Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Selasa, 24 Maret 2026

Balada Abunawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasid Episode 2: Rahasia Cermin Kejujuran di Istana Baghdad

 

 


Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid

Novelet Serial Abunawas Edisi I Kecerdikan Akal dan Logika

Episode 2: Rahasia Cermin Kejujuran di Istana Baghdad


Oleh: Slamet Riyadi

PROLOG: CERMIN YANG TAK PERNAH BERBOHONG

Di sudut paling sepi dari kompleks istana Baghdad, jauh dari keramaian aula singgasana dan hiruk-pikuk dapur kerajaan, terdapat sebuah ruangan kecil yang jarang dikunjungi. Ruangan itu disebut Al-Mir’ah al-Qadimah—Ruang Cermin Tua. Dindingnya dari batu bata merah yang sudah menghitam karena usia, lantainya dari marmer putih yang mulai retak-retak, dan di tengah ruangan, tergantung pada sebuah paku besi yang berkarat, sebuah cermin berukuran sebesar perisai seorang prajurit.

Cermin itu bukan sembarang cermin.

Konon, cermin itu dibuat pada masa Baginda Raja Al-Mansur, kakek dari Harun Al-Rasyid, oleh seorang pandai kaca dari Persia yang terkenal dengan keahliannya mencampur logam mulia ke dalam leburan kaca. Tapi yang membuat cermin ini istimewa bukanlah keindahan bingkainya yang terukir kaligrafi kuno, melainkan sebuah legenda yang telah turun-temurun diceritakan di antara para pelayan istana: bahwa cermin ini tidak pernah berbohong.

Bukan tentang fisik, tentu saja. Legenda itu berkata bahwa siapa pun yang berdiri di hadapan cermin ini pada malam bulan purnama, ia tidak akan melihat wajahnya sendiri. Yang akan terlihat di permukaan kaca yang mengilap itu adalah bayangan dari hatinya yang paling dalam—kebenaran yang selama ini ia sembunyikan, niat yang selama ini ia pendam, rahasia yang selama ini ia kubur di dasar jiwanya.

Para dayang tua berbisik-bisik bahwa cermin itu pernah memperlihatkan kepada seorang menteri yang tamak bayangan tangannya yang penuh dengan emas curian. Konon, menteri itu jatuh sakit setelahnya, dan tidak pernah lagi terlihat di istana. Para penjaga bercerita bahwa cermin itu pernah menunjukkan kepada seorang panglima yang sombong bayangan dirinya yang berlutut di hadapan musuh, dan sejak itu panglima itu menjadi lebih rendah hati.

Tapi tidak ada yang pernah membuktikan kebenaran legenda itu. Karena tidak ada yang berani mencoba. Atau setidaknya, tidak ada yang mau mengakui bahwa mereka pernah mencoba.

Namun suatu pagi, kabar mengejutkan menyebar di istana seperti api di padang rumput kering: cermin itu retak.

Bukan pecah berkeping-keping. Bukan jatuh dari tempatnya. Retak. Sebuah retakan tipis membelah permukaan cermin dari ujung atas hingga ke bawah, seperti jejak air mata yang membeku di pipi seorang yang tak pernah menangis. Retakan itu muncul tanpa sebab. Tidak ada yang menyentuhnya. Tidak ada yang mendekatinya. Tidak ada angin kencang yang menerpa. Tidak ada gempa yang mengguncang.

Retak itu ada di pagi hari, ketika seorang pelayan tua bernama Ummu Khair, yang sudah empat puluh tahun membersihkan ruangan itu, membuka pintu dengan tangannya yang keriput. Cermin itu tergantung seperti biasa di paku berkaratnya. Tapi di permukaannya, membentang sebuah garis tipis dari atas ke bawah, seperti bekas cambuk yang membelah langit.

Ummu Khair menjatuhkan kain pel yang dibawanya. Tangannya yang biasa tenang—tangan yang telah membersihkan istana selama empat puluh tahun tanpa pernah gemetar—kini gemetar seperti daun kering diterpa angin gurun.

“Ya Allah,” bisiknya, suaranya parau karena usia. “Cermin itu… cermin itu retak.”

Ia berlari sekencang yang bisa dilakukan oleh kakinya yang sudah tua dan rematik. Ia berlari melewati koridor-koridor marmer, melewati taman-taman dalam, melewati barak-barak penjaga, hingga akhirnya ia tiba di ruang kepala pelayan istana, seorang lelaki gemuk bernama Basyir yang sedang duduk bersantai sambil menyesap kopi.

“Basyir! Basyir!” teriak Ummu Khair, terengah-engah. “Cermin! Cermin tua di ruang Al-Mir’ah! Retak!”

Basyir meneguk kopinya terlalu cepat dan tersedak. “Apa? Retak? Bagaimana bisa?”

“Entahlah! Tidak ada yang menyentuhnya! Tidak ada angin! Tidak ada gempa! Retak begitu saja!”

Basyir berdiri dengan cepat, perut gemuknya bergoyang. “Kita harus lapor ke Wazir Jafar. Cepat!”

Dalam waktu setengah jam, kabar itu sudah sampai ke telinga Jafar. Dan dalam waktu satu jam, Jafar sudah berdiri di hadapan Baginda Raja Harun Al-Rasyid di ruang pertemuan pribadi, dengan wajah pucat pasi.


BAB 1: PERINTAH YANG MEMBINGUNGKAN

Di ruang pertemuan pribadi Baginda Raja, suasana pagi itu tidak seperti biasanya. Jendela-jendela besar yang menghadap ke timur dibuka lebar, membiarkan sinar matahari pagi masuk dan menyinari permadani Persia berwarna biru tua yang menghampar di lantai marmer. Biasanya, pada jam seperti ini, Baginda Raja Harun Al-Rasyid akan duduk santai di singgasana kecilnya, membaca laporan dari provinsi-provinsi atau mendengarkan syair-syair baru dari para penyair istana.

Tapi pagi itu, ia tidak membaca laporan. Ia tidak mendengarkan syair. Ia berdiri di dekat jendela, membelakangi Jafar, dengan tangan disilangkan di dada. Jubah paginya yang berwarna putih bersih berkibar lembut ditiup angin dari taman, membawa aroma bunga melati dan air mawar dari kolam di bawah.

Jafar berdiri beberapa langkah di belakangnya, dengan setangkai kertas di tangan kirinya—laporan dari Basyir tentang cermin yang retak—dan dengan tangan kanannya, ia tanpa sadar memilin-milin ujung jubahnya, kebiasaan yang hanya muncul ketika ia sedang sangat gelisah.

“Jadi,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid tanpa berbalik, suaranya tenang tetapi ada nada yang tidak biasa di dalamnya, seperti ketegangan yang sengaja disembunyikan di balik lapisan sutra. “Cermin pusaka kakekku, yang telah menggantung di dinding itu selama lebih dari lima puluh tahun, yang telah disaksikan oleh tiga generasi raja, yang konon mampu menampakkan kebenaran hati manusia—cermin itu tiba-tiba retak begitu saja. Tanpa sebab. Tanpa angin. Tanpa gempa. Tanpa tangan yang menyentuhnya.”

Jafar menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering meskipun baru saja ia minum seteguk air mawar sebelum memasuki ruangan ini.

“Baginda,” katanya, suaranya sedikit serak, “aku telah memeriksa sendiri. Aku telah membawa tiga orang ahli: Ustadz Karim, pandai besi istana yang sama yang memeriksa gembok-gembok dalam kasus mahkota yang hilang; Ustadz Yunus, pandai kaca dari pasar yang telah bekerja dengan kaca selama empat puluh tahun; dan seorang tabib istana yang paham tentang perubahan suhu dan kelembaban. Mereka semua mengatakan hal yang sama.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berbalik perlahan. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tetapi matanya—matanya yang hitam pekat itu—menatap Jafar dengan intensitas yang membuat Wazir itu merasa seperti sedang berdiri di hadapan singa yang baru terbangun dari tidurnya.

“Apa yang mereka katakan, Jafar?”

Jafar menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan.

“Ustadz Karim mengatakan bahwa tidak ada bekas pukulan atau tekanan dari luar. Bingkai cermin masih kokoh, tidak bergeser. Paku yang menggantungkannya masih kuat, tidak melengkung. Menurutnya, retakan itu muncul dari dalam kaca itu sendiri. Seperti… seperti kaca itu retak dengan kemauannya sendiri.”

Harun Al-Rasyid mengangkat alis. “Kaca yang retak dengan kemauan sendiri? Apakah Ustadz Karim tiba-tiba menjadi penyair?”

Jafar tersenyum tipis, meskipun hatinya masih berdebar. “Ustadz Karim memang bukan penyair, Baginda. Tapi itulah satu-satunya cara dia bisa menggambarkan apa yang dilihatnya.”

“Lalu Ustadz Yunus? Apa kata pandai kaca itu?”

“Ustadz Yunus memeriksa retakan itu dengan kaca pembesar yang biasa ia gunakan untuk memeriksa cacat pada bejana-bejana kaca mahal dari Romawi. Ia mengatakan bahwa retakan itu tidak seperti retakan biasa. Retakan biasa, kata dia, biasanya dimulai dari satu titik lalu menyebar. Tapi retakan ini…” Jafar berhenti, seolah-olah kata-kata yang akan diucapkannya terlalu berat untuk diucapkan.

“Tapi retakan ini bagaimana?” desak Baginda Raja Harun Al-Rasyid.

“Retakan ini muncul bersamaan di seluruh permukaan kaca, Baginda. Seperti… seperti ada yang menggoresnya dengan alat yang sangat tajam dalam satu gerakan dari atas ke bawah. Tapi tidak ada goresan. Tidak ada bekas alat. Ustadz Yunus sendiri tidak bisa menjelaskannya.”

Harun Al-Rasyid berjalan meninggalkan jendela, melangkah perlahan menuju singgasananya. Langkahnya berat, seperti orang yang sedang memikul beban yang tidak terlihat.

“Dan tabib istana?” tanyanya sambil duduk. “Apa yang dikatakan tabib tentang suhu dan kelembaban?”

Jafar menghela napas. “Tabib itu mengatakan bahwa suhu di ruangan Al-Mir’ah al-Qadimah stabil. Tidak ada perubahan drastis. Kelembaban juga normal. Tidak ada alasan fisik mengapa kaca itu retak.”

Harun Al-Rasyid terdiam. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan singgasana kayu cendana dengan irama yang lambat dan teratur—ketukan yang sudah dikenal oleh semua orang di istana sebagai tanda bahwa Baginda Raja sedang berpikir keras.

“Jafar,” katanya akhirnya, suaranya rendah, nyaris berbisik, tetapi di ruangan yang sunyi itu, bisikannya terdengar jelas seperti teriakan. “Apakah kau percaya pada legenda tentang cermin itu?”

Jafar terdiam. Sebagai seorang Barmakid yang terdidik dalam ilmu pengetahuan dan filsafat—yang telah membaca buku-buku dari Yunani tentang logika dan alam semesta, yang telah belajar dari para ilmuwan di Baitul Hikmah tentang sebab dan akibat—ia seharusnya tidak percaya pada takhayul. Tapi sebagai seorang yang telah hidup di istana sejak kecil, yang telah menyaksikan sendiri bagaimana kadang-kadang kebenaran lebih aneh dari dongeng, yang telah melihat bagaimana peristiwa-peristiwa yang tidak bisa dijelaskan sering kali membawa pesan yang lebih dalam dari yang terlihat di permukaan—ia ragu.

“Baginda,” katanya hati-hati, memilih setiap kata seperti seorang pedagang yang memilih permata paling berharga di pasar, “aku lebih memilih untuk percaya pada bukti daripada legenda. Tapi… tidak ada bukti yang bisa menjelaskan apa yang terjadi. Dan aku juga tahu bahwa kadang-kadang, apa yang disebut legenda oleh orang-orang yang tidak mengerti, sebenarnya adalah cara orang-orang bijak di masa lalu untuk menyampaikan kebenaran yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke matanya, tetapi sudah cukup untuk membuat Jafar merasa sedikit lega.

“Kau diplomat sejati, Jafar. Bisa berbicara panjang lebar tanpa mengatakan apa-apa. Itulah sebabnya kau menjadi Wazir.”

Jafar tersenyum canggung. “Baginda terlalu baik.”

“Tapi kali ini,” Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri lagi, dan kini matanya bersinar dengan kilatan yang membuat Jafar langsung tahu apa yang akan dikatakan selanjutnya, “aku tidak butuh diplomat. Aku tidak butuh jawaban yang diplomatis. Aku butuh jawaban. Aku butuh seseorang yang bisa membaca apa yang tidak bisa dibaca oleh ahli kaca, ahli besi, atau ahli suhu sekalipun.”

Jafar menghela napas. Ia sudah tahu nama itu akan keluar. Ia sudah merasakannya sejak pagi, ketika Ummu Khair berlari ke ruangnya dengan wajah pucat pasi dan suara gemetar. Ia sudah tahu bahwa pada akhirnya, jawaban untuk misteri yang tidak bisa dijelaskan oleh akal biasa akan selalu mengarah pada satu orang.

“Abu Nawas, Baginda?” katanya, meskipun itu bukan pertanyaan.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum lebar—senyum yang jarang ia tunjukkan di depan para pejabat istana, tetapi sering ia tunjukkan ketika berbicara tentang Abu Nawas.

“Abu Nawas,” katanya. “Siapa lagi yang bisa membaca kebenaran dari retakan kaca selain orang yang bisa membaca kebenaran dari tawa?”

Jafar mengangguk, meskipun di dalam hatinya ia sudah membayangkan kekacauan yang akan terjadi jika Abu Nawas dibawa ke istana dengan cerita tentang cermin retak. Ia membayangkan Abu Nawas akan duduk di depan cermin itu sambil makan kurma, lalu berkata bahwa cermin itu retak karena tidak tahan melihat wajahnya yang terlalu tampan. Atau Abu Nawas akan mengklaim bahwa ia bisa memperbaiki cermin itu dengan sihir, lalu mengeluarkan telur ayam dari saku jubahnya dan berkata bahwa itu adalah ramuan ajaib.

Tapi ia juga tahu bahwa di balik semua kekonyolan itu, Abu Nawas memiliki kemampuan untuk melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Dan kali ini, Baginda Raja tidak membutuhkan ahli kaca. Baginda Raja membutuhkan mata yang bisa melihat kebenaran di balik retakan.

“Akan kukirim utusan untuk memanggilnya, Baginda,” kata Jafar.

“Tidak,” potong Harun Al-Rasyid dengan cepat. “Kali ini, jangan dengan ancaman. Jangan dengan prajurit bersenjata. Jangan dengan perintah yang membuatnya berpikir bahwa aku akan memenggal kepalanya.”

Jafar terkejut. “Bagaimana cara memanggilnya, Baginda?”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berjalan ke meja rendah di samping singgasananya, mengambil sebuah piring perak kecil berisi kurma Sukkari yang mengilap seperti batu akik, dan sebuah gelas kristal berisi air tajin yang dinginnya masih terlihat dari embun yang membasahi permukaan gelas. Ia menyerahkan kedua benda itu kepada Jafar.

“Bawa ini,” katanya. “Katakan padanya bahwa aku ingin meminta bantuannya, bukan memerintahkannya. Katakan padanya bahwa ada teka-teki yang hanya bisa dipecahkan olehnya. Katakan padanya bahwa kurma ini dari kebun pribadiku, dan air ini dari sumur dalam yang airnya hanya untuk keluargaku.”

Jafar menerima piring dan gelas itu dengan hati-hati, seolah-olah benda-benda itu terbuat dari kristal yang paling rapuh.

“Baginda benar-benar mengenal Abu Nawas,” katanya.

“Untuk membuat Abu Nawas datang dengan senyum, bukan dengan wajah cemberut,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid sambil kembali ke singgasananya, “kurma Sukkari dan air tajin dingin lebih ampuh daripada seribu tentara bersenjata. Tapi…”

Ia berhenti, dan senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi serius yang membuat Jafar langsung menegang.

“Tapi, Jafar, sampaikan juga pesan ini: cermin itu sudah retak. Dan setiap hari, aku melihatnya. Setiap hari, retakan itu mengingatkanku bahwa di istanaku, ada kebenaran yang belum terungkap. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama. Karena semakin lama aku menunggu, semakin besar kemungkinan aku akan kehilangan kesabaran. Dan ketika aku kehilangan kesabaran…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu. Jafar sudah tahu.


BAB 2: ISTANA YANG MULAI GELISAH

Sementara Jafar mengirim utusan untuk menjemput Abu Nawas, kabar tentang cermin retak telah menyebar di istana lebih cepat daripada kabar tentang kemenangan perang atau kelahiran putra mahkota.

Dalam hitungan jam, semua orang tahu. Para pelayan berbisik di dapur, di antara panci-panci tembaga yang mengilap dan tumpukan kayu bakar yang menjulang. Para penjaga berbisik di barak, di sela-sela latihan pedang dan pergantian shift. Para dayang berbisik di kamar-kamar mereka, di sela-sela meracik wewangian dan menjahit pakaian. Dan yang paling penting, para pejabat berbisik di koridor-koridor marmer yang megah, di antara tiang-tiang yang menjulang dan lampu-lampu minyak yang berkelap-kelip.

Di dapur istana, sekelompok juru masak dan asisten duduk di bangku-bangku kayu panjang, beristirahat sejenak setelah menyiapkan hidangan untuk sarapan para pejabat. Mereka berbicara dengan suara setengah berbisik, seperti orang-orang yang sedang membicarakan hantu.

“Kau dengar? Cermin tua di ruang Al-Mir’ah al-Qadimah retak,” kata seorang juru masak gemuk bernama Mahmud, sambil mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya yang penuh noda saus.

“Retak? Bagaimana bisa?” tanya seorang asisten muda yang masih berusia belasan tahun, matanya membulat penasaran.

“Itulah yang aneh,” Mahmud melanjutkan, suaranya turun menjadi nyaris berbisik. “Tidak ada yang menyentuhnya. Tidak ada angin. Tidak ada gempa. Retak begitu saja. Seperti… seperti tidak tahan.”

“Tidak tahan apa?” asisten muda itu bertanya lagi, suaranya sudah mulai gemetar.

“Tidak tahan menyimpan kebohongan, kata orang,” kata seorang juru masak tua yang sudah bekerja di istana sejak masa Baginda Raja Al-Mahdi. Namanya Syakir, dan ia dikenal sebagai orang yang paling tahu tentang sejarah istana. “Cermin itu, konon, dibuat oleh seorang pandai kaca dari Persia yang sakti. Ia mencampur logam mulia dan doa-doa ke dalam leburan kaca. Cermin itu tidak pernah berbohong. Siapa pun yang berdiri di hadapannya, ia akan menampakkan kebenaran hati orang itu. Dan jika kebenaran itu terlalu berat, terlalu busuk, terlalu… menjijikkan, cermin itu akan retak. Karena tidak tahan.”

Asisten muda itu memucat. “Jadi… ada orang yang punya rahasia busuk di istana?”

Syakir tidak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu, tetapi matanya berbicara lebih banyak dari kata-kata.

Di barak penjaga, suasana tidak kalah tegang. Sekelompok penjaga yang sedang beristirahat setelah shift malam duduk di ranjang-ranjang kayu mereka, berbicara dengan suara yang sengaja diredam.

“Aku dengar Wazir Jafar sudah memeriksa sendiri,” kata seorang penjaga bernama Khalid—bukan Khalid yang dulu menjemput Abu Nawas, tetapi Khalid lain yang lebih muda dan lebih suka bergosip. “Dia membawa tiga orang ahli. Semuanya bingung. Tidak ada yang bisa menjelaskan.”

“Mungkin itu pertanda,” kata seorang penjaga tua bernama Abu Bakar, yang sudah dua puluh tahun bertugas dan telah melihat banyak hal di istana. “Pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres di istana ini. Pertanda bahwa kebenaran akan terungkap.”

“Kebenaran apa?” tanya Khalid.

