, seperti sedang berbicara pada suami yang
telah tiada, pada teman-teman yang telah pergi, pada leluhur yang masih
menjaga. "Dan dia tidak sendirian. Dia punya teman-teman yang setia. Dia
punya orang-orang yang peduli padanya. Dia punya desa yang akan melindunginya,
sama seperti dia akan melindungi desa ini. Kalian tidak perlu khawatir. Aku
sudah melakukan yang terbaik. Aku sudah menjaga warisan ini selama yang aku
bisa. Sekarang, giliran mereka."
Ia menaruh foto itu di dadanya, di dekat jantungnya yang
masih berdetak, tetapi tidak akan berdetak lama lagi. Ia memejamkan mata,
merasakan angin sore yang bertiup lembut di pendopo, merasakan aroma dupa yang
masih menggantung di udara, merasakan kehangatan dari lantai kayu yang telah
menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya.
Di luar, matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Langit
berubah warna dari jingga menjadi ungu, dari ungu menjadi biru gelap, dari biru
gelap menjadi hitam yang dihiasi bintang-bintang. Bulan sabit tipis muncul di
ufuk timur, memberikan cahaya peraknya yang lembut ke seluruh desa. Kabut tipis
mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit, menyelimuti desa dengan selimut
putih yang dingin dan lembab.
Mbah Ratih masih duduk di pendopo, memandangi langit yang
mulai gelap. Ia merasa damai. Ia merasa bahwa semua yang harus ia lakukan telah
ia lakukan. Ia merasa bahwa desa ini akan baik-baik saja. Ia merasa bahwa
anak-anak itu akan mampu. Ia merasa bahwa warisan leluhur tidak akan hilang.
Ia tersenyum. Senyum yang terakhir, meskipun ia tidak tahu
itu yang terakhir. Senyum yang penuh dengan kedamaian, senyum yang mengatakan
bahwa ia siap untuk pergi, bahwa ia siap untuk bergabung dengan leluhur, bahwa
ia siap untuk beristirahat setelah delapan puluh tahun berjuang.
"Selamat jalan, anak-anak," bisiknya pada angin
malam. "Jaga desa ini. Jaga satu sama lain. Dan jangan lupa untuk tetap tertawa."
BAB 20: Gerbang Rahasia di Tengah Hutan
Beberapa minggu setelah malam kegelapan yang mengguncang
desa, setelah cahaya biru dari tangan Amat menyelamatkan Awan Biru dari
selubung hitam yang nyaris membekapnya, setelah Mbah Ratih menyerahkan warisan
terakhir leluhur kepada generasi penerus, Amat merasa bahwa sudah waktunya
untuk kembali ke Hutan Larangan. Bukan sekadar untuk melihat-lihat seperti
kunjungan pertama mereka bertahun-tahun yang lalu, bukan sekadar untuk
membuktikan bahwa ia tidak takut lagi pada hutan yang dianggap angker oleh
warga desa. Kali ini ada tujuan yang lebih jelas, lebih mendesak, lebih
penting. Peta kuno yang mereka temukan di ruang arsip kantor desa, peta yang
digambar dengan tinta dari getah pohon di atas kertas daluang yang sudah rapuh,
peta yang ditulis oleh tangan Eyang Jayabaya sendiri tiga ratus tahun yang
lalu, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang penting di tengah Hutan Larangan.
Sesuatu yang mungkin menjadi kunci untuk memperkuat segel-segel yang mulai
rapuh, sesuatu yang mungkin menjadi petunjuk tentang bagaimana cara
menghentikan makhluk di batu hitam itu untuk selamanya, sesuatu yang mungkin
menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menghantui tidur
Amat.
Kali ini, mereka tidak datang sendiri. Hermansyah, Guntur,
dan Amita ikut serta. Mereka telah diberi tahu oleh Mbah Ratih tentang tanggung
jawab yang mungkin harus mereka pikul, tentang peran mereka dalam menjaga
keseimbangan desa ini, tentang pentingnya persatuan dan kerja sama. Mereka
semua setuju untuk membantu. Bukan karena terpaksa, bukan karena merasa wajib,
tetapi karena mereka peduli. Mereka peduli pada desa ini, pada teman-teman
mereka, pada warisan leluhur yang hampir dilupakan. Hermansyah, yang biasanya
lebih suka menghabiskan waktu di bengkel kecil di belakang rumahnya daripada
berkumpul dengan orang banyak, merasa bahwa keahlian teknisnya mungkin berguna
untuk memahami simbol-simbol dan mekanisme penjagaan. Guntur, yang kuat dan
pemberani, merasa bahwa desa ini membutuhkan pelindung fisik, dan ia siap
menjadi salah satunya. Amita, yang memiliki kepekaan seni yang tinggi, merasa
bahwa ia bisa menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia lain, melalui
tarian dan nyanyian yang telah ia pelajari sejak kecil.
Persiapan dilakukan dengan matang, lebih matang dari
persiapan mereka sebelumnya. Camelia, yang bertindak sebagai koordinator dan
pencatat, mempelajari peta itu berulang kali. Ia menghafal setiap detail:
setiap lekukan sungai, setiap formasi batu, setiap titik penjagaan yang
ditandai dengan simbol-simbol kuno. Ia membuat salinan peta di buku catatannya
dengan sangat teliti, menggunakan pensil warna yang ia beli di toko alat tulis
di kecamatan, berusaha meniru setiap warna dan simbol yang ada di peta asli. Ia
juga menulis catatan panjang tentang rute yang akan mereka ambil, tentang
perkiraan waktu tempuh, tentang titik-titik yang harus diwaspadai. Buku
catatannya yang sudah mulai menebal itu kini semakin tebal, dengan
halaman-halaman yang penuh dengan tulisan rapi dan diagram-diagram yang rumit.
Hermansyah, dengan ketelitiannya yang khas, menyiapkan
perlengkapan teknis. Ia membawa senter cadangan dengan baterai yang masih
penuh, kompas yang sudah ia kalibrasi pagi itu, tali nilon yang kuat untuk
berjaga-jaga jika ada yang terjatuh atau tersesat, pisau lipat yang selalu ia
bawa ke mana-mana, dan beberapa peralatan teknis lainnya yang mungkin berguna.
Ia juga membawa kamera digital tua milik ayahnya, untuk mendokumentasikan apa
pun yang mereka temukan. "Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di
sana," katanya sambil memeriksa peralatan satu per satu. "Lebih baik
siap untuk segala kemungkinan."
Guntur, dengan fisiknya yang kuat dan energik, membawa
perlengkapan yang lebih berat. Ia membawa parang besar yang biasa digunakan
untuk membuka jalan di hutan, air minum dalam jeriken plastik yang cukup untuk
enam orang seharian, makanan ringan seperti biskuit dan roti yang dibungkus
rapi, dan jaket tebal untuk berjaga-jaga jika suhu turun drastis seperti yang
terjadi pada kunjungan sebelumnya. Ia juga membawa kotak P3K kecil yang
disiapkan oleh ibunya, berisi perban, obat merah, dan obat-obatan dasar.
"Ibu saya bilang, kalau mau ke hutan, jangan lupa bawa obat," katanya
sambil tertawa. "Katanya, lebih baik sedia payung sebelum hujan."
Amita, dengan kepekaannya yang tinggi, membawa alat-alat
untuk ritual. Ia membawa bunga-bunga segar yang dipetik dari kebunnya pagi itu,
melati putih yang harum semerbak, kenanga kuning yang wangi, dan mawar merah
yang masih segar dengan tetesan embun di kelopaknya. Ia membawa dupa dan
kemenyan yang dibungkus daun pisang, serta sesaji sederhana berupa nasi tumpeng
kecil dan jajan pasar yang dibuatnya sendiri. "Kita harus minta izin
sebelum masuk," katanya dengan suara lembut. "Hutan ini dijaga. Kita
tidak boleh sembarangan."
Raka, tentu saja, membawa pecel. Bukan satu besek, tetapi
tiga besek besar yang berisi pecel lengkap dengan sambal dan kerupuk, ditambah
dengan beberapa bungkus tahu dan tempe goreng. Ia juga membawa air minum dalam
botol besar, dan beberapa potong buah pisang untuk pencuci mulut. "Ini
bekal paling penting," katanya dengan wajah serius, seperti seorang
jenderal yang sedang mempersiapkan logistik untuk perang. "Kalau kita
tersesat, setidaknya kita tidak mati kelaparan. Kalau kita diserang makhluk
hutan, setidaknya kita punya bekal untuk menenangkan mereka. Makhluk hutan juga
suka makan, kan? Mungkin mereka suka pecel."
Amat, di tengah semua persiapan itu, hanya membawa dua
benda: liontin batu biru yang selalu ia kenakan di lehernya, dan keris kecil
peninggalan leluhur yang diberikan oleh Mbah Ratih. Keris itu ia selipkan di
pinggang, di sisi kiri, seperti yang diajarkan oleh Mbah Ratih. Ia tidak
membawa senter, tidak membawa kompas, tidak membawa bekal. Ia hanya
mengandalkan kepekaannya, pada kemampuannya melihat hal-hal yang tidak terlihat
oleh orang lain, pada hubungannya dengan penjaga-penjaga yang telah
membimbingnya sejak kecil. Ia merasa bahwa di hutan ini, perlengkapan yang
paling penting bukanlah benda-benda fisik, tetapi ketenangan hati, ketulusan niat,
dan kesiapan untuk menerima apa pun yang akan ditemui.
Mereka berangkat pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja
terbit dari balik Bukit Pangasih. Langit masih berwarna jingga keemasan, dengan
sisa-sisa kabut tipis yang bergelayut di antara pepohonan. Desa Awan Biru masih
sunyi, hanya terdengar suara ayam berkokok bersahutan dari berbagai penjuru,
suara burung-burung yang mulai beraktivitas di sarang-sarang mereka, dan suara
langkah kaki mereka yang berderap di jalan setapak yang masih basah oleh embun.
Mereka berjalan melewati sawah-sawah yang mulai menguning karena akan panen,
melewati kebun-kebun sayur yang daunnya masih segar dengan tetesan air,
melewati sungai kecil yang airnya mengalir jernih dengan suara gemericik yang
menenangkan, menuju ke selatan, menembus batas bambu runcing yang menandai
masuknya Hutan Larangan.
Hutan Larangan terasa berbeda dari kunjungan sebelumnya.
Mungkin karena sekarang mereka datang di siang hari, ketika matahari masih
cukup tinggi untuk menembus celah-celah kanopi yang lebat, menerangi jalan
setapak yang sempit dengan cahaya kehijauan yang lembut. Mungkin karena setelah
malam kegelapan itu, setelah Amat memperkuat segel dengan cahaya biru dari
tangannya, hutan ini mulai pulih, mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru,
mulai bangkit dari tidur panjang yang gelisah. Pepohonan yang sebelumnya
terbakar dari dalam, dengan kulit hitam mengelupas dan daun-daun berguguran
meskipun bukan musim kemarau, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Tunas-tunas hijau mulai bermunculan di cabang-cabang yang tadinya hitam dan
gundul, seperti titik-titik harapan di tengah kehancuran. Daun-daun muda yang
masih kecil dan lembut itu berwarna hijau segar, kontras dengan kulit pohon
yang masih hitam di beberapa tempat, seperti luka yang mulai menutup. Tanah
yang tadinya hangat dan mengeluarkan uap tipis kini kembali dingin, kembali
normal, kembali menjadi tanah hutan yang lembab dan subur. Bau belerang yang
menyengat sudah tidak tercium lagi, digantikan oleh bau tanah basah, daun-daun
yang membusuk, dan bunga-bunga liar yang mulai tumbuh di sela-sela akar.
Mereka berjalan mengikuti peta yang dibuat oleh Camelia.
Jalan setapak yang nyaris tidak terlihat itu mereka ikuti dengan hati-hati,
berjalan dalam formasi yang sudah disepakati: Guntur di depan dengan parangnya,
membuka jalan dan membersihkan semak-semak yang menghalangi; Hermansyah di
belakangnya dengan kompas dan buku catatan, mengecek arah dan mencatat setiap
perubahan; Amat di tengah, dengan liontin batu biru yang mulai terasa hangat,
merasakan energi hutan ini, merasakan bahwa mereka berada di jalur yang benar;
Amita di belakang Amat, dengan bunga-bunga di tangannya, sesekali menaburkan
kelopak ke tanah sebagai penghormatan; Camelia di samping Amita, dengan peta di
tangannya, sesekali memeriksa arah dan memberi instruksi; dan Raka di paling
belakang, dengan besek pecel di ranselnya, sesekali melontarkan lelucon untuk
menjaga semangat.
Mereka melewati akar-akar besar yang menjulang seperti
dinding-dinding kecil, melewati batang-batang pohon yang lebarnya mencapai
beberapa meter, melewati aliran-aliran kecil yang airnya sebening kristal
dengan ikan-ikan kecil yang berenang di dasar. Hermansyah, yang biasanya
pendiam dan lebih suka bekerja sendirian di bengkel, menjadi sangat aktif. Ia
mengamati setiap detail lingkungan dengan saksama, mencatat koordinat dengan
kompasnya, mengamati arah mata angin, menandai pohon-pohon yang memiliki bentuk
tidak biasa, mencatat jenis-jenis lumut yang tumbuh di batang-batang pohon. "Ini
menarik," katanya ketika mereka melewati sebuah formasi batu yang tidak
biasa. Batu-batu itu tidak tersebar acak seperti batu-batu pada umumnya, tetapi
tersusun dalam pola tertentu, membentuk lingkaran tidak sempurna dengan satu
batu yang lebih besar di tengahnya. Batu-batu itu ditumbuhi lumut tebal, tetapi
bentuknya masih jelas, masih menunjukkan bahwa mereka diletakkan oleh tangan
manusia, bukan oleh alam. "Batu-batu ini tidak alami. Ada yang
menyusunnya. Mungkin leluhur kita. Mungkin ini adalah salah satu titik
penjagaan yang ditunjukkan dalam peta. Aku harus mencatat koordinatnya."
Amita, yang berjalan di belakang, sesekali berhenti untuk
mengamati bunga-bunga liar yang tumbuh di pinggir jalan. Ia memiliki kepekaan
yang tidak dimiliki oleh yang lain, kemampuan untuk merasakan energi yang
terpancar dari alam, dari pohon-pohon, dari batu-batu, dari tanah. "Ada
energi di sini," katanya pelan, suaranya lembut tetapi jelas. Ia menutup
matanya sejenak, merasakan getaran yang tidak bisa dirasakan oleh telinga biasa,
merasakan aliran yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. "Aku
merasakannya. Seperti... ada yang memperhatikan kita. Tapi tidak jahat. Tidak
seperti makhluk yang Amat temui dalam mimpinya. Hanya... ingin tahu. Mereka
ingin tahu siapa kita, mengapa kita datang, apa yang kita cari. Mereka sudah
lama tidak melihat manusia. Mereka lupa seperti apa manusia."
Guntur yang berjalan paling depan, sesekali berbalik untuk
memastikan semua orang mengikutinya. Parang di tangannya bergerak lincah,
memotong ranting-ranting yang menghalangi, membersihkan ilalang yang tumbuh
tinggi. Fisiknya yang kuat sangat membantu dalam perjalanan yang membutuhkan
tenaga ekstra ini. "Aku senang akhirnya bisa ikut," katanya sambil
menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Wajahnya yang atletis itu
berseri-seri, matanya berbinar-binar, seperti seorang anak yang baru pertama
kali diajak bertualang ke tempat yang selama ini hanya ia dengar dalam cerita.
"Selama ini kalian bertiga selalu pergi sendiri. Ke sumur tua, ke pohon beringin,
ke Hutan Larangan. Kami juga ingin membantu. Kami juga peduli dengan desa ini.
Kami juga ingin menjadi bagian dari penjagaan."
Amat yang berjalan di tengah, menoleh ke belakang dan
tersenyum. "Terima kasih, Gun. Kami memang butuh bantuan. Tidak ada yang bisa
melakukan ini sendirian. Bahkan Kyai Beringin, yang sudah menjaga desa ini
selama tiga ratus tahun, tidak bisa sendirian. Ia butuh penjaga-penjaga lain.
Ia butuh kita. Ia butuh semua orang yang peduli."
Raka, seperti biasa, menjadi penghibur di tengah perjalanan
yang melelahkan. Ia bercerita tentang pengalamannya jatuh ke selokan kemarin
ketika sedang mengantar pecel, tentang bagaimana ia harus pulang dengan pakaian
basah dan bau, tentang bagaimana ibunya marah karena ia tidak mengganti baju
lebih cepat, tentang bagaimana Bapaknya tertawa melihatnya basah kuyup seperti
ayam kehujanan. Ia bercerita tentang pelanggan warung yang aneh-aneh: tentang
Bu Tarno yang selalu memesan pecel dengan sambal tidak pedas tetapi selalu
mengeluh tidak pedas, tentang Pak Darmo yang setiap hari memesan menu yang sama
tetapi selalu bertanya "ada menu baru?" seolah-olah lupa bahwa ia
sudah memesan menu yang sama selama sepuluh tahun, tentang Anto, sopir truk,
yang selalu meramal dari ampas kopi dan mengatakan bahwa hari ini akan hujan
meskipun langit cerah. Ia bercerita tentang segala hal yang tidak penting,
tentang hal-hal konyol yang membuat mereka semua tertawa, melupakan bahwa
mereka sedang berada di hutan terlarang yang konon angker, melupakan bahwa
mereka sedang berjalan menuju sesuatu yang mungkin berbahaya, melupakan bahwa
mereka mungkin tidak akan kembali dengan selamat.
Setelah berjalan sekitar dua jam, dua jam yang terasa
seperti dua puluh menit karena canda tawa Raka yang terus mengalir, tetapi juga
terasa seperti dua hari karena medan yang berat dan semak-semak yang lebat, mereka
tiba di sebuah tempat yang berbeda. Pepohonan di sini tidak terlalu lebat,
tidak seperti di bagian hutan yang lain di mana kanopi saling bertautan
membentuk langit-langit hijau yang rapat. Di sini, ada ruang di antara
pohon-pohon, ada tempat bagi cahaya matahari untuk jatuh ke tanah, ada tempat
bagi angin untuk bertiup lebih bebas. Pohon-pohonnya besar dan tua, lebih besar
dan lebih tua dari pohon-pohon yang mereka lewati sebelumnya. Batang-batangnya
tidak lagi hitam seperti bekas terbakar, tetapi coklat tua dengan serat-serat
yang dalam, dengan lumut tebal berwarna hijau zamrud yang menutupi hampir
seluruh permukaan, membuat batang-batang pohon itu tampak seperti ditutupi oleh
selimut beludru yang lembut. Akar-akarnya menjalar di tanah, tidak menjulang
seperti di bagian lain, tetapi merata, membentuk permukaan yang tidak rata
tetapi tidak menyulitkan untuk dilalui. Daun-daunnya rimbun, dengan warna hijau
yang beragam, dari hijau muda di pucuk-pucuk yang baru tumbuh hingga hijau tua
di daun-daun yang sudah tua.
Di antara pohon-pohon itu, ada sebuah struktur batu yang
tidak biasa. Tidak seperti formasi batu yang mereka lewati sebelumnya, yang
hanya berupa tumpukan batu yang disusun dalam lingkaran. Struktur ini lebih
besar, lebih megah, lebih rumit. Dua tiang batu andesit berdiri tegak,
masing-masing setinggi sekitar tiga meter, dengan lebar sekitar satu meter,
dengan ketebalan setengah meter. Batu itu berwarna abu-abu gelap, hampir hitam,
dengan urat-urat putih yang berkelok-kelok di permukaannya, sama seperti batu
yang dilihat Amat dalam mimpinya. Tiang-tiang itu tidak berdiri sendiri; mereka
ditopang oleh fondasi batu yang lebih lebar, yang tertanam dalam tanah, yang
mungkin menjadi penahan agar tiang-tiang ini tidak roboh meskipun sudah berdiri
selama ratusan tahun. Jarak antara kedua tiang itu sekitar dua meter, cukup
untuk dua orang berjalan berdampingan. Di atas kedua tiang itu, ada sebuah
ambang batu yang menghubungkannya, membentuk seperti pintu gerbang. Ambang batu
itu juga dari andesit, dengan ukiran-ukiran yang lebih rumit dari yang ada di
tiang. Ukiran-ukiran itu tidak hanya di permukaan, tetapi juga di sisi bawah,
sehingga siapa pun yang berjalan di bawah gerbang itu bisa melihatnya dari
dekat.
"Ini dia," kata Camelia, suaranya bergetar
sedikit, bukan karena takut tetapi karena emosi. Ia membuka peta yang ia bawa,
membandingkan gambar di peta dengan struktur di hadapannya. Matanya bergerak
cepat dari peta ke gerbang, dari gerbang ke peta, memeriksa setiap detail,
setiap ukiran, setiap proporsi. "Ini yang ditunjukkan dalam peta. Gerbang
rahasia. Titik kedelapan yang tidak ada di peta sebelumnya. Tempat di mana
leluhur kita menyimpan sesuatu, sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang mungkin
menjadi kunci untuk memperkuat segel."
Mereka semua mendekati gerbang batu itu dengan perasaan
campur aduk. Ada rasa takut, tentu saja, karena ini adalah Hutan Larangan,
tempat yang selama ini dianggap angker oleh warga desa, tempat yang konon
dijaga oleh makhluk-makhluk yang tidak boleh diganggu. Ada rasa penasaran,
karena mereka telah berjalan jauh, telah mempersiapkan diri dengan matang,
telah menantikan momen ini sejak lama. Ada rasa hormat, karena mereka tahu
bahwa ini adalah peninggalan leluhur, sesuatu yang telah berdiri di sini selama
ratusan tahun, sesuatu yang telah menjadi saksi bisu sejarah desa ini.
Batu-batu itu tampak sangat tua, jauh lebih tua dari pohon-pohon di sekitarnya,
jauh lebih tua dari rumah-rumah di desa, jauh lebih tua dari ingatan siapa pun
yang masih hidup. Lumut dan jamur menutupi hampir seluruh permukaan batu,
berwarna hijau tua dan coklat kehitaman, menandakan bahwa mereka telah tumbuh
di sini sejak lama, mungkin sejak gerbang ini pertama kali didirikan. Tetapi
strukturnya masih kokoh, masih kuat, masih berdiri tegak meskipun telah
melewati ratusan tahun hujan dan panas, angin dan badai, gempa dan tanah
longsor. Di permukaan tiang-tiang itu, di sela-sela lumut yang tebal, terdapat
ukiran-ukiran yang sama dengan yang mereka lihat di sumur tua, di lemari arsip
balai desa, di buku-buku peninggalan nenek Amat: lingkaran-lingkaran
konsentris, garis-garis spiral yang berputar searah jarum jam, pola-pola
geometris yang rumit seperti labirin, dan di tengah-tengah semua itu, simbol yang
sama, simbol yang telah menjadi tanda dari semuanya.
Amat mendekati gerbang itu dengan langkah pelan, dengan
rasa hormat yang mendalam. Liontin batu biru di lehernya mulai terasa hangat,
hangat yang sama seperti ketika ia mendekati sumur tua, ketika ia berdiri di
bawah pohon beringin, ketika ia menyentuh peta kuno di ruang arsip. Hangat yang
tidak datang dari luar, tetapi dari dalam, dari batu itu sendiri, dari energi
yang mengalir di dalamnya, dari sesuatu yang telah menunggunya sejak lama. Ia
merasakan ada energi yang mengalir dari dalam tanah, naik ke tiang-tiang batu
itu, merambat melalui ukiran-ukiran, berkumpul di ambang batu di atasnya.
Energi itu tidak seperti energi yang ia rasakan di Hutan Larangan sebelumnya,
yang gelisah dan merusak. Energi ini tenang, damai, seperti aliran sungai yang
mengalir lambat, seperti napas panjang yang dikeluarkan setelah ditahan terlalu
lama.
"Ini bukan sekadar gerbang," kata Amat perlahan,
suaranya pelan tetapi jelas di antara keheningan hutan. Ia mengangkat tangannya,
merentangkannya ke arah tiang batu, merasakan getaran yang terpancar dari batu
itu, getaran yang sama seperti yang ia rasakan ketika ia memperkuat segel di
pohon beringin. "Ini adalah... pintu. Pintu menuju ke sesuatu. Sesuatu
yang sangat penting. Sesuatu yang selama ini tersembunyi, yang tidak boleh
ditemukan oleh sembarang orang, yang hanya boleh ditemukan oleh mereka yang
memiliki darah penjaga, oleh mereka yang dipanggil, oleh mereka yang
siap."
"Pintu menuju ke mana?" tanya Raka, suaranya yang
biasanya ceria menjadi pelan, nyaris berbisik. Ia merasa bahwa di tempat ini,
suara keras tidak pantas. Ia merasa bahwa di hadapan sesuatu yang begitu tua,
begitu agung, begitu penuh misteri, ia harus bersikap hormat, meskipun ia tidak
sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.
Amat tidak menjawab segera. Ia masih berdiri di depan
gerbang itu, dengan mata terpejam, dengan tangan terentang, dengan liontin batu
biru yang mulai memancarkan cahaya samar. Ia merasakan sesuatu di balik gerbang
itu, sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata, sesuatu yang hanya bisa
dirasakan dengan hati. "Aku tidak tahu. Tapi aku merasa bahwa di balik
pintu ini, ada sesuatu yang penting. Sesuatu yang harus kita temukan. Sesuatu
yang mungkin menjadi jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini kita
tanyakan. Tentang segel, tentang penjagaan, tentang desa ini, tentang leluhur,
tentang makhluk di batu hitam itu. Semuanya ada di sini. Menunggu. Menunggu
kita."
Amat mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan batu itu.
Begitu telapak tangannya menyentuh batu, cahaya biru dari liontinnya menyala
terang, lebih terang dari malam kegelapan itu, lebih terang dari apapun yang
pernah mereka lihat. Cahaya itu tidak menyilaukan, tetapi lembut, hangat,
seperti cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kamar, seperti cahaya
bulan purnama yang jatuh di permukaan air. Cahaya itu menjalar ke seluruh tubuh
Amat, sama seperti malam kegelapan itu, membuatnya tampak seperti menyala dari
dalam, seperti patung yang dibuat dari cahaya. Dan kemudian, cahaya itu
menjalar ke batu yang ia sentuh, mengalir melalui ukiran-ukiran, memenuhi
setiap lekuk dan garis, membuat simbol-simbol kuno itu hidup kembali, membuat
mereka bersinar dengan cahaya biru yang sama.
Batu itu mulai bergetar. Getaran itu tidak seperti gempa
bumi yang mengguncang, tetapi getaran yang lembut, seperti detak jantung yang
lambat, seperti aliran air yang dalam. Getaran itu menjalar ke tanah, membuat
mereka semua merasakan guncangan kecil di telapak kaki, getaran yang membuat
mereka sadar bahwa mereka sedang berdiri di atas sesuatu yang hidup, sesuatu
yang bernapas, sesuatu yang telah menunggu sejak lama. Dan kemudian, dengan
suara gemuruh yang dalam, suara yang tidak seperti suara apapun yang pernah
mereka dengar, suara yang seperti suara gunung yang berbicara, seperti suara
lautan yang bergemuruh, seperti suara waktu yang bergerak, ambang batu di atas
kedua tiang itu mulai bergeser. Tidak terbuka seperti pintu pada umumnya, tidak
bergerak ke samping atau ke depan. Ambang batu itu berputar, seperti roda yang
berputar pada porosnya, perlahan, megah, penuh wibawa. Ukiran-ukiran di
permukaannya berubah, pola-pola yang tadinya kacau dan tidak bisa dimengerti
tiba-tiba membentuk pola yang baru, pola yang teratur, pola yang bermakna.
"Peta," bisik Camelia, matanya membelalak,
mulutnya terbuka sedikit karena takjub. Ia tidak pernah membayangkan bahwa batu
bisa berputar dengan sendirinya, bahwa ukiran-ukiran bisa berubah dengan
sendirinya, bahwa sesuatu yang telah diam selama ratusan tahun tiba-tiba hidup
kembali. "Itu peta. Peta yang lebih detail dari yang kita temukan. Peta
yang menunjukkan sesuatu yang tidak ada di peta kita. Peta yang mungkin menjadi
kunci dari semuanya."
Mereka semua menatap ambang batu yang berputar itu dengan
takjub. Pola-pola ukiran yang terbentuk memang seperti peta, tetapi dalam skala
yang lebih besar, dalam detail yang lebih rumit. Bukan hanya Desa Awan Biru,
tetapi seluruh wilayah di sekitarnya: gunung-gunung yang menjulang di selatan,
sungai-sungai yang berkelok-kelok dari barat ke timur, hutan-hutan yang
membentang luas di utara, bahkan desa-desa tetangga yang jaraknya puluhan
kilometer dari sini. Garis-garis yang digambarkan di atas batu itu bukan garis
lurus biasa, tetapi garis yang berkelok-kelok mengikuti kontur tanah, garis
yang menunjukkan aliran sungai, garis yang menunjukkan punggung gunung, garis
yang menunjukkan batas-batas hutan. Dan di antara garis-garis itu, tersebar
simbol-simbol yang sama seperti yang mereka lihat di peta kuno, tetapi lebih
banyak, lebih detail, lebih rumit.
"Lihat di sini," kata Amat, menunjuk ke suatu
titik di peta batu itu. Jarinya yang masih bercahaya biru menyentuh permukaan
batu yang dingin, menunjuk ke sebuah simbol yang tidak mereka kenali. "Ini
desa kita. Aku bisa mengenali bentuknya. Pohon beringin di tengah, sumur tua di
belakang balai desa, mata air di timur, batu besar di barat. Dan ini... ini
adalah titik-titik penjagaan. Tujuh titik, seperti yang kita tahu. Tiga di
Hutan Larangan, empat di luar hutan. Mereka membentuk pola heksagonal, dengan
pohon beringin sebagai pusatnya. Tapi lihat ini... ada titik kedelapan."
Mereka semua menatap ke arah yang ditunjuk Amat. Di peta
batu itu, di luar ketujuh titik yang membentuk pola heksagonal, di luar
lingkaran yang dibentuk oleh titik-titik penjagaan, di luar batas yang selama
ini mereka kenal sebagai wilayah desa, ada satu titik lagi. Titik itu berada di
bagian paling selatan, di luar Hutan Larangan, di luar barisan gunung-gunung
yang menjadi batas alami desa ini, di suatu tempat yang tidak mereka kenali,
yang tidak pernah mereka kunjungi, yang bahkan mungkin tidak pernah mereka
dengar namanya. Titik itu tidak seperti titik-titik penjagaan yang lain. Jika
titik-titik yang lain digambarkan dengan lingkaran dan spiral, titik ini
digambarkan dengan simbol yang berbeda: sebuah segitiga dengan titik di
tengahnya, dikelilingi oleh lingkaran yang tidak sempurna.
"Apa itu?" tanya Guntur, suaranya penasaran. Ia
mendekat, mencoba melihat lebih jelas, tetapi simbol itu terlalu kecil, terlalu
rumit, terlalu jauh untuk dipahami dari jarak ini.
"Aku tidak tahu," kata Amat, suaranya pelan,
nyaris tidak terdengar. Ia masih menatap simbol itu, mencoba mengingat apakah
ia pernah melihatnya sebelumnya, di buku-buku peninggalan neneknya, di
cerita-cerita Mbah Ratih, di mimpinya yang sering. "Tapi aku rasa kita
harus mencaritahu. Mungkin itu adalah kunci dari semuanya. Mungkin itu adalah
sesuatu yang sangat penting, yang sengaja disembunyikan, yang hanya boleh
ditemukan oleh mereka yang benar-benar siap."
Tiba-tiba, dari balik gerbang batu itu, dari arah yang
tidak bisa ditentukan, dari segala arah sekaligus, terdengar suara. Suara yang
sama yang sering Amat dengar dalam mimpinya, suara makhluk di batu hitam, suara
yang dalam dan berat seperti gemuruh dari dalam bumi, tetapi kali ini tidak
terasa mengancam. Kali ini suara itu terasa lebih lembut, lebih tenang, seperti
seseorang yang berbicara dari jarak yang sangat jauh, seperti seseorang yang
sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
Kau telah menemukan gerbangnya, penjaga cilik. Kau telah
menemukan apa yang selama ini tersembunyi. Kau telah menunjukkan bahwa kau
layak. Tapi kau belum siap untuk masuk. Belum sekarang. Masih banyak yang harus
kau pelajari. Masih banyak yang harus kau persiapkan. Masih banyak yang harus
kau pahami. Kembalilah ketika waktunya tiba. Kembalilah ketika kau sudah
benar-benar siap. Kembalilah ketika kau tidak sendirian.
Cahaya biru dari liontin Amat perlahan-lahan meredup.
Cahaya dari ukiran-ukiran di tiang batu juga meredup, kembali ke kondisi
semula. Ambang batu berhenti berputar, dan ukiran-ukirannya kembali ke pola
semula, pola yang kacau, pola yang tidak bisa dimengerti, pola yang menutupi
rahasia yang tersimpan di dalamnya. Gerbang itu kembali sunyi, kembali diam,
kembali menjadi struktur batu tua yang ditumbuhi lumut, seperti tidak pernah
terjadi apa-apa. Seolah-olah mereka hanya bermimpi. Seolah-olah mereka hanya
membayangkan.
Mereka semua terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja
mereka lihat dan dengar. Ada begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab,
begitu banyak misteri yang belum terpecahkan, begitu banyak hal yang harus
mereka pelajari. Tapi ada satu hal yang mereka tahu: mereka telah menemukan
sesuatu yang penting, sesuatu yang akan menjadi kunci dari perjalanan mereka
selanjutnya. Mereka telah melihat gerbang yang selama ini tersembunyi. Mereka
telah mendengar pesan yang selama ini menunggu. Mereka telah siap untuk
melangkah lebih jauh.
Akhirnya, Raka yang memecah keheningan. Seperti biasa, ia
adalah orang yang paling mampu mengembalikan mereka ke realitas, yang paling
mampu mengingatkan bahwa di tengah semua misteri dan keanehan, mereka masih
punya urusan duniawi yang harus diselesaikan.
"Jadi... kita pulang dulu?" tanyanya, dengan
suara yang berusaha ceria meskipun ia juga merasakan getaran dari apa yang baru
saja terjadi. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan besek pecel yang masih utuh.
"Aku laper nih. Pecel yang kubawa masih utuh, lumayan untuk makan siang.
Kita bisa makan di sini, di bawah pohon besar itu. Aku lihat tempatnya teduh,
cocok untuk piknik. Siapa tahu makhluk hutan juga mau ikut makan. Pecel bapakku
enak, pasti mereka suka."
Mereka semua tertawa. Tawa yang melepaskan ketegangan yang
mengendap di pundak dan dahi mereka selama berjam-jam. Tawa yang mengingatkan
bahwa mereka masih muda, masih bisa tertawa, masih bisa bercanda, masih bisa
menikmati hal-hal sederhana seperti pecel di tengah hutan terlarang. Tawa yang
menjadi pengingat bahwa di tengah segala misteri dan keanehan, mereka masih
punya satu sama lain.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan dari perjalanan
pergi. Mungkin karena mereka berhasil menemukan apa yang mereka cari, meskipun
belum sepenuhnya memahaminya. Mungkin karena mereka tahu bahwa mereka tidak
sendirian, bahwa ada teman-teman yang berjalan di samping mereka, yang siap
membantu, yang siap berbagi beban. Mungkin karena Raka berhasil membuat mereka
semua tertawa sepanjang jalan dengan cerita-cerita konyolnya, tentang bagaimana
ia hampir jatuh ke sungai ketika mengambil air, tentang bagaimana ia mengira
akar pohon adalah ular dan melompat ketakutan, tentang bagaimana ia mencoba
bercanda dengan makhluk halus dan tidak mendapat respons. Atau mungkin hanya
karena matahari masih tinggi di langit, cahayanya masih hangat, dan mereka
semua masih bisa berjalan dengan kaki mereka sendiri, pulang ke rumah
masing-masing, pulang ke tempat yang aman.
Mereka berjalan dalam formasi yang berbeda dari ketika
datang. Guntur masih di depan, tetapi ia tidak lagi membuka jalan dengan
parang; ia hanya berjalan, menikmati pemandangan hutan yang mulai pulih,
sesekali menunjuk ke arah burung-burung yang terbang di antara pepohonan. Amat
berjalan di sampingnya, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan semua
orang mengikuti. Camelia dan Hermansyah berjalan berdampingan, mendiskusikan
peta yang mereka lihat, mencoba merekonstruksi detail-detail yang sempat mereka
lihat sebelum batu itu berhenti berputar. Amita berjalan di belakang mereka,
dengan bunga-bunga yang masih tersisa di tangannya, sesekali menaburkan kelopak
ke tanah sebagai rasa terima kasih. Dan Raka, tentu saja, di paling belakang,
dengan ransel yang sudah lebih ringan karena pecelnya sudah habis, dengan suara
yang masih terus bercerita, dengan tawa yang masih terus mengalir.
Sesampainya di desa, mereka berpisah di depan kantor desa.
Matahari sudah mulai condong ke barat, cahayanya berubah dari putih menjadi
jingga keemasan, membuat bayangan-bayangan memanjang di tanah. Kabut tipis
mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit, seperti biasa, seperti setiap
sore di desa ini. Hermansyah, Guntur, dan Amita pulang ke rumah masing-masing,
dengan janji akan bertemu lagi besok untuk membahas apa yang mereka temukan,
untuk merencanakan langkah selanjutnya, untuk mempersiapkan diri untuk
perjalanan yang lebih jauh.
Amat, Raka, dan Camelia berjalan bersama menuju rumah Amat,
melewati pohon beringin tua yang berdiri tegak di tengah desa. Di bawah pohon
beringin itu, Amat berhenti sejenak. Ia menatap pohon itu, mengingat Kyai
Beringin yang selalu menjaganya sejak kecil, yang selalu membimbingnya, yang
selalu memberinya kekuatan. Ia teringat pada malam-malam ketika ia masih kecil,
ketika ia pertama kali melihat bayangan-bayangan di antara akar-akar pohon ini,
ketika ia pertama kali mendengar suara yang memanggil namanya. Ia teringat pada
malam-malam ketika ia duduk di Kursi Kyai, mendengarkan cerita-cerita tentang
leluhur, tentang desa ini, tentang keseimbangan yang harus dijaga. Ia teringat
pada malam kegelapan itu, ketika ia berdiri di bawah pohon ini, dengan cahaya
biru dari tangannya, melindungi desa dari kegelapan yang menyelimuti.
Di dalam hatinya, ia berbisik, "Terima kasih, Kyai.
Kami telah menemukan gerbangnya. Kami telah melihat peta yang lebih besar. Kami
tahu bahwa perjalanan ini masih panjang, masih banyak yang harus kami pelajari.
Tapi kami tidak akan menyerah. Kami akan terus berusaha. Kami akan menjaga desa
ini. Janji."
Pohon beringin itu bergoyang pelan, daun-daunnya
bergemerisik, seolah-olah menjawab bisikannya. Di antara akar-akar pohon, di
antara bayangan yang mulai terbentuk karena cahaya matahari sore, Amat melihat
Kyai Beringin berdiri, tersenyum, memberi isyarat bahwa ia mendengar, bahwa ia
percaya, bahwa ia akan selalu menunggu.
Raka dan Camelia berdiri di samping Amat, menatap pohon
beringin yang bergoyang, merasakan kehadiran sesuatu yang tidak bisa mereka
lihat tetapi bisa mereka rasakan. Mereka tidak bertanya, tidak perlu bertanya.
Mereka tahu bahwa Amat sedang berbicara dengan Kyai Beringin, seperti yang
selalu ia lakukan sejak kecil. Mereka hanya berdiri di sana, menemani,
menunggu, seperti yang selalu mereka lakukan sejak mereka berteman.
"Kita sudah menemukan gerbangnya," kata Camelia
setelah beberapa saat, suaranya pelan tetapi penuh keyakinan. Ia membuka buku
catatannya, membaca ulang catatan yang ia buat di hutan. "Sekarang kita
tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari yang kita kira. Ada titik
kedelapan. Ada rahasia yang belum terungkap. Tapi kita juga tahu bahwa kita
tidak sendirian. Ada teman-teman yang mau membantu. Ada orang-orang yang
peduli. Ada leluhur yang menjaga."
"Dan ada pecel," tambah Raka, tersenyum lebar.
"Jangan lupa pecel. Tanpa pecel, kita tidak punya energi. Tanpa energi,
kita tidak bisa mencari titik kedelapan. Jadi, pecel adalah kunci dari
semuanya."
Amat dan Camelia tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas,
tawa yang menjadi senjata paling ampuh mereka. Tawa yang mengusir sisa-sisa
ketakutan yang masih mengendap di hati mereka. Tawa yang mengingatkan bahwa
mereka masih muda, masih bisa tertawa, masih bisa bercanda, masih bisa
menikmati hal-hal sederhana seperti pecel dan persahabatan.
Mereka bertiga berjalan meninggalkan pohon beringin, menuju
rumah Amat di ujung utara desa. Di kejauhan, matahari mulai tenggelam di balik
barisan gunung, meninggalkan sisa-sisa cahaya jingga yang perlahan-lahan
ditelan oleh gelapnya malam. Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu,
seperti lampu-lampu kecil yang dinyalakan di langit. Kabut tipis mulai menebal,
menyelimuti desa dengan selimut putih yang dingin dan lembab. Dan di antara
kabut itu, di tengah desa, pohon beringin tua berdiri tegak, dengan kanopinya
yang rimbun, dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan penjaganya yang setia
menunggu.
BAB 21: Kembali sebagai Pemuda Harapan Desa
Delapan tahun telah berlalu sejak petualangan Amat, Raka,
dan Camelia ke Hutan Larangan menemukan gerbang batu misterius yang berputar
dengan cahaya biru, sejak mereka berdiri di hadapan peta kuno yang terukir di
ambang batu, sejak suara makhluk di batu hitam itu bergema di antara pepohonan
dengan pesan yang masih belum sepenuhnya mereka pahami: Kau telah
menemukan gerbangnya, penjaga cilik. Tapi kau belum siap untuk masuk.
Kembalilah ketika waktunya tiba. Delapan tahun yang cukup panjang
untuk mengubah anak-anak remaja yang penuh rasa ingin tahu, yang masih
berlarian di sawah dan bermain petak umpet di bawah pohon beringin, menjadi
pemuda-pemudi dewasa yang mulai memikirkan masa depan, yang mulai memikul
tanggung jawab, yang mulai memahami bahwa dunia tidak hanya terdiri dari tawa
dan permainan, tetapi juga dari pilihan-pilihan sulit dan
pengorbanan-pengorbanan yang tidak selalu mereka mengerti.
Delapan tahun yang juga cukup panjang untuk mengubah Desa
Awan Biru. Desa yang dulu hanya bisa diakses melalui jalan berbatu yang
berlubang di musim hujan dan berdebu di musim kemarau, yang dulu hanya memiliki
aliran listrik yang sering padam di malam hari, yang dulu hanya memiliki satu
warung kopi milik Mbah Karo sebagai pusat informasi dan hiburan warga, kini
telah berubah. Jalan desa yang dulu masih berbatu kini telah diaspal dengan
hotmix, menghubungkan Awan Biru dengan kecamatan dalam waktu hanya lima belas
menit dengan sepeda motor, bukan lagi satu jam dengan jalan kaki atau truk
terbuka milik Anto yang terguncang-guncang di jalan berbatu. Listrik yang dulu
hanya menyala pada malam hari dan sering padam di musim hujan kini sudah
mengalir dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, membuat televisi di
rumah-rumah warga tidak lagi hanya menjadi pajangan di ruang tamu, membuat
kulkas tidak lagi hanya menjadi lemari untuk menyimpan piring, membuat
lampu-lampu di rumah-rumah warga tidak lagi hanya menyala di malam hari.
Beberapa rumah warga bahkan sudah memiliki akses internet, meskipun masih
terbatas pada kawasan di sekitar balai desa dan sekolah, dengan kecepatan yang
tidak secepat di kota, tetapi cukup untuk membuka media sosial, untuk
berkomunikasi dengan keluarga yang merantau, untuk mencari informasi tentang
harga cabai di pasar, untuk memesan bibit unggul dari kabupaten.
Namun perubahan paling signifikan, perubahan yang paling
dirasakan oleh setiap warga Awan Biru, terjadi pada peta kepemimpinan desa. Pak
Iwan, yang telah memimpin Desa Awan Biru selama dua periode berturut-turut, total
sepuluh tahun, sejak Amat masih duduk di bangku SD hingga ia lulus SMA, memutuskan
untuk tidak mencalonkan diri kembali. Usianya yang sudah lanjut, memasuki
kepala enam, dan kesehatannya yang mulai menurun, ia sering mengeluh nyeri
sendi di pagi hari dan mudah lelah di sore hari, menjadi alasan utama. Ia ingin
beristirahat, ingin menikmati masa tua dengan tenang, ingin melihat
anak-anaknya yang sudah bekerja di kota dan jarang pulang, ingin duduk-duduk di
teras rumah sambil menyesap kopi dan membaca koran, seperti yang selalu ia
impikan sejak masih muda.
Pemerintahan desa pun berganti. Pak Iwan digantikan oleh
sosok yang lebih muda dan energik, sosok yang membawa angin segar bagi desa
yang mulai terbuka pada dunia luar: Kepala Desa Arjuna. Pak Arjuna adalah putra
asli Desa Awan Biru, lahir dan besar di desa ini, anak dari dr. Erlangga dengan
Anita Putri Si Amat Admin Desa atau Cucu dari Si Amat Admin Desa. Ia dulunya
merupaka mahasiswa KKN di desa wan biru, setelah lulus akhirnya memutuskan
untuk kembali ke desa dan menikah dengan Anita Putri Si Amat Admin Desa. Ia ingin
membangun desanya, ingin menerapkan ilmunya untuk memajukan tempat di mana ia
dilahirkan, ingin membuktikan bahwa orang desa juga bisa sukses tanpa harus
kehilangan identitas.
"Desa Awan Biru tidak boleh tertinggal," kata Pak
Arjuna dalam pidato pelantikannya di kantor desa, berdiri di panggung sederhana
yang dihiasi dengan umbul-umbul dan bendera merah putih, disaksikan oleh
seluruh warga yang memenuhi halaman balai desa hingga ke jalan raya, dengan
wajah-wajah yang berseri-seri karena harapan. Suaranya lantang, bergema di
antara dinding-dinding balai desa yang sudah dicat ulang dengan warna putih
bersih untuk menyambut kepemimpinan baru. "Tapi kemajuan tidak boleh
menghapus identitas kita. Kita harus maju, tetapi kita juga harus tetap menjadi
Awan Biru. Desa dengan langit biru yang menjadi ciri khas kita, desa dengan
tradisi yang dijaga oleh leluhur, desa dengan masyarakat yang ramah dan
bersahabat, desa yang tidak akan melupakan akarnya meskipun akar itu menjalar
ke mana-mana."
Warga menyambut Pak Arjuna dengan antusias yang luar biasa.
Mereka bertepuk tangan, bersorak, beberapa bahkan menangis haru. Ada harapan
baru di desa ini. Harapan bahwa di bawah kepemimpinan generasi muda, di bawah
kepemimpinan seseorang yang mengerti dunia luar tetapi juga mencintai desa ini,
Awan Biru akan menjadi lebih baik tanpa kehilangan akarnya, akan menjadi lebih
maju tanpa mengorbankan tradisinya, akan menjadi lebih terbuka tanpa melupakan
leluhurnya.
Amat Junior kini telah berusia dua puluh dua tahun. Delapan
tahun yang panjang sejak ia berdiri di bawah pohon beringin dengan cahaya biru
dari tangannya mengusir kegelapan, sejak ia menerima warisan leluhur dari Mbah
Ratih di pendopo rumah joglo yang kini sudah tidak lagi dihuni siapa pun, sejak
ia mendengar suara makhluk di batu hitam yang mengatakan bahwa ia belum siap.
Delapan tahun yang mengubah anak laki-laki kurus dengan mata biru yang aneh
menjadi pemuda yang tenang dan bijaksana, dengan postur tubuh yang tidak lagi
kurus kering tetapi masih lebih ramping dari kebanyakan pemuda seusianya,
dengan mata biru yang masih menjadi ciri khasnya, biru pucat seperti langit
Awan Biru di pagi hari setelah hujan, biru yang tidak berubah meskipun delapan
tahun telah berlalu, biru yang masih membuat orang-orang yang baru pertama kali
bertemu dengannya tertegun sejenak, bertanya-tanya dari mana asal warna itu.
Setelah lulus dari SMA di kecamatan Kaut Merah dengan nilai
yang cukup baik, meskipun tidak sebaik Camelia yang selalu berada di peringkat
atas, tetapi cukup untuk membuat guru-gurunya bangga, Amat memilih untuk tidak
melanjutkan kuliah ke kota. Bukan karena ia tidak mampu; ia mendapatkan
beasiswa dari pemerintah kabupaten untuk program sarjana di salah satu
universitas negeri di Yogyakarta, beasiswa yang didapatkannya setelah melalui
serangkaian tes yang ketat, beasiswa yang membuat ibunya menangis haru karena
bangga. Tetapi ia menolaknya. Ia memilih untuk tinggal di desa, untuk membantu
pamannya yang sudah tua, Si Amat Admin Desa, yang telah pensiun dari jabatan Admin
desa tetapi masih aktif sebagai tenaga sukarela, dalam mengelola administrasi
desa, untuk berada di tempat di mana ia merasa ia harus berada.
"Aku harus berada di sini," kata Amat kepada
ibunya ketika menjelaskan keputusannya, duduk di dapur yang sama, di meja kayu
yang sama, dengan sayur bening dan tempe goreng yang sama yang selalu disiapkan
Sumirah setiap malam. Sumirah sudah tidak lagi muda; rambutnya yang dulu hitam
legam kini telah memutih di pelipis, wajahnya yang dulu mulus kini telah
dipenuhi kerutan halus, tangannya yang dulu lincah menggoreng tempe kini
sedikit gemetar ketika memegang sendok. Tapi matanya masih sama, masih penuh
kasih sayang, masih memandang Amat dengan kebanggaan yang tidak pernah ia
ucapkan dengan kata-kata. "Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Ada
tanggung jawab yang belum aku tunaikan. Ada janji yang harus aku tepati. Aku
tidak bisa pergi sekarang. Mungkin nanti, ketika semuanya sudah selesai. Tapi
sekarang, aku harus di sini."
Sumirah hanya tersenyum. Ia sudah lama tahu bahwa anaknya
tidak seperti anak-anak lain. Ia sudah lama tahu bahwa Amat memiliki sesuatu
yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain, sesuatu yang membuatnya berbeda,
sesuatu yang membuatnya istimewa, sesuatu yang mungkin juga menjadi beban yang
harus dipikulnya seumur hidup. Ia sudah menerima bahwa Amat memiliki takdir
yang berbeda, takdir yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya, takdir yang mungkin
akan membawa anaknya ke tempat-tempat yang tidak bisa ia ikuti. "Ibu hanya
berpesan, jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai kamu lupa makan. Jangan sampai
kamu lupa istirahat. Jangan sampai kamu lupa bahwa kamu masih punya ibu yang
menunggu di rumah. Dan jangan lupakan Tuhan. Apapun yang terjadi, jangan pernah
lupakan Tuhan."
Amat bergabung dengan pemerintah desa sebagai staf
administrasi, bekerja di ruangan yang sama dengan pamannya, Si Smat Admin Desa,
yang kini sudah pensiun tetapi masih aktif sebagai tenaga sukarela, yang masih
setia datang ke kantor setiap pagi meskipun tidak lagi digaji, yang masih setia
membuka lemari arsip dan memeriksa dokumen-dokumen lama, yang masih setia
memberikan nasihat-nasihat bijak kepada siapa pun yang mau mendengarkan. Mereka
berdua bekerja bersama mengelola data dan dokumen desa, menginput data
kependudukan ke dalam sistem komputer yang baru, mengarsipkan surat-surat masuk
dan keluar, membantu warga yang datang untuk mengurus KTP atau akta kelahiran,
dan sesekali, ketika waktu senggang, membaca buku-buku lama yang disimpan di
ruang arsip, mencari petunjuk-petunjuk tentang rahasia desa yang masih belum
terpecahkan.
Keahlian Amat dalam teknologi informasi yang ia pelajari
secara otodidak, dari buku-buku yang ia beli di toko buku di kecamatan, dari
internet yang ia akses melalui ponsel jadul milik pamannya, dari kursus online
yang ia ikuti secara gratis, membuatnya sangat berharga di kantor desa,
terutama ketika desa mulai mengadopsi sistem administrasi digital yang
diprogram oleh pemerintah kabupaten. Ia adalah satu-satunya orang di kantor
desa yang benar-benar mengerti cara kerja sistem itu, satu-satunya yang bisa
mengatasi ketika komputer tiba-tiba hang atau data tidak bisa diinput,
satu-satunya yang tidak panik ketika layar monitor menampilkan pesan error
dalam bahasa Inggris yang tidak dimengerti oleh yang lain.
"Amat, ini data kependudukan harus segera
diinput," kata Si Amat suatu pagi, memberikan setumpuk dokumen yang
tebal, dokumen yang sudah dikumpulkan dari berbagai RT dan RW selama
berminggu-minggu, dokumen yang harus segera dikirim ke kecamatan sebelum batas
waktu yang hanya tinggal tiga hari lagi. "Targetnya minggu ini selesai.
Bisa? Kalau tidak bisa, kita minta bantuan dari kecamatan. Tapi lebih baik kita
kerjakan sendiri. Biar tidak merepotkan orang lain."
Amat mengambil dokumen itu dengan kedua tangan, merasakan
beratnya di tangannya, berat fisik, karena setumpuk kertas itu memang berat,
dan berat tanggung jawab, karena ini adalah data penting yang akan digunakan
untuk perencanaan pembangunan desa, untuk alokasi bantuan sosial, untuk
berbagai kebijakan yang akan mempengaruhi kehidupan warga. "Bisa, Paman.
Saya kerjakan. Saya akan lembur malam ini jika perlu. Tapi saya yakin bisa
selesai sebelum batas waktu."
Si SAmat tersenyum, bangga pada keponakannya. "Kamu
ini, Amat, sama seperti ibumu. Rajin, tanggung jawab, tidak pernah mengeluh.
Dulu, ketika ibumu masih kecil, ia juga seperti itu. Rajin membantu orang tua,
tidak pernah minta ini-itu, selalu bersyukur dengan apa yang ada. Tapi kamu
juga seperti almarhum ayahmu. Tekun, pantang menyerah, selalu ingin memberikan
yang terbaik."
Amat tersenyum mendengar pujian itu. Ia jarang mendengar
pamannya berbicara tentang ayahnya. Si Amat adalah adik dari ibunya, bukan dari ayahnya,
sehingga ia tidak terlalu banyak tahu tentang Amat Senior. Tapi sesekali,
ketika suasana sedang baik, ia akan menceritakan kenangan-kenangan tentang masa
kecil Sumirah, tentang desa ini ketika masih sangat sederhana, tentang
orang-orang yang telah tiada.
Di sudut ruangan, Bu Yuni, Sekretaris Desa, mengamati Amat
dengan saksama. Bu Yuni adalah perempuan berusia sekitar empat puluh tahun,
dengan rambut pendek sebahu yang selalu ia potong setiap dua bulan sekali di
salon sederhana di kecamatan, dengan kacamata tebal berbingkai hitam yang
membuat matanya tampak lebih besar dari aslinya, dengan pakaian yang selalu
rapi dan bersih, tidak pernah kusut meskipun ia bekerja seharian penuh di balai
desa. Ia adalah sekretaris desa perempuan yang tangguh, yang tidak mudah
terkesan oleh siapa pun, yang sudah berpengalaman bekerja di kantor kecamatan
selama belasan tahun sebelum memutuskan untuk kembali ke desa dan mengabdi di
sini.
Namun ia mengakui bahwa Amat Junior adalah pemuda yang luar
biasa. Cerdas, rajin, tidak pernah mengeluh, tidak pernah minta perhatian
lebih, tidak pernah merasa lebih pintar dari orang lain meskipun ia jelas lebih
pintar dari kebanyakan orang di kantor ini. Ia bekerja dengan tenang, dengan
fokus, dengan dedikasi yang jarang ditemukan pada anak seusianya. Ia tidak
pernah terlihat bosan, tidak pernah terlihat lelah, tidak pernah terlihat
tergoda oleh ajakan teman-temannya untuk pergi ke kota atau mencari pekerjaan
yang lebih menjanjikan. Ia seperti pohon yang kokoh, yang akarnya tertanam
dalam di tanah desa ini, yang tidak mudah goyah oleh angin perubahan.
"Amat, kamu tidak mau kuliah?" tanya Bu Yuni
suatu hari ketika mereka sedang bekerja lembur, ketika kantor desa sudah sunyi
dan hanya suara ketukan keyboard dan bunyi printer yang memecah keheningan.
Lampu-lampu neon berkedip-kedip pelan, dan dari luar terdengar suara jangkrik
yang tak pernah lelah. Bu Yuni sedang memeriksa laporan keuangan yang harus
dikirim ke kecamatan besok pagi, sementara Amat sedang menginput data
kependudukan yang sudah hampir selesai.
"Perlu, Bu. Tapi untuk saat ini, saya ingin membantu
desa dulu. Lagian, saya bisa belajar dari buku dan internet. Tidak harus di
bangku kuliah." Amat menjawab tanpa mengangkat kepalanya dari layar
komputer, jari-jarinya masih menari di atas keyboard, memasukkan data satu per
satu dengan kecepatan yang mengesankan.
Bu Yuni tersenyum. "Semangatmu bagus. Tapi jangan
sampai mengorbankan masa depanmu, Amat. Usia muda tidak akan kembali.
Kesempatan untuk kuliah juga tidak selalu ada. Nanti, ketika kamu sudah tua,
ketika tanggung jawab semakin banyak, akan lebih sulit untuk mengejar
ilmu."
Amat berhenti mengetik, menoleh ke arah Bu Yuni, dan
tersenyum. Senyum yang tenang, senyum yang bijaksana, senyum yang tidak seperti
senyum pemuda seusianya. "Masa depan saya di sini, Bu. Di desa ini. Saya
tidak tahu persis apa yang akan terjadi, tapi saya merasa bahwa saya harus berada
di sini. Ada sesuatu yang belum selesai. Ada sesuatu yang harus saya lakukan.
Dan saya tidak bisa melakukannya dari kota."
Bu Yuni tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk,
menghormati pilihan Amat meskipun ia tidak sepenuhnya mengerti. Ia sudah
mendengar cerita-cerita tentang Amat, tentang kelahirannya yang aneh, tentang
matanya yang biru, tentang keanehan-keanehan yang menyertainya sejak kecil. Ia
tidak pernah terlalu percaya pada hal-hal seperti itu, tetapi ia juga tidak
bisa mengabaikan bahwa ada sesuatu yang berbeda pada pemuda ini. Sesuatu yang
membuatnya merasa bahwa Amat memang ditakdirkan untuk sesuatu yang lebih besar.
Raka kini telah mengambil alih warung pecel keluarganya.
Bapaknya, Pak Gareng, panggilan akrab yang melekat sejak ia masih muda karena
tubuhnya yang kecil dan suaranya yang khas seperti tokoh punakawan dalam
pewayangan, sudah mulai mengurangi pekerjaannya. Usianya yang semakin lanjut,
sudah mendekati enam puluh, dan tekanan darahnya yang kadang naik tanpa sebab
yang jelas membuatnya harus lebih banyak istirahat. Ia masih datang ke warung
setiap pagi, masih mengulek bumbu dengan cobek batu tua yang sudah digunakan
sejak zaman Mbah Kinah, masih menggoreng rempeyek dengan wajan besi yang sudah
hitam karena jelaga, tetapi ia tidak lagi mengurus pesanan, tidak lagi
mengantar pecel ke balai desa, tidak lagi begadang untuk menyiapkan bahan-bahan
untuk besok. Ia lebih banyak duduk di kursi goyang di teras warung, menyesap
kopi hitam pekat tanpa gula, dan sesekali memberi komentar tentang cara Raka
menggoreng kerupuk atau mengulek bumbu.
Raka menjalankan warung itu dengan semangat yang sama
seperti ayahnya, tetapi dengan sentuhan modern yang tidak pernah terbayangkan
oleh Pak Gareng. Ia mulai menggunakan media sosial untuk mempromosikan pecel
Awan Biru. Dengan bantuan Camelia yang mengajarinya cara membuat akun Instagram
dan Facebook, cara mengambil foto makanan yang menarik, cara menulis caption
yang menggugah selera, cara menggunakan hashtag yang tepat, ia mulai membagikan
foto-foto pecel buatannya ke dunia luar. Foto-foto itu tidak diedit dengan
aplikasi canggih, tidak diatur pencahayaannya dengan peralatan profesional,
hanya diambil dengan ponsel jadul milik Raka, dengan pencahayaan alami dari
matahari pagi atau sinar lampu minyak di malam hari. Tapi ada sesuatu yang
menarik dari foto-foto itu, mungkin karena keasliannya, mungkin karena cerita
di baliknya, mungkin karena Raka selalu menambahkan caption yang lucu dan
menghibur.
Hasilnya luar biasa. Banyak wisatawan dari luar desa, dari
kecamatan tetangga, dari kabupaten, bahkan dari kota seperti Yogyakarta dan
Surabaya, yang datang hanya untuk mencicipi pecel legendaris ini. Mereka datang
dengan mobil atau sepeda motor, membawa keluarga atau teman-teman, duduk di
bangku-bangku bambu yang sederhana, dan menikmati pecel dengan sambal yang
nendang di tengah suasana desa yang tenang. Beberapa di antara mereka bahkan
kembali berkali-kali, membawa teman-teman baru, menyebarkan cerita tentang
pecel Awan Biru dari mulut ke mulut, membuat warung ini semakin terkenal.
"Mat, lo tahu nggak, hari ini ada turis dari Jakarta
yang datang ke warung," cerita Raka suatu sore, duduk di beranda rumah
Amat seperti yang selalu mereka lakukan sejak kecil. Ia membawa besek pecel, seperti
biasa, dan mereka bertiga, Amat, Raka, dan Camelia, duduk bersila di lantai
kayu yang sudah mulai lapuk, menikmati makanan sambil menikmati angin sore yang
sejuk. "Katanya dia dengar dari Instagram. Bayangin, Mat, Instagram! Bapak
dulu jualan cuma dari mulut ke mulut. Orang datang karena dengar dari tetangga,
karena penasaran dengan rasa pecel yang katanya nendang, karena kebetulan lewat
dan tergoda aroma bumbu kacang. Sekarang, satu postingan di Instagram bisa bawa
puluhan orang. Dari Jakarta! Bayangin, orang Jakarta rela naik mobil sampai ke
sini cuma untuk makan pecel."
Amat tersenyum mendengar semangat Raka. "Kamu memang
pintar memanfaatkan teknologi, Rak. Bukan hanya pintar, tapi juga berani
mencoba hal baru. Bapakmu pasti bangga."
"Ah, itu mah biasa," Raka menggaruk kepalanya,
tersenyum malu, pipinya yang tembam menjadi lebih tembam karena senyumnya.
"Yang bikin aku bangga, pecel buatan Bapak tetap sama. Resep turun-temurun
nggak berubah. Meskipun sekarang kita bisa promosi lewat internet, meskipun
sekarang banyak pelanggan dari luar desa, meskipun sekarang kita bisa menjual
lebih banyak dari sebelumnya, rasa pecelnya tetap rasa desa. Nggak bisa
diganti. Nggak boleh diganti. Bapak selalu bilang, 'Nak, kunci dari pecel ini
bukan pada bumbunya, bukan pada kacangnya, bukan pada sambalnya. Kuncinya
adalah kejujuran. Memasak dengan jujur, melayani dengan jujur, tidak mencampur
bahan-bahan yang tidak baik, tidak mengurangi takaran demi keuntungan.' Itu
yang harus kita jaga."
"Itulah kekuatanmu, Rak," kata Camelia yang duduk
di samping Amat, dengan buku catatan yang selalu ia bawa, meskipun sekarang ia
sudah jarang mencatat, lebih sering mendengarkan. "Kamu bisa beradaptasi
tanpa kehilangan akar. Kamu bisa maju tanpa melupakan tradisi. Itu yang membuat
warung pecelmu istimewa. Itu yang membuat kamu istimewa."
Raka menggaruk kepalanya lagi, tidak terbiasa dipuji
seperti ini. "Ya sudahlah, daripada kita pujian-pujian, mending makan
dulu. Pecelnya sudah dingin nanti. Nanti sambalnya kurang nendang kalau dingin.
Bapak bilang, pecel yang nikmat adalah pecel yang disantap hangat, dengan
kerupuk yang masih renyah, ditemani teh hangat dan obrolan ringan. Jadi, ayo
makan. Cerita-cerita nanti setelah perut kenyang."
Mereka bertiga tertawa, lalu mulai makan dengan lahap,
menikmati pecel buatan Pak Gareng yang resepnya tidak berubah selama puluhan
tahun, yang rasanya tetap sama seperti ketika mereka masih kecil, yang menjadi
pengikat persahabatan mereka sejak dulu.
Camelia mengambil jalan yang berbeda dari Amat dan Raka.
Setelah lulus SMA, dengan nilai yang sangat baik, selalu berada di peringkat
tiga besar, membuat ibunya, Bu Lulu, menangis haru karena bangga, ia memutuskan
untuk kuliah di Yogyakarta, mengambil jurusan Antropologi di Universitas Gadjah
Mada, universitas tertua dan terbaik di pulau Jawa. Ia ingin mempelajari
desanya dari perspektif akademis, ingin memahami tradisi dan budaya leluhur
dengan cara yang lebih sistematis, ingin menggali lebih dalam makna di balik
ritual-ritual yang selama ini hanya ia praktekkan tanpa benar-benar memahaminya,
ingin menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul sejak ia kecil,
sejak ia pertama kali membaca buku-buku peninggalan nenek Amat, sejak ia
pertama kali mendengar cerita-cerita Mbah Ratih.
"Aku akan kembali," janjinya ketika berpamitan,
berdiri di stasiun kereta api di kecamatan, dengan koper di tangan, dengan air
mata yang ia tahan, dengan senyum yang ia paksakan. Amat dan Raka mengantarnya,
berdiri di peron yang ramai, dengan wajah yang berusaha tegar meskipun hati
mereka berat. "Aku akan membawa ilmu yang berguna untuk desa kita. Aku
akan belajar sebanyak mungkin, dan ketika aku kembali, aku akan membantu
membangun desa ini. Aku tidak akan tinggal di kota selamanya. Janji."
Dan ia menepati janjinya. Setelah empat tahun kuliah, empat
tahun yang penuh dengan belajar, dengan penelitian, dengan diskusi, dengan
penemuan-penemuan baru yang mengubah cara pandangnya tentang dunia, Camelia
kembali ke Awan Biru dengan gelar sarjana Antropologi, predikat cum laude, dan
segudang pengetahuan yang siap ia aplikasikan untuk desanya. Ia langsung
diterima sebagai tenaga ahli di pemerintah desa, membantu Pak Arjuna dalam
merumuskan kebijakan-kebijakan yang berbasis pada kearifan lokal, dalam
mengembangkan potensi desa tanpa menghancurkan tradisi, dalam membangun masa
depan yang berkelanjutan.
"Desa kita punya potensi besar," kata Camelia
dalam sebuah rapat perencanaan pembangunan yang diadakan di kantor desa,
dihadiri oleh Pak Arjuna, para perangkat desa, perwakilan dari karang taruna,
dan tokoh-tokoh masyarakat. Ia berdiri di depan ruangan, dengan papan
presentasi di sampingnya, dengan data-data yang ia kumpulkan selama
bertahun-tahun, dengan foto-foto yang ia ambil sendiri. "Kita punya
tradisi yang unik, yang tidak dimiliki oleh desa-desa lain. Upacara adat,
ritual-ritual musiman, kesenian tradisional, cerita-cerita leluhur yang
menarik. Kita punya alam yang indah, yang masih asri, yang belum terjamah oleh
pembangunan massal. Bukit Pangasih dengan pemandangannya yang spektakuler,
Hutan Larangan dengan misterinya, sungai-sungai yang masih jernih, sawah-sawah
yang terasering indah. Semua itu bisa menjadi modal untuk pengembangan desa
wisata. Bukan wisata massal yang merusak, tetapi wisata yang berbasis pada
kearifan lokal, wisata yang melibatkan masyarakat, wisata yang menjaga
kelestarian alam dan budaya."
Ia berhenti sejenak, melihat reaksi para peserta rapat. Pak
Arjuna mendengarkan dengan saksama, matanya berbinar-binar. Para perangkat desa
mengangguk-angguk, meskipun beberapa di antara mereka masih ragu. Pak Sugeng,
yang sudah pensiun tetapi masih aktif sebagai tokoh masyarakat, tersenyum
bangga melihat keponakannya berbicara dengan begitu percaya diri.
"Tapi kita harus hati-hati," lanjut Camelia,
suaranya lebih tegas. "Jangan sampai pengembangan wisata malah merusak apa
yang selama ini kita jaga. Jangan sampai kita menjual tradisi kita hanya untuk
uang. Jangan sampai kita mengorbankan identitas kita demi kemajuan. Kita harus
mengembangkan wisata dengan prinsip keberlanjutan. Melibatkan masyarakat lokal,
menjaga kelestarian alam, menghormati adat dan tradisi, dan yang terpenting,
memastikan bahwa manfaatnya dirasakan oleh seluruh warga, bukan hanya
segelintir orang."
Pak Arjuna berdiri, bertepuk tangan. Wajahnya yang tegas
itu tersenyum lebar. "Bagus, Camelia. Saya setuju. Kita akan kembangkan
wisata, tetapi dengan prinsip keberlanjutan. Jangan sampai desa kita menjadi
korban dari kesuksesannya sendiri. Jangan sampai kita menjadi seperti desa-desa
lain yang kehilangan jati diri karena terlalu sibuk mengejar turis. Kita akan
belajar dari pengalaman mereka. Kita akan membuat Awan Biru menjadi contoh desa
wisata yang berhasil tanpa kehilangan akar."
V. Malam di Beranda:
Tiga Sahabat Berbagi Cerita
Malam itu, setelah rapat di kantor desa selesai, setelah
para peserta rapat pulang ke rumah masing-masing, Amat, Raka, dan Camelia duduk
di beranda rumah Amat. Langit cerah, bintang-bintang berkerlip-kerlip, bulan
sabit tipis menggantung di ufuk barat. Kabut tipis mulai merayap turun dari
lereng-lereng bukit, tetapi tidak setebal dulu, mungkin karena perubahan iklim,
mungkin karena desa yang mulai berubah. Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri
tegak, dengan kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan
penjaganya yang setia menunggu.
"Akhirnya kita semua kembali," kata Camelia,
menyesap teh jahe hangat yang diseduh oleh Sumirah. "Setelah delapan
tahun, kita semua berkumpul lagi di sini. Seperti dulu."
"Delapan tahun," Raka menghela napas, menatap
langit malam. "Rasanya baru kemarin kita masih SMP, berani-beraninya masuk
Hutan Larangan, nemuin gerbang batu itu. Sekarang kita sudah dewasa. Kita sudah
kerja. Kita sudah punya tanggung jawab."
"Tapi kita masih sama," kata Amat, suaranya
tenang. "Kita masih bertiga. Kita masih duduk di beranda ini. Kita masih
makan pecel. Kita masih tertawa bersama. Banyak yang berubah, tapi yang paling
penting tidak berubah."
Mereka bertiga terdiam, menikmati keheningan malam,
menikmati kebersamaan yang sudah terjalin sejak kecil. Di kejauhan, pohon
beringin tua bergoyang pelan, daun-daunnya bergemerisik, seolah-olah ikut
berbicara, ikut bernostalgia, ikut mengingat masa-masa ketika mereka masih
kecil dan penuh petualangan.
"Kita harus kembali ke gerbang itu," kata Amat
tiba-tiba, memecah keheningan. "Sekarang kita sudah dewasa. Sekarang kita
sudah siap. Sekarang kita harus menyelesaikan apa yang belum selesai delapan
tahun lalu."
Raka dan Camelia menatap Amat. Mereka tidak terkejut.
Mereka sudah menduga bahwa suatu saat nanti, Amat akan mengatakan itu. Mereka
sudah menduga bahwa petualangan mereka belum selesai, bahwa misteri yang mereka
temukan delapan tahun lalu belum terpecahkan, bahwa titik kedelapan yang
terukir di peta batu itu masih menunggu untuk ditemukan.
"Aku siap," kata Raka, tersenyum. "Selama
ada pecel, aku siap."
"Aku juga," kata Camelia. "Aku sudah
mempelajari banyak hal selama kuliah. Tentang tradisi, tentang ritual, tentang
hubungan antara manusia dan alam. Mungkin itu bisa membantu."
Amat tersenyum, merasa lega bahwa sahabat-sahabatnya masih
setia, bahwa mereka masih bersedia mengikutinya ke mana pun, bahwa mereka masih
percaya padanya. "Kita akan bersiap. Kita akan pelajari peta itu lagi.
Kita akan cari informasi tentang titik kedelapan. Dan ketika waktunya tiba,
kita akan kembali ke gerbang itu. Kita akan menyelesaikan apa yang belum
selesai."
Malam itu, di beranda rumah Amat, di bawah langit Awan Biru
yang tetap biru meskipun malam, tiga sahabat berjanji untuk melanjutkan
perjalanan mereka. Perjalanan yang dimulai sejak mereka masih kecil, ketika
mereka pertama kali bertemu di bawah pohon mangga halaman sekolah, ketika
mereka pertama kali berjanji di puncak Bukit Pangasih, ketika mereka pertama
kali masuk ke Hutan Larangan. Perjalanan yang akan membawa mereka ke tempat
yang belum pernah mereka kunjungi, ke pengetahuan yang belum pernah mereka
gali, ke takdir yang telah menunggu mereka sejak tiga ratus tahun yang lalu.
BAB 22: Langkah Awal di Kantor Desa
Kantor desa Awan Biru mulai hidup ketika matahari baru saja
menampakkan ujungnya dari balik Bukit Pangasih. Cahaya keemasan yang masih
lembut itu masuk melalui jendela-jendela kaca yang baru saja dibersihkan,
menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh di lantai keramik yang masih baru, keramik
putih mengkilap yang dipasang atas inisiatif Pak Arjuna untuk membuat kantor
desa terlihat lebih modern dan bersih. Dinding-dinding yang dulu hanya bercat
putih yang mengelupas kini telah dilapisi cat baru dengan warna krem lembut,
dipadukan dengan aksen kayu di beberapa bagian untuk mempertahankan kesan
tradisional. Di ruang tunggu, kursi-kursi plastik merah yang sudah usang telah
diganti dengan kursi-kursi kayu jati yang lebih kokoh dan nyaman, dengan bantal
tipis bermotif batik yang dibuat oleh ibu-ibu PKK desa. Di dinding, terpampang
visi dan misi pemerintahan desa yang ditulis dengan huruf-huruf elegan di atas
kaca, serta foto-foto kegiatan warga yang dipajang dalam bingkai-bingkai kayu
sederhana.
Amat biasanya tiba di kantor desa sekitar pukul setengah
tujuh pagi, lebih awal dari perangkat desa lainnya. Ia suka menikmati
ketenangan pagi sebelum keramaian dimulai. Ia akan duduk di ruang kerjanya yang
kecil, ruangan yang dulunya adalah ruang arsip tempat mereka menemukan peta
kuno delapan tahun lalu, kini telah diubah menjadi ruang administrasi dan data,
dengan komputer baru yang didapat dari program bantuan pemerintah kabupaten,
dengan rak-rak arsip yang masih tersimpan rapi di sudut ruangan, dengan
peta-peta lama yang masih tergantung di dinding, termasuk salinan peta kuno
yang ia buat dengan hati-hati, yang ia simpan di dalam map khusus, tidak
sembarang orang boleh melihatnya. Ia akan menyalakan komputer, membuka aplikasi
pengolah data, dan mulai bekerja sebelum telepon-telepon mulai berdering dan
warga-warga mulai berdatangan.
Hari-hari Amat di kantor desa diisi dengan pekerjaan yang
tampak membosankan bagi kebanyakan orang: menginput data kependudukan ke dalam
sistem administrasi digital yang baru diadopsi dari pemerintah kabupaten,
memverifikasi dokumen-dokumen yang diajukan oleh warga—KTP, akta kelahiran, surat
keterangan domisili, surat pindah, dan berbagai macam surat lainnya yang
dibutuhkan untuk urusan administrasi—menyusun laporan bulanan yang harus
dikirim ke kecamatan, dan sesekali membantu warga yang tidak terbiasa dengan
mesin cetak foto atau scanner dokumen. Namun bagi Amat, pekerjaan ini memiliki
makna yang lebih dalam. Setiap data yang ia input, setiap dokumen yang ia baca,
setiap laporan yang ia susun, membantunya memahami desanya dengan cara yang
berbeda. Ia tidak lagi hanya melihat desa dari sudut pandang anak kecil yang
tumbuh di sana, tetapi dari sudut pandang seseorang yang bertanggung jawab atas
kelancaran administrasinya, yang tahu persis berapa banyak warga yang lahir dan
meninggal setiap tahun, berapa banyak yang pindah dan datang, berapa banyak
yang masih bertani dan berapa banyak yang merantau ke kota.
Dari data kependudukan yang ia input dengan teliti setiap
hari, ia mengetahui bahwa Desa Awan Biru kini memiliki 1.247 jiwa, terbagi
dalam 356 kepala keluarga. Jumlah ini tidak berubah banyak sejak sepuluh tahun
lalu, meskipun ada pergeseran komposisi. Warga muda cenderung merantau ke kota
setelah lulus SMA atau kuliah, sementara warga yang sudah tua banyak yang
meninggal setiap tahun. Namun dalam dua tahun terakhir, sejak Pak Arjuna mulai
menjabat dan menggagas program pengembangan desa wisata, ada tren baru:
beberapa pemuda yang dulu merantau mulai kembali, membawa serta pengalaman dan
keterampilan baru, seperti Mas Bambang yang kembali setelah bekerja di
perusahaan startup di Surabaya, atau EnJelin yang memilih menjadi freelancer
daripada bekerja di kantor di kota. Mereka adalah harapan baru bagi desa ini.
Dari data pertanian yang ia kumpulkan dari laporan-laporan
kelompok tani, ia mengetahui bahwa hasil panen padi di sawah-sawah desa meningkat
setiap tahun, berkat program irigasi yang diperbaiki oleh Pak Arjuna dan
penggunaan bibit unggul yang didistribusikan oleh pemerintah kabupaten. Namun
ia juga mengetahui bahwa tidak semua petani sejahtera; ada yang sawahnya masih
tadah hujan, ada yang tidak memiliki akses ke pupuk bersubsidi, ada yang
terpaksa menjual hasil panennya dengan harga murah karena tidak memiliki akses
ke pasar yang lebih luas. Angka-angka di atas kertas itu bagus, tetapi di balik
angka itu ada cerita-cerita tentang perjuangan, tentang kerja keras yang tidak
selalu berbuah manis.
Dari data ekonomi yang ia susun untuk laporan bulanan, ia
mengetahui bahwa desa ini memiliki 47 warung yang berjualan, 23 di antaranya
adalah warung makan, 12 warung sembako, 5 warung kopi, dan sisanya adalah
warung-warung kecil yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Ia juga
mengetahui bahwa 312 warga bekerja di luar desa, sebagian besar di sektor
konstruksi dan jasa di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, dan Jakarta,
sementara 435 warga masih mengandalkan pertanian sebagai sumber penghasilan
utama. Angka-angka itu membantunya memahami bahwa desa ini masih bergantung
pada sektor pertanian, tetapi juga mulai terbuka pada peluang-peluang baru di
luar.
"Amat, kamu sudah lihat data kemiskinan tahun
ini?" tanya Pak Eko suatu pagi, ketika Amat sedang asyik memasukkan data
ke dalam komputer. Pak Eko, Kaur Perencanaan yang masih menjabat sejak zaman
Pak Iwan, berdiri di ambang pintu ruangan Amat dengan segelas kopi di tangan
kanan dan setumpuk dokumen di tangan kiri. Wajahnya yang kurus dengan kumis
tipis yang selalu rapi itu tampak lebih lelah dari biasanya, mungkin karena
tekanan pekerjaan yang semakin meningkat sejak Pak Arjuna mulai menggagas
berbagai program pembangunan.
Amat mengangkat kepalanya dari layar komputer, memutar
kursinya menghadap Pak Eko. "Sudah, Pak. Saya sudah lihat data dari tim
verifikasi. Ada penurunan dibanding tahun lalu. Tahun lalu ada 78 keluarga
dalam kategori miskin, tahun ini turun menjadi 62. Tapi masih ada beberapa
keluarga yang masuk kategori miskin ekstrem. Yang paling parah di Dukuh Krajan,
di RT 03 dan RT 05. Mayoritas adalah lansia yang hidup sendiri, atau keluarga
dengan kepala rumah tangga yang sakit-sakitan."
Pak Eko menghela napas, duduk di kursi kayu di samping meja
Amat. "Ya, itu PR kita bersama. Pak Arjuna ingin program pengentasan
kemiskinan menjadi prioritas utama tahun ini. Beliau sudah bicara dengan saya
kemarin. Targetnya, dalam dua tahun ke depan, tidak ada lagi warga Awan Biru
yang masuk kategori miskin ekstrem. Ambisius, tapi saya rasa mungkin. Kita
punya program-program yang sudah berjalan, seperti bantuan langsung tunai,
program sembako murah, pelatihan keterampilan untuk warga produktif. Tapi kita
butuh data yang lebih akurat, lebih detail, untuk menentukan intervensi yang
tepat sasaran."
Amat mengangguk. Ia sudah beberapa kali membantu Pak Eko
menyusun data kemiskinan, dan ia tahu betapa rumitnya pekerjaan itu. Tidak
semua warga yang miskin mau diakui miskin, karena ada rasa malu atau karena
takut dicap tidak mampu. Sebaliknya, ada juga warga yang tidak miskin tetapi
mencoba-coba masuk dalam data penerima bantuan. Verifikasi di lapangan sering
menemukan data yang tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga program bantuan
tidak tepat sasaran.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Amat,
tanpa ragu. Ia sudah hafal dengan pertanyaan itu; ia selalu menawarkan bantuan
setiap kali ada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran, dua hal
yang ia miliki berlimpah.
Pak Eko tersenyum, lega karena tidak perlu memaksa.
"Sebenarnya saya ingin minta tolong. Kita akan mengajukan proposal bantuan
sosial ke kabupaten. Program pemberdayaan ekonomi untuk keluarga miskin
ekstrem. Tapi data-data kita masih berantakan. Formatnya harus sesuai dengan
pedoman dari kabupaten, dan saya agak kewalahan dengan format baru ini. Kamu
yang paling paham soal data dan komputer, bisakah kamu membantu menyusunnya?
Saya akan kasih data mentahnya, kamu olah sesuai format yang diminta."
"Tentu, Pak. Saya akan kerjakan. Targetnya kapan harus
selesai?"
"Paling lambat minggu depan. Kita harus kirim ke
kabupaten sebelum tanggal 15. Kalau bisa lebih cepat, lebih baik. Nanti saya
minta Bu Yuni untuk membantu mengoreksi. Beliau lebih paham tentang
administrasi dan tata kelola proposal."
"Baik, Pak. Saya usahakan selesai dalam tiga hari.
Saya akan lembur kalau perlu."
Pak Eko menepuk pundak Amat dengan bangga. "Kamu ini,
Amat, sama seperti ibumu. Rajin, tidak pernah mengeluh, selalu siap membantu.
Dulu ibumu juga seperti itu. Waktu masih gadis, ia sering membantu tetangga
yang kesulitan. Tidak pernah minta imbalan. Hanya senyum dan ucapan terima
kasih sudah cukup membuatnya bahagia."
Amat tersenyum mendengar pujian itu. Ia jarang mendengar
orang-orang di kantor desa berbicara tentang ibunya, tentang masa lalunya,
tentang siapa ia sebelum menjadi janda yang ditinggal suami pergi merantau dan
tidak pernah kembali. Mungkin karena Sumirah adalah orang yang pendiam, yang
lebih suka bekerja di kebun daripada bergosip di pasar, yang lebih suka duduk
di teras rumah sambil menyesap teh jahe daripada ikut arisan ibu-ibu. Tapi dari
cerita-cerita kecil seperti ini, dari potongan-potongan kenangan yang dibagikan
oleh orang-orang yang lebih tua, Amat mulai memahami bahwa ibunya bukan hanya
seorang ibu yang sederhana, tetapi juga seorang perempuan yang kuat, yang
mandiri, yang tidak pernah mengeluh meskipun hidupnya tidak mudah.
"Terima kasih, Pak. Saya akan usahakan yang terbaik.
Saya juga ingin desa ini maju. Saya ingin warga-warga yang kesulitan bisa terbantu."
Di tengah kesibukannya membantu Pak Eko menyusun proposal
bantuan sosial, Amat bertemu dengan seseorang yang akan menjadi mitra penting
dalam perjalanannya, seseorang yang membawa angin segar dengan visi yang jelas
tentang bagaimana teknologi bisa dimanfaatkan untuk kemajuan desa tanpa
menghilangkan identitas dan kearifan lokal: Mas Bambang. Mas Bambang adalah
anak dari Pak Eko, Kaur Perencanaan desa, tetapi meskipun ia adalah putra dari
salah satu perangkat desa yang paling disegani karena rasionalitas dan
ketelitiannya, ia tidak memilih jalur yang sama dengan ayahnya. Ia tidak
tertarik menjadi pegawai negeri, tidak tertarik duduk di balik meja sepanjang
hari mengurus dokumen dan laporan. Ia memilih jalur yang berbeda: kuliah di
jurusan Teknik Informatika di Universitas Brawijaya, Malang, salah satu
universitas terbaik di Indonesia Timur, dengan mimpi untuk menjadi programmer,
untuk menciptakan aplikasi-aplikasi yang bisa membantu banyak orang, untuk
menjadi bagian dari revolusi digital yang sedang melanda negeri ini.
Setelah lulus, ia bekerja di sebuah perusahaan startup di
Surabaya selama dua tahun. Ia belajar banyak tentang dunia startup yang
dinamis, tentang bagaimana teknologi bisa mengubah cara orang hidup, tentang
bagaimana aplikasi-aplikasi sederhana bisa memecahkan masalah-masalah kompleks.
Ia juga belajar tentang sisi gelap dunia startup: tekanan untuk bekerja lembur
setiap hari, persaingan yang tidak sehat antar karyawan, budaya kerja yang
mengorbankan keseimbangan hidup, dan yang paling menyakitkan, perasaan bahwa ia
hanya menjadi roda kecil dalam mesin raksasa yang tidak peduli pada dirinya. Ia
merasa kehilangan sesuatu, merasa bahwa meskipun ia sukses secara profesional,
ada kekosongan yang tidak bisa diisi oleh gaji besar dan jabatan tinggi.
"Aku capek dengan kehidupan kota," kata Mas
Bambang ketika pertama kali bertemu Amat di kantor desa, suatu sore ketika ia
datang mengantar ayahnya yang lupa membawa kacamata baca. Ia berdiri di ruang
kerja Amat, mengamati komputer tua yang masih setia berfungsi, rak-rak arsip
yang tersusun rapi, peta-peta lama yang tergantung di dinding, dan Amat yang
duduk di balik meja dengan tumpukan dokumen di hadapannya. Wajahnya yang masih
muda, dengan kumis tipis yang baru mulai tumbuh dan rambut yang sedikit panjang
di bagian belakang, tampak lelah tetapi matanya bersinar-sinar ketika berbicara
tentang masa depan. "Di sana semuanya serba cepat, serba kompetitif.
Orang-orang sibuk mengejar karir, mengejar uang, mengejar pengakuan. Aku merasa
kehilangan sesuatu. Aku merasa butuh kembali ke akar. Butuh kembali ke tempat
di mana orang-orang masih saling menyapa ketika bertemu di jalan. Butuh kembali
ke tempat di mana waktu tidak diukur dengan detak jam, tetapi dengan terbit dan
tenggelamnya matahari. Butuh kembali ke tempat di mana aku dilahirkan."
Amat mengamati Mas Bambang dengan saksama. Ia melihat bahwa
pemuda ini tidak hanya berbicara tentang nostalgia atau keinginan untuk pulang
kampung. Ada visi di matanya, ada rencana di pikirannya, ada semangat yang
tidak bisa dipadamkan oleh kelelahan atau kekecewaan. "Apa yang akan kamu
lakukan di desa, Mas?" tanya Amat, rasa penasaran menggelitik hatinya.
Mas Bambang duduk di kursi kayu di samping meja Amat,
meraih segelas air yang disediakan oleh Bu Yuni, dan mulai berbicara dengan
penuh semangat. "Aku ingin membangun sesuatu. Sesuatu yang bisa
menghubungkan desa dengan dunia luar, tanpa menghilangkan identitas desa. Aku
ingin memanfaatkan teknologi untuk kemajuan desa. Bukan teknologi yang membuat
orang terisolasi di depan layar, tetapi teknologi yang menghubungkan, yang
memberdayakan, yang membuka peluang. Aku ingin membuat Ruang Komunitas Digital
di Awan Biru. Sebuah tempat di mana warga desa bisa belajar teknologi,
mengakses internet, mengembangkan keterampilan digital, dan terhubung dengan
dunia luar. Sebuah tempat di mana anak-anak muda desa bisa berkumpul,
berdiskusi, mengembangkan ide-ide kreatif, dan mungkin memulai usaha sendiri
tanpa harus merantau ke kota."
Amat terkesan dengan visi Mas Bambang. Selama ini, ia melihat
teknologi sebagai alat untuk membantu pekerjaannya di kantor desa, untuk
menginput data lebih cepat, untuk menyusun laporan lebih rapi, untuk
berkomunikasi dengan kecamatan melalui email. Ia tidak pernah membayangkan
bahwa teknologi bisa menjadi alat untuk memberdayakan warga desa, untuk membuka
peluang ekonomi, untuk menghubungkan desa dengan dunia luar. Ia juga tidak
pernah membayangkan bahwa ada orang yang memiliki visi sebesar itu dan siap
untuk mewujudkannya, meskipun harus kembali ke desa dan memulai dari nol.
"Aku sudah bicara dengan Pak Kades Arjuna,"
lanjut Mas Bambang, matanya berbinar-binar. "Beliau sangat mendukung.
Bahkan beliau menyediakan ruangan di balai desa untuk dijadikan tempatnya.
Ruangan di sebelah ruang arsip itu, yang selama ini tidak terpakai. Beliau juga
berjanji akan membantu menganggarkan dana untuk pembelian komputer dan
peralatan lainnya. Yang aku butuhkan sekarang adalah orang-orang yang mau
membantu. Orang-orang yang punya semangat yang sama, yang percaya bahwa desa ini
bisa maju tanpa harus kehilangan jati dirinya."
Amat tidak perlu berpikir panjang. "Aku bisa membantu,
Mas. Aku memang tidak punya latar belakang IT seperti Mas Bambang. Aku hanya
belajar otodidak dari buku dan internet. Tapi aku bisa belajar. Aku cepat belajar.
Dan aku tahu beberapa teman yang mungkin tertarik. Raka, mungkin tidak terlalu
tertarik dengan teknologi, tapi dia bisa membantu menyediakan makanan untuk
acara-acara. Camelia, dia sekarang sudah kembali dari kuliah, mungkin dia bisa
membantu dari sisi riset dan dokumentasi. Ada juga Hermansyah, dia jago di
hal-hal teknis, mungkin bisa membantu instalasi."
Mas Bambang tersenyum lebar, lega karena tidak sendirian.
"Bagus! Mulai minggu depan kita mulai merintis. Aku juga sudah mengajak
Enjelin, kamu kenal, kan? Anaknya Bidan Amelia. Dia jago desain grafis, bisa
membantu untuk konten-konten digital kita. Aku juga akan menghubungi
teman-teman lain yang mungkin tertarik. Kita akan buat tim kecil dulu, tidak
perlu banyak-banyak. Yang penting semangatnya sama."
Enjelin,atau biasa dipanggil Jel oleh teman-temannya, adalah
gadis berusia dua puluh tahun, putri tunggal dari Bidan Amelia, satu-satunya
bidan desa yang masih setia bertugas di puskesmas pembantu meskipun usianya
sudah tidak muda lagi.Enjelinmewarisi kecantikan ibunya: rambut panjang hitam
yang selalu diikat dalam ekor kuda, kulit putih bersih yang jarang dimiliki
oleh anak-anak desa, dan senyum yang manis dan ramah. Tetapi ia mewarisi juga
sesuatu yang lain: kemandirian ibunya yang sejak muda sudah bekerja keras
menghidupi keluarga, keteguhan ibunya yang tidak mudah terpengaruh oleh omongan
orang, dan keberanian ibunya yang tidak takut mengambil risiko. Sejak kecil,
Enjelin sudah menunjukkan bakat seni yang luar biasa. Ia bisa menggambar dengan
pensil warna, meniru gambar-gambar di buku cerita dengan sangat mirip. Ia bisa
melukis dengan cat air, menangkap keindahan alam Awan Biru di atas kanvas
dengan warna-warna yang hidup. Ia bisa mendesain dengan komputer, membuat
poster-poster yang menarik dengan aplikasi yang ia pelajari secara otodidak.
Setelah lulus SMA, dengan nilai yang baik, meskipun tidak
sebaik Camelia, tetapi cukup untuk membuat ibunya bangga, Enjelin memilih untuk
tidak kuliah. Bukan karena ia tidak mampu; Bidan Amelia telah menabung sejak
lama untuk biaya pendidikan anaknya. Tapi Enjelin merasa bahwa kuliah bukan
satu-satunya jalan untuk sukses. Ia mengambil kursus desain grafis online,
belajar dari tutorial-tutorial di YouTube, bergabung dengan komunitas desainer
di media sosial, dan mulai menerima pesanan dari klien-klien di kota. Lambat
laun, namanya mulai dikenal. Ia mendapat pesanan untuk membuat logo untuk usaha
kecil-kecilan, membuat desain kemasan untuk produk UMKM, membuat konten visual
untuk media sosial. Ia bekerja dari rumah, dengan laptop pemberian ibunya yang
sudah usang tetapi masih setia berfungsi, dengan koneksi internet yang
kadang-kadang putus di tengah-tengah pekerjaan, dengan listrik yang kadang
padam di musim hujan. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia menikmati kebebasan
menjadi seorang freelancer, menikmati bahwa ia bisa bekerja dari desa tanpa
harus merantau ke kota.
"Aku senang akhirnya ada kegiatan serius di
desa," kata Enjelin ketika bergabung dengan Mas Bambang dan Amat dalam
pertemuan pertama mereka di ruang kosong yang akan dijadikan Ruang Komunitas
Digital. Ruangan itu masih berantakan: dinding-dinding yang belum dicat, lantai
yang masih kotor, beberapa meja dan kursi bekas yang ditumpuk di sudut ruangan.
Tapi di mata mereka, ruangan ini penuh dengan potensi, dengan kemungkinan,
dengan masa depan. "Selama ini aku kerja dari rumah, kadang merasa
terisolasi. Aku tidak punya teman diskusi, tidak punya orang yang bisa memberi
masukan untuk karyaku. Dengan adanya ruang komunitas ini, aku bisa bertemu
orang-orang baru, berbagi ide, dan mungkin mengajarkan desain ke anak-anak muda
desa yang tertarik."
Mas Bambang mengangguk, sudah membayangkan program-program
yang akan mereka jalankan. "Kamu bisa jadi instruktur, Jel. Kita akan buat
kelas-kelas: desain grafis untuk pemula, fotografi dan videografi untuk
dokumentasi desa, digital marketing untuk membantu warga yang punya produk
UMKM, dan mungkin juga kelas coding untuk anak-anak yang tertarik. Semua yang
bisa membantu warga desa mengembangkan potensi ekonominya, yang bisa membuka
peluang baru tanpa harus merantau ke kota."
Enjelin tersenyum, tetapi ada keraguan di matanya.
"Aku siap, Mas. Tapi jangan berharap aku bisa jadi guru yang sabar kayak
ibu guru di sekolah. Aku tipe yang kalau muridnya lambat, bisa marah. Apalagi
kalau muridnya tidak serius, main-main, tidak mengerjakan tugas. Aku bisa
meledak. Dulu waktu aku les komputer di kecamatan, ada teman yang selalu datang
terlambat dan tidak pernah mengerjakan tugas. Aku sampai tidak mau bicara
dengannya selama seminggu."
Amat dan Mas Bambang tertawa. "Tenang, Jel. Nanti kita
buat aturan yang jelas. Siapa yang tidak serius, tidak usah ikut. Lagipula,
yang datang nanti pasti orang-orang yang memang tertarik, yang memang ingin
belajar. Tidak akan ada yang main-main. Kita akan seleksi pesertanya."
"Setuju. Aku tidak mau capek-capek ngajar, eh muridnya
malah sibuk main TikTok."
Mereka semua tertawa lagi. Amat merasa bersyukur memiliki
teman-teman baru seperti Mas Bambang dan Enjelin. Mereka membawa perspektif
baru tentang bagaimana desa bisa maju tanpa kehilangan jati dirinya. Mereka
adalah generasi baru yang tidak melupakan akar tetapi juga tidak takut pada perubahan.
Mereka adalah harapan.
Setelah berminggu-minggu bekerja keras, Ruang Komunitas
Digital akhirnya siap. Dinding-dinding yang dulu kosong kini telah dicat dengan
warna biru muda, warna yang sama dengan langit Awan Biru di pagi hari. Di
dinding, terpampang poster-poster yang didesain oleh Enjelin, berisi visi misi
ruang komunitas, jadwal kegiatan, dan kutipan-kutipan inspiratif tentang
teknologi dan desa. Lantai yang dulu kotor kini telah dipasang keramik putih
yang bersih, dengan karpet kecil di area belajar. Meja-meja dan kursi-kursi
baru telah ditata rapi, dengan komputer-komputer yang didapat dari program
bantuan pemerintah kabupaten. Di sudut ruangan, ada rak buku berisi buku-buku
tentang teknologi, desain, kewirausahaan, dan juga buku-buku tentang sejarah
dan budaya desa, sumbangan dari Camelia. Di rak lain, ada beberapa tanaman hias
yang diletakkan oleh Enjelin untuk memberikan kesan asri.
Peresmian ruang komunitas dilakukan dengan sederhana. Pak
Arjuna hadir, memberikan sambutan singkat, menggunting pita di pintu masuk, dan
berkeliling melihat fasilitas yang ada. Warga yang hadir tidak banyak, hanya
sekitar dua puluh orang, kebanyakan anak-anak muda desa yang penasaran dengan
ruangan baru ini. Namun suasana tetap hangat dan penuh harapan. Ada yang
bertanya tentang jadwal kelas, ada yang langsung mendaftar untuk kursus desain
grafis, ada yang hanya ingin menggunakan internet untuk mengirim email atau
mencari informasi. Ruang ini terbuka untuk semua, gratis, tanpa dipungut biaya.
Malam itu, setelah semua pengunjung pulang, Amat, Mas
Bambang, Enjelin, dan Camelia masih duduk di ruang komunitas. Mereka membuka
laptop masing-masing, menyalakan musik pelan dari speaker kecil, dan mulai
bekerja. Amat membantu Mas Bambang mengatur jaringan internet yang masih
sedikit bermasalah. Enjelin mengedit foto-foto dari peresmian tadi untuk
diposting di media sosial. Camelia menulis laporan kegiatan untuk dilaporkan ke
Pak Arjuna.
"Ini baru awal," kata Mas Bambang, matanya
berbinar-binar di bawah cahaya lampu. "Masih banyak yang harus kita
lakukan. Kita perlu lebih banyak komputer. Kita perlu koneksi internet yang
lebih stabil. Kita perlu lebih banyak instruktur. Tapi ini adalah langkah
pertama. Dan langkah pertama selalu yang paling penting."
Amat mengangguk, mengingat kata-kata Mbah Ratih dulu, ketika
ia masih kecil, ketika ia pertama kali bertanya tentang menjadi penjaga desa.
"Langkah pertama memang yang paling sulit. Tapi setelah itu,
langkah-langkah berikutnya akan lebih mudah."
Enjelin yang sedang asyik mengedit foto, tiba-tiba menoleh.
"Mat, lo tahu nggak, dulu waktu aku masih kecil, aku sering lihat lo
bertiga lo, Raka, Camelia, pergi ke hutan. Aku penasaran, apa sih yang kalian
cari di sana?"
Amat dan Camelia saling berpandangan. Mereka belum pernah
menceritakan tentang Hutan Larangan, tentang gerbang batu, tentang peta kuno,
tentang tanggung jawab yang harus mereka pikul, kepada siapa pun selain Raka.
Tapi mungkin sudah waktunya. Mungkin sudah waktunya untuk berbagi. Mungkin
sudah waktunya untuk melibatkan lebih banyak orang.
"Ceritanya panjang, Jel," kata Camelia, tersenyum
tipis. "Suatu hari nanti, kita akan cerita. Tapi untuk sekarang, fokus
dulu pada ruang komunitas ini. Ini juga penting. Ini juga bagian dari menjaga
desa."
Enjelin tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk,
kembali fokus pada pekerjaannya. Tapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa ada
sesuatu yang lebih besar di balik ketenangan Amat, di balik kerapian Camelia,
di balik keceriaan Raka. Dan suatu hari nanti, ia akan tahu. Suatu hari nanti,
mereka semua akan tahu.
Malam itu, di ruang komunitas yang baru saja diresmikan, di
bawah langit Awan Biru yang tetap biru meskipun gelap, mimpi-mimpi mulai
terbang. Mimpi tentang desa yang maju tanpa kehilangan akar. Mimpi tentang
teknologi yang memberdayakan, bukan memisahkan. Mimpi tentang masa depan yang
lebih baik. Dan di antara mimpi-mimpi itu, ada juga mimpi tentang gerbang batu
di tengah hutan, tentang titik kedelapan yang masih misterius, tentang tanggung
jawab yang belum selesai.
BAB 23: Antara Data dan Realita
Berminggu-minggu, berbulan-bulan, Amat habiskan di ruang
kerjanya yang kecil itu, ruangan yang dulu adalah ruang arsip tempat mereka
menemukan peta kuno, ruangan yang kini telah berubah menjadi pusat data dan
administrasi desa. Di sinilah ia menghabiskan sebagian besar waktunya, dari
pagi hingga sore, kadang hingga malam ketika ada laporan yang harus segera
diselesaikan. Di sinilah ia duduk berjam-jam di depan komputer tua yang masih
setia berfungsi meskipun kipas pendinginnya sudah mulai berisik dan layarnya
sudah mulai buram di beberapa sudut. Di sinilah ia membuka satu per satu file
data, memeriksa setiap angka, membandingkan setiap kolom, mencari
keanehan-keanehan yang mungkin menunjukkan kesalahan input atau ketidaksesuaian
dengan kondisi di lapangan. Di sinilah ia menyusun ulang sistem administrasi
yang selama ini masih kacau, membuat database yang lebih terstruktur dengan
kategori-kategori yang jelas, dan merapikan arsip-arsip lama yang selama ini
berserakan di lemari-lemari berdebu.
Pekerjaan itu melelahkan, membosankan bagi kebanyakan
orang. Membaca ribuan baris data, memeriksa setiap angka, memastikan tidak ada
yang terlewat, membandingkan data dari berbagai sumber yang kadang-kadang tidak
sinkron. Mata Amat sering perih setelah berjam-jam menatap layar komputer.
Punggungnya sering pegal karena duduk terlalu lama. Tangannya sering kaku
karena terus-menerus mengetik. Tapi ia menikmatinya. Baginya, data bukan
sekadar angka-angka yang harus diinput dan dilaporkan. Data adalah cerita. Data
adalah denyut nadi desa. Data adalah cermin yang menunjukkan apa yang
sebenarnya terjadi di balik kehidupan sehari-hari warga. Setiap data yang ia
olah membantunya melihat gambaran besar tentang desanya, gambaran yang tidak
bisa ia lihat hanya dengan berjalan-jalan di pasar atau duduk-duduk di warung
kopi. Data membantunya memahami bahwa di balik kemajuan yang terlihat di
permukaan, ada masalah-masalah struktural yang mengakar, ada ketimpangan yang
semakin melebar, ada tradisi yang perlahan-lahan tergerus oleh arus
modernisasi.
Dari data pertanian yang ia kumpulkan dari laporan-laporan
kelompok tani, dari wawancara dengan para petani yang ia lakukan di sela-sela
waktu senggang, dari observasi langsung ke sawah-sawah yang mulai berubah
fungsi, Amat mengetahui bahwa hasil panen padi di Awan Biru menurun drastis
dalam lima tahun terakhir. Bukan karena gagal panen akibat hama atau kekeringan
seperti yang sering terjadi di desa-desa tetangga. Bukan karena perubahan iklim
yang membuat musim tanam menjadi tidak menentu. Penurunan itu terjadi karena
semakin banyak lahan sawah yang dialihfungsikan menjadi bangunan. Lahan-lahan
subur yang dulu ditanami padi dua kali setahun, yang menjadi sumber penghidupan
puluhan keluarga petani, kini berubah menjadi deretan villa-villa modern yang
berdiri megah di lereng-lereng bukit, menjadi tempat wisata dengan kolam renang
dan pemandangan pegunungan yang indah, menjadi kafe-kafe instagramable yang
dikunjungi oleh wisatawan dari kota.
Petani-petani tua, yang selama puluhan tahun menggantungkan
hidup pada sawah-sawah itu, mulai menjual tanah mereka. Bukan karena mereka
ingin, tetapi karena mereka terpaksa. Anak-anak mereka lebih memilih bekerja di
kota, menjadi buruh bangunan atau satpam atau sopir truk, daripada mewarisi
sawah yang hasilnya tidak seberapa. Cucu-cucu mereka lebih tertarik pada ponsel
dan media sosial daripada pada bibit padi dan masa panen. Tidak ada lagi yang
mau meneruskan tradisi bertani yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Lahan-lahan itu kemudian dibeli oleh pengusaha dari luar desa, agen properti
yang melihat potensi besar Awan Biru sebagai desa wisata. Mereka membangun
villa-villa mewah dengan harga jual yang fantastis, jauh di luar jangkauan
warga asli desa. Mereka membangun kafe-kafe dengan arsitektur modern yang
kontras dengan rumah-rumah tradisional warga. Mereka membawa perubahan yang
tidak selalu membawa berkah bagi penduduk asli.
Dari data kemiskinan yang ia susun dengan teliti,
membandingkan data dari tahun ke tahun, melihat tren dan pola, Amat mengetahui
bahwa meskipun angka kemiskinan secara statistik menurun, dari 78 keluarga
miskin menjadi 62 keluarga, sebuah penurunan yang cukup signifikan, kesenjangan
justru melebar. Warga yang memiliki akses ke modal dan teknologi, yang bisa
memanfaatkan peluang wisata, yang memiliki tanah di lokasi strategis, menjadi
semakin kaya. Mereka membangun rumah-rumah baru yang megah, membeli mobil-mobil
baru, mengirim anak-anak mereka ke sekolah-sekolah swasta di kecamatan.
Sementara petani kecil dan buruh tani, yang tidak memiliki lahan yang cukup
atau tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam industri pariwisata,
semakin terpinggirkan. Mereka masih bergantung pada hasil panen yang semakin
tidak menentu, pada upah harian yang tidak pernah naik, pada bantuan sosial
yang kadang-kadang tidak tepat sasaran.
Dari data kesehatan yang ia kumpulkan dari laporan bulanan
puskesmas pembantu, dari wawancara dengan Bidan Amelia dan dr. Erlangga, dari
observasi ke rumah-rumah warga yang memiliki anggota keluarga sakit, Amat
mengetahui bahwa Bidan Amelia dan dr. Erlangga bekerja keras untuk melayani
warga. Mereka berkeliling desa, memeriksa ibu hamil, memberikan imunisasi pada
balita, menangani pasien-pasien dengan penyakit ringan hingga sedang. Tetapi
fasilitas puskesmas pembantu masih sangat terbatas. Hanya ada dua ruang
periksa, satu ruang bersalin yang sederhana, dan satu ruang obat yang
persediaannya sering kosong. Tidak ada dokter spesialis, tidak ada alat-alat
medis yang canggih, tidak ada ambulans untuk merujuk pasien darurat. Banyak
warga yang harus pergi ke kecamatan, menempuh perjalanan satu jam dengan
kendaraan umum yang tidak selalu tersedia, untuk mendapatkan perawatan yang
lebih serius. Ada yang terlambat ditangani karena tidak punya biaya
transportasi, ada yang memilih berobat ke dukun karena lebih mudah dijangkau,
ada yang pasrah pada takdir ketika penyakitnya sudah parah.
Semua data ini ia kumpulkan, ia analisis, ia susun menjadi
laporan yang rapi. Laporan itu bukan sekadar kumpulan angka dan grafik yang
dibuat untuk memenuhi kewajiban administrasi. Laporan itu adalah hasil dari
berbulan-bulan kerja keras, dari wawancara dengan puluhan warga, dari observasi
ke berbagai sudut desa, dari diskusi dengan para perangkat desa dan tokoh
masyarakat. Laporan itu adalah upayanya untuk memahami desanya secara lebih
utuh, untuk melihat masalah-masalah yang mungkin terlewat oleh
kebijakan-kebijakan yang terlalu fokus pada pembangunan fisik. Laporan itu ia
berikan kepada Pak Arjuna, berharap bisa menjadi dasar untuk
kebijakan-kebijakan yang lebih tepat sasaran, yang tidak hanya mengejar
angka-angka pertumbuhan tetapi juga memperhatikan keadilan dan keberlanjutan.
