Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid
Novelet Serial Abunawas Edisi I Kecerdikan Akal dan Logika
Episode 2: Rahasia Cermin Kejujuran di Istana Baghdad
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG: CERMIN YANG TAK PERNAH BERBOHONG
Di sudut paling sepi dari kompleks istana Baghdad, jauh
dari keramaian aula singgasana dan hiruk-pikuk dapur kerajaan, terdapat sebuah
ruangan kecil yang jarang dikunjungi. Ruangan itu disebut Al-Mir’ah
al-Qadimah—Ruang Cermin Tua. Dindingnya dari batu bata merah yang sudah
menghitam karena usia, lantainya dari marmer putih yang mulai retak-retak, dan
di tengah ruangan, tergantung pada sebuah paku besi yang berkarat, sebuah
cermin berukuran sebesar perisai seorang prajurit.
Cermin itu bukan sembarang cermin.
Konon, cermin itu dibuat pada masa Baginda Raja Al-Mansur,
kakek dari Harun Al-Rasyid, oleh seorang pandai kaca dari Persia yang terkenal
dengan keahliannya mencampur logam mulia ke dalam leburan kaca. Tapi yang
membuat cermin ini istimewa bukanlah keindahan bingkainya yang terukir
kaligrafi kuno, melainkan sebuah legenda yang telah turun-temurun diceritakan
di antara para pelayan istana: bahwa cermin ini tidak pernah berbohong.
Bukan tentang fisik, tentu saja. Legenda itu berkata bahwa
siapa pun yang berdiri di hadapan cermin ini pada malam bulan purnama, ia tidak
akan melihat wajahnya sendiri. Yang akan terlihat di permukaan kaca yang
mengilap itu adalah bayangan dari hatinya yang paling dalam—kebenaran yang
selama ini ia sembunyikan, niat yang selama ini ia pendam, rahasia yang selama
ini ia kubur di dasar jiwanya.
Para dayang tua berbisik-bisik bahwa cermin itu pernah
memperlihatkan kepada seorang menteri yang tamak bayangan tangannya yang penuh
dengan emas curian. Konon, menteri itu jatuh sakit setelahnya, dan tidak pernah
lagi terlihat di istana. Para penjaga bercerita bahwa cermin itu pernah
menunjukkan kepada seorang panglima yang sombong bayangan dirinya yang berlutut
di hadapan musuh, dan sejak itu panglima itu menjadi lebih rendah hati.
Tapi tidak ada yang pernah membuktikan kebenaran legenda
itu. Karena tidak ada yang berani mencoba. Atau setidaknya, tidak ada yang mau
mengakui bahwa mereka pernah mencoba.
Namun suatu pagi, kabar mengejutkan menyebar di istana
seperti api di padang rumput kering: cermin itu retak.
Bukan pecah berkeping-keping. Bukan jatuh dari tempatnya.
Retak. Sebuah retakan tipis membelah permukaan cermin dari ujung atas hingga ke
bawah, seperti jejak air mata yang membeku di pipi seorang yang tak pernah
menangis. Retakan itu muncul tanpa sebab. Tidak ada yang menyentuhnya. Tidak
ada yang mendekatinya. Tidak ada angin kencang yang menerpa. Tidak ada gempa
yang mengguncang.
Retak itu ada di pagi hari, ketika seorang pelayan tua
bernama Ummu Khair, yang sudah empat puluh tahun membersihkan ruangan itu, membuka
pintu dengan tangannya yang keriput. Cermin itu tergantung seperti biasa di
paku berkaratnya. Tapi di permukaannya, membentang sebuah garis tipis dari atas
ke bawah, seperti bekas cambuk yang membelah langit.
Ummu Khair menjatuhkan kain pel yang dibawanya. Tangannya
yang biasa tenang—tangan yang telah membersihkan istana selama empat puluh
tahun tanpa pernah gemetar—kini gemetar seperti daun kering diterpa angin
gurun.
“Ya Allah,” bisiknya, suaranya parau karena usia. “Cermin
itu… cermin itu retak.”
Ia berlari sekencang yang bisa dilakukan oleh kakinya yang
sudah tua dan rematik. Ia berlari melewati koridor-koridor marmer, melewati
taman-taman dalam, melewati barak-barak penjaga, hingga akhirnya ia tiba di
ruang kepala pelayan istana, seorang lelaki gemuk bernama Basyir yang sedang
duduk bersantai sambil menyesap kopi.
“Basyir! Basyir!” teriak Ummu Khair, terengah-engah.
“Cermin! Cermin tua di ruang Al-Mir’ah! Retak!”
Basyir meneguk kopinya terlalu cepat dan tersedak. “Apa?
Retak? Bagaimana bisa?”
“Entahlah! Tidak ada yang menyentuhnya! Tidak ada angin!
Tidak ada gempa! Retak begitu saja!”
Basyir berdiri dengan cepat, perut gemuknya bergoyang.
“Kita harus lapor ke Wazir Jafar. Cepat!”
Dalam waktu setengah jam, kabar itu sudah sampai ke telinga
Jafar. Dan dalam waktu satu jam, Jafar sudah berdiri di hadapan Baginda Raja Harun
Al-Rasyid di ruang pertemuan pribadi, dengan wajah pucat pasi.
BAB 1: PERINTAH YANG MEMBINGUNGKAN
Di ruang pertemuan pribadi Baginda Raja, suasana pagi itu
tidak seperti biasanya. Jendela-jendela besar yang menghadap ke timur dibuka
lebar, membiarkan sinar matahari pagi masuk dan menyinari permadani Persia
berwarna biru tua yang menghampar di lantai marmer. Biasanya, pada jam seperti
ini, Baginda Raja Harun Al-Rasyid akan duduk santai di singgasana kecilnya,
membaca laporan dari provinsi-provinsi atau mendengarkan syair-syair baru dari
para penyair istana.
Tapi pagi itu, ia tidak membaca laporan. Ia tidak
mendengarkan syair. Ia berdiri di dekat jendela, membelakangi Jafar, dengan
tangan disilangkan di dada. Jubah paginya yang berwarna putih bersih berkibar
lembut ditiup angin dari taman, membawa aroma bunga melati dan air mawar dari
kolam di bawah.
Jafar berdiri beberapa langkah di belakangnya, dengan
setangkai kertas di tangan kirinya—laporan dari Basyir tentang cermin yang
retak—dan dengan tangan kanannya, ia tanpa sadar memilin-milin ujung jubahnya,
kebiasaan yang hanya muncul ketika ia sedang sangat gelisah.
“Jadi,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid tanpa berbalik,
suaranya tenang tetapi ada nada yang tidak biasa di dalamnya, seperti
ketegangan yang sengaja disembunyikan di balik lapisan sutra. “Cermin pusaka
kakekku, yang telah menggantung di dinding itu selama lebih dari lima puluh
tahun, yang telah disaksikan oleh tiga generasi raja, yang konon mampu
menampakkan kebenaran hati manusia—cermin itu tiba-tiba retak begitu saja.
Tanpa sebab. Tanpa angin. Tanpa gempa. Tanpa tangan yang menyentuhnya.”
Jafar menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering meskipun
baru saja ia minum seteguk air mawar sebelum memasuki ruangan ini.
“Baginda,” katanya, suaranya sedikit serak, “aku telah
memeriksa sendiri. Aku telah membawa tiga orang ahli: Ustadz Karim, pandai besi
istana yang sama yang memeriksa gembok-gembok dalam kasus mahkota yang hilang;
Ustadz Yunus, pandai kaca dari pasar yang telah bekerja dengan kaca selama
empat puluh tahun; dan seorang tabib istana yang paham tentang perubahan suhu
dan kelembaban. Mereka semua mengatakan hal yang sama.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berbalik perlahan. Wajahnya
tidak menunjukkan kemarahan, tetapi matanya—matanya yang hitam pekat
itu—menatap Jafar dengan intensitas yang membuat Wazir itu merasa seperti
sedang berdiri di hadapan singa yang baru terbangun dari tidurnya.
“Apa yang mereka katakan, Jafar?”
Jafar menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak
jantungnya yang mulai tidak beraturan.
“Ustadz Karim mengatakan bahwa tidak ada bekas pukulan atau
tekanan dari luar. Bingkai cermin masih kokoh, tidak bergeser. Paku yang
menggantungkannya masih kuat, tidak melengkung. Menurutnya, retakan itu muncul
dari dalam kaca itu sendiri. Seperti… seperti kaca itu retak dengan kemauannya
sendiri.”
Harun Al-Rasyid mengangkat alis. “Kaca yang retak dengan
kemauan sendiri? Apakah Ustadz Karim tiba-tiba menjadi penyair?”
Jafar tersenyum tipis, meskipun hatinya masih berdebar.
“Ustadz Karim memang bukan penyair, Baginda. Tapi itulah satu-satunya cara dia
bisa menggambarkan apa yang dilihatnya.”
“Lalu Ustadz Yunus? Apa kata pandai kaca itu?”
“Ustadz Yunus memeriksa retakan itu dengan kaca pembesar
yang biasa ia gunakan untuk memeriksa cacat pada bejana-bejana kaca mahal dari
Romawi. Ia mengatakan bahwa retakan itu tidak seperti retakan biasa. Retakan
biasa, kata dia, biasanya dimulai dari satu titik lalu menyebar. Tapi retakan ini…”
Jafar berhenti, seolah-olah kata-kata yang akan diucapkannya terlalu berat
untuk diucapkan.
“Tapi retakan ini bagaimana?” desak Baginda Raja Harun
Al-Rasyid.
“Retakan ini muncul bersamaan di seluruh permukaan kaca,
Baginda. Seperti… seperti ada yang menggoresnya dengan alat yang sangat tajam
dalam satu gerakan dari atas ke bawah. Tapi tidak ada goresan. Tidak ada bekas
alat. Ustadz Yunus sendiri tidak bisa menjelaskannya.”
Harun Al-Rasyid berjalan meninggalkan jendela, melangkah
perlahan menuju singgasananya. Langkahnya berat, seperti orang yang sedang
memikul beban yang tidak terlihat.
“Dan tabib istana?” tanyanya sambil duduk. “Apa yang
dikatakan tabib tentang suhu dan kelembaban?”
Jafar menghela napas. “Tabib itu mengatakan bahwa suhu di
ruangan Al-Mir’ah al-Qadimah stabil. Tidak ada perubahan drastis. Kelembaban
juga normal. Tidak ada alasan fisik mengapa kaca itu retak.”
Harun Al-Rasyid terdiam. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk
lengan singgasana kayu cendana dengan irama yang lambat dan teratur—ketukan yang
sudah dikenal oleh semua orang di istana sebagai tanda bahwa Baginda Raja
sedang berpikir keras.
“Jafar,” katanya akhirnya, suaranya rendah, nyaris
berbisik, tetapi di ruangan yang sunyi itu, bisikannya terdengar jelas seperti
teriakan. “Apakah kau percaya pada legenda tentang cermin itu?”
Jafar terdiam. Sebagai seorang Barmakid yang terdidik dalam
ilmu pengetahuan dan filsafat—yang telah membaca buku-buku dari Yunani tentang
logika dan alam semesta, yang telah belajar dari para ilmuwan di Baitul Hikmah
tentang sebab dan akibat—ia seharusnya tidak percaya pada takhayul. Tapi
sebagai seorang yang telah hidup di istana sejak kecil, yang telah menyaksikan
sendiri bagaimana kadang-kadang kebenaran lebih aneh dari dongeng, yang telah
melihat bagaimana peristiwa-peristiwa yang tidak bisa dijelaskan sering kali
membawa pesan yang lebih dalam dari yang terlihat di permukaan—ia ragu.
“Baginda,” katanya hati-hati, memilih setiap kata seperti
seorang pedagang yang memilih permata paling berharga di pasar, “aku lebih
memilih untuk percaya pada bukti daripada legenda. Tapi… tidak ada bukti yang
bisa menjelaskan apa yang terjadi. Dan aku juga tahu bahwa kadang-kadang, apa
yang disebut legenda oleh orang-orang yang tidak mengerti, sebenarnya adalah
cara orang-orang bijak di masa lalu untuk menyampaikan kebenaran yang tidak
bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum tipis—senyum yang
tidak sampai ke matanya, tetapi sudah cukup untuk membuat Jafar merasa sedikit
lega.
“Kau diplomat sejati, Jafar. Bisa berbicara panjang lebar
tanpa mengatakan apa-apa. Itulah sebabnya kau menjadi Wazir.”
Jafar tersenyum canggung. “Baginda terlalu baik.”
“Tapi kali ini,” Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri lagi,
dan kini matanya bersinar dengan kilatan yang membuat Jafar langsung tahu apa
yang akan dikatakan selanjutnya, “aku tidak butuh diplomat. Aku tidak butuh
jawaban yang diplomatis. Aku butuh jawaban. Aku butuh seseorang yang bisa
membaca apa yang tidak bisa dibaca oleh ahli kaca, ahli besi, atau ahli suhu
sekalipun.”
Jafar menghela napas. Ia sudah tahu nama itu akan keluar.
Ia sudah merasakannya sejak pagi, ketika Ummu Khair berlari ke ruangnya dengan
wajah pucat pasi dan suara gemetar. Ia sudah tahu bahwa pada akhirnya, jawaban
untuk misteri yang tidak bisa dijelaskan oleh akal biasa akan selalu mengarah
pada satu orang.
“Abu Nawas, Baginda?” katanya, meskipun itu bukan
pertanyaan.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum lebar—senyum yang
jarang ia tunjukkan di depan para pejabat istana, tetapi sering ia tunjukkan
ketika berbicara tentang Abu Nawas.
“Abu Nawas,” katanya. “Siapa lagi yang bisa membaca
kebenaran dari retakan kaca selain orang yang bisa membaca kebenaran dari
tawa?”
Jafar mengangguk, meskipun di dalam hatinya ia sudah
membayangkan kekacauan yang akan terjadi jika Abu Nawas dibawa ke istana dengan
cerita tentang cermin retak. Ia membayangkan Abu Nawas akan duduk di depan
cermin itu sambil makan kurma, lalu berkata bahwa cermin itu retak karena tidak
tahan melihat wajahnya yang terlalu tampan. Atau Abu Nawas akan mengklaim bahwa
ia bisa memperbaiki cermin itu dengan sihir, lalu mengeluarkan telur ayam dari
saku jubahnya dan berkata bahwa itu adalah ramuan ajaib.
Tapi ia juga tahu bahwa di balik semua kekonyolan itu, Abu
Nawas memiliki kemampuan untuk melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Dan
kali ini, Baginda Raja tidak membutuhkan ahli kaca. Baginda Raja membutuhkan
mata yang bisa melihat kebenaran di balik retakan.
“Akan kukirim utusan untuk memanggilnya, Baginda,” kata
Jafar.
“Tidak,” potong Harun Al-Rasyid dengan cepat. “Kali ini,
jangan dengan ancaman. Jangan dengan prajurit bersenjata. Jangan dengan
perintah yang membuatnya berpikir bahwa aku akan memenggal kepalanya.”
Jafar terkejut. “Bagaimana cara memanggilnya, Baginda?”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berjalan ke meja rendah di
samping singgasananya, mengambil sebuah piring perak kecil berisi kurma Sukkari
yang mengilap seperti batu akik, dan sebuah gelas kristal berisi air tajin yang
dinginnya masih terlihat dari embun yang membasahi permukaan gelas. Ia
menyerahkan kedua benda itu kepada Jafar.
“Bawa ini,” katanya. “Katakan padanya bahwa aku ingin
meminta bantuannya, bukan memerintahkannya. Katakan padanya bahwa ada teka-teki
yang hanya bisa dipecahkan olehnya. Katakan padanya bahwa kurma ini dari kebun
pribadiku, dan air ini dari sumur dalam yang airnya hanya untuk keluargaku.”
Jafar menerima piring dan gelas itu dengan hati-hati,
seolah-olah benda-benda itu terbuat dari kristal yang paling rapuh.
“Baginda benar-benar mengenal Abu Nawas,” katanya.
“Untuk membuat Abu Nawas datang dengan senyum, bukan dengan
wajah cemberut,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid sambil kembali ke
singgasananya, “kurma Sukkari dan air tajin dingin lebih ampuh daripada seribu
tentara bersenjata. Tapi…”
Ia berhenti, dan senyumnya menghilang, digantikan oleh
ekspresi serius yang membuat Jafar langsung menegang.
“Tapi, Jafar, sampaikan juga pesan ini: cermin itu sudah
retak. Dan setiap hari, aku melihatnya. Setiap hari, retakan itu mengingatkanku
bahwa di istanaku, ada kebenaran yang belum terungkap. Jangan biarkan aku
menunggu terlalu lama. Karena semakin lama aku menunggu, semakin besar
kemungkinan aku akan kehilangan kesabaran. Dan ketika aku kehilangan
kesabaran…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu. Jafar
sudah tahu.
BAB 2: ISTANA YANG MULAI GELISAH
Sementara Jafar mengirim utusan untuk menjemput Abu Nawas,
kabar tentang cermin retak telah menyebar di istana lebih cepat daripada kabar
tentang kemenangan perang atau kelahiran putra mahkota.
Dalam hitungan jam, semua orang tahu. Para pelayan berbisik
di dapur, di antara panci-panci tembaga yang mengilap dan tumpukan kayu bakar
yang menjulang. Para penjaga berbisik di barak, di sela-sela latihan pedang dan
pergantian shift. Para dayang berbisik di kamar-kamar mereka, di sela-sela
meracik wewangian dan menjahit pakaian. Dan yang paling penting, para pejabat
berbisik di koridor-koridor marmer yang megah, di antara tiang-tiang yang
menjulang dan lampu-lampu minyak yang berkelap-kelip.
Di dapur istana, sekelompok juru masak dan asisten duduk di
bangku-bangku kayu panjang, beristirahat sejenak setelah menyiapkan hidangan
untuk sarapan para pejabat. Mereka berbicara dengan suara setengah berbisik,
seperti orang-orang yang sedang membicarakan hantu.
“Kau dengar? Cermin tua di ruang Al-Mir’ah al-Qadimah
retak,” kata seorang juru masak gemuk bernama Mahmud, sambil mengusap keringat
di dahinya dengan lengan bajunya yang penuh noda saus.
“Retak? Bagaimana bisa?” tanya seorang asisten muda yang
masih berusia belasan tahun, matanya membulat penasaran.
“Itulah yang aneh,” Mahmud melanjutkan, suaranya turun
menjadi nyaris berbisik. “Tidak ada yang menyentuhnya. Tidak ada angin. Tidak
ada gempa. Retak begitu saja. Seperti… seperti tidak tahan.”
“Tidak tahan apa?” asisten muda itu bertanya lagi, suaranya
sudah mulai gemetar.
“Tidak tahan menyimpan kebohongan, kata orang,” kata
seorang juru masak tua yang sudah bekerja di istana sejak masa Baginda Raja
Al-Mahdi. Namanya Syakir, dan ia dikenal sebagai orang yang paling tahu tentang
sejarah istana. “Cermin itu, konon, dibuat oleh seorang pandai kaca dari Persia
yang sakti. Ia mencampur logam mulia dan doa-doa ke dalam leburan kaca. Cermin
itu tidak pernah berbohong. Siapa pun yang berdiri di hadapannya, ia akan
menampakkan kebenaran hati orang itu. Dan jika kebenaran itu terlalu berat,
terlalu busuk, terlalu… menjijikkan, cermin itu akan retak. Karena tidak
tahan.”
Asisten muda itu memucat. “Jadi… ada orang yang punya
rahasia busuk di istana?”
Syakir tidak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu, tetapi
matanya berbicara lebih banyak dari kata-kata.
Di barak penjaga, suasana tidak kalah tegang. Sekelompok
penjaga yang sedang beristirahat setelah shift malam duduk di ranjang-ranjang
kayu mereka, berbicara dengan suara yang sengaja diredam.
“Aku dengar Wazir Jafar sudah memeriksa sendiri,” kata
seorang penjaga bernama Khalid—bukan Khalid yang dulu menjemput Abu Nawas,
tetapi Khalid lain yang lebih muda dan lebih suka bergosip. “Dia membawa tiga
orang ahli. Semuanya bingung. Tidak ada yang bisa menjelaskan.”
“Mungkin itu pertanda,” kata seorang penjaga tua bernama
Abu Bakar, yang sudah dua puluh tahun bertugas dan telah melihat banyak hal di
istana. “Pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres di istana ini. Pertanda
bahwa kebenaran akan terungkap.”
“Kebenaran apa?” tanya Khalid.
Abu Bakar menghela napas panjang. “Kebenaran yang selama
ini disembunyikan. Kebenaran tentang siapa yang mengambil apa yang bukan
haknya. Kebenaran tentang siapa yang berpura-pura jujur tetapi hatinya hitam.”