Abu Bakar menghela napas panjang. “Kebenaran yang selama ini disembunyikan. Kebenaran tentang siapa yang mengambil apa yang bukan haknya. Kebenaran tentang siapa yang berpura-pura jujur tetapi hatinya hitam.”

Para penjaga saling berpandangan. Masing-masing merenungkan kata-kata Abu Bakar, dan masing-masing bertanya-tanya dalam hati: apakah kebenaran itu akan menyentuh diriku?

Di koridor-koridor istana, para pejabat berjalan dengan langkah yang berbeda dari biasanya. Yang biasanya berjalan dengan kepala tegak, kini mulai menunduk ketika melewati koridor yang mengarah ke ruang cermin. Yang biasanya tersenyum ramah kepada semua orang, kini tersenyum kaku, seperti topeng yang dipaksakan. Yang biasanya berlama-lama di ruang pertemuan untuk bergosip dan minum kopi, kini lebih memilih untuk segera pulang ke rumah masing-masing, mengurung diri di kamar, berpikir tentang rahasia-rahasia yang selama ini mereka sembunyikan.

Dan di tengah semua kegelisahan itu, Abu Nawas belum datang. Ia masih dalam perjalanan dari Kedai Al-Farabi di pinggiran Baghdad, menunggang kuda yang disediakan Jafar, dengan kurma Sukkari di sakunya dan segelas air tajin di tangannya—yang sudah ia minum setengahnya dalam perjalanan.


Ketika Abu Nawas akhirnya tiba di gerbang istana, suasana sudah berubah total dari kunjungannya sebelumnya. Kali ini, tidak ada prajurit bersenjata yang menyambutnya dengan wajah batu. Sebaliknya, ia disambut oleh seorang pemuda dengan jubah rapi yang tersenyum ramah dan langsung mengantarnya ke ruang pertemuan pribadi Baginda Raja.

Sepanjang perjalanan dari gerbang ke ruang pertemuan, Abu Nawas tidak berhenti bicara. Ia berjalan di samping pemuda utusan itu dengan langkah santai, matanya bergerak cepat mengamati setiap perubahan di istana.

“Wahai pemuda yang baik,” katanya sambil berjalan, “aku perhatikan para penjaga di gerbang tadi tidak seperti biasanya. Biasanya mereka berdiri dengan dada membusung, pedang di pinggang, mata lurus ke depan seperti sedang menunggu musuh menyerang. Tapi tadi, mereka berdiri dengan sedikit membungkuk, mata bergerak ke kiri kanan, seperti ayam yang takut disambar elang. Ada apa gerangan? Apakah mereka mendengar kabar bahwa aku akan datang?”

Pemuda itu tersenyum canggung. “Tuan Abu Nawas, para penjaga… mereka sedang gelisah. Seperti semua orang di istana.”

“Gelisah?” Abu Nawas mengangkat alis, meskipun ia sudah tahu jawabannya. “Ada apa yang membuat mereka gelisah? Apakah Baginda Raja marah besar? Apakah ada wabah penyakit? Apakah persediaan kurma di dapur habis?”

Pemuda itu tertawa kecil. “Bukan, Tuan. Ada cermin yang retak.”

“Cermin retak?” Abu Nawas berhenti berjalan, menoleh ke arah pemuda itu dengan ekspresi paling serius yang bisa ia bentuk—yang, jika dilihat dengan jubah lusuh dan rambut acak-acakannya, tetap terlihat lucu. “Cermin retak? Itu saja? Seluruh istana gelisah karena cermin retak? Apakah tidak ada yang pernah melihat cermin retak sebelumnya? Di kedai tempatku biasa makan, semua cermin retak. Itu sudah biasa. Bahkan pemilik kedai itu tidak mau menggantinya karena katanya retakan itu menambah nilai seni.”

Pemuda itu tidak tahu harus menjawab apa. Abu Nawas tertawa dan melanjutkan perjalanan.

“Baiklah, baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi satu hal, wahai pemuda. Apakah kurma Sukkari yang diberikan Baginda Raja kepadaku masih tersisa di sakuku, atau sudah habis dimakan dalam perjalanan?”

Pemuda itu menatap saku Abu Nawas yang menggembung. “Masih tersisa, Tuan.”

“Bagus. Karena kurma adalah senjata utama dalam perang melawan misteri. Tanpa kurma, otakku tidak akan bekerja. Dengan kurma, aku bisa memecahkan teka-teki apa pun. Bahkan teka-teki tentang cermin retak.”


BAB 3: UJIAN KEJUJURAN

Di ruang pertemuan pribadi Baginda Raja, Harun Al-Rasyid sudah menunggu. Ia duduk di singgasana kecilnya dengan jubah putih sederhana, tanpa mahkota, tanpa perhiasan. Di sampingnya, Jafar berdiri dengan setangkai kertas di tangannya—laporan-laporan yang sudah ia kumpulkan tentang cermin retak. Di atas meja rendah di hadapan Baginda Raja, sebuah piring perak berisi kurma Sukkari yang baru—menggantikan yang sudah dibawa Abu Nawas—dan sebuah gelas kristal berisi air tajin dingin yang masih segar.

Abu Nawas masuk dengan langkah yang sengaja dibuat lebih lambat dari biasanya. Ia tahu bahwa ketika seorang raja memanggilnya dengan hormat, dengan kurma dan air tajin, itu berarti raja itu sedang membutuhkan sesuatu yang sangat penting. Dan ketika seorang raja sedang membutuhkan sesuatu yang sangat penting, adalah bijaksana untuk tidak terlihat terlalu bersemangat. Biarkan raja itu menunggu sebentar. Biarkan raja itu merasa bahwa ia sedang meminta bantuan, bukan memberi perintah.

Ia berlutut dengan hormat, tetapi sebelum ia sempat bersujud panjang, Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat tangannya.

“Abu Nawas,” katanya, “kau tidak perlu bersujud seperti pejabat istana. Duduklah. Makan kurmamu. Minum air tajinmu. Karena setelah itu, kita akan berbicara tentang sesuatu yang… aneh.”

Abu Nawas duduk bersila dengan cepat—lebih cepat dari biasanya—dan langsung mengambil sebuah kurma dari piring perak itu. Ia menatap kurma itu sejenak, menghirup aromanya dengan mata terpejam, seperti seorang penikmat anggur yang sedang mengecek kualitas minumannya.

“Baginda,” katanya setelah menelan kurma pertama, “kurma Sukkari dari kebun pribadi Baginda memang berbeda. Kurma ini seperti… seperti puisi. Setiap gigitan adalah bait, setiap kunyahan adalah ritma, setiap telan adalah makna yang dalam.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. “Kau dan kata-katamu, Abu Nawas. Kau bisa membuat kurma sekalipun terasa filosofis.”

“Semua benda bisa menjadi filosofis, Baginda, jika kita mau merenungkannya. Tapi lebih baik kita tidak merenungkan kurma terlalu lama, karena kurma lebih enak dimakan daripada direnungkan. Dan saya, Baginda, lebih suka makan kurma daripada merenungkannya.”

Ia mengambil kurma kedua.

Jafar yang dari tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya sedikit serak karena kelelahan dan kekhawatiran yang sudah ia pendam sejak pagi.

“Abu Nawas, kau tahu mengapa kau dipanggil ke sini?”

Abu Nawas mengunyah kurmanya perlahan, menelan, lalu tersenyum. “Saya dengar ada cermin yang retak, Wazir. Utusan tadi bilang. Cermin tua yang konon bisa menunjukkan kebenaran hati. Retak tanpa sebab. Apakah itu benar?”

“Itu benar,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid. Suaranya tenang, tetapi Abu Nawas bisa mendengar nada yang tersembunyi di balik ketenangan itu—nada seorang raja yang sedang berusaha keras untuk tidak kehilangan kesabaran. “Dan aku ingin kau melihatnya. Tapi bukan hanya melihat. Aku ingin kau melakukan sesuatu yang lebih dari itu.”

Abu Nawas berhenti mengunyah. Ia meletakkan kurma yang belum dimakan di atas piring, menatap Baginda Raja dengan mata yang tiba-tiba serius—serius dengan cara yang hanya muncul ketika ia sedang menghadapi teka-teki yang benar-benar menarik.

“Perbaiki cermin itu, Baginda?”

“Perbaiki cermin itu,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid, dan kini matanya bersinar dengan kilatan yang membuat Abu Nawas langsung tahu bahwa ini bukan sekadar perintah biasa, “tanpa menyentuhnya.”

Ruangan itu menjadi sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara tetesan air dari kolam di taman dalam terdengar jelas, seperti ketukan jarum jam yang mengukur detik-detik yang terasa seperti tahun.

Abu Nawas menatap Baginda Raja. Lalu menatap Jafar yang tampak seperti akan pingsan karena tegang. Lalu kembali menatap Baginda Raja.

“Baginda,” katanya perlahan, dengan nada yang tidak pernah ia gunakan di hadapan raja sebelumnya—nada seorang yang sedang berbicara dengan seorang teman yang sedang bercanda, tetapi bercandanya terlalu serius. “Apakah Baginda bermaksud untuk menguji saya? Atau apakah Baginda bermaksud untuk menguji orang lain melalui saya?”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam sejenak. Kemudian ia berdiri, berjalan ke jendela, membelakangi Abu Nawas. Suaranya keluar dari punggungnya, rendah dan berat.

“Kau lihat, Abu Nawas? Itulah sebabnya aku memanggilmu. Kau bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Ya, ini bukan tentang cermin. Cermin itu hanyalah… sebuah permulaan.”

Ia berbalik, dan kini Abu Nawas melihat sesuatu di mata Baginda Raja yang belum pernah ia lihat sebelumnya: kelelahan. Bukan kelelahan fisik, tetapi kelelahan jiwa. Kelelahan seorang pemimpin yang tahu bahwa di sekelilingnya, ada kebusukan yang tidak bisa ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

“Abu Nawas,” katanya, “beberapa hari terakhir, aku merasakan sesuatu yang ganjil di istanaku. Para pejabat yang biasanya ramah satu sama lain, kini saling berbisik di belakang. Para menteri yang biasanya penuh percaya diri, kini menghindari tatapan mataku. Ada sesuatu yang busuk di istanaku, Abu Nawas. Aku tidak tahu apa itu. Tapi aku yakin, retaknya cermin itu bukan kebetulan.”

Ia berjalan mendekati Abu Nawas, berdiri tepat di hadapannya. Tingginya jauh di atas Abu Nawas yang duduk bersila, sehingga Abu Nawas harus mendongak untuk menatapnya.

“Cermin itu retak, kata orang, karena tidak tahan menyimpan kebohongan. Mungkin itu hanya legenda. Tapi mungkin juga… itu adalah pertanda. Pertanda bahwa di antara orang-orang yang kupercaya, ada yang menyembunyikan sesuatu. Dan aku ingin kau menemuinya. Bukan dengan pedang, bukan dengan ancaman. Tapi dengan caramu. Dengan humor. Dengan teka-teki. Dengan… kebijaksanaan yang kau sembunyikan di balik lawakan-lawakanmu.”

Ia berjalan kembali ke singgasananya, duduk, dan menatap Abu Nawas dengan mata yang tidak bisa dihindari.

“Apa kau bisa melakukan itu, Abu Nawas? Bisa kau menjadi cermin bagi orang-orang di istanaku? Cermin yang tidak pernah berbohong? Cermin yang menampakkan kebenaran hati manusia?”

Abu Nawas tidak menjawab segera. Ia mengambil kurma yang tadi ia letakkan, memutarnya di antara jari-jarinya seperti seorang pesulap memutar koin. Matanya menerawang ke suatu tempat di kejauhan, melewati dinding-dinding istana, melewati taman-taman dalam, melewati Sungai Tigris, ke suatu tempat di mana kebenaran dan kebohongan bercampur seperti pasir dan air.

“Baginda,” katanya akhirnya, suaranya pelan tetapi jelas, “jadi Baginda ingin saya menjadi cermin?”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat alis. “Cermin?”

“Ya, Baginda. Cermin yang tidak pernah berbohong. Cermin yang menampakkan kebenaran hati manusia. Cermin yang retak karena tidak tahan menyimpan kebohongan. Baginda ingin saya menjadi cermin itu.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Abu Nawas. Kemudian ia tertawa—tawa yang tulus, tawa yang sudah lama tidak terdengar di ruangan ini.

“Kau benar, Abu Nawas. Aku ingin kau menjadi cermin bagi orang-orang di istanaku. Tunjukkan padaku siapa yang takut pada kebenaran. Siapa yang menghindari cermin. Siapa yang tidak tahan melihat dirinya sendiri.”

Abu Nawas melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan, lalu berdiri. Ia merapikan jubahnya yang lusuh—usaha yang sia-sia karena jubah itu memang tidak bisa dirapikan—dan menatap Baginda Raja dengan mata yang bersinar.

“Baginda,” katanya, “saya akan melakukannya. Tapi saya minta waktu. Jangan harap hasilnya dalam sehari. Kebohongan yang sudah lama dipelihara tidak akan terbongkar hanya dengan satu kali bercermin. Mereka perlu dirayu. Mereka perlu dibuat nyaman. Mereka perlu… ditertawakan.”

“Kau punya waktu sekehendakmu,” kata Harun Al-Rasyid. “Tapi ingat, Abu Nawas.”

“Ingat apa, Baginda?”

“Cermin itu masih retak. Dan setiap hari, aku melihatnya. Setiap hari, retakan itu mengingatkanku bahwa di istanaku, ada kebenaran yang belum terungkap. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama.”

Abu Nawas membungkuk, dan kali ini bungkuknya dalam dan hormat, tanpa sedikit pun gerakan teatrikal yang biasa ia tunjukkan.

“Baginda, kebenaran seperti kurma. Jika dipetik sebelum waktunya, rasanya pahit. Jika dipetik pada waktunya, rasanya manis. Saya tidak akan memetik sebelum waktunya. Tapi saya janji, Baginda akan menikmati manisnya.”


BAB 4: ORANG-ORANG YANG MENGHINDAR

Tiga hari pertama setelah pengumuman Abu Nawas bahwa setiap pejabat istana diwajibkan untuk bercermin di hadapan cermin tua itu, tidak ada satu pun pejabat yang datang.

Abu Nawas tidak terkejut. Ia duduk di depan ruang Al-Mir’ah al-Qadimah setiap pagi, dengan kursi kayu yang ia minta dibawakan dari dapur, mangkuk kurma di pangkuannya, dan segelas air tajin di sampingnya. Ia duduk di sana sepanjang pagi, berbicara dengan setiap orang yang lewat, bercerita tentang hal-hal lucu, tertawa dengan suara keras, dan sesekali memanggil seorang pejabat yang lewat dengan nada ramah.

“Tuan Abdullah!” panggilnya kepada seorang pejabat rendahan yang lewat dengan langkah cepat, mencoba menghindari kontak mata. “Tuan Abdullah, kemarilah sebentar. Aku punya cerita lucu tentang seekor keledai yang lebih pintar dari seorang menteri.”

Tuan Abdullah, seorang lelaki kurus dengan kumis panjang dan wajah yang selalu cemas, berhenti dengan enggan. Ia tidak bisa menghindar—Abu Nawas sudah memanggil namanya dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh semua orang di koridor.

“Abu Nawas,” katanya dengan nada yang berusaha santai tetapi gagal, “aku sedang terburu-buru. Ada laporan yang harus kuselesaikan.”

“Laporan bisa menunggu, Tuan,” kata Abu Nawas sambil mengambil kurma dari mangkuknya. “Tapi cerita tentang keledai yang lebih pintar dari menteri tidak bisa menunggu. Karena keledai itu sudah tua dan mungkin akan mati besok. Kasihan keledai itu, mati tanpa sempat mendengar ceritanya sendiri.”

Tuan Abdullah tersenyum canggung. “Cerita tentang keledai?”

“Ya. Jadi, ada seorang menteri yang sombong. Ia merasa dirinya paling pintar di seluruh kekhalifahan. Suatu hari, ia bertemu dengan seerang keledai di pasar. Keledai itu melihatnya dan berkata, ‘Hai menteri, mengapa wajahmu sepanjang itu?’ Menteri itu terkejut. ‘Kau bisa bicara?’ tanyanya. Keledai itu menjawab, ‘Bisa, tapi aku lebih memilih diam. Karena orang yang banyak bicara biasanya tidak punya banyak pikiran.’ Menteri itu marah. ‘Aku adalah menteri! Aku yang mengatur keuangan negara!’ Keledai itu tertawa. ‘Ah, mengatur keuangan? Aku juga mengatur keuanganku. Setiap hari aku makan rumput secukupnya, tidak lebih. Itulah mengapa aku tidak pernah kekurangan. Tapi menteri… menteri mengambil lebih dari yang ia butuhkan, dan itulah mengapa ia selalu gelisah.’ Menteri itu terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Karena keledai itu benar.”

Tuan Abdullah tertawa kecil, tetapi tawanya terputus-putus, seperti orang yang sedang berusaha tertawa tetapi pikirannya ada di tempat lain.

“Cerita yang bagus, Abu Nawas,” katanya.

“Terima kasih, Tuan. Tapi cerita ini belum selesai. Menteri itu kemudian bertanya kepada keledai, ‘Bagaimana caramu menjadi begitu bijaksana?’ Keledai itu menjawab, ‘Dengan bercermin, Tuan. Setiap pagi, aku bercermin di air sungai. Dan aku melihat diriku apa adanya. Seekor keledai. Tidak lebih. Tidak kurang. Itulah mengapa aku tidak pernah sombong, tidak pernah tamak, tidak pernah gelisah.’ Menteri itu bertanya, ‘Dan apa yang kau lihat ketika bercermin?’ Keledai itu tersenyum—keledai bisa tersenyum, Tuan, percayalah—dan berkata, ‘Aku melihat seekor keledai yang bahagia. Bukan menteri yang gelisah.’”

Abu Nawas berhenti, menatap Tuan Abdullah dengan mata yang tiba-tiba tajam.

“Tuan Abdullah, apakah Tuan sudah bercermin hari ini?”

Tuan Abdullah memucat. Tangannya yang tadinya memegang laporan mulai gemetar.

“Aku… aku belum. Tapi aku akan… nanti. Setelah laporanku selesai.”

“Tentu, Tuan. Tidak perlu terburu-buru. Cermin itu tidak kemana-mana. Retaknya juga tidak akan kemana-mana. Ia menunggu.”

Tuan Abdullah berjalan pergi dengan langkah cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Abu Nawas menatap punggungnya yang menghilang di ujung koridor, lalu mengambil kurma dan memasukkannya ke mulut.

“Satu,” gumamnya. “Orang yang terlalu cepat berjalan ketika mendengar kata ‘cermin’ biasanya sedang berlari dari sesuatu. Tapi kau tidak bisa berlari dari dirimu sendiri, Tuan Abdullah. Tidak selamanya.”


Pada hari keempat, seorang pejabat rendahan bernama Faruq—yang bertugas mengelola persediaan makanan istana—datang dengan langkah ragu-ragu. Faruq adalah lelaki sederhana dengan wajah jujur dan tangan yang kasar karena pekerjaannya. Ia tidak pernah terlibat dalam politik istana, tidak pernah bergosip, tidak pernah mengambil lebih dari haknya. Ia hanyalah seorang pekerja yang melakukan tugasnya dengan baik, dan pulang ke rumahnya setiap sore untuk makan malam bersama keluarganya.

“Abu Nawas,” katanya, berdiri di hadapan Abu Nawas dengan tangan yang sedikit gemetar, “aku… aku ingin bercermin.”

Abu Nawas tersenyum. Ia mengenal Faruq. Faruq adalah salah satu dari sedikit orang di istana yang tidak pernah membuatnya merasa bahwa ia hanyalah pelawak. Setiap kali Abu Nawas datang ke dapur, Faruq selalu menyisakan kurma terbaik untuknya, tanpa diminta, tanpa mengharap imbalan.

“Faruq,” katanya, “kau tidak perlu bercermin. Kau sudah jujur. Tidak ada yang perlu kau lihat di cermin itu selain wajahmu sendiri.”