Suatu sore, setelah jam kerja selesai dan kantor desa mulai
sunyi, Pak Arjuna memanggil Amat ke ruang kerjanya. Ruang kerja kepala desa itu
sederhana tetapi rapi. Meja kayu jati besar yang dulu digunakan oleh Pak Iwan
masih ada di tempat yang sama, hanya ditambah dengan komputer baru dan printer
yang masih mengkilap. Di dinding, terpampang foto-foto kegiatan desa: foto Pak
Arjuna ketika dilantik, foto kerja bakti membersihkan sungai, foto peresmian
Ruang Komunitas Digital, foto wisatawan yang sedang menikmati pecel di warung
Raka. Di sudut ruangan, ada rak buku berisi buku-buku tentang pembangunan desa,
arsitektur tradisional, dan beberapa novel yang mungkin dibaca Pak Arjuna di
waktu senggang.
Pak Arjuna membaca laporan Amat dengan saksama. Matanya
yang tajam meneliti setiap angka, setiap grafik, setiap catatan. Ia membaca
halaman demi halaman, sesekali berhenti untuk memikirkan sesuatu, sesekali
menandai bagian tertentu dengan pulpen merah. Amat duduk di kursi di
hadapannya, menunggu dengan sabar, sesekali menyesap teh jahe yang disajikan
oleh Bu Yuni. Udara sore yang sejuk masuk melalui jendela yang terbuka, membawa
aroma tanah basah dari sawah yang baru saja diairi. Dari kejauhan, terdengar
suara adzan Magrib yang mulai berkumandang, mengalun lembut di antara
pepohonan.
Setelah hampir satu jam, Pak Arjuna selesai membaca. Ia
meletakkan laporan itu di atas meja, menatap Amat dengan ekspresi serius,
tetapi matanya bersinar-sinar. "Ini bagus, Amat. Sangat bagus. Saya tidak
menyangka kamu bisa menyusun laporan sekomprehensif ini. Kamu tidak hanya
menyajikan data, tetapi juga memberikan analisis yang mendalam. Kamu tidak
hanya melihat angka-angka, tetapi juga membaca cerita di balik angka-angka itu.
Ini akan sangat membantu saya dalam mengambil keputusan. Saya bisa melihat
tren, pola, masalah-masalah yang mungkin terlewat jika hanya mengandalkan
laporan-laporan biasa."
Amat merasa lega, tetapi juga sedikit gugup. "Terima
kasih, Pak Kades. Saya hanya melakukan yang terbaik. Saya berpikir, data itu
tidak berguna jika hanya disimpan di dalam komputer atau di lemari arsip. Data
harus diolah, dianalisis, dan digunakan untuk mengambil keputusan. Itu yang saya
coba lakukan."
Pak Arjuna mengangguk, mengamati Amat dengan saksama.
"Tapi saya ingin tahu pendapatmu. Dari data yang kamu olah, dari analisis
yang kamu lakukan, menurutmu apa masalah terbesar desa kita saat ini? Bukan
yang terlihat di permukaan, bukan yang biasa kita bahas dalam rapat-rapat.
Masalah yang paling mendasar. Masalah yang menjadi akar dari semua masalah
lain."
Amat berpikir sejenak. Ia sudah memikirkan pertanyaan ini
berkali-kali selama berbulan-bulan mengolah data. Ia sudah mendiskusikannya
dengan Camelia, dengan Mbah Ratih sebelum beliau meninggal, dengan Kyai
Beringin dalam bisikan-bisikan malam. Ia sudah merenungkannya,
membolak-baliknya dalam pikirannya, mencari jawaban yang paling tepat.
"Menurut saya, Pak, masalah terbesarnya bukan kemiskinan. Bukan
infrastruktur yang masih kurang. Bukan juga pendidikan yang belum merata.
Masalah terbesarnya adalah hilangnya rasa memiliki. Warga mulai melihat desa
ini hanya sebagai tempat tinggal, bukan sebagai rumah yang harus dijaga. Mereka
menjual tanah tanpa berpikir panjang, karena tanah itu hanya dianggap sebagai
aset yang bisa diperjualbelikan, bukan sebagai warisan leluhur yang harus
diteruskan ke anak cucu. Mereka membuang sampah sembarangan, karena sungai dan
tanah bukan lagi milik bersama, tetapi milik orang lain, milik pemerintah,
milik siapa saja yang tidak perlu mereka pedulikan. Mereka melupakan tradisi,
karena tradisi dianggap kuno, ketinggalan zaman, tidak relevan dengan kehidupan
modern. Data menunjukkan itu, Pak. Data menunjukkan bahwa warga yang menjual
tanah bukan hanya yang miskin dan terdesak, tetapi juga yang kaya dan ingin
lebih kaya. Data menunjukkan bahwa kesenjangan melebar bukan hanya karena
faktor ekonomi, tetapi juga karena perubahan nilai, perubahan cara pandang
terhadap desa."
Pak Arjuna terdiam, merenungkan kata-kata Amat. Wajahnya
yang tegas itu menjadi lebih serius, garis-garis di dahinya semakin dalam.
"Kamu benar. Itulah mengapa saya tidak ingin hanya fokus pada pembangunan
fisik. Jalan diaspal, jembatan dibangun, listrik masuk ke desa, itu semua
penting. Tapi itu hanya kulit. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran.
Saya ingin warga kembali mencintai desanya. Saya ingin mereka bangga menjadi
orang Awan Biru. Saya ingin mereka melihat bahwa desa ini bukan hanya tempat
tinggal, tetapi rumah, identitas, masa depan. Saya ingin Awan Biru menjadi desa
yang maju, tetapi tetap menjadi Awan Biru. Dengan langit biru yang menjadi ciri
khasnya, dengan tradisi yang dijaga oleh leluhur, dengan masyarakat yang ramah
dan bersahabat."
"Bagaimana caranya, Pak?" tanya Amat, suaranya
penuh rasa ingin tahu. "Membangun kesadaran tidak semudah membangun jalan.
Tidak bisa diukur dengan angka, tidak bisa ditargetkan dalam waktu tertentu.
Butuh waktu, butuh kesabaran, butuh cara-cara yang mungkin tidak biasa."
Pak Arjuna tersenyum. "Kita mulai dari hal-hal kecil.
Bersihkan sungai, rawat sumur tua, lestarikan tradisi. Libatkan warga dalam
setiap kegiatan. Buat mereka merasa bahwa desa ini adalah milik mereka, bukan
milik pemerintah desa atau investor dari luar. Ajak mereka berdiskusi,
dengarkan keluhan mereka, libatkan mereka dalam pengambilan keputusan. Dan kita
butuh orang-orang muda seperti kamu, Amat. Kalian adalah harapan desa ini.
Kalian yang akan meneruskan apa yang sudah kami mulai. Kalian yang akan menjaga
desa ini ketika kami sudah tua."
Amat mengangguk, merasa terhormat dengan kepercayaan yang
diberikan padanya. "Saya akan berusaha, Pak. Saya tidak tahu apakah saya
bisa, tapi saya akan berusaha. Desa ini adalah rumah saya. Saya tidak akan
membiarkannya hancur."
Setelah persiapan yang cukup panjang, berminggu-minggu
membersihkan ruangan yang dulu adalah gudang arsip yang penuh debu dan sarang
laba-laba, berhari-hari memasang instalasi listrik dan jaringan internet yang
memutar otak Hermansyah dan Mas Bambang, berulang kali bolak-balik ke kecamatan
untuk mengurus izin dan bantuan peralatan, Ruang Komunitas Digital Awan Biru
akhirnya resmi dibuka. Peresmian dilakukan oleh Pak Arjuna pada suatu hari
Minggu pagi, ketika matahari baru saja muncul dari balik Bukit Pangasih dan
kabut tipis masih bergelayut di antara pepohonan, dihadiri oleh warga desa yang
datang dengan pakaian terbaik mereka, perangkat desa yang sudah siap dengan
tugas masing-masing, dan beberapa undangan dari kecamatan yang penasaran dengan
inisiatif baru dari desa kecil ini.
Ruangan itu sendiri sederhana, tidak mewah, tidak megah.
Sebuah ruangan berukuran sekitar lima kali delapan meter di lantai dua balai
desa, yang sebelumnya digunakan sebagai gudang arsip, tempat menyimpan
dokumen-dokumen lama yang sudah menguning dan berdebu. Dindingnya dulu bercat
putih yang mengelupas, lantainya semen yang retak-retak, jendelanya kecil dan
berdebu. Tapi setelah direnovasi kecil-kecilan oleh Mas Bambang dan para
relawan, dibantu oleh Hermansyah yang memasang instalasi listrik baru, oleh
Guntur yang mengangkat peralatan berat, oleh Enjelin yang mendesain tata letak
ruangan, ruangan itu berubah menjadi tempat yang nyaman, tempat yang membuat
orang betah berlama-lama. Dindingnya dicat warna biru muda, warna yang sama
dengan langit Awan Biru di pagi hari, warna yang menenangkan, warna yang
mengingatkan pada rumah. Di dinding, terpampang poster-poster inspiratif yang
didesain oleh Enjelin sendiri: kutipan-kutipan tentang teknologi dan desa, tentang
belajar dan berbagi, tentang masa depan yang lebih baik. Ada empat unit
komputer yang terhubung dengan internet, didapat dari program bantuan
pemerintah kabupaten setelah melalui proses pengajuan yang panjang dan
melelahkan. Ada sebuah proyektor yang dipinjam dari kantor desa, untuk
presentasi dan nonton bareng. Ada rak buku berisi buku-buku tentang teknologi,
desain, kewirausahaan, dan juga buku-buku tentang sejarah dan budaya desa,
sumbangan dari Camelia yang tidak pernah lelah mengumpulkan pengetahuan.
"Selamat datang di Ruang Komunitas Digital Awan
Biru," kata Mas Bambang dalam sambutannya, berdiri di depan proyektor yang
menampilkan logo ruang komunitas yang ia desain sendiri. Suaranya lantang,
penuh semangat, matanya berbinar-binar melihat ruangan yang telah lama ia
impikan kini menjadi kenyataan. "Tempat ini adalah milik kita semua. Milik
warga Awan Biru. Bukan milik saya, bukan milik Pak Lurah, bukan milik
pemerintah desa. Tempat untuk belajar, berbagi, dan berkembang. Di sini, kita
tidak hanya belajar tentang teknologi, tentang cara menggunakan komputer,
tentang cara mengakses internet. Kita juga belajar tentang bagaimana teknologi
bisa membantu kita melestarikan desa kita, mempromosikan potensi desa kita,
membuka peluang ekonomi bagi warga, dan menghubungkan kita dengan dunia luar
tanpa harus meninggalkan desa tercinta."
Setelah peresmian, acara dilanjutkan dengan workshop
pertama: desain grafis untuk pemula, yang diampu oleh Enjelin. Enjelin sudah
mempersiapkan materi selama berminggu-minggu, membuat slide presentasi yang
menarik, menyiapkan contoh-contoh desain yang sederhana tetapi efektif,
merancang latihan-latihan yang mudah diikuti oleh pemula. Pesertanya adalah
anak-anak muda desa, dari yang masih duduk di bangku SMA hingga yang sudah lulus
dan belum bekerja, yang antusias belajar hal baru, yang penasaran dengan dunia
desain grafis yang selama ini hanya mereka lihat di media sosial. Beberapa dari
mereka bahkan membawa laptop sendiri, laptop pemberian orang tua atau hasil
menabung dari kerja sampingan, yang sudah mereka siapkan sejak mendengar kabar
tentang ruang komunitas ini.
"Apa itu desain grafis?" tanya seorang peserta,
gadis belasan tahun dengan rambut dikepang dua, duduk di barisan depan dengan
laptop terbuka di hadapannya. Matanya yang bulat penuh rasa ingin tahu menatap
Jel yang berdiri di depan kelas dengan percaya diri.
"Desain grafis itu seni membuat gambar yang bisa menyampaikan
pesan," jelasin Enjelin dengan sabar, membuka slide pertama yang berisi
contoh-contoh desain grafis dalam kehidupan sehari-hari: logo, poster, kemasan
produk, konten media sosial. "Jadi, tidak sekadar gambar yang bagus,
tetapi gambar yang punya tujuan. Misalnya, kalian punya produk makanan atau
kerajinan tangan. Produknya enak, produknya bagus, tapi kalau kemasannya biasa
saja, orang tidak akan tertarik. Dengan desain grafis, kalian bisa membuat
kemasan yang menarik, yang membuat orang penasaran, yang membuat produk kalian
terlihat lebih profesional. Atau kalian punya usaha kecil-kecilan, mau promosi
di media sosial. Dengan desain grafis, kalian bisa membuat poster promosi yang
eye-catching, yang membuat orang berhenti scrolling dan melihat produk
kalian."
"Wah, jadi kita bisa jualan online, Bu?" tanya
peserta lain, seorang pemuda dengan jaket jeans lusuh dan topi baseball dipakai
terbalik, yang selama ini hanya membantu orang tuanya berjualan di pasar tanpa
pernah berpikir untuk memperluas pasar.
"Bisa banget. Nanti Mas Bambang akan ajarin soal
digital marketing. Jadi, setelah kalian bisa bikin desain yang bagus, kalian
juga bisa belajar cara memasarkannya lewat internet. Facebook, Instagram,
TikTok, semua bisa. Dunia itu luas, Ra. Tidak hanya pasar kecamatan. Bisa
sampai ke kota, bahkan ke luar pulau. Yang penting kalian punya produk yang
bagus, kemasan yang menarik, dan strategi pemasaran yang tepat."
Antusiasme peserta sangat tinggi. Enjelin dan Mas Bambang
harus bekerja ekstra untuk melayani semua pertanyaan. Ada yang bertanya tentang
cara menggunakan aplikasi desain, ada yang bertanya tentang tips memilih warna,
ada yang bertanya tentang cara membuat logo yang sederhana tetapi berkesan.
Amat membantu sebagai asisten, mendampingi peserta yang kesulitan
mengoperasikan komputer, menjelaskan ulang instruksi-instruksi yang mungkin
terlewat, dan sesekali mengambil foto untuk dokumentasi.
Di tengah workshop, ketika Enjelin sedang menjelaskan
tentang teori warna, tentang warna primer dan sekunder, tentang warna hangat
dan dingin, tentang psikologi warna dalam pemasaran, Raka muncul dengan membawa
besek besar berisi pecel. Ia berdiri di pintu ruangan, dengan senyum lebar,
dengan baju kotor khas tukang pecel, dengan aroma bumbu kacang yang langsung
menyebar ke seluruh ruangan.
"Makan siang! Makan siang!" teriaknya dari pintu,
suaranya lantang, tidak peduli bahwa ia sedang mengganggu kelas. "Kasihan
kalian belajar terus, perut kosong. Otak nggak bisa maksimal kalau perut lapar.
Siapa yang mau pecel? Gratis! Pesan khusus dari Raka, anak pecel Awan Biru,
yang selalu setia menyediakan makanan untuk kegiatan desa!"
Semua peserta berebut, meninggalkan laptop dan buku catatan
mereka. Enjelin yang sedang menjelaskan tentang komposisi warna tiba-tiba
kehilangan perhatian karena aroma pecel yang menggoda. Ia menutup wajahnya
dengan tangan, berusaha menahan tawa dan rasa kesal pada saat yang sama.
"Raka, kamu ini ganggu konsentrasi! Aku baru sampai bagian penting!"
Raka tidak merasa bersalah sama sekali. Ia malah mendekat,
meletakkan besek di meja di depan kelas, dan mulai membagikan pecel satu per
satu. "Tugas saya menghibur, Bu. Kalau perut lapar, konsentrasi juga
buyar. Jadi, dengan saya bawa pecel, saya membantu kalian belajar lebih baik.
Logis kan? Bapak saya selalu bilang, perut kenyang, hati tenang, otak encer.
Jadi, dengan makan pecel, kalian akan lebih mudah memahami teori warna yang
rumit itu."
Enjelin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil
tersenyum. Mas Bambang tertawa, ikut mengambil seporsi pecel. Amat, seperti
biasa, hanya tersenyum melihat kehebohan yang diciptakan sahabatnya. Ia
mengambil satu porsi pecel, duduk di sudut ruangan, dan menikmatinya sambil
memperhatikan teman-temannya yang sedang makan dan tertawa bersama. Di tengah
semua keseriusan belajar, di tengah semua data dan analisis, di tengah semua
rencana pembangunan desa, ada momen-momen seperti ini: momen di mana mereka
hanya menjadi anak muda yang makan pecel bersama, tertawa bersama, menikmati
kebersamaan yang sudah terjalin sejak kecil.
Malam itu, setelah semua peserta workshop pulang, setelah
ruangan kembali bersih dan rapi, Amat, Mas Bambang, Enjelin, dan Camelia masih
duduk di ruang komunitas. Mereka membuka laptop masing-masing, menyalakan musik
pelan dari speaker kecil yang dipinjam dari kantor desa, dan mulai bekerja.
Amat membantu Mas Bambang mengatur jaringan internet yang masih sedikit bermasalah,
kadang koneksi putus di tengah-tengah sesi, kadang kecepatannya lambat seperti
siput, kadang tidak bisa mengakses situs-situs tertentu. Enjelin mengedit
foto-foto dari peresmian dan workshop tadi untuk diposting di media sosial
ruang komunitas, menambahkan filter yang membuat warna-warna lebih hidup,
menulis caption yang menarik dengan hashtag yang relevan. Camelia menulis
laporan kegiatan untuk dilaporkan ke Pak Arjuna, merangkum apa yang sudah
dicapai, apa kendalanya, dan apa rencana selanjutnya.
"Ini baru awal," kata Mas Bambang, matanya
berbinar-binar di bawah cahaya lampu, menatap ruangan yang penuh dengan
potensi. "Masih banyak yang harus kita lakukan. Kita perlu lebih banyak
komputer, minimal sepuluh unit, supaya lebih banyak peserta yang bisa belajar
dalam satu sesi. Kita perlu koneksi internet yang lebih stabil, mungkin perlu
memasang antena khusus atau berlangganan paket yang lebih mahal. Kita perlu
lebih banyak instruktur, karena Jel tidak bisa mengajar semua kelas sendirian.
Kita perlu lebih banyak buku, lebih banyak peralatan, lebih banyak dana. Tapi
ini adalah langkah pertama. Dan langkah pertama selalu yang paling
penting."
Amat mengangguk, mengingat kata-kata Mbah Ratih dulu,
ketika ia masih kecil, ketika ia pertama kali bertanya tentang menjadi penjaga
desa. Langkah pertama memang yang paling sulit. Tapi setelah itu,
langkah-langkah berikutnya akan lebih mudah. "Kita tidak bisa
melakukan semuanya sendirian. Kita butuh dukungan dari warga, dari pemerintah
desa, dari kecamatan. Tapi saya yakin, jika kita konsisten, jika kita terus
menunjukkan hasil, dukungan itu akan datang. Perlahan tapi pasti."
Enjelin yang sedang asyik mengedit foto, tiba-tiba menoleh,
menghentikan jari-jarinya yang lincah di atas keyboard. "Mat, lo tahu
nggak, dulu waktu aku masih kecil, aku sering lihat lo bertiga, lo, Raka,
Camelia, pergi ke hutan. Ke arah selatan. Aku ingat sekali, karena biasanya
anak-anak tidak berani ke sana. Hutan larangan, katanya. Tapi lo bertiga sering
pergi. Aku penasaran, apa sih yang kalian cari di sana? Apa yang kalian
temukan? Cerita dong."
Amat dan Camelia saling berpandangan. Mereka belum pernah
menceritakan tentang Hutan Larangan, tentang gerbang batu misterius yang
berputar dengan cahaya biru, tentang peta kuno yang terukir di ambang batu,
tentang titik kedelapan yang masih menjadi misteri, tentang tanggung jawab yang
harus mereka pikul, tentang suara-suara yang masih sering Amat dengar di malam
hari, kepada siapa pun selain Raka. Selama ini, mereka menjaga rahasia itu
hanya untuk mereka bertiga. Mungkin sudah waktunya untuk berbagi. Mungkin sudah
waktunya untuk melibatkan lebih banyak orang. Mungkin Mas Bambang dan Enjelin,
dengan keahlian dan semangat mereka, bisa membantu.
"Ceritanya panjang, Jel," kata Camelia, tersenyum
tipis, matanya menerawang ke kejauhan, mengingat masa-masa ketika mereka masih
kecil dan penuh petualangan. "Suatu hari nanti, kita akan cerita. Mungkin
ketika kita sudah lebih siap. Mungkin ketika kita sudah menemukan apa yang kita
cari. Tapi untuk sekarang, fokus dulu pada ruang komunitas ini. Ini juga
penting. Ini juga bagian dari menjaga desa. Dengan cara yang berbeda, dengan alat
yang berbeda."
Enjelin tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk,
kembali fokus pada pekerjaannya. Tapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa ada
sesuatu yang lebih besar di balik ketenangan Amat, di balik kerapian Camelia,
di balik keceriaan Raka. Sesuatu yang berhubungan dengan desa ini, dengan
leluhur, dengan misteri yang selama ini hanya diceritakan oleh orang-orang tua
di warung kopi. Dan suatu hari nanti, ia akan tahu. Suatu hari nanti, mereka
semua akan tahu.
Malam itu, di ruang komunitas yang baru saja diresmikan, di
bawah langit Awan Biru yang tetap biru meskipun gelap, mimpi-mimpi mulai
terbang. Mimpi tentang desa yang maju tanpa kehilangan akar. Mimpi tentang
teknologi yang memberdayakan, bukan memisahkan. Mimpi tentang masa depan yang
lebih baik, di mana anak-anak muda desa tidak perlu merantau ke kota untuk
sukses, di mana tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan, di mana data
dan realita bisa bertemu dalam harmoni. Dan di antara mimpi-mimpi itu, ada juga
mimpi tentang gerbang batu di tengah hutan, tentang titik kedelapan yang masih
misterius, tentang tanggung jawab yang belum selesai, tentang panggilan yang
masih terus terdengar di telinga Amat setiap malam.
BAB 24: Musyawarah yang Penuh Ketegangan
Beberapa bulan setelah Pak Arjuna menjabat, setelah
semangat pembangunan desa mulai terasa di berbagai sudut Awan Biru, jalan-jalan
yang mulai diperbaiki, lampu-lampu penerangan yang dipasang di sepanjang jalan
utama, program-program pemberdayaan yang digulirkan, konflik lahan yang selama ini
menggelembung di bawah permukaan, yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik di
warung kopi dan desas-desus di pasar, mulai meletus. Isunya sederhana di
permukaan, tetapi kompleks dan berlapis-lapis ketika ditelusuri lebih dalam:
seorang pengusaha dari kabupaten, seorang pengembang properti yang namanya
sudah dikenal luas di kalangan pejabat dan birokrat, membeli sebidang tanah di
lereng selatan, tepat di tepi Hutan Larangan, tepat di batas antara dunia
manusia dan dunia lain, tepat di tempat yang selama tiga ratus tahun dijaga
oleh leluhur, dengan tujuan membangun resort dan tempat wisata modern.
Villa-villa mewah dengan kolam renang infinity yang menghadap ke lembah,
restoran dengan pemandangan pegunungan, dan mungkin, jika rencana itu
terealisasi, sebuah taman hiburan kecil untuk menarik wisatawan dari kota.
Tanah itu sebelumnya adalah sawah tadah hujan milik
beberapa keluarga petani yang sudah bertani di sana turun-temurun. Sawah-sawah
yang tidak terlalu luas, masing-masing hanya beberapa puluh meter persegi,
tetapi menjadi sumber penghidupan bagi keluarga-keluarga itu selama
bergenerasi. Sawah-sawah yang digarap dengan tangan, dengan cangkul dan sabit,
dengan irigasi sederhana dari aliran sungai kecil yang berasal dari mata air di
lereng bukit. Sawah-sawah yang menyaksikan lahir dan matinya generasi demi
generasi, yang menjadi saksi bisu suka dan duka keluarga-keluarga petani itu.
Sawah-sawah yang bagi mereka bukan sekadar tanah, bukan sekadar aset yang bisa
diperjualbelikan, tetapi warisan leluhur, identitas, dan masa depan.
Masalahnya, proses pembelian tanah itu tidak sepenuhnya
bersih. Ada desas-desus yang semakin lama semakin keras, semakin sulit
diabaikan, bahwa oknum perangkat desa yang lama, masih era Pak Iwan, sebelum
Pak Arjuna dilantik, ketika administrasi desa masih kacau dan pengawasan masih
longgar, telah memfasilitasi pembelian dengan cara yang tidak transparan. Ada
aliran uang yang tidak jelas, ada dokumen-dokumen yang dipalsukan, ada
prosedur-prosedur yang dilompati. Beberapa petani mengaku ditekan untuk menjual
tanah mereka dengan harga yang sangat murah, jauh di bawah harga pasar, dengan
ancaman bahwa jika mereka tidak menjual, mereka akan dihadapkan pada
masalah-masalah lain yang lebih rumit. Ada juga yang mengaku tidak pernah
menandatangani surat jual beli, tidak pernah menerima uang, tidak pernah
bertemu dengan pembeli, tetapi tiba-tiba tanah mereka sudah bersertifikat atas
nama pengusaha itu. Sertifikat yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Kabupaten
dengan stempel resmi, yang seharusnya menjadi bukti kepemilikan yang sah, yang
seharusnya melindungi hak-hak warga, justru menjadi senjata untuk merampas
tanah mereka.
Pak Arjuna, yang baru menjabat beberapa bulan, yang masih
dalam masa-masa awal belajar memahami seluk-beluk pemerintahan desa, yang masih
harus membangun hubungan dengan berbagai pihak, menghadapi situasi yang sulit.
Di satu sisi, ia tidak ingin mengusik proyek investasi yang bisa membawa
kemajuan ekonomi bagi desa. Ia adalah kepala desa yang visioner, yang ingin
Awan Biru maju, yang ingin warganya sejahtera. Ia tahu bahwa investasi dari
luar bisa membuka lapangan kerja, bisa meningkatkan pendapatan asli desa, bisa
membawa desa ini ke peta pariwisata nasional. Di sisi lain, ia tidak bisa
mengabaikan ketidakadilan yang dialami warganya. Ia tidak bisa membiarkan warga
desa, warga yang memilihnya menjadi pemimpin, warga yang menaruh harapan
padanya, dirugikan oleh praktik-praktik yang tidak etis. Ia tidak bisa
membiarkan tanah leluhur, tanah yang telah dijaga selama tiga ratus tahun,
dirampas dengan cara-cara yang tidak bermoral.
"Saya akan adakan musyawarah desa," kata Pak
Arjuna dalam rapat internal dengan perangkat desa, suatu sore ketika langit
mulai gelap dan kabut mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit. Suaranya
tegas, tidak ada keraguan, meskipun ia tahu bahwa langkah ini akan membawanya
ke medan yang sulit. "Kita akan dudukkan masalah ini bersama-sama. Semua
pihak harus didengar. Petani yang kehilangan tanah, pengusaha yang membeli
tanah, perangkat desa yang terlibat, semua. Kita akan cari solusi yang adil.
Bukan solusi yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Bukan
solusi yang hanya memikirkan keuntungan jangka pendek tanpa memikirkan dampak
jangka panjang. Kita akan cari solusi yang berpihak pada kebenaran, yang
berpihak pada keadilan, yang berpihak pada desa ini."
Bu Yuni, Sekretaris Desa, yang masih beradaptasi dengan
dinamika pemerintahan desa yang kadang-kadang rumit, mengangguk. Wajahnya yang
biasanya tenang itu tampak serius, garis-garis di dahinya dalam. "Saya
setuju, Pak Kades. Tapi kita harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan
terburuk. Pengusaha itu bukan orang sembarangan. Ia punya koneksi di kabupaten,
di provinsi, mungkin juga di pusat. Ia bisa saja membawa pengacara,
pengacara-pengacara handal yang terbiasa menangani kasus-kasus pertanahan. Ia
bisa saja membawa aparat, polisi atau tentara, untuk mengintimidasi warga. Ia
bisa saja menggunakan uangnya untuk mempengaruhi proses hukum. Kita harus siap
menghadapi itu."
"Itu risikonya. Tapi kita tidak bisa membiarkan warga
kita dirugikan hanya karena takut pada kekuasaan dan uang. Amat, kamu sudah
mengumpulkan data tentang transaksi tanah itu? Aku butuh data yang akurat, data
yang bisa dipertanggungjawabkan, data yang bisa menjadi bukti di pengadilan
jika diperlukan."
Amat yang duduk di sudut ruangan, di kursi yang sama yang
selalu ia tempati sejak bergabung dengan pemerintah desa, mengangkat kepalanya.
"Sudah, Pak. Saya sudah menelusuri dokumen-dokumennya. Saya sudah
memeriksa arsip-arsip lama di ruang penyimpanan. Saya sudah membandingkan
dengan data kependudukan yang saya kelola. Saya sudah melakukan wawancara
dengan para petani yang tanahnya dijual. Saya menemukan beberapa kejanggalan
yang signifikan. Beberapa sertifikat diterbitkan tanpa melalui prosedur yang
benar. Ada surat-surat yang ditandatangani oleh orang yang sudah meninggal. Ada
tanda tangan yang dipalsukan. Ada data yang tidak sesuai dengan fakta di
lapangan."
Pak Arjuna menatap Amat dengan saksama, melihat mata biru
pemuda itu yang menyala dengan tekad. "Simpan data itu baik-baik. Jangan
sampai ada yang tahu kecuali kita yang ada di ruangan ini. Kita akan gunakan
sebagai bukti kalau diperlukan. Tapi untuk musyawarah nanti, kita tidak perlu
menunjukkan semua kartu. Cukup tunjukkan yang bisa membuat mereka gugup. Cukup
tunjukkan bahwa kita tahu. Cukup tunjukkan bahwa kita tidak akan diam."
Musyawarah desa digelar di kantor desa pada suatu hari
Minggu pagi, ketika matahari baru saja muncul dari balik Bukit Pangasih dan
kabut tipis masih bergelayut di antara pepohonan. Halaman balai desa yang
biasanya sunyi di pagi hari itu dipenuhi oleh warga yang datang dari berbagai
dusun, dari berbagai RT, dari berbagai lapisan masyarakat. Ada yang datang
dengan berjalan kaki, mengenakan sandal jepit dan pakaian seadanya, karena
mereka tidak punya kendaraan dan rumah mereka jauh dari pusat desa. Ada yang
datang dengan sepeda motor, membawa serta istri dan anak-anak mereka, karena
mereka ingin anak-anak mereka menyaksikan bagaimana orang dewasa menyelesaikan
masalah. Ada yang datang dengan truk milik Pak Anto, yang rela mengantar warga
dari dusun-dusun terpencil tanpa meminta bayaran, karena ia juga merasa
terpanggil untuk hadir.
Mereka datang dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang
datang dengan wajah cemas, para petani yang tanahnya dijual paksa, yang tidak
tahu apa yang akan terjadi pada mereka, pada keluarga mereka, pada masa depan
mereka. Ada yang datang dengan wajah penasaran, warga biasa yang hanya ingin
tahu apa yang sebenarnya terjadi di desa mereka, siapa yang benar dan siapa
yang salah, apakah keadilan masih bisa ditegakkan. Ada yang datang dengan wajah
marah, pemuda-pemuda desa yang merasa tanah leluhur mereka direbut oleh orang
luar, yang siap berkonfrontasi jika diperlukan, yang tidak takut pada siapa
pun. Ada juga yang datang dengan wajah gelisah, perangkat-perangkat desa era
lama yang mungkin terlibat dalam praktik-praktik yang tidak bersih, yang tahu
bahwa mereka bisa saja menjadi sasaran investigasi, yang berharap masalah ini
cepat selesai tanpa menyeret nama mereka.
Di barisan depan, duduk para petani yang tanahnya dijual
paksa. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan cemas, penuh dengan kerutan yang
terbentuk bukan hanya karena usia tetapi juga karena tekanan hidup yang semakin
berat. Di antara mereka ada Pak Darmo, tetangga lama Amat, yang kini telah
berusia lanjut, rambutnya telah memutih semua, punggungnya mulai membungkuk,
langkahnya sudah tidak sekokoh dulu, dan jarang terlihat di sawah karena
tanahnya yang dulu ia garap dengan penuh cinta, yang dulu menjadi sumber
kebanggaan dan penghidupannya, kini sudah tidak ada. Ia datang dengan kemeja
lusuh yang masih ia simpan untuk acara-acara penting, dengan tongkat bambu di
tangan kanan yang selalu ia bawa ke mana-mana sejak jatuh di sawah dua tahun
lalu, dengan mata yang sembab karena semalaman tidak bisa tidur, memikirkan apa
yang akan ia katakan di depan semua orang.
Di sisi lain, duduk perwakilan dari pengusaha: seorang
pengacara muda dari kabupaten dengan setelan jas hitam yang rapi, sepatu pantofel
mengkilap yang kontras dengan sandal jepit warga, koper kulit yang tampak
mahal, dan senyum yang terlalu manis untuk menjadi tulus. Di belakangnya, duduk
beberapa orang yang tampak seperti preman bayaran: tubuh-tubuh kekar dengan
tato di lengan, wajah-wajah yang tidak ramah, mata-mata yang menyapu kerumunan
seolah-olah sedang mencari target. Mereka duduk dengan santai, bersandar di
kursi plastik yang disediakan panitia, seolah-olah mereka yang memiliki desa
ini, seolah-olah mereka tidak perlu takut pada siapa pun, seolah-olah hukum dan
uang ada di pihak mereka.
Pak Arjuna membuka musyawarah dengan pidato yang
diplomatis, pidato yang telah ia persiapkan berhari-hari, pidato yang berusaha
menyeimbangkan antara ketegasan dan kebijaksanaan. Ia berdiri di panggung
sederhana yang didirikan di halaman balai desa, dengan mikrofon di tangan,
dengan wajah yang serius tetapi tidak marah. "Bapak-bapak, ibu-ibu, warga
Desa Awan Biru yang saya hormati. Hari ini kita berkumpul untuk membicarakan
masalah yang sangat penting, masalah yang menyangkut hak-hak dasar warga kita,
masalah yang menyangkut keadilan, masalah yang menyangkut masa depan desa kita.
Saya tidak akan bertele-tele. Saya akan langsung ke pokok masalah: konflik
lahan di lereng selatan. Saya ingin mendengar semua pihak. Saya ingin kita
mencari solusi bersama yang adil bagi semua. Bukan solusi yang dipaksakan,
bukan solusi yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain, tetapi
solusi yang lahir dari musyawarah, dari kebijaksanaan bersama, dari keinginan
kita untuk menjaga desa ini tetap damai dan harmonis."
Pak Darmo, dengan suara yang parau karena usia, dengan
tangan yang gemetar karena emosi, berdiri dari kursinya. Ia tidak menunggu
dipanggil, tidak meminta izin. Ia sudah terlalu lama diam, sudah terlalu lama
menerima ketidakadilan, sudah terlalu lama melihat tanah leluhurnya dirampas
tanpa bisa berbuat apa-apa. "Pak Kades, saya sudah bertani di tanah itu
sejak saya masih muda. Puluhan tahun saya menggarapnya. Itu warisan dari orang
tua saya, dari kakek saya, dari leluhur yang tidak saya kenal namanya tetapi
darahnya mengalir dalam tubuh saya. Saya tidak pernah menjual tanah itu. Tidak
pernah. Tidak ada orang yang datang menawar, tidak ada uang yang saya terima,
tidak ada surat yang saya tanda tangani. Tapi tiba-tiba ada orang yang datang,
orang-orang yang tidak saya kenal, bilang tanah itu sudah milik mereka. Mereka
menyuruh saya pergi. Mereka bilang kalau saya tidak pergi, mereka akan
melaporkan saya ke polisi, mereka akan menyeret saya ke pengadilan. Saya tidak
punya tempat lain, Pak. Saya sudah tua. Saya tidak punya kekuatan untuk
melawan. Saya hanya punya harapan pada Bapak, pada pemerintah desa, pada
keadilan."
Seorang petani lain, lebih muda dari Pak Darmo tetapi
dengan wajah yang lebih keras, berdiri menyusul. "Saya juga, Pak! Saya
tidak pernah tanda tangan apa-apa! Saya tidak pernah menerima uang sepeser pun!
Tapi suratnya sudah ada. Katanya saya sudah menerima uang sekian. Padahal saya
tidak pernah! Saya cuma orang desa, Pak. Saya tidak bisa baca surat-surat itu.
Saya tidak paham hukum. Saya hanya tahu bahwa tanah yang saya garap, yang saya
rawat dengan keringat saya, yang menjadi sumber makan anak-anak saya, tiba-tiba
bukan milik saya lagi. Itu tidak adil, Pak. Itu tidak adil."
Pengacara dari pengusaha itu berdiri dengan sikap yang
tenang, dengan senyum yang tetap merekah, seolah-olah ia sudah memprediksi
semua yang akan terjadi. Ia berjalan ke depan, membuka koper kulitnya,
mengeluarkan setumpuk dokumen yang disusun rapi dalam map-map plastik.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, warga Desa Awan Biru yang saya hormati.
Perkenalkan, saya Firman Santoso, S.H., kuasa hukum dari PT Alam Lestari
Nusantara, pemilik sah atas tanah-tanah yang menjadi pokok persoalan hari ini.
Saya mohon kita semua bisa menjaga ketenangan dan ketertiban. Ini adalah forum
musyawarah, bukan forum adu mulut, apalagi adu fisik."
Ia berhenti sejenak, menatap kerumunan dengan tatangan yang
menantang, seolah-olah mengukur seberapa jauh ia bisa memanipulasi suasana.
"Saya mewakili klien saya, PT Alam Lestari Nusantara, ingin menyampaikan
bahwa klien saya adalah pemilik sah atas tanah-tanah tersebut berdasarkan
sertifikat hak milik yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Kabupaten, lembaga
resmi pemerintah yang berwenang dalam masalah pertanahan. Sertifikat-sertifikat
ini telah melalui proses hukum yang panjang, telah diverifikasi oleh pejabat
yang berwenang, dan memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Jika ada pihak-pihak
yang merasa keberatan dengan kepemilikan ini, kami persilakan untuk menempuh
jalur hukum yang telah disediakan. Bawa ke pengadilan, buktikan bahwa klien
kami tidak berhak atas tanah tersebut. Tapi perlu saya ingatkan,
menghalang-halangi hak milik orang lain, apalagi dengan cara-cara kekerasan
atau intimidasi, adalah tindak pidana yang diancam dengan hukuman
penjara."
Suasana langsung memanas. Warga berteriak-teriak tidak
terima. Kata-kata "pengacara kampungan", "preman berdasi",
"pencuri tanah" terdengar dari berbagai sudut. Beberapa pemuda desa
yang mendukung petani maju ke depan, tubuh mereka tegang, tangan mereka
mengepal, siap untuk berkonfrontasi dengan preman-preman yang duduk di sisi
pengusaha. Pak Arjuna mengetuk palu berkali-kali, memukul meja dengan keras,
berteriak meminta ketenangan. "Semua tenang! Ini musyawarah, bukan tempat
untuk ribut! Saya minta semua pihak menghormati jalannya musyawarah! Jangan ada
yang memprovokasi! Jangan ada yang main hakim sendiri! Kita selesaikan ini
dengan kepala dingin!"
Amat yang duduk di barisan belakang, di antara Raka dan
Camelia, merasa ada yang tidak beres. Ia mengamati pengacara itu dengan
saksama, melihat bagaimana ia membawa dokumen-dokumen yang sudah disiapkan
rapi, seolah-olah mereka sudah tahu akan ada perlawanan, seolah-olah mereka
sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Ia juga mengamati beberapa
perangkat desa era Pak Iwan yang hadir di musyawarah itu, duduk di barisan
tengah dengan ekspresi yang tidak tenang. Ada Pak Kartono, mantan sekretaris
desa yang sudah pensiun, yang kini lebih sering menghabiskan waktunya di warung
Mbah Karo daripada di balai desa, yang wajahnya pucat dan tangannya gemetar
memegang topi petani yang selalu ia kenakan. Ada Pak Sugeng, yang biasanya
cerewet dan penuh energi, kini diam membisu, matanya menatap ke lantai,
seolah-olah tidak ingin terlibat. Ada beberapa nama lain yang tidak pernah
muncul dalam data-data desa yang ia kelola, tetapi kini hadir dengan
wajah-wajah yang tidak tenang.
Camelia, yang duduk di samping Amat, membisikkan sesuatu
dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar. "Mat, ini tidak beres. Aku
lihat dokumen-dokumen yang dibawa pengacara itu. Ada yang aneh.
Sertifikat-sertifikat itu diterbitkan dalam waktu yang sangat singkat.
Biasanya, proses sertifikasi tanah memakan waktu berbulan-bulan, bahkan
bertahun-tahun. Tapi dalam kasus ini, semuanya selesai dalam waktu kurang dari
sebulan. Seolah-olah ada yang mempercepat proses. Seolah-olah ada yang membayar
untuk mempercepat. Itu tidak normal. Itu mencurigakan."
Amat mengangguk. Matanya yang biru itu menyipit, mencoba
membaca detail-detail yang mungkin terlewat oleh orang lain. "Aku juga
merasakannya. Aku sudah menelusuri arsip-arsip desa. Ada surat rekomendasi dari
desa yang ditandatangani oleh... Pak Kartono. Surat yang menjadi dasar
penerbitan sertifikat-sertifikat itu. Tanpa surat itu, proses tidak akan
berjalan. Tanpa surat itu, tanah-tanah itu tidak akan bisa bersertifikat atas
nama pengusaha itu."
Camelia terkejut. Wajahnya yang tenang itu berubah pucat.
"Kakeku? Tidak mungkin! Kakeku tidak akan pernah melakukan itu. Ayahku
orang yang jujur. Kakekku sudah puluhan tahun mengabdi di desa ini. Kakekku
tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan warga. Tidak mungkin."
"Aku tahu. Aku yakin tanda tangan itu palsu. Aku sudah
membandingkannya dengan tanda tangan asli Pak Kartono di dokumen-dokumen resmi
lainnya. Ada perbedaan yang signifikan. Tapi kita harus membuktikannya. Kita
harus punya bukti yang tidak bisa dibantah. Kita harus membawa ini ke pihak
yang berwenang."
Amat berdiri. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan rasa takut
meskipun ia tahu bahwa kata-katanya akan membawanya ke medan yang berbahaya.
Matanya yang biru itu menyala dengan tekad yang tidak bisa dipadamkan. Ia
berjalan ke depan, melewati barisan-barisan kursi, melewati warga-warga yang
menatapnya dengan rasa ingin tahu, menuju ke panggung tempat Pak Arjuna
berdiri. Ia tidak membawa mikrofon, tidak membutuhkan mikrofon. Suaranya yang
tenang tetapi jelas akan terdengar di keheningan yang tiba-tiba menyelimuti
ruangan.
"Pak Kades, saya mohon izin untuk menyampaikan sesuatu."
Pak Arjuna menatap Amat dengan saksama. Ia melihat mata
biru pemuda itu, mata yang tidak pernah berbohong, mata yang telah melihat
hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Ia mengangguk. "Silakan, Amat. Tapi
perkenalkan diri dulu untuk warga yang belum kenal. Banyak warga di sini yang
mungkin belum tahu siapa kamu."
Amat berdiri di hadapan semua orang, di hadapan warga desa
yang memenuhi halaman balai desa, di hadapan pengacara dengan setelan rapi dan
preman-preman yang menatapnya dengan tatapan mengancam, di hadapan perangkat
desa yang gelisah, di hadapan petani-petani yang kehilangan tanah. "Nama
saya Amat Junior. Saya staf administrasi di kantor desa. Saya juga yang
mengelola data kependudukan dan data pertanahan desa. Beberapa minggu terakhir,
saya telah menelusuri arsip-arsip desa terkait transaksi tanah di lereng
selatan. Saya menemukan beberapa kejanggalan yang ingin saya sampaikan di sini.
Bukan untuk menuduh siapa-siapa, tetapi untuk meluruskan fakta. Karena saya
percaya bahwa kebenaran harus ditegakkan, di mana pun itu, oleh siapa pun
itu."
Ia mengeluarkan setumpuk dokumen dari tas kerjanya,
dokumen-dokumen yang telah ia kumpulkan selama berbulan-bulan, dokumen-dokumen
yang telah ia pelajari berulang kali, dokumen-dokumen yang menjadi bukti dari
apa yang ia katakan. Ia menunjukkan satu per satu dokumen itu kepada warga,
membacakan poin-poin penting dengan suara yang jelas dan terstruktur.
"Pertama, surat rekomendasi dari desa yang
ditandatangani oleh Pak Kartono, Sekretaris Desa saat itu. Surat ini menjadi
dasar penerbitan sertifikat-sertifikat yang sekarang dipegang oleh PT Alam
Lestari Nusantara. Saya sudah memeriksanya dengan saksama, membandingkannya
dengan tanda tangan asli Pak Kartono dalam dokumen-dokumen resmi lainnya,
seperti laporan pertanggungjawaban keuangan desa, surat-surat keterangan, dan
dokumen-dokumen lain yang masih tersimpan di arsip desa. Hasilnya, tanda tangan
ini tidak sesuai. Ada perbedaan dalam tekanan, dalam alur, dalam detail-detail
kecil yang tidak akan terlihat oleh mata awam tetapi jelas bagi mereka yang
paham grafologi. Saya menduga ini adalah tanda tangan palsu."
Warga bergemuruh. Pak Kartono yang duduk di barisan depan
berdiri, wajahnya yang tua dan keriput itu memucat, tangannya yang gemetar
memegang tongkat bambu. Air matanya mengalir, tidak bisa ditahan. "Itu
benar! Saya tidak pernah menandatangani surat itu! Saya tidak tahu apa-apa
tentang transaksi ini! Saya sudah pensiun ketika transaksi ini terjadi! Saya
tidak pernah terlibat! Tanda tangan itu palsu! Palsu!"
Pengacara itu tersenyum tipis, senyum yang menunjukkan
bahwa ia tidak terkesan dengan pengakuan Pak Kartono. "Itu tuduhan serius,
Nak. Sangat serius. Apakah kamu punya bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa
tanda tangan itu palsu? Atau hanya berdasarkan perasaanmu? Karena di mata
hukum, perasaan bukanlah bukti. Dugaan bukanlah bukti. Prasangka bukanlah
bukti."
Amat tidak goyah. Ia sudah mempersiapkan diri untuk
pertanyaan ini. "Saya tidak hanya mengandalkan perasaan, Pak. Saya sudah
meminta bantuan dari kepolisian sektor kecamatan Kabut Merah untuk melakukan
uji grafis. Hasilnya akan keluar dalam beberapa hari. Tapi saya tidak hanya
berhenti di situ."
Ia mengeluarkan dokumen lain dari tasnya, dokumen yang
lebih tebal, dengan lebih banyak catatan. "Kedua, saya menemukan bahwa
proses penerbitan sertifikat tanah ini sangat cepat. Tidak normal. Berdasarkan
data yang saya peroleh dari Badan Pertanahan Kabupaten, proses sertifikasi
tanah biasanya memakan waktu minimal enam bulan, bahkan bisa sampai dua tahun
tergantung kompleksitasnya. Tapi dalam kasus ini, semuanya selesai dalam waktu
kurang dari tiga minggu. Dari pengajuan hingga terbitnya sertifikat, hanya
butuh waktu tiga minggu. Itu mencurigakan. Apalagi, ada beberapa nama petani
yang tercantum sebagai penjual, tetapi berdasarkan data kependudukan yang saya
kelola, orang-orang itu sudah meninggal dunia sebelum transaksi dilakukan.
Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa menjual tanah? Bagaimana
mungkin tanda tangan orang yang sudah meninggal bisa ada di surat jual
beli?"
Suasana semakin memanas. Warga berteriak-teriak marah.
Kata-kata "setan", "pencuri", "preman" terdengar
dari berbagai sudut. Beberapa pemuda desa sudah tidak bisa menahan diri, hampir
saja menyerbu ke arah pengacara dan preman-preman itu. Pak Arjuna harus memukul
palu berkali-kali, memukul meja dengan keras hingga mikrofonnya jatuh,
berteriak dengan suara yang serak meminta ketenangan. "Tenang! Tenang
semua! Jangan ada yang main hakim sendiri! Saya minta semua pihak menghormati jalannya
musyawarah! Amat, lanjutkan! Tapi singkat saja!"
Amat menghela napas, berusaha menenangkan diri. "Saya
tidak bermaksud menuduh siapa-siapa. Saya hanya menyampaikan fakta yang saya
temukan. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa ada indikasi kuat terjadinya pemalsuan
dokumen dan kemungkinan kolusi antara oknum di desa dengan pihak luar. Saya
menyerahkan semua ini kepada Bapak Kades dan aparat yang berwenang untuk
ditindaklanjuti. Saya tidak akan berkomentar lebih jauh. Saya hanya berharap
keadilan bisa ditegakkan. Untuk Pak Darmo, untuk petani-petani lain, untuk desa
ini."
Setelah musyawarah usai, setelah pengacara itu pergi dengan
langkah tergesa-gesa membawa dokumen-dokumennya, setelah preman-preman itu
menghilang dengan mobil-mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan, suasana di
Kantor desa masih tegang. Warga yang mendukung petani tidak mau pulang sebelum
ada keputusan. Mereka berkumpul di halaman, berdiskusi dengan suara yang keras,
sesekali melirik ke arah kantor desa tempat Pak Arjuna dan perangkat desa
sedang mengadakan rapat internal.
Pak Arjuna akhirnya memutuskan untuk membentuk tim
investigasi yang terdiri dari perangkat desa, BPD, dan perwakilan warga untuk
menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Tim ini akan bekerja sama dengan kepolisian
sektor kecamatan dan Badan Pertanahan Kabupaten untuk menelusuri
dokumen-dokumen yang mencurigakan, memeriksa saksi-saksi, dan mengumpulkan
bukti-bukti yang diperlukan. Keputusan ini disambut dengan lega oleh warga.
Mereka merasa bahwa keadilan masih mungkin ditegakkan, bahwa pemerintah desa
tidak tinggal diam, bahwa ada yang membela mereka.
Amat, Raka, Camelia, dan beberapa teman lainnya berkumpul
di beranda rumah Amat setelah musyawarah. Matahari sudah mulai condong ke
barat, cahayanya berubah dari putih menjadi jingga keemasan, membuat
bayangan-bayangan memanjang di tanah. Kabut tipis mulai merayap turun dari
lereng-lereng bukit, seperti biasa, seperti setiap sore di desa ini. Sumirah
menyiapkan teh jahe hangat untuk mereka semua, duduk di kursi bambu di sudut
beranda, mendengarkan percakapan anak-anak muda itu dengan senyum tipis.
"Lo hebat, Mat," kata Raka, yang biasanya ceria
dan penuh tawa, kini menjadi serius. Wajahnya yang bulat itu pucat, tangannya
yang biasanya lincah mengambil kerupuk kini diam di pangkuan. "Lo berani
ngomong di depan semua orang. Di depan pengacara itu, di depan preman-preman
itu. Gue aja gemeteran duduk di belakang. Nggak kebayang kalau gue yang di
depan."
"Itu bukan keberanian, Rak," kata Amat, suaranya
tenang, matanya menatap ke kejauhan, ke arah pohon beringin yang mulai gelap di
tengah desa. "Itu tanggung jawab. Aku punya data, aku punya fakta. Aku
tahu bahwa ada yang salah. Aku tahu bahwa Pak Darmo dan petani-petani lain
tidak bersalah. Kalau aku diam, tidak ada yang akan membela mereka. Kalau aku
diam, ketidakadilan akan terus berlangsung. Kalau aku diam, desa ini akan
hancur. Bukan karena resort atau villa, tetapi karena orang-orang kehilangan
kepercayaan pada keadilan."
Camelia yang duduk di samping Amat, meraih tangannya.
Tangannya kecil dan dingin, tetapi genggamannya kuat. "Aku bangga padamu,
Mat. Tapi hati-hati. Pengusaha itu pasti tidak akan diam. Mereka bisa melakukan
apa saja untuk melindungi kepentingannya. Mereka punya uang, mereka punya
koneksi, mereka punya kekuasaan. Mereka bisa menyewa pengacara-pengacara
handal, mereka bisa memanipulasi proses hukum, mereka bisa mengintimidasi
saksi-saksi. Kita harus waspada."
Amat mengangguk, merasakan kehangatan tangan Camelia di
tangannya. "Aku tahu, Mel. Tapi aku tidak bisa diam. Aku sudah berjanji
pada Mbah Ratih, pada Kyai Beringin, pada leluhur yang menjaga desa ini. Aku
sudah berjanji untuk menjaga keseimbangan. Dan menjaga keseimbangan tidak hanya
tentang makhluk-makhluk di Hutan Larangan. Juga tentang keadilan di desa
ini."
Dari dalam rumah, Sumirah yang mendengar percakapan mereka,
keluar dengan membawa nampan berisi teh jahe hangat. Wajahnya yang sudah
beruban itu tenang, tetapi matanya berkaca-kaca. Ia meletakkan nampan di meja
kecil di tengah mereka, lalu duduk di kursi bambu di samping Amat.
"Anak-anak, kalian sudah dewasa. Ibu tidak bisa melarang kalian berbuat
sesuatu. Ibu hanya bisa mengingatkan. Jangan sampai terlena dengan keberanian.
Keberanian tanpa kehati-hatian hanya akan membawa petaka. Keberanian tanpa
kebijaksanaan hanya akan membuat kalian menjadi korban. Keberanian tanpa doa
hanya akan membuat kalian lupa dari mana kekuatan itu berasal. Ingat, apa pun
yang terjadi, jangan lupa Tuhan. Jangan lupa bahwa ada yang lebih besar dari
kalian, yang lebih kuat dari kalian, yang lebih bijaksana dari kalian."
Mereka semua mengangguk. Amat meminum teh jahe itu,
merasakan hangatnya menjalar ke seluruh tubuh, mengusir sisa-sisa ketegangan
yang masih mengendap di pundaknya. Di luar, langit Awan Biru mulai gelap,
tetapi bintang-bintang mulai berkelap-kelip satu per satu, seperti mata-mata
kecil yang mengintip dari balik selimut malam. Di kejauhan, pohon beringin tua
berdiri tegak, dengan kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang menjalar,
dengan penjaganya yang setia menunggu. Dan di dalam hati Amat, ada keyakinan
yang tidak bisa digoyahkan: bahwa kebenaran akan menang, bahwa keadilan akan
ditegakkan, bahwa desa ini akan selamat. Bukan karena kekuatannya, bukan karena
kepintarannya, tetapi karena ia tidak sendirian. Ada sahabat-sahabat di
sampingnya, ada warga yang mendukungnya, ada leluhur yang menjaganya, dan ada
Tuhan yang tidak pernah tidur.
BAB 25: Program Pembangunan Desa Awan Biru
Setelah konflik lahan mereda, setidaknya untuk sementara,
setelah pengacara itu pergi dengan langkah tergesa-gesa dan preman-preman itu
menghilang ke dalam mobil-mobil hitam mereka, setelah Pak Arjuna membentuk tim
investigasi yang mulai bekerja menelusuri dokumen-dokumen palsu dan aliran uang
yang tidak jelas, Pak Arjuna memerintahkan perangkat desa untuk fokus pada
program pembangunan. Ia ingin menunjukkan bahwa pemerintah desa tidak hanya
bisa menyelesaikan masalah, tidak hanya bisa menegakkan keadilan, tetapi juga
bisa membawa kemajuan, bisa meningkatkan kesejahteraan warga, bisa membawa Desa
Awan Biru ke arah yang lebih baik tanpa harus mengorbankan identitas dan
tradisi yang telah dijaga selama tiga ratus tahun.
Ia mengumpulkan semua perangkat desa di ruang rapat kantor
desa pada suatu pagi, ketika matahari baru saja muncul dari balik Bukit
Pangasih dan sinar keemasannya masuk melalui jendela-jendela kaca yang baru
dibersihkan. Ruang rapat yang biasanya hanya digunakan untuk
pertemuan-pertemuan rutin itu hari itu penuh sesak. Kursi-kursi plastik merah
yang sudah diganti dengan kursi kayu yang lebih kokoh tidak cukup menampung
semua yang hadir; beberapa orang harus berdiri di belakang, bersandar di
dinding, atau duduk di lantai. Ada perangkat desa dari berbagai bidang, ada
ketua-ketua RT dan RW, ada perwakilan dari BPD, ada tokoh-tokoh masyarakat
seperti Pak Sugeng dan Pak Santoso, ada juga anak-anak muda yang selama ini
aktif dalam berbagai kegiatan desa, termasuk Amat, Camelia, Mas Bambang, dan
Enjelin.
"Saudara-saudara, warga Desa Awan Biru yang saya
hormati," Pak Arjuna memulai dengan suara yang lantang, berdiri di depan
papan tulis putih yang sudah disiapkan dengan spidol warna-warni di raknya.
"Kita sudah melewati masa-masa yang sulit. Konflik lahan yang sempat
memecah belah kita, praktik-praktik yang tidak transparan yang merugikan warga,
semua itu sudah kita hadapi bersama. Tapi sekarang, kita tidak boleh
terus-menerus terpaku pada masa lalu. Kita harus melihat ke depan. Kita harus
membangun desa ini bersama-sama. Kita harus menunjukkan bahwa Awan Biru adalah
desa yang tidak hanya kuat dalam menghadapi masalah, tetapi juga maju dalam
membangun masa depan."
Pak Arjuna kemudian meminta Amat, Camelia, Mas Bambang, dan
Enjelin untuk duduk dalam tim perencanaan. Ia memilih mereka bukan tanpa
alasan. Mereka adalah generasi muda yang memiliki energi, ide-ide segar, dan
yang terpenting, mereka memiliki visi yang sama dengan Pak Arjuna tentang masa
depan desa: desa yang maju tanpa kehilangan akar, desa yang terbuka tanpa
kehilangan identitas, desa yang sejahtera tanpa meninggalkan yang lemah. Pak
Eko, Kaur Perencanaan yang sudah berpengalaman puluhan tahun, ditunjuk sebagai
koordinator. Namun Pak Eko, dengan kebijaksanaannya yang sudah teruji,
memberikan kebebasan kepada anak-anak muda itu untuk mengemukakan ide-ide
segar, untuk berpikir di luar kotak, untuk merancang program-program yang
mungkin tidak terpikirkan oleh orang-orang yang sudah terlalu lama berkutat
dengan birokrasi dan prosedur.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan cara-cara
lama," kata Mas Bambang dalam rapat perencanaan yang digelar keesokan
harinya di Ruang Komunitas Digital. Ruangan itu, yang biasanya digunakan untuk
pelatihan dan diskusi, hari itu diubah menjadi markas tim perencanaan.
Meja-meja komputer digeser ke pinggir, diganti dengan meja panjang yang
ditutupi kertas-kertas besar untuk menulis ide, papan tulis putih yang lebih
besar dipasang di dinding, dan peta Desa Awan Biru yang digambar oleh Camelia
dengan sangat detail ditempel di sampingnya. Mas Bambang berdiri di depan peta
itu, dengan spidol di tangan, dengan mata yang berbinar-binar. "Cara-cara
lama yang hanya mengandalkan gotong royong tanpa perencanaan yang matang, yang
hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah tanpa usaha mandiri, yang hanya
mengandalkan keberuntungan tanpa strategi. Desa kita punya potensi yang luar
biasa. Sumber daya alam yang melimpah, budaya yang kaya, sumber daya manusia
yang tidak kalah dengan desa-desa lain. Tapi potensi itu tidak akan berarti
apa-apa jika kita tidak bisa mengemasnya dengan baik, jika kita tidak bisa
menjangkau pasar yang lebih luas, jika kita tidak bisa memanfaatkan teknologi
yang ada."
Mas Bambang kemudian memaparkan tiga program utama yang ia
usulkan. Ia menulisnya di papan tulis dengan spidol warna merah, biru, dan
hijau, masing-masing dengan sub-poin yang terstruktur rapi. Suaranya lantang,
penuh semangat, tangannya bergerak-gerak dengan penuh ekspresi.
"Pertama, digitalisasi desa. Ini adalah program yang
paling dekat dengan saya, yang paling saya kuasai, dan yang paling mungkin
untuk segera dijalankan. Kita akan manfaatkan Ruang Komunitas Digital yang
sudah kita bangun untuk melatih warga dalam bidang teknologi informasi, digital
marketing, dan e-commerce. Targetnya, dalam satu tahun, minimal lima puluh
warga desa bisa mengelola toko online sendiri. Bukan hanya untuk produk-produk
desa seperti pecelnya Raka, kerajinan tangan ibu-ibu PKK, hasil pertanian dari
kelompok tani, tetapi juga untuk jasa-jasa seperti homestay, pemandu wisata,
dan lain-lain. Kita akan bantu mereka membuat akun di platform e-commerce,
mengelola media sosial, membuat konten promosi yang menarik, dan yang
terpenting, mengelola keuangan secara digital."
Ia berhenti sejenak, melihat reaksi para peserta rapat. Pak
Eko mengangguk-angguk, mencatat di buku catatannya yang selalu ia bawa. Bu Yuni
tersenyum, terkesan dengan sistematika pemaparan Mas Bambang. Pak Arjuna duduk
di kursi paling depan, mendengarkan dengan saksama, sesekali mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kritis.
"Kedua, pengembangan desa wisata berbasis kearifan
lokal. Ini program yang lebih kompleks, yang butuh persiapan lebih matang, yang
melibatkan banyak pihak. Tapi potensinya luar biasa. Kita punya pemandangan
alam yang indah: Bukit Pangasih dengan sunrise-nya yang spektakuler, Hutan
Larangan dengan misterinya, sungai-sungai yang masih jernih, sawah-sawah yang
terasering indah. Kita punya tradisi yang unik: upacara adat yang tidak
dimiliki desa lain, kesenian tradisional yang masih hidup, cerita-cerita
leluhur yang menarik. Kita punya kuliner yang khas: pecelnya Raka, tentu saja,
tapi juga makanan-makanan tradisional lain yang mungkin bisa dikembangkan. Kita
bisa mengemas semuanya menjadi paket wisata yang edukatif dan berkelanjutan.
Wisatawan tidak hanya datang, foto-foto, lalu pulang. Mereka bisa belajar
tentang budaya kita, tentang sejarah desa kita, tentang kearifan lokal yang
selama ini dijaga oleh leluhur. Mereka bisa tinggal di homestay warga, makan
makanan tradisional, ikut kegiatan warga. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari
pariwisata bisa dirasakan langsung oleh warga, tidak hanya oleh investor
luar."
Camelia, yang duduk di samping Amat, mengangkat tangan.
"Saya setuju dengan program desa wisata, Mas. Tapi kita harus hati-hati.
Saya sudah melihat banyak desa yang mencoba menjadi desa wisata, tetapi
akhirnya kehilangan identitasnya. Rumah-rumah tradisional diganti dengan
bangunan modern, tradisi-tradisi dikomersialisasi hingga kehilangan maknanya,
warga lokal menjadi penonton di desanya sendiri. Kita tidak boleh seperti itu.
Kita harus punya aturan yang jelas. Batasan jumlah wisatawan per hari, agar
tidak terjadi over-tourism. Aturan tentang perilaku wisatawan di area-area
sakral seperti Hutan Larangan dan sumur tua, agar tidak mengganggu keseimbangan
yang dijaga oleh leluhur. Pembagian keuntungan yang adil bagi warga, tidak
hanya bagi segelintir orang yang punya modal. Dan yang terpenting, warga desa
harus menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri. Wisatawan boleh datang, tetapi
warga yang menentukan aturannya."
Amat, yang sejak tadi diam mendengarkan, ikut angkat
bicara. Suaranya tenang, tetapi ada ketegasan di dalamnya. "Aku setuju
dengan Camelia. Tapi ada satu hal lagi yang perlu kita perhatikan. Hutan
Larangan bukan sekadar objek wisata. Ia adalah tempat yang dijaga. Ada penjaga
di sana. Ada leluhur yang masih bersemayam. Ada keseimbangan yang harus dijaga.
Jika kita membuka Hutan Larangan untuk wisatawan tanpa persiapan yang matang,
tanpa ritual yang tepat, tanpa izin dari penjaganya, kita bisa menyebabkan
kerusakan yang tidak bisa diperbaiki. Bukan hanya kerusakan fisik, tetapi kerusakan
spiritual. Dan dampaknya tidak hanya pada desa kita, tetapi pada seluruh
wilayah di sekitarnya."
Pak Arjuna yang mendengar itu, mengangguk perlahan. Ia
sudah mendengar cerita-cerita tentang Amat, tentang matanya yang biru, tentang
kemampuannya melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Ia tidak sepenuhnya
mengerti, tetapi ia menghormati. "Amat benar. Hutan Larangan adalah area
yang sensitif. Kita tidak bisa sembarangan membukanya untuk wisatawan. Kita
perlu melakukan pendekatan yang hati-hati. mungkin ada sesepuh lain yang bisa
membantu. Melibatkan warga yang paham tentang ritual-ritual adat. Dan yang
terpenting, kita harus memastikan bahwa pembukaan Hutan Larangan untuk
wisatawan tidak mengganggu keseimbangan yang selama ini dijaga."
Mas Bambang menulis semua masukan itu di papan tulis,
menambahkan sub-poin, membuat catatan-catatan kecil. "Ketiga, penguatan
kelembagaan desa. Ini program yang mungkin tidak se-glamor digitalisasi desa
atau desa wisata, tetapi sebenarnya yang paling penting. Kita harus memastikan
bahwa semua program yang kita jalankan dikelola dengan baik, transparan, dan
akuntabel. Tidak boleh ada lagi praktik-praktik koruptif seperti yang terjadi
di masa lalu. Tidak boleh ada lagi dokumen-dokumen palsu, tanda tangan-tanda
tangan yang dipalsukan, aliran-aliran uang yang tidak jelas. Kita harus
membangun sistem administrasi yang kuat, yang bisa diaudit oleh siapa pun, yang
bisa diakses oleh warga. Kita harus membangun budaya transparansi, di mana
setiap warga berhak tahu bagaimana uang desa digunakan, bagaimana
kebijakan-kebijakan diambil, dan siapa yang bertanggung jawab atas setiap
keputusan."
Pak Arjuna berdiri, bertepuk tangan. Wajahnya yang tegas
itu tersenyum lebar, senyum yang jarang ia tunjukkan, senyum yang menunjukkan
bahwa ia puas dengan arah pembicaraan. "Semua usulan bagus. Tapi jangan
terlalu banyak program sekaligus. Kita tidak punya sumber daya yang cukup untuk
menjalankan semuanya dalam waktu bersamaan. Kita akan fokus dulu pada satu atau
dua program yang paling mungkin untuk segera dijalankan. Saya usulkan kita
mulai dengan digitalisasi desa dan penguatan kelembagaan. Kedua program ini
bisa berjalan beriringan. Digitalisasi desa membutuhkan sistem administrasi
yang baik, dan penguatan kelembagaan akan menghasilkan sistem administrasi itu.
Untuk desa wisata, kita butuh persiapan yang lebih matang. Studi kelayakan,
pelatihan SDM, pembenahan infrastruktur, dan yang terpenting, pendekatan dengan
warga dan sesepuh desa. Kita tidak bisa terburu-buru."
Pak Eko yang duduk di samping Pak Arjuna, mengangguk
setuju. "Saya setuju, Pak Kades. Kita akan mulai dengan digitalisasi desa
dan penguatan kelembagaan. Saya akan koordinasikan dengan tim. Targetnya, dalam
enam bulan ke depan, kita sudah memiliki sistem administrasi desa yang terdigitalisasi,
dan minimal dua puluh warga sudah terlatih dalam digital marketing. Kita akan
evaluasi setiap bulan, lihat perkembangannya."
Program digitalisasi desa mulai dijalankan dengan penuh
semangat, dengan energi yang membara, dengan harapan yang tinggi. Mas Bambang
dan Enjelin menjadi ujung tombak, dibantu oleh Amat dan beberapa relawan
lainnya yang tertarik dengan dunia teknologi. Mereka mengadakan pelatihan rutin
setiap akhir pekan di Ruang Komunitas Digital, dari pagi hingga sore, dengan
jadwal yang sudah disusun rapi. Pagi hari untuk teori: pengenalan komputer,
dasar-dasar internet, etika digital, keamanan data. Siang hari untuk praktik:
membuat akun email, mengelola media sosial, membuat konten promosi, menggunakan
platform e-commerce. Sore hari untuk diskusi dan evaluasi: berbagi pengalaman,
memecahkan masalah, merencanakan strategi ke depan.
Materinya bervariasi, disesuaikan dengan tingkat kemampuan
peserta. Ada yang baru pertama kali memegang komputer, belum tahu cara
menyalakannya, belum tahu fungsi mouse dan keyboard, belum tahu apa itu browser
dan mesin pencari. Ada yang sudah bisa menggunakan ponsel pintar tetapi belum
pernah menggunakan komputer, terbiasa dengan layar sentuh tetapi bingung dengan
mouse dan keyboard. Ada yang sudah cukup mahir, bisa membuat akun media sosial,
bisa mengunggah foto, bisa menulis caption, tetapi belum paham strategi konten,
belum tahu cara menggunakan hashtag yang efektif, belum tahu cara menganalisis
data untuk mengetahui mana konten yang paling diminati audiens. Ada juga yang
sudah punya pengalaman berjualan online, tetapi masih menggunakan cara-cara
yang tidak efisien, masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, belum
memanfaatkan fitur-fitur yang disediakan oleh platform e-commerce.
Raka, yang awalnya skeptis dengan program ini—"Aku kan
cuma jualan pecel, Mas. Nggak perlu yang rumit-rumit. Cukup rasanya enak,
pelanggan pasti datang," katanya ketika pertama kali diajak
bergabung—akhirnya menjadi salah satu peserta paling antusias. Ia datang setiap
akhir pekan, duduk di barisan depan, membawa laptop tua pemberian Mas Bambang
yang sudah diinstal dengan berbagai aplikasi yang diperlukan. Ia belajar dengan
tekun, meskipun kadang-kadang frustrasi ketika ada sesuatu yang tidak beres,
ketika koneksi internet tiba-tiba putus di tengah-tengah sesi, ketika laptopnya
tiba-tiba hang tanpa sebab, ketika ia lupa password akun yang baru saja ia
buat.
"Ternyata nggak sesulit yang aku bayangkan, Mat,"
kata Raka suatu sore setelah berhasil membuat akun Instagram untuk warung pecelnya.
Ia duduk di samping Amat di Ruang Komunitas Digital, dengan laptop terbuka di
hadapannya, dengan senyum lebar yang tidak bisa ia sembunyikan. Wajahnya yang
bulat itu berseri-seri, matanya yang sipit menyipit semakin sempit karena
senyumnya. "Lihat, ini aku sudah posting foto pecel. Baru satu jam, sudah
dapat dua puluh like! Dua puluh like, Mat! Bayangin, dua puluh orang melihat
foto pecelku! Kalau dulu, butuh waktu seminggu untuk dua puluh orang datang ke
warung. Sekarang, cuma satu jam!"
Amat tersenyum melihat semangat sahabatnya. "Itu baru
permulaan, Rak. Nanti kalau kamu sudah belajar tentang hashtag dan strategi
konten, like-mu bisa ratusan. Bahkan bisa ribuan kalau kontennya viral."
"Viral? Maksudnya kayak virus?" Raka mengernyit,
tidak mengerti istilah yang sering digunakan oleh anak-anak muda di media
sosial. "Jadi pecelku bisa bikin orang sakit? Itu kan nggak bagus."
Enjelin yang duduk di samping mereka, mendengar percakapan
itu, tertawa kecil. Ia baru saja selesai mengedit foto-foto untuk konten
promosi desa, dan sedang bersantai dengan segelas es teh manis. "Bukan,
Ra. Viral itu istilah untuk konten yang menyebar luas dengan cepat. Banyak
orang melihat, banyak yang share, banyak yang komen. Itu yang kita inginkan
untuk promosi produk desa. Bukan bikin orang sakit, tapi bikin orang penasaran,
bikin orang tertarik, bikin orang datang ke desa kita."
Raka mengangguk-angguk, meskipun masih setengah mengerti.
"Pokoknya yang penting pecelku laku, ya? Banyak yang beli. Warungku ramai.
Bapakku senang. Ibuku senang. Desaku maju. Itu tujuan utamanya, kan?"
"Itu tujuan utamanya," kata Enjelin, tersenyum.
"Tapi ingat, Ra, pecelmu harus tetap enak. Teknologi cuma alat. Yang utama
adalah produknya. Kalau produknya jelek, secanggih apa pun promosinya, orang
tidak akan kembali. Tapi kalau produknya bagus, promosi sederhana pun bisa
membawa hasil."
Raka menepuk dadanya dengan bangga. "Pecelku enak,
Jel. Resep turun-temurun dari Mbah Kinah. Sudah puluhan tahun tidak berubah.
Bapakku jaga kualitasnya. Aku juga jaga. Tidak akan pernah berubah. Yang
berubah cuma cara promosinya. Dulu dari mulut ke mulut, sekarang lewat
Instagram."
Amat, di sisi lain, fokus pada program penguatan
kelembagaan. Ia bersama Camelia menyusun sistem administrasi desa yang lebih
transparan dan akuntabel, sistem yang tidak hanya memudahkan kerja perangkat
desa tetapi juga membuka akses informasi bagi warga. Mereka bekerja berjam-jam
di ruang administrasi yang kecil itu, dengan tumpukan dokumen di hadapan
mereka, dengan laptop yang selalu menyala, dengan printer yang sesekali macet
karena terlalu sering digunakan. Mereka merancang database yang terintegrasi,
di mana data kependudukan, data pertanahan, data keuangan, data program
pembangunan, semuanya tersimpan dalam satu sistem yang bisa diakses oleh
pihak-pihak yang berwenang. Mereka merancang prosedur-prosedur yang jelas untuk
setiap proses administrasi, dari pengajuan surat keterangan hingga pencairan
dana desa, sehingga tidak ada lagi celah untuk praktik-praktik yang tidak
transparan. Mereka merancang mekanisme pengawasan yang melibatkan warga, di
mana setiap warga bisa melaporkan jika menemukan kejanggalan dalam administrasi
desa.
"Kita harus membangun budaya transparansi," kata
Amat dalam sebuah pertemuan dengan perangkat desa yang digelar di ruang rapat
balai desa. Ia berdiri di depan papan tulis, dengan spidol di tangan, dengan
peta alur administrasi yang ia buat sendiri. Suaranya tenang tetapi tegas,
matanya yang biru menatap satu per satu peserta pertemuan. "Warga berhak
tahu bagaimana uang desa digunakan, bagaimana kebijakan-kebijakan diambil, dan
siapa yang bertanggung jawab atas setiap keputusan. Selama ini, warga sering
merasa tidak dilibatkan dalam proses pembangunan. Mereka hanya disuruh ikut
kegiatan tanpa tahu tujuannya. Mereka hanya diminta tanda tangan tanpa tahu isi
dokumen. Mereka hanya diberi tahu hasil akhir tanpa tahu prosesnya. Dengan
sistem yang transparan, kita bisa membangun kepercayaan. Kepercayaan bahwa
pemerintah desa bekerja untuk kepentingan warga, bukan untuk kepentingan
pribadi atau golongan. Kepercayaan bahwa uang desa digunakan dengan benar,
bukan dikorupsi. Kepercayaan bahwa kebijakan-kebijakan diambil dengan
musyawarah, bukan dengan kolusi."
Bu Yuni, Sekretaris Desa, yang sudah mulai terbiasa dengan
cara kerja Amat yang teliti dan sistematis, mendukung penuh ide ini. "Amat
benar. Selama ini, warga sering merasa tidak dilibatkan dalam proses
pembangunan. Mereka hanya disuruh ikut kegiatan tanpa tahu tujuannya. Mereka
hanya diminta tanda tangan tanpa tahu isi dokumen. Mereka hanya diberi tahu
hasil akhir tanpa tahu prosesnya. Itu yang menyebabkan ketidakpercayaan. Itu
yang menyebabkan warga mudah dihasut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung
jawab. Dengan sistem yang transparan, kita bisa membangun kepercayaan. Dan
kepercayaan adalah modal yang paling penting dalam pembangunan desa."
Pak Eko, yang sudah lama berkecimpung dalam perencanaan
desa, yang sudah melihat banyak pergantian kepemimpinan dan banyak program yang
gagal karena kurangnya transparansi, juga setuju. "Tapi kita harus
realistis. Transparansi itu baik, tetapi juga bisa menjadi bumerang jika tidak
dikelola dengan baik. Informasi yang terlalu terbuka bisa disalahgunakan oleh
pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Data kependudukan, misalnya, bisa
digunakan untuk kejahatan identitas jika jatuh ke tangan yang salah. Data
keuangan desa bisa digunakan untuk menekan pemerintah desa jika dipelintir oleh
pihak-pihak yang tidak puas. Kita harus pintar-pintar mengelola."
Amat sudah memikirkan hal itu. Ia membuka laptopnya,
menampilkan diagram yang sudah ia siapkan. "Kita bisa membuat tingkatan
akses, Pak. Data-data yang sifatnya publik, seperti laporan keuangan tahunan,
daftar program pembangunan, kebijakan-kebijakan desa, bisa diakses semua warga.
Bisa ditempel di papan pengumuman, bisa diunggah di website desa, bisa
dibagikan di grup WhatsApp. Data yang lebih sensitif, seperti data kependudukan
yang detail, data pertanahan, data penerima bantuan sosial, hanya untuk
perangkat desa dan BPD. Yang benar-benar rahasia, seperti data yang berkaitan
dengan keamanan atau data pribadi yang sangat sensitif, hanya untuk pimpinan.
Semua akses akan dicatat, diaudit secara berkala, sehingga jika ada
penyalahgunaan, kita bisa tahu siapa yang bertanggung jawab."
Pak Eko mengangguk, terkesan dengan pemikiran Amat yang
matang. "Bagus. Kerjakan, Mat. Buat sistemnya. Nanti kita evaluasi
bersama. Tapi ingat, jangan sampai sistem yang kita buat malah mempersulit
kerja perangkat desa. Jangan sampai warga yang ingin mengurus administrasi
malah jadi tambah rumit. Sistem harus mempermudah, bukan mempersulit."
Amat mengangguk. "Saya akan pastikan itu, Pak. Sistem
ini akan dirancang untuk mempermudah, bukan mempersulit. Untuk warga yang tidak
terbiasa dengan teknologi, kita akan tetap menyediakan layanan manual. Tapi
data manual akan kita input ke sistem, sehingga tetap terintegrasi dan bisa
diaudit."
Malam itu, setelah seharian bekerja, setelah rapat
perencanaan yang panjang, setelah sesi pelatihan digital marketing yang
melelahkan, setelah diskusi tentang sistem administrasi yang rumit, Amat, Raka,
Camelia, Mas Bambang, dan Jel masih duduk di Ruang Komunitas Digital. Mereka
tidak lagi bekerja, tidak lagi mendiskusikan program, tidak lagi merencanakan
strategi. Mereka hanya duduk, menikmati kebersamaan, menikmati teh jahe hangat
yang diseduh oleh Camelia, menikmati pecel yang dibawa oleh Raka dari
warungnya, menikmati malam yang tenang setelah hari yang sibuk.
"Kita sudah melakukan banyak hal," kata Mas
Bambang, menatap ruangan yang telah menjadi saksi perjalanan mereka selama
berbulan-bulan. Dinding-dinding biru muda yang mereka cat sendiri,
poster-poster inspiratif yang mereka tempel, komputer-komputer yang mereka
pasang, rak buku yang mereka isi, semuanya adalah hasil kerja keras mereka.
"Tapi ini baru awal. Masih banyak yang harus kita lakukan. Tapi aku tidak
khawatir. Dengan kalian, aku yakin kita bisa."
Enjelin yang duduk di samping Mas Bambang, tersenyum.
"Aku senang akhirnya ada kegiatan serius di desa. Selama ini aku kerja
sendiri, dari rumah, kadang merasa terisolasi. Sekarang aku punya teman
diskusi, punya tempat untuk berbagi, punya orang-orang yang punya visi yang
sama. Ini rasanya... seperti menemukan rumah."
Raka yang sedang asyik makan pecel, tiba-tiba angkat
bicara. "Kalau aku, yang penting desa ini maju. Warungku laris. Bapakku
bangga. Ibuku senang. Itu sudah cukup. Tapi kalau bisa lebih, kenapa tidak? Aku
tidak pintar soal teknologi, tidak pintar soal administrasi, tidak pintar soal
budaya. Tapi aku bisa bikin pecel. Dan kalau pecelku bisa membantu program
digitalisasi desa, bisa membantu promosi desa wisata, bisa membantu warga lain,
aku senang."
Camelia yang duduk di samping Amat, meraih tangannya.
"Kita semua punya peran masing-masing. Amat dengan data dan
administrasinya, Mas Bambang dengan teknologinya, Jel dengan desain dan
kreativitasnya, Raka dengan pecel dan keceriaannya. Aku dengan catatan dan
pengetahuanku. Kita semua penting. Kita semua diperlukan. Dan kita semua
bersama-sama membangun desa ini."
Amat menggenggam balik tangan Camelia, merasakan kehangatan
yang sudah ia kenal sejak kecil. "Mbah Ratih dulu pernah bilang, 'Jangan
pernah berjuang sendirian.' Sekarang aku mengerti. Kita tidak bisa melakukan
ini sendiri. Tapi bersama, kita bisa. Kita bisa membangun desa ini. Kita bisa
menjaga keseimbangan. Kita bisa membawa Awan Biru ke masa depan yang lebih
baik, tanpa kehilangan apa yang selama ini dijaga oleh leluhur."
Di luar, langit Awan Biru mulai gelap, tetapi
bintang-bintang mulai berkelap-kelip satu per satu, seperti lampu-lampu kecil
yang dinyalakan di langit. Kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng
bukit, tetapi tidak setebal dulu, mungkin karena desa yang mulai berubah. Di
kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak, dengan kanopinya yang rimbun, dengan
akar-akarnya yang menjalar, dengan penjaganya yang setia menunggu.
Dan di dalam Ruang Komunitas Digital, di tengah tumpukan
kertas dan komputer yang masih menyala, lima anak muda duduk bersama, berbicara
tentang mimpi-mimpi mereka, tentang desa yang mereka cintai, tentang masa depan
yang sedang mereka bangun. Mimpi-mimpi yang mungkin kelihatan terlalu besar
bagi desa sekecil Awan Biru, tetapi mereka percaya. Mereka percaya bahwa dengan
kerja keras, dengan kebersamaan, dengan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian,
mimpi-mimpi itu bisa menjadi kenyataan.
BAB 26: Raka dan Camelia Jadi Relawan, Desa Jadi Ramai
Siapa sangka, Raka yang dulu hanya dikenal sebagai anak
pemilik warung pecel yang lucu dan cerewet, yang nilai-nilainya selalu
pas-pasan di sekolah, yang lebih dikenal karena kemampuannya membuat orang
tertawa daripada karena kepintarannya, yang dulu sering dimarahi Bu Ani karena
bercanda di kelas matematika, kini menjadi salah satu ikon promosi Desa Awan
Biru. Namanya mulai dikenal tidak hanya di kecamatan, tetapi juga di kabupaten,
bahkan di kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Surabaya. Orang-orang yang
tidak pernah menginjakkan kaki di Awan Biru mengenal desa ini melalui
video-video Raka, melalui tawanya yang khas, melalui caranya yang unik dalam
memperkenalkan desa kepada dunia luar.
Setelah belajar digital marketing di Ruang Komunitas
Digital, belajar dari Mas Bambang tentang cara membuat konten yang menarik,
dari Jel tentang cara mengedit video dengan aplikasi sederhana di ponselnya, dari
Amat tentang cara menganalisis data untuk mengetahui mana konten yang paling
diminati audiens, Raka mulai aktif membuat konten tentang desanya di media
sosial. Awalnya ia hanya mencoba-coba, mengunggah video pendek tentang warung
pecelnya, tentang cara meracik bumbu pecel yang benar, tentang kerupuk yang
renyah dan sambal yang nendang. Video-video itu direkam dengan ponsel jadul
miliknya, dengan pencahayaan seadanya, dengan suara yang kadang-kadang pecah
karena angin yang bertiup kencang. Tapi ada sesuatu yang membuat video-video
itu berbeda. Ada keaslian yang tidak bisa ditiru oleh konten-konten yang dibuat
dengan peralatan profesional. Ada tawa yang tulus yang membuat orang yang
menontonnya ikut tersenyum. Ada cerita-cerita sederhana tentang kehidupan di
desa yang membuat orang yang hidup di kota merasa rindu pada sesuatu yang
mungkin belum pernah mereka alami.
Video-videonya yang kocak, mulai dari cara meracik pecel
dengan gaya yang dramatis, hingga cerita-cerita lucu tentang kehidupan di desa,
tentang pengalamannya jatuh ke selokan ketika mengantar pesanan, tentang ibunya
yang marah karena ia lupa membeli gula, tentang ayahnya yang selalu mengeluh
bahwa rempeyek buatannya tidak serenyah dulu, viral di berbagai platform. Dalam
hitungan jam, video itu bisa ditonton oleh puluhan ribu orang. Dalam hitungan
hari, bisa mencapai ratusan ribu. Komentar-komentar berdatangan dari berbagai
penjuru, ada yang bertanya tentang lokasi warung, ada yang memuji keceriaan
Raka, ada yang tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya yang lucu
ketika sambal pecel ternyata terlalu pedas untuk lidahnya sendiri.
"Duta Kuliner Awan Biru," begitu mereka
menjulukinya. Sebutan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, sebutan yang
membuatnya tersenyum setiap kali mendengarnya, sebutan yang membuat ayahnya,
Pak Gareng, bangga meskipun tidak pernah mengatakannya secara langsung.
"Gara-gara kamu, warungku sekarang setiap hari
ramai," kata Pak Gareng suatu pagi ketika mereka sedang sibuk menyiapkan
pesanan. Warung yang dulu hanya ramai pada hari Minggu atau hari-hari besar,
kini ramai setiap hari. Antrean panjang mengular dari pintu warung hingga ke
jalan raya. Pelanggan datang tidak hanya dari Awan Biru dan desa-desa tetangga,
tetapi juga dari kecamatan, dari kabupaten, bahkan dari luar kota. Mereka
datang dengan mobil atau sepeda motor, membawa keluarga atau teman-teman, rela
mengantri berjam-jam hanya untuk mencicipi pecel yang katanya paling enak
se-Jawa Timur. Pak Gareng yang sudah terbiasa dengan ritme kerja yang santai,
dengan waktu istirahat yang cukup, dengan bisa duduk-duduk di kursi goyang
sambil menyesap kopi di sore hari, kini harus bekerja ekstra keras. Tangannya
yang sudah mulai gemetar karena usia harus mengulek bumbu lebih banyak dari
biasanya. Wajahnya yang dulu selalu tersenyum kini kadang-kadang mengerut
karena kelelahan. Tapi matanya tetap bersinar, karena ia tahu bahwa warung yang
didirikan oleh Mbah Kinah, yang diwariskan dari generasi ke generasi, kini semakin
berkembang.
"Bapak jangan komplain, Pak," kata Raka sambil
menggoreng rempeyek di dapur, suaranya setengah bercanda setengah serius.
"Ini kan yang Bapak mau. Dulu Bapak selalu bilang, 'Nak, suatu hari nanti
warung ini harus lebih ramai. Harus dikenal orang banyak. Harus jadi kebanggaan
desa.' Nah, sekarang sudah. Tinggal Bapak menikmati."
"Menikmati? Aku jadi nggak punya waktu istirahat, Ra!
Dulu aku masih bisa tidur siang, sekarang? Dari subuh sampai magrib, aku di
dapur terus! Rempeyek belum habis digoreng, sudah harus nyiapin bumbu untuk
besok. Kacang belum selesai disangrai, sudah harus beli sayur ke pasar. Ini
bukan menikmati, ini menyiksa!"
Raka tertawa, suaranya yang khas bergema di dapur yang
sempit. "Ya sudah, Pak. Mulai besok aku bantu di dapur. Nggak boleh cuma
sibuk bikin video mulu. Aku janji. Tapi jangan protes kalau video-videoku jadi
berantakan karena tangan belepotan sambel. Nanti penonton lari, warung sepi
lagi."
Pak Gareng mendengus, tetapi senyumnya tidak bisa
disembunyikan. "Yang penting pecelnya laku. Video itu hanya promosi. Yang
utama adalah rasa. Kalau rasanya berubah, secanggih apa pun promosimu, orang
tidak akan kembali. Ingat itu, Ra. Resep Mbah Kinah tidak boleh berubah. Kacang
harus disangrai dengan api kecil. Bumbu harus diulek dengan cobek batu, bukan
blender. Sayur harus segar, dipetik pagi-pagi. Itu yang membuat pecel kita
istimewa. Bukan karena videomu yang lucu-lucu itu."
Raka mengangguk, mengambil ponselnya dari saku, dan mulai
merekam. "Nah, ini bagus, Pak. Bapak jelasin resep rahasia pecel Awan
Biru. Nanti aku unggah ke Instagram. Judulnya 'Pesan dari Sang Maestro: Rahasia
Pecel yang Tak Pernah Berubah'."
Pak Gareng menggeleng-gelengkan kepala, tetapi ia tidak
menolak. Ia mulai berbicara, dengan suaranya yang serak, dengan tangannya yang
gemetar memegang cobek batu tua, dengan matanya yang berkaca-kaca mengingat
masa lalu. Ia bercerita tentang Mbah Kinah, nenek buyutnya, yang pertama kali
membuka warung ini puluhan tahun yang lalu. Tentang resep yang diwariskan dari
generasi ke generasi. Tentang kacang yang harus disangrai dengan api kecil agar
tidak gosong. Tentang bumbu yang harus diulek dengan cobek batu agar teksturnya
pas. Tentang sayur yang harus segar, dipetik pagi-pagi sebelum matahari terlalu
panas. Tentang kejujuran sebagai kunci utama, lebih penting dari bumbu apapun.
Video itu direkam dengan ponsel jadul, dengan pencahayaan
seadanya, dengan suara yang kadang pecah karena tangis Pak Gareng yang tidak
bisa ditahan. Tapi video itu menjadi viral. Lebih viral dari video-video Raka
sebelumnya. Orang-orang tidak hanya tertawa, tetapi juga terharu. Mereka
melihat bahwa di balik pecel yang enak itu, ada cerita, ada perjuangan, ada
cinta, ada warisan yang dijaga dengan setia.
Sementara Raka menjadi duta kuliner yang ceria dan penuh
tawa, Camelia memilih jalan yang berbeda. Ia tidak suka tampil di depan kamera,
tidak suka menjadi pusat perhatian, tidak suka viral. Ia lebih suka bekerja di
balik layar, merancang program, menyusun strategi, mengoordinasikan kegiatan.
Ia memilih fokus pada pemberdayaan perempuan desa, sebuah area yang selama ini
kurang mendapat perhatian dalam program-program pembangunan desa.
Camelia menggagas program "Perempuan Awan Biru
Berdaya", sebuah program yang bertujuan untuk memberikan pelatihan keterampilan
dan akses permodalan bagi ibu-ibu rumah tangga yang ingin memulai usaha kecil.
Ia mengajukan proposal ke Pak Arjuna, menjelaskan dengan detail latar belakang
program, tujuan yang ingin dicapai, target peserta, metode pelaksanaan,
anggaran yang dibutuhkan, dan indikator keberhasilan. Pak Arjuna, yang selalu
mendukung ide-ide inovatif, langsung menyetujui. "Ini program yang bagus,
Mel. Selama ini kita terlalu fokus pada pembangunan fisik, lupa bahwa
pemberdayaan perempuan juga penting. Saya setuju. Anggarannya nanti saya
bicarakan dengan Bu Lulu."
Ia juga mengajak Amita Enjelin untuk terlibat. Amita, atau
yang akrab dipanggil Jel, adalah anak dari Bidan Amelia, seorang perempuan muda
berbakat yang sudah dikenal karena kemampuannya dalam desain grafis dan seni.
"Jel, aku butuh bantuanmu. Aku akan mulai program pemberdayaan perempuan
desa. Ibu-ibu butuh pelatihan desain kemasan produk. Mereka butuh bantuan untuk
membuat produk mereka terlihat profesional. Kamu kan jago di bidang itu. Mau
membantu?"
Jel tersenyum, matanya berbinar-binar. "Tentu, Mel.
Aku senang bisa membantu. Lagipula, selama ini aku cuma kerja sendiri di rumah.
Senang juga bisa berbagi ilmu dengan ibu-ibu desa. Tapi aku minta syarat."
"Syarat apa?"
"Jangan marah kalau ada yang lambat belajar. Aku tipe
orang yang tidak sabaran. Kalau ada yang tidak mengerti, aku bisa marah."
Camelia tertawa. "Tenang, Jel. Ibu-ibu desa itu rajin
dan semangat belajar. Mereka hanya butuh kesempatan. Aku yakin mereka akan
cepat mengerti."
Sosialisasi program dilakukan di balai desa pada suatu
Minggu pagi. Ibu-ibu desa datang dengan antusias, membawa serta anak-anak
mereka yang masih kecil, membawa keranjang anyaman berisi jajanan yang akan
mereka tawarkan, membawa contoh-contoh produk yang selama ini mereka buat untuk
konsumsi sendiri. Ada Bu Yati, ibu Raka, yang membawa keripik singkong
buatannya yang renyah dan gurih. Ada Bu Tarno, tetangga lama Amat, yang membawa
anyaman bambu yang indah, hasil dari keterampilan yang ia pelajari dari ibunya.
Ada Bu Darmo, yang membawa kue-kue tradisional seperti klepon, getuk, dan cenil
yang masih hangat karena baru saja diangkat dari dapur. Ada banyak ibu-ibu lain
yang tidak pernah terlihat di kegiatan-kegiatan desa sebelumnya, yang biasanya
hanya sibuk dengan urusan rumah tangga, mengurus anak, memasak, mencuci, kini
hadir dengan wajah-wajah yang penuh harapan.
"Banyak ibu-ibu di desa ini yang punya keterampilan
luar biasa," kata Camelia dalam sosialisasi programnya, berdiri di depan
papan tulis yang sudah ia siapkan, dengan spidol di tangan, dengan senyum yang
ramah. "Mereka bisa membuat kerajinan tangan, memasak makanan ringan,
membuat anyaman, merajut, menjahit. Tapi selama ini, keterampilan itu hanya
untuk konsumsi sendiri. Untuk keluarga, untuk tetangga, untuk acara-acara
tertentu. Dengan program ini, kita akan membantu mereka untuk memasarkan
produk-produk itu, baik secara offline maupun online. Kita akan bantu mereka
membuat kemasan yang menarik, menentukan harga yang tepat, dan mempromosikan
produk mereka ke pasar yang lebih luas."
Bu Yati, yang duduk di barisan depan dengan keripik
singkong di pangkuannya, langsung angkat bicara. Suaranya lantang, penuh
semangat, tidak sabar untuk memulai. "Aku bisa membuat keripik singkong,
Mel. Selama ini hanya untuk camilan keluarga. Anak-anakku suka, tetangga juga
suka. Tapi kalau ada yang mau beli, kenapa tidak? Lumayan untuk tambahan uang
jajan."
Camelia tersenyum, senang melihat antusiasme Bu Yati.
"Bagus, Bu. Nanti kita bantu desain kemasannya, bantu promosi lewat media
sosial. Insya Allah laris. Tapi ingat, Bu. Keripik singkongnya harus tetap
enak. Kemasan cuma alat. Yang utama adalah rasa. Jangan sampai kualitasnya
turun karena kita terlalu fokus pada kemasan."
Bu Yati mengangguk, menepuk dadanya dengan bangga.
"Tenang, Mel. Keripik singkongku sudah puluhan tahun aku buat. Resep dari
nenekku. Tidak akan berubah. Yang berubah cuma bungkusnya."
Program ini mendapat sambutan hangat dari ibu-ibu desa.
Mereka yang tadinya hanya sibuk dengan urusan rumah tangga, yang jarang terlihat
di kegiatan-karangan desa, yang mungkin merasa tidak percaya diri karena
pendidikan mereka terbatas, kini mulai aktif. Mereka berkumpul setiap hari Rabu
sore di balai desa, ruangan yang biasanya sunyi di sore hari itu kini ramai
oleh suara mereka. Mereka belajar membuat produk, menghitung modal, menentukan
harga, merencanakan pemasaran. Mereka berbagi pengalaman, saling memberi saran,
saling mengkritik dengan cara yang baik. Mereka tertawa bersama ketika ada yang
salah menghitung, bersorak bersama ketika ada yang berhasil membuat kemasan
yang bagus, berdoa bersama ketika ada yang akan memulai usaha baru.
Enjelin, dengan keahlian desain grafisnya, membantu
mendesain kemasan produk-produk itu. Ia bekerja dengan sabar, mendengarkan
keinginan ibu-ibu, menyesuaikan dengan karakter produk, memilih warna yang
tepat, memilih font yang mudah dibaca, memilih material kemasan yang ramah
lingkungan dan tidak terlalu mahal. Hasilnya luar biasa. Keripik singkong Bu
Yati yang dulu dibungkus plastik biasa dengan lakban, kini dikemas dalam
paperbag cantik dengan logo "Awan Biru Berdaya" yang didesain oleh
Jel. Anyaman bambu Bu Tarno yang dulu dijual seadanya di pasar desa dengan
harga yang murah, kini dipajang rapi di etalase digital dengan foto-foto yang
artistik, dengan deskripsi yang menarik, dengan harga yang pantas. Kue-kue
tradisional Bu Darmo yang dulu hanya dikenal oleh tetangga dekat, kini mulai
dipesan oleh wisatawan yang datang dari luar desa, yang penasaran dengan cita
rasa asli Awan Biru.
"Jel, kamu hebat," puji Camelia, melihat hasil
kerja Jel yang luar biasa. Foto-foto produk yang diambil dengan ponsel biasa
itu tampak seperti foto profesional setelah diedit dengan aplikasi sederhana.
Kemasan-kemasan yang didesain dengan penuh perhatian itu tampak seperti produk-produk
yang dijual di supermarket kota. "Desainmu membuat produk-produk ini
terlihat profesional. Ibu-ibu pasti senang."
Enjelin tersenyum, tidak terbiasa dipuji. "Itu karena
produknya sendiri memang bagus, Mel. Aku cuma membantu mengemasnya. Yang utama
adalah kualitas dari ibu-ibu desa. Keripik singkong Bu Yati memang renyah.
Anyaman Bu Tarno memang rapi. Kue Bu Darmo memang enak. Tanpa itu, desain
secantik apa pun tidak akan berarti."
Program-program yang dijalankan mulai membuahkan hasil.
Desa Awan Biru yang dulu sunyi dan sepi, yang hanya ramai pada hari-hari pasar
atau ketika ada acara desa, kini mulai ramai setiap hari. Wisatawan mulai
berdatangan, bukan dalam jumlah besar seperti di Bali atau Yogyakarta, tetapi
cukup untuk membuat desa ini hidup. Mereka datang dengan mobil atau sepeda
motor, membawa kamera atau ponsel, membawa semangat untuk menjelajahi sesuatu
yang baru.
Mereka datang untuk menikmati pecel Raka, yang kini sudah
terkenal sampai ke luar kabupaten. Mereka rela mengantri berjam-jam, duduk di
bangku-bangku bambu yang sederhana, menikmati pecel dengan sambal yang nendang
di tengah suasana desa yang tenang. Mereka berfoto di depan warung,
mengunggahnya ke media sosial, menulis caption panjang tentang pengalaman
mereka menikmati kuliner asli Awan Biru.
Mereka datang untuk membeli produk-produk kerajinan dari
ibu-ibu desa, yang kini dikemas dengan cantik dan dipromosikan secara online.
Mereka membeli keripik singkong Bu Yati untuk oleh-oleh, membeli anyaman bambu
Bu Tarno untuk hiasan rumah, membeli kue-kue tradisional Bu Darmo untuk camilan
di perjalanan pulang.
Mereka datang untuk menikmati pemandangan alam yang indah,
untuk berjalan-jalan di sawah yang terasering, untuk mendaki Bukit Pangasih dan
menyaksikan matahari terbit dari balik gunung, untuk berfoto di depan pohon
beringin tua yang konon berusia tiga ratus tahun, untuk mengabadikan kabut
tipis yang selalu menyelimuti desa ini di pagi dan sore hari.
Mereka datang untuk merasakan kehidupan desa yang autentik,
untuk jauh sejenak dari hiruk-pikuk kota, untuk menikmati ketenangan yang tidak
bisa mereka dapatkan di tempat lain.
Pak Arjuna sangat puas dengan perkembangan ini. Ia berdiri
di depan para perangkat desa dan tokoh masyarakat dalam evaluasi program yang
digelar di balai desa, dengan senyum lebar yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Ini baru permulaan. Kita masih punya banyak potensi yang belum digali.
Hutan Larangan, misalnya. Kita belum bisa membukanya untuk wisatawan karena
masih menunggu persiapan yang matang. Sumur tua, yang dulu angker, sekarang
sudah menjadi salah satu ikon desa. Kita juga masih punya potensi untuk
mengembangkan homestay, paket wisata budaya, dan lain-lain. Tapi yang
terpenting, warga mulai merasakan manfaatnya. Mereka mulai bangga menjadi
bagian dari desa ini. Mereka mulai melihat bahwa desa ini bukan hanya tempat
tinggal, tetapi juga sumber penghidupan, sumber kebanggaan, sumber
identitas."
Bu Yuni, Sekretaris Desa yang selalu mencatat setiap
perkembangan dengan teliti, menambahkan, "Yang juga penting, pendapatan
desa meningkat. Dari retribusi wisatawan, kita masih memungut retribusi
sukarela, belum wajib dan dari pajak usaha kecil, kita bisa menganggarkan lebih
banyak untuk pembangunan infrastruktur. Jalan-jalan yang masih rusak bisa
diperbaiki. Penerangan jalan yang masih kurang bisa ditambah. Sarana olahraga
untuk anak-anak muda bisa dibangun. Ini siklus yang positif. Desa maju,
pendapatan naik, infrastruktur membaik, desa semakin maju."
Camelia yang duduk di barisan depan, dengan buku catatan di
pangkuannya, mengangkat tangan. Wajahnya yang biasanya tenang itu tampak
serius. "Tapi kita harus tetap waspada. Jangan sampai kesuksesan ini
membuat kita lengah. Saya sudah melihat banyak desa yang mengalami hal serupa.
Awalnya sukses, ramai, pendapatan naik. Tapi kemudian, karena tidak ada
perencanaan yang matang, karena tidak ada aturan yang jelas, desa itu
kehilangan identitasnya. Rumah-rumah tradisional diganti dengan bangunan modern
yang tidak sesuai dengan karakter desa. Tradisi-tradisi dikomersialisasi hingga
kehilangan maknanya. Warga lokal menjadi penonton di desanya sendiri. Wisatawan
yang datang bukan untuk menikmati keaslian desa, tetapi hanya untuk mencari
konten Instagram. Kita tidak boleh seperti itu. Kita harus memastikan bahwa
pembangunan ini berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan atau tradisi desa.
Kita harus memastikan bahwa warga desa tetap menjadi tuan rumah di rumahnya
sendiri."
Pak Arjuna mengangguk, menghela napas panjang. Ia sudah
memikirkan hal itu sejak awal. "Camelia benar. Kesuksesan yang tidak
dikelola dengan baik bisa menjadi bencana. Kita akan buat aturan yang jelas.
Tim pengawas akan dibentuk untuk memantau dampak dari program-program ini.
Mereka akan mengawasi jumlah wisatawan, perilaku wisatawan, dampak lingkungan,
dampak sosial, dan dampak ekonomi. Mereka akan melaporkan setiap bulan, dan
kita akan evaluasi bersama. Amat, kamu yang koordinasi. Kamu punya data, kamu
punya sistem. Gunakan itu untuk memantau."
Amat yang duduk di sudut ruangan, berdiri. "Siap, Pak
Kades. Saya akan buat sistem pelaporan yang sederhana tapi efektif. Setiap
minggu, tim pengawas akan mengisi formulir online tentang kondisi di lapangan.
Data akan saya olah, saya analisis, dan saya laporkan ke Pak Kades setiap
bulan. Kalau ada indikasi masalah, kita akan segera ambil tindakan."
"Bagus. Kerjakan, Mat. Jangan sampai kita menyesal di
kemudian hari."
Malam itu, setelah evaluasi program selesai, setelah para
perangkat desa dan tokoh masyarakat pulang ke rumah masing-masing, Amat, Raka,
Camelia, Mas Bambang, dan Jel masih duduk di warung pecel Raka. Warung yang
biasanya tutup pada sore hari, malam itu masih menyala karena Raka ingin
merayakan keberhasilan program-program yang mereka jalankan. Ia menyiapkan meja
panjang di teras warung, menutupinya dengan taplak plastik bermotif bunga-bunga
yang sudah pudar warnanya, dan menyajikan pecel dalam porsi besar, lengkap
dengan sambal, kerupuk, tahu, tempe, dan lalapan segar.
"Ini untuk merayakan kesuksesan kita," kata Raka
sambil meletakkan piring-piring di atas meja. Wajahnya yang bulat itu
berseri-seri, senyumnya lebar. "Warungku ramai, desa jadi terkenal,
ibu-ibu desa punya usaha, semua senang. Pantas kita rayakan."
"Kamu ini, Ra, semua dirayakan dengan pecel,"
kata Enjelin, tertawa. "Ada acara apa pun, pasti pecel."
"Ya iya lah. Pecel kan makanan kebersamaan. Orang yang
makan bersama, hatinya menjadi dekat. Orang yang hatinya dekat, bisa bekerja
sama. Orang yang bisa bekerja sama, bisa membangun desa. Jadi, pecel adalah
kunci dari semuanya. Makanya, setiap ada acara penting, harus ada pecel."
Mereka semua tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas,
tawa yang sudah menjadi bagian dari persahabatan mereka sejak kecil. Tawa yang
mengingatkan bahwa di tengah semua keseriusan dan tanggung jawab, mereka masih
bisa tertawa, masih bisa menikmati hal-hal sederhana seperti pecel dan
kebersamaan.
Mas Bambang yang duduk di ujung meja, menyesap teh jahe
hangat yang diseduh oleh Raka. "Kita sudah melakukan banyak hal. Tapi ini
baru awal. Masih banyak yang harus kita lakukan. Tapi aku tidak khawatir.
Dengan kalian, aku yakin kita bisa. Kalian adalah orang-orang yang luar
biasa."
Camelia yang duduk di samping Amat, tersenyum. "Kita
semua luar biasa. Masing-masing dengan caranya sendiri. Raka dengan pecel dan
keceriaannya, Enjelin dengan desain dan kreativitasnya, Mas Bambang dengan
teknologi dan visinya, Amat dengan data dan ketenangannya. Aku hanya
membantu."
Amat menggenggam tangan Camelia, merasakan kehangatan yang
sudah ia kenal sejak kecil. "Kamu lebih dari sekadar membantu, Mel. Kamu
adalah otak dari semua ini. Tanpa risetmu, tanpa catatanmu, tanpa
pengetahuannya, kita tidak akan bisa merancang program-program ini. Kamu adalah
yang membuat semua ini mungkin."
Enjelin yang duduk di seberang mereka, tersenyum melihat
kedekatan Amat dan Camelia. "Kalian berdua cocok, ya. Sama-sama serius,
sama-sama teliti, sama-sama suka data. Aku dan Raka yang lebih santai, lebih
suka bercanda. Mas Bambang di tengah-tengah. Kita tim yang seimbang."
Raka yang sedang menyantap pecel dengan lahap, tiba-tiba
angkat bicara. "Eh, jangan lupa, kita juga punya tim di belakang.
Hermansyah yang jago soal teknis, Guntur yang kuat dan pemberani, Amita yang
cantik dan berbakat seni. Mereka juga bagian dari tim. Mereka juga membantu.
Cuma mereka tidak bisa datang malam ini karena ada acara keluarga."
"Kita semua adalah satu tim," kata Mas Bambang,
mengangkat gelas tehnya. "Untuk Desa Awan Biru."
Mereka semua mengangkat gelas mereka. "Untuk Desa Awan
Biru."
Di luar warung, langit Awan Biru mulai gelap, tetapi
bintang-bintang mulai berkelap-kelip satu per satu, seperti lampu-lampu kecil
yang dinyalakan di langit. Kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng
bukit, tetapi tidak setebal dulu, mungkin karena desa yang mulai berubah. Di
kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak, dengan kanopinya yang rimbun,
dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan penjaganya yang setia menunggu.
Dan di dalam warung pecel Raka, di tengah tawa dan canda,
di tengah pecel yang masih hangat dan teh jahe yang masih mengepul, lima anak
muda duduk bersama, berbicara tentang mimpi-mimpi mereka, tentang desa yang
mereka cintai, tentang masa depan yang sedang mereka bangun. Mimpi-mimpi yang
mungkin kelihatan terlalu besar bagi desa sekecil Awan Biru, tetapi mereka
percaya. Mereka percaya bahwa dengan kerja keras, dengan kebersamaan, dengan
keyakinan bahwa mereka tidak sendirian, mimpi-mimpi itu bisa menjadi kenyataan.
