Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid
Novelet Serial Abunawas Edisi I: Kecerdikan Akal dan Logika
Episode 8: Telur atau Ayam: Teka-Teki yang Mengguncang
Singgasana
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG: PERTANYAAN SEDERHANA YANG MENJADI BESAR
Di tengah kemegahan jamuan istana yang diadakan untuk
menyambut kedatangan seorang cendekiawan terkenal dari negeri seberang, ketika
lampu-lampu minyak menyala terang di Aula Singgasana Agung, menciptakan ilusi
langit berbintang di langit-langit yang tinggi, ketika meja-meja panjang
dipenuhi dengan hidangan-hidangan terbaik dari seluruh penjuru
kekhalifahan—domba panggang dengan madu dan rempah, nasi saffron dengan almond
dan kismis, ikan-ikan segar dari Sungai Tigris yang digoreng dengan minyak
zaitun, manisan-manisan dari Persia yang meleleh di mulut, dan kurma-kurma
Sukkari yang mengilap seperti batu akik—di tengah semua kemewahan itu, di
tengah alunan musik yang merdu, di tengah tawa dan canda para pejabat yang
mulai hangat oleh anggur, sebuah pertanyaan sederhana muncul dari mulut seorang
tamu. Pertanyaan yang tampaknya ringan, tampaknya sepele, tampaknya tidak akan
mengganggu siapa pun. Tapi pertanyaan itu, seperti batu kecil yang dilemparkan
ke kolam yang tenang, menciptakan riak yang semakin melebar, semakin dalam,
semakin kuat, hingga akhirnya mengguncang seluruh istana.
Pertanyaan itu adalah: "Mana yang lebih dulu
ada, telur atau ayam?"
Tamu yang mengajukan pertanyaan itu adalah seorang filsuf
dari Basra, seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang yang menjuntai
hingga dadanya, dengan mata yang tajam seperti elang meskipun usianya sudah
lanjut, dengan senyum yang misterius seperti orang yang tahu lebih banyak dari
yang ia katakan. Namanya adalah Al-Farabi bin Ishaq al-Basri, seorang yang
terkenal di seluruh kekhalifahan karena kecerdasannya, karena kemampuannya
berdebat tanpa pernah kalah, karena kebijaksanaannya yang konon berasal dari
perenungan yang tidak pernah berhenti sejak ia masih muda. Ia diundang ke
istana oleh Baginda Raja Harun Al-Rasyid sendiri, yang ingin mendengar
pandangannya tentang berbagai hal—tentang filsafat, tentang ilmu pengetahuan,
tentang alam semesta, tentang kehidupan.
Tapi tidak ada yang menyangka bahwa pertanyaan yang ia
ajukan, yang tampaknya hanya lelucon ringan di sela-sela jamuan, akan menjadi
pusat perdebatan yang berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan hampir
berbulan-bulan. Tidak ada yang menyangka bahwa pertanyaan sederhana tentang
telur dan ayam akan memecah belah para pejabat istana, akan mengadu domba para ahli
supranatural dengan para ahli logika, akan membuat Baginda Raja sendiri
kebingungan, dan pada akhirnya, akan memerlukan kecerdikan seorang pelawak dari
pinggiran Baghdad untuk menyelesaikannya.
Al-Farabi mengajukan pertanyaan itu dengan nada santai, di sela-sela
menikmati kurma yang baru saja ia petik dari piring perak di hadapannya. Ia
tersenyum, matanya berbinar, seolah-olah ia sedang melemparkan umpan ke kolam
yang penuh ikan. Dan ikan-ikan itu, para pejabat istana yang hadir, segera
menyambar umpan itu dengan penuh semangat, tanpa berpikir, tanpa bertanya,
tanpa… memahami.
"Telur, tentu saja!" seru seorang pejabat muda
bernama Amr bin Hisham, yang terkenal sebagai penggemar ilmu pengetahuan dan
sering membaca buku-buku dari Yunani tentang alam semesta. Matanya bersemangat,
tangannya bergerak-gerak seperti sedang menjelaskan sesuatu yang sangat
penting. "Ayam berasal dari telur. Setiap ayam yang kita lihat sekarang
pasti menetas dari telur. Maka, telur harus ada lebih dulu. Tidak mungkin ayam
ada tanpa telur yang menetas. Itu logika sederhana! Itu akal sehat! Itu…
kebenaran!"
"Tidak! Ayam lebih dulu!" potong seorang pejabat
lain, seorang lelaki bernama Zaid bin Haritsah, yang terkenal sebagai pengikut
setia para ahli supranatural. Wajahnya merah karena anggur dan semangat,
suaranya meninggi karena ingin didengar. "Ayam diciptakan oleh Allah.
Allah menciptakan ayam, lalu ayam bertelur. Itu yang tertulis dalam kitab-kitab
kuno. Itu yang diajarkan oleh para nabi. Itu yang diyakini oleh orang-orang beriman.
Mana mungkin telur ada sebelum ayam? Telur tidak bisa muncul begitu saja tanpa
ayam yang menghasilkannya! Itu mustahil! Itu… tidak masuk akal!"
Perdebatan pun dimulai. Dengan cepat, para pejabat yang
hadir terbagi menjadi dua kubu. Kubu telur, yang dipimpin oleh Amr bin Hisham
dan para penggemar ilmu pengetahuan, berargumen dengan logika, dengan
observasi, dengan akal sehat. Kubu ayam, yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah
dan para pengikut ahli supranatural, berargumen dengan keyakinan, dengan
kitab-kitab kuno, dengan otoritas para nabi.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid, yang duduk di singgasananya
di ujung ruangan, mendengarkan perdebatan itu dengan senyum tipis. Pada
awalnya, ia menganggap ini hanya lelucon, hanya hiburan di sela-sela jamuan,
hanya cara untuk menghangatkan suasana. Tapi semakin lama ia mendengarkan,
semakin ia menyadari bahwa perdebatan ini tidak lagi ringan. Para pejabat yang
biasanya bersahabat, kini saling berhadapan dengan mata yang menyala, dengan
suara yang meninggi, dengan argumen yang semakin tajam. Mereka tidak lagi
berbicara tentang telur dan ayam. Mereka berbicara tentang kebenaran. Tentang
keyakinan. Tentang harga diri. Tentang… siapa yang benar.
"Baginda!" seru Amr bin Hisham setelah perdebatan
memanas, suaranya nyaris berteriak, wajahnya merah padam, tangannya mengepal di
atas meja. "Kita harus memutuskan! Kita tidak bisa membiarkan perdebatan
ini tanpa penyelesaian! Saya yakin telur lebih dulu! Saya siap membuktikannya
dengan logika, dengan ilmu pengetahuan, dengan… apa pun yang Baginda
minta!"
"Baginda!" seru Zaid bin Haritsah dengan suara
yang tidak kalah keras, matanya menyala-nyala, napasnya memburu karena emosi.
"Jangan percaya pada logika yang menyesatkan! Ayam lebih dulu! Itu yang
diajarkan oleh para nabi! Itu yang tertulis dalam kitab-kitab suci! Itu yang…
benar!"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat tangannya,
menghentikan banjir argumen yang siap meledak. Ia menatap kedua pejabat itu
dengan mata yang tajam, dengan senyum yang tidak bisa dibaca, dengan pikiran
yang bekerja cepat.
"Amr, Zaid," katanya, suaranya tenang tetapi
bergema di ruangan yang mulai sunyi, "perdebatan ini menarik. Sangat
menarik. Tapi aku tidak bisa memutuskan hanya dengan mendengar argumen-argumen
yang saling bertabrakan. Aku butuh… bukti. Aku butuh… kepastian. Aku butuh…
jawaban yang tidak bisa dibantah."
Ia menoleh ke arah Al-Farabi, sang filsuf dari Basra, yang
sejak tadi duduk dengan tenang, dengan senyum misterius, dengan mata yang
berbinar-binar menikmati kekacauan yang ia ciptakan.
"Al-Farabi," katanya, "kau yang mengajukan
pertanyaan ini. Apa jawabanmu? Mana yang lebih dulu, telur atau ayam? Kau pasti
sudah memikirkan ini bertahun-tahun. Kau pasti sudah menemukan jawabannya.
Katakan. Beritahu kami. Hentikan perdebatan ini."
Al-Farabi tersenyum. Senyum yang misterius, senyum yang
membuat semua orang penasaran, senyum yang mengatakan: Aku tahu
jawabannya, tapi aku tidak akan memberikannya dengan mudah.
"Baginda," katanya, suaranya tenang, tidak
terpengaruh oleh panasnya perdebatan, "aku tidak punya jawaban. Aku hanya
punya… pertanyaan. Pertanyaan yang telah aku renungkan selama bertahun-tahun.
Pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawaban pasti. Pertanyaan yang membuat
aku sadar bahwa kadang-kadang, yang lebih penting bukanlah menemukan jawaban, tetapi…
memahami pertanyaan."
Ia mengambil kurma, memasukkannya ke mulut, mengunyah
perlahan.
"Baginda, aku mengajukan pertanyaan ini bukan untuk
memulai perdebatan. Aku mengajukan pertanyaan ini untuk… mengingatkan.
Mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Ada
hal-hal yang tidak bisa dipahami dengan keyakinan. Ada hal-hal yang… hanya bisa
direnungkan. Dan dari perenungan itu, kita belajar. Belajar tentang
kebijaksanaan. Belajar tentang kerendahan hati. Belajar tentang… batas-batas
akal kita."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia menatap Al-Farabi
dengan mata yang berubah. Bukan lagi kebingungan. Bukan lagi rasa ingin tahu.
Tapi… pemahaman. Pemahaman bahwa pertanyaan ini bukan tentang telur atau ayam.
Tapi tentang… sesuatu yang lebih dalam. Tentang… kebenaran. Tentang… keyakinan.
Tentang… kehidupan itu sendiri.