Faruq menggeleng. “Aku tetap ingin bercermin, Abu Nawas. Bukan karena aku takut ada rahasia. Tapi karena… aku penasaran. Apa benar cermin itu bisa menunjukkan kebenaran hati?”

Abu Nawas menatap Faruq lama. Kemudian ia berdiri, menepuk pundak lelaki itu dengan lembut.

“Baiklah, Faruq. Masuklah. Aku akan menunggu di luar. Tapi ingat, apa pun yang kau lihat di sana, itu hanya antara kau dan cermin. Aku tidak akan bertanya.”

Faruq mengangguk, menarik napas dalam-dalam, dan masuk ke ruangan itu. Abu Nawas mendengar pintu tertutup di belakangnya. Ia duduk kembali di kursinya, mengambil kurma, dan menunggu.

Satu menit. Dua menit. Tiga menit.

Ketika pintu terbuka lagi, Faruq keluar dengan wajah yang tenang. Bahkan ada senyum kecil di bibirnya.

“Bagaimana?” tanya Abu Nawas, meskipun ia sudah tahu jawabannya.

Faruq mengangkat bahu. “Aku hanya melihat diriku sendiri, Abu Nawas. Wajahku. Tidak ada yang aneh. Tidak ada bayangan. Tidak ada… kebenaran yang menakutkan.”

“Karena kau tidak menyimpan kebohongan, Faruq,” kata Abu Nawas. “Cermin itu hanya menampakkan apa yang ada. Jika yang ada hanyalah kejujuran, maka itulah yang kau lihat.”

Faruq tersenyum lebih lebar. “Mungkin begitu. Terima kasih, Abu Nawas.”

Ia berjalan pergi dengan langkah yang lebih ringan dari sebelumnya. Abu Nawas menatap punggungnya yang tegap, dan untuk sesaat, ia merasa bahwa di istana yang penuh dengan kepalsuan ini, masih ada orang-orang seperti Faruq. Orang-orang yang tidak perlu bercermin untuk tahu siapa dirinya.


Berita tentang Faruq menyebar cepat. Seorang pejabat rendahan telah bercermin dan selamat. Tidak ada yang mengerikan terjadi. Tidak ada rahasia yang terbongkar. Tidak ada yang berubah.

Keesokan harinya, lebih banyak pejabat datang. Mereka datang satu per satu, ada yang dengan percaya diri, ada yang dengan ragu-ragu, tetapi mereka datang. Mereka masuk ke ruangan itu, berdiri di hadapan cermin selama beberapa saat, lalu keluar dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang lega, ada yang berpikir keras, ada yang menangis, ada yang tertawa. Tapi semuanya keluar dengan satu kesamaan: mereka tidak lagi gelisah. Beban yang selama ini mereka pikul, entah apa, seolah-olah berkurang setelah mereka berdiri di hadapan cermin itu.

Abu Nawas mencatat semua reaksi mereka dalam pikirannya. Ia tidak menulis—ia tidak pernah menulis—tetapi ingatannya seperti lembaran-lembaran perkamen yang bersih, menangkap setiap detail, setiap ekspresi, setiap kata yang terucap.

Tapi ia juga mencatat bahwa tidak semua pejabat datang. Beberapa pejabat tinggi—mereka yang memiliki jabatan paling berpengaruh di istana—tidak pernah muncul. Mereka selalu punya alasan. Rapat. Laporan. Urusan mendadak. Sakit. Ada yang bahkan mengirim utusan untuk menyampaikan bahwa mereka “akan datang nanti, setelah urusan selesai.”

Tapi Abu Nawas tahu: orang yang jujur tidak perlu mencari alasan. Orang yang bersih tidak perlu menunda.


Di antara mereka yang menghindar, ada tiga orang yang paling mencurigakan.

Yang pertama adalah Umar bin Khattab al-Basri, seorang pejabat di departemen keuangan kekhalifahan. Umar adalah lelaki paruh baya dengan wajah yang selalu tersenyum, selalu ramah, selalu membungkuk hormat kepada siapa pun yang lebih tinggi pangkatnya. Jabatannya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup tinggi untuk memiliki akses ke banyak informasi penting tentang keuangan negara. Ia dikenal sebagai pejabat yang teliti, hampir sempurna. Tidak ada kesalahan dalam catatannya. Tidak ada kekurangan dalam laporannya. Setiap angka, setiap perhitungan, selalu tepat.

Tapi Abu Nawas pernah mendengar bisik-bisik di dapur bahwa Umar memiliki rumah yang jauh lebih bagus dari yang seharusnya untuk seorang pejabat dengan gaji sebesar itu. Dan ia juga mendengar bahwa Umar sering bolak-balik ke ruang penyimpanan dokumen di tengah malam—sebuah kebiasaan yang aneh untuk seorang pejabat yang katanya sangat teliti dan tidak pernah membuat kesalahan.

Abu Nawas mendekati Umar di koridor pada hari kelima. Umar sedang berjalan cepat dengan setumpuk dokumen di tangannya, matanya lurus ke depan, berusaha tidak melihat siapa pun.

“Tuan Umar!” panggil Abu Nawas dengan suara ramah yang sedikit terlalu keras. “Tuan Umar, selamat pagi!”

Umar berhenti dengan enggan. Ia menatap Abu Nawas dengan senyum yang sudah disiapkan—senyum lebar yang menunjukkan deretan giginya yang putih, senyum yang sama yang ia tunjukkan kepada semua orang di istana.

“Abu Nawas,” katanya, “pagi yang cerah, bukan?”

“Sangat cerah, Tuan. Sangat cerah sehingga sayang jika dihabiskan hanya untuk bekerja. Tidakkah Tuan ingin berjalan-jalan sebentar ke taman? Atau mungkin… ke ruang cermin?”

Senyum Umar sedikit mengeras. “Cermin? Ah, cermin itu. Aku dengar banyak orang sudah bercermin. Bagus, bagus. Aku juga akan bercermin. Nanti. Setelah pekerjaanku selesai.”

“Tuan Umar,” Abu Nawas mendekat, menurunkan suaranya menjadi nada yang lebih personal, seperti seorang teman yang sedang berbagi rahasia, “saya dengar Tuan adalah pejabat yang paling teliti di departemen keuangan. Tidak pernah ada kesalahan. Selalu sempurna. Luar biasa. Saya iri.”

Umar tersenyum bangga. “Itu hanya tugasku, Abu Nawas. Aku melakukan yang terbaik.”

“Tapi Tuan,” Abu Nawas melanjutkan, matanya menatap langsung ke mata Umar, “bukankah manusia biasa pasti pernah melakukan kesalahan? Bukankah kesempurnaan adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh Tuhan? Atau mungkin… Tuan menyembunyikan kesalahan-kesalahan itu dengan sangat rapi sehingga tidak ada yang tahu?”

Umar memucat. Senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi yang sulit diartikan—antara takut dan marah.

“Apa maksudmu, Abu Nawas?”

“Tidak ada maksud, Tuan. Saya hanya berpikir. Jika seseorang terlalu sempurna, terlalu rapi, terlalu teliti, mungkin itu karena ia berusaha terlalu keras untuk menutupi sesuatu. Dan orang yang berusaha terlalu keras untuk menutupi sesuatu, biasanya… takut bercermin.”

Umar tidak menjawab. Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang membara, tetapi di balik kemarahan itu, ada ketakutan yang mendalam. Ketakutan yang tidak bisa disembunyikan oleh senyum secerah apa pun.

“Aku… aku harus pergi,” katanya akhirnya, suaranya serak. “Ada laporan yang harus kuselesaikan.”

Ia berjalan pergi dengan langkah yang tidak lagi tegap. Langkahnya terburu-buru, seperti orang yang sedang dikejar oleh bayangannya sendiri.

Abu Nawas menatap punggungnya yang menghilang di ujung koridor, lalu mencatat dalam pikirannya: Umar terlalu sempurna. Tidak ada manusia yang sesempurna itu. Seseorang yang terlalu sempurna biasanya sedang menyembunyikan sesuatu.


Yang kedua adalah Hakim al-Mishri, seorang pejabat yang bertanggung jawab atas pengelolaan pajak dari provinsi-provinsi selatan. Hakim adalah lelaki gemuk dengan wajah bulat yang selalu merah seperti baru saja minum anggur, meskipun ia tidak pernah minum anggur di depan umum. Ia terkenal kaya, jauh lebih kaya dari yang seharusnya untuk seorang pejabat dengan jabatan selevelnya. Rumahnya adalah yang terbesar di kompleks pejabat istana, dengan halaman yang dipenuhi bunga-bunga langka, kolam ikan yang diisi dengan ikan-ikan mas dari Cina, dan koleksi permata yang konon tidak kalah dengan perbendaharaan kerajaan.

Tapi tidak ada yang berani bertanya dari mana kekayaannya berasal. Karena Hakim adalah teman dekat salah satu menteri berpengaruh, dan memiliki jaringan koneksi yang luas di kalangan saudagar-saudagar kaya.

Abu Nawas “kebetulan” bertemu dengan Hakim di taman dalam pada hari keenam. Hakim sedang duduk di bangku batu di tepi kolam, menikmati semangkuk buah-buahan yang disajikan oleh pelayannya. Ketika melihat Abu Nawas mendekat, ia tersenyum lebar—senyum seorang yang sangat percaya diri, yang merasa tidak ada yang perlu ditakutkan.

“Abu Nawas!” serunya dengan suara gemuk yang bergema. “Kemarilah, kemarilah! Coba buah delima ini, dari kebunku sendiri. Manisnya luar biasa.”

Abu Nawas mendekat, duduk di bangku di hadapan Hakim, dan mengambil sebuah delima yang sudah dibelah. Ia memakan beberapa butir, mengunyah dengan nikmat.

“Luar biasa, Tuan,” katanya. “Buah delima sebaik ini biasanya hanya tumbuh di kebun Baginda Raja. Tapi Tuan Hakim punya kebun yang tidak kalah dengan kebun kerajaan. Luar biasa.”

Hakim tertawa bangga. “Abu Nawas, kau terlalu berlebihan. Kebunku hanya kebun kecil. Tidak seberapa.”

“Tapi Tuan,” Abu Nawas melanjutkan dengan nada santai, seperti sedang membicarakan cuaca, “saya dengar Tuan juga memiliki koleksi permata yang sangat berharga. Zamrud dari lembah Indus, rubi dari Yaman, bahkan konon ada berlian dari Hindi yang sebesar telur merpati. Apakah itu benar?”

Hakim tersenyum, tetapi senyumnya sedikit mengeras. “Aku memang suka mengoleksi permata. Itu hobi. Setiap orang punya hobi, bukan?”

“Tentu, tentu. Tapi Tuan,” Abu Nawas menurunkan suaranya, mendekatkan wajahnya, “bukankah gaji seorang pejabat pajak tidak cukup untuk membeli zamrud dari lembah Indus? Apakah Tuan juga berdagang? Atau mungkin… Tuan memiliki sumber penghasilan lain yang tidak disebutkan dalam laporan pajak?”

Hakim berhenti tersenyum. Wajahnya yang tadinya merah karena kebanggaan, kini merah karena sesuatu yang lain. Marah? Malu? Takut? Abu Nawas tidak bisa memastikan.

“Abu Nawas,” katanya, suaranya rendah dan berat, “aku tidak suka dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Kekayaanku adalah hasil kerja kerasku. Tidak ada yang ilegal. Aku tidak perlu bercermin untuk membuktikan apa pun.”

“Tentu, Tuan,” Abu Nawas tersenyum lebar, kembali ke nada ramahnya yang biasa. “Saya tidak menuduh apa pun. Saya hanya berpikir, betapa indahnya jika Tuan bercermin di cermin tua itu. Dengan kejujuran Tuan, pasti Tuan hanya akan melihat wajah Tuan sendiri. Tidak ada bayangan dompet yang membesar. Tidak ada bayangan permata yang berkilauan. Hanya wajah Tuan yang tampan.”

Hakim tidak menjawab. Ia berdiri, meninggalkan buah delima yang masih setengah di piringnya, dan berjalan pergi dengan langkah yang tidak lagi lambat dan santai. Langkahnya cepat, seperti orang yang ingin segera menjauh dari sesuatu yang menakutkan.

Abu Nawas menatap punggungnya yang gemuk bergoyang-goyang di antara pepohonan, lalu mencatat dalam pikirannya: Hakim terlalu kaya untuk seorang pejabat dengan gaji sekecil itu. Kekayaannya tidak sebanding dengan pendapatannya yang sah. Sesuatu tidak beres.


Yang ketiga adalah Panglima Farhan al-Tamimi, seorang komandan militer yang mengawasi pasukan-pasukan yang menjaga perbatasan utara. Farhan adalah lelaki kekar dengan janggut lebat yang sudah memutih di beberapa bagian, wajah yang keras seperti batu karang, dan suara yang bergema seperti genderang perang. Ia adalah pahlawan perang, dihormati oleh semua prajurit, dan sering dipuji oleh Baginda Raja sendiri sebagai “pedang kekhalifahan yang paling tajam.”

Tapi akhir-akhir ini, ada yang berubah pada Farhan. Ia sering terlihat gelisah. Ia sering marah tanpa sebab, membentak bawahannya, dan menghindari pertemuan dengan pejabat lain. Matanya yang dulu tajam dan penuh percaya diri, kini sayu dan menghindar. Ia juga belum pernah datang ke ruang cermin.

Abu Nawas “kebetulan” bertemu dengan Farhan di barak pasukannya pada hari ketujuh. Farhan sedang berlatih dengan pedangnya ketika Abu Nawas datang. Pedangnya berkilat di bawah sinar matahari pagi, setiap ayunannya cepat dan mematikan. Tapi Abu Nawas, yang tidak pernah belajar pedang, bisa melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda dari ayunan Farhan. Ayunannya tidak lagi penuh semangat. Ada beban di setiap gerakannya, seperti orang yang sedang berusaha melupakan sesuatu dengan memotong udara.

Ketika Farhan melihat Abu Nawas, ia berhenti. Pedangnya diturunkan, dan matanya yang sayu menatap lelaki kurus dengan jubah lusuh itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Apa yang kau cari di sini, pelawak?” sambarnya, tetapi nada suaranya tidak lagi sekeras dulu. Ada kelelahan di dalamnya.

Abu Nawas tidak tersinggung. Ia tersenyum lebar. “Panglima yang mulia, saya datang untuk memuji Panglima.”

“Memuji?” Farhan mengerutkan kening.

“Ya. Saya dengar Panglima adalah pahlawan perang. Mengalahkan pemberontak di utara, melindungi perbatasan dari serangan suku-suku liar, membuat musuh-musuh kekhalifahan gemetar hanya dengan mendengar nama Panglima. Luar biasa. Saya iri. Saya sendiri hanya bisa membuat orang tertawa, bukan gemetar.”

Farhan menurunkan pedangnya, menusukkannya ke tanah, dan duduk di bangku kayu di samping barak. Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang lebih jujur dari sebelumnya.

“Abu Nawas,” katanya, suaranya rendah, “kau datang ke sini bukan untuk memuji. Kau datang untuk membicarakan cermin itu, bukan?”

Abu Nawas duduk di sampingnya, mengambil sebutir kurma dari sakunya, dan menawarkannya kepada Farhan. Farhan menggeleng.

“Panglima,” kata Abu Nawas sambil mengunyah kurmanya, “saya tidak akan memaksa Panglima untuk bercermin. Saya hanya ingin bertanya: mengapa Panglima tidak pernah datang? Apakah Panglima takut?”

Farhan terdiam. Ia menatap pedangnya yang tertancap di tanah, berkilat di bawah sinar matahari. Pedang itu sudah menemani nya dalam puluhan pertempuran. Pedang itu telah membunuh banyak orang. Pedang itu telah membawa kemenangan bagi kekhalifahan. Tapi sekarang, ketika ia melihat pedang itu, yang ia lihat bukanlah kemenangan. Yang ia lihat adalah darah.

“Abu Nawas,” katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik, “aku tidak takut pada cermin. Aku takut pada apa yang akan kulihat di sana.”

Abu Nawas tidak bertanya. Ia hanya menunggu.

Farhan menghela napas panjang. Tangannya yang dulu teguh memegang pedang, kini gemetar sedikit ketika ia menyentuh gagang pedang yang tertancap di tanah.

“Aku sudah menjadi prajurit selama tiga puluh tahun, Abu Nawas. Tiga puluh tahun. Aku sudah mengikuti perintah tanpa bertanya. Aku sudah membunuh tanpa merasa. Aku sudah menang tanpa merayakan. Aku adalah pedang. Bukan manusia. Aku adalah alat. Bukan orang.”

Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang basah.

“Dan sekarang, ketika aku melihat cermin, aku takut bahwa yang akan kulihat bukanlah wajahku. Yang akan kulihat adalah semua orang yang telah kubunuh. Yang akan kulihat adalah semua perintah yang telah kujalankan tanpa mempertanyakan apakah itu benar atau salah. Yang akan kulihat adalah… seorang pembunuh. Bukan pahlawan.”

Abu Nawas meletakkan kurma yang tersisa di sakunya. Ia menatap Farhan dengan mata yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di istana—mata yang penuh dengan pengertian, penuh dengan simpati, penuh dengan kebijaksanaan yang tersembunyi di balik lawakan-lawakannya.

“Panglima,” katanya lembut, “pedang tidak bisa menangis. Pedang tidak bisa merasa takut. Pedang tidak bisa duduk di bangku ini dan berbicara tentang rasa bersalah. Panglima adalah manusia. Manusia yang lelah. Manusia yang terluka. Manusia yang memiliki hati nurani. Dan memiliki hati nurani, Panglima, adalah bukti bahwa Panglima bukanlah pembunuh. Pembunuh sejati tidak pernah merasa bersalah.”

Farhan menunduk. Bahunya yang kekar bergetar, dan Abu Nawas tahu bahwa di balik janggut lebat dan wajah keras itu, ada air mata yang sedang berjuang untuk tidak jatuh.

“Panglima,” Abu Nawas melanjutkan, “cermin itu tidak akan menghakimi. Cermin itu hanya akan menunjukkan. Dan apa yang ditunjukkannya, hanya Panglima yang bisa menentukannya. Jika Panglima melihat seorang pembunuh, maka itulah yang Panglima pilih untuk dilihat. Tapi jika Panglima memilih untuk melihat seorang manusia yang telah melakukan kesalahan dan ingin memperbaikinya… maka itulah yang akan Panglima lihat.”

Farhan mengangkat kepalanya. Matanya merah, tetapi ada sesuatu yang baru di sana. Bukan ketakutan. Bukan rasa bersalah. Tapi harapan.

“Kau pikir aku bisa berubah, Abu Nawas?”

“Panglima, keledai bisa berubah menjadi lebih bijaksana, apalagi manusia. Tapi perubahan tidak datang dari cermin. Perubahan datang dari sini,” Abu Nawas menunjuk dadanya sendiri, “dan dari sini,” ia menunjuk kepalanya. “Cermin hanya alat. Panglima sendiri yang menentukan.”

Farhan berdiri. Ia mencabut pedangnya dari tanah, menyandangnya kembali, dan menatap Abu Nawas dengan mata yang lebih jernih dari sebelumnya.

“Terima kasih, Abu Nawas. Kau lebih dari sekadar pelawak.”

“Saya hanya pelawak yang suka kurma, Panglima. Tapi terima kasih.”


BAB 5: PERMAINAN CERMIN PALSU

Setelah berbicara dengan ketiga pejabat yang paling menghindar, Abu Nawas memutuskan bahwa sudah waktunya untuk mengambil langkah berikutnya. Ia tidak bisa terus menunggu mereka datang dengan sukarela. Mereka terlalu takut, terlalu terlindung oleh tembok kebohongan yang sudah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Tapi Abu Nawas juga tidak bisa memaksa. Ia tahu bahwa kejujuran yang lahir dari paksaan bukanlah kejujuran. Kejujuran yang lahir dari ketakutan akan hukuman hanya akan membuat orang semakin pandai menyembunyikan kebohongannya.

Ia membutuhkan cara lain. Cara yang lebih halus. Cara yang lebih… Abu Nawas.