BAB 27: Konflik Lahan dan Suara Rakyat
Ketika semua tampak berjalan baik, ketika program
digitalisasi desa mulai membuahkan hasil, ketika warung pecel Raka semakin
ramai dikunjungi wisatawan, ketika ibu-ibu desa mulai bangga dengan produk
kerajinan mereka, ketika Ruang Komunitas Digital dipenuhi oleh anak-anak muda
yang antusias belajar teknologi, ketika Pak Arjuna mulai merancang konsep desa
wisata berbasis kearifan local, konflik lahan yang sempat mereda, yang sempat
tertidur setelah musyawarah desa beberapa bulan lalu, yang sempat terlupakan
karena kesibukan warga dengan program-program pembangunan, kembali memanas.
Bukan sekadar memanas seperti api yang menyala kembali dari bara yang masih
membara, tetapi meledak dengan kekuatan yang lebih dahsyat dari sebelumnya,
seperti gunung berapi yang meletus setelah bertahun-tahun tertidur.
Pengusaha yang membeli tanah di lereng selatan, PT Alam
Lestari Nusantara, tidak tinggal diam. Mereka adalah pengusaha besar dengan
jaringan yang luas, dengan koneksi yang kuat di kabupaten dan provinsi, dengan
pengacara-pengacara handal yang terbiasa menangani kasus-kasus pertanahan yang
rumit. Mereka tidak akan membiarkan investasi mereka sia-sia hanya karena
sekelompok petani desa yang dianggap tidak tahu hukum. Mereka tidak akan
membiarkan tanah yang sudah mereka beli atau yang mereka klaim sudah mereka
beli dikuasai oleh orang-orang yang tidak memiliki bukti kepemilikan yang sah.
Mereka menggugat warga yang masih menggarap tanah itu ke pengadilan, membawa
kasus ini ke meja hijau, menggunakan jalur hukum yang bagi petani desa terasa
seperti labirin yang tidak bisa dimasuki. Mereka meminta aparat keamanan,
polisi dari kecamatan dan tentara dari kodim, untuk mengusir paksa para petani
yang dianggap "menghalangi hak milik orang lain".
Suatu pagi, ketika matahari baru saja muncul dari balik
Bukit Pangasih dan kabut tipis masih bergelayut di antara pepohonan, ketika
Amat sedang duduk di beranda rumahnya menikmati secangkir teh jahe hangat
buatan ibunya, ketika ia merencanakan kegiatan hari itu, ada rapat koordinasi
dengan Pak Eko tentang program penguatan kelembagaan, ada sesi pelatihan
digital marketing di Ruang Komunitas Digital, ada diskusi dengan Camelia
tentang konsep desa wisata yang akan dipresentasikan ke Pak Arjuna, ia
dikejutkan oleh kabar buruk. Pak Tarno, tetangganya yang rumahnya persis di
seberang jalan setapak, datang berlari dengan wajah pucat, dengan napas
tersengal-sengal, dengan mata yang penuh ketakutan.
"Mat, Mat! Ada apa di selatan! Pak Darmo... Pak Darmo
dan beberapa petani lain... mereka diusir! Diusir paksa! Sawahnya dipagari
kawat berduri! Ada preman-preman, banyak! Mereka datang dengan truk, membawa
alat-alat berat, langsung membongkar gubug-gubug di sawah!"
Amat tidak menunggu mendengar lebih lanjut. Ia langsung
berdiri, teh jahe yang masih setengah ia minum tertinggal di meja, sendal jepit
yang ia kenakan terlepas ketika ia berlari keluar rumah. Ia berlari melewati
jalan setapak yang masih basah oleh embun, melewati sawah-sawah yang mulai
menguning karena akan panen, melewati sungai kecil yang airnya mengalir jernih,
menuju ke selatan, menuju ke lereng bukit tempat sawah-sawah Pak Darmo berada.
Raka dan Camelia, yang kebetulan sedang dalam perjalanan menuju rumah Amat
untuk berangkat kerja bersama, melihat Amat berlari dan langsung mengikuti,
tidak bertanya, hanya berlari, hanya mengikuti, hanya memastikan bahwa sahabat
mereka tidak sendirian.
Di lokasi, Amat melihat pemandangan yang membuat darahnya
mendidih. Sawah-sawah yang dulu hijau dan subur, yang menjadi sumber
penghidupan Pak Darmo dan beberapa keluarga petani lainnya selama puluhan
tahun, kini telah dipagari dengan kawat berduri. Pagar itu dipasang dengan
cepat, dengan tergesa-gesa, seolah-olah mereka takut akan ada perlawanan. Kawat
berduri itu melilit di tiang-tiang besi yang ditancapkan di sekeliling sawah,
membentuk batas yang tidak bisa dilewati, batas yang memisahkan petani dari
tanah yang selama ini mereka garap. Di beberapa tempat, gubug-gubug kecil yang
biasa digunakan petani untuk beristirahat atau menyimpan peralatan telah
dibongkar. Atap rumbianya berserakan di tanah, dinding anyaman bambunya hancur,
peralatan-peralatan sederhana seperti cangkul dan sabit tergeletak di antara
puing-puing. Alat-alat berat, sebuah buldoser dan sebuah truk pengangkut, masih
terparkir di pinggir sawah, mesinnya masih hangat, asapnya masih mengepul.
Pak Darmo duduk di pinggir jalan, di tepi sawahnya yang
kini telah dipagari, dengan tubuh yang ringkih karena usia, dengan wajah yang
basah oleh air mata, dengan tangan yang gemetar memegang segenggam tanah dari
sawahnya. Di sekelilingnya, beberapa petani lain duduk atau berdiri dengan
ekspresi yang sama: putus asa, marah, tidak percaya. Beberapa preman bertubuh
kekar dengan tato di lengan masih berjaga di sekitar pagar, menatap mereka
dengan tatangan yang mengancam, seolah-olah mengatakan bahwa tidak ada yang
bisa dilakukan, bahwa perlawanan hanya akan sia-sia, bahwa kekuatan ada di
pihak mereka.
Amat berlutut di samping Pak Darmo, meraih tangan tua yang
keriput itu, merasakan dinginnya ujung jari yang dulu kuat mencangkul tanah,
merasakan getaran dari tubuh yang gemetar karena emosi. "Pak Darmo... Pak
Darmo, saya di sini. Saya akan membantu. Saya akan bicara dengan Pak Kades.
Kita akan perjuangkan hak Bapak. Bapak jangan menyerah."
Pak Darmo mengangkat wajahnya, matanya yang sembab karena
menangis menatap Amat dengan campuran harapan dan putus asa. "Nak Amat...
mereka datang pagi-pagi sekali. Aku masih di gubug, mau sarapan. Tiba-tiba ada
truk, banyak orang. Mereka bilang, tanah ini sudah bukan milikku. Mereka suruh
aku pergi. Aku bilang, aku tidak pernah menjual tanah ini. Aku tidak pernah
menandatangani apa pun. Tapi mereka tidak peduli. Mereka langsung membongkar
gubugku. Mereka memasang pagar kawat berduri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku hanya bisa duduk di sini, menangis. Tanah ini warisan orang tuaku, Nak.
Warisan leluhur. Aku sudah menggarapnya sejak umur dua belas tahun. Puluhan
tahun. Dan sekarang... sekarang mereka mengambilnya. Dengan paksa. Tanpa izin.
Tanpa surat yang jelas. Aku tidak tahu harus berbuat apa."
Amat menggenggam tangan Pak Darmo lebih erat. "Saya
akan membantu, Pak. Saya punya bukti-bukti. Saya sudah mengumpulkan data selama
berbulan-bulan. Saya sudah menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam transaksi
ini. Saya akan serahkan semua ke Pak Lurah, ke polisi, ke pengadilan. Bapak
tidak akan kehilangan tanah ini. Saya janji."
Pak Arjuna mengadakan musyawarah desa darurat. Ia tidak
bisa membiarkan konflik ini berlarut-larut. Ia tidak bisa membiarkan warganya
diusir dari tanah mereka tanpa keadilan. Ia tidak bisa membiarkan kekerasan dan
intimidasi merajalela di desa yang ia pimpin. Ia mengirimkan undangan kepada
semua perangkat desa, kepada ketua-ketua RT dan RW, kepada BPD, kepada
tokoh-tokoh masyarakat, kepada warga yang terkena dampak langsung, dan juga
kepada perwakilan dari PT Alam Lestari Nusantara dan aparat keamanan dari kecamatan
Kabut Merah.
Musyawarah digelar keesokan harinya, di balai desa yang
sama, di tempat yang sama di mana konflik ini pertama kali dibahas
berbulan-bulan lalu. Kali ini, suasana jauh lebih tegang dari sebelumnya. Jauh
lebih tegang. Jauh lebih mencekam. Warga yang mendukung petani datang dalam
jumlah besar, memenuhi halaman balai desa hingga ke jalan raya. Mereka membawa
spanduk dan poster dengan tulisan-tulisan yang tegas: "Tanah Leluhur Bukan
untuk Dijual", "Keadilan untuk Petani Awan Biru", "Usir Pengusaha
Serakah". Ada yang membawa foto-foto Pak Darmo dan petani lain yang diusir
dari sawah mereka, foto-foto yang diambil oleh Camelia dengan ponselnya,
foto-foto yang kemudian disebarluaskan di media sosial dan menjadi viral. Ada
yang membawa alat-alat pertanian seperti cangkul dan sabit sebagai simbol
perlawanan, bukan untuk digunakan tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka adalah
petani, bahwa tanah adalah hidup mereka, bahwa tanpa tanah mereka tidak punya
apa-apa.
Aparat keamanan dari Polsek kecamatan Kabut Merah juga
hadir dalam jumlah yang besar, berjaga-jaga di luar balai desa, membentuk
barisan yang memisahkan warga dengan pintu masuk. Mereka datang dengan senjata
lengkap, dengan rompi anti peluru, dengan mobil patroli yang diparkir di
pinggir jalan. Mereka bukan dari desa, tidak mengenal warga, tidak tahu sejarah
konflik ini. Mereka hanya menjalankan perintah: mengamankan jalannya
musyawarah, mencegah kericuhan, melindungi semua pihak yang hadir. Tapi
kehadiran mereka justru membuat suasana semakin tegang, membuat warga merasa
bahwa negara ada di pihak pengusaha, bahwa hukum lebih berpihak pada mereka
yang punya uang daripada mereka yang punya kebenaran.
Di dalam Kantor desa, ruang rapat yang biasanya cukup untuk
menampung lima puluh orang itu penuh sesak. Kursi-kursi kayu yang baru tidak
cukup, beberapa orang harus berdiri di belakang, berdesakan di pintu, duduk di
lantai. Udara panas dan pengap, bercampur aroma keringat dan parfum murah.
Perwakilan pengusaha datang dengan pengacara yang sama, Firman Santoso, S.H.,
yang datang dengan setelan jas hitam yang rapi, dengan koper kulit yang mahal,
dengan senyum yang terlalu manis untuk menjadi tulus. Kali ini mereka terlihat
lebih percaya diri, seolah-olah sudah memenangkan pertempuran, seolah-olah hukum
ada di pihak mereka, seolah-olah tidak ada yang bisa menghentikan mereka.
"Bapak Kades, Bapak-bapak anggota BPD, warga Desa Awan
Biru yang saya hormati," kata pengacara itu dengan nada yang dibuat-buat
hormat, berdiri di depan papan tulis yang sudah disiapkan, membuka koper
kulitnya yang mahal, mengeluarkan setumpuk dokumen yang disusun rapi dalam
map-map plastik. "Saya Firman Santoso, kuasa hukum PT Alam Lestari
Nusantara, ingin menyampaikan bahwa klien saya telah mengantongi putusan
pengadilan yang menyatakan bahwa tanah-tanah di lereng selatan, yang menjadi
pokok persoalan dalam musyawarah ini, adalah milik sah PT Alam Lestari
Nusantara. Putusan ini sudah inkracht, sudah berkekuatan hukum tetap. Tidak ada
upaya hukum lain yang bisa dilakukan. Saya minta aparat desa untuk menghormati
putusan ini dan membantu klien saya untuk mengambil alih hak miliknya, sesuai
dengan ketentuan hukum yang berlaku."
Pengacara itu membacakan putusan pengadilan dengan suara
lantang, dengan intonasi yang dibuat sedemikian rupa untuk memberikan kesan
bahwa ini adalah keputusan final, bahwa tidak ada yang bisa dilakukan lagi,
bahwa warga harus menerima kenyataan pahit bahwa tanah mereka telah hilang. Ia
menunjukkan lembaran-lembaran dokumen yang disusun rapi, dengan stempel pengadilan
yang sah, dengan tanda tangan hakim yang berwenang. Dokumen-dokumen itu tampak
resmi, tampak meyakinkan, tampak seperti sesuatu yang tidak bisa dibantah.
Pak Arjuna tidak langsung menjawab. Ia menatap Amat yang
duduk di barisan belakang, di samping Raka dan Camelia. Amat mengangguk,
memberi isyarat bahwa ia sudah siap, bahwa ia sudah mempersiapkan segalanya,
bahwa ia sudah mengumpulkan bukti-bukti yang tidak bisa dibantah. Pak Arjuna
menghela napas, berdiri dari kursinya, dan berbicara dengan suara yang tegas,
suara yang menunjukkan bahwa ia tidak akan terintimidasi oleh kekuasaan atau
uang.
"Sebelum kita membahas putusan pengadilan itu, saya
minta saudara Amat Junior, staf administrasi desa yang juga mengelola data
pertanahan, untuk menyampaikan temuannya tentang kasus ini. Saya sudah
memeriksa temuannya, dan saya yakin ini adalah informasi yang sangat penting
untuk kita semua ketahui."
Amat berdiri. Ia berjalan ke depan melewati barisan kursi,
melewati warga yang menatapnya dengan harapan, melewati pengacara yang
menatapnya dengan sinis. Ia membawa setumpuk dokumen yang sudah disiapkan
dengan rapi, dokumen yang telah ia kumpulkan selama berbulan-bulan, dokumen
yang menjadi hasil kerja kerasnya bersama Camelia, Hermansyah, dan beberapa
relawan lain. Ia berdiri di hadapan semua orang, di hadapan Pak Arjuna, di
hadapan BPD, di hadapan warga desa, di hadapan pengusaha dan pengacaranya, di
hadapan aparat keamanan yang datang dari kecamatan.
"Bapak Kades, Bapak-bapak anggota BPD, warga Desa Awan
Biru yang saya hormati. Sejak konflik ini muncul, saya telah melakukan
investigasi mandiri terhadap dokumen-dokumen pertanahan di desa kita. Saya
memeriksa arsip-arsip lama di ruang penyimpanan. Saya membandingkan data
kependudukan dengan data pertanahan. Saya melakukan wawancara dengan para
petani yang tanahnya dijual. Saya juga bekerja sama dengan pihak kepolisian
untuk melakukan uji grafis terhadap dokumen-dokumen yang mencurigakan. Dan saya
menemukan fakta-fakta yang sangat mengkhawatirkan. Fakta-fakta yang menunjukkan
bahwa ada praktik-praktik tidak sah dalam proses pengalihan hak milik atas
tanah-tanah tersebut."
Amat membuka dokumen satu per satu, membeberkan temuannya
dengan suara yang tenang tetapi tegas. Ia menunjukkan surat rekomendasi dari
desa yang ditandatangani oleh Pak Kartono, membandingkannya dengan tanda tangan
asli Pak Kartono yang ada di dokumen-dokumen resmi lainnya. Perbedaannya jelas,
bahkan untuk mata awam sekalipun. "Ini surat rekomendasi yang menjadi
dasar penerbitan sertifikat. Tanda tangan ini palsu. Pak Kartono sendiri sudah
bersumpah bahwa ia tidak pernah menandatangani surat ini."
Ia mengeluarkan dokumen lain, dokumen yang lebih tebal,
dengan lebih banyak catatan. "Kedua, proses penerbitan sertifikat ini
sangat cepat. Tidak normal. Biasanya, proses sertifikasi tanah memakan waktu
berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tapi dalam kasus ini, semuanya selesai
dalam waktu kurang dari tiga minggu. Ini menunjukkan adanya indikasi
penyalahgunaan wewenang atau setidaknya pelanggaran prosedur yang serius."
Ia mengeluarkan dokumen ketiga, yang paling penting, yang
paling menentukan. "Yang paling baru, saya menemukan bahwa ada oknum
perangkat desa, yang sudah tidak menjabat, tetapi masih memiliki akses ke
dokumen-dokumen desa pada saat transaksi ini terjadi, yang menerima uang dalam
jumlah besar untuk memfasilitasi transaksi ini. Saya memiliki bukti transfer,
rekening koran, dan saksi-saksi yang siap bersumpah di pengadilan. Nama-nama
dan bukti-bukti ini sudah saya serahkan kepada Bapak Kades dan akan saya
serahkan kepada pihak kepolisian."
Pengacara itu tersenyum sinis, mencoba meremehkan, mencoba
mengintimidasi. "Ini hanya tuduhan, Nak. Hanya omongan kosong. Mana
buktinya? Mana saksi-saksinya? Mana bukti bahwa dokumen-dokumen ini palsu? Mana
bukti bahwa klien saya terlibat dalam praktik-praktik tidak sah?"
Amat tidak goyah. Ia mengeluarkan amplop coklat dari
tasnya, amplop yang tebal, amplop yang berisi dokumen-dokumen yang sudah ia
persiapkan dengan cermat. "Ini rekening koran yang menunjukkan aliran dana
dari perusahaan klien Bapak ke rekening pribadi oknum tersebut. Jumlahnya tidak
kecil, Pak. Puluhan juta rupiah. Saya juga punya saksi yang siap bersumpah di
pengadilan. Saya punya bukti bahwa tanda tangan-tanda dalam dokumen jual beli
itu palsu. Saya punya bukti bahwa beberapa nama yang tercantum sebagai penjual
adalah orang-orang yang sudah meninggal dunia sebelum transaksi dilakukan. Saya
punya bukti bahwa ada tekanan, intimidasi, dan pemalsuan dokumen dalam proses
ini. Saya serahkan semua ini kepada Bapak Kades dan aparat yang berwenang. Saya
tidak akan berkomentar lebih jauh. Saya hanya berharap keadilan bisa
ditegakkan."
Wajah pengacara itu berubah pucat. Ia tidak menyangka bahwa
seorang pemuda desa, seorang staf administrasi biasa, bisa mengumpulkan
bukti-bukti sekokoh itu. Ia tidak menyangka bahwa lawannya tidak hanya petani-petani
tua yang tidak tahu hukum, tetapi juga seorang pemuda dengan data yang akurat,
dengan bukti yang tidak bisa dibantah, dengan keberanian yang tidak bisa
diintimidasi. Ia terdiam, tidak bisa berkata-kata, hanya bisa memandangi amplop
coklat di tangan Amat dengan mata yang penuh ketakutan.
Pak Arjuna mengambil alih pembicaraan. Suaranya tegas,
tidak ada keraguan, tidak ada kompromi. "Saudara pengacara, saya rasa kita
tidak perlu memperpanjang masalah ini. Temuan saudara Amat sangat serius. Ini
bukan lagi masalah sengketa tanah biasa, tetapi indikasi pemalsuan dokumen,
penyuapan, dan kemungkinan tindak pidana lainnya. Saya akan melaporkan temuan
ini ke pihak kepolisian dan kejaksaan. Saya akan meminta mereka untuk melakukan
penyelidikan secara menyeluruh. Sementara itu, saya minta klien Bapak untuk
menghentikan semua aktivitas di lahan tersebut sampai ada keputusan hukum yang
final. Jika ada warga yang dirugikan, saya akan pastikan hak-hak mereka
dipulihkan. Jika ada oknum yang terbukti bersalah, saya akan pastikan mereka
dihukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku."
Musyawarah ditutup dengan keputusan yang melegakan warga.
Pak Darmo dan petani-petani lain bisa kembali ke tanah mereka, setidaknya untuk
sementara waktu, setidaknya sampai ada keputusan hukum yang final. Warga yang
hadir bertepuk tangan, bersorak, menangis haru. Mereka merasa bahwa keadilan
masih mungkin ditegakkan, bahwa suara mereka masih didengar, bahwa desa ini
masih berpihak pada warganya.
Setelah musyawarah usai, setelah perwakilan pengusaha pergi
dengan langkah tergesa-gesa, setelah aparat keamanan kembali ke kecamatan,
Amat, Raka, dan Camelia berjalan menuju lereng selatan. Mereka ingin melihat
sendiri apakah perintah Pak Arjuna sudah dilaksanakan, apakah pagar kawat
berduri yang memisahkan petani dari tanah mereka sudah dibongkar, apakah Pak
Darmo dan petani-petani lain sudah bisa kembali ke sawah mereka.
Di lokasi, mereka melihat pemandangan yang berbeda dari
pagi hari. Pagar kawat berduri yang dipasang dengan tergesa-gesa itu telah
dibongkar. Tiang-tiang besi yang ditancapkan di sekeliling sawah telah dicabut,
berserakan di tanah. Kawat berduri yang melilit di tiang-tiang itu telah
digulung, ditumpuk di pinggir jalan, menunggu diambil oleh pemiliknya.
Gubug-gubug yang dulu dibongkar, kini mulai dibangun kembali. Atap rumbia
dipasang lagi, dinding anyaman bambu disusun lagi, peralatan-peralatan
sederhana seperti cangkul dan sabit dikumpulkan dan disimpan di tempatnya.
Pak Darmo sudah berada di sawahnya. Ia berdiri di tengah
petak sawah yang dulu ia garap, dengan kaki telanjang menginjak tanah yang
basah, dengan tangan yang gemetar memegang segenggam padi yang mulai menguning.
Air matanya masih mengalir, tetapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan
air mata kebahagiaan, air mata kelegaan, air mata syukur.
"Nak Amat, lihat... aku bisa kembali. Aku bisa
menggarap sawahku lagi. Aku bisa menunggu panen. Aku bisa memberikan makan
anak-anakku. Aku bisa... aku bisa hidup lagi."
Amat memeluk Pak Darmo, merasakan bahu tua yang ringkih itu
bergetar, merasakan tangis yang tertahan, merasakan beban yang perlahan-lahan
terangkat. "Pak Darmo, ini belum selesai. Masih ada perjuangan hukum yang
harus kita hadapi. Tapi untuk sementara, Bapak bisa kembali ke sawah. Bapak
bisa beristirahat. Bapak bisa menikmati hasil jerih payah Bapak. Kami akan
terus berjuang. Kami tidak akan menyerah."
Raka yang berdiri di samping Amat, ikut membantu
membersihkan sisa-sisa pagar kawat berduri. Tangannya yang biasa memegang wajan
dan cobek, kini memegang tang dan pemotong kawat. Wajahnya yang biasanya ceria,
kini serius. "Pak Darmo, jangan khawatir. Kita akan jaga sawah Bapak.
Kalau ada preman datang lagi, kita akan lawan. Bukan dengan kekerasan, tapi
dengan bukti. Dengan data. Dengan hukum. Seperti yang dilakukan Amat."
Camelia yang berdiri di sisi lain, mencatat semua yang
terjadi di buku catatannya. Ia mendokumentasikan kondisi sawah, mengambil
foto-foto pagar kawat berduri yang sudah dibongkar, mencatat nama-nama petani
yang kembali ke tanah mereka. Ia juga merekam pernyataan Pak Darmo dan
petani-petani lain tentang apa yang mereka alami. Semua akan menjadi bagian
dari arsip, semua akan menjadi bukti jika diperlukan di kemudian hari.
"Pak Darmo, nanti kalau ada yang mengganggu lagi,
segera lapor ke Pak Kades. Jangan takut. Jangan diam. Kami akan bantu. Desa ini
akan bantu. Kami tidak akan membiarkan Bapak sendirian."
Pak Darmo mengangguk, tersenyum untuk pertama kalinya
setelah berhari-hari. "Terima kasih, Nak. Terima kasih. Kalian anak-anak
muda yang luar biasa. Desa ini beruntung memiliki kalian."
Malam itu, setelah seharian membantu membersihkan sawah,
setelah memastikan Pak Darmo dan petani-petani lain bisa kembali ke rumah
mereka dengan tenang, Amat, Raka, dan Camelia duduk di beranda rumah Amat.
Sumirah menyiapkan teh jahe hangat untuk mereka, duduk di kursi bambu di sudut
beranda, mendengarkan percakapan anak-anak muda itu dengan senyum tipis.
"Kita berhasil," kata Raka, meskipun suaranya
masih terdengar lelah. "Setidaknya untuk sementara. Pak Darmo bisa kembali
ke sawah. Itu yang penting."
"Kita belum berhasil, Rak," kata Amat, suaranya
tenang tetapi tegas. "Ini hanya sementara. Pengusaha itu pasti akan
melawan. Mereka punya uang, punya koneksi, punya pengacara. Mereka akan
menggunakan segala cara untuk memenangkan kasus ini. Kita harus siap. Kita
harus punya bukti yang kuat. Kita harus punya strategi yang matang. Kita harus
melibatkan pihak-pihak yang bisa membantu."
Camelia yang duduk di samping Amat, membuka buku
catatannya. "Aku sudah mendokumentasikan semuanya. Bukti-bukti pemalsuan
dokumen, bukti-bukti aliran uang, saksi-saksi yang siap bersumpah di
pengadilan. Kita juga sudah bekerja sama dengan kepolisian sektor kecamatan.
Mereka sudah membuka penyelidikan. Semoga hasilnya positif."
Raka menghela napas. "Aku tidak paham soal hukum, soal
dokumen, soal pengadilan. Aku cuma bisa jualan pecel, bikin video, dan bikin
kalian tertawa. Tapi kalau ada yang bisa aku bantu, apa pun, aku siap. Kalau
perlu aku bawa pecel ke pengadilan, biar hakimnya kenyang, biar putusannya
adil."
Amat dan Camelia tertawa. Tawa yang melepaskan ketegangan
yang masih mengendap setelah hari yang melelahkan. "Kamu ini, Ra, semua
ada pecelnya."
"Ya iya lah. Pecel kan sumber kebijaksanaan. Orang
yang perutnya kenyang, pikirannya jernih. Orang yang pikirannya jernih, bisa
mengambil keputusan yang adil. Jadi, pecel adalah kunci dari keadilan."
Sumirah yang mendengar percakapan mereka, tersenyum.
"Kalian anak-anak yang baik. Ibu bangga. Tapi ingat, perjuangan kalian
belum selesai. Masih banyak yang harus dilakukan. Jangan sampai terlena dengan
kemenangan kecil. Jangan sampai lupa bahwa ada yang lebih besar yang harus
dijaga."
Amat mengangguk, merasakan kebenaran dalam kata-kata
ibunya. "Ibu benar. Perjuangan kita belum selesai. Tapi setidaknya, untuk
hari ini, Pak Darmo bisa tidur tenang. Sawahnya kembali. Tanah leluhurnya
kembali. Itu sudah cukup."
Di luar, langit Awan Biru mulai gelap, tetapi
bintang-bintang mulai berkelap-kelip satu per satu, seperti lampu-lampu kecil
yang dinyalakan di langit. Kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng
bukit, tetapi tidak setebal dulu, mungkin karena desa yang mulai berubah. Di
kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak, dengan kanopinya yang rimbun,
dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan penjaganya yang setia menunggu.
Dan di dalam hati Amat, ada keyakinan yang tidak bisa
digoyahkan: bahwa kebenaran akan menang, bahwa keadilan akan ditegakkan, bahwa
desa ini akan selamat. Bukan karena kekuatannya, bukan karena kepintarannya,
tetapi karena ia tidak sendirian. Ada sahabat-sahabat di sampingnya, ada warga
yang mendukungnya, ada leluhur yang menjaganya, dan ada Tuhan yang tidak pernah
tidur.
BAB 28: Rahasia Kepala Desa Sebelumnya
Setelah konflik lahan mereda, setelah pagar kawat berduri
dibongkar, setelah Pak Darmo dan petani-petani lain bisa kembali ke sawah
mereka, setelah pengacara itu pergi dengan langkah tergesa-gesa membawa
dokumen-dokumen yang tidak lagi bisa ia gunakan untuk mengintimidasi, Amat
terus menggali informasi tentang masa lalu desa. Bukan karena ia tidak puas
dengan kemenangan sementara yang mereka raih, bukan karena ia ingin
mencari-cari kesalahan orang lain, bukan karena ia memiliki dendam pribadi
terhadap siapa pun. Ia merasa bahwa kasus ini hanya puncak gunung es. Ada
sesuatu yang lebih besar yang terjadi di balik semua ini, sesuatu yang lebih
dalam, sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang telah berlangsung selama
bertahun-tahun, mungkin puluhan tahun, dan baru sekarang mulai terlihat jelas.
Ada pola yang berulang, ada nama-nama yang selalu muncul dalam setiap kasus
yang mencurigakan, ada aliran uang yang tidak pernah jelas asal-usulnya, ada
dokumen-dokumen yang hilang atau dipalsukan, ada saksi-saksi yang tiba-tiba
lupa atau tidak mau berbicara.
Ia mulai menelusuri arsip-arsip lama, termasuk arsip-arsip
yang tidak terdata dengan baik, yang tersimpan di lemari-lemari berdebu di
sudut ruang administrasi, yang mungkin tidak pernah dibuka oleh siapa pun
selama bertahun-tahun. Ia membuka satu per satu map-map tua yang kertasnya
sudah menguning, yang tintanya sudah memudar, yang beberapa di antaranya sudah
rapuh dan hancur ketika disentuh. Ia membaca laporan-laporan keuangan tahunan
dari era Pak Iwan, membandingkannya dengan realisasi pembangunan yang terjadi,
mencari kejanggalan-kejanggalan yang mungkin terlewat oleh audit sebelumnya. Ia
menelusuri surat-surat izin yang diterbitkan oleh pemerintah desa untuk
berbagai proyek, memeriksa apakah prosedurnya sesuai dengan aturan, apakah ada
izin-izin yang diterbitkan tanpa melalui mekanisme yang benar. Ia mengumpulkan
kontrak-kontrak proyek pembangunan yang pernah dilaksanakan di desa ini,
memeriksa nilai kontrak, kualitas pekerjaan, dan pihak-pihak yang terlibat.
Ia juga mewawancarai beberapa tokoh desa yang mungkin tahu
tentang sejarah tersembunyi Awan Biru, yang mungkin memiliki ingatan tentang
peristiwa-peristiwa yang tidak tercatat dalam dokumen resmi. Ia berbicara
dengan Pak Sugeng, aktif sebagai tokoh masyarakat. Ia berbicara dengan Pak
Santoso, pengusaha mebel yang sukses, yang dulu juga aktif dalam berbagai
kegiatan desa. Ia berbicara dengan Mbah Karyo, pemilik warung kopi yang sudah
berusia lebih dari tujuh puluh tahun, yang ingatannya tentang desa ini mungkin
lebih panjang dari dokumen-dokumen mana pun. Ia berbicara dengan Pak Anto,
sopir truk yang dulu sering mengantar anak-anak sekolah ke kecamatan, yang
memiliki banyak cerita tentang desa ini, tentang orang-orangnya, tentang
perubahan-perubahan yang terjadi.
Setiap wawancara, setiap dokumen yang ia baca, setiap
potongan informasi yang ia kumpulkan, membawanya semakin dekat pada kebenaran
yang selama ini tersembunyi. Dan kebenaran itu, ketika mulai terungkap,
ternyata lebih rumit, lebih menyakitkan, lebih mengkhawatirkan daripada yang ia
bayangkan.
Suatu malam, ketika bulan sabit tipis menggantung di langit
dan kabut mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit, Pak Kartono, mantan
sekretaris desa yang sudah pensiun tetapi masih aktif sebagai tenaga sukarela
di kantor desa, yang masih setia datang setiap pagi meskipun tidak lagi digaji,
yang masih setia membuka lemari arsip dan memeriksa dokumen-dokumen lama, memanggil
Amat ke rumahnya. Rumah Pak Karto tidak jauh dari kantor desa, sebuah rumah
sederhana dengan dinding bata bercat putih yang sudah mulai mengelupas, dengan
halaman yang ditanami bunga-bunga oleh Bu Yuni, yang kini menjadi sekretaris
desa menggantikan posisi suaminya. Pak Kartono duduk di kursi goyang di teras
rumah, dengan segelas teh jahe di tangan, dengan wajah yang tampak serius, seperti
sedang memikirkan sesuatu yang berat, sesuatu yang telah ia pendam selama
bertahun-tahun, sesuatu yang mungkin seharusnya ia ungkapkan lebih awal.
"Amat, ada sesuatu yang harus saya ceritakan. Sesuatu
yang sudah saya pendam selama bertahun-tahun. Sesuatu yang mungkin seharusnya
saya ceritakan sejak lama, tetapi saya tidak punya keberanian. Sesuatu yang
membuat saya tidak bisa tidur nyenyak setiap malam, karena saya tahu bahwa saya
menyembunyikan kebenaran yang seharusnya diketahui oleh warga desa ini."
Amat duduk di kursi yang disediakan, di samping Camelia
yang kebetulan sedang berada di rumah orang tuanya, yang mendengar panggilan
Pak Kartono dan ikut mendengarkan. Ia meletakkan buku catatan di pangkuannya,
pulpen di tangannya, siap untuk mencatat, siap untuk mendengarkan, siap untuk
menjadi saksi dari sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
Pak Kartono menghela napas panjang, napas yang keluar dari
paru-paru yang sudah tua, napas yang membawa beban yang telah ia pikul selama
bertahun-tahun. Ia menatap Amat dengan mata yang sudah tidak lagi muda, tetapi
masih tajam, masih jernih, masih mampu melihat kebenaran meskipun ia memilih
untuk membungkamnya selama ini.
"Amat, waktu saya masih menjabat sebagai Sekretaris
Desa, di era awal Pak Iwan, ada banyak hal yang terjadi yang tidak saya
setujui. Banyak hal yang membuat saya merasa malu menjadi bagian dari
pemerintahan desa. Banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya setiap malam,
apakah saya melakukan hal yang benar dengan tetap diam, dengan tetap mengikuti
arus, dengan tetap menjadi bagian dari sistem yang saya tahu tidak
bersih."
Pak Kartono berhenti sejenak, menyesap teh jahenya,
mengumpulkan keberanian. "Pak Iwan adalah pemimpin yang baik dalam banyak
hal. Beliau membawa kemajuan bagi desa ini. Jalan-jalan yang dulu masih berbatu
menjadi beraspal. Jembatan-jembatan yang dulu rapuh diperbaiki. Listrik masuk
ke desa. Banyak warga yang merasakan manfaatnya. Saya tidak bisa memungkiri
itu. Tapi beliau juga memiliki... kelemahan. Kelemahan yang kemudian dimanfaatkan
oleh orang-orang di sekelilingnya. Kelemahan yang membuat desa ini kehilangan
banyak hal yang seharusnya menjadi hak warga."
"Kelemahan apa, Pak?" tanya Camelia, suaranya
pelan, nyaris berbisik. Ia sudah menduga jawabannya, tetapi ia perlu mendengarnya
dari mulut ayahnya sendiri.
Pak Kartono menghela napas lagi, lebih panjang dari
sebelumnya. "Pak Iwan terlalu percaya pada orang-orang di sekelilingnya.
Terlalu mudah dipengaruhi. Terlalu mudah percaya bahwa semua orang memiliki
niat baik seperti dirinya. Ada sekelompok orang, mereka bukan warga asli desa,
tetapi datang kemudian dan dekat dengan Pak Iwan, menjadi penasihat-penasihat
informal yang selalu ada di sampingnya, yang memanfaatkan posisinya untuk
kepentingan mereka sendiri. Mereka datang dengan ide-ide pembangunan, dengan
janji-janji kemajuan, dengan proyek-proyek yang kelihatan menggiurkan. Tapi di
balik semua itu, mereka hanya mencari keuntungan pribadi."
Amat yang duduk di kursi kayu di hadapan Pak Kartono,
merasa dadanya berdebar lebih cepat. Ia sudah menduga bahwa ada sesuatu yang
tidak beres dengan administrasi desa di masa lalu. Data-data yang ia olah
selama berbulan-bulan menunjukkan kejanggalan-kejanggalan yang tidak bisa
dijelaskan. Tapi mendengarnya langsung dari Pak Kartono, dari seseorang yang
menjadi saksi mata, dari seseorang yang tidak memiliki alasan untuk berbohong,
membuat segalanya terasa lebih nyata, lebih dekat, lebih mengancam.
"Seperti kasus tanah ini, Pak?" tanyanya,
meskipun ia sudah tahu jawabannya.
Pak Kartono mengangguk perlahan, gerakan yang berat,
seperti menganggukkan kepala yang dipenuhi beban. "Ini hanya salah satu
contoh. Masih banyak yang lain. Izin usaha, proyek-proyek pembangunan,
pengelolaan dana desa, bantuan sosial... semuanya ada yang tidak beres. Mereka
menguasai hampir semua sektor. Mereka menentukan proyek apa yang akan didanai,
kontraktor apa yang akan ditunjuk, berapa anggaran yang akan dialokasikan. Pak
Iwan hanya menandatangani dokumen-dokumen yang sudah disiapkan. Beliau tidak
pernah memeriksa, tidak pernah bertanya, tidak pernah curiga. Beliau percaya
bahwa semua yang dilakukan adalah untuk kebaikan desa."
"Kenapa Bapak tidak melaporkan?" tanya Camelia,
suaranya sedikit meninggi, bukan karena marah kepada ayahnya, tetapi karena
frustrasi melihat bahwa orang-orang yang seharusnya melindungi desa malah
menjadi bagian dari masalah.
Pak Kartono menunduk, matanya berkaca-kaca. "Aku
mencoba, Cam. Aku mencoba melawan. Aku berbicara dengan Pak Iwan, menunjukkan
kejanggalan-kejanggalan yang aku temukan. Tapi Pak Iwan tidak mau mendengar.
Beliau bilang, 'Kartono, kamu ini terlalu curiga. Orang-orang itu baik. Mereka
hanya ingin membantu desa kita maju.' Aku mencoba lagi, membawa bukti-bukti
yang lebih kuat. Tapi Pak Iwan marah. Beliau bilang, 'Kartono, kalau kamu tidak
bisa bekerja sama, lebih baik kamu pensiun saja.'"
Air mata Pak Kartono jatuh, membasahi pipinya yang keriput.
"Akhirnya aku memilih pensiun lebih awal. Aku tidak tega melihat desa ini
dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya menjaganya. Tapi aku juga tidak
punya kekuatan untuk melawan. Aku hanya seorang sekretaris desa. Mereka punya
kekuasaan, punya koneksi, punya uang. Aku takut. Takut pada mereka, takut pada
Pak Iwan, takut pada apa yang akan terjadi pada keluargaku jika aku terus melawan.
Jadi aku memilih diam. Aku memilih pergi. Aku memilih mengubur semua yang aku
tahu dalam-dalam."
Camelia meraih tangan ayahnya, merasakan dinginnya ujung
jari yang dulu lincah mengetik dokumen-dokumen desa, merasakan getaran dari
tubuh yang gemetar karena emosi yang tertahan selama bertahun-tahun.
"Ayah... ayah tidak sendirian. Sekarang ada kita. Ada Amat. Ada Pak
Arjuna. Kita bisa melawan. Kita bisa membongkar semuanya."
Pak Kartono mengangkat wajahnya, menatap anaknya dengan
mata yang masih basah. "Ada dokumen-dokumen yang aku simpan, Cam.
Bukti-bukti tentang semua yang terjadi. Aku tidak berani membukanya selama Pak
Iwan masih menjabat. Aku takut. Tapi sekarang, dengan Pak Arjuna sebagai kepala
desa, dengan kalian yang terus berjuang, mungkin sudah waktunya. Mungkin sudah
waktunya kebenaran itu diungkap."
Pak Kartono berdiri, dengan susah payah karena kakinya yang
mulai kaku karena usia. Ia berjalan ke kamarnya, langkahnya pelan,
tertatih-tatih, seperti orang yang membawa beban yang sangat berat. Camelia
ingin membantu, ingin menawarkan tangannya, tetapi Pak Kartono menolak dengan
isyarat halus. Ini adalah perjalanannya sendiri. Ini adalah pengakuannya
sendiri. Ini adalah bebannya sendiri yang harus ia lepaskan.
Beberapa menit kemudian, Pak Kartono kembali dengan membawa
sebuah map tebal yang disimpan dalam lemari besi kecil di kamarnya, lemari yang
selama ini tidak pernah dibuka di depan siapa pun, lemari yang mungkin menjadi
satu-satunya tempat ia menyimpan rahasia yang selama ini membebani pikirannya.
Map itu sudah menguning, kertasnya rapuh di beberapa bagian, tetapi isinya
masih jelas terbaca. Ada laporan-laporan keuangan yang ditandatangani oleh Pak
Iwan, dengan angka-angka yang tidak sesuai dengan realisasi pembangunan. Ada
surat-surat izin yang diterbitkan tanpa melalui prosedur yang benar, dengan
stempel desa yang sah, dengan tanda tangan yang asli. Ada kontrak-kontrak
proyek pembangunan yang ditandatangani oleh Pak Iwan dan pihak ketiga, dengan
nilai yang terlalu tinggi untuk pekerjaan yang terlalu rendah kualitasnya. Ada
daftar nama-nama yang menerima uang dari proyek-proyek itu, dengan jumlah yang
sangat besar, dengan aliran yang rumit dan sulit dilacak.
"Ini semua buktinya," kata Pak Kartono,
meletakkan map itu di atas meja, di hadapan Amat dan Camelia. Tangannya gemetar
ketika membuka map itu, membalikkan halaman demi halaman, menunjukkan
dokumen-dokumen yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan. "Laporan
keuangan yang tidak sesuai, surat-surat izin yang diterbitkan tanpa prosedur,
kontrak-kontrak proyek yang merugikan desa. Dan yang paling penting... daftar
nama-nama orang yang terlibat. Bukan hanya orang-orang dari luar, tetapi juga
warga desa kita sendiri. Orang-orang yang kita kenal. Orang-orang yang mungkin
masih duduk bersama kita di warung kopi. Orang-orang yang mungkin tersenyum
pada kita setiap hari."
Amat menerima map itu dengan tangan gemetar. Ia membuka
halaman demi halaman, membaca dokumen-dokumen yang selama ini tersembunyi.
Matanya yang biru bergerak cepat, menyerap setiap informasi, mencocokkan dengan
data-data yang sudah ia kumpulkan selama berbulan-bulan. Nama-nama yang muncul
di dokumen itu tidak asing baginya. Ada nama-nama yang masih aktif di
pemerintahan desa. Ada nama-nama yang menjadi tokoh masyarakat. Ada nama-nama
yang duduk di barisan depan ketika musyawarah desa, berbicara tentang keadilan
dan kebenaran. Ada nama-nama yang mungkin tersenyum padanya setiap hari ketika
ia berjalan di pasar atau duduk di warung kopi.
Ia tahu bahwa dokumen ini adalah bom waktu. Jika dibuka,
bisa mengguncang desa. Bisa memecah belah warga yang selama ini hidup rukun.
Bisa membuat musuh-musuh yang kuat, yang tidak akan segan-segan melakukan apa
pun untuk melindungi kepentingan mereka. Bisa membahayakan dirinya,
keluarganya, teman-temannya. Tapi ia juga tahu bahwa kebenaran harus
ditegakkan. Bahwa keadilan harus ditegakkan. Bahwa warga desa berhak tahu apa
yang terjadi dengan desa mereka, dengan uang mereka, dengan masa depan mereka.
"Apa yang bisa kami lakukan, Pak?" tanya Amat,
suaranya tegas, tidak ada keraguan. Ia sudah memutuskan. Ia akan melawan. Ia
akan membongkar semuanya. Apa pun risikonya.
Pak Kartono menatap Amat dengan mata yang penuh harapan,
mata yang sudah lama tidak melihat keberanian seperti ini, mata yang mungkin
sudah putus asa tetapi kini melihat secercah cahaya. "Kalian sudah
melakukan banyak hal. Kalian sudah menyelamatkan Pak Darmo dan petani-petani
lain. Kalian sudah membongkar pemalsuan dokumen dalam kasus tanah itu. Tapi ini
belum selesai. Ini baru permulaan. Ada dokumen-dokumen yang saya simpan.
Bukti-bukti tentang semua yang terjadi. Saya tidak berani membukanya selama Pak
Iwan masih menjabat. Tapi sekarang, dengan Pak Arjuna sebagai kepala desa,
dengan kalian yang terus berjuang, mungkin sudah waktunya. Mungkin sudah waktunya
kebenaran itu diungkap."
Keesokan harinya, ketika matahari baru saja muncul dari
balik Bukit Pangasih dan kabut tipis masih bergelayut di antara pepohonan,
Amat, Camelia, dan Pak Kartono menghadap Pak Arjuna di kantornya. Mereka datang
pagi-pagi sekali, sebelum perangkat desa lain datang, sebelum warga mulai
berdatangan mengurus administrasi, sebelum telepon-telepon mulai berdering dan
aktivitas kantor mulai ramai. Mereka ingin berbicara dengan Pak Arjuna dalam
suasana yang tenang, tanpa gangguan, tanpa orang-orang yang mungkin tidak perlu
tahu.
Pak Arjuna menyambut mereka dengan ramah, mempersilakan
mereka duduk di kursi-kursi yang disediakan di hadapan meja kerjanya. Ia
menawarkan kopi atau teh, tetapi mereka menolak dengan sopan. Ini bukan waktu
untuk basa-basi. Ini waktu untuk membicarakan sesuatu yang serius, sesuatu yang
mungkin akan mengubah segalanya.
Amat membuka map tebal yang diberikan oleh Pak Kartono, map
yang berisi dokumen-dokumen yang selama bertahun-tahun tersembunyi di lemari
besi kecil di kamar Pak Karto. Ia meletakkannya di atas meja Pak Arjuna, dengan
tangan yang tidak lagi gemetar, dengan hati yang sudah bulat.
"Pak Kades, ini adalah dokumen-dokumen yang diberikan
oleh Pak Kartono. Bukti-bukti tentang praktik-praktik yang tidak transparan
dalam pemerintahan desa di era Pak Iwan. Laporan keuangan yang tidak sesuai,
izin-izin yang diterbitkan tanpa prosedur, kontrak-kontrak proyek yang
merugikan desa, dan daftar nama-nama orang yang terlibat."
Pak Arjuna mengambil map itu, membuka halaman demi halaman,
membaca dokumen-dokumen yang ada di dalamnya. Wajahnya yang biasanya tenang dan
penuh senyum berubah dari serius menjadi tegang, dari tegang menjadi marah,
dari marah menjadi muak. Matanya yang tajam meneliti setiap angka, setiap tanda
tangan, setiap nama yang tercantum. Tangannya yang memegang lembaran-lembaran
kertas itu bergetar, bukan karena takut, tetapi karena emosi yang membanjiri
hatinya.
"Ini... ini luar biasa. Jumlahnya sangat besar.
Puluhan juta, mungkin ratusan juta rupiah yang seharusnya menjadi hak warga
desa, yang seharusnya digunakan untuk pembangunan desa, yang seharusnya
meningkatkan kesejahteraan warga, hilang begitu saja. Menguap. Masuk ke
kantong-kantong pribadi. Dan orang-orang yang terlibat... ada nama-nama yang
masih aktif di desa. Ada nama-nama yang masih duduk di pemerintahan desa. Ada
nama-nama yang menjadi tokoh masyarakat. Ada nama-nama yang mungkin masih
tersenyum pada kita setiap hari."
Pak Arjuna meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja,
menatap Amat, Camelia, dan Pak Kartono bergantian. "Apa yang akan kita
lakukan?" tanyanya, suaranya berat, lelah, tetapi masih tegas.
Amat yang duduk di kursi di hadapan Pak Arjuna, menjawab
dengan suara yang tidak ragu-ragu. "Kita harus melaporkan ini ke pihak
yang berwenang, Pak. Ke kepolisian, ke kejaksaan, ke inspektorat. Kita harus
membongkar semuanya. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Tidak boleh ada yang
diberi ampun. Warga desa berhak tahu apa yang terjadi dengan desa mereka.
Mereka berhak tahu bahwa uang mereka digunakan dengan benar. Mereka berhak tahu
bahwa ada yang bertanggung jawab atas semua ini."
Camelia yang duduk di samping Amat, menambahkan dengan
suara yang lebih hati-hati. "Tapi kita harus cerdas, Pak. Kita tidak bisa
gegabah. Dokumen-dokumen ini adalah bom waktu. Jika kita membukanya tanpa
persiapan yang matang, bisa meledak di tangan kita. Kita bisa membuat
musuh-musuh yang kuat, yang tidak akan segan-segan melakukan apa pun untuk
melindungi kepentingan mereka. Kita harus memastikan bahwa kita memiliki
kekuatan yang cukup untuk melindungi diri kita dan keluarga kita. Kita harus
memastikan bahwa kita memiliki dukungan dari warga, dari aparat, dari
pihak-pihak yang berwenang."
Pak Arjuna mengangguk, merenungkan kata-kata Camelia.
"Camelia benar. Kita harus hati-hati. Kita tidak bisa gegabah. Saya akan
membawa ini ke tingkat yang lebih tinggi. Ke kejaksaan, ke kepolisian. Tapi
saya butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya. Saya butuh waktu untuk
memastikan bahwa bukti-bukti ini cukup kuat. Saya butuh waktu untuk memastikan
bahwa kita memiliki perlindungan yang cukup. Amat, kamu yang menjaga dokumen
ini. Jangan sampai jatuh ke tangan yang salah. Jangan sampai orang-orang yang
terlibat tahu bahwa kita memiliki ini sebelum waktunya."
Amat mengambil map itu, memegangnya erat-erat di dadanya.
"Saya akan menjaganya, Pak. Dengan hidup saya. Dokumen ini tidak akan
jatuh ke tangan yang salah. Saya janji."
Pak Arjuna menatap Amat dengan saksama, melihat mata biru
pemuda itu yang menyala dengan tekad. "Aku percaya padamu, Amat. Tapi
ingat, ini bukan hanya tentang dokumen. Ini tentang desa kita. Ini tentang masa
depan kita. Ini tentang anak cucu kita. Jangan sampai keberanianmu membawa
petaka. Jangan sampai semangatmu untuk menegakkan kebenaran membuatmu lupa akan
keselamatan dirimu dan orang-orang di sekitarmu."
Amat mengangguk. "Saya akan berhati-hati, Pak. Saya
tidak akan gegabah. Tapi saya juga tidak akan diam. Kebenaran harus ditegakkan.
Keadilan harus ditegakkan. Desa ini layak mendapatkan pemimpin yang jujur,
pemerintahan yang bersih, masa depan yang cerah."
Malam itu, setelah pertemuan dengan Pak Arjuna, setelah Pak
Kartono pulang ke rumahnya dengan langkah yang sedikit lebih ringan, Amat,
Raka, dan Camelia duduk di beranda rumah Amat. Sumirah menyiapkan teh jahe
hangat untuk mereka, duduk di kursi bambu di sudut beranda, mendengarkan
percakapan anak-anak muda itu dengan senyum tipis, dengan mata yang penuh
kekhawatiran meskipun ia tidak mengatakannya.
"Kita akan menghadapi musuh yang kuat," kata
Camelia, membuka buku catatannya, membaca ulang nama-nama yang tercantum dalam
dokumen Pak Kartono. "Orang-orang ini punya uang, punya koneksi, punya
kekuasaan. Mereka tidak akan segan-segan melakukan apa pun untuk melindungi
diri mereka. Kita harus siap."
Raka yang biasanya ceria, yang selalu punya lelucon untuk
setiap situasi, kali ini serius. "Aku tidak takut. Selama kita bersama,
selama kita punya kebenaran di pihak kita, kita bisa menghadapi siapa pun. Tapi
kita harus cerdik. Kita tidak bisa gegabah. Kita harus punya strategi."
Amat yang duduk di kursi kayu, memegang map tebal di
pangkuannya, merasa beban yang sangat berat di pundaknya. "Kita tidak
sendirian. Ada Pak Arjuna. Ada Pak Kartono. Ada warga yang mendukung kita. Ada
Pak Darmo dan petani-petani lain yang merasakan langsung ketidakadilan. Kita
akan bangun koalisi. Kita akan kumpulkan dukungan. Kita akan pastikan bahwa
ketika kita membuka ini, kita tidak sendirian."
Sumirah yang mendengar percakapan mereka, berdiri dan
berjalan mendekat. Ia meletakkan tangannya di pundak Amat, merasakan getaran
dari tubuh anaknya yang tegang. "Nak, Ibu tidak bisa melarangmu. Kamu
sudah dewasa. Kamu sudah punya pendirian. Tapi ingat, apa pun yang terjadi, Ibu
akan selalu mendukungmu. Ibu akan selalu mendoakanmu. Ibu akan selalu ada di
sini, menunggumu pulang."
Amat menatap ibunya, melihat rambut yang sudah memutih,
wajah yang sudah berkeriput, mata yang masih penuh kasih sayang. "Terima
kasih, Bu. Maaf kalau anak Ibu membuat Ibu khawatir. Tapi ini harus dilakukan.
Untuk Pak Darmo, untuk petani-petani lain, untuk desa ini, untuk masa depan.
Saya tidak bisa diam."
Di luar, langit Awan Biru mulai gelap, tetapi
bintang-bintang mulai berkelap-kelip satu per satu, seperti lampu-lampu kecil
yang dinyalakan di langit. Kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng
bukit, tetapi tidak setebal dulu, mungkin karena desa yang mulai berubah. Di
kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak, dengan kanopinya yang rimbun,
dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan penjaganya yang setia menunggu.
Dan di dalam hati Amat, ada keyakinan yang tidak bisa
digoyahkan: bahwa kebenaran akan menang, bahwa keadilan akan ditegakkan, bahwa
desa ini akan selamat. Bukan karena kekuatannya, bukan karena kepintarannya,
tetapi karena ia tidak sendirian. Ada sahabat-sahabat di sampingnya, ada
keluarga yang mendukungnya, ada warga yang percaya padanya, ada leluhur yang
menjaganya, dan ada Tuhan yang tidak pernah tidur.
BAB 29: Dokumen Tua yang Mengubah Segalanya
Di sela-sela kesibukannya membantu pemerintahan desa, di
antara rapat-rapat perencanaan pembangunan yang kadang berlangsung hingga larut
malam, di antara sesi-sesi pelatihan digital marketing di Ruang Komunitas yang
selalu dipenuhi oleh warga yang antusias belajar hal baru, di antara
pendampingan kepada Pak Darmo dan petani-petani lain yang masih trauma dengan
pengusiran paksa beberapa minggu lalu, Amat terus melakukan penelitian tentang
sejarah desa. Bukan karena ia ingin menjadi sejarawan, bukan karena ia ingin
menulis buku tentang Awan Biru, bukan karena ia ingin memamerkan pengetahuannya
di depan orang lain. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang belum ia pahami tentang
desa ini, ada sesuatu yang tersembunyi di balik cerita-cerita yang selama ini
ia dengar dari Mbah Ratih, ada sesuatu yang mungkin menjadi kunci untuk
memahami konflik-konflik yang terus berulang, ada sesuatu yang mungkin
menjelaskan mengapa tanah-tanah leluhur begitu mudah berpindah tangan, mengapa
orang-orang yang seharusnya menjaga desa malah menjadi bagian dari masalah,
mengapa keadilan begitu sulit ditegakkan.
Ia sering mengunjungi rumah Mbah Ratih yang kini di tempati
oleh anaknya, sebelum meninggal lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat
tidur atau di kursi goyang di pendopo, yang ingatannya kadang-kadang masih
jernih seperti air di sumur tua, kadang-kadang kabur seperti kabut di pagi
hari, untuk membaca buku-buku kuno dan mendengarkan cerita-cerita lama.
Buku-buku itu adalah warisan dari leluhur yang telah dijaga selama bergenerasi,
ditulis di atas lontar dengan aksara Jawa kuno, ada juga yang ditulis di atas
kertas daluang dengan tinta dari getah pohon, ada juga yang merupakan campuran
antara aksara Jawa dan huruf Latin dari zaman kolonial. Amat membacanya satu
per satu, perlahan, dengan sabar, dengan rasa hormat yang mendalam. Ia tidak
hanya membaca kata-katanya, tetapi juga mencoba memahami konteksnya, mencoba
membayangkan bagaimana kehidupan di desa ini pada masa-masa ketika
dokumen-dokumen itu ditulis, mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh leluhur
ketika mereka menuliskan kata-kata itu dengan tangan mereka sendiri, dengan
harapan bahwa suatu hari nanti akan ada yang membacanya, akan ada yang
mengerti, akan ada yang melanjutkan apa yang mereka mulai.
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan
cahayanya yang jingga keemasan masuk melalui jendela kamar Mbah Ratih,
menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh di lantai kayu yang sudah berusia
ratusan tahun, Amat sedang membaca salah satu lontar kuno yang diberikan Mbah
Ratih bertahun-tahun lalu. Lontar itu adalah yang paling tebal di antara
koleksinya, dengan lembaran-lembaran yang disusun rapi, dengan tali dari serat
nanas yang mengikatnya. Amat sudah membacanya berkali-kali, sudah hafal dengan
isinya, sudah mencatatnya di buku catatan Camelia. Tetapi sore itu, ketika ia
membalik halaman demi halaman, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia lihat
sebelumnya. Di antara lembaran-lembaran lontar itu, di sela-sela halaman yang
mungkin tidak pernah ia buka karena terlalu rapuh, terselip sebuah dokumen yang
tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dokumen itu bukan ditulis di atas lontar,
bukan juga di atas kertas daluang seperti yang biasa ia baca. Dokumen itu
ditulis di atas kertas Eropa yang sangat tua, kertas yang tebal dan bertekstur
kasar, dengan tanda air yang menunjukkan bahwa kertas itu berasal dari pabrik
kertas di Belanda pada abad ke-19. Tintanya sudah memudar, berwarna coklat
kemerahan, hampir tidak terbaca di beberapa bagian. Tetapi bentuknya masih
jelas, tulisannya masih bisa dikenali sebagai tulisan tangan dengan pena bulu,
dengan gaya kaligrafi yang rapi dan terstruktur, menunjukkan bahwa dokumen ini
ditulis oleh seseorang yang terlatih, mungkin seorang notaris atau pejabat
kolonial.
Amat membawa dokumen itu ke tempat yang lebih terang, ke
dekat jendela di mana cahaya matahari sore masih cukup kuat. Ia membaca dengan
saksama, berusaha memahami tulisan yang hampir tidak terbaca. Matanya yang biru
bergerak perlahan mengikuti baris-baris tulisan yang memudar, sesekali berhenti
untuk menerka-nerka kata yang tidak jelas, sesekali mengernyit ketika menemukan
kata-kata dalam bahasa Belanda yang tidak ia pahami. Perlahan, dengan susah
payah, ia mulai mengerti isinya. Dan ketika ia mulai mengerti, jantungnya
berdebar lebih cepat, tangannya gemetar memegang kertas tua yang rapuh itu,
napasnya terasa sesak di dadanya.
Dokumen itu adalah surat perjanjian antara leluhur Desa
Awan Biru dengan pemerintah kolonial Belanda. Perjanjian itu ditandatangani
pada tanggal 15 Agustus 1857, lebih dari seratus enam puluh tahun yang lalu.
Ada dua nama yang tercantum di bagian bawah surat itu: satu nama Belanda,
seorang residen yang bertugas di wilayah ini pada masa itu, dan satu nama Jawa,
Kyai Jayasengkala, tetua desa yang pada masa itu memimpin Awan Biru. Tanda
tangan mereka masih terlihat, meskipun sudah pudar, meskipun kertasnya sudah
rapuh. Isinya mengejutkan: leluhur desa setuju untuk "menyewakan"
sebagian Hutan Larangan kepada pemerintah kolonial untuk diambil kayunya,
dengan imbalan pembangunan infrastruktur, jalan, jembatan, irigasi dan
pengakuan atas hak-hak adat desa yang selama itu tidak diakui oleh pemerintah
kolonial.
Tapi ada yang lebih mengejutkan. Di bagian akhir surat itu,
setelah klausul-klausul yang panjang tentang hak dan kewajiban kedua belah
pihak, tercantum sebuah klausul yang ditulis dengan huruf yang lebih kecil,
seolah-olah sengaja disembunyikan, seolah-olah tidak ingin mudah dibaca oleh
siapa pun yang melihat dokumen ini. Klausul itu menyatakan bahwa "hak atas
tanah-tanah di sekitar Hutan Larangan, termasuk tanah-tanah yang saat ini
digarap oleh warga desa untuk pertanian dan pemukiman, juga diserahkan kepada
pemerintah kolonial sebagai jaminan atas pelaksanaan perjanjian ini." Itu
berarti, secara hukum kolonial, tanah-tanah yang sekarang menjadi sumber
konflik, tanah-tanah yang selama puluhan tahun digarap oleh Pak Darmo dan
petani-petani lain, tanah-tanah yang dianggap sebagai warisan leluhur, bukan milik
desa, tetapi milik Negara dan setelah kemerdekaan, menjadi milik pemerintah
Indonesia.
Amat terhenyak. Ia duduk di kursi kayu di samping tempat
tidur Mbah Ratih, dengan dokumen itu di tangannya, dengan pikiran yang kacau,
dengan perasaan yang campur aduk. Ini mengubah segalanya. Jika dokumen ini
benar, jika perjanjian ini masih dianggap sah secara hukum, maka klaim
pengusaha itu mungkin memiliki dasar hukum yang kuat. Tanah-tanah itu memang
bukan milik desa. Tanah-tanah itu telah diserahkan kepada pemerintah kolonial
lebih dari seratus enam puluh tahun yang lalu, dan setelah kemerdekaan, menjadi
milik pemerintah Indonesia. Pengusaha itu mungkin telah membeli tanah-tanah itu
dari pemerintah, mungkin melalui prosedur yang benar, mungkin dengan dokumen
yang sah.
Tapi di sisi lain, perjanjian itu dibuat di masa kolonial,
ketika warga desa tidak memiliki posisi tawar yang setara. Kyai Jayasengkala
dan para tetua desa lainnya menandatangani perjanjian itu di bawah tekanan,
dengan senjata, dengan ancaman. Jika mereka tidak menandatangani, desa ini bisa
dibakar, warganya bisa dibunuh, tanah mereka bisa dirampas dengan paksa. Apakah
perjanjian yang dibuat di bawah paksaan seperti itu masih berlaku? Apakah adil?
Apakah moral? Apakah keturunan mereka harus terus menanggung beban dari
keputusan yang dibuat oleh leluhur mereka dalam keadaan yang tidak bebas?
Amat menatap Anak Mbah Buyut Ratih yang sedang terbaring
lemah di tempat tidurnya, dengan selimut tipis menutupi tubuhnya yang semakin
kurus, dengan wajah yang penuh kerutan, dengan mata yang masih tajam meskipun
tubuhnya sudah renta. "Mbah, saya menemukan sesuatu. Dokumen ini terselip
di antara lontar-lontar yang Mbah Buyut berikan dulu. Saya tidak tahu kalau ada
dokumen ini. Ini... ini surat perjanjian antara leluhur kita dengan pemerintah
kolonial. Tentang Hutan Larangan. Tentang tanah-tanah di sekitarnya. Ini
mengubah segalanya, Mbah. Ini bisa menjadi senjata bagi pengusaha itu untuk
memperkuat klaim mereka. Ini bisa membuat perjuangan Pak Darmo dan petani-petani
lain menjadi sia-sia."
Anak Mbah Buyut Ratih yang terbaring lemah di tempat
tidurnya, mendengar kata-kata Amat, membuka matanya yang semula terpejam.
Matanya yang tua tetapi masih tajam itu menatap dokumen di tangan Amat, menatap
kertas tua yang sudah menguning, menatap tinta yang sudah memudar, menatap
tanda tangan Kyai Jayasengkala yang sudah hampir tidak terbaca. Air matanya
mengalir, membasahi pipinya yang keriput, membasahi bantal di bawah kepalanya.
"Ini... dari mana kamu mendapatkannya, Nak?"
tanyanya dengan suara yang bergetar, suara yang keluar dari paru-paru yang
sudah tua, suara yang membawa beban yang telah ia pikul selama puluhan tahun.
"Dokumen itu seharusnya tersembunyi. Dokumen itu seharusnya tidak pernah
ditemukan. Dokumen itu seharusnya menjadi rahasia yang dibawa mati oleh para
tetua desa."
Amat mendekat, meraih tangan Anak Mbah Buyut Ratih yang keriput dan dingin. "Terselip
di antara lontar-lontar yang Mbah Buyut berikan dulu, Mbah. Mungkin terlepas
dari tempatnya, mungkin terselip secara tidak sengaja. Saya tidak tahu. Tapi saya
menemukannya. Dan saya membacanya. Mbah, apakah Mbah tahu tentang dokumen ini?
Apakah Mbah tahu isinya?"
Anak Mbah Buyut Ratih menghela napas panjang, napas yang
keluar dari dadanya yang sesak, napas yang melepaskan beban yang telah ia
pendam selama bertahun-tahun. "Aku tahu, Nak. Aku tahu tentang dokumen
itu. Itu adalah rahasia yang dijaga oleh para tetua desa sejak zaman kolonial.
Kakekku, yang menjadi tetua saat itu, penerus Kyai Jayasengkala, yang menyimpan
dokumen ini. Beliau mewariskannya kepada ayahku, dan ayahku mewariskannya
kepadaku. Aku menyimpannya di antara lontar-lontar itu, berharap tidak akan
pernah ditemukan. Berharap bahwa rahasia ini akan mati bersamaku. Tapi mungkin
ini sudah takdir. Mungkin sudah waktunya rahasia ini terungkap."
"Kenapa Mbah menyembunyikannya? Kenapa Mbah tidak
pernah memberitahu siapa pun?"
Anak Mbah Buyut Ratih menatap Amat dengan mata yang penuh
dengan kesedihan, dengan penyesalan, dengan rasa bersalah yang telah ia pendam
selama bertahun-tahun. "Kakekku tidak setuju dengan perjanjian itu, Nak.
Beliau tahu bahwa perjanjian itu tidak adil. Beliau tahu bahwa Kyai
Jayasengkala menandatanganinya di bawah paksaan. Belanda datang dengan senjata,
dengan tentara, dengan ancaman. Jika tidak menandatangani, desa ini bisa dibakar.
Warga bisa dibunuh. Tanah bisa dirampas dengan paksa. Kyai Jayasengkala tidak
punya pilihan. Beliau menandatangani untuk menyelamatkan desa, untuk
menyelamatkan warganya. Tapi beliau juga tahu bahwa perjanjian itu akan menjadi
beban bagi keturunannya. Beliau tahu bahwa tanah-tanah yang selama ini menjadi
sumber penghidupan warga akan hilang. Beliau tahu bahwa suatu hari nanti,
keturunannya harus berjuang melawan dokumen ini."
Anak Mbah Buyut Ratih berhenti sejenak, berusaha mengatur
napasnya yang mulai sesak. "Kakekku menyimpan dokumen ini, tidak
menghancurkannya, karena beliau berharap bahwa suatu hari nanti, ketika keadaan
sudah lebih adil, dokumen ini bisa digunakan untuk membatalkan perjanjian yang
tidak adil itu. Tapi setelah kemerdekaan, setelah Indonesia merdeka, tidak ada
yang berani membawa masalah ini ke permukaan. Ada yang takut, ada yang tidak
peduli, ada yang lebih memilih melupakan. Dokumen ini terus berpindah dari satu
tetua ke tetua lain, tanpa pernah dibuka, tanpa pernah dibicarakan. Dan
akhirnya sampai kepadaku. Aku memilih untuk menyembunyikannya. Aku tidak punya
keberanian untuk membukanya. Aku takut. Takut pada apa yang akan terjadi jika
rahasia ini terungkap."
Amat menggenggam tangan Anak Mbah Buyut Ratih lebih erat.
"Mbah tidak perlu takut. Sekarang ada saya. Ada Camelia. Ada Raka. Ada Pak
Arjuna. Kita akan hadapi ini bersama. Kita tidak akan biarkan dokumen ini
digunakan untuk merampas hak-hak warga. Tapi kita juga tidak bisa
menyembunyikannya. Kebenaran harus ditegakkan. Warga desa berhak tahu."
Anak Mbah Ratih menatap Amat dengan mata yang penuh
harapan, mata yang sudah lama tidak melihat keberanian seperti ini, mata yang
mungkin sudah putus asa tetapi kini melihat secercah cahaya. "Kau harus
memutuskan sendiri, Nak. Kau adalah penjaga desa ini. Tugasmu bukan hanya
menjaga dari makhluk-makhluk gaib di Hutan Larangan. Tugasmu juga menjaga
keadilan untuk warganya. Dokumen ini bisa menjadi senjata, tetapi juga bisa
menjadi bom yang meledakkan desa ini. Gunakan dengan bijak. Gunakan dengan
hati-hati. Dan ingat, apa pun yang terjadi, leluhur akan selalu
menjagamu."
Amat membawa dokumen itu ke Pak Arjuna. Ia datang ke kantor
desa pada malam hari, setelah semua perangkat desa pulang, setelah ruang-ruang
kantor kosong dan sunyi. Ia ingin berbicara dengan Pak Arjuna dalam suasana
yang tenang, tanpa gangguan, tanpa orang-orang yang mungkin tidak perlu tahu.
Camelia dan Pak Kartono juga diundang. Mereka duduk di ruang kerja Pak Arjuna,
dengan dokumen itu terbuka di atas meja, dengan lampu meja yang menyala terang,
dengan teh jahe hangat yang diseduh oleh Bu Yuni sebelum ia pulang.
Pak Arjuna membaca dokumen itu dengan saksama, membacanya
berulang kali, memeriksa setiap kata, setiap klausul, setiap tanda tangan.
Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh senyum itu berubah menjadi serius,
tegang, muak. "Ini mengubah segalanya. Jika pengusaha itu tahu tentang
dokumen ini, mereka bisa menggunakannya untuk memperkuat klaim mereka. Mereka
bisa mengatakan bahwa tanah-tanah itu bukan milik desa, bahwa tanah-tanah itu
telah diserahkan kepada pemerintah kolonial lebih dari seratus enam puluh tahun
yang lalu, bahwa mereka telah membelinya secara sah dari pemerintah."
Camelia yang duduk di samping Amat, dengan buku catatan di
pangkuannya, pikirannya bekerja cepat. "Atau sebaliknya, Pak. Kita bisa
menggunakan dokumen ini untuk membatalkan klaim mereka. Perjanjian kolonial
tidak sah. Ada banyak putusan Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa
perjanjian-perjanjian yang dibuat di masa kolonial tidak mengikat setelah
kemerdekaan. Apalagi perjanjian ini dibuat di bawah paksaan. Itu bisa menjadi
dasar untuk membatalkannya. Kita bisa menggugat ke pengadilan, meminta
pembatalan perjanjian ini. Tapi prosesnya panjang. Bisa bertahun-tahun.
Sementara warga kita sudah menderita. Pak Darmo dan petani-petani lain tidak
bisa menunggu bertahun-tahun."
Amat yang duduk di kursi kayu di hadapan Pak Arjuna, merasa
beban yang sangat berat di pundaknya. "Kita harus mencari jalan tengah,
Pak. Kita tidak bisa mengembalikan semua tanah. Perjanjian itu sudah
berlangsung lebih dari seratus enam puluh tahun. Banyak hal yang sudah berubah.
Status tanah sudah berpindah tangan berkali-kali. Tapi kita juga tidak bisa
membiarkan warga kita kehilangan tanah mereka tanpa kompensasi yang adil. Kita harus
bernegosiasi. Kita harus mencari solusi yang menguntungkan semua pihak."
Pak Arjuna mengangguk, merenungkan kata-kata Amat.
"Amat benar. Kita harus mencari jalan tengah. Saya akan menghubungi
pengusaha itu, menawarkan negosiasi. Kita tidak bisa mengembalikan semua tanah,
tapi setidaknya kita bisa memastikan bahwa warga yang selama ini menggarap
tanah itu mendapatkan kompensasi yang adil. Atau lebih baik, kita jadikan
mereka mitra dalam pengembangan wisata. Mereka tidak kehilangan mata
pencaharian, dan desa mendapatkan investasi. Itu solusi yang lebih baik
daripada konflik berkepanjangan."
Camelia yang pikirannya selalu berpacu dengan kecepatan
tinggi, langsung melihat potensi dalam ide Pak Arjuna. "Itu ide yang
bagus, Pak. Tapi apakah pengusaha itu mau bernegosiasi? Mereka sudah
mengeluarkan uang banyak untuk membeli tanah itu. Mereka mungkin tidak akan mau
berbagi keuntungan dengan warga desa. Apalagi mereka punya dokumen-dokumen yang
mereka anggap sah. Mereka merasa memiliki posisi yang kuat."
Amat yang duduk di samping Camelia, merasakan keyakinan
yang tumbuh di hatinya. "Kita punya leverage, Mel. Dokumen ini. Dan
bukti-bukti pemalsuan yang kita kumpulkan. Jika mereka tidak mau bernegosiasi,
kita akan bawa semua ini ke pengadilan dan ke media. Reputasi mereka akan
hancur. Nama perusahaan mereka akan tercoreng. Proyek mereka di tempat lain
akan terganggu. Mereka tidak akan mengambil risiko itu. Mereka akan mau
bernegosiasi."
Pak Arjuna tersenyum, bangga dengan pemikiran Amat yang
matang. "Kamu pikir seperti pengusaha, Amat. Bagus. Kita akan gunakan
pendekatan itu. Tapi ingat, tujuan akhirnya bukan untuk menghancurkan, tetapi
untuk menciptakan solusi yang menguntungkan semua pihak. Kita tidak ingin
menciptakan musuh baru. Kita ingin menciptakan mitra. Kita ingin desa ini maju,
tetapi dengan keadilan. Kita ingin warga sejahtera, tetapi tanpa mengorbankan
identitas. Itu yang harus kita perjuangkan."
Malam itu, setelah pertemuan dengan Pak Arjuna, Amat
kembali ke rumah Anak Mbah Buyut Ratih. Ia ingin memberitahu Anak Mbah Buyut
Ratih tentang rencana mereka, tentang strategi yang akan mereka jalankan,
tentang harapan bahwa keadilan masih mungkin ditegakkan. Ia juga ingin
mengembalikan dokumen itu, meskipun Mbah Ratih mungkin tidak menginginkannya
lagi.
Anak Mbah Buyut Ratih masih terbaring di tempat tidurnya,
dengan selimut tipis menutupi tubuhnya yang semakin kurus, dengan wajah yang
pucat karena usia dan penyakit. Tapi matanya masih tajam, masih jernih, masih
mampu melihat kebenaran di balik kegelapan. Ketika Amat masuk ke kamarnya, ia
tersenyum, senyum yang hangat, senyum yang penuh dengan kebijaksanaan, senyum
yang sudah menjadi ciri khasnya sejak Amat masih kecil.
"Kau datang, Nak. Aku tahu kau akan datang. Aku tahu
kau akan memberitahuku apa yang akan kalian lakukan."
Amat duduk di kursi kayu di samping tempat tidur Anak Mbah
Buyut Ratih, meraih tangannya yang dingin dan keriput. "Kami akan
bernegosiasi, Mbah. Kami akan mencari jalan tengah. Kami tidak akan membiarkan
dokumen ini digunakan untuk merampas hak-hak warga. Tapi kami juga tidak akan
menyembunyikannya. Kebenaran harus ditegakkan. Warga desa berhak tahu sejarah
desa mereka."
Anak Mbah Buyut Ratih mengangguk perlahan, gerakan yang
berat, tetapi penuh keyakinan. "Kau melakukan hal yang benar, Nak. Aku tidak
bisa membayangkan bagaimana rasanya membawa beban ini selama bertahun-tahun.
Tapi sekarang, dengan kalian, dengan generasi muda yang berani dan jujur, aku
merasa lega. Aku merasa bahwa warisan leluhur ini tidak akan sia-sia."
Amat mengeluarkan dokumen itu dari tasnya, meletakkannya di
atas meja kecil di samping tempat tidur Anak Mbah Buyut Ratih. "Mbah,
dokumen ini sebaiknya tetap bersama Mbah. Ini adalah warisan leluhur. Ini
adalah bagian dari sejarah desa kita. Tapi saya akan membuat salinannya, untuk
keperluan negosiasi. Saya akan menjaganya dengan baik. Saya tidak akan
membiarkannya jatuh ke tangan yang salah."
Anak Mbah Buyut Ratih menatap dokumen itu, menatap kertas
tua yang sudah menguning, menatap tinta yang sudah memudar, menatap tanda
tangan leluhurnya yang sudah hampir tidak terbaca. Air matanya mengalir lagi,
tetapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan, air mata
kebahagiaan, air mata bahwa beban yang selama ini ia pikul akhirnya bisa ia
lepaskan.
"Simpan saja, Nak. Aku tidak perlu lagi. Aku sudah
tua. Aku tidak akan lama lagi. Lebih baik dokumen itu ada di tanganmu. Kau yang
akan meneruskan perjuangan ini. Kau yang akan menjaga desa ini. Kau yang akan
memastikan bahwa sejarah tidak terulang. Aku percaya padamu, Amat. Aku percaya
pada kalian semua."
Amat menggenggam tangan Anak Mbah Buyut Ratih lebih erat,
merasakan dinginnya ujung jari yang dulu kuat memegang lontar-lontar kuno,
merasakan getaran dari tubuh yang semakin lemah, merasakan kehangatan dari hati
yang penuh dengan cinta untuk desa ini, untuk warganya, untuk leluhurnya.
"Saya tidak akan mengecewakan Mbah, Mbah. Saya akan menjaga desa ini. Saya
akan menegakkan keadilan. Saya akan memastikan bahwa sejarah tidak terulang.
Janji."
Di luar, langit Awan Biru mulai gelap, tetapi
bintang-bintang mulai berkelap-kelip satu per satu, seperti lampu-lampu kecil
yang dinyalakan di langit. Kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng
bukit, tetapi tidak setebal dulu, mungkin karena desa yang mulai berubah. Di
kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak, dengan kanopinya yang rimbun,
dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan penjaganya yang setia menunggu.
Dan di dalam hati Amat, ada keyakinan yang tidak bisa
digoyahkan: bahwa kebenaran akan menang, bahwa keadilan akan ditegakkan, bahwa
desa ini akan selamat. Bukan karena kekuatannya, bukan karena kepintarannya,
tetapi karena ia tidak sendirian. Ada sahabat-sahabat di sampingnya, ada
keluarga yang mendukungnya, ada warga yang percaya padanya, ada leluhur yang
menjaganya, dan ada Tuhan yang tidak pernah tidur.
BAB 30: Pilihan Berat Seorang Pengabdi Desa
Negosiasi antara pemerintah desa dan perwakilan pengusaha
berlangsung di Kantor desa pada suatu pagi ketika matahari baru saja muncul
dari balik Bukit Pangasih dan kabut tipis masih bergelayut di antara pepohonan.
Ruang rapat kantor desa yang biasanya digunakan untuk pertemuan-pertemuan rutin
itu hari ini ditata dengan lebih rapi dari biasanya. Meja panjang berbentuk
persegi panjang ditutup dengan taplak putih bersih yang dipinjam dari peralatan
PKK desa. Kursi-kursi kayu jati yang baru diatur berjajar rapi di kedua sisi
meja. Di dinding, peta Desa Awan Biru yang digambar oleh Camelia dengan sangat
detail dipajang, dengan titik-titik penjagaan dan area-area sengketa ditandai
dengan warna yang berbeda. Di sudut ruangan, ada meja kecil yang disediakan
untuk Amat, tempat ia akan menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan.
Suasana tegang, sangat tegang, lebih tegang dari
musyawarah-musyawarah sebelumnya. Namun ada perbedaan yang signifikan. Kali
ini, tidak ada teriakan-teriakan warga di luar balai desa, tidak ada
spanduk-spanduk protes yang berkibar, tidak ada aparat keamanan yang berjaga dengan
senjata lengkap. Kali ini, kedua belah pihak duduk berhadapan dengan kesadaran
bahwa konflik berkepanjangan tidak menguntungkan siapa pun. Pengusaha itu tidak
ingin investasinya terhambat oleh protes dan gugatan hukum yang berkepanjangan.
Pemerintah desa tidak ingin desanya terpecah oleh konflik yang tidak kunjung
selesai. Warga tidak ingin terus-menerus hidup dalam ketakutan dan
ketidakpastian.
Amat hadir sebagai staf administrasi yang menyiapkan
data-data, duduk di meja kecil di sudut ruangan dengan laptop terbuka di
hadapannya, dengan setumpuk dokumen yang sudah disusun rapi berdasarkan urutan
kepentingannya. Camelia hadir sebagai asisten Pak Arjuna, duduk di samping
kanan Pak Arjuna dengan buku catatan di pangkuannya, dengan pulpen di
tangannya, siap mencatat setiap poin penting yang akan dibahas. Pak Kartono
hadir sebagai saksi sejarah, duduk di kursi yang disediakan di belakang Pak
Arjuna, dengan wajah yang tenang tetapi matanya menunjukkan bahwa ia siap
memberikan kesaksian jika diperlukan. Dan Raka... Raka hadir membawa pecel
untuk semua peserta. Ia datang dengan langkah santai, dengan besek-besek
anyaman bambu di kedua tangannya, dengan senyum lebar yang tidak bisa ia
sembunyikan, dengan aroma bumbu kacang yang langsung menyebar ke seluruh ruangan.
"Makan dulu," kata Raka dengan ceria, meletakkan
besek-besek pecel di atas meja panjang, di hadapan perwakilan pengusaha dan
pengacaranya. Ia membuka tutup besek satu per satu, memperlihatkan pecel dengan
sambal yang menggoda, kerupuk yang renyah, tahu dan tempe goreng yang masih
hangat. "Perut lapar bikin pikiran keruh. Perut kenyang bikin hati tenang.
Hati tenang bikin otak encer. Otak encer bikin negosiasi lancar. Jadi, makan
dulu. Nanti kita bicara."
Perwakilan pengusaha, seorang pria paruh baya dengan wajah
tegas dan rambut yang mulai memutih di pelipis, bernama Hadi Pranoto. Ia adalah
pengusaha properti yang sudah malang melintang di berbagai proyek di kabupaten
dan provinsi. Ia sudah terbiasa dengan negosiasi, sudah terbiasa dengan
tekanan, sudah terbiasa dengan konflik. Tapi ia belum pernah bertemu dengan
situasi seperti ini. Di satu sisi, ia memiliki dokumen-dokumen yang secara
hukum sah. Sertifikat-sertifikat tanah yang ia beli dikeluarkan oleh Badan
Pertanahan Kabupaten, dengan stempel resmi, dengan tanda tangan pejabat yang
berwenang. Di sisi lain, ia berhadapan dengan warga desa yang telah menggarap
tanah itu selama puluhan tahun, yang menganggap tanah itu sebagai warisan
leluhur, yang tidak pernah menjualnya, yang tidak pernah menandatangani apa
pun. Ia juga berhadapan dengan pemerintah desa yang dipimpin oleh kepala desa
muda yang idealis, yang didukung oleh anak-anak muda yang berani dan cerdas,
yang memiliki bukti-bukti pemalsuan dokumen yang tidak bisa ia abaikan.
Ia tersenyum kecut melihat pecel yang disajikan Raka,
tetapi tetap mengambil satu porsi. Rasanya... enak. Bukan hanya enak, tetapi
sangat enak. Ia belum pernah makan pecel seenak ini. Bumbu kacangnya kental
tetapi tidak enek, ada rasa manis dari gula merah, gurih dari kacang, pedas
dari cabai yang menyengat tapi tidak berlebihan, dan ada aroma kencur yang
segar. Kerupuknya renyah, tahu dan tempe gorengnya masih hangat. Untuk sesaat,
ia lupa bahwa ia sedang berada di tengah negosiasi yang tegang. Untuk sesaat,
ia hanya seorang pria paruh baya yang sedang menikmati sarapan yang lezat.
Suasana sedikit mencair. Bahkan pengacaranya, yang biasanya kaku dan formal,
ikut mengambil pecel.
Pak Arjuna membuka negosiasi dengan nada diplomatis, dengan
suara yang tenang tetapi tegas, dengan pilihan kata yang cermat, dengan bahasa
yang tidak menyerang tetapi juga tidak menunjukkan kelemahan. "Kita semua
tahu bahwa masalah ini sudah berlangsung lama. Sudah berbulan-bulan, bahkan
mungkin bertahun-tahun jika kita hitung sejak awal konflik ini muncul. Banyak
pihak yang dirugikan. Warga yang kehilangan mata pencaharian. Investor yang
investasinya terhambat. Pemerintah desa yang harus mengeluarkan energi dan
sumber daya untuk menengahi konflik. Tapi saya percaya, masih ada jalan keluar.
Masih ada solusi yang bisa menguntungkan semua pihak. Bukan solusi yang membuat
satu pihak menang dan pihak lain kalah. Bukan solusi yang hanya menguntungkan
segelintir orang. Tetapi solusi yang adil, solusi yang berpihak pada kebenaran,
solusi yang bisa menjadi fondasi bagi pembangunan desa yang
berkelanjutan."
Perwakilan pengusaha, Hadi Pranoto, yang sudah selesai
menyantap pecelnya, mengelap mulutnya dengan tisu yang disediakan, dan mulai
berbicara dengan suara yang tegas, suara seorang pengusaha yang terbiasa mengambil
keputusan cepat. "Pak Kades, saya hargai niat baik Bapak. Saya juga hargai
upaya Bapak untuk mencari solusi yang adil. Tapi saya harus jujur, saya sudah
menginvestasikan banyak uang di sini. Bukan uang kecil, Pak. Puluhan juta
rupiah sudah saya keluarkan untuk membeli tanah-tanah itu, untuk mengurus
sertifikat, untuk membayar pajak, untuk membiayai studi kelayakan. Tanah-tanah
itu sudah saya beli secara sah. Saya punya sertifikat. Saya punya bukti
pembayaran. Saya punya dokumen-dokumen yang lengkap. Saya tidak bisa mundur
begitu saja. Saya tidak bisa mengorbankan investasi saya hanya karena ada warga
yang merasa dirugikan. Saya juga punya tanggung jawab kepada perusahaan saya,
kepada karyawan saya, kepada keluarga saya."
Pak Arjuna mengangguk, mengerti posisi pengusaha itu.
"Saya mengerti, Pak Hadi. Saya mengerti bahwa Bapak sudah mengeluarkan
banyak uang. Saya mengerti bahwa Bapak punya dokumen yang sah secara hukum.
Tapi Bapak juga harus mengerti bahwa warga kami yang menggarap tanah itu selama
puluhan tahun, yang menggantungkan hidup pada tanah itu, yang tidak punya
sumber penghidupan lain, merasa dirugikan. Mereka tidak pernah menjual tanah
itu. Mereka tidak pernah menandatangani surat apa pun. Mereka tidak pernah
menerima uang sepeser pun. Dokumen-dokumen yang menjadi dasar pembelian Bapak,
menurut temuan kami, mengandung kejanggalan. Ada pemalsuan tanda tangan, ada
transaksi yang melibatkan orang yang sudah meninggal, ada prosedur-prosedur
yang dilompati. Itu bukan sekadar masalah administrasi, Pak. Itu kriminal. Itu
tindak pidana."
Wajah Hadi Pranoto berubah. Ia tidak menyangka bahwa
pemerintah desa memiliki bukti-bukti sekuat itu. Ia menoleh ke arah
pengacaranya, Firman Santoso, yang duduk di sampingnya dengan koper kulit yang
mahal. "Itu tuduhan serius, Pak Kades. Tuduhan yang bisa merusak reputasi
perusahaan saya. Tuduhan yang bisa membuat saya kehilangan kepercayaan dari
mitra-mitra bisnis saya. Tuduhan yang bisa menghancurkan apa yang sudah saya
bangun selama bertahun-tahun."
"Itu fakta, Pak. Bukan tuduhan. Fakta yang kami
temukan setelah melakukan investigasi selama berbulan-bulan. Dan kami punya
buktinya. Bukti-bukti yang tidak bisa dibantah."
Amat berdiri dari meja kecil di sudut ruangan, membawa
setumpuk dokumen yang sudah disusun rapi. Ia berjalan ke meja panjang,
meletakkan dokumen-dokumen itu di hadapan Hadi Pranoto dan Firman Santoso. Satu
per satu ia tunjukkan. Surat rekomendasi dari desa dengan tanda tangan palsu.
Rekening koran yang menunjukkan aliran uang dari perusahaan klien ke rekening
pribadi oknum perangkat desa. Sertifikat-sertifikat yang diterbitkan dalam
waktu yang tidak normal. Nama-nama penjual yang sudah meninggal dunia sebelum
transaksi dilakukan. Semua didukung oleh data, oleh fakta, oleh bukti yang
tidak bisa dibantah.
Pengacara Firman Santoso memeriksa dokumen-dokumen itu
dengan saksama, dengan wajah yang semakin pucat, dengan tangan yang gemetar. Ia
adalah pengacara yang berpengalaman, sudah menangani puluhan kasus pertanahan,
sudah terbiasa dengan dokumen-dokumen palsu. Tapi ia belum pernah melihat
bukti-bukti sekokoh ini. Setiap klausul, setiap angka, setiap tanda tangan,
semuanya tertata rapi, semuanya terstruktur, semuanya saling terkait. Tidak ada
celah. Tidak ada keraguan. Ia menoleh ke arah kliennya, berbisik sesuatu dengan
suara pelan.
"Klien saya tidak tahu tentang ini, Pak Kades,"
kata Firman Santoso cepat, berusaha menyelamatkan situasi, berusaha melindungi
kliennya dari implikasi hukum yang mungkin timbul. "Kami membeli tanah itu
dengan itikad baik. Kami mengira semua dokumen sah. Kami mengira semua prosedur
sudah diikuti. Jika ada oknum yang melakukan kecurangan, itu di luar tanggung
jawab klien saya. Klien saya adalah korban, sama seperti warga desa."
Pak Arjuna tersenyum, senyum yang menunjukkan bahwa ia
sudah mendengar jawaban itu sebelumnya. "Bagus kalau begitu. Karena kita
sama-sama ingin keadilan. Sama-sama ingin kebenaran ditegakkan. Sama-sama ingin
masalah ini selesai dengan baik. Saya usulkan kita cari jalan tengah. Solusi
yang menguntungkan semua pihak. Bukan solusi yang membuat satu pihak menang dan
pihak lain kalah. Bukan solusi yang hanya menguntungkan segelintir orang."
Pak Arjuna mengeluarkan kertas yang sudah disiapkan, berisi
poin-poin usulan yang telah didiskusikan dengan tim perencanaan desa, dengan
Amat, Camelia, dan Pak Karto. "Tanah-tanah yang menjadi sengketa tidak
usah dikembalikan sepenuhnya. Itu tidak realistis. Proses hukumnya panjang,
biayanya besar, dan hasilnya tidak pasti. Tapi warga yang selama ini menggarap
tanah itu harus menjadi mitra dalam pengembangan wisata yang akan Bapak bangun.
Mereka tidak boleh kehilangan mata pencaharian. Mereka harus dilibatkan. Mereka
harus mendapatkan manfaat dari investasi yang Bapak tanamkan di desa ini. Ada
beberapa opsi: mereka bisa dipekerjakan di proyek wisata, dengan upah yang
layak. Atau mereka diberi saham, sehingga mereka ikut menikmati keuntungan.
Atau kompensasi lain yang adil, yang disepakati bersama. Itu bukan hanya
masalah keadilan, Pak. Itu juga masalah keberlanjutan. Jika warga desa merasa
dirugikan, mereka akan terus melawan. Konflik tidak akan pernah selesai.
Investasi Bapak tidak akan pernah berjalan lancar. Tapi jika warga desa merasa
dilibatkan, jika mereka merasa menjadi bagian dari pembangunan ini, mereka akan
menjadi mitra, bukan musuh. Mereka akan menjaga investasi Bapak, bukan
menghalanginya."
Hadi Pranoto terdiam. Ia berunding sebentar dengan
pengacaranya, dengan suara pelan, dengan wajah yang serius. Ia adalah pengusaha
yang cerdas, yang tahu bahwa konflik berkepanjangan tidak menguntungkan siapa
pun. Ia sudah menghitung biaya yang harus ia keluarkan jika kasus ini dibawa ke
pengadilan: biaya pengacara, biaya saksi, biaya administrasi, dan yang paling
mahal, biaya waktu dan reputasi. Ia juga sudah menghitung potensi kerugian jika
proyeknya terus terhambat: biaya operasional yang terus berjalan tanpa
pendapatan, bunga pinjaman bank yang terus membengkak, kepercayaan investor
yang mulai goyah. Ia juga menghitung potensi keuntungan jika negosiasi ini
berhasil: proyek bisa berjalan lancar, warga desa menjadi mitra yang mendukung,
pemerintah desa menjadi mitra yang kooperatif, dan reputasinya sebagai
pengusaha yang adil dan bertanggung jawab akan meningkat.
"Kami akan pertimbangkan, Pak Kades," kata Hadi
Pranoto akhirnya, suaranya berat, tetapi ada nada lega di dalamnya. "Tapi
kami juga punya satu permintaan. Dokumen-dokumen yang Bapak miliki, yang
menunjukkan kejanggalan dalam transaksi, harus diserahkan kepada kami. Kami
akan menindaklanjuti secara internal. Kami akan mencari tahu siapa yang
bertanggung jawab atas kecurangan ini. Kami akan mengambil tindakan tegas
terhadap siapa pun yang terlibat. Ini masalah reputasi perusahaan kami. Ini
masalah kepercayaan mitra-mitra bisnis kami. Kami tidak bisa membiarkan
dokumen-dokumen ini beredar. Kami tidak bisa membiarkan nama perusahaan kami
tercoreng oleh ulah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab."
Amat dan Camelia saling berpandangan. Mereka tahu bahwa ini
adalah momen krusial. Momen yang akan menentukan nasib desa ini. Jika mereka
menyerahkan dokumen-dokumen itu, mereka kehilangan leverage. Mereka kehilangan
alat untuk memastikan bahwa janji-janji pengusaha itu ditepati. Mereka
kehilangan bukti jika di kemudian hari pengusaha itu mengingkari kesepakatan.
Tapi jika mereka tidak menyerahkan, negosiasi bisa buntu. Pengusaha itu bisa
mengambil jalur hukum, memanfaatkan dokumen-dokumen yang mereka miliki,
memenangkan kasus di pengadilan, dan warga desa kehilangan segalanya.
Setelah negosiasi selesai, setelah perwakilan pengusaha
pulang dengan mobil-mobil hitam mereka, Amat, Camelia, dan Pak Arjuna
mengadakan rapat kecil di kantor kepala desa. Mereka duduk di kursi-kursi kayu
di hadapan meja Pak Arjuna, dengan dokumen-dokumen yang masih tersebar di atas
meja, dengan teh jahe yang sudah dingin karena tidak sempat diminum. Pak Kartono
ikut hadir, duduk di kursi di sudut ruangan, dengan wajah yang tenang tetapi
matanya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras.
"Aku tidak percaya mereka," kata Camelia, membuka
buku catatannya, membaca ulang poin-poin yang telah disepakati. "Kalau
kita serahkan dokumen itu, mereka bisa menghancurkan bukti-bukti. Mereka bisa
membakar, merobek, atau menghilangkan dokumen-dokumen itu. Kita kehilangan leverage.
Kita kehilangan alat untuk memastikan bahwa mereka menepati janji. Mereka bisa
mengingkari kesepakatan. Mereka bisa mengatakan bahwa mereka tidak pernah
berjanji apa-apa. Mereka bisa mengambil alih tanah-tanah itu dengan paksa, dan
kita tidak bisa berbuat apa-apa karena kita sudah kehilangan bukti."
Pak Arjuna menghela napas panjang, merasakan beban yang
semakin berat di pundaknya. "Tapi kalau kita tidak menyerahkan, negosiasi
bisa buntu. Mereka bisa mengambil jalur hukum. Mereka punya sertifikat, mereka
punya dokumen-dokumen yang sah secara hukum. Prosesnya panjang, melelahkan, dan
belum tentu kita menang. Pengadilan cenderung berpihak pada pemilik sertifikat.
Warga kita yang tidak punya bukti kepemilikan yang jelas akan kesulitan
membuktikan hak mereka. Mereka bisa kehilangan tanah, dan kita tidak bisa
berbuat apa-apa."
Amat terdiam. Ia memegang map berisi dokumen-dokumen itu,
map yang selama berbulan-bulan ia jaga, map yang menjadi hasil kerja kerasnya
bersama Camelia dan Pak Karto, map yang berisi bukti-bukti pemalsuan yang tidak
bisa dibantah. Di tangannya, ia memegang nasib warga desa. Di tangannya, ia
memegang keadilan. Di tangannya, ia memegang masa depan desa ini. Ia bisa
menyerahkannya dan berharap bahwa pengusaha itu akan menepati janji. Atau ia
bisa menyimpannya dan berharap bahwa hukum akan berpihak pada kebenaran. Dua
pilihan yang sama-sama berat. Dua pilihan yang sama-sama berisiko. Dua pilihan
yang bisa membawa desa ini ke jalan yang berbeda.
"Aku punya ide," kata Amat akhirnya, memecah
keheningan. Suaranya tenang, tidak ragu-ragu. Ia sudah memikirkan ini sejak
lama, sejak ia menemukan dokumen-dokumen itu, sejak ia tahu bahwa suatu hari
nanti ia harus mengambil keputusan. "Kita serahkan dokumen itu, tapi kita
buat salinan resmi yang disahkan oleh notaris dan aparat kepolisian. Kita buat
pernyataan bahwa dokumen asli diserahkan dengan syarat-syarat tertentu. Jika
mereka mengingkari janji, jika mereka tidak menepati kesepakatan, kita punya
salinan yang bisa digunakan sebagai bukti di pengadilan. Kita juga bisa membawa
kasus ini ke media, mempublikasikan bukti-bukti kecurangan yang mereka lakukan.
Reputasi mereka akan hancur. Nama perusahaan mereka akan tercoreng. Proyek
mereka di tempat lain akan terganggu. Mereka tidak akan mengambil risiko
itu."
Camelia yang pikirannya selalu berpacu dengan kecepatan
tinggi, langsung menambahkan ide yang lebih cerdas. "Dan kita juga harus
mempublikasikan isi dokumen itu secara terbatas. Setidaknya kepada BPD dan
tokoh-tokoh masyarakat. Agar mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Agar
mereka tidak hidup dalam ketidaktahuan. Agar mereka bisa mengawasi jalannya
kesepakatan ini. Jangan sampai warga desa menjadi korban lagi. Jangan sampai
ada yang memanfaatkan ketidaktahuan warga untuk kepentingan pribadi. Transparansi
adalah kunci. Warga desa berhak tahu."
Pak Arjuna mengangguk, tersenyum bangga. "Bagus. Itu
solusi yang cerdas. Kita tidak kehilangan leverage, tetapi juga tidak
memutuskan hubungan dengan investor. Kita bisa mengawasi mereka, dan mereka
tahu bahwa kita bisa mengawasi mereka. Itu yang disebut dengan check and
balance. Amat, kamu yang mengurus administrasinya. Pastikan semua dokumen
disalin dengan benar, disahkan oleh notaris yang terpercaya, dan dilaporkan ke
pihak kepolisian. Camelia, kamu yang koordinasi dengan BPD dan tokoh
masyarakat. Jelaskan apa yang terjadi, apa yang kita sepakati, dan apa yang
harus mereka lakukan. Saya yang akan menyampaikan keputusan ini kepada pihak
pengusaha."
Keesokan harinya, Pak Arjuna menyampaikan keputusan desa kepada
perwakilan pengusaha. Pertemuan itu berlangsung singkat, tidak lebih dari satu
jam. Pak Arjuna menjelaskan bahwa pemerintah desa setuju untuk menyerahkan
dokumen-dokumen itu, dengan syarat-syarat yang telah disepakati. Hadi Pranoto,
yang sudah menduga bahwa ini akan terjadi, menerima keputusan itu dengan lega.
Ia tahu bahwa ini adalah solusi terbaik untuk semua pihak. Ia tidak perlu lagi
khawatir tentang dokumen-dokumen yang bisa merusak reputasinya. Ia juga tidak
perlu khawatir tentang konflik yang berkepanjangan. Proyeknya bisa berjalan.
Investasinya tidak akan sia-sia. Dan yang terpenting, ia bisa tidur nyenyak
tanpa dibayangi oleh rasa bersalah.
Setelah diskusi yang cukup a lot, kedua belah pihak saling
memeriksa setiap klausul, setiap kata, setiap kalimat dalam perjanjian yang
akan ditandatangani, kedua belah pihak mencapai kesepakatan. Pihak pengusaha
setuju untuk menghentikan sementara semua aktivitas pembangunan di lahan
sengketa, melakukan negosiasi dengan warga yang tanahnya menjadi sengketa untuk
memberikan kompensasi yang adil dan kesempatan kerja di proyek wisata yang akan
dibangun, dan mengakui hak-hak adat warga atas lahan-lahan tertentu yang dianggap
sacral, seperti sumur tua di belakang kantor desa, mata air di lereng timur,
batu besar di barat, dan sebagian Hutan Larangan yang menjadi tempat ritual
leluhur.
Pemerintah desa setuju untuk menyerahkan dokumen-dokumen
yang menunjukkan kejanggalan dalam transaksi kepada pihak pengusaha, setelah
disalin dan disahkan oleh notaris dan aparat kepolisian; membantu memfasilitasi
negosiasi antara pihak pengusaha dan warga; dan tidak membuka masalah ini ke
publik secara luas, untuk menjaga reputasi desa dan investor, tetapi juga tetap
menjaga transparansi dengan melibatkan BPD dan tokoh masyarakat dalam proses
pengawasan.
Amat, yang hadir dalam pertemuan itu sebagai staf
administrasi yang menyiapkan dokumen-dokumen, merasa lega. Ini bukan solusi
sempurna. Masih ada yang kurang. Masih ada yang bisa diperbaiki. Masih ada yang
harus diperjuangkan. Tapi setidaknya, untuk saat ini, warga desa tidak
kehilangan segalanya. Pak Darmo dan petani-petain lain masih bisa menggarap
tanah mereka, setidaknya untuk sementara waktu. Mereka tidak akan diusir paksa,
tidak akan kehilangan mata pencaharian, tidak akan kehilangan harapan. Dan di
masa depan, ada harapan bahwa mereka akan mendapatkan keadilan yang lebih baik,
bahwa mereka akan menjadi bagian dari pembangunan desa, bukan korban dari
pembangunan itu.
Setelah pertemuan selesai, setelah perwakilan pengusaha
pulang dengan mobil-mobil hitam mereka, setelah dokumen-dokumen diserahkan
dengan protokol yang ketat, Amat, Raka, dan Camelia duduk di beranda rumah
Amat, seperti yang mereka lakukan sejak kecil, seperti yang telah menjadi
ritual mereka setiap kali ada masalah selesai atau masalah baru muncul. Sumirah
menyiapkan teh jahe hangat untuk mereka, duduk di kursi bambu di sudut beranda,
mendengarkan percakapan anak-anak muda itu dengan senyum tipis, dengan mata
yang penuh kebanggaan meskipun ia tidak mengatakannya.
Langit Awan Biru di atas mereka mulai gelap, matahari telah
tenggelam di balik barisan gunung di barat, meninggalkan sisa-sisa cahaya
jingga yang perlahan-lahan ditelan oleh gelapnya malam. Bintang-bintang mulai
berkelap-kelip satu per satu, seperti lampu-lampu kecil yang dinyalakan di
langit. Kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit, menyelimuti
desa dengan selimut putih yang dingin dan lembab. Di kejauhan, pohon beringin
tua berdiri tegak, dengan kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang menjalar,
dengan penjaganya yang setia menunggu.
"Lo hebat, Mat," kata Raka, yang biasanya ceria
dan penuh tawa, kali ini menjadi serius. Wajahnya yang bulat itu tidak lagi
tersenyum, matanya yang sipit menatap Amat dengan penuh kekaguman. "Lo
berhasil menyelamatkan desa. Lagi. Lo berhasil membuat pengusaha itu mau
bernegosiasi. Lo berhasil membuat Pak Darmo dan petani-petani lain bisa kembali
ke sawah. Lo berhasil... lo berhasil melakukan sesuatu yang tidak bisa
dilakukan oleh orang-orang dewasa di desa ini selama bertahun-tahun."
Amat menggeleng, menatap ke arah pohon beringin di
kejauhan, merasakan kehadiran Kyai Beringin yang selalu menjaganya sejak kecil.
"Aku belum menyelamatkan apa-apa, Rak. Ini baru awal. Masih banyak yang
harus dilakukan. Masih banyak warga yang belum mendapatkan keadilan. Masih
banyak tanah yang statusnya belum jelas. Masih banyak dokumen yang harus
ditelusuri. Masih banyak orang yang harus dimintai pertanggungjawaban. Ini baru
permulaan. Bukan akhir."
Camelia yang duduk di samping Amat, meraih tangannya,
merasakan kehangatan yang sudah ia kenal sejak kecil. "Tapi setidaknya,
kita sudah mulai, Mat. Kita sudah mulai membangun desa ini dengan cara yang
benar. Kita sudah mulai menegakkan keadilan, meskipun belum sempurna. Kita sudah
mulai membuka rahasia-rahasia yang selama ini tersembunyi. Kita sudah mulai
melibatkan warga dalam proses pembangunan. Tidak ada yang instan, Mat. Tidak
ada yang bisa selesai dalam semalam. Yang penting kita terus bergerak maju.
Yang penting kita tidak berhenti. Yang penting kita tidak menyerah."
Amat tersenyum, merasakan kebenaran dalam kata-kata
Camelia. "Kamu benar, Mel. Yang penting kita terus bergerak maju. Yang
penting kita tidak berhenti. Yang penting kita tidak menyerah. Dan yang
terpenting, kita tidak sendirian. Ada Pak Arjuna yang selalu mendukung. Ada Pak
Kartono yang selalu memberi petunjuk. Ada Anak Mbah Buyut Ratih yang selalu
mendoakan. Ada warga yang percaya pada kita. Ada Raka yang selalu membuat kita
tertawa. Ada kamu yang selalu mengingatkan. Ada leluhur yang menjaga. Dan ada
Tuhan yang tidak pernah tidur."
Raka yang mendengar namanya disebut, tersenyum lebar,
kembali ke karakter aslinya. "Ya, aku memang hebat. Tanpa aku, kalian
berdua mungkin sudah stres berat. Tanpa pecelku, pikiran kalian keruh. Tanpa
tawaku, kalian terlalu serius. Jadi, sebenarnya aku adalah kunci dari
kesuksesan ini. Pecel adalah sumber kebijaksanaan. Tawa adalah sumber kekuatan.
Kalian berdua hanya pelengkap."
Amat dan Camelia tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas,
tawa yang sudah menjadi bagian dari persahabatan mereka sejak kecil. Tawa yang
mengusir sisa-sisa ketegangan yang masih mengendap setelah hari yang
melelahkan. Tawa yang mengingatkan bahwa di tengah semua keseriusan dan
tanggung jawab, mereka masih bisa tertawa, masih bisa menikmati hal-hal
sederhana seperti pecel dan kebersamaan.
"Kita akan terus berjuang," bisik Amat dalam
hati, menatap pohon beringin tua yang berdiri tegak di tengah desa. Di bawah
pohon itu, ia bisa merasakan kehadiran Kyai Beringin, yang selama ini selalu
menjaganya, yang selalu membimbingnya, yang selalu memberinya kekuatan. Ia juga
bisa merasakan kehadiran penjaga-penjaga lain yang tersebar di seluruh desa:
penjaga air di sumur tua, penjaga hutan di Hutan Larangan, penjaga mata air di
lereng timur, penjaga batu di barat, dan semua makhluk yang selama ini menjaga
keseimbangan desa ini. "Untuk desa ini. Untuk leluhur. Untuk masa depan.
Untuk Pak Darmo dan petani-petani lain. Untuk semua warga yang percaya pada
keadilan. Kita tidak akan menyerah. Kita akan terus berjuang."
Di kejauhan, pohon beringin tua bergoyang pelan,
daun-daunnya bergemerisik, seolah-olah menjawab bisikannya, seolah-olah
memberikan restu, seolah-olah mengatakan bahwa perjalanan masih panjang, tetapi
mereka tidak sendirian. Langit Awan Biru di atas mereka tetap biru, meskipun
malam. Biru pucat yang tenang, seperti janji bahwa apa pun yang terjadi, desa
ini akan tetap ada, akan terus dijaga, akan terus hidup. Dan Amat, anak
laki-laki dengan mata biru yang lahir di tengah badai aneh tujuh belas tahun
yang lalu, akan terus menjadi bagian dari penjagaan itu, seperti yang telah
ditakdirkan sejak tiga ratus tahun yang lalu.