"Al-Farabi," katanya, "aku mengerti. Aku
mengerti bahwa pertanyaan ini tidak akan pernah terjawab dengan debat. Tidak
akan pernah terjawab dengan logika. Tidak akan pernah terjawab dengan
keyakinan. Tapi aku tidak bisa membiarkan perdebatan ini berlarut-larut. Aku
tidak bisa membiarkan para pejabatku terpecah oleh pertanyaan yang tidak
memiliki jawaban. Aku harus… menyelesaikan ini. Dengan cara apa pun. Dengan…
siapa pun."
Ia menoleh ke arah Jafar yang berdiri di sampingnya dengan
wajah yang juga bingung, juga gelisah, juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Jafar," katanya, "mulai hari ini, teka-teki
ini menjadi tantangan istana. Siapa pun yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan,
yang bisa mengakhiri perdebatan ini, yang bisa menyatukan kembali para
pejabatku, akan mendapat hadiah. Hadiah yang besar. Hadiah yang tidak akan
pernah ia lupakan. Hadiah yang… sepadan dengan kebijaksanaannya."
Jafar mengangguk. "Baginda, akan kusampaikan. Tapi…
siapa yang akan kita percaya? Siapa yang mampu menjawab pertanyaan yang bahkan
Al-Farabi sendiri tidak bisa menjawab? Siapa yang…"
"Jafar," potong Baginda Raja Harun Al-Rasyid
dengan suara yang tenang tetapi tegas, "kau tahu siapa. Kau selalu tahu
siapa. Setiap kali ada masalah yang tidak bisa dipecahkan, selalu ada satu nama
yang muncul. Satu nama yang membuatku tersenyum meskipun situasi sedang
genting. Satu nama yang… Abu Nawas."
BAB 1: PERDEBATAN TANPA AKHIR
Hari-hari setelah jamuan istana, perdebatan tentang telur
dan ayam tidak kunjung reda. Bahkan, semakin hari semakin memanas, semakin
meluas, semakin… memecah belah.
Para pejabat yang tadinya hanya berdebat di ruang
pertemuan, kini mulai membawa perdebatan ke koridor-koridor, ke dapur-dapur, ke
barak-barak, ke taman-taman. Mereka berdebat saat sarapan, saat makan siang,
saat makan malam. Mereka berdebat sebelum tidur, setelah bangun, di sela-sela
tugas. Mereka berdebat dengan semangat yang luar biasa, dengan keyakinan yang
tidak tergoyahkan, dengan argumen yang semakin tajam, semakin panjang, semakin…
tidak ada habisnya.
Kubu telur, yang dipimpin oleh Amr bin Hisham, semakin kuat
dengan argumen-argumen logis. Mereka mengutip buku-buku dari Yunani tentang
biologi, tentang reproduksi, tentang evolusi. Mereka mengatakan bahwa telur
adalah sel pertama yang memulai kehidupan. Mereka mengatakan bahwa ayam
berevolusi dari makhluk lain, dan telur adalah wadah di mana evolusi itu
terjadi. Mereka mengatakan bahwa secara ilmiah, telur pasti ada lebih dulu,
karena ayam tidak mungkin muncul begitu saja tanpa proses yang panjang.
"Pikirkanlah!" seru Amr bin Hisham di suatu sore,
berdiri di tengah-tengah para pendukungnya yang berkumpul di taman dalam
istana, suaranya bergema di antara pepohonan, matanya bersinar-sinar karena
semangat. "Ayam adalah makhluk yang kompleks. Ia memiliki jantung,
paru-paru, otak, bulu, cakar, paruh. Apakah mungkin makhluk secanggih itu
muncul begitu saja tanpa proses? Tentu tidak! Pasti ada proses panjang yang
dimulai dari sel sederhana, berkembang menjadi organisme yang lebih kompleks,
dan akhirnya menjadi ayam. Dan telur, saudara-saudaraku, adalah wadah di mana
proses itu terjadi! Telur adalah awal dari segalanya! Telur adalah…
kebenaran!"
Seorang pendukung kubu telur yang lain, seorang lelaki muda
bernama Khalid bin Yazid yang baru saja kembali dari belajar di Baitul Hikmah,
angkat bicara dengan semangat yang tidak kalah besar. "Tuan Amr benar!
Saya telah membaca kitab-kitab dari Yunani. Para filsuf di sana mengatakan bahwa
kehidupan dimulai dari telur. Telur adalah wadah di mana kehidupan pertama kali
terbentuk. Ayam hanyalah hasil dari proses yang panjang. Maka, telur pasti ada
lebih dulu! Itu tidak bisa dibantah! Itu… logika!"
Kubu ayam, yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, tidak mau
kalah. Mereka berkumpul di ruang pertemuan lain, di sisi barat istana, dengan
semangat yang sama membara, dengan keyakinan yang sama kuat, dengan argumen
yang sama tajam.
"Kalian semua tersesat oleh logika yang
menyesatkan!" seru Zaid bin Haritsah, suaranya meninggi, matanya
menyala-nyala, tangannya menunjuk ke arah barat, ke arah tempat kubu telur
berkumpul, seolah-olah ia bisa menembus dinding-dinding istana dengan
kemarahannya. "Ayam diciptakan oleh Allah! Allah menciptakan ayam, lalu
ayam bertelur! Itu yang tertulis dalam kitab-kitab kuno! Itu yang diajarkan
oleh para nabi! Itu yang diyakini oleh orang-orang beriman sejak zaman dahulu!
Apakah kalian akan membantah kitab suci? Apakah kalian akan membantah para
nabi? Apakah kalian akan membantah… Allah?"
Seorang pendukung kubu ayam yang lain, seorang lelaki tua
bernama Abu Bakar al-Anbari yang terkenal sebagai ahli hadis dan tafsir, angkat
bicara dengan suara yang berat, dengan wibawa yang tidak bisa diremehkan.
"Zaid benar. Dalam kitab-kitab kuno disebutkan bahwa Allah menciptakan
segala makhluk berpasang-pasangan. Ayam jantan dan ayam betina diciptakan
bersamaan. Mereka kemudian berkembang biak dan menghasilkan telur. Maka, ayam
pasti ada lebih dulu. Telur adalah hasil dari ayam, bukan sebaliknya. Itu tidak
bisa dibantah! Itu… kebenaran!"
Perdebatan semakin sengit. Kedua kubu tidak hanya berdebat
dengan argumen, tetapi juga dengan emosi. Mereka saling mengejek, saling
merendahkan, saling menuduh. Kubu telur menyebut kubu ayam sebagai orang-orang
yang tidak mau berpikir, yang hanya mengikuti kata orang tanpa menggunakan
akal. Kubu ayam menyebut kubu telur sebagai orang-orang yang sesat, yang lebih
percaya pada buku-buku Yunani daripada kitab suci.
Dan di tengah semua kekacauan itu, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid duduk di singgasananya, dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun,
dengan mata yang tidak berkedip, dengan pikiran yang berputar-putar. Ia telah
mendengar semua argumen. Ia telah melihat semua emosi. Ia telah menyaksikan
bagaimana pertanyaan sederhana tentang telur dan ayam telah memecah belah
orang-orang yang selama ini bekerja sama dengan harmonis. Dan ia tidak tahu
harus berbuat apa.
Ia telah memerintahkan para penasihatnya untuk mencari
jawaban. Mereka datang dengan berbagai teori, dengan berbagai tafsir, dengan
berbagai… keyakinan. Tidak ada yang bisa meyakinkan. Tidak ada yang bisa
memuaskan. Tidak ada yang bisa… mengakhiri perdebatan.
Ia telah memerintahkan para ahli supranatural untuk
memberikan tafsir mistis. Mereka datang dengan cerita-cerita tentang
penciptaan, tentang takdir, tentang simbol-simbol kehidupan. Mereka mengatakan
bahwa telur adalah simbol potensi, ayam adalah simbol realisasi. Mereka
mengatakan bahwa keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Mereka mengatakan bahwa pertanyaan ini tidak penting, yang penting adalah…
keimanan.
Tapi tidak ada yang berhasil. Perdebatan terus berlangsung.
Kekacauan terus meluas. Istana terus… terpecah.
BAB 2: PARA AHLI SUPRANATURAL TURUN TANGAN
Pada hari ketiga setelah perdebatan dimulai, ketika suasana
istana semakin memanas, ketika para pejabat hampir tidak bisa bekerja karena
terlalu sibuk berdebat, Baginda Raja Harun Al-Rasyid memanggil para ahli
supranatural. Ia ingin mendengar pendapat mereka. Ia ingin tahu apa yang mereka
lihat. Ia ingin tahu apa yang mereka rasakan. Ia ingin tahu… apakah ada jawaban
dari dunia gaib.
Aula Singgasana Agung sore itu terasa berbeda. Lampu-lampu
minyak yang biasanya menyala terang, kali ini diredupkan. Dupa-dupa yang
biasanya digunakan untuk wewangian, kali ini dibakar lebih banyak, menciptakan
kabut tipis yang memenuhi ruangan, membuat segalanya terlihat kabur, seperti
mimpi, seperti dunia lain. Di tengah ruangan, berdiri para ahli supranatural
dalam lingkaran, dengan jubah-jubah hitam mereka, dengan simbol-simbol
misterius yang digambar di lantai dengan kapur, dengan mangkuk-mangkuk berisi
air mawar dan garam dan kemenyan.
Syekh Abdul Jabal, ketua para ahli supranatural, berdiri di
tengah lingkaran, dengan mata terpejam, dengan tangan terangkat ke langit,
dengan bibir yang komat-kamit membaca doa-doa yang tidak bisa didengar oleh
orang awam. Ia adalah orang yang sama yang telah membantu Baginda Raja dalam
berbagai kesulitan, yang telah meramalkan kemenangan dalam perang, yang telah
mengusir jin-jin jahat dari istana, yang telah… gagal dalam kasus suara gaib,
tetapi tetap dihormati karena pengabdiannya selama bertahun-tahun.
"Syekh," kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid,
suaranya tenang tetapi berat, "aku memanggil kalian untuk mendengar. Untuk
mendengar apa yang kalian lihat. Untuk mendengar apa yang kalian rasakan. Untuk
mendengar… kebenaran. Mana yang lebih dulu, telur atau ayam? Apakah ada jawaban
dari dunia gaib? Apakah ada petunjuk dari makhluk-makhluk halus? Apakah ada…
tanda?"