Maka pada malam hari, ia pergi ke pasar, mencari seorang pandai kaca tua yang ia kenal sejak lama. Namanya Ustadz Salim, seorang lelaki kurus dengan kacamata tebal yang selalu melorot di ujung hidungnya, dan tangan yang penuh dengan bekas luka karena bertahun-tahun bekerja dengan kaca dan api.

“Ustadz Salim,” sapa Abu Nawas ketika ia masuk ke bengkel kecil yang dipenuhi dengan pecahan-pecahan kaca dan alat-alat aneh yang tidak dikenalnya, “saya punya permintaan. Dan permintaan ini harus dirahasiakan. Jika ada yang tahu, saya akan dipenggal. Dan jika saya dipenggal, saya tidak akan bisa membayar utang kurma saya kepada Ustadz.”

Ustadz Salim tertawa. “Abu Nawas, kau selalu datang dengan permintaan aneh dan ancaman yang lucu. Katakan, apa yang kau butuhkan?”

“Saya butuh cermin, Ustadz. Cermin yang persis menyerupai cermin tua di ruang Al-Mir’ah al-Qadimah. Bingkai yang sama. Ukuran yang sama. Bahkan retakan yang sama. Tapi dengan satu perbedaan.”

“Perbedaan apa?”

Abu Nawas mendekat, berbisik di telinga Ustadz Salim dengan suara yang sangat pelan. Ustadz Salim mendengarkan, matanya membesar, lalu ia tertawa terbahak-bahak.

“Abu Nawas! Kau benar-benar gila! Cermin seperti itu… itu bukan cermin! Itu alat sulap!”

“Bukan sulap, Ustadz. Ini seni. Seni membuat orang melihat apa yang mereka takutkan. Dan tidak ada yang lebih ahli dalam seni itu selain Ustadz.”

Ustadz Salim menggeleng-gelengkan kepala, tetapi ia tersenyum. “Kau beruntung aku suka tantangan. Beri aku waktu tiga hari.”


Tiga hari kemudian, cermin palsu itu selesai. Abu Nawas datang ke bengkel Ustadz Salim pada tengah malam, membawa kain hitam besar untuk menutupi cermin itu, dan membayar Ustadz Salim dengan sekantong emas yang ia pinjam dari Jafar—tanpa sepengetahuan Jafar, tentu saja.

“Ustadz,” katanya sambil membawa cermin itu dengan hati-hati, “jika ada yang bertanya, kau tidak pernah melihatku. Jika kau ditanya tentang cermin ini, kau tidak pernah membuatnya. Jika kau disiksa, kau tidak tahu apa-apa. Tapi jika kau disiksa terlalu lama, kau bisa mengatakan bahwa aku yang memesan. Tapi hanya jika kau sudah tidak tahan. Saya tidak ingin Ustadz menderita karena saya.”

Ustadz Salim tertawa. “Abu Nawas, kau satu-satunya orang yang memesan cermin ajaib dan kemudian khawatir tentang keselamatan pembuatnya. Pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan melapor ke istana.”

Abu Nawas tersenyum, membawa cermin itu, dan menghilang di kegelapan malam Baghdad.


Keesokan paginya, Abu Nawas memasang cermin palsu itu di sebuah ruangan kosong di sayap barat istana, yang jarang digunakan. Ia membersihkan ruangan itu sendiri—sebuah pemandangan yang membuat para pelayan terkejut, karena Abu Nawas tidak pernah terlihat membersihkan apa pun selain piring makannya.

Ia kemudian mengumumkan kepada semua pejabat istana bahwa ia telah “menemukan” cermin kedua di gudang tua. Cermin ini, katanya, memiliki kekuatan yang sama dengan cermin pertama. Siapa pun yang bercermin di sini akan melihat kebenaran hatinya.

“Tapi cermin ini lebih lembut,” katanya kepada sekelompok pejabat yang berkumpul di koridor, dengan nada seperti seorang pedagang yang sedang mempromosikan barang dagangannya. “Cermin ini tidak akan menakut-nakuti. Cermin ini hanya akan menunjukkan. Dan jika ada yang tidak ingin dilihat, cermin ini akan menyimpannya sebagai rahasia. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang perlu tahu. Hanya kau dan cermin.”

Para pejabat saling berpandangan. Beberapa tampak tertarik. Yang lain masih ragu.

“Dan yang terbaik,” lanjut Abu Nawas, “cermin ini tidak retak. Masih utuh. Masih bersih. Masih siap menerima siapa pun yang berani melihat kebenaran.”

Ia tersenyum lebar, matanya menatap ke arah Umar, Hakim, dan Farhan yang berdiri di antara kerumunan.

“Siapa yang mau jadi yang pertama?”


Umar adalah orang pertama yang datang.

Ia datang pada sore hari, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahaya keemasan memasuki ruangan itu melalui jendela-jendela kecil di dinding. Abu Nawas sedang duduk di depan pintu, dengan mangkuk kurma di pangkuannya, ketika Umar muncul di ujung koridor dengan langkah yang berat dan ragu.

“Tuan Umar,” sapa Abu Nawas dengan ramah, “akhirnya Tuan datang.”

Umar berdiri di hadapannya, wajahnya pucat, tangannya menggenggam erat ujung jubahnya. “Abu Nawas, aku… aku ingin bercermin.”

“Silakan, Tuan. Pintunya terbuka. Aku akan menunggu di sini.”

Umar menarik napas dalam-dalam, membuka pintu, dan masuk. Abu Nawas mendengar pintu tertutup di belakangnya. Ia mengambil kurma, memasukkannya ke mulut, dan menunggu.

Satu menit. Dua menit. Tiga menit.

Dari dalam ruangan, terdengar suara. Bukan teriakan, bukan tangisan. Hanya sebuah suara pelan, seperti seseorang yang menghela napas panjang. Seperti beban yang dijatuhkan setelah dipikul terlalu lama.

Pintu terbuka. Umar keluar. Wajahnya pucat, matanya merah, dan di pipinya, ada jejak air mata yang belum kering. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Sesuatu yang Abu Nawas tidak bisa jelaskan dengan kata-kata. Seperti beban yang selama ini membungkukkan pundaknya, tiba-tiba lenyap.

“Abu Nawas,” katanya, suaranya serak tetapi jernih, “aku… aku melihatnya.”

“Melihat apa, Tuan?”

“Tanganku. Penuh emas. Seperti… seperti dalam ceritamu di panggung.”

Abu Nawas tidak mengatakan bahwa itu karena Umar berdiri dengan kaki kiri lebih berat—mungkin karena kegugupan, mungkin karena kebiasaan, mungkin karena beban rasa bersalah yang selama ini ia pikul. Ia hanya tersenyum lembut.

“Apa yang Tuan rasakan ketika melihat itu?”

Umar menunduk. Air matanya jatuh lagi, tetapi kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya.

“Aku… aku takut, Abu Nawas. Tapi juga… lega. Seperti beban yang selama ini kupikul, akhirnya terangkat. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Aku tidak bisa.”

Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang jujur untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Mata yang tidak lagi bersembunyi di balik senyum yang dipaksakan. Mata yang hanya ingin mengatakan kebenaran.

“Aku mengambil uang negara, Abu Nawas. Sedikit demi sedikit, selama bertahun-tahun. Aku pikir tidak ada yang tahu. Aku pikir tidak ada yang akan melihat. Tapi cermin itu… cermin itu melihat.”

Abu Nawas berdiri, menepuk pundak Umar dengan lembut. “Tuan Umar, cermin itu tidak menghakimi. Cermin itu hanya menunjukkan. Sekarang Tuan sudah melihat. Apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya?”

Umar mengusap air matanya dengan lengan bajunya. Gerakannya kasar, tidak anggun, tetapi terasa lebih jujur dari semua senyum yang pernah ia tunjukkan di istana.

“Aku akan… aku akan mengaku. Kepada Wazir Jafar. Kepada Baginda Raja. Aku akan mengembalikan apa yang kuambil. Semuanya. Meskipun aku harus menjual seluruh hartaku.”

“Itu keputusan yang baik, Tuan. Lebih baik mengaku dengan sukarela daripada diungkap oleh cermin di depan semua orang.”

Umar mengangguk. Ia berjalan pergi dengan langkah yang berat tetapi tidak lagi gemetar. Abu Nawas menatap punggungnya yang membungkuk—bukan karena beban, tetapi karena ketundukan pada kebenaran—dan merasa bahwa di istana yang penuh dengan kepalsuan ini, mungkin masih ada harapan.


Hakim datang keesokan harinya. Ia datang dengan percaya diri palsu yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia tertawa ketika masuk ke ruangan itu, mengatakan bahwa ia tidak percaya pada cermin ajaib, bahwa semua ini hanya omong kosong, bahwa ia hanya datang karena penasaran.

“Abu Nawas, kau benar-benar pandai membuat orang penasaran,” katanya sambil tertawa, tetapi tawanya terdengar hampa. “Cermin ajaib? Sungguh, aku sudah melihat banyak hal di istana ini, tapi cermin ajaib adalah yang paling lucu.”

Abu Nawas tersenyum. “Silakan, Tuan. Buktikan sendiri. Atau mungkin Tuan takut?”

Hakim berhenti tertawa. “Takut? Aku tidak takut pada cermin. Aku hanya tidak percaya pada omong kosong.”

“Kalau begitu, masuklah. Lihatlah. Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

Hakim menatap Abu Nawas dengan mata yang tajam, lalu membuka pintu dan masuk. Abu Nawas menunggu di luar, seperti biasa.

Satu menit. Dua menit. Tiga menit.

Tidak ada suara. Abu Nawas mulai gelisah. Ia mendekatkan telinganya ke pintu. Masih tidak ada suara.

Empat menit. Lima menit.

Kemudian, pintu terbuka. Hakim keluar dengan wajah yang berubah total. Wajahnya yang biasanya merah dan gemuk kini pucat seperti kapur. Matanya kosong, mulutnya terbuka sedikit, dan tangannya gemetar hebat. Seluruh tubuhnya yang gemuk bergetar seperti puding yang baru dikeluarkan dari cetakan.

“Abu Nawas,” katanya, suaranya nyaris tidak terdengar, seperti bisikan dari kubur, “aku… aku melihat dompet. Dompet besar. Menutupi seluruh tubuhku. Aku tidak bisa melihat wajahku. Yang ada hanya dompet.”

Abu Nawas tidak perlu bertanya apa artinya itu. Ia hanya menepuk pundak Hakim dengan lembut, sama seperti yang ia lakukan pada Umar.

“Tuan Hakim, apa yang akan Tuan lakukan?”

Hakim menunduk. Air matanya jatuh, menetes ke jubah sutranya yang mahal, membasahi sulaman emas yang menghiasi ujung lengannya.

“Aku akan… aku akan mengembalikan semuanya. Semua pajak yang kukurangi. Semua uang yang kusimpan. Semuanya. Aku akan menjual semua permata, semua rumah, semua tanah. Aku akan… aku akan menjadi petani. Seperti kakekku.”

“Bagus, Tuan. Bagus.”


Farhan datang pada malam hari, ketika bulan purnama bersinar terang di atas Baghdad, menerangi koridor-koridor istana dengan cahaya perak yang dingin. Abu Nawas sudah hampir pulang ketika ia melihat bayangan besar muncul di ujung koridor. Bayangan seorang lelaki kekar dengan pedang di pinggang, berjalan dengan langkah tegap tetapi berat.

“Panglima,” sapa Abu Nawas ketika Farhan berdiri di hadapannya. “Saya kira Panglima tidak akan datang.”

Farhan menatapnya dengan mata yang dalam, mata yang telah melihat terlalu banyak pertempuran, terlalu banyak kematian, terlalu banyak hal yang tidak ingin diingat.

“Aku hampir tidak datang, Abu Nawas. Tapi kata-katamu terus terngiang di kepalaku. ‘Pedang tidak bisa menangis,’ katamu. ‘Pedang tidak bisa merasa takut.’ Dan aku sadar… aku bukan pedang. Aku manusia. Dan manusia, kadang-kadang, harus berani melihat dirinya sendiri.”

Ia membuka pintu dan masuk. Abu Nawas menunggu.

Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit.

Abu Nawas mulai gelisah. Ia mendekatkan telinganya ke pintu. Tidak ada suara. Ia membuka pintu perlahan.

Farhan sedang berlutut di hadapan cermin itu. Bukan berlutut karena takut, bukan berlutut karena lemah. Berlutut seperti seorang prajurit yang sedang berdoa sebelum pertempuran. Dan di depannya, di permukaan cermin palsu itu—yang karena Farhan berdiri dengan kedua kaki sama berat, ia seorang prajurit, ia terlatih untuk selalu seimbang—tidak ada bayangan aneh. Yang ada hanya bayangannya sendiri. Wajahnya sendiri. Tapi wajah itu… wajah itu menangis.

Farhan tidak melihat tangan penuh emas. Tidak melihat dompet membesar. Ia melihat dirinya sendiri. Dan itulah yang paling menakutkan baginya.

Abu Nawas masuk ke ruangan itu, berjalan perlahan mendekati Farhan, dan berlutut di sampingnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya duduk di sana, di lantai marmer yang dingin, menemani panglima perang yang paling ditakuti di kekhalifahan itu dalam keheningan.

Akhirnya, Farhan berbicara. Suaranya keluar dari tenggorokannya seperti erangan yang tertahan selama bertahun-tahun.

“Abu Nawas, aku melihat diriku sendiri. Hanya diriku sendiri. Tapi aku tidak tahan melihatnya.”

“Mengapa, Panglima?”

“Karena…” suaranya pecah. “Karena aku bukan lagi diriku sendiri. Aku adalah apa yang diperintahkan orang lain. Aku membunuh bukan karena keadilan, tetapi karena perintah. Aku menghancurkan bukan karena kebenaran, tetapi karena politik. Aku adalah pedang, Abu Nawas. Bukan manusia. Aku adalah alat. Dan alat… alat tidak punya hati nurani.”

Ia menoleh, menatap Abu Nawas dengan mata yang basah.

“Tapi aku punya hati nurani, Abu Nawas. Dan hati nurani itu membunuhku setiap hari. Setiap malam, aku melihat wajah-wajah mereka. Mereka yang kubunuh. Mereka yang mati karena perintahku. Mereka yang tidak pernah kukenal, tetapi kuhancurkan hidupnya.”

Abu Nawas meletakkan tangannya di pundak Farhan yang kekar. Tangannya yang kurus dan lembut terasa seperti bulu di atas batu karang, tetapi Farhan merasakannya. Ia merasakan sentuhan itu, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa tidak sendirian.

“Panglima,” kata Abu Nawas dengan suara yang lembut tetapi tegas, “Panglima bukan pedang. Panglima bukan alat. Panglima adalah manusia. Manusia yang lelah. Manusia yang terluka. Manusia yang ingin pulang. Dan manusia yang ingin pulang, Panglima, adalah manusia yang masih punya hati.”

Farhan menangis. Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan ayahnya. Ia menangis seperti prajurit yang kehilangan temannya di medan perang. Ia menangis untuk semua yang telah ia lakukan, dan untuk semua yang tidak pernah ia lakukan.

Abu Nawas membiarkannya menangis. Ia tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak mengatakan bahwa masa lalu bisa dilupakan. Ia hanya duduk di sampingnya, di lantai marmer yang dingin, di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela, dan membiarkan panglima perang yang paling ditakuti di kekhalifahan itu menjadi manusia untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun.

Ketika Farhan berhenti menangis, ia berdiri. Ia merapikan jubahnya, menyandang pedangnya kembali, dan menatap cermin itu sekali lagi.

“Cermin ini,” katanya, “tidak menunjukkan apa pun selain diriku. Tapi itu sudah cukup untuk membuatku sadar bahwa aku tidak bisa terus seperti ini.”

Ia berbalik, menatap Abu Nawas dengan mata yang lebih jernih dari sebelumnya.

“Besok, aku akan menghadap Baginda Raja. Aku akan meletakkan pedang ini di kakinya. Aku akan meminta diizinkan pulang ke desaku. Aku akan menjadi petani. Aku akan menanam padi, bukan membunuh orang.”

“Panglima,” kata Abu Nawas, “itu keputusan yang berani. Lebih berani dari semua pertempuran yang pernah Panglima menangkan.”

Farhan tersenyum—senyum yang tulus, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selama bertahun-tahun.

“Terima kasih, Abu Nawas. Kau lebih dari sekadar pelawak. Kau adalah… cermin. Cermin yang membuat orang berani melihat dirinya sendiri.”

Ia berjalan keluar, meninggalkan Abu Nawas yang masih berlutut di lantai marmer yang dingin.

Abu Nawas menatap cermin palsu itu. Di permukaannya, ia melihat bayangannya sendiri. Wajahnya yang kurus, janggutnya yang tidak terawat, matanya yang lelah tetapi masih bersinar.

“Cermin,” gumamnya. “Kau tidak pernah berbohong. Tapi kau juga tidak pernah mengatakan kebenaran. Kau hanya menunjukkan. Dan terserah manusia untuk memutuskan apa yang harus dilakukan dengan apa yang mereka lihat.”

Ia berdiri, merapikan jubahnya, dan berjalan keluar. Di luar, bulan purnama bersinar terang di atas Baghdad, menerangi jalan pulangnya dengan cahaya perak yang lembut.


BAB 6: TAWA YANG MENJERAT

Malam pertunjukan lawakan Abu Nawas di Aula Singgasana menjadi malam yang paling dinanti-nantikan oleh seluruh istana. Bukan karena lawakan Abu Nawas selalu lucu—meskipun memang selalu lucu—tetapi karena semua orang tahu bahwa malam itu, Abu Nawas akan melakukan sesuatu. Sesuatu yang akan menggetarkan istana. Sesuatu yang akan membuat seseorang terjatuh dari kursi kehormatannya. Sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Aula Singgasana Agung, yang biasanya digunakan untuk upacara kenegaraan dan penerimaan tamu asing, malam itu diubah menjadi panggung pertunjukan. Lampu-lampu minyak diredupkan, menciptakan suasana yang lebih intim, lebih santai, lebih… seperti kedai di pinggiran Baghdad, tetapi dengan marmer dan sutra sebagai pengganti tanah liat dan anyaman bambu.

Kursi-kursi kayu cendana berukir diatur melingkar mengelilingi panggung kecil yang didirikan di tengah aula. Di barisan depan, duduk para pejabat tertinggi kekhalifahan: Wazir Jafar dengan jubah hijau zamrudnya, para menteri dengan jubah-jubah berwarna-warni, para komandan militer dengan seragam kebesaran mereka. Di barisan kedua, duduk para pejabat menengah, termasuk Umar dan Hakim—keduanya duduk berjauhan, saling menghindari tatapan. Di barisan ketiga, duduk para pejabat rendahan, para sekretaris, para juru tulis, dan di sudut paling belakang, duduk para penjaga istana yang mendapat izin khusus untuk menyaksikan pertunjukan.

Di barisan paling depan, di kursi khusus yang dilapisi sutra merah, duduk Baginda Raja Harun Al-Rasyid sendiri, dengan Putri Zubaidah di samping kanannya dan Pangeran Al-Ma’mun di samping kirinya. Al-Amin, putra mahkota, duduk agak jauh, dengan ekspresi bosan yang sudah menjadi ciri khasnya.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam dengan sulaman emas yang membentuk ayat-ayat suci, dan di kepalanya, mahkota sementara dari emas dan safir—mahkota asli masih tersimpan aman di Khizanat al-Khassa, dengan penjagaan yang diperketat dua kali lipat dari sebelumnya. Matanya yang tajam bergerak cepat mengamati setiap orang di ruangan itu, dan ketika matanya bertemu dengan matanya Abu Nawas yang sedang bersiap di belakang panggung, ia tersenyum tipis—senyum yang mengatakan: Aku sudah menunggumu. Jangan mengecewakanku.