BAB 31: Segel Leluhur yang Mulai Retak
Tiga tahun telah berlalu sejak Amat Junior mulai aktif
mengabdi di pemerintahan desa. Tiga tahun yang penuh dengan perjuangan
membangun desa, menyelesaikan konflik lahan yang berlarut-larut, merintis
program-program pembangunan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dan
membuka Ruang Komunitas Digital yang menjadi jembatan antara Awan Biru dengan
dunia luar. Tiga tahun yang terasa singkat seperti sekejap mata, tetapi juga
terasa panjang seperti perjalanan yang tidak pernah berakhir. Namun di balik
semua kesibukan itu, di antara rapat-rapat perencanaan yang kadang berlangsung
hingga larut malam, di antara sesi-sesi pelatihan digital marketing yang selalu
dipenuhi oleh warga yang antusias, di antara pendampingan kepada petani-petani
yang tanahnya menjadi sengketa, Amat tidak pernah melupakan tugas utamanya.
Tugas yang telah diwariskan oleh leluhur sejak tiga ratus tahun yang lalu.
Tugas yang tidak pernah ia minta tetapi tidak bisa ia tolak. Tugas yang
membuatnya berbeda dari anak-anak lain sejak ia lahir di tengah badai aneh
dengan mata biru yang tidak biasa. Tugas yang membawanya ke Hutan Larangan, ke
gerbang batu, ke pertemuan dengan Kyai Beringin dan penjaga-penjaga lain. Tugas
yang kini semakin mendesak, semakin berat, semakin dekat dengan puncaknya:
menjaga keseimbangan desa dari ancaman-ancaman yang tidak kasat mata, dari
makhluk-makhluk yang dikurung di bawah tanah sejak zaman leluhur, dari
kegelapan yang mulai merembes ke desa melalui retakan-retakan segel yang
semakin melemah.
Tanda-tanda bahwa sesuatu yang besar akan terjadi mulai
bermunculan sejak awal tahun. Bukan sekadar kejadian-kejadian aneh seperti yang
pernah terjadi di masa lalu, lampu-lampu yang berkedip-kedip tanpa sebab,
makanan yang tiba-tiba basi di lemari es, suara-suara aneh yang terdengar dari
arah sumur tua pada malam hari, tetapi sesuatu yang lebih sistematis, lebih
terstruktur, lebih terorganisir. Seolah-olah ada kekuatan besar yang sedang
membangun momentum, mengumpulkan energi, mempersiapkan diri untuk sesuatu yang
telah lama dinanti. Seolah-olah makhluk-makhluk yang dikurung di bawah tanah selama
tiga ratus tahun itu tidak lagi hanya meronta-ronta dalam tidurnya, tetapi
mulai bangun, mulai membuka mata, mulai merasakan bahwa kebebasan sudah di
ujung jari.
Pertama, pohon beringin tua di tengah desa, pohon yang
telah berdiri di tempat itu sejak leluhur pertama menanamnya tiga ratus tahun
yang lalu, pohon yang menjadi pusat dari semua penjagaan, pohon yang menjadi
tempat bersemayamnya Kyai Beringin, penjaga utama desa, mulai menunjukkan
perubahan yang mengkhawatirkan. Daun-daunnya yang biasanya hijau segar, rimbun,
dan lebat sepanjang tahun, mulai menguning dan berguguran meskipun ini bukan
musim kemarau. Daun-daun itu berguguran dalam jumlah yang sangat banyak,
menumpuk di tanah di sekitar pohon, membentuk lapisan tebal berwarna coklat
keemasan yang setiap pagi disapu oleh Pak Sugeng yang rumahnya tidak jauh dari
pohon itu. Tapi keesokan harinya, tumpukan daun itu akan setebal hari
sebelumnya, seolah-olah pohon itu tidak pernah berhenti menggugurkan daunnya,
seolah-olah ia sedang berusaha melepaskan sesuatu yang membebaninya. Batangnya
yang besar dan kokoh, yang selama ini menjadi simbol kekuatan dan keteguhan,
mulai mengeluarkan getah berwarna merah kehitaman. Getah itu mengalir dari
celah-celah kulit kayu yang retak, menetes ke tanah, membentuk genangan-genangan
kecil yang berwarna merah gelap seperti darah. Beberapa warga yang lewat di
dekat pohon itu pada malam hari mengaku mendengar suara rintihan, seperti orang
yang sedang kesakitan, seperti suara yang keluar dari dalam batang pohon, dari
akar-akar yang menjalar di dalam tanah, dari tempat yang tidak bisa dijangkau
oleh mata manusia biasa.
Kedua, sumur tua di belakang Kantor desa, sumur yang dulu
menjadi sumber air utama bagi seluruh warga, sumur yang dijaga oleh penjaga air
yang suaranya pernah didengar oleh Amat, Raka, dan Camelia ketika mereka masih
kecil, sumur yang airnya dulu jernih dan segar dan konon memiliki khasiat untuk
menyembuhkan berbagai penyakit, tiba-tiba mengering. Bukan mengering seperti
sumur-sumur biasa di musim kemarau yang airnya surut perlahan-lahan hingga
akhirnya habis. Sumur ini mengering dalam semalam. Dari yang tadinya penuh
dengan air jernih yang memantulkan cahaya bulan di malam hari, tiba-tiba
menjadi kering kerontang keesokan paginya. Airnya surut hingga dasar, menyisakan
lumpur hitam yang berbau anyir, bau yang tidak seperti bau lumpur biasa, bau
yang mengingatkan pada sesuatu yang telah mati, pada sesuatu yang membusuk di
dalam tanah. Bidan Amelia, yang setiap minggu mengambil sampel air dari sumur itu
untuk diperiksa di puskesmas, karena ia percaya bahwa air sumur tua ini
memiliki kandungan mineral yang baik untuk kesehatan ibu hamil, melaporkan
bahwa air itu mengandung zat-zat yang tidak biasa. Dalam laporannya yang ia
sampaikan kepada Pak Arjuna, ia menulis bahwa analisis laboratorium menunjukkan
adanya senyawa-senyawa yang tidak seharusnya ada dalam air tanah,
senyawa-senyawa yang mungkin berasal dari aktivitas vulkanik di kedalaman, atau
dari sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.
Seperti ada racun yang merembes dari dalam tanah, meracuni air yang selama ini
menjadi sumber kehidupan desa.
Ketiga, yang paling mengkhawatirkan, yang paling sulit
diabaikan, yang paling membuat warga desa mulai merasa tidak nyaman, adalah
laporan dari para petani yang memiliki ladang di lereng selatan, dekat dengan
Hutan Larangan. Mereka mengeluh bahwa tanaman mereka layu dan mati tanpa sebab
yang jelas. Padi yang baru saja ditanam, yang seharusnya tumbuh subur dengan
daun-daun hijau segar, malah menguning, layu, dan akhirnya mati dalam hitungan
hari. Sayur-sayuran yang dulu tumbuh subur di kebun-kebun kecil di antara
sawah, kini tidak bisa tumbuh sama sekali. Bibit-bibit yang baru disemai tidak
pernah berkecambah. Pohon-pohon pisang yang dulu berbuah lebat setiap musim,
kini daunnya mengering dan batangnya roboh. Tanah di ladang-ladang itu menjadi
hangat, hangat yang tidak biasa, hangat yang keluar dari dalam bumi, hangat
yang membuat telapak kaki terasa panas ketika menginjaknya. Seperti ada sumber panas
dari dalam tanah yang naik ke permukaan, memanaskan tanah dari bawah, membakar
akar-akar tanaman sebelum mereka sempat tumbuh. Beberapa petani bahkan mengaku
melihat uap air yang keluar dari retakan-retakan tanah, uap yang berbau
belerang, uap yang sama seperti yang mereka cium ketika berada di dekat gunung
berapi. Uap itu keluar siang dan malam, tidak pernah berhenti, seolah-olah ada
sesuatu di dalam tanah yang sedang bernapas, sedang membuang udara panas dari
paru-parunya yang telah menahan napas selama tiga ratus tahun.
"Aku tidak suka dengan ini," kata Camelia suatu
sore ketika mereka bertiga, Amat, Raka, dan dirinya, duduk di beranda rumah
Amat, seperti yang selalu mereka lakukan sejak kecil, seperti yang telah
menjadi ritual mereka setiap kali ada masalah yang harus dipecahkan. Sumirah
menyiapkan teh jahe hangat untuk mereka, duduk di kursi bambu di sudut beranda,
mendengarkan percakapan anak-anak muda itu dengan senyum tipis, dengan mata
yang penuh kekhawatiran meskipun ia tidak mengatakannya. Camelia membuka buku
catatannya yang sudah mulai menebal, yang berisi catatan-catatan tentang desa
ini selama bertahun-tahun, membalik halaman demi halaman, mencari data-data
yang mungkin relevan. "Ini bukan fenomena alam biasa. Bukan musim kemarau,
bukan hama, bukan penyakit tanaman. Ini tanda-tanda bahwa segel-segel yang
selama ini menahan sesuatu di bawah tanah mulai rusak. Ini tanda-tanda bahwa
apa yang selama ini dijaga oleh leluhur, apa yang selama ini ditahan oleh Kyai
Beringin dan penjaga-penjaga lain, mulai melemah. Ini tanda-tanda bahwa
makhluk-makhluk yang dikurung di Hutan Larangan mulai bangun."
Amat mengangguk. Ia sudah merasakannya sejak beberapa bulan
lalu, sejak sebelum tanda-tanda itu mulai terlihat oleh warga desa. Liontin
batu biru di lehernya, liontin yang diberikan oleh Mbah Ratih ketika ia masih
bayi, liontin yang konon berasal dari langit yang jatuh ke bumi saat leluhur
pertama tiba di desa ini, liontin yang menjadi simbol bahwa ia adalah keturunan
dari garis penjaga, yang selama ini hanya terasa hangat ketika ada energi gaib
di sekitarnya, kini terasa panas hampir setiap saat. Panas yang tidak
menyakitkan, tetapi mengganggu, seperti ada sesuatu yang mencoba berkomunikasi,
seperti ada sesuatu yang mencoba memperingatkan, seperti ada sesuatu yang
mencoba memanggilnya untuk bertindak. Kyai Beringin, penjaga utama desa, yang
biasanya ia lihat berdiri di bawah pohon beringin setiap malam, dengan jubah
hitamnya yang berkibar-kibar ditiup angin yang tidak terasa, dengan matanya
yang teduh dan penuh kebijaksanaan, kini tidak pernah muncul. Yang ada hanya
rasa gelisah yang terpancar dari pohon itu, seperti ada yang menderita di
dalamnya, seperti ada yang kesakitan, seperti ada yang berusaha bertahan
melawan sesuatu yang lebih kuat darinya.
"Aku harus ke Hutan Larangan," kata Amat
tiba-tiba, memecah keheningan yang mulai menyelimuti mereka. Suaranya tenang,
tetapi ada ketegasan di dalamnya, ketegasan yang menunjukkan bahwa ia tidak
akan menunda lagi, bahwa ia sudah mengambil keputusan, bahwa ia siap menghadapi
apa pun yang akan terjadi.
Raka dan Camelia menatapnya. Mereka tahu bahwa itu bukan
keputusan yang diambil enteng. Mereka tahu bahwa Hutan Larangan bukan tempat
yang aman, apalagi dengan tanda-tanda yang semakin jelas, dengan segel yang
semakin melemah, dengan makhluk-makhluk yang mulai bangun. Mereka tahu bahwa
perjalanan itu bisa menjadi perjalanan yang tidak akan kembali. Tapi mereka
juga tahu bahwa Amat tidak bisa diam. Ia adalah penjaga. Ini adalah tugasnya.
Ini adalah takdirnya.
"Kapan?" tanya Raka, suaranya tidak ragu-ragu,
tidak takut. Ia sudah siap. Ia akan ikut, apa pun yang terjadi.
"Sekarang. Malam ini. Bulan purnama. Mbah Ratih dulu
bilang, pada malam purnama, batas antara dunia kita dan dunia lain menjadi
paling tipis. Aku bisa melihat lebih jelas apa yang terjadi di sana. Aku bisa
merasakan energi yang mungkin tidak terasa di siang hari. Aku bisa
berkomunikasi dengan Kyai Beringin dan penjaga-penjaga lain yang mungkin masih
bertahan."
"Aku ikut," kata Raka dan Camelia bersamaan, tanpa
berpikir panjang, tanpa ragu-ragu, seperti yang selalu mereka lakukan sejak
kecil, seperti yang telah mereka janjikan di puncak Bukit Pangasih
bertahun-tahun yang lalu.
Amat tersenyum. Ia tahu mereka tidak akan melepaskannya
pergi sendirian. Ia tahu bahwa mereka adalah sahabat sejati, yang tidak akan
meninggalkannya, yang akan berdiri di sampingnya apa pun yang terjadi.
"Kita berangkat setelah Isya. Persiapkan perlengkapan yang diperlukan.
Camelia, bawa peta dan buku catatan. Raka, bawa pecel. Kita mungkin akan lama
di sana."
"Pecel? Serius, Mat? Kita mau ke hutan angker di
tengah malam, mau berhadapan dengan makhluk-makhluk yang mungkin bisa
menghancurkan desa, dan kamu minta aku bawa pecel?" Raka tertawa, tetapi
ia berdiri dan bersiap untuk pulang ke warungnya. "Tapi kamu benar. Perut
lapar bikin pikiran keruh. Otak encer bikin keputusan tepat. Jadi, pecel adalah
kunci dari keselamatan desa."
Malam itu, ketika bulan purnama bersinar terang di langit
Awan Biru, bulan yang bundar sempurna, lebih terang dari biasanya, seperti ada
sesuatu yang mencoba menerangi kegelapan yang akan datang—mereka bertiga
berangkat menuju Hutan Larangan. Langkah mereka mantap, tidak ragu-ragu,
meskipun hati mereka berdebar-debar. Di jalan setapak yang menuju ke selatan,
mereka bertemu dengan Hermansyah, Guntur, dan Amita serta Enjelin yang sudah
menunggu di dekat perempatan pasar. Mereka datang dengan perlengkapan
masing-masing, dengan tekad yang sama, dengan keyakinan bahwa mereka tidak bisa
tinggal diam.
"Kami ikut," kata Hermansyah singkat, seperti
biasanya. Ia membawa ransel besar berisi perlengkapan teknis: senter, kompas,
tali, kamera thermal yang baru saja ia beli secara online, GPS yang sudah ia
program dengan koordinat-koordinat penting, dan beberapa sensor yang bisa mendeteksi
perubahan suhu dan medan magnet. "Aku mungkin tidak bisa melihat hantu
atau mendengar suara-suara aneh, tapi aku bisa membantu dengan peralatan. Siapa
tahu berguna."
"Aku juga ikut," kata Guntur, dengan suara
lantang seperti biasanya. Ia membawa parang besar di pinggang, air minum dalam
jeriken plastik, dan jaket tebal untuk berjaga-jaga. "Kalau ada makhluk
jahat yang muncul, setidaknya kalian punya pelindung. Aku tidak sehebat Amat,
tapi aku bisa menjaga kalian secara fisik."
Amita Enjelin yang berdiri di samping Guntur, tersenyum
tipis. Ia membawa perlengkapan seni: kanvas kecil yang sudah ia siapkan, cat
air, dan kuas-kuas dengan berbagai ukuran. "Aku ingin merekam apa yang
kita lihat dengan cara yang berbeda. Mungkin ada pola-pola yang tidak terlihat
oleh kamera biasa, yang hanya bisa ditangkap oleh mata dan tangan seorang
pelukis. Mungkin ada pesan-pesan yang tersembunyi dalam warna dan bentuk, yang
hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau melihat dengan hati."
Mas Bambang dan Enjelin juga bergabung. Mereka datang dari
arah Ruang Komunitas Digital, dengan laptop di ransel dan kamera digital di
tangan. "Kami tidak tahu banyak tentang hal-hal gaib," kata Mas
Bambang, matanya berbinar-binar karena semangat petualangan. "Tapi kami bisa
bantu dengan peralatan. Aku bawa kamera thermal, GPS, dan beberapa sensor yang
bisa mendeteksi perubahan suhu dan medan magnet. Siapa tahu berguna untuk
mendokumentasikan apa yang terjadi. Ini bisa menjadi data yang sangat
berharga."
Mereka berdelapan berjalan melewati jalan setapak yang
sudah tidak asing lagi bagi Amat, Raka, dan Camelia. Melewati sawah-sawah yang
mulai mengering, dengan tanah yang retak-retak dan tanaman yang layu. Melewati
ladang-ladang yang tanahnya hangat, dengan uap tipis yang keluar dari celah-celah
retakan. Melewati sungai kecil yang airnya keruh dan berbau anyir, dengan
ikan-ikan yang mati terapung di permukaan. Melewati kebun-kebun yang
pohon-pohonnya gundul, dengan daun-daun berguguran di tanah. Hingga akhirnya
mereka tiba di batas bambu runcing yang menandai pintu masuk Hutan Larangan.
Hutan itu terlihat berbeda dari biasanya. Kabut yang
biasanya putih susu, yang biasanya bergelayut di antara pepohonan seperti
selimut tipis yang lembut, kini berwarna abu-abu gelap, tebal, pekat, berbau
anyir seperti tanah kuburan yang digali setelah hujan. Kabut itu bergerak tidak
seperti kabut biasa; ia bergerak seperti ada yang menggerakkannya, seperti ada
yang bernapas di dalamnya, seperti ada kehidupan di balik selimut abu-abu itu.
Pepohonan di tepi hutan tampak layu, daun-daunnya berguguran, batang-batangnya
hitam seperti terbakar dari dalam. Tidak seperti sebelumnya yang hanya beberapa
pohon, kali ini seluruh tepi hutan terlihat seperti itu. Dari dalam hutan,
terdengar suara-suara aneh. Kadang seperti raungan binatang buas, raungan yang
dalam dan panjang, yang membuat bulu kuduk berdiri. Kadang seperti tangisan
manusia, tangisan yang pilu, yang membuat hati terasa sesak. Kadang seperti
suara orang sedang membaca mantra dalam bahasa yang tidak dikenali, mantra yang
membuat udara di sekitarnya bergetar, membuat tanah di bawah kaki berguncang.
"Persiapkan diri kalian," kata Amat dengan suara
tegas, berdiri di depan barisan bambu runcing, dengan liontin batu biru di
lehernya yang mulai memancarkan cahaya samar. "Apa pun yang kalian lihat
nanti, jangan panik. Jangan lari terpisah. Tetaplah bersama kelompok. Jika ada
yang merasa takut, pegang tangan orang di sebelah kalian. Kita hadapi ini
bersama. Kita adalah satu tim."
Mereka memasuki hutan satu per satu. Amat berjalan paling
depan, dengan liontin yang semakin terang, dengan mata yang berusaha menembus
kabut yang tebal. Raka dan Camelia berjalan di belakangnya, dengan senter yang
redup, dengan hati yang berdebar. Hermansyah, Guntur, dan Amita mengikuti di
belakang, dengan peralatan masing-masing. Mas Bambang dan Enjelin berjalan
paling belakang, dengan kamera yang terus merekam, dengan sensor yang mulai
menunjukkan angka-angka yang tidak normal.
Cahaya bulan purnama yang tadinya terang, yang tadinya
cukup untuk menerangi jalan setapak tanpa senter, tiba-tiba redup ketika mereka
masuk ke dalam hutan. Redup seperti ada sesuatu yang menelan cahaya itu,
seperti ada selimut tebal yang menutupi langit, seperti ada kekuatan yang tidak
ingin mereka melihat terlalu jelas. Kabut semakin tebal, semakin pekat, semakin
sulit ditembus. Suara-suara aneh semakin keras, semakin dekat, semakin
mengancam. Udara semakin dingin, dingin yang menusuk hingga ke tulang, dingin
yang membuat napas berubah menjadi uap putih di depan mulut.
Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, tiga puluh menit
yang terasa seperti tiga jam, tiga puluh menit yang penuh dengan kewaspadaan
dan ketegangan, mereka tiba di tempat yang dulu pernah mereka kunjungi. Tempat
di mana pepohonan tampak terbakar dan tanah terasa hangat, tempat di mana
mereka pertama kali melihat gerbang batu yang berputar dengan cahaya biru.
Namun kini keadaannya jauh lebih parah. Jauh lebih parah dari yang mereka
bayangkan. Area yang terbakar itu kini meluas, tidak hanya beberapa puluh meter
seperti dulu, tetapi ratusan meter. Pohon-pohon besar yang dulu kokoh, yang
dulu menjadi saksi bisu sejarah desa ini, kini tumbang bergelimpangan,
batang-batangnya hitam dan rapuh, seperti arang yang siap hancur jika disentuh.
Tanah di bawah kaki terasa sangat hangat, seperti berjalan di atas pemanas
raksasa, seperti berjalan di atas kawah gunung berapi yang siap meletus.
Dan di tengah-tengah area yang terbakar itu, gerbang batu
yang dulu mereka temukan kini berdiri dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Kedua
tiang batu andesit yang dulu kokoh dan tegak, yang dulu menjadi simbol kekuatan
dan keteguhan, kini retak-retak. Retakan-retakan dalam muncul di permukaan
batu, dari atas hingga bawah, seperti luka yang tidak bisa sembuh. Ambang batu
di atasnya miring, tidak lagi sejajar dengan tanah, seolah-olah akan runtuh
sewaktu-waktu, seolah-olah tidak mampu lagi menahan beban yang dipikulnya. Dari
celah-celah retakan itu, keluar cahaya kemerahan yang berdenyut-denyut seperti
detak jantung, seperti ada sesuatu di dalamnya yang masih hidup, yang masih
berjuang, yang masih berusaha bertahan.
"Ini dia," bisik Amat, suaranya nyaris tidak
terdengar di atas suara gemuruh yang mulai terdengar dari dalam tanah.
"Segelnya hampir hancur."
Tiba-tiba, udara di sekitar mereka bergetar. Getaran yang
tidak terlihat tetapi terasa, getaran yang membuat bulu kuduk berdiri, getaran
yang membuat jantung berdebar lebih cepat. Dari balik gerbang batu yang
retak-retak itu, dari dalam cahaya kemerahan yang berdenyut-denyut, muncul sesosok
bayangan. Bayangan itu perlahan-lahan menjadi jelas, membentuk wujud yang
mereka kenal, wujud yang telah menjadi bagian dari sejarah desa ini sejak tiga
ratus tahun yang lalu. Kyai Beringin berdiri di hadapan mereka, tetapi
penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Sangat berbeda sehingga mereka
hampir tidak mengenalinya.
Sosok penjaga utama desa itu, yang dulu selalu berdiri
tegap dengan jubah hitamnya yang berkibar-kibar, dengan matanya yang teduh dan
penuh kebijaksanaan, dengan wajahnya yang tenang dan penuh wibawa, kini tampak
lemah. Lemah, nyaris transparan, seperti akan menghilang sewaktu-waktu, seperti
bayangan yang akan sirna ketika matahari terbit. Jubah hitamnya yang dulu
berkibar-kibar kini robek di sana-sini, lusuh, seperti tidak pernah dirawat.
Wajahnya yang dulu tenang dan penuh kebijaksanaan kini tampak kesakitan, penuh
dengan luka-luka yang tidak terlihat oleh mata biasa, luka-luka yang mungkin
tidak akan pernah sembuh. Matanya yang dulu teduh kini redup, seperti api yang
hampir padam, seperti cahaya yang hampir habis.
Anak-anak... kalian datang...
Suaranya tidak seperti biasanya. Tidak seperti suara yang
langsung masuk ke dalam pikiran, tidak seperti suara yang dalam dan berat
seperti gemuruh dari dalam gua. Suaranya lemah, terputus-putus, seperti orang
yang sedang berusaha bicara dengan sisa-sisa kekuatan terakhirnya.
"Kyai, apa yang terjadi?" tanya Amat, suaranya
bergetar, matanya berkaca-kaca. Ia berlutut di hadapan Kyai Beringin, merasakan
bahwa penjaga yang selama ini melindunginya, yang selama ini membimbingnya,
yang selama ini menjadi orang tua spiritualnya, sedang sekarat.
Segelnya retak... makhluk yang dikurung di sini semakin
kuat... energinya merusak segel dari dalam... setiap hari, setiap jam, setiap
menit... aku merasakannya... aku merasakan sakitnya... aku merasakan segel ini
hancur perlahan-lahan... aku tidak bisa menahannya sendiri... tidak lagi...
kekuatanku habis... setelah tiga ratus tahun... setelah tiga ratus tahun
menjaga desa ini... aku kehabisan kekuatan...
"Ada apa dengan segelnya? Kenapa tiba-tiba melemah?
Apa yang menyebabkannya?"
Bukan tiba-tiba... ini sudah terjadi bertahun-tahun...
puluhan tahun... mungkin ratusan tahun... manusia melupakan leluhur... mereka
merusak hutan... menebang pohon tanpa permisi... mencemari sungai... membuang
sampah ke air... mereka melupakan ritual-ritual yang memperkuat segel... yang
menjaga keseimbangan... dan sekarang... sekarang segelnya hampir hancur...
setelah tiga ratus tahun... setelah tiga ratus tahun aku menjaga... aku tidak bisa
lagi...
"Bagaimana cara memperbaikinya? Bagaimana cara
memperkuatnya? Apa yang harus aku lakukan?"
Kyai Beringin menggeleng pelan, gerakan yang berat, gerakan
yang menunjukkan bahwa ia sudah tidak punya kekuatan lagi. Tidak bisa
diperbaiki... segel ini sudah terlalu tua... terlalu rapuh... terlalu banyak
kerusakan... hanya bisa diperkuat... untuk sementara waktu... dengan
pengorbanan... pengorbanan yang besar...
Amat merasakan hawa dingin menjalari punggungnya, hawa
dingin yang tidak berasal dari udara malam, tetapi dari dalam hatinya.
"Pengorbanan apa? Pengorbanan apa yang harus aku lakukan?"
Kyai Beringin menatap Amat dengan mata yang redup tetapi
masih penuh kasih. Pengorbanan yang akan kau ketahui ketika waktunya
tiba... pengorbanan yang hanya bisa dilakukan oleh keturunan dari garis
penjaga... pengorbanan yang akan menentukan nasib desa ini... untuk sekarang...
bersiaplah... makhluk-makhluk yang dikurung di sini akan segera bangkit...
mereka sudah lama menunggu... tiga ratus tahun mereka menunggu... dan kalian
harus menghadapinya... kalian semua... bersama...
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka berguncang hebat. Bukan
goncangan kecil seperti gempa biasa, tetapi goncangan besar, goncangan yang
membuat mereka semua kehilangan keseimbangan, goncangan yang membuat
pohon-pohon yang masih berdiri bergoyang hebat, goncangan yang membuat gerbang
batu itu retak semakin dalam. Retakan-retakan muncul di permukaan tanah, di
mana-mana, membelah tanah yang tadinya padat menjadi jurang-jurang kecil. Dari
dalam retakan itu, memancar cahaya merah yang menyilaukan, cahaya yang panas,
cahaya yang membuat udara di sekitarnya bergelombang seperti di atas api
unggun. Dari dalam retakan itu, terdengar suara gemuruh yang memekakkan
telinga, seperti suara sesuatu yang besar sedang merangkak naik dari perut
bumi, seperti suara sesuatu yang telah lama terkurung dan sekarang mulai
membebaskan diri.
Cepat... pergi dari sini... sekarang! teriak Kyai Beringin, suaranya yang biasanya tenang
dan penuh wibawa kini berubah panik. Sebelum mereka keluar... sebelum
mereka menangkap kalian... sebelum kalian menjadi korban... pergi! Aku akan
menahan mereka... selama aku masih bisa... pergi!
Mereka tidak perlu didorong dua kali. Amat meraih tangan
Camelia yang berada di sampingnya, merasakan dinginnya ujung jari yang selalu
ia kenal sejak kecil. Raka menarik lengan Amita yang sempat terpaku ketakutan.
Guntur mendorong punggung Hermansyah yang tersandung akar pohon. Mas Bambang
dan Enjelin berlari sekencang-kencangnya, dengan kamera yang masih merekam,
dengan sensor yang terus berbunyi. Mereka berlari melewati pohon-pohon yang
tumbang, melewati retakan-retakan yang memancarkan cahaya merah, melewati kabut
abu-abu yang semakin tebal, melewati suara-suara aneh yang semakin keras.
Ketika mereka tiba di batas hutan, mereka berbalik. Di
kejauhan, di tengah hutan, mereka melihat cahaya merah yang menyala terang,
menyembur ke langit seperti gunung berapi yang akan meletus, seperti kawah yang
terbuka lebar, seperti pintu menuju dunia lain yang terbuka. Dan di dalam
cahaya itu, mereka melihat bayangan-bayangan besar bergerak, bentuk-bentuk yang
tidak jelas, tidak bisa dikenali, tetapi terasa sangat mengancam.
Bayangan-bayangan yang bergerak perlahan, seperti bangun dari tidur panjang,
seperti menyesuaikan diri dengan dunia yang telah berubah selama tiga ratus
tahun mereka terkurung.
"Kita harus cepat ke desa," kata Amat, napasnya
terengah-engah, wajahnya pucat, matanya yang biru menyala dengan tekad.
"Kita harus memperingatkan semua orang. Kita harus bersiap. Mereka akan
datang."
BAB 32: Makhluk Lama Bangkit Kembali
Keesokan harinya, ketika matahari terbit di balik Bukit
Pangasih dengan cahaya yang kemerahan, tidak seperti biasanya yang keemasan,
dengan sinar yang terasa lebih dingin dari biasanya, Desa Awan Biru diliputi
suasana yang mencekam. Kabut pagi yang biasanya putih bersih dan tipis, yang
biasanya menjadi ciri khas desa ini, kini berwarna abu-abu gelap, tebal, dan
berat, seperti beban yang menggantung di udara. Bau anyir yang keluar dari
Hutan Larangan semalam masih tercium, menyebar ke seluruh desa, menembus
celah-celah dinding rumah, masuk ke dalam mimpi-mimpi warga yang semalaman
tidak bisa tidur. Berita tentang apa yang terjadi di Hutan Larangan menyebar
dengan cepat, lebih cepat dari apapun yang pernah terjadi di desa ini, dari
mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, dari dusun ke dusun. Meskipun tidak semua
warga tahu detailnya, tidak semua warga tahu tentang segel yang retak, tentang
Kyai Beringin yang sekarat, tentang makhluk-makhluk yang akan bangkit, yang
mereka lihat dengan mata kepala sendiri adalah cahaya merah yang menyala di
langit selatan sepanjang malam, cahaya yang tidak seperti cahaya apapun yang
pernah mereka lihat, cahaya yang berdenyut-denyut seperti detak jantung
raksasa. Yang mereka dengar dengan telinga sendiri adalah suara-suara gemuruh
yang membuat tanah bergetar hingga ke desa, gemuruh yang datang dari dalam
tanah, dari kedalaman yang tidak bisa dijangkau oleh manusia, gemuruh yang
membuat piring-piring di rak bergetar, membuat jendela-jendela kaca bergetar,
membuat hati bergetar.
Pak Arjuna mengadakan rapat darurat di kantor desa. Ia
mengirimkan undangan ke semua perangkat desa, ke ketua-ketua RT dan RW, ke BPD,
ke tokoh-tokoh masyarakat, ke karang taruna, dan juga ke warga biasa yang ingin
tahu. Undangan itu disebarkan dari pagi hari, melalui pengeras suara di masjid,
melalui grup WhatsApp yang biasanya hanya digunakan untuk informasi seputar
kegiatan PKK dan jadwal posyandu, melalui mulut ke mulut yang masih menjadi
cara paling efektif untuk menyebarkan berita di desa ini. Balai desa yang
biasanya cukup luas untuk menampung seratus orang, pagi itu penuh sesak.
Kursi-kursi kayu yang baru tidak cukup, beberapa orang harus berdiri di
belakang, duduk di lantai, berdesakan di pintu. Udara panas dan pengap,
bercampur aroma keringat dan parfum murah. Wajah-wajah yang hadir menunjukkan
berbagai macam ekspresi: ada yang ketakutan, ada yang penasaran, ada yang
marah, ada yang tidak percaya, ada yang pasrah.
"Amat, ceritakan apa yang kalian lihat semalam,"
kata Pak Arjuna, suaranya tegas, tidak ada keraguan. Ia berdiri di depan papan
tulis yang sudah disiapkan, dengan spidol di tangan, dengan wajah yang serius.
Ia sudah mendengar laporan dari Amat, dari Raka, dari Camelia, dari semua yang
ikut ke Hutan Larangan. Tapi ia ingin semua warga mendengar langsung dari
sumbernya. Ia ingin tidak ada yang merasa tidak tahu, tidak ada yang merasa
dikecoh, tidak ada yang merasa bahwa pemerintah desa menyembunyikan sesuatu.
Amat berdiri. Ia berjalan ke depan melewati barisan kursi,
melewati warga yang menatapnya dengan berbagai macam ekspresi. Ia berdiri di
hadapan semua orang, di hadapan Pak Arjuna, di hadapan perangkat desa, di
hadapan warga desa yang memenuhi balai desa. Ia tidak membawa dokumen, tidak
membawa buku catatan, tidak membawa alat bantu apa pun. Ia hanya membawa
suaranya, matanya, dan liontin batu biru di lehernya yang hari ini terasa lebih
hangat dari biasanya.
Ia menceritakan semuanya. Tentang segel yang retak di Hutan
Larangan, yang sudah melemah selama bertahun-tahun karena manusia melupakan
leluhur, karena ritual-ritual ditinggalkan, karena hutan dirusak dan sungai
dicemari. Tentang Kyai Beringin yang lemah, penjaga utama desa yang telah
menjaga Awan Biru selama tiga ratus tahun, yang kini sekarat karena segel yang
ia jaga mulai hancur. Tentang makhluk-makhluk yang akan bangkit dari bawah
tanah, makhluk-makhluk yang dikurung oleh leluhur tiga ratus tahun yang lalu,
yang kini mulai membebaskan diri, yang mulai merembes ke desa melalui retakan-retakan
segel. Ia tidak menyembunyikan apa pun. Ia tidak melebih-lebihkan apa pun. Ia
hanya menyampaikan fakta-fakta yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri,
yang ia dengar dengan telinganya sendiri, yang ia rasakan dengan hatinya
sendiri.
Warga yang mendengar ceritanya awalnya tidak percaya. Ada
yang tersenyum sinis, menganggap ini hanya cerita isapan jempol, hanya cerita
untuk menakut-nakuti warga. Ada yang menggeleng-gelengkan kepala, tidak mau
menerima bahwa desa mereka terancam oleh makhluk-makhluk yang selama ini hanya
mereka anggap sebagai dongeng pengantar tidur. Ada yang berbisik-bisik,
bertanya-tanya apakah Amat tidak mengalami gangguan mental, apakah ia tidak
perlu diperiksa ke dokter jiwa. Tapi ketika mereka mengingat kejadian-kejadian
aneh yang terjadi beberapa bulan terakhir, pohon beringin yang menguning dan
mengeluarkan getah merah, sumur tua yang mengering dalam semalam, ladang-ladang
yang tanahnya hangat dan tanamannya layu, cahaya merah di langit selatan yang
mereka lihat semalam, perlahan-lahan mereka mulai menerima. Perlahan-lahan
mereka mulai menyadari bahwa apa yang dikatakan Amat bukanlah omong kosong.
Perlahan-lahan mereka mulai merasakan bahwa desa ini memang sedang dalam
bahaya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Pak
Sugeng, masih aktif sebagai tokoh masyarakat. Suaranya serak, matanya
berkaca-kaca. Ia sudah puluhan tahun tinggal di desa ini. Ia sudah melihat
banyak perubahan. Tapi ia belum pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti ia
akan menghadapi situasi seperti ini. "Kita bukan pasukan. Kita bukan
pahlawan super. Kita hanya warga desa biasa. Petani, pedagang, buruh. Apa yang
bisa kita lakukan melawan makhluk-makhluk yang sudah dikurung selama tiga ratus
tahun?"
"Kita punya sesuatu yang lebih kuat dari senjata, Pak
Sugeng," kata Amat, suaranya tenang tetapi tegas. Ia menatap semua warga
yang hadir, bergantian, berusaha menangkap mata mereka, berusaha membuat mereka
percaya, berusaha membuat mereka mengerti. "Kita punya leluhur. Kita punya
tradisi. Kita punya tempat-tempat suci yang selama ini kita lupakan. Pohon
beringin, sumur tua, mata air, batu besar. Tempat-tempat itu adalah pusat
energi desa. Tempat-tempat itu dijaga oleh penjaga-penjaga yang masih setia,
yang masih berjuang meskipun mereka lemah. Jika kita kembali merawatnya, jika
kita kembali melakukan ritual-ritual yang dulu dilakukan leluhur, kita bisa
memperkuat segel-segel yang masih tersisa. Kita bisa memperkuat penjaga-penjaga
yang masih bertahan. Kita bisa melindungi desa ini."
Pak Arjuna mengangguk, berdiri di samping Amat, meletakkan
tangannya di pundak pemuda itu. "Amat benar. Saya sudah bicara dengan
beberapa sesepuh desa. Pak Kartono, Mbah Karyo. Mereka mengatakan hal yang
sama. Kita harus kembali ke akar kita. Kita harus melestarikan apa yang selama
ini kita abaikan. Kita harus menghidupkan kembali ritual-ritual yang dulu
dilakukan oleh leluhur. Bukan karena takhayul, bukan karena mistis, tetapi
karena itu adalah cara kita untuk menjaga keseimbangan, untuk menghormati
leluhur, untuk melindungi desa ini."
"Mulai dari mana?" tanya Pak Eko, Kaur
Perencanaan yang selalu berpikir praktis, yang selalu ingin tahu
langkah-langkah konkret yang harus diambil.
"Dari yang paling dekat," kata Amat. "Pohon
beringin di tengah desa. Sumur tua di belakang kantor desa. Mata air di lereng
timur. Batu besar di barat. Tempat-tempat itu adalah pusat energi desa. Jika
kita merawatnya, jika kita membersihkannya, jika kita melakukan ritual-ritual
sederhana di sana, energi itu akan menguat. Dan jika energi itu kuat, segel-segel
di Hutan Larangan juga akan menguat. Setidaknya untuk sementara waktu."
Malam itu juga, ketika bulan purnama mulai muncul di ufuk
timur dengan cahaya yang kemerahan, tidak seperti biasanya yang keperakan,
warga Desa Awan Biru melakukan ritual pembersihan di pohon beringin tua. Mereka
datang dari berbagai dusun, dari berbagai RT, dari berbagai lapisan masyarakat,
dengan membawa sesaji sederhana: bunga-bunga dari kebun mereka, dupa dan
kemenyan yang disimpan di lemari sejak zaman Mbah Ratih masih muda, makanan
tradisional yang mereka masak sore tadi dengan doa-doa yang dipanjatkan dalam
hati. Dipimpin oleh Anak Mbah Buyut Ratih, yang meskipun sudah sangat lemah,
yang tubuhnya sudah tidak bisa berdiri tanpa ditopang, yang suaranya sudah
nyaris tidak terdengar, tetapi tetap bersikeras untuk hadir, tetap ingin
menjadi bagian dari upaya menyelamatkan desa yang telah ia cintai selama
delapan puluh tahun, mereka membentuk lingkaran di sekitar pohon. Mereka berdoa
bersama, dengan suara yang bergema di malam yang sunyi, dengan hati yang
khusyuk, dengan air mata yang mengalir di pipi mereka. Mereka memohon kepada
leluhur, kepada Kyai Beringin, kepada semua penjaga yang masih setia, untuk
melindungi desa ini, untuk memberikan kekuatan, untuk memberi petunjuk tentang
apa yang harus dilakukan.
Amat berdiri di depan pohon beringin, di tempat yang sama
di mana ia pertama kali melihat Kyai Beringin ketika ia masih kecil, di tempat
yang sama di mana ia berdiri ketika kegelapan menyelimuti desa bertahun-tahun
yang lalu, di tempat yang sama di mana ia menyalurkan cahaya biru dari
tangannya untuk memperkuat segel. Ia menyentuh batang kayu yang besar,
merasakan kulit kayu yang kasar dan dingin di telapak tangannya, merasakan
getaran yang lemah tetapi masih ada, merasakan kehidupan yang masih berjuang di
dalamnya. Liontin batu biru di lehernya terasa panas, sangat panas, seperti
bara api yang menyala di dadanya. Cahaya kebiruan mulai memancar dari liontin
itu, menyebar ke seluruh tubuh Amat, membuatnya tampak seperti menyala dari
dalam, seperti lilin yang dinyalakan di tengah kegelapan. Cahaya itu menjalar
dari tangannya ke batang pohon, merambat ke setiap dahan, ke setiap ranting, ke
setiap daun, ke setiap akar yang menjalar di dalam tanah.
Perlahan, daun-daun yang menguning mulai berubah menjadi
hijau kembali. Perlahan, getah merah yang keluar dari batang mulai berhenti.
Perlahan, pohon yang tadinya tampak sekarat mulai menunjukkan tanda-tanda
kehidupan. Dan dari dalam pohon, dari kedalaman yang tidak bisa dijangkau oleh
mata manusia, terdengar suara napas panjang, napas yang berat, napas yang
keluar dari paru-paru yang telah menahan beban selama tiga ratus tahun, seperti
seseorang yang terbangun dari tidur yang nyenyak, seperti seseorang yang hampir
mati tetapi masih diberi kesempatan untuk hidup.
Terima kasih, penjaga cilik, terdengar suara Kyai Beringin, kali ini lebih jelas
dari sebelumnya, lebih kuat dari sebelumnya, meskipun masih lemah, masih
terdengar seperti suara yang keluar dari jarak yang sangat jauh. Aku
merasa sedikit lebih kuat sekarang. Sedikit lebih baik. Tapi ingat, ini hanya
sementara. Makhluk-makhluk itu sudah mulai bangkit. Mereka sudah mulai
bergerak. Mereka sudah mulai keluar. Mereka akan segera datang. Aku tidak bisa
menahan mereka lama-lama.
"Apa yang harus kami lakukan, Kyai?" tanya Amat,
suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca, tetapi tekadnya tidak goyah.
Pergi ke Hutan Larangan. Temukan pusat segel. Di sana, di
tempat di mana gerbang batu itu berdiri, di tempat di mana makhluk-makhluk itu
dikurung, kau akan tahu apa yang harus dilakukan. Kau akan tahu pengorbanan apa
yang harus kau lakukan. Tapi kau tidak bisa pergi sendirian. Kau harus membawa
semua yang kau percaya. Kau harus membawa sahabat-sahabatmu, keluarga, warga
yang bersedia membantu. Karena pertempuran ini bukan hanya pertempuran fisik.
Bukan hanya pertempuran melawan makhluk-makhluk yang keluar dari dalam tanah.
Ini adalah pertempuran hati. Ini adalah pertempuran antara cahaya dan
kegelapan, antara harapan dan keputusasaan, antara ingatan dan kelupaan. Dan
dalam pertempuran seperti itu, tidak ada yang bisa berjuang sendirian.
Setelah ritual di pohon beringin, warga bergerak ke sumur
tua di belakang balai desa. Mereka membawa lampu minyak, senter, obor, dan
peralatan kebersihan. Mereka membersihkan area sekitar sumur yang selama ini
terbengkalai, yang ditumbuhi ilalang setinggi pinggang, yang dipenuhi
sampah-sampah yang dibawa angin dari pasar. Mereka membuang sampah-sampah yang
menumpuk, mencabut ilalang yang tumbuh liar, menyapu lantai di sekitar sumur
yang berlumut. Mereka membersihkan lumut yang menutupi dinding sumur, yang
selama ini menjadi rumah bagi serangga dan makhluk-makhluk kecil lainnya.
Mereka menurunkan ember ke dalam sumur, mengangkat air yang keruh dan berbau
anyir, membuangnya jauh-jauh dari sumur.
Amat menuruni sumur dengan tali yang diikatkan di
pinggangnya, dibantu oleh Guntur dan beberapa pemuda desa yang kuat. Ia turun
perlahan, merasakan dingin yang keluar dari dinding sumur, merasakan lembab
yang menempel di kulitnya, merasakan bau anyir yang semakin kuat semakin ia
mendekati dasar. Di dasar sumur, di antara lumpur hitam yang menempel di
lantai, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: sebuah batu
akik besar yang tertanam di tanah, seukuran telapak tangan orang dewasa, dengan
ukiran-ukiran yang sama dengan yang ada di gerbang batu di Hutan Larangan. Batu
itu retak, retakan-retakan dalam yang membuatnya hampir terbelah dua. Dari
retakan itu keluar air yang keruh, air yang berbau anyir, air yang seperti
darah yang mengalir dari luka.
Amat meletakkan tangannya di atas batu itu. Liontinnya bersinar
terang, cahaya biru yang menyilaukan di dasar sumur yang gelap. Air yang keruh
perlahan-lahan menjadi jernih, seperti air yang disaring oleh kekuatan yang
tidak terlihat. Retakan-retakan di batu itu mulai menutup, perlahan, seperti
luka yang sembuh. Dan dari dalam sumur, dari kedalaman yang tidak bisa
dijangkau oleh mata manusia, terdengar suara yang sudah lama tidak terdengar,
suara yang dulu pernah ia dengar ketika ia masih kecil, suara yang lembut dan
penuh kesedihan.
Penjaga... kau datang...
Suara itu lemah, nyaris tidak terdengar, tetapi jelas,
sangat jelas di telinga Amat.
Terima kasih... aku hampir mati... aku hampir menyerah...
aku hampir membiarkan kegelapan masuk... tapi kau datang... kau mengingatkanku
bahwa aku tidak sendirian... kau memberi aku kekuatan untuk bertahan...
"Kami akan menjaga, Mbah," kata Amat, suaranya
penuh tekad, tangannya masih menempel di batu akik yang mulai pulih. "Kami
tidak akan membiarkan desa ini hancur. Kami tidak akan membiarkan apa yang
dijaga oleh leluhur selama tiga ratus tahun hancur dalam waktu singkat."
Hati-hati... yang datang nanti bukan hanya satu... mereka
datang bersama... mereka sudah lama menunggu... mereka lapar... mereka marah...
mereka haus akan kebebasan... kalian harus kuat... kalian harus bersatu...
karena hanya dengan bersatu kalian bisa melawan mereka...
Beberapa hari setelah ritual pembersihan, setelah pohon
beringin kembali hijau, setelah sumur tua kembali berair jernih, setelah warga
desa mulai merasakan bahwa ada harapan, bahwa mereka tidak sendirian, bahwa
leluhur masih menjaga mereka, desa mulai diganggu oleh kemunculan
makhluk-makhluk aneh. Tidak semuanya berbahaya. Beberapa hanya muncul sekilas
lalu menghilang, seperti bayangan yang lewat di pinggir penglihatan, seperti
suara yang terdengar di kejauhan, seperti bau yang tercium sebentar lalu
hilang. Ada yang terlihat seperti manusia, tetapi dengan bentuk yang aneh,
dengan gerakan yang tidak wajar. Ada yang terlihat seperti binatang, tetapi
dengan ukuran yang tidak biasa, dengan mata yang menyala di kegelapan. Ada yang
tidak memiliki bentuk yang jelas, hanya gumpalan-gumpalan kabut yang bergerak,
yang mengikuti orang yang lewat, yang membuat bulu kuduk berdiri.
Namun beberapa lainnya mengancam. Makhluk-makhluk yang
keluar dari Hutan Larangan bukan sekadar bayangan atau kabut. Mereka adalah
makhluk yang nyata, yang bisa dilihat, didengar, dan dirasakan. Mereka adalah
makhluk yang lapar, yang marah, yang haus akan kebebasan setelah tiga ratus
tahun terkurung.
Suatu malam, ketika bulan sabit tipis menggantung di langit
dan kabut mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit, seekor makhluk besar
keluar dari Hutan Larangan dan berkeliaran di sawah-sawah warga. Bentuknya
seperti kera raksasa, dengan tubuh yang lebih besar dari kerbau, dengan bulu
hitam lebat yang menutupi seluruh tubuhnya, dengan mata merah menyala seperti
bara api di tengah kegelapan. Ia mengamuk di sawah, merusak tanaman padi yang
hampir panen, menginjak-injak tanaman dengan kakinya yang besar, mencabuti padi
dengan tangannya yang kuat. Beberapa warga yang melihatnya ketakutan,
berteriak, lari ke kaantor desa untuk melapor.
Amat, Raka, Camelia, dan yang lainnya segera menuju lokasi.
Guntur, yang paling kuat secara fisik, membawa parang dan tombak sederhana yang
dibuat dari bambu runcing. Hermansyah membawa lampu sorot yang terang, yang
biasanya ia gunakan untuk memperbaiki mesin di malam hari. Mas Bambang membawa
kamera thermal yang bisa melacak pergerakan makhluk itu dalam kegelapan. Mereka
berlari melewati jalan setapak yang gelap, melewati rumah-rumah warga yang
lampunya masih menyala, melewati sawah-sawah yang mulai mengering, menuju ke
selatan, ke tempat di mana makhluk itu terakhir terlihat.
Ketika mereka tiba di sawah, makhluk itu masih ada. Ia
sedang berdiri di tengah sawah, memandangi mereka dengan mata merahnya yang
menyala, dengan napas yang keluar dari hidungnya membentuk uap putih di udara
dingin. Tanah di sekitarnya rusak, tanaman padi hancur, bekas-bekas injakan
kaki besar berserakan di mana-mana. Makhluk itu menggeram, suaranya seperti
gemuruh yang mengguncang tanah, seperti guntur yang menyambar di langit malam.
Amat maju ke depan. Ia berdiri di antara makhluk itu dan
teman-temannya. Liontin di lehernya mulai bersinar, cahaya biru yang samar
tetapi terlihat jelas di kegelapan malam.
"Kembalilah ke tempatmu," kata Amat dengan suara
tegas, suara yang tidak bergetar meskipun hatinya berdebar kencang. "Kau
tidak punya urusan di desa ini. Kau tidak boleh mengganggu warga. Kembalilah ke
Hutan Larangan. Kembalilah ke tempat di mana kau seharusnya berada."
Makhluk itu menggeram lebih keras. Ia melangkah maju satu
langkah, dua langkah, tiga langkah. Tanah berguncang di bawah kakinya. Ia
mengangkat tangannya yang besar, dengan cakar-cakar yang panjang dan tajam,
siap untuk menyerang. Matanya yang merah menyala semakin terang, seperti api
yang siap membakar.
Amat tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap mata
merah itu dengan matanya yang biru, dengan hatinya yang tenang, dengan tekadnya
yang tidak goyah. Ia tidak membawa senjata, tidak membawa tombak, tidak membawa
parang. Ia hanya membawa liontin batu biru di lehernya, dan keyakinan bahwa
makhluk ini bukan musuh, bahwa makhluk ini hanya makhluk yang takut, yang
bingung, yang marah karena telah terkurung terlalu lama.
Perlahan, mata merah itu mulai meredup. Perlahan, tangan
yang terangkat mulai diturunkan. Perlahan, geraman yang menggetarkan mulai
berubah menjadi rintihan, rintihan yang panjang, rintihan yang penuh dengan
kesedihan, rintihan yang mengatakan bahwa makhluk ini tidak ingin menyerang,
bahwa ia hanya ingin bebas, bahwa ia hanya ingin kembali ke tempat yang dulu
menjadi rumahnya. Makhluk itu berhenti, tampak bingung, tampak ragu. Kemudian,
dengan gerakan perlahan, dengan langkah yang berat, ia berbalik dan berjalan
kembali menuju Hutan Larangan, meninggalkan sawah yang rusak, meninggalkan
jejak-jejak kaki besar di tanah, meninggalkan warga yang masih terpaku
ketakutan.
"Lo hebat, Mat," kata Raka, napasnya masih
terengah-engah, wajahnya pucat, tangannya masih gemetar memegang tombak bambu
yang tidak sempat ia gunakan. "Lo berhasil mengusir makhluk itu sendirian.
Tanpa senjata, tanpa bantuan, hanya dengan tatapan dan suara."
Amat menggeleng, menatap ke arah Hutan Larangan yang gelap
di kejauhan, di mana makhluk itu telah menghilang. "Aku tidak melakukan
apa-apa, Rak. Aku hanya berdiri di sana. Dia sendiri yang memilih untuk pergi.
Mungkin dia hanya takut. Mungkin dia hanya bingung. Mungkin dia tidak sejahat
yang kita kira. Mungkin dia juga korban. Korban dari segel yang mengurungnya,
korban dari manusia yang melupakan leluhur, korban dari keseimbangan yang
terganggu."
"Tapi lain kali, bisa saja dia tidak pergi," kata
Camelia, yang berdiri di samping Amat, yang mencatat semua yang terjadi di buku
catatannya, yang pikirannya selalu berpacu dengan kecepatan tinggi.
"Makhluk itu tadi pergi karena dia masih bisa dikendalikan. Tapi
makhluk-makhluk lain mungkin tidak selemah itu. Mungkin ada yang lebih besar,
lebih kuat, lebih marah. Kita harus bersiap untuk yang terburuk. Kita harus
bersiap untuk pertempuran yang sesungguhnya."
Amat mengangguk, menatap langit malam yang gelap, di mana
bintang-bintang mulai berkelap-kelip satu per satu. "Kamu benar, Mel. Ini
baru permulaan. Masih banyak yang akan datang. Tapi kita tidak sendirian. Kita
punya leluhur yang menjaga. Kita punya penjaga-penjaga yang setia. Kita punya
warga yang bersatu. Dan kita punya satu sama lain. Kita akan hadapi ini
bersama."
BAB 33: Raka Terjebak di Dua Dunia
Beberapa minggu setelah kemunculan makhluk-makhluk itu, setelah
malam-malam yang penuh dengan teror, setelah ritual-ritual pembersihan yang
dilakukan di pohon beringin dan sumur tua, setelah warga desa mulai terbiasa
dengan kenyataan bahwa desa mereka sedang dikepung oleh makhluk-makhluk dari
dunia lain, Raka mulai menunjukkan perubahan yang aneh. Perubahan yang tidak
pernah mereka duga, perubahan yang membuat Amat dan Camelia khawatir, perubahan
yang mungkin menjadi tanda bahwa makhluk-makhluk itu tidak hanya menyerang desa
dari luar, tetapi juga dari dalam, dari hati dan pikiran orang-orang yang
mereka cintai.
Raka, yang biasanya ceria dan penuh energi, yang biasanya
selalu menjadi pusat perhatian dengan lelucon-leluconnya yang kocak, yang
biasanya tidak bisa diam lebih dari lima menit, menjadi lebih pendiam. Pendiam
yang aneh, pendiam yang tidak seperti biasanya, pendiam yang membuat
orang-orang di sekitarnya merasa ada yang tidak beres. Ia lebih sering duduk
sendirian di warung pecelnya, tidak melayani pelanggan, tidak menggoreng
rempeyek, tidak mengulek bumbu. Ia hanya duduk di kursi goyang ayahnya, menatap
ke kejauhan, ke arah selatan, ke arah Hutan Larangan. Kadang-kadang, ketika
diajak bicara, ia seperti tidak mendengar. Matanya yang sipit menatap kosong ke
suatu arah, seolah-olah sedang melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain,
seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu yang tidak didengar orang lain,
seolah-olah pikirannya sedang berada di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh
siapa pun.
Amat dan Camelia khawatir. Mereka sudah mengenal Raka sejak
kecil, sejak hari pertama mereka bertemu di bawah pohon mangga halaman sekolah,
sejak Raka menawarkan pecel gratis sebagai tanda persahabatan, sejak Raka
membuat mereka tertawa di saat-saat paling sulit. Mereka tahu bahwa Raka bukan
tipe orang yang pendiam. Bukan tipe orang yang suka melamun. Bukan tipe orang
yang bisa diam lebih dari lima menit tanpa melontarkan lelucon atau cerita
lucu. Jika ia berubah seperti ini, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu
yang mungkin lebih serius dari sekadar kelelahan atau stres. Sesuatu yang
mungkin berhubungan dengan makhluk-makhluk yang mulai bangkit dari dalam tanah.
Sesuatu yang mungkin berhubungan dengan panggilan-panggilan yang selama ini
hanya didengar oleh Amat, tetapi sekarang mulai merambat ke orang-orang di
sekitarnya.
"Rak, ada apa denganmu?" tanya Amat suatu sore
ketika mereka bertiga duduk di beranda rumah Amat, seperti yang selalu mereka
lakukan sejak kecil, seperti yang telah menjadi ritual mereka setiap kali ada
masalah yang harus dipecahkan. Sumirah menyiapkan teh jahe hangat untuk mereka,
seperti biasa, tetapi kali ini Raka tidak menyentuh tehnya. Ia hanya duduk di
kursi bambu, menatap ke arah selatan, ke arah Hutan Larangan, dengan ekspresi
yang aneh, antara takut dan penasaran, antara ingin lari dan ingin mendekat,
antara sadar dan terhipnotis.
Raka tidak menjawab. Ia masih menatap ke kejauhan, mulutnya
bergerak-gerak sedikit, seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang tidak
terlihat, seperti sedang merespons panggilan yang hanya bisa didengar olehnya.
"Raka!" Camelia memanggil lebih keras, suaranya
sedikit meninggi karena khawatir. Ia meletakkan tangannya di pundak Raka,
mengguncangnya sedikit, berusaha mengembalikan kesadarannya.
Raka tersentak. Matanya yang kosong tiba-tiba fokus,
seperti orang yang baru bangun dari mimpi panjang. "Eh? Apa? Ada
apa?"
"Kami tanya, ada apa denganmu? Kamu jadi pendiam
akhir-akhir ini. Aneh. Tidak seperti biasanya. Ibu Yati juga bilang, kamu tidak
lagi membantu di warung. Kamu hanya duduk-duduk di kursi goyang, melamun, tidak
melayani pelanggan. Warung jadi sepi. Bapakmu kewalahan sendiri."
Raka terdiam sejenak. Wajahnya yang bulat itu, yang
biasanya selalu cerah dan penuh senyum, kini tampak pucat, lelah, ada lingkaran
hitam di bawah matanya yang menunjukkan bahwa ia mungkin tidak tidur nyenyak
selama berhari-hari. Kemudian, dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar, ia
berkata, "Aku... aku mendengar suara-suara, Mat. Seperti yang dulu kau
alami. Seperti yang dulu kau ceritakan. Suara-suara yang memanggilku.
Suara-suara yang tidak bisa aku abaikan. Suara-suara yang masuk ke dalam
kepalaku siang dan malam, tidak pernah berhenti, tidak pernah memberi aku
istirahat."
Amat dan Camelia terkejut. Mereka saling berpandangan,
tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. "Suara apa? Sejak kapan?
Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?"
Raka menghela napas panjang, napas yang keluar dari dadanya
yang sesak, napas yang membawa beban yang telah ia pendam selama berhari-hari.
"Sejak kita ke Hutan Larangan waktu itu. Sejak kita melihat gerbang batu
yang retak, sejak kita mendengar Kyai Beringin yang sekarat, sejak kita melihat
makhluk-makhluk itu mulai bangkit. Awalnya hanya bisikan-bisikan kecil, seperti
angin yang berdesir di antara pepohonan, seperti suara yang datang dari jarak
yang sangat jauh. Aku pikir itu hanya imajinasiku. Aku pikir itu hanya karena
aku terlalu lelah, terlalu takut, terlalu banyak pikiran. Tapi semakin hari
semakin keras. Semakin hari semakin jelas. Mereka memanggil namaku. Mereka bilang...
mereka bilang aku harus datang. Mereka bilang aku bagian dari semuanya. Mereka
bilang aku tidak bisa lari dari takdir. Mereka bilang aku memiliki peran yang
tidak kalah penting dari Amat. Mereka bilang aku adalah kunci."
Amat merasakan hawa dingin menjalari punggungnya, hawa
dingin yang tidak berasal dari udara sore yang sejuk, tetapi dari dalam
hatinya. Ia ingat apa yang dikatakan Kyai Beringin di Hutan Larangan: pertempuran
ini bukan hanya pertempuran fisik, tetapi juga pertempuran hati. Mungkin
ini yang dimaksud. Mungkin makhluk-makhluk itu tidak hanya menyerang secara
fisik, dengan merusak sawah, mengganggu warga, membuat kerusakan di desa.
Mereka juga menyerang secara psikis, dengan merasuki pikiran, memanipulasi
perasaan, memecah belah persatuan. Mereka mencoba merasuki orang-orang terdekat
Amat, untuk melemahkannya, untuk membuatnya sendirian, untuk menghancurkan
semangatnya sebelum pertempuran yang sesungguhnya dimulai.
"Rak, kau harus melawan suara-suara itu," kata
Amat tegas, suaranya tidak meninggi tetapi penuh dengan tekad. Ia meraih tangan
Raka yang dingin, menggenggamnya erat-erat, berusaha menyalurkan kekuatan yang
ia miliki. "Kau jangan dengarkan mereka. Kau jangan percaya pada mereka.
Mereka hanya ingin memanfaatkanmu. Mereka hanya ingin menggunakanmu untuk
mencapai tujuan mereka. Mereka tidak peduli dengan keselamatanmu. Mereka tidak
peduli dengan desa ini. Mereka hanya ingin bebas, apa pun risikonya, apa pun
korbannya."
"Aku tahu, Mat. Aku tahu. Tapi mereka terus memanggil.
Siang dan malam. Tidak pernah berhenti. Bahkan ketika aku tidur, mereka masuk
ke dalam mimpiku. Aku jadi susah tidur. Aku jadi lelah. Aku jadi... aku jadi
tidak tahu mana yang nyata dan mana yang tidak. Aku jadi bingung. Aku jadi
takut. Aku takut... aku takut suatu saat nanti aku tidak bisa melawan lagi. Aku
takut aku akan menyerah. Aku takut aku akan pergi ke mereka, dan tidak bisa
kembali."
Camelia meraih tangan Raka yang lain, merasakan dinginnya
ujung jari yang biasanya hangat karena sibuk menggoreng rempeyek dan mengulek
bumbu. "Kau kuat, Rak. Kau selalu kuat. Kau adalah orang yang membuat kami
semua tertawa di saat-saat paling sulit. Kau adalah orang yang mengingatkan
kami bahwa hidup tidak selalu harus serius. Kau adalah orang yang membawa pecel
setiap kali kami rapat, dan membuat kami lupa bahwa dunia sedang kacau. Jangan
biarkan mereka merenggut itu darimu. Jangan biarkan mereka memadamkan tawamu.
Tawa adalah senjata paling ampuh, dan kau adalah pemilik senjata itu."
Raka tersenyum tipis, senyum yang pertama kali muncul di
wajahnya setelah berhari-hari. Senyum yang lemah, rapuh, tetapi nyata.
"Makasih, Mel. Aku akan coba. Aku akan coba melawan. Tapi aku tidak bisa
janji. Mereka terlalu kuat. Mereka terlalu banyak. Aku hanya Raka. Aku bukan
Amat yang punya kekuatan gaib. Aku bukan Camelia yang pintar dan teliti. Aku
hanya anak pecel yang bisa membuat orang tertawa. Apakah itu cukup? Apakah itu
cukup untuk melawan mereka?"
"Itu lebih dari cukup, Rak," kata Amat, suaranya
penuh keyakinan. "Tawa adalah senjata paling ampuh. Mbah Ratih bilang
begitu. Kyai Beringin juga bilang begitu. Dan aku percaya. Karena tawamu yang
membuat kami kuat. Tawamu yang membuat kami tidak menyerah. Tawamu yang membuat
kami percaya bahwa kita bisa melewati semua ini. Jadi, jangan pernah meremehkan
dirimu sendiri. Kau lebih kuat dari yang kau kira."
Beberapa hari kemudian, ketika desa sedang bersiap menghadapi
kemungkinan terburuk, ketika warga mulai membuat barikade di sekitar desa,
ketika para pemuda berlatih menggunakan senjata sederhana, ketika Mbah Ratih
mengajarkan mantra-mantra perlindungan kepada mereka yang mau belajar, Raka
menghilang. Ia tidak datang ke warung pecel seperti biasa. Ia tidak membuka
warung, tidak menggoreng rempeyek, tidak mengulek bumbu. Ibunya, Bu Yati, yang
sudah terbiasa dengan rutinitas Raka yang bangun pagi untuk membantu di dapur,
panik ketika melihat kamar Raka kosong dan tempat tidurnya dingin, pertanda
bahwa ia sudah pergi sejak lama. Ia mencari ke seluruh rumah, ke dapur, ke
gudang, ke halaman belakang, ke kandang ayam. Tidak ada. Ia bertanya pada
tetangga, pada Pak Tarno yang rumahnya tidak jauh, pada Bu Darmo yang sedang
berjalan ke pasar. Tidak ada yang melihat Raka.
Bu Yati berlari ke kantor desa, dengan wajah pucat, dengan
mata berkaca-kaca, dengan suara yang bergetar. Ia melapor ke Amat, yang sedang
membantu Pak Arjuna menyusun rencana evakuasi jika keadaan semakin parah.
"Amat, Raka hilang! Sejak subuh tidak ada di rumah! Tidak di warung, tidak
di mana-mana! Aku sudah cari ke seluruh desa! Tidak ada! Tolong cari!
Tolong!"
Amat tidak menunggu lebih lama. Ia segera mengumpulkan
semua teman-temannya, semua orang yang bisa membantu. Camelia, Guntur, Hermansyah,
Amita, Mas Bambang, Enjelin. Mereka menyebar ke seluruh desa, mencari ke setiap
sudut, ke setiap gang, ke setiap rumah. Mereka mencari ke sawah, ke sungai, ke
bukit, ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi Raka. Tidak ada tanda-tanda Raka.
Tidak ada jejak, tidak ada petunjuk, tidak ada yang melihatnya pergi.
Sampai akhirnya, Hermansyah, yang paling teliti di antara
mereka, yang tidak pernah melewatkan detail sekecil apa pun, menemukan sesuatu
di tepi Hutan Larangan. Sepatu Raka, sepasang sandal jepit yang biasa ia
gunakan setiap hari, dengan sol yang sudah tipis karena sering dipakai berjalan
ke mana-mana, tergeletak di dekat batas bambu runcing. Dan di tanah, di antara
ilalang yang tumbuh tinggi, jejak kaki yang masuk ke dalam hutan. Jejak kaki
telanjang, dengan pola yang khas, dengan langkah yang tidak teratur, seperti
orang yang berjalan dalam keadaan setengah sadar.
"Dia masuk ke hutan," kata Hermansyah, wajahnya
yang biasanya tenang dan tidak mudah terpengaruh itu tampak pucat, suaranya
bergetar sedikit. "Dia masuk ke Hutan Larangan. Sendirian. Tanpa
perlengkapan. Tanpa senjata. Tanpa apa-apa."
Amat tidak menunggu lebih lama. Ia tidak berpikir, tidak
merencanakan, tidak mempertimbangkan risiko. Ia hanya berlari. Berlari melewati
batas bambu runcing, masuk ke dalam Hutan Larangan, meninggalkan teman-temannya
yang masih terpaku di tepi hutan. Camelia segera menyusul, diikuti Guntur,
Hermansyah, Amita, Mas Bambang, dan Enjelin. Mereka tidak mau ditinggal. Mereka
tidak akan membiarkan Amat pergi sendirian, seperti yang tidak pernah mereka
lakukan sejak kecil.
Hutan Larangan terasa berbeda dari kunjungan sebelumnya.
Jauh berbeda. Kabut abu-abu gelap yang dulu hanya setinggi lutut, yang dulu
hanya bergelayut di antara pepohonan, kini setinggi dada, tebal, pekat, seperti
air yang menggenang di hutan. Mereka harus berjalan dengan susah payah,
mengangkat kaki tinggi-tinggi, merasakan dingin yang menjalar dari kabut ke
kulit mereka. Senter-senter yang mereka bawa, yang biasanya cukup terang untuk
menerangi jalan setapak, hanya mampu menembus beberapa meter. Lampu sorot
Hermansyah yang biasanya bisa menerangi area sejauh puluhan meter, hanya mampu
menerangi beberapa langkah di depan. Suara-suara aneh terdengar dari segala
arah, kadang di depan, kadang di belakang, kadang di kiri, kadang di kanan,
membuat mereka sulit menentukan arah, membuat mereka merasa bahwa mereka sedang
dikepung, bahwa mereka sedang berjalan ke dalam perangkap yang sudah disiapkan.
Amat menutup matanya, mencoba merasakan kehadiran Raka
melalui liontin batu biru di lehernya. Liontin itu terasa hangat, hangat yang
tidak biasa, hangat yang berdenyut-denyut seperti detak jantung, seperti ada
kehidupan di dalamnya, seperti ada sesuatu yang merespons panggilannya. Ia
mengikuti denyut itu, berjalan perlahan menembus kabut, menembus kegelapan,
menembus suara-suara aneh yang mencoba mengalihkan perhatiannya. Camelia
berjalan di sampingnya, memegang tangannya, tidak mau terpisah. Guntur berjalan
di depan, dengan parang di tangan, siap membela jika ada serangan. Hermansyah,
Amita, Mas Bambang, dan Enjelin mengikuti di belakang, dengan peralatan
masing-masing, dengan hati yang berdebar, dengan doa yang dipanjatkan dalam
hati.
Setelah berjalan sekitar satu jam, satu jam yang terasa
seperti satu hari, satu jam yang penuh dengan ketegangan dan kewaspadaan, mereka
tiba di area yang terbakar. Area yang dulu hanya beberapa puluh meter, kini
meluas menjadi ratusan meter. Pohon-pohon yang dulu masih berdiri, meskipun
hitam dan gundul, kini tumbang bergelimpangan, batang-batangnya berserakan di
tanah, seperti tulang-belulang raksasa yang berserakan di medan perang. Api
yang dulu hanya membakar pohon-pohon, kini membakar tanah itu sendiri. Tanah
terbelah menjadi jurang-jurang yang dalam, dan dari dalam belahan itu keluar
cahaya merah yang menyilaukan, cahaya yang panas, cahaya yang membuat udara di
sekitarnya bergelombang seperti di atas kawah gunung berapi. Udara panas dan
berbau belerang membuat mereka sulit bernapas, membuat mata mereka perih,
membuat tenggorokan mereka kering.
Dan di tengah-tengah area yang terbakar itu, di antara
jurang-jurang yang memancarkan cahaya merah, tepat di depan gerbang batu yang
kini hampir runtuh, Raka berdiri. Ia berdiri dengan kaki telanjang di atas
tanah yang panas, dengan pakaian yang kotor dan robek di beberapa tempat,
dengan rambut yang acak-acakan, dengan wajah yang pucat dan lelah. Matanya
tertutup rapat, seperti orang yang sedang berkonsentrasi penuh, seperti orang
yang sedang berusaha mendengarkan sesuatu dari dalam dirinya. Tangannya terentang
ke samping, seperti sedang berdoa, seperti sedang menawarkan dirinya kepada
sesuatu yang lebih besar. Tubuhnya diterangi oleh cahaya merah dari dalam
tanah, cahaya yang berdenyut-denyut mengikuti detak jantungnya, membuatnya
tampak seperti patung yang terbuat dari api, seperti makhluk yang setengah
manusia setengah cahaya.
"Raka!" teriak Amat, suaranya lantang, bergema di
antara pepohonan yang tumbang, berusaha menembus kabut yang tebal, berusaha
menjangkau sahabatnya yang berada di tengah pusaran cahaya merah.
Raka tidak bergerak. Matanya masih tertutup rapat. Mulutnya
bergerak-gerak, seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang tidak terlihat,
seperti sedang merespons panggilan yang hanya bisa didengar olehnya, seperti
sedang bernegosiasi dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
"Raka! Sadar! Itu bukan kamu! Itu bukan kehendakmu!
Mereka memanipulasimu! Mereka memanfaatkanmu! Jangan biarkan mereka
mengendalikanmu!" teriak Camelia, suaranya lebih tinggi, lebih keras,
lebih panik. Ia melepaskan tangan Amat, berjalan beberapa langkah ke depan,
mencoba mendekati Raka, mencoba menjangkau sahabatnya yang berada di ambang
antara dua dunia.
Tiba-tiba, dari dalam tanah, dari dalam jurang yang
memancarkan cahaya merah, dari dalam gerbang batu yang hampir runtuh, muncul
sesosok makhluk. Sosok yang mereka kenal, sosok yang telah muncul dalam mimpi
Amat sejak kecil, sosok yang menjadi pusat dari semua kegelapan yang mengancam desa
ini. Bentuknya tidak jelas, kadang seperti manusia, dengan tubuh kurus dan
tinggi, dengan jubah hitam yang berkibar-kibar, dengan wajah yang tidak pernah
jelas. Kadang seperti ular raksasa, dengan sisik-sisik yang berkilauan, dengan
lidah yang bercabang, dengan tubuh yang melingkar di sekitar gerbang batu.
Kadang seperti bayangan yang bergerak-gerak tanpa bentuk, yang tidak pernah
bisa ditangkap oleh mata, yang selalu ada di pinggir penglihatan. Tetapi
matanya jelas: dua titik merah yang menyala, seperti bara api yang membara di
tengah kegelapan, seperti mata yang telah menunggu selama tiga ratus tahun, dan
sekarang akhirnya bertemu dengan yang ditunggu.
Penjaga cilik... kau datang... seperti yang kuduga...
seperti yang telah aku rencanakan...
"Lepaskan dia!" teriak Amat, suaranya penuh
amarah, matanya yang biru menyala dengan tekad, liontin di lehernya mulai
memancarkan cahaya biru yang beradu dengan cahaya merah di sekitarnya.
Makhluk itu tertawa. Suaranya menggelegar, membuat tanah
berguncang, membuat pohon-pohon yang masih berdiri bergoyang, membuat kabut
berputar-putar seperti pusaran air. Dia bukan tawananku, penjaga cilik.
Dia bukan korbanku. Dia bukan budakku. Dia datang sendiri. Dengan kesadarannya
sendiri. Dengan kehendaknya sendiri. Dengan hatinya sendiri. Dia mendengar
panggilanku. Dia mendengar panggilan yang selama ini kau abaikan. Dia memilih
untuk datang. Dia ingin membantu. Dia ingin menjadi bagian dari sesuatu yang
lebih besar. Dia ingin menjadi pahlawan, bukan hanya pelengkap. Dia ingin
membuktikan bahwa dia lebih dari sekadar anak pecel yang bisa membuat orang
tertawa.
"Itu bohong! Kau hanya memanfaatkannya! Kau hanya
ingin menggunakan dia untuk mencapai tujuanmu! Kau tidak peduli padanya! Kau
tidak peduli pada siapa pun! Kau hanya ingin bebas, apa pun risikonya, apa pun
korbannya!"
Memanfaatkan? Tidak. Aku memberinya kesempatan. Kesempatan
yang tidak pernah kau berikan padanya. Kesempatan untuk menjadi sesuatu yang
lebih. Selama ini, selama bertahun-tahun, sejak kalian masih kecil, dia hanya
menjadi bayanganmu. Pelengkap. Penghibur. Orang yang membuatmu tertawa ketika kau
terlalu serius. Tapi tidak pernah lebih dari itu. Tidak pernah menjadi pusat.
Tidak pernah menjadi yang utama. Tapi dengan aku, dia bisa menjadi pahlawan.
Dia bisa menyelamatkan desanya. Dia bisa menjadi sesuatu yang dikenang
selamanya.
Amat merasakan amarah yang membakar dadanya, amarah yang
membuat tangannya mengepal, membuat giginya mengertak, membuat darahnya
mendidih. Tapi ia berusaha menenangkan diri. Ia tahu bahwa amarah hanya akan
membuatnya lemah. Ia tahu bahwa makhluk itu ingin memancingnya untuk bertindak
gegabah. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan Raka adalah dengan
tetap tenang, dengan tetap fokus, dengan tetap mengingat siapa dirinya dan
siapa Raka sebenarnya.
"Raka," kata Amat dengan suara lembut, suara yang
tidak seperti biasanya, suara yang penuh dengan kasih sayang, suara yang
mencoba menjangkau sahabatnya yang berada di ambang antara dua dunia.
"Rak, dengar suaraku. Ini aku, Amat. Sahabatmu. Temanmu sejak kecil. Orang
yang selalu kau temani, yang selalu kau buat tertawa, yang selalu kau ingatkan
untuk tidak terlalu serius. Kau tidak perlu menjadi sesuatu yang lebih. Kau
tidak perlu menjadi pahlawan. Kau tidak perlu menyelamatkan desa ini sendirian.
Kau sudah sempurna seperti sekarang. Kau adalah Raka. Raka yang membuat kami
tertawa di saat-saat paling sulit. Raka yang selalu membawa pecel setiap kali
kami rapat. Raka yang pernah mendorongku saat aku hampir terkena serangan
makhluk itu. Raka yang tidak pernah meninggalkanku, apa pun yang terjadi. Kau
adalah pahlawan, Rak. Tanpa perlu menjadi apa pun. Tanpa perlu mengorbankan
dirimu."
Raka bergerak. Gerakan kecil, nyaris tidak terlihat, tetapi
nyata. Kepalanya yang tadinya tegak, menatap ke depan dengan mata tertutup,
sedikit menunduk. Tangannya yang tadinya terentang ke samping, sedikit gemetar.
Matanya yang tertutup rapat, bergerak-gerak di balik kelopaknya, seperti orang
yang sedang berusaha membangunkan diri dari mimpi buruk.
"Mat... aku... aku tidak bisa... mereka terlalu
kuat... mereka terlalu banyak... mereka terus memanggil... siang dan malam...
aku tidak bisa tidur... aku tidak bisa berpikir... aku tidak bisa... aku
lelah..."
"Kau bisa, Rak. Aku tahu kau bisa. Kau selalu bisa.
Ingat waktu kita kecil, ketika kita pertama kali bertemu? Aku duduk sendirian
di beranda rumah, menatap pohon beringin, dan kau datang dengan sepeda onthelmu
yang berisik, membawa pecel untuk Bu Tarno. Kau menyapaku dengan suara keras,
dan aku terkejut. Kau tidak takut padaku, tidak seperti anak-anak lain. Kau
tidak menjauhiku. Kau malah mengajakku berteman. Kau memberiku pecel gratis.
Kau membuatku tertawa untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Itu adalah
saat yang paling berharga dalam hidupku, Rak. Karena saat itu, aku tahu bahwa
aku tidak sendirian."
Raka bergerak lagi. Kali ini lebih jelas. Matanya yang
tadinya tertutup rapat, mulai terbuka sedikit. Cahaya merah yang menyelimuti
tubuhnya mulai meredup, bergantian dengan cahaya biru yang mulai muncul dari
dalam dirinya.
"Kau juga ingat waktu kita di Bukit Pangasih? Waktu
kita berjanji untuk menjaga desa ini bersama? Kau bilang, 'Aku bersumpah demi
pecel bapakku yang paling enak se-Awan Biru, aku akan menjaga desa ini dan
tidak akan meninggalkan kalian berdua.' Kau ingat itu, Rak? Kau ingat janji
kita?"
"Janji... kita..." Raka bergumam, suaranya pelan,
nyaris tidak terdengar, tetapi nyata.
"Janji itu, Rak. Janji yang kau buat dengan tulus.
Janji yang tidak bisa dilanggar. Janji yang mengikat kita selamanya. Kau tidak
bisa pergi. Kau tidak bisa meninggalkan kami. Kau tidak bisa menyerah pada
mereka. Karena kau adalah bagian dari tim ini. Tanpa kau, kami tidak akan
lengkap. Tanpa kau, kami tidak akan kuat. Tanpa tawamu, kami akan hancur."
Raka tersenyum. Senyum yang lemah, rapuh, seperti bunga
yang akan layu tertiup angin. Tapi senyum yang nyata. Senyum yang pertama kali
muncul di wajahnya setelah berhari-hari. "Pecel... ya... pecel... aku
harus bawa pecel... untuk rapat kita... tanpa pecel... rapat tidak afdol...
Bapakku bilang... perut lapar bikin pikiran keruh... otak encer bikin keputusan
tepat... jadi pecel... adalah kunci..."
Tiba-tiba, cahaya merah yang menyelimuti Raka mulai meredup
dengan cepat. Cahaya biru dari liontin Amat semakin terang, menyinari tubuh
Raka, mendorong cahaya merah itu keluar. Makhluk itu menggeram marah, suaranya
menggelegar, membuat tanah berguncang hebat, membuat retakan-retakan di tanah
semakin lebar.
Tidak! Kau tidak bisa lepas dariku! Kau milikku! Kau sudah
kurasuki! Kau sudah kucuci otak! Kau sudah kuprogram untuk menjadi agenku! Kau
tidak bisa lepas! Tidak bisa!
Raka membuka matanya lebar-lebar. Matanya yang tadinya
kosong, yang tadinya hanya memantulkan cahaya merah, kini menyala dengan tekad
yang sama seperti saat ia membuat janji di Bukit Pangasih. Matanya yang sipit
itu terbuka lebar, dan di dalamnya, Amat dan Camelia melihat kembali Raka yang
mereka kenal. Raka yang ceria. Raka yang pemberani. Raka yang tidak pernah
menyerah.
"Aku bukan milik siapa pun!" teriak Raka,
suaranya lantang, bergema di antara pepohonan yang tumbang, menembus kabut yang
tebal, mengalahkan gemuruh dari dalam tanah. "Aku adalah Raka! Anaknya Pak
Gareng! Penjual pecel! Sahabatnya Amat dan Camelia! Warga Desa Awan Biru! Dan
aku tidak akan membiarkanmu merusak desaku! Tidak akan membiarkanmu mengganggu
teman-temanku! Tidak akan membiarkanmu menghancurkan apa yang telah dijaga oleh
leluhur selama tiga ratus tahun!"
Dengan satu teriakan, dengan satu ledakan energi yang tidak
pernah ia sadari ada dalam dirinya, Raka melepaskan diri dari cengkeraman
makhluk itu. Ia jatuh ke tanah, lemas, seperti wayang yang putus talinya,
tetapi sadar. Matanya masih terbuka, masih melihat, masih mengenali Amat dan
Camelia yang berlari ke arahnya.
Amat dan Guntur segera berlari ke arah Raka, menyeretnya
menjauh dari gerbang batu yang semakin retak, menjauh dari jurang-jurang yang
memancarkan cahaya merah, menjauh dari makhluk yang mengamuk di pusaran cahaya.
Makhluk itu mengamuk, berteriak, berusaha keluar dari lingkaran cahaya merah
yang mengurungnya, tetapi tidak bisa. Segelnya masih kuat, meskipun retak.
Segel yang telah dijaga oleh Kyai Beringin selama tiga ratus tahun, yang telah
diperkuat oleh ritual-ritual warga desa, yang telah diberi energi oleh Amat,
masih mampu menahannya.
Ini belum selesai, penjaga cilik! Ini belum selesai! Aku
akan keluar! Aku akan bebas! Dan ketika aku keluar, desamu akan hancur! Semua
yang kau cintai akan lenyap! Aku akan memastikan itu!
Mereka tidak menoleh. Mereka berlari sekencang-kencangnya
meninggalkan area itu, membawa Raka yang masih lemas, menembus kabut yang
tebal, melewati pohon-pohon yang tumbang, melewati retakan-retakan yang
memancarkan cahaya merah, kembali ke desa, kembali ke tempat yang aman. Mereka
tidak peduli dengan ancaman makhluk itu. Mereka hanya peduli pada satu hal:
Raka selamat. Raka kembali. Raka masih bersama mereka.
Ketika mereka tiba di tepi hutan, ketika mereka melewati
batas bambu runcing yang menandai batas antara Hutan Larangan dan desa, Raka
membuka matanya. Matanya yang tadinya kosong, yang tadinya hanya memantulkan
cahaya merah, kini kembali normal. Matanya yang sipit, yang selalu menyipit
ketika ia tersenyum, yang selalu ceria, yang selalu menjadi sumber tawa bagi
semua orang. Ia tersenyum, senyum yang lemah tetapi nyata, senyum yang pertama
kali muncul di wajahnya setelah berhari-hari.
"Maaf, Mat," katanya, suaranya serak, seperti
suara orang yang baru bangun dari tidur panjang. "Aku... aku hampir
membuat kalian panik. Aku hampir... aku hampir tidak bisa kembali. Tapi
kalian... kalian menyelamatkanku. Seperti biasa."
Amat tersenyum, meskipun matanya berkaca-kaca. "Kamu
bukan hampir membuat kami panik, Rak. Kamu benar-benar membuat kami panik. Ibu
Yati nyaris pingsan. Warung pecelmu tutup. Bapakmu kewalahan sendiri. Camelia
hampir menangis. Aku... aku hampir kehilangan akal. Tapi yang penting kamu
selamat. Yang penting kamu kembali."
Camelia yang berdiri di samping Amat, ikut tersenyum,
meskipun air matanya tidak bisa ditahan. "Kamu ini, Ra, jangan buat kami
khawatir seperti itu lagi. Kami sudah cukup khawatir dengan makhluk-makhluk
itu. Jangan tambah dengan ulahmu."
Raka tertawa kecil, tawa yang lemah, tetapi tawa. Tawa yang
sudah lama tidak terdengar, tawa yang menjadi ciri khasnya, tawa yang menjadi
senjata paling ampuh mereka. "Maaf, maaf. Aku janji tidak akan begitu
lagi. Mulai sekarang, aku akan fokus jualan pecel. Tidak akan mendengar
suara-suara aneh lagi. Tidak akan pergi ke Hutan Larangan sendirian lagi.
Janji."
Mereka semua tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas,
tawa yang mengusir sisa-sisa ketegangan yang masih mengendap setelah malam yang
melelahkan. Tawa yang mengingatkan bahwa di tengah semua kegelapan dan
ketakutan, mereka masih bisa tertawa, masih bisa menikmati hal-hal sederhana
seperti kebersamaan dan persahabatan. Tawa yang menjadi senjata paling ampuh,
seperti yang pernah dikatakan Mbah Ratih, seperti yang pernah dikatakan Kyai
Beringin.
Malam itu, ketika mereka berkumpul di warung pecel Raka
yang sempat tutup beberapa hari, Raka menyiapkan pecel untuk semua orang.
Dengan tangannya yang masih gemetar, dengan wajahnya yang masih pucat, dengan
senyum yang masih lemah tetapi mulai pulih, ia mengulek bumbu, menggoreng
kerupuk, memotong sayuran, seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil. Amat
membantu memotong sayur. Camelia membantu menata meja. Guntur membantu
mengambil piring. Hermansyah membantu menyalakan lampu. Amita membantu
menyiapkan minuman. Mas Bambang dan Jel membantu mendokumentasikan momen ini,
untuk dikenang di kemudian hari.
"Ini untuk merayakan Raka kembali," kata Raka
sendiri, meletakkan besek-besek pecel di atas meja panjang yang mereka siapkan
di halaman warung. "Dan untuk merayakan bahwa kita masih bersama. Bahwa
kita masih bisa tertawa. Bahwa kita masih punya harapan."
Mereka semua mengangkat gelas. "Untuk Raka. Untuk
persahabatan. Untuk Desa Awan Biru."
Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak di tengah
desa, dengan kanopinya yang rimbun, dengan daun-daunnya yang mulai hijau
kembali, dengan Kyai Beringin yang mungkin masih lemah tetapi masih setia
menjaga. Di sumur tua, penjaga air mulai mengalirkan air jernih kembali. Di
Hutan Larangan, gerbang batu yang retak masih berdiri, makhluk di dalamnya
masih mengamuk, tetapi untuk malam ini, untuk saat ini, desa ini aman. Dan
mereka masih bersama.
BAB 34: Ritual Purnama yang Terlarang
Sesampainya di desa, ketika matahari mulai terbit di ufuk
timur dengan cahaya keemasan yang perlahan-lahan menembus kabut pagi, Raka
langsung dibawa ke puskesmas pembantu. Guntur menggendongnya sepanjang jalan
dari tepi Hutan Larangan, tidak mau melepaskannya meskipun tangannya sudah
pegal dan punggungnya terasa sakit. Ia berjalan dengan langkah mantap, dengan
hati yang berdebar, dengan mata yang tidak berkedip, memastikan bahwa Raka
aman. Amat berjalan di sampingnya, sesekali mengecek denyut nadi Raka, sesekali
membisikkan nama sahabatnya untuk memastikan ia masih sadar. Camelia berjalan
di belakang, dengan buku catatan yang terbuka, tetapi tidak ada yang ia tulis.
Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca, pikirannya kosong.
Bidan Amelia dan dr. Erlangga sudah menunggu di puskesmas.
Mereka mendengar kabar dari Hermansyah yang berlari lebih dulu untuk memberi
tahu. Mereka menyiapkan ruang perawatan, membersihkan tempat tidur, menata
alat-alat medis yang mungkin diperlukan. Ketika Raka tiba, mereka langsung
memeriksanya dengan saksama, dengan teliti, dengan penuh perhatian. Bidan
Amelia memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, pernapasan. dr.
Erlangga memeriksa refleks, pupil mata, respons terhadap rangsangan. Mereka
melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, dari ujung rambut hingga ujung kaki,
mencari luka, memar, atau tanda-tanda cedera lainnya.
Secara fisik, tidak ada luka. Tidak ada memar, tidak ada
patah tulang, tidak ada cedera internal. Tekanan darah normal, suhu tubuh
normal, denyut nadi teratur. Tubuh Raka sehat, seperti tidak pernah terjadi
apa-apa. Namun secara mental, Raka mengalami trauma yang cukup berat. Ia sulit
tidur, sering terbangun dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya,
dengan jantung yang berdebar kencang, dengan napas yang tersengal-sengal
seperti baru saja dikejar oleh sesuatu yang mengerikan. Kadang-kadang, ketika
sedang duduk diam atau berbaring di tempat tidur, ia berbicara sendiri seperti
sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak terlihat, dengan suara yang
pelan, dengan kata-kata yang tidak jelas, dengan ekspresi wajah yang
berganti-ganti antara ketakutan dan kemarahan, antara kepasrahan dan
perlawanan. Matanya yang biasanya ceria dan penuh dengan kehidupan, yang
biasanya menyipit ketika ia tersenyum, kini kosong, menerawang ke kejauhan, ke
arah selatan, ke arah Hutan Larangan, ke arah gerbang batu yang retak.
"Aku tidak bisa menjelaskan ini secara medis,"
kata dr. Erlangga kepada Amat dan Camelia yang berdiri di ruang perawatan, di
samping tempat tidur Raka yang terbaring lemah. Wajah dokter tua itu tampak
lelah, kerutan di dahinya dalam, matanya yang biasanya tajam kini redup. Ia
sudah puluhan tahun bertugas di daerah pedesaan, sudah melihat berbagai macam
penyakit, dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Tapi ia belum
pernah melihat kasus seperti ini. "Tubuhnya sehat. Tidak ada cedera, tidak
ada infeksi, tidak ada gangguan organ vital. Tapi ada sesuatu yang mengganggu
pikirannya. Sesuatu yang tidak bisa saya deteksi dengan alat-alat medis.
Sesuatu yang mungkin tidak bisa dijelaskan oleh ilmu kedokteran. Ini di luar
kemampuanku, Amat. Ini di luar kemampuan siapa pun yang hanya mengandalkan ilmu
pengetahuan."
"Ini karena pengaruh makhluk itu, Dok," kata
Amat, suaranya pelan tetapi tegas, matanya menatap Raka yang terbaring di
tempat tidur dengan ekspresi yang campur aduk antara kasih sayang dan
kekhawatiran. "Dia sempat dikuasai, meskipun hanya sebentar. Makhluk itu
mencoba merasukinya, mencoba mengendalikan pikirannya, mencoba menggunakan
tubuhnya untuk mencapai tujuannya. Tapi Raka melawan. Raka berhasil melepaskan
diri. Masih ada sisa-sisa pengaruhnya. Masih ada bekas-bekas yang tertinggal.
Seperti bayangan yang masih menempel, seperti suara yang masih bergema, seperti
luka yang belum sembuh."
"Kalau begitu, aku tidak bisa membantu. Ini di luar
kemampuanku. Tapi aku akan terus memantau kondisinya. Setiap hari, aku akan
memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi. Jika ada perubahan fisik,
jika ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, segera laporkan. Aku akan melakukan
yang terbaik yang bisa aku lakukan sebagai dokter. Tapi untuk yang lain...
untuk yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu kedokteran... aku hanya bisa
berdoa."
Amat dan Camelia bergantian menjaga Raka. Di siang hari,
Camelia yang menemani, duduk di kursi kayu di samping tempat tidur Raka, dengan
buku catatan di pangkuannya, sesekali menulis sesuatu, sesekali menatap
sahabatnya yang terbaring lemah, sesekali berdoa dalam hati. Di malam hari,
Amat yang berjaga, duduk di kursi yang sama, dengan liontin batu biru di
lehernya yang mulai terasa hangat ketika malam semakin larut, dengan mata yang
tidak berkedip, mendengarkan setiap suara yang keluar dari mulut Raka, siap
membangunkannya jika mimpi buruk datang lagi.
Raka sering terbangun di tengah malam. Terbangun dengan
tiba-tiba, seperti orang yang ditarik dari kedalaman laut, seperti orang yang
dilempar dari ketinggian. Matanya terbuka lebar, membelalak, menatap
langit-langit dengan ekspresi ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. Keringat
membasahi seluruh tubuhnya, membuat pakaiannya basah, membuat rambutnya basah,
membuat bantal dan seprainya basah. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya
tersengal-sengal, seperti baru saja berlari sejauh-jauhnya dari sesuatu yang
mengejar.
"Mat, mereka ada di sini," bisiknya suatu malam,
ketika Amat sedang duduk di sampingnya, ketika bulan purnama bersinar terang di
luar jendela, ketika kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit.
Suaranya parau, nyaris tidak terdengar, tetapi Amat bisa mendengarnya dengan
jelas. "Aku mendengar mereka. Mereka ada di sekitarku. Mereka memanggilku.
Mereka bilang mereka akan datang. Mereka bilang tidak ada yang bisa
menghentikan mereka. Mereka bilang desa ini akan hancur. Mereka bilang aku
harus memilih. Memilih antara kalian dan mereka."
"Rak, itu hanya mimpi," kata Amat, meraih tangan
Raka yang dingin dan basah oleh keringat, menggenggamnya erat-erat, berusaha
menyalurkan kehangatan, berusaha menenangkan. "Mereka tidak ada di sini.
Hanya kamu dan aku. Di puskesmas. Di desa kita. Mereka tidak bisa masuk ke
sini. Aku akan jaga. Aku tidak akan biarkan mereka mendekat."
"Mereka tidak akan bisa masuk ke desa, Rak. Kita akan
jaga. Kita akan jaga bersama-sama. Seluruh desa akan jaga. Tidak ada yang bisa
masuk tanpa izin kita."
"Kau tidak mengerti, Mat. Mereka kuat. Sangat kuat.
Lebih kuat dari yang kita kira. Mereka sudah menunggu tiga ratus tahun. Mereka
sudah mengumpulkan kekuatan selama tiga ratus tahun. Dan mereka tidak
sendirian. Ada banyak dari mereka. Jutaan. Miliaran. Semuanya bangkit dari
bawah tanah. Semuanya bangkit dari tidur panjang mereka. Dan mereka lapar.
Mereka haus. Mereka ingin balas dendam. Mereka ingin menghancurkan apa yang
telah dijaga oleh leluhur."
Amat menggenggam tangan Raka lebih erat. "Kita juga
tidak sendirian, Rak. Kita punya leluhur yang menjaga. Kita punya Kyai Beringin
yang masih setia. Kita punya penjaga-penjaga lain yang masih bertahan. Kita
punya seluruh desa yang bersatu. Tidak ada yang bisa menghancurkan desa ini
selama kita bersatu. Tidak ada yang bisa memisahkan kita selama kita saling
menjaga. Janji kita di Bukit Pangasih masih berlaku. Kita akan menjaga desa ini
bersama. Tidak ada yang bisa mengubah itu."
Raka tersenyum tipis, senyum yang pertama kali muncul di
wajahnya setelah berhari-hari. Senyum yang lemah, rapuh, seperti bunga yang
akan layu tertiup angin, tetapi nyata. "Kau selalu bisa membuatku tenang,
Mat. Bahkan ketika semuanya terasa gelap. Bahkan ketika suara-suara itu terus
memanggil. Bahkan ketika aku merasa bahwa aku akan tenggelam. Kau selalu ada.
Seperti cahaya di tengah kegelapan."
"Itu karena kau juga membuatku tenang, Rak. Ingat,
dulu ketika aku masih kecil, ketika aku pertama kali melihat bayangan di pohon
beringin, ketika aku takut dan tidak tahu harus berbuat apa, kau datang dengan
sepeda onthelmu yang berisik, dengan pecel yang masih hangat, dengan tawamu
yang membuat semua ketakutan itu hilang. Kau membuatku berani. Kau membuatku
percaya bahwa aku tidak sendirian. Sekarang giliranku membantumu. Sekarang giliranku
menjadi cahaya untukmu."
Keesokan paginya, ketika matahari baru saja muncul dari
balik Bukit Pangasih dan kabut tipis masih bergelayut di antara pepohonan,
seorang anak laki-laki dari dusun sebelah datang ke puskesmas dengan pesan dari
Anak Mbah Buyut Ratih. Ia berlari dari rumah Anak Mbah Buyut Ratih yang berada di tengah desa, melewati
jalan setapak yang becek karena embun, melewati sawah-sawah yang mulai
mengering, dengan napas terengah-engah, dengan wajah yang merah karena
terburu-buru.
"Mas Amat, Anak Mbah Buyut Ratih minta Mas Amat datang
ke rumahnya. Sekarang. Beliau bilang, ini penting. Sangat penting. Beliau
bilang, jangan ditunda. Beliau bilang, waktunya sudah tidak banyak."
Amat tidak menunggu lebih lama. Ia meninggalkan Raka dalam
penjagaan Camelia, berjalan cepat menuju rumah Anak Mbah Buyut Ratih yang
berada di tengah desa, melewati balai desa yang sudah mulai ramai dengan
aktivitas warga, melewati pohon beringin tua yang daunnya mulai hijau kembali,
melewati sumur tua yang airnya mulai jernih. Ia berlari, tidak mau membuang
waktu, karena ia tahu bahwa Anak Mbah Buyut Ratih tidak akan memanggilnya jika
tidak penting, bahwa Mbah Ratih mungkin sedang menghadapi sesuatu yang tidak
bisa ia hadapi sendirian, bahwa Anak Mbah Buyut Ratih mungkin sedang memberikan
pesan terakhirnya.
Rumah joglo Peninggalan Mbah Buyut Ratih terasa sunyi
ketika Amat tiba. Tidak seperti biasanya yang hangat dan ramai, dengan aroma
teh jahe yang mengepul dari dapur dan suara bacaan doa yang mengalun pelan dari
kamar dalam. Pagi itu, rumah itu terasa dingin, lembab, seperti ada kesedihan
yang menggantung di udara, seperti ada kepergian yang akan segera terjadi. Pak
Kartono sudah ada di sana, duduk di kursi kayu di pendopo, dengan wajah yang
sembab, dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menunjuk ke arah kamar Mbah Ratih,
memberi isyarat bahwa Amat harus masuk.
Anak Mbah Buyut Ratih terbaring di tempat tidurnya, sangat
lemah, nyaris tidak bisa bangun. Tubuhnya yang dulu tegap dan penuh energi,
yang dulu bisa duduk berjam-jam di pendopo sambil meronce bunga melati, kini tinggal
kulit pembalut tulang. Wajahnya yang dulu penuh dengan kerutan-kerutan yang
terbentuk oleh senyum dan tawa, kini pucat, kering, seperti tanah di musim
kemarau. Matanya yang dulu tajam dan jernih, yang dulu bisa melihat hal-hal
yang tidak dilihat orang lain, kini redup, seperti api yang hampir padam. Namun
ketika Amat masuk ke kamarnya, ketika ia mendengar langkah kaki pemuda itu,
matanya terbuka. Masih tajam. Masih jernih. Masih bisa melihat kebenaran di
balik kegelapan.
"Nak Amat, duduklah," katanya dengan suara parau,
suara yang keluar dari paru-paru yang sudah tua, suara yang membawa beban yang
telah ia pikul selama delapan puluh tahun. Tangannya yang keriput dan dingin
bergerak perlahan, menepuk sisi tempat tidur, memberi isyarat agar Amat duduk di
dekatnya.
Amat duduk di sisi tempat tidur Anak Mbah Buyut Ratih,
memegang tangannya yang dingin, merasakan tulang-tulang kecil yang rapuh di
bawah kulit yang tipis. Ia tidak bisa menahan air matanya. Air mata itu
mengalir di pipinya, membasahi wajahnya, jatuh ke tangan Mbah Ratih yang ia
genggam.
"Aku sudah tahu apa yang terjadi, Nak. Aku sudah tahu
sejak lama. Makhluk itu semakin kuat. Segelnya hampir hancur. Kyai Beringin
tidak bisa menahan lebih lama lagi. Penjaga-penjaga lain sudah banyak yang
gugur. Hanya tinggal beberapa yang masih bertahan. Dan Raka... Raka terkena
dampaknya. Makhluk itu mencoba merasukinya, mencoba menggunakannya sebagai
jalan untuk keluar. Tapi Raka melawan. Raka kuat. Lebih kuat dari yang kita
kira. Tapi bekasnya masih ada. Bekas yang tidak bisa dihilangkan dengan
obat-obatan. Bekas yang hanya bisa disembuhkan dengan satu cara."
"Apa yang harus kami lakukan, Mbah?" tanya Amat,
suaranya bergetar, matanya basah, hatinya sesak.
Anak Mbah Buyut Ratih menghela napas panjang, napas yang
keluar dari dadanya yang sesak, napas yang melepaskan beban yang telah ia
pendam selama bertahun-tahun. "Ada satu cara. Ritual Purnama. Ritual yang
dulu dilakukan oleh leluhur ketika segel mulai melemah, ketika makhluk-makhluk
itu mulai bangkit, ketika keseimbangan mulai terganggu. Ritual ini bisa
memperkuat segel, setidaknya untuk sementara waktu. Bisa memberi kita waktu
untuk mempersiapkan diri. Bisa memberi kita kesempatan untuk mencari solusi
yang lebih permanen. Tapi ritual ini... terlarang. Terlarang karena alasan yang
sangat kuat. Terlarang karena konsekuensinya yang sangat berat."
"Kenapa terlarang, Mbah? Kenapa ritual ini tidak boleh
dilakukan?"
Anak Mbah Buyut Ratih menatap Amat dengan mata yang masih
tajam, mata yang telah melihat delapan puluh tahun kehidupan di desa ini, mata
yang telah menyaksikan kebahagiaan dan kesedihan, kelahiran dan kematian,
harapan dan keputusasaan. "Karena ritual ini membutuhkan pengorbanan.
Bukan pengorbanan darah atau nyawa, seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan
orang. Bukan pengorbanan yang kasat mata, yang bisa dilihat dan diukur. Ritual
ini membutuhkan pengorbanan yang lebih dalam. Lebih mendalam. Lebih
menyakitkan. Ritual ini membutuhkan seseorang untuk melepaskan semua yang ia
cintai. Semua kenangan. Semua ikatan. Semua yang membuatnya menjadi manusia.
Seseorang yang melakukan ritual ini akan menjadi... kosong. Hidup, tetapi tidak
hidup. Ada, tetapi tidak ada. Seperti tubuh tanpa jiwa. Seperti bayangan tanpa
wujud. Seperti suara tanpa makna."
Amat terdiam. Ia membayangkan apa artinya melepaskan semua
yang ia cintai. Ibu Sumirah, yang selalu setia menemaninya sejak kecil, yang
selalu memasak sayur bening dan tempe goreng untuknya setiap malam, yang selalu
menunggunya pulang di beranda rumah dengan lampu minyak di tangan. Raka,
sahabatnya yang selalu membuatnya tertawa, yang selalu membawa pecel setiap
kali mereka rapat, yang tidak pernah meninggalkannya sejak hari pertama mereka
bertemu di bawah pohon mangga halaman sekolah. Camelia, perempuan yang telah
menjadi bagian dari hidupnya sejak mereka masih kecil, yang selalu ada di
sampingnya, yang selalu mencatat setiap detail perjalanan mereka, yang selalu
menjadi penyeimbang di antara mereka. Desa Awan Biru, rumahnya, tempat ia
dilahirkan dan dibesarkan, tempat ia belajar menjadi penjaga, tempat ia
berjanji untuk melindungi. Semua itu harus ia lepaskan. Semua itu harus ia
tinggalkan. Semua itu harus ia korbankan.
"Aku akan melakukannya, Mbah," kata Amat tanpa
ragu. Suaranya tegas, tidak bergetar, tidak ragu-ragu. Matanya yang biru
menyala dengan tekad yang tidak bisa dipadamkan. "Aku akan melakukan
ritual ini. Aku akan mengorbankan semua yang aku cintai. Untuk desa ini. Untuk
warga. Untuk Raka. Untuk Camelia. Untuk Ibu. Untuk semua yang telah memberikan
arti dalam hidupku."
Anak Mbah Buyut Ratih menggeleng pelan, gerakan yang berat,
gerakan yang membutuhkan seluruh kekuatan yang tersisa. "Bukan kamu, Nak.
Ritual ini tidak bisa dilakukan oleh penjaga. Penjaga harus tetap utuh. Penjaga
harus tetap memiliki ikatan dengan desa ini, dengan leluhur, dengan semua yang
dijaganya. Tanpa ikatan itu, penjaga tidak akan bisa melindungi desa setelah
ritual selesai. Penjaga akan menjadi kosong, sama seperti orang yang melakukan
ritual. Yang harus melakukan ritual ini adalah... orang yang paling dekat
denganmu. Orang yang menjadi penopangmu. Orang yang tanpanya, kau tidak akan
menjadi dirimu yang sekarang. Orang yang telah menjadi bagian dari hidupmu
sejak awal. Orang yang rela mengorbankan segalanya untukmu."
Amat tertegun. Ia tahu siapa yang dimaksud Anak Mbah Buyut
Ratih. Ia tahu sejak awal, sejak Anak Mbah Buyut Ratih mulai menjelaskan
tentang ritual ini. Hanya ada satu orang yang memenuhi kriteria itu. Hanya ada
satu orang yang telah menjadi penopangnya sejak kecil. Hanya ada satu orang
yang selalu ada di sampingnya, tidak pernah meninggalkannya, tidak pernah
mengecewakannya. Hanya ada satu orang yang rela melakukan apa pun untuknya.
Raka.
Amat kembali ke puskesmas dengan langkah yang berat, dengan
hati yang sesak, dengan pikiran yang kacau. Ia tidak tahu bagaimana harus
mengatakan ini kepada Raka. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan bahwa
sahabatnya harus mengorbankan semua yang ia cintai, semua yang ia miliki, semua
yang membuatnya menjadi dirinya yang sekarang. Ia tidak tahu bagaimana harus
mengatakan bahwa Raka harus menjadi kosong, hidup tetapi tidak hidup, ada
tetapi tidak ada. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan bahwa setelah ritual
ini, Raka mungkin tidak akan menjadi Raka lagi.
Raka sudah sadar ketika Amat tiba. Ia duduk di tempat
tidurnya, dengan bantal yang disandarkan di punggungnya, dengan selimut tipis
menutupi kakinya. Camelia duduk di sampingnya, memegang tangannya, dengan wajah
yang masih pucat karena kekhawatiran, dengan mata yang masih sembab karena
menangis. Ketika Amat masuk, Raka menatapnya. Matanya yang biasanya ceria dan
penuh dengan kehidupan, yang biasanya menyipit ketika ia tersenyum, kini
tenang, sangat tenang, seperti air di telaga yang dalam. Ia sudah tahu. Ia
sudah mendengar. Ia sudah menerima.
"Mat, aku harus bicara denganmu," kata Raka,
suaranya tenang, tidak seperti biasanya yang ceria dan penuh semangat, tetapi
juga tidak seperti beberapa hari terakhir yang lemah dan putus asa. Suaranya
adalah suara seseorang yang telah menerima takdirnya, yang telah membuat
keputusan, yang tidak akan berubah pikiran.
Amat duduk di sisi lain tempat tidur Raka, di hadapan
Camelia. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap sahabatnya, sahabat
yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil, sahabat yang selalu
membuatnya tertawa, sahabat yang tidak pernah meninggalkannya.
"Aku tahu, Mat. Anak Mbah Buyut Ratih sudah bilang
padaku. Lewat mimpi. Tadi malam, ketika kamu menjaga, ketika aku terbangun dan
melihatmu duduk di kursi itu, aku melihat sesuatu. Aku melihat Arwah Mbah Ratih
berdiri di sampingmu, meskipun kamu tidak melihatnya. Aku mendengar suaranya,
meskipun kamu tidak mendengarnya. Dia bilang, inilah saatnya. Inilah saat yang
telah ditunggu. Inilah pengorbanan yang harus dilakukan."
Amat terkejut. "Kau tahu? Sejak kapan? Kenapa kau
tidak bilang?"
Raka tersenyum. Senyum yang sama seperti ketika mereka
masih kecil, senyum yang membuat seluruh wajahnya yang bulat itu berkerut,
senyum yang selalu mengundang tawa. "Aku memang bukan penjaga seperti
kamu, Mat. Aku tidak bisa melihat makhluk-makhluk gaib, tidak bisa mendengar
suara-suara dari dunia lain, tidak bisa merasakan energi yang mengalir di tanah
ini. Tapi aku bukan orang bodoh. Aku tahu bahwa untuk melindungi desa ini,
untuk melindungi semua yang kita cintai, ada yang harus dikorbankan. Dan aku
tahu, akulah yang harus melakukannya."
"Tidak, Rak. Aku tidak akan membiarkanmu. Aku yang
akan melakukannya. Aku penjaga. Ini tugasku. Ini tanggung jawabku. Ini
takdirku. Bukan kamu."