Para penjaga saling berpandangan. Masing-masing merenungkan
kata-kata Abu Bakar, dan masing-masing bertanya-tanya dalam hati: apakah
kebenaran itu akan menyentuh diriku?
Di koridor-koridor istana, para pejabat berjalan dengan
langkah yang berbeda dari biasanya. Yang biasanya berjalan dengan kepala tegak,
kini mulai menunduk ketika melewati koridor yang mengarah ke ruang cermin. Yang
biasanya tersenyum ramah kepada semua orang, kini tersenyum kaku, seperti
topeng yang dipaksakan. Yang biasanya berlama-lama di ruang pertemuan untuk
bergosip dan minum kopi, kini lebih memilih untuk segera pulang ke rumah
masing-masing, mengurung diri di kamar, berpikir tentang rahasia-rahasia yang
selama ini mereka sembunyikan.
Dan di tengah semua kegelisahan itu, Abu Nawas belum datang.
Ia masih dalam perjalanan dari Kedai Al-Farabi di pinggiran Baghdad, menunggang
kuda yang disediakan Jafar, dengan kurma Sukkari di sakunya dan segelas air
tajin di tangannya—yang sudah ia minum setengahnya dalam perjalanan.
Ketika Abu Nawas akhirnya tiba di gerbang istana, suasana
sudah berubah total dari kunjungannya sebelumnya. Kali ini, tidak ada prajurit
bersenjata yang menyambutnya dengan wajah batu. Sebaliknya, ia disambut oleh
seorang pemuda dengan jubah rapi yang tersenyum ramah dan langsung mengantarnya
ke ruang pertemuan pribadi Baginda Raja.
Sepanjang perjalanan dari gerbang ke ruang pertemuan, Abu
Nawas tidak berhenti bicara. Ia berjalan di samping pemuda utusan itu dengan
langkah santai, matanya bergerak cepat mengamati setiap perubahan di istana.
“Wahai pemuda yang baik,” katanya sambil berjalan, “aku
perhatikan para penjaga di gerbang tadi tidak seperti biasanya. Biasanya mereka
berdiri dengan dada membusung, pedang di pinggang, mata lurus ke depan seperti
sedang menunggu musuh menyerang. Tapi tadi, mereka berdiri dengan sedikit
membungkuk, mata bergerak ke kiri kanan, seperti ayam yang takut disambar
elang. Ada apa gerangan? Apakah mereka mendengar kabar bahwa aku akan datang?”
Pemuda itu tersenyum canggung. “Tuan Abu Nawas, para penjaga…
mereka sedang gelisah. Seperti semua orang di istana.”
“Gelisah?” Abu Nawas mengangkat alis, meskipun ia sudah
tahu jawabannya. “Ada apa yang membuat mereka gelisah? Apakah Baginda Raja
marah besar? Apakah ada wabah penyakit? Apakah persediaan kurma di dapur
habis?”
Pemuda itu tertawa kecil. “Bukan, Tuan. Ada cermin yang
retak.”
“Cermin retak?” Abu Nawas berhenti berjalan, menoleh ke
arah pemuda itu dengan ekspresi paling serius yang bisa ia bentuk—yang, jika
dilihat dengan jubah lusuh dan rambut acak-acakannya, tetap terlihat lucu.
“Cermin retak? Itu saja? Seluruh istana gelisah karena cermin retak? Apakah
tidak ada yang pernah melihat cermin retak sebelumnya? Di kedai tempatku biasa
makan, semua cermin retak. Itu sudah biasa. Bahkan pemilik kedai itu tidak mau
menggantinya karena katanya retakan itu menambah nilai seni.”
Pemuda itu tidak tahu harus menjawab apa. Abu Nawas tertawa
dan melanjutkan perjalanan.
“Baiklah, baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi satu
hal, wahai pemuda. Apakah kurma Sukkari yang diberikan Baginda Raja kepadaku
masih tersisa di sakuku, atau sudah habis dimakan dalam perjalanan?”
Pemuda itu menatap saku Abu Nawas yang menggembung. “Masih
tersisa, Tuan.”
“Bagus. Karena kurma adalah senjata utama dalam perang
melawan misteri. Tanpa kurma, otakku tidak akan bekerja. Dengan kurma, aku bisa
memecahkan teka-teki apa pun. Bahkan teka-teki tentang cermin retak.”
BAB 3: UJIAN KEJUJURAN
Di ruang pertemuan pribadi Baginda Raja, Harun Al-Rasyid
sudah menunggu. Ia duduk di singgasana kecilnya dengan jubah putih sederhana,
tanpa mahkota, tanpa perhiasan. Di sampingnya, Jafar berdiri dengan setangkai
kertas di tangannya—laporan-laporan yang sudah ia kumpulkan tentang cermin
retak. Di atas meja rendah di hadapan Baginda Raja, sebuah piring perak berisi
kurma Sukkari yang baru—menggantikan yang sudah dibawa Abu Nawas—dan sebuah
gelas kristal berisi air tajin dingin yang masih segar.
Abu Nawas masuk dengan langkah yang sengaja dibuat lebih
lambat dari biasanya. Ia tahu bahwa ketika seorang raja memanggilnya dengan
hormat, dengan kurma dan air tajin, itu berarti raja itu sedang membutuhkan
sesuatu yang sangat penting. Dan ketika seorang raja sedang membutuhkan sesuatu
yang sangat penting, adalah bijaksana untuk tidak terlihat terlalu bersemangat.
Biarkan raja itu menunggu sebentar. Biarkan raja itu merasa bahwa ia sedang
meminta bantuan, bukan memberi perintah.
Ia berlutut dengan hormat, tetapi sebelum ia sempat
bersujud panjang, Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat tangannya.
“Abu Nawas,” katanya, “kau tidak perlu bersujud seperti
pejabat istana. Duduklah. Makan kurmamu. Minum air tajinmu. Karena setelah itu,
kita akan berbicara tentang sesuatu yang… aneh.”
Abu Nawas duduk bersila dengan cepat—lebih cepat dari
biasanya—dan langsung mengambil sebuah kurma dari piring perak itu. Ia menatap
kurma itu sejenak, menghirup aromanya dengan mata terpejam, seperti seorang
penikmat anggur yang sedang mengecek kualitas minumannya.
“Baginda,” katanya setelah menelan kurma pertama, “kurma
Sukkari dari kebun pribadi Baginda memang berbeda. Kurma ini seperti… seperti
puisi. Setiap gigitan adalah bait, setiap kunyahan adalah ritma, setiap telan
adalah makna yang dalam.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. “Kau dan
kata-katamu, Abu Nawas. Kau bisa membuat kurma sekalipun terasa filosofis.”
“Semua benda bisa menjadi filosofis, Baginda, jika kita mau
merenungkannya. Tapi lebih baik kita tidak merenungkan kurma terlalu lama,
karena kurma lebih enak dimakan daripada direnungkan. Dan saya, Baginda, lebih
suka makan kurma daripada merenungkannya.”
Ia mengambil kurma kedua.
Jafar yang dari tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya
sedikit serak karena kelelahan dan kekhawatiran yang sudah ia pendam sejak
pagi.
“Abu Nawas, kau tahu mengapa kau dipanggil ke sini?”
Abu Nawas mengunyah kurmanya perlahan, menelan, lalu
tersenyum. “Saya dengar ada cermin yang retak, Wazir. Utusan tadi bilang.
Cermin tua yang konon bisa menunjukkan kebenaran hati. Retak tanpa sebab.
Apakah itu benar?”
“Itu benar,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid. Suaranya
tenang, tetapi Abu Nawas bisa mendengar nada yang tersembunyi di balik
ketenangan itu—nada seorang raja yang sedang berusaha keras untuk tidak
kehilangan kesabaran. “Dan aku ingin kau melihatnya. Tapi bukan hanya melihat.
Aku ingin kau melakukan sesuatu yang lebih dari itu.”
Abu Nawas berhenti mengunyah. Ia meletakkan kurma yang
belum dimakan di atas piring, menatap Baginda Raja dengan mata yang tiba-tiba
serius—serius dengan cara yang hanya muncul ketika ia sedang menghadapi
teka-teki yang benar-benar menarik.
“Perbaiki cermin itu, Baginda?”
“Perbaiki cermin itu,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid,
dan kini matanya bersinar dengan kilatan yang membuat Abu Nawas langsung tahu
bahwa ini bukan sekadar perintah biasa, “tanpa menyentuhnya.”
Ruangan itu menjadi sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga
suara tetesan air dari kolam di taman dalam terdengar jelas, seperti ketukan
jarum jam yang mengukur detik-detik yang terasa seperti tahun.
Abu Nawas menatap Baginda Raja. Lalu menatap Jafar yang
tampak seperti akan pingsan karena tegang. Lalu kembali menatap Baginda Raja.
“Baginda,” katanya perlahan, dengan nada yang tidak pernah
ia gunakan di hadapan raja sebelumnya—nada seorang yang sedang berbicara dengan
seorang teman yang sedang bercanda, tetapi bercandanya terlalu serius. “Apakah
Baginda bermaksud untuk menguji saya? Atau apakah Baginda bermaksud untuk
menguji orang lain melalui saya?”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam sejenak. Kemudian ia
berdiri, berjalan ke jendela, membelakangi Abu Nawas. Suaranya keluar dari
punggungnya, rendah dan berat.
“Kau lihat, Abu Nawas? Itulah sebabnya aku memanggilmu. Kau
bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Ya, ini bukan tentang cermin.
Cermin itu hanyalah… sebuah permulaan.”
Ia berbalik, dan kini Abu Nawas melihat sesuatu di mata
Baginda Raja yang belum pernah ia lihat sebelumnya: kelelahan. Bukan kelelahan
fisik, tetapi kelelahan jiwa. Kelelahan seorang pemimpin yang tahu bahwa di
sekelilingnya, ada kebusukan yang tidak bisa ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Abu Nawas,” katanya, “beberapa hari terakhir, aku
merasakan sesuatu yang ganjil di istanaku. Para pejabat yang biasanya ramah
satu sama lain, kini saling berbisik di belakang. Para menteri yang biasanya
penuh percaya diri, kini menghindari tatapan mataku. Ada sesuatu yang busuk di
istanaku, Abu Nawas. Aku tidak tahu apa itu. Tapi aku yakin, retaknya cermin
itu bukan kebetulan.”
Ia berjalan mendekati Abu Nawas, berdiri tepat di
hadapannya. Tingginya jauh di atas Abu Nawas yang duduk bersila, sehingga Abu
Nawas harus mendongak untuk menatapnya.
“Cermin itu retak, kata orang, karena tidak tahan menyimpan
kebohongan. Mungkin itu hanya legenda. Tapi mungkin juga… itu adalah pertanda.
Pertanda bahwa di antara orang-orang yang kupercaya, ada yang menyembunyikan
sesuatu. Dan aku ingin kau menemuinya. Bukan dengan pedang, bukan dengan
ancaman. Tapi dengan caramu. Dengan humor. Dengan teka-teki. Dengan…
kebijaksanaan yang kau sembunyikan di balik lawakan-lawakanmu.”
Ia berjalan kembali ke singgasananya, duduk, dan menatap
Abu Nawas dengan mata yang tidak bisa dihindari.
“Apa kau bisa melakukan itu, Abu Nawas? Bisa kau menjadi
cermin bagi orang-orang di istanaku? Cermin yang tidak pernah berbohong? Cermin
yang menampakkan kebenaran hati manusia?”
Abu Nawas tidak menjawab segera. Ia mengambil kurma yang
tadi ia letakkan, memutarnya di antara jari-jarinya seperti seorang pesulap
memutar koin. Matanya menerawang ke suatu tempat di kejauhan, melewati
dinding-dinding istana, melewati taman-taman dalam, melewati Sungai Tigris, ke
suatu tempat di mana kebenaran dan kebohongan bercampur seperti pasir dan air.
“Baginda,” katanya akhirnya, suaranya pelan tetapi jelas,
“jadi Baginda ingin saya menjadi cermin?”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat alis. “Cermin?”
“Ya, Baginda. Cermin yang tidak pernah berbohong. Cermin
yang menampakkan kebenaran hati manusia. Cermin yang retak karena tidak tahan
menyimpan kebohongan. Baginda ingin saya menjadi cermin itu.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam sejenak, merenungkan
kata-kata Abu Nawas. Kemudian ia tertawa—tawa yang tulus, tawa yang sudah lama
tidak terdengar di ruangan ini.
“Kau benar, Abu Nawas. Aku ingin kau menjadi cermin bagi
orang-orang di istanaku. Tunjukkan padaku siapa yang takut pada kebenaran.
Siapa yang menghindari cermin. Siapa yang tidak tahan melihat dirinya sendiri.”
Abu Nawas melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah
perlahan, lalu berdiri. Ia merapikan jubahnya yang lusuh—usaha yang sia-sia
karena jubah itu memang tidak bisa dirapikan—dan menatap Baginda Raja dengan
mata yang bersinar.
“Baginda,” katanya, “saya akan melakukannya. Tapi saya
minta waktu. Jangan harap hasilnya dalam sehari. Kebohongan yang sudah lama
dipelihara tidak akan terbongkar hanya dengan satu kali bercermin. Mereka perlu
dirayu. Mereka perlu dibuat nyaman. Mereka perlu… ditertawakan.”
“Kau punya waktu sekehendakmu,” kata Harun Al-Rasyid. “Tapi
ingat, Abu Nawas.”
“Ingat apa, Baginda?”
“Cermin itu masih retak. Dan setiap hari, aku melihatnya.
Setiap hari, retakan itu mengingatkanku bahwa di istanaku, ada kebenaran yang
belum terungkap. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama.”
Abu Nawas membungkuk, dan kali ini bungkuknya dalam dan
hormat, tanpa sedikit pun gerakan teatrikal yang biasa ia tunjukkan.
“Baginda, kebenaran seperti kurma. Jika dipetik sebelum
waktunya, rasanya pahit. Jika dipetik pada waktunya, rasanya manis. Saya tidak
akan memetik sebelum waktunya. Tapi saya janji, Baginda akan menikmati
manisnya.”
BAB 4: ORANG-ORANG YANG MENGHINDAR
Tiga hari pertama setelah pengumuman Abu Nawas bahwa setiap
pejabat istana diwajibkan untuk bercermin di hadapan cermin tua itu, tidak ada
satu pun pejabat yang datang.
Abu Nawas tidak terkejut. Ia duduk di depan ruang Al-Mir’ah
al-Qadimah setiap pagi, dengan kursi kayu yang ia minta dibawakan dari dapur,
mangkuk kurma di pangkuannya, dan segelas air tajin di sampingnya. Ia duduk di
sana sepanjang pagi, berbicara dengan setiap orang yang lewat, bercerita
tentang hal-hal lucu, tertawa dengan suara keras, dan sesekali memanggil
seorang pejabat yang lewat dengan nada ramah.
“Tuan Abdullah!” panggilnya kepada seorang pejabat rendahan
yang lewat dengan langkah cepat, mencoba menghindari kontak mata. “Tuan
Abdullah, kemarilah sebentar. Aku punya cerita lucu tentang seekor keledai yang
lebih pintar dari seorang menteri.”
Tuan Abdullah, seorang lelaki kurus dengan kumis panjang
dan wajah yang selalu cemas, berhenti dengan enggan. Ia tidak bisa
menghindar—Abu Nawas sudah memanggil namanya dengan suara yang cukup keras
untuk didengar oleh semua orang di koridor.
“Abu Nawas,” katanya dengan nada yang berusaha santai
tetapi gagal, “aku sedang terburu-buru. Ada laporan yang harus kuselesaikan.”
“Laporan bisa menunggu, Tuan,” kata Abu Nawas sambil
mengambil kurma dari mangkuknya. “Tapi cerita tentang keledai yang lebih pintar
dari menteri tidak bisa menunggu. Karena keledai itu sudah tua dan mungkin akan
mati besok. Kasihan keledai itu, mati tanpa sempat mendengar ceritanya
sendiri.”
Tuan Abdullah tersenyum canggung. “Cerita tentang keledai?”
“Ya. Jadi, ada seorang menteri yang sombong. Ia merasa
dirinya paling pintar di seluruh kekhalifahan. Suatu hari, ia bertemu dengan
seerang keledai di pasar. Keledai itu melihatnya dan berkata, ‘Hai menteri,
mengapa wajahmu sepanjang itu?’ Menteri itu terkejut. ‘Kau bisa bicara?’ tanyanya.
Keledai itu menjawab, ‘Bisa, tapi aku lebih memilih diam. Karena orang yang
banyak bicara biasanya tidak punya banyak pikiran.’ Menteri itu marah. ‘Aku
adalah menteri! Aku yang mengatur keuangan negara!’ Keledai itu tertawa. ‘Ah,
mengatur keuangan? Aku juga mengatur keuanganku. Setiap hari aku makan rumput
secukupnya, tidak lebih. Itulah mengapa aku tidak pernah kekurangan. Tapi
menteri… menteri mengambil lebih dari yang ia butuhkan, dan itulah mengapa ia
selalu gelisah.’ Menteri itu terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Karena keledai
itu benar.”
Tuan Abdullah tertawa kecil, tetapi tawanya terputus-putus,
seperti orang yang sedang berusaha tertawa tetapi pikirannya ada di tempat
lain.
“Cerita yang bagus, Abu Nawas,” katanya.
“Terima kasih, Tuan. Tapi cerita ini belum selesai. Menteri
itu kemudian bertanya kepada keledai, ‘Bagaimana caramu menjadi begitu
bijaksana?’ Keledai itu menjawab, ‘Dengan bercermin, Tuan. Setiap pagi, aku
bercermin di air sungai. Dan aku melihat diriku apa adanya. Seekor keledai. Tidak
lebih. Tidak kurang. Itulah mengapa aku tidak pernah sombong, tidak pernah
tamak, tidak pernah gelisah.’ Menteri itu bertanya, ‘Dan apa yang kau lihat
ketika bercermin?’ Keledai itu tersenyum—keledai bisa tersenyum, Tuan,
percayalah—dan berkata, ‘Aku melihat seekor keledai yang bahagia. Bukan menteri
yang gelisah.’”
Abu Nawas berhenti, menatap Tuan Abdullah dengan mata yang
tiba-tiba tajam.
“Tuan Abdullah, apakah Tuan sudah bercermin hari ini?”
Tuan Abdullah memucat. Tangannya yang tadinya memegang laporan
mulai gemetar.
“Aku… aku belum. Tapi aku akan… nanti. Setelah laporanku
selesai.”
“Tentu, Tuan. Tidak perlu terburu-buru. Cermin itu tidak
kemana-mana. Retaknya juga tidak akan kemana-mana. Ia menunggu.”
Tuan Abdullah berjalan pergi dengan langkah cepat, lebih
cepat dari sebelumnya. Abu Nawas menatap punggungnya yang menghilang di ujung
koridor, lalu mengambil kurma dan memasukkannya ke mulut.
“Satu,” gumamnya. “Orang yang terlalu cepat berjalan ketika
mendengar kata ‘cermin’ biasanya sedang berlari dari sesuatu. Tapi kau tidak
bisa berlari dari dirimu sendiri, Tuan Abdullah. Tidak selamanya.”
Pada hari keempat, seorang pejabat rendahan bernama
Faruq—yang bertugas mengelola persediaan makanan istana—datang dengan langkah
ragu-ragu. Faruq adalah lelaki sederhana dengan wajah jujur dan tangan yang
kasar karena pekerjaannya. Ia tidak pernah terlibat dalam politik istana, tidak
pernah bergosip, tidak pernah mengambil lebih dari haknya. Ia hanyalah seorang
pekerja yang melakukan tugasnya dengan baik, dan pulang ke rumahnya setiap sore
untuk makan malam bersama keluarganya.
“Abu Nawas,” katanya, berdiri di hadapan Abu Nawas dengan
tangan yang sedikit gemetar, “aku… aku ingin bercermin.”
Abu Nawas tersenyum. Ia mengenal Faruq. Faruq adalah salah
satu dari sedikit orang di istana yang tidak pernah membuatnya merasa bahwa ia
hanyalah pelawak. Setiap kali Abu Nawas datang ke dapur, Faruq selalu
menyisakan kurma terbaik untuknya, tanpa diminta, tanpa mengharap imbalan.
“Faruq,” katanya, “kau tidak perlu bercermin. Kau sudah
jujur. Tidak ada yang perlu kau lihat di cermin itu selain wajahmu sendiri.”
Faruq menggeleng. “Aku tetap ingin bercermin, Abu Nawas.
Bukan karena aku takut ada rahasia. Tapi karena… aku penasaran. Apa benar
cermin itu bisa menunjukkan kebenaran hati?”
Abu Nawas menatap Faruq lama. Kemudian ia berdiri, menepuk
pundak lelaki itu dengan lembut.