Abu Nawas muncul di panggung dengan pakaian yang paling rapi yang pernah ia kenakan sepanjang hidupnya. Jubah sutra hijau pemberian Jafar—yang sedikit terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus—kini telah disesuaikan oleh penjahit istana sehingga pas di badannya. Sorban putih yang disematkan dengan bros kecil berbentuk bunga melati—hadiah dari salah satu dayang yang terkesan dengan ceritanya tentang cermin—membuatnya terlihat hampir seperti seorang pejabat istana. Hampir. Karena senyumnya yang lebar dan matanya yang berkilat tetap sama seperti ketika ia duduk di kedai pinggiran Baghdad.

Ia berdiri di tengah panggung, menghadap ratusan pasang mata yang tertuju padanya. Lampu-lampu minyak di sekelilingnya menciptakan lingkaran cahaya yang membuatnya terlihat seperti seorang pesulap yang baru saja muncul dari dunia lain.

“Baginda Raja Harun Al-Rasid Amirul Mukminin, semoga Allah memanjangkan umur Baginda dan melimpahkan rahmat-Nya kepada seluruh keluarga kerajaan,” ia memulai dengan suara yang lantang dan jelas, bergema di aula yang sunyi. “Para wazir, para menteri, para panglima, para ulama, para bangsawan, para pejabat, para penjaga, dan semua hadirin yang mulia—termasuk para pelayan yang duduk di belakang sana, saya lihat kalian, jangan sembunyi-sembunyi.”

Tawa kecil pecah di antara para pelayan yang duduk di barisan paling belakang.

“Malam ini,” lanjut Abu Nawas, berjalan mondar-mandir di panggung dengan langkah seorang pemain sandiwara yang percaya diri, “saya tidak akan membicarakan cermin. Saya tidak akan membicarakan retakan. Saya tidak akan membicarakan kebenaran atau kebohongan. Malam ini, saya hanya akan… tertawa.”

Ia tertawa, dan tawanya menular. Beberapa pejabat ikut tertawa, meskipun tidak semua. Ada yang tertawa dengan tulus, ada yang tertawa karena ikut-ikutan, ada yang tertawa karena takut dianggap tidak punya selera humor.

“Tapi karena saya tidak bisa tertawa sendirian—percayalah, saya sudah mencoba, dan hasilnya menyedihkan—saya akan menceritakan kisah-kisah lucu. Kisah-kisah yang mungkin… mungkin saja… menyerupai kehidupan kita sehari-hari. Atau mungkin tidak. Terserah kalian. Saya hanya bercerita. Yang menafsirkan adalah hati kalian masing-masing.”

Ia berhenti di tengah panggung, menatap satu per satu wajah para hadirin. Matanya berhenti sejenak di wajah Umar, lalu Hakim, lalu Farhan. Ketiganya duduk di tempat yang berbeda, tetapi semuanya tampak tegang. Umar mengusap-usap dahinya dengan saputangan yang sudah basah oleh keringat. Hakim menggenggam erat lengan kursinya hingga buku-buku jarinya memutih. Farhan duduk dengan punggung tegak seperti biasa, tetapi Abu Nawas bisa melihat bahwa tangannya, yang dulu selalu tenang memegang pedang, kini gemetar sedikit di pangkuannya.

“Kisah pertama,” kata Abu Nawas, suaranya berubah menjadi nada seorang pendongeng di pasar malam, “adalah tentang seorang pejabat yang sangat rajin. Rajin sekali. Rajinnya bukan main. Setiap malam, ia bekerja. Setiap malam, ia memeriksa catatan-catatan. Setiap malam, ia memastikan semua angka-angka itu sempurna. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang kurang. Tidak ada yang lebih. Sempurna.”

Ia berjalan ke tepi panggung, mendekati barisan tempat para pejabat duduk.

“Suatu malam, ketika ia sedang memeriksa catatan-catatan itu di kantornya yang sunyi—karena semua orang sudah pulang, bahkan lampu-lampu di koridor sudah mulai padam satu per satu—ia melihat bayangannya di jendela. Bayangan itu tidak seperti dirinya. Bayangan itu memiliki tangan yang panjang, panjang sekali, seperti tangan gurita dari laut selatan. Dan di setiap jari tangan yang panjang itu, ada emas. Emas berkilauan. Emas yang belum pernah ia lihat dalam jumlah sebanyak itu.”

Ia menirukan ekspresi terkejut yang lucu, membelalakkan mata dan membuka mulut lebar-lebar. Beberapa hadirin tertawa.

“Pejabat itu terkejut, tentu saja. Siapa yang tidak terkejut melihat bayangannya sendiri memiliki tangan sepanjang gurita? Ia berkata kepada bayangannya, ‘Hai bayangan, mengapa tanganmu panjang?’ Dan bayangan itu menjawab—bayangan bisa bicara, dalam cerita ini, karena ini cerita, dan dalam cerita, bayangan bisa melakukan apa saja, bahkan lebih pintar dari pejabat.”

Tawa pecah lagi.

“Bayangan itu menjawab, ‘Wahai pejabat yang rajin, tanganku panjang karena aku sering mengambil sesuatu yang bukan hakku. Setiap malam, ketika kau bekerja, aku mengambil. Sedikit di sini, sedikit di sana. Tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit. Cukup untuk tidak ketahuan. Cukup untuk membuatku kaya.’ Pejabat itu bertanya lagi, ‘Apa yang kau ambil?’ Bayangan itu menjawab, ‘Uang rakyat, Tuan. Uang pajak yang seharusnya untuk membangun jembatan, menggali sumur, memberi makan orang miskin. Aku ambil sedikit demi sedikit, dan sekarang tanganku panjang karena terbiasa mengambil.’”

Abu Nawas berjalan kembali ke tengah panggung, suaranya menjadi lebih pelan, lebih misterius.

“Pejabat itu pucat. Ia berlari ke cermin—bukan cermin tua di ruang Al-Mir’ah, tetapi cermin biasa di kantornya—dan berdiri di hadapannya. Tetapi di cermin itu, ia tidak melihat wajahnya. Yang ia lihat hanyalah tangannya sendiri. Tangan yang panjang, penuh emas. Dan emas-emas itu… emas-emas itu menetes. Menetes seperti air mata.”

Ia berhenti. Aula sunyi.

“Pejabat itu bertanya, ‘Apa yang harus aku lakukan?’ Cermin itu—karena dalam cerita ini, cermin juga bisa bicara, mengapa tidak?—menjawab, ‘Kembalikan, Tuan. Kembalikan apa yang bukan hakmu. Maka tanganku akan kembali normal. Maka kau akan bisa melihat wajahmu sendiri lagi.’”

Abu Nawas tersenyum, kembali ke nada ceria.

“Apakah pejabat itu mengembalikan? Entahlah. Cerita ini belum selesai. Mungkin ia mengembalikan. Mungkin tidak. Tapi satu hal yang pasti: setiap kali ia lewat di depan cermin, ia selalu menunduk. Tidak berani melihat. Karena ia takut melihat tangannya yang panjang.”

Aula bertepuk tangan. Tawa dan tepuk tangan bercampur menjadi satu. Abu Nawas menunduk hormat, lalu melirik ke arah Umar.

Umar tidak bertepuk tangan. Tangannya menggenggam erat ujung jubahnya, dan di dahinya, keringat mengalir deras seperti sungai di musim hujan.


“Kisah kedua,” lanjut Abu Nawas setelah tepuk tangan mereda, “adalah tentang seorang saudagar yang menjadi pejabat. Saudagar itu sangat kaya. Kaya raya. Kekayaannya tidak terhitung. Ia memiliki rumah sebesar istana—bukan istana ini, tentu saja, karena istana ini milik Baginda Raja, dan tidak ada yang berani memiliki rumah sebesar istana Baginda Raja kecuali ia ingin dipenggal.”

Tawa kecil.

“Ia memiliki koleksi permata yang tak terhitung jumlahnya. Zamrud dari lembah Indus, rubi dari Yaman, berlian dari Hind, mutiara dari laut selatan. Semuanya tersimpan di peti-peti besi yang dijaga oleh puluhan penjaga. Ia memiliki kuda-kuda terbaik di seluruh Baghdad, bahkan lebih baik dari kuda-kuda Baginda Raja—tapi ini hanya dalam cerita, tentu saja, karena di dunia nyata, tidak ada kuda yang lebih baik dari kuda Baginda Raja.”

Ia melirik ke arah Bgnda Raja Harun Al-Rasyid dengan ekspresi takut-takut yang dibuat-buat. Baginda Raja tertawa kecil, dan itu cukup untuk membuat semua orang ikut tertawa.

“Tapi saudagar ini memiliki satu masalah: setiap kali ia lewat di depan cermin, ia tidak pernah melihat wajahnya. Yang ia lihat hanyalah dompetnya. Dompet besar, dompet yang terus membesar setiap hari, setiap minggu, setiap tahun. Dompet itu semakin besar, semakin besar, hingga akhirnya menutupi seluruh tubuhnya. Ia tidak bisa melihat matanya. Ia tidak bisa melihat hidungnya. Ia tidak bisa melihat mulutnya. Yang ada hanya dompet.”

Ia berjalan ke sisi panggung yang lain, suaranya menjadi lebih pelan.

“Suatu hari, seorang teman lamanya—seorang yang miskin, karena orang kaya biasanya berteman dengan orang miskin agar mereka bisa merasa lebih kaya—bertanya kepadanya, ‘Wahai saudagar, mengapa kau tidak pernah bercermin? Apakah kau takut melihat kerutan di wajahmu?’ Saudagar itu menjawab, ‘Bukan kerutan yang kutakuti. Aku takut melihat bahwa aku bukan lagi manusia, tetapi dompet berjalan. Aku takut melihat bahwa seluruh diriku telah menjadi emas, dan tidak ada yang tersisa selain kekayaan.’ Temannya bertanya, ‘Kalau begitu, mengapa tidak kau kembalikan apa yang bukan hakmu? Mengapa tidak kau bagikan kepada yang membutuhkan?’ Saudagar itu menjawab, ‘Tapi sudah terlalu banyak. Aku tidak tahu mana yang hakku dan mana yang bukan. Aku tidak tahu mana yang halal dan mana yang haram. Semuanya bercampur aduk, seperti pasir dan air.’ Temannya berkata, ‘Maka bersihkan. Pisahkan. Kembalikan. Karena lebih baik miskin tetapi bisa melihat wajahmu sendiri, daripada kaya tetapi hanya melihat dompet.’”

Abu Nawas berhenti, menatap ke arah Hakim.

“Apakah saudagar itu membersihkan hartanya? Entahlah. Cerita ini juga belum selesai. Tapi satu hal yang pasti: setiap kali ia melihat cermin, ia selalu menutup matanya. Karena ia takut melihat dompetnya yang membesar.”

Hakim tidak bergerak. Wajahnya merah padam, lebih merah dari biasanya. Tangannya yang gemuk menggenggam erat lengan kursinya, dan Abu Nawas bisa melihat bahwa kuku-kukunya sudah memutih karena tekanan.


“Kisah ketiga,” Abu Nawas melanjutkan, dan kali ini suaranya berubah. Tidak lagi ceria, tidak lagi lucu. Ada nada yang lebih dalam, lebih berat, seperti seorang yang sedang membicarakan sesuatu yang sangat pribadi. “Kisah ketiga adalah tentang seorang panglima perang. Seorang panglima yang gagah berani. Yang telah memenangkan banyak pertempuran. Yang telah mengalahkan banyak musuh. Yang dihormati oleh semua prajuritnya. Yang disegani oleh musuh-musuhnya. Yang namanya disebut dengan penuh hormat di seluruh kekhalifahan.”

Ia berjalan perlahan mendekati barisan tempat Farhan duduk. Farhan tidak bergerak, tetapi Abu Nawas bisa melihat dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.

“Panglima ini, katanya, tidak pernah kalah. Tidak pernah mundur. Tidak pernah gentar. Ia adalah singa di medan perang, badai di tengah musuh, kematian bagi siapa pun yang berani menghadapinya. Tapi suatu malam, ketika ia sedang sendirian di tendanya setelah pertempuran, ia melihat bayangannya di dinding. Bayangan itu tidak sedang memegang pedang. Bayangan itu sedang berlutut. Bayangan itu sedang menangis.”

Aula menjadi sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara napas orang-orang terdengar seperti angin.

“Panglima itu terkehat—terkejut, maksud saya—ia bertanya kepada bayangannya, ‘Mengapa kau berlutut? Mengapa kau menangis? Kau adalah panglima yang tak terkalahkan. Kau adalah singa di medan perang. Mengapa kau menangis?’ Dan bayangan itu menjawab—bayangan itu bisa bicara, dalam cerita ini—menjawab dengan suara yang parau, seperti suara orang yang sudah lama tidak menangis tetapi akhirnya menangis juga.”

Suara Abu Nawas menjadi lebih pelan, lebih lembut.

“Bayangan itu berkata, ‘Wahai panglima, aku menangis karena aku lelah. Aku lelah membunuh. Aku lelah melihat darah. Aku lelah mendengar jeritan. Aku lelah melakukan semua yang diperintahkan tanpa bertanya apakah itu benar atau salah. Aku lelah menjadi pedang, bukan manusia. Aku lelah menjadi alat, bukan orang.’ Panglima itu bertanya, ‘Apa yang harus aku lakukan?’ Bayangan itu menjawab, ‘Lihatlah ke cermin, wahai panglima. Lihatlah siapa dirimu sebenarnya. Bukan panglima yang disegani. Bukan pahlawan yang dihormati. Tapi manusia biasa yang lelah. Manusia biasa yang takut. Manusia biasa yang ingin pulang.’”

Abu Nawas berhenti. Ia berdiri di hadapan Farhan, hanya beberapa langkah jaraknya. Farhan tidak bergerak. Tidak berkedip. Matanya menatap lurus ke depan, tetapi Abu Nawas bisa melihat bahwa di balik matanya yang keras itu, ada sesuatu yang retak. Sesuatu yang selama tiga puluh tahun ia tahan, akhirnya mulai pecah.

“Apakah panglima itu melihat ke cermin? Entahlah. Cerita ini juga belum selesai. Tapi satu hal yang pasti: sejak malam itu, ia tidak pernah lagi bisa tidur nyenyak. Karena setiap kali ia memejamkan mata, yang ia lihat bukanlah kemenangan. Yang ia lihat adalah wajah-wajah mereka yang telah ia bunuh. Yang ia lihat adalah darah di tangannya. Yang ia lihat adalah… dirinya sendiri.”

Ia berjalan kembali ke tengah panggung, dan untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak lagi ceria. Ada kesedihan di dalamnya. Ada pengertian yang mendalam.

“Kisah-kisah ini, para hadirin yang mulia, hanyalah kisah. Saya tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Saya tidak tahu apakah pejabat yang tangannya panjang itu ada di antara kita. Saya tidak tahu apakah saudagar yang dompetnya membesar itu sedang duduk di kursi ini. Saya tidak tahu apakah panglima yang menangis di malam hari itu sedang mendengarkan saya sekarang.”

Ia berhenti, menatap satu per satu wajah para hadirin.

“Tapi saya tahu satu hal: cermin tidak pernah berbohong. Cermin hanya menunjukkan. Dan ketika seseorang tidak tahan melihat apa yang ditunjukkan cermin, cermin itu akan retak. Bukan karena cerminnya yang lemah. Bukan karena cerminnya yang tua. Tapi karena kebenaran yang terlalu berat untuk ditanggung.”

Ia menunjuk ke arah koridor yang mengarah ke ruang Al-Mir’ah al-Qadimah.

“Cermin di ruang itu masih retak. Masih belum sembuh. Karena kebenaran yang membuatnya retak masih belum terungkap. Atau… sudah terungkap, tetapi yang bersangkutan belum cukup berani untuk mengakuinya. Belum cukup berani untuk berdiri di hadapan cermin dan berkata, ‘Inilah aku. Dengan semua kesalahanku. Dengan semua kebohonganku. Dengan semua ketakutanku. Inilah aku.’”

Suaranya naik sedikit, menjadi lebih kuat, lebih tegas.

“Saya tidak akan menunjuk siapa pun. Saya tidak akan menuduh siapa pun. Saya tidak akan membuka rahasia siapa pun. Karena itu bukan tugas saya. Tugas saya hanya… tertawa. Dan membuat kalian tertawa. Tapi di balik tawa, kadang-kadang, ada kebenaran. Kebenaran yang tidak bisa disampaikan dengan air mata. Kebenaran yang hanya bisa disampaikan dengan senyum.”

Ia tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang tidak main-main, senyum yang membuat semua orang yang melihatnya merasakan sesuatu yang aneh di dada mereka.

“Cermin itu akan sembuh, para hadirin. Bukan dengan lem atau paku. Bukan dengan sihir atau doa. Tapi dengan keberanian. Keberanian untuk melihat diri sendiri. Keberanian untuk mengakui kesalahan. Keberanian untuk berkata, ‘Aku salah. Aku bersalah. Tapi aku ingin memperbaiki.’”

Ia membungkuk, dalam-dalam.

“Sekian lawakan saya malam ini. Selamat tertawa, para hadirin. Dan selamat bercermin.”


Aula bergemuruh dengan tepuk tangan. Tepuk tangan yang keras, yang lama, yang membuat dinding-dinding marmer bergetar. Para pejabat berdiri dari kursi mereka, bertepuk tangan dengan semangat. Para penjaga di belakang bersiul-siul. Para pelayan berteriak-teriak. Bahkan para menteri yang paling kaku sekalipun ikut bertepuk tangan, meskipun dengan gerakan yang lebih terkendali.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri dari singgasananya. Ia tidak bertepuk tangan. Ia hanya menatap Abu Nawas dengan mata yang tidak bisa dibaca. Tapi di sudut bibirnya, ada senyum. Senyum yang tulus. Senyum yang mengatakan: Kau berhasil, Abu Nawas. Kau membuat mereka melihat. Kau membuat mereka berpikir. Kau membuat mereka… takut.

Abu Nawas membungkuk sekali lagi, lalu berjalan turun dari panggung. Di belakang panggung, ia bertemu dengan Jafar yang sudah menunggu dengan wajah pucat.

“Abu Nawas,” bisik Jafar, “kau… kau keterlaluan. Kau menuduh mereka di depan semua orang.”

“Saya tidak menuduh siapa pun, Wazir,” kata Abu Nawas sambil mengambil kurma dari saku jubahnya. “Saya hanya bercerita. Yang menuduh adalah hati mereka sendiri.”

Ia memasukkan kurma ke mulutnya, mengunyah dengan nikmat, dan berjalan keluar meninggalkan Jafar yang menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi antara kagum dan putus asa.


BAB 7: KEJUTAN DI TENGAH MALAM

Tiga hari setelah pertunjukan lawakan, istana masih bergemuruh dengan bisik-bisik tentang cerita-cerita Abu Nawas. Para pejabat tidak membicarakan hal lain. Di setiap sudut, di setiap koridor, di setiap ruang pertemuan, yang dibicarakan hanyalah satu hal: pejabat dengan tangan panjang, saudagar dengan dompet membesar, panglima yang menangis di malam hari.

“Kau dengar cerita Abu Nawas?”

“Siapa yang tidak mendengar? Seluruh istana mendengar.”

“Kau pikir itu tentang siapa?”

“Entahlah. Tapi yang jelas, beberapa orang di istana ini terlihat sangat tidak nyaman setelah pertunjukan itu.”

“Siapa?”

“Kau tidak lihat Umar? Wajahnya pucat seperti mayat. Dan Hakim? Dia tidak berhenti mengusap keringat sepanjang malam. Dan Farhan…”

“Farhan bagaimana?”

“Farhan… Farhan diam. Tapi matanya. Matanya seperti orang yang baru saja melihat hantu.”

Bisik-bisik itu sampai ke telinga Abu Nawas, tentu saja. Abu Nawas mendengar semuanya dari tempat duduknya di depan ruang cermin, dengan mangkuk kurma di pangkuannya dan segelas air tajin di sampingnya. Ia tersenyum mendengar bisik-bisik itu, tetapi ia tidak terburu-buru. Ia tahu bahwa benih yang ia tanam sudah mulai tumbuh. Sekarang, ia hanya perlu menunggu. Menunggu sampai buahnya matang. Menunggu sampai orang-orang itu sendiri yang datang, tanpa dipaksa, tanpa didesak, karena hati mereka sendiri yang tidak bisa lagi menahan beban.