"Kau tidak bisa, Mat. Anak Mbah Buyut Ratih bilang,
penjaga tidak boleh. Ritual ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang paling
dekat dengan penjaga. Orang yang menjadi penopangnya. Orang yang tanpanya,
penjaga tidak akan menjadi dirinya yang sekarang. Dan itu aku, Mat. Sejak
kecil, sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah menjadi penopangmu. Aku yang
membuatmu tertawa ketika kau terlalu serius. Aku yang mengingatkanmu untuk
tidak terlalu memikirkan takdir. Aku yang membawakan pecel setiap kali kita
rapat, agar perutmu kenyang dan pikiranmu jernih. Aku yang selalu ada di
sampingmu, apa pun yang terjadi. Dan sekarang, ini saatnya aku melakukan tugas
itu untuk yang terakhir kalinya."
Camelia yang mendengar percakapan mereka, menangis. Air
matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat, jatuh ke tangan Raka yang
ia genggam. "Tidak, Rak. Jangan. Kita pasti ada cara lain. Kita pasti bisa
menemukan solusi lain. Kita tidak perlu mengorbankan siapa pun. Kita bisa
bersama-sama melawan makhluk itu. Kita bisa..."
Raka meraih tangan Camelia, menggenggamnya erat-erat, sama
seperti ketika mereka masih kecil dan Camelia takut dengan kegelapan malam.
"Mel, kau tahu aku bukan pahlawan. Aku cuma anak penjual pecel yang suka
bercanda. Nilai-nilaiku di sekolah selalu jelek. Aku tidak bisa melihat hantu
seperti Amat. Aku tidak bisa mencatat dan mengingat semua detail seperti kamu.
Aku hanya bisa membuat orang tertawa. Tapi untuk sekali ini, biarkan aku menjadi
pahlawan. Untuk desa ini. Untuk kalian. Untuk semua yang telah memberikan arti
dalam hidupku."
Amat menunduk. Air matanya menetes, membasahi lantai
puskesmas yang dingin. Ia tidak bisa menahan tangisnya. Ia tidak bisa
membayangkan hidup tanpa Raka. Ia tidak bisa membayangkan dunia tanpa tawa
Raka. Ia tidak bisa membayangkan desa ini tanpa warung pecel yang selalu ramai,
tanpa lelucon-lelucon yang selalu membuatnya tertawa, tanpa sahabat yang selalu
ada di sampingnya.
"Rak, aku tidak bisa kehilanganmu," katanya,
suaranya terputus-putus, napasnya sesak. "Kau adalah bagian dari diriku.
Tanpamu, aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang. Tanpamu, aku tidak akan
memiliki keberanian untuk menjadi penjaga. Tanpamu, aku tidak akan memiliki
kekuatan untuk melawan kegelapan. Kau adalah cahayaku, Rak. Sama seperti aku
adalah cahayamu. Jangan ambil itu dariku."
Raka tersenyum lagi, senyum yang sama, senyum yang membuat
Amat dan Camelia ingat pada masa-masa ketika mereka masih kecil dan dunia
terasa lebih sederhana. "Kau tidak akan kehilangan aku, Mat. Aku akan
tetap ada. Hanya saja... mungkin aku akan menjadi sedikit berbeda. Mungkin aku
tidak akan bisa tertawa seperti dulu. Mungkin aku tidak akan bisa bercanda
seperti dulu. Mungkin aku tidak akan bisa membuat pecel seperti dulu. Tapi aku
akan tetap menjadi Raka. Sahabatmu. Penjual pecel. Dan suatu hari, ketika
semuanya selesai, ketika desa ini aman, ketika kegelapan telah terusir, kita
akan tertawa bersama lagi. Seperti dulu. Di beranda rumahmu. Dengan pecel dan
teh jahe. Aku janji."
Camelia yang masih menangis, menggenggam tangan Raka lebih
erat. "Aku tidak akan pernah melupakanmu, Rak. Aku akan mencatat semua
yang telah kau lakukan. Aku akan menuliskan kisahmu, agar tidak ada yang
melupakan pengorbananmu. Aku akan memastikan bahwa namamu akan dikenang
selamanya. Bahwa tawamu akan terus bergema di desa ini. Bahwa pecelmu akan
terus menjadi bagian dari kehidupan kami."
Raka tertawa kecil, tawa yang lemah, tetapi tawa.
"Jangan terlalu serius, Mel. Aku belum mati. Aku hanya akan... berubah.
Tapi janji, nanti kalau aku sudah tidak bisa membuat pecel, kalian harus
traktir aku. Jangan biarkan aku kelaparan. Orang lapar gampang stres. Orang
stres gampang marah. Aku tidak mau menjadi Raka yang pemarah. Aku mau tetap
menjadi Raka yang ceria, meskipun hanya dalam ingatan kalian."
Amat dan Camelia tidak bisa menahan tawa. Tawa yang
bercampur dengan tangis, tawa yang pahit, tawa yang manis, tawa yang menjadi
pengingat bahwa di tengah semua pengorbanan dan kesedihan, mereka masih bisa
tertawa, masih bisa menikmati kebersamaan, masih bisa menjadi sahabat yang
selalu ada untuk satu sama lain.
Malam itu, ketika bulan purnama mulai muncul di ufuk timur
dengan cahaya yang lebih terang dari biasanya, ketika kabut mulai merayap turun
dari lereng-lereng bukit, ketika desa mulai bersiap untuk ritual yang akan
menentukan nasib mereka, Amat, Raka, dan Camelia duduk di beranda rumah Amat.
Sumirah menyiapkan teh jahe hangat untuk mereka, seperti yang selalu ia lakukan
sejak mereka masih kecil. Raka membawa pecel, meskipun ia tidak lagi punya
tenaga untuk mengulek bumbu sendiri, meskipun pecel itu dibuat oleh ayahnya.
Mereka makan bersama, tertawa bersama, menikmati kebersamaan yang mungkin akan
menjadi yang terakhir.
"Untuk Desa Awan Biru," kata Raka, mengangkat
gelas tehnya.
"Untuk Desa Awan Biru," ulang Amat dan Camelia.
"Dan untuk pecel," tambah Raka, membuat mereka
tertawa lagi.
Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak di tengah
desa, dengan kanopinya yang rimbun, dengan daun-daunnya yang hijau, dengan Kyai
Beringin yang menunggu. Di sumur tua, penjaga air bersiap memberikan kekuatan
terakhirnya. Di Hutan Larangan, gerbang batu yang retak masih berdiri, makhluk
di dalamnya masih mengamuk, menunggu, tahu bahwa sesuatu akan terjadi malam ini.
Dan di rumah Amat, di beranda yang telah menjadi saksi bisu perjalanan mereka
sejak kecil, tiga sahabat duduk bersama, menikmati malam terakhir sebelum
segalanya berubah.
BAB 35: Pengkhianatan dari Orang Terdekat
Saat persiapan ritual Purnama sedang dilakukan, ketika
warga desa mulai mengumpulkan sesaji, ketika para tetua mulai merapal
mantra-mantra perlindungan yang sudah lama tidak pernah diucapkan, ketika Amat
berlatih mengendalikan energi yang mengalir dari liontin batu biru di lehernya,
ketika Raka mempersiapkan dirinya untuk pengorbanan yang akan ia lakukan,
ketika Camelia mencatat setiap detail dalam buku catatannya yang semakin menebal,
sebuah kejadian tak terduga mengguncang Desa Awan Biru. Sebuah kejadian yang
tidak hanya mengancam posisi desa dalam konflik lahan yang masih membara,
tetapi juga mengguncang kepercayaan mereka terhadap sesama warga, mengguncang
fondasi persatuan yang selama ini mereka bangun, mengguncang keyakinan bahwa di
tengah ancaman dari luar, mereka masih bisa saling percaya.
Dokumen-dokumen yang Amat simpan sebagai bukti kasus lahan,
dokumen-dokumen yang telah ia kumpulkan selama berbulan-bulan, dokumen-dokumen
yang berisi bukti-bukti pemalsuan tanda tangan, transaksi yang melibatkan orang
yang sudah meninggal, aliran uang yang tidak jelas, dan yang paling penting,
salinan dokumen kolonial yang ia temukan di antara lontar-lontar peninggalan
Mbah Ratih, hilang dari tempat penyimpanannya. Hilang tanpa jejak, seperti
ditelan bumi, seperti tidak pernah ada. Lemari besi kecil di ruang kerja Amat,
yang selalu ia kunci dengan rapat, yang hanya ia dan beberapa orang kepercayaan
yang tahu kombinasi kuncinya, terbuka. Map-map yang berisi dokumen-dokumen itu,
yang disusun rapi berdasarkan urutan waktu dan tingkat kepentingannya, kosong.
Kertas-kertas yang dulu memenuhi map itu, yang menjadi bukti sejarah dan bukti
kejahatan, tidak ada lagi.
Amat panik. Ia membuka semua lemari, semua laci, semua map,
semua tempat yang mungkin menjadi tempat penyimpanan dokumen. Ia mencari ke
seluruh ruang kerjanya, ke ruang arsip di sebelah, ke ruang rapat, ke ruang
kepala desa. Tidak ada. Ia memanggil Bu Yuni, memanggil Pak Eko, memanggil
semua perangkat desa yang mungkin tahu tentang dokumen itu. Tidak ada yang
melihat, tidak ada yang tahu, tidak ada yang bisa membantu. Dokumen-dokumen itu
lenyap. Dokumen-dokumen itu adalah satu-satunya bukti yang bisa melindungi
warga dari klaim pengusaha. Dokumen-dokumen itu adalah satu-satunya senjata
yang mereka miliki dalam negosiasi yang masih berlangsung. Dokumen-dokumen itu
adalah satu-satunya jaminan bahwa Pak Darmo dan petani-petani lain tidak akan
kehilangan tanah mereka. Tanpa dokumen itu, posisi desa dalam negosiasi menjadi
lemah. Tanpa dokumen itu, pengusaha bisa dengan mudah memenangkan kasus di
pengadilan. Tanpa dokumen itu, semua perjuangan yang telah mereka lakukan
selama berbulan-bulan akan sia-sia.
"Siapa yang mengambilnya?" tanya Camelia,
wajahnya pucat, suaranya bergetar, tangannya yang memegang buku catatan
gemetar. Ia baru saja datang dari puskesmas, di mana ia menjaga Raka yang masih
lemah, dan mendengar kabar dari Amat yang menghubunginya dengan suara panik. Ia
berlari sepanjang jalan dari puskesmas ke balai desa, melewati pasar yang mulai
ramai, melewati rumah-rumah warga yang masih tertidur, dengan jantung yang
berdebar kencang, dengan pikiran yang kacau.
"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu siapa yang
melakukannya. Lemari itu terkunci. Hanya beberapa orang yang tahu kombinasi
kuncinya. Aku, Pak Arjuna, Bu Yuni, Pak Karto, dan... dan..." Amat
berhenti. Ia menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak, dadanya sesak.
Ia teringat sesuatu. Sesuatu yang selama ini ia lupakan, sesuatu yang mungkin
menjadi petunjuk, sesuatu yang membuat jantungnya berdebar lebih kencang.
"Dan siapa, Mat?" tanya Camelia, mendekat, meraih
tangan Amat yang dingin dan gemetar.
Amat menatap Camelia dengan mata yang penuh dengan
kekhawatiran, dengan ketakutan, dengan rasa bersalah. "Dan Raka. Beberapa
hari yang lalu, ketika Raka masih di puskesmas, ketika ia mulai sadar dari
pengaruh makhluk itu, ia bertanya tentang dokumen-dokumen itu. Ia bertanya di
mana aku menyimpannya. Ia bertanya siapa saja yang tahu kombinasi kuncinya. Ia
bertanya apakah dokumen-dokumen itu aman. Aku pikir itu hanya rasa penasarannya
sebagai teman. Aku pikir itu hanya kekhawatirannya sebagai warga desa. Tapi
sekarang... sekarang aku tidak tahu. Mungkin makhluk itu menggunakan dia.
Mungkin makhluk itu memanfaatkan kelemahannya untuk mendapatkan informasi.
Mungkin makhluk itu menyuruh seseorang untuk mengambil dokumen-dokumen
itu."
"Raka? Tidak mungkin," kata Camelia cepat,
suaranya meninggi, matanya berkaca-kaca. "Raka tidak mungkin melakukan
itu. Raka adalah sahabat kita. Raka adalah orang yang paling setia. Raka rela
mengorbankan dirinya untuk ritual Purnama. Raka tidak akan pernah mengkhianati
kita. Tidak mungkin."
"Bukan Raka, Mel. Raka tidak mungkin. Tapi mungkin...
makhluk itu menggunakan dia. Makhluk itu memanfaatkan kelemahannya untuk
mendapatkan informasi. Makhluk itu membaca pikirannya, mengambil
pengetahuannya, lalu menyuruh seseorang untuk mengambil dokumen-dokumen itu.
Atau mungkin... mungkin ada orang lain yang memanfaatkan situasi. Orang lain
yang tahu tentang dokumen-dokumen itu. Orang lain yang punya akses ke ruang
kerja ini. Orang lain yang tidak bisa kita curigai."
Amat dan Camelia mulai menyelidiki. Mereka tidak bisa diam,
tidak bisa menunggu, tidak bisa berharap bahwa dokumen-dokumen itu akan kembali
dengan sendirinya. Mereka harus mencari tahu siapa yang mengambilnya, mengapa
ia mengambilnya, dan di mana dokumen-dokumen itu sekarang. Mereka memeriksa
keamanan ruang kerja Amat, memeriksa kunci lemari yang masih utuh, memeriksa
jendela yang masih tertutup rapat, memeriksa pintu yang masih terkunci. Tidak
ada tanda-tanda paksa masuk. Tidak ada kerusakan. Tidak ada jejak. Seseorang
telah masuk dengan tenang, dengan rapi, dengan pengetahuan yang cukup untuk
tidak meninggalkan bekas.
Mereka memeriksa daftar pengunjung kantor desa dalam
beberapa hari terakhir. Bu Yuni, yang selalu teliti dalam mencatat setiap orang
yang masuk dan keluar, memberikan buku daftar pengunjung yang tebal, dengan
tulisan-tulisan rapi yang mencatat nama, alamat, keperluan, waktu datang, dan
waktu pulang. Amat dan Camelia membacanya berulang kali, memeriksa setiap nama,
setiap tanggal, setiap jam. Semua tampak normal. Warga yang datang mengurus
surat keterangan, warga yang datang melapor masalah, warga yang datang hanya
untuk bertanya. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang terlihat seperti
pencuri. Semua adalah orang-orang yang mereka kenal, orang-orang yang mereka
percaya, orang-orang yang tidak mungkin melakukan pengkhianatan.
Semua tampak normal, kecuali satu nama. Satu nama yang
muncul beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, dengan alasan yang selalu
berbeda-beda, dengan waktu yang selalu tidak biasa, dengan keperluan yang
selalu terkesan dibuat-buat. Pak Santoso, ayah Guntur. Petani kaya yang
memiliki lahan sawah terluas di desa, yang selalu menjadi panutan bagi
petani-petani lain, yang selalu memberikan bantuan kepada warga yang kesulitan,
yang selalu hadir dalam setiap kegiatan desa. Pak Santoso, yang beberapa kali
terlihat berbicara dengan perwakilan pengusaha di warung kopi, yang dikabarkan
menjadi perantara dalam transaksi tanah di lereng selatan, yang rumahnya yang
megah di pinggir desa menjadi simbol kekayaan yang tidak pernah ia banggakan.
Pak Santoso, yang anaknya, Guntur, adalah salah satu teman terdekat Amat, yang
selalu membantu dalam setiap misi ke Hutan Larangan, yang selalu menjadi
pelindung fisik bagi kelompok mereka.
"Tidak mungkin," kata Guntur ketika Amat dan
Camelia memberitahunya tentang temuan mereka. Mereka duduk di beranda rumah
Amat, dengan teh jahe yang sudah dingin, dengan wajah-wajah yang pucat, dengan
hati yang berat. Guntur baru saja datang dari rumahnya, setelah membantu
ayahnya di sawah, setelah mendengar kabar bahwa dokumen-dokumen penting hilang.
Wajahnya yang biasanya cerah dan penuh semangat, yang selalu menjadi sumber
kekuatan fisik bagi kelompok mereka, kini pucat, lelah, penuh dengan keraguan.
"Ayahku tidak mungkin melakukan itu. Ayahku orang baik. Ayahku selalu
membantu warga. Ayahku selalu berkata bahwa tanah adalah warisan leluhur yang
harus dijaga. Ayahku tidak mungkin mengkhianati desa ini. Tidak mungkin."
"Gun, kami tidak menuduh," kata Amat, suaranya
lembut, matanya menatap Guntur dengan penuh pengertian. Ia tahu bagaimana
rasanya dicurigai, bagaimana rasanya memiliki orang yang dicintai dicurigai,
bagaimana rasanya harus memilih antara keluarga dan kebenaran. "Kami hanya
ingin mencari tahu. Kami hanya ingin menemukan dokumen-dokumen itu. Mungkin ada
penjelasan lain. Mungkin ayahmu hanya kebetulan datang ke kantor desa pada
waktu yang sama. Mungkin ayahmu punya urusan lain yang tidak kita ketahui. Mungkin
ada orang lain yang mengambil dokumen itu. Kami tidak bisa menuduh tanpa bukti
yang cukup."
Tapi penjelasan lain tidak pernah datang. Ketika Amat dan
Camelia menemui Pak Santoso di rumahnya, di rumah megah di pinggir desa yang
dikelilingi oleh sawah-sawah yang subur, pria itu tidak bisa menyembunyikan
kegugupannya. Ia duduk di kursi kayu jati di ruang tamunya, dengan kopi di
tangannya yang dingin karena tidak pernah ia minum, dengan wajah yang pucat,
dengan tangan yang gemetar. Matanya tidak berani menatap Amat atau Camelia,
selalu berpaling ke jendela, ke pintu, ke lantai, ke mana pun yang tidak
mengharuskannya melihat wajah-wajah yang penuh dengan kekecewaan.
Setelah didesak oleh Amat, setelah Amat menunjukkan bukti
bahwa namanya muncul beberapa kali dalam daftar pengunjung, setelah Amat
menunjukkan bahwa waktu kunjungannya selalu bertepatan dengan waktu ketika
ruang kerja kosong, setelah Amat menunjukkan bahwa tidak ada keperluan
administratif yang tercatat atas namanya, akhirnya Pak Santoso mengakui semuanya.
Ia menunduk, tangannya menutup wajahnya, suaranya parau seperti orang yang baru
saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
"Iya, aku yang mengambil dokumen itu," katanya,
suaranya terputus-putus, napasnya sesak. Air matanya menetes di sela-sela
jarinya, membasahi lantai kayu yang mengkilap. "Aku yang membukanya. Aku
yang mengambil map-map itu. Aku yang memberikannya kepada mereka. Aku disuruh
oleh mereka. Mereka bilang kalau dokumen itu tidak dimusnahkan, proyek wisata
bisa batal. Mereka bilang kalau proyek batal, mereka akan bangkrut. Mereka
bilang kalau mereka bangkrut, semua utang yang mereka berikan kepada warga
tidak akan bisa dibayar. Dan aku... aku punya banyak utang pada mereka. Sudah
bertahun-tahun. Sejak aku mulai memperluas lahan sawahku. Sejak aku membeli
traktor dan mesin-mesin pertanian. Sejak aku membangun rumah ini. Mereka selalu
ada, memberi pinjaman, memberi kemudahan, memberi harapan. Aku tidak bisa
mengembalikan uang itu jika proyek batal. Aku akan kehilangan segalanya. Sawahku,
rumahku, semua yang telah aku bangun selama bertahun-tahun."
Amat menahan amarahnya. Ia ingin berteriak, ingin
membentak, ingin mengatakan bahwa tidak ada alasan yang cukup untuk
mengkhianati desa. Tapi ia menahan diri. Ia tahu bahwa amarah tidak akan menyelesaikan
masalah. Ia tahu bahwa Pak Santoso bukanlah musuh, hanya korban. Korban dari
keserakahan, korban dari ketakutan, korban dari sistem yang membuat orang rela
melakukan apa pun untuk melindungi apa yang telah mereka miliki.
"Pak Santoso, Bapak tahu bahwa dengan mengambil
dokumen itu, Bapak mengkhianati desa ini?" kata Amat, suaranya dingin,
tidak seperti biasanya yang selalu tenang dan penuh pengertian. "Bapak
tahu bahwa warga yang tanahnya diambil akan kehilangan mata pencaharian? Bapak
tahu bahwa Pak Darmo dan petani-petani lain yang tidak punya apa-apa akan
kehilangan segalanya? Bapak tahu bahwa dokumen itu adalah satu-satunya harapan
mereka untuk mendapatkan keadilan?"
"Aku tahu. Aku tahu. Aku malu. Aku sangat malu. Setiap
malam aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku melihat Pak Darmo di sawah, aku
menunduk. Setiap kali aku mendengar namamu, Amat, hatiku sesak. Tapi aku tidak
punya pilihan. Aku tidak bisa kehilangan semua yang telah aku bangun. Aku tidak
bisa..."
"Bapak selalu punya pilihan, Pak Santoso," kata
Camelia dengan dingin, suaranya tajam seperti pisau, matanya menatap Pak
Santoso dengan penuh kekecewaan. "Bapak memilih yang salah. Bapak memilih
untuk melindungi diri sendiri, melindungi harta Bapak, melindungi masa depan
Bapak, dengan mengorbankan orang lain. Bapak memilih untuk menjadi
pengkhianat."
Guntur yang mendengar pengakuan ayahnya, yang berdiri di
pintu ruang tamu sejak awal, yang tidak berani masuk, yang hanya bisa
mendengarkan dari balik pintu, terdiam. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca,
tubuhnya gemetar. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya, yang selama ini ia kagumi,
yang selama ini menjadi panutannya, yang selalu mengajarkannya tentang
kejujuran dan keadilan, bisa melakukan hal seperti itu. Ia tidak menyangka
bahwa ayahnya, yang selalu berkata bahwa tanah adalah warisan leluhur yang
harus dijaga, justru menjadi alat bagi mereka yang ingin merampas tanah
leluhur. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya, yang selalu memberinya nasihat
tentang kebaikan dan kebenaran, justru memilih jalan yang gelap.
"Ayah... kenapa?" bisiknya, suaranya nyaris tidak
terdengar, suaranya pecah, suaranya penuh dengan rasa sakit yang tidak bisa
diungkapkan dengan kata-kata. Ia melangkah masuk ke ruang tamu, mendekati
ayahnya yang masih duduk di kursi dengan wajah tertunduk. Ia berlutut di
hadapan ayahnya, meraih tangannya yang gemetar, merasakan dinginnya ujung jari
yang dulu kuat memegang cangkul dan sabit.
Pak Santoso mengangkat wajahnya, menatap anaknya dengan
mata yang basah, dengan wajah yang penuh dengan penyesalan, dengan suara yang
parau. "Maafkan Ayah, Nak. Maafkan Ayah. Ayah sudah tua dan bodoh. Ayah
hanya memikirkan diri sendiri, tidak memikirkan desa. Ayah hanya memikirkan
sawah dan rumah ini, tidak memikirkan bahwa sawah dan rumah ini berdiri di atas
tanah yang sama, di atas tanah yang dijaga oleh leluhur, di atas tanah yang
seharusnya menjadi milik bersama. Ayah malu. Ayah sangat malu."
Amat menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri,
berusaha mencari solusi, bukan mencari kambing hitam. Ia tahu bahwa kemarahan
tidak akan mengembalikan dokumen itu. Ia tahu bahwa menghakimi Pak Santoso
tidak akan memperbaiki apa yang telah terjadi. Ia tahu bahwa mereka harus fokus
pada apa yang bisa dilakukan, bukan pada apa yang telah terjadi.
"Pak Santoso, apakah Bapak tahu di mana dokumen itu
sekarang? Apakah Bapak tahu siapa yang membawanya? Apakah Bapak tahu apakah
dokumen itu sudah dimusnahkan atau belum?"
Pak Santoso menggeleng, air matanya masih mengalir,
tangannya masih gemetar. "Mereka sudah membawanya. Aku tidak tahu ke mana.
Aku tidak tahu siapa yang mengambilnya. Mereka hanya bilang akan dimusnahkan.
Mereka bilang tidak akan ada yang tersisa. Mereka bilang tidak akan ada bukti
yang bisa digunakan untuk melawan mereka. Aku... aku menyesal. Aku sangat menyesal."
Amat dan Camelia saling berpandangan. Ini adalah pukulan
telak. Tanpa dokumen itu, posisi desa dalam negosiasi dengan pengusaha menjadi
sangat lemah. Tanpa dokumen itu, mereka tidak bisa membuktikan bahwa ada
pemalsuan tanda tangan, bahwa ada transaksi yang melibatkan orang yang sudah
meninggal, bahwa ada aliran uang yang tidak jelas. Tanpa dokumen itu, mereka
hanya punya kesaksian, dan kesaksian tanpa bukti tidak akan cukup di
pengadilan. Tanpa dokumen itu, semua perjuangan yang telah mereka lakukan
selama berbulan-bulan akan sia-sia.
Keesokan harinya, ketika matahari baru saja muncul dari
balik Bukit Pangasih dan kabut tipis masih bergelayut di antara pepohonan,
Guntur datang ke rumah Amat. Ia datang sendirian, tanpa ayahnya, tanpa teman-temannya.
Ia berjalan dari rumahnya di pinggir desa, melewati sawah-sawah yang mulai
mengering, melewati sungai kecil yang airnya keruh, melewati pasar yang mulai
ramai. Wajahnya tampak lelah, seperti tidak tidur semalaman, seperti bergulat
dengan pikirannya sendiri, seperti berusaha mencari jalan keluar dari situasi
yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Matanya merah, mungkin karena
menangis, mungkin karena kurang tidur, mungkin karena keduanya. Pakaiannya
kusut, tidak seperti biasanya yang selalu rapi dan bersih. Rambutnya
acak-acakan, tidak seperti biasanya yang selalu disisir rapi.
"Mat, aku minta maaf. Atas apa yang dilakukan ayahku.
Aku tidak tahu bahwa ayahku terlibat dalam semua ini. Aku tidak tahu bahwa
ayahku adalah pengkhianat. Aku tidak tahu bahwa ayahku telah mengkhianati desa,
mengkhianati kita, mengkhianati semua yang kita perjuangkan."
"Ini bukan salahmu, Gun," kata Amat, meletakkan
tangannya di pundak Guntur, merasakan bahu bidang yang biasanya kokoh dan
tegap, kini gemetar seperti daun yang tertiup angin. "Ayahmu yang
melakukan itu. Bukan kamu. Kamu tidak bertanggung jawab atas kesalahan ayahmu.
Kamu tidak harus menanggung malu karena apa yang dilakukan ayahmu. Kamu adalah
kamu. Kamu adalah Guntur, sahabat kami, pahlawan desa, orang yang selalu
membantu kami dalam setiap misi ke Hutan Larangan. Itu yang penting."
"Tapi aku merasa bersalah, Mat. Aku merasa bahwa aku
harus bertanggung jawab. Aku merasa bahwa aku harus memperbaiki kesalahan
ayahku. Aku akan mencari dokumen itu. Aku akan masuk ke kantor pengusaha itu,
ke rumah mereka, ke tempat mereka menyimpan barang-barang curian. Aku akan
mengambilnya kembali. Aku akan mengembalikannya kepada kita. Aku akan..."
"Itu terlalu berbahaya, Gun," potong Amat,
suaranya tegas, matanya menatap Guntur dengan penuh kekhawatiran. "Kantor
pengusaha itu dijaga. Rumah mereka dijaga. Mereka punya pengawal, mereka punya
satpam, mereka punya sistem keamanan. Mereka bisa melaporkanmu ke polisi.
Mereka bisa menjebloskanmu ke penjara. Dan kita tidak bisa kehilanganmu. Kita
butuh kamu di sini, Gun. Kita butuh kekuatanmu, keberanianmu, semangatmu.
Ritual Purnama akan segera dilakukan. Makhluk-makhluk itu akan segera bangkit.
Kita butuh semua orang yang bisa membantu. Jangan buang hidupmu untuk sesuatu
yang mungkin tidak bisa dikembalikan."
"Aku tidak peduli, Mat. Aku harus memperbaiki
kesalahan ayahku. Aku harus membuktikan bahwa aku tidak seperti dia. Aku
harus..."
"Gun," Camelia yang sejak tadi diam, berdiri di
samping Amat, meletakkan tangannya di lengan Guntur, menatapnya dengan mata
yang lembut tetapi tegas. "Kita tidak butuh kau masuk penjara. Kita tidak
butuh kau menjadi martir. Kita butuh kau di sini, membantu melindungi desa,
membantu melawan makhluk-makhluk yang akan datang. Ada cara lain untuk mendapatkan
kembali dokumen itu. Ada cara yang lebih aman, lebih cerdas, lebih
efektif."
"Cara apa?" tanya Guntur, matanya masih merah,
suaranya masih serak, tetapi ada secercah harapan di dalamnya.
Amat tersenyum, senyum yang pertama kali muncul di wajahnya
setelah berjam-jam. "Kita punya salinan digital, Gun. Mas Bambang sudah
memindai semuanya sebelum dokumen asli disimpan. Setiap lembar, setiap halaman,
setiap tanda tangan, semuanya sudah di-scan dengan resolusi tinggi. Kita
kehilangan dokumen asli, tapi kita masih punya bukti digital. Itu cukup untuk
dibawa ke pengadilan. Itu cukup untuk membuktikan bahwa ada pemalsuan, bahwa
ada kecurangan, bahwa ada kejahatan."
Guntur menghela napas lega, sangat lega, seperti orang yang
baru saja diangkat dari dalam air, seperti orang yang baru saja terbebas dari
beban yang sangat berat. "Benarkah, Mat? Benarkah kita masih punya bukti?
Benarkah dokumen itu tidak hilang selamanya?"
"Benar, Gun. Mas Bambang sudah menyimpannya di
beberapa tempat. Di laptopnya, di hard drive eksternal, di cloud, di flashdisk
yang dia sembunyikan di tempat yang tidak akan pernah ditemukan oleh siapa pun.
Mereka bisa mengambil dokumen asli, tapi mereka tidak bisa menghapus semua
salinan digital. Mereka tidak bisa menghapus bukti. Mereka tidak bisa menghapus
kebenaran."
"Terima kasih, Mat. Terima kasih, Mel. Aku... aku
tidak tahu harus berkata apa. Aku merasa sangat bersalah. Aku merasa sangat
malu. Tapi kalian... kalian tetap menerimaku. Kalian tidak menghakimiku. Kalian
tidak membenciku. Kalian..."
"Kamu adalah teman kami, Gun," kata Camelia,
tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Kamu adalah bagian dari tim ini. Tidak
ada yang bisa mengubah itu. Bukan kesalahan ayahmu, bukan rasa malumu, bukan
apa pun. Kamu adalah Guntur. Guntur yang kuat, yang pemberani, yang selalu
melindungi kami. Dan kita akan menghadapi semua ini bersama. Seperti yang
selalu kita lakukan."
Guntur mengangguk, menatap Amat dan Camelia bergantian,
merasakan kehangatan persahabatan yang tidak pernah pudar meskipun badai
menerpa. "Aku akan membantu, Mat. Apa pun yang kalian butuhkan. Aku akan
berdiri di samping kalian. Aku akan melindungi desa ini. Aku akan membuktikan
bahwa aku tidak seperti ayahku. Aku akan menjadi Guntur yang kalian kenal.
Guntur yang tidak pernah menyerah. Guntur yang tidak pernah mengkhianati
kepercayaan. Guntur yang selalu ada untuk teman-temannya."
Amat memeluk Guntur, merasakan tubuh kekar itu gemetar,
merasakan tangis yang tertahan, merasakan beban yang perlahan-lahan terangkat.
"Kita akan hadapi ini bersama, Gun. Seperti yang selalu kita lakukan.
Seperti yang kita janjikan di Bukit Pangasih. Kita akan menjaga desa ini. Kita
akan melindungi apa yang telah dijaga oleh leluhur. Tidak ada yang bisa
memisahkan kita. Tidak ada yang bisa mengalahkan kita selama kita bersama."
Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak di tengah
desa, dengan kanopinya yang rimbun, dengan daun-daunnya yang hijau, dengan Kyai
Beringin yang menunggu. Di sumur tua, penjaga air bersiap memberikan kekuatan
terakhirnya. Di Hutan Larangan, gerbang batu yang retak masih berdiri, makhluk
di dalamnya masih mengamuk, menunggu, tahu bahwa sesuatu akan terjadi. Dan di
rumah Amat, di beranda yang telah menjadi saksi bisu perjalanan mereka sejak
kecil, tiga sahabat, Amat, Camelia, dan Guntur, berdiri bersama, berjanji untuk
tidak menyerah, berjanji untuk terus berjuang, berjanji untuk menjaga desa ini,
apa pun yang akan terjadi.
BAB 36: Kebenaran tentang Garis Keturunan Amat
Dua hari sebelum ritual Purnama, dua hari sebelum bulan
purnama yang akan menjadi saksi pengorbanan Raka, dua hari sebelum pertempuran
antara cahaya dan kegelapan yang akan menentukan nasib Desa Awan Biru, dua hari
sebelum segalanya berubah selamanya, Anak Mbah Buyut Ratih memanggil Amat untuk
terakhir kalinya. Rumah joglo yang dulu hangat dan ramai dengan suara anak-anak
yang belajar mengaji dan cerita-cerita dongeng dari masa lalu, kini sunyi.
Sunyi seperti kuburan, sunyi seperti ruang kosong yang ditinggalkan oleh orang
yang dicintai. Pak Kartono yang biasanya setia menemani Anak Mbah Buyut Ratih
setiap pagi, setiap sore, setiap malam, kini duduk di pendopo dengan wajah
sembab, dengan mata berkaca-kaca, dengan tubuh yang gemetar karena menahan
tangis. Ia sudah tahu. Ia sudah merasakan. Ia sudah mendengar bisikan-bisikan
dari alam lain yang mengatakan bahwa waktu Anak Mbah Buyut Ratih hampir habis.
Perempuan tua itu sudah sangat lemah. Sangat lemah sehingga
tubuhnya yang dulu tegap dan penuh energi, yang dulu bisa duduk berjam-jam di
pendopo sambil meronce bunga melati untuk sesaji, kini tinggal kulit pembalut
tulang, sekarung tulang yang ditutupi oleh selimut tipis. Ia tidak bisa lagi
menggerakkan tubuhnya, tidak bisa lagi mengangkat tangannya, tidak bisa lagi
membuka matanya tanpa bantuan. Ia terbaring di tempat tidur yang sama sejak ia
dilahirkan delapan puluh tahun yang lalu, di kamar yang sama yang menjadi saksi
bisu perjalanan hidupnya dari seorang bayi yang baru lahir hingga seorang tetua
yang dihormati oleh seluruh desa. Di sekeliling tempat tidurnya, tergantung
foto-foto usang para leluhur, foto-foto yang sudah menguning, foto-foto yang
menjadi satu-satunya penghubung antara masa lalu dan masa kini. Namun matanya
masih tajam. Lebih tajam dari biasanya, seperti cahaya yang terakhir kali
menyala sebelum padam selamanya. Dan pikirannya masih jernih. Lebih jernih dari
biasanya, seperti air di sumur tua yang sudah tidak tercemar oleh apa pun.
"Nak Amat, duduklah di sini," katanya dengan
suara yang nyaris tidak terdengar, suara yang keluar dari paru-paru yang sudah
kering, suara yang seperti angin yang berdesir di antara dedaunan kering.
Tangannya yang keriput dan dingin bergerak perlahan, menepuk sisi tempat tidur,
memberi isyarat agar Amat duduk di dekatnya.
Amat duduk di sisi tempat tidur Mbah Ratih, seperti yang
selalu ia lakukan sejak kecil, seperti yang telah menjadi ritualnya setiap kali
ia merasa bingung atau takut, setiap kali ia membutuhkan petunjuk atau nasihat.
Ia memegang tangan Anak Mbah Buyut Ratih yang dingin, merasakan tulang-tulang
kecil yang rapuh di bawah kulit yang tipis, merasakan denyut nadi yang lemah,
yang semakin lemah setiap saat. Ia tidak bisa menahan air matanya. Air mata itu
mengalir di pipinya, membasahi wajahnya, jatuh ke tangan Mbah Ratih yang ia
genggam. Ia tahu bahwa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Mbah Ratih. Ia
tahu bahwa setelah ini, tidak akan ada lagi yang bisa memberinya petunjuk,
tidak akan ada lagi yang bisa menceritakan kisah-kisah lama, tidak akan ada
lagi yang bisa menjadi jembatan antara dia dan leluhur. Ia tahu bahwa setelah Anak
Mbah Buyut Ratih pergi, ia akan benar-benar sendirian dalam perjuangannya.
"Aku sudah tua, Nak. Delapan puluh tahun aku hidup di
desa ini. Delapan puluh tahun aku melihat matahari terbit dari balik Bukit
Pangasih dan tenggelam di balik barisan gunung. Delapan puluh tahun aku
mendengar suara adzan dari masjid dan suara jangkrik dari sawah. Delapan puluh
tahun aku merasakan angin dari selatan yang membawa kabut dan dingin. Waktuku
tidak lama lagi. Sebentar lagi aku akan bergabung dengan leluhur. Sebentar lagi
aku akan bertemu dengan mereka yang telah pergi lebih dulu. Sebentar lagi aku
akan meninggalkan semua yang aku cintai. Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang
harus kau ketahui. Sesuatu yang selama ini aku sembunyikan. Sesuatu yang
mungkin akan mengubah cara pandangmu tentang dirimu sendiri. Tentang garis
keturunanmu. Tentang siapa dirimu sebenarnya."
Amat duduk dengan khidmat, dengan tubuh yang tegang, dengan
jantung yang berdebar kencang. Ia tahu bahwa Anak Mbah Buyut Ratih akan
mengungkapkan rahasia besar, rahasia yang mungkin telah ditunggunya sejak lama,
rahasia yang mungkin menjadi kunci untuk memahami takdirnya, rahasia yang
mungkin membuat segalanya menjadi lebih jelas atau justru lebih rumit.
"Kau tahu bahwa kau adalah keturunan penjaga. Itu
sudah di katakan oleh Ibuku Mbah Ratih sejak kau masih kecil. Sejak pertama
kali aku melihat matamu yang biru, aku tahu bahwa kau adalah yang
ditunggu-tunggu. Tapi kau tidak tahu bahwa garis keturunan itu tidak berasal
dari ayahmu, Amat Senior. Juga bukan dari ibumu, Sumirah. Setidaknya tidak
secara langsung. Garis keturunan itu berasal dari jalur yang lebih tua, lebih
dalam, lebih tersembunyi."
Amat terkejut. Dadanya sesak, napasnya terasa berat. Selama
ini ia mengira bahwa keistimewaannya berasal dari ayahnya, dari Amat Senior
yang pergi merantau dan tidak pernah kembali, dari sosok yang tidak pernah ia
kenal, dari nama yang hanya menjadi pengingat bahwa ia memiliki seorang ayah
meskipun tidak pernah merasakan kehadirannya. Selama ini ia mengira bahwa
matanya yang biru adalah warisan dari ayahnya, bahwa kemampuannya melihat
hal-hal yang tidak terlihat adalah warisan dari ayahnya, bahwa takdirnya
sebagai penjaga adalah warisan dari ayahnya. Ternyata tidak. Ternyata semua itu
berasal dari tempat yang tidak pernah ia duga.
"Lalu dari mana, Mbah? Dari mana garis keturunan itu
berasal? Siapa yang mewariskan takdir ini kepadaku?"
Anak Mbah Buyut Ratih tersenyum lemah, senyum yang membuat
kerutan-kerutan di wajahnya semakin dalam, senyum yang mengingatkan Amat pada
masa-masa ketika ia masih kecil dan duduk di pangkuan Ibunya Mbah Ratih sambil
mendengarkan cerita-cerita tentang leluhur. "Kakek buyutmu, Eyang
Jayabaya, adalah penjaga terakhir sebelum kau. Ia adalah keturunan langsung
dari leluhur pertama yang mendirikan desa ini tiga ratus tahun yang lalu. Ia
mewarisi kekuatan penjaga, mewarisi pengetahuan tentang ritual-ritual, mewarisi
tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan. Tapi ia tidak memiliki anak
laki-laki. Ia hanya memiliki seorang putri. Seorang putri yang cantik dan cerdas,
yang mewarisi kebijaksanaan ayahnya tetapi tidak mewarisi kekuatan penjaga.
Putri itu kemudian menikah dengan seorang pemuda dari desa tetangga, seorang
petani biasa yang tidak memiliki hubungan dengan garis keturunan penjaga. Dari
pernikahan itu lahirlah anak-anak, dan dari anak-anak itu lahirlah cucu-cucu,
dan dari cucu-cucu itu lahirlah cicit-cicit, hingga akhirnya lahirlah ibumu,
Sumirah. Dan dari Sumirah, lahirlah kau. Jadi, meskipun kau mewarisi darah
penjaga dari garis ibu, kekuatan itu tidak aktif. Ia tertidur, terpendam, tidak
muncul dalam diri siapa pun selama tujuh generasi. Ia baru aktif ketika kau
lahir di bawah tanda-tanda yang tepat. Ketika badai aneh melanda desa ini.
Ketika kabut berputar-putar seperti pusaran air. Ketika hujan turun dari segala
arah. Ketika tangisanmu bergema dari gunung ke gunung. Itulah saat di mana
kekuatan itu bangun. Itulah saat di mana kau menjadi penjaga."
Amat mencoba mencerna informasi itu, mencoba memahami bahwa
ia bukan keturunan langsung dari seorang penjaga yang hebat, tetapi hanya
keturunan dari seorang putri yang mewarisi darah tetapi tidak mewarisi
kekuatan. Ia mencoba memahami bahwa kekuatannya bukanlah warisan yang langsung,
tetapi sesuatu yang muncul setelah tujuh generasi, sesuatu yang mungkin tidak
akan pernah muncul jika ia tidak lahir di bawah tanda-tanda yang tepat. Ia
mencoba memahami bahwa ia tidak seperti yang ia kira, bahwa ia lebih kompleks,
lebih rumit, lebih misterius.
"Maksud Mbah, aku bukan keturunan langsung penjaga?
Aku hanya... keturunan dari putri yang tidak memiliki kekuatan? Aku hanya
kebetulan lahir di waktu yang tepat? Aku hanya..."
"Kau adalah keturunan langsung, Nak. Melalui garis
ibu, melalui putri Eyang Jayabaya, melalui tujuh generasi yang tidak memiliki
kekuatan tetapi tetap menjaga warisan. Kau adalah keturunan langsung, hanya
saja kekuatan itu baru muncul setelah tujuh generasi. Itulah sebabnya kau
terlahir dengan mata biru, sementara ibumu dan nenek moyangmu yang lain tidak.
Itulah sebabnya kau bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain,
sementara mereka tidak. Itulah sebabnya kau menjadi penjaga, sementara mereka
menjadi... penjaga yang lain. Penjaga yang tidak terlihat. Penjaga yang menjaga
dengan cara yang berbeda. Penjaga yang menjaga dengan doa, dengan harapan,
dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti akan lahir seorang anak yang bisa
meneruskan apa yang mereka tidak bisa lakukan."
Amat menunduk, air matanya menetes. Ia tidak tahu apakah ia
harus bersyukur atau menangis. Ia tidak tahu apakah ia pantas menerima takdir
ini. Ia tidak tahu apakah ia cukup kuat untuk memikul beban yang tidak pernah
ia minta.
"Ada satu lagi, Nak. Liontin yang kau pakai itu bukan
sekadar pusaka. Bukan sekadar batu akik biru yang indah yang konon berasal dari
langit. Batu biru itu adalah bagian dari segel utama di Hutan Larangan. Segel
yang mengurung makhluk-makhluk yang paling kuat, yang paling tua, yang paling
berbahaya. Dulu, ketika leluhur pertama mengalahkan makhluk-makhluk itu, ia
tidak bisa mengurung mereka dengan satu segel saja. Mereka terlalu kuat,
terlalu besar, terlalu banyak. Maka ia memecah segel utama menjadi tujuh
bagian. Tujuh bagian yang tersebar di tujuh titik penjagaan. Satu bagian
menjadi batu ini, yang selama ini aku simpan untukmu. Enam bagian lainnya
tersebar di pohon beringin, di sumur tua, di mata air, di batu besar, dan dua
di Hutan Larangan. Batu di lehermu adalah kunci untuk memperkuat segel. Tanpa
batu itu, ritual Purnama tidak akan berhasil. Tanpa batu itu, kita tidak akan
bisa menahan mereka. Tanpa batu itu, segalanya akan sia-sia."
Amat memegang liontin di lehernya, merasakan kehangatan
yang selalu ia rasakan sejak pertama kali Mbah Ratih memberikannya kepada
ibunya, sejak pertama kali ia mengenakannya di lehernya. Batu itu terasa
hangat, lebih hangat dari biasanya, seperti ada kehidupan di dalamnya, seperti
ada sesuatu yang merespons kata-kata Mbah Ratih, seperti ada sesuatu yang siap
untuk digunakan.
"Jadi, aku harus menggunakan batu ini dalam ritual?
Aku harus menyerahkan batu ini untuk memperkuat segel? Aku harus melepaskan
satu-satunya benda yang menghubungkanku dengan leluhur?"
"Ya. Dan setelah ritual selesai, batu itu harus
dikembalikan ke tempat asalnya. Ke segel utama di Hutan Larangan. Ke tempat di
mana ia berada tiga ratus tahun yang lalu. Ke tempat di mana ia menjadi bagian
dari sesuatu yang lebih besar."
"Lalu apa yang akan terjadi padaku tanpa batu ini? Apa
yang akan terjadi pada kekuatanku? Apa yang akan terjadi pada mataku yang biru?
Apa yang akan terjadi pada kemampuanku melihat hal-hal yang tidak
terlihat?"
Anak Mbah Buyut Ratih tidak menjawab. Ia hanya menatap Amat
dengan tatapan yang dalam, tatapan yang mengatakan bahwa ia tahu jawabannya
tetapi tidak ingin mengatakannya, tatapan yang mengatakan bahwa Amat harus
menemukan jawabannya sendiri, tatapan yang mengatakan bahwa apa pun yang
terjadi, Amat harus siap. Amat mengerti. Tanpa batu itu, kekuatannya akan
berkurang. Mungkin hilang sama sekali. Mungkin ia akan menjadi manusia biasa.
Mungkin matanya yang biru akan berubah warna. Mungkin ia tidak akan bisa lagi
melihat Kyai Beringin, tidak akan bisa lagi mendengar suara penjaga air, tidak
akan bisa lagi merasakan getaran dari dalam tanah. Mungkin ia akan kehilangan
semua yang membuatnya istimewa. Mungkin ia akan menjadi seperti orang lain. Dan
itu adalah pengorbanan yang harus ia lakukan. Pengorbanan yang tidak kalah
besar dari pengorbanan Raka.
"Aku siap, Mbah. Apa pun risikonya. Aku siap
kehilangan semua yang aku miliki. Aku siap menjadi manusia biasa. Aku siap
melepaskan semua yang membuatku istimewa. Untuk desa ini. Untuk leluhur. Untuk
Raka. Untuk Camelia. Untuk Ibu. Untuk semua yang telah memberikan arti dalam
hidupku."
Nak Mbah Buyut Ratih tersenyum. Senyum yang hangat, senyum
yang penuh dengan kebanggaan, senyum yang mengatakan bahwa ia tidak salah
memilih Amat sebagai penerusnya. "Kau memang keturunan penjaga sejati.
Keberanianmu tidak pernah goyah. Bahkan ketika kau tahu bahwa kau harus
kehilangan semua yang kau miliki. Bahkan ketika kau tahu bahwa kau mungkin
tidak akan pernah menjadi dirimu yang sekarang. Bahkan ketika kau tahu bahwa
kau harus mengorbankan bagian terpenting dari dirimu. Kau tetap berdiri di
sini, berkata bahwa kau siap. Itu adalah keberanian sejati. Itu adalah
keberanian yang diwariskan oleh leluhur. Itu adalah keberanian yang membuat
desa ini bertahan selama tiga ratus tahun."
"Terima kasih, Mbah. Terima kasih telah memberitahuku
semua ini. Terima kasih telah mempercayakan takdir ini kepadaku. Terima kasih
telah menjadi ibu, menjadi guru, menjadi penuntun bagiku selama ini. Aku tidak
akan mengecewakan Mbah. Aku akan menjaga desa ini. Aku akan melindungi apa yang
telah dijaga oleh leluhur. Aku akan meneruskan apa yang telah Mbah mulai.
Janji."
Sebelum Amat pergi, sebelum ia meninggalkan kamar yang
telah menjadi saksi bisu perjalanan hidup Mbah Ratih selama delapan puluh
tahun, sebelum ia melangkah keluar untuk mempersiapkan ritual yang akan
menentukan nasib desa ini, Anak Mbah Buyut Ratih menggenggam tangannya
erat-erat. Genggaman yang lemah, tetapi penuh makna. Genggaman yang mengatakan
bahwa meskipun ia akan pergi, ia tidak akan pernah benar-benar meninggalkan
Amat. Genggaman yang mengatakan bahwa meskipun ia tidak lagi berada di dunia
ini, ia akan selalu menjaganya dari alam lain.
"Nak Amat, ada satu pesan terakhir. Pesan yang harus
kau ingat, apa pun yang terjadi. Pesan yang mungkin menjadi kunci untuk
menghadapi apa pun yang akan datang."
Amat mendekat, mencondongkan telinganya, tidak mau
kehilangan satu kata pun.
"Kau tidak sendirian. Ingat itu. Kau tidak sendirian.
Kau punya sahabat-sahabat yang setia. Raka yang akan mengorbankan segalanya
untukmu. Camelia yang akan selalu mencatat dan mengingat. Guntur yang akan
melindungimu secara fisik. Hermansyah yang akan membantu dengan keahlian
teknisnya. Amita yang akan menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia
lain. Mas Bambang dan Enjelin yang akan membawa teknologi dan kreativitas. Kau
punya desa yang akan melindungimu. Warga yang percaya padamu. Orang-orang yang
bersedia berdiri di sampingmu. Kau punya leluhur yang selalu menjagamu. Kyai
Beringin, penjaga air, dan semua yang telah menjaga desa ini selama tiga ratus
tahun. Jangan pernah merasa bahwa beban ini hanya milikmu. Bagilah dengan
mereka. Percayalah pada mereka. Biarkan mereka membantu. Karena hanya dengan
bersatu, kita bisa mengalahkan kegelapan. Hanya dengan bersatu, kita bisa
menjaga keseimbangan. Hanya dengan bersatu, desa ini akan selamat."
Amat mengangguk, air matanya terus mengalir, membasahi
pipinya, membasahi tangan Anak Mbah Buyut Ratih yang ia genggam.
"Dan satu lagi. Jaga Raka. Dia akan melakukan
pengorbanan besar untuk desa ini. Pengorbanan yang tidak semua orang berani
lakukan. Pengorbanan yang mungkin akan mengubahnya selamanya. Pastikan dia
tidak sendirian ketika melakukannya. Pastikan dia tahu bahwa kalian ada di
sampingnya. Pastikan dia tahu bahwa pengorbanannya tidak akan sia-sia. Karena
Raka... Raka adalah kunci dari semuanya. Tanpa Raka, ritual ini tidak akan
berhasil. Tanpa Raka, segel ini tidak akan kuat. Tanpa Raka, desa ini akan
hancur. Raka adalah pahlawan sejati. Raka adalah cahaya di tengah kegelapan.
Raka adalah tawa yang akan terus bergema, meskipun ia mungkin tidak bisa
tertawa lagi."
Amat mengangguk lagi, tidak bisa berkata-kata, hanya bisa
menatap Anak Mbah Buyut Ratih dengan mata yang basah, dengan hati yang sesak,
dengan tekad yang bulat.
Malam itu, ketika bulan mulai naik di ufuk timur dengan
cahaya yang keperakan, ketika kabut mulai merayap turun dari lereng-lereng
bukit, ketika desa mulai bersiap untuk ritual yang akan menentukan nasib
mereka, Mbah Ratih meninggal dunia dalam tidurnya. Wajahnya tenang, seperti
sedang tertidur, seperti sedang bermimpi indah tentang masa-masa ketika ia
masih muda, ketika ia masih bisa berlari di sawah, ketika ia masih bisa tertawa
bersama teman-temannya. Tidak ada tanda-tanda kesakitan, tidak ada erangan,
tidak ada nafas tersengal. Ia pergi dengan tenang, dengan damai, dengan senyum
yang masih terukir di bibirnya yang keriput. Di tangannya, ia memegang foto
usang para leluhur yang pernah menjaga desa ini. Foto yang sama yang selalu ia
pegang setiap malam sebelum tidur. Foto yang menjadi pengingat bahwa ia tidak
sendirian, bahwa ia adalah bagian dari rantai panjang yang menghubungkan masa
lalu dengan masa kini. Senyum terakhir terukir di bibirnya yang keriput. Senyum
yang mengatakan bahwa ia telah melakukan yang terbaik. Senyum yang mengatakan
bahwa ia tidak menyesali apa pun. Senyum yang mengatakan bahwa ia percaya pada
Amat, pada Raka, pada Camelia, pada semua generasi muda yang akan meneruskan
perjuangannya.
Seluruh desa berkabung. Berita tentang kepergian Anak Mbah
Buyut Ratih menyebar dengan cepat, dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah,
dari dusun ke dusun. Warga berkumpul di rumah joglo yang telah menjadi pusat
kehidupan desa selama bertahun-tahun. Mereka datang dengan membawa bunga,
dengan membawa doa, dengan membawa kenangan. Ada yang menangis, ada yang diam,
ada yang duduk di pendopo dengan wajah kosong. Pak Kartono, yang paling lama
menjadi teman Anak Mbah Buyut Ratih, duduk di kursi kayu di sudut pendopo,
dengan air mata yang mengalir deras, dengan tubuh yang gemetar, dengan hati
yang hancur. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menatap foto Mbah Ratih
yang dipajang di antara bunga-bunga, mengingat masa-masa ketika mereka masih
muda, ketika mereka masih memiliki mimpi, ketika mereka masih percaya bahwa
mereka bisa mengubah dunia.
Amat, Raka, dan Camelia berdiri di antara kerumunan, dengan
mata yang merah, dengan hati yang berat, dengan tekad yang semakin bulat.
Mereka tahu bahwa Anak Mbah Buyut Ratih telah pergi. Mereka tahu bahwa sekarang
tanggung jawab itu jatuh sepenuhnya ke pundak mereka. Mereka tahu bahwa mereka
tidak boleh mengecewakan Anak Mbah Buyut Ratih. Mereka harus menyelesaikan apa
yang telah dimulai. Mereka harus menjaga desa ini. Mereka harus meneruskan
perjuangan yang telah dilakukan oleh Mbah Ratih dan leluhur selama tiga ratus
tahun.
Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak di tengah
desa, dengan kanopinya yang rimbun, dengan daun-daunnya yang hijau, dengan Kyai
Beringin yang menunggu. Di sumur tua, penjaga air bersiap memberikan kekuatan
terakhirnya. Di Hutan Larangan, gerbang batu yang retak masih berdiri, makhluk
di dalamnya masih mengamuk, menunggu, tahu bahwa sesuatu akan terjadi, tahu
bahwa waktu semakin dekat. Dan di rumah joglo yang telah menjadi saksi bisu
perjalanan hidup Anak Mbah Buyut Ratih, di tengah bunga dan dupa dan doa, Amat
berjanji dalam hati. Ia akan menjaga desa ini. Ia akan melindungi apa yang
telah dijaga oleh Keturunan Mbah Ratih. Ia akan meneruskan apa yang telah
dimulai oleh leluhur. Ia tidak akan mengecewakan. Ia tidak akan menyerah. Ia
akan menjadi penjaga yang baik. Penjaga yang diharapkan oleh Almarhum Mbah
Ratih. Penjaga yang diharapkan oleh leluhur. Penjaga yang diharapkan oleh Desa
Awan Biru.
BAB 37: Pertarungan di Hutan Larangan
Malam Purnama tiba. Bulan bersinar sangat terang di langit
Awan Biru, bundar sempurna seperti piring perak yang digantung di atas kain
beludru hitam, tetapi cahayanya terasa dingin dan pucat, tidak seperti biasanya
yang hangat dan lembut. Dingin yang menusuk hingga ke tulang, dingin yang tidak
seperti dinginnya angin pegunungan, dingin yang keluar dari dalam tanah, dari
retakan-retakan yang mulai terbuka di mana-mana. Di selatan, langit tampak
kemerahan, merah seperti darah, merah seperti api yang menyala di balik bukit,
merah seperti mata makhluk yang telah terbangun dari tidur panjangnya. Cahaya
merah itu berdenyut-denyut, seperti detak jantung raksasa, seperti sesuatu yang
sedang menunggu, seperti sesuatu yang siap untuk keluar.
Seluruh warga Desa Awan Biru berkumpul di kantor desa.
Mereka datang dari berbagai dusun, dari berbagai RT, dari berbagai lapisan
masyarakat. Ada yang datang dengan berjalan kaki, dengan sandal jepit dan
pakaian seadanya. Ada yang datang dengan sepeda motor, membawa serta istri dan
anak-anak mereka. Ada yang datang dengan truk milik Pak Anto, yang rela
mengantar warga dari dusun-dusun terpencil tanpa meminta bayaran. Mereka
berkumpul di halaman balai desa, membawa lilin, membawa dupa, membawa sesaji
sederhana. Mereka berdoa bersama, memohon kepada Tuhan, memohon kepada leluhur,
memohon kepada semua kekuatan yang menjaga desa ini, untuk melindungi anak-anak
desa yang akan pergi berjuang. Mereka tahu bahwa malam ini adalah malam penentuan.
Malam di mana nasib desa ini akan ditentukan. Malam di mana cahaya dan
kegelapan akan bertempur. Malam di mana Amat, Raka, Camelia, dan teman-teman
mereka akan masuk ke Hutan Larangan untuk melakukan ritual yang akan menentukan
segalanya.
Pak Arjuna berdiri di depan kerumunan, dengan lilin di
tangannya, dengan wajah yang serius, dengan suara yang tegas. Ia telah
mempersiapkan kata-katanya sejak siang, telah merenungkannya berulang kali,
telah berdoa agar ia bisa memberikan kekuatan dan keberanian bagi anak-anak
yang akan pergi. "Anak-anak, kalian adalah pahlawan desa ini. Bukan karena
kalian memiliki kekuatan super, bukan karena kalian bisa melakukan hal-hal yang
tidak bisa dilakukan orang lain, tetapi karena kalian berani. Berani melangkah
ke tempat yang tidak berani dilangkahi orang lain. Berani menghadapi ketakutan
yang tidak berani dihadapi orang lain. Berani mengorbankan apa yang tidak
berani dikorbankan orang lain. Apa pun yang terjadi, kami akan selalu mendukung
kalian. Apa pun yang terjadi, kami akan selalu berdoa untuk kalian. Apa pun
yang terjadi, kami akan selalu menunggu kepulangan kalian. Berangkatlah dengan
keberanian, dan pulanglah dengan kemenangan."
Sumirah, ibu Amat, yang sudah berdiri di samping anaknya
sejak tadi, dengan tangan yang gemetar, dengan mata yang berkaca-kaca, dengan
hati yang sesak, memeluk anaknya erat-erat. Ia memeluk Amat seperti ketika ia
masih kecil, seperti ketika ia pertama kali menggendongnya di rumah sederhana
di kaki Bukit Pangasih, seperti ketika ia melihat matanya yang biru untuk
pertama kalinya. Ia merasakan tubuh anaknya yang tegap, merasakan detak
jantungnya yang tenang, merasakan kehangatan yang tidak pernah berubah sejak ia
masih bayi. "Ibu bangga padamu, Nak. Ibu tidak akan menghalangimu. Ibu
tahu ini adalah takdirmu. Ibu tahu ini adalah tanggung jawab yang harus kau
pikul. Ibu tahu ini adalah perjalanan yang harus kau lalui. Tapi janji, kau
akan kembali. Janji bahwa Ibu akan melihatmu lagi. Janji bahwa kita akan duduk
di beranda rumah, minum teh jahe, dan tertawa bersama seperti dulu."
Amat memeluk ibunya balik, merasakan bahu yang mulai
membungkuk karena usia, merasakan rambut yang mulai memutih, merasakan cinta
yang tidak pernah berubah sejak ia lahir. "Janji, Bu. Aku akan kembali.
Aku tidak akan meninggalkan Ibu. Aku akan menyelesaikan semua ini, dan kemudian
kita akan duduk di beranda rumah, minum teh jahe, dan tertawa bersama seperti
dulu. Aku janji."
Bu Yati, ibu Raka, yang biasanya ceria dan penuh tawa, kini
menangis. Ia memeluk anaknya yang tambun itu, merasakan tubuh yang hangat,
merasakan tangan yang biasa memegang wajan dan cobek, merasakan senyum yang
tidak pernah pudar meskipun dalam ketakutan. "Ra, kamu jangan macam-macam.
Kamu harus kembali. Siapa yang akan meneruskan warung pecel kalau kamu tidak
ada? Siapa yang akan membuat Bapakmu tertawa kalau kamu tidak ada? Siapa yang
akan membuat Ibu bangga kalau kamu tidak ada? Kamu harus kembali, Ra. Kamu
harus kembali."
Raka tersenyum, senyum yang sama seperti ketika ia masih
kecil, senyum yang membuat seluruh wajahnya yang bulat itu berkerut, senyum
yang selalu mengundang tawa. "Tenang, Bu. Aku akan kembali. Pecel Bapak
belum bisa kubuat seenak beliau. Masih harus belajar banyak. Lagian, aku janji
sama Amat dan Camelia. Kita akan tertawa bersama lagi di beranda rumah Amat,
dengan pecel dan teh jahe. Aku tidak akan mengingkari janji."
Mereka bertiga—Amat, Raka, dan Camelia—berdiri di depan
rombongan yang akan masuk ke Hutan Larangan. Kali ini, tidak hanya mereka
bertiga. Hermansyah, Guntur, Amita, Mas Bambang, dan Enjelin ikut serta. Mereka
semua telah berlatih, telah mempersiapkan diri, telah berjanji untuk saling
menjaga. Hermansyah membawa peralatan teknis: senter, lampu sorot, kamera
thermal, dan beberapa alat yang mungkin berguna. Guntur, meskipun tubuhnya
masih sakit karena benturan dengan makhluk beberapa hari lalu, membawa parang
dan tombak, siap melindungi teman-temannya. Amita membawa perlengkapan seni:
kanvas, cat air, kuas, siap merekam apa yang akan terjadi dengan cara yang
berbeda. Mas Bambang membawa laptop dan beberapa sensor, siap membantu dengan
teknologi. Jel membawa kameranya, siap mendokumentasikan peristiwa bersejarah
ini.
"Kita berangkat," kata Amat, suaranya tenang
tetapi tegas. Ia menatap teman-temannya satu per satu, memastikan bahwa mereka
siap, bahwa mereka tidak ragu, bahwa mereka akan berdiri di sampingnya apa pun
yang terjadi. "Kita akan melakukan ini bersama. Kita akan melindungi desa
kita. Kita akan menjaga apa yang telah dijaga oleh leluhur selama tiga ratus
tahun. Kita tidak akan menyerah. Kita tidak akan kalah. Kita akan menang."
Mereka berjalan menuju Hutan Larangan, meninggalkan desa
yang mulai sunyi, meninggalkan warga yang masih berdoa di balai desa,
meninggalkan orang tua yang masih menangis, meninggalkan rumah-rumah yang
lampunya masih menyala. Di belakang mereka, warga desa berdoa bersama, memohon
kepada Tuhan dan leluhur untuk melindungi anak-anak desa yang pergi berjuang.
Doa-doa itu naik ke langit, bercampur dengan asap dupa dan kemenyan, membawa
harapan dan keyakinan bahwa cahaya akan menang, bahwa desa ini akan selamat,
bahwa anak-anak mereka akan kembali.
Hutan Larangan kini telah berubah total. Tidak ada lagi
yang tersisa dari hutan yang dulu mereka kenal, hutan yang dulu rimbun dan
lebat, dengan pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi, dengan akar-akar yang
menjalar seperti ular raksasa, dengan lumut hijau yang menutupi hampir setiap
permukaan. Kabut abu-abu gelap yang dulu hanya setinggi lutut, yang dulu hanya
bergelayut di antara pepohonan, kini telah menjadi kabut hitam pekat, tebal,
berat, seperti air yang menggenang di hutan, seperti tinta yang tumpah di atas
kertas. Kabut itu bergerak tidak seperti kabut biasa; ia bergerak seperti ada
yang menggerakkannya, seperti ada yang bernapas di dalamnya, seperti ada
kehidupan di balik kegelapan. Pepohonan yang dulu hijau dan rimbun, yang dulu
menjadi rumah bagi burung dan serangga, yang dulu menjadi paru-paru desa ini,
kini hitam legam, hangus, seperti terbakar habis dari dalam. Batang-batangnya
retak-retak, mengeluarkan getah hitam yang berbau busuk, dan ketika disentuh,
mereka hancur seperti abu. Tanah di bawah kaki retak-retak, terbelah menjadi
jurang-jurang kecil, dan dari retakan itu keluar uap panas berbau belerang, uap
yang membuat mata perih, uap yang membuat tenggorokan kering, uap yang membuat
sulit bernapas.
Mereka berjalan dengan hati-hati, dengan langkah yang
mantap, dengan kewaspadaan yang tinggi. Mereka berjalan mengikuti arah yang
ditunjukkan oleh liontin Amat, yang kini bersinar terang, lebih terang dari
biasanya, seperti bintang yang jatuh di tengah kegelapan. Batu biru di lehernya
memancarkan cahaya kebiruan yang menerangi jalan di depan mereka, menembus
kabut hitam yang tebal, menunjukkan jalan setapak yang nyaris tidak terlihat.
Di sekeliling mereka, suara-suara aneh terdengar dari segala arah: kadang
seperti raungan binatang buas, raungan yang dalam dan panjang, yang membuat
bulu kuduk berdiri; kadang seperti tangisan manusia, tangisan yang pilu, yang
membuat hati terasa sesak; kadang seperti bisikan yang mengerikan, bisikan yang
masuk ke dalam pikiran, yang mencoba mempengaruhi, yang mencoba menakut-nakuti,
yang mencoba membuat mereka berbalik.
"Jangan dengarkan mereka," kata Amat, suaranya
tegas, seperti komandan yang memberi perintah. "Mereka hanya ingin membuat
kita takut. Mereka hanya ingin membuat kita berbalik. Mereka hanya ingin
membuat kita menyerah. Fokus pada tujuan kita. Fokus pada ritual. Fokus pada
desa yang harus kita selamatkan. Ingat, kita tidak sendirian. Kita
bersama-sama. Kita akan hadapi ini bersama."
Setelah berjalan sekitar satu jam, satu jam yang terasa
seperti satu hari, satu jam yang penuh dengan ketegangan dan kewaspadaan, mereka
tiba di area yang terbakar. Area yang dulu hanya beberapa puluh meter, yang
dulu menjadi saksi pertemuan pertama mereka dengan gerbang batu, kini telah
meluas menjadi ratusan meter. Tanah yang dulu hanya retak-retak, kini terbelah
lebar menjadi jurang-jurang yang dalam, jurang yang memancarkan cahaya merah
dari dalamnya, cahaya yang menyilaukan, cahaya yang panas, cahaya yang membuat
udara di sekitarnya bergelombang seperti di atas kawah gunung berapi. Gerbang
batu yang dulu mereka temukan, yang menjadi simbol kekuatan leluhur, yang
menjadi tempat Kyai Beringin berdiri dengan jubah hitamnya, kini telah runtuh.
Tiang-tiang andesit yang dulu kokoh dan tegak, yang dulu menjadi penahan segel
utama, kini patah, berserakan di tanah, menjadi puing-puing yang tidak berguna.
Ambang batu yang dulu berputar dengan cahaya biru, yang dulu menampilkan peta
kuno, kini hancur, berkeping-keping, tidak bisa lagi memberikan petunjuk.
Dan di tengah-tengah reruntuhan itu, di antara puing-puing
batu yang berserakan, di antara jurang-jurang yang memancarkan cahaya merah,
berdiri sesosok makhluk yang sangat besar. Makhluk itu setinggi pohon kelapa,
dengan tubuh yang tampak seperti terbuat dari batu dan api, dengan kulit yang
retak-retak seperti tanah di musim kemarau, dengan api yang menyala di setiap
retakannya. Matanya dua titik merah yang menyala terang, seperti bara api yang
membara di tengah kegelapan, seperti mata yang telah menunggu selama tiga ratus
tahun, dan sekarang akhirnya bebas. Mulutnya menganga lebar, memperlihatkan
deretan taring yang tajam, taring yang panjang, taring yang siap mencabik-cabik
siapa pun yang menghalangi jalannya. Dari sekujur tubuhnya, keluar asap hitam
yang berbau busuk, asap yang membuat mata perih, asap yang membuat tenggorokan
terasa terbakar, asap yang membuat sulit bernapas.
Akhirnya... kau datang, penjaga cilik... Suaranya menggelegar, membuat tanah berguncang,
membuat puing-puing batu berhamburan, membuat udara di sekitarnya bergetar.
Suaranya adalah suara yang sama yang selama ini Amat dengar dalam mimpinya,
suara yang sama yang memanggil namanya sejak ia masih kecil, suara yang sama
yang menjadi sumber ketakutan dan kekuatan baginya. Tapi kini makhluk itu tidak
lagi terkurung. Ia telah bebas. Ia telah keluar dari tempat persembunyiannya.
Ia telah siap untuk menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya.
"Aku datang untuk mengembalikanmu ke tempatmu,"
kata Amat dengan suara tegas, suara yang tidak bergetar meskipun hatinya
berdebar kencang, suara yang keluar dari dadanya yang sesak, suara yang menjadi
harapan terakhir desa ini. Ia berdiri di hadapan makhluk itu, dengan tubuh yang
kecil, dengan liontin yang bersinar, dengan tekad yang tidak bisa dipadamkan.
Makhluk itu tertawa. Tertawanya menggelegar, membuat tanah
berguncang, membuat pohon-pohon yang masih berdiri bergoyang, membuat kabut
hitam berputar-putar seperti pusaran air. Kembali? Tidak! Aku sudah
terlalu lama terkurung di bawah tanah. Tiga ratus tahun! Tiga ratus tahun aku
menunggu! Tiga ratus tahun aku merasakan dingin dan gelap! Tiga ratus tahun aku
mendengar suara-suara dari atas, suara manusia yang hidup bahagia, suara
anak-anak yang tertawa, suara orang tua yang berdoa, sementara aku di sini,
sendirian, dalam kegelapan! Sekarang waktuku untuk bebas! Aku akan
menghancurkan desamu, meracuni tanahmu, mengeringkan airmu, membakar
sawah-sawahmu, dan membiarkan semuanya mati! Aku akan membuat mereka merasakan
apa yang aku rasakan selama tiga ratus tahun!
Makhluk itu mengangkat tangannya yang besar, tangannya yang
terbuat dari batu dan api, tangannya yang bisa menghancurkan apa pun yang
menghalanginya. Dari telapak tangannya, keluar semburan api yang menyala
terang, api yang panas, api yang membakar segalanya, menyambar ke arah mereka
dengan kecepatan yang tidak bisa dihindari.
Guntur, yang paling sigap di antara mereka, yang sudah
bersiap sejak awal, menarik Amat dan Camelia ke samping dengan kekuatan yang
luar biasa. Api itu menyambar pohon di belakang mereka, pohon yang dulu masih
berdiri meskipun hitam dan gundul, membakarnya dalam sekejap, menjadikannya abu
yang beterbangan di udara. Panasnya terasa hingga ke wajah mereka, membuat kulit
terasa terbakar, membuat rambut terasa kering.
"Kita tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan
fisik!" teriak Camelia, suaranya lantang, berusaha mengalahkan gemuruh api
dan teriakan makhluk itu. Ia membuka buku catatannya yang sudah menebal,
membaca ulang catatan tentang ritual yang harus dilakukan. "Kita harus
melakukan ritual! Kita harus memperkuat segel! Itu satu-satunya cara!"
"Aku akan menahannya!" teriak Guntur. Ia
mengambil parang dan tombak yang dibawanya, tombak yang ujungnya sudah diasah
tajam, parang yang sudah siap digunakan. Ia berlari ke arah makhluk itu, dengan
keberanian yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya, dengan tekad yang tidak
bisa digoyahkan.
"Guntur, jangan!" teriak Amat, tetapi sudah
terlambat.
Guntur sudah berada di depan makhluk itu. Ia melemparkan
tombaknya dengan sekuat tenaga, tombak yang ia pegang erat-erat sejak tadi,
tombak yang menjadi satu-satunya senjata yang ia miliki. Tombak itu melesat di
udara, menembus kabut hitam, menembus asap, menuju ke arah makhluk itu. Tombak
itu mengenai tubuh makhluk itu, tepat di dadanya, di antara dua titik merah
yang menyala. Tetapi tidak menembus. Tombak itu hanya tergores di permukaan
kulit batu, lalu jatuh ke tanah, tidak berguna.
Makhluk itu hanya tertawa, suaranya menggelegar, suaranya
penuh dengan penghinaan. Kau pikir senjata manusia bisa melukaiku? Kau
pikir tombak bambu yang kau buat sendiri bisa menembus kulit batuku? Kau pikir
aku sama seperti makhluk-makhluk kecil yang bisa kau usir dengan keberanian?
Kau bodoh! Kau sangat bodoh!
Makhluk itu mengayunkan tangannya, tangannya yang besar,
tangannya yang terbuat dari batu dan api, menyapu Guntur seperti sapu menyapu
debu, seperti orang dewasa menyapu mainan anak-anak. Guntur terlempar puluhan
meter, tubuhnya yang kekar dan tegap terbang di udara seperti boneka kain,
jatuh di antara pepohonan yang hangus, di antara puing-puing batu yang
berserakan. Ia tidak bergerak. Tubuhnya terbaring di tanah, dengan wajah yang
pucat, dengan mulut yang menganga, dengan mata yang terpejam.
"GUNTUR!" teriak Amita. Ia berlari ke arah
Guntur, melewati kabut hitam, melewati asap, melewati puing-puing batu. Ia
berlutut di samping Guntur, memeriksa denyut nadinya, memeriksa pernapasannya,
memeriksa lukanya. Guntur masih hidup. Dadanya masih bergerak naik turun,
napasnya masih teratur meskipun tersengal. Tetapi ia pingsan, dan kemungkinan
ada tulang yang patah. Amita menangis, tetapi ia tidak bisa membawanya pergi.
Ia hanya bisa duduk di sampingnya, melindunginya, berdoa agar temannya selamat.
"Kita harus menghentikannya!" teriak Hermansyah,
yang biasanya pendiam dan tidak mudah panik, kini suaranya bergetar. Ia
mengaktifkan lampu sorot yang sangat terang, lampu yang biasanya ia gunakan
untuk memperbaiki mesin di malam hari, lampu yang bisa menerangi area sejauh
ratusan meter. Ia menyorotkannya ke mata makhluk itu, tepat ke dua titik merah
yang menyala terang. Makhluk itu terkejut, mengangkat tangannya untuk
melindungi matanya, meredupkan cahaya merah yang menyilaukan.
"Itu dia! Terus!" teriak Mas Bambang. Ia juga
mengaktifkan lampu sorotnya, menyorotkannya dari arah yang berbeda, membuat
makhluk itu bingung, membuatnya tertegun sejenak. Hermansyah dan Mas Bambang
bergantian menyorotkan lampu ke mata makhluk itu, membuatnya tidak bisa fokus,
membuatnya tidak bisa menyerang.
Amat memanfaatkan kesempatan itu. Ia berlari ke arah
reruntuhan gerbang batu, ke tempat di mana segel utama berada, ke tempat di
mana makhluk itu dulu terkurung. Liontin di lehernya bersinar sangat terang,
hampir menyilaukan, seperti matahari yang jatuh ke bumi, seperti bintang yang
meledak di langit. Cahaya biru itu memancar ke segala arah, menembus kabut
hitam, menembus asap, menembus kegelapan.
Tidak! teriak makhluk
itu. Ia menginjakkan kakinya ke tanah, membuat gempa yang mengguncang area itu,
gempa yang membuat retakan-retakan di tanah semakin lebar, gempa yang membuat
puing-puing batu berhamburan. Hermansyah dan Mas Bambang terjatuh, lampu sorot
mereka terlempar dari tangan, jatuh ke tanah, padam. Mereka hanya bisa
merangkak, berusaha mencari perlindungan di balik pohon-pohon yang tumbang.
Makhluk itu berbalik ke arah Amat. Ia mengangkat kedua
tangannya, tangannya yang besar, tangannya yang terbuat dari batu dan api,
menyiapkan serangan pamungkas, serangan yang akan menghancurkan segalanya,
serangan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun.
"Sekarang, Rak!" teriak Camelia, suaranya
lantang, suaranya penuh dengan harapan, suaranya menjadi isyarat bahwa waktu
yang ditunggu-tunggu telah tiba, bahwa pengorbanan yang dijanjikan harus
dilakukan, bahwa Raka harus bertindak.
Raka berlari ke arah makhluk itu, ke arah cahaya merah yang
menyilaukan, ke arah kematian yang mungkin menantinya. Ia tidak membawa
senjata, tidak membawa tombak, tidak membawa parang. Ia hanya membawa tubuhnya,
hatinya, dan pengorbanan yang telah ia janjikan. Ia berlari dengan langkah yang
mantap, dengan tekad yang bulat, dengan senyum yang masih terukir di wajahnya
yang bulat itu.
"Aku datang!" teriak Raka, suaranya lantang,
suaranya bergema di antara pepohonan yang hangus, suaranya menjadi seruan
terakhir seorang sahabat yang siap mengorbankan segalanya.
BAB 38: Tawa Terakhir di Tengah Bahaya
Raka berdiri di depan Amat. Tubuhnya yang tambun dan tidak
pernah dikenal gesit, yang selama ini lebih sering duduk di kursi goyang di
warung pecel daripada berlari-lari di lapangan, yang selama ini menjadi sumber
tawa karena gerakannya yang lucu dan lambat, kini berdiri tegak, menghadang
makhluk raksasa yang siap menghancurkannya. Ia tidak membawa senjata, tidak
membawa tombak, tidak membawa parang. Ia hanya membawa tubuhnya, hatinya, dan
senyum yang tidak pernah pudar dari wajahnya yang bulat itu. Ia berdiri di
antara Amat dan makhluk itu, di antara harapan dan keputusasaan, di antara
kehidupan dan kematian.
Makhluk itu menatap Raka dengan mata merahnya yang menyala,
dengan tatapan yang penuh dengan penghinaan, dengan tatapan yang mengatakan
bahwa ia tidak menganggap serius anak kecil yang berdiri di hadapannya. Kau?
Anak kecil yang kemarin aku kuasai? Anak kecil yang pikirannya bisa kubaca
seperti buku terbuka? Anak kecil yang hampir menjadi agenku? Kau pikir kau bisa
menghentikanku? Kau pikir dengan tubuh tambunmu, dengan tawamu yang
menjengkelkan, kau bisa menghalangi jalanku?
Raka tersenyum. Senyum yang sama yang selalu ia tunjukkan
ketika membuat lelucon di warung pecel, ketika membuat teman-temannya tertawa
di saat-saat paling sulit, ketika ia mengatakan bahwa pecel adalah sumber
kebijaksanaan dan tawa adalah senjata paling ampuh. Senyum yang tidak pernah
pudar meskipun ketakutan merayap di hatinya, meskipun tubuhnya gemetar,
meskipun ia tahu bahwa ia mungkin tidak akan pernah pulang. "Aku tidak
bisa menghentikanmu," kata Raka, suaranya tenang, suaranya tidak bergetar,
suaranya keluar dari dadanya yang sesak tetapi penuh dengan keyakinan.
"Aku tahu itu. Aku bukan pahlawan seperti Amat. Aku bukan pejuang seperti
Guntur. Aku bukan orang pintar seperti Camelia. Aku hanya anak pecel yang suka
bercanda. Tapi aku bisa membuatmu menunggu. Aku bisa membuatmu membuang waktu.
Aku bisa membuatmu sibuk dengan diriku, sehingga Amat punya waktu untuk
melakukan ritual. Dan itu sudah cukup. Itu lebih dari cukup."
Kau bodoh! Kau sangat bodoh! Aku akan menghancurkanmu
seperti aku menghancurkan temanmu! Aku akan membuatmu terbang seperti boneka
kain! Aku akan membuatmu menyesal karena berani menghalangi jalanku!
Makhluk itu mengangkat tangannya, tangannya yang besar,
tangannya yang terbuat dari batu dan api, siap untuk menyapu Raka seperti yang
dilakukannya pada Guntur, siap untuk melemparkannya puluhan meter ke udara,
siap untuk menghancurkannya seperti debu di jalan. Tapi Raka tidak bergerak. Ia
tetap berdiri di sana, dengan senyum di wajahnya, dengan kaki yang tertancap di
tanah seperti pohon beringin tua, dengan hati yang tenang meskipun badai menerpa.
Dan tiba-tiba, ia tertawa.
Tawanya keras, menggelegar, menggema di seluruh Hutan
Larangan, memantul dari batang pohon yang hangus, dari puing-puing batu yang
berserakan, dari jurang-jurang yang memancarkan cahaya merah. Tawa yang sama
yang selama ini ia gunakan untuk menghibur teman-temannya di saat-saat paling
sulit. Tawa yang menjadi ciri khasnya sejak kecil, sejak ia pertama kali
bertemu Amat di bawah pohon mangga halaman sekolah, sejak ia membuat Camelia
tertawa untuk pertama kalinya. Tawa yang menjadi senjata paling ampuh, seperti
yang pernah dikatakan Mbah Ratih, seperti yang pernah dikatakan Kyai Beringin.
Makhluk itu berhenti. Tangannya yang terangkat menggantung
di udara, tidak jadi menyambar, tidak jadi menghancurkan. Ia bingung. Ia tidak
mengerti. Selama tiga ratus tahun ia terkurung di bawah tanah, selama tiga
ratus tahun ia mendengar suara-suara dari atas, selama tiga ratus tahun ia
mempelajari manusia, ia belum pernah menemukan manusia yang tertawa di ambang
kematian. Ia belum pernah menemukan manusia yang menghadapi kehancuran dengan
tawa. Ia belum pernah menemukan manusia yang menggunakan tawa sebagai senjata.
Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu? Apa yang membuatmu
tertawa di saat seperti ini?
Raka menatap makhluk itu dengan mata yang masih berbinar-binar,
dengan senyum yang masih merekah di bibirnya. "Karena aku ingat sesuatu.
Sesuatu yang lucu. Sesuatu yang mungkin tidak akan kau mengerti, karena kau
tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Kemarin, sebelum berangkat, ketika
semua orang sibuk mempersiapkan perlengkapan, ketika Amat memeriksa liontinnya,
ketika Camelia mengecek buku catatannya, ketika Guntur mengasah tombaknya,
ketika Hermansyah menyiapkan lampu sorotnya, ketika Mas Bambang mengecek
sensornya, ketika Enjelin menyiapkan kameranya, ketika Amita menyiapkan
perlengkapan seninya, aku... aku lupa membawa pecel. Aku sudah janji akan
membawa bekal untuk semua. Aku sudah siapkan sejak sore. Aku sudah masak bumbu,
sudah goreng kerupuk, sudah potong sayur. Tapi ketika berangkat, aku lupa.
Pecelnya tertinggal di rumah. Bapakku pasti marah. Dia sudah repot-repot masak
dari subuh. Dia sudah siapkan semua dengan penuh cinta. Dan sekarang, pecelnya
tertinggal di rumah, tidak ada yang menikmati, tidak ada yang membawa bekal
untuk perjalanan paling penting dalam hidup kita."
Makhluk itu menggeram, tidak mengerti, tidak paham mengapa
hal sepele seperti pecel bisa membuat seorang manusia tertawa di ambang
kematian. Apa hubungannya dengan aku? Apa hubungannya dengan pecel
dengan pertempuran ini? Apa hubungannya dengan makanan dengan hidup dan mati?
"Tidak ada hubungannya. Tidak ada hubungannya sama
sekali. Tapi itu lucu. Aku selalu lupa membawa pecel. Setiap kali ada acara
penting, setiap kali ada pertemuan, setiap kali ada perjalanan, pasti ada saja
yang ketinggalan. Dulu, waktu kita pertama kali ke Hutan Larangan, aku lupa
membawa kerupuk. Waktu kita membersihkan sumur tua, aku lupa membawa sambal.
Waktu kita rapat di balai desa, aku lupa membawa tahu dan tempe. Dan sekarang,
di malam paling penting dalam hidupku, di malam di mana nasib desa ini
ditentukan, di malam di mana aku mungkin tidak akan pernah pulang, yang
ketinggalan adalah pecel. Lucu, kan? Tragis, tapi lucu."
Tawa Raka bergema lagi. Tawa yang keras, tawa yang jernih,
tawa yang murni, tawa yang tidak terkontaminasi oleh ketakutan, tidak
terkontaminasi oleh keputusasaan, tidak terkontaminasi oleh apa pun. Tawa itu
tidak hanya terdengar di telinga, tetapi juga terasa di hati. Seperti ada
kehangatan yang menyebar dari tawa itu, menembus kegelapan, menembus ketakutan,
menembus amarah. Seperti ada cahaya yang menyala di tengah kabut hitam, cahaya
yang lembut tetapi tidak bisa dipadamkan, cahaya yang membuat mereka yang
mendengarnya merasa bahwa masih ada harapan, bahwa masih ada kebaikan, bahwa
masih ada hal-hal yang layak diperjuangkan.
Amat, yang berlutut di reruntuhan gerbang batu, dengan
liontin yang bersinar terang, dengan tangan yang gemetar memegang batu akik
yang menjadi kunci segel, merasakannya. Ia merasakan tawa Raka seperti gelombang
kehangatan yang menyentuh punggungnya, memberinya kekuatan, memberinya
semangat, memberinya keyakinan bahwa ia tidak sendirian, bahwa sahabatnya
berjuang di belakangnya, bahwa ia harus menyelesaikan ritual ini.
Camelia, yang bersembunyi di balik pohon yang tumbang,
dengan buku catatan yang terbuka di pangkuannya, dengan pulpen yang tergantung
di tangannya, merasakannya. Ia merasakan tawa Raka seperti air yang menyegarkan
di tengah dahaga, seperti oksigen yang memenuhi paru-parunya yang sesak,
seperti tangan yang meraihnya dari dalam kegelapan. Ia menangis, tetapi ia
tersenyum. Ia menangis karena takut kehilangan sahabatnya, tetapi ia tersenyum
karena ia tahu bahwa Raka sedang melakukan hal yang paling mulia.
Hermansyah dan Mas Bambang, yang terjatuh di antara
puing-puing batu, dengan lampu sorot yang padam, dengan tubuh yang memar karena
terjatuh, merasakannya. Mereka merasakan tawa Raka seperti obat yang
menyembuhkan luka mereka, seperti dorongan yang membuat mereka bangkit, seperti
api yang menyala di hati mereka.
Amita, yang sedang merawat Guntur yang pingsan di antara
pepohonan hangus, dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, dengan tangan
yang gemetar memegang kain untuk membalut luka, merasakannya. Ia merasakan tawa
Raka seperti doa yang dipanjatkan di tengah malam, seperti harapan yang muncul
di tengah keputusasaan, seperti keyakinan bahwa Guntur akan selamat, bahwa
mereka semua akan selamat.
Enjelin, yang gemetar ketakutan di balik batu besar, dengan
kamera yang masih menyala, dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar,
merasakannya. Ia merasakan tawa Raka seperti pelukan yang hangat, seperti
kata-kata yang menenangkan, seperti cahaya yang menerangi kegelapan.
Berhenti! teriak
makhluk itu, suaranya menggelegar, suaranya penuh dengan kemarahan, suaranya
penuh dengan kebingungan. Berhenti tertawa! Aku benci tawa! Tawa adalah
kelemahan! Tawa adalah tanda bahwa manusia tidak serius! Tawa adalah sesuatu
yang harus dihancurkan!
Raka menggeleng, senyumnya masih merekah, tawanya masih
bergema. "Tawa bukan kelemahan, makhluk tua. Tawa adalah kekuatan. Tawa
adalah senjata paling ampuh melawan kegelapan. Karena kegelapan tidak bisa
memahami tawa. Kegelapan tidak bisa melawan tawa. Kegelapan hanya bisa
dikalahkan oleh cahaya, dan tawa adalah cahaya yang paling terang. Cahaya yang
tidak bisa dipadamkan oleh apa pun. Cahaya yang akan terus menyala meskipun
badai menerpa. Cahaya yang akan menjadi kenangan bagi mereka yang
ditinggalkan."
Raka menoleh ke arah Amat. Matanya yang biasanya ceria,
yang biasanya menyipit ketika ia tersenyum, yang biasanya menjadi sumber tawa
bagi semua orang, kini tampak serius. Tetapi senyumnya masih tersungging,
senyum yang menjadi ciri khasnya, senyum yang akan selalu ia kenang. "Mat,
lakukan ritualnya. Jangan tunggu aku. Jangan pikirkan aku. Lakukan apa yang
harus kau lakukan. Perkuat segel. Selamatkan desa. Aku akan menahannya di sini.
Aku akan membuatnya sibuk. Aku akan memberimu waktu."
"Rak, kau tidak bisa..." Amat berkata, suaranya
terputus-putus, air matanya mengalir, tangannya gemetar memegang liontin yang
bersinar.
"Aku bisa, Mat. Aku percaya aku bisa. Aku tidak punya
kekuatan gaib seperti kamu. Aku tidak punya kecerdasan seperti Camelia. Aku
tidak punya kekuatan fisik seperti Guntur. Tapi aku punya tawa. Aku punya
senyum. Aku punya kemampuan untuk membuat orang tertawa, bahkan di saat yang
paling gelap sekalipun. Dan itu sudah cukup. Itu lebih dari cukup. Sekarang
pergi! Lakukan ritualnya! Jangan biarkan pengorbananku sia-sia!"
Amat menatap sahabatnya. Ia melihat Raka berdiri di hadapan
makhluk raksasa itu, dengan tubuh yang kecil dan rapuh, dengan pakaian yang
kotor dan robek, dengan rambut yang acak-acakan, tetapi dengan semangat yang
besar dan tak tergoyahkan, dengan senyum yang tidak pernah pudar, dengan tawa
yang masih bergema di antara pepohonan yang hangus.
Amat mengangguk. Ia berbalik dan berlari ke reruntuhan
gerbang, memulai ritual, mempersembahkan liontinnya, memperkuat segel yang
mulai hancur. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak berani menoleh ke
belakang. Karena jika ia menoleh, ia akan melihat sahabatnya berdiri sendirian
melawan kegelapan, dan ia tidak akan bisa melanjutkan.
Makhluk itu mengamuk. Ia menyadari bahwa Amat akan
melakukan ritual untuk mengurungnya kembali, bahwa jika ritual itu selesai, ia
akan kembali ke dalam kegelapan, kembali ke dalam dingin, kembali ke dalam
kesendirian yang telah ia rasakan selama tiga ratus tahun. Ia harus
menghentikan Amat sebelum ritual selesai. Ia harus menghancurkan anak kecil
yang berdiri di hadapannya. Ia harus melangkah maju, apa pun risikonya.
Ia mengayunkan tangannya ke arah Raka, tangannya yang
besar, tangannya yang terbuat dari batu dan api, dengan kecepatan yang tidak
bisa dihindari oleh manusia biasa. Tetapi Raka, dengan tubuh yang tambun,
dengan gerakan yang tidak pernah dikenal gesit, tiba-tiba bergerak lincah. Ia
melompat ke samping, menghindari ayunan tangan makhluk itu dengan selisih
beberapa sentimeter, merasakan panasnya api yang menyambar di samping wajahnya,
merasakan angin yang menerpa tubuhnya.
"Kaget, ya?" kata Raka sambil tertawa, napasnya
terengah-engah, jantungnya berdebar kencang, tetapi senyumnya masih merekah.
"Aku juga kaget. Ternyata kalau lagi semangat, kalau lagi ada yang harus
dilindungi, kalau lagi ada yang harus diperjuangkan, badanku bisa bergerak
cepat. Bapakku selalu bilang, 'Ra, kalau kamu mau, kamu bisa.' Aku pikir itu
hanya omongan orang tua untuk menyemangati anaknya. Ternyata benar. Kalau kita
benar-benar mau, kita bisa."
Makhluk itu menggeram, suaranya menggelegar, suaranya penuh
dengan kemarahan. Ia mengayunkan tangan lagi, kali ini lebih cepat, lebih kuat,
dengan tujuan menghancurkan Raka, dengan tujuan tidak memberinya kesempatan
untuk menghindar. Raka mencoba menghindar, tetapi ayunan tangan makhluk itu
terlalu cepat, terlalu lebar. Tangannya mengenai bahu Raka, membuatnya
terhuyung, membuatnya hampir jatuh, membuatnya merasakan sakit yang luar biasa
di bahunya.
"Aduh, sakit juga," katanya sambil memijat
bahunya, sambil berusaha menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Tapi masih mending daripada disamber listrik. Dulu, waktu aku masih
kecil, aku pernah main-main di tiang listrik dekat rumah. Aku penasaran, kenapa
kabel itu tidak boleh dipegang. Ternyata, kalau dipegang, ada sengatannya. Aku
terpental beberapa meter, jatuh di sawah, basah kuyup. Bapakku marah sekali,
tapi setelah itu beliau tertawa. Katanya, 'Ra, lain kali jangan main-main
dengan listrik. Itu bukan mainan.' Itu lebih sakit, Ra. Lebih sakit daripada
pukulanmu."
Makhluk itu semakin marah. Ia tidak mengerti mengapa anak
kecil ini tidak takut. Ia tidak mengerti mengapa anak kecil ini masih bisa
bercanda di ambang kematian. Ia tidak mengerti mengapa anak kecil ini tidak
menangis, tidak memohon, tidak lari. Ia menginjakkan kakinya ke tanah, membuat
gempa yang lebih kuat, gempa yang membuat retakan-retakan di tanah semakin
lebar, gempa yang membuat puing-puing batu berhamburan. Tanah di sekitar Raka
retak, dan ia hampir terjatuh ke dalam lubang, hampir tenggelam ke dalam jurang
yang memancarkan cahaya merah.
"Wah, hati-hati itu, tanahnya nanti rusak. Nanti kalau
ditanam padi susah. Bapakku punya sawah di dekat sini, dulu. Tapi sudah dijual.
Katanya, mau buat villa. Sayang sekali. Sawah itu subur, Ra. Setiap panen, padi
nya menguning, indah sekali. Aku sering main ke sana waktu kecil. Mengejar
belalang, menangkap capung. Sekarang, sawahnya sudah jadi tanah kosong, tidak
terawat, tidak ada yang menanam. Sayang sekali."
Kau... kau tidak pernah serius! teriak makhluk itu, suaranya pecah karena kemarahan,
suaranya bergetar karena frustrasi. Bahkan ketika kau akan mati, kau
masih bercanda! Bahkan ketika kau tahu bahwa kau tidak akan pernah pulang, kau
masih tertawa! Bahkan ketika kau melihat teman-temanmu jatuh satu per satu, kau
masih bercanda! Apa kau tidak punya perasaan? Apa kau tidak takut mati?
Raka berhenti tertawa. Wajahnya yang bulat itu menjadi
serius, serius yang jarang terlihat di wajahnya, serius yang menunjukkan bahwa
ia sedang memikirkan sesuatu yang dalam, sesuatu yang penting. "Kata siapa
aku akan mati? Aku masih muda. Masih banyak yang harus kulakukan. Masih harus
belajar bikin pecel yang seenak bapakku. Bapakku sudah bilang, resep pecel itu
turun-temurun, dari Mbah Kinah, dari nenek buyutnya. Aku harus meneruskan. Aku
tidak boleh mati sebelum bisa membuat pecel seenak itu. Masih harus bantu Amat
menjaga desa ini. Amat sudah bilang, setelah ritual ini selesai, kita akan
membangun desa ini bersama. Aku akan bantu mempromosikan desa wisata, bikin
konten-konten lucu di media sosial, biar banyak turis yang datang. Masih harus
bikin Camelia dan Amita tersenyum. Camelia terlalu serius, perlu orang yang
membuatnya tertawa. Amita juga, kadang terlalu memikirkan orang lain, lupa
membahagiakan dirinya sendiri. Masih banyak, Ra. Masih banyak yang harus aku lakukan.
Jadi, kalau kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan mudah, kau salah besar. Aku
Raka. Anak Pak Gareng. Penjual pecel. Sahabat Amat. Dan aku tidak akan
membiarkanmu menghancurkan desaku."
Raka berdiri tegak. Di matanya, terpancar tekad yang tidak
bisa digoyahkan oleh apa pun, tekad yang lebih kuat dari batu, lebih panas dari
api, lebih terang dari cahaya. Ia mengangkat tangannya, tidak untuk menyerang,
tetapi untuk menunjukkan bahwa ia siap, bahwa ia tidak akan mundur, bahwa ia
akan bertahan sampai akhir.
Makhluk itu menggeram, tetapi tidak menyerang. Ia terkejut,
terkejut oleh keberanian anak kecil ini, terkejut oleh kekuatan yang tidak
terlihat tetapi terasa, terkejut oleh tawa yang masih bergema di telinganya. Ia
tidak mengerti. Ia tidak mengerti bagaimana manusia sekecil ini bisa memiliki
keberanian sebesar itu. Ia tidak mengerti bagaimana manusia yang tidak memiliki
kekuatan gaib, tidak memiliki senjata, tidak memiliki apa pun, bisa menghalangi
jalannya. Ia tidak mengerti bagaimana tawa bisa menjadi senjata yang lebih kuat
dari api dan batu.
"Aku tidak akan menyerah," kata Raka, suaranya
tenang, suaranya penuh keyakinan. "Selama aku masih bisa berdiri, selama
aku masih bisa bernapas, selama aku masih bisa tertawa, aku akan menghalangimu.
Aku tidak peduli seberapa besar kau, seberapa kuat kau, seberapa menakutkan
kau. Aku tidak akan membiarkanmu melewati aku. Aku tidak akan membiarkanmu
mengganggu Amat. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan desaku. Karena itu
adalah tugas ku. Itu adalah janji ku. Itu adalah sumpah ku."
Di kejauhan, cahaya biru dari liontin Amat mulai bersinar
sangat terang, menembus kabut hitam, menembus asap, menembus kegelapan. Ritual
telah dimulai. Segel mulai diperkuat. Makhluk itu merasakannya, merasakan
kekuatannya mulai berkurang, merasakan tubuhnya mulai melemah, merasakan bahwa
ia akan segera kembali ke dalam kegelapan. Ia mengamuk, mengamuk dengan
kekuatan terakhirnya, mengamuk dengan amarah yang tidak terkendali. Ia
mengayunkan tangannya ke arah Raka dengan kekuatan penuh, dengan tujuan
menghancurkannya, dengan tujuan setidaknya membawa satu korban sebelum ia
kembali terkurung.
Raka tidak menghindar. Ia tidak bisa menghindar. Tubuhnya
sudah lelah, kakinya sudah gemetar, bahunya masih sakit. Ia hanya bisa berdiri
di sana, dengan senyum di wajahnya, dengan tawa yang masih bergema di hatinya.
Ia menatap makhluk itu, menatap tangan raksasa yang akan menghantamnya, dan ia
tersenyum. Senyum terakhir. Senyum yang akan selalu dikenang oleh
teman-temannya. Senyum yang menjadi senjata paling ampuh. Senyum yang menjadi
cahaya di tengah kegelapan.
BAB 39: Pengorbanan yang Tak Bisa Dihindari
Amat berlutut di reruntuhan gerbang batu, di antara
puing-puing andesit yang berserakan, di antara debu yang beterbangan, di antara
cahaya merah yang masih menyala dari jurang-jurang di sekitarnya. Liontin di
lehernya bersinar sangat terang, lebih terang dari apapun yang pernah ia lihat,
lebih terang dari matahari di siang hari, lebih terang dari bulan purnama di
atas kepalanya. Cahaya biru itu memancar ke segala arah, menembus kabut hitam
yang tebal, menembus asap yang mengepul dari retakan tanah, menembus kegelapan
yang menyelimuti Hutan Larangan. Cahaya itu membuatnya tampak seperti bintang
yang jatuh ke bumi, seperti matahari kecil yang menyala di tengah malam,
seperti harapan yang tidak mau padam.
Ia mengangkat tangannya, kedua telapak tangan terbuka
menghadap ke langit, ke bulan purnama yang bersinar di atas, ke bintang-bintang
yang berkelap-kelip di kejauhan, ke sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Ia
membaca mantra yang diajarkan Mbah Ratih sebelum meninggal, mantra yang ia
hafalkan dengan susah payah, mantra yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras
sebelumnya, mantra yang kata-katanya nyaris tidak bisa ia ucapkan tetapi
mengalir dari mulutnya seperti air yang mengalir dari mata air, seperti sungai
yang mengalir ke laut, seperti kehidupan yang mengalir dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Mantra dalam bahasa Jawa kuno, bahasa yang hanya digunakan
oleh para tetua, bahasa yang nyaris punah, bahasa yang menjadi jembatan antara
dunia manusia dan dunia leluhur.
"Ingsun ameh ngelmu sejati, ilmu kang tanpa wates,
ilmu kang bisa nggayuh langit, ilmu kang bisa nyawiji karo alam, ilmu kang bisa
ngreksa desa iki, desa kang wis ana wiwit jaman biyen, desa kang dijaga dening
leluhur, desa kang bakal terus urip ing salawase..."
Di sekelilingnya, cahaya biru mulai muncul dari dalam
tanah, dari kedalaman yang tidak bisa dijangkau oleh mata manusia. Cahaya itu
keluar dari retakan-retakan yang masih tersisa, dari bekas-bekas luka yang
ditinggalkan oleh makhluk itu, dari tempat-tempat di mana segel dulu dipasang
oleh leluhur tiga ratus tahun yang lalu. Cahaya itu keluar dari pepohonan yang
hangus, dari batang-batang hitam yang masih berdiri meskipun telah mati, dari
akar-akar yang menjalar di dalam tanah, dari sisa-sisa kehidupan yang masih
tersisa. Cahaya itu keluar dari bebatuan yang pecah, dari puing-puing gerbang
batu yang berserakan, dari batu-batu yang dulu menjadi saksi bisu perjanjian
antara leluhur dan pemerintah kolonial. Cahaya itu berkumpul di sekitar Amat,
berputar-putar seperti pusaran air, seperti angin puyuh, seperti galaksi yang
berputar di angkasa. Pusaran itu semakin cepat, semakin kuat, semakin terang,
hingga akhirnya membentuk kolom cahaya biru yang menjulang ke langit, menembus
awan, menembus kabut, menembus segala sesuatu yang menghalangi jalannya.
Di kejauhan, Camelia, Hermansyah, Mas Bambang, dan Enjelin
berusaha membantu Raka. Mereka tidak bisa melukai makhluk itu, tidak bisa
menghentikannya, tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan fisik. Tapi mereka
bisa mengalihkan perhatiannya. Mereka bisa membuatnya bingung. Mereka bisa
memberinya waktu bagi Amat untuk menyelesaikan ritual. Hermansyah dan Mas
Bambang menyalakan api unggun di beberapa tempat, menggunakan bahan-bahan yang
mereka bawa, memanfaatkan pohon-pohon yang masih bisa terbakar, menciptakan
ilusi bahwa ada lebih banyak orang, bahwa mereka dikepung, bahwa mereka tidak
bisa bergerak bebas. Enjelin melepaskan beberapa drone kecil yang ia bawa,
drone yang biasanya ia gunakan untuk mengambil foto udara untuk konten promosi
desa, kini ia gunakan untuk membuat keributan di udara, untuk mengalihkan
perhatian makhluk itu, untuk membuatnya berpaling dari Amat. Camelia
berteriak-teriak, memanggil nama makhluk itu, memanggil dengan kata-kata yang
ia pelajari dari buku-buku kuno, kata-kata yang mungkin membuat makhluk itu
marah, kata-kata yang mungkin membuatnya bingung, kata-kata yang mungkin
membuatnya lupa bahwa ada yang lebih penting dari sekadar keributan di
sekitarnya.
Tapi makhluk itu tidak bodoh. Ia telah hidup selama tiga
ratus tahun, terkurung di bawah tanah, tetapi tidak berarti pikirannya tumpul.
Ia tahu bahwa ancaman utamanya adalah Amat. Ia tahu bahwa jika ritual itu
selesai, ia akan kembali ke dalam kegelapan, kembali ke dalam dingin, kembali
ke dalam kesendirian yang telah ia rasakan selama tiga ratus tahun. Ia
mengabaikan semua gangguan itu, mengabaikan api unggun yang menyala di
sekelilingnya, mengabaikan drone yang berdengung di atas kepalanya, mengabaikan
teriakan Camelia yang memanggil namanya. Ia fokus pada Amat. Ia fokus pada
cahaya biru yang semakin terang. Ia fokus pada satu-satunya yang bisa
menghentikannya.
Tidak! teriak makhluk
itu, suaranya menggelegar, membuat tanah berguncang, membuat api unggun padam,
membuat drone Jel jatuh berhamburan. Aku tidak akan kembali ke dalam
kurungan! Aku tidak akan kembali ke dalam kegelapan! Aku tidak akan kembali ke
dalam kesendirian! Aku lebih memilih mati daripada kembali ke sana! Aku lebih
memilih menghancurkan segalanya daripada kembali ke sana! Aku lebih memilih
membunuh kalian semua daripada kembali ke sana!
Makhluk itu mengangkat kedua tangannya, tangannya yang
besar, tangannya yang terbuat dari batu dan api, mengangkatnya tinggi-tinggi ke
atas kepalanya, mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa, kekuatan yang telah
ia kumpulkan selama tiga ratus tahun, kekuatan yang seharusnya cukup untuk
menghancurkan seluruh desa. Dari telapak tangannya, keluar api yang sangat
besar, api yang lebih besar dari apapun yang pernah mereka lihat, api yang
menyala terang seperti matahari yang jatuh ke bumi, api yang menyambar ke arah
Amat dengan kecepatan yang tidak bisa dihindari, dengan kekuatan yang tidak
bisa ditahan.
"AMAT!" teriak Raka, suaranya lantang, suaranya
memecah keheningan, suaranya menjadi isyarat bahwa ia tidak akan tinggal diam.
Tanpa berpikir, tanpa mempertimbangkan risiko, tanpa
menghitung apakah ia akan selamat atau tidak, Raka berlari. Tubuhnya yang
tambun, yang tidak pernah dikenal gesit, yang selama ini menjadi sumber tawa
karena gerakannya yang lambat dan lucu, tiba-tiba melesat seperti anak panah,
seperti kilat yang menyambar di langit, seperti cahaya yang menembus kegelapan.
Ia melompat, melompat dengan sekuat tenaga, melompat dengan seluruh keberanian
yang ia miliki, melompat dengan satu tujuan: melindungi sahabatnya. Ia
mendorong Amat, mendorongnya hingga terguling ke samping, menjauh dari
jangkauan api, menjauh dari kematian yang hampir menjemputnya.
Tapi tidak ada yang tanpa akibat. Api itu tidak mengenai
Amat, tetapi mengenai Raka. Api itu mengenai punggungnya, membakar pakaiannya,
membakar kulitnya, membakar dagingnya. Raka jatuh. Tubuhnya yang tambun itu
jatuh ke tanah seperti wayang yang putus talinya, seperti pohon yang tumbang
diterjang badai, seperti bintang yang jatuh dari langit. Ia tidak bergerak.
Wajahnya pucat, sangat pucat, seperti kertas yang tidak pernah terkena sinar
matahari. Bibirnya kebiruan, seperti langit sebelum hujan. Matanya terpejam,
rapat, seperti sedang tidur nyenyak, seperti sedang bermimpi indah, seperti
sedang berada di tempat yang jauh dari semua ini.
"RAKA!" teriak Camelia, suaranya pecah, suaranya
penuh dengan ketakutan, suaranya penuh dengan keputusasaan. Ia berlari ke arah
Raka, melewati puing-puing batu, melewati retakan tanah, melewati asap yang
masih mengepul. Ia berlutut di samping Raka, memegang tangannya yang dingin,
merasakan denyut nadi yang lemah, merasakan kehidupan yang perlahan-lahan
meninggalkan tubuh sahabatnya.
"RAKA!" teriak Amita, yang sedang merawat Guntur
di antara pepohonan, yang melihat apa yang terjadi, yang merasakan hatinya
hancur. Ia meninggalkan Guntur, berlari ke arah Raka, tidak peduli bahwa ia
mungkin juga menjadi sasaran, tidak peduli bahwa ia juga bisa terluka.
"RAKA!" teriak mereka semua, Hermansyah, Mas
Bambang, Enjelin, semua berlari ke arah Raka, semua ingin memastikan bahwa
sahabat mereka masih hidup, bahwa mereka tidak kehilangan orang yang selalu
membuat mereka tertawa, bahwa mereka tidak kehilangan bagian terpenting dari
tim mereka.