“Baiklah, Faruq. Masuklah. Aku akan menunggu di luar. Tapi
ingat, apa pun yang kau lihat di sana, itu hanya antara kau dan cermin. Aku
tidak akan bertanya.”
Faruq mengangguk, menarik napas dalam-dalam, dan masuk ke
ruangan itu. Abu Nawas mendengar pintu tertutup di belakangnya. Ia duduk
kembali di kursinya, mengambil kurma, dan menunggu.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Ketika pintu terbuka lagi, Faruq keluar dengan wajah yang
tenang. Bahkan ada senyum kecil di bibirnya.
“Bagaimana?” tanya Abu Nawas, meskipun ia sudah tahu
jawabannya.
Faruq mengangkat bahu. “Aku hanya melihat diriku sendiri,
Abu Nawas. Wajahku. Tidak ada yang aneh. Tidak ada bayangan. Tidak ada…
kebenaran yang menakutkan.”
“Karena kau tidak menyimpan kebohongan, Faruq,” kata Abu
Nawas. “Cermin itu hanya menampakkan apa yang ada. Jika yang ada hanyalah
kejujuran, maka itulah yang kau lihat.”
Faruq tersenyum lebih lebar. “Mungkin begitu. Terima kasih,
Abu Nawas.”
Ia berjalan pergi dengan langkah yang lebih ringan dari
sebelumnya. Abu Nawas menatap punggungnya yang tegap, dan untuk sesaat, ia
merasa bahwa di istana yang penuh dengan kepalsuan ini, masih ada orang-orang
seperti Faruq. Orang-orang yang tidak perlu bercermin untuk tahu siapa dirinya.
Berita tentang Faruq menyebar cepat. Seorang pejabat
rendahan telah bercermin dan selamat. Tidak ada yang mengerikan terjadi. Tidak
ada rahasia yang terbongkar. Tidak ada yang berubah.
Keesokan harinya, lebih banyak pejabat datang. Mereka
datang satu per satu, ada yang dengan percaya diri, ada yang dengan ragu-ragu,
tetapi mereka datang. Mereka masuk ke ruangan itu, berdiri di hadapan cermin
selama beberapa saat, lalu keluar dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang
lega, ada yang berpikir keras, ada yang menangis, ada yang tertawa. Tapi
semuanya keluar dengan satu kesamaan: mereka tidak lagi gelisah. Beban yang
selama ini mereka pikul, entah apa, seolah-olah berkurang setelah mereka
berdiri di hadapan cermin itu.
Abu Nawas mencatat semua reaksi mereka dalam pikirannya. Ia
tidak menulis—ia tidak pernah menulis—tetapi ingatannya seperti
lembaran-lembaran perkamen yang bersih, menangkap setiap detail, setiap
ekspresi, setiap kata yang terucap.
Tapi ia juga mencatat bahwa tidak semua pejabat datang.
Beberapa pejabat tinggi—mereka yang memiliki jabatan paling berpengaruh di
istana—tidak pernah muncul. Mereka selalu punya alasan. Rapat. Laporan. Urusan
mendadak. Sakit. Ada yang bahkan mengirim utusan untuk menyampaikan bahwa
mereka “akan datang nanti, setelah urusan selesai.”
Tapi Abu Nawas tahu: orang yang jujur tidak perlu mencari
alasan. Orang yang bersih tidak perlu menunda.
Di antara mereka yang menghindar, ada tiga orang yang
paling mencurigakan.
Yang pertama adalah Umar bin Khattab al-Basri, seorang
pejabat di departemen keuangan kekhalifahan. Umar adalah lelaki paruh baya
dengan wajah yang selalu tersenyum, selalu ramah, selalu membungkuk hormat
kepada siapa pun yang lebih tinggi pangkatnya. Jabatannya tidak terlalu tinggi,
tetapi cukup tinggi untuk memiliki akses ke banyak informasi penting tentang
keuangan negara. Ia dikenal sebagai pejabat yang teliti, hampir sempurna. Tidak
ada kesalahan dalam catatannya. Tidak ada kekurangan dalam laporannya. Setiap angka,
setiap perhitungan, selalu tepat.
Tapi Abu Nawas pernah mendengar bisik-bisik di dapur bahwa
Umar memiliki rumah yang jauh lebih bagus dari yang seharusnya untuk seorang
pejabat dengan gaji sebesar itu. Dan ia juga mendengar bahwa Umar sering
bolak-balik ke ruang penyimpanan dokumen di tengah malam—sebuah kebiasaan yang
aneh untuk seorang pejabat yang katanya sangat teliti dan tidak pernah membuat
kesalahan.
Abu Nawas mendekati Umar di koridor pada hari kelima. Umar
sedang berjalan cepat dengan setumpuk dokumen di tangannya, matanya lurus ke
depan, berusaha tidak melihat siapa pun.
“Tuan Umar!” panggil Abu Nawas dengan suara ramah yang
sedikit terlalu keras. “Tuan Umar, selamat pagi!”
Umar berhenti dengan enggan. Ia menatap Abu Nawas dengan
senyum yang sudah disiapkan—senyum lebar yang menunjukkan deretan giginya yang
putih, senyum yang sama yang ia tunjukkan kepada semua orang di istana.
“Abu Nawas,” katanya, “pagi yang cerah, bukan?”
“Sangat cerah, Tuan. Sangat cerah sehingga sayang jika
dihabiskan hanya untuk bekerja. Tidakkah Tuan ingin berjalan-jalan sebentar ke
taman? Atau mungkin… ke ruang cermin?”
Senyum Umar sedikit mengeras. “Cermin? Ah, cermin itu. Aku
dengar banyak orang sudah bercermin. Bagus, bagus. Aku juga akan bercermin.
Nanti. Setelah pekerjaanku selesai.”
“Tuan Umar,” Abu Nawas mendekat, menurunkan suaranya
menjadi nada yang lebih personal, seperti seorang teman yang sedang berbagi
rahasia, “saya dengar Tuan adalah pejabat yang paling teliti di departemen
keuangan. Tidak pernah ada kesalahan. Selalu sempurna. Luar biasa. Saya iri.”
Umar tersenyum bangga. “Itu hanya tugasku, Abu Nawas. Aku
melakukan yang terbaik.”
“Tapi Tuan,” Abu Nawas melanjutkan, matanya menatap
langsung ke mata Umar, “bukankah manusia biasa pasti pernah melakukan kesalahan?
Bukankah kesempurnaan adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh Tuhan? Atau
mungkin… Tuan menyembunyikan kesalahan-kesalahan itu dengan sangat rapi
sehingga tidak ada yang tahu?”
Umar memucat. Senyumnya menghilang, digantikan oleh
ekspresi yang sulit diartikan—antara takut dan marah.
“Apa maksudmu, Abu Nawas?”
“Tidak ada maksud, Tuan. Saya hanya berpikir. Jika
seseorang terlalu sempurna, terlalu rapi, terlalu teliti, mungkin itu karena ia
berusaha terlalu keras untuk menutupi sesuatu. Dan orang yang berusaha terlalu
keras untuk menutupi sesuatu, biasanya… takut bercermin.”
Umar tidak menjawab. Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang
membara, tetapi di balik kemarahan itu, ada ketakutan yang mendalam. Ketakutan
yang tidak bisa disembunyikan oleh senyum secerah apa pun.
“Aku… aku harus pergi,” katanya akhirnya, suaranya serak.
“Ada laporan yang harus kuselesaikan.”
Ia berjalan pergi dengan langkah yang tidak lagi tegap.
Langkahnya terburu-buru, seperti orang yang sedang dikejar oleh bayangannya
sendiri.
Abu Nawas menatap punggungnya yang menghilang di ujung
koridor, lalu mencatat dalam pikirannya: Umar terlalu sempurna. Tidak
ada manusia yang sesempurna itu. Seseorang yang terlalu sempurna biasanya
sedang menyembunyikan sesuatu.
Yang kedua adalah Hakim al-Mishri, seorang pejabat yang
bertanggung jawab atas pengelolaan pajak dari provinsi-provinsi selatan. Hakim
adalah lelaki gemuk dengan wajah bulat yang selalu merah seperti baru saja
minum anggur, meskipun ia tidak pernah minum anggur di depan umum. Ia terkenal
kaya, jauh lebih kaya dari yang seharusnya untuk seorang pejabat dengan jabatan
selevelnya. Rumahnya adalah yang terbesar di kompleks pejabat istana, dengan
halaman yang dipenuhi bunga-bunga langka, kolam ikan yang diisi dengan
ikan-ikan mas dari Cina, dan koleksi permata yang konon tidak kalah dengan
perbendaharaan kerajaan.
Tapi tidak ada yang berani bertanya dari mana kekayaannya
berasal. Karena Hakim adalah teman dekat salah satu menteri berpengaruh, dan
memiliki jaringan koneksi yang luas di kalangan saudagar-saudagar kaya.
Abu Nawas “kebetulan” bertemu dengan Hakim di taman dalam
pada hari keenam. Hakim sedang duduk di bangku batu di tepi kolam, menikmati
semangkuk buah-buahan yang disajikan oleh pelayannya. Ketika melihat Abu Nawas
mendekat, ia tersenyum lebar—senyum seorang yang sangat percaya diri, yang
merasa tidak ada yang perlu ditakutkan.
“Abu Nawas!” serunya dengan suara gemuk yang bergema.
“Kemarilah, kemarilah! Coba buah delima ini, dari kebunku sendiri. Manisnya
luar biasa.”
Abu Nawas mendekat, duduk di bangku di hadapan Hakim, dan
mengambil sebuah delima yang sudah dibelah. Ia memakan beberapa butir,
mengunyah dengan nikmat.
“Luar biasa, Tuan,” katanya. “Buah delima sebaik ini
biasanya hanya tumbuh di kebun Baginda Raja. Tapi Tuan Hakim punya kebun yang
tidak kalah dengan kebun kerajaan. Luar biasa.”
Hakim tertawa bangga. “Abu Nawas, kau terlalu berlebihan.
Kebunku hanya kebun kecil. Tidak seberapa.”
“Tapi Tuan,” Abu Nawas melanjutkan dengan nada santai,
seperti sedang membicarakan cuaca, “saya dengar Tuan juga memiliki koleksi
permata yang sangat berharga. Zamrud dari lembah Indus, rubi dari Yaman, bahkan
konon ada berlian dari Hindi yang sebesar telur merpati. Apakah itu benar?”
Hakim tersenyum, tetapi senyumnya sedikit mengeras. “Aku
memang suka mengoleksi permata. Itu hobi. Setiap orang punya hobi, bukan?”
“Tentu, tentu. Tapi Tuan,” Abu Nawas menurunkan suaranya,
mendekatkan wajahnya, “bukankah gaji seorang pejabat pajak tidak cukup untuk
membeli zamrud dari lembah Indus? Apakah Tuan juga berdagang? Atau mungkin…
Tuan memiliki sumber penghasilan lain yang tidak disebutkan dalam laporan
pajak?”
Hakim berhenti tersenyum. Wajahnya yang tadinya merah
karena kebanggaan, kini merah karena sesuatu yang lain. Marah? Malu? Takut? Abu
Nawas tidak bisa memastikan.
“Abu Nawas,” katanya, suaranya rendah dan berat, “aku tidak
suka dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Kekayaanku adalah hasil kerja
kerasku. Tidak ada yang ilegal. Aku tidak perlu bercermin untuk membuktikan apa
pun.”
“Tentu, Tuan,” Abu Nawas tersenyum lebar, kembali ke nada
ramahnya yang biasa. “Saya tidak menuduh apa pun. Saya hanya berpikir, betapa
indahnya jika Tuan bercermin di cermin tua itu. Dengan kejujuran Tuan, pasti
Tuan hanya akan melihat wajah Tuan sendiri. Tidak ada bayangan dompet yang
membesar. Tidak ada bayangan permata yang berkilauan. Hanya wajah Tuan yang
tampan.”
Hakim tidak menjawab. Ia berdiri, meninggalkan buah delima
yang masih setengah di piringnya, dan berjalan pergi dengan langkah yang tidak
lagi lambat dan santai. Langkahnya cepat, seperti orang yang ingin segera
menjauh dari sesuatu yang menakutkan.
Abu Nawas menatap punggungnya yang gemuk bergoyang-goyang
di antara pepohonan, lalu mencatat dalam pikirannya: Hakim terlalu kaya
untuk seorang pejabat dengan gaji sekecil itu. Kekayaannya tidak sebanding
dengan pendapatannya yang sah. Sesuatu tidak beres.
Yang ketiga adalah Panglima Farhan al-Tamimi, seorang
komandan militer yang mengawasi pasukan-pasukan yang menjaga perbatasan utara.
Farhan adalah lelaki kekar dengan janggut lebat yang sudah memutih di beberapa
bagian, wajah yang keras seperti batu karang, dan suara yang bergema seperti
genderang perang. Ia adalah pahlawan perang, dihormati oleh semua prajurit, dan
sering dipuji oleh Baginda Raja sendiri sebagai “pedang kekhalifahan yang
paling tajam.”
Tapi akhir-akhir ini, ada yang berubah pada Farhan. Ia
sering terlihat gelisah. Ia sering marah tanpa sebab, membentak bawahannya, dan
menghindari pertemuan dengan pejabat lain. Matanya yang dulu tajam dan penuh percaya
diri, kini sayu dan menghindar. Ia juga belum pernah datang ke ruang cermin.
Abu Nawas “kebetulan” bertemu dengan Farhan di barak
pasukannya pada hari ketujuh. Farhan sedang berlatih dengan pedangnya ketika
Abu Nawas datang. Pedangnya berkilat di bawah sinar matahari pagi, setiap
ayunannya cepat dan mematikan. Tapi Abu Nawas, yang tidak pernah belajar
pedang, bisa melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda dari ayunan Farhan.
Ayunannya tidak lagi penuh semangat. Ada beban di setiap gerakannya, seperti orang
yang sedang berusaha melupakan sesuatu dengan memotong udara.
Ketika Farhan melihat Abu Nawas, ia berhenti. Pedangnya
diturunkan, dan matanya yang sayu menatap lelaki kurus dengan jubah lusuh itu
dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Apa yang kau cari di sini, pelawak?” sambarnya, tetapi
nada suaranya tidak lagi sekeras dulu. Ada kelelahan di dalamnya.
Abu Nawas tidak tersinggung. Ia tersenyum lebar. “Panglima
yang mulia, saya datang untuk memuji Panglima.”
“Memuji?” Farhan mengerutkan kening.
“Ya. Saya dengar Panglima adalah pahlawan perang.
Mengalahkan pemberontak di utara, melindungi perbatasan dari serangan suku-suku
liar, membuat musuh-musuh kekhalifahan gemetar hanya dengan mendengar nama
Panglima. Luar biasa. Saya iri. Saya sendiri hanya bisa membuat orang tertawa,
bukan gemetar.”
Farhan menurunkan pedangnya, menusukkannya ke tanah, dan
duduk di bangku kayu di samping barak. Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang
lebih jujur dari sebelumnya.
“Abu Nawas,” katanya, suaranya rendah, “kau datang ke sini
bukan untuk memuji. Kau datang untuk membicarakan cermin itu, bukan?”
Abu Nawas duduk di sampingnya, mengambil sebutir kurma dari
sakunya, dan menawarkannya kepada Farhan. Farhan menggeleng.
“Panglima,” kata Abu Nawas sambil mengunyah kurmanya, “saya
tidak akan memaksa Panglima untuk bercermin. Saya hanya ingin bertanya: mengapa
Panglima tidak pernah datang? Apakah Panglima takut?”
Farhan terdiam. Ia menatap pedangnya yang tertancap di
tanah, berkilat di bawah sinar matahari. Pedang itu sudah menemani nya dalam
puluhan pertempuran. Pedang itu telah membunuh banyak orang. Pedang itu telah
membawa kemenangan bagi kekhalifahan. Tapi sekarang, ketika ia melihat pedang
itu, yang ia lihat bukanlah kemenangan. Yang ia lihat adalah darah.
“Abu Nawas,” katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik,
“aku tidak takut pada cermin. Aku takut pada apa yang akan kulihat di sana.”
Abu Nawas tidak bertanya. Ia hanya menunggu.
Farhan menghela napas panjang. Tangannya yang dulu teguh
memegang pedang, kini gemetar sedikit ketika ia menyentuh gagang pedang yang
tertancap di tanah.
“Aku sudah menjadi prajurit selama tiga puluh tahun, Abu
Nawas. Tiga puluh tahun. Aku sudah mengikuti perintah tanpa bertanya. Aku sudah
membunuh tanpa merasa. Aku sudah menang tanpa merayakan. Aku adalah pedang.
Bukan manusia. Aku adalah alat. Bukan orang.”
Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang basah.
“Dan sekarang, ketika aku melihat cermin, aku takut bahwa
yang akan kulihat bukanlah wajahku. Yang akan kulihat adalah semua orang yang
telah kubunuh. Yang akan kulihat adalah semua perintah yang telah kujalankan
tanpa mempertanyakan apakah itu benar atau salah. Yang akan kulihat adalah…
seorang pembunuh. Bukan pahlawan.”
Abu Nawas meletakkan kurma yang tersisa di sakunya. Ia
menatap Farhan dengan mata yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di
istana—mata yang penuh dengan pengertian, penuh dengan simpati, penuh dengan
kebijaksanaan yang tersembunyi di balik lawakan-lawakannya.
“Panglima,” katanya lembut, “pedang tidak bisa menangis.
Pedang tidak bisa merasa takut. Pedang tidak bisa duduk di bangku ini dan
berbicara tentang rasa bersalah. Panglima adalah manusia. Manusia yang lelah.
Manusia yang terluka. Manusia yang memiliki hati nurani. Dan memiliki hati
nurani, Panglima, adalah bukti bahwa Panglima bukanlah pembunuh. Pembunuh
sejati tidak pernah merasa bersalah.”
Farhan menunduk. Bahunya yang kekar bergetar, dan Abu Nawas
tahu bahwa di balik janggut lebat dan wajah keras itu, ada air mata yang sedang
berjuang untuk tidak jatuh.
“Panglima,” Abu Nawas melanjutkan, “cermin itu tidak akan
menghakimi. Cermin itu hanya akan menunjukkan. Dan apa yang ditunjukkannya,
hanya Panglima yang bisa menentukannya. Jika Panglima melihat seorang pembunuh,
maka itulah yang Panglima pilih untuk dilihat. Tapi jika Panglima memilih untuk
melihat seorang manusia yang telah melakukan kesalahan dan ingin
memperbaikinya… maka itulah yang akan Panglima lihat.”
Farhan mengangkat kepalanya. Matanya merah, tetapi ada
sesuatu yang baru di sana. Bukan ketakutan. Bukan rasa bersalah. Tapi harapan.
“Kau pikir aku bisa berubah, Abu Nawas?”
“Panglima, keledai bisa berubah menjadi lebih bijaksana,
apalagi manusia. Tapi perubahan tidak datang dari cermin. Perubahan datang dari
sini,” Abu Nawas menunjuk dadanya sendiri, “dan dari sini,” ia menunjuk
kepalanya. “Cermin hanya alat. Panglima sendiri yang menentukan.”
Farhan berdiri. Ia mencabut pedangnya dari tanah,
menyandangnya kembali, dan menatap Abu Nawas dengan mata yang lebih jernih dari
sebelumnya.
“Terima kasih, Abu Nawas. Kau lebih dari sekadar pelawak.”
“Saya hanya pelawak yang suka kurma, Panglima. Tapi terima
kasih.”
BAB 5: PERMAINAN CERMIN PALSU
Setelah berbicara dengan ketiga pejabat yang paling
menghindar, Abu Nawas memutuskan bahwa sudah waktunya untuk mengambil langkah
berikutnya. Ia tidak bisa terus menunggu mereka datang dengan sukarela. Mereka
terlalu takut, terlalu terlindung oleh tembok kebohongan yang sudah mereka
bangun selama bertahun-tahun.
Tapi Abu Nawas juga tidak bisa memaksa. Ia tahu bahwa
kejujuran yang lahir dari paksaan bukanlah kejujuran. Kejujuran yang lahir dari
ketakutan akan hukuman hanya akan membuat orang semakin pandai menyembunyikan
kebohongannya.
Ia membutuhkan cara lain. Cara yang lebih halus. Cara yang
lebih… Abu Nawas.
Maka pada malam hari, ia pergi ke pasar, mencari seorang
pandai kaca tua yang ia kenal sejak lama. Namanya Ustadz Salim, seorang lelaki
kurus dengan kacamata tebal yang selalu melorot di ujung hidungnya, dan tangan
yang penuh dengan bekas luka karena bertahun-tahun bekerja dengan kaca dan api.