Syekh Abdul Jabal membuka matanya. Matanya sayu, seperti
orang yang baru saja melakukan perjalanan jauh, seperti orang yang baru saja
kembali dari dunia lain.
"Baginda," katanya, suaranya rendah, berat,
seperti guntur di kejauhan, "kami telah melakukan kontak. Kami telah
bertanya kepada makhluk-makhluk halus. Kami telah memeriksa kitab-kitab kuno.
Dan kami… kami sampai pada kesimpulan. Telur dan ayam, Baginda, adalah simbol.
Simbol dari siklus kehidupan. Simbol dari awal dan akhir. Simbol dari… misteri
yang tidak bisa dipecahkan oleh akal manusia."
Ia berhenti, menghela napas panjang, mengusap wajahnya
dengan tangan yang gemetar.
"Baginda, dalam kitab-kitab kuno disebutkan bahwa
Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ayam jantan dan ayam
betina diciptakan bersamaan. Mereka kemudian berkembang biak. Telur adalah
hasil dari perkembangbiakan itu. Maka, secara spiritual, ayam lebih dulu.
Karena ayam adalah ciptaan langsung Allah, sedangkan telur adalah hasil dari
ciptaan itu."
Seorang ahli supranatural lain, seorang lelaki bernama
Syekh Hasan al-Basri, yang terkenal dengan kemampuannya membaca mimpi, angkat
bicara. "Baginda, aku juga mendapat petunjuk. Dalam mimpiku, aku melihat
telur yang sangat besar. Telur itu pecah, dan dari dalamnya keluar seekor ayam.
Tapi sebelum telur itu pecah, aku melihat cahaya yang sangat terang. Cahaya
yang berasal dari… langit. Cahaya yang… menciptakan telur itu. Maka, secara
simbolis, telur lebih dulu. Karena telur adalah wadah yang diciptakan untuk
menampung kehidupan yang akan muncul."
Seorang ahli supranatural lain lagi, seorang lelaki tua
bernama Syekh Ibrahim al-Mishri, yang terkenal dengan kemampuannya membaca pola
pasir, juga angkat bicara. "Baginda, aku juga melakukan ramalan. Aku
menebar pasir di atas papan kayu. Aku membaca pola yang terbentuk. Dan pola
itu… pola itu menunjukkan lingkaran. Lingkaran yang tidak berawal dan tidak
berakhir. Telur dan ayam, Baginda, adalah satu kesatuan. Tidak ada yang lebih
dulu. Tidak ada yang lebih akhir. Keduanya ada bersamaan. Keduanya saling
membutuhkan. Keduanya… satu."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya duduk
di singgasananya, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang tidak berkedip,
dengan pikiran yang berputar-putar. Tiga ahli supranatural. Tiga jawaban
berbeda. Tiga tafsir yang saling bertentangan. Tidak ada yang bisa meyakinkan.
Tidak ada yang bisa memuaskan. Tidak ada yang bisa… mengakhiri perdebatan.
"Syekh," katanya, suaranya masih tenang tetapi
ada nada kelelahan di dalamnya, "kalian memberi tiga jawaban berbeda. Yang
satu mengatakan ayam lebih dulu. Yang satu mengatakan telur lebih dulu. Yang
satu mengatakan keduanya sama. Mana yang benar? Mana yang harus aku percayai?
Mana yang… jawabannya?"
Syekh Abdul Jabal menghela napas. "Baginda, itulah
misteri. Itulah yang tidak bisa dipecahkan oleh akal manusia. Itulah yang harus
diterima dengan iman. Kita tidak perlu tahu mana yang lebih dulu. Yang penting
adalah… kita percaya. Percaya bahwa Allah menciptakan segalanya dengan
sempurna. Percaya bahwa ada hal-hal yang tidak perlu kita ketahui. Percaya
bahwa… iman lebih penting dari pengetahuan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya duduk
di singgasananya, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang menerawang ke
suatu tempat di kejauhan, ke suatu tempat yang tidak bisa dilihat oleh siapa
pun. Iman lebih penting dari pengetahuan? Apakah itu jawabannya? Apakah itu
yang harus ia terima? Apakah itu yang harus ia ajarkan kepada para pejabatnya
yang terpecah?
Ia tidak tahu. Ia tidak tahu apa yang harus ia percayai. Ia
tidak tahu apakah ia harus mengikuti nasihat para ahli supranatural atau tetap
pada akal sehatnya. Ia tidak tahu apakah ia harus menerima misteri atau terus
mencari jawaban. Ia bimbang. Ia ragu. Ia… lelah.
BAB 3: LOGIKA VS KEYAKINAN
Pada hari kelima, perdebatan mencapai puncaknya. Kubu telur
dan kubu ayam mengadakan pertemuan besar di Aula Singgasana Agung, di hadapan
Baginda Raja. Mereka ingin berdebat secara resmi. Mereka ingin menunjukkan
keunggulan argumen masing-masing. Mereka ingin… menang.
Aula Singgasana Agung pagi itu penuh sesak. Tidak ada kursi
yang kosong. Tidak ada sudut yang luput. Semua pejabat hadir. Semua penasihat
hadir. Semua komandan hadir. Semua ahli supranatural hadir. Bahkan para penjaga
yang sedang tidak bertugas pun ikut hadir, berdiri di belakang, berdesakan,
ingin melihat, ingin mendengar, ingin tahu… siapa yang benar.
Amr bin Hisham berdiri di sisi kanan aula, didampingi oleh
para pendukung kubu telur. Ia mengenakan jubah terbaiknya, sorban tertingginya,
senyum paling percaya dirinya. Ia telah mempersiapkan argumennya berhari-hari.
Ia telah membaca ulang semua buku dari Yunani yang ia miliki. Ia telah
berkonsultasi dengan para ilmuwan di Baitul Hikmah. Ia siap. Ia yakin. Ia… akan
menang.
Zaid bin Haritsah berdiri di sisi kiri aula, didampingi
oleh para pendukung kubu ayam. Ia juga mengenakan jubah terbaiknya, sorban
tertingginya, senyum paling percaya dirinya. Ia telah mempersiapkan argumennya
dengan berdoa, dengan membaca kitab-kitab kuno, dengan meminta petunjuk dari para
ahli supranatural. Ia juga siap. Ia juga yakin. Ia juga… akan menang.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya di
ujung ruangan, dengan jubah kebesaran berwarna hitam, dengan mahkota emas di
kepalanya, dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun. Ia menatap kedua kubu
dengan mata yang tajam, dengan pikiran yang bekerja keras, dengan hati yang…
lelah.
"Amr, Zaid," katanya, suaranya tenang tetapi
bergema di ruangan yang sunyi, "kalian sudah berdebat berhari-hari. Kalian
sudah mengumpulkan argumen. Kalian sudah mempersiapkan diri. Sekarang, aku akan
mendengarkan. Aku akan mendengarkan semuanya. Dan setelah itu, aku akan
memutuskan. Aku akan memutuskan siapa yang benar. Aku akan memutuskan…
jawabannya."
Amr bin Hisham maju selangkah. Suaranya lantang, bergema di
aula yang sunyi.
"Baginda, para hadirin yang mulia," katanya,
"saya akan membuktikan bahwa telur lebih dulu. Bukan dengan keyakinan.
Bukan dengan iman. Tapi dengan… logika. Dengan ilmu pengetahuan. Dengan…
fakta."
Ia berjalan mondar-mandir di depan singgasana, seperti
seorang pengacara yang sedang membela kliennya di hadapan hakim.
"Pertama, kita lihat fakta. Setiap ayam yang kita
lihat sekarang pasti berasal dari telur. Tidak ada ayam yang lahir langsung
dari ayam lain tanpa melalui telur. Itu fakta yang tidak bisa dibantah. Itu
yang kita lihat setiap hari. Itu yang dialami oleh setiap peternak ayam di
seluruh kekhalifahan."
Ia berhenti, menatap para hadirin, mencari persetujuan.
"Kedua, kita lihat logika. Jika ayam lebih dulu, dari
mana ayam pertama itu berasal? Apakah ia jatuh dari langit? Apakah ia muncul
dari tanah? Apakah ia diciptakan secara ajaib? Tentu tidak! Ayam pertama pasti
berasal dari telur. Telur yang menetas menjadi ayam. Maka, telur pasti ada
lebih dulu. Itu logika sederhana! Itu akal sehat! Itu… kebenaran!"
Para pendukung kubu telur bertepuk tangan. Tepuk tangan
yang keras, yang riuh, yang bergema di aula.
Zaid bin Haritsah tidak mau kalah. Ia maju selangkah,
suaranya juga lantang, juga bergema.
"Baginda, para hadirin yang mulia," katanya,
"jangan tertipu oleh logika yang menyesatkan! Jangan percaya pada ilmu
pengetahuan yang terbatas! Kebenaran tidak selalu bisa dicapai dengan akal! Ada
hal-hal yang hanya bisa dipahami dengan… iman!"
Ia juga berjalan mondar-mandir di depan singgasana, dengan
gerakan yang lebih dramatis, dengan suara yang lebih emosional.
"Pertama, kita lihat kitab-kitab kuno. Dalam
kitab-kitab itu disebutkan bahwa Allah menciptakan segala makhluk
berpasang-pasangan. Ayam jantan dan ayam betina diciptakan bersamaan. Mereka
kemudian berkembang biak. Telur adalah hasil dari perkembangbiakan itu. Maka,
ayam pasti lebih dulu. Itu yang diajarkan oleh para nabi. Itu yang diyakini
oleh orang-orang beriman sejak zaman dahulu. Itu… kebenaran!"
Para pendukung kubu ayam bertepuk tangan. Tepuk tangan yang
tidak kalah keras, tidak kalah riuh, tidak kalah bergema.