Amat, yang masih dalam kondisi setengah trance, yang masih
terhubung dengan mantra yang ia baca, yang masih merasakan energi yang mengalir
dari liontin ke seluruh tubuhnya, melihat sahabatnya terbaring. Dalam sekejap,
seluruh dunia terasa berhenti. Waktu berhenti. Udara berhenti. Detak jantungnya
berhenti. Ia tidak bisa berpikir. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa
bernapas. Yang ada hanya kekosongan yang sangat dalam, kekosongan yang seperti
jurang di dasar laut, kekosongan yang seperti lubang hitam di angkasa,
kekosongan yang tidak bisa diisi oleh apa pun.
Sahabatmu sudah mati, Penjaga, suara makhluk itu terdengar seperti dari kejauhan,
seperti dari balik kabut, seperti dari dunia lain. Ia mati karena
melindungimu. Ia mati karena kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Ia mati
karena kau lemah. Sekarang, kau sendirian. Tidak ada yang akan melindungimu
lagi. Tidak ada yang akan membelamu lagi. Tidak ada yang akan tertawa untukmu
lagi.
Amat tidak mendengarnya. Ia tidak mendengar apa pun. Ia
hanya menatap Raka yang terbaring di tanah, dengan wajah yang pucat, dengan
mata yang terpejam, dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya yang
kebiruan. Senyum yang sama yang selalu ia tunjukkan ketika membuat lelucon,
senyum yang menjadi ciri khasnya, senyum yang akan selalu ia kenang.
Amat bangkit. Ia berdiri perlahan, seperti pohon yang
tumbuh dari tanah, seperti gunung yang muncul dari laut, seperti cahaya yang
terbit dari kegelapan. Ada yang berubah di matanya. Bukan biru biasa, biru
pucat seperti langit Awan Biru di pagi hari. Matanya kini biru bercahaya, biru
yang menyala seperti api, biru yang terang seperti matahari, biru yang seperti
langit Awan Biru saat badai, ketika awan gelap bergulung-gulung di langit dan
kilat menyambar dari satu ujung ke ujung yang lain. Bukan biru yang tenang,
tetapi biru yang mengamuk, biru yang siap menghancurkan, biru yang tidak bisa
dihentikan oleh apa pun.
Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Ia tidak mengamuk
seperti yang mungkin dilakukan oleh orang lain. Ia hanya berdiri, dengan tangan
terentang ke samping, dengan telapak tangan terbuka menghadap ke langit, dengan
seluruh tubuhnya memancarkan cahaya biru yang menyilaukan. Cahaya biru dari
liontin di lehernya menyebar ke seluruh tubuhnya, mengalir melalui pembuluh
darahnya, mengalir melalui urat-uratnya, mengalir melalui setiap sel di
tubuhnya, membuatnya tampak seperti dewa yang turun dari langit, seperti
makhluk yang terbuat dari cahaya, seperti sesuatu yang tidak bisa dijelaskan
oleh akal sehat.
Dengan satu hentakan kaki, satu hentakan yang membuat tanah
berguncang, yang membuat puing-puing batu berhamburan, yang membuat udara di
sekitarnya bergetar, cahaya biru itu meledak. Ledakan itu menyebar ke segala
arah, seperti gelombang tsunami, seperti ledakan supernova, seperti kelahiran
alam semesta. Cahaya biru itu menyapu semua yang ada di depannya, menyapu
pepohonan yang hangus, menyapu puing-puing batu, menyapu kabut hitam yang
tebal, menyapu asap yang mengepul dari retakan tanah. Pepohonan yang hangus
tersapu bersih, menjadi abu yang beterbangan di udara, abu yang kemudian
menghilang seperti tidak pernah ada. Tanah yang retak menjadi rata,
retakan-retakan menutup dengan sendirinya, seperti luka yang sembuh, seperti
bekas yang terhapus. Api yang menyala dari tubuh makhluk itu padam seketika,
tidak bisa bertahan di hadapan cahaya biru yang begitu kuat.
Makhluk itu menjerit, suaranya memecah keheningan, suaranya
penuh dengan rasa sakit, suaranya penuh dengan ketakutan. Cahaya biru itu
menyelimuti tubuhnya, mengikatnya seperti tali yang tidak bisa diputuskan,
menekannya seperti beban yang tidak bisa diangkat, memaksanya untuk kembali ke
dalam tanah, ke dalam segel yang diperbaharui dengan kekuatan baru.
Tidak! Apa ini? Kekuatan apa ini? Aku tidak pernah
merasakan kekuatan seperti ini! Ini bukan kekuatan leluhur! Ini bukan kekuatan
yang kau warisi! Ini sesuatu yang lain! Apa ini?
"Ini kekuatan persahabatan," kata Amat, suaranya
bergema seperti guntur, suaranya menggetarkan udara, suaranya memantul dari
pohon ke pohon, dari batu ke batu, dari langit ke bumi. "Ini kekuatan yang
kau tidak akan pernah mengerti. Ini kekuatan yang tidak bisa diwariskan, tidak
bisa diajarkan, tidak bisa dipelajari. Ini kekuatan yang muncul ketika
seseorang mencintai, ketika seseorang mengorbankan segalanya untuk orang yang
dicintainya, ketika seseorang rela mati demi sahabatnya. Ini kekuatan yang
lebih besar dari segalanya. Ini kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh
kegelapan mana pun."
Amat mengangkat tangannya lebih tinggi, lebih tinggi dari
kepalanya, lebih tinggi dari pohon-pohon yang masih berdiri, lebih tinggi dari
awan-awan yang bergulung di langit. Cahaya biru itu semakin terang, semakin
kuat, semakin tidak bisa ditahan. Makhluk itu menjerit semakin keras, tubuhnya
perlahan-lahan tenggelam ke dalam tanah, ke dalam segel yang diperbaharui, ke
dalam tempat di mana ia telah terkurung selama tiga ratus tahun.
Ini belum selesai, penjaga cilik! teriak makhluk itu, suaranya mulai memudar, suaranya
mulai tenggelam ke dalam tanah. Aku akan kembali! Aku sudah menunggu
tiga ratus tahun, aku bisa menunggu tiga ratus tahun lagi! Dan ketika aku
kembali, tidak akan ada yang bisa menghentikanku! Aku akan menghancurkan
desamu! Aku akan membunuh semua orang yang kau cintai! Aku akan membuatmu
merasakan apa yang aku rasakan selama ini!
"Kita akan lihat nanti," kata Amat, suaranya
tenang, suaranya tidak terpengaruh oleh ancaman makhluk itu. "Kita akan
lihat apakah kau masih punya kekuatan untuk kembali. Kita akan lihat apakah kau
masih bisa mengancam desa ini. Kita akan lihat apakah kau masih bisa membuat
kami takut. Karena sekarang, kami tidak takut padamu. Kami tidak akan pernah
takut padamu lagi."
Dengan satu dorongan terakhir, dengan satu ledakan cahaya
biru yang menyilaukan, dengan satu teriakan yang memecah langit, makhluk itu
tenggelam sepenuhnya ke dalam tanah. Segel menutup di atasnya, tanah yang retak
perlahan-lahan menutup, menjadi padat kembali, menjadi kokoh kembali, menjadi
seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Api yang menyala dari tubuhnya padam,
tidak menyisakan apa pun selain abu yang beterbangan di udara. Cahaya merah
yang memancar dari jurang-jurang perlahan-lahan meredup, menghilang, digantikan
oleh cahaya biru yang masih menyala dari tubuh Amat.
Hutan Larangan kembali sunyi. Sunyi yang damai, sunyi yang
tenang, sunyi seperti setelah badai besar berlalu. Tidak ada kabut hitam yang
tebal, tidak ada cahaya merah yang menyilaukan, tidak ada suara-suara aneh yang
mengerikan. Hanya keheningan yang damai, hanya kegelapan yang tenang, hanya
bulan purnama yang bersinar terang di langit, memberikan cahaya peraknya yang
lembut ke seluruh hutan.
Amat berlari ke sisi Raka. Ia jatuh berlutut di samping
sahabatnya, merasakan tanah yang dingin di bawah lututnya, merasakan debu yang
beterbangan di sekelilingnya, merasakan jantungnya yang berdebar kencang.
Sahabatnya itu terbaring tak bergerak, wajahnya pucat seperti kertas yang tidak
pernah terkena sinar matahari, bibirnya kebiruan seperti langit sebelum hujan,
matanya terpejam rapat seperti sedang tidur nyenyak. Dadanya tidak bergerak
naik turun. Tidak ada suara napas yang keluar dari mulutnya. Tidak ada denyut
nadi yang bisa dirasakan di pergelangan tangannya. Ia terbaring seperti patung,
seperti wayang yang putus talinya, seperti sesuatu yang telah meninggalkan
tubuhnya.
"Rak... bangun, Rak. Jangan becanda. Ini nggak
lucu." Suara Amat patah, suaranya seperti kaca yang retak, seperti ranting
yang patah, seperti air yang jatuh dari ketinggian. Air matanya mulai menetes,
air mata yang ia tahan sejak tadi, air mata yang tidak bisa ia tahan lagi. Air
mata itu jatuh ke wajah Raka, membasahi pipinya yang pucat, membasahi bibirnya
yang kebiruan, membasahi senyum yang masih tersungging di wajahnya. "Kamu
janji akan kembali. Kamu bilang kamu akan membuat pecel seenak bapakmu. Kamu
bilang kamu akan membuat kami tertawa lagi. Kamu bilang kita akan duduk di
beranda rumah, minum teh jahe, dan tertawa bersama seperti dulu. Kamu tidak
boleh ingkar janji, Rak. Kamu tidak boleh."
Camelia berlutut di sisi lain Raka, memegang tangannya yang
dingin, merasakan dingin yang merambat dari ujung jari ke telapak tangan, dari
telapak tangan ke pergelangan, dari pergelangan ke lengan. Ia menangis,
menangis tersedu-sedu, menangis seperti tidak pernah menangis sebelumnya.
"Raka... please... jangan... jangan tinggalkan kami... jangan pergi...
kami masih butuh kamu... desa ini masih butuh kamu... kami tidak akan bisa
tertawa tanpa kamu... kami tidak akan bisa bahagia tanpa kamu... please...
Raka... bangun..."
Hermansyah, Mas Bambang, dan Enjelin berdiri di belakang
mereka, tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menatap, hanya bisa berdoa, hanya
bisa berharap bahwa keajaiban akan terjadi. Amita masih merawat Guntur yang
pingsan, tetapi matanya juga tertuju ke arah Raka, dan air matanya mengalir di
pipinya, membasahi kain yang ia gunakan untuk membalut luka Guntur.
Amat memeluk tubuh Raka, memeluk sahabatnya yang sudah
seperti saudara, yang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak mereka masih
kecil. Ia merasakan tubuh Raka yang dingin, merasakan jantung yang tidak
berdetak, merasakan kehidupan yang perlahan-lahan meninggalkan tubuh itu. Air
matanya jatuh, membasahi wajah sahabatnya yang pucat, membasahi rambutnya yang
acak-acakan, membasahi pakaiannya yang terbakar.
"Rak, kau janji akan kembali. Kau bilang kau akan
membuat pecel seenak bapakmu. Kau bilang kau akan membuat kami tertawa lagi.
Kau bilang kita akan duduk di beranda rumah, minum teh jahe, dan tertawa
bersama seperti dulu. Kau tidak boleh ingkar janji, Rak. Kau tidak boleh."
Tidak ada gerakan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang
menyakitkan, hanya keheningan yang memekakkan telinga, hanya keheningan yang
seperti kain kafan yang menutupi mereka semua.
Tapi kemudian... batuk. Batuk kecil, batuk yang nyaris
tidak terdengar, batuk yang seperti suara dari dunia lain. Raka bergerak.
Perlahan, seperti orang yang baru bangun dari mimpi panjang, ia membuka
matanya. Matanya sayu, matanya lelah, matanya seperti tidak bisa fokus.
Wajahnya pucat, bibirnya kebiruan, tetapi ia masih bisa tersenyum. Senyum
miring khasnya, senyum yang selalu membuat orang tertawa, senyum yang menjadi
ciri khasnya sejak kecil.
"Mat... elu... elu mukulin setan pake lampu biru-biru.
Keren, gila..." suaranya serak, suaranya seperti suara orang yang baru saja
kehilangan sesuatu, tetapi masih bisa tertawa. "Kayak film-film superhero.
Elu jadi Captain Awan Biru, gue jadi asistennya yang lucu. Cocok, kan?"
"RAK! LO IDUP!" Camelia memeluknya, menangis
tersedu-sedu, tidak peduli bahwa Raka mungkin kesakitan, tidak peduli bahwa ia
mungkin melukai sahabatnya, tidak peduli bahwa ia mungkin terlihat konyol. Ia
memeluknya erat-erat, merasakan tubuh Raka yang masih hangat, merasakan jantung
yang mulai berdetak lagi, merasakan kehidupan yang kembali mengalir.
"Aduh... Mel, tulang rusuk gue... sakit," keluh
Raka, tetap tersenyum, tetap bercanda meskipun kesakitan. "Jangan peluk
kenceng-kenceng, nanti gue mati beneran. Nanti lo nyesel, nggak bisa makan
pecel gratis lagi."
Amat tertawa sambil menangis. Ia mengusap wajahnya yang
basah, mengusap air mata yang masih mengalir, mengusap kebahagiaan yang tidak
bisa ia sembunyikan. "Lo kenapa sih loncat kayak orang gila gitu? Gue bisa
menghindar! Gue punya kekuatan, gue bisa ngelindungi diri sendiri. Lo nggak
usah ikut-ikutan jadi pahlawan!"
"Ya masa gue diem aja liat elu mau kena? Nanti siapa
yang jadi penjaga desa? Gue? Penjaga warung pecel aja masih belepotan."
Raka tertawa kecil, tertawa yang membuatnya batuk, tertawa yang membuatnya
meringis kesakitan, tetapi tertawa. "Lagipula, gue kan sudah janji. Janji
untuk menjaga desa ini. Janji untuk tidak meninggalkan kalian. Janji untuk
melakukan yang terbaik, apa pun yang terjadi. Gue tidak bisa ingkar
janji."
Mereka semua tertawa. Hermansyah, Mas Bambang, dan Enjelin
yang berdiri di belakang, ikut tertawa, ikut menangis, ikut merasakan
kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Amita yang masih
merawat Guntur, tersenyum, air matanya masih mengalir, tetapi senyumnya tulus.
Guntur, yang masih pingsan, seolah-olah ikut tersenyum dalam tidurnya.
Tawa itu bergema di Hutan Larangan yang sunyi, tawa yang
melepaskan ketegangan yang selama ini mengendap, tawa yang menjadi obat bagi
luka-luka yang mereka alami, tawa yang menjadi simbol bahwa mereka masih hidup,
masih bersama, masih bisa tertawa. Tawa yang menjadi pengingat bahwa di tengah
semua kegelapan dan ketakutan, masih ada cahaya, masih ada harapan, masih ada
persahabatan yang tidak bisa dipadamkan oleh apa pun.
Di langit di atas Hutan Larangan, bulan purnama bersinar terang,
bundar sempurna, memberikan cahaya peraknya yang lembut ke seluruh hutan.
Cahayanya yang dingin dan pucat kini terasa hangat dan damai, seperti pelukan
dari leluhur, seperti restu dari Kyai Beringin, seperti tanda bahwa semuanya
akan baik-baik saja. Seolah-olah alam sendiri ikut bernapas lega setelah badai
berlalu. Seolah-olah langit sendiri ikut tersenyum melihat anak-anak desa yang
berhasil mengalahkan kegelapan. Seolah-olah bintang-bintang sendiri ikut
berkedip, ikut bahagia, ikut bersyukur.
Amat, Raka, Camelia, Hermansyah, Mas Bambang, Enjelin,
Amita, dan Guntur yang masih pingsan, mereka semua adalah pahlawan. Bukan
karena mereka memiliki kekuatan super, bukan karena mereka bisa melakukan
hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang lain, tetapi karena mereka berani.
Berani menghadapi ketakutan yang tidak berani dihadapi orang lain. Berani
mengorbankan apa yang tidak berani dikorbankan orang lain. Berani tertawa di
saat yang paling gelap. Dan mereka menang. Mereka menang bukan karena kekuatan,
tetapi karena persahabatan. Mereka menang bukan karena senjata, tetapi karena
hati. Mereka menang bukan karena takdir, tetapi karena pilihan. Pilihan untuk
tidak menyerah. Pilihan untuk saling melindungi. Pilihan untuk tetap bersama.
BAB 40: Amat Junior Resmi Menjadi Penjaga Desa
Mereka kembali ke desa dengan sorak sorai warga yang sudah
menunggu sejak malam. Sejak matahari mulai terbit di balik Bukit Pangasih,
sejak kabut pagi mulai menipis dan sinar keemasan mulai menembus celah-celah
awan, warga Desa Awan Biru sudah berkumpul di balai desa. Mereka datang dari
berbagai dusun, dari berbagai RT, dari berbagai lapisan masyarakat, membawa
bendera merah putih, membawa umbul-umbul yang mereka buat sendiri, membawa
bunga-bunga dari kebun mereka. Ada yang datang dengan berjalan kaki, dengan
sandal jepit dan pakaian seadanya. Ada yang datang dengan sepeda motor, membawa
serta istri dan anak-anak mereka. Ada yang datang dengan truk milik Pak Anto,
yang rela mengantar warga dari dusun-dusun terpencil tanpa meminta bayaran.
Mereka berdiri di pinggir jalan, dari batas Hutan Larangan hingga balai desa,
berbaris rapi, menunggu kepulangan anak-anak desa yang pergi berjuang semalam.
Ketika rombongan pertama terlihat di ujung jalan, ketika
bayangan-bayangan mulai muncul dari balik kabut yang masih tersisa, ketika
langkah-langkah kaki mulai terdengar di jalan setapak yang becek, warga
bersorak. Sorak sorai bergema di seluruh desa, membangunkan burung-burung yang
masih tidur, membuat ayam-ayam berkokok bersahutan, membuat anjing-anjing
menggonggong dengan riang. Mereka melambaikan tangan, melambai-lambaikan
bendera, melambai-lambaikan umbul-umbul, melambai-lambaikan apa saja yang bisa
mereka lambaikan. Beberapa menangis, menangis haru, menangis bahagia, menangis
lega. Beberapa tertawa, tertawa lepas, tertawa riang, tertawa seperti tidak
pernah tertawa sebelumnya.
Pak Arjuna, yang berdiri di paling depan barisan, dengan
kemeja batik lengan panjang yang rapi, dengan wajah yang berseri-seri, dengan
mata yang berkaca-kaca, memeluk Amat, Raka, dan Camelia bergantian. Ia memeluk
mereka erat-erat, seperti seorang ayah yang menyambut anak-anaknya pulang dari
medan perang, seperti seorang pemimpin yang bangga dengan prajuritnya, seperti
seorang warga desa yang bersyukur karena desanya selamat. "Kalian luar
biasa," katanya, suaranya bergetar, suaranya nyaris tidak terdengar di
antara sorak sorai warga. "Kalian adalah pahlawan desa ini. Tidak ada
kata-kata yang bisa menggambarkan betapa bangganya saya. Tidak ada kata-kata
yang bisa membalas jasa kalian. Desa ini berhutang budi pada kalian.
Selamanya."
Sumirah, ibu Amat, yang sudah berdiri di samping Pak Arjuna
sejak tadi, yang menahan tangis sejak melihat bayangan anaknya di kejauhan,
yang tangannya gemetar memegang selendang yang ia kenakan, akhirnya tidak bisa
menahan diri. Ia berlari, berlari secepat yang ia bisa meskipun kakinya sudah
tidak sekokoh dulu, meskipun napasnya sudah tersengal-sengal. Ia memeluk Amat
erat-erat, memeluk anaknya yang telah berjuang, memeluk anaknya yang telah
kembali. Air matanya mengalir deras, membasahi bahu Amat, membasahi pakaian
yang masih kotor dan robek, membasahi luka-luka yang masih belum kering.
"Nak... Nak... Ibu bangga... Ibu sangat bangga... Ibu tidak bisa
membayangkan... Ibu tidak bisa... Ibu..." Ia tidak bisa melanjutkan
kata-katanya. Tangisnya memecah suaranya, membuatnya hanya bisa memeluk, hanya
bisa menangis, hanya bisa bersyukur.
Bu Yati, ibu Raka, juga berlari. Ia memeluk Raka erat-erat,
setengah marah karena anaknya membuatnya khawatir setengah mati, setengah lega
karena anaknya masih hidup, setengah bangga karena anaknya menjadi pahlawan.
"Kamu ini, Ra! Kamu ini! Ibu sudah pesan jangan macam-macam! Ibu sudah
pesan jangan berani-berani! Ibu sudah pesan... Ibu sudah pesan..." Ia
memukul-mukul bahu Raka dengan lembut, memukul dengan rasa sayang, memukul
dengan rasa khawatir, memukul dengan rasa lega. "Ibu nggak bisa tidur
semalaman! Ibu terus berdoa! Ibu terus menangis! Ibu terus... Ibu
terus..." Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tangisnya memecah suaranya,
membuatnya hanya bisa memeluk, hanya bisa menangis, hanya bisa bersyukur.
Raka tersenyum, meskipun punggungnya masih sakit, meskipun
tubuhnya masih lemas, meskipun matanya masih sayu. "Maaf, Bu. Aku sudah
janji akan kembali. Dan aku kembali, kan? Aku tidak ingkar janji. Aku tidak
akan pernah ingkar janji. Lagipula, siapa yang akan meneruskan warung pecel
kalau aku tidak ada? Bapak sudah tua, Bu. Beliau butuh istirahat. Aku harus
belajar membuat pecel yang seenak beliau."
Guntur dibawa ke puskesmas dengan tandu darurat yang dibuat
dari bambu dan kain, dipikul oleh empat pemuda desa yang bergantian. Bidan
Amelia dan dr. Erlangga sudah menunggu di ruang perawatan, dengan peralatan
medis yang sudah disiapkan, dengan obat-obatan yang sudah diatur, dengan wajah
yang penuh konsentrasi. Mereka memeriksanya dengan saksama, dari ujung rambut
hingga ujung kaki, mencari luka, memar, atau tanda-tanda cedera lainnya.
Hasilnya melegakan. Tidak ada patah tulang yang serius, hanya memar di sekujur
tubuh, terkilir di pergelangan tangan kiri, dan gegar otak ringan. Ia akan
pulih dalam beberapa minggu, dengan istirahat yang cukup, dengan obat-obatan
yang teratur, dengan perawatan yang intensif.
"Pemuda ini kuat," kata dr. Erlangga, menghela
napas lega, mengusap keringat di dahinya, tersenyum untuk pertama kalinya
setelah berjam-jam. "Tulangnya kokoh, ototnya kuat, jantungnya sehat.
Mungkin karena sering berolahraga. Mungkin karena kebiasaan main voli. Mungkin
karena faktor keturunan. Tapi yang pasti, ia akan baik-baik saja. Ia hanya
butuh istirahat."
Amita yang menemani Guntur sejak tadi, yang tangannya
gemetar memegang kain basah untuk mengompres dahinya, yang matanya tidak pernah
lepas dari wajah Guntur yang pucat, menangis lega. "Terima kasih, Dok.
Terima kasih, Bu Bidan. Terima kasih sudah merawatnya."
Raka, meskipun terkena serangan api, tidak mengalami luka
bakar yang serius. Ketika api itu menyambar punggungnya, ketika panasnya
seharusnya membakar kulit dan dagingnya, ketika ia seharusnya mengalami luka
bakar derajat tiga yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit besar di
kota, anehnya tidak ada bekas yang berarti. dr. Erlangga bingung. Ia memeriksa
punggung Raka berulang kali, menggunakan alat-alat medis yang ia miliki,
mencari penjelasan yang masuk akal. Secara medis, secara ilmiah, secara logika,
seharusnya Raka mengalami luka bakar yang parah. Seharusnya kulitnya melepuh,
dagingnya terbakar, tulangnya retak karena panas yang sangat tinggi. Tetapi
kenyataannya, hanya ada kemerahan di punggungnya, seperti sengatan matahari,
seperti habis berjemur terlalu lama, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Mungkin karena tawa," kata Raka sambil
tersenyum, duduk di tempat tidur puskesmas dengan selimut tipis menutupi
kakinya, dengan perban di beberapa tempat, dengan senyum yang masih merekah di
wajahnya yang bulat. "Tawa itu obat, kan, Dok? Mungkin tawa saya
melindungi saya. Mungkin tawa saya membuat api itu tidak berani mendekat.
Mungkin tawa saya lebih kuat dari api."
dr. Erlangga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil
tersenyum. Ia sudah puluhan tahun bertugas di daerah pedesaan, sudah melihat
berbagai macam kasus, dari yang paling biasa hingga yang paling aneh. Tapi ia
belum pernah melihat kasus seperti ini. Belum pernah melihat seseorang terkena
serangan api dari makhluk gaib dan hanya mengalami kemerahan di kulitnya. Belum
pernah melihat seseorang yang seharusnya mati terbakar, tetapi selamat dengan
selisih yang tipis. Belum pernah melihat seseorang yang menggunakan tawa
sebagai senjata dan bertahan hidup. "Kamu ini, Ra, kamu ini... Aku tidak
bisa menjelaskan ini secara medis. Aku tidak bisa menjelaskan ini secara
ilmiah. Tapi aku tahu satu hal: kamu adalah anak yang beruntung. Kamu adalah
anak yang dilindungi. Mungkin oleh leluhur. Mungkin oleh kekuatan yang tidak
bisa kita lihat. Mungkin oleh tawamu sendiri."
Raka tertawa, tertawa kecil, tertawa yang membuatnya batuk,
tertawa yang membuatnya meringis kesakitan, tetapi tertawa. "Dok, saya
bukan anak yang beruntung. Saya anak pecel. Dan pecel adalah sumber keberuntungan.
Bapak saya selalu bilang, 'Ra, rezeki itu datangnya dari mana saja. Kadang dari
pecel, kadang dari tawa, kadang dari persahabatan.' Dan saya punya semuanya.
Saya punya pecel, saya punya tawa, saya punya sahabat. Jadi, saya tidak perlu
beruntung. Saya sudah kaya."
Seminggu setelah pertempuran di Hutan Larangan, setelah
luka-luka mulai sembuh, setelah ketakutan mulai mereda, setelah desa mulai
pulih dari guncangan, Desa Awan Biru mengadakan upacara adat untuk mengukuhkan
Amat Junior sebagai Penjaga Desa resmi. Upacara ini adalah yang pertama kali
dilakukan dalam lebih dari seratus tahun, sejak zaman Eyang Jayabaya, sejak
leluhur pertama masih berjalan di tanah ini, sejak tradisi masih dijaga dengan
ketat oleh para tetua. Warga berbondong-bondong datang, dari berbagai dusun,
dari berbagai RT, dari berbagai lapisan masyarakat, mengenakan pakaian adat
terbaik mereka. Para pria mengenakan beskap hitam dengan blangkon, para wanita
mengenakan kebaya dengan jarik batik, anak-anak mengenakan pakaian tradisional
yang dibuat oleh ibu-ibu PKK desa. Mereka datang dengan wajah berseri-seri,
dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan, dengan kebanggaan yang terpancar
dari setiap helai pakaian yang mereka kenakan.
Upacara dilangsungkan di bawah pohon beringin tua, yang
kini telah pulih sepenuhnya. Daunnya hijau segar, lebih hijau dari sebelumnya,
lebih rimbun dari sebelumnya, lebih hidup dari sebelumnya. Batangnya kokoh,
lebih kokoh dari sebelumnya, lebih besar dari sebelumnya, lebih kuat dari
sebelumnya. Akarnya yang besar tampak kuat mencengkeram tanah, menjalar ke
segala arah, menghubungkan pohon ini dengan seluruh desa, dengan sumur tua,
dengan mata air, dengan batu besar, dengan Hutan Larangan. Di bawah pohon itu,
Kyai Beringin berdiri, untuk pertama kalinya terlihat jelas oleh semua warga.
Tidak hanya oleh Amat yang memiliki mata biru, tidak hanya oleh mereka yang
peka terhadap hal-hal gaib, tetapi oleh semua warga yang hadir. Jubah hitamnya
yang dulu berkibar-kibar ditiup angin yang tidak terasa, kini terlihat jelas,
terlihat nyata, terlihat seperti jubah yang terbuat dari kegelapan yang lembut.
Wajahnya yang dulu samar, seperti wajah yang dilihat dari balik kaca buram,
kini terlihat jelas. Wajah tua yang penuh kerutan, kerutan yang terbentuk bukan
hanya karena usia tetapi juga karena pengalaman panjang yang tidak bisa
diungkapkan dengan kata-kata. Mata yang teduh tetapi tajam, mata yang sudah
melihat tiga ratus tahun sejarah desa ini, mata yang telah menyaksikan
kelahiran dan kematian, suka dan duka, damai dan konflik. Rambut putih panjang
yang menjuntai hingga ke dada, seperti rambut para petapa dalam cerita-cerita
wayang. Dan senyum. Senyum yang hangat, senyum yang penuh dengan kebahagiaan,
senyum yang mengatakan bahwa ia bangga, bahwa ia tidak salah memilih, bahwa
desa ini akan aman di tangan generasi baru.
Hari ini adalah hari bersejarah, suara Kyai Beringin terdengar di hati setiap orang
yang hadir, suara yang lembut tetapi jelas, suara yang masuk ke dalam pikiran
tanpa melalui telinga, suara yang membuat setiap orang merasa bahwa ia sedang
berbicara langsung dengan mereka. Setelah sekian lama, setelah tiga
ratus tahun, Desa Awan Biru kembali memiliki penjaga. Bukan penjaga yang
ditunjuk oleh manusia, bukan penjaga yang dipilih oleh kekuasaan, bukan penjaga
yang dipaksakan oleh keadaan. Tetapi penjaga yang lahir dari darah dan daging
desa ini, penjaga yang tumbuh di antara kalian, penjaga yang telah membuktikan
dirinya layak. Amat Junior, keturunan penjaga sejati, telah membuktikan dirinya
layak menyandang gelar ini. Ia telah membuktikan bahwa ia memiliki keberanian,
bahwa ia memiliki keteguhan, bahwa ia memiliki hati yang bersih. Ia telah
membuktikan bahwa ia mampu melindungi desa ini, bahwa ia mampu menjaga
keseimbangan, bahwa ia mampu meneruskan warisan leluhur.
Pak Arjuna, yang bertindak sebagai pemimpin upacara,
berdiri di hadapan pohon beringin, di hadapan Kyai Beringin, di hadapan seluruh
warga desa. Ia mengenakan pakaian adat Jawa lengkap: beskap hitam dengan motif
parang rusak, blangkon yang menjulang tinggi, kain batik yang melilit di
pinggangnya. Di tangannya, ia memegang sebuah bokor tembaga berisi air suci
yang telah didoakan oleh para sesepuh desa. Ia mempersilakan Amat untuk maju
dengan suara yang lantang, suara yang bergema di antara pepohonan, suara yang
didengar oleh semua orang yang hadir.
"Amat Junior, mulai hari ini, kau resmi menjadi
Penjaga Desa Awan Biru. Tugasmu adalah menjaga keseimbangan desa ini,
melindungi warga dari ancaman, dan melestarikan warisan leluhur. Tugasmu adalah
menjadi jembatan antara dunia manusia dan dunia lain, antara yang kasat mata
dan yang tidak, antara yang hidup dan yang telah tiada. Tugasmu adalah
memastikan bahwa desa ini tetap aman, bahwa tradisi ini tetap hidup, bahwa
leluhur tidak dilupakan. Apakah kau siap menerima tanggung jawab ini? Apakah
kau siap memikul beban yang mungkin lebih berat dari apapun yang pernah kau
pikul? Apakah kau siap mengorbankan apa pun yang harus kau korbankan?"
Amat mengangguk, anggukan yang mantap, anggukan yang tidak
ragu-ragu, anggukan yang menunjukkan bahwa ia telah mempersiapkan diri, bahwa
ia telah merenungkan semua ini, bahwa ia telah mengambil keputusan. "Saya
siap, Pak Kads. Saya siap menerima tanggung jawab ini. Saya siap memikul beban
ini. Saya siap mengorbankan apa pun yang harus saya korbankan. Karena desa ini
adalah rumah saya. Karena warga ini adalah keluarga saya. Karena leluhur ini
adalah akar saya. Saya tidak akan mengecewakan. Saya tidak akan menyerah. Saya
tidak akan lari."
Pak Arjuna mengangkat bokor tembaga itu, mencelupkan jari
telunjuknya ke dalam air suci, dan memercikkannya ke dahi Amat. "Sumpah
Penjaga. Bacakan."
Amat mengangkat tangan kanannya, mengangkatnya
tinggi-tinggi ke atas, menghadap ke langit, menghadap ke bulan yang masih
tersisa di ufuk barat, menghadap ke matahari yang mulai terbit di timur.
Suaranya lantang, suaranya bergema, suaranya didengar oleh semua orang yang
hadir. "Demi leluhur yang darahnya mengalir dalam tubuhku, demi leluhur
yang telah menjaga desa ini selama tiga ratus tahun, demi leluhur yang telah
mengorbankan segalanya untuk keturunannya. Demi desa yang melahirkanku dan
membesarkanku, desa yang mengajarkanku arti persahabatan, desa yang
mengajarkanku arti pengorbanan, desa yang mengajarkanku arti kehidupan. Demi
sahabat-sahabat yang selalu setia di sisiku, yang tidak pernah meninggalkanku,
yang tidak pernah mengecewakanku, yang rela mengorbankan segalanya untukku. Aku
bersumpah akan menjaga Desa Awan Biru dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku
bersumpah akan melindungi warisan leluhur, menjaga keseimbangan alam, dan
mengabdi pada masyarakat. Aku bersumpah tidak akan pernah menyerah, tidak akan
pernah lari, dan tidak akan pernah melupakan bahwa aku bukan siapa-siapa tanpa
desa ini dan tanpa orang-orang yang kucintai."
Upacara ditutup dengan doa bersama. Warga membawa sesaji ke
pohon beringin, ke sumur tua, ke mata air, ke batu besar, dan ke Hutan
Larangan. Mereka membawa bunga, dupa, kemenyan, dan makanan tradisional. Mereka
berdoa bersama, memohon kepada leluhur, memohon kepada Tuhan, memohon kepada
semua kekuatan yang menjaga desa ini, untuk memberkati Amat, untuk memberkati
desa ini, untuk memberkati masa depan yang akan datang. Mereka berjanji untuk
tidak lagi melupakan tempat-tempat suci itu. Mereka berjanji untuk merawatnya,
untuk membersihkannya, untuk melakukan ritual-ritual yang dulu dilakukan oleh
leluhur. Mereka berjanji untuk menjaga keseimbangan, untuk menghormati alam,
untuk mengingat bahwa mereka bukan satu-satunya penghuni dunia ini.
Setelah upacara, diadakan pesta desa. Pesta terbesar yang
pernah diadakan di Awan Biru, pesta yang tidak hanya merayakan pengukuhan Amat
sebagai penjaga desa, tetapi juga merayakan kemenangan atas kegelapan,
merayakan kehidupan yang masih ada, merayakan persahabatan yang tidak pernah
pudar. Warga membawa makanan dari rumah masing-masing, ditata di sepanjang
jalan desa, dari balai desa hingga pohon beringin, dari pohon beringin hingga
sumur tua, dari sumur tua hingga mata air. Meja-meja panjang disusun berjajar,
ditutup dengan taplak plastik bermotif bunga-bunga yang dipinjam dari ibu-ibu
PKK. Ada tumpeng yang disusun tujuh tingkat, melambangkan tujuh titik penjagaan
desa. Ada pecel—tentu saja—dalam jumlah yang banyak, siap disantap oleh siapa
saja yang datang. Ada berbagai macam lauk pauk: ayam goreng, ikan bakar, sate
kambing, gulai kambing, sayur lodeh, sayur asem, dan masih banyak lagi. Ada
jajanan pasar: klepon, getuk, cenil, kue lapis, kue bugis, dan aneka gorengan.
Ada minuman tradisional: teh jahe, wedang uwuh, dawet ayu, es kelapa muda.
Raka, meskipun masih dalam masa pemulihan, meskipun
punggungnya masih sakit, meskipun tubuhnya masih lemas, tetap bersikeras
membantu di dapur. Ia datang ke warung pecel sejak pagi, membantu ayahnya
mengulek bumbu, membantu ibunya memotong sayur, membantu menggoreng kerupuk dan
rempeyek. Ia tidak ingin melewatkan pesta terbesar dalam sejarah desa. Ia tidak
ingin hanya menjadi penonton. Ia ingin menjadi bagian dari kebahagiaan ini.
"Ini pesta terbesar dalam sejarah desa, Bu,"
katanya kepada Bu Yati yang khawatir melihat anaknya yang masih pucat dan
lelah. "Masa aku enggak ikut-ikutan. Nanti aku menyesal seumur hidup.
Lagipula, ini juga pesta untukku. Aku juga pahlawan, kan? Aku yang nahan
monster itu sementara Amat melakukan ritual. Aku yang loncat kayak orang gila ngejar
api. Aku yang..."
"Kamu yang hampir mati!" potong Bu Yati, setengah
marah setengah khawatir. "Kamu itu hampir mati, Ra! Kalau bukan karena
mukjizat, kamu sudah tidak ada di sini! Kamu masih belum sembuh! Kamu masih
harus istirahat!"
Raka tersenyum, senyum yang sama yang selalu ia tunjukkan
ketika membuat lelucon, senyum yang membuat ibunya tidak bisa marah lama-lama.
"Aku tidak sakit, Bu. Aku hanya sedikit lecet. Sedikit memar. Sedikit
capek. Itu bukan alasan untuk tidak makan pecel. Apalagi ini pecel spesial.
Bapak pakai resep rahasia yang tidak pernah dipakai sebelumnya. Aku harus
mencicipi. Aku harus memastikan rasanya pas. Aku harus..."
"Kamu harus duduk dan diam!" potong Pak Gareng,
yang sejak tadi sibuk di dapur, menggoreng rempeyek, mengulek bumbu, menyiapkan
pesanan. "Kamu sudah cukup berbuat. Sekarang giliran orang tua yang
melayani. Duduk! Makan! Bersyukur! Jangan banyak tingkah!"
Raka tertawa, tertawa kecil, tertawa yang membuatnya batuk,
tertawa yang membuatnya meringis kesakitan, tetapi tertawa. "Iya, Pak.
Iya. Aku duduk. Aku makan. Aku bersyukur. Tapi nanti kalau ada yang kurang, aku
yang protes. Aku yang tahu rasa pecel yang pas. Aku yang..."
"Raka! Duduk!" teriak Pak Gareng dan Bu Yati
bersamaan.
Mereka semua tertawa. Raka berhasil melakukan apa yang
selalu ia lakukan: membuat orang tertawa, bahkan ketika ia sendiri sedang
kesakitan, bahkan ketika ia sendiri sedang lelah, bahkan ketika ia sendiri
sedang dalam masa pemulihan.
Amat, Raka, Camelia, dan semua teman mereka duduk di satu
meja panjang yang disediakan khusus untuk mereka, di bawah pohon beringin tua,
di tempat yang paling istimewa. Ada Hermansyah yang sudah kembali ke
bengkelnya, yang tangannya masih penuh dengan minyak dan debu, yang matanya
masih merah karena kurang tidur, tetapi senyumnya lebar. Ada Guntur yang
meskipun masih diperban di beberapa tempat, meskipun masih menggunakan tongkat
untuk berjalan, tetap ikut makan, tetap ikut tertawa, tetap ikut bersorak. Ada
Amita yang sibuk mendokumentasikan acara dengan kameranya, mengambil foto dari
berbagai sudut, merekam video untuk dikenang di kemudian hari, tetapi sesekali
berhenti untuk menikmati makanan. Ada Mas Bambang dan Enjelin yang sudah tidak
bisa dipisahkan dari gawai mereka, yang terus memposting foto-foto pesta di
media sosial, yang terus membalas komentar dari teman-teman mereka di kota,
tetapi sesekali ikut tertawa, ikut bersorak, ikut menikmati kebersamaan. Ada
Pak Gareng dan Bu Yati yang duduk di ujung meja, tersenyum bangga melihat anak
mereka, tersenyum bangga melihat anak-anak muda yang telah menyelamatkan desa,
tersenyum bangga melihat desa yang kembali aman.
"Kita berhasil," kata Camelia, tersenyum, menatap
Amat dengan mata yang berkaca-kaca, dengan senyum yang tidak bisa
disembunyikan. Ia memegang buku catatannya yang sudah menebal, buku yang berisi
catatan tentang perjalanan mereka selama bertahun-tahun, buku yang menjadi
saksi bisu perjuangan mereka. "Kita berhasil mengalahkan kegelapan. Kita
berhasil menyelamatkan desa. Kita berhasil meneruskan warisan leluhur. Kita
berhasil."
"Ini baru awal," kata Amat, menatap langit Awan
Biru yang biru, biru yang tenang, biru yang damai, biru yang menjadi saksi
bahwa desa ini masih hidup. "Masih banyak yang harus dilakukan. Desa ini
masih butuh perhatian. Hutan Larangan masih butuh pemulihan. Tradisi-tradisi
masih butuh dihidupkan kembali. Warga masih butuh kesejahteraan. Tapi
setidaknya, untuk saat ini, untuk malam ini, kita aman. Kita bisa bernapas
lega. Kita bisa tertawa. Kita bisa bersyukur."
Raka mengangkat gelasnya, gelas yang berisi es kelapa muda
segar, dengan senyum yang lebar, dengan suara yang lantang. "Untuk Desa
Awan Biru! Untuk desa yang telah melahirkan kita, yang telah membesarkan kita,
yang telah mengajarkan kita arti persahabatan dan pengorbanan!"
Mereka semua mengangkat gelas. "Untuk Desa Awan
Biru!"
"Untuk persahabatan! Untuk persahabatan yang tidak
pernah pudar, yang tidak pernah goyah, yang tidak pernah menyerah!"
"Untuk persahabatan!"
"Untuk pecel! Untuk pecel yang menjadi sumber
kebijaksanaan, sumber kekuatan, sumber tawa!"
Semua tertawa. "Untuk pecel!"
Di kejauhan, pohon beringin tua bergoyang pelan,
daun-daunnya bergemerisik, seolah-olah ikut tertawa, ikut bersorak, ikut
merayakan. Kyai Beringin tersenyum, senyum yang hangat, senyum yang penuh
dengan kebahagiaan, senyum yang mengatakan bahwa ia bangga, bahwa ia tidak
salah memilih, bahwa desa ini akan aman di tangan generasi baru. Di sumur tua,
air kembali jernih, lebih jernih dari sebelumnya, lebih segar dari sebelumnya,
lebih hidup dari sebelumnya. Di mata air, air kembali mengalir, mengalir deras,
mengalir jernih, mengalir membawa kehidupan ke seluruh desa. Di batu besar,
lumut mulai tumbuh kembali, hijau segar, lembut, menandakan bahwa energi telah
kembali. Dan di Hutan Larangan, tunas-tunas hijau mulai muncul dari tanah yang
hangus, tunas-tunas kecil, tunas-tunas muda, tunas-tunas yang menjadi tanda
bahwa kehidupan akan selalu menemukan jalannya, bahwa setelah kegelapan pasti
ada terang, setelah badai pasti ada pelangi, setelah kematian pasti ada kehidupan.
Langit Awan Biru di atas mereka tetap biru. Biru yang
tenang, biru yang damai, biru yang menjadi saksi bahwa di desa kecil ini,
sekelompok anak muda telah berjuang untuk melindungi apa yang mereka cintai.
Mereka telah menghadapi kegelapan, telah mengorbankan segalanya, telah menang.
Dan mereka tidak sendirian. Mereka memiliki satu sama lain. Mereka memiliki
leluhur yang menjaga. Mereka memiliki desa yang akan selalu menjadi rumah.
Selamanya.
BAB 41: Memimpin dengan Hati dan Kearifan
Sepuluh tahun telah berlalu sejak pertempuran di Hutan
Larangan. Sepuluh tahun yang terasa singkat seperti sekejap mata, tetapi juga
terasa panjang seperti perjalanan yang tidak pernah berakhir. Sepuluh tahun
yang penuh dengan perubahan bagi Desa Awan Biru. Sepuluh tahun yang mengubah
desa kecil yang terpencil di lereng gunung menjadi desa wisata yang dikenal
luas, tidak hanya di kabupaten tetapi juga di provinsi, bahkan di tingkat
nasional. Sepuluh tahun yang membawa kesejahteraan bagi warganya, tetapi juga
tantangan-tantangan baru yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sepuluh
tahun yang mengantarkan generasi baru ke puncak kepemimpinan, sementara
generasi lama mulai melepaskan tongkat estafet dengan bangga.
Pak Arjuna telah menyelesaikan dua periode kepemimpinannya
dengan sukses. Dua periode yang penuh dengan prestasi, yang membawa desa ini
dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari ketakutan menuju keberanian, dari
kelupaan menuju ingatan. Ia tidak mencalonkan diri lagi. Ia ingin beristirahat,
ingin menikmati masa tua dengan tenang, ingin melihat anak-anaknya yang sudah
bekerja di kota dan jarang pulang, ingin duduk-duduk di teras rumah sambil
menyesap kopi dan membaca koran, seperti yang selalu ia impikan sejak masih
muda. Namun ia tidak pergi begitu saja. Ia masih hadir dalam setiap acara desa,
masih memberikan nasihat ketika diminta, masih menjadi tempat bertanya bagi
generasi muda yang membutuhkan bimbingan. Ia adalah tetua baru, pengganti Mbah
Ratih, penjaga cerita-cerita lama yang tidak boleh dilupakan.
Kini, Pak Arjuna digantikan oleh Kepala Desa baru: Pak Joko
Legono. Pak Joko adalah sosok yang tepat untuk meneruskan estafet kepemimpinan,
sosok yang tidak hanya memiliki pengalaman tetapi juga memiliki hati, sosok
yang tidak hanya memahami birokrasi tetapi juga memahami desa. Ia adalah mantan
camat yang memilih pensiun dini dan kembali ke desa kelahirannya, setelah lebih
dari dua puluh tahun mengabdi di pemerintahan kecamatan dan kabupaten. Dengan
pengalaman birokrasi yang luas, dengan jaringan yang kuat di berbagai tingkat
pemerintahan, dengan pemahaman mendalam tentang dinamika pemerintahan dari
level paling bawah hingga paling atas, ia membawa angin segar bagi Desa Awan
Biru. Namun yang terpenting, ia adalah sosok yang mendengar. Ia tidak merasa
lebih tahu segalanya hanya karena pengalamannya. Ia tidak merasa bahwa usianya
yang lebih tua membuatnya lebih bijaksana. Ia tidak merasa bahwa jabatannya
yang dulu lebih tinggi membuatnya lebih berhak menentukan arah desa. Ia selalu
membuka ruang bagi anak-anak muda untuk berbicara, untuk berinovasi, untuk
memimpin. Karena ia percaya bahwa masa depan desa ini ada di tangan mereka,
bahwa mereka adalah yang akan meneruskan apa yang telah dimulai oleh generasi
sebelumnya, bahwa mereka memiliki energi dan ide-ide yang tidak dimiliki oleh
orang-orang tua seperti dirinya.
"Desa ini tidak akan maju jika hanya mengandalkan
orang-orang tua seperti saya," kata Pak Joko dalam pidato perdananya,
berdiri di panggung sederhana di halaman kantor desa, dengan kemeja batik
lengan panjang yang rapi, dengan wajah yang berseri-seri, dengan suara yang
lantang. "Kami, generasi tua, mungkin punya pengalaman. Kami mungkin punya
kebijaksanaan. Tapi kami juga punya keterbatasan. Kami tidak secepat kalian
dalam memahami teknologi. Kami tidak segesit kalian dalam merespons perubahan.
Kami tidak seberani kalian dalam mengambil risiko. Desa ini butuh energi muda,
ide-ide segar, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Dan kita punya semua
itu. Lihatlah Amat Junior, Raka, Camelia, dan teman-teman mereka. Mereka adalah
bukti bahwa generasi muda desa ini mampu berbuat banyak. Mereka adalah bukti
bahwa desa ini tidak akan kehabisan penerus. Mereka adalah bukti bahwa masa
depan Awan Biru ada di tangan yang tepat."
Amat kini menjabat sebagai Kepala Urusan Pemerintahan dan
Pembangunan di kantor desa. Posisi yang memberinya wewenang lebih besar untuk
mewujudkan visi-visinya tentang desa yang maju tanpa kehilangan jati diri,
tentang desa yang sejahtera tanpa meninggalkan yang lemah, tentang desa yang
terbuka tanpa kehilangan akar. Ia tidak lagi hanya mengolah data di belakang
meja, tidak lagi hanya menjadi staf administrasi yang menunggu perintah. Ia
kini berada di garis depan, merancang kebijakan, mengoordinasikan program, dan
memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Ia bekerja dari pagi hingga malam,
dari senin hingga jum’at, kadang-kadang juga di hari Minggu jika ada pekerjaan
yang harus diselesaikan. Ia bertemu dengan warga, mendengarkan keluhan mereka,
mencatat saran-saran mereka, dan memastikan bahwa suara mereka didengar dalam
setiap rapat. Ia berkeliling desa, melihat langsung kondisi di lapangan,
memastikan bahwa program-program yang dirancang benar-benar bermanfaat bagi
warga. Ia tidak hanya duduk di balik meja; ia berada di tengah-tengah masyarakat,
seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil.
Camelia menjabat sebagai Sekretaris Desa, menggantikan Bu
Yuni yang telah memasuki masa pensiun setelah mengabdi lebih dari dua puluh
tahun. Bu Yuni pensiun dengan tenang, dengan bangga, dengan senyum yang tidak
bisa disembunyikan. Ia meninggalkan kantor desa yang lebih rapi, lebih teratur,
lebih modern dari ketika ia pertama kali masuk. Ia meninggalkan sistem
administrasi yang lebih baik, yang lebih transparan, yang lebih akuntabel. Dan
ia meninggalkan Camelia, yang tidak lain adalah putri dari Lulu Kaur Keuangan,
untuk meneruskan apa yang telah ia mulai. Camelia, dengan gelar sarjana
antropologi dari Universitas Gadjah Mada, dengan pengalaman riset yang mendalam
tentang desa ini, dengan pemahaman yang utuh tentang tradisi dan budaya
leluhur, menjadi otak di balik banyak kebijakan inovatif. Ia juga yang
merancang sistem dokumentasi dan arsip digital yang membuat administrasi desa
menjadi lebih transparan dan akuntabel. Ia yang mengusulkan agar semua dokumen desa,
mulai dari laporan keuangan hingga kebijakan pembangunan, diunggah ke website
desa agar bisa diakses oleh semua warga. Ia yang memastikan bahwa setiap
keputusan diambil dengan musyawarah, bahwa setiap kebijakan dilandasi oleh data
dan fakta, bahwa setiap program dijalankan dengan prinsip keadilan dan
keberlanjutan.
Raka... Raka tetap menjadi Raka. Sepuluh tahun tidak
mengubahnya menjadi sosok yang lebih serius, tidak mengubahnya menjadi birokrat
yang kaku, tidak mengubahnya menjadi pemimpin yang angkuh. Ia masih menjalankan
warung pecel keluarganya, yang kini telah menjadi salah satu ikon kuliner di
kawasan itu. Wisatawan dari berbagai daerah, dari kabupaten tetangga, dari
provinsi, bahkan dari luar Jawa, datang khusus untuk mencicipi pecel dengan
resep turun-temurun yang tidak pernah berubah, pecel yang dibuat dengan tangan
yang sama sejak ia masih kecil, pecel yang menjadi simbol dari Desa Awan Biru.
Namun Raka juga aktif dalam kegiatan desa. Ia menjadi koordinator relawan
bencana, karena pengalamannya di Hutan Larangan membuatnya memiliki keberanian
yang tidak dimiliki orang lain. Ia yang pertama kali datang ketika ada banjir
di dusun selatan, ia yang paling sigap ketika ada longsor di lereng timur, ia
yang paling berani ketika harus mengevakuasi warga di tengah malam buta.
"Menghadapi makhluk raksasa saja berani," katanya
ketika ditanya mengapa ia mau menjadi relawan bencana, sambil tertawa seperti
biasa, sambil mengunyah kerupuk yang renyah, sambil duduk di kursi goyang
warung pecelnya. "Masa menghadapi banjir atau longsor takut? Lagipula, ini
kan desa kita. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?"
Salah satu kebijakan pertama yang diusulkan Amat di era Pak
Joko adalah pengelolaan Hutan Larangan sebagai kawasan konservasi. Bukan
sebagai hutan tertutup yang menakutkan, bukan sebagai tempat terlarang yang
tidak boleh dimasuki, bukan sebagai wilayah angker yang harus dihindari. Tetapi
sebagai hutan lindung yang dijaga dan dilestarikan, sebagai paru-paru desa yang
harus dirawat, sebagai warisan leluhur yang harus diteruskan kepada generasi
mendatang dalam keadaan yang lebih baik. Warga tidak dilarang masuk, tidak
dilarang mengambil kayu untuk keperluan tertentu, tidak dilarang memanfaatkan
hasil hutan secara tradisional. Tetapi mereka harus mengikuti aturan-aturan
adat yang telah ditetapkan oleh leluhur, aturan yang sudah berlaku selama tiga
ratus tahun, aturan yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan
kelestarian alam. Mereka harus meminta izin kepada penjaga hutan, harus
melakukan ritual sederhana sebelum masuk, harus membawa sesaji sebagai tanda
hormat. Mereka tidak boleh menebang pohon sembarangan, tidak boleh berburu
hewan liar, tidak boleh merusak sumber mata air. Mereka harus menjaga hutan ini
seperti mereka menjaga rumah mereka sendiri.
"Kita tidak bisa terus-menerus menutup hutan
itu," kata Amat dalam rapat musyawarah desa, berdiri di hadapan warga yang
memenuhi halaman balai desa, dengan suara yang lantang tetapi tidak menggurui,
dengan mata yang tenang tetapi penuh keyakinan. "Ketakutan hanya akan
melahirkan ketidaktahuan. Dan ketidaktahuan hanya akan melahirkan kelalaian.
Selama ini, kita takut pada Hutan Larangan. Kita takut pada makhluk-makhluk
yang dikurung di dalamnya. Kita takut pada cerita-cerita angker yang
diceritakan oleh orang tua kita. Dan karena takut, kita tidak pernah tahu apa
yang sebenarnya ada di dalamnya. Kita tidak pernah tahu betapa indahnya hutan
itu. Kita tidak pernah tahu betapa kayanya ekosistem di dalamnya. Kita tidak
pernah tahu bahwa hutan itu adalah paru-paru desa kita, sumber air kita, sumber
kehidupan kita. Warga harus tahu bahwa Hutan Larangan bukan tempat angker yang
harus ditakuti, tetapi tempat suci yang harus dihormati. Ada perbedaan antara
takut dan hormat. Takut membuat kita lari. Hormat membuat kita menjaga. Takut
membuat kita buta. Hormat membuat kita melihat. Takut membuat kita lemah.
Hormat membuat kita kuat."
Usulan Amat mendapat dukungan luas. Tidak hanya dari
generasi muda yang haus akan petualangan, tidak hanya dari mereka yang ingin
melihat keindahan hutan, tetapi juga dari generasi tua yang dulu paling vokal
melarang orang masuk ke Hutan Larangan. Mereka mengingat cerita-cerita Mbah
Ratih, mengingat nasihat-nasihat Kyai Beringin, mengingat bahwa leluhur tidak
pernah melarang orang masuk ke hutan. Leluhur hanya mengingatkan agar orang
yang masuk harus hormat, harus menjaga, harus tidak merusak. Mereka menyadari
bahwa ketakutan mereka selama ini adalah karena ketidaktahuan, karena tidak
pernah diberi kesempatan untuk memahami, karena tidak pernah diajari bagaimana
cara yang benar untuk berinteraksi dengan hutan.
Camelia merancang program edukasi tentang ekosistem hutan
dan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Program ini ditujukan untuk semua
kalangan, dari anak-anak sekolah dasar hingga orang dewasa, dari warga desa
hingga wisatawan yang berkunjung. Materinya disusun dengan bahasa yang mudah
dipahami, dengan gambar-gambar yang menarik, dengan contoh-contoh yang dekat
dengan kehidupan sehari-hari. Ada sesi tentang flora dan fauna yang hidup di Hutan
Larangan, tentang pohon-pohon langka yang hanya tumbuh di tempat ini, tentang
burung-burung endemik yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Ada sesi
tentang siklus air dan pentingnya hutan sebagai penyimpan air, tentang
bagaimana hutan menjaga agar sungai-sungai tidak pernah kering meskipun musim
kemarau panjang. Ada sesi tentang kearifan lokal dan ritual-ritual adat yang
dulu dilakukan oleh leluhur, tentang makna di balik setiap upacara, tentang
nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Ada sesi tentang bagaimana warga
bisa memanfaatkan hasil hutan tanpa merusaknya, tentang cara mengambil kayu
yang benar, tentang cara berburu yang tidak mengganggu populasi hewan, tentang
cara mengumpulkan madu tanpa merusak sarang lebah.
Hermansyah membangun pos-pos pemantau di beberapa titik
strategis di sekitar Hutan Larangan, dilengkapi dengan kamera pengintai dan
sensor gerak yang terhubung dengan pusat pemantauan di balai desa. Pos-pos ini
tidak dimaksudkan untuk mengawasi warga, tetapi untuk memantau kondisi hutan,
untuk mendeteksi dini adanya aktivitas ilegal seperti penebangan liar atau
perburuan satwa dilindungi, untuk memperingatkan jika ada tanda-tanda gangguan
keseimbangan seperti yang terjadi sepuluh tahun lalu. Hermansyah yang dulu
hanya bisa memperbaiki peralatan elektronik warga, kini menjadi ahli dalam
sistem pemantauan, belajar dari tutorial online, mengikuti pelatihan-pelatihan,
mengembangkan teknologinya sendiri.
Guntur mengorganisasi tim patroli keamanan yang terdiri
dari pemuda-pemuda desa, yang bertugas memastikan tidak ada aktivitas ilegal di
dalam hutan. Tim ini tidak hanya berpatroli di hutan, tetapi juga melakukan
sosialisasi kepada warga tentang pentingnya menjaga hutan, memberikan edukasi
tentang cara-cara yang benar dalam memanfaatkan hasil hutan, dan menjadi
penghubung antara warga dan pemerintah desa dalam hal pengelolaan hutan. Guntur
yang dulu hampir mati karena berani melawan makhluk raksasa dengan tombak
bambu, kini menjadi pemimpin tim yang disegani, yang tidak hanya kuat secara fisik
tetapi juga bijaksana dalam mengambil keputusan.
Mas Bambang dan Enjelin, yang kini telah menikah dan
memiliki seorang putri kecil bernama Kirana serta Kinanti, nama yang diberikan
oleh Mbah Ratih sebelum meninggal, yang berarti "cahaya yang lembut"—mengembangkan
platform digital "Awan Biru Virtual". Platform ini memungkinkan orang
dari mana pun di dunia untuk "mengunjungi" Desa Awan Biru secara
virtual, melihat keindahan alamnya dari sudut pandang drone, mempelajari
budayanya melalui video-video dokumenter, bahkan membeli produk-produk UMKM
desa secara online dengan sistem pembayaran digital yang aman. Pandemi COVID-19
yang melanda beberapa tahun sebelumnya justru menjadi berkah tersembunyi,
karena platform ini sudah siap ketika dunia beralih ke aktivitas digital,
ketika orang tidak bisa bepergian, ketika desa wisata seperti Awan Biru harus
tutup untuk sementara. Melalui platform ini, orang tetap bisa mengenal Awan
Biru, tetap bisa membeli produk-produknya, tetap bisa merasakan keindahannya meskipun
dari jarak jauh. Dan ketika pandemi berakhir, ketika wisatawan mulai
berdatangan lagi, mereka sudah tidak asing lagi dengan desa ini. Mereka sudah
tahu apa yang harus dilihat, apa yang harus dilakukan, dan yang terpenting,
bagaimana harus bersikap.
Namun yang paling dikagumi dari Amat sebagai pemimpin
bukanlah kebijakan-kebijakan besarnya, bukanlah program-program inovatifnya,
bukanlah kemampuannya merancang strategi pembangunan desa. Yang paling dikagumi
adalah cara ia memperlakukan orang-orang di sekelilingnya. Cara yang lembut,
cara yang penuh perhatian, cara yang tidak pernah membuat orang merasa
direndahkan, cara yang tidak pernah membuat orang merasa tidak dihargai. Ia
tidak pernah melupakan bahwa ia adalah bagian dari desa ini, bukan penguasa yang
berdiri di atas warga. Ia tidak pernah melupakan bahwa ia hanyalah seorang anak
desa yang tumbuh di rumah sederhana di kaki Bukit Pangasih, yang dibesarkan
oleh seorang ibu yang bekerja keras, yang ditemani oleh sahabat-sahabat yang
setia. Ia tidak pernah melupakan bahwa kekuatannya bukan berasal dari dirinya
sendiri, tetapi dari desa ini, dari leluhur yang menjaga, dari teman-teman yang
selalu ada di sampingnya.
Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor desa, Amat
menyempatkan diri berjalan-jalan keliling desa. Ia bangun lebih pagi dari
biasanya, ketika matahari baru saja muncul dari balik Bukit Pangasih dan kabut
tipis masih bergelayut di antara pepohonan. Ia berjalan tanpa tujuan yang
pasti, tanpa agenda yang harus diselesaikan, tanpa target yang harus dicapai.
Ia hanya berjalan, menikmati udara pagi yang segar, menikmati suara
burung-burung yang mulai berkicau, menikmati pemandangan desa yang mulai
bangun. Ia berbicara dengan petani di sawah, yang sedang membajak tanah dengan
kerbau, yang sedang menanam padi dengan tangan, yang sedang membersihkan
rumput-rumput liar. Ia bertanya tentang hasil panen, tentang harga pupuk,
tentang kendala yang mereka hadapi. Ia mendengarkan dengan saksama, mencatat
dalam pikirannya, dan memastikan bahwa keluhan-keluhan itu dibawa ke rapat
desa. Ia berbicara dengan pedagang di pasar, yang sudah mulai membuka lapak
sejak subuh, yang menjual sayur mayur, buah-buahan, ikan asin, dan kebutuhan
sehari-hari lainnya. Ia bertanya tentang omzet, tentang persaingan, tentang
modal yang mereka butuhkan. Ia mendengarkan dengan saksama, mencatat dalam
pikirannya, dan memastikan bahwa suara mereka didengar. Ia berbicara dengan
ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian di halaman rumah, yang sedang menyapu
halaman, yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga. Ia bertanya tentang
anak-anak mereka, tentang kesehatan mereka, tentang kegiatan PKK yang mungkin
bisa ditingkatkan. Ia mendengarkan dengan saksama, mencatat dalam pikirannya,
dan memastikan bahwa kebutuhan mereka tidak terabaikan.
"Ibu Sumirah, anak Ibu itu luar biasa," kata Bu
Yati suatu hari ketika mereka sedang arisan di rumah Bu Tarno, dengan meja
panjang yang ditutupi taplak bermotif bunga, dengan jajanan pasar yang disusun
rapi, dengan teh hangat yang mengepul di setiap cangkir. "Meskipun sudah
jadi pejabat, dia tetap rendah hati. Masih suka membantu warga yang kesulitan.
Masih suka makan pecel di warung kami. Masih suka duduk-duduk di beranda rumah,
minum teh jahe, dan tertawa seperti dulu. Tidak berubah sama sekali. Padahal,
kalau orang lain, mungkin sudah sombong. Mungkin sudah merasa lebih hebat.
Mungkin sudah tidak mau bergaul dengan orang-orang kecil seperti kita."
Sumirah tersenyum, senyum yang membuat kerutan-kerutan di
wajahnya semakin dalam, senyum yang menunjukkan kebanggaan yang tidak pernah ia
ucapkan dengan kata-kata. "Itu didikannya, Bu. Dari kecil saya ajari untuk
tidak sombong. Saya selalu bilang, 'Nak, apa pun yang kau capai, itu karena
desa ini. Karena teman-temanmu. Karena leluhur yang menjaga. Kau hanya menjalankan
amanah. Bukan karena kepintaranmu, bukan karena kekuatanmu, bukan karena
keberanianmu. Tapi karena mereka memilihmu. Karena mereka percaya padamu.
Karena mereka memberimu kesempatan.' Dan dia ingat itu. Dia tidak pernah
lupa."
Pak Joko Legono, yang telah memimpin selama dua tahun, yang
telah melihat langsung bagaimana Amat bekerja, bagaimana Amat berinteraksi
dengan warga, bagaimana Amat mengambil keputusan, sering mengatakan bahwa Amat
adalah aset terbesar desa ini. "Dia tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana.
Cerdas membuat seseorang bisa menemukan solusi, tetapi bijaksana membuat
seseorang bisa menemukan solusi yang tepat. Dia tidak hanya berani, tetapi juga
penuh perhitungan. Berani membuat seseorang bisa mengambil risiko, tetapi penuh
perhitungan membuat seseorang bisa mengambil risiko yang tepat. Dia tidak hanya
ambisius, tetapi juga rendah hati. Ambisius membuat seseorang ingin maju,
tetapi rendah hati membuat seseorang tidak melupakan dari mana ia berasal.
Kombinasi yang sangat langka. Kombinasi yang tidak bisa diajarkan di sekolah
mana pun. Kombinasi yang hanya bisa tumbuh dari pengalaman, dari pergumulan,
dari penderitaan, dari kebersamaan dengan orang-orang yang dicintai."
Suatu hari, ketika ada konflik antara dua kelompok warga
tentang penggunaan lahan untuk pembangunan jalan desa, Amat dipanggil untuk
menjadi mediator. Konflik itu sudah berlangsung selama berminggu-minggu, sudah
melibatkan kepala dusun, sudah dibawa ke musyawarah desa, tetapi belum
menemukan titik temu. Kedua belah pihak bersikeras pada pendiriannya
masing-masing. Kelompok A ingin jalan dibangun melewati lahan sawah mereka,
karena itu akan mempersingkat jarak ke kecamatan. Kelompok B menolak karena
lahan itu adalah warisan leluhur yang tidak boleh diganggu. Kelompok A membawa
pengacara dari kabupaten, yang berbicara dengan nada tinggi, yang menunjukkan
dokumen-dokumen yang rumit, yang mengancam akan membawa kasus ini ke pengadilan
jika tidak segera diselesaikan. Kelompok B membawa tokoh adat, yang berbicara
dengan tenang, yang mengingatkan bahwa tanah ini adalah titipan leluhur, yang
mengatakan bahwa mereka lebih memilih mati daripada membiarkan tanah leluhur
mereka dihancurkan.
Amat tidak marah. Ia tidak memaksakan kehendaknya. Ia tidak
menggunakan wewenangnya untuk mengambil keputusan sepihak. Ia tidak memihak
kelompok A atau kelompok B. Ia hanya duduk di antara mereka, di ruang rapat
balai desa yang pengap, dengan kipas angin yang berputar lambat, dengan debu
yang beterbangan di udara. Ia mendengarkan. Ia mendengarkan dengan saksama,
tanpa menyela, tanpa menilai, tanpa mengambil kesimpulan sebelum semua orang
selesai berbicara. Ia mendengarkan argumen kelompok A, mendengarkan argumen
kelompok B, mendengarkan keluhan, kemarahan, ketakutan, harapan, dan
mimpi-mimpi mereka. Dan setelah semua selesai, setelah suara-suara itu mereda,
setelah ruangan kembali sunyi, ia berdiri dan mengajak mereka semua berjalan ke
lahan yang dipersengketakan.
Mereka berjalan di bawah terik matahari, melewati
sawah-sawah yang mulai menguning, melewati pematang yang sempit, melewati
aliran air yang jernih. Amat berjalan di depan, dengan langkah yang mantap,
dengan tangan yang menunjuk ke sana-sini, dengan suara yang tenang. Sesampainya
di lahan yang dipersengketakan, ia berhenti. Ia berdiri di tengah sawah, dikelilingi
oleh kedua belah pihak, dengan langit biru di atas kepala, dengan gunung-gunung
di kejauhan, dengan kabut tipis yang mulai merayap turun dari lereng bukit.
"Lihat," kata Amat sambil menunjuk ke arah sawah
yang terbentang hijau, yang terhampar luas dari kaki bukit hingga ke tepi
sungai, yang menjadi sumber kehidupan bagi puluhan keluarga petani. "Tanah
ini bukan milik Bapak. Bukan milik Bapak. Bukan milik saya. Bukan milik siapa
pun yang hidup saat ini. Tanah ini titipan. Titipan dari leluhur untuk anak
cucu kita. Leluhur yang datang tiga ratus tahun yang lalu, yang membuka hutan,
yang membangun desa, yang menanam pohon beringin, yang memasang segel-segel,
yang menjaga keseimbangan. Mereka tidak memiliki tanah ini. Mereka hanya
menjaganya. Mereka hanya merawatnya. Mereka hanya meneruskannya kepada generasi
berikutnya dalam keadaan yang lebih baik. Dan sekarang, giliran kita. Kita yang
menerima titipan ini. Dan kita harus meneruskannya kepada anak-anak kita,
kepada cucu-cucu kita, dalam keadaan yang lebih baik dari ketika kita
menerimanya. Apa pun yang kita bangun di sini, apa pun yang kita lakukan dengan
tanah ini, harus kita wariskan dalam keadaan yang lebih baik. Bukan untuk kita,
tetapi untuk mereka yang akan datang setelah kita."
Kedua belah pihak terdiam. Mereka tidak bisa membantah
kata-kata Amat. Mereka tidak bisa membantah bahwa tanah ini adalah titipan.
Mereka tidak bisa membantah bahwa mereka hanyalah penjaga sementara. Mereka
tidak bisa membantah bahwa yang terpenting bukanlah kepentingan mereka saat
ini, tetapi masa depan anak cucu mereka.
"Jadi, saya usulkan," lanjut Amat, suaranya
semakin tenang, semakin lembut, tetapi semakin tegas. "Kita tidak perlu
membangun jalan besar yang memakan banyak lahan sawah. Jalan besar akan merusak
lahan pertanian, akan mengganggu sistem irigasi, akan mengurangi luas sawah
yang sudah semakin sempit. Jalan besar juga akan membawa lebih banyak
kendaraan, lebih banyak polusi, lebih banyak kebisingan. Itu tidak baik untuk
desa kita. Itu tidak baik untuk anak cucu kita. Kita bisa membangun jalan
setapak yang lebih ramah lingkungan. Jalan setapak yang cukup untuk dilalui
kendaraan roda dua dan kendaraan kecil, yang tidak membutuhkan lahan yang luas,
yang tidak merusak sistem irigasi. Dan kita bisa menyisakan lahan untuk jalur
hijau. Jalur hijau yang ditanami pohon-pohon, yang menjadi paru-paru desa, yang
menjadi tempat rekreasi bagi warga, yang menjadi habitat bagi burung-burung dan
kupu-kupu. Tidak kalah bagusnya, malah lebih indah. Dan biayanya lebih murah.
Setuju?"
Mereka setuju. Kedua belah pihak setuju. Kelompok A setuju
karena mereka tetap mendapatkan jalan yang mereka butuhkan. Kelompok B setuju
karena lahan sawah mereka tidak berkurang banyak. Semua setuju karena mereka
menyadari bahwa ini adalah solusi terbaik, solusi yang tidak merugikan siapa
pun, solusi yang menguntungkan semua pihak. Amat berhasil menyelesaikan konflik
tanpa membuat satu pihak pun merasa kalah. Itulah kearifannya. Itulah yang
membuatnya dihormati. Bukan karena kekuatannya, bukan karena jabatannya, bukan
karena kepintarannya. Tetapi karena kemampuannya untuk mendengar, untuk
memahami, untuk mencari solusi yang adil bagi semua. Karena ia tidak mencari
siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ia mencari solusi yang menguntungkan
semua pihak. Ia mencari solusi yang baik untuk desa ini, untuk warganya, untuk
anak cucu yang akan datang.
Malam itu, ketika Amat pulang ke rumahnya di kaki Bukit
Pangasih, Sumirah sudah menunggu di beranda dengan teh jahe hangat, seperti
yang selalu ia lakukan sejak Amat masih kecil. Mereka duduk bersama, menatap
langit yang mulai gelap, menatap bintang-bintang yang mulai berkelap-kelip,
menatap bulan sabit yang mulai muncul di ufuk timur. Di kejauhan, pohon
beringin tua berdiri tegak, dengan kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya
yang menjalar, dengan penjaganya yang setia menunggu.
"Ibu dengar, kamu berhasil menyelesaikan konflik lahan
hari ini," kata Sumirah, suaranya lembut, suaranya penuh kebanggaan.
"Ibu bangga padamu, Nak. Ibu selalu bangga. Sejak kamu lahir, sejak kamu
kecil, sejak kamu mulai berjuang, Ibu selalu bangga. Bukan karena kamu menjadi
pejabat, bukan karena kamu disegani orang, bukan karena kamu memiliki kekuatan.
Tapi karena kamu tetap menjadi dirimu. Karena kamu tidak berubah. Karena kamu
masih ingat dari mana kamu berasal."
Amat tersenyum, merasakan kehangatan teh jahe di tangannya,
merasakan kehangatan kata-kata ibunya di hatinya. "Aku hanya melakukan apa
yang seharusnya aku lakukan, Bu. Aku hanya menjadi penjaga. Seperti yang Mbah
Ratih ajarkan. Seperti yang Kyai Beringin ajarkan. Seperti yang Ibu ajarkan
sejak aku kecil. Menjaga bukan hanya tentang melawan makhluk jahat. Menjaga
juga tentang menjaga keharmonisan, menjaga keadilan, menjaga keseimbangan.
Menjaga desa ini, warganya, masa depannya. Itu yang aku lakukan. Itu yang akan
selalu aku lakukan."
Sumirah mengangguk, matanya berkaca-kaca, senyumnya tidak
bisa disembunyikan. "Ibu tahu, Nak. Ibu tahu. Dan Ibu yakin, desa ini akan
aman di tanganmu. Desa ini akan maju. Desa ini akan bahagia. Karena pemimpinnya
memiliki hati. Karena pemimpinnya memiliki kearifan. Karena pemimpinnya tidak
pernah lupa dari mana ia berasal."
Di langit di atas mereka, Awan Biru tetap biru. Biru yang
tenang, biru yang damai, biru yang menjadi saksi bahwa di desa kecil ini,
seorang anak yang lahir di tengah badai, yang matanya biru seperti langit, yang
tumbuh menjadi penjaga, kini telah menjadi pemimpin. Pemimpin yang memimpin
dengan hati. Pemimpin yang memimpin dengan kearifan. Pemimpin yang tidak pernah
lupa bahwa ia adalah bagian dari desa ini, bukan penguasa yang berdiri di
atasnya. Dan desa ini, yang telah dijaga selama tiga ratus tahun, akan terus
dijaga. Selamanya.
BAB 42: Perubahan Nyata di Desa Awan Biru
Program desa wisata yang digagas sejak era Pak Arjuna, yang
dirintis dengan susah payah oleh Amat, Camelia, Mas Bambang, Enjelin, dan
seluruh warga desa, yang sempat terhambat oleh konflik lahan dan ancaman
makhluk dari Hutan Larangan, kini telah menjadi salah satu destinasi unggulan
di kabupaten. Nama Desa Awan Biru tidak lagi hanya dikenal oleh penduduk di
kecamatan tetangga, tetapi telah menyebar luas, dari mulut ke mulut, dari media
sosial ke media sosial, dari artikel di koran lokal hingga liputan di televisi
nasional. Wisatawan datang dari berbagai daerah, dari kabupaten tetangga, dari
provinsi, dari ibu kota, bahkan dari luar negeri. Mereka datang dengan mobil,
dengan sepeda motor, dengan bus wisata, dengan kereta api hingga stasiun
terdekat lalu melanjutkan perjalanan dengan kendaraan sewaan. Mereka datang dengan
rasa penasaran, dengan harapan, dengan keinginan untuk merasakan sesuatu yang
tidak bisa mereka dapatkan di tempat lain.
Namun berbeda dengan desa-desa wisata lain yang seringkali
kehilangan identitas karena terlalu komersial, yang rumah-rumah tradisionalnya
diganti dengan bangunan modern yang megah tetapi tanpa karakter, yang
tradisi-tradisinya dikomersialisasi hingga kehilangan makna, yang warganya
menjadi penonton di desanya sendiri, Awan Biru tetap mempertahankan karakter
aslinya. Rumah-rumah warga masih berbentuk limasan tradisional, dengan dinding
papan kayu yang dicat warna-warna lembut, dengan atap seng atau genteng yang
tidak terlalu mencolok, dengan halaman yang ditanami bunga-bunga dan tanaman
obat. Jalan-jalan desa masih sempit, tidak diperlebar untuk menampung bus-bus
besar, tetapi diaspal dengan rapi dan diberi trotoar kecil untuk pejalan kaki.
Sawah-sawah masih hijau membentang, tidak dikonversi menjadi lahan parkir atau
bangunan komersial. Sungai-sungai masih jernih, tidak tercemar oleh limbah
hotel atau restoran. Dan yang terpenting, warga desa masih menjadi tuan rumah
di rumahnya sendiri, masih menentukan aturan main, masih memegang kendali atas
desa mereka.
Wisatawan yang datang tidak disuguhi atraksi-atraksi buatan
yang dibuat-beda, tidak dipaksa untuk menikmati hiburan yang tidak ada
kaitannya dengan kehidupan desa, tidak dibawa berkeliling dengan kereta kelinci
yang justru mengganggu ketenangan desa. Mereka diajak berjalan di sawah,
merasakan tanah di antara jari-jari kaki, mencium aroma padi yang mulai
menguning, mendengar suara burung-burung yang berkicau di pagi hari. Mereka
diajak belajar menanam padi dengan cara tradisional, membajak sawah dengan
kerbau, menanam bibit dengan tangan, menyiangi rumput-rumput liar, dan menuai
padi ketika musim panen tiba. Mereka diajak mencoba membuat pecel bersama Raka,
mengulek bumbu dengan cobek batu yang sudah digunakan sejak zaman Mbah Kinah,
menggoreng kerupuk hingga renyah, memotong sayuran segar yang baru dipetik dari
kebun, dan menikmatinya bersama-sama di warung sederhana yang dindingnya
terbuat dari anyaman bambu. Mereka diajak belajar membatik dari ibu-ibu desa,
yang dengan sabar mengajarkan cara mencanting, cara memberi warna, cara
mengolah kain mori hingga menjadi kain batik dengan motif-motif khas Awan Biru:
awan, gunung, pohon beringin, dan spiral-spiral yang melambangkan keseimbangan.
Dan jika beruntung, jika waktu kunjungan mereka bertepatan dengan hari-hari
tertentu dalam kalender Jawa, mereka bisa menyaksikan upacara-upacara adat yang
masih dilestarikan: upacara bersih desa, upacara sedekah bumi, upacara ruwatan,
dan ritual-ritual lain yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga
Awan Biru.
Camelia, yang merancang konsep wisata ini dengan sangat
teliti, dengan riset yang mendalam, dengan perhitungan yang matang, memastikan
bahwa setiap aspek pariwisata di Awan Biru berpegang pada prinsip-prinsip
keberlanjutan: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Prinsip ekonomi berarti bahwa
manfaat dari pariwisata harus dirasakan oleh seluruh warga, tidak hanya oleh
segelintir orang yang memiliki modal atau koneksi. Prinsip sosial berarti bahwa
pariwisata tidak boleh merusak tatanan sosial masyarakat, tidak boleh
menciptakan kesenjangan, tidak boleh memicu konflik. Prinsip lingkungan berarti
bahwa pariwisata tidak boleh merusak alam, tidak boleh mencemari sungai, tidak
boleh merusak hutan, tidak boleh mengganggu keseimbangan yang telah dijaga oleh
leluhur selama tiga ratus tahun.
"Kita tidak boleh serakah," kata Camelia dalam
pelatihan untuk para pelaku wisata desa, berdiri di balai desa yang telah
direnovasi, di hadapan puluhan warga yang antusias, dengan papan tulis di
belakangnya yang penuh dengan poin-poin penting. Suaranya tegas tetapi ramah,
seperti seorang guru yang mengajar murid-muridnya. "Wisatawan boleh
datang, tetapi kita yang menentukan aturannya. Bukan sebaliknya. Kita yang
menjadi tuan rumah di rumah kita sendiri. Jangan sampai kita menjual identitas
kita hanya demi uang. Jangan sampai kita mengorbankan tradisi kita hanya demi
kepuasan wisatawan. Jangan sampai kita melupakan leluhur kita hanya demi
keuntungan sesaat. Ingat, mereka datang ke sini karena mereka ingin merasakan
kehidupan desa yang autentik. Mereka ingin merasakan apa yang tidak bisa mereka
rasakan di kota. Jika kita mengubah desa ini menjadi seperti kota, apa bedanya?
Mereka bisa saja pergi ke tempat lain."
Salah satu aturan yang paling terkenal, yang paling sering
dibicarakan, yang menjadi ciri khas Desa Awan Biru, adalah larangan membangun
hotel atau villa di dalam desa. Wisatawan yang ingin menginap harus tinggal di
rumah-rumah warga yang telah ditunjuk dan mematuhi aturan adat. Rumah-rumah itu
tidak diubah menjadi penginapan mewah dengan kamar mandi dalam dan AC, tetapi
tetap dipertahankan seperti aslinya, dengan lantai tanah yang dingin, dengan
dinding papan kayu yang berderit, dengan lampu minyak atau lampu listrik
seadanya. Wisatawan tidur di kasur yang sama dengan kasur warga, makan makanan
yang sama dengan makanan warga, bangun di waktu yang sama dengan warga bangun.
Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari kehidupan desa,
setidaknya untuk sementara waktu.
Aturan ini awalnya ditentang oleh beberapa pihak yang ingin
mengambil keuntungan sebesar-besarnya, yang membayangkan hotel-hotel megah berdiri
di pinggir sawah, yang membayangkan villa-villa mewah dengan kolam renang
menghadap ke pegunungan, yang membayangkan keuntungan berlipat ganda dari
investasi besar. Mereka mengajukan protes, membawa argumen ekonomi, membawa
studi kelayakan, membawa investor dari kota. Mereka mengatakan bahwa tanpa
hotel dan villa, Awan Biru tidak akan bisa bersaing dengan desa-desa wisata
lain. Mereka mengatakan bahwa wisatawan modern menginginkan kenyamanan, bukan
kesederhanaan. Mereka mengatakan bahwa aturan ini akan menghambat kemajuan
desa.
Namun setelah melihat bahwa justru dengan aturan ini,
dengan keunikan ini, dengan keaslian ini, wisatawan menjadi lebih tertarik,
menjadi lebih loyal, menjadi lebih menghargai desa ini, akhirnya semua setuju.
Mereka melihat bahwa yang dicari oleh wisatawan bukanlah kemewahan, tetapi
keaslian. Bukan kenyamanan, tetapi pengalaman. Bukan fasilitas modern, tetapi
kehidupan yang berbeda. Mereka melihat bahwa justru karena tidak ada hotel,
justru karena tidak ada villa, justru karena wisatawan harus tinggal di rumah
warga, mereka bisa merasakan kehidupan desa yang autentik. Mereka bisa bangun
pagi mendengar suara ayam berkokok, bukan alarm. Mereka bisa sarapan nasi dan
sayur dari kebun, bukan menu continental. Mereka bisa berbincang dengan warga,
belajar tentang tradisi, mendengar cerita-cerita leluhur, merasakan keramahan
yang tidak bisa mereka dapatkan di hotel berbintang mana pun.
Dampak dari program-program yang dijalankan, dari kerja
keras yang tidak pernah berhenti, dari kebersamaan yang tidak pernah pudar,
terlihat jelas dalam data perekonomian desa yang disusun oleh Amat dengan
teliti setiap akhir tahun. Pendapatan per kapita warga meningkat hampir tiga
kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Angka yang tidak pernah mereka bayangkan
sebelumnya, angka yang membuat Pak Eko menangis haru ketika pertama kali
melihatnya, angka yang menjadi bukti bahwa desa ini tidak hanya selamat, tetapi
juga berkembang. Tingkat kemiskinan menurun drastis. Keluarga-keluarga yang
dulu masuk kategori miskin ekstrem, yang dulu bergantung pada bantuan sosial
yang kadang tidak tepat sasaran, kini telah mandiri. Mereka memiliki usaha,
memiliki tabungan, memiliki harapan. Pengangguran hampir tidak ada, karena
setiap warga memiliki aktivitas ekonomi: bertani, berdagang, membuka homestay,
menjadi pemandu wisata, mengembangkan kerajinan tangan, bekerja di sektor jasa,
atau mengelola produk-produk olahan yang kini diminati oleh wisatawan.
Raka, yang dulu hanya dikenal sebagai anak penjual pecel
yang lucu dan cerewet, yang nilai-nilainya selalu pas-pasan di sekolah, yang
lebih dikenal karena kemampuannya membuat orang tertawa daripada karena
kepintarannya, kini menjadi salah satu pengusaha sukses di desa. Warung
pecelnya yang dulu hanya buka pagi hingga siang, yang dulu hanya melayani
pelanggan dari desa dan desa tetangga, kini buka dari pagi hingga malam.
Meja-meja kayu yang dulu hanya tiga buah, kini berjejer di halaman warung yang
diperluas, selalu penuh dengan wisatawan yang datang dari berbagai daerah. Ia
bahkan telah membuka cabang di kecamatan, dikelola oleh sepupunya yang juga
belajar resep dari ayahnya, yang juga dilatih untuk menjaga kualitas seperti
yang diajarkan oleh Mbah Kinah.
"Pecelnya Raka sekarang terkenal sampai Jakarta,"
kata Pak Gareng dengan bangga, duduk di kursi goyang di teras warung, dengan
kopi hitam pekat di tangan, dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
Wajahnya yang tua dan keriput itu berseri-seri, matanya berbinar-binar,
suaranya lantang seperti ketika ia masih muda dan berkeliling desa dengan
rombongan wayang kulit. "Kemarin ada artis Ibu Kota yang minta dikirimkan
ke rumahnya. Bayangin, artis Ibu Kota makan pecel buatan anak saya. Dulu, waktu
saya masih muda, artis seperti itu hanya bisa saya lihat di televisi. Sekarang,
mereka makan pecel buatan anak saya. Ini luar biasa, Bu. Luar biasa."
"Bukan buatan saya, Pak," kata Raka cepat, yang
sedang sibuk mengulek bumbu di dapur, dengan tangan yang masih belepotan
sambal, dengan baju yang kotor karena minyak dan remah-remah kerupuk. "Buatan
Bapak. Saya cuma meneruskan. Saya cuma menjalankan apa yang sudah Bapak
ajarkan. Resepnya tetap sama. Caranya tetap sama. Bumbunya tetap sama. Tidak
ada yang berubah sejak zaman Mbah Kinah. Yang berubah hanya tempatnya, hanya
promosinya, hanya jumlah pelanggannya."
"Ya sama saja. Yang penting resepnya tetap sama. Tidak
berubah sejak zaman Mbah Kinah. Itu yang membuat pecel kita istimewa. Bukan
karena tempatnya yang bagus, bukan karena promosinya yang hebat, bukan karena
videonya yang viral. Tapi karena rasanya. Rasa yang tidak berubah sejak dulu.
Rasa yang membuat orang kembali lagi, membawa teman-temannya, menceritakan ke
orang lain, membuat mereka penasaran dan akhirnya datang sendiri."
Namun Raka tidak hanya fokus pada bisnisnya. Ia tidak
menjadi serakah, tidak menjadi pelit, tidak menjadi sombong seperti yang sering
terjadi pada orang yang sukses. Ia tetap menjadi Raka yang dulu, Raka yang
selalu membawa pecel untuk teman-temannya, Raka yang tidak pernah
hitung-hitungan, Raka yang selalu siap membantu. Ia aktif dalam program
pemberdayaan ekonomi warga, program yang digagas oleh Camelia dan didukung
penuh oleh Pak Joko. Ia mengajarkan cara membuat pecel kepada ibu-ibu yang
ingin memulai usaha, tidak pelit dengan resep, tidak takut akan persaingan, tidak
khawatir warungnya akan sepi karena banyaknya pesaing. Ia membantu mereka
memasarkan produk melalui platform digital yang dikembangkan Mas Bambang dan
Jel, melalui akun media sosial yang sudah memiliki puluhan ribu pengikut,
melalui website desa yang sudah dikenal luas.
"Orang kaya itu bukan yang punya banyak," kata
Raka dalam sebuah pelatihan untuk ibu-ibu PKK yang ingin memulai usaha kuliner,
duduk di antara mereka dengan baju yang masih belepotan sambal, dengan senyum
yang lebar, dengan suara yang penuh semangat. "Orang kaya itu yang bisa
membuat orang lain juga kaya. Orang kaya itu yang hartanya tidak hanya untuk
dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain. Orang kaya itu yang ketika ia sukses,
ia tidak lupa dari mana ia berasal. Jadi, kalau kalian sukses nanti, jangan
lupa bantu yang lain. Kayak Amat, Camelia, dan teman-teman yang lain. Mereka
tidak pernah pelit dengan ilmu. Mereka tidak pernah sombong dengan jabatan.
Mereka tidak pernah lupa bahwa kita ini satu desa, satu keluarga, satu darah.
Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?"
Di bawah kepemimpinan Pak Joko yang visioner tetapi tetap
mendengarkan, dan perencanaan matang dari Amat yang teliti serta Camelia yang
metodis, infrastruktur Desa Awan Biru juga mengalami peningkatan signifikan.
Jalan-jalan desa yang dulu masih berbatu, yang di musim hujan berubah menjadi
lumpur licin yang membahayakan pengendara, yang di musim kemarau berdebu dan
membuat sesak napas, kini telah diaspal dengan rapi. Aspal hitam yang mulus
membentang dari pintu masuk desa hingga ke ujung-ujung dusun, melewati
sawah-sawah yang hijau, melewati sungai-sungai yang jernih, melewati
rumah-rumah warga yang asri. Jembatan-jembatan yang menghubungkan antar dusun,
yang dulu terbuat dari bambu dan kayu yang rapuh, yang sering hanyut terbawa
banjir ketika hujan deras, dibangun ulang dengan konstruksi beton yang lebih
kokoh, dengan pagar pengaman yang kuat, dengan lebar yang cukup untuk dilalui
kendaraan roda dua dan roda empat. Sistem irigasi untuk sawah-sawah, yang dulu
masih sederhana, yang sering bocor di sana-sini, yang airnya tidak pernah cukup
di musim kemarau, diperbaiki dengan saluran beton yang rapi, dengan pintu air
yang bisa diatur, dengan jaringan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Petani kini bisa menanam tiga kali dalam setahun tanpa khawatir kekurangan air,
tanpa khawatir sawahnya kekeringan, tanpa khawatir gagal panen.
Salah satu proyek infrastruktur yang paling membanggakan,
yang menjadi simbol kemajuan desa ini, yang menunjukkan bahwa modernitas dan
kelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan, adalah pembangunan Pembangkit
Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di sungai yang mengalir dari Hutan Larangan.
Proyek ini digagas oleh Hermansyah, yang setelah bertahun-tahun belajar
otodidak tentang energi terbarukan, membaca buku, mengikuti webinar, berdiskusi
dengan ahli-ahli di bidangnya, akhirnya berhasil merancang sistem yang mampu
menyediakan listrik bagi seluruh desa tanpa merusak lingkungan. Turbin-turbin
kecil dipasang di sungai, memanfaatkan aliran air yang deras, mengubah energi
kinetik menjadi energi listrik yang bersih, yang tidak menghasilkan polusi,
yang tidak mengganggu ekosistem sungai. Listrik yang dihasilkan cukup untuk
memenuhi kebutuhan seluruh desa, dari penerangan rumah hingga pengolahan produk
UMKM, dari pompa air hingga peralatan elektronik. Desa Awan Biru kini tidak
hanya mandiri secara pangan, tetapi juga mandiri secara energi.
"Ayah pasti bangga kalau lihat ini," kata
Hermansyah ketika PLTMH itu diresmikan, berdiri di tepi sungai dengan kemeja
lengan panjang yang sedikit basah oleh percikan air, dengan wajah yang
berseri-seri, dengan mata yang berbinar-binar. Ia menatap turbin-turbin yang
berputar dengan tenang, menatap kabel-kabel yang menghubungkannya ke desa,
menatap lampu-lampu yang mulai menyala di rumah-rumah warga. Pak Sugeng,
ayahnya, yang dulu sering mengeluh tentang listrik desa yang sering padam,
tentang lampu-lampu yang berkedip-kedip tanpa sebab, tentang peralatan
elektronik yang mudah rusak karena tegangan yang tidak stabil, kini bisa tersenyum
puas. Ia tidak perlu lagi mengeluh. Ia tidak perlu lagi menyimpan lilin dan
lampu minyak untuk berjaga-jaga. Ia bisa menyalakan televisi kapan saja, bisa
menggunakan kipas angin di siang hari, bisa mengisi daya ponsel tanpa khawatir
baterai habis.
Mas Bambang dan Enjelin, dengan platform digital mereka
yang terus dikembangkan, dengan inovasi-inovasi baru yang mereka hadirkan
setiap tahun, membantu desa untuk terhubung dengan dunia luar. Kini, setiap
rumah di Awan Biru memiliki akses internet. Bukan internet cepat seperti di
kota, tetapi cukup untuk mengakses informasi, untuk berkomunikasi, untuk
mengembangkan usaha. Anak-anak sekolah bisa belajar online dengan materi yang
sama dengan anak-anak di kota, mengikuti kelas-kelas virtual dengan guru-guru yang
berkualitas, mengakses perpustakaan digital yang menyediakan jutaan buku. UMKM
desa bisa menjual produknya ke luar daerah, tidak hanya ke wisatawan yang
datang, tetapi juga melalui platform e-commerce yang sudah terintegrasi dengan
sistem pembayaran digital. Bahkan ada beberapa warga yang mulai bekerja sebagai
freelancer digital, menjadi desainer grafis, menjadi programmer, menjadi
content creator, bekerja dari rumah dengan klien-klien di kota besar, tanpa
harus merantau, tanpa harus meninggalkan desa.
Anita dan dr. Erlangga, saling mendukung dalam suka dan
duka, merasakan perubahan yang signifikan dalam layanan kesehatan desa.
Puskesmas pembantu yang dulu hanya buka tiga kali seminggu, yang dulu hanya
memiliki peralatan seadanya, yang dulu hanya mampu menangani penyakit-penyakit
ringan, kini buka setiap hari dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap. Ada
ruang periksa umum, ruang bersalin, ruang rawat inap sederhana, apotek yang
persediaannya selalu cukup. Ada dokter umum yang hadir setiap hari, bidan-bidan
yang terlatih, perawat-perawat yang sigap. Ada ambulans desa yang siap sedia
untuk merujuk pasien ke rumah sakit di kecamatan atau kabupaten jika
diperlukan.
"Kami punya alat USG sekarang," kata dr. Erlangga
dengan bangga, berdiri di ruang USG yang baru, dengan mesin yang masih
mengkilap, dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. "Ibu-ibu hamil
tidak perlu lagi pergi ke kecamatan untuk memeriksakan kandungannya. Cukup di
sini. Mereka bisa memeriksa kesehatan janin, mengetahui posisi bayi, mendeteksi
dini jika ada masalah. Ini sangat membantu, terutama bagi ibu-ibu yang tidak
memiliki kendaraan, yang harus berjalan kaki atau naik angkutan umum yang tidak
selalu tersedia."
dr. Erlangga menambahkan, dengan data di tangannya, dengan
senyum yang puas, dengan suara yang penuh kebanggaan. "Angka kematian ibu
dan anak menurun drastis. Dalam lima tahun terakhir, tidak ada kematian ibu
saat melahirkan. Tidak ada kematian bayi karena kurang gizi. Gizi buruk pada
balita hampir tidak ada. Imunisasi mencapai seratus persen. Ini semua karena
kesadaran warga yang meningkat, karena akses layanan yang lebih baik, karena
kerja sama yang baik antara puskesmas, pemerintah desa, dan warga. Kami tidak
bisa melakukannya sendiri. Ini hasil kerja bersama."
Di bidang pendidikan, Pak Kartono, yang meskipun sudah
pensiun dari jabatan sekretaris desa, tetap aktif sebagai pengawas pendidikan
desa, tetap hadir di setiap rapat, tetap memberikan masukan, tetap mengawal
setiap program, mengawal peningkatan kualitas sekolah-sekolah di Awan Biru.
Gedung-gedung sekolah yang dulu memprihatinkan, yang dindingnya retak-retak,
yang atapnya bocor di sana-sini, yang lantainya becek ketika hujan, kini telah
direnovasi. Dinding-dindingnya dicat dengan warna-warna cerah, atapnya diganti
dengan yang baru, lantainya dipasang keramik yang mudah dibersihkan. Ruang
kelasnya dilengkapi dengan meja dan kursi yang baru, papan tulis yang bersih,
lemari buku yang terisi. Perpustakaan sekolah yang dulu hanya berisi beberapa
buku bekas sumbangan dari kota, kini diisi dengan buku-buku baru, buku-buku
pelajaran, buku-buku cerita, buku-buku ilmu pengetahuan, ensiklopedia, kamus,
dan buku-buku lain yang menarik minat baca anak-anak.
"Pendidikan adalah kunci," kata Pak Kartono dalam
sambutannya pada peresmian gedung sekolah baru, berdiri di hadapan ratusan
anak-anak yang berseragam rapi, dengan suara yang lantang meskipun usianya
sudah tidak muda lagi, dengan mata yang berkaca-kaca karena haru.
"Anak-anak desa ini harus punya kesempatan yang sama dengan anak-anak di
kota. Mereka harus bisa mengenyam pendidikan yang layak. Mereka harus bisa
mengembangkan potensi mereka. Mereka harus bisa bermimpi setinggi mungkin.
Mereka bisa menjadi apa saja: dokter, insinyur, guru, arsitek, peneliti,
seniman, bahkan mungkin presiden suatu hari nanti. Tidak ada yang tidak mungkin
jika mereka punya pendidikan. Tidak ada yang tidak mungkin jika mereka mau
belajar. Tidak ada yang tidak mungkin jika mereka didukung oleh desa ini, oleh
keluarga, oleh masyarakat."
Ia berhenti sejenak, menatap anak-anak yang duduk di
hadapannya, menatap masa depan yang akan meneruskan perjuangannya. "Kami,
generasi tua, sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa. Kami sudah membangun
fondasi. Sekarang, giliran kalian. Kalian yang akan meneruskan. Kalian yang
akan membangun di atas fondasi yang sudah kami buat. Kalian yang akan membawa
desa ini ke tingkat yang lebih tinggi. Jangan pernah berhenti belajar. Jangan
pernah berhenti bermimpi. Jangan pernah berhenti berjuang. Dan yang terpenting,
jangan pernah lupa dari mana kalian berasal. Jangan pernah lupa bahwa kalian
adalah anak-anak Awan Biru. Bahwa desa ini adalah rumah kalian. Bahwa leluhur
kalian selalu menjaga."
BAB 43: Lahirnya Generasi Penerus
Di tengah kesibukan mereka membangun desa, di antara
rapat-rapat perencanaan yang kadang berlangsung hingga larut malam, di antara
kunjungan ke Hutan Larangan untuk memastikan segel tetap kuat, di antara
pendampingan kepada warga yang membutuhkan bantuan, di antara program-program pemberdayaan
yang terus berjalan, Amat dan Camelia menemukan bahwa perasaan yang tumbuh di
antara mereka selama bertahun-tahun bukan sekadar persahabatan. Bukan sekadar
kebiasaan, bukan sekadar kedekatan karena sering bersama, bukan sekadar
kenyamanan karena sudah saling mengenal sejak kecil. Ada sesuatu yang lebih
dalam, lebih hangat, lebih abadi. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata, tetapi bisa dirasakan dengan hati. Sesuatu yang tumbuh perlahan,
seperti pohon beringin di tengah desa, yang akarnya menjalar dalam-dalam ke
tanah, yang batangnya kokoh menahan badai, yang kanopinya rindang melindungi
siapa pun yang berteduh di bawahnya.
Mereka tidak pernah secara eksplisit menyatakan cinta.
Tidak ada kata-kata manis yang diucapkan di bawah cahaya bulan, tidak ada puisi
yang ditulis di atas kertas berwarna, tidak ada lamaran yang dramatis dengan
lutut yang bertumpu di tanah. Cinta mereka tumbuh seperti pohon beringin:
perlahan, kokoh, dan berakar dalam. Ia tumbuh dari kebersamaan, dari saling
pengertian, dari kepercayaan yang tidak pernah goyah. Ia tumbuh dari saat-saat
ketika mereka duduk bersama di beranda rumah Amat, minum teh jahe hangat buatan
Sumirah, dan membicarakan masa depan desa tanpa memikirkan masa depan mereka
sendiri. Ia tumbuh dari saat-saat ketika mereka berjalan di sawah pada pagi
hari, menikmati embun yang masih membasahi rumput, dan tidak perlu berkata-kata
karena sudah saling mengerti. Ia tumbuh dari saat-saat ketika mereka menghadapi
kesulitan bersama, saling menguatkan, saling menopang, dan menemukan bahwa
tanpa satu sama lain, mereka tidak akan sekuat itu.
Suatu sore, ketika mereka sedang duduk di Bukit Pangasih, tempat
yang sama di mana mereka berjanji tiga puluh tahun yang lalu, tempat yang sama
di mana tiga kepalan kecil menyatu di bawah langit malam yang berbintang,
tempat yang sama di mana mereka berjanji untuk menjaga desa ini bersama, Camelia
menggenggam tangan Amat. Tangannya yang dulu kecil dan dingin, yang dulu
gemetar ketika ia mencatat hal-hal penting dalam buku catatannya, kini telah
menjadi tangan yang dewasa, tangan yang telah menulis ribuan halaman tentang
desa ini, tangan yang telah membantu merancang kebijakan-kebijakan yang membawa
kemajuan bagi warganya. Tetapi genggamannya tetap sama. Kuat. Hangat. Penuh
keyakinan.
"Mat, kita sudah mulai tua," katanya sambil
tersenyum, menatap wajah Amat yang mulai berkerut di sudut matanya, menatap
rambutnya yang mulai memutih di pelipis, menatap matanya yang biru tetapi kini
tidak lagi biru pucat seperti langit pagi, tetapi biru yang lebih dalam, biru
yang telah melihat banyak hal, biru yang telah menjadi saksi dari perjalanan
panjang mereka. "Tiga puluh tahun sudah kita bersama. Tiga puluh tahun
kita berjuang untuk desa ini. Tiga puluh tahun kita tertawa, menangis, takut,
dan berani bersama. Rasanya baru kemarin kita duduk di sini, masih anak-anak,
masih polos, masih belum tahu apa-apa, berjanji untuk menjaga desa ini. Dan
sekarang, desa sudah berubah. Kita sudah berubah. Waktu terasa cepat sekali.
Terlalu cepat."
Amat tersenyum, membalas genggaman Camelia, merasakan
kehangatan yang sama seperti yang ia rasakan tiga puluh tahun yang lalu, ketika
ia pertama kali menyadari bahwa gadis kecil dengan buku catatan itu bukan hanya
teman, tetapi sesuatu yang lebih. "Kita belum tua, Mel. Masih empat puluh
tahun lagi kita hidup. Mungkin lebih. Leluhur kita panjang umur. Kyai Beringin
bahkan sudah hidup tiga ratus tahun. Kita baru sepersepuluhnya. Masih panjang
perjalanan. Masih banyak yang harus kita lakukan."
"Tapi waktu terasa cepat, Mat. Rasanya baru kemarin
kita duduk di sini, masih remaja, masih penuh mimpi. Sekarang, kita sudah
dewasa. Kita sudah punya tanggung jawab. Kita sudah... sudah tidak muda
lagi."
Amat menatap Camelia. Di matanya yang biru itu, terpancar
perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan yang telah ia
pendam selama bertahun-tahun, perasaan yang ia takut untuk diungkapkan,
perasaan yang mungkin telah diketahui oleh Camelia sejak lama, tetapi tidak
pernah mereka bicarakan. "Mel, aku... aku ingin sesuatu."
Camelia menatap Amat, heran, karena jarang sekali Amat
berbicara tentang keinginannya. Ia selalu berbicara tentang desa, tentang
warga, tentang program pembangunan, tentang keseimbangan yang harus dijaga. Ia
jarang berbicara tentang dirinya sendiri. "Apa, Mat?"
"Bukan sesuatu. Seseorang. Seseorang yang akan menjadi
temanku, bukan hanya di masa muda, tetapi untuk selamanya. Bukan hanya ketika
kita masih kuat, tetapi ketika kita sudah tua dan lemah. Bukan hanya ketika
kita masih bisa berlari, tetapi ketika kita sudah hanya bisa duduk di beranda,
minum teh jahe, dan mengingat masa lalu. Seseorang yang akan menemaniku di
sini, di bukit ini, ketika kita sudah tua nanti, ketika anak cucu kita sudah
besar, ketika desa ini sudah berbeda lagi. Seseorang yang akan mengingatkanku
tentang janji kita ketika aku mulai lupa. Seseorang yang akan menjadi rumah
bagiku, seperti desa ini menjadi rumah bagi kita semua."
Camelia tersenyum. Air matanya menetes, membasahi pipinya
yang mulai berkerut, membasahi senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. "Aku
juga menginginkan orang itu, Mat. Aku juga menginginkan seseorang yang akan
menjadi temanku untuk selamanya. Seseorang yang akan menemaniku di sini, di
bukit ini, ketika kita sudah tua. Seseorang yang akan mengingatkanku tentang
semua yang telah kita lalui, tentang semua yang telah kita perjuangkan, tentang
semua yang telah kita cintai. Aku sudah lama menginginkannya. Sejak kita masih
kecil, sejak pertama kali kau menunjukkan padaku buku-buku peninggalan nenekmu,
sejak pertama kali kau mengajakku ke Hutan Larangan, sejak pertama kali kau
menyelamatkanku dari kegelapan. Aku hanya tidak pernah punya keberanian untuk
mengatakannya."
Mereka tidak mengucapkan kata-kata cinta yang rumit. Tidak
ada berlian yang berkilauan di bawah sinar matahari, tidak ada bunga yang mekar
di taman, tidak ada lamaran yang megah dengan keluarga dan teman-teman sebagai
saksi. Hanya dua orang yang duduk di puncak bukit, di bawah langit Awan Biru
yang mulai gelap, dengan tangan yang saling menggenggam, dan hati yang telah
lama menjadi satu. Hanya dua orang yang telah bersama selama tiga puluh tahun,
yang telah melewati badai dan terang bersama, yang telah saling mengenal lebih
dalam dari siapa pun, dan yang akhirnya menemukan bahwa cinta tidak perlu
diucapkan untuk dirasakan, tidak perlu ditunjukkan untuk dibuktikan, tidak
perlu dirayakan untuk diakui.
Di kejauhan, pohon beringin tua bergoyang pelan,
daun-daunnya bergemerisik, seolah-olah ikut merayakan, ikut memberkati, ikut
menjadi saksi dari cinta yang telah tumbuh perlahan selama tiga puluh tahun.
Kyai Beringin berdiri di bawah pohon itu, tersenyum, senyum yang hangat, senyum
yang penuh dengan kebahagiaan, senyum yang mengatakan bahwa ia bangga, bahwa ia
tidak salah memilih, bahwa desa ini akan aman di tangan generasi yang akan
datang.
Pernikahan Amat dan Camelia dilangsungkan secara sederhana
di halaman rumah Amat, di tempat yang sama di mana Amat dilahirkan tiga puluh
tahun yang lalu, di tempat yang sama di mana Sumirah melahirkan seorang bayi
laki-laki dengan mata biru di tengah badai yang aneh. Tidak ada pesta besar,
tidak ada tenda yang menjulang, tidak ada dekorasi yang mewah. Hanya halaman
yang dibersihkan, ditaburi bunga-bunga dari kebun warga, dihiasi dengan
umbul-umbul yang dibuat oleh ibu-ibu PKK. Kursi-kursi kayu yang dipinjam dari
balai desa disusun berjajar di halaman, ditutup dengan kain batik yang dipinjam
dari tetangga. Meja-meja panjang yang ditutup taplak plastik bermotif bunga
disediakan untuk para tamu, dengan hidangan sederhana yang dimasak oleh
Sumirah, Bu Yati, dan ibu-ibu desa lainnya. Hanya keluarga dekat dan
teman-teman yang selama ini setia menemani perjalanan mereka yang diundang.
Tidak ada pejabat, tidak ada artis, tidak ada orang-orang penting yang mungkin
membuat acara ini terasa lebih megah, tetapi juga lebih jauh dari makna
sebenarnya.
Raka menjadi saksi. Ia berdiri di samping Amat, dengan
setelan jas yang sedikit terlalu ketat untuk tubuhnya yang tambun, dengan
kemeja putih yang sedikit terlalu ketat di leher, dengan dasi yang tidak pernah
ia kenakan sebelumnya. Ia terlihat tidak nyaman, tetapi ia tetap tersenyum
lebar, senyum yang tidak pernah pudar dari wajahnya yang bulat itu, senyum yang
menjadi ciri khasnya sejak kecil. Ia tidak bisa berdiri diam, selalu
bergerak-gerak, sesekali merapikan jasnya, sesekali menarik-narik kerah
kemejanya, sesekali mengusap keringat di dahinya meskipun cuaca tidak terlalu
panas.