“Ustadz Salim,” sapa Abu Nawas ketika ia masuk ke bengkel
kecil yang dipenuhi dengan pecahan-pecahan kaca dan alat-alat aneh yang tidak
dikenalnya, “saya punya permintaan. Dan permintaan ini harus dirahasiakan. Jika
ada yang tahu, saya akan dipenggal. Dan jika saya dipenggal, saya tidak akan
bisa membayar utang kurma saya kepada Ustadz.”
Ustadz Salim tertawa. “Abu Nawas, kau selalu datang dengan
permintaan aneh dan ancaman yang lucu. Katakan, apa yang kau butuhkan?”
“Saya butuh cermin, Ustadz. Cermin yang persis menyerupai
cermin tua di ruang Al-Mir’ah al-Qadimah. Bingkai yang sama. Ukuran yang sama.
Bahkan retakan yang sama. Tapi dengan satu perbedaan.”
“Perbedaan apa?”
Abu Nawas mendekat, berbisik di telinga Ustadz Salim dengan
suara yang sangat pelan. Ustadz Salim mendengarkan, matanya membesar, lalu ia
tertawa terbahak-bahak.
“Abu Nawas! Kau benar-benar gila! Cermin seperti itu… itu
bukan cermin! Itu alat sulap!”
“Bukan sulap, Ustadz. Ini seni. Seni membuat orang melihat
apa yang mereka takutkan. Dan tidak ada yang lebih ahli dalam seni itu selain
Ustadz.”
Ustadz Salim menggeleng-gelengkan kepala, tetapi ia
tersenyum. “Kau beruntung aku suka tantangan. Beri aku waktu tiga hari.”
Tiga hari kemudian, cermin palsu itu selesai. Abu Nawas
datang ke bengkel Ustadz Salim pada tengah malam, membawa kain hitam besar
untuk menutupi cermin itu, dan membayar Ustadz Salim dengan sekantong emas yang
ia pinjam dari Jafar—tanpa sepengetahuan Jafar, tentu saja.
“Ustadz,” katanya sambil membawa cermin itu dengan hati-hati,
“jika ada yang bertanya, kau tidak pernah melihatku. Jika kau ditanya tentang
cermin ini, kau tidak pernah membuatnya. Jika kau disiksa, kau tidak tahu
apa-apa. Tapi jika kau disiksa terlalu lama, kau bisa mengatakan bahwa aku yang
memesan. Tapi hanya jika kau sudah tidak tahan. Saya tidak ingin Ustadz
menderita karena saya.”
Ustadz Salim tertawa. “Abu Nawas, kau satu-satunya orang
yang memesan cermin ajaib dan kemudian khawatir tentang keselamatan pembuatnya.
Pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan melapor ke istana.”
Abu Nawas tersenyum, membawa cermin itu, dan menghilang di
kegelapan malam Baghdad.
Keesokan paginya, Abu Nawas memasang cermin palsu itu di
sebuah ruangan kosong di sayap barat istana, yang jarang digunakan. Ia
membersihkan ruangan itu sendiri—sebuah pemandangan yang membuat para pelayan
terkejut, karena Abu Nawas tidak pernah terlihat membersihkan apa pun selain
piring makannya.
Ia kemudian mengumumkan kepada semua pejabat istana bahwa
ia telah “menemukan” cermin kedua di gudang tua. Cermin ini, katanya, memiliki
kekuatan yang sama dengan cermin pertama. Siapa pun yang bercermin di sini akan
melihat kebenaran hatinya.
“Tapi cermin ini lebih lembut,” katanya kepada sekelompok
pejabat yang berkumpul di koridor, dengan nada seperti seorang pedagang yang
sedang mempromosikan barang dagangannya. “Cermin ini tidak akan menakut-nakuti.
Cermin ini hanya akan menunjukkan. Dan jika ada yang tidak ingin dilihat,
cermin ini akan menyimpannya sebagai rahasia. Tidak ada yang tahu. Tidak ada
yang perlu tahu. Hanya kau dan cermin.”
Para pejabat saling berpandangan. Beberapa tampak tertarik.
Yang lain masih ragu.
“Dan yang terbaik,” lanjut Abu Nawas, “cermin ini tidak
retak. Masih utuh. Masih bersih. Masih siap menerima siapa pun yang berani
melihat kebenaran.”
Ia tersenyum lebar, matanya menatap ke arah Umar, Hakim,
dan Farhan yang berdiri di antara kerumunan.
“Siapa yang mau jadi yang pertama?”
Umar adalah orang pertama yang datang.
Ia datang pada sore hari, ketika matahari mulai condong ke
barat dan cahaya keemasan memasuki ruangan itu melalui jendela-jendela kecil di
dinding. Abu Nawas sedang duduk di depan pintu, dengan mangkuk kurma di
pangkuannya, ketika Umar muncul di ujung koridor dengan langkah yang berat dan
ragu.
“Tuan Umar,” sapa Abu Nawas dengan ramah, “akhirnya Tuan
datang.”
Umar berdiri di hadapannya, wajahnya pucat, tangannya
menggenggam erat ujung jubahnya. “Abu Nawas, aku… aku ingin bercermin.”
“Silakan, Tuan. Pintunya terbuka. Aku akan menunggu di
sini.”
Umar menarik napas dalam-dalam, membuka pintu, dan masuk.
Abu Nawas mendengar pintu tertutup di belakangnya. Ia mengambil kurma,
memasukkannya ke mulut, dan menunggu.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Dari dalam ruangan, terdengar suara. Bukan teriakan, bukan
tangisan. Hanya sebuah suara pelan, seperti seseorang yang menghela napas
panjang. Seperti beban yang dijatuhkan setelah dipikul terlalu lama.
Pintu terbuka. Umar keluar. Wajahnya pucat, matanya merah,
dan di pipinya, ada jejak air mata yang belum kering. Tapi ada sesuatu yang
berbeda dari dirinya. Sesuatu yang Abu Nawas tidak bisa jelaskan dengan
kata-kata. Seperti beban yang selama ini membungkukkan pundaknya, tiba-tiba
lenyap.
“Abu Nawas,” katanya, suaranya serak tetapi jernih, “aku…
aku melihatnya.”
“Melihat apa, Tuan?”
“Tanganku. Penuh emas. Seperti… seperti dalam ceritamu di
panggung.”
Abu Nawas tidak mengatakan bahwa itu karena Umar berdiri
dengan kaki kiri lebih berat—mungkin karena kegugupan, mungkin karena
kebiasaan, mungkin karena beban rasa bersalah yang selama ini ia pikul. Ia
hanya tersenyum lembut.
“Apa yang Tuan rasakan ketika melihat itu?”
Umar menunduk. Air matanya jatuh lagi, tetapi kali ini ia
tidak berusaha menyembunyikannya.
“Aku… aku takut, Abu Nawas. Tapi juga… lega. Seperti beban
yang selama ini kupikul, akhirnya terangkat. Aku tidak bisa menyembunyikannya
lagi. Aku tidak bisa.”
Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang jujur untuk pertama
kalinya dalam hidupnya. Mata yang tidak lagi bersembunyi di balik senyum yang
dipaksakan. Mata yang hanya ingin mengatakan kebenaran.
“Aku mengambil uang negara, Abu Nawas. Sedikit demi
sedikit, selama bertahun-tahun. Aku pikir tidak ada yang tahu. Aku pikir tidak
ada yang akan melihat. Tapi cermin itu… cermin itu melihat.”
Abu Nawas berdiri, menepuk pundak Umar dengan lembut. “Tuan
Umar, cermin itu tidak menghakimi. Cermin itu hanya menunjukkan. Sekarang Tuan
sudah melihat. Apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya?”
Umar mengusap air matanya dengan lengan bajunya. Gerakannya
kasar, tidak anggun, tetapi terasa lebih jujur dari semua senyum yang pernah ia
tunjukkan di istana.
“Aku akan… aku akan mengaku. Kepada Wazir Jafar. Kepada
Baginda Raja. Aku akan mengembalikan apa yang kuambil. Semuanya. Meskipun aku
harus menjual seluruh hartaku.”
“Itu keputusan yang baik, Tuan. Lebih baik mengaku dengan
sukarela daripada diungkap oleh cermin di depan semua orang.”
Umar mengangguk. Ia berjalan pergi dengan langkah yang
berat tetapi tidak lagi gemetar. Abu Nawas menatap punggungnya yang
membungkuk—bukan karena beban, tetapi karena ketundukan pada kebenaran—dan
merasa bahwa di istana yang penuh dengan kepalsuan ini, mungkin masih ada
harapan.
Hakim datang keesokan harinya. Ia datang dengan percaya
diri palsu yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia tertawa ketika masuk ke ruangan
itu, mengatakan bahwa ia tidak percaya pada cermin ajaib, bahwa semua ini hanya
omong kosong, bahwa ia hanya datang karena penasaran.
“Abu Nawas, kau benar-benar pandai membuat orang
penasaran,” katanya sambil tertawa, tetapi tawanya terdengar hampa. “Cermin
ajaib? Sungguh, aku sudah melihat banyak hal di istana ini, tapi cermin ajaib
adalah yang paling lucu.”
Abu Nawas tersenyum. “Silakan, Tuan. Buktikan sendiri. Atau
mungkin Tuan takut?”
Hakim berhenti tertawa. “Takut? Aku tidak takut pada
cermin. Aku hanya tidak percaya pada omong kosong.”
“Kalau begitu, masuklah. Lihatlah. Tidak ada yang perlu
ditakutkan.”
Hakim menatap Abu Nawas dengan mata yang tajam, lalu
membuka pintu dan masuk. Abu Nawas menunggu di luar, seperti biasa.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Tidak ada suara. Abu Nawas mulai gelisah. Ia mendekatkan
telinganya ke pintu. Masih tidak ada suara.
Empat menit. Lima menit.
Kemudian, pintu terbuka. Hakim keluar dengan wajah yang
berubah total. Wajahnya yang biasanya merah dan gemuk kini pucat seperti kapur.
Matanya kosong, mulutnya terbuka sedikit, dan tangannya gemetar hebat. Seluruh
tubuhnya yang gemuk bergetar seperti puding yang baru dikeluarkan dari cetakan.
“Abu Nawas,” katanya, suaranya nyaris tidak terdengar,
seperti bisikan dari kubur, “aku… aku melihat dompet. Dompet besar. Menutupi
seluruh tubuhku. Aku tidak bisa melihat wajahku. Yang ada hanya dompet.”
Abu Nawas tidak perlu bertanya apa artinya itu. Ia hanya
menepuk pundak Hakim dengan lembut, sama seperti yang ia lakukan pada Umar.
“Tuan Hakim, apa yang akan Tuan lakukan?”
Hakim menunduk. Air matanya jatuh, menetes ke jubah
sutranya yang mahal, membasahi sulaman emas yang menghiasi ujung lengannya.
“Aku akan… aku akan mengembalikan semuanya. Semua pajak
yang kukurangi. Semua uang yang kusimpan. Semuanya. Aku akan menjual semua
permata, semua rumah, semua tanah. Aku akan… aku akan menjadi petani. Seperti
kakekku.”
“Bagus, Tuan. Bagus.”
Farhan datang pada malam hari, ketika bulan purnama
bersinar terang di atas Baghdad, menerangi koridor-koridor istana dengan cahaya
perak yang dingin. Abu Nawas sudah hampir pulang ketika ia melihat bayangan
besar muncul di ujung koridor. Bayangan seorang lelaki kekar dengan pedang di
pinggang, berjalan dengan langkah tegap tetapi berat.
“Panglima,” sapa Abu Nawas ketika Farhan berdiri di
hadapannya. “Saya kira Panglima tidak akan datang.”
Farhan menatapnya dengan mata yang dalam, mata yang telah
melihat terlalu banyak pertempuran, terlalu banyak kematian, terlalu banyak hal
yang tidak ingin diingat.
“Aku hampir tidak datang, Abu Nawas. Tapi kata-katamu terus
terngiang di kepalaku. ‘Pedang tidak bisa menangis,’ katamu. ‘Pedang tidak bisa
merasa takut.’ Dan aku sadar… aku bukan pedang. Aku manusia. Dan manusia,
kadang-kadang, harus berani melihat dirinya sendiri.”
Ia membuka pintu dan masuk. Abu Nawas menunggu.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit.
Abu Nawas mulai gelisah. Ia mendekatkan telinganya ke
pintu. Tidak ada suara. Ia membuka pintu perlahan.
Farhan sedang berlutut di hadapan cermin itu. Bukan
berlutut karena takut, bukan berlutut karena lemah. Berlutut seperti seorang
prajurit yang sedang berdoa sebelum pertempuran. Dan di depannya, di permukaan
cermin palsu itu—yang karena Farhan berdiri dengan kedua kaki sama berat, ia
seorang prajurit, ia terlatih untuk selalu seimbang—tidak ada bayangan aneh.
Yang ada hanya bayangannya sendiri. Wajahnya sendiri. Tapi wajah itu… wajah itu
menangis.
Farhan tidak melihat tangan penuh emas. Tidak melihat
dompet membesar. Ia melihat dirinya sendiri. Dan itulah yang paling menakutkan
baginya.
Abu Nawas masuk ke ruangan itu, berjalan perlahan mendekati
Farhan, dan berlutut di sampingnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya duduk
di sana, di lantai marmer yang dingin, menemani panglima perang yang paling
ditakuti di kekhalifahan itu dalam keheningan.
Akhirnya, Farhan berbicara. Suaranya keluar dari
tenggorokannya seperti erangan yang tertahan selama bertahun-tahun.
“Abu Nawas, aku melihat diriku sendiri. Hanya diriku
sendiri. Tapi aku tidak tahan melihatnya.”
“Mengapa, Panglima?”
“Karena…” suaranya pecah. “Karena aku bukan lagi diriku
sendiri. Aku adalah apa yang diperintahkan orang lain. Aku membunuh bukan
karena keadilan, tetapi karena perintah. Aku menghancurkan bukan karena
kebenaran, tetapi karena politik. Aku adalah pedang, Abu Nawas. Bukan manusia.
Aku adalah alat. Dan alat… alat tidak punya hati nurani.”
Ia menoleh, menatap Abu Nawas dengan mata yang basah.
“Tapi aku punya hati nurani, Abu Nawas. Dan hati nurani itu
membunuhku setiap hari. Setiap malam, aku melihat wajah-wajah mereka. Mereka
yang kubunuh. Mereka yang mati karena perintahku. Mereka yang tidak pernah
kukenal, tetapi kuhancurkan hidupnya.”
Abu Nawas meletakkan tangannya di pundak Farhan yang kekar.
Tangannya yang kurus dan lembut terasa seperti bulu di atas batu karang, tetapi
Farhan merasakannya. Ia merasakan sentuhan itu, dan untuk pertama kalinya dalam
bertahun-tahun, ia merasa tidak sendirian.
“Panglima,” kata Abu Nawas dengan suara yang lembut tetapi
tegas, “Panglima bukan pedang. Panglima bukan alat. Panglima adalah manusia.
Manusia yang lelah. Manusia yang terluka. Manusia yang ingin pulang. Dan
manusia yang ingin pulang, Panglima, adalah manusia yang masih punya hati.”
Farhan menangis. Ia menangis seperti anak kecil yang
kehilangan ayahnya. Ia menangis seperti prajurit yang kehilangan temannya di
medan perang. Ia menangis untuk semua yang telah ia lakukan, dan untuk semua
yang tidak pernah ia lakukan.
Abu Nawas membiarkannya menangis. Ia tidak mengatakan bahwa
semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak mengatakan bahwa masa lalu bisa
dilupakan. Ia hanya duduk di sampingnya, di lantai marmer yang dingin, di bawah
cahaya bulan yang masuk melalui jendela, dan membiarkan panglima perang yang
paling ditakuti di kekhalifahan itu menjadi manusia untuk pertama kalinya dalam
tiga puluh tahun.
Ketika Farhan berhenti menangis, ia berdiri. Ia merapikan
jubahnya, menyandang pedangnya kembali, dan menatap cermin itu sekali lagi.
“Cermin ini,” katanya, “tidak menunjukkan apa pun selain
diriku. Tapi itu sudah cukup untuk membuatku sadar bahwa aku tidak bisa terus
seperti ini.”
Ia berbalik, menatap Abu Nawas dengan mata yang lebih
jernih dari sebelumnya.
“Besok, aku akan menghadap Baginda Raja. Aku akan
meletakkan pedang ini di kakinya. Aku akan meminta diizinkan pulang ke desaku.
Aku akan menjadi petani. Aku akan menanam padi, bukan membunuh orang.”
“Panglima,” kata Abu Nawas, “itu keputusan yang berani.
Lebih berani dari semua pertempuran yang pernah Panglima menangkan.”
Farhan tersenyum—senyum yang tulus, senyum yang tidak
pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selama bertahun-tahun.
“Terima kasih, Abu Nawas. Kau lebih dari sekadar pelawak.
Kau adalah… cermin. Cermin yang membuat orang berani melihat dirinya sendiri.”
Ia berjalan keluar, meninggalkan Abu Nawas yang masih
berlutut di lantai marmer yang dingin.
Abu Nawas menatap cermin palsu itu. Di permukaannya, ia
melihat bayangannya sendiri. Wajahnya yang kurus, janggutnya yang tidak
terawat, matanya yang lelah tetapi masih bersinar.
“Cermin,” gumamnya. “Kau tidak pernah berbohong. Tapi kau
juga tidak pernah mengatakan kebenaran. Kau hanya menunjukkan. Dan terserah
manusia untuk memutuskan apa yang harus dilakukan dengan apa yang mereka
lihat.”
Ia berdiri, merapikan jubahnya, dan berjalan keluar. Di
luar, bulan purnama bersinar terang di atas Baghdad, menerangi jalan pulangnya
dengan cahaya perak yang lembut.
BAB 6: TAWA YANG MENJERAT
Malam pertunjukan lawakan Abu Nawas di Aula Singgasana
menjadi malam yang paling dinanti-nantikan oleh seluruh istana. Bukan karena
lawakan Abu Nawas selalu lucu—meskipun memang selalu lucu—tetapi karena semua
orang tahu bahwa malam itu, Abu Nawas akan melakukan sesuatu. Sesuatu yang akan
menggetarkan istana. Sesuatu yang akan membuat seseorang terjatuh dari kursi
kehormatannya. Sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Aula Singgasana Agung, yang biasanya digunakan untuk
upacara kenegaraan dan penerimaan tamu asing, malam itu diubah menjadi panggung
pertunjukan. Lampu-lampu minyak diredupkan, menciptakan suasana yang lebih
intim, lebih santai, lebih… seperti kedai di pinggiran Baghdad, tetapi dengan
marmer dan sutra sebagai pengganti tanah liat dan anyaman bambu.
Kursi-kursi kayu cendana berukir diatur melingkar
mengelilingi panggung kecil yang didirikan di tengah aula. Di barisan depan,
duduk para pejabat tertinggi kekhalifahan: Wazir Jafar dengan jubah hijau
zamrudnya, para menteri dengan jubah-jubah berwarna-warni, para komandan
militer dengan seragam kebesaran mereka. Di barisan kedua, duduk para pejabat
menengah, termasuk Umar dan Hakim—keduanya duduk berjauhan, saling menghindari
tatapan. Di barisan ketiga, duduk para pejabat rendahan, para sekretaris, para
juru tulis, dan di sudut paling belakang, duduk para penjaga istana yang
mendapat izin khusus untuk menyaksikan pertunjukan.
Di barisan paling depan, di kursi khusus yang dilapisi
sutra merah, duduk Baginda Raja Harun Al-Rasyid sendiri, dengan Putri Zubaidah
di samping kanannya dan Pangeran Al-Ma’mun di samping kirinya. Al-Amin, putra
mahkota, duduk agak jauh, dengan ekspresi bosan yang sudah menjadi ciri khasnya.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengenakan jubah kebesaran
berwarna hitam dengan sulaman emas yang membentuk ayat-ayat suci, dan di
kepalanya, mahkota sementara dari emas dan safir—mahkota asli masih tersimpan
aman di Khizanat al-Khassa, dengan penjagaan yang diperketat dua kali lipat
dari sebelumnya. Matanya yang tajam bergerak cepat mengamati setiap orang di
ruangan itu, dan ketika matanya bertemu dengan matanya Abu Nawas yang sedang
bersiap di belakang panggung, ia tersenyum tipis—senyum yang mengatakan: Aku
sudah menunggumu. Jangan mengecewakanku.
Abu Nawas muncul di panggung dengan pakaian yang paling
rapi yang pernah ia kenakan sepanjang hidupnya. Jubah sutra hijau pemberian
Jafar—yang sedikit terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus—kini telah disesuaikan
oleh penjahit istana sehingga pas di badannya. Sorban putih yang disematkan
dengan bros kecil berbentuk bunga melati—hadiah dari salah satu dayang yang
terkesan dengan ceritanya tentang cermin—membuatnya terlihat hampir seperti
seorang pejabat istana. Hampir. Karena senyumnya yang lebar dan matanya yang
berkilat tetap sama seperti ketika ia duduk di kedai pinggiran Baghdad.