"Kedua," lanjut Zaid, suaranya semakin tinggi,
semakin emosional, "kita lihat logika yang sesungguhnya. Jika telur lebih
dulu, dari mana telur pertama itu berasal? Apakah ia juga jatuh dari langit?
Apakah ia juga muncul dari tanah? Apakah ia juga diciptakan secara ajaib? Tentu
tidak! Telur pasti dihasilkan oleh ayam. Tidak mungkin telur ada tanpa ayam
yang menghasilkannya. Maka, ayam pasti lebih dulu. Itu logika yang lebih logis!
Itu akal sehat yang lebih sehat! Itu… kebenaran!"
Perdebatan berlangsung berjam-jam. Amr dan Zaid bergantian
berbicara, bergantian mengemukakan argumen, bergantian menyerang dan bertahan.
Pendukung mereka juga ikut bersuara, ikut berdebat, ikut saling serang. Suasana
aula semakin panas, semakin riuh, semakin… kacau.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya,
mendengarkan semuanya, dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun, dengan mata
yang tidak berkedip, dengan pikiran yang berputar-putar. Ia mendengar argumen
logika. Ia mendengar argumen keyakinan. Ia mendengar argumen ilmu pengetahuan.
Ia mendengar argumen kitab suci. Semuanya masuk akal. Semuanya meyakinkan.
Semuanya… tidak bisa dibantah.
Tapi juga, semuanya… tidak bisa membuktikan. Tidak ada yang
bisa membuktikan bahwa telur lebih dulu. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa
ayam lebih dulu. Tidak ada yang bisa… memberikan kepastian.
"Baginda," kata Amr setelah berjam-jam berdebat,
suaranya serak karena terlalu banyak berbicara, wajahnya merah karena emosi,
"aku sudah membuktikan! Telur lebih dulu! Tidak ada yang bisa
membantah!"
"Baginda!" seru Zaid, suaranya juga serak,
wajahnya juga merah, matanya menyala-nyala. "Jangan percaya padanya! Ayam
lebih dulu! Itu kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat!"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat tangannya. Aula
langsung sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara napas orang-orang
terdengar seperti angin.
"Amr, Zaid," katanya, suaranya tenang tetapi
berat, "kalian berdua telah berdebat dengan hebat. Kalian berdua telah
mengemukakan argumen yang kuat. Tapi kalian berdua… tidak bisa membuktikan.
Tidak ada bukti. Tidak ada kepastian. Tidak ada… jawaban."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap langit Baghdad
yang cerah.
"Dan tanpa jawaban, perdebatan ini tidak akan pernah
selesai. Tanpa kepastian, perselisihan ini tidak akan pernah reda. Tanpa…
kebenaran, istana ini tidak akan pernah tenang."
Ia berbalik menghadap semua orang yang hadir.
"Karena itu, aku akan memanggil seseorang. Seseorang
yang tidak pernah berdebat. Seseorang yang tidak pernah memaksakan
keyakinannya. Seseorang yang tidak pernah… terjebak dalam perdebatan tanpa
akhir. Seseorang yang… bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain.
Seseorang yang… Abu Nawas."
BAB 4: KEPUTUSAN BAGINDA
Pada hari keenam, ketika perdebatan masih terus
berlangsung, ketika istana semakin kacau, ketika para pejabat hampir tidak bisa
bekerja, Abu Nawas datang ke istana. Ia datang dengan jubah lusuh yang sama,
sandal aus yang sama, sorban yang dililit dengan malas yang sama, dan senyum
misterius yang sama. Di tangannya, sekantong kecil kurma—kurma Sukkari yang ia
beli di pasar dengan uang terakhir yang ia miliki, karena jatah mingguan dari
istana baru akan diberikan besok, dan ia tidak bisa menunggu, karena ia sudah
mendengar tentang perdebatan yang mengguncang istana dan ia tahu bahwa untuk
menghadapi perdebatan seperti ini, ia membutuhkan kurma. Banyak kurma.
Jafar menyambutnya di gerbang istana dengan wajah yang
masih pucat, dengan mata yang masih sayu, dengan suara yang masih serak karena
terlalu banyak berbicara dalam perdebatan-perdebatan yang tidak menghasilkan
apa-apa.
"Abu Nawas," katanya, "terima kasih sudah
datang. Baginda Raja sudah menunggu sejak pagi. Ia tidak bisa tidur semalaman.
Ia terus memikirkan perdebatan ini. Ia terus memikirkan bagaimana mengakhiri
perselisihan yang tidak ada ujungnya. Ia terus memikirkan… jawaban yang tidak
pernah ditemukan."
Abu Nawas mengambil kurma dari kantongnya, memasukkannya ke
mulut, mengunyah perlahan.
"Wazir," katanya, "Baginda Raja tidak perlu
mencari jawaban. Baginda Raja hanya perlu… memahami. Memahami bahwa pertanyaan
ini tidak pernah dimaksudkan untuk dijawab. Memahami bahwa perdebatan ini tidak
pernah dimaksudkan untuk dimenangkan. Memahami bahwa… kadang-kadang, yang lebih
penting bukanlah menemukan jawaban, tetapi… memahami pertanyaan."
Jafar tidak mengerti. Ia hanya menggelengkan kepala,
berjalan di samping Abu Nawas menuju ruang pertemuan pribadi Baginda Raja.
Di ruang pertemuan pribadi, Baginda Raja Harun Al-Rasyid
duduk di singgasananya dengan jubah pagi berwarna putih, tanpa mahkota, tanpa
perhiasan, hanya dengan sorban sederhana yang melilit kepalanya. Di sampingnya,
duduk para pejabat yang mewakili kedua kubu. Di hadapannya, berdiri para ahli
supranatural yang juga terlibat dalam perdebatan. Suasana ruangan itu tegang,
seperti sebelum badai, seperti sebelum pertempuran, seperti sebelum… kebenaran
diungkap.
Abu Nawas masuk dengan langkah santai, duduk bersila di
lantai marmer di hadapan Baginda Raja, mengambil kurma dari kantongnya, dan
memasukkannya ke mulut dengan nikmat.
"Baginda," katanya, "saya dengar ada
perdebatan. Perdebatan tentang telur dan ayam. Perdebatan yang telah memecah
belah istana. Perdebatan yang tidak kunjung menemukan ujung. Perdebatan yang…
membuat semua orang lupa bahwa ada hal-hal yang lebih penting untuk
dibicarakan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Benar, Abu
Nawas. Perdebatan ini sudah berlangsung berhari-hari. Para pejabat terpecah.
Para ahli supranatural berbeda pendapat. Para ilmuwan juga tidak sepakat. Tidak
ada yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Tidak ada yang bisa mengakhiri
perselisihan. Tidak ada yang bisa… menyatukan kembali istana."
Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara
jari-jarinya dengan gerakan yang lambat, penuh pertimbangan, seperti seorang
filsuf yang sedang merenungkan makna kehidupan.
"Baginda," katanya, "sebelum saya mencoba
menjawab, izinkan saya bertanya. Bukan tentang telur. Bukan tentang ayam. Tapi
tentang… perdebatan ini. Tentang… orang-orang yang berdebat. Tentang… tujuan
mereka."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, apakah para pejabat itu sedang mencari
jawaban? Atau mereka hanya… ingin menang? Apakah mereka ingin mengetahui
kebenaran? Atau mereka hanya… ingin membuktikan bahwa mereka benar? Apakah
mereka ingin memahami pertanyaan ini? Atau mereka hanya… ingin mengalahkan
lawan?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia belum pernah
berpikir seperti itu. Ia mengira para pejabatnya berdebat karena ingin tahu. Ia
mengira mereka berselisih karena ingin menemukan kebenaran. Tapi sekarang,
setelah Abu Nawas bertanya, ia mulai melihat sesuatu yang berbeda.
"Abu Nawas," katanya, "aku… aku tidak tahu.
Aku tidak tahu apakah mereka mencari jawaban atau hanya ingin menang. Aku tidak
tahu apakah mereka ingin memahami atau hanya ingin membuktikan. Aku hanya tahu
bahwa mereka berdebat dengan penuh semangat. Mereka berdebat dengan penuh
keyakinan. Mereka berdebat… tanpa henti."
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, itulah masalahnya.
Mereka berdebat bukan untuk mencari kebenaran. Mereka berdebat untuk… menang.
Mereka tidak peduli apakah telur atau ayam yang lebih dulu. Mereka hanya peduli
bahwa argumen mereka yang menang. Mereka hanya peduli bahwa lawan mereka yang
kalah. Mereka hanya peduli bahwa… mereka benar."
Ia berdiri, berjalan mendekati para pejabat yang duduk di
samping Baginda Raja, menatap mereka satu per satu.
"Tuan Amr," katanya, "apakah Tuan
benar-benar ingin tahu mana yang lebih dulu? Atau Tuan hanya… ingin membuktikan
bahwa Tuan lebih pintar dari Zaid?"
Amr bin Hisham terdiam. Ia tidak bisa menjawab.
"Tuan Zaid," lanjut Abu Nawas, "apakah Tuan
benar-benar ingin tahu mana yang lebih dulu? Atau Tuan hanya… ingin membuktikan
bahwa iman Tuan lebih kuat dari logika Amr?"
Zaid bin Haritsah juga terdiam. Ia juga tidak bisa
menjawab.
"Syekh Abdul Jabal," Abu Nawas menatap ahli
supranatural itu, "apakah Syekh benar-benar mendapat petunjuk dari dunia
gaib? Atau Syekh hanya… menafsirkan apa yang ingin Syekh tafsirkan? Apakah
Syekh benar-benar yakin dengan jawaban Syekh? Atau Syekh hanya… tidak mau kalah
dari Syekh Hasan dan Syekh Ibrahim?"
Syekh Abdul Jabal menunduk. Ia tidak bisa menjawab.
Abu Nawas berjalan kembali ke tengah ruangan, berputar
menghadap semua orang yang hadir.
"Para hadirin yang mulia," katanya, "saya
tidak akan menjawab pertanyaan tentang telur dan ayam. Bukan karena saya tidak
tahu. Bukan karena saya tidak bisa. Tapi karena… jawabannya tidak penting. Yang
penting adalah… mengapa kita bertanya. Yang penting adalah… apa yang kita cari.