Dan pada malam ketiga setelah pertunjukan, sesuatu terjadi.


Abu Nawas sedang duduk di Kedai Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan, menikmati semangkuk bubur kacang hijau hangat yang baru saja ia pesan, ketika seseorang duduk di hadapannya.

Ia mengangkat kepalanya, dan hampir menjatuhkan mangkuk buburnya.

Di hadapannya duduk Panglima Farhan al-Tamimi, dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, tanpa pedang, tanpa jubah militer. Ia hanya mengenakan jubah katun putih sederhana, seperti yang dikenakan oleh petani atau nelayan. Wajahnya yang keras tampak lebih lembut dalam cahaya lampu minyak yang redup, dan matanya—matanya yang dulu selalu tajam dan penuh kewaspadaan—kini sayu, seperti mata orang yang sudah lama tidak tidur.

“Panglima,” kata Abu Nawas setelah keterkejutannya mereda, “apa yang membawa Panglima ke tempat yang tidak layak ini? Kedai ini terlalu kotor untuk seorang panglima perang.”

Farhan tersenyum—senyum yang aneh, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan di istana, senyum yang membuatnya terlihat seperti manusia biasa, bukan pahlawan perang.

“Abu Nawas,” katanya, suaranya rendah dan berat, “aku sudah tidak lagi menjadi panglima. Mulai hari ini, aku hanya Farhan. Farhan dari desa kecil di utara, yang ingin pulang.”

Abu Nawas meletakkan sendoknya. Ia menatap Farhan dengan mata yang serius. “Apa maksud Panglima?”

“Aku sudah menghadap Baginda Raja sore tadi,” kata Farhan. “Aku meletakkan pedangku di kakinya. Aku meminta izin untuk melepaskan semua jabatanku. Aku meminta izin untuk pulang ke desaku. Untuk menjadi petani. Untuk… menjadi manusia.”

Abu Nawas terdiam. Ia mengambil kurma dari sakunya, memutarnya di antara jari-jarinya, tetapi tidak memasukkannya ke mulut.

“Apa kata Baginda Raja?” tanyanya.

Farhan menghela napas panjang. “Baginda Raja menatapku lama. Sangat lama. Aku pikir ia akan marah. Aku pikir ia akan mengatakan bahwa aku pengecut. Tapi ia tidak. Ia hanya berkata, ‘Farhan, kau adalah prajurit yang paling berani. Bukan karena kau pernah menang dalam pertempuran, tetapi karena kau berani mengakui bahwa kau salah. Pergilah. Pulanglah. Jadilah manusia. Dan jadilah kepala desa di kampung halamanmu. Aku ingin kau melayani rakyat di sana, bukan dengan pedang, tetapi dengan hati.’”

Air mata Farhan jatuh. Jatuh ke meja kayu yang kotor, ke mangkuk bubur Abu Nawas yang masih setengah, ke tangannya yang dulu hanya memegang pedang.

“Abu Nawas,” katanya, suaranya parau, “aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi manusia yang baik. Aku sudah terlalu lama menjadi pedang. Aku sudah terlalu lama membunuh. Aku tidak tahu apakah aku masih punya hati.”

Abu Nawas meletakkan kurmanya. Ia meraih tangan Farhan—tangan yang kasar, tangan yang penuh bekas luka, tangan yang telah membunuh banyak orang—dan menggenggamnya dengan lembut.

“Panglima,” katanya, “Panglima punya hati. Panglima membuktikannya malam ini dengan datang ke sini. Panglima membuktikannya dengan meletakkan pedang. Panglima membuktikannya dengan menangis. Panglima punya hati, Panglima. Hati yang terluka, hati yang lelah, tetapi hati yang masih bisa merasakan. Dan hati seperti itu, Panglima, adalah hati yang bisa menjadi baik.”

Farhan menangis. Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan ayahnya. Ia menangis seperti prajurit yang kehilangan temannya di medan perang. Ia menangis untuk semua yang telah ia lakukan, dan untuk semua yang tidak pernah ia lakukan.

Abu Nawas membiarkannya menangis. Ia tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak mengatakan bahwa masa lalu bisa dilupakan. Ia hanya duduk di hadapannya, di kedai kotor di pinggiran Baghdad, dan membiarkan panglima perang yang paling ditakuti di kekhalifahan itu menjadi manusia untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun.

Ketika Farhan berhenti menangis, ia berdiri. Ia mengusap air matanya dengan lengan bajunya—gerakan yang kasar, tidak anggun, tetapi terasa lebih jujur dari semua penghormatan yang pernah ia terima di istana.

“Abu Nawas,” katanya, “aku akan pergi besok pagi. Sebelum matahari terbit. Aku akan berjalan kaki ke desaku. Tiga hari perjalanan. Aku ingin merasakan tanah di bawah kakiku. Aku ingin merasakan matahari di wajahku. Aku ingin… menjadi manusia.”

“Panglima,” kata Abu Nawas, “itu perjalanan yang panjang. Apakah Panglima tidak ingin menunggang kuda? Saya bisa meminjamkan kuda—eh, sebenarnya saya tidak punya kuda. Tapi saya bisa meminjam kuda dari Wazir Jafar. Jangan bilang ia tahu.”

Farhan tertawa—tertawa yang pertama kali dalam bertahun-tahun, tertawa yang keluar dari perutnya, tertawa yang membuat seluruh kedai menoleh.

“Abu Nawas,” katanya, “kau benar-benar gila. Tapi gila yang baik. Gila yang menyelamatkan.”

Ia berbalik, berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.

“Abu Nawas.”

“Ya, Panglima?”

“Jangan panggil aku Panglima lagi. Panggil aku Farhan. Farhan si petani. Farhan si manusia.”

Ia pergi, meninggalkan Abu Nawas yang duduk di bangkunya dengan senyum misterius.

Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan mengunyah dengan perlahan.

“Farhan si petani,” gumumnya. “Kedengarannya lebih baik daripada Farhan si panglima. Lebih baik daripada Farhan si pedang. Lebih baik daripada Farhan si pembunuh. Farhan si petani. Ya. Kedengarannya seperti… manusia.”


BAB 8: PENGADILAN DI HADAPAN RAJA

Keesokan paginya, Farhan sudah pergi. Ia berjalan kaki meninggalkan Baghdad sebelum fajar, dengan hanya membawa sepotong roti dan sebotol air. Tidak ada yang mengantarnya. Tidak ada yang melihatnya pergi. Hanya Abu Nawas yang berdiri di gerbang kota, dengan mangkuk kurma di tangannya, menyaksikan bayangan lelaki kekar itu menghilang di balik bukit pasir di timur.

“Selamat jalan, Farhan si petani,” gumam Abu Nawas. “Semoga tanah di desamu subur. Semoga hujan turun tepat waktu. Semoga anak-anak desamu tumbuh tanpa ketakutan. Semoga kau menemukan dirimu yang hilang di antara padi-padi yang kau tanam.”

Ia memakan kurma terakhir di mangkuknya, membalikkan badan, dan berjalan kembali ke istana. Hari itu, ia mendengar kabar bahwa Umar dan Hakim juga telah menghadap Baginda Raja.


Umar masuk ke ruang pertemuan pribadi Baginda Raja dengan langkah yang berat tetapi mantap. Ia tidak lagi memakai jubah sutra mahal yang biasa ia kenakan. Ia hanya mengenakan jubah katun putih sederhana, seperti yang dikenakan oleh para juru tulis rendahan. Di tangannya, ia membawa setumpuk dokumen yang sudah menguning—catatan lengkap tentang semua yang telah ia ambil selama lima tahun terakhir.

Ia berlutut di hadapan Baginda Raja, meletakkan dokumen-dokumen itu di lantai marmer di depannya.

“Baginda,” katanya, suaranya bergetar tetapi jelas, “aku datang untuk mengaku. Selama lima tahun menjabat sebagai pejabat keuangan, aku telah mengurangi catatan pajak dan mengalihkan sebagian uang negara ke kantong pribadiku. Totalnya… totalnya adalah lima ribu dinar.”

Ia menunduk, dahinya menyentuh lantai marmer yang dingin.

“Aku tidak memohon ampun, Baginda. Aku hanya memohon kesempatan untuk memperbaiki. Aku akan mengembalikan semua yang telah kuambil. Aku akan menjual rumahku, tanahku, semua yang kumiliki. Aku akan bekerja sebagai juru tulis biasa, tanpa gaji, sampai hutangku lunas. Aku tidak pantas disebut pejabat. Aku tidak pantas berada di istana ini.”

Harun Al-Rasyid tidak mengatakan apa-apa. Ia mengambil dokumen-dokumen itu, membacanya satu per satu dengan saksama. Setiap angka, setiap tanggal, setiap transaksi. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang dimanipulasi. Semuanya jujur, untuk pertama kalinya dalam lima tahun.

“Umar,” katanya akhirnya, suaranya tenang tetapi berat, “lima ribu dinar. Itu cukup untuk membangun sepuluh jembatan. Atau menggali lima puluh sumur. Atau memberi makan seribu keluarga miskin selama setahun. Dan kau mengambilnya untuk dirimu sendiri. Untuk rumah besarmu. Untuk jubah sutramu. Untuk kuda-kuda mahalmu.”

Umar tidak mengangkat kepalanya. Air matanya menetes ke lantai marmer.

“Tapi,” lanjut Harun Al-Rasyid, “kau mengaku. Kau tidak dipaksa. Kau tidak disiksa. Kau datang sendiri, dengan catatan lengkap, dengan penyesalan yang tulus. Itu… itu adalah keberanian. Keberanian yang tidak dimiliki banyak orang.”

Ia meletakkan dokumen-dokumen itu di sampingnya, menatap Umar dengan mata yang tidak bisa dihindari.

“Aku tidak akan menghukummu dengan cambuk atau penjara. Karena kau telah menghukum dirimu sendiri lebih berat dari apa pun yang bisa aku lakukan. Tapi kau tidak bisa kembali menjadi pejabat. Bukan karena aku tidak memberi maaf, tetapi karena rakyat yang uangnya kau ambil berhak melihat bahwa keadilan ditegakkan. Kau akan bekerja sebagai juru tulis biasa di kantor keuangan. Tanpa jabatan, tanpa kekuasaan, tanpa gaji. Kau akan mencatat setiap koin yang masuk dan keluar, dan setiap bulan, laporannya akan kuperiksa sendiri. Jika dalam setahun kau tidak melakukan kesalahan, mungkin kau akan mendapat kepercayaan kembali. Mungkin.”

Umar menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Baginda. Aku tidak pantas.”

“Tidak ada yang pantas, Umar. Tapi Allah memberi kesempatan. Dan aku, sebagai pemimpin, juga memberi kesempatan. Gunakanlah.”


Hakim datang setelah Umar keluar. Ia juga tidak lagi memakai jubah sutra mahalnya. Ia hanya mengenakan jubah katun kasar, seperti yang dikenakan oleh para petani di desanya. Tubuhnya yang gemuk tampak lebih kecil dari biasanya, seperti balon yang kempes. Di tangannya, ia membawa sebuah buku tebal dengan sampul kulit yang sudah lusuh—catatan lengkap tentang semua yang telah ia ambil selama bertahun-tahun.

Ia berlutut di hadapan Baginda Raja, meletakkan buku itu di lantai marmer.

“Baginda,” katanya, suaranya parau, “aku juga datang untuk mengaku. Aku telah memanipulasi laporan pajak dari provinsi selatan. Aku telah mengambil keuntungan yang tidak seharusnya. Aku telah menggunakan kekuasaanku untuk memperkaya diri sendiri. Totalnya… totalnya adalah sepuluh ribu dinar.”

Ia menunduk, dahinya menyentuh lantai marmer.

“Aku akan mengembalikan semuanya, Baginda. Aku akan menjual semua permata, semua rumah, semua tanah. Aku akan kembali ke desaku dan menjadi petani. Aku tidak pantas menjadi pejabat. Aku tidak pantas berada di istana ini.”

Harun Al-Rasyid mengambil buku itu, membukanya, dan membaca. Halaman demi halaman, angka demi angka, tahun demi tahun. Sepuluh ribu dinar. Sepuluh kali lipat dari yang diambil Umar. Cukup untuk membangun seratus jembatan. Cukup untuk menggali lima ratus sumur. Cukup untuk memberi makan sepuluh ribu keluarga miskin selama setahun.

“Hakim,” katanya, suaranya dingin, “sepuluh ribu dinar. Itu adalah jumlah yang sangat besar. Itu adalah uang rakyat. Uang yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan mereka. Dan kau mengambilnya untuk koleksi permata. Untuk rumah sebesar istana. Untuk kolam ikan dengan ikan mas dari Cina.”

Hakim tidak mengangkat kepalanya. Air matanya mengalir deras.

“Tapi,” lanjut Harun Al-Rasyid, suaranya sedikit melunak, “kau juga mengaku. Kau juga datang sendiri. Kau juga membawa catatan lengkap. Itu juga keberanian.”

Ia meletakkan buku itu di sampingnya.

“Aku tidak akan menghukummu dengan cambuk atau penjara. Tapi kau tidak bisa lagi tinggal di Baghdad. Kau akan kembali ke provinsi selatan, ke desa tempat kakekmu berasal. Kau akan tinggal di sana sebagai petani. Kau akan merasakan bagaimana rasanya menjadi rakyat yang uangnya kau ambil. Kau akan membangun irigasi dengan tanganmu sendiri. Kau akan menanam padi dengan keringatmu sendiri. Kau akan merasakan lapar ketika panen gagal. Dan kau akan merasakan syukur ketika hujan turun.”

Ia menatap Hakim dengan mata yang tajam.

“Jika dalam setahun kau bisa bertahan. Jika dalam setahun kau tidak kembali ke kemewahan. Jika dalam setahun kau menjadi manusia yang lebih baik. Mungkin… mungkin kau akan mendapat maaf. Bukan dariku, tetapi dari rakyat yang pernah kau rugikan.”

Hakim menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Baginda. Aku akan berusaha menjadi lebih baik.”


BAB 9: KEADILAN TANPA HUKUMAN

Setelah Umar dan Hakim keluar, Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan wajah yang lelah. Ia menatap dokumen-dokumen yang terbentang di hadapannya—catatan pengakuan dari dua orang yang pernah ia percaya, yang pernah ia anggap sebagai pejabat teladan, yang ternyata telah mengkhianati kepercayaannya selama bertahun-tahun.

Ia memanggil Jafar.

“Jafar,” katanya, “panggil Abu Nawas.”


Abu Nawas datang dengan langkah santai seperti biasa, tetapi kali ini, ia tidak membawa kurma. Ia tidak membawa apa-apa. Hanya dirinya sendiri, dengan jubah lusuh yang sudah menjadi ciri khasnya, dan senyum misterius yang tidak pernah lepas dari wajahnya.

Ia berlutut di hadapan Baginda Raja, tetapi Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat tangannya sebelum ia sempat bersujud.

“Abu Nawas,” katanya, “duduklah. Kali ini, aku tidak ingin kau bersujud. Aku ingin kau duduk di sini, di hadapanku, seperti seorang teman duduk di hadapan temannya.”

Abu Nawas mengangkat alis, tetapi ia tidak membantah. Ia duduk bersila di lantai marmer, tepat di hadapan Baginda Raja. Jafar yang berdiri di samping, hampir pingsan melihat keberanian Abu Nawas—duduk di hadapan raja tanpa izin? Itu adalah pelanggaran yang bisa dihukum mati. Tapi Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak marah. Ia hanya tersenyum.

“Abu Nawas,” katanya, “Umar sudah mengaku. Hakim sudah mengaku. Farhan sudah pergi. Cermin itu… cermin itu sudah tidak retak lagi.”

Abu Nawas tidak menjawab. Ia hanya menatap Baginda Raja dengan mata yang tenang.

“Kau tahu,” lanjut Baginda Raja Harun Al-Rasyid, “aku sudah mencoba segalanya. Aku sudah mengirim mata-mata. Aku sudah memeriksa laporan keuangan. Aku sudah menginterogasi para pejabat. Tidak ada yang berhasil. Tidak ada yang mau mengaku. Mereka semua berpura-pura suci, berpura-pura jujur, berpura-pura tidak bersalah. Tapi kau… kau hanya dengan cermin palsu, dengan cerita-cerita lucu, dengan tawa… kau membuat mereka mengaku. Mereka datang sendiri. Mereka menangis sendiri. Mereka memperbaiki diri sendiri. Bagaimana kau melakukannya?”

Abu Nawas mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kurma. Kurma Sukkari yang ia simpan sejak pagi. Ia memutarnya di antara jari-jarinya, seperti seorang pesulap memutar koin.

“Baginda,” katanya, “saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya membuat mereka melihat diri mereka sendiri. Cermin itu, baik yang asli maupun yang palsu, hanyalah alat. Yang sebenarnya adalah… mereka sudah tahu. Mereka sudah tahu sejak lama bahwa mereka salah. Umar tahu bahwa mengambil uang negara adalah dosa. Hakim tahu bahwa memperkaya diri dari pajak rakyat adalah kejahatan. Farhan tahu bahwa menjadi alat tanpa hati nurani adalah pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Mereka sudah tahu. Tapi mereka tidak punya keberanian untuk mengaku. Mereka butuh… dorongan. Dorongan yang lembut. Dorongan yang tidak menyakitkan. Dorongan yang datang dalam bentuk tawa, bukan dalam bentuk ancaman.”

Ia memasukkan kurma ke mulutnya, mengunyah perlahan.

“Tawa adalah senjata paling ampuh, Baginda. Ketika orang tertawa, pertahanan mereka turun. Ketika pertahanan mereka turun, kebenaran bisa masuk. Saya membuat mereka tertawa dengan cerita-cerita tentang pejabat yang takut bercermin. Dan di balik tawa itu, mereka sadar bahwa cerita itu adalah tentang mereka. Dan ketika mereka sadar, mereka tidak bisa lagi berlari. Mereka harus menghadapi diri mereka sendiri.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia merenungkan kata-kata Abu Nawas. Kata-kata yang sederhana, tetapi dalam. Kata-kata yang tidak pernah terpikirkan olehnya, meskipun ia telah menjadi raja selama puluhan tahun.

“Abu Nawas,” katanya akhirnya, “aku sudah mencoba dengan kemarahan, dengan ancaman, dengan hukuman. Tapi tidak ada yang berhasil seperti ini. Kau membuat mereka mengaku tanpa aku perlu mengangkat pedang. Kau membuat mereka sadar tanpa aku perlu membentak. Kau… kau mengajarkanku sesuatu yang tidak diajarkan oleh para menteri, para ulama, atau para filsuf. Kau mengajarkanku bahwa keadilan tidak harus kejam. Bahwa kebenaran tidak harus menyakitkan. Bahwa tawa bisa menjadi alat yang lebih ampuh daripada pedang.”

Abu Nawas mengambil kurma lain dari sakunya. “Baginda, saya hanya seorang pelawak yang suka kurma. Saya tidak mengajarkan apa pun. Saya hanya… tertawa. Dan membiarkan orang lain tertawa. Dan di sela-sela tawa itu, kadang-kadang, kebenaran muncul dengan sendirinya.”

Harun Al-Rasyid tertawa. Tawa yang keras, tawa yang bebas, tawa yang sudah lama tidak terdengar di ruangan ini.

“Kau benar, Abu Nawas. Kau benar. Kau hanya pelawak yang suka kurma. Tapi pelawak yang suka kurma ini telah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh seribu tentara, seratus hakim, atau sepuluh wazir. Kau telah membersihkan istanaku dari kebusukan tanpa perlu menumpahkan darah. Kau telah mengembalikan kejujuran tanpa perlu menyiksa siapa pun. Kau telah…”

Ia berhenti, mencari kata yang tepat.

“…kau telah menjadi cermin. Cermin yang tidak pernah berbohong. Cermin yang menampakkan kebenaran tanpa menghakimi. Cermin yang membuat orang berani melihat dirinya sendiri.”