Ia berdiri di tengah panggung, menghadap ratusan pasang
mata yang tertuju padanya. Lampu-lampu minyak di sekelilingnya menciptakan
lingkaran cahaya yang membuatnya terlihat seperti seorang pesulap yang baru
saja muncul dari dunia lain.
“Baginda Raja Harun Al-Rasid Amirul Mukminin, semoga Allah
memanjangkan umur Baginda dan melimpahkan rahmat-Nya kepada seluruh keluarga
kerajaan,” ia memulai dengan suara yang lantang dan jelas, bergema di aula yang
sunyi. “Para wazir, para menteri, para panglima, para ulama, para bangsawan,
para pejabat, para penjaga, dan semua hadirin yang mulia—termasuk para pelayan
yang duduk di belakang sana, saya lihat kalian, jangan sembunyi-sembunyi.”
Tawa kecil pecah di antara para pelayan yang duduk di
barisan paling belakang.
“Malam ini,” lanjut Abu Nawas, berjalan mondar-mandir di
panggung dengan langkah seorang pemain sandiwara yang percaya diri, “saya tidak
akan membicarakan cermin. Saya tidak akan membicarakan retakan. Saya tidak akan
membicarakan kebenaran atau kebohongan. Malam ini, saya hanya akan… tertawa.”
Ia tertawa, dan tawanya menular. Beberapa pejabat ikut
tertawa, meskipun tidak semua. Ada yang tertawa dengan tulus, ada yang tertawa
karena ikut-ikutan, ada yang tertawa karena takut dianggap tidak punya selera
humor.
“Tapi karena saya tidak bisa tertawa sendirian—percayalah,
saya sudah mencoba, dan hasilnya menyedihkan—saya akan menceritakan kisah-kisah
lucu. Kisah-kisah yang mungkin… mungkin saja… menyerupai kehidupan kita
sehari-hari. Atau mungkin tidak. Terserah kalian. Saya hanya bercerita. Yang
menafsirkan adalah hati kalian masing-masing.”
Ia berhenti di tengah panggung, menatap satu per satu wajah
para hadirin. Matanya berhenti sejenak di wajah Umar, lalu Hakim, lalu Farhan.
Ketiganya duduk di tempat yang berbeda, tetapi semuanya tampak tegang. Umar
mengusap-usap dahinya dengan saputangan yang sudah basah oleh keringat. Hakim
menggenggam erat lengan kursinya hingga buku-buku jarinya memutih. Farhan duduk
dengan punggung tegak seperti biasa, tetapi Abu Nawas bisa melihat bahwa
tangannya, yang dulu selalu tenang memegang pedang, kini gemetar sedikit di
pangkuannya.
“Kisah pertama,” kata Abu Nawas, suaranya berubah menjadi
nada seorang pendongeng di pasar malam, “adalah tentang seorang pejabat yang
sangat rajin. Rajin sekali. Rajinnya bukan main. Setiap malam, ia bekerja.
Setiap malam, ia memeriksa catatan-catatan. Setiap malam, ia memastikan semua
angka-angka itu sempurna. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang kurang. Tidak
ada yang lebih. Sempurna.”
Ia berjalan ke tepi panggung, mendekati barisan tempat para
pejabat duduk.
“Suatu malam, ketika ia sedang memeriksa catatan-catatan
itu di kantornya yang sunyi—karena semua orang sudah pulang, bahkan lampu-lampu
di koridor sudah mulai padam satu per satu—ia melihat bayangannya di jendela.
Bayangan itu tidak seperti dirinya. Bayangan itu memiliki tangan yang panjang,
panjang sekali, seperti tangan gurita dari laut selatan. Dan di setiap jari
tangan yang panjang itu, ada emas. Emas berkilauan. Emas yang belum pernah ia
lihat dalam jumlah sebanyak itu.”
Ia menirukan ekspresi terkejut yang lucu, membelalakkan
mata dan membuka mulut lebar-lebar. Beberapa hadirin tertawa.
“Pejabat itu terkejut, tentu saja. Siapa yang tidak
terkejut melihat bayangannya sendiri memiliki tangan sepanjang gurita? Ia
berkata kepada bayangannya, ‘Hai bayangan, mengapa tanganmu panjang?’ Dan
bayangan itu menjawab—bayangan bisa bicara, dalam cerita ini, karena ini
cerita, dan dalam cerita, bayangan bisa melakukan apa saja, bahkan lebih pintar
dari pejabat.”
Tawa pecah lagi.
“Bayangan itu menjawab, ‘Wahai pejabat yang rajin, tanganku
panjang karena aku sering mengambil sesuatu yang bukan hakku. Setiap malam,
ketika kau bekerja, aku mengambil. Sedikit di sini, sedikit di sana. Tidak
terlalu banyak, tidak terlalu sedikit. Cukup untuk tidak ketahuan. Cukup untuk
membuatku kaya.’ Pejabat itu bertanya lagi, ‘Apa yang kau ambil?’ Bayangan itu
menjawab, ‘Uang rakyat, Tuan. Uang pajak yang seharusnya untuk membangun
jembatan, menggali sumur, memberi makan orang miskin. Aku ambil sedikit demi
sedikit, dan sekarang tanganku panjang karena terbiasa mengambil.’”
Abu Nawas berjalan kembali ke tengah panggung, suaranya
menjadi lebih pelan, lebih misterius.
“Pejabat itu pucat. Ia berlari ke cermin—bukan cermin tua
di ruang Al-Mir’ah, tetapi cermin biasa di kantornya—dan berdiri di hadapannya.
Tetapi di cermin itu, ia tidak melihat wajahnya. Yang ia lihat hanyalah
tangannya sendiri. Tangan yang panjang, penuh emas. Dan emas-emas itu…
emas-emas itu menetes. Menetes seperti air mata.”
Ia berhenti. Aula sunyi.
“Pejabat itu bertanya, ‘Apa yang harus aku lakukan?’ Cermin
itu—karena dalam cerita ini, cermin juga bisa bicara, mengapa tidak?—menjawab,
‘Kembalikan, Tuan. Kembalikan apa yang bukan hakmu. Maka tanganku akan kembali
normal. Maka kau akan bisa melihat wajahmu sendiri lagi.’”
Abu Nawas tersenyum, kembali ke nada ceria.
“Apakah pejabat itu mengembalikan? Entahlah. Cerita ini
belum selesai. Mungkin ia mengembalikan. Mungkin tidak. Tapi satu hal yang
pasti: setiap kali ia lewat di depan cermin, ia selalu menunduk. Tidak berani
melihat. Karena ia takut melihat tangannya yang panjang.”
Aula bertepuk tangan. Tawa dan tepuk tangan bercampur
menjadi satu. Abu Nawas menunduk hormat, lalu melirik ke arah Umar.
Umar tidak bertepuk tangan. Tangannya menggenggam erat
ujung jubahnya, dan di dahinya, keringat mengalir deras seperti sungai di musim
hujan.
“Kisah kedua,” lanjut Abu Nawas setelah tepuk tangan
mereda, “adalah tentang seorang saudagar yang menjadi pejabat. Saudagar itu
sangat kaya. Kaya raya. Kekayaannya tidak terhitung. Ia memiliki rumah sebesar
istana—bukan istana ini, tentu saja, karena istana ini milik Baginda Raja, dan
tidak ada yang berani memiliki rumah sebesar istana Baginda Raja kecuali ia
ingin dipenggal.”
Tawa kecil.
“Ia memiliki koleksi permata yang tak terhitung jumlahnya.
Zamrud dari lembah Indus, rubi dari Yaman, berlian dari Hind, mutiara dari laut
selatan. Semuanya tersimpan di peti-peti besi yang dijaga oleh puluhan penjaga.
Ia memiliki kuda-kuda terbaik di seluruh Baghdad, bahkan lebih baik dari
kuda-kuda Baginda Raja—tapi ini hanya dalam cerita, tentu saja, karena di dunia
nyata, tidak ada kuda yang lebih baik dari kuda Baginda Raja.”
Ia melirik ke arah Bgnda Raja Harun Al-Rasyid dengan
ekspresi takut-takut yang dibuat-buat. Baginda Raja tertawa kecil, dan itu
cukup untuk membuat semua orang ikut tertawa.
“Tapi saudagar ini memiliki satu masalah: setiap kali ia
lewat di depan cermin, ia tidak pernah melihat wajahnya. Yang ia lihat hanyalah
dompetnya. Dompet besar, dompet yang terus membesar setiap hari, setiap minggu,
setiap tahun. Dompet itu semakin besar, semakin besar, hingga akhirnya menutupi
seluruh tubuhnya. Ia tidak bisa melihat matanya. Ia tidak bisa melihat
hidungnya. Ia tidak bisa melihat mulutnya. Yang ada hanya dompet.”
Ia berjalan ke sisi panggung yang lain, suaranya menjadi
lebih pelan.
“Suatu hari, seorang teman lamanya—seorang yang miskin,
karena orang kaya biasanya berteman dengan orang miskin agar mereka bisa merasa
lebih kaya—bertanya kepadanya, ‘Wahai saudagar, mengapa kau tidak pernah
bercermin? Apakah kau takut melihat kerutan di wajahmu?’ Saudagar itu menjawab,
‘Bukan kerutan yang kutakuti. Aku takut melihat bahwa aku bukan lagi manusia,
tetapi dompet berjalan. Aku takut melihat bahwa seluruh diriku telah menjadi
emas, dan tidak ada yang tersisa selain kekayaan.’ Temannya bertanya, ‘Kalau
begitu, mengapa tidak kau kembalikan apa yang bukan hakmu? Mengapa tidak kau
bagikan kepada yang membutuhkan?’ Saudagar itu menjawab, ‘Tapi sudah terlalu
banyak. Aku tidak tahu mana yang hakku dan mana yang bukan. Aku tidak tahu mana
yang halal dan mana yang haram. Semuanya bercampur aduk, seperti pasir dan
air.’ Temannya berkata, ‘Maka bersihkan. Pisahkan. Kembalikan. Karena lebih
baik miskin tetapi bisa melihat wajahmu sendiri, daripada kaya tetapi hanya
melihat dompet.’”
Abu Nawas berhenti, menatap ke arah Hakim.
“Apakah saudagar itu membersihkan hartanya? Entahlah.
Cerita ini juga belum selesai. Tapi satu hal yang pasti: setiap kali ia melihat
cermin, ia selalu menutup matanya. Karena ia takut melihat dompetnya yang
membesar.”
Hakim tidak bergerak. Wajahnya merah padam, lebih merah
dari biasanya. Tangannya yang gemuk menggenggam erat lengan kursinya, dan Abu
Nawas bisa melihat bahwa kuku-kukunya sudah memutih karena tekanan.
“Kisah ketiga,” Abu Nawas melanjutkan, dan kali ini
suaranya berubah. Tidak lagi ceria, tidak lagi lucu. Ada nada yang lebih dalam,
lebih berat, seperti seorang yang sedang membicarakan sesuatu yang sangat
pribadi. “Kisah ketiga adalah tentang seorang panglima perang. Seorang panglima
yang gagah berani. Yang telah memenangkan banyak pertempuran. Yang telah
mengalahkan banyak musuh. Yang dihormati oleh semua prajuritnya. Yang disegani
oleh musuh-musuhnya. Yang namanya disebut dengan penuh hormat di seluruh
kekhalifahan.”
Ia berjalan perlahan mendekati barisan tempat Farhan duduk.
Farhan tidak bergerak, tetapi Abu Nawas bisa melihat dadanya naik turun lebih
cepat dari biasanya.
“Panglima ini, katanya, tidak pernah kalah. Tidak pernah
mundur. Tidak pernah gentar. Ia adalah singa di medan perang, badai di tengah
musuh, kematian bagi siapa pun yang berani menghadapinya. Tapi suatu malam,
ketika ia sedang sendirian di tendanya setelah pertempuran, ia melihat
bayangannya di dinding. Bayangan itu tidak sedang memegang pedang. Bayangan itu
sedang berlutut. Bayangan itu sedang menangis.”
Aula menjadi sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara
napas orang-orang terdengar seperti angin.
“Panglima itu terkehat—terkejut, maksud saya—ia bertanya
kepada bayangannya, ‘Mengapa kau berlutut? Mengapa kau menangis? Kau adalah
panglima yang tak terkalahkan. Kau adalah singa di medan perang. Mengapa kau
menangis?’ Dan bayangan itu menjawab—bayangan itu bisa bicara, dalam cerita
ini—menjawab dengan suara yang parau, seperti suara orang yang sudah lama tidak
menangis tetapi akhirnya menangis juga.”
Suara Abu Nawas menjadi lebih pelan, lebih lembut.
“Bayangan itu berkata, ‘Wahai panglima, aku menangis karena
aku lelah. Aku lelah membunuh. Aku lelah melihat darah. Aku lelah mendengar
jeritan. Aku lelah melakukan semua yang diperintahkan tanpa bertanya apakah itu
benar atau salah. Aku lelah menjadi pedang, bukan manusia. Aku lelah menjadi
alat, bukan orang.’ Panglima itu bertanya, ‘Apa yang harus aku lakukan?’
Bayangan itu menjawab, ‘Lihatlah ke cermin, wahai panglima. Lihatlah siapa
dirimu sebenarnya. Bukan panglima yang disegani. Bukan pahlawan yang dihormati.
Tapi manusia biasa yang lelah. Manusia biasa yang takut. Manusia biasa yang
ingin pulang.’”
Abu Nawas berhenti. Ia berdiri di hadapan Farhan, hanya
beberapa langkah jaraknya. Farhan tidak bergerak. Tidak berkedip. Matanya
menatap lurus ke depan, tetapi Abu Nawas bisa melihat bahwa di balik matanya
yang keras itu, ada sesuatu yang retak. Sesuatu yang selama tiga puluh tahun ia
tahan, akhirnya mulai pecah.
“Apakah panglima itu melihat ke cermin? Entahlah. Cerita
ini juga belum selesai. Tapi satu hal yang pasti: sejak malam itu, ia tidak
pernah lagi bisa tidur nyenyak. Karena setiap kali ia memejamkan mata, yang ia
lihat bukanlah kemenangan. Yang ia lihat adalah wajah-wajah mereka yang telah
ia bunuh. Yang ia lihat adalah darah di tangannya. Yang ia lihat adalah…
dirinya sendiri.”
Ia berjalan kembali ke tengah panggung, dan untuk pertama
kalinya malam itu, suaranya tidak lagi ceria. Ada kesedihan di dalamnya. Ada
pengertian yang mendalam.
“Kisah-kisah ini, para hadirin yang mulia, hanyalah kisah.
Saya tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Saya tidak tahu apakah pejabat
yang tangannya panjang itu ada di antara kita. Saya tidak tahu apakah saudagar
yang dompetnya membesar itu sedang duduk di kursi ini. Saya tidak tahu apakah
panglima yang menangis di malam hari itu sedang mendengarkan saya sekarang.”
Ia berhenti, menatap satu per satu wajah para hadirin.
“Tapi saya tahu satu hal: cermin tidak pernah berbohong.
Cermin hanya menunjukkan. Dan ketika seseorang tidak tahan melihat apa yang
ditunjukkan cermin, cermin itu akan retak. Bukan karena cerminnya yang lemah.
Bukan karena cerminnya yang tua. Tapi karena kebenaran yang terlalu berat untuk
ditanggung.”
Ia menunjuk ke arah koridor yang mengarah ke ruang
Al-Mir’ah al-Qadimah.
“Cermin di ruang itu masih retak. Masih belum sembuh.
Karena kebenaran yang membuatnya retak masih belum terungkap. Atau… sudah
terungkap, tetapi yang bersangkutan belum cukup berani untuk mengakuinya. Belum
cukup berani untuk berdiri di hadapan cermin dan berkata, ‘Inilah aku. Dengan
semua kesalahanku. Dengan semua kebohonganku. Dengan semua ketakutanku. Inilah
aku.’”
Suaranya naik sedikit, menjadi lebih kuat, lebih tegas.
“Saya tidak akan menunjuk siapa pun. Saya tidak akan
menuduh siapa pun. Saya tidak akan membuka rahasia siapa pun. Karena itu bukan
tugas saya. Tugas saya hanya… tertawa. Dan membuat kalian tertawa. Tapi di
balik tawa, kadang-kadang, ada kebenaran. Kebenaran yang tidak bisa disampaikan
dengan air mata. Kebenaran yang hanya bisa disampaikan dengan senyum.”
Ia tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang tidak
main-main, senyum yang membuat semua orang yang melihatnya merasakan sesuatu
yang aneh di dada mereka.
“Cermin itu akan sembuh, para hadirin. Bukan dengan lem
atau paku. Bukan dengan sihir atau doa. Tapi dengan keberanian. Keberanian
untuk melihat diri sendiri. Keberanian untuk mengakui kesalahan. Keberanian
untuk berkata, ‘Aku salah. Aku bersalah. Tapi aku ingin memperbaiki.’”
Ia membungkuk, dalam-dalam.
“Sekian lawakan saya malam ini. Selamat tertawa, para hadirin.
Dan selamat bercermin.”
Aula bergemuruh dengan tepuk tangan. Tepuk tangan yang
keras, yang lama, yang membuat dinding-dinding marmer bergetar. Para pejabat
berdiri dari kursi mereka, bertepuk tangan dengan semangat. Para penjaga di
belakang bersiul-siul. Para pelayan berteriak-teriak. Bahkan para menteri yang
paling kaku sekalipun ikut bertepuk tangan, meskipun dengan gerakan yang lebih
terkendali.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri dari singgasananya. Ia
tidak bertepuk tangan. Ia hanya menatap Abu Nawas dengan mata yang tidak bisa
dibaca. Tapi di sudut bibirnya, ada senyum. Senyum yang tulus. Senyum yang
mengatakan: Kau berhasil, Abu Nawas. Kau membuat mereka melihat. Kau
membuat mereka berpikir. Kau membuat mereka… takut.
Abu Nawas membungkuk sekali lagi, lalu berjalan turun dari
panggung. Di belakang panggung, ia bertemu dengan Jafar yang sudah menunggu
dengan wajah pucat.
“Abu Nawas,” bisik Jafar, “kau… kau keterlaluan. Kau
menuduh mereka di depan semua orang.”
“Saya tidak menuduh siapa pun, Wazir,” kata Abu Nawas
sambil mengambil kurma dari saku jubahnya. “Saya hanya bercerita. Yang menuduh
adalah hati mereka sendiri.”
Ia memasukkan kurma ke mulutnya, mengunyah dengan nikmat,
dan berjalan keluar meninggalkan Jafar yang menggeleng-gelengkan kepala dengan
ekspresi antara kagum dan putus asa.
BAB 7: KEJUTAN DI TENGAH MALAM
Tiga hari setelah pertunjukan lawakan, istana masih
bergemuruh dengan bisik-bisik tentang cerita-cerita Abu Nawas. Para pejabat
tidak membicarakan hal lain. Di setiap sudut, di setiap koridor, di setiap
ruang pertemuan, yang dibicarakan hanyalah satu hal: pejabat dengan tangan
panjang, saudagar dengan dompet membesar, panglima yang menangis di malam hari.
“Kau dengar cerita Abu Nawas?”
“Siapa yang tidak mendengar? Seluruh istana mendengar.”
“Kau pikir itu tentang siapa?”
“Entahlah. Tapi yang jelas, beberapa orang di istana ini
terlihat sangat tidak nyaman setelah pertunjukan itu.”
“Siapa?”
“Kau tidak lihat Umar? Wajahnya pucat seperti mayat. Dan
Hakim? Dia tidak berhenti mengusap keringat sepanjang malam. Dan Farhan…”
“Farhan bagaimana?”
“Farhan… Farhan diam. Tapi matanya. Matanya seperti orang
yang baru saja melihat hantu.”
Bisik-bisik itu sampai ke telinga Abu Nawas, tentu saja.
Abu Nawas mendengar semuanya dari tempat duduknya di depan ruang cermin, dengan
mangkuk kurma di pangkuannya dan segelas air tajin di sampingnya. Ia tersenyum
mendengar bisik-bisik itu, tetapi ia tidak terburu-buru. Ia tahu bahwa benih
yang ia tanam sudah mulai tumbuh. Sekarang, ia hanya perlu menunggu. Menunggu sampai
buahnya matang. Menunggu sampai orang-orang itu sendiri yang datang, tanpa
dipaksa, tanpa didesak, karena hati mereka sendiri yang tidak bisa lagi menahan
beban.
Dan pada malam ketiga setelah pertunjukan, sesuatu terjadi.