Yang penting adalah… apa yang kita perjuangkan."
Ia mengambil kurma dari kantongnya, memutarnya di antara
jari-jarinya.
"Apakah kita mencari kebenaran? Atau kita hanya
mencari kemenangan? Apakah kita ingin memahami? Atau kita hanya ingin
membuktikan? Apakah kita ingin bersatu? Atau kita hanya ingin… menang sendiri?"
Aula sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara napas
orang-orang terdengar seperti angin. Sunyi yang begitu berat hingga beberapa
orang mulai menangis. Sunyi yang begitu mencekam hingga tidak ada yang berani
bersuara.
"Para hadirin," lanjut Abu Nawas, suaranya
menjadi lebih pelan, lebih dalam, lebih menyentuh, "saya tidak akan
melarang kalian berdebat. Saya tidak akan melarang kalian bertanya. Saya hanya
akan… mengingatkan. Mengingatkan bahwa kadang-kadang, kita sibuk mencari
jawaban, padahal lupa memahami pertanyaan. Mengingatkan bahwa kadang-kadang,
kita sibuk membuktikan kebenaran, padahal lupa bahwa kebenaran tidak selalu
bisa dibuktikan. Mengingatkan bahwa kadang-kadang, kita sibuk ingin menang,
padahal lupa bahwa… kemenangan tidak selalu membawa kebahagiaan."
BAB 5: ISTANA DALAM KEBUNTUAN
Hari-hari setelah kedatangan Abu Nawas, suasana istana
mulai berubah. Tidak langsung tenang. Tidak langsung damai. Tapi ada sedikit
cahaya di tengah kegelapan. Ada sedikit harapan di tengah kepanikan. Ada sedikit…
kesadaran di tengah perdebatan.
Abu Nawas tidak langsung menjawab. Ia tidak langsung
memberikan solusi. Ia tidak langsung mengakhiri perdebatan. Ia melakukan
sesuatu yang lebih sederhana. Sesuatu yang lebih mendasar. Sesuatu yang tidak
pernah terpikirkan oleh siapa pun.
Ia bertanya.
Ia bertanya kepada Amr bin Hisham. "Tuan Amr, jika
Tuan menang dalam perdebatan ini, apa yang akan Tuan peroleh? Apakah Tuan akan
menjadi lebih pintar? Apakah Tuan akan menjadi lebih bijaksana? Apakah Tuan
akan menjadi… lebih baik?"
Amr bin Hisham tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam,
dengan mata yang kosong, dengan pikiran yang bingung, dengan hati yang gelisah.
Ia bertanya kepada Zaid bin Haritsah. "Tuan Zaid, jika
Tuan menang dalam perdebatan ini, apa yang akan Tuan peroleh? Apakah iman Tuan
akan menjadi lebih kuat? Apakah keyakinan Tuan akan menjadi lebih dalam? Apakah
Tuan akan menjadi… lebih dekat dengan Tuhan?"
Zaid bin Haritsah juga tidak bisa menjawab. Ia hanya
terdiam, dengan mata yang kosong, dengan pikiran yang bingung, dengan hati yang
gelisah.
Ia bertanya kepada para ahli supranatural.
"Syekh-syekh, jika Syekh-syekh menang dalam perdebatan ini, apa yang akan
Syekh-syekh peroleh? Apakah Syekh-syekh akan menjadi lebih sakti? Apakah
Syekh-syekh akan menjadi lebih dihormati? Apakah Syekh-syekh akan menjadi…
lebih dekat dengan dunia gaib?"
Para ahli supranatural tidak bisa menjawab. Mereka hanya
terdiam, dengan wajah yang pucat, dengan hati yang gelisah, dengan keyakinan
yang mulai goyah.
Dan setiap hari, Abu Nawas terus bertanya. Tidak dengan
suara keras. Tidak dengan emosi. Tapi dengan tenang. Dengan sabar. Dengan…
logika. Dan setiap hari, kesadaran itu mulai muncul. Kesadaran bahwa mereka
telah terjebak. Terjebak dalam perdebatan yang tidak penting. Terjebak dalam perselisihan
yang tidak perlu. Terjebak dalam… ego mereka sendiri.
Tapi meskipun kesadaran mulai muncul, perdebatan belum
berakhir. Masih ada yang bersikeras. Masih ada yang tidak mau mengalah. Masih
ada yang lebih memilih menang daripada memahami. Istana masih dalam kebuntuan.
BAB 6: ABU NAWAS DIPANGGIL TERLAMBAT
Pada hari ketujuh setelah Abu Nawas datang, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid memanggilnya ke ruang pribadi. Bukan untuk meminta laporan. Bukan
untuk meminta solusi. Tapi untuk… berbicara. Untuk… bertanya. Untuk… mengerti.
"Abu Nawas," katanya ketika Abu Nawas duduk
bersila di lantai marmer di hadapannya, "aku sudah berpikir. Aku sudah
merenung. Aku sudah mencoba memahami. Tapi aku tidak menemukan jawaban.
Perdebatan ini masih berlangsung. Perselisihan ini masih belum reda. Istana ini
masih… terpecah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu
bagaimana mengakhiri ini. Aku tidak tahu… apa yang harus aku percayai."
Abu Nawas mengambil kurma dari sakunya—kurma yang ia pinjam
dari dapur istana karena jatah mingguannya baru akan diberikan besok, tetapi ia
sudah terbiasa, ia sudah terbiasa meminjam, meminta, atau kadang-kadang…
mengambil tanpa izin, tetapi tidak pernah dengan niat jahat, hanya dengan niat…
bertahan hidup—dan memutarnya di antara jari-jarinya.
"Baginda," katanya, "Baginda tidak perlu
mencari jawaban. Baginda tidak perlu mengakhiri perdebatan. Baginda hanya
perlu… memahami. Memahami bahwa pertanyaan ini tidak pernah dimaksudkan untuk
dijawab. Memahami bahwa perdebatan ini tidak pernah dimaksudkan untuk
dimenangkan. Memahami bahwa… kadang-kadang, yang lebih penting bukanlah siapa
yang benar, tetapi siapa yang mampu memahami."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, Baginda pernah mendengar cerita tentang
seorang bijak yang ditanya, 'Mana yang lebih dulu, telur atau ayam?' Ia tidak
menjawab. Ia hanya tersenyum. Kemudian ia bertanya balik, 'Untuk apa kau
bertanya? Apakah kau ingin tahu? Apakah kau ingin belajar? Apakah kau ingin…
menjadi lebih bijaksana? Atau kau hanya ingin… memenangkan debat? Atau kau
hanya ingin… membuktikan bahwa kau lebih pintar? Atau kau hanya ingin…
menghabiskan waktu?'"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia merenungkan cerita
Abu Nawas.
"Abu Nawas," katanya, "apakah kau mengatakan
bahwa pertanyaan ini tidak perlu dijawab? Apakah kau mengatakan bahwa
perdebatan ini tidak perlu dimenangkan? Apakah kau mengatakan bahwa… yang
penting bukanlah jawaban, tetapi… pertanyaan itu sendiri?"
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, saya tidak mengatakan
apa-apa. Saya hanya… bercerita. Cerita tentang seorang bijak. Cerita tentang
pertanyaan. Cerita tentang… kebijaksanaan. Kebijaksanaan untuk tidak selalu
menjawab. Kebijaksanaan untuk tidak selalu menang. Kebijaksanaan untuk…
memahami. Memahami bahwa kadang-kadang, pertanyaan lebih penting daripada
jawaban. Memahami bahwa kadang-kadang, proses lebih penting daripada hasil.
Memahami bahwa kadang-kadang, kebersamaan lebih penting daripada…
kebenaran."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk perlahan. "Kau
benar, Abu Nawas. Kadang-kadang, pertanyaan lebih penting daripada jawaban.
Kadang-kadang, proses lebih penting daripada hasil. Kadang-kadang, kebersamaan
lebih penting daripada kebenaran. Dan selama ini, aku lupa. Aku lupa bahwa para
pejabatku dulu bersahabat. Aku lupa bahwa mereka dulu bekerja sama. Aku lupa
bahwa mereka dulu… satu. Dan sekarang, karena perdebatan ini, mereka terpecah.
Karena pertanyaan ini, mereka berselisih. Karena… keinginan untuk menang,
mereka kehilangan persahabatan."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap langit Baghdad
yang cerah.
"Abu Nawas," katanya, "aku sudah memutuskan.
Aku tidak akan mencari jawaban. Aku tidak akan memenangkan salah satu pihak.
Aku akan… menyatukan mereka. Aku akan mengajarkan mereka bahwa kebijaksanaan
bukan tentang siapa yang benar, tetapi tentang siapa yang mampu memahami. Aku
akan mengajarkan mereka bahwa persahabatan lebih berharga daripada kemenangan.
Aku akan mengajarkan mereka bahwa… telur dan ayam tidak penting. Yang penting
adalah… kita. Kita yang bertanya. Kita yang berdebat. Kita yang… bersama."
BAB 7: PERDEBATAN BESAR DIMULAI
Keesokan paginya, Baginda Raja Harun Al-Rasyid memanggil
semua orang ke Aula Singgasana Agung. Ia memanggil para pejabat dari kedua
kubu. Ia memanggil para ahli supranatural. Ia memanggil para ilmuwan. Ia
memanggil semua orang yang terlibat dalam perdebatan. Ia ingin berbicara. Ia
ingin menyelesaikan. Ia ingin… menyatukan.
Aula Singgasana Agung pagi itu penuh sesak. Tidak ada kursi
yang kosong. Tidak ada sudut yang luput. Semua orang ingin mendengar. Semua
orang ingin tahu. Semua orang ingin… melihat bagaimana Baginda Raja akan
menyelesaikan perdebatan yang tidak ada ujungnya.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan
jubah kebesaran berwarna hitam, dengan mahkota emas di kepalanya, dengan wajah
yang tenang tetapi berat. Di sampingnya, duduk Abu Nawas dengan jubah lusuh
yang sama, dengan sandal aus yang sama, dengan senyum misterius yang sama,
dengan sekantong kurma di tangannya.