"Lo tahu, Mat," bisik Raka ketika penghulu sedang
membacakan akad nikah, suaranya pelan, nyaris tidak terdengar, tetapi Amat yang
sudah terbiasa dengan suaranya bisa mendengar dengan jelas. "Gue kaget
juga lo akhirnya nikah. Kirain lo bakal jadi bujangan seumur hidup, sibuk sama
desa, sibuk sama hutan, sibuk sama makhluk-makhluk gaib. Gue pikir, lo nggak
punya waktu buat pacaran. Gue pikir, lo lebih memilih jadi pertapa di Hutan
Larangan daripada menikah. Ternyata, lo juga manusia biasa. Lo juga punya hati.
Lo juga punya perasaan."
Amat tersenyum, tidak menoleh, tetapi suaranya terdengar
jelas. "Siapa bilang? Aku juga punya kehidupan pribadi. Aku juga punya
perasaan. Aku juga punya hak untuk bahagia, sama seperti orang lain. Hanya
saja, aku tidak suka pamer. Aku tidak suka ribut-ribut. Aku tidak suka membuat
acara besar yang hanya akan membuat orang lain repot. Cukup begini. Cukup
sederhana. Cukup dengan orang-orang yang kita cintai."
"Ya iya. Tapi gue seneng, Mat. Gue seneng banget. Lo
pantas dapet Camelia. Dia perempuan baik. Dia perempuan yang selalu setia, yang
selalu sabar, yang selalu ngertiin lo. Dia perempuan yang nggak pernah ngeluh
meskipun lo sering begadang, sering ke hutan, sering sibuk dengan urusan desa.
Dia perempuan yang rela nunggu lo bertahun-tahun tanpa pernah minta kepastian.
Dan lo juga baik. Lo juga pantas. Kalian cocok. Kalian memang ditakdirkan untuk
bersama."
"Terima kasih, Rak. Terima kasih sudah menjadi
sahabatku selama ini. Terima kasih sudah selalu ada di sampingku. Terima kasih
sudah membuatku tertawa ketika aku terlalu serius. Terima kasih sudah
mengingatkanku bahwa hidup tidak hanya tentang tanggung jawab, tetapi juga
tentang kebahagiaan."
"Tapi jangan lupa, kalau lo nanti punya anak, gue yang
jadi bapak angkat. Setuju? Gue yang akan ngajarin anak lo cara bikin pecel. Gue
yang akan ngajarin anak lo cara tertawa. Gue yang akan ngajarin anak lo bahwa
hidup ini tidak harus selalu serius. Setuju?"
Amat tertawa, tertawa kecil, tertawa yang tidak mengganggu
jalannya akad nikah. "Setuju."
Camelia, yang duduk di samping Amat dengan kebaya putih
sederhana yang dipinjam dari ibunya, dengan riasan yang tipis, dengan senyum
yang tidak bisa disembunyikan, mendengar bisikan mereka. Ia tersenyum, senyum
yang penuh dengan kebahagiaan, senyum yang mengatakan bahwa ia sudah terbiasa
dengan kelakuan Raka, bahwa ia sudah menerima Raka sebagai bagian dari
keluarganya, bahwa ia bersyukur memiliki sahabat seperti Raka.
Setelah akad nikah selesai, setelah penghulu mengucapkan
selamat kepada mempelai, setelah semua tamu bertepuk tangan dan bersorak,
mereka mengadakan selamatan kecil-kecilan. Tumpeng yang disusun tujuh tingkat,
melambangkan tujuh titik penjagaan desa, dipotong oleh Amat dan Camelia
bersama-sama. Mereka memotongnya dengan tangan yang saling bergandengan, dengan
senyum yang tidak pernah pudar, dengan doa yang dipanjatkan dalam hati. Tumpeng
itu kemudian diberikan kepada Sumirah dan Pak Karto—orang tua Camelia—sebagai
tanda bakti, sebagai tanda terima kasih, sebagai tanda bahwa mereka tidak akan
pernah melupakan orang-orang yang telah membesarkan mereka.
Sumirah menangis. Air matanya mengalir deras, membasahi
pipinya yang sudah berkerut, membasahi senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
Ia memeluk Amat erat-erat, memeluk anaknya yang telah berjuang sejak kecil,
yang telah menjadi penjaga desa, yang telah menjadi pemimpin yang dihormati,
yang kini telah menikah dengan perempuan yang ia cintai. "Akhirnya... anak
Ibu menikah. Ibu sudah lama menunggu ini. Sejak kau masih kecil, sejak kau
masih duduk di beranda rumah menatap pohon beringin, sejak kau pertama kali
bertemu Camelia, Ibu sudah berdoa semoga kau bahagia. Ibu sudah berdoa semoga
kau menemukan seseorang yang bisa mendampingimu. Ibu sudah berdoa semoga kau
tidak sendirian selamanya."
"Maaf, Bu, lama menunggu," kata Amat sambil
memeluk ibunya, merasakan tubuhnya yang semakin kecil, merasakan bahunya yang
semakin membungkuk, merasakan cinta yang tidak pernah berubah sejak ia lahir.
"Aku butuh waktu. Aku harus menyelesaikan semua ini dulu. Aku harus
memastikan desa ini aman. Aku harus memastikan bahwa tanggung jawabku sebagai
penjaga tidak mengganggu kebahagiaan orang yang aku cintai. Sekarang, semuanya
sudah selesai. Sekarang, aku bisa bahagia."
"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang Ibu punya
menantu. Ibu punya Camelia, perempuan yang baik, perempuan yang pintar,
perempuan yang selalu setia menemani anak Ibu. Ibu bersyukur. Ibu sangat
bersyukur. Dan cucu nanti, ya? Ibu ingin cepat-cepat punya cucu. Ibu ingin
menggendong cucu Ibu. Ibu ingin melihat anak Ibu menjadi ayah. Ibu
ingin..."
Camelia tersenyum malu, menunduk, merasakan darah naik ke
pipinya. "Insya Allah, Bu. Doakan saja. Semoga diberi keturunan yang
saleh. Semoga diberi keluarga yang bahagia. Semoga diberi umur yang panjang
untuk melihat cucu-cucu Ibu tumbuh besar."
Setahun setelah pernikahan, ketika musim kemarau berganti
menjadi musim hujan, ketika sawah-sawah mulai menghijau dan padi-padi mulai
tumbuh subur, Camelia melahirkan seorang bayi laki-laki. Mereka menamainya Awan
Putra, diambil dari nama desa yang mereka cintai, diambil dari langit yang
selalu biru di atas kepala mereka, diambil dari harapan bahwa anak ini akan
menjadi penerus yang baik, bukan hanya bagi keluarga, tetapi bagi desa ini.
Awan lahir pada suatu pagi yang cerah, ketika langit Awan Biru memperlihatkan
warna birunya yang paling indah, biru yang tidak pucat, tidak redup, tetapi
biru yang cerah, biru yang hidup, biru yang penuh dengan harapan. Kabut tipis
yang biasanya menyelimuti desa di pagi hari telah sirna, digantikan oleh sinar
matahari yang hangat, yang menembus jendela kamar, yang menyinari wajah bayi
yang baru lahir.
Bidan Amelia yang membantu persalinan, yang telah membantu
ratusan kelahiran di desa ini, yang tangannya yang terampil telah menyambut
banyak bayi ke dunia, mengatakan bahwa Awan lahir dengan selamat tanpa ada
keanehan apa pun. "Normal. Bayi sehat. Berat tiga kilogram dua ratus gram.
Panjang empat puluh delapan sentimeter. Tidak ada tanda-tanda aneh seperti yang
dulu terjadi pada Amat. Tidak ada badai, tidak ada kabut yang berputar-putar,
tidak ada tangisan yang bergema dari gunung ke gunung. Semua normal. Seperti
bayi pada umumnya."
Amat menggendong putranya untuk pertama kalinya. Tangannya
yang dulu gemetar ketika memegang liontin batu biru, yang dulu gemetar ketika
menyentuh gerbang batu di Hutan Larangan, yang dulu gemetar ketika membaca
mantra ritual Purnama, kini tenang, kuat, mantap. Ia menggendong Awan dengan
penuh kehati-hatian, dengan penuh kasih sayang, dengan penuh kebanggaan. Air
matanya menetes, membasahi wajahnya yang mulai berkerut, membasahi senyum yang
tidak bisa ia sembunyikan. "Dia tidak seperti aku. Dia normal. Matanya
coklat, bukan biru. Rambutnya hitam, bukan pirang. Kulitnya sawo matang, tidak
pucat. Dia tidak mewarisi keanehan yang aku miliki. Dia bebas."
Camelia, yang masih terbaring lelah di tempat tidur, dengan
rambut yang basah oleh keringat, dengan wajah yang pucat karena kelelahan,
tetapi dengan senyum yang cerah, tersenyum. "Itu yang kau inginkan, kan?
Bahwa anak kita tidak harus memikul beban seperti yang kau pikul. Bahwa anak
kita tidak harus menjadi penjaga. Bahwa anak kita tidak harus menghadapi
makhluk-makhluk yang mengancam desa ini. Bahwa anak kita bisa menjadi anak
biasa, yang bisa bermain di sawah, yang bisa bersekolah dengan tenang, yang
bisa memilih jalannya sendiri tanpa terikat oleh takdir."
"Ya. Itu yang aku inginkan. Aku ingin dia bebas. Bebas
memilih jalannya sendiri. Bebas menjadi siapa pun yang dia inginkan. Bebas
mencintai siapa pun yang dia cintai. Aku tidak ingin dia terbebani oleh warisan
yang tidak pernah ia minta. Aku tidak ingin dia merasa bahwa ia harus menjadi
penjaga hanya karena darah yang mengalir di tubuhnya. Aku tidak ingin dia
mengalami apa yang aku alami."
"Tapi dia akan tetap menjadi bagian dari desa ini,
Mat. Darahmu mengalir di tubuhnya. Darah leluhur mengalir di tubuhnya. Mungkin
suatu hari nanti, dia akan merasakan panggilan yang sama seperti yang kau
rasakan. Mungkin suatu hari nanti, dia akan melihat hal-hal yang tidak dilihat
orang lain. Mungkin suatu hari nanti, dia akan mendengar suara-suara yang tidak
didengar orang lain. Mungkin suatu hari nanti, dia akan menjadi penjaga,
seperti ayahnya."
"Mungkin. Tapi itu pilihannya nanti. Aku tidak akan
memaksanya. Aku tidak akan mengajarinya menjadi penjaga sejak kecil. Aku tidak
akan membawanya ke Hutan Larangan sebelum ia siap. Aku tidak akan membebaninya
dengan tanggung jawab yang belum tentu ia inginkan. Aku akan membiarkannya
menjadi anak-anak. Aku akan membiarkannya bermain, tertawa, belajar, bermimpi.
Dan ketika ia dewasa, ketika ia sudah siap, ia bisa memilih. Ia bisa menerima
takdir ini, atau menolaknya. Aku akan mendukung apa pun pilihannya."
Raka, yang datang menjenguk dengan membawa pecel, seperti
biasa, seperti yang selalu ia lakukan sejak mereka masih kecil, seperti yang
menjadi ciri khas persahabatan mereka, melihat Awan dengan mata berbinar. Ia
berdiri di samping tempat tidur, dengan besek anyaman bambu di tangan, dengan
senyum yang lebar, dengan suara yang lantang. "Wah, ini anak ganteng.
Mirip bapaknya. Mukanya tenang, matanya teduh, senyumnya tipis. Tapi semoga
tidak mirip kelakuannya. Bapaknya itu pendiam banget, susah diajak becanda.
Susah diajak ketawa. Susah diajak ngobrol kalau bukan tentang desa atau hutan.
Mudah-mudahan anak ini lebih ceria. Mudah-mudahan anak ini lebih suka tertawa.
Mudah-mudahan anak ini mau belajar bikin pecel."
Amat tersenyum, masih menggendong Awan yang mulai tertidur
pulas di pangkuannya. "Yang penting mirip ibunya. Cantik. Pintar. Rajin.
Baik hati. Itu sudah cukup."
"Ya ampun, Mat, jorok," kata Raka sambil tertawa,
tertawa yang keras, tertawa yang bergema di ruangan, tertawa yang membuat Awan
mengerjap sedikit, tetapi tidak terbangun. "Udah tua masih bisa jorok.
Udah jadi ayah masih bisa merayu istri sendiri. Memang dasar anak muda, cinta
nggak kenal umur."
Awan Putra tumbuh menjadi anak yang ceria dan ramah,
mewarisi sifat Camelia yang supel dan mudah bergaul, yang selalu tersenyum pada
siapa pun yang ditemuinya, yang tidak pernah canggung dengan orang baru. Ia
juga mewarisi sifat Amat yang tenang dan penuh perhatian, yang suka
mendengarkan, yang tidak terburu-buru mengambil keputusan, yang selalu berpikir
sebelum bertindak. Ia tidak memiliki mata biru seperti ayahnya, tidak memiliki
kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain, tidak memiliki
kepekaan terhadap energi yang mengalir di tanah ini. Tetapi matanya yang coklat
gelap tetap memancarkan kecerdasan dan kebaikan, tetap memancarkan rasa ingin
tahu yang besar, tetap memancarkan cinta yang mendalam pada desa ini.
Sejak kecil, Awan sudah akrab dengan alam desa. Ia sering
diajak ayahnya berjalan di sawah, melewati pematang-pematang yang sempit,
menikmati udara pagi yang segar, mendengar suara burung-burung yang berkicau,
mencium aroma tanah basah yang baru saja diairi. Ia sering diajak duduk di
bawah pohon beringin, mendengarkan cerita ayahnya tentang Kyai Beringin,
tentang penjaga-penjaga yang setia, tentang leluhur yang menjaga desa ini
selama tiga ratus tahun. Dan sesekali, dengan pengawasan ketat dari Amat,
dengan persiapan yang matang, dengan ritual yang benar, ia diajak masuk ke Hutan
Larangan untuk melihat langsung keindahan alam yang dijaga oleh leluhur, untuk
merasakan ketenangan yang hanya bisa ditemukan di dalam hutan, untuk belajar
bahwa alam bukan untuk dieksploitasi, tetapi untuk dihormati.
"Ayah, kenapa hutan ini disebut Hutan Larangan?"
tanya Awan suatu hari ketika mereka sedang berjalan di tepi hutan, ketika
matahari mulai condong ke barat dan cahayanya berubah menjadi jingga keemasan,
ketika kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit. Matanya yang
coklat gelap menatap ayahnya dengan rasa ingin tahu yang besar, mulutnya yang
mungil bergerak-gerak, tangannya yang kecil menggenggam erat jari ayahnya.
"Karena dulu, orang-orang dilarang masuk ke
sini," jawab Amat, suaranya lembut, suaranya penuh dengan kesabaran, suaranya
seperti aliran sungai yang tenang. "Mereka takut. Mereka tidak tahu apa
yang ada di dalam hutan ini. Mereka hanya mendengar cerita-cerita angker dari
orang tua mereka, cerita tentang makhluk-makhluk yang mengerikan, tentang
roh-roh yang jahat, tentang kutukan-kutukan yang menakutkan. Dan karena takut,
mereka melarang siapa pun masuk. Mereka memasang bambu runcing, mereka
menceritakan kisah-kisah horor, mereka menanamkan ketakutan itu ke dalam hati
anak-anak mereka."
"Kenapa dilarang, Ayah?"
"Karena di dalam hutan ini ada hal-hal yang perlu
dijaga. Ada makhluk-makhluk yang tidak bisa diganggu. Ada leluhur yang masih
bersemayam. Ada segel-segel yang mengurung sesuatu yang berbahaya. Tapi
sekarang, kita tidak melarang orang masuk. Kita hanya meminta mereka untuk
menghormati. Kita hanya mengingatkan bahwa hutan ini bukan tempat untuk
bermain-main. Bukan tempat untuk membuang sampah. Bukan tempat untuk
merusak."
"Menghormati bagaimana, Ayah?"
Amat berhenti, menunjuk ke arah pohon-pohon yang menjulang,
ke arah akar-akar yang menjalar, ke arah lumut-lumut yang menutupi batang.
"Tidak merusak pohon. Tidak memotong dahan sembarangan. Tidak mengambil
kayu tanpa izin. Tidak membuang sampah, tidak berteriak-teriak, tidak
mengganggu hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Tidak mengambil apa pun tanpa
izin. Hutan ini bukan milik kita, Nak. Hutan ini titipan. Titipan dari leluhur
untuk anak cucu. Kita hanya menjaganya, merawatnya, meneruskannya dalam keadaan
yang lebih baik. Itu yang dimaksud dengan menghormati."
Awan mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya mengerti. Ia
masih terlalu kecil untuk memahami makna dari kata-kata ayahnya. Tapi
benih-benih pemahaman itu mulai tertanam. Bahwa alam harus dijaga. Bahwa
leluhur harus dihormati. Bahwa desa ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi
rumah yang harus dilindungi. Bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih
besar, sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang akan terus hidup meskipun ia telah
tiada.
Siapa sangka, di antara mereka semua, di antara Amat yang
tenang dan bijaksana, di antara Camelia yang cerdas dan metodis, di antara
Hermansyah yang tekun dan inovatif, di antara Guntur yang kuat dan pemberani,
Raka-lah yang paling lambat menemukan cinta. Bukan karena ia tidak diminati, justru
sebaliknya. Banyak perempuan yang tertarik dengan Raka karena sifatnya yang
ceria, karena hatinya yang baik, karena kesuksesannya dalam bisnis pecel yang
telah mendunia, karena kemampuannya membuat orang tertawa bahkan di saat yang
paling sulit. Ibu-ibu desa sering menggodanya, "Ra, kapan nikah? Jangan
kebanyakan kerja, nanti lupa sama jodoh." Teman-temannya sering bertanya,
"Ra, kamu punya pacar nggak? Kok nggak pernah bawa-bawa?" Bahkan Pak
Gareng dan Bu Yati mulai khawatir, takut anak mereka yang sudah berusia kepala
empat itu akan menjadi bujangan selamanya.
Tapi Raka selalu beralasan bahwa ia belum siap.
"Pernikahan itu kan komitmen seumur hidup," katanya suatu hari ketika
ditanya oleh ibunya, ketika mereka sedang duduk di teras warung pecel,
menikmati angin sore yang sejuk, menikmati teh jahe yang mengepul, menikmati
kerupuk yang renyah. "Aku tidak mau menikah hanya karena terburu-buru. Aku
tidak mau menikah hanya karena kasihan. Aku tidak mau menikah hanya karena
desakan orang tua. Aku mau menikah dengan orang yang tepat. Aku mau menikah dengan
orang yang mencintaiku apa adanya. Aku mau menikah dengan orang yang bisa
menerima segala kelebihan dan kekuranganku. Aku mau menikah dengan orang yang
bisa membuatku menjadi versi terbaik dari diriku."
"Lalu siapa orang yang tepat?" tanya Bu Yati, suaranya
penuh harap, matanya berkaca-kaca, hatinya berdebar.
Raka tersenyum miring, senyum yang sama yang ia tunjukkan
ketika pertama kali bertemu Amat, senyum yang sama yang ia tunjukkan ketika ia
membuat lelucon di kelas, senyum yang menjadi ciri khasnya. "Entahlah, Bu.
Mungkin dia belum muncul. Mungkin dia masih di perjalanan. Mungkin dia belum
siap. Yang jelas, aku tidak akan memaksakan. Aku akan menunggu. Sampai waktunya
tiba. Sampai aku yakin. Sampai aku tidak ragu lagi."
Namun takdir berkata lain. Suatu hari, ketika musim kemarau
panjang mulai berakhir dan hujan mulai turun membasahi desa, Amita , yang telah
menjadi seniman terkenal di daerah, yang lukisan-lukisannya telah dipamerkan di
galeri-galeri di kota, yang namanya telah dikenal oleh para kolektor seni,
tetapi yang tetap rendah hati dan tidak pernah melupakan desa kelahirannya, kembali
ke desa untuk mengadakan pameran seni. Pameran yang mengangkat tema tentang
alam, tentang leluhur, tentang keseimbangan, tentang perjalanan desa ini dari
masa lalu hingga masa kini. Raka ditugaskan untuk mengurus konsumsi acara. Ia
bertanggung jawab menyediakan makanan untuk para tamu yang akan hadir, untuk
para seniman yang akan memamerkan karyanya, untuk para kritikus yang akan
menilai, untuk para kolektor yang akan membeli.
Mereka bekerja sama selama beberapa minggu, berjam-jam
setiap hari, dari pagi hingga malam, dari persiapan hingga pelaksanaan, dari
pemasangan tenda hingga pembersihan setelah acara. Dan dalam proses itu, dalam
kebersamaan itu, dalam obrolan-obrolan ringan di sela-sela pekerjaan, dalam
tawa-tawa kecil yang mereka bagikan, dalam perhatian-perhatian kecil yang
mereka berikan, Raka menemukan sesuatu yang tidak pernah ia temukan pada
perempuan lain. Amita berbeda. Amita tidak tergila-gila dengan kesuksesan Raka,
tidak terpesona oleh popularitasnya, tidak tertarik pada uang atau harta yang
ia miliki. Yang ia hargai dari Raka adalah kebaikan hatinya, kesetiaannya pada
teman-teman, kemampuannya untuk membuat orang tertawa bahkan di saat-saat
paling sulit, ketulusannya dalam membantu orang lain tanpa pamrih, kerendahan
hatinya meskipun ia telah sukses.
"Kau tahu, Ra," kata Amita suatu malam setelah
pameran selesai, ketika mereka sedang duduk di teras balai desa, menikmati teh
jahe yang diseduh oleh Bu Yuni, menikmati malam yang tenang setelah hari yang
melelahkan, menikmati bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit. "Aku
sudah lama memperhatikanmu. Bukan sekarang, tapi sejak kita masih remaja. Sejak
kita pertama kali masuk ke Hutan Larangan bersama, sejak kita menghadapi
makhluk-makhluk itu, sejak kita hampir mati bersama. Waktu itu, ketika semua
orang takut, ketika Guntur pingsan, ketika Hermansyah gemetar, ketika Amat
fokus pada ritual, ketika Camelia menangis, kau masih bisa tertawa. Bahkan
ketika kau terkena serangan makhluk itu, ketika kau jatuh, ketika kau hampir
mati, kau masih bisa bercanda. Aku pikir, orang yang bisa tertawa dalam situasi
seperti itu adalah orang yang luar biasa. Orang yang tidak takut mati. Orang
yang tidak takut pada apa pun. Orang yang memiliki hati yang sangat
besar."
Raka tersenyum, tersenyum malu, tersenyum yang jarang ia
tunjukkan. "Atau orang yang kurang waras, Amita. Orang yang terlalu banyak
makan pecel sehingga otaknya tidak berfungsi normal. Orang yang terlalu banyak
bercanda sehingga tidak bisa serius meskipun dalam bahaya. Orang yang..."
"Atau orang yang luar biasa," potong Amita,
suaranya tegas, matanya menatap Raka dengan tatapan yang tidak pernah ia
tunjukkan sebelumnya. "Aku suka itu, Ra. Aku suka caramu tertawa di saat
yang paling sulit. Aku suka caramu membuat orang lain merasa tenang meskipun
kau sendiri takut. Aku suka caramu mengingatkan kami bahwa hidup ini tidak
selalu harus serius. Aku suka... aku suka kamu, Ra. Sudah lama. Sejak kita
masih remaja. Sejak pertama kali aku melihatmu tertawa di Hutan Larangan. Tapi
aku tidak pernah punya keberanian untuk mengatakannya. Aku takut. Aku takut kau
tidak merasakan hal yang sama. Aku takut persahabatan kita akan rusak. Aku
takut kehilanganmu. Sekarang, setelah bertahun-tahun, setelah kita dewasa,
setelah kita melewati banyak hal bersama, aku merasa tidak ada gunanya
menyembunyikan lagi. Aku tidak ingin mati dengan penyesalan. Aku tidak ingin
tua dengan rasa penasaran. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan karena takut."
Raka terdiam. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Amita,
perempuan yang selama ini ia kagumi karena bakat seninya, karena kecantikannya,
karena ketenangannya, karena kecerdasannya, ternyata memiliki perasaan padanya.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa perempuan yang telah menjadi seniman
terkenal, yang karyanya dipuji oleh para kritikus, yang lukisannya dibeli oleh
kolektor dari berbagai kota, ternyata selama bertahun-tahun memendam perasaan
untuk seorang penjual pecel desa.
"Amita, aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku
bukan orang yang pandai bicara kayak Amat. Aku bukan orang yang pintar kayak
Camelia. Aku bukan orang yang berani kayak Guntur. Aku bukan orang yang tekun
kayak Hermansyah. Aku hanya... aku hanya Raka. Anak pecel. Penjual pecel. Orang
yang bisa membuat orang tertawa. Itu saja. Tidak lebih. Aku tidak punya bakat
seni kayak kamu. Aku tidak punya pengetahuan kayak Camelia. Aku tidak punya
keberanian kayak Guntur. Aku tidak punya..."
"Kau hanya Raka. Dan itu sudah cukup," potong
Amita, suaranya lembut, suaranya penuh keyakinan, suaranya seperti pelukan yang
hangat. "Aku tidak butuh orang yang pandai bicara. Aku tidak butuh orang
yang pintar. Aku tidak butuh orang yang berani. Aku tidak butuh orang yang
tekun. Aku butuh orang yang bisa membuatku tertawa. Aku butuh orang yang baik
hati. Aku butuh orang yang setia. Aku butuh orang yang tidak pernah berubah
meskipun sukses. Aku butuh orang yang tidak lupa dari mana ia berasal. Aku
butuh orang yang... aku butuh kamu, Ra. Hanya kamu. Sejak dulu. Dan sampai
sekarang. Dan mungkin selamanya."
Mereka menikah setahun kemudian. Pesta pernikahan mereka
adalah yang paling meriah dalam sejarah desa, bukan karena kemewahannya, bukan
karena dekorasinya yang megah, bukan karena tamu-tamu penting yang hadir. Tetapi
karena Raka bersikeras bahwa semua warga desa diundang, semua tanpa kecuali,
dari yang tua hingga yang muda, dari yang kaya hingga yang miskin, dari yang
dekat hingga yang jauh. Dan semua makanan disediakan gratis, pecel dalam jumlah
yang tidak pernah ada sebelumnya, tumpeng yang disusun setinggi mungkin,
lauk-pauk yang berlimpah, jajanan pasar yang menggoda.
"Ini kesempatan untuk membalas budi," kata Raka,
berdiri di depan balai desa dengan setelan jas yang pas, dengan senyum yang
lebar, dengan suara yang lantang. "Selama ini warga desa sudah membeli
pecelku. Mereka sudah mendukungku, sudah membuatku sukses. Sekarang giliranku
mentraktir mereka. Sekarang giliranku berterima kasih. Sekarang giliranku
berbagi kebahagiaan. Ini bukan pesta pernikahan saya dan Amita. Ini pesta untuk
seluruh desa. Untuk semua yang telah menjadi bagian dari perjalanan kami."
Pak Gareng dan Bu Yati menangis haru. Mereka duduk di kursi
kehormatan, dengan pakaian terbaik yang mereka miliki, dengan senyum yang tidak
bisa disembunyikan, dengan air mata yang mengalir deras. Anak mereka yang dulu
hanya dikenal sebagai anak yang lucu dan cerewet, yang nilai-nilainya selalu
pas-pasan di sekolah, yang lebih dikenal karena kemampuannya membuat orang
tertawa daripada karena kepintarannya, kini telah menjadi pria dewasa yang
bertanggung jawab, yang dicintai banyak orang, yang tidak pernah lupa dari mana
ia berasal. Ia bukan penjaga desa seperti Amat, bukan pemimpin seperti Pak
Arjuna, bukan intelektual seperti Camelia. Ia hanya Raka. Penjual pecel.
Penghibur. Sahabat. Dan itu sudah cukup. Lebih dari cukup.
BAB 44: Rahasia yang Dijaga dalam Diam
Meskipun desa telah damai dan sejahtera, meskipun
sawah-sawah menghijau di musim tanam dan menguning di musim panen, meskipun
sungai-sungai mengalir jernih membawa kehidupan ke seluruh penjuru, meskipun
hutan larangan kini menjadi kawasan konservasi yang dijaga dengan penuh hormat,
meskipun anak-anak desa tertawa riang bermain di halaman sekolah yang baru
direnovasi, meskipun generasi muda mulai bermunculan dengan mimpi-mimpi yang
lebih besar dari desa ini, Amat menyimpan satu rahasia yang tidak pernah ia
ceritakan kepada siapa pun, kecuali Camelia. Rahasia yang ia pendam dalam-dalam
di hatinya selama tiga puluh tahun, rahasia yang menjadi beban yang tidak
pernah ia bagikan, rahasia tentang apa yang sebenarnya terjadi di Hutan
Larangan malam itu, tentang pengorbanan yang seharusnya ia lakukan tetapi tidak
ia lakukan, tentang liontin batu biru yang masih ia kenakan di lehernya, yang
masih berdenyut pelan setiap malam ketika ia sendirian.
Mbah Ratih, sebelum meninggal, ketika tubuhnya sudah tidak
bisa bangun dari tempat tidur, ketika suaranya hanya berupa bisikan yang nyaris
tidak terdengar, ketika matanya yang dulu tajam kini redup seperti api yang
hampir padam, telah memberitahunya bahwa ritual yang ia lakukan hanya bersifat
sementara. Ritual yang membutuhkan pengorbanan Raka, ritual yang memicu
kekuatan persahabatan, ritual yang membuat cahaya biru meledak dari tubuhnya
dan mengurung makhluk itu kembali ke dalam tanah, hanya bersifat sementara.
Segel yang diperkuat dengan kekuatan itu akan bertahan selama masa hidupnya,
selama ia masih hidup, selama darah penjaga masih mengalir di tubuhnya. Tetapi
setelah ia meninggal, setelah jantungnya berhenti berdetak, setelah napasnya
tidak lagi keluar dari paru-parunya, segel itu akan melemah lagi. Perlahan,
pasti, tidak bisa dihindari. Dan makhluk di dalamnya akan bangkit kembali,
lebih kuat dari sebelumnya, lebih marah dari sebelumnya, lebih haus akan balas
dendam dari sebelumnya.
"Ada satu cara untuk membuat segel itu permanen,"
kata Mbah Ratih waktu itu, suaranya lemah, suaranya seperti angin yang berdesir
di antara dedaunan kering, suaranya seperti bisikan dari alam lain. Ia
menggenggam tangan Amat dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya, merasakan
dingin yang merambat dari ujung jari ke telapak tangan, dari telapak tangan ke
pergelangan, dari pergelangan ke lengan. "Tapi caranya... sangat berat.
Sangat berat sehingga tidak ada penjaga sebelumnya yang berani melakukannya.
Sangat berat sehingga rahasia ini dijaga dalam diam selama tiga ratus tahun.
Sangat berat sehingga aku tidak pernah membicarakannya dengan siapa pun, bahkan
dengan Mbah Karta atau Mbah Jayeng."
Amat yang duduk di sisi tempat tidur Mbah Ratih, dengan
tubuh yang masih muda, dengan mata yang masih biru, dengan hati yang masih
penuh semangat, bertanya dengan suara yang penuh rasa ingin tahu, dengan suara
yang tidak tahu apa yang akan ia hadapi. "Apa caranya, Mbah? Apa yang
harus aku lakukan? Apa yang harus aku korbankan?"
Mbah Ratih menghela napas panjang, napas yang keluar dari
paru-paru yang sudah kering, napas yang membawa beban yang telah ia pendam
selama delapan puluh tahun. "Kau harus mengorbankan liontin itu. Batu biru
yang kau kenakan di lehermu, yang menjadi sumber kekuatanmu, yang menjadi kunci
segel utama, yang menjadi penghubung antara kau dan leluhur. Kau harus
mengembalikannya ke pusat segel, ke tempat asalnya, ke tempat di mana ia berada
tiga ratus tahun yang lalu. Di sana, di tengah Hutan Larangan, di reruntuhan
gerbang batu, kau harus meletakkannya di tempat yang paling dalam, di mana
energi paling kuat, di mana segel itu pertama kali dipasang oleh leluhur.
Dengan begitu, segel akan menjadi utuh selamanya. Batu itu akan menyatu dengan
tanah, menyatu dengan energi, menyatu dengan segel. Tidak ada yang bisa
memisahkannya lagi. Tidak ada yang bisa merusaknya lagi. Makhluk itu akan
terkurung selamanya."
Amat memegang liontin di lehernya, merasakan hangatnya batu
biru yang selalu ia kenakan sejak kecil, yang menjadi simbol bahwa ia adalah
penjaga, yang menjadi sumber kekuatannya, yang menjadi temannya di saat-saat
paling gelap. "Lalu apa yang akan terjadi padaku tanpa batu ini? Apa yang
akan terjadi pada kekuatanku? Apa yang akan terjadi pada mataku yang biru? Apa
yang akan terjadi pada kemampuanku melihat hal-hal yang tidak terlihat? Apa
yang akan terjadi pada..."
"Kekuatanmu akan hilang, Nak. Tidak berkurang, tetapi
hilang. Matamu yang biru akan berubah warna, mungkin menjadi coklat seperti
mata manusia biasa. Kemampuanmu melihat hal-hal yang tidak terlihat akan sirna.
Kau tidak akan bisa lagi mendengar suara Kyai Beringin, tidak akan bisa lagi
merasakan kehadiran penjaga air, tidak akan bisa lagi berkomunikasi dengan
leluhur. Kau akan menjadi manusia biasa. Seperti orang lain. Seperti Raka.
Seperti Camelia. Seperti semua warga desa ini."
Amat merasakan hawa dingin menjalari punggungnya, hawa
dingin yang tidak berasal dari udara kamar yang hangat, tetapi dari dalam
hatinya. "Lalu kenapa Mbah tidak bilang dari dulu? Kenapa Mbah tidak
memberitahuku sebelum ritual? Kenapa Mbah tidak..."
"Karena kau belum siap, Nak. Karena kau masih muda.
Karena desa ini masih membutuhkan penjaga. Karena masih banyak yang harus kau
lakukan. Karena masih banyak yang harus kau ajarkan. Karena masih banyak yang
harus kau persiapkan. Tapi suatu hari nanti, ketika desa sudah kuat, ketika
generasi penerus sudah siap, ketika kau merasa bahwa tugasmu sudah selesai, kau
harus melakukannya. Itu adalah tugas terakhirmu sebagai penjaga. Itu adalah
pengorbanan terakhirmu untuk desa ini. Itu adalah hadiah terakhirmu untuk anak
cucu yang akan datang."
Amat menyimpan rahasia itu selama bertahun-tahun. Tiga
puluh tahun. Setengah dari hidupnya. Ia tidak memberitahu Raka, karena ia tahu
sahabatnya akan khawatir, karena ia tahu Raka akan menawarkan diri untuk
membantu, karena ia tahu Raka tidak akan membiarkannya mengorbankan diri
sendirian. Ia tidak memberitahu Awan, karena anaknya masih terlalu kecil untuk
memahami, karena ia tidak ingin membebani anaknya dengan tanggung jawab yang
belum tentu ia inginkan, karena ia ingin Awan tumbuh sebagai anak biasa, bebas
dari beban yang selama ini ia pikul. Ia tidak memberitahu siapa pun, kecuali
Camelia. Hanya Camelia yang tahu. Hanya Camelia yang menjadi tempatnya berbagi
beban. Hanya Camelia yang setia mendampinginya dalam diam. Hanya Camelia yang
tidak pernah memintanya untuk mengambil keputusan cepat, tetapi selalu siap
menerima apa pun yang akan terjadi.
"Suatu hari nanti, ketika waktunya tiba, aku akan
melakukannya," kata Amat kepada Camelia suatu malam, ketika mereka duduk
di beranda rumah, ketika bulan purnama bersinar terang di langit, ketika kabut
tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit. "Aku akan pergi ke Hutan
Larangan. Aku akan meletakkan liontin ini di pusat segel. Aku akan kehilangan
semua yang membuatku menjadi diriku yang sekarang. Tapi desa ini akan aman.
Untuk selamanya."
Camelia menggenggam tangannya, merasakan hangat yang masih
tersisa, merasakan tekad yang tidak bisa digoyahkan. "Aku akan menemanimu,
Mat. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Seperti dulu. Seperti yang
selalu kita lakukan."
Kini, ketika usianya menginjak enam puluh tahun, ketika
rambutnya yang dulu hitam legam kini telah memutih seluruhnya, ketika wajahnya
yang dulu muda dan segar kini dipenuhi oleh kerutan-kerutan yang terbentuk oleh
senyum dan kekhawatiran, ketika langkahnya yang dulu mantap dan tegap kini
mulai melambat, ketika napasnya yang dulu panjang dan dalam kini mulai pendek, Amat
merasakan bahwa waktunya semakin dekat. Tubuhnya mulai melemah. Kesehatannya
menurun. Dokter yang memeriksanya di puskesmas mengatakan bahwa ia menderita
penyakit jantung yang serius, bahwa pembuluh-pembuluh darahnya mulai menyempit,
bahwa aliran darah ke jantungnya mulai terganggu, bahwa ia harus istirahat
total, bahwa ia tidak boleh bekerja terlalu keras, bahwa ia tidak boleh stres,
bahwa ia harus menjaga pola makan, bahwa ia harus rutin berobat.
Tapi Amat tidak bisa istirahat total. Masih ada yang harus
ia lakukan. Masih ada amanah yang harus ia tunaikan. Masih ada rahasia yang
harus ia selesaikan. Masih ada pengorbanan yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa
menunda lagi. Ia tidak bisa mengabaikan lagi. Ia tidak bisa berpura-pura bahwa
waktu tidak akan pernah habis.
Suatu malam, ketika bulan purnama bersinar sangat terang di
langit Awan Biru, ketika kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng
bukit, ketika desa mulai sunyi dan lampu-lampu di rumah-rumah warga mulai padam
satu per satu, ketika Camelia sudah tertidur pulas di sampingnya, dengan napas
yang teratur, dengan wajah yang tenang, dengan tangan yang masih menggenggam
tangannya meskipun dalam tidur, Amat bangun. Ia melepaskan genggaman Camelia
dengan perlahan, dengan hati-hati, tidak ingin membangunkan istrinya yang telah
lelah. Ia bangkit dari tempat tidur, merasakan dadanya yang sedikit sesak,
merasakan kakinya yang sedikit gemetar, merasakan tubuhnya yang tidak sekokoh
dulu. Ia berjalan ke luar rumah, melewati pintu kayu yang berdecit pelan,
melewati halaman yang ditanami bunga-bunga, melewati pagar tanaman kaca piring
yang sudah tinggi dan rimbun.
Bulan purnama bersinar terang, menerangi desa dengan cahaya
keperakan yang lembut, membuat segalanya tampak seperti lukisan yang indah.
Sawah-sawah yang terbentang hijau bergelombang pelan ditiup angin, seperti
lautan yang tenang di bawah cahaya bulan. Sungai kecil yang berkelok-kelok
memantulkan cahaya bintang, seperti pita perak yang diletakkan di atas hamparan
beludru hitam. Rumah-rumah warga yang gelap, hanya beberapa titik lampu yang
masih menyala di sana-sini, seperti kunang-kunang yang berkedip di malam hari.
Dan di kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak di tengah desa, dengan
kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan penjaganya
yang setia menunggu.
Amat berjalan menuju pohon beringin tua, melewati jalan
setapak yang sudah ia lalui ribuan kali sejak kecil, melewati tempat-tempat
yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Kakinya yang mulai lemah terasa
berat, tetapi ia tetap melangkah. Napasnya yang mulai pendek terasa sesak,
tetapi ia tetap berjalan. Dadanya yang mulai sakit terasa menusuk, tetapi ia
tetap maju. Ia harus sampai ke pohon beringin. Ia harus bertemu dengan Kyai
Beringin. Ia harus mendengar suaranya sekali lagi. Ia harus memastikan bahwa
apa yang ia putuskan adalah benar.
Di bawah pohon beringin tua, Kyai Beringin telah menunggu.
Sosok penjaga utama desa itu berdiri di antara akar-akar besar yang menjalar,
dengan jubah hitamnya yang berkibar-kibar ditiup angin malam yang tidak terasa,
dengan matanya yang teduh dan penuh kebijaksanaan, dengan senyum yang hangat
dan penuh kasih sayang. Ia tidak lagi setinggi dulu, tidak lagi sekokoh dulu,
tidak lagi sejelas dulu. Tiga puluh tahun menjaga segel yang melemah, tiga
puluh tahun menahan makhluk yang meronta, tiga puluh tahun mengorbankan
kekuatannya untuk desa ini, telah membuatnya semakin tua, semakin lemah,
semakin transparan. Seperti bayangan yang akan sirna ketika matahari terbit.
Seperti kabut yang akan lenyap ketika angin bertiup. Seperti mimpi yang akan
hilang ketika bangun tidur.
Kau sudah tahu, penjaga? suara
Kyai Beringin terdengar lembut, penuh kasih sayang, seperti suara seorang kakek
yang berbicara kepada cucunya, seperti suara seorang guru yang memberikan
nasihat terakhir kepada muridnya. Kau sudah merasakannya? Kau sudah
mendengar bisikan dari dalam hatimu? Kau sudah tahu bahwa waktunya sudah dekat?
Amat berdiri di hadapan Kyai Beringin, di tempat yang sama
di mana ia berdiri ketika ia masih kecil, di tempat yang sama di mana ia
pertama kali melihat penjaga utama desa ini, di tempat yang sama di mana ia
menyalurkan cahaya biru dari tangannya untuk mengusir kegelapan. Tubuhnya yang
sekarang tua dan lemah, tidak lagi sekokoh dulu, tidak lagi setegap dulu, tidak
lagi sekuat dulu. Tapi matanya yang biru masih sama. Biru pucat seperti langit
Awan Biru di pagi hari. Biru yang tidak berubah meskipun tiga puluh tahun telah
berlalu. Biru yang menjadi saksi dari perjalanan panjangnya.
"Aku tahu, Kyai. Aku merasakannya. Aku mendengarnya.
Waktunya sudah dekat. Sudah tiba. Aku tidak bisa menunda lagi. Aku tidak bisa
mengabaikan lagi. Aku harus menyelesaikan apa yang belum selesai. Aku harus
menunaikan amanah yang telah diwariskan oleh leluhur. Aku harus mengembalikan
liontin ini ke tempat asalnya. Aku harus membuat segel ini menjadi utuh
selamanya."
Kau tidak takut, penjaga? suara
Kyai Beringin lembut, penuh kasih sayang, seperti suara yang menenangkan anak
yang ketakutan. Kau tidak takut kehilangan semua yang membuatmu menjadi
dirimu yang sekarang? Kau tidak takut menjadi manusia biasa? Kau tidak takut
tidak bisa lagi melihatku, tidak bisa lagi mendengar suara penjaga air, tidak
bisa lagi merasakan getaran dari dalam tanah? Kau tidak takut kehilangan
identitasmu?
Amat tersenyum, senyum yang tenang, senyum yang tidak
menunjukkan rasa takut, senyum yang menunjukkan bahwa ia telah mempersiapkan
diri, bahwa ia telah menerima takdirnya, bahwa ia siap untuk apa pun yang akan
terjadi. "Takut? Tidak, Kyai. Aku tidak takut. Aku hanya... khawatir.
Khawatir tentang desa ini. Tentang Camelia. Tentang Awan. Tentang Raka. Tentang
semua yang akan kutinggalkan. Tentang apakah mereka akan baik-baik saja setelah
aku pergi. Tentang apakah mereka akan mampu menjaga desa ini tanpa aku. Tentang
apakah mereka akan mengingat apa yang telah aku ajarkan."
Kau tidak akan meninggalkan mereka, penjaga. Kau tidak akan
pernah benar-benar meninggalkan mereka. Kau akan selalu ada. Dalam cerita yang
kau tinggalkan, yang akan diceritakan dari generasi ke generasi, yang akan
menjadi pengingat bahwa desa ini pernah memiliki penjaga yang berani dan
bijaksana. Dalam nilai-nilai yang kau ajarkan, tentang kejujuran, tentang
keberanian, tentang pengorbanan, tentang cinta, tentang persahabatan. Dalam
cinta yang kau tanamkan, yang akan tumbuh dan berkembang, yang akan mekar
seperti bunga di musim semi, yang akan berbuah seperti padi di musim panen.
Mereka akan merasakan kehadiranmu selamanya. Dalam setiap helai daun yang
bergoyang, dalam setiap tetes air yang mengalir, dalam setiap napas yang mereka
ambil.
"Apakah Awan akan mewarisi kekuatanku? Apakah ia akan
menjadi penjaga setelah aku pergi? Apakah ia akan meneruskan apa yang telah aku
mulai? Apakah ia akan menghadapi perjalanan yang sama seperti yang aku
alami?"
Kyai Beringin terdiam sejenak, menatap Amat dengan mata
yang teduh, mata yang telah melihat tiga ratus tahun sejarah desa ini, mata
yang telah menyaksikan lahir dan matinya generasi demi generasi. Itu
tergantung padanya. Darah penjaga mengalir dalam tubuhnya. Darah leluhur
mengalir dalam nadinya. Kekuatan itu ada dalam dirinya, tertidur, menunggu
untuk dibangunkan. Tapi kekuatan itu tidak akan aktif jika ia tidak memilih
untuk menerimanya. Ia bisa memilih menjadi manusia biasa, menjalani hidup yang
tenang, menikmati kebahagiaan yang sederhana, tanpa harus memikul beban yang
berat. Atau ia bisa memilih untuk menjadi seperti kau, untuk menerima takdir,
untuk menjadi penjaga desa ini, untuk melanjutkan apa yang telah kau mulai. Itu
adalah pilihannya. Bukan pilihanmu. Bukan pilihan siapa pun.
"Dan jika ia memilih untuk menjadi penjaga? Jika ia
memilih untuk menerima takdir ini? Jika ia memilih untuk melanjutkan apa yang
telah aku mulai?"
Kyai Beringin tersenyum, senyum yang hangat, senyum yang
penuh dengan kebijaksanaan, senyum yang mengatakan bahwa ia telah melihat
banyak penjaga lahir dan mati, bahwa ia telah menyaksikan siklus yang tidak
pernah berakhir. Maka ia akan menghadapi perjalanan yang sama seperti
yang kau alami. Mungkin lebih mudah, karena kau telah mempersiapkan desa ini.
Karena kau telah mengajarkan warga untuk menjaga keseimbangan. Karena kau telah
membangun fondasi yang kuat. Mungkin lebih sulit, karena makhluk-makhluk yang
akan ia hadapi mungkin lebih kuat, karena dunia akan berubah, karena tantangan
akan berbeda. Tapi ia tidak akan sendirian. Ia akan memiliki teman-teman, sama
seperti kau memiliki Raka dan Camelia. Ia akan memiliki orang-orang yang
percaya padanya, yang mendukungnya, yang mencintainya. Ia akan memiliki desa
yang akan melindunginya, sama seperti ia akan melindungi desa.
Amat menghela napas panjang, napas yang keluar dari dadanya
yang sesak, napas yang melepaskan beban yang telah ia pikul selama tiga puluh
tahun. "Aku hanya ingin yang terbaik untuknya, Kyai. Aku hanya ingin ia bahagia.
Aku hanya ingin ia tidak terbebani oleh takdir yang tidak ia minta. Aku hanya
ingin ia bebas memilih jalannya sendiri."
Itu yang selalu diinginkan orang tua untuk anaknya,
penjaga. Itu yang selalu diimpikan oleh setiap ayah dan ibu. Tapi ingat, penjaga,
yang terbaik tidak selalu yang paling mudah. Yang terbaik tidak selalu yang
paling nyaman. Yang terbaik tidak selalu yang paling aman. Terkadang, yang
terbaik adalah membiarkan mereka memilih jalannya sendiri. Terkadang, yang
terbaik adalah membiarkan mereka membuat kesalahan sendiri. Terkadang, yang
terbaik adalah membiarkan mereka belajar dari pengalaman sendiri. Terkadang,
yang terbaik adalah melepaskan, bukan menggenggam. Terkadang, yang terbaik
adalah percaya, bukan mengendalikan.
Amat menunduk, merasakan kebenaran dalam kata-kata Kyai
Beringin. "Aku akan mengembalikan liontin ini, Kyai. Aku akan pergi ke
Hutan Larangan. Aku akan meletakkannya di pusat segel. Aku akan menyelesaikan
apa yang belum selesai. Tapi aku ingin meminta satu hal."
Apa yang kau inginkan, penjaga?
"Jagalah mereka, Kyai. Jagalah desa ini. Jagalah
Camelia, istriku. Jagalah Awan, anakku. Jagalah Raka, sahabatku. Jagalah semua
yang telah menjadi bagian dari hidupku. Jagalah mereka setelah aku pergi.
Jagalah mereka ketika aku tidak lagi bisa menjaganya."
Kyai Beringin tersenyum, senyum yang hangat, senyum yang
penuh dengan janji, senyum yang mengatakan bahwa ia tidak akan pernah
meninggalkan desa ini. Aku akan menjaga mereka, penjaga. Aku akan
menjaga desa ini. Selama aku masih ada, selama aku masih memiliki kekuatan,
selama aku masih bisa berdiri di bawah pohon ini, aku akan menjaga mereka. Itu
adalah janjiku. Itu adalah sumpahku. Itu adalah tugas yang telah aku emban
sejak tiga ratus tahun yang lalu, dan akan aku emban selama aku masih ada.
Amat mengangguk, merasakan kelegaan yang tidak bisa ia
ungkapkan dengan kata-kata. Ia menatap langit malam yang berbintang, menatap
bulan purnama yang bersinar terang, menatap kabut tipis yang mulai merayap
turun dari lereng-lereng bukit. Ia merasakan angin malam yang dingin membelai
wajahnya, merasakan tanah di bawah kakinya yang kokoh, merasakan kehidupan yang
masih mengalir di tubuhnya.
Di kejauhan, dari arah rumahnya, ia melihat secercah
cahaya. Camelia telah bangun. Camelia telah menyadari bahwa ia tidak ada di
sampingnya. Camelia berdiri di ambang pintu, dengan lampu minyak di tangan,
dengan wajah yang penuh kekhawatiran, dengan mata yang mencari-cari. Amat
tersenyum. Ia melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja,
bahwa ia hanya berjalan-jalan, bahwa ia akan segera kembali.
Camelia tidak bertanya. Ia hanya berdiri di ambang pintu,
menunggu, dengan lampu minyak yang masih menyala, dengan senyum yang tipis,
dengan hati yang penuh dengan cinta. Ia sudah tahu. Ia sudah merasakan. Ia
sudah mendengar bisikan dari dalam hatinya. Ia tahu bahwa waktunya sudah dekat.
Ia tahu bahwa suaminya akan segera pergi. Ia tahu bahwa ia harus ikhlas. Tapi
untuk malam ini, untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati kebersamaan yang
masih tersisa. Untuk malam ini, untuk saat ini, ia hanya ingin memandang
suaminya yang berdiri di bawah pohon beringin, dengan cahaya bulan yang
menyinari wajahnya, dengan senyum yang tenang, dengan hati yang damai.
Amat berjalan kembali menuju rumahnya, meninggalkan pohon beringin,
meninggalkan Kyai Beringin, meninggalkan rahasia yang telah ia pendam selama
tiga puluh tahun. Langkahnya terasa lebih ringan, dadanya terasa lebih lega,
hatinya terasa lebih damai. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tahu kapan
harus ia lakukan. Ia tahu bahwa ia tidak akan sendirian. Ia tahu bahwa Camelia
akan ada di sampingnya. Ia tahu bahwa Kyai Beringin akan menjaganya. Ia tahu
bahwa leluhur akan menerimanya.
Ketika ia tiba di depan rumah, Camelia masih berdiri di
ambang pintu, dengan lampu minyak di tangan, dengan senyum di wajah, dengan air
mata yang tidak bisa ia sembunyikan. "Aku tahu, Mat," katanya,
suaranya lembut, suaranya penuh dengan pengertian. "Aku tahu apa yang akan
kau lakukan. Aku tahu kapan kau akan melakukannya. Aku tahu bahwa kau tidak
bisa menunda lagi. Aku tahu bahwa ini adalah tugas terakhirmu. Dan aku tahu
bahwa aku tidak bisa menghentikanmu. Tapi aku akan menemanimu, Mat. Aku tidak
akan membiarkanmu pergi sendirian. Seperti dulu. Seperti yang selalu kita
lakukan."
Amat memeluk Camelia, merasakan kehangatan yang sama
seperti yang ia rasakan tiga puluh tahun yang lalu, ketika mereka masih muda,
ketika mereka masih penuh mimpi, ketika mereka berjanji untuk menjaga desa ini
bersama. "Aku tahu, Mel. Aku tahu. Dan aku bersyukur memilikimu. Aku
bersyukur bahwa kau selalu ada di sampingku. Aku bersyukur bahwa kau tidak
pernah meninggalkanku. Aku bersyukur bahwa kau mencintaiku. Untuk itu, aku akan
mengorbankan apa pun. Untuk itu, aku akan melakukan apa pun. Untuk itu, aku
akan memberikan segalanya."
Di kejauhan, pohon beringin tua bergoyang pelan,
daun-daunnya bergemerisik, seolah-olah ikut merasakan, ikut menyaksikan, ikut
menjadi saksi dari cinta yang tidak pernah pudar. Kyai Beringin berdiri di
bawah pohon itu, tersenyum, senyum yang hangat, senyum yang penuh dengan
kebahagiaan, senyum yang mengatakan bahwa ia bangga, bahwa ia tidak salah
memilih, bahwa desa ini akan aman di tangan generasi yang akan datang. Dan di
langit, bulan purnama bersinar terang, memberikan cahaya peraknya yang lembut
ke seluruh desa, ke desa yang telah dijaga selama tiga ratus tahun, ke desa yang
akan terus dijaga, selamanya.
BAB 45: Raka dan Tawa yang Menjadi Kenangan
Di usia yang sama dengan Amat, di usia yang telah melewati
setengah abad perjalanan hidup, di usia ketika tubuh mulai berbicara tentang
keterbatasannya, Raka juga mulai merasakan penurunan kesehatan. Tubuhnya yang
dulu tambun dan berisi, yang menjadi ciri khasnya sejak kecil, yang menjadi
sumber tawa karena gerakannya yang lucu dan lambat, kini kurus. Kurus seperti
orang yang tidak pernah cukup makan, kurus seperti orang yang sedang menderita
sakit berkepanjangan, kurus seperti bayangan dari dirinya yang dulu. Penyakit
diabetes yang dideritanya selama bertahun-tahun, yang awalnya hanya berupa
kadar gula darah yang sedikit tinggi, yang kemudian berkembang menjadi penyakit
yang memerlukan perhatian serius, kini telah menggerogoti tubuhnya. Kakinya
sering kesemutan, matanya mulai kabur, lukanya sulit sembuh, dan energinya
cepat habis.
Ia sudah tidak bisa lagi mengelola warung pecel sendirian.
Sudah tidak bisa lagi bangun pagi untuk mengulek bumbu, menggoreng kerupuk,
memotong sayur, seperti yang ia lakukan sejak masih muda. Sudah tidak bisa lagi
melayani pelanggan yang membludak setiap hari, dengan senyum dan tawa yang
menjadi ciri khasnya. Ia menyerahkan pengelolaannya kepada anaknya,
satu-satunya anak laki-laki yang telah belajar resep turun-temurun dari kakeknya,
yang telah dilatih sejak kecil untuk menjaga kualitas rasa, yang telah
diwariskan filosofi bahwa pecel bukan sekadar makanan, tetapi warisan yang
harus dijaga dengan segenap jiwa dan raga. Anak itu, yang diberi nama Kinan, diambil
dari nama Kinanti, putri Mas Bambang dan Enjelin, sebagai tanda persahabatan
yang tidak pernah pudar, kini telah dewasa, telah menikah, telah memiliki anak,
dan telah siap meneruskan warisan keluarga.
Namun meskipun tubuhnya lemah, meskipun langkahnya sudah
tidak sekokoh dulu, meskipun matanya sudah tidak setajam dulu, semangatnya
tidak pernah padam. Ia tidak pernah mengeluh tentang penyakitnya, tidak pernah
meratapi nasibnya, tidak pernah meminta belas kasihan. Ia masih sering
mengunjungi Amat dan Camelia, dengan langkah yang tertatih-tatih, dengan napas
yang tersengal-sengal, dengan senyum yang tetap merekah di wajahnya yang kini
sudah keriput. Ia selalu membawa pecel buatan anaknya, yang dibungkus dengan
daun pisang, yang masih hangat ketika disantap, yang katanya "hampir seenak
buatan Bapak". Ia duduk di beranda rumah Amat, di kursi bambu yang sama
yang telah digunakan sejak mereka masih kecil, dan menikmati pecel bersama
sahabat-sahabatnya, seperti yang selalu mereka lakukan sejak dulu.
"Rasanya masih kurang satu," kata Raka sambil
menyantap pecel di beranda rumah Amat, dengan tangan yang sedikit gemetar
karena penyakitnya, dengan suara yang sedikit serak karena usianya, tetapi
dengan senyum yang tidak pernah berubah. Ia mengunyah perlahan, menikmati
setiap rasa yang ada di lidahnya, mencoba menebak apa yang kurang, apa yang
berbeda, apa yang membuat pecel ini tidak sama dengan pecel yang dulu ia buat.
"Bumbunya sudah pas. Kacangnya sudah gurih. Kencur-nya sudah wangi. Gula
merah-nya sudah manis. Cabai-nya sudah pedas. Tapi masih ada yang kurang.
Sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan bahan-bahan yang
sama. Sesuatu yang mungkin hanya bisa diberikan oleh waktu dan
pengalaman."
"Kamu terlalu keras pada anakmu, Ra," kata
Camelia, yang duduk di samping Amat, dengan teh jahe hangat di tangannya,
dengan senyum yang lembut, dengan mata yang penuh kasih sayang. "Dia sudah
berusaha. Dia sudah belajar. Dia sudah berlatih. Dia sudah melakukan yang
terbaik. Kau tidak bisa mengharapkan dia langsung bisa seperti kau. Kau juga
dulu tidak langsung bisa. Kau juga butuh waktu. Kau juga butuh latihan. Kau
juga butuh pengalaman. Beri dia kesempatan. Beri dia waktu. Biarkan dia
menemukan jalannya sendiri. Seperti dulu kau menemukan jalanmu."
"Aku tahu, Mel. Aku tahu. Tapi pecel itu bukan sekadar
makanan. Pecel itu bukan sekadar campuran bumbu dan sayur. Pecel itu adalah
warisan. Resepnya sudah turun-temurun sejak Mbah Kinah, nenek buyutku. Resep
yang dijaga dengan ketat, yang tidak pernah berubah, yang tidak boleh berubah.
Rasa itu harus sama persis. Harus sama persis dari generasi ke generasi. Harus
sama persis seperti yang dirasakan oleh Mbah Kinah, oleh kakekku, oleh bapakku,
oleh aku. Kalau berubah, itu bukan pecel Awan Biru lagi. Itu pecel lain. Itu
pecel yang tidak punya cerita. Itu pecel yang tidak punya jiwa."
Amat tersenyum mendengar filosofi Raka tentang pecel.
Senyum yang sama yang selalu ia tunjukkan ketika mendengar sahabatnya berbicara
tentang hal-hal yang ia cintai. "Kamu dan aku sama, Rak. Kita sama-sama
menjaga warisan. Aku menjaga desa ini, warisan leluhur yang telah dijaga selama
tiga ratus tahun. Kamu menjaga pecel, warisan keluarga yang telah dijaga selama
berapa generasi. Kita sama-sama tidak ingin warisan itu berubah. Kita sama-sama
ingin rasa yang sama dirasakan oleh generasi yang akan datang. Kita sama-sama
ingin cerita yang sama diceritakan oleh anak cucu kita. Kita sama-sama ingin
jiwa yang sama tetap hidup dalam setiap helai daun, dalam setiap tetes
bumbu."
"Ya, bedanya kalau pecel salah rasa, orang cuma
kecewa. Mereka akan bilang, 'Pecel ini tidak seenak dulu. Pecel ini tidak
seperti yang dulu. Pecel ini tidak istimewa.' Lalu mereka pergi, mencari pecel
lain, melupakan pecel Awan Biru. Tapi kalau desa salah dijaga, kalau segel
rusak, kalau makhluk-makhluk itu bangkit, orang bisa mati. Orang bisa
kehilangan rumah. Orang bisa kehilangan segalanya. Itu lebih berat, Mat. Itu
jauh lebih berat."
"Keduanya sama penting, Rak. Keduanya sama-sama
warisan. Keduanya sama-sama harus dijaga. Keduanya sama-sama memiliki cerita.
Keduanya sama-sama memiliki jiwa. Tanpa pecel, desa ini kehilangan satu
identitas. Tanpa desa, pecel kehilangan rumahnya. Kita saling membutuhkan. Kita
adalah satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan. Seperti kita bertiga. Seperti kita
dan desa ini. Seperti kita dan leluhur."
Raka mengangguk, merasakan kebenaran dalam kata-kata Amat.
Ia menatap pecel di hadapannya, menatap sayur-sayuran yang masih segar, menatap
bumbu kacang yang masih mengilap, menatap kerupuk yang masih renyah. Ia
tersenyum. "Kau benar, Mat. Kau selalu benar. Mungkin aku terlalu keras
pada anakku. Mungkin aku terlalu memaksakan kehendakku. Mungkin aku terlalu
ingin dia menjadi seperti aku, tanpa memberinya kesempatan untuk menjadi
dirinya sendiri. Tapi aku hanya takut, Mat. Aku takut warisan ini hilang. Aku
takut rasa ini berubah. Aku takut cerita ini dilupakan. Aku takut tidak ada
yang meneruskan setelah aku pergi."
"Warisan tidak akan hilang, Rak. Warisan tidak akan
berubah. Warisan tidak akan dilupakan. Selama masih ada yang mencintainya,
selama masih ada yang merawatnya, selama masih ada yang menceritakannya. Anakmu
mencintai pecel. Anakmu merawat resep ini. Anakmu akan menceritakan kisah ini
kepada anak-anaknya. Dan anak-anaknya akan menceritakannya kepada anak-anak
mereka. Itu sudah cukup. Itu lebih dari cukup."
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan
cahayanya berubah menjadi jingga keemasan, ketika kabut tipis mulai merayap
turun dari lereng-lereng bukit, ketika langit Awan Biru memperlihatkan warna
birunya yang paling indah, mereka bertiga, Amat, Raka, dan Camelia, duduk di
Bukit Pangasih. Tempat yang sama di mana mereka berjanji tiga puluh tahun yang
lalu, tempat yang sama di mana tiga kepalan kecil menyatu di bawah langit malam
yang berbintang, tempat yang sama di mana mereka berjanji untuk menjaga desa
ini bersama. Kaki mereka sudah tidak sekokoh dulu, napas mereka sudah tidak
sepanjang dulu, tetapi semangat mereka masih sama. Mereka duduk di atas batu
datar yang besar, yang dulu menjadi tempat favorit mereka, yang kini telah
ditumbuhi lumut tipis, yang permukaannya sudah halus karena sering diduduki.
Mereka membawa teh jahe hangat yang diseduh oleh Sumirah, yang kini sudah sangat
tua dan jarang keluar rumah, dan pecel yang dibuat oleh anak Raka. Mereka
menikmati sore yang tenang, menikmati kebersamaan yang mungkin tidak akan
mereka rasakan lagi, menikmati keindahan desa yang telah mereka jaga selama
bertahun-tahun.
Raka tiba-tiba tertawa. Tawanya yang khas, keras dan
menggelegar, bergema di puncak bukit, memantul dari batu ke batu, dari ilalang
ke ilalang, dari awan ke awan. Tawa yang sama yang dulu membuat Amat dan
Camelia terkejut ketika mereka pertama kali bertemu, tawa yang sama yang
membuat mereka tertawa di saat-saat paling sulit, tawa yang sama yang menjadi
senjata paling ampuh melawan kegelapan. Amat dan Camelia menoleh, heran, tetapi
juga tersenyum. Mereka sudah terbiasa dengan kejutan-kejutan Raka, sudah
terbiasa dengan tawa-tawa yang muncul tanpa sebab, sudah terbiasa dengan
kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
"Kenapa, Rak?" tanya Amat, sambil menyesap teh
jahenya yang masih hangat, menikmati rasa jahe yang pedas dan manis, menikmati
kehangatan yang menyebar di tubuhnya yang mulai renta.
Raka masih tertawa, tertawa kecil, tertawa yang membuatnya
batuk, tertawa yang membuat matanya berkaca-kaca. "Aku ingat waktu kita
masih kecil dulu. Waktu pertama kali aku melihatmu, kau sedang duduk sendirian
di beranda rumahmu, di kursi bambu yang sama yang sekarang masih ada, menatap
pohon beringin di kejauhan, seperti ada hantu di sana. Aku kira kau anak aneh.
Anak yang tidak punya teman. Anak yang suka melamun. Anak yang lebih suka
menatap pohon daripada bermain. Aku pikir, anak ini butuh teman. Anak ini butuh
seseorang yang bisa membuatnya tertawa. Anak ini butuh pecel."
Amat tersenyum, mengingat hari pertama mereka bertemu, hari
ketika seorang anak tambun dengan sepeda onthel yang berisik datang membawa
pecel untuk Bu Tarno, hari ketika ia pertama kali merasa bahwa ia tidak
sendirian. "Memang aku anak aneh. Aku anak yang bisa melihat hal-hal yang
tidak dilihat orang lain. Aku anak yang mendengar suara-suara yang tidak
didengar orang lain. Aku anak yang dilahirkan dengan mata biru, di tengah badai
yang aneh, di tengah kabut yang berputar-putar. Aku anak yang ditakdirkan
menjadi penjaga. Aku memang aneh."
"Tapi aku senang kita berteman, Mat. Aku senang kita
bertiga berteman. Tanpa kalian, tanpa Amat yang aneh dengan mata birunya, tanpa
Camelia yang selalu membawa buku catatan ke mana-mana, tanpa petualangan ke
Hutan Larangan, tanpa pertempuran melawan makhluk raksasa, tanpa ritual
Purnama, tanpa cahaya biru-biru keren, hidupku akan membosankan. Cuma jualan
pecel, pulang, tidur, bangun, jualan pecel lagi. Tidak ada yang menarik. Tidak
ada yang seru. Tidak ada yang membuat hidup ini berarti."
Camelia tersenyum, mengingat masa-masa ketika mereka masih
muda, ketika mereka masih penuh semangat, ketika mereka masih tidak takut pada
apa pun. "Kau juga membuat hidup kami tidak membosankan, Ra. Tanpa tawamu,
kami mungkin sudah gila menghadapi semua ini. Tanpa pecelmu, kami mungkin sudah
kehabisan energi. Tanpa leluconmu, kami mungkin sudah terlalu serius. Tanpa
keberanianmu, kami mungkin sudah menyerah. Kau adalah bagian dari tim ini.
Bagian yang tidak bisa digantikan. Bagian yang membuat kami utuh."
"Tawa itu obat, Mel. Kata Bapakku dulu. Kata Bapak
Gareng, penjual pecel yang terkenal se-Awan Biru, yang bisa membuat orang
tertawa hanya dengan cerita-cerita konyolnya tentang masa lalu. Dan Bapakku
tidak pernah salah soal obat. Buktinya, pecel buatannya bisa menyembuhkan hati
yang sedang galau. Bisa membuat orang yang sedang sedih menjadi senang. Bisa
membuat orang yang sedang marah menjadi tenang. Bisa membuat orang yang sedang
putus asa menjadi berharap lagi. Itu bukan hanya karena rasanya yang enak,
tetapi karena ada cinta di dalamnya. Ada cerita di dalamnya. Ada jiwa di
dalamnya."
Mereka bertiga tertawa bersama. Tawa yang sama seperti tiga
puluh tahun lalu. Tawa yang riang, tawa yang bebas, tawa yang menjadi simbol
persahabatan mereka. Tawa yang akan terus mereka kenang, bahkan ketika waktu
telah merenggut segalanya. Tawa yang menjadi senjata paling ampuh, seperti yang
pernah dikatakan Mbah Ratih, seperti yang pernah dikatakan Kyai Beringin. Tawa
yang menjadi cahaya di tengah kegelapan. Tawa yang menjadi harapan di tengah
keputusasaan. Tawa yang menjadi kenangan yang abadi.
Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak di tengah
desa, dengan kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan
Kyai Beringin yang menunggu. Di bawah pohon itu, anak-anak desa sedang bermain
petak umpet, seperti dulu mereka bertiga bermain. Tawa mereka bergema, seperti
dulu tawa Raka bergema. Dan di puncak Bukit Pangasih, tiga sahabat yang telah
melewati segalanya, yang telah berjuang bersama, yang telah tertawa bersama,
duduk berdampingan, menikmati senja yang indah, menikmati kebersamaan yang
mungkin tidak akan mereka rasakan lagi.
"Aku akan merindukan ini," kata Raka, suaranya
pelan, suaranya nyaris tidak terdengar di atas suara angin yang berdesir di
antara ilalang. "Aku akan merindukan kalian. Aku akan merindukan sore-sore
seperti ini. Aku akan merindukan tawa kita. Aku akan merindukan pecel. Aku akan
merindukan semuanya."
"Kita semua akan merindukan ini, Rak," kata Amat,
menggenggam tangan Raka, merasakan dinginnya ujung jari yang dulu hangat
memegang wajan dan cobek. "Tapi ini bukan akhir. Ini hanya perjalanan. Dan
perjalanan kita belum selesai. Masih ada yang harus kita lakukan. Masih ada
yang harus kita jaga. Masih ada yang harus kita wariskan. Tapi untuk saat ini,
untuk sore ini, mari kita nikmati. Mari kita tertawa. Mari kita
bersyukur."
Camelia menggenggam tangan Amat yang lain, menggenggam
tangan Raka yang dingin, merasakan kehangatan yang sama seperti yang ia rasakan
tiga puluh tahun yang lalu. "Kita tidak akan pernah berpisah, Ra. Kita
mungkin tidak akan selalu bersama secara fisik. Kita mungkin akan pergi satu
per satu. Tapi kita akan selalu bersama dalam ingatan. Dalam cerita. Dalam
tawa. Dalam pecel. Selamanya."
Raka tersenyum, senyum yang terakhir, senyum yang akan
selalu mereka kenang. "Untuk Desa Awan Biru," katanya, mengangkat
tangannya yang gemetar, seperti tiga puluh tahun yang lalu.
"Untuk Desa Awan Biru," ulang Amat dan Camelia.
"Untuk persahabatan."
"Untuk persahabatan."
"Untuk pecel."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang terakhir. Tawa yang
abadi. Tawa yang akan bergema di Bukit Pangasih selamanya.
BAB 46: Senja Kehidupan Sang Penjaga
Memasuki usia enam puluh lima tahun, ketika rambutnya telah
memutih seluruhnya, ketika wajahnya dipenuhi oleh kerutan-kerutan yang
terbentuk oleh senyum dan kekhawatiran, ketika langkahnya yang dulu mantap dan
tegap kini menjadi lambat dan tertatih, ketika napasnya yang dulu panjang dan
dalam kini menjadi pendek dan tersengal, kesehatan Amat semakin menurun.
Penyakit jantung yang dideritanya selama bertahun-tahun, yang awalnya hanya
berupa nyeri dada yang muncul sesekali, yang kemudian menjadi lebih sering,
yang kemudian menjadi lebih parah, kini mulai sering kambuh. Kadang-kadang di
tengah malam, ketika desa sedang sunyi dan Camelia sedang tertidur di
sampingnya, ia terbangun dengan dadanya yang terasa seperti diremas-remas oleh
tangan raksasa, dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya, dengan
napas yang terasa seperti tidak pernah cukup. Ia tidak memberitahu Camelia. Ia
tidak ingin membuat istrinya khawatir. Ia tidak ingin menjadi beban. Ia hanya
berbaring diam, menahan sakit, menunggu sampai rasa sakit itu mereda, menunggu
sampai ia bisa bernapas lega lagi, menunggu sampai ia bisa tertidur kembali.
Ia tidak bisa lagi bekerja penuh waktu di kantor desa.
Tidak bisa lagi datang setiap pagi, membuka komputer, memeriksa data, menyusun
laporan, menghadiri rapat, seperti yang ia lakukan selama bertahun-tahun. Tidak
bisa lagi berkeliling desa, berbicara dengan petani di sawah, dengan pedagang
di pasar, dengan ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian di halaman rumah, seperti
yang ia lakukan setiap pagi. Tidak bisa lagi menjadi mediator ketika ada
konflik, menjadi penengah ketika ada perselisihan, menjadi tempat bertanya
ketika warga membutuhkan petunjuk. Camelia membujuknya untuk beristirahat,
menyerahkan urusan administrasi kepada generasi muda yang telah dipersiapkan
selama bertahun-tahun, yang telah dilatih, yang telah dididik, yang telah siap
meneruskan apa yang telah mereka mulai.
"Kau sudah cukup berbuat untuk desa ini, Mat,"
kata Camelia suatu pagi ketika Amat terbaring di tempat tidur, dengan selimut
tipis menutupi tubuhnya yang semakin kurus, dengan bantal yang disangga di
punggungnya, dengan wajah yang pucat dan lelah. Ia duduk di samping Amat,
memegang tangannya yang dingin, merasakan denyut nadi yang lemah, merasakan
tulang-tulang yang menonjol di bawah kulit yang tipis. "Kau sudah berjuang
selama bertahun-tahun. Kau sudah menjaga desa ini. Kau sudah membangunnya. Kau
sudah mewariskannya dalam keadaan yang lebih baik. Sekarang waktunya untuk
beristirahat. Sekarang waktunya untuk menikmati hasil jerih payahmu. Sekarang
waktunya untuk duduk di beranda, minum teh jahe, dan melihat desa ini tumbuh
tanpa harus ikut campur. Biarkan anak-anak muda yang meneruskan. Biarkan mereka
yang belajar. Biarkan mereka yang berjuang. Biarkan mereka yang menemukan
jalannya sendiri."
Amat menggeleng, menggeleng pelan, menggeleng dengan
sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. Matanya yang biru, yang dulu terang dan
penuh semangat, kini redup, seperti api yang hampir padam, seperti langit senja
yang kehilangan cahayanya. "Masih ada satu tugas yang harus aku
selesaikan, Mel. Satu tugas yang belum selesai. Satu tugas yang sudah aku tunda
selama bertahun-tahun. Satu tugas yang tidak bisa aku serahkan kepada siapa
pun. Satu tugas yang hanya bisa aku lakukan. Tugas terakhirku sebagai
penjaga."
"Apa tugas itu, Mat? Apa yang belum selesai? Apa yang
harus kau lakukan?"
Amat tidak menjawab. Ia hanya memegang liontin batu biru di
lehernya, liontin yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia lepaskan, liontin
yang menjadi sumber kekuatannya, liontin yang menjadi simbol bahwa ia adalah
penjaga, liontin yang menjadi penghubung antara dirinya dan leluhur. Batu biru
itu masih berdenyut pelan, masih terasa hangat di tangannya, masih memancarkan
cahaya samar di kegelapan malam. Camelia mengerti. Ia sudah tahu sejak lama. Ia
sudah mendengar cerita dari Amat, dari Mbah Ratih sebelum meninggal, dari
bisikan-bisikan yang tidak bisa ia dengar tetapi bisa ia rasakan. Ia sudah tahu
bahwa suatu hari nanti, suaminya harus mengembalikan liontin itu ke tempat
asalnya, harus melepaskan semua yang membuatnya istimewa, harus menjadi manusia
biasa.
"Kau akan mengembalikan liontin itu, Mat? Kau akan
pergi ke Hutan Larangan? Kau akan meletakkannya di pusat segel? Kau akan
mengorbankan semua yang kau miliki untuk desa ini? Untuk yang terakhir
kalinya?"
"Ya. Sudah waktunya, Mel. Sudah waktunya. Segel di Hutan
Larangan mulai melemah lagi. Aku merasakannya. Setiap malam, ketika desa sunyi,
ketika semua orang tertidur, aku merasakan getaran dari dalam tanah. Getaran
yang sama seperti tiga puluh tahun yang lalu. Getaran yang mengatakan bahwa
makhluk itu mulai bangun. Getaran yang mengatakan bahwa segel tidak akan
bertahan lama lagi. Kyai Beringin juga merasakannya. Beliau sudah
memberitahuku. Jika tidak segera diperkuat, jika tidak segera dibuat permanen,
makhluk itu akan bangkit lagi. Dan aku tidak akan sanggup menghadapinya dalam
keadaan seperti ini. Aku tidak akan sanggup melawannya. Aku tidak akan sanggup
mengalahkannya. Aku sudah tua. Aku sudah lemah. Aku sudah tidak memiliki
kekuatan seperti dulu."
"Tapi tanpa liontin itu, kau akan... kau akan
kehilangan semua yang membuatmu menjadi dirimu yang sekarang. Kekuatanmu akan
hilang. Matamu yang biru akan berubah. Kemampuanmu melihat hal-hal yang tidak
terlihat akan sirna. Kau tidak akan bisa lagi mendengar suara Kyai Beringin.
Kau tidak akan bisa lagi merasakan kehadiran penjaga air. Kau akan menjadi
manusia biasa. Seperti orang lain. Seperti Raka. Seperti aku. Seperti semua
warga desa ini."
Amat tersenyum, senyum yang tenang, senyum yang tidak
menunjukkan rasa takut, senyum yang menunjukkan bahwa ia telah mempersiapkan
diri, bahwa ia telah menerima takdirnya, bahwa ia siap untuk apa pun yang akan
terjadi. "Mungkin itu yang terbaik, Mel. Mungkin itu yang seharusnya
terjadi sejak awal. Penjagaan tidak boleh bergantung pada satu orang selamanya.
Tidak boleh bergantung pada kekuatan gaib yang hanya dimiliki oleh segelintir
orang. Tidak boleh bergantung pada liontin yang harus diwariskan dari generasi
ke generasi. Desa ini harus belajar berdiri sendiri. Warga harus belajar
menjaga tanpa bergantung pada penjaga. Generasi muda harus belajar melindungi
tanpa bergantung pada kekuatan yang tidak mereka pahami. Mereka harus belajar
dari pengalaman, dari kesalahan, dari perjuangan. Mereka harus menemukan cara
mereka sendiri. Mereka harus menjadi penjaga bagi diri mereka sendiri."
Amat mempersiapkan segalanya dengan matang. Ia tidak ingin
meninggalkan sesuatu yang belum selesai. Ia tidak ingin meninggalkan beban bagi
orang-orang yang ia cintai. Ia tidak ingin ada yang menyesal setelah ia pergi.
Ia menghabiskan berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, menulis surat
wasiat, meskipun tidak banyak yang bisa ia wariskan selain rumah tua di pinggir
desa, rumah yang telah menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya, rumah tempat ia
dilahirkan di tengah badai yang aneh, rumah tempat ia dibesarkan oleh seorang
ibu yang bekerja keras, rumah tempat ia bertemu dengan sahabat-sahabat yang
setia, rumah tempat ia mencintai Camelia. Ia juga mewariskan kenangan-kenangan
yang tak ternilai, cerita-cerita yang tidak bisa dihitung dengan uang, nilai-nilai
yang tidak bisa diukur dengan harta.
Ia juga menulis pesan untuk Awan, putranya yang kini telah
berusia dua puluh lima tahun, yang telah menjadi arsitek muda yang berbakat,
yang bekerja di kota besar, yang jarang pulang karena kesibukannya, tetapi yang
selalu mengirim kabar, yang selalu menanyakan kesehatan ayah dan ibunya, yang
selalu berjanji akan pulang ketika ada waktu luang. Ia menulis pesan itu dengan
tangan yang gemetar, dengan tinta yang mengalir perlahan, dengan kata-kata yang
dipilih dengan cermat.
Nak Awan, Ayah tidak pernah memaksamu untuk menjadi seperti
Ayah. Ayah tidak pernah memaksamu untuk meneruskan apa yang Ayah lakukan. Ayah
tidak pernah memaksamu untuk menjadi penjaga. Ayah ingin kau bebas. Bebas
memilih jalan hidupmu sendiri. Bebas menjadi siapa pun yang kau inginkan. Bebas
mencintai siapa pun yang kau cintai. Bebas bermimpi setinggi langit. Ayah tidak
ingin kau terbebani oleh warisan yang tidak pernah kau minta. Ayah tidak ingin
kau merasa bahwa kau harus menjadi penjaga hanya karena darah yang mengalir di
tubuhmu. Ayah tidak ingin kau mengalami apa yang Ayah alami.
Tapi ingatlah, Nak. Di mana pun kau berada, kau adalah
bagian dari desa ini. Darah leluhur mengalir dalam tubuhmu. Tanah ini adalah
tanah leluhurmu. Langit ini adalah langit yang selalu biru di atas kepalamu
sejak kau lahir. Air ini adalah air yang telah memberikan kehidupan bagi
keluargamu selama bergenerasi. Suatu hari nanti, mungkin kau akan merasakan
panggilan yang sama seperti yang Ayah rasakan. Mungkin kau akan mendengar
suara-suara yang tidak didengar orang lain. Mungkin kau akan melihat hal-hal
yang tidak dilihat orang lain. Mungkin kau akan merasakan bahwa ada yang
memanggilmu untuk kembali. Atau mungkin tidak. Mungkin kau akan hidup sebagai
manusia biasa, menikmati kebahagiaan yang sederhana, tanpa harus memikul beban
yang berat. Apapun pilihanmu, Nak, Ayah akan selalu bangga padamu. Ayah akan
selalu mencintaimu. Ayah akan selalu menjagamu, dari tempat yang tidak bisa kau
lihat.
Jagalah ibumu, Nak. Dia adalah perempuan yang paling kuat
yang pernah Ayah kenal. Dia adalah perempuan yang selalu setia menemani Ayah,
dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, dalam terang dan gelap. Dia adalah
rumah bagi Ayah. Dan sekarang, setelah Ayah pergi, dia akan membutuhkanmu.
Jagalah dia. Bahagiakan dia. Jangan biarkan dia sendirian.
Jagalah desa ini, Nak. Desa yang telah melahirkan Ayah,
yang telah membesarkan Ayah, yang telah mengajarkan Ayah arti persahabatan dan
pengorbanan. Desa yang telah Ayah jaga selama bertahun-tahun. Desa yang akan
terus hidup, selama masih ada yang mencintainya. Jagalah langit biru di atas
Awan Biru. Jagalah pohon beringin tua di tengah desa. Jagalah sumur tua di
belakang balai desa. Jagalah mata air di lereng timur. Jagalah batu besar di
barat. Jagalah Hutan Larangan, tempat di mana leluhur bersemayam. Jagalah
semuanya, Nak. Seperti Ayah menjaganya. Seperti leluhur menjaganya. Seperti
yang akan kau lakukan, jika kau memilih untuk menjadi penjaga. Atau seperti
yang akan kau lakukan dengan caramu sendiri, jika kau memilih untuk menjadi
manusia biasa.
Ia juga menulis pesan untuk Raka. Pesan yang ditulis dengan
tangan yang lebih gemetar, dengan tinta yang lebih tebal, dengan kata-kata yang
lebih sulit diucapkan. Ia menulis untuk sahabatnya, untuk saudaranya, untuk
orang yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak mereka masih kecil.
Rak, terima kasih untuk segalanya. Untuk tawa yang kau
berikan, yang membuatku tersenyum bahkan di saat yang paling gelap. Untuk
persahabatan yang kau jaga, yang tidak pernah goyah meskipun badai menerpa.
Untuk pengorbanan yang kau lakukan, yang menyelamatkan hidupku, yang
menyelamatkan desa ini. Kau adalah pahlawan sejati, meskipun kau tidak pernah
mengakuinya. Kau adalah orang yang paling berani yang pernah aku kenal, meskipun
kau selalu bercanda. Kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki,
meskipun kau selalu membuatku kesal dengan lelucon-leluconmu. Tanpamu, aku
bukanlah apa-apa. Tanpamu, desa ini bukanlah apa-apa. Tanpamu, hidupku akan
hampa.
Teruslah tertawa, Rak. Sampai kita bertemu lagi nanti. Di
tempat yang tidak ada sakit, tidak ada penyesalan, tidak ada perpisahan. Di
tempat di mana kita akan duduk bersama, minum teh jahe, makan pecel, dan
tertawa seperti dulu. Selamanya.
Dan untuk Camelia, ia menulis satu kalimat pendek. Hanya
satu kalimat. Tetapi cukup untuk mewakili segalanya. Cukup untuk merangkum
perjalanan panjang mereka bersama. Cukup untuk mengungkapkan perasaan yang
tidak pernah ia ucapkan dengan kata-kata selama bertahun-tahun.
Mel, terima kasih telah menjadi rumahku. Dari pertama kali
aku melihatmu di kelas, dengan buku catatan di tanganmu, dengan mata yang penuh
rasa ingin tahu, dengan senyum yang membuatku ingin mengenalmu lebih dalam, kau
telah menjadi rumah bagiku. Rumah yang tidak pernah kutinggalkan. Rumah yang
selalu kukunjungi. Rumah yang selalu kutunggu. Rumah yang selalu kurindukan.
Terima kasih telah menerimaku apa adanya. Terima kasih telah mencintaiku
meskipun aku aneh. Terima kasih telah menemaniku dalam suka dan duka. Terima
kasih telah menjadi istriku, sahabatku, kekuatanku. Aku akan mencintaimu
selamanya. Sampai kita bertemu lagi nanti.
BAB 47: Malam Terakhir di Bawah Langit Awan Biru
Pada suatu malam purnama, ketika bulan bersinar sangat
terang di langit Awan Biru, ketika cahaya peraknya yang lembut menyinari
seluruh desa, ketika kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit,
ketika semua orang tertidur nyenyak di rumah-rumah mereka, Amat memutuskan
untuk melakukan perjalanan terakhirnya. Perjalanan yang telah ia rencanakan selama
bertahun-tahun, yang telah ia tunda karena masih ada yang harus ia lakukan,
yang telah ia persiapkan dengan matang, yang akan menjadi tugas terakhirnya
sebagai penjaga. Ia tidak memberi tahu siapa pun, tidak memberitahu Awan yang
sedang berada di kota, tidak memberitahu Raka yang sedang terbaring lemah di
rumahnya, tidak memberitahu siapa pun kecuali Camelia yang sudah mengetahuinya
sejak lama, yang sudah menjadi tempatnya berbagi beban, yang sudah setia
mendampinginya dalam diam.
"Kau yakin tidak ingin ditemani?" tanya Camelia,
matanya berkaca-kaca, air mata yang ia tahan sejak tadi mulai mengalir di
pipinya yang sudah berkerut. Ia berdiri di ambang pintu rumah mereka, dengan
lampu minyak di tangannya, dengan selendang yang ia kenakan di bahu, dengan
hati yang sesak. Ia ingin berlari, ingin memeluk suaminya, ingin memintanya
untuk tidak pergi. Tapi ia tahu itu tidak mungkin. Ia tahu bahwa ini adalah
takdir suaminya. Ia tahu bahwa ini adalah pengorbanan yang harus ia lakukan. Ia
tahu bahwa ini adalah tugas terakhirnya. Ia hanya bisa berdiri di sana, menatap
punggung suaminya yang mulai membungkuk, menatap langkahnya yang mulai
tertatih, menatap sosok yang telah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun.
"Tidak, Mel. Ini harus aku lakukan sendiri. Perjalanan
ini adalah perjalananku. Pengorbanan ini adalah pengorbananku. Tugas ini adalah
tugasku. Tidak ada yang bisa menggantikanku. Tidak ada yang bisa menemaniku.
Tidak ada yang bisa melakukannya untukku. Ini adalah tanggung jawab yang telah
diwariskan oleh leluhur, yang harus aku selesaikan sendiri. Tapi kau tahu, Mel,
aku tidak akan pernah bisa melakukan semua ini tanpa kau. Tanpamu, aku mungkin
sudah menyerah sejak lama. Tanpamu, aku mungkin sudah kehilangan arah. Tanpamu,
aku mungkin tidak akan pernah menjadi diriku yang sekarang. Kau adalah
kekuatanku, Mel. Kau adalah cahayaku. Kau adalah rumahku."
"Aku hanya melakukan yang terbaik untukmu, Mat. Aku
hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai istri, sebagai sahabat,
sebagai teman seperjuangan. Aku tidak pernah melakukan hal yang istimewa. Aku
hanya selalu ada di sampingmu. Aku hanya selalu mendukungmu. Aku hanya selalu
mencintaimu. Itu saja. Tidak lebih."
"Dan itu lebih dari cukup, Mel. Lebih dari cukup.
Tidak ada yang bisa menggantikan kehadiranmu. Tidak ada yang bisa menggantikan
dukunganmu. Tidak ada yang bisa menggantikan cintamu. Kau adalah segalanya
bagiku. Dan untuk itu, aku akan selalu berterima kasih. Untuk itu, aku akan
selalu mengingatmu. Untuk itu, aku akan selalu mencintaimu, sampai kapan
pun."
Amat memeluk Camelia erat-erat. Memeluk istri yang telah
menjadi pendampingnya selama bertahun-tahun, yang telah menjadi sahabatnya
sejak mereka masih kecil, yang telah menjadi kekuatannya di saat-saat paling
sulit. Ia merasakan tubuh istrinya yang gemetar, merasakan air mata yang
membasahi bahunya, merasakan cinta yang tidak pernah pudar meskipun waktu telah
berlalu. Ia memeluknya lama, menikmati momen terakhir sebelum perpisahan,
menikmati kehangatan yang mungkin tidak akan ia rasakan lagi, menikmati
kebersamaan yang mungkin menjadi yang terakhir.
"Jaga Awan, Mel. Jaga anak kita. Dia mungkin sudah
dewasa, dia mungkin sudah bisa menjaga dirinya sendiri, tapi dia tetap
membutuhkan ibunya. Dia tetap membutuhkanmu. Jangan biarkan dia merasa sendirian.
Jangan biarkan dia merasa kehilangan. Jaga desa ini, Mel. Desa yang telah kita
bangun bersama, yang telah kita jaga bersama, yang telah kita cintai bersama.
Desa ini adalah anak kita juga. Desa ini adalah rumah kita. Jangan biarkan
siapa pun merusaknya. Jangan biarkan siapa pun melupakannya. Dan jangan sedih,
Mel. Jangan menangis. Aku akan selalu ada. Di setiap helai ilalang di Bukit
Pangasih. Di setiap tetes air di sumur tua. Di setiap daun yang bergoyang di
pohon beringin. Di setiap hembusan angin yang membawa kabut dari lereng bukit.
Di setiap sinar matahari yang menembus awan. Di setiap bintang yang
berkelap-kelip di langit malam. Aku akan selalu ada. Selamanya."
Amat melepaskan pelukannya. Ia menatap Camelia untuk yang
terakhir kalinya, menatap wajah yang telah menjadi rumahnya selama
bertahun-tahun, menatap mata yang selalu penuh dengan cinta dan kesetiaan,
menatap senyum yang selalu memberinya kekuatan. Ia tersenyum. Senyum yang
tenang, senyum yang penuh dengan kedamaian, senyum yang mengatakan bahwa ia
siap, bahwa ia tidak takut, bahwa ia akan baik-baik saja.
Ia berbalik. Ia mulai berjalan. Langkahnya pelan,
tertatih-tatih, tetapi penuh tekad. Ia melewati halaman rumah yang ditanami
bunga-bunga oleh Camelia, melewati pagar tanaman kaca piring yang sudah tinggi
dan rimbun, melewati jalan setapak yang sudah ia lalui ribuan kali sejak kecil.
Ia melewati sawah-sawah yang hijau, yang terbentang luas di bawah cahaya bulan,
yang menjadi sumber kehidupan bagi warga desa. Ia melewati ladang-ladang yang
subur, yang ditanami sayur-sayuran dan buah-buahan, yang menjadi kebanggaan
para petani. Ia melewati sungai yang airnya jernih, yang mengalir dari Hutan
Larangan, yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Semua itu adalah hasil
dari perjuangan puluhan tahun. Semua itu adalah warisan yang akan ia
tinggalkan. Semua itu adalah bukti bahwa ia tidak pernah menyerah, bahwa ia
tidak pernah berhenti, bahwa ia tidak pernah mengkhianati janjinya.
Ketika ia tiba di tepi Hutan Larangan, ia berhenti sejenak.
Hutan itu telah berubah. Tidak lagi gelap dan menakutkan seperti dulu, ketika
kabut hitam pekat menyelimuti pepohonan, ketika suara-suara aneh terdengar dari
segala arah, ketika cahaya merah menyala di balik gerbang batu. Hutan itu kini
telah pulih. Pohon-pohonnya tumbuh subur, dengan kanopi yang rimbun, dengan
daun-daun yang hijau segar. Akar-akarnya menjalar di tanah, tidak lagi
mengancam, tetapi menjadi bagian dari keindahan. Bunga-bunga liar tumbuh di
sela-sela akar, dengan warna-warna yang cerah, dengan aroma yang harum. Cahaya
bulan menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola-pola cahaya yang indah di
tanah, seperti lukisan yang dibuat oleh tangan seorang seniman. Burung-burung
malam mulai bernyanyi, dengan suara yang merdu, dengan irama yang menenangkan.
Amat masuk ke dalam hutan. Ia berjalan perlahan, dengan
langkah yang mantap, dengan napas yang teratur, dengan hati yang tenang. Ia
melewati jalan setapak yang dulu ia lewati bersama Raka dan Camelia, ketika
mereka masih muda, ketika mereka masih penuh semangat, ketika mereka masih
tidak takut pada apa pun. Ia melewati tempat di mana mereka pertama kali
menemukan gerbang batu, tempat di mana mereka berdiri dengan takjub melihat
peta kuno yang terukir di ambang batu, tempat di mana mereka pertama kali
mendengar suara makhluk itu. Ia melewati tempat di mana Raka hampir mati
menahan serangan makhluk itu, tempat di mana sahabatnya mengorbankan dirinya
untuk melindunginya, tempat di mana ia menyadari bahwa persahabatan adalah
kekuatan yang paling besar. Ia melewati tempat di mana ia pertama kali
menggunakan kekuatannya untuk menyelamatkan desa, tempat di mana cahaya biru
dari tangannya mengusir kegelapan, tempat di mana ia menjadi penjaga yang
sesungguhnya.
Setiap langkah terasa berat. Tubuhnya sudah tidak sekuat
dulu, kakinya sudah tidak sekokoh dulu, napasnya sudah tidak sepanjang dulu.
Tapi tekadnya tidak pernah sekuat ini. Ia tidak pernah seyakin ini. Ia tidak
pernah sepasrah ini. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tahu ke mana ia
harus pergi. Ia tahu apa yang akan ia hadapi. Dan ia tidak takut.
Setelah berjalan sekitar satu jam, satu jam yang terasa
seperti satu hari, satu jam yang penuh dengan kenangan, satu jam yang menjadi
perjalanan terakhirnya, Amat tiba di pusat segel. Tempat di mana dulu gerbang
batu berdiri, tempat di mana ia pertama kali melihat peta kuno, tempat di mana
ia pertama kali mendengar suara makhluk itu, tempat di mana ia pertama kali
menggunakan kekuatannya. Kini, tidak ada gerbang. Tidak ada tiang andesit yang
menjulang, tidak ada ambang batu yang berputar, tidak ada puing-puing yang
berserakan. Yang ada hanyalah sebuah batu hitam besar, sama seperti yang dulu
muncul dalam mimpinya ketika ia masih kecil, sama seperti yang ia lihat dalam
penglihatan-penglihatan yang menghantui tidurnya. Batu itu berdiri tegak di
tengah lapangan terbuka, di antara pepohonan yang rimbun, di bawah cahaya bulan
yang terang. Tingginya sekitar dua meter, lebarnya sekitar satu meter, dengan
bentuk yang tidak beraturan tetapi simetris, seperti dibuat oleh tangan-tangan
yang sangat terampil ribuan tahun yang lalu. Warnanya hitam pekat, seperti
obsidian, seperti batu akik yang telah dipoles, tetapi dengan kilau yang lebih
dalam, lebih gelap, seperti permukaan air di telaga yang dalam di malam hari.
Di permukaannya, ada urat-urat putih yang berkelok-kelok membentuk pola-pola
yang familiar, pola yang sama dengan yang ada di liontin di lehernya, pola yang
sama dengan yang ada di peta kuno, pola yang sama dengan yang ada di buku-buku
peninggalan neneknya. Pola yang menjadi simbol dari keseimbangan, dari
penjagaan, dari warisan leluhur.
Amat mendekati batu itu. Setiap langkah terasa lebih berat
dari langkah sebelumnya, seperti ada beban yang menekan pundaknya, seperti ada
tangan yang menahannya, seperti ada kekuatan yang mencoba menghentikannya.
Liontin di lehernya terasa sangat hangat, lebih hangat dari sebelumnya, hampir
membakar kulitnya. Cahaya biru yang selama ini hanya samar, yang hanya terlihat
ketika ia menggunakan kekuatannya, kini memancar terang, menerangi seluruh area,
membuat batu hitam itu tampak seperti hidup, seperti bernapas, seperti
menunggu. Ia melepaskan liontin itu dari lehernya, dengan tangan yang gemetar,
dengan hati yang berdebar, dengan tekad yang bulat. Ia menggenggamnya di
telapak tangan, merasakan hangatnya batu biru yang telah menjadi temannya
selama bertahun-tahun, yang telah menjadi sumber kekuatannya, yang telah
menjadi simbol bahwa ia adalah penjaga.
Batu hitam itu bergetar. Getaran yang lembut pada awalnya,
seperti detak jantung yang lambat, seperti aliran air yang dalam. Getaran itu
semakin kuat, semakin cepat, semakin keras, seperti gempa yang mengguncang
tanah, seperti gunung yang akan meletus. Dari dalam batu itu, dari kedalaman
yang tidak bisa dijangkau oleh mata manusia, terdengar suara yang sudah tidak
asing lagi. Suara yang sama yang ia dengar dalam mimpinya ketika ia masih
kecil, suara yang sama yang memanggil namanya dari dalam kegelapan, suara yang
sama yang menjadi sumber ketakutan dan kekuatannya, suara yang sama yang kini
terdengar lembut, penuh dengan kedamaian, penuh dengan penghargaan.
Kau datang, penjaga. Akhirnya. Setelah tiga puluh tahun.
Setelah tiga puluh tahun kau menunda. Setelah tiga puluh tahun kau
mempersiapkan diri. Setelah tiga puluh tahun kau menguatkan desa ini. Setelah
tiga puluh tahun kau mengajarkan warganya untuk mandiri. Setelah tiga puluh
tahun kau mempersiapkan generasi penerus. Kau datang. Pada malam purnama ini.
Di bawah cahaya bulan yang terang. Dengan langkah yang mantap. Dengan hati yang
tenang. Dengan tekad yang bulat.
"Aku datang untuk mengembalikan ini," kata Amat,
menunjukkan liontin di tangannya, menunjukkan batu biru yang masih bersinar
terang, yang masih berdenyut seperti detak jantung, yang masih terasa hangat di
telapak tangannya. "Ini milikmu. Ini bagian dari dirimu. Ini adalah
potongan yang hilang dari segel ini. Tanpanya, kau tidak akan pernah utuh.
Tanpanya, segel ini tidak akan pernah sempurna. Tanpanya, kau akan selalu
rapuh. Tanpanya, makhluk-makhluk di dalammu akan selalu berusaha keluar. Tanpanya,
desa ini tidak akan pernah benar-benar aman."
Dan tanpa itu, kau akan kehilangan kekuatanmu. Kekuatan
yang telah kau gunakan untuk melindungi desa ini. Kekuatan yang telah kau
gunakan untuk mengusir kegelapan. Kekuatan yang telah kau gunakan untuk memperkuat
segel ini. Kekuatan yang telah menjadi bagian dari dirimu sejak kau lahir.
Tanpa itu, kau akan menjadi manusia biasa. Tanpa itu, matamu yang biru akan
berubah. Tanpa itu, kau tidak akan bisa lagi melihat hal-hal yang tidak
terlihat. Tanpa itu, kau tidak akan bisa lagi mendengar suara leluhur. Tanpa
itu, kau tidak akan bisa lagi merasakan getaran dari dalam tanah. Kau rela? Kau
rela kehilangan semua itu? Kau rela menjadi seperti orang lain? Kau rela
melepaskan identitasmu sebagai penjaga?
Amat tersenyum. Senyum yang tenang, senyum yang tidak
menunjukkan rasa takut, senyum yang menunjukkan bahwa ia telah mempersiapkan
diri, bahwa ia telah menerima takdirnya, bahwa ia siap untuk apa pun yang akan
terjadi. "Aku rela, Kyai. Aku rela kehilangan semua itu. Aku tidak butuh
kekuatan itu lagi. Desa ini sudah kuat. Warga sudah mandiri. Generasi mudanya
sudah siap. Mereka sudah belajar dari pengalaman. Mereka sudah belajar dari
kesalahan. Mereka sudah belajar dari perjuangan. Mereka sudah bisa menjaga diri
mereka sendiri. Mereka sudah bisa melindungi desa ini tanpa bergantung pada
kekuatan gaib. Mereka sudah bisa menjadi penjaga bagi diri mereka sendiri. Aku
hanya butuh satu hal. Satu hal yang selama ini aku cari. Satu hal yang belum
pernah aku miliki."
Apa yang kau butuhkan, penjaga? Apa yang belum pernah kau
miliki? Apa yang selama ini kau cari?
"Ketenangan. Ketenangan bahwa desa ini akan tetap
aman. Ketenangan bahwa leluhur akan tetap dijaga. Ketenangan bahwa semua yang
kami perjuangkan tidak akan sia-sia. Ketenangan bahwa anak cucu kami akan hidup
dalam kedamaian. Ketenangan bahwa warisan ini tidak akan hilang. Ketenangan
bahwa aku telah melakukan yang terbaik. Ketenangan bahwa aku tidak mengecewakan
siapa pun. Ketenangan bahwa aku bisa beristirahat."
Batu hitam itu bergetar lebih keras, lebih kuat, lebih
dahsyat dari sebelumnya. Urat-urat putih di permukaannya berubah menjadi biru,
biru yang sama dengan liontin di tangan Amat, biru yang sama dengan langit Awan
Biru di pagi hari, biru yang sama dengan mata Amat ketika ia masih muda. Cahaya
biru itu memancar ke segala arah, menerangi seluruh hutan, menembus kanopi yang
rimbun, mencapai langit yang gelap, membuat bulan purnama tampak seperti
bintang kecil di hadapannya.
Letakkan batu itu di sini, penjaga. Letakkan di tempat yang
paling dalam. Letakkan di pusat segel. Letakkan di mana ia berada tiga ratus
tahun yang lalu. Dan berjanjilah padaku. Berjanjilah bahwa meskipun kau
kehilangan kekuatanmu, kau tidak akan pernah kehilangan semangatmu. Berjanjilah
bahwa meskipun kau menjadi manusia biasa, kau tidak akan pernah melupakan siapa
dirimu. Berjanjilah bahwa meskipun kau tidak bisa lagi melihatku, kau tidak
akan pernah melupakan bahwa aku ada. Berjanjilah bahwa kau akan terus menjaga
desa ini, dengan cara yang berbeda. Berjanjilah bahwa kau akan menceritakan
kisah ini kepada generasi penerus, agar mereka tidak melupakan leluhur, agar
mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama, agar mereka tidak melupakan
keseimbangan yang harus dijaga.
Amat mengangguk, mengangguk dengan mantap, mengangguk
dengan penuh keyakinan. "Aku berjanji, Kyai. Aku berjanji. Aku akan terus
menjaga desa ini, dengan cara yang berbeda. Dengan cerita yang akan aku
ceritakan. Dengan nilai-nilai yang akan aku ajarkan. Dengan cinta yang akan aku
tanamkan. Aku akan menceritakan kisah ini kepada anak cucu, kepada generasi
penerus, kepada siapa pun yang mau mendengarkan. Agar mereka tahu bahwa desa
ini tidak terbentuk begitu saja. Agar mereka tahu bahwa ada leluhur yang
berjuang. Agar mereka tahu bahwa ada penjaga yang mengorbankan segalanya. Agar
mereka tahu bahwa keseimbangan harus dijaga. Agar mereka tidak mengulangi
kesalahan yang sama. Agar mereka tidak melupakan dari mana mereka berasal. Aku
berjanji."
Ia meletakkan liontin itu di atas batu hitam. Begitu
liontin itu menyentuh batu, cahaya biru yang menyilaukan memancar ke segala
arah, lebih terang dari matahari, lebih terang dari bulan, lebih terang dari
apa pun yang pernah ia lihat. Batu hitam itu bergetar hebat, berguncang seperti
akan hancur, seperti akan meledak, seperti akan berubah menjadi sesuatu yang
baru. Urat-urat biru di permukaannya menyebar ke seluruh tubuh batu, menjalar
ke setiap retakan, ke setiap celah, ke setiap pori, menyatu, menjadi satu. Dan
kemudian, semuanya tenang. Keheningan yang damai. Keheningan yang abadi.
Keheningan yang seperti setelah badai besar berlalu.
Batu hitam itu kini telah berubah. Warnanya tidak lagi
hitam pekat seperti malam tanpa bintang, tidak lagi menakutkan seperti dulu.
Warnanya biru tua berkilau, biru yang dalam, biru yang kaya, biru yang seperti
langit malam yang berbintang, seperti lautan yang dalam, seperti mata Amat
ketika ia masih muda. Liontin itu telah menyatu dengan batu, menjadi satu
kesatuan yang utuh, tidak bisa dipisahkan lagi, tidak akan pernah terpisah
lagi. Segel itu sekarang telah permanen. Tidak akan pernah retak lagi. Tidak
akan pernah melemah lagi. Tidak akan pernah rusak lagi. Makhluk itu akan
terkurung selamanya. Desa ini akan aman selamanya. Warisan leluhur akan terjaga
selamanya.
Amat merasakan sesuatu yang lepas dari tubuhnya. Seperti
ada beban berat yang selama ini ia pikul, beban yang ia bawa sejak ia lahir,
beban yang ia pikul selama bertahun-tahun, beban yang membuatnya kuat tetapi
juga membuatnya lelah, tiba-tiba terangkat. Ia merasa ringan, bebas, dan untuk
pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa seperti manusia biasa. Tidak ada
kekuatan gaib yang mengalir di tubuhnya. Tidak ada suara-suara yang berbisik di
kepalanya. Tidak ada getaran yang ia rasakan dari dalam tanah. Tidak ada
bayangan-bayangan yang bergerak di pinggir penglihatannya. Ia hanya Amat. Amat
Junior. Anak Sumirah. Sahabat Raka. Suami Camelia. Ayah Awan. Penjaga Desa Awan
Biru yang telah menyelesaikan tugasnya.
Ia tersenyum. Senyum yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan.
Senyum yang tidak lagi terbebani oleh apa pun. Senyum yang penuh dengan
kedamaian. "Terima kasih, Kyai. Terima kasih telah membimbingku selama
ini. Terima kasih telah menjagaku. Terima kasih telah mempercayakan amanah ini
kepadaku. Terima kasih telah menjadi guruku, menjadi ayahku, menjadi
penuntunku. Terima kasih untuk leluhur. Terima kasih telah menjaga desa ini
selama tiga ratus tahun. Terima kasih telah mewariskan amanah ini. Terima kasih
telah memberiku kesempatan untuk menjadi bagian dari sejarah. Terima kasih
untuk semuanya."
Terima kasih, penjaga. Untuk pengabdianmu. Untuk
pengorbananmu. Untuk cintamu pada desa ini. Untuk perjuanganmu yang tidak
pernah lelah. Untuk keteguhanmu yang tidak pernah goyah. Untuk keberanianmu
yang tidak pernah pudar. Untuk semua yang telah kau lakukan. Kau telah
melakukan lebih dari yang kami harapkan. Lebih dari yang pernah dilakukan oleh
penjaga-penjaga sebelumnya. Lebih dari yang pernah kami bayangkan. Sekarang,
pulanglah. Camelia menunggumu. Raka menunggumu. Desa ini menunggumu. Pulanglah,
dan nikmati sisa hidupmu sebagai manusia biasa. Kau pantas beristirahat. Kau
pantas bahagia. Kau pantas mendapatkan kedamaian.
Amat berbalik. Ia berjalan keluar dari Hutan Larangan
dengan langkah yang lebih ringan dari saat ia masuk. Tidak ada beban di
pundaknya, tidak ada tekanan di dadanya, tidak ada suara di kepalanya. Ia hanya
berjalan, menikmati setiap langkah, menikmati setiap napas, menikmati setiap
hembusan angin yang membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga liar. Langit di
atasnya mulai cerah. Fajar akan segera tiba. Sinar matahari mulai menembus
kabut tipis yang masih bergelayut di antara pepohonan. Burung-burung mulai
berkicau, menyambut pagi yang baru. Dan Amat, yang kini telah menjadi manusia
biasa, berjalan pulang ke rumahnya, ke tempat Camelia menunggu, ke tempat di
mana ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang, dengan damai, dengan
bahagia.