Abu Nawas sedang duduk di Kedai Al-Farabi, di tempat
favoritnya di sudut ruangan, menikmati semangkuk bubur kacang hijau hangat yang
baru saja ia pesan, ketika seseorang duduk di hadapannya.
Ia mengangkat kepalanya, dan hampir menjatuhkan mangkuk
buburnya.
Di hadapannya duduk Panglima Farhan al-Tamimi, dengan
pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, tanpa pedang, tanpa jubah militer. Ia
hanya mengenakan jubah katun putih sederhana, seperti yang dikenakan oleh
petani atau nelayan. Wajahnya yang keras tampak lebih lembut dalam cahaya lampu
minyak yang redup, dan matanya—matanya yang dulu selalu tajam dan penuh
kewaspadaan—kini sayu, seperti mata orang yang sudah lama tidak tidur.
“Panglima,” kata Abu Nawas setelah keterkejutannya mereda,
“apa yang membawa Panglima ke tempat yang tidak layak ini? Kedai ini terlalu
kotor untuk seorang panglima perang.”
Farhan tersenyum—senyum yang aneh, senyum yang tidak pernah
ia tunjukkan di istana, senyum yang membuatnya terlihat seperti manusia biasa,
bukan pahlawan perang.
“Abu Nawas,” katanya, suaranya rendah dan berat, “aku sudah
tidak lagi menjadi panglima. Mulai hari ini, aku hanya Farhan. Farhan dari desa
kecil di utara, yang ingin pulang.”
Abu Nawas meletakkan sendoknya. Ia menatap Farhan dengan
mata yang serius. “Apa maksud Panglima?”
“Aku sudah menghadap Baginda Raja sore tadi,” kata Farhan.
“Aku meletakkan pedangku di kakinya. Aku meminta izin untuk melepaskan semua
jabatanku. Aku meminta izin untuk pulang ke desaku. Untuk menjadi petani.
Untuk… menjadi manusia.”
Abu Nawas terdiam. Ia mengambil kurma dari sakunya,
memutarnya di antara jari-jarinya, tetapi tidak memasukkannya ke mulut.
“Apa kata Baginda Raja?” tanyanya.
Farhan menghela napas panjang. “Baginda Raja menatapku
lama. Sangat lama. Aku pikir ia akan marah. Aku pikir ia akan mengatakan bahwa
aku pengecut. Tapi ia tidak. Ia hanya berkata, ‘Farhan, kau adalah prajurit
yang paling berani. Bukan karena kau pernah menang dalam pertempuran, tetapi
karena kau berani mengakui bahwa kau salah. Pergilah. Pulanglah. Jadilah
manusia. Dan jadilah kepala desa di kampung halamanmu. Aku ingin kau melayani
rakyat di sana, bukan dengan pedang, tetapi dengan hati.’”
Air mata Farhan jatuh. Jatuh ke meja kayu yang kotor, ke
mangkuk bubur Abu Nawas yang masih setengah, ke tangannya yang dulu hanya
memegang pedang.
“Abu Nawas,” katanya, suaranya parau, “aku tidak tahu
apakah aku bisa menjadi manusia yang baik. Aku sudah terlalu lama menjadi
pedang. Aku sudah terlalu lama membunuh. Aku tidak tahu apakah aku masih punya
hati.”
Abu Nawas meletakkan kurmanya. Ia meraih tangan
Farhan—tangan yang kasar, tangan yang penuh bekas luka, tangan yang telah
membunuh banyak orang—dan menggenggamnya dengan lembut.
“Panglima,” katanya, “Panglima punya hati. Panglima
membuktikannya malam ini dengan datang ke sini. Panglima membuktikannya dengan
meletakkan pedang. Panglima membuktikannya dengan menangis. Panglima punya
hati, Panglima. Hati yang terluka, hati yang lelah, tetapi hati yang masih bisa
merasakan. Dan hati seperti itu, Panglima, adalah hati yang bisa menjadi baik.”
Farhan menangis. Ia menangis seperti anak kecil yang
kehilangan ayahnya. Ia menangis seperti prajurit yang kehilangan temannya di
medan perang. Ia menangis untuk semua yang telah ia lakukan, dan untuk semua
yang tidak pernah ia lakukan.
Abu Nawas membiarkannya menangis. Ia tidak mengatakan bahwa
semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak mengatakan bahwa masa lalu bisa
dilupakan. Ia hanya duduk di hadapannya, di kedai kotor di pinggiran Baghdad,
dan membiarkan panglima perang yang paling ditakuti di kekhalifahan itu menjadi
manusia untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun.
Ketika Farhan berhenti menangis, ia berdiri. Ia mengusap
air matanya dengan lengan bajunya—gerakan yang kasar, tidak anggun, tetapi
terasa lebih jujur dari semua penghormatan yang pernah ia terima di istana.
“Abu Nawas,” katanya, “aku akan pergi besok pagi. Sebelum
matahari terbit. Aku akan berjalan kaki ke desaku. Tiga hari perjalanan. Aku
ingin merasakan tanah di bawah kakiku. Aku ingin merasakan matahari di wajahku.
Aku ingin… menjadi manusia.”
“Panglima,” kata Abu Nawas, “itu perjalanan yang panjang.
Apakah Panglima tidak ingin menunggang kuda? Saya bisa meminjamkan kuda—eh,
sebenarnya saya tidak punya kuda. Tapi saya bisa meminjam kuda dari Wazir
Jafar. Jangan bilang ia tahu.”
Farhan tertawa—tertawa yang pertama kali dalam
bertahun-tahun, tertawa yang keluar dari perutnya, tertawa yang membuat seluruh
kedai menoleh.
“Abu Nawas,” katanya, “kau benar-benar gila. Tapi gila yang
baik. Gila yang menyelamatkan.”
Ia berbalik, berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar,
ia berhenti dan menoleh.
“Abu Nawas.”
“Ya, Panglima?”
“Jangan panggil aku Panglima lagi. Panggil aku Farhan.
Farhan si petani. Farhan si manusia.”
Ia pergi, meninggalkan Abu Nawas yang duduk di bangkunya
dengan senyum misterius.
Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan
mengunyah dengan perlahan.
“Farhan si petani,” gumumnya. “Kedengarannya lebih baik
daripada Farhan si panglima. Lebih baik daripada Farhan si pedang. Lebih baik
daripada Farhan si pembunuh. Farhan si petani. Ya. Kedengarannya seperti…
manusia.”
BAB 8: PENGADILAN DI HADAPAN RAJA
Keesokan paginya, Farhan sudah pergi. Ia berjalan kaki
meninggalkan Baghdad sebelum fajar, dengan hanya membawa sepotong roti dan
sebotol air. Tidak ada yang mengantarnya. Tidak ada yang melihatnya pergi.
Hanya Abu Nawas yang berdiri di gerbang kota, dengan mangkuk kurma di
tangannya, menyaksikan bayangan lelaki kekar itu menghilang di balik bukit
pasir di timur.
“Selamat jalan, Farhan si petani,” gumam Abu Nawas. “Semoga
tanah di desamu subur. Semoga hujan turun tepat waktu. Semoga anak-anak desamu
tumbuh tanpa ketakutan. Semoga kau menemukan dirimu yang hilang di antara
padi-padi yang kau tanam.”
Ia memakan kurma terakhir di mangkuknya, membalikkan badan,
dan berjalan kembali ke istana. Hari itu, ia mendengar kabar bahwa Umar dan
Hakim juga telah menghadap Baginda Raja.
Umar masuk ke ruang pertemuan pribadi Baginda Raja dengan
langkah yang berat tetapi mantap. Ia tidak lagi memakai jubah sutra mahal yang
biasa ia kenakan. Ia hanya mengenakan jubah katun putih sederhana, seperti yang
dikenakan oleh para juru tulis rendahan. Di tangannya, ia membawa setumpuk
dokumen yang sudah menguning—catatan lengkap tentang semua yang telah ia ambil
selama lima tahun terakhir.
Ia berlutut di hadapan Baginda Raja, meletakkan
dokumen-dokumen itu di lantai marmer di depannya.
“Baginda,” katanya, suaranya bergetar tetapi jelas, “aku
datang untuk mengaku. Selama lima tahun menjabat sebagai pejabat keuangan, aku
telah mengurangi catatan pajak dan mengalihkan sebagian uang negara ke kantong
pribadiku. Totalnya… totalnya adalah lima ribu dinar.”
Ia menunduk, dahinya menyentuh lantai marmer yang dingin.
“Aku tidak memohon ampun, Baginda. Aku hanya memohon
kesempatan untuk memperbaiki. Aku akan mengembalikan semua yang telah kuambil.
Aku akan menjual rumahku, tanahku, semua yang kumiliki. Aku akan bekerja
sebagai juru tulis biasa, tanpa gaji, sampai hutangku lunas. Aku tidak pantas
disebut pejabat. Aku tidak pantas berada di istana ini.”
Harun Al-Rasyid tidak mengatakan apa-apa. Ia mengambil
dokumen-dokumen itu, membacanya satu per satu dengan saksama. Setiap angka,
setiap tanggal, setiap transaksi. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang
dimanipulasi. Semuanya jujur, untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
“Umar,” katanya akhirnya, suaranya tenang tetapi berat,
“lima ribu dinar. Itu cukup untuk membangun sepuluh jembatan. Atau menggali
lima puluh sumur. Atau memberi makan seribu keluarga miskin selama setahun. Dan
kau mengambilnya untuk dirimu sendiri. Untuk rumah besarmu. Untuk jubah
sutramu. Untuk kuda-kuda mahalmu.”
Umar tidak mengangkat kepalanya. Air matanya menetes ke
lantai marmer.
“Tapi,” lanjut Harun Al-Rasyid, “kau mengaku. Kau tidak
dipaksa. Kau tidak disiksa. Kau datang sendiri, dengan catatan lengkap, dengan
penyesalan yang tulus. Itu… itu adalah keberanian. Keberanian yang tidak
dimiliki banyak orang.”
Ia meletakkan dokumen-dokumen itu di sampingnya, menatap
Umar dengan mata yang tidak bisa dihindari.
“Aku tidak akan menghukummu dengan cambuk atau penjara.
Karena kau telah menghukum dirimu sendiri lebih berat dari apa pun yang bisa
aku lakukan. Tapi kau tidak bisa kembali menjadi pejabat. Bukan karena aku
tidak memberi maaf, tetapi karena rakyat yang uangnya kau ambil berhak melihat
bahwa keadilan ditegakkan. Kau akan bekerja sebagai juru tulis biasa di kantor
keuangan. Tanpa jabatan, tanpa kekuasaan, tanpa gaji. Kau akan mencatat setiap
koin yang masuk dan keluar, dan setiap bulan, laporannya akan kuperiksa
sendiri. Jika dalam setahun kau tidak melakukan kesalahan, mungkin kau akan
mendapat kepercayaan kembali. Mungkin.”
Umar menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Baginda. Aku
tidak pantas.”
“Tidak ada yang pantas, Umar. Tapi Allah memberi
kesempatan. Dan aku, sebagai pemimpin, juga memberi kesempatan. Gunakanlah.”
Hakim datang setelah Umar keluar. Ia juga tidak lagi
memakai jubah sutra mahalnya. Ia hanya mengenakan jubah katun kasar, seperti
yang dikenakan oleh para petani di desanya. Tubuhnya yang gemuk tampak lebih
kecil dari biasanya, seperti balon yang kempes. Di tangannya, ia membawa sebuah
buku tebal dengan sampul kulit yang sudah lusuh—catatan lengkap tentang semua
yang telah ia ambil selama bertahun-tahun.
Ia berlutut di hadapan Baginda Raja, meletakkan buku itu di
lantai marmer.
“Baginda,” katanya, suaranya parau, “aku juga datang untuk
mengaku. Aku telah memanipulasi laporan pajak dari provinsi selatan. Aku telah
mengambil keuntungan yang tidak seharusnya. Aku telah menggunakan kekuasaanku
untuk memperkaya diri sendiri. Totalnya… totalnya adalah sepuluh ribu dinar.”
Ia menunduk, dahinya menyentuh lantai marmer.
“Aku akan mengembalikan semuanya, Baginda. Aku akan menjual
semua permata, semua rumah, semua tanah. Aku akan kembali ke desaku dan menjadi
petani. Aku tidak pantas menjadi pejabat. Aku tidak pantas berada di istana
ini.”
Harun Al-Rasyid mengambil buku itu, membukanya, dan
membaca. Halaman demi halaman, angka demi angka, tahun demi tahun. Sepuluh ribu
dinar. Sepuluh kali lipat dari yang diambil Umar. Cukup untuk membangun seratus
jembatan. Cukup untuk menggali lima ratus sumur. Cukup untuk memberi makan
sepuluh ribu keluarga miskin selama setahun.
“Hakim,” katanya, suaranya dingin, “sepuluh ribu dinar. Itu
adalah jumlah yang sangat besar. Itu adalah uang rakyat. Uang yang seharusnya
digunakan untuk kesejahteraan mereka. Dan kau mengambilnya untuk koleksi
permata. Untuk rumah sebesar istana. Untuk kolam ikan dengan ikan mas dari
Cina.”
Hakim tidak mengangkat kepalanya. Air matanya mengalir
deras.
“Tapi,” lanjut Harun Al-Rasyid, suaranya sedikit melunak,
“kau juga mengaku. Kau juga datang sendiri. Kau juga membawa catatan lengkap.
Itu juga keberanian.”
Ia meletakkan buku itu di sampingnya.
“Aku tidak akan menghukummu dengan cambuk atau penjara.
Tapi kau tidak bisa lagi tinggal di Baghdad. Kau akan kembali ke provinsi
selatan, ke desa tempat kakekmu berasal. Kau akan tinggal di sana sebagai
petani. Kau akan merasakan bagaimana rasanya menjadi rakyat yang uangnya kau
ambil. Kau akan membangun irigasi dengan tanganmu sendiri. Kau akan menanam padi
dengan keringatmu sendiri. Kau akan merasakan lapar ketika panen gagal. Dan kau
akan merasakan syukur ketika hujan turun.”
Ia menatap Hakim dengan mata yang tajam.
“Jika dalam setahun kau bisa bertahan. Jika dalam setahun
kau tidak kembali ke kemewahan. Jika dalam setahun kau menjadi manusia yang
lebih baik. Mungkin… mungkin kau akan mendapat maaf. Bukan dariku, tetapi dari
rakyat yang pernah kau rugikan.”
Hakim menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Baginda. Aku akan
berusaha menjadi lebih baik.”
BAB 9: KEADILAN TANPA HUKUMAN
Setelah Umar dan Hakim keluar, Baginda Raja Harun Al-Rasyid
duduk di singgasananya dengan wajah yang lelah. Ia menatap dokumen-dokumen yang
terbentang di hadapannya—catatan pengakuan dari dua orang yang pernah ia
percaya, yang pernah ia anggap sebagai pejabat teladan, yang ternyata telah
mengkhianati kepercayaannya selama bertahun-tahun.
Ia memanggil Jafar.
“Jafar,” katanya, “panggil Abu Nawas.”
Abu Nawas datang dengan langkah santai seperti biasa,
tetapi kali ini, ia tidak membawa kurma. Ia tidak membawa apa-apa. Hanya
dirinya sendiri, dengan jubah lusuh yang sudah menjadi ciri khasnya, dan senyum
misterius yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
Ia berlutut di hadapan Baginda Raja, tetapi Baginda Raja Harun
Al-Rasyid mengangkat tangannya sebelum ia sempat bersujud.
“Abu Nawas,” katanya, “duduklah. Kali ini, aku tidak ingin
kau bersujud. Aku ingin kau duduk di sini, di hadapanku, seperti seorang teman
duduk di hadapan temannya.”
Abu Nawas mengangkat alis, tetapi ia tidak membantah. Ia
duduk bersila di lantai marmer, tepat di hadapan Baginda Raja. Jafar yang
berdiri di samping, hampir pingsan melihat keberanian Abu Nawas—duduk di
hadapan raja tanpa izin? Itu adalah pelanggaran yang bisa dihukum mati. Tapi Baginda
Raja Harun Al-Rasyid tidak marah. Ia hanya tersenyum.
“Abu Nawas,” katanya, “Umar sudah mengaku. Hakim sudah
mengaku. Farhan sudah pergi. Cermin itu… cermin itu sudah tidak retak lagi.”
Abu Nawas tidak menjawab. Ia hanya menatap Baginda Raja
dengan mata yang tenang.
“Kau tahu,” lanjut Baginda Raja Harun Al-Rasyid, “aku sudah
mencoba segalanya. Aku sudah mengirim mata-mata. Aku sudah memeriksa laporan
keuangan. Aku sudah menginterogasi para pejabat. Tidak ada yang berhasil. Tidak
ada yang mau mengaku. Mereka semua berpura-pura suci, berpura-pura jujur,
berpura-pura tidak bersalah. Tapi kau… kau hanya dengan cermin palsu, dengan
cerita-cerita lucu, dengan tawa… kau membuat mereka mengaku. Mereka datang
sendiri. Mereka menangis sendiri. Mereka memperbaiki diri sendiri. Bagaimana kau
melakukannya?”
Abu Nawas mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kurma.
Kurma Sukkari yang ia simpan sejak pagi. Ia memutarnya di antara jari-jarinya,
seperti seorang pesulap memutar koin.
“Baginda,” katanya, “saya tidak melakukan apa-apa. Saya
hanya membuat mereka melihat diri mereka sendiri. Cermin itu, baik yang asli
maupun yang palsu, hanyalah alat. Yang sebenarnya adalah… mereka sudah tahu.
Mereka sudah tahu sejak lama bahwa mereka salah. Umar tahu bahwa mengambil uang
negara adalah dosa. Hakim tahu bahwa memperkaya diri dari pajak rakyat adalah
kejahatan. Farhan tahu bahwa menjadi alat tanpa hati nurani adalah
pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Mereka sudah tahu. Tapi mereka tidak
punya keberanian untuk mengaku. Mereka butuh… dorongan. Dorongan yang lembut.
Dorongan yang tidak menyakitkan. Dorongan yang datang dalam bentuk tawa, bukan
dalam bentuk ancaman.”
Ia memasukkan kurma ke mulutnya, mengunyah perlahan.
“Tawa adalah senjata paling ampuh, Baginda. Ketika orang
tertawa, pertahanan mereka turun. Ketika pertahanan mereka turun, kebenaran
bisa masuk. Saya membuat mereka tertawa dengan cerita-cerita tentang pejabat
yang takut bercermin. Dan di balik tawa itu, mereka sadar bahwa cerita itu
adalah tentang mereka. Dan ketika mereka sadar, mereka tidak bisa lagi berlari.
Mereka harus menghadapi diri mereka sendiri.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia merenungkan
kata-kata Abu Nawas. Kata-kata yang sederhana, tetapi dalam. Kata-kata yang
tidak pernah terpikirkan olehnya, meskipun ia telah menjadi raja selama puluhan
tahun.
“Abu Nawas,” katanya akhirnya, “aku sudah mencoba dengan
kemarahan, dengan ancaman, dengan hukuman. Tapi tidak ada yang berhasil seperti
ini. Kau membuat mereka mengaku tanpa aku perlu mengangkat pedang. Kau membuat
mereka sadar tanpa aku perlu membentak. Kau… kau mengajarkanku sesuatu yang
tidak diajarkan oleh para menteri, para ulama, atau para filsuf. Kau
mengajarkanku bahwa keadilan tidak harus kejam. Bahwa kebenaran tidak harus
menyakitkan. Bahwa tawa bisa menjadi alat yang lebih ampuh daripada pedang.”
Abu Nawas mengambil kurma lain dari sakunya. “Baginda, saya
hanya seorang pelawak yang suka kurma. Saya tidak mengajarkan apa pun. Saya
hanya… tertawa. Dan membiarkan orang lain tertawa. Dan di sela-sela tawa itu,
kadang-kadang, kebenaran muncul dengan sendirinya.”
Harun Al-Rasyid tertawa. Tawa yang keras, tawa yang bebas,
tawa yang sudah lama tidak terdengar di ruangan ini.
“Kau benar, Abu Nawas. Kau benar. Kau hanya pelawak yang
suka kurma. Tapi pelawak yang suka kurma ini telah melakukan apa yang tidak
bisa dilakukan oleh seribu tentara, seratus hakim, atau sepuluh wazir. Kau
telah membersihkan istanaku dari kebusukan tanpa perlu menumpahkan darah. Kau
telah mengembalikan kejujuran tanpa perlu menyiksa siapa pun. Kau telah…”
Ia berhenti, mencari kata yang tepat.
“…kau telah menjadi cermin. Cermin yang tidak pernah
berbohong. Cermin yang menampakkan kebenaran tanpa menghakimi. Cermin yang
membuat orang berani melihat dirinya sendiri.”