"Para hadirin yang mulia," kata Baginda Raja Harun
Al-Rasyid, suaranya tenang tetapi bergema di ruangan yang sunyi, "kita
telah berdebat berhari-hari. Kita telah bertengkar berminggu-minggu. Kita telah
berselisih berbulan-bulan. Semua karena satu pertanyaan. Pertanyaan sederhana.
Pertanyaan tentang telur dan ayam. Pertanyaan yang… tidak pernah kita temukan
jawabannya."
Ia berhenti, menatap semua orang yang hadir, satu per satu.
"Tapi hari ini, aku tidak akan mencari jawaban. Hari
ini, aku tidak akan memenangkan salah satu pihak. Hari ini, aku akan… belajar.
Belajar dari Abu Nawas. Belajar dari seorang pelawak. Belajar dari… orang yang
paling bijaksana di istana ini."
Ia menoleh ke arah Abu Nawas.
"Abu Nawas, bicaralah. Bicaralah kepada mereka.
Bicaralah dengan caramu. Bicaralah dengan… tawa."
Abu Nawas berdiri, berjalan ke tengah aula, dengan jubah
lusuh yang sama, dengan sandal aus yang sama, dengan senyum misterius yang
sama. Di tangannya, sekantong kurma—kurma yang ia pinjam dari dapur istana,
karena jatah mingguannya sudah habis, dan ia belum sempat meminta tambahan.
"Para hadirin yang mulia," katanya, suaranya
lantang, bergema di aula yang sunyi, "saya tidak akan menjawab pertanyaan
tentang telur dan ayam. Saya tidak akan memberi tahu mana yang lebih dulu. Saya
tidak akan memenangkan salah satu pihak. Saya hanya akan… bertanya. Bertanya
kepada kalian semua. Bertanya tentang… perdebatan ini. Bertanya tentang… diri
kalian sendiri."
Ia berjalan mendekati Amr bin Hisham.
"Tuan Amr," katanya, "apakah Tuan sudah puas
dengan perdebatan ini? Apakah Tuan sudah bahagia dengan perselisihan ini?
Apakah Tuan sudah merasa menang? Atau Tuan hanya… lelah? Lelah berdebat. Lelah
bertengkar. Lelah… tidak menemukan jawaban."
Amr bin Hisham menunduk. "Aku… aku lelah, Abu Nawas.
Aku lelah berdebat. Aku lelah bertengkar. Aku lelah… tidak menemukan
jawaban."
Abu Nawas tersenyum. Ia berjalan mendekati Zaid bin
Haritsah.
"Tuan Zaid," katanya, "apakah Tuan sudah
puas dengan perdebatan ini? Apakah Tuan sudah bahagia dengan perselisihan ini?
Apakah Tuan sudah merasa menang? Atau Tuan hanya… lelah? Lelah berdebat. Lelah
bertengkar. Lelah… kehilangan teman."
Zaid bin Haritsah juga menunduk. "Aku… aku juga lelah,
Abu Nawas. Aku lelah berdebat. Aku lelah bertengkar. Aku lelah… kehilangan
teman."
Abu Nawas berjalan ke tengah aula, berputar menghadap semua
orang yang hadir.
"Para hadirin," katanya, "kita semua lelah.
Kita semua bosan. Kita semua ingin perdebatan ini berakhir. Tapi perdebatan ini
tidak akan berakhir jika kita terus mencari jawaban. Tidak akan berakhir jika kita
terus ingin menang. Tidak akan berakhir jika kita terus… tidak mau
mengalah."
Ia mengambil kurma dari kantongnya, memutarnya di antara
jari-jarinya.
"Maka, saya akan memberikan jawaban. Bukan jawaban
yang kalian harapkan. Bukan jawaban yang akan memenangkan salah satu pihak.
Tapi jawaban yang… akan menyatukan kita. Jawaban yang… akan mengakhiri
perdebatan. Jawaban yang… sederhana."
Aula sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara napas
orang-orang terdengar seperti angin. Sunyi yang begitu berat hingga beberapa
orang mulai gemetar. Sunyi yang begitu mencekam hingga tidak ada yang berani
bernapas.
BAB 8: MEMBALIK PERTANYAAN
Abu Nawas berdiri di tengah aula, dengan senyum yang lebih
lebar, dengan mata yang lebih bersinar, dengan keyakinan yang lebih kuat. Ia
tidak terburu-buru. Ia tidak tergesa-gesa. Ia hanya berdiri, menikmati
keheningan, menikmati perhatian, menikmati… momen.
"Para hadirin," katanya, "sebelum saya
memberikan jawaban, saya ingin mengajukan satu pertanyaan. Satu pertanyaan yang
mungkin akan mengubah cara kita melihat perdebatan ini. Satu pertanyaan yang
mungkin akan… membebaskan kita dari kebuntuan."
Ia berjalan mendekati singgasana, berdiri tepat di hadapan
Harun Al-Rasyid.
"Baginda," katanya, "untuk apa kita harus
tahu mana yang lebih dulu? Apa gunanya mengetahui bahwa telur lebih dulu? Apa
gunanya mengetahui bahwa ayam lebih dulu? Apakah pengetahuan itu akan membuat
kita lebih bijaksana? Apakah pengetahuan itu akan membuat kita lebih bahagia?
Apakah pengetahuan itu akan membuat kita… lebih baik?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia belum pernah
berpikir seperti itu. Ia mengira mengetahui jawaban adalah tujuan. Ia mengira
menemukan kebenaran adalah segalanya. Tapi sekarang, setelah Abu Nawas
bertanya, ia mulai melihat sesuatu yang berbeda.
"Abu Nawas," katanya, "aku… aku tidak tahu.
Aku tidak tahu apa gunanya mengetahui mana yang lebih dulu. Aku tidak tahu
apakah pengetahuan itu akan membuat kita lebih bijaksana. Aku hanya tahu bahwa
kita ingin tahu. Kita ingin… tahu."
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, itulah masalahnya. Kita
ingin tahu. Tapi kita lupa bertanya, untuk apa? Kita ingin menjawab. Tapi kita
lupa bertanya, mengapa? Kita ingin menang. Tapi kita lupa bertanya, apa yang
akan kita menangkan?"
Ia berjalan mendekati Amr bin Hisham.
"Tuan Amr, Tuan ingin tahu mana yang lebih dulu. Untuk
apa? Apakah Tuan akan menggunakan pengetahuan itu untuk sesuatu? Apakah Tuan
akan menjadi peternak ayam yang lebih baik? Apakah Tuan akan menjadi ilmuwan
yang lebih hebat? Apakah Tuan akan menjadi… manusia yang lebih berguna?"
Amr bin Hisham terdiam. Ia tidak bisa menjawab.
Abu Nawas berjalan mendekati Zaid bin Haritsah.
"Tuan Zaid, Tuan juga ingin tahu mana yang lebih dulu.
Untuk apa? Apakah Tuan akan menggunakan pengetahuan itu untuk beribadah? Apakah
Tuan akan menjadi ahli agama yang lebih dalam? Apakah Tuan akan menjadi…
manusia yang lebih dekat dengan Tuhan?"
Zaid bin Haritsah juga terdiam. Ia juga tidak bisa
menjawab.
Abu Nawas berjalan mendekati para ahli supranatural.
"Syekh-syekh, Syekh-syekh ingin tahu mana yang lebih
dulu. Untuk apa? Apakah Syekh-syekh akan menggunakan pengetahuan itu untuk
berkomunikasi dengan dunia gaib? Apakah Syekh-syekh akan menjadi lebih sakti?
Apakah Syekh-syekh akan menjadi… lebih dihormati?"
Para ahli supranatural tidak bisa menjawab. Mereka hanya
terdiam, dengan wajah yang pucat, dengan hati yang malu, dengan kesadaran yang
mulai muncul.
Abu Nawas berjalan kembali ke tengah aula, berputar
menghadap semua orang yang hadir.
"Para hadirin," katanya, "kita tidak tahu
untuk apa kita ingin tahu. Kita tidak tahu mengapa kita ingin menang. Kita
tidak tahu apa yang akan kita peroleh dari kemenangan. Kita hanya… terjebak.
Terjebak dalam perdebatan yang tidak penting. Terjebak dalam perselisihan yang
tidak perlu. Terjebak dalam… ego kita sendiri."
Ia mengambil kurma dari kantongnya, memutarnya di antara
jari-jarinya.
"Maka, saya akan memberikan jawaban. Jawaban yang
tidak akan memenangkan siapa pun. Jawaban yang tidak akan membuktikan apa pun.
Tapi jawaban yang… akan menyadarkan kita. Jawaban yang… akan membebaskan kita.
Jawaban yang… sederhana."
Aula sunyi. Sunyi yang lebih dalam dari sebelumnya. Sunyi
yang membuat semua orang berpikir. Sunyi yang membuat semua orang… sadar.
BAB 9: JAWABAN YANG TAK TERDUGA
Abu Nawas berdiri di tengah aula, dengan senyum yang
tenang, dengan mata yang jernih, dengan suara yang lembut.
"Para hadirin," katanya, "jawaban saya
sederhana. Yang lebih dulu adalah… yang dibutuhkan lebih dulu."
Aula bergemuruh. Para pejabat saling berpandangan dengan
bingung. Para ahli supranatural saling bertanya-tanya. Para ilmuwan mengerutkan
kening. Semua orang tidak mengerti.
"Abu Nawas," kata Amr bin Hisham, suaranya
penasaran, "apa maksudmu? Yang dibutuhkan lebih dulu? Dibutuhkan oleh
siapa? Untuk apa? Bagaimana bisa telur atau ayam dibutuhkan lebih dulu?
Bukankah mereka ada sebelum ada yang membutuhkan?"