BAB 48: Pesan Terakhir untuk Desa dan Leluhur
Ketika Amat tiba di desa, matahari baru saja terbit. Fajar
menyingsing dengan keindahan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Langit
Awan Biru memperlihatkan warna birunya yang paling indah, biru yang tidak
pucat, tidak redup, tetapi biru yang cerah, biru yang hidup, biru yang penuh
dengan harapan. Biru yang sama seperti ketika ia pertama kali melihatnya enam
puluh tahun yang lalu, ketika ia masih bayi yang baru lahir di rumah sederhana
di kaki Bukit Pangasih, ketika ia membuka matanya yang biru untuk pertama
kalinya, ketika ia melihat langit di atas desa ini untuk pertama kalinya. Kabut
tipis yang biasanya menyelimuti desa di pagi hari telah sirna, digantikan oleh
sinar matahari yang hangat, yang menembus celah-celah daun, yang jatuh di atas
rerumputan yang masih basah oleh embun, yang menciptakan pola-pola cahaya yang
indah di tanah. Burung-burung mulai berkicau, menyambut pagi yang baru,
menyambut hari yang baru, menyambut kehidupan yang terus berjalan. Asap dari
dapur-dapur warga mulai mengepul, menandakan bahwa sarapan sedang disiapkan,
bahwa keluarga-keluarga mulai beraktivitas, bahwa desa ini hidup. Anak-anak
berlarian ke sekolah, dengan seragam yang rapi, dengan tas di punggung, dengan
tawa yang riang, dengan masa depan yang cerah.
Di halaman rumahnya, Camelia telah menunggu. Ia berdiri di
ambang pintu, dengan lampu minyak yang sudah padam di tangannya, dengan
selendang yang ia kenakan di bahu, dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan
meskipun matanya basah. Ia telah menunggu sejak subuh, sejak ia mendengar
langkah kaki suaminya di jalan setapak, sejak ia melihat bayangannya dari
kejauhan, sejak ia merasakan bahwa suaminya telah kembali. Ia menyeduh teh
jahe, teh yang sama yang selalu ia seduh sejak mereka masih muda, teh yang
menjadi teman di pagi-pagi yang dingin, teh yang menjadi penghangat di
saat-saat yang sulit. Ia duduk di beranda, di kursi bambu yang sama yang telah
digunakan sejak mereka masih kecil, menatap jalan setapak yang membentang di
depan rumah, menatap pohon beringin di kejauhan, menatap langit yang mulai
cerah.
"Kau berhasil," kata Camelia, tersenyum meskipun
air matanya tidak bisa ia tahan. Air mata itu mengalir di pipinya yang sudah
berkerut, membasahi senyum yang tidak bisa ia sembunyikan, membasahi kebanggaan
yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia memandang suaminya yang
berdiri di hadapannya, dengan tubuh yang semakin kurus, dengan wajah yang
semakin tua, dengan langkah yang semakin lemah, tetapi dengan mata yang tenang,
dengan hati yang damai, dengan jiwa yang bebas.
Amat duduk di samping Camelia, merasakan kehangatan teh
jahe di tangannya, merasakan kehangatan istri di sampingnya, merasakan
kehangatan rumah yang telah menjadi tempatnya selama bertahun-tahun. "Aku
berhasil, Mel. Aku berhasil. Segel itu sekarang permanen. Tidak akan pernah
retak lagi. Tidak akan pernah melemah lagi. Tidak akan pernah rusak lagi.
Makhluk itu akan terkurung selamanya. Desa ini akan aman selamanya. Warisan
leluhur akan terjaga selamanya. Aku telah menyelesaikan tugas yang diwariskan
kepadaku. Aku telah menunaikan amanah yang diberikan oleh leluhur. Aku telah
melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Sekarang, aku bisa
beristirahat."
"Dan kekuatanmu, Mat? Apa yang terjadi dengan
kekuatanmu? Apa yang terjadi dengan liontin itu? Apa yang terjadi dengan matamu
yang biru? Apa yang terjadi dengan kemampuannya melihat hal-hal yang tidak
terlihat? Apa yang terjadi dengan suara-suara yang selama ini kau dengar?"
Amat tersenyum, senyum yang tenang, senyum yang tidak
menunjukkan rasa kehilangan, senyum yang menunjukkan bahwa ia telah menerima
segalanya. "Hilang, Mel. Semuanya hilang. Kekuatanku hilang. Liontin itu
telah menjadi satu dengan segel. Mataku yang biru... aku tidak tahu apakah
warnanya masih sama atau sudah berubah. Aku tidak bisa melihatnya sendiri. Yang
jelas, aku tidak bisa lagi melihat hal-hal yang tidak terlihat. Aku tidak bisa
lagi mendengar suara Kyai Beringin. Aku tidak bisa lagi merasakan getaran dari
dalam tanah. Aku tidak bisa lagi merasakan kehadiran penjaga-penjaga yang dulu
selalu ada di sekitarku. Aku sekarang manusia biasa. Tidak lebih. Tidak kurang.
Seperti orang lain. Seperti Raka. Seperti kau. Seperti semua warga desa
ini."
"Kau tidak pernah biasa, Mat. Bahkan tanpa kekuatan
itu. Bahkan tanpa liontin itu. Bahkan tanpa mata biru itu. Kau adalah Amat.
Amat yang berani. Amat yang setia. Amat yang tidak pernah menyerah. Amat yang
mencintai desa ini. Amat yang mengorbankan segalanya. Amat yang menjadi
suamiku. Amat yang menjadi ayah bagi anakku. Itu sudah cukup. Itu lebih dari
cukup. Kau tidak perlu kekuatan gaib untuk menjadi luar biasa. Kau sudah luar
biasa sejak awal. Sejak kau memilih untuk menerima takdir ini. Sejak kau
memilih untuk berjuang. Sejak kau memilih untuk tidak menyerah. Sejak kau
memilih untuk tetap menjadi dirimu sendiri."
Mereka berdua duduk di beranda, menikmati teh jahe hangat,
menikmati pagi yang indah, menikmati kebersamaan yang mungkin tidak akan mereka
rasakan lagi. Mereka menyaksikan matahari terbit di ufuk timur, menyaksikan
cahaya keemasan yang menyinari seluruh desa, menyaksikan kehidupan yang terus
berjalan. Desa Awan Biru mulai bangun. Suara ayam berkokok bersahutan dari
berbagai penjuru, membangunkan warga yang masih tertidur, menandakan bahwa hari
yang baru telah dimulai. Asap dari dapur-dapur warga mulai mengepul, mengepul
tipis di udara pagi yang masih dingin, membawa aroma nasi yang baru dimasak,
aroma sayur yang baru direbus, aroma kopi yang baru diseduh. Anak-anak
berlarian ke sekolah, dengan seragam yang rapi, dengan tas di punggung, dengan
tawa yang riang, dengan semangat yang membara. Petani-petani berangkat ke
sawah, dengan cangkul di pundak, dengan caping di kepala, dengan langkah yang
mantap. Pedagang-pedagang mulai membuka lapak di pasar, menata dagangan,
menunggu pembeli, memulai hari yang baru.
Semuanya normal. Semuanya damai. Semuanya seperti yang
selalu ia impikan. Desa ini telah selamat. Desa ini telah menjadi tempat yang
aman untuk anak cucu. Desa ini telah menjadi warisan yang layak diteruskan. Dan
ia, Amat Junior, penjaga desa yang telah mengorbankan segalanya, duduk di
beranda rumahnya, menikmati pagi yang indah, menikmati kedamaian yang telah ia
perjuangkan.
Beberapa hari kemudian, ketika tubuhnya semakin lemah,
ketika langkahnya semakin tertatih, ketika napasnya semakin pendek, Amat
mengumpulkan semua orang yang ia cintai di rumahnya. Camelia, yang selalu ada
di sampingnya, yang selalu setia menemaninya, yang selalu menjadi kekuatannya.
Raka, sahabatnya sejak kecil, yang telah menjadi saudaranya, yang telah
membuatnya tertawa di saat-saat paling sulit. Awan, putranya yang telah dewasa,
yang telah menjadi arsitek muda yang berbakat, yang telah memilih untuk kembali
ke desa setelah mendengar kondisi ayahnya. Amita, istri Raka, yang telah
menjadi bagian dari keluarga mereka. Hermansyah, Guntur, Mas Bambang, Enjelin,
dan semua teman-teman lamanya yang telah menjadi bagian dari perjalanan
hidupnya. Mereka duduk di ruang tamu yang sederhana itu, di ruangan yang sama
di mana ia dibesarkan, di ruangan yang sama di mana ia membaca buku-buku
peninggalan neneknya, di ruangan yang sama di mana ia berdiskusi dengan Camelia
tentang sejarah desa, di ruangan yang sama di mana ia tertawa bersama Raka
tentang lelucon-lelucon konyol. Ruangan itu terasa penuh, tidak hanya oleh
orang-orang yang hadir, tetapi juga oleh kenangan-kenangan yang menumpuk di
setiap sudutnya, oleh cerita-cerita yang terukir di setiap papan kayunya, oleh
perjalanan yang telah dilalui bersama.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu," kata Amat,
suaranya lemah tetapi jelas, suaranya keluar dari dadanya yang sesak, suaranya
membawa beban yang telah ia pendam selama bertahun-tahun. "Bukan sesuatu
yang berat. Bukan sesuatu yang akan membuat kalian khawatir. Bukan sesuatu yang
akan membuat kalian sedih. Hanya... sebuah cerita. Cerita yang mungkin sudah
kalian dengar sebagian. Cerita yang mungkin sudah kalian ketahui. Tapi aku
ingin menceritakannya sekali lagi. Dari awal. Dari pertama. Dari saat aku lahir
hingga saat ini. Cerita tentang desa ini. Tentang leluhur. Tentang perjalanan
kita bersama. Tentang semua yang telah kita lalui. Tentang semua yang telah
kita perjuangkan. Tentang semua yang telah kita korbankan. Tentang semua yang
telah kita dapatkan."
Ia bercerita. Bercerita dengan suara yang lembut, dengan
kata-kata yang dipilih dengan cermat, dengan emosi yang tidak bisa ia
sembunyikan. Ia bercerita tentang malam kelahirannya, tentang badai yang
menyertainya, tentang kabut yang berputar-putar, tentang hujan yang turun dari
segala arah, tentang tangisan yang bergema dari gunung ke gunung, tentang para
tetua yang menantikan kedatangannya. Ia bercerita tentang masa kecilnya,
tentang matanya yang biru, tentang keanehan-keanehan yang menyertainya, tentang
pertemuan dengan Raka di bawah pohon mangga halaman sekolah, tentang
persahabatan yang tidak pernah pudar. Ia bercerita tentang petualangan di sumur
tua, di Hutan Larangan, tentang penemuan gerbang batu, tentang pertemuan dengan
Kyai Beringin, tentang makhluk-makhluk yang mereka hadapi. Ia bercerita tentang
perjuangan membangun desa, tentang konflik lahan, tentang pengkhianatan,
tentang pengorbanan yang harus dilakukan. Ia bercerita tentang cintanya pada
Camelia, tentang pernikahan yang sederhana, tentang kelahiran Awan, tentang
semua yang membuat hidupnya berarti. Ia bercerita tentang pengorbanan Raka,
tentang tawa yang menjadi senjata paling ampuh, tentang persahabatan yang
menyelamatkan desa. Dan yang terakhir, ia bercerita tentang malam terakhirnya
di Hutan Larangan, tentang pengembalian liontin, tentang segel yang kini telah
permanen, tentang kekuatan yang telah hilang, tentang kedamaian yang ia
rasakan.
Ketika ceritanya selesai, ruangan itu sunyi. Sunyi yang
penuh dengan emosi. Sunyi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Raka,
yang biasanya cerewet, yang biasanya selalu punya lelucon untuk setiap situasi,
diam. Air mata mengalir di pipinya yang sudah keriput, membasahi senyum yang
masih berusaha ia pertahankan, membasahi kenangan yang tidak akan pernah ia
lupakan. Camelia menggenggam tangan Amat erat-erat, merasakan dinginnya ujung
jari yang dulu hangat, merasakan denyut nadi yang lemah, merasakan kehidupan
yang perlahan-lahan meninggalkan tubuh suaminya. Awan memeluk ayahnya,
menangis, menangis seperti ketika ia masih kecil, menangis seperti ketika ia
pertama kali jatuh dari sepeda, menangis seperti ketika ia kehilangan sesuatu
yang sangat berharga.
"Ayah... kenapa Ayah tidak bilang dari dulu?"
bisik Awan, suaranya terputus-putus, suaranya nyaris tidak terdengar di antara
isak tangis yang ia tahan. "Kenapa Ayah tidak memberitahu aku? Kenapa Ayah
tidak membiarkan aku membantu? Kenapa Ayah tidak membiarkan aku berbagi beban?
Kenapa Ayah memilih untuk memikul semuanya sendirian? Kenapa Ayah..."
"Karena Ayah ingin kau bebas, Nak. Bebas memilih
jalanmu sendiri. Bebas menjadi siapa pun yang kau inginkan. Bebas mencintai
siapa pun yang kau cintai. Bebas bermimpi setinggi langit. Ayah tidak ingin kau
terbebani oleh takdir yang mungkin tidak kau inginkan. Ayah tidak ingin kau
merasa bahwa kau harus menjadi penjaga hanya karena darah yang mengalir di
tubuhmu. Ayah tidak ingin kau mengalami apa yang Ayah alami. Ayah ingin kau
menjadi anak biasa. Ayah ingin kau bahagia. Ayah ingin kau bebas."
"Tapi Ayah, aku bangga menjadi anak Ayah. Aku bangga
dengan semua yang Ayah lakukan. Aku bangga dengan perjuangan Ayah. Aku bangga
dengan pengorbanan Ayah. Aku bangga dengan cinta Ayah pada desa ini. Aku... aku
ingin meneruskan. Aku ingin menjadi seperti Ayah. Aku ingin menjaga desa ini.
Aku ingin menjadi penjaga, seperti Ayah. Aku ingin..."
Amat tersenyum, senyum yang penuh dengan kebahagiaan,
senyum yang mengatakan bahwa ia tidak menyia-nyiakan hidupnya, senyum yang
mengatakan bahwa ia telah melakukan yang terbaik. "Kau tidak harus
meneruskan, Nak. Kau bisa menjadi apa pun yang kau inginkan. Kau bisa menjadi
arsitek yang hebat, membangun gedung-gedung yang megah, merancang kota-kota
yang indah. Kau bisa menjadi apa pun yang kau impikan. Ayah tidak akan
menghalangi. Ayah tidak akan memaksakan kehendak. Ayah hanya ingin kau bahagia.
Tapi jika itu yang kau inginkan, jika kau benar-benar ingin menjadi penjaga,
jika kau benar-benar ingin meneruskan apa yang Ayah mulai, Ayah tidak akan
menghalangi. Ayah akan mendukung. Ayah akan bangga. Tapi ingat, Nak. Kau tidak
sendirian. Kau punya teman-teman, sama seperti Ayah punya Raka dan Camelia. Kau
punya leluhur yang akan selalu menjagamu. Kau punya desa ini yang akan menjadi
rumahmu. Dan kau punya Ayah, yang akan selalu menjagamu dari tempat yang tidak
bisa kau lihat."
Keesokan harinya, ketika matahari baru saja terbit di ufuk
timur dan kabut tipis masih bergelayut di antara pepohonan, Amat meminta Camelia
untuk membawanya ke kantor desa. Ia ingin menyampaikan sesuatu kepada warga,
untuk terakhir kalinya. Ia ingin berterima kasih. Ia ingin berpamitan. Ia ingin
meninggalkan pesan yang akan selalu diingat. Camelia menuntunnya, dengan tangan
yang gemetar, dengan hati yang sesak, dengan air mata yang ia tahan. Raka
berjalan di sisi lainnya, dengan tongkat di tangan, dengan langkah yang
tertatih, dengan senyum yang masih merekah di wajahnya yang keriput. Mereka
bertiga, seperti dulu, seperti ketika mereka masih muda, seperti ketika mereka
berjanji di Bukit Pangasih, seperti ketika mereka menghadapi kegelapan bersama.
Pak Joko Legono, yang telah mendengar kabar tentang kondisi
Amat, yang telah mempersiapkan segalanya sejak pagi, yang telah mengumpulkan
warga di halaman balai desa, berdiri di depan pintu, menyambut kedatangan
mereka. Ia membantu Camelia menuntun Amat naik ke panggung sederhana yang
didirikan di halaman balai desa. Warga datang berbondong-bondong, dari yang
muda hingga yang tua, dari petani hingga pedagang, dari perangkat desa hingga
warga biasa. Mereka datang dengan pakaian terbaik mereka, dengan senyum di
wajah mereka, dengan air mata yang mereka tahan. Mereka ingin mendengar pesan
terakhir dari penjaga desa. Mereka ingin mengucapkan terima kasih. Mereka ingin
berpamitan.
Amat berdiri di depan mereka, dengan bantuan tongkat dan
ditopang oleh Raka dan Camelia. Tubuhnya yang kurus dan lemah itu berdiri
dengan susah payah, tetapi ia tetap berdiri. Ia tidak ingin duduk. Ia ingin
berdiri, untuk terakhir kalinya, di hadapan warga yang telah menjadi
keluarganya, di hadapan desa yang telah menjadi rumahnya, di hadapan leluhur
yang telah menjaganya. Suaranya lemah, tetapi jelas. Suaranya tidak sekeras
dulu, tidak sekuat dulu, tetapi tetap bisa didengar oleh semua orang yang
hadir. Ia berbicara dengan hati, dengan perasaan, dengan kenangan yang tidak
akan pernah pudar.
"Warga Desa Awan Biru yang saya cintai. Hari ini, saya
tidak akan berpidato panjang-panjang. Saya tidak akan berbicara tentang program
pembangunan, tentang angka-angka statistik, tentang target-target yang harus
dicapai. Saya hanya ingin menyampaikan satu pesan. Satu pesan yang mungkin
sederhana, tetapi penting. Satu pesan yang mungkin sudah kalian dengar, tetapi
perlu diulang. Satu pesan yang akan menjadi warisan saya untuk kalian
semua."
Ia berhenti sejenak, mengatur napas, mengumpulkan kekuatan.
"Desa ini bukan milik saya. Bukan milik Pak Kades. Bukan milik siapa pun
yang hidup saat ini. Desa ini adalah titipan. Titipan dari leluhur untuk kita
semua. Titipan yang harus kita jaga, kita rawat, kita lestarikan, dan kita
wariskan kepada anak cucu kita dalam keadaan yang lebih baik dari ketika kita
menerimanya. Jaga desa ini. Jaga tanahnya, yang telah memberikan kehidupan bagi
kita selama bergenerasi. Jaga airnya, yang telah mengairi sawah-sawah kita,
yang telah memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Jaga hutannya, yang telah
menjadi paru-paru desa kita, yang telah menjadi tempat bersemayamnya leluhur.
Jaga tradisinya, yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, yang menjadi
identitas kita sebagai warga Awan Biru. Jaga budayanya, yang telah membentuk
karakter kita, yang telah mengajarkan kita tentang kebersamaan, tentang gotong
royong, tentang saling menghormati. Jaga cerita-cerita leluhurnya, yang telah
mengajarkan kita tentang asal-usul kita, tentang perjuangan mereka, tentang
pengorbanan mereka. Jangan sampai kita menjadi generasi yang melupakan. Jangan
sampai kita menjadi generasi yang merusak. Jangan sampai kita menjadi generasi
yang hanya mengambil tanpa memberi."
Ia menarik napas panjang, napas yang keluar dari dadanya
yang sesak, napas yang membawa pesan yang ingin ia sampaikan. "Dan ingat,
kalian tidak sendirian. Kalian punya satu sama lain. Kalian punya tetangga yang
bisa dimintai tolong. Kalian punya teman yang bisa diajak tertawa. Kalian punya
keluarga yang akan selalu mendukung. Jangan pernah merasa bahwa beban ini
terlalu berat untuk dipikul sendirian. Bagilah dengan orang-orang di sekeliling
kalian. Karena hanya dengan bersatu, kita bisa menjaga desa ini. Hanya dengan
bersatu, kita bisa melindungi warisan leluhur. Hanya dengan bersatu, kita bisa
menghadapi tantangan apa pun."
Ia menoleh ke Raka, yang berdiri di sampingnya dengan air
mata mengalir di pipinya, dengan senyum yang masih berusaha ia pertahankan,
dengan tawa yang telah menjadi senjata paling ampuh. "Terakhir, jangan
pernah lupa untuk tertawa. Sesulit apa pun hidup ini, selalu ada alasan untuk
tertawa. Sesegelap apa pun malam ini, selalu ada cahaya yang akan menyinari.
Sepahit apa pun pengalaman yang kita alami, selalu ada manisnya yang bisa kita
rasakan. Itu yang diajarkan sahabat saya, Raka, kepada saya. Tawa adalah obat.
Tawa adalah cahaya. Tawa adalah senjata paling ampuh melawan kegelapan. Tawa
adalah yang membuat kita tetap manusia. Tawa adalah yang membuat kita tetap
kuat. Tawa adalah yang membuat kita tetap hidup. Terima kasih, Rak. Untuk tawa
yang kau berikan. Untuk persahabatan yang kau jaga. Untuk pengorbanan yang kau
lakukan. Untuk semua yang telah kau berikan kepada saya, kepada desa ini.
Terima kasih."
Warga bertepuk tangan. Ada yang menangis, ada yang
tersenyum, ada yang berpelukan. Mereka tahu bahwa ini adalah perpisahan. Mereka
tahu bahwa penjaga mereka akan segera pergi. Mereka tahu bahwa mereka akan
kehilangan seseorang yang telah berjuang untuk mereka, yang telah mengorbankan
segalanya untuk mereka, yang telah mencintai desa ini seperti ia mencintai
keluarganya. Tapi mereka juga tahu bahwa warisannya akan tetap hidup. Dalam
setiap sudut desa yang ia jaga. Dalam setiap tradisi yang ia lestarikan. Dalam
setiap cerita yang ia tinggalkan. Dalam setiap tawa yang bergema di Bukit
Pangasih. Dalam setiap tetes air yang mengalir dari sumur tua. Dalam setiap
daun yang bergoyang di pohon beringin. Dalam setiap helai ilalang yang
bergoyang di puncak bukit. Dalam setiap sinar matahari yang menembus awan.
Dalam setiap bintang yang berkelap-kelip di langit malam. Dalam setiap hembusan
angin yang membawa kabut dari lereng bukit. Selamanya.
BAB 49: Langit Awan Biru Kembali Damai
Hari-hari terakhir Amat dihabiskan dengan tenang. Tenang
yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, tenang yang menjadi hadiah setelah
puluhan tahun berjuang, tenang yang ia nikmati dengan penuh syukur. Ia tidak
lagi keluar rumah, tidak lagi berjalan ke sawah, tidak lagi duduk di balai
desa, tidak lagi berbicara dengan warga. Ia hanya duduk di beranda, di kursi
bambu yang sama yang telah digunakan sejak ia masih kecil, menatap langit Awan
Biru yang terus berubah warna dari pagi hingga sore. Dari biru pucat ketika
fajar menyingsing, menjadi biru cerah ketika matahari naik, menjadi biru
keemasan ketika senja tiba, menjadi biru gelap ketika malam datang. Ia
menikmati setiap perubahan warna, setiap pergeseran cahaya, setiap hembusan
angin yang membawa kabut dari lereng bukit. Ia seperti sedang mengucapkan
selamat tinggal pada langit yang telah menjadi bagian dari hidupnya, pada desa
yang telah menjadi rumahnya, pada leluhur yang telah menjaganya.
Camelia selalu di sampingnya. Tidak pernah meninggalkannya,
tidak pernah tidur nyenyak, tidak pernah makan dengan lahap. Ia duduk di kursi
di sebelah Amat, sesekali membacakan buku, sesekali menggenggam tangannya,
sesekali hanya diam menatap wajah suaminya yang semakin hari semakin kurus,
semakin pucat, semakin mendekati peristirahatan terakhir. Ia tidak menangis,
tidak meratap, tidak meminta belas kasihan. Ia hanya ada di sana, menjadi
kekuatan bagi suaminya, menjadi tempat bersandar, menjadi rumah yang selalu
hangat. Ia membacakan buku-buku yang dulu mereka baca bersama, buku-buku
peninggalan nenek Amat, buku-buku tentang sejarah desa, tentang leluhur,
tentang perjalanan mereka. Ia membacakan dengan suara yang lembut, dengan
intonasi yang tepat, dengan perasaan yang mendalam. Seperti sedang menceritakan
kembali kisah hidup mereka, seperti sedang mengulang kenangan-kenangan yang
tidak akan pernah terulang, seperti sedang mempersiapkan diri untuk perpisahan
yang tak terhindarkan.
Raka datang setiap sore. Setiap sore, ketika matahari mulai
condong ke barat dan cahayanya berubah menjadi jingga keemasan, ketika kabut
tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit, ketika desa mulai sunyi dan
aktivitas warga mulai berkurang, Raka datang dengan langkah tertatih-tatih,
dengan tongkat di tangan, dengan tubuh yang semakin kurus karena penyakit
diabetes yang dideritanya. Ia selalu membawa pecel buatan anaknya, yang
dibungkus dengan daun pisang, yang masih hangat ketika disantap. Ia duduk di
kursi di sisi lain Amat, tidak banyak bicara, hanya duduk bersama, menikmati
keheningan yang telah menjadi bagian dari persahabatan mereka setelah puluhan
tahun. Mereka tidak perlu banyak bicara untuk saling mengerti. Mereka tidak
perlu banyak kata untuk merasakan kehadiran satu sama lain. Mereka hanya perlu
ada, di sana, bersama, seperti yang selalu mereka lakukan sejak kecil.
"Rak, ingat waktu kita pertama kali bertemu?"
tanya Amat suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik barisan gunung
dan langit berubah warna dari jingga menjadi ungu. Suaranya lemah, nyaris tidak
terdengar, tetapi Raka yang sudah terbiasa dengan suaranya bisa mendengar
dengan jelas.
Raka tersenyum, senyum yang sama seperti ketika mereka
masih kecil, senyum yang membuat seluruh wajahnya yang bulat itu berkerut,
senyum yang menjadi ciri khasnya. "Mana aku lupa. Waktu itu kau sedang
duduk sendirian di beranda rumahmu, di kursi bambu yang sama yang sekarang
masih ada, menatap pohon beringin di kejauhan, kayak ada hantu. Matamu yang biru
itu menatap kosong ke suatu arah, dan aku kira kau anak aneh. Anak yang tidak
punya teman. Anak yang suka melamun. Anak yang lebih suka menatap pohon
daripada bermain. Aku pikir, anak ini butuh teman. Anak ini butuh seseorang
yang bisa membuatnya tertawa. Anak ini butuh pecel."
Amat tersenyum, senyum yang lemah, senyum yang terakhir,
senyum yang penuh dengan kenangan. "Memang aku anak aneh. Aku anak yang
bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Aku anak yang mendengar
suara-suara yang tidak didengar orang lain. Aku anak yang dilahirkan dengan
mata biru, di tengah badai yang aneh, di tengah kabut yang berputar-putar. Aku
anak yang ditakdirkan menjadi penjaga. Aku memang aneh. Tapi kau juga aneh,
Rak. Aneh yang lucu. Aneh yang membuat semua orang tertawa. Aneh yang mengubah
ketakutan menjadi keberanian. Aneh yang membuat kami percaya bahwa kita bisa
melewati semua ini."
"Ya, itu bakatku. Bakat yang tidak diajarkan di
sekolah. Bakat yang tidak bisa diukur dengan nilai. Bakat yang hanya dimiliki
oleh orang-orang yang tidak takut menjadi diri sendiri. Bakat yang membuatku
menjadi Raka. Bukan penjaga seperti kamu. Bukan intelektual seperti Camelia.
Tapi Raka. Anak pecel. Sahabat. Penghibur. Itu sudah cukup. Itu lebih dari
cukup."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lemah, tetapi tulus. Tawa
yang menjadi pengingat bahwa di tengah semua kesedihan dan kehilangan, mereka
masih bisa tertawa, masih bisa menikmati kebersamaan, masih bisa menjadi
sahabat yang selalu ada untuk satu sama lain. Tawa yang menjadi senjata paling
ampuh, seperti yang pernah dikatakan Mbah Ratih, seperti yang pernah dikatakan
Kyai Beringin. Tawa yang akan terus bergema di Bukit Pangasih, di beranda rumah
ini, di hati mereka yang ditinggalkan.
Malam itu, ketika bulan purnama bersinar terang di langit
Awan Biru, ketika bintang-bintang bertaburan seperti debu berlian di atas kain
beludru hitam, ketika kabut tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit,
Amat meminta Camelia untuk membantunya duduk di beranda. Ia ingin melihat
langit Awan Biru untuk terakhir kalinya. Ia ingin memandang desa yang telah
menjadi rumahnya. Ia ingin mengucapkan selamat tinggal pada pohon beringin tua
yang telah menjadi temannya sejak kecil. Ia ingin merasakan angin malam yang
membawa kesejukan dari lereng gunung. Ia ingin mendengar suara jangkrik yang
menjadi musik pengantar tidurnya. Ia ingin menikmati semua yang telah menjadi
bagian dari hidupnya, untuk terakhir kalinya.
Langit malam itu sangat indah. Indah seperti ketika ia
masih kecil, ketika ia pertama kali melihat bintang-bintang dari pangkuan
ibunya. Indah seperti ketika ia masih remaja, ketika ia pertama kali berjanji
di Bukit Pangasih bersama Raka dan Camelia. Indah seperti ketika ia masih muda,
ketika ia pertama kali memandang Camelia dengan perasaan yang tidak bisa ia
ungkapkan. Bintang-bintang bertaburan seperti debu berlian, berkerlip-kerlip di
langit yang gelap, seperti mata-mata kecil yang mengintip dari balik selimut
malam. Bulan purnama bersinar terang, bundar sempurna, memberikan cahaya
peraknya yang lembut ke seluruh desa, membuat kabut tipis yang merayap dari
lereng bukit berkilauan seperti tirai dari sutra putih. Di kejauhan, pohon
beringin tua berdiri tegak di tengah desa, dengan kanopinya yang rimbun, dengan
akar-akarnya yang menjalar, dengan Kyai Beringin yang mungkin masih ada di
sana, menunggu, menjaga. Daun-daunnya bergoyang pelan ditiup angin, seperti
melambai, seperti mengucapkan selamat tinggal, seperti memberi restu untuk
perjalanan terakhir.
"Cantik, ya, Mel?" bisik Amat, suaranya lemah,
suaranya nyaris tidak terdengar di atas suara angin malam, tetapi Camelia yang
sudah terbiasa dengan suaranya bisa mendengar dengan jelas.
"Cantik, Mat. Cantik seperti pertama kali kita
melihatnya dulu. Cantik seperti ketika kita masih kecil, ketika kita masih
tidak tahu apa-apa tentang dunia. Cantik seperti ketika kita masih remaja,
ketika kita masih penuh mimpi. Cantik seperti ketika kita masih muda, ketika
kita masih penuh semangat. Cantik seperti ketika kita pertama kali berjanji di
Bukit Pangasih. Cantik seperti ketika kita pertama kali masuk ke Hutan
Larangan. Cantik seperti ketika kita pertama kali melihat gerbang batu. Cantik
seperti ketika kita pertama kali merasakan bahwa kita bisa melakukan sesuatu
yang besar. Cantik seperti sekarang, di malam terakhirmu."
"Kita sudah berjalan jauh, Mel. Dari anak-anak yang
takut akan segalanya, yang takut pada bayangan di pohon beringin, yang takut
pada suara-suara di sumur tua, yang takut pada kegelapan yang menyelimuti desa.
Sampai sekarang. Sampai kita dewasa. Sampai kita menjadi orang tua. Sampai kita
bisa melihat desa ini dengan tenang, tanpa rasa takut, tanpa rasa cemas, tanpa
rasa khawatir. Sampai kita bisa mengatakan bahwa kita telah melakukan yang
terbaik. Sampai kita bisa melepaskan semuanya dengan ikhlas."
"Dan kita tidak sendirian, Mat. Kita punya Raka.
Sahabat yang selalu membuat kita tertawa, yang selalu mengingatkan kita bahwa
hidup tidak selalu harus serius. Kita punya Awan. Anak yang akan meneruskan apa
yang telah kita mulai, yang akan menjaga desa ini dengan caranya sendiri. Kita
punya desa ini. Desa yang telah menjadi rumah kita, yang telah menjadi saksi
bisu perjalanan kita, yang akan terus hidup meskipun kita telah pergi. Kita
punya leluhur. Leluhur yang selalu menjaga, yang selalu membimbing, yang selalu
memberkati. Kita tidak sendirian, Mat. Kita tidak pernah sendirian."
Amat menggenggam tangan Camelia. Tangannya dingin, sangat
dingin, seperti es yang mulai membeku. Tetapi genggamannya kuat, kuat seperti
ketika mereka masih muda, kuat seperti ketika mereka berjanji untuk saling
menjaga, kuat seperti ketika mereka menghadapi badai bersama. Ia menatap
Camelia, menatap wajah yang telah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun,
menatap mata yang selalu penuh dengan cinta dan kesetiaan, menatap senyum yang
selalu memberinya kekuatan. "Mel, aku ingin kau tahu sesuatu. Sesuatu yang
mungkin sudah kau tahu, tetapi belum pernah aku katakan dengan jelas. Sesuatu
yang selama ini aku pendam, karena aku tidak pernah punya keberanian untuk
mengatakannya. Sesuatu yang sekarang, di malam terakhirku, aku ingin kau
dengar."
"Apa, Mat? Apa yang ingin kau katakan?"
"Aku mencintaimu, Mel. Bukan sejak kita menikah. Bukan
sejak kita remaja. Tapi sejak pertama kali aku melihatmu di sekolah dasar,
ketika kau duduk di bangku depan, dengan buku catatan di tanganmu, dengan
rambut yang diikat rapi, dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Sejak kau
menatapku dengan mata itu, menatapku seperti aku bukan orang aneh, menatapku
seperti aku adalah manusia biasa, menatapku seperti aku layak untuk dikenal.
Sejak itu, aku tahu kau orang yang istimewa. Sejak itu, aku tahu aku ingin
mengenalmu lebih dekat. Sejak itu, aku tahu aku ingin kau menjadi bagian dari
hidupku. Dan aku bersyukur, Mel. Aku bersyukur bahwa kau memilih untuk menjadi
bagian dari hidupku. Aku bersyukur bahwa kau tidak pernah meninggalkanku. Aku
bersyukur bahwa kau selalu ada di sampingku, dalam suka dan duka, dalam sehat
dan sakit, dalam terang dan gelap. Aku bersyukur bahwa kau menjadi istriku,
sahabatku, kekuatanku. Aku mencintaimu, Mel. Sejak dulu. Sampai sekarang. Dan
selamanya."
Camelia tersenyum. Air matanya menetes, membasahi pipinya
yang sudah berkerut, membasahi senyum yang tidak bisa ia sembunyikan, membasahi
kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. "Aku juga, Mat.
Sejak kau menjawab pertanyaan guru tentang gerhana matahari dengan cerita
tentang Buto dan Batara. Sejak kau menjelaskan dengan tenang, dengan suara yang
lembut, dengan mata yang biru itu. Aku tahu kau berbeda. Aku tahu kau istimewa.
Aku tahu kau bukan anak biasa. Dan aku ingin menjadi bagian dari perbedaan itu.
Aku ingin menjadi bagian dari kehidupanmu. Aku ingin menjadi bagian dari
perjalananmu. Aku ingin menjadi bagian dari ceritamu. Dan aku bersyukur, Mat.
Aku bersyukur bahwa kau mengizinkanku menjadi bagian dari hidupmu. Aku
bersyukur bahwa kau tidak pernah menolakku. Aku bersyukur bahwa kau selalu
menerimaku apa adanya. Aku bersyukur bahwa kau menjadi suamiku, sahabatku,
rumahku. Aku mencintaimu, Mat. Sejak dulu. Sampai sekarang. Dan
selamanya."
Mereka berpelukan. Di bawah langit Awan Biru yang luas, di
atas beranda rumah tua yang telah menjadi saksi perjalanan hidup mereka, dua
orang yang telah bersama selama puluhan tahun menikmati momen terakhir mereka.
Tidak ada tangis, tidak ada ratap, tidak ada kata-kata yang menyayat hati.
Hanya keheningan yang damai, keheningan yang penuh dengan cinta, keheningan
yang menjadi perpisahan yang paling indah. Angin malam bertiup pelan, membawa
kabut tipis dari lereng-lereng bukit, membawa aroma bunga-bunga yang mekar di
halaman, membawa doa-doa yang dipanjatkan oleh mereka yang mencintai.
Bintang-bintang berkelap-kelip di langit, seperti mata-mata kecil yang
mengintip, seperti lampu-lampu yang dinyalakan untuk menerangi jalan. Bulan
purnama bersinar terang, memberikan cahaya peraknya yang lembut, seperti
pelukan yang hangat, seperti restu yang diberikan untuk perjalanan terakhir.
Saat matahari mulai terbit di ufuk timur, ketika cahaya
keemasan mulai menembus kabut tipis yang masih bergelayut di antara pepohonan,
ketika burung-burung mulai berkicau menyambut pagi yang baru, Amat Junior
menghembuskan napas terakhirnya. Ia pergi dengan tenang, dengan damai, dengan
senyum yang masih terukir di bibirnya yang pucat. Tidak ada rasa sakit, tidak
ada penderitaan, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Ia hanya tertidur, tertidur
panjang, tertidur yang akan membawanya bertemu dengan leluhur, bertemu dengan
Mbah Ratih, bertemu dengan Kyai Beringin, bertemu dengan semua yang telah pergi
lebih dulu. Wajahnya tenang, seperti sedang bermimpi indah, seperti sedang
berjalan di atas ilalang di Bukit Pangasih, seperti sedang duduk di bawah pohon
beringin bersama Raka dan Camelia, seperti sedang menikmati pecel di warung
sederhana yang dulu menjadi tempat mereka berkumpul.
Camelia yang masih memeluknya merasakan ketika genggaman
tangannya perlahan-lahan melemah. Merasakan ketika dadanya berhenti bergerak
naik turun. Merasakan ketika kehangatan tubuhnya perlahan-lahan menghilang,
digantikan oleh dingin yang perlahan merambat dari ujung jari ke telapak
tangan, dari telapak tangan ke pergelangan, dari pergelangan ke lengan. Ia
tidak menangis. Ia hanya memeluk suaminya lebih erat, merasakan kepergian yang
telah ia persiapkan sejak lama, merasakan kehilangan yang tidak akan pernah
bisa ia gantikan.
"Mat... Mat..." bisiknya, suaranya lemah,
suaranya nyaris tidak terdengar. Ia menahan tangis, menahan sesak di dadanya,
menahan rasa sakit yang menusuk hatinya. "Kau pergi dengan tenang, ya? Kau
pergi tanpa rasa sakit? Kau pergi tanpa penyesalan? Kau pergi tanpa beban? Kau
telah melakukan yang terbaik, Mat. Kau telah menjadi suami yang baik. Kau telah
menjadi ayah yang baik. Kau telah menjadi penjaga yang baik. Kau telah menjadi
pahlawan bagi desa ini. Istirahatlah, Mat. Istirahatlah dengan tenang. Aku akan
baik-baik saja. Aku akan menjaga Awan. Aku akan menjaga desa ini. Aku akan
menjaga kenangan kita. Aku akan selalu mengingatmu. Selamanya."
Raka yang sedang tidur di ruang tamu, yang terbangun oleh
suara bisikan Camelia, yang merasakan ada sesuatu yang berbeda di udara pagi
itu, berlari ke beranda. Langkahnya yang tertatih-tatih tiba-tiba menjadi
cepat, seperti ketika ia masih muda, seperti ketika ia berlari mengejar makhluk
raksasa di Hutan Larangan. Ia melihat sahabatnya terbaring di pangkuan Camelia,
dengan wajah yang damai, dengan senyum yang masih terukir di bibirnya, dengan
mata yang terpejam rapat. Ia berlutut di samping Amat, memegang tangannya yang
sudah dingin, merasakan kepergian yang tidak bisa ia hindari.
"Mat..." suaranya parau, suaranya terputus-putus,
suaranya keluar dari dadanya yang sesak. "Mat... kau... kau pergi begitu
saja? Tidak pamit? Tidak bilang apa-apa? Tidak memberi kesempatan untuk
mengucapkan selamat tinggal? Tidak memberi kesempatan untuk mengatakan bahwa
aku bangga menjadi sahabatmu? Tidak memberi kesempatan untuk mengatakan bahwa
aku berterima kasih karena telah menjadi bagian dari hidupku? Tidak memberi
kesempatan untuk..."
Ia menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka
menangis. Bukan tangis haru seperti di pernikahan anaknya, bukan tangis sedih
seperti ketika ia kehilangan sesuatu yang berharga, bukan tangis bahagia
seperti ketika ia pertama kali menjadi kakek. Tangis kehilangan sahabat. Tangis
yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Tangis yang tidak bisa ia tahan,
tidak bisa ia sembunyikan, tidak bisa ia kendalikan. Air mata itu mengalir
deras di pipinya yang sudah keriput, membasahi wajahnya, membasahi tangan Amat
yang ia genggam, membasahi kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan.
Awan, yang berlari dari kamarnya setelah mendengar isak
tangis ibunya, setelah merasakan ada yang berbeda di rumah itu, jatuh berlutut
di sisi ayahnya. Ia memeluk ayahnya yang sudah tidak bergerak, merasakan dingin
yang merambat dari tubuh yang telah meninggalkan kehidupan, merasakan
kehilangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. "Ayah... Ayah...
kenapa Ayah pergi tanpa pamit? Kenapa Ayah tidak memberi tahu? Kenapa Ayah
tidak memberi kesempatan untuk mengucapkan terima kasih? Untuk mengatakan bahwa
aku bangga menjadi anak Ayah? Untuk mengatakan bahwa aku akan meneruskan
perjuangan Ayah? Untuk mengatakan bahwa aku akan menjaga desa ini? Untuk
mengatakan bahwa aku akan menjaga Ibu? Untuk mengatakan bahwa aku akan selalu
mengingat Ayah?"
Sumirah, yang kini telah berusia sangat tua dan nyaris
tidak bisa berjalan, yang telah kehilangan banyak teman dan keluarganya, yang
telah melihat banyak orang yang dicintainya pergi lebih dulu, merangkak keluar
dari kamarnya. Ia menatap anaknya yang terbaring tenang, anak yang lahir di
tengah badai yang aneh, anak yang matanya biru seperti langit Awan Biru, anak
yang menjadi penjaga desa, anak yang membuatnya bangga. Air matanya mengalir
deras di pipinya yang penuh kerutan, membasahi senyum yang masih berusaha ia
pertahankan. "Amat... anak Ibu... anak Ibu yang pemberani... anak Ibu yang
tidak pernah menyerah... anak Ibu yang selalu berjuang... anak Ibu yang membuat
Ibu bangga... Ibu... Ibu akan merindukanmu, Nak. Ibu akan selalu merindukanmu.
Tapi Ibu ikhlas. Ibu ikhlas melepaskanmu. Ibu tahu kau sudah berjuang cukup.
Ibu tahu kau sudah melakukan yang terbaik. Ibu tahu kau sudah menjadi penjaga
yang baik. Istirahatlah, Nak. Istirahatlah dengan tenang. Ibu akan baik-baik
saja. Ibu akan dijaga oleh Camelia, oleh Awan, oleh desa ini. Ibu akan selalu
mengingatmu. Selamanya."
Berita tentang kepergian Amat Junior menyebar dengan cepat
ke seluruh desa. Dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, dari dusun ke dusun.
Warga datang berbondong-bondong ke rumah tua di pinggir desa, di kaki Bukit
Pangasih. Mereka datang dengan membawa bunga, membawa doa, membawa kenangan.
Mereka datang dengan pakaian terbaik mereka, dengan senyum di wajah mereka,
dengan air mata yang tidak bisa mereka tahan. Mereka berdiri di halaman,
menangis, berdoa, mengenang semua yang telah dilakukan Amat untuk desa ini. Ada
yang mengingat bagaimana Amat membantu mereka menyelesaikan konflik lahan,
bagaimana Amat menjadi mediator yang adil, bagaimana Amat tidak pernah memihak,
bagaimana Amat selalu mencari solusi yang terbaik untuk semua. Ada yang
mengingat bagaimana Amat membangun sistem administrasi yang transparan,
bagaimana Amat membuat desa ini menjadi lebih maju, bagaimana Amat membawa
kesejahteraan bagi warganya. Ada yang mengingat bagaimana Amat menjaga desa
dari makhluk-makhluk yang mengancam, bagaimana Amat mengorbankan kekuatannya
untuk keselamatan mereka, bagaimana Amat menjadi penjaga yang setia. Ada yang
mengingat bagaimana Amat tetap rendah hati meskipun telah berbuat banyak,
bagaimana Amat tidak pernah sombong, bagaimana Amat selalu mengingat dari mana
ia berasal.
Pak Joko Legono, yang tiba bersama perangkat desa lainnya,
berdiri di depan pintu. Wajahnya yang tegas itu tampak sendu, matanya
berkaca-kaca, suaranya bergetar. "Desa ini kehilangan pahlawannya," katanya,
suaranya lantang, suaranya bergema di halaman yang sunyi, suaranya didengar
oleh semua orang yang hadir. "Desa ini kehilangan penjaganya. Desa ini
kehilangan putra terbaiknya. Tapi warisannya akan tetap hidup. Warisannya akan
terus kami jaga. Dalam setiap kebijakan yang kami ambil. Dalam setiap tradisi
yang kami lestarikan. Dalam setiap nilai yang kami ajarkan kepada generasi
penerus. Dalam setiap cerita yang kami ceritakan kepada anak cucu. Dalam setiap
tawa yang bergema di desa ini. Amat Junior telah pergi. Tapi namanya akan tetap
abadi. Di langit Awan Biru yang selalu biru. Di pohon beringin yang selalu
rimbun. Di sumur tua yang selalu jernih. Di Hutan Larangan yang selalu hijau.
Di hati setiap warga yang pernah ia lindungi. Selamanya."
Di kejauhan, pohon beringin tua bergoyang pelan,
daun-daunnya bergemerisik, seolah-olah ikut berduka, ikut bersedih, ikut
melepas kepergian penjaga yang telah setia. Kyai Beringin berdiri di bawah
pohon itu, dengan jubah hitamnya yang berkibar-kibar, dengan matanya yang
teduh, dengan senyum yang penuh dengan kebahagiaan. Ia melihat Amat pergi,
melihat jiwa yang telah menyelesaikan tugasnya, melihat penjaga yang telah
mengorbankan segalanya. Ia tersenyum. Senyum yang hangat, senyum yang penuh
dengan kebanggaan, senyum yang mengatakan bahwa Amat telah melakukan lebih dari
yang diharapkan, bahwa ia telah menjadi penjaga yang baik, bahwa ia akan selalu
dikenang. Di langit, matahari terbit dengan indahnya, memberikan cahaya
keemasan yang hangat ke seluruh desa. Langit Awan Biru tetap biru. Biru yang
tenang, biru yang damai, biru yang menjadi saksi bahwa di desa kecil ini,
seorang anak yang lahir di tengah badai, yang matanya biru seperti langit, yang
menjadi penjaga, yang mengorbankan segalanya, telah pergi. Tapi warisannya akan
tetap hidup. Selamanya.
BAB 50: Kepergian yang Menghidupkan Legenda
Amat Junior dimakamkan di pemakaman desa, di tempat yang
sama di mana Mbah Ratih dimakamkan tiga puluh tahun yang lalu, di tempat yang
sama di mana para tetua desa dimakamkan sejak zaman leluhur. Pemakaman itu
terletak di lereng bukit kecil di sebelah timur desa, menghadap ke arah
matahari terbit, dengan pemandangan sawah-sawah yang terbentang hijau dan Hutan
Larangan yang membentang luas di kejauhan. Di sinilah para leluhur beristirahat,
di sinilah Mbah Ratih beristirahat, di sinilah Kyai Beringin mungkin juga
beristirahat dalam bentuk yang tidak terlihat. Di sinilah Amat akan
beristirahat selamanya, di antara orang-orang yang ia cintai, di antara leluhur
yang ia hormati, di antara desa yang ia jaga.
Upacara pemakaman dilakukan secara sederhana, tidak ada
kemewahan, tidak ada keramaian yang berlebihan, tidak ada upacara yang panjang
dan berbelit. Sesuai dengan keinginan Amat sebelum meninggal, sesuai dengan
karakternya yang selalu sederhana, sesuai dengan hidupnya yang tidak pernah
ingin menjadi pusat perhatian. Namun meskipun sederhana, upacara itu dihadiri
oleh seluruh warga Desa Awan Biru. Mereka datang dari berbagai dusun, dari
berbagai usia, dari berbagai latar belakang. Ada yang datang dengan berjalan
kaki, dengan sandal jepit dan pakaian seadanya. Ada yang datang dengan sepeda
motor, membawa serta istri dan anak-anak mereka. Ada yang datang dengan truk
milik anak Pak Anto, yang rela mengantar warga dari dusun-dusun terpencil tanpa
meminta bayaran, seperti yang selalu dilakukan oleh ayahnya dulu. Semua ingin
memberikan penghormatan terakhir kepada penjaga desa, kepada putra terbaik Awan
Biru, kepada pahlawan yang telah mengorbankan segalanya.
Mereka berdiri di sekitar makam yang baru digali, dengan
pakaian serba hitam atau putih, dengan wajah yang sendu, dengan mata yang
berkaca-kaca. Mereka membawa bunga, membawa dupa, membawa doa. Mereka berdoa
bersama, dipimpin oleh Pak Joko Legono yang berdiri di depan makam dengan suara
yang lantang tetapi bergetar. Mereka memohon kepada Tuhan, memohon kepada
leluhur, memohon kepada semua kekuatan yang menjaga desa ini, untuk menerima
Amat dengan baik, untuk memberinya tempat yang layak di sisi leluhur, untuk
memberinya kedamaian yang abadi.
Raka berdiri di sisi makam, dengan Camelia di sampingnya.
Tubuhnya yang kurus dan lemah itu berdiri dengan susah payah, ditopang oleh
tongkat yang ia pegang erat-erat. Wajahnya pucat, matanya sembab, air matanya
masih mengalir meskipun ia sudah berusaha menahannya. Ia tidak bisa berdiri
tegak, tidak bisa berbicara dengan jelas, tidak bisa menahan tangis yang terus
mengalir. Tapi ia tetap berdiri di sana, di sisi sahabatnya, di tempat yang
seharusnya ia berada, seperti yang selalu ia lakukan sejak mereka masih kecil.
Awan berdiri di belakang mereka, menggenggam tangan ibunya yang dingin,
merasakan kehilangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia sudah
dewasa, sudah menjadi arsitek yang sukses, sudah memiliki keluarga sendiri.
Tapi di hadapan makam ayahnya, ia kembali menjadi anak kecil yang kehilangan
sandaran, yang kehilangan panutan, yang kehilangan pahlawannya.
"Mat," kata Raka, suaranya parau, suaranya serak,
suaranya keluar dari dadanya yang sesak. Ia berdiri di tepi makam, menatap
liang lahat yang mulai ditutup tanah, menatap peti jenazah yang mulai
menghilang, menatap sahabatnya yang akan segera menjadi kenangan. "Aku
tidak pandai berpidato. Aku tidak pandai merangkai kata-kata indah seperti
Camelia. Aku tidak pandai berbicara di depan banyak orang seperti Pak Joko. Aku
hanya penjual pecel. Aku hanya orang yang bisa membuat orang tertawa. Tapi aku
ingin mengatakan sesuatu. Sekali ini saja. Untukmu. Untuk sahabatku."
Ia berhenti sejenak, menahan tangis yang menggelayut di
tenggorokannya, menahan sesak yang menekan dadanya. Ia menarik napas panjang,
mengumpulkan keberanian, mengumpulkan kata-kata yang selama ini tidak pernah ia
ucapkan.
"Kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki.
Sejak pertama kali aku melihatmu duduk sendirian di beranda rumahmu, menatap
pohon beringin seperti ada hantu di sana, aku tahu kau berbeda. Aku tidak tahu
bahwa kau akan menjadi penjaga desa. Aku tidak tahu bahwa kau akan
menyelamatkan desa ini. Aku tidak tahu bahwa kau akan mengorbankan segalanya.
Yang aku tahu, kau adalah anak yang kesepian, yang butuh teman, yang butuh
seseorang untuk membuatnya tertawa. Dan aku ingin menjadi orang itu. Tanpamu,
aku hanya anak penjual pecel yang tidak punya arah, yang hanya sibuk dengan
warung dan lelucon-lelucon konyol, yang tidak pernah berpikir bahwa hidup ini
bisa lebih dari sekadar jualan dan tertawa. Tapi denganmu, aku menjadi bagian
dari sesuatu yang lebih besar. Aku menjadi saksi dari perjuangan yang luar
biasa. Aku menjadi bagian dari sejarah desa ini. Aku menjadi pahlawan, meskipun
hanya sebentar. Aku menjadi penting, meskipun hanya di matamu."
Ia mengambil napas lagi, napas yang tersengal-sengal, napas
yang keluar dari paru-parunya yang sudah tidak muda lagi.
"Kau mengajariku banyak hal, Mat. Tentang keberanian,
bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi tetap melangkah meskipun
takut. Tentang pengorbanan, bahwa pengorbanan bukan berarti kehilangan, tetapi
memberikan sesuatu yang berharga untuk orang yang dicintai. Tentang cinta,
bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang komitmen, tentang
kesetiaan, tentang memilih untuk tetap bersama meskipun badai menerpa. Tentang
persahabatan, bahwa persahabatan bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi
tentang saling menguatkan, saling mendukung, saling percaya. Tentang hidup,
bahwa hidup bukan hanya tentang mencari kebahagiaan sendiri, tetapi tentang
memberikan kebahagiaan kepada orang lain."
Ia berhenti, menunduk, menangis. Air matanya jatuh ke
tanah, membasahi tanah yang baru saja menutupi makam sahabatnya.
"Dan sekarang, kau pergi. Kau pergi meninggalkan aku,
meninggalkan Camelia, meninggalkan Awan, meninggalkan desa ini. Tapi aku tidak
akan sedih. Aku tidak akan menangis. Karena aku tahu kau sudah tenang. Aku tahu
kau sudah menyelesaikan tugasmu. Aku tahu kau sudah menjadi penjaga yang baik.
Aku tahu kau sudah mengorbankan segalanya. Sekarang, waktunya istirahat.
Waktunya beristirahat setelah perjuangan yang panjang. Waktunya beristirahat
setelah pengorbanan yang besar. Waktunya beristirahat setelah hidup yang berarti."
Ia mengambil sebungkus pecel dari tasnya, pecel yang
dibungkus dengan daun pisang, pecel yang masih hangat meskipun telah ia bawa
sejak pagi. Ia membungkuk, meletakkannya di atas makam yang masih baru, di atas
tanah yang masih basah, di tempat yang akan menjadi tempat peristirahatan
terakhir sahabatnya.
"Ini pecel buatan anakku, Kinan. Rasanya belum seenak
buatan bapakku. Belum seenak buatanku dulu. Tapi lumayan. Makanlah, Mat. Jangan
sampai lapar di perjalanan. Jangan sampai kehabisan bekal. Karena perjalananmu
masih panjang. Perjalanan menuju leluhur. Perjalanan menuju kedamaian.
Perjalanan menuju kebahagiaan yang abadi. Aku akan menyusulmu suatu hari nanti.
Tidak sekarang. Masih ada yang harus aku lakukan. Masih ada yang harus aku
jaga. Masih ada yang harus aku selesaikan. Tapi suatu hari nanti, ketika
waktunya tiba, kita akan bertemu lagi. Kita akan duduk bersama, minum teh jahe,
makan pecel, dan tertawa seperti dulu. Seperti yang selalu kita lakukan.
Selamanya."
Camelia melangkah maju. Langkahnya pelan, tertatih-tatih,
tetapi penuh dengan martabat. Ia berdiri di tepi makam, di tempat yang sama di
mana Raka baru saja berdiri, di tempat yang sama di mana ia akan mengucapkan
selamat tinggal untuk terakhir kalinya. Ia membawa buku catatan lamanya, buku
yang telah menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka, buku yang telah mencatat
setiap detail, setiap peristiwa, setiap pengorbanan. Buku itu sudah usang,
sampulnya robek di beberapa tempat, halaman-halamannya menguning karena usia,
tulisannya memudar karena sering dibaca. Tapi ia tetap menjaganya, tetap
menyimpannya, tetap membacanya berulang-ulang. Karena buku itu adalah
satu-satunya yang tersisa dari perjalanan panjang mereka. Buku itu adalah
kenangan yang tidak akan pernah pudar. Buku itu adalah warisan yang akan ia
tinggalkan untuk anak cucu.
Ia membuka buku itu, membalik halaman demi halaman, mencari
halaman yang tepat, halaman yang ia tulis bertahun-tahun yang lalu, ketika
mereka masih muda, ketika mereka masih penuh semangat, ketika mereka masih
tidak tahu apa-apa tentang kehidupan. Ia menemukannya. Halaman di mana ia
menulis tentang pertama kali mereka bertiga berjanji di Bukit Pangasih. Halaman
di mana ia menulis tentang perjalanan pertama mereka ke Hutan Larangan. Halaman
di mana ia menulis tentang pertemuan dengan Kyai Beringin, tentang penjaga air,
tentang gerbang batu. Halaman di mana ia menulis tentang ritual Purnama,
tentang pengorbanan Raka, tentang cahaya biru yang menyelamatkan desa. Halaman
di mana ia menulis tentang konflik lahan, tentang pengkhianatan, tentang
keadilan yang ditegakkan. Halaman di mana ia menulis tentang cinta yang tumbuh
perlahan, tentang pernikahan yang sederhana, tentang kelahiran Awan. Halaman di
mana ia menulis tentang pengorbanan terakhir Amat, tentang liontin yang
dikembalikan, tentang segel yang menjadi permanen. Halaman di mana ia menulis
tentang semua yang telah mereka lalui, semua yang telah mereka perjuangkan,
semua yang telah mereka korbankan.
"Mat, ini catatan tentang perjalanan kita,"
katanya, suaranya lembut, suaranya tenang, suaranya tidak bergetar meskipun
hatinya hancur. Ia menatap buku di tangannya, menatap tulisan-tulisan yang
menjadi saksi bisu perjalanan mereka, menatap kenangan yang tidak akan pernah
bisa dihapus. "Catatan tentang semua yang kita alami. Tentang pertemuan
pertama kita di sekolah dasar, ketika kau menjawab pertanyaan tentang gerhana
matahari dengan cerita tentang Buto dan Batara. Tentang persahabatan kita
dengan Raka, yang membuat kita tertawa di saat-saat paling sulit. Tentang
petualangan kita ke Hutan Larangan, yang membuat kita takut dan berani pada
saat yang sama. Tentang perjuangan kita melawan kegelapan, yang mengajarkan
kita bahwa persahabatan adalah kekuatan yang paling besar. Tentang cinta kita yang
tumbuh perlahan, yang mengajarkan kita bahwa cinta tidak perlu diucapkan untuk
dirasakan. Tentang hidup kita yang penuh dengan pengorbanan, yang mengajarkan
kita bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa memberikan kebahagiaan
kepada orang lain."
Ia menutup buku itu, memeluknya erat-erat, menciumnya
dengan penuh kasih sayang. "Aku akan menjaganya, Mat. Aku akan menjaganya
seperti aku menjagamu selama ini. Aku akan membacanya berulang-ulang, agar aku
tidak lupa, agar aku tidak kehilangan kenangan. Aku akan menceritakannya kepada
anak cucu kita, kepada generasi penerus, kepada siapa pun yang mau
mendengarkan. Agar mereka tahu, bahwa pernah ada seorang penjaga yang rela
mengorbankan segalanya untuk desa ini. Agar mereka tahu, bahwa desa ini tidak terbentuk
begitu saja, bahwa ada perjuangan di balik setiap kedamaian, bahwa ada
pengorbanan di balik setiap kebahagiaan. Agar mereka tahu, bahwa kau adalah
pahlawan, Mat. Pahlawan yang tidak pernah mencari pengakuan. Pahlawan yang
tidak pernah meminta imbalan. Pahlawan yang hanya ingin desa ini aman, warganya
bahagia, leluhurnya dihormati."
Ia meletakkan buku itu di samping pecel yang diletakkan
Raka, di atas makam yang masih baru, di atas tanah yang masih basah. Buku itu
akan menjadi saksi, buku itu akan menjadi kenangan, buku itu akan menjadi
warisan yang abadi.
"Aku akan selalu mengingatmu, Mat. Aku akan selalu
mencintaimu. Sampai kita bertemu lagi nanti. Di tempat yang tidak ada
perpisahan. Di tempat yang tidak ada kesedihan. Di tempat yang tidak ada kehilangan.
Di tempat di mana kita akan duduk bersama, minum teh jahe, membaca buku, dan
tersenyum seperti dulu. Selamanya."
Awan melangkah maju terakhir. Ia adalah yang terakhir,
karena ia adalah anak, karena ia adalah penerus, karena ia adalah yang akan melanjutkan
apa yang telah dimulai oleh ayahnya. Ia berdiri di tepi makam, dengan tubuh
yang tegap, dengan wajah yang tenang, dengan mata yang basah tetapi tidak
menangis. Ia membawa sebuah bibit pohon beringin kecil, bibit yang ia ambil
dari pohon beringin tua di tengah desa, bibit yang akan ia tanam di samping
makam ayahnya, sebagai simbol bahwa kehidupan akan terus berjalan, bahwa
warisan akan terus hidup, bahwa cinta tidak akan pernah mati.
Ia menatap makam yang masih baru, menatap tanah yang baru
saja menutupi peti jenazah, menatap tempat di mana ayahnya akan beristirahat
selamanya. Ia mengingat semua yang telah diajarkan oleh ayahnya, semua yang
telah diceritakan oleh ayahnya, semua yang telah diperjuangkan oleh ayahnya. Ia
mengingat cerita tentang kelahiran ayahnya di tengah badai, tentang mata biru
yang menjadi ciri khasnya, tentang persahabatan dengan Raka dan Camelia,
tentang perjuangan melawan makhluk kegelapan, tentang pengorbanan yang tak
terhitung jumlahnya. Ia mengingat nasihat-nasihat yang selalu diberikan oleh
ayahnya, tentang pentingnya menjaga keseimbangan, tentang pentingnya
menghormati leluhur, tentang pentingnya mencintai desa ini. Ia mengingat senyum
ayahnya yang selalu tenang, senyum yang tidak pernah pudar meskipun badai
menerpa, senyum yang menjadi kekuatannya.
"Ayah," katanya, suaranya lantang, suaranya
bergema di antara pepohonan, suaranya didengar oleh semua orang yang hadir.
"Aku akan menjaga desa ini. Aku akan meneruskan apa yang Ayah mulai. Aku
tidak tahu apakah aku akan sekuat Ayah. Aku tidak tahu apakah aku akan seberani
Ayah. Aku tidak tahu apakah aku akan sepengorbanan Ayah. Tapi aku akan
berusaha. Aku akan belajar dari kesalahan. Aku akan belajar dari pengalaman.
Aku akan belajar dari perjalanan Ayah. Aku akan menjadi penjaga yang baik,
seperti Ayah. Aku akan menjaga desa ini, seperti Ayah menjaganya. Aku akan
mengorbankan segalanya, seperti Ayah mengorbankannya. Aku berjanji, Ayah. Aku
berjanji tidak akan mengecewakan. Aku berjanji akan membuat Ayah bangga. Aku
berjanji akan menjaga desa ini dengan segenap jiwa dan ragaku."
Ia berlutut, merendahkan tubuhnya di tanah yang basah,
merendahkan hatinya di hadapan ayahnya yang telah pergi. Ia menggali tanah
dengan tangannya, perlahan, dengan hati-hati, dengan penuh penghormatan. Ia membuat
lubang yang cukup dalam, lubang yang akan menjadi tempat bibit pohon beringin
itu tumbuh, lubang yang akan menjadi awal dari kehidupan baru. Ia meletakkan
bibit itu di dalam lubang, menutupnya dengan tanah, menekannya dengan lembut.
Ia mengambil air dari sumur tua, air yang telah disucikan, air yang telah
menjadi sumber kehidupan bagi desa ini selama bergenerasi. Ia menyiram bibit
itu dengan air, membasahi tanah yang baru, membasahi akar yang baru tertanam,
membasahi harapan yang baru tumbuh.
"Tumbuhlah, Pohon Beringin Baru," bisiknya,
suaranya pelan, suaranya hanya untuk dirinya sendiri, suaranya untuk ayahnya
yang mungkin masih mendengar dari tempat yang tidak terlihat. "Tumbuhlah
seperti ayahku. Kokoh, kuat, tidak mudah goyah. Tumbuhlah seperti desa ini.
Hidup, berkembang, tidak pernah mati. Tumbuhlah seperti cinta. Abadi,
selamanya, tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Aku akan menjagamu, seperti
ayahku menjagaku. Aku akan merawatmu, seperti ayahku merawat desa ini. Aku akan
memastikan bahwa kau tumbuh besar, bahwa kau menjadi pohon yang rindang, bahwa
kau menjadi tempat berteduh bagi siapa pun yang membutuhkan. Seperti ayahku.
Seperti yang selalu ia lakukan."
Ia berdiri, menatap bibit pohon beringin yang baru saja ia
tanam, menatap tanah yang masih basah, menatap makam yang masih baru. Ia
mengusap air matanya, mengusap kesedihannya, mengusap kehilangannya. Ia
menggenggam liontin di lehernya, liontin yang dulu dikenakan oleh ayahnya,
liontin yang kini menjadi miliknya. Batu biru itu terasa hangat di tangannya,
tidak seperti yang dulu dirasakan oleh ayahnya, tidak seperti yang diceritakan
oleh ibunya, tidak seperti yang ia bayangkan. Hangat yang sederhana, hangat
yang manusiawi, hangat yang menjadi kenangan. Ia tersenyum. Senyum yang pertama
kali muncul di wajahnya setelah berhari-hari. Senyum yang menjadi tanda bahwa
ia telah menerima kepergian ayahnya. Senyum yang menjadi tanda bahwa ia siap
untuk melanjutkan perjalanan.
"Terima kasih, Ayah," bisiknya, untuk yang
terakhir kalinya. "Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku tidak akan
menyia-nyiakan apa yang telah kau berikan. Aku tidak akan melupakan apa yang
telah kau ajarkan. Aku akan menjadi penjaga yang baik. Aku akan menjaga desa
ini. Aku akan mencintai desa ini. Seperti Ayah. Selamanya."
Bulan-bulan berlalu. Musim berganti. Hujan turun membasahi
tanah, matahari bersinar menghangatkan bumi, angin bertiup membawa kabut dari
lereng bukit. Bibit pohon beringin yang ditanam Awan tumbuh dengan cepat,
seolah-olah ada kekuatan yang mendorongnya, seolah-olah ada kehidupan yang
mengalir di dalamnya, seolah-olah ada doa yang menyertainya. Dalam waktu
singkat, pohon itu telah tumbuh besar, tidak sebesar pohon beringin tua di
tengah desa, tetapi sudah cukup besar untuk memberikan keteduhan, sudah cukup
besar untuk menjadi tempat berteduh, sudah cukup besar untuk menjadi simbol
kehidupan yang baru. Akar-akarnya mulai menjalar ke segala arah, seperti
tangan-tangan yang meraih tanah, seperti urat-urat yang menghubungkan
kehidupan, seperti pengingat bahwa kematian bukanlah akhir, bahwa kepergian
bukanlah kehilangan, bahwa perpisahan bukanlah keputusan.
Suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang di langit
Awan Biru, ketika bintang-bintang bertaburan seperti debu berlian, ketika kabut
tipis mulai merayap turun dari lereng-lereng bukit, Awan bermimpi. Mimpi yang
tidak pernah ia alami sebelumnya, mimpi yang terasa nyata, mimpi yang
membawanya ke tempat yang tidak pernah ia kunjungi. Dalam mimpinya, ia berdiri
di bawah pohon beringin baru itu, pohon yang ia tanam di samping makam ayahnya.
Pohon itu telah tumbuh besar, lebih besar dari yang ia bayangkan, lebih rindang
dari yang ia harapkan, lebih indah dari yang ia impikan. Daun-daunnya bergoyang
pelan ditiup angin, seperti melambai, seperti menyambut, seperti memberi isyarat.
Di depannya, berdiri sesosok bayangan. Bayangan yang familiar, bayangan yang ia
kenal sejak kecil, bayangan yang ia rindukan setiap hari.
Nak Awan...
Suara itu lembut, suara itu hangat, suara itu seperti
pelukan yang tidak pernah ia rasakan sejak ayahnya pergi. Suara itu membuatnya
ingin menangis, tetapi juga membuatnya ingin tersenyum. Suara itu membuatnya
ingin berlari, tetapi juga membuatnya ingin diam. Suara itu adalah suara yang
ia rindukan setiap malam, suara yang ia harapkan setiap pagi, suara yang ia
cari dalam setiap kenangan.
"Kyai Beringin?" tanya Awan, suaranya ragu,
suaranya tidak yakin. Ia belum pernah bertemu dengan Kyai Beringin. Ia belum
pernah melihat penjaga utama desa itu. Ia hanya mendengar cerita dari ayahnya,
dari ibunya, dari Raka. Ia hanya membayangkan seperti apa sosok itu. Apakah
setinggi yang diceritakan? Apakah sebijaksana yang dibayangkan? Apakah seteduh
yang diharapkan?
Bukan. Aku bukan Kyai Beringin. Aku bukan penjaga utama
desa ini. Aku bukan makhluk gaib yang menjaga keseimbangan. Aku hanya bayangan
yang kau kenali. Aku hanya ingatan yang kau rindukan. Aku hanya cinta yang kau
rasakan. Tapi aku punya pesan untukmu. Pesan dari seseorang yang mencintaimu.
Pesan dari seseorang yang tidak pernah berhenti menjagamu. Pesan dari seseorang
yang akan selalu ada di sisimu, meskipun kau tidak bisa melihatnya.
"Siapa kau? Siapa yang mengirim pesan ini? Siapa
yang..."
Bayangan itu perlahan-lahan menjadi jelas. Perlahan-lahan,
seperti kabut yang menipis, seperti mimpi yang menjadi nyata, seperti kenangan
yang terulang. Wajahnya, matanya, senyumnya. Wajah yang tenang, mata yang biru,
senyum yang hangat. Wajah yang sama yang ia lihat setiap hari ketika ia masih
kecil, wajah yang sama yang ia cari ketika ia merasa takut, wajah yang sama yang
ia rindukan setiap malam.
"Ayah..." bisik Awan, suaranya terputus-putus,
suaranya keluar dari dadanya yang sesak. Air matanya mengalir, membasahi
pipinya, membasahi senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia ingin berlari,
ingin memeluk ayahnya, ingin merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan
sejak ayahnya pergi. Tapi kakinya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa berdiri di
sana, menatap, menangis, tersenyum.
Nak Awan, Ayah bangga padamu. Ayah bangga kau memilih untuk
menjaga desa ini. Ayah bangga kau memilih untuk meneruskan apa yang Ayah mulai.
Ayah bangga kau memilih untuk menjadi penjaga. Tapi ingat, Nak. Kau tidak perlu
menjadi Ayah. Kau tidak perlu menjadi seperti Ayah. Kau tidak perlu mengikuti
jejak Ayah. Kau bisa menjadi dirimu sendiri. Kau bisa menemukan caramu sendiri.
Kau bisa menjalani perjalananmu dengan caramu sendiri. Ayah percaya padamu.
Ayah yakin kau bisa. Ayah yakin kau akan menjadi penjaga yang baik, dengan
caramu sendiri.
"Tapi Ayah, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku
tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu bagaimana menjadi
penjaga. Aku tidak punya kekuatan seperti Ayah. Aku tidak punya mata biru
seperti Ayah. Aku tidak bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat seperti Ayah.
Aku tidak bisa..."
Mulai dari yang kecil, Nak. Mulai dari yang paling dekat.
Mulai dari yang paling kau cintai. Sama seperti Ayah dulu. Ayah tidak langsung
menjadi penjaga yang hebat. Ayah tidak langsung bisa mengusir kegelapan. Ayah
tidak langsung bisa memperkuat segel. Ayah belajar dari kesalahan. Ayah belajar
dari pengalaman. Ayah belajar dari perjalanan. Ayah belajar dari Raka, dari
Camelia, dari Mbah Ratih, dari Kyai Beringin. Kau juga akan belajar. Dari
orang-orang di sekitarmu. Dari pengalaman yang kau alami. Dari perjalanan yang
kau lalui. Dan ingat, Nak. Kau tidak sendirian. Kau punya teman-teman. Kau
punya keluarga. Kau punya desa ini. Kau punya leluhur yang akan selalu
menjagamu. Kau punya Ayah, yang akan selalu ada di sisimu, meskipun kau tidak
bisa melihatnya.
Awan terbangun. Ia duduk di tempat tidurnya, dengan
keringat yang membasahi seluruh tubuhnya, dengan jantung yang berdebar kencang,
dengan napas yang tersengal-sengal. Ia merasakan sesuatu yang berbeda di
dadanya, sesuatu yang hangat, sesuatu yang tenang, sesuatu yang tidak pernah ia
rasakan sebelumnya. Ia meraih liontin di lehernya, liontin yang dulu dikenakan
oleh ayahnya, liontin yang kini menjadi miliknya. Batu biru itu terasa hangat
di tangannya, tidak seperti yang dulu dirasakan oleh ayahnya, tidak seperti
yang diceritakan oleh ibunya, tidak seperti yang ia bayangkan. Hangat yang
sederhana, hangat yang manusiawi, hangat yang menjadi kenangan. Hangat yang
menjadi kekuatan.
Ia tersenyum. Senyum yang pertama kali muncul di wajahnya
setelah berhari-hari, setelah berminggu-minggu, setelah berbulan-bulan. Senyum
yang menjadi tanda bahwa ia telah menerima kepergian ayahnya. Senyum yang
menjadi tanda bahwa ia siap untuk melanjutkan perjalanan. Senyum yang menjadi
tanda bahwa ia tidak akan mengecewakan.
"Terima kasih, Ayah," bisiknya, menatap liontin
di tangannya, menatap langit di luar jendela, menatap bintang-bintang yang
masih berkelap-kelip. "Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan menjaga
desa ini. Aku akan meneruskan apa yang Ayah mulai. Aku akan menjadi penjaga
yang baik, dengan caraku sendiri. Aku berjanji. Aku tidak akan menyerah. Aku
tidak akan lari. Aku tidak akan melupakan. Aku akan selalu mengingat. Aku akan
selalu mencintai. Aku akan selalu menjaga. Seperti Ayah. Selamanya."
EPILOG: Langit Awan Biru yang Abadi
Bertahun-tahun kemudian, ketika generasi demi generasi
telah lahir dan tumbuh di Desa Awan Biru, ketika wajah-wajah baru mulai
memenuhi jalan-jalan desa yang dulu hanya dihuni oleh beberapa puluh keluarga,
ketika cerita-cerita tentang masa lalu mulai berubah menjadi legenda yang
diceritakan dari mulut ke mulut, Desa Awan Biru telah menjadi desa yang maju
dan sejahtera. Desa wisata yang dikelola dengan prinsip keberlanjutan, yang
dirintis oleh Amat, Camelia, Raka, dan teman-teman mereka bertahun-tahun yang lalu,
kini telah menjadi contoh bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia. Pengunjung
datang dari berbagai daerah, dari berbagai provinsi, bahkan dari luar negeri,
untuk belajar tentang bagaimana sebuah desa bisa maju tanpa kehilangan
identitasnya, bisa berkembang tanpa mengorbankan tradisinya, bisa terbuka tanpa
melupakan leluhurnya.
Namun di balik kemajuan itu, di balik hotel-hotel kecil
yang dibangun dengan arsitektur tradisional, di balik kafe-kafe yang menyajikan
kopi lokal dengan pemandangan sawah yang hijau, di balik toko-toko oleh-oleh
yang menjual kerajinan tangan warga, desa ini tidak pernah kehilangan jati
dirinya. Rumah-rumah warga masih berbentuk limasan tradisional, dengan dinding
papan kayu yang dicat warna-warna lembut, dengan halaman yang ditanami
bunga-bunga dan tanaman obat. Jalan-jalan desa masih sempit, tidak diperlebar
untuk menampung bus-bus besar, tetapi diaspal dengan rapi dan diberi trotoar
kecil untuk pejalan kaki. Sawah-sawah masih hijau membentang, tidak dikonversi
menjadi lahan parkir atau bangunan komersial. Sungai-sungai masih jernih, tidak
tercemar oleh limbah. Hutan Larangan masih menjadi kawasan konservasi yang
dijaga dengan ketat, tempat di mana warga dan pengunjung bisa belajar tentang
alam, tentang keseimbangan, tentang warisan leluhur.
Setiap tahun, pada bulan purnama pertama setelah musim
panen, ketika padi-padi telah menguning dan siap dituai, ketika sawah-sawah
terbentang indah seperti permadani emas, ketika warga desa bersyukur atas hasil
bumi yang melimpah, warga Desa Awan Biru mengadakan kirab budaya. Tradisi yang
dimulai oleh Amat, Camelia, dan Raka bertahun-tahun yang lalu, yang sempat
terputus ketika konflik lahan melanda desa, yang dihidupkan kembali setelah
desa ini aman, kini telah menjadi acara tahunan yang paling ditunggu-tunggu.
Mereka berjalan dari balai desa menuju pohon beringin tua, membawa sesaji dan
doa untuk leluhur. Mereka mengenakan pakaian adat terbaik mereka, beskap hitam
dan blangkon untuk para pria, kebaya dan jarik batik untuk para wanita. Mereka
membawa gunungan hasil bumi, tumpeng yang disusun tinggi, bunga-bunga yang
dipetik dari kebun, dupa yang mengepulkan asap harum. Mereka berjalan dalam
iring-iringan yang panjang, melewati jalan-jalan desa yang telah dihias dengan
umbul-umbul dan bendera, melewati rumah-rumah warga yang halamannya ditaburi
bunga, melewati sawah-sawah yang mulai menguning.
Di tengah iring-iringan, selalu ada dua orang yang berjalan
paling depan. Seorang laki-laki tua tambun dengan senyum lebar yang tak pernah
pudar, meskipun usianya telah melewati delapan puluh tahun, meskipun langkahnya
sudah tertatih, meskipun suaranya sudah parau. Ia berjalan dengan tongkat di
tangan, dengan pakaian adat yang sedikit terlalu ketat untuk tubuhnya yang
masih tambun meskipun usianya sudah lanjut, dengan senyum yang tetap merekah di
wajahnya yang penuh kerutan. Dan seorang perempuan tua dengan rambut putih yang
diikat rapi, dengan wajah yang tenang, dengan mata yang masih tajam meskipun
usianya telah lanjut, membawa sebuah buku catatan usang yang sudah lusuh, buku
yang telah menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka, buku yang tidak pernah
lepas dari genggamannya.
Mereka adalah Raka dan Camelia. Penjaga cerita, penjaga
tawa, dan penjaga warisan. Dua dari tiga sahabat yang dulu berjanji di Bukit Pangasih.
Dua dari tiga pahlawan yang dulu menyelamatkan desa ini. Dua dari tiga orang
yang telah menjadi legenda bagi generasi penerus.
Raka, meskipun usianya telah lanjut, meskipun tubuhnya
semakin kurus karena penyakit diabetes yang dideritanya, meskipun matanya mulai
kabur dan telinganya mulai berat, masih tetap menjadi dirinya sendiri. Ia masih
sering bercanda, masih sering membuat orang tertawa, meskipun tawanya kini
tidak sekeras dulu, meskipun leluconnya kadang-kadang tidak nyambung karena
ingatannya yang mulai berkurang. Ia masih sering duduk di warung pecelnya, yang
kini dikelola oleh anak dan cucunya, dengan resep yang tidak pernah berubah
sejak zaman Mbah Kinah. Ia masih sering menyapa wisatawan yang datang,
menawarkan pecel dengan sambal yang nendang, menceritakan kisah-kisah lucu
tentang masa lalunya, membuat mereka tertawa dan merasa betah.
"Pecelnya Raka sekarang terkenal sampai
mancanegara," kata Pak Gareng—yang sudah meninggal puluhan tahun yang
lalu, tetapi kata-katanya masih hidup—dengan bangga. "Ada turis dari
Jepang yang datang khusus untuk mencicipi. Bayangin, Jepang! Negara yang punya
sushi dan ramen, tapi mereka datang ke sini untuk makan pecel. Ini luar
biasa."
"Bukan buatan saya, Pak," kata Raka cepat,
seperti yang selalu ia katakan setiap kali orang memuji pecelnya. "Buatan
anak saya. Saya cuma ngawasi. Saya cuma memastikan resepnya tidak berubah.
Resep turun-temurun dari Mbah Kinah. Tidak boleh berubah."
"Ya sama saja. Yang penting resepnya tetap sama. Tidak
berubah sejak zaman Mbah Kinah. Itu yang membuat pecel kita istimewa. Bukan
karena tempatnya yang bagus, bukan karena promosinya yang hebat, bukan karena
videonya yang viral. Tapi karena rasanya. Rasa yang tidak berubah sejak dulu.
Rasa yang membuat orang kembali lagi, membawa teman-temannya, menceritakan ke
orang lain, membuat mereka penasaran dan akhirnya datang sendiri."
Camelia, setelah Amat pergi, menghabiskan waktunya untuk
menulis. Ia menulis buku tentang sejarah Desa Awan Biru, tentang perjalanan
hidup Amat Junior, tentang persahabatan mereka bertiga, tentang perjuangan
melawan kegelapan, tentang pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya. Ia menulis
dengan tangan, dengan pena yang sama yang ia gunakan sejak masih muda, dengan
tinta yang sama yang ia beli di toko alat tulis di kecamatan. Ia menulis di
buku catatannya yang usang, yang sudah tidak muat lagi untuk menampung semua
cerita, sehingga ia harus membeli buku baru, lalu buku baru lagi, lalu buku
baru lagi. Ia menulis dengan teliti, dengan penuh perasaan, dengan keinginan agar
tidak ada satu pun detail yang terlewat, tidak ada satu pun kenangan yang
hilang, tidak ada satu pun pesan yang tidak tersampaikan.
Buku itu, setelah bertahun-tahun ia tulis, setelah berulang
kali ia revisi, setelah berulang kali ia baca ulang untuk memastikan tidak ada
yang salah, akhirnya diterbitkan oleh sebuah penerbit di kota. Penerbit yang
tertarik dengan kisah unik tentang desa kecil di lereng gunung, tentang seorang
anak yang lahir dengan mata biru, tentang perjuangan melawan makhluk kegelapan,
tentang persahabatan yang tidak pernah pudar. Buku itu menjadi salah satu buku
terlaris di daerah, dibaca oleh banyak orang dari berbagai kalangan: akademisi
yang tertarik dengan studi tentang desa dan kearifan lokal, wisatawan yang
ingin mengenal lebih dalam tentang tempat yang mereka kunjungi, anak-anak muda
yang mencari inspirasi, orang-orang tua yang ingin mengenang masa lalu. Namun
Camelia tidak pernah merasa bahwa buku itu adalah karyanya. Ia selalu berkata,
dengan rendah hati, dengan kesadaran bahwa ia hanyalah pencatat, bukan
pencipta.
"Aku hanya mencatat, Mat. Aku hanya menuliskan apa
yang aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku rasakan. Amat yang menjalani.
Amat yang berjuang. Amat yang mengorbankan segalanya. Raka yang membuatnya
berwarna. Raka yang membuat kami tertawa di saat-saat paling sulit. Raka yang
mengingatkan kami bahwa hidup tidak selalu harus serius. Mereka adalah pahlawan
sejati. Aku hanya... aku hanya sekretarisnya. Aku hanya yang mencatat. Itu
saja. Tidak lebih."
Awan Putra, putra Amat dan Camelia, yang kini telah berusia
lima puluh tahun, yang rambutnya mulai memutih di pelipis, yang wajahnya mulai
menunjukkan kerutan-kerutan yang terbentuk oleh senyum dan kekhawatiran, yang
tubuhnya masih tegap meskipun usianya tidak lagi muda, kini telah menjadi
Kepala Desa Awan Biru. Ia memimpin dengan gaya yang berbeda dari ayahnya, lebih
modern, lebih teknokratis, lebih terstruktur, tetapi dengan nilai-nilai yang
sama: keadilan, keberlanjutan, dan cinta pada desa. Ia tidak memiliki kekuatan
gaib seperti ayahnya, tidak memiliki mata biru yang bisa melihat hal-hal yang
tidak terlihat, tidak memiliki liontin yang menjadi sumber kekuatan. Tetapi ia
memiliki sesuatu yang mungkin lebih berharga: pendidikan yang tinggi,
pengalaman yang luas, jaringan yang kuat, dan yang terpenting, warisan
nilai-nilai yang ditanamkan oleh ayahnya sejak ia masih kecil.
Ia membawa Desa Awan Biru ke era digital, membangun
infrastruktur teknologi yang memungkinkan warga desa terhubung dengan dunia
luar, mengembangkan platform e-commerce untuk produk-produk UMKM, menciptakan
sistem administrasi desa yang transparan dan akuntabel. Ia menjalin kerja sama
dengan universitas-universitas terkemuka, mengirim anak-anak muda desa untuk
belajar di kota, membawa para ahli untuk berbagi pengetahuan dengan warga. Ia
mengembangkan desa wisata dengan konsep yang lebih matang, melibatkan warga
dalam setiap aspek, memastikan bahwa manfaat dari pariwisata dirasakan oleh
semua, tidak hanya oleh segelintir orang. Namun ia juga tidak pernah melupakan
nilai-nilai yang diajarkan oleh ayahnya, tidak pernah melupakan bahwa desa ini
adalah titipan, tidak pernah melupakan bahwa leluhur harus dihormati, tidak
pernah melupakan bahwa keseimbangan harus dijaga.
Suatu hari, ketika Awan sedang berjalan di Hutan Larangan
bersama anaknya yang masih kecil, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh
tahun dengan mata yang ceria, dengan tawa yang riang, dengan rasa ingin tahu
yang besar, anak yang diberi nama Baskara—yang berarti matahari, yang
diharapkan menjadi cahaya bagi desa ini—tiba-tiba berhenti. Ia menatap
pepohonan yang menjulang tinggi, menatap akar-akar yang menjalar seperti ular
raksasa, menatap lumut-lumut hijau yang menutupi batang, menatap bunga-bunga
liar yang tumbuh di sela-sela akar. Ia menatap dengan mata yang penuh rasa
ingin tahu, dengan pikiran yang mulai bertanya-tanya, dengan hati yang mulai
merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Lalu ia bertanya,
dengan suara yang lantang, dengan polosnya, dengan ketidaktahuan yang menjadi
awal dari segala pengetahuan.
"Ayah, kenapa hutan ini disebut Hutan Larangan?"
Awan tersenyum. Senyum yang sama seperti senyum ayahnya,
senyum yang tenang, senyum yang penuh dengan kebijaksanaan, senyum yang menjadi
warisan dari generasi ke generasi. Ia ingat pertanyaan yang sama, yang dulu ia
tanyakan pada ayahnya, ketika ia masih kecil, ketika ia masih belum mengerti
apa-apa tentang dunia, ketika ia masih berlari-lari di sawah dan mengejar
capung. Ia ingat jawaban ayahnya, jawaban yang mengajarkannya tentang alam,
tentang leluhur, tentang keseimbangan. Ia ingat bahwa ia tidak sepenuhnya
mengerti waktu itu, tetapi benih-benih pemahaman itu tertanam, dan tumbuh
seiring berjalannya waktu, menjadi pohon yang kokoh, menjadi akar yang kuat,
menjadi fondasi bagi seluruh hidupnya.
"Dulu, orang-orang dilarang masuk ke sini, Nak,"
jawabnya, suaranya lembut, suaranya seperti ayahnya, suaranya mengalir seperti
sungai yang tenang. "Mereka takut. Mereka takut pada makhluk-makhluk yang
dikurung di dalam hutan ini. Mereka takut pada leluhur yang konon masih
bersemayam. Mereka takut pada segel-segel yang menjaga keseimbangan. Dan karena
takut, mereka melarang siapa pun masuk. Mereka memasang bambu runcing, mereka
menceritakan kisah-kisah horor, mereka menanamkan ketakutan itu ke dalam hati
anak-anak mereka."
"Kenapa dilarang, Ayah? Kenapa orang-orang takut?
Apakah ada hantu di sini? Apakah ada monster? Apakah ada..."
"Karena di dalam hutan ini ada hal-hal yang perlu
dijaga, Nak. Ada makhluk-makhluk yang tidak bisa diganggu. Ada leluhur yang
masih bersemayam. Ada segel-segel yang menjaga keseimbangan. Tapi sekarang,
kita tidak melarang orang masuk. Kita hanya meminta mereka untuk menghormati.
Kita hanya mengingatkan bahwa hutan ini bukan tempat untuk bermain-main. Bukan
tempat untuk membuang sampah. Bukan tempat untuk merusak. Bukan tempat untuk
mengambil tanpa memberi."
"Menghormati bagaimana, Ayah? Apa yang harus aku
lakukan? Apa yang tidak boleh aku lakukan?"
Awan berhenti, berlutut di hadapan anaknya, menatap mata yang
ceria itu dengan mata yang penuh cinta. Ia mengajarkan apa yang diajarkan oleh
ayahnya, apa yang diajarkan oleh leluhur, apa yang diajarkan oleh desa ini.
"Tidak merusak pohon, Nak. Tidak memotong dahan sembarangan. Tidak
mengambil kayu tanpa izin. Tidak membuang sampah, tidak berteriak-teriak, tidak
mengganggu hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Tidak mengambil apa pun tanpa
izin. Hutan ini bukan milik kita, Nak. Hutan ini titipan. Titipan dari leluhur
untuk anak cucu. Dari kakekmu untuk kita. Dan dari kita untuk anak cucumu
nanti. Kita hanya menjaganya, merawatnya, meneruskannya dalam keadaan yang
lebih baik. Itu yang dimaksud dengan menghormati."
Anak itu mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya mengerti.
Matanya yang ceria masih penuh dengan pertanyaan, pikirannya masih penuh dengan
rasa ingin tahu, hatinya masih penuh dengan keinginan untuk menjelajah. Tapi
benih-benih pemahaman itu mulai tertanam. Bahwa alam harus dijaga. Bahwa
leluhur harus dihormati. Bahwa desa ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi
rumah yang harus dilindungi. Bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih
besar, sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang akan terus hidup meskipun ia telah
tiada. Bahwa ia adalah penerus, sama seperti ayahnya adalah penerus, sama
seperti kakeknya adalah penerus, sama seperti leluhur yang telah menjaga desa
ini selama tiga ratus tahun.
Di puncak Bukit Pangasih, tempat tiga sahabat dulu berjanji
di bawah langit malam yang berbintang, tempat tiga kepalan kecil menyatu dengan
tekad yang bulat, tempat tiga suara bergema dengan janji yang tidak akan pernah
pudar, kini berdiri sebuah pohon beringin kecil. Pohon yang tidak setua pohon
beringin di tengah desa, tidak sebesar pohon yang menjadi pusat penjagaan,
tidak sekokoh pohon yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup Amat. Tapi pohon
yang tumbuh dengan cepat, seolah-olah ada kekuatan yang mendorongnya,
seolah-olah ada doa yang menyertainya, seolah-olah ada kehidupan yang mengalir
di dalamnya. Pohon yang tumbuh dari bibit yang ditanam Awan di makam ayahnya,
yang kemudian dipindahkan ke puncak bukit oleh warga desa, sebagai
penghormatan, sebagai kenangan, sebagai simbol bahwa kehidupan akan terus
berjalan, bahwa warisan akan terus hidup, bahwa cinta tidak akan pernah mati.
Pohon itu tumbuh subur, dengan kanopi yang mulai rimbun,
dengan daun-daun yang hijau segar, dengan akar-akar yang mulai menjalar ke
segala arah, menyatukan bukit itu dengan desa di bawahnya, menyatukan masa lalu
dengan masa kini, menyatukan kenangan dengan harapan. Di bawah pohon itu, pada
suatu sore yang cerah, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahayanya
berubah menjadi jingga keemasan, ketika kabut tipis mulai merayap turun dari
lereng-lereng bukit, ketika desa di bawah mulai sunyi dan lampu-lampu mulai
menyala satu per satu, Raka dan Camelia duduk bersama. Mereka sudah sangat tua,
sangat tua sehingga mereka nyaris tidak bisa berjalan tanpa bantuan, tidak bisa
melihat dengan jelas tanpa kacamata, tidak bisa mendengar dengan baik tanpa
alat bantu. Tapi mereka masih bisa tersenyum, masih bisa tertawa, masih bisa
mengenang. Masih bisa duduk di puncak bukit ini, seperti yang selalu mereka
lakukan sejak masih kecil, seperti yang telah menjadi ritual mereka, seperti
yang menjadi pengingat bahwa persahabatan tidak mengenal usia, bahwa kenangan tidak
mengenal waktu, bahwa cinta tidak mengenal batas.
"Mel, ingat waktu kita duduk di sini dulu?" tanya
Raka, suaranya parau karena usia, suaranya nyaris tidak terdengar di atas suara
angin yang berdesir di antara ilalang. Ia menatap Camelia dengan mata yang
sudah tidak lagi tajam, dengan senyum yang masih merekah di wajahnya yang penuh
kerutan, dengan tangan yang gemetar memegang tongkat.
Camelia tersenyum, senyum yang sama seperti ketika mereka
masih muda, senyum yang menjadi ciri khasnya, senyum yang tidak pernah pudar
meskipun waktu telah berlalu. "Ingat. Kita bertiga. Amat, kau, dan aku. Di
tempat yang sama. Di sore yang sama. Di bawah langit yang sama. Berjanji untuk
menjaga desa. Berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Berjanji untuk
melakukan yang terbaik, apa pun yang terjadi."
"Janji itu kita tepati, kan, Mel? Janji itu tidak kita
ingkari. Janji itu kita jaga sampai akhir. Amat menjaga desa dengan
kekuatannya, dengan liontinnya, dengan pengorbanannya. Kau menjaga desa dengan
catatanmu, dengan pengetahuannya, dengan kebijaksanaanmu. Aku menjaga desa
dengan tawaku, dengan keceriaanku, dengan kemampuanku membuat orang tertawa.
Kita semua berperan. Kita semua penting. Kita semua menjadi pahlawan dengan
cara kita sendiri."
"Kita tepati, Rak. Kita tepati janji itu. Amat menjaga
desa dengan kekuatannya, dengan nyawanya, dengan segalanya. Kau menjaga desa
dengan tawamu, dengan keberanianmu, dengan pengorbananmu. Aku menjaga desa
dengan catatanku, dengan ingatanku, dengan ceritaku. Kita semua melakukan yang
terbaik. Kita semua mengorbankan apa yang bisa kita korbankan. Kita semua
menjadi pahlawan. Dan desa ini selamat. Desa ini aman. Desa ini menjadi rumah
bagi anak cucu kita. Itu yang terpenting."
Raka tersenyum, senyum yang lebar, senyum yang membuat
seluruh wajahnya yang bulat itu berkerut, senyum yang menjadi ciri khasnya
sejak kecil. "Amat pasti bangga kalau lihat desa sekarang. Bangga lihat
Awan menjadi kepala desa yang baik. Bangga lihat warung pecelku masih buka,
dengan resep yang tidak berubah. Bangga lihat bukumu menjadi best seller.
Bangga lihat Hutan Larangan menjadi kawasan konservasi yang dijaga. Bangga
lihat warga desa hidup sejahtera, tertawa, bahagia. Bangga lihat desa ini maju
tanpa kehilangan jati diri. Bangga lihat semua yang kita perjuangkan tidak
sia-sia."
"Pasti, Rak. Pasti dia tersenyum dari sana. Pasti dia
bangga. Pasti dia bahagia. Pasti dia tidak menyesali apa pun. Pasti dia merasa
bahwa semua pengorbanannya, semua perjuangannya, semua yang telah ia lakukan,
tidak sia-sia. Karena kita masih di sini. Karena desa ini masih hidup. Karena
warisannya masih dijaga. Karena ceritanya masih diceritakan. Karena namanya
masih dikenang. Karena ia masih hidup, dalam setiap sudut desa, dalam setiap
tradisi yang dilestarikan, dalam setiap tawa yang bergema, dalam setiap
kenangan yang tidak pernah pudar."
Mereka menatap langit di atas mereka. Langit Awan Biru yang
tenang, biru pucat seperti dulu, biru yang tidak berubah meskipun enam puluh
tahun telah berlalu, biru yang menjadi saksi bahwa di desa kecil ini, seorang
anak yang lahir di tengah badai, yang matanya biru seperti langit, yang menjadi
penjaga, yang mengorbankan segalanya, telah pergi. Tapi warisannya akan tetap
hidup. Selamanya. Di kejauhan, pohon beringin tua berdiri tegak di tengah desa,
dengan kanopinya yang rimbun, dengan akar-akarnya yang menjalar, dengan Kyai
Beringin yang mungkin masih ada di sana, menunggu, menjaga. Daun-daunnya
bergoyang pelan ditiup angin, seperti melambai, seperti mengucapkan selamat
tinggal, seperti memberi restu untuk perjalanan yang akan datang. Di Hutan
Larangan, tunas-tunas baru tumbuh subur, menandakan bahwa kehidupan akan selalu
menemukan jalannya, bahwa setelah kegelapan pasti ada terang, setelah badai
pasti ada pelangi, setelah kematian pasti ada kehidupan. Di sumur tua, air
mengalir jernih, lebih jernih dari sebelumnya, lebih segar dari sebelumnya,
lebih hidup dari sebelumnya. Di mata air, kehidupan terus berputar, mengairi
sawah-sawah yang hijau, memenuhi kebutuhan warga, menjadi sumber keberkahan.
Dan di antara semua itu, di antara langit yang biru dan
desa yang damai, di antara pohon beringin yang rimbun dan sumur tua yang
jernih, di antara Hutan Larangan yang subur dan Bukit Pangasih yang sunyi,
legenda tentang Amat Junior terus hidup. Bukan sebagai cerita horor tentang
makhluk-makhluk gaib yang menakutkan, bukan sebagai cerita mistis yang membuat
orang bergidik ngeri, tetapi sebagai cerita inspiratif tentang seorang anak
desa yang lahir dengan keistimewaan, yang memilih untuk mengabdi pada desanya,
yang berjuang melawan ketakutan dan ketidakadilan, yang mengorbankan segalanya
untuk orang-orang yang dicintainya. Sebagai cerita tentang persahabatan yang
tidak pernah pudar, tentang cinta yang tidak pernah mati, tentang pengorbanan
yang tidak pernah sia-sia. Sebagai cerita yang mengajarkan bahwa setiap orang
bisa menjadi pahlawan, dengan caranya sendiri, dengan kekuatannya sendiri,
dengan pengorbanannya sendiri.
Anak-anak di Desa Awan Biru tumbuh dengan mendengar cerita
tentang Amat Junior. Tentang matanya yang biru seperti langit desa. Tentang
kelahirannya di tengah badai yang aneh. Tentang persahabatannya dengan Raka dan
Camelia. Tentang petualangannya di sumur tua, di Hutan Larangan, di pohon
beringin. Tentang keberaniannya menghadapi makhluk-makhluk yang mengancam desa.
Tentang perjuangannya membangun desa, melawan ketidakadilan, menegakkan
kebenaran. Tentang cintanya pada Camelia, yang tumbuh perlahan seperti pohon
beringin. Tentang pengorbanannya di akhir hayat, ketika ia mengembalikan
liontin ke pusat segel, melepaskan semua kekuatannya, menjadi manusia biasa.
Mereka mendengar cerita itu dari orang tua mereka, dari kakek-nenek mereka,
dari guru-guru mereka di sekolah. Mereka mendengar cerita itu di beranda rumah,
di warung kopi, di balai desa, di bawah pohon beringin. Mereka mendengar cerita
itu berulang-ulang, hingga mereka hafal, hingga mereka bisa menceritakannya
sendiri, hingga mereka mewariskan kepada anak-anak mereka nanti.
Mereka mungkin tidak pernah melihat makhluk gaib seperti
yang dilihat Amat. Mereka mungkin tidak pernah mengalami kejadian-kejadian aneh
seperti yang dialami Amat. Mereka mungkin tidak pernah merasakan ketakutan yang
dirasakan Amat ketika menghadapi kegelapan. Tapi mereka mewarisi sesuatu yang
lebih berharga: semangat untuk menjaga, keberanian untuk berjuang, keyakinan
bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika dilakukan bersama-sama, kesadaran bahwa
mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih tua,
sesuatu yang akan terus hidup meskipun mereka telah tiada.
Di penghujung senja, ketika matahari mulai tenggelam di
ufuk barat dan langit Awan Biru berubah dari biru pucat menjadi jingga
keemasan, dari jingga keemasan menjadi ungu kebiruan, dari ungu kebiruan
menjadi biru tua yang dihiasi bintang-bintang, Raka dan Camelia masih duduk di
puncak Bukit Pangasih. Mereka sudah terlalu tua untuk turun, sudah terlalu
lelah untuk berjalan, sudah terlalu banyak kenangan yang ingin mereka kenang.
Tapi mereka tidak keberatan. Mereka tidak takut. Mereka tidak khawatir. Mereka
hanya duduk di sana, berpegangan tangan, menikmati keheningan malam yang mulai
turun, menikmati bintang-bintang yang mulai berkelap-kelip, menikmati desa yang
mulai sunyi.
"Rak, apa kau percaya bahwa setelah mati, kita akan
bertemu lagi?" tanya Camelia, suaranya lembut, suaranya nyaris tidak
terdengar di atas suara angin malam yang mulai bertiup. Ia menatap langit yang
mulai gelap, menatap bintang-bintang yang mulai muncul, menatap bulan sabit
yang mulai terbit di ufuk timur.
Raka tersenyum, senyum yang lemah, senyum yang terakhir,
senyum yang penuh dengan kedamaian. "Aku tidak tahu, Mel. Aku tidak tahu
apakah ada kehidupan setelah kematian. Aku tidak tahu apakah kita akan bertemu
lagi di tempat lain. Aku tidak tahu apakah Amat menunggu kita di sana. Tapi aku
percaya bahwa selama kita masih diingat, selama cerita kita masih diceritakan,
selama tawa kita masih bergema di desa ini, kita tidak pernah benar-benar mati.
Kita akan terus hidup, dalam setiap kenangan yang kita tinggalkan. Dalam setiap
cerita yang kita wariskan. Dalam setiap tawa yang bergema. Dalam setiap cinta
yang kita tanamkan. Itu sudah cukup. Itu lebih dari cukup."
Camelia tersenyum, senyum yang sama seperti ketika mereka
masih muda, senyum yang menjadi tanda bahwa ia setuju, bahwa ia percaya, bahwa
ia tidak takut. "Amat pasti setuju dengan itu. Amat pasti bilang, 'Raka
benar. Selama desa ini masih ada, selama leluhur masih dijaga, selama
keseimbangan masih terjaga, kita tidak pernah benar-benar pergi. Kita akan
selalu ada, dalam setiap helai ilalang di Bukit Pangasih, dalam setiap tetes
air di sumur tua, dalam setiap daun yang bergoyang di pohon beringin.' Itu yang
dulu ia katakan. Itu yang selalu ia yakini. Itu yang membuatnya kuat. Itu yang
membuatnya tidak takut mati."
"Tentu. Dia setuju dengan semua yang aku katakan. Dia
selalu setuju. Kecuali kalau aku bilang pecelku lebih enak dari pecel buatan
anakku. Itu dia tidak setuju. Itu dia selalu protes. Itu dia selalu bilang,
'Rak, jangan sombong. Pecel anakmu sudah enak. Hampir seenak buatan bapakmu.
Beri dia waktu. Beri dia kesempatan. Dia akan belajar. Dia akan menjadi lebih
baik.' Dan dia benar. Anakku sekarang bisa membuat pecel yang hampir seenak
buatan bapakku. Hampir. Tapi belum sama. Masih kurang satu. Sesuatu yang
hilang. Sesuatu yang tidak bisa diajarkan. Sesuatu yang hanya bisa didapatkan
dari pengalaman. Dari perjalanan. Dari cinta."
Mereka tertawa. Tawa yang lemah, tetapi tulus. Tawa yang
menjadi saksi bahwa meskipun waktu telah merenggut banyak hal, kekuatan,
kesehatan, ketajaman ingatan—persahabatan mereka tidak pernah pudar. Tawa yang
menjadi pengingat bahwa di tengah semua kesedihan dan kehilangan, mereka masih
bisa tertawa, masih bisa menikmati kebersamaan, masih bisa menjadi sahabat yang
selalu ada untuk satu sama lain. Tawa yang menjadi senjata paling ampuh,
seperti yang pernah dikatakan Mbah Ratih, seperti yang pernah dikatakan Kyai
Beringin, seperti yang selalu dikatakan Amat. Tawa yang akan terus bergema di
Bukit Pangasih, di beranda rumah tua, di hati mereka yang ditinggalkan.
Di bawah mereka, Desa Awan Biru terbentang indah.
Rumah-rumah warga tampak rapi dengan atap genteng merah, dengan halaman yang
ditanami bunga-bunga, dengan lampu-lampu yang mulai menyala satu per satu.
Sawah-sawah hijau membentang luas, bergelombang pelan ditiup angin, seperti
lautan yang tenang di bawah cahaya bulan. Sungai mengalir jernih di antara
pepohonan, memantulkan cahaya bintang, seperti pita perak yang diletakkan di
atas hamparan beludru hijau. Dan di kejauhan, Hutan Larangan tampak subur dan
damai, dengan pepohonan yang menjulang tinggi, dengan kabut tipis yang
bergelayut di antara dedaunan, dengan kehidupan yang terus berputar di
dalamnya.
Langit di atas mereka perlahan-lahan berubah warna. Jingga
keemasan berganti dengan ungu kebiruan, lalu biru tua, lalu hitam pekat dengan
bintang-bintang yang mulai berkelap-kelip. Di tengah kegelapan malam, cahaya
bulan purnama mulai muncul dari balik bukit. Bulan yang bundar sempurna, yang
memberikan cahaya peraknya yang lembut ke seluruh desa, yang membuat kabut
tipis yang merayap dari lereng bukit berkilauan seperti tirai dari sutra putih.
Cahaya itu menyinari desa, menyinari bukit, menyinari dua sosok tua yang masih
duduk di puncak, berpegangan tangan, menikmati keheningan malam, menikmati
kebersamaan yang mungkin menjadi yang terakhir.
Dan di langit yang luas itu, di antara bintang-bintang yang
bertaburan seperti debu berlian, di antara bulan purnama yang bersinar terang,
di antara kabut tipis yang merayap perlahan, sepasang mata biru tersenyum. Mata
yang sama yang enam puluh tahun lalu lahir di bawah hujan Awan Biru, yang
pertama kali melihat langit desa ini, yang menjadi saksi bisu perjalanan
panjang seorang penjaga. Mata yang telah melihat lebih banyak daripada yang
seharusnya dilihat oleh manusia biasa: kegelapan yang menyelimuti desa, cahaya
yang mengusirnya, persahabatan yang tidak pernah pudar, cinta yang tidak pernah
mati, pengorbanan yang tidak pernah sia-sia. Mata yang telah menangis, tertawa,
marah, dan mencintai. Mata yang kini bersinar tenang, damai, seperti langit
Awan Biru di pagi hari setelah hujan, seperti langit yang menjadi rumah bagi
semua kenangan, seperti langit yang akan terus biru selamanya.
Langit Awan Biru tetap biru. Biru yang tenang, biru yang
damai, biru yang menjadi saksi bahwa di desa kecil ini, seorang anak yang lahir
di tengah badai, yang matanya biru seperti langit, yang menjadi penjaga, yang
mengorbankan segalanya, telah pergi. Tapi warisannya akan tetap hidup. Dalam
setiap helai ilalang yang bergoyang di Bukit Pangasih. Dalam setiap tetes air
yang mengalir dari sumur tua. Dalam setiap daun yang bergoyang di pohon
beringin. Dalam setiap tawa yang bergema di desa ini. Dalam setiap cerita yang
diceritakan dari generasi ke generasi. Dalam setiap nilai yang diajarkan oleh
orang tua kepada anak-anaknya. Dalam setiap cinta yang tumbuh di hati setiap
warganya. Dan kabut yang turun di pagi hari bukan lagi tanda bahaya, bukan lagi
pertanda bahwa segel mulai retak, bukan lagi isyarat bahwa makhluk-makhluk
mulai bangun. Kabut itu adalah salam dari leluhur yang berbisik, dari Kyai
Beringin yang tersenyum, dari Amat yang telah pergi tetapi tidak pernah
benar-benar meninggalkan. Bisikan yang mengatakan: Desa ini dijaga. Bukan oleh
satu orang, bukan oleh kekuatan gaib, bukan oleh liontin yang sakti. Tetapi
oleh seluruh kenangan yang hidup di dalamnya. Oleh seluruh cinta yang tertanam
di hatinya. Oleh seluruh persahabatan yang tidak pernah pudar. Oleh seluruh
pengorbanan yang tidak pernah sia-sia. Oleh seluruh warisan yang diteruskan
dari generasi ke generasi. Oleh seluruh langit yang tetap biru, selamanya.
TAMAT