Abu Nawas tersenyum. “Baginda, cermin itu bukan saya.
Cermin itu adalah hati mereka sendiri. Saya hanya… membantu mereka membukanya.
Sedikit.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri, berjalan ke jendela,
menatap langit Baghdad yang cerah. Di kejauhan, di balik tembok istana, ia bisa
melihat pasar-pasar yang ramai, rumah-rumah penduduk, menara-menara masjid.
Rakyatnya. Rakyat yang selama ini ia lindungi, tetapi juga rakyat yang uangnya
diambil oleh orang-orang yang ia percaya.
“Abu Nawas,” katanya tanpa berbalik, “cermin itu. Cermin
tua di ruang Al-Mir’ah al-Qadimah. Apakah benar-benar ajaib?”
Abu Nawas mengambil kurma ketiga dari sakunya. “Cermin itu,
Baginda, hanyalah cermin biasa. Tidak ada yang ajaib. Retaknya juga bukan
karena tidak tahan menyimpan kebohongan. Retaknya terjadi karena… seseorang
menggaruknya dengan kuku.”
Harun Al-Rasyid berbalik dengan cepat. “Apa?”
“Saya menemukan goresan di bagian bawah bingkai, Baginda.
Goresan baru. Serbuk kayunya masih segar. Seseorang sengaja menggaruk cermin
itu untuk membuatnya retak. Mungkin karena ia ingin menciptakan kepanikan.
Mungkin karena ia ingin sesuatu terjadi. Mungkin karena ia ingin… kebenaran
terungkap.”
“Siapa yang melakukannya?”
Abu Nawas menghela napas. “Saya tidak tahu, Baginda. Tapi
saya punya dugaan.”
“Siapa?”
“Orang yang paling diuntungkan dari semua ini, Baginda.
Orang yang paling ingin agar kebenaran di istana terungkap. Orang yang paling
menderita melihat ketidakjujuran di sekelilingnya. Orang yang… sudah pernah
melakukan hal serupa sebelumnya.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Matanya menyipit.
Kemudian, perlahan, ia tersenyum.
“Al-Ma’mun,” katanya.
Abu Nawas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menggelengkan kepala, setengah
marah setengah kagum. “Anak itu… lagi-lagi anak itu. Pertama mencuri mahkota,
sekarang menggaruk cermin. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Menyulut api
di dapur istana? Meracuni kolam ikan? Mencuri sandalku?”
Abu Nawas tertawa. “Mungkin, Baginda, Yang Mulia Pangeran
hanya ingin ayahandanya melihat. Melihat apa yang selama ini tidak dilihat.
Seperti yang ia lakukan dengan mahkota, seperti yang ia lakukan dengan cermin.
Cara yang salah, tetapi tujuannya benar.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berjalan ke singgasananya,
duduk dengan berat. Wajahnya tidak lagi marah. Yang ada adalah kelelahan,
tetapi juga kelegaan. Kelelahan seorang ayah yang tahu bahwa anaknya nakal,
tetapi kelegaan karena tahu bahwa anaknya nakal untuk tujuan yang benar.
“Panggil Al-Ma’mun,” katanya.
Beberapa saat kemudian, Al-Ma’mun masuk. Ia masih
mengenakan jubah sederhana yang biasa ia pakai sejak dihukum menjadi pengawas
pasar. Wajahnya lebih kecokelatan karena sering berada di bawah matahari, dan
tangannya lebih kasar karena terbiasa bekerja dengan rakyat. Tapi
matanya—matanya yang dalam dan tajam—masih sama seperti dulu. Mata seorang yang
tidak pernah puas dengan ketidakadilan. Mata seorang yang selalu mencari
kebenaran.
Ia berlutut di hadapan ayahnya. “Ayahanda memanggilku?”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap putranya lama. Matanya
tidak marah, tetapi juga tidak lembut. Ada sesuatu di antara keduanya. Sesuatu
yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Anakku,” katanya, “kau tahu tentang cermin yang retak?”
Al-Ma’mun tidak berubah ekspresi. “Aku dengar, Ayahanda.”
“Kau tahu mengapa cermin itu retak?”
Al-Ma’mun terdiam sejenak. Kemudian, perlahan, ia
mengangguk.
“Aku yang menggaruknya, Ayahanda.”
Ruangan itu sunyi. Abu Nawas yang duduk di sudut tidak
bergerak. Jafar yang berdiri di samping Baginda Raja menutup mulutnya dengan
tangan.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas panjang. Napas
yang keluar dari dadanya seperti angin yang membawa beban bertahun-tahun.
“Mengapa?”
Al-Ma’mun mengangkat kepalanya, menatap ayahnya dengan mata
yang jujur. Mata yang tidak takut, tidak menyesal, tetapi juga tidak sombong.
Mata yang hanya ingin mengatakan kebenaran.
“Karena aku lelah, Ayahanda. Lelah melihat pejabat-pejabat
yang korupsi, yang memperkaya diri sendiri dari uang rakyat, yang menggunakan
kekuasaan untuk kepentingan sendiri. Aku lelah melihat Ayahanda terlalu sibuk
dengan kemewahan sehingga tidak melihat apa yang terjadi di bawah hidung
Ayahanda sendiri.”
Suaranya bergetar, tetapi ia melanjutkan.
“Aku sudah mencoba dengan mahkota, Ayahanda. Aku pikir
dengan membuat Ayahanda panik, Ayahanda akan melihat. Dan Ayahanda memang melihat.
Ayahanda melihat bahwa ada yang salah di istana ini. Ayahanda memanggil Abu
Nawas. Ayahanda mulai menyelidiki. Tapi setelah mahkota ditemukan, setelah
Al-Ma’mun dihukum menjadi pengawas pasar, semuanya kembali seperti semula.
Pejabat-pejabat itu kembali korupsi. Mereka hanya lebih hati-hati. Mereka tidak
takut lagi. Mereka tahu bahwa Ayahanda tidak akan melihat selama tidak ada yang
hilang.”
Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat kepalanya lagi.
“Maka aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Sesuatu yang akan membuat semua orang takut.
Bukan hanya Ayahanda. Tapi semua orang. Para pejabat, para menteri, para
komandan. Semua orang. Aku menggaruk cermin itu. Aku menyebarkan desas-desus
bahwa cermin itu retak karena tidak tahan menyimpan kebohongan. Aku membuat
semua orang gelisah. Aku membuat mereka takut bahwa rahasia mereka akan
terbongkar. Dan ketika mereka takut, mereka mulai berbisik. Mereka mulai saling
curiga. Mereka mulai… sadar.”
Ia menunduk.
“Aku tahu ini salah, Ayahanda. Aku tahu aku tidak
seharusnya melakukan ini. Tapi aku tidak tahu cara lain. Aku sudah mencoba
berbicara, menulis surat, meminta pertemuan. Tidak ada yang berhasil.
Satu-satunya cara yang berhasil adalah… ketika orang takut. Ketika mereka takut
kehilangan apa yang mereka miliki. Ketika mereka takut rahasia mereka
terbongkar. Ketika mereka takut… melihat diri mereka sendiri.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri. Ia berjalan mendekati
putranya, dan untuk sesaat, Abu Nawas berpikir Baginda Raja akan marah. Tapi Baginda
Raja Harun Al-Rasyid tidak marah.
Ia berlutut di hadapan putranya.
Semua orang di ruangan itu terkejut. Jafar hampir pingsan.
Abu Nawas berhenti mengunyah kurmanya. Para pengawal di pintu saling
berpandangan dengan mata terbelalak.
Seorang raja berlutut di hadapan putranya. Seorang Baginda
Raja, Amirul Mukminin, Pemimpin Orang-Orang Beriman, berlutut di hadapan
anaknya sendiri.
Harun Al-Rasyid meraih kedua tangan Al-Ma’mun, tangan yang
kasar karena bekerja di pasar, tangan yang tidak lagi mulus seperti tangan
seorang pangeran. Ia menatap mata putranya, mata yang jujur, mata yang tidak
takut.
“Anakku,” katanya, suaranya lembut, suara yang tidak pernah
ia gunakan di depan siapa pun selain istrinya, “maafkan ayahandamu. Maafkan ayahanda
yang terlalu sibuk sehingga tidak melihat apa yang kau lihat. Maafkan ayahanda
yang membuatmu merasa bahwa satu-satunya cara untuk didengar adalah dengan
cara-cara seperti ini. Maafkan ayahanda yang… gagal menjadi ayah yang baik.”
Al-Ma’mun terkejut. Matanya membesar. Air matanya jatuh.
“Ayahanda… tidak perlu meminta maaf. Akulah yang salah.
Akulah yang mengambil mahkota. Akulah yang menggaruk cermin. Akulah yang
membuat kekacauan di istana. Akulah yang—”
“Kita berdua salah, anakku,” potong Baginda Raja Harun
Al-Rasyid. “Kau salah karena memilih cara yang tidak tepat. Aku salah karena
membuatmu merasa tidak punya cara lain. Tapi mulai sekarang, kita akan belajar
bersama. Kau akan terus menjadi pengawas pasar. Kau akan terus tinggal di
antara rakyat. Tapi setiap pekan, kau akan datang ke istana, bukan hanya untuk
melapor, tetapi untuk duduk bersamaku, berbicara denganku, memberitahuku apa
yang kau lihat. Dan aku akan mendengarkan. Sungguh-sungguh mendengarkan. Bukan
sebagai raja kepada rakyatnya, tetapi sebagai ayah kepada anaknya.”
Al-Ma’mun menangis. Ia memeluk ayahnya, dan untuk pertama
kalinya dalam bertahun-tahun, Harun Al-Rasyid merasakan pelukan putranya yang
tulus. Bukan pelukan seorang pangeran kepada rajanya. Tapi pelukan seorang anak
kepada ayahnya.
Abu Nawas yang duduk di sudut, dengan mata berkaca-kaca,
mengambil kurma dan memasukkannya ke mulut untuk menyembunyikan emosinya.
“Baginda,” katanya setelah menelan kurma, suaranya sedikit
serak karena menahan tangis, “saya rasa cermin itu sudah tidak retak lagi.”
Harun Al-Rasyid melepaskan pelukannya, menoleh ke arah Abu
Nawas dengan mata yang masih basah. “Apa maksudmu?”
Abu Nawas berdiri, merapikan jubahnya yang lusuh, dan
tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang tidak main-main, senyum yang membuat
semua orang yang melihatnya merasakan kehangatan di dada.
“Cermin yang sebenarnya, Baginda, bukanlah yang tergantung
di dinding. Cermin yang sebenarnya adalah yang ada di dalam hati. Dan hati
Baginda, hati Yang Mulia Pangeran, hati Umar yang sekarang bekerja sebagai juru
tulis, hati Hakim yang sekarang menjadi petani, hati Farhan yang sekarang
menanam padi… hati mereka semua, saat ini, saya rasa, sudah tidak retak lagi.”
Baguinda Raja Harun Al-Rasyid menatap Abu Nawas lama.
Kemudian ia tertawa. Tawa yang keras, tawa yang bebas, tawa yang menggema di
seluruh ruangan, tawa yang membuat para pengawal di pintu tersenyum, tawa yang
membuat Jafar menghela napas lega, tawa yang membuat Al-Ma’mun tersenyum di
sela-sela air matanya.
“Abu Nawas,” katanya di sela tawa, “kau benar-benar gila.
Tapi gila yang baik. Gila yang menyelamatkan. Gila yang… membuatku sadar bahwa
menjadi raja tidak berarti aku selalu benar. Bahwa menjadi ayah tidak berarti
aku selalu tahu yang terbaik. Bahwa kadang-kadang, orang yang paling bijaksana
adalah orang yang paling sederhana. Orang yang paling jujur adalah orang yang
paling banyak tertawa.”
Abu Nawas membungkuk, dalam-dalam. “Baginda terlalu baik.
Saya hanya seorang pelawak yang suka kurma.”
“Dan pelawak yang suka kurma ini,” kata Baginda Raja Harun
Al-Rasyid sambil berdiri dan berjalan kembali ke singgasananya, “telah
melakukan lebih banyak untuk istana ini daripada semua menteriku. Mulai hari
ini, kau akan mendapat jatah kurma Sukkari dari kebun pribadiku setiap minggu.
Seumur hidupmu.”
Abu Nawas matanya berbinar. “Baginda, itu lebih berharga
dari pada emas.”
BAB 10: CERMIN DALAM DIRI
Tiga bulan kemudian, Baghdad seperti biasa ramai dengan
aktivitasnya. Pedagang-pedagang dari berbagai negeri memadati pasar-pasar,
menawarkan barang-barang dari Hind, Cina, Romawi, dan Afrika. Kapal-kapal
berlabuh di pelabuhan Tigris, membawa rempah-rempah, sutra, dan permata. Para
ilmuwan berkumpul di Baitul Hikmah, menerjemahkan buku-buku dari Yunani dan
Persia. Penyair-penyair berlomba menciptakan syair-syair terindah untuk
dibacakan di istana.
Namun ada yang berbeda di Baghdad. Sesuatu yang tidak
terlihat, tidak terdengar, tetapi bisa dirasakan. Sesuatu yang seperti angin
sejuk di tengah panasnya gurun. Sesuatu yang seperti air di tengah dahaga. Sesuatu
yang seperti… kejujuran.
Umar bekerja sebagai juru tulis biasa di kantor keuangan.
Setiap pagi, ia datang lebih awal dari semua orang, membuka lemari dokumen, dan
mulai mencatat. Tangannya tidak lagi gemetar. Dahinya tidak lagi berkeringat.
Ia bekerja dengan tenang, dengan ketelitian yang sama seperti dulu, tetapi
sekarang ketelitian itu tidak lagi digunakan untuk menyembunyikan, tetapi untuk
melayani.
Setiap bulan, laporannya sampai ke meja Baginda Raja. Dan
setiap bulan, Harun Al-Rasyid membaca laporan itu dengan saksama, dan selalu
menemukan bahwa tidak ada satu pun kesalahan. Angka-angka itu jujur.
Catatan-catatan itu bersih. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang
dimanipulasi. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, laporan keuangan istana
benar-benar mencerminkan kenyataan.
Suatu hari, ketika Abu Nawas berkunjung ke kantor keuangan
untuk mengambil jatah kurma mingguannya—ia selalu mengambil sendiri, karena
katanya, “jika kukirim utusan, kurmanya bisa habis di perjalanan”—ia melihat
Umar sedang mencatat dengan tekun.
“Tuan Umar,” sapa Abu Nawas dari pintu, “selamat pagi.
Apakah Tuan tidak lelah bekerja sekeras ini? Katanya, juru tulis biasa tidak
perlu datang sepagi ini.”
Umar mengangkat kepalanya, tersenyum. Senyum yang berbeda
dari senyum yang dulu selalu ia tunjukkan. Senyum yang dulu adalah topeng,
senyum yang sekarang adalah kebenaran.
“Abu Nawas,” katanya, “aku tidak lelah. Aku merasa… ringan.
Seperti beban yang selama ini kupikul, akhirnya terangkat. Aku tidak perlu lagi
menyembunyikan. Aku tidak perlu lagi berbohong. Aku tidak perlu lagi takut. Aku
hanya… bekerja. Bekerja dengan jujur. Dan itu… itu adalah kebahagiaan yang
tidak pernah aku rasakan selama lima tahun menjadi pejabat.”
Abu Nawas mengambil kursi, duduk di hadapan Umar, dan
mengambil kurma dari saku jubahnya. “Tuan Umar, apakah Tuan tidak menyesal?
Kehilangan jabatan, kehilangan kekayaan, kehilangan rumah besar?”
Umar meletakkan penanya, menatap Abu Nawas dengan mata yang
jernih. “Abu Nawas, aku dulu punya rumah besar. Rumah dengan halaman luas,
kolam ikan, taman bunga. Tapi aku tidak pernah bahagia di sana. Setiap malam,
aku terjaga, memikirkan apakah ada yang tahu. Setiap pagi, aku melihat cermin,
dan yang kulihat bukan wajahku, tetapi tangan panjang penuh emas. Sekarang, aku
tinggal di kamar kecil di barak. Hanya satu ruangan, dengan tempat tidur
sederhana dan meja kayu untuk bekerja. Tapi setiap malam, aku tidur nyenyak.
Setiap pagi, aku melihat cermin, dan yang kulihat adalah wajahku sendiri. Wajah
tua yang keriput, tetapi jujur. Dan itu, Abu Nawas, adalah kekayaan yang tidak
bisa dibeli dengan emas.”
Abu Nawas tersenyum. “Tuan Umar, Tuan lebih bijaksana dari
yang saya kira.”
“Aku belajar dari cermin, Abu Nawas. Cermin yang retak itu.
Cermin yang mengajarkanku bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada bisa
melihat dirimu sendiri tanpa rasa takut.”
Hakim tinggal di sebuah desa kecil di provinsi selatan. Ia
menjual semua rumah dan permata dan kudanya, dan menggunakan uangnya untuk
membangun irigasi di desa itu. Ia tinggal di rumah sederhana dari bambu, makan
makanan yang sama dengan para petani, dan bekerja di sawah bersama mereka.
Tubuhnya yang gemuk mulai kurus. Kulitnya yang putih mulai
gelap karena terik matahari. Tangannya yang dulu hanya memegang pena dan
permata, kini penuh kapalan karena memegang cangkul dan menanam padi. Tapi
matanya—matanya yang dulu selalu waspada dan penuh ketakutan—kini tenang.
Matanya yang dulu selalu melihat ke bawah, takut bertemu dengan mata orang
lain, kini menatap lurus ke depan, berani, jujur.
Ia sering menulis surat kepada Abu Nawas. Surat-surat itu
tidak pernah berisi keluhan. Yang ada hanyalah cerita tentang panen, tentang
hujan, tentang anak-anak desa yang mulai bisa membaca karena ia mengajari
mereka, tentang sumur baru yang berhasil digali, tentang jembatan yang dibangun
dengan gotong royong.
Di akhir surat, ia selalu menulis: “Abu Nawas,
kemarin aku melihat cermin. Cermin kecil dari kaca yang kubeli di pasar. Dan
yang kulihat bukan dompet besar yang menutupi tubuhku. Yang kulihat adalah
wajahku. Wajah tua yang kecokelatan karena matahari. Wajah dengan kerutan di
dahi karena banyak berpikir. Wajah dengan bekas luka di pipi karena terkena
duri padi. Wajah yang… bahagia. Terima kasih, Abu Nawas. Cermin itu
menyelamatkanku.”
Abu Nawas selalu membalas surat Hakim dengan surat yang
lebih pendek, karena ia malas menulis. Biasanya hanya satu kalimat: “Tuan
Hakim, jangan lupa menanam kurma. Saya butuh kurma gratis ketika saya
berkunjung nanti.”
Tapi suatu hari, ia menulis lebih panjang: “Tuan Hakim,
wajah yang kecokelatan karena matahari lebih jujur daripada wajah yang putih
karena bedak. Kerutan karena berpikir lebih indah daripada kerutan karena
takut. Bekas luka karena duri padi lebih mulia daripada bekas luka karena
permata yang jatuh. Tuan Hakim, Tuan tidak perlu bercermin lagi. Karena Tuan
sendiri adalah cermin. Cermin bagi desa itu. Cermin bagi anak-anak yang belajar
membaca. Cermin bagi petani yang panennya melimpah. Tuan adalah cermin
kejujuran, Hakim. Dan itu lebih berharga dari semua permata yang pernah Tuan
miliki.”
Farhan menjadi kepala desa di kampung halamannya. Ia tidak
lagi memegang pedang. Tangan yang dulu terbiasa menghunus senjata kini terbiasa
memegang cangkul. Ia membangun sekolah dengan tangannya sendiri, mengumpulkan
kayu dari hutan, memotongnya, menyusunnya, hingga berdiri sebuah bangunan
sederhana dengan atap rumbia.
Ia menjadi guru di sekolah itu. Ia mengajar anak-anak desa
membaca dan menulis. Ia tidak punya buku, jadi ia menulis di daun-daun lontar
dengan arang. Ia tidak punya papan tulis, jadi ia menggunakan tanah di halaman
sekolah sebagai tempat menulis.
Ia membangun sumur bersama para petani. Ia turun ke dalam
tanah, menggali dengan tangannya sendiri, mengangkat tanah dengan keranjang
bambu. Ketika air akhirnya keluar, ia menangis. Ia menangis seperti ketika ia
menangis di hadapan cermin palsu itu. Tapi kali ini, air matanya bukan air mata
penyesalan. Air mata syukur. Air mata kebahagiaan.
Ia menjadi khatib di masjid desa setiap Jumat. Ia tidak
berkhotbah tentang perang, tentang kemenangan, tentang kejayaan. Ia berkhotbah
tentang perdamaian. Tentang merawat tanah. Tentang menyayangi sesama. Tentang
menjadi manusia.