Abu Nawas tersenyum. "Tuan Amr, Tuan bertanya tentang
telur dan ayam. Tuan bertanya mana yang lebih dulu ada. Tapi saya menjawab
tentang… kebutuhan. Karena bagi saya, pertanyaan tentang mana yang lebih dulu
ada tidak penting. Yang penting adalah… mana yang lebih dulu dibutuhkan. Mana
yang lebih dulu berguna. Mana yang lebih dulu… bermakna."
Ia berjalan mendekati singgasana, berdiri di hadapan Baginda
Raja Harun Al-Rasyid.
"Baginda, jika Baginda sedang lapar, dan hanya ada
telur, maka telur yang lebih dulu dibutuhkan. Jika Baginda sedang ingin
memelihara ayam, dan hanya ada ayam, maka ayam yang lebih dulu dibutuhkan. Jika
Baginda sedang ingin membuat kue, dan butuh telur, maka telur yang lebih dulu
dibutuhkan. Jika Baginda sedang ingin mendengar kokok ayam di pagi hari, dan
butuh ayam, maka ayam yang lebih dulu dibutuhkan."
Ia berbalik menghadap semua orang yang hadir.
"Para hadirin, telur dan ayam tidak ada dalam
kekosongan. Mereka ada dalam konteks. Mereka ada dalam kebutuhan. Mereka ada
dalam… kehidupan. Dan kehidupan, para hadirin, tidak pernah bertanya mana yang
lebih dulu. Kehidupan hanya bertanya… apa yang dibutuhkan sekarang. Apa yang
berguna sekarang. Apa yang… bermakna sekarang."
Aula sunyi. Sunyi yang penuh perenungan. Sunyi yang membuat
semua orang berpikir. Sunyi yang membuat semua orang… mulai mengerti.
"Amr," lanjut Abu Nawas, menatap pejabat muda
itu, "Tuan sibuk membuktikan bahwa telur lebih dulu. Tuan membaca
buku-buku dari Yunani. Tuan belajar tentang biologi dan evolusi. Tuan
mengumpulkan argumen-argumen logis. Tapi Tuan lupa… untuk apa semua itu? Apakah
Tuan menjadi lebih baik setelah mengetahui bahwa telur lebih dulu? Apakah Tuan
menjadi lebih berguna setelah memenangkan perdebatan? Apakah Tuan menjadi…
lebih bahagia?"
Amr bin Hisham menunduk. "Aku… aku tidak tahu, Abu
Nawas. Aku hanya… ingin menang."
"Zaid," Abu Nawas menatap pejabat yang lain,
"Tuan sibuk membuktikan bahwa ayam lebih dulu. Tuan membaca kitab-kitab
kuno. Tuan berdoa dan meminta petunjuk. Tuan mengumpulkan argumen-argumen
berdasarkan iman. Tapi Tuan lupa… untuk apa semua itu? Apakah Tuan menjadi
lebih dekat dengan Tuhan setelah mengetahui bahwa ayam lebih dulu? Apakah Tuan
menjadi lebih saleh setelah memenangkan perdebatan? Apakah Tuan menjadi… lebih
baik?"
Zaid bin Haritsah juga menunduk. "Aku… aku juga tidak
tahu, Abu Nawas. Aku hanya… ingin menang."
"Syekh-syekh," Abu Nawas menatap para ahli
supranatural, "Syekh-syekh sibuk menafsirkan mimpi, membaca bintang,
menebar pasir. Syekh-syekh mencari petunjuk dari dunia gaib. Tapi Syekh-syekh
lupa… untuk apa semua itu? Apakah Syekh-syekh menjadi lebih sakti setelah
mengetahui jawabannya? Apakah Syekh-syekh menjadi lebih dihormati setelah
memenangkan perdebatan? Apakah Syekh-syekh menjadi… lebih bijaksana?"
Para ahli supranatural tidak bisa menjawab. Mereka hanya
terdiam, dengan wajah yang merah karena malu.
Abu Nawas berjalan kembali ke tengah aula, berputar
menghadap semua orang yang hadir.
"Para hadirin," katanya, "kita telah
menghabiskan berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan untuk berdebat
tentang sesuatu yang tidak penting. Kita telah mengorbankan persahabatan untuk
sesuatu yang tidak berguna. Kita telah mengorbankan kedamaian untuk sesuatu
yang tidak bermakna. Kita telah… kehilangan diri kita sendiri."
Ia mengambil kurma dari kantongnya, memutarnya di antara
jari-jarinya.
"Maka, saya mengajak kalian untuk berhenti. Berhenti
berdebat. Berhenti bertengkar. Berhenti mencari tahu mana yang lebih dulu. Dan
mulai… hidup. Hidup dengan apa yang kita miliki. Hidup dengan apa yang kita
butuhkan. Hidup dengan apa yang… bermakna."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Karena, para hadirin, telur dan ayam akan terus ada.
Mereka akan terus bertelur dan menetas. Mereka akan terus menjalani siklus
kehidupan mereka. Dan kita, para hadirin, akan terus hidup. Hidup dengan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Hidup dengan misteri-misteri yang
tidak terpecahkan. Hidup dengan… kebijaksanaan untuk menerima bahwa tidak semua
pertanyaan harus dijawab. Tidak semua misteri harus dipecahkan. Tidak semua
perdebatan harus… dimenangkan."
Aula sunyi. Sunyi yang damai. Sunyi yang menyembuhkan.
Sunyi yang… menyatukan.
BAB 10: KEARIFAN YANG MENYATUKAN
Setelah Abu Nawas selesai berbicara, suasana aula berubah.
Tidak ada lagi ketegangan. Tidak ada lagi permusuhan. Tidak ada lagi keinginan
untuk menang. Yang ada hanyalah… keheningan. Keheningan yang damai. Keheningan
yang merenung. Keheningan yang… menyadarkan.
Amr bin Hisham berjalan mendekati Zaid bin Haritsah. Ia
berdiri di hadapannya, menatap matanya, dan tersenyum.
"Zaid," katanya, "maafkan aku. Aku terlalu
bersemangat. Aku terlalu ingin menang. Aku terlalu… sombong. Aku lupa bahwa
kita adalah teman. Aku lupa bahwa kita dulu bekerja sama. Aku lupa bahwa…
persahabatan lebih berharga daripada kemenangan."
Zaid bin Haritsah juga tersenyum. "Amr, aku juga minta
maaf. Aku juga terlalu bersemangat. Aku juga terlalu ingin menang. Aku juga
lupa bahwa kita adalah teman. Aku juga lupa bahwa… kebersamaan lebih penting
daripada kebenaran."
Mereka berpelukan. Pelukan yang hangat. Pelukan yang
menyembuhkan. Pelukan yang… menyatukan.
Para ahli supranatural juga saling mendekat. Syekh Abdul
Jabal, Syekh Hasan, Syekh Ibrahim, mereka berdiri dalam lingkaran, saling
menatap, saling tersenyum.
"Kita telah bersaing selama bertahun-tahun," kata
Syekh Abdul Jabal, suaranya lembut. "Kita telah berdebat tentang siapa
yang paling sakti, siapa yang paling dekat dengan dunia gaib, siapa yang paling
benar. Tapi kita lupa bahwa… kita adalah saudara. Kita lupa bahwa… kita
seharusnya saling mendukung, bukan saling menjatuhkan."
Syekh Hasan mengangguk. "Kau benar, Syekh. Kita telah
lupa. Kita telah terlalu sibuk dengan ego kita sendiri. Kita telah terlalu
sibuk dengan keinginan untuk menang. Kita telah lupa bahwa… kebersamaan lebih
penting daripada kemenangan."
Syekh Ibrahim juga mengangguk. "Mulai hari ini, kita
akan belajar. Belajar dari Abu Nawas. Belajar bahwa tidak semua pertanyaan
harus dijawab. Belajar bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Belajar
bahwa… kebijaksanaan bukan tentang siapa yang benar, tetapi tentang siapa yang
mampu memahami."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya, dengan
mata yang berkaca-kaca, dengan hati yang hangat, dengan pikiran yang tenang. Ia
menatap Abu Nawas yang berdiri di tengah aula, dengan jubah lusuh, dengan
senyum misterius, dengan kurma di tangannya.
"Abu Nawas," katanya, "kau telah melakukan
sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh para ilmuwan, para ahli supranatural,
para pejabat. Kau telah menyatukan mereka. Kau telah mengakhiri perdebatan. Kau
telah… membawa kedamaian kembali ke istana ini."
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, saya tidak melakukan
apa-apa. Saya hanya… mengingatkan. Mengingatkan bahwa kadang-kadang, kita sibuk
mencari jawaban, padahal lupa memahami pertanyaan. Mengingatkan bahwa
kadang-kadang, kita sibuk ingin menang, padahal lupa bahwa kemenangan tidak
selalu membawa kebahagiaan. Mengingatkan bahwa kadang-kadang, kebijaksanaan
bukan tentang siapa yang benar, tetapi tentang siapa yang mampu…
memahami."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri, berjalan mendekati
Abu Nawas, dan menepuk pundaknya dengan lembut.
"Kau benar, Abu Nawas. Kebijaksanaan bukan tentang
siapa yang benar, tetapi tentang siapa yang mampu memahami. Dan kau, Abu Nawas,
adalah orang yang paling memahami. Kau memahami bahwa pertanyaan lebih penting
daripada jawaban. Kau memahami bahwa proses lebih penting daripada hasil. Kau
memahami bahwa… persahabatan lebih berharga daripada kemenangan."
Ia berbalik menghadap semua orang yang hadir.
"Para hadirin," katanya, "mulai hari ini,
perdebatan tentang telur dan ayam dinyatakan selesai. Tidak ada yang menang.
Tidak ada yang kalah. Yang ada adalah… pemahaman. Pemahaman bahwa tidak semua
pertanyaan harus dijawab. Pemahaman bahwa tidak semua misteri harus dipecahkan.
Pemahaman bahwa… kebersamaan lebih penting daripada kebenaran."
Aula bergemuruh dengan tepuk tangan. Tepuk tangan yang
riuh, tepuk tangan yang bahagia, tepuk tangan yang… menyatukan.