Abu Nawas tersenyum. “Baginda, cermin itu bukan saya. Cermin itu adalah hati mereka sendiri. Saya hanya… membantu mereka membukanya. Sedikit.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri, berjalan ke jendela, menatap langit Baghdad yang cerah. Di kejauhan, di balik tembok istana, ia bisa melihat pasar-pasar yang ramai, rumah-rumah penduduk, menara-menara masjid. Rakyatnya. Rakyat yang selama ini ia lindungi, tetapi juga rakyat yang uangnya diambil oleh orang-orang yang ia percaya.

“Abu Nawas,” katanya tanpa berbalik, “cermin itu. Cermin tua di ruang Al-Mir’ah al-Qadimah. Apakah benar-benar ajaib?”

Abu Nawas mengambil kurma ketiga dari sakunya. “Cermin itu, Baginda, hanyalah cermin biasa. Tidak ada yang ajaib. Retaknya juga bukan karena tidak tahan menyimpan kebohongan. Retaknya terjadi karena… seseorang menggaruknya dengan kuku.”

Harun Al-Rasyid berbalik dengan cepat. “Apa?”

“Saya menemukan goresan di bagian bawah bingkai, Baginda. Goresan baru. Serbuk kayunya masih segar. Seseorang sengaja menggaruk cermin itu untuk membuatnya retak. Mungkin karena ia ingin menciptakan kepanikan. Mungkin karena ia ingin sesuatu terjadi. Mungkin karena ia ingin… kebenaran terungkap.”

“Siapa yang melakukannya?”

Abu Nawas menghela napas. “Saya tidak tahu, Baginda. Tapi saya punya dugaan.”

“Siapa?”

“Orang yang paling diuntungkan dari semua ini, Baginda. Orang yang paling ingin agar kebenaran di istana terungkap. Orang yang paling menderita melihat ketidakjujuran di sekelilingnya. Orang yang… sudah pernah melakukan hal serupa sebelumnya.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Matanya menyipit. Kemudian, perlahan, ia tersenyum.

“Al-Ma’mun,” katanya.

Abu Nawas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid menggelengkan kepala, setengah marah setengah kagum. “Anak itu… lagi-lagi anak itu. Pertama mencuri mahkota, sekarang menggaruk cermin. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Menyulut api di dapur istana? Meracuni kolam ikan? Mencuri sandalku?”

Abu Nawas tertawa. “Mungkin, Baginda, Yang Mulia Pangeran hanya ingin ayahandanya melihat. Melihat apa yang selama ini tidak dilihat. Seperti yang ia lakukan dengan mahkota, seperti yang ia lakukan dengan cermin. Cara yang salah, tetapi tujuannya benar.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berjalan ke singgasananya, duduk dengan berat. Wajahnya tidak lagi marah. Yang ada adalah kelelahan, tetapi juga kelegaan. Kelelahan seorang ayah yang tahu bahwa anaknya nakal, tetapi kelegaan karena tahu bahwa anaknya nakal untuk tujuan yang benar.

“Panggil Al-Ma’mun,” katanya.


Beberapa saat kemudian, Al-Ma’mun masuk. Ia masih mengenakan jubah sederhana yang biasa ia pakai sejak dihukum menjadi pengawas pasar. Wajahnya lebih kecokelatan karena sering berada di bawah matahari, dan tangannya lebih kasar karena terbiasa bekerja dengan rakyat. Tapi matanya—matanya yang dalam dan tajam—masih sama seperti dulu. Mata seorang yang tidak pernah puas dengan ketidakadilan. Mata seorang yang selalu mencari kebenaran.

Ia berlutut di hadapan ayahnya. “Ayahanda memanggilku?”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap putranya lama. Matanya tidak marah, tetapi juga tidak lembut. Ada sesuatu di antara keduanya. Sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Anakku,” katanya, “kau tahu tentang cermin yang retak?”

Al-Ma’mun tidak berubah ekspresi. “Aku dengar, Ayahanda.”

“Kau tahu mengapa cermin itu retak?”

Al-Ma’mun terdiam sejenak. Kemudian, perlahan, ia mengangguk.

“Aku yang menggaruknya, Ayahanda.”

Ruangan itu sunyi. Abu Nawas yang duduk di sudut tidak bergerak. Jafar yang berdiri di samping Baginda Raja menutup mulutnya dengan tangan.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas panjang. Napas yang keluar dari dadanya seperti angin yang membawa beban bertahun-tahun.

“Mengapa?”

Al-Ma’mun mengangkat kepalanya, menatap ayahnya dengan mata yang jujur. Mata yang tidak takut, tidak menyesal, tetapi juga tidak sombong. Mata yang hanya ingin mengatakan kebenaran.

“Karena aku lelah, Ayahanda. Lelah melihat pejabat-pejabat yang korupsi, yang memperkaya diri sendiri dari uang rakyat, yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri. Aku lelah melihat Ayahanda terlalu sibuk dengan kemewahan sehingga tidak melihat apa yang terjadi di bawah hidung Ayahanda sendiri.”

Suaranya bergetar, tetapi ia melanjutkan.

“Aku sudah mencoba dengan mahkota, Ayahanda. Aku pikir dengan membuat Ayahanda panik, Ayahanda akan melihat. Dan Ayahanda memang melihat. Ayahanda melihat bahwa ada yang salah di istana ini. Ayahanda memanggil Abu Nawas. Ayahanda mulai menyelidiki. Tapi setelah mahkota ditemukan, setelah Al-Ma’mun dihukum menjadi pengawas pasar, semuanya kembali seperti semula. Pejabat-pejabat itu kembali korupsi. Mereka hanya lebih hati-hati. Mereka tidak takut lagi. Mereka tahu bahwa Ayahanda tidak akan melihat selama tidak ada yang hilang.”

Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat kepalanya lagi.

“Maka aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Sesuatu yang akan membuat semua orang takut. Bukan hanya Ayahanda. Tapi semua orang. Para pejabat, para menteri, para komandan. Semua orang. Aku menggaruk cermin itu. Aku menyebarkan desas-desus bahwa cermin itu retak karena tidak tahan menyimpan kebohongan. Aku membuat semua orang gelisah. Aku membuat mereka takut bahwa rahasia mereka akan terbongkar. Dan ketika mereka takut, mereka mulai berbisik. Mereka mulai saling curiga. Mereka mulai… sadar.”

Ia menunduk.

“Aku tahu ini salah, Ayahanda. Aku tahu aku tidak seharusnya melakukan ini. Tapi aku tidak tahu cara lain. Aku sudah mencoba berbicara, menulis surat, meminta pertemuan. Tidak ada yang berhasil. Satu-satunya cara yang berhasil adalah… ketika orang takut. Ketika mereka takut kehilangan apa yang mereka miliki. Ketika mereka takut rahasia mereka terbongkar. Ketika mereka takut… melihat diri mereka sendiri.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri. Ia berjalan mendekati putranya, dan untuk sesaat, Abu Nawas berpikir Baginda Raja akan marah. Tapi Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak marah.

Ia berlutut di hadapan putranya.

Semua orang di ruangan itu terkejut. Jafar hampir pingsan. Abu Nawas berhenti mengunyah kurmanya. Para pengawal di pintu saling berpandangan dengan mata terbelalak.

Seorang raja berlutut di hadapan putranya. Seorang Baginda Raja, Amirul Mukminin, Pemimpin Orang-Orang Beriman, berlutut di hadapan anaknya sendiri.

Harun Al-Rasyid meraih kedua tangan Al-Ma’mun, tangan yang kasar karena bekerja di pasar, tangan yang tidak lagi mulus seperti tangan seorang pangeran. Ia menatap mata putranya, mata yang jujur, mata yang tidak takut.

“Anakku,” katanya, suaranya lembut, suara yang tidak pernah ia gunakan di depan siapa pun selain istrinya, “maafkan ayahandamu. Maafkan ayahanda yang terlalu sibuk sehingga tidak melihat apa yang kau lihat. Maafkan ayahanda yang membuatmu merasa bahwa satu-satunya cara untuk didengar adalah dengan cara-cara seperti ini. Maafkan ayahanda yang… gagal menjadi ayah yang baik.”

Al-Ma’mun terkejut. Matanya membesar. Air matanya jatuh.

“Ayahanda… tidak perlu meminta maaf. Akulah yang salah. Akulah yang mengambil mahkota. Akulah yang menggaruk cermin. Akulah yang membuat kekacauan di istana. Akulah yang—”

“Kita berdua salah, anakku,” potong Baginda Raja Harun Al-Rasyid. “Kau salah karena memilih cara yang tidak tepat. Aku salah karena membuatmu merasa tidak punya cara lain. Tapi mulai sekarang, kita akan belajar bersama. Kau akan terus menjadi pengawas pasar. Kau akan terus tinggal di antara rakyat. Tapi setiap pekan, kau akan datang ke istana, bukan hanya untuk melapor, tetapi untuk duduk bersamaku, berbicara denganku, memberitahuku apa yang kau lihat. Dan aku akan mendengarkan. Sungguh-sungguh mendengarkan. Bukan sebagai raja kepada rakyatnya, tetapi sebagai ayah kepada anaknya.”

Al-Ma’mun menangis. Ia memeluk ayahnya, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Harun Al-Rasyid merasakan pelukan putranya yang tulus. Bukan pelukan seorang pangeran kepada rajanya. Tapi pelukan seorang anak kepada ayahnya.

Abu Nawas yang duduk di sudut, dengan mata berkaca-kaca, mengambil kurma dan memasukkannya ke mulut untuk menyembunyikan emosinya.

“Baginda,” katanya setelah menelan kurma, suaranya sedikit serak karena menahan tangis, “saya rasa cermin itu sudah tidak retak lagi.”

Harun Al-Rasyid melepaskan pelukannya, menoleh ke arah Abu Nawas dengan mata yang masih basah. “Apa maksudmu?”

Abu Nawas berdiri, merapikan jubahnya yang lusuh, dan tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang tidak main-main, senyum yang membuat semua orang yang melihatnya merasakan kehangatan di dada.

“Cermin yang sebenarnya, Baginda, bukanlah yang tergantung di dinding. Cermin yang sebenarnya adalah yang ada di dalam hati. Dan hati Baginda, hati Yang Mulia Pangeran, hati Umar yang sekarang bekerja sebagai juru tulis, hati Hakim yang sekarang menjadi petani, hati Farhan yang sekarang menanam padi… hati mereka semua, saat ini, saya rasa, sudah tidak retak lagi.”

Baguinda Raja Harun Al-Rasyid menatap Abu Nawas lama. Kemudian ia tertawa. Tawa yang keras, tawa yang bebas, tawa yang menggema di seluruh ruangan, tawa yang membuat para pengawal di pintu tersenyum, tawa yang membuat Jafar menghela napas lega, tawa yang membuat Al-Ma’mun tersenyum di sela-sela air matanya.

“Abu Nawas,” katanya di sela tawa, “kau benar-benar gila. Tapi gila yang baik. Gila yang menyelamatkan. Gila yang… membuatku sadar bahwa menjadi raja tidak berarti aku selalu benar. Bahwa menjadi ayah tidak berarti aku selalu tahu yang terbaik. Bahwa kadang-kadang, orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling sederhana. Orang yang paling jujur adalah orang yang paling banyak tertawa.”

Abu Nawas membungkuk, dalam-dalam. “Baginda terlalu baik. Saya hanya seorang pelawak yang suka kurma.”

“Dan pelawak yang suka kurma ini,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid sambil berdiri dan berjalan kembali ke singgasananya, “telah melakukan lebih banyak untuk istana ini daripada semua menteriku. Mulai hari ini, kau akan mendapat jatah kurma Sukkari dari kebun pribadiku setiap minggu. Seumur hidupmu.”

Abu Nawas matanya berbinar. “Baginda, itu lebih berharga dari pada emas.”


BAB 10: CERMIN DALAM DIRI

Tiga bulan kemudian, Baghdad seperti biasa ramai dengan aktivitasnya. Pedagang-pedagang dari berbagai negeri memadati pasar-pasar, menawarkan barang-barang dari Hind, Cina, Romawi, dan Afrika. Kapal-kapal berlabuh di pelabuhan Tigris, membawa rempah-rempah, sutra, dan permata. Para ilmuwan berkumpul di Baitul Hikmah, menerjemahkan buku-buku dari Yunani dan Persia. Penyair-penyair berlomba menciptakan syair-syair terindah untuk dibacakan di istana.

Namun ada yang berbeda di Baghdad. Sesuatu yang tidak terlihat, tidak terdengar, tetapi bisa dirasakan. Sesuatu yang seperti angin sejuk di tengah panasnya gurun. Sesuatu yang seperti air di tengah dahaga. Sesuatu yang seperti… kejujuran.


Umar bekerja sebagai juru tulis biasa di kantor keuangan. Setiap pagi, ia datang lebih awal dari semua orang, membuka lemari dokumen, dan mulai mencatat. Tangannya tidak lagi gemetar. Dahinya tidak lagi berkeringat. Ia bekerja dengan tenang, dengan ketelitian yang sama seperti dulu, tetapi sekarang ketelitian itu tidak lagi digunakan untuk menyembunyikan, tetapi untuk melayani.

Setiap bulan, laporannya sampai ke meja Baginda Raja. Dan setiap bulan, Harun Al-Rasyid membaca laporan itu dengan saksama, dan selalu menemukan bahwa tidak ada satu pun kesalahan. Angka-angka itu jujur. Catatan-catatan itu bersih. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang dimanipulasi. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, laporan keuangan istana benar-benar mencerminkan kenyataan.

Suatu hari, ketika Abu Nawas berkunjung ke kantor keuangan untuk mengambil jatah kurma mingguannya—ia selalu mengambil sendiri, karena katanya, “jika kukirim utusan, kurmanya bisa habis di perjalanan”—ia melihat Umar sedang mencatat dengan tekun.

“Tuan Umar,” sapa Abu Nawas dari pintu, “selamat pagi. Apakah Tuan tidak lelah bekerja sekeras ini? Katanya, juru tulis biasa tidak perlu datang sepagi ini.”

Umar mengangkat kepalanya, tersenyum. Senyum yang berbeda dari senyum yang dulu selalu ia tunjukkan. Senyum yang dulu adalah topeng, senyum yang sekarang adalah kebenaran.

“Abu Nawas,” katanya, “aku tidak lelah. Aku merasa… ringan. Seperti beban yang selama ini kupikul, akhirnya terangkat. Aku tidak perlu lagi menyembunyikan. Aku tidak perlu lagi berbohong. Aku tidak perlu lagi takut. Aku hanya… bekerja. Bekerja dengan jujur. Dan itu… itu adalah kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan selama lima tahun menjadi pejabat.”

Abu Nawas mengambil kursi, duduk di hadapan Umar, dan mengambil kurma dari saku jubahnya. “Tuan Umar, apakah Tuan tidak menyesal? Kehilangan jabatan, kehilangan kekayaan, kehilangan rumah besar?”

Umar meletakkan penanya, menatap Abu Nawas dengan mata yang jernih. “Abu Nawas, aku dulu punya rumah besar. Rumah dengan halaman luas, kolam ikan, taman bunga. Tapi aku tidak pernah bahagia di sana. Setiap malam, aku terjaga, memikirkan apakah ada yang tahu. Setiap pagi, aku melihat cermin, dan yang kulihat bukan wajahku, tetapi tangan panjang penuh emas. Sekarang, aku tinggal di kamar kecil di barak. Hanya satu ruangan, dengan tempat tidur sederhana dan meja kayu untuk bekerja. Tapi setiap malam, aku tidur nyenyak. Setiap pagi, aku melihat cermin, dan yang kulihat adalah wajahku sendiri. Wajah tua yang keriput, tetapi jujur. Dan itu, Abu Nawas, adalah kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan emas.”

Abu Nawas tersenyum. “Tuan Umar, Tuan lebih bijaksana dari yang saya kira.”

“Aku belajar dari cermin, Abu Nawas. Cermin yang retak itu. Cermin yang mengajarkanku bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada bisa melihat dirimu sendiri tanpa rasa takut.”


Hakim tinggal di sebuah desa kecil di provinsi selatan. Ia menjual semua rumah dan permata dan kudanya, dan menggunakan uangnya untuk membangun irigasi di desa itu. Ia tinggal di rumah sederhana dari bambu, makan makanan yang sama dengan para petani, dan bekerja di sawah bersama mereka.

Tubuhnya yang gemuk mulai kurus. Kulitnya yang putih mulai gelap karena terik matahari. Tangannya yang dulu hanya memegang pena dan permata, kini penuh kapalan karena memegang cangkul dan menanam padi. Tapi matanya—matanya yang dulu selalu waspada dan penuh ketakutan—kini tenang. Matanya yang dulu selalu melihat ke bawah, takut bertemu dengan mata orang lain, kini menatap lurus ke depan, berani, jujur.

Ia sering menulis surat kepada Abu Nawas. Surat-surat itu tidak pernah berisi keluhan. Yang ada hanyalah cerita tentang panen, tentang hujan, tentang anak-anak desa yang mulai bisa membaca karena ia mengajari mereka, tentang sumur baru yang berhasil digali, tentang jembatan yang dibangun dengan gotong royong.

Di akhir surat, ia selalu menulis: “Abu Nawas, kemarin aku melihat cermin. Cermin kecil dari kaca yang kubeli di pasar. Dan yang kulihat bukan dompet besar yang menutupi tubuhku. Yang kulihat adalah wajahku. Wajah tua yang kecokelatan karena matahari. Wajah dengan kerutan di dahi karena banyak berpikir. Wajah dengan bekas luka di pipi karena terkena duri padi. Wajah yang… bahagia. Terima kasih, Abu Nawas. Cermin itu menyelamatkanku.”

Abu Nawas selalu membalas surat Hakim dengan surat yang lebih pendek, karena ia malas menulis. Biasanya hanya satu kalimat: “Tuan Hakim, jangan lupa menanam kurma. Saya butuh kurma gratis ketika saya berkunjung nanti.”

Tapi suatu hari, ia menulis lebih panjang: “Tuan Hakim, wajah yang kecokelatan karena matahari lebih jujur daripada wajah yang putih karena bedak. Kerutan karena berpikir lebih indah daripada kerutan karena takut. Bekas luka karena duri padi lebih mulia daripada bekas luka karena permata yang jatuh. Tuan Hakim, Tuan tidak perlu bercermin lagi. Karena Tuan sendiri adalah cermin. Cermin bagi desa itu. Cermin bagi anak-anak yang belajar membaca. Cermin bagi petani yang panennya melimpah. Tuan adalah cermin kejujuran, Hakim. Dan itu lebih berharga dari semua permata yang pernah Tuan miliki.”


Farhan menjadi kepala desa di kampung halamannya. Ia tidak lagi memegang pedang. Tangan yang dulu terbiasa menghunus senjata kini terbiasa memegang cangkul. Ia membangun sekolah dengan tangannya sendiri, mengumpulkan kayu dari hutan, memotongnya, menyusunnya, hingga berdiri sebuah bangunan sederhana dengan atap rumbia.

Ia menjadi guru di sekolah itu. Ia mengajar anak-anak desa membaca dan menulis. Ia tidak punya buku, jadi ia menulis di daun-daun lontar dengan arang. Ia tidak punya papan tulis, jadi ia menggunakan tanah di halaman sekolah sebagai tempat menulis.

Ia membangun sumur bersama para petani. Ia turun ke dalam tanah, menggali dengan tangannya sendiri, mengangkat tanah dengan keranjang bambu. Ketika air akhirnya keluar, ia menangis. Ia menangis seperti ketika ia menangis di hadapan cermin palsu itu. Tapi kali ini, air matanya bukan air mata penyesalan. Air mata syukur. Air mata kebahagiaan.

Ia menjadi khatib di masjid desa setiap Jumat. Ia tidak berkhotbah tentang perang, tentang kemenangan, tentang kejayaan. Ia berkhotbah tentang perdamaian. Tentang merawat tanah. Tentang menyayangi sesama. Tentang menjadi manusia.