Setelah salat Jumat, ia selalu duduk di serambi masjid,
ditemani oleh para petani tua, bercerita tentang masa lalunya. Ia tidak
menyembunyikan bahwa ia pernah menjadi panglima perang. Ia tidak menyembunyikan
bahwa ia pernah membunuh banyak orang. Ia menceritakannya dengan jujur, dengan
air mata di matanya, dengan suara yang bergetar.
“Aku dulu adalah pedang,” katanya. “Pedang yang tajam,
pedang yang mematikan, pedang yang tidak punya hati. Tapi sekarang, aku ingin
menjadi manusia. Manusia yang menanam padi. Manusia yang mengajar anak-anak.
Manusia yang membangun sumur. Manusia yang… pulang.”
Para petani mendengarkannya dengan hormat. Mereka tidak
takut padanya. Mereka tidak membencinya. Mereka memaafkannya. Karena mereka
melihat bahwa di balik tangan yang dulu memegang pedang, sekarang ada tangan
yang membantu mereka mengangkat hasil panen. Di balik mata yang dulu tajam
seperti elang, sekarang ada mata yang lembut seperti mata seorang kakek yang
menyayangi cucunya.
Farhan tidak pernah lagi melihat bayangannya sendiri
berlutut dan menangis. Yang ia lihat setiap pagi di cermin kecil di rumahnya
adalah wajah seorang lelaki tua yang lelah tetapi tenang. Wajah dengan kerutan
di dahi karena memikirkan irigasi. Wajah dengan bekas luka di pipi karena
terkena duri padi. Wajah dengan senyum di bibir karena melihat anak-anak desa
berlarian di halaman sekolah.
Wajah yang… manusia.
Al-Ma’mun masih menjadi pengawas pasar. Tapi sekarang,
setiap pekan, ia duduk bersama ayahnya di ruang pribadi, berbicara tentang apa
yang ia lihat di pasar, tentang keluhan rakyat, tentang harga-harga, tentang
ketidakadilan yang masih terjadi.
Dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid mendengarkan.
Sungguh-sungguh mendengarkan.
Ia tidak lagi menyela. Tidak lagi berkata, “Aku sudah
tahu,” atau “Itu urusan menteri,” atau “Nanti, nanti, sekarang aku sedang
membaca syair.” Ia duduk di singgasananya, dengan kedua tangan di pangkuan, dan
mendengarkan putranya berbicara. Mendengarkan dengan telinga. Mendengarkan
dengan hati.
Kadang-kadang, ketika Al-Ma’mun menceritakan tentang
seorang petani yang kehilangan hasil panen karena banjir, atau seorang janda
yang tidak bisa membayar pajak, atau seorang anak yatim yang kelaparan, Baginda
Raja Harun Al-Rasyid akan menangis. Ia tidak malu menangis di hadapan putranya.
Karena ia tahu bahwa air matanya adalah bukti bahwa ia masih punya hati. Bukti
bahwa ia masih bisa merasakan penderitaan rakyatnya. Bukti bahwa ia tidak
terlalu jauh dari mereka.
Kadang-kadang, di sela-sela percakapan mereka, Harun
Al-Rasyid akan tertawa. Ia akan mengingat sesuatu yang dikatakan Abu Nawas,
atau sesuatu yang dilakukan Al-Ma’mun, atau sesuatu yang lucu yang terjadi di
pasar. Dan tawa itu akan menggema di ruangan pribadi itu, menghangatkan
dinding-dinding yang biasanya dingin, menghangatkan hati-hati yang biasanya
keras.
“Ayahanda,” kata Al-Ma’mun suatu hari, “aku ingin bertanya
sesuatu.”
“Apa, anakku?”
“Apakah Ayahanda marah padaku? Karena aku menggaruk cermin
itu?”
Harun Al-Rasyid menatap putranya lama. Matanya lembut.
“Awalnya, aku marah,” katanya jujur. “Aku pikir, anakku
sudah gila. Pertama mencuri mahkota, sekarang menggaruk cermin. Apa selanjutnya?
Mencuri kudaku? Meracuni makananku?”
Al-Ma’mun tersenyum canggung.
“Tapi kemudian,” lanjut Baginda Raja Harun Al-Rasyid, “aku
berpikir. Mengapa ia melakukan itu? Mengapa ia mengambil risiko sebesar itu?
Mengapa ia rela dihukum, dicaci, dibenci? Dan aku sadar. Ia melakukannya karena
ia mencintai negeri ini. Karena ia tidak tahan melihat ketidakadilan. Karena ia
ingin ayahandanya menjadi pemimpin yang lebih baik. Dan untuk itu, anakku…” ia
meraih tangan Al-Ma’mun, “aku berterima kasih. Bukan sebagai raja kepada
rakyatnya. Tapi sebagai ayah kepada anaknya.”
Al-Ma’mun menunduk, air matanya jatuh ke tangan ayahnya.
“Ayahanda… aku tidak pantas.”
“Tidak ada yang pantas, anakku. Tapi kita semua diberi
kesempatan. Dan kau, Al-Ma’mun, telah menggunakan kesempatanmu dengan baik. Kau
telah menjadi cermin bagi ayahandamu. Cermin yang membuat ayahanda melihat apa
yang selama ini tidak dilihat. Cermin yang retak, tetapi memantulkan cahaya
yang lebih indah.”
EPILOG: TAWA YANG MENYELAMATKAN
KEADILAN
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan
cahaya keemasan menyinari Sungai Tigris, Abu Nawas duduk di Kedai Al-Farabi, di
tempat favoritnya di sudut ruangan. Di depannya, segelas air tajin dingin,
semangkok kurma Sukkari yang baru saja ia ambil dari istana—jatah
mingguannya—dan sebotol kecil anggur yang ia sembunyikan di balik jubahnya,
meskipun ia sudah berjanji pada Jafar untuk tidak minum anggur di tempat umum.
Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir
Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk
tidak dikenali oleh pengunjung lain. Di samping Jafar, duduk seorang pemuda
dengan jubah sederhana dan sorban putih—Al-Ma’mun, yang juga sedang berusaha
tidak dikenali, meskipun wajahnya sudah mulai dikenal oleh para pedagang di
pasar.
“Abu Nawas,” kata Jafar sambil menyesap air tajin yang ia
pesan agar tidak mencolok, “aku masih penasaran dengan satu hal.”
Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan
mengunyah dengan malas. “Apa, Wazirku yang mulia?”
“Cermin palsu yang kau buat. Yang kau gunakan untuk menguji
Umar, Hakim, dan Farhan. Bagaimana cara kerjanya? Aku sudah bertanya pada
Ustadz Salim, pandai kaca itu, tapi dia hanya tertawa dan berkata, ‘Tanya Abu
Nawas sendiri.’”
Abu Nawas tersenyum misterius. Ia mengambil kurma lagi,
memutarnya di antara jari-jarinya seperti pesulap memutar koin.
“Wazir,” katanya, “cermin itu sebenarnya sangat sederhana.
Ustadz Salim membuat cermin dengan lapisan kaca yang sedikit melengkung. Di
belakang kaca, ia memasang lembaran timah tipis yang dilapisi dengan campuran
perak dan merkuri. Tapi yang membuatnya istimewa bukanlah cerminnya. Yang
membuatnya istimewa adalah… orang yang bercermin.”
Jafar mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Cermin itu tidak ajaib, Wazir. Cermin itu hanya cermin
biasa. Tapi ketika seseorang berdiri di hadapannya dengan hati yang penuh rasa
bersalah, dengan pikiran yang penuh ketakutan, dengan jiwa yang penuh
kebohongan… cermin itu akan menampilkan apa yang mereka takutkan. Bukan karena
cerminnya yang ajaib, tetapi karena hati mereka sendiri yang menciptakan
bayangan itu.”
Ia melemparkan kurma ke mulutnya.
“Umar melihat tangan penuh emas karena ia sudah
bertahun-tahun membayangkan tangannya penuh emas. Setiap malam, ketika ia tidak
bisa tidur, ia membayangkan tangannya sendiri, panjang, penuh emas curian. Jadi
ketika ia berdiri di hadapan cermin, pikirannya yang sudah terlatih selama
bertahun-tahun menciptakan bayangan itu. Cermin hanya… membantunya melihat.”
Jafar terdiam, mencerna kata-kata Abu Nawas.
“Hakim melihat dompet besar menutupi tubuhnya karena ia
sudah bertahun-tahun membayangkan dirinya sebagai dompet berjalan. Setiap kali
ia melihat cermin, yang ia lihat bukan wajahnya, tetapi kekayaannya. Jadi
cermin itu hanya… menampilkan apa yang sudah ia lihat selama ini.”
“Dan Farhan?” tanya Al-Ma’mun, yang sejak tadi diam
mendengarkan.
Abu Nawas tersenyum lembut. “Farhan tidak melihat tangan
emas atau dompet besar. Ia melihat dirinya sendiri. Dan itulah yang paling
menakutkan baginya. Karena selama tiga puluh tahun, ia telah berlari dari
dirinya sendiri. Ia telah bersembunyi di balik pedang, di balik kemenangan, di
balik kehormatan. Tapi ketika ia berdiri di hadapan cermin itu, ia tidak bisa
lagi berlari. Ia harus melihat. Dan ketika ia melihat, ia menangis. Bukan
karena cerminnya yang ajaib. Tapi karena hatinya yang sudah terlalu lama
dipenjara, akhirnya bebas.”
Al-Ma’mun menatap Abu Nawas dengan mata yang berbeda. Mata
yang tidak lagi melihatnya sebagai pelawak. Mata yang melihatnya sebagai… guru.
“Abu Nawas,” katanya, “kau lebih bijaksana dari yang kau
tunjukkan. Semua orang mengira kau hanya pelawak. Tapi sebenarnya…”
“Sebenarnya aku hanyalah pelawak yang suka kurma,” potong
Abu Nawas cepat, tersenyum lebar. “Jangan beri tahu siapa pun tentang
kebijaksanaanku, Yang Mulia. Reputasi saya sebagai pemabuk bodoh sangat
berharga. Tanpa itu, orang-orang akan mengharapkan terlalu banyak dariku.
Mereka akan memintaku menyelesaikan semua masalah mereka. Mereka akan membuatku
menjadi hakim, menjadi penasihat, menjadi pemecah masalah. Dan itu, Yang Mulia,
adalah hukuman yang lebih berat daripada dipenggal kepalanya.”
Al-Ma’mun tertawa. Jafar tertawa. Bahkan Abu Nawas tertawa.
Di meja sebelah, seorang penjual minyak wangi yang gemuk
sedang bercerita tentang keanehan di pasar, tentang seorang pangeran yang
menyamar sebagai rakyat biasa, tentang seorang wazir yang diam-diam minum air
tajin di kedai, dan tentang seorang pelawak yang mungkin adalah orang paling
bijaksana di seluruh kekhalifahan.
Abu Nawas mendengar celoteh itu, dan tersenyum.
“Wahai saudaraku penjual minyak wangi,” katanya tanpa
menoleh, “hati-hati dengan ceritamu. Cerita yang terlalu jujur bisa membuat
cermin retak.”
Penjual minyak wangi itu terdiam, wajahnya memucat.
Kemudian ia tertawa, dan semua orang di kedai itu ikut tertawa.
Di luar kedai, matahari mulai terbenam di ufuk barat,
mencelupkan Sungai Tigris dalam warna jingga dan emas. Di kejauhan, dari arah
istana, terdengar suara tawa Baginda Raja Harun Al-Rasyid—tawa yang bergema di
senja Baghdad, tawa yang membawa kedamaian bagi kota yang selalu haus akan
keadilan.
Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap
air tajinnya, mengambil kurma terakhir di mangkuk, melemparkannya ke udara, dan
menangkapnya dengan mulut.
“Cermin yang retak,” gumamnya sambil mengunyah,
“kadang-kadang justru memantulkan cahaya yang lebih indah. Dan tawa, wahai para
pejabat istana yang selalu gelisah, adalah cermin yang paling jujur. Karena
tidak ada yang bisa berpura-pura tertawa selamanya. Pada akhirnya, tawa akan mengungkap
siapa dirimu sebenarnya. Apakah kau tertawa karena bahagia, atau karena takut
ketahuan? Apakah kau tertawa karena tulus, atau karena ingin menyenangkan raja?
Apakah kau tertawa karena hatimu ringan, atau karena kau ingin melupakan
bebanmu?”
Ia memanggil pelayan kedai.
“Nak, tambah kurma satu mangkuk. Dan air tajin satu gelas.
Saya sedang merenungkan sesuatu yang sangat berat: apakah kurma Sukkari lebih
enak dimakan dengan air tajin dingin atau dengan susu kambing hangat? Ini
teka-teki yang tidak kalah pentingnya dari cermin retak di istana.”
Pelayan itu tertawa, bergegas mengambil pesanan.
Al-Ma’mun berdiri, merapikan jubahnya. “Abu Nawas, aku
harus pergi. Besok pagi, aku harus ke pasar lebih awal. Ada laporan tentang
harga gandum yang naik lagi.”
“Yang Mulia,” kata Abu Nawas, “jangan lupa untuk tertawa di
pasar. Pedagang yang tertawa lebih mudah diajak berunding daripada pedagang
yang cemberut.”
Al-Ma’mun tersenyum. “Aku akan ingat.”
Ia berjalan keluar, meninggalkan Abu Nawas dan Jafar yang
masih duduk di bangku kayu yang agak miring itu.
Jafar menatap Abu Nawas dengan rasa hormat yang baru. “Abu
Nawas, kau benar-benar luar biasa. Kau telah membersihkan istana dari korupsi
tanpa perlu mengadili siapa pun. Kau telah membuat pejabat mengaku tanpa perlu
menyiksa mereka. Kau telah membuat seorang pangeran sadar tanpa perlu
menghukumnya. Kau telah… menyelamatkan kami semua.”
Abu Nawas mengambil kurma dari mangkuk baru yang dibawa
pelayan, memutarnya di antara jari-jarinya.
“Wazir,” katanya, “aku tidak menyelamatkan siapa pun.
Mereka yang menyelamatkan diri mereka sendiri. Aku hanya… membantu mereka
melihat. Dan untuk bisa melihat, seseorang harus berani membuka mata. Itu
adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Itu harus dilakukan
sendiri.”
Ia melemparkan kurma ke mulutnya.
“Tapi, Wazir, ada satu hal yang ingin aku tanyakan.”
“Apa?”
“Cermin tua di ruang Al-Mir’ah al-Qadimah. Yang asli.
Apakah sudah diperbaiki?”
Jafar menggeleng. “Belum. Masih retak. Ustadz Karim bilang,
kaca itu tidak bisa diperbaiki. Harus diganti dengan yang baru.”
“Jangan diganti,” kata Abu Nawas. “Biarkan retak. Biarkan
retakan itu menjadi pengingat. Pengingat bahwa kita pernah takut. Pengingat
bahwa kita pernah menyembunyikan kebenaran. Pengingat bahwa kita pernah tidak
tahan melihat diri kita sendiri. Dan semoga, pengingat itu akan membuat kita
menjadi lebih baik.”
Jafar menatap Abu Nawas lama. “Kau benar, Abu Nawas.
Retakan itu akan kita biarkan. Sebagai pengingat.”
Ia berdiri, merapikan jubahnya. “Aku harus kembali ke
istana. Baginda Raja mungkin sudah menungguku. Ada laporan dari provinsi utara
yang harus dibahas.”
“Wazir,” kata Abu Nawas, “sebelum Wazir pergi, satu pesan.”
“Apa?”
“Ketika Wazir melihat Baginda Raja, katakan padanya bahwa
Abu Nawas berterima kasih atas kurma Sukkarinya. Dan katakan padanya bahwa Abu
Nawas berjanji akan membuatnya tertawa lagi minggu depan. Dengan cerita baru.
Cerita tentang seorang raja, seorang wazir, dan seekor keledai yang lebih
pintar dari keduanya.”
Jafar tertawa. “Aku akan sampaikan. Tapi hati-hati, Abu
Nawas. Cerita tentang keledai yang lebih pintar dari wazir bisa membuatmu
kehilangan kepalamu.”
“Tidak akan, Wazir. Karena Baginda Raja sudah berjanji
untuk tertawa setiap hari. Dan orang yang berjanji untuk tertawa tidak akan
memenggal kepala orang yang membuatnya tertawa. Itu akan mengurangi jumlah tawa
di dunia. Dan dunia, Wazir, sudah terlalu sedikit tawa.”
Jafar menggeleng-gelengkan kepala, tetapi ia tersenyum. Ia
berjalan keluar, meninggalkan Abu Nawas yang duduk di bangkunya dengan senyum
misterius.
Di luar, langit Baghdad mulai dipenuhi bintang-bintang.
Bintang-bintang yang bersinar terang, seolah-olah ikut tersenyum melihat dunia
di bawahnya. Di kejauhan, dari arah istana, tawa Baginda Raja masih terdengar,
bergema di senja Baghdad, mengingatkan semua orang bahwa di tengah kekuasaan
yang berat, di tengah intrik yang rumit, di tengah kebohongan yang bersembunyi
di balik senyum, masih ada ruang untuk tawa. Masih ada ruang untuk kejujuran.
Masih ada ruang untuk cermin yang tidak pernah berbohong.
Dan cermin itu, Abu Nawas tahu, bukanlah yang tergantung di
dinding istana. Cermin itu adalah hati yang berani melihat dirinya sendiri.
Cermin itu adalah tawa yang tulus. Cermin itu adalah… dirinya sendiri.
Ia tersenyum, memejamkan mata, dan tertawa kecil.
“Cermin dalam hati,” gumamnya. “Itu lebih berat daripada
mahkota. Tapi jauh lebih indah. Dan tidak akan pernah retak, selama kita berani
melihat.”
Ia memanggil pelayan kedai untuk yang ketiga kalinya.
“Nak, tambah kurma satu mangkuk lagi. Dan kali ini, jangan
air tajin. Susu kambing hangat. Saya ingin membuktikan teka-teki saya: kurma
Sukkari lebih enak dengan susu kambing hangat. Ini penemuan besar, Nak. Ini
akan mengubah peradaban.”
Pelayan itu tertawa, berlari mengambil pesanan.
Dan di luar, di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema,
membawa pesan yang lebih dalam dari seribu khotbah: bahwa kejujuran tidak perlu
menyakitkan. Bahwa kebenaran bisa disampaikan dengan senyum. Bahwa cermin yang
paling jujur adalah hati yang bersih. Bahwa tawa, tawa yang tulus, tawa yang
bebas, tawa yang tidak dipaksakan, adalah cermin yang paling sempurna. Karena
dalam tawa, tidak ada kebohongan. Dalam tawa, tidak ada kepalsuan. Dalam tawa,
yang ada hanyalah manusia. Manusia yang merasakan sukacita. Manusia yang
merasakan kebebasan. Manusia yang, untuk sesaat, melupakan semua beban dan
hanya… tertawa.
Dan Abu Nawas, dengan senyum misteriusnya yang khas,
menyesap susu kambing hangatnya, mengambil kurma, dan tertawa.
“Baginda Raja tertawa,” gumumnya. “Itu berarti istana
selamat. Setidaknya untuk hari ini. Besok, mungkin ada teka-teki baru. Mungkin
ada mahkota yang hilang lagi. Mungkin ada cermin yang retak lagi. Tapi hari
ini… hari ini, kita tertawa.”
Ia melemparkan kurma ke mulutnya, mengunyah dengan nikmat,
dan memejamkan mata.
Di luar, bintang-bintang bersinar terang di atas Baghdad,
dan di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema, mengantarkan kota itu menuju
malam yang damai. Malam tanpa ketakutan. Malam tanpa kebohongan. Malam dengan
cermin yang tidak lagi retak. Karena cermin yang sebenarnya, cermin yang paling
jujur, cermin yang tidak pernah berbohong, bukanlah yang tergantung di dinding.
Cermin itu adalah tawa. Tawa yang tulus. Tawa yang bebas. Tawa yang…
menyelamatkan.
TAMAT
Kata Bijak dari Abu Nawas:
“Cermin yang paling jujur bukanlah yang terbuat dari kaca, tetapi yang
terbuat dari keberanian untuk melihat diri sendiri. Dan tawa, wahai saudaraku,
adalah cermin yang paling sempurna. Karena dalam tawa, tidak ada kebohongan.
Dalam tawa, tidak ada kepalsuan. Dalam tawa, yang ada hanyalah manusia. Manusia
yang merasakan sukacita. Manusia yang merasakan kebebasan. Manusia yang, untuk
sesaat, melupakan semua beban dan hanya… tertawa.”
—Abu Nawas, di Kedai Al-Farabi, pinggiran Baghdad







0 komentar:
Posting Komentar