EPILOG: TAWA DAN KESADARAN
Beberapa hari kemudian, setelah istana kembali tenang,
setelah para pejabat kembali bersahabat, setelah para ahli supranatural kembali
bekerja sama, Abu Nawas duduk di Kedai Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut
ruangan.
Di depannya, segelas air tajin dingin yang masih segar,
semangkok kurma Sukkari yang mengilap seperti batu akik—jatah mingguan yang
baru saja ia ambil dari istana pagi ini—dan sebotol kecil anggur yang ia
sembunyikan di balik jubahnya, meskipun ia sudah berjanji pada Jafar untuk
tidak minum anggur di tempat umum. Janji, pikirnya, adalah sesuatu yang mulia.
Tapi anggur, pikirnya, juga sesuatu yang mulia. Dan terkadang, dua hal yang
mulia bisa berdampingan dengan damai, asalkan tidak ada yang tahu.
Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir
Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk
tidak dikenali oleh pengunjung lain—meskipun semua orang di kedai itu sudah
tahu bahwa lelaki tampan dengan jubah sederhana itu adalah Wazir terkuat di
kekhalifahan. Jafar tampak lebih santai dari biasanya, lebih tenang, lebih…
bahagia. Mungkin karena perdebatan sudah selesai. Mungkin karena istana kembali
tenang. Mungkin karena Baginda Raja tertawa lagi. Mungkin karena… ia juga
belajar sesuatu dari perkara ini.
Di samping Jafar, duduk Amr bin Hisham dan Zaid bin
Haritsah, yang kini sudah kembali bersahabat, yang kini sudah tidak lagi
berdebat, yang kini sudah… belajar. Mereka datang ke kedai ini atas undangan
Abu Nawas, untuk belajar, untuk merenung, untuk… tertawa.
"Abu Nawas," kata Jafar sambil menyesap air tajin
yang ia pesan agar tidak mencolok—meskipun air tajin di kedai ini tidak pernah
seenak air tajin di istana, tetapi ia tidak keberatan, karena suasana di sini
lebih santai, lebih bebas, lebih… manusiawi, "aku masih penasaran dengan
satu hal. Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sejak perdebatan itu
selesai."
Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan
mengunyah dengan malas. "Apa, Wazirku yang mulia? Apakah tentang telur?
Tentang ayam? Tentang jawaban yang kau berikan? Tentang kebijaksanaan yang
menyatukan istana? Karena itu, Wazir, adalah pemandangan yang tidak akan pernah
kau lupakan, bukan? Sebuah perdebatan yang berlangsung berminggu-minggu,
diselesaikan oleh seorang pelawak dengan jubah lusuh dan sekantong kurma. Itu,
Wazir, adalah kebijaksanaan yang tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah
hukum. Itu adalah pemahaman yang tidak pernah diajarkan di istana-istana megah.
Itu adalah… kesadaran yang hanya bisa dipelajari di kedai pinggiran."
Amr bin Hisham tersenyum. "Abu Nawas, kau benar. Aku
belajar banyak dari perdebatan ini. Aku belajar bahwa tidak semua pertanyaan
harus dijawab. Aku belajar bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Aku
belajar bahwa… kadang-kadang, yang lebih penting bukanlah menemukan jawaban,
tetapi… memahami pertanyaan."
Zaid bin Haritsah mengangguk. "Aku juga belajar, Abu
Nawas. Aku belajar bahwa kebijaksanaan bukan tentang siapa yang benar, tetapi tentang
siapa yang mampu memahami. Aku belajar bahwa persahabatan lebih berharga
daripada kemenangan. Aku belajar bahwa… kebersamaan lebih penting daripada
kebenaran."
Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara
jari-jarinya dengan gerakan yang lambat, penuh pertimbangan, seperti seorang
filsuf yang sedang merenungkan makna kehidupan.
"Tuan Amr, Tuan Zaid," katanya, "kalian
telah belajar. Kalian telah memahami. Tapi ingatlah, belajar tidak berhenti di
sini. Memahami tidak berakhir di sini. Kehidupan, Tuan-tuan, adalah perjalanan
panjang yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Penuh
dengan misteri-misteri yang tidak terpecahkan. Penuh dengan
perdebatan-perdebatan yang tidak perlu dimenangkan. Dan kebijaksanaan,
Tuan-tuan, bukanlah tentang menemukan semua jawaban. Kebijaksanaan adalah
tentang… menerima bahwa ada hal-hal yang tidak perlu kita ketahui. Menerima
bahwa ada misteri yang tidak perlu kita pecahkan. Menerima bahwa…
kadang-kadang, yang paling bijaksana adalah… diam. Diam dan menikmati hidup.
Diam dan bersyukur. Diam dan… tertawa."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Seperti telur dan ayam, Tuan-tuan. Kita tidak perlu
tahu mana yang lebih dulu. Yang perlu kita tahu adalah… kita bisa menikmati
telur dadar di pagi hari. Kita bisa menikmati ayam panggang di sore hari. Kita
bisa menikmati… kehidupan. Kehidupan yang diberikan kepada kita. Kehidupan yang
harus kita syukuri. Kehidupan yang… singkat. Terlalu singkat untuk dihabiskan
dengan berdebat tentang hal-hal yang tidak penting."
Jafar mengangkat mangkuk air tajinnya. "Untuk
kehidupan, Abu Nawas. Untuk kebijaksanaan. Untuk… tawa."
Abu Nawas mengangkat mangkuk air tajinnya—setelah dengan
cepat menyembunyikan botol anggur di balik jubahnya, karena ia tidak ingin Amr
dan Zaid melihat bahwa ia hampir melanggar janji, karena mereka adalah
orang-orang yang baru belajar, dan orang yang baru belajar biasanya mudah
terkejut melihat seorang pelawak minum anggur di pagi hari.
"Untuk kehidupan, Wazir. Dan untuk kurma Sukkari yang
manisnya pas."
Di luar kedai, matahari mulai terbenam di ufuk barat,
mencelupkan Sungai Tigris dalam warna jingga dan emas. Di kejauhan, dari arah
istana, terdengar suara tawa Baginda Raja Harun Al-Rasyid—tawa yang bergema di
senja Baghdad, tawa yang membawa kedamaian bagi kota yang selalu haus akan
keadilan, tawa yang mengingatkan semua orang bahwa di tengah kekuasaan yang
berat, di tengah intrik yang rumit, di tengah kebohongan yang bersembunyi di
balik senyum, masih ada ruang untuk tawa. Masih ada ruang untuk pemahaman.
Masih ada ruang untuk… kebijaksanaan.
Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap
air tajinnya, mengambil kurma terakhir di mangkuk, melemparkannya ke udara, dan
menangkapnya dengan mulut.
"Kadang-kadang," gumamnya sambil mengunyah,
"kita sibuk mencari jawaban, padahal lupa memahami pertanyaan. Kita sibuk
ingin menang, padahal lupa bahwa kemenangan tidak selalu membawa kebahagiaan.
Kita sibuk membuktikan kebenaran, padahal lupa bahwa kebenaran tidak selalu
bisa dibuktikan. Maka, wahai saudara-saudaraku, berhentilah. Berhentilah
berdebat. Berhentilah bertengkar. Berhentilah mencari tahu hal-hal yang tidak
perlu diketahui. Dan mulailah… hidup. Hidup dengan apa yang kita miliki. Hidup
dengan apa yang kita butuhkan. Hidup dengan apa yang… bermakna. Karena
kehidupan, wahai saudara-saudaraku, terlalu singkat untuk dihabiskan dengan
bertengkar tentang telur dan ayam. Terlalu berharga untuk dihabiskan dengan
saling curiga. Terlalu indah untuk tidak… dinikmati."
Ia memanggil pelayan kedai untuk yang ketiga kalinya malam
itu.
"Nak, tambah kurma satu mangkuk. Dan air tajin satu
gelas. Saya sedang merenungkan sesuatu yang sangat berat: apakah lebih baik
menjadi telur yang pecah atau ayam yang berkokok? Apakah lebih baik menjadi
pertanyaan yang tidak terjawab atau jawaban yang tidak dimengerti? Apakah lebih
baik menjadi bijaksana atau menjadi… bahagia? Ini teka-teki yang tidak kalah
pentingnya dari telur dan ayam. Dan saya, Nak, tidak akan bisa tidur sebelum
teka-teki ini terjawab."
Pelayan itu tertawa, bergegas mengambil pesanan.
Dan di luar, di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema,
mengingatkan semua orang bahwa kadang-kadang, kita sibuk mencari jawaban,
padahal lupa memahami pertanyaan. Bahwa kadang-kadang, kita sibuk ingin menang,
padahal lupa bahwa kemenangan tidak selalu membawa kebahagiaan. Bahwa
kadang-kadang, kebijaksanaan bukan tentang siapa yang benar, tetapi tentang
siapa yang mampu memahami. Bahwa… Abu Nawas, pelawak dari pinggiran Baghdad,
adalah guru terbaik yang pernah dimiliki istana ini.
TAMAT
Kata Bijak dari Abu Nawas:
"Kadang-kadang, kita sibuk mencari jawaban, padahal
lupa memahami pertanyaan. Kita sibuk ingin menang, padahal lupa bahwa
kemenangan tidak selalu membawa kebahagiaan. Kita sibuk membuktikan kebenaran,
padahal lupa bahwa kebenaran tidak selalu bisa dibuktikan. Maka, berhentilah.
Berhentilah berdebat. Berhentilah bertengkar. Berhentilah mencari tahu hal-hal
yang tidak perlu diketahui. Dan mulailah hidup. Hidup dengan apa yang kita
miliki. Hidup dengan apa yang kita butuhkan. Hidup dengan apa yang bermakna.
Karena kehidupan terlalu singkat untuk dihabiskan dengan bertengkar tentang
telur dan ayam. Terlalu berharga untuk dihabiskan dengan saling curiga. Terlalu
indah untuk tidak dinikmati."
—Abu Nawas, di Kedai Al-Farabi, pinggiran Baghdad







0 komentar:
Posting Komentar