Setelah salat Jumat, ia selalu duduk di serambi masjid, ditemani oleh para petani tua, bercerita tentang masa lalunya. Ia tidak menyembunyikan bahwa ia pernah menjadi panglima perang. Ia tidak menyembunyikan bahwa ia pernah membunuh banyak orang. Ia menceritakannya dengan jujur, dengan air mata di matanya, dengan suara yang bergetar.

“Aku dulu adalah pedang,” katanya. “Pedang yang tajam, pedang yang mematikan, pedang yang tidak punya hati. Tapi sekarang, aku ingin menjadi manusia. Manusia yang menanam padi. Manusia yang mengajar anak-anak. Manusia yang membangun sumur. Manusia yang… pulang.”

Para petani mendengarkannya dengan hormat. Mereka tidak takut padanya. Mereka tidak membencinya. Mereka memaafkannya. Karena mereka melihat bahwa di balik tangan yang dulu memegang pedang, sekarang ada tangan yang membantu mereka mengangkat hasil panen. Di balik mata yang dulu tajam seperti elang, sekarang ada mata yang lembut seperti mata seorang kakek yang menyayangi cucunya.

Farhan tidak pernah lagi melihat bayangannya sendiri berlutut dan menangis. Yang ia lihat setiap pagi di cermin kecil di rumahnya adalah wajah seorang lelaki tua yang lelah tetapi tenang. Wajah dengan kerutan di dahi karena memikirkan irigasi. Wajah dengan bekas luka di pipi karena terkena duri padi. Wajah dengan senyum di bibir karena melihat anak-anak desa berlarian di halaman sekolah.

Wajah yang… manusia.


Al-Ma’mun masih menjadi pengawas pasar. Tapi sekarang, setiap pekan, ia duduk bersama ayahnya di ruang pribadi, berbicara tentang apa yang ia lihat di pasar, tentang keluhan rakyat, tentang harga-harga, tentang ketidakadilan yang masih terjadi.

Dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid mendengarkan. Sungguh-sungguh mendengarkan.

Ia tidak lagi menyela. Tidak lagi berkata, “Aku sudah tahu,” atau “Itu urusan menteri,” atau “Nanti, nanti, sekarang aku sedang membaca syair.” Ia duduk di singgasananya, dengan kedua tangan di pangkuan, dan mendengarkan putranya berbicara. Mendengarkan dengan telinga. Mendengarkan dengan hati.

Kadang-kadang, ketika Al-Ma’mun menceritakan tentang seorang petani yang kehilangan hasil panen karena banjir, atau seorang janda yang tidak bisa membayar pajak, atau seorang anak yatim yang kelaparan, Baginda Raja Harun Al-Rasyid akan menangis. Ia tidak malu menangis di hadapan putranya. Karena ia tahu bahwa air matanya adalah bukti bahwa ia masih punya hati. Bukti bahwa ia masih bisa merasakan penderitaan rakyatnya. Bukti bahwa ia tidak terlalu jauh dari mereka.

Kadang-kadang, di sela-sela percakapan mereka, Harun Al-Rasyid akan tertawa. Ia akan mengingat sesuatu yang dikatakan Abu Nawas, atau sesuatu yang dilakukan Al-Ma’mun, atau sesuatu yang lucu yang terjadi di pasar. Dan tawa itu akan menggema di ruangan pribadi itu, menghangatkan dinding-dinding yang biasanya dingin, menghangatkan hati-hati yang biasanya keras.

“Ayahanda,” kata Al-Ma’mun suatu hari, “aku ingin bertanya sesuatu.”

“Apa, anakku?”

“Apakah Ayahanda marah padaku? Karena aku menggaruk cermin itu?”

Harun Al-Rasyid menatap putranya lama. Matanya lembut.

“Awalnya, aku marah,” katanya jujur. “Aku pikir, anakku sudah gila. Pertama mencuri mahkota, sekarang menggaruk cermin. Apa selanjutnya? Mencuri kudaku? Meracuni makananku?”

Al-Ma’mun tersenyum canggung.

“Tapi kemudian,” lanjut Baginda Raja Harun Al-Rasyid, “aku berpikir. Mengapa ia melakukan itu? Mengapa ia mengambil risiko sebesar itu? Mengapa ia rela dihukum, dicaci, dibenci? Dan aku sadar. Ia melakukannya karena ia mencintai negeri ini. Karena ia tidak tahan melihat ketidakadilan. Karena ia ingin ayahandanya menjadi pemimpin yang lebih baik. Dan untuk itu, anakku…” ia meraih tangan Al-Ma’mun, “aku berterima kasih. Bukan sebagai raja kepada rakyatnya. Tapi sebagai ayah kepada anaknya.”

Al-Ma’mun menunduk, air matanya jatuh ke tangan ayahnya.

“Ayahanda… aku tidak pantas.”

“Tidak ada yang pantas, anakku. Tapi kita semua diberi kesempatan. Dan kau, Al-Ma’mun, telah menggunakan kesempatanmu dengan baik. Kau telah menjadi cermin bagi ayahandamu. Cermin yang membuat ayahanda melihat apa yang selama ini tidak dilihat. Cermin yang retak, tetapi memantulkan cahaya yang lebih indah.”


EPILOG: TAWA YANG MENYELAMATKAN KEADILAN

Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahaya keemasan menyinari Sungai Tigris, Abu Nawas duduk di Kedai Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan. Di depannya, segelas air tajin dingin, semangkok kurma Sukkari yang baru saja ia ambil dari istana—jatah mingguannya—dan sebotol kecil anggur yang ia sembunyikan di balik jubahnya, meskipun ia sudah berjanji pada Jafar untuk tidak minum anggur di tempat umum.

Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk tidak dikenali oleh pengunjung lain. Di samping Jafar, duduk seorang pemuda dengan jubah sederhana dan sorban putih—Al-Ma’mun, yang juga sedang berusaha tidak dikenali, meskipun wajahnya sudah mulai dikenal oleh para pedagang di pasar.

“Abu Nawas,” kata Jafar sambil menyesap air tajin yang ia pesan agar tidak mencolok, “aku masih penasaran dengan satu hal.”

Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan mengunyah dengan malas. “Apa, Wazirku yang mulia?”

“Cermin palsu yang kau buat. Yang kau gunakan untuk menguji Umar, Hakim, dan Farhan. Bagaimana cara kerjanya? Aku sudah bertanya pada Ustadz Salim, pandai kaca itu, tapi dia hanya tertawa dan berkata, ‘Tanya Abu Nawas sendiri.’”

Abu Nawas tersenyum misterius. Ia mengambil kurma lagi, memutarnya di antara jari-jarinya seperti pesulap memutar koin.

“Wazir,” katanya, “cermin itu sebenarnya sangat sederhana. Ustadz Salim membuat cermin dengan lapisan kaca yang sedikit melengkung. Di belakang kaca, ia memasang lembaran timah tipis yang dilapisi dengan campuran perak dan merkuri. Tapi yang membuatnya istimewa bukanlah cerminnya. Yang membuatnya istimewa adalah… orang yang bercermin.”

Jafar mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Cermin itu tidak ajaib, Wazir. Cermin itu hanya cermin biasa. Tapi ketika seseorang berdiri di hadapannya dengan hati yang penuh rasa bersalah, dengan pikiran yang penuh ketakutan, dengan jiwa yang penuh kebohongan… cermin itu akan menampilkan apa yang mereka takutkan. Bukan karena cerminnya yang ajaib, tetapi karena hati mereka sendiri yang menciptakan bayangan itu.”

Ia melemparkan kurma ke mulutnya.

“Umar melihat tangan penuh emas karena ia sudah bertahun-tahun membayangkan tangannya penuh emas. Setiap malam, ketika ia tidak bisa tidur, ia membayangkan tangannya sendiri, panjang, penuh emas curian. Jadi ketika ia berdiri di hadapan cermin, pikirannya yang sudah terlatih selama bertahun-tahun menciptakan bayangan itu. Cermin hanya… membantunya melihat.”

Jafar terdiam, mencerna kata-kata Abu Nawas.

“Hakim melihat dompet besar menutupi tubuhnya karena ia sudah bertahun-tahun membayangkan dirinya sebagai dompet berjalan. Setiap kali ia melihat cermin, yang ia lihat bukan wajahnya, tetapi kekayaannya. Jadi cermin itu hanya… menampilkan apa yang sudah ia lihat selama ini.”

“Dan Farhan?” tanya Al-Ma’mun, yang sejak tadi diam mendengarkan.

Abu Nawas tersenyum lembut. “Farhan tidak melihat tangan emas atau dompet besar. Ia melihat dirinya sendiri. Dan itulah yang paling menakutkan baginya. Karena selama tiga puluh tahun, ia telah berlari dari dirinya sendiri. Ia telah bersembunyi di balik pedang, di balik kemenangan, di balik kehormatan. Tapi ketika ia berdiri di hadapan cermin itu, ia tidak bisa lagi berlari. Ia harus melihat. Dan ketika ia melihat, ia menangis. Bukan karena cerminnya yang ajaib. Tapi karena hatinya yang sudah terlalu lama dipenjara, akhirnya bebas.”

Al-Ma’mun menatap Abu Nawas dengan mata yang berbeda. Mata yang tidak lagi melihatnya sebagai pelawak. Mata yang melihatnya sebagai… guru.

“Abu Nawas,” katanya, “kau lebih bijaksana dari yang kau tunjukkan. Semua orang mengira kau hanya pelawak. Tapi sebenarnya…”

“Sebenarnya aku hanyalah pelawak yang suka kurma,” potong Abu Nawas cepat, tersenyum lebar. “Jangan beri tahu siapa pun tentang kebijaksanaanku, Yang Mulia. Reputasi saya sebagai pemabuk bodoh sangat berharga. Tanpa itu, orang-orang akan mengharapkan terlalu banyak dariku. Mereka akan memintaku menyelesaikan semua masalah mereka. Mereka akan membuatku menjadi hakim, menjadi penasihat, menjadi pemecah masalah. Dan itu, Yang Mulia, adalah hukuman yang lebih berat daripada dipenggal kepalanya.”

Al-Ma’mun tertawa. Jafar tertawa. Bahkan Abu Nawas tertawa.

Di meja sebelah, seorang penjual minyak wangi yang gemuk sedang bercerita tentang keanehan di pasar, tentang seorang pangeran yang menyamar sebagai rakyat biasa, tentang seorang wazir yang diam-diam minum air tajin di kedai, dan tentang seorang pelawak yang mungkin adalah orang paling bijaksana di seluruh kekhalifahan.

Abu Nawas mendengar celoteh itu, dan tersenyum.

“Wahai saudaraku penjual minyak wangi,” katanya tanpa menoleh, “hati-hati dengan ceritamu. Cerita yang terlalu jujur bisa membuat cermin retak.”

Penjual minyak wangi itu terdiam, wajahnya memucat. Kemudian ia tertawa, dan semua orang di kedai itu ikut tertawa.


Di luar kedai, matahari mulai terbenam di ufuk barat, mencelupkan Sungai Tigris dalam warna jingga dan emas. Di kejauhan, dari arah istana, terdengar suara tawa Baginda Raja Harun Al-Rasyid—tawa yang bergema di senja Baghdad, tawa yang membawa kedamaian bagi kota yang selalu haus akan keadilan.

Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap air tajinnya, mengambil kurma terakhir di mangkuk, melemparkannya ke udara, dan menangkapnya dengan mulut.

“Cermin yang retak,” gumamnya sambil mengunyah, “kadang-kadang justru memantulkan cahaya yang lebih indah. Dan tawa, wahai para pejabat istana yang selalu gelisah, adalah cermin yang paling jujur. Karena tidak ada yang bisa berpura-pura tertawa selamanya. Pada akhirnya, tawa akan mengungkap siapa dirimu sebenarnya. Apakah kau tertawa karena bahagia, atau karena takut ketahuan? Apakah kau tertawa karena tulus, atau karena ingin menyenangkan raja? Apakah kau tertawa karena hatimu ringan, atau karena kau ingin melupakan bebanmu?”

Ia memanggil pelayan kedai.

“Nak, tambah kurma satu mangkuk. Dan air tajin satu gelas. Saya sedang merenungkan sesuatu yang sangat berat: apakah kurma Sukkari lebih enak dimakan dengan air tajin dingin atau dengan susu kambing hangat? Ini teka-teki yang tidak kalah pentingnya dari cermin retak di istana.”

Pelayan itu tertawa, bergegas mengambil pesanan.

Al-Ma’mun berdiri, merapikan jubahnya. “Abu Nawas, aku harus pergi. Besok pagi, aku harus ke pasar lebih awal. Ada laporan tentang harga gandum yang naik lagi.”

“Yang Mulia,” kata Abu Nawas, “jangan lupa untuk tertawa di pasar. Pedagang yang tertawa lebih mudah diajak berunding daripada pedagang yang cemberut.”

Al-Ma’mun tersenyum. “Aku akan ingat.”

Ia berjalan keluar, meninggalkan Abu Nawas dan Jafar yang masih duduk di bangku kayu yang agak miring itu.

Jafar menatap Abu Nawas dengan rasa hormat yang baru. “Abu Nawas, kau benar-benar luar biasa. Kau telah membersihkan istana dari korupsi tanpa perlu mengadili siapa pun. Kau telah membuat pejabat mengaku tanpa perlu menyiksa mereka. Kau telah membuat seorang pangeran sadar tanpa perlu menghukumnya. Kau telah… menyelamatkan kami semua.”

Abu Nawas mengambil kurma dari mangkuk baru yang dibawa pelayan, memutarnya di antara jari-jarinya.

“Wazir,” katanya, “aku tidak menyelamatkan siapa pun. Mereka yang menyelamatkan diri mereka sendiri. Aku hanya… membantu mereka melihat. Dan untuk bisa melihat, seseorang harus berani membuka mata. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Itu harus dilakukan sendiri.”

Ia melemparkan kurma ke mulutnya.

“Tapi, Wazir, ada satu hal yang ingin aku tanyakan.”

“Apa?”

“Cermin tua di ruang Al-Mir’ah al-Qadimah. Yang asli. Apakah sudah diperbaiki?”

Jafar menggeleng. “Belum. Masih retak. Ustadz Karim bilang, kaca itu tidak bisa diperbaiki. Harus diganti dengan yang baru.”

“Jangan diganti,” kata Abu Nawas. “Biarkan retak. Biarkan retakan itu menjadi pengingat. Pengingat bahwa kita pernah takut. Pengingat bahwa kita pernah menyembunyikan kebenaran. Pengingat bahwa kita pernah tidak tahan melihat diri kita sendiri. Dan semoga, pengingat itu akan membuat kita menjadi lebih baik.”

Jafar menatap Abu Nawas lama. “Kau benar, Abu Nawas. Retakan itu akan kita biarkan. Sebagai pengingat.”

Ia berdiri, merapikan jubahnya. “Aku harus kembali ke istana. Baginda Raja mungkin sudah menungguku. Ada laporan dari provinsi utara yang harus dibahas.”

“Wazir,” kata Abu Nawas, “sebelum Wazir pergi, satu pesan.”

“Apa?”

“Ketika Wazir melihat Baginda Raja, katakan padanya bahwa Abu Nawas berterima kasih atas kurma Sukkarinya. Dan katakan padanya bahwa Abu Nawas berjanji akan membuatnya tertawa lagi minggu depan. Dengan cerita baru. Cerita tentang seorang raja, seorang wazir, dan seekor keledai yang lebih pintar dari keduanya.”

Jafar tertawa. “Aku akan sampaikan. Tapi hati-hati, Abu Nawas. Cerita tentang keledai yang lebih pintar dari wazir bisa membuatmu kehilangan kepalamu.”

“Tidak akan, Wazir. Karena Baginda Raja sudah berjanji untuk tertawa setiap hari. Dan orang yang berjanji untuk tertawa tidak akan memenggal kepala orang yang membuatnya tertawa. Itu akan mengurangi jumlah tawa di dunia. Dan dunia, Wazir, sudah terlalu sedikit tawa.”

Jafar menggeleng-gelengkan kepala, tetapi ia tersenyum. Ia berjalan keluar, meninggalkan Abu Nawas yang duduk di bangkunya dengan senyum misterius.


Di luar, langit Baghdad mulai dipenuhi bintang-bintang. Bintang-bintang yang bersinar terang, seolah-olah ikut tersenyum melihat dunia di bawahnya. Di kejauhan, dari arah istana, tawa Baginda Raja masih terdengar, bergema di senja Baghdad, mengingatkan semua orang bahwa di tengah kekuasaan yang berat, di tengah intrik yang rumit, di tengah kebohongan yang bersembunyi di balik senyum, masih ada ruang untuk tawa. Masih ada ruang untuk kejujuran. Masih ada ruang untuk cermin yang tidak pernah berbohong.

Dan cermin itu, Abu Nawas tahu, bukanlah yang tergantung di dinding istana. Cermin itu adalah hati yang berani melihat dirinya sendiri. Cermin itu adalah tawa yang tulus. Cermin itu adalah… dirinya sendiri.

Ia tersenyum, memejamkan mata, dan tertawa kecil.

“Cermin dalam hati,” gumamnya. “Itu lebih berat daripada mahkota. Tapi jauh lebih indah. Dan tidak akan pernah retak, selama kita berani melihat.”

Ia memanggil pelayan kedai untuk yang ketiga kalinya.

“Nak, tambah kurma satu mangkuk lagi. Dan kali ini, jangan air tajin. Susu kambing hangat. Saya ingin membuktikan teka-teki saya: kurma Sukkari lebih enak dengan susu kambing hangat. Ini penemuan besar, Nak. Ini akan mengubah peradaban.”

Pelayan itu tertawa, berlari mengambil pesanan.

Dan di luar, di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema, membawa pesan yang lebih dalam dari seribu khotbah: bahwa kejujuran tidak perlu menyakitkan. Bahwa kebenaran bisa disampaikan dengan senyum. Bahwa cermin yang paling jujur adalah hati yang bersih. Bahwa tawa, tawa yang tulus, tawa yang bebas, tawa yang tidak dipaksakan, adalah cermin yang paling sempurna. Karena dalam tawa, tidak ada kebohongan. Dalam tawa, tidak ada kepalsuan. Dalam tawa, yang ada hanyalah manusia. Manusia yang merasakan sukacita. Manusia yang merasakan kebebasan. Manusia yang, untuk sesaat, melupakan semua beban dan hanya… tertawa.

Dan Abu Nawas, dengan senyum misteriusnya yang khas, menyesap susu kambing hangatnya, mengambil kurma, dan tertawa.

“Baginda Raja tertawa,” gumumnya. “Itu berarti istana selamat. Setidaknya untuk hari ini. Besok, mungkin ada teka-teki baru. Mungkin ada mahkota yang hilang lagi. Mungkin ada cermin yang retak lagi. Tapi hari ini… hari ini, kita tertawa.”

Ia melemparkan kurma ke mulutnya, mengunyah dengan nikmat, dan memejamkan mata.

Di luar, bintang-bintang bersinar terang di atas Baghdad, dan di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema, mengantarkan kota itu menuju malam yang damai. Malam tanpa ketakutan. Malam tanpa kebohongan. Malam dengan cermin yang tidak lagi retak. Karena cermin yang sebenarnya, cermin yang paling jujur, cermin yang tidak pernah berbohong, bukanlah yang tergantung di dinding. Cermin itu adalah tawa. Tawa yang tulus. Tawa yang bebas. Tawa yang… menyelamatkan.

TAMAT


Kata Bijak dari Abu Nawas:
“Cermin yang paling jujur bukanlah yang terbuat dari kaca, tetapi yang terbuat dari keberanian untuk melihat diri sendiri. Dan tawa, wahai saudaraku, adalah cermin yang paling sempurna. Karena dalam tawa, tidak ada kebohongan. Dalam tawa, tidak ada kepalsuan. Dalam tawa, yang ada hanyalah manusia. Manusia yang merasakan sukacita. Manusia yang merasakan kebebasan. Manusia yang, untuk sesaat, melupakan semua beban dan hanya… tertawa.”

—Abu Nawas, di Kedai Al-Farabi, pinggiran Baghdad

 

0 komentar:

Posting Komentar